《Istri Manja Tuan Kusuma》 Chapter 1 Pertemuan pertama Pagi-pagi sekali Gina sudah bangun dan melakukan aktivitas paginya sebelum ke kantor yaitu joging.. Tiba-tiba teleponnya berdering "Halo, iya Kek, apa tidak bisa lain kali saja? hari ini Gina sibuk dan kemungkinan akan lembur" Gina menjawab telepon dan memberi alasan pada kakeknya untuk tidak bertemu dengan orang yg akan dikenalkan dengannya. "Pokoknya kamu harus datang ke restoran X pada pukul 5 sore, dia akan menunggumu disana. Kakek tidak menerima alasan apapun" kata sang kakek Dirga Sanjaya "Baiklah kek kalau begitu, ya sudah kek, sudah dulu ya, Gina mau siap-siap ke kantor" jawab Gina dengan nada malasnya "Baiklah hati-hati" "iya kek" Gina pun beranjak mandi dan bersiap untuk pergi ke kantor Gina merupakan Manajer di Glory internasional, salah satu perusahaan terkemuka di Indonesia Setibanya dikantor dia menerima telepon dari sahabat baiknya Angel "Halo Gina, tar sore jemput gue dibandara" Kata Angel ketika Gina mengangkat telpnya "Lo ga usah teriak, sakit kuping gue" ko lo udah balik? lo kabur dari Hengky ya?" sahut Gina "Sorry,, Iya gue tinggalin Hengky di Bangkok, pokoknya jemput w dibandara jangan sampai telat! "Jam berapa kira-kira lo nyampe?" tanya Gina "Jam 7 malem kayanya" jawab Angel "Ok, Tar aku jemput" "ok sampai ketemu tar malem ya, bye" kata Angel "Oke, bye" jawab Gina sebelum menutup telepon dan mulai bekerja Sore hari sebelum jam pulang kerja kakek menelphon lagi dan mengingatkan Gina. Alhasil Gina pergi ke restoran tersebut. Setibanya disana sudah duduk seorang pria tampan, yg sedang melakukan panggilan telpon sambil mengesap kopi. Dengan anggukan dan lambaian tangan dia mengisyaratkan Gina untuk duduk. Badan proporsional, kulit putih dan hidung mancung memberikan kharisma tersendiri bagi sang pria. Mereka pun mulai memperkenalkan nama masing - masing "Hai, saya Gina" "Saya Yudha, mau sekalian pesan minum atau cake?" Tanya Yudha sambil memberikan lambaian tangan sebagai isyarat untuk memanggil pelayan "Latte 1 ya" Pesan Gina kepada pelayan yg telah dipanggil Yudha "Baik, silahkan ditunggu" ucap sang pelayan Tak lama hujan pun turun, gerimis yg terdengar merdu namun seperti mengiris hati Gina. Gina pun terus menatap keluar jendela, memperhatikan cuaca sore hari yg kelam dan gelap. "Apa yg indah dari hujan dan cuaca seperti ini?" kata Yudha yang langsung menyadarkan Gina dari lamunannya "Ah tidak, hanya saja hujan sepertinya membuat hati terasa tenang" "Ini hanyalah sebuah cuaca yg selalu berubah-ubah. Apa yang menarik dari itu? " Ucap Yudha sambil mengesap kopinya Pelayan pun datang membawa pesanan Gina Gina yg tiba-tiba teringat kenangan lama membuatnya menggenggam gelas kopi dengan begitu kuat dan tangan yang gemetar membuat kopi tumpah ke tangannya "Ahh,," Pekik Gina yabg merasakan panas ditangannya "Hati-hati" Yudha pun merespon cepat dengan menarik tangan Gina yg terkena tumpahan kopi dan memutupinya dengan sapu tangan. "Apa kamu baik-baik saja? " Tanya Yudha yang terlihat khawatir "iya tidak apa, nanti tiba diapartemen akan langsung saya kasih obat untuk luka bakar" Jawab Gina, dia tidak merasa tangannya sakit Namun Yuda terus memperhatikan tangan Gina yg mulai memerah, diraihnya tas Gina dan mulai menariknya untuk bangun "Kita mau kemana?" tanya Gina "Kerumah sakit, kalau terlambat akan ada bekas luka bakar nantinya" Jawab Yuda Asisten Yudha sudah menunggu didepan restoran dengan mobilnya. Mereka pun bergegas kerumah sakit terdekat.. Setibanya dirumah sakit dokter langsung memeriksa Gina dan mengatakan kalau luka Gina tidak terlalu parah, tentu saja karena cepat ditangani kalau tidak, akan ada bekas luka nantinya.. Mereka pun beranjak pergi dari rumah sakit sambil menunggu asisten Yuda yg mengambil resep obat. Kemudian telpon Gina berdering "Hallo" "Gin, lo dimana? gue udah nyampe bandara nich, ko ga liat lo sich?" Tanya Angel begitu telp tersambung "Ah iya, gue lupa.. Tunggu sebentar gue langsung berangkat kesana" Jawab Gina "Ok cepetan" Jawab Angel sambil menutup telepon "Maaf Yudha, saya harus menjemput teman saya dibandara. Terima kasih telah mengantar saya kerumah sakit, lain kali kita ketemu lagi" kata Gina sambil berlari meninggalkan Yuda Yuda hanya tersenyum sambil melihat Gina Dan Hendri asisten Yuda bingung melihat bosnya yg dingin tiba-tiba tersenyum kepada seorang perempuan sambil memegang bungkusan obat yang baru saja diambil "Tuan, obat nona Gina belum sempat diberikan" kata Hendri "Berikan padaku, akan kuberikan nanti saat bertemu kembali" Chapter 2 Kenangan masa lalu Setelah bergegas ke bandara Gina mulai mencari Angel setelah beberapa saat mereka pun bertemu "Gina" Panggil Angel "Angel.." Mereka pun berpelukan melepas rindu mereka setelah hampir 3 tahun tidak bertemu "Bagaimana kabar kamu? kenapa kamu hanya kembali sendiri? Lantas dimana Hengky? apa kalian bertengkar lagi?" Tanya Gina panjang lebar "Ech non kalaun kamu mau bertanya itu ya harus satu-satu, bagaimana aku bisa jawab pertanyaan mu?" jawab Angel "Sorry,, sorry,, aku terlalu antusias karena rindu saa kamu" ucap Gina sambil tersenyum mereka pun berjalan keluar dari bandara sambil berbincang , mereka adalah teman akrab yang selalu mengisi satu sama lain. Dimasa sulit Gina pun Angel selalu ada, begitu pun sebaliknya. Saat mereka diluar sedang menunggu taksi, tiba-tiba pandangan Gina tertuju pada seseorang dari kepingan masa lalu yang pernah membuatnya bahagia dan juga sakit hati.. Riko,, dialah pria yang dari kecil hendak dijodohkan dengannya, dan juga Siska adik tirinya sekaligus mantan sahabatnya yg merebut Riko darinya beserta kasih sayang keluarganya.. Flash bach on Orang tua Riko dan Gina bersahabat, mereka berniat menjodohkan Gina dan Riko. Dari kecil Gina terbiasa bersama Riko "Gina kamu akan sekolah bersama Riko" "Gina kamu tidak boleh dekat-dekat dengan pria lain selain Riko" "Gina antarkan makanan kepada Riko" "Gina kamu harus baik pada Riko karena dia akan jadi tunanganmu" Itulah yg selalu dia dengar dari kecil hingga dia terbiasa dengan adanya Riko Hingga 3 tahun yg lalu, tiba-tiba neneknya berkata "Gina kami sudah memutuskan pertunangan mu dan Riko akan dibatalkan, karena kami akan menjodohkan Riko dengan Siska, mereka saling mencintai" "Jadi kamu harus merelakan mereka untuk bersama" Gina tak langsung menerima keputusan itu, dia selalu mendekati Riko dan bertanya tentang perasaannya. Tapi Riko tidak pernah mempedulikannya. "Riko,, kita sudah bersama sejak kecil, apa kamu tidak mencintaiku? apa kamu mau meninggalkanku begitu saja? apa kamu sama sekali tidak ada perasaan terhadapku? aku rela melakukan apa saja untukmu" kata Gina sambil menangis "Gina aku menyayangimu, tapi hanya sebagai adik saja tidak lebih. Dan aku mencintai Siska, bukan kamu" jawab Riko dengan sikap dingin terhadapnya Gina terus memohon dan berusaha mengambil perhatian Riko tapi tidak pernah dipedulikan. Hingga pada suatu hari terjadi pencurian dirumah Gina, pencuri itu hendak melukai Gina tapi dihalang oleh Siska. Akhirnya Siska yang terkena luka sabetan pisau dibagian tangan.. Dari situ Gina selalu dibilang berhutang nyawa terhadap Siska dan selalu disalahkan atas kejadian itu. Flash back off Riko menyadari kehadiran Gina di bandara, dan dia juga Siska menghampiri Gina.. "Hai Kak Gina,, lama tidak bertemu, gimana kabarnya?" Tanya Siska dengan lembut "Baik,," Jawab Gina dingin "3 tahun lebih kita tidak bertemu, apa kaka masih membenciku karena aku merebut Riko darimu?" tanya Siska yg dengan hampir menangis Gina mengernyitkan alis dan berkata dengan dingin dan acuh tak acuh "Sudahlah, lupakan saja, itu adalah bagian dari masa lalu yang tidak perlu dibahas sama sekali" "Tapi ka,, aku tidak bisa tenang tanpa restu darimu, sebentar lagi kami akan menikah. Tidak kah kau akan memberi restu dan datang kepernikahan kami?" tanya Siska lagi "Cih,, sepertinya kalian berdua tidak perlu restuku, dan sampai kapan pun aku tidak akan memberikan restu dan maaf pada kalian" Gina berdecih dan berkata dengan dingin "Tidakkah kau bisa melupakan masa lalu Gina? Siska sangat menyayangimu dan dia selalu merasa bersalah kepadamu" Tanya Riko "Sudahlah tidak perlu membahas ini lagi, jalani saja hidup kalian tanpa harus menggangguku" jawab Gina sambil berlalu pergi meninggalkan mereka "Ayo Ngel" Gina pun pergi naik taksi bersama Angel menuju apartemen Gina "Gin,, lo ga papa?" Tanya Angel khawatir " Gue ga papa ko Ngel" jawab kita sambil tersenyum kemudian memalingkan wajah menatap keluar jendela Hati Gina terasa sakit, meskipun sudah lama terjadi tapi itu tetap masih meninggalkan bekas yang dalam Angel ingin menghibur tapi dia tahu kalau sahabatnya sedang dalam suasana hati yg kurang baik saat ini, jadi dia membiarkan Gina tanpa bertanya apapun lagi. Angel tahu semuanya tentang Gina, bahkan disaat terburuknya, Angel yang selalu ada dan menemaninya Chapter 3 Ternyata kau?! Pagi Hari diperusahaan Gina Semua karyawan sedang menanti kedatangan Direktur baru diperusahaan, termasuk Gina Karena hari ini Direktur baru akan datang dari luar negeri.. Semua petinggi pun berdiri berjejer didepan pintu untuk menyambutnya.. Gina tidak ikut menyambut pak direktur karena dia harus keluar kantor untuk rapat dengan klien.. Tak lama iringan mobil yang ditunggu pun tiba. Terdapat 3 Mobil berwarna hitam. Mereka berhenti didepan pintu kantor. Di mobil paling depan terdapat seorang pria yang tampan dan berwibawa yang masih membaca dokumen. "Tuan kita sudah sampai" kata asistennya yang sudah membukakan pintu mobil "Baiklah" jawabnya sambil merapikan dokumen dan jasnya Pria itu pun melangkah keluar dari mobilnya dan disertai rekan kerjanya dari mobil lain. Semua mata memperhatikannya, bahkan setiap karyawan wanita seperti tersihir olehnya "Waah dia tampan sekali" ucap salah seorang karyawan "Benar, dia sungguh tampan. Tak ada kekurangan sedikitpun" ucap karyawan lain Pria itupun melangkahkan kaki dan para karyawan mulai menyambut mereka "Selamat datang pak Direktur" Kata semua petinggi kompak Sang Direktur hanya membalas dengan anggukan dan memberikan instruksi " kumpulkan setiap petinggi diruang rapat sekarang" "Baik direktur" jawab pak Juan, manager keuangan Semua sudah berkumpul diruang rapat dan kursi sudah terisi, hanya 1 kursi yang kosong. "Apa masih ada yang belum datang kesini?" tanya sang direktur "Bu Gina dari bagian perencanaan belum datang pak, dia terlambat karena bertemu klien" jawab pak juan "Baiklah, kita mulai saja, saya akan memperkenalkan diri saya" kata pak direktur Ceklek,, pintu terbuka dan seorang wanita masuk "Permisi, maaf saya terlambat" Kata sang wanita, dia dalah Gina Gina terkejut melihat pria yang duduk di kursi depan. Mereka saling bertatapan mata sampai Gina duduk dikursinya. "Kenapa dia ada disini? Apakah dia direktur baru disini?" Tanya Gina dalam hatinya "Selamat pagi semuanya, perkenalkan nama saya Yudha Arya Kusuma. Saya direktur baru perusahaan ini " Dan semuanya memperkenalkan diri dan bagian pekerjaan masing - masing. Setelah sesi perkenalan, rapat tetap berlanjut membahas proyek perusahaan yang akan dijalan kan.. Dan Gina memiliki rencana pengajuan proyek resort dan Yuda menyetujui rencana tersebut. Gina diminta untuk menyiapkan proposalnya Rapat pun selesai, saat Gina kembali keruangannya asisten Yudha menghubungi untuk memintanya datang ke ruang Yudha.. Gina pun bergegas keruangan Yudha,, Sesampainya diruangan, dilihatnya sang asisten keluar dari ruangan dengan tumpukan dokumen, sambil memberi hormat dan diminta langsung masuk keruangan Yudha. Didalam ruangan, Yudha sedang melakukan panggilan telpon, dia mengisyaratkan Gina untuk duduk. Gina pun mendengar sedikit percakapannya. "Baiklah nek nanti akan aku pikirkan lagi" kata Yudha "Kamu jangan hanya memikirkanya, tapi kamu harus mencarinya. Usia mu sudah cukup untuk berkeluarga. Kaupun sudah mapan diusia muda, Apalagi yg kau khawatirkan. Nanti akan aku perkenalkan lagi dengan gadis lainnya" Kata neneknya Yudha disebrang telpon kemudian menutupnya.. Yudha memijit kedua alisnya yg tebal.. Gina tersenyum mendengar itu, "Tenyata orang terpandang dan berwibawa seperti Yudha juga dikejar oleh pernikahan, hahaha" pikirnya "Terus saja tertawa, jangan lupa kita diposisi yang sama, karena selalu di jodoh-jodohkan" ucapnya sambil meletakan handphone di atas meja "Tidak, aku hanya heran, ternyata kamu juga dikejar untuk segera menikah. Kenapa kamu tidak menikah? Sedangkan aku yakin banyak perempuan diluar sana yang ingin jadi pasanganmu? " "Aku belum menemukan wanita yang pas untuk jadi pendampingku " jawabnya sambil tersenyum Gina hanya mengangkat kedua bahunya saja "Kenapa kamu tidak bilang kalau kamu adalah direktur baru diperusahaan ini? Dan kamu cucu dari direktur sebelumnya " tanya Gina penasaran.. "Kamu tidak bertanya, lagi pula kita tidak membicarakan perkerjaan kemarin" Jawab Yudha sambil tersenyum "Ini proposal pengajuan untuk proyek resort terbaru " kata Gina sambil menyerahkan proposalnya.. "Baiklah nanti akan aku periksa" "Makan siang nanti, kita makan diluar, aku akan menunggumu diparkiran" Kata Yudha "Baiklah, aku kembali keruangan ku dulu" kata Gina, kemudian beranjak pergi dari ruangan Yudha Chapter 4 Kamu bercanda kan? Siang hari ketika jam makan siang Gina masih memejamkan mata dikursi kerja diruangannya karena dia selalu mengambil jeda istirahat sekitar 15 menit sebelum makan siang.. Hingga diapun membuka mata karena menerima sebuah pesan Yudha "Aku tunggu kamu direstoran X, asisten Hendri menunggumu dibawah" Gina "Oke" balasnya, Gina pun bergegas turun kelantai bawah. disana sudah ada asisten Hendri yg menunggu. "Manajer Gina, silahkan! " Ucap Hendri sambil membukakan pintu mobil.. Tidak ada yang melihat kejadian itu karena semua karyawan sedang makan siang dikantin.. Setelah tiba di restoran, Gina pun langsung diantar ke ruangan yang telah dipesan oleh Yudha.. Yudha sudah menunggu dengan semua hidangan yang sudah tersaji "Maaf,, aku terlambat.." kata Gina "Tidak apa, aku sudah pesankan makanan. Semoga kamu suka" Kata Yudha sambil tersenyum ramah.. "Terima kasih" kata Gina Semua hidangan sudah tersaji juga ada mawar merah diatas meja Mereka makan sambil sesekali berbicara "Kamu sering makan disini?" tanya Gina "Tidak, hanya dengar dari orang saja, katanya disini enak. Aku sudah lama tinggal diluar negeri dan sekarang baru pulang. Semua tempat terasa asing bagiku karena sudah banyak perubahan" Jawab Yudha disela makannya "Memang sudah banyak yang berubah disini sekarang, dari bangunannya, tata letaknya bahkan orang-orangnya pun telah berubah" Kata Gina dengan ekspresi yang nampak sedih "Kenapa kamu bersedih? Tanya Yudha "Tidak ada, hanya saja terkadang aku merasa hidup ini berat. Kenapa semua berubah sedangkan aku tidak a pernah bisa berubah?" kata Gina sendu "Semua itu tergantung padamu, jika kau ingin merubahnya maka itu akan berubah. Tapi jika tidak, sampai kapanpun itu ga akan pernah berubah" jawab Yudha dingin "Aku ingin merubah semuanya, mendapatkan kebahagiaan layaknya setiap orang. Tapi entah aku harus mulai dari mana. Aku tidak tau, aku bingung" kata Gina sambil memainkan makanannya "Menikahlah denganku, aku akan berusaha merubah hidupmu jadi lebih bahagia" kata Yudha setelah membersihkan mulutnya dari sisa makanan Gina terpaku mendengar perkataan Yudha yang tiba-tiba.. Setelah beberapa saat dia lalu tersadar " Kamu bercanda kan? " Ucapnya dengan muka yang masih kaget.. "Aku tidak pernah bercanda, aku serius dengan ucapan ku barusan. Memang kita baru kenal, tapi aku yakin dengan keputusan ku ini. Lagi pula kita sama - sama di desak untuk segera menikah. Kakek nenek kita juga berusaha menjodohkan kita. Jadi aku yakin kita ini saling cocok " Jawab Yudha penuh keyakinan " A..Aku.. tidak tahu harus bilang apa" Ucap Gina sambil terbata - bata "Kamu bisa pikirkan dulu ini baik-baik"ucap Yudha dengan senyum dibibirnya Setelah selesai Gina pun kembali kekantor sendiri, sedangkan Yudha dia harus ketempat lain untuk bertemu dengan klien.. Setibanya dikantor Gina dikejutka oleh kedatangan seseorang yang tidak pernah dia harapkan keberadaanya sama sekali.. Gina dengan terpaksa bertanya padanya karena dia menghampiri Gina "Sedang apa kamu disini, dan ada perlu apa lagi?" Tanya Gina dengan ekspresi dingin "Ka aku kesini ingin menemuimu, nenek sakit dan dia berada dirumah sakit, kumohon ikut dengan ku kerumah sakit walau hanya sebentar saja, untuk sekedar mengunjungi dan melihat kondisi nenek" Pinta Siska dengan ekpresi memohon "Aku sudah tidak ada hubungan lagi dengan keluarga itu, jadi kau tidak perlu repot untuk mengunjungiku dan berpura-pura baik terhadapku " Jawab Gina seraya melangkahkan kaki meninggalkan Siska " Tapi kak nenek ingin sekali bertemu denganmu, dia bilang dia sangat ingin bertemu dengan mu walau hanya sebentar saja.. Tolong kak, kumohon, datanglah berkunjung sebentar kesana" Pinta Siska memohon Gina pun mau tidak mau ikut bersama dengan Siska, mengunjungi nenek yg selalu kasar padanya itu Gina beranjak kerumah sakit disaat Yudha hendak kembali kekantor "Mau kemana dia, dan bersama siapa? "Kemana dia akan pergi dan bersama siapa dia itu? " pikir Yudha sambil berjalan menuju ruangannya Chapter 5 Undangan pesta Gina tiba dirumah sakit.. Dokter baru keluar memeriksa keadaan neneknya, tekanan darahnya tinggi karena masalah perusahaan yang sedang dialami. Disana ada Riska ibunya Siska yang sedang menemani neneknya Ceklek.. Gina pun masuk "Ibu lihatlah siapa yg datang. Cucu kesayangan kakek ada disini" Ucap Riska sinis " Akhirnya kau datang juga" Sahut Arin dengan suara lemah " Apa kabar nek, bi?" Tanya Gina "Keadaan ku sudah jauh lebih baik" "Gina kamu tahu kan kakek mu akan berulang tahun, pulanglah untuk menjenguknya. Dia sangat merindukanmu "Kata Arin "Akhir-akhir ini aku sedang sibuk nek, mungkin aku tidak akan pulang. Nenek menyuruhku kesini bukan untuk membicarakan ini kan?"Kata Gina dengan tatapan yang mulai dingin "Kamu tahu kan perusahaan kita sedang mengalami penurunan. Jadi nenek ingin kamu memberikan saham mu yang 10% itu kepada Siska. Dengan begitu kita dapat memegang kendali perusahaan dan tidak akan jatuh bangkrut" Ucap Arin "Sudah kukira nenek memintaku kesini karena menginginkan sesuatu. Tapi kenapa aku harus memberikan sahamku pada Siska? Itu adalah punyaku dan aku juga berhak atas saham itu.." "Kau sudah berani melawanku? kamu sama saja dengan ibumu itu.. hemp" kata Arin dengan kesal "Pulanglah walau cuma sebentar, kakekmu sangat mengharapkan kedatangan mu, kita akan membicarakan ini dirumah!" kata Arin lagi dengan suara mulai meninggi "Kita lihat saja nanti nek. Karena sepertinya nenek sudah lebih baik, sekarang aku pamit dulu. Aku harus kembali ke kantor" Kata Gina sambil beranjak pergi "Ibu, apa kau yakin kalau Gina akan menyetujui rencana kita?" Tanya Riska "Tentu saja, dia harus menyetujui rencana kita, suka atau tidak suka" Sahut Arin sambil memejamkan matanya Saat keluar dari rumah sakit Gina bertemu dengan Riko dan Siska "Ka,, kaka sudah mau pergi?" "Iya,," Jawab Gina sambil berlalu meninggalkan mereka "Sepertinya kaka masih marah pada kita, apa dia akan memberikan restu pada kita, ini sudah lebih dari 3 tahun, kenapa dia masih tidak bisa menerima keputusan kita?" Kata Siska kepada Riko dengan muka yang mulai sendu "Sudahlah tidak usah dihiraukan, semua akan baik-baik saja" Ucap Riko berusaha menenangkan.. Ditempat lain... diruang kerja Yudha.. tok tok tok.. "Masuk" Yudha berbicara tanpa berpaling dari komputernya "Pak ada undangan pesta dari keluarga Atmaja.. Tuan besar Atmaja akan menyelenggarakan pesta ulang tahunnya" Kata Hendri sambil menyerahkan sebuah undangan kepada Yudha "Apa kita berhubungan dengan keluarga Atmaja?" Tanya Yudha "Dulu tuan besar selalu mengirimkan hadiah ke pesta ulang tahun tuan Atmaja, kadang tuan besar datang sendiri kesana" Terang Hendri "Baiklah kirimi saja nanti hadiah" " Baik pak" Kata Hendri sambil bergegas meninggalkan ruangan Yudha Waktu kerjapun sudah mulai habis, Yudha tidak langsung pergi dari kantornya karena dia masih harus menyelesaikan pekerjaannya Gina berjalan menuju lift, saat melihat lift hendak tertutup, Gina mempercepat langkahnya, sehingga dia hampir saja terjatuh. Untung Yudha sigap menangkap tubuh Gina.. "Maaf.. maaf . terima kasih" ucap Gina tanpa melihat orang yg menolongnya "Bisakah kamu berhati-hati dan tidak ceroboh lagi?" Ucap Yudha Gina merasa mengenal suara itu, sehingga dia pun mendongakkan kepalanya melihat orang yang menolongnya,, Gina seketika mematung melihat orang yang menolongnya.. Nampak Yudha tersenyum melihatnya "Apa kamu tidak ingin lepas dari pelukanku?" Tanya Yudha sambil tersenyum menggoda Sontak Gina pun terkejut " Ach maaf.." Gina langsung berdiri dan menunduk dengan muka yg merah seperti tomat Diapun mengambil berkas-berkasnya yg berserakan dilantai, dan Yudha membantu memungutnya "Kenapa kamu baru pulang? jika semua karyawanku begitu loyal sepertimu aku yakin perusahaan ku akan maju pesat" Ucap Yudha sambil tersenyum "Ada berkasku yang tertinggal jadi aku kembali lagi untuk mengambilnya" Jawab Gina Pandangan Yudha tertuju pada sebuah gambar coretan. Disana terdapat 2 gambar yang sedang di injak oleh seorang perempuan, yang 1 diberi nama, kuuk, yg 1 dan yang sedang menginjak ke 2 itu diberi nama putri Gina.. Yudha pun tersenyum melihat itu dan meraihnya, Gina yg menyadarinya berusaha mengambil gambar itu namun Yudha menaikkannya keatas.. "Kembalikan gambar itu" kata Gina dengan nada ketus "Tunggu,, aku hanya ingin melihatnya" kata Yudha sambil tersenyum dan menaikankan gambarnya keatas.. Dengan Tinggi badan Yudha yg sekitar 180cm sedangkan Gina hanya 160cm cukup susah meraihnya meskipun dia harus berjinjit.. Asisten Hendri hanya menahan senyum memperhatikan bosnya yang usil, karena dengan kepribadian bosnya yang begitu dingin dan serius, sangat jarang sekali bosnya tersenyum hangat kepada orang lain.. "Sepertinya dunia akan runtuh" Pikir Hendri karena bosnya tersenyum Pintu lift pun terbuka,, ting.. "Sudahlah kau ambil saja gambar itu" Kata Gina kesal dan meninggalkan Yudha disana Yudha hanya tersenyum melihat Perilaku Gina "Sungguh manis" Guman Yudha sambil tersenyum Chapter 6 Pesta Kakek Siang hari Gina bergegas untuk menghadiri pesta sang kakek yang ia sayangi.. Dengan menggunakan Gaun putih selutut dipadukan dengan kardigan hitam dan high heels, serta rambut hitam sepinggang yg dibiarkan tergerai membuat Gina tampak anggun dan elegan.. Gina masuk kerumah yang sudah ia tinggalkan sekitar 3 tahun yang lalu. Dia tidak pernah lagi menginjakkan kakinya dirumah ini.. Dia mulai memutar semua kenangan dirumah ini. Mulai dari saat dimana dia merasa bahagia bersama ayah dan juga ibunya, hingga kedatangan Siska dan ibunya yang mulai merubah semuanya menjadi sebuah luka.. Gina mulai mengenang saat dia berada dirumah ini, awalnya ia tersenyum sampai akhirnya ia menitikan air matanya tanpa ia sadari.. Gina pun mulai bergegas masuk dan pelayan rumah yang menyadari kedatangannya mulai menyapa "Nona Gina kenapa anda disini?" tanya si pelayan Gina yang mendengar pertanyaan itu mengernyitkan kening " Kenapa? apakah aku tidak boleh berada disini?" "Maaf,, saya tidak bermaksud seperti itu, silahkan masuk, tuan besar masih berada diruang kerjanya" kata pelayan sambil membungkuk mempersilahkan Gina masuk Gina langsung naik kelantai 2 tempat kakeknya berada.. Diruang itu dilihatlah sang Kakek Surya Atmaja tengah bersandar duduk dikursi sambil memejamkan matanya. Gina pun berjalan masuk dan menuangkan 2 gelas teh yang ada dimeja.. "Kakek,, hari ini kan kakek berulang tahun, tapi kenapa kakek malah sendirian diruang ini?" tanya Gina sambil tersenyum dan berlutut sambil menggenggam tangan kakeknya Kakek Surya pun membuka matanya mendengar suara cucunya, "Kakek ini sudah tua, tapi kamu tidak pernah mengunjungi kakek, apakah kamu juga membenci kakek?" Tanya kakek sambil menunduk melihat sang cucu "Aku tidak pernah membenci kakek, aku sangat menyayangi kakek.. Hanya saja..." Gina tidak melanjutkan perkataannya "Sudahlah kakek mengerti" kata kakek sambil tersenyum "Kakek masalah saham itu..." "Itu terserah padamu, kamulah yang harus mengambil keputusan. Kakek hanya ingin kamu hidup tenang dan bahagia. Itu saja" Ucap sang kakek "Baik kek, aku mengerti.." ucap Gina sambil mengangguk dan tersenyum Tidak lama Arin pun masuk bersama Riska sambil membawa sebuah dokumen.. "Ternyata kamu disini, nenek sudah membawa dokumen pemindahan saham, kamu tinggal tanda tangani" Arin berkata sambil menyodorkan dokumen Gina mengernyitkan kening sambil tersenyum sinis " Nenek tidak sabaran sekali ya, kalau aku bilang tidak mau tanda tangan gimana?" Tanya Gina sinis sambil menyilangkan kedua tangan di dada " Kamu sudah berani ya, nanti nenek akan berikan kamu kompensasi untuk saham ini. Sekarang kamu harus tanda tangan" Tanya Arin dengan nada tinggi dan memberikan bolpoin " Baiklah, tapi setelah ini nenek tidak boleh menggangguku lagi" kata Gina sambil menandatangani dokumen itu "Satu hal lagi.. Nenek ingin kamu menikah dengan Adrian wijaya, sebelumnya nenek berniat menjodohkan dia dengan Siska tapi karena Siska akan menikah dengan Riko, sebaiknya kamu yang menikah dengan Adrian. Dia baik dan juga dari keluarga terpandang" kata Arin sambil mengambil dokumen dari tangan Gina " Cih, jadi sekarang nenek berniat menjualku dan menjadikan aku pengganti Siska? Jangan harap, aku tidak mau" Kata Gina sinis " Kamu harus ingat, kalau kamu itu berhutang budi pada Siska, jika dulu dia tidak terjun ke sungai dan menolong mu mungkin kamu sudah mati terbawa arus.. Mengerti!" bentak Arin dengan nada tinggi "Ya ya,, harus berapa lama lagi aku membayar hutang budi ku pada nya. Selama ini aku pun sudah banyak berkorban untuknya. Apa itu tidaklah cukup?" Jawab Gina dingin dan beranjak keluar dari ruangan.. Tiba- tiba kepalanya sakit, Pandangannya mulai kabur. Dia berusaha sekuat tenaga untuk terus berjalan. Dia berjalan sempoyongan sampai ke dekat tangga. Dia bertopang pada pagar dekat tangga. "Ah,, kenapa kepala ku sakit dan pusing. Ada apa denganku?" Pikirnya Dari belakang datang Arin bersama seorang pria " Gina kenalkan ini tuan Adrian. Temanilah dia berkeliling sebentar. Dia adalah tamu kehormatan kita" Kata Arin lembut "Hai nona Gina, Saya Adrian" katanya sambil mengulurkan tangan "Cantik juga gadis ini, bahkan lebih cantik dari Siska. Aku lebih tertarik dengan dia dari pada si Siska" gumamnya dalam hati "Aku tidak mau" Gina berusaha pergi dengan jalan tertarih "Gina!! berani-beraninya kamu melawanku. Kamu harus pergi dengan tuan Adrian!"" "Dasar anak tidak tahu diri, tidak tahu balas budi kamu ya!" Arin berteriak sambil menghentakkan tongkatnya kelantai "Harus bagaimana lagi aku membalas budi pada Siska? Dia sudah mengambil semuanya dariku. Aku selalu mengalah padanya. Memberikan apapun yang dia inginkan. Bahkan tunangan ku pun aku berikan. Apalagi yang kurang?" Gina berkata dengan nada sinis "Kaka,, aku tidak pernah memaksamu untuk memberikan Riko, Kami berdua saling mencintai. Tapi jika kamu tidak memberikan restumu aku rela melepas Riko untukmu" Kata Siska sambil menangis "Siska! jangan bicara sembarangan kamu" kata Riko "Cih, aku pun tidak sudi bersamanya lagi" Kata Gina sambil berpaling pergi "Kembali Gina! kamu harus menemani tuan Adrian" teriak Arin "Aku tidak sudi" Gina berjalan namun hampir jatuh dan ditahan oleh Adrian, tapi Gina menepisnya dan berjalan menuju meja hidang " Jika aku harus membalas budi untuk Siska maka aku akan membayarnya" Gina mengambil pisau buah dan menusuk pundaknya sendiri "Aachhh..." Chapter 7 Yudha Arya Kusuma, menikahlah denganku?! "Aaacchhh..." Teriakan semua orang menggema diruang pesta melihat kejadian tersebut "Gina!!" "Kakak!!" Gina berusaha mencabut pisau yang tertancap dibahunya dan melemparkannya didepan Siska dan semua orang "Pisau berdarah itu adalah balasan atas hutang budi ku, mulai sekarang kita impas. Aku tidak berhutang apapun lagi pada Siska!" Gina berbalik, tertatih dan terhuyung berjalan keluar dari rumah itu tanpa menoleh lagi ke belakang.. Sakit yang dirasakan pada tangannya tidak lebih sakit dari hatinya yang merasa semua tak adil. Merasa tidak percaya atas apa yang terjadi. Neneknya yang entah kenapa begitu teganya, mengambil sahamnya untuk adik tirinya. Dan mencoba menjerumuskannya menikahi pria yang seharusnya menikah dengan adik tirinya itu. Air mata hanya tertahan dipelupuk matanya.. Ia meringis menahan sakit yang dirasakannya.. "Ibu kenapa Gina begitu nekat, sekarang dia berani melawanmu?"Bisik Riska pada Arin "Entahlah, apa yang membuat anak itu berubah dan berani melawanku, padahal Gina yang dulu hanya akan diam dan menuruti semua permintaanku" Kata Arin Ayah Gina baru keluar dari ruang kerjanya setelah semua itu terjadi. " Ada apa ini? Kenapa kalian membuat keributan? Siska cepat panggil kakekmu keluar untuk memulai pestanya! Tidak baik membuat tamu terlalu lama menunggu" Perintah Budi Surya Atmaja dan dia juga memanggil seorang anak buahnya "Pergi cari Gina, periksa keadaannya dan bawa kerumah sakit!" Anak buahnya hanya menggangguk meninggalkan tempat acara. Budi segera menghampiri ibunya. " Bu, tidak cukupkah ibu mengorbankan kebahagiaan keluarga ku demi harta dan dukungan dari keluarga Riska? Aku sudah memenuhi keinginan ibu untuk bercerai dengan Gadis dan menikahi Riska. Sekarang ibu dengan teganya ingin merebut kebahagiaan anakku juga. Ibu sungguh kelewatan! "Budi bicara dengan nada yang kesal, kemudian berjalan melewati Arin tanpa menunggu sepetah katapun keluar dari mulut ibu tirinya itu. Ya, ibu kandung Budi telah meninggal dan neneknya meminta Arin menjadi ibu sambung Budi, dengan syarat tidak boleh memiliki anak lagi Cukup menjaga Budi dan menjasi nyonya besar keluarga Atmaja Yudha baru saja tiba bersama asisten Hendri "Hendri,, masuklah kedalam dan aku akan menunggumu disini" Yudha pun duduk disebuah restoran tidak jauh dari rumah Gina sambil membaca sebuah dokumen.. Gina terus berjalan tertatih sambil memegang tangannya yang terluka, ia tidak membiarkan dirinya tumbang begitu saja. Hingga dia bertemu dengan orang yang dia kenal "Hendri,, sedang apa kau disini? " Tanyanya dengan suara lemah "Itu... saya..." Hendri tidak langsung menjawab peetanyaan Gina "Nona apa anda baik-baik saja? wajah anda terlihat pucat" tanya Hendri "Aku tidak papa,, "Gina menggelengkan kepalanya perlahan. "Apa kamu hanya sendiri? Dimana tuan mu?" Tanya Gina lagi sambil mencari keberadaan Yudha "Itu.. Tuan ada disana" Hendri menunjuk kearah Yudha berada Pandangan Gina pun mengikuti arah yang ditunjuk Hendri hingga tertuju pada sosok yang ia kenali tersebut. Dengan perlahan dan terhuyung Gina berjalan menuju pria yang ia kenal, mencari sebuah perlindungan dari sana.. Yudha menyadari sebuah bayangan menuju kearahnya. Hingga bayangan itu mendekat dan berdiri dihadapannya. Menutupi cahaya yang menyinari dokumen yang dia pegang, iapun mengangkat kepalanya dan menatap sang gadis. "Yudha Arya Kusuma, menikahlah denganku!" Tanya Gina dengan suara lemahnya Sang pria tidak langsung memberikan jawaban apapun. Dia berdiri dan meraih tangan sang gadis dan hendak menuntunnya pergi. "Mau kemana" Tanya Gina bingung "Bukankan kita akan menikah? Kita harus ke Kantor Urusan Agama sekarang. Kalau tidak kantornya akan keburu tutup" Jawab Yudha menerangkan sambil tersenyum manis. Gina masih mematung menyadari apa yang dikatakan barusan, hingga kekuatan yang ia pertahankan mulai habis. Dan Gina hampir terjatuh. Beruntung Yudha sigap dan segera menangkap Gina. "Apa yang terjadi? Apa kamu baik-baik saja?" Tanya Yudha khawatir sambil terus memegangi tubuh Gina Gina meraih kerah baju Yudha, dia berusaha berkata dengan sisa tenaga dan kesadarannya. "Kamu sudah berjanji menikahiku, kamu tidak boleh menyesal dan kita harus segera menikah! " Ucap Gina dengan lemah dan akhirnya kehilangan kesadaran Yudha pun menyadari sesuatu melihat darah ditangan Gina dan kerah bajunya, dibalik kardigan hitam pekat dan gaun putih itu terdapat luka. Luka yang entah seberapa dalam dan sakitnya. Gadis ini tidak membiarkan dirinya kalah dan jatuh begitu saja.. Hendri bergegas menghampiri tuannya ketika melihat Gina tidak sadarkan diri. "Tuan apa yang terjadi dengan nona Gina?" "Kita bawa dia kerumah sakit terdekat" "Haruskah saya menghubungi keluarganya? " "Tidak perlu, cari tahu apa yang telah terjadi padanya!" "Baik tuan" Mereka pun bergegas kerumah sakit. Dan sepanjang jalan Yudha terus memperhatikan wajah gadis yang berada dipangkuannya tersebut Chapter 8 Rasa sakitmu akan kukembalikan pada mereka!! Sudah 2 hari Gina tak sadarkan diri. Dan Yudha selalu menemaninya tanpa beranjak dari kamar rawat Gina. "Pasien tidak papa, luka dibahunya cukup dalam dan kemungkinan akan meninggalkan bekas luka" "Lantas, kenapa dia belum sadarkan diri?" "Ada kandungan obat tidur dalam tubuhnya. Setelah efek obat itu habis dia akan terbangun" "Obat tidur?" Yudha mengernyitkan alis kemudian memandang sang gadis mendengar perkataan sang dokter.. Yudha membaca dokumen mengenai informasi yang terjadi kepada Gina selama ini dan juga yang dipesta terakhir kali. Dia terus memperhatikan Gina. Dalam keadaan tidak sadarkan diri Gina terus merasa gelisah dan air mata menetes dari ujung matanya. Yudha yang duduk dikursi sebelah Gina menghapus air matanya. Ia terus menatap gadis yang terlihat kuat dari luar tapi ternyata begitu rapuh didalam. "Kenapa kamu harus berpura-pura kuat? Kamu pasti sudah banyak melalui hal berat selama ini? Mulai sekarang aku tidak akam membiarkan mu menangis lagi, aku akan selalu menjagamu dan melindungimu. Semua rasa sakitmu akan kukembalikan pada mereka! " Yudha menggenggam tangan Gina dan mencium punggung tangannya. Gina perlahan menggerakkan jari tangannya dan membuka matanya. Diapun melihat sekeliling dan pandangannya berakhir pada Yudha. "Aku dimana?" Ginapun berusaha duduk dan Yudha membantunya, dia memberikan air minum pada Gina. Gina yang teringat kejadian itu kemudian menangis. Dia mendongak melihat mata sang pria " Apa kau tidak ingin menanyakan apa yang terjadi padaku?" "Apa yang harus aku tanyakan? Apa aku harus bertanya apa kau jagoan, atau apa kau tidak takut akan pisau itu? Kamu tidak harus menjelaskan apapun padaku" Yudha menjawab dengan senyum dan duduk di kursi sebelah Gina Kemudian ia teringat janjinya bersama Yudha "Ach... bukannya kita akan menikah? Tanya Gina sambil matanya berkaca-kaca menahan air mata agar tidak menetes jatuh. "Apakah kau menyesal untuk menikahiku?" Gina bertanya sambil menundukkan kepala dan suara yang sendu. "Sudahlah jangan memikirkan itu, nanti petugas dari kantor urusan agama akan datang untuk menikahkan kita. tapi kita harus menghubungi ayahmu dulu. " kata Yudha sambil tersenyum dan mengusap rambut Gina dengan lembut. Ginapun merasa tenang mendengarnya. Kemudian Hendri masuk beserta anggota KUA. "Permisi tuan. mereka sudah datang" "Silahkan masuk, apa kalian sudah membawa dokumen resminya?" Yudha bertanya dengan penuh wibawa "Kami sudah membawa dokumen yang diperlukan. Kita bisa melakukan ijab kabulnya denga segera. Tapi siapa yang akan menjadi wali dari nyonya? " " Bisakah anda menjadi wali hakim untuk saya? Ayah saya sangat sibuk, dia tidak ada waktu untuk ini dan kakek saya sakit, jadi tidak ada lagi yang bisa jadi wali" kata Gina menjelaskan " Baiklah. kita akan menggunakan wali hakim " kata petugas kantor urusan agama Setelah semua selesai, petugas memberikan dokumen yang harus mereka tanda tangani Yudha menanda tangani dokumen tersebut lalu memberikannya pada Gina "Lihatlah dokumen ini, jika kamu tidak keberatan. setelah kamu tanda tangani ini maka kita resmi menjadi suami istri " Senyum indah terpancar di wajah sang pria.. Mata Gina berkaca - kaca tidak percaya, lalu dia mengambil dokumen itu dan menanda tanganinya " Selamat karena tuan dan nyonya sudah menjadi suami istri. Besok pagi kami akan antarkan buku nikah tuan dan nyonya. kalau begitu saya pamit tuan. Permisi " Petugas dari kantor urusan agama itu pergi diantar oleh Hendri "Kapan aku boleh keluar dari rumah sakit ini?" "Nanti setelah dokter memastikan bahwa kau baik-baik saja" "Permisi tuan, saya membawakan bubur dan beberapa makanan untuk tuan dan nona" Hendri datang dengan membawa kantong plastik berisi beberapa makanan dan minuman juga bubur untuk Gina "Panggilkan dokter kemari" "Baik tuan" Tidak lama dokter dan suster pun masuk untuk memeriksa keadaan Gina "Dia sudah tidak papa, tapi luka dibahunya tidak boleh terkena air kira-kira seminggu. Dan juga anda masih muda, tidak seharusnya anda terlalu sibuk dengan pekerjaan. Anda tetap harus menjaga kesehatan anda" "Anda juga sebagai suami harus memperhatikan kondisinya dan memberikan perhatian lebih, jangan biarkan dia terlalu sibuk dengan pekerjaannya" "Tapi dok dia..." belum sempat Gina selesai bicara Yudha sudah memotong perkataannya "Baik dok saya akan lebih memperhatikannya" Yudha mengelus kepala Gina dan tersenyum.. Ginapun tersipu malu dibuatnya... Dokterpun menulis resep dan memberikannya pada Yudha, kemudian Hendri mengambilnya dan mengurus obat beserta administrasinya... Chapter 9 Nyonya Kusuma, ini rumah kita! Hari ini Gina sudah diperbolehkan pulang. Gina masih duduk diranjang rumah sakit dan memperhatikan buku merah yg diantar petugas sipil.. Dia tersenyum kemudian cemberut. Yudha yg memperhatikan ekspresi istri barunya pun merasa heran. "Kenapa ekspresimu seperti itu? Apa yang lucu dengan buku nikah itu sehingga membuatmu tersenyum dan cemberut diwaktu bersamaan?" Yudha mendekat ke arah Gina dan memperhatikan gadis itu . "Lihatlah buku nikah ini, kau terlihat sangat tampan disini. Sedangkan aku,,, lihat wajahku di photo ini! terlihat pucat seperti seorang mayat. Ekspresipun terlihat seperti gadis yang dipaksa menikah" Katanya sambil mengerucutkan bibirnya "Sini, biar aku lihat!! hemn,, benar juga, padahal kenyataannya kamulah yang memaksaku untuk menikahimu hahaha" Tawa Yudha meledek Gina semakin merona karenanya "Sudahlah hentikan, berhenti menertawakan ku" Kata Gina dengan ekspresi kesal dan memalingkan wajah Yudha meletakan kedua tangannya dipipi Gina, dan merekapun saling bertatap mata "Dengarkan aku, tidak peduli apa yang jadi alasan kita menikah sekarang ini. Tapi sekarang kamu sudah menjadi istriku. Dan aku tidak akan pernah membuatmu bersedih. Aku akan menjamin hidupmu dimasa depan dan akan berusaha membahagiakanmu sampai kapanpun" "Terima kasih, aku akan berusaha menjadi istri yang baik untukmu" Senyuman indah terukir indah diwajah Gina meskipun matanya mulai berkaca-kaca karena terharu.. "Sudahlah, ayo kita pergi. Kita akan pulang kerumah kita" Ajak Yudha membantu Gina berdiri "Kerumah siapa? apakah kerumahmu?" "Tentu saja, memang mau kemana lagi? jangan bilang kamu tidak mau ikut bersamaku?" Tanya Yudha dengan penuh selidik "Bukan begitu, bisakah ketempatku sebentar untuk mengambil sedikit barangku?" "Tidak perlu, biarkan Hendri yang akan mengambilkannya untukmu" "Baiklah" Merekapun bergegas menuju rumah Yudha dikawasan West Resident. Kawasan ini merupakan salah satu kawasan perumahan elit, yang tidak sembarangan orang bisa keluar masuk seenaknya.. Penjagaan dikawasan ini sangatlah ketat. Mereka mulai memasuki kawasan West Resident, Gina pun terkagum-kagum melihat kawasan itu.. Pohon yang rindang dan bunga - bunga yang tertata rapih disepanjang jalan memberikan kesejukan. Rumah-rumah megah yang begitu luas terlihat berjejer, meskipun tidak terlalu banyak karena kawasan ini terbatas hanya beberapa unit saja. Mereka memasuki gerbang rumah Yudha. Rumah berlantaikan 2 yang begitu megah dengan bunga - bunga yang tertata dipekarangan rumah memberikan kesan yang sangat mewah bak sebuah istana. Gina tak percaya jika sekarang dia akan tinggal dirumah ini. Diapun mematung ditempat. Yudha berjalan menuju pintu mobil lain hendak membukakan pintu mobil. "Nyonya Kusuma, ini rumah kita kenapa kau diam saja? ayo turun, mau sampai kapan kamu terus melamun begitu?"m " Yudha mengulurkan tangan untuk membantu Gina turun dari mobil "Aku tidak percaya kalau akan tinggal dirumah ini, rumah mu begitu besar" "Eits ini bukan rumahku. Ini rumah kita" Yudha tersenyum sambil menggandeng istrinya masuk Para pembantu sudah menunggu kedatangan mereka di depan rumah "Selamat datang kembali tuan, nyonya" kata para pembantu serentak "Ini bi Ana, ini Yatni dan ini pak Toto. Kalau kamu butuh sesuatu panggil saja mereka" Kata Yudha memperkenalkan para pembantunya. "Hallo bi Ana,Bi Yatni, pak Toto" Kata Gina menyapa sambil tersenyum dan melambaikan tangan diapun lupa kalau tangannya terluka "Aacchh" Dia meringis kesakitan "Berhati-hatilah, apa kamu lupa kalau bahumu terluka?" Yudha khawatir dan langsung memegang tangan Gina Gina hanya mengangguk dan berjalan bersama Yudha menuju kamar mereka di lantai 2 "Ini kamar kita, aku sudah mempersiapkan baju - baju untuk mu dilemari itu" Tunjuknya pada sebuah lemari 2 pintu yg tinggi "Terima kasih" Kata Gina sambil memeluk Yudha "Berhentilah berterima kasih, aku tidak ingin mendengar 2 kata itu lagi" Gina menganggukan kepalanya.. Chapter 10 Aku akan selalu bersedia melayanimu Gina berniat untuk mandi akan tetapi dia hanya termenung " Bagaimana aku bisa mandi? Luka ku akan basah.. Apa aku harus meminta bantuan bi Ana atau bi Yatni? atau...Aaaccchhhh" pikirnya kebingungan dan menggeleng-gelengkan kepala Yudha pun masuk ke dalam kamar dan memperhatikan perilaku Gina "Kamu kenapa? kenapa belum ganti baju? apa kamu tidak mau mandi,, hah?" "Aku,,, Aku,,, Aku kesusahan untuk mandi,," Jawabnya sambil tertunduk malu Yudha berjalan mendekati Gina. Sambil tersenyum diapun berkata "Kenapa tidak memanggilku untuk meminta bantuan? kamu anggap aku ini siapa,, hah?" "Bukan begitu,, aku malu,, dan aku juga bingung bagaimana mengatakannya" "Hei kita ini sudah menikah, dan aku sekarang suamimu, kamu tidak perlu sungkan untuk meminta bantuan ku.. karena aku akan selalu bersedia melayanimu" Yudha memegang pipi istrinya kemudian mencium kening istrinya itu Gina hanya mengangguk terharu mendapat perlakuan yang begitu manis dari suami yang ternyata atasannya itu. "Sudahlah biar kubantu kau mandi, lagipula lukamu tidak boleh terkena air" Yudha menggenggam tangan istrinya menuntunny menuju kamar mandi.. Selesai mandi mereka berbaring ditempat tidur, Yudha mengatur bantal dan posisi Gina agar dia bisa tidur dengan nyaman. Yudha memeluk gadis itu dalam dekapannya. "Yudha,, bolehkan aku bertanya sesuatu? " "Tanyalah!" "Kenapa kamu mau menikahiku. Aku yakin kamu sudah tahu kondisiku. Dengan keluarga yang membenciku. Apa kamu tidak takut akan terlibat masalah?" "Karena aku yakin kamu ditakdirkan untukku, aku juga yakin mereka salah menilaimu. Menilai penampilan luar yang dingin dan tak mempedulikan apapun. Tapi pada kenyatannya kamu terlalu baik atau entah terlalu naif" Senyum Yudha membuat Gina tenang dalam dekapannya.. "Bagaimana kamu bisa begitu yakin?" "Entahlah, hanya perasannku saja , atau memang itu kenyataannya. Aku juga tidak tau" Katanya sambil mengangkat bahu. "Sudahlah jangan memikirkan itu lagi.. Istirahatlah, ini sudah malam" "Hmmm..." Ini malam pertama mereka sebagai sepasang suami istri. Tapi Yudha mengerti dan memahami keadaan Gina sekarang. Jadi dia hanya tidur sambil memeluknya saja. Hari sudah pagi, matahari mulai menyelinap masuk dari sela - sela tirai jendela. Memberikan cahaya hangat pada ruangan yang hanya menggunakan penerang lampu tidur saja.. Gina membuka matanya, menatap wajah pria disampingnya, tersenyum mengagumi ketampanannya. Pria yang kata orang dingin dan tidak bisa disentu oleh wanita manapun, kini telah menjadi suaminya. Meskipun baru 1 hari menikah, pria itu sudah mrmberikan kehangatan baginya. Kehangatan dari seseorang yang sudah lama tak dirasakannya. Perasaan akan dihargai dan dimanja.. Yudhapun perlahan membuka matanya "Selamat pagi cantik" katanya sambil memeluk erat sang gadis.. "Selamat pagi" balasnya dengan senyum Yudha pun beranjak menuju kamar mandi dan Gina hendak mengambilkan baju ganti untuk suaminya.. "Kamu tidak perlu kekantor, istirahatlah dulu" Bolehkah aku pergi ke mall sebentar? aku mau mencari sesuatu untuk ibu juga Kakek Dirga " Peganglah kartu kredit ini dan kamu bisa gunakan salah satu mobil digarasi. Tapi tidak boleh pergi sendiri. Biar bi Yatni yang temani kamu" "Woow,, kartu gold tanpa limit.." "Kartunya masih atas namaku, nanti akan kubuatkan atas namamu!" "Baiklah, terima kasih" "Nanti aku akan pulang cepat, aku akan membawamu kesuatu tempat" "Okee.." Gina tersenyum manis, dia merasa bahagia, kini awal baru dalam hidupnya telah dimulai. Dengan status barunya, dia berharap bisa bahagia bersama suaminya. Chapter 11 Undangan pertunangan Gina pergi ke mall bersama bi Yatni, dia berkeliling mencari hadian untuk ibu juga kakeknya.. "Nyonya,, kita akan kemana lagi?" "Kita kesebelah sana,, disana ada tempat penjualan benda antik,, kakek sangat menyukainya, kita juga akan membeli beberapa vitamin" "Baik nyonya,," Mereka berjalan mengelilingi toko, sampai pandangan Gina beralih pada sebuah guci cantik yang sepertinya berusia ratusan tahun.. "Bi apakah guci ini cantik? sepertinya kakek akan menyukai guci ini!" "Iya nyonya, biar saya urus pembayarannya" Bi Yatni antri untuk mengurus pembayaran guci itu, sedangkan Gina duduk di kursi tunggu sambil membaca majalah.. Disisi lain Siska juga ada di mall ini dan hendak mencari hadiah untuk calon ibu mertuanya. Dia ditemani dengan Amara, sepupu Riko. "Siska coba lihat guci ini, cantik sejali bukan. Bibi pasti akan sangat senang jika kamu memberikan guci ini sebagai hadiah!" "Apakah begitu?" "Tentu saja" Amara mengangguk dan memanggil pramuniaga. "Tolong yang ini" "Maaf nona, guci ini saya duluan yg pesan, lebih baik nona mencari barang lain saja" kata bi Yatni "Tidak bisa, toh kamu belum membayarnya" kata Amara dengan nada kesal Ginapun menoleh kearah keributan. Dia mengenal suara itu. Dia hanya tersenyum sinis memperhatikan. "Tapi saya sedang melakukan proses pembayaran nona" "Sis,, kamu harus dapat guci ini, ibu mertuamu akan sangat menyukainya!" "Maaf, bisakah saya memiliki guci ini? saya akan bayar 2x lipat" "Maaf tidak bisa" "Kalau begitu 5x lipat" "Maaf tetap tidak bisa, mas tolong cepat sedikit ya!" Siska hendak pergi dari situ hingga langkahnya terhenti melihat Gina yang duduk dikursi. Diapun menghampirinya "Kakak,,," Gina mendongakkan kepala melihat seseorang berdiri didepannya. Dia hanya diam tanpa merespon apapun dan menundukkan lagi kepalanya melihat majalah. " Apa kakak baik - baik saja? Tempo hari kakak terluka, apakah sudah lebih baik?" Gina menutup majalah itu dan memandang Siska dengan dingin "Kenapa? Kamu berharap aku mati karena luka itu, atau kamu berharap tangan ku cacat akibat luka itu" Kata Gina dengan nada ketus.. "Tidak kak, bukan itu. Aku benar-benar khawatir dengan luka kakak" Siska dengan muka yang memelas berusaha mengambil perhatian Gina "Sudahlah hentikan, tidak usah berakting lagi didepanku. Aku muak dengan aktingmu itu" "Gina! Jaga bicaramu, Siska tidak sedang berakting. Dia benar-benar khawatir padamu. Tapi kau.. cih.. benar-benar tidak tahu diri" Kata Amara kesal Siska berusaha menenangkan Amara "Sudahlah, kebetulan aku bertemu denganmu disini. Aku ingin memberimu undangan pertunanganku dengan Riko". Dari belakang bi Yatni yang selesai membayar guci melihat situasi nyonyanya, diapun datang dan menghampiri Gina "Nyonya mari, semuanya sudah selesai" Gina mengambil undangan itu dari tangan Siska dan memberikannya kepada bi Yatni, Kemudian dia mengenakan kaca mata hitamnya dan pergi dari toko itu. Sementata Siska dan Amara masih mematung melihat kepergian Gina. "Nyonya? apa aku tidak salah dengar? kenapa perempuan itu memanggil Gina nyonya? apa dia sudah menikah?" Amara bertanya kepada Siska tentang kebingungannya. Sedangkan Siska hanya mengakat bahu. "Bi, pulang duluan saja ya! saya masih mau jalan-jalan sebentar" "Tapi nyonya,,nanti tuan..." "Tidak papa, nanti saya yang bilang sama dia. Barangnya bibi masukan saja ke bagasi. Bibi tidak papa kan kalau pulang naik taksi?" "Iya nyonya, kalau begitu saya permisi dulu" Tidak jauh dari tempat Gina berdiri ada seseorang yang dari tadi memperhatikan Gina. Setelah bi Yatni pergi diapun datang menghampirinya. "Untuk apa kamu kesini, mau mengejek ku? belum puas kamu dengan apa yang sudah kamu lakukan padaku?" Chapter 12 Bahkan semut sekalipun akan menggigit "Untuk apa kamu kesini? mau ngolok-ngolok aku? belum puas kamu dengan apa yg sudah kamu lakukan padaku" Gina berkata dengan dingin, tatapannya menyiratkan kebencian dan kemarahan.. "Gina, aku kesini untuk menanyakan kabarmu. Aku sama sekali tidak berniat untuk ngolok-ngolok kamu" Riko berbicara dengan tenang "Kenapa sekarang kamu berubah, mana Gina yang lembut dan baik hati yang dulu? yang selalu tersenyum dengan hangat ke semua orang" Gina tersenyum sinis mendengarkan kata-kata Riko "Hmm.. Gina yang bodoh dan penurut itu sudah mati, saat kalian tak henti-hentinya menjerumuskanku kedalam lubang yang paling dalam. Memaksaku melepas semua yang aku miliki. Mulai dari keluarga bahkan tunangan yang aku kira benar-benar mencintaiku direbut oleh adik tiriku sendiri " "Gina, tidak bisakah kamu melupakan semuanya? menerima apa yang terjadi? aku tidak pernah berniat menyakitimu, tapi aku mencintai Siska bukan kamu" Riko berbicara dengan tenang.. "Menurutmu bagaimana aku bisa melupakan semuanya? Keluargaku yang awalnya menyayangiku setelah kedatangan Siska kerumah, semua berubah perlahan membenciku. Kamu yang kuanggap sebagai satu - satunya sandaran ku pun berpaling dariku padanya" "Setiap apa yang aku lakukan salah, hanya dia yang benar dan semua yang aku miliki harus kuberikan padanya. Kamu kira dengan keadaan seperti itu aku masih bisa berbaik hati dan menerima semuanya dengan senyum?" "Kamu terlalu picik Riko, bahkan semut sekalipun akan menggigit jika dia terus diinjak - injak" "Tapi Gina.." Sebelum Riko selesai bicara Gina menyela perkataannya "Sudahlah mulai sekarang jangan ganggu aku lagi, anggap saja kalau kita tidak pernah memiliki hubungan dan tidak pernah saling mengenal. Aku ingin hidup dengan tenang" Gina berbalik dan berniat pergi dari sana, tapi tangan Riko memegang bahu Gina yang terluka dengan cukup keras, hingga Gina merasakan sakit lagi. Gina menahan rasa sakitnya dengan menggigit bibir bawahnya dan berusaha melepaskan tangan Riko "Gina,, ingatlah.. aku selalu menganggap kamu seperti adikku sendiri" Gina hanya tersenyum sinis dan berdecih sambil berjalan meninggalkan Riko sendiri Gina berkendara kesebuah panti asuhan di daerah selatan, dia membawa banyak hadiah untuk anak di panti asuhan. Setibanya disana dia melhat anak-anak sedang bermain ditaman bersama pemilik panti. Diapun menghampirinya " Selamat siang bu Retno" Gina menyapa dengan senyum ramah "Ech nak Gina disini, mari masuk. Anak-anak sedang main" "Saya membawa hadiah untuk mereka" Gina memberikan kantong hadiah itu pada pemilik panti, Ada banyak barang disana, mulai dari perlengkapan sekolah sampai makanan anak-anak. "Terima kasih banyak, nona Gina sudah banyak membantu kami selama ini. Jika bukan karena sumbangan nona pada kami setiap bulannya, entah bagaimana dengan nasib mereka" " Mungkin nanti nona Gina tidak bisa datang kesini lagi" Gina terkejut, karena selama ini panti asuhan inilah yang jadi pelariannya. Dia sangat senang melihat anak-anak yang tertawa riang tanpa beban "Ada apa bu? apakah ada masalah?" "Panti asuhan ini akan dibeli oleh pihak lain, saya dengar panti ini akan dibongkar dan dibangun pusat perbelanjaan. Awalnya kami diberi waktu 1 tahun. Tapi sekarang kami hanya diberi waktu 4 bulan saja untuk mengosongkan tempat ini" Gina hanya diam, dia tidak bisa berkata apa - apa. Entah apa yg bisa dia lakukan untuk panti asuhan ini. Diapun pamit meninggalkan panti berjalan menyusuri taman panti tanpa menolehkan pandangannya dari anak-anak itu. Hingga tanpa ia sadari dia hampir menabrak tiang listri didepannya, sampai seorang pria yang tinggi dan tampan dengan setelan jas rapi berdiri menghalanginya. Bukk... Chapter 13 Dia tidak bersama sugar daddy kan? Bukk.. "Aaachh..." Gina terkejut ketika dia menabrak seseorang didepannya "Sayang,, tidak bisakah kamu lebih berhati - hati dan tidak ceroboh?" Pria itu tesenyum dan memegang kedua tangan Gina agar tidak jatuh. Gina mengangkat kepalanya menatap pria itu. Pria yang tersenyum kepadanya dan berkali-kali dalam setiap pertemuannya selalu melindunginya. Memberikan rasa aman meskipun pria itu belum lama dikenalnya... Yah dia adalah suaminya, Yudha. Seorang pebisnis muda no 1. Pria yg kata orang dingin dan tak bisa disentuh kini menjadi suaminya. Menjadi sandaran dan tempat berlindungnya. Mata Gina mulai berkaca-kaca melihat pria itu. Entah kenapa Gina tidak bisa menahan air mata didepannya. Gina menghambur kepelukannya sambil menangis. Kepedihan yang selama ini dia rasakan tumpah didepan pria ini.. "Hei,, kenapa? Apa yg terjadi?" Tanya Yudha dengan mengangkat dagu Gina agar perempuannya itu menatap matanya. Gina hanya menggelengkan kepalanya perlahan dan menangis cukup lama. Yudha hanya memeluk dan mengelus punggungnya. Berusaha membuat istrinya tenang dan nyaman. Setelah Gina mulai tenang dan berhenti menangis diapun mulai bicara " Kenapa kamu kesini? " "Untuk menjemputmu! " "Bagaimana kamu tahu kalau aku kesini? " "Aku bertanya pada sistenmu, dia bilang kamu sering datang kesini" Gina menganggukan kepalanya. Risti asisten Gina memang tau kalau Gina suka kesini. Terkadang Risti yang Gina suruh kesini untuk mengantarkan barang - barang jika dia tidak sempat. "Yuk pergi, aku ingin mengajakmu ke suatu tempat!" "Kemana?" "Sudah, ikut saja" Yudha mengambil kunci mobil Gina dan memberikannya pada Hendri. Lalu dia membukakan pintu mobil untuk Gina.. Perhatiannya pada Gina membuat Hendri melongo "Tuan yang biasanya begitu dingin pada orang lain bisa begitu perhatian pada nyonya, memang ya cinta bisa merubah kepribadian orang" gumamnya.. Mereka berkendara ke kawasan mall yang elit dan masuk ke toko perhiasan. Yudha mengisyaratkan manager untuk mengambil pesanannya sebelumnya. Tidak lama manager datang dengan membawa sepasang cincin kawin. Yang 1 cincinya kecil dengan taburan berlian kecil dipinggir dan 1 berlian yang agak besar dibagian atas. Cincin 1 lagi dengan model yg sama hanya saja tidak ada berliannya. "Apa kamu menyukainya" Yudha bertanya sambil mengelus pipi Gina Gina mengangguk dan matanya mulai berkaca-kaca. Dia terharu dengan semua perlakuan Yudha padanya. "Kapan kamu memesannya?" "Sudah beberapa hari yg lalu. Kenapa kamu jadi mudah sekali menitikan air mata?" Yudha menghapus air mata dipipi Gina "Jangan pernah kamu lepaskan cincin ini! Hmmn cantik, aku memang tidak salah memilih model cincin" katanya sambil memakaikan cincin itu ditangan Gina "Aku memang memiliki tangan yg indah, jadi model cincin seperti apapun akan cocok ditanganku. Tapi,,, kenapa berliannya kecil sekali? kukira dengan semua yang kamu miliki akan memesan cincin dengan berlian besar" Gina cemberut menatap cincin itu "Hahaha.. jadi kamu lebih suka berlian yang besar? Aku bisa memberikan semua perhiasan yang ada ditoko ini jika kamu mau" " Tidak, terimakasih. Ini sudah cukup untuk ku! " Yudha sambil tersenyum menggandeng Gina, meletakkan tangannya yang besar dibahu Gina "Ayo kita berkeliling dulu sebentar, kita makan malam disini saja" Hendri mengikuti mereka dari belakang Setelah selesai makan, tanpa mereka sadari ada dua pasang mata yang memperhatikan dari dalam toko pakaian pengantin. "Riko, bukankah itu kakak? Dia sedang bersama siapa? kenapa mereka terlihat sangat dekat? Dia tidak mungkin bersama sugar daddy kan?" Siska berbicara pada Riko, menunjuk kearah Gina berjalan. Riko hanya terdiam tanpa memberi tanggapan. "Aku ingin tahu apa yang kakak lakukan" Siska bergegas mengejar Gina ke parkiran.. "Kakak!" Gina yang hendak masuk mobil pun mendesah, berbalik dan menatap kearah sumber suara.. Yudha yang sudah berada didalam mobil Roll Royce miliknya hanya diam dan memperhatikan saja. Chapter 14 Memberikanmu semangat baru sebelum mulai bekerja Gina memperhatikan dengan tatapan dingin. "Kak, apa yang kakak lakukan disini? tadi aku melihatmu bersama seorang pria,," "Sejak kapan kamu peduli padaku?" "Kak,,, aku benar-benar ingin memperbaiki hubungan kita. Tidak bisakah kamu memberikan restu padaku dan mulai semua dari awal?" "Kamu memanggilku hanya untuk membicarakan itu? Sudah kukatakan berulang kali jangan pedulikan aku, dan jangan pernah menggangguku lagi. Aku hanya ingin hidup tenang" "Tapi kak, kita ini bersaudara bagaimana pun kita tetaplah kakak adik" "Cih... kakak adik katamu? Adik yg selalu memfitnah ku dibelakang dan baik hati bagai peri di depanku" "Aku tidak butuh saudara sepertimu!" Gina berbicara tenang dengan kedua tangan melingkar di dada. Rikopun datang dan ikut berbicara dengan mereka berdua "Gina! kamu tidak boleh bicara begitu, Siska benar-benar merasa menyesal dan ingin berbaikan denganmu" Riko bicara dengan nada kesal, sedangkan Siska mulai terisak "Sudahlah,, harus berapa kali aku katakan kepada kalian untuk tidak menggangguku lagi! Aku tidak peduli dengan apa yang kalian berdua lakukan. Gina masuk ke dalam mobil dan pergi meninggalkan mereka berdua yang masih berdiri melihat kepergian Gina "Aku tidak bisa melihat siapa pria yang berada di dalam mobil itu, tapi sepertinya kakak tidak bersama dengan orang biasa" "Entahlah" Riko mengangkat bahu sambil menggandeng Siska pergi Gina menatap Yudha "Apa kamu membenciku setelah melihat sikapku kepada mereka?" "Tentu saja tidak, apapun yang kamu lakukan aku akan selalu mendukungmu. Bahkan jika kamu tidak bisa menangani mereka. Aku akan menangani mereka untukmu" Yudha tersenyum manis sambil mengelus kepala Gina. "Aku bisa menangani mereka" "Baiklah" Gina meringis merasakan sakit dibahunya "Apa kamu melukai bahumu lagi? "Entahlah, mungkin saat Riko menahan ku tadi siang lukaku sedikit terbuka" Yudha menyingkap rambut Gina dan melihat bahunya kembali berdarah. "Bagaimana ini bisa terjadi, kita harus segera mengobatinya lagi" "O iya, apa kamu mendapat undangan pertunangan Riko dan Siska?" Gina mengalihkan pembicaraan mereka "Ya, aku mendapatkannya tapi kurasa aku tidak akan pergi. Apa kamu akan pergi?" "Kurasa tidak, aku malas sekali jika harus kembali kerumah itu" "Baiklah kamu tidak usah pergi" Pasangan suami istri itu tiba dirumah. Yudha bergegas mengambil kotak p3k dan mengobati luka Gina. Meskipun baru beberapa hari mereka menikah dan belum berhubungan layaknya suami istri namun mereka semakin dekat. Gina sangat menyukai perhatian kecil yang diberikan Yudha, karena selama ini dia tidak pernah mendapat perhatian yang berlebih dari keluarganya ataupun Riko, mantan tunangannya yang direbut Siska.. "Bisa kah aku mulai pergi kekantor besok? aku sangat bosan dirumah" Rengek Gina kepada Yudha "Apa lukamu baik-baik saja" Yudha mendekat duduk disamping istrinya "Sungguh aku sudah lebih baik, aku sungguh ingin melakukan sesuatu" "Baiklah, tapi kamu jangan memaksakan diri. Ok" "Oke,," Gina bahagia hingga hampir melompat dari tempat tidur. Diapun berdiri dan menyiapkan baju tidur untuk suaminya. Sedangkan Yudha pergi kekamar mandi. Yudha keluar dari kamar mandi dengan hanya menggunakan handuk saja. Rambut basah memancarkan aura seksinya dan dada bidangnya sungguh membuat Gina terpana dan tak berkedip. "Apa kamu begitu terpesona melihatku? " Yudha mendekat dengan senyum menyeringai membuat Gina tersadar dari lamunanya. Gina tersipu malu dan menundukan kepala. Yudha tersenyum jahil dan mengangkat Gina ke tempat tidur "Aaach,, apa yang kamu lakukan? turunkan aku!" Gina memukul pelan dada Yudha "Memberikanmu semangat baru sebelum mulai bekerja besok. Kamu sudah siap kan? luka mu juga mulai sembuh. dan aku akan melakukannya perlahan" Gina tersipu "Tapi kan kamu sudah mandi" "Kita bisa mandi lagi berdua" Yudha kembali tersenyum dan tak lama, handuk dan baju Gina pun berserakan dilantai.. Chapter 15 Bos dingin mesum Pagi hari ketika Gina bangun dia meraba tempat tidur disebelahnya tapi tempat itu sudah kosong. Diapun duduk sambil mengusap matanya dan melihat sekeliling, tapi sang suami tidak ada. Dia bergegas mengambil jubah tidurnya dan turun kebawah dan mendapati sang suami sedang membuat sarapan didapur. Dia mendekatinya dan memeluknya dari belakang, menyandarkan kepalanya dipunggung sang pria. Yudha menoleh ke arah istrinya sambil tersenyum "Selamat pagi nyonya Kusuma" "Selamat pagi tuan Kusuma. Apa yang kamu masak? ada yang bisa aku bantu?" "Aku hanya membuat omlet saja, ini sudah selesai" Yudha mematikan kompor dan berbalik memeluk Gina "Apa kamu sudah siap bekerja hari ini?" "Hmm.. Tentu saja, aku sangat siap. Karena kamu sudah memberikan semangat baru padaku" "Baiklah nyonya kita harus siap - siap" Gina memiliki rutinitas baru sebagai seorang istri, dia akan selalu menyiapkan keperluan sang pria dan memakaikan dasinya. Dia sangat menyukainya, Gina turun dengan 2 tas kerja. Setelah sarapan dan membereskan perlengkapan makan, mereka berdua pergi ke kantor. Yudha tidak terlalu suka diganggu. Jadi pembantu rumah hanya akan datang seminggu sekali untuk membersihkan rumah. Tapi mereka tinggal tidak jauh dari sana, sehingga mudah dihubungi kalau Yudha butuh sesuatu. Setibanya dikantor Gina masuk terlebih dahulu disusul Yudha setelah beberapa lama.. "Pagi mba Gina" "Pagi Ris, Jadwal saya apa aja ya hari ini?" "Mba ada meeting jam 9 pagi ini" "Baiklah, terimakasih" Gina selesai meeting hampir jam makan siang, dia lalu keluar untuk makan siang dan berpapasan dengan sekertaris Yudha di depan pintu utama. "Siang nyonya" "Siang Linda, apa kamu tidak pergi makan siang dengan bosmu?" "Pak Yudha belum makan siang, dia masih bekerja diruangannya dengan Hendri" "Baiklah aku akan membawakan makan siang untuknya" Diapun pergi menuju restoran di seberang kantor dan memesan 3 porsi makanan dan 3 kopi, lalu membawanya kembali ke kantor menuju ruangan Yudha. Gina mengetuk pintu dan langsung masuk ke dalam ruangan Yudha. Disana terlihat Yudha yang sedang duduk di kursi kerjanya, sedangkan Hendri di sofa.. "Istirahatlah dulu, aku sudah membawakan mu makan siang. Hendri bagian mu juga ada" "Terimakasih nyonya" Hendri mengambil nasi dan kopi untuknya lalu meninggalkan ruangan Gina mulai duduk di sofa dan Yudha berjalan mendekatinya "Terimakasih sayang, aku tidak menyadari waktu ketika tadi bekerja" "Makanlah dulu, jagalah kesehatan mu. Jangan terlalu sibuk" "Baiklah sayang. Setelah ini aku harus keluar kantor menemui klien. Mungkin aku akan pulang malam" Yudha berbicara sambil makan. Gina hanya menganggukan kepala Setelah selesai Gina hendak kembali keruangannya namun Yudha menarik tangannya hingga Gina jatuh dipangkuannya. "Apa kamu langsung pergi begitu saja? " "Apalagi? Kita sudah selesai makan dan aku sudah membereskan semuanya. Sebentar lagi waktu istirahat selesai" "Kamu lupa sesuatu" "Apa?" Tanya Gina bingung "Mana ciuman untukku?" Kata Yudha sambil menunjuk pipinya sendiri "Ish,,, dasar kamu bos dingin mesum!" Kata Gina sambil mencubit pipi suaminya gemes "Aku minta kamu cium sayang, bukan minta cubit" Yudha sedikit cemberut "Cup" Dengan cepat Gina mencium pipi Yudha dan segera pergi dari ruangannya karena malu. Yudha hanya tersenyum penuh kemenangan.. Sambil berjalan menuju ke ruangannya Gina senyum - senyum sendiri "Iiisch.. bisa-bisanya dia jadi genit begitu.. kata orang dia begitu dingin, tapi lihat kelakuannya begitu, ach sungguh membuatku malu sendiri" pikir Gina sambil menggelengkan kepala Yudha keluar dari ruangan untuk bertemu dengan klien. Dilantai dasar dia berpapasan dengan seseorang.. Chapter 16 Gadis pintar! Siska melihat Yudha dan ingin menyapanya, dia datang kekantor Yudha untuk tanda tangan kontrak sebagai model baru dari proyek real estate. Dia meminta manager pemasaran untuk mengenalkannya kepada Yudha "Selamat siang tuan Yudha" "Hmnn... " Yudha hanya menganggukan kepala dan berjalan kembali tapi langkahnya terhenti kembali "Tunggu tuan, saya Siska Dwi Atmaja model baru untuk proyek real estate anda" Siska mengulurkan tangan untuk berjabat tangan tapi Yudha hanya menatap tangannya itu lalu pergi tanpa mempedulikannya "Maaf nona, tuan Yudha sedang buru-buru karena hendak bertemu klien penting" Sekertaris Linda berusaha menjelaskan sebelum pergi meninggalkan Siska mengejar atasannya. "Baru kali ini ada pria yang berani mengacuhkanku, menarik" pikir Siska sambil tersenyum sinis "Siapa perempuan tadi?" Tanya Yudha kepada Linda "Itu nona Siska. dia model baru yang sedang naik daun, dia juga merupakan adik tiri nyonya" Jelas Linda menerangkan "Owh,, jadi dia model" Yudha tersenyum sinis sambil meninggalkan kantor, entah apa yang dia rencanakan.. Gina melihat Siska dikantor tapi dia mengacuhkannya. "O iya nona, ini ada undangan dari kantor kami untuk pembukaan mall dekat real estate" Kata manager sambil memberikan sebuah undangan pada Siska.. "Baik terimakasih, saya pamit undur diri" Siska tersenyum menerimanya sambil bergegas meninggalkan kantor Yudha karena urusannya telah selesai. Dia pun mengirim pesan pada Gina "Kak.. bisakah kita bertemu sebentar? Ada hal penting yang ingin kusampaikan" Tring Ponsel Gina berbunyi dan dia langsung membukanya. Gina mengernyitkan alis membaca pesan itu. "Baiklah, kita bertemu direstoran x dekat mall 1 jam lagi" balasnya Gina tiba direstoran dan Siska sudah menunggu di kursi dekat jendela. Diapun berdiri menyambut Gina. "Hai kak..." "Tidak usah basa basi, langsung saja. Kenapa kamu ingin bertemu denganku? " "Aku ingin memberikan ini padamu. Nenek bilang ini kompensasi atas saham milikmu tempo hari " Siska menyerahkan selembar cek yang bernilai 1 milyar rupiah. Gina tersenyum sinis.. "Aku tidak tahu jika saham 10% itu bernilai cukup tinggi" nada bicara Gina cukup dingin dan sinis "Kak, , kami tidak pernah berniat melakukan hal jahat padamu, tapi perusahaan kita sedang menurun dan 1 pewaris akan lebih baik dari pada 2 pewaris" "Terimalah kak, kalau semua yang kamu miliki akan jadi milikku" Siska tersenyum licik penuh kemenangan tiba-tiba Byuurrrr... air teh tumpah dimukanya yang cantik karena disiram Gina.. "Akhirnya kamu menunjukan wajah aslimu di depanku. Kamu bisa tersenyum sekarang, Tapi ini baru dimulai. Kita akan lihat apakah kamu masih bisa tersenyum lagi atau tidak" Gina bangkit dari tempat duduknya dan pergi meninggalkan Siska yang berantakan dengan tersenyum sinis. Siska hanya mengepalkan tangan sambil bergumam "Gina kamu akan membayar atas ini semua" Dari kejauhan Yudha melihat kejadian itu dan diapun tersenyum melihat tindakan Gina "Gadis pintar" gumamnya... Siska pulang dengan keadaan berantakan, saat menuju parkiran, diapun menjadi pusat perhatian orang-orang karena penampilannya. Setibanya didalam mobil dia memukul kemudi dengan keras " Aaaccch....Dasar Gina wanita , berani-beraninya dia mempermalukan ku. Lihat aja nanti pembalasanku" Gina tiba dirumah sebelum suaminya. Diapun bergegas masak, menyiapkan makan malam untuk mereka berdua. Tidak lama setelah makan malam siap, sang suami pun akhirnya tiba dirumah.. "Hai sayang selamat malam" Yudha tersenyum dan menarik pinggang sang istri "Selamat malam" Gina membalas senyuman Yudha sambil membantu Yudha melepaskan jas yang ia kenakan dan menggantungkannya. "Bersih - bersihlah dulu. Setelah itu kita makan. Aku sudah menyiapkan makan malam" "Hmn.." Yudha bergegas keruang atas untuk mandi dan menikmati makan malam mereka Chapter 17 Apa kamu menginginkan perusahaan itu? Mereka mulai makan malam dengan tenang. Karena Yudha terbiasa dengan table manner saat makan, jadi tidak ada pembicaraan di meja makan. Setelah selesai dia pergi menuju balkon. Gina menyusul dengan 2 cangkir minuman ditangannya, dan memberikan 1 gelas pada Yudha "Tadi aku bertemu dengan Siska. Dia memberikanku cek 1 milyar, katanya sebagai kompensasi atas saham 10% yang diambil dariku" Gina bicara sambil mengesap minumannya, wajahnya tampak murung "Apa kamu menginginkan perusahaan itu? aku bisa mendapatkannya untukmu sebagai hadiah pernikahan kita! " Yudha bertanya sambil mengesap minumannya, diapun memperhatikan ekspresi istrinya "Entahlah, mungkin jika aku tahu kalau harga saham itu begitu tinggi, akan aku berikan itu dari dulu" Gina berkata sambil mengangkat bahu. "Aku akan membantumu mendapatkan kembali apa yang kamu inginkan. Kita lihat saja apa yang akan kita dapatkan nanti" Ekspresi yudha menunjukan senyum licik "Apa yang kamu rencanakan? sepertinya ada pertunjukan besar yang sudah kamu siapkan?" Gina menebak ekspresi suaminya. Tapi Yudha hanya tersenyum tanpa berkata apapun.. Dilain tempat Siska tiba dirumah dan masuk kekamarnya dengan amarah.. "Aach" Dia kesal dan membanting semua barang yang ada diatas meja riasnya. Riska masuk kekamar anaknya, karena melihat putrinya pulang dengan keadaan yang kacau. "Kenapa sayang? apa yang terjadi? kenapa putri mamah yang cantik pulang dengan keadaan seperti ini?" "Ini semua karena si Gina mah, dia menyiramku dengan air teh direstoran tadi, saat aku memberikan cek dari nenek!" Rengek Siska kepada ibunya "Kamu tenang saja nak, kita sudah mendapatkan sahamnya dan kita juga akan meminta nenekmu untuk mendapatkan saham milik ibunya Gina" Siska menganggukan kepalanya. "Sudahlah sana mandi dan bersiap, sebentar lagi ayahmu pulang untuk makan malam" "Baiklah mah,,," Perusahaan Yudha sedang melakukan persiapan untuk pembukaan mall sekaligus penyambutannya kembali dari luar negri. Gina ikut sibuk melakukan persiapan dan Yudha merencenakan sebuah kejutan untuk Gina.. "Sayang sepertinya kamu sangat sibuk akhir - akhir ini? Kenapa kamu ikut terlibat dalam persiapan pembukaan?" Yudha berbicara sambil memeluk pinggang Gina. Ginapun menyandarkan kepalanya dibahu Yudha "Karena ini adalah penyambutanmu juga sayang. Aku ingin melakukan yg terbaik untukmu" jawab Gina sambil menyentuh hidung mancung sang pria "Aku tidak mau kamu kelelahan sayang. pekerjaan mu saja sudah membuat lelah. Apa tidak lebih baik jika kamu berhenti? Aku bisa menafkahimu tanpa kekurangan apapun" "Kalau begitu kenapa kamu tidak menaikkan gajiku dan jabatanku saja sayang? " "Boleh, jika kamu pindah menjadi asisten pribadiku" Yudha menundukkan kepala menatap mata sang istri "Tidak, lupakan saja. Aku suka pekerjaan ku sekarang" Gina membuang muka dan memasang wajah cemberut, Yudha hanya tertawa melihat reaksi istrinya.. "Besok aku akan ke kota B untuk rapat" Gina mendongak melihat wajah sang pria "Tapi kan lusa acara pembukaan, tidak mungkin kamu tidak hadir di acara itu, sedangkan ini pesta untukmu juga? " "Aku akan hadir sebelum pesta dimulai, kamu tenang saja" Yudha mengecup puncak kepala sang istri "Hmm.. baiklah" Hari-hari mereka selalu dilewati berdua, saling mengisi dan mengerti. Diluar rumah Yudha sangat dingin dan serius, juga berwibawa, tapi ketika dirumah dan berhadapan dengan sang istri, dia akan menjelma menjadi suami yang hangat dan pengertian. Ginapun sama, ketika bekerja dia hanya akan fokus dan tampak acuh tak acuh. Tapi ketika berdua dengan sang suami dia akan sangat manja dan kekanak-kanakan. Tapi Yudha sangat suka sikap istrinya yang tampak polos dan apa adanya. Dia selalu memanjakan sang istri dan memenuhi semua kebutuhannya... Chapter 18 Gaun untuk istriku Hari pembukaan pun tiba. Gina juga mengundang Angel dan kekasihnya sebagai tamu, dia sangat senang karena akan ada banyak artis yang datang nanti. Gina berangkat dari rumah pagi-pagi sekali dengan setelan kerjanya, rok hitam, kemeja putih dan blezer hitam.. Tidak lupa dia menelpon sang suami untuk memastikan kedatangannya " Sayang jam berapa kamu akan tiba disini, semuanya sudah siap disini?" "Tenang saja sayang, aku dalam perjalanan. Dan perkiraan 1 jam lagi aku akan tiba disana" "Baiklah, aku tunggu. Hati-hati diperjalanan" Disebuah salon Siska dan Amara sedang bersiap untuk pesta. " Amara, bagaimana penampilanku? Apa aku terlihat cantik dengan gaun ini?" Siska berdiri didepan cermin dan memakai gaun berwarna pink nude. Sedangkan Amara mengenakan gaun kuning. "Iya, kamu terlihat sangat cantik. Dan kamu dengan kakakku pasti akan jadi pusat perhatian" Siska tersenyum mendengar pujian dari temannya itu. Para tamu mulai berdatangan di gedung acara. Angelpun tiba, dia menyapa Gina yang sedang memperhatikan keadaan pesta.. "Hai Gin. Kenapa kamu belum bersiap? sedangkan pesta akan segera dimulai?" Tanya Angel terkejut karena penampilan temannya "Ah, aku lupa untuk bersiap dan tidak membawa gaun. Apa kamu bisa pergi menemaniku mencari gaun dibutik sekitar sini?" Tak lama Linda datang menghampiri Gina dan dia berbisik kepada Gina " Nyonya, Tuan Yudha sedang menunggu anda dihotel. Saya datang kesini untuk menjemput anda" "Tapi acaranya akan segera dimulai, apakah waktunya akan cukup?" "Bu Gina tenang saja, saya yang akan handle disini" kata seorang manager "Baiklah, kita pergi. Angel, carilah tempat dudukmu. Aku akan segera kembali" Angel mengangguk mengiyakan dan Gina segera pergi menemui sang suami.. Para tamu mulai berdatangan.. Banyak artis dan tamu penting yang hadir. Angel sangat antusias melihat mereka. Dia terus berteriak dan sang kekasih hanya menggelengkan kepalanya. Ketika dia melihat Siska datang bergandengan dengan Riko dia merasa tidak senang dan terus mengumpat. "Lihatlah perempuan bermuka dua itu datang. Cih,, gayanya sombong sekali. Seperti bintang besar saja, padahal banyak yang lebih terkenal dari dia" "Sudahlah. jaga sikapmu. Kita disini sebagai tamu undangan Gina, jangan sampai membuat dia malu" Angel menganggukan kepalanya.. Sebelum ke acara Yudha pergi kesebuah butik mewah milik kenalannya "Kak tolong carikan gaun yang cantik untuk istriku!" Merry, kakanya Mario sangat terkejut karena teman dari adiknya ini, yang sudah dia anggap seperti adik sendiri, berkata dengan jelas ~istriku~ "Apa kamu bercanda yud?" tanyanya dengan mengerutkan kening tidak percaya "Aku serius, lain kali akan aku perkenalkan kakak padanya " yudha pun tersenyum. "Baiklah" Merry pun pergi mengambil gaun yang diminta Yudha. Dia membawakan Yudha gaun berwaran biru dongker dengan sedikit payet beserta aksesoris yang serasi dengan gaun itu. Yudha tersenyum puas melihatnya Gina sampai disebuah hotel. Diluar pintu kamar ada asisten Hendri menunggunya, dan ketika melihat Gina dia langsung membuka pintu mempersilahkan sang nyonya untuk masuk. Didalam ruangan sang suami tengah bersiap sambil menunggu sang istri. " Hai sayang. Semua keperluanmu sudah kupersiapkan didalam paper bag itu. Buka dan bersiaplah" Sang pria mendekati sang istri ketika melihatnya masuk dan menyambutnya, dia melingkarkan tangan disekitar pinggang istrinya dan mencium pipinya. Diapun menunjuk kesebuah paper bag yang terletak diatas tempat tidur. Gina merapikan dasi suaminya sebelum dia bersiap. Setelah suaminya rapih dia meraih paper bag dan masuk ke kamar mandi. Gina tidak suka menggunakan make up berlebihan. Jadi dia tampil dengan riasan sederhana dengan rambut ditata rapih dan sedikit rambut dibiarkan terurai di bagian depan. Chapter 19 Kedatangan sang Arjuna Gina lama berdiri dicermin, dia menatap dirinya dan luka di bahunya yang tidak tertutup. Wajahnya seketika berubah murung. Yudha masuk ke kamar mandi dan menghampiri instrinya, karena dari tadi tidak keluar juga dari kamar mandi.. Dia pun menatap sang istri "Lihatlah, aku tidak bisa mengenakan gaun yang cantik lagi. Bekas luka dibahuku ini sangat mengganggu" Gina tertunduk menahan air matanya agar tidak jatuh tapi tak tertahan. Yudha mendekap istrinya untuk menghibur " Tunggu sebentar aku bisa mengatasi ini" Yudha keluar untuk mengambil bros bunga dan kembali lalu memasangkannya dibaju Gina untuk menutupi bekas lukanya "Lihatlah sayang, bekas lukanya sudah tertutup, dan ini tidak akan jadi masalah lagi. Kamu tidak perlu bersedih sayang" Yudha mengusap pipi istrinya menghapus air mata dipipi sang istri.. "Ayo kita berangkat sekarang" mereka mengenakan baju senada dan Gina menggandeng lengan sang pria sambil berjalan meninggalkan hotel Ditempat acara semua tamu sudah datang. Mario dan Steven juga sudah tiba. "Pak Ben, apa Yudha sudah datang?" Tanya Mario kepada penanggung jawab acara "Belum pak Mario. Katanya Pak Yudha sedang dalam perjalanan" "Baiklah, kami ingin duduk satu meja dengannya! " "Baik pak, silakan" pak Ben mengantar mereka ke kursi dibagian depan.. Para gadis bersorak melihat Mario dan Steven masuk. Mereka sangat mengaguminya karena tampang yang rupawan dan karir yang mapan diusia muda, meskipun mereka berasal dari keluarga berada tetapi bisa sukses sendiri. "Lihat lah tuan Mario dan Steve sudah datang. Tuan Steve, tuan Mario" Teriak para gadis histeris Mario dan Steve hanya melambai dengan senyum yang terukir di wajahnya.. Sedangkan disudut lain para tamu berbisik. "Aku penasaran tuan Yudha akan ditemani siapa? apa dia datang sendiri? aku ingin sekali melihat gadis yang bisa menarik perhatiannya" "Dia adalah tuan muda yang sangat dingin pada wanita manapun, dibandingkan tuan Mario dan tuan Steve" Semua kursi sudah terisi. Hanya kursi untuk Yudha dan Gina yang belum terisi.. Diluar gedung sebuah mobil Roll Royce tiba beserta para pengawalnya dan itu adalah mobil dari seseorang yang paling ditunggu. Gadis - gadis diluar acara dan para wartawan yang tidak memiliki kartu undangan berteriak menyambut kedantangan Yudha "Lihatlah itu tuan Yudha sudah datang" "Tuan Yudha. Tuan Yudha" teriak orang-orang Pak Ben dan manager lain sudah menunggu Yudha. Asisten Hendri turun terlebih dahulu untuk membukakan pintu mobil untuk sang tuan. Yudha pun keluar dan dia mengulurkan tangan untuk membantu sang istri. Tanpa sadar, semua orang menahan nafas mereka karena merasa gugup. Mereka ingin melihat siapa wanita yang akan digandeng sang Arjuna. "Bu Gina!" Pak Ben dan yang lainnya terbelalak, melihat Gina turun dari mobil sang bos.. Mereka pun mematung karena terkejut. Sampai sebuah suara menyadarkan mereka dari keterkejutan "Apa semua tamu undangan telah hadir?" Suara Yudha berhasil membuat mereka tersadar " Iya pak, semua tamu sudar duduk dikursi yang disediakan" Yudha berjalan dengan Gina yang berpegangan ditangan Yudha. Ruangan seketika riuh saat Yudha dan rombongannya masuk. Mereka seketika menjadi pusat perhatian. Semua berteriak menyerukan nama Yudha.. Yudha hanya berjalan lurus menuju tempat duduknya tanpa menghiraukan teriakan mereka.. Disisi lain Siska terkejut melihat Gina bersama Yudha "Riko bukankah itu kakak? Kenapa dia bersama Yudha? Apa mereka memiliki hubungan?" Siska penasaran dan tidak percaya dengan apa yang dia lihat "Entahlah, tapi Yudha baru kembali dari luar negeri. Bagaimana mereka bisa saling mengenal dan berhubungan? Mungkin saja hanya sekedar hubungan atasan dan bawaha " Jelas Riko mencoba menerka hubungan Gina dan Yudha Chapter 20 Akan ada pertunjukan besar Semua mata tertuju pada Yudha dan Gina. Banyak yang tidak menyangka kalau wanita yang jadi pasangan orang nomor 1 di dunia bisnis ini adalah karyawan dari kantor ini. Gina terbiasa dengan penampilan sederhana ala wanita kantoran. Dia tidak pernah terlihat berias dengan berlebihan. Tapi kali ini dia tampil begitu cantik, elegan, dan menawan. Membuat semua mata terpukau. Tidak hanya mata pria tapi juga wanita yang melihatnya. Semuanya dibuat terkagum - kagum oleh penampiannya saat ini. Termasuk Riko. Dia tidak percaya kalau Gina akan terlihat sangat cantik seperti bidadari. Dia terus menatap Gina tanpa berkedip. "Kak Gina terlihat cantik sekali ya" Perkataan Siskapun membuat Riko tersadar dari lamunannya dan dia hanya menjawab "Hmmn,," sambil mengesap minumannya. Siska yang memperhatikan ekspresi Riko itu merasa kesal. Dia merasa cemburu dan marah melihat tatapan sang kekasih kepada kakak tirinya itu. Dia mengepalkan tangannya dibalik meja. Dengan tatapan mata yang tajam memancarkan aura kebencian. "Awas saja kamu perempuan !" umpatnya dalam hati. Gina yang melihat Siska dari kejauhan dan saling bertatap mata dengan Siska hanya membuang muka, tak mempedulikannya sama sekali . Dia terus berjalan menuju kursinya dibagian depan bersama Yudha. Yudha menarik kursi untuk Gina. Dia memperkenalkan Gina pada kedua sahabatnya, Mario dan Steven. Mereka tidak bercerita banyak karena kali ini waktunya tidak tepat. Ada pengurus dari cabang lain yang memperhatikan Gina dan menyapanya "Hai nona Gina, anda terlihat begitu cantik hari ini. Saya banyak mendengar tentang anda" Gina hanya mengangguk dan tersenyum ramah. Tapi yang bereaksi adalah Yudha yang duduk di meja sebelah Gina. "Jadi pak Anton juga mengenal Gina?" Tatapan matanya sinis penuh ancaman, membuatnya merasa merinding. Gina tersenyum pada Yudha sambil memberikan isyarat mata seperti mengatakan " kamu tidak boleh seperti itu", Yudha pun memberikan isyarat yang sama dengan mangangkat bahu dan alisnya. Acara pun dimulai, semua tampak senang dan menikmati acara. Begitu pun Gina dan Yudha meskipun mereka tidak duduk dalam meja yang sama. Tapi mereka saling memperhatikan satu sama lain. Mereka terus berinteraksi dari kejauhan. Tak lama Gina memberi isyarat pada Yudha kalau dia akan menghampiri Angel dengan cara menunjuk Angel. Yudha pun menganggukan kepala. Gina bercengkrama dengan Angel dan kekasihnya, mereka tertawa bersama sampai Siska dan Riko menghampiri mereka. "Kak,, kamu terlihat cantik sekali hari ini" Gina hanya menanggapi dengan senyum sinis. Dan "Oops ka maaf aku tidak sengaja, tadi aku kesandung" Siska menumpahkan minuman ke baju Gina. Gina hanya mengerutkan keningnya "Jelas kamu sengaja mengotori gaun Gina!" Angel tidak bisa menahan emosinya melihat perlakuan Siska terhadap Gina "Sudahlah aku ke toilet dulu" Gina pergi meninggalkan toilet dan Yudha yang memperhatikan dari jauh pun mengikuti Gina ke toilet. Setelah Gina selesai membersihkan gaunnya dan hendak keluar Yudha menarik tangannya. Membuat Gina terkejut " Aacch" "Sayang, apa kamu tidak papa? Tadi aku melihat Siska membuat ulah denganmu" "Aku tidak papa sayang. Hanya saja dia membuatku kesal dan gaun ku kotor" Gina cemberut sambil memegang bagian gaunnya yang kotor meskipun sudah berubah dia bersihkan "Kamu tenang saja sayang, aku punya pertunjukan yang hebat untukmu nanti" Yudha mengelus kepala Gina sambil menunjukkan senyum licik.. " Kamu punya rencana apa? Sepertinya akan ada pertunjukan besar?" Gina mengerutkan keningnya sambil tersenyum menunggu jawaban sang suami.. "Kamu tunggu saja, itu akan jadi pertunjukkan yang sangat menyenangkan" Yudha berjalan sambil melingkarkan tangan di pinggang Gina.. Bintang tamu sedang bermain piano sambil menyanyi dan Yudha memanggil pembawa acara untuk mengundang Siska menyanyi.. Gina tidak mengerti apa rencana suaminya itu.. Chapter 21 2 milyar, Asalkan Gina senang!! Gina yang penasaran terus mencari jawaban dari tatapan Yudha. Tapi Yudha hanya diam tanpa memberi jawaban. Pambawa acara mengundang Siska untuk naik kepanggung dan bernyanyi. Siska pun mengiyakan. Setelah dia selesai menyanyikan 1 buah lagu dan hendak turun pembawa acara menahannya. Hendri meminta Siska menyanyi lagi "Nona bisakah anda menyanyikan 1 buah lagu lagi dalam bahasa Perancis? Tuan Yudha sangat menyukai lagu-lagi Perancis!" "Tapi saya tidak bisa bernyanyi lagu Perancis. biar saya menyanyikan lagu berbahasa Inggris" Hendri mengangguk dan Gina yang bingung dengan perkataan Hendri. Dia mengerutkan alis dan berfikir. Sejak kapan suaminya suka lagu Perancis? sedangkan dirumah, mereka tidak pernah mendengarkan lagu-lahu Perancis. Dia menatap sang pria dan pria itu tersenyum. Lagu pun selesai, sebelum Siska turun dari panggung Yudha sudah kembali bersuara "Aku ingin kamu bernyanyi lagi!" "Tapi tuan, saya sudah bernyanyi 2 buah lagu" " Saya akan bayar kamu 1 miliyar" "Tapi tuan saya.." sebelum Siska menyelesaikan kalimatnya Yudha sudah menyela "2 Milyar, asalkan Gina senang" Nada suara Yudha terdengar begitu tegas dan aura pemimpinnya begitu terasa hingga bulu kuduk merinding mendengar perkataannya. "Apakah jumlah uangnya masih kurang, sehingga kamu tidak ingin bernyanyi lagi?" Yudha menatap Siska dingin lalu pandangannya beralih ke arah Gina dan tatapan lembut terlihat dimatanya.. "2 milyar asalkan nyonya Gina senang? dunia benar - benar akan runtuh" Gumam Hendri sambil menggelengkan kepala Siska terdiam mengingat penyebab ini semua, dia mengingat kejadian di restoran tempo hari. Dimana dia memberikan cek senilai 1 milyar kepada Gina. Semua orang diruangan mulai berbisik "Apakah uang itu tidak cukup untuknya, kenapa dia tidak ingin bernyanyi?" "Iya, dia fikir dia itu siapa? Berani melawan tuan Yuda. Tapi, 2 miliyar hanya untuk menyenangkan bu Gina? " "Padahal dia hanya seorang model baru, tapi dia berani bertingkah didepan tuan Yudha, Apa dia berusaha mencari perhatian? " Siska yang merasa tertekan mulai bernyanyi.. Sedangkan Yudha berjalan kearah Gina dan menggandeng istrinya meninggalkan acara.. "Jadi ini yang kamu rencanakam tuan muda Kusuma? Kamu sungguh suami pendendam ya!" Gina tersenyum nakal kepada sang suami " Ini belum seberapa sayang,, dia pikir dia siapa berani memberikan uang yang tak seberapa pada nyonya Kusuma ku" Yudha menoleh ke arah Gina dengan senyum menggoda. "Tapi tetap saja aku tidak suka kamu menghamburkan uang untuk seseorang yang tidak penting" bibirnya mulai mengerucut membuat Yudha merasa gemes "Sayang,, Anggap saja ini kompensasi untuk penampilannya". "Sayang, apa tidak masalah jika meninggalkan acara? kamu kan bintang utama acara ini?" "Tenang saja. Hendri dan Linda yang akan mengurusnya "Keduanya berjalan keluar gedung untuk kembali kerumah... Acara itu dilaksanakan hingga tengah malam. Semua berjalan lancar tanpa ada masalah yang serius.. Sementara Gina dan Yudha pulang dengan senang hati. Lain halnya dengan pasangan lainnya, Siska pulang dengan rasa marah. Sepanjang jalan pulang dia terus saja mengumpat "Riko,, aku sungguh tak terima, sepertinya kakak sengaja meminta bantuan Yudha untuk mempermalukanku. Aku benar-benar tidak sengaja menumpahkan air minum dibajunya" Siska berbicara sambil menangis dan. menutup wajah dengan kedua tangannya "Sudahlah sayang lupakan itu, jangan bersedih lagi. Tidak mungkin Gina melakukan itu" Riko meraih tangan Siska dan menghiburnya "Tapi Riko, kamu lihat sendiri tatapan benci kakak padaku. Dia belum bisa memaafkanku. Aku harus bagaimana lagi Riko? " Siska terus terisak "Sudahlah, jangan menangis lagi. Gina hanya perlu waktu. Suatu hari nanti dia akan memaafkan kita" Riko mengusap kepala Siska dengan lembut. Sedangkan Siska.. dalam hatinya masih marah dan tidak terima " Lihat saja Gina kamu tidak akan pernah bahagia. aku akan membalasmu. Aku tidak akan membiarkanmu memiliki kesempatan kembali pada Riko" Chapter 22 Apapun untukmu sayang Matahari mulai terbit dan masuk kekamar Gina melalui celah jendela. Menerangi kamar dengan cahaya remang. Gina membuka mata dan melihat sang suami sudah duduk disebelahnya. Ucapan " Selamat pagi nyonya" bersama senyuman sang suami, disertai belaian lembut dirambut Gina selalu menjadi pengawal hari. "Selamat pagi tuan" Gina meletakkan kepalanya dipaha sang pria. "Tuan, apa ada sesuatu yang menarik dimajalah hari ini? Sehingga kamu membaca majalah bukan koran?" Gina merasa ada yang aneh karena Yudha membaca majalah hari ini, bukan koran seperti yang biasanya dia lakukan setiap pagi. Yudha tertawa kecil sambil menunjukkan isi majalah "Lihatlah sayang ada berita bagus hari ini!" Disana ada berita tentang Siska di acara kemarin. Dia menumpahkan minuman ke baju Gina dan dia juga mendapatkan imbalan yang cukup besar karena menghibur Gina. Ini menjadi topik utama di setiap majalah. "Cup,,,Kamu benar - benar baik hati sayang. Terima kasih" Kecupan mesra mendarat dipipi Yudha "Apapun untukmu sayang. Ayo bersiap untuk pergi ke kantor!" Dilain tempat Siska merasa kesal melihat berita di majalah "Kenapa semua jadi seperti ini? Ini pasti ulah Gina!. Perempuan satu ini memang harus diberi pelajaran. Dia sudah membuatku malu. Lihat saja nanti akan ku balas dia" Amarah Siska meledak-ledak. Perusahaan keluarga yang bergerak dibidang perfilman ini pun mulai sibuk karena telepon dari para wartawan yang meminta konfirmasi dari berita tersebut. Semuanya kacau.. "Siska, kenapa bisa seperti ini? Lihatlah kekacauan yang telah kamu perbuat! " Arin datang ke kamar Siska dan meminta penjelasan dari masalah ini "Nek ini semua karena kakak, dia ingin mempermalukanku. Dia merencanakan semuanya, karena itu adalah pesta perusahaannya. Aku tidak bisa berbuat apa - apa" Dengan memasang tampang seperti korban, dia berusaha mengambil simpati dari neneknya itu. "Kamu tenang saja. anak kurang ajar itu akan dapat balasannya" Siska tersenyum penuh kemenangan karena mendapatkan simpati sang nenek "Tidak apa nek, berita ini akan hilang dengan sendirinya. Jangan salahkan kakak " "Kamu terlalu baik Siska, lihatlah apa yang telah dia lakukan padamu. Sudahlah bersiaplah turun untuk sarapan" "Baik nek! " Dilain tempat Angel sedang berbincang dengan Gina melalui telpon "Gin hari ini kumpul-kumpul ya. Julian baru pulang dari luar negri dan dia ingin kita berkumpul" "Oke, kirimi aku alamatnya. Setelah pulang kerja aku akan langsung kesana!" "Siip" Gina menoleh kepada sang suami " Sayang, aku boleh pergi kan?" Dengan mata berbinar penuh harap dia meminta izin dari suaminya " Kamu sudah mengatakan iya pada Angel sebelum bilang padaku?" Tatapannya menandakan ketidak puasan "Baiklah, Aku ada rapat diluar kantor jadi akan aku jemput ketika acaranya selesai" " Baiklah, terima kasih sayang. Muaach..." Gina, Angel, juga kekasihnya datang ke sebuah tempat karaoke yang sudah dipesan sebelumnya, untuk berkumpul bersama teman - temannya.. Tanpa disangka Siska pun hadir diacara itu, dia diundang oleh Julian untuk hadir. Suasana seketika canggung. "Lihatlah siapa yang datang? Sicantik wanita karir yang super sibuk bisa berkumpul dengan kita" Amara yang juga hadir mulai menyerang Gina dengan nada ketusnya. "Owh,, terima kasih atas pujiannya. Aku memang cukup sibuk selama ini, jadi jarang memiliki kesempatan untuk berkempul" Gina berbicara dengan tenang seraya senyum terukir indah dibibirnya. "Hai Gin, apa kabar?" tatapan Julian terhadap Gina agak berbeda, yah,,, dari dulu dia suka Gina tapi tidak pernah dihiraukan. Dan itulah yang menjadi alasan Amara tidak suka Gina, karena dia menyukai Julian dan merasa cemburu terhadap Gina. Chapter 23 Kenangan buruk masa lalu Amara pun merasa kesal, melihat Gina dan Julian terus bercengkrama. dan dia mulai membuat keributan " Huh, hebat ya mantan siswa drop out dari kampus bisa punya jabatan tinggi diperusahaan. Ga mungkin kan perusahaan itu percaya sama seorang wanita penggoda? Atau mungkin dia harus lewat jalan lain supaya bisa dapat posisi itu" Gina yang mendengar kata - kata itu mulai pucat. Kakinya lemas, tatapannya kosong. Dia teringat kejadian ketika masa kuliah, saat dia hendak diperkosa oleh salah satu dosen kampus dan berhasil membebaskan diri dengan cara menusuk sebelah mata dosen itu menggunakan bolpoin hingga buta. Tapi dia di DO dari kampus karena dituduh sebagai perempuan penggoda dan mencelakai orang lain. Angel memperhatikan keadaan Gina, dia menggenggam tangan Gina berusaha memberikan dukungan. "Diam kamu, jangan bicara sembarangan. Itu semua tidak bener. Gina hanya membela diri saat itu" Angel yang merasa kesal membentak Amara. "Apanya yang tidak mungkin? Buktinya dia di DO dari kampus. Bahkan ayahnya sendiri aja mengirim dia ke luar negeri saking malunya punya anak seperti dia" Amara tersenyum puas, sementara Siska pura - pura membela Gina "Amara, itu tidak bener, kakak tidak melakukan itu dengan sengaja. Aku tahu betul bagaimana kakak" "Sudahlah Siska kamu tidak perlu terus membela dia. Sedangkan dia saja selalu jahat sama kamu" Gina diam termenung dengan wajah pucat dan kaki gemetar. Dia tidak mengatakan apapun. Jelas peristiwa itu masih membekas di pikirannya. Angela yang merasa khawatir melihat keadaan temannya memberikan segelas jus. "Minum ini dulu, setelah itu kita pergi dari sini". Gina mengambil jus dari tangan Angel dan menggelengkan kepala " Kamu tetap tinggal disini saja, nikmati acaranya. Sebentar lagi Yudha kesini menjemputku" Tidak lama ponsel Ginapun berdering " Hallo sayang, aku sudah menunggu diluar gedung. Cepatlah turun!" "Baiklah aku akan turun sekarang" Gina bangun dari kursinya dan pamit kepada semua temannya "Baiklah nikmati pesta kalian, aku tidak mau merusak kesenangan kalian hari ini" Gina hendak pergi dengan suasana hati yang buruk, tertahan dengan kedatangan Riko yang berada didepan pintu. Melihat kedatangan Riko, Siska hendak pamit pada semua temannya "Aku pergi duluan ya, selamat bersenang-senang" Dia melambaikan tangan. "Tagihannya biar saya yang bayar" Riko berkata pada pelayan yang mengantarkan minuman sambil mengeluarkan dompet. " Maaf tuan, semua tagihannya sudah dibayar oleh tuan yang tadi datang atas nama nona Gina" Siska dan Riko menoleh kepada Gina Gina yang mendengar kata-kata sang pelayan hanya tersenyum sinis dan pergi melewati Riko yang berdiri didepannya. Dia berjalan menuju sang suami yang bersandar di pintu mobil. Yudha menyambut Gina dan membukakan pintu mobil untuknya . Riko dan Siska menatap pasangan itu dari kejauhan. "Apa kak Gina bersama pria lain lagi? Bukankah 2 hari lalu dia bersama tuan Yudha?" Riko tidak menanggapi ucapan Siska, Ada rasa kesal dihatinya melihat Gina bersama pria lain. Yudha memperhatikan raut wajah murung sang istri " Sayang,, apa terjadi sesuatu didalam sana? kenapa kamu terlihat sedih dan pucat?" Yudha khawatir pada istrinya, tapi Gina hanya menggelengkan kepala tanpa sepatah katapun sampai mereka tiba dirumah. Yudha yang bingung dengan sikap istrinya langsung menghubungi Hendri "Periksa apa yang terjadi diruang karaoke tempat Gina dan temannya berkumpul. Berikan laporan selengkapnya" Setelah selesai melakukan panggilan, lebih tepatnya perintah. Dia menyusul istrinya ke kamar mereka yang berada di lantai atas. Ginapun seperti biasanya membantu sang suami melepas jas yang dikenakannya dan menggantungnya kembali. Tapi ekspresi sedih sangat terlihat diwajahnya dan itu membuat Yudha merasakan sakit dihatinya. Istri yang biasanya ceria dan manja ketika bersamanya. Hari ini sangat murung dan diam tanpa berkata apapun. Chapter 24 Mereka harus membayar mahal atas semuanya Gina tidak bisa tidur dengan nyenyak malam itu. Dia terus merasa gelisah dan bergumam dalam tidur. "Lepaskan aku, jangan sentuh aku. Itu semua bukan salahku. Aku tidak melakukannya. Aku bersumpah, kalau aku tidak bersalah, lepaskan aku" Gina terus meronta, air mata dan keringat terus bercucuran dalam tidurnya. Yudha yang terbangun karena teriakan sang istri, langsung duduk dan memeriksa keadaan sang istri yang ternyata sedang deman tinggi. Dia pun bergegas turun ke dapur mengambil handuk dan air dingin untuk mengusap keringat dan menurunkan demamnya. Hingga menjelang pagi, panas Gina belum juga turun. Dan Gina terus gelisah dalam tidurnya. Yudha yang terus berjaga semalaman merasakan sakit yang teramat sangat didadanya. Melihat kondisi sang istri yang sepertinya memiliki trauma akan masa lalunya. "Sayang, sadarlah. Aku berjanji padamu tidak akan membiarkan mereka yang membuatmu menderita lolos satupun. Mereka harus membayar mahal atas semua penderitaanmu dimasa lalu". Kilatan kemarahan dan kebencian terlintas dimatanya. Yudha melakukan panggilan telpon dengan Hendri " Hendri, apa kamu sudah mendapatkan informasi yang aku minta?" "Sudah tuan. Kemarin Amara temannya Siska berkata pada nyonya tentang kejadian dimasa lalu yang membuat nona Gina di DO dari kampus" "Selidiki semuanya dan cari bukti lengkapnya jangan ada yang terlewat. Dan 1 lagi, handle semua pekerjaanku di kantor. Aku tidak akan ke kantor hari ini. Kamu bisa menghubungiku jika ada sesuatu