《Menikah karena Ancaman》 Chapter 1 episode 1 Zira seorang gadis yang mandiri dan dia mempunyai sebuah butik dengan hasil dari jerih payahnya sendiri, karena kerja kerasnya dia bisa mempunyai butik yang cukup terkenal di kota A. Pelanggannya hampir kebanyakan dari kalangan menengah ke atas, karena kualitas dan modelnya yang sangat bagus. Walaupun dia mempunyai sebuah butik dan bisa di bilang berpenghasilan lumayan tapi dia sangat sederhana. Dia tinggal di sebuah apartemen yang sederhana, karena baginya hidup sederhana lebih baik dari pada bermewah-mewahan karena prinsipnya di atas langit masih ada langit, Hidup di kota A merupakan pilihan yang harus di ambilnya karena orang tuanya sudah meninggal dan mau tidak mau dia harus bangkit dan tidak terus terpuruk dengan keadaan. Sampai bisa berhasil membuat butik dengan kerja kerasnya . Pagi hari yang cerah seperti biasa Zira berangkat ke butik dengan taxi online, bukan tidak bisa membeli sebuah mobil tapi dia gak mempunyai keberanian untuk mengendarai si roda empat. Sesampainya di butik dia langsung menyapa karyawan nya dengan senyumnya yang indah. " Pagi.. Apa kabarnya semua sehatkan?" " Kabar kami baik mbak." Karyawan menjawab dengan serentak dan tersenyum. "Baiklah aku masuk dulu ya. Oh iya Lina nanti kalo ada konsumen yang mau lihat design kita, antar kan saja langsung ke ruanganku ya." " Baik mbak." Lina adalah tangan kanan atau bisa di bilang orang nomor dua setelah Zira. Karena jika Zira ada kegiatan diluar kota yang akan menggantikannya adalah Lina. Suara telepon berbunyi, Dina menjawab telepon " Zira boutique selamat pagi ada yang bisa di bantu?" " Pagi dengan Nyonya Amel di sini, saya mau bicara dengan pemilik butik." " Baik nyonya akan saya sambungkan." Dina memencet extension telepon untuk ruangan zira " Mbak Zira ada sambungan telepon." " Dari siapa din?" Jawab Zira. " Dari nyonya Amel." Jawab Dina. " Nyonya Amel siapa ya? seperti nya kita tidak punya konsumen bernama nyonya Amel." " Gak tau juga mbak, apa perlu saya jawab mbak lagi tidak di tempat?" Jawab Dina. " Gak usah, aku jawab aja dulu mungkin mau jadi konsumen kita hehe." Jawab Zira. " Baik mbak." " Halo selamat pagi dengan Zira di sini, ada yang bisa saya bantu?" " Saya nyonya Amel, apa kamu pemilik Zira boutique?" Dengan suara sedikit ketus. " Ya saya Zira pemilik butik sekaligus designer nya, ada yang bisa saya bantu nyonya?" " Saya butuh design dari kamu." Dengan ramah Zira menjawab. " Owh baik Nyonya. Kalo boleh tau untuk di pakai acara apa Nyonya?" " Saya tidak suka berbicara di telepon saya mau kamu datang ke jalan. xxxxx No. 112." Jawab Nyonya Amel. " Baik saya akan datang." Jawab Zira. Tut Tut Tut suara telepon terputus. Zira berpikir mungkin Nyonya Amel banyak kegiatan sehingga dia tidak bisa datang ke butik. " Ok gak apa-apa namanya juga rezeki jangan di tolak, pembeli adalah raja dan ratu." Zira berbicara sendiri dengan wajah tersenyum. Dia berdiri dari kursinya dan berjalan dengan membawa tas dan alat alat yang di perlukannya. " Lina saya mau pergi keluar dulu ada keperluan jadi selama saya di luar nanti kalau ada konsumen yang mau liat hasil design. bisa kamu perlihatkan ke mereka, kalau mereka bertanya di mana saya, kamu sudah tau harus jawab apa kan?" " Baik mbak." Jawab lina. " hello readers author masih dalam pembelajaran ya, silahkan komen dan berikan like nya untuk episode favorit kamu" Chapter 2 episode 2 Zira memilih aplikasi untuk memesan taxi online, tut tut suara telepon Zira berbunyi. " Dengan mbak Zira? Saya dari taxi online apakah benar mbak yang order." " Iya betul saya Zira, bisa jemput saya di jalan kertasana di depan Zira butik?" " Bjsa mbak, silahkan ditunggu mbak." " Ok." Akhirnya taxi online tersebut datang. Zira memasuki mobil tersebut, sambil berkata " Mas antarkan saya ke jalan xxxx." " Baik mbak." Selama perjalan Zira hanya menikmati dan mendengarkan musik yang di putar driver. Setelah 30 menit akhirnya Zira sampai di jalan xxxx. Dia bingung dan akhirnya si driver bertanya. " Mbak ini kita sudah sampai di jalan xxxx." Zira kaget dan berkata. " Eh eh iya mas, tapi jalan xxxx no. 112 yang mana ya, soalnya saya baru pertama juga ke jalan ini mas." " Owh iya jalan xxxx no. 112, kita putari aja jalan ini ya mbak." " Ok." Jawab Zira. Dan setelah memutari akhirnya sampailah taxi di depan mansion yang sangat besar sekali. " Mbak ini alamat yang di tuju." " Eh iya mas." Zira mengambil uang dari dalam dalam dompet dan menyerah beberapa lembar ke pada si driver. " Terimakasih ya mas." " Sama sama mbak." Zira tertegun melihat mansion yang sangat sangat besar. Sangking besarnya dia sampai terpesona dan lupa apa maksud kedatangannya. Sampai suara klakson mobil mengagetkannya. Tin tin tin tin. " Ternyata aku menghalangi jalan masuk ke dalam mansion yang indah ini. Zira melihat mobil mewah memasuki pekarangan, sambil berlari dia manfaatkan kesempatan untuk bertanya kepada penjaga mansion. " Siang pak, saya mau bertemu dengan Nyonya Amel." Tak lupa Zira melirik orang yang baru keluar dari mobil mewah tersebut. Padahal yang terlihat hanya punggungnya saja. " Ada keperluan apa anda dengan nyonya besar." Ucap penjaga. " Hem saya di telpon Nyonya untuk datang ke alamat ini pak." Sambil menyodorkan alamat yang telah di tulisnya. " Dan saya dari Zira boutique." Ucap Zira lagi. " Baiklah silahkan tunggu di sini." Penjaga tersebut berlari dan Zira menunggu di depan gerbang mansion tersebut dengan penjaga yang lainnya. Di dalam mansion. Nyonya Amel sedang duduk di ruang keluarga bersama dengan tuan muda Ziko. " Ziko sebentar lagi anniversary mama dan papa." " Tapi." Jawab Ziko ketus. " Mama mau kado apa dari aku." Ucap Ziko lagi. " Hemmm, Mama mau kamu menikah." Ziko sudah tau pasti itu kado yang di minta sama mamanya nikah dan nikah. Pengenalan Keluarga Raharsya Karakter Ziko Raharsya. Ziko anak sulung dari dua bersaudara berwajah tampan dan gagah. pekerja keras, keras kepala dan pantang di bantah. Karakter tuan besar Raharsya. Berwajah tampan, dan berwibawa. Walaupun rambut putih sudah menghiasi sebagian rambutnya tapi tetap terlihat gagah. Karakter Nyonya Amel. Berwajah cantik walaupun sudah ada garis garis halus di wajahnya, penyayang dan mempunyai pendirian yang kuat. Karakter Zelin. Anak bungsu dari nyonya Amel dan tuan raharsya. Cantik,manja, cerewet dan penyayang. " Mama. Mengapa tidak minta kado yang lain saja, mengapa harus menikah dan menikah. Mama kan tau aku sangat membenci perempuan." Ucap Ziko. Nyonya Amel tau mengapa anak sulung nya membenci perempuan karena hatinya pernah sangat dan sangat terluka karena perempuan. " Sayang sampai kapan kamu akan seperti ini." Ucap Nyonya Amel. Tidak berapa lama tuan besar datang dengan badan yang penuh keringat karena tuan besar baru selesai nge gym. Mansion tersebut sangat komplit ada gym ada bioskop mini kolam renang semua nya serba komplit. " Hello readers ini adalah novel pertama author mohon maaf jika ada typo dan kesalahan yang lainnya beri like dan pilih episode favorit kalian, dukungan kalian sangat berarti untuk melanjutkan novel ini,. terimakasih " Chapter 3 episode 3 " Ada cerita apa ini." Ucap tuan besar ikut nimbrung. " Ini pa, sebentar lagi anniversary kita dan mama minta kado sama Ziko, kadonya pernikahan sebuah pernikahan." Jawab Nyonya Amel. Tuan besar hanya menjawab Hemm. " Pa kenapa hanya di jawab Hem saja sih." Nyonya amel merengek sekaligus kesal dengan jawaban suaminya seperti tidak mendukung. Tidak selang berapa lama penjaga datang " Nyonya ada tamu, katanya dari Zira boutique." " Oh iya saya ada janji dengan Zira boutique, suruh masuk." Ucapa Nyonya Amel memberi perintah. Penjagapun berjalan keluar memanggil tamu majikannya. " Ingat ziko pembicaraan kita belum selesai." " Hemmm." Ucap Ziko malas. Di luar mansion Zira sudah kepanasan sambil menunggu penjaga yang belum juga kunjung datang. Dia mengipasi wajahnya dengan kertas yang di bawanya. Penjaga berlari dan berkata. " Nona silahkan masuk Nyonya Amel sudah menunggu." " Baik." Jawab Zira. Zira mengikuti penjaga tersebut dari belakang. Dia sampai tertegun melihat mansion yang indah tersebut dan juga melihat semua penjaga yang badannya hampir sama tegap dan besar. " Ini penjaga kembar semua ya? Badan dan wajahnya hampir mirip semua." Gumam Zira pelan sambil tersenyum tipis. Zira sampai di dalam mansion. Matanya melirik setiap sudut mansion, sambil berjalan mengikuti penjaga. Sampai berhenti di salah satu ruangan. Disana ada 3 orang yang lagi berbicara dan Zira tidak tau apa yang di bicarakan mereka, sampai akhirnya mereka terdiam melihat kedatangan Zira. Nyonya Amel memperhatikan Zira dari atas sampai kaki, bukan hanya Nyonya Amel tuan besar dan tuan muda juga memperhatikan nya. Dia bingung sambil melihat penampilannya. Menurutnya ada yang salah dengan penampilannya. " Saya dari Zira boutique." Ucap Zira memperkenalkan diri, untuk menyudahi tatapan mereka semua kepadanya. " Oh iya saya Nyonya Amel, ini suami saya Tuan Raharsya dan ini anak saya tuan muda Zikoiko Raharsya." Sambil mengulurkan tangannya bersalaman kepada Zira. Di dalam benaknya ternyata Nyonya Amel tidak seketus yang di bayangkannya. Orangnya ramah dan mau mengulurkan tangannya kepada Zira. Karena Zira memang ragu memulai untuk berjabat tangan. Sampai akhirnya Nyonya Amel yang memulai duluan. Tuan besar juga mau berjabat tangan dengannya. Hanya Ziko yang tidak mau berjabat tangan dengannya. Ziko hanya memandang sinis kearah wanita didepannya. " Saya memanggil kamu ke sini nona Zira, untuk mendesign baju untuk kami sekeluarga. Karena sebentar lagi wedding anniversary saya." Ucap Nyonya Amel menjelaskan. " Baik nyonya. Kalau boleh tau apa tema pesta nanti Nyonya." " Garden party." " Baik. Kapan pestanya akan berlangsung Nyonya?" " Dua minggu lagi." Zira kaget dan terbelalak karena waktunya tinggal sedikit, dan bingung harus memulainya. " Saya mau kamu merancang busana saya dan keluarga. Dan kamu harus menyerahkan hasil rancangan kamu besok." Zira kaget dan sekali lagi matanya yang indah melotot dan hanya bisa menjawab dengan kata. " Baik." Pembeli adalah raja dan ratu batinnya. Tuan muda hanya melirik dan senyum menyeringai seperti mengerti apa yang di derita gadis di depannya. Zira memberanikan diri bertanya kepada wanita paruh baya itu. " Maaf nyonya bisa tidak waktu penyerahan design di tambah waktunya. Karena kalo satu hari terlalu pendek waktunya." " Hemmm, baiklah saya kasih kamu waktu besok paling lambat jam 12 malam." Zira melotot lagi dan tidak bisa habis pikir dengan jalan pikiran Nyonya besar di depannya. " Hello readers ini adalah novel pertama author mohon maaf jika ada typo atau pun kesalahan yang lainnya, mohon berikan like dan dukungan nya , dan silahkan pilih episode favorit kalian, terimakasih " Chapter 4 episode 4 Ada suara seseorang dari luar dan suara tersebut semakin jelas karena yang mempunyai suara sudah masuk kedalam mansion " Mama oh mama, mama." " Mama di sini sayang. Ada apa? Kamu kenapa?" " Enggakak kok mama aku kangen, hehehe." Nyonya Amel selalu senyum dan tertawa Melihat kelakuan anak bungsunya yang selalu manja dan suka membuatnya tersenyum. Zelin melirik Zira, dan berkata. " Ini siapa ma?" " Owh ini designer kita, dia akan merancang pakaian wedding anniversary mama dan papa nanti." Zira memperkenalkan dirinya kepada Zelin dan memberikan tangannya untuk berjabat tangan. Tapi Zelin tidak menanggapinya dan hanya berkata dengan angkuh. " Enggakak usah sok akrab, buktikan saja kalo rancangan kamu bagus, baru kita bisa berteman." Jawabnya. Deg jantung Zira mendengarnya. Dalam batinnya. Sombong amat sih orang kayah ini. Zira menambah huruf h dari kaya jadi kayah, karena menurutnya kalo kaya aja sudah biasa tapi kalo kayah berarti luar biasa. " Baiklah nona Zira, sekarang keluarga saya sudah berkumpul semua. Jadi kamu tau dan bisa membayangkan design apa yang cocok untuk kami sekeluarga." " Baik Nyonya." Sambil terus berpikir cara menyelesaikan tugasnya. Dan tiba tiba dia melihat tuan muda jalan dan menghampirinya, lengannya yang besar sengaja menyenggol Zira, sambil tertawa dan berkata kepada mamanya. " Ma. Aku mau kembali ke kantor dan kamu nona, selesaikan tugasmu dengan benar." Ucap Ziko sambil tersenyum licik. Walaupun dengan seperti itu dia tetap tampan. Zira hanya mengelus lengannya yang kecil dan menahan sedikit sakit. Nyonya Amel hanya menyahut dengan jawaban. " Iya sayang, dan jangan lupa kadonya." Sambil tertawa. Tuan besar hanya senyum dan meninggalkan ruang keluarga, karena dia harus membersihkan tubuh nya yang lengket. " Baik Nyonya, jika tidak ada hal yang lainnya, saya izin harus menyelesaikan design." " Baiklah selesaikan design kamu dengan baik dan tepat waktu, saya menunggu kamu di sini besok." Zira pamit dan pergi keluar dari mansion tersebut, sambil memilih aplikasi taxi online. tut tut tut, suara hp Zira berbunyi. " Ya Hallo, suara dari seberang sana bertanya." " Mbak pesan taxi online?" " Iya." Jawab Zira. Zira ingin cepat keluar dari mansion itu dan kembali ke butik agar dapat menyelesaikan designnya cepat waktu. Tidak berapa lama taxi online tersebut sampai, Zira memasuki taxi tersebut dan duduk di belakang supir sambil memberitahukan alamat tujuannya, driver tersebut langsung mengangguk karena dia sudah paham, dan kebetulan Zira boutique berada di pusat kota dan sudah lumayan terkenal. Sesampai di depan butik Zira memberikan beberapa lembar uang kepada driver tersebut, sambil mengucapkan terima kasih. Zira langsung masuk ke dalam butik dengan wajah yang kusut wajahnya tetap manis dan cantik, karena kalo Cantik dari orok mau dia lagi nangis bobok apalagi lagi ngeden tetap cantik. Di dalam butiknya. Dia melihat banyak pengunjung yang datang, baik hanya sekedar melihat-melihat atau membelinya rancangannya. Zira masuk ke dalam ruangannya dan Lina mengikutinya dari belakang. " Ada kabar apa Lin?" " Tadi beberapa konsumen sudah datang dan mereka ingin design yang ini." Sambil menyerahkan beberapa lembar hasil design. " Owh ok." " Ini untuk Nyonya Merry, Nyonya siska, Nyonya Sinta dan." " Kenapa? Kok berhenti." Ucap Zira heran. " Begini mbak, nona sisil membatalkan design ini, dia tidak mau." " Terus." Ucap Zira lagi. Lina tau karena Zira selalu meminta alasan jika ada konsumen yang menolak designnya. " Katanya dia mau pakai design butik permata." " Dan." Ucap Zira menunggu kalimat selanjutnya. Lina melanjutkan perkataannya yang sempat tertunda, dia khawatir akan perasaan Zira. Jika dia mengatakan yang sebenarnya, tapi dia tetap mengatakannya secara pelan. " Kata Nona Sisil design mbak Zira tidak cocok dan katanya kampungan." " hello readers ini adalah novel pertama author jika ada kesalahan dalam typo dan kesalahan lainnya mohon maaf ,dan silahkan like episode favorit kalian, karena dukungan kalian sangat berarti buat author ,. terimakasih Chapter 5 episode 5 Mendengar kata kampungan Zira tertawa, tidak ada merasa kecewa sedikitpun, karena menurutnya alasan nona sisil terlalu di buat buat. " Baiklah Lin, gak masalah kalo nona sisil membatalkannya, dan untuk design ini kapan rencananya mereka mau pakai." Lina menjelaskan semua dengan detail kepada Zira. " Ok berarti kamu bisa serahkan design ini kepada penjahit kita." Sambil menyerahkan design kepada Lina. " Baik mbak." Zira tidak mengetahui perputaran waktu yang begitu cepat sampai suara perutnya memanggil. Owh ternyata aku belum makan siang batin nya. Kemudian Zira menelepon extension ke resepsionis Dina. " Din semua karyawan sudah makan apa belum?" " Hehe mbak, sekarangkan sudah jam 3 sore pastilah kami sudah makan siang." Jawabnya. Zira pun kaget dia tidak melihat jam, ternyata pekerjaannya di mansion itu menghabiskan banyak waktu batinnya. " Oklah kalo begitu." Ucap Zira sambil menutup panggilannya. Zira memilih aplikasi untuk order makan siang atau sore yang telah tertunda. Sambil menunggu makanannya datang Zira berpikir, Nyonya Amel memang orang kaya, yang susah di tebak, di awal dia berpikir kalau Nyonya Amel ketus dan jutek, dan di mansion Zira merubah karakter Nyonya Amel sangat bersahabat, tetapi pada saat Nyonya Amel minta designnya di serahkan besok, Zira bingung mau menyimpulkan apa karakter wanita paruh baya itu. Makanannya datang dan Zira makan dengan sangat lahap karena memang sudah lapar, dengan perut yang terisi dia bisa berkonsentrasi untuk membuat design permintaan Nyonya Amel. Zira menyelesaikan design dengan cermat dan hati-hati , ingin rasanya dia tidak terima pesanan nyonya amel, tapi dia sudah tau kekuatan dan pengaruh keluarga raharsya, awalnya Zira tidak mengetahui tapi setelah di mansion Zira mengetahui semuanya. Tidak terasa waktu sudah menunjukkan jam 5 sore, dia bergegas untuk pulang dan melanjutkan designnya di apartemen. Tidak lupa Zira memilih aplikasi taxi online untuk mengantarkannya pulang. Sesampainya di apartemen Zira meletakkan semua kepenatannya di dalam bilik air, karena badannya terasa lengket , setelah itu dia kembali ke dapur untuk memasak makanan sederhana untuk makan malamnya. Tut Tut Tut ponselnya berbunyi. Zira melihat layar ponselnya ada nama Novi tertera di situ. Novi adalah sahabatnya yang tinggal di kota B. " Halo apa kabarnya say." Ucap Zira mengawali percakapan itu. " Baik, kamu apa kabarnya?" Novi kembali bertanya kepada Zira. " Aku baik." Mereka berbicara panjang lebar sambil sesekali tertawa, malam semakin larut akhirnya percakapan merekapun terhenti. Dengan cepat Zira langsung tertidur di kasur, hari yang melelahkan baginya. Keesokan paginya. Zira bangun dari tidurnya sambil meregangkan otot-ototnya. Ingin rasanya dia membenamkan terus wajahya di dalam selimut. Tapi Zira teringat sesuatu kalo designnya belum selesai semuanya. Masih ada satu design yaitu design tuan muda. Zira langsung beranjak dari kasur dan menuju dapur. Menegakkan air mineral terlebih dahulu ke tenggorokannya dan setelah itu langsung ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Zira memakai pakaian yang simpel dan riasan seadanya karena dia tidak suka dengan riasan yang menor. Zira berangkat ke butik seperti biasa. Dalam beberapa menit dia sudah sampai di butiknya. Karena belum sarapan dia memesan sarapannya melalui aplikasi online. Sambil menyelesaikan perlahan-lahan tugasnya. " Lin, nanti saya pergi keluar mau menunjukkan design ke konsumen." " Memangnya siapa yang pesan mbak?" " Keluarga Raharsya." Lina kaget mendengar nama keluarga itu di sebut. " Apa! Mbak bukannya itu orang nomor satu di kota ini?" " Iya. Memangnya kenapa? Kok kamu bengong seperti itu." Ucap Zira melihat asisten terbengong-bengong. " Enggak mbak, kalau Keluarga itu yang saya dengar gak suka ada kesalahan sedikitpun kalopun ada kesalahan langsung mereka cancel dan bisa dibilang butik itu bisa di buat bangkrut." Ucap Lina menjelaskan. Deg jantung Zira Langsung berdebar kencang seperti getaran ponselnya. " hello readers ini adalah novel pertama author jika ada typo dan kesalahan yang lainnya mohon maaf, silahkan komen like episode favorit kalian, dukungan kalian sangat berarti untuk author, terima kasih " Chapter 6 episode 6 Zira tertegun mendengar ucapan karyawannya, tetapi dia selalu bisa menenangkan dengan caranya sendiri. " Menurut saya jika mereka order kepada butik kita berarti Zira boutique sudah memenuhi standar. " Iya juga ya mbak, padahal butik lain juga banyakya." " Nah justru dengan mereka order ke kita, bisa jadi awal butik kita menuju go Internasional, bener gak?" " Iya benar itu mbak." Di Mansion Keluarga Raharsya sudah melakukan kegiatan mereka masing-masing. Zelin pergi ke kampus, Ziko sudah ke kantor. Ziko menjadi presiden direktur untuk Raharsya grup menggantikan posisi papanya. Di ruang keluarga, Tuan besar membaca koran dan sesekali meminum kopinya, sedangkan nyonya Amel menikmati biskuit dan memainkan ponselnya. Mereka mengobrol di sana. " Ma, mengapa mama pesan baju dari designer itu? Siapa namanya?" " Oh Zira, memangnya kenapa pa?" " Biasanya mama selalu order ke tempat butik langganan mama?" " Zira boutique juga mempunyai kualitas yang tidak kalah bagus dengan butik kenamaan lainnya." Timpal Nyonya Amel. " Owh begitu, kenapa mama memberi waktu yang cukup singkat kepadanya? Apa mama enggak kasihan." Ucap Tuan besar lagi. " Haha papa papa, mama itu ada rencana buat dia dan Ziko." Tuan besar hanya mendengarkan sambil memberikan tersenyum bingung. " Jadi pa, mama itu sedang memberikan test kepadanya." Sambil tersenyum. " Ha! Test apa ma?" " Sebuah tes tentang seberapa besar tanggung jawabnya dengan pesanan kita." " Dan kalo dia lulus atau tidak lulus bagaimana?" Nyonya Amel membisikkan rencananya kepada tuan besar, tuan besar hanya melongo dan tidak habis pikir dengan rencana istrinya. Menurut tuan besar alasan istrinya masuk akal dan beliau menyetujui saja ide istrinya. Di gedung Kantor Raharsya grup. Tuan muda ziko duduk di kursi kebesarannya mengerjakan pekerjaannya sambil sesekali melirik layar laptopnya, suara pintu di ketuk. tok tok tok. " Iya masuk." Kevin masuk ke dalam ruangan sambil membawa sebuah laporan bisnis. " Tuan ini laporan perkembangan bisnis kita di kota C." Karakter Kevin. Kevin adalah asisten sekaligus tangan kanan tuan muda, berwajah ganteng mempunyai badan tinggi, orangnya dingin dan tidak banyak bicara. " Hemmm. Bagaimana dengan saham kita di perusahaan yang lainnya?" Sambil melihat hasil laporan yang di bawa Kevin. " Harga saham kita semakin meningkat tuan." Kevin menjelaskan semuanya dengan terperinci dan gamblang. Ziko mendengarkan dengan seksama. Setelah pembicaraan masalah pekerjaan selesai Ziko melanjutkan percakapan mengenai hal lain. " Sebentar lagi wedding anniversary mama dan papa. Mereka minta kado sebuah pernikahan, bagaimana menurutmu?" " Kalo menurut saya yang terbaik menurut tuan muda saja." " Kamu tidak memberikan jawaban yang membantu." Ucap Ziko ketus sambil mengeluh dan mengeluarkan nafas yang terasa berat. Kevin hanya tersenyum saja mendengarkan keluhan bosnya. " Tuan muda siang ini kita ada meeting dengan klien, di Restoran Z." " Persiapkan semuanya, sebentar lagi kita berangkat." Setelah urusan semuanya beres mereka pergi berangkat ke Restoran Z untuk menemui klien di sana. Sebelum berangkat tidak lupa Kevin berpesan kepada sekretaris Ziko untuk selalu standby di kantor. " Lili, Tuan muda ada meeting di luar jika ada dokumen bisa kamu simpan dulu, dan hari ini tuan muda tidak mau terima tamu siapapun." " Baik Pak." Mereka pergi meninggalkan gedung Raharsya grup menuju ke Restoran Z. Di butik. Zira telah menyelesaikan semua designnya. Ada rasa senang ketika pekerjaannya dapat selesai dengan tepat waktu. " Semoga keluarga Raharsya suka dengan designku." Gumam pelan sambil tersenyum dan melihat kertas designnya. " Lina, saya mau pergi ketemu dengan konsumen, kamu handle di sini ya." Ucap Zira. " Mbak mau ketemu keluarga Raharsya?" " Iya, saya mau menunjukkan hasil design ini." Ucap Zira sambil menunjukkan beberapa kertas. " Mbak mau saya ikut menemani?" Lina merasa khawatir, apakah bosnya bisa menangani konsumen seperti keluarga Raharsya. " Kalo kamu ikut siapa yang akan handle butik?" " Iya juga, aku tinggal di sini saja. Ya udah mbak hati hati ya, saya berdoa semoga keluarga Raharsya suka dengan design mbak Zira." " Aamiin. Baik lah saya berangkat ya, taxi online sudah menunggu di depantuh, sambil berjalan meninggalkan Lina. " Hello readers ini adalah novel pertama author mohon maaf jika ada typo atau pun kesalahan yang lainnya mohon maaf, dan like episode favorit kalian ya, karena dukungan kalian sangat berarti bagi author, terimakasih Chapter 7 episode 7 Di dalam taxi Zira menikmati alunan musik yang di putar driver dan akhirnya sampai lah alamat yang di tuju, Zira memberikan beberapa lembar uang kepada driver dan mengucapkan terimakasih. Zira berhenti menikmati keindahan mansion tersebut, menurut nya mansion itu sangat indah " Aku kembali lagi ke mansion ini, semangat semangat katanya menyemangati diri nya sendiri" Zira memencet bel , salah satu penjaga keluar seperti nya mereka sudah paham wajah Zira, " eh , ini nona yang kemaren kan" mau ketemu nyonya Amel ya "? " iya pak, saya ada janji mau ketemu dengan Nyonya, nyonya nya ada" ? " sebentar silahkan tunggu " penjaga tersebut meninggalkan Zira dengan penjaga yang lain, " Nyonya ada nona yang kemaren, mau ketemu sama nyonya" " yang kemaren mana"? " yang kemaren siang datang ke sini " " oh Zira, suruh masuk " penjaga langsung keluar dan menemui Zira sambil mempersilahkan Zira masuk ke dalam mansion " Selamat siang nyonya," Zira memberanikan diri menyapa dan memberikan senyum termanis nya kepada nyonya besar tersebut " Selamat siang nona Zira, silahkan duduk" Zira duduk di atas sofa setelah di persilahkan, karena kemaren Zira tidak di persilahkan duduk sama sekali sama si empunya mansion, " kamaren sama sekali gak ada di persilahkan duduk sekarang dengan senyum cantiknya nyonya ini ramah dan langsung mempersilahkan duduk, batin Zira " " Mau minum apa"? " terserah nyonya" " baiklah ", pak Budi ......tidak berapa lama datang seorang lelaki sudah cukup berumur, " bawakan minuman dingin dan cemilan untuk tamu kita" " baik.nyonya " " Hem bagaimana dengan design kamu" ? Zira memberikan kertas design nya kepada nyonya Amel. nyonya Amel memperhatikan dan tersenyum manis, " Ternyata nona ini sangat bertanggung jawab dan mempunyai rancangan yang sangat bagus, batin nyonya Amel " Zira menjelaskan design nya satu persatu, " baiklah saya suka dengan design kamu, dan saya terima design kamu" Zira yang mendengar nya bertepuk tangan penuh kesenangan Nyonya Amel memperhatikan ekspresi Zira sambil tersenyum , Zira mengukur nyonya Amel dan juga Tuan besar Zira memberanikan diri bertanya kepada nyonya Amel " nyonya , nona Zelin dan tuan muda ziko ada"? saya mau mengukur mereka juga"? " Zelin sebentar lagi pulang, dan ziko lagi di kantor nya" jawab nyonya Amel "deg, di kantor"? jadi saya mengukur tuan muda bagaimana nyonya" " Kamu datang saja ke kantor bilang saya yang suruh kamu datang" jawab nyonya Amel dengan tegas seperti sebuah perintah " baaaaik nyonya," Tidak berapa lama nona Zelin pulang , seperti biasa Zelin selalu ceria dan sampai di depan ruang keluarga zelin selalu memeluk mama dan papa nya dan memberikan ciuman seorang anak yang sangat sayang kepada orang tua nya. Zelin melirik ke arah Zira " Zelin kamu sudah pulang , ini design kamu" mamanya memberikan design yang telah di buat Zira Zelin melihat nya dan ekspresi wajahnya menunjukkan kalo dia sangat suka dengan rancangan Zira " ternyata kamu bagus juga" Zelin memberikan pujian kepada Zira " terimakasih nona muda," mari saya ukur Nona, Zira mengukur badan Zelin dan sesekali Zelin berkomunikasi dengan Zira, " kamu punya kualitas yang cukup bagus, jadi kita bisa berteman " sambil memberikan jari kelingking nya kepada Zira " Zira tersenyum dan juga memberikan jari kelingking nya sebagai tanda pertemanan mereka" Nyonya Amel dan tuan besar hanya memperhatikan tingkah mereka berdua sambil tersenyum tipis. " baiklah nyonya saya sudah mengukur Semua nya, saya akan ke kantor untuk bertemu dengan tuan muda, dan jika nanti sudah selesai saya akan menghubungi nyonya untuk fitting baju " nyonya Amel mengangguk kan kepala setuju Zira keluar dari mansion dan menunggu taxi yang sudah di order nya Di dalam taxi Zira memberikan alamatnya ke Driver " hello readers ini adalah novel pertama author mohon maaf jika ada typo atau pun kesalahan yang lainnya, berikan like untuk episode favorit kalian, dukungan kalian sangat berarti bagi author terimakasih" Chapter 8 episode 8 " Mbak kita sudah sampai" Zira sedikit kaget karena di dalam perjalanan dia melamun " eh iya pak, ini ongkos nya pak, terimakasih" Zira turun dan melihat gedung yang cukup tinggi, " Tinggi banget gedung ini ", Zira bergumam, sambil berjalan perlahan ke dalam gedung Zira sampai di depan loby dan langsung menuju meja resepsionis, " Selamat siang bisa di bantu " " Saya mau bertemu dengan tuan muda ziko" . " Maaf apa sudah buat janji "? " be belum ", tapi bilang saja kepadanya kalo Zira ingin menemuinya " Resepsionis hanya melihat Zira dan kemudian memencet extension yang di tuju, Zira hanya memperhatikan dan sesekali melihat sekeliling gedung tersebut " Maaf Presiden direktur tidak ada di tempat, silahkan anda buat janji dulu untuk menemui beliau " Zira mendengar Presiden direktur menelan ludah nya dengan pelan, " owh ternyata posisinya presiden direktur " gumamnya pelan " ya udah saya tunggu saja di sini, sampai dia datang " " Tapi nona, nona tidak bisa bertemu dengan presiden direktur tanpa membuat janji dulu, Resepsionis menjelaskan kepada Zira Zira berpikir , dia harus menyelesaikan tugas nya karena waktu nya tinggal sedikit, jadi mau tidak mau Zira bersikeras dengan Resepsionis tersebut " Saya mau menunggu di sini," kalo Bos kamu tidak mau berjumpa dengan saya itu urusan nanti " Zira menjawab dengan sedikit lantang Resepsionis kesal karena melihat keinginan tamu di depan nya " Ya sudah terserah jawab nya kesal " Zira tersenyum, Zira duduk di atas sofa sambil menunggu tuan muda ziko. Dia memainkan hp nya dan membaca WhatsApp yang masuk, dan membalas satu persatu pesan yang masuk, tak terasa Zira sudah menunggu sampai 1 jam. Zira mengeluh " Lama banget sih ini bos,hu " Tidak berapa lama, Tuan muda datang melalui pintu yang telah di buka oleh para security, dan di belakang nya ada Seseorang yang mengikuti nya dari belakang siapa lagi kalo bukan Kevin asisten pribadi nya tuan muda Zira berlari dan menghampiri Tuan muda " Tuan muda" , Zira berjalan sedikit berlari mengikuti langkah ziko yang cukup lebar karena ziko mempunyai badan yang cukup tinggi, " Tuan muda ziko hanya melirik dan berjalan saja tanpa memperdulikan Zira " Zira kesal dan dia ingat pesan dari Nyonya Amel " Tuan muda saya di pesan nyonya muda untuk menemui anda di sini " Tuan muda hanya berhenti sebentar , melihat Zira dari atas sampai bawah, dan tidak menghiraukan dan terus berjalan . Zira kaget , " dia tidak perduli Walaupun telah aku sebutkan nama mama nya ".Zira bergumam pelan Zira tidak putus asa Zira berpikir keras bagaimana caranya , " ahha " gumamnya Zira tau harus melakukan apa Zira mengikuti Tuan muda sambil berlari kecil " Tuan tuan " Zira sudah terlalu jauh ketinggalan dari tuan muda Akhirnya Zira berteriak " Tuan muda bagaimana dengan hubungan kita " Tuan muda mendengar itu langsung berhenti dan berbalik mendekati Zira " Aduh mati aku mati aku " gumamnya sambil memegangi tas nya dengan erat " Apa kamu bilang tadi" , Kevin yang berada di belakang tuan nya mengikuti nya dan berkata " Apa perlu saya usir nona ini tuan muda" Tuan muda ziko memberi kan isyarat, dan Kevin langsung mengerti dan mundur dua langkah " Saya tanya sekali lagi apa kamu bilang tadi" bentak Tuan muda ziko Zira kaget mendengar bentakan nya sambil mengelus dadanya yang masih berdebar kencang Semua orang berada di loby memperhatikan mereka ada juga yang berbisik bisik , sebelum Zira menjelaskan , lengannya sudah di tarik Tuan muda , Zira berjalan sedikit terseret karena langkah nya Tuan Muda sangat lebar , Semua orang memperhatikan tapi tidak berani banyak berkomentar secara takut dengan big bos " Hello readers ini adalah novel pertama author mohon maaf jika ada typo atau pun kesalahan lainnya , like episode favorit kalian dukungan Kalian sangat berarti , terimakasih " Chapter 9 episode 9 Lengan Zira di pegang dengan sangat kuat, tuan muda, Zira dan Kevin berdiri di depan lift, lift khusus presiden direktur, Kevin memencet tombol lift , mereka bertiga masuk ke dalam lift, lift pun menuju ke atas. Di dalam lift, " Eits sakit tau, " lepaskan rengeknya Tuan muda ziko hanya melirik tajam dan dingin seperti mau memakan mangsanya, tapi tidak mengurangi ketampanan nya. Pintu lift terbuka, Tuan muda ziko keluar dengan tetap menarik lengan Zira , diikuti dengan Kevin. Banyak karyawan yang melihat mereka tapi para karyawan hanya menunduk kan kepala karena mereka tidak mempunyai keberanian untuk bertatap muka dengan atasan nya. Akhirnya sampai, di depan ruangan tertulis presiden direktur Mereka masuk, dan di dalam ruangan dengan kasar Tuan muda melepaskan genggamannya , Zira mengelus - ngelus lengannya ,sambil mengomel Zira memang sedikit cerewet dan ngeyel orang nya, tapi dengan karyawan nya dia sangat bersahabat tetap tidak mengurangi kharisma nya sebagai atasan " Kalo lengan ku putus bagaimana," "Apa perduli ku " huh sambil menatap tajam Zira Zira memandangi setiap titik ruangan. Dia sangat terpesona melihat ruangan yang di tata semodern ini, pandangan Zira berhenti sampai ..... Tuan muda membentak nya " sekarang aku tanya mengapa kamu berbicara seperti itu tadi , bentak nya " Lagi lagi zira mengelus dadanya karena kaget dengan bentakan Tuan muda ziko " yang mana? Zira terlihat bodoh di depan Tuna muda ziko " " yang tadi !!! sambil terus menatap Zira seperti hendak memakan nya, " kamu ingat tidak , apa perlu aku keluar kan isi otak mu hah," , Tuan muda terus marah dan mendekat Secara perlahan , Zira ketakutan sampai Zira sudah berada di belakang tembok, sehingga mereka beradu mata sangat dekat sekali, nafas Tuan muda sampai terdengar begitu juga dengan jantung Zira . Sampai akhirnya " Aduh aduh " Zira memegang perut nya sambil sedikit membungkuk Tuan muda mundur dua langkah " haha pintar juga kamu bersandiwara ya "! kenapa apa kami takut sama ku ,huh " ?? Zira hanya meringis kesakitan Sampai Zira terduduk dengan ke dua lutut di tekuk, keringat nya bercucuran wajahnya pucat Melihat hal itu Tuan muda panik dan memanggil Kevin, " Kevin , Kevin " Kevin berlari dan masuk ke dalam ruangan Presiden direktur, " Ada apa Tuan muda "? " Dia ini kenapa " ? sambil menunjuk Zira Kevin mendekati Zira yang masih terduduk dengan melipat kedua lutut nya, " Seperti nya dia sakit tuan " " sakit ? ada - ada saja, panggil dokter Diki , cepat, " sambil sedikit membentak Kevin. Kevin pun berlari keluar ruangan dan segera menelepon dokter pribadi Tuan muda Di dalam ruangan Tuan muda ziko merasa khawatir , sesekali memegang rambut nya dengan ke dua tangan, wajah tampan nya kelihatan panik, Dia tidak tau harus berbuat apa Sampai Kevin kembali ke ruangan dan ingin mengangkat tubuh Zira " Eh kamu mau ngapain" ? tanya nya " Mau memindahkan nona ini ke sofa tuan" " gak usah, biar aku saja " jawab nya Kevin hanya memperhatikan , apakah tuan muda cemburu kepadaku , batin Kevin Tuan muda membawa tubuh zira ke dalam ruangan , yang di dalamnya terdapat kasur kamar mandi dan sebagainya. Dia meletakkan tubuh zira yang sudah pucat dan keringat dingin ada rasa kasihan melihatnya. Sampai Dokter Diki datang, Dokter Diki adalah dokter pribadi keluarga Raharsya sekaligus teman sekolah nya Tuan muda ziko, tak heran mereka sangat akrab Dokter Diki langsung masuk dan bertanya kepada Kevin " Dimana ziko"? Kevin hanya menunjukkan jari nya, Dokter Diki langsung mengikuti arah yang di tunjukkan Kevin " Dia siapa Ko "? itu panggilan Dokter Diki kepada ziko. " gak usah tanya dulu, kamu sembuh kan saja dulu dia" Tuan muda menjawab ketus " baik baik, tenang , aku akan memeriksa nya dulu " " eh kamu mau berbuat apa sama dia " tanya ziko , karena ziko Melihat Dokter Diki memasukkan stateskop dan membuka sedikit kancing baju nya Zira. " Aku mau memeriksa nya lah ", Dokter Diki menjelaskan sambil menggeleng - gelengkan kepala nya Sedangkan Kevin menahan ketawa nya takut Tuan muda ziko dengar " hello readers ini adalah novel pertama author mohon maaf jika ada typo atau pun kesalahan lainnya, like episode favorit kalian ya, dukungan kalian sangat berarti bagi author, terimakasih " Chapter 10 episode 10 " kamu bukan mau berbuat mesum di ruangan ku kan" tanya nya " haha ko ko " aku itu mau memeriksa nya saja, buang jauh pikiran kotormu itu Zira hanya mendengar Tidak banyak berkomentar , " yang mana yang sakit tanya dokter Diki ", apakah yang ini sakit ? " iya ,sambil terbata Zira menjawab nya " nona kamu itu ada sakit mag ,jadi tidak boleh telat makan" Dokter Diki menjelaskannya kepada Zira, Zira hanya mengangguk Dokter Diki berdiri dan menyerahkan resep obat ke Tuan muda , " kasih sama Kevin" , " ok ok ", kemudian Dokter Diki memberi kan resep nya ke Kevin, mengikuti perintah Tuan muda ziko, " baiklah aku pergi , dan untuk kamu nona makan jangan telat dan minum obat nya ya, " baik dokter , terimakasih." " Sama sama " Kevin hendak pergi untuk membeli obat tetapi langkah nya terhenti, karena Tuan muda ziko memanggil nya " Kevin belikan juga makanan untuk nona ini" aku tidak mau dia mati di ruangan ku , " baik tuan ". Zira hanya memonyongkan mulut nya yang imut, , " ternyata dia perhatian juga walaupun caranya kaku" , batin zira Tidak berapa lama Kevin pun kembali dengan membawa beberapa bungkus makanan dan juga obat Dia meletakkan semua nya di atas meja sofa " Kami sudah bisa duduk belum " tanya tuan muda ziko dengan ketus Zira berusaha duduk dari kasur dan hendak bangkit tapi kakinya masih lemas sehingga dia kembali terduduk di kasur Melihat hal itu Tuan muda ziko tidak tega Dia memerintahkan Kevin untuk membawa semua makanan ke dalam kamarnya, " nah makan semua,.jangan pulang sebelum kamu kenyang , perintah nya " Mengapa makanan nya banyak sekali" , aku bukan kerbau , tau! " Yang bilang kamu kerbau siapa " ? huh, aku mau kamu makan yang banyak biar sakit mu hilang, " tapi gak harus makan sebanyak ini" , " pokoknya habiskan , perintah nya " Kevin hanya tersenyum melihat kejadian lucu di depan nya, dia hanya sebagai saksi yang bisa Melihat tetapi tidak bisa berkomentar. Zira memakan sedikit demi sedikit makanan nya walaupun dia sudah merasa kenyang tapi apa daya di depan nya ada singa yang akan menerkam nya jika tidak habis semua "Dasar singa , Guman nya pelan" " siapa yang singa "?.huh, ternyata apa yang di ucapkan Zira kedengaran " haha bukan singa , Tuan salah dengar itu, sambil terbata bata, " Maksudnya aku mau singgah ke rumah teman setelah dari sini " hehe Tuan muda ziko pun hanya diam dan terus memperhatikan nona di depan nya, di dalam hati nya " ternyata nona ini manis juga, matanya yang indah, rambutnya yang lebat, kulit nya yang bersih dan bibirnya yang seksi " ntah apa yang di pikirkan nya ," " Tuan sudah habis semua, lihat ini " Zira menunjukkan semua makanan yang telah kosong, sambil mengelus ngelus perutnya " Minum obat mu" " galak amat sih, untung kamu tidak jadi dokter , kalo jadi dokter gak ada pasien yang mau berobat sama mu tuan, hahaha," Zira tertawa sambil memonyongkan sedikit bibir nya Kevin pun tertawa mendengar nya Tuan muda ziko langsung melirik ke arah Kevin, Kevin langsung menutup mulutnya dengan sigap " apa kamu bilang " , " hahaha aku hanya bercanda tuan muda ziko yang terhormat" gayanya Zira sambil membungkuk kan badannya seperti memberi hormat Ada rasa lucu Melihat kelakuan nona di depan nya tapi demi wibawa nya sebagai tuan muda , dia hanya menahan nya, " ya udah kamu pulang sekarang" " enak aja langsung di suruh pulang" , tugas ku belum selesai dengan mu Tuan " Apa lagi tugas mu" ? huh "Aku mau menyerahkan design ku," sambil berjalan keluar kamar dan mengambil design yang ada di dalam tas nya, " ini design ku" , Zira menyerah kan ke tangan Tuan muda ziko, tuan muda ziko mengambil dan meletakkan design Tersebut ke atas meja kerjanya " Ya sudah sana pulang" , " kamu mengusir ku tuan" ? " iya kenapa" " ya gak pa - pa" jawab santai Zira Melihat kelakuan nona ini pengen rasanya tuan muda ziko mengunci mulutnya dengan bibir nya " kamu berdiri dulu di sana tuan muda ziko yang terhormat " " Untuk apa aku berdiri " " hello readers ini adalah novel pertama author mohon maaf jika ada typo atau pun kesalahan lainnya, like episode favorit kalian ya, dukungan kalian sangat berarti bagi author terimakasih" Chapter 11 episode 11 " Kamu berdiri dulu di sana, aku mau mengukur mu" Zira menarik lengan tuan muda ziko , Tuan muda hanya mengikuti saja " Buka jas mu " " untuk apa aku membuka jas ku," huh, kamu mau mencabuli aku ya" " hahaha lawak nya, siapa yang mau mencabuli dirimu huh" jawab Zira ketus Kevin tertawa " diam ", tuan muda ziko dan Zira membentak Kevin secara bersamaan" Kevin langsung diam dengan ekspresi yang masih menahan tawa " Hei tuan, kamu itu kampungan atau apa sih, bagaimana aku bisa mengukur badan mu kalo kamu menggunakan ini huh, "sambil menunjuk jas nya "Memang nya kenapa kalo aku pake jas" , Zira memijit dahinya karena dia bingung mau menjelaskan kepada orang kaya di depan nya ini " begini tuan muda ziko yang terhormat, kalo aku mengukur mu pake jas, nanti hasilnya bisa beda loh" Akhirnya ziko membuka jas nya dia sudah paham dengan maksud Zira Zira mengukur Semua nya dengan teliti, Tuan muda ziko hanya memperhatikan wanita cantik di depan nya " kamu belum menjelaskan apa maksudnya ucapan mu tadi di loby"? huh " lagi " ?jawab Zira , karena dia bingung kenapa masih di bahas , Zira memukul dahinya pelan " iya , kenapa"? apa kamu tidak mau menjelaskan kepada ku"? " hahaha, tuan tuan aku tadi itu hanya bercanda saja ", aku menyebut nama mama mu tapi kamu tetap tidak mau mendengar kan ku, jadi aku ucapkan saja omongan nyeleneh seperti itu" sambil terus mengukur tuan muda " kamu mau buat malu aku " ya ? " ya gak lah, mana mungkin aku punya kuasa dan daya untuk membuat malu orang kaya seperti dirimu Tuan, ( sambil menekan intonasinya ) " baik lah sudah selesai " " sudah ya , cepat juga ya" jawab tuan muda polos" " memang nya kamu mau berapa lama tuan", sambil Merapikan semua peralatan nya "Baik lah aku mau pulang, terima kasih tuan muda atas waktu makanan nya dan obat nya" , Zira tersenyum manis Sebelum keluar, di depan pintu " Tuan muda, jangan suka marah nanti ketampanan mu hilang " hahaha " kamu " , Zira langsung kabur menghindari amukan singa Zira hanya tertawa dan keluar dengan hati yang senang karena tugas nya telah selesai , Zira langsung menuju butik untuk menyerahkan semuanya kepada Lina Ternyata waktu sudah menunjukkan pukul 4 sore, Zira menyerah Semua nya kepada Lina, Lina sudah mengerti dan mengangguk kan kepalanya mengikuti perintah Zira Kalo di perhatikan dia lucu juga dan imut, tuan ziko melamun sambil tersenyum memikirkan kejadian siang tadi. Tuan muda tersadar setelah dengan bunyi dering ponsel nya " yes mama," " apa Zira sudah ke sana" ? " ya sudah " Kenapa? " oh syukurlah, mama kira kamu akan berbuat menakutkan kepada nya" " Asal mama tau saja, nona yang mama kirim itu mempunyai cara untuk bisa berbicara kepadaku " oh ya." ternyata dia bisa juga mengendalikan anakku ( batin nyonya Amel ), " baiklah sayang , mama tunggu di rumah untuk makan malam ya " " Hem " , Tuan muda ziko mengerjakan pekerjaan yang sempat tertunda , walaupun pikiran nya masih terus terbayang dengan kelakuan zira Pintu ruanganmya terbuka, kamu jangan masuk, tapi Sisil sudah masuk ke dalam ruangan ziko, " Ada apa ini "? siapa yang mengijinkan kamu datang ke sini " bentak ziko " Tidak ada sayang, aku kangen sama kamu," Sisil memegang lengan ziko dengan manja, tapi ziko menghentakkan tangan Sisil dengan kasar " aw kamu kenapa kasar sayang" , " asal kamu tau ! aku bisa berbuat lebih kasar dari ini, sambil menunjuk kekuasaan nya kepada Sisil " " hello readers ini adalah novel pertama author mohon maaf jika ada typo atau pun kesalahan lainnya, like episode favorit kalian dukungan kalian sangat berarti bagi author , terimakasih " Chapter 12 episode 12 Flashback Ziko dan Sisil sudah menjalin kasih sejak duduk di bangku kuliah, mereka berdua kuliah di luar negeri , satu kampus tapi beda jurusan, Awalnya karena sama sama di perantauan jadi mereka akrab sampai akhirnya mereka berdua memantapkan hati nya . Sisil anak yang cantik dan seksi tak heran jika banyak pria menyukai nya, tidak terkecuali ziko, ziko sangat posesif kepada miliknya, semua yang di lakukan Sisil harus Minta izin nya. Sisil kadang merasa jenuh , tapi apa daya rencananya untuk menjadi nyonya Ziko Raharsya masih dalam proses, jadi dia selalu patuh kepada ziko. Akhir nya mereka wisuda dan mereka kembali ke tanah air, tapi ziko harus kembali lagi ke luar negeri untuk melanjutkan S2 nya , karena pesan dari papanya untuk menggantikan posisi papanya harus menyelesaikan S2 . Sisil dan ziko menjalani hubungan jarak jauh, " Sisil aku akan menempuh pendidikan di Luar negeri, aku mau kamu menjaga hati mu untuk ku" " tentu sayang, aku akan menunggu mu di sini " setelah selesai, aku akan melamar mu dan menjadi kan mu Nyonya ziko raharsya" " iya sayang, aku cinta sama kamu," mereka berdua berciuman sangat dalam Setelah menempuh pendidikan di Luar negeri ziko akhirnya pulang ke tanah air, dia sangat menunggu hari ini, hari untuk menemui kekasih nya , rindu yang sudah tidak tertahankan lagi Di bandara Ziko Melihat sisil sudah menunggu nya, ziko berlari menemui Sisil, dia langsung memeluk dan mencium hangat Sisil Sesuai janji papa nya, ziko mengambil alih sebagi Presiden direktur di Raharsya group. Ziko melamar Sisil , Ke dua orang tua sudah sangat setuju, tapi tidak dengan nyonya Amel Ada perasaan tidak tenang di dalam hati nya, nyonya Amel harus mengerahkan orang kepercayaan nya untuk menyelidiki Sisil dan keluarga nya Dan apa yang di takutkan Nyonya Amel ternyata benar, Keluarga Sisil ingin merebut harta Keluarga Raharsya, melalui ziko pasti akan gampang untuk mengambil alih Semua nya itu lah ucapan papanya Sisil . Secara ziko sangat mencintai Sisil pasti dengan gampang akan merebut semua nya Nyonya Amel tidak tega untuk memberitahu masalah ini kepada anaknya, Dia melihat ada kebahagiaan dari wajah anak sulung nya, Nyonya Amel tidak mungkin membuat anaknya terpuruk. nyonya Amel sangat putus asa. undangan sudah di cetak, baju pengantin sudah di pesan tinggal menunggu hari H . Nyonya Amel hanya berdoa semoga ada keajaiban, " Sisil seminggu lagi adalah hari pernikahan kita, tapi aku harus pergi ke luar negeri untuk mengurus pekerjaan di sana " " Mengapa kamu harus pergi sih sayang, kan kamu bisa menyuruh asisten mu, kamu kan mau menikah, Sisil memeluk lengan ziko dengan manja " " Karena itu aku harus pergi , setelah kita menikah aku akan mengambil cuti lama, aku mau honey moon keliling Eropa " Itulah percakapan mereka sebelum ziko pergi ke luar negeri Ziko di luar negeri hanya dua hari dia bisa menyelesaikan pekerjaan nya dengan sangat cepat,. ziko tidak memberi kabar kepada Sisil dia akan memberi kejutan kepada calon istrinya " Kevin antar aku ke apartemen Sisil, aku sudah kangen dengan calon istri ku" " baik tuan " Ziko membukanya pintu apartemen, apartemen itu adalah milik ziko jadi tidak heran jika ziko punya kunci nya juga, Dia mencari sisil dengan perlahan dan senyap, tapi ziko sangat terkejut melihat calon istrinya sedang bercumbu dengan seorang pria, Wajah ziko merah rahangnya menunjukkan kemarahan yang luar biasa, ziko menarik laki-laki tersebut dan memukul sampai berdarah darah, Sisil kaget dan hanya berteriak , Sisil hanya memakai selimut untuk menutupi tubuh nya. Mendengar teriakan-teriakan Sisil , Kevin langsung masuk dan memberhentikan perkelahian itu. " Tuan jangan kotori tangan mu" , ziko berhenti " Kamu perempuan murahan " bentak nya, ziko ingin menampar Sisil tapi dia tidak punya keberanian karena ziko sangat mencintai Sisil. " enyah kamu dari wajah ku, hubungan kita telah berakhir " " Maaf kan aku, aku khilaf", aku sangat mencintaimu , sambil menangis tersedu - sedu " masih berani kamu bilang cinta kepada ku " , bentak ziko " hello readers ini adalah novel pertama author mohon maaf jika ada typo atau pun kesalahan lainnya, like episode favorit kalian, dukungan kalian sangat berarti bagi author terimakasih " Chapter 13 episode 13 Ziko memegang dagu Sisil dengan keras " Kamu tidak akan pernah ada di dalam hati ku, kamu telah mengkhianati ku, aku benci sama kamu, pergi kamu dari apartemen ku, waktu mu hanya 10 menit ", bentak ziko Sisil merasa takut melihat reaksi ziko, badan nya gemetar, ziko yang selama ini sangat memanjakan nya tetapi yang di depan nya berubah menjadi ziko yang menakutkan Sisil bergegas pergi ke kamar untuk mengambil dan mengemasi barang-barang nya dengan tergesa-gesa " 10, 9,8,7,6,5,4,3,2,1", waktu mu telah habis nona Sisil " ziko menarik tangan Sisil dan melemparkan nya keluar, " ziko maaf kan aku, aku tau aku salah," sambil menangis " diam kamu! " , sekarang kamu pergi dari hadapan ku, teriak nya " Tapi barang - barang ku masih banyak di dalam ", sambil memelas kepada ziko " barang - barang mu akan aku bakar ," Ziko memerintahkan Kevin untuk membawa keluar Sisil ,dia sudah muak melihat kelakuan Sisil Ziko terpuruk tidak membayangkan calon istrinya telah mengkhianati nya Nyonya Amel telah mengetahui masalah anaknya, dia hanya memberikan semangat untuk anak nya, Pesta pernikahan telah di batalkan, ini merupakan penghinaan untuk keluarga Rahasrya , kekuasaan keluarga Raharsya bisa menutup masalah dengan rapat tanpa harus publik tau. Semenjak itu ziko menjadi anak yang pemarah dingin, pendendam dan sangat membenci perempuan Di ruangan Presiden direktur " Kamu masih punya muka untuk berjumpa dengan ku, ha " ! bentak nya " sayang aku tau aku salah, dan kamu masih mencintai ku" " kamu terlalu percaya diri nona Sisil ,"Kevin yang melihat kejadian itu merasa geram, tapi dia tidak berani berbuat sebelum dapat instruksi dari bos nya " kamu memang masih mencintai ku, bukti nya selama 3 tahun kamu belum menikah juga" , Sisil bicara manja, untuk melunakkan hati ziko " Hahaha", ziko bertepuk tangan , " kamu pintar membuat sandiwara, kenapa kamu kesini apa kamu kekurangan uang ha !"bentak ziko Sisil jadi terdiam ekspresi nya yang manja menjadi kaku. " Kenapa diam"? benar tebakan ku usir nona ini dari sini dan pastikan jangan pernah dia menginjakkan kaki nya lagi di gedung ini, " " siap ,"Kevin menarik kasar tangan sisil, Sisil tidak bisa melawan Kevin, " lepaskan tangan ku lepaskan," Sisil meronta Jangan pernah kamu datang ke sini lagi, jika kamu berani datang ke sini kakimu yang indah akan hilang , ancam Kevin " sisil ketakutan, sisil di seret Kevin " " lepaskan aku bisa keluar sendiri," " bagus kalo gitu, " aku kira kamu tidak tau jalan keluar nya kalo kamu tidak tau jalannya aku bisa melempar kamu dari lantai 30 ini" , bentak Kevin Akhirnya Sisil keluar sendiri , ada beberapa karyawan yang melihat Sisil, mereka berbisik - bisik " kalo gak salah itu kan mantan nya Presiden direktur, mengapa dia datang ke sini lagi, apa mereka menjalin hubungan lagi ," Sisil mendengar obrolan karyawan itu, tapi dia tidak marah karena menurutnya karyawan di sini tidak tau tentang penghinaan yang telah di dapatkan nya, Sisil berjalan dengan langkah anggun dan mendongakkan sedikit wajah nya, keangkuhan nya terlihat jelas " Sudah kamu usir perempuan murahan itu" ? tanya Tuan muda " Sudah tuan, dia sudah keluar dari loby dan telah pergi menggunakan mobil nya, apa ada tugas lagi tuan? " Aku mau pulang, " " baik Tuan" Kevin dan Tuan muda ziko pergi meninggalkan gedung Rahasrya group menuju mansion " Hello readers ini adalah novel pertama author mohon maaf jika ada typo atau pun kesalahan lainnya, like episode favorit kalian ya, dukungan kalian sangat berarti bagi author terimakasih" Chapter 14 episode 14 Sisil mengendarai mobil nya dengan kecepatan sedang, " Aku benci kamu ziko, benci, aku harus mendapatkan mu, aku harus, berani berani nya kamu menolak cinta ku " teriak Sisil Selama tiga tahun Sisil tidak menjalin hubungan dengan Tuan muda ziko , Sisil sudah merasa bosan dengan semua pasangan nya, menurut nya kekayaan mereka tidak sebanding dengan kekayaan ziko, selama 3 tahun Sisil menahan diri untuk mendekati ziko, menurut nya ini lah kesempatan nya untuk kembali mendekati ziko " " Ziko aku belum memiliki mu, aku belum menjadi nyonya Ziko, tidak ada yang boleh memiliki mu " hahahaha Mobil mewah Tuan muda berjalan dengan kecepatan sedang menuju mansion, Tuan muda menyandarkan kepala sambil memejamkan matanya. " Sudah berapa lama dia kembali ke sini "? Sisil selama 3 tahun ini tinggal di luar negeri , dia pergi sesuai dengan instruksi ziko, menghilang dari hadapan Ziko " Sudah satu bulan ini dia kembali Tuan ,"" Mengapa dia kembali kesini" ? kamu cari tau tentang dia " Baik tuan " Ziko memejamkan mata nya, kenangan nya bersama Sisil kembali di dalam memori nya, " ah " teriak Tuan muda ziko Kevin mengetahui apa yang telah di pikiran tuan nya, dia selalu ada cara untuk mengatasi semua masalah bos nya. " Tuan " " hem" " Apa tuan tidak mau mengetahui tentang nona Zira "? Mendengar nama Zira , tuan muda ziko langsung membuka matanya, " kenapa kamu bertanya kepada ku" , selidiknya, " oh tidak , saya sudah mendapatkan semua informasi tentang nona Zira, baiklah tidak usah di bahas tentang nona Zira " " hey apa maksud kamu" tidak di bahas ? Kevin tersenyum tipis, dia sudah mengerti arah pembicaraan Tuan nya. Ziko merasa penasaran tentang Zira, bayangan wajah Zira menghiasi kembali pikiran nya, kejadian tadi siang masih melekat jelas di kepalanya " Nona Zira pemilik dari Zira boutique, dia sudah merintis selama 5 tahun, kedua orang tua nya sudah meninggal, dia di asuh oleh neneknya, ketika neneknya meninggal dia berangkat ke kota untuk mencari rezeki, dia pernah ketipu sehingga pernah jadi gembel di pinggir jalan sampai dia bertemu dengan orang yang begitu baik kepada nya" semua di ceritakan Kevin, Tuan muda merasa iba dan kasihan mendengar kisah Zira, " mungkin itu yang membuat dia menjadi wanita pemberani " , guman Tuan muda ziko Kevin hanya mengangguk kan kepala nya. Mereka sudah sampai di mansion, Tuan muda ziko turun dari mobil " kamu pulang dan istirahat lah ,"Kevin menganggukkan kepalanya , Tuan muda ziko memasuki mansion dan Melihat semua keluarga nya sudah di duduk di meja makan, " Hai ma pa " , sapa nya, sambil berjalan mencium pipi mama nya " Hai sayang, mari makan ,"" Aku mau mandi dulu ", sambil berjalan meninggalkan meja makan " Baiklah kami tunggu di sini ya sayang, " jawab nyonya " " Hem " Tuan muda ziko telah selesai membersihkan badannya, dia langsung menuju ke meja makan, di sana Keluarga Raharsya makan dengan lahap tanpa ada yang berkata sepatah katapun, tradisi di keluarga Raharsya tidak boleh berbicara ketika sedang makan. Setelah selesai makan mereka duduk di ruang keluarga, ruang favorit mereka semua. " Iko , panggilan sayang mama nya, bagaimana dengan kado mama dan papa. Kamu sudah menyiapkan nya ? "Tuan muda ziko mengeluarkan nafas nya dengan kasar , " sudah lah ma, gak usah minta kado itu lagi, aku belum mau menikah " " kamu itu sudah 30 tahun ,sudah cukup dewasa untuk menikah, apa lagi yang kamu tunggu, apa perlu mama Carikan calon pengantin nya" , tanya nyonya Amel " Apa ! sudah lah ma, gak usah bahas masalah ini, aku capek " Ziko pergi meninggalkan ruang keluarga, tuan besar dan nyonya Amel saling berpandangan, " Baiklah , lanjut ke rencana ke dua ," guman nyonya Amel pelan " Apa rencana kedua ?" tanya Zelin penuh selidik " hus ", nyonya Amel menutup mulut Zelin dengan jari telunjuk nya " Mama ada rencana apa "? tanya Zelin " Nanti kamu akan tau juga, kamu jangan banyak bicara kamu masih kecil " ah mama selalu menganggap ku kecil, aku itu Udah dewasa loh ma, aku juga bisa buat anak loh " Zelin menjawab spontan sambil menutup mulut nya dengan kedua tangan nya. " Apa kamu bilang "? Nyonya Amel dan Tuan besar serentak mengucapkannya " hello readers ini adalah novel pertama author mohon maaf jika ada typo atau pun kesalahan lainnya, like episode favorit kalian ya, dukungan kalian sangat berarti bagi author terimakasih " Chapter 15 episode 15 " hahaha , ma pa aku hanya bercanda kok ", menjawab dengan kikuk " kamu hati-hati dengan ucapan mu sayang, Jagan pernah kamu melakukan hal-hal yang merugikan dirimu sendiri " , Nyonya Amel berbicara dengan penuh ketegasan " gak kok ma, aku bisa menjaga diri ku " " Kamu tau Zelin, jika kamu melakukan hubungan di luar nikah kamu akan papa coret dari daftar keluarga ", Tuan besar menekankan intonasi bicara nya Zelin menelan ludah nya dengan kasar " hehe iya pa , aman itu " Malam pun sudah larut keluarga Raharsya masuk ke dalam kamarnya masing-masing. Seperti biasa Zira selalu menyempatkan untuk berkomunikasi dengan sahabat nya Novi, selalu bertanya tentang kabar si imut Kiki. Novi tinggal di beda kota dengan Zira, tapi persahabatan mereka tidak berkurang sedikit pun, Novi sudah berumah tangga dan mempunyai anak yang bernama Kiki, Novi menikah dengan karyawan biasa, kehidupan rumah tangga nya sangat harmonis " Kiki lagi ngapain? " " ya sudah bobo, sekarang kan jam 10, makanya cepat an nikah biar punya anak , jadi tau jam berapa waktu nya anak tidur," canda Novi " ha , aku masih belum memikirkan itu nov, aku masih menikmati kesendirian ku " " sampai kapan kamu sendiri"?, kamu tidak pernah punya kekasih, umur kamu sudah 25, apa kamu tidak takut nanti jadi perawan tua , ha "? " hahaha, aku pasti akan menikah dengan pangeran ku, " canda Zira " pangeran pangeran, kekasih aja gak punya, apa mau aku cari kan calon buat kamu"? " hei kamu pikir aku gak bisa cari sendiri "? " hahaha jangan tensi sayang, ya kamu bisa cari sendiri, tapi kamu ada waktu gak"? " ah sudah lah aku ngantuk , salam sayang untuk si imut Kiki ya ,"" kebiasaan nih ,kalo di ajak ngobrol langsung aja mengalihkan pembicaraan, hahaha, ya salam mu akan aku sampai kan , kamu jaga diri di sana ya " ya, da selamat malam " Zira memikirkan obrolan nya dengan Novi " apa aku harus mencari pangeran impian ku, ah aku kan perempuan gengsi lah, di mana harga diri ku, tapi kalo aku tidak membuka diri bagaimana ya, aku juga ingin punya keluarga seperti Novi " ,Zira bergumam sendiri sampai dia terlelap masuk ke alam mimpi nya. Keesokan hari nya alarm ponsel nya berbunyi, arrrrgh zira mengulet dan mematikan ponsel nya, hari ini adalah hari libur , Zira bisa sedikit bersantai dahulu sebelum pergi ke butik Zira melakukan aktivitas nya, memasak sarapan membersihkan apartemen semua pekerjaan rumah tangga bisa dia lakukan, Suara ponsel nya berbunyi, Zira berjalan santai mendekati ponsel nya, dilayar ponsel nya tertulis Zira boutique, " ya halo, ada apa Lin" " mbak ini ada tamu, mau ketemu dengan mbak Zira " Siapa"? namanya Tuan Fiko, dia sedang menunggu di ruangan mbak Zira " kamu gak bilang kalo aku masih lama, ini kan weekend "? " udah mbak, tapi tuan itu tidak mau pergi, dia bilang akan menunggu mbak Zira di dalam " coba tanya apa keperluan nya ", " iya sebentar mbak", Lina meletakkan gagang telepon, Lina bertanya kepada tamu Zira, kemudian Lina kembali mengangkat telepon " katanya dia ada urusan dengan mbak Zira ,"" Ya udah suruh tunggu, aku bersiap siap dulu , awasi gerak gerik nya, dan jangan kamu tinggal kan dia di ruangan ku sendirian ", perintah Zira " hello readers ini adalah novel pertama author mohon maaf jika ada typo atau pun kesalahan lainnya, like episode favorit kalian dukungan kalian sangat berarti bagi author terimakasih " Chapter 16 episode 16 Zira bersiap - siap , dia mengenakan baju yang tidak terlalu formal tapi masih terlihat kesan feminim nya, dia berkaca melihat penampilan nya sudah sangat cantik. Zira melangkahkan kakinya keluar apartemen, taxi online sudah menunggu di depan apartemennya. Taxi online sudah berjalan meninggalkan apartemen menuju tempat yang di tuju, lalu lintas sedikit macet ,banyak yang melakukan aktivitas di luar untuk menghabiskan waktu weekend nya. Taxi sudah berhenti , Zira memberikan beberapa uang dan berjalan menuju butik nya. Karena ini weekend Zira boutique banyak di datangi pelanggan, Zira sangat senang banyak yang menyukai hasil karya nya. Zira menyusuri jalan dan menuju ruangan nya di lantai 3. Zira memegang handle pintu dan memasuki ruangan nya, Lina pun berdiri dan mendekati Zira, mbak ini Tuan fiko , Lina memperkenalkan tuan fiko kepada Zira Tuan fiko berdiri dari tempat duduknya memberikan tangan nya untuk bersalaman kepada Zira, Zira menyambut nya kembali Fiko, sapanya dengan sedikit tersenyum Saya Zira , Zira tersenyum manis maaf Tuan menunggu lama, ada keperluan apa sebenarnya Tuan kesini, tanya Zira Panggil saja saya fiko, Hemm tidak apa - apa saya yang minta maaf telah mengganggu wakend nona zira. Zira tersenyum, Panggil saja saya Zira pak, eh fiko, Zira merasa gugup, Keperluan saya kesini saya ingin memesan baju dari butik kamu, Zira tersenyum senyum sendiri sambil menumpang kan dagu nya , apa ini pangeran ku, tadi malam aku bermimpi bertemu dengan seorang pangeran dan di hadapan ku sekarang, seorang pangeran ganteng, hahaha , batin Zira Zira Zira halo , Fiko melambai kan tangan nya ke depan wajah Zira eh iya iya, apa tadi maksud kedatangan kamu ke sini , Zira sedikit gugup Fiko menjelaskan lagi maksud kedatangan nya ke Zira boutique, oke , jadi ini bukan untuk kamu? Zira bertanya ke pada Fiko Bukan ini untuk kekasih ku dan jantung hatiku , Zira mendengarnya , ada sedikit rasa kecewa ternyata dia sudah punya kekasih , orang seganteng dia mana mungkin tidak punya kekasih , batin Zira mana kekasih anda Tuan? Sebentar lagi sampai, jawab nya Suara ponsel fiko berbunyi dia mengangkat nya Ya halo, saya ada di lantai 3, langsung saja ke lantai 3 Zira hanya mendengar kan saja walaupun masih ada kekecewaan tapi dia bisa menutupi nya papa papa, seorang gadis kecil datang langsung memeluk Fiko ini kekasih saya dan jantung hati saya, sambil mencium rambut si kecil Zira tertawa, hahaha saya berpikir tadi, kekasih anda seorang gadis, dan ternyata yang datang adalah peri , Jawab nya sambil berjalan mendekati anak kecil tadi Zira mensejajarkan tinggi nya dengan anak kecil itu halo sayang, kenal kan nama ku Zira, siapa nama kamu, Zira memberikan tangan nya Nama ku Naura , gadis kecil itu bergelut manja di tangan fiko Umur kamu berapa sayang, umur ku 5 tahun Tante, mengapa kamu ingin pesan baju sama Tante? tanya zira teman ku ada yang pesan baju ulang tahun sama Tante, jadi aku mau pesan juga, aku mau seperti princess , Kamu akan menjadi princess yang paling cantik di dunia ini, Zira memegang hidung Naura Fiko memperhatikan percakapan mereka ada rasa kenyamanan dalam diri nya. Zira mendesain baju yang di minta Naura, Naura menginginkan hari ini juga mau tidak mau Zira melakukan nya, dia tidak mau mengecewakan gadis kecil ini " hello readers ini adalah novel pertama author mohon maaf jika ada typo atau pun kesalahan lainnya, like episode favorit kalian ya, dukungan kalian sangat berarti untuk author terimakasih " Chapter 17 episode 17 Okeh sudah selesai, Zira menunjukkan hasil rancangan nya kepada gadis cilik ini ini dia apa kamu suka ? suka aku Suka, Tante zira memegang rambut si kecil Naura sambil berjalan mendekati sofa, baiklah sayang semua nya sudah selesai, jika gaunnya sudah selesai nanti Tante akan mengabari papa kamu, Tante mau kah kamu datang ke pesta ulang tahun ku, rengek Naura kapan ulang tahun nya? sabtu depan , jawab fiko baiklah Tante akan usahakan datang, mari kita pulang sayang , rayu fiko kepada Naura aku mau bermain dulu papa, aku bosan di rumah terus, rengek Naura baiklah kita akan pergi ke taman bermain, ajak fiko tapi aku mau Tante itu ikut , Naura menunjukkan ke arah Zira Zira kaget dengan ekspresi si kecil Naura kamu tidak boleh seperti itu sayang, Tante Zira lagi sibuk, rayu fiko Naura menangis mendengar ucapan papanya Baiklah Tante akan ikut dengan kamu, Tante hari ini gak sibuk kok, rayu Zira. mendengar ucapan Zira , Naura lompat lompat menunjukkan ekspresi kalo dia sangat senang Yeye yey yeye, aku senangTante ikut, rengek nya kenapa fiko dan Naura tidak pernah menyinggung tentang mama nya, apa yang terjadi, batin Zira, Zira tidak berani untuk menanyakan hal itu mereka bertiga keluar dari butik menuju mobil fiko, fiko duduk di belakang setir, Naura dan Zira duduk di kursi belakang. di dalam mobil Tante , apa Tante punya anak? belum , jawab santai Zira sambil mengelus rambut Naura kenapa Tante belum punya anak ? karena Tante belum menikah, kenapa Tante belum menikah, tanya nya lagi karena Tante belum menemukan seorang pangeran kami gemes banget sih , Zira gemas dengan pertanyaan Naura , dia memegang hidung Naura, fiko memperhatikan mereka berdua dari kaca mobil , ketika fiko memperhatikan mereka mata fiko dan Zira beradu saling pandang, Zira langsung mengalihkan pandangan nya ke kaca mobil, menghindari tatapan dari fiko. sayang mama kamu nunggu di sana kan? zira memberanikan diri untuk bertanya karena dia tidak mau terjadi salah paham jika istri nya mengetahui ada perempuan lain di dalam mobil nya fiko mama sudah di surga Tante, jawab nya polos deg jantung Zira berdebar, Zira mencium kening Naura, maaf kan Tante sayang, ada bulir air mata yang menetes dari matanya, fiko memperhatikan sikap Zira kepada anaknya, mama nya meninggal sejak Naura umur satu tahun, fiko menjelaskan kepada Zira Zira sedih mendengar keadaan Naura, di matanya Naura seperti dia kecil tapi bedanya dia masih mempunyai seorang papa percakapan mereka berakhir karena mereka sudah sampai di tempat taman bermain zira memegang tangan kiri Naura sedangkan fiko memegang tangan kanan Naura merek seperti sebuah keluarga kecil. Naura tertawa riang , fiko sangat senang melihat ekspresi Naura, diam - diam fiko melirik Zira, waktu sudah menunjukkan jam 6 sore mereka keluar dari taman bermain dan pergi ke tempat makan, mereka makan dengan sangat lahap dan sesekali mereka saling tertawa, fiko sangat menikmati momen seperti ini. Setelah makan mereka pergi menuju tempat parkir , mereka memasuki mobil , mobil berjalan dengan kecepatan sedang, Tante aku senang sekali hari ini, aku ingin selalu seperti ini, iya sayang , Zira mengelus rambut Naura mobil fiko sudah berhenti di depan apartemen Zira, fiko mengantarkan Zira terlebih dahulu karena arah rumah mereka berbeda, Sebelum turun dari mobil Zira mengecup kening Naura, bye sayang , tante apakah kita akan bertemu lagi, tanya Naura pasti sayang ,kan Tante mau datang ke ultah kamu, Zira membuka pintu mobil dan berjalan keluar, sebelum Zira pergi aku mengucapkan banyak terimakasih atas waktu mu dan perhatian mu kepada naura, tidak perlu berterima kasih, aku senang dengan anak anak, apalagi anak secantik Naura, jawab Zira fiko mengulurkan tangan nya dan bersalam dengan Zira, lama fiko memegang tangan Zira Zira merasa kikuk, eh baiklah aku masuk dulu, bye Naura , Zira melambaikan tangan nya ke arah naura. " hello readers ini adalah novel pertama author mohon maaf jika ada typo atau pun kesalahan lainnya, like episode favorit kalian dan terimakasih atas dukungan nya " Chapter 18 episode 18 Di dalam apartemen Zira Zira Membersih kan diri nya, seperti biasa rutinitas nya untuk menghubungi sahabatnya. ya halo, jawab Novi mana Kiki ? tanya zira itu Kiki lagi main dengan papa nya apa aja kegiatan kamu hari ini? tanya Novi. biasa lah, eh eh, Zira membulat kan matanya aku tadi ketemu dengan seorang pangeran, Zira mendongak kan kepalanya sambil memegang kedua pipinya, ada rasa kagum . ha apa , apa aku gak salah dengar? apa sekarang kamu telah jatuh cinta ? selidik Novi Cih , cepat banget jatuh cinta, aku itu hanya mengagumi kegantengan nya walaupun sebelas dua belas sama yang di sana, jawab nya polos sebelas dua belas, berarti kamu ada menyukai dua pangeran ya,? tanya nya lagi Siapa yang menyukai dua pangeran, aku cuma mengagumi ketampanan mereka berdua yaitu sebelas dua belas, tapi ada perbedaan nya apa perbedaan nya? tanya Novi penasaran kalo yang satu tampan berwibawa cuma itu dingin banget sama wanita, mungkin waktu bayi dia gak di beri ASI sama mama nya tapi di beri es batu makanya dingin , wkwkw Zira ketawa sendiri sambil guling - guling di kasur. Novi masih mendengar kan, tidak ada ekspresi tertawa sedikit pun terus yang satu lagi yang satu lagi ganteng baik ramah, tapi sudah punya anak, jawab nya polos apa ,Novi berteriak Gak usah teriak lagi, aku gak budeg , jawab Zira sambil mengelus kuping nya Terus kamu suka yang mana? eh aku itu perempuan gak mungkin lah aku suka duluan, gengsi dong, eh makan tuh gengsi , jawab Novi aku kasih gambaran ya, mau dengar atau tidak terserah kamu, kalo yang satu ganteng tapi dingin , ibaratkan es batu lama - lama pasti bisa mencair, dan kalo yang satu lagi sudah punya anak, apa kamu mau jadi ibu tiri , huh aku kan hanya berandai - andai saja, siapa yang menyukai mereka berdua , aku cuma mengagumi saja, ah sudah lah , bye bye salam sayang buat Kiki, muaah. dasar kebiasaan jelek pasti mengalihkan pembicaraan , ya udah tidur yang indah mimpikan dua pangeran mu, jawab Novi Sambungan telepon terputus, Zira hanya memikirkan omongan nya dengan Novi, Lama lama dia terlelap sudah masuk ke dalam alam mimpinya. Keesokan pagi nya, Zira bangun seperti biasa, dia harus berangkat pagi karena baju Keluarga Raharsya sudah selesai dan hari ini adalah jadwal fitting baju . Zira menghubungi telepon butik nya, Hubungi Keluarga Raharsya hari ini kita ada jadwal fitting baju, Zira memerintahkan seseorang di sana telepon terputus Zira melangkah kan kakinya keluar apartemen menuju butik. Keaadaan butik tidak terlalu rame karena masih jam 9 pagi. Zira berjalan menyusuri lantai menuju ruangan nya di lantai 3, di dalam ruangan nya sudah ada beberapa karyawan yang sedang mempersiapkan semua nya. pagi mbak, sapa karyawan yang berada di dalam ruangan nya pagi, sudah menghubungi keluarga Raharsya? tanya nya sudah mbak, katanya satu jam lagi mereka datang, jawab Lina baiklah kalian bisa keluar dulu, karena masih satu jam lagi mereka datang, kalian bisa membantu karyawan di luar, perintah Zira Karyawan keluar semua, Zira berada Sendiri di dalam ruangan nya, sambil memperhatikan hasil rancangan nya, hasil rancangan nya di pakai kan pada patung Maneken, sehingga sudah bisa terlihat dengan jelas bentuk dari rancangan nya. " hello readers ini adalah novel pertama author mohon maaf jika ada typo atau pun kesalahan lainnya, like episode favorit kalian, terimakasih atas dukungan nya " Chapter 19 episode 19 Keluarga Raharsya sudah sampai mereka memasuki butik, karyawan menyapa mereka dan mengantarkan ke ruangan Zira. Selamat pagi nyonya , Tuan besar dan nona Zelin, sapa Zira. Pagi , jawab nyonya Amel Zira mempersilahkan mereka untuk duduk dan karyawan yang lainnya memberikan mereka minuman dan makanan ringan. Keluarga Raharsya fitting baju , mereka puas dengan hasil dan servis dari Zira boutique , Keluarga Raharsya telah fitting baju hanya satu orang yang belum fitting baju yaitu Tuan muda ziko. nyonya amel mengambil ponsel nya dari dalam tas branded nya, dia menghubungi seseorang, Zira hanya memperhatikan saja, Iko kamu dimana ? tanya Nyonya Amel Aku di kantor ma, bisa tidak kamu datang ke Zira boutique ? tanya nyonya Amel owh ternyata nyonya Amel menghubungi si singa, batin nya sambil tersenyum . Nyonya Amel mengakhiri percakapan nya dengan Tuan muda ziko, Nona Zira , anak saya tidak bisa datang ke sini dia sangat sibuk, tidak apa-apa nyonya kalo Tuan muda ziko sibuk , saya bisa mengantarkan baju ini ke kantor nya, Hem baiklah kalo seperti itu , nyonya Amel tersenyum menyeringai . Ini untuk kamu , nyonya Amel meyerahkan sebuah cek Zira menerima cek tersebut dan melihat nominal yang tertulis, matanya membulat. maaf nyonya ini terlalu banyak , itu bonus untuk kamu karena kamu telah menyelesaikan design kamu dengan tepat waktu, owh baiklah kalo begitu, terimakasih banyak nyonya, dan ini undangan untuk kamu, kamu harus datang ke acara wedding anniversary saya dan suami saya, dan kamu harus berdandan yang cantik, karena di acara itu banyak orang penting, Zira hanya mengangguk kan kepala nya saja, cih memangnya aku kurang cantik apa, batin nya sebelum nyonya Amel keluar dia berhenti sebentar dan melihat ke arah Zira yang berdiri tidak jauh dari dia, Nona Zira apakah kamu sudah menikah, apakah kamu sudah punya kekasih, ? tanya Nyonya Amel tegas, sambil memperhatikan Zira dari atas sampai bawah. Zira yang mendengar pertanyaan beruntun kaget dan hanya menjawab dengan polos. be belum nyonya, memang nya kenapa nyonya , tanya zira bagus kalo begitu , jawab nyonya Amel Tuan besar dan Zelin hanya mendengar dan hanya saling pandang saja, tidak mau banyak ikut berkomentar. Nyonya Amel beserta keluarga nya keluar meninggalkan butik, Didalam ruangan Zira hanya tinggal Lina, Lin aku itu bingung kenapa nyonya Amel bertanya seperti itu ya? mungkin Nyonya Amel berpikir orang secantik mbak Kenapa belum punya pasangan, hehehe atau, atau apa , tanya zira atau mbak mau di jodohkan dengan anaknya. apa !!! amit amit lah kalo aku di jodohkan sama manusia es, bisa bisa aku jadi es krim, ihihi Zira merasa seram sambil menggoyang goyangkan bahu nya. Lina ketawa melihat tingkah bos nya. memang nya kenapa mbak ? kan Tuan muda ziko ganteng tampan berbadan atletis, berkulit putih bersih, rambut ikal, ih ganteng pokok nya, lina tersenyum senyum sambil memandang ke atas seperti orang yang lagi kasmaran. cih kok kamu lebih banyak tau sih ? apa jangan - jangan kamu suka ya sama dia, sampai detail banget tau tentang dia. aduh mbak ini kebanyakan liat kertas dan kancing sih, keluarga mereka itu sering loh masuk ke dalam acara televisi baik acara infotainment atau pun acara bisnis TV , Lina menjelaskan oooooo kirain kamu suka sama dia, hahaha bisa di talak tiga aku sama izam mbak, walaupun Tuan muda ziko ganteng tapi tidak seganteng suami ku, hehehe Lina adalah penganten baru , suami nya bernama izam, hubungan mereka lagi hot hot nya, biasa penganten baru. " hello readers ini adalah novel pertama author mohon maaf jika ada typo atau pun kesalahan lainnya, like episode favorit kalian, dukungan kalian sangat berarti bagi author terimakasih " Chapter 20 episode 20 Di mobil, Zelin terus berpikir dengan pertanyaan mama nya ke Zira, apa sebenarnya maksud dengan pertanyaan mama, apakah mama akan.... ,. kalo pun aku bertanya pasti mama gak akan cerita , apa aku tanya ke papa aja, ah mereka berdua sama saja, apa aku tanya ke kak ziko aja ya, mana tau dia tau, baiklah nanti malam aku akan bertanya ke padanya semoga mood nya baik, Zelin mengendarai mobil nya melintasi lalu lintas yang tidak terlalu macet. Sisil mengetahui akan ada wedding anniversary untuk mama nya ziko, dia berencana akan datang ke pesta mereka Sisil bergumam bagaimana aku akan datang ke pesta mereka sedang kan aku tidak punya undangan nya. ya ya ya aku akan datang ke mansion untuk meminta nya langsung ke mama Amel, Mama Amel kan masih baik kepada ku, hanya ziko aja masih dingin, nanti aku akan datang dengan gaun yang mahal dan seksi aku akan menjadi pusat perhatian di pesta itu , dari situ aku akan mendekati ziko, ah ziko aku kangen dengan belaian mu, aku kangen uang mu hahahaha Di butik Lin , aku mau ke kantor Rahasrya group, mau menyelesaikan tugas yang satu ini , sambil menunjuk ke arah jas yang ada di Maneken baik mbak, mbak Zira mau aku temanin gak ? , kenapa , apa kamu ingin minta tanda tangan manusia es itu, jawab Zira sambil tersenyum ih mbak Zira ni , aku cuma kasihan liat mbak bawa jas itu, itu kan berat , Lina menunjukkan jari nya ke arah Maneken. gak usah lin , aku hanya bawa sampai keluar butik setelah itu yang bawa kan taxi , jawab Zira santai ya udah kalo gitu, kamu bereskan itu jas nya, dan jangan lupa bungkus jas nya , Lina menyiapkan semua keperluan Zira. baiklah aku berangkat ya , aku percaya kan butik ini sama kamu , Zira memegang pundak Lina, siap mbak, akan aku jaga butik ini dengan sepenuh jiwa ragaku , balas nya lebay kamu, hahaha Zira berjalan keluar dari butik menuju taxi online, taxi yang di tumpangi nya berjalan dengan kecepatan sedang , agak sedikit macet karena jam makan siang, banyak yang melakukan aktivitas di luar . aduh aku belum makan siang lagi, aku kan hanya sebentar di sana, batin Zira Sesampainya di gedung Rahasrya group, zira berjalan menuju loby seperti biasa Zira mendatangi meja resepsionis, saya mau bertemu dengan presiden direktur, ah kamu lagi, jawab resepsionis sinis Presiden direktur tidak mau bertemu dengan seseorang yang belum buat janji , jawab nya judes. idih judes amat ini Resepsionis, guman Zira pelan. bilang aja kekasih nya datang, Zira spontan menyebut nya. hahaha nona nona , kamu itu jangan mengada - Ngada , mana ada kekasih Tuan muda seperti kamu, resepsionis itu mengarah kan telunjuk nya ke wajah Zira, Resepsionis yang lain hanya melihat dengan pandangan sinis terhadap Zira. kamu itu seperti tukang laundry, hahahaha mereka tertawa terbahak bahak, ada 3 orang di meja resepsionis, mereka mentertawakan Zira. memang nya kenapa kalo aku tukang laundry, zira kesal dan mendebrak meja resepsionis. karyawan yang berada di loby melihat kejadian itu, kebetulan asisten Kevin lewat, ada apa ini ? tanya nya ke resepsionis, resepsionis diam, mereka menundukkan wajah nya. Zira langsung memotong pertanyaan Kevin, aku mau bertemu Tuan muda ziko, sambil menunjuk kan bawaan nya. kevin langsung paham dan mengangguk, ikut saya , sebelum Kevin pergi , asisten Kevin berbalik dan berkata jangan ada keributan lagi seperti tadi atau kalian akan saya pecat, ancam Kevin. " hello readers ini adalah novel pertama author mohon maaf jika ada typo atau pun kesalahan lainnya, like episode favorit kalian dukungan kalian sangat berarti bagi author terimakasih " Chapter 21 episode 21 Kevin merupakan orang kepercayaan Tuan muda ziko, semua karyawan takut dan hormat kepada Kevin, Kevin dan Zira berjalan menuju lift , mari saya bantu, tawar Kevin oh dengan senang hati , ini Zira memberikan bawaan nya kepada Kevin, Kevin hanya tersenyum tipis, menurut nya nona Zira orang nya apa adanya. Kevin dan Zira berjalan ke lift khusus presiden direktur, di dalam lift tidak ada berkata sama sekali, pintu lift terbuka, silahkan Nona , kevin mempersilahkan Zira. Zira melangkah kan kakinya keluar dari lift , mereka berjalan beriringan menuju ruangan Presiden direktur. Kevin mengetuk pintu ketika ada suara perintah untuk masuk, dia memegang handle pintu dan membuka secara perlahan, Zira langsung nyelonong ke dalam, di dalam ruangan Tuan muda Ziko duduk di kursi kebesaran nya sedang memandangi laptopnya, dia tidak menyadari kedatangan Zira. Siang tuan muda ziko , sapa Zira Ziko mendengar ada suara perempuan dia langsung Melirik dan menoleh ke arah yang punya suara. Hem , ada perlu apa kamu ke sini ? tanya ziko ini aku bawa punya kamu tuan muda ziko , sambil memperlihatkan bawaan nya yang telah di bawa kevin. kata nyonya Amel kamu sibuk , kamu kan bisa pake jasa kurir untuk mengantarkan ini , ziko hanya melirik dan kembali memandang laptop nya bukannya terimakasih malah di marahi , guman Zira pelan. apa kamu bilang , tanya ziko dengan intonasi yang sedikit di tekan ya iyalah kamu itu bukan terimakasih sama aku, jauh jauh bawa ini belum lagi telah terjadi drama Korea di loby , ups Zira menutup mulutnya keceplosan. apa maksud kamu telah terjadi drama Korea? ziko tidak paham dan kembali bertanya kepada Zira. ah sudah lah gak usah di bahas, Zira mengalihkan pembicaraan nya. hei aku bertanya kamu harus menjelaskan , bentak ziko iya iya, aku jelaskan , Zira memonyongkan bibirnya nya, ternyata ziko memperhatikan, kamu mengejek aku , ha bentak ziko kembali siapa yang mengejek kamu, perasaan jawab Zira santai. jadi kenapa kamu memonyongkan bibir kamu, hahaha Zira tertawa, masalah bibir rupanya, tuan tuan aku itu bisa loh membentuk bibir ku, ini bibir monyong, ini bibir imut, ini bibir seksi, ini bibir....... , Zira memperaktek kan semua nya, sudah sudah mau muntah aku melihat mu seperti itu, hahahaha , hanya Kevin yang tertawa, Zira dan ziko bersamaan melihat Kevin, Kevin langsung terdiam menutup mulutnya rapat. Kevin sebenarnya tidak banyak bicara apa lagi tertawa dia dingin seperti bos nya tapi semenjak kedatangan Zira , Kevin tidak bisa menahan tawa nya. ziko berjalan memutari meja nya dia duduk di pinggir meja nya, dia melipat kedua tangannya di dadanya sambil memperhatikan Zira yang sedang mengeluarkan bawaan nya. nih pake , aku mau lihat bagaimana hasil rancangan ku , apakah ada yang kurang apa enggak , Zira memberikan kepada ziko. Ziko mengambil dari tangan Zira dan meninggalkan Zira di ruangan bersama Kevin, tidak berapa lama ziko keluar dari ruang ganti baju, dia berjalan ke arah Zira. Bibir Zira membentuk huruf O , melihat ekspresi Zira , ziko berkata tutup mulut mu, nanti keluar air liurmu, wah kamu ganteng banget tuan , puji zira. aku itu memang ganteng dari dulu, Jawab sombong ziko. idih kepedean kamu itu ganteng karena pake rancangan ku, hahaha Zira memutuskan kesombongan ziko. jadi maksud kamu aku itu jelek ? bentak ziko idih kok ada manusia planet seperti ini, gak bisa di bawa becanda , kebanyakan makan es batu sih , guman Zira pelan, tapi Kevin mendengar ucapan Zira, Kevin tertawa terbahak bahak. Zira hanya melirik dengan tingkah laku kevin, kamu kenapa asisten, kamu kesurupan ? pertanyaan Zira membuat Kevin kembali tertawa. " hello readers ini adalah novel pertama author mohon maaf jika ada typo atau pun kesalahan lain nya, like episode favorit kalian dukungan kalian sangat berarti bagi author terimakasih " Chapter 22 episode 22 Kevin kamu keluar kamu mengganggu konsentrasi ku, perintah ziko mengusir Kevin dari ruangan nya. Kevin pamit keluar sambil tetap menahan tawa nya, Ziko meninggalkan W Zira untuk mengganti baju nya semula , Zira menunggu di luar ruangan, ziko keluar dengan mengenakan kemeja yang di gulung sampai lengan, Zira memperhatikan nya. Wah tangan nya kekar banget , Zira menelan ludah nya dengan kasar , makhluk ciptaan mu sungguh sempurna, batin Zira ziko berjalan mendekati Zira , dia melemparkan setelan jas nya ke arah Zira. Rapikan itu , perintah ziko baik tuan muda ziko, sambil memonyongkan bibir nya, ziko menggeleng kan kepala nya. kamu ke sini udah makan belum , taya ziko ? udah , jawab Zira cepat. tapi suara perut Zira berbunyi grukgruk...., Zira melirik ziko yang mendengar suara perutnya. apa kamu ke sini belum makan , ziko berjalan menuju meja kerja nya dan memencet extension yang di tuju nya. Zira memperhatikan. kesini cepat , perintah ziko. kemudian seseorang mengetuk pintu dan memasuki ruangan, ternyata yang datang adalah asisten Kevin, belikan makanan untuk dia, ziko menunjuk ke arah Zira. heheh gak usah tuan aku sudah mau pulang kok , jawab Zira polos. belikan saja makanan untuk nya gak usah dengarkan omongan nya, perintah ziko. Kevin hendak pergi meninggalkan ruangan. tunggu asisten Kevin kalo mau membeli kan makanan , belikan satu saja jangan banyak ya, karena aku bukan kerbau , Zira mengedip - ngedipkan matanya. Kevin pun keluar meninggalkan ruangan menuju restoran memesan makanan. kenapa matamu kamu kedip kan seperti itu kepada Kevin ? kamu mau merayu dia untuk menyukai mu ya ? selidik ziko. Zira mendengar langsung menepuk dahinya, dia bingung menjelaskan kepada ziko. ayo jawab ? tanya ziko duh tuan muda ziko yang terhormat , kalo aku merayu asisten Kevin kenapa , Jawab nya santai. apa kamu suka sama Kevin , teriaknya. berani - berani nya kamu suka sama Kevin , ziko menekan intonasinya. hahahaha tuan tuan aku itu hanya bercanda loh, aku juga punya kekasih , Zira berbohong untuk menyelesaikan arah pembicaraan yang bakal tidak pernah berhenti. Siapa kekasih kamu ? tanya ziko ada rasa kecewa dan amarah dari raut wajahnya. ya adalah , kenapa sih tanya - tanya seperti polisi aja , zira menjawab santai. ziko hanya terdiam tidak melanjutkan pertanyaan , dia hanya diam membisu. Sampai akhirnya Kevin datang dengan membawa tentengan makanan. Ini nona silahkan makan , Kevin memberikan makanan yang di beli nya kepada Zira. Kevin melirik tuan muda ziko , Kevin sudah lama menjadi asisten ziko , Kevin memahami arti dari raut wajah ziko. Zira menikmati makanan nya , ziko pergi keluar ruangan nya di ikuti dengan Kevin. ada apa tuan muda , seperti nya anda sedang marah ? kamu cari tau siapa kekasih Zira ! perintah nya. maaf tuan muda ziko , saya sudah mencari informasi sebelumnya kalo nona Zira tidak mempunyai kekasih, jawab Kevin. Jadi dia berbohong kepada ku , untuk apa ? ziko bertanya penuh emosi. Tuan muda , biasanya seorang wanita jika dia berbohong mengatakan kalo mereka punya kekasih itu untuk melindungi diri mereka. apa maksud kamu melindungi , memang nya aku akan memakan dia ?, tuan sepertinya anda cemburu ya ? Kevin bertanya penuh selidik. haha siapa yang cemburu , aku itu tidak suka di bohongi , tapi nona Zira kan bukan siapa-siapa nya Tuan muda , jawab Kevin penuh selidik. " hello readers ini adalah novel pertama author mohon maaf jika ada typo atau pun kesalahan lain nya , like episode favorit kalian dukungan kalian sangat berarti bagi author terimakasih " Chapter 23 episode 23 Tuan muda ziko merenung dengan ucapan Kevin, ah rupanya kalian berdua di sini, Zira mengangetkan tuan muda ziko dan Kevin. kamu sudah selesai makan , tanya ziko. sudah , Zira mengangguk kan kepala nya. Tuan aku permisi mau balik , terima kasih atas makanan nya , Zira berjalan meninggalkan ziko dan Kevin. aku juga mau keluar , ikut mobil ku. cih sok perhatian , batin Zira gak usah tuan muda ziko yang terhormat aku biasa naik taxi, kamu mau membantah ku, pergelangan tangan Zira di pegang ziko , Zira sedikit berlari mengikuti langkah ziko, mereka bertiga memasuki lift khusus presiden direktur. ketika Zira hendak memasuki lift , tumit heels nya nyangkut , sehingga Zira tidak bisa bergerak , Zira menarik - narik heel nya dengan kakinya tetapi heels tidak bergerak sedikit pun, tiba - tiba ziko mengakat salah satu kaki Zira , dan Kevin mengambil heelsnya yang nyangkut dengan cepat. kemudian pintu lift tertutup. tuan lepaskan kaki ku, kamu terpesona dengan kaki ku ya, ejek Zira . cih , ziko langsung mencampakkan kaki Zira. kalo ada yang bilang dari mata turun ke hati , kalo ini dari kaki turun ke hati , hahaha Zira tertawa. hahahaha ,Kevin tertawa ziko langsung membulatkan matanya ke arah Kevin , Kevin menutup mulut nya rapat - rapat. eh tuan kenapa kamu mengangkat kakiku, tanya zira santai ah kamu ini , pintu lift akan tertutup kalo aku tidak mengangkat kaki mu, kaki mu akan putus , kamu mau , bentak ziko. ih serem , Zira menggoyang kan kedua bahunya. di dalam lift ziko berdiri di tengah kevin di kiri dan Zira berada di sebelah kanan. Nona Zira saya hanya bisa menyelamatkan ini, Kevin memberikan heels Zira yang sudah tidak ada tumit nya lagi. owh gak pa - pa , Zira memegang sepatunya dengan kedua tangan nya , pakai sepatu mu , perintah ziko. bagaimana aku pake sepatu ku, satu gak ada tumit yang satu ada tumit. kan lucu kalo aku jalan seperti ini. Zira mempraktekkan cara berjalan nya yang jomplang. hahahaha , Kevin tertawa melihat cara berjalan Zira. Kevin , bentak ziko. siap tuan , Kevin langsung diam menutup mulutnya lagi. ziko mengambil sepatu Zira dan melepaskan kedua tumit sepatunya, pake ini, perintah ziko. gak usah tuan aku bisa kok jalan gak pake sepatu , nanti kaki mu sakit , pake ini cepat , bentak ziko. iya iya ,gak usah bentak kenapa , gerutu Zira. Zira memakai sepatu heels nya yang telah berubah jadi flat shoes. Zira berdiri di samping kanan ziko , dia mengukur tinggi badannya yang hanya sebahu dari ziko. aku seperti berdiri dengan para raksasa , Zira nyeletuk. ziko hanya melirik , Kevin tersenyum menahan tawa nya. Tuan muda kamu tinggi sekali seperti nya waktu hamil nyonya Amel pasti makan sesuatu , Zira menggantung bicara nya. apa itu tanya ziko ? tiang listrik ,jawab polos Zira. hahahaha , Kevin kembali tertawa Kevin , ziko menekan intonasinya, sambil melirik ke arah nya, Kevin Kembali menutup mulutnya. hey kamu nona Zira, sekali lagi kamu bicara awas kamu , ancam ziko. ya saya akan menutup mulut janji , ucap Zira. mereka diam tanpa ada yang berkata satu kata pun. hahahaha , Zira tertawa kembali. ziko dan Kevin melirik ke arah Zira. kamu kenapa ketawa apa yang lucu , tanya ziko. hahaha , tuan kalo aku perhatikan kita seperti trio Kwek Kwek, hahahaha Kevin tertawa terbahak bahak. kamu nona Zira , ziko menunjuk kan jari telunjuk nya ke wajah Zira. Pintu lift pun terbuka , Zira langsung keluar kabur . " hello readers ini adalah novel pertama author mohon maaf jika ada typo atau pun kesalahan lain nya, like episode favorit kalian dukungan kalian sangat berarti bagi author terimakasih " Chapter 24 episode 24 Zira berlari menuju pintu loby , ziko mengikuti dari belakang beserta Kevin. Kevin pergi ke parkiran untuk mengambil mobil. Zira hendak pergi tetapi tangan nya di pegang ziko. kamu mau kemana hah ? tanya ziko. para karyawan yang berada di loby melihat mereka berdua, tuan lepaskan tangan mu , lihat tu karyawan mu melihat kita. ziko yang mendengar ucapan Zira langsung melepaskan genggamannya. tidak berapa lama Kevin datang dengan mobil. Kevin membuka pintu mobil mempersilahkan Zira untuk masuk. Tapi Zira duduk di kursi depan di samping supir. hey kamu kenapa duduk di sana ,tanya ziko. aku menemani asisten Kevin di sini , nanti dia ngantuk jadi aku akan mengobrol dengan nya, aku pintar kan ,Zira membanggakan diri nya. terus siapa yang ngobrol dengan ku, tanya ziko . ngobrol aja sama nyamuk , Zira menjawab spontan, Kevin tersenyum. pindah sekarang cepat , bentak ziko. gak aku gak mau, tolak Zira. Zira berusaha menghindar dari ziko. ziko berdiri di luar posisi nya berada di samping Zira. ziko memegang lengan Zira dengan kuat. pindah cepat ,bentak ziko. aih sakit tau , bisa gak lembut sedikit dengan wanita , pantesan gak punya istri , gerutu Zira. Zira duduk di samping ziko. ziko hanya mendengar kan ocehan Zira. ocehan Zira seperti dongeng sebelum tidur, ziko terlelap. idih cepat banget tidur nya , zira bergumam sendiri . Kevin mengendarai mobil nya , sedangkan zira memperhatikan wajah ziko dengan sangat jelas , dasar singa coba kalo kamu itu bisa lembut dan tidak sedingin es pasti kamu sudah menikah. hihihi zira tertawa kecil. Kevin mendengar ocehan Zira begitu pun ziko. Tapi ziko tidak ingin membuka matanya dia hanya mendengar kan saja ,ocehan Zira, dia menikmati nya. Kita mau kemana , tanya Zira ? kita mau ke mall , jawab ziko . Zira kaget , eh kamu sudah bangun, aku sudah bangun dari tadi. jawab ziko santai berarti kamu dengar semua ocehan ku , tanya Zira. owh tentu aku dengar , ada yang bilang aku singa , ada yang bilang aku dingin. Zira menggigit bibir nya , aih kenapa aku suka banget ngomong keceplosan, sambil memukul mulut nya pelan. maaf tuan muda , aku sudah memukul mulut ku sendiri jadi jangan hukum aku ya, Zira merapat kan kedua tangannya. ziko mendekati Zira dan menarik hidung Zira , itu hukuman buat kamu sakit tau , hidung Zira sampai merah , kalo hidung aku lepas gimana ? rengek Zira. ziko tersenyum menyeringai. mobil sampai di mall , mereka berjalan menyusuri mall , Zira tidak mengerti mengapa tuan muda ziko membawa dia ke mall. Tuan muda ziko memasuki sebuah toko sepatu , di dalam ada berbagai macam model sepatu dan brand - brand terkenal, dari sepatu pria dan sepatu wanita. Penjaga toko datang menghampiri mereka beserta managernya , mereka memberi hormat kepada tuan muda ziko. ada yang bisa kami bantu tuan muda ? tanya seorang manager. layani nona ini , beri sepatu yang cocok untuknya. ziko memberi perintah selayak nya bos. mereka melayani Zira dengan baik , Zira sudah memilih sepatu nya. Zira berjalan menuju meja kasih Zira menyerah kan kartu nya kepada kasir toko. maaf nona , sudah di bayar sama tuan muda ziko. jawab kasir dengan senyuman. apa ? berapa harga sepatu nya ?tanya Zira penuh selidik. 