yang penting " "Ada apa tuan? apa tuan baik-baik saja?" "Aku baik-baik saja. Hanya saja Gina sedang sakit" "Baik tuan saya akan mengurus semuanya!" "huuh..Gunung es sudah mencair dan aku yang mulai terkena banjir" Gumam Hendri Yudha bergegas kedapur untuk membuatkan Gina bubur sebelum minum obat. Dia begitu perhatian dan berhati-hati dalam merawat istrinya. Siang hari demam Gina mulai turun dan Yudha memyuapi dia bubur sebelum minum obat. Gina sangat terharu dengan perlakuan sang suami. Dia tidak bisa menahan air matanya jatuh dari kedua matanya dan mulai membasahi wajah cantiknya. Entah kenapa dihadapan pria ini Gina terlihat begitu rapuh. "Terima kasih karena kamu sudah merawatku, selama ini tidak pernah ada yang merawatku sebaik dirimu selain kakek. Setelah kakek mulai sakit - sakitan aku merasa sendirian" Gina terisak sambil menatap dalam ke mata Yudha.. "Jangan pernah bersedih lagi, karena sekarang ada aku yang akan selalu bersamamu" Yudha merangkup wajah Gina dengan kedua telapak tangannya sambil menghapus air mata. Dia menarik Gina kedalam pelukannya, menyandarkan kepala Gina di dadanya. "Kemarin itu diruang karaoke" "Sudah,,, tidak usah kamu katakan, aku sudah tahu yang terjadi" Yudha menyela perkataan Gina sambil membelai rambut panjangnya "Bagaimana kamu bisa tahu? ah iya, apa kemarin kamu yang membayarkan billnya? Gina mendongak penasaran Yudha hanya membalas senyumnya." Aku sudah tahu masalah itu dan sekarang kita hanya menunggu bukti lengkapnya saja" "Kamu pasti kecewa padaku karena aku tidak bisa membela diri" "Tenanglah,, ada aku yang akan membereskan semuanya" "Apakah sekarang kamu merasa lebih baik? Bagaimana kalau kita pergi ke butik mencari pakaian untuk ke acara pertunangan Siska dan Riko?" Yudha berdiri dan mengulurkan tangannya untuk mengajaknya pergi. Gina mengernyitkan alis dan menatap pria itu heran "Bukankah kamu mengatakan kalau kita tidak akan pergi?" "Aku berubah pikiran, kita akan pergi ke acara itu" Gina hanya mengangguk pada sang suami. Mereka mulai bersiap untuk pergi ke sebuah butik di mall. Sikap Yudha yang dingin terhadap orang lain begitu kontras dengan perlakuannya yang hangat terhadap Gina. Semua mata menatap ke arah sejoli yang sedang berjalan sambil bergandengan tangan dan bercengkrama tersebut. Chapter 25 Pesta pertunangan Banyak mata yang memandang iri kepada pasangan itu. Mereka juga tidak percaya dengan apa yang mereka lihat. Yudha Arya Kusuma pebisnis muda no 1 yang terkenal begitu dingin dan tak tersentuh, saat ini sedang menggandeng seorang wanita cantik bersamanya. Menemaninya menyusuri setiap butik di mall. "Apakah hanya perasaanku saja atau semua orang memang sedang memandang kita?" Gina berbicara lembut kepada sang suami "Tak usah pedulikan mereka" ujung bibirnya melengkung keatas, membentuk senyuman yang begitu manis. Menambahkan kekaguman semua orang terhadapnya.. Dia dengan sabar menemani sang istri memilih gaun. "Sayang,, bagaimana dengan gaun ini?" Gina keluar dari fitting room mengenakan gaun Maroon disambut senyuman dan pelukan sang suami "Kamu terlihat cantik dengan gaun apapun sayang" "Hei kita sedang berada ditempat umum" Gina mendorong tubuh Yudha perlahan "Aku tidak peduli, aku ingin seluruh dunia tahu kalau kamu sekarang milikku!" kata-kata Yudha sontak membuat Gina tersipu merah semerah tomat. Banyak yang mengambil photo mereka dan mempostingnya di halaman web. Photo mereka pun menjadi trending topik hanya dalam waktu sehari.. Mereka tiba dirumah dengan membawa satu set gaun dan setelan jas dengan warna senada. Yudha langsung masuk menuju ruang kerjanya, disusul dengan Gina yang membawa 2 cangkir teh. "Sayang, kenapa tiba-tiba kamu ingin hadir di acara pesta pertunangan Siska dan Riko? Sedangkan sebelumnya kamu bilang tidak perlu hadir disana" Gina meletakkan secangkir teh untuk sang suami dimeja kopi dan satu lagi dia pegang. Yudha berjalan dari meja kerjanya menuju meja kopi, mengambil teh yang dibuat istrinya. "Aku memiliki hadiah kejutan yang khusus kupersiapkan untuk mereka berdua" Sambil mengesap tehnya dia tersenyum licik Sang istri hanya memperhatikan sang suami seraya berfikir "Apa yang sedang dia rencanakan? apakah dia memiliki sesuatu ditangannya?" "Sudahlah sayang, ayo kita beristirahat" Tangan Yudha meraih pinggang Gina, mengajaknya ke kamar mereka.. Pesta pertunangan Riko dan Siska sudah siap, sebentar lagi pesta akan dimulai. Rumah Siska dihias dengan begitu mewah, Siska dan Riko sedang bersiap dan tamu sudah mulai berdatangan.. Siska mengenakan gaun dengan model bahu sebelah, berwarna biru muda dan Riko mengenakan setelan jas berwarna senada dengan baju Siska. Mereka terlihat serasi dan menjadi pusat perhatian. Karena Yudha ingin melihat reaksi keluarga itu terhadap kedatangan istrinya. Jadi dia membiarkan istrinya datang lebih dulu. Gina datang dengan penampilan yg menawan, elegan dan penuh keanggunan. Dia berhasil mencuri perhatian semua tamu yang ada dipesta. Bahkan perhatian terhadapnya mengalahkan perhatian terhadap yang punya acara. Seperti yang diperkirakan sebelumnya, Arin selalu bertindak untuk menyudutkan Gina. Dia memanggilnya keruang kerja dan menyalahkannya atas kejadian di pesta pembukaan tempo hari. "Gina. kamu sengaja meminta bantuan atasanmu untuk mempermalukan Siska. iya kan?" Nada suara Arin terdengar begitu kesal "Aku tidak pernah melakukan itu" "Omong kosong! mana mungkin atasanmu tahu perkara cek 1 milyar itu" "Entahlah, tapi aku tidak pernah meminta bantuannya secara langsung" Gina mengangkat bahu dan tetap berbicara dengan nada tenang, melingkarkan kedua tangannya didada. Melihat Gina yang tetap tenang, Arin tersulut emosi dan "plakk,," sebuah tamparan mendarat dipipi mulus Gina.. Gina tidak bereaksi hanya kilatan emosi dan tatapan dingin yang melintas di matanya. "Ini terakhir kalinya aku membiarkanmu menampar wajahku. Karena mulai hari ini aku tidak memiliki hubungan dengan keluarga ini, dan aku tidak akan bersikap mudah lagi". Gina mengusap pipinya yang merah dan berjalan keluar dari ruangan itu "Kau..!! Berani-beraninya kamu bersikap seperti itu kepadaku". Arin berteriak meskipun Gina telah keluar dari ruangan itu Chapter 26 Aura sang penguasa Gina turun kelantai bawah dimana pesta berlangsung. Semua orang terlihat saling bercengkrama membentuk kelompok sendiri- - sendiri. Gina menunggu suaminya datang sambil mencicipi hidangan yang ada. Tidak lama, dari arah pintu masuk terdengar riuh ricuh teriakan dan kekaguman akan seseorang yang datang. Gina mendengar suara langkah kaki yang sangat familiar ditelinganya meskipun belum lama dia kenal, Gina membalikkan badan kearah pintu. Menatap kedatangan sang pria yang dipuja banyak orang bagaikan seorang penguasa. Badan tinggi tegap, wajah tampan rupawan. Berjalan dengan gagahnya, membuat Ginapun terpana melihatnya. Yudha berjalan kearah Gina tanpa menoleh kearah lain. Tatapannya pun terkunci pada pipi Gina yg berwarna merah. Tampak jelas ada bekas tamparan disana. Dia mempercepat langkah kakinya. Wajah Yudha seketika berubah suram, dia mengelus pipi Gina dengan lembut "Kenapa ini? Apakah sakit? Siapa yang berani melakukannya?" Yudha menoleh ke setiap arah, mengisyaratkan rasa tidak sukanya. Dan mencari pelakunya. Raut wajah khawatir jelas terlihat di wajah Yudha. "Aku tidak papa, sungguh" Gina menggelengkan kepala, mencoba menghilangkan rasa khawatir Yudha. Disisi lain tampak wajah orang tak percaya melihat kemesraan Gina dan Yudha. Wajah si nenek tua Arin berubah pucat melihat kemesraan itu. Mengingat tamparannya pada Gina dan peringatan yang diberikan Gina padanya. " Kenapa aku begitu gegabah, kenapa aku terbawa emosi dan menamparnya, bodoh! Apa yang sudah kulakukan? " Pikirannya runyam berantakan. Dia takut akan balasan yang diberikan Yudha pada keluarganya.. Yudha melingkarkan tanggannya dipinggang Gina dan berjalan kearah Riko dan Siska " Selamat atas pertunangan kalian, semoga bisa sampai kepelaminan dan maut yang hanya akan memisahkan kalian" Yudha berkata dengan dingin sambil mengulurkan tangannya untuk berjabatan, senyuman sinis tampak di wajah tampannya "Terima kasih" Riko menyambut uluran tangan Yudha untuk saling berjabat tangan "Selamat ya adikku tersayang, semoga kamu selalu bahagia" Gina mendekatkan mulutnya ke telingan Siska, seraya berbisik di telinga Siska "Permainan baru saja akan dimulai, sekarang kamu bisa tersenyum, tapi kita lihat apakah nanti kamu akan bisa hidup bahagia atau tidak" Tampak senyuman dengan aura yang menakutkan tersungging dari wajah Gina. Seketika wajah Siska berubah pucat mendengat ucapan Gina. Dia tidak tahu apa yang telah Gina rencanakan. Ditambah lagi sekarang ada Yudha disamping Gina. "Aku disini hanya untuk menjemput wanitaku, jadi kami permisi dan nikmati pestanya. Ah,, kami sudah menyiapkan hadiah untuk kalian. Semoga kalian menyukainya" Yudha menyeringai kepada Siska dan Riko sambil berlalu meninggalkan pesta. "Sayang sebenarnya apa yang kamu persiapkan untuk mereka? aku sangat penasaran dengan apa yang kamu sebutkan sebagai hadiah" "Itu hanya sedikit dokumen dan video tentang kejadian masa lalu kamu" Yudha tersenyum sambil mencubit hidung mancung Gina. Pandangannya pun jatuh ke arah pipinya lagi "Apa itu benar-benar tidak sakit? kenapa kamu tidak melawan?" Yudha mengelus pipi Gina yg masih merah. "Aku membiarkannya untuk terakhir kalinya. karena setelah ini aku tidak memiliki hubungan dengan mereka dan tidak akan bersikap mudah lagi. Anggap saja sebagai kompensasi untuk mereka" Gina tersenyum penuh makna "Baiklah,, Aku memiliki sesuatu untukmu" Yudha mengambil sebuah dokumen dari tas kerjanya dan memberikannya kepada Gina. Dokumen itu berisi kepemilikan saham perusahaan Arin senilai 37%.. dan 17% tertulis atas nama Gina Gina terharu dan berhambur kepelukan Yudha sambil menangis. Sebelah tangan Yudha memeluk Gina dan sebelahnya lagi mengelus punggungnya dengan lembut "Besok kita akan pergi untuk rapat dewan direksi diperusahaan itu dan memberikan mereka kejutan yang indah. Aku juga sedang mengusahakan untuk mendapatkan saham lain agar kita bisa jadi pemegang saham tertinggi disana" Chapter 27 Hadiah pertunangan Sebelumnya Yudha telah meminta Hendri mencari informasi tentang apa yang terjadi ketika Gina berkumpul dengan temannya. Dia menemukan informasi tentang alasan DO Gina yang menyebabkan dia dikirim keluar negeri. "Selidiki semuanya secara detil, jangan sampai ada yang tertinggal". Hendri bergegas meminta anak buahnya untuk menyelidiki masalah ini, tidak lama dia mendapatkan informasi dan bukti yang lengkap. "Tuan, saya sudah mendapatkan semua bukti yang anda minta" "Bagus kita akan memberikannya sebagai hadiah pertunangan untuk mereka berdua" Yudha menganggukan kepala sambil menyeringai. Setelah pesta, Siska dan Riko membuka hadiah berupa map yang diberikan oleh Yudha. Semua berkumpul di satu ruangan. Mereka begitu penasaran dengan apa yang dihadiahkan oleh Yudha. Mungkin villa, atau sebidang tanah, atau mungkin properti lainnya. Karena Yudha Arya Kusuma bukanlah orang biasa - biasa saja, jadi mereka pikir Yudha akan menghadiahkan sesuatu yang mewah. Riko membuka map itu, dan ada sebuah kaset juga beberapa dokumen dan photo didalamnya.. Dia menatap beberapa lembar photo Siska yang sedang memberikan sejumlah uang kepada dosen yang dulu hendak memperkosa Gina. Matanya seketika berubah, menyiratkan kemarahan, Dia beralih kepada dokumen, disana tertera rincian dari mutasi rekening Siska yang mentransfer uang kepada beberapa jenis bank dalam jumlah besar. Lalu dia beralih ke kaset video dan segera memutarnya. Itu adalah rekaman cctv dari percakapan Siska dengan beberapa orang untuk meminta mereka agar bisa menjebak Gina. Amarah Riko meledak tak terbendung lagi. Dia melemparkan semua dokumen dan photo ke wajah Siska "Apa maksudnya dengan ini semua? Jadi selama ini kamu menipuku, membodohi ku? Menggunakan semua trik untuk membuatku membenci Gina dan memperlakukannya dengan sangat buruk?" Siska mulai menangis, dia segera meraih tangan Riko sambil menggelengkan kepala perlahan.. "Aku sungguh tidak sangka Siska, ternyata sikap lembutmu yang seperti malaikat hanyalah sebuh topeng untuk menutupi sikap burukmu yang bagaikan seorang iblis!" "Riko dengarkan aku. Semua ini aku lakukan karena aku terlalu mencintaimu. Aku mencintaimu sejak pertama kali kita bertemu, aku melakukan segala cara hanya untuk mendapatkan cintamu" "Aku tidak suka melihatmu bersama kak Gina, itu sebabnya aku melakukan semuanya agar kamu bisa menjauh darinya." "Riko kita lupakan semuanya dan mulai dari awal. Kita saling mencintai dan aku berjanji akan berubah. Kita bisa hidup bahagia bersama. Kita baru saja bertunangan dan semua orang sudah tahu hubungan kita". "Biarkan aku sendiri!" Riko menepis tangan Siska dan pergi dari ruangan itu meninggalkan Siska yang sedang menangis, meraung, terduduk dilantai dengan menundukkan kepala "kenapa semua jadi begini? aku harus menemukan cara untuk membalasnya!!" Semua orang terpaku, terutama keluarga Riko, mereka hanya terdiam membeku, merasa tidak percaya dengan apa yang mereka lihat. Selama ini mereka menilai Siska yang lebih baik. Mereka selalu memperlakukan Gina dengan sangat buruk. Ternyata mereka salah. Photo - photo Siska itu juga menyebar didunia internet. Menjadikannya lebih terkenal dari sebelumnya. Mereka mulai menilai dan mengkritik Siska "Tega bange ya. Katanya saudara tapi menusuk dari belakamg" "Aku tidak ingin punya saudara seperti dia, begitu menjijikan" "Orang yang terlihat baik belum tentu dia baik dan yang jahat belum tentu dia jahat. Contonhnya itu. Jadi jangan menilai buku hanya dari sampulnya saja". Siska merasa terpuruk dan terpojok oleh situasi ini. Dan itu juga membuatnya semakin menaruh kebencian terhadap Gina Seperti yang diperkirakan, harga saham perusahaan Arin anjlok dan itu mengakibatkan adanya rapat dewan direksi yang dilakukan secara mendadak Chapter 28 Jangan biarkan mereka menyakitimu lagi Gina dan Yudha sedang berbincang di sofa ruang keluarga sambil menonton televisi yang sedang menayangkan kehebohan atas semua kelakuan Siska. "Sayang, bolehkan aku pergi ke rapat dewan direksi perusahaan itu sendiri? Karena jika kamu ikut, itu akan terlalu menekan mereka. Reaksi nyata mereka hanya akan terlihat kalau kamu tidak bersamaku". Gina bertanya dengan nada suara yang lembut dan manja. Sambil menyandarkan kepalanya di dada bidang Yudha. "Tentu saja sayang, tapi aku tidak mau hal terakhir terjadi lagi!. Jangan biarkan mereka menyakitimu sedikitpun!" Yudha membelai lembut rambut Gina dan menegaskan kalimat terakhirnya. "Baiklah. aku tidak akan membiarkan mereka melukaiku lagi, Aku janji sayang. Terimakasih. Cup,," Senyum indah selalu terpancar saat mereka sedang bersama. Kemesraan selalu terjalin antara mereka. Entah itu hanya sekedar minum kopi, memasak bersama atau hanya sebatas berbincang. Mereka selalu menikmati momen itu. Arin, Riska dan Siska sedang cemas menunggu rapat dewan direksi. "Bu sudahlah jangan terus mondar-mandir kesana kemari, itu semakin membuatku gelisah bu" "Ini semua salahmu Siska, bagaimana bisa kamu membuat keadaan jadi serumit ini?" Arin terlihat sangat frustasi dengan nilai saham yang anjlok "Maaf nek, aku tidak tahu kalau semuanya akan jadi seperti ini" Siska menundukan kepala menahan air matanya agar tidak jatuh "Sudahlah bu, ini sudah terjadi. Kita hanya harus mencari solusi untuk masalah ini" Riska mencoba menengahi antara nenek dan cucu ini berusaha membela Siska "Nek,, bagaimana kalau kita menggunakan tanah panti asuhan itu untuk menekan Gina, agar dia tidak membawa masalah ini kepengadilan?" Siska mencoba mencari jalan keluar. Arin pun mempertimbangkan solusinya dan akhirnya mengangguk setuju.. "Baiklah tidak ada jalan lain. Dari dulu Gina sangat sering ke pantu asuhan itu. Aku yakin dia tidak akan rela jika panti asuhan itu harus dibongkar" "Kalau begitu aku akan menghubungi kaka sekarang" Siska mengeluarkan ponsel dan menghubungi Gina "Bisakah kita bertemu sekarang? Aku memiliki sesuatu untuk kukatakan padamu" Siska langsung bicara setelah panggilan tersambung "Kenapa tidak katakan di telepon saja? Aku masih ada rapat yang penting beberapa saat lagi!" Gina berbicara dengan nada tenang disamping Yudha "Aku janji hanya sebentar saja" "Baiklah, aku tunggu di restaurant x dalam 1/2 jam.. " Gina menutup panggilan tanpa menunggu jawaban Siska "Bu, nek, aku pergi dulu. Aku akan menemui Gina sekarang" Siska meraih tasnya dan pergi meninggalkan perusahaan Di lain tempat Gina sedang bersiap untuk pergi rapat ketika Siska menghubunginya. "Sayang, aku akan pergi menemui Siska sekarang, entah apa yang dia rencanakan kali ini" Gina memberi Tahu Yudha sambil melingkarkan tangannya dileher Yudha, sedangkan tangan Yudha dilingkarkan dibagian pinggang Gina "Apa kamu yakin akan menemuinya?" "Tentu saja sayang. Sepertinya dia takut jika masalahnya akan diperpanjang di meja hijau, jadi aku ingin tahu apa yang akan mereka rencanakan" "Setelah menemui Siska aku akan memberi mereka kejutan di rapat dewan" Gina tersenyum yakin dengan perkataannya. Yudha menganggukkan kepalanya " Aku hanya akan ke kantor dan menunggumu disana. Jadi setelah rapat, kamu harus segera kembali kekantor dan jangan biarkan mereka menyakitimu!" "Oke" Pasangan itu berjalan meninggalkan rumah, Yudha terlebih dahulu mengantar istrinya ke restoran dan mengecup lembut kening istrinya sebelum dia turun dari mobil. Gina masuk ke dalam restaurant dan menunggu beberapa lama sebelum Siska datang. Gina duduk bersandar dikursi dengan tangannya dilipat didada. Tatapannya begitu dingin dan tajam. "Kita langsung saja pada intinya. Ada apa ingin bertemu denganku?" "Aku ingin bernegosiasi denganmu!" Chapter 29 Tiba giliranku bersenang-senang " Apa yang kamu miliki untuk bernegosiasi denganku? Jika itu menarik maka akan kupertimbangkan" "Aku memiliki Setifikat tanah panti asuhan. aku ingin kamu menutup kasus untuk masalah ini dan menukarnya dengan panti asuhan itu" Siska menunjukan sertifikat tanah itu pada Gina Gina hanya meliriknya saja sambil mengerutkan kening. "Apa kamu yakin itu sesuatu yang penting? Masalahnya dengan adanya Yudha disampingku aku bisa memiliki panti asuhan manapun yang aku mau" "Tega sekali mereka ingin menjadikan panti asuhan sebagai alat penawaran. Awas saja nanti". pikir Gina "Bagaimana ini? kenapa dia tidak terpancing. ekspresinya begitu tenang" aku tidak bisa menebak pikirannya. Gumam siska yang mulai panik "Kamu tidak dalam posisi untuk bernegosiasi denganku Siska. Dan mulai sekarang jangan pikir kamu bisa mengancamku!" Gina berdiri dan hendak pergi dari restoran. "Ini baru permulaan Siska. Kamu sudah lama bersenang-senang denganku. Sekarang tiba giliranku untuk bersenang - senang denganmu" Gina berkata dengan senyum sinis tanpa membalikkan badan dan pergi meninggalkannya menuju rapat pemegang saham Diruang rapat semua pemegang saham sudah berkumpul hanya 1 kursi saja yang kosong "Kemana Pak Frans? bukankah kita sudah memberi tahunya akan ada rapat mendadak?" Arin mencari tahu salah satu pemegang saham yang belum hadir Tok tok tok Pintu diketuk dan Gina masuk bersama asistennya Risti dan 2 orang pengacaranya. "Maaf saya terlambat!" Gina melenggang duduk dikursinya sambil tersenyum "Apa yang kamu lakukan disini? Arin begitu kesal dan bingung melihat Gina datang "Bukankah kita ada rapat dewan direksi sekarang? aku disini sebagai salah satu pemegang saham mewakili perusahaan Kusuma " Gina menoleh ke arah Risti mengisyaratkan untuk menujukkan surat kepemilikan saham. Ristipun menunjukan dokumennya kepada Arin. Wajah nenek tua itu membeku. Tak bisa berkata apa-apa.. Hanya ekspresi kesal dan marah yang jelas terlihat diwajahnya "Mari kita mulai saja rapatnya, jangan membuang banyak waktu" Gina berbicara dengan aura pemimpinnya "Karena nona Siska sedang berada dalam skandal sekarang ini, akan lebih baik jika kita menggantikan dia dengan model lain untuk sekarang ini. Itu akan sedikit mengurangi resiko kerugian pada perusahaan" Anggota rapat lain saling tengok satu sama lain dan mengangguk setuju dengan saran Gina "Dan saya juga berharap nyonya Arin sebagai pemimpin tertinggi dari perusahaan ini bisa menyelesaikan semua masalah dengan segera" Gina tegas dan penuh dengan tekanan. "Saya akan berusaha untuk menyelesaikan masalah sekarang ini. Anda semua tidak perlu khawatir" Dengan menahan amarah, Arin berusaha meyakinkah para pemegang saham. Riska yang sedari tadi berdiri di dekat Arin menatap Gina dengan tatapan membunuh. Layaknya ingin menelan Gina hidup-hidup. Rapat telah selesai dan para pemegang saham lain sudah hendak meninggalkan ruangan. "Nona Gina, sepertinya kita perlu bicara" Arin berbicara dengan sopan, karena diruangan itu masih ada pemegang saham lain. Setelah mereka pergi, Riska langsung menutup pintu. Diruangan itu hanya tinggal 4 orang. Arin, Riska, Gina dan asistennya Risti. Gina dengan santai duduk dikursi sambil melipat tangan di dada. " Ada masalah apa lagi nyonya Arin?" "Apa maksud kamu? Kenapa kamu bisa jadi pemegang saham mayoritas disini?" Suaranya terdengar nyaring ditelinga karena kesal Gina masih tetap santai mendanggapinya "Bisakah anda sedikit tenang? apa tadi anda tidak membaca dokumen kepemilikan sahamnya? disana jelas tertera bahwa saya adalah perwakilan dari perusahaan pak Yudha" "Dasar wanita jang! kamu sengaja menggoda Yudha untuk membalas kami kan?" Gina hanya mengangkat bahu "Mungkin, tapi yang jelas dan pasti, aku sekarang sudah bersama dengan Yudha" "Kurang ajar kamu" Arin mengangkat tangan dan hendak menampar Gina, tapi kali ini Gina tidak membiarkannya dan berhasil menahan tangan wanita tua itu. Dan mendekatkan wajahnya ke telinga sang nenek, seraya berbisik "Bukankah sudah kukatakan, kemarin adalah terakhir kalinya kamu menamparku. Dan aku tidak akan membiarkanmu menyakitiku lagi" Gina menghempaskan tangan sang nenek hingga hampir jatuh dan ditahan oleh Riska. "Ingat baik-baik. Ini baru permulaan. Akan kukembalikan semua rasa sakit yang pernah kalian berikan padaku dulu. Dan Kamu, dulu kamu merebut ayah dari ibuku dan akan ku buat anakmu itu merasakan apa yang namanya kehilangan " Gina menatap mereka dengan dingin dan pergi meninggalkan perusahaan itu. Chapter 30 Spekulasi setiap orang Risti tertegun menatap Gina beberapa saat, dia tidak percaya dengan apa yg dia lihat barusan "Ternyata mba Gina yang pendiam dan cuek ini bisa begitu tegas dan berani. Aku bahkan tidak pernah melihat sikapnya yang begitu dingin dan mendominasi seperti sekarang ini" pikir Risti dalam lamunannya. "Ayo Ris kita pergi" Suara Gina berhasil membuyarkan lamunanya. Dan dia hanya menganggukan kepala dan mengikuti Gina di belakang. Braaakkk... "Sial!" Arin meluapkan kekesalannya dengan memukul meja "Tenanglah bu, tahanlah emosi ibu, ingat ibu baru sembuh belum lama ini" Riska mencoba menenagkan ibu mertuanya "Bagaimana bisa tenang? sekarang Gina sudah berani melawanku, dan dia juga memiliki saham perusahaan ini. Entah apa yang akan diperbuatnya lagi nanti". Arin memijat pelipis matanya dengan ujung jari Seperti janjinya pada Yudha, Gina langsung kembali ke kantor dan menuju ruangan sang suami. Semua mata karyawan sekarang tertuju padanya tatapan sinis dan cemooh. Iri, tak percaya dan entah apa yang mereka pikirkan. Gina tidak mempedulikannya. Toh mereka tidak tahu kalau sang penguasa bisnis yang tampan itu telah menikah dengannya. Gina hanya mengangkat bahu dan tersenyum memikirkannya sambil berlalu menuju lift "Ris kamu kembali ke ruangan duluan saja ya, saya mau menemui Pak Yudha dulu" " Baik mba" Risti mengangguk dan pergi meninggalkan Gina. Melihat kedatangan Risti, karyawan lain mendekat untuk bergosip menanyakan tentang Gina dan Yudha "Ris emang bener ya mba Gina sama pak Yudha?" "Katanya mba Gina itu cewe penggoda? bener tidak sich?" "Itu semua tidak benar. mba Gina orang yang baik ko. Mengenai hubungan mba Gina dengan pak Yudha saya juga tidak tahu" Risti mengangkat bahu dan mulai duduk di kursinya "Tapi bagaimana mereka bisa sama-sama? Pak Yudha baru kembali ke negara ini. sedangkan mba Gina sangat pendiam, dingin, juga penyendiri!" "Sepertinya orang yang pendiam ini yang paling susah ditebak, entah cara apa yang digunakannya untuk menarik perhatian pak Yudha" Semua mulai menerka-nerka hubungan mereka dan berspekulasi yang tidak - tidak. Gina tiba diruang Yudha dan asisten Hendri mempersilahkan Gina untuk langsung masuk Ceklek Gina membuka pintu dan tertegun melihat pria yang sedang duduk serius dengan dokumennya. Yudha terlihat sangat sempurna seperti sebuah lukisan yang nyata "Pantas saja banyak perempuan yang kagum padanya dan tersihir oleh penampilannya" Gumamnya saat memperhatikan Yudha Yudha menyadari ada yang datang, dia mengalihkan pandangannya dari dokumen " Apa kamu begitu terpesona olehku? Berapa lama lagi kamu akan terus memandangiku? kenapa hanya berdiri disana saja?" Suara Yudha yang serak menyadarkannya dari lamunan. Gina tersenyum dan mendekat ke arah Yudha "Sepertinya anda terlalu mengagumi diri sendiri tuan" Yudha menarik Gina duduk dipangkuannya. "Nyonya, apakah anda tidak mengakui ketampananku?". Dia menyeringai dengan tatapan mata nakal "Tuan,, mana ada orang yang menilai dan memuji dirinya sendiri selain anda? tidakkah anda tahu kalau anda bergitu narsis, tuan." Gina melingkarkan tangannya dileher Yudha dan berkata dengan suara yang manja. Itu berhasil mebuat Yudha tertawa "Hahaha,,, Bagaimana dengan rapat pemegang saham itu? "Kamu tenang saja, aku membuat Arin sangat kesal, dia hendak menamparku lagi. Tapi kali ini tidak berhasil dan aku meminta mereka mengganti Siska dengan model lain" Yudha hanya senyum dan fokus mendengarkan cerita sang istri "Bagus. Kamu semakin pintar sayang!" "Tapi tuan, kurasa aku sudah berubah jadi wanita jahat sekarang" Gina menunduk dan memasang wajah cemberut "Sayang, itu adalah balasan untuk mereka yang sudah menyakitimu" "Kamu tidak perlu sedih, karena apapun yang terjadi aku akan selalu mendukungmu dan berada disisimu" "Aku tidak ingin melihat lagi kesedihanmu, aku hanya ingin melihat senyumanmu" Yudha menghibur Gina dengan tatapan dan nada suara yang lembut Chapter 31 Penyesalan "Jahat itu hanya pendapat orang lain, yang sebenarnya kamu lakukan bukanlah jahat, tapi setimpal. Kamu tidak memulai duluan. Mereka lah yang meminta itu padamu. Kamu mengerti sayang?!" "Jadi, jangan bebani pikiranmu dengan fikiran semacam itu lagi! Mengerti!" Yudha tersenyum dan menyentuh halus ujung hidung Gina dengan telunjuknya "Baiklah, aku tidak akan memikirkan hal - hal semacam itu. Aku harus kembali keruanganku. Masih ada banyak pekerjaan yang harus kuselesaikan" Gina berdiri dari pangkuan Yudha menunggu jawaban dari sang suami. Setelah Yudha menganggukan kepala dia pergi meninggalkan ruangannya. Jam pulang kerja Yudha sudah menunggu Gina dimobil. Melihat Gina menuju ke arahnya Yudha segera menyambutnya dan membukakan pintu mobil. "Sayang, apa yang kamu inginkan untuk makan malam kita?" Yudha menyetir mobil, sebelah tangannya menggenggam tanga Gina. Pandangannya lurus kedepan. Sesekali dia menoleh kearah Gina Gina menoleh dan tersenyum "Aku ingin makan steak, tapi aku ingin kamu yang membuatkannya untukmu!" "Baiklah, sesuai keinginanmu" Ya Yudha memang pandai dalam memasak, sering kali dia yang memasak sedangkan Gina hanya membantu atau sekedar menemani didapur saja.. Mereka tiba dirumah, Gina meletakkan tasnya di sofa dan membantu Yudha melepas jas dan menggantungnya. Yudha bergegas ke dapur untuk memasak disusul Gina kemudian. Yudha menggunakan appron dan mulai memasak. " Ada yang bisa aku bantu?" Gina berdiri dipintu dan memandang Yudha "Kamu cukup menemaniku saja, dengan adanya kamu disampingku membuatku lebih semangat melakukan apapun" Kata - kata Yudha berhasil membuat wajah Gina merah merona Kemesraan Gina dan Yudha berbanding terbalik dengan Siska dan Riko Sudah beberapa hari Siska tidak bertemu dengan Riko. " Andi dimana Riko? aku tidak dapat menghubunginya beberapa hari ini. Ponselnya pun tidak pernah aktif. Apa dia masih marah padaku dan mencoba menghindariku?" Siska menghubungi asisten Riko untuk bertanya keberadaan bosnya "Nona, tuan sedang sibuk dengan pekerjaan akhir - akhir ini. Jadi dia tidak dapat diganggu" "Kalau tuan sudah selesai dengan pekerjaannya diluar kota, dia akan segera mengunjungimu. Jadi lebih baik anda tidak membuat keributan, nona" "Andi,, aku hanya ingin bertemu dengannya dan menjelaskan semuanya, itu saja. Jadi cepat katakan dimana Riko atau aku akan datang sendiri kekantornya" Siska marah dan menutup teleponnya. Dia meraih tasnya dan bergegas menuju kantor Riko. Riko dalam keadaan yang tidak baik, dia terus diam dan merenungkan masa lalunya. Dulu dia meninggalkan Gina karena dia pikir Gina jahat dan dia lebih menyukai Siska. Dia tidak pernah mendengar penjelasan yang diberikan oleh Gina, meskipun dia sudah bersumpah dan memohon pada Riko untuk tidak meninggalkannya. Tapi dia lebih mempercayai Siska. Dan hasilnya sekarang. Nyatanya dia berhasil dibodohi dengan akting Siska selama ini. Dia selalu mengalah dan menuruti semua keinginan Siska. Dia terlalu memanjakan kekasihnya itu. "Bodoh! Aku benar-benar bodoh, aku meninggalkan wanita yang baik dan polos. Dan mempertahankan wanita bermuka dua juga munafik disampingku" " Sungguh benar-benar bodoh" Riko tertawa dengan begitu pahit, ada kekosongan dan penyesalan yang tersirat dari tawanya. "Praaannnggg...." Dia meluapkan amarah dan kekesalannya pada cermin didepannya. Seketika cermin itu pecah dan darahpun mengalir dari tangannya Ibunya yang ada diruang lain pun berlari menuju sumber suara. Dia melihat keadaan Riko yang berantakan dengan luka ditangannya. Darah segar masih terus menetes diatas pecahan kaca yang berserakan di lantai. Chapter 32 Kemelut Riko dan Siska "Riko apa yang kamu lakukan, kenapa kamu bertindak bodoh seperti ini? Lihatlah tanganmu terluka" Dia berlari untuk mengambil kotak p3k dan mengobati tangan Riko "Benar bu, aku bodoh. Aku bodoh karena meninggalkan Gina untuk bersama Siska. Aku bodoh mempercayai semua perkataan Siska selama ini" Riko tertunduk dan air matapun jatuh seketika "Bu apa yang harus kulakukan sekarang? Aku benar-benar tidak tahu apakah aku masih bisa bertahan dengan Siska atau tidak" "Aku menyayanginya tapi aku marah letika melihat wajahnya. Apa yang harus kulakukan bu? Kesedihan yang terlihat diwajah putranya membuat ibu Riko pun sedih dan prihatin. "Riko, kamu seorang pewaris keluarga ini. Kamu tidak bisa lemah dan menarik semua kata-katamu. Kamu yang memilihnya dan kamu yang bersikeras untuk bersamanya" "Kamu harus menghadapi ini bersama tunanganmu. Ibu yakin dia melakukan ini karena mencintaimu. Dan ingat pernikahan mu dengan putri keluarga Atmaja sudah direncanakan dan kamu telah memilih Siska sebagai pendampingmu" Dengan mengelus pundaknya sang ibu mencoba menghibur Riko. Memberikan semangat dan ketenangan pada putranya. "Tenangkanlah dirimu dulu, pikirkan semua ini baik - baik" Setelah selesai mengobati tangan sang anak dia pergi meninggalkannya sendiri.. Mencoba bangkit dari penyesalannya dia bergegas untuk pergi kekantor. Dengan langkah yang lesu dan seperti dipaksakan dia tiba dikantornya. Belum sempat dia masuk keruangannya, asistennya Andi sudah berdiri didepannya sambil menganggukkan kepal dia menyapa, kemudian mengikuti Riko masuk ke ruangan. "Tuan, nona Siska tadi menghubungi saya dan berkata ingin bertemu tuan untuk memberikan penjelasan" Riko sempat berhenti sejenak dari aktifitasnya melepaskan jas dan hendak menggantungnya dibagian belakang kursi. Wajah tampannya suram, pandangannya kosong, menyiratkan kehampaan dan kekosongan dihatinya. Tak lama dia pun mengeluarkan suara " Baiklah kamu boleh pergi " Tak berselang lama, Siska pun datang ke kantornya. " Nona tolong jangan masuk tuan sedang tidak ingin diganggu!" Andi mencoba melarangnya masuk. "Minggir Andi, aku hanya ingin bertemu dan bicara langsung dengan Riko. Kami sudah beberapa hari tidak bertemu, aku ingin menjelaskan semuanya!" Siska berhasil menerobos masuk. Riko pun memandangnya dan menghela nafas. " Biarkan saja Andi. Kamu boleh pergi!" "Riko ada apa dengan tanganmu? apa yang terjadi? bagaimana bisa terluka seperti ini?" Pandangan Siska tertuju pada tangan Riko, dia mendekatinya dan meraih tangan yang terluka dan dibungkus kain perban "Aku tidak papa. Apa yang ingin kamu bicarakan?" Riko menarik tangannya dan berkata dengan dingin "Riko kumohon jangan seperti ini. Aku tahu aku salah, tapi aku melakukan semua ini karena aku mencintaimu. Aku tidak ingin kehilanganmu" "Aku tidak bisa membayangkan hidup tanpamu Riko. Kita saling mencintai dan kita bisa lupakan itu semua dan mulai semua dari awal" Siska berkata dengan derai air mata yang terdengar memilukan sambil memegang tangan Riko "Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan sekarang" "Tapi yang pasti sekarang aku butuh ketenangan. Lebih baik kita tidak bertemu dulu sekarang ini" Riko melepaskan tangan Siska dan memalingkan wajah menatap keluar jendela. "Baiklah aku tidak akan mengganggumu sekarang ini. Aku akan berhenti menjadi aktris dan akan fokus diperusahaan. Agar nanti kita bisa bekerja bersama" "Kumohon Riko pikirkan lagi semuanya. Semua yang telah kita lewati bersama selama ini. Jangan menyerah dengan hubungan kita, Jika itu terjadi, Gina akan tertawa melihat kehancuran hubungan kita" Siska dengan berat hati meninggalkan Riko. "Gina aku tidak akan membiarkanmu bahagia. Kamu telah menghancurkanku. Dan kamu juga akan hancur ditanganku" Siska mengepalkan tangannya menahan kemarahanya pada Gina.. Dan Riko, mendengar Siska menyebut nama Gina, pikirannya seketika melayang mengingat masa lalunya bersama Gina Ada perasaan hangat yang ia rasakan. " Gina, kenapa dulu aku tidak menyadari kebaikanmu, perhatian dan sikap pengertian yang kamu berikan. Yang kurasakan dulu hanya keraguan terhadapmu. dan sekarang setelah semuanya terjadi, aku sungguh merasa bersalah padamu. Maafkan aku Gina" Riko memejamkan mata dan bersandar dikursi Chapter 33 Kehebohan Nenek Julia Yudha dan Gina sedang menikmati quality time berdua dirumah mereka sambil menonton tv. Gina merebahkan kepalanya di paha Yudha. Seketika ponsel Yudha berdering, Gina meraih ponsel lalu diserakan pada Yudha. "Halo nek ada apa?" Yudha berbicara dengan lembut sambil sebelah tangannya mengelus kepala Gina " Kamu ini ya kebiasaan sekali. Nenek telpon bukannya tanya kabar dulu atau apa ke. Ini tidak ada basa basi sama sekali" Nenek Julia yang hangat dan menyayangi cucu satu - satunya ini langsung memberikan ceramah pada pria es itu. " Baiklah. nenek apa kabar? Ada apa nenek menghubungi ku?" Gina yang mendengar percakapan nenek dan cucu itu hanya bisa tersenyum, menutup mulut berusaha menahan tawa. " Besok kamu harus bertemu dengan cucunya temen nenek, nenek tidak mau tahu. Kamu harus memilih salah satu gadis dan menikah tahun ini juga!" Nada suaranya tegas tanpa ingin penolakan dari cucunya "Aku tidak mau. dan mulai sekarang nenek tidak perlu repot lagi menyiapkan pertemuan ku dengan gadis manapun. Karena aku tidak akan pernah menemui mereka" Yudha tetap bicara dengan nada tenang sambil menatap Gina "Kenapa? pikirkan sekarang usiamu sudah berapa? Usiamu itu sudah cukup untuk menikah dan memiliki keturunan" Tegas sang nenek "Nenek dengarkan aku baik-baik! Aku sudah menikah dan aku tidak memerlukan wanita lain" Mata sang nenek terbelalak" Apa kamu bilang? kapan kamu menikah? siapa gadis itu? kenapa kamu tidak memberi tahuku?" Nada suaranya mulai meninggi karena terkejut hingga Yudha sedikit menjauhkan ponselnya dari telinga " Tenanglah nek, nanti aku akan membawanya kerumah utama untuk kukenalkan pada kakek dan nenek" Orang tua Yudha sudah tidak ada karena kecelakaan, jadi dia sangat menyayangi dan menghormati kakek neneknya "Tidak ada nanti. Sekarang aku ingin bertemu dengannya!" Tanpa menunggu jawaban Yudha, nenek Julia langsung menutup telponnya... Yudha mendesah setelah neneknya mengakhiri panggilan telpon "Sayang, sebentar lagi aku yakin akan ada keributan dirumah ini?" Gina mengerutkan kening, tidak mengerti dengan apa yg dikatakan suaminya "Aku yakin nenek sedang bergegas kemari, karena aku bilang aku sudah menikah. Jadi kamu harus persiapkan dirimu dengan seribu pertanyaan nenek" "Seperti apa nenekmu? oh iya, saat kita pertama bertemu siapa yang menyuruhmu?" "Nenek yang mengatur pertemuanku, ku kira nenek ku dan kakekmu saling mengenal" "Jadi kamu juga mengenal kakek? Karena kakek bilang kamu pria yang luar biasa, karena itu dia ingin menjodohkanku denganmu" "Aku tidak terlalu mengenalnya, hanya saja dulu waktu masih tinggal di luar negeri aku sempat bertemu dengannya dan berkolaborasi dalam satu proyek" Gina hanya menganggukan kepala saja Tidak berselang lama, seseorang masuk dan duduk desofa bersama mereka Gina sangat terkejut dan sontak terduduk disebelah Yudha. "Apa kamu wanita itu? kenapa kamu mau menikah dengan cucuku? apa kalian sudah..?" Tanpa menyelesaikan kalimatnya pandangan Julia beralih pada bagian perut Gina. Gina pun ikut menundukkan kepala, memperhatikan bagian yang dilihat Julia.. Gina memegang perutnya dan menggelengkan kepala dengan panik. "Sudahlah nek, dia tidak hamil. Jangan buat dia takut!" Yudha begitu tenang bicara sambil mengesap kopinya. "Lantas kenapa kalian terburu-buru menikah tanpa memberi tahu kami? Jika bukan karena hamil, lantas karena apa?" Julia bicara dengan tegas dan meminta jawaban yang pasti "Bukankah nenek memintaku untuk segera menikah? Aku tidak mau terlambat dan dia keburu dimiliki oleh orang lain. karena itu aku memintanya segera menikah denganku hari itu juga" "Apa nenek tau siapa dia?" Julia memicingkan mata "Dia adalah Gina Yulia Atmaja. cucu dari Dirga Sanjaya" Chapter 34 Nenek keras kepala Julia bergitu terkejut. Matanya membelalak tidak percaya. "Benarkah? Kamu Gina putrinya Gadis Sanjaya?" Gina menganggukan kepala dan tersenyum " Benar nek saya Gina. dan saya bertemu Yudha saat pertemuan yang diatur oleh kakek" "Nenek senang kalian bisa bersama. Tapi nenek akan menyiapkan pesta pernikahan yang mewah untuk kalian" "Tidak perlu repot nek, kami cukup sibuk dengan pekerjaan kami" Walaupun dengan neneknya sendiri Yudha berkata dengan suara dingin, berbeda ketika dia bicara dengan Gina "Gunung es ini, Cucu dari keluarga Kusuma harus menggelar pesta yang besar dan mewah. Kamu tidak bisa menolak karena nenek dan kakekmu yang akan mengatur semuanya" Yudha tidak berkata apa-apa lagi. Toh neneknya yang begitu keras kepala ini tidak pernah bisa dilawan. Jadi akan percuma saja jika dia melawan "Apakah nenek akan menginap, ini sudah malam dan kami akan istirahat" " Tidak,, tidak,,, nenek tidak akan mengganggu kalian lagi. Nenek akan pulang sekarang" Julia menggoyangkan kedua tangannya di dada dan berdiri hendak pergi dari rumah Yudha "Pulanglah kerumah utama secepatnya. Ajak cucu mantuku pulang. Kakekmu juga ingin bertemu dengannya!" "Nak, aku tidak membawa hadiah apa-apa kemari jadi kamu terima ini sebagai hadiah dari nenek" Julia memberikan kalung berlian yang dikenakannya. Gina menggelengkan dan tangannya kepalanya menolak pemberian sang nenek. "Tidak usah nek, terima kasih. Restu nenek sudah cukup berharga untukku" "Tidak apa sayang ambil saja" Yudha menyela pembicaraan mereka. Dan Ginapun mau tidak mau menerimanya. "Baiklah, nenek pergi dulu. Jaga diri kalian! " "Hati-hati dijalan nek" Gina dan Yudha memeluk Julia dan mengantarnya hingga ke pintu Tiba-tiba " Aacchh " Yudha mengangkat Gina dipelukannya. menggendongnya menuju kamar mereka " Apa yang kamu lakukan? turunkan aku!" Gina sedikit meronta kepada Yudha "Nenek sudah pergi, waktunya kita beristirahat dan melewati malam panjang ini sayang" Yudha menyeringai dan menyunggingkan sedikit senyum nakal di bibirnya.. Beralih pada Siska.. Sepulangnya dari kantor Riko dia terus menagis dan meluapkan amarahnya pada barang dikamarnya. Semua dilempar, berserakan dilantai. "Semua ini karena Gina, Gina si wanita itu, dia menghancurkan hubunganku dengan Riko dan juga karirku" "Dia merusak semuanya. Dasar Gina brk. Aku tidak akan membiarkan kamu bahagia. Aku pasti akan membalas perbuatanmu Gina! Tunggu saja nanti" Siska begitu kesal dan dia terus saja mencaci maki Gina dalam kemarahannya. Siska meraih ponselnya dan menghubungi seseorang "Halo, aku mau kamu mengawasi Riko dan Gina untukku. Laporkan setiap yang mereka lakukan padaku!" "Aku harus memikirkan cara untuk mempertahankan Riko agar tetap bersamaku" Ceklek.. Riska masuk ke kamar Siska tanpa mengetuk pintu. Mata terbelalak terkejut dengan kondisi kamar Siska yg sangat berantakan " Oh tuhan Siska, apa yang kamu lakukan? kenap kamar mu sangat berantakan seperti ini? " Dia menggelengkan kepala dan berjalan menghampiri Siska "Bu,, Riko tidak ingin bertemu denganku. Dia ingin menjaga jarak denganku bu. Apa yang harus aku lakukan bu? " "Aku bingung. aku tak tahu harus berbuat apalagi? Semua ini karena Gina. Ini gara-gara wanita Per itu. Aku tidak akan mebiarkan dia bu. Bantu aku ibu!" Siska menangis, mengeluh pada sang ibu. Meminta dukungan atas apa yang terjadi padanya "Kamu tenang dulu. Biarkan dulu Riko. Sekarang kamu harus fokus pada perusahaan. Kamu harus bisa mengambil alih posisi penerus secepatnya. karena Gina juga sudah masuk ke perusahaan kita" Siska begitu terkejut mendengarnya. Hingga matanya membelalak seperti hendak meloncat keluar "Kita harus segera mencari cara agar Gina bisa disingkirkan secepatnya! Chapter 35 Pagi yang indah jadi rusak karena lalat pengganggu Gina bangun dari tidurnya. Dia menatap lekat wajah sang suami yang memeluknya dengan hangat semalaman dan belum terbangun itu. Cukup lama dia memandang sampai sang suami membuka mata "Selamat pagi sayang" Senyuman indah tersungging dibibir Gina. Kecupan manis pun mendarat dikeningnya "Selamat pagi nyonyaku,, cup" Yudha semakin mengeratkan pelukannya "Sayang ayo bangun, ini sudah pagi dan kita harus bersiap ke kantor" Gina mencoba melerai pelukan Yudha yang begitu erat. "Bisakah kita datang terlambat saja? atau mungkin tidak perlu kekantor? aku tidak ingin melepas pelukanmu, aku ingin selalu menghabiskan waktu denganmu" Gina yang mendengarnya mengerutkan kening "Entah ada apa dengan Yudha pagi ini. Tidak biasanya dia bersikap manja" pikirnya Tiba-tiba ponsel Gina berdering. Gina melepas pelukan Yudha dan meraih poselnya yang terletak di meja samping tempat tidur. Ia duduk dan Yudha memposisikan kepalanya di paha Gina. "Hallo kek!" Dirga Sanjaya sudah mendengar kabar pernikahan Gina dari neneknya Yudha. "Gina, jemput kakek dan ibumu di bandara sore ini. Kami berdua akan mengunjungimu. Bisa-bisanya kamu menikah tanpa memberi tahu kepada kami" Kakek Gina langsung berbicara setelah mendengar suara Gina. "Maaf kek,, baik nanti Gina jemput, kakek kabari aku saja ketika tiba di bandara"Gina menunduk, wajahnya muram karena merasa bersalah pada ibu dan kakeknya perihal pernikahannya. "Sampai bertemu nanti cucuku" Setelah memberi tahu kabar kepulangannya kakek Gina menutup telpon. Kakek dan Ibu Gina tinggal diluar negri. Dulu Dirga Sanjaya tidak menyetujui pernikahan ayah dan ibu Gina. Jadi Ibu Gina melarikan diri dari rumah dan tidak berhubungan dengan Dirga lagi. Begitu mendengar perpisahan ibu Gina dengan ayahnya. Dirga menjemput kembali putrinya dan membawanya pulang ke kediaman mereka. Ayah Gina tidak tahu kalau Gadis sebenarnya adalah putri dari seorang pengusaha terpandang, hanya saja dia tidak tertarik untuk terjun ke dunia bisnis. Dia hanya suka melukis.. "Kakek bilang dia dan ibu akan datang. Dia meminta kita untuk menjemputnya dibandara sore nanti" Gina berbicara dengan lembut sambil memainkah rambut Yudha "Tentu saja, kita akan menjemput mereka nanti" "Sekarang bangunlah dan kita bersiap" Gina bangun dari tempat tidurnya menuju lemari pakaian untuk menyiapkan baju kerja mereka Sementara sang suami langsung berjalan masuk ke kamar mandi. Mereka bergantian untuk mandi, lalu turun untuk sarapan. Gina turun dengan 2 tas kerja ditangannya menuju meja makan. Disana sang suami telah menunggu bersama secangkir kopi dan juga koran Gina mengambil sepotong sandwich dan berjalan keluar. Yudha yang melihatnya pun bergegas berdiri mengikuti "Kita sudah hampir terlambat. Ayo cepat bergegas!" sembari mengunyah sandwich dia masuk ke mobil Yudha menggelengkan kepala, mengambil selembar tisu dan mengusap ujung bibir sang istri yang belepotan karena sandwich dan memberikan sebotol susu siap minum " Makan perlahan saja, kamu seperti anak kecil. Nich minum susunya dulu! " Saat tiba dikantor, seperti biasa Gina akan keluar terlebih dahulu disusul Yudha. Tapi pagi itu ada seorang karyawan yang melihat Gina turun dari mobil Yudha. Gosippun mulai menyebar seperti kobaran api yang tak dapat dipadamkan "Ech kalian tahu tidak sih, tadi aku lihat mba Gina keluar dari mobil bos ganteng. Gimana bisa ya dia dekat dengan bos itu" "Entah pelet apa yang dia pake. Bisa dapetin orang kaya bos. Ganteng, tajir. super duper lah" "Kita harus belajar tuch dari mba Gina, umpan apa yang dia pakai supaya dapat mangsa yang besar" "Sssssttt,,, bos dateng" Seketika mereka bubar dan kembali ke tempat masing - masing begitu melihat kedatangan Yudha Sebenarnya Yudha mendengarnya, tapi dia ingin tahu lebih jauh lagi bagaimana situasi kedepannya. Baru nanti dia akan mengambil tindakan "Mood pagi ku yang indah jadi rusak karena lalat - lalat pengganggu ini " Gumamnya sambil menggelengkan kepala dan melangkah menuju ruangannya Chapter 36 Kamu tidak diizinkan memperhatikan wanita lain, selain aku! Gina juga tahu desas desus yang sedang beredar di kantor. Tapi dia tidak mau ambil pusing. Toh mereka tidak tahu apa-apa. Selama masih dalam batas wajar dia akan mentolerirnya. Waktu kerja pun selesai. Yudha menunggu Gina diparkiran untuk langsung ke bandara menjemput kakek dan ibu Gina.. Mereka menyetir sendiri, tidak seperti biasanya yg ditemani asisten Hendri. Hendri diberikan izin pulang cepat hari ini. Karena dia biasanya akan pulang setelah Yudha pulang kerumah. Tak perlu menunggu lama, dibandara kakek dan ibu Gina pun turun dari pesawat. Meskipun kakek Gina sudah lanjut usia tapi masih memancarkan aura yang disegani. Ibu Gina sangat cantik terlihat ada sedikit kerutan di sekitar mata , tapi itu tidak mengurangi kecantikannya. Jadi sudah pasti kecantika Gina diwariskan dari ibunya "Ibu... Kakek..." Gina langsung menghampiri kedua orang itu dan berakhir dengan memeluk mereka secara bergantian. Gina begitu bahagia bertemu mereka kembali setelah sekian lama, hingga air mata sedikit berlinang di matanya yang indah. "Kakek,, ibu..." Yudha dengan ramah dan sopan menyapa mereka yang dibalas dengan anggukan dan senyum dari kakek dan ibu Gina "Kita pulang kerumah utama" Kakek Gina berjalan didepan diikuti oleh Gadis, Gina dan Yudha yang selalu bergandengan. Meskipun Yudha mengenakan kaca mata hitam tapi aura penguasanya masih dapat dikenali oleh orang lain. Dan mereka pun menjadi pusat perhatian banyak orang di bandara. "Wah bukankah orang itu adalah tuan Yudha? pebisnis muda no 1 yang baru kembali dari luar negri? Dia terlihat begitu tampan dan gagah dibanding photo di majalah. Siapa perempuan yang digandeng sebelahnya?" "Entahlah tapi dari yang aku dengar dia tidak pernah berkencan atau mendekati seorang perempuan. Bahkan sudah banyak perempuan yang mencoba mendekati Yudha tapi tidak berhasil, jadi wanita itu pasti sangat luar biasa" "Betul sekali, mereka tampak sangat serasi. Aku akan mengambil gambarnya" Cekrek.... cekrek... semua orang mengambil gambar mereka dan bahkan ada wartawan juga yang ikut mengambil gambar tanpa sepengetahuan mereka. "Sepertinya kehadiran mu mengalahkan selebriti papan atas Yudha, lihatlah banyak mata terlihat mengagumimu dan jadi penggemarmu" Sang kakek berbicara pada Yudha sambil tersenyum. "Itu tidak benar kek, aku hanyalah seorang pebisnis. Mana mungkin bisa mengambil perhatian banyak orang" Yudha menoleh kearah Gina dan tersenyum Ginapun tersenyum dan berbisik kepada Yudha " Meskipun banyak wanita yang memperhatikanmu. Kamu tidak diizinkan memperhatikan wanita lain, selain aku" Yudha menyunggingkan senyum dan membalas bisikan sang istri "Tentu saja nyonyaku. Tidak ada wanita yang akan aku perhatikan selain kamu" Mereka tiba dirumah utama keluarga Sanjaya. Rumah ini jarang ditempati karena Gina lebih memilih tinggal di apartemen yang tidak jauh dari kantornya. Hanya sesekali saja ditempati kalau Dirga dan Gadis berkunjung ke kota ini. Rumah ini cukup luas, dan terdapat beberapa kamar yang didalam dirumah ini. Yudha pun mengernyitkan alis melihat rumah ini. "Kamu memiliki rumah yang besar tapi lebih memilih tinggal diapartemen biasa?" Tanya Yudha sedikit heran Gina tersenyum dan mengangkat bahunya "Aku kesepian jika harus tinggal disini sendiri" "Lagi pula keluarga Atmaja tidak tahu kalau ibu dan kakek memiliki rumah disini. Bahkan mereka tidak tahu tentang kakekku. Yudha mengerti dan tidak bertanya lagi Beberapa pelayan datang menyambut mereka "Tuan,, nyonya,, anda sudah kembali" Kakek dan ibu Gina membalas dengan anggukan dan masuk kedalam "Nona muda dan...." Pembantu rumah belum tahu tentang Yudha jadi dia kebingungan mau memanggil apa Ginapun langsung memperkenalkan Yudha pada pembantu rumah "Ini suami saya bi" "Selamat datang tuan muda" Mereka tersenyum dan masuk kedalam rumah "Bi tolong siapkan makan malam untuk kami" "Baik nyonya" pembantu langsung menuju dapur setelah mendapat perintah dari nyonya besarnya Kakek dan ibu Gina kembali ke kamar mereka masing-masing. Yudha dan Ginapun pergi menuju kamar Gina. Chapter 37 Kediaman Sanjaya Mereka menikmati makan malam dengan suasana hangat sambil berbincang. Gina menyendokkan nasi dan juga lauk untuk Yudha. Selesai makan Dirga mengajak yudha bermain catur dirunag keluarga "Kenapa kamu menikahi cucuku tanpa memberi tahu kami?" Dirga mulai mengintrogasi Yudha sambil menjalankan catur "Maaf kek, semua terjadi begitu cepat sehingga kami tidak sempat memberi tahu kakek dan ibu" Yudha tetap menjaga ketenangannya saat berbicara "Sudah berapa lama kalian menikah? bahkan akupun tau pernikahan kalian dari Julia. Mungkin jika dia tidak memberi tahuku akan ini, aku tidak akan pernah tahu" Nada suara Dirga terdengar tegas dan penuh kekecewaan "Kakek,, ini bukan salah Yudha, aku yg ingin cepat-cepat menikah" Gina ikut bergabung sambil membawa minuman juga cemilan "Meskipun ini keinginanmu, apa salahnya memberi tahu kami" Dirga ingin memberi pelajaran kepada anak muda ini karena menikahi cucunya tanpa sepengetahuannya. Dalam hatinya dia senang mereka menikah. Karena itu juga merupakan keinginannya. "Sudahlah yah, biarkan saja mereka menentukan masa depan mereka. Kita doakan saja yg terbaik untuk mereka berdua" Gadis tersenyum membela putri dan menantunya "O iya kek, aku memiliki hadiah untuk kakek dan ibu" Gina meminta pembantu membawa hadiah dari bagasi mobil. Itu adalah Guci dan lukisan serta beberapa vitamin yg dibelinya tempo hari di mall setelah menikah. "Aku tahu kakek pasti menyukai guci antik ini. Lukisan ini juga dari pelukis yg terkenal kan bu, bisa jadi koleksi ibu untuk di galeri" Dirga dan gadis tersenyum mendapat hadiah itu "Terima kasih, selera dan pengetahuan mu memang bagus" Sang kakek memuji setelah melihat hadiah yg diberikan Gina "Benar" Gadis juga tersenyum dan memuji Gina "Apa kalian sudah merencanakan pesta pernihakan?" "Belum bu, tapi nenek bilang dia dan kakek akan mengurunya" Yudha berkata dengan tenang sambil menyeruput minumannya "Baiklah, nanti kami akan mengunjungi kakek dan nenekmu untuk membahas ini" Gadis menimpali perkataan Yudha "Sudah malam, aku akan kekamar untuk beristirahat, sebaiknya kalian juga pergi istirahat" Sang kakek berdiri meninggalkan ruang keluarga diikuti yang lainnya Gina sedang duduk diranjang sambil menggunakan laptopnya. Sedangkan Yudha berdiri melihat buku-buku di kamar Gina "Aku tidak tahu kalau kamu begitu memiliki minat mengenai bisnis. Kamu suka sekali membaca buku bisnis?" Tanya Yudha sambil membuka dan membolak balik buku Gina "Aku memang suka membaca tentang buku bisnis, karena dari dulu kakek selalu mengajariku tentang bisnis sebelum nanti aku memegang kendali perusahaan kakek" "Tapi aku tidak ingin jadi pemimpin perusahaan kakek, ya setidaknya untuk sekarang ini. Aku masih menikmati pekerjaanku" Yudha meletakkan buku itu kembali keatas rak dan berjalan kesisi Gina. Dia mengambil komputernya dan meletakkannya di meja samping tempat tidur. Dia menyibakkan selimut dan duduk disebelah Gina. Melingkarkan tangannya disekitar pinggang Gina dan menjadikan bahunya sandaran untuk kepala sang istri. "Aku tidak akan melarang mu melakukan apapun. Selama kamu senang aku akan mendukungmu. Entah kamu memilih tetap bekerja diperusaan ku, perusahaan keluarga Atmaja, ataupun mengambil alih perusahaan kakek. Aku akan selalu berada disampingmu" Yudha berkata dengan lembut dan mengecup puncak kepala sang istri "Terima kasih karena bersedia mendukungku. Tapi aku masih belum memberi pelajaran pada Arin, Riska dan Siska. Mereka begitu serakah, apakah dengan mengambil perusahaan itu mereka akan menderita?" "Bagaimana menurutmu?" Gina mendongakkan kepala dan menatap mata sang pria "Mereka tidak akan mudah menyerah, kita akan mengambil semua yang mereka punya dan menendang mereka kejalanan" Kata Yudha dengan senyun liciknya. Chapter 38 Niat jahat!! Berita kebersamaan Gina dan Yudha dibandara pun menyebar begitu cepat melalui majalah. Siska yang sedang membaca majalah pun melihat berita mengenai Gina Dan Yudha. Dia membanting majalahnya dengan keras ke atas meja. "Bagaimana bisa dia dengan senangnya berjalan bergandengan dengan Yudha. Sedangkan aku dan Riko masih belum baikan sampai sekarang" "Aku tidak boleh membiarkan ini begitu saja. Gina tidak bisa bahagia diatas penderitaan ku sama Riko" Siska yg marah mengepalkan tangannya Diapun melirik majalah itu lagi dan melihat photo Gadis. "Bu... Bu.. ibu.." Dia berteriak, berjalan mencari Riska " Ada apa Siska? Kenapa kamu berteriak seperti itu? kamu ingin membuat nenekmu marah? " Riska pun berjalan tergesa-gesa mendengar teriakan putrinya " Ini bu, lihatlah majalah ini! " Siska mendekati ibunya dan menunjukkan majalah itu kepadanya. Mata Riska membelalak melihat photo Gadis "Dia sudah kembali kesini, ini kesempatan kita untuk meminta saham yang dulu diberikan nenekmu sebagai tunjangan perceraian" "Kita harus mendapatkan saham itu untuk memperkuat posisi kita, ibu yakin dia tidak memberikan saham itu kepada Gina" Kilatan kebencian terpancar di mata Riska dia begitu yakin akan mendapatkan saham itu. Ya sama yakinnya seperti dulu ketika dia mendapatkan Budi Surya Atmaja, ayah Gina. Arin pun datang dengan jalan tertatih dibantu dengan tongkatnya dan ikut bergabung bersama mereka berdua. "Ada apa ini? apa yang kalian berdua ributkan?" " Bu, Gadis ada disini. Dia sudah kembali kesini. Lihatlah ini bu! " Riska menunjukkan majalah itu kepada Arin. "Jadi dia berani kembali kesini lagi. Tidak apa, kita akan mengambil 10% saham yang dia miliki untuk memperkuat posisi kita melawan Gina" Arin menyeringai dengan niat jahat yang ia rencanakan untuk merebut saham Gadis. " Bu bagaimana dengan ayah dan Budi? dia pasti akan membela Gina dan ibunya" Riska panik dan khawatir karena kakek Gina pasti akan marah jika mereka mengganggu Gina dan ibunya "Tidak akan, Budi akan pergi dinas keluar kota beberapa hari ini. Jadi kita bisa menemui Gadis tanpa diketahui olehnya" Ditempat lain di rumah Riko Riko sedang duduk menikmati kopi sambil membaca koran. Dikoran itu ditampilkan berita mengenai Gina da Yudha. Dia termenung memikirkannya. "Bagaimana Gina bisa bersama dengan Yudha? Yudha belum lama kembali ke negara ini. Tapi kenapa mereka begitu dekat? Apakah Yudha sudah menjadi kekasihnya sekarang?" Dia teringat masa lalu bersama Gina. Ujung bibirnya tanpa sadar melengkung ke atas. menampilkan senyum indah di wajah tampannya. Dia mengingat setiap detik dan setiap momen yang dilakukan bersama Gina. Lebih tepatnya disaat Gina mengejar perhatian Riko meskipun tak pernah dihiraukan oleh Riko. Gina selalu mengirimkan pesan mengingatkan untuk makan, istirahat dan perhatian lainnya. Gina akan selalu mengirimkan makanan dikala dia sibuk. Membiarkan dia menunggu disaat dia terlambat datang pada kencan mereka. Gina tidak pernah marah, terkadang Gina membantunya menyelesaikan proposal saat dia tidak sibuk. Semua Gina lakukan tanpa pernah mengeluh atau marah sama sekali. Tapi saat bersama Siska, Riko lebih sering mengalah. Dia selalu menunggu Siska jika sedang syuting. Mengirimkan makanan ke lokasi syuting dan mengantar jemputnya. menemaninya pergi ke setiap acara. Riko sekarang membandingkan hubungannya bersama Siska dan saat bersama Gina. Dia mulai berfikir apa yang harus dia lakukan sekarang dengan hubungannya. Apakah harus melanjutkannya bersama Siska atau kembali mengejar cinta Gina? Dia mulai berfikir keras mengenai itu semua " Ini tidak boleh terjadi, aku harus memperjuangkan cinta Gina. Dia belum menikah dengan Yudha. Aku harus bisa mendapatkannya kembali. mendapatkan cinta Gina lagi. Aku yakin Gina juga masih mencintaiku!" Riko tersenyum dan begitu yakin dengan apa dia pikirkan Chapter 39 Pemandangan yang menyegarkan mata Seperti biasa Gina dan Yudha berangkat ke kantor bersama. Kali ini Yudha berjalan bersama Gina, mereka pun menjadi pusat perhatian semua orang. Pria yang tampan, gagah dan berwibawa jalan beriringan bersama wanita cantik, anggun dan elegan. Ini jadi pemandangan yang menyegarkan mata dipagi hari Hampir semua orang mengagumi mereka. Tapi ada juga segerombolan lalat yang jadi pengganggu ditelinga.. Mungkin karena mereka iri pada pasangan itu. Lebih tepatnya iri kepada Gina yang berhasil mendapatkan pria yang hampir dikatakan sempurna seperti Yudha. "Apa kalian berpikir klo pak Yudha itu serius dengan Gina?,,Cih " Lani,,seorang rekan kerja yang memang tidak menyukai Gina dan mereka selalu bersaing dalam pekerjaan. Dia tidak menyukai Gina karena setiap rencana kerja Gina selalu 1 langkah didepannya dan atasan mereka selalu memuji Gina " Gina itu sama sekali tidak pantas untuk pak Yudha, mungkin pak Yudha hanya main-main saja sama Gina" " Entah cara apa yang sudah Gina gunakan untuk merayu pak Yudha. Tapi,,, aku yakin, Gina akan segera dicampakkan oleh pak Yudha!" Dengan tangan dilipat di dada dia bergosip di pantri kantor. "Itu tidak mungkin mba, karena semua orang tahu kalau pak Yudha adalah pria yang susah untuk didekati wanita. Baru kali ini dia dekat dengan wanita dan itu adalah mba Gina" "Mba Gina juga tidak mungkin melakukan hal yang tidak - tidak untuk merayu pak Yudha. Saya kenal betul dengan mba Gina" Risti sangat tahu bagaimana karakter atasannya itu, dia berusaha dengan sabar membela Gina dan menjelaskan pada rekan kerja lainnya. "Kita lihat saja apakah Yudha memang pria yang tidak mudah didekati atau bukan. Dan apakah dia serius dengan Gina atau tidak! " "Tidak mungkin dia mempertahankan Gina kalau dia tahu Gina adalah perempuan penggoda!" Lani menyeringai, menampilkan senyum licik di bibirnya. Yudha pergi meeting diluar kantor, jadi Gina makan siang sendiri di restoran dekat kantor. Lani sudah memikirkan rencana licik sejak pagi tadi, jadi dia menghubungi seseorang untuk menjebak Gina. Seorang perlahan mendekati meja Gina dan duduk bersamanya. "Permisi nona, bolehkah saya duduk disini?" Pria itu tersenyum ramah dan lembut kepada Gina "Silahkan. meja ini kosong" Gina menjawab dengan dingin, menatap sekilas pria itu lalu pandangannya dialihkan kembali pada makanan dihadapannya "Nona kenapa anda makan sendirian? Apakah anda bekerja di sekitar sini? Maaf nona ada sisa makanan wajah anda" Pria itu menyentuh wajah Gina dan tanpa sepengetahuan mereka ada seseorang yang mengambil gambar Gina merasa tidak nyaman dengan kedatangan pria yang tidak jelas ini "Apa kamu sudah selesai? Jika sudah silahkan pergi dari sini, aku tidak butuh seorang pria untuk menemaniku makan!" "Kamu terlalu berisik, mengganggu waktu makan siangku!" Sambil memainkan sendok Gina bicara dengan nada sinis "Sebagai perempuan, kamu terlalu sombong nona. Memangnya kamu siapa bicara padaku seperti itu? Jangan karena kamu cantik jadi kamu bisa bicara seenaknya. Huh,, dasar wanita tidak tahu diri" Pria itu mulai berdiri dan memaki dengan kesal "Kamu tidak dalam posisi dimana kamu bisa mencaci makiku seenaknya!" Gina tersenyum sinis dengan tatapan yang begitu mengintimidasi, dengan suara yang tenang dan dingin membuat orang yang mendengarnya merasa merinding. Pria itupun pergi meninggalkan Gina Gina tidak langsung kembali ke kantor. Dia menghubungi sang suami untuk menghilangkan rasa kesalnya sembari menikmati secangkir kopi "Halo sayang, apa kamu sudah makan siang?" Dengan suara lembut diiringi senyum dibibir Gina berbicara dengan Yudha, sebelah tangannya masih terus memutar diatas gelas kopi yang ada dihadapannya "Sudah, bersama siapa kamu makan?" Kata sang suami disebrang telpon " Aku makan sendiri, tapi tadi sempat ada lalat yang mengganggu waktu makan ku. Membuatku sedikit hilang selera makan saja" Nada suara Gina sedikit berubah kesal dan itu membuat Yudha mengernyitkan kening mendengar perkataannya "Jadi ada yang ingin main - main dengannya, hah?" pikir Yudha sambil tersenyum sinis Chapter 40 Membangunkan harimau yang sedang tidur Setelah Yudha memutuskan sambungan telpon dengan istrinya, tak lama Yudha mendapatkan pesan singkat dari nomor yang tidak dikenalnya. Pesan itu berupa sebuah photo, dimana wajah Gina sedang disentuh, bahkan terlihat di elus dengan mesra oleh seorang pria. Kilatan amarah, kesal dan kebencian terpancar di mata Yudha.. "Sepertinya ada yang berani membangunkan harimau yang sedang tertidur" "Entah bagaimana nasib orang itu?" Pikir Hendri sambil menggelengkan kepala pelan melihat tatapan Yudha "Hendri!" Dengan suara yang dingin Yudha memanggil Hendri, diapun mendekat mendengar tuannya memanggil namanya. "Selidiki siapa pria ini, dan cari tahu juga nomor si pengirimnya!" Yudha menyerahkan ponselnya pada Hendri agar dia bisa menyelidiki masalah ini.. "Baik tuan" Hendri pun menganggukkan kepala dan bergegas melaksanakan apa yang diminta bosnya "Kita kembali kekantor!" Lanjutnya lagi sambil berdiri hendak meninggalkan restoran. diikuti Hendri dibelakangnya. Butuh waktu sekitar 3 jam dari tempat dia meeting sampai ke kantor. Gina masih dikantor, dia sibuk dengan pekerjaannya sebelum nanti pulang bersama Yudha Gina hendak ke pantri membuat kopi, namun dihadang oleh seorang wanita. Gina tidak mengerti apa masalahnya dengan wanita ini. Yang pasti adalah wanita ini selalu mencari masalah dengannya. Seperti sekarang ini, dia mencoba membuat gara-gara. "ada apa? kenapa kamu menghalangi jalanku?" Gina berkata acuh tak acuh kepada Lina "Gina, jangan mentang - mentang kamu sedang dekat dengan bos, jadi kamu bisa seenaknya ya!" Gina diam beberapa saat dan mengerutkan kening "Apa urusannya denganmu? ku rasa ini sama sekali tidak ada sangkut pautnya sama kamu?" "Memangnya kamu siapanya Pak Yudha?" Gina berkata dengan dingin disertai senyum menyeringai. Dengan kedua tangan dilipat di dada dan bersandar di dinding kantor, dia berbicara dengan penuh percaya diri membuat Lina semakin marah karenanya "Cih,, aku memang bukan siapa - siapanya. Tapi kamu juga belum tentu berarti apa - apa untuk pak Yudha" Lina berdecih sambil tersenym sinis.. Tiba - tiba seseorang muncul ditengah perdebatan Gina dan Lina "Siapa yg bilang Gina bukan siapa - siapaku? Ada hak apa kamu berkata seperti itu?" Yudha berjalan dengan gagah, kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku celana. Melangkahkan kaki selangkah demi selangkah bagaikan seorang penguasa, dengan tatapan yang mengintimidasinya diikuti asisten Hendri yang berjalan mengikutinya membuat Lina tertunduk gemetar.. Yudha berjalan melewatinya menuju tempat sang istri berdiri dan melingkarkan tangan disekitar pinggangnya.. Gina tersenyum manis menyambut kedatangan sang penguasa hatinya Dia melirik sekilas kepada Lina, tatapannya begitu dingin dan penuh dengan kebencian. Seperti ingin menelannya hidup - hidup. "Kamu tidak punya hak menghakimi wanitaku seperti itu!" "Tapi pak, Gina itu bukan wanita baik, dia mendekati anda hanya untuk mengejar status dan kedudukan saja!" Lina berkata dengan suara gemetar, masih berusaha memprovokasi Yudha "Berhentilah memprovokasiku. Kau tidak punya hak sama sekali berbicara seperti itu. Bahkan dengan statusmu, kamu tidak dalam posisi dimana kamu bisa seenaknya terhadap orang lain!" "Hendri! Urus dia ke bagian HRD!" Hendri menganggukan kepala mengiyakan perintah sang tuan. Tatapan Yudha yang semula menyeramkan berubah lembut ketika dia menoleh dan menatap Gina. Mereka saling menatap satu sama lain dengan begitu mesra. Kemudian Yudha berjalan dengan menggandeng Gina meninggalkan pantri menuju ruangannya. Hendri masih nampak terkejut melihat perubahan sang tuan setelah bertemu dengan Gina. Yudha terlihat begitu berbeda 180 derajat. Sedangkan nasib Lina, Dia terduduk lemas dilantai. Air matanya begitu deras mengalir di pipinya. Karir dan masa depannya sudah hancur. Dia dipecat dan tidak mungkin bisa bekerja lagi diperusahaan lain.. "Inilah balasannya jika seseorang berani membangunkan harimau yang sedang tidur. Tuan terlihat lembut dan ramah hanya ketika dia sedang bersama Nyonya. Tapi yang sebenarnya, tuan sama sekali tidak pernah berubah. Tetap jadi orang yang tak suka dibantah apalagi di provokasi" Gumam Hendri melihat keadaan Lina Chapter 41 Kemesraan Yudha dan Gina "Sayang, bukankah kamu baru akan kembali sore hari? kenapa sekarang sudah sampai kantor? apa meetingnya sudah selesai?" "Meetingnya selesai sebelum makan siang. Jadi aku segera kembali, ditambah lagi istriku yang cantik ini sepertinya moodnya sedang tidak baik!" Yudha menyentuh hidung Gina menggunakan jari telunjuknya dan tersenyum lembut. Mereka berdua berjalan menuju ruangan Gina sambil berbincang.. Karena saat ini mereka sedang berada dikantor, jadi mereka tidak menunjukkan kemesraan yang intens, hanya sekedar berjalan beriringan saja. Akan tetapi itu tetap membuat karyawan lain menatap mereka dengan mata berbinar iri dan terpesona oleh kebersamaan keduanya. "Lihatlah pak Yudha dan mba Gina mereka begitu serasi" "Beruntungnya mba Gina mendapatkan pak Yudha yang sangat tampan" " Aku baru tahu, jika mba Gina yang serius, kaku dan minim ekspresi itu ternyata bisa terlihat lembut dan manja ketika bersama dengan pak Yudha" Karyawan kantor terus bergosip dibelakang mereka. Tapi selama mereka tidak diprovokasi, mereka tidak akan mempedulikannya sama sekali. Yudha dan Gina pulang menuju kediaman utama Sanjaya, karena kakek dan ibu Gina ada disini, jadi mereka berencana tinggal disana sementara waktu sampai kakek dan ibu Gina kembali ke negaranya. " Kakek,,, ibu,, kami pulang" Gina dan Yudha berjalan masuk dengan tangan Gina melingkar ditangan Yudha.. "Kalian kembali, naiklah ke kamar kalian dan bersiap untuk makan malam" Ibu Gina menyapa sembari menyiapkan meja makan "Baik bu" "Sayang apa kamu mengenal pria ini?" Setelah dikamar Yudha menunjukkan photo yang diterimanya melalui pesan singkat tadi siang kepada Gina. Gina meraih ponsel Yudha dan melihat isi photo itu, seketika wajahnya berubah muram dan kesal " Ini kan photo laki - laki yang tadi siang mengganggu waktu makan ku! Bagaimana kamu bisa mendapatkan photo ini sayang?" Gina bertanya dengan lembut sambil memicingkan matanya Yudha berjalan menuju tempat tidur dan duduk ditepi ranjang "Entahlah siapa yang mengirmnya, Hendri sedang menyelidiki pria ini juga orang yang mengirimkan photo ini padaku, mungkin besok baru akan menerima hasilnya" Dengan posisi duduk sambil bertopang dagu dan memejamkan mata karena sedikit lelah. Yudha menjelaskan dengan begitu tenang. "Sayang,, apa kamu percaya padaku?" Gina duduk hadapan Yudha, dan meletakkan kepalanya dipaha Yudha " Tentu saja sayang, aku percaya padamu dan sudah kukatakan sebelumnya. Apapun yang terjadi aku akan selalu ada disampingmu dan mendukungmu" Yudha berbicara dengan lembut dan sebelah tangannya mengusap lembut kepala Gina penuh kasih sayang. "Terima kasih... " "Sudahlah,,, Kita turun untuk makan malam dengan ibu dan kakek?" Ajakan Yudha disambut dengan anggukan kepala dan senyum oleh Gina.. Setelah makan malam, mereka akan duduk bercengkrama diruang keluarga, Yudha bermain catur dengan Kakek Dirga dan Gadis dan Gina menonton tv disebelah mereka.. "Bu,, apa apa aku boleh bertanya sesuatu?" Gina berkata dengan ragu kepada ibunya "Tentu saja, ada apa? "Bagaimana dengan saham ibu di perusahaan Atmaja? "Kenapa? Ibu masih menyimpannya, ibu sama sekali tidak tertarik dengan perusahaan itu" "Bolehkah aku memilikinya bu? Aku dan Yudha sekarang memiliki 37% saham perusaan Atmaja, jika aku memiliki saham ibu juga. Maka kami akan jadi pemegang saham kedua terbesar disana" "Apa yang kalian berdua rencanakan? Nyonya keluarga itu begitu haus akan kekuasaan dan penghormatan" "Mereka tidak pernah cukup dengan apa yang mereka miliki" Ibu Gina berbicara dengan nada yang kesal.. "Tidak ada bu,, Kami hanya ingin agar mereka tidak sombong dengan apa yang mereka miliki sekarang" "Sudah cukup dengan semuan pengorbanan yang selama ini aku lakukan untuk mereka" Kilatan amarah terpancar dimata Gina "Sekarang aku akan merebut semua yang mereka miliki" Gina penuh dengan keyakinan dalam setiap ucapannya.. "Untuk apa perusahaan itu? Kamu yang akan jadi penerus kakek diperusahaan!" "Iya kek, hanya saja mereka ingin jadikan aku korban untuk dapat mempertahankan perusahaan itu. Jadi aku ingin memiliki perusahaan itu, sebagai pelajaran untuk mereka" Yudha hanya mendengarkan percakapan keluarga itu dan sesekali menyunggingkan senyum mendengar perkataan sang istri Tentu saja dia akan mewujudkan keinginan sang istri Chapter 42 Pertemuan Gina dan Riko Pagi hari saat dikantor Hendri langsung masuk keruangan sang bos setelah mengetahui kedatangannya "Tuan pria yang di photo dengan nyonya kemarin hanyalah karyawan biasa dan itu adalah suruhan Lina" Hendri memberi tahukan informasi yang didapatkannya kemarin "Baiklah, kamu pecat saja mereka. Aku tidak mau berurusan dengan orang yang tidak penting!" Yudha duduk dikursi kerjanya dan menginstrusikan Hendri. Hendri menganggukkan kepala dan meninggalkan ruangan Yudha Diruangan Gina dia sedang melakukan panggilan telpon "Hallo, ada apa lagi kamu menghubungiku?" Tanyanya langsung tanpa basa basi kepada orang yang sedang menghubunginya "Bisakah kita bertemu untuk makan siang?" Tanya orang disebrang telepon dengan lembut "Ada urusan apa lagi sehingga kita harus bertemu?" "Kumohon Gina, kali ini saja!" "Baiklah, saat jam makan siang direstoran X" Gina mengiyakan ajakan pria itu Dia mendapatkan panggilan telpon dari orang yang yang tidak penting. Sebenarnya sudah tidak ingin lagi ada urusan dengannya. Seorang pria yang secara tidak langsung menjadi penyebab atas penderitaannya selama ini. Seseorang yang menjadi salah satu penyebab perubahan sikap Gina. Ya,, pria itu tidak lain adalah Riko.. Gina menghubungi Yudha setelah mendapat panggilan telpon dari Riko "Hallo sayang, apa kamu ada acara untuk makan siang? " Tidak ada" "Kalau begitu kita makan di restoran X, ada seseorang yang ingin menemuiku disana. Bisakah kamu menemaniku tanpa sepengetahuan orang itu?" Gina ingin menjaga kepercayaan Yudha padanya, jadi dia berniat membiarkan Yudha untuk ikut makan direstoran tanpa sepengetahuan Riko "Baiklah sayang" Tiba direstoran X. "Sayang aku masuk kedalam terlebih dahulu ya" Yudha tersenyum sambil mengelus pipi Gina sebelum Gina turun dari mobil. Setelah Gina turun sorot matanya berubah dingin. Didalam sudah tampak Riko duduk disebuah kursi. "Untuk apa kamu memintaku datang kemari?" Gina langsung duduk ketika melihatnya dan berbicara dengan nada yang sinis "Sebaiknya kita makan dulu, aku sudah pesankan sirloin steak kesukaanmu" Riko tersenyum sambil meletakkan makanan dihadapan Gina Gina mengernyitkan kening mendengar perkataan Riko. "Setelah berhubungan beberapa tahun dia masih tidak tahu makanan kesukaanku?" pikir Gina "Permisi nona, ini makanan kesukaan anda yang biasa anda pesan disini" Seorang pelayan mengantarkan tenderloin steak kesukaan Gina, Gina tersenyum melihat itu, karena dia tahu siapa yang mengirim makanan itu kepadanya Seseorang yang sedang duduk dibagian lain restoran ini yang sekarang menjadi pemilik hatinya seutuhnya. Tring,, sebuah pesan masuk pun diterima Gina "Aku memesankan makanan kesukaan istriku, makanlah yang banyak karena aku memperhatikanmu" Gina tersenyum membaca isi pesan teks itu dan membalasnya "Terima kasih, suamiku memang paling mengerti tentangku ????" "Langsung saja pada intinya, untuk apa kamu ingin bertemu denganku?" Gina berbicara sambil memotong steaknya "Aku datang hanya untuk memberikan hadiah ini sebagai permintaan maafku padamu" Riko berkata dengan lembut kepada Gina dan memberikan rangkain bunga Lili juga boneka beruang kecil yang lucu dengan bentuk hati dedepannya dan memegang setangkai bunga. Jika Gina yang dulu menerimanya, memang dia akan senang dengan hadiah ini. Setiap kali Riko membuat kesalahan, dia akan minta maaf dengan cara ini. Dan Gina dengan begitu naifnya, dia akan senang menerima perhatian itu dan memaafkan Riko. "Maaf untuk salahmu yang mana? Karena seingatku, begitu banyak kesalahan darimu yang harus kumaafkan" Nada suara Gina terdengar sinis dan dingin. "Gina tolonglah, jangan seperti ini. Aku tau kamu bersama Yudha hanya untuk membuatku cemburu, tidak lebih dari itu!" "Aku tahu kamu masih peduli dan mencintaiku" Gina mengerutkan keningnya mendengar kata - kata Riko "Menarik perhatiannya? peduli padanya? Apakah dia serius? Sepertinya dia sudah gila! Pikir Gina Chapter 43 Penyesalan Riko Gina mengambil tisu kemudian membersihkan mulutnya. Dengan senyum dia berkata "Riko apa kamu yakin dengan yang kamu katakan? Dulu kamu bilang padaku kalau aku hanyalah seorang perempuan tanpa ekspresi yang begitu kaku, dingin dan tidak bisa membuatmu nyaman!" "Kamu bilang kamu tidak mencintaiku tapi kamu mencintai Siska, adik tiriku. Tapi sekarang, setelah kamu bertunangan dengan Siska kamu bilang ingin kembali bersamaku?" "Ayolah Riko, kamu sungguh tidak berpendirian. Aku sudah melepaskanmu saat itu dan semua rasa cintaku padamu juga sudah aku buang jauh - jauh saat kamu menolakku, saat dimana aku terus memohon bahkan bersimpuh dihadapanmu untuk tidak meninggalkanku" "Apa kamu pikir setelah semua yang kamu dan Siska lakukan padaku, Aku masih bisa bersamamu?" Gina menggelengkan kepala disela - sela perkataannya. Tatapannya penuh dengan luapan amarah Riko menggenggam tangan Gina dan menggelengkan kepala, memohon kepada Gina " Tidak Gina, kamu tidak boleh bicara seperti itu. Aku mengaku salah, aku tergoda oleh Siska dan terlalu percaya padanya sehingga aku meragukanmu dan tidak percaya padamu. Tapi aku telah menyadari kalau selama ini yang aku sayangi adalah kamu, bukan Siska" Di sisi lain restoran Yudha memperhatikan Gina dan Riko, dia mengepalkan tangannya begitu kuat. Menahan rasa cemburu dan bergumam sambil tersenyum sinis "Dia berani menggenggam tangan wanitaku dan mencoba merayunya. Kamu akan lihat bagaimana aku memberikan hadiah atas keberanianmu itu dan atas rasa sakit yang dirasakan Gina!" "Itu akan jadi adil sampai kamu, keluargamu juga keluarga Atmaja berakhir dijalanan!" Luapan emosi Gina terpancar saat berbicara dengan Riko. Amarahnya yang selama ini tertahan tak bisa dibendung. Dia berusaha keras menekan amarahnya saat berbicara. "Aku harus berterima kasih padamu Riko. Jika bukan karena kamu dan Siska yang memberikanku rasa sakit yang teramat sangat sakit. Aku mungkin masih tetap bersamamu dan terus menjadi orang bodoh yang selalu dimanfaatkan, selalu menuruti apapun yang dikatakan olehmu dan keluarga Atmaja". " Jika bukan karena kamu mungkin aku tidak akan bisa bertemu dan bersama dengan Yudha". Gina tersenyum sebelum akhirnya berkata "Aku berhutang rasa sakit padamu, dan aku akan mengembalikan itu padamu dan Siska" Gina berdiri dan hendak pergi hingga langkahnya terhenti sejenak dan berkata pada Riko tanpa membalikan badan "Aku beruntung berpisah denganmu, karena aku bisa mendapatkan Yudha yang seribu kali lebih baik darimu!" Gina beranjak pergi dari hadapan Riko, menghampiri Yudha yang menunggunya di meja lain di restoran itu. Meninggalkan Riko yang masih termenung dalam penyesalannya. Yudha yang melihat kedatangan sang istri kemudian berdiri, menyambutnya dengan senyum dan uluran tangan. Mereka berdua pergi meninggalkan restoran dengan bergandengan tangan. Terlihat begitu mesra. Riko yang melihat senyuman hangat Gina dan perlakuan manjanya kepada Yudha semakin merasa hampa. Seandainya waktu bisa dirubah. Apakah dia bisa seperti itu bersama Gina. Dia menyadari kalau dia telah menghabiskan waktu beberapa tahun bersama Gina, tapi sikap Gina tidak pernah seperti itu. Dulu saat bersama dengannya dia lebih sering menerima perhatian Gina tanpa memberi Gina perhatian lebih. Dia selalu sibuk dengan semua urusannya dengan Siska, tanpa mempedulikan perasaan dan keinginan Gina. Gina dengan begitu sabar mempertahankan hubungan mereka, dia tidak pernah menuntut apapun. Atau marah karena masalah apapun. Gina selalu menjadi pihak yang pengertian dan yang selalu mengalah diantara hubungan mereka berdua. Tapi akhirnya dia sendiri yang melepaskan gadis yang begitu baik dan sempurna itu demi seorang gadis yang hanya mementingkan bersama dengannya tapi tidak mengerti dengan baik bagaimana Riko sebenarnya. Riko hanya bisa mencibir, menertawakan kebodohannya sendiri. Dan menerima hasil dari apa yang dipilihnya sendiri. Dia tidak mungkin lagi mendapatkan kesempatan bersama dengan Gina. Karena Gina telah menutup sendiri kesempatan itu. Sudah tidak ada lagi jalan baginya untuk bisa bersama dengan Gina Chapter 44 Berkencanlah denganku Yudha dan Gina menyusuri jalanan kota dengan terus beegandengan tangan sepulang dari restoran.. Wajah Yudha masih terlihat murung selepas pertemuan Gina tadi, entah apa yang ada dipikrannya. Gina pun merasa ada yang aneh dengan sikap suaminya.. Gina berhenti berjalan dan berdiri tepat dihadapan Yudha, dia memegang tangan Yudha dan sedikit mendongak menatap Yudha. Karena tinggi badan Yudha yang hampir 185 cm sedangkan dia hanya 165cm. Meskipun dia sedang mengenakan high heels tetap saja masih ada perbedaan tinggi badan di antara mereka. "Sayang,, apa terjadi sesuatu? Kenapa wajahmu terlihat murung sekali?" Yudha memperhatikannya lekat sebelum akhirnya dia mengeluarkan suaranya yang serak itu "Mau berkencan denganku?" Yudha menatapnya dengan seksama tapi penuh kelembutan. Gina pun tersipu mendengar ucapan Yudha "Apa yang terjadi? kenapa tiba - tiba mengajakku berkencan?" Gina terlihat bingung , tidak biasanya Yudha bersikap seperti ini, dia memang perhatian tapi dia kurang suka dengan keramaian. "Tidak, hanya saja saat melihat pria itu memberimu bunga dan boneka, bahkan memegang tanganmu.. Aku tidak suka akan hal itu" Yudha tertunduk dan sedikit memelankan suaranya ketika mengatakan itu, tapi Gina masih dapat mendengar ucapannya dan sontak Ginapun tertawa mendengarnya.. "Hahaha.....Apa kamu cemburu sayang?" memandang wajah Yudha yang tertunduk itu "Tidak.. hanya saja..." Sebelum selesai dengan kalimatnya Gina menyela perkataannya "Sayang, dengarkan aku baik - baik. Meskipun pernikahan kita pada awalnya tidak didasari cinta, tapi aku beruntung bisa menjadi istrimu. Tidak ada suami sebaik kamu. Dan aku sangat menyayangimu" " Kamu sudah berjanji padaku akan selalu menemaniku, mendukungku, dan melindungiku. Begitupun denganku, aku akan selalu ada disampingmu, menemanimu, mendukungmu. Apapun yang terjadi, aku tidak akan pernah meninggalkanmu" " Tidak ada laki - laki lain yang dapat menggantikanmu" Yudha sangat terharu mendengar setiap pernyataan yg terlontar dari mulut Gina. Dia menarik pinggang Gina kepelukannya dan "Cup..." Ciuman yang penuh kemesraan dan cinta berakhir di moment itu. Ciuman mereka berlangsung agak lama sampai Gina mulai kehilangan nafas barulah Yudha melepaskannya.. "Apakah kita jadi berkencan? Aku mau nonton film di bioskop" Tanya Gina dengan mata berbinar penuh harap "Baiklah" Yudha menggangguk dan mereka berjalan menuju bioskop.. Ditempat lain,,, Arin menghubungi ponsel Gadis.. " Hallo,, " Tanya ibu Gina saat mengangkat telpon "Bisakah kita bertemu? besok aku tunggu ditestoran K!" Arin langsung mengatakan tujuannya menghubingi Gadis "Ada apa? kurasa tidak ada yang perlu dibahas?" "Kita harus bertemu dan bicara secara langsung, Ini mengenai surat pemindahan saham itu" Suara Arin terdengar lemah namun tegas "Owh itu. Baiklah, aku akan menemuimu besok" Gadis berbicara dengan nada yang dingin kemudian menutup telponnya. Sang ayah, Dirga pun mendengar percakapan itu. " Ada apa, untuk apa dia ingin bertemu denganmu?" Tanya Dirga dengan wajah kesal " Entahlah, mungkin dia akan meminta saham itu" Gadis kenjawab dengan mengangkat bahu "Saham yang dulu mereka berikan saat kamu bercerai? Saham yang hanya bernilai 10% itu? Tidak perlu dipermasalahkan, kamu bahkan memiliki lebih banyak dari nilai saham itu. Apa kamu akan pergi menemuinya?" " Iya ayah, aku ingin melihat sendiri apa yang akan mereka lakukan" Dirga pun menganggukan kepala perlahan.. "Tapi kamu tetap harus berhati - hati.. mereka pasti merencanakan sesuatu padamu" " Ayah tenang saja, dulu aku baik kepada mereka, karena mereka aku anggap bagian dari keluargaku, bahkan aku sampai rela meninggalkan ayah. Tapi sekarang mereka bukan siapa - siapa. Dan mereka berani menyiksa putriku selama bertahun - tahun" Untuk sesaat Gadis termenung karena mengingat masa lalu. Dulu dia dan Riska berteman baik, hingga mereka bertemu dengan Budi. Budi dan Gadis saling mencintai dan memutuskan menikah. Riska yang diam - diam mencintainya mulai menggunakan segala cara untuk mendapatkan Budi. Dia berhasil menjebaknya dengan memberikan obat perangsang kepada Budi saat mereka tidak bersama Gadis. Budi yang kehilangan kesadaran melakukan hal yang tidak sepatutnya bersama Riska hingga dia mengandung. Karena merasa bersalah pada Gadis, Riska berkata pada Budi akan pergi ke luar negeri dan melupakan semuanya. Tapi nyatanya dia kembali setelah beberapa tahun dengan membawa Siska. Dia berkomplot dengan Arin merebut Budi dari tangannya. Gadis tersadar dari lamunannya dan berkata dengan dingim "Dirumah itu selain ayah mertua, semuanya tidak ada yang baik" Chapter 45 Merasakan kebahagiaan sebelum jatuh kelubang tanpa dasar Seperti yang telah dibicarakan kemarin. Gadis pergi ke restoran untuk menemui Arin dan Riska. Dia tidak memberi tahu Gina karena khawatir Gina akan melarangnya. Jadi hanya Dirga sang ayah yang mengetahui pertemuan itu Gadis tiba direstoran lebih awal, tak berselang lama, Arin dan Riska tiba di restoran dan duduk dihadapan Gadis Gadis masih sangat cantik , anggun dan terlihat elegan. Dia duduk dengan begitu anggun. "Kita langsung saja pada inti permasalahannya. Aku ingin kamu memberikan kembali kepadaku 10% saham yang kamu miliki di perusahaan Atmaja" "Sebagai gantinya aku akan memberikan uang kompensasi yang cukup besar!" Arin langsung berbicara dengan begitu sombongnya Gadis hanya mendengarkan sambil mengesap teh chemomile yang ia pesan. Ia menyunggingkan senyum sinis atas tanggapan perkataan Arin " Berapa banyak uang yang akan kamu berikan sebagai kompensasi saham itu?" "5 Milyar!" Gadis berdecih dan tersenyum sinis " Cih,, kamu hanya memberikan uang 5 milyar untuk saham itu?" "Akan ku pertimbangkan!" "Kami ingin kamu menandatanganinya sekarang juga!" Arin menyodorkan sebuah dokumen dihadapan Gadis. Gadis mengernyitkan kening melihat itu dan berkata dengan dingin " Kurasa kalian tidak berniat berdiskusi denganku? Melainkan memaksaku untuk memberikan saham itu mau tidak mau. Iya kan?" " Kami sudah bilang kalau kami akan memberikan kompensasi atas saham itu dan kurasa itu nilai yang cukup besar. Jadi kamu tidak akan rugi" Gadis merubah posisi duduknya tapi nada suaranya masih tetap tenang " Apa katamu? Uang 5 milyar kamu bilang besar hah? Jumlah segitu sama sekali tidak berarti apa - apa bagiku" "Sombong sekali kamu, dasar perempuan tidak tahu malu. Harusnya kamu berterima kasih karena kami mau memberikan kompensasi" Riska mulai terpancing emosi oleh Gadis "Kami datang bukan untuk berdebat denganmu, kami hanya ingin kamu menandatangani dokumen pemindahan saham ini!" Arin berusaha berbicara baik - baik dengan Gadis " Kalau aku tidak mau menanda tanganinya, bagaimana?" " Kamu tetap harus menanda tanganinya. Kalau tidak kamu akan menyesal!" Gadis megerutkan alisnya mendengar ancaman Arin, kemudian dia menyeringai " Kalian ingin mengancamku? Aku rasa,,,, aku tanda tangan atau tidak, perusahaan itu tetap tidak akan pernah kalian dapatkan" " Meskipun aku atau Gina tidak memiliki saham perusahaan itu lagi, pada akhirnya perusahaan itu akan bangkrut ditangan kalian sendiri" Gadis pada akhirnya menanda tangani dokumen itu, karena dia ingin mereka merasakan kebahagiaan sebelum akhirnya jatuh kelubang tanpa dasar. Arin tersenyum penuh kemenangan melihat Gadis menandatangani dokumen itu " Bagus, Karena kamu sudah menandatangani dokumennya, maka ini cek yang sudah kami janjikan!" Arin memberikan selembar cek senilai 5 milyar Disaat yang sama kebetulan sekali Gina datang ke restoran. Pandangannya tertuju pada ibunya yang duduk bersama Arin dan Riska. Dia tersenyum sinis sebelum menghampiri mereka " Jadi mereka juga ingin mengambil saham milik ibu ya? " " Ibu,, apa yang kamu lakukan disini? dan kenapa ibu bisa bersama dengan nenek dan tante Riska? " Gina pura - pura terkejut dan tidak tahu apa - apa " Tidak ada apa - apa sayang. Hanya saja ibu sudah lama tidak pulang ke kota ini dan tidak bertemu dengan nenekmu" Gadis berkata dengan lembut disertai senyum kepada Gina "Benarkah itu?" Ginapun ikut duduk bersama mereka "Karena Gina ada disini untuk menemanimu, jadi sebaiknya kami pergi dulu " Arin dan Riska bangun dari kursinya dan hendak pergi. " Baiklah" Gadis dan Gina membalas perkataannya dengan anggukan kepala dan senyum sinis "Ibu,, apa mereka juga meminta saham milik ibu?" Gina langsung menanyakan maksud pertemuan mereka Gadis tersenyum mendengar perkataan Gina " Iya, biarkan saja mereka memiliki saham itu. Ibu ingin mereka merasakan kebahagiaan sebelum mereka jatuh" " Ibu ingin perusahaan itu bangkrut. Sudah cukup ibu menahan diri melihatmu tersiksa hidup bersama mereka selama ini" " Tapi bu, bagaimana dengan kakek Surya? Dia jadi pertimbangan ku dikeluarga Atmaja" Gina terlihat ragu dan wajahnya muram mengingat kakeknya yang begitu menyayanginya. " Ayah mertua tidak terlibat, jadi kita akan mengajaknya tinggal bersama kita" Gadis berkata dengan tenang sambil mengesap teh. Disambut dengan senyuman indah Gina Chapter 46 Kita akan mulai bermain dengan mereka Arin dan Riska pulang dengan wajah yang berbinar bahagia. Siskapun merasa penasaran dengan apa yang sedang dialami oleh ibu dan neneknya sehinga mereka bisa sesenang itu. "Ibu,, nenek,, kalian dari mana? dan kenapa kalian berdua terlihat begitu bahagia sekali ? Siska menghampiri mereka dan menggandeng tangan sang nenek, membantunya berjalan kedalam rumah " Kami baru saja menemui Ibunya Gina untuk meminta saham perusahaan kita, dan dia memberikannya " Arin tertawa setelah mengatakan itu " Benarkah ? Itu bagus sekaki nek, Sekarang saham kita jadi bertambah, dan Gina tidak akan bisa seenaknya terhadap kita" Siska berkata dengan penuh semangat dan senyum lebar. Arin dan Riska pun ikut tersenyum dengan keberhasilan mereka. "Aku kira kita akan kesusahan untuk mendapatkan saham itu kembali. Ternyata Gadis begitu mudah dibujuk hanya dengan 5 milyar saja" Mereka bertiga tertawa terbahak - bahak. Ditempat lain, Yudha sedang duduk dikursi kantornya dengan setumpuk dokumen berada dihadapannya. Tiba - Tiba dia teringat akan kejadian direstoran saat Gina dan Riko bertemu. Raut wajahnya pun berubak kesal. Kemudian ia menghubungi Hendri. " Hendri, masuk keruanganku sekarang! " "Baik tuan" Hendri masuk keruangan Yudha dan melihat ekspresi wajahnya " Sepertinya akan ada badai besar untuk seseorang" Gumamnya "Hendri selidiki tentang Riko dan perusahaannya. Jangan sampai ada yang terlewat sedikitpun!" Perintah Yudha dengan nada berkuasanya Hendripun menganggukan kepala dengan perasaan yang sedikit gemetar "Baik tuan" "Seperti dugaanku, akan ada badai terjadi" Gumamnya lagi Tak lama Hendri keluar Gina masuk keruangan Yudha Terlihat Yudha sedang fokus membaca dokumen, hingga dia tak menyadari kedatangan Gina " Hai sayang, apa yang sedang kamu baca. Hingga kamu begitu serius dan tak menyadari kedatanganku?" Gina bertanya dan mendekat, berdiri di samping Yudha Yudha yang mendengar suara Gina mengalihkan pandangannya dari dokumen dan menatap wajah Gina. Dia melingkarkan tangan disekitar pinggangnya dan menariknya duduk dipangkuannya. " Maaf sayang, aku sedang membaca proposal pembangunan hotel di kota A " Yudha pun menutup dokumen yang dibacanya " Apa kamu sudah makan siang? Gina menggelengkan kepalanya perlahan "Aku ingin makan siang bersama denganmu" Gina berkata dengan suara manja dan memainkan tangannya di dada Yudha membuat sebuah lingkaran. Yudha pun tersenyum melihat kelakuan Gian yang seperti kucing kecil yang begitu menggemaskan " Baiklah, ayo kita pergi! " Gina bangun dari pangkuan Yudha dan berjalan bergandengan. Mereka sudah tidak segan lagi berjalan bergandengan dan menjadi pusat perhatian. Yudha selalu menjaga langkahnya agar dapat diikuti sang istri yang selalu mengaitkan tangannya disiku Yudha. Mereka tiba direstoran dan menikmati makanan mereka. Sesekali mereka akan saling menyuapi satu sama lain. " Sayang,,," "Hmmm.." " Apa kamu tahu kalau nenek Arin dan tante Riska kemarin bertemu dengan ibu? Dan mereka juga mengambil saham milik ibu " Wajah Gina terlihat muram mengatakan itu " Apa yang ingin kamu lakukan kepada mereka? Apa kamu masih akan berbaik hati kepada mereka? " " Tentu saja tidak, sudah cukup aku berbaik hati dan mengalah kepada mereka selama ini " Gina terdengar serius dan kesal " Aku ingin mengakhiri keluarga Atmaja . Aku tidak ingin lagi ada keluarga Atmaja" Gina berkata dengan penuh keyakinan dan kilatan kemarahan " Baiklah, sesuai keinginanmu sayang. Kita akan mulai bermain - main dengan mereka " Yudha berkata dengan tenang dan tatapannya terhadap Gina begitu lembut Gina tersenyum mendengar perkataan Yudha. Meskipun Gina sudah yakin jika dengan berkata begitu keluarga Atmaja akan benar - benar hancur dan hilang dari golongan bangsawan. Tapi perhatian dan kepedulian yang diberikan Yudha membuatnya merasa hangat dan begitu tersentuh Chapter 47 Aku Nadia bukan Gina! Setelah pertemuannya dengan Gina tempo hari. Riko menjadi lebih pendiam dan sering mabuk - mabukan. Dia sering datang mengunjungi bar dikota. " Kring... kring... kring.." Ponselnya berdering, dilihatnya nama yang tertera di panggilan itu adalah Siska. Dia mengabaikan panggilan tersebut dan mematikan telponnya.. "Siska,,, Siska,,, kenapa kamu jadi orang yang menghacurkan hidupku? Apakah aku benar - benar mencintaimu? Apakah aku benar - benar ingin hidup bersamamu seperti yang sering kukatakan kepadamu? " Dia terus meracau dalam mabuknya. Hingga seorang wanita duduk disebelahnya.. " Hai cantik, apa kamu tahu kenapa Gina meninggalkanku? apa kamu tahu kalau aku begitu menyesal meninggalkan dia? Apa kamu tahu kalau aku sekarang bisa merasakan sakit seperti yang dia rasakan dulu? " Wanita itu hanya mengerutkan kening mendengar racauan Riko, dia tidak mengerti dengan apa yang dikatakan pria mabuk ini. Tapi dia terus mendengarkan dengan seksama. Yang dia tahu adalah pria itu begitu tampan, dan sepertinya begitu rapuh dan sedang sakit hati. Diapun menyunggingkan senyum dan mulai bercengkrama dengan Riko " Aku tahu apa yang kamu rasakan, aku mengerti perasaanmu yang sedang terluka, aku bisa mengerti penyesalanmu". Riko pun tersenyum "Aku senang ada yang mengerti aku, tapi kenapa Siska tidak mengerti perasaanku? dia terus saja meminta ku untuk tetap bersamanya, sedangkan setiap kali aku melihat wajahnya aku teringat akan kesalahanku kepada Gina" Riko mendesah dengan nada yang berat, dia berusaha bangkit dari duduknya dan Bruk.. Dia terjatuh karena terlalu mabuk. Wanita itu langsung bangun dari kursinya dan membantu Riko berdiri. " Apa kamu baik - baik saja? Dimana rumahmu? Biar kupanggilkan taksi" Wanita itu membantu Riko berdiri dan membopongnya keluar dari bar. Tapi Riko terlalu mabuk dan terus meracau tanpa memberi tahu dimana tempat tinggalnya. Wanita itupun membawa Riko ke kamar hotel. Dia membantu Riko berbaring di tempat tidur. Dan ketika dia hendak meninggalkan kamar Riko.. Sret,, "Aaacchhh" Dia menariknya kedalam pelukannya. memeluknya dengan begitu erat tanpa bisa dilepaskannya. "Lepaskan tuan, kamu terlalu mabuk" Si wanita berusaha terus mendorong Riko namun tidak berhasil. " Gina, kamu tidak boleh meninggalkanku lagi. Aku tidak akan membiarkanmu pergi bersama Yudha. Aku ingin selalu bersamamu" Racau Riko tanpa sadar kepada wanita itu Wanita yang dia yakini sebagai Gina "Tuan kamu salah orang, saya bukan Gina yang kamu cintai. Saya Nadia!" Suara wanita itu terdengar begitu lemah, karena berusaha lepas dari dekapan Riko " Aku tahu kamu berbohong Gina, kamu Gina ku. Kamu adalah Gina ku" Riko mencium Nadia dengan penuh gairah, sebelah tangannya mulai menjelajah setiap inci tubuh Nadia. Nadia mendorong dan meronta agar dapat terlepas dari Riko, tapi tetap tidak berhasil. Riko menanggalkan semua baju mereka dan berakhir berserakan dilantai.. Malam panjang mereka pun berakhir dengan keintiman mereka yang saling tidak mengenal disebuah kamar hotel. Riko tersadar dipagi hari dengan tanpa busana, hanya bertutupkan selimut didampingi seorang gadis cantik tanpa busana yang masih terlelap dalam tidurnya. Riko terkejut melihat seorang gadis cantik " Hah,,, siapa dia? ada dimana aku sekarang? apa yang terjadi sebenarnya? Aduuhh,,kepala ku terasa berat sekali" Gumam Riko sambil memegang kepalanya dengan sebelah tangan karena merasa sangat sakit.. Diapun mengingat selintas kejadian semalam, " Semalam itu,,, ach bagaimana itu bisa terjadi,, kenapa aku bisa lepas kendali.. bodoh sekali " Riko menggerutu pada dirinya sendiri. " Tuan kamu,, apakah kamu baik - baik saja? " Nadia bangun dari tidurnya, dan mengusap kedua matanya. Riko menoleh kearah Nadia, menatap wanita yang telah menghabiskan malam bersamanya " Aku... aku minta maaf,, semalam,,, " Riko berbicara terbata - bata dia tidak tahu harus mengatakan apa.. Chapter 48 Memulai langkah pertama " Sudahlah, tidak perlu dibahas lagi, ini juga salahku. Harusya aku tidak membawamu ke hotel sendirian. Harusnya aku meminta bantuan orang lain " Nadia tertunduk dan mulai menitikan air mata " Aku tidak bisa menyalahkanmu sepenuhnya, karena semalam kamu dalam kondisi tidak sadar karena mabuk dan juga aku mengerti bahwa suasana hatimu sedang tidak baik " Dia terdiam benerapa saat sebelum kemudian melanjutkan perkataannya " Jadi tidak usah dibahas lagi, lupakan saja semuanya. Jangan jadikan ini alasan untuk kamu bersama denganku. Jika kamu membutuhkan tempat sandaran aku akan menemanimu. Tapi jika hanya karena rasa bersalah sebaiknya lupakan, karena kita juga tidak saling mengenal" Nadia mulai beranjak dari tempat tidur dan meraih bajunya yang berserakan dilantai menuju kamar mandi. Riko memikirkan semua itu secara mendalam. Bagaimana dia bisa berakhir dengan merusak masa depan gadis yang tidak dikenalnya. Bagaimana dia bisa menghancurkan gadis yang hendak menolongnya. Nadia keluar dari kamar mandi dan meraih tasnya hendak pergi meninggalkan Riko " Tunggu!" Langkahnya terhenti mendengar panggilan Riko " Siapa namamu? ambillah