60 jt nona , Zira membulat kan matanya, terimakasih Zira pergi meninggalkan meja kasir. Zira melangkah kan kakinya mendekati ziko ,ziko berdiri di luar toko " hello readers ini adalah novel pertama author mohon maaf jika ada typo atau pun kesalahan lain, like episode favorit kalian , terimakasih " Chapter 25 episode 25 Zira mendatangi ziko dan asisten Kevin yang menunggu di luar toko. Tuan kenapa kamu membayar sepatu ku , aku bisa kok bayar sendiri , apa kamu kira aku gak mampu bayar. Zira berkata dengan sedikit emosi. Zira memang mampu membeli sepatu dan barang - barang branded lainnya , tapi dia lebih menggunakan uang nya untuk hal - hal yang lebih bermanfaat , menurut nya kualitas barang lokal juga sangat bagus. Ya aku tau kamu bisa membelinya , tapi apakah kamu akan membeli sepatu branded ? tanya ziko. Tentu aku membeli sepatu branded , Zira menjawab dengan singkat. hahahaha nona nona , kamu tau , kamu itu membohongi diri mu sendiri , ziko menunjuk dahi Zira. Maksudnya ? Zira bingung. Kalo pun kamu ada uang gak mungkin kamu mau membeli barang - barang branded , lagian mana ada barang branded bisa lepas tumit sepatu nya . hahaha ziko tertawa. Bagaimana dia bisa tau isi pikiran ku , guman Zira. Hahaha kamu lucu tuan , Zira menunjuk lengan ziko dengan jari telunjuk nya, sambil merapatkan gigi nya. Wajah Zira merona karena menahan malu , Zira selalu punya cara untuk mengalihkan pembicaraan. Zira menatap sekeliling mall di seberang toko sepatu ada toko mainan , Zira berpikir untuk membeli sebuah mainan untuk Naura , karena lusa adalah ultah Naura . Ultah Naura dan wedding anniversary nyonya Amel di adakan pada hari yang sama , Naura pada siang hari sedangkan pesta nyonya Amel pada malam hari Tapi kalo aku pergi ke toko mainan dengan mereka berdua , pasti yang bayar si manusia es batu , batin Zira. Zira berpikir keras bagaimana caranya agar manusia es di depan nya tidak ikut. Sudah selesai nona Zira , apa mau melihat - lihat dulu , tanya asisten Kevin. Aku sudah tidak ada keperluan lagi , tapi aku mau permisi ke toilet dulu , Zira menjawab dengan sedikit gugup. Zira berjalan , ziko dan Kevin mengikuti dia dari belakang , Zira membalikkan badannya. Eh kalian mengapa mengikuti ku , aku mau pipis , kalian tau kan pipis , Zira menekan intonasi nya. Kalian di sini saja , aku sebentar kok , Ziko dan asisten Kevin berhenti sesuai dengan instruksi Zira. Zira berjalan dengan tergesa - gesa sambil terus melihat kebelakang , Zira tidak mau kalo Tuan muda ziko dan Kevin mengikuti nya. Setelah cukup aman , Zira masuk ke dalam toko mainan , tetapi Kevin mengetahuinya. Tuan sepertinya nona Zira tidak pergi ke toilet , tapi nona Zira pergi ke toko itu , Kevin menunjukkan jari nya ke arah toko mainan tersebut . Apa , Tuan muda ziko menahan amarahnya . Lagi - lagi dia membohongi ku , Ziko menekan suara nya. Mereka berdua berjalan menuju toko mainan , Zira sudah berada di meja kasir untuk membayar belanjaan nya , Zira membeli sebuah boneka yang cukup besar , besar boneka nya sebesar badan Zira , jadi Zira agak kewalahan untuk membawa nya. Zira keluar toko dan mendapati Tuan muda ziko dan Kevin sudah berada di depan nya. Zira gugup melihat dua manusia raksasa. eh eh tuan muda , Zira membuat senyuman termanis nya. Sudah selesai kamu ke toilet nya , tanya ziko dengan wajah menahan marah. Melihat ekspresi ziko , ada ketakutan dalam dirinya , dia berusaha untuk menenangkan Tuan muda ziko. Ah tuan , maaf aku tidak ke toilet aku , aku., Belum sempat Zira menjelaskan ziko sudah menarik boneka yang di beli Zira. " hello readers maaf jika ada typo , like dan komen yang banyak ya " Chapter 26 episode 26 Hey mau di bawa kemana boneka itu , tanya Zira. Ziko tidak memperdulikan Zira , dia menyerahkan boneka tersebut ke Kevin . Gimana kamu mau bawa kalo Lebih besar boneka dari pemilik nya , jawab ziko dengan sedikit kesal , ziko masih marah karena Zira membohongi nya. Mereka berjalan keluar mall. Kenapa kamu berbohong kepada ku ? tanya ziko. Hehehe , Zira memberi kan senyumannya yang manis , aku gak mau bilang kalo aku mau beli boneka , nanti kamu gak izinkan aku untuk bayar , jawab Zira polos sambil memainkan jari - jarinya. Kepedean kamu , jawab ziko berlalu meninggalkan Zira yang masih berdiri. Mereka sampai di parkiran mobil , Kevin hendak meletakkan boneka tersebut ke bagasi . Asisten Kevin , jangan di letakkan di bagasi , tapi di sini aja , Zira menunjuk kursi belakang pengemudi . Terus aku duduk di mana tanya ziko , sambil memegang dahinya . Melihat tingkah Zira , ziko geram. Ya tuan duduk aja di situ , jawab Zira santai , Zira berjalan dan duduk di sebelah Kevin. Apa ? aku harus duduk dengan boneka , bentak ziko. iya , memang nya kenapa ? tadi kamu bilang gak ada teman ngobrol , tuh aku belikan boneka untuk menemani kamu , hahaha Zira dan Kevin tertawa bersamaan . Zira kamu lama - kelamaan sudah keterlaluan , ziko merapat kan gigi nya. Kamu mau pindah atau boneka ini aku sobek , bentak ziko. eh eh eh jangan - jangan , mendengar bonekanya mau di sobek dengan cepat Zira langsung memindahkan boneka tersebut duduk di sebelah Kevin. Zira mengelus boneka tersebut , kamu yang baik di sini ya , ajak ngobrol asisten Kevin , guman Zira pelan. apa perlu saya pasangkan sabuk pengaman ? , tanya Kevin , Kevin berusaha menahan tawa nya. oh ya , bagus itu pasangkan sabuk pengaman. Zira menjawab santai sambil duduk di sebelah ziko. lama - lama kamu aku gigit Zira , batin ziko. Ziko gemas dengan sikap Zira yang sangat kekanak-kanakan , konyol dan lucu. Mobil berlalu menyusuri setiap jalan , menikmati sore hari di atas mobil. Banyak kendaraan yang memadati lalu lintas sehingga terjadi kemacetan. Zira merasa lelah dia tertidur dengan sangat lelap dia tidak menyadari kepalanya sudah berada di bahu ziko . Ziko hanya memandangi wajah Zira. Menurut nya wajah Zira sangat manis , alis yang tebal dan rapi , hidung yang kecil bibir yang merah , kulit yang bersih , rambut yang hitam lebat , ziko menikmati mahluk di samping nya. Suara ponsel Zira berbunyi , Zira kaget dia langsung menjawab panggilan tersebut , Ya , sambil menguap dan merapikan rambut nya. Ya aku usahakan , kapan sih , Zira bertanya , okeh deh, I Miss you muaaah , jawab Zira santai dan mematikan ponsel nya . Siapa ? tanya ziko penuh selidik , Ziko penasaran dengan pembicaraan Zira , ziko merasa ada rasa sakit di hatinya . gak siapa - siapa , Zira menjawab santai. gak siapa - siapa kok mesra , jawab ziko dengan menahan sedikit rasa sakit hati nya. Halo Tuan muda ziko , apa aku harus memberi tau mu setiap panggilan telepon yang masuk , Zira memandang sinis ke Ara ziko. Ya kamu harus memberi tau semua nya , perintah ziko. Halo halo , memang nya kamu siapa ? saudara bukan , tetangga bukan pacar bukan , cih Zira sinis melihat ziko. Mendengar ucapan Zira , ziko emosi , dia langsung mencium bibir Zira yang masih ngomel , zira mendapatkan serangan mendadak kaget , berusaha menghindar tetapi kepala Zira di pegang ziko dengan sangat kuat , Zira berusaha untuk mengakhiri nya dengan gigitan. " hello readers maaf jika ada typo , like dan komen sebanyak - banyak nya " Chapter 27 episode 27 Zira menggigit bibir ziko , Aw teriak ziko , kenapa kamu gigit aku ? bentak ziko , ziko memegang bibirnya menahan sakit. Kenapa kenapa ? seharusnya aku yang bertanya , kenapa kamu mencium ku ? tanya Zira dengan penuh emosi. Kamu bawel sih , ziko menjawab dengan senyuman licik. Ziko menikmati bibir Zira yang manis, walaupun tidak ada balasan dari Zira , seperti nya ini adalah ciuman pertama buat Zira. ahaha , hebat sekali dirimu Tuan muda , menikmati bibir ku , aku akan meminta pertanggungjawaban dari mu . Zira menunjukkan jari nya ke arah ziko. Kamu mau minta apa ? aku kan hanya mencium kamu , kamu mau aku nikahi ? tanya ziko santai. Cih sory , aku gak berniat kawin dengan dengan manusia es , kalo aku menikah dengan mu aku bisa ketularan jadi manusia es krim terus punya anak dan anaknya jadi manusia es lilin . ihihi...... Zira menggoyang - goyang kan badannya seperti ketakutan. Diam berisik , teriak ziko sambil menutup kedua kuping nya. Kamu ya kalo masih bawel aku cium kamu sampai berdarah , kamu mau ? ziko menekan intonasinya. Baik - baik aku diam . Mendengar kata cium Zira langsung menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Akhirnya Zira diam , Zira kesal dan hanya memandang ke jalan , pikiran nya masih mebayangkan serangan yang tadi. Manusia es ini memang gak tau malu , sudah berapa banyak perempuan yang dia cium , jangan - jangan banyak perempuan yang sudah dia cium , guman Zira pelan . Tuan sudah berapa banyak perempuan yang kamu cium ? Zira membalikkan badannya menghadap ke arah ziko . Masih di bahas lagi ? Ziko memegang dahinya seperti orang pusing tapi tidak pusing . Ya aku mau tanya sudah berapa banyak perempuan yang kamu cium ? cepat jawab tanya Zira dengan penuh emosi. Hemm banyak sekali gak bisa di hitung , jawab ziko santai , ziko membohongi Zira , zira adalah orang ke dua yang di cium nya setelah Sisil . Apa ?? Zira berteriak oh no , bagaimana ini bibir ku bisa terkontaminasi , jawab Zira panik sambil memegang bibirnya terus . Hahahaha , Kevin tertawa mendengar ucapan Zira , Hei , kamu pikir bibir ku mengandung bakteri , bentak ziko sambil menarik hidung Zira . Ya mana aku tau , biasanya kalo tidak setia dengan pasangan nya atau suka gonta ganti pasangan bisa ketularan penyakit HIV , nah kalo bibir apa dong ? jadi aku bilang aja terkontaminasi , rengek Zira . Ziko tidak meladeni ucapan Zira , dia hanya memejamkan mata nya membayangkan ciuman nya . Kamu mau di antar ke mana ? tanya ziko , dia tetap memejamkan mata nya . Karena sudah sore aku mau pulang aja , Kevin membawa mobil dengan kecepatan sedang , mobil yang mereka tumpangi berhenti di depan apartemen Zira . Aku kan belum bilang di mana tempat tinggal ku , bagaimana kamu bisa tau asisten ? tanya Zira penuh selidik . Kalo masalah alamat itu masalah kecil buat ku , jawab Kevin . ya ya ya , bos sama asisten sama saja , sama - sama sombong , jawab Zira spontan . Sebelum Kevin membuka pintu mobil Zira sudah keluar duluan , di ikuti dengan ziko . Kamu ngapain turun ? tanya Zira . Ziko tidak menjawab pertanyaan Zira , dia berjalan meninggalkan Zira di ikuti dengan Kevin beserta boneka Zira . Hei aku tidak terima tamu , Zira berlari mengikuti langkah ziko . Aku tidak mau bertamu tapi aku mau makan malam di apartemen mu , jawab ziko santai Itu sama saja , Zira ngomel sambil menghentak - hentak kan kakinya . " hello readers maaf jika ada typo ,like episode favorit kalian dan komen yang banyak ya " Chapter 28 episode 28 Kamu mau ikut gak , ziko sedikit berteriak. Cih aku kan pemilik nya , gerutu Zira sambil mengikuti langkah Tuan muda ziko dan Kevin. Mereka betiga memasuki apartemen Zira , ziko melihat sekeliling apartemen Zira , apartemen ukuran minimalis , mempunyai 1 kamar tidur , 1 kamar mandi dapur dan ruang tamu sekaligus ruang tv yang bersebelahan hanya pembatas sebuah partisi. Ziko memasuki kamar tidur Zira , memandangi setiap detail dari kamarnya , kamar dengan nuansa wanita , tertata rapi , warna dominan di kamar Zira berwarna pink , kamar yang sederhana tapi serasa nyaman . Hey Tuan kenapa kamu di sini ? ini kamar perempuan tau ! Zira berbicara sedikit lantang. Yang bilang kamar waria siapa , jawab ziko santai , ziko keluar menuju ruang tamu , dia meninggal Zira di kamar yang masih manyun . Hey nona Zira , aku minta kopi ? Teriak ziko , Hey Tuan aku bukan pembantu mu , Zira menunjukkan jari nya ke arah ziko yang sedang duduk di sofa sambil menyalakan televisi . Sudah cepat aku haus , perintah ziko. Dengan sedikit ngomel zira pergi ke dapur yang bersebelahan dengan ruang tamu , dia membuat dua buah kopi . Kemudian Zira meletakkan kopi tersebut di atas meja . Minum perintah Zira . Ziko memegang gelas kopi tersebut dan meminum kopi tersebut , tiba - tiba ziko menyemburkan kopi tersebut . Kenapa kamu kasih garam kopi ku ? bentak ziko , kebetulan Zira berdiri di depan ziko yang hanya di batasi sebuah meja . Itu hukuman karena kamu tadi mencium ku , Zira tertawa sambil menjulurkan lidah nya dan meninggal ziko dan Kevin . Sini kopimu , ziko mengambil kopi Kevin , dia meminum kopinya Kevin . Tuan kalo kamu minum kopi ku , aku minum apa ? tanya Kevin seperti orang bodoh . Buat lagi sana , perintah ziko . Kevin pergi ke dapur untuk membuat kopi , dia tidak kesusahan untuk menemukan kopi tersebut , setelah selesai membuat kopi dia duduk kembali di sebelah ziko dengan membawa kopi nya . Ziko meminum kopi nya sedikit demi sedikit , kenapa kopi mu manis ? tadi dia buat kopi ku asin ? tanya ziko ke Kevin . Mungkin nona Zira masih kesal dengan serangan mendadak dari Tuan , Kevin tertawa kecil . Tidak berapa lama Zira keluar dari kamarnya dengan menggunakan baju terusan di atas lutut berbahan kaos , dia menggulung rambut nya dengan asal , sehingga membuat bentuk tubuh nya terlihat seksi , bokong nya yang penuh dan gunung kembarnya terlihat sangat sempurna , melihat Zira memakai baju seperti itu , ziko menelan air liur nya dengan kasar sedangkan Kevin menyemburkan kopinya . Hey ganti baju mu , perintah ziko . Memang nya apa yang salah dengan baju ku , tanya Zira heran. Zira tidak merasa ada yang salah dengan pakaian nya, secara dia sering memakai baju itu , dan menurut nya baju itu pantas untuk di pake memasak atau pun membersihkan rumah . Kamu mau menggoda kami ! cepat ganti baju mu , bentak ziko Eh satu lagi pake celana jangan pake baju seperti itu , ziko menunjuk jari nya ke arah baju Zira . Cih aku itu mau masak bukan mau fashion show , gerutu Zira . Zira berjalan menuju kamar sambil mengentak - hentak kan kaki nya . Mau masak aja susah , pake baju di atur , heran yang punya apartemen ini aku , kenapa dia yang ngatur aku , Zira bergumam sendiri . Zira kembali keluar dari kamar nya , zira menggunakan celana pendek di atas lutut dengan kaos yang sedikit longgar. " hello readers maaf jika ada typo , like dan komen yang banyak ya " terimakasih. Chapter 29 episode 29 Zira keluar kamar langsung menuju dapur melihat Zira Keluar dengan memakai celana pendek , pahanya yang bersih mulus terlihat sangat jelas membuat kaum adam ingin memangsa nya . Ziko membulat kan mata nya melihat Zira semakin seksi , sedangkan Kevin menelan air liur nya . Hey kamu jangan lihat , perintah ziko kepada Kevin . Tuan muda boleh lihat kenapa aku gak boleh lihat , jawab Kevin santai . hey kamu , berani membantah ku , bentak ziko. Gak - gak tuan , yang seharusnya di salahkan nona zira tuan , kenapa dia pake baju itu , aku kan hanya melihat saja , Kevin melakukan pembelaan . Mendengar Kevin berkata seperti itu ziko langsung tidak tenang . Hey ganti lagi baju mu , Zira yang berada di dapur kembali lagi ke ruang tamu . Ada apa lagi dengan baju ku , tadi kamu yang bilang pake celana , rengek Zira . Zira berdiri di depan ziko dan Kevin , jantung mereka berdua berdebar - debar melihat bentuk tubuh zira . Ziko melirik ke arah Kevin yang masih melotot melihat Zira . Tutup mata mu , perintah ziko ke Kevin . Kevin langsung menutup mata nya . Aku di suruh tutup mata , sedangkan si bos tidak , nasib jadi asisten , batin ziko . Aku bilang pake celana tapi bukan celana pendek , perintah ziko . Walaupun dia menikmati keindahan tubuh zira tapi dia berusaha menutupi nya . Pake celana panjang dan baju panjang , perintah ziko sekali lagi. Makanya kalo kasih perintah itu yang jelas . Zira cemberut dia meninggalkan ziko dan Kevin , dia kembali ke kamar nya untuk ganti baju . Keseharian Zira di rumah memakai celana pendek dan kaos kaos yang longgar , sedangkan keseharian zira di kantor memakai celana panjang dan rok , tetap menampilkan kesan feminim . Jadi Zira hanya mempunyai satu celana yang cocok menurut dia untuk di pake memasak . Zira memperhatikan dirinya di depan kaca , sambil terus menggerutu . Mau masak aja ribet banget sih , gerutu Zira . Zira Keluar dari kamar dan berjalan menuju ruang tamu , dia berdiri di depan ziko dan Kevin . Ziko melihat Zira dari atas sampai bawah begitu pun Kevin . Nah itu baru betul , dah sana masak . perintah ziko ke zira. Ziko tersenyum sedangkan Kevin tertawa terbahak bahak melihat pakaian Zira . Kalo pake ini aku seperti orang demam tau , Zira cemberut kepada ziko. Zira menggunakan celana training dan baju panjang tebal , sehingga bentuk tubuhnya tidak terlihat sama sekali . Akhirnya dengan penuh perjuangan Zira menyelesaikan masakan nya . Zira menghidangkan makanannya di meja makan . Makan malam sudah siap , Zira sedikit berteriak . Ziko dan Kevin berjalan menuju dapur , mereka duduk di kursi makan , mereka duduk bersebelahan , Zira duduk di depan ziko . Kamu baru ngapain ? , tanya ziko mengejek . Ziko melihat keringat Zira bercucuran , ziko tertawa melihat Zira mengelap keringat nya. Cih aku itu baru marathon , jawab Zira jutek . Zira memasak makanan rumahan , ziko menikmati makan malam nya dengan lahap. Tuan apa betul kamu homo , tanya Zira santai sambil menyuapkan sendok nya ke mulut nya . Ziko yang mendengar pertanyaan Zira langsung tersedak - sedak . Zira memberikan air putih kepada ziko . Ziko meminumnya , selesai minum , wajah ziko berubah merah terlihat dengan jelas kemarahannya . Jangan marah tuan aku hanya bertanya , zira mencairkan suasana yang sedikit tegang . Kenapa kamu bisa berpikir kalo aku homo , bentak ziko . Eh eh eh , Zira gugup . Begini tuan , selama ini aku tidak pernah melihat kamu membawa atau pun menggandeng perempuan dan kamu selalu berdua saja dengan asisten mu Kevin . Wajar kan kalo aku berpikir kalo kalian ada mempunyai hubungan ? tanya Zira santai sambil menikmati makanan nya . Mendengar ucapan Zira , ziko dan Kevin secara bersamaan saling memandang , mereka berdua langsung memindahkan kursi makan nya berjauhan . hahahaha , Zira tertawa melihat tingkah dua orang di depan nya . " hello readers like episode favorit kalian ya dan komen yang banyak " . Chapter 30 episode 30 " Kalian berdua seperti sepasang kekasih yang lagi bertengkar." Zira tertawa terbahak - bahak sambil memegang perutnya. "Diaaaaammmm!" Bentak Ziko. Zira kaget, dia langsung menutup rapat mulutnya. " Kamu kalo masih berani bilang homo awas kamu!" Ancam Ziko . Idih pake acara ancam - mengancam, memang nya kalo aku bilang tuan homo kenapa. Zira memonyongkan bibir nya Ziko berjalan memutari meja. Ziko mendekati Zira dengan sekejap Ziko mencium bibir Zira yang lembut. Zira berusaha untuk menghentikannya, tapi tangan Ziko telah memeluk tubuh Zira. Dengan susah payah Zira bisa melepaskan pelukan Ziko. Ziko memegang ujung bibirnya. " Manis juga bibir kamu." Sambil menyentuh dagu Zira . Zira menepis tangan ziko. " Kamu ya!" Zira menuding dengan jarinya ke arah wajah Ziko . "Kamu apa?" tanya Ziko santai. Zira menatap Ziko dengan tatapan tajam. " Kamu sudah keterlaluan." Teriak Zira. " Aku sudah mengancammu untuk tidak berkata homo dan kamu memulainya lagi, jadi aku buktikan kalo aku bukan homo." Ziko tersenyum licik. Zira merasa geram dan marah melihat tingkah Ziko yang semena-mena terhadap dirinya. " Apa kamu mau bukti lagi? Kita bisa melakukannya di kamar. Ucap Ziko sambil tertawa licik . Kevin sekali lagi sebagai saksi bisu, dia hanya melihat adegan tersebut tanpa harus berkomentar karena memang tidak boleh berkomentar . Mendengar ucapan Ziko, Zira merasa marah dia mendorong tubuh Ziko. " Awas kamu kalo berani menyentuhku." Ancam Zira, sambil menutupi badannya dengan kedua tangan . Ziko senyum menyeringai. " Apakah kamu takut nona Zira ? Ucap Ziko sambil kembali tertawa . " Kalo kamu berani menyentuhku, akan aku potong punyamu kemudian aku goreng lalu aku kasih ke asisten Kevin, biar di makan dia." ancam Zira sambil ketakutan. Kevin tidak bisa menahan tawanya mendengar ucapan Zira yang sangat ceplas-ceplos. Kevin mengikuti drama yang di buat Zira. " Nona nanti kalo sudah selesai di goreng kasih saos ya." Kevin tertawa kembali . " Gak pake saos tapi nanti aku sambal aja , jawab Zira . Ziko yang mendengar merasa risih dengan candaan yang di buat Zira dan Kevin. " Sudah diam!" Bentak Ziko . Ziko menjentikkan jarinya memanggil Zira. " Hey kamu sini." " Gak mau." Ucap Zira cepat. Ziko selalu punya cara untuk mengancam Zira. " Cepat sini, kalo sampai hitungan ke 3 kamu tidak ke sini aku cium." Teriak Ziko . Mendengar kata cium, Zira langsung berlari mendekati Ziko, dia berdiri di depan Ziko . " Apa? Zira menutupi mulutnya dengan kedua tangannya . " Kamu harus berjanji kepadaku." Zira mengangguk. " Ikuti aku." Perintah Ziko . Zira mengangkat tangan kanannya , dan membentuk jarinya berbentuk V . " Aku berjanji, aku berjanji, kalo aku, kalo aku, tidak akan, tidak akan, berbicara, berbicara, homo lagi, homo lagi, kalo aku, kalo aku, berbicara, berbicara, homo lagi, homo lagi, aku, aku, akan, akan, menikah dengan Tuan muda Ziko." " Apa!!! Aku gak mau." Teriak zira . " Kevin sudah kamu rekam." Ucap Ziko sambil melirik Zira. " Sudah tuan." Ucap Kevin cepat. " Putar videonya." Perintah Ziko . Kevin memutar video perjanjian antar Tuan muda Ziko dan nona Zira . " Hapus itu." Rengek Zira kepada Ziko . " Gak, aku gak akan menghapus video ini , mulutmu sembrono." Jawab Ziko cepat. Zira tidak bisa berkata-kata dia seperti si buah malakama. " Ini sebagai bukti kalo kamu melanggar janji kepadaku." Ziko tersenyum licik. " Kamu mengambil kesempatan di atas penderitaanku . " hello readers maaf jika ada typo, like episode favorit kalian dan komen sebanyak mungkin ya " . Chapter 31 episode 31 " Ya aku mengambil peluang di atas penderitaanmu." Ucap Ziko tersenyum licik. Ziko berjalan menuju sofa meninggalkan Zira yang masih bengong. Ziko menyandarkan kepalanya di pinggir sofa sambil memejamkankan matanya . " Hey Tuan awas kalo kamu berani menyentuhku lagi akan aku pastikan itumu pulang tak berbentuk." Ancam Zira . Ziko tidak suka dengan ucapan Zira. Ucapan Zira seperti mengancam dirinya " Jangan pernah kamu mengancamku." Bentak Ziko. Zira tidak gentar dengan ancaman Ziko. Dia malah menantang Ziko balik. " Cih cuma masalah itu aja harus di perpanjang." Gerutu Zira. Zira merasa kesal dengan semua tingkah Ziko. Setiap ucapan Zira selalu salah di matanya. " Dasar cabe." Gerutu Zira. Ziko mencoba menelaah ucapan Zira. " Apa yang cabe?" Ucap Ziko penasaran. " Kamu cabe." Ucap Zira sambil menunjuk ke arah Ziko. Kevin yang mendengar tertawa terbahak bahak. Zira sangat kocak dalam berkata-kata. Mendengar Kevin tertawa Ziko langsung melempar bantal sofa ke arah Kevin. " Diam kamu." Ucap Ziko sambil melempar bantal sofa. Kevin langsung diam dia khawatir akan ada lemparan mendadak kalo dia masih tertawa. Ziko berjalan mendekati Zira yang sedang berdiri di pojok. Ziko memegang tangan Zira. " Lepaskan." Zira melepaskan tangan Ziko seraya berjalan menjauh dari Ziko. Zira harus berjaga - jaga jika ada serangan mendadak dari Ziko. " Aku tidak suka kamu menyebutku cabe." Ucap Ziko tegas. Zira menggaruk - garuk kepalanya yang tidak gatal. Di pikiran Zira hanya masalah kata cabe bisa jadi serumit ini. " Jadi kamu mau apa?" Ucap Zira merengek. Zira sudah habis kata-kata dengan Ziko. Ziko sedang memikirkan sesuatu. " Ganti kata cabe dengan yang lain." Ucap Ziko cepat. Zira sedang memikirkan sesuatu yang aneh agar Ziko bisa diam. " Ubi kayu." Ucap Zira asal. Ziko tertawa senang. " Boleh lah ubi kayu. " Ucap Ziko tersenyum menyeringai. Ziko melirik ke arah Kevin. " Bagaimana hasil rekamannya?" Kevin memberikan hasil rekamannya ke Ziko , sambil tersenyum tipis. Kevin memang tau momen kapan harus merekam tanpa harus di perintah ziko . Ziko melihat hasil rekaman nya , "Hemmmmm bagian cabe di hapus." Ucap Ziko cepat. " Cih dasar manusia es dikit dikit rekam, dikit dikit marah." Gerutu Zira pelan. Ziko memikirkan sesuatu hal yang lainnya. " Oh ya nona, kamu masih ada hutang samaku." Zira membulatkan matanya. Zira masih bingung dengan ucapan Ziko . " Setiap malam aku mau kamu memasak makan malam untukku di sini." Ucap Ziko sambil menunjukkan jarinya di apartemen. " Tunggu tunggu, maksud tuan di apartemenku?" Ucap Zira bingung. Zira masih bingung dengan memasak dan hutang yang di sebutkan Ziko barusan. " Hello tuan, untuk apa aku memasak, aku bukan pembantumu." Ucap Zira memalingkan wajahnya. " Untuk membayar hutangmu yang 60 juta apa kamu pikun !!!." Zira baru mengingat tentang sepatu yang harganya bisa membeli sepeda motor empat unit. Zira tidak menjawab dia merasa sedang di manfaatkan Ziko. " Atau kamu mau option yang ke dua ? ziko memberi pilihan ke dua . " Apa itu." Zira penasaran. " Option ke dua adalah kamu harus memberi kecupan selamat malam kepadaku bagaimana? Ziko memegang dagu Zira. Zira menepis tangan Ziko dari dagunya. " Cih, aku pilih option ke satu." Zira berjalan menghindari Ziko. Dia memilih jarak aman dari Ziko. " Berapa lama aku harus memasak makan malam?" " Sampai hutangmu lunas." Ucapan Ziko padat dan jelas. " Aih hello tuan, bagaimana aku tau hutang ku lunas, aku kan tidak mencantumkan nominal di setiap masakanku." Rengek Zira. " Anggap saja aku makan di warteg, di warteg makan untuk satu orang 50 RB kalo berdua berarti 100 RB, jadi kamu hitung aja berapa bulan kamu masak untuk ku . ziko tersenyum licik . " hello readers maaf jika ada typo , like episode favorit kalian ya dan komen yang banyak ya " terimakasih Chapter 32 episode 32 Zira komat Kamit bukan untuk membaca mantra tapi menghitung berapa bulan dia harus masak makan malam. " Apa!" Zira menjatuhkan badannya . " Aku harus pura-pura pingsan , bagaimana mungkin aku memasak selama 20 bulan , batin Zira." Ziko mengetahui kalo Zira hanya berakting , Ziko memulai akting nya . " Oh tidak bagaimana ini. kenapa kamu harus mati, aku hanya menyuruhmu untuk memasak." Ziko pura - pura panik. Kevin juga ikut berakting. " Tuan nona Zira tidak meninggal dia hanya pingsan." Kevin ikut berakting sebagai pemeran pendukung. " Ah betulkah?" Ziko berjalan mendekati Zira yang sedang pura - pura pingsan. Tanpa pikir panjang ziko mencium bibir Zira. Prak! Zira menampar pipi Ziko dengan keras. " Owh kamu sudah sadar syukurlah, aku tadi mau memberimu nafas buatan." Ucap Ziko sambil tersenyum licik. " Hey itu bukan nafas buatan, kamu itu menciumku." Teriak Zira. Zira kesal lagi-lagi Ziko mengambil kesempatan di dalam kesempitan. " Apa kamu gak pernah nonton sinetron ha? kalo orang pingsan di sadarkan pake minyak angin atau minyak kayu putih, bukan comot bibir." Zira teriak kesal. Ziko mulai mencari alasan dari perbuatannya. " Ya kalo di sinetron mungkin pake minyak apalah itu. Tapi kalo aku menyadarkan seseorang dengan ciuman. Kamu mau pingsan lagi?" Goda Ziko sambil tertawa. " Cih amit - amit, enggak enggak aku dah sadar." Ucap Zira cepat langsung berdiri dari posisi duduknya. " Wah kalo ada mas Hanung Bramantyo pasti nona Zira dan tuan Ziko akan di jadikan artis." Kevin tertawa terbahak bahak dia menyukai akting mereka berdua. Zira berjalan menuju pintu, dia memegang handle pintu . " Jam berkunjung telah selesai." Zira membungkuk kan badannya seperti seorang pelayan . " Apa kamu kira ini rumah sakit pake waktu berkunjung." Teriak Ziko. " Iya ini rumah sakit. Yang sakit kamu!" Ucap Zira santai. Kevin dan ziko berjalan menuju pintu, mereka hendak keluar dari apartemen Zira.Setelah sampai di dekat pintu Ziko berhenti. Dia melihat ke arah Zira yang jarak nya hanya setengah meter. " Kamu bisa melunasi hutang kamu tanpa harus memasak, ataupun kecupan selamat malam." Zira merasa antusias mendengar ucapan Ziko. " Oh ya apa itu?" Wajah Zira yang tadinya jutek kembali tersenyum . " Menikah denganku." Ucap Ziko santai. " Hahaha. Hey kamu merendah kan harga diriku tuan." Zira menuding jari telunjuknya ke arah Ziko. " Cih aku gak sudi kawin dengan manusia es batu sepertimu. Lebih baik aku memasak selama 20 bulan dari pada harus jadi istrimu." Ucap Zira ketus. " Aku gak bisa bayangkan menikah denganmu, bisa-bisa aku jadi sedingin salju sebeku kulkas." Ucap Zira cepat. Zira masih nyerocos , tapi Ziko sudah mencium kembali bibir Zira. Zira berusaha menghentikannya untuk menjauh Zira tidak bisa karena tangan Ziko yang kekar sudah memeluk pinggangnya, apalagi menggeser kepalanya, akhirnya Zira menjewer telinga Ziko. " Aw kenapa kamu menjewerku, ha !!! Bentak Ziko marah. " Kamu seharian ini sudah mencium bibirku." Ucap Zira kesal. Zira berusaha mengusir Ziko agar keluar dari apartemennya. " Cepat keluar waktu berkunjungmu sudah habis." Ucap Zira cepat sambil memegang handle pintu. " Kamu tau nona Kenapa aku mencium mu? Ucap Ziko. " Ya karena kamu ketagihan." Ucap Zira kesal. " Salah salah karena bibirmu bibirmu." Ziko menggantung ucapannya. " Bibirmu mengandung micin." Ucap Ziko sambil berbisik ke telinga Zira. Ziko tertawa terbahak bahak sambil keluar meninggalkan apartemen . Zira membanting pintu nya dan mencak - mencak gak karuan . " Hello readers maaf jika ada typo , ini adalah novel pertama author , like episode favorit kalian ya , komen sebanyak mungkin ya , terimakasih " Chapter 33 episode 33 Di dalam mobil ziko masih tersenyum - senyum sendiri seperti orang gila , ya hari ini dia mendapatkan jackpot , maksudnya memaksa mendapatkan jackpot . Mobil berjalan dengan cukup kencang karena kondisi lalu lintas sudah cukup sepi . Hem Tadi di kantor si mulut micin bilang telah terjadi drama Korea , apa maksud nya ? Maksud tuan nona Zira ? tanya Kevin . Lah iya lah , apa kamu ada sebutan yang bagus untuk dia ? Seperti nya mulut micin bagus juga , mereka tertawa bersama . Drama Korea tadi terjadi ketika mulut micin datang , Hey stop siapa yang menyuruh mu memanggil dia mulut micin , sebutan itu hanya dari ku dan hanya aku yang mengucapkan nya . Baik tuan saya laksanakan . Tuan tuan sepertinya kamu sudah menyukai nona Zira , kamu sudah mempunyai panggilan sayang untuk nya . Bisa saya lanjutkan tuan ? tanya Kevin . Hem , ziko menjawab santai , pikiran nya masih melayang - layang seperti layang - layang . Drama Korea itu terjadi ketika nona Zira mau bertemu dengan tuan , dia di larang dengan Resepsionis dan nona zira .... Kevin berhenti Kenapa berhenti , tanya ziko . Nona Zira menggebrak meja resepsionis . Apa !!! Ziko yang tadi nya duduk santai , langsung duduk tegak , kenapa dia menggebrak meja ? Nona Zira tidak di izinkan sama resepsionis , jadi nona Zira menyebutkan alasan bahwa dia adalah kekasih Tuan ziko . Berani berani nya dia menyebutkan sebagai kekasih ku , jadi gak salah dong kalo aku mencium nya . Kevin hanya manggut-manggut gak mengerti jalan pikiran bos nya . Lanjutkan perintah ziko . Resepsionis tidak percaya dengan ucapan nona Zira , mereka bilang nona Zira bukan seperti kekasih Tuan tapi seperti tukang laundry , jadi menurut nona Zira apa salahnya kalo tukang laundry menjadi kekasih Tuan muda . Berani juga si mulut micin itu , besok pecat resepsionis itu . Baik tuan laksanakan . Keesokan harinya . Keluarga Raharsya sudah duduk di meja makan untuk menikmati sarapan nya , mereka masih menunggu kehadiran ziko . Ziko menuruni tangga menuju meja makan . Ziko mencium mama nya , dan kembali duduk di kursi makan . Kak aku mau bicara . Zelin putri Raharsya apakah kamu tau aturan di rumah ini , tidak boleh ada yang berbicara ketika sedang makan . perintah Tuan besar . Zelin yang mendengar suara papa nya langsung menutup mulutnya . Tuan besar Raharsya tidak banyak bicara , dia sangat di segani semua orang, kharisma nya sebagai pemimpin masih melekat walaupun kepemimpinan nya sudah di serahkan kepada anak sulung nya . Orang yang sangat disiplin , setiap aturan yang di buatnya harus di taati ketika seseorang melanggar pasti akan mendapatkan sanksi walaupun itu anak nya sendiri . Flash back Ziko setelah selesai sekolah dia melanjutkan studinya di luar negeri , dia kuliah di universitas ternama , dia mengambil jurusan bisnis seperti keinginan ayah nya . Sebagai anak orang kaya yang mempunyai kekayaan 7 turunan . Ziko mendapatkan fasilitas lengkap , dari rumah , mobil , ATM yang tidak pernah berkurang selalu bertambah setiap hari nya . Ziko melanggar aturan yang di buat ayah nya. Aturan nya sangat simpel sebenarnya , jangan melakukan hubungan seksual sebelum menikah , jangan minum alkohol , jangan pake narkoba , dan selesaikan kuliah dengan tepat waktu . Kalo di negara nya ziko bisa menahan godaan yang datang tetapi di luar negeri godaan itu semakin kuat . Namanya juga luar negeri , untuk meminum - minuman alkohol bukan lah hal yang di larang di sana . Apalagi tentang sex . Ziko bisa menahan nafsu nya untuk hubungan sex , kejadian itu bermula ketik ..... Ziko di undang ke sebuah party , di mana teman - teman nya berdansa seperti orang kesurupan , mereka menikmati alunan musik yang menurut ziko sangat memekakkan telinga , ziko di tantang temannya untuk minum alkohol , selama ini dia bisa menghindari tetapi kalo hari ini ziko tidak bisa menghindari nya , Menurut teman nya jika tidak minum alkohol sama saja dengan banci , ziko di katai banci , akhirnya untuk membuktikan dirinya tidak banci , ziko minum alkohol . " hello readers maaf jika ada typo , like episode favorit kalian dan komen yang banyak ya terimakasih " Chapter 34 episode 34 Ziko mabuk berat , tubuhnya terasa berat kepala nya pusing , setelah itu dia tidak mengetahui apa yang terjadi . Pagi hari nya , dengan kepala masih terasa berat dia memaksakan untuk membuka mata nya , dia melihat sekeliling kamar , yang menurut nya adalah hotel , dia kaget ketika seseorang keluar dari kamar mandi , seorang gadis bule , ziko melihat tubuh nya tidak memakai pakaian . Ziko marah dia tidak tau harus marah kepada siapa . Perempuan tadi keluar meninggalkan ziko yang masih bingung dengan keadaan nya . Ziko keluar meninggalkan hotel , pikiran nya masih berkecamuk entah kemana . Ziko sampai di rumah nya , betapa kagetnya nya dia melihat papa nya sudah duduk di atas sofa dengan pandangan marah . " Karena keteledoran mu , sebagai sanksi nya kamu tidak mendapatkan fasilitas apapun dari papa " . itulah sanksi yang di dapatkan ziko ketika melanggar aturan dari papa nya . Tit tit tit Sisil memencet klakson mobil nya , penjaga mansion keluar menghampiri nya . " Maaf nona ada yang bisa saya bantu " . " Hey apa kamu gak tau siapa aku " ? Sisil menunjukkan ke angkuhanya . " Aku adalah nona Sisil calon istri Tuan muda ziko putra Raharsya " , dia menjelaskan kepada penjaga . " Buka pagar nya , aku mau masuk " , perintah Sisil . " Maaf nona saya harus memberi tahukan terlebih dahulu kepada kepala pelayan " , penjaga meninggal kan Sisil . " Hey kenapa kamu meninggalkan kan ku di luar sini , awas kamu akan aku adukan ke calon suami ku ", teriak sisil . Penjaga menyampaikan kepada kepala pelayan . Setelah selesai sarapan , " Maaf tuan besar dan nyonya besar , ada nona Sisil di luar , apakah saya harus mengusir nya " , tanya Pak Budi . Mendengar nama Sisil tuan besar , nyonya Amel , Sisil beserta ziko saling berpandangan . " Tidak usah di usir , biarkan dia masuk " , perintah nyonya Amel . " Baik nyonya ". Pak Budi pergi meninggalkan ruang makan menuju penjaga yang masih menunggu di luar , pak Budi memerintahkan nya sesuai instruksi dari nyonya Amel . " Mama kenapa kamu mengizinkan perempuan itu untuk masuk ke sini " , tanya Tuan besar . Ziko beserta Zelin masih menunggu jawaban dari mama nya . " Selamat pagi semuanya " , Sisil menyapa semua anggota keluarga . Semua anggota keluarga hanya diam tidak ada yang menjawab salam nya , hanya Nyonya Amel yang menjawab nya . " Pagi sisil " , Secara bersamaan Tuan besar , ziko dan Sisil langsung pergi meninggalkan ruang makan . Mereka kembaki ke rutinitas nya masing - masing . Sisil merasa kecewa karena kehadiran nya tidak di harapkan . " apa kamu sudah sarapan " , tanya nyonya Amel . Melihat nyonya Amel masih baik dengan nya , dia langsung mengeluarkan jurus nya , jurus manja nya . " Sudah Tante , aku sudah makan ". Sisil duduk di samping nyonya amel , dia berusaha untuk mendekatkan kembali hubungan yang telah rusak . " Tante apa kabar " ? tanya Sisil . " baik ", Nyonya Amel menjawab santai . " Tante aku minta maaf , aku telah melakukan kesalahan yang fatal , maafkan aku , aku khilaf " . Sisil pura - pura sedih , bagaimana pun dia harus bisa mencari simpati nyonya Amel . " Sudah lah , Tante sudah memaafkan mu lama " , Nyonya Amel menggenggam tangan Sisil . Sisil yang mendapat perlakuan yang baik dari Nyonya Amel merasa besar kepala . Tante aku dengar Tante akan merayakan wedding anniversary , apakah aku tidak di undang ? Zira bertanya dengan manja nya . " hello readers maaf jika ada typo , like episode favorit kalian dan komen sebanyak mungkin ya , terima kasih ". Chapter 35 episode 35 " Hemm iya besok adalah wedding anniversary Tante dan om " , Nyonya Amel menjawab santai . " Tante apa aku tidak di undang " , Sisil memegang tangan Nyonya Amel , menunjukkan muka sedih . " Tentu saja kamu Tante undang " , nyonya amel pergi meninggalkan Sisil tidak beberapa saat datang dengan membawa sesuatu . " ini undangan untuk kamu , acara nya di adakan besok malam jam 7 , pastikan kamu datang tepat waktu dan jangan terlambat " . " owh tentu saya akan datang Tante , saya akan datang tepat waktu saya akan ...... " Belum sempat Sisil melanjutkan ucapannya , " Sisil Tante sangat sibuk , Tante harap kamu mengerti " , " Baik Tante , aku juga sudah mau pergi kok , bye Tante " , Sisil keluar meninggalkan mansion . Sisil mengendarai mobil nya menuju butik langganan nya . " Tante Amel masih baik dengan ku , aku masih punya kesempatan untuk merebut ziko kembali , ini merupakan awal yang baik , Ziko Sebentar lagi kamu menjadi milik ku " , hahaha , Sisil tertawa riang . Di mansion "Sayang mengapa wanita itu kamu izinkan masuk " , tanya tuan besar . " Owh dia mama undang ke acara kita besok " , Nyonya Amel menjawab dengan santai. " Apa !!! apa papa gak salah dengar " , selidik tuan besar . " Papa tenang saja , mama tau harus bertindak seperti apa " , sambil memegang tangan suami nya . Di kantor Asisten Kevin duduk di ruangan nya , dia menghubungi Bagian HRD . " Saya mau kamu datang ke ruangan saya " , perintah Kevin . Tok tok tok Pintu ruangan asisten Kevin di ketuk . " Masuk " , Perempuan itu berdiri di depan asisten Kevin , perempuan itu bernama ibu Mery , dia adalah Kepala di bagian HRD , umur nya sudah tidak muda lagi , kira - kira 40 tahun . Walaupun dia sudah sebagai kepala tetapi jika berhadapan dengan asisten Kevin nyalinya menciut , karena asisten Kevin merupakan orang kepercayaan Presiden direktur , asisten Kevin bersikap dingin seperti bos nya tidak banyak bicara , setiap tindakan nya terukur , terarah secara sistematis . Jika seseorang yang di panggil ke ruangan asisten Kevin pasti karena telah melakukan kesalahan . " Maaf pak , bapak memanggil saya " , ibu Mery memulai percakapan nya . Asisten Kevin masih menatap laptop nya tanpa melihat ataupun melirik ibu Mery . Ibu Mery masih berdiri di tempat yang sama tanpa di persilahkan duduk oleh asisten Kevin . " Hemm ya , saya memanggil mu , apakah kamu penanggung jawab di bagian HRD " , tanya Kevin sambil terus menatap laptop nya . " iya pak saya penanggung jawab nya , ibu Mery berkata dengan sedikit terbata - bata , jantung nya berdebar kencang , dia berusaha mengingat kesalahan apa yang telah di buat dia ataupun anak buahnya . " Resepsionis masih termasuk bagian dari HRD kan " , tanya Kevin sambil menatap ibu Mery dengan tatapan tajam . " iya pak , resepsionis masih termasuk dalam bagian departemen saya " , jawab Bu Mery dengan jantung yang sudah tidak karuan . " Apa tugas resepsionis " , tanya Kevin santai . " Resepsionis bertugas menerima tamu , menerima atau menyambut kedatangan tamu - tamu perusahaan , mencatat dalam log book telepon masuk dan keluar " , jawab ibu Mery dengan gugup . " Hemm bagaimana sikap seseorang resepsionis " , ? tanya Kevin . " Mereka harus ramah kepada setiap tamu pak " , ibu Mery masih memutar otak nya untuk mengetahui apa maksud dari semua pertanyaan asisten Kevin . " Baik baik baik " , Kevin memainkan pena di jari nya. " Ada berapa jumlah resepsionis " ? tanya Kevin . " Ada tiga pak " , jawab nya gugup . " baik , pecat semua nya hari ini juga " , bentak Kevin . " hello readers maaf jika ada typo ini adalah novel pertama author , like episode favorit kalian ya dan komen sebanyak mungkin , terimakasih " Chapter 36 episode 36 " Maaf pak apa kesalahan mereka sehingga mereka di pecat " , ibu Mery bertanya karena dia belum mempunyai alasan yang tepat untuk memecat anak buah nya . " Apakah kamu merasa pekerjaan mereka sudah baik " ? tanya Kevin kembali . " Me menurut saya pekerjaan mereka sudah baik pak " , jawab nya gugup . " Apakah kamu yakin " ? Ibu Mery tidak menjawab dia hanya menggaruk kepalanya yang tidak gatal , dia takut salah bicara , bisa - bisa ucapan nya akan menjadi boomerang buat nya sendiri . " Kamu sebagai atasan tidak becus , apa kamu juga mau saya pecat " , bentak Kevin " Jangan pak - jangan , saya hanya ingin mengetahui alasan bapak memecat mereka , saya harus memberi kan alasan yang tepat untuk mereka pak " , ibu Mery berkata dengan memelas . " Baiklah , alasannya adalah karena mereka tidak ramah kepada tamu Presiden direktur , dan mereka telah menghina tamu nya " , jawab Kevin dengan sedikit teriak . " Apa ! , baiklah pak saya akan memecat mereka , tindakan mereka sudah salah " , jawab ibu Mery . " Sudah kamu boleh keluar , kerja kan tugas mu dengan benar , dan cari pengganti untuk mereka yang ramah dan jangan suka ngegosip , kalo kamu mencari orang yang salah , kamu akan saya pecat " , ancam Kevin . " baik pak ". Ibu Mery keluar dari ruang asisten Kevin dia melakukan tugas yang telah di perintah kan asisten Kevin . Ibu Mery telah memecat 3 resepsionis itu , walaupun ada rasa gak tega di hati nya , tapi harus di lakukan nya karena dia tidak mau mempertaruhkan posisi nya sekarang . Di butik Zira melakukan rutinitas nya seperti biasa , dia merancang pakaian di sebuah kertas putih , tangan nya sudah sangat lihai untuk menaklukkan kertas di depan nya , untuknya merancang adalah hal yang mudah bagi nya . Banyak pelanggan merasa puas dengan hasil rancangan nya , dia sedang fokus menyelesaikan hasil rancangan nya . Pintu ruangan nya di ketuk . Tok tok tok . " Masuk " , dia masih fokus dengan rancangan nya . " maaf mbak mengganggu , ada tamu yang mau ketemu dengan mbak " , jawab Lina . " siapa ? , Zira masih tetap fokus . " Nona Sisil " , jawab Lina sedikit gugup . " Ada perlu apa dia ke sini " , Zira yang mendengar nama Sisil langsung meletakkan pensil nya ada sedikit keterkejutan . " Bukan nya nona Sisil yang membatalkan hasil rancangan saya kan " , tanya Zira balik . " iya mbak " , tapi dia seperti nya ada perlu dengan mbak . " Ya udah suruh masuk " , Zira kembali lagi menyelesaikan rancangan nya . Sisil datang dengan keangkuhan nya , dia duduk di sofa dan meletakkan kakinya di atas meja . Melihat tingakah Sisil , Lina mau menegur nya , tapi sudah di tahan Zira . " Ada yang bisa saya bantu " , tanya Zira menahan emosi nya . " Aku mau hasil design kamu yang kemaren , masih ada kan ? tanya Sisil . Zira yang mendengar mau tertawa tapi dia berusaha menahannya . " Saya memang sudah merancang nya dan juga sudah selesai di jahit , tapi gaun itu sudah di beli sama orang lain , jawab Zira santai . " Apa !!! bagaimana mungkin kamu menyerah kan design itu kepada orang lain , teriak Sisil . " Bukan nya nona Sisil yang telah membatalkan kesepakatan kita , dan kalo tidak salah nona Sisil bilang rancangan saya kampungan , betul kah nona Sisil " ? Sisil seperti menjilat ludahnya kembali . " ya ya , awalnya aku bilang rancangan kamu kampungan tapi setelah aku ke butik yang lain ternyata mereka lebih kampungan " , Sisil mencoba membela diri . " hello readers maaf jika ada typo ini adalah novel pertama author, like episode favorit kalian ya dan komen banyak nya " , terimakasih . Chapter 37 episode 37 Zira ingin tertawa mendengar ucapan Sisil , menurut nya nona Sisil seorang yang sangat munafik . " Apakah kamu tidak ada rancangan yang , lain " ? tanya Sisil . " Kalo untuk rancangan harus memesan terlebih dahulu , saya tidak bisa merancang dengan waktu yang singkat ", Jawab Zira . " Kapan kamu memerlukan nya ", tanya Zira . " Besok , besok adalah acaranya , bagaimana apakah kamu bisa merancang untuk ku ", tanya Sisil . " Oh maaf nona Sisil aku tidak bisa merancang dalam waktu yang sangat singkat , kamu bisa lihat ", Zira menunjukkan rancangan di meja yang masih banyak . " Ini adalah rancangan yang harus saya selesaikan , mereka sudah pesan 6 bulan yang lalu ", Zira berusaha menjelaskan . " Oh tidak " , Sisil menutup wajah nya dengan kedua telapak tangan nya . " Apa yang harus aku lakukan " , Sisil panik . Melihat Sisil yang sudah panik , Zira berusaha menenangkan nya . " Begini saja nona Sisil , saya ada merancang beberapa gaun dan telah selesai di jahit , kamu bisa melihat lihat dulu , mana tau ada yang cocok " , " Baiklah , aku akan melihat - lihat dulu " . Sisil menuruni tangga menuju lantai 2 , dia di dampingi Lina . Sisil mengelilingi lantai 2 , lantai 2 merupakan tempat pakaian - pakaian pesta atau gaun di letakkan . Setelah mengelilingi lantai 2 , dia menjatuhkan pilihan nya pada gaun yang berwarna grey , gaun panjang dengan lengan pendek , bagian punggung nya terbuka membentuk huruf V , dan bagian depan yang sedikit jatuh . " Aku mau coba yang ini ", Sisil menunjukkan gaun nya kepada Lina . " silahkan Nona mencoba nya di fitting room ", Lina mempersilahkan tamu nya . Setelah mencoba nya , Sisil tersenyum puas , dia memandang dirinya di dalam kaca , dia terlihat seksi . " Pintar juga dia merancang , ini juga tidak kalah bagus dari rancangan yang kemaren " , guman Sisil pelan . Setelah mencoba gaunnya Sisil membayar gaun tersebut dan dia pergi meninggalkan Zira boutique . Lina berjalan manaiki tangga menuju lantai 3, dia menuju ruangan Zira . Ruangan Zira tidak di tutup jadi Lina bisa langsung masuk . " Mbak nona Sisil menjatuhkan pilihan nya pada gaun yang berwarna grey , yang belakang nya terbuka " , " bagus kalo begitu , dia akan terlihat sangat cantik menggunakan gaun itu " , Zira menjawab dengan santai sambil tetap fokus dengan kerjaan nya . " mbak boleh tanya " , Lina memberanikan diri untuk bertanya. " Hemm , ada apa ", Zira meletakkan pensilnya di meja dan melihat ke arah yang punya suara . " Maaf ya mbak , mbak bisa merancang untuk nyonya Amel dalam waktu satu hari , kenapa nona Sisil tidak bisa " , Lina bertanya penuh selidik . " begini alasan nya , alasan aku bisa merancang pakaian Keluarga Raharsya dalam waktu 1 hari , karena kekuasaan Keluarga Raharsya , dan kamu juga yang bilang kan , kalo sampai melakukan kesalahan pasti bisa di pastikan butik ku di hancurkan ". Lina manggut-manggut mengerti dengan ucapan Zira . " Nah kalo untuk nona Sisil kenapa aku tidak mau merancang , satu dia sudah membatalkan secara sepihak , ke dua aku tidak suka dengan orang yang Munafik , sampai sini paham kan " . Zira menjelaskan dengan cermat kepada Lina. " Aku bisa saja mengusir nya tapi aku masih punya hati, apalagi melihat tingkah nya yang angkuh , aduh pengen rasanya aku kasih cabe setan mulut nya " , Lina dan Zira tertawa bersamaan . " Seperti nya besok aku tidak datang ke butik , aku serahkan butik kepada mu " , Zira memegang pundak Lina . Lina mengangguk kan kepalanya. " Memang nya besok mbak mau kemana " ? tanya Lina . " Besok aku ada undangan pesta di dua tempat , dan besok pasti jalanan macet karena weekend , jadi aku memutuskan untuk tidak datang ke butik ". jawab Zira . " hello readers maaf jika ada typo, like episode favorit kalian ya , dan komen yang banyak ya ," terimakasih Chapter 38 episode 38 Keesokan harinya Karena hari ini Zira tidak ke butik , dia bisa santai sedikit di apartemen nya . Zira melakukan aktivitas rumah tangga , Mencuci membersihkan apartemen semua nya bisa dia kerjakan . Zira melihat sekeliling apartemen nya semua sudah bersih tidak ada debu. Ponsel nya berbunyi , zira berjalan menuju ke meja makan tempat di letakkan nya ponsel nya. " Ya halo " " halo zira " , Zira mendengar suara dari ujung telepon seperti tak asing . " Zira ini saya nyonya Amel ". " iya Nyonya amel ada yang bisa saya bantu " , tanya Zira. Apa ada masalah dengan gaunnya , aduh kalo ada masalah mati aku , batin Zira . " Jam berapa kamu bisa datang ke acara saya " , " saya usahakan cepat nyonya , memang nya ada apa nyonya " , Zira masih penasaran dengan pertanyaan Nyonya Amel . " tidak saya hanya memastikan kamu datang ke acara saya , ingat kamu harus cantik , nanti supir saya akan menjemput kamu " . perintah Nyonya Amel . " gak usah Nyonya Amel , saya bisa kok naik taxi , gak usah repot-repot " , Zira menolak secara halus . " Zira saya tidak suka di bantah " . Mendengar ucapan Nyonya Amel , jantung nya jadi tidak karuan . Mamak sama anak sama - sama tukang ngancam , batin Zira . " halo halo Zira , apa kamu dengar " , tanya Nyonya Amel . " i i iya Nyonya saya dengar ", Zira menjawab dengan terbata - bata . " acara jam 7 , supir saya akan datang jam setengah 7 , bisa Zira " , tanya Nyonya Amel . " baik Nyonya saya bisa ", " oh iya , kirim kan alamat kamu ke saya , sampai jumpa nanti malam ". Tut Tut Tut , panggilan pun terputus . " bisa bisa , kalo pun aku jawab gak bisa pasti aku di ancam lagi , apa semua orang kaya hobinya mengancamnya ", gerutu Zira . Zira mengirim alamat nya ke Nyonya Amel . Zira melirik kembali jam di dinding , oke sekarang sudah menunjukkan jam 1 siang , waktunya bersiap - siap . Zira menuju kamar mandi , membersihkan tubuh yang lengket karena seharian membersihkan apartemen . Setelah selesai dia memakai pakaian ala princess karena tema ultah nya Naura adalah princess . Zira melihat diri nya sendiri dari dalam cermin , dia memutar - mutar tubuh nya ke kanan dan ke kiri sambil memegang gaunnya . Zira melirik jam di dinding , waktu sudah menunjukkan jam 2 siang , acara jam 3 sore , perjalanan pasti membutuhkan waktu lama karena bisa di pastikan macet . Zira keluar dari apartemen di depan apartemenya taxi online sudah menunggu . Zira memasuki taxi dengan anggun . " Siang mbak ? mau di antar kemana " , tanya driver . " siang pak , antar kan saya ke jalan xxxx ", ucap Zira . " baik mbak ". Taxi yang di tumpangi Zira sudah melaju dengan kecepatan sedang , tapi setelah memasuki perkotaan taxi melaju dengan kecepatan lambat , terjadi kemacetan di pusat kota . " ada acara apa mbak " , tanya driver memecah kan kesunyian . " owh ini pak anak teman saya ada ultah dan tema nya princess ". jawab Zira santai . " owh saya kira mbak nya kabur dari pesta pernikahan " , jawab driver . " hahaha bapak bisa aja ", Zira tertawa kecil mendengar ucapan si driver . Tapi ada benar nya juga si bapak , aku menggunakan gaun princess , pasti di pikiran bapak ini gaun yang aku pakai ini gaun pengantin , batin Zira . hemmmmm aku masih bingung dengan ucapan Nyonya Amel mengapa dia sangat menginginkan aku untuk datang ke pesta nya , sedang kan Nyonya Amel baru kenal dengan ku hanya hitungan hari , jadi gak mungkin dong aku jadi tamu Istimewa , batin Zira . " Hello readers maaf ya kalo ada typo , like episode favorit kalian ya , dankomen yang banyak , terima kasih" . Chapter 39 episode 39 Zira sampai di tempat tujuan nya , yaitu rumah fiko , biasanya perjalanan dari apartemen Zira ke rumah fiko kira - kira membutuhkan waktu 30 menit tapi karena macet perjalanan nya menghabiskan waktu 45 menit . Taxi berhenti tepat di depan rumah fiko , banyak mobil yang parkir di area rumah nya . Zira memberikan beberapa lembar uang dan menyerahkan nya kepada si driver . " Wah rumah nya besar sekali " , guman Zira pelan . Zira melirik jam di tangan nya , jam menunjukkan pukul 15:45 . " Aku sudah terlambat 44 menit " , guman Zira pelan . Zira melangkah kan kaki nya , sembari melihat sekeliling nya , ada taman dan beraneka macam bunga yang di susun dengan rapih . " Zira kamu sudah datang " , tanya fiko . Zira kaget melihat fiko sudah di depan nya . " eh iya , maaf aku terlambat tadi terjadi kemacetan di pusat kota " , ucap Zira . " tidak apa - apa , aku senang kamu mau meluangkan waktu mu untuk datang ke sini , mari kita masuk , acara di adakan di taman belakang ", fiko menjelaskan ke Zira . Zira mengangguk kan kepalanya mengikuti langkah fiko . Sembari berjalan menuju taman belakang fiko melirik ke Zira . " Zira kamu cantik sekali " , ucap fiko. " terimakasih ", ucap Zira . Zira melihat sekeliling nya di taman belakang sudah banyak anak - anak yang lari ke sana kemari , para orangtua ada yang mengobrol satu sama lain , ada yang menikmati hidangan yang disajikan . Semua tamu undangan memakai pakaian ala ala princess , jadi bisa di bayangkan Zira seperti berada di acara telenovela little Missy , kalo masih ingat dengan telenovela little Missy berarti kita seangkatan dengan author ???????????? . " Wah bagus - bagus banget gaun mereka , pasti mereka sudah mempersiapkan jauh jauh hari ", guman Zira pelan . " wah sempat - sempat nya mereka membawa payung , ada yang memakai topi senget juga ", Zira tertawa kecil . " Kenapa Zira ", fiko bertanya heran melihat Zira yang tertawa sendiri . " gak kok , aku hanya mengagumi kreativitas mereka , sungguh luar biasa ", puji zira . " itu Naura ", fiko menunjuk jari nya ke arah anak nya Naura . Mereka berdua jalan beriringan menghampiri Naura yang lagi duduk sendiri . " Halo Naura ", Zira menyapa Naura . Naura membalikkan badannya mencari yang punya suara . Naura langsung berdiri melihat kedatangan Zira , dia memeluk Zira . " Tante kamu datang , aku kirain kamu gak datang " , ucap Naura sedih. Zira mensejajarkan tinggi badannya dengan Naura , dia mencium anak kecil itu dan memeluk nya . " Maaf sayang Tante terlambat tadi macet " , jawab Zira pelan . " Tante kamu seperti princess sungguhan " , ucap Naura mengagumi kecantikan Zira . " Tante bukan princess , Tante adalah seorang peri , kamu lah princess nya " , Zira memegang hidung Naura yang kecil . " Ini kado buat kamu ", Zira memberikan boneka yang di beli nya di mall . " Apakah kamu suka ", tanya Zira , Zira khawatir kalo Naura tidak suka dengan pemberiannya, karena menurut Zira pasti seorang anak perempuan menyukai boneka . " Aku suka Tante ", Naura mengangguk kan kepalanya . Fiko memperhatikan percakapan antara Zira dan anak nya , dia merasa ada kenyamanan di hati anak nya dan diri nya . Kemudia mereka bertiga jalan beriringan menuju acara yang sedang berlangsung , acara di pandu host ternama . " Anak - anak berlomba untuk meniup balon " , yang menang akan mendapatkan hadiah itu lah ucapan si host . Setelah melakukan serangkaian acara , waktu yang di tunggu pun tiba . " Baiklah acara selanjutnya adalah tiup lilin dan potong kue " , ucap si host . Naura berdiri di depan tempat di letakkan nya kue tart yang bergambarkan seorang princess . " Hello readers maaf jika ada typo , like episode favorit kalian dan komen yang banyak ya " , terimakasih . Chapter 40 episode 40 Kemudian semua anak menyayikan lagu selamat ulang tahun , setelah lagu selesai di nyanyikan Naura meniup lilin dan memotong kue ulang tahun nya . Potongan pertama di beri kan kepada papa nya , potongan ke dua di berikan kepada Zira . Para tamu undangan melihat Zira penuh selidik karena potongan kue ke dua di berikan kepada nya , menurut mereka pasti Zira sebagai tamu istimewa di acara ini . " Baiklah ini acara yang di tunggu - tunggu acara nya yaitu memukul pinata dengan mata tertutup yang di lakukan oleh yang berulang tahun" , ucap si host . " Hore hore hore ", teriak anak - anak secara bersamaan . Naura berjalan dengan mata tertutup Zira mendampingi nya menuju pinata yang telah di gantung lebih tinggi dari tinggi Naura . Host mulai menghitung 1 2 3 . Naura mulai memukul pinata berkali - kali , tapi pinata tersebut belum juga bisa , fiko membantu Naura memukul pinata akhirnya pinata itu sobek dan keluar lah beraneka ragam permen , anak - anak saling berebut untuk mengambil permen tersebut . Acara pun telah selesai , banyak tamu masih menikmati hidangan yang disajikan , anak - anak berlari riang kesana kemari termasuk Naura . " Zira mari aku ajak kamu berkeliling " , ucap fiko . Zira mengangguk kan kepalanya . Mereka berjalan beriringan , fiko menjelaskan setiap ruangan , baik ruang tamu , ruang makan , ruang keluarga , dan juga kamar Naura . Zira kagum melihat desain rumah fiko modern klasik . " Bagus sekali desain rumah nya ", puji zira . " Pasti kamu menggunakan jasa arsitek untuk desain sebagus ini dan pasti mahal. ya ", tanya Zira . " Hahaha , ini gratis kok ", ucap fiko . " Gratis , owh kamu pasti punya teman seorang arsitek ", tanya Zira lagi . " hahaha bukan Zira , ini semua aku yang desain ", ucap fiko . " hah , kamu hebat banget , memang nya apa pekerjaan kamu ? " , " Aku seorang arsitek " , jawab fiko . Zira manggut-manggut mengerti . " Hemmmm berarti kita sama dong ", ucap Zira . " Maksudnya ", tanya fiko tidak mengerti . " Aku seorang designer baju sedang kan kamu seorang arsitek , kan sama - sama suka melukis " , ucap Zira antusias . " Hahaha kamu benar " . Mereka tertawa bersama , fiko mengajak Zira menuju ruang kerja nya . " Ini adalah ruang kerja ku ". Didalam ruang kerja nya terdapat buku - buku yang di susun dengan rapih , sesuai dengan warna sampul nya . Zira memperhatikan satu persatu yang ada di dalam ruang kerja fiko , Zira berhenti pada satu lukisan besar yang di pajang di dinding , sebelum Zira bertanya . " Ini adalah lukisan istri ku , ibu dari anak ku yang bernama Linda , lukisan ini sudah lama sekali tapi aku masih memajang nya , karena kenangan itu belum bisa aku lupakan ", fiko menjelaskan semuanya . " Duduklah " , fiko mempersilahkan Zira untuk duduk . Mereka duduk bersebelahan saling mengobrol satu sama lain , ada kalanya wajah mereka berdua serius dan ada kalanya mereka tertawa-tawa bersama . " Zira aku sangat berterima kasih karena kamu telah datang ke sini , aku tidak tau harus memulai dari mana ", ucap fiko gugup . Zira masih menunggu ucapan fiko . " Kenapa ? , ucapkan lah gak usah sungkan aku akan mendengar kan mu ", ucap Zira . " Zira aku aku ....., ingin mengatakan kepada mu ", fiko terbata - bata . Zira masih mendengar kan . " Ya apa ", tanya Zira . Fiko menggenggam kedua tangan Zira , melihat tangan nya yang mungil di genggam Zira kaget dan bingung . " Zira aku menyukai mu " , ucap fiko lembut . Zira membulat kan matanya mendengar ucapan fiko , dia seperti mimpi di siang bolong . " Hello readers maaf jika ada typo , like episode favorit kalian ya dan komen yang banyak , terimakasih ". Chapter 41 episode 41 " kamu gak lagi bercanda kan ", elak Zira menutupi kegugupannya nya . " Nggak aku serius , aku menyukai mu dari hari pertama kita bertemu , melihat mu dengan Naura perasaan ku sangat nyaman , aku terus memikirkan kamu " , fiko menjelaskan semuanya . Zira masih bertempur dengan jantung nya yang super duper kencang , Zira tidak bisa berkata - kata , ntah setan apa yang menutup mulutnya , Zira yang biasanya bawel hari ini bisa diam seribu bahasa . " Aku tau ini adalah hari kedua kita bertemu , terlalu cepat untuk ku mengungkapkan perasaan ku padamu , tapi aku tidak bisa menutupi nya , aku ingin kamu tau tentang perasaan ku " , ucap fiko . Zira masih saja tidak bisa berkata - kata . Apa seperti ini perasaan seseorang ketika di tembak cowok , ya Allah mimpi apa aku tadi malam , seumur - umur belum pernah ada yang menembak ku , dan hari ini seorang pangeran mengungkapkan perasaannya kepada ku , aku harus gimana , masak aku harus bilang wow gitu , batin Zira . Zira melirik jam di tangan nya , teng nong waktu menunjukkan jam 6 sore , otak Zira berputar keras . Aduh aku harus pergi ke acara Nyonya Amel nih , tapi momen ini sungguh so sweet , tapi tapi kalo aku gak datang bisa bisa aku di jadikan rempeyek , batin Zira . Zira melepaskan tangan nya yang di genggam fiko . " hemmmmm anu anu ", Zira gugup . Gimana ngomong nya , aduh ini mulut sama otak kok gak bisa kerja sama sih kalo sama si ubi kayu aja bisa kompak , aduh aku harus bilang apa , batin zira . Fiko memperhatikan Zira yang gugup dan keringat dingin . " Kamu tidak harus menjawab sekarang , aku akan menunggu jawaban mu ", fiko mencium telapak tangan Zira . oh so sweet , romantis amat ini pangeran beda banget sama si ubi kayu , kok aku jadi memikirkan dia , batin Zira . " Hemmmmm baiklah aku harus pulang sekarang karena sebentar lagi sudah mulai gelap , terimakasih atas semuanya ", ucap Zira . " Baiklah akan aku antar " , " eh eh gak usah , di sini masih banyak tamu dan jangan tinggalkan Naura sendiri , aku biasa naik taxi kok ", ucap Zira spontan . bukan gak mau di antar pangeran tapi kalo kamu antar aku , kamu akan tau jantung ku sudah lompat kesana kemari gak tentu arah , batin Zira . Zira pamit kepada Naura , wajah Naura terlihat sedih tapi Zira bisa berhasil membujuk nya . Fiko mengantarkan Zira ke depan gerbang , tempat taxi tersebut menunggu , kemudian Fiko membuka pintu taxi , dia mempersilakan Zira untuk masuk . " Hati - hati ", ucap fiko . Zira mengangguk kan kepalanya . Zira mendapatkan perlakuan yang begitu romantis dari seorang fiko , hati nya berbunga - bunga . Taxi sudah melaju meninggalkan rumah fiko , taxi berjalan dengan kecepatan sedang . Zira masih memikirkan ucapan fiko , ada rasa kebahagiaan tapi ada rasa kegundahan dalam diri nya , dia pun belum tau apa sebabnya . Zira melirik jam di tangan nya waktu sudah menunjukkan jam setengah 7 . " Waduh mati aku , pasti supir nya Nyonya Amel sudah datang aduh terlambat nih , jalanan macet lagi , aduh bagaimana nih " , guman Zira pelan . Zira duduk tidak tenang sesekali dia melihat keluar jendela mobil , sesekali melihat jam , dan sesekali melihat ponsel nya . " Waduh ada panggilan dari nyonya Amel , aku jawab gak ya ,duh kenapa aku bisa sepanik ini sih " , gerutu Zira . " Hello readers maaf jika ada typo, like episode favorit kalian ya , dan komen Sebanyak mungkin ". Terimakasih Chapter 42 episode 42 Setelah melalui perjalanan yang membosankan kan yaitu macet , akhirnya taxi yang di tumpangi Zira sampai . Zira langsung memberi beberapa lembar uang dan langsung pergi , ada teriakan dari si driver . " Mbak kembalian nya " , kata si driver . Driver sedikit berteriak karena Zira sudah keluar dari mobilnya . " Ambil aja pak ", teriak Zira . Zira berlari kecil menuju apartemen nya , dia melirik ke arah mobil mewah yang parkir di seberang jalan . pasti itu mobil Nyonya Amel yang sudah menunggu ku , tapi di mana supir nya , Zira berhenti sejenak , owh mungkin bukan mobil Nyonya Amel , batin Zira Zira melangkah kan kaki nya begitu dia hendak memasuki pintu loby apartemen, ada seseorang keluar dari apartemen . " Mbak Zira " , lelaki itu menunjukkan jari nya ke arah Zira . " saya di tugas nya Nyonya amel untuk menjemput mbak Zira , ucap nya . " bapak dari jam berapa di sini ", tanya Zira . " Dari jam 6 mbak ", jawab nya . " Apa !!! , Zira kaget mendengar jam 6 . " Bukan nya seharusnya jam setengah 7 pak ", tanya zira . " Nyonya Amel memerintahkan saya untuk menjemput nona lebih awal karena jalanan akan macet ", jawab nya tegas . " Seperti nya Nyonya Amel sudah menghubungi nona ", ucap si supir . " eh eh iya pak sudah ", Zira gugup. Memang ada pak tapi aku gak berani jawab telepon nya , berarti Nyonya menghubungi ku mau mengatakan itu , batin Zira . " Bisa kita berangkat ", tanya supir . " tunggu pak , saya harus ganti baju dulu sebentar saja , bisa pak ", tanya Zira . " Baiklah nona , silahkan ", ucap nya . Zira langsung membuka heelsnya dan lari secepat mungkin , Zira menuju lift kemudian memencet tombol 3 . Zira melirik jam nya . " Aduh sudah jam 7 , acara sudah di mulai apa kalo terlambat aku akan di hukum ", gerutu Zira . " ah paling juga di hukumannya seperti anak sekolah berdiri di tengah lapangan atau di hukum lari keliling lapangan , wkwkwk ", Zira tertawa kecil . ting tung . Pintu lift terbuka Zira meletakkan heels nya di depan dadanya kemudian dia lari secepat cheetah . Sesampainya di apartemen Zira langsung masuk ke kamar mandi , Zira mandi nya bukan kilat tapi kilat khusus , dan bukan mandi sebelas jari ya ????????????. Zira menggunakan gaun berwarna hijau tua , dengan bagian atas terbuka , gaun nya tidak ketat ya tapi belahan nya sampai paha guys , bisa di pastikan Zira hari ini sangat seksi . Rambutnya di sanggul asal dan dia mengenakan make-up flawless , jadi bisa di pastikan Zira akan terlihat cantik . Setelah melihat dirinya dalam cermin dan yakin make up dan penampilan nya sudah sempurna , kemudian Zira mengambil ponsel nya . Cekrek Zira Selfi dulu ya . Zira keluar dari dalam apartemen menuju ke arah mobil mewah nyonya Amel . Supir membukakan pintu mobil , Zira langsung masuk dan duduk dengan anggun nya . Mobil melaju menuju hotel Z , tempat acara nya berlangsung . Di hotel Z. Tamu - tamu sudah berdatangan , tamu Keluarga Raharsya ada dari kalangan pejabat , artis bangsawan semua kalangan elite . Mereka memberi selamat kepada yang punya acara . Mereka menikmati alunan musik yang di nyanyikan seorang penyanyi terkenal . Sesekali mereka mengobrol satu sama lain , semua terlihat ceria . Tapi tidak dengan nyonya Amel , nyonya amel gelisah sesekali melihat ke arah pintu kedatangan . " Kenapa ma , aku perhatikan mama kurang senang dengan acara ini " , tanya tuan muda ziko . " hello readers maaf jika ada typo, like episode favorit kalian ya dan komen yang banyak , terimakasih " Chapter 43 episode 43 " gak pa - pa , mama senang kok ", jawab Nyonya Amel . Zelin pun mendekati mama nya dia terus melihat tingkah mama nya yang aneh . " Mama kenapa sih, kok aku perhatikan melihat ke arah pintu terus sih ", selidik zelin. Dari arah pintu ada seseorang yang datang dan berjalan dengan anggun . Menuju tempat Nyonya Amel, ziko dan Zelin berdiri . " Selamat malam semua nya " , ucap Sisil . " Malam Sisil ", jawab Nyonya Amel . Ziko dan Zelin langsung pergi meninggalkan Sisil dan mama nya . " Tante selamat ya atas ulang tahun pernikahan nya semoga Tante dan om langgeng terus " , ucap Sisil manja . " om mana Tante ? ", tanya Sisil . Tante menunjukkan ke arah suaminya berdiri, Tuan besar Raharsya sedang mengobrol dengan para pejabat . ini lah kesempatan ku untuk menunjukkan kepada kalangan pejabat kalo aku calon istri ziko , batin Zira . " Baiklah Tante aku akan menemui om dulu , nanti aku balik lagi ", ucap Sisil . Melihat Sisil sudah tidak di dekat mama nya , ziko dan Zelin mendekati kembali mama nya . " Ma , kenapa mama mengundang perempuan itu ", tanya ziko sedikit emosi . " iya ma , bukan nya mama gak Suka dengan perempuan itu ", Zelin ikut bertanya . " Kalian berdua diam lah mama lagi pusing nih " ! Melihat mama nya marah mereka berdua ziko dan zelin pergi meninggalkan mama nya , mereka memperhatikan tingkah mama nya dari jauh . " Kak ziko coba deh lihat mama , mama seperti nya lagi menunggu seseorang ," ucap Zelin . " Hemmmmm iya benar juga , siapa yang di tunggu mama ya ? ". Zelin menggeleng kan kepala nya . " gak tau kak ", jawab Zelin cepat . " Mungkin mama sedang menunggu sahabatnya dari luar negeri ", jawab ziko santai . Tetapi tiba - tiba mereka melihat wajah mama nya berubah jadi ceria , mereka berdua saling berpandangan dan mencari sebabnya . Betapa terkejutnya mereka seseorang datang dengan anggun nya . " wah cantik banget ", ucap Zelin spontan . Zelin bengong begitu pun ziko. Zira berjalan dengan anggun nya semua mata tertuju kepada nya . Mengapa mereka semua melihat ke arah ku , apa ada yang salah dengan ku , apakah baju ku ada noda , atau ada cabe di gigi ku atau ada lipstik di gigi ku , batin Zira . Zira yang tadi nya berjalan pede jadi salah tingkah melihat semua tatapan tertuju kepadanya . Sisil pun memperhatikan ke arah yang menjadi pusat perhatian . " bagaimana mungkin dia bisa datang ke acara ini , siapa yang mengundang nya , kenapa harus dia sih jadi pusat perhatian kan masih lebih cantik aku ," gerutu Sisil . " Tuan sepertinya seorang peri telah turun dari kayangan ", goda Kevin yang melihat bos nya masih bengong . " Diam kamu ", Zira mendekati Nyonya Amel , dan memberi selamat kepada nya . " Selamat Nyonya atas ulang tahun pernikahan nya semoga langgeng sampai akhir hayat ", ucap Zira . " Terimakasih Zira , panggil saja saya Tante , kamu cantik sekali Zira ," puji Nyonya Amel . cih kenapa bisa melunak gini Nyonya amel bukannya kemarin masih mengaung , batin Zira . " terimakasih atas pujiannya Nyonya eh Tante , ucap Zira gugup . nyonya Amel melambaikan tangannya memanggil suami nya , kemudian tuan besar Raharsya datang mendekati Nyonya Amel . " Selamat ulang tahun pernikahan tuan besar, semoga langgeng sampai akhir hayat ," ucap Zira lagi. " panggil aja saya om ", ucap tuan besar Raharsya . " baik om Tante " , ucap Zira gugup . Kemudian mereka bertiga tertawa bersama-sama . Sisil merasa iri dia pergi ke kamar mandi meluapkan emosi nya . " silahkan menikmati hidangan nya Zira ", ucap Nyonya Amel . " baik Nyonya eh Tante ", jawab Zira . " hello readers maaf jika ada typo, like episode favorit kalian ya dan komen sebanyak mungkin ya , terimakasih " Chapter 44 episode 44 " Aku sebaiknya ke toilet dulu , memastikan apakah ada cabe atau lipstik di gigi ku " , guman Zira pelan . Zira menghampiri seorang pelayan , yang sedang menata meja hidangan . " Permisi , toilet di mana ya " , tanya Zira . " Lurus aja , kemudian belok ke kiri , lalu lurus di sebelah kanan toilet nya ", ucap si pelayan . Zira mengangguk kan kepalanya dan segera pergi menuju toilet . Setelah sampai di toilet Zira melihat Sisil juga berada di tempat yang sama . Sisil mengetahui kedatangan Zira . " Nona Sisil kamu ada di sini juga , atau jangan - jangan kita berdua berada di acara yang sama ", tanya Zira . " cih apa yang kamu lakukan di sini ," tanya Sisil jutek . " Main bola ," jawab Zira , sambil menunjuk kan gigi nya di depan kaca . " owh gak ada cabe kok apa lagi lipstik ", guman Zira pelan. " apa mereka semua menatap ku ada hubungannya dengan penampilan ku ", guman Zira lagi . " hey Zira seperti nya ini rencana kamu ya ," bentak Sisil . " Rencana apa nona ", Zira masih melihat kaca . " kamu sengaja menjual gaun ku dengan orang lain agar yang menjadi pusat perhatian adalah kamu , benar kan ", tanya Sisil sambil menunjuk ke dada Zira . Zira menepis tangan Sisil . " wah terimakasih atas kejujuran nya, ternyata benar mereka semua melihat kearah ku karena penampilan ku , " guman Zira pelan . Sisil yang merasa di acuh kan Zira mulai emosi . " Hey jawab aku , cepat ", teriak Sisil . " Nona - nona soal gaun mu kan kamu sendiri yang membatalkan secara sepihak , apakah kamu masih ingat ", tanya Zira santai . Sisil merasa dirinya di pojokan Zira . " Ah kenapa kamu tidak memberikan gaun ini kepada ku ", tanya Sisil . " oh itu jawaban yang gampang nona , karena gaun ini tidak akan cukup untuk mu , kan kamu bisa lihat , tinggi badan kita aja beda , " Zira menunjukkan ke arah cermin . Sisil mempunyai badan yang tinggi bak seorang model , sedang kan Zira mempunyai badan yang tidak terlalu tinggi . " Ah kamu mencari alasan saja , sejak kapan kamu punya gaun ini ", bentak Sisil . " Sejak lahir , bye nona Sisil , " Zira melambaikan tangan nya. Zira berjalan ke luar toilet meninggal Sisil yang masih mencak - mencak . " hey tunggu aku belum selesai dengan mu ", Sisil teriak . Zira berjalan menyusuri ruangan menuju tempat acara yang sedang berlangsung . " Aduh semua mata melihat ke arah ku , aku jadi risih ", guman Zira pelan . " aih itu kan si ubi kayu , aduh aku takut , melihat tatapan nya , lebih baik aku menghindari nya ", guman Zira pelan . Zira berjalan mengendap-endap menghindari tatapan ziko . Zira berjalan menuju meja hidangan , beraneka ragam makanan di sajikan di meja , dari makanan lokal , sampai makanan western . " Ah makanan nya menggugah selera ku , sebaiknya aku makan saja , perutku sudah memanggil - manggil ", guman Zira . Zira memilih makanan yang ringan dulu , dia sangat menikmati makanan itu . Beberapa saat kemudian . " hey mulut micin ", teriak ziko . " hemmmmm tuan bicara dengan ku ", tanya Zira sambil celingak-celinguk ke kanan dan ke kiri . " owh iya tuan bicara dengan ku , ada apa tuan muda ziko yang terhormat ," tanya Zira santai , sambil tetap mengunyah cake nya . " duh tuan jangan melihat aku seperti itu , aku takut ," Zira berekspresi seperti orang takut . " Kenapa kamu takut ," tanya ziko . " Mata mu ada laser nya , hahahaha ", Zira tertawa kecil . " hemmmmm kamu ya ," ziko sedikit marah . " Tenang tuan tenang jangan marah - marah , mari kita nikmati makanan ini sejenak ," rayu zira . " hello readers like dan komen yang banyak ya, dan jangan lupa vote biar tambah semangat author update nya ", terimakasih . Chapter 45 episode 45 " Hey mulut micin siapa yang mengundang mu datang ke pesta ini , apa mama ku Nyonya Amel ," tanya ziko . " La iyalah masak la lya dong , " jawab Zira sambil terus mengunyah makanan nya . Zira mengambil beberapa makanan di letakkan nya ke dalam piring . Melihat Zira yang makan begitu banyak ziko mengernyitkan dahi nya . " Kamu makan segini banyak ! , memang nya lambung mu ada berapa , hah !" tanya ziko lagi . " Hemmmm lambung ku ada satu tuan , tapi ...... , Zira menggantung ucapannya . " Tapi apa ! ", bentak ziko . " anak cabang nya ada di mana - mana , kkwkwkwk " Zira ketawa kikik . Begitu pun Kevin dia ikut tertawa mendengar ocehan Zira . Melihat Kevin yang tertawa ziko memutar badannya , kebetulan posisi Kevin tepat berada di belakang ziko kira - kira hanya 1 meter . " Asisten Kevin sejak kapan kamu berdiri di belakang ku ? tanya ziko sedikit berbisik . " Sejak tadi tuan ," Kevin menunduk kan Kepala nya . " Jadi dari tadi kamu melihat dia ? ", Ziko menunjukkan jari nya ke arah Zira . " iya tuan ," jawab Kevin cepat . " Siapa yang memerintah kan kamu melihat dia , hah ?" , tanya ziko lagi . " gak ada tuan , jadi saya harus bagaimana tuan " ? , tanya kevin . " Balikan tubuh mu jangan lihat dia dan besok beli kaca mata kuda ", perintah ziko . " untuk apa tuan ? " , tanya Kevin heran . " untuk menjaga mata mu agar tidak melihat bentuk tubuh si mulut micin ", jawab ziko tegas . " Tuan jadi setiap hari saya harus pake kacamata kuda ? , apa tidak ada toleransi sedikit saja tuan ", rayu Kevin . " Maksud mu apa ? ", tanya ziko balik . " Maksud saya , memang nona Zira memakai pakaian yang super seksi tapi kan bukan saya aja yang lihat , dan tidak mungkin juga nona Zira memakai gaun seperti itu setiap hari ". Kevin menjelaskan kepada ziko agar dia terhindar dari permintaan bos nya yang aneh - aneh . Ziko diam dan berpikir sejenak . " Baiklah kalo dia si mulut micin pake gaun yang seksi kamu harus pake kacamata kuda ", tetap berbisik - bisik . " Tuan apa perlu saya membeli kan mereka semua kacamata kuda ", tanya Kevin . Sambil menunjuk ke arah semua lelaki yang memandang Zira . " kamu " !!! " jadi sekarang saya harus bagaimana tuan ", tanya Kevin bingung . " hemmmmm balikan badan mu , dan kamu tetap berdiri di sini ", ucap ziko . Jadi bisa di bayangkan ziko dan Kevin berdiri membelakangi punggung masing - masing . " halo sudah siap bisik - bisik nya ? , kenapa dengan kalian berdua ? apakah kalian sepasang kekasih yang lagi berantam ", tanya Zira sambil tertawa . Ziko membalikkan badannya melihat ke arah Zira . " Apa kamu bilang ! , kamu tidak ingat dengan janji mu nona apa kamu mau ubi kayu ku ? ", ziko tersenyum licik . " ingat - ingat , gak aku gak akan ngomong itu lagi " , Zira berkata dengan gugup . Zira mecoba merayu ziko dengan menawarkan beberapa makanan . " Tuan apa kamu mau ini ", tawar Zira . " gak aku gak selera ", jawab ziko santai . " owh ya udah , aku aja yang makan ", Zira memasukkan cake ke dalam mulut nya . " hey cepat habis kan makanan mu , aku mau bicara ", perintah ziko . " hemmmmm ya ", Zira menjawab dengan mulut penuh . " aih kunyah dulu makanan mu ", jijik aku melihat mu ", perintah ziko . Zira mengangguk kan kepala nya dan mengunyah makanan nya . Setelah selesai mengunyah makanannya . " Aaaaaa ," Zira membuka mulutnya nya , menunjukkan kepada ziko kalo dia telah menghabiskan makan nya . Melihat tingkah Zira , ziko hanya menggeleng - gelengkan kepala nya . Zira masih melihat semua hidangan yang di sajikan . " Hey aku mau bicara ", bentak ziko . " iya bicara aja , aku dengar kok ", jawab Zira santai . Zira masih tetap dengan makanan nya. " Lihat aku ", bentak ziko lagi . Zira masih tetap dengan makanan nya juga . Melihat tingkah Zira , ziko langsung menarik tangan nya zira . Zira yang tidak mempunyai persiapan kaget , Zira jatuh di pelukan ziko . Mereka saling pandang dan diam seribu bahasa . mereka perang dengan pikiran nya masing - masing . " like setiap episode ya ,komennya jangan kendor dan vote yang banyak biar tambah semangat author update nya , terimakasih ". Chapter 46 episode 46 Jantung Zira berdiri kencang seperti pacuan kuda . aduh ganteng juga kamu ubi kayu , bibir mu yang seksi badan mu yang atletis , dan mata laser mu , duh duh , aih kenapa pula aku memikirkan mu ubi kayu , batin Zira . Sama juga dengan Zira , jantung ziko berdetak kencang seperti pacuan kuda yang lagi konser . Kamu manis juga , mata mu yang indah bibir mu yang mungil , hidung mu yang kecil dan tubuh mu yang harum , batin ziko . Mereka diam dan saling pandang beberapa saat . Sampai mereka tersadar dan melepaskan pegangan satu sama lain . " Kenapa kamu melihat ku seperti itu , apa kamu mengagumi ku ", goda ziko . " iya aku mengagumi mu kamu ganteng juga tapi sayang ", Zira menggantung ucapannya . " Tapi apa " , ziko penasaran . " Ada taik mata di mata mu ", ucap Zira spontan . " hahahaha , taik mata ", Kevin tertawa masih tetap membelakangi ziko . Mendengar ucapan Zira , ziko buru - buru membersihkan mata nya . Belum selesai ziko membersihkan mata nya . " tapi bohong , hahahaha ". ucap Zira sambil tertawa . Zira den Kevin tertawa terbahak bahak . Melihat dirinya menjadi bahan candaan ziko marah . " Diam !!!! , teriak ziko . Mereka berdua Kevin dan Zira langsung menutup mulutnya . Kalian berdua sama saja . aih ini ubi kayu apa gak pernah bercanda ya apa dulu waktu lahir gak pernah di ajak main atau dari lahir sudah di sodorkan ujian Nasional , batin Zira . " Maaf tuan maaf , kamu ganteng loh kalo gak marah ", rayu zira . " Aku memang ganteng ", ucap ziko membanggakan dirinya . " ya ganteng kalo di lihat pake sedotan ", hahaha Zira kembali lagi tertawa . Sedangkan Kevin menahan tawanya takut akan amukan harimau dari ziko . " Kamu baru Minta maaf tapi sudah mulai lagi, hah ! ", bentak ziko . " Maaf aku janji gak mulai lagi ", Zira merapat kan jari nya dan membulat kan matanya agar Keliatan sedih . " Baiklah aku memaafkan mu ", ucap ziko cepat . Hore Zira menepuk kedua tangan seperti anak kecil . " Tadi katanya kamu mau bicara tuan ? , tanya Zira . " Hemmmmm iya ya , Kenapa kamu pake gaun ini ", ziko menunjukkan ke arah gaun yang di pake Zira . " Aih kenapa sih kalian semua mempermasalahkan gaun ku , apa kamu mau pake juga , hah ", tanya Zira . " cih , aku bertanya kepada mu , apa kamu tidak lihat buaya darat yang melihat terus kepada mu , apa kamu mau menggoda mereka semua ", ucap ziko sedikit berteriak , sambil menunjuk ke arah mereka . " Hemm iya lihat ", ucap Zira . " Apa kamu tidak kepikiran untuk menutupi nya dengan apa lah itu nama nya ," ucap ziko cepat . " owh selendang ," jawab Zira cepat . " iya selendang , apa kamu gak punya , " tanya ziko cepat . " ada kok , punya nenek ku ", jawab Zira cepat . " Kenapa gak kamu pake ", tanya ziko . " bau minyak angin ", jawab Zira cepat . Sisil memperhatikan mereka dari jauh , dia merasa marah . " dasar wanita genit bisa - bisa nya kamu merayu calon suami ku , akan aku tunjukkan kepada mu siapa Sisil " , gerutu Sisil . Sisil jalan berlenggak lenggok bak seorang model menuju tempat ziko dan Zira berdiri. Zira melihat Sisil yang berjalan menuju tempat nya berdiri . " aih si uget uget datang ", guman Zira pelan . Ziko mendengar gumaman Zira dan melihat siapakah yang di maksud Zira uget uget . " hai sayang " , Sisil memegang tangan ziko . " hai nona Zira , kamu seperti nya sudah akrab dengan calon suami ku ", tanya Sisil . " wah selamat nona Sisil kalian memang cocok ", ucap Zira sambil memberikan tangannya seperti mau salaman. " hello readers like setiap episode ya , komen nya jangan kendor dan vote yang banyak biar author semangat update nya ", terimakasih . Chapter 47 episode 47 Sisil tidak menghiraukan Zira , dia masih bergelayut manja dengan tangan ziko , Ziko merasa risih tapi dia tidak melarang atau pun menghindari nya . Alunan musik sangat indah apalagi di nyanyiin oleh penyanyi terkenal membuat nuansa pesta ala orang kaya terlihat sangat wah wah . " hai kak Zira ", Zelin menyapa Zira yang sedang bersama Sisil dan ziko . " Hai nona Zelin ", sapa Zira . " Panggil aja aku Zelin ", perintah Zelin . aih kenapa dengan mereka semua , baru beberapa hari yang lalu mereka menunjukkan kesombongan nya tapi kenapa sekarang mereka mengembek , gak semua sih nih masih ada si ubi kayu , batin Zira sambil memonyongkan bibir nya ke arah ziko . " baik Zelin ", sapa Zira . " kak kamu cantik banget sih ", puji Zelin . " Terimakasih atas pujiannya ", ucap Zira Melihat dan mendengar Zelin memuji Zira , Sisil merasa iri dan berusaha untuk tetap meredam emosi nya . wah wah hebat kamu Zira , kamu sudah merayu calon suami ku dan sekarang kamu juga merebut hati Zelin , awas kamu Zira permainan masih akan berlanjut akan aku pastikan kamu menyesal , batin Sisil . " kak apa gaun ini kamu juga yang merancang ? ", tanya Zelin . Zira hanya mengangguk kan kepalanya . " Mau dong kak aku dibuat kan gaun seperti ini ", rayu Zelin . " untuk apa kamu mau di buat kan gaun ? , jangan bilang kamu mau bersenang - senang dengan teman mu ", tanya ziko penuh selidik . Ya ya ziko memang over protective kepada adiknya , untuk menjaga kekhawatiran nya ziko sampai mengirim kan satu orang bodyguard untuk menjaga adik nya . Mereka adalah keluarga terpandang , Keluarga mereka di segani khalayak ramai , tapi tidak sampai di situ walaupun keluarga mereka di segani tapi masih saja ada orang yang iri akan keberhasilan dan kesuksesan mereka , untuk mengantisipasi nya ziko dan tuan besar Raharsya mempekerjakan bodyguard . " Kakak ah , aku kan hanya mengagumi karya kak Zira , lagian kalo aku bersenang - senang pasti itu tetap ikut kan ", Zelin menunjuk bodyguard nya dengan mulut monyong nya . Alunan musik semakin merdu banyak pasangan - pasangan baik tuan maupun muda turun ke lantai dansa . Melihat banyak yang turun dansa Sisil berniat mengajak ziko untuk dansa , dia ingin menghindari semua pujian yang di berikan Zelin kepada Zira . " Sayang ayo kita dansa ", rayu Sisil . " gak aku gak mau dansa ", bentak ziko . Mendengar bentakan yang di berikan ziko kepada dirinya , Sisil diam tidak berani untuk mengajak ziko turun ke lantai dansa , dari raut wajah nya teihat kekecewaan yang mendalam . Zira yang melihat raut wajah Sisil merasa kasihan . " Tuan kenapa kamu tidak mau berdansa dengan nona Sisil , jangan kamu bilang kalo kamu tidak bisa dansa atau " , Zira menggantung ucapan nya . " Atau apa ", tanya ziko . Zira berjalan mendekati ziko , dan dia membisikkan sesuatu ketelinga ziko . Sisil yang melihat adegan itu merasa cemburu tapi dia cukup senang karena ziko mau berdansa dengan nya setelah cukup lama . Walaupun dia tidak tau apa yang di bisikkan Zira ke telinga ziko sehingga membuat ziko mau mengajak nya berdansa . " Apa kamu bilang ", ziko menahan emosi nya dan sambil menarik tangan Sisil menuju lantai dansa . Sisil memegang pundak ziko dan ziko memegang pinggang Sisil , tangan mereka yang lain saling memegang satu sama lain . Semua mata tertuju pada mereka berdua , begitu pun Zira , Zira mengagumi mereka berdua menurut dia , Sisil dan ziko merupakan pasangan yang serasa . Zelin sudah kembali ke posisi awalnya yaitu dekat dengan sang mama . Tinggal Kevin dan Zira yang masih di tempat itu , Zira menepuk pundak Kevin . " Hei asisten Kevin , kenapa kamu melihat kearah sana terus , pertunjukan nya kan ada di depan ", tanya Zira . " iya nona saya suka melihat kesana ", jawab Kevin cepat . " aih kamu ada - ada aja , bos sama anak buah sama - sama mempunyai kebiasaan yang aneh ", Zira menggeleng - gelengkan kepala nya . " Lihat asisten Kevin ", Zira menunjuk ke arah lantai dansa . Kevin hanya melirik sebentar dan kembali ke posisi awal nya . " Mereka sangat serasi ya ", puji zira sambil tetap menatap ke arah lantai dansa . " like setiap episode ya , komennya jangan kendor ya dan vote yang banyak biar author semangat update nya ", terimakasih . Chapter 48 episode 48 " Nona apa yang anda bisikan ketelinga tuan muda sehingga tuan mau berdansa dengan nona Sisil ", tanya kevin . " owh itu gampang saja , aku bilang kalo dia itu homo ", kwkwwkwk Zira tertawa . " Nona apakah kamu tidak ingat dengan janji kamu dengan tuan muda ", tanya Kevin masih dengan posisi yang sama yaitu membelakangi Zira . " ingat kok , aku ingat , tapi aku kasihan melihat nona Sisil , kenapa sih ubi kayu itu gak bisa lembut dengan seorang cewek , apalagi itu calon istri nya ", ucap Zira . " Nona seperti nya anda akan mendapatkan hukuman dari tuan muda ", ucap Kevin . " aih yang betul asisten Kevin ", tanya Zira lagi . Kevin mengangguk kan kepalanya . Beberapa saat kemudian datang seorang lelaki tua dengan perut buncitnya mendekati Zira dan mengajak Zira untuk berdansa . " Maukah nona berdansa dengan saya ", tanya si lelaki tua tersebut . " aih maaf saya berdansa dengan dia ", Zira langsung menolak dan menarik tangan asisten Kevin . " Nona apa yang kamu lakukan ", tanya Kevin karena dia tidak mengerti untuk apa tangan nya di tarik . " untuk dansa ", ucap Zira cepat . Mereka berdua sudah berdiri di lantai dansa , Kevin melihat ke atas tidak berani menatap Zira , mereka berdua belum berdansa sama sekali . " Nona kamu jangan membuat ku dapat masalah ", ucap Kevin masih dengan tatap ke atas . " Hey apa kamu tega melihat aku berdansa dengan buaya putih itu , hah ", ucap Zira cepat sambil memonyongkan bibir nya ke arah lelaki tua tadi " iya nona , tapi kenapa harus saya " , ucap Kevin . " hei kenapa kamu melihat keatas terus ", tanya Zira . " aku sakit mata nona , aku tidak mau kamu ketularan ", ucap Kevin cepat . Ziko dan Sisil masih berdansa , Sisil mengeluarkan jurusnya , dia membenamkan kepalanya di dada ziko yang bidang . " sayang aku senang , kita bisa dekat lagi , aku ingin kita seperti dulu ", ucap Sisil . Ziko tidak menghiraukan ucapan Sisil sama sekali dia masih menahan emosi nya untuk tidak merusak pesta orang tua nya. kamu beruntung Sisil , dari tadi aku ingin mencampakkan mu , tapi aku tidak mau merusak pesta orang tua ku , batin ziko . " asisten Kevin ayo kita berdansa kita di sini bukan mau mengobrol , apa kamu gak lihat semua orang memperhatikan kita , oh ya kamu gak liat kamu kan menatap ke atas ", ucap Zira . " lihat sayang apa yang di lakukan perempuan itu dengan asisten Kevin , apa mereka mau berdansa juga ", ucap Sisil . Mendengar ucapan Sisil , ziko langsung mengalihkan pandangannya ke arah yang di maksud Sisil . Ziko langsung melepas pelukan Sisil dan berjalan ke arah Zira dan Kevin . Sisil merasa marah melihat perlakuan ziko kepada nya . Sisil keluar dari lantai dansa berusaha untuk menghindari tatapan dari semua orang yang masih bingung . " Zira gara - gara kamu aku di tinggal kan di lantai dansa sendirian ", gerutu Sisil . " Hey apa yang kalian lakukan di sini ", tanya ziko . Mendengar suara ziko Kevin membuka mata nya dan melihat ke arah ziko sebaliknya dengan Zira , Zira hanya cuek . " ngobrol ", ucap Zira cepat . Kevin pergi keluar dari lantai dansa tinggal ziko dan Zira yang saling berhadapan - hadapan . " Hey asisten Kevin kamu mau kemana ". teriak Zira sambil menutup mulutnya karena teriakan nya semua orang melihatnya ke arah nya . Kevin tidak menghiraukan teriakan Zira , dia pergi meninggalkan Zira dan ziko . duh selamat selamat , nona - nona kamu hampir membuat ku kena hukum pancung dari tuan muda ziko , duh Nona kamu imut banget kamu punya duplikat gak sih , batin Kevin . Ziko langsung menarik tangan Zira , ziko memegang pinggang Zira dan menggenggam tangan Zira yang lain . " aih kamu mau ngapain ", tanya Zira yang sedikit gugup . " letakkan tangan mu di bahu ku ", perintah ziko . " gak aku gak mau ", ucap Zira cepat . " cepat letakkan tangan mu di bahuku , atau kamu mau aku cium ", bentak ziko . " iya iya ", ucap Zira cepat . Posisi mereka berdua sangat dekat , tubuh zira nempel ke dada ziko , aroma tubuh maskulin terpancar dari tubuh ziko , sebaliknya aroma wangi dari tubuh zira dan gunung kembar Zira yang menempel di dada ziko membuat ziko susah menelan Saliva nya . aih kenapa dengan jantung ku , aduh mata laser mu merontokkan bakteri - bakteri baik dalam diri ku , batin zira . Sebaliknya Kenapa dia bisa begitu cantik , ingin sekali aku melumat bibir imut mu untuk memastikan mulut mu ada micin nya apa tidak , batin ziko . Mereka berdua saling pandang dan diam seribu bahasa . Zira berusaha menutupi kegugupannya . " Tuan tuan ", ucap Zira. " Apa ? jangan kamu bilang ada taik mata lagi di mata ku ", ucap ziko cepat . " like episode favorit kalian ya dan komen yang banyak , jangan lupa vote yang banyak biar author semangat update nya ", terimakasih . Chapter 49 episode 49 " gak kok bukan itu ", ucap Zira gugup . " terus apa ," " kenapa kamu meninggalkan si uget - uget di lantai dansa , kan kasian ", ucap Zira. " kalo kamu kasian kamu aja yang dansa dengan nya ", ucap ziko sedikit berteriak . Alunan musik masih terdengar penyanyi menyanyikan lagu mellow , semua yang berada berdansa dengan mengikuti irama musik yang mellow . " cih aku kan hanya tanya , cepat banget tensi nya ", gerutu Zira . Mereka berdua masih berdansa layaknya sepasang kekasih , Sisil menepikan dirinya menjauh untuk mengindari pemandangan yang merusak mata nya . " hey mulut micin seperti nya kamu gak ingat dengan janji mu , siapkan tubuh mu nanti ", bisik ziko ke telinga Zira . Zira yang mendengar ucapan ziko mulai panik dan keringat dingin . " hey tuan , kamu jangan mikir yang aneh - aneh , aku ingat semua janji ku , aku kasian sama si uget - uget ", ucap Zira membuat wajah yang sedikit sedih . " memang nya kenapa ? ", tanya ziko . " aih kamu itu masak gak ingat sih , dia hanya mengajak mu berdansa tapi kamu malah membentak nya , apa kamu gak bisa sedikit lembut aja sama perempuan ", ucap Zira sedikit emosi . " seperti nya kamu salah profesi ", ucap Zira lagi . " sudah - sudah aku gak mau dengar ceramah mu , kalo kamu mau ceramah lebih baik di fodium jangan di depan ku ", ucap ziko tegas . " hey kamu belum bilang sama ku apa yang kamu lakukan tadi dengan asisten Kevin di sini ", tanya ziko . " owh aku tadi mau nyuci baju sama dia ", ucap Zira cepat . " aku serius aku bertanya kepada mu , apa yang kamu lakukan tadi di sini . " Hey tuan kalo aku berada di sini pasti lah mau dansa masak aku mau jualan cilok ", ucap Zira cepat . " kenapa kamu pilih asisten Kevin ", tanya ziko . " owh itu masalah nya ", ucap Zira sambil manggut-manggut . " aku mengajak asisten kevin berdansa dengan ku karena tadi ada buaya putih yang mau berdansa dengan ku ", ucap Zira . " buaya putih , maksud mu ? ", tanya ziko bingung . " itu itu buaya putih nya ", sambil memonyongkan bibirnya ke arah lelaki tersebut . Ziko langsung menoleh kearah yang di maksud Zira . Seorang lelaki tua dengan perut buncit rambut klimis dan hidup lagi ????????????. " kenapa kamu gak berdansa dengan nya ", ucap ziko sambil tersenyum mengejek . " aih kamu itu apa gak liat di atas rambut nya ada pulau , ogah aku dansa dengan nya ", ucap Zira sambil menggoyang - goyang kan bahunya seperti jijik . Ziko mengernyitkan dahi nya , dia masih belum mencerna maksud dari ucapan Zira . " Apa maksud mu dengan pulau ", tanya ziko sedikit bingung . " aih kamu gitu aja gak tau maksud ku , ada botak di tengah kepala nya ", ucap Zira cepat . Ziko dan Zira tertawa bersama - sama , semakin terlihat romantis kedua nya kalo di lihat dari jauh ya , kalo dari dekat seperti minyak dan air yang susah untuk bersatu . " bagaimana aku tau , kamu selalu membuat kosa kata sendiri yang aku sendiri aja gak tau maksud nya ", ucap ziko sambil tertawa kecil mengingat ucapan Zira tadi . " owh gitu ya ", Zira manggut-manggut . " Tuan ", tanya Zira . " hemmmmm ", ucap ziko . " berapa banyak perempuan yang kamu jadikan ke kasih ", tanya Zira penuh selidik . " kenapa ? apa kamu mau mendaftar kan diri sebagai kekasih ku ", ucap ziko sambil tersenyum licik . " cih siapa yang Sudi punya kekasih seperti kamu , aku kan hanya tanya aja ", ucap Zira cepat . " dasar PlayStation ", ucap Zira spontan . " apa itu ? tanya ziko sambil menatap Zira . " ya itu biasanya kalo yang banyak cewek nya di sebut kan play boy nah kalo aku menyebut nya PlayStation biar lebih kekinian ", ucap Zira sambil tersenyum tipis . ziko mengernyitkan dahi nya sambil menggeleng - gelengkan kepala nya . " seperti nya banyak juga kosa kata mu ya , apa kamu punya julukan untuk masing - masing orang ", tanya ziko . " ada ", ucap Zira cepat . " Apa itu " , tanya ziko lagi . " tapi tuan diam - diam aja ya ", ucap Zira sedikit berbisik . " hemmmmm ," " Apa julukan yang kamu berikan untuk tuan besar atau papa ku ", tanya ziko . " anjing herder ", ucap Zira pelan . " wah hebat juga kamu ", ziko manggut-manggut . " kalo mama ku ", tanya ziko . " singa betina ", ucap Zira cepat . " kenapa kamu memberikan julukan itu ", tanya ziko . " ya mama mu seperti Singa sih kalo ngomong hanya sesekali tapi menohok ", ucap Zira . " ok ok , kalo Zelin " , tanya ziko lagi . " hemmmmm kalo dia aku beri julukan si kunyuk ", ucap Zira sambil tertawa kecil . " Sisil ", tanya ziko . " ah kalo itu gampang uget uget ", ucap Zira tertawa . " baik - baik ", ziko mengangguk . " kamu gak bertanya julukan untuk mu ", tanya Zira balik ke ziko . " aku udah tau ", ucap ziko cepat . " apa ", tanya Zira . " kamu pasti memberi julukan kepada ku , singa , manusia es , sosis , cabe dan ubi kayu , benar kan ", tanya ziko balik ke Zira . " hahahaha , kamu sudah menyebutkan semua nya ", Zira tertawa kecil . Mereka tetap berdansa ya guys cuma berdansa mereka ala - ala acara kuis gitu ???????????? . " satu lagi apa kamu beri julukan untuk asisten Kevin ", tanya ziko sambil menatap Zira . Zira diam dan berpikir sejenak . " owh aku memberi Julukan si keren ", ucap Zira . " Kenapa kamu bisa memberi dia julukan yang lebih baik dari aku , hah ", ucap ziko sambil sedikit berteriak . " aih bisa gak sih jangan teriak - teriak , telinga ku bisa lepas nanti ", ucap Zira sambil memegang telinga nya . " ya menurut ku itu julukan yang cocok untuk nya , dia kan selalu mengatasi semua masalah mu ", ucap Zira cepat . " jadi menurut mu aku tidak bisa menyelesaikan masalah ku sendiri ", bentak ziko . " aih tadi teriak di telinga sekarang bentak - bentak , lama - lama lepas nanti jantung ku ", gerutu Zira . " ganti julukan untuk asisten Kevin , ganti yang jelek ", perintah ziko . Zira berpikir sejenak sambil manggut-manggut . " oh julukan yang cocok untuk nya si ngembek aja ", ucap Zira cepat . " Kenapa kamu memberikan julukan itu ", tanya ziko . " ya karena dia kan selalu menuruti perintah mu tanpa pernah membantah jadi itu julukan yang pas buat nya ", ucap Zira cepat . ziko manggut-manggut lagi . " ok seperti nya itu memang cocok untuk nya ", ucap ziko sambil manggut-manggut . " nah kalo kamu apa ", tanya ziko lagi . " kalo aku princess la ", ucap Zira sambil tersenyum membanggakan diri . " aih itu gak cocok untuk mu , kamu lebih cocok dengan julukan mulut micin ", ucap ziko cepat sambil tertawa . Zira hanya manyun dengan julukan yang di beri kan ziko . " hey tuan kita seperti main tebak - tebakan ya " , ucap Zira cepat . Suara musik telah berhenti tanda nya waktu dansa telah selesai , ziko dan Zira keluar dari lantai dansa sambil mendengarkan host berbicara . " hello readers like setiap episode ya , komen nya jangan kendor ya , dan satu lagi vote yang banyak biar author semangat update nya ", terimakasih . Chapter 50 episode 50 " Acara selanjutnya adalah acara puncak yaitu pemotongan kue ulang tahun , tapi sebelum nya mari kita mendengar lagu yang di nyanyikan penyanyi kita xxxx ", ucap si host . Seorang penyanyi menaiki panggung tempat si host berdiri , di belakang nya sudah ada grup band dengan semua alat musik nya . happy birthday to you happy birthday to you Semua tamu undangan mengikuti nyanyian yang di nyanyikan penyanyi tersebut . Setelah selesai menyanyikan lagu tersebut , host kembali ke atas panggung . " Baikalah selanjutnya pemotongan kue yang di akan di lakukan oleh Tuan besar Raharsya dan Nyonya Amel ". Nyonya Amel dan tuan besar mendekati tempat kue tart di letakkan di ikuti oleh tuan muda ziko dan Zelin . Semua tamu undangan berdiri mendekati tempat kue tersebut di letakkan , termasuk Sisil mereka semua ingin menyaksikan momen tersebut dari dekat Di depan mereka terdapat kue yang sangat besar dan tinggi yang di buat oleh chef terkenal . Setelah mendapat kan instruksi dari host , tuan besar dan nyonya Amel memotong kue tart tersebut , tuan besar menyuapi Nyonya Amel dan sebaliknya . Kemudian mereka berdua Tuan besar dan nyonya Amel menyuapi kue tersebut kepada anak - anaknya yaitu Tuan muda ziko dan nona Zelin . Pemandangan yang sangat harmonis . Semua tamu undangan riuh bertepuk tangan . " Baiklah acara selanjutnya yaitu ramah tamah dari yang punya acara " , ucap si host . Host memberi kan mikropon kepada Tuan besar Raharsya . " Terimakasih banyak kepada rekan - rekan sekalian yang telah menyempatkan waktu nya untuk datang ke acara saya yang sederhana ini ", ucap tuan besar . " aih pesta mewah gini di bilang sederhana , jadi menurut versi mereka pesta mewah itu seperti apa ya ", guman Zira pelan . Setelah menyampaikan ramah tamah nya tuan besar memberikan mikropon tersebut ke tangan Nyonya Amel . " Terimakasih sebelumnya saya ucapkan kepada semua tamu undangan , saya hanya ingin menyampaikan beberapa hal saja " ucap nyonya Amel . " Baiklah saya ingin memperkenalkan anak - anak kesayangan kami berdua mungkin hampir semua sudah tau ", ucap Nyonya Amel lagi . " gaun dan jas yang kami gunakan Sekarang hasil rancangan dari desainer terkenal yaitu nona Zira ", ucap Zira . Tamu undangan riuh bertepuk tangan . Zira yang merasa namanya di sebut kaget apalagi lampu sorot menyoroti dirinya yang berada jauh di belakang . " ya itu dia nona Zira ", ucap Nyonya Amel . Zira di dampingi seorang wedding organizer berjalan menuju tempat berdirinya Nyonya Amel dan keluarga , dia berjalan sedikit gugup sesekali Zira merapikan rambutnya untuk di letakkan di belakang telinga nya dan sesekali berjalan menunduk . " cantik bukan ", ucap Nyonya Amel lagi . Sisil yang merasa namanya tidak ada di sebut apa lagi di puji oleh nyonya Amel , merasa kecewa . " bagaimana mungkin Tante Amel tidak menyebut nama ku dan bagaimana mungkin Tante memuji nya di depan orang banyak " , gerutu Sisil pelan . Zira sudah sampai di tempat berdirinya Nyonya Amel dan keluarganya , semua mata tertuju kepada nya . " nona Zira adalah pemilik dari Zira boutique ", ucap nyonya Amel . " dan nona zira adalah calon istri dari anak saya yang bernama Ziko putra Raharsya ", ucap Nyonya Amel lantang . Zira yang mendengar nama nya di sebut kaget dan pucat . aku salah dengar kan , ayo telinga jawab aku , bilang kalo kamu salah dengar , batin zira . Sama hal nya dengan Zira , ziko pun kaget dengan penuturan dari mama nya . Nyonya Amel memperhatikan zira yang pucat , Nyonya amel menghampiri Zira yang hanya 2 meter dari dirinya . " Zira kamu akan bertunangan dengan anak saya ziko ", bisik Nyonya Amel . " nyonya kamu bercanda kan ", tanya Zira gugup sambil berbisik . " saya serius Zira ", ucap nyonya Amel masih berbisik . " maaf Nyonya saya tidak bisa ", ucap Zira yang masih berbisik . " saya tidak minta persetujuan dari mu , anggap aja ini hukuman karena kamu datang terlambat dan kalo kamu membatalkan pertunangan ini akan saya pastikan Zira boutique tinggal papan nama ", ucap nyonya Amel berbisik . Jantung Zira berdetak sangat kencang mengalah kan kecepatan mobil Lamborghini kalo lagi ngebut . " nyonya apa kamu mengancam saya ", ucap Zira masih berbisik . " bisa di katakan begitu ", ucap Nyonya Amel sambil tersenyum licik . apa yang harus aku lakukan , aku belum siap , apalagi harus menikah dengan si ubi kayu , seperti novel yang sering ku baca di dalamnya di sebutkan yang mengancam itu adalah tuan muda nya ini kenapa mamak nya , aih apa aku pura - pura ayan aja , kan gak mungkin Nyonya Amel mau punya menantu sakit ayan , kenapa aku seperti berada di novel sih , gerutu Zira dalam hati . " like dan komen yang banyak ya , satu lagi vote yang banyak biar author semangat update nya , terimakasih ". . Chapter 51 episode 51 " apa !!! bagaimana mungkin mereka bertunangan di depan mata ku , kenapa Tante! seperti nya kamu sengaja mempermalukan di depan orang banyak ", gerutu Sisil. Dengan penuh amarah Sisil pergi meninggalkan acara tersebut dia tidak mau melihat ziko menyematkan cincin ke tangan Zira . Sisil berjalan menuju parkiran kemudian masuk ke dalam mobilnya . Sisil meluapkan semua amarahnya . " Zira - zira kamu telah merusak semua rencana ku , kamu telah merebut ziko , Zira akan aku pastikan hidup mu tidak akan aman ", teriak Sisil sambil memukuli stir mobil . Sebelum nya . Nyonya Amel sudah memerintahkan kepada panitia untuk memberikan lampu sorot apabila nama Zira di sebut , jadi tak heran mereka langsung dengan cepat memberikan lampu sorot nya ke arah Zira karena sudah ada kerjasama antar nyonya Amel dan pihak panitia . " baiklah acara selanjutnya penyematan cincin yang akan di lakukan oleh tuan muda ziko kepada nona Zira . Nyonya Amel menghampiri ziko yang masih bingung dengan semuanya . " Ziko ini cincin nya , sematkan ini di jari zira ", ucap nyonya Amel pelan. Nyonya Amel sudah mempersiapkan semuanya termasuk dengan cincin tunangan . " Ma apa yang mama lakukan ", tanya ziko penuh selidik . " Anggap aja ini kado ulang tahun dari kamu buat mama ", ucap Nyonya Amel tegas . " Ma apa mama gak kasian sama aku dan dia ", ucap ziko sedikit memelas sambil menunjuk ke arah Zira dengan mata nya . " cepat lakukan jangan membantah ", ucap Nyonya Amel . Zelin sedikit shock dengan ucapan mama nya yang memperkenalkan Zira sebagai calon istri dari Kakak nya . Dia berusaha menghubung - hubung kan semua ucapan mama nya , dari ucapan mama nya dengan papa nya yang akan melakukan sebuah rencana dan pertanyaan mama nya kepada Zira mengenai status Zira . Zelin manggut-manggut mengerti arti misteri yang di buat mama nya . Sebaliknya dengan tuan besar Raharsya dia tidak ada ekspresi shock atau kaget karena tuan besar sudah mengetahui rencana yang di buat istri nya . Semua tamu undangan masih menatap ke arah mereka ada yang senang dan banyak yang iri , yang iri kebanyakan wanita , mereka merasa iri dengan Zira yang dengan gampang masuk ke dalam bagian Keluarga Raharsya yaitu orang paling kaya di kota mereka . Ziko berjalan mendekati Zira yang masih mematung Seperti Maneken . " sini tangan mu ", ucap ziko pelan . Zira tidak mau memberikan tangan nya sampai nyonya Amel menghampiri nya . " Zira ingat ancaman saya ", ucap Nyonya Amel tegas . Zira dengan terpaksa memberikan tangan kiri nya kepada ziko tangan Zira sudah sedingin es , kemudian ziko menyematkan cincin tersebut , cincin yang bermahkota berlian bisa di perkirakan cincin tersebut mempunyai harga yang sangat mahal . Setelah ziko menyematkan cincin nya ziko secara spontan mencium pipi Zira . Zira yang mendapat ciuman dari ziko kaget dia menatap tajam ke arah ziko , matanya memancarkan amarah yang luar biasa . aih sempat - sempat nya dia mencium ku , Seperti nya ini rencana dia sama singa betina itu , gerutu Zira dalam hati . Semua para tamu undangan bertepuk tangan riuh , mereka menikmati momen tersebut termasuk Nyonya Amel dan tuan besar . Tiba - tiba Zira merasa kaki nya lemas pandangan nya menghitam dan susah bernafas , Zira pingsan dengan seketika . Ziko langsung menangkap Zira dengan cepat karena posisi yang paling dekat adalah dia . Semua para tamu mulai bising mereka bertanya - tanya dengan pikiran nya masing-masing . " mulut micin apakah kamu betul pingsan atau hanya akting saja ", ucap ziko sedikit berbisik di telinga Zira . Kevin berjalan menghampiri tuan muda ziko dia menyamakan posisi nya dengan tuan nya . " Tuan Seperti nya nona Zira pingsan ", ucap Kevin . Tuan besar dan nyonya Amel panik melihat Zira pingsan . " bawa Zira ke kamar ", perintah Nyonya Amel . Ziko mengangguk kan kepalanya tanda setuju dengan ucapan mama nya . " Tuan apakah anda bisa mengangkat nona Zira ", tanya Kevin . " bisa lah " , ucap ziko cepat . " memang nya kenapa ", tanya ziko ke Kevin . " Kalo tuan tidak bisa , saya bisa mengangkat nona Zira ", ucap Kevin cepat . " Hey dia calon istri ku ", ucap ziko cepat . " udah cepat jangan ngobrol , cepat bawa Zira ke kamar ", perintah nyonya Amel . Ziko mengangkat tubuh Zira dengan kedua tangan nya , Kevin mengikuti ziko dari belakang . Mereka berjalan menuju lift , pintu lift terbuka mereka masuk ke dalam nya , Kevin memencet tombol . tidak berapa lama pintu lift terbuka tepat di lantai 25 . Lantai 25 adalah lantai untuk kamar VVIP , hanya ada beberapa kamar saja di sana , ziko dan Kevin menuju kamar . Kevin meletakkan kartu di depan pintu dengan otomatis pintu terbuka . Ziko meletakkan Zira di kasur dan menutupi tubuh zira dengan selimut . " like dan komen yang banyak ya , jangan lupa vote nya biar author semangat update nya , terimakasih " Chapter 52 episode 52 Ziko dan Kevin menunggu di luar kamar . Didalam ruang VVIP terdapat kamar , ruang tamu , ruang makan . Zira membuka mata nya perlahan masih dengan posisi berbaring . " Apa aku sedang bermimpi , oh ya aku sedang bermimpi , aku bermimpi kalo aku di jodohkan dengan si ubi kayu , syukur lah itu hanya mimpi ", racau Zira dengan suara serak khas bangun tidur sambil membenamkan kan kembali kepalanya ke dalam selimut . Ceklek pintu kamar terbuka . " tunggu - tunggu aku di apartemen hanya sendiri pembantu aja aku gak punya , lalu siapa yang membuka pintu , apa di sini sekarang ada hantu , oh tidak mana mungkin ada hantu , aku kan lebih seram dari hantu mana ada hantu yang mau tinggal di apartemen ku ", gerutu Zira . Zira membuka selimut nya dengan perlahan , kepala nya menyembul keluar betapa kaget nya Zira . " Aaaaaaa ", Zira berteriak kencang dan melempar bantal ke arah yang membuka pintu . Ya ya yang membuka pintu adalah ziko . Ziko menangkap bantal yang di lempar kan Zira ke arah nya . " Kamu sudah sadar , aku baru mau memberikan mu nafas buatan ", ucap ziko santai . Zira tidak menghiraukan ucapan ziko , dia memandang keliling kamar . " oh betapa bodoh nya aku , kenapa aku tidak mengenali kamar ku sendiri , kenapa ini bukan mimpi saja ", guman Zira pelan . " Hey ubi kayu keluar kamu ", bentak Zira sambil melemparkan benda - benda ke arah ziko secara berulang . " Baik - baik aku keluar , kamu kalo marah tambah cantik calon istri ku ", ucap ziko tertawa kecil sambil menutup pintu Kembali . " aha aku ada ide ", ucap Zira sedikit senang . Di luar kamar Ziko telah menutup pintu kamar dan duduk kembali di sofa berseberangan dengan asisten Kevin . Tiba - tiba pintu ruangan VVIP terbuka , nyonya Amel beserta asisten nya datang ke ruangan itu . " Dimana zira ", tanya Nyonya Amel . Ziko menunjukkan jarinya ke arah kamar . " Apakah dia sudah sadar ", tanya Nyonya Amel . Ziko mengangguk mengiyakan . " Bagaimana keadaan di luar ", tanya ziko . " mama dan papa sudah mengendalikan nya dengan aman ", ucap nyonya Amel cepat . nyonya Amel melangkah kan kaki nya menuju kamar tapi sesaat berhenti karena ucapan ziko . " Ma apakah ini harus berlanjut ", tanya ziko . Nyonya amel memutar badannya dan kembali ke arah ziko . " mama tidak main - main dengan ucapan mama , 2 jam lagi akan ada konferensi pers , kamu harus mempersiapkan semua nya ", ucap nyonya Amel . Nyonya Amel hendak pergi dan kembali memutar badannya , ingat ziko perlakukan Zira dengan baik . Nyonya Amel membuka kamar , betapa kagetnya dia melihat kamar yang sudah berantakan . Zira melihat kedatangan Nyonya Amel , Zira memalingkan wajah nya . cih , dasar singa betina bisa - bisa nya dia menjodohkan ku dengan anak nya , gerutu Zira dalam hati . " Zira , saya tau kamu marah dan tidak terima dengan semua ini , saya hanya ingin ziko menikah , dan menurut saya kamu adalah wanita yang tepat ", ucap Nyonya Amel sambil duduk di samping Zira . " Maaf saya telah mengancam kamu , tapi saya harus melakukan nya ", ucap Nyonya Amel lagi . Zira masih tidak menjawab atau pun membantah ucapan Nyonya Amel dia masih dengan posisi yang sama memalingkan wajahnya dari nyonya Amel . " Baiklah siapkan diri mu dua jam lagi kita akan ada konferensi pers ", ucap Nyonya Amel sambil mengelus rambut Zira . Nyonya Amel berjalan hendak keluar kamar dan menghentikan langkahnya mendengar pertanyaan dari Zira . " kenapa nyonya memilih aku ", tanya Zira . Nyonya Amel membalikkan badannya melihat ke arah Zira . " karena kamu istimewa ", ucap Nyonya Amel cepat sambil melangkah kan kaki nya keluar kamar . " cih karena kamu istimewa , martabak kali istimewa ", gerutu Zira . " like , komen dan vote yang banyak ya , terimakasih ". Chapter 53 episode 53 flash back Beberapa bulan yang lalu. Zira melangkah kan kaki nya menuju panti asuhan amal bakti , Zira termasuk dari beberapa orang yang hampir sering mendonasikan pendapatan nya ke panti asuhan amal bakti . Bahkan zira sering membawakan mainan atau pun makanan untuk anak - anak panti , karena menurut nya pasti anak - anak panti akan terhibur dengan di bawakan berbagai macam mainan . Zira sering menghabiskan waktu luangnya untuk berada di panti asuhan . Zira memang menyukai anak kecil apalagi anak panti , dia merasa senasib dengan anak - anak panti beda nya sepeninggalnya orang tua nya Zira di asuh oleh sang nenek . Zira sudah akrab dengan penjaga panti bahkan zira sudah di anggap Keluarga dari penjaga panti . Zira sedang bermain di luar dengan anak - anak panti , ada seseorang wanita yang memperhatikan dari jauh . Wanita tersebut masuk ke dalam ruangan yang di dalamnya terdapat seorang ibu yang sudah sepuh , dia adalah ibu Ani ketua dari panti asuhan amal bakti . " apa kabar nya nyonya Amel ? ", tanya ibu panti . " baik ibu , ibu sehat kan ? ", tanya Nyonya Amel . Nyonya Amel mempunyai sifat yang dermawan dia merupakan donatur terbesar bagi panti asuhan amal bakti , semua penjaga panti sangat segan dan hormat kepada nya mereka selalu memperlakukan nyonya Amel dengan sangat khusus walaupun Nyonya Amel tidak menginginkan nya . Nyonya Amel dan ibu Ani melakukan percakapan seputar panti , kemudian . " ibu siapa gadis yang sedang bermain dengan anak - anak , saya perhatikan dia sering datang ke sini ", tanya Nyonya Amel . " Mungkin maksudnya Nyonya adalah Zira , Zira juga termasuk donatur untuk panti asuhan amal bakti , dia sering menghabiskan waktu luang nya di sini , bahkan dia sering membawakan anak - anak mainan dan juga makanan , anak - anak sangat akrab dengan Zira , Zira menyayangi mereka seperti menyayangi adik nya ", ucap ibu Ani . " apa pekerjaan nya ", tanya nyonya Amel . " owh dia adalah pemilik dari Zira boutique ", ucap ibu Ani . Zira masih duduk diatas kasur memikirkan nasibnya , mungkin kalo sebagian cewek jika berada di posisi Zira akan nangis bombay tapi tidak dengan Zira . Zira melangkah kan kakinya keluar dari kamar menuju ruang tamu tempat ziko berada . " tuan ", " hemmmmm ", sambil melirik ke arah Zira . " aih kenapa dengan rambut mu ", tanya ziko . ya ya rambut Zira acak - acakan ada yang naik ada yang turun Seperti Dollar naik turun . " trend 2020 ". ucap Zira cepat . " rapikan dulu rambut mu kamu seperti kuntilanak yang kehilangan sisir ", ucap ziko cepat. Zira kembali ke kamar nya untuk merapikan rambut nya. Zira melihat diri nya ke dalam kaca . " ih betul kata si ubi kayu , aku seperti kuntilanak kehilangan sisir ", guman Zira pelan . Setelah merapikan rambutnya Zira kembali ke tempat ziko . " tuan , kamu harus membatalkan rencana nyonya Amel , hanya kamu yang bisa membatalkan nya ", ucap zira cepat . " kamu belum kenal singa betina rupanya , kalo Singa betina sudah mengaung gak akan ada yang bisa membatalkan nya ", ucap ziko santai . " Dasar anak duralex itu kan ibu mu bisa - bisa nya kamu mengatakan nya singa betina, kamu mau di kutuk jadi batu gilingan ", ucap Zira cepat sambil memukul tangan ziko . Kevin yang mendengar ucapan Zira tertawa . " nona kenapa gak sekalian di kutuk jadi cobek aja ", ucap Kevin sambil masih tertawa . " tunggu cobek dan ulekan masih saudara kan ", tanya Zira ke Kevin . " Masih nona mereka satu ibu beda bapak ", ucap Kevin sambil masih tertawa . Zira kembali menatap ziko , dengan pandangan yang mematikan . " jadi gak bisa ya ", tanya Zira . " ya gak bisa lah , aku aja anak nya gak bisa apalagi kamu ", ucap ziko santai . Zira mondar mandir gak tentu arah dia berpikir keras untuk membatalkan rencana nyonya Amel . " hey kamu kenapa mondar mandir , kamu seperti setrikaan aja ", ucap ziko . " iya aku memang setrikaan aku lagi menyetrika otak ku yang kusut ", ucap Zira cepat sambil tetap mondar mandir . " Duduk kamu kalo sekali lagi kamu masih mondar mandir aku kasih kamu hadiah sebuah piring cantik ", ucap ziko cepat . " like komen dan vote yang banyak ya ". Chapter 54 episode 54 Mendengar ucapan ziko , Zira langsung duduk di sofa berhadap - hadapan dengan ziko , sedangkan Kevin memindahkan posisi duduk nya yaitu di ruang makan , karena Kevin masih ingat dengan ucapan ziko yaitu jangan menatap nona zira jika zira memakai pakaian yang seksi . " Kenapa kamu duduk di situ ", ucap ziko sedikit berteriak . " tadi kan kamu bilang duduk , ya aku duduk lah ", ucap Zira cepat . " Bukan duduk di situ tapi di sini di sebelah ku ", ucap ziko dengan senyum licik nya sambil menepuk - nepuk sofa. Zira masih tidak menghiraukan perintah ziko . " ah dia memberikan senyum licik nya pasti dia ingin merencanakan sesuatu , pasti dia akan mengambil cincin ku ", guman Zira pelan . " cepat duduk sini " , teriak ziko . " aku gak mau ", ucap Zira cepat " hey belum jadi istri kamu udah pintar membantah ", ucap ziko . " siapa juga yang mau jadi istri mu ", ucap Zira sambil menjulurkan lidahnya . " aku hitung sampai tiga kalo kamu gak duduk di sini kamu akan .... belum siap ziko mengucapkan kalimat nya Zira sudah melangkah kan kaki nya dengan cepat , Zira duduk pas di sebelah ziko , begitu Zira duduk ziko langsung memeluk bahu Zira dengan sebelah tangannya . " kan betul udah mulai ini otak nya kebanyakan makan pantat ayam kayak gini nih ", guman Zira pelan . ziko tidak mendengar gumanan Zira , dia masih sibuk dengan ponsel nya . " tuan , bukan nya seharusnya yang jadi calon istri kamu si uget - uget kenapa harus aku ", ucap Zira . Ziko masih sibuk dengan ponsel nya . " tuan aku tidak mau jadi hama dalam hubungan kalian " , ucap Zira pelan . " sudah cukup jangan kamu sebut nama nya ", bentak ziko . " aku kan gak menyebutkan nama nya aku kan hanya menyebut kan julukannya ", ucap Zira cepat . Ziko hanya menatap Zira tidak memperdulikan ucapan Zira , menurut ziko kalo ngobrol dengan Zira gak akan ada ujung nya . kenapa si ubi kayu tidak menjawab ucapan ku malah menatap ku , pasti dia mau merencanakan sesuatu , aku harus bertindak lebih cepat dari dia , gumam Zira dalam hati . " tuan oh tuan ", ucap zira manja sambil memainkan ujung jas ziko . " hemmmmm ", " nanti kan akan ada konferensi pers pasti akan di tanya mengenai makanan kesukaan , kita kan belum tau makanan kesukaan masing - masing ", ucap Zira manja masih dengan memainkan ujung jas ziko . Ziko tertawa mendengar ucapan Zira . " mana ada wartawan menanyakan apa makan kesukaan kalian , apa kamu pikir kita dalam acara Talk show ", ucap ziko tertawa sambil menarik hidung Zira . Ziko masih memandang Zira dengan matanya yang syahdu . " kalo nanti di tanya bagaimana , kan lebih baik kita bersiap - siap sebelum di tanya ", ucap Zira pelan sambil memegang hidung nya. Ziko manggut-manggut . " aku suka makanan western aku kurang suka dengan masakan lokal tapi ada satu makanan yang aku suka ", ucap ziko tersenyum licik . " apa itu ", tanya Zira cepat . " memakan mu ", ucap ziko sambil tertawa bahagia . " cih bahagia nya , kamu gak bertanya apa makanan kesukaan ku ", tanya Zira cepat . " gak perlu aku tanya pasti kamu akan cerita kok ", ucap ziko tertawa . Zira mencubit lengan ziko dengan kuat . " aih kenapa tangan mu seperti tangan kuli begini ", ucap ziko sedikit meringis menahan sakit . " ya udah kamu gak usah tanya , kamu tau makanan kesukaan ku adalah adalah adalah jengkol , jadi tadi sebelum kesini aku makan jengkol satu kilo ", ucap Zira santai . Mendengar ucapan Zira , ziko langsung melepaskan pelukannya dan berdiri menghindari Zira . " aih kamu cantik - cantik jorok ya ", sambil memberikan ekspresi jijik . Zira tertawa terbahak bahak . " hahahaha dia gak bakalan mau mencium ku ", guman Zira pelan . Ziko meninggal kan Zira dan pergi menghampiri Kevin . " Kamu dengar gak apa yang di ucapkan si mulut micin , apakah kamu sudah mencari informasi mengenai makanan kesukaan nya itu ", tanya ziko . " Maaf tuan untuk mengenai hal itu saya tidak tau tuan , kan gak apa - apa juga kalo nona Zira suka makan jengkol , jengkol juga baik untuk kesehatan asal jangan berlebihan ", ucap Kevin . " bagaimana gak berlebihan dia aja bilang hari ini dia makan jengkol satu kilo , kamu bisa bayangkan gimana baunya itu jinggong ", ucap ziko cepat . " cari tau mengenai hal ini " , perintah ziko . Ziko pergi meninggalkannya Kevin dan kembali ke ruang tamu . ziko duduk di depan Zira . " tuan mari duduk dengan ku ", ucap Zira sambil menepuk - nepuk sofa . " cih jigong mu bau ", ucap ziko cepat . " tuan , jigong ku gak bau tapi wangi . Wangi aromaterapi , tuan tidak mau mencium bibir ku ", ucap Zira sambil memonyongkan bibirnya . " tutup mulut mu aku jijik melihat nya " ucap ziko cepat . " like komen dan vote yang banyak ya, terimakasih " Chapter 55 episode 55 Sisil memberhentikan mobil di depan sebuah club malam , club malam bukan hal yang asing bagi Sisil , dia sering mendatangi beberapa club malam , menurut nya tempat tersebut merupakan tempat yang menyenangkan . Terlihat seorang DJ dengan lihai memainkan alatnya sehingga menghasilkan musik yang bisa membuat setiap orang ingin bergoyang . Mereka sangat menikmati musik yang di mainkan sang DJ , mereka menggerakkan kepalanya ke kanan dan ke kiri . Sisil berjalan menuju meja bartender , dia memesan minuman yang biasa dia minum . " berikan aku Vodka ", ucap Sisil . Tidak butuh waktu lama seorang Pramutama bar sudah menyajikan minuman tersebut . Sisil meminum nya dengan sekali teguk . " lagi ", ucap Sisil . Seorang Pramutama bar dengan cepat langsung menyajikan nya kembali . Lagi - lagi Sisil meminum nya dengan sekali teguk . Seorang pria datang mendekati Sisil . " halo nona , sendiri aja nih ", ucap si pria . Sisil masih dengan minuman nya dia tidak menghiraukan lelaki tersebut . " halo nona apakah aku tidak menggangu mu ", tanya si pria . " kenalkan nama ku Bram ", ucap si pria sambil memberikan tangan nya . Sisil melirik lelaki tersebut . " Nama ku Sisil ", ucap sisil sambil menyambut tangan si lelaki . " kamu sama siapa ke sini " , tanya si pria lagi . " aku sama satu kampung ku ke sini ", ucap Sisil yang sudah mulai mabuk . " aku ingin bersenang-senang , apakah kamu mau bersenang - senang dengan ku ", ucap Sisil lagi . " mari aku tunjukkan cara nya bersenang-senang ", ucap si pria tersebut sambil menarik tangan Sisil . Sisil dan pria tersebut mulai bergoyang kesana kemari , irama musik membuat mereka tidak mau berhenti bergoyang . " Apakah kamu senang ", tanya si pria sambil sedikit berteriak , karena suara musik yang cukup kencang membuat nya berbicara sedikit tidak normal . Sisil hanya mengangguk kan kepalanya dan menggoyangkan semua anggota tubuh nya . Pria tersebut mengubah posisi nya dari depan ke belakang , tangan nya memegang pinggang Sisil mereka goyang tak tentu arah , sesekali junior si pria menempel pada bagian belakang Sisil. " kamu mau merasakan senang yang sesungguhnya ", ucap si pria sambil membisikkan ke telinga sisil . Pria tersebut membawa Sisil ke lantai atas di mana terdapat beberapa kamar . Mereka berdua memasuki kamar yang berada di lantai atas. Mereka melakukan pergumulan di sana layaknya sepasang suami istri padahal mereka belum saling mengenal satu sama lain, tidak ada rasa sungkan sama sekali. Mereka saling menikmati satu sama lain , mereka terlelap satu sama lain setelah melakukan aksi yang cukup panjang . Di hotel Nyonya Amel sedang duduk di pinggiran tempat tidur , Zelin datang menghampiri nya . " Ma aku boleh tanya ", ucap Zelin . " hemmmmm ada apa ", ucap nyonya Amel . " mama jangan marah ya ", tanya Zelin lagi . Nyonya Amel hanya mengangguk kan kepala nya . " kenapa mama memilih kak Zira untuk jadi istri kak ziko , apa alasan mama ", ucap Zelin . Nyonya Amel diam beberapa saat seperti sedang memikirkan sesuatu kemudian dia menghembuskan nafas nya secara kasar . " baiklah Zelin , mama akan cerita ", ucap nyonya Amel sambil menatap anak nya . " mama sudah mengenal Zira beberapa bulan yang lalu , awal mula mama bertemu dengan nya di panti asuhan amal bakti , pada saat mama bertemu dengan nya mama tidak sedikit pun menghiraukan nya apalagi melirik nya , tetapi setiap mama datang ke panti mama selalu mendapati diri nya di sana yang sedang bermain dengan anak - anak panti ", ucap Nyonya Amel sambil memandang ke langit - langit kamar hotel . " like komen dan vote yang banyak ya , terimakasih " Chapter 56 episode 56 Nyonya Amel melanjutkan ceritanya . " akhirnya mama bertanya kepada ibu panti , ibu panti menjelaskan semua nya , dari sana mama tau kalo dia adalah salah satu donatur panti asuhan amal bakti , Zira sering berkunjung kesana untuk meluangkan waktu nya ", ucap nyonya Amel . Zelin mengangguk sambil sedikit berpikir . " tapi ma bagaimana mama tau kalo kak Zira adalah seorang desainer ", tanya Zelin . " ya dari ibu panti , mama kan juga bertanya mengenai pekerjaan nya ", ucap Nyonya Amel . Nyonya Amel merebahkan tubuh nya di kasur matanya masih memandang langit - langit kamar . Nyonya Amel melanjutkan ceritanya . " Setelah mama mengetahui kalo Zira adalah pemilik dari Zira boutique , mama mulai menyewa seorang detektif untuk menyelidiki Zira , ternyata Zira memulai usahanya dari nol bukan dari warisan atau usaha turun temurun ", ucap Nyonya Amel . " jadi kapan mama mulai menyukai kak Zira ", tanya Zelin lagi . " Beberapa kali melihat nya di panti mama sudah mulai penasaran dengan nya , apalagi setelah ibu panti menjelaskan semuanya membuat mama mulai menyukai nya , tapi untuk lebih meyakinkan makanya mama menyewa seorang detektif ", ucap Nyonya Amel . " owh jadi cara mendekati kak Zira adalah dengan memesan rancangan nya ", ucap Zelin . " iya betul , ternyata hasil rancangan nya bagus kan ", ucap Nyonya Amel . Nyonya Amel memejamkan matanya yang butuh istirahat . " satu jam lagi bangun kan mama , karena kita ada konferensi pers ", ucap nyonya Amel masih dengan mata tertutup . " Baik ma " , Zelin pergi meninggalkan mama nya yang beristirahat . Zira selonjor kan kaki nya di atas sofa , karena sudah tidak ada ziko di sebelah nya jadi dia bisa mengistirahatkan kakinya . Zira masih memikirkan cara untuk membatalkan rencana nyonya Amel , untuk cara membatalkan ciuman dadakan Zira sudah berhasil . Dengan posisi seperti itu sebagian paha dan kaki Zira terlihat sangat jelas , kulit nya yang bersih dan mulus terlihat sangat mengiurkan . Ziko melihatnya tanpa berkedip jakun nya naik turun . Beberapa saat ziko menikmati pemandangan indah itu , kemudian dia berusaha untuk menahan nya . " Tutup paha mu , apakah kamu ingin aku melakukan nya sekarang ", ucap ziko sambil melemparkan bantal sofa ke arah Zira . Zira yang mendapat lemparan mendadak dari ziko kaget . Zira mengambil bantal sofa tersebut dan menutupi pahanya . Ziko masih memegang ponsel nya , dia sedang membalas beberapa chat dari beberapa rekan kerja nya . Zira datang menghampiri nya . Kemudian dia meletakkan bokong nya dengan sangat kasar duduk di sebelah ziko . Melihat Zira datang dan duduk di sebelah nya ziko bergerak ingin pergi karena dia merasa jijik mengingat ucapan Zira tadi , tapi tangan ziko di tahan Zira . " Tuan ", ucap Zira sambil menahan tangan ziko . " Duduk dulu aku mau bicara ", ucap Zira . Akhirnya ziko duduk kembali di sebelah Zira , sambil menutupi hidung nya . " apa yang mau kamu bicara kan ", ucap ziko sambil menutupi hidung nya . " ada rahasia satu rahasia ", ucap Zira sambil pura - pura memijat lengan ziko . Ziko langsung melihat ke arah Zira dengan cepat . " Jangan kamu bilang kalo rahasia mu makan Pete , awas kamu ", ucap ziko sambil tetap menutupi mulutnya . " hehe gak kok tuan gak , aku cuma suka makan jengkol , apa kamu mau menghirup aromanya ", ucap Zira sambil membulat kan bibir nya . Melihat ekspresi Zira , ziko hendak pergi tapi lagi - lagi tangan ziko sudah di pegang Zira . ini cewek cantik - cantik tenaga nya kayak kuli , batin ziko . Ziko kembali lagi duduk di sofa . " Kalo aku memberi tau rahasia ku kamu gak akan marah kan " , tanya Zira sambil tetap memijit tangan ziko " hemmmmm " " Sebenarnya aku seorang waria dan aku sudah terkena Aids ", ucap Zira cepat . Prok Sebelah tangan ziko sudah menghantam hidung Zira . " Aw sakit ", ucap Zira . " kenapa kamu kalo kaget gak bilang - bilang ", gerutu Zira sambil memegang hidung nya . Ya ziko memang kaget mendengar ucapan Zira , dengan spontan tangan nya yang di pijit Zira menghantam hidung Zira . " Mana ada orang kaget harus bilang dulu ", teriak ziko . Ziko meninggal kan Zira yang masih merintih kesakitan . Ziko menghampiri asisten Kevin . " gak pa - pa deh hidung ku jadi korban yang penting batal nikah ", ucap Zira sambil memegang hidung nya . " Kamu dengar gak yang dia bilang ", ucap ziko . " gak tuan ", ucap Kevin sambil memainkan game di ponsel nya . " Dia bilang kalo dia waria dan dia terkena Aids ", ucap ziko cepat . " apa ", teriak Kevin kaget . Ziko melirik ke arah Zira , dia masih melihat Zira merintih kesakitan . " hidung mu gak pa - pa kan ", teriak ziko . " tenang aja tuan , aku masih punya serep nya di rumah ", ucap Zira cepat . " apa " , ziko kaget . " Kamu dengar sendiri kan kalo dia itu punya serep untuk hidung nya berarti semua tubuh mulus nya itu palsu ", ucap ziko cepat . Zira memperhatikan ziko yang sudah panik. zira menahan tawa nya . " batal kawin batal kawin ", ucap Zira pelan . Kevin masih memikirkan ucapan ziko . " Tuan sepertinya itu hanya alasan nona Zira aja , untuk membatalkan Semua nya ", ucap Kevin . Ziko kembali berpikir . " Masih ada waktu untuk membuktikan nya , kita hanya punya waktu 1 jam , panggil dokter Diki beserta tim nya , pastikan dia mengecek semua nya ", ucap ziko cepat . Kevin mengangguk dan pergi meninggalkan ziko , dia menghubungi dokter Diki . " like komen dan vote yang banyak ya ", terimakasih . Chapter 57 episode 57 Beberapa saat kemudian Kevin sudah kembali ke tempat semula . " tuan saya sudah menghubungi dokter Diki dalam beberapa menit mereka akan sampai ", ucap Kevin . Jarak antara rumah sakit tempat dokter Diki bertugas tidak begitu jauh sehingga dalam waktu beberapa menit sudah sampai apalagi sekarang waktu sudah menunjukkan jam 11 malam jadi jalanan sudah sepi dari kendaraan . Ziko mengangguk kan kepalanya , sekarang ziko yang mulai gelisah waktu terus berjalan tapi dokter Diki belum juga kunjung datang . Ziko berjalan mondar mandir tak tentu arah . Pikiran nya sudah beranak Pinak . " tuan apa kamu mau saya hadiah kan mangkok cantik ", ucap Zira sambil tertawa . " Diam kamu ", jawab ziko ketus . " wah wah rencana ku berhasil dia pasti sedang memikirkan bagaimana cara menyampaikan ke media kalo dia batal kawin yes yes belum tau sih kamu berhadapan dengan siapa ", guman Zira pelan sambil cekikikan . Beberapa saat kemudian pintu di ketuk Tok tok tok Kevin langsung membuka pintu , di depan pintu terdapat dokter Diki dan beberapa orang lainnya yang Kevin juga belum kenal . Kevin mempersilahkan mereka semua masuk . " Selamat malam Iko ", ucap dokter Diki . " hemmmm , jelaskan siapa saja mereka dan di bagian apa mereka bekerja ", ucap ziko cepat . Zira yang melihat kedatangan dokter Diki dan tim nya , berusaha untuk mencari jawabannya. " tunggu - tunggu itu kan dokter yang memeriksa aku waktu mag ku kambuh , kenapa dia datang , kan aku gak lagi sakit mag , apa tuan muda ziko yang sakit , atau mereka juga mau ikut konferensi pers , untuk apa mereka ikut owh mungkin mereka jaga - jaga kalo nanti kiranya aku pingsan lagi , hahaha perhatian juga kamu ubi kayu ". guman Zira pelan . Zira mengernyitkan dahi nya sambil berpikir . " eh tidak mungkin aku pingsan lagi kan si ubi kayu akan membatalkan rencana nya berarti yang bakalan kena ayan singa betina , makanya dokter datang begitu banyak ", guman Zira sambil cekikikan . Dokter Diki menjelaskan profesi dan bagian apa mereka di tempat kan di rumah sakit . Setelah mendengar penjelasan dokter Diki , tuan muda ziko , Kevin , dokter Diki dan tim nya datang keruang tamu tempat di mana Zira sedang duduk - duduk santai sambil cekikikan . " Sudah selesai ketawa nya ", ucap ziko . Zira kaget melihat kedatangan mereka semua , dia Langsung berdiri tegak . " halo nona ", sapa dokter Diki . " Halo dok ", sapa Zira balik . " Dokter kenapa kalian datang keroyokan ", ucap Zira sambil tetap cekikikan . Dokter Diki hanya tersenyum tidak membalas pertanyaan Zira . " Dokter kalo kalian datang malam - malam gini sebaiknya baju nya agak di panjangin dikit , biar keliatan lebih seram , uka uka ", celoteh Zira sambil tetap cekikikan . Dokter Diki dan tim nya mengenakan seragam kebanggaan nya , seragam berwarna putih begitupun perawat juga mengenakan seragam berwarna putih . " Nona silahkan ikut kami ", ucap dokter Liza , dokter Liza adalah dokter spesialis bedah yang akan memeriksa kelamin Zira apakah asli apa palsu . Zira masih bengong dengan ucapan sang dokter . tunggu kenapa aku harus ikut mereka , apa mungkin mereka pikir aku gila ya , karena cekikikan tengah malam , jadi mereka semua bukan mau mengantisipasi singa betina tapi mau membawa ku ke rumah sakit jiwa , gerutu Zira dalam hati . " tunggu dokter seharusnya yang datang kesini bukan dokter , ya saya tau saya cekikikan tengah malam tapi saya gak gila , kalo pun saya cekikikan tengah malam mungkin saya lagi kesurupan jadi yang seharusnya datang itu Mbah Jambrong bukan dokter ", cerocos zira membela diri . Mereka semua hanya senyum mendengar semua ocehan Zira , cuma satu yang tersenyum yaitu Tuan muda ziko . " Nah kan kalian aja senyum berarti kalian semua mengerti dengan ucapan saya , berarti saya gak gila ", Zira memonyongkan bibirnya . " Seharusnya yang kalian bawa itu dia ", Zira menunjukkan jari nya ke arah ziko . Kevin dokter Diki dan tim nya langsung melihat ke arah yang di tunjuk Zira . " Karena dia tidak punya ekspresi sama sekali , dia itu gak bisa membedakan mana waktu senyum mana waktu sedih , kadang dia juga lupa mana tangan kanan mana tangan kiri suka kebalik gitu ", cerocos zira lagi . Mendengar ocehan Zira , ziko langsung mengeluarkan tanduk dan taring nya . Dia menarik tangan Zira dan membawa nya ke kamar semua tim mengikutinya kecuali dokter Diki. ![](http://up.pic.mangatoon.mobi/contribute/fiction/172679/markdown/7083252/1578307428626.jpg-original600webp?sign=7d76115b280d80ca4b591d81eb0a3fa7&t=5e72b600) Halo readers karena ada komentar yang ingin tau visual Zira , jadi author membayangkan yang pas untuk pemeran Zira adalah dia . Kenapa dia , kenapa artis India kenapa gak artis Korea aja , kan artis Korea lagi booming pasti readers akan bertanya seperti itu kan ????????. Jawaban nya simpel aja kok karena author fans berat dengan film Bollywood hehehe , dan menurut author body mereka jauh lebih seksih ini menurut pandangan author aja ya , sah sah aja jika readers tidak suka . Selamat menikmati karya author " like komen dan vote yang banyak ya". Chapter 58 episode 58 Zira masih bingung mengapa Ziko membawanya ke kamar bukan ke rumah sakit. Setelah timnya dokter Diki masuk, Ziko keluar dari kamar tersebut dan kembali ke ruang tamu. Tim dokter Diki Semuanya berjenis kelamin perempuan karena sudah di jelaskan sebelumnya sama asisten Kevin . Di dalam kamar. Salah satu perawat memerintahkan Zira untuk baring atau duduk. " Nona silahkan anda berbaring." Ucap perawat . " Enggak usah saya udah capek baring saya mau duduk aja." Ucap Zira cepat. Perawat sudah mempersiapkan alat suntiknya. " Eh mbak kamu mau menyuntikku ya." Ucap Zira cepat. Perawat masih memegang alat suntiknya . " Mbak itu bukan suntik imunisasikan?" Ucap Zira lagi. Beberapa perawat memegang tangan Zira dan badan Zira . " Eh tunggu kenapa kalian semua memegang ku." Ucap Zira cepat. Dokter Liza menjelaskan kepada Zira . " Maaf nona kami mau mengambil sampel darah nona." Ucap dokter Liza. Zira menganggukkan kepalanya dia sudah paham . " Owh kalian hanya mau mengambil sampel darah saja, gak perlu di pegangi aku berani dengan jarum." Ucap Zira santai. Perawat yang memegang jarum suntik tadi mendekati Zira dan hendak mengambil sampel darah Zira . " Aww." Ucap Zira sambil menahan sedikit sakit di lengannya karena jarum suntik sudah menempel sedang menyedot darahnya. Para perawat fokus dengan pekerjaannya. " Saya tau kenapa kalian mau mengambil sampel darah saya mau memastikan saya ini darahnya biru apa hijau kan?" Ucap Zira lagi sambil cekikikan . Tim dokter Diki hanya tersenyum mendengar ucapan Zira . " Owh udah selesai ya cepat juga." Ucap Zira heran. Zira membayangkan kalo di suntik akan membutuhkan waktu lama. Perawat yang mengambil sampel darah Zira keluar dari kamar . " Maaf nona untuk selanjutnya silahkan buka gaun anda." Ucap salah satu dokter. " Untuk apa, aku kan enggak sakit." Ucap Zira cepat. " Tidak nona kami hanya menjalankan sesuai prosedur." Ucap salah satu dokter lagi. " Prosedur apa." Tanya Zira. Mereka semua diam dan saling bertatapan satu sama lain. " Maaf nona kami mohon kerjasamanya waktu kami terbatas jika kami melewati batas yang di tentukan tidak bisa menyelesaikan ini, maka karir kami akan musnah." Ucap salah satu dokter dengan wajah sendu. Mendengar ucapan dokter itu Zira jadi prihatin. " Baiklah tapi aku tidak mau terlalu banyak orang di sini, aku hanya mau satu orang saja di sini." Ucap Zira tegas. Mereka mengangguk. " Siapa yang akan memeriksaku?" Salah satu dokter mendekati Zira. " Saya yang akan memeriksa anda nona." Ucap dokter itu. Semua tim dokter Diki keluar kamar hanya tinggal Zira dan satu dokter di kamar itu. Di luar kamar. Ziko masih mondar mandir seperti gosokan. Ziko masih memikirkan bagaimana seandainya Zira betul - betul waria dan sakit Aids . " Tuan bagaimana jika nona Zira betul seorang waria." Ucap Kevin cepat. Ucapan Kevin membuyarkan semua pikiran Ziko. " Kalo memang dia seorang waria aku akan mengumumkan ke publik siapa dia sebenarnya." Ucap ziko sambil menekan intonasinya. " Tuan apa anda tidak memikirkan reaksi publik tentang keluarga anda dan apa anda tidak memikirkan karirnya nona Zira." Ucap Kevin menjelaskan sebab dan akibatnya. Ziko berhenti dari mondar - mandirnya. Dia langsung berdiri di depan Kevin. " Maksudmu." Ucap Ziko penasaran. " Kalo tuan memberi tahukan ke publik siapa nona Zira sebenarnya, Nyonya akan merasa malu, yang pertama memproklamirkan pertunangan tuan dan nona zira kan Nyonya, pasti nyonya akan mendapatkan hujatan dari rekan - rekannya, sebaliknya juga dengan Raharsya group bisa di pastikan saham kita akan turun, dan untuk nona Zira pasti usahanya akan mengalami kebangkrutan." Ucapan Kevin ada benarnya. Setelah mendengar kan ucapan kevin, Ziko mengurungkan niatnya . " Jadi aku harus bagaimana." Ucap ziko sambil duduk meletakkan kepalanya di sandaran sofa. " Sebaiknya anda tetap melangsungkan pernikahan dengan nona Zira." Ucap Kevin cepat . " apa maksudmu bagaimana mungkin aku menikah dengan seorang waria." Ucap Ziko kesal. Dokter Diki tertawa terbahak bahak mendengar ucapan sahabatnya yang sedang panik Ceklek pintu kamar terbuka. Mereka semua melihat ke arah pintu. Seorang perawat keluar membawa peralatan yang di dalamnya ada sampel darah. " Dokter sudah selesai." Ucap perawat ke dokter Diki. " Cepat kamu kembali ke lab." Perintah dokter Diki. Perawat tersebut pergi dengan tergesa-gesa. " Mengapa dia pergi." Ziko penasaran. " Dia harus memeriksa sampel darah Zira di lab untuk memastikan apakah positif atau negatif." Ucap dokter Diki. " Berapa lama hasilnya." Ucap Ziko lagi. " 5 sampai 10 menit." Ceklek pintu kamar di buka kembali. Beberapa dari tim dokter Diki keluar. " Kenapa kalian keluar semua." Dokter Diki heran. " Maaf dokter. nona Zira hanya mau di periksa oleh satu dokter." Ucap salah satu dokter. ![](http://up.pic.mangatoon.mobi/contribute/fiction/172679/markdown/7083252/1578311022900.jpg-original600webp?sign=407f57b8c513d4a40ae720e878f2e8e2&t=5e72b600) halo readers untuk pemeran Ziko , author memilih dia karena dia cukup tampan untuk di jadikan sebagai tuan muda yang dingin karena matanya mengandung laser ????????????. Kalo ada yang bertanya kenapa India , jawabnya sudah ada di episode sebelumnya . Selamat membaca " like komen dan vote yang banyak ya Chapter 59 episode 59 Semua tim dokter Diki pergi meninggalkan ruangan VVIP mereka kembali ke rutinitas nya , hanya tinggal satu dokter yang masih di kamar. Ceklek . Pintu kamar terbuka seorang dokter keluar dari kamar . Semua mata tertuju kepada dokter tersebut . Dokter tersebut menjelaskan semua nya kepada Tuan muda ziko dengan detail , dokter tersebut dan dokter Diki pamit pulang untuk melakukan tugas nya kembali . Di luar kamar ziko sudah uring -uringan , dia merasa di permainan kan , dia merasa harga diri nya di injak - injak oleh Zira . Kevin memperhatikan tuannya dengan seksama , setelah emosi tuannya sudah mulai stabil Kevin memberanikan diri untuk bicara kepada nya . " Tuan selanjutnya apa yang akan kamu lakukan ", tanya Kevin . " Aku ingin menghancurkan nya ", teriak ziko . " Tuan menurut saya sebaiknya jangan , pasti nona Zira melakukan hal ini karena dia merasa shock dengan pertunangan mendadak ", ucap kevin . Ziko mendengar kan dengan cermat . " Tidak ada seorang wanita yang mau menikah karena paksaan dan tekanan , mohon di pertimbangkan tuan ", ucap Kevin . Ziko masih diam dengan tatapan yang jauh , wajahnya yang dingin dan penuh amarah sudah berubah menjadi lebih tenang . Di dalam kamar . Zira sudah mengetahui maksud dari kedatangan dokter Diki dan tim , dia merasa yang di lakukan nya akan membuat diri nya dan karirnya hancur . Wajah Zira yang tadi nya ceria karena akan batal nikah tapi wajah nya sekarang berubah menjadi sendu karena perbuatannya , Zira tidak mempunyai keberanian untuk bertemu dengan ziko , dia masih duduk di pinggir kasur dengan kepala tertunduk . Ceklek pintu kamar di buka . Zira tidak menoleh sedikit pun ke arah pintu , dia sudah menduga siapa yang datang , dia menerima konsekuensinya apapun yang terjadi . Ziko duduk di sebelah Zira di pinggir kasur . Mereka masih diam tanpa ada yang memulai pembicaraan , Ziko melirik Zira yang tertunduk ada rasa kasihan melihat Zira yang biasanya ceria dan bawel tapi tidak dengan Sekarang . " Maafkan aku tuan ", ucap Zira pelan sambil tetap menunduk kan kepalanya . Ziko masih diam hanya terdengar helaan nafas nya saja . " Aku melakukan ini karena aku belum siap menikah ", ucap Zira lagi pelan masih tertunduk . Ziko hanya mendengar kan belum bicara . " Aku terima apapun hukuman yang akan tuan berikan ", ucap Zira pelan . Ziko menghela nafas nya . Ziko masih diam dan beberapa saat kemudian . " Aku tau kamu melakukan ini semua karena kamu merasa terancam dan tertekan , mungkin wanita lain jika di posisi kamu pasti akan melakukan hal yang sama ", ucap ziko pelan . Zira mendengarkan dan masih dengan posisi yang sama tanpa berani menatap Ziko , Ziko berhenti sebentar kemudian melanjutkan ucapannya . " Aku memang marah setelah mengetahui kebenaran nya tapi ", ziko menggantung ucapan nya . " Aku memaklumi nya ", ucap ziko pelan . Zira yang mendengar ucapan ziko langsung melirik ziko . " Apakah kamu memaafkan ku tuan ", tanya Zira sambil melihat ke samping ke arah ziko . Ziko hanya mengangguk kan kepalanya . " Apakah kamu gak akan membunuhku dan tidak akan menghancurkan usaha ku ", tanya Zira lagi . Ziko mengangguk . Zira yang melihat anggukan ziko merasa senang dan girang secara spontan dia memeluk ziko . " Terimakasih tuan ", ucap Zira masih memeluk ziko . Ziko yang mendapat pelukan dari Zira ada merasa kaget . Dia tidak menegur sama sekali dia menikmati momen ini . Zira yang tersadar dengan kelakuan nya , langsung melepaskan pelukannya dengan cepat . " Tapi sebagai hukuman kamu tetap akan menikah dengan ku ", ucap ziko santai . Zira mendengar langsung membulat kan mata nya melihat ke arah ziko . " Tuan kamu kan sudah memaafkan ku , kenapa aku tetap harus menikah dengan mu ", ucap Zira cepat. " Hemmmmm aku tidak bisa membatalkan rencana mama ", ucap ziko . " Kenapa tuan ", ucap Zira pelan . " Pertunangan kita di umumkan dan di lakukan di depan semua tamu undangan , saya harap sampai sini kamu paham ", ucap ziko . Zira yang mendengar ucapan ziko hanya diam , dan dia juga merasa ada yang beda dari diri ziko . Kenapa aku merasa ada yang beda dari dirinya , dan perkataan nya juga beda , batin zira . Zira masih berpikir mencari perbedaan dari perkataan ziko dan mencoba memahami maksud dari ucapan ziko . mengapa perkataan nya menjadi beda , apa perbedaan nya , oh dia menyebutkan kata saya untuk dirinya , oh tuan kenapa kamu jadi lembut begini , batin zira . " Tuan saya mengerti maksud anda tapi apakah tidak ada jalan lain ", tanya Zira , Zira yang biasanya bersikap kasar sama ziko juga merubah ucapan . Zira bisa menempatkan posisinya dengan baik , dia bisa berbicara sopan dan santun dengan siapa pun tetapi tidak dengan ziko , mungkin karena dari awal dia sudah tidak suka dengan tindakan ziko sebelum nya . " Akan aku pikirkan lagi nanti , persiapkan dirimu , sebentar lagi kita akan konferensi pers ", ucap ziko sambil mengelus rambut Zira dengan lembut . Ziko keluar kamar meninggal Zira yang masih bengong dengan perlakuan ziko yang tidak biasanya . " Dia mengelus rambut ku , tuan tuan kenapa kamu gak dari kemaren - kemaren bersikap seperti ini , pasti aku tidak akan melakukan perbuatan hal yang tadi , aduh bisa - bisa aku jatuh cinta sama kamu ", guman Zira pelan . " like komen dan vote yang banyak ya terimakasih " . Chapter 60 episode 60 Sesampainya di luar kamar Kevin memberitahu kepada tuan nya bahwa dokter Diki telah menghubungi nya dan memberi tau hasil lab nya . " Tuan dokter Diki baru menghubungi saya , dan hasil nya adalah negatif ", ucap Kevin cepat . " Ya aku sudah tau , dia sudah mengakui kesalahannya ", ucap ziko santai . Suara ketukan terdengar dari luar kamar , Kevin langsung membuka pintu dengan segera . Kevin mempersilahkan mereka masuk . Sebelumnya Kevin sudah menghubungi beberapa orang fashion designer dan Make up artis untuk datang . " Malam tuan ", ucap seorang fashion designer agak sedikit gemulai sambil menunduk kan kepala nya sedikit . " hemmmmm ", Kevin berjalan menuju kamar diikuti seorang fashion designer dan seorang Make up artis . Tok tok tok suara pintu kamar di ketuk . Setelah ada perintah , Kevin memegang handle pintu dan membuka pintu dengan perlahan . Kevin memperkenalkan mereka kepada Zira . Zira mengangguk tidak ada bantahan saat itu . Kemudian Kevin pergi dan meninggalkan Zira dengan fashion designer dan seorang Make up artis . Zira memilih mengenakan baju berwarna cream dengan lengan panjang bagian bawah yang panjang dan agak sedikit lebar tetap dengan make up yang flawless . Zira memilih lengan yang panjang untuk menutupi lengan nya yang berbekas suntikan . Zira keluar kamar karena sebelumnya asisten Kevin sudah memberi tahukan kepadanya setelah selesai harus menunjukkan penampilan nya kepada Tuan Muda Ziko . Zira berdiri di depan ziko yang sedang duduk di sofa . Ziko melihat penampilan Zira dari atas sampai bawah , kemudian ziko menyuruh Zira untuk memutar . " Stop ganti ", ucap ziko cepat . " Tapi kenapa tuan ", tanya Zira bingung . " Inikan bagus ", ucap Zira cepat . " gak suka , kamu gak liat belakang nya kebuka seperti itu sambil menunjuk ke arah punggung zira ", ucap ziko cepat . " Tapi " " Gak kamu malam - malam seperti ini pake baju seperti itu seperti sundel bolong tau ", ucap ziko cepat . tuan tuan kamu itu gak mau tubuh nona Zira di lihat khalayak ramai , batin Kevin . Zira pergi kembali ke kamar dengan menghentakkan kaki nya . Beberapa saat kemudian Zira Keluar lagi dan kembali berdiri di depan ziko . Dengan cepat ziko langsung menyuruh nya untuk mengganti baju yang di kenakan Zira . " ganti ganti , kenapa kamu memilih baju itu , kamu seperti ninja Hatori saja ", ucap ziko cepat sambil memegang pelipis nya . Zira mengenakan lengan panjang agak sedikit longgar dan celana panjang dan mengenakan ikat pinggang . Ziko berjalan menuju kamar dan kemudian dia kembali dengan membawa sebuah pakaian dengan lengan panjang agak sedikit ketat dan panjang sampai bawah lutut . " Nih pakai , kamu sebagai desainer seharusnya tau mana yang bagus ", ucap ziko cepat . Ziko memberikan nya langsung ke tangan Zira . Zira mengambil nya dan langsung menuju kamar untuk mengganti pakaian nya . Menurut Zira pakaian yang di pilih nya sudah bagus tapi dia mengalah untuk saat ini karena menurut nya selera orang berbeda dan malam ini dia harus menuruti selera ziko . Beberapa saat kemudian Zira Keluar . Ziko tersenyum puas . " itu baru bagus ", ucap ziko cepat . " tuan tapi ini kan masih ada bolong nya di bagian belakang ", ucap Zira sambil menunjuk kan punggung nya . " ya tapi gak seperti tadi bolong nya ", ucap ziko santai . Suara ponsel berbunyi asisten Kevin mengangkat ponselnya dan menutup nya kembali . " Tuan semua media sudah ada di bawah ", ucap Kevin . Ziko berdiri dari duduknya dan berjalan ke arah Zira . " Sekarang waktunya ", ucap ziko sambil memegang salah satu tangan Zira . Mereka berjalan beriringan sesekali Zira melihat tangan nya yang di pegang dengan ziko , hatinya merasa nyaman bersentuhan dengan tangan kekar ziko . " Tuan kenapa harus di umumkan di jam 12 malam , apa kamu mau mengumumkan sama mahluk halus ", ucap Zira santai . Ziko melirik Zira , dengan otomatis Zira langsung diam tidak berani melanjutkan ucapannya . Mereka sampai di tempat yang telah di sediakan pihak hotel , semua media memotret mereka . Mereka berdua duduk di kursi yang di sediakan di sana sudah ada terlihat Nyonya amel . Seorang moderator menjelaskan semuanya kepada media kemudian dia mempersilakan salah satu media untuk bertanya . " Apakah Nyonya menjodohkan tuan muda ziko dengan nona Zira ", tanya salah satu wartawan . Nyonya Amel menjawab . " iya saya menjodohkan anak saya dengan nona Zira , karena nona Zira sangat cocok untuk mendampingi ziko anak saya ". " like komen dan vote yang banyak ya terimakasih" . Chapter 61 episode 61 " Pertanyaan selanjutnya ", ucap moderator . Salah satu wartawan mengacungkan jari telunjuk nya . " Bagaimana pendapat anda Tuan muda dengan perjodohan ini terimakasih ", tanya salah satu wartawan . Ziko memperbaiki posisi duduk nya yang tadi sandaran sekarang lebih maju agar suara nya terdengar oleh media melalui mikropon . " Mengingat usia saya tak muda lagi jadi saya menyetujui perjodohan ini dan menurut saya pilihan mama sangat tepat ", ucap ziko sambil melirik ke Zira . Zira duduk di sebelah ziko tangan nya masih di genggam ziko . Zira lebih banyak tertunduk dari pada mengangkat wajah nya dia masih asing dan kaku dengan semuanya karena ini adalah hal yang pertama buat nya . " satu pertanyaan lagi ", ucap moderator . Seorang wartawan wanita dengan hijab nya mengacung kan jadi telunjuk nya untuk bertanya . " Untuk nona Zira , apakah nona menerima perjodohan ini , berikan alasannya terimakasih ", ucap salah seorang wartawan wanita . Zira yang tadi hanya tertunduk mendengar namanya di sebut dia langsung mengangkat wajahnya . Zira masih membisu belum menjawab pertanyaan wartawan wanita tadi . Ziko melirik nya , dia tau karena zira tidak menginginkan perjodohan ini . " Kamu tidak harus menjawab , saya akan memerintah kan moderator untuk mengakhiri konferensi pers ini ", ucap ziko sambil berbisik ke telinga Zira . Wartawan masih menunggu Jawaban dari Zira . " gak usah saya bisa menjawab nya ", ucap Zira cepat sambil berbisik ke telinga ziko . Zira mendekat kan diri nya dengan mikropon . " Terimakasih atas pertanyaan nya , saya memang tidak menyetujui perjodohan ini ", ucap Zira . Wartawan menjadi riuh mendengar ucapan Zira . Begitupum dengan Ziko dan Nyonya Amel mereka melirik Zira dengan cepat . Zira bagaimana mungkin kamu menjawab seperti itu , apa kamu tidak mengingat perkataan saya , batin Nyonya . " Tapi ", ucap Zira lagi . Wartawan kembali diam , wartawan Nyonya Amel dan ziko menunggu jawaban dari Zira . " Tapi itu awalnya saja , saya menyetujui perjodohan ini , karena saya membutuh kan seseorang untuk menjaga saya mengingat saya tidak mempunyai Keluarga sama sekali ", ucap Zira . " Dan dia adalah sosok calon suami yang tepat buat saya ", ucap Zira tegas sambil mengelus - ngelus lengan Ziko . Semua wartawan bertepuk tangan riuh , begitu pun Ziko , dia melihat Zira dengan senyum semanis coklat dia menyukai tindakan yang di lakukan Zira kepadanya . Nyonya Amel bernafas lega dengan jawab Zira . Dia tersenyum bahagia . " satu lagi " ucap salah satu wartawan . " Maaf pertanyaan sudah selesai ", kata moderat . " Silahkan ", ucap ziko . " Apakah kalian sudah saling mencintai ", ucap salah seorang wartawan . Mendengar pertanyaan itu ziko dan Zira saling pandang . Mereka masih diam kemudian. " Hemmmmm ya memang kami belum saling mencintai tapi kami yakin dengan kebersamaan cinta itu akan tumbuh " , ucap ziko cepat sambil mengecup punggung tangan nya . Wartawan tepuk tangan riuh mereka meminta Zira dan ziko untuk maju ke depan , mereka ingin mengambil foto mereka berdua . Zira yang punggung tangan nya di kecup ziko merasa malu dan pipinya merona apalagi itu lakukan di depan media dan di saksikan jutaan orang . so sweet ternyata kamu bisa juga romantis , aduh kenapa aku jadi malu begini , batin zira . Zira sesekali merapikan rambutnya untuk menghindari kegugupan nya . Tidak berapa lama asisten Kevin datang dengan membawa buket bunga . Asisten kevin menyerahkan bunga tersebut ke tuannya . " Menikah lah dengan ku ", ucap ziko sambil memberikan buket bunga tersebut . Lagi - lagi pipi Zira merona , dengan cepat dia menerima buket bunga tersebut . Ziko memeluk pinggang nya dan mengecup kening Zira . Momen itu di abadikan semua wartawan . momen yang sangat romantis dan akan menjadi tranding di semua media . Konferensi pers telah selesai , Ziko , Zira dan nyonya Amel sudah meninggal kan ruangan , mereka menuju mobilnya masing - masing . " kamu tidak usah pulang kamu ikut ke mansion aja ", ucap ziko . " Kenapa kan saya belum menikah dengan kamu tuan ", ucap Zira . " Ini sudah jam 1 pagi lebih baik kamu berisitirahat di mansion ", ucap ziko . Zira mengangguk setuju karena apartemen dia lebih jauh di bandingkan ke mansiom ziko . Di dalam mobil Zira sudah sangat mengantuk sesekali dia menguap . " Tuan bagaimana Sekarang apakah kita akan tetap menikah ", tanya Zira dengan mata yang sedikit sayu . " iya kita akan tetap menikah ", ucap ziko cepat . " Tapi Belum selesai Zira menyelesaikan kalimatnya ziko sudah memotong ucapan nya . " Tidak ada tapi tapi , kita akan tetap menikah sampai waktu nya ", ucap ziko pelan . Zira masih bingung dengan ucapan ziko . " Maksudnya tuan ", tanya Zira lagi . " Berhubung publik sudah mengetahui tentang rencana pernikahan kita maka itu tetap akan berlanjut dan akan berakhir sampai kita tidak saling mencintai ", ucap ziko menggantung ucapan nya . " Jadi menurut tuan kalo kita tidak saling mencintai setelah berumah tangga maka pernikahan kita akan selesai ", tanya Zira . " ya waktunya hanya 1 tahun ", ucap ziko pelan sambil mengalihkan pandangannya ke luar jendela mobil . Dia sebenarnya tidak mau mengatakan hal ini tetapi dia tidak mau Zira merasa tertekan dam terpaksa dengan pernikahan ini . Walaupun dengan berat hati ziko harus mengucapkan rencana gila nya . Berbeda dengan ziko , Zira merasa senang dengan perjanjian ini . yes waktu ku hanya 1 tahun menjadi istri nya , akan aku pastikan aku tidak mencintai mu , batin zira . Mereka diam tidak saling berbicara setelah percakapan tadi , hanya suara mesin mobil yang terdengar di kesunyian itu . " like komen dan vote yang banyak ya " Author akan mengusahakan update setiap hari walaupun tidak banyak ya , mohon maaf karena ada kesibukan . Chapter 62 episode 62 Zira masih tertidur dengan cukup pulas , sampai dia terbangun karena ada ketukan dari luar kamar . Tok tok tok Zira membuka perlahan matanya kemudian kembali menutup matanya . Beberapa menit kemudian . Tok tok tok Zira kembali membuka mata nya dan mengumpulkan nyawanya yang belum datang semua . " Siapa sih pagi - pagi udah mengetuk pintu , aku masih ngantuk ", gerutu Zira dengan suara khas bangun tidur . Zira duduk di atas kasur sambil memperhatikan sekeliling kamar . " Ini bukan apartemen ku , oh iya aku semalam pulang ke mansion ", ucap Zira sambil sesekali menguap . Zira berjalan ke arah pintu dengan jalan sedikit sempoyongan karena masih ngantuk . Zira memegang handle pintu kemudian dia membuka pintu . Di depan pintu telah berdiri seorang pria yang cukup berumur dan seorang pelayan wanita di sebelah nya . " Maaf nona kami telah membangun kan anda , saya pak Budi saya adalah kepala pelayan di sini dan ini Susi ", ucap pak Budi sambil memperkenalkan diri . " whoammmmm " . Zira menguap lagi sambil mengangguk - ngangguk . " Ini baju ganti , dan setengah jam lagi waktu nya sarapan ", ucap pak Budi . Zira mengambil baju tersebut . " Baiklah terimakasih ", ucap Zira . Kedua pelayan tersebut pergi meninggalkan Zira . Zira menutup kembali pintu . Zira melirik jam yang berada di dinding waktu sudah menunjukkan jam setengah delapan pagi . " lebih baik aku bersiap - siap " . Ucap Zira sambil berjalan menuju toilet . Setelah selesai mandi Zira keluar dari kamar mandi dengan mengenakan kimono handuk . Tok tok tok . Zira berjalan ke pintu dan membuka pintu dengan cepat . Di depan nya telah berdiri seorang gadis belia siapa lagi kalo bukan calon adik ipar nya Zelin . " Pagi Kakak ipar ", ucap Zelin . " Calon kakak ipar ", ucap Zira tegas . " ih kakak mirip banget sama kak ziko tegas , baiklah aku ulangi pagi calon kakak ipar ", ucap Zelin . " Pagi ", ucap Zira cepat . " Aku boleh masuk ", tanya Zelin . Zira mengangguk dan mempersilahkan Zelin untuk masuk . Zelin memberikan selamat kepada Zira karena telah menjadi tunangan kakak nya , dia belum sempat menyampaikan ucapan selamat kemaren malam karena keburu Zira pingsan . " Selamat ya kak atas pertunangan kalian " , ucap Zelin sambil memberikan tangan nya . Zira menyambut salaman itu sambil bersiap - siap untuk sarapan . Apa sebaiknya aku tanya aja ke Zelin cerita misteri antara si uget - uget dengan kakak nya , batin zira . Zelin masih dengan cerita nya yaitu kekaguman nya terhadap Zira dan semua nya mengenai keahlian Zira . " Zelin siapa sebenarnya Sisil ", tanya Zira langsung . Zelin yang mendengar pertanyaan dari Zira langsung berhenti dengan semua ocehan nya . " oh Sisil , dia itu mantan kak ziko kak ", ucap Zelin . " tunggu tapi di pesta kemaren dia memperkenalkan dirinya ke saya kalo dia tunangan kakak mu ", ucap Zira cepat . Zelin menghela nafasnya . " Salah itu kak , dia itu ingin merebut kembali hati kak ziko ", ucap Zelin . Zira masih mendengar kan . " Jadi Sisil itu pernah pacaran sama kak ziko , berapa lama nya aku gak tau , kak ziko sangat mencintai nya dan selesai kak ziko melanjutkan S2 nya , kak ziko melamar Sisil , mereka sudah mempersiapkan semuanya dari undangan baju pengantin semua sudah siap ", ucap Zelin cepat . Zira jadi penasaran dengan cerita Zelin . " Terus ", ucap Zira . " Jadi seminggu sebelum pesta kalo gak salah ya aku dah lupa soalnya kak , kak ziko ada perjalanan bisnis ke luar negeri dia pamit ke kak Sisil , jadi pamit nya kak ziko kalo aku gak salah sampai 3 hari gitu , pokoknya sebelum acara sudah balik ", ucap Zelin lagi sambil merebahkan tubuh nya di kasur Zira . " Ternyata kak ziko bisa menyelesaikan pekerjaan dengan waktu hanya 1 hari jadi kak ziko rencana nya mau memberikan kejutan untuk Sisil ", ucap Zelin . Zira masih penasaran dengan cerita Zelin dia yang tadi di depan meja rias sekarang duduk di sebelah Zelin di atas kasur masih tetap mengenakan kimono handuk . " kakak tau gak apa yang terjadi ", tanya Zelin . Zira menggeleng kan kepala nya . " Kak ziko melihat Sisil sedang berhubungan dengan seorang pria di apartemen kak ziko ", ucap Zelin . Zira yang mendengar langsung menutup mulutnya kaget . " Jadi semua nya di batal kan dan setelah itu lah kak ziko jadi temperamen dan dingin sama setiap wanita , makanya mama menjodohkan kakak sama kak ziko ", ucap Zelin santai . Pantesan dia sedingin salju ternyata masa lalu nya sangat menyakit kan , batin zira . Tok tok suara pintu di ketuk . Zelin bangkit dari posisi nya berjalan menuju pintu dan membukanya . Zira tidak tau siapa yang datang karena posisi kamar yang di buka hanya setengah . " Kenapa kamu di sini " , tanya ziko . Zira yang mendengar suara ziko langsung berlari ke ruang ganti karena dia masih mengenakan kimono handuk dan dia tidak mau jadi bahan amukan ziko pagi - pagi . " aih kakak ni , kak Zira kan calon kakak ipar ku jadi boleh lah aku akrab dengan nya ", ucap zelin manja . Ziko hanya dia dan membuka pintu dengan lebar . " Mana dia ", tanya ziko masih melihat sekeliling kamar . " Aku di sini ", ucap Zira sedikit berteriak sambil masih mengenakan baju nya . Ziko berjalan menuju ke arah Zira yaitu ruang ganti pakaian , betapa kagetnya dia melihat gunung kembar Zira yang begitu sempurna walaupun di tutupi dengan bra , bagian bawahnya tertutup dengan rok yang agak lebar dengan panjang di bawah lutut , ziko menelan Saliva nya dan menikmati pemandangan itu beberapa detik . Kemudian dia mengalihkan pemandangan nya dan pergi keluar kamar , Zelin sudah keluar sebelum nya . Zira tidak mengetahui kalo ziko datang karena dia sibuk dengan pakaian nya . " like komen dan vote yang banyak ya , terimakasih " . Chapter 63 episode 63 Ziko menyusuri beberapa ruangan menuju ke ruang makan , dia masih memikirkan pemandangan yang baru saja di lihat nya pagi ini . Dia seperti mendapat kan vitamin D di pagi hari yaitu vitamin dada ????????????. Zira bejalan menuju ruang makan di sana formasi sudah lengkap ada Tuan besar , nyonya Amel , tuan muda dan Zelin . Melihat kedatangan Zira , nyonya Amel menyambut nya dengan senyuman nya . Nyonya Amel menghampiri Zira yang masih mematung karena tidak tau mau duduk di sebelah mana . " Mari sini ", ucap nyonya Amel sambil menuntun zira untuk duduk di sebelah ziko . Mereka menikmati sarapan dengan diam dan hening hanya suara sendok yang terdengar seperti sedang bertengkar satu sama lain . Ziko yang duduk di sebelah Zira menjadi salah tingkah sesekali dia melirik ke arah Zira . Selesai makan Nyonya Amel mengajak Zira untuk berkeliling mansion , Tuan besar melakukan aktivitas nya di ruang fitness , Zelin pergi ke kampus , Ziko berada di ruang keluarga sambil memainkan ponselnya . " Zira maafkan Tante ya ", ucap Nyonya Amel sambil mengelus rambut Zira . Zira merasa tentram dengan perilaku yang di berikan Nyonya Amel , dia merasa seperti bersama ibu nya . Ada kerinduan yang sangat dalam diri Zira . Zira berusaha untuk menutupi kerinduan nya . Nyonya Amel berusaha mendekatkan dirinya dengan Zira , walaupun itu tidak mudah buat Zira . Setelah berkeliling mansion Nyonya Amel beserta Zira kembali ke ruang keluarga di sana sudah ada ziko dan Kevin . " baiklah Zira , Tante tinggal dulu ya ", Nyonya Amel pergi meninggalkan Zira bersama ziko dan Kevin . Ziko masih sibuk dengan Kevin membicarakan masalah pekerjaan nya . " Tuan aku mau ke butik ", ucap Zira . Ziko memberhentikan percakapan nya dengan ziko setelah mendengar ucapan Zira . " Kamu tidak usah ke butik ini hari ", ucap ziko cepat melanjutkan percakapan nya lagi dengan Kevin . " Kenapa ", tanya Zira bingung . jangan bilang aku tidak boleh melakukan rutinitas ku lagi , batin zira . Ziko tidak menjawab hanya mengambil remote televisi dan memencet salah satu tombol . Zira melihat ke arah televisi , semua saluran televisi menayangkannya berita tentang mereka berdua . Zira mengambil remote yang di letakkan ziko di meja , dia menekan tombol volume . Semua media menyebut nama nya sebagai perempuan yang sangat beruntung . " beruntung apa nya yang iya buntung ", gerutu Zira pelan . Zira berdiri dari sofa dan hendak pergi menuju kamar nya . " Mau kemana kamu ", tanya ziko cepat . " Saya mau ke kamar ambil ponsel ", ucap Zira cepat . Ziko langsung memberikan ponsel nya kepada Zira . " Untuk apa ", tanya Zira . " aku punya ponsel kok ", ucap Zira cepat . Ziko mengelus dahinya dengan tangan nya . " Ini bukan untuk mu , pake dan hubungi siapa yang mau kamu hubungi ", ucap ziko cepat . Zira langsung mengambil ponsel ziko dan pergi meninggalkan ruang makan , dia memencet nomor ponsel seseorang . " Halo ", " halo , Lina ", ucap Zira cepat . " ini siapa " , tanya Lina karena nomor ponsel yang tertera di ponsel nya nomor asing dan tidak terdaftar dalam daftar dalam ponsel nya . " Ini saya Zira " , ucap Zira cepat . " Mbak Zira ya , mbak Zira hebat ya udah jadi calon istri Tuan muda , mbak masuk dalam semua saluran televisi wah mbak hebat , mbak jadi Cinderella dalam semalam ", ucap lina cepat . " Lina - lina dengar dulu ", ucap Zira cepat . " iya mbak ", ucap lina . " Bagiamana keadaan butik ", tanya Zira cepat . " Butik aman mbak , cuma seperti nya kita kekurangan karyawan mbak ", ucap lina polos . Zira bingung dengan ucapan terlahir Lina . " Maksudnya ", tanya Zira lagi . " ya mbak semenjak berita mengenai pertunangan mbak Zira dan tuan muda di tayangkan di televisi sekarang Zira boutique banyak di datang pengunjung , ini aja ramai banget mbak ", ucap lina . " ya udah saya akan ke sana " , ucap Zira cepat . " gak usah mbak , mbak gak usah datang banyak pengunjung datang selain membeli mereka juga mau minta foto sama mbak Zira , mbak Zira hebat dah jadi artis " , ucap lina lagi . " Baiklah saya tidak jadi datang , kamu urus semua nya ya , kalo ada apa - apa hubungi saya ke nomor saya ", ucap Zira tegas . " memang nya ini bukan nomor mbak Zira ", tanya Lina lagi . " Bukan ini nomor si tuan muda ", ucap Zira cepat . " wah hebat mbak Zira pagi - pagi udah berduaan ", ucap lina lagi . Zira tidak menghiraukan ucapan Lina dia menutup panggilannya dan kembali ke ruang keluarga untuk mengembalikan ponsel ziko . " Makasih ", ucap Zira . Zira mengembalikan ponsel yang di pinjam nya ke tangan ziko . " duduk ", ucap ziko sambil menepuk sofa di sebelah nya . Zira Langsung duduk dengan cepat tidak ada bantahan sama sekali . " Jadi kamu ke butik " , tanya ziko . " gak lah ", ucap Zira cepat . " baiklah karena kamu sudah jadi calon istri ku jadi aku akan memberikan seorang supir sekaligus pengawal pribadi untuk mu ", ucap ziko cepat . Zira yang mendengar ucapan ziko dengan cepat langsung melihat ke arah ziko yang tadi nya melihat ke arah lain. " gak usah pake supir atau pengawal , saya tidak terbiasa ", ucap Zira cepat . " Kamu ini , ini bukan mengenai biasa atau tidak biasa tapi ini mengenai keselamatan mu ", ucap ziko tegas . Zira masih mendengar kan ziko . " Kamu tau kalo kamu sudah masuk dalam bagian Keluarga Raharsya keamanan mu harus di utamakan karena banyak saingan atau siapapun yang ingin menghancurkan bisnis kami , jadi untuk antisipasi kamu harus pake supir sekaligus pengawal ", ucap ziko cepat . Mendengar ucapan ziko , Zira merasa takut dia hanya mengikuti saran dari ziko . " like komen dan vote yang banyak ya terimakasih ". Chapter 64 episode 64 Zira masih berkutat dengan aktivitas nya di butik , Zira mendesain banyak pakaian karena banyak nya pesanan yang datang . Ponsel Zira berdering tertera nomor asing , Zira tidak mengangkat panggilan tersebut dia masih kembali fokus dengan desain nya . Akhirnya panggilan itu berhenti tidak beberapa menit nomor yang tadi kembali menghubungi nya . Zira mengangkat dengan malas . " Ya halo ", ucap Zira . " Zira ini aku fiko ", ucap si penelepon . Mendengar nama fiko , Zira langsung panik . aduh mati aku , bagaimana ini pasti dia ingin jawaban dari ku , apa aku bilang tunggu 1 tahun lagi , atau aku bilang yang sebenarnya atau aku pura - pura amnesia , batin zira . " Halo Zira kamu masih mendengar kan ku , apakah kamu ada waktu nanti siang ", ucap fiko dari ujung ponsel nya . " Eh iya , aku mendengar kan kamu fiko , iya aku ada waktu ", ucap Zira gugup . " Baiklah aku tunggu kamu di restoran xxx , sampai jumpa ", ucap fiko ramah sambil menutup panggilan nya . Tut Tut Tut suara panggilan berakhir Zira meletakkan kembali ponsel nya . " Apa yang harus aku lakukan , aduh bagaimana ini , baiklah aku pasti bisa ", ucap Zira memberikan semangat untuk dirinya sendiri . Suara ponsel Zira kembali berdering , Zira melirik ponsel nya lagi - lagi nomor asing , Zira menutup panggilan tersebut . Nomor itu kembali menghubungi Zira . Zira mengangkat dengan sedikit emosi . " Ya halo ", ucap Zira ketus . " Zira ", tanya si penelepon . " Bukan ini bukan Zira ini nenek nya Zira ", ucap Zira ketus . " Ziraaaaa ", teriak si penelepon . Zira menjauhkan ponsel nya yang berada di dekat telinga karena teriakan dari si penelepon sangat memekak kan telinga nya . " Idih ini suara keceng amat kayak suara emak - emak lagi menang arisan ", guman Zira pelan . " Bisa gak sih kamu gak teriak , telingaku jadi lepas nih ", ucap Zira cepat . Zira masih belum tau siapa yang menghubungi nya tapi suara nya tidak asing . " Zira siang ini kita akan makan siang bersama ", ucap si penelepon . " Ini siapa , kenapa anda memberi perintah kepada saya ", ucap Zira cepat . " Ini calon suami mu , apa kamu tidak mengenal suara ku ", ucap ziko keras . Zira menepuk dahinya dengan tangan nya . " Mana saya kenal dengan suara anda , biasanya suara anda terdengar sangat seksi tapi ini suara anda seperti suara toa yang rusak ", ucap Zira cepat . " Udah saya tidak mau berdebat dengan kamu datang ke restoran xxx ", ucap ziko cepat sambil menutup panggilan nya . Tut Tut Tut . " Cih ini orang lama - lama ya , sewaktu konferensi pers aja bisa romantis ", gerutu Zira . Zira melihat nama restoran yang di ucapkan ziko di atas kertas karena dia sudah menyalin nya kemudian dia melihat kembali nama restoran yang di sebut kan fiko . " Lah ini restoran yang sama dan jam yang sama dengan orang yang berbeda ", ucap Zira cepat . " aduh kenapa sih dengan kalian , apa tidak ada restoran yang lain kenapa harus di situ ", gerutu Zira sambil meletakkan kepalanya di atas meja . Zira mulai berpikir keras apa yang harus di lakukannya . " Aku bilang aja sama si ubi kayu kalo aku lagi gak enak badan , eh tidak mana percaya dia ", ucap Zira sambil tetap dengan pikiran nya . " atau aku percepat waktu makan ku dengan si ubi kayu , pasti dia mau ", ucap Zira senyum . Zira menghubungi nomor ziko , nomor ziko sudah di simpan nya di dalam daftar kontak . Dia memberikan nama ziko di dalam daftar kontak nya " ubi kayu gosong " Zira tersenyum . " halo tuan " , ucap Zira cepat . " hemmmm , bisa gak makan nya sekarang ", tanya Zira . " ini jam berapa masih jam 9 kamu sudah lapar , apa kamu tidak sarapan ", tanya ziko cepat . " gak ", ucap Zira . Zira sudah sarapan sebenarnya tapi dia berbohong kepada ziko . " tidak " , ucap Zira pelan . " Apa ", teriak ziko . " Kenapa kamu gak makan kalo kamu sakit aku juga yang repot kamu tau ", ucap ziko sedikit teriak . " Cih kenapa teriak sih , iya kamu bisa gak ", tanya Zira . Lama ziko diam tidak menjawab Zira . " Kamu datang ke kantor sekarang juga ", ucap ziko sambil menutup panggilan nya . Zira yang mendengar ucapan bingung . " Aku mau mengajak dia makan tapi aku malah di suruh ke kantor apa sekarang kantor nya sudah berubah jadi warteg ", guman Zira pelan . Zira mengambil tas nya dan keluar dari butik di depan butik sudah ada seorang supir sekaligus pengawal untuk Zira seperti yang di perintah kan ziko . " pak bisa antarkan saya ke kantor tuan muda ", ucap Zira sopan . " Baik nona ", ucap bapak tersebut . Mobil sudah menyusuri setiap jalan menuju kantor tuan muda . Mobil sudah sampai di depan gedung Raharsya Group hanya dalam waktu 15 menit mereka sudah sampai . Zira berjalan menuju loby , Zira menuju meja resepsionis . " Permisi saya mau bertemu Tuan muda ziko ", ucap zira ramah . " Silahkan Nona , tuan muda sudah menunggu anda ", ucap si resepsionis . Zira mengangguk . Zira berjalan menuju lift menekan tombol lift menuju lantai yang di tuju nya . " Seperti nya resepsionis itu baru yang kemaren kemana ya ", guman Zira pelan . Pintu lift terbuka Zira keluar dari lift . Banyak karyawan berlalu lalang melewati Zira , mereka senyum dan sedikit membungkuk kan kepalanya . " Like komen dan vote yang banyak ya terimakasih ". Chapter 65 episode 65 Zira berjalan menuju ruangan Presiden direktur Ziko , dia sudah mengerti di mana letak ruangan tersebut karena sudah beberapa kali datang ke kantor nya . Zira menemui sekertaris Ziko . Sekertaris Ziko berdiri begitu melihat kedatangan Zira sama hal yang di lakukan nya ketika bertemu dengan Bos nya . Sekertaris nya terlihat sangat ramah dan sopan . " Pagi mbak , saya ada janji dengan Tuan muda ziko , apakah tuan muda ziko ada " , tanya Zira . " Pagi juga nona Zira , Maaf Tuan muda sedang ada meeting , nona di persilahkan untuk menunggu beliau di dalam ", ucap sekretaris . Zira mengangguk sambil mengikuti sang sekertaris dari belakang . Sekertaris tersebut menuntun zira menuju ruangan Presiden direktur . " Nona silahkan tunggu di sini , pesan dari tuan muda silahkan Nona makan makanan di meja ini ", ucap sekertaris sambil menunjuk beberapa hidangan di meja . " baik mbak terimakasih ", ucap Zira sambil tersenyum . Tinggal Zira sendirian di ruangan itu sekertaris tersebut kembali melakukan aktivitas nya . Zira berkeliling dan memperhatikan setiap pajangan yang ada di dalam ruangan ziko . Zira mengelilingi meja ziko , dan dia penasaran dengan kursi ziko . " Bagaimana rasanya kalo duduk di sini ya ", guman Zira pelan sambil menduduki kursi kebesaran ziko . Zira berputar - putar layak nya seorang anak kecil . Dia memperagakan gaya bicara seorang ziko . " Hey mulut micin , apa yang kamu lakukan di sini ", ucap Zira sambil cekikikan . Dia masih berputar - putar dengan kursi ziko dengan mata tertutup , dia tidak mengetahui kalo ziko sudah berdiri di depan nya . " Tuan oh tuan kursi mu empuk sekali beda dengan kursi ku di butik , apa kita tukaran aja ya biar kamu merasakan gimana susah nya aku cari duit ", ucap Zira dengan mata yang masih tertutup . Melihat Zira melakukan hal konyol seperti itu ziko merasa gemes , tingkahnya sangat kekanak-kanakan dengan mulut baweel nya apalagi dengan ceplas-ceplos nya semua membuat ziko tersenyum simpul . Tapi dia merasa kasihan dengan kalimat terakhir yang di ucapkan Zira . Zira membuka mata nya perlahan betapa kagetnya dia seorang ziko sudah berdiri di depan nya sambil tersenyum - senyum . " Eh tuan udah datang ", ucap Zira gugup sambil berdiri dari kursi ziko . Ziko masih senyum - senyum . apa dia mendengar semua celotehan ku , aduh kalo dia dengar gimana ini mulut kenapa sih , batin zira sambil menepuk mulut nya sendiri . " Udah puas mutar - mutar nya ", ucap ziko sambil tersenyum . nah kan dia udah dari tadi di sini pasti dia sudah mendengar semuanya , semoga dia tidak mendengar semua nya . Zira tidak menjawab pertanyaan ziko , dia berjalan menuju sofa dan dengan segera menduduki nya . Ziko yang tadi nya masih berdiri ikut duduk di sofa di sebelah Zira . " Kalo kamu mau aku bisa membelikan kursi seperti ku untuk mu ", ucap ziko sambil membuka minuman air mineral dan menuangkan nya ke dalam gelas . Mendengar ucapan ziko , Zira langsung menoleh dengan cepat . " Nggak tuan terimakasih tadi aku hanya bercanda ", ucap Zira gugup . " Kenapa kamu tidak makan malah main putar - putaran ", tanya ziko lagi . Bagaimana aku mau makan tuan , sebenarnya aku masih kenyang , batin zira . " Makan cepat jangan sampai kamu sakit lagi dan jangan sampai kamu kurus ", ucap ziko cepat . Nih ubi kayu perhatian juga , dia masih ingat tentang sakit ku , owh ubi kayu kamu kenapa seperti bunglon sih kadang galak kadang baik , gerutu Zira dalam hati . Zira mengambil beberapa potong lauk dan nasi hanya sedikit . Karena dia masih kenyang . " Kenapa sedikit sekali makanan nya ", ucap ziko cepat . " Aku gak bisa makan banyak - banyak tuan ", ucap Zira cepat . " cih kemaren di pesta kamu makan sangat banyak kamu bilang lambung mu punya anak cabang sekarang kenapa , ada apa lagi dengan lambang mu ", ucap ziko cepat . Zira mengingat kembali ketika dia makan - makanan yang cukup banyak . " owh tuan ya memang kemaren aku makan nya banyak karena anak cabang lambung ku minta makan , tapi sekarang anak cabang nya udah tutup bangkrut ", ucap Zira santai . Ziko menggeleng - gelengkan kepala nya , menurut nya ada aja alasan yang di buat Zira . Ziko mengambil piring dari tangan Zira kemudian dia mengambil nasi dengan porsi cukup besar dan lauk juga . Zira yang melihat langsung melotot dengan makanan segitu banyak dalam piring nya . " Kenapa banyak sekali , aku kan bukan gorila mana bisa menghabiskan sebegitu banyak nya ", ucap Zira cepat sambil menunjuk piring makanan . " yang bilang kamu gorila siapa , aku juga mau makan ", ucap ziko santai . " Kalo mau makan nih ", ucap Zira sambil memberikan satu buah piring . Ziko menepis piring yang di kasih Zira . " Aku mau makan satu piring dengan mu ", ucap ziko santai . Aih satu piring dengan ku berarti satu sendok , habis dia makan aku yang makan begitu seterusnya , bisa - bisa aku ketularan penyakitnya dingin nya , gerutu Zira dalam hati . " Kenapa apa kamu gak mau satu piring dengan calon suami mu , kamu harus membiasakan diri di awal satu piring , yang kedua satu kasur yang ketiga satu selimut yang keempat satu handuk ", ucap ziko santai sambil tersenyum licik . Zira yang mendengar merasa jijik sambil menggoyangkan tubuh nya . " Kenapa gak sekalian bilang satu celana dalam " , ceplos Zira . " Bagus juga ide kamu , nanti akan kita lakukan kalo kamu sudah resmi jadi istri ku ", ucap ziko santai sambil memegang hidung Zira . Ziko membuka mulutnya meminta Zira menyuapinya begitu pun seterusnya mereka makan satu piring berdua dan satu gelas berdua . " like komen dan vote yang banyak ya " terimakasih . Chapter 66 episode 66 " Sebulan lagi kita akan menikah, undangan sudah di cetak, besok kita akan fitting baju." Ucap Ziko sambil meminum air dari dalam gelas. Zira yang mendengar langsung tersedak batuk - batuk. Ziko memberikan gelas yang di pegangnya. Zira langsung mengambilnya dan meminum air yang ada di dalam gelas tersebut, setelah tenggorokan terasa lega Zira memberanikan diri untuk bertanya kepada Ziko. " Tuan kenapa cepat sekali." Ucap Zira pelan. " Semua yang atur mama dari tempat, tanggal, gedung, undangan, gaun pernikahan semua sudah di atur, kita hanya mempersiapkan mental saja." Ucap Ziko menjelaskan. " Baiklah kalo begitu lebih cepat lebih bagus, hanya satu tahun Zira, kamu harus sabar dan semangat." Batin zira dalam hati. Mereka sudah selesai makan, perut Zira terasa penuh sudah tidak bisa di isi lagi, dia menyandarkan badannya di sofa. " Tuan kalo kita menikah apakah kita akan melakukan itu." Ucap Zira pelan. Ziko yang mendengar ucapan Zira tidak menjawab karena Ziko belum mengerti arah pembicaraan Zira. " Maksud kamu apa." Ucap Ziko sambil membalikkan badannya melihat ke arah Zira. Zira menggaruk - garuk kepalanya yang tidak gatal dia gak tau cara menyampaikannya. " Itu loh tuan." Zira mengambil nafas terlebih dahulu kemudian melanjutkan ucapannya. Ziko masih setia menunggu Zira untuk berbicara. " Itu loh kalo kita nanti menikah apa kita harus melakukan KIK KUK." Ucap Zira cepat sambil menutup wajah dengan kedua tangan nya karena malu. Ziko masih juga bingung dengan istilah yang di berikan Zira. " Kamu itu mau membicarakan apa." Ucap Ziko bingung. " Aduh tuan gimana sih kamu, gitu aja gak tau, maksudnya adalah malam pertama." Ucap Zira cepat sambil menutup mulut dengan satu tangannya. Ziko mengangguk dan dia tersenyum menyeringai. " Ya harus itu, mengapa harus ada pernikahan agar kita terhindar dari zinah." Ucap Ziko cepat sambil tersenyum licik. Zira yang mendengar ucapan Ziko langsung menjauhkan posisi duduknya dengan cepat. " Kamu kenapa menjauh." Ucap ziko sambil memindahkan duduknya lagi di dekat Zira. " idih ini ubi kayu kenapa sekarang tambah lama tambah genit." Batin Zira. " Aku takut." Ucap Zira pelan. " Takut kenapa?" Ziko pura - pura bego. " Takut sama itu." Ucap Zira sambil menunjuk ke arah junior Ziko. Ziko yang melihat ekspresi Zira langsung tertawa terbahak bahak. " Aku enggak bisa membayangkan apa jadinya punyaku." Ucap Zira jijik. Ziko tertawa kembali. " Kamu nanti harus minum jamu biar kamu bisa mengimbangi ku." Goda ziko sambil tersenyum. Zira tidak menjawab lagi ucapan Ziko pikirannya masih membayangi yang aneh-aneh. Jam sudah menunjukkan jam setengah 12 siang. Zira memberanikan diri untuk pamit. " Tuan saya sudah lama di sini, saya izin pamit dulu." Ucap Zira cepat. Zira berdiri dari tempat duduknya dengan cepat tangan Ziko menahannya untuk duduk kembali. " Tuan aku harus kembali." Ucap Zira cepat. " Aku tidak mengizinkan." Ucap ziko cepat. " Tapi." Belum sempat Zira melanjutkan ucapannya mulut ziko sudah berada di bibir Zira. Zira baru tersadar ketika suara ponsel nya berbunyi. Zira langsung mendorong tubuh Ziko. Zira langsung mengambil ponsel nya terlihat ada chat masuk melalui satu aplikasi. Zira membuka dan membaca pesan itu dari Fiko. " Siapa." Ucap Ziko penasaran sambil memegang ujung bibirnya. Zira masih sibuk untuk membalas chat Fiko dia tidak menghiraukan pertanyaan Ziko . " Tuan aku pamit ya." Ucap Zira sambil berdiri dari tempat duduknya. " Kenapa kamu buru-buru ini kan masih jam makan siang. Aku masih ingin kamu di sini." Ucap Ziko cepat. " Cihhh Tuan bilang aja kamu mau menciumku." Ucap Zira cepat. Ziko tertawa karena yang di ucapkan Zira semuanya benar dia merasa senang dengan kehadiran Zira di situ. " Ya sudah kamu hati - hati." Ucap Ziko sambil berdiri dari tempat duduknya. Sekarang posisi mereka sama - sama berdiri . Ziko mengecup kening Zira kemudian mencium pipi Zira. Zira yang mendapat perlakuan dari Ziko langsung malu ada rasa senang tapi ada rasa gundah. Zira pergi meninggalkan Ziko sendiri di ruangannya. Ziko masih membayangkan semuanya. " Mulut micin kamu sudah pintar sekarang ya." Guman Ziko. Zira pergi ke restoran dengan mobil dan supir yang di sediakan Ziko. Sesampainya di sana dia melihat sekeliling restoran untuk beberapa saat dan dari kejauhan ada yang melambaikan tangan yaitu Fiko. " Like komen dan vote yang banyak ya ", terimakasih . Chapter 67 episode 67 Zira berjalan menuju ke arah fiko , fiko mengambil tempat duduk di pojokan . Fiko menarik tempat duduk sambil mempersilahkan Zira untuk duduk . Zira duduk di depan fiko dia duduk dengan anggun . Mereka masih diam satu sama lain tanpa ada yang berani memulai untuk bicara . Agar suasana tidak terlalu canggung fiko memulai pembicaraan . " Mau makan apa ", ucap fiko . " Saya masih kenyang " , ucap Zira pelan . " Kalo minum gimana ", tanya fiko lagi . " Baiklah saya pesan jeruk dingin aja " , ucap Zira cepat . Fiko melambaikan tangan tidak beberapa saat seorang pelayan datang menghampiri meja mereka . Pelayan tersebut mencatat semua menu yang di pesan fiko . " Kamu apa kabar ", tanya fiko . " baik " , ucap Zira . Kemudian mereka diam kembali . Tidak berapa lama pelayan datang membawa pesanan fiko . Pelayan meletakkan di atas meja , fiko mempersilahkan Zira untuk minum dan fiko memakan makan nya . Setelah fiko selesai menikmati makanan nya , Fiko membuka pembicaraan nya kembali . " Zira aku tau kamu telah bertunangan dengan tuan muda ziko ", ucap fiko pelan . Zira yang tadi nya tertunduk langsung melihat ke arah fiko . " Bagaimana kamu tau ", tanya Zira . " Semua media sudah menayangkan tentang kalian berdua ", ucap fiko dengan suara getir . Zira tidak berkata - kata sama sekali . " Aku tau kenapa kamu tidak langsung menjawab , pasti karena kamu akan bertunangan ", ucap fiko lagi masih dengan suara getir . " Walaupun aku merasa sakit hati melihat berita tentang kalian berdua ada di mana - mana tapi aku berusaha untuk menerima nya ", ucap fiko sambil memegang kedua tangan Zira yang berada di atas meja . Fiko berhenti sebentar dan melanjutkan ucapannya . " Aku mungkin telah terlambat mengenal mu , seandainya aku lebih cepat mungkin aku sudah memiliki mu ", ucap fiko dengan suara getir . " Fiko maafkan aku , aku tidak bermaksud untuk menyakiti mu , aku hanya ", ucap zira sambil menggantung ucapan nya . fiko aku tidak bisa memberi tau yang sebenarnya tapi aku sangat bangga melihat mu , kamu lelaki yang berjiwa besar , batin zira . " Mencintai mu merupakan sebuah anugerah tidak ada penyesalan sama sekali karena telah mencintai mu ", ucap fiko . Zira memperhatikan sekeliling restoran dia melihat para pengunjung keluar semua begitu pun dengan para pelayan mereka juga keluar dari restoran . Merupakan hal yang aneh karena pelayan mempersilahkan para pengunjung restoran untuk keluar dari restoran dengan cepat padahal makanan yang mereka makan belum sempat di cicipi . Fiko melihat ke arah depan tidak jauh dari tempat dia dan Zira duduk . Telah berdiri seorang laki - laki yang gagah penuh wibawa , wajah nya menunjukkan kemarahan yang sangat luar biasa . Zira memperhatikan fiko , pandangan fiko sudah tidak melihat ke arah nya tapi melihat ke arah lain . Zira mencoba melihat arah tatapan fiko . Zira membalikkan badannya betapa kagetnya dia melihat ziko sudah berdiri di belakang nya . Sebelumnya . Di gedung Rahasrya group . Asisten Kevin menghubungi supir Zira . " Kalo kamu sudah selesai mengantar nona Zira ke butik kamu bisa kembali ke kantor ada hal yang mau saya bicara ", ucap kevin . " Iya pak tapi saya masih di restoran xxxx setelah ini saya akan mengantar nona kembali ke butik ", ucap supir . Asisten Kevin memberitahukan hal ini kepada Tuan nya karena ada hal yang janggal . " Bagaimana mungkin dia bisa makan di restoran padahal tadi dia sudah makan dengan ku , cepat selidiki dengan siapa dia di restoran dan aman kan restoran segera " , perintah ziko dengan penuh amarah . Asisten Kevin langsung pamit meninggalkan tuannya , dia menghubungi beberapa orang kaki tangan nya . Di restoran Kaki tangan asisten Kevin memerintah kan kepada manager restoran untuk menutup restoran nya beberapa saat untuk pesanan yang belum di makan atau pun sudah di order tapi belum di sajikan akan di tanggung biayanya oleh Tuan muda ziko . Mereka memerintah kan semua karyawan restoran baik koki maupun penanggung jawab restoran untuk pergi beberapa saat karena untuk sementara restoran itu di sewa tuan muda ziko . " Tu tuan " , ucap Zira gugup sambil berdiri mendekati ziko . Ziko tidak menghiraukan Zira dia melihat ke arah fiko dengan penuh amarah . " Kamu siapa ", tanya ziko . Fiko berdiri dari kursinya dan memberikan tangannya ke arah ziko . " Saya fiko ", ucap fiko cepat . Ziko tidak menyambut tangannya fiko , dia menatap penuh amarah ke fiko . " Kenapa kamu dengan calon istri ku ", tanya ziko lagi . " Aku ingin mengucapkan selamat kepada nya atas pertunangan kalian ", ucap fiko cepat . Prok ziko langsung memukul wajah fiko . " Dasar pembohong kamu mencintai nya kan " , teriak ziko . Zira yang melihat ziko memukul fiko langsung teriak . Fiko yang mendapatkan pukulan secara tiba - tiba badan nya terdorong sedikit kebelakang ada keluar cairan merah dari sudut bibir fiko . " Berhenti ", teriak Zira . Fiko merasa emosi nya sudah memuncak dia merasa harus menghadapi laki - laki di depan nya dengan secara jantan . " Ya aku mencintai nya dan asal kamu tau sebelum kamu mengumumkan pertunangan kalian , aku sudah mengungkapkan perasaan ku padanya ", teriak fiko . Ziko yang mendengar ucapan fiko langsung memukul satu sama lain . Zira hanya bisa berteriak tidak bisa melerai nya , sedangkan Kevin dia hanya menonton pertandingan smackdown di depan nya . " Asisten Kevin kenapa kamu diam aja , cepat bantu aku ", teriak Zira . Asisten Kevin tidak memperdulikan ucapan Zira . Zira yang melihat perkelahian itu tidak bisa melerai nya . Dia mengambil inisiatif sendiri agar perkelahian itu berhenti . Zira melirik ada pisau di meja dia mengambil pisau tersebut . " Berhentiiiiii aku bilang berhenti..... kalo kalian tidak mau berhenti aku akan bunuh diri ", teriak Zira sambil meletakkan pisau di pergelangan tangan nya. Ziko dan fiko melihat ke arah Zira , mereka berdua langsung berhenti satu sama lain . " Zira lepaskan itu " ucap ziko . " Zira jangan lakukan itu , aku mohon ", bujuk fiko . " Kalian berdua sama saja , lebih baik aku mati jadi kalian tidak akan bertengkar lagi " . teriak Zira masih dengan memegang pisau . Ziko dan fiko mulai mundur satu sama lain . Mereka terlihat sangat kacau di wajah fiko penuh dengan pukulan begitupun ziko tapi ziko tidak terlalu banyak jadi bisa di pastikan pemenang dari lomba saling pukul memukul di menangkan oleh ziko . Setelah mereka berdua mundur Zira meletakkan pisau itu kembali . " Untuk mu fiko silahkan kamu pergi sekarang ", teriak Zira . Fiko langsung pergi mendengar teriakan Zira . Zira yang biasa nya terlihat anggun tapi hari ini dia terlihat liar . " Dan untuk mu tuan muda ziko , siapa yang menyuruh mu memukul nya ", teriak Zira . " Siapa yang menyuruh nya memegang tangan mu , jika dia tidak memegang tangan mu aku pasti tidak memukul nya ", ucap ziko cepat . Zira menggaruk kepalanya . " Kamu sudah berani membohongi ku hah ", teriak ziko di depan wajah Zira . Zira yang mendapat teriakan ziko langsung takut dia tidak pernah melihat ziko semarah ini . " Karena kamu berbohong sebagai hukuman nya , aku akan menghancurkan nya seperti debu " , ucap ziko tegas . Zira menggeleng kan kepala nya. " Tidak kamu jangan menghancurkan nya , aku mohon ", ucap Zira memohon sambil memegang kaki ziko . " Jadi kamu memohon kepada ku seperti ini hanya untuk nya ", teriak ziko . " iya ", ucap Zira cepat sambil berdiri dari posisi jongkok nya . " apa istimewanya dia sampai kamu membela nya ", teriak ziko lagi . " Dia tidak ada keistimewaan sama sekali ", teriak Zira cepat . " Rencana ku telah bulat ", ucap ziko . " asisten Kevin cari dan hancur dia sampai jadi debu ", teriak ziko . " Tidak tidak tidak ", ucap Zira sambil memeluk ziko . " Aku memohon kepadamu tuan jangan hancurkan dia " , ucap Zira getir . " Dia punya seorang anak , kalo kamu menghancurkan nya kamu akan membuat anaknya sama seperti ku ", ucap Zira sambil terisak - Isak . Ziko mendengar ucapan Zira langsung merasa sedih belum pernah dia melihat seorang Zira nangis tetapi hari ini dia menetes kan air matanya . Semua karena dirinya seandainya dia bisa mengontrol emosi nya mungkin Zira tidak akan mengeluarkan air mata nya . " like komen dan vote yang banyak ya , biar author semangat update nya ", terimakasih . Chapter 68 episode 68 Isak tangis Zira sudah tidak terdengar lagi , Zira pingsan di dalam pelukan ziko . Ini kedua kaki nya Zira pingsan semua karena ziko . Ziko mengangkat Zira dengan gampang nya , dia membawa Zira menuju mobilnya . Ziko membaringkan Zira di kursi belakang kepala Zira di letakkan di paha nya . Ziko merasa kasihan melihat calon istri nya . " Aku tidak akan membiarkan mu menetes kan air mata lagi siapapun yang membuat mu meneteskan air mata akan berhadapan dengan ku , aku akan membahagiakan mu itu janjiku ", guman ziko sambil mengelus rambut Zira . Ziko mengurungkan niat nya untuk menghancurkan fiko , dia merasa fiko menjadi ancaman untuk hubungan nya . Seandainya Zira tidak memberitahukan mengenai anak fiko bisa di pastikan ziko akan menghancurkan nya . Ziko jadi posesif dia tidak ingin melihat siapa pun dekat dengan calon istri nya . Ada rasa senang di dalam hati ziko karena pengakuan Zira yang mengatakan bahwa fiko tidak mendapatkan tempat istimewa di hatinya Zira . " Tuan bagaimana apakah saya harus menghancurkan nya ", tanya Kevin . " Batalkan rencana kita , tapi pastikan dia tidak mendekati Zira , siapapun itu ", ucap ziko tegas . " Baik tuan ", ucap Kevin . Asisten Kevin masih menyetir mobil , ziko masih menatap lekat wajah Zira . " Betapa indah wajah mu , Tuhan telah menciptakan mahluk sangat sempurna ", guman ziko pelan . Ziko kembali mengelus pipi Zira . " aku menyukai mu apa adanya mulut mu yang bawel sikap mu yang konyol membuat ku ingin selalu dekat denganmu ", guman ziko sambil mengelus bibir Zira . Mobil mereka sudah sampai di depan apartemen Zira . Ziko mengangkat tubuh Zira dalam pelukan nya . Ziko meletakkan Zira di atas kasur dan menutupinya dengan selimut . Ziko duduk di pojok dekat jendela kamar . Tiba - tiba ponsel Zira berbunyi . Ziko mencari suara ponsel tersebut yang berada di dalam tas Zira . Ziko membuka ponsel Zira dengan sidik jari Zira . Dia mengecek setiap chat yang masuk dan dia menemukan chat dari fiko . " Jadi kamu sudah janjian dengan nya sebelum nya ", geram ziko sambil mengutak ngatik ponsel Zira . Ziko memblokir nomor ponsel fiko melalui ponsel Zira . Ziko berpikir sejenak mengenai percakapan mereka di telepon sebelumnya . Zira tidak mengenali suara nya , jadi ziko berniat memasukkan nomor ponsel nya ke dalam ponsel Zira . Ziko memasukkan nomor ponsel nya dan dengan cepat langsung muncul sebuah nama ubi kayu gosong . Ziko mengernyitkan dahi nya dan menggeleng - gelengkan kepalanya . Dia mengganti nama nya di dalam ponsel Zira dengan nama calon suami ku tersayang . Ziko meletakkan kembali ponsel Zira karena zira sudah mulai siuman . " Aku kenapa sudah di kasur bukan nya tadi aku nangis oh mungkin si ubi kayu yang mengangkat aku ", gumam Zira pelan masih dengan posisi berbaring . " Ah mengingat kejadian tadi ingin rasanya aku jewer telinga mereka berdua ", gerutu Zira sambil duduk secara perlahan di atas kasur . Dia meregang kan semua otot nya dia hendak turun dari kasur tapi sekilas dia melihat ada seseorang duduk di dekat jendela , Zira terdiam sebentar . " Siapa yang duduk di sana , apa ada hantu sekarang di sini ", guman Zira pelan . Zira masih belum berani melihat ke arah belakang . " Hey hantu aku tau kamu pasti hantu berjenis kelamin pria , sudah berapa lama kamu di situ ", teriak Zira . " dia tidak menjawab mungkin aku harus menggunakan bahasa hantu tapi aku harus kursus dulu sama Mbah Jambrong ", guman Zira pelan sambil menggaruk rambut nya . Zira berpikir sejenak " Hey hantu kalo kamu suka sama ku urungkan saja niat mu karena kamu pasti akan di musnahkan sama si ubi kayu ", teriak Zira . Zira memberanikan diri melihat kebelakang dia kaget ternyata yang duduk di kursi dari tadi ziko . Zira Langsung melempar ziko dengan bantal nya . " Kenapa kamu tidak menjawab ucapan ku ", gerutu Zira . Ziko hanya tersenyum melihat tingkah Zira . " Bagaimana aku menjawab tadi kamu memanggil hantu memang nya wajah ku terlihat seperti hantu ", ucap ziko santai . Zira turun dari kasur sambil merapikan rambut nya karena ada yang bilang sama dia ketika rambut nya berantakan dia seperti kuntilanak kehilangan sisir . Zira keluar dari kamar di ikuti ziko di belakang . Zira mengambil gelas yang berisi air mineral kemudian di meminum nya . Zira melirik ke arah asisten Kevin , dia menghampiri Kevin yang sedang menghadap laptop . Prok dia memukul lengan Kevin dengan centong nasi . " Aw ", teriak Kevin kaget sambil memegang lengan nya . " Ini balasan karena kamu tidak melerai pertengkaran tadi ", ucap Zira sinis. Kevin meringis karena dapat pukulan mendadak dari Zira . " gak usah cengeng ", ucap Zira ketus sambil meninggalkan ziko dan Kevin di ruang tamu . '' like komen dan vote yang banyak ya biar semangat author update nya ". Chapter 69 episode 69 Zira membanting pintu kamar nya , dia masih marah dengan perlakuan ziko yang main hakim sendiri . Ziko mengetuk pintu kamar berulang - ulang , tapi Zira tidak mau membuka pintu nya . " Zira buka pintu nya , atau aku dobrak ", teriak ziko sambil mengetok pintu . Mendengar ziko mau mendobrak pintu nya dengan cepat Zira langsung membuka pintu nya . " Ada apa ", tanya Zira sambil menyandarkan badannya ke pintu . " Aku mau bicara ", ucap ziko . " cepat waktu mu 5 meniti ", ucap Zira tegas . " Ayolah Zira jangan kekanak-kanakan ", ucap ziko . Mendengar ziko menyebut nya kekanak-kanakan Zira langsung menyemprot nya . " Siapa yang kamu bilang kekanak-kanakan ", ucap Zira tegas sambil menunjuk ke arah Ziko . " hey seharusnya yang marah itu aku bukan kamu ", teriak ziko kembali . Mereka berdua sama - sama keras sama - sama tidak ada yang mau mengalah . " kenapa kamu bertemu dengan nya tanpa memberitahu aku ", teriak ziko . " hahahaha jadi ini masih lanjut " ucap Zira sambil tertawa mengejek . " hey tuan sebelum kamu menghubungi ku , dia dulu yang menghubungi ku , dan dia dulu yang mengajak ku untuk bertemu ", ucap Zira cepat . " hey nona Zira seharusnya kamu tau kalo kamu akan menikah dengan ku ", ucap ziko cepat . Zira berpikir dan diam sebentar , memang benar yang di katakan ziko , mereka akan menikah dan seharusnya Zira memberitahu nya hal ini . Zira tidak menjawab ucapan ziko dia hendak menutup pintu kembali dengan cepat ziko menahan dengan tangan nya . " Apa lagi ", ucap Zira ketus . " benar yang di katakan nya ", tanya ziko cepat . Zira berpikir mengingat yang di ucapkan fiko ketika di Restoran . " Ya memang benar sebelum nya dia sudah mengungkapkan perasaan nya kepada ku ", ucap Zira mengejek . " Jadi kamu juga menyukai nya ", tanya ziko cepat . " Tidak penting aku suka apa tidak tapi setidaknya aku tau perasaan nya kepada ku bukan seperti kamu ", ucap Zira tegas sambil menutup pintu . Perkataan Zira seperti tamparan buat ziko , mereka akan menikah tapi Ziko dan Zira belum mengerti dengan perasaan satu sama lain . " Baiklah aku minta maaf ", ucap ziko pelan dari balik pintu . Seorang tuan muda seperti ziko tidak pernah namanya meminta maaf tapi demi seorang Zira dia mau melakukan nya . " apa kamu sudah memaafkan ku ", teriak ziko lagi . Zira mendengar permintaan maaf dari seorang ziko . " Apa aku gak salah dengar ", ucap Zira . Ziko hendak mengetuk pintu kamar tapi tiba - tiba pintu nya sudah di buka. " ya aku sudah memaafkan mu tuan ", ucap Zira menekan intonasinya . " baiklah kalo kamu sudah memaafkan ku , aku lapar ", ucap ziko pelan sambil menyerahkan perut nya . Zira melirik tingkah ziko yang kekanak-kanakan, ingin rasanya dia mencubit pipi ziko yang menggemaskan . Zira memasak nasi goreng Karena hanya itu yang cepat menurutnya , karena dia juga sudah sangat lapar . Makanan sudah terhidang di meja makan , Zira menyiapkan tiga piring , untuk ziko , dia dan asisten Kevin . Ziko dan Kevin datang menuju meja makan . Ziko melihat di meja telah di hidang kan tiga piring . Ziko mengernyitkan dahi nya dan Zira memperhatikan nya . " Kenapa gak suka ", tanya Zira ketus . " Apa kamu sudah lupa kita makan sepiring bersama ", ucap ziko tegas . Zira memegang pelipis nya dengan jari . Dia langsung mengambil piring ziko dan meletakkan nya di piring nya . Ziko tersenyum , kemudian Zira kembali ke dapur mengambil sesuatu . Ziko membuka mulutnya untuk disuapin , Zira langsung segera menyendok kan nasi goreng tadi . Tapi ziko langsung menepis tangan Zira . " Kenapa kamu menyuapi ku dengan centong nasi ", teriak ziko . " Biar cepat ", ucap Zira . " Apa tidak ada lagi yang lebih bagus selain itu ", tanya ziko cepat. Zira kembali lagi ke dapur dan mengambil sesuatu . " apa kamu mau pake ini ", ucap Zira sambil menunjuk kan Sutil yang di pegang nya . Melihat tingkah tuannya dan nona zira , Kevin hanya tertawa terbahak bahak , mereka selalu menarik untuk di jadikan bahan tontonan ada saja tingkah mereka berdua yang membuat Kevin mengabadikan momen - momen mereka yang lucu ke video . " like komen dan vote yang banyak ya biar author semangat update nya ", terimakasih . Chapter 70 episode 70 Sisil membanting remote TV nya , semua saluran televisi menayangkan pemberitaan tentang ziko dan Zira . Dalam satu malam Zira telah menjadi artis , semua media mengelu - ngelukan nama nya . " Ziraaaaaa ", teriak Sisil . " Aku tidak akan pernah membiarkan mu menikah dengan ziko , aku akan membuat mu merana ", teriak Sisil . " Permainan akan segera kita mulai , tunggu saja ", teriak Sisil . Zira mencoba menghubungi ziko tapi ponselnya tidak aktif . Zira mondar mandir di apartemen nya . " Kalo aku tidak pamit pasti dia akan marah ", guman Zira pelan . Zira hendak pergi ke luar kota dia mendapatkan undangan dari sahabat nya Novi . Penerbangan Zira 3 jam lagi , dia sudah mempersiapkan semua nya dari jauh - jauh hari . " Waktu ku tidak banyak pasti jalanan akan macet ", guman Zira pelan . Zira menarik koper kecil nya menuju lift , kemudian pintu lift terbuka . Zira memasuki lift dan menekan tombol ke lantai dasar . Setelah sampai Zira langsung menuju ke arah supirnya . Pak supir sekaligus bodyguard nya bingung karena zira membawa sebuah koper . Tapi pak supir langsung meletakkan ke bagasi mobil . Di dalam mobil pak supir memberanikan diri untuk bertanya . " Kita mau ke mana nona Zira ", tanya pak supir . " Bandara pak ", ucap Zira cepat . Pak supir yang mendengar bandara langsung berpikir yang aneh - aneh . jangan - jangan nona Zira mau kabur , batin pak supir . " Nona apa sebelumnya sudah menghubungi tuan muda ", tanya pak supir . Pak supir memberanikan diri untuk bertanya karena dia tidak mau jadi bahan amukan tuannya . " Udah pak tapi ponsel nya gak aktif , gak tau tuh hp di simpan di mana , mungkin di simpan di kulkas makanya gak kedengaran ", gerutu Zira . Pak supir hanya mengangguk tidak berkomentar lagi tapi dia masih berpikir lagi . " Nona sudah menghubungi asisten Kevin ", tanya pak supir lagi . " Belum saya gak punya nomor nya ", ucap zira cepat . " Saya punya nomor asisten Kevin , nona bisa menghubungi beliau ", ucap pak supir sopan . Zira menghela nafas nya . " Ya udah bapak aja yang menghubungi asisten Kevin tapi nanti jangan sekarang , setelah sampai di bandara ", perintah Zira . Pak supir kembali fokus melajukan mobilnya , untuk sampai ke bandara biasanya mereka membutuhkan waktu 40 menit tapi karena macet mereka menghabiskan waktu 1 jam. Pak supir memberhentikan mobil nya di depan pintu keberangkatan . Kemudian dia mengeluarkan koper Zira dari bagasi . " Terimakasih pak ", ucap Zira . Zira pergi meninggalkan pak supir dia menunjukkan tiket nya kepada petugas bandara . Zira sudah berada di ruang tunggu jadwal keberangkatan nya satu jam lagi . Pak supir sudah pergi meninggalkan bandar dan tiba - tiba dia mengingat sesuatu . Dia memberhentikan mobil nya di tempat yang sepi . Dia langsung mengambil ponsel nya dan menghubungi asisten Kevin . Dalam beberapa detik sambungan itu terhubung . " Selamat siang asisten Kevin ", ucap pak supir . " Ya ada apa " ucap Kevin cepat . " saya di perintah kan nona Zira untuk menghubungi anda tadi nona Zira sudah menghubungi tuan muda tapi ponsel tuan muda tidak aktif ", ucap supir menjelaskan . Mendengar nama Zira di sebut Kevin langsung bertanya dengan cepat . " Ada apa dengan nona Zira ", tanya Kevin cepat . " Nona Zira tidak apa - apa , sekarang nona Zira sudah berada di bandara ", ucap pak supir menjelaskan . Mendengar penjelasan dari supir , asisten Kevin langsung menutup panggilan tersebut . Kevin langsung menemui ziko yang sedang berada di ruang meeting . Ziko sedang meeting dengan para pemegang saham . Ziko memperhatikan gelagat tidak enak dari Kevin . Asisten Kevin datang mendekati ziko dan membisikkan sesuatu yang di dengar nya dari supir Zira . Ziko langsung menutup meeting hari itu juga . " Meeting hari ini saya tutup untuk meeting selanjutnya akan diinformasikan oleh sekretaris saya ", ucap ziko tegas sambil pergi meninggalkan ruang meeting . Ziko dan asisten Kevin berjalan beriringan menuju ruangan nya . " Jelaskan bagaimana dia bisa pergi tanpa memberitahu ku ", teriak ziko kepada Kevin . " menurut informasi dari supir , nona Zira sudah menghubungi tuan , dan katanya ponsel tuan berada di luar jangkauan ", ucap Kevin . Mendengar ucapan Kevin , ziko langsung mengambil ponsel nya dan ketika mengecek nya ponsel nya memang dalam keadaan off . Ziko memberikan ponsel nya kepada Kevin untuk di isi baterai nya . " Apa lagi informasi yang kamu dapat " tanya ziko . " Tidak ada tuan " ucap Kevin cepat. Kevin mengaktifkan kembali ponsel ziko , dan dilayar ponsel ziko tertera panggilan tidak terjawab sebanyak 3 kali calon istri ku . " Tuan sepertinya nona Zira memang menghubungi tuan , di sini tertera panggilan tidak terjawab sebanyak 3 kali ", ucap Kevin . Ziko melihat ponsel nya . " Untuk apa dia pergi , bukannya kami sudah baikkan ", ucap ziko . Kevin tidak menjawab ucapan ziko . " Apa dia mau kabur ", ucap ziko lagi . " Seperti nya tidak mungkin tuan, belum pernah ada sejarah nya orang kabur pamit ", ucap Kevin tegas . Ziko mulai memikirkan sesuatu . " Cari penerbangan yang berangkat dua jam sebelum nya atau tiga jam sebelum nya , dan cek atas nama Zira Kanaya Amrin ", perintah ziko . Asisten Kevin langsung pergi meninggalkan tuannya . Dia menghubungi pihak bandara untuk mengecek atas nama Zira Kanaya Amrin . Setelah di cek beberapa menit kemudian muncul nama Zira . " Atas nama Zira Kanaya Amrin penerbangan pesawat xxxc tujuan kota A telah berangkat 30 menit yang lalu ", ucap pihak bandara . " Pastikan atas nama Zira Kanaya Amrin tidak meninggalkan bandara ", perintah Kevin . " like , komen dan vote yang banyak ya , bagi yang belum vote di tunggu ya biar novel favorit kalian masuk 10 besar , terimakasih " Chapter 71 episode 71 Kevin kembali ke ruang ziko dengan tergesa - gesa . " Tuan nona Zira berangkat dengan pesawat xxx menuju kota A ", ucap Kevin cepat . " Baiklah siapkan semua nya ", perintah ziko . Asisten Kevin sudah mengerti maksud dari ucapan tuannya dengan cepat dia langsung menghubungi pilot yang menerbangkan jet pribadi tuan muda ziko . Mereka sudah berada di dalam pesawat jet milik ziko . Pesawat jet pergi meninggalkan bandara menuju kota A . Pesawat yang di tumpangi Zira sudah landing dengan sempurna . Setelah mendapatkan instruksi dari pramugari satu persatu para penumpang meninggal kan pesawat begitu pun dengan Zira . Para penumpang menunggu koper mereka , setelah mendapat kan koper nya masing - masing penumpang meninggalkan ruang kedatangan . Begitu pun dengan Zira setelah mendapat koper nya Zira hendak pergi meninggalkan ruang kedatangan . Zira hendak menunjukkan tiket nya , tapi beberapa orang petugas menghampiri nya . " Maaf nona silahkan ikut kami ", ucap salah satu petugas bandara . Zira yang seumur - umur wara Wiri naik pesawat gak pernah di datangi beberapa orang petugas mulai panik . Zira mengikuti petugas bandara dia di apit beberapa orang baik perempuan maupun laki-laki . Beberapa penumpang banyak yang memperhatikan kejadian itu . " Pasti bawa narkoba tuh ", ucap satu penumpang . Zira yang mendengar si penumpang bicara mulai panik . Mereka sampai di dalam satu ruangan . Di dalam ruangan terdapat sofa dan televisi . Pihak bandara memberikan minuman dan makanan untuk Zira . Zira yang mendapatkan perlakuan seperti itu jadi tambah bingung . " silahkan Nona ", kata petugas bandara tertulis di name tag nya Mona . " Terimakasih mbak Mona ", ucap Zira sambil menunjuk kan jari nya ke arah name tag perempuan itu . " Maaf saya permisi dulu nona ", ucap petugas bandara . Di dalam Zira masih bingung kenapa dia di bawa ke ruangan ini . " Ruangan ini tidak seperti ruangan pemeriksaan seperti yang sering aku lihat di televisi biasanya yang aku lihat di televisi hanya ada satu meja besar dan beberapa petugas ", guman Zira . " Mereka memperlakukan ku dengan baik ", guman Zira lagi . " Sebenarnya mereka mau apa ya , apa aku seperti buronan ", guman Zira lagi . Pintu ruangan di ketuk dari luar . " Masuk aja ruangan ini bukan punya saya " ucap Zira cepat . Seorang pria paruh baya membuka pintu dan diikuti beberapa orang di belakang nya . " Maaf nona atas ketidaknyamanan nya ", ucap si bapak . Zira masih mengangguk tidak mengerti maksud dari ucapan bapak tersebut . " Maaf pak sebenarnya kesalahan saya apa pak ", tanya Zira bingung . " Nona tidak bersalah " ucap si bapak cepat . " Kalo saya tidak bersalah kenapa saya masih di tahan di ruangan ini ", ucap Zira cepat . " Saya hanya mengikuti perintah saja nona ", ucap si bapak . Beberapa menit kemudian pintu di buka kembali oleh petugas bandara , di belakang petugas ada sosok yang sangat di kenal Zira siapa lagi kalo bukan Ziko . Zira membulat kan mata nya melihat kedatangan ziko dan asisten Kevin . Petugas bandara mempersilahkan ziko duduk , Ziko mengambil duduk di sebelah Zira , salah satu tangan nya memegang bahu Zira . Ziko berbincang - bincang dengan bapak paruh baya tadi tertera nametag nya Sunaryo . Dia merupakan orang penting di bandara itu . " Terimakasih " ucap ziko memberi kan salah satu tangan nya sambil berdiri . Bapak tadi dan beberapa petugas lainnya menyambut tangan ziko , mereka saling bersalaman . Di ruangan hanya ada ziko Zira dan asisten Kevin . Zira sudah mulai mengeluarkan taring nya . " Apa maksud dari semua ini jelaskan ", teriak Zira . Ziko tidak menjawab hanya tersenyum tipis . " Karena ulah mu aku jadi malu ", ucap Zira cepat . " Semua penumpang memikirkan hal - hal yang negatif tentang ku ", ucap Zira lagi . " Aku seperti buronan " teriak Zira . Ziko melihat ke arah Zira . " Kamu memang buronan , telah kabur calon istri dari ziko putra Raharsya ", ejek ziko . Zira langsung memukuli ziko dengan Jari - jari mungilnya . " Siapa yang kabur , aku kan sudah menghubungi mu ", ucap Zira cepat . Ziko masih tersenyum - senyum melihat ekspresi Zira . " Makanya tuan ziko kalo punya ponsel jangan di simpan tapi di telan " ucap Zira lagi . " Sudah cukup sekarang jelaskan padaku kenapa kamu pergi ke kota ini ", tanya ziko . " Duh tuan aku mau bertemu dengan sahabat ku ", ucap Zira cepat . " cewek apa cowok ", tanya ziko lagi . " Waria ", ucap Zira cepat . Ziko langsung melotot ke arah Zira . " gak gak aku becanda kenapa sih kalo aku sebut waria kamu langsung melotot , ada pengalaman buruk ya ", ejek Zira . Mereka pergi meninggalkan bandara , Kevin mengendarai mobil yang telah di sediakan tangan kanan nya . Sebelum nya Kevin sudah menghubungi orang kepercayaan nya untuk mempersiapkan mobil . Zira memberikan alamat kepada Kevin , dalam beberapa menit mereka telah sampai di depan rumah sederhana . Zira turun dari mobil di ikuti ziko dan asisten Kevin . Zira mengetuk pintu tidak beberapa lama seseorang datang membuka pintu . Begitu pintu di buka muncul dari balik pintu seorang wanita , wanita tersebut dengan cepat langsung teriak dan memeluk Zira . " kenalkan ini Novi sahabat ku ", ucap Zira memperkenalkan ziko dan Kevin . Novi masih bingung kenapa sahabatnya membawa dua pria ke rumah nya . Ziko menyambut tangan Novi . " Ziko calon suami Zira ", ucap ziko cepat . Zira langsung melotot ke arah ziko . " Apa aku gak salah dengar , benar tu ra ", tanya Novi lagi . Zira mengangguk pelan . Novi langsung memeluk nya . " Akhirnya nya teman ku akan kawin juga ", ucap Novi sambil memeluk Zira . Novi mempersilahkan mereka untuk masuk . Mereka duduk di ruang tamu tidak berapa lama suami Novi datang beserta anaknya . Melihat Kiki , Zira langsung memeluk nya dan mencium nya berkali - kali , Kiki adalah anak Novi , Kiki dan Zira sudah sangat akrab tak heran Kiki langsung lengket dengan Zira . Melihat Zira begitu dekat dengan Kiki hati ziko langsung merasa nyaman . Sosok seperti ini lah yang di cari nya . Novi beserta suami mempersilahkan mereka untuk makan malam bersama . Sebelumnya Zira dan Novi mempersiapkan semua makanan di dapur . " Ra coba jelaskan padaku calon suami mu ini yang mana ", tanya Novi . " Maksud mu ", tanya Zira . " Kamu kan kemaren pernah bilang ada dua pria , kalo gak salah satu manusia es batu yang kedua duda , nah ini yang mana ", tanya Novi lagi . " oh ini manusia es batu ", ucap Zira sambil meletakkan makanan di atas piring . " nah kan betul , aku tuh setuju kamu sama manusia es batu itu walaupun aku belum mengenal nya . nov nov kamu gak ngerti aja drama yang aku hadapi melebih drama Korea , batin zira . Mereka menikmati makanan yang telah di siapkan Novi. Sesekali mereka berbicara mengenai banyak hal sambil menikmati makanannya . Setelah selesai makan mereka ngobrol di ruang keluarga , sambil menikmati cemilan yang telah di sajikan Novi. " Ra kamu tidur di sini kan ", tanya Novi . " iya " ucap Zira cepat . " Tuan aku bukan tidak mau menawarkan kamu untuk tidur di sini tapi kamar kami hanya ada 4 , apa kamu mau sekamar dengan asisten mu ", tanya Novi . Ziko dan Kevin saling melihat satu sama lain begitupun Zira , dia senyum - senyum mengingat kejadian konyol yang di buat nya sendiri yaitu mengenai homo . " terimakasih saya akan menginap di hotel saja ", ucap Kevin cepat . Kevin pergi meninggalkan rumah Novi . Novi menunjukkan kamar Zira dan kamar ziko , kamar mereka berada di sebelah - sebelahan . " like komen dan vote yang banyak ya biar novel favorit kalian masuk 10 besar , yang belum vote di tunggu ya , terimakasih ". Chapter 72 episode 72 Acara ulang tahun Kiki di adakan jam 1 siang. Zira membantu Novi mempersiapkan semua nya dari dari makanan, dekorasi sampai hal kecil dia lakukan. Begitupun dengan Ziko , dia ikut membantu suami Novi menyusun kursi - kursi kecil. Karena kondisi rumah Lina yang tidak terlalu besar dan tidak mempunyai taman maka pesta di adakan di dalam rumah. Gambar - gambar superhero di pajang di mana - mana, karena tema ulang tahun Kiki adalah Superhero. Kiki mengenakan baju Superhero Iron man karena itu superhero favorit nya. Waktu menunjukkan jam 1 siang banyak anak - anak datang ke acara tersebut bersama dengan orang tua mereka. Serangkaian acara telah di laksanakan. Waktunya para tamu undangan menikmati sajian yang Novi hidang kan. Para tamu undangan menikmati makanan yang sederhana tapi tidak mengurangi kelezatan nya. Zira berdiri di pojok sambil menikmati makanannya. Ziko menghampiri nya beserta Kevin. " Apa yang kamu makan? " tanya ziko. Zira menunjukkan makanan nya kepada ziko. " Aku mau, " ucap ziko. " Ambillah di sana." ucap zira sambil menunjuk ke arah meja hidangan. " Hey kamu harus menyuapi ku." Perintah ziko. " Hey tuan jangan aneh - aneh ya, ini kan banyak orang. " Ucap Zira cepat . " Kenapa harus malu, " Ucap ziko cepat. Akhirnya Zira mengalah walaupun dia bersitegang dengan ziko toh dia pasti akan kalah. Dia menyuapi ziko seperti anak kecil. Anak - anak melihat nya sambil bisik - bisik dengan teman nya. Kiki datang menghampiri Zira dan ziko yang lagi duduk di kursi sambil menyuapi ziko. " Tante kenapa oom ini makan nya di suapi? " tanya Kiki. " Oom masih bayi sayang bayi kolor. " ucap Zira sambil merapatkan giginya. Kiki anak yang cerdas ada saja pertanyaan yang di ajukan nya. " Kolor apa Tante? " tanya kiki karena tidak mengerti maksud ucapan Zira. " Kolor ijo." ucap Zira cepat. Kevin tertawa mendengar ucapan zira. " Bukannya seharusnya baik kolot nona. " ucap Kevin sambil cekikikan. " Nggak sekarang dah di ganti bayi kolor. " ucap Zira jutek. Kiki masih berdiri melihat Zira menyuapi ziko. " Kiki sekarang balik gih sama teman. " Ucap Zira sambil menunjuk ke arah teman Kiki. Akhirnya acara telah selesai para tamu undangan pamit pulang. Setelah tamu undangan pulang Zira membantu mencuci piring kotor. Ziko mengangkat piring kotor yang berada di ruang tamu dan memberikan nya kepada zira. Zira memperhatikan semua perilaku ziko yang menurutnya tidak ada rasa jijik sama sekali. Seorang tuan muda yang selama ini selalu mendapat perlakuan khusus tapi hari ini dia menjadi seseorang yang biasa. Tuan aku salut sama mu, kamu bisa melakukan hal - hal yang biasa di lakukan seorang pelayan di rumah mu, guman Zira dalam hati. Waktu sudah menunjukkan jam 6 sore, Zira dan Ziko pamit untuk pulang. " Aku pulang ya. " ucap Zira sambil memeluk Novi. " Iya, " ucap Novi masih memeluk Zira . Mereka tetap menjadi sahabat walaupun ada jarak yang memisahkan tapi persahabatan mereka tidak pernah luntur satu sama lain. " Janji kepada ku kamu akan datang ke pernikahan ku. " ucap Zira. " Ya aku janji. " ucap Novi. Setelah pamit Zira Ziko dan asisten Kevin pergi menuju bandara tempat pesawat jet di letakkan. " Tuan kamu kan belum meminta kartu identitas ku, bagaimana kamu memesan tiket nya? " Tanya Zira sambil berjalan beriringan dengan Ziko dan asisten Kevin. Ziko tidak menghiraukan pertanyaan Zira. " Mana pesawat nya? " Tanya Zira heran karena mereka sudah masuk ke area tempat pesawat parkir. Ziko menunjukkan jari nya ke arah jet pribadi nya sambil masih berjalan. Zira membulat kan mata nya sebuah pesawat jet telah parkir di depan nya. Ziko menaiki tangga menuju pesawat jet tetapi tidak dengan Zira. Zira masih sibuk dengan ponsel nya dia berselfi ria. Zira memberikan ponsel nya kepada Kevin untuk mengabadikan foto Zira di depan pesawat jet. Kemudian ziko membalikkan badan melihat Zira belum juga naik. " Nggak usah norak. " teriak Ziko. Mendengar teriakan Ziko, Zira langsung berlari menaiki tangga. Didalam pesawat Ziko sudah duduk, sedangkan zira masih dengan norak nya berselfi ria. Semua di abadikan Zira. " Hey mulut micin, udah siap foto nya? " tanya ziko. Zira mengangguk kan kepala nya sambil melihat hasil jepretan nya melalui ponsel nya. " Mari sini. " Ziko melambaikan tangan memanggilnya Zira. Zira datang mendekat Ziko. Dia berdiri di samping Ziko. " Mana ponsel mu? " tanya ziko. Zira memberikan ponsel nya kepada Ziko. Ziko melihat semua foto yang di abadikan Zira. Zira agak membungkuk kan badannya nya. Posisi wajah Zira berada sangat dekat dengan wajah ziko. Cekrek Sebuah foto telah di abadikan, Foto dimana ziko mencium pipi Zira. Zira mengelus pipinya yang baru saja di cium ziko. " Jangan dihapus. " Perintah ziko. " Cih kamu ini selalu aja mencari kesempatan dalam setiap kesempitan. " gerutu Zira. Ziko hanya tertawa kecil mendengar ocehan calon istri nya. " Jadi kan foto itu wallpaper di ponsel mu. " ucap ziko lagi. " Nggak mau ." Ucap Zira menolak. " Sudah berani membantah kamu ya, apa kamu mau aku mengganti posisi nya? " ucap ziko sambil tersenyum licik. " Maksudnya. " tanya Zira. " Ya aku dengan senang hati bisa mengganti nya, ciuman itu bisa aku ganti kebibir mu, apa kamu mau? " Ucap ziko sambil tersenyum tipis. Zira dengan cepat langsung mengganti wallpaper ponsel nya. " Like komen dan vote yang banyak ya. Yang belum vote di tunggu ya , terimakasih" Chapter 73 episode 73 Seperti biasa hari - hari Zira di sibukkan dengan kegiatan nya di dalam butik. Semenjak di umumkan pertunangan Zira dan ziko, butik Zira yang dulu ramai pembeli Sekarang menjadi ramai dua kali lipat. Pesanan meningkat tajam setajam pisau tukang daging ????????????. Zira selain menjual secara langsung dia juga menjual secara online, keuntungan yang di dapat tidak jauh beda dengan penjualan langsung. " Lina hari ini kita makan siang di luar ya, " Ucap Zira. " Wah enak nih dah lama gak dapat traktiran dari mbak Zira, " ucap lina sambil tersenyum. " Kita mau makan dimana nanti? " tanya Zira. " Aku ngikut aja mbak, " ucap lina. " Baik lah gimana kalo kita makan di food Court, " Ucap Zira. " Aku dengar di Center Mall ada food Court yang makanan nya lumayan enak, " ucap Zira. " Iya bagus juga tuh mbak, nanti bisa sekalian cuci mata di sana, " ucap lina sambil tersenyum. " Memang nya mata kamu kenapa, jauh banget cuci mata ke mall, " goda Zira sambil tertawa. " Ah mbak ini, " Rengek Lina manja. Mereka menyelesaikan kegiatan nya masing-masing. Waktu sudah menunjukkan jam 12 siang waktu istirahat telah tiba. Mereka pergi menggunakan taxi online. Pada saat jam makan siang Food Court di penuhi para pengunjung dari berbagai kalangan kebanyakan para pekerja yang menghabiskan makan siang nya di food court itu. Mereka memilih tempat duduk yang di pojokan, Zira menghindari banyak nya mata yang melihat nya. Sebagian orang mengenal nya sebagai calon istri ziko. " Kamu mau makan apa? " tanya Zira. " Aku mau ayam kampung geprek mbak, " ucap lina. Zira memberikan beberapa uang kepada Lina. " Lin kamu aja yang beli ya, " ucap Zira. " Mbak kenapa, " tanya Lina. " Coba deh kamu liat mereka melihat ke arah ku semua, " ucap Zira sambil menunjukkan dengan lirikan matanya. " Ya karena mbak cantik, " ucap lina cepat. " Bukan itu tapi mereka pasti mengenal ku sebagai calon istri tuan muda, " ucap Zira menjelaskan kepada Lina. " Bisa jadi mbak, apa kita pindah aja gak usah makan di sini, " tanya Lina. " Udah gak apa - apa cepat buruan di pesan makanan nya, " ucap Zira cepat. Lina pergi meninggalkan Zira, Zira duduk sendiri sambil memainkan ponselnya beberapa menit kemudian seorang pria langsung duduk di depan Zira. Zira melihat seorang pria di depannya duduk dengan membawa nampan yang berisi makanan. Zira ingin menegur pria di depannya. Tetapi pria tersebut sudah berbicara terlebih dahulu. " Semua kursi penuh nona, aku sudah sangat lapar, " ucap si pria sambil memakan makanannya. Dari pojok ada yang memotret mereka berdua. Cekrek cekrek. " Maaf pak kursi ini punya teman saya, dia lagi memesan makanan, " ucap Zira menjelaskan. Si pria masih sibuk dengan makanan nya. " Apa saya keliatan tua atau saya seperti om om, " ucap si pria sambil menyuapkan makanan ke mulutnya. Pria yang duduk di depan Zira berperawakan tinggi besar mempunyai mata coklat wajah blesteran cakep untuk ukuran seorang blesteran. Tidak beberapa menit kemudian makanan yang di pesan Lina sudah siap. Lina berjalan menuju meja dengan membawa nampan yang berisi makanan. Dari kejauhan Lina melihat ada yang duduk di kursi nya. Tapi dia tidak bisa melihat wajah si pria hanya punggung nya saja yang terlihat. Lina meletakkan nampan di atas meja. Kemudian dia melihat ke arah pria yang masih sibuk dengan makanan nya. Lina melirik ke arah Zira mengisyaratkan bertanya sesuatu, Zira mengerti arti isyarat dari lina, dengan cepat Zira menggeleng kan kepala. " Maaf tempat duduk itu punya saya, " ucap lina