cek ini!" Nadia hanya menoleh kearah Riko " Saya Nadia. ini kartu nama saya dan maaf tuan, saya bukan wanita panggilan. dan tidak membutuhkan uangmu. Tidak semua wanita yang mendekatimu karena ingin uangmu" Ceklek Nadia meninggalkan Riko yang kebingungan dan merasa bersalah. Dia memikirkan semua baik - baik. Diluar ruangan Nadia berjalan menyusuri lorong hotel dan menghubungi seseorang "Hallo, saya telah memulai rencana dan dia telah masuk perangkap saya. Saya tinggal menunggu untuk langkah selanjutnya" " Bagus, lakukan tugasmu dengan baik" Jawab seseorang disebrang telepon "Baik , akan saya lakukan dengan baik" Nadia tersenyum sinis setelah itu menutup panggilan. Ditempat lain Yudha dan Gina sedamg bercengkrama dengan begitu mesra. Mereka duduk dibalkon kamar sambil menikmati teh minuman mereka. "Kita sudah memulai langkah pertama kita sayang, mereka akan lebih menderita 1000x lipat dari apa yang pernah kamu rasakan" " Apakah itu tidak terlalu berlebihan Tuan Kusuma? Karena aku yakin mereka tidak akan sanggup menerima itu secara langsung" " Tidak sayang, kita hanya akan menunggu untuk dapat menyaksikan pertunjukan bagus mulai dari sekarang " " Aku tidak berencana memberikan mereka hadiah secara langsung dan bersamaan. Tapi, aku akan mengirimi mereka hadiah satu persatu. Secara bergantian Aku juga tidak berencana memudahkan mereka!" Yudha berkata dengan dingin, senyuman penuh kelicikan terpancar diwajahnya yang tampan " Tuan Kusuma, anda sangat menyeramkan!" Gina menggelengkan kepala disela perkatannya " Terima kasih pujiannya nyonya Kusuma" Senyuman indah mengiringi ucapannya. Membuat setiap wanita dimabuk asmara karena senyum indah dan ketampanannya. " Cih.." Gina berdecih kemudian memalingkan wajahnya kearah lain sambil mengerucutkan bibirnya " Percaya diri sekali" Yudha begitu gemas melihat prilaku Gina seperti itu, lalu dia mendekat dan menggendong Gina "Aaaccchhh" " Kau sungguh menggemaskan nyonya " Kalimat Yudha membuat Gina tersipu malu. Sudah beberapa hari Siska tidak dapat bertemu dengan Riko. Dia mencoba menghubungi ponselnya lagi " Tuut,,, tuuttt,,, " Setelah beberapa kali dering terdengar suara disebrang telpon " Hallo " " Hallo Riko, kamu kemana saja, kenapa susah sekali menghubungimu? Riko, aku sungguh merindukanmu" Siska begitu bersemangat mendengar suara Riko hingga dia tak berhenti bicara " Aku akan datang ketempatmu Riko. Hallo Riko. Apa kamu masih mendengarkanku? Siska bertanya kepada Riko karena tidak ada jawaban dari setiap pertanyaan yang ia lontarkan terhadap Riko. " Lain kali saja Siska, aku ada meeting hari ini, jadi aku tidak dapat menemanimu " "Owh baiklah " mereka mengakhiri panggilan begitu saja Siska menatap ponselnya dan bertanya sendiri "Ada apa dengannya? apakah dia masih marah padaku? Kenapa dia begitu tidak peduli kepadaku? Ya sudah nanti saja aku menemuinya" Chapter 49 Mengumbar kemesraan Riko duduk termenung di kantornya, menatap jauh keluar jendela. Pikirannya melayang entah kemana. Ketukan pintu menyadarkannya dari lamunan tok...tok...tok... Andi masuk keruangan Riko setelah beberapa kali ketukan. dilihatnya sang bos sedang termenung " Permisi tuan hari ini kita ada meeting direstoran x untuk membahas proposal yang akan diikut sertakan dalam tender pembangunan hotel milik perusahaan Kusuma " Riko menaruh fokus pada penjelasan Andi dengan menopang dagu " Perusahaan Kusuma? Apa mereka akan membangun hotel baru di daerah ini?" "Iya tuan, mereka akan membuka tender untuk pembangunan hotel baru dikota A, dan penanggung jawabnya adalah nona Gina " " Baiklah kita akan ikut bersaing dalam tender ini!" "Baik tuan " Andi menganggukkan kepala dan meninggalkan ruangan. Siang hari Riko sedang meeting di restoran X. dia bersama Andi dan 2 orang dari perusahaan lain. Mereka sepakat dengan kerjasama mereka. Riko hendak meninggalkan restoran bersama Andi sebelum dia melihat Nadia yang sedang duduk sendiri. " Andi,, kembalilah kekantor lebih dulu. Aku akan menemui temanku sekarang ini" " Baik tuan " Andi membungkukan badan dan pergi meninggalkan Riko Di kursi lain direstoran yang sama, Nadia sedang duduk menyantap makan siang sendiri. " Boleh aku duduk disini dan menemanimu makan siang? " Riko menghampiri Nadia dan berdiri disamping kursinya. Nadia hanya mendongakkan kepala, melihat siapa lelaki yang datang menghampirinya, lalu menunduk lagi. Setelah mendapatkan izin dari Nadia, Riko menarik kursi dan duduk disebelahnya " Apa kamu selalu makan siang sendiri? " Nadia menjawab dengan ketus tanpa melihat wajah Riko " Aku memang selalu makan sendiri, tidak perlu kamu temani" Nada suaranya dingin dan acuh tak acuh " Ayolah biarkan aku menemanimu makan siang, aku sungguh menyesal atas apa yang aku lakukan padamu!" Riko menundukan kepala dengan suara yang sedikit lemah " Sudah kukatakan sebelumnya, aku tidak butuh maaf dan rasa penyesalan mu " Dalam hatinya Nadia berseru " Aku yakin sebentar lagi aku akan bisa bersamamu" Dia kemudian menyunggingkan sedikit senyum " Kamu terlihat begitu cantik saat tersenyum!" Riko tersenyum menggoda saat mengucapkannya " Untuk apa kamu kesini? " " Untuk menemanimu,,, karena tadi aku melihatmu sedang makan seorang diri " " Cih,, alasan" Gurau Nadia dengan memasang wajah imut dan itu berhasil membuat Riko tertawa " Aku tidak membuat alasan, aku serius.. Tadi aku melihatmu makan sendiri, maka dari itu aku tidak jadi pergi dan datang kesini untuk menghampirimu" Mereka mulai bercengkrama dan hubungan di antara mereka semakin dekat setelahnya.. Dirumah keluarga Sanjaya, kakek, ibu Gina, Gina dan Yudha sedang berkumpul diruang keluarga. " Yudha,, Kapan kakek dan nenekmu berkunjung kemari? sudah lama sekali aku tidak bertemu dengan mereka. " Kakek dan nenek sedang sibuk, dan mereka belum tahu kalau kakek Dirga dan ibu ada disini" Kakek Gina menganggukkan kepala dan menyeruput teh "Kakek dengar juga kamu akan membangun hotel baru dikota A. " Benar kek, kami sedang mencari perusahaan lain yang akan bekerja sama dengan pembangunan hotel ini. Kakek beralih menatap Gina dan mulai bertanya dengan serius " Gina,, kapan kamu akan mengambil alih perusahaan kakek? Karena sekarang kamu bersama Yudha, pasti dia bisa membantumu mengelola perusahaan kakek. Gina duduk disebelah Yudha dengan mengaitkan tangannya di bagian siku tangan Yudha "Tidak sekarang kek, aku akan mengambil alih perusahaan kalau waktunya tepat. Jika sekarang aku mengambil alih perusahaan, maka keluarga Atmaja pasti akan mendekatiku agar aku bisa membantu keuangan mereka. Dan itu tidak akan jadi kejutan untuk mereka nantinya kek " "Kakek kan tahu, mereka begitu serakah dan bisa melakukan apa saja untuk tujuan mereka. Lagi pula aku ingin selalu dengan Yudha". Gina tersenyum dan menatap Yudha, mereka berakhir saling menatap dan menunjukkan kemesraan dihadapan sang kakek" "Cih.. dasar anak muda" "Kakek tidak ingin kamu memiliki dendam Gina, kakek hanya ingin kamu hidup bahagia" "Kakek tenang saja, aku akan selalu berusaha untuk membuat Gina bahagia, Seumur hidupnya" Yudha menyela pembicaraan kakek dan cucu itu sambil tersenyum menatap Gina. Chapter 50 Aku akan lebih berani, karena aku memilikimu! Yudha sedang melakukan panggilan telpon kepada Hendri sambil menatap keluar jendela. " Hendri, apa kamu sudah menyelidiki tentang Riko?" "Iya tuan, perusahaan Riko akan ikut tender pembangunan hotel kita di kota A. Karena harga sahamnya sudah mulai turun jadi mereka akan bekerja sama dengan perusahaan Mulya untuk mendapatkan tender hotel kali ini" "Bagus kalau begitu. Tetap awasi gerak gerik mereka dan laporkan setiap perkembangannya. Tetap awasi juga perusahaan Atmaja" Yudha menutup panggilan telponnya disaat Gina mendekatinya dan memeluk Yudha dari belakang. Yudha menoleh dan berbalik menghadap Gina, mendekap Gina dipelukannya dengan begitu lembut. Memberikan kenyamanan dan kehangatan kepada istri cantiknya itu. "Kamu menghubungi siapa? Tidak bisakah kamu sehari saja terbebas dari pekerjaan? Itu membuatku sakit jika terus melihat mu begitu sibuk dan berpikir banyak hal tanpa istirahat" Yudha menundukkan kepal dan mencium pucuk kepala sang istri "Aku tidak apa sayang dan aku juga hanya membiarkan Hendri megawasi Riko dan perusahaannya. Saham mereka sudah mulai turun " Gina mendongak dan memicingkan mata menatap Yudha " Oh ya Riko,, apa yang sedang kamu rencanakan?" " Tidak ada, hanya saja dia sedang menjalin kedekatan bersama seorang gadis, aku penasaran bagaimana reaksi Siska jika dia tahu kalau Riko sedang dekat dengan perempuan lain" Yudha menyeringai membayangkan hal itu " Lalu bagaimana dengan keluarga Atmaja? kesehatan kakek semakin buruk akhir - akhir ini. Aku ingin pergi kerumah itu untuk melihat bagaimana kondisi kakek" Gina tertunduk dengan wajah muram" " Kamu boleh mengunjungi mereka kapan saja, aku tidak akan melarangmu. Tapi kamu harus selalu menjaga dirimu baik -baik agar tidak terluka " " He em,, aku akan selalu ingat untuk tidak membiarkan mereka menyakitiku, karena sekarang aku memilikimu" " Dan aku akan lebih berani menghadapi mereka " " Gina,, " " Hemph " " Pesta pernikahan seperti apa yang kamu inginkan?" " hmmmm,,, aku ingin pesta kebun bernuansakan putih, dengan warna hijau alami dari alam dan warna warni bunga menghiasi sekelilingnya " " Aku akan mewujudkannya untukmu sayang " Yudha kembali mecium pucuk kepala Gina Di tempat lain Siska datang kekantor Riko untuk mengajaknya makan siang " Tok.. tok.. tok.. Hai sayang.. Apa kamu sudah selesai dengan pekerjaanmu? Aku datang kesini untuk mengajakmu makan siang " Siska datang untuk menemui Riko dengan wajah bahagia.. Riko menatapnya dengan tatapan dingin sambil membereskan dokumen di meja kerjanya " Apa yang membuatmu begitu bahagia? " " Tidak ada, hanya saja, aku begitu merindukanmu dan mulai sekarang aku akan terjun langsung mengelola perusahaan nenek" Siska mendekati Riko dan memeluknya. Tapi Riko melepaskan pelukannya dan mulai beranjak dari ruang kerjanya. " Sudahlah, ayo kita jalan. Aku masih punya banyak pekerjaan yang harus diselesaikan secepatnya" " Baiklah, ayo! " Siska berjalan bergandengan tangan bersama Riko Mereka menikmati makan siang dengan suasana yang kaku " Riko, ada apa? apa semuanya baik - baik saja? " " Tidak ada, aku baik - baik saja" Riko berbicara dengan tenang sambil memakan makan siangnya.. " Lantas kenapa wajahmu terlihat lesu dan tak bersemangat seperti itu,?" " Aku sungguh tidak apa -apa. Hanya saja perusahaanku sedang mengalami sedikit penurunan harga saham " Riko makan dengan wajah yang murung " Tenanglah sayang, kukira itu tidak akan lama. Dan saham perusahaanmu pasti akan kembali normal" Siska berusaha menenangkan Riko dengan mengelus punggung tangan Riko. Riko hanya membalasnya dengan sedikit senyum yang dipaksakan. Dari pintu restoran terlihatlah seorang gadis berjalan masuk. Dia adalah Nadia. Nadia memandang Riko dengan wajah cemburu. Riko pun melihatnya, tapi sayang dia sedang bersama Siska sekarang. Mereka hanya bisa saling memandang saja Chapter 51 Gina cemburu " Siska,, setelah ini aku masih ada meeting, jadi aku tidak dapt mengantarkanmu pulang " " Tidak apa sayang, aku bisa pulang naik taksi dari sini " " Baiklah kalau begitu biar aku panggilkan taksi " " Oke " Riko melambaikan tangan memanggil taksi untuk Siska. " Naiklah, kabari aku jika kamu sudah sampai dirumah! " " Iya, nanti aku hubungi kamu kalau sudah sampai " " Cup,, sampai jumpa lagi sayang" Siska mencium pipi Riko sebelum masuk kedalam taksi. Riko hanya tersenyum dan menganggukkan kepala sebagai jawaban " Hallo, Nadia. Apa kamu masih berada di restoran?" Setelah melihat mobil Siska menjauh, Riko menghubungi Nadia " Iya, aku masih di restoran " " Baiklah, tunggu aku. Aku akan kembali kesana " Riko berjalan kembali ke restoran untuk menemui Nadia " Hai sayang " Riko tiba di restoran dan membelai rambut Nadia dari belakang " Tunangan mu itu sudah pergi ? Untuk apa kamu kembali kesini? " Nadia memasang wajah kesal " Tentu saja untuk menemuimu sayang " Riko berusaha membujuk Nadia agar tidak marah dengan menggenggam tangan Nadia.. " Kenapa kamu tidak pergi saja bersamanya? dia akan marah jika tahu kamu disini bersamaku!" " Aku tidak peduli dengannya. Aku sudah terlanjur kecewa, dan rasaku padanya,,, " Riko memberikan jeda saat bicara " Entahlah setiap aku melihatnya, aku mengingat kebodohanku karena telah mempercayainya selama ini " Wajah Riko berubah muram ketika membicarakannya " Sudahlah tidak perlu dibahas lagi. Apa kamu tidak sibuk hari ini?" " Tidak, kenapa? " Riko menggelengkan kepala disela perkataannya " Bagaimana kalau kita jalan - jalan ke mall saja? " " Baiklah " Mereka berdua meninggalkan restoran dan menuju ke mall terdekat dengan mengendarai mobil Riko.. Mereka sangat menikmati kebersamaan yang baru terjalin diantara keduanya. Tanpa mereka sadari tidak jauh dari mereka ada mata yang melihat kedekatan diantara mereka.. "Sayang,, bukankah itu Riko? tapi dia bersama siapa? Wajahnya seperti familiar tapi wanita itu bukanlah Siska" Gina yang sedang berbelanja bersama sang suami menyadari kehadiran Riko " Aku sudah bilang padamu sayang, Riko sedang beehubungan dengan seorang wanita. Kita tunggu dan lihat saja bagaimana akhir dari pertunjukannya nanti " Yudha mengangkat sebelah ujung bibirnya keatas, menyunggingkan senyum yang penuh makna. Gina memicingkan matanya menatap Yudha penuh rasa ingin tahu " Tuan,, aku jadi penasaran. Sebenarnya apa yang sedang kamu rencanakan ?" Yudha hanya membalasnya dengan tawa dan mengajaknya berjalan lagi. Mereka menuju sebuah butik. Yudha memilihkan beberapa setelan untuk Gina. Sementara Yudha memilih pakaian untuk istrinya. Para pelayan toko menatapnya dengan penuh kekaguman " Waah pria itu sungguh tampan, dia juga begitu perhatian" " Iya, lihatlah dia yang sengaja memilihkan pakaian langsung untuk pasangannya " " Sungguh romantis. Sangat disayangkan karena dia sudah memiliki pasangan " " Aku seperti melihat malaikat dari surga. Dia begitu mempesona " Gina yang menyadari pandangan para wanita itu tertuju untuk suaminya pun mulai risih. Dia merasa cemburu dengan tatapan para wanita yang seperti ingin memburu Yudha. Dia pun segera menghampiri Yudha dan menggandeng lengannya " Sayang, apakah sudah selesai? Baju mana yang kamu pilihkan untukku? " Gina berkata dengan nada suara yang manja. Yudha pun mengernyitkan dahi. Karena sang istri tidak pernah bersikap atau berkata seperti itu ketika ditempat umum. Dia hanya akan bersikap manja ketika sedang berdua saja. Seperti anak kecil, dia akan bersikap dihadapan Yudha " Apa yang terjadi padanya? kenapa dia tiba - tiba bersikap seperti ini? " Pikir Yudha tak mengerti " Sudah sayang, cobalah beberapa baju ini! " Yudha memberikan beberapa pakaian untuk Gina coba Gina pun terlihat menoleh ke arah beberapa wanita dengan sinis. Tanpa Gina tahu ternyata Yudha melihat itu, akhirnya dia mengerti alasan kenapa istrinya bersikap seperti itu didepan orang lain " rupanya dia cemburu " gumam Yudha disertai senyum Chapter 52 Dilarang mengumbar senyumanmu!! Gina mencoba beberapa pakaian yang dipilihkan Yudha dan Yudha dengan sabar menunggu dikursi tunggu diluar ruang ganti. " Bagaimana dengan ini? " Gina keluar mengenakan salah satu dress yang dipilihkan Yudha " Bagus, coba lagi yang lainnya! " Sambil membaca majalah Yudha menunggu Gina dan memberikan pendapatnya untuk penampilan sang istri Ginapun kembali mencoba baju yang lain. " Yang ini bagaimana tuan?" Gina kembali bertanya dengan manjanya " Cantik. Apapun yang kamu kenakan pasti terlihat begitu cantik " Yudha tersenyum menggoda sang istri. Tapi senyumannya malah membuat sang istri merasa tidak suka dan memasang muka cemberut. Karena para wanita penjaga toko ini semakin terpesona melihat Yudha " Tuan, jika aku terlihat cantik mengenakan apapun, kenapa kamu menyuruhku mencoba semua baju ini?" " Karena aku ingin memastikan semua cocok untuk kamu kenakan" Yudha tersenyum menyeringai menggoda sang istri " Tolong bungkus semua baju yang dicoba oleh istriku!" Pinta Yudha kepada pelayan " Baik tuan " Pelayan tokopun meninggalkan mereka berdua. "Tuan, kamu dilarang mengumbar senyumanmu itu kepada perempuan lain, huh! " Bisik Gina ditelinga Yudha yang disertai wajah kesalnya. Sedangkan Yudha tersenyum menggoda sang istri " Apa kamu cemburu sayangku? Kamu semakin menggemaskan, rasanya aku ingin memakanmu sekarang juga! " Gina tersipu dan memukul tangan Yudha perlahan. Gina dan Yudha berjalan menuju meja kasir untuk membayar semua belanjaan mereka. Tak disangkanya wanita yang menunggu meja kasir adalah seseorang yang pernah ingin mengganggu hubungan Gina dan Yudha. " Ternyata sekarang kamu kerja disini Lani? " tanya Gina disertai senyum dengan tanggannya menggandeng Yudha. Yudha memberikan karu kredit platinumnya untuk membayar belanjaannya. " Iya, sekarang aku kerja disini" Lani tertunduk malu dan mengambil kartu yang diberikan Yudha. " Ini tuan, kartunya. Terima kasih " Yudha hanya mengangguk dan berjalan meninggalkan toko, membawa semua kantong belanjaan mereka. Ditempat lain Dirga dan Gadis sedang menikmati minum kopi bersama. " Nak, sebaiknya besok kita pulang. Pekerjaanku banyak karena sudah cukup lama ditinggalkan. Lagi pula disini sudah ada Yudha yang akan menjaga dan melindungi dia. Kita tidak perlu khawatir lagi dengannya! " " Iya yah, lagi pula disini sungguh membuatku tidak nyaman, karena aku tidak tahu apa yang harus aku kerjakan. Sementata Gina dan Yudha hanya sibuk bekerja. Butik juga galeri seniku terbengkalai tak diurus sementara aku disini " "Akan ku pesankan tiket sekarang juga !" Sambung Gadis dan langsung mengambil ponsel di atas meja dihadapannya " Tidak perlu, kita pakai jet pribadi Yudha saja " Kata Dirga sebelum pitrinya meraih ponsel " Baiklah ayah. aku akan mengikuti saranmu " Gina dan Yudha baru tiba dikediaman itu dan mereka pun bergabung bersama ibu dan kakeknya. " Hai bu, kek, apa yang sedang kalian bicarakan? " Gina berjalan cepat menyapa kakek dan ibunya disertai ciuman dipipi masing - masing. Yudha mengikuti dari belakang dan menyapa dengan senyum. " Kami membericarakan kepulangan kami. Kami berencana pulang besok " "Kenapa cepat sekali kek? kalian tidak ingin tinggal lebih lama disini? " Gina duduk dikursi sebrang kakek dan Yudha disebelahnya. " Pekerjaan kami disana menumpuk karena kami disini, lagipula sekarang ada Yudha yang menjaga dan melindungi kamu. Kami bisa lebih tenang sekarang " " Ibu dan kakek bisa pulang menggunakan jet pribadiku, aku akan mengaturnya untuk kalian " Yudha tersenyum menyarankan kepada " Tentu, kami memang berencana menggunakan jet pribadimu" " Oh iya bagaimana dengan saham perusahaan kelauarga Atmaja? " " Ibu tenang saja, saham keluarga itu masih normal, tapi aku tidak akan membiarkan harganya naik atau turun untuk saat ini. Aku hanya akan menekannya menjadi normal saja" " Aku masih menurunkan perlahan saham keluarga Riko" Yudha menerangkan sambil menyeruput teh " Bagus kalau begitu " " Bu, aku berencana berkunjung ke rumah keluarga Atmaja untuk melihat bagaimana kondisi kakek sekarang ini " " Baiklah, tapi kamu harus hati - hati" " Ibu tenang saja, Yudha akan ikut bersamaku " Gina menenangkan dengan tersenyum dan Gadis mengangguk setuju.. Chapter 53 Ayah mertua? Pagi - pagi sekali kakek Dirga dan ibunya Gina sudah pulang menggunakan jet pribadi Yudha. Seperti yang direncanakan Gina sebelumnya, mereka akan mengunjungi kediaman Atmaja untuk mengunjungi kakek Surya. Yudha sedang menemani istrinya ke salon terlebih dahulu. Karena mereka tidak merencanakan makan bersama dirumah itu. Jadi setelah selesai berkunjung mereka akan pergi makan berdua direstoran. Tanpa Gina ketahui ternyata dikediaman Atmaja sedang berkumpul keluarga Riko untuk membahas pernikahan antara Riko dan Siska. " Siska,, panggil ayahmu, suruh dia turun. Keluarga Riko sudah sampai " " Baik ibu " Siska bergegas menuju ruangan sang ayah Tok..tok..tok.. Ceklek,, " Ayah,, apakah ayah sudah siap? keluarga Riko sudah menunggu dibawah " Siska masuk kekamar ayahnya dan memanggilnya " Baiklah sebentar lagi ayah turun, ayah mau memeriksa keadaan kakek dulu sebelum turun " " Baiklah ayah, aku tunggu dibawah " Setelah mendapat anggukan dari sang ayah, Siska kembali turun menemui keluarga Riko. Sedangkan Budi sang ayah masuk keruangan kakek.. Ceklek Dilihatnya sang ayah sedang duduk termenung di ujung tempat tidurnya dengan pandangan yang jauh entah kemana. " Ayah,, Apa yang sedang ayah lamunkan? Tampaknya ayah memikirkan sesuatu?" Budi berjalan mendekati sang ayah dan duduk disampingnya. " Tidak ada, ayah hanya sedang memikirkan keadaan Gina. Bagaimana keadaannya sekarang? Sudah lama dia tidak pulang kerumah ini. Terakhir kali dia pergi dari rumah ini, Dia sedang terluka" Kakek Surya menundukkan kepala, menahan tetesan air mata jatuh dari wajahnya yang tampak murung. " Maaf ayah, aku tidak bisa melindunginya. Ini semua salahku, karena aku terlalu memanjakan Siska dan ibunya. Aku kurang tegas terhadap mereka. dan ibu,,," Budi tidak melanjutkan kalimatnya, dia merasa bersalah karena tidak bisa melawan ibunya. " Aku tahu bagaimana perasaanmu. Kita sudah banyak berdosa pada Gina, dari kecil dia sudah banyak menderita karena mereka, dan kita tidak pernah bisa melakukan apa - apa " Kakek Surya memberikan jeda saat berbicara dan dia menarik nafas berat. Lalu melanjutkan kalimatnya "Kita tidak pernah bisa melindunginya dengan benar " " Entah apa yang harus kita lakukan untuk membuatnya bebas dari keluarga ini dan hidup bahagia" " Apa kita harus menikahkannya ayah?" Budi mencoba memberi saran " Apa kamu yakin? tapi ibumu tidak akan membiarkan itu. Dia akan berusaha mengatur pernikahan Gina!" Ayah dan anak itu tertunduk lemas memikirkan Gina. " Sudahlah yah, nanti kita pikirkan lagi. Apa ayah mau turun? Keluarga Riko datang untuk membahas pernikahan Riko dan Siska " Budi berdiri perlahan dan mengajak ayahnya turun bersama. Kakek Surya menggelengkan kepalanya menolak untuk bergabung " Tidak, aku disini saja. Kalian bersenang - senanglah " " Baiklah kalau begitu aku akan turun. Ayah istirahatlah" Budi berjalan meninggalkan kamar sang ayah. Budi sudah menuruni tangga. Dan ketika dia tiba dibawah, hendak mendekati para tamu, tiba - tiba dari arah pintu masuk datanglah tamu yang menjadi pusat perhatian mereka. Semuanya terdiam dan menatap kedatangan mereka. " Gina " Gumam Riko " Bu, untuk apa Gina datang lagi kemari? " bisik Siska kepada ibunya " Entahlah, ibu juga tidak tahu. Yang pasti, dia datang disaat yang tidak tepat " jawab sang ibu seraya berbisik pada Siska Budi berjalan mendekati Gina dan Yudha " Gina kemarilah, akhirnya kamu pulang juga. Bagaimana keadaanmu? Terakhir kali kamu terluka " Budi berjalan mendekati Gina dan memeluknya " Aku baik - baik saja ayah. Ayah tidak perlu khawatir. Dan lagi, aku sudah memiliki seseorang yang dapat menjagaku dan melindungiku dengan baik " Gina tersenyum menatap Yudha dan berusaha menenangkan sang ayah. " Tuan Yudha? " Pandangan Budi berakhir pada Yudha yang berada disebelah Gina. Dia menatapnya dengan penuh tanda tanya. " Salam ayah mertua, bagaimana kabar anda? " Yudha menyapa Budi dengan tersenyum dan sontak kalimat Yudha membuat semua orang tercengang saling menatap satu sama lain. " Ayah mertua? " Chapter 54 Mau menjebakku (1) !? Semua mata tertuju pada Gina dan Yudha. Seakan mata mereka seperti akan melompat keluar Ayah mertua? Yudha dan Gina? Apa hubungan mereka berdua? Semua orang terpana mentap mereka. Belum hilang keterkejutan mereka, Arin sudah berjalan mendekati Yudha dan mulai menyapanya " Ooh, tuan Yudha anda disini. Suatu kehormatan bisa dikunjungi oleh tuan Yudha. Gina masuklah ajak tuan Yudha bergabung bersama kita! " Yudha tidak menanggapi ucapan Arin. Dia tetap dengan tatapan dingin dan berwibawanya. Gina mengernyitkan kening melihat akting sang nenek. " Maaf, kami kesini hanya untuk melihat kondisi kakek. Kami tidak berniat untuk bergabung dengan acara kalian. Jadi, silakan dilanjutkan! " Arin mengepalkan tangan, menahan rasa kesalnya terhadap Gina. " Ayo kita masuk, Kamar kakek ada dilantai atas " Gina menoleh menatap Yudha dan tersenyum sembari menggandeng tangan Yudha. Yudha balas menatap Gina dengan senyum dan tatapan yang begitu hangat. Berbeda dengan tatapannya kepada orang lain diruangan ini "Ayah, kami langsung kekamar kakek ya? " Budi hanya tersenyum, Gina dan Yudha langsung berjalan masuk menuju kamar sang kakek. Mereka berjalan begitu anggun. Bak sebuah lukisan yang sempurna. Gina tiba didepan ruang sang kakek. Dia membuka pintu dan melihat kedalam. Dilihatnya sang kakek yang sedang duduk di tepi ranjang. Kakek yang dulu selalu menghiburnya setelah mendapatkan hukuman dari Arin kini sudah tua dan tak berdaya. Tanpa terasa air mata menetes di pipinya yang mulus. Yudha yang melihat sang istri meneteskan air mata, menoleh kepada Gina dan menghiburnya. Yudha mengusap air mata yang membasahi pipinya dengan lembut " Jangan menangis sayang, jika kakek melihatmu menangis, dia akan ikut sedih. Jadi tersenyumlah dan katakan pada kakek mu kalau kamu bahagia! " Gina menganggukkan kepala dan mulai menghentikan tangisnya Tok.. tok.. tok.. " Kakek " Panggilan Gina menyadarkan lamunan kakek Surya. Diapun menoleh dan menatap Gina. " Gina cucuku! Kemarilah sayang, biarkan kakek melihatmu! " Kakek Surya mengulurkan tangan dan melambai ke arah Gina, mengisyaratkan Gina untuk mendekat. Ginapun masuk dan duduk disamping kakek. " Bagaimana kabarmu? apa kamu baik - baik saja? " kakek Surya bertanya dengan melihat seluruh tubuh Gina, memastikan kalau cucu kesayangannya ini baik - baik saja. Gina tersenyum dan menganggukkan kepala " Aku baik - baik saja kek. Kakek tidak perlu khawatir lagi padaku. Karena sekarang aku memiliki seseorang yang akan selalu melindungiku dan menyayangiku " Gina berkata dengan memberikan senyuman hangat. Kakek Surya menoleh ke arah Yudha, menatap pria yang sedari tadi berdiri disampingnya dengan memegang pundak Gina. Yudha tersenyum kepada Gina dan kakek " Kakek tenang saja, percayakan cucu kakek ini kepadaku. Aku tidak akan peenah menyia - nyiakan dia " " Aku memang belum lama bersama dengannya, tapi percayalah kek kalau aku menyayanginya. Dan aku akan selalu membuat dia bahagia di sisa hidupnya " " Kakek senang mendengarnya. kita berbincang di sofa " Kakek Surya berusaha beediri agar bisa duduk di sofa kamarnya. Dan Yudha dengan penuh kehati - hatian membantu kakek Gina ini Gina menuangkan teh untuk mereka dan beranjak pergi. " Kakek,, aku ingin pergi dulu melihat kamar lamaku disini. Sudah lama sekali aku meninggalkannya " " Baiklah " Kakek Surya menganggukkan kepala " Aku akan menemani kakek disini. Sementara kamu melihat kamarmu yang dulu " Yudha berkata dengan lembut. Gina beranjak pergi meninggalkan kamar kakek, dia menapaki lorong yang lumayan panjang dari kamar kakek. Kamar Gina terletak di depan tangga. Gina memasuki kamarnya, dilihatnya masih banyak barang disini. Kebanyakan barang kenangan dari Riko. Karena barang - barang Gina sudah dibawa sewaktu dia memutuskan keluar dari rumah. " Hai teddy bear, lama tidak bertemu. Dulu aku selalu memelukmu saat merindukan Riko. Tapi sekarang, aku sudah tidak membutuhkan mu " Diambilnya barang - barang yang dulu diberikan Riko dan dilemparnya ke tempat sampah Tanpa Gina sadari seseorang telah berdiri dibelakangnya. " Jangan hanya membuang barang pemberiannya saja, kamu juga harus melepaskan orangnya. Gina! " Chapter 55 Mau menjebakku (II)!? Gina menoleh ke arah sumber suara. Disana terlihat Siska yang sedang bersandar pada pintu. " Percuma kamu membuang barangnya, jika kamu tidak mau melepaskan orangnya " Siska berkata dengan sombong tangannya dilipat di depan dada. " Cih,, aku sudah membuang barangnya itu berarti aku sudah tidak membutuhkan orangnya!" " Kau ambil saja untukmu sampah itu! " Gina berkata dengan penuh percaya diri tetapi tetap tenang. " Kamu! Sekarang kamu sudah berani melawanku, jangan karena kamu bersama Yudha jadi aku takut padamu. Aku ingin tahu, bagaimana reaksi Yudha jika dia melihatmu bersama Riko dibelakangnya " Siska yang kesal kemudian mengeluarkan sejumlah photo ketika Gina sedang makan di restoran bersama Riko. Gina mengernyitkan kening melihat photo itu. " Dari mana dia dapat photo ini? dari sudut oengambilan gambarnya terlihat seperti aku sedang bermesraan bersama Riko" Pikir Gina " Jadi kamu meminta seseorang mengawasi Riko tanpa sepengetahuannya? Dan sekarang kamu mau menjebakku dengan photo - photo ini?" Gina melambai - lambaikan photo yang ada ditangannya " Ini hanyalah photo sampah tak berguna! " Gina melemparkan photo itu kewajah Siska " Kita lihat saja nanti bagaimana jika Yudha melihatnya " "Silahkan saja kalau kamu berani, karena setelah ini kamu akan menyesal! " Ancam Gina tidak mau kalah Siska yang mulai kesal mengangkat tangannya dan hendak menampar Gina, tapi Gina menepisnya dan mendorong Siska. Pergelangan tangan Siska terbentur pintu dan Gina terjatuh dan kepalanya terbentur sedikit ujung tempat tidur. Benturan menyebabkan tangan Siska memar dan terlihat bengkak sedangkan Gina sedikit mengeluarkan darah di dahinya Mendengar ada suara keributan semua orang langsung berdatangan kekamar dan melihat apa yang sedang terjadi. " Ada apa ini? kenapa kalian malah membuat keributan? " Arin yang kesal bertanya dengan nada tinggi " Nenek,, " Siska merengek kepada sang nenek sambil memegangi tangannya yang terasa sakit. Kemudian dari belakang mereka datanglah Yudha. Melihat Gina duduk dilantai dengan memegang dahinya hati Yudha terasa sakit, wajahnya terlihat begitu khawatir dan panik. " Minggir! " Suara Yudha yang tenang tapi terdengar dingin langsung membuat orang - orang yang menghalangi jalannya bergeser memberi jalan " Apa kamu tidak apa - apa? " Yudha berlutut, menatap Gina khawatir dan bertanya dengan lembut kepada. Tatapannya berubah dingin menatap Siska. Siska pun gemetar ketakutan " Aku,,, aku,,, " Siska yang gemetaran berusaha berbicara kepada Yudha yang sedang menatapnya " Sayang lihatlah Siska berusaha menjebakku. Dia ingin mengancamku dengan photo - Photo itu " Gina menunjuk photo yang berserakan dilantai. Yudhapun menoleh ke arah photo itu. " Itu photo ketika aku bertemu dengan Riko direstoran. Kamu juga berada disana kan, dan melihat semua kejadiannya. Tapi di photo ini aku dan Riko terlihat sangat mesra " Gina menjelaskan dengan wajah sedih. " Siska berusaha memfitnahku. Dia bahkan menjadikan tunangannya sendiri sebagai alat untuk mengancamku" " Bohong, itu tidak benar. Aku tidak bermaksud seperti itu. Riko percayalah padaku. Semua tidak seperti yang Gina katakan" Siska mendekati Riko, memegang tangannya dan berusaha meyakinkannya dengan air mata yang berderai. Riko hanya diam, menatap ke arah photo itu dan memperhatikan isi photo itu. " Sayang jika dia tidak ingin memfitnahku dan menyakitiku, bagaimana dia bisa mendorongku dan mengakibatkan dahi dan kakiku terluka" Gina terisak meyakinkan Yudha. " Aku tahu, sekarang kita pergi kerumah sakit dulu. Dan untuk kalian, urusan kita belum selesai. Jika sesuatu terjadi kepada istriku. maka, kalian semua harus membayarnya! " Tatapan mata Yudha memancarkan kilatan berbahaya saat berbicara, semua yang ada disana pun hanya terpaku dengan apa yang dikatakan olehnya. Yudha menggendong Gina keluar dari rumah itu melewati kerumunan orang. Di ruang bawah, keluarga Riko melihat Yudha menggendong Ginapun merasa penasaran dan memberanikan diri bertanya " Apa yang terjadi? Kenapa Gina sampai terluka? " Tanya ayah Riko yang berusaha mengambil perhatian Yudha " Tanyakan saja pada calon menantumu, bagaimana dia melukai istriku? " Yudha berlalu dengan semua kekhawatiran dan rasa kesal yang terpancar diwajahnya. Menyiratkan kilatan berbahaya pada tatapannya yang membuat semua orang diruangan gemetar ketakutan Chapter 56 Menggantikan kenangan burukmu dengan kenangan indah Budi yang melihat Yudha menggendong Gina dengan darah didahinya pun merasa kan sakit. " Semoga kamu tidak kenapa - kenapa Gina. Lagi - lagi ayah tidak bisa melindungimu" Budi bergumam dengan raut wajah sedih Hendri yang melihat Yudha menggendong Gina dengan sedikit darah dan memar di dahi langsung membukakan pintu mobil. Raut wajah khawatir dan panik Yudha seketika berubah ketika mereka hanya berdua. Gina masih terus meringis kesakitan " Sudah cukup sayang. Apakah lukanya parah?. Hendri, ambilkan kotak p3k! " Gina memalingkan wajah karena salah tingkah. Yudha menatap Gina dengan lembut, kemudian memalingkan wajah pada Hendri, mengambil kotak p3k yang diberikan Hendri. " Bagaimana kamu bisa tahu kalau lukanya tidak parah dan aku hanya berhong ?" Tanya Gina malu - malu karena telah berbohong " Tentu saja aku bisa membedakan ekspresi diwajahmu, jika aku tidak cepat - cepat menggendongmu keluar dari rumah itu. Mungkin kebohonganmu sudah terbongkar saat itu juga" Yudha dengan lembut membersihkan luka Gina dan memakaikan plester Gina melingkarkan lengannya dileher Yudha " Sayang bagaimana aktingku? Dulu Siska selalu seja berakting seperti dia adalah korban dan aku tersangkanya. .Jadi dia selalu mendapatkan perhatian semua orang sedangkan aku berakhir dengan sebuah hukuman. Padahal aku tidak pernah melakukan apapun padanya " Gina bercerita dengan wajah ditekuk. Yudha mendengarkan dengan seksama dan memperhatikan ekspresi sedih juga kecewa diwajah sang istri. " Sudahlah, jangan mengingat kenangan burukmu lagi. Karena mulai sekarang aku akan mengganti semua kenangan burukmu dengan kenangan indah. Jadi kamu tidak diizinkan untuk bersedih sama sekali " Perkataan Yudha yang begitu manis membuat Gina tersentuh dan meneteskan air mata. Karena semua orang tahu, kalau Yudha adalah pria dingin yang tak bisa disentuh oleh siapapun. Tapi Yudha berubah menjadi lembut, hangat dan penuh perhatian jika sedang bersama dengan Gina " Aku baru saja mengatakan bahwa kamu tidak diizinkan bersedih. Tapi kamu malah manangis dihadapanku" Yudha dengan lembut menghapus air mata Gina dengan sapu tangan yang ada disakunya. " Terima kasih.. Terima kasih banyak karena kamu mau menerimaku dan menyayangiku " Gina terisak dan memeluk Yudha dengan erat.. " Sayang dengarkan aku! Aku sudah memilihmu menjadi pendampingku. Apapun yang terjadi, aku akan selalu ada disampingmu, membelamu, melindungimu dan menyayangimu sepenuhnya, cup" Yudha merangkup wajah Gina dengan kedua tangannya yang besar. Memastikan istrinya mendengar apa yang ia katakan dan mengecup kening Gina dengan begitu lembut. Sementara itu didalam kediaman Atmaja sedang terjadi keributan Ayah Riko sedang panik karena kejadian tadi " Aku tidak mengerti apa yang terjadi antara Gina dan Siska. Tapi yang pasti, bagaimana bisa kalian membuat Yudha marah? Bukankan kita semua sudah tahu bagaimana jadinya jika membuat keluarga Kusuma marah? " Ia memberi jeda pada ucapannya " Sudah pasti jawabannya adalah keluarga itu akan lenyap dan hancur! Kalau sudah begini apa yang harus kita lakukan? " Ayah Riko yang gelisah dan ketakutan berbicara sambil mondar - mandir didepan semua orang. Arin pun yang kesal ikut memarahi Siska " Siska bagaimana kamu bisa kehilangan kendali terhadap Gina. Apa kamu lupa kalau dia sedang bersama Yudha disini? Kamu mengacaukan semuanya, Entah apa yang harus kita lakukan sekarang?" " Sudahlah bu, sebaiknya kita pergi kerumah sakit terlebih dahulu. Lihatlah tangan Siska juga terluka dan mulai membengkak " Riska berusaha membela Siska dan duduk disebelahnya " Aku permisi ada urusan. Kalian lanjutkan saja pembicaraannya! " Riko bangun dan hendak pergi dari ruang itu. Siska juga bangun dan mengejar Riko " Riko kamu mau pergi kemana? kita masih harus membahas pernikahan kita" Mata Siaka berlinang dan dia terus memgang tangannya yang sakit " Aku ingin menenangkan diri, jangan ganggu aku! " " Siska apakah arti aku bagimu? " Riko bertanya tanpa membalikkan badan sebelum meninggalkan acara keluarga tersebut Siska hanya diam tanpa berkata dengan linangan air mata yang hampir tumpah.. Chapter 57 Aku tidak akan membiarkan pernikahan itu terjadi Riko meninggalkan kediaman Atmaja dengan suasana hati yang kacau. Awalnya dia ingin tetap menikah dengan Siska, mengingat perjuangan mereka dalam mempertahankan hubungan selama ini. Akan tetapi setelah kejadian beberapa hari ini, dia menjadi ragu. Apakah setelah menikah semuanya akan baik - baik saja? sedangkan sebelum menikah saja Siska tidak memberikan kepercayaan penuh terhadapnya. Dia meminta bantuan orang lain untuk mengawasinya. Ditengan kebingungannya dia menghubungi orang lain. " Apa kita bisa bertemu? Aku sangat membutuhkanmu saat ini? " " Baiklah " Riko bergegas menemui seseorang yang dirasa dapat memberikan ketenangan padanya saat ini. Sesampainya dirumah Nadia dia langsung mengetuk pintu dan tampaklah dari balik pintu, seorang gadis cantik yang tersenyum lembut dengan balutan dress pendek selutut. " Hai " Riko menyapa terlebih dahulu dan meraih pinggang gadis itu untuk dipeluknya. " Hai sayang. Masuklah dulu! " Nadia mempersilahkan Riko masuk dan mereka menuju ruang tamu. " Bukankah kamu bilang hari ini ada pertemuan yang penting? Bagaimana kamu bisa datang kesini? " Nadia duduk disamping Riko dan berbicara dengan manja " Iya, tapi aku tidak menghadiri acaranya sampai selesai. Bahkan aku menyesal datang kesana! " Wajah Riko seketika berubah murung " Ada apa sebenarnya? kenapa kamu terlihat sedih? " Riko hanya diam tidak menjawab perkataan Nadia. " Sudahlah kalau kamu tidak ingin membicarakannya. Jangan sedih lagi lebih baik kita nikmati kebersamaan kita saja" Ucap Nadia dengan senyum genitnya. Riko pun kemudian tersenyum. " Apa kamu sudah makan? Biar aku maskkan sesuatu untukmu " Riko menggelengkan kepala sebagai jawaban. Dan Nadia pun bergegas kedapur untuk memasak Riko terpesona melihat kecantikan Nadia saat memasak, diapun menghampiri Nadia dan memeluknya dari belakang, mencium bagian leher gadis itu. Nadia yang awalnya terkejut kemudian tersenyum kepada Riko " Berhentilah menggangguku, biarkan aku selesaikan masakan ini dulu untukmu. Kamu bilang belum makan dan lapar? " " Aku memang lapar, tapi aku tidak ingin makan masakanmu. Aku hanya ingin memakanmu " Riko mematikan lagi kompor dan menggendong Nadia kekamar tidur. Nadia hanya tersenyum dengan melingkarkan tangan dileher Riko. Mereka melepaskan ciuman dengan penuh keintiman dan berakhir dengan Riko yang melepaskan setiap helai pakaian mereka. Menikmati setiap inci dari tubuh sang gadis. Melepaskan hasratnya sebagai laki - laki. Mereka berdua kelelahan dan Riko memeluk Nadia yang berbaring disampingnya. " Bagaimana dengan pernikahanmu, apa kamu akan tetap melangsungkan pernikahan dengan tunanganmu itu " Nadia bertanya dengan memandang menatap Riko. " Entahlah, aku tidak ingin pernikahan ini terjadi. Tapi ayah dan ibu sangat ingin aku menikahi salah satu gadis dari keluarga itu " Riko berbicara dengan memejamkan mata dan suara yang lemah " Tapi aku tidak akan pernah membiarkan pernikahan itu terjadi, kamu akan bertekuk lutut dihadapanku " Pikir Nadia disertai senyum licik Mereka berduapun akhirnya tertidur karena kelelahan setelah aktivitas mereka. ========= Siska baru kembali dari rumah sakit, pergelangan tangannya terlihat diperban. " Ibu,, apa yang harus kita lakukan? apakah Riko masih mau menikah denganku? Gina menjebakku bu, aku tidak bermaksud memata - matai Riko " Siska berbicara berdua dengan sang ibu. Mencari solusi dari hubungannya " Kamu tenang saja, keluarga Riko tetap ingin kamu jadi menantunya. Jadi pernikahan akan tetap dilaksanakan sesuai dengan rencana semula " Riska mengusap bahu sang anak untuk menenangkan " Tapi bu Riko sepertinya marah padaku. Ini semua salah Gina! Awas saja perempuan jang itu, pasti akan kubalas dia. Kalau perlu akan kulenyapkan dia dari muka bumi ini " Emosi Siska memuncak mengingat Gina yang dibela oleh Yudha " Kamu jangan gegabah Siska, ini akibat kecerobohanmu menggunakan kekerasan kepada Gina dihadapan Yudha " " Kamu harus lebih berhati - hati dalam mengambil langkah selanjutnya. Jangan biarkan kamu terjebak lagi oleh perangkap Gina! " " Baik bu, aku mengerti dan aku akan lebih waspada dalam menghadapi Gina. Gina yang sekarang lebih berani dan juga licik . Kita tidak bisa sembarangan dalam bertindak " Kedua ibu dan anak itu saling berpandangan memancarkan kilatan kelicikan dimatanya Chapter 58 Lalat pengganggu Hubungan antara Yudha dan Gina sudah tersebar luas di penjuru kota. Semua penduduk kota terutama kalangan atas sudah mengetahui hubungan mereka. Banyak orang mengira bahwa sikap dingin Yudha hanyalah penampilan luarnya saja. Karena sikapnya terhadap Gina sangat lembut dan hangat. Jadi semua berasumsi bahwa Yudha sama seperti laki - laki kebanyakan yang tidak dapat menolak pesona gadis cantik Para orang tua dari kalangan keluarga kaya mulai mencari cara untuk bisa mendekatkan putri mereka dengan Yudha dan ingin mendapatkan keuntungan dari kekuasaan keluarga Kusuma dalam dunia bisnis. Para gadis muda yang melihat perhatian Yudha terhadap Gina pun merasa iri. Dan ingin berusaha mengambil perhatian Yudha. Yudha sedang dikantor, ada setumpuk dokumen di atas meja kerjanya. Dengan Hendri yang sedang berdiri di hadapannya untuk memberitahukan jadwal kerjanya hari ini. " Hendri, bagaimana dengan perkembangan perusahaan Riko? " Yudha bertanya tanpa mengalihkan pandangannya dari dokumen yang sedang dipegangnya. " Saham keluarga Riko masih berada dibawah harga pasar. Dan sekarang tuan Riko menjadi semakin dekat dengan Nadia. Mereka sering menghabiskan waktu bersama. " Sementara dikeluarga Atmaja. Siska masih berusaha memperbaiki hubungan dengan tuan Riko dan sekarang dia sering terlihat pergi ke perusahaan Atmaja" " Bagus, awasi terus mereka! " " Baik tuan. Tuan kita ada undangan untuk jamuan makan malam di hotel X nanti malam! " " Hmm,," Setelah mendengar jawaban dari sang bos, Hendri keluar dari ruangannya Drrrttt...Drrrttt ponsel Yudha berdering, dilihatnya dilayar posel nama sang istrilah yang muncul disana. Ia mengangkat panggilan telepon sang istri " Halo sayang.." Suaranya yang serak terdengar begitu merdu " Halo sayang, apa kamu sedang sibuk ? Aku ingin makan siang bersamamu!" Gina langsung menanyakan maksudnya menelepon Yudha " Tidak, naiklah keruanganku dan kita akan pergi makan siang bersama " Yudha menjawab sang istri dengan suara yang lembut. meskipun pekerjaannya masih menumpuk tapi dia rela menghabiskan waktu makan siang dengannya. " Baiklah, aku akan segera naik keruanganmu" Gina menutup panggilannya dan bergegas membereskan meja kerjanya untuk segera pergi keruangan Yudha. Yudha membereskan meja kerjanya dari dokumen - dokumen yang harus diperiksanya. Tok.. tok..tok.. Gina terlihat memasuki ruangan setelah mengetuk pintu kantor Yudha " Sayang, apa kamu sudah siap? " Gina berjalan mendekat ke arah Yudha dan mengambil jas yang diletakkan di atas gantungan tidak jauh dari Yudha lalu memakaikannya kepada sang suami Yudha menerima dengan senang hati perlakuan Gina. Karena semenjak mereka bersama ini sudah menjadi kebiasaan Gina untuk memakaikan dasi, memakaikan jas atau melepaskan jas saat Yudha berangkat atau pulang dari kantor. Mereka berjalan bersama menyusuri kantor menuju ke sebuah restoran. Ketika tiba Gina pergi ke toilet " Sayang, aku ke toilet dulu ya, kamu pesankan saja makanan untukku " " Baiklah, jangan terlalu lama " Tak lama setelah Gina pergi datanglah seorang gadis cantik dengan pakaian yang cukup seksi dan minim " Bukankah itu tuan Yudha? kenapa dia sendiri? mungkin ini adalah kesempatanku untuk bisa dekat dengan tuan Yudha" Gadis itu tersenyum dan mulai berjalan mendekati Yudha " Selamat siang tuan Yudha. Kebetulan sekali bisa bertemu anda disini! " Dia menyapa dan tanpa permisi mulai duduk dihadapan Yudha. Yudha hanya mengernyitkan dahi dengan senyum sinisnya menanggapi sang gadis. " Perkenalkan, aku Anggia Sukmaja. Senang bisa berkenalan dengan anda " Gadis itu menjulurkan tangan untuk dapat berjabat tangan dengan Yudha. Yudha sama sekali tidak memberikan tanggapan. " Untuk apa kamu kesini? " Yudha berkata dengan tenang dan dingin " Tuan aku datang kesini untu menemanimu makan siang, pria tampan seperti anda tidak seharusnya makan siang sendiri! " Yudha mengangkat sebelah ujung bibirnya membentuk senyum tipis yang dipaksakan mendengar ucapan sang gadis " Lalat pengganggu rupanya! Beraninya mengganggu makan siangku bersama Yudha " Chapter 59 Pria pengusir lalat Gina yang baru kembali dari toilet mulai berjalan mendekat kearah Yudha kemudian duduk disebelahnya " Rupayanya kita kedatangan tamu ya sayang! " Gina menatap Yudha dengan tersenyum lembut dan melirik dengan sinis kepada Anggia. Yudha memberikan sebuah lap handuk yang sedikit basah untuk mengelap tangan Gina. Sedangkan gadis itu masih tetap berada disana " Tidak ada, nona ini hanya menyapa karena melihatku disini! " Suaranya tetap tenang dan lembut tapi dia mengabaikan Anggia " Benarkah? " " Benar nona, saya hanya,,, menyapa tuan Yudha karena dia duduk seorang diri. Tidak pantas untuk tuan Yudha makan sendiri " " Jadi kamu berencana jadi lalat yang akan menemani makan siangnya?" Gina memicingkan mata dan berkata dengan dingin kepada gadis itu dan " Saya tidak bermaksud mengganggu, hanya saja,,, " " Hanya saja kamu mencari kesempatan untuk mendekati suamiku? Benar begitu? Maaf nona, tapi kami tidak mengundang atau membiarkan lalat pengganggu menemani kami saat makan. " Jadi anda bisa pergi dan membiarkan kami berdua makan dengan tenang! " Yudha tidak ikut campur dalam permbicaraan lagi, dia hanya mengambilkan lauk dan diletakkan di piring istrinya. Kemudian terlihat muncul sedikit senyuman dibibirnya. Dia suka melihat istrinya bersikap seperti ini " Sepertinya sekarang Gina lebih berani mengambil sikap". Pikir Yudha Anggia yang merasa di abaikanpun pergi dengan wajah yang kesal. " Lihat saja, aku pasti membalasmu, dasar wanita sombong! " gumamnya sembari meninggalkan pasangan itu. " Kenapa kamu diam saja saat dia duduk disini? Apakah kamu senang ditemani gadis yang berpakaian minim seperti itu, hah? " Gina yang kesal terus saja menggerutu kepada suaminya "Sudahlah sayang, jangan hanya karena seekor lalat pengganggu moodmu menjadi rusak seperti itu " Yudha membujuk istrinya dengan senyum dan candaan " Tapi,, kamu terlihat lebih cantik kalau sedang kesal seperti itu " Yudha tertawa karenanya dan itu membuat Gina semakain cemberut dan mencubit gemas pinggang Yudha " Aww,, sakit sayang" Yudha yang pinggangnya kesakitan pun berhenti tertawa " Puas ya kamu melihatku kesal karena seorang gadis. Huh " Gina memalingkan wajahnya kearah lain. Yudha yang melihat perubahan Gina pun meraih sebelah tangannya dan menggenggamnya " Sayang dengarkan aku! Mereka hanyalah lalat pengganggu. Mereka tidak akan bisa mengalihkan pandanganku darimu. Aku tidak akan pernah membiarkan satu lalatpun masuk mengganggu kita berdua. Aku tidak akan pernah memberi mereka kesempatan untuk menyakiti hatimu" Yudha mengakhiri kata - katanya dengan mencium punggung tangan Gina Ginapun terharu dengan kata - kata Yudha. " Aku percaya padamu, pria pengusir lalat" Gina mengelus sebelah pipi Yudha dengan tangan satunya dengan senyum mengembang " Sudahlah,, ayo kita lanjutkan makan. Kita masih harus kembali ke kantor lagi " Ucap Gina yang dibalas senyum oleh Yudha =========== " Bu,, Riko sekarang semakin jauh dariku, dia begitu sulit untuk dihubungi akhir - akhir ini! " Siska sedang mengeluh kepada ibunya diruang keluarga " Tenanglah, pernikahan kalian sudah direncanakan, jadi kamu tidak usah khawatir " Riska menenagkan sambio mengesap teh miliknya " Benarkah bu, apa ibu yakin semuanya akan berjalan lancar? " " Tentu saja, keluarga Riko sudah setuju dengan pernikahan kalian. Dan itu pasti terjadi cepat atau lambat " " Tapi bu bagaimana kalau semuanya tidak berjalan sesuai rencana? Aku mendekati Riko untuk membuat Gina sakit hati dan dan merebut semua miliknya. Tapi ternyata, sekarang dia malah bisa bersama Yudha yang jauh lebih baik dan lebih kaya dari Riko! " Siska mengerucutkan bibirnya dan berbicara dengan nada yang begitu kesal " Kamu tenang saja, kamu pasti bisa mendapatkan apa yang kamu inginkan! " Riska menyeringai licik Chapter 60 Menggali lubang kubur sendiri " Sayang aku tidak bisa pulang bersamamu dan menemanimu makan malam. Malam ini aku ada jamuan makan malam dihotel X" " Baiklah, aku bisa pulang sendiri " Mereka berbincang saat berjalan menuju kantor Malam hari pun tiba, Gina pulang sendiri menggunakan taksi. Dan Yudha menuju hotel X ditemani Hendri. Banyak datang orang penting sari kalangan bisnis dan pemerintahan disana. Termasuk tuan Juan Sukmaja dan putrinya, Anggia Sukmaja yang tadi siang menghampiri saat Yudha makan siang. Yudha mengernyitkan alis melihatnya " Jadi dia juga ada dijamuan ini " Gumam Yudha " Hendri, tolong periksa mengenai keluarga Sukmaja! " Yudha sedikit berbisik pada Hendri yang berada disebelahnya " Baik tuan! " Tanpa menunggu waktu lama, Hendri sudah kembali dengan informasi yang dibutuhkan Yudha. " Tuan, Juan Sukmaja hanyalah pejabat pemerintahan kecil di kota A dan memiliki perusahaan kecil " " Dia pernah terlibat kasus penyuapan sebelumnya, tetapi dapat meloloskan diri dari jeratan hukum karena kurangnya bukti " " Baiklah cukup! " Hendri menganggukan kepala dan undur diri dari hadapan Yudha. Yudha duduk dikursi depan sebagai tamu kehormatan, semua orang juga melihat Yudha. Mereka mencoba menarik perhatian Yudha dengan menyapa dan mengajaknya berbincang. Tidak lama Anggia menghampiri Yudha dengan segelas minuman ditangannya " Tuan kita bertemu lagi " Dia mengangkat minuman dan tersenyum menyapa Yudha. Yang hanya dibalas dengan anggukan dan sedikit senyum dari Yudha. Raut wajahnya begitu dingin. Tak nampak kehangatan atau kelembutan sama sekali. Acara jamuan itupun disuguhi dengan berbagai hiburan seperti tarian, nyanyian dan lantunan berbagai alat musik. Anggia ikut menghibur para tamu dengan menyanyikan sebuah lagu diiringi dengan permainan piano yang dimaksudkan untuk menarik perhatian Yudha, membuatnya kagum dan terpesona pada penampilannya. Yudha menikmati acara yang disuguhkan. Dia menikmati hiburan yang ditampilakan oleh Anggia. Terdengar semua orang memujinya, bersorak pada penampilannya. Yudha berdiri hendak pergi ke toilet. dan setelah keluar dia mendapati seorang gadis menunggunya didepan pintu. Dengan gaun pesta yang menawan dia berdiri dihadapannya. Yudha mengernyitkan dahi melihatnya " Nona Anggia, apa yang sedang anda lakukan disini? Kurasa ini adalah toilet pria, apa anda tidak takut jika terlihat oleh orang lain? " Suara Yudha yang tenang terdengar cukup menawan ditelinga " Tuan, aku sengaja menunggumu, disana terlalu ramai. Aku kira tuan Yudha butuh tempat sepi, kita bisa pergi ke kamar " Anggia mendekati Yudha dan bersikap manja. Sikapnya membuat Yudha jijik dan tersenyum mengejek " Benarkah? Ku kira karena disana cukup ramai sehingga kamu tidak berani bersikap seperti ini kepadaku? " " Tidak tuan, karena disana ramai. Aku takut merusak reputasimu, jadi aku menunggumu disini " " Jika kamu takut merusak reputasiku, untuk apa kamu mendekatiku? " Yudha tidak bergeming meskipun Anggia menggodanya, dia mulai waspada didekat wanita ini. Dia sudah terbiasa digoda seperti ini ketika diluar negeri. Tidak disangka dikotanya sendiripun dia mendapatkan ujian seperti ini " Karena aku begitu menginginkan mu tuan, aku rela meskipun hubungan kita dibelakang layar dan tak perlu diketahui orang lain. Asalkan aku bisa bersamamu" Yudha merasa semakin jijik dengan wanita ini. Dia mulai mencibir dan mundur selangkah. Mengambil sapu tangan yang ada disakunya. Membersihkan setiap bagian dari tubuhnya yang disentuh Anggia. " Maaf nona, bukankah kamu sudah mendengar kalau aku sudah memiliki seorang istri? Aku tidak berniat sama sekali mencari wanita lain? " Yudha mendelik melihat Anggia dan tatapan matanya memancarkan rasa jijik. " Apa kamu yakin bisa menolak gadis cantik sperti aku? " Anggia mulai membuka bagian bajunya perlahan.. Yudha menyipitkan matanya dan berkata dengan senyum menyeringai " Kamu salah berurusan dengan pria nona. Kamu menggali lubang kuburmu sendiri, bahkan lubang kubur untuk keluargamu " " Apa maksudmu? " Anggia yang tidak mengerti merasa terkejut dan bingung. Yudha terlihat tenang dan tersenyum mencibir penuh kelicikan, kemudian memanggil Hendri " Hendri! " Anggia terburu - buru merapaikan bajunya tapi Hendri sudah terlanjur masuk. Hendri masuk ke toilet dan begitu terkejut melihat seorang gadis dengan pakaian yang berantakan bahkan hampir setengah telanjang didepannya. " Bawa gadis ini menjauh dariku, pastikan dia tidak menggangguku dan pastikan tidak ada lagi keluarga Sukmaja lagi kedepannya! " Hendri mengerti dengan apa yang sedang terjadi didepannya dan dia mengangguk membawa sang gadis pergi Chapter 61 Hanya sedikit pelajaran dan peringatan! " Tidak tuan kumohon maafkan aku, ampuni aku tuan Yudha " Anggia meronta, memohon ampun kepada yudha, tapi tidak ditanggapinya. Hendri menarik Anggia menjauh dari hadapan Yudha " Apakah mereka pikir semua wanita bisa menggoda dan mendapatkan perhatian tuan? mengapa mereka berpikiran naif dan bodoh sekali. Mereka hanya mencari mati" Pikir Hendri sambil menarik Anggia dari hadapan tuannya. Yudha kembali keruang jamuan dengan santainya. Layaknya tidak terjadi apa - apa. Tapi dapat dipastikan bahwa mulai besok dan seterusnya tidak akan ada lagi keluarga Sukmaja. Dia menikmati setiap hidangan hingga acara selesai. Sesampainya dirumah itu sudah pukul 12 malam, dia melihat sang istri tertidur disofa karena menunggunya pulang. Hatinya terasa sakit. Dia mengusap kepala sang istri dengan lembut dan mencium pucuk kepalanya. " Apa kamu menungguku pulang? Kenapa tidak tidur duluan saja dikamar? Bukannya aku sudah bilang akan ada jamuan makan malam? " Dia berbicara sendiri dengan pelan hampir berbisik. Yudha menggendong sang istri menuju kamar tidur karena dia tidak tega untuk membangunkannya yang terlalu lelap dalam tidurnya, sehingga dia tidak menyadari kalau Yudha sudah pulang dan menggendongnya ke kamar. Pagi hari saat Gina bangun dari tidurnya, dia melihat ke tempat disebelahnya. Ternyata sang suami masih tertidur lelap disampingnya. " Entah jam berapa dia pulang. Dia pasti sangat kelelahan " Gina memandangnya cukup lama dan ketika hendak beranjak dari tempat tidur, sebuah tangan menariknya " Aacchh " Yudha menarik tangan Gina hingga jatuh kepelukannya " Kenapa hanya memandangiku tidur? apakah itu sudah cukup untukmu? " Ucap Yudha yang masih memejamkan mata " Ternyata kamu sudah bangun. Aku tidak ingin mengganggu tidurmu, jadi aku hanya membiarkanmu saja " Gina mencoba bangun dan lepas dari pelukan Yudha. "Lepaskan aku, aku mau bangun dan menyiapkan sarapan untukmu" " Ciuman selamat pagiku mana? aku tidak akan melepaskanmu sebelum kamu memberikannya! " Yudha mengerucutkan bibirnya dan beesikap manja " Dasar ya, presdir mesum. Cup.. Sudah,, jadi aku bisa bangun sekarang? " Gina mencium pipi Yudha dan berusaha melepas pelukannya " Tidak.. Itu belum cukup " Yudha menggelngkan kepalanya, matanya masih tertutup " Cup cup cup cup .. Puas? Sudah ach,, ayo cepat lepaskan! " Gina mencium setiap bagian wajah Yudha dengan cepat, dan Yidha tersenyum puas mendapatkan kecupan dari Gina dan melepaskannya.. Gina menyiapkan sarapan untuknya dan Yudha disertai dengan 2 cangkir kopi, dan koran. Yudha terbiasa membaca koran sebelum pergi ke kantor. Gina telah selesai membuat sarapan, dia mulai menyiapkan pakaian yamg akan dikenakan sang suami ke kantor. Dia berdiri didepan lemari memilih pakaian yang cocok. " Kira - kira hari ini pakai yang mana ya. hmmm? " Gina sedang serius memilih pakaian, tanpa dia sadari Yudha telah selesai mandi dan berjalan mendekatinya. Dia memluknya dari belakang. " Kenapa kamu serius sekali, sampai tidak menyadari kedatanganku? Pilih baju yang mana saja " Gina menyandarkan kepala di dada bidang Yudha "Aku hanya ingin kamu tampil sempurna " Yudha mengerutkan kening dan membenamkan kepalanya dileher Gina " Bukankah aku memang selalu tampil sempurna mengenakan pakaian apapun? " " Baiklah tuan Kusuma, segeralah bersiap aku akan mandi dulu" Gina beranjak ke kamar mandi. Sedangkan Yudha segera mengenakan pakaiannya dan turun kebawah menunggu Gina untuk sarapan bersama Dia membaca koran selagi menunggu Gina. Dilihatnya berita mengenai kebangkrutan keluarga Sukmaja. Diapun tersenyum melihatnya dan disaat yang bersamaan Gina turun untuk sarapan. Dia memicingkan mata melihat senyum aneh Yudha. " Berita apa yang ada dikoran. Sehingga membuatmu tersenyum mencurigakan begitu. Aneh sekali " Mendengar suara Gina, Yudha mengangkat kepala dan memandang wanita cantik yang sedang berjalan dengan mengenakan setelan Kerja itu. " Tidak ada, hanya sebuah berita mengenai kebangkuran keluarga Sukmaja" Bicaranya tenang tetapi senyumnya mengandung arti yang mencurigakan Gina mengambil koran ditangan Yudha dan melihat beeitanya " Bukankah ini gadis yang kemarin menghampiri kita saat makan siang. Apa yang telah kamu lakukan pada mereka? " Gina menatap penuh curiga " Aku tidak melakukan apa - apa, hanya memberinya sedikit pelajaran dan memberikan sedikit peringatan untuk yang lain" Yudha tersenyum menyeringai sambil menyeruput kopinya " Kamu begitu meyeramkan " Gina berkata sambil menggelengkan kepala " Terima kasih atas pujiannya " Chapter 62 Menghilang dalam semalam Hari ini stasiun televisi maupun surat kabar digemparkan dengan beredarnya berita mengenai kebangkrutan keluarga Sukmaja. Semua begitu heran dibuatnya karena ini terjadi begitu tiba - tiba. " Bagaimana bisa keluarga Sukmaja dinyatakan bangkrut hanya dalam waktu satu hari? Ini sangat mengejutkan! " " Benar sekali, bahkan semalam tuan Sukmaja dan putrinya hadir dalam jamuan makan malam di hotel X " " Sungguh tak dapat dipercaya, padahal tuan Sukmaja selalu lolos dari segala tuduhan mengenai jalur politiknya ataupun perusahaannya. Tapi sekarang mereka bangkrut dengan mudah? " " Entah apa yang terjadi dengan keluarga Sukmaja. Yang jelas, kita harus berhati - hati mengenai langkah apapun dalam bisnis kita ! " Benar, kita harus lebih memikirkan tindakan yang akan kita ambil nantinya " Sementara semua kalangan pebisnis dan politikus sedang membahas kebangkrutan keluarga Sukmaja.. Tuan Sukmaja bersama istri dan juga putrinya Anggia juga merasa tidak percaya dengan apa yang terjadi pada mereka. " Bagaimana ini bisa terjadi? Aku tidak melakukan kesalahan apapun. Semua bukti kejahatan telah ku musnahkan. Kasus penyuapan yang ditujukan padaku juga tidak memiliki bukti yang lengkap. Dan penggelapan uang perusahaan juga tidak ada bukti. Bagaimana ini bisa mencuat kepublik dan menyebabkan kebangkrutan perusahaan? " " Suamiku, apa yang harus kita lakukan? Aku tidak mau kalau harus hidup miskin dan kekurangan uang lagi? hiks.. hiks.. hiks... " Tuan Sukmaja sedang duduk diruang keluarga memikirkan penyebabnya dengan kedua tangan menutupi mukanya. Sang istri hanya menangis karena dia harus hidup miskin. Sedangkan putri mereka hanya diam karena merasa bersalah " Ayah,,, sebenarnya,,, " Anggia berusaha berbicara tapi dia tidak tahu apa yang harus dikatakan " Ada apa? kenapa kamu terlihat begitu bingung? " " Itu,, ayah,, sebenarnya,,, " " Katakan saja, apa yang ingin kamu katakan! " Tuan Sukmaja mulai kesal karena Anggia tak kunjung berbicara.. " Sebenarnya, kemarin saat jamuan makan malam dihotel, ,, aku mencoba merayu tuan Yudha dan membuat dia marah. Dia bilang dia akan menghancurkan keluargaku,. Apakah itu penyebab kebangkrutan kita yah? " Anggia bicara terbata - bata, karena takut ayahnya marah dan benar saja, Tuan Sukmaja yang terkejut langsung berdiri dan memukul meja didepannya dengan mata yang membelalak " Apa? Bagaimana bisa kamu mengusik tuan Yudha? Apakah kamu tidak dengar kalau dia tidak suka didekati oleh sembarang wanita kecuali istrinya? " Dia bicara dengan kesal dan mulai berteriak Anggia tertunduk menahan air mata " Maafkan aku ayah, karena aku tidak percaya akan rumor itu dan berusaha mendapatkan perhatian tuan Yudha, aku sangat menyukainya dan kupikir kemarin adalah kesempatan yang bagus. Lagi pula dia terlihat menyukai penampilanku. Dan selama ini tidak pernah ada laki - laki yang bisa menolakku. Jadi aku memberanikan diri. Jika aku berhasil aku berniat membantu ayah " " Dasar anak kurang ajar, Lihatlah gara - gara kebodohanmu, keluarga kita sekarng jadi hancur! Sekarang kita tidak punya apa - apa lagi, bahkan rumah inipun akan disita! Kamu puas sekarang? dasar anak tidak tahu diri! " Tuan Sukmaja yang merah berteriak mencaci, memaki dan memukul anaknya.. Anggia menangis dan bersimpuh dikaki ayahnya " Ayah kumohon maafkan aku, Aku salah ayah, ampuni aku" " Sudahlah sayang , maafkan dia. Dia putri kita satu - satunya. Semua sudah terjadi dan kita tidak dapat berbuat apa - apa lagi " Sang ibu membela putrinya dengan suara yang serak setelah lama menangis dan membantunya berdiri " Fiuh,,, Kita harus segera meninggalkan kota ini dan memulai semua dari awal " Tuan Sukmaja menghembuskan nafas kasar setelah beehasil meredam emosinya " Anggia kamu harus belajar dari semua ini. Jangan sembarangan mengganggu pria. Tidak semua laki - laki bisa tunduk kepadamu. Terutama Yudha. Kamu hanya akan cari mati jika kamu mengganggu dia dan istrinya " " Baik ayah, aku mengerti. Aku tidak akan mengulanginya lagi.. Hiks.. hiks... hiks" Anggia yang sedang terisak menganggukkan kepala dan mereka mulai bersiap untuk meninggalkan kota. Chapter 63 Bersatunya 2 perusahaan besar Drrttt... drrrttt " Halo Kek, apa kabar? Ada apa kakek menghubungiku? " Yudha sedang berbicara melalui telepon dengan kakeknya, Wijaya Kusuma. Kakek Wijaya merupakan orang terkaya ke 5 dunia dan sebagian perusahaannya sudah diambil alih oleh Yudha. Saat ini kakek Wijaya sedang melakukan perjalanan bisnis keluar negeri. Jadi dia belum sempat bertemu dan berkenalan dengan Gina. " Hmmnn. Kakek baik - baik saja. Sebentar lagi kakek akan kembali dari perjalanan bisnis. Dan saat kakek kembali nanti, kakek mau kamu membawa cucu menantu kakek kerumah utama. Kakek ingin bertemu dengannya! Sudah lama juga kakek tidak bertemu dengan Dirga " " Baiklah kek, nanti akan ku bawa dia pulang kerumah utama saat kakek kembali, tapi kakek Dirga sudah kembali pulang ke negaranya bersama ibu Gadis.. " " Hmmn. Baiklah kalau begitu " Yudha mengakhiri pembicaraan setelah kakeknya memberi jawaban Kakek Wijaya berbicara dengan tenang dan penuh wibawa. Biasanya dia akan bersikap penuh wibawa saat dihadapan orang lain atau kantor. Tapi dia merupakan kakek yang hangat dan menyayangi cucunya bila diluar kantor atau sedang dirumah " Telepon dari siapa? " Gina masuk keruangan Yudha mengantarkan laporan tentang pembangunan hotel yang baru. Yudha yang semula menghadap jendela berbalik menatap wanita pujaan hatinya yang kini mendampinginya dirumah maupun dikantor " Kakek Wijaya memintaku membawa mu pulang saat dia kembali dari perjalanan dinasnya " Gina mengangguk dan memberikan sebuah dokumen " Ini adalah laporan perkembangan hotel terbaru kita yang dikerjakan oleh perusahaan Riko " " Tapi kudengar perusahaannya sedang mengalami kesulitan karena rekan kolaborasi mereka menarik investasinya dalam proyek ini dan karenanya saham mereka terus mengalami penurunan " Yudha membaca dokumen dengan tenang sambil mendengarkan apa yang istrinya jelaskan " Biarkan saja perusahaan itu, kita lihat saja bagaimana perkembangannya nanti! " Yudha mengalihkan pandangannya dan menatap Gina dengan senyum yang menawan " Apa kamu sedang merencanakan sesuatu? " Gina memicingkan mata dan menatap Yudha dengan curiga " Tidak ada yang ku rencanakan " Ada sedikut senyum diwajahnya yang membuat Gina mengernyitkan dahi saat melihatnya " Aku yakin dia memiliki sesuatu " pikir Gina Ditempat lain Riko sedang membaca laporan keuangan perusahaannya. Dia sedang disibukkan dengan saham perusahaan yang terus mengalami penurunan setiap harinya. " Andi, masuk keruangaku! " Tidak berapa lama Andi masuk keruangan " Tolong selidiki tentang perusahaan yang waktu itu ingin bekerja sama dengan kita untuk proyek hotel di kota A! " " Saya sudah selidiki perusahaan itu dan mengajukan proposal agar mereka mau berinvesatasi tapi dari perusahaan mereka menolak untuk berinvestasi diperusahaan kita. Karena sekarang mereka sudah menjalin kerja sama dengan perusahaan Sanjaya tuan! " " Sejak kapan perusahaan Sanjaya masuk ke negara kita? bukankah perusahaan itu belum pernah memasuki pasar bisnis negara kita? " Riko mulai bingung karena belum menemukan investor baru untuk perusahaannya " Perusahaan itu baru memasuki pasar saham negara kita tuan, dan mereka bekerja sama dengan perusahaan Kusuma " Riko mengangguk - anggukan kepala perlahan tanda mengerti "Hmmmnn,, jadi sekarang 2 perusahaan besar di dunia sedang berkolaborasi " Riko mulai tersenyum penuh kelicikan. Entah apa yang akan direncanakannya " Kita harus bisa mendekati salah satu perusahaan itu, kita tidak bisa mendekati perusahaan Kusuma. Tapi kita bisa coba untuk mendekati perusahaan Sanjaya " " Andi, cari informasi lebih banyak lagi tentang perusahaan itu. Kita harus bisa mendapatkan dukungan darinya " " Baik tuan " Andi bergegas keluar dari ruangan Riko untuk mencari informasi yang dibutuhkan. Dia meninggalkan Riko yang sedang senyum - senyum sendiri membayangkan keeja samanya dengan perusahaan Sanjaya " Aku pasti bisa mendapatkan dukungan dari perusahaan baru itu. Mereka sudah terkenal diluar negeri dan itu bisa jadi batu loncatan untukku mengembangkan perusahaanku di luar negri " Saat Riko sedang mengkhayal tiba - tiba ponselnya bergetar, dia mendapatkan pesan masuk dari Siska " Sayang nanti kita pergi ke butik ya, kita fitting untuk gaun pernikahan kita! " Riko hanya Membalasny dengan Singkat " Hmmmnn. Baiklah " " Huh,, menyebalkan, seandainya tidak ada Siska, bisakah aku bersama Nadia? " gumam Riko dan raut wajahnya yang tadinya cerah terlihat murung setelah mendapatkan pesan dari Sisk Chapter 64 Persiapan hadiah untuk Riko Riko yang sedang merasa jenuh dengan Siska teringat akan keceriaan dan sikap manja Nadia. Nadia yang selalu bisa menghiburnya dan membuatnya merasa nyaman bila berada didekatnya. Menghiburnya dan menyemangati dirinya kalau sedang dalam mood yang kurang bagus. Senyum dan kelembutan tanpa sadar terpancar diwajah Riko yang sempat murung. Diapun akhirnya menghubungi Nadia " Halo " Dia berbicara setelah terdengar beberapa kali sambungan " Nadia,, apa yang sedang kamu lakukan? " Nada bicara Riko lembut dan disertai senyum dibibir " Aku sedang jalan - jalan di mall. Aku merasa bosan dirumah karena tidak punya pekerjaan " Nadia berbicara sengan manjanya " Ada apa menghubungiku? apa kamu tidak bekerja? " " Aku tidak memiliki banyak pekerjaan. Bagaimana kalau aku menyusulmu dan kita bisa makan malam nanti? " " Baiklah, aku menunggumu disini! " Riko mengakhiri panggilan teleponnya bersama Nadia dan bergegas meninggalkan kantor. Sementara itu Nadia sedang bersama teman prianya di mall " Sayang sebaiknya kamu pergi dulu, Riko akan datang kesini. Jika dia melihat kita bersama maka semua rencana kita akan sia - sia " Nadia berbicara dengan teman lelakinya Satya " Baiklah, aku akan meninggalkanmu disini. Tapi aku akan memperhatikanmu dari kejauhan" Satya berbicara dengan lembut dan mencium kening Nadia lalu meninggalkannya sendiri Sekitar 30 menit setelah itu, Riko tiba di mall dan bergegas mencari Nadia ditempat yang dijanjikan. " Hai Nad, lama nunggunya ya? " Riko mendekati Nadia yang sedang menunggunya di coffe shop " Ach,, ga ko,, Aku dari tadi keliling dulu dan baru aja duduk " Nadia tersenyum menatap Riko Dari kejauhan Satya memperhatikan mereka berdua. " Riko,,, seperti kamu menyakiti nyonya muda. Seperti itu juga yang akan kamu rasakan. Kamu akan mengerti rasanya sakit hati dan kehilangan semuanya " Satya menyeringai menlihat Nadia dan Riko. " Aku udah pesankan makanan buat kamu. Kamu pasti suka " Nadia berbicara dengan manja dan riang " Apapun yang kamu pesan, aku pasti suka " Riko tersenyum lembut dan membelai rahang Nadia Mereka menikmati makan bersama, sesekali Nadia menyuapi Riko. Dan Satya mengambil beberapa photo Mereka dari kejauhan. " Sudah selesai makannya? sekarang kita berkeliling disini sebentar ya? " Ajakan Riko disambut senyum oleh Nadia. Mereka beediri dan mulai berjalan mengelilingi mall dengan tangan Nadia terus bergelayut dilengan Riko. " Bukankah itu Riko tunangannya Siska? Dia sedang bersama siapa? " Yuli yang merupakan teman Siska melihat kebersamaan Riko dan Nadia " Dimana? mungkin kamu salah orang. Mereka sedang menyiapkan pesta pernikahan. Mana mungkin Riko ada disini? " Sarah melihat arah yang ditunjuk Yuli tetapi tidak terlihat Riko disana " Kemana perginya mereka? tadi aku benar - benar melihat dia masuk ke butik ini " Yuli yang merasa yakin melihat sekeliling untuk mencari Riko "Apa iya aku salah lihat ya? Hmmn. Sudahlah ayo jalan lagi! " Yuli yang tidak dapat menemukan Riko mengajak Sarah berkeliling lagi " Sepertinya mereka sudah pergi. Ayo, kita juga harus segera pergi dari sini! " Riko yang melihat keberadaan teman Siska saat diluar meminta Nadia agar bersembunyi. " Sampai kapan aku harus menjadi pacar rahasiamu? " Nadia bicara dengan mengerucutkan bibir dan mulai merajuk manja kepada Riko "Percayalah, aku akan segera menjadi milikmu seutuhnya. Aku janji! " Riko berusaha menenangkan Nadia dan mendekapnya dalam pelukan yang hangat " Aku akan mempercayaimu Riko " Nadia menyambut pelukan Riko dengan lembut dan dibalik pelukan itu terlihat sebuah senyum menyeringai dengan tatapan mata licik. " Aku akan memberimu hadiah saat kamu memilihku sepenuhnya, itu akan jadi hadiah yang tak akan pernah kamu lupakan sampai kapanpun" Gumana Nadia dalam pikirannya disertai senyum menyeringai Chapter 65 Serigala lapar Beberapa hari kemudian kakek Wijaya telah kembali dari perjalanan bisnisnya. Dia kembali menghubungi cucunya agar pulang kerumah utama. " Halo nak, kakek sudah kembali dari perjalanan bisnis. Akhir pekan ini kakek mau kamu membawa cucu mantuku kerumah! " Kakek Wijaya berbicara setelah panggilan tersambung " Tidak usah bawa apa - apa. Cukup bawa cucu mantuku dengan selamat! " Nenek Julia berteriak dibelakang kakek Wijaya, hingga kakek Wijaya tersentak karena teriakan nenek Julia danYudha menjauhkan sedikit ponsel dari telinganya " Baiklah kek nek, nanti aku akan bawa Gina kesana " Yudha mengiyakan permintaan kakek neneknya lalu menutup panggilan. Dia kemudian mencari Gina ke lantai bawah karena dia tidak ada dikamar. Setelah mengelilingi kamar dan ruang keluarga, Yudha melihat Gina yang sedang memasak didapur. Dipeluknya sang istri dari belakang dan membuat Gina sedikit tersentak " Ach, kau mengejutkankua saja! " Gina menoleh dengan senyum menatap sang pria " Apa yang sedang kamu lakukan? aku sudah mencari - cari mu diatas dari tadi" Yudha berbicara dengan wajahnya dibenamkan disela - sela leher Gina " Memangnya ada apa sampai kamu mencari - cariku, hah? " " Tidak ada, hanya saja,, aku merindukanmu! cup "Kata - katanya yang lembut disertai senyuman yang indah dibibirnya. Yudha pun mencium pipi Gina nakal. " Sudahlah berhenti menggangguku. Apa kamu tidak lihat kalau aku sedang memasak? Kapan kita bisa mulai makan kalau kamu terus saja menggangguku? " Gina berbicara dengan nada suara yang sedikit ditekan dan bibir cemberut. " Tidak masalah jika menunda makan malam sebentar. Tapi aku tidak bisa menunda untuk bisa memakanmu! " " Eechh " Yudha mematika kompor, kemudian menggendong Gina dan membawanya kembali kekamar mereka. Gina mengernyitkan alis dengan apa yang dilakukan suaminya " Tuan,, apa kamu yidak tahu, kalau kamu itu seperti serigala yang lapar! " Seru Gina dalam Perjalananny menuju ke kamar " Iya, aku memang seorang serigala lapar yang begitu rakus dan tudak pernah kenyang jika berada dihadapanmu! " Yudha berbicara dengan nada suara yang terdengat nakal dan senyum licik yang menyeringai. " Ckk.. Dasar, kau ini! " Gina berdecih dan tidak bisa berkata apa -apa lagi kepada sang suami. Yudha tersenyum puas penuh kemenangan. Yudha masih mendekap Gina yang kelelahan dalam pelukannya setelah melepaskan hasrat mereka yang menggebu. Yudha terus menatap Gina yang terlihat memejamkan matanya " Sayang,, kakek Wijaya sudah pulang, Tadi dia menghubungiku dan dia meminta kita agar bisa mengunjungi mereka dirumah utama " " Dia sudah tudak sabar ingin bertemu denganmu " " Benarkah? Kapan dia kembali. Aku juga ingin bertemu mereka, tapi aku sedikit gugup " " Kakek Wijaya begitu dingin dan susah didekati. Sama halnya seperti kamu! # Gina berkata sambil mendongakan kepala dan menatap wajah sang pria yang sedang memeluknya itu " He eh,, kamu tidak perlu khawatir. Tenang saja. Kakek memang terlihat dingin dan kaku, tapi itu hanya penampilan luarnya saja. Kakek sebenarnya sangat baik dan penuh kasih sayang. Hanya saja dia selalu berkata kepadaku bahwa kita harus memiliki wibawa didepan orang lain dan harus bisa membuat orang segan dan enggan untuk macam - macam terhadap kita " " Jika tidak begitu orang - orang akan memanfaatkan kita dan seenaknya saja" Yudha berkata dengan tenang disertai senyum berusaha menenangkan Gina agar tidak gugup. Gina menganggukkan kepala, mengerti dengan apa yang dikatakan Yudha. "Kalau begitu, kita harus pergi belanja dan membeli beberapa barang untuk dibawa kesana! " Gina berseru seoerti mendapatkan sebuah ide " Tidak perlu " Yudha menggelengkan kepala perlahan kemusian melanjutkan perkataannya "Nenek bilang kita tidak perlu membawa apa - apa. Cukup membawamu dengan selamat sampai kesana " Kalimat dan sikap Yudha membuat Gina merona bahagia Chapter 66 Asisten pribadi yang berharga Akhir pekanpun tiba, dimana Yudha berencana membawa Gina pulang kerumah utama.. Yudha sedang mandi dan Gina merapikan tempat tidur, setelah itu dia menyiapkan pakaian untuk Yudha. Dipilihnya setelan casual berupa kaos berwarna biru dengan lengan pendek berkerah dan juga celana panjang katun berwarna putih. Gina sendiri memilih dress berwarna biru muda untuk ia kenakan. Yudha selesai mandi dan memakai pakaian yang telah Gina siapkan. Selama menunggu sang istri bersiap dia menbaca koran sambil minum kopi dibalkon kamar. Drrrtt.. drrrttt.. Ponsel Yudha berdering. Dilihatnya panggilan dari kakek Wijaya. " Hallo kek? " " Apa kamu jadi datang kesini Yud? kapan kamu akan tiba disini? " " Jadi kek, nanti aku kesana sebelum makan malam. Aku ada janji makan siang terlebih dahulu kek , dan aku akan membawa Gina bersamaku " " Baiklah, hati - hati kalau begitu! " " Iya kek " Setelah itu dia mengakhiri panggilan teleponnya, dilihatnya Gina telah keluar dari kamar mandi dengan rambut basah dan duduk didepan cermin untuk berias. Yudha segera masuk dan menghampiri Gina, mengambil handuk yang dipegangnya kemudian membantu Gina mengeringkan rambutnya. Itu merupakan salah satu kegiatan yang sering Yudha lakukan setelah menikah dengan Gina. Dia sangat menyukai hal itu " Kamu bicara dengan siapa sayang? " Gina bertanya dengan menatap pantulan wajah Yudha dicermin " Kakek, dia bertanya apakah kita jadi pulang kesana atau tidak. Kita akan kesana sebelum makan malam. Karena siang ini aku ada janji makan siang, dan kamu harus menemaniku pergi! " Bicaranya begitu lembut diselingi senyuman "Setelah makan siang kita jalan - jalan sebentar di mall " ucap Yudha sambil menyisir rambut pangjang sang istri " Hhmmnn, baiklah " Gina hanya menganggukan kepala dan tersenyum kepada Yudha. Siang itu Yudha ada acara makan siang di restoran dekat mall X. Dia dan Gina memasuki restoran yang lumayan ramai. Yudha selalu menggandeng Gina ketika berjalan. Nampak sebagai pasangan yang serasi mereka selalu menjadi pusat perhatian kemanapun mereka pergi. Meskipun Yudha hanya memakai pakaian casual dan terlihat santai namun auranya tetap tidak hilang. Wajah tampan dan dingin bagaikan gunung es, memancarkan auranya tersendiri. Hendri dan Satya mengikuti mereka dari belakang. Sebagai asisten dan orang kerpercayaan Yudha mereka berdua selalu ikut serta kemanapun Yudha pergi. Satya baru saja kembali beberapa hari, setelah ditugaskan Yudha mengurus sesuatu hal dikota lain. Mereka duduk disofa restoran bersama 3 orang rekan kolega bisnisnya. Andika Dinata salah satu rekan bisnis Yudha kali ini. dia cukup tampan tapi seorang mata keranjang dan licik. Dia selalu memiliki cara yang kotor untuk memajukan perusahaannya. Dia datang bersama asisten dan sekretarisnya. " Halo tuan Yudha, akhirnya saya bisa bertemu dan menjalin kerja sama dengan peeusahaan anda. Suatu kehormatan bagi saya karena anda mau bertemu dengan saya " Andika mengulurkan tangan untuk saling berjabat tangan dengan Yudha. Dia pun mencuri pandang kepasa Gina yang berdiri disebelah Yudha Yudha meraih tangan Andika dan berjabat. " Perkenalkan ini istri saya " Yudha memperkenalkan Gina. Gina hanya tersenyum dingin kepada pria dihadapannya. Kemudian mereka duduk dan mulai membahas kerja sama diantara keduanya sambil makan siang. Disela kesibukan makannya Andika selalu mencuri pandang terhadap Gina. Yudha yang menyadarinya merasa tidak suka tapi dia harus profesional. Selama Andika belum melewati batasannya. Ginapun merasakan tatapan genit itu. Dia mengambil minumannya dan dabalik cangkir teh itu terdapat senyum mengejek Gina. " Dasar mata keranjang, akan kubiarkan kamu kali ini. Kita lihat batasanmu. Jika kamu melewati batas, maka aku tidak akan mengampunimu " Guman gina disela minumnya Mereka terus berbincang mengenai bisnis disela waktu makannya. Gina hanya mendengarkan dan menikmati hidangan. Hingga Andika pun tak tahan dengan kecantikan Gina dan berusaha menggodanya " Nona Gina apakah anda seorang model? anda begitu cantik. Tuan Yudha, anda begitu beruntung bisa mendapatkan wanita cantik ini " Senyum nakal terpancar diwajah Andika " Anda terlalu memuji tuan, istri saya hanyalah seorang wanita karir biasa di kantor, tapi dia juga asisten pribadiku yang berharga baik dikantor atau dirumah" Yudha dengan tenang menanggapi Andika. Dengan menekankan kata '' asisten pribadiku yang berharga '' Yudha berharap Andika mengerti dan tidak berani macam - macam. Karena jika dia melewati batasannya. dia akan tau akibatnya Chapter 67 Bunga tanda cinta " Sayang kita mau membeli apa untuk kakek dan nenekmu? " Mereka berkeliling mall untuk mecarikan sesuatu untuk kakek dan nenek Yudha. Hendri dan Satya langsung pulang begitu makan siang dengan Andika selesai. " Entahlah, selama ini aku tidak pernah membelikan mereka apapun. Kurasa mereka sudah memiliki semuanya, jadi aku tidak tahu harus memberikan apa untuk mereka " Yudha mengangkat bahunya dan juga bibir bawahnya. " Bagaimana kalau kita pergi ketoko itu? " Gina menunjuk ke arah sebuah toko jam tangan. Dan Yudha menoleh ke arah yang ditunjuk oleh Gina " Baiklah kita pergi kesana " Mereka berdua berjalan memasuki toko tersebut dan mulai berkeliling mencari jam tangan yang cocok. " Waah lihatlah ini. Apakah ini cantik? Kakek pasti akan terlihat gagah menggunakan ini! " Pandangan Gina tertuju pada jam tangan bermerek Hublot yang dibandrol dengan harga kira - kira 4-5jt dolar " Baiklah kita ambil yang ini! " Yudha memanggil pramuniaga dan memintanya membungkus jam tangan pilihan mereka " Lalu kita belikan apa untuk nenek Julia! " Gina berguman dan mulai berfikir, sebelah tangannya memegang dagu dan matanya mulai memandang sekeliling. Mencari sesuatu. Maaih didalam toko yang sama dilihatnya jam tangan merek Cartier Paris Original dengan model simpel tapi elegan. Ada sedikit taburan permata disekelilingnya. " Untuk nenek jam tangan ini saja ya? " Gina menoleh kepada Yudha dan bertanya padanya. Yudha tersenyum dan mengiyakan saran sang istri. " Nona tolong bungkus yang ini juga ya! " Pinta Gina pada pramuniaga yang melayaninya. Gina mengernyitkan alis karen perkataannya diabaikan oleh pramuniaga tersebut. Dilihatnya sang pramuniaga tidak fokus dan hanya menatap Yudha. Tik.. tik.. " Nona tolong bungkus juga jam tangan ini! " Gina menjentikan jari dan menyadarkan sang pramuniaga dari lamunannya " Ach,, maaf tuan nona. Akan segera disiapkan! " Dia segera menyiapkan pesanan Gina dan membawanya ke meja kasir Gina dan Yudha pun mengikutinya ke meja kasir untuk membayar tagihannya. Yudha mengambil dompet dan mengeluarkan kartu kredit miliknya. Sang kasir pun ikut terpesona oleh ketampanan Yudha " Nona, bisakah anda berkonsentrasi dalam pekerjaan anda?! " Gina yang mulai kesal berbicara dengan tenang namun terdengar tegas " Maaf nona. Ini, silahkan barang pesanan anda " Penjaga kasir menyerahkan jam tangan pesanan Gina " Terima kasih " Gina dan Yudha meninggalkan toko setelah mendapatkan apa yang mereka cari. " Lain kali saat kita jalan bersama, aku akan memintamu mengenakan masker " Gerutu Gina dalam perjalanan meninggalkan mall dan Yudha tersenyum mendengar ucapan Gina. Dia melingkarkan sebelah tanggannya di pundak Gina " Jadi kamu cemburu sayang? Kamu tidak perlu khawatir, karena tidak akan ada orang lain yang akan mencuri fokusku padamu " "Mereka tidak dapat mengambil sedikitpun perhatianku. Karena aku tidak dapat mengalihkan perhatianku dari mu " Yudha menggoda Gina sepanjang perjalanan menuju mobil1 " Berhentilah untuk terus menggodaku. Aku tidak suka jika mereka terus menatapmu begitu. Mata para gadia itu seperti binatang buas yang siap menerkam mangsanya " " Padahal aku ada disampingmu, tapi sepertinya mereka tidak bisa melihatku " Gina berkata dengan wajah tertunduk dan sedih. Yudha tidak suka melihat Gina bersedih, dia melihat sebuah toko bunga dan ada karangan bunga yang indah disana " Kamu tunggu disini sebentar ya sayang! " " Kamu mau pergi kemana? " "Hanya sebentar, tunggu saja! " " Baiklah, jangan terlalu lama" Yudha bergegas memasuki sebuah toko bunga, dilihatnya ada berbagai bunga yang indah. Karena merasa bingung, ia pun meminta bantuan kepada penjaga toko " Permisi, saya mencari bunga yang melambangkan rasa syukur, terima kasih dan tentunya rasa cinta saya. Apakah ada bunga yang cocok " " Tentu ada tuan. Sebentar biar saya ambilkan! " " Ini tuan, bunga Hydrangea. Bunga ini melambangkan rasa syukur, terima kasih dan cinta kepada pasangan. Jadi anda bisa menympaikan rasa syukur anda karena mendapatkan pasangan seperti istri atau kekasih anda" Yudha pun tersenyum mendengarnya "Baiklah. Tklolong rangkaikan bunga ini seindah mungkin! " " Baik tuan" Tak lama berselang " Ini tuan bunga anda. Terima kasih semoga pasangan anda menyukainya" Yudha meninggalkan toko bunga dia membelikan sebuah karangan bunga Hydrangea yang berwarna warni. Ada warna pink, ungu muda dan ungu gelap yang begitu cantik terangkai menjadi sebuah karangan bunga indah. Dilihatnya sang istri yang menunggunya. lalu dia muncul dan menyodorkan bunga dari arah belakang Gina. Gina terkejut melihat karangan bunga. Dia menoleh kearah pemberi bunga dan dilihatnya sang suami. " Ini untuk kamu sayang,. Aku tidak ingin melihatmu bersedih. Aku mencintaimu dan aku bersyukur setiap harinya, karena menjadi pendampingmu " Sontak Ginapun bahagia dan terharu mendapat bunga pertama dari sang suami. Ini bunga pertama yang ia dapat dari orang yang mencintainya " Terima kasih banyak " Ginapun berhampur kepelukan sang suami dengan berlinang air mata Yudha yang sudah terbiasa dengan sikap sang istri yang mudah terharu hanya tersenyum. Dia mengelus punggung sang istri dan mengecup pucuk kepalanya Chapter 68 Rumah utama keluarga Kusuma Setelah memakan waktu hampir satu jam perjalanan. Yudha dan Gina tiba dirumah Utama keluarga Kusuma. Rumah itu terletak dikawasan perumahan mewah. Dari jalan komplek tidak terlalu tampak bentuk rumahnya, karena ukuran pagar dengan pintu gerbang yang tinggi itu menutupi rumah yang terletak lumayan jauh dari gerbang. Begitu pintu gerbang dibuka, disana terdapat banyak bunga - bunga dan pepohonan yang tertata rapih disepanjang jalan menuju rumah, dengan rumput jepang yang menghiasi sekitar taman dan terdapat pula air mancur yang dikelilingi kolam ikan berbentuk lingkaran. Suasananya begitu nyaman dan damai menjadikan rumah begitu segar. Gina terpana disepanjang jalan dari gerbang utama menuju rumah. Dia membelalakan mata ketika terlihat rumah yang begitu besar bak istana dengan desain bergaya Eropa. Mulutnya menganga, mwrasa takjub dan tak percaya dengan apa yang dia lihat. Rumah ini lebih besar dan mewah dari rumah yang ditempati Yudha. Entah terdapat berapa ruang kemar didalamnya. " Dari luar saja sudah terlihat bagus dan mewah. apalagi setelah masuk kedalam. Sebenarnya siapa keluarga Kusuma? bagaimana mereka bisa begitu kaya bagaikan Raja? Berapa banyak perusahaan yang mereka miliki? " pikir Gina yang dipenuhi berbagai pertanyaan, kemudian dia menoleh kearah suaminya yang sedang mengemudi. Wajahnya mengisyaratkan pertanyaan kepada Yudha " Benarkah ini rumah utama. ini seperti istana. Bagaimana rumah ini bisa begitu besar" Yudha memahami keterkejutan sang istri. Dia tertawa dan mulai bersuara " Haha.. iya ini rumah kakek, tapi kamu tidak usah khawatir. Kamu tidak akan tersesat karena disini ada banyak pekerja, jadi kamu bisa bertanya jika tersesat.. haha" Ledekan Yudha membuat Gina mengerucutkan bibirnya. " Puas sekali kamu ya meledekku. Huh! " Gina memalingkan wajahnya dari Yudha dan menatap keluar jendela. Akhirnya mereka tiba dirumah utama. Begitu turun dari mobil, mereka langsung disambut oleh para pekerja rumah. " Selamat datang kembali Tuan muda! " salah satu pekerja rumah membukakan pintu mobil Yudha dan dibalas dengan anggukan olehnya. Kemudian Yudha berjalan memutar kearah lain, membukakan pintu mobil untuk Gina " Ayo sayang kita masuk " Yudha mengulurkan tangan, membantu Gina turun dari mobil dan menggandengnya masuk menuju rumah " Aku gugup sekali sayang, aku takut kalau kakek tidak menyukaiku " Gina memgang erat lengan bagian siku Yudha. "Tenanglah, tidak usah takut, kamu kan sudah kenal kakek sebelumnya " Yudha mengelus punggung tangan Gina lembut seraya menenangkannya. " Tapi itukan berbeda, dulu aku bertemu kakek sebagai bawahannya dikantor, sekarang aku akan bertemu dengannya sebagai cucu menantunya" Kedatangan nenek Julia menghentikan pembicaraan suami istri itu. " Akhirnya kalian tiba juga dirumah ini. Nenek sudah lama menunggu kalian. Nenek sudah menyiapkan banyak hidangan untuk makan malam kita " Nenek Julia menyambut Gina dan memeluknya penuh kasih sayang, " Hai nek, bagaimana kabar nenek? " Gina menyapa nenek Julia dengan senyum yang ramah setelah melerai pelukan mereka " Nenek baik - baik saja, ayo kita masuk! " " Nenek Julia menggandeng Gina masuk diikuti Yudha yang berjalan dibelakang mereka. Didalam terlihat Kakek Wijaya yang sedang berdiri menunggu cucu dan cucu mantunya. Beliau terlihat sangat gagah meskipun sudah berumur. " Selamat malam kek, apa kabar? " Gina menyapa kakek Wijaya dengan senyum ramah. Dan dibalas dengan anggukan oleh kakek Wijaya dengan wajah terlihat dingin " Hei kamu, muka es, sampai kapan kamu mau berdiri saja disitu? kamu tidak merindukan kakek mu yang tampan dan gagah ini, hah? " Kakek Wijaya memanggil Yudha yang diam saja dan tidak menyapanya " Cih, kakek tua sampai kapan kakek akan memanggilku muka es? Kan kakek sendiri yang mengajarkan ku bagaimana cara bersikap sebagai orang terhormat! Apa ingatan kakek sudah mulai melemah? " Yudha berbicara dengan nada tenang dan senyum mengejek terukir diwajahnya. Setelah sapaan dan candaan yang biasa mereka lontarkan itu Yudha mendekat kepada sang kakek dan memeluknya. Nenek Julia yang terbiasa melihat keadaan ini hanya menggelengkan kepala dan tersenyum. Sedangkan Gina yang pertama kali melihat kakek dan cucu ini berinteraksi. Menatap heran dan bingung melihat keduanya. " Bukannya mereka berdua ini sama - sama muka es dihadapan orang? bisa - bisanya mereka bersikap santai dan penuh canda ketika bersama" Pikir Gina disertai gelengan kepala perlahan Chapter 69 Rumah utama keluarga Kusuma (II) Mereka duduk bersama di ruang makan, menikmati hidangan makan malam yang telah nenek Julia persiapkan. " Makanlah nak, tidak perlu merasa malu atau sungkan! " Julia dengan penuh keramahan mempersilakan Gina untuk makan " Baik nek, terimakasih! " Yudha menyendokan nasi beserta lauknya untuk Gina. Sang kakek yang melihatnya tersenyum meledeknya. " Ternyata si gunung es ini bisa juga bersikap lembut dan perhatian. Lantas kenapa selama ini kamu bersikap dingin kepada setiap wanita yang mendekati mu? Sok jual mahal kamu. cih " " Ach mereka hanya ingin mengincar harta dan ketenaran saja kek. Lain dengan yang disebelah ku ini nih " Yudha sedikit mendelik kearah Gina. Menunjuk dengan ekspresi wajahnya " Hahaha,, Hebat kamu Gina, bisa bikin gunung es ini mencair! " Kakek Wijaya terbahak dan Gina tersipu malu Setelah selesai makan malam mereka pindah keruang keluarga.. Yudha duduk disebelah Gina dengan melingkarkan sebelah tangannya disekitar pinggang Gina dan sebelah kaki bertumpu ke kaki satunya. Kakek Wijaya juga duduk disebelah nenek Julia. " Kek, nek, Gina ada hadiah kecil buat kakek dan nenek. Semoga kalian suka dengan hadiah Gina. Gina tidak tahu harus belikan kakek dan nenek hadiah apa. Kebetulan Gina lihat jam tangan ini jadi Gina dan Yudha beli " Gina memberikan kedua kotak itu kepada kakek dan nenek Yudha Dibukalah kotak itu oleh kakek dan nenek Yudha secara bersamaan. Mereka tersenyum dengan hadiah itu dan mulai dikenakan " Terima kasih Gina. Kamu memiliki selera yang bagus " Ucap kakek Wijaya dengan senyum " Oh iya Gina, kapan kakek dan ibumu akan berkunjung kesini lagi? Sudah lama kami tidak bertemu " " Entahlah nek, kakek Dirga selalu sibuk dengan perusahaan dan ibu sibuk dengan galeri seninya. Mereka jarang sekali memiliki waktu senggang " " Bukannya kakekmu sedang berencana masuk ke pasar bisnis negara ini? " Kakek Wijaya ikut berbicara sambil menyeruput teh yang diberikan nenek Julia. " Benar kek, saya dengar juga begitu dan kakek akan bekerja sama dengan perusahaan Yudha. iya kan? " Gina menoleh kearah Yudha saat berbicara meminta persetujuannya " Benar, Kakek Dirga ingin memasuki pasar bisnis negara ini dan aku berencana kerja sama dengan perusahaannya " " Kenapa kamu tidak mengambil alih saja perusahaan kakek mu disni Gin? Jadi kakekmu tidak harus pulang pergi ke negara B. Akan sangat merepotkan jika dia memegang kendali perusahaan disana juga disini" Kakek Wijaya sesaat memberikan jeda saat berbicara " Kakekmu sudah cukup tua dan semua perusahaan kalian juga tergolong perusahaan besar " " Akan aku pikirkan kek " " Kek, nek, ini sudah larut, kami naik kekamar dulu. Kakek dan nenek juga harus istirahat " Yudha berdiri dan mengajak Gina pergi ke kamar Yudha dilantai atas " Kalian naik saja duluan. Sebentar lagi kakek dan nenek pergi istirahat " Yudha menganggukkan kepala dan berjalan meninggalkan mereka. Kakek Wijaya memperhatikan cucu mereka yang bejalan menaiki tangga " Akhirnya Yudha menemukan pendamping hidupnya. Aku harap mereka bisa hidup bahagia dan Yudha bisa melupakan masa lalu yang menyakitkan itu " " Kuharap juga begitu. Semoga Gina bisa memberikan kebahagiaan kepada cucu kita" Jawab nenek Julia dengan senyuman ===== " Sayang, bagaimana dengan apa yang dikatakan kakek tadi. Apa kamu ingin mengambil alih perusahaan kakek Dirga? Yudha bertanya pada Gina yang masih sibuk memilih piyama. " Entahlah, aku tidak yakin " Gina mengangkat bahu dan duduk disamping Yudha " Aku biasa menjadi pegawai, apa aku bisa memimpin perusahaan besar? aku takut setelah aku mengambil alih perusahaan. Malah nantinya mengecewakan " Gina tertunduk dengan mengerucutkan bibir Yudha tersenyum melihat perilaku istrinya yang seperti anak kecil. Yudha berbalik kearah istrinya, memegang kedua lengan dekat pundak Gina, menatap lekat kedua matanya dan berkata " Sayang dengarkan aku! Kamu sudah terbiasa dengan jabatan tinggi dikantor dan memimpin karyawan. Aku yakin kamu juga akan mampu dan sanggup memegang jabatan yang lebih tinggi. Aku juga akan selalu membantu dan mendukungmu. Tapi.. " Gina memicingkan mata karena perkataan Yudha yang terputus " Tapi apa? " " Kamu jangan dulu menyebarkan berita ini. keluarga Atmaja belum tahu tentang ibu yang sebenarnya. Jadi kita tunggu waktu yang tepat untuk memberi mereka kejutan " Yudha tersenyum menyeringai penuh kelicikan " Baik, aku mengerti sayang. Emmnn.. epertinya suamiku ini mencoba mengajariku cara bertindak kejam " Gina berbicara dengan nada yang menggoda " Dengan senang hati. Aku akan mengajarimu caranya memberikan pelajaran dalam bisnis " " Ish dasar.. Baiklah. Sesuai keinginanmu Tuan " Chapter 70 Persiapan pernikahan Keluarga Atmaja sedang sibuk mempersiapkan pesta pernikahan Siska dan Riko, persiapan sudah hampir 70% dan acara akan laksanakan kira - kira 2 minggu lagi. " Bu apa kita harus mengundang wartawan untuk pesta ku nanti? Aku ingin pesta yang meriah " Siska sedang berunding dengan Riska mengenai resepsi nanti. " Tentu saja sayang. Keluarga kita dan Riko adalah salah satu orang terpandang, tentu saja harus dilaksanakan secara megah. Dan tidak boleh sembarangan mengundang orang datang ke pesta " Riska menjawab dengan senyum antusias " Bagaimana menurut nenek? " Siska berpaling kearah Arin untuk meminta pendapat " Tentu saja, lagi pula perusahaan sudah mulai stabil dan terlepas dati krisis. Jadi kita bisa menggelar pesta besar " Ujar Arin dengan anggukan kepala yang disertai senyum lebar... Drrrrttt... drrrttt Tiba - tiba ponsel Siska berdering. Dilihatnya panggilan dari Yuli temannya. Dia segera mengangkat panggilan tersebut dan menjauh dari tempat ibu dan neneknya berada. " Halo" " Halo Siska, bagaimana kabarmu? " " Aku baik - baik saja. Ada apa? " " Tidak ada, hanya saja sudah lama kita tidak bertemu o iya, apa kamu masih memiliki hubungan dengan Riko? " Yuli bertanya pada Siska. dan Siska mengernyitkan dahi mendengar pertanyaan temannya itu " Tentu saja aku masih berhubungan dengannya. bahkan aku sedang mempersiapkan pernikahan ku. Apa kamu tidak mendengar berita pertunangan kami. Kurasa kabar tentang pernikahan kami sudah tersebar luas di kota ini, bahkan tersebar luas dinegara ini. Kamu tahu kan keluarga kami merupakan keluarga terpandang. apalagi aku juga seorang model " Jelas Siska panjang lebar " Sombong sekali dia, aku ingin tahu bagaimana reaksinya kalau tahu Riko punya wanita lain" Pikir Yuli disertai senyum mengejek " Ada apa kamu menanyakan hubungan kami? apakah ada sesuatu? " Siska bertanya dengan nada angkuh " Tidak ada, aku hanya penasaran, apalagi aku jarang melihat kalian bersama akhir - akhir ini " Yuli urung memberi tahu Siska kalau dia melihat Riko bersama wanita lain di mall. " Owh, ku kira ada apa. Kami sedang sibuk mempersiapkan pesta pernikahan kami. Sehingga kami jarang sekali memiliki waktu bersama akhir - akhir ini. Ditambah lagi perusahaan Riko sedang mengalami krisis " " Baiklah kalau begitu. Apa kamu memiliki waktu? Bagaimana kalau kita bertemu untuk sekadar minum kopi dan berbincang? " Yuli mengalihkan pembicaraan mereka " Oke. Kita bertemu di cafe biasa ya " Siska menutup panggilan setelah mendapatkan kesepakatan dengan Yuli mengenai pertemuan mereka, dan kembali berjalan ke tempat ibu dan neneknya berada. " Bu, nek, aku akan pergi sebentar untuk bertemu teman lama ku ya? " " Iya. berhati - hatilah " Riska mengiyakan sang anak dan kembali berbincang dengan Arin " Bu bagaimana dengan Gina dan juga Gadis? Akubtidak mau kalau mereka mengusik ketenangan keluarga kita lagi bu " Riska mengeluh dengan wajah sendu meminta dukungan dari mertua yang sekaligus tantenya itu. " Biarkan dulu mereka. kita bisa urus mereka setelah resepsi pernikahan Siska dan Riko. Yang penting posisi kita di perusahaan sudah aman. Kita sudah memiliki saham mereka berdua. Dan saham Yudha di perusahaan juga tidak sebesar milik kita " Arin bicara dengan santai sembari menyeruput teh miliknya " Lantas