ketus. " Masih ada tempat duduk di situ, " ucap si pria sambil menunjuk kan kursi yang kosong. " Hey kamu itu siapa sih enak - enak nya memerintahkan saya untuk pindah tempat duduk kenapa kamu aja yang gak pindah, " ucap lina marah. Si pria menunjukkan sebuah kursi kosong tetapi tidak dengan meja nya, karena meja nya telah di tempati oleh sepasang kekasih. Dengan otomatis Lina di perintah kan si pria untuk bergabung kesana. Sedangkan meja yang di pilih Zira mempunyai dua kursi. Lina masih berdiri di belakang Zira memperhatikan si pria. Akhirnya si pria selesai menghabiskan makanan nya. " Terimakasih atas kursi nya, " ucap si pria sambil mengulurkan tangannya. Zira tidak meyambut tangan si pria. " Baiklah kalo nona tidak mau salaman dengan saya, saya tidak akan pergi dari kursi ini, " ucap si pria seperti mengancam. " Kamu mengancam saya, " ucap Zira sewot sambil berdiri ingin meninggalkan pria tersebut. Begitu Zira berdiri tangan Zira sudah di pegang si pria dan dengan cepat si pria mencium punggung tangan Zira, sambil mengucapkan sesuatu. " Bram, " ucap si pria sambil pergi meninggalkan Zira. Zira kaget mendapat perlakuan dari pria yang tidak di kenal sama sekali hanya di sebut Bram. Lagi - lagi seseorang memotret setiap kejadian di food court itu, siapa lagi kalo bukan Sisil. Setelah si pria pergi Zira dan Lina kembali menikmati makan siang nya yang tertunda. " Mbak tadi siapa? " tanya Lina. " Gak tau lah orang gila mungkin, " ucap Zira sambil menyuapi makanan ke mulutnya. " Tapi kok dia mencium tangan mbak Zira? " tanya Lina. " Kamu kan liat tadi dia mengancam habis itu langsung aja dia nyelonong cium tangan aku, " ucap Zira sewot. " Heran deh kenapa akhir - akhir ini pria suka mencium punggung tangan ku, " ucap Zira heran. " Mungkin tangan mbak Zira wangi, " ucap lina sambil makan. " Ya udah besok - besok kalo habis ngupil aku gak usah cuci tangan, " ucap Zira cepat. " Idih mbak Zira jorok, " ucap lina. Mereka berdua tertawa kecil sambil menikmati makanannya. " like komen dan vote yang banyak ya, biar author tambah semangat update nya, yang belum like komen dan vote di tunggu ya, terimakasih. " Chapter 74 episode 74 Zira dan Lina kembali ke butik menggunakan taxi online. Setelah kepulangan Zira dari kota A dia tidak mendapati supir sekaligus bodyguardnya menurut pengakuan ziko, untuk sementara supir Zira di nonaktifkan sampai waktunya tiba. Ada rasa kasihan melihat si supir di nonaktifkan semua karena ulahnya, seandainya dia menghubungi Kevin mungkin si supir tidak di nonaktifkan. Zira sudah kembali berkutat dengan pekerjaan nya. Di Gedung Raharsya Group. Ziko sedang meeting dengan para pemegang saham. Ini adalah meeting yang tertunda. Ziko memimpin dengan piawai banyak para pemegang saham bangga akan kejeniusan dan ide - idenya yang brilian. Asisten Kevin berada di sebelah tuan nya mengikuti jalan nya meeting. Pada saat meeting semua ponsel di silent dan jika ada kepentingan yang mendesak harap keluar ruang meeting itulah pesan dari pemimpin ziko sebelum memulai meeting nya. Ziko dan Kevin meletakkan ponsel nya di atas meja. Ada sebuah cahaya lampu yang keluar dari ponsel ziko, dan bisa di pastikan itu tanda sebuah pesan masuk. Ziko tidak menghiraukan ponselnya, dia masih memimpin meeting. Setelah satu jam akhirnya meeting selesai. Ziko meninggalkan ruangan meeting di ikut asisten Kevin. Asisten Kevin memberikan ponsel ziko, ziko menyimpan ponsel nya di dalam saku. Sesampainya di ruangan Presiden direktur Ziko Seperti biasa duduk di kursi kebanggaan nya. " Apakah kamu sudah mengirim kursi seperti ini kepada si mulut micin, " tanya ziko sambil menunjuk kursi nya. " Sudah tuan, " ucap Kevin cepat. " Kenapa dia belum mengucapkan terima kasih kepada ku, " ucap ziko. " mungkin nona lagi sibuk tuan, " ucap Kevin. Ziko mengangguk sambil melipat tangannya di depan dadanya. " Bagaimana dengan bodyguard nya, " tanya ziko. " untuk bodyguard saya sudah mengganti yang baru tuan, " ucap Kevin cepat. " Kapan dia mulai bekerja, " tanya ziko. " Besok tuan, " ucap Kevin cepat. Kevin kembali ke ruangan nya, ziko membuka laptop nya melihat beberapa pekerjaannya. Ziko menutup kembali laptop nya, hari ini dia belum mendengar mulut bawel Zira. Dia mengambil ponsel nya dari dalam saku. Dari layar ponsel nya ada beberapa pesan yang masuk tapi ada satu pesan yang tidak terdaftar dalam daftar kontak ponselnya. Ziko membuka nomor tersebut. Di dalam nomor asing itu ada beberapa foto zira, foto Zira sedang duduk berdua dengan pria dan foto yang ketiga tangan Zira di cium oleh pria asing. Ziko langsung membanting ponsel nya. " Bisa - bisa nya kamu makan dengan pria asing dan bagaimana mungkin kamu bisa memberi kan tangan mu kepada pria asing, " teriak ziko marah. Ziko menjatuhkan semua yang ada di meja kerja nya. Terjadi kebisingan dari dalam ruangan ziko. Sekertaris Ziko tidak berani untuk masuk dia berlari menuju ruangan asisten kevin. Tok tok tok. " iya masuk, " ucap asisten Kevin. " Pak cepat tuan muda ziko lagi marah - marah, " ucap si sekertaris panik. Asisten Kevin langsung pergi meninggalkan ruangannya langsung menuju ketempat ziko. Begitu pintu di buka semua barang - barang hancur berantakan. Asisten Kevin mencoba menenangkan tuannya. " Tuan sebaiknya anda tenang, " ucap Kevin sambil menenangkan tuannya. Ziko masih menghancurkan barang - barang di dekat nya. Ini adalah pemandangan kedua yang di lihat Kevin, sebelum nya ziko juga pernah melakukan hal serupa ketika mengetahui Sisil bermesraan dengan pria lain. Asisten Kevin mencoba berpikir apa yang menyebabkan tuannya marah. Karena akhir - akhir ini mood tuannya bisa di kontrol tapi hari ini meledak seperti boom waktu. Kevin mencari sesuatu dari tumpukan barang - barang yang rusak, dia menemukan sebuah ponsel ziko yang sudah pecah layar kaca nya. Asisten Kevin mencoba mengaktifkan kembali ponsel ziko. Setelah ponsel ON, Kevin melihat dari layar ada beberapa pesan, Kevin memilih pesan yang sudah di baca. Satu persatu di lihat nya, dia berhenti pada satu nomor yang di dalamnya ada foto Zira dengan pria asing. Kevin menghela nafas nya. Kejadian seperti ini terulang lagi, guman Kevin dalam hati. Setelah emosi ziko mulai stabil Kevin mencoba berbicara dengan ziko. " Tuan sepertinya ada yang sengaja ingin membatalkan pernikahan tuan dan nona. zira. " ucap Kevin. Ziko hanya melihat sekilas, tidak menghiraukan ucapan Kevin. " Coba tuan perhatikan seperti nya di belakang nona Zira ada seseorang wanita yang sedang berdiri, " ucap Kevin lagi sambil menunjuk kan foto di dalam ponsel ziko. Ziko langsung berdiri dari kursi nya, dan pergi meninggalkan ruangan nya yang kacau balau. Kevin mengikuti tuan nya dari belakang. Sebelumnya Kevin menemui sekertaris Ziko. " Bersihkan ruangan tuan muda, " ucap Kevin. Sekertaris mengangguk cepat mendapat perintah dari asisten Kevin. Ziko sudah berada di dalam mobil dan Kevin berada di belakang setir mobil. Beberapa menit kemudian mobil sudah sampai di depan butik. Kevin membuka kan pintu untuk tuannya. Ziko masuk ke butik dengan langkah yang cepat, beberapa pengunjung butik melihat kedatangan ziko. " Di TV ganteng di lihat Langsung lebih ganteng lagi, " ucap para pengunjung wanita sambil tersenyum. Pesona seorang tuan muda ziko memang tidak ada duanya, dia mempunyai daya tarik sendiri, semua kaum hawa sangat memujanya. " Aku gak jadi istri nya gak apa - apa tapi jadi simpanan nya juga boleh, " ucap salah satu wanita sambil tertawa. Kevin mendengar ucapan beberapa wanita. Dia menghampiri mereka. Melihat asisten Kevin datang mendekat mereka langsung menutup mulutnya. " Mau belanja atau mau ngerumpi, " ucap Kevin tegas. Secepat kilat beberapa wanita tadi langsung bubar barisan, ada yang pura - pura pilih baju ada yang pura - pura mengecek ponsel. " like komen dan vote yang banyak ya, ayo jangan kendor semangat dong vote nya, yang belum vote di tunggu ya, terimakasih ". Chapter 75 episode 75 Hampir semua orang mengenal Keluarga Raharsya dan hampir semua orang mengenal asisten Kevin. Asisten Kevin seorang yang sangat di takuti dia bertindak sangat rapih dan cekatan. Dia selalu pasang badan apabila ada yang mengganggu Keluarga Raharsya. Dia bisa sangat lembut tapi bisa juga mematikan. Zira masih melukis sebuah gaun dia atas kertas putih. Ada suara langkah kaki berat dari anak tangga. Zira melihat ke arah pintu siapa yang menuju ruangan nya. Pintu di buka dengan cepat. Ziko sudah berdiri dengan memegang handle pintu. Kemudian Ziko membanting pintu ruangan Zira. Zira kaget mendengar pintu nya di banting. " kenapa penampilan nya kacau balau seperti ini, dan kenapa wajahnya seperti mengintimidasi aku, " guman zira pelan. Ziko masih menatap Zira dengan penuh amarah, Zira menutupi wajahnya menggunakan kertas. " Aduh kenapa lagi ini, aku jadi takut, " guman Zira pelan sambil menutup wajahnya dengan kertas. Suara langkah ziko semakin dekat dan bisa di pastikan ziko sudah berada di depan meja Zira. Ziko langsung mengambil kertas yang di pegang Zira secara kasar. Ziko masih melihat dengan tatapan yang mematikan Zira hanya melihat sekilas dia ingin menutupi wajahnya. Tidak ada yang bisa menutupi wajah nya akhirnya Zira melekatkan wajahnya di atas meja dengan kedua tangan selonjor kebawah. " Lihat aku, " teriak ziko. " Nggak, " ucap Zira samar sambil tetap meletakkan wajah nya di atas meja. " Aku hitung sampai tiga , kalo kamu ... , " Belum sempat ziko menyelesaikan ucapan nya Zira naik ke atas meja dan meletakkan wajahnya dekat dengan wajah ziko. Zira naik ke atas meja untuk mensejajarkan wajah nya dengan wajah ziko. Karena badan Zira yang kecil jika ingin menatap Ziko dia harus mengangkat kepalanya tinggi - tinggi dan itu juga belum sejajar. " Ada apa, " tanya Zira. " Apa yang kamu lakukan hari ini, " bentak ziko. " Pagi bangun tidur masak mandi kemudian ...," Zira menggantung ucapan nya. " Tuan apa semua nya harus aku sebutkan seperti BAB, " tanya Zira. " Jangan kamu sebutkan kebiasaan jorok mu pada ku, " ucap ziko tegas. Zira mengangguk mengerti. Zira mengulang kembali ucapan nya, semua yang di lakukan nya di sebut kan kepada ziko. " Makan siang sama Lina kemudian...., " belum sempat Zira menyelesaikan ucapannya. " Stop, kamu makan siang sama siapa dan dimana, " tanya ziko cepat. " Cih pertanyaannya melebihi polisi lagi interogasi, " ucap Zira cepat. Ziko menggebrak meja. Zira langsung memegang dadanya karena kaget. " Aku makan siang sama Lina di center mall, " ucap Zira cepat. " Jangan bohong, " bentak Ziko. " Nggak aku nggak bohong, " ucap Zira cepat. Ziko mengambil ponsel nya dari dalam sakunya. Melihat ponsel ziko yang pecah layarnya Zira mencoba menggoda ziko. " Tuan itu ponsel model baru ya, " ucap Zira sambil menunjuk ke arah ponsel ziko. Ziko langsung melotot mendengar ucapan Zira. Zira langsung menutup mulut bawel nya. " Ini siapa, " tanya ziko sambil menunjuk kan foto Zira. " Aku, " ucap Zira cepat. " yang ini, " ucap ziko lagi sambil menunjuk kan foto Zira kembali. Zira melihat foto nya sedang duduk dengan pria dan tangan nya di cium pria tersebut. " Loh dari mana kamu dapat foto ku tuan, jangan bilang kamu memata - mataiku, " ucap Zira cepat. " Aku yang bertanya kepada mu siapa ini, " tanya ziko cepat. " Gak tau lah tadi dia duduk di depan ku, gak pake permisi langsung duduk aja terus main comot aja tangan ku, " ucap Zira cepat. " Jangan bohong, " teriak ziko. " Siapa yang bohong memang benar kok, " ucap Zira cepat. " Dasar wanita murahan, " ucap ziko cepat. Prak Zira langsung menampar wajah ziko. " Siapa yang kamu bilang murahan siapa? " teriak Zira. Ziko memegang pipinya yang ditampar Zira, belum pernah ada yang berani menampar nya. " Ya aku memang murahan puas kamu, " bentak Zira. " kenapa kamu mau menikah dengan perempuan murahan seperti aku kenapa ha! " teriak zira lagi. Ziko diam sejenak kemudian dia melanjutkan ucapannya. " Buktikan kepadaku kalo ucapan mu benar, " teriak ziko. " Ok, " ucap Zira sambil keluar ruangan. Beberapa menit kemudian Zira balik ke dalam ruangan nya bersama dengan Lina. " Ini bukti nya, " ucap Zira. Ziko melihat ke arah Lina dan langsung mengajukan beberapa pertanyaan kepada Lina. " Apa yang kamu ketahui tentang pria ini, " tanya ziko sambil menunjuk kan foto Zira bersama pria asing. Lina melihat foto zira dari ponsel ziko. " Ini kan pria gila itu, " ucap lina cepat. " Apa maksud mu? " tanya ziko. Lina menceritakan kejadian di food Court tadi siang. " Baiklah aku percaya kepada mu, tapi sebagai hukuman nya kamu harus makan siang bersama ku setiap hari tidak ada membantah, " ucap ziko tegas. Ziko pergi meninggalkan butik. Mobil melaju dengan kecepatan sedang. " Selidiki semua yang bernama Bram dan cari tau nomor siapa ini, " perintah ziko. " Siap tuan, " ucap Kevin cepat. " Sepertinya ada yang bermain - main dengan ku, " ucap ziko. Di butik. " Mbak aku takut tadi waktu di tanyai sama tuan ziko, " ucap lina. " Kenapa harus takut kita kan berkata benar, " ucap Zira meyakinkan. " Mbak seperti nya tuan muda cemburu deh, " ucap lina. " hahahaha ya gak mungkin lah dia cemburu, " ucap Zira cepat. apa benar seorang ziko cemburu dan untuk apa dia cemburu, apakah dia cemburu karena dia ada hati dengan ku, Ya Ampun kalo dia suka beneran bagaimana nih, ha ya aku pura - pura gak ngerti aja , guman Zira dalam hati. " like komen dan vote yang banyak ya , vote nya jangan kendor harus semangat dong biar author juga semangat. Bagi readers yang belum vote di tunggu ya vote nya terimakasih. " Chapter 76 episode 76 Keesokan harinya di gedung Rahasrya group. " Apa informasi yang kamu dapat? " tanya Ziko. " Mengenai informasi yang saya dapatkan, yang bernama Bram sering berada di club'' malam. " ucap kevin menjelaskan. Ziko masih mendengarkan Kevin sambil memainkan pena di jarinya. " Dia tidak bekerja sendiri ada seseorang yang berperan dari belakang layar. " ucap Kevin lagi. Ziko yang mendengar langsung duduk dengan tegak. " Siapa? " tanya ziko. " Sisil. " ucap Kevin cepat. " Apa! Sisil. " tanya ziko dengan ekspresi kaget. Kevin mengangguk cepat. " Sisil Sisil ternyata ini permainan kamu ya, baik akan aku ladeni. " ucap ziko sambil merapatkan giginya. " Cari pria itu dan asingkan dia di tempat biasa. " ucap ziko tegas. Kevin bergerak pergi meninggalkan tuannya dan segera menghubungi kaki tangannya. Beberapa saat kemudian Kevin kembali ke ruangan ziko. " Bagaimana? " tanya ziko. " Sudah Tuan, mereka akan bergerak nanti malam di club. " Ucap Kevin menjelaskan. Ziko manggut-manggut masih tetap duduk di kursi. " Tuan saya ingin menyampaikan sesuatu. " ucap Kevin. " Apa? " tanya ziko cepat. " Besok adalah ulang tahun nona Zira. " Ucap Kevin cepat. Ziko yang tadi nya duduk di kursi langsung berdiri mendekati Kevin. Dia selalu tertarik jika ada hubungannya dengan Zira. " Baiklah buat dinner romantis. " ucap ziko sambil tersenyum tipis. " Tuan sepertinya nona Zira tidak suka dengan hal - hal seperti itu. " ucap Kevin. " Apa maksudmu? " tanya ziko. " Nona Zira lebih suka melakukan kegiatan sosial. " Ucapan Kevin. " Baiklah kamu urus semua nya dan pastikan dia jangan tau, aku ingin menebus kesalahanku padanya. " Ucap ziko. Kevin langsung pergi meninggalkan ziko dan mempersiapkan ulang tahun Zira dengan orang - orang terpercaya. " Zira Zira kamu memang wanita yang berbeda. " Guman Ziko. Di butik. Suara ponsel Zira berdering ada sebuah nomor asing tertera di layar ponselnya. Zira enggan mengangkat ponselnya tapi nomor tersebut terus menghubungi Zira. Dengan malas Zira mengangkat ponselnya. " Ya halo. " Ucap Zira malas. " Zira apa kabar. " Ada suara perempuan dari ujung sana. " Alhamdulillah baik. " Ucap Zira masih bingung. " Ini siapa? " tanya Zira cepat. " Ini aku Sisil. " Mau apa si uget - uget sok akrab, gerutu Zira dalam hati. " Ya ada apa? " tanya Zira masih dengan nada malas. " Aku senang karena kamu akan menikah dengan ziko dan aku ingin mengucapkan selamat atas pertunangan kalian. " Ucap Sisil. " Eh tunggu nona bukan nya waktu di pesta kamu itu sewot dengan aku, kenapa tiba - tiba kamu sok baik begini. " Ucap Zira cepat. Lama Sisil tidak menjawab ucapan Zira. " Ya waktu di pesta aku memang marah dengan kamu tapi aku sudah mengerti bahwa segala sesuatu tidak boleh di paksakan. " ucap Sisil. Zira hanya mendengar tidak berkomentar sama sekali. " Sebagai penebus kesalahan ku aku ingin mengajak mu makan siang, apakah bisa? tanya Sisil. " Oh maaf nona Sisil aku tidak bisa aku ada makan siang dengan Ziko siang ini. " Ucap Zira cepat. Sisil tidak putus semangat dia harus mengajak Zira Keluar dari butik. " Bagaimana kalo kita duduk - duduk santai di cafe setengah jam lagi. " Ajak Sisil. " Nggak aku banyak kerjaan. " Ucap Zira cepat. Sisil mencoba merayu Zira dengan segala cara. " Ayolah kamu kan mau menikah dengan ziko, kamu kan belum tau banyak mengenai dia seperti makanan kesukaan nya dan keseharian nya yang belum kamu ketahui. Bagaimana? " Tanya Sisil. Zira masih berpikir dan mencerna semua ucapan Sisil. Aku memang akan menikah dengan si ubi kayu tapi ada benar nya juga kalo aku mengetahui sedikit tentang nya. Guman Zira dalam hati. " Baiklah aku akan datang setengah jam lagi. " Ucap Zira. " Ok di Cafe Santuy ya. " Ucap Sisil. Tut Tut Tut panggilan pun terputus. Zira bersiap - siap untuk pergi menemui Sisil. " Lina mbak mau keluar dulu. " Ucap Zira. " Baik mbak hati - hati. " ucap lina. Zira keluar dari butik sambil mengambil ponsel nya dari dalam tas. Ada seseorang yang datang mendekati nya. " Nona Zira mau kemana? " tanya si pria. " Maaf bapak siapa? " tanya Zira. " Saya supir nona yang baru. " ucap si pria. Zira hanya melihat dan memperhatikan si pria. " Tunggu. " ucap Zira. Zira memencet ponsel nya mencari daftar kontak nya yang bernama ubi kayu gosong tetapi tidak di temui nya. Lama dia mencari - cari tapi tidak ketemu. " Seingat ku nomor nya telah aku masukkan ke daftar kontak ku, dan aku memberikan nama nya ubi kayu gosong tapi kenapa tidak ada. " guman Zira pelan. Si supir masih berdiri tidak jauh dari Zira. Zira masih melihat daftar kontak nya dia memulai dari abjad A dan dia berhenti pada daftar C yaitu dengan nama Calon suamiku. Zira langsung mengertukan dahinya. " Aku tidak pernah membuat daftar kontak dengan nama calon suamiku. " Guman Zira. " Like komen dan vote yang banyak ya, bagi yang belum Vote ayo buruan vote terimakasih. " Chapter 77 episode 77 Ziko masih sibuk dengan beberapa berkas yang di antar sekertarisnya. Ponselnya berbunyi ada panggilan masuk. Ziko melihat sebuah nama calon istriku. " Silahkan kamu keluar." Ucap Ziko Kepada sekertarisnya yang berdiri di depan meja. Sekertaris langsung pergi keluar. Ziko menjawab panggilan tersebut. Belum sempat Ziko mengeluarkan sepatah kata Zira sudah teriak duluan. " Tuaaaan." Teriak Zira. Ziko langsung menjauhkan ponselnya beberapa detik kemudian mendekatkan kembali ponselnya ke telinganya. " Ada apa kenapa teriak." Ucap Ziko santai. " Siapa yang mengganti daftar kontak di ponselku?" Ucap Zira emosi. Ziko belum mengerti arah pembicaraan Zira. " Maksudmu apa? " Ucap Ziko balik. " Aku menambahkan nomor ponselmu ke daftar kontakku dan aku memberi namamu ubi kayu gosong kenapa kamu menggantinya menjadi calon suamiku." Ucap Zira sedikit teriak. " Owh itu, ini jawabannya yang pertama kamu memang calon istriku yang kedua kenapa kamu memberiku sebuah nama ubi kayu gosong, memangnya kamu pernah liat ubi kayuku." Ucap ziko cepat. Zira diam beberapa saat karena semua yang di ucapkan Ziko memang benar. " Aku memang calon istrinya." " Hey mulut micin kenapa kamu menghubungiku." Ucap Ziko cepat. " Apa kamu ada menyuruh supir untuk mengantarku." Ucap Zira cepat. " Ya supir itu aku yang suruh, apa dia ada berbuat kesalahan? " tanya ziko cepat. " Gak dia gak ada berbuat kesalahan tapi kamu yang berbuat kesalahan." Ucap Zira cepat sambil mematikan panggilannya. Zira berjalan menuju mobil yang telah parkir. Supir tersebut membukakan pintu untuk Zira. Zira duduk di belakangnya. " Pak antar saya ke cafe Santuy. " Ucap Zira cepat. " Baik nona." Ucap Pak supir. Pak supir mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang. Pada saat traffic light berwarna merah dia memberhentikan mobilnya. Dia mempunyai kesempatan untuk mengirimkan pesan kepada asisten Kevin. Dia tidak mau melakukan kesalahan seperti supir terdahulu. Mobil sudah sampai di depan Cafe Santuy. Zira turun dari mobil setelah di bukakan pintu oleh Pak supir. " Terimakasih Pak." Ucap Zira. " Sama - sama nona." Balas Pak supir. Zira melangkahkan kakinya kemudian dia berbalik ke belakang karena Pak supir tadi mengikutinya. " Bapak kenapa mengikuti saya? " Ucap Zira. " Maaf nona saya hanya mengikuti perintah saja." Ucap Pak supir. Sebelumnya Pak supir mengirim pesan kepada asisten Kevin yang mengatakan nona Zira menuju Cafe Santuy. Balasan dari asisten Kevin. Tetap selalu pantau dari jarak kurang dari 10 meter. " Baiklah Pak." Ucap Zira. Zira mengerti karena ulahnya supir terdahulu dinonaktifkan dan dia tidak mau hal ini terulang lagi. Zira melihat sekeliling cafe dan dia mendapatkan Sisil yang tengah duduk sambil menikmati minuman dinginnya. " Halo Zira." Sapa Sisil. Zira hanya mengangguk dan duduk di depan Sisil. " Kamu mau minum apa? " Ucap Sisil basa-basi. " Nggak usah langsung aja. " Ucap Zira cepat. Sisil menahan emosinya melihat sikap Zira yang dingin. " Aku ingin merayakan. " Ucap Sisil sambil tertawa tawa. Semua orang melihat kearah mereka karena ulah Sisil. Sisil berdiri dan mengetuk gelas minumannya dengan sendok. Ting Ting Ting. " Perhatian - perhatian ini adalah Zira, dia adalah pemilik dari Zira Boutique." Ucap Sisil. Semua orang melihat mereka dan ada yang mengabadikannya melalui aplikasi uuutube. Zira masih melihat tingkah Sisil. " Asalkan kalian tau dia adalah pelakor. " Ucap Sisil. Pengunjung di cafe riuh rame. Zira mengepalkan tangannya. Sisil menyiram pakaian Zira dengan minuman dinginnya. " Dan ini hukuman untuk pelakor." Ucap Sisil sambil menyiram minuman ke pakaian Zira. Zira spontan langsung berdiri, Pak supir sudah mendekat ingin melakukan sesuatu tapi ada isyarat dari Zira untuk menahannya. Para pengunjung riuh bertepuk tangan. Sisil ingin melakukan hal gila lainnya tapi tangannya sudah dipegang sama Zira. Zira memelintir tangan Sisil ke belakang dan membenamkan wajah Sisil di atas meja. Sisil tidak bisa bergerak sama sekali. " Perhatian para pengunjung sekalian saya bernama Zira dan saya bukan pelakor. " Saya adalah calon istri dari tuan muda Ziko Raharsya dan perempuan gila ini adalah mantan dari Tuan muda Ziko Raharsya, asal kalian tau mengapa dia menjadi mantan dari seorang Ziko karena kesalahan yang di buatnya, apa kalian mau tau kesalahan apa itu. " Teriak Zira. Para pengunjung bertepuk tangan riuh sambil mengucapkan mau mau mau apa itu. " Kesalahannya adalah karena dia telah bermesraan dengan pria lain seminggu sebelum hari pernikahan, jadi siapa sebenarnya yang pelakor? " Ucap Zira lagi. Para pengunjung tepuk tangan ada yang menyebut hajar hajar hajar. " Dan hari ini dia ingin membatalkan pernikahanku. " Ucap Zira. Zira mengambil minuman yang ada di meja dan menyiram ke wajah Sisil. " Ini adalah hukum bagi seorang pelakor dan ini adalah hukuman kamu telah menyakiti hati Ziko." Ucap Zira sambil menyiramkan minuman dan meletakkan makanan ke rambut Sisil. Zira hendak pergi keluar cafe dan dia menghentikan langkahnya. " Untuk segala kerusakan akan di ganti oleh calon suamiku. " Ucap Zira tegas. Zira berjalan meninggalkan butik para pengunjung bertepuk tangan kagum melihat gaya Zira menghajar pelakor. " Like komen dan vote yang banyak ya, yang belum vote di tunggu ya. Terimakasih " Chapter 78 episode 78 Zira pergi meninggalkan cafe para pengunjung bertepuk tangan kagum melihat gaya Zira menghajar pelakor. Sisil merasa malu dia di perolok - olok pengunjung. " Makan tuh pelakor dasar pelakor sukanya sama milik orang. " Ucap salah satu pengunjung. Penampilan nya sebelum dan sesudah sangat jauh berbeda. Sisil menutupi wajah nya dengan tas. Dia berlari menuju mobil. Sesampai di mobil Sisil teriak dan sesekali memukul setir mobil. " Ziraaaa kamu telah mempermalukan ku, awas kamu zira. " Teriak Sisil. Sisil mengemudi mobilnya menuju jalanan. Mobil yang di tumpangi Zira sudah menembus jalanan ibu kota. Zira masih mengenakan pakaian yang kotar. " Kita mau kemana nona? " Tanya si supir. " Kita mampir ke apartemen saya sebentar ya pak, setelah itu ke gedung Rahasrya group. " Ucap Zira. Si supir langsung melajukan mobil nya. Dalam beberapa menit mereka telah sampai di apartemen Zira. Zira berlari kecil menuju lift. Zira membersihkan tubuh nya yang lengket karena minuman yang di tumpahkan Sisil. Di Mansion. Zelin sedang memainkan ponselnya tiba - tiba ada satu pesan dari teman nya. Pesan tersebut berisi. " Elin lihat tuh calon kakak ipar Viral lagi " Zelin langsung melihat Video yang di kirim temannya. Begitu melihat video Zelin Langsung berlari menuju sang mama. Zelin mencari kesana kemari tetapi tidak menemui sang mama. " Pak lihat mama gak? " Tanya Zelin kepada kepala pelayan. " Nyonya dan tuan ada di taman. " ucap pak Budi. Zelin langsung lari secepat nya untuk mencari kedua orang tuanya. " Di sini rupanya mama dan papa. " Ucap Zelin dengan nafas ngos-ngosan. Nyonya Amel dan Tuan besar memperhatikan anak bungsunya dengan heran. " Kamu baru selesai ngapain sampai kamu ngos-ngosan begitu. " Ucap Nyonya Amel. Zelin tidak menjawab dia hanya memberikan ponselnya kepada mamanya. Nyonya Amel menerima ponsel Zira dengan bingung. " Kenapa dengan ponsel kamu, apa rusak? " Tanya Nyonya Amel. Zelin masih mengatur nafasnya untuk bisa berbicara lagi. Setelah pernafasannya sudah kembali normal dia melanjutkan ucapannya. " Ma pa coba lihat nih di uuutube. " ucap Zelin sambil menunjukkan sebuah aplikasi. Zelin memencet aplikasi uuutube kemudian memutar video yang di dalamnya ada Zira. Nyonya Amel dan Tuan besar melihat Video tersebut dengan tercengang. " Nah mama lihat kan calon kakak iparku hebat dia bisa mempermalukan seorang Sisil dan dia membalaskan sakit hati kakak. " Ucap Zelin kagum. Nyonya Amel mengangguk. " Tapi dari mana Zira tau mengenai hubungan Ziko dan Sisil? " Tanya Nyonya Amel. " Hehe dari aku ma. " Ucap Zelin gugup. " Mengapa kamu memberitahukan masalah ini tanpa sepengetahuan mama. " Tanya Nyonya Amel. " Ayolah ma, daripada kak Zira dengar dari orang lain mendingan aku yang memberitahunya. " Ucap Zelin cepat. " Itu benar ma, memang seharusnya kita memberitahukan masalah ini kepada Zira, dan sekarang terbukti Zira bisa mengatasi Sisil dengan mudah. " Ya mama hanya khawatir nanti Zira berpikir yang aneh-aneh tentang kita karena kita telah mengundang Sisil di pesta kita kemaren. " Ucap Nyonya Amel menjelaskan. Di Gedung Raharsya Group. Semua karyawan masih sibuk dengan pekerjaannya di departemen masing-masing. Asisten Kevin berada di ruangannya mengerjakan beberapa pekerjaan. Dia mengingat sesuatu tentang Zira yang berkunjung ke cafe Santuy. Asisten Kevin mengirim pesan " Kamu dimana? Beberapa menit tidak di balas oleh si supir. Kevin mencoba menghubungi si supir. Beberapa detik kemudian panggilan terhubung. " Kamu dimana? " Tanya Kevin ke supir. " Saya mengantar nona Zira ke apartemen pak. " Ucap supir. " Bukannya tadi kamu bilang nona Zira mau ke cafe Santuy? " Tanya Kevin. " Iya pak tadi sudah kesana tapi karena baju nona Zira kotor jadi nona Zira minta di antarkan kembali ke apartemen. " Ucap si supir menjelaskan. " Kenapa baju nona Zira bisa kotor? " Tanya Kevin lagi. " Tadi ada seseorang dengan sengaja menjatuhkan minuman nya ke baju nona. Zira. " ucap si supir. " Apa! " Teriak Kevin. " Dan apa yang kamu lakukan kepada orang itu. " Tanya Kevin lagi. " Saya ingin memberi pelajaran kepada wanita itu pak, tapi nona Zira melarang saya. " Ucap si supir. " Bagaimana bisa kamu melihat majikanmu di permalukan di sana. " Teriak Kevin marah. " Nggak tuan malah nona Zira yang mempermalukan balik wanita itu. " Ucap si supir. " Apa maksudmu? " tanya Kevin. " Saya kalo menjelaskan takut salah pak coba bapak buka di uuutube tadi ada yang merekam kejadian di cafe Santuy. " Ucap si supir. Kevin langsung mematikan panggilannya dan memilih aplikasi yang di bilang si supir. Kevin terkejut saat melihat video yang berisi tentang Zira. Ada caption yang menyebutkan pada video, Seorang pelakor di hajar calon istri tuan muda. Ada Caption lagi yang menyebutkan Calon istri tuan muda pasukan Avengers. Kevin menggeleng - gelengkan kepalanya tersenyum melihat caption yang lucu-lucu. " like komen dan vote yang banyak ya, bagi yang belum vote ayo buruan, terimakasih " Chapter 79 episode 79 Kevin menuju ruangan ziko. Dia mengetuk pintu ruangan setelah ada instruksi dari dalam Kevin langsung masuk. Ziko masih memperhatikan laptop nya hanya sekilas melirik ke arah Kevin. " Ada info apa? " tanya ziko. " Tuan sepertinya nona Zira tidak membutuhkan seseorang bodyguard. " Ucap Kevin. " Apa maksudmu. " Tanya Ziko bingung dengan ucapan Kevin. Kevin tidak menjawab tapi dia memberikan ponselnya kepada Ziko. Kevin meletakkan ponselnya di atas meja. Ziko mengambil ponsel tersebut. Dia memutar video yang di dalamnya ada Zira yang menghajar seorang Sisil. Ziko tersenyum lebar melihat video itu. " Bagaimana dia bisa sekeren ini. " Ucap Ziko memuji Zira. Kevin hanya tersenyum mendengar pujian yang di berikan ziko kepada calon istrinya. " Sekarang dia dimana? " Tanya ziko. " Nona sedang berada di apartemen untuk mengganti baju nya yang kotor. " Ucap Kevin. Ziko langsung menghubungi nomor Zira. Panggilan masuk dan Zira belum menjawab. Dua kali ziko menghubungi Zira dan belum juga menjawab. " Dia kemana sih. " Ucap ziko sedikit panik. " Tuan apakah tuan khawatir dengan keadaan nona Zira? " Tanya Kevin. " Pastilah aku khawatir dia kan calon istriku. " Ucap ziko cepat. Kevin hanya tersenyum dan mengerti arti dari ucapan tuannya. Ziko mencoba menghubungi Zira yang ketiga kali nya beberapa detik kemudian panggilan terhubung. " Kamu dimana? " Teriak Ziko. Zira menjauhkan ponselnya, kemudian mendekatkan kembali ponselnya ke telinga. " Kenapa kangen ya? " Tanya Zira spontan. Ziko yang mendengar pertanyaan Zira bingung harus menjawab apa. " Cepat kamu datang ke kantor. " perintah Ziko untuk mengalihkan pembicaraan. " Ya aku dah mau jalan tapi tiba - tiba ada yang mendadak kangen. " Goda Zira sama Ziko. " Siapa yang kangen. " Ucap Ziko tegas. " Owh Tuan gak kangen ya? ok lah kalo begitu aku gak jadi datang. " ucap Zira sambil mengakhiri panggilan. Tut tut tut suara panggilan berakhir. " Bisa - bisanya dia membantahku. " gerutu Ziko. Kevin hanya tersenyum tipis tidak berani memberi komentar jika tidak dibutuhkan. " Hubungi supir si mulut micin dan antar ke sini sekarang! bila perlu paksa dia. " Ucap Ziko. " Maaf tuan jika memaksa nona datang kesini nanti kesannya nona ke tuan tidak baik. " Ucap Kevin menjelaskan. Ziko diam dan mencerna kembali ucapan Kevin. " Jadi bagaimana aku menyuruhnya untuk datang ke sini. " Ucap Ziko. " Sebaiknya tuan mengikuti saja permainan nona Zira demi kebaikan bersama. " Ucap Kevin. Ziko paham dan mulai memikirkan sesuatu. " Maaf tuan saya mau bertanya mengenai nona Sisil, apa yang saya harus menyingkirkannya? " Tanya Kevin. " Kamu tidak perlu melakukan apapun untuk Sisil dia sudah mendapatkan pelajarannya sendiri dan untuk pelajaran selanjutnya dia akan mendapatkan dari orang suruhannya. " Ucap Ziko menjelaskan. Kevin pamit pergi meninggalkan Tuan muda ziko. Ziko mulai memikirkan cara agar Zira mau datang ke kantornya. Ziko menghubungi nomor ponsel Zira. " Ya halo. " Ucap Zira manja. " Kamu jadi kesini tidak? " Tanya Ziko. " Nggaklah. " Ucap Zira cepat. " Baiklah aku mau kamu kesini karena aku aku aku. " ucapan ziko menggantung. " Aku apa? " Tanya Zira lagi. " Aku kangen." Ucap Ziko sambil langsung menutup panggilannya. Tut tut tut suara panggilan terputus. Zira yang mendengar ucapan ziko jantung nya langsung deg deg ser. " Ah tidak dia hanya bercanda gak mungkin dia kangen sama aku, sifat nya juga kekanak-kanakan begitu bilang kangen langsung ponsel di tutup, terus kalo dia mengatakan cinta kepadaku apa dia langsung bunuh diri. " Guman Zira pelan. Zira masih juga memikirkan ucapan Ziko. " Kalo memang dia beneran kangen aku harus bagaimana, apa aku harus sujud syukur atau aku harus bernyanyi ntah apa yang merasuki mu. " Gerutu Zira. Dengan penuh bimbang dia pergi meninggalkan apartemen menuju gedung Rahasrya group. Sesampainya di gedung para karyawan tersenyum sambil menundukkan kepalanya. " Nona Zira silahkan langsung menuju ke ruangan, Tuan muda sudah menunggu. " Ucap salah satu resepsionis sopan. Zira berdiri di depan pintu lift Karyawan. Ada beberapa karyawan yang sedang berdiri di depan lift. Mereka tersenyum ramah kepada Zira. " Maaf nona sebaiknya nona menggunakan lift khusus presiden direktur. " ucap salah satu karyawan. " Terimakasih saya menggunakan lift Khusus karyawan saja. " Ucap Zira. Para karyawan dan Zira memasuki lift khusus karyawan. Mereka memencet tombol sesuai lantai yang mereka tuju. Pintu lift terbuka sesuai dengan lantai yang di tuju. Karena ruangan ziko berada pada lantai paling atas jadi Zira yang terakhir keluar dari lift. Ting pintu lift terbuka. Zira melangkahkan kakinya keluar dari lift ternyata ziko dan kevin sedang berdiri didepan lift khusus presiden direktur. Ziko dan Kevin melihat Zira keluar dari lift khusus karyawan. Ziko yang hendak naik lift membatalkan niatnya karena zira sudah datang. Ziko langsung menggandeng tangan Zira. Semua karyawan tersenyum melihat kemesraan yang mereka tonton kan. Mereka masuk ke dalam ruangan. " Kenapa kamu menggunakan lift khusus karyawan. " Tanya ziko. " Aduh tuan udah deh jangan bertanya kenapa dan kenapa yang penting sekarang aku sudah sampai. " Ucap Zira cepat. " Ok baiklah. " Ucap ziko sambil menggandeng tangan Zira. Zira menahan tangannya. " Kita mau kemana? " Tanya Zira. " Mau makan. " Ucap ziko cepat. " Tuan kita makan di sini saja ya, aku pusing dari tadi naik mobil mana macet lagi. " Gerutu Zira sambil memijat kepalanya. " Like komen dan vote yang banyak ya, bagi yang belum Vote di tunggu ya, terimakasih. " Chapter 80 episode 80 Ziko langsung memerintahkan Kevin untuk membelikan makan siang. Zira masih merebahkan kepalanya di sandaran sofa. " Kamu sakit? " Ucap Ziko khawatir. " Nggak hanya pusing sedikit." Ucap Zira pelan. " Itu namanya sakit." Ucap Ziko panik. Ziko langsung mengambil ponselnya dari dalam saku. Zira langsung merebut ponsel Ziko dengan cepat. " Eh tunggu tuan, kamu mau ngapain?" Ucap Zira penasaran. " Kembalikan ponselku, aku mau menghubungi dokter Diki." Ucap Ziko cepat. " Hahaha gak usah tuan aku sehat kok. " ucap Zira cepat. cih jangan buat malu deh sakit dikit dokter sakit dikit dokter apa kalo sakit panu juga harus ke dokter. Gerutu Zira dalam hati. Ziko membatalkan niatnya menghubungi dokter Diki. Dia memeluk bahu Zira. " Eh Tuan tangannya. " Ucap Zira sambil meletakkan tangan Ziko ke bawah. Ziko meletakkan kembali tangannya di bahu Zira. Percuma juga kalo aku letakkan tangannya kebawah pasti akan di buat dan di buat lagi, heran deh liat orang satu ini selalu aja bikin kesel. Gerutu Zira dalam hati. " Ceritakan padaku bagaimana bisa kamu menghajar Sisil dengan mudah." Ucap Ziko penasaran. " Eh Tuan jangan bilang kalo kamu dapat informasi ini dari Pak supir." Ucap Zira seperti interogasi. Ziko menunjukkan Video Zira menghajar Sisil. " Wah aku keren sekali disini, aku seperti wonder woman." Ucap Zira cepat sambil cekikikan. " Kamu tau Tuan aku itu pernah tinggal di jalanan hal - hal seperti tadi sering aku dapatkan." Ucap Zira santai. Ziko yang mendengar langsung memeluk Zira dengan hangat. Awalnya Zira berusaha untuk melepaskan pelukan Ziko. Tapi lama kelamaan pelukan Ziko menghangatkan. Ziko menatap Zira dengan tatapan lembut. Mata mereka saling beradu Zira berusaha untuk menghindari tatapan Ziko. Ziko memegang dagu Zira agar Zira tidak memalingkan wajahnya. Lama mereka saling pandang. Tanpa sadar bibir Ziko sudah menyentuh bibir Zira. Tidak berapa lama pintu ruangan di ketuk. Mereka langsung melepaskan satu sama lain. Zira gugup pipinya merah merona begitu pun dengan Ziko. Ziko gugup segugupnya. Mereka berdua saling salah tingkah. Zira mengalihkan pandangannya ke arah lain sama halnya dengan Ziko. " Masuk." Ucap Ziko untuk menutupi kegugupannya. Kevin masuk ke dalam ruangan dengan membawa beberapa bungkus makanan. " Silahkan Tuan dan Nona. " Ucap Kevin. Ziko dan Zira duduk saling membelakangi. Kevin merasa heran dengan tingkah dua orang di depannya. Lama Kevin melihat mereka. " Apakah Tuan dan Nona lagi bertengkar?" Kevin penasaran. " Nggak. " Ucap Ziko dan Zira serentak. " Apakah telah terjadi sesuatu dengan kalian. " Ucap Kevin lagi. " Nggak. " Ucap Ziko dan Zira serentak. Kevin tepuk tangan melihat kekompakan dua orang di depannya. " Hey kenapa kamu mengikuti ucapanku. " Tanya Zira sewot. " Siapa yang mengikuti kamu. " Ucap ziko cepat. Ziko dan Zira memang sama - sama keras gak ada yang mau mengalah. " Sudah Tuan dan Nona Zira apapun yang kalian lakukan tadi di sini saya gak taun kok. " Ucap Kevin seperti mengerti yang sedang terjadi. Ziko dan Zira menatap Kevin dengan tatapan mengintimidasi. Kevin langsung mengalihkan pembicaraan agar terhindar dari tatapan yang menakutkan. Kevin mengambil satu piring dan meletakkannya di meja. Zira yang melihat piring hanya satu mulai sewot. " Kenapa piringnya satu? " Tanya Zira. " Maaf Nona bukannya Nona harus makan dalam satu piring berdua. " Ucap Kevin menjelaskan. Zira masih diam dan mematung mendengar ucapan Kevin. Aduh kenapa denganku, kenapa aku bisa seperti ini, sekarang masih makan satu piring berdua lagi, aku aja gak berani melihat matanya, aku malu. Gerutu Zira dalam hati. Zira mengambil makanan dan meletakkannya di dalam piring, seperti biasa dia menyuapi Ziko seperti bayi. Ziko memperhatikan tindakan Zira. " Kenapa kamu gak makan? " Tanya Ziko. " Eh selesai menyuapi Tuan baru aku makan. " Ucap Zira gugup. " Siapa yang memberi perintah seperti itu. " Ucap ziko cepat. Cih ini orang memang gak ada malunya, apa dia gak ingat yang barusan terjadi. Gerutu Zira dalam hati. Akhirnya Zira ikut makan, dia menyuapi Ziko setelah itu dirinya seperti itu seterusnya sampai makanan di piring habis. " Tuan aku besok tidak bisa makan siang bersamamu. " Ucap Zira pelan. " Baiklah tidak apa - apa kalo besok kamu tidak bisa aku tidak akan memaksa. " Ucap Ziko. " Kamu gak marah. " Tanya Zira. Ziko menggelengkan kepalanya. " Kamu gak tanya kenapa gitu. " Tanya Zira lagi. Ziko menggelengkan kepalanya lagi. Cih bisa - bisa nya dia gak bertanya aku mau kemana dan ada apa, ini manusia kok gak peka amat sih, si amat aja peka. Gerutu Zira dalam hati. Setelah makan siang selesai Zira pamit kepada Ziko. Dia pergi meninggalkan gedung Raharsya group dengan perasaan campur aduk, ada perasaan malu, senang dan bingung. " Like komen dan vote yang banyak ya, bagi yang belum vote author tunggu ya, terimakasih. " Chapter 81 episode 81 Seperti biasanya setiap malam Bram selalu menghabiskan waktu nya di Club malam. Suara musik hingar bingar. Seorang DJ seksi sedang memainkan musiknya. Musik yang membuat semua orang ingin selalu bergoyang. Seperti malam - malam biasanya Bram mencari mangsa. Mangsanya para wanita - wanita yang kesepian dan frustasi. Dia melebarkan pandangan kesetiap sudut club. Dia mendapati seorang wanita sedang duduk di depan Bartender. Dia melangkah kakinya menuju bartender. Tapi tiba - tiba dia menabrak seorang pria dengan perawakan besar dan tinggi. " Sory. " Ucap Bram. Dia hendak melangkahkan kaki nya meninggalkan pria tersebut. Tapi bahunya di pegang sang pria. " Come on. " Ucap Bram. Si pria langsung memegang kerah baju Bram. Di menyeret Bram dengan satu tangan. Semua pengunjung club hanya melihat tidak menghiraukan karena kejadian seperti itu merupakan hal yang biasa mereka sering melihatnya dalam club. Bram berusaha meronta. " Ayolah aku sudah minta maaf. " Ucap Bram sambil tetap berusaha lepas dari genggaman si pria besar. Pria besar tersebut membawa Bram menuju mobilnya. Bram berusaha untuk lepas tapi tidak bisa di dekat mobil sudah berdiri beberapa orang yang sama - sama menyeramkan. Tangan dan kaki Bram di ikat, mulut dan mata di tutup. Tubuhnya di lempar ke dalam bagasi mobil. Mobil melaju meninggalkan club menuju rumah tua di tengah hutan. Rumah tua di tengah hutan adalah tempat berkumpulnya orang - orang kepercayaan Raharsya. Dan rumah tua ini juga di jadikan tempat untuk menyiksa para penjahat yang berusaha menghancurkan Keluarga Raharsya. Seorang Koruptor di dalam Raharsya group akan di beri dua pilihan. Pilihan yang pertama menyerah kan diri ke kantor polisi, pilihan yang kedua lari sejauh - jauhnya dan jika tempat persembunyian di ketahui oleh orang - orang kepercayaan Keluarga Raharsya maka hukumpun akan berlaku. Mungkin terlihat kejam tapi itu lah hidup tidak bisa menolak takdir tapi masih bisa memperbaiki menjadi lebih baik. Bram di letakkan di ruangan yang kosong, tangan dan kakinya di ikat ke kursi. Mata dan mulutnya masih tertutup. Dia di tinggalkan di ruangan yang gelap dan dingin. Keesokan harinya di mansion. Pak Budi beserta pelayan lainnya menghidangkan makanan di meja makan. Beberapa menit kemudian semua keluarga turun dan sudah berkumpul di meja makan begitupun dengan Ziko. Biasanya Ziko selalu datang terakhir tapi hari ini dia yang pertama di meja makan. Mereka menikmati sarapan dengan berbagai menu. Semua diam menikmati sarapan nya tidak ada yang berbicara hanya terdengar suara garpu dan sendok seperti sedang berkelahi. Sarapan telah selesai pak Budi merapikan meja makan. " Kamu tidak kekantor hari ini? " Tanya Nyonya Amel. " Nggak ma, aku hari ini ada urusan di luar. " Ucap Ziko. " Kak Zira keren ya, aku suka dengan gaya kak Zira. " Ucap Zelin sambil meletakkan kedua tangannya di atas dagu. " Kenapa kamu tiba - tiba bilang dia keren? " Tanya ziko heran. " Yah kakak jangan bilang kalo kakak belum liat video viral kak Zira. " Ucap Zelin cepat. " Ya kakak dah lihat. " Ucap Ziko santai. " Gimana pendapat kakak? " Tanya Zelin. " Ya lumayan. " Ucap Ziko santai. " Ya lumayan lumayan lumannyun kali. " Gerutu Zelin. " Sudah sudah, Iko seminggu lagi pernikahan kalian, mama harap kamu bisa memperlakukan nya dengan baik. " Ucap Nyonya Amel. " Jangan pernah kamu membuat nya menangis, kalo sampai kamu membuat dia menangis, Awas kamu. " Ancam Tuan Besar. Ziko kaget mendengar ancaman dari papanya. Tuan besar tidak pernah memperlakukan Sisil dengan khusus tapi seorang Zira mempunyai tempat khusus di hati kedua orang tuanya. Ziko pamit kepada kedua orang tuanya. Asisten Kevin sudah menunggu di luar. Mereka pergi meninggalkan mansion menuju suatu tempat. " Bagaimana persiapan acara nya. " Tanya ziko. " Sudah 100 persen tuan. " Ucap Kevin. Mobil melaju dalam beberapa menit sudah tiba di tempat tujuan. Zira menghubungi salah satu restoran ternama. " Halo saya Zira dua hari yang lalu saya ada order beberapa makanan di restoran anda, apakah sudah siap? " Tanya Zira. " Untuk nona zira, ada dua alamat pengantaran ya, satu di Zira Boutique dan yang kedua panti asuhan amal bakti. " Ucap seseorang dari ujung telepon menjelaskan. " Ya betul. " Ucap Zira membenarkan. " Untuk pesanan nona sudah dalam perjalanan sesuai alamat yang di tuju. " " Baiklah terimakasih. " Ucap Zira. Zira bernafas lega pesanannya telah selesai. " Lina, nanti kalo ada makanan datang dari restoran Xxxx kamu terima ya, dan bagikan sama semua karyawan. " Ucap Zira memberikan perintah. " Memangnya ada acara apa mbak? " Tanya Lina. " Gak ada acara - acaraan hanya syukuran aja. " Ucap Zira cepat. Zira pergi meninggalkan butik menuju panti asuhan amal bakti. Zira turun dari mobil dan memasuki pekarangan panti. Dia memperhatikan sekeliling panti tidak seperti biasanya. Karena zira sudah hafal dan paham tentang kegiatan anak - anak panti. Zira melangkah kan kakinya menuju ruangan ibu panti. Zira mengetuk pintu lama tidak terdengar dan Zira mencoba membuka pintu tetapi pintu ruangan ibu panti di kunci. " Kemana semua anak panti, aku kan sudah menghubungi ibu panti sebelumnya. " Guman Zira pelan. " Lebih baik aku berkeliling panti. " guman Zira lagi. Zira mengelilinginya panti dari kamar ke kamar tapi Zira tidak menemukan satu pun anak panti atau petugas panti di sana. Zira tidak putus asa hanya satu ruangan yang belum di lihat Zira yaitu aula. Zira berjalan menuju aula semua jendela tertutup begitupun dengan pintu juga tertutup. Zira ragu untuk membukanya dia balik badan hendak pergi meninggalkan aula. Tetapi tiba - tiba ada suara doar suara balon pecah. Zira langsung kembali dan membuka pintu. Begitu pintu di buka anak - anak panti menyayikan lagu selamat ulang tahun untuk Zira. Zira merasa senang mendapatkan kejutan yang istimewa ini. Zira melihat sekeliling aula di belakang dia melihat seorang sosok yang dia kenal yaitu Ziko putra Raharsya. Ziko jalan kedepan menghampiri Zira. " Apa kejutan ini semua dari kamu? " Tanya Zira. " Iya kejutan ini dari aku. " Ucap Ziko. Zira langsung meneteskan air matanya. Ziko melihat Zira menangis. " Apa kamu tidak suka dengan kejutan ku? " Tanya Ziko panik. " Aku suka. " Ucap Zira cepat. " Lalu kenapa kamu menangis. " Tanya Ziko heran. " Ini tangis bahagia tau. " Ucap Zira masih dengan menangis terharu. Ibu panti memberikan selamat kepada Zira diikuti para petugas lainnya dan juga anak - anak panti. " Terimakasih atas kejutannya tuan. " Ucap Zira menangis langsung memeluk Ziko. Ziko langsung menyambut Zira dengan memberikan kecupan di dahi Zira. " Selamat Ulang tahun mulut micin. " Ucap Ziko. " Ah kamu. " Rengek Zira sambil mencubit badan ziko. Ziko kembali memeluk Zira tidak ada penolakan sama sekali. Zira merasa senang dengan kejutan yang di berikan ziko. Kevin mengabadikan kemesraan mereka yang jarang terjadi dan hari ini terjadi dan itu harus di abadikan. " Like komen dan vote yang banyak ya, bagi yang belum vote di tunggu ya terimakasih. " Chapter 82 episode 82 Zira masih terharu dengan kejutan yang di berikan Ziko. Ziko berusaha untuk menggodanya. " Lubang hidungmu tambah besar kalo kebanyakan nangis. " Goda ziko. " Ah kamu. " Ucap Zira manja sambil mencubit badan ziko berulang - ulang. Anak - anak menikmati semua makanan yang di sediakan. Zira menghampiri ibu panti yang sedang duduk di kursi taman. " Ibu. " Ucap Zira. " Ya Zira. " Ucap ibu panti. " Bagaimana keadaan ibu dan anak - anak? " Ucap Zira. " Alhamdulillah ibu dan anak - anak sehat. " Ucap ibu panti. " Ibu maaf karena aku sudah lama tidak berkunjung kesini. " Ucap Zira. " Ibu tau Zira, kamu sibuk dan sebentar lagi kamu akan menikah pasti kamu akan sangat sibuk nantinya. Zira diam beberapa saat. " Maaf bu, ibu tau mengenai pernikahan saya dari media ya? " Tanya Zira. " Tidak Zira. Sebelum di umumkan di media tentang pertunangan kamu ibu sudah tau sebelumnya. " Ucap ibu panti. " Apa maksud ibu? " Tanya Zira heran. " Zira apa kamu tidak tau, Nyonya Amel memang ingin menjodohkan kamu dengan anaknya. " Ucap ibu panti. Zira masih menunggu ucapan ibu panti yang menggantung. " Kamu tau Zira, Nyonya Amel wanita yang sangat baik, dia adalah donatur terbesar di panti asuhan ini. Zira kaget mendengar pengakuan dari ibu panti. " Nyonya Amel sudah mencari informasi dari ibu sebelum perjodohan itu berlangsung. " Jadi maksud ibu, ibu tau mengenai perjodohan ini? " Tanya Zira. Ibu panti mengangguk. " Nyonya Amel menceritakan semuanya kepada ibu tentang niat menjodohkan anaknya, dan beliau meminta pendapat tentang perjodohan kamu dengan tuan muda Ziko. Tanpa pikir panjang ibu langsung setuju. Zira membulatkan matanya tidak percaya dengan yang baru saja dia dengar. Ibu panti memegang kedua tangan Zira. " Zira. Nyonya Amel wanita yang sangat baik dan dia sangat dermawan, kamu beruntung menjadi menantu dari keluarga Raharsya. " Tapi Bu. " Ucap Zira. " Kenapa Zira? Apakah kamu tidak suka dengan perjodohan ini? " Tanya ibu panti. Zira diam tidak menjawab pertanyaan ibu panti. " Pesan ibu buat kamu, jadilah istri yang berbakti kepada suamimu , dan sayangilah keluarga suami mu seperti kamu menyayangi keluargamu sendiri. " Ucap ibu panti. Zira mengangguk dan mencium tangan ibu panti. Ibu panti membalas dengan memeluk Zira erat. " Apakah ibu akan datang ke pesta pernikahan ku? " Tanya Zira masih di peluk ibu panti. " Maafkan ibu Zira. Ibu tidak bisa datang karena kondisi ibu yang sudah tua, ibu tidak mau merepotkan banyak orang. " Ucap ibu panti menjelaskan. " Gak bu, gak ada yang merasa di repotkan dengan kehadiran ibu. " Rayu Zira. " Sudahlah doa ibu selalu bersama mu. " Ucap ibu panti sambil mengecup kening Zira. Anak - anak berlarian kesana kemari mereka tertawa riang. Zira duduk sendiri di kursi taman ibu panti sudah kembali ke dalam untuk beristirahat. Zira termenung dengan semua ucapan ibu panti. Dia merasa bersalah karena telah berpikiran yang jelek tentang Nyonya Amel. Ziko menghampiri Zira yang masih termenung. Ziko sudah duduk di sebelah Zira. Zira tidak mengetahui tentang keberadaan ziko yang telah duduk di sebelahnya. Pikirannya masih melalang buana seperti si Bolang. Ziko memperhatikan tatapan Zira yang ntah kemana. Lamunan Zira buyar ketika terdengar suara Ziko. " Apa yang kamu pikirkan? " Tanya Ziko. " Eh kamu tuan, apakah kamu sudah dari tadi di sini? " Tanya Zira. " Ya aku sudah satu tahun yang lalu di sini. " Canda Ziko. Zira hanya diam tidak menghiraukan candaan Ziko. " Ayolah ini hari ulang tahunmu kenapa kamu bersedih. " Ucap Ziko. " Maaf tuan sepertinya aku harus berbuat sesuatu. " Ucap Zira sambil meninggal ziko yang masih bingung dengan ucapan Zira. Ziko hendak mengikuti Zira. Tetapi Kevin sudah berada di dekat nya ingin menyampaikan sesuatu. " Tuan pria itu sudah berada di markas. Apa selanjutnya? " Tanya Kevin. " Jangan lakukan apapun, Kita lihat reaksinya ketika berjumpa denganku. " Ucap Ziko tegas. Ziko pamit dengan ibu panti begitupun dengan Zira. " Aku harus pergi sebentar ada pekerjaan yang harus aku lakukan, kamu mau tetap di sini? " Tanya Ziko. " Nggak aku juga mau pamit pulang. " Ucap Zira cepat. " Baiklah kalo begitu kamu pulang dengan supir dan langsung pulang jangan kemana-mana. " Ucap ziko. Zira menjawab dengan anggukan. Ziko dan Kevin pergi meninggalkan panti asuhan amal bakti. Zira masih pamit dengan ibu panti dan anak - anak panti. Mobil Ziko sudah menuju rumah tua tempat berkumpulnya para orang kepercayaan Keluarga Raharsya. Tempat itu bisa di jadikan sebagai markas untuk mereka. Mobil menuju jalanan yang sepi. Mobil memasuki kawasan hutan. Kanan kiri di sajikan dengan pemandangan yang sangat asri pohon - pohon menjulang tinggi. Udara di kawasan itu sangat sejuk. Jarang mobil melewati kawasan itu karena lokasinya yang sepi. " Like komen dan vote yang banyak ya terimakasih. " Chapter 83 episode 83 Mobil yang di tumpangi Ziko sudah sampai di depan gerbang. Para penjaga membuka gerbang sambil memberikan hormat kepada majikannya. Mobil menyusuri jalan kecil di kanan kiri terlihat pohon yang sangat tinggi dan daun - daun kering yang berguguran. Mobil berhenti tepat di depan pintu. Seseorang sudah berdiri di depan pintu, dia langsung membukakan pintu mobil ketika mobil yang di tumpangi Ziko berhenti. Si pria langsung memberikan hormat kepada Ziko ketika Ziko turun dari mobil. " Sore tuan. " Ucap si pria. Ziko hanya mengangguk dan berjalan memasuki rumah tua. Di dalam sudah banyak orang - orang kepercayaan Ziko. Seorang pria datang mendekati Ziko. " Di mana kamu meletakkan nya? " Tanya Ziko. " Saya meletakkannya di kamar kosong Tuan." Ucap si pria. Ziko langsung menuju tempat yang di sebutkan pria tadi di ikuti Kevin dan beberapa orang lainnya. Di depan pintu kamar sudah ada yang menunggu. Si pria membuka kan pintu kamar. Begitu ruangan di buka tercium bau yang tidak sedap. Penutup mata dan mulut Bram di buka oleh si pria. Lampu sorot menyoroti wajah nya. Bram merasa silau dengan lampu sorot yang di sorotkan ke wajahnya. Suara tepuk tangan terdengar tapi bram belum bisa melihat wajah orang tersebut hanya terlihat sepatu dan kakinya saja. " Siapa kalian kenapa aku di kurung di sini. " Teriak Bram. " Sepertinya kamu ingin melihat wajahku. " Suara tapak sepatu menggema di dalam kamar itu. Ziko berdiri di depan Bram. Bram terperangah kaget melihat orang yang ada di depannya adalah orang nomor satu di kota ini. " Tuan apa salahku hingga kamu mengurungku. " Tanya Bram. " Aku yang seharusnya bertanya kepadamu. Untuk apa kamu mengganggu calon istri ku. " Teriak Ziko. Bram diam tidak mengerti maksud dari ucapan Ziko. " Tuan apa maksud dari perkataan kamu? " Tanya Bram. Ziko langsung memerintahkan salah satu anak buahnya untuk menunjukkan foto - foto dirinya dengan Zira. " Apa sekarang kamu mengerti siapa calon istriku. " Teriak Ziko. " Maaf tuan aku tidak tau kalo dia adalah calon istrimu, aku hanya mengikuti perintah saja. " Ucap Bram menjelaskan. " Bohong kamu. " Bentak Ziko. Ziko memberikan isyarat kepada anak buahnya untuk menghajar Bram. Wajah Bram sudah babak belur. " Apakah kamu mau berkata jujur? " Tanya Ziko dengan wajah yang sangat mengintimidasi. Bram berusaha menjawab pertanyaan Ziko. " Tuan aku hanya di perintah kan untuk merayu calon istri mu dan kalo aku bisa mencium tangan calon istrimu aku di beri hadiah. " Ucap Bram. Ziko memukul wajah Bram berkali-kali ada cairan berwarna merah dari mulut mata dan hidung. " Apa kamu tidak tau siapa dia? " Teriak Ziko masih dengan memukul wajah Bram. " Iya tuan aku tau. Aku di tawarkan uang 100 jt jika aku bisa berhasil mencium tangan calon istrimu Tuan. " Ucap Bram dengan suara berat. " Kenapa kamu masih mau melakukannya. " Bentak Ziko lagi sambil memukul perut Bram. " Pada saat itu aku lagi butuh uang tuan, dan aku berpikir untuk melakukannya tapi aku di jebak tuan. " Ucap Bram merintih kesakitan. " Apa maksudmu? " Tanya ziko teriak. Bram berusaha menjelaskan dengan suaranya yang sudah terasa berat karena bibirnya sudah bengkak. " Dia memberiku tantangan untuk merayu dan mencium tangan calon istri tuan. Awalnya aku menolak dan dia meyakinkan ku kalo itu hanya sebagai tantangan dan tidak akan di ketahui oleh kamu. " Ucap Bram menjelaskan. Ziko bernafas dengan sangat berat. " Aku menerima tantangan itu karena yang aku ketahui tidak ada yang akan mengetahui tantangan ini, tapi ternyata aku di jebak dia mendokumentasikan semuanya. " Apakah yang kamu ucapkan semua benar. " Teriak Ziko. " Benar tuan aku berkata benar. " Ucap Bram meyakinkan. " Baiklah aku percaya denganmu dan aku akan melepaskanmu, dengan satu syarat. " Ucap Ziko menggantung ucapannya. " Apa itu tuan. " Tanya Bram. " Aku ingin kamu menyakitinya. Kalo sampai kamu tidak melakukannya. Aku pastikan kaki tangan mu sudah tidak pada tempatnya. " Ucap Ziko tegas sambil meninggalkan ruangan. Bram di antar ke rumahnya dengan wajah yang babak belur. Ziko sudah kembali ke mobil menuju mansion. Di mansion. Suara klakson berbunyi penjaga membukakan gerbang. Mobil memasuki pekarangan mansion. Zira turun dari mobil ketika pintu telah di buka supirnya. Zira berjalan menuju pintu mansion. Zira ingin mengetuk pintu belum sempat Zira mengetuk telah keluar seorang pria paruh baya. " Selamat sore nona. " Ucap kepala pelayan. " Sore pak. " Ucap Zira cepat. " Panggil saja saya pak Budi. " Ucap pria paruh baya tadi. Zira mengangguk mengiyakan. " Apakah Nyonya Amel ada? " Tanya Zira. " Nyonya Amel ada lagi duduk di ruang keluarga. Mari silahkan. " Ucap pak Budi ramah. Zira mengikuti pak Budi dari belakang setelah melewati beberapa ruangan yang Zira sendiri tidak mengerti ruangan apa itu. Mereka sampai di sebuah ruangan yang cukup besar dengan sofa yang besar dan sebuah televisi yang besar. Zira pernah duduk di ruangan ini dan itu terjadi sehari setelah pertunangan dia diumumkan. " Permisi Nyonya ada nona Zira. " Ucap pak budi sambil pergi meninggalkan nona Zira dan Nyonya Amel. Nyonya Amel langsung berdiri begitu melihat kedatangan Zira. Zira masih diam beberapa saat kemudian dengan cepat dia memeluk Nyonya Amel. Nyonya Amel yang mendapat pelukan mendadak ada sedikit kaget melihat ekspresi Zira. Karena sebelumnya Zira bersikap dingin kepadanya tapi hari ini Zira menjadi Zira yang lain. Nyonya Amel menyambut pelukan Zira dengan mendekapnya erat. " Like komen dan vote yang banyak ya terimakasih. " Chapter 84 episode 84 Zira masih tetap memeluk Nyonya Amel. Dia merasa kehangatan pelukan seorang ibu. Nyonya Amel membawa Zira untuk duduk. " Kamu kenapa Zira? " Tanya Nyonya Amel. " Aku aku mau minta maaf Nyonya. " Ucap Zira gugup. " Tante Zira bukan Nyonya. " Ucap Nyonya Amel memperbaiki ucapan Zira. Zira mengangguk mengiyakan. " Kamu tidak pernah salah Zira. Perlakuanmu kepada saya sangat wajar mungkin perempuan lain juga akan melakukan hal yang sama seperti mu. " Ucap Nyonya Amel. " Maafkan saya Zira. " Ucap Nyonya Amel. Zira langsung memeluk Nyonya Amel. " Izinkan saya untuk tetap memelukmu Tante. " Ucap Zira pelan. Nyonya Amel tetap membiarkan Zira memeluknya, Tuan besar memperhatikan dari kejauhan ada rasa terharu melihat istrinya dan Zira berpelukan. Mobil yang di tumpangi Ziko sudah sampai di depan mansion. Para penjaga gerbang langsung membuka gerbang dengan cepat karena sudah hafal dengan mobil majikannya. Mobil memasuki pekarangan mansion. Ziko melihat ada sebuah mobil parkir dan itu adalah mobil yang di kendarai supir Zira. Ziko turun dari mobil dan berhenti sebentar melihat sekeliling mencari keberadaan supir Zira. Setelah di lihatnya keberadaan supir Zira, Ziko langsung melambaikan tangan memanggil. Supir Zira langsung datang dengan berlari kecil. " Apa yang kamu lakukan di sini? " Tanya Ziko. " Saya hanya mengikuti perintah nona tuan, Nona minta di antar ke sini. " Ucap Supir menjelaskan. Ziko memasuki mansion dan Kevin sudah pergi dengan mengendarai mobilnya. Ziko menyusuri setiap ruangan sebelum sampai keruang Keluarga. Ziko melihat Nyonya Amel dan Zira saling berpelukan. Ziko mengernyitkan dahinya. Dia mendekati mereka berdua. Nyonya Amel mengetahui Ziko datang mendekat. Nyonya Amel memberikan isyarat dengan meletakkan jari telunjuk di mulutnya. Ziko mengerti dengan instruksi mamanya yaitu tidak boleh berisik. Dia duduk di seberang sofa. Dia mulai berniat mengganggu Zira " Wah hebat hebat sekarang kamu sudah mau merebut mama ku ya. " Ucap Ziko sambil bertepuk tangan. Zira mendengar suara Ziko langsung menoleh dan tidak menghiraukan lagi. " Ya aku memang mau menyingkirkan mu. " Ucap Zira cepat. Nyonya Amel tersenyum melihat perilaku mereka berdua. Menurut Nyonya Amel, Ziko dan Zira seperti kekanak-kanakan. " Sudah - sudah tidak ada yang di singkirkan dan tidak ada yang di rebut. " Ucap Nyonya Amel menengahi. Beberapa saat kemudian Nyonya Amel pergi meninggalkan Ziko dan Zira di ruang keluarga. Ziko memindahkan posisi duduk nya di sebelah Zira. " Cih begitu mama nya pergi langsung lengket kayak lem. " Ucap Zira memonyongkan bibirnya. Ziko tidak menghiraukan ucapan Zira seperti biasa dia selalu memeluk bahu Zira. " Ini tangan apa gak pernah di ajarkan sopan santun. " Gerutu Zira lagi sambil memindahkan tangan Ziko. Begitu dia memindahkan tangan Ziko sekilas Zira melihat punggung tangan Ziko yang berwarna merah. Zira menarik tangan Ziko. Dia menatap dengan penuh selidik. " Kamu baru selesai ngapain? " Tanya Zira dengan tatapan penuh selidik. Ziko pura - pura tidak mendengar pertanyaan Zira. " Hey aku tanya kepadamu Tuan, kenapa tanganmu bisa seperti ini, setahuku tadi warnanya gak seperti ini. " Ucap Zira cepat. Ziko masih diam tidak mungkin dia memberitahukan sama Zira kalo dia baru menghajar seseorang. " Gak mungkin kamu ganti kulit kan, jangan bilang kalo kamu baru ngulek cabe dengan kepalan tanganmu. " Ucap Zira cepat. " Sudah lah gak usah di tanya kenapa dan apa. " Ucap Ziko menghindari kecurigaan Zira. Ziko hendak berdiri dari sofa tapi dengan cepat Zira menahannya. " Hey jawab dulu ini tangan kenapa? " Tanya Zira lagi curiga. " Sudahlah nanti juga kembali normal gak perlu khawatir. " Ucap Ziko cepat. " Bagaimana aku gak khawatir, aku kan akan menikah denganmu Tuan dan aku tidak tau kamu gunakan untuk apa tanganmu itu. " Ucap Zira cepat. Ziko berhenti mencoba menghela nafasnya perlahan. " Iya - iya tadi aku baru berkelahi dengan seseorang. " Ucap Ziko bohong. Zira diam dan sedang memikirkan sesuatu. " Pasti kamu kalahkan. " Ucap Zira cepat. " Apa kamu gak bisa lihat aku masih sehat begini dari mana kalahnya. " Ucap Ziko sedikit teriak. " Ya kamu memang tidak ada lecet sedikit pun tapi pasti kamu menang curang. " Ucap Zira sambil mengecek semua badan ziko dari wajah sampai kaki. " Apa maksudmu menang curang? " Tanya Ziko cepat. " Ya pasti kamu di bantu sama asisten Kevin secara kalian seperti upil dan ingus yang selalu dekat satu sama lain. " Ucap Zira cekikikan. " Ih kamu jorok apa tidak ada sebutan yang lebih bagus selain itu. " Ucap Ziko sewot. Zira masih cekikikan. " Kalo aku sebutkan kalian pasangan homo pasti kamu langsung marah. " Ucap Zira pelan. " Kamu ya masih berani menyebut kata itu. " Ucap Ziko sambil mencubit pipi Zira. " Aw sakit tau. Ya udah aku beri sebutan kepada kalian berdua pasangan dunia akhirat. " Ucap Zira cepat sambil berlari kecil menghindari serangan mendadak dari Ziko. Nyonya Amel sedang menyusun meja makan. Zira berdiri di belakang Nyonya Amel untuk mendapat perlindungan. Ziko yang melihat Zira sudah mendapatkan perlindungan membatalkan niatnya. Ziko berniat untuk menutup mulut Zira dengan mulutnya. Karena hanya dengan mulutnya Zira baru bisa diam. " Like komen dan Vote yang banyak ya terimakasih. " Chapter 85 episode 85 Seperti calon pengantin lainnya Zira merasa nervous karena besok adalah hari pernikahannya. Zira masih duduk di atas kasurnya dengan perasaan yang tidak menentu. Suara ketukan dari luar kamar terdengar. Zira menoleh dan mengucapkan sesuatu. " Masuk! " Ucap Zira masih dengan posisinya. Seseorang masuk ke dalam kamarnya yaitu Novi. Novi nginap di apartemen Zira karena besok adalah hari pernikahan sahabatnya. Novi duduk di sebelah Zira. " Kamu kenapa? " Tanya Novi. " Aku bingung besok adalah hari pernikahanku. " Ucap Zira cepat. " Kenapa harus bingung semua sudah siap dari dekorasi makanan sampai souvernir semua sudah siap. Apalagi yang kamu pikirkan." Ucap Novi. " Bukan itu yang aku pikirkan." Ucap Zira cepat. " Terus apa? " Tanya Novi cepat. Zira tidak menjawab pertanyaan Novi dia malah mengajukan pertanyaan kepada Novi. " Apa kamu waktu mau menikah juga nervous seperti aku." Tanya Zira sambil menatap wajah Novi. " Iya aku juga mengalami hal yang sama denganmu, apalagi pada saat .... " Ucapan Novi menggantung sambil tersenyum. " Pada saat apa?" Tanya Zira penasaran. Lama Novi menjawab pertanyaan Zira. Tapi Zira terus mendesak. Akhirnya Novi menjawab pertanyaan Zira dengan wajah yang merona malu. " Pada saat malam pertama. " Ucap Novi cepat sambil menutup wajah dengan kedua tangannya. Zira yang mendengar ucapan Novi malah tambah takut. " Udah gak usah lanjutkan ceritamu." Ucap Zira cepat. " Baiklah kalo begitu kamu harus beristirahat karena besok adalah hari terpenting dalam hidupmu." Ucap Novi sambil keluar meninggalkan kamar Zira. Zira yang mendengar ucapan Novi mulai memikirkan sesuatu. Dia memikirkan cara bagaimana menghindari malam pertama. Dia membuka salah satu aplikasi yaitu guuling. Dia membuka aplikasi guuling melalui ponselnya kemudian dia mengetik sesuatu yaitu "Bagaimana cara menghindari malam pertama." Lama Zira menunggu dari aplikasi itu tetapi tidak ada keluar jawaban dari pertanyaan yang di ketik Zira. Zira mencoba mengetik lagi tapi kebalikan dari yang pertama. Dia mengetik "Apa saja yang harus di lakukan pada saat malam pertama." Tidak berapa lama menunggu keluar tulisan dari aplikasi itu. Yang isinya "Satu ucapkan salam kepada pasanganmu." Zira memikirkan sesuatu dengan poin nomor satu. " Ini mau ML atau mau pidato sih kok pake salam segala." Gerutu Zira pelan. Kedua pakailah pakaian yang sexi. " Ok berarti kebalikan dari ini, aku tidak akan pakai pakaian sexi. " Gumam Zira lagi. Ketiga tatap mata pasangan kamu. " Baik aku tidak akan menatap mata si ubi kayu kalo perlu belekku gak ku bersihkan. " Gumam Zira cepat. Keempat pakailah wewangian agar pasanganmu tergoda. " Akan aku pastikan pada saat malam pertama badanku bau. " Gumam Zira cepat. Kelima rayu pasanganmu dengan kata - kata yang menggoda. " Ah kalo poin yang kelima mah gampang aku memang gak bisa merayu. " Ucap Zira cepat. Keenam jika kedua pasangan masih malu - malu salah satu pasangan harus bertindak. Zira membulat matanya membaca poin nomor enam. " Kalo aku gak mungkin bertindak duluan tapi kalo si ubi kayu yang bertindak matilah aku. " Gerutu Zira. Ketujuh cium pasanganmu dengan lembut. Zira langsung menelan salivanya membaca poin ketujuh. Kedelapan pastikan semua dalam posisi aman. " Memangnya tawuran pakai memastikan kondisi aman segala." Gerutu Zira. Kesembilan lakukan sesuka anda. " Kalo enggak suka gimana." Gerutu Zira. Kesepuluh selamat menikmati. " Baiklah aku akan mempersiapkan semuanya jangan sampai dia menyentuhku." Ucap Zira cepat. Zira mempersiapkan semuanya dari pakaian sampai hal - hal yang menurutnya pasti Ziko tidak akan menyukai apalagi menyentuhnya. Malam semakin larut tapi Zira masih belum bisa tidur dia masih memikirkan semuanya. Dia membalik badannya ke sana kemari karena tidak mendapatkan posisi tidur yang enak. Zira menatap kebaya yang telah di gantung di depan kasurnya. Zira melihat kebayanya ada rasa senang karena dia akan melepas masa lajangnya tapi ada rasa gundah. Perasaannya tak tentu arah semakin dia memikirkan semakin sulit nanti kedepannya. " Pernikahan besok akan berlangsung dan aku tidak tau apakah pernikahan ini akan bertahan lebih dari satu tahun atau hanya sampai satu tahun." Guman Zira lagi. " Seandainya pernikahan ini hanya sampai satu tahun aku berharap tidak ada yang merasa tersakiti." Ucap Zira. Malam semakin larut suara detik jam terdengar begitu nyaring. Zira menutup matanya yang sudah terasa berat lama kelamaan Zira sudah masuk ke dalam alam mimpinya. Apakah besok pernikahan Zira akan berlangsung lancar atau apakah yang akan terjadi pada saat malam pertama, tunggu kelanjutannya ya. " Like komen dan vote yang banyak ya terimakasih. " Chapter 86 episode 86 Zira masih tidur di kasurnya dia sedang bermimpi dalam mimpinya, pernikahannya di batalkan karena Ziko lari dengan wanita lain. Tok tok tok suara ketukan kamar Zira di ketuk. Zira yang tengah bermimpi langsung kaget dan membuka matanya secara perlahan. " Siapa sih aku masih ngantuk. " Ucap Zira dengan suara khas bangun tidur. Zira kembali menutup matanya, baru saja menutup mata ketukan terdengar lagi dari luar pintu kamar Zira. Zira membuka matanya cepat dan melihat sekeliling kamar. Aku tadi ternyata hanya bermimpi. Zira langsung duduk dari posisi sebelumnya yaitu bebaring. Dia melihat sebuah kebaya putih yang telah di gantung. Dengan cepat dia langsung lompat dan berlari untuk membuka pintu. Setelah membuka pintu Zira langsung lari secepat Kuota internet yang sering promo di TV. Novi yang berdiri di depan pintu kamar Zira langsung kaget melihat Zira berlari secepatnya menuju kamar mandi. Setelah selesai mandi Zira langsung ke kamarnya dan di dalam kamar Novi telah menantinya. " Kamu mandi ra? " Tanya Novi. " Nggak aku gak mandi tapi take a bath. " Ucap Zira cepat. " Yah itu sama aja lagi. " Ucap Novi cepat. Zira masih mengenakan kimono handuknya. " Ra kamu tau gak kalo kata orang - orang dulu calon pengantin itu gak boleh mandi kalo mau nikah, alasannya katanya nanti pada saat pesta akan hujan deras. " Ucap Novi menjelaskan. " Kan bagus kalo hujan. Hujan itu kan berkah. " Ucap Zira cepat. " Bukan Ra maksudnya kalo hujan nanti tidak ada tamu yang datang ke pesta mu. " Ucap Novi lagi menjelaskan. " Ah gak masalah itu kalo gak ada yang datang lebih bagus kan aku bisa cepat - cepat kabur dari pajangan itu. " Ucap Zira. " Ah kamu ini ada aja alasannya. " Gerutu Novi. " Kamu gak usah khawatir nov, kalo seandainya hujan deras aku akan memberi penangkal hujan. " Ucap Zira menjelaskan sambil mengeringkan rambutnya. " Alah pasti penangkal hujan nya cabe dan bawang di tusuk di lidi kemudian di letakkan di tengah lapangan kan? " Ucap Novi enteng. " Memangnya aku mau buat sambel apa? " Ucap Zira cepat. " Terus apa dong penangkal hujan versi Zira. Tanya Novi sambil memiringkan bibir nya. " Kata nenekku lemparkan CD pengantin wanita ke atas atap dan bisa di pastikan hujan tidak akan turun. " Ucap Zira menjelaskan. Novi hanya menggaruk - garuk kepalanya. Menurut nya mitos penangkal hujan yang di sebutkan mereka berdua seperti guyonan saja ntah benar ntah nggak. Tok tok tok suara pintu di ketuk. Sekarang pintu depan apartemen Zira yang di ketuk. Novi berlari membuka pintu. Ada beberapa orang yang sudah berdiri di depan pintu. " Selamat pagi kami di tugasnya Nyonya Amel untuk merias pengantin wanita. " Ucap salah satu perias wanita. Novi mempersilahkan mereka untuk masuk. Mereka adalah make up artis yang telah di tugasnya untuk merias Zira. " Mari ikut saya. " Ucap Novi. Mereka mengikuti Novi dari belakang menuju kamar Zira. Di dalam kamar Zira sedang duduk di atas kasur. Zira melihat ke arah pintu melihat ada beberapa orang di belakang Novi. " Ini dia penganten wanitanya. " Ucap Novi sambil menunjuk ke arah Zira. " Selamat pagi nona, kami di tugaskan Nyonya Amel untuk merias nona. " Ucap salah satu MUA " Oh silahkan. " Ucap Zira. Perias mulai melakukan aksinya dia melukis wajah Zira dengan sangat sempurna. Wajah Zira yang sudah cantik dengan di tambah polesan semakin menunjukkan aura kecantikannya. Mereka sudah selesai merias wajah Zira. " Sudah selesai nona sekarang nona bisa mengganti kimono anda dengan kebaya. " Ucap salah satu MUA. Zira melihat dirinya di dalam kaca. " Wah wajahku bisa berbeda seperti ini kalo aku perhatikan aku seperti artis India Alia Bhatt. " Ucap Zira memuji dirinya sendiri. " Ya kamu memang mirip banget dengan Alia Bhatt yang sedang memakai konde. " Ucap Novi cepat. Para MUA meninggalkan Zira di kamar. Dia mengganti kimononya dengan kebaya berwarna putih, Novi ikut membantu nya. Setelah pintu di buka para MUA kembali lagi ke kamar Zira untuk melakukan finishing. Novi pun juga sudah selesai dirias, Novi memakai kebaya berwarna ungu yaitu kebaya seragam keluarga. " Sudah selesai nona, anda sangat cantik sekali. " Puji salah satu MUA. " Terimakasih atas pujiannya. " Ucap Zira pelan. " Sampai jumpa di hotel nona. " Ucap salah satu MUA. Mereka juga yang akan merias Zira untuk resepsi. Siang hari di adakan akad nikah dan malam harinya di adakan resepsi. Akad nikah dan Resepsi di adakan di tempat yang sama yaitu Hotel bintang lima. Para MUA pergi meninggalkan apartemen Zira. Zira melihat penampilan nya yang sangat anggun dan cantik. Dia mengambil ponselnya. Cekrek Zira memotret dirinya menggunakan ponselnya. Zira dan Novi duduk di ruang tamu menunggu jemputan. Ada ketukan dari pintu, dengan cepat Novi langsung membuka pintu. " Maaf saya mau menjemput penganten wanita. " Ucap salah satu pria dengan setelan jas berwarna hitam. " Ya sebentar ya. " Ucap Novi cepat. Novi memberitahukan hal ini kepada Zira. Mereka bersiap-siap pergi meninggalkan apartemen. Di dalam mobil Zira sudah merasa gugup duduk nya sudah tidak tenang. Novi memperhatikan temannya. " Tenanglah ambil nafas dalam - dalam kemudian keluar kan secara perlahan. " Ucap Novi menenangkan Zira. " Hey memangnya aku mau melahirkan di suruh ambil nafas dalam - dalam. " Gerutu Zira cepat. Novi hanya tersenyum dengan ucapan Zira. Dia mengerti itu adalah sikap Zira untuk menutupi kegugupannya. Walaupun Zira membantah ucapan Novi tapi dia tetap melakukannya. Dia menarik nafasnya dalam-dalam kemudian melepaskannya secara perlahan dia melakukan nya secara berulang - ulang. " Halo readers yang sudah baca jangan lupa jempolnya dan komen juga jangan lupa, nah bagi yang belum Vote novel ini silahkan vote sebanyak - banyak ya biar tambah semangat Author updatenya terimakasih author sayang kalian readers. " Chapter 87 episode 87 Zira masih dengan kegugupan nya. Mobil sudah melaju dengan kecepatan sedang. Zira memandang keluar jendela memperhatikan jalanan yang ramai dengan lalu lintas. Zira teringat sesuatu. " Maaf pak supir, apa tadi anda sudah membawa koper saya? " Tanya Zira. " Sudah nona. " Ucap pak supir cepat. " Ra kamu hanya membawa satu koper saja, apa baju mu sudah kamu bawa semua? " Tanya Novi. " Hemmmmm iya aku hanya membawa beberapa pakaian saja. " Ucap Zira. Nggak mungkin aku bilang kalo di dalam itu adalah alat perang ku untuk nanti malam. Guman Zira dalam hati. Di Dalam kamar hotel. Ziko sudah mengenakan pakaian berwarna putih senada dengan celana nya, dan mengenakan penutup kepala bewarna gading gajah. Ziko sangat tampan dan rupawan mengenakan pakaian itu apalagi badannya yang atletis menambah kesan gagah perkasa. Ziko bolak balik melirik jam tangan nya sebentar lagi waktu akad nikah nya, tetapi pengantin wanita belum juga datang. Seharusnya satu jam sebelum acara penganten wanita sudah berada di tempat. " Kenapa dia belum sampai juga, apa dia berusaha kabur? " Tanya Ziko ke Kevin. " Sepertinya tidak tuan saya baru menghubungi supir, nona Zira sudah dalam perjalanan beberapa menit lagi sampai. Nyonya Amel dan Zelin datang ke kamar Ziko. Nyonya Amel memastikan Ziko sudah rapi. Nyonya Amel mengenakan kebaya berwarna ungu sama halnya dengan Zelin. Warna ungu di pilih karena kesukaan Nyonya Amel dan dipilih lah sebagai kebaya untuk keluarga. " Iko kamu sudah menghubungi Zira. " Tanya Nyonya Amel. " Kevin sudah menghubungi supir dalam beberapa menit katanya mereka akan sampai. " Ucap Ziko menjelaskan. Zelin menggoda kakaknya. " Ye yang mau nikah udah gak sabar. " Goda Zelin. " Sudah sana pergi. " Usir Ziko. Nyonya Amel dan Zelin pergi setelah memastikan Ziko telah rapi dengan semua pakaiannya. Ziko melihat catatan mulutnya komat-kamit. Dia sedang menghafal ijab Kabul nya. " Masih belum hafal tuan? " Tanya Kevin. " Kenapa? apa kamu mau menggantikan posisiku jika aku belum hafal - hafal. " Ucap Ziko cepat. " Dengan senang hati tuan. " Ucap Kevin cepat. " Apa kamu bilang. " Ucap Ziko cepat sambil memegang kerah kemeja Kevin. " Nggak tuan, saya hanya bercanda karena tuan, saya perhatikan sangat stres jadi saya ingin mencair kan saja. " Ucap Kevin membela diri. Suara ponsel Kevin berdering. Kevin mengangkat dan menjawab panggilan tersebut. Setelah berbicara beberapa detik Kevin mematikan panggilan tersebut. " Ada apa? " Tanya Ziko. " Nona Zira sudah berada di kamar pengantin wanita. " Ucap Kevin cepat. Ziko langsung bergerak pergi ingin menemui Zira. Tapi Kevin langsung menahannya. " Tuan sebaiknya anda jangan kesana, karena pengantin pria maupun pengantin wanita setau saya belum boleh bertemu sebelum akad nikah selesai. " Ucap Kevin menjelaskan. " Tau dari mana, kamu juga belum menikah. " Tanya Ziko. " Saya pernah liat di acara infotainment kalo artis - artis menikah seperti itu. " Ucap Kevin menjelaskan lagi. Ziko mengurungkan niatnya untuk bertemu Zira. Ziko kembali duduk di atas kasur masih dengan hafalannya. Suara ketukan terdengar dari pintu. Kevin membuka pintu ada seseorang di depan pintu mengenakan pakaian hitam - hitam. " Maaf Acara akad nikah akan segera berlangsung silahkan Tuan muda untuk ikut dengan kami. " Ucap seorang panitia. Ziko keluar dari kamar nya di dikuti dengan Kevin sebelum sampai tempat akad nikah, Nyonya Amel beserta tuan besar dan adiknya Zelin sudah menunggunya di koridor hotel. Setelah mendapat instruksi dari panitia Ziko melangkahkan kakinya perlahan menuju tempat akad nikah Nyonya Amel, Tuan besar, Zelin dan Kevin mengikuti ziko dari belakang. Ziko duduk di depan meja akad nikah di samping meja telah duduk dua orang saksi baik dari pihak wanita maupun dari pihak pria, ada wali nikah dari pihak Zira yaitu suami Novi. Dan ada tuan kadi atau penghulu nikah. Wali nikah dari pihak Zira duduk di sebelah barat meja dan ziko duduk di sebelah timur meja berhadapan dengan wali nikah. MC membuka acara dengan menyebutkan susunan acara akad nikah. Setelah melakukan susunan acara akad nikah. Dilanjutkan dengan khutbah nikah. " Berapa jumlah mas kawin nya? " Tanya tuan Kadi. " Logam mulia seberat 1 kilo dan berlian seberat 3 kilo. " Ucap Ziko. Acara selanjutnya acara ijab qobul. Wali nikah memegang tangan Ziko dengan erat sambil mengucapkan ijab qobul. " Saya nikahkan dan kawinkan kamu dengan Zira Kanaya amrin, anak perempuan Bapak Amrin sebagai orang yang mewakilkan kepadaku dengan mahar 1 kilo logam mulia dan berlian seberat 3 kilo di bayar tunai. " Ucap wali nikah sambil memegang tangan Ziko. Ziko mengucapkan ijab qobulnya dengan lantang dan satu nafas. Kemudian para saksi mengucapkan sah. Di lanjutkan dengan doa. Setelah doa selesai Zira memasuki tempat akad nikah diikuti Novi dan beberapa orang kerabat. Zira duduk di sebelah Ziko. Setelah acara penandatanganan buku nikah panitia memerintahkan mereka untuk berdiri saling berhadapan. Zira mencium tangan Ziko dan sebaliknya Ziko mengecup kening Zira. Para media mengabadikan momen indah ini. " Kamu cantik sekali istriku. " Ucap Ziko berbisik ke telinga Zira. Zira mendengar tidak membalas ucapan Ziko. Dia hanya menunjukkan senyum nya kepada media. " Kamu sudah minum jamu belum? " Goda Ziko. Zira langsung membulatkan matanya kearah Ziko. Ziko hanya tersenyum sambil memeluk pinggang Zira. " Jangan macam-macam ya. " Ucap Zira merapatkan giginya sambil tetap tersenyum. " Like komen dan vote yang banyak ya, bagi yang belum vote di tunggu ya terimakasih. " Chapter 88 episode 88 Serangakaian acara akad nikah telah di laksanakan. Ziko dan Zira berniat kembali ke kamar hotel. Semenjak status nya naik jadi suami, Ziko jadi sedikit genit dan lebih posesif. Mereka sudah sampai di dalam kamar hotel. Ziko membuka pintu kamar hotel dan tanganya masih tetap memeluk pinggang Zira. " Tuan sudahlah gak usah perlakukan ku seperti ini malu tau di liatin orang. " Ucap Zira. " Kenapa harus malu kita kan sudah menikah sudah Syah tau. " Ucap Ziko dengan senyum menyeringai. " Cih belum nikah aja udah genit sekarang apalagi, bisa habis ini mahkotaku. " Guman Zira pelan sambil melihat bagian mahkota nya. Ziko duduk di kasur bersandarkan pada head board dengan kedua kaki di luruskan di atas kasur. Zira masih berdiri mematung melihat dia di dalam kamar berdua sama Ziko. " Istriku mari duduk disini. " Ucap Ziko sambil menepuk kasur. Zira yang mendengar sebutannya telah berganti ada sedikit takut yaitu takut akan malam pertama. Zira masih dengan posisi berdiri dia tidak mau duduk di kasur bersama Ziko. " Pasti pikiran nya sudah di penuhi setan, tadi aja udah tanya jamu segala. " Guman Zira pelan. " Ayolah istriku. " Rayu Ziko lagi. Zira memikirkan sesuatu yaitu koper nya. " Tuan mana koper ku. " Tanya Zira cepat. " Tuan - tuan aku ini bukan majikanmu aku ini suamimu ingat itu. " Bentak Ziko. Zira mengangguk mengerti karena mereka sudah menjadi pasangan suami istri jadi tidak mungkin dia memanggil Ziko dengan sebutan tuan. " Cepat sini kalo tidak nanti kamu di kutuk sama malaikat. Belum juga satu hari nikah kamu udah buat dosa. " Ancam Ziko sedikit berteriak. Zira langsung naik ke atas kasur merangkak menuju tempat Ziko. Dengan Zira merangkak otomatis gunung kembar Zira Keliatan dari balik kebayanya. Ziko menelan Saliva nya berulang - ulang. Zira duduk di sebelah Ziko. Ziko langsung memeluk Zira dengan kedua tangannya. " Hey tuan kamu mau apa? " Tanya Zira gugup. " Sudah aku bilang jangan panggil aku tuan, panggil aku dengan sebutan yang romantis. " Ucap Ziko masih dengan memeluk Zira. Zira berusaha untuk mendorong tubuh Ziko tapi tenaga Ziko sangat kuat. Ini orang tenaganya kayak banteng, duh apalagi ubi kayunya apa juga sekuat banteng. Guman Zira dalam hati. Zira mencoba mengalihkan agar bisa terlepas dari pelukan. " Baiklah bagaimana kalo aku panggil dengan sebutan suamiku. " Ucap Zira manja. Ziko diam sebentar. " Yang lain. " Ucap Ziko masih dengan memeluk Zira. " Myhubby. " Ucap Zira lagi. " Nggak aku gak mau kebarat-baratan. " Ucap Ziko cepat. " Jadi apa. " Ucap Zira sewot. Ziko menggelengkan kepalanya. " Aha aku tau sebutan untuk kamu yaitu ubi kayu. " Ucap Zira cekikikan. " Nggak ubi kayu hanya boleh di sebutkan kalo kita lagi berdua di dalam kamar seperti ini. " Ucap Ziko masih dengan memeluk dan mencoba mencium pipi Zira. Nah mulai nih mulut main serobot aja kayak lagi demo aja. Gerutu Zira dalam hati. " Terus aku panggil apa. " Tanya Zira lagi. " Udah panggil aja sayang beb. " Ucap Ziko cepat. " Beb kan juga kebarat-baratan. " Protes Zira. " Alah ya udah panggil aja sayang. Jangan bilang lagi sayang itu kebarat-baratan. " Ucap Ziko cepat. sayang sayang sayang kepala lo peyang. Gerutu Zira dalam hati. Ziko masih dengan posisi kedua tangan di badan Zira dan mulut sudah mulai demo kesana kemari. Zira mencari alasan lagi. " Tuan mana koper ku eh salah. " Ucap Zira sambil menutup mulutnya dengan kedua tangannya. " Sayang mana koper ku. " Ucap Zira sedikit manja. " Gak usah pikir kan masalah koper segala aku lebih senang kamu tidak memakai apapun. " Ucap Ziko sambil tersenyum licik. " Sayang koper itu di dalamnya ada pakaian dalamku. " Ucap Zira cepat. " Gak usah pikir kan pakaian dalam aku lebih suka kamu tidak pakai apapun tapi kalo kamu tetap mau pakai kamu boleh gabung dengan ku dalam satu CD, dengan senang hati aku terima. " Ucap Ziko sambil tertawa. Zira mendengar ucapan Ziko langsung tak bisa tenang. aduh jebol kayaknya nih gawang ku. Gerutu Zira dalam hati. Zira berusaha untuk mengalihkan arah pembicaraan Ziko. " Ya udah kalo kamu tidak mau beritahu dimana koper ku, aku akan tanya Kevin aja pasti dia tau. " Ucap Zira cepat. Zira hendak turun dari kasur tapi di tahan Ziko. " Ya aku akan tanya kevin. " Ucap Ziko sambil mengambil ponsel nya. Ziko menghubungi nomor Kevin dalam beberapa detik panggilan itu terjawab. Ziko menanyakan tentang koper sama Kevin. Setelah mengetahui keberadaan koper Ziko mengakhiri panggilannya. " Koper mu ada di mansion. " Ucap Ziko sambil meletakkan ponselnya di nakas. " Karena kamu sudah tau keberadaan kopermu jadi bisalah kita melakukan jurus kung Fu di sini satu ronde aja. " Ucap Ziko pelan. Zira langsung memundurkan kepalanya kebelakang begitu mendengar ucapan Ziko. Zira memikirkan satu cara agar tidak ada jurus kungfu di kamar hotel ini. " Sayang aku lapar. " Ucap Zira manja. " Ini pasti alasan kamu kan agar kamu tidak kena jurus kungfu ku. " Ucap Ziko cepat. " Nggak kok kan kamu tau kalo aku ada sakit mag jadi kalo lapar langsung makan. " Ucap Zira menjelaskan. Ziko mengerti dengan penjelasan Zira walaupun dia ingin melakukan satu jurus kung Fu tapi dia tidak mungkin membuat Zira sakit karena mengikuti nafsu kungfunya. Ziko menghubungi pihak hotel untuk mengantarkan makanan ke kamarnya. Dalam beberapa menit pihak hotel telah datang dengan membawa makanan yang di pesan Ziko " Halo readers bagi yang sudah baca jangan lupa like dan komen ya, dan jangan lupa juga untuk Vote agar novel favorit kalian bisa masuk 10 besar, Terimakasih. " Chapter 89 episode 89 Waktu sudah menunjukkan jam 5 sore para MUA datang ke kamar hotel untuk merias Zira. Zira baru selesai menikmati makanannya, suara kamar di ketuk. Ziko tertidur di kasur, Zira membuka pintu kamar ketika ada ketukan dari luar pintu kamar. Beberapa orang MUA memasuki kamar Zira setelah di perintahkan Zira. Mereka merias Zira dengan dandanan yang lebih berani karena pesta diadakan malam hari jadi menurut MUA warna lipstik dan eye shadow harus lebih keluar di bandingkan pada saat akad nikah. Setelah selesai dengan segala make up dan sanggul Zira mengganti baju kebayanya dengan gaun pengantin berwarna putih, gaun yang tidak mempunyai lengan dan bagian atasnya terbuka. Zira semakin terlihat sangat cantik dengan menggunakan gaun tersebut. Ziko yang melihat sampai terkagum - kagum melihat istrinya bisa sangat cantik. " Apa tidak bisa bagian itu di tutup. " Ucap Ziko. " Maaf tuan maksud anda bagian ini. " Tanya salah seorang desainer sambil menunjukkan bagian bahu Zira. Ziko mengangguk. " Bisa tuan tapi membutuhkan waktu yang lama. " Ucap desainer. Zira mengerti arah maksud pembicaraan Ziko tapi tidak mungkin akan di rubah gaun pengantinnya karena waktu yang tidak memungkinkan. " Sudah lah, kan kamu waktu fitting juga tidak masalah dengan gaunnya. " Ucap Zira membela desainer. " Ya kemaren sewaktu fitting gaunnya tidak terbuka seperti itu kenapa sekarang bisa seperti itu. " Ucap Ziko. " Owh itu karena gaunnya mengkerut. " Ucap Zira asal. Karena waktu yang tidak memungkinkan lagi, jadi Ziko menerima Zira mengenakan gaun pengantin tersebut, walaupun hatinya tidak ikhlas. Mereka berdua berjalan menuju tempat resepsi di ikuti pihak keluarga dari pihak keluarga pria, Tuan besar Raharsya dan Nyonya Amel, sedangkan dari pihak wanita Novi beserta suaminya. Alunan musik di perdengarkan seorang artis papan atas menyanyikan lagu yang romantis. Mereka jalan ke atas panggung, mereka menduduki kursi yang telah di sediakan. Zira dan Ziko duduk di tengah panggung. Semua tamu merasa takjub melihat pasangan pengantin ini. Mereka pasangan yang serasi yang wanita cantik pake banget yang pria ganteng pake buanget. " Coba kamu perhatikan mereka semua melihat ke arahmu. " Ucap Ziko pelan. " Mereka melihat kita berdua. " Ucap Zira pelan sambil tetap tersenyum manis. " Mereka semua melihat karena kamu memakai gaun ini. " Ucap Ziko sambil menunjuk ke gaun dengan ujung matanya. Para tamu undangan menaiki panggung untuk bersalaman dengan mereka berdua. Zira tidak mengenal siapa pun tamu undangan yang bersalaman dengannya. Dari begitu banyak tamu undangan hanya beberapa yang Zira kenal yaitu para karyawannya. Semua tamu undangan menikmati hidangan yang telah di sajikan sambil mendengarkan alunan musik. Terdengar ada suara kebisingan dari luar tempat resepsi. Ziko memerintahkan Kevin untuk mengecek ke luar. Kevin berjalan sedikit berlari ke luar tempat resepsi. Para penjaga sudah dalam posisinya masing - masing mereka menahan Sisil untuk masuk ke tempat resepsi. Penjaga memegang tangan Sisil, tapi Sisil terus berteriak dengan menyebutkan nama Ziko. Kevin yang datang memerintahkan para penjaga untuk melepaskan tangan Sisil. " Untuk apa anda datang kesini nona. " Ucap Kevin dengan sorot mata yang tajam. " Aku hanya ingin mengucapkan selamat kepada Ziko. " Ucap Sisil pelan. " Ucapan selamat anda akan sampai. " Ucap Kevin tegas. Kevin hendak pergi meninggalkan Sisil, tapi tangan Sisil sudah memegang lengan Kevin. " Aku mohon izinkan aku bertemu dengan Ziko, aku ingin mengucapkannya secara langsung, aku janji setelah itu aku akan pergi menjauh darinya. " Ucap Sisil memohon. Kevin masih diam tidak memberikan respon sama sekali. " Aku mohon izinkan aku terakhir kalinya. " Ucap Sisil tetap memohon. Kevin pergi ke dalam tempat resepsi meninggalkan Sisil di luar bersama para penjaga. Kevin menaiki panggung dan membisikkan sesuatu kepada Ziko. Zira memperhatikan Kevin dan Ziko yang saling berbisik. " Ada apa? Siapa yang teriak - teriak di luar? " Tanya Zira cepat. Ziko hanya melirik Zira dan tidak menghiraukan semua pertanyaan Zira. Zira menggoyang - goyangkan lengan Ziko. " Ayo jawab siapa yang teriak - teriak di luar? " Tanya Zira lagi. Karena lengan Ziko terus di goyang - goyangkan Zira dengan cepat Ziko langsung memberitahu Zira. " Sisil. " Ucap Ziko cepat. " Kenapa dia teriak? " Tanya Zira. Ziko menghembuskan nafasnya secara kasar. " Dia ingin datang menemuiku untuk terakhir kalinya. " Ucap Ziko pelan. " Ya sudah izinkan saja. " Ucap Zira cepat. " Apa kamu tidak ingat apa yang di lakukannya beberapa hari yang lalu dan sekarang kamu malah berbaik hati dengannya. " Ucap Ziko cepat. " Bukan begitu kalo kamu tetap biarkan dia di luar pasti dia akan tetap teriak dan coba kamu perhatikan reaksi semua tamu undangan, jadi lebih baik kita akhiri saja, toh ini yang terakhir. " Ucap Zira cepat. Ziko mengernyitkan dahinya sambil melihat sekeliling gedung. Para tamu undangan mulai berisik dengan teriakan yang tidak henti - henti dari luar gedung. Begitupun Nyonya Amel dan tuan besar sudah gerah mendengar kebisingan yang terjadi di luar gedung resepsi. Ziko melambaikan tangannya ke arah Kevin. Kevin datang dengan cepat. Ziko membisikkan sesuatu ke Kevin dengan cepat Kevin menganggukkan kepalanya. Kevin pergi ke luar gedung dengan langkah yang lebar. Di luar gedung Sisil masih dengan teriakannya. Begitu Kevin datang dia langsung diam. " Baiklah kamu di izinkan untuk menemui Tuan muda, tapi kalo kamu berbuat macam - macam, Awas kamu! " Ancam Kevin sambil menunjuk ke wajah Sisil. Kevin memasuki gedung di ikuti Sisil dan beberapa penjaga yang juga mengikuti belakang. Semua para tamu undangan riuh ketika melihat Sisil masuk ke dalam gedung mereka memperlihatkan wajah yang tidak suka kepada Sisil. " Ini kan pelakor itu yang kemaren di hajar sama nona Zira. " Ucap salah satu tamu undangan. " Iya betul gak tau malu ya, dasar pelakor. " Jawab ibu - ibu tamu undangan. Sisil menaiki panggung pelaminan sendiri Kevin beserta anak buahnya berdiri di bawah panggung. Dia hanya melihat sekilas kearah Nyonya Amel dan Tuan besar. Dia tidak berniat untuk menyalami Tuan besar dan Nyonya Amel. Dia hanya ingin bertemu dengan Ziko. Sisil berdiri di depan Ziko sambil meraih tangan Ziko. Awalnya Ziko ingin menepis tangan Sisil tapi begitu dia melirik ke arah Zira, ada isyarat dari Zira untuk tidak melakukannya. " Aku minta maaf karena perbuatan ku padamu yang telah lalu kalo aku tidak melakukannya pasti aku yang berada di posisi dia. " Ucap Sisil sambil melihat sinis ke arah Zira. Zira yang melihat tatapan sinis dari Sisil langsung duduk di kursi pelaminan sedangkan Ziko masih berdiri saling berhadapan - hadapan. Ziko tidak membalas atau mengucapkan sesuatu. Tanpa pikir panjang Sisil langsung mengecup bibir Ziko di hadapan semua tamu undangan. Semua yang berada di gedung itu terperangah melihat ciuman yang di lakukan Sisil kepada Ziko. Begitupun Zira dia sampai membulatkan mulutnya menyaksikan kejadian itu. Ziko langsung memegang kedua lengan Sisil dengan cepat. " Apa yang kamu lakukan, ha? " Bentak Ziko. Sisil hanya tersenyum menyeringai dia sudah mendapatkan yang dia mau, dia hendak pergi turun dari panggung pelaminan tapi begitu dia hendak turun. Gubrak dia jatuh tersungkur. " Ops maaf. " Ucap Zira cepat sambil menutup mulutnya dengan satu tangan. Zira sengaja meluruskan kakinya untuk memberikan pelajaran kepada Sisil. Sisil bangun dengan penuh emosi. " Awas kamu. " Ucap Sisil mengancam sambil pergi meninggalkan gedung. Semua yang berada di dalam gedung teriak riuh melihat Sisil jatuh tersungkur. Sisil berniat ingin mempermalukan Zira tapi hari ini dia di buat malu lagi oleh Zira. Ziko tersenyum melihat reaksi Zira kepada sisil. " Terimakasih istriku karena kamu telah mempermalukan nya. " Ucap Ziko cepat. " Ini aku lakukan bukan untukmu tapi untukku. " Ucap Zira ketus. Bagaimana mungkin dia terima ciuman dari si uget - uget apa dia lupa kalo ada istrinya di sini. Gerutu Zira dalam hati. " Like komen dan Vote yang banyak ya terimakasih " Chapter 90 episode 90 Pestapun telah selesai para tamu undangan sudah meninggalkan gedung resepsi. Tidak dengan Zira, dia masih duduk di kursi pelaminan. Ziko memperhatikan Zira dengan seksama. " Ayo. " Ucap Ziko. Zira hanya melihat sekilas tapi tidak menjawab apalagi bergerak. " Kamu kenapa? " Tanya Ziko heran. Semenjak kejadian tadi Zira tidak banyak bicara hanya diam dan berperang dalam pikirannya. Malah tanya kamu kenapa? kenapa sih gak peka jadi manusia, dasar manusia es batu gak salah aku menjulukinya manusia es batu. Gerutu Zira dalam hati. " Ayo kalo kamu gak mau akan aku gendong dengan paksa. " Ucap Ziko sambil memegang tangan Zira. Zira menepis tangan Ziko dan berjalan dengan sangat cepat meninggalkan Ziko yang masih bengong. Zira melangkahkan kakinya bukan ke kamar hotel tapi keluar gedung resepsi. Ziko berjalan dengan langkah lebar agar bisa berjalan beriringan dengan Zira. " Hey kamu mau kemana, kamar kita kan di atas. " Ucap Ziko sambil berjalan beriringan. " Aku mau pulang. " Ucap Zira cepat. " Nggak kita kan belum melakukan satu jurus kung Fu. " Ucap Ziko sambil menahan tangan Zira agar tidak meninggalkan gedung resepsi. " Aku mau pulang. " Ucap Zira lagi. " Kamu kenapa sih dari tadi mau pulang mau pulang. " Ucap Ziko sedikit berteriak. " Hey suamiku yang tersayang apa kamu gak berpikir apa yang menyebabkan ku marah samamu. " Ucap Zira cepat sambil menarik tangannya yang di pegang Ziko. " Mana aku tau kalo kamu cuma bilang mau pulang mau pulang. " Ucap Ziko sambil menirukan gaya bicara Zira. Zira kesal karena ziko tidak peka sama sekali. Dengan terpaksa Zira menyebutkan masalah yang menyebabkan dia diam. " Apa rasanya di cium sama si uget - uget. " Ucap Zira cepat. Ziko tertawa terbahak bahak. " Hahahaha istriku cemburu. " Ucap Ziko cepat sambil tertawa. Zira yang mendengar Ziko menyebutkan dirinya cemburu langsung mulai salah tingkah dan melakukan pembelaan. " Siapa yang cemburu aku itu cuma tanya gimana rasanya berciuman dengan uget - uget apakah sama rasanya dengan mulut micin ku. " Ucap Zira cepat membela diri. Ziko mulai mempermainkan Zira. " Hemmmmm rasanya ada sedikit manis beda sama bibirmu, kalo bibirmu ada rasa micinnya, kalo bibir Sisil ada rasa manis seperti rasa apa ya. " Ucap Ziko pura - pura sedang berpikir. " Seperti apa? " Tanya Zira. " Madu ya seperti madu. " Ucap Ziko cepat. Mendengar Ziko menyebutkan kata madu, Zira langsung pergi dengan menghentak - hentakkan kakinya Ziko tertawa puas karena bisa membuat Zira cemburu. Zira berjalan menuju parkiran mencari dimana letak mobil Ziko. Zira sudah sampai di dekat mobil tapi dia tidak menemukan asisten Kevin karena sudah letih Zira menyandarkan badannya di pintu mobil. Ziko mendekati Zira dan melakukan hal yang sama dengan Zira, bersandar di pintu mobil. Karena Zira masih cemberut mau tidak mau Ziko mengikuti keinginannya Zira yaitu pulang. Ziko mengambil ponselnya dan menghubungi Kevin. Tidak beberapa lama Kevin sudah datang menuju tempat parkir mobil. " Bukannya tuan dan nona akan menginap di sini? " Tanya Kevin. " Istriku gak mau dia mau ML di rumah katanya. " Goda Ziko. Zira langsung mencubit berulang kali badan Ziko. Ziko hanya teriak kecil mendapat cubitan dari Zira. " Wah cubitan mu seperti emak - emak kalo lagi marah. " Ucap Ziko cepat sambil berusaha menghindari cubitan Zira. Kevin membuka pintu mobil dan mempersilahkan Zira dan Ziko untuk masuk. Begitu pintu di buka Zira langsung duduk di pojok gak mau berdekatan dengan Ziko. Ziko melihat Zira duduk di pojokan mulai merasa risih karena Zira tidak mau bicara sama sekali. Apa cewek kalo ngambek sampai segitunya. Guman Ziko dalam hati. " Duduk sini. " Ucap Ziko sambil menepuk jok mobil. Zira hanya melihat sekilas dan kembali dengan menatap keluar jendela mobil. Karena Zira tidak mau duduk dekat Ziko. Jadi ziko yang memindahkan posisi duduknya bersebelahan dengan Zira. Seperti biasa Ziko langsung memeluk bahu Zira. Zira hanya melirik sekilas dan kembali lagi melihat ke luar jendela mobil. " Asisten Kevin kita pulang ke apartemen. " Ucap Zira cepat. " Hey siapa yang disini kepala rumah tangga, ke mansion. " Ucap Ziko cepat. Kevin menganggukkan kepalanya mengiyakan ucapan Ziko. Zira tidak bisa membantah omongan Ziko secara Ziko adalah kepala rumah tangga dan mau tidak mau dia mengikuti kemauan Ziko. Padahal Zira berpikir kalo malam ini dia tidur di apartemen maka bisa di pastikan dia bisa menghindari malam pertamanya. Tapi Zira berpikir sesuatu yaitu kopernya. Baiklah suamiku aku ikut ke mansion bersama mu, Karena alat perangku juga sudah berada di sana. Guman Zira dalam hati sambil tersenyum tipis. Ziko memperhatikan Zira yang tersenyum - senyum. " Vin gawat sepertinya istriku kesurupan. " Ucap Ziko panik. Kevin melihat Zira dari kaca mobil. " Iya tuan. " Ucap Kevin cepat. Zira masih saja tersenyum tidak perduli dengan ucapan Ziko dan Kevin. " Ini sudah malam lagi, apa kamu bisa menghubungi Mbah Jambrong untuk mengeluarkan kuntilanak dalam diri istriku. " Ucap Ziko sedikit panik sambil memindahkan posisi duduknya menjauh dari Zira. Kevin mengambil ponselnya dari dalam saku. " Maaf tuan saya harus parkir dulu di pinggir jalan, bahaya kalo menggunakan ponsel sambil menyetir. " Ucap Kevin cepat. Ziko mengangguk cepat. Begitu mobil berhenti di pinggir jalan. " Hey siapa yang kesurupan. " Ucap Zira cepat. Ziko melihat dengan cepat kearah Zira sebaliknya dengan Kevin, Kevin langsung memutar badannya melihat kearah Zira. " Tuan untuk memastikan apakah nona tidak kesurupan beri sebuah pertanyaan. " Ucap Kevin cepat. Ziko mengangguk setuju dengan usul Kevin. Zira langsung memegang pelipis mata nya. " Baiklah 1+1= " Tanya Ziko. " Dua lima. " Ucap Zira cepat sambil tetap memegang pelipis matanya " Nah kan Vin, istriku kesurupan mana udah malam lagi. " Ucap Ziko panik. " Tuan coba beri pertanyaan yang sering di ucapkan antara tuan dan nona, saya rasa kalo soal perhitungan yang tuan beri pasti kuntilanak tidak tau karena kan kuntilanak tidak pernah sekolah dia sibuk dengan sisirnya yang hilang. " Ucap Kevin menjelaskan. Ziko mulai memberikan pertanyaan yang sering di sebutkan antar dirinya dengan Zira. " Apa julukan yang kamu berikan kepadaku? " Tanya Ziko cepat. " Ubi kayu. " Ucap Zira cepat. " Betul tapi untuk lebih meyakinkan lagi aku beri pertanyaan satu lagi. " Ucap Ziko cepat. " Apa julukan yang aku berikan kepadamu? " Tanya Ziko cepat. " Mulut micin. " Ucap Zira cepat. Ziko tertawa senang dia langsung memeluk Zira. " Aku sempat berpikir apakah malam ini aku akan tidur dengan kuntilanak ternyata kamu sudah kembali. " Ucap Ziko sambil memeluk Zira. " Memangnya aku pergi kemana. " Ucap Zira cepat. " Sudahlah aku senang kamu telah kembali dan untukmu jangan kamu ulangi perbuatan yang tadi. " Ucap Ziko pelan. " Yang tadi mana? " Tanya Zira heran. " Dasar pelupa jangan suka senyum - senyum sendirian pada saat tengah malam. " Ucap Ziko cepat. Ziko masih dengan pelukannya ada rasa damai ketika memeluk Zira. Sedangkan Kevin melajukan mobilnya kembali menuju mansion. " Like komen dan vote ya, bagi yang belum vote buruan dong vote, biar semangat nih author next episode ML loh. Terimakasih. " Chapter 91 episode 91 Mobil yang di kendarai kevin sudah sampai, mobil memasuki pekarangan mansion. Kevin membuka pintu mobil, Ziko keluar dari mobil dia menunggu Zira di luar mobil tapi Zira belum juga keluar dari mobil. Ziko menundukkan badannya melihat kedalam mobil. " Kenapa kamu gak keluar?" Tanya Ziko lagi sambil mengulurkan tangannya. Zira tidak menjawab dan tidak menyambut uluran tangan Ziko. " Ayo cepat, apa kamu mau kita ML di sini?" Ucap Ziko cepat. Zira langsung menyambut tangan Ziko begitu mendengar kata ML. Begitu Zira keluar ziko langsung memeluk pinggang Zira. Mereka berjalan kedalam mansion. Tanpa pikir panjang Ziko sudah menuntun Zira memasuki kamarnya. Kamar yang cukup luas bahkan kalo di bandingkan dengan kamar Zira, kamar Zira hanya seperdelapannya dari kamar Ziko. Jadi bisa di bayangkan besarnya kamar Ziko. Sangking besarnya kamar Ziko bisa di gunakan untuk main bola. Zira melihat sekeliling kamar Ziko. Kasur berukuran king di letakkan di tengah - tengah, ada sofa dan televisi. Dan ada sebuah partisi yang di gunakan sebagai pembatas antara ruang ganti pakaian dan tempat tidur, di ujung ada sebuah toilet mewah dengan bathtubnya. Zira mencari kopernya keliling kamar tapi dia tidak menemukan kopernya. Ziko melihat tingkah Zira. " Ngapain kamu mondar mandir seperti itu?" Tanya Ziko cepat. " Aku cari koperku." Ucap Zira cepat. Ziko memegang telepon yang ada di atas nakas, kemudian dia memencet tombolnya. " Halo?" Tanya seseorang dari ujung telepon. " Pak Budi dimana kamu meletakkan koper Zira." Tanya Ziko. Ziko langsung mengenali suara yang ada di ujung telepon. " Maaf tuan ada di dalam lemari sebelah pinggir." Ucap pak Budi. " Baik." Ucap Ziko cepat. Ziko langsung menutup teleponnya. " Kopermu ada di lemari sebelah pinggir." Ucap Ziko cepat. Zira langsung berlari ke ruang ganti yang di dalamnya sudah ada beberapa lemari berjejer yang menjulang tinggi. Zira melihat sekeliling lemari. " Sebelah pinggir mana." Teriak Zira Karena ruang ganti dan tempat tidur mempunyai space yang besar jadi Zira sedikit berteriak agar suaranya terdengar Ziko. Ziko tidak menjawab ucapan Zira. " Mana sih kok nggak jawab." Ucap Zira. Zira melihat keluar dia mendapati Ziko sedang membuka jasnya di lanjutkan dengan membuka kancing kemejanya satu persatu. Zira menelan salivanya begitu melihat sebagian dada Ziko. " Aduh dia udah mau buka baju, aku aja belum menemukan alat perangku." Gerutu Zira pelan. Zira tidak jadi meminta bantuan Ziko. Dia mencari kopernya sendiri. Setiap lemari di bukanya satu persatu tapi dia belum menemukan kopernya. Ziko tengah berdiri di belakang Zira. " Sudah ketemu belum?" Tanya Ziko. Zira langsung terperanjat ketika ada suara seseorang di belakangnya. Ziko sudah berada di ruang ganti hanya menggunakan CD. Ziko tidak merasa malu sama sekali. Dia seperti seorang model celana dalam pria. Zira menutupi matanya melihat ziko yang hanya menggunakan CD. " Nih kopermu." Ucap Ziko sambil menyerahkan koper Zira. Ziko hendak pergi kekamar mandi tapi dia mengurungkan niatnya karena dia melihat Zira sedang menutup mata. Mulai muncul idenya untuk mengerjai Zira. Ziko berdiri di depan Zira. Zira tidak mengetahui keberadaan Ziko yang sedang berdiri di depannya. Ziko memegang kedua tangan Zira. " Buka matamu!" Ucap Ziko sambil memegang kedua tangan Zira yang berada di depan mata. Tangannya Zira sudah tidak berada di depan mata tapi Zira masih tetap menutup kedua matanya. " Buka matamu!" Ucap Ziko lagi. Zira masih gak mau membuka kedua matanya. Dia malah semakin merapatkan kedua matanya. Karena Zira tidak mau membuka matanya, Ziko mulai merencanakan ide gilanya. " Hey mau ngapain kamu." Ucap Zira sedikit berteriak. Ziko memegang salah satu tangan Zira dan meletakkannya di dada Ziko. " Aaaaaaah." Zira berteriak sekencang - kencangnya sambil berlari keluar menuju tempat tidur. Kebalikan dari Zira. Ziko malah tertawa senang telah mengerjai Zira. " Apa yang kamu lakukan tadi?" Ucap Zira teriak. " Hahahaha aku hanya menunjukkan kepadamu kalo punyaku asli gak kaleng - kaleng." Ucap Ziko sambil tertawa. " Alah itu kan karena pake casing coba kalo gak pake casing pasti udah enggak berbentuk." Ucap Zira cepat. " Owh jadi kamu belum yakin apa perlu aku buka casingnya." Ucap Ziko sambil tersenyum menyeringai. Zira langsung panik ketika Ziko sudah mulai mendekatinya. " Iya - iya aku percaya kalo itu gak kaleng - kaleng." Ucap Zira cepat agar terhindar dari marabahaya. Ziko masih tetap mendekat ke arah Zira. " Sudah cepat mandi bukannya kita mau ML." Ucap Zira cepat. Zira terlupa sesuatu bahwa yang di katakannya sama aja, sama - sama mengenai anunya Ziko. Ziko langsung pergi kekamar mandi mendengar kata ML. " Aduh nih mulut. Habislah aku malam ini. " Ucap Zira sambil memukul mulutnya. Ziko masih berada di kamar mandi. Zira mulai merencanakan sesuatu. " Aha aku akan berlama - lama di kamar mandi kalo perlu aku tidur di kamar mandi. " Guman Zira pelan. Zira tersenyum - senyum sendiri. " Tapi kalo dia menggedor pintu kamar mandi gimana dong. " Guman Zira bingung. " Oh ya aku harus melakukan rencana kedua, dan jika rencana kedua gagal, berarti aku harus merencanakan rencana ketiga. " Guman Zira lagi. Zira mulai memikirkan rencana ketiga. karena rencana ketiga belum ada dalam daftarnya, jadi dia memeras otaknya untuk menemukan sebuah ide. " Ya aku tau, aku tersenyum - senyum sendiri pasti si ubi kayu berpikir aku kesurupan, dia kan paling takut kalo aku sampai kesurupan apalagi ini udah tengah malam dan semoga dia tidak menghubungi Mbah Jambrong." Guman Zira. " Like komen dan Vote yang banyak ya. " Chapter 92 episode 92 Tidak beberapa lama Ziko keluar dengan menggunakan handuk yang di ikatkan di pinggangnya, bagian atas tubuh Ziko terlihat dengan sempurna. Zira sampai bengong melihat bentuk tubuh Ziko. " Wah kenapa dia bisa sekeren ini, aduh itu perutnya kenapa banyak sekali bangunan datar ada persegi bahkan bentuk trapesium pun ada. " Guman Zira pelan. Ziko memperhatikan Zira yang menatapnya tanpa berkedip. " Tutup mulutmu nanti ngences mu keluar. " Ucap Ziko cepat. Zira masih menikmati tubuh Ziko yang begitu sempurna. " Aduh kenapa nih mahkota bisa bergetar kayak handphone aja. " Guman Zira pelan. " Bersihkan tubuhmu cepat, aku akan menunggu mu disini. " Ucap Ziko cepat. Zira langsung lari begitu mendapatkan perintah dari Ziko. Zira menuju kamar mandi tidak lupa dia membawa koper nya. Dia membawa kopernya ke dalam kamar mandi. Dia berpikir lebih baik menggunakan peralatan perangnya di kamar mandi. Zira membersihkan semua badannya yang lengket seharian. Lama Zira di kamar mandi dia sudah membersihkan semuanya. Ziko sudah menunggunya di atas kasur, tapi Zira tak kunjung keluar. Jadi Ziko berniat menggedor pintu kamar mandi. Tok tok tok, Ziko menggedor pintu kamar mandi. " Kenapa lama? " Teriak Ziko cepat sambil menggedor-gedor pintu kamar mandi. Zira yang mendengar pintu di gedor sudah mulai panik. " Eh iya sebentar aku sedang sikat gigi. " Teriak Zira gugup. " Kenapa sikat giginya lama? " Teriak Ziko lagi dari luar pintu kamar mandi. " Iya kan gigiku jumlahnya ada 32 jadi harus aku gosok satu persatu. " Teriak Zira dari dalam kamar mandi. Ziko kembali duduk di atas kasur, dia hanya menggunakan celana pendek, karena kesehariannya tidur selalu menggunakan celana pendek. Di dalam kamar mandi. " Sepertinya dia sudah tidak di depan pintu kamar mandi. " Ucap Zira sambil mengelus dadanya. Setelah 15 menit Zira belum keluar lagi. Ziko sudah geram. Tok tok tok. " Cepat kalo tidak akan aku dobrak ini pintu. " Teriak Ziko dari luar kamar mandi. " Eh iya sebentar aku lagi keramas. " Teriak Zira dari dalam kamar mandi. Ziko masih mondar mandir di depan kamar mandi. Dia kembali menggedor pintu kamar mandi. " Kalo dalam sampai waktu 5 menit akan aku dobrak ini pintu. " Teriak Ziko dari luar kamar mandi. Ziko kembali duduk di pinggir kasur. Sedangkan Zira sudah menggunakan alat perangnya. " Baik semua sudah aku gunakan, ha iya satu lagi di guuuling di sebutkan pakai wewangian, aku tidak akan pakai wewangian. " Guman Zira masih di dalam kamar mandi. Setelah melihat dirinya di dalam kaca. Zira sudah yakin pasti Ziko tidak akan mau menyentuhnya. Zira membuka pintu kamar mandi secara perlahan dia celingak-celinguk melihat keadaan di luar kamar mandi. Zira melangkahkan kakinya kedepan Ziko. Ziko melihat penampilan Zira dari atas sampai bawah. " Apa yang kamu kenakan ini? " Tanya Ziko sambil teriak. Pasti readers bingungkan Zira mengenakan apa. Zira mengenakan celana Jins dua lapis dan baju berlapis - lapis dan tidak lupa mengenakan jaket tebal. Zira masih berdiri tidak menjawab pertanyaan Ziko. " Pakai jaket, pakai celana jins dan ini lagi pake kacamata. Kamu mau tidur apa mau ngojek. " Teriak Ziko cepat. " Ya mau tidur lah. " Ucap Zira cepat. " Kenapa penampilanmu seperti ini. " Teriak Ziko lagi. Zira mulai mencari jawaban atas pertanyaan Ziko. " Oh aku kurang enak badan, sepertinya aku meriang. " Ucap Zira sedikit memelas. Ziko hanya melihat sekeliling tubuh Zira. Zira langsung naik ke atas tempat tidur. Tidak memperdulikan Ziko yang masih melihatnya dengan tatapan yang tajam. Zira merebahkan badannya di atas kasur. Ziko pun merebahkan badannya di sebelah Zira. Ziko masih menatap Zira dengan tajam. " Apa betul kamu demam? " Tanya Ziko cepat. " Iya. " Ucap Zira pelan. " Kalo kamu demam kenapa kamu menggunakan kacamata hitam? " Tanya Ziko cepat penuh selidik. " Eh ini mataku banyak beleknya. " Ucap Zira cepat. Nggak mungkin aku bilang kalo aku lihat di aplikasi guuuling, di aplikasi ada tertera tatap mata pasangan anda, jadi aku pakai kacamata aja biar dia tidak menatap mataku. Guman Zira dalam hati. Ziko masih saja melihat Zira dengan tatapan curiga. " Tadi kamu bilang kamu keramas tapi kenapa rambutmu tidak basah. " Tanya Ziko lagi cepat. " Owh tadi aku keramasin bulu kakiku bukan rambutku. " Ucap Zira enteng. Ziko mulai menutup hidungnya. " Apa yang kamu pakai? " Tanya Ziko cepat. " Minyak angin kan sudah aku bilang kalo aku agak meriang. " Ucap Zira cepat. Aduh jangan tanya lagi please, udah kamu tidur aja ubi kayu, semoga saja berhasil rencanaku ini. Guman zira dalam hati. " Buka kacamatamu, aku mau lihat belekmu. " Ucap Ziko cepat. " Nggak usah nanti kamu ketularan. " Ucap Zira menolak sambil mempertahankan kacamata hitamnya. " Mau ML aja ribet banget. " Ucap Ziko cepat. Zira membelakangi tubuh Ziko. Dia pura - pura tidur. Ziko curiga dan mulai merencanakan sesuatu. Baiklah aku akan ikut permainanmu. Guman Ziko pelan. Ziko menonaktifkan AC di kamarnya. Zira melihat tindakan Ziko. " Kenapa di matikan AC nya? " Tanya Zira cepat. " Owh kamu kan lagi meriang lebih baik aku matikan saja AC nya biar kamu tidak kedinginan. " Ucap Ziko cepat sambil tersenyum. Sampai berapa lama kamu bisa betah dengan pakaian seperti itu, kita lihat saja. Guman Ziko dalam hati. Zira mengenakan jaket tebal baju berlapis - lapis, celana jins dan kaos kaki. Tidak lupa dia dengan kacamata hitamnya. Awalnya Zira mau menolak tapi jika dia menolak pasti Ziko akan curiga. Ziko masih juga belum tidur dia masih melihat seberapa tahan Zira dengan suhu ruangan yang tidak ada pendingin sama sekali. Zira pun tidak bisa tidur dia sudah gerah dan keringatnya mengucur deras. " Uhuk - uhuk. " Ziko pura - pura batuk. Zira mulai gerah dia melepaskan kacamata nya di lanjutkan dengan kaos kakinya. Ziko yang melihat di belakangnya tersenyum menyeringai. Lama Ziko menunggu Zira untuk membuka satu persatu alat perangnya. Tapi tidak, sama sekali Zira bertahan dengan alat perangnya walaupun keringatnya sudah mengalir deras. Ziko sampai heran dengan pendirian Zira yang kuat. oh malaikat jangan kutuk aku ya, aku belum siap dia menjebol gawangku, please malaikat kamu baik loh, kalo kamu ada di sini catat aja amal baikku kalo perbuatanku yang ini jangan di catat ya. Guman Zira dalam hati seperti berdoa. Waktu sudah menjelang subuh Zira masih dengan peralatan perangnya, dia hanya tidur seperti ayam sesekali bangun. Sama dengan Ziko, Ziko tidak bisa tidur dengan suhu ruangan yang panas, dia juga sesekali tidur sesekali bangun. " Halo readers penasaran ya dengan ML nya Ziko dan Zira, bukan bermaksud mau berbelit - Belit ya, pasti Ziko akan menjebol gawang Zira tapi dengan cara yang unik, penasaran??? " Ayo like komen dan Vote nya yang banyak. Terimakasih. Chapter 93 episode 93 Tok tok tok, pintu kamar di ketuk. Zira yang hanya tidur ayam langsung bangun dan melihat ke sebelahnya yaitu Ziko. Ziko sudah tertidur. Zira berlari membuka pintu kamar. Di depan pintu kamar ada pak Budi kepala pelayan. " Nona waktunya sarapan. " Ucap pak Budi sopan. " Baik pak. " Ucap Zira sambil menguap. Pak Budi pergi meninggalkan kamar. Zira menutup pintu kamar. Dia melihat Ziko yang tertidur pulas. Ada rasa kasihan melihatnya. " Lebih baik aku mandi sebelum dia bangun. " Guman Zira pelan sambil menuju kamar mandi. Zira sudah membersihkan badannya di kamar mandi, setelah selesai dia mengenakan pakaiannya. Dia berencana hari ini akan pergi ke butik. Jadi dia mengenakan pakaian yang feminim. Zira menghampiri Ziko yang masih tertidur di atas kasur. Dia berniat membangunkan Ziko. Zira mengguncang - guncang tubuh Ziko. Tapi Ziko tidak juga bangun. Zira mulai mengguncang kuat tubuh Ziko. Dengan cepat Ziko memegang pinggang Zira dan meletakkan Zira di bawah badannya. " Apa yang kamu lakukan. " Ucap Zira cepat. Ziko memang selalu banyak akalnya untuk dapat mengerjai Zira. Setelah mendapatkan yang dia mau , Ziko pergi ke kamar mandi, Zira masih diatas kasur dengan wajah yang berantakan. Zira merapikan pakaiannya dan makeup nya. Zira merasa kesal dengan Ziko karena baru saja menciumnya. Zira keluar kamar menuju meja makan, tapi dia kembali lagi kekamar. " Nggak aku harus keluar kamar bareng dia, nanti Nyonya Amel dan Tuan besar curiga. " Guman Zira pelan sambil menuju kamar. Zira membuka pintu kamar dan melihat sekeliling kamar, tapi dia tidak mendapati Ziko di dalam kamar. " Owh mungkin dia sedang mandi. Lebih baik aku menunggu disini. " Gumam Zira pelan sambil duduk di atas sofa. Tidak berapa lama Ziko keluar dari ruang ganti dia sudah mengenakan setelan jasnya. Ziko membawa sebuah dasi. " Karena sekarang kamu istriku, kamu yang harus memakaikannya. " Ucap Ziko pelan sambil berjalan ke dekat Zira. Ziko memberikan dasinya kepada Zira. Zira menerima dasi tersebut, kemudian dia hendak memakaikan dasi tersebut ke leher Ziko. Karena Ziko terlalu tinggi jadi Zira naik ke atas sofa. Sekarang posisi mereka sama tinggi. Zira meletakkan dasi tersebut ke leher Ziko, Ziko memperhatikan detail wajah Zira. Setelah rapi Zira hendak pergi tapi lagi - lagi badan Zira di tahan Ziko. Ziko mengecup kening dan bibir Zira. Sebagai tanda sayang kepada istrinya. Dia sudah mempunyai seorang istri walaupun pernikahan mereka karena sebuah ancaman tapi Ziko berusaha untuk menjadi suami yang baik buat Zira. Ziko menggandeng tangan Zira. Tapi Zira menahan tangannya. " Tunggu. " Ucap Zira sambil menahan tangannya. " Apa lagi? " Tanya Ziko cepat. " 1 menit saja. " Ucap Zira cepat. Zira berlari ke depan meja rias, dia merapikan lipstiknya yang sudah tidak sempurna. Kemudian dia kembali kearah Ziko dengan membawa tisu. Dia membersihkan bibir Ziko dengan tisu. " Nah ini baru betul. " Ucap Zira sambil memandang wajah Ziko. " Memangnya tadi salah apa? " Tanya Ziko. " Nih apa kamu gak lihat. Kamu seperti waria kalo pake lipstik. " Ucap Zira cepat. Ziko langsung melotot ke arah Zira. Melihat tatapan yang di berikan Ziko, Zira langsung mengancungkan dua jarinya sambil membentuk huruf V. " Ok aku gak ucap waria lagi. " Ucap Zira cepat sambil membentuk huruf V di jarinya. Mereka berdua pergi keruang makan. Ziko menggandeng tangan Zira. Di meja makan semua keluarga telah duduk menanti mereka berdua. " Suit suit, yang baru malam pertama. " Goda Zelin. Zira tersenyum malu mendengar ucapan Zelin. " Zelin. " Ucap mamanya Dengan cepat Zelin langsung menutup mulutnya. Ziko menarik salah satu kursi untuk di duduki Zira. Zira duduk di sebelah Ziko. Mereka menikmati sarapan paginya tanpa ada yang saling berbicara. Setelah selesai makan pak Budi beserta pelayan lainnya membersihkannya meja makan. " Ma aku mau berangkat ke kantor. " Ucap Ziko kepada mamanya. " Baiklah dan kamu sayang? " Tanya Nyonya Amel kepada Zira. " Iya Tante saya juga mau kebutik. " Ucap Zira pelan. " Kok Tante sih, mama dong kamu kan sudah jadi anak mama sekarang. " Ucap Nyonya Amel menjelaskan. " Baik mama. " Ucap Zira cepat. Ziko dan Zira sudah berada di depan pintu mansion. Asisten Kevin sudah menunggu di samping mobil. Begitu Zira dan Ziko datang dia langsung membukakan pintu mobil. Zira memasuki mobil dan Ziko kembali ke dalam mansion. Zira hanya melihat tindakan Ziko. Kenapa dia masuk lagi, pasti ada yang ketinggalan. Guman Zira dalam hati. Ziko kembali masuk ke mansion dia mencari pak Budi yang sedang berada di dapur. " Pak. " Ucap Ziko memanggil pak Budi. " Iya Tuan muda. " Ucap pak Budi. " Saya mau kamu membuang koper nona Zira. Dan jangan ada jaket kaos kaki atau celana jins di kamar saya. " Ucap Ziko memberi perintah. " Baik Tuan. " Ucap pak Budi cepat. Setelah Ziko berbicara dengan pak Budi, dia kembali ke luar mansion menuju mobil. Zira memperhatikan tangan Ziko. " Kenapa tidak membawa sesuatu? " Tanya Zira cepat. " Maksudmu apa istriku. " Tanya Ziko bingung. " Nggak nggak. " Ucap Zira cepat. Nanti aku salah lagi kalo banyak tanya mending diam aja, bisa jadi dia kedalam kebelet pipis. Guman Zira dalam hati. " Ayo like komen dan vote sebanyak - banyak ya, agar novel favorit kalian masuk 10 besar, masih banyak author lihat yang hanya baca tapi tidak like dan masih banyak juga yang belum Vote. Ayo dong vote nya di tunggu nih. Terimakasih " Chapter 94 episode 94 Mobil sudah meninggalkan mansion. Zira dan Ziko tidak berbicara sama sekali di dalam mobil. Mereka masih berpikir dengan pikirannya masing-masing. Tadi malam aku bisa menjaga gawangku, bagaimana dengan nanti malam. Guman Zira dalam hati. " Sayang pulang dari butik, aku mau ke apartemen, mau ambil baju. " Ucap Zira manja. Ziko langsung menoleh dengan cepat kearah Zira. Pasti dia sedang merencanakan sesuatu untuk nanti malam, akan aku batalkan rencanamu istriku. Guman Ziko dalam hati. " Nggak kamu gak boleh ke apartemen, apalagi ambil baju. " Ucap Ziko tegas. " Sayang aku tidak bawa baju banyak loh. " Ucap Zira lagi sambil mengedip - ngedipkan matanya. " Nggak usah sok imut, sekali aku bilang tidak ya tidak. " Ucap Ziko cepat. " Okelah kalo begitu, aku pastikan istrimu ini akan memakai pakaian yang sama dengan tadi malam. " Ucap Zira mengancam. " Ok siapa takut. " Ucap Ziko sambil tersenyum licik. Zira sudah sampai di butik. Dia kelihatan sangat lelah dan mengantuk. " Ye yang penganten baru, habis begadang nih tadi malam, ngantuk bener. " Goda Lina. Zira tidak menghiraukan ucapan Lina, dia hanya sesekali menguap. " Mbak ayo cerita gimana dengan malam pertamanya? " Tanya Lina penasaran. Zira tidak menjawab dia hanya tersenyum tipis. Aduh Lin gak mungkin aku bilang kalo aku tadi malam ngojek di atas kasur. Guman Zira dalam hati. " Ye si mbak, di tanyai malah di balas dengan senyuman. " Gerutu Lina. " Sudah sana pergi aku ngantuk banget nih. " Ucap Zira sambil melambaikan tangan mengusir Lina dari ruangannya. " Iya iya tau yang baru begadang. " Ucap lina sambil meninggalkan Zira yang tengah tidur di atas sofa. Ziko memasuki ruangannya dia tidak duduk di kursi kebesarannya dia memilih untuk tidur di dalam ruangan khusus yang di dalamnya ada kasur. Kevin langsung nyeletuk ketika melihat Ziko langsung berbaring di atas kasur. " Sepertinya tuan kelelahan? " Tanya Kevin. " Hemmmmm. " Ucap Ziko sambil meletakkan salah satu tangannya di atas dahi. " Apa perlu saya belikan obat kuat tuan? " Tanya Kevin pelan. Ziko langsung melempar Kevin dengan bantal ketika mendengar kata obat kuat. " Apa kamu pikir aku tidak cukup kuat sampai harus minum obat kuat. " Teriak Ziko. " Maaf tuan saya hanya kasihan melihat anda sepertinya kelelahan menaklukkan nona Zira. " Ucap Kevin pelan. " Hey sekali lagi kamu bicara aku segel mulutmu dengan sepatu ini. " Ucap Ziko sambil menunjukkan sepatunya ke arah Kevin. Kevin pergi keluar kamar sambil tersenyum - senyum. " Kapan aku punya istri, seandainya aku punya istri pasti aku lebih kuat dari Tuan muda. " Guman Kevin. Kevin meninggalkan ruangan Ziko dan kembali ke ruangannya untuk mengerjakan beberapa pekerjaan. Ziko membuka matanya dan melirik jam yang ada di tangannya. " Sudah jam 5 lebih baik aku pulang. " Ucap Ziko. Ziko meninggalkan gedung Raharsya group. Badannya sudah terasa fit kembali. " Tuan apa kita menjemput nona dulu? Tanya Kevin. " Nanti suruh supir aja yang menjemput. Aku mau cepat - cepat balik. " Ucap Ziko cepat. Kevin langsung menginjak pedal gas mobil. Mobil melaju dengan kecepatan sedang karena banyak para pekerja yang juga pulang kerja jadi jalanan lumayan agak ramai. Setelah sampai mansion Ziko langsung mencari pak Budi. " Pak Budi? " Ucap Ziko. " Ya Tuan muda? " Ucap pak Budi sopan. " Bagaimana dengan kopernya? " Tanya Ziko cepat. " Sudah beres tuan, isinya saya bagi - bagikan ke pelayan, dan koper masih ada di dalam kamar. " Ucap pak Budi menjelaskan. Ziko hendak melangkahkan kakinya tapi dia membalikkan badannya lagi melihat kearah pak Budi. " Nanti kalo nona Zira tanya. Bapak mau jawab apa? " Tanya Ziko lagi. " Saya bilang apa adanya Tuan. " Ucap pak Budi cepat. " Iya betul. " Ucap Ziko sambil memegang satu bahu pak Budi. " Pak saya sangat lapar tolong antarkan makanan kekamar, oh satu lagi nanti begitu nona pulang bilang saya lagi sakit. Dan suruh nona Zira untuk makan malam sendiri. " Ucap Ziko menjelaskan. Pak Budi hanya menganggukkan kepalanya. Ziko kembali kekamar nya merencanakan sesuatu hal untuk menaklukkan gawang Zira. " Apa betul Tuan sakit, tapi wajahnya tidak menunjukkan sedang sakit. " Guman pak Budi sambil kembali bekerja. Zira masih tertidur di sofa. Dia tidak sadar waktu sudah menunjukkan jam 6 sore. " Mbak - mbak, aku pamit ya. " Ucap Lina sambil memegang tangan Zira. Zira langsung kaget ketika tangannya di pegang. " Ya ada apa. " Ucap Zira cepat dengan suara khas bangun tidur. " Kaget ya? Hehehe, aku cuma mau pamit aja kok mbak. " Ucap Lina. " Memangnya sudah jam berapa kok kamu sudah pulang. " Tanya Zira sambil duduk. " Udah jam 6 loh mbak. " Ucap Lina sambil menunjukkan jam di tangannya. " Lama juga aku tidur. Ya udah sana balik. " Ucap Zira cepat. Lina pergi meninggalkan ruangan Zira. Sedangkan Zira masih meluruskan otot - ototnya yang kaku. " Sudah jam 6 kok dia belum jemput aku ya. Ah biarin aja kalo gak di jemput aku tidur di sini aja. " Guman Zira sambil merapikan rambutnya. Dari luar ruangan ada suara langkah seseorang menaiki anak tangga. Tok tok tok. " Masuk. " Ucap Zira cepat. " Mbak kamu sudah di jemput. " Ucap Lina cepat dengan nafas yang ngos-ngosan. " Aku balik mbak. " Ucap Lina lagi masih dengan nafas yang ngos-ngosan. " Baru di bilang dah nongol aja. " Ucap Zira cepat. Zira Keluar butik menuju mobil. " Kenapa Bapak yang jemput? " Tanya Zira langsung. " Saya di perintahkan Tuan untuk menjemput nona. " Ucap pak supir sambil membukakan pintu mobil. Zira langsung duduk begitu pintu mobil di buka. Perutnya Zira sudah berbunyi tandanya harus di isi. " Aduh aku lapar banget. " Guman Zira pelan. Mobil sudah sampai di mansion Zira langsung lari kedalam. Zira melewati ruang makan. Dan ternyata di sana sudah ada Nyonya Amel dan Tuan besar beserta Zelin. " Zira kamu sudah pulang? " Tanya Nyonya Amel. " Sudah ma. " Ucap Zira cepat. " Mari langsung makan. " Ucap Nyonya Amel mengajak Zira untuk makan. " Tapi Tuan, eh suami saya belum ada ma, saya panggil dulu ya ma? " Ucap Zira cepat. " Nggak usah tadi kata pak Budi dia sudah makan. Ayo mari makan mama sudah lapar nih. " Ucap Nyonya Amel lagi. Zira langsung menuju meja makan dan duduk di kursi yang sama dengan tadi pagi. Mereka menikmati makan malam itu dengan tenang tanpa ada yang bersuara sama sekali. Setelah selesai makan Nyonya Amel memulai pembicaraan. " Zira besok mama dan papa akan berangkat ke luar negeri jadi mama harap kamu bisa menjaga dan merawat Iko dengan baik. " Ucap Nyonya Amel. " Berapa lama di sana ma? " Tanya Zira lagi. " Belum tau kami ingin menikmati masa tua kami di sana. " Ucap Nyonya Amel sambil memegang tangan suaminya. " Dan Zelin gimana? " Tanya Zira cepat. " Aku akan ikut kak, kan ini lagi libur semester jadi aku bisa ikut, nanti aku akan balik kalo musim kuliah sudah di mulai. " Ucap Zelin. " Iya Zira kami percaya kamu akan menjaga dan merawat Iko dengan baik. " Ucap Tuan besar. Zira mengangguk tapi ada perasaan sedih. Nyonya Amel memperhatikan ekspresi wajah Zira yang sedih. " Kamu kenapa sayang? " Tanya Nyonya Amel cepat sambil berjalan ke arah Zira. " Aku pasti akan merindukan kalian. " Ucap Zira pelan. Nyonya Amel langsung memeluk Zira erat. " Kamu nanti bisa menyusul kesana kalo kamu mau. " Ucap Nyonya Amel menyemangati Zira. Zira menganggukkan kepalanya. " Halo readers kalo sudah selesai baca di like ya , kemudian komen nah satu lagi vote. Masih banyak nih yang belum like komen dan vote, banyak readers yang minta author untuk cepat update tapi tidak mau vote jadi gak semangat nih author. " Chapter 95 episode 95 Nyonya Amel dan Tuan besar sudah meninggalkan ruang makan. Masih ada Zelin dan Zira. " Kak bagaimana rasanya malam pertama. " Tanya Zelin pelan. Zira yang lagi minum air mineral langsung muncrat air dari mulutnya. " Hehehe kakak kaget ya, mendengar pertanyaanku. " Ucap Zelin cepat sambil memindahkan posisi duduknya di sebelah Zira. Zira tidak menjawab dia hanya tersenyum. " Ayolah kak, aku mau tau gak usah detail inti - intinya aja. " Ucap Zelin lagi. " Nggak ah nanti kamu tau malah pengen lagi. " Ucap Zira cepat. " Ih apaan tuh. Ayolah kak? Apa kalian sudah buat anak? " Tanya Zelin lagi. " Owh tentu sudah, kami tadi malam buat anaknya pake tepung terigu. " Ucap Zira sambil pergi meninggalkan Zelin. " Donat kali. " Gerutu Zelin Zira hendak melangkahkan kakinya untuk menaiki anak tangga. " Nona Zira. " Ucap pak Budi. " Iya pak. " Ucap Zira sambil menatap pak Budi. " Nona Tuan Muda sakit. " Ucap pak Budi pelan. " Apa! " Mendengar Ziko sakit dengan cepat Zira langsung melangkahkan kakinya menaiki setiap anak tangga. Zira sampai di dalam kamar dengan ngos-ngosan. Zira melihat Ziko yang sedang berbaring di atas kasur. Zira mendekati Ziko, dia menatapi wajah Ziko dengan lekat. Dan meletakkan tangannya di dahi Ziko. " Nggak panas kok, apanya yang sakit. " Guman Zira pelan. " Kalo sakit seharusnya pake baju atau pakai selimut, kamu sakit apa sih suamiku. " Guman Zira pelan sambil memegang hidung Ziko. Ziko mendengar semua ucapan Zira, dia hanya berakting untuk mendapatkan perhatian dari Zira. " Ini nih bibir yang suka nyosor. " Ucap Zira sambil memegang bibir Ziko. " Kamu bisa sakit juga ya suamiku. " Ucap Zira cekikikan. Zira duduk di lantai sambil memperhatikan wajah Ziko. " Ganteng juga. " Ucap Zira sambil berdiri lagi. " Dia sakit apa ya, kalo demam badannya gak panas, jangan - jangan dia hanya pura - pura sakit. " Guman Zira pelan. Ziko mendengar ucapan Zira. Ziko langsung mulai berakting agar aktingnya lebih meyakinkan. " Uhuk uhuk. " Ziko pura - pura batuk. Zira langsung menoleh kearah Ziko mendengar suara batuk. " Oh batuk. " Ucap Zira. Zira memegang telepon untuk menghubungi pak Budi. " Ya halo. " Ucap Pak Budi. " Pak ini saya Zira. ada obat batuk gak? " Tanya Zira. " Ada nona siapa yang sakit batuk nona? " Tanya pak Budi. Zira langsung berpikir. Kenapa pak Budi malah bertanya siapa yang sakit. Aha aku tau ini hanya akting. Guman Zira dalam hati. " Gak jadi pak, terimakasih. " Ucap Zira cepat sambil menutup telepon. Zira kembali melihat ke arah Ziko. " Dia lagi akting apa memang tidur, tapi sepertinya dia memang lagi tidur tadi aku pegang hidungnya dia gak bangun, lebih baik aku mandi. " Guman Zira pelan sambil pergi ke kamar ganti. Zira melihat kopernya masih ada. Dia berniat mengambil baju dari dalam kopernya. Begitu membuka koper dia tidak menemukan barang - barangnya. Zira membuka semua lemari tetapi dia tidak juga menemukan barang - barangnya. " Kemana semua barang - barangku. " Guman Zira. " Lebih baik aku tanya pak Budi dia pasti tau kemana semua barangku. " Guman Zira sambil meninggalkan ruang ganti dan menuju telepon yang ada di atas nakas. " Halo pak Budi. " Tanya Zira cepat. " Iya nona. " Ucap pak Budi. " Pak kemana koper saya? " Tanya Zira langsung. " Owh koper nona kan ada di kamar. " Ucap pak Budi pelan. Zira menggaruk kepalanya karena dia salah membuat pertanyaan. " Bukan itu maksud saya dimana barang - barang yang ada di dalam koper. " Tanya Zira lagi. " Kalo barang - barang sudah saya bagikan semua nona. " Ucap pak Budi santai. Dih ini bapak kok seperti orang tanpa dosa. Guman Zira dalam hati. " Tunggu pak siapa yang memberikan perintah kepada bapak untuk membagi - bagikan barang saya sama orang lain. " Tanya Zira dengan emosi. " Tuan muda nona. " Ucap pak Budi cepat. Zira langsung mengeluarkan taringnya sambil menutup telepon dengan keras. " Dasar ubi kayu bisa - bisanya kamu melakukan hal seenak udelmu, tapi karena kamu lagi akting tidur jadi aku ikuti aktingmu. " Guman Zira pelan. Zira ingin mencubit badan Ziko tapi dia mengurungkan niatnya. Jangan Zira jangan kamu bangunkan dia nanti kalo bangun pasti dia minta kik kuk. Guman Zira dalam hati. Zira langsung menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Setelah selesai dia bingung harus memakai baju apa. Tanpa pikir panjang dia mengenakan kemeja putih Ziko dan untuk CD dia juga mengenakan punya Ziko, dia juga tidak memakai bra. " Duh seumur - umur belum pernah aku pake CD cowok tapi dari pada gak pake. " Guman Zira pelan. Zira mengintip keluar melihat Ziko masih dengan posisi yang sama. " Aman dia masih tidur. " Guman Zira pelan sambil melangkahkan kakinya menuju kasur. Zira melihat ada sesuatu yang janggal. " Tadi ini selimut masih di atas kenapa sekarang sudah di bawah. " Guman Zira lagi sambil mengambil selimut dari lantai. Zira merebahkan tubuhnya di kasur, dengan posisi rebahan kemeja yang dikenakan Zira agak terangkat sedikit. Zira ingin memakai selimut tapi belum sempat di pakai kaki Ziko sudah berada di atas paha Zira. Zira ingin menggeser paha Ziko.Tapi di urungkannya dia khawatir Ziko akan bangun. " Gak apa - apa Zira, kan cuma kaki anggap saja lagi tidur sama kerbau. " Guman Zira pelan memberi semangat kepada dirinya sendiri. Zira mulai menutup matanya tapi dia kaget melihat Ziko sudah berada di atas badannya. " Kamu mau ngapain. " Teriak Zira. " Aku sedang bermimpi. " Ucap Ziko. " Mana ada orang mimpi ngomong. " Gerutu Zira. Ziko sudah tidak menghiraukan Omelan Zira. Zira tidak bisa menolak apalagi mendorong Ziko karena paha dan badannya sudah di timpa Ziko. Ziko melakukan aksinya. Zira teriak ada bulir air mata keluar dari ujung matanya. " Terimakasih sayang. " Ucap Ziko sambil mengecup kening Zira. " Like komen dan vote yang banyak ya, terimakasih ". Chapter 96 episode 96 Ziko menutupi tubuh zira dengan selimut. Dia merasa bahagia telah mendapatkan haknya sebagai suami. Malaikat aku sudah melakukan kewajibanku sebagai istri walaupun aku dikibulin dulu sama dia, aku bisa menjaga kehormatanku sampai pada waktunya merupakan suatu kebanggaan bagiku. Catat amal baikku ya. Guman Zira dalam hati. Ziko meletakkan tangannya di dada Zira. " Kenapa di letakkan disini, apa tidak ada tempat lain." Ucap Zira ketus sambil mengangkat tangan Ziko. " Aku takut tanganku kepleset makanya aku berpegang pada ini." Ucap Ziko cepat sambil meletakkan kembali tangannya di dada Zira. Zira mengangkat tangan Ziko dan dia ingin bangun dari tempat tidur. Tapi dia tidak bisa bergerak ada rasa nyeri di daerah sensitifnya. Ziko melihat Zira, dia merasa khawatir. " Kamu kenapa?" Tanya Ziko cepat. " Sakit." Ucap Zira cepat sambil menunjuk ke arah sensitifnya. " Kamu jangan banyak bergerak, kamu tidur aja dulu besok pagi pasti sudah kembali normal." Ucap Ziko menenangkan. " Nggak ah aku takut." Ucap Zira cepat. " Takut apa?" Tanya Ziko lagi. " Nanti kamu seruduk lagi aku. " Ucap Zira pelan. " Nggak aku janji malam ini cukup sampai di sini tapi besok malam .... hahaha." Ucap Ziko tersenyum licik. " Jangan bilang kamu seruduk aku lagi. " Ucap Zira cepat. " Kalo soal seruduk menyeruduk aku ahlinya. " Ucap Ziko cepat. Tubuh Zira di tutupi Ziko dengan selimut. Dia memeluk tubuh Zira dengan hangat. Zira tidak menolak sama sekali. Mereka tertidur berdua dengan posisi berpelukan. Pagi harinya. Zira terbangun ketika ada cahaya matahari masuk melalui celah jendela. Zira membuka matanya yang silau. Dia melihat tidak ada Ziko di sebelahnya. Zira bangun dari posisi berbaring dan duduk di pinggir tempat tidur sambil menutupi tubuhnya dengan selimut. Zira hendak pergi kekamar mandi tapi Ziko menahannya. " Stop kamu jangan jalan. Tunggu di situ aku akan menggendongmu." Ucap Ziko cepat masih dengan handuk di pinggangnya. " Aku sudah baikkan kok." Ucap Zira cepat. Ziko menghampiri Zira. Dia mengambil selimut yang menutupi Zira. " Kenapa di ambil selimutnya." Ucap Zira pelan. Zira menahan selimut dengan kedua tangannya. Tapi dengan mudah ziko melemparkan selimut itu ke lantai. " Apa yang kamu lakukan." Ucap Zira sambil menutupi badan dengan kedua tangannya. Tanpa pikir panjang Ziko langsung menggendong Zira dan membawa Zira ke kamar mandi. Ziko meletakkan Zira di dalam bathtub. Ziko melepaskan handuknya di depan Zira. Ziko mulai melakukan aksinya lagi selama setengah jam. Ziko membersihkan tubuhnya dan meninggalkan Zira di kamar mandi sendirian. " Ayo cepat mandi jangan lama - lama seperti itu, apa kamu mau ini. " Goda Ziko sambil keluar dari kamar mandi. Zira langsung membersihkan tubuhnya. Setelah selesai dia keluar dengan mengenakan handuk. Dia menuju ruang ganti dan begitu dia melihat kekaca dia teriak kencang. " Aaaaaa. " Teriak Zira. Ziko langsung berlari ke ruang ganti, dia melihat Zira yang sedang menatap kaca. " Jangan bilang kamu kesurupan." Ucap Ziko cepat. " Ini loh apa kamu gak lihat warna tubuhku berubah." Rengek Zira. Ziko hanya tertawa senang. Melihat tubuh Zira seperti ikan . " Badanku seperti sisik ikan." Rengek Zira lagi. Zira masih ngomel - ngomel di depan kaca. Dengan cepat ziko langsung mengangkat tubuh Zira dan meletakkannya di atas kasur. Ziko dan Zira melakukannya lagi. Ziko kembali kekamar setelah mandi yang ketiga kalinya. Dia melihat Zira sudah terkapar tak berdaya. " Ayo mandi kamu mau ke butik gak, atau kita main jungkat jungkit lagi disini." Goda Ziko. Dengan lemas Zira bangun dari posisi telentangnya. Dia berjalan menuju kamar mandi tidak berapa lama Zira Keluar dengan mengenakan kimono handuk yang telah di temukannya. Ziko masih menunggunya dengan duduk diatas sofa. " Sayang aku gak pergi ke butik." Ucap Zira masih dengan kimononya. " Kenapa?" Tanya Ziko cepat. " Bagaimana mau pergi badanku udah seperti sisik ikan." Ucap Zira cepat. Ziko tertawa mendengar ucapan Zira. " Ya udah kamu bersiap kita sarapan dulu." Ucap Ziko cepat. " Aduh aku kan gak punya baju dan gak mungkin juga aku keluar dengan badan seperti ini." Ucap Zira sambil menunjukkan badannya. " Ya sudah kita sarapan di sini saja." Ucap Ziko sambil berjalan menuju nakas dan mengambil gagang telepon untuk menghubungi Pak Budi. Setelah berbicara dengan Pak Budi, Ziko meletakkan kembali gagang teleponnya. Tidak beberapa lama makanan sudah datang, mereka sarapan dengan lahapnya karena baru saja melakukan jurus mencari gua. Ziko pergi kekantor dan Zira hanya berdiam diri di kamar. " Like komen dan vote yang banyak ya terimakasih. " Chapter 97 episode 97 Zira hanya berdiam diri di kamar. Mau keluar tapi malu sama para pelayan. Zira aja malu melihat sekujur tubuhnya yang sudah seperti sisik ikan emas. Hari ini Zira menjadi wanita kamaran bukan wanita rumahan. Zira mengambil ponselnya yang berada di atas meja. Dia menghubungi Lina. Beberapa detik kemudian panggilan terhubung. " Lina? " Ucap Zira cepat. " Ya mbak. " Ucap Lina cepat karena di sudah hafal dengan suara atasannya. " Saya hari ini gak kebutik. Kamu handle ya, kalo ada apa - apa kamu segera hubungi saya. " Ucap Zira pelan. " Mbak Kenapa gak datang? " Tanya Lina lagi. " Saya lagi kurang enak badan. " Ucap Zira. " Ye yang kebanyakan indehoy. " Gurau Lina. " Idih tau apa kamu tentang indehoy. " Gerutu Zira. " Ya tau lah mbak, aku kan juga sudah cukup dewasa untuk mengerti itu. " Ucap Lina menjelaskan. " Ya sudah kamu jangan kebanyakan ngegosip apalagi sama atasanmu. " Ucap Zira cepat. Panggilanpun terputus. Mobil telah melaju menuju pusat kota. Kevin memperhatikan tingkah Ziko, semenjak dari mansion sampai sekarang Ziko tersenyum - senyum sendiri. " Tuan apakah tuan sedang kesurupan. " Tanya Kevin sedikit khawatir. Ziko tidak mendengar ucapan Kevin karena dia lagi melamunkan beberapa jurus yang telah di terapkan tadi malam. " Apa? Kamu bilang apa? " Tanya Ziko balik. " Apa Tuan kesurupan? " Tanya Kevin cepat. Ziko langsung menonjok belakang kursi yang di duduki Kevin. Kevin hanya meringis sedikit. " Kenapa kamu bertanya seperti itu? " Tanya Ziko balik. " Nggak Tuan saya perhatikan anda tersenyum - senyum sendiri. " Ucap Kevin pelan. Ziko langsung mengalihkan pembicaraan, agar Kevin tidak bertanya lebih dalam. " Ada informasi apa? " Tanya Ziko. " Kita ada beberapa kendala dengan saham yang di luar negeri. " Ucap Kevin menjelaskan. " Apakah terlalu besar kendalanya? " Tanya Ziko lagi. " Ya Tuan sepertinya anda harus turun tangan langsung. " Ucap Kevin menjelaskan. Ziko mulai berpikir tentang perjalanannya keluar negeri. " Ada info lagi mengenai Bram? " Ucap Kevin. " Apa? " Tanya Ziko. " Bram telah menghilang dari kota ini dia telah pergi keluar negeri. " Ucap Kevin cepat. Ziko hanya mengangguk kepala. Tidak membalas ataupun memberi perintah, sama sekali tidak di lakukannya. Kevin merasa heran dengan tingkah bosnya hari ini. " Bagaimana Tuan, apa yang harus saya lakukan, apakah saya harus menjemput paksa? " Tanya Kevin cepat sambil melirik dari balik kaca. " Tidak usah biarkan saja dia kabur pastikan saja dia tidak kembali lagi kesini. " Ucap Ziko pelan tanpa ada emosi sedikitpun. Kevin hanya menganggukkan kepalanya. Biasanya Ziko yang dia kenal selalu tidak pernah memberi ampun lawannya tapi hari ini Ziko seperti Orang lain. " Mengenai nona Sisil bagaimana Tuan? " Tanya Kevin lagi. " Biarkan saja dia, dia tidak akan berani mengganggu istriku. " Ucap Ziko cepat. " Tapi tuan saya khawatir dia akan menyakiti nona Zira. " Ucap Kevin khawatir. " Kamu kan yang bilang kalo istriku bisa menjaga dirinya sendiri, dia memang pasukan Avengers. " Ucap Ziko sedang membayangkan istrinya jadi pasukan Avengers. Aduh ini si bos kenapa pikiran nya bisa ke Avengers pasti gara - gara video Viral itu. Guman Kevin dalam hati. Mobil sudah sampai di depan pintu loby Raharsya group. Kevin membukakan pintu mobil, Ziko keluar dari mobil sambil mengancingkan kembali jasnya. " Beli semua baju di Zira Boutique dan kirim ke mansion. " Perintah Ziko. Ziko langsung masuk kedalam gedung. Sedangkan Kevin pergi menuju butik. Ketika Ziko memasuki gedung semua karyawan dan karyawati memberi hormat kepadanya. Kharismanya sangat kuat, dengan bentuk badan yang proporsional apalagi wajah yang sangat tampan, membuat kaum hawa klepek - klepek jika bertemu dengannya. Ziko masuk ke dalam lift. Para karyawan mulai bergosip. " Aduh beruntung banget ya istrinya, udah ganteng kaya lagi. " Ucap salah karyawati. " Aku juga mau kalo di jadikan istri ke seratus. " Ucap karyawati lagi. Di butik. Butik baru saja buka, butik Zira buka jam 9 pagi dan tutup jam 9 malam. Karyawati Zira membersihkan dan merapikan beberapa pakaian yang kurang rapi. Mereka menyusun sesuai dengan tempatnya. Kevin masuk ke dalam butik dengan gagah. Salah satu karyawati menghampiri Kevin. " Ada yang bisa saya bantu. " Ucap salah satu karyawati ramah. " Siapa penanggung jawab di sini. " Tanya Kevin. Lina mendengar percakapan antar Kevin dengan salah satu karyawati. " Saya. " Ucap Lina ketus sambil berjalan mendekati Kevin. " Tunggu bapak kan yang kerja sama Tuan muda? " Tanya Lina. " Maaf pak atas ketidaknyamanan yang telah saya perbuat. " Ucap Lina sambil membungkukkan badan nya. Kevin hanya memperhatikan tingkah Lina yang tidak jauh beda dengan atasannya yaitu Zira. " Bungkus semua pakaian yang ada di sini. " Ucap Kevin memberi perintah. Lina langsung membulatkan matanya sambil membuka mulutnya. " Bapak gak bercandakan? " Tanya Lina cepat. Kevin menggeleng kepalanya. Lina langsung memberikan perintah kepada karyawati untuk membungkus semua pakaian. " Pak saran saya sebaiknya satu model satu ya? Gak mungkinkan dalam satu lemari model bajunya sama semua. " Ucap Lina menjelaskan. Kevin menganggukkan kepalanya . Apa yang di bilang Lina memang benar. Dia merubah pesanannya. " Ok satu model satu. " Ucap Kevin lagi. Semua karyawati mulai memilih permodel. " Bapak bisa menunggu di sana " Ucap Lina ramah sambil menunjuk ke ruang tunggu. Kevin mengikuti Lina dari belakang. Lina membawa Kevin ke ruang tunggu yang berada di pojok butik. Tidak terlalu besar untuk sebuah ruang tunggu, tapi cukup nyaman untuk berada di ruangan itu. Lina membawa kan cemilan dan soft drink. " Silahkan pak. " Ucap Lina sambil duduk di seberang Kevin. Kevin membuka minuman nya dan langsung meminumnya. Dengan posisi seperti itu jakun Kevin naik turun sehingga membuat Lina menelan salivanya dengan cepat. Aduh bos sama bawahan sama - sama ganteng, aku maulah satu. Guman Lina dalam hati. " Pak apa pakaian ini anda yang pakai? " Tanya Lina gugup. " Apa maksud kamu? " Ucap Kevin agak sedikit emosi. " Maaf pak, saya hanya heran kenapa bapak bisa membeli pakaian sebanyak ini sedangkan bapak kan belum menikah atau bapak mau menjualnya kembali. " Tanya Lina cepat. Kevin tidak menjawab pertanyaan Lina dia pergi ke meja kasir dan membayar semuanya dengan kartu debit. Di Mansion. Zira membaringkan tubuhnya di atas kasur dia ingin menutup matanya sejenak. Panggilan masuk melalui ponselnya. Zira mengambil ponselnya dan menjawab panggilan tersebut. " Ya ada apa? " Tanya Zira cepat sambil menutup matanya. " Mbak stok di butik habis. " Ucap Lina cepat. Zira langsung membuka matanya dengan cepat. " Apa maksud kamu? " Tanya Zira cepat. " Ya tadi ada yang memborong semua pakaian kita. " Ucap Lina cepat. Zira langsung duduk dari posisi berbaringnya. " Sekarang stok masih ada gak di butik. " Tanya Zira lagi. " Masih mbak tapi nggak banyak. " Ucap Lina cepat. " Ya udah pajangkan aja itu dulu dan hubungi para penjahit kita untuk menjahit beberapa desain, ada beberapa desain di laci kerja saya. " Ucap Zira menjelaskan. Setelah Zira menjelaskan panggilanpun terputus. " Like komen dan vote yang banyak ya terimakasih. " Chapter 98 episode 98 " Siapa kiranya yang membeli semua pakaian di butik. " Guman Zira. Ada suara ketukan dari pintu kamar. Zira masih mengenakan kimono, dia berlari ke kamar mandi untuk mengambil handuk dan menggulungnya di leher layaknya sebuah sal. Zira membuka pintu hanya setengah, sebagian kepalanya saja yang keluar. Ada Pak Budi dan beberapa pelayan. " Maaf nona ini buat nona. " Ucap Pak Budi sambil menunjuk ke arah paper bag. Zira memperhatikan paper bag yang di pegang pak Budi dan beberapa pelayan. " Itu seperti paper bag butikku. " Guman Zira pelan. Zira masih dengan posisi yang sama. Tanpa basa-basi Zira langsung bertanya. " Dari siapa pak? " Tanya Zira cepat " Dari Tuan muda nona. " Ucap Pak Budi sopan. " Oh ya udah silahkan. " Ucap Zira cepat sambil membuka pintu dengan lebar. Begitu para pelayan masuk Zira langsung membelakangi mereka semua. " Mau di letakkan di mana nona? " Tanya Pak Budi. " Di kasur aja Pak. " Ucap Zira cepat sambil tetap membelakangi. " Apa nona perlu bantuan untuk menyusun semua ini ke dalam lemari? " Tanya Pak Budi lagi. " Terimakasih atas bantuannya Pak, saya bisa merapikan semuanya. " Ucap Zira cepat agar pak Budi beserta pelayan cepat - cepat keluar dari kamar. " Untuk lemari nona ada si sebelah pinggir kanan. " Ucap Pak Budi lagi. " Iya pak. " Ucap Zira cepat. " Maaf apakah nona sakit? " Tanya Pak Budi, Karena Pak Budi merasa heran dengan tingkah istri majikannya. Aduh Pak Budi bisa gak cepat keluar kenapa banyak sekali pertanyaan yang Bapak ajukan, gak mungkin kalo aku bilang badanku udah seperti ikan . Gerutu Zira dalam hati. " Saya sehat Pak. " Ucap Zira cepat. Akhirnya Pak Budi dan beserta pelayan meninggalkan kamar. Zira baru bisa bernafas setelah handuk yang di lilitkannya di leher di lepas. " Kan bener ini semua dari butikku. " Ucap Zira cepat. " Kenapa sih dia memborong semua pakaian di butik? " Guman Zira sambil melihat semua isi paper bag. Tanpa pikir panjang dia menelepon suaminya Ziko. Panggilan sedang terhubung. Ziko melirik ponselnya ada tulisan calon istriku. Aku belum mengganti namanya di daftar ponselku. Guman Ziko dalam hati sambil menjawab panggilan tersebut. " Apa kamu yang membeli semua pakaian di butikku? " Tanya Zira cepat. " Ulangi ucapanmu. " Ziko langsung menutup panggilan tersebut. Zira sampai heran dengan panggilan yang langsung di tutup sepihak oleh Ziko. " Tadi kalo aku gak salah dengar ulangi ucapanmu. Tapi kenapa dia malah menutup panggilanku. " Gerutu Zira. Zira kembali menghubungi Ziko. " Apa kamu yang membeli semua pakaian di butikku? " Tanya Zira lagi mengulang ucapan sebelumnya. " Kamu dengar nggak? aku bilang ulangi ucapanmu. " Ucap Ziko lagi sambil menutup ponselnya. Zira menghentakkan kakinya berulang - ulang. " Tadi dia bilang ulangi ucapanmu, sudah aku ulangi masih aja di tutup panggilanku. " Gerutu Zira lagi. Zira mencoba menghubungi Ziko lagi. Dia mengganti kalimatnya. " Kenapa kamu membeli semua pakaian di butikku. " Ucap Zira cepat. " Kamu dengar nggak? Aku bilang ulangi. " Ucap Ziko langsung menutup ponselnya. Zira di kamar uring - uringan saking kesalnya Zira menjambak rambutnya sendiri. " Apa sih maunya si ubi kayu, di suruh ulangi sudah di ulang malah di matikan ponselnya. Aduh baru dua hari menikah dengannya aku seperti berada di neraka mini, apalagi kalo bertahun - tahun pasti aku seperti di neraka paling bawah. " Gerutu Zira sambil merebahkan tubuhnya di atas tumpukan paper bag. Zira tidak berniat menghubungi Ziko. Menurutnya jika berhubungan dengan Ziko pasti akan beradu urat leher. Beberapa menit kemudian ponsel Zira berbunyi. Zira mencari ponselnya di dalam tumpukan paper bag. Agak lama Zira menemukan ponsenya. Setelah ketemu dia langsung mengangkat panggilan tersebut. " Ya halo. " Ucap Zira ketus karena dia sudah tau yang menghubunginya adalah Ziko. " Kenapa lama sekali jawab panggilanku. " Teriak Ziko dari ujung sana. Zira memegang telinganya. Ini suara keceng amat, pak amat aja gak kenceng suaranya. Guman Zira sambil memegang sebelah telinganya. " Ya tadi ponsel ku lagi main petak umpet. " Ucap Zira santai. " Kamu sudah tau apa yang harus kamu ulangi? " Tanya Ziko lagi. Zira mulai sewot. " Kan sudah aku ulangi dari tadi tapi terus kamu matikan panggilanku. " Ucap Zira emosi. " Ya tapi itu salah. " Ucap Ziko cepat. " Apanya yang salah semua kalimatnya sama kok. " Ucap Zira cepat. " Kamu itu. " Ucapan Ziko menggantung. " Itu apa? " Tanya Zira lagi. " Ya Kamu, apa kamu tidak bisa memanggilku dengan sebutan yang telah ku berikan padamu. " Ucap Ziko cepat. Zira menggaruk rambutnya yang tidak gatal. Aduh hanya karena salah sebutan aja jadi seperti ini, aduh kenapa aku seperti menikah dengan tuyul sih, gak ada dewasanya. Gerutu Zira dalam hati. " Okelah kalo begitu akan aku ulangi. " Ucap Zira. Tapi sebelum Zira mengulang kalimatnya lagi - lagi ponselnya Ziko dimatikan. " Di suruh ulangi mau diulangi malah di matikan ponselnya. Nasib - nasib nikah sama tuyul ya begini. " Gerutu Zira pelan. Tanpa pikir panjang Zira langsung menghubungi Ziko. " Halo sayang apakah kamu yang membeli semua pakaian di butik ku? " Ucap Zira sambil merapatkan giginya. " Iya sayang apakah kamu suka? " Ucap Ziko lagi membalas pertanyaan Zira. Zira mendengar suara Ziko serasa mau muntah. " Sayang kenapa kamu membeli semua pakaian di butik ku? " Tanya Zira lagi sambil tetap merapatkan giginya. " Ya sayang aku kasihan karena kamu seperti orang primitif tidak punya baju. " Ucap Ziko sambil tertawa. " Enak aja aku punya baju ya tapi bajuku di buang sama hantu. " Ucap Zira sambil marah. Ziko masih tertawa di ujung sana. " Jangan - jangan ini rencanamu untuk mengikatku agar aku hutang Budi sama kamu. " Ucap Zira cepat. " Apa maksudmu? " Tanya Ziko cepat. " Ya kamu sengaja membeli semua pakaian di butik ku agar aku hutang Budi sama seperti dengan sepatu 60 juta itu. " Ucap Zira emosi. Ziko kembali tertawa. " Hahahaha sebenarnya aku gak ada Niat untuk memanfaatkan mu tapi karena kamu sudah bilang, baiklah akan aku hitung semuanya dan sekalian sama kerusakan di cafe Santuy. " Ucap Ziko cepat. Zira langsung membuka mulutnya lebar-lebar. Aduh kenapa bisa jadi begini, tinggal bilang terimakasih aja repot amat. Pak amat repot nggak. Gerutu Zira dalam hati. Zira masih diam tidak menjawab sama sekali. " Baiklah sayang bill nya nanti akan datang, aku yakin kamu tidak akan bisa membayarnya. " Ucap Ziko seperti mengejek. " Pasti aku bayar. " Ucap Zira cepat. " Yakin? 60 juta aja belum bayar. Belum yang lainnya. Baiklah karena suamimu ini sangat baik rajin menabung ganteng hidup lagi, aku izinkan kamu mencicil. " Ucap Ziko sambil mematikan ponselnya. Ziko tertawa terbahak - bahak di ruangannya sedangkan Zira mulai menghitung semua harga pakaian yang ada di dalam paper bag. " Like komen dan vote yang banyak ya, agar novel favorit kalian masuk dalam 10 besar Terimakasih. " Chapter 99 episode 99 Pintu ruangan Kevin di ketuk dari luar. " Masuk. " Ucap Kevin cepat. Sekertaris Lili membuka pintu ruangan Kevin dengan perlahan. Kevin melihatnya sekilas. " Ada apa? " Tanya Kevin sambil kembali melihat laptopnya. " Saya ingin menyerahkan ini? " Ucap sekertaris Lili sambil meletakkan selembar kertas di atas meja Kevin. " Apa ini? " Tanya Kevin sambil membaca kertas yang di letakkan Lili. Kevin membaca dan meletakkan kembali kertas tersebut. " Baiklah saya akan memberitahu hal ini kepada Tuan muda. " Ucap Kevin. Lili pamit meninggalkan ruangan Kevin. Kevin melihat kembali kertas yang di serahkan Lili. Kevin beranjak dari duduknya meninggalkan ruang kerjanya. Ziko masih tersenyum - senyum. Senyumannya langsung menghilang ketika suara pintu di ketuk. Tok tok tok. " Masuk. " Ucap Ziko. Kevin membuka pintu dan meletakkan kertas yang diterimanya dari Lili. " Apa ini? " Tanya Ziko. Ziko membaca kertas tersebut sebelum Kevin menjelaskan. " Panggil dia kesini. " Ucap Ziko cepat. Kevin keluar dari ruangan dan beberapa menit kemudian kembali lagi bersama sekertaris Lili. " Apa benar kamu mau resign? " Tanya Ziko langsung ketika Lili sudah berada di depannya. " Iya Tuan saya mau resign. " Ucap Lili cepat. Ziko diam sejenak sambil memainkan pena di tangannya. " Beri satu alasan kenapa kamu mau resign? " Tanya Ziko cepat. " Alasan saya karena saya mau menikah Tuan? " Ucap Lili pelan sambil meletakkan undangan di atas meja Ziko. Ziko melihat undangan yang di berikan Lili, kemudian dia menyerahkan undangan tersebut kepada Kevin. " Apakah kamu yakin? Kamu tau kan kalo kamu sudah lama bekerja di sini kamu termasuk orang kepercayaan saya. " Ucap Ziko menjelaskan. " Sebenarnya saya berat Tuan untuk meninggalkan pekerjaan yang sudah lama saya geluti, tapi saya harus ikut suami karena suami saya kerja diluar kota. " Ucap Lili menjelaskan. Ziko mengerti dengan alasan yang di sebutkan Lili bagaimanapun seorang istri harus mengikuti imamnya. " Baiklah saya tidak bisa menahan kamu di sini, tapi saya akan selalu membuka pintu gedung ini jika kamu ingin kembali bekerja disini. " Ucap Ziko. " Baik Tuan, saya harap anda datang ke pernikahan saya. " Ucap Lili. Lili pergi meninggalkan ruangan Ziko. Hari ini adalah hari terakhirnya bekerja di gedung megah ini. " Minta HRD untuk membuka lowongan sebagai sekretarisku. " Perintah Ziko. Kevin langsung pergi meninggalkan ruangan Ziko dan kembali ke ruangannya. Dia menghubungi pihak HRD. Dalam beberapa menit salah satu penanggung jawab di bagian tersebut datang keruangan Kevin. " Selamat siang Pak? " " Saya mau kamu membuat lowongan pekerjaan baik di media cetak maupun di media sosial untuk menggantikan posisi sekertaris Lili. " Ucap Kevin cepat. " Apakah ada kriteria khusus Pak? " " Mempunyai pengalaman di bidangnya kurang lebih 5 tahun, menguasai 5 bahasa, rajin dan jujur itu yang utama. " Ucap Kevin cepat. Setelah mencatat semuanya penanggung jawab dari HRD langsung meninggalkan ruangan Kevin. Di mansion. Pakaian yang didalam paper bag sudah di susun Zira ke dalam lemari. Tiba - tiba perut Zira mules, dia langsung menuju kamar mandi beberapa detik kemudian dia kembali ke ruang ganti. Dia membuka tasnya dan mencari sesuatu. Setelah yang di carinya ketemu Zira kembali lagi ke kamar mandi. Tidak beberapa lama pintu kamar di ketuk. Zira yang telah selesai dari kamar mandi langsung membuka pintu kamar. Dia tidak keluar kamar hanya kepalanya saja yang nongol. " Ya Pak Budi? " Tanya Zira dari balik pintu. " Ada paket untuk nona? " Ucap Pak Budi. Zira menerima paket tersebut dengan satu tangan. " Terimakasih Pak. " Ucap Zira sambil menutup pintu kembali. Zira membuka paket tersebut. Didalamnya ada beberapa pakaian dalam yang sebelumnya telah dia order dari olshop. Cara berpakaian Zira sudah kembali normal dia memakai pakaian dalam layaknya seorang wanita. Karena dari semalam Zira hanya memakai CD Ziko bahkan lebih sering tidak memakai dari pada memakai CD. Itu semua karena ulah Ziko ????????????. Zira memainkan ponselnya sambil melihat beberapa aplikasi. Tidak berapa lama pintu kamar di buka. Zira hanya melirik dan kembali dengan aplikasinya. " Kamu sedang apa? " Tanya Ziko sambil duduk di sebelah Zira. " Apa nggak lihat aku sedang main ponsel. " Ucap Zira ketus. " Iya aku tau cuma aku mau tau apa yang sedang kamu lihat. " Tanya Ziko sambil menciumi pipi Zira. Zira merasa risih dan mulai menjauhkan posisi duduknya sebelumnya Zira duduk di atas kasur sekarang dia pindah ke sofa. Ziko kembali mendekati Zira, Zira terus berusaha menjauh sampai Zira sudah di pojok sofa. Ziko menciumi pipi Zira dan lehernya. " Aih sudah kenapa! Aku lagi sibuk nih. " Ucap Zira cepat sambil menepis wajah Ziko dari pipinya. " Kamu sibuk apa? " Tanya Ziko sambil meletakkan kepalanya di atas paha Zira. Zira ingin memindahkan kepala Ziko tapi Ziko sudah melotot terlebih dahulu. " Aku lagi sedang mencari di guuuling cara menghilangkan tato. " Ucap Zira pelan. " Apa? " Ucap Ziko sambil tertawa. Ziko langsung mengangkat kepalanya. " Kenapa kamu mau menghilangkannya? " Tanya Ziko. " Aku seperti ikan saja." Ziko yang mendengar tertawa lucu dengan ucapan Zira ceplas ceplos. " Aku haus." Ucap Ziko pelan sambil memegang tenggorokannya. Zira mengambil minum yang ada di meja. Dan memberikannya kepada Ziko. " Aku bukan mau minum ini tapi itu." Ucap Ziko tersenyum licik. Zira menutupi kedua dadanya dia harus waspada dengan jebakan Batman yang akan di berikan Ziko kepadanya. Ziko tidak memaksakan kehendaknya walaupun sebenarnya dia pengen. " Kamu ingat tidak dengan bill yang aku sebutkan tadi? " Tanya Ziko cepat. Zira mengangguk cepat. " Iya berapa lama aku harus mencicilnya dan berapa yang harus aku bayar? " Tanya Zira cepat. " Kenapa kamu harus menghubungkan segala sesuatu dengan uang? " Ucap Ziko tegas. " Kan tadi kamu yang bilang kalo aku boleh mencicil. Yang berhubungan dengan cicil mencicil hanya uang. " Ucap Zira menjelaskan. Ziko mulai geram dengan wanita di depannya. " Aku tidak butuh uangmu dan aku tidak kekurangan uang. " Ucap Ziko tegas. " Aku tau pasti kamu mau aku memasak setiap hari kan? " Ucap Zira cepat. Ziko bangkit dari sofa. " Kamu pikirkan cara mencicilnya. Waktumu sampai aku selesai mandi. " Ucap Ziko sambil meninggalkan Zira. Zira mulai memikirkan bagaimana cara mencicil yang tidak berhubungan dengan uang. " Like komen dan vote yang banyak ya. " Chapter 100 episode 100 Zira masih memikirkan cara untuk mencicil semuanya, tidak berapa lama Ziko keluar dari kamar mandi dia hanya mengenakan handuk untuk menutupi badannya. " Waduh kenapa kalo dia seperti itu badanku langsung bergetar padahal tadi sudah ku silent." Guman Zira sambil menelan salivanya. Ziko melihat Zira sedang memperhatikannya. " Kenapa apa kamu mulai tergoda?" Tanya Ziko genit. " Cih siapa yang tergoda, aku cuma mau tanya, itu perut berapa bangun sisinya dan termasuk bangun datar apa?" Ucap Zira cepat. Sebenarnya Zira tergoda melihat mahluk yang cukup sempurna apalagi seumur - umur dia gak pernah melihat langsung cowok bertelanjang dada, ada yang pernah dia lihat tapi anak kecil. Zira berusaha untuk menutupi kegugupannya. " Sekertarisku sudah resign apa kamu mau jadi sekertarisku. " Ucap Ziko sambil mengibas - ngibaskan rambutnya. Zira membulatkan matanya. " Aih kamu seperti model iklan shampo." Ucap Zira pelan. Ziko mendengar ucapan Zira, dia sengaja melakukannya agar Zira tergoda. " Bagaimana apa kamu mau jadi sekertarisku?" Ucap Ziko sambil membuka handuknya dengan sengaja. " Aih kenapa, itu mu mengembang seperti itu." Ucap Zira sambil menutup matanya. Ziko menghampiri Zira yang sedang tutup mata. Dengan cepat dia mengangkat tubuh Zira dan meletakkannya di kasur. Dia menyobek baju Zira. " Aih kenapa di sobek sih, belum juga di bayar tapi sudah di sobek, apa gak bisa ngomong baik - baik." Gerutu Zira cepat. Tapi tiba - tiba Ziko berhenti. " Apa yang kamu pakai? Apa kamu ingin menyumpal itu? " Ucap Ziko cepat. Zira baru tersadar dengan ucapan Ziko. Zira menepuk dahinya dengan satu tangan. " Maaf aku sedang datang bulan." Ucap Zira pelan. " Kenapa kamu gak bilang kalo lagi dapat. " Ucap Ziko marah. " Bagaimana aku mau bilang kamu sendiri yang nyosor duluan." Ucap Zira pelan. " Jadi bagaimana dengan ini." Ucap Ziko cepat. Zira menggelengkan kepalanya. Ziko pergi kekamar mandi menuntaskan pekerjaannya. Zira memegang dadanya. " Selamat aku untuk 7 hari ini." Ucap Zira pelan. Tidak berapa lama Ziko keluar dari kamar mandi. Zira tertawa cekikikan. " Udah kocok arisannya? Nama siapa yang keluar? " Goda Zira cepat. Ziko tidak menghiraukan dia merasa malu harus menyelesaikan sendirian di kamar mandi. " Bagaimana mau nggak kamu jadi sekertarisku? " Tanya Ziko lagi. " Ya nggaklah backgroundku kan gak disitu. " Ucap Zira cepat. Ziko membaringkan tubuhnya di atas kasur. " Sini duduk." Ucap Ziko cepat. Zira duduk di sebelah ziko. " Apa kamu sudah tau cara mencicilnya? " Tanya Ziko cepat. " Karena kamu gak mau uang, aku akan mencicilnya dengan memijatmu setiap hari. " Ucap Zira cepat. " Itu terlalu ringan untuk mencicilnya. " Ucap Ziko tegas. " Terus apa?" Tanya Zira bingung. Ziko memegang kepala Zira dan meletakkan didadanya. Zira tidak menolak sama sekali " Tuan kenapa jantungmu seperti sedang pacuan kuda?" Ucap Zira cepat. " Bisa tidak kamu tidak mengalihkan pembicaraan?" Ucap Ziko cepat sambil menarik hidung Zira. Zira memegang hidungnya. " Jadi bagaimana cara mencicilnya?" Tanya Zira pelan. Ziko mulai tersenyum licik. " Aku mau kamu harus menggantikan posisiku?" Ucap Ziko cepat. " Maksudnya?" Tanya Zira cepat. " Setiap malam, aku mau kamu yang memegang peran di sini." Ucap Ziko cepat sambil tersenyum lebar. Zira langsung membulatkan matanya dengan mulut terbuka. Ziko langsung menutup mulut Zira. " Tutup mulutmu nanti masuk cicak." Ucap Ziko cepat sambil menutup mulut Zira. " Tuan apa tidak ada dispensasi?" Ucap Zira memohon. " Beri alasan agar aku memberimu dispensasi." Ucap Ziko. Zira mulai berpikir keras untuk mendapatkan ide agar dia selamat dari cicilan kasurnya. " Begini, aku kan belum tau tentang jurus kungfu menaklukkan kasur." Ucap Zira pelan. Ziko mulai memikirkan sesuatu. " Baiklah begini saja, aku akan mengajarkanmu beberapa kungfu menaklukkan kasur." Ucap Ziko cepat. Zira sebenarnya tidak mau menerima apapun jurus yang di ajarkan Ziko tapi dengan terpaksa dia harus menerimanya. " Sayang aku hanya melakukannya sekali kan?" Tanya Zira cepat. " Ya Nggak lah. Kamu harus melakukannya berkali - kali." Ucap Ziko cepat. Zira mengumpat di dalam hatinya. " Sudahlah pasrah, pasti nanti anuku sudah tidak berbentuk lagi. Nasib nikah sama over weight. " Ziko masih memeluk Zira. Dia merasa ingin selalu memeluk tubuh Zira. Entah kekuatan apa yang di tonjolkan dari diri Zira, Zira mempunyai daya tarik sendiri. Beda halnya dengan Sisil, Ziko dahulu pernah mencintai Sisil tapi dia tidak mengalami perasaan yang sekarang dialaminya bersama Zira. " Sampai berapa lama kamu palang merah?" Tanya Ziko. " Maksudnya?" Tanya Zira lagi. " Itu?" Ziko menunjuk ke arah sensitifnya Zira. " Owh ini. Kamu mau bertanya normalnya apa abnormalnya?" Tanya Zira lagi. Ziko langsung menoleh ke arah Zira. " Memangnya ada juga yang abnormal?" Tanya Ziko cepat. " Ya adalah?" Ucap Zira cepat. " Apa itu?" Tanya Ziko lagi. " Kamu." Ucap Zira cepat sambil cekikikan. Ziko lagi - lagi menarik hidung Zira. " Aih kenapa sih suka banget menarik hidungku, nanti kalo lepas gimana? " Gerutu Zira cepat. " Bukannya kamu bilang ada serepnya di rumahmu?" Ucap Ziko sambil tertawa. Zira memonyongkan bibirnya ke arah Ziko. Ziko langsung mengecup lembut bibir Zira. " Cepat aku mau tau berapa lama normalnya? " Ucap Ziko lagi. " Biasanya tujuh hari." Ucap Zira cepat. Ziko mulai komat kamit, dia sedang merencanakan sesuatu yang pasti menguntungkan buatnya. " Baiklah karena hari ini kamu lagi palang merah, sebagai gantinya pada saat kamu sudah bersih, aku mau kamu mengganti semuanya dalam satu hari." Ucap Ziko sambil tersenyum lebar. " Apa?" Jadi maksud kamu aku harus melakukannya sebanyak tujuh kali dalam semalam?" Tanya Zira cepat sambil membulatkan matanya. " Iya tujuh di kali tiga." Ucap Ziko lagi. " Aih kenapa lagi harus dikali tiga? " Protes Zira. " Eh apa kamu lupa tadi pagi kita melakukannya sebanyak tiga kali dan belum lagi yang kemaren malam waktu aku mencetak gol pertama." Ucap Ziko cepat. Zira mulai mundur teratur ingin menghindari Ziko. Ziko langsung menariknya. " Jangan pergi kamu tidak harus menggantinya malam ini masih ada waktu 6 hari lagi." Ucap Ziko sambil tertawa terbahak - bahak. Zira pun ikut tertawa kecil. " Ah kamu bisa aja, aku kirain tadi beneran rupanya hanya bercanda." Ucap Zira sambil mencubit lengan Ziko. " Hey siapa yang bilang bercanda yang aku bilang benar tujuh di kali tiga." Ucap Ziko tegas. Zira langsung memegang bagian sensitifnya. " Baiklah Zira, tujuh di kali 3 hanya 21 kali dalam semalam anggap saja kamu lagi beruntung. " " Baiklah hanya 21 satu kali dalam semalam kecil bagiku." Ucap Zira sambil menunjukkan ujung jari kelingkingnya. " Siapa yang bilang dalam semalam?" Tujuh di kali tiga di kali tujuh lagi." Ucap Ziko tegas. Zira langsung menjatuhkan badannya ke atas kasur. " Jangan bilang kamu pura - pura pingsan." Ucap Ziko lagi. Zira kembali duduk lagi dan langsung berhadapan dengan Ziko. " Apa kamu gak kasihan sama aku apalagi sama ini. Nanti kalo punyaku keriput gimana? " Ucap Zira memelas. " Kalo itumu keriput pake krim anti aging pasti gak akan keriput lagi." Ucap Ziko sambil tertawa terbahak-bahak. Zira memukuli badan Ziko berulang - ulang. " Kalo aku gak sanggup gimana?" Tanya Zira lagi. " Nggak ada kata nggak sanggup. Kalo perlu kamu makan telur setengah matang dan minum jamu, atau makan sekalian bakul jamunya pasti kamu langsung kuat seperti pasukan Avengers." Goda Ziko lagi sambil tertawa terbahak - bahak. Zira masih mencubit lengan Ziko dengan keras. Kalo ada asisten Kevin pasti momen ini akan di rekamnya. " Like komen dan vote yang banyak Terimakasih. " Chapter 101 episode 101 Matahari menyambut datangnya pagi. Pancaran sinar matahari pagi menembus masuk ke dalam celah - celah jendela. Silaunya cahaya sang Surya membuat Zira terbangun. Dia membuka matanya yang silau. Dia membalikkan badannya untuk menghindari tatapan Sang Mentari. Ketika Zira membalikkan badannya Zira bertemu langsung dengan wajah Ziko. Ziko masih terlelap dengan lenanya. Zira menatap wajah sang suami dengan lekat. " Kamu cukup ganteng suamiku. " Sambil cekikikan Zira memegang hidung Ziko yang mancung. " Ini hidung mengalahkan hidung Pinokio. " Ucap Zira lagi sambil memegang hidung Ziko masih dengan cekikikan. " Nah ini nih bibir yang suka nyosor bibirku. Tipis juga seperti slice keju. " Ucap Zira cekikikan. Ziko mendengar semua ucapan Zira. Dia membiarkan Zira melakukannya. Karena menurutnya lebih baik Zira bawel daripada diam. Zira hendak beranjak dari kasur. Tapi sebelum beranjak dia ingin mengecup dahi Ziko. Zira mengecup dahi Ziko dengan lembut. Setelah selesai dia ingin beranjak pergi tapi tangannya di tahan sama Ziko. " Kenapa hanya itu. Kamu belum mencium yang lainnya. " Ucap Ziko mengangetkan Zira. " Kamu sudah bangun? " Ucap Zira bertanya gugup. " Sudah dari tadi aku bangun. " Ucap Ziko masih dalam keadaan berbaring. " Ah untung aku tadi tidak berkata buruk tentangnya. " Guman Zira pelan. " Cepat! " Ucap Ziko cepat. " Apanya? " Tanya Zira bingung. Ziko menarik tangan Zira sehingga posisi badan Zira berada di atas dada Ziko. " Kamu baru mencium dahiku belum yang lainnya. " Ucap Ziko sambil menunjuk ke arah matanya. Dengan cepat Zira langsung mencium mata Ziko. Zira hendak bangkit dari posisinya tetapi Ziko masih menahan badannya. Dan Ziko menunjukkan ke arah hidung nya. Lagi - lagi Zira mencium hidungnya. Dan sekali lagi Ziko menunjuk ke arah bibirnya. " Nggak aku gak mau jigong mu bau. " Ucap Zira sambil menutup mulutnya. " Enak aja, jigong suamimu ini wangi surga tau! " Ucap Ziko sambil memaksa Zira mencium bibir Ziko. Dengan tidak rela Zira melakukannya, dia mengecup bibir Ziko. " Kenapa hanya di kecup aku mau kamu melakukannya sama persis dengan yang aku lakukan padamu. " Ucap Ziko tegas. Zira masih menimbang - nimbang mau melakukan atau tidak. Dia masih cukup malu untuk melakukannya. Akhirnya Zira melakukannya. Zira mengakhiri ciuman itu. Dan dia hendak beranjak dari dada Ziko. Tapi lagi - lagi Ziko menahan badannya. " Apa lagi kan udah? " Ucap Zira cepat. " Mandikan aku." Ucap Ziko cepat. Zira enggan melakukannya dia hanya diam tidak mengikuti Ziko yang telah berjalan ke kamar mandi. " Cepat." Ucap Ziko mengancam. Dengan langkah malas Zira mengikuti Ziko ke kamar mandi, dia memandikan Ziko seperti anak kecil. " Terimakasih sayang. " Ucap Ziko sambil mengelus rambut Zira. " Kalo saja aku tidak mengecup dahinya pasti hal ini gak akan terjadi. " Guman Zira di dalam kamar mandi. " Ih kenapa itu mengkerut begitu katanya kuat tujuh kali tiga kali tujuh. " Goda Zira. " Aku ada loh krim anti aging apa kamu. mau? " Goda Zira lagi sambil cekikikan. Setelah selesai memandikan bayi kolor Zira keluar dia mengganti pakaiannya yang basah. Ziko menghampiri Zira yang sedang memakai baju. " Apaan sih. " Ucap Zira cepat sambil memakai pakaian. " Pakaikan aku baju." Ucap Ziko cepat. Zira memijat dahinya, bayi di depannya sangat menjengkelkan. " Mari bayiku." Ucap Zira sambil mengambil baju Ziko yang ada di lemari pakaian. Ziko kembali menggoda Zira tapi Zira tidak menghiraukannya. " Sudah deh udah cukup untuk hari ini. Aku lapar, apa kamu tega kalo sakit mag ku kambuh. " Ucap Zira menghindari kegenitan Ziko. Akhirnya Ziko mengenakan pakaian kerjanya. Setelah selesai mereka pergi ke meja makan. Ziko menarik salah satu kursi untuk di duduki Zira. Zira mengambil piring yang ada di hadapan Ziko. Dia menuangkan nasi dan beberapa lauk di dalam piring Ziko kemudian meletakkan kembali piring tersebut ke meja. Zira mengambil piring yang ada di depannya dan ingin menuangkan nasi ke dalam piringnya. Tapi tangan Zira di tahan sama Ziko. Zira menoleh ke arah Ziko. " Kenapa? " Tanya Zira masih dengan memegang centong nasi. " Kamu lupa ya kita kan seharusnya makan dalam satu piring. " Ucap Ziko cepat. Zira meletakkan kembali centong nasi ketempatnya. Dia mengambil piring yang ada di hadapan Ziko dan ingin menyuapi mulut Ziko. Ziko membuka mulutnya sambil memperhatikan Zira, Zira melihat ke sekeliling meja makan. " Apa yang kamu cari? jangan bilang kamu mau menyuapiku pakai centong nasi. " Ucap Ziko cepat. " Wah kamu masih ingat juga ya. " Ucap Zira cekikikan sambil menikmati sarapannya. " Kamu tau gak sebenarnya aku gak mau menyuapi kamu dengan centong tapi. " Ucap Zira menggantung. " Tapi apa? " Tanya Ziko cepat. " Tapi aku ingin langsung menjejali kamu dengan piring ini sekalian. " Ucap Zira cekikikan. Ziko membulatkan matanya ke arah Zira. Zira langsung melakukan aksinya agar Ziko mulai melunak. " Buka mulutnya? " Ucap Zira. Ziko membuka mulutnya dan Zira memasukkan sendok ke dalam mulut Ziko. " Good boy. " Ucap Zira sambil mengelus rambut Ziko. Zira merasa sedang menyuapi seorang bayi yaitu bayi kolor. Kolor apa? kolor ijo. Itulah julukan yang di berikan Zira. " Like komen dan vote yang banyak ya, terimakasih. " Chapter 102 episode 102 Setelah selesai menikmati sarapan pagi Ziko dan Zira pergi meninggalkan mansion. Seperti biasa Kevin sudah menunggu mereka berdua. Di dalam mobil Zira memperhatikan seorang pelayan hendak pergi keluar. Zira memperhatikan sampai mobil menjauh. " Kamu kenapa?" Tanya Ziko. " Sepertinya itu pakaianku?" Ucap Zira. Ziko hanya diam karena dia mengetahui sebelumnya dari Pak Budi. " Kan bukan kamu aja yang punya pakaian seperti itu. " Ucap Ziko santai. " Hey! aku yang mendesain semua pakaian di butikku dan kalo pun ada hanya ada 10 macam permodel. " Ucap Zira cepat. Zira melihat Ziko penuh curiga. " Kenapa kamu melihatku seperti itu? Iya aku memang ganteng jadi nggak usah terpesona seperti itu. " Ucap Ziko santai. " Siapa yang terpesona aku itu lagi curiga sama kamu? " Ucap Zira cepat sambil menatap Ziko penuh selidik. Ziko masih santai dia tidak menghiraukan tatapan Zira yang penuh kecurigaan kepadanya. " Aku tau semua pakaianku kamu berikan sama pelayan, benarkan? " Tanya Zira. " Sudah tau masih nanya. " Ucap Ziko enteng. " Kalo tau semua pakaianku ada sama pelayan pasti aku gak punya cicilan denganmu. " Ucap Zira sambil memonyongkan bibirnya. Kevin hanya tersenyum dan memperhatikan pertengkaran kecil majikannya. Pertengkaran itu selalu menghibur dirinya. Pertengkaran itu seperti radio rusak yang selalu di paksa untuk dinyalakan. " Bagaimana dengan lowongan itu? " Tanya Ziko. " Sudah Tuan. Bahkan sudah ada yang mengirim lamarannya ke perusahaan. " Ucap Kevin menjelaskan. " Suit suit yang mau dapat sekertaris baru? " Goda Zira. Ziko melirik sebentar dan kembali lagi melihat kedepan. " Asisten Kevin bagaimana kriterianya? Apakah harus cantik?" Tanya Zira sambil memajukan kepalanya ke sebelah Kevin. Seketika Ziko langsung menarik bahu Zira. " Apa sih. " Ucap Zira masih memajukan kepalanya lagi. " Bagaimana? " Tanya Zira lagi. Lagi - lagi Ziko menarik bahu Zira. " Apa sih? Aku lagi serius nih ucap Zira masih memajukan kepalanya. Ziko mulai kesal melihat Zira sok akrab dengan Kevin. " Bisa tidak kamu duduk dengan benar." Teriak Ziko. Zira tidak menghiraukan ucapan Ziko. Zira terus bertanya kepada Kevin. " Aku bilang duduk dengan benar!" Bentak Ziko. " Aku kan sudah duduk dengan benar apa kamu gak lihat, kalo aku jengking baru itu duduk tidak benar. " Ucap Zira melakukan pembelaan. Ziko langsung menarik salah satu telinga Zira. " Aw sakit." Zira memegang telinganya. " Kalo Kevin rem mendadak tubuhmu bisa lompat keluar dari kaca mobil atau kalo Kevin rem mendadak kamu bisa mencium pipi Kevin. " Ucap Ziko keceplosan. Zira melongo mendengar ucapan Ziko. Dan tiba - tiba Kevin rem mendadak. Pipi Zira langsung mencium belakang kursi Kevin. " Nah itu salah satunya gak pake safety belt." Ucap Ziko ketus. " Dan kamu Vin. Kenapa kamu rem mendadak?" Tanya Ziko heran melihat Kevin yang tiba - tiba ngerem. " Oh itu Tuan saya cuma mau tanya apa Tuan cemburu dengan saya?" Tanya Kevin pelan. Ziko langsung memukul lengan Kevin dengan cepat. " Apa perlu kamu ngerem kalo kamu bertanya seperti itu?" Ucap Ziko cepat. " Maaf Tuan saya hanya mempraktekkan jika saya rem mendadak apa yang terjadi apa nona keluar dari mobil atau nona mencium pipi saya tapi ternyata saya salah nona mencium kursi belakang." Ucap Kevin pelan. " Apa kamu bilang? " Ucap Ziko sambil menonjok lengan Kevin sekali lagi. Zira hanya tertawa mendengar ucapan ziko. Sebenarnya Kevin hanya sedang memberikan test kepada Ziko. Dan ternyata Ziko cemburu dengan dirinya dan Kevin mendefinisikan arti kecemburuan itu bahwa sudah ada benih - benih padi yang tumbuh di diri Ziko. " Sudah - sudah!" Ucap Zira sambil memegang tangan Ziko. " Apa betul kamu cemburu?" Tanya Zira lagi sambil cekikikan. Ziko kembali melihat kearah Zira. " Apa maksudmu?" Tanya Ziko pura - pura gak tau. Zira masih cekikikan dengan ucapan Kevin dan dengan ekspresi Ziko terhadap Kevin. " Ada yang cemburu nih. " Goda Zira. " Siapa yang cemburu." Ucap Ziko cepat. " Owh gak cemburu ya, Ok kalo begitu. Asisten Kevin coba ulangi rem mendadak apakah saya akan mencium anda atau saya malah akan mencium karpet mobil. " Ucap Zira cekikikan. Ziko langsung menoleh ke arah Zira. " Jaga ucapanmu atau aku tambah cicilanmu menjadi tujuh kali tiga kali tujuh kali sepuluh. Apakah kamu mau? " Ucap Ziko melakukan pembelaan. Zira mulai menghitung dengan jari jarinya. " Aih ngeri betul, kalo pun aku sanggup pasti kamu juga nggak akan sanggup." Ucap Zira melakukan pembelaan. " Apa maksudmu?" Ziko menoleh ke arah Zira. Tiba - tiba Kevin bertanya. " Maaf tuan apa yang di maksud dengan tujuh kali tiga kali tujuh kali sepuluh. Apakah itu rumus matematika yang baru? " Tanya Kevin pelan. Ziko yang tadi menoleh ke arah Zira langsung melihat kearah Kevin. " Bukan urusanmu." Ucap Ziko tegas ke Kevin. Sedangkan Zira tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan Kevin barusan. " Ya itu rumus untuk memecahkan rumus biologi." Ucap Zira masih cekikikan. Kevin mencoba menelaah ucapan Zira. " Nona apakah biologi punya rumus? " Tanya Kevin karena dia tidak mengerti ucapan Zira. Zira tertawa terbahak bahak Ziko menatap tajam ke arah Zira. Zira langsung menutup mulutnya agar tidak tertawa. Kevin oh Kevin kenapa kamu bisa polos seperti itu. Zira menutup mulutnya agar tidak tertawa dan tidak menjawab pertanyaan Kevin. Kevin pun tidak bertanya lagi. Biarlah pertanyaan itu jadi PR untuknya. Zira memang gak pernah diam dengan semua celotehnya. Dia melakukan itu agar tidak bosan dengan kemacetan lalulintas. " Asisten Kevin saya punya ide nih. Nanti pada saat menyeleksi calon sekertaris suamiku." Ucap Zira sambil melihat kearah Ziko. " Ya. " " Kamu terima yang gendut aja. Biar nyahok nih orang. " Ucap Zira sambil melirik ke arah Ziko. Ziko melihat kearah Zira. " Sepertinya kamu cemburu istriku. " Ucap Ziko balik. " Lah kenapa aku harus cemburu. " Ucap Zira cepat. " Kalo kamu gak cemburu kenapa kamu memberi kriteria khusus kepada Kevin apa itu tidak cemburu namanya." Ziko melihat Zira dan tersenyum lebar sekarang pertanyaan itu kembali kepadanya. Zira mulai gelagapan dengan pertanyaan Ziko. Aih apa betul aku cemburu, kenapa juga aku harus cemburu seharusnya aku senang kalo dia memiliki sekertaris yang seksi dengan demikian aku bisa bebas sebelum satu tahun. " Asisten Kevin aku ralat ucapanku. Nanti kamu memilih sekertaris yang seksi. " Ucap Zira cepat. " Apa kamu yakin? " Tanya Ziko cepat. Zira menganggukkan kepalanya. " Gara - gara Sisil menciumku aja, kamu udah cemburu apalagi satu harian aku dengan sekertaris yang seksi. Nanti kamu bunuh diri lagi." Goda Ziko. Zira mulai melakukan pembelaan untuk dirinya. " Owh kalo Sisil itu bukan cemburu tapi jealous. " Ucap Zira cepat. " Itu sama saja. " Ucap Ziko cepat. " Owh sama ya bukannya mereka tidak saudara kenapa bisa sama? " Ucap Zira santai. Ziko memijat dahinya dengan tangannya. " Berapa nilai bahasa Inggrismu waktu sekolah dulu? " Tanya Ziko sambil tetap memijat dahinya. " Owh kalo bahasa Inggris aku gak pernah belajar yang pernah aku pelajari bahasa daerah ada bahasa Jawa, padang, batak semua bahasa aku bisa. " Ucap Zira santai. " Apa kamu mau mengetes bahasa daerah ku? " Ucap Zira sambil menaikan salah satu alisnya. " Vin kamu cari kursus bahasa Inggris kilat. " Perintah Ziko. " Untuk siapa?" Tanya Zira. " Ya untuk kamu." Ucap Ziko sedikit berteriak. " Hahaha makasih aku senang dengan bahasaku gak usah repot menyekolahkanku lagi. " Ucap Zira cepat. Ziko mulai kesal dengan istrinya ini. Istrinya ini kadang pintar kadang kelewat bodoh. " Untung kamu bukan jadi sekertarisku. " Ucap Ziko cepat. " Maaf suamiku apakah sekertaris yang dulu namanya untung." Ucap Zira menggoda Ziko. " Apa! " Mereka berdua dalam perjalanan selalu saja berkelahi tidak ada yang mau mengalah ada saja perbicangan yang di buat Zira. Zira memang perempuan yang unik. " Like komen dan vote ya readers dah turun lagi nih Votenya. Kalo sudah baca di like dong terus komen nah satu lagi Vote. Vote ini penting loh bagi author. " Terimakasih sebelumnya. Chapter 103 episode 103 Mereka sudah sampai di tempatnya masing-masing. Zira di butik Ziko dan Kevin di kantor. Pintu ruangan Kevin di ketuk. Di depan pintu ada penanggung jawab HRD Ibu Mery. " Permisi Pak. " Ucap Ibu Mery ketika berada di dalam ruangan Kevin. " Ya silahkan duduk. " Ibu Mery langsung duduk ketika di persilahkan Kevin. " Ini beberapa lamaran yang masuk kemaren. " Ucap Bu Mery sambil menyerahkan beberapa lamaran pekerjaannya. Kevin melihat beberapa lamaran yang di serahkan Ibu Mery. Dia memperhatikan detail setiap lamaran yang masuk. " Total lamaran yang masuk ada 50 Pak, dan itu baru sehari. " Ucap Ibu Mery lagi. Kevin masih melihat - lihat kertas tersebut. " Baik kamu tutup lowongan sampai besok. Tinggalkan ini di sini. " Ucap Kevin sambil menunjuk lamaran di mejanya. Di tempat yang lain. Suara ponsel berbunyi. " Ya halo " " Halo Kia? Ini aku. " Ucap seseorang dari ujung telepon. " Ya ada apa? " Tanya Kia cepat tidak semangat. " Aduh kamu kenapa gak semangat gitu sih. Ayo dong semangat aku ada informasi penting nih buat kamu? " " Apa? " Tanya Kia penasaran. " Apa kamu sudah melihat info lowongan di salah satu akun. Disana di sebutkan Raharsya group lagi membuka lowongan untuk sekertaris. " " Ah yang benar? Terus hubungannya dengan ku apa? Aku kan sudah bekerja. " " Kia dari dulu kamu ingin bekerja di perusahaan itu sekaranglah waktunya. " Kia diam beberapa detik. Memang dari dulu dia ingin bekerja di Raharsya group hampir semua orang mendambakan bekerja di perusahaan itu. Sekarang Kia bekerja di salah satu perusahaan tidak terlalu besar jika di bandingkan dengan Raharsya group. " Apa kriterianya? " Tanya Kia lagi. " Punya pengalaman di bidangnya minimal 5 tahun, menguasai 5 bahasa asing, jujur dan mau bekerjasama. " Kia diam lagi. Memang dia mempunyai kriteria itu semua. Walaupun dia bekerja di perusahaan yang tidak terlalu bonafit kalo untuk adu skill Kia tidak di ragukan lagi. " Pasti saingannya banyak nih. " Kia agak merasa minder. " Ayo aku tau kamu pasti bisa. Jangan putus semangat belum perang kamu sudah mundur. " " Kamu tidak sedang memanfaatkan ku kan? " Tanya Kia curiga. " Oh tidak tentu tidak aku hanya ingin kamu memenuhi impianmu bekerja di sana. " " Bagaimana kalo seandainya aku tidak di terima? Dan aku juga pasti akan jadi pengangguran. " Ucap Kia agak ragu. " Begini saja kamu kirim aja dulu lamaran kamu lewat email. Kalo seandainya kamu di hubungi dari pihak perusahaan kamu ijin aja dulu. Dan kalo sudah bener - bener keterima baru deh keluar. " Kia memikirkan setiap ucapan temannya. Teman masa kecilnya. Gaji di Raharsya group memang jauh berbeda dengan perusahaan lain, mereka bisa menawarkan gaji 5 kali lipat jika pegawai mempunyai potensi. Akhirnya panggilan tersebut terputus. KIA mulai mengirim lamaran lewat email. Di tempat lain. " Hahahaha aku memang tidak bisa masuk ke dalam gedung itu tapi aku bisa mengirim orang untuk merusak rumah tanggamu. " Ucap Sisil tertawa senang. Sisil merasa senang dia merencanakan sesuatu di luar pikiran orang lain apalagi pikiran para readers ????. Dia akan memanfaatkan Kia untuk menjalankan permainannya. Dan permainan itu belum di ketahui oleh Kia sama sekali. Kembali ke Gedung Raharsya group. Kevin menyerahkan ke Ziko beberapa lamaran yang telah di antar Bu Mery sebelumnya. " Ini ada 50 pelamar yang ingin bergabung di perusahaan kita. " Ucap Kevin sambil menyerahkan beberapa berkas lamaran. Ziko hanya menoleh sebentar ke berkas tersebut tapi enggan untuk melihatnya. " Aku serahkan semua kepadamu. Kamu seleksi lagi sesuai kriterianya. Dan lakukan test untuk mereka yang telah lulus seleksi. " Ucap Ziko tegas. Kevin menganggukkan kepalanya dia hendak pergi meninggalkan ruangan Ziko. " Tunggu. " Ucap Ziko. Kevin yang sedang memegang handle pintu langsung berbalik cepat dan berjalan mendekati meja kerja Ziko. " Hemmmm bagaimana dengan kursus bahasa Inggris, apakah kamu sudah mencarinya. " Tanya Ziko cepat. " Sudah Tuan. Kursus itu merupakan kursus kilat dalam 15 hari mereka bisa menjamin akan mahir berbahasa Inggris. " Ucap Kevin menjelaskan. Ziko diam sambil memikirkan sesuatu. " Berapa orang dalam satu kelas? " Tanya Ziko cepat. " Sepuluh sampai lima belas orang. " " Aku tidak suka kalo satu kelas sampai ada banyak orang. Buat private saja. " Perintah Ziko. " Maaf Tuan kenapa harus private saya khawatir kalo private nanti nona Zira bosan. " Ucap Kevin menjelaskan. " Jadi maksud kamu istriku harus gabung dengan orang lain. Bagaimana kalo didalam kelas itu laki - laki semua. " Ucap Ziko sedikit teriak. Tuan sampai segitunya anda memikirkannya. Lebih baik Tuan aja yang mengajarkan Nona bahasa Inggris secara private di kamar pasti lebih seru. Kevin tersenyum - senyum. Dan Ziko memperhatikan tingkah Kevin yang aneh. " Kenapa kamu tersenyum? " Tanya Ziko cepat. " Nggak Tuan saya hanya memikirkan kalo untuk private bahasa Inggris kenapa tidak Tuan aja yang langsung mengajarkan Nona Zira. Menurut saya lebih bagus. " Ucap Kevin menjelaskan masih tetap tersenyum. " Nggak jangan, aku gak mau jadi gurunya kamu tau kan istriku itu, bisa - bisa malah aku yang di ajarkan kosa kata anehnya itu. " Ucap Ziko cepat. Kevin tertawa kecil. " Lagian asal kamu tau aku juga sedang mengajarkan kung Fu kepadanya. " Ucap Ziko sambil tersenyum licik. Kevin merasa heran dan dia mengerutkan pangkal hidungnya. " Maaf Tuan sejak kapan anda belajar beladiri kungfu setau saya beladiri yang anda kuasai taekwondo dan karate. " Ucap Kevin bingung. " Sudahlah cepat kamu menikah pasti kalo kamu menikah kamu akan bisa menguasai beberapa jurus kungfu. " Ucap Ziko cepat sambil menyuruh Kevin keluar ruangannya. Kevin meninggalkan ruangan tapi masih mencoba mencari arti dari ucapan bosnya. Karena semenjak bosnya menikah dengan Zira perbendaharaan kata Ziko juga bertambah. Hari menjelang siang waktunya makan siang. Zira belum datang ke kantor Ziko. Ziko sudah menunggunya dengan gelisah. Dia mencoba menghubungi nomor Zira. Ziko mengambil ponselnya dari atas meja dan memilih daftar kontak dari ponselnya. Dia memilih istriku. " Ya halo. " Ucap Zira setelah ada panggilan masuk. " Kamu dimana? " Tanya Ziko cepat. " Di Planet. " Ucap Zira cepat sambil mendesain beberapa gaun di atas kertas putih. " Aku serius. " Bentak ziko. " Udah tau aku di butik masih tanya juga." Ucap Zira enteng tetap fokus dengan pekerjaan. Zira meletakkan ponselnya di samping pipi dan bahu kirinya. " Kenapa kamu gak datang ke sini? " Tanya Ziko cepat. " Kenapa? Apakah kamu rindu suamiku tersayang." Goda Zira sambil cekikikan. Ziko mulai menarik nafasnya dengan kasar dan mengeluarkannya kembali. " Aku mau makan. " Ucap Ziko tenang. " Ya makan makan aja kenapa lapor ke aku. " Ucap Zira jutek. Zira memang lagi sibuk karena gara - gara Ziko telah memborong semua pakaian di butiknya. Untuk mengisi rak - rak baju di butik Zira harus mengerjakan semua desainnya dengan cepat. Agar rak - rak itu terisi kembali. Memang masih ada beberapa pakaian yang masih di gantung tapi tidak terlalu banyak. " Like komen dan vote yang banyak ya terimakasih " Chapter 104 episode 104 " Kamu itu kenapa tidak ada mesra - mesranya samaku. " Teriak Ziko. Aih mulai nih, sepertinya aku harus ke dokter THT untuk minta resep budek. " Ya suamiku sayang. " Ucap Zira merapatkan giginya. " Nah gitu mesra. Aku lapar. " Ucap Ziko manja. " Suamiku sayang istrimu ini sangat sibuk jadi hari ini tidak bisa menemani kamu makan." Ucap Zira sambil mau muntah. Cih aku bicara seperti itu kok kayak banci ya mau muntah rasanya. " Aku mau kamu yang suapin aku. " Ucap Ziko manja. Zira mulai menggaruk - garuk kepalanya. Tingkah Ziko kadang membuatnya sakit kepala. Sebenarnya sama saja tingkah mereka berdua aneh bin ajaib, berbeda dengan pasangan suami istri lainnya. Pasangan pengantin baru pasti lagi manja dan mesra tapi tidak dengan mereka. Mereka lebih sering adu urat leher dari pada mesra. " Suamiku sayang karena aku lagi sibuk kamu minta suapin asisten Kevin aja. " Ucap Zira lagi sambil merapatkan giginya. Ziko mulai emosi. " Apa maksudmu, apa kamu mau jadi istri duralex. " Bentak Ziko. Zira langsung menjawab dengan santai. " Ya enggak lah, mana ada cita - cita seorang istri jadi duralex semua istri pasti ingin menjadi istri soleha. " Ucap Zira cepat. " Tapi." " Tapi apa? " Tanya Ziko penasaran. " Tapi lihat dulu suaminya udah jadi suami Soleh belum. " Ucap Zira santai. " Jadi makasud kamu aku bukan termasuk imam yang Soleh. " Teriak Ziko. " Cup cup udah udah jangan berisik kasihan si Soleh dan si Soleha mereka nanti keselek karena namanya di ulang terus." Ucap Zira mengalihkan pembicaraan. Mereka masih tetap adu urat leher. Ziko ingin Zira datang ke kantornya untuk makan bersama dalam satu piring. Tetapi Zira menolaknya karena Zira hari ini betul - betul sibuk. " Jadi bagaimana?" Tanya Ziko lagi. " Bagaimana apanya?" Zira sudah mulai kesal seharusnya desainnya sudah selesai tapi tertunda karena pertengkaran ini. " Kamu jadi datang tidak?" Tanya Ziko penuh harap. Zira meletakkan pensilnya di atas meja dan memegang ponselnya kembali yang sebelumnya berada di antara bahu dan pipinya. " Aku gak bisa tangan ku lagi sibuk aku gak bisa menyuapi kamu. Apa kamu mau aku suapin pake kaki." Ucap Zira ketus. Ziko langsung mematikan panggilannya secara sepihak. " Nah udah deh marah lagi marah lagi. Heran deh aku harus mengerti dia tapi dia tidak mengerti aku." Gerutu Zira. Ziko memanggil Kevin. Mereka pergi ke butik tapi tidak lupa Ziko membawa beberapa bungkus makanan. Ziko memang kesal karena Zira tidak bisa datang dan tidak menurut dengan dirinya. Tapi dia lebih khawatir kesehatan Zira. Dia mengerti pasti karena kesibukannya Zira akan menunda makannya. Zira masih berkutat dengan pekerjaannya. Dia sangat serius dalam mengerjakan pekerjaannya. Karena sangking sibuknya Zira tidak mendengar langkah kaki seseorang menginjak anak tangga. Kebetulan pintu ruangannya tidak di tutup. Jadi Ziko langsung masuk tanpa harus membuka pintunya. Ziko melihat Zira masih duduk di kursinya. Zira tidak mengetahui kedatangan Ziko. Ziko merasa kasihan melihat istrinya. Ziko menghampiri Zira yang masih sibuk dengan desainnya. Zira tidak memperhatikan keberadaan Ziko yang telah berdiri di sampingnya. Ziko mengecup pipi Zira dengan lembut. Sontak Zira kaget dan melempar pensilnya dengan spontan ke depan meja kebetulan Kevin sedang duduk di atas sofa. Kevin meringis dan memegang pipinya yang terkena pensil. " Nona apakah jurus melempar pensil itu juga di ajarkan Tuan muda juga?" Tanya Kevin sambil memegang sebelah pipinya. Zira mengacuhkan pertanyaan Kevin.Dia malah balik bertanya. " Kenapa kalian datang, kalian ini seperti jelangkung datang tak di undang pulang tak di antar. " Ucap Zira cepat. Ziko masih berdiri di samping Zira. " Dan kamu lagi, bisa nggak ketuk pintu dulu ngagetin aja." Ucap Zira sewot sambil melihat ke arah Ziko. " Apanya yang mau diketuk pintunya aja kebuka. " Ucap Ziko cepat sambil menunjuk ke arah pintu. Zira melihat ke arah pintu. " Oh iya juga ya. Tapi kan setidaknya salam, salam hormat salam manis atau salam dua jari. " Ucap Zira sewot. Ziko mengacuhkan ucapan Zira, dia memegang tangan Zira. " Cepat aku lapar. " Sambil menarik salah satu tangan Zira. Tangan Zira yang lain memegang kertas dan peralatan desain lainnya. Mereka duduk di sofa panjang dan Kevin pindah duduk di sofa yang lain. Zira masih sibuk menyelesaikan desainnya. Ziko memperhatikannya, tanpa pikir panjang Ziko membuka bungkus makanan dan mengambil sendok, dia menyuapkan sendok yang berisi makanan ke mulutnya lalu ke mulut Zira. Awalnya Zira menolak tapi dia mau menerima juga karena memang Zira juga lapar. Mereka terlihat romantis seperti itu. Biasanya Zira yang menyuapi Ziko tapi hari ini Ziko yang mengambil alih dengan sendoknya. Zira telah selesai dengan desainnya dia meletakkannya di atas meja. Zira ingin mengambil alih sendok yang di pegang Ziko. Tapi Ziko melarangnya. " Nggak usah." Ucap Ziko sambil menepis tangan Zira yang hendak mengambil sendok dari tangannya. " Aku tau kenapa kamu bertahan dengan sendok itu pasti kamu takut aku suapin pakai kaki kan? " Ucap Zira cepat. Kevin tertawa mendengar ucapan Zira. Zira memang suka asal kalo ngomong dan mungkin itulah daya tariknya. " Sudah syukur aku suapin gak tau berterima kasih. " Ucap Ziko. " Terimakasih suamiku sayang. " Ucap Zira sambil memeluk lengan Ziko. Cekrek Kevin mengabadikan momen itu melalui ponselnya. Mereka masih menikmati makanan. " Mengenai kursus bahasa Inggris, jadwalnya besok. " Ucap Ziko cepat. Zira langsung menoleh kearah Ziko. " Kamu serius?" Tanya Zira cepat. Ziko mengangguk sambil meminum air mineral. " Boleh gak aku request?" Ucap Zira pelan. " Apa?" Tanya Ziko lagi. " Nanti gurunya kalo bisa yang ganteng biar aku semangat belajarnya." Ucap Zira sambil menggerak - gerakkan alisnya. " Cih. Nggak ada request request, aku yang bayar dan aku juga yang pilih siapa yang jadi gurumu. " Ucap Ziko cepat. " Iya tau yang bayar Tuan Muda." Ucap Zira pelan. " Gurumu nanti orangnya kejam pastikan kalo kamu belajar dengan giat. Atau tanganmu yang akan kena." Ziko menakuti - menakuti Zira agar Zira mahir berbahasa Inggris dia berencana ingin mengajak Zira Keluar negeri. " Aih kejam betul guruku. Tenang saja suamiku aku akan belajar dengan giat kalo pun aku salah dalam penyebutan kosa kata aku pastikan dia tidak akan memukulku, aku yang akan memukulinya terlebih dahulu." Ucap Zira lantang sambil mengelus lengan Ziko. Kevin tertawa terbahak bahak. " Kenapa kamu tertawa apanya yang lucu?" Tanya Zira cepat sambil menoleh ke arah Kevin. " Nggak nona sepertinya anda terlalu yakin bisa mengalahkan guru itu. " Ucap Kevin sambil tertawa. Zira belum tau siapa gurunya tapi dari perkataan Kevin, dia mengambil kesimpulan bahwa gurunya pasti orang yang sangat ahli dalam pukul memukul baik memukul kasur maupun memukul bantal. " like komen dan vote yang banyak ya terimakasih." Chapter 105 episode 105 Di mansion Zira menunggu kepulangan Ziko dari kantor. Ziko sebelumya sudah memberitahu Zira kalo dia akan pulang malam karena ada dinner dengan client. Sambil menunggu kepulangan Ziko, Zira mengutak ngatik ponselnya. Di melihat daftar kontak masih ada tertera nama ubi kayu gosong. Zira tersenyum tipis. " Kamu memang bukan ubi kayu gosong tapi aku akan mengganti namamu menjadi Ubi kayu jumbo." Ucap Zira sambil tertawa kecil. Zira menunggu Ziko sambil menonton TV. Berkali - kali dia melihat jam di dinding tapi Ziko tak kunjung datang. Dia merasa sepi biasanya pasti ada aja ulah mereka yang selalu membuat suasana kamar menjadi ramai. Tanpa terasa waktu sudah menunjukkan jam 10 malam, Zira tidak kuasa menahan kantuknya. Dia tertidur di atas sofa dengan TV yang menyala. Selang satu jam Ziko pulang. Dia memasuki kamar dan melihat Zira tengah tertidur di sofa. Ziko tertawa melihat mulut micin Zira yang menganga lebar. Dia ingin menjahili istrinya. Ziko keluar kamar beberapa menit kemudian Ziko kembali dia kembali dengan membawa sesuatu. Ziko memasukkan garam ke dalam mulut Zira. Mulut Zira masih mengecap berulang - ulang kali. Kemudian dia tidur kembali dan beberapa menit kemudian mulut Zira menganga lagi Ziko merekam tingkah Zira yang konyol. Dan sekali lagi Ziko memasukan setengah sendok makan garam ke mulut Zira. Zira mengecap mulutnya sambil membuka matanya perlahan, dia kaget melihat Ziko tengah jongkok di sebelahnya. " Apa yang kamu lakukan?" Tanya Zira dengan suara seraknya sambil memegang tenggorokan yang agak aneh. Ziko hanya tersenyum lebar. " Apa yang kamu pegang?" Tanya Zira lagi. " Nggak ada." Ucap Ziko menyembunyikan sendok di tangannya. " Kamu tidak lagi menjahili istrimu kan?" Tanya Zira cepat. " Kenapa?" " Aku tadi bermimpi dalam mimpiku aku minum air pipis rasanya asin sekali." Ucap Zira pelan. Ziko tertawa terbahak - bahak. " Hey apa itu yang di tanganmu?" Ucap Zira cepat sambil memegang tangan Ziko. " Nggak ada." Ucap Ziko lagi. Karena penasaran Zira mencoba membuka genggaman tangan Ziko. Zira melihat dari balik genggaman tangan Ziko ada sebuah sendok. " Untuk apa sendok ini?" Tanya Zira cepat. Ziko tidak menjawab dia hanya menunjukkan ponselnya. Zira yang melihat langsung memukuli badan Ziko. Ziko hanya tertawa terbahak bahak. " Apa kamu mau meracuniku." Ucap Zira ketus sambil mencubit Ziko. " Sebenarnya aku ingin memasukkan cicak ke dalam mulutmu. Tapi cicaknya nggak ada yang lagi merayap mencari nyamuk." Ucap Ziko sambil tertawa. Zira membuang mukanya. " Kamu cantik - cantik tapi kalo tidur mulutnya menganga." Ucap Ziko sambil terus tertawa. " Ya nggak apa-apa dari pada aku tidur ngences terus ileran terus ngorok. Apa kamu mau aku seperti itu." Ucap Zira masih dengan membuang mukanya. " Ya udah cepat tidur, nanti kalo ubi kayuku bangun apa kamu mau menidurkannya lagi. " Goda Ziko. Zira langsung pindah ke kasur dia tidak mau harus berurusan dengan tidur menidurkan yang namanya ubi kayu dia cari aman. Ziko membersihkan dirinya di dalam kamar dan Zira berusaha untuk tidur kembali tapi karena tadi kaget jadi Zira susah untuk memejamkan matanya kembali. Ziko keluar dari kamar mandi, dan Zira langsung berakting pura - pura tidur. Ziko menuju kasur dan langsung memeluk Zira." " Apakah kamu sudah tidur istriku." " Sudah." Ucap Zira keceplosan. Ziko tertawa kecil. " Istriku apakah benar kamu sudah tidur?" Tanya Ziko lagi. Zira tidak menjawab pertanyaan kedua yang diajukan Ziko. " Istirku apa kamu ada solusi untuk menidurkan ini. " Ucap Ziko menjahili Zira kembali. " Jepit aja ke pintu pasti nanti dia tidur." Ucap Zira masih dengan mata tertutup pura - pura tidur. Ziko tertawa terbahak bahak mendengar ucapan Zira. " Istriku apakah aku boleh mencium bibirmu?" Goda Ziko lagi. " Jangan tapi kalo kamu mau silahkan tapi kalo asin tambah gula sedikit ya." Ucap Zira pelan masih dengan mata tertutup. " Istriku." Belum sempat Ziko mengajukan pertanyaan. " Istriku istriku istriku, udah aku mau bobok." Ucap Zira sambil mencubit lengan Ziko. Ziko tertawa senang dia senang kalo harus menjahili istrinya. Ziko memeluk Zira dengan erat. " Istriku?" " Hemmmmm." " Kapan kamu selesai palang merah?" Tanya Ziko lagi. " Kenapa?" " Kalo kamu sudah selesai aku tidak mau kamu mengenakan pakaian ini untuk tidur." Ucap Ziko sambil memegang pakaian tidur Zira. Zira mengenakan pakaian tidur dengan seragam dengan celana pendeknya. " Jadi aku harus pake apa?" Tanya Zira cepat. " Kamu pakai lingerie." Ucap Ziko cepat. Zira yang tadi dalam keadaan berbaring langsung bangkit dari tidurnya. " Ah jangan macam-macam suamiku." Ucap Zira tegas. " Siapa yang macam-macam, aku cuma satu macam kok." Ucap Ziko sambil menarik Zira lagi untuk di peluknya. " Kan yang kupakai juga baju tidur, aku gak mau mengenakkan pakaian yang kurang bahan." Ucap Zira cepat. " Kamu gak mau tapi aku mau." Ucap Ziko sambil mengecup dahi Zira. " Pokoknya enggak ya nggak, aku gak mau udah cukup pake ini aja." Ucap Zira protes sambil menunjuk ke arah baju yang di kenakannya sekarang. " Ok kalo begitu nanti semua baju tidurmu aku buang dan akan aku ganti dengan lingerie semua. Dan tunggu aja tujuh kali tujuh kali tiga kali tujuh akan bertambah lagi nolnya. Apa kamu mau?" Ucap Ziko mengancam sambil tersenyum licik. " Suamiku sayang bisa nggak kamu sekali-kali tidak mengancam istrimu." Ucap Zira sambil merapatkan giginya. " Kamu sendiri yang tinggal bilang siap laksanakan saja kok repot." Ucap Ziko santai. " Baik laksanakan." Ucap Zira sambil memberi hormat kepada Ziko. Zira oh Zira siap-siap aja dirimu akan di terkamnya. Ziko menarik tangan Zira yang sedang lagi duduk sambil memberi hormat kepada Ziko. " Sudah jangan lama-lama di angkat ketekmu bau." Ucap Ziko sambil menarik tangan Zira. Mereka hanya mengobrol tanpa melakukan apapun. Entah apa yang mereka obrolkan tapi obrolan itu membuat mereka sangat dekat. " Like komen dan vote yang banyak ya terimakasih." Chapter 106 episode 106 Di gedung Rahasrya group. Pagi ini gedung Rahasrya group terasa ramai dengan kehadiran wajah-wajah baru. Banyak para pelamar datang dari penjuru kota. Kebanyakan dari mereka berjenis kelamin wanita. Mereka berdandan secantik-cantiknya dan memberikan penampilan yang terbaik. Karena penampilan juga menjadi faktor pendukung. Pihak HRD memberikan instruksi untuk para pelamar kerja. Mereka mengikuti pihak HRD dari belakang. Mereka memasuki sebuah ruangan besar seperti auditorium. Mereka menduduki kursi yang telah di sediakan. Tidak berapa lama seseorang datang dari luar auditorium. Seorang wanita separuh baya yang cukup di segani di bagian departemennya yaitu Ibu Mery. Asisten Ibu Mery memberikan sebuah informasi kepada mereka semua. " Selamat pagi semuanya saya Ika dan ini Ibu Mery manager di Human Resource Department. Pagi hari ini kalian semua di panggil kesini untuk melakukan beberapa test." Ucap Ika. " Yang pertama test Iq, test ini berhubungan dengan angka dan bahasa." " Yang kedua test wartegg yaitu test yang melanjutkan beberapa pola." " Yang ketiga personality test." " Yang keempat, test koran atau disebut dengan test pauli yaitu menuntut anda semua untuk menjumlahkan setiap dua angka dari angka satu sampai sembilan." " Baiklah waktu kalian 90 menit di mulai dari sekarang." Ucap Ika menjelaskan. Semua para pelamar sibuk dengan serangkaian test yang di berikan kepada mereka. Setiap yang akan bergabung menjadi bagian dari Raharsya group akan di berikan serangkaian test. Beberapa orang pihak HRD mondar mandir ke tengah ruangan untuk melihat jalannya test agar tidak terjadi kecurangan. Di ruangan Ziko. " Tuan hari ini para pelamar kerja sedang melakukan serangkaian test." Ucap Kevin. " Pastikan yang menjadi sekertarisku orang yang smart dan jujur." Ucap Ziko tegas. Kembali ke auditorium. " Waktu sudah habis. Silahkan cantumkan nomor ponsel anda di depan." Ucap Ika. Para pelamar sudah meninggalkan gedung Raharsya group. Mereka harap-harap cemas menunggu kepastian di terima atau tidaknya. Setelah para pelamar meninggalkan gedung, beberapa asisten Ibu Mery melakukan crosscheck. Setelah selesai mereka menyerahkan kepada Ibu Mery. Kemudian Ibu Mery menyeleksinya kembali. Setelah di seleksi ada kurang lebih 20 orang yang memenuhi kriteria. Ibu Mery membawa hasil test tersebut keruangan Asisten Kevin. Pintu ruangan Kevin di ketuk. Ibu Mery masuk ke ruangan Kevin setelah ada perintah dari yang bersangkutan. " Maaf Pak ini adalah hasil test hari ini. Yang ini yang telah saya seleksi dan menurut saya memenuhi kriteria. Dan yang ini yang tidak memenuhi kriteria." Ucap Ibu Mery sambil menunjuk ke arah berkas test para pelamar kerja. " Baiklah tinggalkan di sini. Nanti saya cek kembali. " Ucap Kevin. Ibu Mery pergi meninggalkan ruangan Kevin. Dia melanjutkan pekerjaannya kembali. Kevin membuka satu persatu hasil serangakaian test para pelamar kerja. Dari dua puluh nama yang telah di seleksi Ibu Mery, dia menyaring kembali menjadi sepuluh orang. Kevin menghubungi Ibu Mery. " Bisa kamu bawakan surat lamaran pekerjaan atas nama keduapuluh orang tadi." Ucap Kevin cepat. Tidak beberapa lama Ibu Mery datang dengan membawa surat lamaran pekerjaan yang di minta asisten Kevin. Ibu Mery kembali lagi keruangannya. Kevin mengecek surat lamaran untuk dua puluh orang itu. Setelah dicek satu persatu dia hanya memilih sepuluh Surat lamaran sesuai dengan nama yang telah di saringnya. Kevin membawa surat lamaran itu sekaligus hasil tesnya. Kevin menyerahkan hasil test dan surat lamaran ke atas meja Ziko. " Tuan ini adalah hasil test yang telah memenuhi kriteria dan ini surat lamaran pekerjaannya. " Ucap Kevin menjelaskan. Ziko melihat satu persatu surat lamaran tersebut. " Baiklah ajukan interview besok untuk kesepuluh nama ini." Ucap Ziko cepat. Kevin pergi dan kembali keruangan, dia memberikan perintah kepada Ibu Mery untuk menghubungi kesepuluh nama yang telah di saringnya. Kia merasa harap-harap cemas dengan hasil test tadi. Hari ini dia ijin untuk tidak masuk kerja. Dia kembali ke apartemennya setelah selesai mengikuti test. Pintu bel apartemennya di berbunyi. Kia berlari membuka pintu apartemennya. Dan di depan pintu telah berdiri teman masa kecilnya yaitu Sisil. " Boleh aku masuk." Uca Sisil sambil tersenyum manis. " Tentu masuklah." Mereka cipika-cipiki layaknya teman yang sudah lama tidak berjumpa. " Apa kamu baru pulang kerja atau kamu baru selesai mengikuti test?" Tanya Sisil ingin tau sambil duduk di sofa. " Mana ada orang pulang kerja jam segini, aku baru selesai mengikuti test." Ucao Kia pelan. " What. Aku enggak salah dengar kan?" Ucap Sisil sambil memegang telinganya. Kia mengangguk cepat. Sisil merasa bahagia mendengar Kia telah mengikuti rencananya. " Ayolah kenapa kamu terlihat muram?" Tanya Sisil sambil mendekati Kia. " Aku nggak tau keterima apa enggak soalnya sainganku banyak, dan mereka mempunyai potensi yang lebih bagus. " Ucap Kia pelan. " Itu kan menurutmu, kalo menurutku kamu juga punya potensi lebih baik di bandingkan dengan mereka." Sisil berusaha untuk membangkitkan semangat Kia. " Ah yang benar?" Tanya Kia. Sisil mengangguk. " Sorry aku mau bertanya masalah pribadi apakah yang di uuutube itu benar?" Tanya Kia pelan. Sisil langsung menunjukkan aura tidak suka. " Apa maksudmu?" Tanya Sisil dengan wajah yang marah. " Aku lihat ada satu caption kalo kamu di sebut sebagai pelakor." Ucap Kia pelan. Sebenarnya Sisil ingin menampar Kia dengan menyebut dia pelakor. Tapi dia berusaha untuk tersenyum karena pion dia adalah Kia. " Ah itu salah sebenarnya yang pelakor itu si Zira. Dialah yang merusak hubunganku dengan Ziko. Dia berusaha mendekati Tante Amel agar dia di jodohkan dengan Ziko." Ucap Sisil membalikkan fakta. Kia hanya mengangguk karena dia tidak mengerti tentang berakhirnya hubungan Ziko dan Sisil. " Like komen dan vote yang banyak ya terimakasih." Chapter 107 episode 107 Suara ponsel Kia berbunyi, Kia Langsung mengangkat panggilan tersebut. Ada nomor asing tertera di depan layar ponselnya. Tanpa pikir panjang dia langsung menjawabnya. Kia mendengarkan setiap ucapan yang di sampai dari seseorang di ujung sana. Kemudian tidak berapa lama panggilan itu berakhir. Sisil yang dari tadi duduk di sofa merasa penasaran dengan si penelepon. Setelah selesai dia langsung bertanya kepada Kia. " Siapa yang telepon?" Tanya Sisil cepat. " Ini dari pihak HRD Raharsya group. " Ucap Kia. Sisil yang mendengar langsung berdiri dan tersenyum lebar. Beda dengan Kia, dia yang mendapat panggilan untuk interview tapi Sisil yang sangat bahagia. " Kan betul kamu pasti keterima." Ucap Sisil masih dengan senyumnya. " Iya tapi besok adalah waktunya interview aku tidak tau apakah aku bisa menjawabnya, entah kenapa ketika aku mau interview dengan perusahaan lain perasaan ku tidak jantungan seperti ini, tapi ini beda dari awal test sampai besok interview aku masih gak tenang." Ucap Kia menjelaskan. " Ah itu karena Raharsya group perusahaan favorit, hampir semua orang ingin bekerja di sana." Ucap Sisil memberi semangat kepada Kia. Sisil meninggalkan apartemen Kia, dia keluar dengan hati yang sangat senang. Di butik. Zira hari ini ada jadwal kursus bahasa Inggris dan dia lupa jam berapa jadwal kursusnya. Dia hendak menghubungi Ziko. " Halo suamiku." Sapa Zira lembut. Ziko yang mendengar Zira menyebut kata suamiku merasa heran karena Zira tidak gampang menyebutnya dengan sebutan itu, kalo pun menyebutkan kata itu karena perintah Ziko. " Kamu hari ini makan apa? Tumben ramah." Ucap Ziko dari balik ponselnya. Zira hanya tertawa kecil. " Aku hari ini mendapat wangsit dan dalam wangsit itu hari ini aku harus ramah denganmu agar guru kursus ku baik dengan ku. " Ucap Zira menjelaskan. " Apa dalam wangsit mu juga tidak di sebutkan agar kamu harus selalu melayani suamimu dengan mesra." Tanya Ziko menjahili Zira. " Oh iya tadi wangsitnya bilang layanilah suamimu seperlunya." Ucap Zira santai. " Ah dasar wangsit bodoh." Ucap Ziko cepat. Zira tertawa mendengar ucapan Ziko. " Ada apa? Kenapa kamu menghubungiku?" Tanya Ziko cepat. " Idih jutek amat. Nggak aku mau tanya gimana dengan sekertaris barunya, cakep nggak?" Tanya Zira penasaran. Ziko mulia berpikir ingin mengerjai Zira. " Oh iya hari ini dia masuk kerja, kamu tau bodynya bak gitar Kaku Slank." Ucap Ziko mengada-ada. Zira yang mendengar langsung wajahnya merah menunjukkan ketidaksukaan atas pujian yang di berikan Ziko kepada sekertaris barunya. " Kalo body ku dengan bodynya bagus mana?" Tanya Zira lagi penasaran. " Hemmmm kalo dia seperti gitar Kaku Slank kalo kamu bodynya seperti ukulele." Ucap Ziko sambil menahan tawanya. Zira yang mendengar Ziko menyebut bodynya seperti ukulele, langsung mencak-mencak. " Kenapa aku harus ukulele itu kan kecik." Gerutu Zira. " Memang kamu kecil." Ucap Ziko cepat. " Apa nggak ada sebutan yang lebih bagus untuk bodyku." Ucap Zira pelan. " Nggak sudah bagus atau aku sebut body kamu seperti seruling, mau!" Ucap Ziko sambil menahan tawanya. Zira masih geram dengan ucapan Ziko. Ziko tidak pernah menyebut bodynya dengan bagus. " Gantilah yang lebih bagus." Ucap Zira lagi sambil memohon kepada Ziko. " Hemmmmm ya sudah bodymu seperti gendang." Ucap Ziko cepat. Zira yang mendengar bodynya di sebut semakin parah. " Aih kenapa harus gendang, seharusnya gitar Spanyol." Ucap Zira cepat. " Masih mending aku bilang seperti gendang, gendang kan lebih besar di bandingkan dengan suling atau ukulele." Ucap Ziko cepat. Zira masih dengan mencak-mencaknya. Ziko masih saja mencoba mengerjai Zira. " Terimakasih atas kopinya, sepertinya kamu sudah pintar membuat kopi, aku ingin kamu setiap pagi membuat kopi untukku." Ucap Ziko sambil tersenyum-senyum. Kevin yang sedang menyajikan kopi kepada Ziko merasa bingung dengan tingkah bosnya, sedangkan Zira langsung mematikan ponselnya. " Baik Tuan setiap pagi saya akan menyajikan kopi seperti ini, apa saya pindah saja ke bagian pantry." Ucap Kevin cepat. Ziko yang mendengar ucapan Kevin langsung melongo. " Apa yang kamu bilang?" Tanya Ziko. " Tadi Tuan memuji kopi buatan saya jadi saya berniat pindah ke pantry saja." Ucap Kevin pelan. Ziko memijit pelipisnya. " Apa Tuan juga butuh pijitan nanti saya akan." Ucapan Kevin masih menggantung. " Aih apa maksudmu, Cepat kamu cari istri aku tidak mau kamu terus sendiri nanti kamu tergoda dengan diriku." Ucap Ziko cepat. Kevin yang mendengar ucapan Ziko tambah bingung. " Maaf Tuan sepertinya anda salah saya hanya mau bilang kalo Tuan butuh pijitan nanti saya akan memanggil seseorang yang ahli di bidangnya." Ucap Kevin menjelaskan. Ziko yang mendengar penjelasan Kevin langsung mengelus dadanya. " Aku pikir kamu sudah menyukai ku." Ucap Ziko pelan. " Maaf Tuan selera kita sama kok." Ucap Kevin cepat. Ziko langsung mendekati Kevin dan memegang ujung kerah kemeja Kevin. " Apa maksudmu dengan selera kita sama, atau jangan-jangan kamu ada hati dengan istriku." Ucap Ziko marah sambil memegang kerah kemeja Kevin. " Maaf Tuan sepertinya anda salah sangka dengan saya, maksud saya selera kita sama, sama-sama menyukai wanita." Ucap Kevin menjelaskan. Gubrak pintu ruangan Ziko di buka dengan cepat. Kevin dan Ziko yang sedang berdekatan langsung melihat kearah pintu secara bersamaan. Ada Zira di depan pintu. " Owh My God, apa aku tidak salah liat, ternyata kalian saling menyukai." Ucap Zira cepat. Ziko langsung melepaskan tangannya