bagaimana dengan ayah dan Budi jika mereka tahu kalau kita juga telah mengambil saham milik si jang Gadis itu juga bu ? Apa yang harus kita katakan kepada mereka? " " Tidak perlu memikirkan mereka, mereka tidak punya hak untuk perusahaan ini. Aku yang membesarkan nama perusahaan ini sejak dulu. Lagi pula Budi sama sekali tidak tertarik dengan bisnis. Dia hanya tertarik dengan dunia militer saja. Mengingat selama ini dia tidak pernah terlibat dengan urusan perusahaan sama sekali. Dan ayah mertua mu itu audah tidak bisa melakukan apa - apa lagi ". " Baiklah bu, aku akan mendengarkan apa yang ibu katakan " Riska menyeruput teh sambil tersenyum mengerti Chapter 71 Pertemuan di restoran Siska sedang duduk dikursi restoran dekat jendela yang menghadap kejalan. Banyak mobil berlalu - lalang dijalanan dekat area pertokoan. Dengan secangkir latte di depannya, dia menunggu kedatangan Yuli. Tak lama berselang Yuli datang. " Hai Sis, kamu sudah lama menunggu ku ya? maaf, jalan sedikit macet " Yuli langsung duduk didepan Siska ketika dia sudah melihatnya " Belum terlalu lama hanya saja, bosan juga menunggu sendiri seperti itu. Kamu sendirian saja? Ada apa ingin bertemu denganku? " Siska meletakkan tangannya diatas meja, dengan sebelah tangan menopang dagunya " Kenapa bicara begitu? bukankah kita sudah lama tidak bertemu? wajar kan sebagai teman kita sesekali bertemu walaupun hanya sekedar minum teh? " Yuli sedikit berdelik dan mengukir sedikit senyum licik " Sebenarnya aku sedikit heran, bagaimana dulu Gina bisa berakhir dirumah sakit jiwa dan diasingkan keluar negeri. Apa kamu tahu sesuatu Siska? " " Mana aku tahu. Bukannya sudah jelas dulu itu dia berusaha bunuh diri dan selalu histeris? " Siska mengangkat bahu dan bersikap acuh tak acuh " Aku yakin itu ada hubungannya denganmu. Karena dari dulu kamu sangat iri kepada Gina kan " Yuli berusaha menginterogasi Siska tentang masa lalu mereka " Jadi kamu meminta ku bertemu hanya untuk membahas ini saja? Tidak penting sekali " " Ach tidak, aku tidak ingin membahas ini. Aku hanya ingin bertemu denganmu saja. Sudah lama kita tidak berbincang kan? O iya Andika mantan pacarmu itu sudah kembali dari luar negeri. Dia selalu menanyakan mu padaku " " Benarkah dia sudah kembali? Sudah lama sekali aku tidak mendengar kabar tentangnya. Bagaimana dia sekarang? " Siska antusias dan mulai menanyakan Andika " Kudengar dia sekarang menjadi wakil direktur di perusahaan keluarganya dikota ini. Dan kabarnya dia semakin tampan " Senyum dan perkataan Yuli nampak menggoda " Ach aku penasaran bagaimana dia terlihat sekarang " Siska mulai tersenyum.. Tak lama, Yuli melihat dari arah pintu masuk, berjalanlah seorang pria tampan yang cukup tinggi dengan setelan jas abu beserta asistennya. " Panjang umurnya juga,. Lihatlah yang kita bicarakan ada disini! " Yuli memberitahu Siska keberadaan Andika dan menunjuknya dengan alis dan bibir dinaikan ke atas Siska menoleh kearah yang ditunjuk Yuli " Benarkah itu Andika? Dia terlihat luar biasa sekarang, sayang sekali aku sudah akan menikah dengan Riko" Siska menggelengkan sedikit kepalanya " Tapi kan dia tidak tahu kalau kamu akan menikah! " " Apa maksudmu? " " Tidak ada" Yuli mengangkat bahu saat berbicara Andika menyadari keberadaan Siska. Diapun berjalan mendekat kearah Siska " Hai Siska sudah lama kita tidak bertemu? Bolehkan aku bergabung bersama dengan kalian disini? " " Silahkan. Duduklah! " Siska menunjuk kursi di sebelahnya dan mempersilakan Andika duduk " Terima kasih. Kamu semakin cantik sejak terakhir kali kita bertemu Siska " Andika melontarkan pujian disertai senyum yang menggoda " Terima kasih atas pujiannya " Siska membalas senyum Andika. " Eh hem.. apakah aku tidak seharusnya berada disini? " Yuli berdehem memberitahukan keberadaannya " Haha.. tentu saja tidak demikian. Aku sangat senang bisa ditemani dua gadis cantik saat ini " " Benarkah seperti itu. Asistenmu sedang menunggumu disana. Sepertinya kalian sedang menunggu tamu penting? " " Ya kami ada meeting lanjutan untuk proyek kami. Sayang sekali sepertinya saya tidak bisa menikmati minum teh bersama dengan kalian. Lain kali akan ku undang kalian untuk makan atau minum kopi bersama " " Tentu saja, kami akan menunggu saat itu " Siska dengan lembut dan senyum manis berbicara dengan andika " Baiklah, aku permisi dulu " Andika bangun dari kursinya dan berjalan menuju meja asistennya Dari pintu datanglah sepasang pria dan wanita yang berjalan bergandengan tangan dengan elegan diikuti asisten mereka dibelakangnya berjalan kearah meja Andika dan asistennya " Kenapa mereka berjalan menuju Andika? apa hubungan diantara mereka. apa mereka saling mengenal? " Pikir Siska disertai kerutan di dahinya Chapter 72 Aku nyonya muda Kusuma, akan membalas orang yang berani memprovokasiku!! Yudha dan Gina menyadari keberadaan Siska di restoran itu, namun mereka mengabaikan Siska seolah tak melihatnya dan tetap berjalan dengan anggun menuju meja Andika. Siska terus memperhatikan Yudha dan Gina. Dia melihat Yudha menjabat tangan Andika tapi tidak dengan Gina. Gina dan Yudha duduk berdampingan. Yudha membahas kesepakatan kerjanya, sedangkan Gina hanya duduk dengan santainya menemani sang suami. " Sayang, aku tinggal ke toilet sebentar ya? " Gina berbisik di telinga sang suami, setelah mendapatkan anggukan tanda setuju dari sang suami, dia segera berdiri dan berjalan menuju toilet. Siska yang melihat Gina menuju toilet segera bangun dan mengikutinya. " Yul, aku tinggal ke toilet sebentar ya " " Ok. jangan lama - lama! " Siska berdiri dan meninggalkan Yuli sendiri. Setelah Gina keluar dari toilet, dilihatnya seseorang sedang menunggu didepan pintu toilet, dengan mengenakan dress berwarna kuning dan bersandar pada tembok dengan kaki yang disilangkan.. " Kamu kelihatannya sangat menikmati pernikahan dadakanmu, sementara kamu juga berusaha menghancurkan hubunganku dan Riko " Gina mencuci tangannya di wastafel dan menanggapi dengan santai sembari menatap ke cermin di depannya. " Tentu saja aku menikmatinya, secara tidak langsung kalian telah mendorong ku untuk bisa menikah dengan Yudha. Dan aku sangat berterima kasih untuk itu. Tapi untuk hubungan kamu dan Riko,,,," Gina memberi jeda pada ucapannya dan menatap Siska dengan senyum sinis " Sepertinya aku masih belum melakukan apapun pada kalian berdua. Kenapa? bahkan hubungan percintaan kalian yang dibilang cinta sejati itu bisa renggang juga? Owh, sungguh disayangkan, padahal aku masih belum mulai bersenang - senang dengan hubungan kalian. Tapi tanpa harus menggunakan campur tanganku. Kalian bisa berakhir juga. Hahaha" Gina tertawa terbahak setelah perkataannya " Jangan sombong kamu Gina, aku masih belum berakhir. Aku dan Riko pasti bisa memperbaiki hubungan kami. Dan dia akan kembali membencimu. Dasar wanita Gila " Nada bicaranya mulai tinggi karena kesal. Mendengar kata - kata Siska, wajah Gina seketika berubah suram. Matanya tajam, bibirnya pucat. Dia seketika lemas tapi tetap berusaha tenang dan menguatkan dirinya. Flash back on Sebagai seorang tentara ayahnya sering dipindah tugaskan ke kota lain. Dan dulu saat ayahnya sedang bertugas. Gina diberi obat oleh Arin dan Riska yang membuat dirinya terus berhalusinasi dan ketakutan. Gina dimasukkan kerumah sakit jiwa. Dia menangis, berteriak, meminta tolong, bahkan memohon. Tapi tidak ada yang menolongnya. Dia baru dikeluarkan dari sana ketika sang ayah pulang dari tugasnya. Sedangkan sang kakek tidak bisa berbuat apa - apa karena ancaman Arin. Kira - kira setengah tahun dia di dalam rumah sakit jiwa dan begitu dia dibebaskan. Arin meminta ayah Gina untuk mengirimnya keluar negeri, agar tidak mencoreng nama baik keluarga Atmaja karena salah satu putrinya menderita gangguan jiwa. Gina pun akhirnya dikirim keluar negeri untuk melanjutkan sekolahnya disana dan kembali setelah lulus sekolah. Tapi setelah pulang, dia mendapati bahwa Riko telah bersama dengan Siska. Dia mengatakan bahwa mereka tidak mungkin bersama karena Riko sangat mencintai Siska. Flash back off Kilatan kebencian terpancar di mata cantik Gina. Sorot matanya tajam dan dingin. "Aku akan membuat mu membayar atas masa lalu itu, aku akan membuat mu merasakan bagaimana rasanya menjadi orang gila. Aku akan membuat mu merasakan bagaimana rasanya terkurung di balik tembok kamar isolasi. Dan merasakan dinginnya tidur beralaskan matras tipis. Aku akan dengan senang hati memberikan semua itu kepada mu. Semua akan meninggalkanmu. Yang kamu miliki akan ku ambil dan kuhancurkan sedemikian rupa " " Kamu berani mengancamku? lihat saja siapa yang akan lebih pintar. Selama ini aku berhasil merebut semua yang kamu miliki. Dan kali ini pun aku pasti bisa merebut lagi kebahagiaan juga kesombongan yang kamu miliki Gina " " Cih,, dulu aku begitu polos dan naif. Percaya bahwa kamu adalah saudara dan juga teman yang baik. Tapi sekarang aku bukan lagi Gina yang dulu, yang akan tunduk dan mengalah dengan semua perlakuan kalian terhadapku. Sekarang aku adalah nyonya muda Kusuma. Aku akan membalas setiap orang yang berusaha memprovokasiku, termasuk kamu dan keluarga Atmaja " Gina berkata dengan tenang, namun terdengar tegas dan dingin. Kemudian dia berjalan dengan anggun dan percaya diri melewati Siska dengan menyenggol bahunya. Siska hanya terpana menatap kepergian Gina dari hadapannya Chapter 73 Mimpi buruk Gina Yudha telah selesai membahas masalah kerja samanya dengan Andika. Dia sedang menunggu Gina kembali. Melihat Gina telah keluar dari toilet, Yudha memperhatikan istrinya dari kejauhan sedang berjalan keluar dari toilet menuju ke arahnya. Dia mengernyitkan dahi. merasa ada sesuatu yang aneh dengan istrinya. Dia bangkit dari duduknya dan dengan cepat menghampiri Gina. Gina berusaha tersenyum melihat Yudha yang mendekatinya , namun senyumannya terlihat getir dan sedih. Badannya gemetar namun berusaha tetap tenang dan kuat. " Ada apa? Apa kamu sakit? " Suaranya begitu lembut, wajahnya terlihat begitu khawatir. Gina menatapnya dengan lekat dan berusaha tersenyum. " Aku tidak apa - apa " Senyum dan kata - katanya membuat Yudha memicingkan mata. Gina melingkarkan tangannya pada tangan Yudha, tersenyum dan dengan lembut berkata " Mari kita pulang! " Yudha menganggukkan kepala dan tersenyum. Mereka berjalan menghampiri meja Andika. " Kami permisi dulu pak Andika, yang lainnya akan kita bahas dirapat selanjutnya! " " Baiklah, terima kasih Tuan Yudha! " Mereka saling berjabat tangan kemudian Yudha dan Gina berjalan meninggalkan restoran diikuti Hendri dibelakang mereka. Siska tersenyum sinis melihat Yudha dan Gina meninggalkan restoran. " Lihat saja Gina, akan kubuat tuan Yudha juga membenci mu dan meninggalkan mu " Gumamnya Gina terus memegang tangan Yudha. Pegangannya begitu kuat dan tangannya terus gemetar seperti ketakutan. Yudha mulai merasa cemas dan khawatir. Dia menoleh kesamping, melihat istrinya yang wajahnya begitu pucat " Apa kamu benar baik - baik saja sayang, tanganmu berkeringat dingin " " Aku tidak apa. Aku ingin pulang " Suaranya terdengar sendu, membuat Yudha merasa sedih mendengarnya " Baiklah kita pulang. Hendri Jalan! " " Baik tuan! " Sepanjang perjalanan, Gina terus menyandarkan kepalanya dibahu Yudha. Yudha sesekali menatap wajah istrinya yang ternyata sedang menutup mata, namun terlihat ada kegusaran diwajahnya, Gina terus mengernyitkan dahi dalam tidurnya. Mereka telah tiba dirumah. Hendri membukakan pintu mobil untuk tuan dan nyonyanya. " Kamu bisa langsung pulang " " Iya tuan " Yudha yang tak tega membangunkan istrinya yang sedang tidur, lantas menggendong Gina masuk kedalam Rumah. Menuju kamar mereka dilantai atas. Membaringkan Gina ditempat tidur dengan perlahan supaya tidak membangunkannya , menyelimutinya dan tak lupa mencium keningnya dengan lembut. Yudha hendak meninggalkannya ke ruang kerja, namun langkahnya terhenti mendengar suara Gina. Dia menoleh, melihat Gina yang tengah gelisah dan mengigau " Jangan tinggalkan aku,,, ku mohon,,, keluarkan aku dari sini. Aku tidak Gila. Nenek,,, tante,,,, jangan tinggalkan aku sendiri disini. Aku tidak gila. Ayah,,, kakek,,, tolong aku. Keluarkan aku dari sini. Hiks Hiks Hiks... " Air mata menetes disela kedua matanya yang tertutup rapat. Membasahi bantal dengan sarung berwarna biru terang. Dia terus menggelengkan kepalanya, tangannya mencengkeram selimut yang menutupi badannya dengan begitu kuat, hingga kukunya terlihat berwarna putih. Yudha bergegas mendekatinya, menggenggam tangannya dan berusaha melepaskan cengkeraman tangannya yang kuat agar tidak melukai dirinya sendiri karena kuku yang tertancap. Hatinya sakit melihat Gina yang terus mengigau disertai keringat dingin. " Sayang bangun, buka mata mu. Itu hanya mimpi buruk " Yudha menggoyangkan tubuh Gina tapi tetap tidak berhasil Yudha mengambil handuk kecil untuk menghapus keringatnya. Gina masih belum bisa tenang dalam tidurnya. Yudha memutuskan naik ketempat tidur, menyibakkan selimut dan mendekap Gina dengat erat dipelukannya. Gina terus terisak dalam tidurnya " Bangunlah, kumohon,,, buka mata mu,,!! Tanpa terasa air mata Yudha pun ikut menetes. Dipeluknya Gina lebih erat. Setelah beberapa lama akhirnya Gina membuka mata dan berbalik memeluk Yudha dengan erat. Dia masih terisak dan bicara disela isak tangisnya " Aku tidak mau masuk rumah sakit jiwa lagi, aku takut berada disana. Disana begitu gelap,, Tidak ada seorang pun yang mempercayaiku,, aku sungguh tidak gila,, mereka memasukan ku kedalam rumah sakit Jiwa. Ku mohon kamu jangan tinggalkan aku! " Hati Yudha bagaikan tersayat mendengar perkataannya. " Ya Tuhan, apa yang sudah dia alami sebenarnya? Kesedihan macam apa yang mereka berikan, hingga dia mengalami trauma seperti ini? aku akan membuat mereka membayarnya bahkan 1000 x lipat. Hingga mereka berfikir lebih baik mati daripada tetap hidup! " pikirnya dan kilatan kemarahan dan kebencian terpancar di mata Yudha. Dia memeluk, menundukkan kepala dan mencium pucuk kepala istrinya. " Aku tidak akan pernah meninggalkan mu sendiri. Kamu tenang saja, karena sekarang ada aku disampingmu. Tidak akan ku biarkan orang lain melukai dan menyakitimu kedepannya. Aku akan mendukungmu apapun yang kamu lakukan. Dan aku akan membalas semua perbuatan mereka padamu " Chapter 74 Memulai rencana Pagi hari, cahaya matahari mulai memasuki kamar melalui celah jendela, memberikan cahaya terang dan kehangatan di ruang kamar yang sedikit remang karena lampu tidur. Yudha masih menutup mata dengan mendekap Gina dalam pelukannya. Gina perlahan membuka mata mendapati dirinya masih dipelukan sang pria. Gina mendongak, menatap wajah tampan suaminya yang begitu tenang. Tak lama Yudha membuka matanya perlahan " Kamu sudah bangun sayang? " " He eh" " Bagaimana perasaanmu sekarang? Apa sudah lebih baik? " " Ya, aku sudah baikan sekarang. Maaf karena membuatmu khawatir dan kecewa, karena aku bukan wanita yang kuat dan kamu sudah tahu sekarang kalau aku pernah masuk rumah sakit jiwa " Gina mulai menunduk dan bicaranya mulai melemah " Dengarkan aku, aku suami mu. Aku ingin kamu hanya menunjukkan kelemahan mu didepan ku. Aku ingin menjadi pelindung mu dan tempat mu mencurahkan segalanya. Dan untuk masa lalumu,,, aku tidak peduli. Mulai sekarang kamu tidak perlu takut. Aku tidak bisa menghapus kenangan burukmu, tapi akan selalu ku isi dengan kenangan indah mulai sekarang. Hingga kamu tidak memiliki tempat di pikiranmu untuk mengenang yang buruk. Cup! " Yudha mencium kening Gina dan perkataannya terdengar begitu lembut dan menenangkan. Membuat Gina terharu dan matanya mulai berkaca - kaca. " Aku berjanji padamu, mulai sekarang aku akan jadi wanita yang lebih kuat. Aku tidak akan mengecewakan mu dan aku yakin dengan jelas kamu akan melindungi dan mendukung apapun keputusan ku! benarkan tuan Kusuma? " " Tentu saja nyonyaku! bahkan jika langit mulai runtuh aku akan menahannya untukmu " Mereka saling berpelukan dengan erat. Dan semakin menautkan hati mereka berdua.. ====== " Hendri bagaimana pengawasanmu tentang keluarga Riko dan Siska? " Yudha bertanya dengan duduk dikursi kerjanya " Mereka sedang mempersiapkan pernikahan tuan! " " Buat saham perusahaan Riko mengalami penurunan. Dan biarkan Siska perlahan mengetahui hubungan Riko dengan Nadya. Kita lihat bagaimana reaksi keduanya " Yudha menyunggingkan sedikit senyuman liciknya " Baik tuan " Hendri meninggalkan ruangan Yudha dan menghubungi Satya. " Hallo, Bro kita mulai rencana kita, dan Riko yang akan menjadi target pertama " " Oke " Satya menjawab dengan singkat dari ujung telepon. Saat ini dia sedang bersama Nadia. " Nadia, kita akan mulai untuk menjatuhkan keluarga Riko dan Atmaja. Aku ingin kamu mulai rencana mu dengan Riko. Ini kesempatan kita untuk menghancurkan mereka satu persatu. Aku yakin pasti bisa menyeret keluarga Riska dalam kehancuran bersama keluarga Atmaja dan Riko. Karena mereka adalah penyebab kehancuran keluarga kita" Satya bicara dengan nada dingin tapi tapi matanya terlihat jelas penuh amarah dan luapan emosi " Kamu tenang saja. Kakak ku tersayang. Aku sudah menunggu saat - saat ini begitu lama. Tidak akan kubiarkan mereka lolos. Akan ku pastikan 3 keluarga itu saling berseteru satu sama lain hingga mereka jatuh bangkrut. Dan Merasakan kehancuran mereka" Nadia memberi jeda dalam bicaranya wajahnya seketika beeubah murung " Dulu aku selalu melihat Gina menderita dirumah itu, tapi aku tidak bisa berbuat apa - apa. Beruntung dia sekarang bisa menemukan kasih sayang dari orang seperti Yudha. Dan Kali ini aku bisa membantunya membalaskan dendam pada keluarga yang tak punya belas kasih seperti mereka " Wajah Nadia terlihat sedih membayangkan penderitaan yang telah di alami sahabat kecilnya itu. " Akhirnya photo ini bisa kita gunakan sekarang " Satya melihat photo diponselnya dan segera menghubungi wartawan " Hallo, dengan editor majalah wirefox? saya memiliki berita bagus untuk majalah anda. Saya ingin photo ini menjadi berita utama " Satya bicara dengan tenang dan dingin " Tentu saja, jika itu berita bagus. Pasti akan menghebohkan! kirimkan saja photonya padaku! " kata sang editor " Tentu saja ini berita bagus. Kamu pasti tahu Riko seorang pebisnis muda yang juga tunangan dari model cantik Siska Atmaja? Akan aku kirimkan sekarang photonya" Satya menutup sambungan telepon dan mulai mengirim photo dan juga meminta seseorang memposting photo itu di laman media sosial Tak lama berselang berita itupun muncul dari internet Riko, seorang pebisnis muda hebat dan juga tunangan dari model cantik Siska Atmaja, diketahui melakukan hubungan intim bersama wanita lain dihotel Seketika berita itupun mulai heboh dan menjadi trending topik. Dan para netizen pun mulai berkomentar " Wah,, tidak disangka ya, dari luar kelihatannya baik dan penyayang, suka melindungi Siska. Tapi ternyata dia tukang selingkuh juga " " Mentang - mentang punya tampang keren dan bisnisman. Kanan kiri ingin dimiliki semua" " Kasihan sekali Siska. Cantik - cantik diselingkuhin. pfft " Gina melihat postingan itu. Dia tersenyum menyeringai " Permainan baru dimulai " Chapter 75 Satu tikus telah masuk perangkap Pemberitaan Riko yang berselingkuh dihotel menjadi perbincangan hangat. Kedua keluarga pun ikut terkena dampaknya. Wartawan mulai berkerumun di rumah juga perusahaan Riko, bahkan juga rumah Siska " Siska, bagaimana ini bisa terjadi? Bagaimana bisa Riko terlibat hubungan dengan wanita lain, padahal kalian sebentar lagi akan menikah? Sungguh memalukan! " Riska dengan kesal berteriak kepada Siska dan melemparkan majalah ke hadapannya " Aku tidak tahu bu. Aku tidak percaya kalau Riko bisa mengkhianati cinta kami. Tidak, ini tidak benar, photo ini pasti palsu, ini pasti hanya photo editan. Aku harus menanyakan langsung pada Riko! " Siska yang sedang terisak meraih ponsel dan mencoba menghubungi Riko " Angkat Riko,, kenapa kamu tidak mengangkat teleponnya? kamu harus memberikan penjelasan padaku! " Siska bergumam dalam kekalutannya " Bu, aku akan pergi kerumah Riko! " Siska bangun dari duduknya dan bergegas ke rumah Riko tanpa menunggu jawaban dari ibunya " Hati - hati " Riska berteriak karena putrinya telah berjalan menjauh darinya Siska berusaha keluar dan melewati kerumunan wartawan yang berdiri di luar rumahnya " Itu Siska keluar, cepat dekati dia! " " Siska, tolong jawab pertanyaan kami sebentar. Apakah memang hubungan kalian tidak baik? " " Apakah kamu tahu kalau Riko berselingkuh? " " Apakah dia memang suka main perempuan? tolong berikan kami jawaban! " " Maaf tidak ada komentar " Siska berjalan menerobos kerumunan wartawan menuju mobilnya tanpa memberi pernyataan apapun. Sementara di rumah keluarga Riko juga sedang penuh perdebatan " Riko jelaskan situasi macam apa ini? Bagaimana kamu bisa bersikap buruk dan mempermalukan keluarga kita? Kamu ini pewaris keluarga ini, tapi kamu telah mencoreng nama baik keluarga kita. Diatambah lagi harga saham kita terus merosot karena gosip ini! " Ayah Riko yang kesal berteriak kepada Riko " Ayah, aku tidak tahu bagaimana ini bisa terjadi. Aku tidak tahu mengenai photo - photo itu " Riko tertunduk dan berusaha menjelaskan kepada ayahnya " Kamu harus segera menyelesaikan masalah ini. Jika tidak maka kita bisa mengalami kebangkrutan karena pemegang saham menarik saham mereka! " Ayah Riko bangun dan beranjak meninggalkan Riko sendiri " Bagaimana ini? Kenapa bisa photoku dan Nadia saat dihotela bisa tersebar luas? " Gumam Riko sambil memegang kepalanya " Nadia, bagaimana keadaan Nadia. Aku harus menghubunginya " Riko merogoh saku celananya dan mengambil ponselnya, dilihatnya banyak panggilan tak terjawab dari Siska. " Huuh Siska " Riko menghela napas panjang dan menghubungi Siska Panggilan tersambung setelah beberapa kali sambungan " Halo Siska" " Riko, akhirnya kamu menghubungiku. Kita harus bertemu. Kamu harus menjelaskan ini semua! Aku sedang menuju rumahmu sekarang " Siska mengemudi dengan kencang " Baiklah, aku akan menunggumu " Riko menjawab dengan suara lemah lalu menutup panggilan teleponnya.. " Riko, sebenarnya siapa wanita ini? kenapa kamu bisa berada dihotel bersamanya? Apa hubungan kalian berdua? Bagaimana bisa kamu berselingkuh dibelakangku? hiks.. hiks... hiks.. " Siska terus bertanya tanpa henti ketika dia tiba dirumah Riko " Dengarkan aku dulu Siska, ini semua bohong. Aku tidak kenal wanita itu. Aku telah dijebak olehnya. Percayalah padaku " Riko memegang kedua tangannya dan berusaha membujuk Siska " Jika kamu tidak mengenalnya, bagaimana mungkin kamu bisa berhubungan intim dengannya di sebuah kamar hotel? " Tangisan Siska semakin keras dan tak bisa dibendung lagi " Ini semua jebakan, pasti ada yang sengaja ingin memfitnahku! Kamu tenang saja masalah ini paati akan hilang dalam beberapa hari kedepan. Dan pernikahan kita, pasti akan tetap dilangsungkan. Berhentilah menangis" Riko berusaha menenangkan Siska dan memeluknya. Siska mulai tenang dan berhenti menangis. Diluar dugaan Riko, berita ini tidak kunjung mereda setelah beberapa hari bahkan semakin memanas dengan bantuan dari netizen. Perusahaan Riko mulai krisis dan hampir bangkrut " Bagaimana msnurutmu kak? Kurasa ini masih belum cukup. Kita harus menambahkan minyak kedalam api. Iya kan? " Nadia sedang bicara dengan Satya mengenai masalah Riko " Tentu saja tidak cukup. Kamu hubungi dia, berpura - puralah kamu merasa terpukul dan ingin mengakhiri hidupmu! " Satya tersenyum saat mengatakannya. Nadia mengangguk dan menghubungi Riko Tuuut tuuuttt " Halo Riko, kamu dimana? bagaimana bisa berita mengenai kita menyebar di internet dan majalah gosip seperti ini? " Nadia berkata dengan suara yang lemah dan panik " Kamu kemana saja Nadia, sudah beberapa hari ini aku mencarimu? " Terdengar suara Riko yang juga panik " Aku baru saja kembali setelah mengunjungi ibuku. Dan baru melihat berita ini. Tolong jelaskan ini padaku. Bagaimana bisa jadi seperti ini. Itu semua salahmu bagaimana bisa aku jadi penyebab semuanya dan jadi wanita penggoda yang merayumu.. Hiks.. hiks... Mau ditaruh dimana mukaku yang sekarang di cap sebagai perusak hubungan orang? " " Kamu tenang dulu, kita bicarakan semuanya, kita bertemu disuatu tempat " Riko memenangkan Nadia dengan lembut " Baiklah, aku akan menunggumu " Nadia menutup panggilan dan menolah ke arah Satya. Dia menghapus air matamya dan dengan senyum berkata " Beres, satu tikus telah masuk perangkap " Chapter 76 Bodoh. begitu mudahnya terhasut " Apa kamu sudah mendengar berita terpanas saat ini? " Yudha memeluk Gina dari belakang, berbisik dengan lembut disamping telinganya. Gina pun tersenyum mendengarnya dan menyandarkan kepalanya pada dada bidang Yudha " Iya. aku sudah mendengarnya. Apakah ini ada campur tanganmu didalamnya tuan? Kamu sungguh sangat mengesankan Tuan" Gina menoleh dan mendongak menatap Yudha. Yudha terbahak mendengar pujian yang seperti mengejek itu. Wajahnya begitu tampan ketika tertawa lepas " Hahaha.. Apa kamu senang sekarang? Ini balasan karena dia berani memegang tanganmu di restoran waktu itu " Yudha berkata dengan ekspresi kesal dimukanya " Ternyata suamiku ini sangat cemburuan ya. Tapi, kamu ini bukannya membalas Riko karena telah menyakitiku dimasa lalu, justru kamu malah membalaskan dendam karena rasa cemburu mu itu. Huh, kamu benar - benar egois tuan " ========= Riko bertemu dengan Nadia di sebuah danau dekat taman yang terbilang sepi. Mereka duduk di sebuah kursi panjang pinggir danau " Riko, bagaimana bisa ada photo - photo itu? Apa kamu membiarkan seseorang mengikuti kemanapun kamu pergi? hiks.. hiks... " Nadia berbicara disela tangisannya. Tanpa Riko sadari dibalik air matanya terpancar pandangan mengejek. " Dasar bodoh, begitu mudahnya kamu terhasut " batinnya " Bagaimana mungkin ada orang yang tahu kemanapun kamu pergi dan apa yang kamu lakukan? Tidak mungkin kan kalau wartawan dengan sengaja membuntutimu? " Lanjutnya lagi. Wajah Riko terlihat mulai berfikir, dan Nadia sedikit tersenyum melihatnya.. " Benar, tidak mungkin wartawan sengaja mengikutiku " Batin Riko mulai terpengaruh dengan ucapan Nadia " Ach Siska, apa dia yang meminta seseorang untuk mengikuti dan mengawasi gerak gerik ku? " Batin Riko mulai menemukan jawaban seperti ada lampu yang menyala di atas kepalanya. " Sekarang kita harus bagaimana? Hubungan kita telah diketahui bahkan tersebar luas. Tunangan mu oasti akam meminta kita untuk berpisah dan menyalahkanku. Aku tidak mau dicap senagai perusak hubungan orang lain. Hiks.. hiks.. " Kamu tenang saja, semua akan baik - baik saja. Aku akan cari tahu tentang ini. kamu tidak perlu khawatir " Riko memeluk Nadia yang berada disampingnya dan membiarkan dia bersandar di pundaknya. Nadia tersenyum puas dengan sikap Riko ========= " Hallo,, Siska, kita perlu bertemu! " Riko sedang menghubungi Siska melaui ponselnya " Baiklah, aku akan ke kantormu sekarang! sampai jumpa nanti " Siska menutup telpon dan meraih tas kemudian bergegas peegi untuk menemui Riko Tak berselang lama Siska pun tiba di kantor Riko. Karena pintu depan penuh dengan wartawan, jadi dia menggunakan pintu samping Tok tok tok " Hai sayang, ada apa kamu memintaku kemari? " Siska langsung masuk tanpa menunggu izin dari Riko terlebih dahulu. Dia langsung menuju ke arah Riko dan memeluknya. " Tentang masalah yang menimpaku. Apa kamu punya gambaran siapa yang mengambil gambar itu dan menyebar luaskannya? " Tanya Riko setelah dia melerai pelukan Siska " Bagaimana aku tahu, aoa benar photo ini asli? apa benar kamu berselingkuh dari ku? " Siska memicingkan mata dan menatap curiga " Kamu pernah meminta orang untuk mengikutiku kan? " Wajah Riko terlihat dingin " Aku memang pernah meminta orang lain mengawasi mu tapi itu dulu, sekarang aku tidak pernah melakukannya lagi. Aku sudah berjanji padamu dan aku berani bersumpah untuk itu " Siska mencoba meyakinkan Riko dan menggenggam kedua tangannya " Apa benar bukan kamu orangnya, sudah sering kali kamu meminta orang lain untuk memata mataiku. Apakah kali ini bukan kamu yang memintanya. Tidak mungkin wartawan dengan sengaja mengikutiku " Kata - kata Riko datar dan ia memalingkan wajah dari Siska saat bicara " Riko, percayalah padaku, bukan aku yang melakukan semua ini " Air mata mulai menggenangi mata Siska " Sekarang semua sudah terjadi, meskipin aku berusaha membersihkan nama baik ku, tapi orang lain sudah mencap aku tukang selingkuh. Harus bagaimana lagi sekarang? " Riko yang mulai frustasi duduk di kursi dan mengacak rambutnya sendiri " Siska apa kamu masih percaya padaku? Atau kita harus mengakhiri pertunangan kita dan membatalkan pernikahan? " Riko memegang kedua tangan Siska dan menatapnya penuh harap " Tidak, tidak, aku tidak mau. Kita sudah lama berjuang untuk bisa bersama. Aku tidak mau semua berakhir begitu saja. Aku percaya bahwa kamu tidak pernah melakukan semua itu" Siska berbicara dengan menggelengkan kepala dan berlinang air mata " Pernikahan ini tidak boleh batal " lanjut Siska " Tapi aku terancam bangkrut sekarang. Harga saham perusahaan ku mulai anjlok. Bagaimana bisa kita bersama, orang tua mu tidak akan setuju dengan pernikahan kita " Riko mulai tertunduk " Aku tidak peduli. Masih ada perusahaanku dan kita bisa mengembangkannya bersama " Siska tersenyum dengan sedikit linangan air mata yang tertahan " Terima kasih sayang " Ucap Riko sambil memeluk Siska dan berkata dalam batinnya " Jika bukan karena desakan ayah dan ibu untuk tetap menikahimu, aku tidak ingin bersamamu lagi. lebih baik aku bersama Nadia yang lebih mengerti tentang ku " Chapter 77 Aku sebagai suami akan memberikan keadilan yang seadil - adilnya!! " Riko bagaimana ini? Apa yang kamu lakukan, kenapa saham perusahaan kita tidak kunjung membaik? Dalam beberapa hari kedepan kita pasti dinyatakan bangkrut! " Ayah Riko merasa frustasi dan berkata dengan nada yang sedikit tinggi " Aku sudah melakukan segalanya ayah. Aku sudah berusaha semaksimal mungkin, tapi tetap saja tidak ada perubahan " Riko tertunduk dan nada suaranya lemah. Ia saling memainkan kedua tangannya, menghadapi kemarahan sang ayah. Kemduian dia mengangkat kepala dan meneruskan perkataannya " Ayah tenang saja, keluarga Siska akan membantu dalam suntikan dana perusahaan kita. Siska sudah mengatakannya padaku, asalkan pernikahan kami bisa tetap berjalan " " Baguslah kalau begitu, kita akan tetap mempersiapkan pernikahan kalian " " Ya ayah " ========= Ditempat lain kediaman Atmaja " Siska, bagaimana hubunganmu dengan Riko? Apakah gosip itu benar? " Arin berkata dengan tenang sambil menyeruput teh. " Tidak nek, itu semua tidak benar. Riko sudah menjelaskannya padaku. Dan aku sudah memutuskan untuk tetap melangsungkan pernikahan kami " Siska berkata dengan penuh keyakinan " Tapi mereka sudah hampir bangkrut. Untuk apa lagi kamu mempertahankan hubungan kalian? " Riska kesal dan sedikit membentak Siska " Bu, aku sangat mencintainya. Gosip itu tidak benar dan kami berjanji akan memperbaiki hubungan diantara kami berdua. Jadi kalian tidak perlu khawatir. Bukankah kalian juga yang sudah menentukan pertunangan kami. Jadi kenapa sekarang harus dibatalkan? " Siska mulai kesal kepada ibunya " Tolonglah bu, biarkan kami bersama. Pernikahan kami sebentar akan dilaksanakan. Aku tidak mau semua yang sudah direncanakan hancur berantakan " " Untuk masalah perusahaan mereka. kita kan bisa membantu memberikan suntikan dana keperusahaannya. Jadi mereka bisa menstabilkan nilai saham mereka lagi " Dia berkata dengab lembut untuk meyakinkan keluarganya " Terserah kamu saja. Kami sudah lelah mengurusi mereka " Arin berjalan pergi meninggalkan Riska dan Siska ========= " Tuan saya mendapat informasi kalau Riko dan Siska tetap akan melangsungkan pernikahan mereka. Bagaimana tuan apa yang harus kita lakukan? Apa kita akan tetap menghalangi pernikahan mereka? " Hendri bertanya pada Yudha yang sedang duduk dikursi kerjanya dengan sebuah dokumen ditangannya " Biarkan saja, jika mereka gagal menikah bagaimana kita akan memberi mereka hadiah pernikahan. Justru dengan pernikahan mereka, itu lebih mudah untuk kita menghancurkan keduanya secara bersamaan " Yudha berkata dengan dingin dan sedikit menaikkan sebelah bibirnya membentuk senyuman yang begitu sinis, tanpa mengalihkan pandangannya dari dokumen yang dia pegang. " Ish, senyuman itu bikin aku merinding saja. Sepertinya tuan merencanakan hadiah besar untuk kedua keluarga itu. Entah apa itu , yang jelas pasti akan menimbulkan guncangan yang besar untuk mereka. Iih " Batin Hendri berbicara dan menggoyangkan bahu layaknya orang ketakutan Kring kring kring ponsel Yudha berdering dan dilihatnya panggilan dari sang kakek Wijaya. " Hallo kek " " Yudha kapan kamu akan mengumumkan hubungan kerja sama kita dengan kakeknya Gina? kita akan sekalian mengumumkan tentang pernikahan kalian. Kakek ingin kita membuat sebuah gala dinner untuk itu " " Belum waktunya kek, nanti begitu tinggalnya ditetapkan, aku akan segera memberitahukan pada kakek " " Bagaimana dengan Dirga? apa dia sudah tahu dengan apa yang kalian rencanakan? " Tentu saja kek. Bagaimana bisa kakek Dirga membiarkan orang - orang yang sudah menyakiti cucunya begitu saja? Kakek Dirga dan Ibu sudah setuju dengan rencanaku. Mereka sudah cukup sabar dan membiarkannya selama ini, tapi tidak pernah ada perubahan. Mereka terus saja menyakiti istriku. Aku sebagai suami tentu saja akan memberikan keadilan yang seadil - adilnya untuk istriku. Tidak ada yang boleh menindas atau menyakiti istriku " " Baiklah kalau begitu. Kakek akan mengikuti rencanamu. Beritahu kakek jika tanggalnya sudah ditetapkan " " Baik kek " Ada senyuman licik disetiap perkataan Yudha kemudian dia menutup panggilan teleponnya dan kembali fokus pada dokumennya Hendri yang masih berdiri disana terpaku mendengar setiap perkataan tuannya " Ternyata jika gunung es mulai mencair bisa menimbulkan bahaya yang cukup besar. Sungguh tak dapat dipercaya, tuan yang selama ini tidak pernah berhubungan dengan wanita, bisa begitu protektif jika sudah jatuh cinta. Sungguh menyeramkan melihat amarah tuan " Chapter 78 Penetapan tanggal pesta Pernikahan Siska dan Riko sudah ditetapkan 2 minggu lagi. Mereka tengah sibuk dengan berbagai peesiapan. Namun Riko sama sekali tidak memikirkan itu dia lebih sering menghabiskan waktunya bersama Nadia " Riko sebentar lagi kamu menikahi Siska. Lantas bagaimana dengan ku? Ku rasa hubungan kita harus berakhir sampai disini saja " Nadia menundukkan kepala sambil tangannya memainkah dress yang dia kenakan dan berkata dengan suara yang terdengar sedih. Riko meraih tangan Nadia yang sedang duduk dihadapannya " Tidak Nadia, aku tidak bisa berpisah darimu. Pernikahan ini hanya karena hubungan bisnis. Aku tidak mencintainya lagi. Jika bukan karena aku penerus keluarga dan harus memikul tanggung jawab untuk keluargaku, aku sudah pasti akan meninggalkannya dan pergi bersama denganmu. " Tapi Riko aku tidak bisa membayangkan jika kamu akan selalu bersama dengannya. Karena kamu pasti akan lebih sering menghabiskan waktu dengannya daripada aku ". Nadia terisak dalam bicaranya " Kamu tenang saja. Tidak akan ada yang berubah diantara kita berdua. Ku mohon jangan tinggalkan aku. Aku tidak bisa bayangkan jika tidak ada kamu. Kamu sudah memberikan aku ketenangan dan kenyamanan. Tetaplah disisiku " Riko meraih Nadia kedalam pelukannya. Nadia menganggukkan kepala dalam pelukan Riko dan berkata " Aku tidak akan pernah meninggalkanmu " " Karena aku ingin melihat keluarga kalian hancur tepat didepan mata kepalaku " Batin Nadia dan disertai senyum menyeringai.. Beberapa saat setelah Riko kembali Satya sedang duduk dan menonton televisi. Nadia datang dan duduk disebelahnya " Kak sebenarnya apa yang Tuan Yudha rencanakan? Kenapa aku tidak boleh meninggalkan Riko. Aku yakin dia akan sangat hancur saat aku meninggalkan dia ketika sedang bangkrut " " Ikuti saja aturan mainnya " Satya tetap tenang dan fokus pada televisinya. Nadia hanya mengakat bahu menanggapi sang kaka ======= " Tuan pernikahan Siska dan Riko akan diselenggarakan 2 minggu dari sekarang " Hendri memberikan laporan kepada sang atasan " Bagus, kita akan persiapkan pesta untuk menyambut bergabungnya perusahaan Sanjaya dengan perusahaan kita dan memperkenalkan Gina sebagai istriku yang sah dan juga sebagai penerus dari Sanjaya Grup setelah resepsi pernikahan mereka. Itu akan jadi pukulan yang begitu menyakitkan " Yudha berbicara dengan tenang sambil memutar kursi kerjanya dan sorot mata yang terlihat tajam. Yudha mengambil ponsel dan menghubungi Marina kakaknya Mario " Hallo kak, bagaimana kabarmu? " Katanya datar setelah panggilan tersambung " Aku baik, sepertinya ada yang menginginkan sesuatu dari ku? " " Haha kakak begitu mengenalku, aku akan mengadakan sebuah gala dinner dan aku mau kakak merancangkan gaun khusus untuk istrikua. Apa kakak bersedia membantuku? " Yudha berbicara dengan santai " Tantu saja aku akan melakukannya. Sungguh suantu kehormatan bagiku karena seorang Yudha Arya Kusuma memintaku merancang gaun pesta untuk seorang wanita. Hahaha " " Baiklah acaranya akan dilaksanakan kurang lebih 2 minggu dari sekarang " " Apa kamu gila memintaku membuatkan gaun untuk istrimu hanya dalam waktu 2 minggu? " Marina mengeraskan suaranya karena terkejut, hingga Yudha menjauhkan ponsel dari telinganya. " Aku percayakan padamu kak " Yudha tersenyum kemudian menutup panggilannya. Sedangkan diseberang telepon Marina sedang marah - marah karena kesal " Apa dia gila, meminta buatkan gaun hanya dalam waktu 2 minggu. Bagaimana bisa merancang dan membuat gaun hanya dalam waktu singkat? Ish dasar gunung es itu. seenaknya saja dia " Mario mengernyitkan kening melihat kakaknya yang sedang kesal " Kenapa kamu marah - marah begitu kak. Apa yang membuat kamu begitu kesal " " Itu, temen kamu si gunung es meminta ku membuatkan gaun untuk istrinya hanya dalam waktu 2 minggu. Bagaimana aku tidak marah - marah padanya. Huh " " Untuk apa dia meminta gaun khusus? " Moreno kembali mengerutkan dahi dan memegang dagunya sendiri seraya berfikir " Katanya dia akan membuat sebuah gala dinner dalam waktu 2 minggu. Sepertinya ini acara yang sangat penting. Mungkin saja dia akan mengumumkan tentang pernikahannya " " Sepertinya begitu. Tapi dia sama sekali belum memberi tahuku ataupun Steve mengenai ini. Sudahlah, aku akan kembali ke kantor saja " Mario berdiri dan berjalan peegi meninggalkan butik Marina " Huh. Mereka bertiga ini sama saja, suka seenaknya sendiri " Gumam Marina disertai gelengan kepala perlahan dan hembusan nafas kasar. Chapter 79 Hari menjelang pernikahan " Tuan Kusuma, aku mendengar kalau kamu sudah menetapkan sebuah gala diner tanpa sepengetahuan ku? Bagaimana bisa kamu tidak memberitahukan itu padaku? " Gina berbicara dengan nada lembut dan manja dengan melingkarkan kedua tangannya dileher Yudha dan tangan Yudha memegangi pinggang Gina " Nyonyaku, sebenarnya aku ingin membuatkan sebuah kejutan untuk mu, tapi sepertinya itu tidak berhasil, karena kamu sudah mengetahuinya " suara Yudha terdengar lembut disertai senyuman yang begitu memukau " Sebenarnya apa yang kamu rencanakan di pesta itu. kenapa hanya berselang beberapa hari dari pernikahan Siska dan Riko? " Gina memicingkan mata dan bernada menyelidik "Tidak ada, aku hanya ingin membuat pengumuman atas pernikahan kita dan memberi tahu semua orang siapa kamu sebenarnya. Mereka akan sangat terkejut mengetahuinya " Ada sebuah senyuman licik yang tersungging di bibirnya disertai tatapan mata yang membuat orang merinding. " Aku yakin itu akan jadi berita yang besar bagi negara ini dan jadi kejutan yang begitu menggemparkan untuk mereka " " Tentu saja sayang. Cup Jangan lupa memberi tahu kakek dan ibu untuk bersiap datang kemari saat gala diner" Percakapan diakhiri dengan sebuah kecupan dikening Gina dan anggukan kepala gadis itu " Tapi tuan, bolehkan aku meminta sesuatu padamu sekarang? " " Apapun untukmu nyonya " " Bisakah kamu membawa ku keluar untuk makan? Aku merasa sedikit lapar tuan " " Tentu saja. Ayo jalan " Yudha tersenyum dan menggandeng Gina keluar dari rumah menuju ke sebuah restoran. Mereka terlihat begitu mesra, begitu serasi hingga semua tak berhenti memandang mereka dan membicarakan mereka berdua. " Aku sungguh iri melihat tuan Yudha dan Gina, mereka sungguh serasi. Begitu mengagumkan " " Benar, yang pria begitu tampan dan gagah dan yang wanita begitu anggun dan cantik. Sungguh pasangan yang serasi " " Mereka berdua selalu membuatku iri " " Mereka adalah pasangan yang luar biasa " Setiap ada kekaguman, pasti juga ada yang merasa iri kepada mereka dan berusaha untuk bisa memiliki " Ku dengar Gina itu pernah punya tunangan, tapi dia malah menikahi pria lain. Dasar wanita perayu. Dia sama sekali tidak cocok dengan tuan Yudha " Sandra berkata dengan sinis kepada temannya " Tapi San Gina itu juga salah satu putri dari keluarga terpandang di kota ini. Dia putri dari keluarga Atmaja " " Hah, keluarga itu bahkan tidak ada apa - apanya dibanding keluargaku " Teman - temannya hanya menggelengkan kepala mendengar kata-kata temannya ========= Keluarga Atmaja tengah disibukan dengan persiapan acara pernikahan begitu pun keluarga Riko " Kita harus mengundang semua bangsawan dari kota ini, aku mau pesta yang meriah untuk Siska " Riska begitu antusias saat berbicara kepada Arin. " Persiapan sudah hampir semua selesai. Aku tidak mau ada kekurangan dalam acara ini " Kqta Arin tenang " Tenang saja bu, aku sudah mengatir semuanya " Riska menjawab dengan senyum Sementara di keluarga Riko " Riko, kamu akan menikah tapi kenapa wajah mu murung seperti itu " Ibu Riko memperhatikan wajah putranya yang terlihat sedih " Bu, apakah aku harus menikah dengan Siska? Sejujurnya aku sudah merasa kecewa setelah pesta pertunangan kami waktu itu " Riko menundukkan kepala dan berkata dengan ragu-ragu " Kamu yang memilihnya dulu, padahal kami merencanakan pertunangan mu dengan Gina. Dan sekarang kamu ingin membatalkan pernikahan? Kamu tidak bisa membatalkannya, karena hanya keluarga Atmaja yang bisa membantu kenangan perusahaan kita " Ibu Riko berkata dengan lembut sambil mengelus pundak putranya " Tapi bu,,,, aku,,, " Sebelum Riko selesai berbicara ibunya sudah memotong perkataannya " Sudahlah Riko jangan dipikirkan lagi. Kamu pernah sangat mencintainya, ibu yakin kamu bisa memperbaiki hubungan diantara kalian berdua " " Baiklah bu, aku mengerti " Riko menyudahi pembicaraan dengan ibunya. dan pergi meninggalkannya untuk mencari ketenangan. Tentu saja itu Nadia.. " Halo Nadia. aku akan ke tempatmu sekarang, aku merasa bosan dirumah. Dan aku hanya akan tenang dan nyaman saat bersama denganmu " wajah Riko yang murung seketika berubah cerah setelah mendengar suara Nadia " Tentu saja, aku akan menunggumu " Setelah itu Nadia menutup panggilan teleponnya Chapter 80 Pesta pernikahan " Sayang apa kamu berencana hadir di pesta Siska dan Riko? Apa kami punya hadiah yang bagus untuk mereka berdua? " Gina bertanya dengan lembut kepada Yudha " Kita akan hadir saat resepsinya untuk menghormati keluargamu. Hadiahnya tidak akan aku berikan saat acara pernikahan mereka. Tapi akan kuberikan setelah mereka menikah" Yudha memberikan senyum disela perkataannya pada Gina. ======= Hari pernikahan Siska dan Riko pun akhirnya tiba, mereka mengundang banyak tamu undangan. Hingga meminta salah satu stasiun televisi untuk menyiarkan pesta secara langsung.. Sebuah aula hotel mewah disewa dan dihias sedemikian rupa. Banyak tamu yang berasal dari kalangan artis, politik bahkan pebisnis terkenal yang diundang ke pesta tersebut. Siska dirias secantik mungkin dengan gaun pengantin putih yang elegan dengan bagian belakang yang lebih panjang. Semua keluarga ikut hadir dan kakek Atmaja pun hadir meskipun harus menggunakan kursi roda. Riko telah berdiri dialntar menunggu Siska yang di gandeng oleh sang ayah yang akan menyerahkan tanggung jawab untuk menjaga dan merawatnya.. Mereka berdua saling berhadapan untuk mengucap janji pernikahan. Namun pandangan Riko tertuju pada seorang gadis yang berdiri di tempat tamu yang hadir menyaksikan janji setia mereka. Wajah Nadia terlihat murung seakan hendak menangis. Riko kehilangan fokus dan terus memandanginya tanpa berkedip sedikitpun. Batinnya mulai berkecamuk " Andaikan kamu yang berdiri disini tentu aku akan sangat bahagia sekali ". " Aku sangat ingin berlari ketempatmu berdiri dan membawamu pergi dari tempat ini " Riko terus menatap Nadia hingga suara Siska menyadarkannya dari lamunan. " Riko apa kamu lamunkan? Sudah saatnya mengucap janji pernikahan ". Siska sedikit mengeratkan giginya karena kesal. " Ach iya, maaf. Aku terlalu gugup " Riko menjawab dengan sedikit panik. Janji pernikahan pun diucapkan. Siska terlihat sangat bahagia, tapi tidak demikian dengan Riko. Dia terlihat sangat sedih dan terus mencari keberadaan Nadia, tapi tidak ditemukannya. Semua orang begitu menikmati pesta dan terus memuji kecantikan Siska. Sampai tibalah tamu yang merubah semuanya. Mengambil alih semua perhatian para tamu dari m kedua mempelai yang mengadakan pesta. Mereka adalah Gina dan Yudha. Kedatangan keduanya selalu mengagumkan bagi semua orang. Tapi tidak untuk keluarga Riko dan Siska. Mereka ketakutan. Wajah mereka seketika pucat dan panik. Mengingat hadiah yang terakhir kali diberikan Yudha saat pesta pertunangan. Yudha hanya tersenyum dingin dan menggandeng istrinya masuk memberikan ucalan selamat. " Kami datang kemari hanya untuk memberikan kalian ucapan selamat, sekaligus untuk melihat kondisi kakek " Gina berkata dengan dingin dan acuh tak acuh. Lalu dia berjalan menuju kakek Atmaja. " Kakek bagaimanakah keadaanmu? Kami kesini ingin melihat bagaimana kondisi kakek? " Gina membungkuk dan berbicara pada kakeknya yang berada dikursi roda " Kakek baik - baik saja. Semoga kalian berdua selalu bahagia " Suara kakek Atmaja terdengar begitu lemah " Terima kasih kek " Gina tersenyum kemudian menatap Yudha. Setelah menyapa keluarganya Gina dan Yudha mencoba hidangan yang telah disiapkan. Para tamu yang hadir berusaha untuk mendekati Yudha, agar mereka bisa menjalin kerja sama dengannya. Bahkan para gadis pun berusaha untuk mendekati Yudha dan mendapatkan perhatiannya. Namun Yudha yang begitu dingin terhadap orang lain hanya menanggapi dengan acuh tak acuh. Tidak mempedulikannya sama sekali. Riska yang melihat Yudha dan Gina merasa kesal. " Lihatlah bu betapa sombongnya dia karena bisa bersama dengan tuan Yudha. Aku ingin sekali merobek dan menjambak rambutnya dihadapan semua orang " " Jangan buat kekacauan disini. Banyak tamu undangan yang memperhatikan. Bersikaplah lebih sopan layaknya bangsawan. Kita akan mengurusnya nanti " Arin berkata dengan tenang, namun tatapannya penuh kebencian Gina pun memperhatikan ekspresi dari semua orang. " Sayang lihatlah ekspresi mereka. mereka menatapku layaknya binatang buas yang ingin menangkap ku sebagai mangsa dan menelan ku hidup - hidup " " Biarkan saja, tidak akan ada yang berani macam - macam denganmu sekarang! " Yudha bicara dengan tenang sambil menyeruput minumannya. " Benarkah itu, apakah kamu bisa menjaminnya? " Gina memicingkan mata kepada suaminya seakan tak percaya. " Tentu saja, selama aku bersamamu " Yudha mengulas senyum indah dan pandangan tajam penuh godaan saat mengatakannya. Gina pun tersenyum dengan kata-kata sang suami. Riko pun menatap kearah Gina dan Yudha berdiri. Dilihatnya senyum Gina yang begitu tulus dan penuh kasih sayang pada Yudha membuatnya mengingat masa lalu dimana Gina selalu tersenyum padanya, apapun yang telah Riko lakukan. Meskipun Riko melakukan kesalahan, dia akan tetap memaafkannya dan tersenyum padanya Chapter 81 Malam pengantin Siska menyadari jika Riko terus memperhatikan Gina. Dia pun menatap benci kepada Gina. " Dasar wanita sialan, dia masih berusaha menarik perhatian Riko, ingin sekali aku melenyapkan dia selamanya " Gumam Siska " Riko, Riko " Siska memegang tangan Riko dan menggoyangkannya perlahan dan menyandarkannya akan keberadaannya " Iya, ada apa? " Riko tersentak dan menoleh kearah Siska " Sampai kapan kamu akan terus memperhatikan dia? Aku istrimu sekarang, apa kamu tidak sadar kalau aku ada di sampinhmu? " Siska mulai kesal dan marah pada Riko " Aku hanya memperhatikan para tamu yang datang saja " Riko berdalih membela diri " Huh dasar " Siska yang kesal membuang muka ke arah lain. Gina dan Yudha kembali sebelum acara pesta selesai. Yudha menyetir mobil dan sebelah tangannyaterus menggenggam tangan Gina " Sayang, aku kira kamu akan memberikan kejutan dai pesta mereka. Kenapa tidak melakukannya? Aku sungguh kecewa. Huh " Gina selalu bersikap manja dan sekarang dia bersikap seperti anak kecil yang sedang marah. " Tenang saja sayang, bahkan sepertinya mereka tidak akan melewati malam ini berdua " Yudha tersenym dan sesekali menoleh ke arah Gina. " Benarkah? " Mata Gina berbinar mendengarnya " Aku dengar Nadia tadi datang ke pernikahan mereka, aku yakin Riko akan pergi mencari Nadia " " Sepertinya aku mengenal Nadia, tapi aku lupa pernah bertemu dengan. Seingatku teman kecilku juga bernama Nadia, tapi setelah keluarganya bangkrut kami tidak pernah lagi bertemu. Apakah itu Nadia yang sama? " Gina terlihat memikirkannya " Sudahlah tidak perlu dipikirkan " Yudha mengakhiri pembicaraan mereka Setelah selesai dari acara pesta Siska langsung pulang kerumah Riko. Namun Riko bergegas pergi tak lama setelah mereka tiba dirumah. " Aku akan keluar sebentar, Ada sesuatu yang harus ku kerjakan. Kamu pergilah tidur duluan, aku tahu kamu sangat lelah setelah pesta tadi " Riko beeganti pakaian dan hendak pergi " Kamu mau pergi kemana? Ini malam pengantin kita, bagaimana bisa kamu meninggalkan ku sendirian? " Siska kesal dan nada suaranya semakin meninggi " Aku hanya keluar sebentat, nanti aku kembali lagi " Riko berbicara sambil berlalu meninggalkan Siska " Riko,, Riko,,," Siska berteriak mencoba menghentikannya, meskipun Riko sudah berjalan semakin jauh " Halo Nadia, aku ketempatmu sekarang! " Riko menghubungi Nadia dan tanpa menunggu jawaban dari Nadia dia langsung menutup panggilannya. Tak lama Riko pun tiba dirumah Nadia. Tok tok tok Pintu pun terbuka dan terlihat sosok Nadia dari balik pintu " Untuk apa kamu datang kemari, bukankah harusnya kamu menikmati malam pengantinmu bersama dengan istri barumu? " Tanpa mempersilakan Riko masuk Nadia bicara dengan nada marah " Nadia dengarkan aku, aku memikirkan mu. Karena itu aku datang tepat setelah oesta selesai. Jangan marah lagi ya " Riko berkata lembut membujuk Nadia " Pulanglah, istrimu sedang menunggu mu dirumah " Nada berkata dengan dingin dan wajah datar " Jangan usir aku, ku mohon. Biarkan aku disini bersamamu! " Riko meraih tangan Nadia dan menggenggam nya erat. " Tapi kamu sekarang punya istri, aku tidak ingin melanjutkan hubungan denganmu. Pergilah! " Nadia menghempaskan tangan Riko " Aku tidak akan pergi dari sini. Aku akan tetap berada disini. Aku butuh kamu dan aku tidak peduli dengan Siska. Tolonglah, jangan marah lagi. Aku dan kamu tidak akan peenah berubah sedikitpun " " Benarkah? " " Iya, aku janji hubungan kita tidak akan pernah berakhir " Riko menarik Nadia kepelukannya dan Nadia tersenyum licik dibalik pelukan Riko Riko tidak pulang dan dia menghabiskan malam bersama Nadia. Sedangkan Siska berakhir sendirian di malam pertama mereka setelah menikah. Dia marah dan membuat kamar pengantin itu berantakan. " Dasar Riko brngsek, dia meninggalkan ku dimalam pertama kami. Kurang ajar, pria tidak tahu diri. Awas saja kamu kalau nanti kamu kembali. Aaccchhh dasar bangan " Siska terus mencaci dan memakinya dalam kemarahannya. Chapter 82 Menjelang gala diner " Riko, sampai kapan kamu akan bersikap dingin padaku? Sekarang aku sudah menjadi istrimu, tapi kamu sama sekali tidak memperhatikan aku " Siska yang kesal berteriak kepada Riko " Sudahlah, bukankah kamu menginginkan pernikahan? Sekarang kita sudah menikah, kamu mau apa lagi? " Riko bersikap acuh tak acuh terhadap Siska setelah mereka menikah. " Kamu sungguh keterlaluan Riko! " Siska berteriak dan meninggalkan Riko menuju kamar mereka Tak lama ayah Riko datang dan menghampiri putranya yang sedang duduk sendiri di ruang keluarga " Riko, bagaimana dengan masalh keluarga kita? kenapa harga saham kita tidak kunjung membaik, padahal dana dari keluarga Siska telah diberikan ke perusahaan kita? " Ayah Riko mulai putus asa dengan harga saham yang terus mengalami penurunan " Entahlah yah, aku sudah mencoba semua cara untuk menstabilkan saham perusahaan. Sekarang kita tidak bisa melakukan apa-apa lagi dan dalam beberapa hari lagi kita akan dinyatakan bangkrut " Riko berkata dengan menundukkan kepala dan berwajah sedih " Sepertinya memang sudah tidak ada jalan lagi. Perusahaan kita sepertinya tidak akan bisa diselamatkan kali ini " Riko dan ayahnya mulai pasrah dengan keadaan. Riko duduk termenung di sofa kamarnya. Siska datang dan duduk disebelah Riko. " Kenapa kamu begitu murung? Saham perusahaan mu masih belum stabil? " Siska bertanya dengan lembut " Kami sudah tidak bisa berbuat apa-apa. Dalam beberapa hari, perusahaan ku akan dinyatakan bangkrut " Riko menundukkan kepala dan berkata dengan suara lemah " Sudahlah, kamu kan bisa membantuku di perusahaan. Aku sudah memutuskan akan memegang kendali perusahaan Atmaja dan berhenti dari dunia hiburan " Riko menoleh dan menatap Siska dengan heran " Kamu benar - benar akan berhenti jadi model? " " Iya, aku sudah memutuskan untuk berhenti dan selalu berada disisi mu. Aku ingin memperbaiki hubungan diantara kita berdua. Aku ingin kita bisa seperti dulu lagi. Aku ingin selalu menghabiskan waktuku bersamamu " Siska berkata lembut dengan bersandar dibahu Riko " Seandainya dulu kamu mengambil keputusan itu. Aku akan sangat bahagia, tapi sekarang semuanya terasa percuma. Karena perasaan ku padamu sudah hilang, saat kamu terus menerus membuat ku kecewa " Pikir Riko. Wajahnya menampakkan kesedihan dan kekecewaan yang mendalam. Di kediaman Kusuma mereka sedang berkumpul mempersiapkan gala dinner yang akan dilaksanakan beberapa hari lagi. " Gina, kapan kakek dan ibumu akan datang kemari? " Nenek Julia bertanya sambil menuangkan teh untuk kakek Wijaya " Besok kakek dan ibu datng kemari nek, Yudha sudah mengatur penerbangan untuk mereka dengan jet pribadinya " Gina berkata dengan lembut sambil menoleh ke arah Yudha yang duduk disebelahnya dengan melingkarkan tangannya disekitar pinggang Gina. " Apa kalian juga mengundang wartawan saat acara nanti? " " Tentu saja kek, aku ingin seluruh dunia tahu kalau Gina adalah istriku dan dia juga merupakan penerus dari Sanjaya grup. " Yudha menjawab dengan tenang dan sorot mata yang tajam, dalam posisi duduk bersandar pada sofa " Lantas, bagaimana dengan keluarga Riko dan Atmaja? Apa kalian juga mengundang mereka? Ku dengar perusahaan Riko itu sedang mengalami krisis keuangan? " Nenek Julia bertanya dengan mengernyitkan alis " Kami ingin memberikan kejutan untuk mereka. Aku ingin tahu bagaimana reaksinya kalau tahu siapa ibu yang sebenarnya dan bagaimana kalau aku jadi penerus Sanjaya grup " Gina tersenyum dengan tatapan matanya yang memancarkan kebanggaan. " Ditambah lagi, perusahaan mereka sekarang sedang mengalami penurunan, aku yakin mereka akan mendekatiku untuk meminta bantuan. Karena setahuku Arin dan Riska bisa melakukan apa saja, asalkan semua keinginannya bisa terwujud dan Riko pasti akan sangat menyesal karena mengkhianatiku. " Lanjut Gina lagi " Aku sudah tidak muda lagi, kalian jangan hanya bersenang - senang, pikirkan juga penerus untuk keluarga kalian " Kakek Wijaya bicara dengan santai sambil menyeruput teh. Gina tersipu dengan perkataan kakek Wijaya " Tenang saja kek, kami juga sedang mengusahakan keturunan untuk penerus kami kelak " Yudha tersenyum dan menoleh ke arah Gina. Lalu berdiri menarik tangan Gina dan beranjak pergi dari hadapan kakek dan neneknya "Kalian mau pergi kemana? " Nenek Julia bertanya dan Gina pun menatap Yudha dengan penuh tanya " Membuat penerus keluarga! " Sontak wajah Gina berubah merah karena malu, dan Yudha yang merasa puas telah membuat istrinya malu. Dia tersenyum licik kemudian menggendongnya menuju kamar mereka " Aaaccchhh Apa yang kamu lakukan! Turunkan aku cepat! " Gina berteriak dan memukul pelah dada Yudha. " Nyonya, sudah waktunya istirahat. Aku tidak ingin kamu merasa lelah karena berjalan menuju kamar kita diatas " Jawab Yudha dengan tenang dan santai " Tapi tuan, kamu bisa membuatku lelah karena begadang semalaman " Gina bicara dengan raut wajah yang marah sedangkan Yudha hanya tersenyum mendengarnya. Kakek dan nenek Yudha yang masih duduk di sofa hanya menggelengkan kepala dan tersenyum melihat kelakuan cucunya dan berkata " Dasar, anak itu tidak menganggap keberadaan kita sama sekali. Huh " Chapter 83 Dunia milik berdua! Keesokan harinya kakek Dirga dan ibu Gadis sedang dibandara menuju ke negara A.. " Gina, apa kamu bisa jemput kakek dan ibumu dibandara nanti siang? Kami akan tiba siang hari di negara A " " Tentu saja kek, nanti kami akan menjemput kakek dan ibu dibandara " Gina menjawab dengan tenang " Baiklah kakek tutup teleponnya " " Iya kek, hati - hati diperjalanan " Gina menutup panggilannya dan mendekat ke arah Yudha yang sedang duduk di kursi kerjanya " Kakek dan ibu akan tiba siang hari. Mereka meminta kita menjemputnya dibandara" Gina berdiri di sebelahnya, kemudian Yudha menariknya untuk duduk di pangkuannya dan melingkarkan tangannya disekitar pinggang Gina " Kita akan menjemput mereka, tapi sebelum itu kita akan pergi ke butik milik kak Marina untuk mengambil gaun yang akan kamu kenakan nanti di gala diner nanti " " Oke! " Mereka berdua beranjak menuju butik Marina. Sesampainya disana Steve dan Mario juga sedang menunggu kedatangn mereka. " Akhirnya pasangan suami istri ini datang juga. Akhir - akhir ini begitu sulit untuk bertemu denganmu. Apakah ini kakak ipar kami? " Mario langsung menyambut kedatangan Yudha dan Gina " Jangan pura - pura tidak tahu, kalian pernah melihatnya di acara penyambutan ku waktu itu " Yudha dengan sikap tenang, dingin dan acuh tak acuhnya menanggapi ucapan Mario Gina tersenyum melihat kelakuan mereka " Kamu ini sama sekali tidak bisa diajak bercanda ya, kamu kan tidak memperkenalkan kami secara langsung waktu itu. "Kata Marion sewot " Baiklah ku kenalkan kalian dengan istriku. Sayang ini Mario, dia anggota militer sekaligus politikus muda. Dan ini Steve dia adalah pebisnis muda di kota B " Perkenalan Yudha disambut anggukan dan senyum Gina " Tentu aku mengenal mereka, tapi aku tidak menyangka kalau kalian berteman " Kata Gina dengan senyum lembut kepada Yudha Yudha mengerutkan alis dan berkata " Kamu mengenali mereka tapi tidak mengenaliku? Aku seorang pebisnis muda no 1. Yang dijuluki sebagai pria lajang yang paling di idamkan wanita. Kamu tidak pernah membaca majalah ya? Ish sungguh menyebalkan! " Yudha memasang muka kesal dan Gina tersenyum melihat tingkah suaminya " Tuan, kamu bukan lagi pria lajang sekarang. Apa kamu lupa? " Gina mencubit pelan kedua pipi Yudha " Ehem, berhentilah mengumbar kemesraan kalian didepan kami! Kalian lupa, sekarang ada dimana? Apa kalian sungguh ingin menyiksa kami yang masih single ini. Hah? " Steve berdehem dan mengganggu mereka berdua " Makanya, kalian berdua harus ceoat mencari pasangan dan menikah. Jadi kalian bisa bebas mengumbar kemesraan dimana saja " Ucap Yudha dengan senyum mengejek kedua temannya itu " Gunung es ini ternyata sangat menyebalkan ketika sudah bertemu pasangannya. Huh" Mario terus saja menggerutu dihadapan semuanya " Sudahlah! hentikan perdebatan kalian. Kalian masih sama saja seperti anak kecil " Marina datang dan melerai perdebatan mereka " Gina, mari ikut aku! Kita coba dulu gaun yang sudah ku persiapkan untukmu" Gina mengangguk dan mengikuti Marina " Tumben sekali kamu mau mengadakan acara gala diner. Biasanya keluargamu tidak pernah mau terekspos kamera paparazi? Aku yakin ada sesuatu? " Tanya Steve dengan nada tenangnya kepada Yudha " Tentu aku memiliki sesuatu yang ingin ku umumkan kepada semuanya " Yudha tersenyum menyiratkan sesuatu dibaliknya " Huh, senyum ini. Aku yakin kamu punya rencana jahat dibalik ini semua! " Mario berkata sinis kepada Yudha " Apa ada yang mengusikmu? aku juga penasaran dengan bangkrutnya keluarga Sukmaja hanya dalam waktu 1 malam. Apakah itu ulahmu? " Steve menatap curiga kepada Yudha " Itu hanya sebuah peringatan kecil saja untuk mereka yang berusaha menggodaku " Yudha sedikit tersenyum licik " Sudah kuduga itu adalah ulahmu. Dadar gunung es tidak punya perasaan! " Cetus Mario "Lantas, kamu menargetkan siapa sehingga mengadakan gala diner seperti ini? " Tanya Steve dengan menyilangkan tangan di dada '' Perusahaan keluarga Riko dan juga keluarga Atmaja " Jawab Yudha tenang dan dingin " Kudengar perusahaan Riko grup sedang mengalami krisis dan saham keluarga Atmaja juga sedikit mengalami penurunan " kata Steve dengan mengernyitkan alis " Dan bukannya istrimu Gina juga berasal dari keluarga Atmaja? Apa tidak masalah kamu menghancurkan keluarga itu? " Sahut Mario " Justru aku yang menginginkan kehancuran keluarga itu " Kata Gina yang baru keluar dati ruang ganti " Bagaimana dengan penampilanku? Apakah ini terlihat cocok untukku? " Kata Gina lagi " Kamu terlihat sempurna sayang " Yudha berdiri dan menuju kearah Gina kemudian mencium keningnya lembut " Hah, dia mulai lagi " Kata Mario dengan nada kesal " Dunia hanya milik kalian berdua " Kata Steve dengan nada dingin Chapter 84 Menjelang gala diner 2 Gina dan Yudha sedang menuju bandara untuk menjemput kakek dan ibu Gina yang akan datang siang ini. Tidak berselang lama setelah mereka tiba di bandara, yang ditunggu pun akhirnya datang. " Siang bu, kek. Bagaimana dengan perjalanan kalian? Apakah ada kendala? " Yudha menyapa mereka kemudian menatap kearah mereka bergantian " Hmn, Berkat jet pribadimu kami tidak memiliki kendala sama sekali selama perjalanan hahaha" Ucap sang kakek disertai tawa terbahak " Kakek benar, perjalanan kami sangat lancar. Terimakasih nak Yudha" Sahut Gadis " Tidak usah sesungkan itu padaku. Kita sekarang kan sudah jadi keluarga " Yudha memberika senyum mautnya. " Sudahlah, kita teruskan perbincangannya dirumah saja. Kakek, ibu. kita langsung pergi ke rumah utama Kusuma ya. Kakek Wijaya dan nenek Julia sudah menunggu kalian berdua" Gina memotong obrolan mereka. kemudian mereka pergi dari sana menuju rumah utama Kusuma. Setelah melewati perjalanan kira - kira 1 jam dari bandara. Mereka tiba di rumah utama keluarga Kusuma. Kakek dan nenek Yudha sudah menunggu dan menyambutnya di depan rumah. " Dirga, Gadis akhirnya kita bisa bertemu lagi. Sudah lama sekali kita tidak bertemu ya? Bagaimana kabar kalian? " Nenek Julia menyapa mereka, kemudian memeluk Gadis " Tentu saja kabar kami sangat baik? Bagaimana dengan kalian? " Kakek Dirga menyalami nenek Julia kemudian memeluk kakek Wijaya " Tentu aku baik. Mari kita berbincang didalam! " Setelah melerai pelukan dengan kakek Dirga, Kakek Wijaya mengajak semuanya masuk dan duduk berbincang diruang keluarga. " Ku kira kalian tidak akan setuju untuk hadir dalam acara gala diner itu? " Kakek Wijaya memulai percakapan mereka " Sebenarnya aku malas menghadiri pesta seperti itu, apa lagi jika harus berurusan dengan wartawan. Aku benar - benar tidak suka. Tapi kalau untuk mengumumkan Gina sebagai pewaris ku, tentu aku akan menyetujuinya. Ini sudah lama aku tunggu, Gina selalu saja bilang tidak siap. Sekarang ada Yudha disampingnya, dia tidak punya alasan lagi. Aku yakin kalau dia bisa membantu Gina mengelola perusahaan kami. Ditambah lagi dengan kerja sama kita untuk membangun cabang bisnis disini, akan lebih cepat membuat Gina belajar . Kurasa akan saling menguntungkan bagi perusahaan kita juga " Terang kakek Dirga sambil mengesap teh yang disajikan nenek Julia " Kamu benar, kolaborasi perusahaan kita tentu akan menguntungkan untuk kedua belah pihak. Ditambah lagi mereka berdua sekarang suami istri. Tentu perusahaan kita akan merajai dunia bisnis " Kakek Wijaya bericara dengan senyum bangga penuh keyakinan " Kalian hanya memikirkan perusahaan dan pekerjaan saja. Bagaimana mereka bisa punya keturunan jika selalu disibukkan dengan urusan bisnis, hah? " Nenek julia bicara sengan nada ketus " Tentu mereka bisa membagi waktu antara bisnis dan rumah tangga mereka. Benar kan? " Kakek Wijaya bicara dengan begitu tenang dan itu mendapatkan balasan tatapan yang tajam dari sang istri, nenek Julia " Sudah - sudah, kami akan pergi ke hotel untuk melihat persiapan gala diner besok. Kalian beristirahatlah! " Yudha kemudian menggandeng Gina pergi meninggalkan obrolan teman lama itu Dikediaman Atmaja semua sedang berkumpul membahas tentang gala diner. Orang tua Riko juga ada disana " Apa kalian akan hadir dalam gala diner yang diadakan keluarga Kusuma? Ku dengar acara itu dibuat semeriah mungkin. Dan banyak tamu dari kalangan atas yang diundang. bahkan pebisnis dari luar negeri pun akan hadir dalam acara itu? " Tanya ayah Riko kepada keluarga Atmaja " Tentu saja kami akan hadir. Ini kesempatan bagus untuk membangun relasi baru dalam bisnis. Jika kita bisa membangun relasi baru, kemungkinan perusahaan kita bisa lepas dari krisis dan terhindar dari kebangkrutan " Arin bicara dengan tenang " Tapi itu keluarga Kusuma, dan Yudha pasti tidak membiarkan kita mendapatkan relasi baru dengan mudah " Riska berkata dengan ragu - ragu dan menundukkan kepala " Kita akan membawa ayahmu. Gina tidak mungkin membiarkan Yudha melakukan apa - apa terhadap kakeknya " Mata Arin memancarkan kelicikan " Semoga saja itu benar nek. karena jika dilihat - lihat kak Gina yang sekarang itu telah berbeda jauh dari kak Gina yang dulu kita kenal " Kata Siska dengan suara pelan " Kalian tenang saja selama ada kakek tua Atmaja, Gina tidak akan bisa melakukan apa - apa pada kita " Arin berkata dengan penuh keyakinan Chapter 85 Acara gala diner Hari yang ditunggu akhirnya tiba. Para tamu mulai berdatangan memenuhi ballroom hotel dengan kapasitas hingga seribu orang itu. Ada beberapa wartawan juga yang diizinkan meliput jalannya acara. Terlihat ada banyak tamu dari berbagai kalangan. Mulai dari artis, politikus, hingga ke pebisnis handal dan para bangsawan kelas atas. Keluarga Atmaja dan keluarga Riko pun turut hadir. mereka begitu tercengang melihat begitu megahnya acara dan banyaknya tamu terhormat. " Riko, lihatlah begitu banyak tamu. Mereka berasal dari kalangan orang - orang terkenal! " Bisik Siska pada Riko " Tentu saja, keluarga Kusuma bukanlah keluarga sembarangan. Bisnis mereka tidak hanya di dalam negeri saja. Tapi juga meluas diluar negeri " Terang Riko Semua orang mulai riuh didalam acara. Keluarga Kusuma dan Sanjaya akhirnya datang dan bergabung dengan para tamu diruangan. Arin mengernyitkan kening melihat Gadis yang berdiri disamping sang ayah. " Kenapa wanita itu ada disini? " Gumamnya, tapi masih bisa didengar oleh Riska. " Tentu saja wanita jang itu ada disini bu. Gina kan putrinya. Tidak mungkin dia mau kehilangan kesempatan untuk bisa mendekati pria dari kalangan terhormat. Lihat saja, dia terus menempel disisi kakek tua itu! " Riska berkata dengan begiti sinis dan sombong " Kamu benar, Gadis tidak akan melewatkan kesempatan untuk bisa menggoda pria dan memperbaiki kehidupannya itu. Apalagi Yudha adalah menantunya, pasti dia mendapatkan banyak keuntungan dari status putrinya sekarang " Arin berkata dengan dingin dan datar. Riko melihat Nadia berada disana bersama Satya. Mereka berdua saling menatap dari kejauhan. Ingin sekali Riko menghampiri gadis pujaan hatinya itu, tapi Siska berada disampingnya. Tidak. mungkin dia berjalan menghampiri Nadia " Kak, aku tidak sabar melihat reaksi mereka mengetahui siapa Gina sebenarnya " Nadia berkata dengan sedikit senyum dibibirnya " Aku juga tidak sabar melihat itu. Bagaimana hubunganmu dengan Riko? " Tanya Satya dengan datar kepada adiknya " Aku masih berhubungan baik dan hubungan dia dan Siska memburuk. Apa yang akan terjadi padanya, jika dia tahu laki - laki yang sangat dicintainya berselingkuh dan orang yang dia rampas hak warisnya ternyata adalah seorang penerus dari keluarga kaya? " Nadia tersenyum sinis membayangkan itu semua " Sudahlah kita lihat saja bagaimana reaksiny " Kata Satya dengan tenang kepada adiknya Acarapun dimulai dengan sambutan dari kakek Wijaya " Terima kasih hadirin semua yang sudah menyempatkan hadir dalam gala diner yang kami selenggarakan. Aku menyelenggarakan gala diner ini untuk mengumumkan dua hal. Yang pertama adalah memperkenalkan istri dari cucuku, Yudha Arya Kusuma. Yang merupakan cucu satu - satunya dan akan menjadi penerusku nantinya. Gina Yulia Atmaja. Kalian berdua kemarilah " Kakek Wijaya melambaikan tangan kepada Yudha dan Gina agar mereka mendekat kepadanya. Gina dan Yudha pun bergandengan menuju kakek Wijaya. Sorot mata benci terpancar di mata Arin, Siska dan Riska. " Beruntung sekali gadis sundal itu, dia bisa menikah dengan seorang penerus Kusuma yang sangat kaya raya itu. huh" Riska yang merasa kesal terus menggerutu di depan anak dan ibu mertuanya " Iya, kita merebut semua darinya, tapi tidak disangka, dia malah mendapatkan Yudha yang merupakan salah satu cucu dari keluarga terkaya di negara ini sebagai suaminya " Siska menimpali ucapan ibunya " Kalian tenang saja. Gina bukan siapa - siapa. Mana bisa dia bergabung dengan keluarga Kusuma dengan begitu mudah " Kata Arin dengan tenang namun ada sedikit senyum sinis diwajahnya " Yang kedua, aku ingin mengumumkan kolaborasi bisnis yang akan kami selenggarakan dengan keluarga Sanjaya. Bisnis mereka sudah terkenal diluar negeri dan sekarang akan melebarkan sayap untuk memasuki pasar bisnis dinegara kita. Kemarilah Tuan Dirga Sanjaya! " Kakek Dirga dan Gadis pun mendekati kakek Sanjaya " Sanjaya grup sudah sangat dikenal dimana - mana, tapi ini pertama kalinya pemilik dari perusahaan tersebut mau menampakkan wajahnya dihadapan semua orang. Dan kali ini beliau juga akan memperkenalkan penerusnya sekaligus cucu satu - satunya keluarg Sanjaya. Dia adalah Gina Yulia Atmaja putri dari Gadis sanjaya yang akan menjadi penerus dari Sanjaya grup " Terang kakek Wijaya Sontak kedua keluarga yang turut hadir disana terkejut mereka membelalakkan mata hingga hampir keluar " Apa Gadis Sanjaya? Gadis sundal itu putri dari Dirga Sanjaya? " Riska terkejut. Tidak jauh berbeda dari Riska Arinpun terkejut dan hampir jatuh, beruntung Budi langsung menahan ibunya " Tidak mungkin, kenapa kita tidak tahu kalau Gadis adalah putri dari Tuan Sanjaya? " Kata Arin tidak percaya " Apa? kan Gina adalah penerus keluarga Sanjaya? Bagaimana bisa seperti ini? " Siska pun ikut terkejut " Gina adalah keturunan Sanjaya? Dia pewaris dari keluarga Sanjaya? ini tidak mungkin" Gumam Riko. Mereka terus menatap tidak percaya diantara riuh tepukan tangan para tamu undangan yang hadir. Chapter 86 Acara gala diner 2 Gina dan Yudha menghampiri keluarga itu. Mereka menyapa kakek Atmaja dengan lembut dan sopan " Hain kek, bagaimana keadaan kakek? " Gina berkata lembut disertai dengan senyum yang manis " Kakek baik - baik saja. Kakek harap kamu mendapatkan kebahagiaan mu kali ini " Sang kakek berkata dengan suara yang lemah " Tentu saja kek, aku sudah menemukan kebahagiaan ku. Masa lalu yang menyedihkan untuk ku sudah tidak ada. Yang ada, aku bahagia bisa bersama suamiku " Gina menoleh dan tersenyum kepada Yudha " Aku harap kakek juga bisa mendapatkan ketenangan sekarang. Karena kakek sudah tidak perlu mengkhawatirkan aku lagi " Lanjut Gina " Tentu aku sudah merasa tenang sekarang. Karena kamu tidak akan menderita lagi " Kata sang kakek dengan senyum yang disertai tetesan air mata. Pandangan Gina beralih kepada sang nenek, Arin. " Bagaimana kabarmu nek? Apa kamu suka dengan kejutan yang aku berikan? Tapi ini belum seberapa. Aku akan memberikan hadiah yang lebih dari apa yang kalian berikan padaku dulu " Gina mendekatkan mulitnya ditelinga sang nenek. " Aku akan membuat kalian kehilangan segalanya. Semua yang kalian miliki dan kalian banggakan dari dulu. Akan ku musnahkan. Sama seperti keluarga Riko yang kehilangan perusahaannya. Kalianpun akan kehilangan perusahaan yang kalian banggakan " Bisik Gina disertai senyuman licik dan tatapan mata yang tajam. " Kamu,, kamu,, dadar kamu... """ Belum selesai Arin bicara darah tingginya naik dan dia pun pingsan " Bu,, ibu,,,bangun bu " Budi yang berada disamping langsung sigap menagkap sang ibu agar tidak jatuh kelantai " Ayah bawalah nenek kerumah sakit sebelum terlambat " Kata Gina kepada ayahnya. Ayahnya mun mengangguk dan langsung membawa Arin menuju rumah sakit. " Kenapa bibi, kamu tidak ikut pergi dengan ayah? " Tanya Gina sinis " Dasar kamu gadis tidak tahu diri " Riska yang kesal memaki Gina " Jaga bicaramu. Berani - beraninya kamu memaki istriku! " Yudha berkata dengan datar dan tatapan mata yang dingin. Seketika Riska terdiam mendengar peringatan Yudha. " Mari yah kita susul ibu kerumah sakit! " " Gina kakek pergi dulu. Kakek selalu mendoakan kebahagiaan mu " Gina tersenyum dan menganggukkan kepala kepada sang kakek Gina hanya menatap dingin tanpa ekspresi kepada Riko dan Siska. Sementara Siska yang masih terkejut dengan pengumuman barusan. Masih berdiri mematung memegangi lengan Riko tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. Riko menoleh, mencari keberadaan Nadia dan dia pun melihatnya berjalan menuju toilet. " Aku pergi ke toilet sebentar " Dilepaskannya tangan Siska dan beranjak menuju toilet untuk mengajar Nadia. " Nadia, tunggu, Apa yang kamu lakukan disini? " Riko mendekati Nadia mencoba meraih tangannya. Namun Nadia menepisnya. " Kamu kenapa? Apa yang terjadi? " Tanya Riko bingung " Aku merupakan tamu undangan disini kakakku bekerja dengan Yudha. Dan aku,, apa kamu lupa teman kecil Gina yang selalu dia ceritakan padamu? Kalau tidak ingat itu, mungkin kamu ingat keluarga Praja yang kalian hancurkan dulu? " Jawab Nadia dengan dingin dan sinis. Tatapan matanya memancarkan kebencian Wajah Riko seketika pucat mendengar perkataan Nadia. Dia tidak ingin percaya. " Sepertinya kamu sudah ingat keluarga itu. Keluarga yang kalian rebut perusahaannya. Kalian menyebabkan orang tua ku meninggal. Bahkan kalian menyuruh mereka merebut kesucianku. Kakak ku kalian jebloskan ke penjara. Betapa bejadnya kalian " " Untung kami bertemu keluarga Kusuma. Mereka mau menolong kami dan bangkit dari keterpurukan. Dan aku bisa melihat keluargamu hancur. Perusahaan yang kalian banggakan kini juga hancur. Bahkan harga dirimu juga hancur karena harus memohon belas kasih dari keluarga istrimua. Hahaha Itu bahkan tidak sebanding dengan apa yang kalian lakukan padaku juga keluarga ku " " Aku ingin melihat keluarga kalian hancur, sehancur - hancurnya " Nadia meluapkan semua amarah yang terpendam dihatinya. " Tidak Nadia, itu bukan aku, aku tidak melakukan itu pada keluargamu. Aku sama sekali tidak terlibat dengan semua itu " Riko berderai air mata, dia meraih Nadia dan memeluknya. Nadia meronta sekuat tenaga untuk melepaskan pelukan Riko yang begitu erat. Disaat yang bersamaan muncul Siska yang mencari keberadaan Riko. Dia melihat Riko memeluk Nadia dengan erat " Riko! Apa yang kamu lakukan? Berani - beraninya kamu memeluk wanita lain dibelakang ku! " Sontak Riko melepaskan pelukannya kepada Nadia. Mereka berdua berbalik menoleh kearah sumber suara " Tidak Siska, ini tidak seperti apa yang kamu lihat " Riko berusaha menjelaskan kepada Siska. Siska menatap Nadia, dia mengingat photo yang sempat beredar dulu sebelum mereka berdua menikah " Kamu,, bukannya kamu wanita yang dulu ada dalam photo bersama Riko? Riko, jadi semua itu benar. Kalian berdua selama ini,,,? " Siska menunjuk wajah Nadia kemudian kembali bertanya pada Riko. Sebelum menyelesaikan perkataannya dia berlari meninggalkan Riko dan Nadia Chapter 87 Insiden yang memilukan Nadia tersenyum sinis dan dengan bangga berkata pada Riko " Bagaimana? Apakah ini menarik? Bukankah kamu memang tidak mencintainya? Sekarang kamu tidak perlu repot lagi mencari alasan untuk bercerai, karena aku yakin dia akan meminta cerai padamu. Kalaupun kali ini dia tidak minta cerai, akan tetap ku pastikan kalian berpisah, dan kamu juga keluarga mu akan berakhir di jalanan. Hahaha " Nadia terbahak dan meninggalkan Riko yang termenung . Riko terus merenung dan meratapi apa yang telah terjadi padanya. " Kenapa seperti ini? Bagaimana bisa semua berakhir seperti ini? Dulu Gina sangat mencintaiku. Bahkan dia sampai memohon agar aku tidak meninggalkannya. Sekarang aku bisa merasakan bagaimana sakit yang dia alami. Disaat aku sangat mencintai Nadia, dia berakhir meninggalkan ku seperti ini. Hah betapa bodohnya aku, kehilangan semua yang aku sayangi karena orang tua ku, hanya karena aku seorang penerus dan harus berbakti. Pada akhirnya aku tidak mendapatkan apa - apa. Tidak ada lagi yang tersisa " Riko tersenyum pahit mengejek dirinya sendiri, dengan apa yang telah di alaminya sendiri. Gina melihat Siska berlari sambil menangis ketika keluar dari toilet, dia pun mengikutinya dibelakang. Dilihatnya Siska duduk di bangku taman dengan terisak. " Bagaimana rasanya kehilangan semuanya? kedudukan, cinta, rasa hormat dan bahkan harta yang kalian banggakan pun akan segera lenyap " Gina bicara dengan tenang disertai senyum mengejek. Dan tangan yang dilipat di dada mengisyaratkan kebanggaan dan rasa puas dalam dirinya " Kamu,,, puas kamu sekarang? " Siska yang kesal berteriak kepada Gina dengan sorot mata yang memancarkan kebencian " Aku masih belum puas, karena aku belum melihat kalian terjatuh dan hancur berkeping - keping. Aku ingin melihat kalian jatuh dan tidak akan kubiarkan kalian bangkit lagi " Gina dengan tenangnya menanggapi perkataan Siska " Dasar jalang, ini semua karena kamu. Pembawa sial. Kamu yang menyebabkan semua ini. Kamu yang menyebabkan aku selalu menderita. Dari dulu selalu kamu. Kamu selalu berhasil mendapatkan apa yang aku inginkan, sedangkan aku selalu berakhir jadi pihak yang kalah. Aku tidak akan membiarkan kamu bahagia Gina. Tidak akan" Siska yang diliputi amarahnya terus berteriak pada Gina, melampiaskan semua kekesalannya. Gina tetap bersikap tenang dan mendengarkan semua perkataan Siska. Hingga Gina lengah dan Siska berhasil mendorong Gina hingga jatuh " Aaaaaccchhh.... " Gina berteriak. Kepalanya terbentur batu dan seketika berlumuran darah hingga tak sadarkan diri " Rasakan Gina. Kamu pantas mendapatkan itu. Kamu memang oantas untuk mati. Hahaha" Tanpa merasa iba atau takut, Siska tertawa terbahak - bahak melihat keadaan Gina. Beruntung ada seorang pelayan yang melihat kejadian itu. " Hei,,," Pelayan itu berteriak kepada Siska hingga dia terkejut dan lari. " Toloooonggg. tolooonnng " Pelayan itu terus berteriak meminta tolong. Sayangnya suasana didalam begitu ramai dan riuh para tamu yang saling berbincang. Yudha dan yang lainnya sedang menjamu tamu yang hadir. Hingga seorang pelayan berlari dengan nafas terengah - engah ke arahnya. " Tuan tolong... tolong nyonya muda tuan " seketika Yudha terkejut dan membelalakkan mata.. " Katakan dengan benar, ada apa dengan istriku? " Yudha mulai panik mendengarnya " Itu tuan,,, nyonya muda. Nyonya muda terjatuh dan terluka. Dia tidak sadarkan diri " Duaaarrr... bagaikan ada petir yang menyambarnya. " Dimana dia? " Tanya Yudha mulai panik " Ditaman tuan " Jawab pelayan itu. Yudha langsung berlari sekencang - kencangnya menuju tempat istrinya berada. Diikuti semua tamu dan juga keluarga Gina Dilihatnya istrinya yang paling dia sayangi tergeletak di rumput taman dekat jalan setapak dengan linangan darah disekitar kepalanya. Seketika tubuhnya lemas. Detak jantungnya berdetak tidak menetu. Dia berlutut lalu mengangkat Gina kepelukannya " Bangun sayang, bangun. Kamu tidak boleh meninggalkan ku sendiri. Kamu hatus bangun dan mulai kebahagiaan kita bersama. Bangun Gina, bangun!" Yudha berteriak, menggoyangkan tubuh Gina agar tersadar. Gina berusaha membuka mata dengan sedikit kesadarannya yang masih tersisa " Yudha,,,, aku,,, mencintaimu " Ginapun kehilangan semua kesadarannya setelah mengatakan itu. Yudha menggendong Gina dan berlari menuju mobil untuk membawanya kerumah sakit. " Siapkan mobil, cepat!! " Yudha yang panik berteriak kepada Hendri. Hendri dengan sigap berlari menuju mobil dan membukakan pintu untuk atasannya " Cepatlah Hendri! " Yudha berteriak dalam kepanikannya " Iya tuan, ini kita sudah cepat " Hendri pun ikut panik melihat keadaan nyonya mudanya. " Bertahanlah kumohon, jangan tinggalkan aku. Aku tidak bisa kehilangan kamu. Aku tidak ingin merasakan phitnya kehilangan lagi. Ku mohon bertahanlah " Yudha terus mendekap Gina dalam pelukannya. dengan air mata yang terus mengalir di matanya, membasahi wajah tampan yang biasanya dingin tanpa ekspresi. Kali ini wajah tampan itu penuh kepiluan, kegetiran, kekhawatiran dan kepanikan. Chapter 88 Kemarahan Yudha " Dokter,,, dokter,, panggil dokter kemari, cepat! " Yudha berlari kedalam rumah sakit mendorong Gina di kasur dorong. Dia terus memegang tangan Gina hingga masuk ruang ICU " Maaf tuan, anda tidak boleh masuk. Anda tunggu dulu diluar! " Pinta suster yang sudah siap diruang ICU. Dokter pun segera memberikan penanganan terhadap Gina. Yudha menunggu diluar dan terus mondar mandir di depan ruang ICU " Tuan,, Apakah anda wali dari pasien? " Panggilan itu membuat Yudha menghentikan langkahnya dan diam memperhatikan apa yang akan dokter katakan " Saya suaminya. Bagaimana kondisinya sekarang? " " Kami harus melakukan operasi secepatnya, benturan yang keras mengakibatkan adanya gumpalan darah dan harus segera di atasi. Kami juga harus melakukan transfusi darah karena pasien kehilangan banyak darah " Jelas sang dokter " Lakukan yang terbaik dokter, apapun itu. Lakukanlah tindakan apapun yang dibutuhkan. Asalkan dia selamat " Yudha yang biasanya bersikap tenang, kini sangat panik " Baiklah, kami akan berusaha sebaik mungkin. Tolong tanda tangan disini " Dokter menyerahkan dokumen untuk ditanda tangani Yudha. Setelah itu dia kembali masuk keruang operasi " Hendri, urus administrasi Gina dan semua yang dibutuhkan. Hubungi juga keluarga ku! " Kata Yudha tanpa menoleh ke arah Handri " Baik tuan. Akan saya laksanakan! " Hendri pun beranjak pergi meninggalkan Yudha. Setelah selesai mengurus administrasi Hendri kembali ke hotel tempat acra berlangsung dan menuju kamar pribadi yang dipersiapkan untuk keluarga Gina dan Yudha. Ting nong... Terlihat Gadis yang membukakan pintu. Kakek Dirga, Kakek Wijaya dan Nenek Julia terlihat duduk di sofa. " Hendri bagaimana kondisi Gina? Apakah dia baik - baik saja? " Tanpa mempersilakan Hendri masuk terlebih dahulu, Gadis dengan wajahnya yang panik langsung menyakan kondisi Gina " Nyonya Gina masih ditangani dokter. Tuan meminta saya untuk menjemput anda juga yang lainnya " Hendri berbicara dengan sopan. " Baiklah kami akan segera bersiap! " Gadis bergegas masuk mengambil tas juga memberi tahu yang lainnya. " ayo Hendri cepat! " Gadis berjalan tergesa - gesa. " Nak ingatlah kamu bersama 3 orang lansia " Kata kakek Dirga mengingatkan " Maaf ayah, tapi aku khawatir sekali pada Gina. Aku ingin cepat melihat kondisinya sekarang " Jawab Gadis dengan sedikit tertunduk dan dari raut wajah yang sedihnya menetes air mata yang tadi sempat terhenti sejenak. " Baiklah - baiklah, tidak usah menangis. Gina itu gadis yang kuat, dia pasti baik - baik saja " Kakek Dirga berbicara dengan tenang untuk menenangkan putrinya juga "He eh " Gadis tidak bisa berkata - kata. Dia hanya menganggukan kepalanya dan bergegas pergi kerumah sakit Setibanya dirumah sakit, Gadis berjalan dengan tergesa - gesa, menghampiri Yudha yang terlihat duduk dengan menundukkan kepala dikursi tunggu depan ruang operasi, dengan kemeja yang masih berlumuran darah istrinya " Yudha, bagaimana kondisi Gina? " Tanya Gadis dengan begitu panik " Belum tahu bu, dokter masih menanganinya di dalam" Suara Yudha terdengar begitu lemah " Sebenarnya bagaimana bisa seperti ini, hiks hiks? " Gadis duduk dikursi tunggu dan menunduk dengan memegangi kepalanya. " Maaf bu, ini semua salahku. Harusnya aku tidak membiarkan dia sendirian. Jika saja aku tidak membiarkan dia menemui Siska sendiri, maka semua ini tidak akan terjadi " Yudha yang menyesal mulai menitikan air matanya kembali " Sudahlah, ini bukan salahmu dan istrimu pasti akan baik - baik saja! " Kata kakek Wijaya sambil mengusap punggung Yudha berusaha menenangkan cucunya Setelah beberapa jam, akhirnya operasi selesai dilaksanakan. Terlihat sang dokter yang keluar ruangan, masih dengan pakaian operasinya " Dokter, bagaimana keadaan istri saya? " Yudha dengan cepat menghampiri sang dokter dan bertanya keadaan Gina " Gumpalan darahnya sudah berhasil diatasi. Hanya saja pasien masih dalam keadaan koma. Kita tidak tahu pasti kapan pasien akan sadarkan diri. Kita hanya bisa berdoa sekarang! " Jelas sang dokter yang mengatakannya dengan berat hati. Mendengar itu badan Yudha seketika lemas tak bertenaga. " Hendri! " Panggil Yudha dengan lemah " Ya tuan! " " Cari Siska sampai dapat. Jebloskan dia ke penjara, buat perusahaan Atmaja bangkrut dan tutup semua akses yang dapat mereka ambil untuk meminta bantuan. Aku mau keluarga itu hancur. Tidak ada yang dapat menolong mereka kali ini! " Kata - katanya begitu dingin, sorot matanya begitu tajam. Memancarkan kemarahan dan kebencian yang begitu kuat. Membuat orang yang melihatnya merinding ketakutan Chapter 89 Kemarahan Yudha 2 Masih dirumah sakit yang sama dengan tempat Gina dirawat. Arin terbaring belum sadarkan diri. Riska, Budo dan kakek Atmaja sedang berjaga menunggunya sadar. Drrtt drrt Ponsel Riska berdering, dilihatnya dilayar panggilan dari anaknya, Siska. " Haloo,, kamu di,,, " Belum selesai Riska beetanya, Siska sudah memotongnya terlebih dahulu. "Bu, aku mendorong Gina. Aku mendorongnya sampai jatuh dan berlumuran darah. Aku tidak tahu bagaimana kondisinya. Ku harap dia benar - benar lenyap dari dunia ini " " Apa katamu? " Riska terkejut mendengarnya dan sedikit berteriak dengan mengerutkan alisnya " Benar bu, aku mendorongnya hingga terjatuh " Siska menjawab tanpa ada ketakutan apapun " Apa yang kamu lakukan? kenapa kamu mendorongnya? kita bisa dalam masalah besar sekarang! " Riska yang kesal mulai meninggikan suaranya memarahi Siska "Aku tidak peduli. Yang jelas sekarang aku puas, karena dia telah mendapatkan apa yang harus dia dapatkan. Dia sudah membuat kita menderita bu. Aku bahkan berharap dia lenyap dari dunia ini. Hahaha" Siska terbahak membicarakan itu dengan ibunya " Ada dimana kamu sekarang? " Riska mulai panik mendengar pernyataan anaknya " Aku di villa keluarga kita di kota B " " Baiklah kamu tetaplah diam disana, jangan kemana - mana! Setelah keadaan nenekmu membaik ibu akan kesana " Riska kemudian menutup panggilan teleponnya dan menoleh kearah Budi yang dari tadi telah menatapnya " Bagaimana ini, haruskah aku mengatakan yang sebenarnya? Tapi jika aku tidak mengatakannya pun, dia tetap akan tahu kebenarannya " Batin Riska yang diliputi keraguan dan ketakutan " Apa yang terjadi? " Tanya Budi dengan wajah datar " Itu.. Itu.. Anu.. Siska tidak sengaja mendorong Gina hingga terjatuh " Riska berkata terbata - bata karena gugup dan takut " Apa katamu? " Budi yang terkejut membelalakan mata dan menghampiri Riska. Memegang kedua tangan di sekitar bahu dan mencengkeramnya kuat " Ach lepaskan, kamu menyakitiku! " Riska meringis kesakitan " Katakan sekali lagi! " Budi yang marah membentak Riska " Siska tidak sengaja mendorong Gina. Itu sebuah kecelakaan " Jawab Riska dengan ketakutan Budi menghempaskannya hingga teejatuh dan dia berlari ke ruang ICU rumah sakit. Dia yakin Gina dibawa kesini, karena rumah sakit ini paling dekat dengan hotel. Dilihatnya keluarga Gina sedang menunggu diluar ruang ICU. Begitu dia mendekat Gadis langsung menghampirinya. Plak sebuah tamparan yang jeras melayang dipipinya, begitu kerasnya hingga memberikan bekas. " Belum puas kamu dan keluarga mu menyiksa kami? Sekarang anak kesayangan mu itu berani melukai putriku. Kamu bilang akan selalu menyayangi dan melindunginya, hingga aku rela memberikan hak asuhnya padamu. Nyatanya apa? Dari kecil hingga sekarang dia dewasa, bahkan setelah dia menikah, kalian tetap saja menyiksanya. Keluarga macam apa kalian ini? " Gadis berteriak meluapkan amarah dan kekesalannya pada Budi. Budi hanya bisa tertunduk, menerima apa yang memang jadi kesalahannya. Karena dia tentara yang selalu ditugaskan di luar kota, dia tidak pernah bisa melindungi putrinya. " Maafkan aku " Hanya itu yang dia katakan dalam penyesalannya " Aku tidak ingin lagi melihatmu atau keluargamu ada disekitar kami lagi! Jangan pernah ganggu kami lagi! " Gadis mamalingkan wajahnya dari Budi " Izinkan aku melihatnya! " Suaranya lemah, air matanya menetes di wajahnya " Dia masih koma dan belum bisa dijenguk. Kami belum tahu kapan dia akan sadar " Yudha dengan tenang menjawab pertanyaan ayah mertuanya dengan suara yang lemah dan sedih tanpa menoleh ke arahnya sedikitpun. Dia memberi jeda saat berbicara kemudian melanjutkan kata - katanya " Kali ini aku tidak akan membiarkan putrimu lolos, semua ini terjadi karena dia. Dia harus masuk penjara secepatnya dan mendapatkan hukuman yang berat karena telah mencelakai istriku. Tidak ada satu orang pun yang bisa membantunya untuk dapat lolos sama sekali " sambungnya dengan penuh ketegasan tanpa ingin bantahan. Aura seketika berubah mencekam. Semua orang hanya diam melihat kemarahan Yudha, bahkan kakek dan neneknya tidak berani bicara. Yudha memang dikenal sebagai bisnis man muda yang dingin dan tidak bisa disentuh. Kali ini mereka melihat dengan jelas bagaimana tindakan Yudha saat orang yang dicintainya terluka. Dia tidak akan membiarkan mereka lolos begitu saja Chapter 90 Kecelakaan mobil Keesokan harinya Riska pergi ke Villa untuk menemui Siska. " Siska, sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa kamu sampai mendorong Gina hingga ia terjatuh? " Riska yang panik langsung bertanya pada Siska " Dia yang memancing kemarahan ku lebih dulu bu. Aku tidak tahan, sehingga aku mendorongnya hingga jatuh. Aku merasa puas bu. Itu memang pantas dia dapatkan. Dia yang menyebabkan semua penderitaan kita. Entah bagaimana keadaannya sekarang bu. Apa ibu sudah dapat kabar? " Siska terus saja nerbicara tanpa mendengarkan ibunya " Sekarang kita pasti dalam masalah besar. Nenek mu belum bangun, tapi kamu sudah menimbulkan masalah baru. Apa yang harus kita lakukan sekarang? " Riska merasa panik, dia terus mondar mandir dihadapan Siska " Sudahlah bu, tenang saja. Tidak ada yang melihatku mendorongnya. Pasti tidak akan terjadi apa - apa " Siska bicara dengan santai dan berusaha menenangkan ibunya " Bagaimana bisa tenang? Kita pasti akan berurusan dengan Yudha dan juga keluarga Gadis! Kita sedang dalam masalah besar kali ini! " Riska masih merasa panik dan ketakutan. Wajahnya semakin pucat membayangkan apa yang bisa terjadi " Ibu benar, bagaimana aku bisa melukai Gina secara langsung? Seharusnya aku tidak terprovokasi olehnya! " Siska pun yang baru menyadarinya ikut panik dan takut membayangkan apa yang bisa saja terjadi " Kita harus menemui nenek mu terlebih dulu, semoga dia sudah sadarkan diri, dia pasti punya cara untuk mengatasi semuanya " Saran Riska kepada putrinya dengan wajah panik " Baiklah bu,, " Mereka berdua bergegas menuju rumah sakit Drrrt Drrrt Sebelum mereka tiba dirumah sakit bagian keuangan perusahaan menghubungi Riska " Halo,,, " " Hallo bu wakil direktur. Perusahaan kita sedang dalam masalah besar. Harga saham kita turun drastis pagi ini! " Riska mengangkat teleponnya dan sebelum menanyakan sesuatu orang yang berada di ujung telepon sudah berkata yang mengejutkan " Apa maksudnya? " Riska mengernyitkan alis, tidak mengerti maksud dari karyawannya " Saham kita turun drastis, dan bisa saja perusahaan dinyatakan bangkrut " "Apa? Bagaimana bisa saham kita turun drastis begitu. Kamu sudah cari informasi mengenai penyebabnya? " Riska membelalakkan mata, terkejut atas berita tersebut " Sudah bu, tidak ada informasi yang menguntungkan bagi kita! " " Aku akan ke kantor sekarang juga, kita harus menemukan jalan keluar! " Riska menutup panggilan dan merubah arah mobilnya menuju kantor " Ada apa bu? " Siska yang tidak mengerti bertanya dengan wajah penasarannya " Kita dalam masalah besar. Harga saham perusahaan tiba - tiba merosot. Kita bisa secepatnya dinyatakan bangkrut. Ini semua salahmu. Bagaimana bisa kamu seceroboh itu dan bertindak gegabah? Ini oasti ada kaitannya dengan insiden yang terjadi pada Gina" Riska yang panik mengemudi dengan cepat. " Bagaimana bisa terjadi seperti ini? Bukannya saham perusahaan kita baik - baik saja? Hati - hati bu, pelankan mobilnya. Kita bisa terlibat kecelakaan kalau ibu mengemudikan mobil seperti ini! " Siska memperingatkan ibunya agar lebih berhati - hati Riska tidak mempedulikan dan terus mengendarai mobil dengan kecepatan penuh. Hingga tanpa dia sadari. Dari arah yang berlawanan, ada sebuah mobil yang menuju ke arahnya. " Ibu awas! Aaaccccchhh " Duaaarrrr Kedua mobil saling bertabrakan. Karena kecepatan yang tinggi mobil Riska dan Siska terlempar, berguling berkali - kali. Dug dug dug Risak dan Siska terombang ambing di dalam mobil yang terguling . Siska masih tersadar, sedangkan sang ibu sudah tidak sadarkan diri karena mengalami benturan pada kepala. " Tolong.. tolong.. bu bangunlah " Suara Siska parau, lemah tak berdaya, dia berusaha membangunkan ibunya yang tak sadarkan diri dengan wajah dan tubuhnya yang berlumuran darah sebelum kesadarannya mulai habis. Di rasakannya sekujur tubuhnya sakit. Terasa darah segar mengalir di wajahnya. Semua yang dilihatnya buram, pandangannya samar hingga akhirnya semuanya menjadi gelap, dan Siska pun tak sadarkan diri. Semua orang berlari menuju ke arah mobil yang ditumpangi Siska berusaha menyelamatkan mereka. Sirine ambulance terdengar melintas dijalanan yang padat, membawa mereka menuju rumah sakit terdekat. Sesampainya di rumah sakit mereka segera dilarikan ke ruang ICU untuk mendapatkan pertolongan. Mereka dibawa kerumah sakit yang sama dimana tempat Gina dan neneknya dirawat. Chapter 91 Sadarnya Gina Yudha selalu berada di samping Gina yang masih belum sadarkan diri pasca operasi. " Kakek, nenek, ibu. Kalian pulanglah dulu. Aku akan disini menemani Gina. Kalian pasti lelah sejak kemarin disini. Kalian harus beristirahat! " Yudha telah kembali ke pembawaannya yang tenang dan dengan sopan juga lembut dia meminta yang lainnya pulang dan beristirahat " Biar ibu yang disini menunggu Gina, kamu pulanglah dulu, istirahatlah meskipun hanya sebentar. Kamu terlihat sangat lelah sekali " Gadis dengan lembut dan senyum berbicara kepada menantunya " Tidak bu. Aku tidak akan meninggalkannya. Aku akan menemaninya hingga dia siuman " Yudha berkata sambil menatap Gina yang terbaring tak berdaya " Baiklah kami akan pergi. dan besok kami akan kembali lagi kesini. Aku akan meminta Hendri membawakan baju ganti dan makanan untukmu " Kata kakek Wijaya sebelum beranjak pergi " Kami pergi dulu, kamu jagalah kesehatanmu. Jangan terlalu lelah. Gina tidak akan senang jika melihatmu sakit saat dia siuman nanti! " Kakek Dirga berkata sambil menepuk pundak Yudha " Iya kek! Kakek tenang saja " Yudha tersenyum dan menganggukkan kepala. Dalam perjalanan meninggalkan rumah sakit, kakek Dirga, kakek Wijaya, nenek Julia dan Gadis melihat ada 2 pasien yang sepertinya korban kecelakaan dibawa dengan tergesa - gesa menuju ruang ICU. Saat mereka melewatinya, dilihatnya sang pasien adalah orang yang mereka kenal, Siska dan Riska. Ibu dan anak itu penuh dengan lumuran darah dan tak sadarkan diri. " Suster sebentar, mereka kenapa? " Tanya Dirga kepada seorang suster " Mereka korban kecelakaan mobil pak! " Sang suster menjawab dengan sopan sebelum pergi mengejar suster lain yang mendorong bangkar pasien keruang ICU " Huh, mereka memang pantas mendapatkannya " Gadis mencibir dengan senyum sinis diwajahnya " Sudahlah, ayo kita pergi dari sini! " Sang ayah mengajak semuanya pergi dari rumah sakit Sementara diruangan Gina. Yudha terus duduk disebelahnya dengan menggenggam sebelah tangan Gina, dan di tempelkan di wajahnya " Sayang kumohon sadarlah. Kamu bilang kita akan hidup bahagia selamanya? Kenapa kamu membiarkan aku bersedih melihatmu? Aku tidak bisa bayangkan jika aku hidup tanpamu. Dulu aku memang terbiasa hidup tanpa ada seseorang disampingku. Tapi setelah aku mengenal dan menikah denganmu, aku tidak dapat lagi melanjutkan hidup tanpamu. Ku mohon sadarlah, berjuanglah untuk masa depan kita yang bahagia. Aku akan selalu berusaha membahagiakan mu. Memberikan memori indah dalam hidupmu " Yudha terus berkata dengan terus mencium tangan Gina dan air mata tak berhenti mengalir dari mata indahnya. Yang tak hanya membasahi wajah tampannya tapi juga membasahi tangan Gina. Yudha yang kelelahan selama beberapa hari dirumah sakit karena menunggu Gina pun akhirnya tertidur disamping Gina, dengan tangan yang tak lepas menggenggam tangan Gina. Gina mulai menggerakkan jari tangannya dan perlahan membuka matanya, Yudha yang sadar akan gerakan tangan Gina juga langsung bangun dari tidurnya. " Yudha,,, " Panggil Gina dengan suara lemah dibalik tabung oksigen menutupi mulutnya " Sayang,, kamu sudah siuman? Syukurlah! " Yudha langsung bangkit dari duduknya dan mendekatkan wajahnya dengan wajah Gina, mengusap pipi Gina dengan lembut dan mencium keningnya dengan mata yang berkaca - kaca karena linangan air mata yang memancarkan kerinduan dan kasih sayang. " Tahukah kamu, aku bagitu mengkhawatirkan mu dan juga takut akan kehilangan mu? Aku sungguh tidak bisa membayangkan jika sesuatu terjadi padamu " Yudha kembali meneteskan air mata dan mencium kening Gina. Gina yang masih lemah memejamkan mata saat Yudha mencium krningnya dengan lembut dan penuh kasih sayang " Aku akan memanggil dokter terlebih Dahulu " Gina hanya mengangguk perlahan disertai kedipan mata Dokter dan suster pun masuk memeriksa kondisi Gina saat ini disertai Yudha yang mengikuti dari belakang " " Kondisinya sudah membaik, tapi masih harus banyak istirahat. Tidak boleh banyak bergerak, itu akan membuat kepala anda sakit. Jika anda sakit kepala yang terus - terusan dan begitu sakit, maka segera beri tahu dokter " Terang sang dokter menjelaskan keadaan " Baiklah dok, kami mengerti " Yudha berkata disamping Gina Sementara diruang Arin. Budi dan sang ayah menunggu disana, hingga akhirnya Arin sadar dari pingsannya. " Bu, kamu sudah siuman? Bagaimana perasaan ibu? " Tanya Budi lembut. Drrrt Drrrt Tak lama ponsel Budi berdering "Halo" " Dengan tuan Budi Atmaja? Saya ingin menyampaikan kalau istri dan anak anda mengalami kecelakaan mobil" Chapter 92 Kehancuran keluarga Atmaja Budi terkejut mendengar kabar bahwa istri dan anaknya kecelakaan. Seketika kakinya terasa lemas, tubuhnya bergetar. Diapun akhirnya duduk di sofa dalam ruangan. Dia tak habis pikir dengan semua yang terjadi. Ibunya baru saja siuman, Gina juga belum tahu bagaimana keadaannya, ditambah lagi sekarang istri juga anak perempuan satunya lagi juga mengalami kecelakaan. Kakek Atmaja memperhatikan wajah putranya yang tiba - tiba berubah pucat. " Apa yang terjadi? Apakah ada sesuatu yang serius? " Kakek Atmaja mendekati Budi dengan kursi rodanya " Itu,, Siska dan ibunya mengalami kecelakaan. Mereka sedang di ICU, sekarang. Aku akan kesana dulu yah " Budi berdiri dan beranjak meninggalkan ruang tempat ibunya dirawat " Suster, bagaimana keadaan istri dan anak saya? mereka pasien korban kecelakaan mobil " Budi langsung bertanya ketika melihat suster keluar dari ruang ICU " Dokter masih memeriksa kondisi pasien tuan " Jawab suster " Terima kasih suster " Suster pun berlalu meninggalkan Budi yang masih khawatir dengan keadaan istri dan anaknya.. Sementara itu kabar mengenai saham perusahaan Atmaja yang sedang mengalami kemunduran sudah tersebar hingga ketelinga Riko dan keluarganya. " Riko, ayah dengar perusahaan Siska sedang mengalami krisis. Lantas bagaimana dengan nasib kita? Jika mereka bangkrut, maka mereka tidak bisa lagi membantu kita " Riko dan ayahnya sedang berbincang diruang keluarga " Aku belum tahu yah, Siska belum memberi kabar padaku " Riko dengan tenang menjawab sambil menonton televisi " Kurasa dia masih marah padaku atas kejadian kemarin" Katanya dalam hati Diapun menonton saluran berita " Telah terjadi sebuah kecelakaan mobil yang melibatkan 1 mobil pribadi dengan 1 mobil box di jalan xx. Terdapat 2 korban luka parah yang dan 2 korban luka ringan. Korban luka parah merupakan sepasang ibu dan anak yang berada di dalam mobil pribadi dengan plat nomor FE 2931 AO. Korban segera dilarikan kerumah sakit X setelah kejadian. Demikian breaking nems kali ini. Sampai jumpa " " Itukan mobil ibu Riska. Berarti Riska dan ibunya.... " Belum selesaI Riko bergumam dia langsung bangun dan beranjak pergi meninggalkan ruangan " Riko mau kemana kamu? " Tanya ayahnya berteriak " Kerumah sakit! " Riko beejalan tergesa - gesa, setengah berlari Setibanya dirumah sakit dia berlari menuju ruang ICU. dilihatnya sang ayah mertua tengah duduk menunggu " Ayah,,," Budi langsung menoleh mendengar suara orang yang dirasa familiar ditelinganya " Bagaimana kondisi Siska dan ibu? " tanya Riko yang sedikit terengah karena berlari " Dokter masih memeriksa keadaan mereka " Jawab Budi dengan tenang. " Ayah, tadi aku melihat berita. Katanya perusahaan sedang mengalami krisis? benarkah itu ayah? " Riko bertanya dengan linangan air mata " Aku tidak tahu, kalaupun itu terjadi, aku sama sekali tidak peduli " Budi menjawab dengan tenang sambik bersandar pada tembok rumah sakit Tidak lama dokter keluar dari ruang ICU. Dan Budi langsung berdiri menghampiri setelah melihatnya . " Dokter, bagaimana kondisi istri dan anak saya? katanya dengan wajah yang panik dan khawatir " Sang ibu masih dalam kondisi kritis karena benturan yang sangat keras, akan tetapi sang anak... " Dokter ragu - ragu untuk mengatakan yang sebenarnya " Ada apa dengan putri saya? " " Kenapa dengan istri saya dok? " Budi dan Riko penasaran dengan kondisi Siska " Kami harus melakukan amputasi pada sebelah kaki putri anda. Karena terjepit sebelah kaki anak anda mengalami kerusakan yang serius. Jika dibiarkan itu akan sangat membahayakan " Kata dokter kepada Riko dan Budi. Dan itu berhasil membuat mereka terkejut dan membelalakkan mata " Tapi dokter dia seorang model, apa tidak bisa jika tidak melakukan amputasi pada kakinya? Dia akan sangat sedih dan tidak akan bisa menerima semuanya! " kata Riko dengan emosi " Kami tidak memiliki opsi lain, silahkan tanda tangani ini! " Dokter menyodorkan sebuah dokumen kepada Budi dan ia langsung menandatangani itu Arin sudah sadar dan dia langsung diperbolehkan pulang keesokan harinya. Dokter mengatakan kalau tekanan darah tingginya sempat naik dan dia harus bisa mengontrol emosinya agar tetap stabil. Tapi begitu dia tiba di rumahnya bersama Budi dan Atmaja betapa terkejutnya dia melihat rumahnya " Apa yang terjadi? Kenapa rumah ini akan disita? " kata Arin dengan tak percaya kepada Budi " Perusahaan sedang mengalami krisis bu. Kami sudah mencari cara untuk menstabilkannya tapi tidak berhasil " Kata Budi dengan kepala tertunduk " Apakah semua akan hancur begini saja, semua usaha yang aku lakukan selama ini apakah sia - sia saja? " Batin Arin bertanya - tanya Chapter 93 Sadarnya Gina 2 Arin terpaku tak bisa berkata apa - apa lagi. " Semuanya sudah hancur, semua selesai. Apa yang ku perjuangkan menjadi sia - sia. Tak bisa ku percaya kalau pada akhirnya semuanya sia - sia. Gina, aku harus minta tolong padanya. Hanya dia yang bisa membantu ku kali ini. Dia pasti akan membantu ku " Gumam Arni " Budi, antarkan aku ke rumah keluarga Kusuma! " Arni bersemangat selerti mendapatkan jalan keluar " Untuk apa lagi pergi kesana bu? " Budi memicingkan mata penasaran " Aku harus menemui Gina dan meminta bantuan darinya. Dia pasti mau membantu ku " katanya dengan begitu yakin " Tapi bu, Gina sedang dirawat dirumah sakit " Suara Budi lemah dan terlihat sedih " Apa yang terjadi? Kenapa dia bisa dirawat dirumah sakit? " " Siska mendorongnya hingga terjatuh dan mengalami luka yang cukup parah di kepalanya akibat terbentur " penjelasan Budi seketika membuat wajah Arin pucat " Apa kamu pikir Yudha akan membiarkan Gina menolong perusahaan setelah apa yang dilakukan Siska kepada Gina? " Kakek Atmaja bicara dengan tenang " Bagaimana bisa Siska berbuat ceroboh seperti itu? Sudah tidak ada jalan lagi sekarang. Tidak ada yang bisa membantuku. Semua yang kulakukan sia - sia saja " Gumam Arin sambil memegang kepalanya " Tapi aku tetap harus mencoba menemuinya. Mungkin saja dia mau membantuku! Iya aku harus mencoba menemuinya! " Sambungnya " Dimana Gina dirawat? " Tanyanya kepada Budi " Di rumah sakit X tempat ibu dirawat " Budi berkata dengan tenang Mereka pun kembali lagi kerumah sakit. Di rumah sakit Yudha tak sedetik pun beranjak dari kamar Gina. Dia selalu setia menemaninya. " Sayang, makan buburnya dulu, setelah itu kamu harus minum obat! " Yudha membantu Gina untuk duduk, kemudian dia duduk disamping Gina dengan semangkuk bubur ditangannya " Buka mulutmu, biar aku menyuapi mu! " Dia menyodorkan sendok ke mulut Gina " Apa kamu sudah makan sayang? " Gina bertanya sebelum dia mulai makan " Aku akan makan setelah menyuapi mu " Yudha berkata dengan lembut dengan senyum menghiasi wajahnya " Kalau begitu aku juga akan makan nanti saja " Gina memalingkan wajahnya ke arah lain " Kenapa tidak ingin makan? Kau kan baru saja siuman dan harus makan banyak agar cepat pulih " " Tapi untuk apa aku makan jika kamu tidak makan. Aku akan makan kalau kamu juga makan " Sayang, kumohon jangan keras kepala!" Yudha memohon dengan penuh kelembutan " Bagaimana kamu memintaku makan sedangkan kamu sama sekali belum makan. Aku tidak ingin kamu sampai sakit juga! " Gina berkata dengan mata berkaca - kaca " Baiklah, aku akan meminta Hendri membawakan makanan untukku kemari. Apa kamu senang sekarang? " Kata Yudha dengan senyum menggodanya " Tentu saja aku sangat senang. Aku menyayangimu, dan aku tidak ingin melihatmu sakit karena merawat ku! " Gina berkata dengan kepala tertunduk. Perlahan air matanya menetes " Sudahlah tidak usah bersedih. Aku tidak apa - apa " Yudha berusaha menenangkan Gina kemudian mengambil ponsel dan menghubungi Hendri " Hendri tolong bawakan makanan untukku! " Lalu dia meletakkan ponselnya lagi diatas meja. Tiba - tiba dia mendengar suara ribut diluar kamar rawat Gina. " Suara ribut apa itu? " Gina penasaran " Sayang tunggulah sebentar. Aku akan melihat keributan apa yang sedang terjadi di depan! " Gina mengangguk dan Yudha meletakkan manggok buburnya di atas meja samping ranjang Gina. Kemudoan melangkah keluar dengan tangan dimasukkan ke dalam saku celananya, penuh ketenangan. Dilihatnya Arin dan Budi juga kakek Atmaja yang berada di depan ruangan " Ada apa ini ribut - ribut? " katanya dengan wajah datar dan nada yang dingin " Kami datang untuk melihat keadaan Gina, tapi para penjaga ini menahan kami agar tidak masuk! " Arin berusaha tenang saat bicara dengan Yudha " Maaf, tapi istri saya sedang istirahat dan tidak bisa diganggu " Yudha berkata dengan tenang dan datar " Izinkan kami bertemu dengannya walaupun sebentar saja! kami ingin melihat kondisinya saat ini! " Arin berusaha meyakinkan Yudha agar dapat bertemu Gina " Baiklah, masuklah! " Yudha maauk ke dalam di ikuti mereka dibelakangnya " Kakek, bagaimana kakek bisa berada disini? " Tanya Gina dengan antusias ketika melihat kakeknya satang " Kakek datang untuk menjenguk mu bersama ayah dan nenekmu ! " Gina mengerutkan kening tak percaya, menatap sang nenek Chapter 94 Perusahaan Atmaja kembali ke tangan pewaris yang sebenarnya " Nenek sengaja datang kesini untuk menjenguk ku atau meminta bantuan padaku? " " Sudahlah nek, jangan berpura - pura lagi. Aku tahu nenek kesini karena menginginkan sesuatu dari ku kan? Dari aku kecil nenek tidak pernah menyukai ku. Bagaimana bisa sekarang nenek tiba - tiba peduli dengan kondisi ku? "Gina mengerutkan keningnya dan berkata dengan dingin dan acuh tak acuh. " Kek, aku menghormati kakek tapi maaf aku tidak ingin terlibat lagi dengan keluarga kakek. Dari dulu kakek selalu mendoakan ku agar hidup tenang dan bahagia kan? Sekarang aku sudah menemukan kebahagiaan dan ketenangan dalam hidup ku. Aku tidak ingin kembali melepaskannya " Gina menatap Kakeknya dengan begitu sedih, Yudha yang berdiri disebelahnya berusaha menenangkan Gina dengan memeluk pundaknya " Kamu tidak perlu khawatir. Kakek mengerti kamu dan kakek senang jika kamu akhirnya menemukan kebahagiaan mu. Tidak perlu cemas atau khawatir pada kakek. Kakek memiliki ayahmu dan kami akan hidup dengan tenang mulai sekarang. Karena kami tidak perlu lagi melihat mu menderita dan mencemaskan keadaanmu " Suara kakek Atmaja terdengar lemah dengan senyum yang terlihat di bibirnya, disela air mata yang menetes dari kedua matanya. Tak dapat digambarkan apakah itu air mata bahagia, karena cucu yang disayanginya menemukan kebahagiaan atau kesedihan, karena cucunya sudah dewasa dan sudah bisa mengambil keputusan sendiri. Entahlah, yang jelas sekarang kakek Atmaja bisa tenang, karena tidak ada lagi yang perlu dikhawatirkan. " Tidak bisa begitu. Kamu bagian dari keluarga Atmaja dan kamu tidak bisa membiarkan keluarga ini hancur begitu saja " Arin yang kesal mulai berteriak " Nyonya, apa anda lupa, kalau Gina juga keturunan dari keluarga Sanjaya dan sekarang dia adalah istriku. Yudha Arya Kusuma, itu artinya dia sudah menjadi bagian dari keluarga Kusuma, bukan lagi Atmaja " Yudha berkata dengan pembawaannya yang tenang. Arin terdiam mendengar perkataan Yudha. Dia tidak dapat berkata apa - apa lagi " Apa yang sedang kalian lakukan disini? " Semuanya menoleh ke arah pintu, dimana sumber suara itu berasal " Masih belum cukup kalian menyakiti dan menyiksa anak ku? Selama ini aku diam saja karena Gina tidak memberi tahuku apapun. Dia tidak ingin kalian mengganggu hidupku lagi . Tapi setelah aku tahu apa saja yang kalian lakukan kepadanya. Aku tidak akan tinggal diam begitu saja. Aku tidak pernah takut dengan posisi kalian. Aku bukan orang yang bisa kalian ancam " Gadis langsung tersulut emosi ketika melihat Arin berada di ruang rawat Gina. Suaranya yang tinggi memecah ketegangan didalam ruangan. " Gadis, kami kesini hanya untuk menjenguk Gina saja. Kami ingin tahu bagaimana kondisinya! " Budi bicara dengan lembut kepada Ibu Gina " Menjenguknya? ingin tahu kondisinya? Kalian pasti tahu kan siapa yang menyebabkan dia seperti ini? Bukannya kalian senang Gina terluka? Atau kalian sedih karena tidak terjadi hal buruk padanya? " Gadis yang kesal meluapkan kekesalannya. " Kami tahu kalau kami salah. Dan kami tidak berniat untuk mengganggunya sama sekali " Budi masih bicara dengan tenang. Dia menyesal karena selama ini tidak pernah memperhatikan Gina. Dia selalu menutup mata meskipun dia mendengar apa yang terjadi pada anaknya. " Aku tahu kenapa kalian datang kemari. Tapi Gina tidak akan membantu kalian dan perusahaan Atmaja akan berganti menjadi anak cabang perusahaan Sanjaya dan Kusuma " Gadis mulai menguasai emosinya dan bicara dengan lebih tenang. " Apa? " Arin yang mendengarnya terkejut dan membelalakkan mata " Kamu bilang apa barusan? " Tanya Arin masih tidak percaya " Benar, perusahaan Atmaja akan saya ambil alih dan jadi perusahaan baru dari kolaborasi perusahaan Sanjaya dan Kusuma. Itu adalah hadiah pernikahan untuknya. dan kakek Dirga juga sudah setuju menjadikan perusahaan itu sebagai perusahaan pertama Sanjaya di negara ini " Yudha menerangkan dengan begitu tenang dan menoleh kearah Gina " Sudah kubilang akan memberikan perusahaan itu sebagai hadiah pernikahan kita? apa kamu menyukainya? " Yudha tersenyum dan menatap Gina dengan lembut. Mereka berdua saling menatap dengan penuh cinta " Terima kasih, tapi,,, " Gina ragu - ragu dan menoleh ke arah kakek Atmaja " Tidak apa. Kakek ikut senang, karena perusahaan itu memang seharusnya menjadi milikmu. Sayang sekali karena keserakahan orang - orang di dalamnya, perusahaan itu tidak dapat dipertahankan. Kakek harap kamu bisa mengembangkan perusahaan baru itu nantinya " Kakek Atmaja tersenyum lembut kepada Gina " Terima kasih kakek " Gina pun membalasnya dengan senyum lembut. " Akhirnya perusahaan Atmaja kembali ke tangan pewaris yang sebenarnya " Gumam kakek Atmaja mengakhiri perkataannya dengan senyuman terpancar dari wajahnya Chapter 95 Pukulan berat Siska Sementara diruang lain, Siska mulai sadar dan betapa terkejutnya dia ketika bangun dalam keadaan kaki yang tidak utuh " Euh,,, ada dimana ini? kepala ku rasanya sakit. tubuhku juga sakit semua " Dia bergumam ketika sadar sambil membuka mata perlahan " Kamu sudah siuman? Bagaimana perasaanmu sekarang? " Riko mendekat pada Siska ketika melihat dia mulai sadarkan diri " Untuk apa kamu disini? bukannya kamu ingin bersama perempuan itu? " Siska berkata dengan ketus dan mata sinis Tidak lama setelah bicara, dia merasa ada yang aneh dengan kakinya. Dia berusaha menggerakkan kakinya, namun tidak berhasil, dia meraba bagian kakinya dan ternyata " Aaaaccccchhh,, apa yang terjadi denganku? Bagaimana kaki ku bisa tidak ada? " Siska histeris karena meraba sebelah kakinya yang hilang " Saat kecelakaan kaki mu terluka parah, dokter tidak punya pilihan lain selain melakukan amputasi terhadap sebelah kaki mu " Riko menjelaskan dengan sabar dan lembut " Tidak,, tidak mungkin,, ini tidak mengkin,, bagaimana bisa seorang model papan atas seperti ku harus di amputasi? Ini tidak boleh terjadi. Riko tolong katakan padaku kalau semua ini tidak benar. Katakan kalau ini hanya mimpi! " Siska tidak percaya mendengarnya, dia menangis histeris. Menggelengkan kepalanya berkali - kali, dia berteriak dan menggoyangkan lengan Riko Riko hanya diam, tidak bisa berkata apa -apa. Dia hanya bisa memeluk Siska untuk menenangkannya. Siska menangis tersedu - sedu dalam pelukan Riko. Hingga dia tersadar akan 1 hal , Riska, dia mengingat ibunya " Riko, bagaimana dengan ibuku? bagaimana keadaannya? Apakah dia baik - baik saja? katakan padaku bagaimana kondisinya sekarang? " Siska mendongak menatap Riko dan bertanya dengan panik disela isak tangisnya. " Ibu masih kritis, dokter masih belum bisa memastikan kondisinya saat ini " Riko berkata dengan menundukkan kepala, menatap Siska dan sambil mengusap pucuk kepalanya. Suaranya terdengar begitu lemah. " Ibu,, bagaimana bisa jadi seperti ini? Kenapa semuanya bisa terjadi pada kita?Riko, tolong antar aku menemui ibu, aku ingin melihatnya secara langsung! " " Baiklah. Kamu tunggu dulu, aku akan mengambil kursi roda sebentar! " Siska menganggukkan kepala setuju Riko mendorong kursi roda Siska menuju ruangan dimana ibunya dirawat. Melewati setiap lorong rumah sakit, Dengan bau obat - obatan yang tercium dimana - mana. Air mata tak kunjung berhenti mengalir dari kedua matanya. Dia yang di dorong menggunakan kursi roda oleh suami yang ternyata tidak setia, tertunduk sambil meratapi nasibnya. " Apa yang terjadi denganku? Kenapa semua ini bisa jadi begini? " Batin Siska mulai bertanya - tanya. Tanpa sengaja dia melihat Gina yang yang diajak berkeliling rumah sakit karena jenuh, dengan duduk di atas kursi roda yang didorong oleh sang suami. Tertawa bersama dan menerima perlakuan yang begitu romantis, serta perhatian dari sang suami yang membuatnya merasa iri. Batinnya pun bertanya - tanya " Kenapa Gina selalu mendapatkan sesuatu yang lebih baik? Kenapa dia selalu bisa tertawa pada akhirnya? Aku sudah berusaha keras mendapatkan Riko dan semua yang menjadi miliknya, pada akhirnya aku tidak mendapatkan apapun. Aku kehilangan semuanya " Dia semakin tertunduk dan mulai menangis lagi. Akhirnya dia tiba didepan ruangan sang ibu. Dia melihat dari jendela ruang rawat, ibunya yang masih koma dan belum sadarkan diri. Perhatiannya teralihkan oleh suara televisi. Dia memalingkan wajahnya ke arah televisi rumah sakit. Disana sedang disiarkan sebuah berita mengenai perusahaan Atmaja yang akan di ambil alih oleh keluarga Kusuma. Yang kedepannya akan Yudha jadikan perusahaan baru, juga sebagai kolaborasi perusahaan pertama antara keluarga Kusuma dan Sanjaya di negara ini. Siska semakin terkejut dengan berita ini. Dia tidak bisa menerima kenyataan pahit dimana semua yang dia miliki hilang dan ibunya masih koma. Pukulan ini terlalu berat untuknya. " Hiks.. hiks.. hiks... Hahahaha.." Dia menangis dan tertawa di saat yang bersamaan. " Hiks.. hiks.. dia mengambil semuanya. Semua yang ku miliki tidak ada lagi,, hiks,, hiks,, di jahat,, jahat " Siska terus mencaci dalam isak tangisnya. Kemudian dia berubah tertawa " Hahaha,, aku sudah mendorongnya hingga jatuh, dia pasti mati, dia harus mati,, dia sudah merebut semua milikku " " Siska, apa yang terjadi? kenapa seperti ini? Apa yang harus aku lakukan sekarang ? " Riko yang tidak mengerti pun merasa panik dan bingung. Jadi dia memutuskan untuk membawa Siska kembali ke kamarnya Chapter 96 Model gangguan mental Riko segera memanggil dokter ketika dia tiba dikamar Siska. Dokter pun datang dan memeriksanya. Setelah melakukan pemeriksaan akhirnya dokter menemukan hasilnya " Nona Siska terlalu terpukul dengan keadaannya. Dia tidak bisa menerima semua yang dialami secara bersamaan. Ini mengakibatkan dia mengalami sedikit gangguan pada mentalnya " Dokter menjelaskan dengan begitu rinci dan hati - hati. Riko menoleh ke arah Siska sembari mendengarkan penuturan dokter. Dia terkejut, tidak bisa percaya dengan ini. " Siska mengalami gangguan mental? " Gumamnya masih tidak percaya " Kalau begitu saya permisi dulu. Saya masih harus memeriksa pasien lain " Perkataan dokter menyadarkan Riko dari lamunannya " Ach iya dok, terima kasih " Riko menjawab dengan panik. Dia menganggukkan kepala dan menyalami tangan sang dokter " Aku harus menghubungi ayah Budi! " " Halo ayah,,, " Riko langsung menyapa setelah tersambung dengan ponsel mertuanya " Bisakah ayah datang ke rumah sakit untuk melihat kondisi Siska? " " Apakah terjadi sesuatu dengan Siska? " Suara Budi terdengar khawatir " Sebaiknya ayah datang kesini. Aku tidak bisa mengatakan ini melalui telepon " "Baiklah, aku akan segera kesana. Apakah ibu mertuamu sudah siuman? " " Belum ayah, kondisi ibu masih kritis " " Ya sudah, aku bergegas kesana sekarang juga! " " Baik ayah, hati - hati dijalan! " Riko langsung menutup sambungan teleponnya. Tak berselang lama. Terlihat Budi datang bersama Arin dengan berjalan tergesa - gesa. Mereka langsung menemui Riko " Riko, bagaimana keadaan Siska? " Tanya Arin begitu mendekat " Dia,,, dia,,, " Riko terbata - bata tidak tahu harus bagaimana mengatakannya " Apa yang terjadi dengannya? Cepatlah katakan yang sebenarnya pada kami! " Kata Budi mendesak " Sebaiknya ayah dan nenek lihat sendiri keadaannya di dalam! " Riko mempersilakan nenek da ayah mertuanya masuk ke ruang rawat Siska. Disana terlihat Siska sedang duduk di ranjang pasien. Dia duduk menggoyangkan badan ke depan dan belakang. Dengan tatapan mata yang kosong. " Siska bagaimana kabar mu? Nenek dan ayahmu datang kesini menjenguk mu sayang! " Arin mendekati Siska dan bertanya dengan lembut Siska mengangkat kepala, menatap wajah sang nenek kemudian mengernyitkan alis dan berteriak " Kamu,, kamu,, kamu yang sudah merusak semuanya! Kamu merebut suamiku, kamu yang merebut perusahaan ku. Kembalikan semua padaku. Akan ku bunuh kamu. Kamu harus mati! " Siska menatap Arin dengan penuh amarah, dia terus berteriak, menarik Arin dengan kuat, memukulnya dan meraih lehernya. Siska mencekiknya begitu kuat. " Aaaccchhh! Ohok.. O.. o... " Semua orang terkejut dengan reaksinya. Budi dan Riko segera berlari mendekat dan mencoba melepaskan pegangan Siska pada neneknya. Arin sudah meringis kesakitan dan tidak bisa bernafas. " Lepaskan Siska, dia nenekmu. Cepat lepaskan dia! " Budi berusaha melepaskan pegangan Siska dibantu Riko " Tidak, aku tidak akan membiarkan dia lolos. Dia harus mati ditanganku! " Siska tidak melepaskan tangannya dari leher sang nenek " Riko cepat panggil dokter atau suster kemari! " Budi berteriak pada Riko agar mencari bantuan " Ya ayah! " Riko berlari keluar dan meminta bantuan kepada orang lain. Tidak lama dia kembali masuk bersama seorang suster dan dokter " Dokter, cepat lakukan sesuatu! " Pinta Budi kepada dokter yang masuk ke dalam ruangan. Dia yang tidak tega melihat ibunya kesakitan terus berusaha melepaskan tangan Siska dari lehernya. " Suster cepat siapkan obat penenang! " " Baik dok! " Suster pun dengan cepat menyiapkan obat penenang dan mulai menyuntik Siska. Hingga akhirnya tangan Siska mulai lemas tak bertenaga dan dia mulai melepaskan tangannya dari leher sang nenek. " Aku tidak akan membiarkan mu hidup bahagia sampai kapanpun " Suaranya terdengar begitu lemah sebelum akhirnya dia memejamkan matanya karena obat bius " Ohok.. ohok... " Arin terbatuk sambil memegang lehernya setelah tangan Siska mulai terlepas. " Apa ibu baik - baik saja? " Budi terlihat cemas melihat sang ibu " Ya, ibu tidak apa - apa. Dokter, kenapa dia bisa jadi seperti ini? " Arin masih memegang lehernya dan bertanya dengan wajah tidak percaya. " Dia mengalami guncangan yang hebat. Kondisinya tidak stabil saat ini. Dan saya sarankan agar dia menjalani tes mental terlebih dahulu " Dokter menyarankan dengan tenang " Baik, terimakasih dokter " Budi menyalami tangan dokter yang hendak keluar setelah memeriksa keadaan Siska. Riko hanya diam memperhatikan Siska, wanita yang pernah ia cintai dan merupakan model ternama, kini harus mengalami gangguan mental Chapter 97 Akhir dan awal semuanya Tanpa mereka sadari, ada dua orang yang sedari tadi berdiri di balik pintu dan telah memperhatikan mereka dalam waktu yang cukup lama, mereka melihat semua yang terjadi. " Sayang, bagaimana menurut mu? Bukankah ini cukup tragis? Dia kehilangan kaki, perusahaan dan sekarang dia mengalami gangguan mental! " Gina menggelengkan kepala sambil menutup mata karena iba, kemudian mendongak menatap Yudha, meminta jawaban. Senyum menyeringai terlihat di wajah tampan Yudha " Sayang,, bukankah ini cukup pantas untuk mereka? Mereka pernah berusaha membuat mu gila dan memasukan mu ke rumah sakit jiwa secara paksa. Tuhan cukup adil karena membuatnya benar - benar gila dan harus masuk rumah sakit jiwa " Bicaranya begitu lembut dan senyumnya yang ditunjukkan hanya untuk istrinya itu begitu menawan. Kemudian dia kembali melihat kedalam ruangan dan tersenyum sinis " Itu balasan yang setimpal untuknya, setelah apa yang sudah dia lakukan terhadapmu " " Sudahlah, kita kembali ke kamar mu, sudah terlalu lama kamu berkeliling di luar. Kamu masih harus banyak istirahat sayang! " Yudha kembali membawa Gina ke kamar rawatnya dengan senyum yang selalu terpancar di wajahnya. " Sayang bagaimana dengan bibi Riska? katanya dia masih kritis ya? " " Ku dengar seperti itu. Dia masih belum melewati masa kritisnya,,kurasa,, dia tidak akan tertolong, karena lukanya cukup parah! " Yudha mendorong Gina dengan hati - hati. Pemandangan itu terlihat begitu romantis. Riko yang memperhatikan mereka dari kejauhan pun merasa iri.. Dikamar rawat Gina kakek Dirga dan Wijaya telah menunggu " Hai kakek,, apa kalian telah lama menunggu kami? " Yudha menyapa kedua kakek begitu dia masuk kamar dan melihat mereka " Kami sudah lumayan lama disini, kalian dari mana saja. Bagaimana keadaan Gina? " Kakek Dirga bertanya dengan lembut " Kami baru melihat pemandangan yang cukup memuaskan " Yudha terlihat tersenyum licik " Gina sudah lebih baik, besok dia sudah bisa pulang " Dia membantu Gina naik ke ranjang pasien dan menyelimutinya " Ada apa dengan senyuman mu itu? Kakek yakin ada sesuatu! " Kakek Wijaya menebak - nebak melihat senyum cucunya " Kami tadi melihat Siska diruangannya. Kalian tahu apa yang terjadi? " Kakek Dirga dan Wijaya saling menatap kemudian menggelengkan kepala secara bersamaan " Katakan saja apa yang terjadi? " Mereka berduasudah penasaran sedangkan Yudha tersenyum sinis " Sepertinya dia akan secepatnya masuk kamar isolasi di rumah sakit jiwa " Pernyataan Yudha sontak membuat kedua kakek terkejut dan membelalakkan mata. Kemudian mereka tertawa " Apakah itu benar? Hahahaha,, dia pantas mendapatkannya. Sudah terlalu lama dia menyakiti cucuku " Kakek Dirga terbahak merasa puas mendengarnya " Lalu, bagaimana dengan Riska dan Riko? " Tanya kakek Wijaya " Riska masih kritis. Dia tidak akan bertahan lama. Dan Riko juga keluarganya kurasa akan meninggalkan kota ini dan jadi gelandangan. Karena sudah tidak ada lagi keluarga Atmaja yang bisa membantu mereka " Yudha menjelaskan dengan begitu tenang " Apa rencana kalian setelah keluar dari sini? " Kakek Dirga berkata dengan lembut kepada cucunya " Aku akan istirahat beberapa hari, kemudian mempersiapkan untuk pembukaan perusahaan kita disini! " Gina menjawab sang kakek dengan keyakinan " Kamu jangan terlalu memaksakan, kakek tidak ingin kamu terlalu lelah dengan semua ini! " Kakek Dirga menasehati cucunya dengan tersenyum lembut " Kakek tenang saja! Tapi,, apa kakek akan setuju dengan setiap perencanaan yang aku buat? " Gina bertanya dengan ragu kepada sang kakek " Kakek akan selalu mempercayaimu! " " Terimakasih ya kek. Aku sayang sekali sama kakek! " Senyum Gina terlihat begitu tulus.. Beberapa hari pun telah berlalu. Seperti yang sudah diperkirakan Yudha sebelumnya. Siska dirawat dikamar isolasi rumah sakit jiwa. Riko dan keluarganya meninggalkan kota A. Dan kakek Surya Atmaja bersama Arin dan Budi tinggal disebuah apartemen. Sedangkan Riska pada akhirnya tidak dapat ditolong. Ini menjadi akhir dan awal semuanya untuk Gina " Sayang, apa kamu yakin akan mulai mengurusi perusahaan baru? " Yudha sedikit khawatir kepada sang istri " Tentu, tapi aku harus mencari orang - orang berbakat terlebih dahulu. Aku harus memulai semuanya dari awal sendiri. Apa kamu akan mendukung ku? " Gina menatap Yudha dengan mata berbinar seakan berkata untuk mempercayai dan mendukungnya dirinya " Tentu aku akan selalu mempercayai dan mendukungmu. Apapun yang kamu lakukan! " Yudja teesenyum lembut dengan mengelus pucuk kepala Gina, kemudian mendaratkan sebuah ciuman di kening istrinya Chapter 98 Tentang Nadia Gina sedang duduk bersama Yudha dengan bersandar di dadanya dan tangan Yudha memeluk pinggang Gina. Mereka selalu menikmati setiap momen yang mereka habiskan bersama. Mereka berusaha untuk pernah terlewatkan sedetikpun waktu berdua. Meskipun itu hanya menemani pasangannya melakukan pekerjaan kecil. Gina menghubungi Nadia disela waktunya bersama Yudha " Halo Nadia,, Apa kita bisa bertemu hari ini? " Gina menghubungi Nadia melalui ponsel " Tentu saja Gina, sudah lama sekali kita tidak bertemu kan? Nadia menjawab penuh semangat. Karena dia merupakan pribadi yang periang " Baiklah, bagaimana kalau kita bertemu di restoran X nanti siang? " " Tentu, sampai ketemu disana! " Mereka pun mengakhiri panggilan telepon " Apa kamu yakin akan menjadikan Nadia asisten mu? Kenapa tudak Satya saja? " Yudha yang berada disamping Gina bertanya dengan lembut sambil membelai rambut panjangnya " Apa kamu yakin kalau aku bekerja dengan Satya? Kurasa akan ada yang cemburu jika aku bekerja dengan laki - laki sebagai asisten pribadiku. Lagi pula dia itu asistenmu aku cukup meminta bantuannya jika memang diperlukan" Gina tersenyum menggoda sang suami. " Tentu aku tidak keberatan. Aku tidak ingin hal terakhir kali terjadi lagi. Dimana aku harus melihatmu bersimbah darah. Aku ingin selalu berada disampingmu untuk melindungi mu. Dan mulai sekarang kemanapun kamu pergi, aku akan mengantarkan mu! " " Kamu tidak perlu khawatir. Hal seperti itu tidak akan terjadi lagi. Aku janji. Aku tidak akan lengah lagi! " Gina tersenyum lembut dengan sebelah tangannya menyentuh pipi Yudha " Aku akan bersiap untuk pergi menemui Nadia! " Gina melepaskan diri dari pelukan Yudha dan berdiri untuk berganti pakaian Siang harinya Yudha mengantarkan Gina terlebih dahulu sebelum dia kembali ke kantor. " Aku akan kembali ke kantor. Setelah kamu selesai beri tahu aku, akan ku minta Hendri kemari untuk menjemput mu dan mengantarkan mu ke kantor nanti " Yudha mengusap lembut kepala Gina. Kemudian mencium dahinya " Baiklah, akan ku kabari setelah selesai nanti " Gina tersenyum lembut menerima perlakuan sang suami kemudian turun dari mobil dan melenggang masuk ke dalam restoran. Disana terlihat Nadia sudah duduk disalah satu kursi. " Hai Nadia,, Maaf telah membuatmu menunggu? " Gina mendekati kearah Nadia dan menarik kursi untuk duduk bersamanya " Ach tidak apa, aku juga belum lama tiba disini " Nadia tersenyum ramah menyambut Gina " Aku ingin mengucapkan terimakasih banyak, karena kamu telah membantu ku untuk membalas Riko tempo hari " Gina tersenyum saat berbicara. " Sama - sama. Tidak perlu sungkan padaku. Gina apa kamu mengingat ku? " Gina memicingkan mata. Menatap Nadia " Apa kita saling kenal? Ku rasa kita tidak pernah bertemu sebelumnya! " Gina berbicara sambil berusaha mengingat - ngingat " Aku Nadia Dwi Praja. Kita selalu main bersama ketika kecil sampai akhirnya keluargaku bangkrut saat aku menjelang SMA. Kamu ingat papaku Angga Praja? " Nadia berusaha membuat Gina ingat tentang masa lalu mereka " Ach aku ingat. Kamu Nadia teman sekolahku, dulu paman Praja selalu mengajakmu bermain kerumah" Gina berkata dengan senyum lebar dan Nadia menganggukkan kepalanya berkali - kali " Benar, dulu kita selalu main bersama. Sampai kejadian buruk itu menimpa keluarga ku dan kita tidak pernah bertemu lagi " Wajah Nadia berubag muram saat mengenang masa lalunya " Sebenarnya apa yang terjadi, sehingga kamu meninggalkan kota ini tanpa pamit padaku? " Tanya Gina dengan wajah yang berubah sendu " Keluarga ku bangkrut karena keluarga Riko, mereka diam - diam menyabotase harga saham perusahaan ku. Papa ku terkejut dan terkena serangan jantung, tidak lama setelah kepergian papa, mama pun sakit - sakitan dan meninggalkan aku dan Satya. Dan lebih parahnya lagi keluarga itu meminta anak buahnya untuk menculik dan memperkosa ku, hingga akhirnya aku mengalami depresi karena trauma. Kakak ku Satya bekerja keras untuk menyembuhkan depresi ku. Untungnya kami bertemu keluarga Kusuma. Mereka membantu kami dari keterpurukan " Tanpa sadar Nadia meneteskan air matanya " Maaf, karena aku tidak tahu apapun mengenai itu. Dan lebih bodohnya lagi aku pernah jatuh cinta pada orang yang pernah merusak hidupmu " Gina menyesal tidak mengetahui masa lalu Nadia dan tidak berada di sisinya disaat masa terburuk Nadia, sedangkan dulu Nadia selalu jadi teman yang setia saat dia sedang merasa mendapatkan ketidak adilan dari keluarganya. Dialah tempat berlindung bagi Gina saat Arin, Riska dan Siska selalu bersikap buruk padanya. Dia selalu mendengarkan keluh kesahnya dan menjadi sandaran saat Gina menangis. Chapter 99 Menjadikan Risti dan Nadia asisten pribadi Gina masih berbincang bersama Nadia " Kita lupakan masa lalu itu. Aku senang bisa melihatmu bahagia bersama Yudha sekarang " Nadia menghapus air matanya dan memberikan senyum indah kepada Gina " O ya aku lupa. Aku kesini untuk meminta mu menjadi asisten pribadiku. Apa kamu bersedia? " Gina tersenyum saat berbicara dengan Nadia " Benarkah? Tentu saja aku bersedia membantumu! " Nadia tersenyum menerima tawaran Gina " Kalau begitu secepatnya kita akan mengurus tentang semua yang kita butuhkan di perusahaan baruku! " Nadia mengangguk, menyetujui apa yang Gina rencanakan Setelah selesai dengan urusannya bersama Nadia, Gina kembali ke kantor Yudha setelah dijemput oleh Hendri. Disana dia bertemu Risti terlebih dahulu " Risti! " Gina menegurnya dengan sipan di meja kerja Risti " Mba Gina, bagaimana keadaannya sekarang? " Risti berdiri dan menyapa Gina dengan sopan. " Bisa datang ke ruangan Yudha sebentar? Ada yang ingin saya bicarakan! " Punta Gina dengan senyum ramahnya " Baik mba, nanti saya kesana! " " Saya tunggu ya! " Gina mengakhirinya dengan senyum kemudian berjalan meninggalkan meja Risti menuju lantai atas yaitu ruangan Yudha Tok tok tok Ceklek " Masuk " Yudha mempersilakan tanpa menoleh untuk melihat siapa yang datang Setelah mengetuk pintu dan mendapatkan izin, Gina masuk keruangan sang suami, dilihatnya sang suami yang sedang serius dengan pekerjaannya tanoa menoleh sedikitpun " Sepertinya Tuan Kusuma cukuo sibuk dengan pekerjaannya? Hingga tidak menghiraukan siapa yang datang! " Gina tersenyum menyeringai sambik mendekat ke arah sang suami. Yudha langsung mengalihkan pandangannya dari dokumennya dan menatap sang istri " Rupanya nyonya Kusuma yang datang. Apa urusannya sudah selesai? " Yudha mengulurkan tangannya agar sang istri mendekat ke sisinya " Iya, aku sudah selesai. Aku ingin meminta Risti menjadi asisten ku di perusahaan nanti! " Kata Gina sambil duduk di meja sebelah Yudha " Tentu saja, kamu bisa memintanya untuk pindah ke kantor mu! " Kata Yudha di iringi senyum manisnya Tak lama pintu diketuk. dan terlihatlah Risti yang muncul dari balik pintu " Permisi pak Yudha, mba Gina! " Risti menyapa atasannya dengan sopan Gina yang masih berada dekat Yudha kemudian berjalan mendekati Risti " Salahkan duduk Ris! " Gina mempersilakan duduk dengen menjulurkan sebelah tangan ke arah sofa di ruang Yudha " Terimakasih mba! " Risti mengangguk kemudian duduk " Begini Risti, to the point saja. Saya mau menawarkan kamu untuk kerja menjadi asisten saya di kantor baru saya nanti. Apa kamu mau? " Gina menawarkan dengan lembut dan berwibawa. Mata Risti terlihat berbinar - binar mendengar tawaran Gina " Mau mba mau. Saya mau sekali ikut kerja bersama mba Gina " Risti langsung setuju dan menganggukkan kepala dengan semangat Gina hanya tersenyum kemudian berkata " Nanti saya kabari kamu kalau semua sudah siap! " " Baik mba, saya permisi dulu " Risti pamit kemudian berdiri hendak meninggalkan ruangan. Gina hanya tersenyum sambil menganggukkan kepala mengiyakan. " Apakah nyonyaku sudah puas dengan urusannya hari ini? " Yudha tersenyum menggoda sang istri " Hemp,,, tuan apakah anda sedang iri kepada Risti dan Nadia karena mereka akan menemani ku bekerja? " Yudha berdiri dari kursinya dan mendekati Gina. Dia meraih pinggangnya dan menariknya ke dalam pelukannya. " Sayang, sepertinya memang aku tidak seharusnya membiarkan mu menjadi penerus Sanjaya. Agar aku bisa selalu membiarkan mu berada disampingku! " Gina mengerutkan alis dan sedikit mengangkat ujung bibirnya membentuk sebuah senyuman " Tuan, apakah akhir pekan dan malam hari masih tidak cukup untuk kita selalu bersama? " Kata Gina sambil melingkarkan tangannya di leher Yudha " Waktu ku bersamamu sampai kapanpun dan berapa lama pun itu tidak akan pernah cukup. Karena semakin aku mengenalmu, semakin aku tergila - gila padamu " Gina berbinar mendengar perkataan Yudha senyumnya begitu cerah dan Yudha langsung mencumbu bibir merah sang istri yang terlihat begitu manisndan sangat menggiurkan. Ciuman mereka semakin lama semakin memanas. Membangunkan gairah diantara mereka berdua. Yudha tidak melewatkan kesempatan itu. Dia langsung menggendong Gina dan membawanya masuk ke ruang istirahat pribadinya di dalam kantor itu. Mereka tenggelam dalam gairah cinta yang semakin tumbuh dengan bertambahnya hari. Tak bisa dipungkiri semakin lama mereka bersama. Ketertarikan mereka tidak pernah berkurang. Justru semakin bertambah satu sama lain. " Tuan, karena aku adalah wanita yang egois, jadi tak akan pernah ku biarkan wanita lain mendekatimu " Gina berbisik disela desahan nafasnya yang menggebu dan tak beraturan. Yudha tersenyum mendengarnya dan semakin ganas menyalurkan gairahnya. Melakukan pelepasan hasrat diantara keduanya Chapter 100 Wanita pembuat masalah Setelah melakukan klimaks dari pelepasan gairah mereka. Gina tertidur karena kelelahan. Yudha membiarkan istrinya tidur dan melanjutkan pekerjaannya. Sore hari setelah jam pulang kantor mereka bersiap meninggalkan perusahaan " Sayang, apa yang ingin kamu makan untuk makan malam kita? " Gina bertanya ketika berjalan meninggalkan kantor sambil memegang lengan dekat siku Yudha " Terserah, tapi aku ingin membawa mu kesebuah restoran. Kurasa,, kamu akan sangat menyukainya sayang... " Suara Yudha begitu lembut dan penuh kehangatan. Mereka sudah tidak sungkan untuk bergandengan di depan umum setelah mengumumkan status hubungan di antara mereka. Karyawan yang melihat mereka bergandengan memandang dengan begitu iri. " Mereka teelihat begitu serasi. Tuan Yudha begitu tampan dan Gina begitu cantik. Sungguh pasangan yang sempurna! " Kata seorang karyawan " Benar. Ach sungguh indah dipandang mata" kata yang lainnya " Aku ingin sekali punya pasangan seperti tuan Yudha" Yang lain menyahut Pasangan itu berjalan menuju mobil, dan berkendara ke sebuah restoran yang terletak di pusat kota. Bangunan restoran terdiri dari 2 lantai dengan gedung bernuansa Eropa yang terlihat begitu mewah. Bagian dalam terlihat lampu - lampu gantung yang mempercantik ruangan. Sedangkan ruang VIP yang terletak di lantai atas memiliki nuansa yang berbeda di setiap ruangan. Ada yang bertemakan bintang, ada yang bertemakan taman, bertemakan langit biru, bertemakan laut. Setiap ruangan memiliki ciri khas masing -masing. Yudha dan Gina mendapatkan ruangan dengan tema bintang. Diruangan dihiasi dengan bintang. Mulai wallpaper dinding juga hiasan bintang di langit - langit, nampak seperti berada di alam bebas dengan taburan bintang di sekelilingnya. Di meja terdapat bunga dan lilin yang menambah kesan romantis malam itu. Seperti berkencan di luar ruangan di temani cahaya bintang. Gina terkesima melihatnya. Dia menatap kagum dan teepesona ketika mulai memasuki ruangan mereka. " Waah sayang ini sungguh indah. Bagaimana kamu tahi ada restoran sebagus ini? " Gina terkagum - kagum melihat sekeliling ruangan " Restoran ini cukup terkenal dikalangan anak muda. Apa kamu menyukainya? " Yudha memberikan senyum bangga kepada istrinya. Gina mengangguk dan tersenyum membalas sang suami " Silahkan nyonya Ku! " Yudha menarik kursi untuk Gina duduk " Terimakasih Tuan " Gina duduk kemudian tersenyum . Sang pelayan yang menemani mereka keruangan memberikan daftar menu kepada mereka " Silahkan tuan, nyonya. Mau pesan apa? " Kata sang pelayan dengan ramah " Kamu mau pesan apa sayang? " Yudha melihat daftar menu dan bertanya pada Gina " Aku mau sirloin steak saja dan jus jeruk" Jawab Gina lalu menyerahkan daftar menu ke pelayan. " Sirloin steak 2 ya. Jusnya juga dua " Jata Yudha menambahkan " Baik tuan, nyonya. Silahkan tunggu. akan segera disiapkan " Pelayan pun keluar meninggalkan ruangan " Sayang,, kapan kamu akan mulai bekerja? " Yudha membuka pembicaraan diantara mereka " Kurasa besok atau lusa aku akan pergi melihat perusahaannya " Gina menjawab dengan santai " Aku tidak mau kamu terlalu lelah. Dan jika kamu kesulitan, kamu harus segera memberi tahuku! " Kata Yudha dengan aura penguasanya tanpa ingin bantahan tetap terlihat hangat dimata Gina " Tentu saja sayang. Kamu orang pertama yang akan aku cari jika aku membutuhkan sesuatu " Gina tersenyum dan berkata dengan lembut Tak lama makanan mereka pun tiba " Silahkan, selamat menikmati! " Kata pelayan yang mengantarkan makanan, setelah mendapat anggukan dari Gina dan Yudha dia pergi meninggalkan ruangan. Yidha langsung memotong steak yang ada di hadapannya. Kemudian menyerahkannya kepada Gina " Ini untukmu sayang! " " Terimakasih " Gina tersenyum dan menukar steak miliknya dangan steak yang sudah Yudha potong Mereka menikmati makan malam romantis mereka tanpa ada gangguan. " Apa ada lagi yang mau kamu makan sayang? atau ada tempat yang mau kamu kunjungi? " Yudha menawarkan sambil membersihkan mulutnya dari sisa makanan. " Sepertinya aku ingin berjalan sebentar menikmati suasana malam hari " Gina juga berkata sambil membersihkan mulutnya dari sisa makanan " Baiklah, kita akan berjalan-jalan sebentar. Kamu duluan, aku ke toilet dulu. Tunggu aku didepan" Gina berdiri dan hendak berjalan meninggalkan ruangan untuk menunggu Yudha di depan. Tapi saat mendekati tangga. Duk " Aduuh! " "Maaf saya tidak sengaja! " Gina tak sengaja menabrak seorang wanita saat dia sedang memperhatikan Yudha yang berjalan menuju toilet. Chapter 101 Wanita pembuat masalah 2 " Kamu punya mata tidak sich? Kalau jalan lihat ke depan. bukan lihat ke belakang! " Perempuan itu marah dan membentak Gina " Saya sungguh minta maaf, saya memang tidak memperhatikan jalan! " Gina dengan senyum dan penuh penyesalan meminta maaf " Dasar, wanita tidak tahu diri. Kamu fikir kamu siapa bisa berbuat seenaknya? Kamu tidak tahu siapa aku? " Gina mengerutkan kening mendengar perkataan wanita itu " Aku Chelsea, aku lni seorang aktris internasional. Kamu fikir bisa seenaknya sama aku? " Dia terus berteriak keoada Gina. Gina tetap bersikap tenang menghadapi perempuan itu " Sudah selesai? Maaf nona, aku sudah meminta maaf atas kesalahan ku. Tapi bukan berarti anda bisa seenaknya memaki dan berteriak kepada ku, meskipun anda seorang aktris terkenal sekali pun. Aku bukan orang yang bisa anda rendahkan! " Gina berkata dengan dingin dan penuh keyakinan. Setelah itu dia pergi meninggalkan wanita itu sendiri disana dengan suasana hati yang buruk. " Dasar perempuan sombong. Bagaimaana bisa wanita simpanan seperti dia berani melawan ku. Hanya karena punya wajah cantik dia sudah berlagak sekali di depan ku. Huh, menyebalkan! " Chelsea terus menggerutu setelah kepergian Gina, hingga dia melihat Yudha Dia terpesona, terpaku melihat ketampanan Yudha yang berjalan begitu anggun dan penuh wibawa. Wajah tampan , postur tubuh yang tinggi dengan setelah jas yang pas dengan bentuk tubuhnya memberikan aura bangsawan yang tak tertandingi " Waah,, tampan sekali pria itu, dia begitu gagah dan auranya begitu mengesankan! " Gumamnya tanpa berkedip atau mengalihkan pandangannya dari Yudha Namun Yudha berjalan melewatinya tanpa menoleh sedikitpun kepadanya, seperti tidak ada orang yang dilewati " Apa? Dia mengacuhkan ku? bahkan tidak melirik ke arahku sedikit pun? bagaimana bisa? sedangkan laki - laki lain selalu berusaha mendekatiku dan mencari perhatian dariku. Tapi dia malah mengacuhkan ku? " Chelsea kesal sendiri, dia merasa kesal karena Yudha tidak melihatnya dan acuh tak acuh kepadanya " Lihat saja tampan, suatu hari kita pasti bertemu lagi. Dan pada saat itu tiba, kamu tidak bisa menolak atau berpaling dariku! " Chelsea tersenyum licik sambil menatap punggung Yudha yang semakin menjauh Diluar restoran Gina sedang menunggu Yudha kembali. Tak berselang lama ada seseorang yang meraih pinggangnya dari belakang kemudian memeluknya. " Sudah lama menunggu nyonya? " Yudha berbisik lembut ditelinga Gina " Lepaskan sayang, ini tempat umum! " Gina menoleh ke kanan dan kiri wajahnya merah karena malu " Tidak ada yang melihat kita, lagi pula kamu milikku. Tidak akan ada yang berani mengganggu kita " Yudha terus menggoda Gina yang wajahnya semakin memerah " Sudahlah, hentikan gombalan mu! Kita pergi dari sini, aku sudah muak berada disini! " Gina melongos menuju mobil " Ech, apa yang terjadi? Kenapa dia jadi kesal begitu? Sepertinya tadi suasana hatinya baik. Yudha yang bingung berjalan mengikuti Gina dari belakang " Apakah terjadi sesuatu saat aku tidak ada tadi? " Yudha yang penasaran mempercepat langkahnya, mengejar Gina " Tidak ada. hanya saja,,, tadi aku tidak sengaja berjalan dan menabrak seorang perempuan. Dia terus saja berteriak padaku, padahal aku sudah meminta maaf padanya " Gina ikut menggerutu karena kesal Yudha memperhatikan ekspresi istrinya dan bergumam " Kalau sedang begini dia manis sekalii " " Sudahlah, lupakan saja. Ayo jalan! " Yudha menggenggam tangan Gina dan berjalan bersama " Sepertinya besok aku akan mengunjungi rumah Sanjaya sebentar untuk melihat kakek dan ibu sebelum mereka meninggalkan kota ini " Kata Gina sambil menoleh pada Yudha Yudha dengan tenang menjawab? " Tidak perlu kembali ke rumah Sanjaya. Kakek dan ibu sudah pulang tadi siang. Ada urusan mendesak katanya " " Kenapa tidak memberi tahuku,,? Gina menyipitkan mata kepada Yudha " Tadi kamu sedang tidur, dan aku juga lupa. Untung kamu mengatakannya " " Kamu ini ya, hemph " Gina mencubit lembut pinggang Yudhs " Baiklah, aku minta maaf sayang! " Yudha sangat lembut dan pengertian. Mereka terus berjalan bersama. Hingga beberapa waktu lamanya. Setelah dirasa cukup lama, akhirnya mereka kembali menuju mobil yang berjarak tidak jauh dari tempat mereka. Mereka tak melepaskan tangan mereka yang saling terkait meskipun hanya sebentar. Gina merasakan kehangatan dari genggaman tangan besar Yudha " Aku tidak ingin melepaskan genggaman tangan ini. Meskipun hanya sebentar " Gumam Gina sambil tersenyum dan menatap Yudha Chapter 102 Peran Gina di kantor Setelah beberapa hari Gina mulai bekerja di perusahaan miliknya sendiri. Dengan produk pertama yang dia buat adalah produk perawatan wajah. Gina sedang berada di dalam kantor bersama Nadia dan Risti " Nadia, aku tidak mau menjabat sebagai petinggi perusahaan. Aku ingin kamu yang memegang kendali dan aku hanya akan mengawasi sebagai bagian dari HRD. Aku tidak mau berurusan dengan para penjilat. Jadi ku serahkan jabatan direktur padamu! " Gina berkata dengan tenang " Baiklah kamu tenang saja. Aku akan mengurus semuanya dan akan melaporkan setiap detilnya kepadamu! " Nadia tersenyum dan Gina hanya menganggukkan kepala " Bagaimana dengan produk pertama kita? " Gina bertanya sambil melihat dokumen ditangannya " Semua berjalan lancar, kita sudah melakukan berbagai uji coba dan akan segera di pasarkan " Risti menjawab dengan sopan. "Kita juga akan mulai mempromosikannya melalui media iklan. Untuk pemasarannya akan dilakukan pada awal bulan " " Kita sedang menyiapkan kontrak untuk aktris yang sedang naik daun saat ini agar menjadi brand ambasador produk kita " Gina menganggukkan kepala mendengar penjelasan Risti " Baiklah, persiapkan semua sesuai rencana. Periksa kembali kelayakan produk kita. Jika sudah layak untuk dikonsumsi maka buat persiapan untuk lounching produk. Pastikan semua aman! " Gina memberikan instruksi kepada Nadia dan Risti " O iya, jangan biarkan identitas ku sebagai pemilik perusahaan terbongkar. Kalian berdua yang akan mengurus semuanya " " Baik! " Nadia dan Risti menjawab dengan serempak, kemudian meninggalkan ruangan Gina Seperti yang direncanakan di awal, Nadia yang menjabat sebagai Direktur namun kendali perusahaan tetap dimiliki oleh Gina Gina bekerja seperti karyawan biasa. Diruang kecil dan dengan pekerjaan seorang bagian HRD. Yudha selalau mengantar dan menjemput Gina dari kantor. Dia tidak dibiarkan membawa mobil sendiri. Jam pulang kerja pun tiba. Gina tidak langsung ke luar dari ruangannya, karena dia menunggu Yudha terlebih dahulu. Jika Yudha sudah tiba di kantornya baru lah dia akan keluar. Drrrt drrrttt Ponsel Gina bergetar, dilihatnya sebuah pesan dari sang suami My Hubby Sayang aku sudah tiba dikantormu. Aku tunggu di mobil ya Gina tersenyum membaca pesan dari suaminya. dibalasnya chat itu dengan segera lalu dia mengambil tas kerjanya. dan bergegas meninggalkan ruangan My Sunshine Tunggu ya sayang, aku akan segera turun ???? Yudha tersenyum mendapat balasan pesan dari sang istri. Tak berselang lama dia melihat istrinya keluar dari kantor. Yudha pun segera keluar dari mobil dan membukakan pintu untuk istrinya. '' Hai sayang! " Yudha segera meraih pinggangnya Gina dan membukakan pintu mobil " Terimakasih " Gina tersenyum menerima perlakuan sang suami kemudian masuk ke dalam mobil Yudha pun melajukan mobil meninggalkan kantor Gina " Bagaimana dengan produk baru perusahaan mu? " Yudha bertanya sambil mengemudi. Dia memandang lurus ke depan, sesekali dia menoleh kepada sang istri " Sejauh ini semuanya berjalan lancar. Ku harap produk baru ku bisa dengan mudah diterima dipasaran " " Tentu, aku yakin kamu bisa melakukan yang terbaik sayang! " Senyum Yudha merekah, sebelah tangannya mengelus rambut panjang Gina dengan lembut. " O iya, aku membiarkan Nadia yang memegang posisi direktur. Aku hanya akan mengawasi perusahaan melalui jabatan HRD saja. Aku tidak mau berurusan dengan para penjilat " Wajahnya nampak seperti anak kecil yang kesal saat berbicara, tentu Yudha mengerti maksud istrinya. Dia hanya ingin mengawasi perusahaan tanpa di repotkan oleh orang yang bermuka dua. " Aku yakin kamu sudah mempertimbangkan semuanya. Kamu tidak perlu meragukan apapun " Dimata orang lain Yudha dan Gina adalah orang yang dingin dan acuh tak acuh. Tapi ketika mereka berdua pasangan ini selalu menunjukkan kehangatan dan pengertian satu sama lain. Gina bahkan tampil apa adanya dekat sang suami. Bersama Yudha dia akan jadi gadis yang manja dan selalu ingin diperhatikan. Tak pelak tingkahnya seperti anak kecil yang lucu dan menggemaskan. Dan Yudha yang dimata orang lain seorang laki - laki yang dingin dan kaku. Saat bersama Gina dia akan berubah lembut, hangat juga perhatian. Dia memperlakukan Gina layaknya anak kecil yang butuh di manjakan dan diperhatikan Chapter 103 Karyawan baru Gina langsung merebahkan tubuhnya ketika dia tiba dirumah. Yudha memperhatikan Gina yang terlihat lemas dengan wajah yang pucat. " Sayang apa kamu sakit? Wajahmu terlihat sangat pucat sekali! " Yudha yang khawatir melihat wajah Gina yang pucat pun langsung memegang dahinya untuk memastikan Gina demam atau tidak " Entahlah, mungkin hanya kelelahan saja karena sekarang aku sedang sibuk dengan peluncuran produk baruku " Wajah Yudha pun seketika berubah muram melihat istrinya yang pucat " Apakah kita perlu pergi kerumah sakit atau memanggil dokter kerumah? " " Tidak perlu sayang, aku tidak apa - apa. Setelah istirahat pun pasti baikan! " Gina tersenyum dan berusaha bangun dari duduknya. " Aaach!,," Set Namun keseimbangannya menurun, kepalanya pusing seakan berputar - putar dan dia pun hampir terjatuh, beruntung Yudha dengan sigap menangkapnya. " Apa kamu baik - baik saja? " Yudha terlihat begitu panik melihat kondisi sang istri, Gina hanya menganggukkan kepala dan tersenyum. Yudha pun langsung mengangkat Gina dan menggendongnya menuju kamar mereka. Dia membaringkannya perlahan ditempat tidur, menyelimutinya lalu duduk disampingnya, memegang pipi istrinya '' Apa kamu benar - benar tidak papa? Aku akan panggil dokter untuk segera datang kemari! " Yudha langsung beranjak bangun dari duduknya, namun Gina dengan cepat meraih tangan Yudha dan tersenyum lembut padanya "Tidka perlu terlalu khawatir sayang, Aku memang tidak papa. Hanya butuh istirahat dan nanti pasti lebih baik " " Baiklah, kamu istirahat saja ya. Aku akan mandi dulu sebentar " Yudha berdiri dan mendaratkan sebuah ciuman di dahi Gina. Gina sedang tertidur saat Yudha selesai membersihkan diri. Dilihatnya lagi wajah sang istri. Dia mendekat dan duduk disebelahnya. Sambil mengelus kepla Gina dengan lembut dia berkata " Sayang apa keputusan ku membiarkan kamu memegang kendali perusahaan Sanjaya salah? Kamu jadi kelelahan karena mengurus perusahaan sendiri " Wajah Yudha menjadi muram, melihat istrinya yang terbaring karena kelelahan. Pagi harinya pasangat itu sudah siap ke kantor. Seperti biasa Gina menyiapkan pakaian dan memakaikan dasi Yudha. Itu menjadi rutonintasnya setiap hari dan menjadi kesenangannya sendiri. " Apa kamu tetap akan pergi ke kantor? Kenapa tidak istirahat saja? " Yudha memandang Gina yang sedang memakaikan dasi padanya " Tentu saja, aku tidak papa. Lagi pula aku hanya mengawasi saja. Nadia dan Risti yang mengatur perusahaan. Aku juga sepertinya akan mempekerjakan karyawan baru untuk bagian keuangan " Gina menjelaskan dengan lembut dsn merapikan dasi kemudian memakaikan jas suaminya " Aku tidak ingin kamu jatuh sakit karena pekerjaan, oke? " Yudha memegang pipi Gina dan berkata dengan penuh kelembutan " Tentu saja sayang, kamu tidak perlu khawatir! Ayo kita berangkat sekarang! " Gina meraih tas kerja miliknya juga sang suami dan berjalan untuk sarapan kemudian pergi ke kantor Yudha mengantarkan Gina ke kantornya terlebih dahulu " Sayang, ingat kamu tidak boleh terlalu lelah. Aku tidak ingin melihat mu jatuh sakit! " Yudha berbicara sebelum Gina turun dari mobil. Gina tersenyum dengan sikap Yudha yang begitu khawatir dan peduli terhadapnya " Kamu tenang saja sayang. Aku janji tidak akan kerja berlebihan. Aku masuk dulu. Kmu juga hati - hati! " Yudha mencium kening Gina kemudian membiarkan istrinya turun dari mobil. Dia memperhatikannya sampai Gina memasuki gedung kantor Hari ini Gina memiliki rencana untuk meluhat proses syuting produk barunya. Gina juga mempunyai wawancara dengan karyawan baru yang telah dipilihnya " Hai Jimmy, apa kamu sudah lama menunggu? " Gina menyapa Jimmy yang terlihat sedang duduk di kursi tunggu depan ruangannya "Tidak nona, saya belum lama tiba disini " Jimmy berdiri dan dengan sopan meniawab sapaan Gina " Mari masuk keruangan ku, silakan duduk! " " Terimakasih nona! " " Kita langsung saja, apa kamu mau bekerja disini untuk membantu ku mengatur bagian keuangan? "Gina berkata dengan tenang. Jimmy terkejut mendengar tawaran Gina " Nona, apa anda tidak bercanda? Banyak perusahaan menolak saya, karena kasus lama saya waktu itu " Jimmy tertunduk saat berbicara dengan Gina " Aku percaya kalau masalah terakhir kamu diperusahaan itu bukanlah ulahmu! Itu semua dilakukan karena mereka mencari kambing hitam atas kasus penggelapan dana perusahaan itu sendiri! " " Kamu tidak perlu khawatir, jika memang kamu mau, kamu bisa membantu ku diperusahaan ini! Dan kamu tentu tahu siapa aku. Jika memang kamu mengkhianati ku, gampang saja, karena kamu akan mendapatkan balasannya . Aku tidak membiarkan orang yang merugikan ku lolos begitu saja. Kamu sudah dengar kan Tentang itu? " Gina berkata dengan senyum sinis " Tentu saja nona, saya akan bekerja sebaik mungkin dan tidak akan mengecewakan nona. Saya jamin itu! " Jimmu senang mendengarnya. selain karena mendapatkan pekerjaan, dia juga senang karena masih ada orang yang mau percaya padanya Chapter 104 Syuting Iklan Jimmy adalah anak dari konglomerat di kota C. Orang tuanya meninggal karena kecelakaan saat dia masih kecil dan semua hartanya diwariskan padanya. Dia dirawat dan dibesarkan oleh paman dan bibinya. Mereka merawatnya dengan baik dan Jimmy menyayangi mereka seperti orang tua sendiri Tapi setelah dewasa dan Jimmy memegang kendali perusahaan, mereka menjebak Jimmy dan memfitnahnya telah menyelewengkan dana perusahaan lalu menjebloskannya ke dalam penjara. Harta benda peninggalan orang tua Jimmy pun di ambil. Jimmy mencoba melamar pekerjaan di perusahaan lain setelah dia bebas. Sayangnya tidak ada yang berani mempekerjakan dia karena kasus yang menjeratnya. Gina dan Yudha telah mendengar kabar itu dan menyelidiki semua kebenaran tentang kasusnya. Maka dari itu Gina lah satu - satunya orang yang mau mempekerjakan pemuda berbakat seperti dia. Gina berencana membuka perusahaan baru dan Jimmy yang akan mengelolanya. Hanya saja dia ingin tahu dulu sejauh mana kemampuan Jimmy dalam berbisnis. Jadi dia meminta Jimmy bekerja di perusahaan terlebih dulu agar Gina dapat mengawasinya.. Produk pertama perusahaan Gina telah melewati tahap pengujian. Sekarang mereka akan mulai dengan tahap promosi. Yang menjadi brand ambasadornya adalah Chelsea dan model pendampingnya adalah Tiara. Chelsea adalah model sekaligus aktris muda yang sedang naik daun. Jadi dia begitu sombong dan memandang rendah orang lain. Sedangkan Tiara, dia hanyalah model baru yang lembut dan belum memiliki banyak pengalaman. Syuting berlokasi di sebuah pantai. Sayangnya syuting tidak berjalan lancar. " Syuting akan segera dimulai. semuanya bersiap. Model 1 dan 2 bersiap! " Kata salah satu kru memberi instruksi. Semua pun bersiap, termasuk Chelsea dan Tiara " Take 1, mulai. Adegan 1" Asisten sutradara memberikan instruksi. Dan syuting pun dimulai " Cuaca disini terik sekali. Aku jadi kepanasan!" Chelsea mulai adegannya " Tapi wajahmu masih tetap bersih tak berminyak! " Tiara memulai adegan " Cut cut..Chelsea tolong lebih fokus. Aku mau wajahmu terlihat lebih sopan dan lemah lembut! " Kata sang sutradara dengan kesal " Sutradara kenapa kita syuting di tempat panas seperti ini? Kulit ku bisa terbakar, dan lagi pasanganku itu. Dia itu kaku sekali! " Chelsea mencoba menyalahkan Tiara " Maaf, aku gugup. Aku merasa gugup karena harus syuting dengan kak Chelsea. Qku penggemar kak Chelsea " Tiara tertunduk dan gemetar. Nadia dan Risti memperhatikan dari kejauhan " Bagimana dia seperti itu? Karena dia model terkenal, dia jadi begitu sombong " Nadia ikut kesal melihat kelakuan Chelsea " Entahlah, mungkin dia berfikir kita perusahaan baru. Makanya dia seenaknya begitu " Risti pun memasang wajah kesal melihat Chelsea " Apakah semua artis terkenal seperti dia? Sebaiknya kita ganti saja lah. Aku sungguh tidak suka melihat dia! " Nadia mendekati mereka yang sedang syuting " Apakah syuting seperti ini memakan waktu cukup lama? Kenapa sampai sekarang masih belum juga selesai? " Semua orang menoleh ke ara Nadia " Maaf bu Nadia, ada sedikit hambatan saat proses syutingnya " Salah satu kru menjawab " Kami sudah membayar kalian semua, tapi sampai sekarang masih belum ada hasil sedikitpun. Kalian bisa bekerja dengan baik atau tidak? apa perlu aku mengganti kalian semua?! " Nadia yang kesal mulai meninggikan suara " Dan kamu, aku perhatikan dari tadi kamu terlalu banyak mengatur. Jika kamu tidak mau jadi model iklan kami. Kamu bisa menolaknya dan kami akan cari model lain " Nadia menunjuk ke arah Chelsea. " Maaf saya akan berusaha lebih baik" Dia tertunduk malu dengan kata-kata Nadia " Dasar perempuan tidak tahu diri. Berani-beraninya dia berteriak padaku dan membuat ku malu. Aku tidak terima ini! " Batin Chelsea menggerutu kesal karena malu " Baiklah semuanya mulai lagi. Semoga setelah ini semua berjalan lancar! " Semua mengangguk dan Nadia meninggalkan lokasi bersama Risti " Kurasa model itu tidak terlihat baik! " Risti berkata kepada Nadia sambil memperhatikan Chelsea " Kurasa begitu. Sepertiya dia tidak suka saat aku memperingati dia tadi " Nadia tersenyum sinis saat berkata pada Risti " Nadia apa kamu sudah bertemu orang baru yang direkrut mba Gina ? Katanya Mba Gina akan menempatkan dia sementara ini untuk memegang bagian keuangan " Aku belum bertemu dengannya. Semoga dia salah satu orang yang bisa dipercaya " " Tentu, kamu tidak akan meragukan kemampuan mba Gina dan Tuan Yudha kan? " Risti tersenyum menggoda Nadia " Tentu saja aku percaya pada mereka berdua. Hahaha" Nadia dan Risti oun tertawa bersama. Tanpa mereka sadari Chelsea memperhatikan mereka dari kejauhan Chapter 105 Hadiah paling berharga Gina akhir - akhir ini terlihat kurang sehat. Wajahnya tampak begitu pucat. Dia pun terlihat lemah dan lesu. Yudha yang selalu memperhatikan sang istri pun tentunya semakin cemas. " Sayang kurasa kamu tidak perlu pergi ke kantor. Wajah mu terlihat sangat pucat. Aku tidak mau sesuatu terjadi padamu " Yudha dengan raut wajah yang khawatir berusaha membujuk istrinya " Tidak bisa, aku harus pergi ke kantor. Aku harus melihat proses syuting hari ini. Ku mohon, ya sayang? " Gina bersikap manja agar mendapat izin dari sang suami. Yudha hanya menghela nafas dan menerima keputusan sang istri " Baiklah, asal kan kamu segera memberi tahuku jika terjadi sesuatu! " Yudha menyentuh hidung Gina dan memasang wajah serius " Siap pak bos! " Gina tersenyum riang dan mereka pun bersiap untuk pergi ke kantor.. Setibanya dikantor seperti biasanya. Yudha menurunkan Gina di depan pintu masuk " Hati - hati, nanti kabari aku ketika kamu tiba di kantormu " Kata Gina dengan senyum yang terlihat dipaksakan "Baiklah, aku pergi dulu! " Yudha melambai dan berbalik Tapi begitu Gina berbalik dan hendak masuk ke dalam gedung tiba - tiba Bruk Gina jatuh dan tidak sadarkan diri. Yudha yang baru saja masuk ke dalam mobilnya, melihat Gina terjatuh. " Sayang! " Dia terkejut dan dengan cepat keluar dari mobil lalu berlari ke arah Gina. Para karyawan lain yang baru tiba oun langsung berlari dan berkumpul melihat kondisi Gina " Tolong bukakan pintu mobil ku! " Yudha langsung menggendong Gina dan membawanya masuk ke dalam mobil. Dari mobil lain Chelsea melihat Yudha menggendong wanita tapi dia tidak tahu siapa yang di gendongnya " Bukankah itu si tampan Yang di restoran? Ada perlu apa dia disini? Lalu siapa gadis yang dia gendong itu? " Chelsea mengernyitkan alis penuh tanda tanya Sementara itu Yudha yang panik melaju dengan cepat menuju rumah sakit. Dia teringat saat dimana Gina terluka dan koma. Air mata pun tanpa sadar mengalir dari kedua mata indahnya " Sayang ku mohon bertahanlah! Apa yang terjadi padamu? ku mohon jangan membuatku takut! " Yudha sesekali menoleh ke arah Gina. Memperhatikan istrinya yang tak sadarkan diri Setelah beberapa lama, tibalah mereka di rumah sakit. Yudha menyerahkan kunci mobil pada tukang jasa parkir dan bergegas membawa Gina masuk " Dokter tolong istri saya. Dia tiba - tiba saja pingsan! " Yudha berkata dengan panik kepada dokter jaga " Tuan tenang dulu. Biar kami periksa terlebih dahulu. Tuan bisa tunggu dulu diluar! " Dokter berkata dengan lembut kepada Yudha. Dia pun menurut dan menunggu di luar. Yudha begitu panik, wajahnya pucat. Nafasnya tak beraturan. Dia duduk di kursi tunggu dengan kepala tertunduk dan kedua tangan di letakkan di mulut. Kakinya menopang tangan dan tak henti bergerak karena panik Tak lama dokter yang memriksa Gina pun keluar. " Dokter, bagaimana keadaan istri saya? "Yudha langsung berdiri menghampiri sang dokter " Tidak perlu khawatir tuan. Selamat, karena anda akan segera menjadi ayah! " Kata sang dokter dengan senyum lebar dan mengulurkan tangan untuk berjabat Yudha yang masih tekejut dan terpaku mendengar berita dari sang dokter " Apa? Benarkah istriku sedang hamil? " Yudha mengernyitkan alis dan nampak sangat terkejut " Benar tuan, nyonya positif hamil! " Setelah mendengar kepastian sang dokter Yudha pun tersenyum dan berlari menuju kamar Gina " Terimakasih dokter! " Ia duduk di sebelah Gina dan memegang kedua tangannya " Sayang, terimakasih banyak. Ini adalah kado terindah yang pernah aku terima. Ini hadiah paling berharga dalam hidupku. Yudha menciumi tangan istrinya yang masih tak sadarkan diri " " Aku akan merawat mu dan memastikan kalian sehat! " Yudha tersenyum kepada Gina kemudian mengalihkan pandangannya ke bagian perut Gina dan menyentuhnya " Sayang, sehat - sehat ya kamu disana dan jangan buat papi dan mami khawatir! " Yudha dengan lembut berkata pada perut Gina, layaknya berbicara pada anaknya dan mencium perutnya " Eeuh " Tak lama Gina pun siuman dan melihat sang suami disampingnya, dia masih merasa pusing " Aku dimana? " Gina menoleh ke semua arah " Sayang, kamu sudah sadar. Tenanglah tidak perlu cemas! " Yudha mengusap kepala Gina perlahan " Sayang terimakasih atas hadiah paling berharga yang kamu berikan. Sungguh itu adalah kabar paling menggembirakan yang pernah aku dapat! " Yudha tersenyum riang. Berbeda dengan sang istri yang mengerutkan alis karena tidak tahu apa yang Yudha bicarakan " Apa yang terjadi? Hadiah apa yang kamu maksud? " Ekspresi Gina terlihat sangat bingung " Kamu hamil, sayang. Dan kita akan segera memiliki bayi di rumah kita!" Chapter 106 Calon penerus keluarga " Benarkah? Benarkah kita akan punya anak? " Gina masih tidak percaya dengan apa yang di dengarnya dari Yudha " Benar sayang, kita akan memiliki bayi. Kamu sedang hamil sayang! " Pancaran kebahagiaan terlihat dari wajah yudha dan Gina meneteskan air mata karena terharu " Terimakasih sayang. Aku akan menjaga mu dan bayi kita, dan kamu tidak boleh terlalu lelah. Kalau perlu kamu tidak perlu pergi ke perusahaan. Cukup kamu awasi saja orang - orang dibawahmu! " Gina mengernyitkan alis kemudian tersenyum kepada sang suami " Baiklah sayang. Aku hanya ke perusahaan untuk mengawasinya saja. Tidak akan berbuat apa - apa " Yudha tersenyum puas dengan jawaban sang istri " Bolehkan aku kembali ke kantor? Masih ada yang harus aku kerjakan! " Gina menunjukkan wajah imutnya untuk sang suami " Baiklah, aku akan menemanimu. Tapi kita harus bertemu dokter terlebih dahulu. Aku ingin tahu perkembangan calon bayi kita " Yudha berkata dengan lembut. Gina menganggukkan kepalanya setuju Mereka pun menemui dokter dan melakukan USG untuk melihat calon bayi mereka berdua Dokter menempatkan sebuah alat di perut Gina dan gel yang dingin pun terasa di perutnya " Tuan, nyonya. Silahkan lihat ke layar ini. Disini ada sebuah gumpalan. Dan itulah calon bayi tuan dan nyonya . Usia kandungannya adalah 6 minggu. Usia ini masih sangat rentan, jadi nyonya harus berhati - hati! Nyonya juga tidak boleh terlalu lelah " Dokter memberitahukan perlahan dan menjelaskan apa yang terlihat di layar monitor Gina dan Yudha memperhatikan dengan baik calon penerus keluarga mereka. Sebuah gumpalan kecil yang akan memiliki kehidupan di dunia ini. Entah itu anak laki - laki atau perempuan. Yang pasti mereka akan tetap menyayanginya " Saya akan menuliskan resep obat dan vitamin untuk kandungan nyonya! Anda bisa membawa nyonya untuk melakukan pemeriksaan kandungan lagi bulan depan! " " Baiklah dokter, terimakasih! " Yudha membantu Gina untuk bangun dan memapahnya keluar dari rumah sakit. Sesuai dengan keinginan Gina mereka menuju ke perusahaan Gina. " Hendri tolong hendle masalah dikantor hari ini. Jika ada masalah yang penting, kamu bisa membawanya ke perusahaan Istriku! " " Baik tuan! " Yudha sedang mengemudi sambil menghubungi asisten Hendri, dia memberitahukan kalau hari ini dia akan berada di kantor Gina untuk menemaninya " Sayang apa kamu ingin makan sesuatu? " " Tidak, aku tidak ingin makan apa - apa " Gina menolak sambil menggelengkan kepala perlahan " Ya sudah, kamu istirahat dulu, nanti begitu tiba akan aku bangunkan! " Yudha mengelus kepala Gina lembut Setelah menempuh perjalanan beberapa lama, akhirnya mereka tiba di kantor Gina. Yudha membantu membukakan pintu mobil untuknya dan membantunya berjalan ke dalam gedung " Sayang, tidak perlu seperti ini. Semua orang memperhatikan kita! Aku seperti anak kecil saja! " Gina merasa malu karena Yudha memapahnya. Semua karyawan memperhatikan mereka. Karena yang mereka tahu Gina hanyalah bagian HRD biasa " Aku tidak peduli, yang penting aku ingin melindungimu! " Gina pun mendesah pelan. Nadia dan Risti menghampiri mereka berdua " Selamat pagi Tuan, mba Gina! " Gina dan Yudha menganggukkan kepala serempak " Aku ingin bicara dengan kalian berdua! " Kata Yudha dengan wajah datarnya. " Baik tuan! " Nadia dan Risti serempak. Mereka pun mengikuti pasangan itu di belakangnya " Aku ingin kalian berdua membantu Gina menghendle perusahaan ini, aku tidak ingin sampai dia kelelahan! " Yudha dengan wajah datar dan ketegasannya sebagai seorang pemimpin " Baik Tuan! " Gina juga memanggil Jimmy ke ruangannya " Nona, apa anda memanggil ku? " kata Jimmy ketika dia memasuki ruangan Gina " Ya, kemarilah. Aku ingin memperkenalkan mu pada rekan kerjamu disini. Ini Nadia dan Risti. Kamu bisa membahas masalah perusahaan bersama mereka! " Tunjuk Gina kepada Nadia dan Risti. Jimmy menoleh ke arah mereka dan dan tersenyum sambil menganggukkan kepala. " Ini suami ku, Yudha " Gina memperkenalkan Yudha yang berasa di sampingnya . Jimmy tersentak melihat Yudha. " Bukankah ini tuan Yudha Arya Kusuma? Pebisnis muda no 1 itu? "Dia bertanya dengan ragu " Ya, aku Yudha Arya Kusuma! " Kata Yudha disertai senyum yang sama sekali tidak terasa hangat " Berarti Nona Gina adalah,,, " Sebelum dia selesai dengan kalimatnya Gina sudah memotong kata - katanya " Aku Gina Yulia Atmaja! " Gina tersenyum kepada Jimmy " Suatu kehormatan bagi saya bisa bekerja bersama dengan anda nona. Maaf karena saya tidak langsung mengenali anda! " Jimmy menundukkan kepala merasa menyesal " Tidak apa. Justru aku ingin kamu berpura - pura tidak mengetahui siapa aku. Aku mau kalian bertiga mengurus perusahaan ini. Aku hanya akan mengawasi tanpa bertindak langsung! " Gina menjelaskan dengan tenang dan mereka mengangguk. Yudha hanya diam saja dan sibuk dengan laptopnya Chapter 107 Jangan bermimpi Yudha hampir setiap hari menemani Gina di kantornya. Dia mengerjakan setiap pekerjaannya dikantor Gina. " Sayang apa kamu tidak ke kantormu? " Tanya Gina kepada suaminya yang sedang duduk di sofa dengan laptopnya " Tidak, aku akan mengerjakan pekerjaanku disini " Yudha menjawab tanpa mengalihkan pandangannya dari laptop " Kembalilah ke kantormu. Aku hanya karyawan biasa disini. Semua orang memperhatikan kita sayang! " Gina mencoba membujuk Yudha agar membiarkannya bekerja sendiri tanpa di awasi " Aku tidak peduli dengan mereka. Tidak usah dihiraukan kerjakan saja pekerjaan mu sayang! " Gina mengerucutkan bibirnya mendengat jawaban Yudha Drrtttt drrrttt " Halo Hendri " Yudha menerima panggilan telpon dari Hendri dan dia ada rapat di luar hari ini " Kamu aturkan tempatnya dan kita akan bertemu disana saat makan siang. Baiklah! " Setelah memberi instruksi Yudha memutus sambungan teleponnya " Sayang, aku ada meeting di luar saat makan siang ini. Jadi aku tidak dapat menemanimu. Akan ku jemput saat jam pulang kantor! " Yudha berkata sambil merapikan pekerjaannya dan memasukan setiap dokumen ke dalam tas kerjanya " Baiklah kamu tidak perlu khawatir. Aku akan menjaga diriku dan bayi kita! " Gina berdiri dan mendekati Yudha, kemudian membantunya merapikan dasi dan memakaikan jas " Kalau begitu aku pergi dulu. Ingat, jangan sampai kelelahan! " Yudha memperingati dengan serius kemudian mencium kening membungkuk dan mencium perut Gina sambil berkata " sayang, papi pergi dulu. Titip mami! jaga mami baik - baik! " Gina tersenyum melihat Yudha seperti itu Yudha pun beranjak meninggalkan Gina di ruangannya. Di luar gedung Chelsea baru saja tiba di kantor Gina untuk melakukan sesi pemotretan iklan berikutnya. Dia mulai berjalan di dalam gedung dan melihat Yudha berjalan dari kejauhan " Pria tampan itu. Kali ini aku harus berhasil berkenalan dengannya! " Chelsea pun tersenyum licik Mereka saling berpapasan saat Yudha menuju pintu " Aaach " Dia berpura - pura jatuh ketika berada disebelah Yudha sehingga dia memegang jasnya. Yudha mengernyitkan dahi melihatnya " Perempuan ini mau main - main denganku? " Batin Yudha kemudian dia tersenyum licik tanpa diketahui Chelsea " Anda tidak papa nona " Yudha bertanya dengan nada dingin dan ekspresi yang datar " Maaf tuan sepertinya kaki saya terkilir! " Chelsea tersenyum, mengira kalau dia berhasil menjebak Yudha Dari bagian lain terlihat Jimmy berjalan bersama Nadia. Mereka melihat kejadian itu " Cih, wanita tidak tahu diri. Dia berani menggoda tuan Yudha " Nadia berkata dengan sinis " Siapa wanita itu? " Jimmy mengernyit dan bertanya pada Nadia " Dia Chelsea. Dia artis muda yang sedang naik daun dan sekarang dia juga merupakan model kita " Nadia menjelaskan dengan nada kesal " Dia itu orang yang sombong. Mentang - mentang dia sedikit terkenal, dia pikir bisa berbuat seenaknya! " Sambungnya lagi " Apakah dia tidak tahu siapa tuan Yudha? " " Mungkin saja. Dia hanya tahu pria tampan dan ingin merayunya. Dia tidak tahu siapa tuan Yudha sebenarnya " Jimmy hanya diam mendengarkan Nadia dan memperhatikan Yudha dan Chelsea. Dari kejauhan Gina juga tak sengaja memperhatikan apa yang sedang terjadi. " Mau merayu suamiku? Jangan bermimpi mendapatkannya! " Gina tersenyum licik melihat mereka " Apa kamu bisa jalan? maaf karena saya sedang terburu - buru! " Yudha membantu Chelsea berdiri. Chelsea pura - pura akan terjatuh lagi dan berpegangan pada Yudha " Benar - benar merepotkan! " Batin Yudha kesal Nadia dan Jimmy menghampiri mereka " Nona Chelsea, apakah anda baik - baik saja? " Nadia memasang wajah khawatir " Sepertinya kaki ku sedikit terkilir! " Jawabnya lemah " Biar saya membantu anda " Jimmy menawarkan bantuan pada Chelsea " Tidak perlu, terimakasih. Tuan ini yang akan. ... " Chelsea menoleh ke arah Yudha yang masih memegang tangannya " Maaf saya masih ada urusan penting. Terimakasih kalian sudah mau membantu! " Yudha berkata dengan dingin dan membiarkan Jimmy memegang Chelsea "Anda tidak perlu sungkan tuan,, ! " Kata Nadia hendak memberi tahu identitas Yudha. Tapi dia mengerti ketika Yudha mengedipkan mata dan memicing ke arah Chelsea. Seolah mengisyaratkan untuk tidak memberitahunya " Dia adalah artis kami tuan, Jadi kami akan merawatnya dengan baik! " Nadia menerangkan agar mereka uang mengurus Chelsea " Kalau begitu aku percayakan pada kalian. Nona maaf, karena saya tidak. bisa menemani anda " " Iya tuan tidak apa. Tidak perlu khawatir! " Chelsea tersenyum kepada Yudha namun Yudha hanya tersenyum dingin dan beranjak pergi meninggalkan mereka " Ish, mengganggu saja. Kalau saja Gina memberi tahu posisinya disini. Sudah ku singkirkan dari tadi "Yudha menggerutu sambil merapikan jasnya yang kusut karena di tarik oleh Chelsea tadi Chapter 108 Nikmati waktumu bersamanya!! Chelsea masih di papah Jimmy hingga ke ruang pemotretan.. " Nona, apa anda yakin anda tidak apa - apa? Perlu saya panggilkan dokter tidak? " Jimmy menawarkan dengan hormat, tapi dengan sikap sombongnya dia menolak tawaran Jimmy " Terimakasih karena sudah membantu ku, tapi kamu bisa pergi sekarang " Chelsea mengusir Jimmy dengan wajah angkuhnya. " Kalau begitu saya permisi nona " Jimmy pun meninggalkan Chelsea " Huh sial, coba tadi tidak ada mereka. Aku pasti bisa menghabiskan waktu lebih lama bersama pria tampan itu " Chelsea mendengus kesal " Tapi dia siapa ya? Kenapa dia bisa ada disini? Melihat direktur Nadia dan Pak Jimmy begitu sopan kepadanya, sepertinya dia merupakan orang yang berpengaruh di perusahaan ini. Aku pasti bisa mendapatkan mu tampan " Chelsea pun tersenyum sendiri Di sisi lain, Nadia sedang berada diruang Gina. " Gin apa kamu tahu kalau ada seorang artis yang mau merayu Tuan Yudha? " Nadia mulai bertanya pada Gina yang sedang duduk di kursi kerjanya dengan secangkir teh ditangannya " Aku tahu, tadi aku melihatnya. Biarkan saja, toh dia masih belum melakukan apapun yang meyakinkan kita bahwa dia ingin merebut suamiku. Kalau dia sudah mulai pergerakannya, baru kita akan bertindak. Jadi biarkan saja dia bermain - main terlebih dahulu" Gina begitu tenang saat berbicara dengan Nadia " Aku ingin minta tolong padamu untuk mencari informasi sedetil - detilnya tentang dia! Jangan sampai ada satu informasi kecil pun yang terlewatkan! " Gina tersenyum menyeringai penuh kelicikan di sela minum tehnya " Tenang saja. Aku mengerti apa yang kamu maksudkan! Aku yakin bisa mendapatkan sesuatu yang menarik tentang dia " Nadia pun ikut tersenyum, menebak apa yang akan dilakukan Gina nanti " Bagaimana dengan syuting dan pemotretannya? Apa semua berjalan lancar? " Gina bertanya dengan tenang " Huh, dia artis yang begitu sombong. Banyak sekali tingkahnya terhadap kru dan juga model pendampingnya. Syuting kemarin jadi terhambat karena dia. Kali ini pun kurasa pemotretan untuk promosi kita pun sepertinya akan terhambat. Mengingat tadi dia berkata kakinya terkilir " Nadia pun mendengus kesal menjelaskannya " Kamu awasi saja. Kurasa yang jadi model pendamping itu jauh lebih baik dari pada dia. Hanya saja dia masih sedikit pemalu " " Kurasa begitu. Tapi kenapa kita harus menggunakan Chelsea sebagai brand ambasador? Kalau aku tahu dia begitu sombong dan banyak tingkah, sudah ku black list dia dari model iklan kita. Huh " Nadia sangat kes jika mengingat Chelsea " Sudahlah, nikmati saja waktumu bersamanya " Gina memberikan kode berupa senyum sambil memicingkan mata pada Nadia " Baiklah, jika itu keinginan mu. Aku akan bermain dengannya " Nadia begitu senang mendapatkan lampu hijau dari Gina. Dia pun meninggalkan ruangan Gina Seperti yang diperkirakan sebelumnya, sesi pemotretan tidak berjalan dengan lancar. Chelsea terus saja mencari alasan dan membuat semua kewalahan " Maaf pak, kaki ku sedikit terkilir, bisakah kita melakukan sesi photo sambil duduk saja? " Chelsea dengan nada bicara yang manja berusaha meyakinkan photografer " Kenapa tidak katakan saja dari tadi, jadi kami tidak perlu menunggu dan bisa mengambil photo Tiara! " Photografer yang kesal karena menunggu meninggikan suara " Panggilkan Tiara, biar dia bersiap - siap. Kita akan mengambil photo dia saja! " "Huuuh! " Risti yang memperhatikan dari kejauhan pun menghela nafas panjang " Kenapa kamu menghela nafas panjang begitu? " Tanya Nadia yang tiba - tiba muncul dari belakang dan membuat Risti tersentak karena terkejut " Ech! Kamu mengagetkan ku saja! Aku kesal melihat model itu. Dari tadi dia hanya mengulur waktu untuk sesi photo. Pada akhirnya dia berkata kalau kakinya terkilir dan tidak dapat melakukan pengambilan gambar . Menyebalkan sekali, huh? " Risti yang biasanya diam kini terlihat begitu marah " Tenanglah, bagaimana kalau kita obati saja dia sekarang? " Senyum menyeringai terlihat di wajah Nadia " Sepertinya kamu memiliki sesuatu? "" Tanya Risti dengan memicingkan mata " Aku akan melihat dia dan mengobati kakinya! " Nadia meninggalkan Risti dan berjalan menuju ke arah Chelsea " Nona Chelsea, bagaimana dengan kondisi kaki mu? Hari ini ada pemotretan, kamu oasti sangat kesulitan ya dengan kaki yang cedera itu? " Nadia berjalan dengan tenang. Dengan tangan dilipat di dada dan senyum dingin yang terpancar " Oh direktur Nadia. Kaki ku tidak apa. Hanya terkilir sedikit, dalam beberapa hari ke depan pasti lebih baik " Chelsea menoleh ke arah Nadia dan meniawab dengan senyum yang ramah "Coba kulihat kaki mu, aku pernah sedikit belajar mengenai pengobatan pijat! " Nadia sedikit mengangkat sebelah ujung bibirnya membentuk senyuman yang tidak enak dilihat " Tidak usah, terimakasih. Nanti juga akan sembuh sendir " " Tidak papa, Tidak usah sungkan dengan ku. Kamu kan model perusahaan kami! " Nadia tersenyum dan berlutut di depan Chelsea " Bagian mana yang sakit? Apakah ini? " " Aaaccchh!! " Chapter 109 Pelajaran untuk Chelsea Chelsea berteriak karena kakinya di tekan Nadia dengan begitu kuat " Oops apakah sangat sakit? Sepertinya kakimu harus segera di obati! " Chelsea meringis kesakitan " Coba sebelah sini biar ku lihat! " " Aaaccchh" Dia berteriak lagi dan meringis, hampir meneteskan air matanya " Waah lukanya jadi semakin bengkak. kau bukannya mengobatinya, malah membuat lukanya tambah parah saja! " Kata manajer Chelsea kesal " Aku hanya berusaha membantu, Mana tahu kalau akan jadi begini. Lagi pula nona Chelsea, sudah tahu anda ada pemotretan hari ini. Bagaimana bisa anda tiba - tiba terjatuh? " Nadia mengangkat kedua bahu dan berkata dengan tenang " Karena nona Chelsea sedang cedera, jadi untuk syuting dan pemotretan akan dilakukan oleh nona Tiara. Nona Chelsea, ku harap kamu bisa cepat pulih. Bagaimana pun kami telah membayar anda sesuai perjanjian yang ada di kontrak! " Nadia berkata dengan dingin " Baik bu direktur, saya akan berusaha cepat pulih agar tidak memperlambat lagi proses syuting! " Chelsea berkata sambil tertunduk. Dalam hati dia mengumpat kesal " Nadia sialan sudah dua kali dia mengerjai ku. Awas saja kamu suatu hari pasti akan ku balas! " " Kalau begitu kamu bisa pergi kerumah sakit dan beristirahatlah dengan baik! " Nadia berdiri dan beranjak dari ruangan meninggalkan Chelsea Setelah menjauh dari sana, dia dan Risti tertawa karena berhasil mengerjainya. " Hahaha, apa kamu lihat tadi bagaimana mukanya saat kau sentuh kakinya? " Kata Nadia tertawa lepas " Kamu benar - benar keterlaluan. Bukannya kakinya makin baik malah tambah buruk. Hahaha " Risti pun ikut terbahak membayangkan itu " Dia sengaja terjatuh di depan tuan Yudha untuk mengambil perhatiannya. Sekalian saja aku bikin sakitnya parah. Itu pelajaran untuknya. Hahaha" " Setidaknya beberapa hari ini kita tidak akan melihat wajahnya yang menyebalkan itu kan? " Kata Nadia di sela tawanya. " Sudah, ayo kita kembali bekerja. Ada dokumen yang harus kamu periksa! " Mereka berdua berjalan sambil berbincang masalah perusahaan Sore hari Yudha kembali dari kantornya dan menjemput Gina diruangan " Sayang, apa pekerjaan mu sudah selesai " Kata Yudha saat memasuki ruangan Gina " Sudah, aku tidak memiliki banyak pekerjaan, karena seseorang telah melimpahkan pekerjaan ku pada orang lain " Sindir Gina pada suaminya dengan memicingkan mata " Hahaha, itu kulakukan karena aku tidak mau istri dan calon bayiku kelelahan " Yudha tersenyum sambil mendekati Gina dan bersujud di depan Gina sambil mengelus lembut perut istrinya " Sayang papi tidak nakal kan? Jangan buat mami repot ya! " Gina tersenyum melihat apa yang dilakukan Yudha. Bisa dibilang interaksi antara ayah dan anak " Papi juga tidak boleh nakal ya, selama aku diperut mami! " Gina menirukan suara anak kecil sambil mengusap kepala sang suami " Aku tidak pernah nakal. Kenapa kamu bicara seperti itu? " Yudha mendongakkan kepala menatap Gina saat berbicara " Tidak ada, hanya ingin bicara saja " Gina mengangkat bahu juga sedikit mengernyitkan mulutnya Yudha memicingkan mata curiga " Sepertinya kamu menyembunyikan sesuatu dariku? " Yudha pun meletakkan kedua tangan dipaha Gina dan menjadikannya sebagai bantalan untuk dagunya " Tidak ada, hanya saja aku melihat ada gadis yang mau mengganggu papi tertampan di dunia ini " Gina mencubit hidung Yudha karena gemas " Owh, jadi kamu melihat kejadian tadi siang? Apa kamu cemburu? " Senyum menggoda pun terpancar di wajah tampan Yudha " Tentu saja aku cemburu. Sudah kukatakan sebelumnya, kalau aku ini wanita yang egois. Aku tidak suka berbagi sesuatu milikku. Apalagi itu kamu! " Gina mencolek hidung mancung Yudha sambil tersenyum " Kamu tenang saja. Aku hanya akan jadi milukmu. Begitu pun denganmu. Tidak ada seorang pun yang dapat merebutmu dariku! " " Sudahlah. Kamu mau makan apa untuk malam ini sayang? " Yudha bangkit dan menggandeng tangan Gina keluar dari kantor " Eehm.. Aku ingin makan sate kambing. Sepertinya enak, tapi harus kamu sendiri yang bakar! " Gina memasang wajah imut untuk merayu Yudha agar mewujudkan keinginannya " Kenapa harus aku yang bakar? Kan kokinya sudah pasti lebih handal dalam membakar sate? " " Aku tidak mau. Pokoknya aku ingin makan sate yang kamu bakar sendiri. Kalau tidak aku tidak akan makan malam " Gina cemberut, merajuk bagaikan anak kecil Yudha mengerutkan kening mendengar syarat sang istri. Diapun menghela nafas " Baiklah sayangku, sesuai keinginanmu! Kita akan makan sate dan aku yang akan bakarkan untukmu" Mereka berjalan keluar dari mobil menuju parkiran. Dan melaju menuju restoran yang menyediakan sate. Chapter 110 Tukang sate tampan Tak berapa lama mereka tiba di restoran yang menyediakan sate " Ayo sayang. kita sudah sampai " Yudha membantu Gina turun dari mobil Mereka berjalan bergandengan menuju meja yang telah disediakan pihak restoran unyuk mereka. Seperti yang dijanjikan sebelumnya, Yudha yang akan membakar sate khusus untuknya. " Tuan, nona. Silahkan daftar menunya! " Pelayan memberikan buku menu kepada Yudha dan Gina " Permisi saya mau pesan sate kambing. Tapi bisakah suami saya yang membakarnya sendiri? " Gina bertanya terlebih dahulu kepada pramusaji restoran dengan lembut " Tentu, silakan tuan sebelah sini! " Pramu saji menunjuk ke arah dapur " Sayang kamu tunggu disini sebentar ya! " Yudha hendak membuka jasnya dan meletakkan di sandaran kursi " Tidak, aku ingin melihatmu secara langsung membakarnya sendiri untukku! " Gina menggelengkan kepala dan mulai merajuk lagi " Fiuh, baiklah sayang. Ayo! Perhatikan langkahmu! " Yudha menggandeng Gina menuju dapur. " Kamu duduk disini dan perhatikan aku! " Yudha tersenyum menggoda Gina. Setelah mendapatkan anggukan dari sang istri, dia membuka jas dan mengenakan celemek, juga melipat lengan bajunya agar tidak kotor Yudha terlihat seperti sebuah maha karya yang dibuat sempurna. Meskipun dengan celemek dan membakar sate dia terlihat menawan. Banyak pengunjung juga memperhatikan Yudha yang sedang membakar tusukan daging kambing itu. Gina meneliti tatapan mereka yang seakan - akan tatapan binatang buas yang siap menerkam mangsanya kapan saja. Gina mulai mengerucutkan bibirnya. Kesal karena tatapan wanita di sekitarnya kepada Yudha. Diapun mendekati Yudha dan meraih lengannya " Sudah selesai belum? Ayo cepat! " Dia berkata dengan nada kesalnya. Yudha langsung mengernyitkan dahi melihat sikap istrinya yang tiba - tiba berubah " Sebentar lagi. Sabar ya! "Dia berkata dengan lembut dan senyum yang manis. Gina pun memperhatikan sekeliling lagi. Sikap manis Yudha membuat para wanita disana lebih memandang Yudha dengan mata berbinar seperti kekaguman. " Cepat sayang, aku sudah lapar! " Katanya kesal " Iya iya. ini sudah selesai " Pramu saji membantu menyiapkan tempat untuk Yudha menaruh sate dan bumbunya. Mereka pun kembali ke tempat duduknya. Gina sudah tidak nyaman karena suaminya menjadi pusat perhatian pengunjung lain. Dia terus saja cemberut. " Kenapa? Ayo makanlah sayang! Aku sudah menjadi tukang sate tampan hanya untukmu " Yudha tersenyum kepada sang istri. tapi Gina tidak menanggapinya. Dia hanya memutar - mutar satu tusuk sate Yudha pun mengambil satu tusuk sate yang sudah dia lepaskan dari tusukannya dan menyuapi Gina " Sayang cobalah ini. Tadi kan kamu yang ingin memakan ini! " Yudha menyodorkan sebuah sendok berisikan sate dan nasi ke mulut Gina " Aku sudah tidak ingin makan. Aku ingin segera meninggalkan restoran ini! " Suaranya terdengar lemah dan sendu Yudha bingung dengan sikap Gina yang selalu berubah - ubah belakangan ini. Seperti sekarang. Kadang tiba - tiba dia senang, dan bisa juga tiba - tiba dia jadi sedih " Apa semua wanita hamil jadi moody seperti ini ya? " Gumam Yudha karena bingung " Sayang, makan sedikit saja ya, kasian nanti calon bayi kita kelaparan, karena kamu tisak mau makan! " Wajah yudha dibuat sendu saat membujuk istrinya . Gina pun sepertinya memikirkan perkataan Yudha " Baiklah aku akan makan. Tapi setelah itu kita harus langsung pulang. Dan lain kali saat kita ke luar rumah kamu harus mengenakan masker! " Kata Gina dengan nada suara ketus Yudha semakin mengernyitkan dahi dan geleng - geleng kepala dibuatnya Mereka melanjutkan makan dengan tatapan orang yang iri melihat kemesraan keduanya.. " Lihatlah pasangan itu, mereka begitu serasi. Dan sang pria sangat memperhatikan wanitanya. Aku sungguh iri melihat mereka berdua " Kata seorang pengunjung " Benar mereka begitu mesra sekali. Yang pria begitu tampan dan wanitanya begitu cantik. Sungguh pasangan yang cocok" kata yang lainnya " Sepertinya aku pernah melihat mereka? Tapi dimana ya? Wajah mereka begitu tidak asing buatku? " " Entahlah, dari cara berpakaian mereka, sepertinya mereka bukan orang sembarangan! " " Kurasa juga begitu. Sudahlah kita selesaikan maian kita Yudha dan Gina selesai dengan makan malam mereka. Meskipun Gina hanya makan sedikit karena nafsu makannya yang tiba - tiba hilang. " Apa sudah selesai sayang? " Tanya Yudha lembut setelah dia membersihkan mulutnya dari sisa makanan. Gina hanya mengangguk perlahan " Kita langsung pulang saja ya. Kamu pasti lelah! " Yudha berkata sambil menggandeng Gina meninggalkan restoran "ach aku baru ingat! Kita belum memberitahukan keluarga kita perihal kehamilan mu. Mereka pasti akan sangat senang sekali mendengar kabar bahagia ini " Sambungnya lagi " Kalau begitu kita berkunjung kerumah Utama akhir pekan ini, bagaimana? " Gina menoleh kepada Yudha dan bertanya " Baiklah kita akan pulang. Untuk keluargamu,, kita telepon saja ya, aku. khawatir kalau kamu harus melakukan penerbangan kesana! " Yudha memasang wajah khawatir dan Gina mengangguk diiringi senyuman indah Chapter 111 Kamu sungguh konyol Sepanjang perjalanan Gina hanya diam dan murung. Padahal Gina yang biasanya selalu ceria dan manja. Walau dihadapan Yudha, Gina selalu bersikap apa adanya dan terkadang seperti anak kecil yang butuh diperhatikan, tapi Yudha sama sekali tidak keberatan. Baginya jika bukan sang istri, lalu siapa lagi yang harus dia perhatikan. " Sayang, apa ada sesuatu yang terjadi? Apakah ada yang mengganggu pikiranmu? Kenapa kamu hanya diam saja? Apa aku telah melakukan suatu kesalahan? " Gina tidak mengeluarkan suara sama sekali. Dia hanya menjawab dengan gelengan kepala " Lantas, kenapa kamu diam saja? Sikap mu tiba - tiba berubah ketika kita direstoran tadi. Apakah ada sesuatu yang mengganggu mu? " Yudha berbicara sambil menyetir mobil. Pandangnnya lurus ke depan. Sesekali dia menoleh ke arah Gina dan mengusap kepalanya Tanpa sadar Gina sedikit meneteskan air mata. Yudha panik melihatnya dan menepi untuk berbicara " Sayang, kenapa kamu malah menangis? Apa aku mengatakan sesuatu yang membuat kamu sedih? " Yudha begitu panik dan khawatir melihat istrinya menangis " Tidak ada, hanya saja,,, hanya saja,, aku tidak suka kalau wanita - wanita itu menatap mu dan aku benci ketika kamu berdekatan dengan wanita lain. Aku sama sekali tidak suka itu. Aku tidak ingin membagi mu dengan orang lain. Hiks hiks" Gina berkata dengan tersedu - sedu disela tangisannya. Yudha menatap tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Bahkan dia sampai tak mengedipkan mata. Kemudian dia tertawa terbahak " Hahaha, sayaaang.. sejak kapan kamu begitu sensitif mengenai ini. Aku tidak bisa melarang mereka untuk menatap ku. Kenapa? karena suamimu ini adalah pengusaha muda yang tampan. Kamu harusnya senang dengan itu!. Hahaha. Sayang, kamu sungguh konyol sekali" Yudha terus tertawa tanpa melihat ekspresi di wajah istrinya. Hingga akhirnya " Huwaaaa... Huwaaa... Kamu jahat, jadi kamu senang kalau para wanita itu memperhatikan mu " Tangisan Gina semakin keras ketika Yudha menertawakannya " Iya iya, maafkan aku, aku tidak bermaksud menertawakan mu. Lihat aku sayang! " Yudha merangkup wajah Gina dengan kedua tangannya agar dia menatap Yudha " Aku tidak bisa melakukan apa - apa ketika mereka harus menatap ku. Tapi yang bisa ku janjikan adalah hanya kamu dan anak kita yang akan menjadi milikku. Tidak akan ada gadis lain yang akan menemani hidupku selain kamu! " Seketika tangis Gina pun berhenti " Apa benar yang kamu katakan? " Gina memastikan dengan wajah yang sendu " Tentu saja. Karena aku sudah memilihmu pasti akan aku tepati " Yudha tersenyum " Kurasa kamu salah, bukan kamu yang memilih ku, tapi aku yang memilihmu dan melamarmu " " Ah, kau benar! Kau yang melarku agar kita segera menikah. Aku melupakan hal itu! " " Bisakah kita jalan lagi sekarang? " Tanya Yudha yang dibalas anggukan kepala Gina. Yudha pun kembali melajukan mobilnya menuju rumahnya. Setibanya dirumah, Gina langsung membersihkan diri dan berbaring. Dia lebih cepat lelah ketika sedang hamil. Sampai dia mengingat sesuatu dan bangun dari tidurnya lalu meraih posel miliknya. Dia menghubungi kakek Sanjaya dan ibunya Tuut.. Tuut.. Tuut " Hallo,,, " Gina menyapa saat panggilan tersambung " Hallo Gina,, " Terdengar suara ibunya yang berada di seberang telepon " Bagaimana kabar ibu dan kakek? " " Baik sayang. Kabarmu dan Yudha bagaimana ? " " Kami juga baik. Bu,, ada yang ingin aku beritahukan pada ibu dan kakek "Gina bernada serius " Apa itu? Cepat katakan! Jangan buat ibu penasaran seperti ini! " Bu Gadis terdengar panik dan cemas " Bu sebenarnya,,, " Gina terdengar ragu - ragu untuk mengatakannya " Gina,, cepat katakan pada ibu! " " Sebenarnya,,, Sebenarnya aku sedang hamil " Suara Gina berubah ceria saat memberitahukan perihal kehamilannya " Benarkah?! Apa kamu serius? Ibu akan jadi seorang nenek? Ibu akan punya cucu? " Suara imbu Gadis terdengar begitu bahagia " Iya ibu,,, aku serius. Aku akan jadi seorang ibu. Dan ibu akan memiliki cucu! " Gina tak kelah ceria saat berbicara dengan ibunya "Selamat ya putri ku. Kamu akan memliki bayi, kamu harus jaga kesehatan, jangan terlalu lelah bekerja. jangan ini, jangan itu, dan bla bla bla,, " Ibu Gina memberikan banyak petuah dan larangan ketika hamil " Apakah kamu masih pergi ke perusahaan? " " Ibu tenang saja, aku membiarkan Nadia dan Risti yang mengelolanya. Dan setiap aku ke kantor, Yudha selalu menemaniku! " Gina terdengar tenang " Baguslah. Ibu bisa tenang mendengarnya. Nanti jika ada waktu ibu dan kakek akan mengunjungimu! " " baiklah bu. Terimakasih, selamat istirahat! "Gina menutup panggilan teleponnya dan mencari keberadaan sang suami Chapter 112 Aku tidak akan tergoda oleh wanita manapun selain kamu! Yudha tidak langsung tidur setelah membersihkan diri. Dia kembali ke ruang kerja untuk menyelesaikan pekerjaannya yang masih tertunda. Yudha yang tengah duduk dikursi kerjanya menoleh ke arah pintu, ketika mendengar suara langkah kaki seseorang " Sayang,, bukankah tadi kamu sudah tidur? " katanya sambil mengulurkan tangan menyambut sang istri ke pelukannya " Iya, tapi aku teringat ibu dan kakek. Jadi aku bangun dan menghubungi mereka " Kata Gina yang kini telah duduk dipangkuan Yudha dan melingkarkan tangan di leher Yudha " Bagaimana keadaan mereka? " Yudha bertanya dengan tatapan mata dan suara yang lembut dan sebelah tangan menyisir rambut panjang Gina " Mereka baik, Dan ibu terdengar begitu bahagia sekali ketika aku memberitahukan tentang kehamilanku. Katanya,, ibu dan kakek akan berkunjung kemari ketika mereka memiliki waktu luang " Gina bercerita dengan semangat. Yudha yang mendengarnya pun tersenyum tulus " Baguslah kalau begitu " Yudha berkata dengan tenang " Sayang, apa kamu mengenal gadis yang menjadi model di perusahaan ku? " Gina bertanya dengan mata yang memicing " Siapa? Entahlah, aku tidak tahu " Yudha mengangkat bahu dan dahinya mengernyit seraya berfikir " Itu,,, yg namanya Chelsea, katanya dia artis yang sedang naik daun. Ku kira kamu kenal juga dengannya. Tadi siang aku melihat mu sedang bersama dengannya " Wajah Gina seketika berubah sinis saat membicarakan Chelsea Yudha pun mengernyit heran. " Jadi kamu tiba - tiba berubah bad mood gara - gara wanita itu, hah? " " Itu,, itu,,, hanya saja,, aku tidak suka melihatmu bersamanya. Kamu ingat saat kita makan malam di restoran dan aku bilang kalau aku menabrak seorang perempuan saat hendak berjalan keluar? " " hmn, lalu? " " itulah dia perempuan itu. Perempuan yang begitu sombong dan terus marah - marah padaku, meskipun aku sudah minta maaf. Ingin sekali aku menjambaknya saat itu juga! " Raut wajah Gina berubah kesal tapi menggemaskan Senyum Yudha yang tiba - tiba muncul saat Gina bercerita membuat Gina heran " Kenapa kamu tersenyum begitu? Kamu malah senang saat aku di maki orang lain. Hah? " " Bukan begitu sayang. Aku tersenyum karena kamu begitu cantik dan menggemaskan. Mau kamu berekspresi marah, kesal, manja atau pun sedang serius. Itu begitu cantik dan membuatku semakin mencintaimu " " Sudahlah, ayo kita istirahat. Kamu pasti lelah. Ini sudah larut dan kita harus kembali bekerja besok! "Yudha menggandeng Gina menuju kamar mereka " Untuk perempuan itu kamu tidak perlu khawatir, karena aku tidak akan tergoda oleh wanita manapun selain kamu sayang! " Gina kembali tersenyum dengan sedikit gombalan dari Yusha Sementara di tempat lain Chelsea sedang terbaring ei ranjang rumah sakit dengan kaki yang di perban. "Sebenarnya apa yang terjadi? Sampai kaki mu harus diperban seperti ini? " Manajer Chelsea yang tidak lain adalah kakajnya sendiri merasa tidak percaya " Tadi siang aku terjatuh dan kakiku terkilir " Chelsea menjelaskan dengan tenang " Kak, , tadi siang aku bertemu dengan pria tampan yang di restoran itu '' Wajahnya langsung berbinar saat mengatakannya " Sepertinya dia merupakan petinggi di perusahaan ku! " " Jangan membuat masalah. Meskipun perusahaan itu baru, tapi grup Sanjaya dan Kusuma bukanlah orang baru di dunia bisnis. Mereka merupakan dua perusahaan raksasa " Kakaknya menjelaskan dengan tenang " Aku tidak akan membuat masalah dengan perusahaan. Tapi aku ingin mencari tahu tentang si tampan itu. Aku ingin berkenalan dengannya! " Senyum terpancar di wajahnya ketika berbicara tentang Yudha " Kak, bisakah kamu mencari tahu tentang dia?! " " Entahlah, aku tidak yakin. Yang penting kesembuhan kaki mu dulu. Jadwal mu sangat padat, dan gara - gara ini semua pekerjaanmu harus tertunda " " Aku harap besok kaki mu sudah lebih baik! " " Aku akan lebih baik, kak, karena aku ingin segera mencari tahu, siapa pria tampan itu? Aku harus bisa mendapatkannya! " Chelsea begitu yakin dengan kata-katanya "Sudahlah, sebaiknya kamu segera beristirahat, karena ini sudah malam " Kata sang kaka sambil menutup sebagian tubuh Chelsea dengan selimut " Baiklah kak, tapi kamu harus membantu ku untuk mencari tahu tentang dia. Aku ingin mendapatkan pria itu. Aku sungguh terpesona oleh ketampanannya kak " Chelsea merengek kepada sang kakak " Kita lihat saja nanti! Istirahatlah! " Sang kakak pun keluar dari kamar Chelsea Chapter 113 Keluarga Kusuma bukan keluarga yang bisa diganggu seenaknya Keesokan harinya, seperti biasanya mereka berangkat ke kantor bersama. Dia akan mengerjakan pekerjaannya di kantor Gina. Karena ini masih salah satu kepemilikan dibawah nama Kusuma jadi dia bebas berada disini. Dia hanya akan ke perusahaan yang dipegangnya sendiri kalau ada rapat atau keperluan lain. Gina duduk di kursi kerjanya, sedangkan Yudha mengerjakan pekerjaannya di sofa. " Sayang apa kamu tidak pergi ke perusahaan mu sendiri? " Tanya Gina kepada sang suami " Tidak, aku sudah berpesan pada Hendri untuk membawa pekerjaan ku kesini. Jika ada rapat atau sesuatu yang penting, barulah aku akan pergi kesana. Kenapa sayang? Kamu tidak suka kalau aku berada disini? " Yudha berkata tanpa mengalihkan pandangannya dari laptop " Bukan begitu, hanya saja aku tidak ingin karyawan disini berfikir macam - macam. Mereka kan tidak tahu status kita apa di perusahaan ini" Kata Gina dengan manjanya " Aku tidak peduli. Tinggal kita pecat saja jika mereka berani bertingkah atau membuat masalah! " Jawabnya dengan santai " Ish kamu jahat sekali. Masa asal saja dalam memecat orang! " " Biarkan saja, siapa suruh mereka mengganggu orang lain. Aku tidak pernah suka jika ada orang lain yang mengganggu ku. Itu peringatan untuk mereka, kalau keluarga Kusuma bukan keluarga yang bisa mereka ganggu seenaknya " Nada suaranya terdengar begitu dingin saat mengatakan itu " Dan kamu juga harus seperti itu sayang. Jangan biarkan orang lain bertindak seenaknya padamu. Kamu tidak perlu takut atau khawatir, karena kamu memiliki aku yang akan selalu mendukung mu " Yudha tersenyum dengan mata yang memancarkan kelicikan " Baiklah sayang, kamu tenang saja. Keluarga Atmaja sudah cukup memberikan ku pelajaran bagaimana caranya bertindak! " Gina berkata dengan tenang namun namun dengan senyum kelicikan " Gadis pintar " Yudha pun tersenyum kepada sang istri " Aku mau pergi keruang studio terlebih dahulu untuk melihat pemotretan hari ini. Kamu tunggu disini sebentar ya sayang, muach " Gina mencium pipi Yudha dan meninggalkannya menuju studio " Baiklah, kamu harus waspada dan tetap berhati - hati. Mengerti nyonyaku! " " Tentu tuan " Yudha tersenyum menatap sang istri yang telah meninggalkan ruangan Gina berjalan menuju studio pemotretan. Disana ada Tiara yang sedang melakukan photo shoot.. Ada juga Nadia dan Jimmy yang sedang memperhatikan pengambilan gambar. " Bagaimana dengen sesi photo shootnya? " Gina yang datang tiba - tiba dari belakang mereka membuat Nadia dan Jimmy tersentak karena terkejut. Mereka sontak berbalik dan sedikit membungkukan badan memberikan hormat mereka pada Gina " Nona Gina, sejauh ini semua berjalan lancar " Jimmy berkata dengan sopan " Ku mohon jangan seperti itu. Semua orang akan heran saat melihat sikap kalian berdua padaku " Gina berkata dengan senyuman yang ramah " Owh maaf " Jimmy dan Nadia serempak meminta maaf Chelsea pun datang dengan kaki yang sedikit pincang. " Hallo bu direktur, hallo pak Jimmy dan,,,ini... " Kalimatnya terputus saat hendak menyapa Gina yang tidak dia kenal " Saya Gina, manajer HRD di perusahaan ini " Gina memperkenalkan diri jepada Chelsea " Hallo Gina, tentunya kamu pasti sudah tahu siapa saya kan, jadi saya tidak perlu memperkenalkan diri lagi kepadamu " Chelsea berkata dengan sombongnya " Tentu, saya sudah tahu siapa anda. Anda adalah brand ambasador baru produk kami kan? " Gina menjelaskan dengan tenang " Iya. Tapi sepertinya kita pernah bertemu juga sebelumnya? " Chelsea terlihat ragu dan mengingat ingat pertemuan mereka "Ach iya, kamu perempuan yang di restoran itu kan? Perempuan kurang ajar yang berani membantah perkataan ku! " Chelsea yang mengingat pertemuannya dengan Gina di restoran mulai kesal dan meninggikan suara serta mengangkat telunjuknya ke wajah Gina. Gina yang tetap tenang hanya diam. Dia mengernyitkan dahi dan menatap tajam ke arah Chelsea. Nadia dan Jimmy juga saling memandang melihat perlakuan Chelsea pada Gina. " Nona Chelsea, seharusnya kamu tidak bersikap seperti itu kepada Gina. Kamu harus bersikap sopan sebagai seorang perempuan dan juga artis " Nadia mencoba memperingatkan " Untuk apa bersikap sopan pada perempuan kurang ajar seperti dia? Apalagi dia hanyalah karyawan biasa yang tidak penting sama sekali " Chelsea berkata dengan angkuhnya " Tetap saja dia itu karyawan disini. Dan anda juga sedang memiliki kontrak kerja dengan perusahaan ini. Jadi anda haruslah bersikap sopan dan bekerja sama dengan kami! " Jimny juga berusaha membujuk Chelsea " Sudahlah. Tidak perlu berdebat karena masalah ini. Lagi pula dia juga cuma model untuk produk pertama kita saja. Tidak perlu membuat masalah " Gina masih bersikap tenang dan itu membuat Chelsea semakin tidak suka. Saat Gina hendak beranjak meninggalkan mereka. Tiba - tiba Bukk!! Chapter 114 Pasangan yang menyeramkan!! Bukk "Aach " Chelsea menjulurkan sebelah kakinya sehingga membuat Gian terjatuh. Gina tersenyum puas melihatnya. Sedangkan Nadia dan Jimmy membelalakkan matanya " Oops maaf, aku tidak sengaja melakukan itu " Gina menatap tajam kerahnya. Nadia dan Jimmy langsung berjongkok di hadapan Gina. " Apa anda tidak papa? Apa ada yang terluka? " Nadia dan Jimmy terlihat panik dan khawatir " Kenapa kalian bersikap seperti itu? Dia hanya jatuh dan dia juga bukan siapa-siapa! " Chelsea sama sekali tidak merasa bersalah melakukan itu kepada Gina " Aku tidak apa-apa. Kalian tidak perlu khawatir " Gina bersikap tenang dan berusaha bangun, dibantu oleh Nadia, tapi saat dia hendak berjalan. Kaki kanannya terasa sakit, dia pun meringis. Sepertinya kakinya terkilir saat terjatuh tadi. " Kamu benara tidak apa - apa? Jimny, tolong beritahu tuan Yudha. dia tidak bisa berjaln sendiri. Dan kamu tidak mungkin menggendongnya! "Nadia meminta bantuan Jimnu untuk memanggil Yudha di kantornya Gina, karena dia tahu sudah beberaoa hari ini Yudha selalu menemaninya ke kantor. Jimmy pun mengangguk dan bergegas memberi tahu Yudha. " Cih, manja sekali. Hanya jatuh begitu saja sampai bereaksi seperti itu. Seperti tidak bisa berjalan saja! "Chelsea berkata dengan sinis kepada Gina Disisi lain, Jimmy dengan terburu - buru datang ke ruang Gina. Bahkan tanpa mengetuk pintu dia langsung masuk. Disana terlihat Yudha dan Hendri yang sedang berdiskusi " Tuan, nyonya Gina " Dia terengah - engah karena berlari Yudha tersentak dan langsung berdiri " Ada apa dengan Gina? " Matanya membelalak tajam, tatapannya begitu dingin " Nyonya terjatuh di ruang studio " Yudha bergegas pergi menemui Gina diruang studio, yang berada di lantai 2 gedung itu. Dia berjalan dengan cepat, di ikuti Hendri dan Jimmy yang berjalan dibelakang Yudha. " Pria tampan itu kan,,, " Chelsea berguman saat melihat Yudha dari kejauhan. Dia pun tersenyum melihat Yudha yang berjalan ke arahnya Yudha berjalan dengan cepat namun tetap gagah. Pandangan dingin tanpa menghiraukan sekelilingnya. Tatapannya berubah tajam dan khawatir ketika melihat Gina masih terduduk dilantai. Dia pun langsung berjongkok dihadapan Gina " Hadooohhh,, Singa yang tidur sudah bangun lagi " Guman Hendri sambil memijat dahilanya " Sayang, apa kamu tidak papa? Bagaimana kamu bisa terjatuh? " Pandangan Yudha menjadi suram ketika melihat keadaan Gina. Gina hanya menggelengkan kepala. Lalu dia menatap orang-orang di sekelilingnya dengan tatapan yang begitu dingin " Itu,,, tuan,,, " Chelsea ingin mengatakan sesuatu kepada Yudha. Namun dengan tatapan Yudha yang begitu dingin dan tajam, dia tidak dapat mengeluarkan sepatah katapun dari mulutnya Yudha langsung mengangkat Gina dan menggendongnya. Membawanya pergi dari ruangan itu tanpa menghiraukan orang - orang yang ada disana. Dia membawanya menuju keruangannya. Chelsea menatap mereka lekat - lekat dengan tatapan benci. " wanita itu, bagimana pria tampan itu bisa bersikap baik padanya, sedangkan dia memandangku dengan tatapan yang begitu dingin? Hanya karyawan biasa saja, tapi dia bisa mendapatkan perhatian si tuan tampan. huh. Menyebalkan! " Chelsea menggerutu kesal " Sayang, apakah benar tidak apa? " Yudha bertanya kepada Gina yang berada dipangkuannya dengan wajah cemas " Tidak papa. Hanya saja, sepertinya kaki ku terkilir sayang. Sakit sekali.. " Gina menjawab sambil meringis kesakitan "Kita kerumah sakit saja. aku tidak mau terjadi sesuatu padamu juga bayi kita " Gina pun mengangguk Tak lama mereka tiba dirumah sakit. Hendri juga ikut bersama Yudha " Dokter, bagaimana dengan kondisi istri saya. Apakah ada sesuatu yang serius? " " Nyonya tidak apa - apa. Kakinya terkilir dan butuh istirahat total " " Lantas bagaimana dengan bayi kami? Apakah dia baik - baik saja? " " Tuan tenang saja. Bayi dalam kandungan nyonya sehat. Hanya saja sedikit lemah, jadi nyonya harus badrm rest total " " Baiklah dokter. Terimakasih " " Sama - sama. Saya permisi dulu kalau begitu " " Iya, silahkan " Dokter berjalan pergi meninggalkan ruangan Gina. " Sayang, bagaimana perasaanmu? Apakah masih terasa sakit? " Yudha duduk disamping Gina dan mengelus kepalanya " Aku sungguh tidak apa - apa sekarang! " Gina tersenyum meyakinkan sang suami " Apakah ini perbuatan wanita itu? Wanita yang menjadi model itu? Tadi dia berdiri disana kan? " Gina hanya diam tanpa berkata apa pun " Jadi benar dia? berani sekali dia macam - macam dengan nyonyaku! " Tatapan matanya dingin, Hendri yang berada disana pun bergidik karenanya " Dia harus diberi pelajaran karena berani mengganggu nyonyaku! " " Tidak perlu repot - repot sayang. Aku akan mengurusnya sendiri. Dia harus tahu, aku bukan wanita yang bisa dia injak - injak seenaknya. Dia sudah salah besar berurusan denganku. Kamu cukup jadi penonton dan menikmati pertunjukannya " Senyum kelicikan terlihat di wajahnya. Yudha hanya memicingkan mata dan ikut tersenyum licik " Sungguh pasangan yang menyeramkan " Gumam Hendri sambil geleng - geleng kepala Chapter 115 Hadiah untuk Chelsea Gina menghubungi Nadia dan memintanya datang ke rumah sakit. " Hallo Nadia, bisakah kamu datang ke rumah sakit? " " Baik. Saya akan segera kesana " Jawab Nadia sebelum menutup sambungan teleponnya " Apa yang sudah kamu rencanakan sayang? " Gina yang sedari tadi duduk di sampingnya bertanya dengan lembut " Sebelumnya aku sudah meminta bantuan pada Nadia untuk mencari semua informasi mengenai Chelsea, kurasa semuanya akan dibutuhkan sekarang " Gina menjawab sang suami dengan begitu tenang dan yakin, disertai senyum yang terlihat begitu menyeramkan " Jadi kamu sudah memiliki persiapan? " Mata Yudha mendelik pada Gina " Tentu, saat aku melihat dia bersamamu kemarin. Aku merasa cemburu dan marah. Jadi aku langsung membuat persiapan yang sekiranya dibutuhkan " Yudha pun mengelus kepala Guna dengan lembut dan berkata " Istriku sudah bisa mengambil langkah awal rupanya! " " Sayang, setelah keluar dari sini kita tinggal di rumah utama ya? " Yudha menawarkan kepada sang istri karena dia harus bekerja dan tidak mungkin meninggalkannya sendiri Gina mengernyitkan dahi mendengarnya " Kenapa harus dirumah utama? Aku tifak ingin tinggal disana. Tinggal dirumah kita saja ya? " Mata Gina berbinar seperti memohon saat bertanya pada Yudha. " Kamu harus bad rest total, sayang. Dirumah utama kan ada kakek dan nenek yang memperhatikan kesehatanmu! " " Tidak mau, aku hanya ingin selalu berdekatan denganmu. Kalau di rumah utama. Terlalu jauh jarak kamu untuk ke kantor. Jadi dirumah kita saja ya. Aku bisa selalu ikut dengan mu ke kantor, jadi kamu bisa mengawasiku 24 jam. Aku janji tidak akan melakukan apapun yang membuatku kelelahan. Ya ya ya? " Yudha menghembuskan nafas kasar " Ya sudah, kamu menang. Kita hanya kesana sebentar akhir pekan ini! " " Terimakasih " Gina tersenyum lebar, sedangkan Yudha hanya menggelengkan kepala Tok tok tok tak lama terdengar suara ketukan pintu. Dilihatnya Nadia yang muncul dari balik pintu " Permisi Gina, tuan! " Nadia menyapa ketika masuk ke kamar rawat Gina " Masuklah Nadia! " " Sayang, aku keluar sebentar. Nanti aku kembali lagi! " Yudha mengecup pucuk kepala Gina dan meninggalkan kamar rawatnya setelah Gina mengiyakan. " Bagaimana dengan informasi yang aku minta mengenai Chelsea? " Gina langsung bertanya pada Nadia tanpa basa basi terlebih dahulu " Saya sudah mencatat semuanya dalam dokumen ini. Anda tinggal membaca dan menelitinya saja! " Nadia memberikan sebuah map coklat berisikan informasi mengenai Chelsea " Owh.. Apakah ada yang menarik tentangnya? " Gina bertanya sambil membuka map tersebut " Tentu, Chelsea berasal dari keluarga sederhana, namun gengsinya sangat tinggi. Ibunya hanyalah buruh cuci dan ayahnya seorang penjudi. Saat masih bersekolah dia sering mendekati teman - temannya dari kalangan atas untuk bisa menghasilkan uang. Setelah beranjak remaja dia mengikuti casting sana sini dan hanya berakhir sebagai model tambahan" " Dia mulai dikenal sebagai model karena sebuah iklan mengenai produk ''pengaman''. Dan dulu pernah ada gosip mengenai hubungannya dengan salah seorang sutradara atau petinggi dari sebuah kru film, untuk mendapatkan sebuah posisi dalam film atau iklan. Tapi itu menguap begitu saja tanpa ada kelanjutannya lagi " Nadia menjelaskan informasi yang dia tahu, dan Gina mendengarkan sambil membaca secara tertulis " Bagus, selidiki semuanya secara rinci. kita akan mulai memberikan hadiah untuk Chelsea sedikit demi sedikit. Aku membiarkannya saat pertama kali. Tapi, orang yang memprovokasi ku harus dapat hadiah karena keberaniannya! Jangan biarkan mereka kecewa! " Terlihat senyum licik dari wajah cantik Gina dan Nadia " Baiklah, akan aku lakukan! " Kata Nadia sebelum meninggalkan kamar rawat Gina. Sementara di sisi lain Yudha pun sedang membahas sesuatu dengan Hendri. " Bagaimana dengan informasinya, apa kamu mendapatkan sesuatu? " Yudha dengan tangan di silangkan bertanya pada Hendri " Tuan, ku dengar dia pernah melakukan aborsi dari hubungannya dengan seorang sutradara. Dan dia juga sudah berkali - kali terlibat skandal dengan sutradara atau pengusaha! " Terlihat seringai licik dari wajah Yudha saat mendengarnya " Bagus, kalau begitu kamu bisa mulai dengan photo kecil ini ke media yang kita kenal. Aku yakin, photo ini akan memancing berita besar! " Yudha memberikan sebuah photo dimana Chelsea sedang bergandengan dengan seorang pria hidung belang. " Tentu tuan, akan saya laksanakan. Tapi, bukankah nyonya ingin melakukannya sendiri? Bagaimana kalau dia sampai tahu? " Hendri bertanya dengan ragu " Tentu saja jangan sampai dia tahu. Aku tidak suka di provokasi. Karena dia sudah berani memprovokasi ku, jadi dia harus terima bayarannya! " Yudha memperlihatkan senyum indah namun penuh kelicikan Chapter 116 Awal kehancuran Chelsea Hendri menghubungi editor sebuah majalah untuk mempublikasikan photo Chelsea dengan seorang pria "Hallo, aku memliki informasi mengenai artis terkenal bernama Chelsea. Apakah kamu tertarik untuk mempublikasikannya? Aku rasa, ini akan jadi berita yang menarik perhatian publik karena ketenarannya saat ini! " Hendri menyeringai " Baiklah, kamu bisa kirimlam langsung kepada redaksi kami! " " Tentu aku akan mengirimkannya sekarang juga! Terimakasih! " Hendri menutup sambungan telepon dan mengirimkan beberapa gambar kepada sang editor dengan menggunakan ponsel pintarnya " It''s show time! " Gumam Hendri dengan seringai liciknya Disaat yang bersamaan, Nadiapun melakukan hal yang sama. Dia mengirimkan sebuah photo kepada media cetak juga online untuk mempublikasikan hubunga Chelsea dengan seorang sutradara untuk mendapatkan sebuah peran " Halo editor Gun, aku memiliki berita menarik yang ku jamin akan menghebohkan. Apa kamu tertarik mempublikasikannya? " Nadia bicara dengan tenang melalui telepon " Tentu, kamu bisa kirimkan kepadaku. Aku yakin akan menjadikannya berita heboh " jawab seorang editor di ujung sambungan telepon " Akan aku kirimkan sekarang! Terimakasih! " Nadia memutuskan sambungannya " Berani memancing kemarahan nona Gina? Kamu kira kamu siapa? Hanya jadi seorang artis saja sudah sombong. Sekarang kita lihat apakah kamu masih bisa sombong atau tidak, heh"Guman Nadia disertai seringai licik Di tempat lain Chelsea sedang berada di studio photo. " Kenapa pria tampan itu perhatian sekali dengan Gina. Sedangkan dia begitu dingin saat melihatku? apakah mereka memiliki hubungan khusus? Tapi bagaimana bisa pria setampan itu bisa suka pada karyawan biasa seperti dia? Ini tidak masuk akal! Menyebalkan sekali. Huh! " Chelsea merubah - rubah ekspresi wajahnya ketika memikirkan itu Tiba - tiba sang manajer yang merupakan kakaknya sendiri datang dengan sedikit berlari. " Chel, chel gawat.. Ini benar - benar gawat! " Dengan nafas yang terengah - engah kakaknya berbicara " Ada apa ka? apa semua baik - baik saja? " Chelsea yang belum membaca situs web masih bisa bersikap tenang " Kakak bicaralah pelan - pelan. Ni minum dulu! "Dia memberikan sebotol air mineral kepada kakaknya Gluk gluk gluk,, accchhh Kakak Chelsea meneguk air kemudian menghela napas Setelah minum dan membersihkan sisa air di mulutnya. Sang kakak pun bicara. " Lihatlah ini, postingan ini. Berita tentang mu sudah jadi trending topik! " Kakaknya bicara dengan panik dan sedikit meninggikan suara dan memberikan sebuah tab agar sang adik membacanya " Ini... Apa...? " Chelsea membelalak dan berkata perlahan, seakan tidak percaya dengan apa yang dia lihat "Kakak, ini apa? Bagaimana bisa ada berita ini? Bagaimana mereka bisa mendapatkan photo ini? " Chelsea mulai panik dan terus berjalan kesana kemari " Ini tidak boleh terjadi, karirku tidak boleh hancur. Aku tidak mau jatuh miskin lagi. Kakak harus melakukan sesuatu untuk menyelesaikan masalah ini. Aku ini artis terkenal, tidak ada yang bisa mengalahkan ku. Kakak harus segera mencari cara untuk menyelesaikannya! " Chelsea menggoyang - goyangkan tubuh sang kakak " Tenanglah dulu, kita harus mencari solusi terbaik. Karir mu tidak boleh berakhir sampai disini saja. Kamu tidak boleh hancur begitu saja. Kamu harus cari bantuan dari orang yang lebih kuat. Cepat hubungi sutradara Ben! " Kakanya menginstruksikan Chelsea " Baiklah kak akan aku coba menghubunginya! " Chelsea meraih ponselnya dan mencoba menghubungi sutradara Tuut tuut.. Tapi setelah beberapa kali mencoba, Chelsea tetap tidak dapat menghubunginya " Kakak, bagaimana ini? Akau tidak berhasil menghubungi pak sutradara? " Wajah Chelsea berubah muram ketika tidak berhasil mendapatkan bantuan " Sudahlah nanti kita cari cara lain. Sekarang kita harus pulang terlebih dahulu sebelum para wartawan darang kemari! " Chelsea mengangguk dan bergegas meninggalkan perusahaan Sanjaya bersama sang kakak Wajah mereka nampak panik dan cemas saat meninggalkan gedung. Mereka berjalan dengan tergesa - gesa. Nadia, Jimmy dan Risti yang memperhatikan mereka dari kejauhan hanya tersenyum puas melihat reaksi keduanya " Hah rasakan itu, itu belum seberapa. Ini hanya awal dari kehancuran Chelsea. Hanya artis biasa saja berani merendahkan Gina dan tuan Sanjaya. Dia pikir, dia itu hebat ya? Hahaha" Nadia terus terbahak sambil menggerutu kesal. Jimmy terpesona dengan tawa Nadia dan terus menatapnya " Iya, dia sombong sekali. memangnya dengan jadi seorang artis yang sedang terkenal, dia bisa seenaknya kepada orang lain. Sekarang kita sudah membantu dia untuk lebih terkenal lagi. Harusnya dia senang dan berterimakasih pada kita kan? Hahaha" Risti pun ikut terbawa terbahak " Memangnya semua ini rencana nona Gina? " Risti dan Nadia menganggukkan kepala serempak " Ini pelajaran untuk Chelsea karena dia berani merendahkan orang lain. Dan mencari masalah dengan mba Gina. Aku yakin tuan Yudha juga turut andil dalam rencana ini. Tuan Yudha paling tidak suka jika di provokasi. Apalagi yang di ganggu adalah istri kesayangannya! " Jimmy mengangguk mendengar penjelasan Risti Chapter 117 Kamu sudah menyinggung orang yang salah! Chelsea tidak bisa keluar dari rumah. Banyak wartawan yang berjaga di depan rumah dan juga agensi Chelsea " Ternyata jadi model itu biar bisa mendapatkan orang kaya ya? " " Terkenal jangan hanya mengandalkan body saja. Body sudah tak terpakai, ketenaran pun hilang" " Artis biasanya banyak belajar akting . Ini banyak belajar dating. Hahaha " " Kalau mau terkenal tinggal mencari lelaki saja tidak perlu bekerja keras " " Kenapa tidak ada komentar atau konferensi pers? Apa semua yang diberitakan itu benar? " " Ish orang - orang tidak berguna ini. Apakah mereka tidak punya pekerjaan? Kerjanya hanya mengatai orang saja. Padahal mereka tidak tahu apa - apa. Dasar orang - orang tidak berguna! " Chelsea sedang membaca komentar netizen di situs Pancaran kebencian terlihat dimata Chelsea. Lalu dia mengambil ponselnya dan menghubungi sang kakak. Tuut.. Tuut... tuut " Hallo kakak kamu dimana? kenapa kamu tidak kunjung kembali? " Chelsea langsung berbicara ketika ponsel mulai terhubung " Kakak sedang dalam perjalanan. Sebentar lagi pasti akan sampai. Apakah masih banyak wartawan yang berjaga di depan? " Tanya sang kaka yang sedang dalam perjalanan dari agensinya " Mereka masih berkumpul di depan. Baiklah, kakak berhati - hatilah saat berkendara " "Hmn... " Mereka pun mengakhiri panggilan teleponnya Ditempat lain Gina dan Nadia sedang memantau komentar online dari berita yang mereka buat. " Sepertinya ini masih belum cukup? Apa kita harus menambahkan lagi kayu bakar? " Nadia memicingkan mata mencari persetujuan dari sang nyonya muda " Tentu saja ini tidak cukup. Beberkan masa lalu dia juga! " Gina memancarkan senyum diwajahnya. Namun, bukan senyuman yang indah, melainkan senyuman dimana dia telah merencanakan sesuatu yang sudah pasti membuat orang ketakutan ketika mendengarnya. Senyuman yang meskipun hanya diam saja tanpa ikut campur tangan, namun sudah pasti eksekutornya tidak akan pernah meleset. Seperti sekarang ini, meskipun Gina hanya terbaring ditempat tidur, namun orang yang mengganggunya tetap tidak bisa lepas atau berbuat apa - apa. " Chelsea, sepertinya kamu tetap tidak berubah ya. Dulu karena keluarga mu yang miskin kamu tidak mengakuinya dan hidup sebagai orang berada tanpa memikirkan orang tua mu. Sekarang kamu juga lupa kalau statusmu sebagai artis adalah untuk menghibur banyak orang. Bukan untuk menghibur laki - laki secara spesial " Nadia log in memakai kode user yang diberikan oleh jimmy. Mereka semakin dekat akhir akhir ini. Dengan dia memberikan komentar seperti itu para penggemar pun terpancing untuk memberikan komentar negatif " Benar, jadi artis itu untuk jual promosi film atau yang lain. Bukan untuk promosi tubuh " Komentar - komentar negatif mulai bermunculan. Berita mengenai Chelsea selalu menjadi trending topik. Hingga akhirnya setiap majalah yang memintanya menjadi model pun akhirnya membatalkan kontrak dan menggantinya dengan model lain. Perusahaan yang memintanya menjadi model iklan pun ikut membatalkan kontraknya. Kakak Chelsea sedang sibuk mengangkat telepon yang ingin melakukan pembatalan kontrak. " Ada apa kak? Kenapa mukamu oucat sekali. bukannya kita ada syuting hari ini? " Chelsea mendekati kakaknya dan menanyakan jadwalnya " Kamu sudah tidak punya jadwal lagi. Semua kontrakmu sudah dibatalkan. Hanya tersisa satu jadwal saja, yaitu dengan perusahaan Sanjaya! " Kakaknya tertunduk lemas menjelaskan " Kenapa bisa begitu ka? " " Ada seseorang yang mengetahui masa lalumu dan mempostingnya di media online. Media online sekarang ramai membicarakan masa lalu mu yang mendekati anak - anak orang kaya dan tidak menghormati orang tua " " Kamu juga di boikot oleh penggemar yang menilai kalau kamu tidak memiliki moral. Kita sudah hancur, kita tidak bisa lagi memulihkan keadaan" "Beritanya tidak bisa ditekan, dan malah semakin menjadi - jadi. Entah bagaimana bisa semua informasi mengenai masa lalu mu itu bisa terbongkar yang pasti kita sudah tidak bisa berkarir di dunia hiburan lagi " Kakak Chelsea tertunduk dengan muka muram sambil memijat pelipisnya perlahan " Kak aku tidak ingin mundur dari karir keartisan ku. Aku ini artis terkenal, tidak mungkin aku jatuh begitu saja! " Chelsea mulai menangis dan terkulai lemas, dia terus menangis sambil terduduk di lantai " Kamu tenang dulu, kita masih memiliki kontrak dengan perusahaan Sanjaya" Kakaknya berusaha menenangkan Chelsea Sedangkan Yudha, dia tersenyum puas dengan apa yang terjadi padanya. Dia sedang membaca berita online yang mengatakan bahwa Chelsea telah di boikot " Bagaimana reaksimu jika kamu tahu siapa Gina? Hmn,, Sepertinya akan sangat menyenangkan jika melihat mu mengetahuinya! Kamu sudah menyinggung orang yang salah! " Seringai licik muncul dari wajahnya Chapter 118 Kamu bukan apa - apa dibanding aku Gina sudah diperbolehkan keluar dari rumah sakit. Dokter hanya memberinya vitamin penguat kandungan dan dia harus bed rest. Tapi dia tetap ingin mengikuti suaminya ke kantor.. Dan sesuai rencana Yudha, hari ini mereka akan pergi ke perusahaan Gina terlebih dahulu sebelum ke kantor Yudha. " Sayang, kita ke kantormu dulu. Kamu harus memberikan instruksi kepada Nadia, Risti dan Jimmy. Setelah itu biarkan mereka yang mengurus semuanya. Kamu hanya di ijinkan untuk memantau saja. Aku juga ingin menunjukkan sesuatu padamu" Yudha berkata dengan lembut sambil mengusap wajah Gina " Apa yang ingin kamu tunjukkan padaku . Sayang? " Yudha hanya tersenyum tanpa menjawab pertanyaan Gina. Mereka berkendara menuju ke perusahaan Gina. Dan Hendri menyusul dengan mobil lain bersama Satya. "Bro sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa nona Gina sampai masuk rumah sakit? " Satya yang baru pulang dari luar kota tidak mengetahui cerita apa - apa " Itu,, Chelsea, kamu kenal kan?" " Chelsea yang artis sedang naik daun itu? " Hendri hanya berkata "Hmn,, " sambil mengangkat kedua alisnya "Dia berusaha mendekati tuan dan dia merendahkan Nona. Dia berfikir nona hanya seorang karyawan biasa dan dia juga menyebabkan nona jatuh. Padahal nona sekarang sedang hamil muda " Terang Hendri " Nona hamil? Benarkah? " Satya terkejut sebelum akhirnya dia tersenyum bahagia Lagi - lagi Hendri hanya berkata "Hmn.. " diiringi anggukan kepala "Dan dia membuat nona terjatuh sehingga kakinya terkilir. Beruntung tidak terjadi apa - apa pada kandungan nona. Jika sampai terjadi sesuatu, entah apa yang akan dilakukan tuan pada wanita itu " " Akhirnya, kita akan memiliki tuan/nona kecil. Senangnya " " Tapi kenapa wanita itu tidak tahu siapa nona? padahal dia adalah model di kantor nona! " Satya mulai menimbang keadaan dengan memegang dagunya sendiri " Perusahaan nona di pegang oleh adikmu. Nona hanya memantau saja. Dia tidak ingin berurusan dengan para penjilat. Sebab itu dia tidak memberitahukan identitasnya! " " Jadi maksudmu, wanita itu tidak tahu siapa nona sebenarnya dan dia memandang rendah nona? Karena nona bukan siapa - siapa jadi dia bersikap seenaknya? " Hendri menganggukkan kepala " Jadi begitu,,,. Tuan memiliki banyak alasan untuk menjatuhkannya. Pantas saja. Dan sekarang dia tidak akan bisa lagi masuk ke dunia entertain.Huh,, Bahkan dia tidak akan bisa lagi muncul dihadapan kita " Satya menyeringai membayangkan wanita itu Tiara sedang melakukan photo shoot. Chelsea dan manajernya telah menunggu giliran mereka mengambil gambar dari pagi,. Namun tak kunjung tiba giliran Chelsea. Sedangkan dari luar gedung masih tampak banyak wartawan yang menunggu. Yudha Dan Gina tiba di peeusahaan. Diikuti mobil Hendri dan Satya di belakangnya. Yudha turun dari mobil terlebih dahulu, kemudian dia berjalan ke arah pintu satunya untuk membantu sang istri turun.. " Bukankah itu Tuan Yudha? Ayo kita kesana meminta informasi dari tuan Yudha " Para wartawan pun berbondong - bondong menghampiri Yudha dan Gina " Tuan bagaimana tentang pendapat anda mengenai kasus Chelsea, bukankah dia model di perusahaan Sanjaya ini? " " Permisi kami tidak ada komentar untuk saat ini! " Yudha terus menggandeng Gina menerobos kerumunan wartawan di depan kantor Mereka berjalan masuk menuju studio photo. " Sayang sebenarnya ada apa? Kenapa kita harus ke studio photo? Apakah ada sesuatu? " Gina menatap sang suami yabg berjalan di sebelahnya " Tidak ada apa - apa. Aku hanya ingin mengajakmu kemari " Yudha tersenyum kepada sang istri. Namun Gina malah memicingkan matanya. Nadia, Risti dan Jimmy sudah berada diruang studio. " Bu Nadia, sebenarnya sampai kapan aku harus menunggu. Kapan giliranku untuk mengambil gambar. Aku sudah disini sejak pagi tadi " Chelsea mulai kesal karena harus menunggu lama. " Sebentar lagi. Ada orang yang ingin menemui mu. Mereka akan segera tiba. Sabarlah sebentar! " Nadia tersenyum sinis pada Chelsea.. Tak lama Chelsea melihat Yudha menggandeng Gina. Dia memicingkan mata dan mengernyitkan kening, lalu bergumam " Kenapa si tampan bersama Gina lagi. ada hubungan apa sebenarnya diantara mereka? " " Hai nona Chelsea, bagaimana kabar mu? Sepertinya kita belum berkenalan dengan benar? " Gina mendekati Chelsea, dia mengulurkan tangan dan berkata dengan nada dingin.. " Aku Gina Yulia Atmaja, dan aku juga istri dari Yudha Arya Kusuma " Chelsea dan kakaknya begitu terkejut mendengarnya, hingga mereka membelalakkan mata dan ternganga. " Aku membiarkanmu menilai sesuka mu. Tapi kamu sungguh melewati batasan mu. Kamu begitu sombong hanya melihat orang dari harta dan kedudukan. Kamu tidak pernah bisa menilai orang dari hatinya. Kamu lupa, diatas langit masih ada langit? Kamu pikir hanya dengan kamu jadi artis terkenal, kamu sudah hebat? Tidak, kamu bukan apa - apa di banding aku! Chapter 119 Raja singa berubah jinak saat melihat singa betina " Kamu bukan siapa - siapa di banding aku. Kamu hanyalah seorang artis yang bisa dengan mudah kehilangan ketenarannya. Terbukti, sekarang kamu sudah kehilangan semuanya. kamu bukan lagi siapa - siapa. Hanya dengan menjentikkan jari kami saja, itu sudah cukup membuat dunia mu runtuh " '' Jadi tidak ada alasan lagi untuk kamu tetap bersikap sombong sebagai artis terkenal! " Gina dengan suara dingin menjelaskan pada Chelsea.. " Tapi,,, tapi,, sebelumnya aku tidak tahu siapa kamu sebenarnya. Maka dari itu aku bersikap kurang ajar padamu! " Chelsea bicara dengan terbata dan mata berkaca - kaca " Karena itu aku tidak ingin memberitahukan mu siapa aku sebenarnya. Orang seperti mu hanya pintar menjilat orang yang memiliki kedudukan. Kamu tidak pernah bersikap tulus kepada orang lain. Sekarang kamu bisa memetik hasil dari apa yang telah kamu lakukan. Kamu kehilangan semuanya " Gina tersenyum sinis " Tuan tolong maafkan adik saya. Dia tidak tahu kalau dia mengganggu istri anda. Jadi tolong ampuni kami tuan! " Kakaknya Chelsea memegang kaki Yudha dan memohon pengampunan darinya " Keputusan ada di tangan istriku. Aku tidak mau ikut campur dengan masalah ini. Kalau saja istriku tidak memberikan belas kasihnya pada kalian. Akan ku pastikan kalian berdua mendekam dalam penjara, karena telah berusaha melukai istri juga calon anak kami! " Harusnya kamu sebagai kakak juga menejernya bisa mengarahkan dan memberitahukan kalau dia salah. Bukan malah membantu dan mendukung tindakan juga keputusannya! Ini hanya sebuah pelajaran kecil untuk kalian agar bisa berkaca diri! " Kata - kata Yudha dingin dengan tatapan tajam layaknya hendak membunuh " Kami tahu Tuan, tolong ampuni kami. Kami tidak akan bersikap sombong dan semena - mena terhadap orang lain lagi " Chelsea tertunduk diam melihat sang kakak yang terus memohon kepada Yudha dan Gina. Air matanya sudah tidak terbendung lagi dan terus mengalir membasahi pipinya Seakan ada video perekam di kepalanya, dia terus mengingat kejadian dimana dia berperilaku buruk kepada orang lain. Andai saja dia tidak membuat Gina terjatuh. Andai saja dia tidak berkata yang tidak - tidak. Andai saja dia tidak bersikap sombong. Apakah semua akan baik - baik saja? Apakah dia akan tetap menjadi artis? Tapi semua sudah terlambat . Nasi telah menjadi bubur. Dan semua yang dia miliki telah hilang. Ketenaran, kekayaan, dan kedudukan, semua sudah hilang. Dia sudah kehilangan semuanya. " Aku akan membiarkan mu lolos. Aku tidak ingin melihat kalian berdua ada di sekitar kami lagi. Jika sampai aku melihat kalian berdua lagi. Akan ku pastikan kalian tidak akan pernah lolos begitu saja " Yudha mendelik menatap tajam kepada kakak beradik itu " Baik tuan. Kami akan segera pergi. Kami tidak akan menampakkan wajah kami di depan tuan dan nona. Terimakasih tuan telah mengampuni kami. Kami akan segera pergi dari kita ini " Kakak Chelsea membungkukan badan berkali - kali saat berterimakasih kepada Yudha. Diapun segera membawa sang adik pergi meninggalkan mereka. Tatapan Yudha seketika berubah lembut saat menatap Gina " Semua sudah selesai sayang. mari kita pulang? " Gina mengangguk dan berkata " Hmn " Lalu berjalan ke arah Nadia, Risti dan Jimmy. " Aku ingin kalian bertiga yang bertanggung jawab di perusahaan ini. Laporkan setiap detilnya mengenai perusahaan padaku! " Mereka hanya menganggukkan kepala tanpa berkata apapun. Mereka menatap tidak percaya melihat sikap Yudha yang tiba - tiba berubah lembut kepada istrinya " Waah aku baru saja melihat secara langsung kalau sang raja singa berubah jinak seketika saat melihat singa betina " Gumam Hendri " Tuan menyeramkan sekali saat marah. Tapi amarahnya seketika hilang saat melihat mba Gina " Gumam Risti " Benarkah yang Kulihat? amarah tuan Yudha hilang seketika saat melihat nona Gina? "Jimmy bertanya pada Nadia " He eh,, Tuan Yudha langsung bersikap lembut saat menatap Gina. Seakan tadi tidak terjadi apa - apa " Keterkejutan Nadia buyar saat sang kakak menepuk pundaknya " Hei, berhentilah menatap mereka! Matamu hampir saja keluar saat melihatnya " Nadia pun menoleh dan langsung berhambur ke pelukan sang kakak " Akhirnya kamu kembali! Tega sekali kamu meninggalkan aku sendiri dirumah begitu lama! " Jimmy memperhatikan sikap Nadia yang manja. " Siapa pria ini? kenapa Nadia langsung saja memeluknya dan bersikap manja terhadapnya? Apakah dia kekasihnya? atau kah dia kakaknya? " " Sayang ku, gadis kecilku. Kamu tidak malu? Langsung memeluk ku begitu saja! "Satya menggoda Nadia dengan senyum mengejek " Kenapa aku harus malu? Sang pelindung ku baru saja muncul setelah beberapa lama. Aku tidak akan melepaskan mu" Nadia memeluknya dengan begitu erat "Dia itu kakaknya. Orang tua mereka sudah lama meninggal dunia. Jadi mereka hanya hidup berdua saja " Risti berbicara kepada Jimmy seakan berbisik. Jimmy pun meboleh seketika ke arah Risti kemudian menatap Nadia lagi Chapter 120 Kesedihan Yudha Beberapa hari pun berlalu Gina sudah tidak pergi ke kantornya. Dia selalu ikut bersama dengan Yudha.. " Sayang, apa kamu lelah? Tidakkah sebaiknya kamu tinggal dirumah saja? Wajahmu pucat sekali. Aku tidak ingin terjadi sesuatu padamu juga calon bayi kita! " Yudha memandang dengan khawatir pada sang istri yang sekarang ini tengah duduk disampingnya. " Aku tidak apa. Aku hanya tidak ingin jauh - jauh darimu. Jika aku hanya dirumah saja. Itu berarti aku tidak bisa melihatmu pada siang hari " Gina berkata dengan bibir cemberut dan sikap manjanya " O iya sayang. Menurutmu apa ada sesuatu antara Nadia dan Jimny? Sepertinya aku melihat tatapan berbeda di mata Jimmy. Apa menurutmu dia menyukai Nadia? " Gina menopang dagu dengan sebelah tangan dan menoleh pada sang suami " Entahlah, jika itu benar ku harap mereka bisa menemukan kebahagiaan mereka " Yudha mengangkat bahu dan bagian bawah bibirnya secara bersamaan " Ku harap juga seperti itu. Tapi Jimmy masih memiliki sebuah masalah. Dia masih belum bisa mengambil kembali perusahaan dan segala kekayaan yang diambil oleh pamannya. Apakah kita harus membantunya? " Yudha hanya tersenyum santai menanggapi pertanyaan sang istri. Kemudian dia berkata " Biarkan dulu saja. Nanti baru kita bantu dia. Sekarang aku ingin kamu fokus pada kehamilan mu, jaga diri mu juga calon bayi kita. Aku tidak ingin terjadi sesuatu pada kalian! " Gina mengangguk dan tersenyum " Hari ini kita akan pulang ke rumah utama. Kamu tidak lupa kan sayang? " " Tentu aku tidak lupa sayang! " ------------- Yudha dan Gina sudah tiba dirumah utama " Kakek, nenek, bagaimana keadaan kalian? Apa kalian baik - baik saja? " Gina menyapa kakek dan nenek Yudha dengan hormat " Kami baik - baik saja nak. Bagaimana dengan mu dan calon cicit kami? " Julia memeluk Gina penuh kasih sayang, lalu mengelus lembut perut Gina " Aku baik nek. Dimana kakek? Apa dia pergi memancing? " " Aku disini cucuku! Apalah dayaku ini yang tidak memiliki teman memancing. Teman - temanku bisa menghabiskan waktu mereka bersama cucu atau cicitnya. Sedangkan aku, cucuku satu - satunya ini super sibuk, tapi tidak akan lama lagi ada cicitku yang akan aku ajak main. hahaha! " Mereka pun tertawa meskipun candaan kakek Wijaya tidak ada yang lucu sama sekali. " Sudahlah ayo masuk. Yudha bawa istrimu ke kamar terlebih dahulu. Nanti akan nenek panggil saat makan malam sudah siap! " Yudha mengangguk dan menggandeng Gina ka kamar mereka " Sayang, apa kamu sakit? Kenapa wajahmu begitu pucat? " Gina memegang rahang sangsuami dan memperhatikan wajahnya yang pucat " Tidak ada. Besok pagi, temani aku ke suatu tempat ya! " Gina mengangguk mengiyakan ajakan sang suami. Entah apa yang terjadi wajah Yudha terlihat muram. Keluarga ini pun makan bersama dengan suasana yang begitu hangat. Meskipun begitu kakek Wijaya memperhatikan wajah cucunya yang muram. " Yudh, nanti datang ke ruang kerja kakek sebentar ya. Ada yang ingin kakek bahas denganmu! " " Baiklah kek! " Yudha pun bergegas ke ruang kakeknya setelah makan malam. " Kek " Dia langsung masuk keruang kakeknya tanpa mengetuk pintu " Masuklah " kata sang kakek ketika melihat sang cucu yang muncul daro balik pintu " Kemarilah, duduklah disini " sang kakek menepuk sofa yang ada di sebelahnya, mengisyaratkan agar cucunya duduk disana " Ada apa kakek memintaku kemari! " " Tidak ada, kakek hanya khawatir padamu, melihat wajahmu yang pucat dan muram seperti itu! Apakah kamu tidak apa - apa? " Wajah sang kake terlihat cemas dan suaranya terdengar begitu khawatir. " Aku baik - baik saja kek. Kakek tidak perlu khawatir! " Yudha menyunggingkan senyum yang seakan dipaksakan " Aku kembali ke kamar dulu kek. Gina nanti mencariku kalau terlalu lama meninggalkannya " Yudha bangkit dari duduknya dan beranjak dari ruang kerja sang kakek. Hingga suara sang kakek menghentikan langkahnya " Kejadian itu sudah lama. Kamu harus bisa melupakan itu! " " Bagaimana aku bisa melupakannya kek? Semua itu terjadi karena kesalahanku. Jika saja aku tidak memaksa mereka untuk membawaku pergi waktu itu.,,, mungkin semua tidak akan terjadi dan mereka masih tetap bersama kita disini! " Yudha hanya menoleh tanpa membalikkan badan. Suaranya terdengar begitu getir. Tatapannya yang biasa dingin kini terlihat begitu sedih. Chapter 121 Kesedihan Yudha (II) " Tidak, jangan lakukan itu. Jangan tinggalkan aku. Ayah, ibu, jangan pergi. Aku tidak mau sendirian. Kumohon bawa aku bersama kalian " Yudha bergumam dalam mimpi buruknya. Tubuhnya yang kekar dipenuhi keringat, air mata menetes dari matanya yang tertutup rapat. Dia tidur dalam kegelisahan Gina merasakan suaminya yang gelisah dalam tidurnya. dilihatnya keringat bercucuran di sekujur tubuhnya, disertai air mata yang terus mengalir juga gumaman yang tak kunjung berhenti. Dia bergegas kedapur untuk mengambil handuk kecil dan air untuk membasuk badannya yang penuh keringat. Terkejutnya dia saat menyentuh sang suami dengan badan yang begitu panas. Dia bergegas mengambil termometer dan kain untuk mengompres sang suami. Nenek Julia melihat Gina yang bergegas ke dapur dengan kondisi panik. " Gina, ada apa? Kenapa kamu terlihat begitu cemas dan panik? " " Nek, Yudha demam. Badannya begitu panas. Aku ke dapur untuk mengambil handuk kecil dan air dingin untuk membantu menurunkan panasnya. Sepertinya dia sedang mimpi buruk, dia terus bergumam dalam mimpinya " Gina menjelaskan dalam kondisi panik " Gina, nenek mohon padamu. Jangan pernah tinggalkan Yudha. Meskipun dia terlihat kuat, namun dia itu begitu rapuh. Dia menenggelamkan dirinya dalam kesibukan untuk mengusir kesunyiannya selama ini. Sekarang ada kamu disisinya. Nenek mohon jaga dia. Jangan biarkan dia kesepian atau bersedih lagi. Dia selalu melalui hari - harinya yang sulit sendirian. Dia tidak pernah mengizinkan kami masuk ke dunianya. Jadi kami hanya bisa menitipkan dia kepadamu. Temani dia dimasa sulitnya. Bantu dia untuk bisa melalui masa lalunya yang kelam" Nenek Julia meneteskan air mata saat berbicara. Dia begitu sedih membayangkan cucu satu - satunya itu tenggelam dalam rasa bersalah " Nenek, sebenarnya apa yang terjadi dengan Yudha? Ada apa dengan masa lalunya. Aku tidak bisa melihat dia bersedih, nek. Tolong beri tahu aku, agar aku bisa membantunya! " Gina memohon kepada sang nenek untuk menjelaskan semuanya. " Kemarilah, kita bicara sambil duduk " Ajak sang nenek kepada Gina " Waktu itu Yudha baru berusia 10 tahun. Dulu dia anak yang ceria dan ramah. Dia meminta orang tuanya yang biasanya sibuk untuk menemaninya ke kebun binatang. Mereka pergi bersama dengan ceria. Itu juga terakhir kalinya kami melihat tawa Yudha. Karena sepulang dari sana, mobil yang mereka kendarai mengalami kecelakaan dan berguling hingga meledak. Ibu Yudha mendorong Yudha kecil keluar, namun mereka tidak sempat menyelamatkan diri. Yudha melihat ibu dan ayahnya tersenyum sebelum kematian mereka, hingga akhirnya mobilnya mereka meledak dan terbakar. Yudha melihat sendiri bagaimana ibu dan ayahnya terbakar hidup - hidup. Dari situ Yudha yang dulu ceria berubah menjadi dingin dan penyendiri. Dia menyalahkan diri sendiri karena kejadian itu. Tawa seakan hilang dari wajahnya. Dia hanya menyibukkan diri dalam kesibukan belajar dan bekerja. Besok adalah hari terberat untuknya. Karena besok adalah hari dimana mereka mengalami kecelakaan. Nenek rasa dia mengingat hari itu. Jadi nenek mohon, temani dia. jangan pernah meninggalkannya. Dia tidak akan sanggup jika harus kehilangan lagi " Nenek Julia menitikan air mata saat bercerita. Ginapun tak kuasa menahan tangis ketika mendengar cerita tentang masa lalu sang suami " Aku berjanji nek. Aku tidak akan meninggalkan Yudha. Aku juga tidak akan membiarkan dia merasakan kesepian lagi. Aku akan selalu berusaha hidup bahagia bersama dengannya. Nenek tidak perlu khawatir lagi. Sekarang ada aku yang akan selalu menemaninya " " Terima kasih ya nak. Nenek bersyukur Yudha bisa menikah dengan mu! " Nenek memeluk Gina, dia pun membalas senyumnya dengan wajah yang sendu Gina kembali ke kamarnya dan melihat sang suami yang masih gelisah dalam tidurnya. Gina mendekat dan duduk disamping sang suami. " Sayang, aku tidak akan membiarkanmu mengenang masa lalumu yang menyedihkan. Seperti kamu mengisi hari - hari dengan kenangan indah. Seperti itu pulan akan aku buat kenangan indah untukmu. Hingga tak ada tempat untukmu menyimpan kejadian masa lalu yang kelam itu. Kita hanya akan mengingat masa - masa yang indah saja. Cup " Gina berbisik dengan air mata yang masih menetes dan menciup kening Yudha dengan lembut Chapter 122 Kesedihan Yudha (III) Pagi harinya hujan gerimis mengguyur kota. Kaca jendela kamar dibasahi air hujan yang terbawa oleh angin. Yudha baru terbangun sekitar pukul 9 pagi, setelah semalaman tidur dalam kegelisahan dan demam tinggi. Kepalanya masih terasa sakit, dia mengerjapkan mata berkali - kali untuk mengumpulkan kesadarannya. Dilihatnya Gina tertidur di kursi yang tepat berada di sampingnya. di usapnya kepala sang istri dengan begitu lembut hingga sang istri terbangun. " Kamu sudah bangun sayang? Apa kamu baik - baik saja? Bagaimana perasaanmu? " Gina segera bangun dan memegang dahi sang suami yang masih terbaring di tempat tidur, guna mengetahui apakah dia masih demam atau tidak. " Syukurlah demamnya sudah turun! " Gina menghela nafas lega, karena suaminya sudah lebih baik dari semalam " Terimakasih telah menjagaku! Maaf, aku pasti telah membuat mu begitu khawatir semalam? " Yudha terlihat berusaha memberikan sebuah senyuman dengan kondisinya yang lemah " Tidak apa. Aku akan selalu berada di sisi mu. Tidak peduli apapun. Aku tidak akan meninggalkanmu. Kamu harus percaya padaku. Kamu sudah tidak sendiri lagi sayang. Ada aku yang siap berbagi suka dan duka bersama denganmu. Jadi, kamu tidak perlu khawatir dan bersedih lagi. Kita akan membuat kenangan indah setiap harinya. Hingga tak ada tempat di hati kita untuk kenangan lama yang menyedihkan! " Gina tersenyum lembut mengiringi perkataannya Yudha pun mengangguk dengan senyum " Hari ini aku ngin kamu menemaniku pergi ke suatu tempat! " Ginapun mengiyakan dan mereka berdua tiba pada siang hari di tempat yang Yudha maksud. Sebelumnya mereka pergi ke toko bunga untuk membeli dua ikat bunga Lili putih untuk mereka bawa. Gina dan Yudha berjalan di bawah rintiknya hujan yang membasahi bumi. Dengan memakai payung, munyusuri jalan dengan beberapa genangan air. " Sayang, bukankah ini tempat pemakaman? Kita akan mengunjungi makam siapa? "Gina yang berada di sebelah Yudha dengan menggandeng tangannya tak sabar bertanya pada sang suami.. Yudha tidak langsung menjawab dia hanya menoleh ke arah Gina dan tersenyum Mereka berhenti tepat di depan dua makam yang berdampingan. Disana tertulis nama Willy Kusuma dan Siera Ana Cokro. " Mereka adalah orang tuaku. Hari ini adalah tepat 20 tahun kepegian mereka " Yudha berjongkok dan meletakkan buket bunga di masing - masing makam ibu dan ayahnya. Kesedihan nampak sekali diwajahnya yang tampan dan sedikit pucat " Ayah, ibu. Aku datang bersama menantumu dan dia sedang mengandung cucu kalian. Aku ingin kalian mengenalnya. Maaf, karena aku baru mengajaknya kemari menemui kalian " " Maaf ayah, ibu. Jika bukan karena aku, kalian pasti masih berada disini bersama kami. Melihat menantu kalian yang cantik dan baik hati dan cucu kalian nanti. Aku sungguh - sungguh minta maaf ayah, ibu " Air mata pun menetes di wajah tampan Yudha. Suaranya terdengar pilu, hatinya seakan terluka begitu dalam. Gina teringat dengan cerita neneknya semalam. Dia pun tak kuasa menahan tangis mendengar perkataan sang suami yang begitu getir. Gina memegang pundak Yudha, seakan memberikan dukungan dan kekuatan pada sang suami. " Ayah, ibu. Apakah kalian bahagia melihatku sudah menikah? Sekarang aku tidak sendiri. Aku memiliki istri yang selalu menemaniku. Kakek selalu berkata padaku untuk melupakan kejadian itu. Tapi itu begitu sulit, senyum terakhir kalian selalu teringat di kepalaku. Tapi kalian tidak perlu khawatir dan cemas lagi tentang ku. Aku sudah menemukan pendamping ku dan aku akan berusaha membahagiakan istri juga anakku " " Kalian tenanglah disana. Aku akan kemari lagi nanti. Sekali lagi maafkan aku ayah, ibu. Aku tidak bisa melindungi kalian " Yudha pun berdiri dan hendak beranjak pergi dari sana bersama Gina. Langkahnya begitu berat, seakan enggan untuk meninggalkan makam ibu dan ayahnya. " Ayo sayang kita pulang! " Gina berusaha menyadarkan Yudha dari kesedihannya dan mengingatkannya bahwa masih ada Gina yang akan menemaninya " Kakek atau nenek pasti sudah memberi tahu mu tentang orang tua ku? " Gina menganggukkan kepala dan berkata " Iya " " Nenek sudah menceritakan semuanya padaku semalam " Gina menghentikan langkahnya dan membalikkan badan Yudha agar berhadapan dengannya " Dengarkan aku! Itu bukan salahmu. Itu adalah sebuah kecelakaan dan jadi bagian masa lalumu. Dan kamu sekarang tidak sendiri, ada aku yang akan selalu berada di sisimu. Jika sesuatu terasa begitu berat bagimu, maka kamu bisa membaginya denganku. Katakan padaku, agar aku bisa tahu apa yang kamu rasakan. Jangan memikulnya sendiri. Kamu bisa berbagi kesedihan mu kepadaku! " Mata Yudha berkaca - kaca, akhirnya Yudha sedikit membungkuk, menyandarkan kepalanya di bahu Gina dan menangis di pelukannya. Gina pun membalas pelukan sang suami, mengusap punggungnya untuk menenangkan hati suaminya Chapter 123 Persiapan untuk bayi kembar " Apa kamu sudah lebih baik? " Gina bertanya kepada sang suami setelah mereka tiba dirumah mereka sendiri. Yudha tersenyum sebagai jawaban atas pertanyaan sang istri " Aku ingin memintamu menemaniku bertemu dokter untuk memeriksa kondisi calon bayi kita hari ini! " " Apakah hari ini jadwal temu kamu dengan dokter kandungan? " Yudha mencoba memastikan sambil melambaikan tangan agar sang istri mendekat padanya. Gina pun berjalan mendekat dan duduk dipangkuan Yudha " Iya, hari ini bisakah kamu menemani ku? " Gina berkata kepada Yudha dengan tangannya yang melingkar di leher Yudha " Tentu saja, sayang. Papi juga ingin tahu bagaimana kondisi calon bayi papi ini! " Yudha tersenyum sambil mengelus perut Gina yang sedikit kelihatan membesar Tak lama mereka tiba dirumah sakit. Yudha dan Gina langsung menemui dokter yang telah dijadwalkan. Mereka melakukan USG lagi untuk melihat kondisi si calon bayi " Bagaimana kandungannya dok? Apakah istri dan bayi kami baik - baik saja?" Yudha terlihat khawatir saat ini " Tuan nyonya. lihatlah ke monitor ini.. Disini ada 2 janin kecil. Kemungkinan besar, bayi tuan dan nyonya akan lahir kembar. Tapi kita belum bisa tahu jenis kelaminnya. Disini baru terbentuk tubuhnya saja " Dokter menjelaskan sambil menunjuk ke arah monitor Yudha dan Gina memperhatikan dengan seksama apa yang sedang dijelaskan oleh dokter kandungan mereka " Benarkah bayi kami kembar? " Mata Yudha seketika berbinar tak percaya mendengar kabar bahwa anaknya kembar " Sayang, kamu dengar kan? Kita akan punya bayi kembar. Aku sudah tidak sabar untuk melihat mereka " Yudha begitu antusias. Dia menatap Gina dan menggenggam kedua tangannya " Apakah kondisi bayi kami baik - baik saja? Bagaimana dengan perkembangannya? " " Mereka baik - baik saja dan perkembangannya cukup bagus. Nanti akan saya resepkan vitamin tambahan untuk nyonya " Sang dokter kemudian bangkit dari kursi tempat dia memeriksa dan pindah ke kursi kerjanya sendiri kemudian menuliskan resep untuk Gina dan kandungannya.. " Terima kasih dokter " Gina dan Yudha pun bergegas meninggalkan rumah sakit setelah selesai bertemu dokter. " Sayang, bagaimana kalau kita pergi ke mall untuk membeli perlengkapan bayi? Sepertinya kita juga harus merenovasi kamar bayi dan kamar untuk bermain? " Kata Yudha ketika mereka hendak keluar dari rumah sakit " Apakah harus sekarang? kita masih belum tahu jenis kelamin anak kita! " Goba menoleh dan terlihat bingung " Tenang saja. Untuk sekarang kita akan membeli barang dengan warna netral dan furniture bayi saja. Untuk popok dan pakaian, kita beli nanti saja! " " Baiklah, aku ikut dengan keinginan mu saja" Gina tersenyum dan setuju saran dengan sang suami. Mereka pun bergegas pergi menuju tempat penjualan furnitire. Jadi pusat perhatian semua orang, sudah biasa untuk mereka berdua. Apalagi setelah Gina hamil, mereka terlihat bahagia sebagai pasangan suami istri. " Apa yang akan kita cari terlebih dahulu sayang? " " Kita beli tempat tidur bayi terlebih dahulu " " Selamat siang tuan, nyonya. Ada yang bisa saya bantu? " Tanya seorang pramuniaga yang melihat kedatangan Yudha dan Gina " Kami ingin mencari furniture untuk bayi" Yudha menjawab pertanyaan pramuniaga dengan ekspresi datar " Baik, silahkan sebelah sini! " Pramuniaga pun mengarahkan ke tempat tidur terlebih dahulu. Begitu banyak pilihan tempat tidur, hingga Yudha dan Gina bingung untuk memilih yang mana. " Sayang cari tempat tidur dengan ukuran besar saja, jadi lebih lama digunakan, apalagi mereka juga berdua " Saran Gina kepada sang suami " Baiklah! " Mereka pun memilih tempat tidur besar, bukannya box bayi kecil " Kami juga mau box bayi yang besar untuk mereka bermain, agar lebih aman! juga lemari pakaian! " Yudha memilih dan memesan semuanya. Gina mengiyakan semua yang di inginkan sang suami " Sayang, apakah kita harus membelinya sekarang? Kamu bilang kita akan renovasi dulu kamar dan ruang bermainnya? " Gina bingung melihat begitu banyak yang dipesan sang suami " Tidak apa sayang. Kita bisa mengirimnya ke rumah kakek dulu atau ke apartemen mu! " Gina menganggukkan kepala tanda setuju " Tuan, Nyonya silahkan ikut saya untuk pembayarannya!" Sang pramuniaga mengarahkan pasangan ini menuju kasir " Kamu ingin mendesain kamar mereka seperti apa sayang? " Tanya Yudha pada sang istri setelah selesai berbelanja " Aku ingin kamar mereka dibuat simpel dan kita bisa menambahkan stiker dinding untuk menghiasi kamar mereka nanti " Gina begitu ceria saat bercerita. Yudha hanya tersenyum sambil menganggukkan kepala " Sekarang kita pergi mencari makan terlebih dahulu sebelum pulang" Chapter 124 Aku tidak pantas untuknya! Nadia disibukkan dengan urusan perusahaan Gina. Tapi dia selalu melaporkan setiap detil dari perkembangan yang terjadi di perusahaan. Dia selalu di dampingi oleh Risti. " Ris, bagaimana dengan peluncuran produk baru kita? Apakah semua berjalan lancar? " Nadia bertanya kepada Risti yang membawakan dokumen untuk di tanda tangani olehnya " Sejauh ini semua berjalan lancar. Tiara sebagai brand ambasador juga menerima sambutan cukup baik dari pelanggan kita" Risti menjelaskan detilnya " O iya mba. Menurut mba bagaimana dengan mas Jimmy? " Nadia mengernyitkan dahi mendengar pertanyaan dari Risti " Ada apa dengannya? " Nadia memasang wajah heran sambil menopang dagu dengan sebelah tangannya " Sepertinya dia selalu memperhatikan mba Nadia " " Ach ngawur kamu. Mana mungkin dia memperhatikan aku. Mungkin kamu yang salah aja kali " Nadia dengan tenang menjawab setiap pernyataan Risti " Aku serius mba! " " Sudahlah. Jangan ngaco. Kita fokus kerja saja " Nadia menutup pembicaraan yang menurutnya tidak akan ada ujungnya itu. Ceklek Terdengar suara pintu yang terbuka. Dan dilihatnya seorang pria yang nampak dari balik pintu "Hallo sayang. kita makan siang bersama gadis kecilku?! " Satya langsung masuk ke kantor adiknya dan mendekatinya " Kak, ini di kantor ku. Bisa kah kakak sedikit saja memberikan aku rasa hormat. Aku ini bukan gadis kecilmu lagi. Aku sudah dewasa " Nadia terus menggerutu kepada sang kakak yang selalu memperlakukannya seperti anak kecil " Memangnya kenapa? Mau kamu sudah dewasa atau sudah menikah sekalipun. Kamu tetap gadis kecilku titik " Satya yang sama - sama keras kepala tidak mau kalah dengan sang adik. Risti yang memperhatikan kakak beradik ini pun hanya mengulum senyum " Apa kamu tidak malu kak? disini ada Risti tahu!" Nadia yang kesal mengerucutkan bibirnya " Memangnya kenapa? Dia juga sudah terbiasa melihat kita berdua. Iya kan Ris? " Satya meminta persetujuan Risti dan dibalas dengan anggukan dan senyum " Sudahlah, cepat kita keluar makan siang. Kamu juga ikut ya Ris! Ajak Jimmy juga supaya dia ikut bersama kita! " " Baik saya akan panggilkan mas Jimmy! " Risti meninggalkan ruangan Nadia dan bergegas memberi tahu Jimmy " Hei,, Gadis kecil! Apa kamu menyukai Jimmy? " pertanyaan Satya sontak membuat Nadia terkejut dan membelalakkan mata " Kakak ini bicara apa? Mana mungkin aku menyukai dia. Kami hanya rekan kerja saja! " Nadia menjawab dengan gugup dan salah tingkah. Satya tersenyum melihat sang adik salah tingkah " Aku bisa melihat kalau kamu menyukai dia. Sepertinya dia juga pria yang baik " " Kak, kakak tahu kan bagaimana masa laluku? Karena dia pria baik, sehingga aku tidak pantas untuknya. Aku ini bukan gadis baik - baik kak! " Nadia terlihat murung dan matanya mulai berkaca - kaca "Nad, itu semua bukan salahmu. Itu salah keluarga Riko yang brengsek itu. Jika bukan karena mereka, keluarga kita tidak akan berantakan. Beruntung tuan Yudha sudah membantu membalaskan dendam kita " Pancaran kebencian dan kemarahan jelas terlihat di mata Satya " Sudahlah kak, itu adalah bagian masa lalu yang menyakitkan, tapi kita juga tidak bisa terus mengingatnya! Biarkanlah itu semua berlalu! " Nadia berusaha menenangkan sang kakak, meskipun dia juga merasakan kepedihan dalam hatinya Tanpa mereka sadari, ada yang mendengar percakapan mereka dari balik pintu " Ris, sebenarnya apa yang terjadi dengan masa lalu Nadia? " Risti tertunduk mendengar pertanyaan Jimmy. " Itu.. Itu.. Anu,,! "Dia terbata - bata dan tidak tahu harus menjawab apa.. " Sebaliknya nanti kamu yang tanyakan sendiri pada Nadia. Tidak etis rasanya jika aku yang menceritakan masa lalunya padamu! " Jimmy pun mulai menimbang dan penasaran mengenai masa lalu Nadia. " Ada apa dengannya? Apakah masa lalunya sepedih itu? Bagaimana aku bisa menanyakan masa lalu yang sepertinya membuat dia begitu terluka " Gumam Jimmy " Jika kamu memang menyukainya, kamu harus belajar menerima masa lalunya yang buruk. Lebih baik kamu berusaha mendekatinya dengan perlahan. Karena kamu juga harus lebih mengenal dia, dan berusaha keras agar dia mau membuka hatinya untuk mu. Karena sejauh ini dia telah terbelenggu oleh masa lalu yang begitu menyakitinya " Terang Risti kepada Jimmy. Jimmy pun mendengarkan perkataan Risti dengan pandangan yang selalu tertuju kepada Nadia " Sudahlah, ayo kita dekati mereka! " Ajak Risti dan di iyakan dengan anggukan kepala oleh Jimmy Chapter 125 Terbukanya luka lama Nadia " Mba Nadia, mas Satya " Risti masuk bersama Jimmy " Sudah siap? Kita berangkat sekarang saja! Ayo gadis kecil ku! "Satya meledek adiknya yang sontak membuat Nadia berteriak " Kakak! " " Hahaha " Satya terbahak karena reaksi Nadia yang berjalan dengan cemberut. Jimmy dan Risti saling memandang dan tersenyum " Ayolah sayang jangan marah begitu! " Jimmy berusaha membujuk Nadia yang maaih saja cemberut " Sudahlah kak, hentikan! " " Kalian ini seperti anak kecil saja! " Risti tersenyum mengejek kakak beradik itu " Kita mau makan dimana? " Nadia berusaha mengalihkan pembicaraan " Kita ke restoran A saja. Tidak terlalu jauh dari sini dan makanannya juga lumayan enak! " Risti memberikan sarannya. Dan yang lainnya hanya mengangguk - anggukan kepala " Baiklah kita kesana " Satya menyetujui dan merangkul sang adik ketika berjalan Tak berselang lama, mereka tiba di restoran yang mereka maksudkan. " Kalian mau makan apa? " Satya bertanya sambil membuka buku menu " Terserah kalian saja " Jimmy mengangkat bahu " Baiklah " Satya pun memesankan makanan dan minuman untuk mereka semua Mereka menikmati makan siang mereka dengan suasana yang nyaman hingga selesai makan. " Mba Nadia, aku tidak langsung balik ke kantor ya? Ada yang harus aku beli dulu. Jadi aku mau sekalian saja " Risti berbicara sambil membersihkan mulut dari sisa makanan " Biar aku yang menemani mu pergi " Satya langsung bersiap untuk pergi menemani Risti " Tidak apa mas, biar saya peegi sendiri saja " Risti melambaikan tangan dan menggelengkan kepala dengan cepat " Tidak apa Ris. Biar kakak ku yang menemani mu. Lagi pula dia tidak ada pekerjaan lain selain mengganggu ku " Nadia menjulurkan lidah kepada sang kakak " Dasar kamu ini " Satya mengusap kepala bagian atas Nadia dengan kasar, hingga rambutnya berantakan " Kakak ini, huh! " " Jim, titip adik ku ya. Awas nanti dia berkeliaran dijalan " Canda Satya yang kemudian bergegas bersama Risti setelah mendapatkan senyum dan anggukan Jimmy " Yuk Jim, kita juga harus balik kantor " " Baiklah! " Nadia berdiri dan hendak beranjak dari restoran bersama Jimmy.. Langkahnya berhenti melihat seseorang yang dia kenal. Dia terus memperhatikan petugas valet parkir. Wajahnya seketika murung. Tampak kebencian, kemarahan dan kekecewaan di matanya. Perubahan ekspresi Nadia tidak luput dari pandangan Jimmy. Dia terus memperhatikan gadis cantik itu. " Ada apa dengannya? Kenapa ekspresi wajahnya berubah? Apakah dia mengenal petugas valet parkir itu? "Pikiran Jimmy dipenuhi dengan banyak pertanyaan yang tidak tahu harus mulai bertanya dari mana Pria itu terus menundukkan kepala ketika Nadia melewatinya. Nadia menatap petugas valet itu dengan tatapan sinis dan senyum mengejek melihat kondisi pria itu sekarang. Pria yang menghancurkan keluarganya, hidupnya dan masa remajanya. Pria yang tidak lain adalah Riko yang menjadi bagian dari masa lalunya. Nadia terlihat kuat dihadapan pria itu Namun ketika dia melewatinya dan hampir tiba di mobil, seketika tubuhnya lemas. Bruk Dia bersandar pada mobil. Jimmy dengan sigap menahannya " Apa kamu baik - baik saja? " Jimmy terlihat khawatir melihat Nadia yang tanpa sadar meneteskan air mata. Mengingat kembali apa yang terjadi pada keluarganya. Meskipun dia telah berhasil membalaskan dendam dan melihat keluarga Riko bangkrut, namun itu tidak bisa menghilangkan kepedihan yang dulu dirasakannya. Dia menangis sambil tersenyum. Ada kegetiran yang dirasakannya. Jimmy pun merasakan sakit melihat Nadia seperti ini " Apa kamu tahu siapa pria tadi? " Tatapan Nadia kosong, seperti menerawang. Jimmy hanya diam dan menyimak apa yang hendak Nadia ceritakan " Dia adalah orang yang menghancurkan keluargaku. Orang tua kami dulu berteman baik, namun karena keserakahan, mereka merebut perusahaan kami. Orang tua ku meninggal setelah itu. Ayah terkena serangan jantung, sedangkan ibu sakit - sakitan karena terlalu sedih" Nadia memberikan jeda pada kalimatnya. Dia menghela nafas sebelum melanjutkan cerita " Tidak hanya itu, mereka juga merebut kesucian ku dan menjebloskan kakak ku ke dalam penjara! " Kalimat itu sontak membuat Jimmy terkejut hingga membelalakan mata. " Betapa kejamnya mereka. Tidak hanya merebut perusahaan, tapi juga menghancurkan seluruh keluarganya " pikir Jimmy " Aku dan kakak sangat terpuruk saat itu. Tidak ada saudara yang bisa membantu kami. Beruntung kami bertemu keluarga Kusuma, keluarga tuan Yudha. Mereka merawat kami juga telah membalaskan dendam kami, yaitu melihat kebangkrutan keluarga itu. Tapi saat melihatnya tadi, kepedihan itu terasa lagi. Seakan sebuah luka lama terbuka kembali " " Kami hanya membuat keluarga itu bangkrut dan hidup di jalanan. Mereka tidak merasakan kepedihan seperti kami " Air mata Nadia sudah tak terbendung lagi. Jimmy meraih Nadia, mendekapnya erat dalam pelukannya " Sudah, jangan di ingat lagi. Itu hanya bagian masa lalu yang harus kamu tinggalkan. Jangan menoleh lagi ke belakang. Teruslah melangkah maju! " Nadia menumpahkan semua kepedihan dan luka yang dia rasakan di pelukan Jimmy. Dia merasakan kenyamanan dalam pelukannya Chapter 126 Nadia, menikahlah denganku! Beberapa saat kemudian " Apakah kamu sudah merasa lebih baik? " Tanya Jimmy kepada Nadia sambil menyerahkan segelas teh kepadanya " Iya, terimakasih. Maaf membuat kemejamu basah karena air mataku! Sebaiknya kita membeli kemeja dulu untukmu ganti. Tidak bagus jika kamu harus kembali ke kantor dengan kemeja basah dan kusut itu" Nadia tertunduk sambil menatap gelas ditangannya " Tidak apa. Aku bersedia menjadikan bahu ini sebagai sandaran dalam setiap kesedihan mu dan dada ini sebagai tempat berlindung untuk mu! "Jimmy memberikan senyum terindahnya saat Nadia menatapnya " Sudahlah, ayo kita kembali ke kantor! " Nadia bangkit dan hendak beranjak pergi sebelum tangan Jimmy meraihnya dan menahannya pergi " Nadia, aku serius dengan apa yang aku katakan. Aku ingin jadi pelindungmu selain kakak mu. Aku ingin selalu berada di sisimu dan menemani mu! " Mata Nadia kembali berkaca - kaca " Jangan main - main. Ayo cepat pergi! " Nadia berusaha mengalihkan perhatian Jimmy " Aku serius Nadia! " Tak ada senyum dan candaan lagi di wajah Jimmy. Hanya keseriusan yang terlihat di wajahnya " Jimmy, kamu sudah tahu aku, bahkan sudah ku ceritakan masa laluku. Bagaimana kamu bisa tetap ingin bersama denganku? "Nadia memicingkan mata tak percaya degan perkataan Jimmy " Memang apa salahnya jika aku ingin bersama denganmu? " Pandangan mata Jimmy sangat tajam. Dia terlihat begitu serius dan tegas " Itu hanya bagian dari masa lalu kamu, dan aku ingin jadi bagian dari masa depanmu " Lanjut Jimmy mencoba meyakinkan Nadia. " Tapi,,, aku,, aku,,, " Nadia terbata - bata, mencoba mengatakan sesuatu. namun dengan cepat Jimmy memotong perkataannya " Nadia, aku benar - benar tulus ingin bersama denganmu. Aku selalu memperhatikan mu. Dan ini adalah kesempatan untukku mengutarakan semuanya " Perkataan Jimmy yang lembut disertai senyuman yang begitu manis membuat Nadia terpesona " Aku tidak pantas untukmu. Kamu tahu masa laluku. Dan kamu seharusnya mendapatkan pendamping yang lebih baik dariku! " Nadia tertunduk dengan tetesan air mata saat mengatakannya. Jimmy hanya tersenyum kemudian merangkuh kedua pipi Nadia agar dia bisa menatapnya " Sudah ku katakan sebelumnya padamu. Aku ingin jadi bagian masa depanmu yang indah. Bukan jadi bagian masa lalumu yang menyedihkan "Jimmy tersenyum dan menghapus air mata yang membasahi pipi gadis cantik pujaan hatinya itu. Nadia menatap haru pria di dihadapannya. Jimmy meraihnya ke dalam pelukannya. Membisikkan kata yang tidak dapat dipercaya oleh Nadia " Nadia, menikahkah denganku! " Nadia terkejut dan dia melepaskan pelukan Jimmy, menatap wajahnya. Seakan ingin memastikan kata - kata yang baru saja di dengarnya " Menikahlah dengan ku Nadia. Kita bangun rumah tangga kita yang bahagia " Senyuman dan perkataan Jimmy terdengar begitu tulus " Tapi kita belum mengetahui kepribadian satu sama lain. Kita hanya rekan kerja sebelumnya " Nadia berusaha menolak ajakan Jimmy. Paling tidak, menunggu sampai mereka lebih saling mengenal satu sama lain " Kita bisa melakukannya setelah kita menikah. Asalkan kita saling percaya, aku yakin semua akan baik - baik saja. Apa kamu tidak percaya padaku? " Jimmy berusaha meyakinkan Nadia " Bukan itu. Hanya saja,,, " Jimmy mengangkat kedua alisnya menunggu perkataan Nadia " Hanya saja apa? " Jimmy mengangkat dagu Nadia agar menatapnya " Hanya saja,, kita harus meminta restu dan izin dari kakak ku. Hanya dia yang aku miliki di dunia ini sekarang. Jika dia mengizinkan kita menikah, maka aku akan setuju. Tapi jika dia juga tidak memberikan izin untuk kita menikah. Aku pun tidak akan menikah denganmu " " Hanya itu yang kamu khawatirkan? Aku pasti akan mendapatkan restu dari calon kakak iparku! " Jimmy berkata dengan penuh keyakinan dan senyumanpun tersungging di wajah tampannya. " Ayo kita kembali ke kantor! " Jimmy mengulurkan tangannya agar Nadia mau berjalan bersama dengannya. Nadia pun menatap Jimmy dan meraih tangan itu. mereka saling bergandengan menuju ke kantor Entah dari mana datangnya keberanian Jimmy hari ini. Dia yang biasanya hanya berani memandang Nadia secara diam - diam, tiba - tiba mengungkapkan isi hati terdalamnya. Yang dirasakan olehnya hari ini hanyalah ingin melihat senyum diwajah Nadia. Dia tidak rela melihat air mata menetes sedikitpun membasahi wajah cantiknya. Meskipun dia telah ternoda, itu tidak jadi penghalang untuk dia mendapatkan cinta dari wanita pujaan hatinya. Dan dia berjanji dalam hatinya, untuk terus membahagiakan wanita yang di sayanginya hingga akhir hayatnya. Selanjutnya dia harus bisa menaklukkan hati sang calon kakak ipar. Chapter 127 Restu sang kaka Nadia kembali ke kantor bersama Jimmy, dengan saling berpegangan tangan. Satya dan Risti sudah tiba terlebih dulu di kantor dan menunggu mereka di ruangan Nadia. Satya mengernyitkan dahi melihat kedekatan mereka, sebelum akhirnya dia menoleh ke arah Risti dan mengangkat kepala dengan cepat, seolah dia sedang bertanya "Ada apa di antara mereka berdua". Risti pun seolah mengerti dengan apa yang di isyaratkan Satya, dia hanya mengangkat bahu sebagai jawaban Satya kembali menatap sang adik dengan wajah bingung . "Bukankah dia bilang tidak mungkin bersama? Kenapa mereka malah berpegangan tangan" Pikir Satya " Ada yang ingin kalian jelaskan padaku? " Satya menunggu sebuah penjelasan dengan duduk bersandar dan melipat kedua tangan di dada, dia juga menyilangkan kakinya. " Kak, kami,,, sebenarnya ,,, " Nadia terbata - bata karena gugup, tak tahu harus bagaimana dia menjelaskan pada Satya, agar dia mendapatkan restu dari sang kaka. Padahal sebelumnya jelas dia mengatakan bahwa tidak mungkin terjadi sesuatu di antara mereka berdua. Sebelum Nadia menyelesaikan kalimatnya, Jimmy memotong perkataannya " Saya ingin menjadikan Nadia sebagai istri saya! "Sontak Nadia menoleh ke arah Jimmy. Suasana ruangan itu pun seketika hening selama beberapa saat. Hingga Jimmy kembali membuka suara "Saya serius ingin menjadikan Nadia sebagai istri saya! " "Sejak kapan kamu menyukai adik ku? sepertinya selama ini kalian tidak terlalu dekat? Bukankah kalian hanya sebatas rekan kerja? Bagaimana mungkin tiba - tiba kalian ingin menikah? " " Saya sudah lama memperhatikan Nadia, tapi saya tidak punya keberanian untuk bisa mendekatinya. Tapi hari ini, entah dari mana datangnya keberanian saya. Saat melihat dia meneteskan air mata. Hati saya terasa sakit, saya tidak ingin melihat dia bersedih. Jadi saya memutuskan untuk menjadikan dia istri saya dan melindunginya" Jimmy begitu tenang saat dia mengatakan semuanya. Tak terlihat ada keraguan yang terpancar dari wajahnya " Punya jaminan apa kamu? kalau kamu tidak akan membuat adikku menangis atau bersedih. Kamu tidak mengenal kami dengan baik. Dan kamu tidak tahu banyak tentang Nadia " " Saya yakin akan perasaan saya pada Nadia. Dan saya juga yakin kami bisa hidup bahagia. Kami bisa saling mengenal setelah kami menikah. Dan aku yakin itu akan lebih baik. Karena kami bisa saling menerima kekurangan masing - masing jika kami langsung menikah" Nadia dan Risti hanya membatu, menyaksikan perdebatan antara kedua lelaki ini. Mereka terus bergantian menatap Jimmy dan Satya " Aku ingin adikku bahagia. Apa kamu yakin, kamu akan bisa menerima masa lalunya juga? Bisa saja kamu hanya melihat kecantikan dia saja, tapi setelah tahu keburukan adikku. Kamu akan membuat dia lebih menderita! " Satya terdengar dingin dan serius " Aku sama sekali tidak peduli dengan masa lalu Nadia. Karena aku hanya ingin menjadi bagian dari masa depan dia, bukan masa lalunya. Meskipun masa lalunya buruk, aku yakin bisa menerimanya, karena aku juga sudah mengetahui semua itu " Satya terkejut dengan jawaban Jimmy, lalu dia menatap Nadia dan mengerutkan dahi " Apakah dia sudah menceritakan semuanya " Pikir Satya. Nadia hanya diam tertunduk Satya terus melontarkan pertanyaan, untuk meyakinkan hatinya kalau dia benar - benar melepas Nadia pada pria yang tepat. " Aku hanya ingin adikku bahagia. Sudah cukup penderitaan yang dia alami selama ini. Keputusan terakhir tetap ada ditangannya. Karena dia yang akan menjalani biduk rumah tangga nantinya. Jika kamu memang yakin dia adalah yang terbaik, aku akan memberikan restu pada kalian. Tapi jika kamu membuat adikku menderita. Maka aku tidak akan pernah membiarkan mu hidup tenang " Satya mendelik, memberikan senyum licik, layaknya sebuah ancaman "Tentu saja. Aku akan berusaha membuat dia bahagia " Jimmy dan Nadia saling menatap dan melontarkan senyum yang hangat. Genggaman tangan Jimmy semakin erat dirasakan Nadia. Ada kebahagiaan dan kehangatan yang dia rasakan di dalam hatinya. Setelah semua yang dia lewati, akhirnya dia menemukan Jimmy " Aku tidak ingin berlama - lama. Aku akan segera mengurus pernikahan kami " Jimmy memancarkan senyum bahagia saat mengatakannya " Bagaimana dengan orang tua mu? Bukankah kamu harus meminta restu dulu pada mereka? Aku tidak ingin keluarga mu nantinya mempersulit adikku " " Aku tidak punya orang tua. Kamu tenang saja. Aku akan berusaha melindungi Nadia. Bagaimana pun itu, tidak akan kubiarkan orang lain mengganggunya! " Chapter 128 Biarkan mereka bermain Selama kehamilannya, Gina tidak pernah ingin jauh dari sang suami. Bahkan dia selalu ikut menemani sang suami ke kantor. Dia akan menunggu di sofa diruangan Yudha, sambil melihat majalah atau melihat laporan dari perusahaannya yang diberikan oleh Nadia. Tok tok tok " Masuk " Yudha mempersilakan masuk tanpa mengalihkan pandangannya dari dokumen yang sedang ia pegang. Terlihat Nadia dan Jimmy yang muncul dari balik pintu dengan membawa dokumen untuk Gina " Permisi tuan, nona " Gina mengalihkan pandangannya dari majalah dan menatap kedua orang itu Dia merasakan ada yang berbeda diantara keduanya. " Sepertinya kalian berdua sedang berbahagia? Apa ada suatu kabar yang baik? "Gina tersenyum sambil mengesap teh miliknya " Tidak ada apa - apa " Nadia terlihat malu dan wajahnya memerah " Benarkah? "Gina memicingkan mata menatap mereka berdua dengan curiga " Kami ingin melangsungkan pernikahan kami secepatnya! " Pernyataan Jimmy membuat Nadia tersipu malu dan tertunduk. Wajahnya saat ini begitu merah bagaikan tomat " Itu adalah berita bagus. Tapi Jimmy, bukankah kamu memiliki urusan yang belum terselesaikan dengan paman dan bibimu? " Gina mengangkat sedikit sebelah ujung bibirnya. Membentuk sebuah senyuman dengan tatapan mata yang dingin " Aku akan mulai membuat perhitungan dengan mereka secara perlahan. Aku telah menggunakan akun rahasia untuk membeli saham mereka secara perlahan. Jika waktunya tiba, aku akan berkunjung secara pribadi untuk menyapa paman dan bibiku " Ada sebuah senyuman licik yang terlihat di wajah tampan Jimmy " Baguslah kalau begitu. Kamu harus mengambil kembali apa yang menjadi hak mu! " Gina begitu terlihat tenang. Auranya begitu terlihat setelah dia hamil. Dia tetap cantik meskipun sekarang perutnya sudah mulai membesar. Yudha mendekat ke arah mereka yang sedang berbincang, kemudian dia duduk disebelah Gina dan memberikan vitamin juga segelas air putih untuknya. Sungguh pemandangan yang begitu indah. Nadia terus menatap pasangan itu. Matanya berbinar seolah iri dan ingin menjadi seperti pasangan ini. Jimmy menatapnya dan mendekatkan mulutnya di samping telinga Nadia, kemudian berbisik " Kita juga bisa menjadi pasangan yang saling menjaga dan memanjakan seperti mereka. Kamu tidak perlu iri, karena aku juga akan memperlakukan mu dengan sangat baik " Suaranya terdengar begitu lembut dan nyaman ditelinga. Nadia menatap Jimmy dengan penuh kasih, mereka pun saling menatap dan melempar senyum.. " Ehem,, ehem,, " Deheman Gina sontak membuat sejoli itu terkejut " Aku sudah menyelidiki perusahaan yang dikelola oleh pamanmu. Menurut informasi yang ku dapat, perusahaan itu sedang mengalami penurunan karena sepupumu tidak becus mengelola perusahaan. Dia hanya bisa main perempuan dan berfoya - foya saja " " Ini kesempatan mu untuk bisa membeli saham perusahaan sebanyak - banyaknya dan memberikan mereka kejutan setelah sekian lama kalian tidak bertemu " Yudha dengan tenang memberi tahu Jimmy sambil berjalan kembali ke kursi kerjanya " Terimakasih tuan. Saya akan lakukan yang terbaik. Saya yakin bisa mengambil alih kembali perusahaan itu! " Setelah beberapa lama Nadia dan Jimmy meninggalkan kantor Yudha " Sayang. apakah kamu merencanakan sesuatu pada perusahaan Jimmy? " Gina mendekati Yudha dan berdiri di sebelahnya.. Yudha dengan lembut mengelus perut Gina yang sudah terlihat membesar " Tidak, biarkan itu untuk mereka bermain. Kita hanya akan menjadi penonton saja. Jika mereka mengusik ketenangan kita, barulah aku akan ikut bermain dengan permainan mereka " " Bukankah kamu mengatakan kalau keluarga itu begitu licik? " " Aku yakin mereka berdua bisa mengatasinya. Dan dari yang kulihat, Nadia sudah cukup belajar dari mu, sayang! " Yudha begitu menikmati saat dia mengelus lembut perut Gina. Gina pun tidak keberatan dengan apa yang suaminya lakukan " Benarkah begitu " Gina menganggukkan kepala beberapa kali seperti sedang berfikir. Hingga dia teringat satu hal " O iya Sayang, kapan renovasi kamar untuk bayi kita selesai? aku tidak sabar untuk melihatnya! " Gina meletakkan tangannya di pundak sang suami " Tidak lama lagi akan selesai. Tunggu saja. Nanti kita akan pergi belanja perlengkapan bayi yang dibutuhkan " Yudha menatap Gina dan memberi senyuman yang begitu lembut " Baiklah! " Senyum Gina merekah, dia terlihat begitu senang Chapter 129 Aku ingin berkencan dengan istriku Seperti yang di janjikan Yudha sebelumnya. Mereka akan membeli perlengkapan untuk bayi mereka.. Mereka berdua tiba di salah satu mall besar di kota A. Terlihat mall sedang ramai pengunjung. Yudha bergandengan dengan Gina di ikuti oleh Hendri dan 2 pengawal yang biasa mengikuti Yudha. " Sayang, kita langsung ke toko perlengkapan bayi saja ya? " " Baiklah! " Mereka langsung menuju toko yang dimaksud. Yudha mendorong sebuah troli dengan Gina berada di sebelahnya. Mereka memilih banyak barang yang dibutuhkan untuk si kembar nantinya. Mulai dari pakaian, popok, kaos kaki, tempat makan dan lain sebagainya. " Sayang, apakah ini sudah cukup? Apa masih ada yang kita butuhkan? " Gina memeriksa kembali barang belanjaannya dan menggelengkan kepala " Sepertinya ini sudah cukup sayang. Semua yang dibutuhkan telah kita beli " Gina tersenyum kepada sang suami. Mereka pun bergegas untuk ke bagian kasir dan membayar barang - barang yang dibelinya. Sampai di kasir petugasnya terus memperhatikan Yudha tanpa berkedip " Waah, sungguh pria yang sempurna. Dia terlihat seperti pahatan seni dengan wajah yanh tampan dan tubuh yang proporsional "pikir sang kasir Gina tidak menyukai situasi ini. Dimana kasirnya malah menatap Yudha dan begitu terpesona padanya. Yudha sama sekali tidak mempedulikan itu, tapi Gina yang tidak nyaman tampak wajahnya berubah muram dan kesal. " Nona, sampai kapan kamu akan memperhatikan suamiku seperti itu? Apa kamu tidak ingin bekerja? " Gina terlihat tenang namun dingin dengan aura yang dia berikan " Ah,, maaf nyonya! " Penjaga kasir pun tersadar dari lamunannya. Dia segera minta maaf dan menghitung barang belanjaan yang mereka bawa di troli Yudha tersenyum melihat ekspresi Gina dan meraih pinggangnya, kemudian berbisik dengan nada yang sedikit mengejek" Sudahlah sayang, tidak usah di pedulikan. Sepertinya kamu begitu sensitif semenjak kehamilan anak kita ". " Tuan, aku sungguh tidak suka jika wanita lain memperhatikan mu seperti itu " Gina memandang sang suami dengan dingin lalu memalingkan wajahnya. hahahaha Yudha malah terbahak dengan apa yang Gina lakukan. " Hendri, kalian bisa pulang terlebih dahulu dan tolong bawa barang - barang ini! " " Tapi tuan para pengawal kan,,,, " " Tidak apa. Aku ingin berkencan dengan istriku! " Yudha tersenyum menatap sang istri dan mengabaikan yang lain " Baiklah tuan kami akan kembali sekarang " Hendri dan kedua pengawal pergi meninggalkan suami istri itu dengan membawa barang belanjaan mereka bersamanya " Kamu mau pergi kemana lagi sayang? " Yudha berjalan dengan sebelah tangan melingkar di pinggang Gina dan tangan satunya di masukkan ke dalam saku celananya. Auranya terlihat begitu mendominasi. Begitu gagah melindungi sang istri. " Aku ingin makan es krim di food court mall ini! " Gina terlihat seperti anak kecil yang meminta kepada ayahnya untuk dibelikan es krim. Tapi yang membuat Yudha mengernyitkan alis adalah kata food court. " Kenapa harus di food court mall sayang? Kita kan bisa makan es krim di restoran? Itu sudah pasti enak dan tempatnya juga nyaman! " Gina menggelengkan kepala perlahan berkali - kali. " Aku tidak mau, aku hanya ingin makan di food court mall saja " " Fiuh,, baiklah, kamu menang sayang. Kita naik ke food court di lantai atas " Yudha menghela nafas, lalu menyetujui permintaan sang istri Yudha tidak terlalu suka makan di tempat umum, karena privasinya akan yerganggu dengan tatapan orang - orang terhadapnya. Benar saja, ketika mereka sudah memesan es krim dan duduk di salah satu kursi yang berdekatan dengan tiang. Mereka menjadi pusat perhatian. Terutama para wanita yang memandang Yudha dengan terkesima melihat ketampanannya dan wibawanya. " Sayang, makanlah es krimnya. Nanti begitu meleleh rasanya tidak akan enak lagi! " Yudha hendak menyuapi es krim kepada istrinya. Hingga seorang pasangan kekasih lewat dan menyeggol lengan Yudha dan menumpahkan es krim kepakaian Yudha " Maaf kami tidak sengaja " Kata sang pria dengan sombongnya " Tuan, nona. Tolong perhatikan langkah anda! "Gina memperingati dengan tenang " Kami sudah meminta maaf. Dan ini untuk biaya anda memcuci jas anda yang kotor terkena tumpahan es krim! " Chapter 130 Aku cukup belajar banyak darimu! Yudha dan Gina mengernyitkan dahi, melihat beberapa lembar uang yang di letakkan di atas meja oleh wanita itu. " Maaf nona, kami sama sekali tidak membutuhkan uang anda yang hanya sedikit itu. Lebih baik anda gunakan untuk masuk kelas tata krama saja atau bisa anda sumbangkan kepada orang miskin" Yudha berkata dengan tenang sambil membersihkan eskrim di jasnya. Dia sama sekali tidak menatap wanita itu " Apa maksudmu? Kurang ajar sekali! Sayang lihatlah, dia bersikap sombong dan tidak sopan padaku! "Wanita itu kesal dan merengek pada sang kekasih " Tuan. Kami sudah minta maaf. Dan ini sebagai uang kompensasi atas jas anda yang sudah kotor. Anda tidak perlu bersikap tidak sopan kepada pacar saya" Sang pria pun akhirnya membela sang kekasih Yudha mendongak, menatap pasangan kekasih itu dengan tenang. Namun aura yang di perlihatkan dalam sorot matanya begitu dingin. Membuat bulu kuduk merinding " Saya sudah katakan kepada kalian sebelumnya, kalau kami tidak membutuhkan uang yang sedikit itu. Anda tidak akan sanggup membayar kembali jas saya " " Sayang, apa kamu masih. menginginkan eskrimnya? Akan aku belikan yang baru untukmu! " Pandangan Yudha berubah hangat menatap sang istri sambil tersenyum. Gina pun membalas senyumnya dengan indah " Tentu saja sayang. Aku menunggumu disini! " Yudha pun beranjak pergi untuk memesan eskrim yang baru tanpa mempedulikan sejoli yang masih berdiri dihadapan mereka dengan menatap kesal kepada Yudha " Sebaiknya kalian segera pergi dari sini. Jangan sampai menunggu suamiku kembali. Kami sedang tidak ingin membuat keributan " Gina dengan tenang menatap sejoli itu, dengan sebelah tangan yang menopang dagu diatas meja " Berani sekali kamu berkata seperti itu kepada kami! Kamu tidak tahu siapa pacarku? Dia adalah Jodi Dinata, putra dari pemilik perusahaan Dinata dari kota C! " Wanita itu mulai kesal dan meninggikan suaranya kepada Gina. Gina masih tetap tenang mendengarkannya. Dia hanya tersenyum menyeringai kepada mereka " Oooh,,, jadi kalian dari kota C? Lantas apa pentingnya bagiku mengetahui siapa kalian dan apa keperluan kalian disini? Sepertinya sama sekali tidak penting untukku! " " Perempuan ini sama sekali tidak takut pada kekuasaan ku. Hampir semua orang tahu aku. Tapi dia, masih saja tetap tenang setelah mendengar namaku! " Pikir pria itu sambil menatap Gina dengan herah Tak lama Yudha kembali dengan membawa eskrim ditangannya. Dia menyipitkan mata melihat pasangan itu yang masih berdiri disana setelah lumayan lama Yudha membeli es krim " Rupanya kalian masih ada disini. Apakah masih ada keperluan lain dengan kami? " Tanya Yudha tanpa menoleh kepada mereka dan langsung duduk di sebelah Gina " Sudahlah, aku sudah mengatakannya kepada kalian. Untuk meninggalkan tempat ini sebelum suamiku kembali. Kami benar - benar sedang malas membuat keributan " Perkataan Gina membuat wanita itu semakin kesal. Dia hendak mendekat untuk membalas Gina namun sang pria menahan tangannya. " Tuan, ini kartu namaku. Jas anda sepertinya mahal. Jika anda ingin meminta kompensasi, maka silakan hubungi aku! " Pria itu memberikan kartu namanya kepada Yudha " Baiklah kalau begitu! Karena anda memiliki niat baik, jadi aku terima kartu namanya " Yudha menerima kartu nama itu kemudian kembali menyuapi sang istri. Dan sejoli itu meninggalkan Yudha dan Gina dengan perasaan kesal, terutama sang wanita. Yudha melihat kartu nama yang diberikan pria itu lalu membacanya " Jodi Dinata, Jimmy Dinata. Bukankah ini menarik sayang? " Dia pun tersenyum dengan penuh kelicikan Gina memicingkan mata melihat senyum sang suami " Sepertinya kamu menemukan sesuatu yang menarik, sayang? " " Tentu saja. Kita bisa ikut menikmati permainan Jimmy. Kalau kamu mau, kita juga bisa ikut bermain dengan keluarga itu? " Gina menggelengkan kepalanya perlahan sambil memakan eskrim yang disuapi Yudha " Tidak, kita nikmati dan lihat dulu saja pertunjukan Jimmy. Aku ingin melihat bagaimana permainan mereka. Jika pasangan tadi cukup menarik, barulah kita akan ikut bermain dengannya " Gina menyeringai penuh teka - teki " Sepertinya istriku ini sudah mulai menikmati permainan dalam bisnis ya! " Yudha tersenyum mengejek sang istri " Terimakasih. Aku cukup belajar banyak darimu tentang ini sayang! " Gina menganggap perkataan Yudha sebagai pujian baginya. " Sudahlah, lupakan mereka. Kita pergi dari sini! " Yudha berdiri dan membantu sang istri untuk beranjak pergi meninggalkan mall tersebut Chapter 131 Ambil kembali apa yang menjadi hak mu " Aku benar - benar kesal sayang. Bagaimana bisa mereka merendahkan kita? Mereka pikir mereka itu siapa. Berani - beraninya merendahkan pewaris keluarga Dinata " Vivian yang masih kesal terus saja mengoceh meskipun mereka sudah tiba di kota C " Sudahlah sayang, mungkin memang mereka bukan dari kalangan pebisnis, atau mungkin mereka hanya orang kaya baru yang belum mengenal dunia bisnis. Jadi mereka tidak mengenal keluarga ku " Jodi masih berusaha menghibur Vivian yang masih saja kesal atas kejadian di mall " Tapi semua orang mengenal keluarga mu dan takut akan kekuasaan kalian. Perusahaan mu selalu masuk majalah dan kamu juga selalu masuk majalah. Mana mungkin mereka tidak mengenal mu? " "Sudahlah, tidak perlu dibahas lagi. Biar aku mengantarkan mu pulang! " Jodi mengakhiri pembicaraan mereka mengenai Yudha dan Gina Keesokan harinya terlihat Yudha sedang sibuk dengan dokumen ditangannya dan sang istri menemaninya dengan duduk di sofa Tok tok tok Suara ketuka pintu tak membuyarkan konsentrasi sang pemimpin perusahaan " Masuk! " Gina mempersilakan orang yang mengetuk pintu untuk masuk Terlihat Jimmy yang memasuki ruangan. " Anda memanggil saya tuan? " Katanya ketika dia memasuki ruangan " Duduklah dulu! " Yudha mempersilakan dia duduk tanpa mengalihkan pandangannya dari dokumen yang sedang dia baca. Setelah beberapa lama barulah dia berdiri dari kursinya dan berjalan menuju sofa " Bagaimana persiapan mu dengan keluarga pamanmu? Apakah ada perkembangan? " Yudha bertanya dengan tenang sambil menuangkan teh untuk sang istri juga untuknya dan Jimmy " Saya masih mengatamatinya tuan dan saya sudah memiliki saham perusahaan itu sebesar 25%. Saya masih harus menunggu hingga saya memegang saham yang cukup untuk bisa masuk dalam jajaran pemegang saham tertinggi " Jimmy dengan sopan menjawab pertanyaan Yudha " Apa yang sudah kamu rencanakan dengan perusahaan itu? " Yudha berkata dengan dingin sambil menyeruput teh miliknya "Saya ingin membuktikan kalau mereka selalu menggunakan uang perusahaan untuk diri mereka sendiri dan membersihkan nama baik saya! " Terlihat ada keseriusan dari tatapan dan nada bicara Jimmy. Mungkin karena hatinya yang terluka, setelah menganggap paman dan bibinya sebagai pengganti orang tuanya yang meninggal, justru mereka berdualah yang telah mengkhianatinya " Kami tidak akan ikut campur dalam urusanmu. Tapi kami memiliki yang kamu butuhkan! "Yudha terlihat menyeringai dari sela - sela cangkir teh yang sedang dia minum " Kamu bisa menggunakan ini untuk memberi mereka pelajaran '' Yudha meletakkan sebuah amplop coklat di atas meja. " Apa ini tuan? "Jimmy terlihat penasaran dengan apa yang diletakkan di hadapannya " Kamu bisa lihat sendiri dan gunakan itu dengan baik. Aku yakin kamu cukup pintar untuk mengambil tindakan yang diperlukan! " Jimmy pun meraih amplop itu kemudian membukanya. Dilihatnya itu adalah surat kepemilikan saham atas nama Gina sebanyak 30% dan rekapan mutasi dari rekening pribadi atas nama Julian Dinata ( Paman Jimmy), Monik Adijaya ( Bibi Jimmy / istri Julian) dan Jodi Dinata ( Sepupu Jimmy, anak dari Julian dan Monik). Jimmy terpaku tak percaya atas apa yang dilihatnya saat ini. " Bagaimana cara tuan dan nyonya bisa mendapatkan ini semua? Mereka benar - benar luar biasa. Mereka bisa melakukan apa saja yang mereka inginkan. Aku pernah mendengar nama keluarga Kusuma. Tapi aku tidak pernah tahu kalau mereka cukup berpengaruh. Karena setahu ku keluarga itu tidak suka terlalu mengekspose tentang mereka. Tapi keluarga nyonya Gina adalah Atmaja, bukannya keluarga itu telah bangkrut. Bagaimana bisa nyonya Gina memiliki pengaruh yang cukup besar juga. Apa karena dia istri tuan Yudha? " " Aku benar - benar tidak mengerti. Tapi aku sungguh mengagumi pasangan luar biasa ini. Mereka tidak mungkin memiliki niat jahat " Pikir Jimmy yang masih terpaku menatap dokumen di depannya dan sesekali memandang pasangan itu " Tuan kenapa anda membantu saya. Dan saham ini... " Jimmy terlihat ragu menanyakan itu semua " Kami ingin kamu mengelolanya dan kami tidak suka di provokasi apalagi oleh pebisnis licik seperti mereka. Kami juga tidak suka melihat orang yang kami kenal di perlakukan seenaknya. Mereka fikir mereka itu siapa. Kamu bisa menggunakan itu untuk membalas mereka. Aku menunggu pertunjukan menarik yang akan kamu mainkan " Yudha bicara dengan tenang di iringi senyuman licik yang terlihat di wajahnya " Tentu saja tuan. Saya akan menggunakan ini sebaik mungkin. Dan saya berhutang budi kepada tuan dan nyonya. Saya tidak akan pernah melupakannya seumur hidup saya. Saya akan mengabdikan diri saya kepada tuan dan nyonya " " Tidak perlu sungkan. Itu adalah perusahaan ayahmu. Dan itu juga hak mu untuk memiliki perusahaan itu. Jadi, ambil kembali apa yang menjadi hak mu! " Chapter 132 Pasangan penindas Seperti yang sudah diketahui sebelumnya. Perusahaan Dinata sedang mengalami penurunan saham. Jadi sedang ada konflik internal antara pemegang saham. Dan kali ini mereka sedang mengadakan rapat pemegang saham " Tuan Julian, bagaimana caranya anda mengatasi masalah yang terjadi di perusahaan kita? Harga saham kita terus saja menurun akhir - akhir ini! Jika masalah ini terus saja dibiarkan, maka perusahaan ini akan bangkrut " Kata salah satu pemegang saham yang sedang menuntut penyelesaian dari masalah yang dihadapi " Kita sedang kekurangan dana untuk sekarang ini. Jadi sepertinya kita membutuhkan investor baru untuk tender kita kali ini. Dan setahuku, sebagian saham perusahaan kita telah dibeli atas nama Gina Yulia Atmaja. Jumlah sahamnya juga cukup besar, yaitu 30%. Apa kalian ada yang mengenal siapa dia? " Para pemegang saham saling menoleh dan menatap satu persatu. Kemudian mengangkat bahu juga menggelengkan kepala " Kita harus tahu siapa dia. Apakah dia memiliki niat buruk pada perusahaan kita atau tidak. Apalagi dengan jumlah saham yang lumayan besar, itu sungguh menjadi ancaman untuk kita. Karena jika berniat buruk pada perusahaan kita. Pasti akan menyebabkan kebangkrutan juga pada kita " Kata Julian dengan tatapan yang khawatir Setelah selesai rapat, Julian memanggil Jodi ke ruangannya. Jodi Di pekerjakan oleh ayahnya di perusahaan sebagai seorang manajer. Kemampuannya cukup di akui meskipun dia sering sekali bersenang - senang dengan banyak wanita. Tok tok tok Ceklek, Jodi pun langsung memasuki ruangan sang ayah " Apa Bapak memanggil saya? " Jodi berjalan mendekati sang ayah dan bersikap profesional di kantor " Iya, duduklah! Saya ingin tahu perencanaan tentang kontrak kerja sama perusahaan kita. Seperti yang kamu ketahui, perusahaan kita sedang mengalami penurunan. Jadi saya membutuhkan perencanaan yang bagus untuk menarik minat investor ke perusahaan kita! " Kata Julian dengan tenang, layaknya seorang atasan pada bawahan " Saya sudah memiliki daftar perusahaan ternama. Dan saya akan. mencoba untuk mengajukan kerjasama dengan beberapa perusahaan. Ini adalah daftar perusahaan yang sudah saya periksa. Ada perusahaan Kusuma dan juga Sanjaya