dari kerah kemeja Kevin, dan Kevin langsung mundur teratur. " Ternyata benar dugaanku kalian saling menyukai, memang wajar karena kalian sering bersama." Ucap Zira masih di depan pintu. Ziko langsung menarik tangan Zira. " Kenapa kamu bisa datang secepat ini." Ucap Ziko cepat. " Ah aku tau pasti kamu takut kan karena hubungan kalian sudah aku ketahui." Ucap Zira polos. Ziko langsung memegang dahinya dengan salah satu tangannya. Kevin pun ingin pergi meninggalkan ruangan Ziko. " Vin jangan pergi dulu." Ucap Ziko cepat. Kevin tidak jadi pergi meninggalkan ruangan Ziko. " Ya sudah kalian lanjutkan saja aku saja yang pergi." Ucap Zira cepat sambil ingin meninggalkan ruangan Ziko. Tapi Ziko menarik kerah kemeja Zira dari belakang. Dengan otomatis Zira langsung mundur teratur " Sudahlah aku paham kok, aku tidak mau jadi duri di dalam selimut kalian, atau aku tidak mau jadi hama dalam hubungan kalian." Ucap Zira cepat. " Ini dah keterlaluan." Ucap Ziko cepat. " Vin jelaskan." Perintah Ziko. " Saya Tuan?" Ucap Kevin sambil menunjuk ke arah hidungnya sendiri. " Ya kamu." Ucap Ziko cepat. " Maaf Tuan saya harus menjelaskan apa?" Tanya Kevin bingung. Ziko yang mendengar jadi tambah bingung. Mendadak hari ini mereka sama-sama jadi orang bodoh. " Baiklah akan aku jelaskan." Ucap Ziko sambil memegang tangan Zira untuk duduk di sofa. Zira mengikuti Ziko dan dia segera duduk di sofa. " Apa yang kamu pikirkan tadi salah." Ucap Ziko pelan. " Ah nggak usah bohong kalau pun benar aku tidak apa-apa, aku akan menutup mulut ku rapat." Ucap Zira sambil memperagakan menutup mulut dengan jarinya. Ziko mulai emosi karena Zira tidak paham juga. " Itu semua salah, aku dan Kevin tidak ada hubungan apapun hubungan kami hanya sebagai atasan dan bawahan." Ziko berbicara sambil teriak. Zira mulai manggut-manggut, tapi masih ada yang ganjal di pikirannya. " Tapi tadi aku lihat kalian mau saling ciuman." Ucap Zira sambil memperagakan jarinya yang satu bertemu dengan jari lainnya. Ziko tambah stress. " Kenapa sih kamu tidak paham juga." Teriak Ziko lagi. Zira masih diam tidak berkata sepatah katapun. " Apa kamu tidak percaya dengan semua yang pernah kita lakukan." Ucap Ziko keceplosan. Kevin dan Zira langsung melihat kearah Ziko. " Apa yang anda lakukan Tuan." Ucap Kevin seperti orang bodoh. " Kevin." Teriak Ziko. " Kamu keluar! Kamu malah memperkeruh suasana. " Teriak Ziko. Kevin pergi meninggalkan ruangan Ziko. Hanya ada Ziko dan Zira di dalam. Ziko berusaha menjelaskan kepada Zira. " Aku dan Kevin tidak ada hubungan apapun, semua yang kamu pikirkan itu salah." Ucap Ziko. " Tapi." Ucap Zira memotong ucapan Ziko. " Nggak ada tapi-tapi. Apa kamu masih tidak percaya?" Ucap Ziko cepat. Zira menggelengkan kepalanya. Ziko kesal karena istrinya telah berpikir yang aneh tentang dirinya. Ziko langsung mencium bibir Zira dengan lembut. " Apakah kamu sudah percaya?" Tanya Ziko lagi. " Nggak." Zira menggelengkan kepalanya. " Like komen dan vote nya mana? masih banyak loh yang baca tapi nggak Vote. Jujur author jadi kurang semangat." Chapter 108 episode 108 Walaupun Zira masih belum yakin tapi Zira mengiyakan saja agar Ziko tidak melakukan hal-hal yang aneh di dalam ruangannya. " Iya aku percaya." Ucap Ziko cepat. Dia duduk di sebelah Zira. Sambil memainkan jari jemari Zira. " Kamu belum jawab pertanyaanku yang tadi." Ziko masih memainkan jari jemari Zira sambil meletakkannya ke dalam lubang hidungnya. " Ih jorok." Zira langsung menarik tangannya agar tidak masuk ke dalam lubang hidung Ziko. Ziko tertawa terbahak-bahak. Dia sangat senang jika selalu dapat mengerjai Zira. Menurutnya itu merupakan hal wajib yang harus di lakukannya. " Ayo jawab." Ziko menarik lagi tangan Zira. Zira buru-buru melipat kedua tangan di dadanya. " Apanya?" Zira lupa dengan pertanyaan yang diajukan Ziko. " Itu kenapa kamu bisa cepat sampai kesini. Bukannya tadi waktu aku menghubungi mu kamu lagi berada di butik." Masih dengan keisengannya Ziko memegang beberapa rambut Zira dan meletakkannya di bawah hidungnya. Zira yang melihat langsung tertawa. " Kamu seperti Bapak-Bapak debt kolektor." Zira tertawa cekikikan. " Ayo cepat." " Oh aku tadi menggunakan pintu kemana saja, tadi aku pinjam dulu sama Doraemon." Ucap Zira polos. Ziko mengernyitkan dahinya. " Kenapa!" Ziko menudingkan jari telunjuk ke arah Zira. " Iya ya nggak usah di bahas bagaimana aku datang, tanya aja sama auhtornya biar lebih jelas. " Aku kesini mau bertanya jam berapa aku mulai kursus?" Ziko melirik jam di tangannya. " Setelah jam makan siang." Ucap Ziko sambil melihat jam di tangannya. " Di mana aku kursus?" " Di sini." Ucap Ziko cepat. Zira memandang sekeliling ruangan Ziko. Ruangan itu cukup besar kalo di jadikan sebagai ruang kursus. " Bukan kamu kan yang jadi gurunya?" Zira mulai penasaran dengan ucapan Ziko. " Nggaklah aku nggak mau mengajarkan mu bahasa Inggris aku hanya mau mengajarkan mu kungfu kasur." Ucap Ziko sambil memeluk Zira. Zira masih melihat sekeliling ruangan Ziko. Dia berpikir di mana kiranya Zira akan belajar kursus bahasa Inggris. " Kamu yakin aku akan belajar di ruangan ini?" Sambil melihat sekeliling ruangan Ziko. " Siapa yang bilang di ruanganku." Ucap Ziko cepat. " Tadi aku tanya, kamu langsung jawab di sini." Ucap Zira mulai sewot. " Ya disini di gedung ini bukan di ruangan ini." Ucap Ziko sambil memeluk pinggang Zira. Semenjak menikah Ziko memang suka memeluk Zira. Semakin dia mendekap Zira perasaan itu semakin dalam. Dia belum pernah merasakan hal ini sebelumnya. Zira mempunyai daya tarik tersendiri. Tatapan lekat Ziko membuat Zira merasa malu. Tidak berapa lama pintu ruangan di ketuk. " Masuk." Ucap Ziko masih memeluk Zira. Kevin masuk kedalam ruangan Ziko. Dia melihat wajah Zira yang merona merah. " Tuan apakah anda berdua masih bertengkar?" Ucap Kevin sambil melirik kearah Zira. " Apa maksudmu?" " Enggak saya lihat wajah nona Zira sangat merah, apa Tuan baru menampar nona Zira?" Kevin mengajukan pertanyaan yang sangat polos. Ziko langsung menoleh kearah Zira. Zira memang malu jika Ziko menatapnya lekat. Beda halnya jika Ziko hanya melihatnya sekilas. Tatapan mata Ziko membuat Zira terpesona malu. " Cepat kamu nikah jadi enggak berpikir yang aneh-aneh." Ucap Ziko tegas sambil melemparkan sesuatu. " Baik Tuan, Jika saya sudah ketemu jodoh pasti saya akan menikah dengan segera." Ucap Kevin mulai stres. Zira heran dengan Kevin secara body ok, tampang ok belum lagi keuangan luar biasa ok, tapi Kevin belum pernah sama sekali menggandeng cewek yang sampai sekarang membuat Zira penasaran. " Ada berita apa?" " Guru kursus bahasa Inggris nona Zira sudah datang. " Ucap Kevin menjelaskan. Ziko melirik jam di tangannya. " Cepat juga dia datang. Suruh dia tunggu setelah makan siang kami kesana." Ucap Ziko memberi perintah. Kevin meninggalkan ruangan Ziko. Di dalam benaknya ada keinginan untuk menikah. Karena selama beberapa hari ini mood dari bosnya berubah dan itu terlihat sejak dia menikah. Semoga aku menemukan jodohku. Zira dan Ziko menikmati makan siang di dalam ruangan. Mereka tetap makan sepiring berdua. Mereka terlihat romantis layaknya sepasang pengantin baru lainnya dan itu tidak akan bertahan lama. Pasti ada saja pertengkaran di antara mereka. Setelah selesai Ziko mengajak Zira menuju ruangan tempat diadakannya kursus bahasa Inggris. Ziko dan Zira menuju lift. " Like komen dan vote yang banyak ya terimakasih." Chapter 109 episode 109 Ziko membawa Zira kesuatu ruangan yang tidak terlalu besar. Di sana seseorang telah menunggu mereka. Ziko membuka pintu, begitu pintu di buka seseorang yang berada di dalam ruangan langsung berdiri sambil menundukkan kepalanya. Zira melihat seorang wanita yang berdiri tidak jauh dari kursinya. Zira sampai melongo melihat wanita itu. Zira menarik-narik tangan Ziko. Ziko langsung menoleh kearahnya. " Apa kamu yang mencari wanita itu?" Zira berbicara sambil berbisik. " Iya. Kenapa?" " Apakah kamu yakin?" Ucap Zira masih berbisik. " Ya aku yakin." " Dia tidak seperti guru bahasa Inggris tapi dia seperti guru sumo." Zira masih tetap berbisik. " Diamlah, aku memang memilihnya untuk menjadi gurumu, agar kamu lebih giat belajar." Ucap Ziko sambil menarik tangan Zira. Wanita yang menjadi guru private bahasa Inggris Zira berpostur tinggi dan berbadan besar layaknya seorang pemain sumo tapi versi wanita. Wanita tadi mengulurkan tangannya kepada Ziko dan Zira sambil menyebutkan namanya. " Rani." Ziko dan Zira menyambut tangan wanita itu. Wanita itu memegang tangan Zira layaknya memegang tangan anak kecil. Zira merasa agak sakit dengan genggaman wanita itu. " Silahkan anda bisa memulainya langsung. " Ucap Ziko sambil duduk di pojok. Zira dan wanita tadi duduk saling berhadapan hanya di batasi sebuah meja di antara mereka. Wanita tadi mengajarkan cara tercepat untuk belajar bahasa Inggris. Ziko merasa bosan dan dia pergi meninggalkan Zira dan wanita tadi. Ziko kembali keruangan nya untuk melanjutkan pekerjaannya. Setelah beberapa jam berlangsung. Zira kembali ke ruangan Ziko. Dengan wajah yang agak cemberut. " Bagaimana dengan kursus hari ini?" Ziko melirik Zira yang sedang duduk di sofa. " Aku baru berdebat dengan nya." Ucap Zira sambil menaikan ke dua kakinya ke atas sofa. " Kenapa?" Ziko yang tadi berada di kursinya sekarang sudah didekat Zira. " Aku enggak mau lagi belajar bahasa Inggris." Zira meletakkan salah satu punggung tangan ke atas mata untuk menutupi matanya yang lelah. " Ayo lihat aku. " Ziko menarik tangan Zira yang masih berada di antar kedua matanya. Zira melihat ke arah Ziko setelah tangannya ditarik Ziko. " Apa yang menyebabkan kamu tidak mau belajar bahasa Inggris?" Ucap Ziko sambil menatap lekat bola mata Zira. " Aku sebel sama dia. Hidung katanya bahasa Inggrisnya nos padahal sudah jelas-jelas tertulis nose. Belum lagi dia bilang bahasa Inggrisnya aku mau makan, dia bilang I want to eat padahal salah loh, seharusnya di bacanya ai wante tu eate." Ucap Zira masih dengan wajah yang cemberut. Ziko tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan Zira. " Terus apa lagi?" Tanya Ziko penasaran. " Nah ini yang buat aku tambah sebel. Aku di suruh menyebutkan bahasa Inggris yang aku ketahui. Ya aku sebut aja yang sering aku dengar seperti, Aple pelaying pelaying game nah aku juga sebut ini ai lope Yue." Ucap Zira cepat sambil duduk dari posisi berbaringnya. Mendengar kata terkahir yang di sebutkan Zira, Ziko langsung memeluk erat tubuh Ziko. " Ucapkan lagi." Sambil tetap memeluk Zira. " Yang mana?" Zira bingung harus mengulang yang mana. " Kata yang terakhir." Ucap Ziko cepat sambil tetap memeluk Zira. " Owh. Aple pelaying pelaying game dan ai lope Yue." Ucap Zira cepat. Ziko merasa senang dengan kata yang terakhir di ucapkan Zira, dia terus memeluk Zira dan tidak henti-hentinya mencium pipi Zira. " Kamu kenapa? Apa yang aku ucapkan benar?" Tanya Zira bingung melihat reaksi Ziko yang tidak henti-hentinya menciuminya. " Ya benar. Ucapan mu benar." Ucap Ziko sambil terus menciumi pipi Zira. " Berarti aku besok nggak usah kursus." Ucap Zira enteng. Ziko melepaskan pelukannya dan kembali menatap mata Zira. " Siapa yang suruh kamu berhenti kursus?" Ucap Ziko sambil menatap Zira lekat. " Kan tadi kamu yang bilang kalo ucapanku benar jadi ya ngapain aku kursus lagi." Ucap Zira cepat. " Nggak kamu harus tetap kursus, sampai kamu benar-benar mahir berbahasa Inggris." Ziko mengambil ponselnya dan menunjukkan sebuah aplikasi cara berkomunikasi dalam berbahasa Inggris. Zira melihat aplikasi tersebut dan langsung melongo. " Ternyata apa yang aku sebutkan tadi salah semua padahal aku sudah berdebat dengannya tadi." Ucap Zira sambil menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Ziko menarik kedua tangan Zira. " Kenapa kamu harus menutupi wajahmu yang cantik." Ucap Ziko sambil menarik kedua tangan Zira. " Aku malu." " Malu sama siapa?" " Malu sama diriku." Ucap Zira dengan wajah sendu. " Apa yang membuatmu malu?" " Aku malu sebagai istri Tuan muda aku tidak bisa bahasa Inggris bahkan tadi aku ngotot kalo aku benar, nanti kalo wanita itu cerita kepada semua orang tentang istrimu yang bodoh ini kan nama baikmu akan jelek karena kebodohan ku. " Ucap Zira dengan wajah sendunya. Ziko kembali memeluk Zira dan meletakkan kepala Zira di dadanya. Dia merasa terharu mendengar kejujuran Zira. Zira bisa berpikir sampai jauh mengenai nama baiknya ataupun nama baik keluarganya. Padahal Ziko tidak pernah memikirkan kalo Zira akan merusak nama baiknya. " Kamu harus tetap belajar semua demi kebaikanmu." Ucap Ziko memberi semangat kepada Zira. Zira menganggukkan kepalanya. " Bolehkah aku request?" Ucap Zira cepat. " Apa?" " Bisa enggak kepalaku tidak di letakkan di dadamu soalnya ketekmu bau." Ucap Zira cepat sambil tertawa. Ziko pun tertawa mendengar candaan Zira. Menurutnya jika Zira sudah bercanda seperti itu tandanya dia sudah tidak lagi murung. Kevin datang keruangan Ziko setelah mengetuk pintu terlebih dahulu. Kevin melihat keakraban antara Ziko dan Zira mereka terlihat sangat bahagia. " Tuan apakah saya juga boleh ikut tertawa." Ucap Kevin polos. " Silahkan." Ucap Zira cepat. Kevin pun akhirnya ikut tertawa seperti Ziko dan Zira, padahal dia tidak tau apa yang menyebabkan Ziko dan Zira tertawa senang. Dia hanya ingin terlibat dalam acara kebahagiaan mereka. Menurutnya kebahagiaan mereka lebih penting dari segalanya. " Like komen dan vote yang banyak ya terimakasih." Chapter 110 episode 110 Keesokan harinya. Gedung Rahasrya group merupakan gedung tertinggi di kota itu. Banyak yang memimpikan ingin bekerja di sana. Suasana di gedung itu setiap harinya selalu sibuk. Kia melangkahkan kakinya ke gedung tersebut dengan hati yang masih cemas. Dia menuju meja Resepsionis. " Selamat pagi, saya kia. Saya di hubungi pihak perusahaan untuk melakukan interview hari ini. " Sapa Kia dengan ramah. " Pagi. Silahkan tunggu sebentar." Ucap resepsionis ramah. Kia masih berdiri di depan meja Resepsionis. Resepsionis menghubungi seseorang melalui telepon yang ada di depannya. " Silahkan Nona ke lantai 3, lift ada di sana. " Ucap Resepsionis tadi. " Terimakasih." Kia langsung menuju lift dia berdiri di depan pintu lift dengan beberapa karyawan lainnya. Dari pintu loby ada seseorang yang sangat gagah datang menuju lift. Semua karyawan menundukkan kepalanya ketika berhadapan dengan orang itu. Kia memperhatikan tingkah para karyawan, kia menoleh kebelakang untuk mencari tau siapa sosok tersebut. Kia merasa takjub orang yang dia lihat adalah seorang Ziko. Ziko yang selama ini hanya dia lihat dari layar kaca televisi, tapi sekarang dia berdiri kurang lebih 7 meter dari tempat berdirinya. Siapa yang tidak terpesona dengan kharismanya seorang Ziko. Hampir semua kaum hawa terpesona dengan ketampanannya. Kia pun merasa terpesona dengan sosok yang tidak jauh dari dirinya. Kia memang tau mengenai hubungan antar Sisil dan Ziko. Tapi Kia tidak pernah bertemu secara langsung dengan Ziko. " Ternyata dia lebih ganteng aslinya." Ziko beserta Kevin memasuki lift khusus presiden direktur. Tidak berapa lama kia juga masuk ke dalam lift khusus karyawan tapi dengan lantai yang berbeda. Kia sampai di lantai 3 dia bertanya kepada salah satu karyawan tempat di adakannya interview. Setelah mendapatkan informasi dari karyawan tadi Kia menyusuri beberapa lorong menuju tempat tersebut. Di sana sudah ada beberapa karyawan yang sedang duduk menunggu namanya di panggil. Kia duduk di salah satu sofa. Tidak berapa lama ada seseorang yang keluar dari ruangan itu. Dan beberapa menit kemudian seorang perempuan keluar memanggil nama orang lain. Dan ternyata yang di panggil adalah yang duduk di sebelah Kia. Ada sampai satu jam setengah Kia menunggu namanya untuk di panggil. Setelah menunggu lama pintu di buka, seorang wanita keluar dari ruangan dan seseorang wanita lagi memanggil nama Kia. " Saudari Kia Maharani?" " Ya saya." Ucap Kia sambil beranjak dari tempat duduknya. Kia jalan menuju ruangan tersebut, begitu masuk kedalam ruangan ada tiga orang telah duduk menunggunya. Salah satunya adalah Ibu Mery dari pihak HRD. Kia duduk di depan mereka bertiga. Mereka mulai mengajukan beberapa pertanyaan. " Ceritakan tentang diri Anda." Ucap salah satu pria. Kia mulai menceritakan tentang dirinya. " Saya orangnya optimis, pekerja keras kreatif dan punya inisiatif tinggi. Saya mampu bekerja independen maupun bekerjasama dalam tim." Ucap Kia penuh keyakinan. " Kenapa anda berhenti dari pekerjaan anda sebelumnya?" Kia merasa gugup karena dia belum keluar dari perusahaannya tempat dia bekerja. Dia menceritakan hal-hal positif mengenai perusahaannya. Dan dia berkata dengan jujur mengenai dirinya yang masih bekerja. " Apa pengalaman anda di bidang ini?" Bu Mery yang mengajukan pertanyaan. Kia menjelaskan semua pengalamannya. " Apa yang anda ketahui tentang perusahaan ini?" Kia menjelaskan semua yang dia ketahui tentang Raharsya group. " Kenapa anda ingin bekerja di perusahaan ini?" " Apakah anda ada kenalan di perusahaan ini?" " Berapa gaji yang anda inginkan?" " Jelaskan mengapa perusahaan kami harus memperkejakan anda?" Kia menjawab semua pertanyaan yang di ajukan kepadanya secara berurutan. Setelah semua pertanyaan di ajukan Kia keluar dari ruangan tersebut. Kia melangkahkan kakinya keluar gedung Rahasrya group. Ada rasa cemas dengan pertanyaan mengenai dirinya telah keluar dari pekerjaan yang lama. Ibu Mery beserta timnya mengecek semua berkas hasil interview. Ibu Mery pergi menuju ruangan asisten Kevin. Ibu Mery masuk ke dalam ruangan Kevin setelah ada perintah dari sang pemilik ruangan. " Siang pak. Ini berkas hasil interview dan ini Video interviewnya." Ibu Mery menyerahkan berkas hasil interview beserta Videonya. Ibu Mery meletakkannya di atas meja Kevin. " Baiklah tinggalkan saja semua disini, nanti saya akan menghubungi anda lagi." Ucap Kevin tegas sambil memegang berkas yang ada di meja Ibu Mery pergi meninggalkan ruangan Kevin. Kevin mengambil berkas hasil interview yang berada di atas mejanya. Dia mengecek semuanya tidak lupa dia melihat Video hasil Interview hari ini. Dari kesepuluh para pelamar ada tiga kandidat yang memenuhi syarat. Kevin mulai menimbang-nimbang yang pantas di jadikan sekertaris bosnya. Dia menghubungi Ibu Mery kembali. " Ibu Mery tolong kamu cek mengenai tiga orang ini tentang status pekerjaannya." Kevin memberikan tiga nama tersebut. Ibu Mery langsung menghubungi pihak-pihak perusahaan tempat mereka dulu bekerja. Ibu Mery mencari informasi mengenai tiga orang itu melalui perusahaan yang lama. Setelah mendapatkan informasi tersebut Ibu Mery langsung memberitahukan hasilnya kepada Kevin. " Pak saya sudah mendapatkan informasi mengenai mereka bertiga." Ibu Mery menjelaskan satu persatu. Kevin mendengarkan dengan seksama. " Yang ini dia masih bekerja di perusahaan yang lama sama dengan hasil Interview tadi dia berkata apa adanya." Sambil menunjukkan berkas hasil interview. " Yang ini dia sudah lama tidak bekerja kurang lebih 1 tahun menganggur." " Kalo yang ini dia masih bekerja di perusahaan yang lama tapi Citranya kurang baik di sana." Ibu Mery menjelaskan semuanya tanpa ada yang di tambah ataupun di kurangi. " Baiklah saya akan memberitahukan hal ini kepada Tuan Ziko. Karena semua keputusan ada di tangan beliau." Ucap Kevin cepat. Ibu Mery kembali lagi ke ruangannya dan Kevin pergi menuju ruangan Ziko. Kevin mengetuk pintu ruangan Ziko. Ziko sedang melihat beberapa file yang ada di mejanya. Ziko mempersilakan Kevin untuk masuk. " Ada informasi apa?" Ziko masih tetap melihat file yang ada di mejanya. " Ini hasil wawancara hari ini." Kevin meletakkannya di atas meja Ziko. Ziko hanya melirik berkas itu sebentar. Dan meletakkannya kembali. " Lanjutkan!" Kevin melanjutkan ucapannya. " Dari ratusan orang yang melamar untuk bekerja di sini hanya ada dua puluh orang yang berhasil melakukan serangkaian test, dan dari dua puluh orang tadi hanya ada sepuluh orang yang memenuhi kriteria." Ucap Kevin menjelaskan. Ziko masih mendengarkan dengan seksama " Dan setelah melakukan interview hari ini saya memilih ada tiga kandidat yang pantas. Tapi mereka memiliki kekurangan dan kelebihan masing-masing. Kevin menunjukkan semuanya beserta Video hasil interview. Dengan pemikiran yang panjang Ziko menjatuhkan pada satu nama. " Baiklah, hubungi dia dan katakan kepadanya untuk mulai bekerja besok." Kevin pergi meninggalkan ruangan Ziko. Dia menghubungi kembali Ibu Mery. Ibu Mery di perintahkan Kevin untuk menghubungi nama yang telah di pilih bosnya. " Like komen dan vote yang banyak ya terimakasih." Chapter 111 episode 111 Keesokan harinya Hari ini adalah awal baru bagi Kia, dia akan mulai bekerja di tempat yang selama ini dia impikan. Tidak pernah terbersit sedikitpun akan bisa bekerja di perusahaan idamannya. Tapi kenyataannya hari ini dia telah memenuhi mimpinya. Dengan perasaan yang senang campur bahagia dia memasuki gedung megah tersebut. Tidak lepas bibirnya memberikan senyum cantik kepada setiap orang. Kia telah bertemu dengan pihak HRD. Kia di antar salah satu karyawan menuju mejanya. Karyawan tadi menunjukkan meja Kia dan meninggalkan Kia sendiri. Kia melihat mejanya dengan perasaan senang. Dan tidak jauh dari sana dia melihat ada papan nama di depan pintu yang bertuliskan presiden direktur. Kia mengetahui kalo dirinya di pekerjakan sebagai sekretaris tapi pihak HRD tidak memberi tahukan sebagai sekretaris siapa. Betapa terkejutnya dia melihat papan nama tersebut. Sudah bisa bekerja di perusahaan sebesar ini dia merasa bangga apalagi jika dia bekerja sebagai sekretaris seorang presiden direktur rasanya sangat luar biasa. Tidak berapa lama pintu lift di buka ada dua sosok yang gagah keluar dari lift tersebut yaitu Ziko dan Kevin. Ziko melangkahkan kakinya menuju ruangannya. Ketika Ziko lewat di depannya Kia berusaha menunjukkan senyum terbaik tapi sama sekali Ziko tidak menoleh apalagi meliriknya, yang melirik Kia sekilas hanya Kevin. Ziko duduk di kursi kebesarannya. Dan Kevin masih berdiri di depannya. " Tuan sepertinya dia sekertaris baru anda." Ucap Kevin pelan. " Hemmmmm." "Apa saya harus memanggilnya untuk berkenalan dengan anda." Ucap Kevin lagi pelan. " Tidak perlu kamu mengenalkan dia kepadaku, pasti dia juga sudah mengenalku." Ucap Ziko sombong. Kevin menganggukkan kepalanya. " Kamu ajarkan saja kepadanya untuk menjadi sekertaris yang baik, dan satu lagi jangan pernah masukkan urusan pribadi kedalam gedung ini." Ucap Ziko cepat. Kevin paham dengan kalimat bosnya. Yaitu tidak boleh ada jalinan kasih di dalam gedung ini atau akan langsung di pecat. Itulah peraturan yang telah di tetapkan perusahaan Ziko. Kevin beranjak ingin pergi meninggalkan ruangan Ziko. " Satu lagi jangan pernah ikut campur dalam urusan pribadiku." Ucap Ziko tegas. Ziko tegas dalam mengambil sikap dia tidak mau ada siapapun ikut campur dalam urusan pribadinya. Seperti halnya tentang seringnya Zira datang ke kantornya, dia tidak mau ada yang mengurusi apapun yang di lakukannya bersama Zira di dalam ruangan itu. Kevin pergi meninggalkan ruangan Ziko. Dia berjalan menuju meja Kia. Kevin melihat kia dengan wajah yang mendung. Kia merasa sangat sedih karena atasannya sama sekali tidak menganggap dirinya ada. " Saya Kevin." Ucap Kevin tanpa mengulurkan tangannya. Kia yang tadi tertunduk langsung mengangkat wajahnya. " Saya Kia Pak." Ucap Kia ramah. " Saya akan memberitahu beberapa hal yang harus kamu patuhi dan yang harus kamu kerjakan." Ucap Kevin cepat. Kevin menjelaskan beberapa pekerjaan dan peraturan menjadi sekertaris seorang presiden direktur. Kevin menjelaskan dengan cermat dan Kia mencatat semuanya di dalam note book. Setelah selesai menjelaskan semuanya Kevin kembali ke ruangannya meninggalkan Kia sendiri di meja kerjanya. Tidak berapa lama telepon yang ada di meja Kia berbunyi dan kia langsung mengangkat telepon tersebut. " Selamat pagi dengan Kia di sini ada yang bisa di bantu." Ucap Kia ramah. " Antarkan kopi." Ucap Ziko cepat. Ziko langsung menutup teleponnya sebelum Kia menjawabnya. Kia mengelus dadanya karena mendapat perlakuan yang tidak baik dari bosnya. Kia menuju pantry yang tidak jauh dari meja kerjanya. Dia membuat kopi untuk Ziko. Setelah selesai membuat kopi dia mengantarkan ke ruangan Ziko. Kia mengetuk pintu perlahan setelah dapat instruksi masuk Kia langsung masuk keruangan Ziko. " Pagi Tuan Ini kopinya." Ucap Kia ramah. " Hemmmmm." Ziko masih serius dengan file di depannya. Kia meletakkan kopi di atas meja Ziko. Ziko tidak meliriknya sama sekali dia melambaikan tangannya mengusir Kia keluar dari ruangannya. Kia langsung keluar dengan hati yang kecewa. " Kenapa sosok Ziko selalu di idolakan semua orang padahal karakternya saja mereka tidak tau, apalagi dengan sifat dinginnya, semoga saja aku bisa betah bekerja di sini." Kevin kembali keruangan Ziko, sebelumnya Kevin menghampiri meja Kia. " Hari ini ada meeting tolong kamu persiapkan berkas yang di perlukan, meeting hari ini bersama dengan para investor asing." Ucap Kevin sambil menuju ruangan Ziko. Di dalam Ziko masih dengan pekerjaannya, dia merasa sangat sibuk hari ini. Dia harus mengerjakan beberapa pekerjaan karena lusa dia akan keluar negeri melakukan perjalanan bisnis. " Pagi Tuan sebentar lagi kita akan ada meeting dengan para Investor." Ucap Kevin pelan. " Baik. Apa mereka semua sudah datang?" " Sebagian para investor sudah datang mereka sedang menunggu di guest room." Ucap Kevin lagi. Ziko meletakkan kedua tangannya di kepala bagian belakang. Pintu ruangan di ketuk, Kia membuka pintu dengan perlahan sambil memegang beberapa berkas dokumen. " Ini berkas dokumennya Pak." Ucap Kia sambil menyerahkan kepada Kevin. Kevin menerima berkas tersebut, tanpa sengaja Kia dan Ziko sama-sama saling menatap beberapa detik. Kia langsung mengalihkan pandangannya ke arah lain. Ziko beranjak dari kursinya dan pergi keluar ruangan bersama Kevin. Ziko tidak ada bicara sepatah katapun kepada Kia. Tapi berbeda dengan Kia, dia merasa sangat senang ketika mereka beradu mata dalam beberapa detik. " Harus aku akui tatapan matanya benar-benar menghanyutkan." Guman Kia sambil memegang jantungnya. Jantung Kia berdebar kencang ketika mereka saling beradu mata. Seperti sekertaris pada umumnya Kia menerima semua panggilan yang masuk dia mencatat beberapa panggilan yang ingin membuat janji dengan Ziko. Zira melangkahkan kakinya menuju loby. Walaupun dia sudah di kenal sebagai istri pemilik perusahaan tapi dia tetap menjalankan aturan yang berlaku. Dia menghampiri meja resepsionis dan meminta izin untuk ketemu Ziko. " Selamat siang saya mau bertemu dengan presiden direktur." Ucap Zira ramah. " Nona Zira silahkan langsung menuju ruangan Presiden direktur tidak perlu meminta izin kepada kami." Ucap salah satu resepsionis sopan. Hampir semua sudah mengenal Zira, mereka mengetahui tentang Zira setelah adanya tayangan mengenai pertunangan dan pernikahan mereka yang di publikasikan ke media cetak maupun media elektronik. Semua karyawan dan karyawati menaruh hormat kepadanya seperti mereka menaruh hormat kepada presiden direktur. Zira melangkahkan kakinya menuju lift. Dia selalu menggunakan lift khusus karyawan tapi ketika dia bersama Ziko mau tidak mau dia harus menggunakan lift khusus presiden direktur. Walaupun dia seorang istri dari pemilik perusahaan tapi dia tidak pernah menunjukkan sikap yang sombong apalagi memamerkan kekayaan suaminya, Zira tetap menjadi Zira yang sama hanya statusnya saja yang membedakan. " Like komen dan vote yang banyak ya terimakasih." Chapter 112 episode 112 Zira sampai di lantai tempat ruangan Ziko berada. Zira melangkahkan kakinya seperti biasa Zira selalu masuk ke dalam ruangan Ziko. Karena sekertaris yang dulu selalu mengizinkannya. Zira sedang memegang handle pintu tapi dia langsung di tegur. " Maaf anda siapa? Mengapa anda langsung masuk ke dalam ruangan Presiden direktur." Ucap Kia dengan wajah yang jutek. Sebenarnya kia mengetahui kalo yang berada di depannya sekarang adalah istri bosnya tapi mengingat hal yang di dengar sebelumnya, Kia langsung pasang badan karena dia sudah mendengar dari Sisil kalo Zira adalah orang ketiga dalam hubungan antara Ziko dan Sisil. Zira melepaskan genggaman tangannya dari handle pintu. " Kamu sekertaris baru ya, kenalkan saya Zira." Ucap Zira ramah sambil mengulurkan tangannya. Kia tidak menjawab apalagi membalas uluran tangan Zira. Kia menepis uluran tangan Zira. Kia melihat Zira dari atas sampai bawah. Kalo body memang Zira jauh beda dengan Kia. Kia badan bak seorang model hampir sama dengan sisil. Kalo Zira lebih kecil di bandingkan dengan mereka berdua. Dan kalo urusan pakaian Zira memang tidak mau memakai pakaian yang membentuk body dia lebih suka dengan pakaian yang sedikit longgar walaupun sebenarnya bodynya bagus. Apalagi semenjak dia menikah segala pakai semua harus dapat izin dari Ziko. Zira memperhatikan Kia balik. Zira melihat Kia dari atas sampai bawah. " Bodynya memang seperti gitar Spanyol wajar kalo aku di bilang si ubi kayu mirip ukulele." Zira menarik kembali uluran tangannya. Zira tidak memperdulikan Kia yang masih berdiri di dekatnya. Karena prinsip Zira jika ada orang baik dia akan sangat baik dan jika ada orang sombong dia akan lebih sombong. Zira memegang handel pintu dan ingin membukanya. Tapi lagi-lagi dia ditahan sama Kia. " Kamu mau apa!" Ucap Zira sambil membentak Kia. " Siapa yang mengijinkan kamu untuk masuk ke dalam ruangan Presiden direktur." Ucap Kia cepat. " Halo nona yang tidak aku tau namanya, aku mau masuk aku mau tidur aku mau makan di dalam ruangan ini semua bukan urusanmu, urusanmu hanya di sana." Ucap Zira ketus sambil menunjuk ke arah meja kerja Kia. Kia merasa kesal dengan Zira. " Ternyata dia sangat sulit di taklukan benar kata Sisil." " Aku adalah sekertarisnya semua yang berhubungan dengan diri bos ku adalah tanggung jawabku, dan kamu tidak ada hak di sini." Ucap Kia ketus. Zira mulai emosi dengan sikap sombongnya Kia. Zira mendorong tubuh Kia dengan otomatis kia langsung mundur teratur. Tanpa pikir panjang Zira langsung masuk ke dalam ruangan Ziko dan duduk santai di sofa. Kia juga ikut masuk ke dalam ruang Ziko dia menarik tangan Zira untuk keluar dari ruangan itu. Kia memegang tangan Zira dan berusaha menariknya tapi dengan cepat Zira memplintir tangan kia. " Jangan pernah sentuh aku atau tangan indahmu akan hilang dari tempatnya." Ucap Zira sambil mendorong kia kembali. Kia terjerembab ke bawah sofa. Zira yang melihat tersenyum sumringah. " Aku adalah istri dari Ziko Putra Raharsya, ini adalah hari pertamamu bekerja di sini dan bisa saja ini sebagai hari terakhirmu." Ucap Zira sambil tersenyum sumringah. Kia tidak menyadari dengan perbuatannya, dia baru menyadari setelah Zira memberitahukan hal yang akan di terimanya. " Tapi tenang saja aku bukan perempuan cengeng yang sedikit-sedikit mengadu. Kalo untuk masalah perempuan seperti kamu itu kecil bagiku." Ucap Zira sambil menunjukkan ujung jari kelingkingnya. Kia yang sedang terjerembab di bawah sofa langsung berdiri dan keluar ruangan dengan perasaan yang marah. " Baiklah sekarang kamu menang tapi lihat saja, aku akan merusak hubungan kalian." Guman Zira pelan. Kia masih memikirkan perlakuan yang baru saja di terimanya. Dia tidak menyadari kalo Kevin sudah berada di depan mejanya sedangkan Ziko sudah masuk ke dalam ruangannya. " Apa ada telepon yang penting untuk Tuan Ziko." Ucap Kevin mengagetkan Kia. " Eh iya pak ada." Ucap Kia gugup. Kia memberitahu semua panggilan dan beberapa jadwal pertemuan klien dengan Ziko. Kevin terus memperhatikan Kia, dia merasa ada yang aneh dengan sikap Kia. Tapi dia tidak menanyakan hal itu. Karena dengan sendirinya cepat atau lambat dia akan mengetahui juga. Di dalam ruangan Ziko melihat Zira sedang berbaring di sofa. Ziko mendekati Zira dan mengecup dahi Zira dengan lembut. " Sudah lama kamu di sini?" Ucap Ziko sambil mengecup dahi Zira. " Sudah dari jaman batu." Ucap Zira cepat. " Jadi kamu sudah bertemu dengan sekertaris baruku." " Wah wah sekertaris baru ku." Zira menekan intonasi bicaranya. Ziko yang melihat langsung bingung dengan ekspresi Zira serasa marah kepadanya. " Apa kamu sudah berkenalan dengannya?" Ucap Ziko sambil menatap Zira. " Sudah lah tadi aku juga memberikan kenangan-kenangan untuknya." Ucap Zira ketus. " Siapa namanya?" Ziko kembali bertanya kepada Zira. Mendengar pertanyaan Ziko, Zira langsung menurunkan kakinya yang berada di sofa dia langsung menatap Ziko tajam. " Kenapa kamu bertanya namanya kepadaku?" Masih dengan tatapan mengintimidasi. " Ya karena aku tidak tau namanya, makanya aku bertanya kepadamu?" Ucap Ziko sambil mengelus rambut Zira. " Tunggu bagaimana kamu tidak tau namanya. Bukannya dia sekertarismu." Ucap Zira lagi heran. Ziko menyandarkan badannya ke sandaran sofa. " Iya dia sekertarisku tapi aku tidak perlu menanyakan perihal tentangnya, bagiku itu tidak penting hal yang paling terpenting ada di depanku." Ucap Ziko lembut sambil memegang jari jemari Zira. " Apa hal yang paling penting dalam hidupmu meja ini." Tanya Zira sambil memegang meja di depan Ziko. Ziko memegang pelipisnya. Dia merasa Zira kurang peka. " Maksud ku itu kamu." Bentak ziko. Zira merasa berbunga-bunga mendengar ucapan Ziko. " Ah kamu bisa aja." Ucap Zira sambil mencubit lengan Ziko. " Apa kamu tidak percaya?" Ziko masih memegang jari jemari Zira. Zira langsung menarik tangannya. " Jangan kamu masukkan lagi jariku ke dalam lubang hidungmu." Ucap Zira sambil menarik tangannya. Ziko tertawa mendengar ucapan Zira memang dia berniat ingin memasukkan jari Zira ke dalam lubang hidungnya. " Lusa aku akan keluar negeri. Aku harap kamu baik-baik disini." Ucap Ziko cemas. " Nggak usah khawatirkan aku, semua manusia takut dengan ku apalagi hantu." Ucap Zira cepat. " Aku sebenarnya ingin mengajakmu ikut dengan ku, tapi karena bahasa Inggrismu yang buruk ya aku batalkan niatku itu." Ucap Ziko pelan. Zira ingin sekali pergi keluar negeri. " Aku ikut ya." Ucap Zira sambil merayu Ziko. " Nggak! di sana nanti kamu akan sering aku tinggal." " Ya nggak apa-apa, kamu pergi aja mengurusi pekerjaanmu aku akan jalan-jalan sendiri." Ucap Zira penuh harap. " Kalo kamu hilang gimana? Udah nggak bisa bahasa Inggris sok pergi sendiri." Ucap Ziko ketus. " Kalo enggak mau mengajak aku bilang, enggak usah pakai alasan gak tau bahasa Inggris, aku tau kamu mau pergi berdua dengan kuntilanak di depan kan?" Ucap Zira teriak sambil menunjukkan jarinya ke arah pintu. Ziko melihat arah tangan Zira. " Siapa yang kamu bilang kuntilanak? apa di dalam ruangan ini ada kuntilanak?" Ziko bertanya dengan perasaan khawatir. Dia khawatir kalo Zira kesurupan. Zira tidak menjawab pertanyaan Ziko, dia malah balik melotot menatap Ziko. " Ah sudah nggak bener ini." Ziko langsung menghubungi Kevin. Tidak berapa lama Kevin datang. " Like komen dan vote yang banyak ya terimakasih." Chapter 113 episode 113 " Apa yang terjadi Tuan?" Ziko tidak bertanya dia hanya menunjuk ke arah Zira. Kevin melihat ke arah Zira dengan seksama. " Sepertinya nona Zira baik-baik saja." Ucap Kevin pelan. " Apa kamu tidak melihat matanya tidak berkedip sedikitpun." Ziko menunjukkan ke arah Zira. Kevin memperhatikan Zira lagi tapi sekarang dia melihat ke arah mata Zira. " Owh itu tidak apa-apa Tuan, itu namanya senam mata." Ucap Kevin berbisik. Ziko langsung menonjok lengan Kevin dengan keras. Kevin mengelus lengannya. " Kamu tau tadi awalnya kami berbicara baik-baik tetapi tiba-tiba dia marah dan dia menyebut kuntilanak. Itu lihat matanya sampai sekarang masih melotot seperti itu, aku takut kalo dia kesurupan. Cepat kamu hubungi Mbah Jambrong. " Ucap Ziko rasa cemas. " Sepertinya Mbah Jambrong cuti Tuan." Ucap Kevin cepat. " Dari mana kamu tau dia cuti?" " Intuisi saya Tuan." Ucap Kevin cepat. Zira yang mendengar ucapan Kevin tentang intuisi langsung tertawa cekikikan. Dia lucu melihat tingkah dua orang didepannya selalu takut kalo mengenai masalah kesurupan. Ziko dan Kevin langsung menoleh dengan cepat ke arah Zira. " Tuan kalo ini memang kesurupan." Ucap Kevin cepat. " Terus aku harus melakukan apa?" Ziko merasa khawatir dengan Zira yang biasanya bawel sekarang malah cekikikan. " Menurut buku yang pernah saya baca." Kevin belum menyelesaikan ucapannya. " Buku apa?" " Buku dongeng Tuan." " Kamu jangan bercanda Vin." Ucap Ziko kesal. " Nggak Tuan saya berbicara benar, menurut suatu sumber kalo kita mengalami hal gaib atau apalah itu namanya, kita harus membaca surat surat." Ucap Kevin menjelaskan. " Surat apa?" " Surat perjanjian atau surat permohonan kerja Tuan." Ucap Kevin polos. " Kamu kok tambah goblok sekarang." Ucap Ziko kesal sambil memukul lengan Kevin lagi. Zira tambah cekikikan melihat dua mahluk yang mengocok perutnya. " Oh maaf Tuan saya ralat bukan surat tapi ayat ayat." " Seperti?" Ziko bertanya lagi penasaran. " Ayat- ayat cinta." " Apa aku harus menyebutkannya?" Ziko merasa ragu. Kevin menganggukkan kepalanya. Ziko menarik napasnya dalam-dalam kemudian mengeluarkannya dengan perlahan. Dia memegang tangan Zira. " Istriku ayat-ayat cinta." Ucap Ziko pelan. Zira langsung cekikikan sedangkan Kevin menepuk jidatnya. " Mengapa bosku bodoh sekali." " Kamu bilang akan berhasil tapi dia malah tambah tertawa." Ucap Ziko protes kepada Kevin. Kevin pun bingung cara mengatakannya. " Tuan harus mengatakan tentang cinta." Ucap Kevin pelan. Zira masih cekikikan dia merasa terhibur dengan dua orang bodoh di depannya. " Baiklah akan aku ulangi." Ucap Ziko cepat. Ziko kembali memegang tangan Zira. " Istriku Love." Zira yang tadi cekikikan langsung berhenti ketika mendengar kata love dan kata cinta. Zira langsung berdiri dari posisi duduknya. " Awas." Ucap Zira cepat. Ziko dan Kevin saling menatap. " Hebat kamu Vin, hanya menyebutkan dengan kata love dia langsung sadar." Ucap Ziko memberi selamat. " Mungkin setannya orang asing Tuan." Ucap Kevin cepat. Zira tidak memperdulikan omongan dua orang aneh yang ada di depannya. Dia hendak pergi keluar. " Kamu mau kemana?" " Kursus aku tadi baru tersadar saat kamu menyebut kata love. " Ucap Zira cepat. Ziko melambaikan tangannya memanggil Zira. " Sini-sini kamu belum makan siang denganku." Ucap Ziko sambil melambaikan tangannya. " Nggak lah aku tadi udah kenyang melihat tingkah konyol kalian berdua." Ucap Zira cepat. " Istriku apa kamu mau aku kutuk jadi siluman kodok!" Ucap Ziko dengan intonasi yang di tekan. Zira paling takut dengan kata kutuk mengutuk apalagi kalo yang mengutuk adalah suaminya. Zira kembali duduk di atas sofa dengan malas. " Iya-iya aku duduk nih." Ucap Zira cepat. Kevin pergi meninggalkan ruangan Ziko. Seperti biasa dia selalu membeli makan siang untuk majikannya. Kevin meninggalkan ruangan Ziko dan Zira mengikuti Kevin dari belakang. " Kamu mau kemana?" Teriak Ziko melihat Zira yang ikut mau keluar juga. " Sebentar saja." Ucap Zira tanpa menghiraukan teriakan Ziko dari dalam ruangan. Zira berlari mengejar Kevin. Kia melirik sinis melihat Zira yang sedang berlari mengejar Kevin. " Asisten Kevin tunggu." Teriak Zira sambil ngos-ngosan. Kevin berbalik mencari seseorang yang telah memanggil namanya. Zira mendekati Kevin. " Ada apa nona?" Zira mengatur pernafasannya. " Enggak saya hanya mau tanya siapa yang memilih si Kunti menjadi sekertaris suamiku?" Ucap Zira cepat. Kevin mengernyitkan dahinya. " Maksud anda Kia?" Ucap Kevin sambil melirik ke arah Kia. Zira menganggukkan kepalanya. " Iya, tapi jangan lihat kesana?" Ucap Zira sambil merapatkan giginya. " Kenapa nona, apa dia mengganggu anda?" Kevin bertanya dengan curiga. " Hahaha, mana berani dia, aku kan pasukan Avengers." Ucap Zira sambil tertawa kecil. " Terus kenapa anda bertanya?". " Oh iya lupa, aku bertanya kepadamu kenapa kamu memilih dia sebagai sekretaris si ubi kayu, apa tidak ada yang lebih jelek darinya." Ucap Zira ketus sambil merapatkan giginya. Kevin tersenyum lebar. " Sepertinya anda cemburu nona!" Zira yang mendapat pernyataan seperti itu langsung gugup. Dia salah tingkah dia melihat kebawah dan sesekali dia melihat kesamping. " Hahaha mana mungkin aku cemburu dengan si kuntilanak." Ucap Zira cepat sambil memonyongkan bibirnya ke arah Kia. Kevin tertawa kecil. " Kalo anda cemburu bilang saja, saya tidak akan memberitahukan hal ini kepada Tuan Ziko." Ucap Kevin cepat. Sekali lagi Zira tertawa karena dia gugup mendapatkan pernyataan telak dari Kevin. " Ya tapi sedikit enggak pake banyak." Ucap Zira sambil merapatkan jari telunjuk dan jari jempolnya. Kevin tersenyum lebar. " Kamu janji jangan bilang sama si ubi kayu nanti besar kepalanya." Ucap Zira pelan sambil memainkan ujung kemejanya. Ziko keluar dari ruangannya dan mendapati Zira sedang akrab dengan Kevin. Ziko langsung melebarkan langkahnya menuju tempat Kevin dan Zira berdiri. " Apa yang kamu lakukan di sini?" Ziko memelul leher Zira dengan lengannya. Zira langsung kaget tidak dengan Kevin, Kevin sudah mengetahui kedatangan Ziko dari jauh. " Enggak ada aku cuma pesan makanan. Benar kan asisten kevin?" Ucap Zira sambil meletakkan jari telunjuknya di tengah bibirnya. Kevin mengerti kode yang di berikan Zira. Dia tidak menjawab dan tidak mengiyakan Kevin hanya tertawa kecil. " Cepat masuk." Ucap Ziko sambil menarik tangan Zira. Zira mengikuti Ziko dari belakang. Untuk menuju ke ruangan Ziko mereka harus melewati meja Kia. Kia memperhatikan kemesraan mereka, Kia menatap sinis ke arah Zira. " Apa liat-liat, mau tak culek tu mata." Ucap Zira sambi berjalan melewati Kia. Ziko hanya melihat sekilas, Ziko tidak berkomentar dia hanya menarik tangan Zira menuju ruangannya. " Like komen dan vote yang banyak ya terimakasih." Chapter 114 episode 114 Zira duduk manis di sofa, Ziko memperhatikan dengan seksama. " Ada apa? Kenapa kamu melihat istrimu seperti itu?" Zira melihat dengan penasaran karena Ziko menatapnya dengan tajam. " Ada apa antara kamu dengannya?" Ucap Ziko sambil menunjuk ke arah pintu. " Maksud kamu si kuntilanak?" Tanya Zira balik. " Kuntilanak! jadi yang kamu sebut kuntilanak tadi dia." Ucap Ziko cepat sambil menunjuk ke arah pintu. Zira menganggukkan kepalanya. Sedangkan Ziko mengacak rambutnya. " Jadi dari tadi kamu enggak kesurupan?" Tanya Ziko balik sambil mengacak rambutnya. " Enggak." Ucap Zira enteng. " Kenapa kamu enggak bilang." Ucap Ziko sambil memegang kedua pipi Zira dengan tangannya. " Lah siapa yang menyuruhmu berpikir kalo aku kesurupan, udah jelas-jelas aku lagi marah sama kamu." Ucap Zira santai. " Marah kenapa?" Tanya Ziko balik sambil melihat Zira. " Marah kenapa? Kamu lupa ya, kamukan mau keluar negeri bareng si kuntilanak dan alasan kamu aja bilang ke aku bahasa Inggrisku buruk." Ucap Zira cepat. Ziko tertawa kecil. Dia mencubit pipi Zira. " Aku tidak pergi bareng dia, dan aku pergi dengan Kevin. Apakah hatimu sudah tenang sekarang?" Ucap Ziko pelan sambil memeluk Zira. " Sedikit." Ucap Zira cepat. " Kalo banyak enggak apa-apa kok." Ucap Ziko senang. Ziko merasa senang karena istrinya sudah ada rasa cemburu kepada wanita lain. " Kenapa kamu memberinya julukan kuntilanak, apa tidak ada yang lebih seram lagi." Ucap Ziko tertawa. Zira pun ikut tertawa kecil. Tidak berapa lama pintu di ketuk dan Kevin datang dengan membawa beberapa bungkus makanan. Kevin melihat kemesraan mereka berdua. Dia merasa senang dengan kebahagiaan yang di pertontonkan kepadanya. " Apakah saya mengganggu?" Tanya Kevin cepat. " Tidak." Ucap Ziko cepat. Kevin masih tersenyum melihat mereka. " Ada apa asisten Kevin kenapa kamu tersenyum-senyum seperti itu, kamu enggak kesurupan juga kan?" Tanya Zira penasaran. Kevin tertawa kecil. " Enggak nona, saya senang melihat kalian, pengen rasanya saya ikut dalam kebahagian kalian." Ucap Kevin cepat. Ziko dan Zira saling pandang dan melihat kearah Kevin. " Duduklah asisten Kevin." Ucap Zira pelan. " Apakah kamu sakit?" Tanya Zira heran. Kevin menggelengkan kepalanya. " Terus kenapa kamu berkata seperti itu? Apakah kamu ingin mempunyai pasangan?" Tanya Zira pelan. Kevin langsung melihat kearah Zira begitupun dengan Ziko, Ziko melihat kearah Kevin. Kevin tidak menjawab dia hanya menundukkan kepalanya. " Asisten Kevin kenapa kamu tidak mencari pasangan, kamu pernah trauma atau kamu suka sesama jenis." Ucap Zira pelan. Kevin yang sedang menundukkan kepalanya lanhsung mengangkat kepalanya dengan cepat. Sedangkan Ziko tertawa terbahak bahak " Saya normal nona." Ucap Kevin cepat. Zira masih mendengarkan Kevin berbicara. " Mungkin saya belum menemukan jodoh." Ucap Kevin pelan. Zira berusaha menghibur Kevin. " Sudahlah aku yakin pasti kamu akan menemukan jodoh terbaikmu." Ucap Zira cepat sambil menghibur Kevin. Zira dan Ziko makan satu piring berdua, dan Kevin ikut makan di situ karena permintaan Zira. Mereka menikmati makanannya dan sesekali mengobrol. " Suamiku apakah aku bisa pindah kesini?" Tanya Zira pelan. Zira bertanya seperti itu karena dia merasa khawatir dengan kuntilanak di depan sedangkan Kevin mengerti maksud ucapan Zira. Zira merasa cemburu dengan Kia. Zira tidak mau mengakui tapi sikap dan perbuatannya menunjukkan kecemburuan. " Apa maksud kamu?" Tanya Ziko heran. " Ya aku ingin ada ruangan di gedung ini." Ucap Zira sok manja. " Kamu kan memang ada ruangan kursus sendiri." Ucap Ziko cepat sambil mengunyah makanannya. Zira sebel dia tidak mau menyuapi Ziko. Ziko yang sudah membuka mulutnya tapi tidak di suap Zira, Zira malah menyuap dirinya. Ziko memegang tangan Zira sambil menunjukkan mulutnya yang kosong. " Makan nih sendiri." Ucap Zira ngambek. Ziko yang melihat Zira ngambek tambah bingung. " Kenapa lagi ini?" Tanya Ziko ke Kevin. " Mungkin maksud nona Zira, dia ingin ada ruangan khusus untuknya." Ucap Kevin menjelaskan. Ziko berpikir licik. " Kamu kan sudah ada ruangan khusus itu di situ." Ucap Ziko sambil menunjuk ke arah ruangan yang di dalamnya ada kasur." Ucap Ziko genit. Zira mencubit lengan Ziko. " Kenapa sih kamu berpikiran mesum terus. Aku itu mau ada tempat atau ruangan pribadi di gedung ini titik sebesar gajah enggak pakai koma apalagi di bantah." Ucap Zira cepat. " Memangnya untuk apa ruangan itu?" Ziko bertanya heran karena dia memang tidak mengerti dengan arah pembicaraan Zira. Zira mulai kesal dia memalingkan wajahnya. " Vin jelaskan." Ucap Ziko cepat. Kevin yang akan menyuapkan nasi ke dalam mulutnya berpaling melihat Ziko. " Saya Tuan?" Ucap Kevin cepat. " Iya kamu, memang ada berapa Kevin di ruangan ini?" Ucap Ziko ketus Kevin mulai memikirkannya dia memandang ke depan ke samping dan keatas. Ziko dan Zira mengikuti arah gerakan kepala Kevin. Kevin memandang ke atas. Ziko masih menunggu Kevin untuk menjelaskan. " Vin bagaimana." Ucap Ziko sambil melihat ke atas mengikuti Kevin. " Tuan sepertinya bola lampunya sudah mulai redup." Ucap Kevin polos. Zira tertawa mendengar ucapan Kevin karena yang di ucapkan dia tidak saling menyambung. Sedangkan Ziko melemparkan sesuatu ke arah Kevin. " Bisa enggak kamu serius." Ucap Ziko sambil merapatkan giginya. " Oh iya Tuan, jadi begini nona Zira mau ruangan khusus untuknya agar dia bisa mendesain di sini karena kalo di sana nona Zira akan banyak menghabiskan waktu di jalan belum lagi siang ada kursus. Betul enggak nona?" Ucap Kevin sambil menanyakan balik ke Zira. Zira mengangguk cepat. Sedang Ziko mengernyitkan dahinya. " Kalo butik kamu di sana dan kamu desain di sini, apa kamu enggak repot nantinya?" Tanya Ziko balik. Zira menganggukkan kepalanya cepat. " Baiklah kalo itu permintaanmu akan aku turuti. Kevin siapkan ruangan khusus untuk istriku." Ucap Ziko cepat. Setelah selesai makan siang Kevin langsung meninggalkan ruangan Ziko dan menyiapkan ruang khusus untuk Zira. Zira pergi ke ruangan lain untuk kursus bahasa Inggris. Ziko melanjutkan pekerjaannya. Kia mengetuk pintu ruangan Ziko. Dia masuk ke dalam ruangan Ziko. " Ada apa?" Tanya Ziko ketus. Kia berusaha untuk sabar menghadapi sifat dingin bosnya. " Maaf Tuan apa anda ingin kopi lagi?" Ucap Kia basa basi. Ziko sama sekali tidak memperhatikan Kia dia hanya memandang setumpuk file yang ada di mejanya. " Enggak usah aku enggak haus." Ucap Ziko ketus. Kia masih tetap tersenyum walaupun Ziko tidak memperhatikannya. " Apakah Tuan membutuhkan yang lain." Ucap Kia cepat. " Enggak." Ucap Ziko tegas. Kia tidak putus asa dia hanya ingin mendekatkan dirinya dengan bosnya dan kalo pun bosnya terpikat itu merupakan bonus buatnya. Kia mengenakan setelan jas dengan rok di atas lutut sehingga lekuk tubuh Kia terlihat sempurna. Kia memberanikan diri untuk mendekati Ziko dengan berdiri di samping Ziko. Ziko baru menyadari ketika dia menoleh ada Kia di sampingnya. " Like komen dan vote yang banyak ya terimakasih." Chapter 115 episode 115 " Ngapain kamu di sini?" Bentak Ziko ke kia. Kia tidak menghiraukan dia mengulurkan tangannya ke arah Ziko. " Untuk apa itu?" Ucap Ziko ketus sambil menunjuk ke tangan Kia. " Tuan belum mengenal diriku dan aku ingin memperkenalkan diriku kepada Tuan. " Ucap Kia manja. " Enggak perlu. " Ucap Ziko ketus. Kia tidak putus asa. Dia hanya ingin memegang tangan Ziko. Dia langsung memegang tangan Ziko yang berada di meja tanpa permisi. " Kamu mau ngapain." Ucap Ziko cepat melihat tangannya sudah di pegang Kia. Pada saat itu Zira kembali ke ruangan Ziko karena tasnya ketinggalan di sofa. Zira kaget melihat Ziko dan Kia sedang berpegangan tangan begitupun Ziko. Tapi tidak dengan Kia dia tersenyum sumringah. " Kia Tuan." Ucap Kia sambil membisikkan namanya ketelinga Ziko. Ziko tidak menghiraukan ucapan Kia dia hanya melihat ke arah Zira. Zira tidak menunjukkan reaksi marah sedikitpun dia berusaha menenangkan dirinya dengan bersikap normal. " Hay kalian lagi ngapain lagi main pijat pijatan ya." Ucap Zira cepat. Ziko masih tidak menggubris ucapan Zira, Ziko merasa khawatir dengan sikap Zira yang tidak marah sama sekali. Kia meninggalkan ruangan Ziko. " Aku hanya mau mengambil ini." Ucap Zira menunjukkan botol minum air mineral dan tas nya. Zira buru-buru keluar ruangan Ziko. Ziko ingin menjelaskan semuanya kepada Zira. Tapi Zira sudah lari keluar ruangan. Kia merasa senang sudah dapat bersalaman dengan Ziko. Dia duduk cantik di atas kursinya. Zira menghampiri meja Kia. " Sepertinya ada yang kepanasan ini hari." Ucap Kia judes sambil mengipasi wajah dengan jari tangannya. " Kalo panas nih minum." Ucap Zira cepat sambil melemparkan air mineral ke wajah Kia. Kia langsung berdiri karena baru saja mendapat siraman air dari Zira. Wajah Kia penuh dengan air begitupun dengan pakaiannya. Kia menghentak-hentakkan kakinya. Sedangkan Zira tersenyum lebar. " Kenapa tuh kaki? Mau ikut gerak jalan?" Ucap Zira tegas sambil meninggalkan Kia yang basah. Kia marah-marah di depan mejanya. Dan Kia masih beruntung karena tidak ada yang melihat kejadian tadi. " Awas kamu Zira, aku akan merebut Ziko dari dirimu, tidak siapapun yang bisa mengalahkan ku. Perang akan kita mulai lihat saja." Ucap Kia tegas. Zira melangkahkan kakinya dengan lemas. Dia tidak berniat untuk mengikuti kursus. Hatinya serasa hancur berkeping-keping dia tidak pernah mengalami hal seperti ini. Dia pernah mengalami hal seperti ini ketika orang tuanya meninggal dan ini terulang lagi. Zira pergi meninggalkan gedung Raharsya group. Dia menuju parkiran. Dia melihat pak supir sedang duduk di dalam mobil. " Pak antarkan saya ke butik." Ucap Zira lemas. Pak supir langsung membuka pintu mobil dan mobil melaju menuju butik. Didalam mobil Zira masih mengingat kejadian tadi walaupun dia sudah menghajar Kia, tapi dia merasa kecewa dengan sikap Ziko. Mobil sampai di butik. Zira turun dari mobil dan langsung berlari ke dalam butik. Zira duduk di kursinya dengan perasaan yang hampa. Zira keluar butik lagi tapi tidak dari pintu depan dia keluar dari pintu belakang. Zira berjalan agak jauh, dia ingin menyendiri dia terus berjalan tak tentu arah. Di gedung Rahasrya group. Guru kursus bahasa Inggris Zira masih menunggu di ruangan, tapi sudah satu jam Zira tidak kunjung datang. Dia dari tadi melihat jam di tangannya karena sebentar lagi dia juga ada kelas mengajar. Guru Zira keluar ruangan dia bertanya kepada salah satu karyawan yang sedang lewat di depannya. Dia bertanya mengenai keberadaan Zira. " Biasanya nona Zira ada di ruangan Presiden direktur." Ucap karyawan tersebut. " Dimana ruangan tersebut." Tanya guru itu. Guru tersebut berjalan menuju lift dia menekan tombol sesuai lantai ruangan Presiden direktur. Guru tersebut keluar dari lift dia melihat ke kanan dan kedepan. Dia berjalan beberapa langkah tapi dari jauh Kevin sudah memperhatikan guru tersebut. Kevin mengikuti guru tersebut. " Ibu bukannya ruangan anda mengajar bahasa Inggris ada di bawah." Ucap Kevin mengagetkannya. Guru tadi langsung membalikkan badannya melihat seseorang sedang berdiri di belakangnya. " Iya memang ruangannya di bawah tapi saya mau izin kepada nona Zira kalo sebentar lagi saya ada kelas mengajar." Ucap guru tersebut cepat. Kevin mulai bingung dengan ucapan guru tersebut. " Kenapa harus izin bukannya kelas mengajar nona Zira sudah selesai satu jam yang lalu." Ucap Kevin cepat. " Iya betul tapi dari tadi nona Zira tidak masuk ke dalam kelas, ada masuk sebentar kemudian keluar lagi katanya ada yang ketinggalan tapi setelah itu enggak balik-balik, makanya saya kesini saya mau ijin permisi pulang." Ucap guru tersebut menjelaskan. " Baiklah ibu pergi saja nanti saya yang akan memberitahu hal ini kepada nona Zira." Ucap Kevin cepat. Ibu tadi pergi setelah mendapat penjelasan dari Kevin. Kevin langsung menuju ruangan Ziko sambil melewati meja Kia. Kevin melihat Kia mengelap wajahnya yang basah dan pakaian yang basah. Kevin berhenti di depan meja Kia. " Apa yang terjadi?" Tanya Kevin cepat. Kia langsung gugup mendapatkan pernyataan dari Kevin. " Oh ini Pak tadi saya mau minum tapi tertumpah di pakai saya." Ucap Kia menjelaskan. " Kalo tumpah seharusnya ke bawah kenapa bisa sampai ke wajah." Ucap Kevin cepat sambil meninggalkan Kia. Kia merasa pernyataan Kevin seperti pernyataan telak buatnya. Dia merasa khawatir jika Kevin mencari informasi tentang kejadian tadi. Kevin masuk ke dalam ruangan Ziko. " Permisi Tuan nona Zira ada?" Ucap Kevin sambil melihat sekeliling ruangan. " Kenapa kamu bertanya seperti itu, Zira kan sedang kursus." Ucap Ziko cepat. " Iya Tuan seharusnya, tapi sudah satu jam nona Zira tidak datang ke ruang kursus dan tadi saya bertemu dengan gurunya di luar." Ucap Kevin menjelaskan. Ziko langsung mengambil ponselnya dan langsung menghubungi Zira. Tapi ponsel Zira tidak aktif sama sekali. " Coba kamu hubungi supirnya." Perintah Ziko kepada Kevin. Kevin langsung menghubungi nomor ponsel supir Zira. Tidak berapa lama panggilan terhubung Kevin berbicara dengan supir Zira. Dia menanyakan tentang keberadaan Zira. Setelah mendapatkan informasi dari Pak supir Kevin langsung menutup panggilannya. " Tuan nona Zira ada di butik." Ucap Kevin cepat. Karena ponsel Zira enggak aktif dia berniat menghubungi nomor ponsel Lina. Nomor Lina sudah di simpannya ketika Zira meminjam ponsel Ziko. " Ya halo." Ucap Lina dari ujung ponselnya. " Lina di mana Zira kenapa ponselnya tidak aktif." Ucap Ziko cepat. " Owh Tuan, sebentar ya saya ke ruangan mbak Zira dulu." Ucap Lina cepat sambil menuju ruangan Zira. " Maaf Tuan, mbak Zira enggak ada." Ucap Lina cepat. " Jangan bohong kamu." Bentak Ziko lagi. " Enggak Tuan saya enggak bohong memang tadi saya lihat mbak Zira datang tapi setelah itu saya enggak lihat kapan mbak Zira Keluar." Ucap Lina cepat. " Like komen dan vote yang banyak ya terimakasih." Chapter 116 episode 116 Ziko langsung beranjak dari tempat duduknya, dia berlari keluar gedung di ikuti dengan Kevin. Kevin langsung mengambil mobil, setelah mobil berada di depan pintu Ziko langsung menaiki mobil tersebut. Kevin menekan pedal gas mobil dengan kencang. " Kita mau kemana Tuan?" Tanya Kevin. " Aku enggak tau!" Ucap Ziko cepat. Kevin mengendarai mobil. " Sepertinya dia marah dengan ku." Ucap Ziko frustasi. " Sebenarnya apa yang terjadi?" Kevin memberanikan diri untuk bertanya. Ziko menjelaskan semua yang terjadi di dalam ruangannya. Kevin mulai manggut-manggut mengerti. " Pecat dia aku tidak mau melihatnya lagi besok." Ucap Ziko cepat. " Baik Tuan." Ucap Kevin cepat. Mobil terus bergerak mengelilingi kota, mereka mencoba mencari ketaman tapi tidak menemukan Zira. Hari sudah mulai petang tapi Zira belum di temukan. Ziko menghubungi nomor Zira kembali. Dan hasilnya nihil nomor Zira tidak bisa di hubungi. Ziko sudah mulai putus asa dia merasa marah kepada dirinya karena tidak menjelaskan cerita yang sesungguhnya. " Tuan apakah anda mau istirahat dulu." Ucap Kevin pelan. " Bagaimana aku istirahat sedangkan istriku tidak tau keberadaannya, kalo dia di culik bagaimana." Ucap Ziko teriak. Kevin tidak tau harus berbuat apa. Dia hanya menyetir mobilnya mengelilingi kota. Hampir semua tempat sudah di kunjungi mereka, tapi mereka tidak menemukan Zira. Ziko sudah uring-uringan dia tidak tau harus mencari kemana. " Vin kerahkan anak buah untuk mencari istriku." Ucap Ziko cepat. Kevin memberhentikan mobilnya di sebuah taman. Kevin menghubungi beberapa anak buahnya untuk mencari Zira. Keadaan taman sudah mulai sepi karena waktu yang sudah semakin larut. Ziko duduk di kursi taman dengan pandangan yang kosong. " Ziraaaaaa." Teriak Ziko. Kevin masih menunggu informasi dari anak buahnya, sesekali Kevin melihat ponselnya tapi belum juga ada panggilan sama sekali dari anak buahnya. Waktu sudah menunjukkan jam setengah dua belas malam tapi informasi belum juga di dapat. " Tuan sebaiknya anda beristirahat dulu, kita tunggu informasi dari anak buah." Ucap Kevin pelan. Beberapa saat setelah Kevin berbicara kepada Ziko. Ponselnya Kevin berbunyi Ziko langsung melihat ke arah Kevin. Kevin langsung mengangkat panggilan tersebut. Setelah beberapa saat berbicara Kevin menutup panggilan tersebut. " Tuan saya sudah dapat informasi mengenai keberadaan nona Zira." Ucap Kevin cepat. Ziko dan Kevin berlari menuju mobil. Kevin menyalakan mesin mobil dan menekan pedal gas mobil bergerak dengan sangat kencang. Mobil mereka sampai di depan apartemen Zira. " Dari tadi dia di sini?" Ucap Ziko heran. " Sepertinya Tuan." Ucap Kevin cepat. Ziko langsung berlari menuju lift. Dia menekan tombol sesuai dengan lantai apartemen Zira berada. Setelah pintu lift terbuka tanpa pikir panjang Ziko langsung berlari dia mengetuk pintu apartemen Zira. Lama Ziko menunggu di depan pintu. " Apa kamu yakin dia ada disini?" Ucap Ziko lagi cemas. " Menurut informasi seperti itu Tuan." Ucap Kevin cepat. " Dobrak pintu ini aku takut dia bunuh diri." Ucap Ziko cepat. Kevin mendobrak pintu apartemen Zira beberapa kali. Ada penghuni apartemen lain yang keluar karena mendengar kebisingan di luar. Mereka mengintip dari pintu. " Masuk!" Ucap Ziko teriak. Penghuni yang mengintip dari balik pintu langsung masuk karena mereka sudah takut jika berhubungan dengan Ziko. Setelah di dobrak beberapa kali pintu akhirnya bisa di buka. Ziko langsung berlari dia menemukan Zira sedang terbaring di kasur masih memakai pakaian yang sama. Ziko mencium kening Zira dengan lembut. Ziko ikut membaringkan tubuhnya di sebelah Zira. Ziko memeluk Zira dengan erat sesekali dia mencium rambut Zira. Dia merasa sangat khawatir dengan Zira. Ada perasaan bersalah dalam dirinya karena telah membuat Zira seperti ini. Tidak berapa lama Zira membuka matanya secara perlahan, dia mendapati Ziko sedang memeluknya sambil memejamkan mata. " Kenapa kamu disini?" Ucap Zira ketus. Ziko langsung membuka matanya ketika mendengar suara Zira. " Kamu sudah bangun." Ucap Ziko lembut sambil mengelus rambut Zira. Zira menepis tangan Ziko dengan cepat. Kemudian Zira bangun dari posisi berbaringnya dia duduk di pinggir kasur sambil menggulung rambutnya asal. Ziko langsung mengecup leher belakang Zira. " Dimana ponselmu?" " Itu di charge." Ucap Zira cepat. " Kenapa kamu tidak memberi kabar kepadaku kalo kamu kembali ke apartemen." ucap Ziko pelan. " Cih kenapa? Apa pentingnya untukmu kalo aku menghilang." Ucap Zira cepat. " Kalo kamu menghilang aku bisa gila, apa kamu mau aku gila." Teriak Ziko. " Gila kok ngajak-ngajak." Ucap Zira ketus. Ziko memegang pipi Zira sambil menatapnya. " Jawab aku kenapa kamu pergi meninggalkan gedung, apa karena kamu cemburu?" Ucap Ziko sambil memegang pipi Zira dan menatapnya. Zira tidak menjawab dia malah menepis tangan Ziko. Zira memandang ke arah lain. " Jawab aku!" Ucap Ziko teriak. Zira mulai emosi mendengar teriakan Ziko. " Iya aku cemburu aku cemburu kamu berdua dengan si kuntilanak, aku cemburu kamu memegang tangannya, seharusnya kamu sadar kalo kamu punya istri tapi aku menyadari kalo hubungan kita hanya sampai satu tahun." Ucap Zira Teriak. Ziko seperti mendapat serangan peluru yang langsung masuk ke dalam jantungnya. Dia tidak bisa berkata-kata. Di satu sisi dia senang karena Zira mengakui kalo dia cemburu dan di satu sisi dia merasa terpukul mendengar hubungan mereka hanya satu tahun. " Siapa yang bilang hubungan kita sampai satu tahun?" " Aku." Ucap Zira ketus. Ziko mulai melunak dia tidak mau membuat emosi Zira tambah kacau. " Pernikahan kita belum juga seminggu tapi kamu sudah membicarakan tentang satu tahun, aku tidak mau kamu membicarakan tentang hal itu." Ucap Ziko pelan sambil memeluk Zira. " Lepaskan jangan peluk aku." Ucap Zira sambil berusaha lepas dari pelukan Ziko. Ziko masih memeluk Zira erat. " Aku akan melepaskan pelukanku tapi kamu harus jujur kepadaku." Ucap Ziko pelan. " Apa?" Ucap Zira pelan. " Apakah kamu benar-benar cemburu dengan sekertarisku?" Ziko berusaha menanyakannya kembali. " Untuk apa kamu menyebut dia disini." Ucap Zira cepat. Ziko sudah mendapatkan jawabannya. Ziko merasa senang dengan kecemburuannya Zira. Ziko tidak melepaskan pelukannya dia malah menciumi pipi dan bibir Zira. Zira berusaha memberontak tapi tangan Ziko sudah menahan badan dan kepalanya. Mereka berciuman dengan cukup mesra Kevin yang ingin masuk keluar lagi karena jiwa jomblonya hancur. " Jangan pernah pergi." Ucap Ziko sambil memeluk Zira. Zira tidak menjawab dia merasa senang dengan kehadiran Ziko di sisinya. " Besok aku akan memecatnya." Ucap Ziko cepat. " Enggak usah kamu memecat dia." Ucap Zira cepat. " Apa maksud kamu?" Ziko merasa penasaran dengan ucapan Zira barusan. " Urusan si kuntilanak serahkan padaku, aku mau lihat sampai berapa lama dia tahan bekerja di sana." Ucap Zira tegas. Ziko manggut-manggut. " Dan untukmu suamiku tersayang, aku tidak mengizinkan mu memecatnya karena ada alasannya." Ucap Zira cepat. Ziko tambah penasaran dengan ucapan Zira. " Kalo sampai kamu bermain api denganya akan aku nyalakan bom untuk kalian berdua." Ucap Zira tegas. Ziko langsung melotot mendengar ucapan Zira, belum pernah dia merasa terintimidasi dengan ucapan Zira. Tapi hari ini dia melihat Zira benar-benar sebagai Avengers. " Like komen dan vote yang banyak ya terimakasih." Chapter 117 episode 117 Setelah seharian bekerja Kia kembali ke apartemennya. Dia kembali dengan pakaian yang basah. Dia merasa hari pertamanya hari yang sungguh membuat suasana hatinya kacau balau. Setelah memasuki apartemen dia langsung menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Tidak berapa lama pintu apartemennya di ketuk. Kia yang telah selesai mandi langsung menuju pintu. Dia mendapatkan Sisil sedang berdiri di depan pintunya. Sisil langsung masuk ke dalam apartemen Kia ketika pintu sudah di buka. " Bagaimana hari pertamamu bekerja?" Ucap Sisil penasaran masih berdiri. Kia yang mendapat pertanyaan seperti itu langsung bingung karena setau dia Sisil tidak terlalu suka dengan hal yang berhubungan dengan perkantoran dia lebih senang dengan hura-hura. " Kenapa kamu tertarik dengan pekerjaanku?" Ucap Kia heran. " Ah kamu kan temanku aku ingin tau saja bagaimana hari pertamamu bekerja di perusahaan sebesar itu." Ucap Sisil bohong. Kia duduk di atas sofa begitupun dengan Sisil. Sisil duduk di sebelah Kia. Dia menunggu Kia berbicara. " Aku bekerja sebagai sekretaris." Ucap Kia. " Ah kalo itu aku tau." Ucap Sisil cepat. " Ya tapi kamu tau aku bekerja sebagai sekretaris Ziko mantanmu." Ucap Kia bahagia. Sisil melihat ada rasa kebahagiaan dari raut wajah Kia. Dia berusaha untuk mendengarkan walaupun sebenarnya dia tidak suka melihat kebahagiaan Kia. " Aku sudah mengenal istrinya." Ucap Kia judes. " Owh kamu sudah kenal dengan si wanita murahan." Ucap Sisil cepat. " Ya, kamu tau dia memang perempuan yang tangguh, hari ini aku sudah tiga kali di hajar dia." Ucap Kia jutek. Sisil tertawa mendengar temannya sudah kena hajar pada hari pertamanya bekerja. " Kenapa kamu tertawa?" Kia merasa kecewa dengan reaksi Sisil yang menertawakannya. " Enggak bagaimana mungkin kamu bisa kena hajar dia." Ucap Sisil masih tertawa. Kia masih kesal dengan reaksi Sisil yang masih tertawa di atas penderitaannya. " Dan asal kamu tau aku hari ini bisa memegang tangan Ziko." Ucap Kia cepat sambil membayangkan kejadian tadi siang di kantor. Sisil yang tadi tertawa langsung berhenti dia merasa marah mendengar ucapan Kia. " Kenapa kamu memegang tangannya." Ucap Sisil jutek. Kia tidak menghiraukan Sisil dia masih membayangkan kejadian tadi. " Aku sangat senang bisa memegang tangannya dan sebentar lagi pasti aku bisa memilikinya." Ucap Kia cepat. Sisil tambah marah. " Kenapa kamu harus memilikinya, Ziko itu milikku bukan milikmu. " Ucap Sisil teriak. Kia pun ikut emosi. " Dia sudah menjadi mantanmu dan sekarang adalah kesempatanku untuk memilikinya." Ucap Kia teriak. Mereka berdua saling adu mulut, mereka sama-sama ingin memiliki Ziko. " Sayangnya kamu hanya mantan, jadi kamu bukan sainganku, rivalku adalah Zira." Ucap Kia sombong. Sisil merasa marah dengan semua ucapan Kia. " Aku memang mantannya tapi sampai kapanpun tidak akan aku ijinkan kamu untuk memilikinya." Ucap Sisil marah keluar dari apartemen sambil membanting pintu. Mereka bersahabat sejak kecil tapi karena satu orang pria persahabatan mereka rusak. Mereka merasa ingin memiliki sedangkan yang ingin dimiliki sudah ada pemiliknya. Zira mempersiapkan semua kebutuhan Ziko selama di luar negeri. Dari pakaian kerja sampai pakaian dalam semua di persiapkannya. Walaupun sudah larut malam tapi Zira tetap menyiapkannya dengan penuh semangat. Ziko merasa senang dengan perhatian yang di berikan Zira kepadanya. Setelah selesai menyiapkan keperluan Ziko. Zira kembali ke kasur. Dia merasa sangat lelah karena seharian sudah berjalan jauh. Zira membaringkan badannya di sebelah Ziko. " Kamu yakin mau di kantor selama aku di luar negeri." Ucap Ziko khawatir. Zira menganggukkan kepalanya. " Tenang saja aku bisa menghadapinya kalo pun aku kalah aku bisa menghubungi kapten Amerika untuk membantuku." Ucap Zira santai. Ziko tertawa mendengar ucapan Zira. " Ya aku tau kamu pasukan Avengers kamu bisa mengalahkan siapapun tapi kalo mengalahkan jurus kasurku kamu masih nol besar." Ucap Ziko sambil tersenyum licik. Zira mencubit lengan Ziko kuat. Ziko meringis sambil memegang lengannya. " Baru satu kali mencetak gol tapi sudah merendahkan lawannya." Ucap Zira cepat. Ziko membalikkan tubuhnya menghadap tubuh Zira. " Apa kamu bilang baru satu kali aku mencetak gol? sepertinya penyakit pikunmu sudah kambuh." Ucap Ziko menoyor kepala Zira. Zira mulai menghitung berapa kali Ziko mencetak golnya. " Hehehe iya sudah tiga kali." Ucap Zira pelan. Ziko tersenyum dia merencanakan sesuatu yang selalu menguntungkan dirinya. " Baiklah karena kamu bilang kalo kamu pasukan Avengers aku akan melihat bagaimana jurus Avengersmu melawan kungfu kasurku." Ucap Ziko cepat sambil menggerak-gerakkan alisnya. " Apakah jurus Avengersmu bisa mengalahkan tujuh kali tiga kali tujuhku." Ucap Ziko tertawa lebar. Zira mulai merasa khawatir tapi bukan Zira namanya kalo tidak bisa membantah ataupun membatalkan rencana licik Ziko. " Aku yakin bisa mengalahkanmu." Ucap Zira enteng. Zira mulai merasa risih dengan tangan Ziko yang sudah melanglang buana kemana-mana. " Ya aku yakin." Ucap Zira cepat sambil menahan tangan ziko. " Kamu aja enggak punya senjata, bagaimana kamu mengalahkanku." Ucap Ziko cepat. Zira berusaha untuk melepaskan tangan Ziko. " Tenang saja nanti aku pinjam perisai kapten Amerika kalo perlu aku pinjam bajunya iron man." Ucap Zira cepat sambil mencubit lengan Ziko agar melepaskan gunung kembar Zira. Ziko tidak perduli dia bersikeras untuk melakukan aksinya. " Hey kamu mau apa?" Teriak Zira. " Main jungkat jungkit." Ucap Ziko cepat. Zira tertawa terbahak-bahak. Sedangkan Ziko memulai jurusnya. " Tunggu jangan lakukan nanti kamu menyesal. " Ucap Zira sambil tertawa terbahak-bahak. Ziko tetap ingin melanjutkan aksinya. " Nanti kamu menyesal suamiku." Ucap Zira cepat. Ziko ingin melakukan aksinya tapi Zira membisikkan sesuatu ketelinga Ziko. " Apa maksud kamu?" Ucap Ziko cepat. " Aku kasihan denganmu suamiku, apa kamu yakin?." Ucap Zira cepat sambil tertawa. " Memangnya kenapa?" Tanya Ziko cepat. " Apa kamu lupa aku kan masih palang merah." Ucap Zira cepat. Ziko langsung paham dengan ucapan Zira. " Terus bagaimana dengan ini." Ucap Ziko memelas. Zira tertawa terbahak-bahak. " Kamu arisan aja gih." Ucap Zira cepat sambil tertawa. Ziko langsung lari ke kamar mandi untuk melanjutkan pekerjaannya yang tidak tuntas. Setelah beberapa menit Ziko kembali lagi ke kasur. Zira sudah menutup matanya. " Bagaimana arisannya banyak yang datang." Ucap Zira cepat sambil menutup matanya. Ziko merasa kesal campur malu mendengar ucapan Zira yang mengejeknya. " Awas kamu kalo itu sudah tidak berwarna, akan aku tusuk itu seperti tusuk sate." Ucap Ziko cepat sambil menunjuk ke daerah sensitif Zira. Zira tidak menjawab ucapan Ziko dia sudah merasa lelah. Menurutnya hari ini adalah hari yang membuat hatinya menjadi es campur karena terlalu banyak godaan yang membuatnya harus mengeluarkan jurusnya. " Like komentar dan Vote yang banyak ya terimakasih." Chapter 118 episode 118 Pagi hari sang Surya bersinar sangat cerah, menyambut datangnya pagi. Burung-burung berkicauan bernyanyi menyambut datangnya sang mentari. Begitupun dengan penghuni mansion, mereka selalu antusias menyambut bergantinya hari. Zira membuka matanya ketika sang mentari membangunkan dengan cahaya kemilaunya. Zira mendapati Ziko sedang memeluk tubuhnya. Zira mengecup kening Ziko sambil menggeser tangan Ziko. Zira bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Zira masih mengenakan kimono handuk dia membangunkan Ziko. Tapi Ziko tidak bergerak sama sekali dia malah mlungker balik. Zira sudah menggoyang-goyangkan tangan Ziko, tapi Ziko enggan untuk beranjak dari kasur. " Ayo bangun kamukan mau berangkat ke luar negeri." Ucap Zira cepat sambil terus menggoyang-goyangkan tubuh Ziko. Ziko tetap tidak mau bangun dia merasa lelah karena semalam tidur larut. Zira mulai memikirkan sesuatu yang pasti akan membuat Ziko bangun. Zira duduk di sebelah ziko, dia menarik bulu kaki Ziko satu persatu agar Ziko bangun. Sontak saja Ziko bangun dia merasa kesakitan karena bulu kakinya di tarik Zira. " Kenapa kamu membangunkan ku seperti itu, apa enggak bisa membangunkanku dengan cara yang lebih romantis." Ucap Ziko kesal Zira tertawa senang dapat mengerjai suaminya. " Kamu sih tidur seperti mumi, makanya aku iseng biar kamu cepat bangun eh ternyata satu jurus bulu kakiku sangat ampuh untuk membangunkan mu. " Ucap Zira mengejek. Ziko merasa kesal karena Zira mencabut bulu kakinya. Dia menggelitik Zira. Zira tidak kuat menahan gelitik yang di berikan Ziko kepadanya. Zira teriak meminta Ziko untuk memberhentikan aksi menggelitiknya. " Berikan aku morning kiss maka aku akan berhenti." Ucap Ziko sambil menggelitik tubuh Zira. " Enggak jigongmu bau." Ucap Zira teriak sambil menahan geli. Ziko tetap menggelitik tubuh Zira, karena Zira tidak tahan akhirnya Zira memberikan morning kiss kepada suaminya. Ziko sudah mendapatkan semangat paginya. Dia mengecup kening Zira dan berlari menuju kamar mandi. Setelah beberapa menit mandi Ziko keluar dari kamar mandi dengan senyum pasta giginya. " Suamiku kenapa kamu tidak jadi model iklan pasta gigi aja." Ucap Zira cepat. " Berani bayar berapa mereka kalo aku modelnya." Ucap Ziko sombong. Zira memonyongkan bibirnya. " Pasta gigi apa dulu." Ucap Zira cepat. " Memangnya ada pasta gigi apa lagi?" Ucap Ziko sambil memakai pakaian. " Pasta gigi untuk gigi palsu." Ucap Zira sambil tertawa. Ziko mencubit pipi Zira. Zira membantu Ziko mengenakan jas dan dasinya. Mereka keluar dari kamar menuju meja makan. Mereka melakukan rutinitas seperti biasa sarapan di pagi hari dalam satu piring dan minum dalam satu gelas yang sama. Setelah melakukan rutinitas di meja makan mereka langsung menuju mobil yang sudah ada Kevin di sebelahnya. Kevin membuka pintu mobil. Mereka berdua masuk ke dalam mobil. Mobilpun melaju meninggalkan mansion. " Suamiku kamu mau pergi ke negara mana?" Ucap Zira cepat sambil memegang tangan Ziko. " Aku akan pergi ke Perancis setelah itu aku akan pergi ke Belanda." Ucap Ziko sambil mengecup punggung tangan Zira. " Wah enaknya." Ucap Zira cepat. " Kamu mau kau bawakan apa?" Ucap Ziko cepat. Zira memikirkan sesuatu. " Aku mau kamu membawakan sesuatu yang langka di sana." Ucap Zira cepat. " Maksudmu?" Ziko menoleh ke arah Zira. " Ya aku enggak mau di bawakan yang terlalu pasaran." Ucap Zira cepat. " Contohnya?" Ucap Ziko cepat. " Aku enggak mau kamu membawa tas branded ataupun sepatu branded, aku mau kamu membawakan untukku sesuatu yang unik dan langka." Ucap Zira cepat. Ziko manggut-manggut, dia belum tau harus membawa apa dari negara yang di kunjunginya. " Kalo aku tidak membawa sesuai permintaanmu bagaimana?" Ucap Zira cepat. " Hemmmmm kalo kamu tidak membawa apa yang aku mau berarti pulang tidak akan ada tujuh kali tiga kali tujuh." Ucap Zira tersenyum licik. " Owh berarti kamu mau mengerjai aku." Ucap Ziko sewot. " Enggak." Ucap Zira tertawa. Kevin mendengarkan percakapan majikannya. " Tuan ada apa dengan rumus tujuh kali tiga kali tujuh." Ucap Kevin polos sambil tetap menyetir memandang ke arah depan. " Bukan urusanmu." Ucap Ziko cepat. " Ya Tuan tapi saya sudah mengecek rumus itu dari rumus matematika sampai rumus fisika saya belum menemukannya." Ucap Kevin penasaran. Zira tertawa karena Kevin masih penasaran dengan rumus itu. " Kamu tau enggak asisten Kevin, itu adalah rumus rahasia kami ." Ucap Zira cepat sambil tertawa. " Maaf nona apa saya tidak boleh mengetahui rumus rahasia anda dan tuan muda." Ucap Kevin polos. Zira tersenyum dia merasa Kevin benar-benar polos. Kevin layaknya seorang anak kecil yang sangat polos. " Udah buruan nikah." Ucap Zira cepat " Suatu hari saya pasti akan menikah nona." Ucap Kevin tegas. " Nah gitu jangan tanya melulu, kalo kamu menikah pasti kamu akan mengetahui rumus itu atau kamu bisa bertanya sama suamiku." Ucap Zira cepat sambil memegang bahu Ziko. " Apa aku?" Ucap Ziko menunjuk jarinya sendok ke arah wajahnya. Zira mengangguk cepat sedangkan Kevin sudah mulai paham mengenai rumus itu, dia menganggukkan kepalanya dengan cepat. " Doakan saya nona untuk menemukan jodoh terbaik saya." Ucap Kevin semangat. " Like komen dan vote yang banyak ya terimakasih." Chapter 119 episode 119 " Suamiku apakah nanti kalo kamu disana aku boleh melakukan hal-hal yang aku suka." Ucap Zira pelan sambil mengelus-ngelus lengan Ziko. " Ya boleh tapi jangan pernah kelewat batas dan jangan buat malu aku." Ucap Ziko cepat. Mobil sudah sampai di kantor. Zira ingin beranjak dari kursinya tapi Ziko menahannya, Ziko memeluknya sangat erat. Dan mengecup kening dan pipinya berulang-ulang. Sang jomblowati hanya melihat dari balik kaca mobil. " Sudah pergilah hati-hati di sana." Ucap Zira pelan. Ziko masih tetap memeluk Zira dia merasa enggan meninggalkan Zira. " Kamu nanti mau menginap di hotel mana." Ucap Zira yang masih dalam pelukan Ziko. " Ai Hotel nona." Ucap Kevin cepat. Setelah Ziko melepaskan pelukannya Zira keluar dari mobil. Mobil yang di kendarai Kevin meninggalkan gedung Raharsya group, Zira masih menunggu mobil itu menjauh sampai mobil itu tidak terlihat lagi. Kemudian Zira masuk ke dalam gedung layaknya seorang CEO. Karyawan dan karyawati tunduk hormat kepadanya. Zira tetap naik lift khusus karyawan dia tidak mau menerima fasilitas yang di tujukan untuknya. Zira melangkahkan kakinya menuju ruangannya Ziko. Ada Kia yang memperhatikan kedatangan Zira. Kia melihat ke arah lift tapi tidak menemukan orang lain selain Zira. Kia merasa kehilangan sosok Ziko. Kia menatap sinis kearah Zira. " Dimana bosku?" Ucap Kia judes. " Apa kamu tidak lihat bosmu sedang berdiri di depanmu." Ucap Zira cepat. Kia masih bingung dengan ucapan Zira. " Apa maksudmu?" Kia bingung. " Aku adalah orang penting ke dua di perusahaan ini setelah suamiku, tapi selama suamiku tidak di sini aku menjadi orang pertama di sini." Ucap Zira sombong. " Siapa yang memberimu wewenang itu?" Ucap Kia ketus. " Wewenang itu sudah berlaku sejak aku menjadi istri sahnya dan kamu bisa aku depak dari perusahaan ini kapanpun aku mau." Ucap Zira cepat. Nyali Kia menciut mendengar ucapan Zira. Dia tidak berani membantah ucapan Zira. " Buatkan aku kopi." Ucap Zira cepat. Kia tidak beranjak dari tempatnya dia enggan untuk melakukan permintaan Zira. " Sekarang! Atau kamu mau aku depak dari sini." Ucap Zira cepat sambil mendongakkan kepalanya. Kia langsung berlari ke pantry. Zira berjalan menuju ruangan Ziko. Di dalam Zira tertawa terbahak-bahak sambil memegang perutnya dia merasa lucu melihat nyali Kia yang langsung menciut ketika mendengar kata depak. Zira mengirim chat kepada Kevin. Isi pesannya. Berapa lama kalian di sana, ini Zira. Jangan kamu beri tau kepada suamiku kalo aku mengirim pesan kepadamu. Tidak berapa lama Kevin membalas chat dari Zira. Iya nona sebenarnya ada apa? Mengapa saya tidak boleh memberitahu kan hal ini kepada Tuan muda. Zira membalas lagi chat dari Kevin. Aku ingin memberi kejutan untuknya. Kevin membalas lagi chat Zira. Nona apa yang akan anda lakukan? Zira membalas chat Kevin. Aku tidak akan memberitahukan mu perihal kejutan yang akan aku berikan kepada suamiku, aku hanya minta kamu mendukung ku. Lama Zira menunggu balasan dari Kevin. Zira meletakkan ponselnya di atas meja. Tidak berapa lama Ponselnya berbunyi ada notifikasi di layar kaca ponselnya. Zira membuka ponselnya. Ada pesan dari Kevin. Saya akan mendukung nona jika itu tidak ada hubungannya dengan kejahatan dan saya tidak mendukung nona jika nona lari seperti kemarin malam, kalo nona melakukan hal yang sama saya yang akan menyeret nona ke hadapan Tuan Muda. Zira langsung menciut nyalinya mendapat balasan chat dari Kevin. Zira mengirim chat balik ke Kevin. Ini tidak ada hubungannya dengan kemaren aku mau kamu mempercayaiku, kalo kamu tidak percaya denganku rencana ku untuk memberi kejutan kepada si ubi kayu akan gagal. Kevin membalas chat Zira. Baik saya percaya ??????. Tidak ada balasan lagi dari Zira maupun Kevin. Pintu ruangan Ziko di ketuk. Kia masuk ke dalam ruangan setelah ada perintah masuk dari Zira. Kia meletakkan kopi yang di buatnya di atas meja. Zira duduk di kursi kebesaran Ziko. Kia hendak pergi meninggalkannya ruangan. Tapi Zira menahannya. " Hey kamu, jangan pergi dulu." Ucap Zira sambil melambaikan tangannya memanggil Kia untuk kembali. Dengan menghentakkan kakinya Kia datang menuju meja kerja Ziko. " Apa!" Ucap Kia jutek. " Aku kurang yakin dengan kopi buatan mu bisa saja kamu mencampur sianida kedalamnya." Ucap Zira ketus. Memang Kia sedang melakukan hal jahat kepada Zira, dia tidak mencampurkan sianida ke dalam kopi buatannya tapi dia mencampurkan garam ke dalam kopi. " Apa maksudmu?" Ucap Kia judes. " Untuk membuktikan kopi ini ada racunnya atau tidak, aku mau kamu minum kopi itu." Ucap Zira cepat. Kia tidak menghiraukan ucapan Zira dia ingin pergi keluar dari ruangan itu. " Baik sepertinya kamu memang benar-benar minta di tendang dari sini." Ucap Zira tegas. Zira berakting mengangkat telpon yang ada di meja. Dia sedang melakukan aktingnya untuk menghubungi security. Kia melihat tindakan Zira yang sedang memegang telepon. " Tunggu tunggu tolong kamu letakkan telepon itu, aku akan meminumnya untukmu." Ucap Kia khawatir. Zira menahan tawanya agar aktingnya tidak ketahuan Kia. Zira tidak tahu menahu tentang segala extension yang ada di kantor ini dia hanya ingin memberi pelajaran kepada si Kuntilanak karena Zira yakin kalo kuntilanak di depannya ini belum pernah mengenal bangku sekolah sama sekali. Kia meminum kopi yang di buatnya. Kemudian meletakkannya kembali ke meja. " Lihat sudah aku minum, aku enggak matikan?" Ucap Kia cepat. Zira melihat kedalam gelas dan pinggiran gelas. " Habiskan semua." Ucap Zira cepat. " Apa habiskan?" Ucap Kia cepat. " Ya habiskan aku tidak mau minum bekasmu." Ucap Zira cepat. Dengan terpaksa Kia meminum kopi buatannya sendiri, kopi yang sangat asin, dia menahan rasa asin yang di timbulkan dari kopi tersebut. Setelah kopi habis Kia menunjukkan gelas kosongnya ke arah Kia. Zira manggut-manggut tapi Kia sudah berlari ke luar ruangan sambil memegang mulut dengan jarinya. Zira tertawa terbahak-bahak melihat tingkah Kia. Kia berlari ke kamar mandi untuk memuntahkan kopi yang baru saja di minumnya. Zira merasa senang dapat mengerjai Kia. " Jangan pernah mengganggu rumah tanggaku, itu masih hukuman ringan buatmu, hukuman-hukuman lain akan menyusul segera." Ucap Zira tertawa kencang. Kia kembali ke mejanya dia merasa ini adalah hari sial kedua selama bekerja di perusahaan ini. Telepon di meja Kia berbunyi. Kia mengangkat teleponnya. Ada suara Zira dari ujung telepon. " Cepat kamu ke sini." Ucap Zira cepat. Dengan langkah malas Kia masuk ke dalam ruangan Ziko. Dia melihat Zira sedang duduk di sofa panjang sambil selonjorkan kakinya. " Ada apa?" Kia bertanya dengan wajah jutek. " Pijat kakiku." Ucap Zira cepat. " Apa?" Kia membulatkan matanya menatap ke arah Zira. " Apa kamu ada masalah dengan pendengarmu?" Ucap Zira cepat. Kia tidak menjawab dia merasa marah dengan tindakan Zira terhadap dirinya. " Cepar pijat kaki bosmu atau aku tendang kamu dari sini." Ucap Zira tegas. Lagi-lagi Zira mengancam dengan kata tendang. Mendengar kata itu dengan terpaksa Kia memijat kaki Zira. " Awas kalo pijatanmu membuat kakiku yang mulus berbekas." Ancam Zira lagi. Kia memijit kaki Zira dengan lembut, padahal dalam hatinya dia ingin memijat dengan keras bahkan ingin memukul kaki Zira. Zira menikmati pijatan dari Kia. " Like komen dan vote yang banyak ya terimakasih." Chapter 120 episode 120 Kia merasa lelah karena memijat kaki Zira. Zira bagaikan seorang putri di dalam perkantoran. Zira tidak mengizinkan Kia untuk beristirahat, Jika Kia berhenti Zira langsung memberikan ancaman. Hari sudah siang sekejam- kejamnya ibu si pertiwi lebih kejam ibu si tiri. Karena sudah waktunya makan siang Zira mengizinkan Kia untuk istirahat sejenak. Kia keluar dari ruangan dengan penuh amarah. Karena tidak ada Ziko jadi Zira memutuskan untuk makan di luar. Zira keluar dari gedung menuju parkiran, sudah ada supir yang standby di tempat parkir untuk mengantar Zira kemanapun dia akan pergi. " Pak antarkan saya." Ucap Zira sambil menaiki mobil. " Kemana nona?" Pak supir bertanya dengan sopan. " Antarkan saya ke rumah makan enjoy." Ucap Zira cepat. Pak supir langsung menyalakan mesin mobil dan menekan pedal gas mobil. Mobil menyusuri jalanan ibu kota. Zira memilih rumah makan itu karena memang di sana enjoy????????????. Mobil sampai di depan rumah makan. Zira turun dari mobil. " Bapak ikut saja makan bareng saya." Ucap Zira. Pak supir sebenarnya menolak tapi dia tidak mau terjadi apa-apa dengan majikannya. Zira memilih kursi yang di pojokan. Pak supir duduk terpisah dari Zira. Dia hanya memantau Zira radius 5 meter darinya. Pelayan mencatat makanan yang di pesan Zira. " Bapak yang di meja sana jadikan satu bill dengan saya." Ucap Zira cepat sambil menunjuk ke arah pak supir. Pelayan mengangguk, setelah mencatat makanan yang di pesan Zira, pelayan pergi untuk menyiapkan pesanan Zira. Zira menikmati minuman yang telah di sajikan sebelumnya. Tiba-tiba ada orang yang duduk di depannya. Zira melihat ke depannya tidak ada wajah tak gentar kepada manusia di depannya. Pak supir sudah ingin berdiri dan mengusir manusia di depan Zira, tapi Zira melarangnya. " Hai Zira. Kamu ngapain di sini?" Ucap Sisil sok ramah. " Macul." Ucap Zira ketus. " Kamu sudah pesan makanan?" Ucap Sisil sok ramah. " Enggak usah basa-basi, apa maumu!" Ucap Zira tegas. Sisil berusaha sabar menghadapi sifat dingin Zira. " Ah Zira aku mau berdamai denganmu." Ucap Sisil sok akrab. Hahaha Zira tertawa mendengar ucapan Sisil. " Kamu tidak usah berakting di depanku, aku tau kamu itu tidak tulus kepadaku." Ucap Zira cepat sambil menunjuk ke arah wajah Sisil. Sisil berusaha tetap tersenyum agar aktingnya berhasil dan membuat Zira mau berteman dengannya. Pelayan datang membawa makanan, makanan telah terhidang di meja. Zira menikmati makanannya tanpa harus basa-basi menawarkan ke Sisil. Sisil ingin berbicara tapi di tahan Zira. " Zira." Ucap Sisil. " Jangan hilangkan selera makanku karena ocehanmu." Ucap Zira tegas sambil menikmati makanannya. Sisil tidak jadi melanjutkan ucapannya dia menunggu sampai Zira selesai makan. Setelah selesai makan Sisil mencoba untuk berbicara lagi. " Zira aku." Ucap Sisil lagi. " Stop! aku belum mengizinkanmu untuk berbicara." Ucap Zira cepat sambil menikmati minumannya " Kalo bukan karena Ziko enggak akan aku mau melakukan ini." Setelah Zira selesai menikmati minumannya Sisil berusaha untuk memulai pembicaraannya. " Apa aku sudah boleh bicara." Ucap Sisil sambil menatap Zira lekat. " Silahkan waktuku tidak banyak." Ucap Zira sombong sambil melihat jam di tangannya. " Aku dengar Ziko sekarang ada sekertaris baru." Ucap Sisil. " Apa urusannya denganmu." Ucap Zira cepat. " Enggak aku mau kamu berhati-hati pasti dia ingin merebut Ziko dari sisimu." Ucap Sisil sok ramah. " Hahaha kamu enggak usah sok prihatin, aku bisa mengatasi orang sepertinya maupun sepertimu." Ucap Zira menunjukkan ke wajah Sisil. Sisil langsung kaget mendapat pernyataan telak dari Zira. " Aku ingin berteman denganmu, aku tau aku tidak bisa memiliki Ziko lagi tapi izinkan aku menjadi temanmu." Ucap Sisil sok ramah. Zira memandang wajah Sisil dengan lekat. " Apa rencanamu?" Ucap Zira langsung. Sisil langsung bingung kartunya seperti terbaca oleh Zira. Sisil terlihat gugup karena Zira memandangnya dengan pandangan mengintimidasi. " Aku mau kamu memecat sekertaris baru Ziko." Ucap Sisil pelan. " Agar apa?" " Ya agar hubungan kalian aman selamanya." Ucap Sisil cepat. " Tumben kamu sok perhatian, dan kenapa aku harus memecat sekertaris Ziko, sedangkan kamu belum pernah ketemu sama sekertarisnya. Sepertinya kalian ada main di belakang Ziko." Ucap Zira cepat. Lagi-lagi Sisil merasa di pojokan dengan pernyataan yang selalu menohok kepada dirinya. " Jawab aku." Bentak Zira. Sisil kaget dia merasa seperti narapidana yang sedang di ajukan pertanyaan. " Ya aku berteman dengannya tapi pertemanan kami rusak karena dia ingin merebut Ziko dari dirimu, aku sudah melarangnya agar menjauh tapi dia berusaha untuk tetap mengejar Ziko. Aku tau mungkin kamu tidak percaya kepadaku tapi yang aku katakan benar adanya." Ucap Sisil sambil memegang tangan Zira. Zira menarik tangannya yang di pegang Sisil. " Terimakasih atas nasehatmu." Ucap Zira sambil melambaikan tangannya memanggil pelayan. Pelayan datang dengan membawa bill, Zira menyerahkan beberapa lembar uang cash. Zira hendak pergi dan di tahan lagi oleh Sisil. " Zira apakah kamu mau memaafkan ku?" Ucap Sisil penuh harap. Zira menarik nafasnya dalam-dalam dan mengeluarkannya dengan keras. " Aku tidak pernah ada urusan denganmu dan aku juga tidak pernah mengganggu mu, aku tau perbuatmu memang sangat keterlaluan waktu di cafe Santuy." Ucap Zira cepat. Sisil berharap dan menunggu ucapan Zira selanjutnya. " Aku sudah memaafkan mu dari awal tapi untuk berteman tidak ada ruang kosong untukmu menjadi teman." Ucap Zira cepat sambil keluar meninggalkan Sisil di kursi sendirian. Sisil merasa terhina dengan ucapan Zira. Dia berusaha mengejar Zira sampai ke parkiran mobil. " Zira." Ucap Sisil teriak. Sisil berlari dan berhenti di depan Zira untuk menghalangi jalan Zira. " Baik kalo kamu tidak mau berteman denganku tidak masalah buatku, karena semua keputusan ada di tanganmu. Tapi aku harap kamu mempertimbangkannya dan aku ingin kamu memecat sekertaris itu." Ucap Sisil cepat. Zira tersenyum sinis kepada Sisil. " Dendam apa yang merasukimu hingga kamu ingin sahabatmu hancur." Ucap Zira cepat. Sisil berusaha untuk tetap meyakinkan Zira. " Aku tidak mau dia merusak hubungan kalian." Ucap Sisil berbohong. " Terimakasih atas perhatiannya untukku kamu dan dia sama saja, sama -sama perusak dan sama-sama rendahnya." Ucap Zira cepat. Sisil merasa marah mendengar ucapan Zira barusan. " Zira aku tidak terima kamu berkata seperti itu mengenai diriku, aku sudah berusaha baik denganmu, tapi kamu menghinaku seperti ini." Ucap Sisil kesal. Zira hendak membuka pintu mobil tapi di tahan Sisil. " Kamu pecat dia dan aku akan menjauh." Ucap Sisil cepat sambil menahan pintu mobil. Zira tertawa riang. " Kamu mau menjauh apa kamu mau mendekat bagiku sama saja, Jika kamu menjauh itu lebih baik dan jika kamu mendekat akan aku layani Camkan itu." Ucap Zira sambil mendorong bahu Sisil. Zira menaiki mobil dengan anggun sedangkan Sisil uring-uringan mendapatkan perlakuan tidak baik dari Zira. Zira tidak percaya dengan semua ucapan Sisil. Zira mulai memasang badan untuk hubungannya agar lebih baik. " Like komen dan vote yang banyak ya terimakasih." Chapter 121 episode 121 Mobil yang di tumpangi Zira pergi meninggalkan rumah makan enjoy. Zira merasa hari ini hari yang cukup menguras energinya. Pak supir mengendarai mobil menuju butik karena Zira sudah mengatakan sebelumnya. Zira melakukan rutinitasnya seperti biasa. Lina menghampiri Zira. " Mbak dua hari ini mbak Zira sering datang siang ke butik, apa mbak Zira sakit." Lina merasa khawatir dengan Zira. " Enggak kok, aku sehat cuman aku memang lagi mengambil kursus." Ucap Zira cepat. Lina hendak pergi meninggalkan ruangan Zira. " Lin aku beberapa hari akan pergi, jadi kamu handle semuanya di sini ya, aku serahkan semuanya di tanganmu." Ucap Zira cepat. " Mbak mau kemana?" Lina penasaran. Zira membisikan sesuatu ketelinga Lina. Lina menganggukkan kepalanya. " Baik mbak aman itu." Ucap Lina cepat. Zira mempersiapkan segala sesuatu yang di butuhkannya. Hari sudah semakin petang sebagian karyawan ada yang sudah pulang dan ada yang masih stay di butik. Zira Keluar butik dan memasuki mobil. Zira memberitahukan tujuannya kepada Pak Supir. Mobil bergerak menuju mansion sesuai tujuan Zira. Zira memasuki mansion megah itu. Mansion itu terasa kosong selama ini ada Nyonya Amel dan Tuan besar apalagi dengan kehadiran si bungsu Zelin. Biasanya Zira melihat keluarga tersebut duduk di ruang keluarga tapi sekarang terasa sepi apalagi Ziko sekarang tidak berada di sisinya. Zira merasa ada yang hilang dari sisinya, dia merasa sepi karena biasanya dia selalu adu argumen dengan Ziko tapi sang mata laser tidak berada di dekatnya. Zira melamun memandang ke ruang keluarga. Pak Budi mengagetkan Zira yang sedang melamun. " Maaf nona." Ucap Pak Budi cepat. Zira kaget dan langsung menoleh ke arah Pak Budi. " Iya Pak?" Ucap Zira cepat. " Makan malam sudah siap di hidangkan." Ucap Pak Budi cepat. Zira mengangguk dan berjalan ke ruang makan. Pak Budi hendak menarik kursi untuk Zira tapi di tahan Zira. " Tidak usah Pak jangan perlakukan saya seperti ini." Ucap Zira menahan Pak Budi. Pak Budi mengurungkan niatnya, Pak Budi hendak pergi ke dapur. " Pak mari makan dengan saya." Ucap Zira pelan. Pak Budi membalikkan badannya. " Maaf nona tempat saya bukan di sini tapi tempat saya di sana." Ucap Pak Budi sambil menunjuk ke arah dapur. " Bapak lihat meja makan sebesar ini hanya saya sendiri di sini, apa Bapak tidak mau menemani saya makan." Ucap Zira cepat. " Baiklah kalo itu permintaan nona. Tapi saya tidak bisa duduk di situ, karena saya tidak pantas duduk di sana." Ucap Pak Budi merendah. Zira mengisi nasi di dalam piringnya dan mengambil beberapa lauk. Zira berjalan ke arah dapur. Pak Budi mengikuti Zira dari belakang. Zira duduk di kursi dapur sambil membawa piringnya. " Maaf nona, mengapa anda makan di sini." Ucap Pak Budi pelan. " Kalo disana Bapak sungkan untuk duduk kalo di sini saya rasa Bapak tidak akan sungkan." Ucap Zira cepat. Pak Budi merasa kagum dengan sifat Zira yang tidak membeda-bedakan status sosialnya. Pak Budi duduk kelang satu kursi di samping Zira. Zira menikmati makan malamnya dengan lahap. Sesekali mereka mengobrol. " Sudah berapa lama Bapak kerja disini?" " Saya sudah ikut keluarga ini sejak Nyonya Amel hamil Tuan muda." Ucap Pak Budi semangat. Zira manggut-manggut sambil menikmati makanannya. Mereka mengobrol layaknya antar Bapak dan anak. " Apa nona sudah mempersiapkan hadiah untuk Tuan muda." Ucap Pak Budi cepat. Zira yang hendak minum membatalkannya. " Maksud Bapak?" Zira merasa heran dengan ucapan Pak Budi. " Lusakan hari ulang tahun Tuan muda nona." Ucap Pak Budi cepat. Zira langsung membulatkan matanya. " Apa nona tidak tau?" Ucap Pak Budi pelan. Pak Budi sudah bekerja dengan keluarga Raharsya cukup lama, dia masih ingat betul setiap tanggal lahir majikannya. " Enggak Pak. Tapi terimakasih telah memberitahu saya dan terimakasih juga untuk makanannya dan untuk ngobrolnya." ucap Zira sambil berjalan cepat menuju kamar. Di dalam kamar Zira mondar mandir layaknya setrikaan. Zira mencari buku nikah yang di simpan di dalam laci lemari. Zira melihat buku nikahnya di sana tertulis tanggal lahir Ziko. Zira berencana memberikan hadiah untuk Ziko hadiah yang sangat unik menurutnya. Ponsel Zira berbunyi Zira buru-buru menjawab panggilan tersebut. Tertera di layar ponselnya Ubi kayu jumbo Zira tersenyum sambil menjawab panggilan video call tersebut. " Kenapa kamu tidak mengabari aku kalo kamu sudah sampai mansion." Ucap Ziko cepat. Zira kesal dengan sikap Ziko yang tidak ada mesra-mesranya kepada Zira. " Kenapa sih kamu langsung marah kepadaku, seharusnya kamu bersikap manis kepadaku bukan di marahi seperti ini." Ucap Zira kesal. Ziko memang sangat posesif dia tidak bisa mengontrol emosinya. " Kamu sudah makan?" Ucap Ziko pelan. Zira menyandarkan badannya di bed head board. Dia tidak menjawab pertanyaan Ziko. " Kenapa kamu tidak menjawab pertanyaanku." Ucap Ziko kesal. " Udah basi pertanyaan seperti itu." Ucap Zira cepat. Zira ingin Ziko mengatakan hal yang romantis kepadanya. Ziko memang kurang peka dengan begituan. Menurut Ziko hal yang dia perbuat benar adanya.Tapi ada kalanya seorang wanita ingin di perlakuan mesra dan Zira menginginkan itu. " Apa kamu makan nasi basi?" Ucap Ziko khawatir karena sinyal yang buruk jadi Ziko hanya mendengar sepotong-sepotong ucapan Zira. " Iya basi." Ucap Zira cepat. Sama halnya dengan Zira, dia juga mendengar sepotong-sepotong ucapan Ziko. " Kenapa kamu makan nasi basi." Ucao Ziko cepat. " Ya karena kamu basi." Ucap Zira lagi. Mereka melakukan Video call dengan percakapan yang tidak saling menyambung. " Kenapa Pak Budi memberimu nasi basi atau kamu yang sengaja makan nasi basi." Ucap Ziko cepat. " Enak saja bilang aku basi Kamu yang basi tau." Ucap Zira teriak. Ziko menepuk kepalanya mendengar ucapan Zira barusan. " Kamu juga makan tahu basi?" Ucap Ziko cepat. " Ya kamu basi, kamu tidak mau mengatakan hal romantis karena takut harga dirimu jatuh, iya kan." Ucap Zira cepat. Mereka masih bertengkar dengan pembicaraan yang tidak jelas. " Apa kamu mau bunuh diri." Ucao Ziko cepat. " Memangnya kenapa dengan harga dirimu?" Ucap Zira cepat. Zira merasa kesal dia berpikir kalo Ziko mengatakan hal yang romantis maka harga dirinya jatuh. Berbeda dengan Zira, Ziko merasa marah sama Zira karena Istrinya makan nasi basi dan tahu basi. " Memangnya berapa harga nasi basi yang kamu makan." Ucap Ziko cepat. " Ya aku tau mengenai harga dirimu akan basi kalo mengucapkan kata romantis." Ucap Zira cepat. Mereka masih berdebat dengan ucapan yang tidak saling menyambung satu dengan yang lainnya. " Aku malas ngobrol denganmu lebih baik aku matikan saja panggilan ini." Ucap Zira sambil menutup panggilan video call. Ziko di sana langsung stress dan frustasi dia mendengar Zira akan mati. Ziko menghubungi Kevin, kamar Kevin tidak begitu jauh dari kamar Ziko, dengan cepat Kevin langsung melucur ke kamar Ziko. " Vin aku baru menghubungi istriku, kami bertengkar dia memakan nasi basi dan tahu basi, aku marah kepadanya dan sekarang dia mau mati." Ucap Ziko stres. Kevin memikirkan sesuatu, dia membuka ponselnya dan memilih chatnya dengan Zira tadi pagi. " Tuan coba lihat ini." Ucap Kevin menunjukkan chatnya dengan Zira. Ziko melihat ada nama Zira dan melakukan chat kepada Kevin tadi pagi. " Kenapa kamu bisa chat dengan istriku apa kalian berdua ada main di belakangku." Ucap Ziko marah. " Tuan baca dulu ini." Ucap Kevin menunjukkan chatnya. Ziko tambah stres membaca chat Zira. " Jadi dia mau memberi kejutan kepadaku dengan bunuh diri." Ucap Ziko stres sambil duduk di pojokan kamar. Kevin pun tidak tau harus berbuat apa. " Kenapa kamu mendukungnya." Ucap Ziko sambil menendang kaki Kevin. Kevin memegang kakinya yang barusan di tendang Ziko. " Saya tidak tau Tuan kalo nona Zira mau memberi kejutan dengan cara bunuh diri." Ucap Kevin membela diri. " Cepat kamu hubungi Pak Budi. Kita harus membatalkan rencananya." Ucap Ziko stres. Kevin menghubungi Pak Budi. Pak Budi langsung bergerak cepat dengan membawa dua orang pelayan perempuan menuju kamar. Pintu kamar di ketuk Pak Budi agak lama Pak Budi menunggu di depan pintu. Belum juga ada tanda-tanda pintu di buka dari dalam. Pak Budi langsung menghubungi asisten Kevin. " Selamat malam asisten Kevin, saya dan beberapa pelayan sudah di depan pintu tapi pintu belum di buka sama nona Zira." Ucap Pak Budi. Kevin memberitahukan hal itu kepada Ziko. Ziko langsung memerintahkan pintu kamar di dobrak. Pak Budi hendak pergi mengambil peralatan tapi ada suara dari dalam yang sedang membuka pintu. Zira bingung melihat ada Pak Budi dan dua orang pelayan berdiri di depan kamarnya. " Ada apa pak?" Ucap Zira pelan. " Kenapa nona lama sekali membuka pintu." Ucap Pak Budi cepat. Zira bingung dengan pertanyaan Pak Budi. " Saya baru selesai mandi." Ucap Zira cepat. Pak Budi mengajukan pertanyaan lagi. " Apa nona berniat ingin bunuh diri?" Ucap Pak Budi sambil menatap tajam ke arah Zira. Zira menggelengkan kepalanya. Pak Budi merasa lega sambil mengelus dadanya beberapa kali. " Baiklah untuk menghindari hal yang tidak di inginkan izinkan dua pelayan ini menemani nona di kamar." Ucap Pak Budi tegas. " Enggak usah Pak, saya biasa tidur sendiri." Ucap Zira menolak. " Maaf nona saya hanya menjalankan perintah dari Tuan muda." Ucap Pak Budi tegas. Zira berusaha menolak tapi melihat tampang Pak Budi yang menjadi sangar Zira akhirnya mengikutinya juga. " Aku marah kepadanya karena dia tidak bersikap romantis dan sekarang dia mengirim dua pelayan untuk menemaniku agar aku tidak kesepian. Oh suamiku ternyata kamu romantis juga." " Like komen dan vote yang banyak ya terimakasih." Chapter 122 episode 122 Zira merasa risih dengan keberadaan dua dayang-dayang, apa yang di kerjakan Zira mereka mengikuti. Seperti halnya kekamar mandi mereka juga ikut. " Kenapa kalian masuk?" Ucap Zira ketus. " Maaf nona kami hanya memastikan nona dalam keadaan baik-baik saja." Ucap pelayan. " Aku baik-baik saja, apa kalian tidak bisa melihat." Ucap Zira menunjukkan matanya mulutnya sampai giginya. Para dayang-dayang hanya melihat tanpa memberi reaksi sama sekali. " Sudah lihatkan, aku dalam keadaan baik enggak usah ikuti aku sampai ke kamar mandi." Ucap Zira cepat. " Tapi nona ini perintah." Pelayan berbicara gugup. Zira kesal dengan dua dayang-dayangnya. " Baik kalo kalian memaksa untuk masuk, silahkan tapi kalo nanti di dalam bau, kalian di larang tutup hidung, apa kalian berani?" Ucap Zira cepat sambil memandang kedua pelayan. Dua orang pelayan tadi saling pandang. " Maaf nona kami hanya menjalankan tugas saja." Ucap seorang pelayan. Zira mendesah. " Ok silahkan kalian masuk." Ucap Zira memberi pintu untuk dua dayang-dayangnya. Kedua pelayan masuk ke kamar mandi setelah di beri pintu oleh Zira. Zira memegang perutnya. " Perutku sakit mungkin aku kebanyakan makan jengkol tadi siang." Guman Zira. Zira hendak membuka celananya. Kedua pelayan langsung saling pandang. " Maaf nona kami nunggu di luar saja." Ucap seorang pelayan. Kedua pelayan keluar dari kamar mandi. Sedangkan Zira cekikikan di kamar mandi. Zira mengerjai dua pelayan yang selalu mengikutinya kemana pun Zira pergi. Zira tidak ingin buang air besar tapi dia hanya berakting agar dua pelayan itu tidak mengikutinya. Zira tidur di kasur layaknya seorang putri yang di jaga dengan dayang-dayangnya. Zira merasa risih dengan kehadiran mereka berdua. " Apa kalian akan berdiri saja seperti itu sampai pagi?" Zira memandang ke dua pelayan yang berdiri di samping kanan dan kiri kasur. Para pelayan menganggukkan kepalanya. " Apa kalian yakin?" Ucap Zira cepat. " Yakin nona." Ucap seorang pelayan. Zira merasa risih dia menutupi keseluruhan badannya dengan selimut, tidak ada anggota tubuhnya yang terlihat. Para pelayan merasa khawatir dengan Zira seperti itu. Mereka membuka selimut Zira. " Kenapa kalian membuka selimutku." Ucap Zira kesal. " Maaf nona jangan bunuh diri seperti itu, kami mohon." Ucap seorang pelayan. Zira bangun dari posisi berbaringnya sambil menggaruk-garuk kepalanya. " Apa? apa yang barusan kalian ucapkan?" Ucap Zira sambil mendekatkan telinganya ke pelayan. Pelayan gugup. " Iya nona jangan bunuh diri seperti itu." Zira mulai merasa kesal dengan tingkah dua dayang-dayangnya. " Siapa yang mau bunuh diri, aku itu hanya mau tidur." Ucap Zira ketus. " Iya nona kalo nona seperti itu tidurnya nanti nona tidak bisa bernafas bisa-bisa mati." Ucap pelayan tadi pelan. Karena Zira sudah mengantuk akhirnya Zira mengalah. " Aku tidak akan menutupi wajahku dengan selimut asalkan kalian menghadap ke dinding atau kalian tidur saja di sofa." Ucap Zira cepat. " Kami menghadap ke dinding saja nona." Ucap seorang pelayan. " Terserah." Zira menutup matanya yang sudah lelah, dia tidak memikirkan keadaan dua dayang-dayangnya, dia hanya ingin masuk ke alam mimpi indahnya. Di kamar hotel. Ziko panik mendegar Zira mau bunuh diri, tapi karena Pak Budi sudah memberi kabar tentang Zira, kepanikan Ziko agak berkurang tapi dia tetap tidak tenang. " Vin hubungi Pak Budi lagi." Ziko masih tidak tenang dia mondar-mandir layaknya sedang menyetrika. Kevin menghubungi Pak Budi. " Hubungi pakai video call." Ucap Ziko lagi. Kevin mengalihkan panggilan menjadi panggilan Video call. Tidak berapa lama panggilan tersebut terhubung. Ziko mengambil ponsel Kevin. " Pak aku mau lihat keadaan istriku." Ucap Ziko cepat. Pak Budi tidak mendengar suara Ziko dengan jelas karena sinyal yang buruk. " Sisir Tuan." Ucap Pak Budi heran. " Iya istriku di kamar." Ucap Ziko cepat. Pak Budi bingung dia berlari ke kamar. " Tuan ini sisirnya." Ucap Pak Budi bingung. Ziko malah tambah bingung karena Pak Budi menunjukkan sisir kepadanya. " Untuk apa sisir itu." Ucap Ziko ketus. " Iya Tuan ini sisir bukan sayur." Ucap Pak Budi juga bingung. " Untuk apa sisir itu kamu tunjukkan kepadaku." Ucap Ziko teriak. Pak Budi menangkap ucapan Ziko hanya sisir dan jadi telunjuk. Pak Budi menunjukkan jari telunjuknya dan sisir kepada Ziko. Pak Budi juga bingung kenapa Tuan mudanya minta sisir dan jari telunjuk. Ziko semakin kesal dengan tingkah Pak Budi yang tiba-tiba jadi bodoh. " Zira maksud saya Zira." Ucap Ziko cepat. Pak Budi berlari ke kamar. Dia mengetuk pintu kamar Zira. seorang pelayan membukakan pintu. " Nona Zira mana?" Ucap Pak Budi. " Tidur." " Ambilkan sisir nona Zira." Pelayan tadi pergi ke kamar mengambil sisir Zira. Pak Budi menunjukkan sisir Zira kepada Ziko. Ziko yang melihat dari layar kaca malah tambah bingung. Kevin memperhatikan tingkah bosnya yang sudah uring-uringan. " Tuan sepertinya sinyalnya buruk. Kita chat saja Pak Budi agar dia paham." Ucap Kevin cepat. Ziko pun memahami ucapan Kevin. Kevin mengirim chat kepada pak Budi. Pak Tuan muda mau melihat keadaan Nona Zira, bukan mau lihat sisir. Pak Budi paham dia langsung memberikan ponselnya kepada pelayan. Pelayan yang berada di kamar menunjukkan ponsel Pak Budi ke arah Zira. Zira sedang tertidur lelap. Ziko memandangi wajah istrinya, perasaannya sangat tenang melihat wajah istrinya. Ada rasa damai melihat Zira tidur, Ziko terus memandangi wajah Zira melalui layar ponselnya. Pelayan meletakkan ponsel Pak Budi di atas nakas, sehingga wajah Zira terlihat sangat jelas dari layar ponsel. Ziko merasa tidur bareng istrinya padahal mereka di pisahkan oleh benua dan Samudra. " Selamat tidur istriku, masukkan suamimu dalam mimpi indahmu, aku akan pulang menemui, jaga dirimu baik-baik disana aku akan selalu membahagiakanmu." Ucap Ziko sebelum menutup panggilan video call. " Like komen dan vote yang banyak ya terimakasih." Chapter 123 episode 123 Pagi hari yang mendung membuat Zira malas bergerak untuk bangun dari tidurnya. Dia masih menutup rapat matanya. Tapi dia tersadar akan dua sosok dayang-dayang yang tadi malam berdiri di samping kanan dan kiri kasur. Zira membuka matanya lebar. Dia melihat dua sosok dayang-dayangnya. Dua pelayan tadi masih berdiri dengan posisi yang sama. Zira duduk dari posisi sebelumnya yaitu berbaring. " Apa kalian dari tadi malam berdiri seperti itu." Ucap Zira heran. " Iya benar nona." Ucap seorang pelayan. Zira memandang ke arah dua pelayan tersebut. " Kuat juga kaki kalian, apa kalian pernah ikut sekolah militer?" Zira merasa takjub dengan dua orang dayang-dayangnya yang sangat kuat berdiri semalaman. " Tidak nona. Kami hanya pernah ikut lomba balap karung." Ucap seorang pelayan. Zira manggut-manggut dan kembali melihat kedalam kedua bola mata pelayan tadi. " Kenapa mata kalian seperti mata ikan busuk." Ucap Zira cepat. Kedua pelayan tadi tidak mau mengatakan yang sebenarnya kalo mereka sebenarnya sangat mengantuk, mereka khawatir akan di hukum Ziko jika mengantuk. Karena sebelumnya Ziko berpesan tahan kantuk atau akan di pecat. Itulah yang masih terngiang di telinga mereka. " Ini softlens terbaru nona." Ucap seorang pelayan lagi. Zira mengerti akan rasa kantuk dan capek yang di alami dua dayang-dayangnya. Dia mengizinkan dua pelayan tadi untuk pergi dari kamarnya. " Aku tau kalian sangat ngantuk, tapi aku salut kalian menjagaku dengan baik walaupun kantuk mendera tapi kalian tetap bertahan dengan pendirian yang kuat. Istirahatlah aku tidak akan melakukan hal-hal yang merugikan untuk diriku." Ucap Zira tegas. Dua orang pelayan tadi ragu untuk pergi meninggalkan Zira sendiri di kamar. Mereka khawatir dengan nasibnya. " Kenapa apa kalian masih mau berdiri di situ selama suamiku di luar negeri." Ucap Zira cepat. Mereka saling pandang, mereka saling memberi isyarat untuk berani memulai percakapannya. " Apa nona bisa mengizinkan kami kepada Tuan muda." Ucap seorang pelayan. " Tenang saja serahkan semua kepadaku." Ucap Zira cepat. Kedua pelayan tadi keluar meninggalkan kamar, mereka langsung masuk kamar karena kantuk yang sangat mendera. Zira mengambil ponselnya dan mencoba menghubungi Ziko. Tapi tidak ada jawaban sama sekali dari Ziko. Zira pergi ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Zira turun dari lantai atas dan pergi menuju dapur, dan seperti halnya tadi malam Zira membawa makanannya ke dapur. Ada beberapa koki yang sedang memasak di dapur. Melihat kedatangan Zira mereka hendak pergi. Tapi Zira menahan mereka untuk tetap melanjutkan pekerjaannya. Zira menikmati sarapannya di dapur bersama dengan koki yang lagi masak dan ada beberapa pelayan yang sedang hilir mudik ke dapur. Pak Budi masih menatap Zira dengan tatapan yang beda, karena semalam pada saat mereka mengobrol Pak Budi menatap Zira hangat layaknya seorang anak. Tapi pagi ini dia menatap Zira dengan tatapan yang sangat berbeda. Zira menghabiskan sarapannya dan pergi keluar dari dapur. Pak Budi mengikuti Zira dari belakang. " Ada apa Pak?" Ucap Zira sambil memberhentikan langkahnya karena ada Pak Budi yang mengikutinya. " Apakah nona berniat memberikan kado ulang tahun untuk Tuan muda berupa kematian." Ucap Pak Budi tegas. Zira kaget mendengar Pak Budi menyebut kata kematian. " Siapa yang mati Pak? Dan apa hubungannya dengan kado ulang tahun suamiku." Ucap Zira bingung. Pak Budi yang mengajukan pertanyaan malah bingung dengan pertanyaan balik ke dirinya. " Siapa yang mati Pak?" Ucap Zira sambil menggoyang lengan Pak Budi. Pak Budi bingung mau menjawab apa. " Siapa yang mau mati Pak?" Ucap Zira sekali lagi. " Nona." Ucap Pak Budi gugup. Zira membulatkan matanya ke arah Pak Budi. " Pak saya enggak mau mati dan belum mati." Ucap Zira tegas. Zira hendak pergi tapi Pak Budi memanggilnya kembali. " Nona Zira tunggu." Ucap Pak Budi cepat. Zira kembali menghentikan langkahnya. Dan berbalik melihat ke arah Pak Budi. " Nona saya mohon kalo nona mau memberi kado kepada Tuan Muda jangan dengan Kematian. " Ucap Pak Budi memohon. Zira tambah bingung dia ingin menjedutkan kepalanya ke dinding, dia serasa berkumpul dengan para alien yang tidak saling mengerti bahasanya masing-masing. " Pak saya memang berniat memberi kado untuk suami saya tapi bukan kematian kadonya." Ucap Zira pelan menjelaskan. Zira menjelaskan secara perlahan kepada Pak Budi agar Pak Budi mengerti dan tidak berpikir yang aneh-aneh tentang kematian. Ketika di jelaskan secara perlahan oleh Zira akhirnya Pak Budi paham, dan Zira pamit untuk pergi kerja. Karena cuaca yang kurang baik Zira mengenakan pakaian panjang dan celana panjang tapi tetap memberikan kesan sebagai wanita feminim. Zira berjalan menyusuri loby kantor dan langsung masuk ke dalam lift. Para karyawan yang berada di dalam lift tersenyum dan hormat kepadanya. Mereka sangat kagum akan kepribadian Zira yang tidak memandang status sosial siapapun. Zira keluar dari lift dan menuju ruangan Ziko, tapi Zira tidak melihat keberadaan Kia di meja kerjanya. Zira melihat sekelilingnya dan ke pantry tapi tidak ada tanda-tanda keberadaan Kia. Tanpa pikir panjang Zira masuk ke dalam ruangan Ziko. Zira menemukan Kia sedang duduk manis di kursi kebesaran Ziko. " Halo Bos kedua selamat pagi." Ucap Kia sok ramah. " Ngapain kamu duduk di kursi suamiku." Ucap Zira ketus. Kia tertawa bahagia. " Hahaha, aku hanya duduk di kursi suamimu bukan duduk di atas paha suamimu." Ucap Kia sambil tertawa senang. " Cepat kamu pergi dari situ atau." Belum sempat Zira melanjutkan kalimatnya tapi Kia sudah memotong ucapannya. " Atau apa? atau mau menghubungi security." Ucap Kia sambil menunjukkan kabel telepon yang sudah putus. Kia memang sengaja memutus kabel telepon Kia membuat kabel itu persis di makan tikus. Zira masih memandang wanita di depannya dengan tatapan yang sangat tajam. " Kamu tau aku membayangkan sedang duduk di atas paha suamimu, aku membayangkan dia sedang mencumbuku." Ucap Kia sengaja membakar emosi Zira. Zira mengepalkan tangannya dan merapatkan giginya dia sedang memberi ancang-ancang hendak menyerang. " Kamu tau sebenarnya aku sudah menjalin kasih dengan suamimu." Ucap Kia bohong. Kia sengaja ingin mempermainkan emosi Zira, agar Zira bertengkar dengan Ziko. Dan pada saat pertengkaran itu terjadi dia akan masuk sebagai penghibur untuk Ziko. Tapi bukan Zira namanya jika Zira tidak bisa menyingkirkan debu-debu yang bertebaran di depan jalannya. " Owh bagus sekali itu, apa aku harus memberikanmu ucapan selamat atau aku harus mengirim papan bunga dengan bertuliskan turut berdukacita." Ucap Zira tegas. Kia masih tidak gentar dia masih dengan pendiriannya duduk di kursi Ziko. Dia sengaja memanfaatkan Zira, karena Zira pernah berkata tidak akan mengadu kepada Ziko karena dia bukan perempuan cengeng. Kia yakin Zira tidak akan memberitahukan hal ini kepada Ziko. " Kamu bisa bayangkan kami bermesraan di sini." Ucap Kia sambil mengelus-elus pinggiran meja. " Like komen dan vote yang banyak ya terimakasih." Chapter 124 episode 124 " Aku hitung sampai tiga kalo kamu tidak beranjak dari kursi itu akan aku habisi kamu." Ucap Zira mengancam. Kia masih memutar-mutar kursi Ziko. Dia serasa sedang main putar-putaran. Zira berjalan mendekati meja dan menarik tangan Kia. Kia bertahan dengan pegang pada pinggir meja. Zira merasa emosinya sudah sampai ubun-ubun, Zira menjedutkan kepala Kia di pinggir meja. Kia meringis kesakitan. Ada benjolan biru di dahinya. " Aku hitung sampai tiga." Ucap Zira cepat. Kia beranjak dari kursi dan sengaja menyenggol bahu Zira. Zira yang emosinya masih memucak mendapati perlakuan seperti itu tambah naik pitam. Zira langsung memelintir salah satu tangan Kia dan memegang lehernya. Zira mendorong tubuh Kia sampai ke pojok. Kia tidak bisa bergerak karena tangannya di pelintir ke belakang dan lehernya di cekik Zira. " Ini hukuman untuk wanita hina seperti dirimu." Ucap Zira cepat sambil melepaskan tangannya dari tubuh Kia. Kia memegang lehernya dan tangannya yang sakit. Kia masih memandang sinis. " Dasar kamu perempuan jalanan." Ucap Kia lagi. Zira marah dan mendorong tubuh kia kembali ke dinding. Zira mengangkat salah satu tangan Kia ke dinding dan mencekik leher kia kembali, salah satu tangan Kia berusaha melepaskan cekikkan yang di berikan Zira. Kia merasa sakit karena cekikan yang sangat keras dari sebelumnya. " Aku Zira dan aku besar di jalanan tapi asal kamu tau perempuan jalanan sepertiku lebih tinggi derajatnya di banding kamu." Ucap Zira cepat sambil melepaskan kembali tangannya dari tubuh Kia. Zira melepaskan tangannya dari tubuh Kia karena Zira melihat wajah Kia sudah mulai membiru. Kia terbatuk-batuk pernafasannya terganggu karena ada tekanan di lehernya tadi. " Keluar!" Teriak Zira. Kia akhirnya keluar dengan benjolan di dahinya dan bekas merah di lehernya. Kia merasa kalah dengan Zira. Dia menganggap Zira seperti perempuan lain yang berkelahi hanya dengan jambak-jambakan, tapi di luar perhitungannya Zira bisa mengalahkan Kia dengan sekali dorong dan sebuah cengkeraman di leher. Kalo di bandingkan dari tubuh Zira kalah tinggi dari Kia, tapi keberanian Zira membuat nyali Kia menjadi ciut. Zira menarik nafasnya dalam-dalam, dan menghembuskannya perlahan. Zira sedang mengontrol emosi agar kembali stabil. Zira melakukannya secara berulang. Tidak berapa lama ponsel Zira berbunyi. Zira mengambil ponselnya yang berada di dalam tas. Ada nama ubi kayu jumbo di layar kacanya. Zira mengangkat panggilan dari Ziko. " Ya halo." Ucap Zira pelan. " Kamu lagi ngapain." Ucap Ziko dengan suara serak. Ziko baru bangun tidur karena perbedaan waktu enam jam. Di tempat Zira jam sepuluh pagi di tempat Ziko jam empat subuh. " Aku lagi di kantor." Ucap Zira pelan. " Kamu pagi ini tidak makan nasi basi dan tahu basi kan?" Ucap Ziko dengan mata tertutup. " Ya enggaklah." Ucap Zira cepat. " Kenapa kamu mau bunuh diri." Ucap Ziko lemas. Zira mulai bingung semua orang mengatakan dia mau bunuh diri. " Sepertinya kamu masih mengantuk suamiku, jadi kamu istirahat saja sejenak." Ucap Zira cepat sambil mematikan ponselnya. Zira tidak mau bertengkar dengan Ziko, karena energinya sudah terkuras pada saat menaklukkan Kia. Ponsel Zira berbunyi kembali dan lagi-lagi yang menghubungi suaminya Ziko. " Kenapa kamu memutuskan panggilanku." Ucap Ziko teriak. Zira menjauhkan ponsel dari telinganya. " Kamu kan lagi mengantuk di sana pasti masih terlalu pagi, lebih baik kamu istirahat nanti telepon lagi." Zira berkata dengan lembut. Ziko mendengar suara Zira yang lembut, selama ini dia selalu mendengar mulut Zira yang bawel dan cepat, tapi pagi ini dia mendengar Zira berubah. " Apa karena dia makan nasi basi dan tahu basi makanya tutur katanya bisa baik begitu, kenapa tidak makan nasi basi setiap hari saja agar dia bisa bertutur kata dengan lembut samaku." " Kamu baik-baik saja?" Ucap Ziko heran. Zira yang mendengar pertanyaan seperti itu langsung bingung. " Bagaimana dia tau kalo aku tidak dalam keadaan baik-baik saja, apa dia tau kalo hari ini aku baru menghajar sekertarisnya atau jangan-jangan ada kamera cctv di ruangan ini." Zira melihat sekeliling ruangan Ziko. Sambil tetap memegang ponselnya. " Jawab aku apa yang kamu lakukan tadi." Ucap Ziko cepat. " Aih mati aku harus jawab apa." Zira gugup mau memulai dari mana. Dia tidak mau mengatakan kejadian yang terjadi di ruangan Ziko. Zira berpikir kalo Ziko tau pasti Ziko akan memecat Kia, tapi Zira tidak menginginkan hal itu, Zira ingin Kia yang mengundurkan diri sendiri bukan karena di pecat. Zira masih ingin bermain-main dengan Kia. " Aku hari ini sarapan yang enak." Ucap Zira cepat. " Bukan itu, apa yang kamu perbuat dan siapa itu julukan yang kamu beri untuk sekertarisku." Ucap Ziko. " Owh si Kuntilanak." Ucap Zira. " Apa yang dia lakukan dan apa yang kamu lakukan." Ucap Ziko cepat. Zira mengalihkan pembicaraan Ziko. " Suamiku bagaimana keadaan di sana, apakah cuacanya baik?" Ucap Zira cepat. Ziko sebenarnya ingin membantah ucapan Zira tapi karena Zira bertanya dengan lemah lembut akhirnya Ziko luluh. " Cuacanya di sini berangin, seandainya saja kamu di sini pasti kamu akan menjadi penghangat buat diriku." Ucap Ziko pelan. Ziko membayangkan Zira berada disisinya. Ada rasa kerinduan dalam dirinya ketika berjauhan dengan Zira. Mereka berdua melakukan obrolan normal antar suami dan istri tidak ada adu argumen ataupun perang urat leher. Panggilan berakhir karena Ziko harus bersiap-siap untuk berangkat kerja. Zira keluar dari ruang Ziko sambil membawa tasnya. Dia melirik ke arah Kia. Kia tidak memandang Zira dia memalingkan wajahnya menghadap yang lain. Zira tidak ambil pusing dengan tingkah laku Kia, dipikiran Zira jangan pernah usik kehidupan pribadinya maka semuanya akan aman sentosa tapi jika kehidupan pribadinya di usik maka Zira bisa berubah kepribadian menjadi lebih sangar seperti preman pasar. Zira menaiki mobil. Pak supir membawa Zira ke sebuah mini market. Zira hendak memasak hari ini. Setelah mendapatkan keperluan yang di perlukannya Zira minta Pak supir untuk mengantarnya ke apartemen. Pak supir tidak bertanya perihal apapun karena menurutnya selama masih dalam jangkauan pengawasannya maka semuanya akan aman. Zira memasak yang berbeda, setelah dingin dia membungkus makanan itu ke dalam pelastik. Zira kembali kekamar menyiapkan beberapa pakaian yang akan di bawanya. Setelah semuanya beres Zira pergi keluar apartemen dengan membawa sebuah koper. Pak Supir langsung mengambil koper yang di bawa Zira dan meletakkannya di bagasi mobil. " Pak antarkan saya ke bandara." Ucap Zira cepat. Pak supir tidak menjawab dia membalikkan badannya ke arah Zira. " Nona saya mohon jangan lari, kalo nona lari saya akan di pecat saya punya anak dan istri yang harus saya biayain. " Ucap Pak supir memohon. Zira yang mendengar ucapan Pak supir agak kaget melihat reaksi yang di berikan Pak supir kepada dirinya. " Like komen dan vote yang banyak ya terimakasih." Chapter 125 episode 125 " Maaf Pak saya bukan mau kabur tapi saya mau menyusul suami saya." Ucap Zira pelan. Pak supir menganggukkan kepalanya dan mengambil ponsel yang berada di sakunya. Zira memperhatikan Pak supir. " Bapak mau apa?" Zira bertanya penuh selidik. Pak supir membalikan badannya dan melihat ke arah Zira. " Saya mau menghubungi asisten Kevin." Ucap Pak supir polos. Zira membulatkan matanya. Dia tidak mau siapapun mengetahui kedatangannya ke Paris baik Ziko maupun asisten Kevin. " Pak tolong jangan hubungi asisten Kevin maupun suami saya." Ucap Zira menahan Pak supir. Pak supir tambah bingung, tapi dia lebih khawatir jika Zira berniat kabur. Pak supir berpikir mungkin ini hanya alasan Zira agar bisa kabur dari majikannya. " Maaf nona saya harus menghubungi asisten Kevin saya khawatir." Ucap Pak supir. " Khawatir apa? khawatir saya kabur!" Ucap Zira cepat. Pak supir tersenyum kikuk, pikirannya terbaca oleh Zira. Zira berusaha menjelaskan kepada Pak supir. " Bapak masih tidak percaya dengan saya?" Ucap Zira sambil menunjuk tiket pesawatnya. Pak supir melihat tiket Zira. Dia pernah mendengar dari asisten Kevin kalo mereka akan pergi ke paris. Pak supir akhirnya pun percaya dia mulai menyalakan mesin mobil. Tapi sebelum dia menginjak pedal gas Zira memberitahukan sesuatu kepada Pak supir. " Saya mohon sama Bapak jangan menghubungi suami saya maupun asisten Kevin." Ucap Zira memohon. " Tapi nona." Ucap Pak supir yang masih kekeh ingin menghubungi. Zira mulai memasang taring agar Pak supir mengikuti perintahnya. " Bapak sudah mendengar penjelasan dari saya, saya tidak mau Bapak menghubungi mereka berdua ketika pesawat yang saya tumpangi sudah take off." Ucap Zira tegas. " Tapi." Pak supir belum sempat menyelesaikan kalimatnya tapi sudah dipotong oleh Zira. " Enggak pakai tapi-tapi ikuti saja yang saya perintahkan." Ucap Zira tegas. Pak supir masih tetap pada pendiriannya dia bingung Jika asisten Kevin bertanya tentang keberadaan Zira. Tapi karena raut wajah Zira yang sudah mengintimidasi Pak supir akhirnya menganggukkan kepalanya. Pak supir melajukan mobil menuju pusat kota dan mengantarkan Zira sampai ke bandara. Pak supir memberhentikan mobil di depan pintu keberangkatan. Pak supir mengeluarkan koper Zira dan hendak mengantar Zira ke dalam untuk memastikan benar tidaknya Zira berangkat ke Paris. Zira memerintahkan Pak supir untuk pergi meninggalkan bandara. Sebelum Pak supir pergi Zira berpesan. " Jika salah satu dari mereka ada yang menghubungi Bapak, bilang saja saya kabur tapi ingat jangan bilang saya kabur ke Paris. Kalo Bapak sampai mengatakan saya kabur ke Paris Bapak akan saya pecat." Ucap Zira sambil mengancam. Pak supir menganggukkan kepalanya cepat. Zira memasuki pintu keberangkatan pesawat dan melakukan seperti biasanya orang yang akan berangkat naik pesawat, yaitu cek tiket cek bagasi dan sebagainya. Zira sudah berada di ruang tunggu, pesawatnya akan berangkat satu jam lagi. Dia berniat mengerjai Ziko dengan mengirim chat kepada Ziko. Suamiku, aku tidak bisa menjadi istri yang baik maafkan aku, aku tidak pantas untuk menjadi istrimu, carilah istri yang benar-benar pantas untukmu. Zira mengirim chat tersebut sambil tersenyum tipis. Tidak ada balasan dari Ziko, Zira berpikir mungkin suaminya sedang sibuk sampai tidak bisa membalas chat darinya. " Panggilan untuk pesawat dengan nomor xxxx tujuan Paris silahkan masuk melalui pintu 5." Ucap salah seorang staff bandara. Zira melangkahkan kaki menuju pintu 5 bersama dengan yang lainnya. Mereka menduduki kursi sesuai dengan nomornya masing-masing. Setelah semua penumpang sudah naik dan sudah duduk di kursinya masing-masing. Beberapa pramugari dan pramugara mempraktekkan cara memakai safety belt, baju pelampung dan cara menggunakan masker oksigen. Pesawat yang di tumpangi Zira sudah take off. Pesawat akan menerbangkan pesawatnya kurang lebih 16 jam 15 menit. Ziko sudah selesai meeting dia melihat ada chat dari Zira. Dia membaca chatnya dan mencoba memahami arti dari chat Zira. " Vin coba kamu lihat apa maksud dari chat ini?" Ucap Ziko sambil menunjuk ponsel kepada Kevin. Kevin membaca dan sesekali melirik ke arah Ziko. " Tuan sepertinya nona Zira menginginkan anda mencari istri lagi." Ucap Kevin cepat. " Apa!" Wajah Ziko menunjukkan kemarahan yang amat sangat. " Kenapa dia mengatakan seperti itu?" Ucap Ziko tegas dengan raut muka yang masih marah. Kevin sedang mengatur kalimatnya agar tidak menjadi pelampiasan amarah Ziko. " Saya juga tidak tau, tapi mungkin ini ada hubungannya rencana bunuh diri semalam." Ucap Kevin pelan. " Jadi maksud kamu istriku mencoba bunuh diri?" Ucap Ziko sambil memegang kerah kemeja Kevin. Kevin menganggukkan kepalanya. " Hubungi Pak Budi." Perintah Ziko cepat. Kevin langsung menghubungi Pak Budi. Setelah panggilan masuk Kevin menyerahkan ponselnya kepada Ziko. " Pak Budi, apa saja yang di kerjakan istri saya hari ini." Ucap Ziko cepat. Pak Budi menjelaskan semuanya dari makan di dapur sampai menjelaskan pernyataan Zira yang tidak mau mati dan belum mati. " Apa anda ada mengirim pelayan untuk menemani ke kantor." Ucap Ziko lagi. Pak Budi menjelaskan kalo Zira pergi dengan supir ke kantor. Ziko langsung menutup panggilannya. " Pak Budi berkata Zira tadi membuat pernyataan kalo dirinya tidak mau mati dan belum mati, apa maksudnya?" Ucap Ziko cepat. Kevin mencoba mengartikan ucapan yang di utarakan Ziko. " Tuan sepertinya nona Zira tidak berniat bunuh diri." Ziko mengambil ponselnya dan mencoba menghubungi nomor Zira tapi nomor Zira tidak aktif. Ziko malah tambah panik tidak pernah dia sepanik hari ini, tapi hari ini dia merasa takut kehilangannya Zira. Kevin menenangkan tuannya. " Tenang tuan saya akan coba menghubungi supir nona Zira, mungkin dia tau." Ucap Kevin menenangkan Ziko. Kevin menghubungi supir Zira. Tidak berapa lama panggilan tersebut tersambung. " Pak dimana nona Zira." Kevin langsung memberikan pertanyaan yang membuat pak supir gugup. " Anu eh anu pak, Nona Zira kabur." Ucap Pak supir pelan. " Apa!" Kevin teriak. " Bagaimana kamu membiarkannya kabur, apa saja yang kamu kerjakan ini hari." Ucap Kevin cepat. Ziko semakin tambah panik mendengar Kevin menyebutkan kata kabur. Pak supir menjelaskan yang terjadi tentang Zira ke apartemen dan membawa koper. " Nona Zira berpesan kepada saya jika pak Kevin dan Tuan muda menghubungi saya, saya harus mengatakan kalo nona kabur." Ucap Pak Budi polos. Kevin mengakhiri panggilannya tapi sebelum mengakhiri panggilannya dia sudah memberi ancaman kepada Pak supir mengenai hukuman yang akan di terimanya. Pak supir merasa tertekan dan sedih. Karena ulah Zira dia harus mendapatkan hukuman, yang pasti akan merugikan buatnya dan keluarganya. " Like komen dan vote yang banyak ya terimakasih." Chapter 126 episode 126 Pak supir merasa takut mendengar ucapan Kevin yang akan memberinya hukuman setelah mereka balik dari Paris. Pak supir berinisiatif untuk menghubungi Kevin kembali agar hukumannya di peringan, Pak supir tidak memikirkan ancaman Zira lagi, karena menurutnya kalo Zira kabur dia tidak akan bisa memecat Pak supir lagi. Pak supir mengambil ponselnya dan menghubungi nomor Kevin. Di Paris di dalam kantor. Ziko uring-uringan, dia ingin segera balik agar dapat menemukan Zira. Kevin tidak bisa mengendalikan amarah Ziko. Dia hanya mengikuti kemauan Bosnya. Tidak berapa lama ponsel Kevin berdering. Kevin segera mengambil ponselnya tapi begitu hendak di jawab panggilan itu berhenti atau terputus. Kevin melihat di layar ponselnya nama Pak supir Zira. Kevin tidak berniat menghubungi kembali dia sedang mempersiapkan kepulangan mereka ke tanah air. Lagi-lagi ponsel Kevin berbunyi begitu di angkat langsung di matikan dari sana. Kevin kesal dia menghubungi kembali nomor pak supir Zira. " Kamu mau cari mati!" Ucap Kevin teriak di depan ponselnya. Pak supir gugup karena mendapat bentakan yang mengatakan cari mati. " Enggak Pak saya mau cari hidup." Ucap Pak supir terbata-bata. " Kamu berniat menghubungi atau mau mempermainkan ku." Teriak Kevin lagi. " Enggak Pak, saya enggak maksud mempermainkan Bapak, saya hanya Miss call saja Pak, Karena kalo panggilan ke luar negerikan mahal." Ucap Pak supir gugup. Kevin mengerti dengan ucapan Pak supir dia paham kalo panggilan keluar negeri memang mahal. " Untuk apa kamu menghubungiku, apa kamu mau minta keringanan hukumanmu." Ucap Kevin cepat. " Iya Pak." Ucap Pak supir cepat. " Tidak ada keringan hukuman untukmu malah hukumanmu akan bertambah. " Ucap Kevin tegas. Nyali Pak supir menciut mendengar humannya akan bertambah. Kevin hendak mematikan panggilannya. Tapi Pak supir berteriak. " Nona Zira ke Paris." Ucap Pak supir teriak. Kevin yang mendengar kurang jelas kembali meletakkan ponsel di telinganya. " Apa kamu bilang." Ucap Kevin cepat. Pak supir mengulang ucapannya. Dia menjelaskan semuanya, kalo Zira hendak pergi ke Paris menyusul Ziko dan Pak supir tidak lupa menjelaskan kalo dia mendapatkan ancaman dari Zira sebuah ancaman. " Bagaimana Pak, apakah hukuman saya akan di peringan." Ucap Pak supir semangat. " Kalo nona Zira sampai tidak di temukan hukumanmu akan bertambah banyak." Ucap Kevin sambil mematikan panggilannya. Pak supir berharap semoga Zira dapat di temukan dan berharap ada keajaiban mengenai hukumannya. Kevin memberitahukan hal ini kepada Ziko. " Tuan saya dapat informasi kalo nona Zira menyusul datang ke sini." Ucap Kevin cepat. Ziko yang tadi sedang stres mendengar ucapan Kevin malah tambah stres. " Apa maksudmu menyusul ke sini?" Ucap Ziko cepat Kevin menjelaskan balik mengenai informasi yang di dapatnya dari supir Zira. " Kamu tau dia tidak bisa bahasa Inggris bagaimana dia berkomunikasi dengan orang-orang di bandara." Ucap Ziko histeris. Kevin paham mengenai Ziko yang uring-uringan. Karena Zira tidak bisa berbahasa Inggris belum lagi ini negara asing buat Zira. " Tuan mungkin nona Zira menggunakan bahasa daerah di sini." Ucap Kevin cepat. " Goblok! Kamu kok tambah goblok." Ucap Ziko kesal. Kevin sengaja mencairkan suasana yang sangat menegangkan. " Saya rasa nona Zira bisa menjaga diri karena nona Zira kan pasukan Avengers." Ucap Kevin cepat. Ziko memukul lengan Kevin. " Kamu jangan bercanda." Ucap Ziko marah. Ziko belum menemukan cara bagaimana mencari Zira. " Apa alasan dia datang kesini selain menyusul aku." Guman Ziko pelan. Gumanan Ziko terdengar oleh Kevin. " Mungkin ada reuni pasukan Avengers tuan." Ucap Kevin cepat. Ziko melemparkan sesuatu kearah Kevin. " Kamu tidak membantuku kamu malah membuat lelucon gila di depanku." Ucap Ziko marah. Kevin diam tidak melanjutkan ucapannya dia khawatir meja akan melayang kedepannya jika dia berbicara lagi. Ziko memikirkan sesuatu cara menemukan Zira. " Suruh orang untuk menunggu Zira di bandara." Perintah Ziko. Kevin hendak menghubungi orang-orangnya. " Tuan orang-orang saya kan belum tau wajah Nona Zira." Ucap Kevin cepat. Ziko membuka ponselnya ada galeri foto mereka ketika berada di jetpribadi. Difoto itu Ziko mencium pipi Zira. Ziko menyerahkan foto itu kepada Kevin. Kevin melihat foto yang di berikan Ziko. " Tuan bulu hidung anda kelihatan sangat jelas di sini." Ucap Kevin cepat. Ziko melihat kembali fotonya. Dia mencari foto mereka berdua hanya ada foto pernikahan mereka berdua di pelaminan. Ziko menyerahkan foto itu. " Bagaimana kalo yang ini." Ucap Ziko sambil menyerahkan ponselnya kepada Kevin. Kevin melihat foto Ziko dan Zira yang berada di pelaminan. " Tuan kalo saya lihat yang ini anda seperti tukang kembang." Ucap Kevin protes. " Banyak kali ngomongmu. Kalo gitu pakai aja fotomu." Ucap Ziko kesal. Ziko kesal karena foto yang di berikannya selalu di komplain Kevin. Dia memang tidak banyak menyimpan foto Zira. Hanya ada foto mereka di jet pada saat itu di ambil melalui ponsel Zira dan foto mereka ketika di pelaminan. " Pakai saja foto yang ini." Ucap Ziko menyerahkan kembali ponselnya kepada Kevin. Kevin mengernyitkan dahinya sambil melihat foto Ziko. " Tuan apa tidak ada foto yang lain, di sini bulu hidung anda kelihatan." Ucap Kevin cepat. Ziko kesal dengan komplain yang di utarakan Kevin. " Aku tidak punya foto dia lagi. Sudah pakai saja foto itu, kamu hapus aja bulu hidungku." Ucap Ziko cepat. " Tuan saya potong aja foto anda dan nona Zira karena bulu hidung anda sangat menggangu." Ucap Kevin polos. " Jangan pernah kamu memotong foto kami berdua, itu sama saja kamu ingin memisahkan kami berdua." Ucap Ziko cepat. Kevin menganggukkan kepalanya. " Cih padahal bulu hidungnya yang menjadi pengganggu, anggap saja bulu hidungnya menjadi pemanis untuk foto itu." Kevin tidak berniat menghapus bulu hidung Ziko dan tidak berniat juga memotong foto mereka berdua. Kevin langsung mengirim foto tersebut ke orang-orangnya. Orang-orangnya langsung sigap dan menunggu di bandara. Ziko dan Kevin menunggu di hotel menunggu jawaban dari orang suruhan Kevin. Pesawat yang di tumpangi Zira landing. Zira telah mengganti pakaiannya dengan celana panjang dan baju panjang karena cuaca di Paris yang berangin. Zira mengikat rambutnya dan menutup rambutnya dengan selendang dan Zira juga mengenakan kacamata hitam. Orang suruhan Kevin tidak mengenali Zira karena penampilan Zira yang tertutup. Setelah Zira mendapatkan kopernya dia memanggil taksi yang tidak jauh dari bandara. " Taxi." Ucap Zira. Tidak berapa lama taksi datang dan berhenti tepat didepan Zira berdiri. Supir taksi membantu memasukkan koper ke dalam bagasi. " Ou allons-nous manquer (Kita mau kemana nona)." Ucap supir taksi. " Emmene-moi a l''hotel bi ( Antarkan saya ke hotel bi)." Ucap Zira. Supir taxi melajukan mobilnya ke hotel bi. Zira sudah memesan hotel bi ketika Ziko berangkat ke Paris. Hotel bi berseberangan dengan Ai hotel. Ziko menginap di Ai hotel sedangkan Zira menginap di hotel bi. " Like komen dan vote yang banyak ya terimakasih." Chapter 127 episode 127 Taksi berhenti di depan pintu hotel bi. Supir taksi mengeluarkan koper Zira dari bagasi. Zira menyerah beberapa lembar uang euro kepada supir taksi. " Merci (terimakasih)." Ucap supir taksi. " Vous etes les bienvenus (terimakasih kembali)." Ucap Zira sopan. Zira memasuki loby hotel dan menuju meja resepsionis. " Good afternoon Miss (Selamat siang)." Ucap resepsionis hotel. Resepsionis hotel menyapa Zira menggunakan bahasa Inggris. " Bon apres-midi (selamat siang)." Ucap Zira sambil tersenyum. Karena Zira menjawab dengan bahasa Perancis. Resepsionis menggunakan bahasa Perancis kepada Zira. " Puis-je vous aider (ada yang bisa saya bantu). Ucap resepsionis ramah. " Je veux m''enregistrer (saya mau cek in)." Ucap Zira ramah. " Ai commande (sudah pernah pesan). " deja au nom de Zira (sudah atas nama Zira). Resepsionis meminta kartu indentitas Zira, pasport dan Visa Zira. Setelah data semua sama seorang bell boy membantu membawa koper Zira sampai kedepan kamar hotel. Bell boy membantu membukakan pintu kamar hotel. Zira menyerahkan beberapa lembar kepada bell boy sebagai tip. " Merci (terimakasih)." Ucap bell boy sambil meninggalkan kamar hotel. Zira merebahkan tubuhnya di kasur. Dia meluruskan ototnya yang kaku karena selama 16 jam tidur di pesawat. Kevin dan Ziko menunggu kabar dari orang suruhannya. Lama mereka menunggu tapi tidak ada kabar sama sekali. Waktu sudah malam tapi kabar keberadaan Zira belum ada. Zira bersiap-siap untuk menghadiri undangan Paris fashion week yang di adakan setiap enam bulan sekali dalam setahun. Ratusan mode, asisten, stylish model memadati tempat acara itu berlangsung. Rumah mode ternama seperti channel, Christiani dior dan lainnya juga turut memeriahkan acara tersebut. Zira sangat antusias menyambut acara ini. Karena sebagai seorang desainer dia harus mengikuti perkembangan mode dunia. Dan Zira mendapatkan kesempatan ini yang ke tiga kalinya. Zira mengenakan gaun yang cantik hasil rancangannya sendiri. Zira menyebrangi jalan menuju Ai hotel. Zira menunjukkan kartu undangan kepada pihak hotel dan menuju tempat acara itu berlangsung. Acara itu diadakan secara live. Banyak media menyorot berlangsungnya acara tersebut. Ziko dan Kevin masih di dalam kamar hotelnya. Mereka tetap menunggu kabar dari orang suruhannya. Kevin menghubungi pihak bandara untuk mencari informasi mengenai kedatangan pesawat dari negaranya. " Tuan sudah tidak ada lagi pesawat yang datang dari negara kita, terakhir satu jam yang lalu." Ucap Kevin menjelaskan. Ziko tidak tau harus berbuat apa dia merasa sangat khawatir dengan keadaan Zira. Dia merebahkan badannya di kasur sambil menutup wajahnya. Kevin duduk di sofa sambil memegang ponselnya. Kevin sengaja menyalakan televisi agar tidak terjadi keheningan di dalam kamar. Dia menekan remote TV mencari siaran yang bagus. Dia melihat ada sosok Zira di dalam siaran televisi Perancis. Zira sedang di wawancarai seorang reporter televisi Perancis. Kevin melotot dia ragu dengan penglihatannya. " Tuan apa itu nona Zira." Ucap Kevin cepat memanggil Ziko yang sedang berbaring. Ziko langsung bangun dari posisi berbaringnya. Dia melihat ke layar televisi. Dia merasa terkejut dengan apa yang di lihatnya. Seorang Zira bisa sangat anggun di depan layar kaca dan Ziko merasa takjub melihat Zira bisa ikut dalam acara sebesar itu. " Bonjour (halo)." Ucap reporter televisi. " Presentez - vous (perkenalkan diri anda). Ucap reporter ramah. " Je suis Zira, je suis designer (saya Zira, saya seorang designer)." Ucap Zira sopan. Kevin dan Ziko saling pandang mendengar Zira fasih berbahasa Perancis. Reporter tadi menanyakan kesan Zira mengenai Paris fashion week yang di adakan hari ini. " Cette semaine de la mode est incroyable, ce sont des gens formidables. J''ai beaucoup appris d''eux sur la mode mondiale (fashion week ini sangat luar biasa, mereka orang-orang hebat. Saya banyak belajar dari mereka tentang mode-mode dunia)." Ucap Zira ramah sambil tersenyum manis. Ziko bengong melihat Zira yang sangat luar biasa hebatnya. Dia tidak menyangka melihat kemahiran Zira berbahasa Perancis. " es-tu venu seul ¨¤ cet ¨¦v¨¦nement (apakah anda datang sendiri ke acara ini)." Ucap reporter. "Je suis venue seule ici, je veux surprendre mon mari (saya datang sendiri ke sini, saya ingin memberi kejutan untuk suami saya)." Ucap Zira semangat. Ziko memang sudah terkejut dari Zira di bilang kabur, Zira pergi ke Paris dan sekarang Ziko tambah terkejut dengan kehadiran Zira di dalam acara besar Paris fashion week. Zira memang telah memberi banyak kejutan kepada dirinya. " Aujourd''hui, c''est l''anniversaire de mon mari. Je souhaite un joyeux anniversaire ¨¤ mon mari, j''esp¨¨re que tu iras mieux ¨¤ partir de maintenant (Hari ini ulang tahun suami saya. Saya mau mengucapkan selamat ulang tahun suamiku semoga kamu menjadi lebih baik dari sekarang)." Ucap Zira sambil tersenyum. Ziko terkejut mendapat ucapan selamat ulang tahun dari Zira. Zira telah membuat suasana hatinya berbunga-bunga. Seorang Zira bisa mengucapkan ulang tahunnya di layar televisi yang di saksikan seluruh dunia. Reporter sudah selesai bertanya dengan Zira, reporter bertanya kepada tamu yang lain " Vin acara ini di adakan di mana?" Ucap Ziko sambil menunjuk ke arah televisi. " Tadi kalo saya enggak salah dengar di ai hotel." Ucap Kevin cepat. Ziko dan Kevin saling pandang. Mereka berdua langsung berlari keluar kamar hotel menuju tempat acara Paris fashion week diadakan. Ziko mencari Zira di dalam kerumunan orang. Setelah beberapa lama mencari Ziko ketemu dengan Zira. Zira sedang mengobrol dengan orang bule. Ziko memeluk Zira dan mencium pipi Zira. Zira kaget dan melihat ke sampingnya ada Ziko sedang berdiri di sampingnya. " J''ai d''abord emprunt¨¦ mon mari, ma femme (Saya suaminya saya pinjam istri saya dulu)." Ucap Ziko. Zira hanya terbengong dan Ziko sudah memeluk pinggangnya membawa Zira keluar dari kerumunan acara tersebut. Ziko membawa Zira ke kamar hotelnya. " Aku butuh penjelasan darimu." Ucap Ziko cepat sambil membuka pintu kamar hotel. " Apa?" Ucap Zira sambil duduk santai di sofa. " Semuanya!" Ucap Ziko teriak. " Aku capek." Ucap Zira cepat. Ziko menatap Zira tajam sambil memegang pinggangnya. " Kamu membohongiku dengan mengatakan tidak bisa bahasa Inggris." Ucap Ziko tegas. Zira mulai melakukan pembelaan untuk dirinya. " Siapa yang berbohong, aku memang tidak bisa bahasa Inggris." Ucap Zira ketus. " Tapi tadi aku mendengarmu bisa?" Ucap Ziko cepat. Zira memijat pelipisnya yang tidak sakit. " Itu bukan bahasa Inggris, tapi bahasa Perancis, gitu aja enggak tau." Ucap Zira ketus. "Aku tau, cuma aku mau bertanya kenapa kamu tidak bilang kepadaku kalo kamu bisa bahasa Perancis." Ucap Ziko cepat. " Karena kamu enggak tanya." Ucap Zira cepat. Ziko kesal dengan ucapan Zira yang cepat dan lugas. Memang Ziko tidak bertanya tentang bahasa yang di ketahui Zira. Ziko hanya berpikir jika Zira tidak bisa bahasa Inggris maka tidak bisa bahasa yang lainnya. " Like komen dan vote yang banyak ya terimakasih." Chapter 128 episode 128 Ziko dan Zira masih berdebat di dalam kamar, dan Kevin sebagai saksi atas pertengkaran mereka berdua. " Kenapa kamu kabur ke sini apa tidak ada tempat yang lain, bilang saja kalo kamu rindu padaku." Ucap Ziko cepat. Kevin langsung berpaling melihat ke arah Ziko, dia bingung jalan pikiran bosnya. " Tuan-tuan gayamu, tadi aja udah mau gila karena gak ada kabar dari istrinya sekarang malah sok-sokan." Zira mengatur nafasnya. " Ok kalo begitu nanti aku kabur lagi." Ucap Zira cepat. Ziko malah melotot melihat ke arah Zira. " Siapa yang mengijinkanmu untuk kabur!" Ucap Ziko cepat. Zira malas berdebat dengan Ziko, dia ingin kembali ke acara tersebut. " Mau kemana?" Ucap Ziko sambil memegang tangan Zira. " Ya balik lah, ngapain juga disini, di marahi mending aku di sana senang-senang mana tau ada cowok bule yang naksir aku." Ucap Zira santai. Ziko tidak habis pikir dengan ucapan Zira. Dia merasa ucapan Zira bukan candaan. " Apa kamu mau cari bule? apa kamu tidak bisa lihat ini." Ucap Ziko sambil menunjukkan cincin yang melingkar di jari Zira. Zira menepis tangan Ziko. Dia hendak pergi keluar kamar hotel. Tapi Ziko menahan pintu kamar hotel dengan tangannya. " Aku tidak mengizinkan kamu untuk pergi, selama cincin itu masih melingkar di jarimu tiada siapa yang boleh menyentuhmu." Ucap Ziko tegas. Zira melepaskan cincin yang berada di jari manisnya. Dan memberikan kepada Ziko. " Apa maksudmu?" Ucap Ziko sambil menunjukkan cincin yang di berikan Zira kepadanya. " Cincin." Ucap Zira cepat. " Kenapa kamu membukanya." Ucap Ziko marah. " Dasar pikun, kan kamu yang bilang selama cincin itu masih melingkar di jariku maka tidak ada yang boleh menyentuhku, ya jadi aku titip aja dulu cincin itu kepadamu." Ucap Zira santai sambil menggeser badan Ziko yang berdiri di depannya. Ziko menahannya sambil menarik tangan Zira dan meletakkannya cincin itu kembali ke jari manis Zira. " Jangan pernah kamu lepaskan cincin ini dari jarimu atau akan aku ganti cincin itu dengan mur." Ucap Ziko tegas sambil memasangkan cincin kembali ke tangan Zira. " Memangnya jariku baut sampai kamu hendak meletakkan mur di jariku." Ucap Zira ketus kembali duduk di sofa. Zira memang kesal dengan Ziko. Ziko tidak bersikap romantis dan tidak menyambut kedatangan Zira dengan sukacita. Ziko malah mengajukan pertanyaan yang enggan untuk di jawab Zira. " Berapa bahasa yang kamu ketahui." Ucap Ziko sambil merangkul bahu Zira. " Semua bahasa aku tau." Ucap Zira cepat. Ziko dan Kevin saling pandang, mereka merasa takjub dengan ucapan Zira. " Kamu serius?" Ucap Ziko sambil menatap ke dalam mata Zira. Zira mengangguk. " Coba kamu praktekan." Ucap Ziko memberi perintah. Zira mengambil ancang-ancang hendak berbicara. " Bahasa Itali, bahasa belanda, bahasa Portugis, bahasa Jepang." Zira belum selesai menyelesaikan kalimatnya tapi sudah di potong sama Ziko. " Tunggu, kenapa kamu menyebut seperti itu." Ucap Ziko tegas. " Kan kamu yang tanya berapa bahasa yang kamu ketahui, jadi aku sebutkanlah semuanya tapi beda kalo pertanyaan yang kamu ajukan berapa bahasa yang kamu kuasai atau pelajari." Ucap Zira santai. Ziko seperti sedang belajar bahasa Indonesia. Karena tidak bisa membuat pertanyaan dengan benar. Kevin tersenyum-senyum sendiri mendengar ucapan Zira, karena ucapan memang benar adanya. " Kenapa kamu senyum?" Ucap Ziko ketus. " Enggak Tuan menurut saya pasti waktu sekolah nilai bahasa Indonesia tuan hasil nyontek." Ucap Kevin tertawa. Ziko melemparkan sesuatu ke arah Kevin. " Keluar sana, cari istri bule sana." Ucap Ziko mengusir Kevin. Kevin pergi meninggalkan Ziko dan Zira di kamar hotel. Mereka berbincang panjang lebar. " Kenapa kamu tidak ikut bersamaku kalo kamu mendapat undangan ke acara itu." Ucap Ziko mengelus rambut Zira. " Aku kan sudah minta samamu tapi kamu bilang bahasa Inggrisku buruk ya udah aku pergi sendiri." Ucap Zira santai. Zira menatap Ziko dengan lekat. " Bagaimana apakah kamu terkejut dengan kejutan dariku." Ucap Zira sambil menarik turunkan alisnya. Ziko sebenarnya sangat-sangat terkejut dengan kejutan yang di berikan Zira. Tapi dia memungkirinya. " Ini kamu bilang kejutan, sama ku ini biasa saja." Ucap Ziko sombong. Zira kesal dengan ketidakjujuran Ziko. Padahal dia sudah menyiapkan semuanya dengan sempurna tapi tidak ada sebuah apresiasi untuk hasil kerja kerasnya. " Jangan kamu ulangi lagi hal seperti ini." Ucap Ziko sambil membenamkan Zira di dalam dadanya. Zira mengikuti kemauan suaminya, karena dia juga merindukan dekapan dari Ziko. " Terimakasih atas ucapan ulang tahunnya, aku sangat senang." Ucap Ziko mencium dahi Zira. Ziko melepaskan dekapannya dan kembali menatap Zira. " Dari mana kamu tau kalo hari ini ulang tahunku." Ucap Ziko sambil menatap Zira. " Dari Pak Budi." Ucap Zira cepat. Ziko kembali meletakkan kepala Zira dalam dadanya. " Apa kado yang kamu berikan kepadaku." Ucap Ziko sambil tetap mendekap Zira. Zira baru tersadar dengan kado yang sudah dipersiapkannya. Zira melepaskan tubuhnya yang di dekap Ziko dan hendak beranjak dari sofa. " Kamu mau kemana?" Ucap Ziko sambil menahan tangan Zira. " Aku mau mengambil kadomu." Ucap Zira cepat. " Di mana kamu menyimpan kadoku." Ucap Ziko cepat sambil tetap memegang tangan Zira. " Aku menyimpannya di kamar hotel." Ucap Zira cepat. Zira menarik tangan Ziko agar mengikutinya. Ziko mengikuti Zira keluar dari kamar dan menuju hotel bi. Ziko merasa heran dengan Zira yang memilih hotel bersebrangan dengan dirinya. Mereka masuk ke dalam lift menuju lantai kamar hotel yang di tempati Zira. " Jelaskan padaku kenapa kamu memilih hotel yang berbeda dariku." Ucap Ziko sambil memegang tangan Zira. Zira hanya melihat Ziko sekilas tidak berapa lama pintu lift terbuka. Zira menarik tangan Ziko. Ziko mengikuti Zira, mereka berjalan menyusuri lorong hotel sampai di depan kamar bernomor 101. Zira membuka pintu kamar dan menarik tangan Ziko. Ziko menutup pintu kamar hotel. Dia memandang kamar hotel yang di tempati Zira. Kamar yang di tempati Zira tidak cukup besar dengan kamar yang di tempatinya Ziko. Ziko memesan suite room untuk tempat istirahatnya sedangkan Zira memilih standar room untuknya. Zira membuka lemari pakaian dan sedang mencari sesuatu di dalamnya. Ziko duduk di pinggir kasur sambil melihat Zira yang sibuk dengan kegiatannya di depan lemari. Zira telah memegang kado ditangannya dan meletakkannya di belakang badannya. " Ayo tebak, apa isi di dalamnya." Ucap Zira memberi tebakan kepada Ziko. Ziko mengulurkan tangannya meminta kado yang di sembunyikan Zira di belakang badannya. " Tebak dulu." Ucap Zira cepat. " Bagaimana aku mau tebak, bawa sini kadonya." Ucap Ziko cepat sambil mengambil kado dari belakang Zira. Ziko memegang kado tersebut dan menggoyang-goyangkannnya. Kado tersebut agak ringan dan agak sedikit berisik. " Apa ini ?" Ucap Ziko cepat. Zira tertawa mendengar tebakan Ziko. " Kenapa harus ?" Ucap Zira tertawa. " Ya mana tau kamu mau mengganti sempakku yang telah kamu pakai kemaren." Ucap Ziko cepat. Zira menggelengkan kepalanya karena tebakan Ziko salah. " Like komen dan vote yang banyak ya terimakasih." Chapter 129 episode 129 Ziko menyerah karena semua tebakan yang di berikannya salah. Akhirnya Zira mengizinkan Ziko untuk membuka kadonya. Betapa terkejutnya Ziko melihat isi kado tersebut. " Apa ini?" Ucap Ziko sambil memegang bungkus plastik. " Kamu enggak tau apa ini?" Ucap Zira heran. Ziko menggelengkan kepalanya karena dia memang tidak tau benda apa yang di dalam bungkus plastik tersebut. Zira menepuk dahinya. " Dasar horang kayah, kebanyakan makan stik golf sih jadi enggak tau jajanan seperti ini." Ucap Zira kesal. Zira mengambil bungkus plastik yang di pegang Ziko dan coba membukanya, tapi karena plastik itu agak tebal jadi Zira membukanya dengan giginya. " Idih kamu jorok jigongmu pasti sudah mengkontaminasi plastik itu." Ucap Ziko cepat sambil menarik plastik itu. Ziko membuka plastik itu dengan sekali sobek. Dan memberikan kepada Zira. Zira mengambil isi yang ada di plastik tersebut dan menyuapi Ziko. Ziko merasa senang dengan makanan yang di berikan Zira, dia berulang mengunyah makanan tersebut. " Apa nama jajanan ini." Ucap Ziko cepat. " Keripik ubi." Ucap Zira cepat. Ziko yang mendengar merasa mual dan hendak memuntahkan makanan yang ada di dalam mulutnya. " Kenapa kamu memberiku keripik ubi." Ucap Ziko cepat. " Lah memangnya kenapa kan bagus ubi makan ubi." Ucap Zira cepat. Ziko berlari ke kamar mandi dan memuntahkan makanan yang baru di telannya. Ziko merasa jijik mendengar ubi, dia merasa sedang memakan ibunya sendiri. Sedangkan Zira tertawa terbahak bahak karena berhasil mengerjai Ziko. " Buang saja itu. Aku enggak mau memakannya." Ucap Ziko cepat. " Enak aja, udah susah payah dan penuh rintangan aku membuatnya sampai sini makanan yang aku buat di muntahkan." Gerutu Zira. " Ya sudah kamu awetkan saja nanti kita simpan di museum." Ucap Ziko santai. Zira tidak habis pikir dengan ucapan Ziko yang asal. Ziko memang suka ngomong asal sama seperti Zira. Zira menyimpan keripik tadi dia tidak berniat membuangnya. " Aku mau kadoku." Ucap Ziko manja sambil membuka resleting gaun Zira. Mereka melakukannya tanpa ada paksakan begitupun dengan Zira, dia dengan sukarela melayani suaminya tanpa ada paksakan ataupun perlawanan sama sekali. Mereka memecahkan rumus matematika itu di atas kasur berulang-ulang. Hari sudah pagi Ziko masih memeluk Zira. Zira hendak pergi ke kamar mandi tapi dia tidak bisa bergerak. Zira menjerit histeris. Ziko yang mendengar teriakan Zira langsung kaget dan duduk dari posisi berbaringnya. " Kenapa kamu teriak apa seperti itu juga cara membangunkan suamimu." Ucap Ziko sambil menguap. Zira menunjukkan kakinya yang tidak bisa bergerak kepada Ziko. " Kenapa dengan kakiku, kakiku masih gemetar." Ucap Zira lemas. Ziko tersenyum lebar. Dia menutupi tubuh Zira dengan selimut. " Kamu kebanyakan memecahkan rumus makanya kakimu seperti itu." Ucap Ziko sambil pergi ke kamar mandi. Zira masih duduk di atas kasur dengan kaki yang lemas. Memang mereka membuat rumus itu menjadi sangat rumit sehingga efek sampingnya sekarang. Setelah agak enakkan Zira membersihkan tubuhnya di kamar mandi. Setelah selesai mereka berdua pergi untuk menikmati sarapan pagi. Ziko mengajak Zira ke Ai hotel karena Ziko hendak menyalin bajunya terlebih dahulu. Ziko pergi ke kamarnya sedangkan Zira sedang memilih makanan. Tiba-tiba ada seorang pria bule yang menghampiri Zira. " bonjour (halo)." Ucap bule tersebut. Zira hanya tersenyum tidak membalas sapaan bule tersebut dia lagi meletakkan makanannya ke dalam piring. " Je veux aider (mau saya bantu)." Ucap bule itu menawarkan bantuan kepada Zira. " non merci (tidak terima kasih)." Ucap Zira cepat sambil meninggalkan bule tersebut. Zira meletakkan piringannya ke atas meja ketika Zira hendak menarik kursi, tiba-tiba kursinya sudah di tarik pria bule tersebut. " Merci (terimakasih)." Ucap Zira sambil duduk di kursi yang telah ditarik pria bule tersebut. " puis-je m''asseoir ici (boleh saya duduk di sini)." Ucap bule tersebut langsung duduk. Zira bingung dengan tingkah bule di depannya dia belum mengizinkan pria bule itu untuk duduk di depannya, tapi pria itu langsung saja duduk dengan santai sebelum ada persetujuan dari Zira. Zira khawatir dengan amukan Ziko, masih teringat jelas di dalam benaknya ketika Ziko menghajar Fiko. Dan Zira tidak mau itu terulang lagi. Zira hendak beranjak dari kursinya tapi tangannya sudah di pegang pria bule tersebut. Dia menahan tangan Zira agar jangan pergi meninggalkannya. Dari jauh Ziko melihat kejadian tersebut, emosi Ziko sudah di ujung tanduk. Ziko berjalan menuju meja, Zira yang melihat dari jauh sudah mulai ketar ketir dan pria bule tersebut memperhatikan arah pandangan Zira. Ziko sudah menggenggam tangannya ingin memukul pria tersebut tapi seketika pria tersebut membalikan badannya ingin melihat siapa yang di perhatikan Zira. " Ziko you are here (Ziko kamu di sini)." Ucap pria bule tersebut. Ziko tidak jadi memukul pria bule tersebut, pria bule tersebut adalah rekan kerjanya yang merupakan warga negara Amerika. " What are you doing here (apa yang kamu lakukan di sini)." Ucap Ziko ketus. " I''m staying here (aku menginap di sini)." Ucap pria bule tersebut sambil melirik ke arah Zira. Ziko melihat tatapan yang di berikan rekannya kepada Zira. Ziko langsung memeluk Zira dan mengecup pipi Zira. Pria bule tersebut kaget melihat perlakuan Ziko kepada Zira. " do you know each other (apa kalian saling mengenal)." Ucap pria bule tersebut heran. " this is my wife (ini istriku)." Ucap Ziko sambil mengecup pipi Zira lagi. Ziko sengaja mempertontonkan kemesraan mereka di depan rekan kerjanya, karena Ziko sudah mengenal tentang karakter rekan kerjanya ini, pria bule itu sangat menyukai perempuan yang bertubuh bahenol seperti Zira. Dan untuk mengantisipasi hal itu Ziko langsung saja mempertontonkan kemesraannya. " don''t you intend to introduce your wife to me ( apa kamu tidak berniat memperkenalkan istrimu kepadaku)." Ucap pria bule tersebut. " her name is Zira she is my wife (namanya Zira dia istriku)." Ziko sengaja tidak menyuruh Zira untuk memperkenalkan dirinya kepada rekannya yaitu David. Ziko tidak mau tangan Zira di pegang oleh orang seperti David. Zira kurang mengerti dengan pembicaraan mereka dia hanya menikmati makanannya tanpa mau terlibat dengan percakapan mereka. " how can you get a beautiful wife like this (bagaimana kamu bisa mendapatkan istri cantik seperti ini)." Ucap pria bule tersebut sambil melirik ke arah Zira. Pria bule tersebut tidak mengalihkan pandangannya ke arah Zira. Dia menikmati bidadari di depannya. Ziko sudah merasa risih dengan tatapan rekannya David. Ziko tadi berniat ingin memukul tapi begitu dia tau orang yang sedang memegang tangan istrinya adalah David rekan kerjanya jadi dia mengurungkan niatnya. Mereka menjalin kerjasama untuk memajukan usaha mereka. Mereka sudah lama menjalin hubungan bisnis. Dan Ziko tidak mau hubungan bisnis mereka rusak karena ulah David. " Like komen dan vote yang banyak ya terimakasih." Chapter 130 episode 130 " Ayo kita keluar." Ucap Ziko sambil memegang tangan Zira. Ziko sengaja membawa Zira keluar dari situ agar terhindar dari tatapan genit David. " Tapi makananku belum habis." Ucap Zira manja. " Kita makan di luar disini selera makanku hilang." Ucap Ziko sambil melirik David. Ziko dan Zira beranjak dari kursinya dan hendak pergi tapi David menahan Ziko dengan memegang bahunya. " I will invest all my shares in your company, as long as (Aku akan menginvestasikan seluruh saham ku pada perusahaanmu, asalkan). " Davis menggantung ucapannya. " as long as what (asalkan apa)." Ucap Ziko ketus. David berbisik ketelinga Ziko yang mengatakan. " let me enjoy the beautiful body of your wife (izinkan aku menikmati tubuh indah istrimu)." Ziko melepaskan genggamannya dari tangan Zira, dengan cepat Ziko memukul wajah David. David yang mendapat serangan mendadak tersungkur ke bawah kursi. Semua orang yang berada di situ berteriak histeris. Termasuk juga Zira, Zira hanya bisa berteriak entah kenapa jiwa Avengersnya hilang sejenak pada saat itu. Dari jauh Zira melihat ada Kevin yang menonton kejadian itu. Zira berlari kearah Kevin. " Cepat kamu lerai pertengkaran itu." Ucap Zira teriak sambil menunjuk ke arah Ziko yang sedang memukuli David. " Maaf nona tangan saya lagi sibuk." Ucap Kevin cepat sambil melipat kedua tangannya di dadanya. " Apanya yang sibuk." Ucap Zira teriak. Zira kesal dengan Kevin karena tidak mau melerai perkelahian itu. Zira menjewer kuping Kevin seperti anak kecil. " Cepat kamu lerai perkelahian itu atau kupingmu aku tukar sama kuping gajah." Ucap Zira cepat sambil menjewer kuping Kevin. Kevin langsung melerai perkelahian itu, sebenarnya dia enggan untuk melerai karena bosnya dominan menang. Tapi Kevin takut melihat tatapan mata Zira yang sedang marah, Kevin merasa sedang di jewer mamaknya. Perkelahian itu pun akhirnya selesai dan di menangkan oleh Ziko. Semua berantakan walaupun perkelahian itu tidak lama tapi cukup menguras tenaga karena mereka sama-sama berbadan besar. " our employment contract is canceled (kontrak kerja kita batal)." Ucap David teriak. " I don''t want to have a colleague like you (Tidak sudi aku mempunyai rekan kerja seperti dirimu)." Ucap Ziko sambil membuang ludahnya. Ziko pergi keluar dari tempat itu di dampingi Zira dan Kevin. David mendapatkan banyak pukulan dari Ziko. Hubungan bisnis mereka harus berakhir padahal sudah lama mereka menjalin kerjasama tapi semua karena ulah David. Ziko duduk di pinggir kasur dengan tampilan yang sudah berantakan. Zira memegang tangan Ziko yang merah. Zira berniat mengompres punggung tangan Ziko. Ziko menarik tangannya ketika hendak di kompres Zira. " Enggak usah." Ucap Ziko kesal. Tapi Zira tetap menarik tangan Ziko. Ziko menepis tangan Zira dari tangannya. " Kamu kenapa?" Ucap Zira cepat. " Ini semua karena mu." Ucap Ziko ketus. Zira kesal dan membanting es batu kelantai. " Apa maksudmu?" Ucap Zira cepat. " Kalo kamu tidak menggodanya pasti dia tidak akan berbicara seperti itu tentangmu. Zira menampar pipi ziko. " Jaga ucapanmu, aku tidak ada niat untuk menggodanya." Ucap Zira kesal. Ziko memegang pipinya, ini yang kedua kali dia mendapatkan tamparan dari Zira. Ziko merasa kesal, dia beranggapan Zira telah merayu David ketika dirinya sedang menyalin baju di kamar hotel. " Selama aku menyalin baju pasti kamu merayu dia kan?" Ucap Ziko kesal. " Jaga ucapanmu." Zira kesal dan pergi dari kamar Ziko dia membanting pintu kamar hotel. Zira berjalan menyusuri lorong hotel dia melihat tasnya. Dan kembali lagi ke kamar Ziko. " Ini kado dari ku, kalo kamu enggak mau makan buang saja." Ucap Zira kesal sambil melempar keripik ubi tadi ke arah Ziko. Zira pergi dari kamar sambil membanting pintu kamar hotel. Ziko tidak menahan Zira, Kevin yang sibuk karena pasti nanti Ziko akan uring-uringan kalo tidak menemukan Zira. Kevin berlari mengikuti Zira. Zira pergi dengan menggunakan taksi. Kevin mengikutinya dari belakang naik taksi yang lain. Taksi yang di tumpangi Zira berhenti di Seine River. Zira ingin melepaskan kepenatannya di Seine River. Seine River adalah sungai ikonik kota Paris. Zira menaiki sebuah kapal untuk menikmati keindahan sungai ini yaitu Seine River. Zira duduk di atas kapal dan di depannya ada Kevin yang ikut duduk. " Kenapa kamu di sini?" Ucap Zira cepat sambil melihat ke sekeliling sungai. Kapal sudah berjalan menyusuri sungai, panjangnya sungai tersebut kurang lebih 777 km. " Maaf nona saya khawatir kalo nanti nona hilang pasti saya yang akan jadi pelampiasan Tuan muda." Ucap Kevin cepat. Zira tidak menjawab dia lebih senang memandang keindahan sungai itu dari pada harus memikirkan masalahnya. " Nona apa nona tidak mau menghubungi Tuan muda, agar suasana seperti ini cepat mencair." Ucap Kevin pelan. " Emangnya es batu harus mencair segala." Ucap Zira ceplos. Kevin tersenyum mendengar ucapan spontan yang di utarakan Zira. " Enggak biarin aja dia pusing sendiri, mentang-mentang orang kaya ngomong seenak udelnya, belum juga tau masalahnya sudah menuduh yang enggak-enggak." Ucap Zira ketus. " Tapi nona." Kevin ingin membela Ziko. " Enggak usah belain dia atau kamu aku ceburin ke sungai ini." Ucap Zira cepat. Kevin tidak jadi memberikan pembelaannya kepada Ziko, dia lebih baik mencari aman dari pada berurusan dengan pasukan Avengers. Ponsel Kevin berbunyi ada nomor Ziko di layar kaca ponselnya. " Siapa?" Ucap Zira santai. " Tuan Ziko." Ucap Kevin sambil ingin menjawab panggilan tersebut. " Jangan kamu angkat." Ucap Zira cepat. Kevin tetap ingin mengangkat panggilan dari Ziko. Tapi tatapan mata Zira sudah membuatnya takut dia mengurungkan niatnya. Tidak berapa lama panggilan tersebut terputus. Kevin bernafas lega karena panggilan dari Ziko terputus. Tidak berapa lama ponsel Zira berdering, Zira melirik ponselnya dan enggan menjawabnya. " Siapa nona?" Ucap Kevin penasaran. " Ubi kayu." Ucap Zira cepat. " Kenapa tidak di jawab." Ucap Kevin lagi. " Aku kan lagi marah sama dia ngapain aku harus menjawab panggilannya." Ucap Zira cepat. Kevin menganggukkan kepalanya secara berulang. " Kenapa dengan kepala kamu apa kamu tengleng?" Ucap Zira memperhatikan ekspresi Kevin yang menganggukkan kepalanya berulangkali. " Enggak, saya baru belajar dari nona kalo lagi bertengkar tidak perlu menjawab panggilan pasangan kita." Ucap Kevin polos. Zira tersenyum mendengar ucapan Kevin yang polos. Kevin benar-benar polos, Zira merasa heran dengan Kevin penampilan ok, tampang ok body apalagi belum soal keuangan enggak perlu di ragukan lagi. Zira heran kenapa Kevin tidak mempunyai kekasih " Asisten Kevin kenapa sampai sekarang kamu belum menikah atau mempunyai kekasih." Ucap Zira cepat. Kevin tersenyum dia pun bingung harus menjawab apa. " Enggak tau nona, mungkin karena kesibukan saya makanya saya belum memikirkan hal seperti itu." Ucap Kevin pelan. " Tapi ada enggak keinginan kamu untuk menikah." Ucap Zira lagi. Kevin mendesah kencang sambil melihat sekeliling sungai. " Awalnya saya ada keinginan untuk menikah melihat anda dan tuan muda saya merasa ingin mempunyai pendamping, tapi saya sekarang mengurungkan niat saya karena." Ucap Kevin berhenti. " Karena apa."Ucap Zira penasaran. " Ya karena nona dan Tuan muda, yang hari-hari bertengkar, jadi di pikiran saya menjalin rumah tangga itu merupakan hal yang sulit kalo tidak di dasari dengan cinta." Ucap Kevin cepat. Ucapan Kevin seperti menusuk hatinya. Apa yang di ucapkan Kevin benar adanya berumah tangga bukan lah seperti permainan kalo sudah bosan tinggalkan cari yang lain, berumah tangga harus mempunyai komitmen yang kuat salah satunya adalah cinta. " Like komen dan vote yang banyak ya terimakasih." Chapter 131 episode 131 Ucapan Kevin benar adanya pernikahan mereka tidak di dasari dengan cinta. Pondasi pernikahan mereka masih sangat rapuh. " Kamu benar pernikahan kami mungkin hanya sampai satu tahun." Ucap Zira pelan sambil memandang jauh ke sungai. Kevin melihat Zira. " Apakah anda tidak ada perasaan dengan Tuan muda?" Ucap Kevin. Zira tidak menjawab dia masih mencari di dalam hatinya apakah ada cela yang membuatnya mencintai Ziko. Zira lama menjawab pertanyaan Kevin, dia masih dengan pikirannya sendiri. " Apakah anda baik-baik saja." Ucap Kevin khawatir. " Aku tidak mengerti dengan perasaanku padanya, di satu sisi aku benci kalo mengingat dia memaksa ataupun mengancamku, tapi di sisi lain aku merasa cemburu jika dia dengan perempuan lain, apakah itu bisa di namakan cinta?" Ucap Zira. Kevin tidak bisa menjawab karena dia juga belum pernah merasakan jatuh cinta. Kevin cuma mengandalkan instingnya saja. " Saya belum pernah jatuh cinta dengan seseorang, dan saya juga kurang mengerti dengan arti kata cinta, tapi menurut saya cinta itu adalah saling memilikinya satu sama lain tanpa memaksakan kehendak dan menerima kekurangan dan kelebihan pasangannya." Ucap Kevin cepat. Zira merasa takjub dengan pernyataan Kevin mengenai arti cinta. Menurutnya defenisi arti kata cinta yang di utarakan Kevin ada benarnya. " Jadi apakah kami sudah saling mencintai." Ucap Zira pelan. Kevin tidak menjawab dia hanya menggelengkan kepalanya. Dia tidak mau terjerumus ke dalam masalah mereka berdua, dia ingin keduanya menjadi lebih baik lebih baik lagi. " Nona apakah anda sudah tau mengapa Tuan muda memukul David?" Ucap Kevin. Zira menggelengkan kepalanya. Dia juga tidak mengetahui mengapa Ziko bisa memukul David yang awalnya mereka baik-baik saja. " Saya rasa pasti ada sesuatu yang membuat Tuan Ziko marah." Kevin menyakinkan Zira. Zira masih menimbang-nimbang ucapan Kevin benar tidaknya. Kapal masih menyusuri sungai Seine River. Kevin dan Zira menikmati keindahan sungai tersebut. Hari sudah semakin petang suara ponsel Kevin berbunyi Ziko menghubungi Kevin kembali. " Kamu dimana saja?" Ucap Ziko teriak. " Saya dan Nona Zira sedang naik kapal menyusuri sungai Seine River." Ucap Kevin menjelaskan. Ziko merasa cemburu mendengar Kevin dan Zira sedang naik kapal. " Cepat kamu bawa balik dia." Ucap Ziko tegas. Panggilan tersebut terputus, emosi Ziko memuncak mendengar mereka sedang pergi berdua. Kevin membawa Zira kembali ke hotel tapi Zira tidak mau, dia masih kesal dengan tuduhan yang di utarakan Ziko kepadanya. " Nona saya mohon anda ikut saya, kalo nona tidak ikut dengan saya pasti Tuan muda akan berpikiran yang aneh-aneh tentang kita berdua." Kevin memohon kepada Zira. Dengan malas Zira mengikuti kemauan Kevin, dia juga tidak mau melibatkan Kevin terjerumus dalam masalahnya. Tapi dia paham mengenai watak suaminya yang posesif. Ziko tidak pernah memandang bulu siapapun itu orangnya termasuk Kevin, semua akan di habisinya. Kevin mengetuk pintu kamar Ziko. Tidak berapa lama pintu di buka oleh Ziko. Ziko melihat kebelakang Kevin ada sosok Zira sedang berdiri di belakangnya. " Jelaskan padaku mengapa kalian bisa pergi berdua." Ucap Ziko marah. Kevin menjelaskan semuanya mengenai dia mengikuti Zira dari naik taksi sampai naik kapal menyusuri sungai Seine River. Dan Kevin menjelaskan alasannya mengikuti Zira yaitu agar Zira tidak hilang atau kabur. Ziko melihat Zira yang masih diam tanpa berbicara sepatah katapun. Ziko menarik Zira dan memeluknya dengan erat. " Aku sudah melihat dari Cctv, kalo kamu tidak bersalah maafkan aku telah menuduhmu." Ucap Ziko mencium kening Zira. Kevin melihat pemandangan itu, dia merasa senang melihat mereka kembali berbaikan. Tapi sampai kapan itu Kevin pun belum bisa memastikannya. Kevin pergi meninggalkan mereka berdua dia tidak mau menjadi nyamuk ataupun cicak di sana. Ziko terus menciumi Zira dia merasa bersalah karena tidak memberikan Zira kesempatan untuk menjelaskan. Ziko membawa Zira ke atas kasur. " Kamu mau ngapain?" Ucap Zira cepat. " Aku mau menebus kesalahanku." Ucap Ziko tersenyum licik. Ziko menebus kesalahannya dengan berulang kali, walaupun lelah dia tetap berusaha menyenangi hati Zira. " Suamiku kenapa kamu memukul pria tadi." Penasaran. " Dia mau menyerahkan sahamnya tapi dengan syarat menikmati tubuhmu." Ucap Ziko cepat. Zira merasa terkejut dengan ucapan Ziko. Ziko telah mengangkat marwahnya sebagai seorang isteri. Zira bangga dengan tindakan suaminya. " Terimakasih suamiku." Ucap Zira sambil memeluk Ziko. Mereka kembali berbaikan dan mengobrol layaknya orang normal. " Mana kado dari ku?" Zira mencari kadonya yaitu keripik ubi. Ziko menyerahkan keripik ubi tersebut kepada Zira. Ziko enggan memakannya dia masih merasa jijik. Zira memakan keripik ubi tersebut tapi dia tidak menghabiskan semuanya. " Kenapa tidak kamu habiskan?" Ziko memperhatikan Zira yang sedang menyimpan keripik ubi. " Aku sisakan untuk asisten Kevin." Ucap Zira cepat. " Apa?" Ziko teriak. Zira kaget mendengar Ziko berteriak. " Kenapa teriak?" Ucap Zira cepat. " Jangan kamu kasih ubi ku sama si Kevin." Ucap Ziko merasa jijik. Zira tertawa terbahak bahak melihat Ziko membayangkan keripik ubinya di makan Kevin. " Habiskan, aku enggak mau kalo Kevin yang menghabiskan." Ucap Ziko cepat. Zira menghabiskan keripiknya sambil tertawa lucu melihat tingkah Ziko yang jijik. Setelah menyelesaikan keripiknya Zira kembali ke kasur karena sudah mendapat lambaian tangan dari yang punya kasur. Ziko kembali memeluk Zira. " Kenapa ucapan ulang tahunmu mengatakan semoga aku lebih baik lagi. Apa menurutmu aku kurang baik sekarang." Ziko protes. Zira mencoba mengingat ucapannya kemaren malam pada saat di wawancarai reporter televisi. " Owh yang itu, kan bagus kalo aku mengucapkan semoga kamu lebih baik lagi." Ucap Zira cepat. Ziko tidak suka dengan ucapan Zira yang terlalu pendek dan singkat. " Ganti ucapanmu." Ucap Ziko cepat. Zira memindahkan posisi duduknya yang tadi di samping Ziko sekarang duduk berhadapan dengan Ziko. Zira mengambil ancang-ancang untuk meralat ucapan ulang tahun Ziko. " Semoga kamu menjadi lebih buruk lagi." Ucap Zira santai. Ziko menarik hidung Zira. Dia kesal dengan ucapan ulang tahun yang barusan di ucapkan Zira. " Ganti, apa perlu aku mengajarkan kamu cara mengucapkan selamat ulang tahun yang baik." Ucap Ziko ngambek Zira tersenyum lebar, dia sukses telah membuat Ziko ngambek. " Selamat ulang tahun suamiku semoga kamu menjadi suami yang baik." Kalimat Zira di potong Ziko. " Itu sama saja kamu cuma mengganti kata kamu menjadi kata suami." Ucap Ziko protes. Zira menepuk dahinya, sebenarnya dia belum selesai dengan kalimat ucapannya tapi sudah di potong oleh Ziko terlebih dahulu. " Kamu bisa diam enggak sih, bagaimana aku bisa menyelesaikan kalimatku kalo selalu kamu potong kalimatku." Ucap Zira marah. Ziko menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Dia mempersilahkan Zira untuk berbicara. Ziko membujuk Zira agar dia mau mengucapkan ucapan ulang tahun yang romantis dari istrinya. Karena menurut Ziko ucapan dari seorang istri adalah doa. Zira menarik nafasnya sebelum mengucapkan ucapannya. " Selamat ulang tahun suamiku, semoga kamu menjadi lebih baik dari sekarang, aku berharap kamu bisa menerimaku apa adanya, dan semoga pernikahan kita bisa lebih dari satu tahun dan selamanya." Ucap Zira sambil mencium punggung tangan Ziko. Ziko merasa terharu mendengar ucapan Zira. Ucapan Zira adalah doa terindah buatnya. " Aamiin." Ucap Ziko sambil mengecup bibir Zira. " Like komen dan vote yang banyak ya terimakasih." Chapter 132 episode 132 Mereka melakukan segala aktivitasnya di kasur. Semua jurus di ajarkan Ziko dari jurus mencuci pakaian sampai smackdown pun mereka lakukan. Sang mentari sudah menunjukkan kemilaunya. Cahayanya yang indah selalu di nantikan setiap orang. Zira melangkahkan kakinya untuk bersiap-siap, mereka akan pergi ke Belanda karena Ziko masih harus menyelesaikan urusan bisnisnya di negara kincir angin atau negara yang terkenal dengan bunga tulipnya. Seperti biasanya Ziko memang sangat susah di bangukan, apalagi tadi malam mereka melakukan pergumulan yang sangat panjang. Zira membangun Ziko dengan segala jurus, tapi Ziko tetap tidak mau bangun. Zira sedang melakukan jurus membangunkan suaminya. " Aaaaa, apa yang kamu lakukan." Ziko teriak dia sangat kesakitan karena bulu kakinya di tarik Zira. Zira hanya tertawa melihat Ziko teriak dengan mata satu terbuka dan satu tertutup. " Kenapa tuh mata? mau main mata ya." Ucap Zira cepat. " Cih siapa yang main mata, ini namanya senam mata kata Kevin ini cara agar mata keranjang pindah menjadi mata baskom." Ucap Ziko ketus. Ziko masih kesal dengan cara membangunkan Zira yang aneh-aneh. Sedangkan Zira tertawa bahagia dia selalu menikmati momen-momen membangunkan Ziko. " Kenapa kamu menarik bulu kakiku." Ucap Ziko sewot sambil tetap menguap. " Masih mending itu bulu aku tarik, apa mau itu bulu aku kepang." Ucap Zira cepat. Dengan susah payah Zira menarik tangan Ziko agar mau masuk ke kamar mandi. " Mandikan aku." Ucap Ziko manja. Dengan susah payah lagi Zira memandikan bayi kolor ijo. Bayi yang ngeselin tapi ngangenin. Ziko bertingkah seperti anak kecil, dia sengaja melakukannya agar mendapatkan perhatian dari istrinya. Mereka berdua pergi menuju tempat di sajikannya sarapan. Kevin sudah menunggu di sana sambil menikmati makanannya. Zira dan Ziko berjalan ke arah Kevin duduk. Mereka menikmati hidangannya dengan lahap. Tidak berapa lama ada seseorang pria bule dengan setelan kemejanya menghampiri Ziko. " Vous ¨ºtes M. ZIKO (anda tuan Ziko)." Ucap pria bule tersebut ramah. Ziko menganggukkan kepalanya. " oui, quel est le besoin (ya, ada keperluan apa)." Ucap Ziko sambil mengelap mulutnya dengan tisu. " Je veux donner ceci (saya mau memberikan ini)." Ucap pria bule tersebut sambil meletakkan beberapa kertas di meja. Ziko melihat kertas tersebut kemudian memberikannya kepada Kevin. " Avant que M. ZIKO ne quitte l''h?tel, veuillez compenser toutes les pertes que vous avez faites hier (sebelum tuan ZIKO check out dari hotel harap mengganti semua kerugian yang anda perbuat kemaren di sini)." Ucap pria tersebut sopan. " Vas-y doucement, je compenserai toutes les pertes que j''ai faites (Tenang saja saya akan mengganti semua kerugian yang saya perbuat)." Ucap Ziko tegas. Ziko memerintahkan Kevin untuk mengikuti pria bule tersebut. Pria bule tersebut adalah manager di hotel itu. Setelah menyelesaikan segala administrasi dan mengganti segala kerusakan. Mereka pergi meninggalkan hotel menuju bandara. Pesawat jet Ziko berada di bandara. Seperti kemaren Zira selalu menyempatkan berselfi ria dengan ponselnya. Ziko sampai menggelengkan kepalanya melihat Zira yang agak kampungan. Ziko sudah duduk di kursinya, kursi itu tempat favoritnya. Di sebelah kursi itu ada jendela sehingga bisa melihat pemandangan yang indah dari dalam pesawat jet. Ziko melambaikan tangannya memanggil Zira agar duduk di depannya. " Sini ponselmu." Ucap Ziko. Zira memberikan ponselnya kepada Ziko. Zira belum mengganti wallpaper ponselnya. Wallpaper itu foto yang di ambil Ziko pada saat Ziko mengecup pipi Zira. " Kenapa kamu belum mengganti foto ini." Ucap Ziko sambil menunjukkan foto wallpaper di layar ponsel Zira. " Kan kamu yang bilang jangan di ganti." Ucap Zira mengikuti ucapan Ziko pada waktu itu. " Ganti kata Kevin bulu hidungku kelihatan." Ucap Ziko cepat sambil melirik ke arah Kevin. Zira tertawa mendengar ucapan Ziko yang jujur apa adanya. Kevin yang mendapat lirikan dari Ziko, berusaha untuk tidak tersenyum dia khawatir Ziko akan marah. " Biar aja bulu hidung itu pemanis untuk foto kita." Ucap Zira cekikkan. " Owh kamu senang ya kalo aku teraniaya." Ucap Ziko kesal. " Kembalikan ponselku." Ucap Zira sambil mengambil ponselnya dari tangan Ziko. " Kamu mau ngapain." Ucap Ziko cepat. " Ya mau gantilah, kan kamu yang bilang ganti." Ucap Zira cepat sambil melihat foto wallpaper di ponselnya. Ziko memperhatikan Zira yang sedang menatap ponselnya. " Kenapa?" Ucap Ziko penasaran. " Ini bukan bulu hidung tapi upil." Ucap Zira cepat sambil menunjukkan kepada Ziko foto wallpaper di ponselnya. Kevin sudah tidak tahan dia tertawa terbahak-bahak mendengar Zira menyebutkan upil di hidung Ziko. Ziko memperhatikan fotonya sendiri. " Ih kamu jorok gara-gara upilmu fotoku jadi rusak." Ucap Zira cepat. Ziko malu karena yang dikatakan Zira benar adanya. Ziko melemparkan kotak tisu yang ada di meja ke arah Kevin. " Kenapa kamu bilang kemaren bulu hidung kalo kenyataannya upil." Ucap Ziko kesal. " Maaf Tuan saya tidak bisa membedakan upil dengan bulu hidung karena mereka sama-sama berwarna hitam, tapi kalo upil sama ingus saya bisa membedakannya." Ucap Kevin tertawa. Zira dan Kevin tertawa membayangkan foto Ziko. " Diam cepat ganti foto itu." Teriak Ziko. " Ya sudah aku hapus aja foto ini." Ucap Zira cepat. " Jangan kamu hapus." Ziko melarang Zira untuk tidak menghapus foto mereka berdua. " Memangnya kenapa?" Zira penasaran. " Simpan aja." Ucap Ziko pelan. " Cih siapa yang mau simpan upil, apa kamu kira upil kamu itu akan hilang kalo aku simpan atau apa kamu pikir upil itu bisa berubah jadi berlian." Ucap Zira jijik. Kevin masih tertawa mendengar masalah upilnya Ziko. " Ya sudah hapus." Ucap Ziko pelan. Zira menghapus foto mereka berdua. Dan Zira sudah mengganti wallpapernya. " Kamu ganti dengan apa?" Ucap Ziko penasaran. Zira menunjukkan kembali ponselnya kepada Ziko. Ziko membulatkan matanya melihat foto mereka ada di layar ponsel Zira. " Kenapa lagi." Ucap Zira heran melihat Ziko membulatkan matanya. "Apa enggak ada foto yang lainnya." Ucap Ziko cepat. " Ya enggak adalah memangnya kenapa lagi dengan foto itu." Ucap Zira cepat. " Kata Kevin aku seperti tukang kembang." Ucap Ziko pelan sambil melirik ke arah Kevin. Zira tertawa lagi mendengar ucapan Ziko sedangkan Kevin tidak berani tertawa dia khawatir Ziko akan marah karena merasa di perolok oleh mereka berdua. " Bukan tukang kembang tapi kita seperti taman bunga, untung saja bukan bukan bunga tahi ayam di situ." Ucap Zira cekikkan. " Memangnya kenapa kalo dengan bunga tahi ayam kan bagus." Ucap Ziko cepat. " Bukan bagus tapi bau." Ucap Zira tertawa terbahak bahak. Kevin pun ikut tertawa terbahak bahak, dia sudah tidak tahan mendengar ucapan majikannya ada saja yang mengocok perutnya. " Sini kamu." Ucap Zira memanggil Zira agar duduk di paha Ziko. Zira masih tertawa terbahak bahak. " Cepat." Ucap Ziko menarik tangan Zira. Zira beranjak dari kursinya masih dengan tawanya. Zira duduk di paha Ziko seperti permintaan Ziko. Ziko mencium bibir Zira tidak lupa dia memotret momen itu. Sedangkan Kevin yang melihat hanya bisa gigit kaki meja. " Ganti pakai yang ini." Ucap Ziko sambil memberikan ponsel Zira. " Kenapa harus pakai cium segala sih." Ucap Zira kesal. " Daripada yang tadi ada taik hidung, bagusan ini enggak ada taiknya." Ucap Ziko cepat. " Ada nih taik kuping." Ucap Zira tertawa. Ziko langsung mengambil ponsel Zira untuk melihat hasil jepretannya. Hasil jepretannya bagus tidak ada hubungannya dengan taik kuping, itu hanya akal-akalan Zira saja agar dapat mengerjai Ziko. Ziko memang sengaja mencium Zira agar wallpapernya menjadi sebuah saksi untuk kisah mereka berdua. " Like komen dan vote yang banyak ya terimakasih." Chapter 133 episode 133 Pesawat jet pribadi sudah mendarat di Belanda. Perjalanan hanya menghabiskan waktu satu jam 20 menit. Ziko dan Zira turun di ikuti Kevin dari belakang. Sudah ada mobil yang menunggu kedatangan mereka. Seorang supir dengan ramah menyapa mereka dan membukakan pintu mobilnya. Zira masuk terlebih dahulu di ikuti Ziko. Kevin duduk di depan di sebelah supir. Zira menikmati pemandangan kota Belanda. Zira memeluk lengan Ziko karena udara yang sejuk. Setelah melakukan perjalanan darat kurang lebih 45 menit. Mobil yang di tumpangi Ziko sampai di sebuah rumah yang cukup besar. Ziko turun dari mobil di ikuti oleh Ziko. Zira merasa takjub melihat bangunan rumah di depannya. " Apa ini hotelnya." Ucap Zira penasaran. Ziko melirik Zira tanpa menjawab pertanyaan. Ziko menarik tangan Zira untuk masuk ke dalam rumah itu. Pintu depan sudah di buka oleh seorang pelayan. Tidak berapa lama pemilik rumah keluar. " Iko sayang." Ucap perempuan paruh baya sambil memeluk Ziko dan mengecup kening Ziko. Ziko membalas pelukan wanita itu yang tidak lain adalah mamanya sendiri. Nyonya Amel memeluk Zira hangat. " Apa kabar kamu nak." Ucap Tuan besar sambil memeluk anaknya. Mereka saling berpelukan melepaskan rindu yang mendera. Nyonya Amel membawa mereka ke ruang keluarga sebelum makanan siap di hidangkan. Zira masih terheran-heran dengan kekayaan keluarga Ziko. Di tanah air rumah mereka sangat mewah dan di Belanda mereka juga mempunyai rumah yang cukup mewah. " Bagaimana kabar kamu sayang." Ucap Nyonya Amel sambil memegang tangan Zira. " Baik ma." Ucap Zira pelan. " Iko menghubungi mama katanya dia mau ke Belanda, dia bilang ke mama kalo kamu enggak ikut." Ucap Nyonya Amel. " Iya ma saya menyusul Ziko ke Paris." Ucap Zira pelan. Mereka menikmati minuman dan makan kecil yang di sajikan pelayan. Zira masih memandangi sekeliling ruangan itu. Bangunan kuno yang di desain lebih modern dan sesuai dengan isinya semi modern. Ziko mengobrol dengan papanya mereka membahas masalah pekerjaan. " Ma di mana Zelin." Zira belum melihat Zelin sama sekali. " Owh Zelin lagi main dengan temannya sebentar lagi juga balik." Ucap Nyonya Amel. Pelayan datang memberitahukan kalo makanan sudah siap di hidangkan. Keluarga Raharsya menuju meja makan. Makan telah tersaji di meja makan. Semua makanan Belanda di hidangkan yaitu hutspot sup ercis dan makan lezat lainnya. Mereka menikmati makanan tersebut. Setelah selesai menikmati makanannya pelayan mengantarkan Zira ke kamar Ziko. Kamar yang berada di lantai 2. Kamar itu lumayan besar dan ada tungku api di pojok kamar. Pelayan tadi menyalakan tungku api karena sekarang adalah musim dingin. Ada suara ketukan dari pintu. Zira membuka pintu kamar ternyata Zelin ada di depannya. " Kakak ipar." Ucap Zelin sambil mencium Zira. Zelin menarik tangan Zira mengajaknya untuk duduk di atas sofa. " Kak bagaimana apakah sudah ada tanda-tanda?" Ucap Zelin penasaran. Zira bingung dengan pertanyaan Zelin. " Apa maksud kamu?" Ucap Zira cepat. " Ya apa kakak sudah ada tanda-tanda." Ucap Zelin sambil mengayunkan tangannya seperti menggendong bayi. Zira menoyor kepala Zelin pelan. Zelin mengelus kepalanya. " Apa tIdak ada pertanyaan yang lain, kamu bukan tanya kabar kakak ipar malah tanya bayi." Ucap Zira cepat sambil tertawa. " Hehehe kakak aku kan pengen cepat punya keponakan yang lucu dan menggemaskan." Zelin membayang sedang mempunyai keponakan. " Tunggu saja tanggal launching nya." Ucap Zira sambil tersenyum tipis. " Film kali pakai launching segala." Ucap Zelin sebel. Zira mencubit pipi Zelin. Zelin wajahnya hampir mirip dengan Ziko, cuma bedanya di genre kalo Ziko genre actionnya sedangkan Zelin genre romantisnya. Mereka ngobrol panjang lebar dari destinasi di Belanda sampai toko yang menjual menjual pernak pernik kaum hawa pun mereka obrolkan. " Kakak lama enggak disini." Ucap Zelin sambil menyandarkan kepalanya di bahu Zira. " Enggak tau, kakak cuma ngikut aja." Ucap Zira sambil mengelus pipi Zelin. Walaupun Zelin adik iparnya tapi mereka sudah seperti saudara kandung. Zelin tanpa sungkan mau curhat mengenai cowok yang di incarnya. Pintu kamar di buka ada Ziko di depan pintu yang sedang memegang handle pintu. " Ngapain kamu bersandar di bahu kakakmu?" Ucap Ziko cepat. " Cih kakak ini, cuma pinjam bahu kakak ipar aja enggak boleh, dasar pelit." Gerutu Zelin sambil memeluk Zira dari samping. " Eh awas tangan kamu, kakak kamu alergi dengan pelukan." Ucap Ziko cepat. Sebenarnya itu alasan Ziko agar Zelin cepat keluar dari kamar mereka. Zelin seperti nyamuk yang mencari tempat curhat. " Aku mau bobok sama kakak ipar disini." Ucap Zelin manja. Zira tersenyum melihat ucapan Zelin yang manja. Ziko yang sedang berkacak pinggang langsung melotot ke arah Zelin. " Enggak boleh enak aja minta tidur di sini, tidur di kamarmu sendiri." Ucap Ziko cepat. Zelin merayu Zira agar di ijinkan tidur dengannya. Zelin masih ingin curhat dengan Zira. " Kak aku bobok sini ya?" Ucap Zelin merayu Zira. Zira menganggukkan kepalanya tapi Ziko malah melotot ke arah Zira. " Yes bobok sama kakak ipar yes." Ucap Zelin girang sambil bertepuk tangan. " Terus kakak tidur di mana?" Ucap Ziko cepat. " Kakak tidur di kamar tamu gih." Ucap Zelin cepat. Ziko dan Zelin bertengkar seperti anak kecil. Mereka berebut untuk tidur sama Zira. Zira yang mendengar pertengkaran mereka merasa pusing. " Diaaaaam." Teriak Zira. Zelin dan Ziko melihat ke arah Zira. Zelin terpesona melihat Zira berteriak. " Kak Ziko, kakak ipar kalo marah keren ya seperti apa gitu." Ucap Zelin sedang membayangkan. " Pasukan Avengers." Ucap Ziko cepat. " Ha betul sekali." Ucap Zelin terpesona dengan kharisma dari Zira. Ziko dan Zelin berhenti bertengkar mereka melihat kearah Zira. " Kamu tidur di sebelah kanan dan kamu suamiku tidur di sebelah kiri." Ucap Zira cepat. " Terus kakak tidur mana." Ucap Zelin cepat. " Kakak di tengah, dan ingat jangan ada yang berisik dan jangan ada yang minta peluk atau memeluk." Ucap Zira cepat. Ziko enggak setuju dengan keputusan Zira. Apalagi Zira mengatakan tidak boleh peluk atau memeluk. Padahal Ziko selalu memeluk Zira ketika tidur. " Aku enggak setuju." Ucap Ziko cepat. " Jangan di bantah ikuti saja peraturan ini." Ucap Zira tegas. Zelin tidak banyak komentar dia suka kalo melihat Zira berbicara setegas itu. Dia masih membayangkan bagaimana hebatnya Zira ketika membenamkan wajah Sisil ke meja. " Apa hukuman kalo kami melanggar peraturan." Ucap Zelin cepat sambil menumpang dagu dengan lututnya. Zira sedang memikirkan hukuman untuk yang melanggar peraturannya. " Yang melanggar peraturan akan di tendang dari kasur dan tidur di lantai." Ucap Zira cepat. Zira sengaja membuat peraturan seperti itu karena dia tau pasti Ziko akan memeluknya. " Ok setuju." Ucap Zelin cepat. Mau tidak mau Ziko menyetujui peraturan aneh itu. Zira tidur di tengah Ziko di sebelah kiri Zira dan Zelin tidur di sebelah kanan. Mereka tidak ada yang mengobrol satu sama lain. Ziko yang merasa frustasi dengan ubi kayunya karena biasanya jam segini pasti sudah masuk dalam gua. Tapi entah kenapa hari ini Ziko seperti kehilangan jejak untuk menyusuri gua Zira. Zira tersenyum tipis " Untuk hari ini aku aman." " Like komen dan vote yang banyak ya terimakasih." Chapter 134 episode 134 Mereka tidur berdesakkan, masing-masing menjaga tempatnya agar tidak tersingkir. Zira yang berada di tengah merasa sangat tidak nyaman, mau ke samping ada ubi kayu mau ke kanan ada si kunyuk. Jadi dia tidur lurus menyilangkan kedua tangannya seperti seorang vampir ketika di dalam peti. Ziko juga jenuh dengan posisi tidur seperti itu karena badannya yang cukup besar jadi dia hanya bisa tidur miring menghadap ke arah Zira. Ziko tidak bisa banyak bergerak karena kalo banyak bergerak Ziko bisa jatuh ke lantai. Yang aman dalam posisi tidur nya adalah Zelin dia tidur seperti kucing dengan menekuk kedua kakinya jadi dia mempunyai space yang cukup banyak. Malam semakin larut suara lolongan anjing saling bersahutan memecah kesunyian malam. Mereka terlelap dengan posisi tidurnya masing-masing. Setelah beberapa jam tidur sang mentari kembali menunjukkan sinarnya yang sangat indah. Pancaran sinarnya menembus masuk melalui celah-celah kaca jendela. Zira membuka matanya perlahan. Dia merangkak untuk turun dari kasur karena sebelah kanan dan kirinya masih ada si ubi kayu dan si kunyuk. Zira tidak membangunkan dua kakak adik itu, dia lebih memilih membersihkan badannya. Setelah melakukan rutinitas di kamar mandi Zira pergi ke luar rumah untuk menghirup udara segar. Ziko terbangun dari tidurnya karena dia merasa ada yang ganjal dengan kepalanya. Begitu Ziko membuka mata dia melihat tangan Zelin sudah berada di atas kepalanya. Ziko sontak kaget melihat adiknya yang berada di sebelahnya. Ziko memukul Zelin dengan keras. Zelin kaget dan langsung duduk sambil menguap matanya masih belum terbuka sempurna. " Kenapa aku di pukul." Ucap Zelin dengan suara serak bangun tidur. " Mana kakakmu." Ucap Ziko cepat. Zelin bukannya bangun dia malah tidur lagi. Ziko menarik tangan Zelin. " Kak aku ngantuk tadi malam aku enggak bisa tidur." Ucap Zelin masih dengan menutup matanya. Ziko menoyor kepala adiknya. " Ini semua karena ulahmu." Ucap Ziko cepat sambil pergi keluar kamar. Ziko mencari Zira di dalam rumah tapi dia tidak menemukan Zira. Nyonya Amel keluar dari kamarnya, dia melihat Ziko seperti sedang kebingungan. " Ada apa Iko." Ucap Nyonya Amel. " Mama lihat Zira enggak?" Panik. " Mungkin dia sedang ke taman." Ucap Nyonya Amel cepat. Ziko pergi keluar rumah dan mencari Zira keliling taman. Ziko mendapati Zira sedang duduk di kursi taman. Ziko langsung memeluk Zira dari belakang. " Aku tau kamu ngambek karena tadi malam tidak aku kasih jatah." Ucap Ziko sambil mengecup kepala Zira. " Cih siapa lagi yang ngambek." Ziko memutari kursi dan duduk di sebelah Zira. Dia melihat arah pandangan Zira. " Apa yang kamu lihat?" Ucap Ziko penasaran. " Aku melihat pemandangan yang begitu indah akankah hubungan kita seindah pemandangan itu." Ucap Zira pelan Ziko memeluk Zira sambil meletakkan kepala Zira dalam dadanya. Zira masih merasa ragu dengan hubungan mereka. Mereka sama -sama belum ada yang mengutarakan perasaannya masing-masing. Zira masih berfikir sifat posesifnya Ziko hanya sebagai tanggung jawabnya sebagai suami. Sedangkan Zira masih belum yakin dengan perasaannya. Ziko tidak menjawab ucapan Zira, dia sendiri tidak mau berkomitmen terlalu dalam. Ziko hanya berpikir realistis yaitu jalani hubungan yang sudah terjalin dan untuk kedepannya biarlah itu menjadi rahasia author ???? serius amat bacanya??. Ziko mengajak Zira untuk bersiap diri untuk sarapan. Setelah sarapan Ziko pamit kepada orangtuanya untuk mengerjakan urusannya sejenak. Tidak lupa Ziko mengecup kening Zira. Nyonya Amel dan Tuan besar merasa senang melihat hubungan anaknya sudah membaik. " Kak apa kegiatan kakak ini hari." Ucap Zelin menyapa Zira yang masih berdiri di depan pintu. " Nggak ada." Ucap Zira cepat. " Mau enggak ikut aku jalan-jalan." Zelin menawarkan diri jadi tour guide. " Ok." Ucap Zira cepat. Mereka pergi dengan mengendarai mobil Zelin. Zelin membawa Zira mengelilingi tempat wisata di Belanda. Tujuan mereka yang pertama adalah desa kinderdijk desa yang mempunyai daya tarik yaitu sebuah kincir angin tradisional berukuran raksasa. Karena di desa ini kincir anginnya sangat banyak desa ini sering di juluki desa 1000 kincir. Zira dan Zelin mengabadikan foto mereka di dalam ponsel. Setelah puas mengelilingi desa 1000 kincer Zelin melajukan mobilnya ke kanal Amsterdam. Kanal ini berada di kota Amsterdam jadi tempatnya tidak begitu jauh dari lokasi kerja Ziko. " Kak mari kita mengelilingi kanal dengan kapal agar kakak bisa menikmati kota Amsterdam. Zira setuju dengan usulan Zelin. Mereka menyewa kapal untuk membawa mereka mengelilingi kanal. Kanal itu mempunyai panjang 100 km jadi pas kiranya Zira dan Zelin menikmati keindahan kota Amsterdam dengan naik kapal. Pemandangan kota Amsterdam sangat indah. Zira melihat ada sosok Ziko sedang berbicara dengan seorang cewek. Zira memperhatikan mereka dari kapal. " Zelin apa itu kakak kamu?" Ucap Zira penasaran. Zelin mencoba mencari arah pandangan Zira. Zelin menatap cukup jauh dia harus meyakinkan kalo pandangan kakak iparnya tidak salah. " Iya kak itu kak Ziko." Ucap Zelin cepat. " Ziko kamu Ziko kan?" Ucap seorang wanita menyapa. Ziko masih mengingat jelas perempuan di depannya. " Kamu Vita." Ucap Ziko antusias. Kevin masih mengingat siapa gerangan perempuan yang ada didepan mereka. Vita langsung memeluk Ziko hangat begitupun dengan Ziko, dia kembali memeluk Vita hangat. Kemesraan mereka di saksikan Zira dari jauh. " Apa kamu sibuk." Ucap Vita cepat. " Oh tidak aku baru saja selesai." Ucap Ziko cepat. Vita langsung menggandeng tangan Ziko. Dia mengajak Ziko untuk duduk di sebuah cafe di dekat situ. Kevin mengikuti mereka dari belakang. Kevin memilih kursi yang beda dari mereka berdua tapi dia tetap bisa mendengar ucapan Ziko dan Vita. " Apa kamu tinggal di sini?" Ucap Ziko cepat. " Ya aku tinggal di sini." Ucap Vita cepat sambil memegang tangan Ziko. Ziko tidak menepis tangan Vita. " Berapa lama kamu di sini." Ucap Vita langsung. " Setelah urusanku selesai aku akan balik ke tanah air." Ucap Ziko sambil menatap Vita lembut. Vita memalingkan wajahnya mendapat tatapan dari Ziko. " Bagaimana hubunganmu dengannya." Vita merasa kaget dengan pertanyaan Ziko. Dia merasa malu harus mengatakan tentang hubungannya yang kandas di tengah jalan. " Aku sudah pisah." Ucap Vita gugup. Ziko kaget mendengar Vita telah berpisah dengan suaminya. " Maafkan aku, aku tidak berada di sisimu pada saat kamu terpuruk." Ucap Ziko menyemangati Vita sambil mengelus punggung tangan Vita. Kevin baru mengingat siapa perempuan yang bernama Vita. Perempuan bernama Vita pernah menjadi bagian dalam hidup Ziko. " Like komen dan vote yang banyak ya terimakasih." Chapter 135 episode 135 " Apa kegiatan kamu sekarang?" Ucap Ziko sambil menatap Vita lembut. " Aku kembali menjadi penulis." Ucap Vita pelan sambil menundukkan kepalanya. Vita menunjukkan raut wajah sedih. Ziko berusaha untuk menghibur Vita. " Kamu harus bangkit jangan jadi seperti ini, aku tau pasti berat untukmu memulai hidup baru tanpa ada seorang pendamping." Ziko membangkitkan semangat Vita kembali. Vita merasakan ada energi yang kembali dalam dirinya. Vita sudah lima tahun berumah tangga dengan pria pilihan hatinya. Pasti berat baginya untuk menata kembali perasaannya. Ziko pernah menjadi teman sahabat bahkan kekasihnya dahulu. " Zelin apa masih lama kapal ini berhenti." Ucap Zira kesal. " Kenapa kak? apa kakak sudah bosan di kapal ini." Ucap Zelin sambil melihat Zira yang sedang memandang jauh entah kemana. " Bukan bosan tapi kakak serasa ingin memuntahkan semua yang ada di dalam sini" Ucap Zira sambil menunjuk ke bagian hatinya. Zelin merasa khawatir dan bingung dengan ekspresi Zira, karena di awal mereka sangat bahagia tapi tiba-tiba keceriaan Zira hilang dalam sekejap. Kapal telah berhenti dan bersandar di tempatnya. Zelin dan Zira pergi meninggalkan kanal. " Kakak mau kemana lagi." Ucap Zelin bertanya. " Terserah bawa saja ketempat yang tidak terlalu banyak orang pada saat jam-jam segini." Ucap Zira kesal. Zira merasa kesal dengan Ziko. Dia tidak membayangkan suaminya bisa berpelukan dan berpegang tangan dengan seorang wanita yang belum di ketahui Zira identitasnya. Zelin membawa Zira pergi ke Rijkmuseum. Rijkmuseum merupakan museum seni dan sejarah terbesar dan bergengsi di Belanda. Di dalamnya terdapat berbagai macam koleksi lukisan dari para maestro terkenal Belanda dan berbagai negara lain di dunia. Selain menampilkan koleksi berbagai macam lukisan di museum ini juga ada koleksi buku-buku tua serta koleksi fotografi klasik. Zelin sengaja membawa Zira kesini karena Zira merupakan seorang desainer dan suka melukis walaupun yang di lukis Zira sebuah gaun tapi masih mempunyai kesamaan di bidang melukis. Zira sangat senang di bawa ke museum itu. Museum itu banyak memberi inspirasi baginya. Mereka mengelilingi museum sambil berbicara satu sama lain. " Kakak kenapa?" Ucap Zelin penasaran. Zira tidak menjawab Zelin. Menurutnya Zelin masih terlalu kecil untuk di jadikan sebagai teman curhatnya. Zelin merasa kesal karena Zira tidak mau cerita. " Kita balik yuk." Ucap Zira cepat. Mereka keluar dari museum itu dan pergi ke parkiran. Zelin mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang kurang lebih 45 menit untuk sampai ke rumah. Mereka sampai di rumah sudah agak petang dan Ziko sudah berada di rumah dari sore hari. Ziko menatap Zelin dengan tajam karena dia telah membawa Zira sampai tidak ingat waktu. " Kenapa baru pulang jam segini." Ucap Ziko kesal. " Aih baru juga jam segini takut banget kalo istrinya enggak pulang. Zira tidak menghiraukan perdebatan kakak beradik itu. Dia sudah capek dan malas melihat Ziko. Lebih baik dia menyingkir dari perdebatan yang membosankan itu. Ziko memperhatikan perilaku Zira. Zira tidak mau menatapnya sama sekali. Ziko mengikuti Zira ke kamar. " Tadi kemana aja?" Ucap Ziko basa basi. Zira masih diam dan tidak mengacuhkan Ziko sama sekali. Dia lebih memilih berendam di bathtub. Ziko ingin masuk tapi pintu sudah di tutup dan kunci Zira. Ziko menunggu di luar sampai setengah jam tapi Zira belum juga keluar. Ziko kembali mengetuk pintu tapi tidak ada sahutan dari Zira. Setelah satu jam Zira baru keluar, dia mengenakan kimono handuk. Ziko merasa tertarik melihat Zira seperti itu. Dia memeluk Zira dari belakang tapi Zira langsung menepis tangan Ziko. Ziko memeluk Zira kembali dan lagi-lagi tangannya Ziko di tepis Zira. " Kamu kenapa." Ucap Ziko sewot. " Nggak usah kamu peluk aku." Ucap Zira marah. " Apa lagi ini." Ucap Ziko kesal. " Apa lagi apa lagi, apa kamu tau perbuatan kamu di belakangku apa kamu pernah menghargai perasaanku, apa kamu pernah menjaga hubungan kita menjadi lebih baik." Ucap Zira kesal sambil menuding Ziko. Ziko masih belum mengerti dengan jalan pikiran Zira yang pulang-pulang langsung marah kepadanya. " Jelaskan padaku apa yang membuat kamu marah kepadaku." Ucap Ziko pelan merayu Zira. " Enggak ada yang perlu di jelaskan hubungan kita memang tidak di dasari dengan cinta dan aku juga tidak harus egois agar kamu mencintaiku." Ucap Zira cepat. Ziko terdiam ucapan Zira seperti busur panah yang mengenai jantungnya. Apa yang di katakan Zira semua benar hubungan mereka tidak di dasari cinta. Dan untuk perasaan Ziko belum berani mengutarakan perasaannya kepada Zira. Ziko tidak mau memberi harapan kepada Zira untuk mencintainya, dia khawatir akan mengecewakan Zira nantinya. " Maafkan aku jika telah mengecewakanmu, tapi aku akan memperbaiki keadaan ini menjadi lebih baik." Ucap Ziko pelan sambil mengelus rambut Zira. Zira menepis tangan Ziko. " Baiklah waktu kita masih ada beberapa bulan lagi, seperti janji kamu di awal jika salah satu dari kita tidak ada yang saling mencintai hubungan kita harus berakhir." Ucap Zira cepat. Zira sebenarnya berat untuk mengatakan hal itu. Tapi dia tidak mau terjebak dalam urusan cinta. Di pikiran Zira lebih baik mencintai dalam diam dari pada harus di ungkapkan. " Aku tau hubungan ini membuat kita terjebak, dan aku akan berusaha untuk mengetahui isi hatiku." Ucap Ziko pelan. Dari lubuk hatinya paling dalam ada rasa kesedihan yang mendera. Semua terucap begitu saja dari Ziko. Zira merasa sedih dengan kejujuran Ziko terhadap dirinya. Perasaan itu belum tumbuh tapi Zira berharap perasaan itu akan tumbuh dengan sendirinya tanpa ada paksakan dari siapa pun. " Baiklah kita akan berusaha menata hati kita." Ucap Zira cepat. " Apakah kamu tidak marah lagi." Ucap Ziko pelan. Zira masih kecewa dengan yang tadi di lihatnya. Tapi Zira tidak harus egois memaksakan Ziko untuk mencintainya. Biarlah cinta itu tumbuh dengan sendirinya agar badai yang menerjang bisa mereka singkirkan dengan mudah. Cinta merupakan sebuah kata yang sangat sulit di ungkapkan tapi jika tidak ada cinta hidup serasa hampa. Seperti syair lagu Hampa terasa hidupku tanpa dirimu. " Like komen dan vote yang banyak ya terimakasih." Chapter 136 episode 136 Keesokan harinya. Keluarga Raharsya sudah berkumpul di depan meja makan untuk menikmati sarapan pagi. Mereka semua akan pergi menikmati tempat wisata di Belanda. Kevin mengendarai mobil yang di dalamnya ada Ziko dan Zira. Tujuan mereka adalah taman bunga keukenhof. Yaitu taman bunga yang mempunyai beraneka ragam bunga warna warni. Di sini setidaknya ada 7 juta bibit tanaman bunga yang ada di seluruh dunia. Mereka semua berfoto ria mengabadikan momen indah itu. Setelah dari taman bunga keukenhof Kevin mengendarai mobil menuju De Dam atau yang terkenal dengan sebutan Dam square atau alun-alun yang merupakan tempat hangout nya orang Belanda. Lokasi ini sangat ramai di kunjungi warga lokal dan turis mancanegara lainnya. Keunikan lainnya adalah karena di lokasi ini terdapat ribuan burung merpati. Zira dan Zelin memberikan makan kepada ribuan burung merpati. Burung merpati terbang bebas kesana kemari. Ziko dan Kevin duduk di pojok memperhatikan mereka dari jauh. Nyonya Amel dan Tuan besar pergi membeli makanan untuk mereka semua. Nyonya Amel sedang memesan makanan dari belakang bahunya di pegang oleh seseorang. Nyonya Amel melihat ke belakang dia terkejut melihat ada sosok wanita yang sangat di kenalnya. Nyonya Amel memeluk wanita itu begitupun Tuan besar juga memeluk wanita itu. " Apa kabar kamu sayang." Ucap Nyonya Amel antusias. " Saya baik Tante." Ucap Vita tersenyum. Makanan pesanan Nyonya Amel telah selesai di buat. Nyonya Amel membayarnya ke kasir. Vita melihat begitu banyak makanan yang di pesan Nyonya Amel. " Banyak banget makanannya Tante." Ucap Vita pelan. " Oh iya Tante hampir lupa Ziko datang ke sini, ayo ikut sama Tante." Ucap Nyonya Amel cepat. Tapi Nyonya Amel berhenti sejenak dia melihat Vita hanya seorang diri. Nyonya Amel memberanikan diri untuk bertanya. " Apakah kamu sendirian saja ke sini." Ucap Nyonya Amel pelan. Vita menganggukkan kepalanya. " Suami kamu tidak ikut." Nyonya Amel bertanya lagi penasaran. " Tidak Tante saya sudah lama berpisah." Ucap Vita pelan. Nyonya Amel sangat terkejut dia merasa kasihan melihat Vita seperti itu. Nyonya Amel memeluk Vita seperti anak sendiri. " Mari ikut Tante biar lebih rame." Ucap Nyonya Amel cepat sambil menggandeng tangan Vita. Nyonya Amel membawa Vita bergabung bersama mereka. Ziko menyapa Vita begitupun dengan Vita mereka terlihat sangat akrab. Dari jauh Zira melihat kearah mereka Zira mendatangi mereka yang sedang asik mengobrol. " Zira kenalkan ini Vita." Ucap Ziko cepat. Vita mengulurkan tangannya ke Zira.Zira pun membalas mengulurkan tangannya. " Zira." Ucap Zira pelan. Zira mencoba mengingat siapa perempuan yang berdiri di hadapannya. Dia baru tersadar kalo perempuan ini yang di lihatnya ketika di kanal. " Maaf kamu siapa? Apakah kamu sepupu dari Ziko." Ucap Vita penasaran. Zira kesal karena Ziko tidak memperkenalkan dirinya sebagai istri sahnya. " Saya pembantunya." Ucap Zira cepat. Ziko melotot mendengar Zira berkata seperti itu. " Bukan dia bukan pembantu tapi dia." Ucapan Ziko di potong Zira. " Iya saya sekertarisnya tepatnya seperti itu." Ucap Zira cepat. Zira sengaja tidak menyebutkan perihal hubungannya dengan Ziko. Dia mau mencari informasi tentang Vita. Dan dia sedang menguji kesetiaan Ziko. Apakah Ziko akan membuat hubungan mereka lebih baik atau malah merusak hubungan itu. " Halo kak Vita." Ucap Zelin ramah. Zelin terlihat akrab dengan Vita. Dan Zira akan mencari informasi itu dari Zelin. " Zelin ayo temani kakak ke toilet." Ucap Zira cepat sambil menggandeng tangan Zelin. Ziko melihat Zira pergi dengan Zelin. Ziko tidak mengerti jalan pikiran Zira untuk menutupi status hubungannya. Di toilet. " Siapa tadi?" Ucap Zira sambil melihat ke kaca toilet. " Kak Vita." Ucap Zelin cuek. " Sepertinya kamu cukup akrab dengannya." " Iya lah kak Vita kan teman kecil kak Ziko mereka sudah bersahabat dari kecil." Ucap Zelin lagi sambil memperbaiki lipstik di depan kaca toilet. " Owh sahabat kecil jadi aku enggak harus khawatir." " Bagaimana persahabatan kakak kamu dengan Vita." Penasaran. " Mereka bersahabat dari kecil, terus satu sekolah bareng sampai pada saat kelas satu menengah atas kak Ziko menyatakan cintanya kepada Kak Vita." Zira membulatkan matanya apa yang dia dengar seperti bom waktu yang sebentar lagi akan meledak. " Apa mereka berpacaran hanya sampai lulus sekolah." Zelin mengangguk dan menarik tangan Zira agar keluar dari toilet. " Apa lagi." Zira penasaran. " Tapi setelah lulus sekolah hubungan mereka putus karena kak Ziko mau melanjutkan kuliah di luar negeri." " Apa alasan mereka putus." " Ya enggak tau, kalo enggak salah dengar Kak Vita memutuskan untuk menikah muda dengan lelaki pilihannya." Ucap Zelin lagi. Zira masih penasaran dia berusaha untuk mencari informasi lagi mengenai Vita. Mereka berjalan menuju kearah Vita dan Ziko berdiri. " Mereka sangat cocok ya." Ucap Zira pelan dia sengaja ingin mengetahui reaksi dari Zelin. " Lebih cocok kakak lah." Ucap Zelin cepat. Zira merasa senang dengan kejujuran Zelin. Mereka kembali bergabung. Ziko masih asik mengobrol dengan Vita. Teman kecil yang pernah mengisi hatinya. Sesekali Zira melirik keakraban mereka, Zira merasa cemburu dengan hadirnya Vita di tengah-tengah mereka. Vita bisa sangat akrab dengan keluarga Raharsya. Ingin rasanya Zira pergi dari hadapan mereka. Kevin memperhatikan tingkah Zira yang tidak secerah mentari. Keceriaan Zira hilang ketika hadirnya Vita. Kevin merasa kasihan dengan Zira. " Nona apa anda mau jalan-jalan kesana?" Ucap Kevin menawarkan diri. Zira langsung mengangguk dia ingin pergi sejenak dari menenangkan dirinya. Ziko yang biasanya selalu posesif entah kenapa hari ini dia melepas Zira dengan tenang. Kevin menemani Zira untuk mengelilingi alun alun. Sepanjang perjalanan mereka masih diam. Zira lebih banyak tertunduk daripada menatap ke depan. Karena di pikirannya menatap ke depan hal yang sulit baginya. Dia belum tau dengan masa depan rumah tangganya. " Bagaimana jika kami pisah." Ucap Zira cepat memecah kesunyian yang mereka ciptakan. " Apa maksud anda nona?" Ucap Kevin tidak mengerti jalan pikiran Zira. " Kalo seandainya kami berpisah akankah hubungan kami bisa baik seperti mereka (Vita dan Ziko). Kevin tau bagaimana perasaan Zira. Zira merasa khawatir dengan hubungan pernikahannya. " Anda jangan berpikir seperti itu. Saya yakin hubungan anda akan baik-baik saja." Kevin memberikan semangat untuk Zira. Zira mendesah dia memandang jauh ke dalam kerumunan orang-orang. " Aku tidak mengenal arti cinta tapi cinta datang menghampiri ku. Cinta kenapa engkau hadir ke dalam diriku setelah aku tau cintanya sangat sulit untuk ku dapatkan." Ucap Zira pelan. " Ketika cinta datang sulit untuk di bendung tapi dengan kekuatan cinta sebuah kemungkinan bisa di dapat." Ucap Kevin memberikan semangat kepada Zira. Zira menepuk bahu Kevin sebagai tanda terima kasih atas perhatiannya. " Like komen dan vote yang banyak ya terimakasih." Chapter 137 episode 137 Mereka semua akan kembali ke rumah setelah seharian bermain di Dam Square. Nyonya Amel mengundang Vita untuk makan malam bersama di kediaman mereka. Vita mengendarai mobilnya sendiri dan dia berniat mengajak Ziko untuk menyetir mobilnya. Tapi Zira langsung menawarkan diri terlebih dahulu. Tanpa pikir panjang Zira langsung masuk ke dalam mobil Vita. Kevin tersenyum melihat semangat Zira sudah kembali normal. Ziko tidak banyak berkomentar dia mengijinkan Zira untuk satu mobil dengan Vita. Selama perjalanan mereka tidak saling ngobrol. Zira tidak berniat untuk basa-basi sama Vita. Vita melirik Zira sekilas. Dia memulai percakapan mereka. " Sudah berapa lama kamu jadi sekertaris Ziko." Ucap Vita sambil tetap menyetir. " Kenapa? Apa anda ingin mencari informasi tentang Ziko melalui saya." Ucap Zira ketus. Vita tersenyum mendengar ucapan Zira. " Kenapa aku harus mencari informasi mengenai Ziko dari kamu, aku sudah kenal lama sebelum kamu bekerja dengannya." Ucap Vita sambil tersenyum tipis. Zira memandang keluar kaca jendela. Pemandangan di luar lebih indah daripada mendengar ucapan Vita. Tapi bukan Zira namanya kalo tidak bisa membuat lawannya ketar-ketir. " Mungkin dulu anda sudah mengetahui tentang Ziko. Tapi bagaimana dengan Ziko yang sekarang. Apakah anda juga tau?" Ucap Zira sambil menatap ke depan. Vita menoleh sekilas kearah Zira. Ucapan Zira ada benarnya. Untuk Ziko yang dulu dia mengenalnya dan untuk Ziko yang sekarang apakah masih sama dengan yang dulu. " Apa maksud kamu?" Ucap Vita penasaran. " Apakah anda pernah memikirkan kalo dia sudah menikah atau sudah punya anak." Ucap Zira cepat Vita membulatkan matanya. Vita merasa terkejut omongan Zira seperti petir di siang bolong yang menyambar hatinya. " Apakah yang kamu ucapkan benar?" Ucap Vita penasaran. Zira tersenyum tipis. " Anda bisa menanyakan langsung kepadanya." Ucap Zira sambil tersenyum. Zira sengaja melakukannya dia ingin Ziko mengatakan sendiri tentang hubungan mereka. Zira ingin melihat pengakuan dan kejujuran dari Ziko. Vita berperang dengan perasaannya. Dia sangat senang ketika bertemu kembali dengan Ziko. Tapi dia merasa ada kekhawatiran dalam dirinya. " Berapa lama kamu bekerja dengannya." Vita kembali mengajukan pertanyaannya. " Apa perlu saya menjawab pertanyaan anda." Ucap Zira ketus. " Ya kamu harus menjawabku." Ucap Vita tegas. Zira tidak menjawab dia memandang keluar jendela. " Kalo kamu tau hubungan kami sebuah hubungan suami istri pasti kamu akan kecewa. Tapi kalo kamu mengetahui kontrak nikahku mungkin hanya satu tahun pasti kamu akan bersorak gembira. Lebih baik aku diam biarkan itu menjadi misteri di dalam benaknya." Vita menaruh curiga dengan