yang merupakan perusahaan besar saat ini. Kita bisa mencoba mengajukan kontrak kerja sama dengan kedua perusahaan itu. Perusahaan Sanjaya baru saja membuka anak perusahaan di kota A. Dan yang saya tahu perusahaan itu berkembang dengan cukup pesat pak. Kita bisa mencoba mengajukan kerja sama dengan perusahaan itu. Saya dengar perusahaan itu juga dikelola oleh seorang perempuan " Julian mengangguk - anggukkan kepala mendengar penjelasan dari Jodi. " Baiklah kita bisa mencoba saran mu itu. Persiapkan proposal pengajuan kontrak kerja sama dengan kedua perusahaan itu! Semoga saja kita berhasil menandatangani kontrak dengan salah satunya. Akan lebih baik jika kita bisa bekerja sama dengan kedua perusahaan itu" Julian berkata begitu yakin " Baiklah pak, akan segera saya persiapkan! " Jodi pun meninggalkan ruangan sang ayah Sementara itu. Nadia dan Jimmy sedang makan malam " Untuk apa tadi siang kamu menemui tuan Yudha dan Gina? Apakah ada sesuatu yang penting? "Nadia bertanya dengan tenang sambil menikmati makan malamnya " Tidak ada. Tuan Yudha hanya memberikanku pekerjaan baru dan sepertinya itu akan menyenangkan! "Jimmy sedikit tersenyum saat mengatakannya. Sedangkan Nadia yang mendengarnya mengernyitkan dahi dan memicingkan mata menatap sang kekasih " Apa maksudmu? Kalian punya permainan apa? Jangan membuatku penasaran begitu! " Nadia yang penasaran mulai memasang wajah yang cemberut kepada Jimmy " Hahaha. Apa kamu juga ingin bermain dengan ku? Kamu tenang saja. Nanti kamu akan aku ajak untuk pergi kesana, jika waktunya sudah tepat. Aku berencana untuk mengambil kembali semua hak yang seharusnya menjadi milikku. Dan Tuan Yudha juga nyonya Gina akan membantu ku mendapatkan semuanya. Aku yakin, kalau aku tidak akan mengecewakan mereka berdua " Jimmy begitu antusias saat bercerita kepada Nadia " Benarkah? Mereka memang luar biasa. Aku juga kagum pada mereka berdua, dan apa kamu tahu kalau sebenarnya perusahaan kita adalah milik nyonya Gina? Hanya saja dia tidak ingin terlibat langsung dengan orang - orang yang sukanya menjadi penjilat. Maka dari itu aku yang mengelola perusahaan. Tapi atas instruksi dan perintah dari Gina. Kami sudah kenal sejak kecil, jadi aku tahu betul bagaimana Gina " " Benarkah? Tenyata nyonya Gina juga memiliki kuasa sendiri dalam dunia bisnis. Dia sungguh wanita yang tangguh. Mereka berdua adalah pasangan yang sempurna, terutama sebagai pasangan penindas ketidak adilan! " Chapter 133 Ingin masuk ke kandang singa rupanya Beberapa hari telah berlalu,. Jodi masih mencari informasi mengenai kedua perusahaan yang ingin dia ajak kerja sama. " Akhirnya aku menemukannya. Direktur utama perusahaan Sanjaya, Nadia Praja. Kukira ini perusahaan keluarga, tapi kenapa nama belakang direkturnya Praja, bukan Sanjaya? Aach,,, tidak masalah yang penting aku tahu pemimpinnya. Bagaimana dengan perusahaan Kusuma? kenapa begitu sulit sekali mendapatkan informasi mengenai perusahaan tersebut. Apa yang harus aku lakukan sekarang? Sudahlah, sebaiknya aku mengurus proposal untuk perusahaan Sanjaya saja. Nanti baru aku cari informasi lagi mengenai perusahaan Kusuma" Tok tok tok Suara ketukan pintu membuat Jodi menoleh ke arah pintu dan mempersilakan orang itu masuk Ceklek " Hai sayang, sepertinya kamu cukup sibuk akhir - akhir ini? Sampai - sampai kamu tidak sempat menghubungi ku sama sekali " Jodi yang akhir - akhir ini sibuk dengan urusan perusahaan, tidak ada waktu untuk bertemu dengan Vivian, hingga akhirnya dia datang ke perusahaan. Vivian pun langsung berjalan mendekati Jodi dan berdiri di sampingnya kemudian merangkul pundak Jodi " Maaf sayang. Aku cukup sibuk mengurusi proposal untuk kontrak kerja sama dengan perusahaan baru. Aku harus mempersiapkan ini dengan matang. Semoga kamu tidak marah ya! "Jodi melingkarkan tangannya di sekitar pinggang Vivian sambil tersenyum manis kepadanya " Tentu saja aku tidak marah sayang. Kamu kan sedang bekerja. Mana mungkin aku marah karena kamu bekerja ? "Vivian pun menunjukkan senyum yang seolah dipaksakan di wajahnya " Jika saja kamu tidak tampan dan cukup kaya, aku pasti sudah marah dan meninggalkan mu, karena kamu tidak memberikan kabar padaku dan tidsk memperhatikan aku beberapa hari ini " Kata Vivian dalam hatinya " Sayang, lusa aku harus pergi ke kota A untuk urusan bisnis. Aku harus datang ke perusahaan Sanjaya dan mengajukan kerja sama dengan perusahaan itu " Jodi memandang Vivian yang sekarang duduk di pangkuannya " Berapa lama kamu akan berada disana? Apakah aku tidak bisa ikut? " Vivian sedikit muram saat berkata begitu " Hanya beberapa hari saja. Kamu tidak bisa ikut sayang. Karena aku kesana untuk perjalanan bisnis. Kita tidak akan memiliki waktu untuk bersenang - senang. Aku tidak mau kamu kebosanan disana " Jodi memegang wajah halus Vivian saat berusaha membujuknya " Baiklah kalau begitu aku tidak akan memaksamu! " " Terima kasih sayang. Muach " Vivian pun mengalah untuk tidak ikut ke kota A, kemudian mereka saling berciuman . Dikota A Nadia sedang menghubungi Gina melalui sambungan telepon " Halo Gina,, " Nadia langsung menyapa begitu teleponnya tersambung dengan Gina " Iya Nadia, ada apa kamu menghubungiku? " Gina langsung menanyakan keperluan Nadia tanpa basa basi terlebih dahulu " Ada perusahaan dari kota C yang ingin mengajukan kerja sama dengan perusahaan kita. Dan aku sudah membuat janji dengan perwakilan perusahaan itu lusa nanti " " Perusahaan apa itu? Apa kamu sudah menyelidikinya? " Gina bertanya dengan nada dingin, dia sedang berdiri di depan jendela menatap keluar kantor Yudha. Sang suami sedang duduk di kursi kerja di belakangnya " Iya. Itu perusahaan Dinata, sekarang mereka sedang mengalami penurunan dan mencari investor untuk proyek mereka selanjutnya " Perusahaan Dinata? Hemn,,, Menarik! " Gina pun sedikit tersenyum licik mendengarnya dan langsung berbalik menatap Yudha Yudha pun menoleh dan langsung menatap Gina saat mendengar Gina menyebutkan perusahaan Dinata. Hanya dengan saling menatap saja mereka sudah mengerti maksud dari pasangan masing - masing. " Baiklah, kamu temui saja mereka. Kamu akan suka dengan perusahaan itu Nadia " " Apa maksudnya? Apa ada sesuatu yang tidak aku ketahui? " Nadia yang bingung kemudian mengerutkan kening dan bertanya kepada Gina " Apa kamu tidak menyelidiki dengan benar perusahaan itu? Seharusnya kamu tahu banyak tentang perusahaan itu, karena itu harusnya menjadi perusahaan milik Jimmy " " Benarkah? Bagaimana bisa itu milik Jimmy? Tunggu, nama Jimmy,,, Jimny Dinata, apa mungkin dia merupakan bagian dari keluarga itu? " Nadia semakin bingung dan penasaran dengan apa yang dikatakan Gina " Hahaha,, Tentu saja itu milik Jimmy. Karena itu ku katakan kamu akan menyukai bekerja sama dengan perusahaan itu. Ini kesempatan mu untuk membantu Jimmy" Gina terbahak dengan Kepolosan Nadia. Meskipun dia pintar namun dia tidak terlalu peka dan peduli tentang hal yang menurutnya tidak berkaitan dengannya " Baiklah kalau begitu, terimakasih! " Nadia pun langsung menutup panggilan teleponnya " Kenapa sayang? Sepertinya kamu terlihat senang? Yudha menghampiri sang istri dan memeluknya dari belakang. Karena perut Gina sudah membesar, cukup sulit untuk memeluknya dari depan. " Kamu tahu sayang. Perusahaan Dinata ingin bekerja sama dengan perusahaan ku. Bukankah itu cukup menarik? Mereka yang merendahkan kita dengan uang yang hanya beberapa lembar itu, malah ingin bekerja sama dengan kita. Hahaha! " Jadi, mereka ingin masuk ke kandang singa ya? " Yudha tersenyum sinis saat mengatakannya. Ada kelicikan di matanya Chapter 134 Kerja sama perusahaan Dinata dan Sanjaya Pagi - pagi sekali Jodi sudah berangkat menuju kota A. Hingga dia sampai di perusahaan Gina pada pukul 10.00 WIB pagi. Dia berdiri cukup lama memandangi gedung kantor berlantai 5 tersebut. " Bukankah ini perusahaannya? Cukup besar juga untuk ukuran perusahaan baru. Tapi bagaimana ini bisa berkembang begitu cepat padahal hanya di kelola oleh seorang perempuan? Sungguh membuatku penasaran dengan pemimpin perusahaan ini " Jodi terus saja bergumam dan bergelut dengan pikirannya sendiri. Dan dia pun menyeringai, membayangkan pemilik perusahaan yang dirumorkan seorang wanita itu. Setelah beberapa lama akhirnya dia masuk ke dalam gedung dan menuju ke resepsionis terlebih dahulu " Selamat siang pak. Ada yang bisa dibantu? " Tanya sang penjaga resepsionis dengan begitu sopan dan ramah "Siang mba, saya mau bertemu dengan ibu Nadia. Ruangannya di sebelah mana ya? Saya Jodi perwakilan dari perusahaan Dinata " Katanya pada sang resepsionis " Apakah bapak sudah membuat janji dengan beliau? " " Iya, saya sudah memiliki janji dengan bu Nadia " " Kalau begitu, bapak bisa langsung naik ke lantai 4. Liftnya ada di sebelah sana! " Resepsionis itu menunjuk ke arah lift di sebelah kanan. Di ikuti oleh pandangan mata Jodi yang mengikuti arah yang di tunjuk oleh resepsionis itu. " Oh, terimakasih mba " Jodi tersenyum dan langsung melangkah ke arah yang di tunjuk oleh resepsionis itu. Dia pun memasuki lift dan menuju ke lantai 4, dimana ruangan Nadia berada. Ting pintu lift terbuka dan langsung terlihat ruangan direktur juga wakil direktur ketika Jodi keluar dari lift. " Selamat siang pak, ada yang bisa dibantu? " Tanya sang sekretaris Nadia sambil tersenyum ramah " Selamat siang. Saya Jodi dari perusahaan Dinata. Saya ingin bertemu dengan ibu Nadia. Kami sudah membuat janji sebelumnya "Jodi menjelaskan dengan sopan " Ditunggu sebentar ya pak " Setelah mendapat anggukan dari sang tamu. Sekretaris Nadia pun langsung menghubungi melalui telepon kantor " Maaf bu, ada tamu yang ingin bertemu. Bapak Jodi dari perusahaan Dinata " " Persilakan untuk masuk! " " Baik bu. Mari pak silakan masuk, bu Nadia sudah menunggu bapak " Setelah mendapatkan izin dari sang bos. Sekretaris Nadia pun mempersilakan Jodi masuk dan mengantarkannya ke dalam " Terimakasih " Jodi pun langsung melenggang masuk ke dalam ruangan Nadia Tok tok tok " Silakan masuk! " Ceklek setelah terdengar suara dari dalam yang mempersilakannya masuk. Sekretaris Nadia pun langsung membukakan pintu, dan mempersilakan Jodi masuk. Dari dalam ruangan terlihat Nadia sedang duduk di kursi kerjanya, dengan beberapa dokumen yang berada di atas meja. " Waah, ternyata dia cantik. Dia juga memiliki perusahaan sendiri. Sungguh wanita yang mengagumkan! "Batin Jodi saat melihat Nadia " Permisi! " Nadia pun mengangkat kepala dan melihat tamu yang ada dihadapannya. " Mari silahkan masuk. Saya Nadia, senang bertemu dengan anda " Nadia menghampiri dan mengulurkan tangan untuk saling berjabat " Saya Jodi Dinata, suatu kehormatan bisa bertemu langsung dengan Direktur utama yang cantik seperti bu Nadia" Jodi tersenyum manis saat melihatnya. Dan Nadia, dia langsung memicingkan mata dan tersenyum sinis saat berjabat tangan dengan Jodi. " Jadi ini sepupunya Jimmy. Huuhh, tidak setampan Jimmy " Batin Nadia disertai sedikit senyuman dibibirnya " Silakan duduk pak Jodi! " Nadia mempersilakan duduk " Terimakasih bu Nadia. Jadi begini bu,, " Tring tring Sebelum Jodi mulai berbicara, ponsel Nadia berbunyi dilihatnya panggilan dari Jimmy " Maaf sebentar pak. saya terima panggilan dulu. Silakan diminum dulu kopinya! " Nadia pun bardiri dan sedikit menjauh dari Jodi " Halo sayang, apa kamu sibuk? " Terdengar suara Jimmy dari ujung telepon " Tidak, tapi aku masih ada tamu sekarang! " Nadia pun menjawab dengan lembut " Tamu? Siapa? " Jimmy mulai penasaran " Ku kira kamu mengenalnya juga? " Nadia sedikit tersenyum saat berbicara dan Jimmy semakin mengernyitkan alis mendengarnya " Benarkah? " " Heeh. Dia Jodi Dinata yang sedang ada dikantor ku! " Nadia semakin melebarkan senyumnya " Jodi? Untuk apa dia di kantor? " Kilatan emosi terpancar di tatapan mata Jimmy " Tenanglah sayang. Dia ingin menjalin kerja sama dengan perusahaan kita. Dan itu akan mempermudah kita untuk bisa bermain dengan mereka " Ada senyum licik di wajah Nadia " Baiklah, kita makan siang bersama nanti. Tapi aku masih ada diluar kantor, jadi tunggu aku ya! " " Baiklah aku akan menunggu di kantor! " Mereka pun menutup panggilan. Sementara Nadia menelepon. Jodi terus saja memperhatikannya. Dia terpesona melihat senyum Nadia " Maaf, membuat anda menunggu " Suara Nadia menyadarkan Jodi dari lamunannya " Ach tidak,, tidak apa! Mari kita lanjutkan perbincangan kita! " Setelah beberapa lama mereka pun selesai dengan pembahasan mereka saat menjelang jam makan siang " Bu Nadia apakah kita bisa makan siang bersama, untuk merayakan kerja sama antara perusahaan Dinata dengan perusahaan Sanjaya! " Jodi dengan sopan mengajak Nadia makan siang " Maaf tapi saya sudah punya janji makan siang! " " Owh, sungguh disayangkan. kalau begitu saya permisi undur diri " " Iya silakan. Terimakasih! " Jodi pun langsung meninggalkan ruangan setelah berjabat tangan dengan Nadia Chapter 135 Pertemuan Jimmy dan Jodi " Hai, kamu sudah lama menunggu? "Jimmy turun dari mobil dan menghampiri Nadia untuk membantu membukakan pintu mobil untuknya " Tidak, aku baru saja turun. Tamunya baru saja pergi " Dari tempat lain Jodi yang masih berada di lokasi melihat Nadia bersama Jimmy " Bu Nadia, dengan siapa dia? Bukankah itu,,, Jimmy? " Jodi terkejut ketika melihat Jimmy " Bagaimana bisa dia berada disini? Dan bersama dengan bu Nadia? Bukankah ayah sudah bilang, kalau dia tidak akan pernah diterima lagi di perusahaan manapun? Apa sekarang dia bekerja disini? " Beribu pertanyaan terbesit di benak Jodi. Tanpa ada jawaban yang pasti dia dapatkan Diapun akhirnya mengikuti kemana Jimmy dan Nadia pergi. Drrt Drrttt " Hallo, ada apa? "Nadia mengangkat panggilan telepon dari Risti " Mba Nadia, kayanya sewaktu di kantor ada mobil yang mengikuti mba Nadia dan mas Jimmy! " Risty kebetulan akan keluar untuk makan siang saat melihat mobil Jodi mengikuti mobil Jimmy " Benarkah? " Nadia pun menoleh dan melihat ke mobil di belakang. Terlihat Jodi yang mengemudikan mobil di belakang mereka. Karena kaca mobil yang transparan, jadi Nadia bisa melihat dengan jelas pengemudinya " Aku sudah melihatnya. Itu yang akan menjadi rekan bisnis kita. Dia perwakilan dari kota C "Nadia memberitahukan Risti dengan tenang " Owh, Ya sudah kalau mba Nadia sudah tahu. Hati - hati di jalan ya! " Risti pun menutup panggilan teleponnya Jimmy melihat ke belakang melalui spion mobil, kemudian tersenyum sinis dan berkata " Jadi dia sudah melihatku? " Nadia menoleh ke arah Jimmy kemudian bertanya dengan lembut padanya " Apa rencana mu sekarang? " " Biarkan saja dia mengikuti kita. Pura - pura saja kalau kamu tidak tahu hubungan ku dengannya " Jimmy berkata dengan dingin namun tetap lembut, ada senyuman sinis yang tersungging di wajah tampannya " Baiklah kalau begitu. Anggap saja kita tidak tahu dia mengikuti kita " Mereka pun tiba di restoran untuk makan siang. Jimmy turun terlebih dahulu dan membantu membukakan pintu mibil untuk Nadia " Silakan cantik " " Terimakasih " Jimmy mengulurkan tangannya untuk membantu Nadia turun dari mobil dan disambut dengan uluran tangan Nadia disertai senyum yang begitu menawan Mereka pun masuk dan duduk di kursi dekat jendela. Jodi yang mengikuti mereka pun ikut masuk dan berjalan ke arah Jimmy dan Nadia " Ooh, jadi selama ini kamu bersembunyi di kota A ya Jimmy Dinata? " Jodi yang tiba - tiba datang berbicara dengan nada sombong " Pak Jodi, kenapa anda disini? Dan apa kalian saling mengenal satu sama lain? " Nadia yang pura - pura tidak tahu, memasang wajah heran sambil menatap Jodi dan Jimmy secara bergantian . " Tentu saja saya mengenal pria ini. Bahkan mengenalnya dengan sangat baik. Dia ini adalah Jimmy Dinata. Orang yang di kenal telah menyelewengkan dana perusahaan kami yang cukup besar ke akun pribadi yang dia miliki. Apa bu Nadia tahu, Di kota C dia sudah tidak diterima lagi di perusahaan manapun, setelah keluar dari penjara. Banyak perusahaan yang tidak berani mempekerjakan dia kembali. Ternyata sekarang dia berada di kota ini. Dan malah bekerja di perusahaan ibu! " Perkataan Jodi begitu angkuh. Tapi Jimmy masih tetap tenang mendengarnya. Nadia yang kesal mendengarnya, mengepalkan tangan di bawah meja " Apa anda sudah selesai bicara pak Jodi? Sepertinya anda bernafsu sekali untuk menjatuhkan dia di depan ku? Dia memang bekerja di perusahaan ku. Bahkan dia adalah manajer keuangan di perusahaan ku. Dan selama ini perusahaan ku baik - baik saja. Tidak pernah ada penyelewengan dana.. Aku yakin bagian HRD tidak akan salah menilai orang yang memiliki kemampuan. Jadi anda tidak bisa menjelekkan karyawan ku begitu saja. Apalagi anda baru saja mengajukan kontrak kerja sama dengan perusahaan ku . Anda tidak perlu ikut campur dengan masalah perusahaan yang aku kelola " Nadia terlihat tenang dengan perkataan yang tegas dan tatapan yang dingin " Saya hanya ingin memperingatkan bu Nadia sebelum terjadi sesuatu pada perusahaan bu Nadia. Itu saja! " " Terimakasih. Tapi itu masalah internal perusahaan ku. Jadi anda tidak perlu ikut campur. Kita hanya sebatas rekan kerja sama antar perusahaan saja! Tidak lebih dari itu. Mohon maaf pak Jodi, kami memiliki sesuatu untuk dibahas dalam makan siang ini. Jika anda tidak memiliki hal lainnya. Tolong tinggalkan kami berdua! " " Maaf kalau begitu, saya telah mengganggu waktu anda berdua. Saya permisi! " Jodi tidak punya pilihan lain setelah Nadia bicara seperti itu, jadi dia pergi dengan keadaan kesal Melihat Jimmy yang begitu tenang membuat Nadia penasaran. " Kenapa kamu hanya diam saja? Padahal dia sudah berusaha menjatuhkan mu? " Jimmy hanya tersenyum dan berkata " Karena setelah ini aku akan mulai membuat perhitungan! Mereka tidak dapat lari dariku! " Nadia tersenyum sinis mendengar perkataan Jimmy " Ish, dasar menyebalkan! Percuma saja aku membelamu! " Chapter 136 Pendarahan ringan Yudha dan Gina masih berada dirumah saat Nadia menghubungi Gina " Halo Gina " " Ya, bagaimana? " Gina masih di meja makan, menunggu sang suami yang sedang menyiapkannya sarapan. " Kita sudah menandatangani kontrak dengan perusahaan Dinata. Tapi kemarin Jodi melihat ku saat makan siang bersama dengan Jimmy? Bagaimana ini. apa yang harus kita lakukan? " Nadia terdengar khawatir saat berbicara di telepon " Tidak apa. Biarkan saja dia. Dia hanya tahu kalau Jimmy karyawan kita. Dia masih tidak tahu, kalau Jimmy akan jadi salah satu pemegang saham terbesar di perusahaannya " Gina dengan santai memberi tahu Nadia " Apakah itu tidak masalah? " " Tenang saja, dia tidak akan membatalkan kontrak kerja sama, karena mereka sangat membutuhkan banyak uang untuk proyek terbaru mereka " Tiba - tiba " Aduuuhhhh" Gina meringis merasakan sakit di bagian perutnya. Ponselnya pun akhirnya jatuh ke lantai Braaak " Ada apa Gina? Apa kamu tidak apa - apa? halo,,,, halo Gina,,, Tuuuuttt " Panggilannya tiba - tiba terputus Yudha yang melihat Gina meringis kesakitan sambil memegangi perutnya langsung berlari ke arahnya Drap drap " Ada apa sayang? apakah perutmu sakit? " Yudha terlihat begitu khawatir dan panik melihat wajah Gina yang pucat. Diapun langsung mengangkat Gina dan menggendongnya ke dalam mobil untuk segera menuju ke rumah sakit terdekat " Sayang, perutku sakit sekali,, Aacchhh" Gina terus saja meringis sambil memegangi perut dan memejamkan mata. Yudha bertambah panik saat melihat ada darah di kaki Gina " Sayang tahan sebentar ya, kita akan segera sampai di rumah sakit " Yudha mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi dan sebelah tangannya memegangi tangan Gina. Begitu tiba di rumah sakit Yudha dengan cepat menggendong sang istri dan membawanya masuk ke dalam rumah sakit " Dokter, suster. Cepat tolong istri ku! " " Iya tuan silahkan letakkan nyonya perlahan " Yudha meletakkan Gina di kasur dorong dan ketika hendak masuk ke ruang tindakan, Dokter meminta Yudha menunggu diluar tapi tangan Gina memegang tangan Yudha dengan erat dan tidak ingin melepaskannya " Nyonya biarkan kami memberikan tindakan secepatnya. Tuan tidak bisa ikut ke dalam " Dokter berkata dengan tegas Yudha menggenggam tangan Gina lalu berkata dengan lembut " Sayang, kamu tidak perlu khawatir, aku akan menunggu mu disini! " Yudha pun mencium tangan Gina juga keningnya Akhirnya Gina mengangguk setuju dan melepaskan genggaman tangan Yudha dan segera masuk ke ruang tindakan. Tidak lama dokter ke luar dari ruangan tindakan dan menghampiri Yudha " Tuan, istri anda mengalami pendarahan ringan, Jadi kami harus melakukan operasi saat ini juga, untuk menyelamatkan nyawa ibu juga bayi yang ada dalam kandungannya " " Lakukan apapun yang diperlukan dokter, agar istri juga anakku bisa selamat! " " Baiklah tolong tanda tangani surat pernyataan terlebih dahulu, kita akan melakukan tindakan operasi secepatnya " Yudha langsung menandatangani surat pernyataan yang dimaksud oleh dokter " Tuan tenang saja, kami akan melakukan yang terbaik! " Sementara itu di tempat lain. Jodi segera menemui sang ayah setelah dia kembali dari kota A. " Ayah aku memiliki 2 kabar yang ingin ku sampaikan padamu. Mau mendengar kabar baik atau buruk terlebih dahulu? " kata Jodi yang berusaha memnuat ayahnya penasaran " Jangan main - main kamu! cepat katakan, ada kabar apa? " Julian tirak ingin berbasa basi lagi dengan sang putra " Yang pertama, aku sudah berhasil menandatangani kontrak kerja sama dengan perusahaan Sanjaya. Mereka bersedia menjadi investor kita pada proyek terbaru nanti " " Yang kedua, Jimmy juga bekerja di perusahaan Sanjaya. Tadi aku bertemu dengan dia disana. Katanya dia adalah manajer keuangan di perusahaan Sanjaya " " Apa yang harus kita lakukan ayah? Apakah kita harus membatalkan kontrak kerja samanya? " Jodi terlihat khawatir saat mengatakan hal tersebut " Tidak perlu, dia hanyalah manajer biasa. tidak mungkin ada hubungannya dengan petinggi perusahaan. Jadi dia tidak mungkin mengancam posisi kita di perusahaan dalam kerjasama nanti! " Julian terlihat begitu tenang "Benarkah begitu ayah? Baiklah, jika itu menurut ayah, aku tidak akan berpikir macam - macam. Dan apa ayah tahu? Direktur perusahaan itu sangat cantik ayah. Aku sungguh kagum padanya. Selain cantik dia juga pandai mengelola perusahaan miliknya " Jodi berbinar - binar saat menceritakan Nadia " Jangan berkata sembarangan. Dia rekan bisnis kita. Kamu tidak boleh bertindak macam - macam padanya! " Sang ayah memperingati. dan Jodi berubah muram sambil berkata " Iya ayah, aku mengerti " Chapter 137 Lahirnya Biru dan Jingga Yudha masih menunggu di luar ruang operasi, dia terus saja berjalan kesana kemari karena rasa khawatirnya. Ya, di usia kandungan Gina yang masih berusia 7 bulan terjadi pendarahan ringan, sebelum berakibat fatal dan terjadi hal - hal yang tidak di inginkan, maka dokter menyarankan untuk segera dilakukan tindakan operasi. Oeeekkk oeeekkk Tak lama terdengar suara tangisan bayi dari dalam ruang operasi. Yudha terperanjat hingga dia langsung berdiri dari duduknya ketika mendengar suara tangisan yang kencang dari dalam ruangan. Hendri yang sedari tadi menemani setelah dihubungi oleh Yudha pun tak kalah terkejut ketika mendengar suara tangisan bayi " Tuan, sepertinya bayinya sudah lahir! " Hendri begitu antusias berbicara, namun sang tuan hanya tersenyum saja Tak lama keluarlah dua orang suster dengan menggendong masing - masing seorang bayi di tangannya. " Tuan ini bayi anda. Yang laki - laki lahir terlebih dahulu, Karena posisi yang laki - laki lebih mudah untuk di ambil. Barulah di susul yang perempuan " Yudha menatap kedua bayi kemudian menanyakan Gina " Bagaimana dengan kondisi istri ku? " Wajahmya masih tampak begitu khawatir " nyonya baik - baik saja! " Yudha pun langsung bergegas untuk melihat Gina terlebih dahulu. " Sayang. bagaimana keadaan mu? " Yudha mendekati Gina dengan wajah yang terlihat begitu khawatir. Gina yang masih pucat dan lemas mencoba tersenyum untuk menenangkan sang suami " Aku tidak papa. Bagaimana dengan anak - anak kita? Apa kamu sudah melihatnya? "Yudha menggelengkan kepala sebagai jawaban. Gina hanya tersenyum dan berkata dengan lembut " Lihatlah mereka. Aku baik - baik saja sekarang! " Yudha pun akhirnya mendengarkan kata sang istri dan pergi untuk melihat bayi kembar mereka. Sepasang bayi yang tampan dan cantik. Setelah perasaannya cukup tenang, barulah Yudha membeei tahu keluarga yang lain perihal kelahiran putra putri mereka. Dia menghubungi sang nenek terlebih dahulu Tuut tuut... " Halo nek! Nek, aku punya kabar gembira untukmu! " " Kabar gembira? tapi suaramu tidak terdengar antusias " batin sang nenek " Ada apa? berita gembira apa yang kamu miliki untuk nenek?! Sang nenek masih terdengar tenang " Istriku baru saja melahirkan sepasang bayi kembar! " " Apa? bukankah usia kandungan Gina baru berumur 7 bulan? Apakah terjadi sesuatu? " Sang nenek mulai terdengar khawatir "Ada sedikit masalah dengan kandungannya, jadi dokter terpaksa melakukan operasi mendadak. Tapi sekarang semua sudah baik - baik saja! "Yudha dengan tenang menjelaskan pada sang nenek " Baiklah kakek dan nenek akan segera pergi ke rumah sakit! " Sang nenek pun langsung memutuskan panggilan telepon. " Kakek, kakek!! " Nenek Julia berteriak memanggil suaminya " Ada apa kamu berteriak seperti itu? " Kakek Wijaya terlihat menuruni tangga setelah mendengar teriakan sang istri " Cucu menantu kita sudah melahirkan sepasang bayi kembar! Kita harus segera ke rumah sakit sekarang juga! " Nenek Julia tergesa - gesa untuk segera pergi ke rumah sakit " Benarkah? Kita punya sepasang cicit kembar? Aku sungguh beruntung bisa langsung memiliki sepasang cicit hahaha " Kakek Wijaya pun segera bersiap sampai dia mengingat sesuatu " Tunggu, apa Yudha sudah memberi tahu Dirga dan Gadis?! Aku harus menghubungi mereka terlebih dahulu! " Gumam kakek Wijaya yang tiba - tiba menghentikan langkahnya, kemudian meraih telepon rumah yang tak berada jauh di dekatnya Tuut,, tuut,, " Halo " Terdengar suara mama Gadis yang mengangkat panggilan telepon " Halo Gadis, ini paman Wijaya! " " Owh, paman Wijaya, bagaimana kabar paman dan bibi? " " Kami baik - baik saja. Apa Yudha sudah menghubungi kalian? " " Belum paman. Ada apa? Apakah sesuatu terjadi pada Gina? " seketika Gadis panik mendengar pertanyaan kakek Wijaya " Tidak, tidak. Bukan itu. Gina baru saja melahirkan sepasang bayi kembar " " Benarkah paman? Aku akan memberi tahu ayah dan segera bersiap untuk berangkat kesana " " Paman akan menyiapkan jet pribadi untuk keberangkatan kalian kesini! " " Baiklah paman. Terimakasih! " Gadis langsung menutup telepon dan memberi tahu kakek Dirga untuk segera bersiap ke negara A Dirumah sakit, Gina sudah dipindahkan ke kamar rawat. sedangkan sang bayi masih dalam inkubator " Sayang, apa kamu sudah merasa lebih baik? " Yudha selalu setia menemani sang istri di sampingnya " Aku sudah lebih baik sayang! Apa kamu sudah menyiapkan nama untuk anak - anak kita? " Gina menunjukkan senyum manisnya " Aku ingin memberikan nama Biru dan Jingga pada anak kita. Terima kasih karena kamu sudah memberikan warna baru dalam kehidupan ku sayang. Aku sungguh bersyukur karena telah dipertemukan dan dipersatukan denganmu dalam hidup ini! " Yudha pun mencium kening Gina dengan begitu lembut dan penuh kasih sayang Chapter 138 Warna baru Biru dan Jingga Keluarga Gina dan Yudha sudah berkumpul di rumah sakit. Kakek Dirga dan mama Gadis sudah berada dirumah sakit setelah kakek Wijaya menyiapkan jet pribadi untuk menjemput mereka. Sedangkan Kakek Wijaya dan Nenek Julia langsung berangkat menuju rumah sakit setelah Yudha memberikan kabar tentang kelahiran cicit mereka. Dan Yudha? Dia selalu disamping Gina dan tak pernah beranjak meninggalkan dia walau sedetik pun. " Yudha, apa kalian sudah menyiapkan nama untuk putra dan putri kalian? " Kakek Dirga bertanya kepada Yudha Yudha yang duduk disamping Gina saling menatap untuk sesaat, kemudian terseyum sebelum menjawab pertanyaan sang kakek " Sudah kek. Kami sudah mendapatkan nama untuk mereka. Yang laki - laki Biru Anggara Putra Kusuma dan yang perempuan Jingga Riani Putri Kusuma " Jawab Yudha dengan tenang " Sungguh nama yang indah. Semoga bisa membawa keindahan juga warna baru pada kehidupan kita kedepannya " kata kakek Wijaya di ikuti anggukan dan senyuman dari semuanya ========= Risti, Nadia dan Jimmy sedang berada di ruang Nadia. " Mba Nadia sudah dengar belum? " Nadia mengernyitkan alis mendengar pertanyaan Risti. Kemudian bertanya kembali " Apa? " " Mba Gina sudah melahirkan sepasang bayi kembar? " Seketika wajah Nadia berubah cerah " Benarkah? Sungguh berita yang bagus. Penerus keluarga Kusuma telah lahir ke dunia ini! Tapi bukankah kandungan Gina baru berusia 7bulan ya? " " Entahlah, tapi mas Hendri bilang terjadi pendarahan ringan pada mba Gina. Makanya dokter memutuskan untuk melakukan tindakan operasi secepatnya! " " Tunggu, mas Hendri? sejak kapan kamu memanggil dia dengan sebutan mas? " Seketika wajah Risti berubah merah " Ti,, tidak,, aku memang memanggil semuanya dengan sebutan mas. Pada mas Jimmy dan mas Satya juga sama saja ko, hanya pada tuan Yudha saja yang berbeda " Nadia dan Jimmy saling memandang dan tersenyum. Itu membuat Risti semakin tertunduk malu " Sudahlah, aku permisi dulu, Masih banyak pekerjaan yang harus ku kerjakan! " Risti meninggalkan mereka berdua untuk menghindari tatapan curiga pasangan itu " Sejak kapan Risti dekat dengan Hendri? Ku kira dia dekat dengan kakak ku? " Nadia terlihat berpikir " Tidak,, aku sudah beberapa kali melihat Risti dan Hendri bersama. Terkadang Hendri menjemputnya saat jam pulang kerja. Tentu saja kalau tuan Yudha tidak ada kegiatan lain yang mengharuskan Hendri ikut " Kata Jimmy yang sedari tadi duduk disamping Nadia. Nadia hanya menganggukan kepala tanda mengerti " O iya, bagaimana dengan perusahaan Dinata sekarang? Apa yang akan kamu lakukan dengan itu? " " Aku belum memiliki rencana yang lebih jelas untuk mereks semua , aku akan mengumpulkan bukti lebih banyak lagi agar bisa mengungkapkan semua perbuatan jahat mereka! Dan aku juga akan mencari kesempatan yang tepat untuk bisa mengungkapkan semuanya di depan umum. Aku ingin mereka sendiri yang mengungkapkan semuanya. Tanpa bisa berdalih atau mengelak lagi dari apa yang telah mereka perbuat " Sekilas tatapan dingin terlihat dari mata Jimmy. Entah apa yang dia pikirkan, yang pasti dapat diketahui ada kekecewaan yang mendalam terhadap keluarga pamannya itu. " Aku mengerti. Nanti aku akan pergi ke perusahaan itu untuk membahas perkembangan mengenai kerja sama kita dengan mereka. Mereka ingin membahas mengenai proyek baru yang akan kita laksanakan. Mungkin aku akan mengajak Risti untuk pergi bersama dengan ku. Aku sungguh tidak yakin jika harus pergi sendiri kesana. Entah kenapa tatapan Jodi terhadap ku sungguh membuatku tidak nyaman sama sekali " Nadia terus merubah ekspresi wajahnya saat berbicara. Dan Jimmy mendengarkan dengan seksama " Mungkin aku bisa menemanimu pergi kesana! " Nadia menggelengkan kepala saat Jimmy menawarkan diri untuk menemaninya " Tidak, kamu akan merusak semua rencana kita, jika kamu ikut menemani ku pergi kesana. Akan tiba waktunya saat kamu harus menunjukkan diri dihadapan mereka semua! Bersabarlah! " " Baiklah jika itu lebih baik menurut mu. Aku akan menunggu di sini! "Jimmy mengalah dan tersenyum dengan lembut. " Kamu yang jadi tujuan hidupku sekarang ini. Apapun akan ku lakukan untuk bisa bersamamu. Dan untuk saat ini, aku harus menyelesaikan urusanku dengan paman ku sebelum kita menikah. Aku tidak ingin kamu menanggung malu karena harus menikah dengan pria yang dianggap menyelewengkan dana perusahaan. Jadi akan ku pastikan, aku mendapatkan kembali nama baik serta statusku! " Gumam Jimmy dalam batinnya Chapter 139 Dia memang baik, tapi aku tidak Gina da si kembar masih berada di rumah sakit. Dia baru di perbolehkan pulang esok hari. Keluarga Yudha dan Gina sudah pulang karena Yudha tidak mengizinkan mereka untuk menginap di rumah sakit. Yudha tidak pernah meninggalkan Gina, dan pekerjaannya di kantor untuk sementara ini diserahkan kepada Hendri. Hendri yang sibukpun semakin kewalahan dengan pekerjaan Yudha yang selalu menumpuk " Tuan tidakkah kamu membiarkan aku untuk berkencan dengan tenang sehari saja.. hiks hiks hiks "Hendri menangis di kantor dalam tumpukan dokumen yang harus diperiksanya. Sedangkan dirumah sakit Yudha tengah memanjakan sang istri " Apa kamu sudah merasa lapar? Aku sudah menyiapkan bubur untukmu! " Yudha membawa semangkuk bubur di tangannya dan duduk di hadapan Gina " Buka mulutmu! " Pinta Yudha yang hendak menyuapi sang istri, tapi Gina malah memicingkan mata melihatnya " Sayang, aku ini habis melahirkan dan perutku yang di jahit, bukan tanganku. Aku masih bisa makan bubur ini sendiri! " Gina berkata dengan lembut disertai senyum di wajahnya " Tidak, biarkan aku yang melakukannya. Aku ingin menyuapi mu. Aku ingin selalu memanjakan mu! Jika perlu aku akan melakukan semuanya untukmu! " Wajahnya yang tampan dan berseri, disertai senyum yang menawan bagaikan matahari pagi yang memberikan kehangatan juga cahaya dalam hidup Gina. Setelah kegelapan yang selama ini Gina rasakan, Yudha lah yang menjadi penerang untuknya yang menuntun jalan di depannya. menyinari hidupnya juga kedua buah hati mereka. Dialah tujuan akhir hidup Gina setelah perjalanan panjang. Meskipun orang lain mengatakan Yudha bagaikan gunung es yang tak bisa disentuh, tapi bagi Gina yudha bagaikan matahari yang selalu memberikan kehangatan. Gina terus menatap Yudha dengan pesonanya. Hingga suara ketukan pintu menyadarkan Gina dari lamunannya. Tok tok tok.. Ceklek Mereka pun menoleh secara bersamaan ke arah pintu, dilihatnya Steven dan Mario yang datang berkunjung " Hai bro, selamat karena kalian sudah memiliki buah hati sekarang " Kata Mario yang baru saja masuk di ikuti Steve yang berjalan di belakangnya " Dan kamu,, harus bersikap lebih lembut dan dan pemaaf mulai sekarang! " Kata Steve sambil menunjuk Yudha. Gina hanya tersenyum sedangkan Yudha mengangkat bahu sambil berkata dengan tenang " Entahlah, mungkin selama tidak melukai atau menyakiti keluarga ku, aku masih bisa mempertimbangkannya. Tapi jika sudah melewati batasku. Aku tidak bisa menjamin apa yang akan terjadi " " Ish, sungguh pria yang satu ini.... Benar - benar tidak ada belas kasihnya sama sekali " Mario berkata dengan nada mengejek tapi Yudha hanya diam saja dan terlihat tidak merubah ekspresinya sama sekali " Waah, anak - anakmu sungguh lucu. Bolehkan aku menggendongnya? " Steve bertanya tanpa menoleh kearah Yudha. Dia terus saja menatap kedua bayi bergantian " Tidak, kalian tidak diperbolehkan untuk menggendong mereka " Yudha memandang dengan sinis Mario kesal mendengar komentar Yudha " Ish, kau pelit sekali! Padahal kami hanya ingin menggendong mereka. Kami tidak akan membawa mereka lari dari mu. Huh! " Gina tertawa melihat reaksi dari suaminya. " Dia terlihat menggemaskan. Jika sedang posesif seperti itu! "Pikir Gina " Sudahlah sayang, biarkan mereka menggendongnya. Siapa tahu nanti mereka ingin segera menikah setelah menggendong Biru dan Jingga " " Lihatlah kakak ipar begitu baik. Sedangkan kau, sama sekali tidak menganggap kami teman mu! " " Dia memang baik tapi aku tidak! " Gina akhirnya berhasil membujuk Yudha agar membiarkan mereka menggendong Biru dan Jingga "Siapa nama mereka? "Kata Steve yang sedang menggendong Biru " Yang laki - laki Biru dan yang perempuan Jingga" Kata Gina dengan lembut " Aish.. Mereka begitu menggemaskan. Biru dan Jingga,,, nama yang bagus.. Mereka bisa memberi warna untuk hidup si gunung es yang kaku ini "Kata Steve yang kesal pada Yudha Yudha tidak merespon, dia terus saja menyuapi Gina. " Lihatlah, dia mengabaikan kita. Dia terus saja menyuapi istrinya. Dan kita ini dianggap baby sitter yang menjaga anaknya. Sungguh menyebalkan! " " Kalian kesini hanya untuk mengoceh saja? Kalian berisik sekali, membuat telingaku sakit " Yudha tidak berhenti dari apa yang sedang dilakukannya dan berkata dengan nada yang begitu dingin " Tidak, akhir - akhir ini ada yang menyelidiki tentang perusahaan mu. Kurasa mereka ingin menggali lebih dalam tentang mu! " 3 sekawan ini bukanlah orang biasa, jadi mereka memiliki mata - mata dimanapun. " Biarkan saja, mereka hanya akan menggali kuburnya sendiri jika mau berurusan denganku! "Yudha tetap tenang tapi kata - katanya begitu dingin dan mengancam " Ya sudah kalau begitu. Kami akan selalu ada jika kamu membutuhkan bantuan! " Meskipun mereka terlihat tidak akur. Tapi mereka merupakan sahabat sejak kecil. Jadi mereka saling mengetahui sifat masing - masing Chapter 140 Dasar buaya darat Nadia dan Risti pergi ke kota C hari ini. mereka akan melakukan kunjungan ke perusahaan Dinata. " Mba hari ini apa agenda kita kesana? Apa kita hanya melakukan kunjungan saja? Tidak ada rencana khusus yang lainnya? " Nadia menoleh dan tersenyum mendengar pertanyaan Risti " Kita hanya melakukan kunjungan dan mengamati perusahaan itu. Belum tiba waktunya untuk mulai bermain. Jadi bersabarlah! " " Bukan begitu mba, aku hanya tidak bisa membayangkan dengan apa yang telah mereka lakukan pada mas Jimmy. Bisa - bisanya mereka memfitnah dan merebut harta milik saudaranya sendiri. Apalagi itu keponakan yang mereka rawat dari kecil. Apakah mereka membesarkannya tanpa rasa kasih sayang? " Risti mendengus kesal " Sudahlah,, mereka pasti membayar semuanya! " Risti dan Nadia pun tiba di perusahaan Dinata. Mereka langsung menuju meja resepsionis. "Selamat siang mba. Saya memiliki janji dengan pak Jodi Dinata! " Nadia dengan sopan berbicara pada resepsionis wanita " Iya, selamat siang. Mohon tunggu sebentar! " Setelah resepsionis tersebut memberi tahu Jodi dan mendapatkan izin barulah Nadia di izinkan naik ke ruang rapat " Silakan naik ke lanyai 2 bu Nadia. Pak Jodi dan yang lainnya telah menunggu di ruang rapat " " Terimakasih! "Nadia dan Risti tersenyum sambil meninggalkan resepsionis tersebut menuju ke lantai 2 yang di maksud tadi Diruang rapat telah menunggu semua jajaran direksi perusahaan. Mulai dari wakil direktur hingga pejabat tertinggi. Semua dikumpulkan untuk rapat kali ini. Guna memperkenalkan investor baru di perusahaan. Suasana ruang meeting masih riuh oleh para pejabat perusahaan yang hadir. Hingga suara ketukan pintu membuat semua terdiam Tok tok tok Ceklek Semua mata teruju pada sosok Nadia yang datang ditemani Risti. Mereka menatap kagum dan terpesona oleh kecantikan Nadia " Selamat siang semuanya. Maaf karena kami membuat kalian semua menunggu! " Nadia berjalan masuk dengan percaya diri dan elegan, disertai senyuman manis di bibirnya " Selamat siang nona Nadia. Saya Julian Dinata, Direktur utama perusahaan Dinata! " Julian menghampiri Nadia dan menjabat tangannya, sambil memperkenalkan diri " Saya Nadia. Direktur pelaksana dari perusahaan Sanjaya! " Nadia begitu tenang dan penuh wibawa " Bukankah anda direktur utamanya? " Julian mengernyitkan alis karena penasaran " Bukan. Direktur kami tidak suka di ekspos, jadi aku yang mewakili atas perintahnya! " Dengan gelengan kepala perlahan dan cara bicara yang anggun Nadia terlihat begitu elegan " Silahkan duduk. nona Nadia! " Terimakasih " Nadia dan Risti pun duduk di kursi yang telah disediakan, tak jauh dari kursi direktur utama Mereka pun mulai membahas semua pengaturan mengenai proyek yang akan mereka kerjakan. " Saya mempunyai sebuah syarat untuk proyek ini. Semua keputusan harus bergantung pada kami. Kami yang akan mengambil kendali atas proyek kali ini! " Semua tercengang dan saling menatap satu sama lain " Tapi nona, ini adalah proyek bersama jadi kita harus bekerja sama! " Kata salah seorang peserta rapat " Memang benar, tapi proyek kalian yang sebelumnya selalu gagal. Dan saya tidak ingin perusahaan menanggung kerugian yang begitu besar, jadi kami akan mengambil kendali atas semuanya. Kami akan mengawasi setiap prosesnya! " Nadia begitu tenang dan yakin saat menyuarakan keinginannya " Jika anda semua keberatan. Kita bisa membatalkan semuanya? " Suara Nadia terdengar begiti dingin namun ada senyum sinis di wajahnya. Semua orang kembali saling menatap dan berunding satu sama lain " Tidak nona. Kami setuju. Kami kana mengikuti pengaturan anda " " Bukan atas pengaturan saya. Tapi pemilik perusahaan Sanjaya " " Baiklah, nona! " Rapatpun di akhiri ketika jam makan siang. Jodi yang terus memperhatikan Nadia mendekatinya ketika sudah keluar dari ruang rapat. " Permisi nona Nadia! " Langkah Nadia terhenti. dia berbalik menatap orang yang memanggilnya dengan wajah datar " Oh, pak Jodi, apa ada sesuatu yang terlupakan? " Nadia berkata dengan dingin kepadanya " Bisakah kita makan siang bersama? Saya ingin menjamu nona Nadia dan nona Risti selama ada disini " Jodi tersenyum manis. Sementara Risti dan Nadia saling menatap dak akhirnya setuju " Baiklah, akan sangat tidak sopan jika saya menolak tawaran pak Jodi lagi " " Suatu kehormatan bagi saya " Kata Jodi sambil mempersilakan Nadia dan Risti berjalan duluan " Dasar buaya darat. Dia masih saja berusaha mendekatiku! " Batin Nadia disertai seringai di bibir manisnya Chapter 141 Ayah terposesif Sebelumnya Nadia sudah mengirim pesan kepada Jimmy saat di perjalanan menuju restoran Nadia : " Sayang, aku dan Risti pergi makan siang bersama Jodi. Tadi dia mengajak kami makan bersama " Jimmy : " Pilihlah makanan yang paling mahal " Nadia tersenyum ketika membaca pesan teks dari Jimmy. "Dasar orang ini. 2Ku kira dia akan marah dan melarangku pergi " Gumamnya sambil menatap keluar melalui kaca jendela mobil Setelah beberapa lama, tibalah mereka di sebuah restoran yang sepertinya cukup mahal dengan interior bernuansa Eropa " Silahkan duduk nona - nona! " Jodi mempersilakan Nadia dan Risti duduk " Kalian ingin pesan apa? " Risti dan Nadia sedang melihat menu di temani seorang pelayan restoran yang sedang menunggu untuk mencatat pesanan mereka " Aku tidak tahu, tolong bawakan saja makanan yang paling enak dan paling mahal dari restoran ini! " Kata Nadia dengan nada angkuhnya, Risti hanya tersenyum " Baik nona! " " Tidak apa kan pak Jodi? Maaf karena saya tidak terbiasa dengan makanan murahan! " Nadia berkata dengan nada sombong dan wajah sinisnya " Owh tentu saja tidak papa. Aku yang mengundang kalian makan, jadi kalian bisa pilih makanan apa pun yang kalian mau! " Drrt drrrt ponsel Nadia berdering. Dan itu panggilan dari Gina " Maaf sebentar! Saya terima telepon dulu! " Jodi mengangguk dan mempersilakan Nadia. Nadia pun berdiri dan sedikit menjauh dari Jodi " Halo,, Apa kamu sudah pergi ke kota C? " Terdengar suara Gina dari seberang telepon "Iya, saya sudah mengikuti rapatnya, mereka setuju mengikuti pengaturan kita! Mungkin untuk model iklan, mereka yang akan mengaturnya! Mereka juga ingin bertemu denganmu! " Nadia menjelaskan dengan begitu tenang " Bagus kalau begitu. Belum saatnya bertemu denganku. Sekarang aku mau Jimmy mulai masuk ke perusahaan itu dan mulai permainannya " " Baiklah, akan ku katakan padanya! Sampai nanti! " Nadia menutup panggilan dan kembali ke meja Jodi dan Risti Mereka menikmati makan siang mereka dengan tenang " Maaf nona Nadia bolehkan saya menanyakan satu persoalan pribadi? Mungkin ini terdengar sedikit tidak sopan! "Jodi terlihat ragu saat ingin mengajukan pertanyaan " Iya silahkan! " " Apakah nona sudah memiliki kekasih? " Nadia hanya tersenyum setelah beberapa lama barulah dia membuka suara " Saya tidak punya kekasih,,, " Ekspresi Jodi menjadi cerah dan tampak berbinar. Risti menoleh ke arah Nadia dan menyipitkan mata. " Tapi saya punya tunangan dan berencana untuk segera menikah! " Jederr seperti ada petir yang menyambar. Wajah cerah yang tadi terlihat di pada Jodi, seketika berubah suram " Apa? Tunangan? Jadi dia akan segera menikah? Huh, sungguh sayang sekali " Gumam Jodi Setelah selesai makan. Nadia dan Risti pun langsung pamit untuk meninggalkan tempat itu " Terimakasih pak Jodi, karena anda sudah mentraktir kami makan siang. Kami permisi karena harus kembali lagi ke kota A sekarang! " " Sama - sama. Senang bisa menghabiskan makan siang bersama kalian! " Mereka saling berjabat tangan kemudian pergi meninggalkan restoran " Cih,, sungguh pria yang bermuka dua. Bagaimana bisa dia menarik perhatian para gadis dengan mulut manisnya itu? Apa wanita yang mau bersama dengannya itu buta? hingga tidak bisa membedakan pria mata keranjang seperti dia! " Risti kesal karena tatapan Jodi tadi selalu terarah kepada mereka berdua. Layaknya binatang buas yang ingin menerkam mangsa " Sudahlah, kalaupun kamu jatuh cinta padanya, kamu pun akan dibutakan oleh cinta " Nadia tersenyum menyindir Risti " Huh menyebalkan! " =========== Gina telah perbolehkan keluar dari rumah sakit. Keluarga mereka telah menunggu di West Residen, rumah Yudha dan Gina. Kamar bayi pun telah di renovasi. Tapi karena tidak ingin jauh dari bayi kembarnya, jadi mereka tetap akan tidur dikamar orang tuanya dengan menggunakan box bayi. " Gina, apa kalian tidak akan menggunakan baby sitter? " Nenek Julia yang sedang menggendong Jingga, bertanya dengan lembut kepada cucu menantunya " Ku rasa, aku ingin mencoba membesarkan mereka sendiri. Lagi pula, Yudha bisa membantuku. Jadi selama itu baik - baik saja. Kami akan melakukannya sendiri. Jika nanti kami kewalahan, barulah kami akan memakai jasa baby sitter " Nenek Julia dan yang lainnya pun menganggukkan kepala, mengerti dengan apa yang dikatakan Gina " Lihatlah, Biru begitu tenang digendongan ayahnya. Dia sepertinya sangat menikmati di gendong Yudha " Kakek Wijaya berbicara dengan begitu kagum saat melihat cucunya yang dingin menggendong Biru " Tentu saja kakek. Dia kan ayah yang sempurna. Dia akan jadi ayah terbaik bagi Biru dan Jingga . Dia juga akan menjadi ayah terposesif bagi mereka " Semua orang tertawa mendengar perkataan Gina. karena mereka tahu, sebagaimana pun dinginnya Yudha. Dia akan bertingkah over protectif jika mengenai Gina dan anak - anaknya. Chapter 142 Akulah pemegang saham terbesar di perusahaan ini Seperti yang sudah diperkirakan, Yudha menjadi ayah dan suami yang begitu hangat dirumah. Meskipun saat diluar rumah dia begitu dingin dan disegani. Tapi sikapnya akan berubah ketika dia menginjakkan kaki dirumahnya Dia akan membantu Gina dalam merawat si kembar. Memandikan dan membuatkan susu untuk mereka, itu bisa dilakukannya. Bahkan jika malam hari si kembar bangun, dia yang akan bangun terlebih dahulu untuk menenangkan si kembar dalam gendongannya. Gina sungguh kagum pada suaminya yang begitu cekatan dan telaten dalam merawat buah hati mereka. Gina terus memperhatikan Yudha yang menggendong Biru dan Jingga secara bergantian setelah dia pulang kerja " Sayang, apa kamu tidak lelah? Makanlah terlebih dahulu. Nanti kamu bisa menggendong mereka lagi. Aku sungguh tidak ingin melihat mu kelelahan " Gina mendekatinya, berpegang pada kedua lengan Yudha yang kekar dari belakang, lalu menyandarkan kepalanya pada punggung Yudha. " Aku tidak papa. Aku sangat merindukan mereka, jadi aku ingin menghabiskan waktu ku bersama dengan mereka, sebelum mereka tidur! " Suaranya begitu lembut dan Gina senang mendengar setiap kata - kata yang keluar dari mulut sang suami. Bagaikan sihir, setiap kata yang dia ucapkan bisa memberikan ketenangan dan kenyamanan baginya. Sementara pasangan itu hanyut dalam kasih sayang satu sama lain, perusahaan Dinata sedang mengalami guncangan karena pemilik saham baru yang lebih besar jumlahnya. Mereka akhirnya berencana mengadakan rapat pemegang saham. Untuk mengetahui siapa pemilik saham terbesar saat ini. Keesokan harinya diruang rapat perusahaan Dinata. Mereka sedang menunggu kedatangan sang pemegang saham terbesar saat ini. " Saat ini saham perusahaan kita dipegang oleh 2 orang baru dengan jumlah saham yang cukup besar. 1 orang memegang 25% saham, entah siapa dia dan berasal dari mana. Dan yang 1 lagi 30% saham atas nama Gina Yulia Atmaja. Jika dia berasal dari keluarga Atmaja dari kota A,,, Bagaimana mungkin? bukankah keluarga Atmaja itu sudah tidak ada? " Kata seorang anggota rapat yang berusaha menganilis kemungkinan yang ada " Tapi,, bisa saja dia menikah dengan orang kaya, jadi bisa membeli saham perusahaan kita dengan jumlah yang besar. Apalagi harga saham perusahaan kita sedang mengalami penurunan akhir - akhir ini " Kata yang lain " Ya, itu memang bisa saja terjadi. Tidak ada yang tidak mungkin kan? "Kata yang lain lagi sambil mengangkat kedua bahunya. Semua pemegang saham sudah menunggu di ruang rapat, termasuk Julian dan juga Jodi. Mereka mulai resah dan penasaran dengan siapa pemilik saham yang baru. Hingga terdengar derap suara langkah kaki dan ketukan pintu. Tok tok tok Ceklek Terlihat seorang pria muda yang cukup tinggi dan tampan, dengan setelan jas rapi. Beserta 2 orang yang mengikutinya di belakang " Selamat siang semuanya. Maaf karena saya terlambat! " Semua orang tertegun dengan kehadiran Jimmy. Dia berjalan dengan penuh wibawa dan rasa percaya diri. " Bagaimana kamu bisa disini? Untuk apa juga kamu berada disini? Kamu tidak ada hak sama sekali untuk tetap berada disini " Jodi begitu kesal melihat Jimmy dan berbicara dengan nada tinggi. Jimmy hanya tersenyum mencibir Jodi " Hah, untuk apa? Aku adalah pemegang saham terbesar di perusahaan ini! Ini adalah surat kepemilikan saham yang sah! " Jimmy menunjukkan dokumen yang menunjukkan kepemilikan sahamnya dan meletakkannya di atas meja Jodi segera meraihnya dan menunjukkannya kepada sang ayah. Ayah dan anak itu pun saling menatap satu sama lain " Huh, saham yang kamu miliki hanyalah 25%. Saham kami masih lebih besar dibanding dengan punya mu! "Jodi bicara dengan begitu angkuhnya Jimmy hanya tersenyum sinis mendengar perkataan sepupunya. " Pak tolong tunjukkan dokumennya kepada mereka! "Jimmy menoleh kepada seorang pengacara di belakangnya. Pengacara itu menganggukan kepala dan mengeluarkan sebuah dokumen dari tasnya " Saya adalah pengacara nyonya Gina. Ini adalah surat kuasa yang diberikan kepada pak Jimmy, agar mengelola 30% saham miliknya di perusahaan ini. Silakan anda periksa! " Pengacara itu menunjukkan selembar surat kuasa kepada Jodi Jodi dan Julian tercengang. Mereka begitu terkejut. " Siapa Gina ini? Apa hubungannya dia dengan Jimmy. Mengapa dia memberikan kuasa kepada Jimmy untuk mengelola saham yang dimilikinya? " kata Julian dalam hatinya. Suara Jimmy berhasil menyandarkannya dari lamunan " Jadi dengan saham ku yang senilai 55% ini. Maka sekarang akulah yang menjadi pemegang saham terbesar di perusahaan ini " Jimmy tersenyum dengan penuh kemenangan dan memberikan tatapan sinis kepada Julian Chapter 143 Akan ku ambil semua yang menjadi hak ku secara terhormat Ruang rapat seketika gempar dengan pernyataan yang diberikan Jimmy " Bagaimana mungkin dia kembali mengendalikan perusahaan? Apakah akan sama saja seperti yang dulu pernah dia lakukan pada perusahaan ini? " Semua orang saling menatap dan berbisik satu sama lain. " Aku datang kesini tidak untuk mendapatkan posisi tertinggi. Aku hanya ingin kalian tahu, kalau sekarang aku sudah kembali. Aku akan membuktikan kepada semuanya, kalau aku tidak pernah bersalah. Akan ku ambil kembali semua yang menjadi hak ku secara terhormat, dan akan ku buat pencuri mendapatkan bayaran yang pantas "Mata Jimmy tertuju pada paman dan sepupunya saat dia mengatakan itu. Kilatan kemarahan dan kebencian terpancar disana. Ayah dan anak itu saling menatap satu sama lain seakan ketakutan. " Untuk sekarang ini aku ingin tahu setiap perkembangan yang terjadi disini. Dan aku hanya akan mengawasi perusahaan saja " Jimmy begitu tenang saat dia berbicara " Bagaimana kami bisa percaya dengan apa yang kamu katakan? "Julian mulai bersuara " Kalian tidak punya pilihan lain, selain percaya padaku. Kalian yang akan tetap mengelola perusahaan. Aku hanya akan memantau saja. Jika ada yang menurut ku tidak sesuai, barulah aku akan mengambil tindakan " Suasana menjadi hening tanpa ada sedikit pun suara " Kurasa cukup untuk hari ini. O iya, aku dengar akan ada proyek baru yang kalian kerjakan? Jangan sampai membuat kecewa. Nama baik perusahaan bergantung pada kerja sama kalian saat ini! " Jimmy memperingatkan mereka sebelum meninggalkan ruang rapat, dengan senyuman sinis yang ditujukan kepada paman dan sepupunya. Setelah Jimmy keluar, ruangan kembali ricuh. " Pak Julian, bagaimana dia bisa kembali kesini? Apakah perusahaan kita akan berkembang di bawah kepemilikannya? " Seorang pemegang suara berkomentar " Kalian tenang saja. Dia tidak akan mengambil kendali perusahaan. Dia hanya akan jadi pemegang saham saja! " Kata Julian mencoba menenangkan Rapat pun akhirnya bubar. Hanya Jodi dan Julian yang masih tersisa di ruang rapat " Ayah, bagaimana ini? Apakah Jimmy bisa mengetahui semua yang telah kita lakukan padanya? " Jodi terlihat panik " Kamu tenang saja. Dia tidak memiliki bukti apapun di tangannya. Kamu harus hati - hati. Dan ibumu juga harus mulai membatasi pengeluarannya. Jimmy pasti akan mengawasi setiap gerak gerik kita! " Jodi mengangguk mengerti dengan apa yang di bicarakan sang ayah Setelah keluar dari ruang rapat, Jimmy langsung menghubungi Gina " Hallo nona Gina! " Jimmy langsung menyapa ketika panggilan telepon mulai tersambung " Bagaimana disana? " Gina bertanya dengan tenang sambil menggendong salah satu bayi di tangannya " Saya sudah mengikuti rapat. Saya tidak akan bergabung dalam perusahaan ini. Saya akan tetap di perusahaan Sanjaya untuk sekarang ini! Saya yakin kalau saya disini, mereka akan sangat berhati - hati dengan setiap tindakan yang mereka ambil " " Baiklah, ku percayakan padamu. Aku tidak ingin ikut campur! " " Nona, apa nona tidak ingin mereka mengenal nona? Bukankah akan lebih baik jika mereka tahu pemegang saham terbesar saat ini adalah pemilik dari perusahaan yang sedang bekerja dama dengan mereka? " Gina tersenyum mendengarnya " Tidak, bukan saatnya. Aku suka memberikan mereka kejutan! " " Baiklah nona. Kalau begitu terimakasih " Gina dan Jimmy pun mengakhiri panggilan telepon mereka. " Mereka ingin memberikan uang yang tak seberapa kepada suamiku. Jadi aku akan mengajari mereka bagaimana caranya bersikap baik kepada orang lain! Berani - beraninya mereka merendahkan kami. Padahal mereka sama sekali tidak mengenal kami! " Gina bergumam dan tersenyum dengan mata yang memancarkan kelicikan Oeeek oeekk.. Terdengar suara tangisan dari Jingga. Dan Gina pun langsung meletakkan Biru, kemudian menggendong Jingga " Sayang, apa kamu lapar? cup cup cup.. Ibu akan buatkan susu untukmu. Jangan menangis ya putri cantik ku! Kamu harus jadi perempuan yang kuat. Dan Biru, kamu harus selalu menjaga dan melindungi Jingga " Gina berkata dengan lembut dan senyuman yang manis kepada kudua bayinya. Kemudian dia pergi untuk membuatkan susu Chapter 144 Bukankah dia mencoba merahasiakan statusnya dari wanita cantik? Kerja sama perusahaan Dinata dengan Sanjaya berjalan lancar. Nadia selalu mengunjungi kota C untuk mengecek perkembangan proyek yang dikerjakan oleh perusahaan Dinata. Mereka memproduksi body lotion dengan kandungan pencerah dan aroma terapi " Apa semuanya sudah melewati uji coba? Saya tidak mau kalau nantinya produk ini malah memberikan pengaruh negatif pada perusahaan saya. Dan saya juga tidak mau ada korban akibat ketidak cocokan pada produk ini. Semuanya harus di teliti dengan benar! " Nadia menginstruksikan kepada rekan bisnisnya " Tentu saja kami sudah melakukan penelitian dengan semuanya. Nona tidak perlu khawatir soal ini. Kita akan mengadakan jamuan makan siang dan juga memperkenalkan produk terbaru kita dikalangan pebisnis. Kami berencana mengundang para pebisnis handal saat peluncuran produk kita! " Julian berbicara dengan penuh percaya diri.. Di sisi lain. Jimmy meminta seseorang untuk mengawasi gerak gerik keluarga pamannya itu. Hasilnya ditemukan bahwa bibinya selalu mengikuti pertemuan ibu - ibu sosialita dan bermain kartu. " Jadi bibi masih sering melakukan pertemuan dengan kaum sosialita itu ya? Hmn,, kita lihat, apa yang bisa kita lakukan pada mereka! "Gumam Jimmy sambil tersenyum sinis ========== " Pa,, bolehkah aku meminta uang lagi? Hari ini ada arisan di rumahnya bu Sukmo " Monik merengek pada Julian sambil bertingkah manja " Sayang, kamu harus membatasi dulu pertemuan mu dengan teman - teman mu itu. Jimmy sekarang sudah kembali, dia menjadi pemegang saham tertinggi di perusahaan kita. Kamu harus menahan diri untuk bersenang - senang sampai kita menemukan seseorang yang lebih kuat dari dia untuk membantu kita. Aku sedang menyelidiki perusahaan Kusuma. Perusahaan itu adalah salah satu dari 5 keluarga berpengaruh dalam dunia bisnis. Jika kita berhasil mendapatkan dukungan darinya. Maka mereka pasti akan membantu kita " Julian menjelaskan kepada istrinya dengan begitu yakin " Benarkah? Bukankah salah satu cabang perusahaan itu berada di kota A? aku dengar sekarang perusahaan itu di pegang oleh Yudha Arya Kusuma. Dia adalah cucu satu - satunya dari tuan Wijaya Kusuma . Dia belum lama kembali dari luar negeri, dan juga merupakan pebisnis muda no 1. Tapi apa kamu yakin bisa mendekatinya? Dia terkenal begitu dingin dan tidak mudah didekati " Monik ragu dengan yang dikatakan suaminya " Aku sudah menyelidiki nya selama ini. Dan aku yakin bisa mendapatkan dukungan darinya! Kita memiliki putri yang cantik, kita dekatkan saja putri kita dengannya. Aku yakin tuan Yudha itu tidak akan menolak wanita cantik. Seperti halnya anak kita yang suka bermain perempuan " senyum licik dan penuh keyakinan terlihat di wajahnya " Tapi dia sudah menikah. Bagaimana mungkin kita mendekatkan Jenny dengan seorang pria beristri? " " Yudha itu tampan dan juga kaya. Jenny pasti tidak akan mempermasalahkan statusnya yang sudah beristri. Dan lagi pernikahannya itu tidak pernah dipublikasikan. Dengan begitu, bukankah dia juga mencoba merahasiakan statusnya dari wanita cantik. Iya kan? " " Tapi kan pa... " " Sudahlah, kamu tidak perlu banyak berkomentar. Ikuti saja rencana ku! " Monik ragu dengan rencana sang suami untuk mendekatkan Jenny, adiknya Jodi dengan Yudha. Dia sudah mencoba meyakinkan sang suami, tapi tidak berhasil " Hai pa, ma. Muach " Jenny menyapa sang ibu dan ayahnya. Dia adalah gadis muda yang cantik dan ceria. Sayangnya dia terbiasa di manjakan oleh kedua orang tuanya dan hidup dengan kemewahan. " Kamu mau kemana sayang? " Monik bertanya dengan lembut kepada sang putri " Aku mau pergi dengan teman - teman ku ma. Kami mau ke mall " Jenny menjawab dengan tawa riangnya. " Baiklah, hati - hati ya. Jangan membuat masalah! " Jenny mengernyitkan alis dan bertanya denga heran " Kapan aku membuat masalah pa? " " Iya papa percaya padamu! " " Maaf pa, ma. Aku mau menemui pacarku. Kalau kalian tahu pasti kalian akan marah. Karena dia bukan dari kalangan orang kaya. Dia hanya seorang mahasiswa " Jenny berbicara dalam hati sambil beranjak pergi meninggalkan rumah Chapter 145 Yudha yang imut dan menggemaskan " Hai sayang, kamu sudah lama menunggu ku ya? " senyum manis ditunjukkan Jenny saat menyapa kekasihnya, Andre " Tidak sayang. Aku juga baru saja tiba di sini! " Mereka saling berpelukan melepas rindu " Kita mau kemana sayang? " " Bagaimana kalau kita nonton saja? " " Tentu saja! " Jenny menautkan jari - jari tangannya di sela - sela jari tangan Andre. Mereka berjalan di mall dengan berpegangan tangan. Layaknya pasangan muda lainnya yang sedang kasmaran. Mereka pun menikmati setiap detik kebersamaan mereka. Sementara muda mudi ini sedang kasmaran. Pasangan suami istri yang belum lama ini dikaruniai sepasang buah hati sedang menikmati waktu mereka dirumah. Yudha terlihat sedang bersama sang buah hati. Dia terlihat sempurna dengan duduk sambil membaca dokumen di sofa. Dia menggendong Biru di tangan kiri, dan sebelah tangannya lagi memegang dokumen Gina sedang menggendong Jingga yang baru saja tertidur di pangkuannya. Dia terus saja tersenyum melihat pemandangan indah di hadapannya. " Kenapa kamu tersenyum begitu sambil memandangiku, sayang? " Yudha yang memperhatikan sang istri pun merasa penasaran dan bertanya padanya dengan lembut " Tidak ada. Hanya saja aku seperti melihat sebuah maha karya yang begitu indah di hadapanku. Apa kamu sedang melatih anak kita untuk mulai berbisnis, sayang? Kenapa kamu membaca dokumen dengan menggendong Biru di tanganmu? Dia itu masih terlalu kecil untuk belajar bisnis! " Gina berjalan mendekati Yudha dan berdiri tepat disampingnya " Aku hanya tidak ingin melepaskannya. Tapi dia malah tertidur saat aku gendong. Jadi aku membaca dokumen ini selagi menunggu dia bangun " " Hahaha. Sayang, dia tidak akan bangun untuk sekarang ini. Akan sangat lama jika kamu menunggunya hingga bangun " Gina terbahak mendengar reaksi sang suami " Benarkah? Tadi saat aku baru gendong, dia tidak tidur. Kenapa dia malah tertidur saat aku sudah menggendongnya? Apa kamu tidak ingin bermain dengan papi mu yang tampan ini, sayang? Padahal papi kan sangat merindukan kalian dan ingin bermain bersama kalian! " Yudha mengeluh kepada Gina, kemudian kembali melihat Biru yang ada di gendongannya dan Jingga yang sedang di gendongan Gina sambil berbicara, seakan kedua anak mereka itu sudah bisa berbicara. Padahal anak mereka baru saja berusia 3 bulan, dan baru bisa berbicara dengan menggunakan bahasa bayi. Sekarang pun si kembar sedang tidur jadi tidak menanggapi perkataan sang papi yang sedang mengeluh Gina mengernyitkan alis mendengar apa yang dikatakan Yudha kemudian berkata dalam hati " Sejak kapan Yudha si pebisnis muda yang dingin mulai bertingkah imut dan menggemaskan seperti ini, huh? " " Sayang,, Biru tertidur dipangkuan mu karena dia tahu kamu adalah papi yang akan selalu melindunginya. Jadi dia merasa nyaman bila berada di dekatmu. Lagi pula mereka baru saja mandi dan minum susu. Jadi wajar saja jika mereka mengantuk " Gina berusaha menenangkan sang suami " Aku akan selalu melindungi kalian, sayang. Tidak akan pernah ku biarkan siapapun mengganggu kalian. Jika sampai ada yang berani menyakiti kalian. Maka aku akan jadi orang pertama yang menghancurkan mereka " " Aku percaya padamu sayang. Muach " Kecupan mesra dari Gina mendarat di pipi Yudha. " O iya sayang, bukankan Steve pernah bilang kalau ada yang sedang mengawasi perusahaan mu? Apa kamu sudah tahu siapa? " " Biarkan saja, kamu tidak perlu khawatir. Mereka tidak akan berani macam - macam " " Tapi tetap saja kamu harus selalu waspada sayang. Karena aku yakin banyak yang iri padamu! " " Tentu sayang. Aku akan selalu waspada. Lagi pula selalu ada pengawal yang menemani kita kemana pun! " " Baiklah kalau begitu " Chapter 146 Sejauh mana dia berusaha mendekati suamiku Karena sekarang ini Nadia lebih sering menghabiskan waktu di kota C, maka Jimmy memeutuskan untuk menemuinya dan mengajaknya untuk berkeliling di kota C. Mereka pergi ke mall untuk menghabiskan waktu setelah jam pulang kerja " Kita mau kemana? " " Kita pergi ke mall saja, sekarang sudah mulai petang. Akan sulit untuk kita jika ingin berjalan-jalan ke tempat lain " " Baiklah kalau begitu! " Mereka pun berjalan menikmati waktu sebelum jam makan malam. Sebagai sepasang kekasih tentu saja mereka bergandengan tangan. Jimmy begitu tampan dan Nadia juga cantik. Tidak heran jika mereka jadi pusat perhatian. Tanpa di duga seseorang berteriak dan melambaikan tangan memanggil Jimmy dari kejauhan " Kak Jimmy, kakak! " Jimmy dan Nadia menoleh ke arah sumber suara " Jenny! " Gumam Jimmy " Dia adiknya Jodi, dia sangat baik kepadaku. Aku sudah menganggapnya seperti adikku sendiri " Terang Jimmy kepada Nadia. Nadia hanya tersenyum dan menganggukkan kepala Jenny dan Andre berjalan lebih cepat ke arah Jimmy " Akhirnya, kakakku sudah kembali! " Jenny berhambur ke pelukan Jimmy. Jimmy menyambut pelukannya dan mengelus lembut kepalanya " Kamu sudah besar ya sekarang! Gadis nakal! " Jenny tersenyum mendengarnya. Jenny pun melepaskan pelukan Jimmy, lalu menoleh ke arah Nadia " Siapa dia? Apa dia pacarmu kak? " "Owh iya, dia Nadia. Calon kakak iparmu! " " Waah, hai kakak ipar. Kamu begitu cantik! " Jenny menjabat tangannya dengan riang " Kak, kenalkan. Ini pacarku! " " Hallo, saya Andre" Jenny pun memperkenalkan Andre kepada Jimmy dan Nadia " Bagaimana kalau kita berbincang di restoran saja! " Nadia menyarankan dengan penuh kelembutan " Tentu saja! " Mereka pun berjalan beriringan menuju ke sebuah restoran di mall itu Setelah duduk dan memesan minuman, mereka mulai berbincang lagi " Kak, kakak pergi kemana saja? Aku merindukan mu! Maaf waktu itu, aku tidak membantumu. Keluarga ku sungguh kejam karena mengambil semua milikmu " Raut wajah Jenny terlihat sedih ketika dia berbicara kepada Jimmy " Ini bukan salahmu, waktu itu kamu masih kecil. Aku pun masih remaja, jadi tidak bisa berbuat apa - apa. Kamu tidak usah memikirkan itu lagi ya! " Jimmy begitu tenang saat berbicara dengan Jenny, bahkan senyuman terpancar diwajahnya. Seperti sedang menenangkan seorang adik kecil " Tapi kak. Itu semua milikmu. Kami tidak seharusnya merebutnya dari tanganmu dan menikmatinya sendiri " " Sudahlah kamu tenang saja! Aku sudah kembali dan aku pasti mengambil kembali semua yang menjadi hak ku. Kamu tidak usah cemas lagi! " " Apa kakak akan kembali ke perusahaan kita? " Jimmy menggelengkan kepalanya " Untuk saat ini aku tidak akan terlibat langsung dengan perusahaan. Aku sedang mengumpulkan bukti agar menunjukkan kalau aku tidak bersalah waktu itu" " Aku akan mendukung kakak. Waktu itu aku mendengar kalau papa sedang menyelidiki perusahaan besar. Dia mencoba mendapatkan dukungan dari perusahaan itu " " Apa kamu dengar perusahaan apa yang di maksudkan oleh papamu? " " Kalau tidak salah perusahaan itu milik keluarga Kusuma. Iya benar perusahaan Kusuma! Apa kakak mengenalnya? " Jimmy tersenyum mendengar berita dari adik sepupunya itu " Oh itu. Tentu saja aku mengenalnya. Tuan Yudha selama ini yang sudah membantu ku. Jika bukan karena dia, aku pasti masih jadi gelandangan yang terus saja mencari pekerjaan di sana sini. Mereka sangat baik terhadapku " " Tapi kak, ada masalah besar lagi " Jenny seketika muram dan menundukkan kepala " Kenapa? Apa terjadi sesuatu? " Jimmy dan Nadia saling menatap satu sama lain " Mereka ingin aku mendekati tuan Yudha itu dan menikahkan aku dengannya. Aku sudah punya Andre, meskipun dia belum bekerja. Tapi kami saling mencintai " Jimmy tersenyum sinis mendengarnya " Kamu tenang saja. Tuan Yudha sudah punya istri, dia tidak mungkin mau mengkhianati istrinya untuk menikahi wanita lain. Tapi kamu harus tetap berpura - pura setuju dengan rencana papamu. Aku ingin tahu sejauh mana rencana papa mu! Apa kamu bisa membantu ku Jen? " " Tentu saja aku akan membantu mu kak. Karena aku juga tidak ingin berpisah dari Andre, dan untuk saat ini kami masih harus menyembunyikan hubungan kami dari orang tua ku " Jenny mengangguk dan tersenyum. Lalu ia menatap Andre " Bagus kalau begitu! " Setelah mereka berpisah, Jimmy menghubungi Gina " Hallo nona. Saya Jimmy, maaf mengganggu nona " " Ada apa Jimmy? " " Saya baru saja bertemu Jenny, adiknya Jodi. Dia bilang paman saya sedang menyelidiki tuan Yudha dan ingin mendekatkan Jenny dengan tuan Yudha " " Jadi dia yang menyelidiki suamiku! Biarkan saja. Kita ikuti saja permainannya. Aku ingin tahu, sejauh mana dia ingin berusaha mendekati suamiku! " Senyum kelicikan terpancar di wajahnya dan kilatan kemarahan pun terlihat jelas di mata Gina Chapter 147 Akan lebih menyakitkan jika aku ikut terlibat " Sayang, tadi Jimmy menghubungiku. Dia memberi tahuku kalau Julian Dinata lah orang yang selama ini berusaha menyelidiki mu. Dia ingin membangun hubungan baik denganmu, tentu saja agar dia bisa mendapatkan dukungan sepenuhnya darimu dan mengalahkan Jimmy" Gina menghampiri Yudha dan duduk disebelahnya dengan menyandarkan kepalanya di bahu sang suami " Jadi begitu rupanya.. Biarkan saja, kita lihat saja apa yang sudah mereka rencanakan untuk mendekati ku. Mereka salah besar jika harus melibatkan aku dalam permainan konyol mereka. Itu akan lebih menyakitkan untuk mereka jika aku ikut terlibat di dalamnya" tersirat sebuah kelicikan dari senyum dan tatapan Yudha " Ya baguslah kalau kamu ikut terlibat. Permainan akan lebih seru lagi kalau aku juga bisa terlibat. Aku sangat ingin mempermalukan dan merendahkan mereka, hingga ke lubang tak berdasar. Tapi, tidak,,, aku hanya ingin menonton pertunjukan besar saja kali ini. Aku menantikan pertunjukan besar itu sayang. Pertunjukan dimana mereka akan sangat malu karena berusaha mempermainkan kita " Pasangan itu lebih suka menghabiskan waktu dengan satu sama lain. Terlebih lagi setelah anak mereka lahir. Yudha akan bergegas untuk pulang kerumah jika memang memungkinkan dan tidak suka menghadiri acara di luar. Terkecuali bersama sang istri. ===== Kali ini Hendri bisa mempunyai kesempatan untuk menjemput Risti dari kantornya " Apa kamu sudah lama menunggu? Ayo kita pergi dari sini! " Hendri menggandeng tangan Risti dan membawanya memasuki mobil. Lalu mulai berkendara pergi meninggalkan kantor Gina, melalui jalanan yang ramai karena jam pulang kantor. Menuju ke sebuah restoran untuk menikmati makan malam bersama "Maaf, karena beberapa hari ini aku tidak menjemput mu. Aku memiliki banyak pekerjaan akhir - akhir ini. Karena tuan selalu saja ingin cepat pulang. Jadi aku harus menggantikan dia mengerjakannya! " Hendri mengeluh setelah bertemu dengan Risti " Iya tidak apa ka. Aku ngerti ko, tuan dan mba Gina kan memang selalu ingin sama - sama. Apalagi setelah punya si kembar di dalam kehidupan mereka. Jadi wajar saja kalau tuan ingin cepat pulang kerumah " Risti tersenyum lembut saat berbicara " Tunggu, apa? ka? Tumben sekali kamu manggil aku ka? kemarin - kemarin panggil aku mas! " Hendri terlihat menatap Isti demgan heran dengan alisnya yang sedikit terangkat " Eh,,, itu,, karena ku pikir aku memanggil semuanya dengan panggilan mas, jadi aku ingin memanggil mu dengan sebutan yang berbeda " Wajah Risti seketika berubah merah seperti tomat. Dia pun tertunduk karena malu " Tapi aku tidak suka panggilan itu " Hendri memasang wajah yang murung " Bagaimana kalau kamu panggil aku sayang saja! " " Ach ..." Risti begitu terkejut, dia terus saja menatap wajah tampan Hendri dengan wajah yang memerah " Apa kamu tidak mau memanggil ku dengan sebutan itu? Lantas kamu mau memanggil ku apa? " Hendri terus mendesak Risti hingga dia menjadi salah tingkah " Itu,, itu,,, baiklah,,, sayang! " Suaranya begitu pelan, hampir tak terdengar oleh Hendri " Apa? Aku tidak mendengarnya!" " Iya sayang! " " Ulangi sekali lagi! " " Iya,,, sayaaaaaannnng,,, " Hendri tersenyum gembira penuh kemenangan, sedangkan Risti langsung memalingkan wajah karena malu ==== Penjualan body lotion dari perusahaan Dinata mengalami peningkatan. Body lotion itupun menjadi produk terlaris dipasaran. Perusahaan merencanakan sebuah jamuan makan siang untuk kalangan pebisnis. Selain untuk memperkenalkan produk mereka pada para pebisnis, Julian juga berencana untuk mendekati Yudha dan mengenalkannya pada Jenny. Persiapan pun segera mereka mulai " Nona Nadia, kami berencana mengadakan makan siang bersama. Selain sebagai pesta atas keberhasilan produk kita, kami juga berencana untuk mengenalkan produk kita secara langsung pada kalangan papan atas " Jodi memberitahukan rencananya kepada Nadia " Tentu saja. Itu akan jadi promosi langsung pada produk baru kita. Aku ikut saja pengaturan kalian! " Tanpa Jodi ketahui, Nadia mencibirnya. Dia sudah tahu maksud dari diadakannya makan siang bersama itu, karena Jenny telah memberitahukan rencana ayahnya. " Kami akan mulai pengaturannya. Mungkin lusa akan di adakannya makan siang di hotel bintang 5 di kota C " Nadia menganggukkan kepala tanda setuju dengan pengaturannya " Bisakah aku membawa serta tunanganku? " Walau Nadia berkata dengan lembut, namun itu berhasil mengejutkan Jodi " Nona sudah punya tunangan? " " Tentu saja aku sudah bertunangan. Dan kami akan segera menikah setelah tunanganku selesai dengan urusannya! " Nadia tersenyum puas, setelah mengejutkan playboy yang satu ini " Shit,, ku kira aku bisa mendekatinya. padahal jika aku berhasil menikahinya, maka perusahaan akan semakin maju karena berhasil mendapatkan dukungan dari perusahaan Sanjaya " Guman Jodi yang sedang kesal Chapter 148 Jamuan makan siang Keesokan harinya perusahaan Dinata sibuk mempersiapkan jamuan makan siang untuk para pebisnis. Undangan pun sudah di sebar luaskan. Hampir semua pebisnis kalangan atas diundang saat jamuan makan siang tersebut. Termasuk Yudha dari perusahaan Kusuma. Dari perusahaan Sanjaya di wakilkan oleh Nadia, karena setahu mereka, Nadia lah yang memiliki kuasa atas perusahaan itu. Gina masih menyembunyikan identitas aslinya dati mereka, karena dia tidak ingin berurusan dengan para penjilat yang menjijikkan. " Sayang, apa kamu mau pergi menemaniku ke acara makan siang itu? Karena dari perusahaan mu, Nadia dan Jimmy yang pergi kesana kan? Jadi, sepertinya tidak akan ada yang mengenalimu sebagai pewaris keluarga Sanjaya " " Sepertinya tidak kali ini sayang. Mereka mengundangmu kan dengan niat tersendiri, jika aku ikut hadir menemanimu, maka rencana mereka untuk mendekatkan mu dengan putri mereka itu, otomatis akan gagal sayang. Jadi kita ikuti dulu saja permainan mereka, ya? Lagi pula ini belum jadi akhir dari keluarga mereka. Aku akan menunjukkan diriku bersamamu saat Jimmy sudah mendapatkan semua miliknya lagi. Bagaimana? " Gina duduk dipangkuan Yudha dan melingkarkan tangan dileher sang suami. Karena anak - anak mereka sedang tertidur, ini adalah kesempatan mereka untuk menghabiskan waktu berdua.. ====== " Kamu sudah dengar kan kalau pamanmu akan mengadakan jamuan makan siang? Aku mau kita pergi bersama kesana! " Nadia sedang menghabiskan waktu bersama Jimmy " Aku tidak mendapatkan undangan darinya! Mereka sama sekali tidak berniat mengundang ku padahal aku sekarang jadi pemegang saham terbesar di perusahaannya " Jimmy menggelengkan kepala dan berekspresi tak percaya saat Nadia memberitahunya " Maka dari itu kamu harus pergi bersama ku. Kita beri mereka kejutan dengan kehadiran kita berdua. Lagi pula aku sudah mengatakan kepada Jodi kalau aku akan membawa tunanganku! " " Baiklah, kita akan pergi bersama " ====== Jamuan pun sudah siap dilaksanakan aula untuk acara pun sudah ditata dengan sedemikian rupa. Meja - meja sudah dipersiapkan dengan rapih. Dan semua hidangan juga telah dipersiapkan " Jenny, kamu harus berdandan dengan cantik. Karena akan ada banyak tamu penting yang hadir pada makan siang ini. Papa mengundang banyak pebisnis muda untuk datang di acara makan siang ini " Julian memberitahukan kepada anaknya akam diadakan makan siang " Tapi pa, aku kan tidak terlibat dalam perusahaan. Untuk apa aku harus ikut. Kan sudah ada kakak disana! " Jenny berusaha menolak, namun wajah sang ayah seketika tegang " Kamu itu anak papa. Papa mau kamu kenal setiap kolega papa. Banyak juga pebisnis muda yang akan datang, Terutama pewaris dari perusahaan Kusuma. Dia itu sangat tampan. Siapa tahu kalian saling tertarik satu sama lain. Itu kan bagus untuk masa depanmu! " Julian berusaha membujuk Jenny " Tapi pa, aku,,,, " " Tidak ada tapi - tapian. Kamu harus segera bersiap dan ikut kami ke acara makan siangnya! " Julian menyela Jenny sebelum dia menyelesaikan kalimatnya " Baik ayah, aku akan segera bersiap " Jenny mau tidak mau menuruti keinginan sang ayah, Wajahnya pun seketika menjadi suram Setelah beberapa lama mereka pun sudah siap untuk pergi ke acara perjamuan. Setelah tiba disana sebagian para tamu undangan sudah hadir menempati kursi yang telah disediakan. Ada banyak tamu yang di undang oleh Julian. Mereka merupakan pebisnis dari kalangan atas yang berpengaruh di kota C. Nadia terlihat datang dengan menggandeng Jimmy bersamanya. Para pemegang saham perusahaan Dinata terkejut, karena mereka datang bersama " Itu Jimmy, bagaimana dia bisa datang kesini bersama bu Nadia? Dia kan Dirut dari perusahaan Sanjaya. Apa dia mendapatkan dukungan darinya selama ini? Pantas saja dia bisa memiliki saham perusahaan ini! " Kata salah satu pemegang saham Dinata " Benar, jika bukan karena dukungan dari pemilik perusahaan Sanjaya , dia tidak akan mungkin bisa memiliki uang sebanyak itu. Mungkin karena bu Nadia yang ada di belakangnya selama ini" Kata yang lainnya " Sudahlah, biarkan saja mereka. Toh tamu penting kita kali ini bukanlah mereka, tetapi penerus dari perusahaan Kusuma yaitu Yudha Arya Kusuma " Kata pemegang saham lainnya.. Tak berselang lama yang dinanti pun akhirnya tiba, dengan seorang asisten dan dua pengawal yang mengikutinya di belakang. " Itu kan,,, " Jodi dan Vivian saling menatap satu sama lain. mereka terkejut melihat kedatangan Yudha dengan aura penguasanya Chapter 149 Visual tokoh dalam cerita Reader kan suka minta visual dari Yudha danyang lainnya. Nah sekarang saya coba untuk menghilangkan rasa penasaran reader tentang visual tokoh di novel ini. Saya berusaha menggambarkan sesuai dengan karakter mereka. Kira - kira cocok ga ya ?? ![](http://up.pic.mangatoon.mobi/contribute/fiction/158145/markdown/4856490/1581972607021.jpg-original600webp?sign=90ca900a9b636e617ab4bb182b450565&t=5e72b600) Nadech kira - kira cocok ga nich sebagai visual Yudha? Aura berwibawa dan terkesan dingin ini kayanya sesuai dech ya? Tapi tahu sendiri kan kalau dia udah senyum tu kaya gimana? lesung pipitnya itu loh, ga nahan.. Reader bisa bayangin dech klo dia lagi lembut dan mesra sama Gina kaya gimana ,dan klo dia lagi sadis kaya gimana?? ![](http://up.pic.mangatoon.mobi/contribute/fiction/158145/markdown/4856490/1581972607026.jpg-original600webp?sign=3032ec91222abbf828ac9c529a3ba6d0&t=5e72b600) Klo Yudha- nya Nadech. Gina pastinya cocok sama Yaya dong. Mereka kan sejoli yang sweet abis. Apalagi kesan Yaya yang cantik, elegan, tapi tetap terlihat strong. Reader setuju ga nich? ![](http://up.pic.mangatoon.mobi/contribute/fiction/158145/markdown/4856490/1581972607032.jpg-original600webp?sign=5b05b5ee60bb08478819041e0bbbdff7&t=5e72b600) Ini biar reader bisa bayangin aura yang mengintimidasi dari mereka klo kasih kejutan di acara pesta gitu dech ???????? ![](http://up.pic.mangatoon.mobi/contribute/fiction/158145/markdown/4856490/1581972607043.jpg-original600webp?sign=49bd8bcb6bf9b8703828577a5c157d8c&t=5e72b600) Jangan lupa, bayangin juga klo lagi romantis - romantisan. Sweet abis dech ???????? ![](http://up.pic.mangatoon.mobi/contribute/fiction/158145/markdown/4856490/1581972607035.jpg-original600webp?sign=996be657ab23a4832f71d1d8d7045771&t=5e72b600) Si kembar Biru sama Jingga lucu ga sich? Gemesh dech klo udah liat bayi kembar. ![](http://up.pic.mangatoon.mobi/contribute/fiction/158145/markdown/4856490/1581972607029.jpg-original600webp?sign=09a3c6536ff5b5bf5c4c4290c35fcd54&t=5e72b600) Hendri si asisten kepercayaan tuan Yudha, cocok ga nich? terlihat pendiem tapi pintar. Kadang ada gokilnya juga kan ya, klo lagi liatin atasannya yang lagi aneh.. Waaah mau banget dech punya asisten begini ganteng???????? ![](http://up.pic.mangatoon.mobi/contribute/fiction/158145/markdown/4856490/1581972607038.jpg-original600webp?sign=462935613cc73ebd60c8ffa2fdda8f84&t=5e72b600) Risti yang lembut, pendiam juga sedikit pemalu. Bagaimana cocok ga sama Hendri? Cocokin aja ya? Ga papa, maksa dikit ???????????? ![](http://up.pic.mangatoon.mobi/contribute/fiction/158145/markdown/4856490/1581972607040.jpg-original600webp?sign=06dee47ac991ea1adbd1cd0ab996e123&t=5e72b600) Jimmy si pewaris yang terbuang, cocok ga nich sama Mario? Diem tapi cerdas, bisa juga sedikit main trik. Meskipun triknya masih kalah jauh dibanding ama Yudha ???????? ![](http://up.pic.mangatoon.mobi/contribute/fiction/158145/markdown/4856490/1581972607013.jpg-original600webp?sign=42610903c842d5f0fb6844b3d40dbb07&t=5e72b600) Ini Nadia, si cantik yang pintar. Bisa juga main trik, jadi mukanya agak licik - licik gimana gitu, terkesan jutek juga ya. Tapi cantik banget kan? Cocok ga nich sama Jimmy? ![](http://up.pic.mangatoon.mobi/contribute/fiction/158145/markdown/4856490/1581972607017.jpg-original600webp?sign=24281289619ae838f3d04edf3995e990&t=5e72b600) Dan ini yang terakhir, Satya. Kakaknya Nadia sekaligus salah satu orang kepercayaan Yudha. Gimana menurut kalian cocok ga? Nah kira - kira Satya ini mau dipasangin sama siapa ya? hmmn,, belum ketemu gadis yang tepat nich kayanya ???????? Nah, reader, gimana? sesuai ga sama harapan reader semua?.. Reader bisa bayangin lagi dech tuch, kira - kira visual yang cocok menurut reader tu seperti apa sich. Jadi bisa lebih menjiwai lagi dech kalo lagi baca ini. Jangan lupa ya, like, vote n komentarnya. Terimakasih buat reader yang selalu setia membaca novel ini. Salam sayang selalu ???????? Chapter 150 Jamuan makan siang (II) " Ku kira Yudha itu adalah seorang pria paruh baya yang sudah berpengalaman dalam bisnis. Ternyata dia masih sangat muda! Sungguh tak dapat dipercaya , di usia muda seperti itu, dia sudah menjadi pebisnis no 1 " Jodi dan Vivian masih terkejut bahkan hingga menatap tanpa berkedip sekali pun melihat kedatangan Yudha Julian yang bereaksi cepat, langsung menyambut dengan kedatangan Yudha " Selamat siang tuan Yudha. Senang akhirnya bisa berkesempatan langsung bertemu dengan tuan " Dia mengulurkan tangan dan tersenyum Yudha menerima jabat tangannya dan tersenyum sinis sambil berkata dengan datar " Terimakasih anda sudah mengundang saya.. Meskipun kita tidak pernah mengenal secara langsung. Tapi saya sungguh menghargai niat baik anda " " Kita memang tidak mengenal secara langsung, tapi saya sungguh mengagumi tuan, karena di usia yang masih muda, tuan sudah menjadi pebisnis handal " " Mari, silakan duduk " Julian mempersilakan Yudha duduk dengan menjulurkan tangan pada kursi yang dekat dengannya, mengisyaratkan untuknya duduk. Semua orang menatap Yudha, Namanya memang sering di dengar di kalangan pebisnis, tapi dia sangat jarang sekali muncul di depan umum. Jadi, tidak semua orang dapat mengenalinya secara langsung. " Tuan, Perkenalkan, ini keluarga saya. Ini istri saya. Ini Jenny putri saya dan yang ini Jodi putra sulung saya! " Julian memperkenalkan keluarganya satu persatu. Dan mereka hanya mengangguk dan tersenyum melihat Yudha " Halo tuan Jodi, senang bisa bertemu lagi dengan anda " Yudha menyapa Jodi dengan senyum sinis " Ach iya, tuan. Saya juga senang bisa mengenal anda,,,saya,, saya minta maaf untuk kejadian terakhir kali " Seketika wajah Jodi menjadi pucat, seakan keringat dingin keluar dari tubuhnya. Julian menatapnya heran " Apa yang terjadi diantara mereka? Apa mereka saling mengenal? "Gumamnya " Tidak masalah. Hanya saja, anda harus lebih menjaga sikap anda. Apalagi saya tidak suka direndahkan oleh siapapun! " Yudha memperingati Jodi dengan senyuman sinis dan tatapan yang begitu menusuk. Jodi pun semakin gugup dibuatnya " Baik tuan, sekali lagi saya minta maaf " Jodi menundukkan kepalanya seakan menyesal. " Huh, sombong sekali. Rasanya ingin ku pukul wajah dinginnya itu " Jodi mendengus kesal dalam hati. Disisi lain Jenny terpesona oleh ketampanan Yudha, hingga dia tak berhenti menatapnya " Ternyata tuan Yudha itu begitu tampan. Dia begitu mempesona. Aach andai saja aku yang bisa mendampinginya. Pasti aku akan sangat bahagia. Sudah tampan, berwibawa dan yang pasti dia kaya raya " Jenny bergumam dan berkhayal dalam lamunannya " Ech,, tapi tidak boleh, aku sudah punya Andre yang menyayangiku. Tuan Yudha terlalu tinggi untuk ku gapai. Bagaikan bintang yang tak akan pernah dapat ku raih. Lagi pula, dia juga sudah punya istri yang mendampinginya. Mana mungkin dia tertarik padaku" Jenny menggelengkan kepala lagi, berusaha menyadarkan dirinya sendiri dari khayalannya " Bisakah kita mulai jamuannya? Aku tidak suka membuang waktu sia - sia. Sepertinya tamu yang lain juga sudah lama menunggu " Yudha dengan sikap dinginnya berusaha menghindar dari percakapan yang lebih jauh dengan Julian " Owh iya, tentu. Silakan dimulai " Julian mengisyaratkan MC agar memulai acaranya Acara pun dimulai, semua menikmati jamuan makan siang dengan tenang. Sesekali mereka menoleh dan memperhatikan Yudha yang berada di kursi depan. Dan berbisik seperti membicarakannya. Seperti yang diketahui, kursi paling depan itu biasanya di sediakan untuk orang yang di anggap sebagai tamu kehormatan. Dan kali ini, Yudha yang menjadi tamu kehormatan pada acara jamuan makan siang tersebut. " Lihatlah, semua orang selalu memperhatikan tuan Yudha. Dia memang selalu jadi pusat perhatian. Apalagi jika Gina ada disini. Pastilah semua mata tak berkedip melihat pasangan itu " Nadia berbicara pelan, dengan sedikit menyombongkan badannya kearah Jimmy seperti berbisik " Tentu saja mereka akan selalu jadi pusat perhatian. Tapi, jika nona Gina ikut hari ini. Mereka tidak dapat memancing pamanku untuk mendekatkan Jenny dengan tuan Yudha. Aku yakin paman ku akan mencari kesempatan untuk itu " Nadia mengangguk setuju dengan apa yang dikatakan Jimmy.. Jodi duduk tak jauh dari meja Jimmy dan Nadia. Dia terus memperhatikan mereka berdua. " Siapa mereka itu? kenapa kamu selalu memandangi mereka berdua? " Vivian yang menyadari pandangan Jodi tertuju pada Jimmy dan Nadia akhirnya bertanya, berusaha menghilangkan rasa penasarannya. " Yang wanita itu rekan bisnis perusahaan. Dan yang laki - laki, katanya tunangannya "Jodi berusah menjelaskan kepada Vivian tanpa melihat wajahnya. Pandangannya terus tertuju pada Nadia " Tapi sayang, bukankah pria yang jadi tamu kehormatan itu adalah orang yang pernah kita temui di restoran waktu itu? " " Benar dia adalah pria yang waktu itu di restoran " " Lantas bagaimana? Kita pernah membuatnya tersinggung waktu itu? " " Tidak apa. Aku rasa, dia bukan orang yang mudah tersinggung dengan masalah sepele " Jodi bicara dengan tenang sambil matanya terus memandang ke arah Nadia Chapter 151 Jamuan makan siang (III) Seperti yang diperkirakan sebelumnya, Julian akan mencari kesempatan untuk mendekatkan Yudha dengan Jenny. Jadi saat Yudha ke toilet, Julian meminta Jenny untuk mengikutinya. " Jenny cepatlah kejar tuan Yudha, buat alasan apapun agar kamu bisa mendekatinya! " " Tapi papa, dia itu sudah punya istri dan anak. Aku tidak mau bersamanya! " " Sayang, apa kamu tidak ingin punya suami yang begitu memiliki pengaruh? Dia itu pebisnis no 1, tidak mungkin kalau dia hanya memiliki satu wanita saja. Kamu akan sangat beruntung jika kamu bisa mendapatkannya! Cepatlah Jenny, ini kesempatan bagus untukmu! " Julian terus saja membujuk anaknya " Tapi,,, " " Tidak ada tapi - tapian. Jika kamu bisa mendekatinya perusahaan kita juga akan berkembang dengan pesat " " Baik papa! " Jenny berdiri dengan malas dan menuruti keinginan sang ayah " Bagus, gadis pintar! " Julian tersenyum puas dengan sikap anaknya yang penurut Jenny sudah menunggu Yudha di luar pintu toilet. Setelah dia melihat Yudha, dia pun mendekatinya " Halo tuan Yudha " " Owh, Nona Dinata. Apa yang sedang anda lakukan disini? " Yudha masih bersikap tenang dan santai memandang gadis dihadapannya " Saya,, saya ingin bisa lebih dekat dengan tuan Yudha. Saya ingin lebih mengenal anda! " Jenny memberanikan diri mendekat dan merayu Yudha. Membelai wajah tampan Yudha yang membuat wanita mabuk kepayang Yudha memicingkan mata dan mencibirnya " Maaf nona. Sepertinya anda salah sasaran! " " Tidak tuan, saya benar - benar terpesona dan kagum pada tuan! saya ingin bisa bersama dengan tuan! " Jenny memaksakan dirinya merayu Yudha " Nona, bukankah anda sudah punya kekasih? Bagaimana jika kekasih anda mengetahui kalau anda mencoba merayu pria lain? " Jenny pun seketika terdiam mendengar kata - kata Yudha " Aku cuma memperingati mu saja! Lebih baik kamu tidak mengikuti rencana ayahmu. Kalau tidak kamu akan menyesal nanti. Tapi,,, tidak,,, kamu mengikuti rencana ayahmu atau tidak, itu sama saja. Karena keluarga mu akan tetap hancur ditangan ku! " Yudha menatap Jenny dengan tatapan yang begitu menakutkan. Kemudian berjalan melewatinya dan meninggalkannya sendiri dalam keadaan masih mematung gemetar. " Kenapa? Kenapa dia seperti itu? Bukannya papa bilang dia pasti memiliki banyak wanita diluaran? " Jenny yang masih tidak mengerti dengan perkataan Yudha tetap berdiri dengan kaki gemetar, tanpa bergerak sedikitpun Yudha kembali dari toilet dengan wajah yang kesal, meskipun dia sudah tahu rencana itu sebelumnya. Tapi ketika Jenny benar - benar mendekatinya, dia merasa jijik dan tidak suka. Ia hanya memikirkan Gina dan ingin segera kembali kerumah berada disisi keluarganya . Dia berjalan menuju pintu keluar dengan acuh tak acuh. Hendri dan pengawal yang melihatnya kembali dari toilet langsung menyusulnya. " Kenapa lagi dengan tuan? Bagaimana moodnya tiba - tiba berubah buruk? "Pikir Hendri. Dia tidak menyadari kalau setelah Yudha keluar dari toilet, Jenny pun ikut keluar. Semua orang disana memperhatikan Yudha yang baru saja keluar dari toilet dengan wajah dingin yang menyeramkan, seakan ingin memakan siapapun yang berada didekatnya. Melihat Yudha yang tiba - tiba pergi meninggalkan acara tanpa sepatah katapun itu... Mereka mau tidak mau mulai menebak - nebak apa yang sudah terjadi. Hingga mereka melihat Jenny, putri si pemilik acara juga keluar tak lama setelah Yudha keluar, Mereka pun mulai mengerti kenapa Yudha begitu kesal " Jenny, bagaimana? Kenapa dia pergi begitu saja? " Julian yang tidak sabaran langsung bertanya pada anaknya ," Papa, kenapa papa berbohong kepadaku? papa bilang dia memang menyukai wanita cantik dan dia memiliki wanita selain istrinya? Tapi apa? Dia sama sekali tidak suka dengan wanita lain selain istrinya. Papa benar - benar membuat ku malu! " Jenny menangis dan meninggalkan sang ayah Jimmy dan Nadia saling tersenyum melihat pertunjukan tersebut. " Jadi Jenny benar - benar berusaha menggoda tuan Yudha? Ku kira dia tak akan tergoda oleh ketampanan Yudha dan akan menolak keras rencana ayahnya. Ternyata dia benar - benar mudah.sekali dibujuk oleh ayahnya. Sungguh kasihan sekali! " Nadia tersenyum sinis melihat apa yang dia saksikan " Aku juga terkejut. Ku kira dia akan menolaknya apapun yang terjadi. Mengingat, dia sendiri sudah memiliki kekasih " Jimmy pun terheran - heran dibuatnya " Sekarang sudah bisa dipastikan kamu akan kehilangan kesempatan untuk membalas mereka. Karena tuan Yudha sudah pasti akan menanganinya sendiri " Nadia berkata dengan Yakin sambil tersenyum mengejek Jimmy " Ya, sepertinya begitu. Mereka telah menggali lubang kuburnya sendiri. Padahal aku ingin berlama - lama memainkannya. Sepertinya sekarang tidak akan lama lagi " Jimmy mengangkat bahu dan berbicara dengan nada kecewa pada Nadia Chapter 152 Mereka tidak dapat membedakan antara terjebak dan dijebak Yudha pulang dalam keadaan kesal. Itu nampak jelas dari wajahnya, Hendri pun tidak berani mengeluarkan suara. Suadana dalam mobil menjadi tegang dan begitu mencekam. Yudha tidak memutuskan untuk kembali ke kantor, tapi langsung pulang kerumah, untuk bertemu dengan istri kesayangannya dan meredakan amarahnya. " Hendri, kita langsung pulang kerumah. Kamu yang tangani sisanya hari ini! Siapkan juga informasi mengenai perusahaan itu sedetil - detilnya. Jangan sampai ada yang terlewat! " " Siap bos! Kenapa Julian Dinata berani mencari mati dengan menjadikan anaknya sebagai umpan? Dasar bodoh! Dia tidak tahu bagaimana cara tuan menghancurkan orang yang telah menyinggungnya! " Pikir Hendri sambil menggelengkan kepala Tak lama mereka pun tiba dirumah Yudha. Hendri dan kedua pengawal langsung kembali lagi ke kantor. Ceklek,, terdengar suara pintu yang terbuka Gina yang sedang berada di ruang keluarga bersama si kembar dan dua baby sitter yang membantunya pun langsung menoleh ke arah pintu. Kedua baby sitter sedikit membungkukan badan dan beranjak ke belakang meninggalkan pasangan itu. Gina bisa melihat jika suasana hati sang suami sedang tidak baik. Dia menghampiri sang suami sambil tersenyum dan duduk disampingnya " Ada apa? Bukankah kamu baru saja kembali dari jamuan makan siang perusahaan Dinata? Apakah terjadi sesuatu disana? Kenapa wajahmu terlihat begitu kesal? " Pancaran cinta, kasih sayang dan perhatian, terlihat jelas di mata Gina Yudha langsung meraih Gina ke dalam pelukannya dan mendekapnya dengan begitu erat. Menghilangkan segala amarah dan kekesalan yang mengganjal di dadanya. " Aku sedang kesal, apakah mereka menganggap ku sebagai pria yang mudah terjebak dengan wanita manapun? Meskipun kita sudah tahu sebelumnya, kalau dalam acara itu Julian memiliki rencana mendekatkan ku dengan anaknya. Tetap saja saat dia mendekati ku, aku merasa jijik dan kesal. Aku benar - benar tidak menyukai berada di dekat wanita - wanita itu. Jelas terlihat bahwa mereka memiliki banyak ambisi, mereka hanya ingin memanfaatkan ku dan menjadikan ku sebagai batu loncatan mereka saja. Tidak seperti saat bersamamu. Aku ingin selalu bersama dan tidak ingin jauh darimu. Apapun yang kamu inginkan, aku bersedia melakukannya. Mulai sekarang aku akan selalu mengajakmu kamana pun. Aku tidak ingin didekati oleh sembarangan wanita lagi. Itu sungguh menyebalkan! " Gina terbahak melihat sikap sang suami " Hahaha,, Sayang, sejak kapan kamu jadi begitu mudah emosi. Ini tidak seperti mu yang biasanya selalu tenang dan mengontrol emosimu. Ini cuma masalah kecil. Untuk apa kamu membuang energi dan tenagamu untuk hal yang tidak penting? Dengarkan aku, meskipun banyak wanita yang berusaha mendekatimu. Tapi aku percaya padamu. Kamu hanya untukku dan tidak akan kubiarkan wanita manapun merebutmu dariku! Dan untuk mereka, sekarang kita punya alasan menanganinya secara langsung . Karena mereka sendiri yang telah menggali kuburannya, maka aku yang akan menangani mereka. Mereka tidak dapat membedakan antara terjebak dan dijebak" " Gina tertawa riang dan senyuman licik juga terselip di bibir manisnya. Ditempat lain Julian yang sedang bingung berusaha mendesak sang putri untuk menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi " Jenny putriku, jelaskan pada papa apa yang terjadi antara kamu dan Yudha? Kenapa dia langsung pergi begitu saja? " " Papa, Yudha tidak menginginkan wanita lain selain istrinya. Dia yang mengatakannya sendiri. Dia tidak suka didekati oleh wanita lain, selain istrinya! Aku sungguh malu papa. Aku sudah kehilangan muka didepannya" Jenny berteriak karena kesal. Dia begitu sedih mengingat perlakuan dingin Yudha, hingga dia menitikan air mata " Omong kosong! Bagaimana bisa dia menolak gadis cantik seperti mu? Bagaimana juga dia bisa begitu setia terhadap istrinya. Itu sungguh tidak masuk akal. Kita harus mencari cara lain untuk bisa mendekatinya! " Tatapan Julian terlihat begitu dingin " Sudahlah papa, aku sudah pernah melihat istrinya. Dia memang begitu cantik meskipun saat kami bertemu dia dalam keadaan hamil " Jodi datang dan ikut bergabung dengan ayah juga adiknya " Itu saat dia hamil. Setelah melahirkan bentuk tubuh wanita akan berubah. Pasti kita punya celah untuk menjebaknya dan membiarkan dia masuk dalam perangkap kita! " Julian masih bersikeras mencari cara agar mendapatkan dukungan dari Yudha . Tanpa dia ketahui, dialah yang telah masuk dalam perangkap Gina. Karena dia telah bekerja sama dengan perusahaannya dan juga Gina telah menjadi salah satu pemegang saham terbesar dalam perusahaan Dinata! Chapter 153 Mencari gara - gara Beberapa hari kemudian terjadi kesalahan dalam produksi body lotion milik perusahaan Dinata. Ada beberapa konsumen yang mengeluhkan alergi setelah memakai body losion tersebut. Nadia sedang berada di dalam kantor perusahaan Sanjaya, dia sedang membahas beberapa hal bersama Risti. Drrttt drrrrt Tiba - tiba ponselnya berdering, dan itu dari salah satu pegawai yang mengawasi di perusahaan Dinata " Ya Halo " " Halo, bu. Kita dalam masalah besar! Ada banyak keluhan dari konsumen yang memakai body losion kita. Mereka mengeluh kulitnya panas, muncul bercak - bercak merah dan juga gatal. Kami sedang memeriksa ulang kandungan dari body losion kita! " Terdengar pria dari seberang telepon menjelaskan duduk perkara yang terjadi begitu Nadia mengangkat teleponnya " Bagaimana dengan korbannya? Apakah ada yang mengalami gejala yang serius? " Mata Nadia terbelalak begitu mendengar masalah yang terjadi " Sejauh ini tidak ada, mereka sudah pergi ke rumah sakit dan sudah diberi obat anti alergi .Tapi polisi mulai menyelidiki ulang bahan dan cara pembuatan body losion kita " " Baiklah, terimakasih. Aku akan segera pergi kesana! " Nadia langsung menutup telepon dan bersiap untuk segera berangkat " Ada apa mba? Sepertinya ada masalah yang serius? " Risti yang berada di depannya terlihat penasaran dengan apa yang terjadi " Ada masalah dengan body losion hasil kerja sama kita dengan perusahaan Dinata. Banyak yang mengeluh alergi setelah menggunakan body losion nya. Aku harus segera mengecek kesana. Kamu kabari Gina ya! " Setelah Risti mengangguk, barulah Nadia bergegas pergi menuju kota C Ristipun langsung menghubungi Gina Tut,, tut,, tut " Halo " Setelah terdengar suara Gina Risti pun langsung berbicara " Halo mba Gina. Kita memiliki masalah di perusahaan Dinata mba! " Risti terdengar begitu panik " Tenang dulu Ris. Jelaskan semuanya pelan - pelan! " " Gini mba. Tadi seseorang dari perusahaan Dinata menghubungi mba Nadia. Dia bilang ada masalah dengan body losion yang di produksi disana. Katanya banyak yang memakai body losion mengajukan pengeluhan karena terjadi iritasi pada kulit mereka! Mereka sudah mulai meneliti lagi bahan dan cara yang digunakan dalam proses pembuatan, karena sebelumnya tidak ada masalah kemungkinan ada unsur kesengajaan disini. Mba Nadia langsung bergegas kesana " " Baiklah, aku sudah mengerti. Kamu hendel dulu sendiri masalah di kantor. Biarkan Nadia menyelesaikan masalah disana! " " Baik mba, saya mengerti! " " Hmn, ini kesempatan bagus! " Gumam Gina disertai senyum licik. Dia pun segera menghubungi Jimmy " Hallo Jimmy. Kamu sudah mendengar masalah di perusahaan Dinata? " " Iya nona, saya baru saja mengetahuimya dari Nadia " " Kamu cari petunjuk kesengajaan di perusahaan pamanmu itu. Aku yakin mereka telah mulai mencari gara - gara . Dan aku akan masuk dalam perusahaan itu! " " Baik nona. Saat di adakan rapat pemegang saham, saya akan memberitahukan pada nona " Jimmy kemudian munutup panggilannya dan bergumam " Keluarga paman benar - benar akan segera berakhir " Jimmy mulai menggelengkan kepalanya Setelah melalui perjalanan yang cukup jauh, Nadia akhirnya tiba di kota C. Tepatnya di perusahaan Dinata. Dia langsung masuk dan menuju ruangan Jodi. Karena mereka sudah mengenal Nadia, jadi dia langsung di izinkan masuk tanpa harus menunggu lama " Permisi, pak Jodi " Jodi langsung menoleh setelah mendengar suara Nadia " Oh nona Nadia, silakan masuk! " Nadia langsung melenggang masuk setelah mendapat izin dari penanggung jawab proyek ini " Bagaimana masalah ini bisa terjadi? Bisa anda jelaskan pada saya! " Nadia terlihat begitu serius dan tegas " Begini nona. Kami sedang meneliti dibagian mana kesalahan ini mulai terjadi. Jadi saya mohon anda bersabar untuk menunggu hasilnya keluar! " " Kalau begitu, segera hentikan proses produksi dan tarik produknya dari pasaran! Saya tidak mau kalau nantinya semakin banyak orang yang mengeluh dan malah memperburuk keadaan! " Terlihat sekali dari sorot mata dan kata - katanya kalau Nadia sedang kesal " Menarik semuanya? Bagaimana itu bisa dilakukan? Bisa saja kan memang ada sebagian orang yang memang kulitnya tidak cocok dengan body losion kita, kenapa kita harus menarik semuanya dari pasaran? " Jodi mengerutkan kening tak setuju " Gawat kalau sampai semuanya ditarik. Aku mengganti dengan bahan kualitas rendah agar mendapat lebih banyak keuntungan. Kalau ditarik, justru bisa jadi kerugian besar " Pikir Jodi dalam benaknyaaa " Anda harus memberikan instruksi untuk menatik semuanya. Kalau tidak akan lebih buruk lagi masalah yang ditimbulkan! Paling tidak hingga dinyatakan bahwa semuanya tidak ada masalah! " Nadia bersikeras dengan apa yang menjadi keputusannya " Bodoh! Dia pikir bisa menikmati hasil yang lebih jika dia menghancurkan reputasi perusahaan Sanjaya. Jangan mimpi! " Batin Nadia mencibi Chapter 154 Akan ku tunjukkan, siapa aku sebenarnya! Masalah body lotion masih dalam pemeriksaan pihak terkait. Tidak ada aktivitas dipabrik selama masih dalam pemeriksaan dan juga body losion telah ditarik sementara dari pasaran. Karena itu Jodi dan Julian mulai merasa panik " Papa, bagaimana ini? Papa bilang ini rencana yang bagus? Kita bisa mendapatkan keuntungan lebih dari ini. Tapi nyatanya sekarang kita malah mengalami kerugian besar akibat ini semua " Jodi terlihat kesal dan bertanya kepada sang ayah " Papa juga tidak tahu. Papa pikir itu tidak akan jadi masalah jika kita mengganti bahan pembuatannya. Toh jenisnya sama, hanya kualitas saja yang berbeda. Ternyata ini malah berakibat fatal untuk kita! Dan lagi, si Nadia itu. Langsung saja dia memberikan perintah untuk menarik semua produk yang beredar dipasaran. Ini jadi menambah besar jumlah kerugian kita! " Julian mendengus kesal atas apa yang sedang terjadi . " Pa, sekarang apa yang harus kita lakukan? Para pemegang saham akan mengadakan rapat darurat untuk situasi ini. Aku yakin mereka akan mencari celah untuk menyalahkan kita! Dan lagi,, Jimmy sekarang merupakan salah satu pemegang saham perusahaan kita juga. Aku yakin dia akan mencari kesempatan untuk menjatuhkan kita " Terlihat wajah kesal dari pasangan ayah dan anak tersebut " Aku juga tidak tahu. Tapi bukankah Jimmy bilang tidak menginginkan jabatan di perusahaan? Semoga apa yang dikatakannya benar " " Kakak, papa. Apa yang terjadi dengan perusahaan kita? Aku dengar sedang terjadi masalah serius di perusahaan? " Jenny datang menemui kakak dan ayahnya " Iya, kami sedang mencari jalan keluar dari masalah ini. Apa kamu memiliki ide yang bagus sayang? " Julian yang bingung malah bertanya pada sang putri. Padahal jelas dia tidak memiliki pengalaman dalam bisnis . " Jangan tanyakan padaku pa. Aku sama sekali tidak mengerti bisnis! " Jenny membuang muka kesal " Kamu ini ya, benar - benar tidak bisa diharapkan! " Julian yang semakin kesal terus saja menggerutu ======== " Nona, akan di adakan rapat dadakan di perusahaan Dinata besok siang untuk membahas masalah yang terjadi saat ini. Apa anda bisa hadir Disana? "Jimmy sedang menghubungi Gina untuk memberitahukan adanya rapat Gina terlihat tersenyum setelah mendengar apa yang dikatakan Jimmy. " Tentu saja aku akan hadir dalam rapat penting itu. Aku sudah menantikan saat ini. Jangan lupa untuk membawa dokumen yang sudah kita persiapkan. Kita jatuhkan mereka dalam satu kali tembakan! " " Baik nona! "panggilan pun berakhir, Gina tersenyum puas membayangkan rencananya " Kenapa kamu terlihat begitu senang sekali? Apa ada sesuatu yang bagus? " Yudha ikut tersenyum melihat wajah berseri istrinya. Diapun mendekat dan merangkul istrinya " Besok aku akan pergi ke kota C. Mungkin Biru dan Jingga akan aku titipkan dulu dirumah kakek dan nenek. Apa tidak masalah jika meminta mereka untuk membantu kita mengawasi anak - anak kita? " Gina sedikit ragu saat bertanya pada sang suami yang duduk disampingnya dan menjadi sandaran untuk tubuhnya " Tidak apa, mereka justru akan menyukainya. Lagi pula pengasuh mereka akan ikut. Kakek dan nenek hanya mengawasi saja. Itu tidak akan terlalu melelahkan! " " Aku berencana akan menjatuhkan Julian dan anaknya dalam satu kali tembakan . bagaimana menurutmu? " " Apa kamu sudah mendapatkan bukti dari setiap kejahatannya? " " Aku sudah meminta Jimmy mengumpulkannya , termasuk bukti bahwa Jimmy tidak bersalah. Akan ku jebloskan mereka ke dalam penjara! " Ada kilatan berbahaya saat Gina mengatakannya. " Baiklah, kamu bisa atur Semuanya! Hmn,,, Haruskah aku ikut bersama denganmu? " Terlihat raut wajah Yudha begitu tegas, juga khawatir diwaktu yang bersamaan Gina mengerutkan dahi mendengar Yudha " Sayang, aku hanya bekerja. Dan kamu juga harus ke kantormu besok, jadi biarkan aku membereskannya sendiri saja, oke? " Yudha menganggukkan kepala meskipun raut wajahnya masih terlihat tidak senang " Sayang, kamu tidak perlu khawatir. Aku hanya ingin menunjukkan kepada mereka, siapa Gina Yulia Kusuma. Berani - beraninya mereka berusaha untuk merebutmu dariku dan menghancurkan hubungan kita. Aku tidak akan membiarkan itu. Sudah cukup aku hanya diam dan tidak berkata apapun. Sekarang aku akan menunjukkan kepada seluruh dunia, siapa aku sebenarnya. akulah istri dari tuan Yudha Arya Kusuma. Kamu hanya milikku! " Yudha tersenyum nakal kepada sang istri " Apakah kamu yakin? Dengan kamu menunjukkan dirimu, maka dunia bisnis akan gempar, terutama dengan datangnya wanita cantik ke perusahaan mereka, Dan sudah pasti ,kalau kamu akan jadi pusat perhatian " Yudha berusaha mencegah rencana Gina "Aku tidak peduli. Aku tidak akan bersembunyi lagi. Dan aku sudah siap menghadapi dunia bisnis yang rumit ini! Akhirnya Yudha setuju untuk Gina terjun langsung ke dunia bisnis dan membuka identitas aslinya di kalangan pebisnis. Chapter 155 Rapat pemegang saham Rapat pemegang saham akan segera dilaksanakan. Satu persatu pemegang saham mulai memasuki ruangan. Disana sudah yerlihat Julian dan Jodi duduk di kursi yang berdampingan. Mereka masih menunggu kedatangan Jimmy, dan tentunya Gina Gina sudah dalan perjalanan. Sebelumnya dia sudah meminta kakek dan nenek Yudha untuk menjaga Biru dan Jingga sementara dia pergi. Meskipun ada dua pengasuh yang menjaga anaknya, tapi mereka harus tetap waspada, agar tidak terjadi sesuatu yang tidak di inginkan kepada putra putrinya. Jimmy sudah sampai di perusahaan Dinata. Dia pun menghubungi Gina " Halo nona, saya sudah sampai di perusahaan Dinata " Katanya begitu terdengar telepon tersambung " Baiklah, aku akan segera tiba disana! " Gina pun menutup panggilan teleponnya Jimmy memutuskan untuk masuk dsn menunggu di ruang rapat Ceklek Suara pintu yang terdengar oleh peserta rapat mengalihkan perhatian mereka " Selamat siang semuanya! " semuanya menoleh ke arah sumber suara, terlihat Jimmy yang masuk dengan membawa tas kerja ditangannya. Diapun duduk di salah satu kursi yang sudah disediakan " Bisa kita mulai rapat kita hari ini? " Julian berdiri untuk memulai rapat " Tunggu! masih belum. Kita masih harus menunggu seorang tamu penting yang belum hadir disini! " Jimmy menyela agar rapat tidak dimulai dulu Semua saling menoleh satu sama lain. Mereka saling berbisik menanyakan siapa kiranya yang belum hadir. Semua pemegang saham sudah ada disana. Siapa lagi yang harus mereka tunggu? Jimmy tidak memberitahukan siapa lagi yang akan datang disini. " Semua sudah berada disini. Siapa lagi yang harus ditunggu? "Jodi terlihat bingung harus menunggu siapa " Sabar saja, sebentar lagi dia pasti sampai? " Jimmy tersenyum dengan tenang tanpa memberitahukan siapa orang yang ditunggu Mereka pun menunggu, ruangan ricuh dengan orang - orang yang saling bercerita satu sama lain Tak lama terdengar lagi suara pintu dibuka Ceklek Gina muncul disana dengan Nadia yang mengikutinya . Dia terlihat begitu elegan dengan setelah kerja formal yang dikenakannya, disertai sepatu hak tinggi dan tas yang ada ditangannya " Permisi, maaf semuanya. Saya sudah membiarkan kalian semua menunggu! "Gina berjalan dengan begitu anggun. Membiarkan semua orang menatap kagum dan penasaran secara bersamaan Semua orang saling bergumam " Siapa wanita ini? Dia begitu cantik dan aura kehadirannya begitu jelas! " " Bukankah dia,,,, Kenapa dia ada disini? Apakah Yudha ada hubungannya dengan ini semua? "Jodi terbelalak melihat kedatangan Gina. Dia tahu kalau Gina adalah istri Yudha Jimmy berdiri dan menyapa Gina " Selamat datang nona. Semua sudah menunggu anda! "Dia begitu sopan hingga semua mulai bertanya - tanya lagi " Sebenarnya siapa wanita ini? Kenapa Jimmy begitu sopan terhadapnya? Dan Nadia juga ikut hadir bersama dengannya? " Julian yang tidak mengenal Gina pun akhirnya bertanya karena penasaran " Maaf, nona ini siapa? Ada urusan apa anda disini? Saya rasa ini bukan rapat umum yang bisa anda hadiri seenaknya! " Gina hanya tersenyum sinis mendengar perkataan Julian " Saya Gina Yulia Kusuma, istri dari Yudha Arya kusuma. Sekaligus satu - satunya penerus Sanjaya Grup dan saya juga pemilik 30% saham perusahaan ini! " Semua orang tercengang dengan apa yang baru saja mereka dengar. Mereka kembali saling menatap tak percaya satu sama lain. Terutama Julian. Dia tidak bisa membayangkan kalau Istri Yudha begitu cantik. Meskipun dia sudah melahirkan, bentuk tubuhnya tetap terjaga sempurna. " Bukankah dia hanya ibu rumah tangga yang sudah memiliki dua orang anak? Tapi tetap saja dia begitu cantik. Pantas saja tuan Yudha tidak menyukai wanita lain selain istrinya " Gumam Julian dengan mata yang masih membelalak tak percaya " Tentu kalian sudah bisa menebak untuk apa saya berada disini, kan? Dengan masalah yang kalian timbulkan pada perusahaan saya, tidak mungkin saya hanya diam saja. Jimmy tolong bagikan bukti kecurangan mereka! " " Baik nona! " Jimny mengangguk dan mulai membagikan laporan hasil kecurangan mereka. Para pemegang saham lain mulai membuka dokumen itu satu persatu Semua rinciannya begitu jelas. Informasi yang didapatkan begitu lengkap Disana terdapat bukti pembelian dari bahan baku yang mereka gunakan, juga pengalihan dana dari perusahaan ke akun pribadi mereka. Semua menatap tak percaya. Itu sudah terjadi sejak lama dan itu artinya Jimmy sama sekali tidak bersalah " Kalian tahu kalau proyek kalian bekerja sama dengan perusahaan ku! Bagaimana bisa kalian menimbulkan masalah yang membuat nama perusahaan ku tercoreng? Pantas saja perusahaan ini jalan ditempat saja. Ternyata di pimpin oleh pemimpin yang tidak bertanggung jawab seperti kalian! Aku tidak suka dipermainkan dan di anggap remeh. Kalian harus membayar semuanya dengan adil! " Meskipun bicaranya tetap tanang tapi Gina terlihat begitu kesal Chapter 156 Tidak akan ada yang berani mengganggu keluarga Kusuma Semua orang diam mematung tanpa mengeluarkan Suara. Julian dan Jodi gemetar mendengar ucapan Gina " Tapi bukankah perusahaan itu milik nona Nadia? "Julian memberanikan diri untuk buka suara meskipun terlihat wajahnya pucat " Bukan berarti kalau orang lain yang memegang kendali perusahaan, kalian tetap bisa berbuat seenaknya! Tentu kalian tahu, kalau perusahaan Sanjaya itu merupakan salah satu perusahaan besar dari 5 kerjaan bisnis yang ada. Meskipun ini hanya cabang dari perusahaan kakek yang diluar negeri. Ini tetaplah bagian dari Sanjaya Grup. Dan meskipun aku seorang wanita, tetap tidak ada seorang pun yang berhak meremehkan aku! Karena aku adalah pewaris utama Sanjaya Grup. Ini hanyalah perusahaan kecil yang tidak ada apa - apanya! " Terlihat pancaran kemarahan dari matanya. Dia begitu tegas dengan setiap kata yang keluar dari mulutnya, kelembutannya sebagai seorang wanita pun hilang seketika saat dia mulai berbicara Tok tok tok Suara ketukan pintu pun berhasil meredam ketegangan untuk sementara waktu, memecahkan keheningan dalam ruangan itu Ceklek Terlihat beberapa polisi mulai memasuki ruangan " Permisi nyonya Kusuma! " Polisi itu menyapa Gina dengan sopan " Silahkan pak. Tangkap Julian dan Jodi Dinata! Bawa mereka pergi dari sini! Aku menuntut mereka atas tuduhan penipuan, korupsi, pencemaran nama baik dan juga perlakuan tidak menyenangkan. Ini bukti yang kami kumpulkan. Anda bisa menginterogasi mereka untuk mencari bukti tambahan! " "Baik nyonya. Tuan tuan, silakan ikut kami ke kantor polisi! " Para polisi menggandeng Julian dan Jodi untuk dibawa ke kantor polisi " Tunggu pak! Nyonya, kenapa kamu melakukan ini pada kami? "Julian berteriak geram pada Gina " Kenapa? "Karena kalian telah berusaha mengambil keuntungan dari kerja sama kita dan juga kalian berusaha menjebak suamiku! " Julian terpaku mendengar alasan Gina " Apa? Karena waktu itu aku meminta Jenny mendekati Yudha? Dia marah dan menghancurkan ku karena itu? " Gumam Julian yang masih tak percaya " Dan kau, Jodi, kau telah berani merendahkan suamiku! Dengan uang yang tak seberapa mu itu. Kau berani menghina suamiku! " Tatapan Gina terlihat begitu menakutkan " Tapi aku tidak sengaja. Aku tidak tahu kalau dia adalah tuan Yudha! " Jodi mencoba membela diri " Hah, jadi maksud mu, kamu bisa merendahkan orang lain seenaknya jika mereka bukan siapa - siapa, begitu? Dan kamu akan menyanjung - nyanjungnya kalau dia memiliki harta juga kedudukan? Sungguh tidak tahu malu! " Gina mencibir dengan kesal kepada pasangan ayah dan anak itu " Tidak, bukan itu,,, " Jodi kehabisan kata - kata wajahnya tampak begitu pucat " Pak polisi bawa mereka, sekarang! Aku sudah tidak ingin melihat mereka! " " Baik! " " Tunggu pak polisi. Nyonya, tolong lepaskan kami. Kami menyesal! Kami tidak akan melakukan kesalahan itu lagi. Tolong berikam kami kesempatan. Nyonya! Nyonya! " Mereka berdua terus berteriak hingga polisi membawa mereka dengan paksa dari perusahaannya sendiri dan menjadi pusat peehatian dari karyawannya. Semua orang dalam ruangan itu tertegun, melihat apa yang terjadi. Kemarahan nyonya Kusuma benar - benar menakutkan. Mereka tahu kalau Yudha begitu menakutkan, tapi untuk nyonya ini, ,, mereka baru pertama kali melihat yang seperti ini. Bahkan Nadia dan Jimmy yang telah mengenal Gina juga tidak menyangka dengan kemarahannya. Mereka semua masih ternganga melihatnya. " Karena sekarang sudah terbukti Jimmy tidak bersalah, maka aku ingin kamu kembali memiliki perusahaan ini. Saham mereka akan di urus secepatnya dan di kembalikan atas namamu! " Perkataan Gina berhasil memecah ketegangan " Terimakasih banyak nona! Berkat anda, saya berhasil membuktikan kalau saya tidak bersalah. Anda sudah mengembalikan nama baik saya! " Jimmy sedikit membungkuk kepada Gina " Tidak masalah. Saya mau, sekarang kamu kembali memegang kendali perusahaan ini. Buktikan kalau kamu bisa lebih baik dari paman dan sepupu mu itu. Kalau perlu kamu lakukan perombakan total mengenai struktur organisasi di perusahaan ini. Jangan biarkan orang - orang yang licik memegang kendali kekuasaan " Tatapan Gina mengedar ke semua anggota dewan perusahaan Deg,, mereka terpaku, gemetaran oleh tatapan Gina. Meskipun Gina seorang perempuan, tapi mereka telah melihat bagaimana cara Gina bertindak. Tidak akan ada yang berani mengganggu keluarga Kusuma. Kecuali mereka ingin mati!! Chapter 157 Tidak apa jika kamu jahat, karena aku bisa lebih jahat darimu! Setelah Gina meninggalkan perusahaan Dinata, Jimmy mengambil alih semuanya dan memberikan instruksi. Mulai sekarang perusahaan Dinata telah kembali ke tangan pemilik aslinya! Gina pulang kerumah dengan wajah yang berseri - seri. Kakek Wijaya dan nenek Julia masih berada dirumah mereka, karena menemani Biru dan Jingga. Begitu Gina masuk kerumah, kakek Wijaya yang menyambutnya terlebih dahulu " Kamu sudah pulang nak! " Pria tua itu tersenyum ketika menyapa Gina " Hai kek, iya aku sudah kembali! " Gina pun tersenyum membalas sambutan kakek mertuanya " Duduklah disini, ada yang ingin kakek bicarakan dengan mu! " Wijaya menepuk sofa disebelahnya, mengisyaratkan agar Gina duduk disana " Ada apa kek? sepertinya ada masalah serius? " Gina mengerutkan dahi melihat tingkah kakek Wijaya, sambil mengikuti perintah sang kakek untuk duduk " Begini, resepsi pernikahan kalian, belum di adakan. Kalian juga sudah memiliki si kembar. Bagaimana kalau kita adakan pesta pernikahan sekaligus pesta penyambutan untuk buah hati kalian! " " Untuk apa kek? Kami sudah menikah buku nikahnya juga sudah ada. Kakek juga sudah menunjukkan sebelumnya, kalau aku menantu kalian. untuk apa lagi sebuah pesta? " Gina tidak menyetujui pesta pernikahan, karena dia sangat tidak suka keramaian " Kakek ingin semua orang dari kalangan bisnis tahu, kalau kamu ini adalah cucu menantu kakek! " Ceklek Tiba - tiba terdengar suara pintu dibuka. Gina dan kakek Wijaya menoleh ke arah pintu masuk dan dilihatnya Yudha yang baru saja kembali dari kantor. Gina langsung berdiri, menatap suaminya sambil tersenyum manis menyambut kepulangan sang suami. Dia membantunya membukakan jas yang dia kenakan juga meraih tas kerja yang dibawanya. Yudha pun menikmati apa yang dilakukan sang istri, kemudian mencium keningnya dengan penuh kelembutan Ehem ehem " Apa kalian lupa, ada kakek disini? " Deheman sang kakek tidak Yudha pedulikan " Owh, ku kira tidak ada orang " Jawab Yudha dengan wajah datarnya. Gina tersenyum melihat itu " Kamu ini ya, dasar cucu tidak pengertian! " Kakek Wijaya dibuat kesal oleh sikap acuh tak acuh cucunya " Ku kira kakek dan nenek sudah pulang " Yudha duduk di seberang sang kakek, menunggu Gina yang tengah mengambilkan air. Setelah Gina kembali dengan membawakan air untuk Yudha dia duduk di sebelahnya. " Dimana Biru dan Jingga " Yudha menoleh kepada sang istri, bwrtanya dengan lembut. Dengan sebelah tangan melingkar di pinggang Gina " Sepertinya mereka didalam bersama nenek. Aku juga balum lama kembali " " Kalian ini jika sudah bersamaan, melupakan semua yang ada di sekeliling kalian. Bahkan keberadaan ku saja tidak kalian hiraukan! " Kakek Wijaya mendengus kesal meninggalkan pasangan itu " Kenapa dengan kakek sayang? " Yudha heran dengan sikap aneh kakeknya yang tiba - tiba, hingga dahinya pun mengkerut " Kakek tadi menanyakan padaku untuk membuat pesta pernikahan. Ku bilang tidak perlu. Lagipula kita sudah menikah secara sah dan juga sudah punya sikembar. Sepertinya kakek marah? " Yudha hanya mengangguk - anggukan kepala berkali - kali. Hingga akhirnya dia teringat apa yang dilakukan istri kesayangannya hari ini " O iya, bagaimana hari ini? apa kamu bersenang - senang sayangku? "Yudha tersenyum nakal sambil memegang dagu sang istri " Aku berhasil menjebloskan mereka kedalam penjara. Aku jamin, tidak akan ada yang berani melawan kita lagi mulai dari sekarang. Dan, tidak akan ada perempuan manapun yang berani lagi mencoba mendekati suamiku. karena kamu hanya milikku saja. Aku tidak ingin lagi berbagi dengan wanita manapun! " " Hahaha.. Nyonya Kusuma sangat pandai. Aku suka nyonya ku bersikap tidak mudah kepada siapa pun! " " Tapi tuan, apa menurutmu aku ini tidak terlalu jahat? " " Tidak apa jika kamu jahat sekali pun. Karena aku bisa lebih jahat darimu sayang. Jadi tidak usah hiraukan perkataan orang lain. Yang terpenting, kamu melindungi dirimu sendiri, jangan biarkan orang lain memandang rendah dirimu dan menindasmu. Ingat! Kamu istri dari Yudha Arya Kusuma, tidak boleh mudah ditindas orang, hanya kamu yang boleh menindas orang! " " Baiklah tuan, aku akan mengingatnya. Lagi pula aku ini pewaris dari Sanjaya Grup. Tidak benar jika aku direndahkan orang lain! Chapter 158 Maukah kamu menikah denganku? Setelah Julian dan Jodi di tangkap oleh polisi. Semua aset yang mereka miliki, kembali di serahkan kepada Jimmy. Monik membawa Jenny untuk tinggal di pedesaan, tempat orang tua Monik berasal . Mereka dari kalangan biasa saja. Mungkin karena itu Monik suka sekali berfoya-foya. Rumah mereka juga tidak terlalu luas. Berbeda jauh sekali dengan rumah yang sebelumnya Jenny tempati. Rumah yang bahkan sangat luas " Mama, apa benar kita harus tinggal di desa seperti ini? rumahnya sangat kecil dan juga disini sangat jauh dari kota. Aku tidak mau disini. Kita setuju saja dengan tawaran kak Jimmy untuk bekerja di perusahaan! " Jenny melihat sekeliling dan dia yang sangat manja dan biasa berlimpah materi sebelumnya, tidak dapat membayangkan jika harus hidup di pedesaan seperti ini. " Tidak, kita tidak butuh bantuan dari dia. Kita pasti bisa hidup sendiri. Dulu mama besar disini. Mama yakin, nanti kamu juga akan terbiasa disini! " " Aku tidak mau. Aku akan kembali ke kota C dan mencari pekerjaan sendiri! " Jenny berbalik dan meninggalkan sang ibu " Jenny, kembali. Kamu mau pergi kemana? " Jenny tetap pergi tanpa menghiraukan panggilan ibunya, meskipun ibunya telah berteriak sekuat tenaga untuk memanggilnya. Dia mengambil ponsel yang ada di dalam tasnya dan menghubungi Andre " Andre,,, " Jenny memanggil namanya dengan nada yang lemah setelah telepon tersambung " Jen, kamu dimana sayang? Aku sudah mencari dirumahmu tapi tak ada! " Andre terdengar begitu panik dan Jenny tersenyum setelah mendengar perhatian kekasihnya itu " Aku sedang dalam perjalanan pulang. Mama memaksaku ikut dengannya ke desa. Tapi aku akan segera kembali. Aku memutuskan kerja bersama kak Jimmy " " Baguslah kalau begitu, aku senang mendengarnya. Aku akan selalu mendukung mu! " " Terimakasih sayang! " Jenny menutup panggilan kemudian menghubungi Jimmy Drrt drrt Jimmy menatap ke layar ponselnya dan menerima panggilan dari sepupunya itu " Halo Jen! " " Halo kak, kak, aku,, aku,,, " Jenny terbata - bata saat mengatakan tujuannya " Katakan saja, ada apa? " Suara Jimmy terdengar begitu tenang " Bolehkan aku bekerja di perusahaan? Aku tidak tahu harus bekerja apa. Aku tidak punya pengalaman kerja dan juga tidak ada tempat tinggal " " Kamu kembali saja kesini. Kamu bisa tinggal denganku dan bekerja di perusahaan. Tapi kamu akan bekerja sebagai karyawan biasa disana " " Iya kak, tidak apa. Yang penting aku punya tempat tinggal dan pekerjaan " Jenny terdengar begitu senangnya " Terimakasih ya kak. Maaf juga atas perlakuan keluarga ku pada kakak " " Iya tidak apa. Kakak tunggu di rumah ya. Hati - hati! " Jenny dan Jimmy pun mengakhiri panggilan telepon mereka " Apa Jenny akan tinggal denganmu? " Jimmy sedang bersama dengan Nadia di ruangannya " Iya. Kamu tidak keberatan kan? " Jimmy tersenyum nakal kepada Nadia " Kenapa aku harus keberatan? Dia itu kan adik sepupu kamu. Tidak mungkin kamu berniat mengkhianati ku dengan sepupu mu itu kan, hah? " Perkataan Nadia terdengar sedikit mengejek dan membuat Jimmy terbahak " Hahaha.. Tidaklah sayang. Dia itu kan adikku. Ku harap kamu tidak cemburu padanya, karena dia akan menghabiskan waktu dengan melihatku setiap hari " Nadia mengerucutkam bibirnya kemudian memalingkan wajahnya dari Jimmy. Tingkah Nadia membuat Jimmy tersenyum puas, kemudian meraih Nadia kedalam pelukannya. " Sayang. Meskipun ada wanita cantik dihadapanku. Aku hanya akan setia kepadamu. Dan seperti yang kujanjikan sebelumnya padamu... " Jimmy merogoh saku celananya dan mengambil sesuatu " Maukan kamu menikah denganku? " Dia mengeluarkan sebuah kotak berisikan cincin dan memegangnya tepat di hadapan Nadia Nadia terpaku. Tidak bisa mengeluarkan sepatah katapun. Dia hanya mengangguk sambil menitikan air mata. Di sematkanlah cincin itu oleh Jimmy di jari manis Nadia. Dia memeluk Jimmy dengan erat, kemudian berkata dengan tersedu - sedu " Ternyata kamu menepati janjimu! " " Aku selalu serius dengan setiap perkataanku. Aku sama sekali tidak berniat mempermainkan mu! Aku akan berusaha untuk selalu membahagiakan mu disisa hidupku. Aku ingin selalu mengukir kenangan indah bersama denganmu. Melewati setiap hari yang ku lalui bersama denganmu. Aku tidak ingin berpisah denganmu " Jimmy mendaratkan kecupan manis dikening Nadia. " Kalau begitu, kita akan membicarakannya lagi nanti, serelah kakak ku kembali dari tugas luar negerinya. Sepertinya akhir - akhir ini dia selalu meninggalkan ku sendiri " Nadia menghapus air matanya dan kembali mengeluh " Sayang, setelah kita menikah, kamu tidak akan pernah ku biarkan sendirian lagi. Aku akan selalu ada disampingmu! " " Sudahlah, hentikan gombalanmu itu. Sepertinya kamu meminum obat yang salah hari ini! " Chapter 159 Meskipun sudah memiliki anak, tapi memiliki mu tidak akan pernah cukup!! Setelah kakek Wijaya gagal membujuk Yudha dan Gina untuk melakukan resepsi pernikahan. Akhirnya dia meminta bantuan kakek Dirga dan ibunya Gadis untuk bicara dan membujuk Gina.. Drrt Drrt " Halo ibu " Gina mengangkat telepon dari ibunya " Sayang, kamu sedang apa? " " Aku hanya sedang bersama anak - anakku. Mereka sudah mulai merangkak bu. Mereka begitu aktif dan lincah " Benarkah? Kapan kalian akan membawanya kemari menemui kami? Aku juga sangat merindukannya! " " Nanti aku bicarakan dengan Yudha. Kalau dia ada waktu senggang, pasti aku akan berkunjung kesana " " Baiklah kalau begitu " "Ibu, kenapa ibu menghubungi ku? Apakah terjadi sesuatu? " Tidak ada. Hanya saja,,, Kakek Wijaya menghubungi ibu. Dia menanyakan tentang resepsi pernikahan kalian " " Ibu, itu tidak perlu. Aku dan Yudha sungguh tidak tertarik dengan pesta. Ibu tahu sendiri kalau aku tidak pernah menyukai pesta " "Tapi ini untuk pernikahan mu. Pernikahan itu yang hanya di inginkan sekali seumur hidup. Apa kamu sama sekali tidak ingin memiliki kenangan mengenai pesta pernikahan kalian? " " Tapi kan bu,,,, " " Sudah, tidak usah membantah. Kami akan mengaturnya disini. Kamu dan Yudha hanya perlu menyediakan waktu dan membawa putra putri kalian kemari saat aku menetapkan tanggalnya " " Terserah pada ibu saja! " Gina dan Gadis pun selesai dengan pembicaraan mereka dan mengakhiri telepon " Ada apa? Dengan siapa kamu menelepon barusan sayang? " " Ibu. Dia tetap ingin membuatkan sebuah pesta pernikahan untuk kita. Aku yakin pesta itu akan dihadiri oleh banyak tamu kakek " " Biarkan saja mereka sibuk dengan pestanya. Kita hanya akan menikmati waktu kita bersama saja " Yudha tersenyum nakal kepada sang istri " Apa kamu tidak keberatan dengan adanya pesta ini? " " Untuk apa? Ini pesta pernikahan kita. Lagi pula, aku yakin ini adalah ulah kakek ku yang meminta bantuan pada kakek juga ibumu " " Iya, memang begitu. Karena kemarin kita tidak menghiraukan ucapan kakek, jadi kakek menghubungi ibu dan meminta bantuannya " " Sudah, hentikan membahas itu. Aku ingin membahas tentang kita berdua kali ini " Gina memicingkan mata curiga menatap Yudha " Kapan kamu akan menyenangkan ku? aku sungguh merindukan mu! " " Ach,, " Yudha langsung mengangkat Gina. menggendongnya menuju kamar dan membiarkan si kembar bersama pengasuhnya " Tuan kamu sudah memiliki anak kembar. Bagaimana kamu masih bersikap mesum seperti ini? " Gina melingkarkan tangannya dileher Yudha dan tersenyum mengejeknya " Aku tidak peduli, karena bagiku meskipun kita sudah memiliki anak, tapi memiliki mu seutuhnya tidaklah pernah cukup. Tidak apa jika kita memiliki anak lagi. Itu sungguh menyenangkan. Aku menyukainya! " Mata Yudha semakin ganas dan nakal dihadapan Gina Alhasil, Gina mendaratkan pukulan yang pelan di dada Yudha " Ich dasar, gunung es mesum! " " Nyonya,, aku jadi gunung es hanya untuk orang luar. Sedangkan untukmu, aku akan selalu jadi matahari yang menghangatkan hatimu juga keluarga kita! " Di tempat lain. Kakek Wijaya sedang melakukan panggilan telepon dengan besannya " Jadi mereka setuju untuk menyelenggarakan pesta pernikahan? Bagus lah kalau begitu. Kita akan merencanakam semuanya. Kita harus membuat pesta yang megah. Karena mereka berdua buka orang sembarangan " Kakek Wijaya begitu senang mendengar cucunya setuju untuk mengadakan pesta " Tentu saja pestanya harus meriah. Ini adalah pesta dari pewaris Sanjaya Grup dan juga Kusuma. Kerajaan bisnis kita akan semakin berkembang dengan mereka yang memegang kendali " Kakek Dirga tak kalah antusiasnya dengan kakek Wijaya " Ya, bahkan aku sudah mendengar ketika mereka menyelesaikan masalah dengan bisnis mereka. Mereka tidak bersikap mudah pada siapapun. Itu bagus untuk kita. Karena sekarang kita bisa tenang melepas bisnis kita pada mereka. Hahaha" Mereka saling terbahak melalui sambungan telepon " Wijaya, kapan kamu kemari? Kita harus bisa menghabiskan waktu bersama. Karena kita akan segera pensiun " " Tentu saja kita akan memiliki banyak waktu luang untuk bermain golf dan memancing bersama. Tapi setelah kita menyiapkan pesta untuk mereka. Aku akan segera menyiapkan penerbangan kesana dengan jet pribadiku. Untuk membahas semuanya " " Baiklah, aku akan menunggu mu! " Kedua kakek itu akhirnya menutup telepon mereka dan mulai memikirkan konsep untuk pernikahan cucu mereka satu - satunya Chapter 160 Berita duka Kakek Wijaya dan nenek Julia langsung menyiapkan penerbangan mereka untuk mengunjungi kakek Dirga juga Gadis. Mereka sudah tidak sabar untuk membuatkan pesta pernikahan cucunya. Setelah menempuh perjalanan yang cukup panjang, akhirnya mereka tiba di negara D. Dirga sudah meminta seorang supir untuk menjemput Wijaya dan Julia di bandara. " Tuan Wijaya, Nyonya Julia. Silakan lewat sini. Tuan Dirga sudah menunggu anda dirumah " Kata supir Dirga yang sudah menunggu di pintu kedatangan penumpang Kakek Wijaya dan nenek Julia menganggukkan kepala kemudian mengikutinya menuju mobil yang telah disiapkan. " Silakan tuan, nyonya! " " Terimakasih " Pak supir membukakan pintu mobil untuk mereka kemudian mulai berkendara menuju kediaman Dirga Rumah Dirga berada di kawasan yang sepi. Bukan di perumahan mewah seperti kakek Wijaya. Tapi rumahnya tak kalah luas jika dibandingkan dengan rumah Wijaya. Rumah yang terdiri dari 3 lantai itu di kelilingi oleh taman bunga yang sangat cantik. Karena mendiang istri kakek Dirga sangatlah menyukai bunga. Jadi taman ini ditanami oleh berbagai macam bunga. Ada begitu banyak jenis bunga yang terdapat disini. Dengan warna warni yang cantik, terlihat seperti hamparan bunga di padang yang luas. Taman pun di tata dengan begitu rapih. Disana juga ada tempat duduk yang telah disediakan ditengah taman, dengan dikelilingi bunga di sekelilingnya, sangatlah menenangkan untuk dapat duduk ditemani teh atau kopi Dirga dan Gadis terlihat berdiri di depan pintu ketika Wijaya dan Julia tiba di kediamannya. " Halo, selamat datang di kediaman ku. Bagaimana perjalanan kalian? " Dirga menyambut Wijaya dengan uluran tangan kemudian saling berpelukan ketika mereka tiba disana " Perjalanan kami sangat baik dan tidak ada masalah selama perjalanan kami! Bagaimana kabar kalian? " " Kami baik. Mari kita masuk! Tolong bawakan barang - barang mereka! " " Baik tuan! " Dirga meminta supir tadi membawakan barang - barang Wijaya dan Julia ke dalam. Setelahnya mereka masuk ke dalam bersama - sama " Aku sungguh senang sekali mendengar mereka mau mengadakan resepsi pernikahan. Kita bisa mengundang banyak kolega bisnis kita di pesta ini " " Tentu saja. Kita akan adakan pesta meriah dengan mengundang kolega bisnis kita! " Para kakek sedang terbahak bersama dengan catur dihadapan mereka Sementara para kakek asyik main catur sambil bercengkrama, Julia dan Gadis berada di dapur sedang asyik membuat kue Ditempat lain Yudha sedang menghabiskan waktu bersama istri dan kedua anaknya " Sayang, katanya kakek dan nenekmu pergi ke tempat kakek ku? " Gina bertanya dengan lembut kepada suaminya " Ya. seperti dugaan, kakek dan nenek tidak sabar untuk mengurus acara pernikahan kita " Senyum Yudha begitu lembut sambil menggendong Biru di pangkuannya Tiba - tiba ponsel Gina berdering Drrrtt Drrttt Dilihatnya panggilan dari sang ayah yang sudah lama tidak menghubunginya " Halo ayah " Gina langsung menyapa setelah mengangkat panggilan "Gina, bisakah kamu datang ke rumah sakit X sekarang juga? " Suara ayah Gina terdengar lemah " Ada apa yah? Apa ayah sakit? Atau kakek yang sakit? " Gina begitu terkejut dan ia pun seketika menjadi panik " Kamu kesini dulu saja. Ayah tunggu ya! " " Iya ayah, aku segera berangkat kesana! " Gina mengakhiri panggilannya. Yudha yang melihat sang istri sepertinya khawatir pun akhirnya bertanya " Ada apa sayang? Kenapa wajahmu jadi terlihat pucat begitu? "Dia menghampiri sang istri dan duduk di dekatnya " Ayah baru saja menghubungi ku. Dia meminta ku untuk datang ke rumah sakit X sekarang! " Dia terlihat panik saat mengatakannya " Baiklah, kita pergi kesana sekarang. Kita bawa Biru dan Jingga. Sekalian mengenalkannya pada kakek dan buyutnya " Gina tidak berkata apa - apa, dia hanya mengangguk kemudian bergegas mempersiapkan Biru dan Jingga terlebih dahulu.. " Apakah sudah siap semua? " Yudha menghampiri sang istri dan memastikan semuanya " Iya, kami sudah siap. Kita berangkat sekarang? " Mereka pun bergegas pergi menuju rumah sakit yang di tuju. Kali ini mereka pergi ditemani supir, karena Yudha dan Gina menggendong Biru dan Jingga. Tapi mereka tidak membawa serta pengasuhnya. Ya pengasuhnya hanya dipersiapkan untuk membantu Gina saja, jika Gina bisa melakukannya sendiri, dia tidak meminta bantuan pengasuhnya. Setelah menempuh perjalanan selama beberapa waktu, tibalah mereka di rumah sakit yang dituju. Gina dan Yudha segera masuk dan mencari kamar yang di maksud ayahnya. Mereka menemukan kamar yang di cari kemudian mengetuk pintu Tok tok tok Ceklek " Kakek,,,," Chapter 161 Berita duka (II) " Kakek,,, " Betapa terkejutnya Gina melihat sang kakek yang terbaring disana dengan bantuan oksigen dimulutnya, air mata Gina seketika menetes dari matanya. Dia berjalan lebih cepat menuju ke ranjang pasien dimana kakeknya terbaring " Kakek ini aku, Gina! " Sang kakek pun membuka mata perlahan setelah mendengar suara Gina " Gi, na " Suaranya begitu lemah ketika memanggil nama sang cucu " Apa kakek baik - baik saja? Kenapa tidak menghubungi ku selama ini? " Gina bertanya dengan deraian air mata yang sudah tak terbendung lagi. Sang kakek mencoba tersenyum dengan mata yang sayu " Kakek, lihatlah, aku sudah mempunyai sepasang anak kembar " Gina berusaha tersenyum dan menunjukkan Jingga juga Biru yang sedang di gendong Yudha. Ayahnya pun terlihat berdiri disana dengan wajah yang muram. Kakek Surya mencoba melepaskan alat bantu pernapasan yang menutupi mulutnya untuk dapat berbicara dengan Gina " Jangan dilepas kek! " Gina berusaha meparangnya namin Yudha menggelengkan kepala agar Gina membiarkan sang kakek melepaskannya " Kakek senang melihat mu bahagia. Sekarang kakek bisa meninggalkan mu dengan tenang. Kakek minta maaf karena kakek tidak bisa melindungi mu dengan baik selama ini" Kakek Surya yang sudah sulit untuk berbicara mencoba memaksakan setiap kata yang keluar dari mulutnya " Kakek tidak boleh bicara seperti itu. Aku yakin kakek kuat. Kakek Dirga akan mempersiapkan pesta pernikahan kami. Aku berharap kakek juga ayah bisa hadir disana.. Hiks hiks! " " Sepertinya kakek tidak akan bisa hadir. Tapi doa restu kakek selalu bersama dengan kalian. Yudha,,," Kakek Surya beralih menatap Yudha " Iya kek,, " " Kakek titipkan Gina padamu. Dia sudah lama menderita, jangan biarkan air mata menetes lagi dari matanya. Buatlah dia bahagia dan tenang dalam menjalani hidupnya. Sudah cukup banyak kesakitan yang dia dapatkan selama tinggal di kediaman Atmaja. Sekarang buatlah tawa yang selalu terpancar diwajahnya " " Kakek tidak usah khawatir. Aku akan menjaga dan membahagiakan Gina. Tidak akan ada siapapun yang bisa menyakitinya lagi " Yudha berkata sambil memandang Gina dengan lembut dan penuh cinta " Syukurlah, kakek beruntung memiliki cucu menantu sepertimu disisi Gina! Uhuk uhuk,, " Tiba - tiba sang kakek terbatuk dan kesulitan bernapas " Kakek,, kakek,, sadarlah,, hiks hiks hiks " " Dokter,, doketer,,, Tolong ayah saya! " Melihat sang ayah yang mulai kesulitan bernapas, Budi langsung berlari memanggil dokter. " Permisi kami harus memeriksa pasien! " Dokter dan suster datang untuk memeriksa keadaan kakek Surya Setelah beberapa lama diperiksa.. " Mohon maaf, pasien sudah tidak bisa ditolong " " Kakek,,, " Gina berteriak, tangisannya pecah tak terbendung lagi. Kakinya lemas tak bertenaga, hingga dia merosot dan terduduk dilantai. Yudha langsung menghampiri Gina dan sang ayah mengambil Jingga yang dari tadi berada dipangkuan Gina " Kakek, kenapa kakek tidak memberitahukan ku sejak awal. Kenapa aku malah bertemu kakek disaat terakhir sebelum kakek meninggalkan ku. Aku inhin menghabiskan waktu lebih banyak bersama dengan kakek... Hiks hiks,,, " " Sudahlah sayang. Biarkan kakek pergi dengan tenang. Kakek sudah senang melihatmu juga kedua anak kita. Aku yakin kakek sudah tidak memiliki kekhawatiran lagi terhadapmu. Kamu harus kuat, dan ingat pesan kakek. Dia ingin kamu bahagia! " " Aku,,, akan,, selalu ingat pesan kakek.. Hiks hiks hiks" " Ayah, biar aku menyiapkan pemakaman untuk kakek " Yudha menoleh dan meminta izin ayah Budi dan hanya dibakas anggukan saja olehnya " O iya ayah. Kemana nyonya Arin? " Yudha menoleh ke sekeliling ruangan dan tidak menemukan nenek Gina " Entahlah, sudah lama ibu meninggalkan apartemen. Ayah tidak tahu dia pergi kemana.. Ayah sudah berusaha mencarinya, tapi tidak ada hasil " " Baiklah ayah, nanti aku akan berasaha mencarinya " " Tidak perlu, biarkan saja. Ibu memilih untuk pergi, aku yakin dia tidak ingin lagi berhubungan dengan kita " Kedua pria itu memperhatikan Gina yang terus menangis di samping jenazah sang kakek " Kakek, selama ini kakek selalu berusaha melindungi ku. Aku belum sempat membalas budi pada kakek. Aku berjanji akan terus bahagia, dan tidak membuat kakek khawatir lagi padaku. Aku yakin kakek akan ikut bahagia dengan pernikahan kami.. Selamat jalan kakek. Aku mencintai kakek! " Gumam Gina disela tangisnya Chapter 162 Berusaha mengembalikan cahaya yang redup Hari ini adalah hari dimana pemakaman kakek Surya dilangsungkan. Suasana duka begitu kental terasa menyelimuti disaat pemakaman. Banyak rekan dari kakek Surya yang mengantar kepergian sang mantan pebisnis sukses itu ke peristirahatan terakhirnya. Terlihat pula Gadis, Dirga, Wijaya dan Julia di tempat pemakaman. Mereka langsung terbang dari kediaman Sanjaya ke negara A setelah Yudha mengabari mereka. " Ayah, terimakasih karena ayah telah merawat Gina. Terimakasih juga karena ayah selalu baik terhadap ku. Selamat jalan ayah, semoga ayah mendapatkan ketenangan disana" Gumam Gadis di depam pusara mantan ayah mertuanya , ia juga tak henti - hentinya menghapus air mata yang terus mengalir membasahi wajah cantiknya Kesedihan juga nampak jelas di wajah Gina juga ayahnya. Yudha terus berada di samping sang istri, menopang tubuhnya agar tidak terjatuh karena lemah.. Air mata tak henti - hentinya membasahi wajah cantik Gina. Dalam dekapan sang suami ia terus terisak dalam tangisnya. " Kakek,,, jangan tinggalkan aku. Aku sayang kakek,,, " Bruk,,, Tiba - tiba Gina kehilangan kesadarannya. Dia terjatuh, lemah dalam dekapan sang suami " Sayang,,, sayang,,, " Yudha memukul pelan pipi sang istri untuk menyadarkannya, kemudian ia langsung menggendongnya meninggalkan pemakaman sang kakek untuk langsung pulang ke rumah Hati Yudha pun ikut sedih. Meski hanya sebentar tapi dia mengingat jelas kenangan bersama kakek Surya. Hatinya terasa semakin hancur kala melihat istri yang dicintainya begitu terpuruk tak berdaya atas kepergian sang kakek yang sangat disayanginya. Beberapa hari telah berlalu. Gina masih murung dan bersedih atas kepergian sang kakek. Dia terus berdiam diri dan jarang sekali berbicara. Bahkan dia yang biasa manja dan perhatian kapada Yudha. Kini menjadi Gina yang dingin dan minim ekspresi. Dia lebih sering berdiam diri dikamar atau balkon setelah mengurusi anak - anaknya. Yudha tak sanggup lagi melihatnya seperti itu. " Sayang,, ayo kita keluar sebentar! " Yudha menghampiri sang istri, dia berusaha keras menghibur pujaan hatinya yang sedang rapuh " Mau kemana? Ini sudah malam.. Kalau anak - anak bangun, bagaimana? " " Tidak apa, kita hanya keluar sebentar , lagi pula ada pengasuh yang menjaga mereka. Hanya sebentar saja! " " Baiklah! " Setelah berpikir untuk beberapa lama, akhirnya Gina mengangguk setuju untuk pergi bersama Yudha. Dia mengambil jaket dan Yudha membantu memakaikannya. Kemudian mereka berjalan kedepan menuju mobil yang sudah terparkir disana. Yudha tidak membawa sopir kali ini, dia memilih untuk mengendarai mobilnya sendiri. " Memangnya kita mau pergi kemana? " Terlihat wajah penasaran Gina yang entah akan dibawa kemana dia malam ini " Kamu sabar saja, tempatnya tidak terlalu jauh! " Gina terus memperhatikan sekeliling. Jalanan masih dilewati banyak mobil, meskipun tidak sepadat siang hari, tapi masih banyak mobil yang melintas. Sepanjang jalan dihiasi lampu jalan yang berdiri dengan jarak beberapa meter dari satu dan lainnya. Perlahan jalanan mulai memasuki tempat sepi. Jalan yang menanjak menunjukkan jika mereka pergi ke tempat yang lebih tinggi. Gina yang terus memperhatikan sekeliling akhirnya bertanya lagi " Bukankah ini jalan menuju perbukitan? Untuk apa kita kesana? " Yudha hanya tersenyum tanpa mengeluarkan sepatah katapun Setelah beberapa lama, akhirnya mereka tiba di atas bukit dan memarkirkan mobil. Yudha keluar lebih dulu dan berjalan ke arah pintu satunya untuk membantu Gina membukakan pintu mobil " Keluarlah! Kita sudah sampai! "Yudha mengulurkan tangan untuk membantu sang istri turun " Lihatlah pemandangan disini, bukankah ini begitu cantik? " Dia Membawa Gina ke tepian bukit dan melihat keindahan kota dimalam hari. Yudha berdiri dibelakang Gina sambil memeluk Gina dari belakang " Lihatlah, dilangit banyak bintang yang bertaburan, dari bawah juga terlihat lampu - lampu yang menerangi kota bagaikan bintang Jika bintang tidak ada, masih ada lampu di kota yang terlihat seperti bintang. Jika lampu kota mati. Masih ada bintang dilangit yang berkilauan. Tapi jika semua lampu mati dan bintang tertutup awan, akankah disini terlihat indah? Sayang, aku tahu kamu bersedih atas kepergian kakek, tapi kamu memiliki yang lain di sekelilingmu. Jika kamu terus bersedih, maka yang lain pun akan ikut bersedih. Termasuk kakek. Kakek menginginkan kebahagiaan mu, Apa jadinya jika dia melihatmu bersedih degitu lama? Kamu adalah penerang untuk orang - orang di sekitarmu. Jangan biarkan cahaya disekitarmu ikut meredup karena melihat kamu larut dalam kesedihan. Kami tahu kamu sedang berduka, tapi apa kamu lupa apa pesan kakek sebelum dia meninggal? Dia ingin kamu selalu tersenyum bahagia. Ikhlaskanlah kakek, biarkan dia pergi dengan tenang. Kembalikan cahaya terang disekitarmu lagi. Aku, anak - anak kita, ibu, kakek dan nenek kita. Semua membutuhkan mu. Kami tidak bisa melihatmu terus bersedih. Kami pun ikut bersedih karenanya " Yudha mendekapnya erat, tanpa terasa air mata pun sudah mengalir deras si pipi Gina. Dia tersadar jika setelah kepergian kakek dia telah melupakan semuanya. Tanpa sadar ia terkurung dalam kesedihannya sendiri. Tanpa memikirkan orang di sekitarnya Chapter 163 Interaksi Satya dan Nadia Yudha masih mendekapnya erat. Setelah diarasa air mata sedikit berhenti, Gina berusaha membuka mulutnya untuk berbicara " Terimakasih karena telah mengingatkan ku. Terimakasih karena menemani ku disaat yang kurasa begitu sulit untuk dilewati dan terimakasih karena telah menyadarkan ku dari berbuat kesalahan yang lebih dalam karena menyakiti hati orang - orang disekitarku. Dan maaf karena beberapa hari ini aku telah mengabaikan mu " Gina berusaha untuk tersenyum dengan mata yang masih sembab dan basah oleh jejak air mata yang tertinggal. Yudha membalas senyumnya dan menghapus sisa air mata yang masih tersisa di wajahnya, kemudian dia mencium kening Gina dengan lembut " Sayang, masih ingin disini atau kita pulang sekarang? Disini cukup dingin! "Yudha gementar kedinginan. Gina tersenyum karenanya sebelum berkata " Kita pulang! " Yudha mengangguk kemudian mereka berjalan menuju mobil. Setelah mengatur suhu di dalam mobil barulah mereka berkendara kembali menuju rumah. Perasaan Gina sudah semakin tenang. Benar kata suaminya. Dia boleh bersedih atas kepergian kakeknya, tapi dia tidak boleh terlalu lama larut dalam kesedihan. Kasihan untuk kakek yang tidak dapat ketenangan dan juga kasihan untuk orang - orang di sekitarnya yang ikut bersedih karena melihatnya . Jalanan sudah tidak terlalu ramai. Meskipun masih ada mobil yang melintas tapi hanya 1 atau 2 saja. Yudha mengendarai mobil dengan tenang. Yidak terlalu cepat, tapi juga tidak terlalu pelan. Setelah tiba dirumah, Gina langsung menuju kamar anak mereka. Dilihatnya kedua anaknya yang tengah tertidur pulas di dalam box. Dia menatapnya lama " Sayang, maafkan mami ya? Pasti beberapa hari ini kalian sedih ya? Mami tidak perhatian sama kalian. Dan juga tidak menemani kalian bermain. Tapi mami sekarang baik - baik saja. Jadi kalian tidak perlu khawatir lagi sama mami ya " Yudha menghampiri Gina dan merangkulnya dari belakang " Aku senang kamu sudah bisa berlapang dada dan menerima kepergian kakek " ====== Satya baru saja kembali dari luar negeri. Dia tidak sempat menghadiri pemakaman kakek Surya " Kak, kamu kemana saja? Lama sekali kamu pergi? Sepertinya akhir - akhir ini kamu sering sekali oergi keliar negeri dan meninggalkan aku sendiri " Nadia memasang wajah cemberut sambil terus saja bicara " Sejak kapan kamu sendiri? Kakak kan tidak pernah meninggalkan kamu sendiri, tapi karena sekarang ada Jimmy. jadi kakak bisa tenang pergi keluar negeri, karena ada yang menemani dan menjaga kamu " Satya tersenyum puas sedangkan Nadia makin mengerucutkan bibirnya kesal " Kak! " " Hmn,, " "lihatlah ini! "Nadia ingin menunjukkan cincin pada kakaknya. Tapi Satya tidak menggubrisnya, bahkan tidak menoleh sama sekali " Kakak! " " Apa?! " " Lihat dulu ini! " Nadia yang kesal akhirnya berteriak dan menunjukkan cincinnya kepada sang kakak " Waah,, Jadi dia sudah melamar mu ya, Putri kecil? Kakak ikut senang mendengarnya! " Satya tersenyum, memeluk sang adik sambil mengacak rambutnya " Kakak, aku bukan anak kecil lagi. Kenapa kamu suka sekali membuat rambutku berantakan? " Nadia yang kesal mengomeli kakaknya sambil merapikan rambutnya yang kusut " Hahaha kamu tetaplah gadis kecilku yang manja, yang paling aku sayang. Karena kamu adikku dan satu - satunya keluargaku di dunia ini" Nadia tetap mengerucutkan bibirnya " Nad, Nanti siang ajak Jimmy untuk bertemu, kita makan siang bersama. Aku juga ingin mengenalkan seseorang padamu? " " Hah, apakah dia seorang wanita? kalian kenal dimana? apakah sudah membicarakan pernikahan? berapa usianya? Apakah dia cantik? " Satya mengernyitkan alis mendengar semua pertanyaan yang dilontarkan sang adik " Stop! Kamu berisik sekali. Pertanyaan mu begitu bertubi - tubi. Bagaimana aku bisa menjawabnya? Nanti juga kamu akan bertemu dengannya, jadi kamu bisa menilainya sendiri dan tanyakan sendiri pertanyaan mu padanya. Kakak pusing mendengar semua pertanyaan mu yang begitu banyak! " Satya pergi meninggalkan adiknya yang masih diliputi dengan rasa penasaran yang tinggi. " Kakak, mau kemana? Aku belum selesai! Jawab dulu pertanyaan aku! " " Berisik! " Meskipun Nadia terus berteriak tapi Satya tetap tidak mempedulikan sang adik Chapter 164 Diandra, kekasih Satya Jenny sudah bekerja di perusahaan Jimmy. Ia menjabat sebagai karyawan biasa. Meskipun awalnya cukup kesulitan, tapi dia terhitung cukup cepat belajar. Jimmy tidak membedakannya dengan karyawan lain saat bekerja. Tapi saat istirahat dia bersikap manja kepada kakak sepupunya itu. Seakan tidak pernah terjadi masalah apapun " Kak, mari makan siang bersama? aku akan menghubungi Andre untuk ikut makan bersama kita! " " Eum,, Jen. Apa kamu tidak marah dan membenci ku? " Jimmy bertanya dengan ragu - ragu pada Jenny " Untuk apa? Toh keluargaku yang salah sama kakak dari awal. Harusnya aku bertanya seperti itu sama kakak. Apa kakak tidak membenci ku? Setelah apa yang keluargaku lakukan sama kakak. " " Tidak, dari dulu aku sudah menganggap mu seperti adikku sendiri. kamu tahu itu. Aku tidak punya siapa - siapa lagi setelah kepergian orang tuaku. Hanya kalianlah keluarga yang tersisa untukku " " Sudahlah kak, jangan membicarakan itu lagi. Aku jadi malu sendiri dengan keserakahan keluargaku " Jenny tersenyum dengan manisnya " Baiklah! " Kring kring kring Ponsel Jimmy berdering. Diapun tersenyum saat melihat nama yang tertulis di layar ponselnya. Itu panggilan dari Nadia. " Halo sayang " " Jimmy, kakak ku telah pulang. Dia mengajak kita untuk makan siang bersama. Katanya dia mau memperkenalkan seseorang " " Siapa? Apakah dia sudah punya pacar? " "Entahlah, aku juga tidak tahu " " Ya sudah, nanti kabari aku dimana kita akan bertemu ! " " Baik " Setelah sepakat mereka mengakhiri panggilan teleponnya " Jen. Sepertinya kita tidak bisa makan bersama. Aku akan makan bersama Nadia dan kakaknya " " Ya sudah tidak apa " Jenny pun pergi meninggalkan Jimmy ===== Keluarga Yudha dan Gina sudah mulai mempersiapkan pesta pernikahan untuk mereka.. Meskipun masih ada waktu 1 bulan. Tapi kakek nenek Yudha dan Gina sudah mulai sibuk. " Kita harus segera mengurus dekorasi, tamu undangan, dan gaun pengantin. Owh tidak, kita siapkan dulu photo prewedding. mereka harus melakukannya sesegera mungkin. kalau perlu harus mewah dan sangat romantis " Nenek Julia negitu antusias saat merencanakan semuanya " Tidak perlu mewah bibi. Yang terpenting adalah itu membuat Gina dan Yudha begitu berkesan dengan photo prewedding mereka dan pernikahan ini. Karena ini akan jadi kenangan indah mereka di masa mendatang " Ucap Gadis yang memberikan saran " Baiklah.. Bagaimana kalau kita membuatkan pesta kebun saja? Kita bisa menggunakan vila keluarga kalian disini, bukankah itu ide bagus? " " Baiklah bi, kita akan menggelar pesta kebun untuk mereka " " Oke, sudah diputuskan kita akan segera mempersiapkan semuanya " =========== Jimmy dan Nadia sudah tiba disebuah restoran, mereka tengah menunggu Satya datang " Kenapa kakakmu lama sekali. Kapan dia akan tiba disini? " " Sebentar lagi, kakak bilang sedang dalam perjalanan " Tidak lama terlihat Satya masuk ke restoran dengan menggandeng seorang wanuta di sebelahnya. " Ah. itu dia! Kak, disini! " Nadia melambaikan tangan pada sang kaka Satya tersenyum dan berjalan ke arah mereka " Kalian sudah lama menunggu ya? " " Ah, tidak juga kok " ![](http://up.pic.mangatoon.mobi/contribute/fiction/158145/markdown/4856490/1582783318724.jpg-original600webp?sign=c47b05e4c3c2f4977815c72d4e4dae1b&t=5e72b600) " Kenalkan ini Diandra. Dia ini pacarku! Diandra ini adikku Nadia dan ini Jimmy kekasihnya " " Hallo, aku Nadia " " Diandra " "Jimmy " " Diandra " Mereka saling memperkenalkan dan berjabat tangan. Kemudian Satya menarik sebuah kursi untuk Diandra duduk. " Terimakasih " Kata Diandra sambil tersenyum dan dibalas senyum oleh Jimmy yang kemudian duduk disebelahnya " Kamu tidak pernah cerita padaku kak? " " Nanti saja ceritanya. Pesan makanan dulu " Satya melambaikan tangan untuk memanggil salah seorang pelayan restoran kemudian memesan makanan " Kami sudah lama kenal, Diandra tinggal diluar negeri. Jadi saat ada kesempatan aku selalu mengunjunginya disana. Tapi sebentar lagi dia pindah lagi kesini, karena pekerjaan disana sudah selesai. Iya kan? " Satya menoleh ke arah Diandra untuk memastikan perkataannya " Iya, sepertinya bulan depan aku sudah tinggal disini lagi " Nadia dan Jimmy hanya mengangguk saja dan menjadi pendengar setia " O iya, sebentar lagi Gina dan Yudha akan mengadakan resepsi pernikahan. Mereka akan melangsungkan pestanya di tempat keluarga Gina! " " Benarkah kak? Itu berita bagus! " " Kapan kalian berdua akan melangsungkan pernikahan? " Uhuk, uhuk Nadia tersedak dengan pertanyaan sang kaka, dan Jimmy langsung menyodorkannya segelas minuman " Kami belum merencanakannya. Kenapa tidak kalian duluan saja? " " Kami juga belum merencanakan semua itu " Mereka terus berbincang disela makan siang. Terlihat saling bersenda gurau bersama Chapter 165 Memulai persiapan pernikahan Gina menikmati perannya sebagai seorang ibu. Dia selalu menghabiskan waktunya bersama sikembar. Mereka mulai merangkak dan Gina asyik sendiri memperhatikan mereka yang merangkak kesana kemari.. Ceklek Terdengar suara pintu dibuka dan terlihat Yudha yang baru kembali. Jingga langsung merangkak menuju sang papi dan meminta untuk di gendong. Gina memperhatikan ekspresi Biru yang berubah menjadi muram saat memperhatikan Jingga, kemudian dia sibuk dengan mainannya. " Hahaha Sayang, lihatlah Biru yang iri dengan adiknya? " Gina terbahak dan memberitahukan Yudha akan apa yang dilihat. Yudha menoleh kepada Biru yang mengacuhkannya, kemudian berjongkok di hadapannya " Apa kamu marah? Papi hanya menggendong adikmu yang merangkak kesana. Kamu mau papi gendong juga? Kamu juga anak papi" Biru diam saja cukup lama, kemudian dia berbalik dan merangkak kepada Yudha. Akhirnya Yudha menggendong keduanya. Gina cukup takjub melihatnya " Ini sungguh menakjubkan, di usianya sekarang mereka sudah mengerti kata cemburu " Gumamnya kemudian tersenyum " Sayang apa kamu sudah dengar kalau kakek dan ibu merencanakan pesta kebun untuk kita. Ibu meminta kita untuk pulang 2 minggu lagi dan melakukan poto prewedding " Gina berkata dengan lembut dan senyum terpancar diwajahnya " Benarkah, kita bisa sekalian berlibur disana. Aku juga belum pernah mengajak mu untuk berbulan madu kan? Kamu mau pergi kemana? " " Tidak, aku tidak ingin kemana - mana. Aku hanya ingin menghabiskan waktuku bersama kalian saja " " Baiklah, kita akan menghabiskan waktu bersama disana. Apa mereka sudah mulai melakukan persiapan? " " Sepertinya sudah. Mereka sudah merancang semuanya " Yudha mengangguk - anggukan kepala perlahan . Sementara dikediaman Sanjaya, kakek Wijaya dan kakek Dirga tengah membuat rekapan tamu undangan " Apa kamu sudah mengundang semua temanmu, Wijaya? Apa masih ada yang ingin kamu undang? Coba periksa lagi semuanya! " " Aku sudah mengundang semua yang ingin aku undang. Kenapa? Apa ada yang tertinggal? Tapi, apa kamu tidak mengundang Budi? Dia kan ayahnya Gina! " " Entahlah, apa perlu aku mengundang ayah seperti itu, yang tidak bisa menjaga dan melindungi putrinya sendiri. Sepertinya aku juga sudah mengundang semua orang yang ingin aku undang " Sementara para kakek sibuk dengan tamu undangan, ibu dan neneknya mempersiapkan dekorasi juga gaun pengantin " Gadis, bagaimana dengan gaunnya? Apa sudah siap? " " Sudah bi, gaunnya akan segera dikirim. Jadi Gina bisa segera mencobanya " " Baguslah, semua persiapan kita akhirmya selesai. Kita tinggal memastikan semuanya kembali sebelum hari H. Gina dan Yudha juga pasti akan segera kesini, karena pemotretan akan segera dilaksanakan " " Iya bi, benar sekali. Aku jadi tidak sabar menantikannya " Hahaha Mereka akhirnya tertawa bersama dan ikut bahagia membayangkan pernikahan putri dan cucunya Hari untuk melakukan photo prewedding akan segera tiba. Yudha dan juga Gina beserta Biru dan Jingga bersiap untuk melakukan penerbangan ke kediaman Sanjaya. Seperti biasa mereka ditemani dengan Hendri yang selalu setia menemani dan membantu Yudha "Hendri, apa semuanya sudah siap? " Yudha menoleh kepada Hendri yang ada dibelakangnya " Sudah tuan, kita sudah bisa berangkat sekarang " " Ya sudah, kita berangkat sekarang! " Hendri menyempatkan untuk mengirimkan pesan teks terlebih dulu sebelum berangkat " Aku akan berangkat sekarang menuju kediaman Sanjaya, kamu nanti menyusul bersama Jimmy dan Nadia " Itu pesan teks yang dikirim kepada Risti "Baiklah, kamu hati - hati diperjalanan. kita ketemu disana saar acara pesta " Hendri terlihat tersenyum tipis setelah menerima balasan dari Risti. Biru dan Jingga tidur selama dalam pesawat. Mereka sama sekali tidak menangis. " Mereka terlihat begitu tenang dalam tidurnya " Kata Gina saat memperhatikan si kembar yang tengah tertidur " Benar, kuharap mereka selalu beesikap tenang seperti ini " Kata Yudha menjawab Gina Genggaman tangan Yudha tidak lepas dari tangan Yudha. Merekapun menikmati perjalanan pertama mereka bersama Biru dan Jingga. " Huh mereka terus saja mengumbar kemesraan dihadapanku. Padahal pasanganku tidak disini. Risti, melihat mereka, aku jadi merindukan mu. Hiks Hiks " Gumam Hendri yang menyaksikan kemesraan Gina dan Yudha Chapter 166 Ketidak beruntungan ku dimasa lalu dibayar lunas dengan mendapatkan mu Yudha dan keluarga kecilnya sudah tiba di kediaman Sanjaya. Mereka sudah ditunggu oleh semuanya disana. " Aduuhh cicit kakek yang cantik dan tampan " Kata Dirga ketika melihat Biru dan Jingga datang " Sini sama kakek wijaya! " Wijaya dan Dirga saling menggendong satu - satu.. " Untung ada dua. kalau ada satu pasti mereka sudah jadi rebutan " Gumam Hendri sambil menggelengkan kepala melihat kedua kakek itu " Kakek.. " Yudha dan Gina menyapa kakek mereka secara bergantian " Bagaimana perjalanan kalian? " Tanya kakek Dirga " Perjalanan kami lancar kek, tidak ada hambatan sama sekali " Kata Yudha dengan nada suara datarnya " Kalian istirahatlah dulu. Besok kalian akan melakukan photo prewedding " " Biar Biru dan Jingga bersama kali dulu. Kami sudah sangat merindukan mereka! " Kata Wijaya dan Dirga bergantian " Baik kek, kami naik ke kamar ku dulu. Ayo sayang! " Gina mengajak Yudha untuk naik ke lantai atas menuju kamarnya " Hendri, kamu bisa tidur dikamar tamu " Sambungnya sebelum berjalan menaiki tangga menuju kamar mereka " Terimakasih nyonya " Setelah dikamar, Gina langsung menyiapkan air untuk Yudha mandi dan juga piyama untuknya. " Sayang, mandilah lebih dulu, aku sudah menyiapkan air dan juga piyama ini untukmu! Hari ini cukup melelahkan karena perjalanan kita kemari " Gina mendekat dan menyerahkan piyama kepada Yudha " Terimakasih sayang! " Yudha langsung bergegas ke kamar mandi dan Gina menyiapkan tempat tidur untuk mereka. Dibawah, para kakek dan nenek sedang memperebutkan Biru dan Jingga " Biarkan aku yang gendong Jingga " Nenek Julia menyodorkan tangan untuk mengambil Jingga kepelukannya " Hei, bukankah kalian para wanita sedang sibuk untuk persiapan besok? " " Persiapannya sudah selesai. Sekarang kami akan mempersiapkan si kembar untuk istirahat. Mereka pasti lelah setelah menempuh perjalanan kemari " Julia dan Gadis akhirnya membawa Biru dan Jingga untuk istirahat. Didalam kamar, Yudha tengah duduk dengan kepala bersandar pada sandaran tempat tidur ketika Gina keluar dari kamar mandi " Ku kira kamu sudah tidur duluan? Kenapa masih belum tidur? " Gina duduk di depan meja rias dan mengeringkan rambutnya yang basah, Yudha langsung bediri dan menghampirinya. Dia mengambil handuk dari tangan Gina dan membantunya mengeringkan rambut " Tidak, aku hanya memikirkan kebahagiaan yang aku dapatkan semenjak kamu masuk dalam hidupku, semuanya menjadi begitu indah. Hidupku jadi lebih berwarna dan memiliki arti. Ditambah lagi dengan adanya kedua anak kita. Aku tidak percaya, kalau aku bisa mendapatkan semua kebahagiaan ini " Dia berkata dengan begitu lembut dengan mata menatap pantulan wajah mereka di cermin " Aku yang begitu beruntung bisa menjadi wanita pilihanmu. Padahal aku yakin, diluar sana pasti banyak wanita yang ingin mendapatkan posisi seperti ku dihatimu. Sepertinya ketidak beruntunganku dimasa lalu dibayar lunas dengan kebahagiaan ku mendapatkan mu sekarang " Gina terliihat tersenyum lembut di cermin " Aku berharap ini bukanlah mimpi. Dan aku ingin apapun yang terjadi kita akan selalu bersama " sambungnya lagi " Tentu saja aku juga berharap hal yang sama " Jawab Yudha dengan terbahak " Sudahlah kita istirahat, besok akan jadi hari yang melelahkan " Yudha membawa Gina untuk berbaring di tempat tidur. Kemudian dia mendekapnya erat dalam pelukannya dan Gina membenamkan kepalanya di dada bidang Yudha. Mereka pun tertidur lelap hingga pagi menjelang Pagi hari ketika Gina bangun, dia meraba tempat tidur sebelahnya yang sudah kosong. Dia duduk dan menoleh kesetiap sudut ruangan untuk mencari keberadaan sang pria. Dilihatnya pintu balkon yang sedikit terbuka. Desiran angin pagi yang meniup gorden kamar, membuatnya seakan menari - nari. Gina beranjak dari tempat tidur dan berjalan menuju balkon, dilihatnya sang suami tengah berdiri ditepi dengan memegang pagar balkon. Gina mendekati sang suami yang sedang menikmati kesegaran udara pagi. Cahaya matahari pagi yang hangat, hembusan angin yang membawa wanginya aroma bunga. Membuat pagi terasa begitu segar. Hamparan bunga yang berwarna - warni melengkapi pemandangan indah di pagi hari. Mendengar ada suara langkah yang mendekat, Yudha menoleh, menatap sang pujaan hati dengan senyuman lembut. Melambaikan tangan agar dia semakin mendekat " Morning sunshine " Gina mendekat dan memeluk pinggang sang pria " Morning too honey " Yudha memeluknya dan mencium pucuk kepala sang istri. Keduanya menikmati pemandangan pagi bersama, sebelum mereka turun untuk sarapan . " Sudah siap untuk melakukan pengambilan photo prewedding kita? " " Tentu saja sayang. Mari kita bersiap kemudian turun untuk sarapan " Chapter 167 Photo prewedding Gina dan Yudha melakukan pengambilan photo prewedding di alam bebas. Mereka tidak membawa serta Biru dan Jingga, karena khawatir itu akan membuat mereka kelelahan. Jadi mereka membiarkan para orang tua menjaganya di rumah. Tempat yang telah dipilih adalah sekitar puncak gunung. Dengan berlatarkan pemandangan hamparan padang yang luas, disertai gunung lain disekitarnya, juga danau yang menambah kesan romantis ditempat tersebut, membuat Gadis memutuskan untuk memilih tempat itu sebagai lokasi pemotretan mereka. Dengan setelan jas dan mantel yang dikenakan Yudha, menambahkan kesan berwibawa, membuatnya semakin terlihat begitu gagah. Gina yang berbalutkan dress putih dengan rambut yang dibiarkan terurai membuatnya terlihat elegan. Para photografer yang mengambil gambar mereka pun dibuat kagum oleh kemesraan yang ditimbulkan keduanya saat pengambilan gambar. " Kalian begitu serasi, aku dibuat iri oleh kemesraan yang kalian ciptakan. Semuanya terlihat begitu alami. Kalian sungguh pasangan yang sangat cocok " Gina dan Yudha menikmati kebersamaan mereka saat melakukan photo prewedding. Itu mereka anggap sebagai waktu liburan mereka yang selama ini tertunda. ![](http://up.pic.mangatoon.mobi/contribute/fiction/158145/markdown/4856490/1582782733555.jpg-original600webp?sign=cef298246bb3eba411d027e19c517672&t=5e72b600) Setelah melewati berbagai pose dan waktu pengambilan yang disesuaikan akhirnya semua selesai. Mereka selesai hampir menjelang sore hari. Bahkan mereka tidak sempat makan siang karena ingin semuanya lebih cepat selesai . " Apa kamu merasa lelah? " Tanya Yudha sambil merapikan rambut Gina " Ya, sedikit. Ku kira itu akan mudah dan tidak memakan waktu lama. Ternyata tidak sesuai dengan apa yang aku pikirkan " " Sabarlah, ini akan jadi momen terindah yang tidak akan pernah kita lupakan nantinya. Bagaimana kalau kita makan dulu sebelum pulang? Jam makan siang sudah lewat, tapi makan malam masih lama dan aku sudah merasa sedikit lapar. Kamu juga pasti lapar kan? " Tanya Yudha sambil berjalan bergandengan dengan Gina meninggalkan lokasi pemotretan " Iya, aku juga lapar. Baiklah kita cari restoran setelah turun dari sini! " Setelah menempuh perjalanan sekitar 1 jam. Mereka akhirnya tiba disebuah restoran. Setelah Yudha memarkirkan mobil, dia keluar dan berjalan ke arah kursi penumpang depan untuk membantu Gina keluar dari mobil. " Ayo sayang, kita sudah sampai " Yudha mengulurkan tangan untuk membantu Gina turun " O iya sayang, dimana Hendri? Aku tidak melihatnya dari tadi pagi ! " " Dia kembali ke negara A untuk mengurus kantor. Nanti dia akan kembali sebelum acara kita bersama Risti juga yang lainnya. Sepertinya mereka semua juga akan segera menyusul. Karena sekarang mereka sudah punya pasangan masing - masing " " Benarkah? Itu sungguh berita yang bagus. Ku harap mereka juga mendapatkan kebahagiaan mereka. Bagaimana pun mereka semua orang baik dan mereka berhak mendapatkan kebahagiaan setelah semua kesulitan yang mereka lewati selama ini " Pasangan itu berbincang sambil berjalan masuk menuju restoran " Benar. Ayo silahkan duduk permaisuri ku " Yudha sedikit membungkuk sambil menarik sebuah kursi untuk Gina duduk " Terimakasih. Aku benar - benar seperti permaisuri yang selalu kamu manjakan " " Tentu saja kamu permaisuri ku. Apapun akan kulakukan untuk kebahagiaan mu. Kebahagiaan keluarga kecil kita " " Sudahlah tuan berhenti untuk selalu berbicara manis. aku merasa akan terbang melayang jika kamu selalu memanjakan ku seperti itu. hahaha " " Nyonya,, apa kamu tidak percaya dengan apa yang tuan mu katakan ini? " " Aku percaya, benar - benar percaya. Karena tidak ada pria lain selain kamu di dunia ini yang dapat aku percayai sepenuhnya " Mereka akhirnya memesan makanan dan menikmati waktu makan mereka dengan tenang Sementara di negara lain tepatnya di kota A, di perusahaan Gina. Nadia sedang bersama Risti membahas beberapa masalah " Mba Nadia sudah dengar kan tentang pesta pernikahan mba Gina? " Tanya Risti sambil menunjukkan dokumen yang harus diperiksa Nadia " Iya aku sudah mendengarnya. Nanti aku berangkat bersama Jimmy juga kakakku. Kamu berangkat bersama Hendri? Sepertinya dia berangkat 1 hari sebelum kami! " " Iya, aku berangkat bersama dengannya. Nanti aku akan mengajukan cuti dan mengalihkan pekerjaan ku pada sekretaris ku. Tapi sebelum itu aku akan menyelesaikan dokumen yang harus mba periksa sebelum aku berangkat " " Oke. Aku mengerti " " Kalau begitu aku kembali ke ruanganku dulu mba. O iya, produk hasil kerja sama kita dengan perusahaan mas Jimmy sudah kembali di pasarkan. Mereka sudah mengganti bahan baku seperti yang sebelumnya digunakan " Risti meninggalkan ruangan Nadia setelah dia mengangguk Chapter 168 Persiapan menuju pesta pernikahan Hari keberangkatan Risti dan Hendri akhirnya tiba. Risti telah menemui Nadia dan melaporkan setiap pekerjaan yang perlu diperiksa olehnya sebelum berangkat Tok tok tok " Permisi mba " Risti mengetuk pintu kantor Nadia sebelum dia masuk " Owh Risti, duduklah! " " Ini dokumen yang sudah ku selesaikan. mba bisa periksa lagi sebelum di tanda tangani " " Baik. Taruh saja disana, nanti aku periksa. Sampaikan salam ku pada Gina saat kamu bertemu. Hati - hati juga di perjalanan. Nanti kita ketemu disana " " Baiklah aku pergi dulu " Nadia mengangguk dan menatap Risti keluar dari ruangannya Hendri akan menjemput Risti menuju bandara jadi dia menghubunginya " Halo, aku sudah sudah menunggu di depan gedung " Risti langsung bicara ketika telepon mereka telah tersambung " Baiklah. Tunggu sebentar. Aku akan segera tiba disana! " " Baik " Dia menutup telepon setelah mendengar jawabannya Setelah beberapa saat menunggu akhirnya terlihat mobil Hendri. Ristipun tersenyum melihatnya. Hendri keluar dari mobil dan menghampiri Risti yang telah menunggu " Sudah lama menunggu? "Katanya sambil membukakan pintu mobil " Lumayan, kita ke apartemen ku dulu untuk mengambil koper! " " Baiklah! " Mereka berkendara menuju apartemen Risti yang tidak terlalu jauh dari kantornya. Hanya berkisar 30 atau 45 menit dari kantor. Setibanya di apartemen Risti langsung turun dan menawarkan Hendri untuk masuk " Kamu mau tunggu disini atau ikut masuk dengan ku kedalam? Semuanya sudah ku persiapkan, jadi hanya mengambil koper saja sebenar " Kata Risti sebelum turun dari mobil " Aku tunggu disini saja. Lagipula kamu hanya mengambil koper kan? ," " Baiklah, kamu tunggu disini! Aku tidak akan lama " Risti turun dari mobil dan melangkah masuk menuju apartemen. Dia kembali tidak lama setelah mengambil koper juga barang yang lainnya " Apa sudah selesai? " " Ya " " Tidak ada yang tertinggal? "Hendri mencoba memastikan " Tidak ada, kita bisa berangkat sekarang! " Kata Risti setelah yakin semuanya sudah tidak ada yang tertinggal " Baiklah, mari bergegas " Ketika hendak menyalahkan mobil, Risti menginstruksi. " Tunggu " Hendri menoleh dan mengurungkan niatnya " Ada apa? Apakah tertinggal sesuatu? " Risti menggelengkan kepalanya kemudian berkata " Tidak ada. Aku hanya,, Apa kamu sudah membawa semua yang kamu butuhkan? "Hendri hanya tersenyum kemudia berkata dengan lembut " Aku sudah membawa apa yang aku butuhkan, lagi pula sebagian barangku sudah ada disana" Mereka kemudian berkendara menuju bandara. Ditempat lain Satya juga tengah mempersiapkan keberangkatannya bersama Diandra " Apa ada yang ingin kamu beli sebelum keberangkatan kita besok? " Satya bertanya dengan lembut sambil berjalan menggandeng Diandra di sebuah mall " Sepertinya aku hanya membutuhkan gaun saja " Katanya sambil tersenyum pada Satya " Baiklah kita cari butik. Aku juga akan sekalian membeli setelan jas untukku " keduanya pun berjalan menuju butik Mereka juga memiliki janji bersama Nadia untuk makan bersama dan mempersiapkan keberangkatan mereka besok. " Halo gadis kecilku. Apa kamu sudah mempersiapkan semua yang diperlukan untuk keberangkatan kita besok? " Kata Satya saat menghubungi Nadia lewat telepon " Ya bodyguard ku sayang. Semua keperluanku sudah aku siapkan. Tapi aku tidak mempersiapkan punya mu? " Jawab Nadia dengan candaan sang kakak " Kenapa begitu? Kamu tidak menyiapkan punyaku? jahat sekali kamu. sama sekali tidak pengertian! " Kata Satya dengan sedikit nada marah " Untuk apa aku persiapkan punyamu? Sekarang ada kak Diandra bersamamu. Jadi sudah tidak perlu lagi bantuanku.. Hahaha" " Awas saja ya. Kalau kamu ada dihadapanku sudah ku pukul keningmu itu. Huh " " Sudahlah kak, berhenti mengancamku. Aku sudah tidak takut ancamanmu " " Kamu ini ya, benar - benar tidak menyayangi ku lagi . hiks hiks hiks" " Kakak, sudah berapa umurmu sekarang? Berhentilah main pura - pura begitu. Aku sudah menyiapkan semua keperluanmu juga " " Bagus. Itu baru gadis kecilku yang manis. Hehehe " " Ish dasar. Kamu sungguh menyebalkan kak. Entah apa yang dilihat kak Diandra darimu. sampai dia bisa jatuh cinta dan mau jadi pacaramu. Huh Sudahlah, aku sedang bersama Jimmy, jangan mengganggu ku terus. bye" " Eit tunggu du... " Nadia langsung menutup telepon tanpa menunggu jawaban Satya Jimmy yang berada didekatnya hanya senyum - senyum saja begitu pula dengan Diandra yang sedang bersama Satya " Kaliam ini ya kalau sudah bersama seperti anak kecil saja! "Kata Jimmy sambil tersenyum dan geleng - geleng kepala " Entahlah. Kakak masih saja memperlakukan aku seperti anak kecil. Dia terlalu protektif " kata Nadia sambil cemberut " Itu karena dia sangat mencintaimu " " Ya sepertinya begitu, tapi kadang itu terlalu menyebalkan" Kata Nadia sambil mengangkat kedua bahunya Chapter 169 Pesta pernikahan ( Tamat) Hari yang dinantikan akhirnya tiba.. Keluarga Yudha dan Gina semua sudah bersiap untuk pesta hari ini.. " Akhirnya hari yang kita nantikan sudah tiba. Apakah semua persiapan sudah selesai? " Kata nenek Julia kepada Gadis " Sudah bi, tenang saja semua sudah beres. Kita tinggal menunggu mereka bersiap sebelum kita berangkat ke gereja " " Kulihat Mario dan Steven juga sudah datang. Keluarga besar mereka terus saja mendesak ku untuk mencarikan jodoh untuk mereka berdua . Karena mereka mendengar Yudha bertemu Gina dalam perjodohan. Mereka pikir aku ini seorang pakar biro jodoh apa.. Hish menyebalkan " Keluh kakek Wijaya " Ish kau ini, apa salahnya jika kamu juga mencarikan mereka jodoh? " Kakek Dirga menimpali keluhan kakek Wijaya " Nanti juga mereka akan menemukan jodoh mereka ketika waktunya tiba. Tidak perlu pakai campur tangan orang lain segala " jawab kakek Wijaya acuh tak acuh Sementara di bawah sedang berdebat. Gina sedang dihias dikamarnya. Dia mengenakan gaun putih dengan gaya rambut di sanggul, walaupun menggunakan riasan wajah tipis, dia tetap terlihat cantik. Yudha menggunakan setelah jas hitam dengan dasi kupu - kupu, dia tetap terlihat begitu tampan. Pesta pernikahan mereka diadakan tidak jauh dari sana. Jadi tidak memakan waktu lama bagi mereka untuk tiba di tempat acara. Semua keluarga sudah berangkat lebih dulu. Hanya menyisakan Hendri dan Risti. Kalau - kalau mereka membutuhkan sesuatu Begitu Gina dan Yudha selesai dan menuruni tangga , Hendri sudah menyambut mereka di bagian paling dasar. " Tuan, nyonya. Yang lain sudah menunggu di tempat acara. Anda bisa langsung menuju kesana " Kata Hendri dengan begitu sopan " Baiklah kita berangkat sekarang! " Gina dan Yudha pun berjalan menuju mobil pengantin yang telah menunggu didepan. Dengan berhiaskan bunga di depannya. mobil itu terlihat begitu cantik Dibelakangnya sudah berjejer mobil hitam lain, sekitar 5 atau 6 mobil. Dengan merek dan warna yang sama, terlihat seperti hendak melakukan pawai. Mereka berkendara dengan kecepatan yang sama. Setelah beberapa lama akhirnya tiba ditempat acara. Yudha turun dari mobil terlebih dahulu, kemudian dia menuju pintu mobil lain untuk membantu sang istri. Mereka bergandengan menuju taman diselenggarakan pesta. Ketika memasuki tempat acara, seketika mereka menjadi pusat perhatian. Mereka berjalan diatas red carpet dan disambut oleh bunga - bunga yang indah dan berwarna - warni yang ditebarkan oleh para tamu yang menyambut mereka. " Waah,, Gina begitu cantik. Mereka benar - benar pasangan yang serasi " " Iya. mereka tidak diragukan lagi memang pasangan yang sempurna " " Tidak dapat dipungkiri, sungguh merekalah bintang utama hari ini " " Mereka benar - benat raka dan ratu dunia bisnis " Semua saling berbisik hingga tempat itu menjadi riuh ricuh. Banyak tamu yang di undang dan berasal dari kalangan pebisnis . Satu persatu tamu undangan mengucapkan selamat " Selamat untuk kalian, semoga selalu berbahagia " " Selamat tuan Yudha. Semoga berbahagia " " Selamat.... " " Selamat... " Gina dan Yudha membalas mereka dengan ucapan " Terimakasih " sambil tersenyum juga menganggukkan kepala " Kami hanya berharap kalian selalu bahagia. Sekarang seluruh dunia sudah tahu kalau kalian sudah menjadi sepasang suami istri. Kalian harus lebih saling menghargai satu sama lain. Dan saling mempercayai " Pesan kakek Dirga kepada pasangan berbahagia tersebut Acara pesta sangat meriah dan mengharukan dengan berbagai jamuan dan hiburan menambah kemeriahan pesta. Terlihat teman - teman mereka turut hadir untuk mendoakan kebahagiaan mereka. mulai dari Nadia, Jimmy, Satya, Diandra, Hendri, Risti. Steve, Mario. Dan Angel juga kekasihnya yang telah lama tidak bertemu Gina karena tinggal diluar negeri, juga ikut hadir melengkapi kebahagiaan mereka. Ayah Gina, Budi juga turut hadir untuk memberikan restu kepada sang putri. Gina begitu terharu dengan kehadiran begitu banyak orang yang dia sayangi. Hingga tanpa sadar air matanya berlinang. " Sayang, terimakasih telah melengkapi kebahagiaan dalam hidupku. Aku sungguh beruntung bisa bersanding denganmu " Kata Gina dengan mata berkaca - kaca " Aku juga berterimakasih karena dulu kau melamarku. Jika tidak, aku tidak akan mendapatkan kebahagiaan seperti ini. Terimakasih telah masuk dalam hidupku. Dengan adanya kamu dan anak - anak kita, kebahagiaan ku menjadi tambah lengkap. Kini tak akan kubiarkan orang lain menghancurkan kebahagiaan kita. Aku akan selalu berusaha membahagiakan mu juga anak kita sampai maut memisahkan " Kata Yudha dengan suara yang begitu lembut. Merekapun akhirnya saling berciuman dengan begitu mesra dan para tamu bersorak karena kegembiraan mereka ( Tamat) =================== Terimakasih telah setia dengan Gina dan Yudha selama ini. Maaf karena masih banyak kesalahan yang terdapat pada novel ini. Ini hanya karangan untuk sekedar menghibur. Jadi didalamnya hanyalah imajinasi tanpa adanya kisah nyata Sampai jumpa dilain kesempatan dan cerita lainnya. Mohon kritik dan sarannya ya supaya bisa bikin cerita yang lebih baik love you reader ???????? Chapter 170 Bonus episode " Hai sayang.. Apa yang sedang kamu pikirkan? " Tanya Yudha kepada sang istri. dia juga sedang menggendong Jingga ditangannya. " Tidak ada. Aku hanya memperhatikan Biru saja " Yudha menoleh ke arah Biru, dia sedang sibuk menonton televisi dan yang lebih mengherankan dia seperti mengerti tentang berita akan bisnis. Yudha tersenyum melihatnya "Sepertinya dia tertarik dengan bisnis. Lihatlah dia begitu fokus melihatnya " " Tapi dia masih kecil, aku ingin mereka menikmati masa mereka seperti anak - anak seusianya yang suka bermain " Kata Gina yang masih terus memperhatikan Biru " Sudahlah, biarkan saja. Aku akan membuatnya jadi pebisnis muda handal. Jika dia memang menyukainya " Yudha memberikan Jingga pada Gina dan menghampiri pangeran kecilnya " Anak papi sedang apa? " Yudha tersenyum sambil memegang kepala Biru, sehingga dia menoleh " Nonton televisi pi. Papi sudah pulang? " Yudha hanya tersenyum sambil menganggukkan kepala " Apa kamu tertarik pada bisnis, Biru? Mau papi ajarkan tentang bisnis? " Mata Biru terlihat berbinar mendengar tawaran Yudha " Benarkah? Papi mau mengajariku caranya berbisnis? "Biru terlihat begitu antusias Ya, bocah 5 tahun itu sepertinya menyukai bisnis. mungkin karena selalu menemani sang ayah saat bekerja dirumah. Atau entahlah, bagaimana bisa anak berusia 5 tahun mengerti akan bisnis " Kenapa kamu sangat berminat pada bisnis? " Tanya Yudha sambil mengernyitkan dahi " Aku ingin punya bisnis besar kaya papi dan mami " Jawabnya polos sambil tersenyum " Nanti kan perusahaan papi akan jadi milik kamu dan Jingga " " Aku ingin belajar mengelolanya supaya semakin besar papi " " Hah, bocah 5 tahun sudah berfikir mengelola bisnis supaya menjadi semakin besar? " Pikir Yudha yang merasa heran Gina hanya senyum - senyum saja melihat interaksi ayah dan anak itu. Dia tahu kalau kedua anaknya merupakan anak yang cerdas. Biru dan Jingga sudah fasih dalam mengoperasikan komputer dan internet. Gina yakin mereka bisa jadi pebisnis handal nantinya 5 tahun telah berselang setelah pesta pernikahan. Kini Biru dan Jingga sudah hampir berumur 5 tahun lebih. Biru mewarisi karakter sang ayah, tampan, tinggi, terlihat berwibara tapi bersikap dingin dan acuh tak acuh Sedangkan Jingga dia terlihat cantik, elegan, tapi sifatnya juga dingin. Mereka adalah anak yang cerdas. Malah kecerdasannya bisa dibilang melebihi anak seusianya. IQ dan EQ mereka diatas rata - rata. Biru sangat melindungi Jingga, mereka selalu bersama. Tapi tidak jarang anak perempuan berusaha mendekati Jingga, untuk bisa dekat dengan sang kakak. " Jingga kita main yuk? Nanti ajak kakakmu juga untuk main bersama kita. Aku punya boneka baru " Kata salah satu teman sekolahnya " Tidak, terimakasih! " Jawab Jingga datar sambil berlalu menuju kelas " Ich sombong sekali. mentang - mentang anak orang kaya. Jadi sombong begitu " Jingga mendengarnya dan berbalik menatap anak itu " Kamu pikir dengan kamu main bersama ku. Biru akan melihatmu dan tertarik padamu? huh jangan mimpi! " " Jingga kok kamu gitu sich? Kamu jahat! " " Aaach " Bruk Diapun akhirnya mendorong Jingga hingga jatuh dan dilihat oleh Biru " Hei, berhenti mengganggu adikku! " Teriak Biru dari belakang mereka. Dia mendekat dan membantu Jingga bangun " Kalian pikir, kalian ini siapa berani mengganggu adikku? " " Kami hanya,, hanya,,, " anak perempuan itu bicara terbata - bata " Sudahlah kak, ayo kita pergi. Kau harus membelikan ku es krim! " " Kenapa aku yang harus membelikanmu? " Tanya Biru heran " Anggap saja kau menghiburku karena salah satu penggemar mu menindasku lagi" Jingga tersenyum manis merayu sang kakak "Ach kau benar - benar menyebalkan. Kenapa kau hanya diam saja ketika dia mendorong mu? " Biru terlihat kesal dan nada suaranya sedikit meninggi " Tidak ada, aku hanya malas meladeni mereka. Penggemar mu itu sangat menyebalkan " " Sudahlah, ayo kita pulang. Mami sudah menunggu kita! " Selang berapa lama, mereka tiba si gerbang sekolah " Hai mami! " Biru dan Jingga dengan serempak memanggil Gina dan melambaikan tangan ketika melihatnya di depan gerbang sekolah " Hai sayang, bagaimana sekolah kalian? Ayo masuk ke dalam mobil! " kata Gina kepada Biru dan Jingga " Membosankan. Anak perempuan disekolah selalu saja berusaha merayuku agar mendekatkan kakak pada mereka " Keluh Jingga dan Gina hanya tersenyum saja " Mami, apa papi ada dirumah? " Kata Biru antusias dan tidak mempedulikan keluhan adiknya " Tidak ada, tapi papi akan segera pulang, memangnya kenapa sayang? " " Tidak ada. hanya saja aku memiliki sesuatu untuk dibahas dengan papi " " Apa itu? apa mami boleh tahu? " " Tidak, ini urusanku dengan papi " Chapter 171 Bonus episode (II) Begitu Yudha tiba di rumah sepulang dari kantor, dia langsung di hadang oleh Biru " Papi, katanya papi mau ajarin aku bisnis? " Yudha tersenyum dan menggendong Biru " Kamu benar - benar tertarik dengan bisnis? " " Tentu saja papi, aku serius. Aku sudah mengikuti pasar saham di internet. Dan perusahaan papi dan mami berada di harga saham paling tinggi. Aku juga ingin memiliki perusahaan seperti itu. Menjadi penguasa di dunia bisnis " " Hahaha, kamu akan jadi seperti itu setelah kamu cukup dewasa. Sekarang kamu harus belajar dengan giat dulu, hingga kamu di akui di dunia pendidikan. Jadi kamu tidak akan disia - siakan ataupun dianggap remeh. Mengerti? " Kata Yudha berusaha menjelaskan pada Biru " Baiklah papi aku tidak akan mengecewakan papi " Biru dengan suara tegas sambil membusungkan dada meyakinkan Yudha " Kak gantian dong, aku kan juga mau di gendong sama papi " Jingga berdiri dihadapan Yudha dan menarik - narik celananya. Yudah akhirnya menurunkan Biru dan menggendong Jingga " Kamu ganggu saja pembicaraan antara laki - laki " Biru mengerucutkan bibir saat turun dari pangkuan Yudha " Kalian ini, papi kan baru pulang. pasti papi cape, kenapa kalian malah berebut papi? " Gina menghampiri mereka bertiga " Biarkan saja. Aku senang dengan interaksi kami bertiga. Jingga apa kamu mau jadi pebisnis juga seperti Biru? " " Aku mau jadi model saja pih. Aku tidak tertarik dengan bisnis " Yudha mengerutkan kening mendengar sang putri kecilnya " Kenapa jadi model? " " Aku ingin terkenal tapi aku juga tidak mau sama seperti kalian yang menjadi pebisnis " Jelas Jingga sambil mencibir " Baiklah, papi terserah kalian saja. Asalkan kalian belajar dengan giat dan tidak mengecewakan papi juga mami " Yudha mencolek hidung kecil Jingga sambil tersenyum " Siap papi " Mereka berdua dengan kompak mengatakannya " Apapun yang kalian inginkan akan papi dukung, tapi kalian harus berusaha sendiri. Tanpa melibatkan papi dan mami. Papi yakin kalian bisa. Dan ketika saatnya tiba seluruh perusahaan papi dan mami pasti akan jadi milik kalian " kata Yudha pada kedua anaknya " Kami hanya akan mendukung dan melindungi kalian dari belakang. Kami akan memantau setiap pergerakan kalian tanpa harus ikut campur " sambung Yudha dalam hatinya Dia ingin anak - anaknya belajar bagaimana caranya berusaha tanpa menggunakan nama besar orang tuanya. Dia juga akan mendidik anaknya agar tangguh menghadapi siapapun tanpa adanya rasa takut. Dia tidak akan membiarkan anaknya merasakan yang namanya di injak dan direndahkan orang lain. Seperti yang selalu dia yakini. Keluarga Kusuma tidak boleh di tindas hanya boleh menindas. ===== Nadia dan Jimmy sudah menikah. Mereka telah memiliki 1 putri cantik berusia 3 tahun bernama Nazea Liana Dinata Nadia tetap menjadi direktur operasional dibawah pengawasan Gina. Kini perusahaannya sudah semakin berkembang. Perusahaan Dinata juga sudah melewati tahap kritis setelah diambil alih oleh Jimmy, dia tidak pernah ragu untuk meminta bantuan kepada Gina Hendri dan Risti juga sudah menikah dikaruniai 1 putri berusia 3 tahun bernama Ananta. Satya dan Diandra belum lama ini menikah. Diandra sudah tinggal di negara A bersama Satya dan tidak kembali ke luar negri. Mario dan Steven masih belum memutuskan untuk menikah. Mereka masih disibukkan dengan bisnis dan urusan politik. Steven dengan pembawaannya yang selalu tenang menjadi banyak incaran gadis - gadis. Dia belum lama ini sedang dekat dengan putri dari politikus di kota C. Sedangkan Mario dia yang lebih ceria dan ceplas ceplos selalu di jodohkan oleh keluarganya dengan ancaman tidak akan mendapatkan warisan. Sekarang dia sedang dekat seorang model cantik Chapter 172 Pengumuman Hallo readers makasih ya selalu setia sama novel ini. Karena banyak yang ingin lanjut, jadi authot akan lanjut dengan season 2 Season 2 akan diberi judul berbeda dari " PUTRA PUTRI SANG PENGUASA " Ini akan menceritakan usaha Biru menjalankan bisnis, juga usaha Jingga dalam menggapai cita - citanya untuk menjadi model tanpa menggunakan ketenaran orangtua mereka. Tentu akan diwarnai intrik dalam percintaan mereka Jadi jangan lupa follow untuk dapat notifikasi ketika season 2 sudah terbit Terimakasih Love you ???????? Chapter 173 Pengumuman Putra Putri Sang Penguasa Hai readers! " Putra Putri Sang Penguasa " akan update tanggal 6 Maret. Nantikan ya! Jangan lupa komentarnya supaya author bisa memperbaiki kekurangannya. dan Juga like dan vote supaya author lebih semangat Semoga cerita ini juga bisa menghibur reader semua.. Ingat tanggal 6 Maret!! Follow supaya bisa dapet notif langsung ketika cerita sudah up Terimakasih banyak Love you all ???????? Chapter 174 Pengumuman Hai readers " Putra Putri Sang Penguasa " sudah rilis silakan cari di pencarian atau di profil trus karya ku ya.. Jangan lupa komentarnya. supaya author bisa memperbaiki kekurangannya dan vote juga like supaya author bisa lebih semangat menulis.. Saran dan dukungan dari reader semua sangat membantu author loh Terimakasih banyak ???????? Love you all???????? Chapter 175 Gina yang kuat dan tegar akan lahir untuk mengejar hidup baru Yudha tiba di rumah kakeknya, Wijaya Kusuma setelah menyelesaikan sedikit masalah yang terjadi dengan perusahaannya. " Hai kek, nek " Dia menyapa kakek dan neneknya begitu memasuki rumah besar na mewah berlantai 3 tersebut. Nenek Julia dan kakek Wijaya teelihat sedang menikmati waktu mereka dengan menonton televisi. " Yudha? Ada angin apa sehingga kamu pulang kemari tanpa memberi tahukan apapun pada kami? " Tanya nenek Julia ketika mendengar suara Yudha dari belakang mereka " Aku akan menikah " " Uhuk uhuk " Kakek Wijaya yang sedang minum kopi, tersedak mendengar perkataan sang cucu yang kini telah duduk menis di dekat mereka dengan menyilangkan kaki dan tangan dilipat di dada "Apa kamu gila? Kamu pikir menikah itu gampang? tunangan tidak punya. pacar pun tidak ada. Bagaimana bisa kamu menikah? " Kata kakek Wijaya lagi setelah membersihkan mulutnya dengan tisu yang diberikan nenek Julia " Tentu saja aku sudah punya calonnya! " Jawab Yudha datar " Siapa dia? dari keluarga mana? gadis seperti apa? Apakah kalian sudaaaaah....? " Tanya nenek Julia dengan antusias " Kami tidak melakukan apa - apa.. Kami juga baru beberapa kali bertemu. Besok aku akan menjemputnya untuk menikah di KUA. Dan kalian bisa mengatur jamuan makan malam keluarga! " Katanya dingin sambil berdiri dan berjalan menuju kamarnya yang terletak di lantai 2 rumah ini " Hei, siapa gadis itu? Bagaimana mungkin kalian baru bertemu beberapa kali dan memutuskan menikah? " Tanya kakek Wijaya yang kini telah mengikuti Yudha dibelakangnya " Tentu saja bisa. Kakek bisa tanya sendiri pada kakek Dirga! " Katanya masih dengan nada acuh tak acuh " Maksudmu? Dia cucu dari Dirga Sanjaya? " Langkah kakek Wijaya seketika terhenti begitu Yudha mengatakannya " Ya! " Kakek Wijaya berbalik dan langsung meraih telepon rumahnya untuk menghubungi teman baiknya, Dirga sanjaya Tuuut tuut tuuut " Halo. Kediaman Sanjaya..." Tanya Mama Gadis yang belum selesai berbicara " saya ingin bicara dengan Dirga! " . "Maaf, ini siapa? " " Saya Wijaya Kusuma " " Oh, Om Wijaya. Apa kabar Om? Ini saya Gadis " " Oh Gadis.. saya sehat.. Papa kamu ada? " " Ada om, sebentar saya panggilkan! " Tak berselang lama " Halo,, Wijaya? " Sapa kakek Dirga " Halo, Dirga. Yudha mengatakan padaku kalau dia akan menikah dengan Gina? " " Benar, tadi mereka datang bersama kemari. Hoho akhirnya kita akan jadi besan " " Kamu benar. Akhirnya kita bisa menyatukan keluarga kita. Ku kira Gina tidak akan bisa mengambil hati cucuku yang dingin seperti gunung es itu " Entahlah, akupun tidak mengerti. Mengapa mereka ingin melangsungkan pernikahan secepatnya. Tapi tidak masalah, justru itu kabar bagus buat kita. Hahaha " " Kamu benar, sehingga kita bisa dengan cepat menimang cicit! " Kedua sahabat lama itu terus berbincang kesana kemari hingga hampir 1 jam lamanya " Baiklah Dirga, sampai jumpa besok di KUA " " Baiklah, sampai jumpa! " Akhirnya mereka mengakhiri panggilan teleponnya Ting Sebuah pesan diterima oleh Gina, diapun langsung membuka pesan itu dan membacanya "Persiapkam dirimu, karena besok kamu akan membuka lembaran baru sebagai istriku! " Gina tersenyum saat membaca pesan Yudha " Entahlah aku harus bagaimana setelah mendapat sebuah kehormatan sebagai calon istrimu. Apakah harus sedih atau senang? " Yudha tersenyum tipis saat membalas pesan dari Gina " Tidak perlu memikirkan apapun kali ini. yang pasti, kamu akan jadi wanita paling bahagia di dunia ini, karena telah bersanding dengan ku! " " Tuan,, Sepertinya Anda terlalu narsis " " Tidak papa jika kamu tidak percaya. Tapi akan ku pastikan, sebagai istriku, tidak akan ada seorang pun yang akan lolos jika berani mengganggu mu. Siapapun itu! " " Benarkah? aku sungguh menantikan hal itu tuan! " " Baiklah ini sudah larut. Istirahatlah. Kita bertemu besok di KUA " "Baiklah. Selamat malam " Mereka mengakhiri berkirim pesan. Namun disaat Gina baru saja memejamkan mata, ketakutannya kembali muncul " Tidak, ayah cepatlah pulang. tolong lepaskan aku. Aku tidak mau dikurung disini. Aku tidak bersalah ayah. Aku tidak merusak gaun milik Siska. Tolong lepaskan aku! " Gina terus saja merasa gelisah dalam tidurnya. Hingga dia kembali terjaga di malam yang sunyi dengan bercucuran keringat " Ternyata itu semua hanya mimpi! " Gina keluar dan menatap langit malam melalui balkon kamarnya "Apakah mimpi ini akan berakhir? Apakah benar aku bisa bahagia setelah menikah dengannya? Ku harap mimpi buruk ku selama ini benar - benar sudah berakhir sekarang " Gina kembali tidak bisa tidur malam itu. Seperti malam - malam sebelumnya, Gina hanya bisa tidur jika mengkonsumsi obat tidur atau obat penenang. Tanpa terasa malam telah berlalu dan berganti menjadi pagi. Gina hanya duduk semalaman memandangi langit yang berganti warna melalui jendela kamarnya. Hingga suara pintu dibuka menyadarkannya Ceklek... Krieettt.... " Gina,, apa kamu sudah bangun sayang? Ech kamu sudah bangun? Mama kira kamu akan terlambat bangun " Kata Gadis yang menyadari kalau Gina tengah duduk di kursi santai dengan menghadap ke jendela "Aku tidak pernah kesiangan mama " Kata Gina santai dengan senyum tipis di bibirnya " Baiklah, sekarang pengantin ini sudah waktunya bersiap untuk melangsungkan pernikahannya dengan sang pangetan. Mama harap kamu dapat bahagian bersama Yudha " Gadis berkata dengan linangan air matanya " Terimakasih mama, aku yakin akan menemukan kebahagiaan ku kali ini. Aku tidak akan mengalah lagi pada siapapun. Aku pasti akan mempertahankan apa yang harusnya jadi milikku mama. Mama tidak perlu khawatir lagi " " Mama percaya kalau kamu sekarang bisa mempertahankan apa yang harisnya kamu pertahankan. Sudah cukup kamu menderita selama ini. Kini saatnya kamu mengejar kebahagiaanmu! " Gina memeluk mamanya dengan erat " Aku akan mengejar kebahagiaanku mama. Tak akan ku biarkan orang lain kembali merampas apa yang menjadi milikku. Sudah cukup selama ini aku mengalah dan berbaik hati jadi mama tidak usah khawatir lagi ya! Gina yang lemah dan baik hati sudah mati bersama guyuran hujan malam itu. Kini adalah hari dimana Gina yang kuat dan tegar akan lahir untuk mengejar hidup baru! " Kata Gina dengan tatapan tajam " Mama percaya padamu! Sudahlah segeta bersiap sana. Kita akan berangkat ke KUA sebentar lagi " " Baik mama. Saya akan segera bersiap! " Gadis berbalik meninggalkan Gina dikamarnya untuk bersiap. Gina beranjak ke kamar mandi dan bersiap setelah mamanya keluar dari kamarnya, dia mengenakan setelan Kebaya putih yang begitu cantik tapi sederhana yang telah dipilihkan Yudha sebelumnya. Gina mengenakan riasan wajah yang tipis tapi tetap terlihat cantik. Setelah selesai bersiap dia turun dan menemui kakek dan ibunya yang telah menunggu di lantai bawah. " Kamu terlihat cantik cucuku! " " Tentu saja pah. Putriku kan memang cantik! " Kata mama Gadis dengan senyum manis namun linangan air mata " Kenapa mama malah meneteskan air mata? " kara Gina yabg kini mendekat ke mamanya dan menghapus air mata yang menetes di wajahnya " Mama tidak papa. Ayolah kita segera berangkat. Yudha dan keluarganya telah menunggu disana! " Chapter 176 pengumuman!!! Maaf reader saya sudah bilang kalau cerita ini akan di revisi total.. Sebelumnya saya sudsh revisi sampai eps 15. tapi karena banyak yg bingung jadi saya hapus eps 16 sampai akhir dan saya buat episode baru.. Tapi ternyata di novelnya malah nyambung episode sebelumnya.. maaf ya reader.. jadi yang saya buat ini adalah sambungan yang baru.. dari 15 langsung baca 175 baru bisa nyambung bacanya.. Saya mohon maaf yang sebesar - besarnya ???? saya akan coba perbaiki lagi ????