Zira. Tapi dia tidak berniat berkata-kata lagi. Di pikirannya lebih baik dia menanyakan sendiri kepada Ziko. Mobil telah sampai di Kediaman Keluarga Raharsya. Vita dan Zira keluar dari mobil. Ziko telah menunggu di depan pintu. Ziko tersenyum kepada mereka berdua. Tapi Zira memasang wajah jutek kepada Ziko. Hanya Vita yang tersenyum manis kepada Ziko. Zira memilih meninggalkan Ziko. Ziko memperhatikan tingkah Zira yang aneh. Vita duduk di ruang keluarga, Dia menarik tangan Ziko agar menemaninya di ruangan itu. " Sebentar aku mau ke atas dulu." Ucap Ziko cepat sambil meninggalkan Vita sendiri di ruang keluarga. Ziko berlari ke kamarnya, dia mencari keberadaan Zira. Zira sedang duduk di sofa sambil memijat kakinya. Ziko menghampirinya. " Kenapa kamu tidak tersenyum kepadaku." Ucap Ziko penasaran. " Owh tadi kamu tersenyum denganku ya? Aku kira kamu memberikan senyum terbaik kepada mantanmu." Ucap Zira ketus. Ziko kaget mendengar Zira sudah mengetahui tentang Vita sebagai mantannya. " Dari mana kamu tau mengenai dia sebagai mantanku." Ucap Ziko penasaran. Zira mendesah dengan keras. " Kenapa? Apa kamu kaget?" Ucap Zira ketus. Ziko tidak bisa berkata-kata lagi. Memang dia menutupi hubungan masa lalunya dengan Vita agar Zira tidak cemburu. " Bagaimana rasanya seorang mantan di perlakukan seperti seorang istri." Ucap Zira ketus sambil meninggalkan Ziko. Zira pergi ke kamar mandi meninggalkan Ziko yang masih bengong dengan ucapan Zira terakhir yaitu mantan di perlakukan seperti seorang istri. Ziko belum paham dengan arti dari kalimat Zira. Ziko mengetuk pintu kamar mandi. Zira tidak memperdulikan Ziko. Zira masih merenung dengan nasibnya beberapa bulan lagi. Setelah selesai Zira keluar dari kamar mandi dan Ziko masih setia menunggu di depan pintu. " Apa maksud kalimat kamu yang terakhir." Ucap Ziko penasaran. Zira memilih pergi meninggalkan kamar daripada harus menjawab pertanyaan Ziko. Di meja makan sudah kumpul semua keluarga dan Vita juga sudah duduk dengan manis di sana. Zira turun dari lantai dua dan di ikuti Ziko dari belakangnya. Ziko duduk di kursi biasanya Zira ingin duduk di sebelah Ziko. Tapi Vita sudah terlebih dahulu duduk di kursi Zira. Keluarga Raharsya melihat kejadian itu semua. Nyonya Amel menegur Vita. " Vita sayang kenapa kamu duduk di situ, itu tempat duduk Zira." Ucap Nyonya Amel cepat. Vita masih bingung di dalam pikirannya kenapa seorang sekertaris harus duduk di sebelah bosnya. Setelah mendapat teguran dari Nyonya Amel, akhirnya Vita pindah dari tempat duduk Zira kembali ke tempat duduknya semula yaitu di sebelah Zelin. Mereka menikmati makan malam dengan cukup hening. Hanya ada suara gesekan dari sendok dan garpu yang terdengar. Setelah selesai makan Keluarga kumpul di ruang keluarga untuk mengobrol satu sama lain. Tapi Zira lebih memilih untuk pergi ke kamar. " Zira sayang kamu mau kemana?" Ucap Nyonya Amel cepat. " Mau ke kamar ma, aku capek seharian berjalan." Ucap Zira cepat. Vita mendengar ucapan Zira menyebutkan kata mama, dia jadi tambah bingung dan curiga. Dia mengajak Ziko untuk mengobrol di teras belakang. " Ziko apakah kamu sudah menikah." Ucap Vita cepat. " Ya aku sudah menikah." Ucap Ziko cepat. Vita merasa kecewa mendengar kejujuran dari Ziko. Tapi Vita mencoba menutupinya kekecewaan dengan mengajukan pertanyaan lagi. " Apakah hubungan kamu baik-baik saja?" Ucap Vita penasaran. " Ya hubungan kami baik-baik saja." Vita kembali kecewa dia ingin Ziko mengucapkan kalo hubungannya tidak dalam keadaan baik-baik saja. " Di mana istrimu." Ucap Vita penasaran. " Istriku ada di kamar." Vita mencoba mengambil kesimpulan sendiri. " Apa Zira sekertaris itu istrimu." Ucap Vita lagi. " Ya." Ucap Ziko cepat. Vita ingin teriak dengan kencang. Dia merasa malu dengan ucapannya selama di mobil. Vita bisa membayangkan bagaimana Zira bisa bersikap sangat dingin dalam menghadapi semua ucapannya. " Like komen dan vote yang banyak ya terimakasih." Chapter 138 episode 138 Walaupun kecewa tapi Vita tetap menerimanya dengan ikhlas. Dia tidak bisa memaksakan kehendaknya untuk memiliki Ziko setelah dia sudah mengetahui kebenarannya. Vita memilih untuk pamit pulang. Ziko tidak menahannya sama sekali walaupun Ziko merasa senang dengan kehadiran teman kecilnya. Ziko kembali kekamar untuk menanyakan hal-hal yang masih mengganjal dalam benaknya. Ziko mendapati Zira sedang bersandar pada head board. Ziko duduk di sebelah Zira dengan manja. Tapi Zira bersikap sangat dingin dia lebih memilih untuk pindah ke sofa. " Kamu kenapa?" Gerutu Ziko. Zira diam tanpa berkata-kata, dia malas untuk memulai perdebatan yang sangat membosankan. Ziko pindah ke sofa dia duduk di dekat Zira sambil memeluk Zira. Zira menepis tangan Ziko. Berkali-kali Ziko meletakkan tangannya di bahu Zira berkali-kali juga Zira melepaskan tangan Ziko. " Apa salahku sampai kamu dingin seperti ini." Ucap Ziko kesal. Zira lebih memilih memainkan ponselnya dari pada harus menjawab pertanyaan Ziko. Ziko kesal dia merampas ponsel Zira dan membantingnya ke lantai. " Kenapa kamu membanting ponselku." Ucap Zira teriak. " Aku yang seharusnya bertanya bukan kamu? Kenapa kamu mengacuhkan ku." Ucap Ziko teriak. Emosi Zira sudah naik ke ubun-ubun. Jiwa berontaknya muncul kembali. " Aku tanya sama kamu apa rasanya kalo kamu melihatku berpelukan dengan seorang pria lain bahkan memegang tangan pria itu." Ucap Zira memberi perumpamaan. " Pasti aku marah besar sama kamu." Ucap Ziko cepat. " Sudah tau jawabannya kan?" Ucap Zira santai sambil memungut ponselnya yang sudah rusak. Ziko menelaah ucapan Zira tentang perumpamaan yang di buat Zira. " Dan apa rasanya ketika bertemu dengan mantanmu?" Ucap Zira ketus. Ziko mencerna ucapan Zira. Dia sudah mengerti permasalahan terjadi karena kehadiran Vita. " Tunggu jelaskan padaku kenapa kamu menyebut kata mantan." Ucap Ziko sambil memegang tangan Zira. Ziko ingin Zira mengatakan penyebab masalahnya. " Apalagi yang harus aku jelaskan, semua sudah aku ucapkan. Tinggal kamu yang menjelaskan padaku." Ucap Zira tegas sambil menepis tangan Ziko Ziko diam seribu bahasa. Dia sedang memikirkan kenapa Zira bisa sangat marah dengan Vita. "Sepulang dari sini aku akan mengurus perceraian kita." Ucap Zira cepat sambil berbaring di kasur. Dia menutup seluruh badan dan kepalanya dengan selimut. Ada rasa getir ketika Zira mengucapkan kata perceraian. Ziko terkejut dengan ucapan Zira yang mengambil keputusan sepihak. " Aku tidak akan menceraikan mu." Ucap Ziko teriak. Ziko menarik selimut Zira dengan kasar. " Terserah aku tidak butuh persetujuan dari mu." Ucap Zira menatap tajam Ziko. Ziko kesal dia memegang kepalanya berkali-kali. " Bukannya kemaren kamu bilang waktu kita masih satu tahun tapi kenapa sekarang kamu bisa berubah seperti ini." Ucap Ziko marah. Zira bangun dari posisi berbaringnya dan duduk di pinggir kasur. " Semakin lama aku menunggu semakin banyak goresan-goresan luka di hatiku." Ucap Zira pelan. Ziko merasa terpukul dengan ucapan Zira. Dia merasa telah banyak membuat luka di hati Zira. Luka itu timbul ketika awal di umumkan pertunangan mereka, Zira yang awalnya bebas mendapatkan sebuah tekanan dari keluarga Raharsya untuk menikah tanpa harus ada pertimbangan sedikitpun dari dirinya. Sekarang luka itu kembali muncul dan semua karena perbuatan Ziko. " Aku tidak akan menceraikan mu, biarlah waktu berjalan dengan sendirinya tanpa harus kita menghentikannya." Ucap Ziko memeluk Zira. Zira hanya tertunduk dia enggan untuk menatap wajah Ziko. " Baiklah seperti waktu yang selalu berputar dan seperti itu juga komitmen yang harus kita buat." Ucap Zira cepat. Ziko berdiri dengan kedua lutut di bawah kasur dan menatap Zira yang berada di pinggir kasur. " Komitmen apa?" Ucap Ziko penasaran sambil memegang tangan Zira. Zira mendesah sebentar sebelum memulai ucapannya. " Sebagai suami istri setiap pasangan harus menghargai pasangannya. Jika salah satu pasangan tidak menghargai pasangannya maka perceraian di lakukan walaupun tanggal jatuh tempo belum sampai satu tahun." Ucap Zira tegas. Ziko mengangguk setuju. Memang menikah harus mempunyai komitmen. Dan komitmen itu di bangun agar pondasi sebuah rumah tangga bisa semakin kuat. " Hargai pasanganmu walaupun dia tidak di sisimu." Ucap Zira menyindir Ziko. " Baik aku setuju." Ucap Ziko cepat. Zira masih kurang yakin dengan komitmen yang di buatnya khususnya untuk Ziko. Ziko masih terlalu labil. Masih teringat jelas di pikirannya ketika Ziko menggandeng tangan Vita dan ketika mereka berdua berpelukan perasaan itu masih sangat perih di hati Zira. Tapi Zira berusaha untuk menata kembali rumah tangga agar bisa kembali sediakala. Walaupun belum ada cinta di hati Ziko, tapi Zira yakin dengan kekuatan cintanya dia akan mendapatkan cinta Ziko. Zira membaringkan tubuhnya di kasur dan Ziko ikut tidur di sebelahnya. Ziko memeluk Zira erat. Tidak ada perdebatan tidak ada perkelahian di atas kasur mereka hanya tidur saling memeluk satu sama lain. Biarlah pelukan itu menjadi pengikat agar ikatan yang terjalin di antara mereka semakin kuat. Sang surya sudah kembali menunjukkan kemilaunya. Cahaya begitu indah untuk di nikmati. Pantulan cahayanya masuk ke dalam celah jendela membangunkan semua manusia di bumi ini. Zira dan Ziko bersiap-siap untuk kembali ke tanah air. Mereka turun menuju meja makan. Semua keluarga sudah berkumpul di meja makan. Mereka menikmati makanan yang telah di siapkan oleh koki terbaik. Ziko dan Zira pamit untuk pulang ke tanah air. Ada rasa berat dari seorang Ibu untuk melepaskan kepergian anaknya. Nyonya Amel memeluk lengan Ziko mengantarkan Ziko sampai depan pintu. Walaupun anaknya sudah tumbuh dewasa seorang Ibu tetap menganggap anaknya seperti anak kecil. Berkali-kali Nyonya Amel mengelus rambut Ziko layaknya seperti anak kecil. Zira merasa senang melihat sikap keibuan yang di tampilkan dari mertuanya. Di luar pintu telah berdiri seorang wanita yang tidak lain adalah Vita. Vita sudah mengetahui tentang kepulangan Ziko ketanah air. Dia ingin memberikan ucapan selamat tinggal untuk Ziko. Vita menyalami Ziko dan memeluk Ziko dengan lembut. Semua keluarga menyaksikan itu tapi karena di luar negeri mungkin hal itu merupakan hal yang lumrah. Tapi tidak dengan Zira, dia sudah mulai bermuka masam. Ziko melirik Zira ketika dia dipeluk Vita. Dengan cepat Ziko melepaskan pelukan Vita karena wajah Zira sudah masam. " Zira aku mau bicara." Ucap Vita pelan. Keluarga mempersilahkan mereka untuk mengobrol lebih jauh dari tempat posisi mereka berdiri. " Maafkan aku telah pernah masuk ke dalam bagian dari hati Ziko. Dan maafkan aku jika aku masih mencintainya." Ucap Vita pelan. Vita berani berkata jujur tentang perasaannya kepada Zira. Zira merasa kaget mendengar ucapan Vita. " Aku tau tidak seharusnya aku mencintai milik orang lain. Tapi izinkan aku tetap mencintainya di dalam hatiku yang paling dalam." Ucap Vita pelan sambil tertunduk. Zira merasa kasihan mendengar pengakuan Vita. Mencintai milik seseorang yang tidak bisa dimiliki sama sakitnya dengan mencintai dalam diam. " Like komen dan vote yang banyak ya jangan lupa Votenya, terimakasih." Chapter 139 episode 139 Mobil yang di kendarai seorang supir telah membawa mereka pergi meninggalkan kediaman keluarga Raharsya menuju Bandara tempat di parkirkan pesawat jet. Ziko Zira dan Kevin sudah naik ke dalam pesawat. Seperti biasa Ziko selalu duduk di pojok. Zira duduk di depan Ziko. Hari ini Zira tidak bisa berselfi ria karena ponselnya sudah pecah jadi dua. Ziko memberikan ponselnya kepada Zira. " Untuk apa?" Ucap Zira cepat. " Lakukan hoby selfimu dengan ponselku." Ucap Ziko cepat. Zira langsung mengambil ponselnya Ziko. Dia menatap layar ponselnya Ziko. " Kenapa kamu masih memajang foto yang ada taik hidungnya, bukannya kamu sudah menyuruh aku untuk menghapusnya, kenapa kamu tidak menghapusnya dari ponselmu jangan-jangan?" Ucap Zira cepat. Ziko lupa menghapus foto mereka berdua yang ada taik hidungnya. Ziko mengambil ponselnya dari tangan Zira. " Jangan-jangan apa?" Ucap Ziko sambil menghapus foto wallpaper ponselnya. " Jangan-jangan kamu terobsesi dengan taik." Ucap Zira cekikkan. Kevin tertawa terbahak bahak mendengar celoteh Zira yang asal. Sedangkan Ziko kesal selalu aja ada bahan Zira untuk memperolok dirinya. " Kirim foto yang kemaren kesini." Ucap Ziko cepat. " Yang ada taik kupingnya." Ucap Zira menggoda Ziko lagi. " Ih jorok, kenapa kamu selalu menyebut kata itu." Ucap Ziko kesal. " Terus aku harus bilang apa? apa aku harus bilang foto yang lagi berciuman kan gak etis dengarnya." Ucap Zira cepat. " Ya terserah kamu cepat kirim." Ucap Ziko lagi. " Kirim pake apa? Pake ini?" Ucap Zira sambil menunjuk kearah hidungnya. Ziko baru ingat kalo ponsel Zira sudah di bantingnya. Ziko melambaikan tangannya menyuruh Zira untuk duduk di pahanya. Dia mau mengambil foto mereka berdua lagi. " Jangan cium aku, aku tadi makan jengkol." Ucap Zira sambil menutup mulutnya." " Jengkol dari mana? Mana ada jengkol di Belanda udah jelas-jelas hidangan tadi menunya western semua." Ucap Ziko cepat. Ini hanya akal-akalan Zira saja agar Ziko tidak menciumnya. Dia merasa kasihan melihat Kevin. " Suamiku bisa enggak kalo foto enggak cium ini." Ucap Zira menunjuk ke arah bibirnya. " Kenapa?" Ucap Ziko lagi. " Apa kamu enggak kasihan, Kemaren waktu kamu menciumku asisten Kevin menggigit kaki meja, nanti entah apa lagi yang di gigitnya." Gerutu Zira cepat. Kevin tertawa mendengar gerutu Zira yang benar-benar lucu. " Tenang nona hari ini saya akan menyimpan gigi saya." Ucap Kevin cepat. " Dimana?" Ucap Zira menimpali ucapan Zira. " Di sini." Ucap Kevin sambil menunjuk ke arah kukunya. Kevin tidak akan menggigit kaki meja jika Ziko dan Zira berciuman tapi dia akan menggigit kukunya. Zira duduk di paha Ziko dan Ziko langsung memotret dengan ponselnya. Ziko menunjukkan hasil jepretannya. " Lihat baguskan?" Ucap Ziko bangga. Zira melihat ke layar ponsel Ziko dan melambaikan tangannya memanggil asisten Kevin. " Kenapa?" Ucap Ziko penasaran. " Coba lihat asisten Kevin, hasil jepretan suamiku apa yang kurang." Ucap Zira cepat sambil menunjukkan ponsel Ziko. Kevin melihat layar ponsel Ziko. Dia tertawa terbahak-bahak. " Kenapa kamu tertawa." Ucap Ziko penasaran. " Kalian seperti sedang pasfoto." Ucap Kevin tertawa. Ziko menarik ponselnya dia penasaran kenapa Kevin menyebut foto mereka seperti pasfoto. Foto yang di ambil Ziko memang setengah badan mereka foto tanpa ekspresi tidak senyum sama sekali jadi itu yang membuat Kevin mengatakan foto mereka berdua seperti pasfoto. " Ih betul wajah kita lebih menakutkan dari preman pasar." Ucap Zira cepat. Ziko kesal karena semua foto yang di ambilnya selalu salah di mata Kevin dan Zira. Kevin menawarkan diri untuk menjadi juru foto mereka. Ponsel di pegang Kevin dia memberikan arahan kepada Ziko dan Zira untuk bergaya. Ada lima gaya yang mereka peragakan dari gaya ala foto box, gaya foto candid, Zira dan Ziko bergaya tapi tidak melihat ke kamera tepatnya seperti di foto secara diam-diam, gaya foto couple, sampai gaya sok imut mereka peragakan. Setelah selesai Kevin memberikan ponselnya dan pergi menjauh dari dua pasangan itu. Ziko melihat layar ponsel memilih galeri tapi dia tidak menemukan foto mereka berdua dia malah menemukan foto Kevin yang sedang berselfi dengan ponselnya. Ziko mencari Kevin ingin melampiaskan kemarahannya. Tapi Kevin sudah kabur duluan kedepan gabung dengan awak pilot. Zira masih heran kenapa Ziko marah. " Kenapa?" Ucap Zira penasaran. Ziko tidak menjawab dia memberikan ponselnya kepada Zira. Zira melihat ponsel Ziko. Zira tertawa terbahak bahak melihat foto Kevin di layar ponselnya Ziko. Dari tadi mereka mencoba beberapa gaya agar foto mereka terlihat keren tapi apa yang di temukan, tidak sama sekali foto mereka di ambil Kevin. Kevin malah berselfi dengan berbagai gaya menggunakan ponsel Ziko. " Hahahaha, pakai aja foto asisten Kevin sebagai wallpaper kamu." Ucap Zira sambil tertawa terbahak-bahak. Tidak berapa lama Kevin kembali seperti tidak terjadi apa-apa. " Ada apa kenapa Tuan melihat saya seperti itu." Ucap Kevin seperti tidak terjadi apa-apa. Ziko melemparkan sesuatu dari atas meja. Sedangkan Zira masih tertawa lucu melihat tingkah mereka berdua. " Kenapa kamu tidak memotret kami." Ucap Ziko kesal. " Maaf Tuan saya hanya mengumpamakan kalo saya foto apakah ada taik hidung apa tidak." Ucap Kevin polos. Zira malah tambah tertawa terbahak-bahak sambil memegang perutnya. " Hapus semua foto kamu." Ucap Ziko cepat sambil memberikan ponselnya kepada Kevin. Kevin menghapus semua fotonya dari ponsel Ziko. " Silahkan Tuan dan nona bergaya lagi, sekarang saya akan memotret dengan benar." Ucap Kevin cepat meyakinkan. " Awas kalo kamu main-main lagi." Ucap Ziko tegas. Ziko dan Zira melakukan beberapa gaya. Seperti gaya di awal ada gaya foto box, gaya foto couple, foto candid dan foto sok imut. Kevin melihat hasil jepretannya, dia mengernyitkan dahinya memandang hasil jepretannya. " Kenapa?" Ziko melihat ekspresi Kevin yang sedang mengernyitkan dahi. Kevin memberikan ponsel Ziko. " Tuan foto anda kurang bagus." Ucap Kevin cepat sambil menunjukkan hasil jepretannya. Ziko melihat fotonya. " Bagus kok." " Kalo nona Zira keren cuma ini nih yang mengganggu." Ucap Kevin sambil menunjuk foto Ziko. " Kenapa mengganggu?" Ucap Ziko penasaran. " Poni depan Tuan seperti poni selamat datang." Ucap Kevin cepat. Zira tertawa terbahak-bahak mendengar poni selamat datang Ziko. Ziko memukul lengan Kevin berkali-kali. Mereka bertiga sangat kocak masing-masing punya karekteristik yang berbeda tapi perbedaan itu bukan menjadi penghambat bagi mereka dengan perbedaan itu mereka menjadi sangat dekat. " Like komen dan vote yang banyak ya terimakasih." Chapter 140 episode 140 Pesawat Jet telah sampai di tanah air. Mereka telah kembali ke kediamannya masing-masing. Perjalanan yang cukup panjang dan melelahkan. Ziko dan Zira menghabiskan waktunya di kamar untuk beristirahat. Waktu berputar berganti hari menyambut datangnya pagi. Setiap pagi Zira selalu membangunkan suaminya. Sudah menjadi rutinitas sehari-harinya untuk membangunkan Ziko. Ziko memang agak susah kalo harus bangun pagi hari. Zira selalu punya cara agar suaminya mau bangun dari menarik bulu kaki sampai hal-hal yang enggak lazim. Zira menggoyang-goyangkan tubuh Ziko agar bangun tapi sang pemilik tubuh masih saja tidur dengan lelapnya. Zira mulai jahil dia mengerjai Ziko dengan memberikan kutek di jari kaki Ziko. " Ayo bangun." Zira menggoyang-goyangkan tubuh Ziko. Dengan penuh perjuangan dan rintangan akhirnya Ziko bangun. " Berikan aku morning kiss." Ziko menunjuk ke arah bibirnya. " Cih jigongmu bau." Zira menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Ziko kembali lagi menjatuhkan badannya ke kasur. Karena Ziko kembali tidur dengan cepat Zira langsung memberikan morning kiss untuk Ziko. Ziko langsung bangun setelah mendapatkan vitamin paginya. Ziko menuju kamar mandi membersihkan tubuhnya. Setelah selesai Ziko ke ruang ganti pakaian, Zira telah menyiapkan setelan jas berwarna abu-abu senada dengan celananya. Zira membantu Ziko mengenakan dasinya. Ziko duduk di sofa untuk memakai kaos kaki.Tapi Ziko terperanjatnya melihat kuku kakinya berwarna merah. Ziko langsung melirik Zira, tapi Zira pura-pura lagi sibuk mengelap meja rias. " Apa yang kamu lakukan dengan jari kakiku." Ziko teriak sambil menarik Zira yang sedang pura-pura mengelap meja rias. " Hehehe." Zira membentuk dua jarinya membentuk huruf V. " Apa kamu enggak ada kerjaan sampai-sampainya kamu memberi kutek ke kakiku." Ziko menatap Zira tajam. " Ada apa kamu enggak lihat tadi aku lagi sedang mengelap meja." Zira selalu cepat kalo dalam berkata-kata. " Cepat bersihkan apa kamu enggak malu lihat suami kakimu seperti ini." Ucap Ziko sambil menunjukkan jari kakinya. Zira tertawa senang karena dapat mengerjai suaminya. " Kenapa aku harus malu seharusnya kamu yang malu." Zira masih tertawa senang. " Bersihkan." Ziko memberikan kakinya agar di bersihkan Zira. " Baik Zizi." Ucap Zira cepat sambil memberikan jari kaki Ziko. " Zizi siapa Zizi." Ucap Ziko penasaran. " Kamu." Ucap Zira sambil meletakkan sesuatu ke atas kapas. Ziko bingung dengan nama baru yang di berikan Zira kepadanya. " Kenapa kamu memanggilku dengan Zizi." Ucap Ziko penasaran. " Ya karena ini." Ucap Zira lagi sambil menunjuk ke kaki Ziko. " Maksudmu apa hubungannya kaki dengan Zizi." Ucap Ziko penasaran. Zira meletakkan kepalanya di lutut Ziko. " Kalo nama Ziko versi gagah perkasa tapi kalo Zizi versi lemah gemulainya." Ucap Zira cepat. " Jadi maksudmu aku lemah gemulai." Ucap Ziko kesal sambil menarik hidung Zira. Zira memegang hidungnya yang ditarik Ziko. " Iyalah mana ada cowok pakai kutek, baru kamu yang pakai kutek jadi aku beri aja julukan untukmu Zizi." Ucap Zira cepat sambil memegang hidungnya yang sakit. " Bersihkan itu, awas kalo besok kamu membangunkan ku dengan cara yang aneh-aneh." Ucap Ziko kesal. Zira memonyongkan mulutnya mengejek ke arah Ziko. Pintu kamar di ketuk dari luar, Zira berlari membuka pintu kamar. Ada Pak Budi sedang berdiri di depan pintu. " Maaf nona sarapan sudah terhidang di meja makan." Ucap Pak Budi sopan. " Baik Pak sebentar lagi kami keluar." Ucap Zira dari balik pintu. Zira menyimpan semua alat yang akan di pergunakannya untuk membersihkan kutek dari kuku kaki Ziko. " Kenapa di simpan semua." Ucap Ziko heran. " Aku sudah lapar kita sarapan dulu, nanti pulang aku bersihkan pakai sikat wc." Ucap Zira cepat. " Aih jorok kamu kenapa harus pakai sikat wc." Ucap Ziko lagi cepat. " Biar cepat. Kalo pakai sikat wc aku pastikan semuanya akan hilang sampai ke kuku-kukunya." Ucap Zira cepat sambil mengambil tasnya. Ziko merasa jijik dan ngeri mendengar Zira akan membersihkan kuku kakinya dengan sikat wc. Zira menarik tangan Ziko, mereka keluar kamar menuju meja makan. Setelah selesai makan mereka masuk ke dalam mobil yang sudah ada Kevin di dalamnya. Zira kembali keluar dari mobil. " Kamu mau kemana?" Ucap Ziko penasaran. " Ada yang ketinggalan." Ucap Zira cepat sambil berlari masuk kedalam mansion. Zira berlari ke kamar mengambil barang yang ketinggalan. Beberapa menit kemudian Zira sudah kembali ke mobil dengan membawa bungkusan di tangannya. " Apa itu." Ucap Ziko penasaran dengan bawaan yang ada di tangan Zira. " Plastik." Ucap Zira cepat sambil mengatur nafasnya agar kembali normal. " Iya aku tau plastik yang bilang sepatu siapa?" Ucap Ziko cepat. " Kamu barusan." Ucap Zira cepat. Kevin tertawa kecil mendengar ucapan Zira yang cepat lugas dan tepat. Ziko menggaruk kepalanya karena salah berbicara. " Apa isinya." Ucap Ziko cepat sambil mengambil bawaan Zira. Ziko melihat isi bungkus plastik yang di bawa Zira. Ada beberapa macam oleh-oleh di dalamnya seperti klompen atau sepatu kayu dari Belanda, miniatur kincir angin, stroopwafel makanan ringan dari Belanda dan lainnya. Zira juga membawa oleh-oleh dari Paris seperti miniatur menara Eiffel, macarons makanan khas Paris, cokelat Paris dan lain sebagainya. " Mau kamu apakan ini semua?" Ucap Ziko penasaran. " Mau aku jual." Ucap Zira asal. Ziko membelalakkan matanya mendengar Zira mau menjual oleh-oleh yang di bawanya. Ziko tidak habis pikir dengan cara berpikir Zira. " Apa kamu kekurangan uang sampai mau menjual ini semua." Ucap Ziko cepat. " Ya enggaklah aku masih cukup uang kok, walaupun aku tidak pernah di beri nafkah lahir darimu." Ucap Zira cepat. Ziko kaget mendengar ucapan Zira, dia memang belum pernah memberikan nafkah lahir kepada Zira. Ziko lupa memberikan nafkah lahir tapi untuk memberikan nafkah batin dia selalu ingat. " Jadi ini untuk apa? untuk memperkaya diri." Ucap Ziko lagi cepat. " Cih jual ini untuk memperkaya diri mending aku memelihara tuyul dari pada harus menjual ini semua." Ucap Zira sambil menunjuk oleh-olehnya. " Jadi untuk apa ini semua." Ucap Ziko lagi penasaran. Zira menepuk kepalanya dengan tangannya. Dia tidak habis pikir jika Ziko tidak mengerti dengan semua oleh-oleh yang di bawanya. " Zizi Zizi, ini semua akan aku bagikan kepada karyawanku sebagai oleh-oleh walaupun mereka tidak pergi tapi setidaknya kita memberikan oleh-oleh untuk mereka agar mereka juga merasakannya walaupun tidak secara langsung. Pasti kamu enggak pernah melakukan hal ini kan?" Ucap Zira cepat. Ziko memang tidak pernah melakukan hal-hal yang di katakan Zira. Dia merasa membawa oleh-oleh hanya untuk orang terkasih tidak pernah memikirkan yang lainnya. Tapi dari Zira, dia belajar untuk saling memberi kepada sesama. Ziko mengambil dompetnya di saku celana bagian belakang, dia mengeluarkan kartu dan memberikan kepada Zira. " Untuk apa ini?" Ucap Zira bingung. " Itu nafkah batin dariku, terserah kamu mau gunakan untuk apa." Ucap Ziko cepat. Kartu yang di berikan Ziko berwarna gold yang isi nominalnya sangat luar biasa. Ziko memberikan PINnya kepada Zira. Tapi Zira mengembalikan kembali kepada Ziko. " Kenapa? apa kamu masih kurang." Ucap Ziko sambil mengeluarkan beberapa kartu lagi kepada Zira. Zira menahan tangan Ziko agar tidak mengeluarkan semua kartunya. " Tidak usah aku masih ada uang." Ucap Zira sambil mengambilkan kartu Ziko. " Simpan uangmu mulai sekarang gunakan kartu ini, aku tidak mau sampai di bilang suami tidak menafkahi istri." Ucap Ziko cepat. Lagi-lagi Zira menolak. Dia tetap tidak mau menerima pemberian Ziko. " Simpan ini awas kalo kamu mengembalikannya lagi kepadaku, aku tidak mau kamu menolak. Ini adalah hakmu sebagai istriku." Ucap Ziko cepat sambil memeluk Zira. Akhirnya Zira menyimpan kartu yang di berikan Ziko. Bagaimanapun seorang suami berkewajiban menafkahi lahir dan batin kepada istrinya walaupun si istri ada penghasilan tidak mengurangi jatah seorang istri untuk menerimanya. " Like komen dan vote yang banyak ya terimakasih." Chapter 141 episode 141 Kevin mengantarkan Zira ke butik. Zira ingin ke butik terlebih dahulu dia ingin memberikan oleh-oleh kepada karyawannya. Mobil telah sampai di depan gedung Raharsya group. Semua karyawan dan karyawati menundukkan kepalanya ketika bertemu orang nomor satu di gedung itu. Begitupun Kia, dia langsung berdiri ketika Bosnya datang. Kia melihat ke belakang Ziko tidak ada Zira di belakangnya hanya ada Kevin yang mengikutinya. Ziko sudah memasuki ruangannya. Kia berlari ke pantry untuk menyiapkan kopi Ziko. Kia mengetuk pintu ruangan setelah ada sahutan masuk, Kia langsung masuk dengan membawa kopi. Kia meletakkan kopi di atas meja Ziko. " Tuan ini kopinya." Ucap Kia sopan. Ziko tidak memberikan sahutan sama sekali. Ziko sibuk dengan semua berkas yang menumpuk di atas mejanya. Kevin mengusir Kia dengan lambaian tangannya. Kia langsung keluar dengan wajah yang cemberut karena dia masih sangat ingin berada di situ. " Cih aku hanya ingin menyapanya tidak lebih, dasar asisten pelit." Gerutu Kia. Ziko di dalam ruangannya sangat sibuk. Mereka membahas masalah saham David. David telah mengambil semua sahamnya, dia telah memutuskan kerjasamanya dengan Ziko. Dengan otomatis Ziko harus mencari pemegang saham lain untuk menggantikan posisi David. Ziko mengambil telepon yang berada di atas meja, dia meletakkan gagang telepon di telinga tapi tidak ada suara sama sekali. Kevin langsung melihat kabel telepon yang berada di bawah meja. Kevin menemukan kabel yang terputus. " Tuan coba anda lihat kabel ini." Ucap Kevin menunjukkan kabel telepon. Ziko memperhatikan detail ujung kabel telepon yang terputus, dia menaruh curiga ada sesuatu yang terjadi di sini. " Panggil dia." Ucap Ziko cepat. Kevin pergi keluar ruangan dan memanggil Kia. Kia datang dengan wajah senyum sumringah. " Iya Tuan." Kia berusaha untuk memberikan senyum terbaiknya. Ziko menunjukkan kabel telepon yang terputus kepada Kia. Kia terperanjat dia lupa untuk menghubungi pihak maintenance memperbaiki kabel telepon yang telah di putuskannya. " Apa ini?" Ziko dengan wajah yang mengintimidasi. " Kabel telepon tuan." Ucap Kia gugup. Ziko menggebrak meja dengan keras sehingga Kia terperanjat takut dan pucat. " Aku tanya sekali lagi apa ini!" Ucap Ziko teriak. " Kabel telepon yang terputus Tuan." Kia merasa gugup dan takut dia tidak tau harus mengatakan apa lagi. " Kenapa bisa putus." Ucap Ziko cepat. " Ada tikus Tuan." Ucap Kia lagi dengan kegugupannya. Ziko dan Kevin saling pandang, mereka tambah menaruh curiga kepada Kia. Mereka curiga telah terjadi sesuatu di ruangannya ketika mereka pergi ke luar negeri. " Tikus? apa kamu kira ruanganku tempat sampah?" Lagi - lagi Ziko membentak Kia. Kia merasa bodoh, dia tidak mempersiapkan aksinya dengan matang. " Apa yang kamu lakukan di ruanganku." Ziko menatap Kia dengan tatapan mengintimidasi. " Saya hanya mengantar berkas itu saja." Kia masih dengan kegugupannya. " Baiklah kalo kamu tidak mau jujur kepadaku, aku akan mencari kebenaran jika terbukti kamu bersalah cepat-cepat kamu angkat kakimu dari gedung ini." Ucap Ziko cepat sambil membuka laptopnya. Kia sudah ketakutan setengah mati bayangannya menjadi pengangguran sudah di depan mata. Dia tidak pernah memikirkan ada kamera cctv di ruangan Ziko. " Saya bertengkar dengan nona Zira." Ucap Kia pelan sambil tertunduk. Ziko langsung melotot ke arah Kia. " Siapa yang menang dalam perkelahian kalian." Ucap Ziko cepat. " Nona Zira yang menang saya kalah telak." Ucap Kia pelan masih dengan kepala tertunduk. Ziko masih membuka laptopnya dia melihat hasil rekaman beberapa seminggu yang lalu. Ziko melihat dengan jelas semuanya dari Kia duduk di kursinya sampai Zira mencengkram leher Kia. " Keluar kamu dari sini." Bentak Ziko. " Tuan saya mohon jangan pecat saya, saya tau saya khilaf, saya hanya ingin merasakan duduk di kursi anda, tapi nona Zira tidak menginjinkan." Ucap Kia dengan wajah yang sudah pucat. Ziko merasa alasan Kia terlalu di buat-buat. " Apa hakmu duduk di kursiku." Ucap Ziko marah. Kia tidak menjawab dia sudah meneteskan air matanya. Dia sudah pasrah dengan semuanya. " Tuan saya menyukaimu." Ucap Kia dengan derai air mata. Kevin dan Ziko saling pandang, mereka tidak percaya dengan keberanian Kia mengungkapkan perasaannya kepada Ziko. " Saya mohon jangan pecat saya, saya hanya ingin bekerja disini, dan saya tidak meminta anda untuk membalas cinta saya." Ucap Kia masih dengan derai air mata. " Apa kamu pernah berpikir panjang sebab akibat yang telah kamu lakukan?" Ziko menekan intonasinya. Kia menggelengkan kepalanya. Dia memang tidak memikirkan sebab akibatnya. " Pakai otakmu untuk berpikir sebelum kamu merusak rumah tanggaku." Ucap Ziko cepat. Air mata Kia sudah berderai dengan kencang. Matanya sudah sembab karena kebanyakan menangis. " Kevin bawa dia keluar." Perintah Ziko tegas. Kevin memegang lengan Kia dengan keras. Kevin menarik Kia keluar dari ruangan Ziko. " Tuan jangan pecat saya, kalo Tuan tidak ingin saya jadi sekertaris, Tuan bisa memindahkan saya ke departemen lain." Ucap Kia masih bertahan. Kevin memegang lengan Kia dengan keras. Dia membawa Kia keluar dari gedung itu dengan paksa. Banyak karyawan yang menonton kejadian itu, mereka saling bertanya satu sama lain. Kevin melihat karyawan yang sibuk dengan pemikirannya masing - masing. " Apa kalian semua mau menjadi orang selanjutnya." Bentak Kevin. Karyawan yang tadi menonton kejadian itu langsung lari untuk kembali bekerja mereka tidak mau menjadi daftar orang yang di pecat dengan tidak hormat. Mereka sudah sangat nyaman untuk bekerja disitu. Semua orang berlomba - lomba untuk dapat bekerja di situ. Jadi mereka tidak akan membuat kesalahan sekecil apapun agar dapat bertahan di perusahaan itu. Kevin kembali ke ruangan Ziko. Ziko masih melihat rekaman cctv minggu lalu. Dia merasa sangat senang ketika Zira mencengkram leher Kia. " Kamu lihat betapa hebatnya istriku." Ziko memuji Zira sambil menunjukkan laptopnya kepada Kevin. " Nona Zira memang perempuan yang tangguh dan kuat. Dia bisa menghajar Sisil dan Kia dengan tenang." Kevin juga memuji ketangguhan Zira. " Aku tidak bisa bayangkan apa jadinya kalo aku berselingkuh." Ucap Ziko sambil tertawa kecil. Tuan anda adalah orang yang di cintainya, jangan pernah kecewakan istri anda. Hargai dia Tuan, seperti dia menghargai anda. Saya tidak bisa membayangkan apa yang terjadi seandainya anda mengecewakannya lagi. " Mungkin Tuan akan di hajar juga oleh nona Zira, kalo perlu saya akan merekam ketika anda di hajar." Ucap Kevin cepat. Ziko melemparkan penanya ke arah Kevin. Ziko kesal dengan Kevin yang mendukung Zira sepenuhnya. Kevin mengambil pena yang jatuh di lantai dan meletakkan di atas meja Ziko. " Tuan siapa yang akan menjadi sekertaris baru anda?" " Like komen dan vote yang banyak ya terimakasih." Chapter 142 episode 142 Ziko masih memikirkan siapa yang akan menjadi sekertarisnya. " Bagaimana kalo nona Zira?" Kevin memberikan ide yang cukup cemerlang. Ziko mengambil ponselnya dan ingin menghubungi Zira. Tapi dia membatalkan niatnya untuk menghubungi Zira. Dia baru ingat kalo ponsel Zira sudah rusak. " Vin carikan ponsel baru untuk Zira." Ziko menghubungi nomor Lina. Beberapa menit kemudian panggilan terhubung ada sahutan dari sana. " Ya halo Tuan." Lina langsung mengenal siapa yang menghubunginya, dia sudah menyimpan nomor Ziko ke dalam daftar kontaknya. " Berikan ponsel kamu sama istriku." Ucap Ziko cepat. " Maaf Tuan kalo saya memberikan ponsel saya kepada mbak Zira, nanti saya pakai apa? Saya hanya punya satu ponsel dan itu juga butut." Ucap Lina cemas. Bos sama anak buah sama-sama bego. Ziko mendesah kesal dia seperti sedang berbicara dengan anak kecil. " Siapa yang mau ambil ponselmu? Aku mau bicara dengan istriku." Ucap Ziko tegas. " Baik Tuan." Lina langsung berlari ke lantai atas menuju ruangan Zira. Lina mengatur nafasnya sambil memberikan ponselnya kepada Zira. Zira bingung dengan Lina karena memberikan ponselnya tanpa berkata-kata. " Untuk apa ini?" Ucap Zira bingung sambil memegang ponsel Lina. Lina hanya memberikan isyarat dengan tangannya agar Zira menjawab panggilan dari ponselnya. Zira langsung mengerti dengan isyarat Lina. Dia menjawab panggilan tersebut. " Ya halo." Ucap Zira pelan. " Kenapa lama sekali jawab panggilanku." Ucap Ziko kesal. Zira langsung kenal dengan pemilik suara itu. " Ada apa?" Ucap Zira pelan sambil tetap fokus dengan pekerjaan yang tertunda. " Aku mau kamu jadi sekertarisku." Ucap Ziko cepat dan tepat. Zira membelalakkan matanya sambil meletakkan pensilnya di atas mejanya. " Apa yang terjadi dengan si kuntilanak?" Zira penasaran. " Enggak usah bertanya aku hanya ingin mendengar jawaban darimu." Ziko kembali bertanya menunggu jawaban dari Zira. Zira belum menjawab dia masih memikirkan dengan tawaran Ziko untuknya. Apa yang terjadi dengan si kuntilanak apa dia sudah kembali ke alamnya. " Hey kamu dengar enggak?" Teriak Ziko lagi. " Kenapa dengan si kuntilanak?" Zira masih penasaran dia terus bertanya agar Ziko menjawabnya. " Kamu mau enggak?" Ucap Ziko lagi dengan intonasi yang di tekan. " Jawab aku apa si kuntilanak kamu kirim kembali ke alamnya?" Ucap Zira cepat. " Aih kamu itu! Ya dia aku kirim ke alamnya." Ucap Ziko kesal. " Kenapa? Apa sisirnya ketinggalan." Ucap Zira cepat. Ziko pengen menyentil telinga Zira, karena selalu saja bercanda. " Kamu mau tidak?" " Enggak aku enggak mau, aku tidak pintar dalam hal-hal seperti itu." Ucap Zira cepat. " Ok kalo kamu tidak mau jadi aku akan membuat lowongan kerja lagi." Ucap Ziko cepat. Zira memang menolak tawaran Ziko, karena dia merasa belum memahami di bidang tersebut, tapi dia merasa khawatir dengan lowongan yang akan memperkerjakan orang baru lagi. " Apa aku boleh request untuk kriterianya." Ucap Zira pelan. " Hemmmmm." Zira memberikan semua kriterianya yang di inginkannya beserta alasannya. " Bagaimana." Ucap Zira lagi. " Baiklah aku penuhi keinginanmu." Ucap Ziko cepat. Ziko menutup panggilannya dan kembali melanjutkan percakapannya dengan Kevin. Ziko memberikan semua kriteria yang akan menjadi sekertarisnya. Kevin langsung paham dan pergi keluar ruangan Ziko. Kevin kembali ke ruangannya dia menghubungi penanggung jawab di HRD. Pintu di ketuk dari luar setelah dapat instruksi dari yang punya ruangan. Wanita paruh baya itu masuk ke dalam ruangan Kevin. " Ya Pak, ada yang bisa saya bantu." Ucap Ibu Mery sopan. " Buat lowongan kerja dengan posisi sebagai sekretaris." " Maaf Pak sekertaris siapa?" Ibu Mery merasa penasaran. " Presiden direktur." " Maaf Pak bukannya sudah ada?" " Kenapa kamu banyak tanya, cepat lakukan saja perintahku." Ucap Kevin tegas. Ibu Mery tidak berani bertanya lagi. Dia sudah cukup takut mendengar bentakan yang di berikan Kevin kepadanya. Di pikiran Ibu Mery biarlah jawaban untuk pertanyaannya menjadi Pr untuknya. " Baik Pak, apa saja kriterianya." Ucap Ibu Mery lagi. " Berjenis kelamin laki-laki, minimal umur 20 tahun keatas dan maksimal 25 tahun, jujur pekerja keras, dan mempunyai pengalaman di bidangnya kurang lebih 5 tahun." Ibu Mery mencatat semua kriteria yang di berikan Kevin ke dalam note booknya. " Ada lagi Pak?" Ucap Ibu Mery sopan. " Aku mau kamu membuat lowongan itu sekarang dan tutup lowongan itu setelah tiga hari." Setelah mencatatkan semuanya Ibu Mery kembali ke ruangannya. Dia melakukan tugas yang di berikan Asisten Kevin. Setelah memberikan tugas kepada Ibu Mery, Kevin pergi meninggalkan gedung Raharsya group. Kevin menyalakan mesin mobil dan menuju ke pusat kota. Kevin memberhentikan mobilnya di depan Mall terbesar di kota itu. Kevin ingin membeli ponsel untuk Zira seperti perintah dari Ziko. Kevin memasuki sebuah toko ponsel terkenal di kota itu. Seorang wanita penjaga toko ramah menyapanya. " Ada yang bisa saya bantu." Ucap perempuan itu ramah. Kevin hanya tersenyum dia masih melihat beraneka ragam jenis ponsel yang di pajang di etalase toko. Berbagai macam merek ada di dalam toko itu, dari yang mahal sampai yang paling murah di pajangkan di etalase toko itu. Kevin menjatuhkan pilihannya kepada ponsel dengan casing berwarna merah muda dan ada garis hitam di pinggirnya. Menurutnya ponsel itu cocok dengan kepribadian Zira. Warna merah muda menampilkan sosok kewanitaannya dan warna hitam menampilkan sosok jiwa pemberani yaitu sosok seorang Avengers. Setelah melakukan pembayaran Kevin kembali ke gedung Raharsya group. Kevin menyerahkan ponsel yang di belinya kepada Ziko. Ziko melihat hasil pilihan Kevin. " Apa ini keluaran terbaru?" Ucap Ziko sambil melihat ponsel yang di beli Kevin. " Iya Tuan. Ini keluaran terbaru." Ucap Kevin cepat menjelaskan semua fasilitas yang ada di dalam ponsel tersebut. Ziko menyimpan kembali ponsel tersebut kedalam boxnya. Dia ingin memberikan kejutan untuk Zira. " Like komen dan vote yang banyak ya terimakasih." Chapter 143 episode 143 Sore harinya mobil yang di kendarai Kevin sudah sampai di Zira Boutique. Ziko langsung masuk ke dalam butik dan menuju lantai tiga tempat ruangan Zira berada. Ziko mendapati Zira sedang duduk di kursinya sambil mengerjakan sesuatu di atas mejanya. Ziko langsung masuk karena ruangan Zira memang dalam keadaan terbuka. Ziko mencium pipi Zira dengan lembut. Zira kaget melihat Ziko sudah berada di sampingnya. " Kenapa kamu selalu mengagetkan, apa tidak bisa kamu memberi salam terlebih dahulu." Gerutu Zira sambil memegang dadanya yang kaget. " Baiklah aku besok kalo masuk akan mengucapkan salam." Ucap Ziko sambil duduk di pinggir meja depan Zira. " Salam apa?" Ucap Zira cepat. " Salam sayanglah." Ucap Ziko mengecup dahi Zira lagi. Ziko memandang isi ruangan Zira yang penuh dengan barang-barang. Dia mengernyitkan dahinya karena ruangan Zira terasa sempit dengan banyak barang di dalam ruangan itu. " Kenapa ruangan ini sangat sempit." Ucap Ziko sambil melihat sekeliling ruangan Zira. " Bukan ruangan ini yang sempit tapi badan kamu yang kebesaran." Ucap Zira menggoda Ziko. Ziko menarik tangan Zira. Dia mau membawa Zira pulang. " Tunggu, kerjaanku masih ada." Ucap Zira sambil menahan tangan Ziko " Kalo namanya kerjaan selalu ada enggak pernah berkurang. Cepat jangan habiskan waktumu dengan memandang kertas itu, lebih baik kamu memandang suamimu yang ganteng ini." Goda Ziko sambil memegang dagu Zira. Ada benarnya yang di katakan Ziko. Kerjaan selalu datang dan terus datang. Kalo pun kerjaan itu di selesaikan pasti akan datang lagi kerjaan yang lainnya. Itulah hidup semua harus di jalani dengan senang hati tanpa harus mengeluh. Ziko dan Zira masuk ke dalam mobil yang telah diparkir di depan pintu butik, Kevin sudah menunggu mereka di dalam mobil. Kevin langsung menyalakan mesin mobil dan menekan pedal gas dengan kecepatan sedang. Di mansion. Mereka menikmati makan malam yang telah di siapkan Pak Budi. Mereka makan sepiring berdua kebiasaan yang mereka lakukan setiap hari. Kebiasaan itu hilang sementara ketika mereka berada di luar negeri. Setelah selesai mereka masuk ke kamar. Mereka lebih banyak melakukan aktivitas di dalam kamar. " Tutup mata kamu." Ucap Ziko sambil menuntun Zira ke atas kasur. " Mau apa? Jangan macam-macam ya." Ucap Zira takut. Ziko menutup mata Zira dengan kedua tangannya. Ziko membantu Zira menggapai box yang ada di depannya. " Apa ini." Ucap Zira masih dengan mata tertutup. " Tebak." Ucap Ziko cepat. " Kasih dulu kisi - kisinya." Ucap Zira penasaran. " Ah memangnya ulangan pakai kisi - kisi segala. Tebak, kalo tebakan kamu benar kamu harus memberiku servis full beserta olinya." Ucap Ziko genit. " Idih apa kamu pikir aku ini montir." Gerutu Zira lagi. Zira penasaran dia langsung membuka box yang ada di depannya. Zira meraba ponsel itu dengan tangannya. " Ah ini mah gampang, ponsel." Ucap Zira cepat. Zira masih menimbang-nimbang ponsel yang ada di tangannya dengan cara memindahkan dari tangan kanan ke tangan kiri dengan mata tertutup. " Suamiku ini ponsel berat sekali, pasti kalo aku lempar ke guk guk, guk guknya ayan." Ceplos Zira cepat sambil memegang tangan Ziko agar membuka penutup matanya. " Ya betul ponsel tapi apa dulu mereknya." Ucap Ziko lagi. " Aih apa harus pakai merek? Bagaimana aku tau merek - merek ponsel." Gerutu Zira cepat. " Terlalu banyak ngomong kamu, cepat tebak! Tinggal tebak aja kok repot." Ucap Ziko ketus sambil masih tetap menutup mata Zira. Zira meraba detail setiap sisi ponsel tersebut. " Aku tau pasti ini merek ponsel batagorkan?" Ucap Zira cepat. " Aih memangnya ada merek seperti itu." Ucap Ziko penasaran. " Adalah plesetannya." Zira tertawa cekikikan. " Salah lagi." " Merek opah bukan, merek sanggisung bukan, nah aku tau ini pasti mereknya anggur, ponsel keluaran terbaru dengan harga yang sangat fantastis itu." Ucap Zira cepat menjawab tebakannya. Ziko melepaskan tangannya dari kedua mata Zira. " Bagaimana kamu tau kalo mereknya anggur." Ucap Ziko heran. " Ya tau aja secara ini keluaran terbaru, mana mau kamu membeli ponsel murah." Ucap Zira cepat sambil melihat ponsel pemberian Ziko. " Terimakasih sayang." Ucap Zira mengecup bibir Ziko. Ziko membalas ciuman Zira dengan lembut. " Apa kamu suka?" Ucap Ziko sambil memeluk Zira. " Suka banget tapi aku enggak suka dengan warnanya." Ucap Zira cepat. " Kenapa, kan wanita biasanya suka warna merah muda." Ucap Ziko cepat sambil menatap Zira heran. " Ya kalo aku wanita lemah gemulai kemayu, tapi aku kan wanita perkasa." Ucap Zira menunjukkan otot di lengannya. Ziko tertawa terbahak bahak melihat Zira mempraktekkan cara seorang binaragawan. Ziko memeluk Zira kembali. " Kalo kita punya anak apa nama yang akan kamu berikan." Ucap Ziko sambil memeluk Zira. " Aih kenapa kamu memikirkan punya anak? Aku saja belum memikirkannya." Ucap Zira lagi. " Udah jawab saja." Ziko mencubit pipi Zira gemes. " Zonoh." Ucap cekikkan. Ziko membelalakkan matanya dia heran dengan nama pemberian Zira. " Yang lain." Ucap Ziko lagi. " Zokoh." Ucap Zira cepat dan tepat. " Aih kenapa pendek sekali namanya." Ucap Ziko penasaran. " Baiklah kalo begitu jika anaknya cowok aku akan memberikan nama Zonoh dan Zokoh sama - sama berawalan huruf Z dan sama-sama berakhir huruf h." Ucap Zira asal. Lagi-lagi Ziko mencubit pipi Zira. Zira tidak pernah serius kalo berkata-kata. Zira hanya serius jika mengenai perasaannya saja. " Kalo perempuan." Ucapan Zira di potong Ziko. " Stop aku enggak mau kamu memberi nama kepada anak kita, biar aku yang memberikan nama, jika anak kita perempuan." Ucap Ziko cepat. Zira menganggukkan kepalanya setuju. " Zizi putri imutku." Ucap Ziko senang sambil membayangkan seorang bayi kecil dalam pelukannya. " Suamiku apa perlu ada kata imut di belakangnya." Ucap Zira heran dengan pemberian nama dari Ziko. " Memangnya kenapa, kan aku bapaknya." Ucap Ziko tegas. Zira mengangguk paham, dia tidak mau berdebat lagi. " Apa lagi selain itu." Ucap Zira cepat. " Zevisa Zinara Kanaya Raharsya." Ucap Ziko senang. Zira membelalakkan matanya mendengar nama yang akan di berikan Ziko kepada putrinya nanti. " Baguskan." Ucap Ziko membanggakan dirinya. Zira mengacungkan kedua jempolnya tanda setuju. " Baiklah sekarang waktunya kita mengerjakan pr." Ucap Ziko sambil mematikan lampu tidur di atas nakas. " Pr apa?" Ucap Zira heran. " Pr membuat anak." Ucap Ziko lagi. " Like komen dan vote yang banyak ya terimakasih." Chapter 144 episode 144 Mereka telah mengerjakan pr nya bersama-sama. Pr yang sulit di pecahkan tapi selalu ingin di kerjakan. " Suamiku aku tau maksud kamu memberi nama Zevisa." Ucap Zira cepat. " Apa?" " Kamu pasti sedang memikirkan paket hemat untuk anak kita." Ucap Zira cepat. Ziko membelalakkan matanya mendengar kata paket hemat. " Apa maksudmu paket hemat?" " Aku tau arti dari nama Zevisa. Ze artinya bunga dalam bahasa Ibrani, kalo visa artinya visa. Jadi paket hemat dong?" Ucap Zira cepat. " Apanya yang paket hemat?" Ziko penasaran dengan ucapan Zira dengan kata paket hemat. Zira menggaruk kepalanya yang tidak gatal. " Kan nama anak kita ada kata Visanya berarti gratis dong kalo ngurus Visa." Ucap Zira asal. Ziko menoyor kepala istrinya. Dia kadang jengkel dengan kebodohan Zira tapi kadang Zira bisa pintar di luar dugaannya. " Sok tau kamu, Zevisa artinya bunga yang selalu ada di semua tempat, Zinara itu dari nama kita yaitu Zi untuk zira dan Ra untuk Raharsya." Ucap Ziko menjelaskan. Zira manggut-manggut mengerti. Setiap orang tua pasti ingin memberikan nama yang bagus dan arti yang baik untuk anaknya. Waktu sudah semakin larut, tidak ada suara sama sekali di ruangan itu. Hanya detik jam yang berdenting memecahkan kesunyian pada malam hari. Keesokan paginya. Semua yang bekerja di dalam mansion sedang melakukan aktivitasnya masing-masing. Dari berkebun, memasak sampai membersihkan setiap ruangan mereka kerjakan. Tidak ada rasa capek ataupun mengeluh, mereka sangat senang bekerja di sana karena mereka selalu di anggap sebagai keluarga di dalam mansion itu. Setelah melakukan rutinitasnya yaitu sarapan pagi, Zira dan Ziko pergi bekerja. Mereka keluar dari mansion dengan wajah yang ceria. Karena mereka dapat menyelesaikan pr nya dengan baik. " Selamat pagi semuanya." Sapa Kevin sambil membukakan pintu mobil. Ziko dan Zira menjawab dengan anggukan dan senyuman. Kevin menyalakan mesin mobil dalam sekejap mobil sudah melaju ke jalan raya menuju pusat kota. " Bagaimana hari anda Tuan." Ucap Kevin penasaran sambil melirik dari kaca mobil. " Hemmmmm." Ziko sibuk dengan ponsel baru Zira. Ziko mengganti wallpaper ponselnya Zira dengan foto mereka berdua. " Kenapa harus pakai foto ini lagi." Ucap Zira kesal. Ziko masih menyimpan foto mereka berdua di dalam jet. " Eh jangan kamu komplain mengenai poniku." Ucap Ziko cepat memotong ucapan Zira. Zira tidak jadi komplain mengenai poni Ziko karena sudah di semprot Ziko terlebih dahulu. " Cih poni aja di banggakan." Ucap Zira cepat sambil memonyongkan bibirnya. Kevin melihat pertengkaran kecil di antara mereka. Pertengkaran yang tidak pernah ada habisnya. Selalu saja ada bahan permasalahan yang terjadi di antara mereka dari pertengkaran kecil sampai pertengkaran besar, mereka pasti bisa menyelesaikan masalah. Kevin sampai heran dengan dua majikannya dia serasa ingin berguru kepada mereka berdua karena bisa menyelesaikan semua masalahnya. " Tuan apakah poni anda sekarang sudah berubah?" Ucap Kevin cepat sambil tetap menatap ke depan. " Apa maksudmu?" " Enggak Tuan, mana tau poni anda berubah jadi kuda poni." Ucap Kevin asal. " Buahahaaa." Zira tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan Kevin yang lucu. Ziko memukul kursi Kevin dari belakang. Kevin tidak berkata-kata lagi dia fokus untuk menyetir mobilnya. Ziko teringat sesuatu mengenai ucapan Zira kemaren pada saat di telepon. " Aku mau tanya kenapa kamu memberi kriteria pria sebagai sekretarisku." Ucap Ziko penasaran. " Owh jadi kamu enggak setuju dengan kriteria yang aku ajukan." Ucap Zira ngambek sambil memalingkan wajahnya dari Ziko. Ziko menyentil hidung Zira. Dia gemas dengan tingkah Zira yang lagi ngambek. " Aku bukan enggak setuju tapi aku ingin mendengar alasan kamu." Ucap Ziko merayu Zira. " Kemaren kan aku sudah memberitahumu alasan aku memilih kriteria cowok." Ucap Zira cepat. " Ya tapi kurang jelas." Ucap Ziko lagi. Zira masih ngambek dia enggan menjawab pertanyaan Ziko. Tapi Ziko berusaha merayu Zira agar menjelaskan maksud dari ucapan Zira. " Aku enggak mau kalo kamu punya sekertaris wanita, karena aku enggak percaya denganmu." Ucap Zira sambil menuding ke arah Ziko. Ziko terbelalak heran, karena Zira masih belum percaya sepenuhnya. Sulit untuk menumbuhkan kembali kepercayaan seseorang jika sudah di khianati. " Ok baik kalo begitu, hukuman apa yang akan aku berikan kalo kamu yang bermesraan dengan sekertaris baru ku." Ucap Ziko cepat. " Hahaha kamu seperti belum mengenal istrimu saja, coba hitung sudah berapa kali aku bermesraan dengan cowok lain." Ucap Zira menantang Ziko. Ziko mencoba mengingat-ngingat tentang cowok yang pernah dekat dengan Zira. " Berapa?" Ucap Zira cepat sambil menatap tajam Ziko. " Satu." Ziko berkata pelan. " Eh aku enggak bermesraan dengannya ya, dan juga pada saat itu kita juga belum menikah." Ucap Zira memberikan pembelaan. " Ah sama saja itu." Ziko tidak mau kalah. " Ok kalo sama saja, sekarang berapa kali kamu bermesraan dengan cewek lain, setelah status kita sah." Ucap Zira dengan intonasi yang tinggi menyindir Ziko. Ziko tidak mau menyebutkan karena memang dia sudah beberapa kali bermesraan atau berpegangan tangan dengan lawan jenisnya. " Malu untuk mengakui atau pura-pura lupa." Zira menyindir Ziko yang terlalu naif mengakui perbuatannya. Ziko tidak bisa berkata-kata lagi. Dia kalah telak dalam berargumen dengan Zira. " Awas kalo sampai kamu bermesraan dengan sekertarisku." Ucap Ziko mengancam. " Ok siapa takut." Ucap Zira cepat. Zira tidak ada rasa takut sama sekali dengan ancaman yang di berikan Ziko. Karena dia yakin dia tidak akan melakukan kesalahan yang sama dengan Ziko. Di dalam benaknya Zira, dia tidak akan melakukan hal yang sama dengan Ziko karena dia sudah mencintai Ziko. Tapi Ziko bisa melakukan kesalahan karena rasa cintai itu belum tumbuh dengan sempurna. Zira akan berusaha menumbuhkan rasa cinta itu sedikit demi sedikit. Dia yakin "Witing tresno jalaran Soko kulino" artinya Cinta tumbuh karena terbiasa. Cinta oh cinta engkau datang begitu indah engkau pergi begitu menyakitkan. Cinta oh cinta engkau telah menyapaku dengan senyuman mu, berikan senyuman mu untuk dirinya agar cintanya tumbuh pada diriku. Satu kan kami dalam cintamu seperti cintanya Romeo and Juliet. " Like komen dan vote yang banyak ya terimakasih." Chapter 145 episode 145 Di gedung Rahasrya group. Semua karyawan dan karyawati sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Suasana di gedung itu sangat sibuk. Banyak kaum ada yang datang ke gedung itu. Mereka adalah para pelamar kerja yang sedang mengadu nasibnya di gedung itu. Perusahaan yang sangat besar dan mempunyai fasilitas yang lebih di bandingkan dengan perusahaan lain. Mereka selalu berlomba-lomba untuk mendapatkan pekerjaan di gedung itu. Lowongan pekerjaan masih satu hari di buka tapi sudah ratusan yang melamar. Untuk mengantisipasinya pihak HRD langsung melakukan test untuk 100 orang pertama. Pihak HRD akan melakukan test lagi di hari kedua untuk 100 orang kedua dan sisanya akan di lakukan pada hari ketiga. Semua para pelamar langsung memasuki ruang auditorium. Pihak HRD memberikan penjelasan tentang test tertulis, test tertulis di bagi menjadi empat yaitu test GAT (General aptitude test) test ini bertujuan untuk menguji kemampuan serta bakat dari pelamar kerja, test ini juga di lakukan untuk mengukur IQ peserta test. Test selanjutnya yang di jelas pihak HRD adalah test akademik tujuan untuk menguji kompetensi di bidang studi yang di kuasainya, test ini di gunakan untuk mengetahui pengetahuan di bidang job desc pekerjaan yang di lamar. Test selanjutnya yang di jelaskan pihak HRD adalah test psikotes dan test bahasa asing. Para pelamar kerja sangat antusias mengerjakan berbagai test yang di berikan pihak HRD. Mereka semua berharap dapat di terima bekerja di perusahaan itu. Di butik. Zira melukis desainnya di atas kertas putih. Kertas yang selalu ada dan selalu setia menemani hari-harinya. Lina datang ke ruangan Zira, Lina menyerahkan beberapa kertas kepada Zira. " Mbak ini ada beberapa berkas yang harus di tandatangani." Ucap Lina sambil menunjuk ke arah kertas yang berada di meja. Lina melihat ke atas meja Zira ada sebuah ponsel dengan keluaran terbaru. " Wah ada yang punya ponsel baru nih." Goda Lina. Zira hanya melirik Lina tidak menjawab sama sekali. Zira lagi fokus dengan kertas yang di bawa Lina. " Mbak berapa harga ponsel merek anggur ini?" Lina penasaran sambil memegang ponsel Zira. Zira mengangkat kedua bahunya memberikan isyarat kalo dia tidak tahu menahu mengenai harga ponsel tersebut. " Mbak pinjam ya?" Ucap Lina sambil memegang ponsel Zira. Lina ingin mengabadikan dirinya melalui ponsel Zira. Lina berselfi ria dengan gaya sok imutnya. " Wah memang kalo ponsel mehong kualitas gambarnya bagus ya. Beda banget dengan punyaku udah butut pecah lagi layarnya." Gerutu Lina kesal. Zira merasa kasihan mendengar ucapan Lina. Dia berniat ingin membelikan ponsel baru untuk Lina. " Nanti makan siang temanin aku ya." Ucap Zira cepat. Lina langsung menganggukkan kepalanya. Lina tidak banyak tanya dia hanya berpikir pasti Zira akan membawanya makan siang. Dari lantai bawah ada terdengar suara riuh. Zira dan Lina saling pandang mereka langsung berlari turun ke lantai bawah. Mereka mendapati karyawan Zira yang pingsan. Zira langsung meminta Pak supir membawa karyawan Zira ke rumah sakit terdekat. Zira duduk di samping Pak supir sedangkan Lina duduk di belakang menemani temannya yang pingsan. Pak supir langsung menekan pedal gas dengan kecepatan tinggi. Dalam beberapa menit mobil yang di tumpangi Zira sudah sampai di rumah sakit. Mobil berhenti di depan IGD para perawat memindahkan karyawan yang pingsan ke dalam ruang IGD. Dokter jaga mengecek semuanya. Setelah dilakukan pemeriksaan dokter jaga menjelaskan kepada Zira. " Maaf nona teman anda pingsan karena kecapekan." Ucap dokter jaga. " Maaf dok apa ada sebab yang lainnya soalnya saya lihat dia pucat sekali." Ucap Zira cepat sambil melihat kearah karyawan yang bernama Susi. " Dia lagi hamil muda. Nanti dokter kandungan yang akan menjelaskan lebih lanjut. Untuk sementara teman anda kami rawat dulu di sini." Ucap dokter jaga menjelaskan. Setelah mengisi beberapa berkas dari pihak rumah sakit. Karyawan yang bernama Susi di pindahkan ke ruang rawat inap. Seorang perawat mendorong hospital bed menuju lift khusus pasien, Zira dan Lina mengikuti perawat tadi masuk ke dalam lift. Setelah sampai di lantai dua, perawat tadi keluar dari lift dan mendorong hospital bed menuju ruangan melati. Zira dan Lina mengikuti dari belakang. Tubuh Susi sudah di pindahkan ke atas dipan rumah sakit. " Ini resep obatnya silahkan tebus di apotek." Ucap perawat tadi memberikan copy resep kepada Zira. Perawat tadi pergi meninggalkan ruangan melati. " Aku akan menebus obat ini, kalo Susi sudah sadar kamu tanya nomor ponsel suaminya segera hubungi secepat mungkin." Ucap Zira menjelaskan kepada Lina. Lina menemani Susi di ruang rawat inap sedangkan Zira pergi menuju lantai dasar untuk menebus obat. Zira memberikan Copy resep kepada apoteker. Zira duduk di sofa sambil menunggu obat siap diracik. Zira memandangi sekeliling rumah sakit itu. Ada banyak orang yang berlalu-lalang di rumah sakit itu. Ada yang menjenguk pasien dan ada juga yang berobat ke poli sesuai dengan keluhan sakitnya. Tidak jauh dari tempat Zira duduk, ada seseorang yang Zira cukup kenal yang tidak lain adalah Fiko. Zira masih ragu dengan penglihatannya. Zira mencoba mendekati pria tersebut dan setelah yakin itu Fiko, Zira memberanikan diri untuk menyapa Fiko. " Fiko kamu Fiko kan?" Ucap Zira meyakinkan. Fiko yang namanya disebut langsung berbalik melihat sosok yang menyebut namanya. Fiko merasa takjub melihat ada sosok Zira berada didepannya. " Zira kamu apa kabar?" Ucap Fiko antusias. " Aku baik, kamu ngapain disini?" Ucap Zira penasaran. Fiko tertunduk sedih, dia menatap Zira sekilas kemudian tertunduk lagi. Zira menjadi penasaran dengan tingkah Fiko seperti itu. " Siapa yang sakit." Ucap Zira sambil menggoyangkan lengan Fiko. " Naura sakit." Ucap Fiko pelan sambil masih tertunduk. " Sakit apa?" Ucap Zira lagi. " Naura sakit kanker darah." Ucap Fiko sedih. Zira langsung mundur teratur mendengar ucapan Fiko. Zira merasa kakinya lemas, dia tidak sanggup untuk berdiri. Zira duduk di sofa menjaga keseimbangan tubuhnya agar tidak jatuh. Zira tidak bisa berkata-kata, cobaan Fiko sangat berat. Ingin rasanya Zira memeluk Fiko memberikan semangat kepadanya. Tapi Zira masih ingat statusnya sebagai istri sah dari Ziko. " Maafkan aku." Ucap Zira pelan sambil tertunduk. " Kamu tidak salah Zira." Tidak berapa lama seorang apoteker memanggil nama Susi, obat Susi sudah di racik. Zira menerima obat tersebut, sebelum dia pergi ke ruang melati Zira menanyakan terlebih dahulu kepada Fiko ruangan Naura di rawat. Zira berlari menuju lift meninggalkan Fiko yang masih antri menunggu resep obat di apotek. Zira hendak memasuki lift tapi dia ketemu dengan dokter Diki. " Dokter." Ucap Zira menyapa sopan. " Nona Zira? Siapa yang sakit?" Dokter Diki penasaran. " Karyawan saya lagi sakit sekarang di rawat di ruang melati." Ucap Zira cepat sambil berlari menuju lift. Zira tidak mau berlama-lama ngobrol dengan Dokter Diki. Karena Zira harus menyerahkan Obat Susi kepada perawat jaga di ruang melati. Dokter Diki melihat Zira memasuki lift dengan buru-buru. Dokter Diki ingin menanyakan hal-hal yang lainnya tapi di urungkan niatnya karena melihat Zira terburu-buru. " like komen dan vote yang banyak ya terimakasih." Chapter 146 episode 146 Zira keluar dari lift dan berlari kecil menuju ruang melati. Dia masuk kedalam ruangan itu. Zira mendapati Susi sudah sadar dan sedang mengobrol dengan Lina. " Tolong antar ini ke ruangan perawat." Ucap Zira kepada Lina sambil memberikan bungkus obat di tangannya. Lina langsung keluar dari ruang melati untuk mengantar obat ke perawat jaga. " Bagaimana keadaan kamu?" Zira duduk di kursi sambil memegang tangan Susi. " Saya sudah agak mendingan mbak." Ucap Susi pelan. Lina sudah kembali ke ruangan melati dia ikut nimbrung bicara. " Mbak, aku sudah menghubungi suaminya, mungkin sebentar lagi sampai." Ucap Lina menjelaskan. Zira menganggukkan kepalanya. Tidak berapa lama pintu di buka ada seorang dokter wanita dan dua orang perawat di belakangnya. " Selamat siang." Sapa Dokter itu ramah. " Siang." Mereka menjawab semua. Dokter tadi meletakkan stateskop ke dada Susi dan perut Susi. Dokter itu mengajukan beberapa pertanyaan mengenai keluhan yang di rasakan Susi. Semua di tanya Dokter itu, perawat mencatat semua di dalam buku catatan pasien. " Bagaimana keadaan teman saya Dokter?" Zira memberanikan diri bertanya ketika dokter sudah selesai memeriksa Susi. " Kandungannya lemah, jadi saya sarankan demi kebaikan si ibu dan janinnya, anda harus istirahat total." Dokter menjelaskan semuanya dari sebab dan akibat kemungkinan yang akan terjadi. Dokter keluar dari ruang melati setelah selesai memeriksa Susi. Susi tertunduk sedih dia bingung dengan pekerjaannya. Zira paham dengan kesedihan yang di rasakan Susi. " Kamu istirahat saja, enggak usah pikirkan tentang pekerjaan nanti kalo kata dokter kandungan kamu sudah kuat, kamu bisa kembali bekerja di Zira Boutique." Ucap Zira memberikan semangat. Susi yang tadinya berwajah sendu kembali ceria. Dia merasa sangat senang mendapatkan seorang bos yang pengertian seperti Zira. Lina dan Zira pamit pulang karena suami Susi sudah datang. Mereka masuk ke dalam lift, Zira menekan lantai 4. Lina memperhatikan Zira dengan heran, tapi dia tidak bertanya. Lift telah berhenti di lantai 4 Zira dan Lina keluar dari lift. Zira melebarkan pandangnya ke lantai 4, Zira mencari ruangan tempat Naura di rawat. " Mbak, kamu cari apa?" Ucap Lina penasaran. Mereka berjalan menyusuri lantai 4. " Aku cari ruangan Naura di rawat, katanya di sebelah sini." Ucap Zira masih dengan membaca tulisan yang ada di atas pintu. " Siapa Naura mbak?" Ucap Lina lagi penasaran. " Naura ituloh yang pernah minta desain baju ulang tahun ala princess." Ucap Zira menjelaskan. Tapi Lina belum bisa mengingat wajah Naura. Zira dan Lina berhenti di depan ruang cempaka. Zira mengetuk pintu perlahan tidak berapa lama pintu di buka dari dalam ada Fiko di depan pintu. Fiko mempersilahkan mereka untuk masuk. Naura terbaring di tempat tidur dengan jarum infus di tangannya, wajahnya pucat dan badannya sedikit kurus dari pertama kali Zira melihatnya. Naura masih memejamkan matanya, Zira memberanikan diri untuk duduk di samping tempat tidur. Zira mengelus tangan Naura dengan lembut. Naura membuka matanya ketika di elus oleh Zira. " Tante." Ucap Naura lirih. " Iya sayang." Ucap Zira mengecup dahi Naura. " Tante apakah aku bisa sembuh?" Ucap Naura sambil mengeluarkan air mata dari ujung matanya. Zira melihatnya tidak kuasa, ada perasaan yang amat sakit dari relung hatinya. Zira berusaha menahan air matanya, air matanya di bendungnya dengan memalingkan wajahnya ke arah lain. Zira berusaha tetap kuat melihat kondisi Naura yang sakit. " Tante kenapa Tante tidak pernah datang lagi setelah ulang tahunku." Ucap Naura lagi. Lagi-lagi Zira tidak bisa menjawab pertanyaan Naura. Kondisinya yang tidak bisa menemui Naura. Semenjak perkelahian antara Fiko dan Ziko terjadi, ruang gerak Zira jadi terbatas. Semua kegiatan Zira terus di pantau Ziko. " Maaf sayang Tante sibuk." Ucap Zira berbohong demi menyemangati Naura. " Tante apakah aku masih cantik." Ucap Naura lirih. " Kamu tetap cantik sayang dan kamu adalah bidadari yang di turunkan malaikat untuk mengisi hari-hari papa kamu." Ucap Zira sambil melirik ke arah Fiko. Zira memberikan semangat untuk sembuh kepada Naura. Zira menyemangati Naura dengan cara yang unik. " Kamu harus sembuh, nanti kalo kamu sembuh Tante akan membuat baju princess yang paling bagus untuk kamu." Ucap Zira menyemangati. Naura menganggukkan kepalanya, Naura merasa semangatnya telah kembali. Zira menyayangi Naura seperti dia menyayangi dirinya sendiri. Karena efek obat yang di rasakan Naura tidak kuasa menahan matanya, dalam sekejap Naura langsung tertidur lagi. Naura harus banyak istirahat seperti itulah pesan dari Dokter. " Aku mau bicara." Ucap Zira kepada Fiko. Mereka keluar dari ruang cempaka. Mereka ngobrol di lorong lantai 4. " Sejak kapan Naura sakit." Ucap Zira cepat. Fiko menundukkan kepalanya beberapa detik kemudian mengangkat kembali kepalanya. " Setelah pertemuan kita yang terakhir kali." Ucap Fiko pelan. Zira masih ingat pertemuannya terakhir dengan Fiko ketika mereka berada di restoran. Dan masih ingat di dalam benak Zira ketika perkelahian terjadi antar Fiko dan Ziko. Semua terjadinya karena Ziko yang cemburu buta kepada Fiko. " Maafkan aku atas kejadian beberapa bulan yang lalu." Ucap Zira meminta maaf mewakili permainan maaf Ziko. " Sudahlah kamu tidak bersalah. Suami kamu memang sangat posesif. Tapi aku memakluminya." Ucap Fiko menenangkan Zira. " Ya kalo saja perkelahian itu tidak terjadi, pasti aku mengetahui tentang Naura." Ucap Zira sedih. Fiko menjelaskan tentang awal mula Naura sakit. Naura anak yang ceria beberapa bulan terakhir, Fiko mendapati Naura sering mengeluh sakit seperti di tulang rusuk kiri bawah, dan nafsu makan Naura yang semakin lama berkurang, belum lagi Naura seiring mengalami pendarahan di gusi hidung maupun urin. Semenjak kejadian itu Fiko langsung melarikan Naura ke rumah sakit untuk mengetahui tentang sakit yang di derita anaknya. Dokter memvonis Naura terkena kanker darah atau yang sering di sebut leukemia, dan dokter memvonis Naura sudah masuk stadium 3 yaitu sel kanker sudah tumbuh lebih dalam ke jaringan tubuh. Meskipun demikian sel kanker belum sampai menyebar ke bagian tubuh lain. Untuk mencegah sel kanker tumbuh dan menyerbar ke bagian tubuh lain maka dokter menyarankan Naura untuk di kemoterapi. Zira merasa terpukul dan tak kuasa menahan air matanya. Zira yang kuat dan jarang menangis tidak bisa lagi membendung air matanya. Dia merasa beban yang di rasakan Fiko teramat sangat berat. Semenjak meninggal istirnya dia mengurus Naura seorang diri, dan cobaan itu datang kembali kepada dirinya. Penyemangat hidupnya telah sakit dan dia tidak ada daya upaya selain memberikan semangat dan melakukan yang terbaik untuk malaikat kecilnya. Zira hanya bisa memberikan semangat berupa bantuan moril. " Titip salamku pada Naura, besok aku akan datang kembali ke sini." Ucap Zira sambil menyalami tangan Fiko. Fiko memegang tangan Zira lama. Tangan yang pernah masuk ke dalam bagian dirinya, yang sekarang telah menjadi milik orang lain. " Like komen dan vote yang banyak ya terimakasih." Chapter 147 episode 147 Zira dan Lina sudah pergi meninggalkan rumah sakit. Seperti ucapan Zira sebelumnya kalo Zira ingin membawa Lina keluar. Mobil memasuki area parkiran Mall. Zira dan Lina akan makan siang di Mall tersebut. Mereka memesan makanan sesuai selera mereka masing-masing. Setelah selesai menikmati makan siangnya Zira mengajak Lina untuk berkeliling Mall. Zira memasuki sebuah toko yaitu toko ponsel. Zira ingin membelikan ponsel untuk Lina. " Pilih yang mana kamu suka." Ucap Zira sambil menatap Lina seperti sahabatnya. Lina sampai mendekatkan telinganya ke badan Zira karena masih belum percaya dengan ucapan Zira. " Iya kamu pilih saja yang mana kamu suka." Ucap Zira lagi. " Mbak kamu bercanda kan?" Lina masih ragu dengan ucapan Zira. " Aku serius, sudah waktunya ponsel kamu di museum kan." Ucap Zira sambil tertawa kecil. Lina tersenyum senang mendengar ucapan Zira. Sangking senangnya berkali-kali Lina memeluk Zira. Penjaga toko menawarkan beberapa merek ponsel dari merek batagor, opah singgisung sampai merek anggur di tawarkan oleh penjaga toko. Mereka masih melihat-lihat ke dalam isi etalase toko, Zira dan Lina sangat serius dengan pilihannya sambil menatap ke dalam etalase toko. Karena terlalu fokus Zira tidak memperhatikan ada dua orang telah berdiri di belakangnya. Kepala Zira di benturkan dengan kuat ke etalase kaca ada cairan merah keluar dari dahi Zira. Penjaga toko dan pembeli lainnya sampai mundur melihat kejadian itu, mereka tidak berani ikut campur terlalu dalam. Zira merasa pusing karena mendapat benturan di kepalanya. " Siapa kalian kenapa kalian membenturkan kepala mbak Zira." Lina teriak histeris. Belum sempat Lina memaki kedua orang itu Lina sudah di tampar. Lina memegang pipinya yang kena tamparan. Tangan Zira di tarik oleh kedua orang itu. Zira melihat sosok yang membenturkan kepalanya ke etalase toko, mereka adalah Sisil dan Kia. Mereka sudah mengikuti Zira dari butik sampai ke mall. Mereka ingin membalaskan dendamnya karena ini adalah kesempatan emas bagi mereka. Mereka sudah mengintai terlebih dahulu kalo supir Zira tidak ada di dekatnya. Pak supir sebelumnya sudah izin kepada Zira untuk mengisi bahan bakar mobil. Zira di bawa ke pojok ruangan, tangan kanan dan kiri Zira di pegang Sisil dan Kia. Badan Zira di dorong ke dinding, tangan kanan dan tangan kiri Zira di angkat ke atas dan di tempelkan ke dinding. Kia memegang tangan kanan Zira dan Sisil memegang tangan kiri Zira. Tangan Sisil dan tangan Kia yang lain mencengkram leher Zira. " Seperti ini caramu menghajar ku apa kamu masih ingat." Bentak Kia. Leher Zira di cengkram dengan kuat. Penjaga toko ingin menarik mereka tapi Sisil dan Kia sudah mengancam penjaga toko. " Awas kalo kalian berani mendekat." Ucap Sisil dengan tangan yang masih mencengkram leher Zira. Kedua orang itu seperti sedang kesetanan, mereka tidak berpikir panjang dengan perbuatannya. Mereka melakukan seperti yang di lakukan Zira terhadap mereka. Untuk melepaskan tangan dan leher Zira tidak bisa karena tangan Zira sudah di pegang sangat keras oleh Sisil dan Kia. Tapi Sisil dan Kia lupa kalo mereka belum mengamankan kaki Zira. Zira menendang tulang kering kaki Kia, dengan otomatis Kia melepaskan pegangannya dari tangan Zira. Setelah tangan kanan Zira lepas, Zira memukul hidung Sisil berkali-kali sampai mengeluarkan darah bisa di pastikan hidung Sisil patah. Tidak sampai di situ Zira masih menarik Kia dengan keras. Zira menendang kaki kanan Kia dengan keras sampai kaki Kia patah. Setelah merasa puas Zira berdiri dengan gagah perkasa sambil melemparkan pandangan keliling toko. Penjaga toko dan pengunjung toko tidak bergeming dengan kejadian itu. Mereka merekam kejadian itu dalam layar ponselnya. Ada salah satu pengunjung yang ingin kabur tapi Zira sudah teriak duluan. " Jangan ada yang keluar dari sini. Kalian semua adalah saksi atas kejadian ini." Ucap Zira sambil melemparkan tudingannya ke semua yang berada di toko. Dahi Zira masih keluar darah tapi Zira masih bisa berdiri dengan gagahnya. " Aku adalah istri dari Ziko Putra Raharsya. Dan kalian adalah saksi kunci atas peristiwa ini." Ucap Zira tegas. Zira melambaikan tangannya memanggil penjaga toko yang tadi melayaninya. " Hubungi polisi, dan katakan apa yang sebenarnya terjadi." Ucap Zira cepat sambil melihat ke arah Sisil yang meringis kesakitan sambil memegang hidungnya yang patah. Kia tidak kalah histerisnya dia teriak kesakitan sambil memegang kaki kanannya yang patah. " Jangan bangunkan anak kucing yang lagi tidur itu akibatnya." Ucap Zira kepada Sisil dan Kia sambil melihat mereka secara berulang. Lina menghampiri Zira, dia membawa Zira untuk duduk di kursi sambil mengelap dahi Zira yang berdarah. Tidak berapa lama datang beberapa orang polisi ke toko itu. Polisi langsung membawa ketiga orang itu. Sisil Kia dan Zira di bawa ke rumah sakit terlebih dahulu sebelum di bawa ke kantor polisi. Toko itu telah di berikan police line, semua pengunjung yang berada di mall riuh dengan keajadian itu. Pak polisi membawa semua orang yang berada di toko tersebut untuk di mintai keterangan begitupun Lina, dia juga ikut ke kantor polisi. Dahi Zira yang berdarah sudah di obati oleh pihak rumah sakit. Zira di bawa ke kantor polisi untuk di mintai keterangan. Sisil dan Kia harus di rawat karena mendapat pukulan yang sangat keras dari Zira. Polisi berjaga di depan pintu tempat mereka di rawat. Zira di masukkan ke dalam sel, karena terbukti telah melakukan penganiayaan terhadap orang lain. Pihak polisi melakukan penyelidikan dengan intens, mereka mengajukan beberapa pertanyaan kepada saksi atas kejadian itu. Pihak polisi mengizinkan Zira untuk menghubungi pengacaranya. Pihak polisi memberikan tas Zira, Zira mengambil ponsel dari dalam tasnya dan menghubungi Ziko. Tidak berapa lama suara panggilan terhubung. " Halo." Ucap Zira pelan. " Kenapa kamu tidak mengabariku tentang keberadaanmu." Ucap Ziko cepat. Ziko belum sempat menyelesaikan kalimatnya tapi Zira sudah memotong kalimatnya. " Aku di kantor polisi, bawakan aku pengacara." Ucap Zira tenang. Ziko yang mendengar Zira di kantor polisi langsung membelalakkan matanya tidak percaya. Ziko berperang dengan pikirannya. " Kenapa? Apa yang terjadi?" Ucap Ziko penasaran. " Sudah tenang saja, bawakan aku pengacara." Ucap Zira cepat sambil mematikan ponselnya. Ziko menghubungi Kevin dan menceritakan semuanya. Kevin dengan segera menghubungi pengacara Ziko. Ziko mempunyai Pengacara pribadi dia adalah Pengacara yang sangat terkenal dengan profesinya. Soal keahlianya tidak di ragukan lagi banyak lawannya ketar ketir ketika berhadapan dengan pengacara ini. Kevin langsung menyalakan mesin mobil dan membawa Ziko menuju kantor polisi. Ziko tidak bisa membayangkan apa yang terjadi kepada istrinya. " Apa yang telah di buat istriku sampai dia di tahan di kantor polisi." Ucap Ziko bingung dan stress. " Saya juga belum tau tuan, Kita tidak bisa menduga-duga, Kita serahkan semuanya sama polisi pasti mereka akan melakukan dengan bijak dan adil." Ucap Kevin menenangkan Ziko. " Like komen dan vote yang banyak ya terimakasih." Chapter 148 episode 148 Ziko dan Kevin sudah sampai di kantor polisi, tidak berapa lama pengacaranya juga tiba di kantor polisi. Mereka sama-sama masuk ke dalam kantor polisi. Para polisi sangat segan dengan Ziko secara dia adalah orang terpandang di kota itu. Tim pengacara Ziko menjelaskan maksud tujuan mereka datang ke situ. " Saya adalah Pengacara dari nona Zira, yang barusan kalian tahan." Ucap pengacara. Polisi jaga pergi ke dalam menanyakan kepada pihak penyidik. Pihak penyidik mempersilahkan mereka untuk masuk, mereka memberikan ruang spesial untuk Ziko dan timnya. Mereka menunggu di ruangan yang lumayan bagus. Tim pengacara Ziko langsung berhubungan dengan pihak penyidik untuk menanyakan penyebab Zira di tahan. Sebagian Tim pengacara mencari bukti untuk memperingan tuduhan yang di berikan Zira. Setelah mendapatkan informasi mengenai penyebab Zira di tahan, pihak pengacara langsung menjelaskan kepada Ziko. Ziko kaget mendengar Zira telah menghajar dua orang sampai babak belur. Pihak pengacara memberikan rekaman Video pertengkaran itu melalui aplikasi uuutube. Ziko dan Kevin sampai terheran-heran melihat istrinya dengan cepat dan cekatan dalam menghajar lawannya. " Saya ingin menemui istri saya." Ucap Ziko kepada pengacaranya. Tim pengacara langsung masuk ke dalam ruang penyidik mereka meminta izin untuk bertemu dengan Zira. Tim penyidik mengizinkan mereka untuk bertemu dengan Zira. Mereka mempersilahkan Ziko dan beberapa tim pengacara untuk menunggu di ruang tunggu. Tidak berapa lama seorang polisi datang membawa Zira kedalam ruang tunggu. Zira keluar dengan perban yang masih menempel di dahinya, baju Zira kotor karena terkena darah. Ziko langsung memeluk Zira tidak kuasa melihat Zira seperti itu. " Apa ini sakit." Ucap Ziko perhatian sambil memegang dahi Zira yang di plester perban. " Enggak aku enggak apa-apa." Ucap Zira menenangkan Ziko. " Akan aku habisi mereka berdua." Ucap Ziko merapatkan kedua giginya. " Tidak perlu kamu menghabisi mereka berdua aku sudah membuat mereka berdua cacat seumur hidup. Zira memang telah memukul mereka dengan keras Zira yakin kalo mereka berdua akan cacat. " Tapi aku ingin membalaskan dendam mu." Ucap Ziko masih emosi. " Enggak usah kamu balaskan dendamku, apa kamu mau masuk penjara juga?" Ucap Zira cepat. Tim pengacara langsung mengambil kesempatan untuk bertanya pada Zira dengan detail. Zira menceritakan semua kejadian itu dari awal sampai dia menghajar Sisil dan Kia babak belur. Setelah mendapatkan bukti dan keterangan dari Zira. Pihak pengacara langsung membuat status kalo Zira melindungi dirinya dari ancaman yang akan membunuhnya. Tim pengacara langsung menyerahkan status itu kepada pihak penyidik agar di teliti dan di baca berkas perkaranya. Zira harus kembali lagi ke dalam ruang tahanan karena waktu sudah habis. Ziko sudah stres dia tidak bisa membayangkan Zira harus tidur di dalam dinginnya ruang penjara. Pihak penyidik menjelaskan mengapa mereka langsung menahan Zira karena terbukti telah melakukan penganiayaan dan mereka belum bisa melepaskan Zira sebelum bukti semua lengkap. Jika bukti semua lengkap dan Zira di akui melakukan karena melindungi dirinya maka bisa di pastikan Zira akan bebas seperti itulah penjelasan pihak penyidik. Ziko sudah mondar mandir di dalam ruang tunggu. Mereka masih setia menunggu keputusan dari pihak penyidik. Kevin langsung menghubungi kepala kepolisian di situ. Kevin hanya menjelaskan bahwa Tuan Ziko ada di ruang tunggu. Tidak berapa lama Bapak kepala polisi datang ke dalam ruang tunggu di dampingi rekan kerjanya. Bapak kepala polisi menyapa Ziko dan tim pengacara dengan ramah. Tim pengacara langsung mengambil kesempatan untuk menjelaskan permasalahan yang terjadi. Bapak kepala polisi mengerti, beliau memerintahkan anak buahnya untuk menyelesaikan hasil penyelidikan kasus Zira dengan cepat hari ini juga. Setelah berbicara panjang lebar Bapak kepala polisi langsung pergi meninggalkan ruang tunggu. Ziko dan timnya masih menanti Zira di ruang tunggu. Lama mereka menunggu sampai tengah malam tapi Zira juga belum keluar. Mereka belum ada yang pulang karena Bapak kepala polisi sudah menginformasikan kalo kasus Zira akan di selesaikan hari ini. Jam satu pagi akhirnya Zira keluar. Zira di dampingi pihak kepolisian menuju ruang tunggu. Pihak polisi juga sudah menyerahkan barang-barang Zira. Mereka keluar dari kantor polisi. Beberapa tim pengacara menyelesaikan beberapa berkas yang harus di tanda tangani. Mereka semua menuju parkiran, Ziko membisikkan sesuatu ketelinga sang pengacara. " Aku mau mereka berdua di hukum seberat-beratnya." Ucap Ziko pelan sambil membisikkan ke telinga sang pengacara. Ziko dan Zira sudah berada di mobil, Kevin langsung menyalakan mesin mobil dan melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Karena pada saat jam satu lalu lintas sudah sepi jadi Kevin bisa melajukan mobilnya dengan kencang. Ziko memeluk Zira dan membenamkan kepala Zira di dadanya sambil mengelus rambut Zira berulang-ulang. Ada sesuatu yang ganjal yang ingin ditanyakan Ziko, dari tadi pertanyaan itu selalu mutar di pikirannya. " Istriku dari mana kamu belajar menendang dan memukul seperti itu." Ucap Ziko penasaran sambil mengelus rambut Zira berulang-ulang. " Dari Thanos." Ucap Zira asal. Dia sudah malas membahas masalah itu. " Berapa lama anda berguru dengan Thanos." Ucap Kevin cepat sambil tersenyum-senyum. " Ada apa sih dengan kalian? Apa kalian juga mau di hajar seperti itu." Ucap Zira kesal. Dia merasa capek, capek pikiran dan badannya capek. Ziko dan Kevin tidak berniat melanjutkan percakapannya. Mereka fokus dengan pikiran mereka masing-masing. Kevin fokus menyetir mobil dan Ziko fokus dengan pikirannya. Begitu mobil sampai di depan mansion Zira langsung berlari ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang seharian lengket karena keringat dan membersihkan beberapa bekas darah yang masih menempel di pipi dan lehernya. Ziko membantu Zira membersihkan rambutnya. Karena plester yang menempel di dahi Zira tidak boleh terkena air jadi mau tidak mau Zira meminta Ziko untuk membantunya. Ziko menyiram rambut Zira dengan shower seperti seorang pekerja salon. Ziko ingin membantu Zira dengan memandikan Zira. Tapi Zira melarangnya. " Aku bisa mandi sendiri." Ucap Zira cepat sambil mengusir Ziko keluar kamar mandi. " Siapa yang mau memandikan mu, aku mau kamu memandikan ku." Ucap Ziko cepat sambil menarik tangan Zira. Ziko dan Zira melakukan jurus membersihkan toilet di kamar mandi. Jurus itu berakhir karena perut Zira sudah bernyanyi. Mereka keluar kamar mandi dengan bersama-sama. Ziko mengambil telepon yang ada di nakas, Ziko ingin menghubungi Pak Budi tapi Zira menahannya. " Biarkan mereka beristirahat." Ucap Zira cepat sambil menahan tangan Ziko agar tidak menghubungi Pak Budi. " Tapi kamu lapar?" Ucap Ziko khawatir. " Ya aku lapar tapi tanganku masih kuat untuk memasak." Ucap Zira cepat sambil mengepalkan tangannya. Ziko membelalakkan matanya, dia seperti sedang berbicara dengan anak Thanos. Mereka berdua pergi ke dapur. Ini adalah pertama kalinya Ziko menginjakkan kakinya ke dapur. Dia tidak pernah sama sekali menginjakan ke dalam ruangan itu. Ziko merasa aneh dengan barang-barang yang ada di situ. " Like komen dan vote yang banyak ya terimakasih." Chapter 149 episode 149 Ziko merasa aneh dengan barang-barang yang ada di dapur. Ziko melihat sebuah ceret yang berada di atas meja dapur. " Kenapa benda ini ada di sini? Bukannya harusnya ada di taman." Ucap Ziko sambil memegang ceret di tangannya. Zira merasa heran dengan ucapan Ziko. Zira membalikkan badannya melihat Ziko yang sebelumnya sedang membelakangi Ziko. " Apa maksud kamu?" " Ini kan untuk menyiram tanaman kenapa di bawa kesini." Gerutu Ziko cepat sambil masih memegang ceret di tangannya. Zira tidak kuasa menahan tawanya mendengar ucapan Ziko yang polos. " Dasar bayi unta, ini bukan untuk menyiram tanaman tapi ini untuk menyiram hatimu yang beku." Ucap Zira lagi asal sambil cekikikan. Ziko langsung menutup mulut Zira dengan tangannya, dia takut mendengar Zira cekikkan. Zira melepaskan tangan Ziko dari mulutnya. " Apaan sih?" Ucap Zira sambil melepaskan tangan Ziko dari mulutnya. " Kamu jangan tertawa seperti itu, ini sudah malam aku tidak mau kamu mengundang mahluk gaib datang kesini." Ucap Ziko pelan sambil memegang bahu Zira. " Mana ada mahluk gaib, apa kamu lupa kalo si kuntilanak sudah aku patahkan kakinya, kan tidak lucu kalo si kuntilanak datang pakai tongkat." Ucap Zira cepat sambil mengupas bawang. " Jangan kamu tertawa seperti itu lagi. Aku takut dia datang kesini." Ucap Ziko dengan bulu tangan bergidik. Ziko memegang bulu tangannya yang bergidik dan tengkuknya yang juga bergidik. " Istriku apa kamu tidak merasakan hal aneh. Buluku bergidik semua." Ucap Ziko takut sambil menunjukkan bulu tangannya yang bergidik. Zira melihat tangan Ziko semua bulu tangannya bergidik. " Kalo aku bukan bulu itu yang bergidik." Ucap Zira cepat sambil tetap fokus dengan kerjaannya. " Bulu apa?" Ziko penasaran dan takut dia menempelkan badannya dengan badan Zira. " Bulu kaki sama bulu ketek." Ucap Zira asal sambil menunjuk bulu kakinya dan keteknya yang tidak ada bulu. Ziko menoyor kepala Zira karena omongan Zira yang asal. " Apa yang bisa aku bantu." Ucap Ziko cepat. Ziko ingin membantu Zira menyelesaikan masaknya, karena Ziko tidak mau berlama-lama di dalam ruangan itu. " Kupas bawang ini." Ucap Zira menyodorkan bawang merah dan bawang putih kepada Ziko. " Bagaimana cara mengupasnya." Ucap Ziko bingung dia memang tidak mengenal dengan benda di depannya. " Buka aja bajunya." Ucap Zira sambil menggoreng ayam. Ziko tidak bertanya lagi dia membuka bajunya untuk mengupas benda di depannya yaitu bawang merah dan bawang putih. " Setelah itu apa lagi. Aku sudah buka baju nih." Ucap Ziko cepat. Zira tertawa melihat Ziko yang membuka bajunya. " Aku menyuruhmu membuka baju si merah dan si putih bukan baju mu." Ucap Zira tertawa. Ziko menggaruk kepalanya dia tidak mengerti dengan istilah yang di ucapkan Zira. " Kamu kalo kasih perintah itu harus jelas. Memangnya sejak kapan bawang merah dan bawang putih pakai baju." Ucap Ziko kesal sambil memakai bajunya kembali. Zira tidak menjawab pertanyaan Ziko, Zira sudah fokus memasak. Zira memasak nasi goreng karena itulah yang paling cepat menurutnya. Zira memasukkan sesuatu ke dalam wajan sambil tetap mengaduk. " Itu apa?" Ucap Ziko masih memperhatikan Zira memasukkan sesuatu kedalam wajan. " Kecap." Ucap Zira cepat. " Kenapa warnanya hitam." Ucap Ziko lagi penasaran. " Kalo putih namanya ingus." Ucap Zira asal. Ziko langsung menutup mulutnya mendengar ucapan Zira. Lagi-lagi Ziko menoyor kepala Zira. " Jorok kamu." Ucap Ziko sambil menoyor Zira. " Kamu sih membuat pertanyaan yang aneh." Ucap Zira sambil meletakkan nasi ke dalam piring. Zira membawa piring yang berisi nasi goreng ke dalam kamar. Mereka menikmati makanannya di dalam kamar. " Kamu tau enggak suamiku, kenapa kecap warnanya hitam?" Ucap Zira sambil mengunyah makanannya. Ziko menggelengkan kepalanya karena dia memang tidak tau menahu tentang masalah itu. Ziko mendengarkan Zira serius. " Karena warna merah hijau kuning sudah di ambil sama Pak Polisi." Ucap Zira cekikkan. Lagi-lagi Zira membuat candaan di tengah malam. Ziko sudah malas mendengar ucapan Zira yang tidak pernah serius dia lebih memilih untuk tidur. Zira menghabiskan makanannya terlebih dahulu sebelum tidur. Zira memeluk Ziko, karena badan Ziko yang cukup besar Zira memeluknya dengan tangan dan kakinya juga. Malam sudah bergeser menjadi pagi. Cahaya sang Surya sudah mengintip dari tempatnya. Cahaya yang sangat indah untuk di lewatkan. Semua penghuni mansion sudah melakukan aktivitasnya seperti biasa, hanya Zira dan Ziko yang masih tidur. Mereka melewatkan pagi yang cerah. Pagi sudah bergeser menjadi siang tapi pemilik mansion masih juga belum keluar dari kamarnya. Kevin yang menunggu dari pagi sudah mulai bosan. Dia memilih untuk beristirahat di kamar tamu sambil menunggu Ziko dan Zira keluar. Pak Budi sudah bolak balik menyiapkan makanan tapi Ziko dan Zira tetap belum keluar. Zira membuka matanya perlahan. Dia terkejut karena pandangannya menjadi hitam. " Suamiku kenapa dengan mataku? aku tidak bisa melihat." Ucap Zira sambil menggoyangkan badan Ziko. Ziko terkejut dia langsung bangkit dari posisi berbaringnya. " Kenapa dengan mata mu?" Ucap Ziko penasaran dan takut. " Aku tadi tidak bisa melihat karena mataku terhalang sama bulu ketekmu." Ucap Zira cepat sambil duduk di atas kasur. Ziko malas mendengar ucapan Zira, Ziko masih ngantuk dia lebih memilih untuk berbaring lagi. Zira sudah pergi ke kamar mandi. Jadwal Zira hari ini mau pergi ke rumah sakit untuk membuka perban di dahinya. Zira keluar dari kamar mandi dan masih mendapatkan Ziko yang tertidur pulas. Zira membangunkan Ziko. " Suamiku kamu tidak ke kantor." Ucap Zira sambil membisikkan ke telinga Ziko. Ziko tidak menjawab dia masih tetap tertidur pulas. Zira tidak membangunkan Ziko lagi. Zira memilih untuk bersiap-siap. Zira hendak keluar kamar tapi ada suara Ziko yang memanggilnya. " Kamu mau kemana?" Ucap Ziko dengan suara serak bangun tidur dan masih tetap dengan posisi berbaring. " Aku mau ke rumah sakit mau membuka perban ini." Ucap Zira sambil menunjuk perban di dahinya. " Tunggu aku." Ucap Ziko sambil bergerak ke kamar mandi. Zira menunggu Ziko duduk di sofa sambil memainkan ponselnya. Zira membuka sebuah aplikasi melalui ponselnya. Zira terkejut melihat wajahnya seliweran di dalam aplikasi uuutube itu. Video Zira menghajar Sisil dan Kia menjadi Video Viral. Ada caption yang berbunyi. Istri seorang presiden direktur bertangan baja. Dan ada caption lain yang membuat Zira tertawa. Istri bertangan baja dan suami berkaki beton mereka akan berkolaborasi dalam membangun sebuah gedung. " Like komen dan vote yang banyak ya terimakasih." Chapter 150 episode 150 Zira dan Ziko sudah selesai melakukan aktivitas makannya, bukan makan pagi tapi makan siang yang kesiangan. Kevin sudah mengemudikan mobil menuju rumah sakit. Hari ini jadwal Zira untuk membuka perban. Zira tidak ingin di antar ke rumah sakit, dia lebih nyaman kalo pergi sendiri. Karena jika bersama suaminya, ruang geraknya di batasi oleh Ziko. Mereka memasuki pintu loby rumah sakit, bagian resepsionis sudah memberikan senyum terbaiknya untuk menyapa mereka. Mereka semua mengenal Ziko. Ziko mempunyai saham di rumah sakit itu sehingga mereka sangat segan dan hormat kepada Ziko. " Suamiku, kenapa mereka semua tersenyum dengan kita." Ucap Zira penasaran. Ziko tidak menjawabnya, dia memegang tangan Zira memasuki lift. Mereka pergi menuju ke ruangan dokter Diki. Sebelumnya Kevin sudah menghubungi dokter Diki. Dokter Diki sudah menunggu di ruangannya. Mereka masuk ke dalam ruangan dokter Diki. Zira diperintahkan untuk berbaring di tempat tidur, dua orang perawat sedang membuka perban yang ada di dahi Zira. Ziko dan dokter Diki sedang mengobrol sesuatu mereka sedang membicarakan tentang proses kehamilan. " Berapa lama proses seseorang itu mengalami kehamilan?" Ucap Ziko penasaran. " Biasanya kalo berhubungan dalam masa subur bisa di pastikan dalam waktu dua atau satu bulan sudah hamil." Dokter Diki menjelaskan panjang lebar mengenai proses kehamilan. " Tapi kenapa istriku belum hamil juga?" Ucap Ziko cepat. " Apakah kalian sering melakukannya." Ucap dokter Diki pelan. " Kamu tau kami melakukannya sebanyak tujuh kali tiga kali tujuh dalam semalam." Ucap Ziko bangga sambil tersenyum lebar. Dokter Diki membelalakkan matanya tidak percaya. Omongan Ziko seperti menunjukkan kehebatannya dalam menaklukkan sebuah kasur. " Kenapa kamu melihatku seperti itu? Apa kamu enggak percaya?" Ucap Ziko menatap dokter Diki dengan tatapan tajam. " Aku percaya aku percaya." Dokter Diki menengahi pembicaraannya agar Ziko tidak berkomentar lagi mengenai ketidaknyakinannya. " Bagaimana apa istriku bisa hamil?" Ucap Ziko masih penasaran. " Suksesnya kehamilan seseorang bukan hanya dari si wanita tapi juga si pria." Dokter Diki menjelaskan tentang masa subur dari wanita dan pria. Ziko masih mendengarkan dengan seksama. " Jadi ko, kalo istri belum hamil jangan di vonis mandul, bisa jadi si pria yang tidak subur." Ucap dokter Diki menjelaskan. " Apakah bisa di cek tentang semua itu." Ucap Ziko lagi dia merasa khawatir mendengar penjelasan dokter Diki. " Bisa sekali, jaman sekarang peralatan kedokteran sudah semakin canggih belum lagi ilmu kedokteran sudah semakin berkembang, jadi untuk hal itu semua bisa di cek. Tapi ingat semuanya adalah pemberian dari yang Maha Kuasa. Kita sebagai manusia hanya berusaha dan berdoa. Ucapan Dokter Diki sangat menyentuh relung hatinya. Perban Zira sudah selesai di buka, ada bekas kecil di ujung dahinya. Tapi tidak mengurangi kecantikannya. Zira ingin keluar dari ruangan itu, dia berniat untuk menjenguk Naura. Tapi dia masih mencari waktu yang tepat. Zira memperhatikan dokter Diki berbicara serius dengan Ziko. Dia tidak mengetahui apa yang di bicarakan mereka berdua. Zira mulai memikirkan cara bagaimana pergi ke kamar Naura. Dia tidak ingin memberitahu hal ini karena dia masih mengingat mengenai ancaman Ziko yang akan menghabisi Fiko. Zira keluar dari ruangan dokter Diki secara perlahan - lahan, dia hendak melangkahkan kakinya menuju lift, tapi Kevin sudah memperhatikannya dari jauh. Zira melambaikan tangannya sambil menunjukkan perutnya. Dia berakting kalo perutnya mules, Kevin mengerti dan menganggukkan kepalanya memberi izin. Zira langsung berlari kecil menuju lift. Kevin merasa curiga karena Zira bukan ke toilet tapi pergi naik lift. " Mau kemana nona Zira, bukannya toilet juga ada di lantai ini." Gumam Kevin pelan. Kevin mengikuti Zira, dia sudah mengetahui lantai berapa lift Zira berhenti. Zira masuk ke dalam ruang cempaka, dia mendapati Naura sedang makan sambil di suapin pengasuhnya. " Tante." Ucap Naura senang. Zira menghampiri tempat tidur Naura, dia memeluk Naura dengan erat dan mengecup dahi Naura secara berulang-ulang. " Bagaimana keadaan kamu sayang." Ucap Zira sambil memegang tangan Naura. " Aku sangat sehat Tante." Ucap Naura sambil tersenyum lebar. Keadaan Naura jauh lebih baik di bandingkan kemaren, dia seperti mendapatkan semangat untuk sembuh. Zira memperhatikan sekeliling ruangan cempaka tapi tidak menemukan Fiko di dalam ruangan itu. " Papa kamu mana sayang." Ucap Zira lagi sambil menatap Naura. " Papa pergi ke kantor sebentar, sebentar lagi papa balik." Ucap Naura pelan. Zira merasa kasihan mendengar ucapan Naura, di saat Naura sakit, Fiko tetap harus bekerja untuk menafkahi anaknya. Zira mengerti perasaan Naura, karena tidak di tungguin papanya dan hanya di temanin seorang pengasuhnya. Zira berbicara panjang lebar dengan Naura, dia memberikan semangat untuk Naura agar tetap semangat untuk sembuh. Zira juga membuat cerita lucu tentang anak-anak, Naura tertawa bahagia mendengar cerita lucu yang di buat Zira. Dia merasa senang dapat membantu Naura kembali tertawa seperti dulu. Zira izin pamit untuk pulang karena sudah waktunya dia kembali. Naura tidak mengizinkannya pulang tapi Zira memberikan pengertian kepadanya. Zira keluar dari ruang cempaka dan pergi menggunakan tangga darurat menuju ruang melati tempat Susi di rawat. Keadaan Susi sudah mulai membaik, dia menjelaskan kalo hari ini mereka akan segera pulang. Zira mengobrol dengan Susi dan suaminya. Kevin masih mencari keberadaan Zira yang belum kunjung ketemu. Ziko menghubungi nomor Zira, tapi tidak ada sahutan sama sekali darinya. Ziko mencoba menghubungi nomor Kevin. " Kamu di mana?" Ucap Ziko cepat. " Saya sedang di lantai 4 mencari nona Zira." Ucap Kevin masih menunggu di depan toilet. " Kenapa istriku ada di lantai 4?" Ucap Ziko penasaran. " Tadi nona pamit mau ke toilet tapi nona sepertinya ke toilet lantai 4." Ucap Kevin cepat masih menunggu di depan toilet. Ziko menghubungi Kevin masih di dalam ruangan Dokter Diki. Dokter Diki mendengarkan percakapan antara Ziko dan Kevin. " Kalo lantai 4 tempat pasien anak-anak tapi untuk penyakit yang serius." Ucap Dokter Diki memotong percakapan antara Ziko dan Kevin. Ziko memutuskan panggilannya sambil mendengarkan ucapan Dokter Diki. " Kemaren Zira juga datang ke sini." Ucap Dokter Diki cepat. " Jam berapa dia datang." Ziko mulai curiga, dia mulai mengajukan beberapa pertanyaan kepada Dokter Diki. Dokter Diki mencoba mengingat kisaran jam pertemuan mereka, antar dirinya dan Zira. " Hemmmmm kalo enggak salah sebelum makan siang." Ucap Dokter Diki lagi. Pikiran Ziko berkecamuk, seingat dia pada saat sebelum makan siang belum terjadi baku hantam itu. " Untuk apa dia ke sini?" Ucap Ziko lagi penasaran. " Aku Ketemu dengannya di dekat lift, dia seperti sedang buru-buru dan aku melihat di tangannya ada bungkusan plastik obat, dan kalo aku enggak salah dengar dia bilang temannya lagi sakit." Ucap Dokter Diki menjelaskan. " Like komen dan vote yang banyak ya terimakasih." Chapter 151 episode 151 " Apa temannya di rawat di lantai 4?" Ucap Ziko penasaran. " Ko kan aku sudah bilang kalo lantai 4 hanya untuk pasien anak-anak yang mengalami penyakit serius." Ucap Dokter Diki sambil tersenyum tipis. Masih ada yang janggal dalam benaknya Ziko. Dia merasa Zira menyembunyikan sesuatu. Ziko keluar dari dalam ruangan Dokter Diki. Dia langsung menghubungi Kevin. " Kamu di mana?" Ucap Ziko cepat. " Saya masih di lantai 4." Ucap Kevin cepat. " Apa yang kamu lakukan di sana?" Ziko berjalan menuju lift dan langsung menekan lantai 4. Ziko langsung mematikan panggilannya setelah menginjakkan kakinya di lantai tersebut. Dia mencari Keberadaan Kevin, setelah berkeliling dia menemukan Kevin sedang berdiri di depan toilet cewek. " Apa yang kamu lakukan di situ." Ucap Ziko cepat sambil melihat sekelilingnya. " Saya menunggu nona Zira." Ucap Kevin cepat sambil menegakkan posisi badannya sebelumnya posisi badannya bersandar ke dinding. " Sudah berapa lama kamu di sini?" Ucap Ziko cepat. " Saya sudah setengah jam di sini. Saya mau masuk takut karena ini toilet cewek." Ziko ingin masuk ke dalam toilet itu tapi di tahan sama Kevin. " Tuan jangan masuk nanti di pikir orang tuan mau berbuat cabul." Ucap Kevin menjelaskan sambil menahan badan Ziko. Ziko membatalkan niatnya untuk masuk ke toilet, mereka berdua masih menunggu di depan pintu toilet. " Tuan apa anda sudah menghubungi nona Zira?" Kevin masih bersandar di dinding sambil mengangkat salah satu kakinya ke dinding. " Sudah tapi enggak di jawab sama dia." Ziko merasa khawatir dia takut terjadi apa-apa dengan Zira. " Vin, kamu kok tau kalo dia ke toilet?" " Tadi nona Zira hanya memegang perutnya. jadi saya berasumsi kalo nona Zira mau ke toilet." Ucap Kevin cepat. Ziko langsung menepuk bahu Ziko. " Belum tentu asumsimu benar bisa jadi dia pergi ke kantin karena lapar." Ucap Ziko sambil memukul lengan Kevin secara berulang. Kevin memegang lengannya yang di pukul Ziko. " Tuan kalo nona Zira lapar pasti pergi ke lantai dasar, karena kantin berada di lantai dasar." Ucap Kevin menjelaskan. Ziko manggut-manggut mengerti, ucapan Kevin benar adanya. Sudah habis nih lengan di pukul terus. Mereka tetap menunggu di depan toilet. Ada seseorang yang ingin masuk ke dalam toilet, Kevin menyapa wanita itu. " Mbak mau ke toilet ya?" Ucap Kevin ramah. " Enggak mau ke mall." Ucap wanita itu judes. Wanita itu curiga dengan keberadaan dua orang pria yang berdiri di depan toilet. Wanita itu berpikir jelek tentang mereka berdua. " Kalo mau ngintip jangan disini, ngintip sana di empang." Ucap wanita itu judes. Ziko tertawa mendengar ucapan wanita itu. Wanita itu melihat Ziko dengan tatapan sinis. " Ngapain kamu tertawa? Kamu juga sama saja, sama-sama tukang ngintip." Ucap wanita itu lagi. Kali ini Kevin yang tertawa mendengar ucapan wanita itu. Wanita itu tidak mengenal Ziko, yang mengenal Ziko kebanyakan dari kalangan bisnis dan rekan-rekan artis. Mayoritas masyarakat umum mengingat namanya tapi mereka tidak mengenal wajahnya. " Maaf mbak, kami tidak ingin mengintip tapi kami sedang menunggu seseorang di toilet dari tadi belum keluar, kami khawatir terjadi sesuatu di dalam sana." Ucap Kevin menjelaskan. Wanita itu masuk ke dalam toilet, dia melaksanakan hajatnya di sana yaitu hajat buang air. Wanita itu melihat sekeliling toilet tapi tidak menemukan satu orangpun di dalam sana. Wanita itu keluar dari toilet dengan wajah marah. " Pembohong kalian, bilang saja kalo kalian mau mengintip cari-cari alasan sedang menunggu." Ucap wanita itu marah. Wanita itu melangkahkan kakinya, beberapa langkah kemudian dia membalikkan badannya melihat ke arah Ziko dan Kevin. " Kalo kalian tidak pergi dari situ akan aku laporkan ke security." Ancam wanita itu. Kevin dan Ziko langsung pergi setelah mendengar ancaman dari wanita itu. Mereka tidak mau nama baik mereka rusak karena tuduhan itu. Mereka membicarakan masalah Zira di dalam lift. Kevin menekan tombol lantai dasar, mereka berniat untuk mencari Zira di kantin. Dari lantai 4 lift turun ke lantai 3, ada seorang perawat masuk dan tersenyum kepada mereka berdua. Dari lantai 3 lift turun ke lantai 2 ada seseorang yang masuk ke dalam lift yang tidak lain adalah Zira. Zira kaget melihat upil dan upil ada di dalam lift. Ziko sudah mengeluarkan mata lasernya tapi Zira langsung mengalihkan pandangannya ke arah perawat di sebelahnya. Dari lantai 2 lift turun menuju lantai 1 semua yang berada di lift keluar. Ziko langsung menarik tangan Zira, dia membawa Zira pergi menjauh dari keramaian. " Kamu dari mana saja?" Ucap Ziko teriak. Zira langsung menutup mulut Ziko dengan tangannya. " Ingat ini rumah sakit jangan teriak-teriak, apa kamu mau, orang yang berada di rumah sakit ini terkena serangan jantung karena mendengar teriakan mu." Ucap Zira cepat sambil menutup mulut Ziko dengan tangannya. Zira melepaskan tangannya dari mulut Ziko setelah di lihatnya Ziko sudah bisa mengontrol suaranya. " Jelaskan padaku dari mana saja kamu." Ucap Ziko cepat sambil menatap Zira dengan tatapan mengintimidasi. " Owh aku dari lantai 2." Ucap Zira santai. " Kenapa kamu kelantai 2?" Lagi-lagi Ziko mengajukan pertanyaan kepada istrinya. " Karena enggak ke lantai 3." Zira menjawab dengan santai tanpa ada beban sedikit pun. Ziko merasa geram dengan jawab Zira. " Kamu!" Ziko menuding jarinya ke wajah Zira. Zira langsung menggigit jari Ziko. Ziko meringis sakit karena jarinya di gigit istrinya dengan kuat. " Pertanyaan kamu salah, seharusnya apa yang kamu lakukan di lantai 2, seperti itu." Ucap Zira menjelaskan. " Iya apa yang kamu lakukan di lantai 2." Ziko memperbaiki pertanyaan. " Karyawanku sakit dia di rawat di ruang melati." Ucap Zira santai. " Jangan bohong kamu?" Ucap Ziko cepat. Zira menggelengkan kepalanya kalo yang di ucapkannya adalah benar. Ziko memerintahkan Kevin untuk memastikan kebenarannya. Kevin menuju lantai 2, dia masuk ke dalam ruang melati. Kevin menanyakan beberapa hal kepada pasien yang di rawat di ruangan itu. Kevin kembali ke tempat Ziko dan Zira, dia memberitahukan hal yang sebenarnya. Zira dapat bernafas lega, dia belum berani mengatakan kalo dia menjenguk anaknya Fiko. Dia akan mengatakan yang sebenarnya jika ada kesempatan dan waktu yang memungkinkan. Dan untuk saat ini bukan waktu yang tepat membicarakan hal-hal yang tidak di sukai Ziko. Karena Zira sudah paham betul dengan karakter Ziko yang tidak pernah mengenal ampun siapapun lawannya. Mereka sudah berada di mobil. Hari sudah petang matahari sudah sembunyi ke dalam persembunyian. Cahaya bulan sudah menunjukkan sinarnya sedikit demi sedikit. " Like komen dan vote yang banyak ya terimakasih." Chapter 152 episode 152 Mereka sudah berada di mobil. Hari sudah petang matahari sudah sembunyi ke dalam persembunyian. Cahaya bulan sudah menunjukkan sinarnya sedikit demi sedikit. Kevin ingin mengantarkan pulang sepasang suami istri ini. Tapi Zira masih ingin jalan-jalan menikmati indahnya sinar rembulan. " Aku belum mau pulang." " Jadi kamu mau kemana?" Ucap Ziko penasaran. " Aku mau kita pacaran seperti sepasang kekasih." Zira bergelayut manja di lengan Ziko. " Memangnya kamu mau pacaran di mana?" Ucap Ziko cepat sambil membelai rambut Zira. Zira memikirkan sebuah taman yang sering di kunjungi sepasang kekasih. Zira memberitahukan lokasi taman itu berada. Mobil telah sampai di depan taman, taman yang lumayan besar dengan cahaya lampu yang berwarna-warni menambah kesan indah pada taman itu. Zira melarang Ziko untuk turun dia tidak ingin Ziko mengenakan jas tersebut. " Lepaskan jas kamu?" Ucap Zira sambil berusaha melepaskan Jas yang menempel di badan Ziko. " Kenapa kan bagus kalo aku pacaran pakai baju ini." Ucap Ziko komplain, dia lebih nyaman menggunakan pakaian yang lengkap. " Apa kamu mau meeting? Mana ada orang pacaran mengenakan setelan jas seperti ini." Ucap Zira protes. Ziko membuka jasnya dan menggulung sebagian lengan kemejanya, sehingga otot-otot tangannya terlihat sangat jelas. Hanya dengan mengenakan kemeja, dadanya yang bidang terlihat menonjol. Zira mencubit gemas dadanya Ziko. " Kenapa kamu mencubit ku." Ucap Ziko protes sambil menepis tangan Zira dari dadanya. " Hehehe berapa ukuran dadamu." Ucap Zira asal sambil mencubit lagi dada Ziko. " Apa maksud mu?" " Iya kalo ukuran kita sama kamu bisa pakai punyaku." Ucap Zira cepat sambil cekikikan. Kevin tertawa mendengar candaan Zira. Ziko menoyor kepala Zira pelan. Ziko menarik tangan Zira membawanya ke dalam taman itu. Kevin mengikuti dari belakang, dia seperti obat nyamuk yang menjaga tuannya kalo-kalo di gigit nyamuk. Banyak pasangan muda-mudi yang duduk di atas rumput sambil menyanyikan lagu favorit mereka. Ada sepasang kekasih yang sedang bermesraan di bawah pepohonan. Dan ada seorang pengamen yang sedang memainkan gitarnya sambil menyanyikan sebuah lagu. Pengamen itu membuat suasana taman itu manjadi romantis, banyak pasangan muda-mudi mengelilingi pengamen itu, mereka meminta lagu favoritnya di nyanyikan sang pengamen. Zira menarik tangan Ziko untuk ikut mengelilingi pengamen itu. Mereka terbawa suasana ke dalam kemesraan sepasang kekasih. Semua ikut menyanyikan lagu yang di mainkan sang pengamen, hanya Kevin yang tidak mengikuti nyanyian sang pengamen karena dia lebih hafal dengan nyanyian tok tok ????. " Siapa yang mau menyumbangkan suara emasnya." Ucap sang pengamen menawarkan kepada para penonton. Tidak ada sepasang kekasih yang mengacungkan jarinya untuk menyumbangkan sebuah lagu. Tapi Zira dengan cepat langsung mengangkat tangannya. Pada penonton riuh bertepuk tangan, tapi tidak dengan Ziko dia merasa malu untuk melakukan hal itu. " Apa yang kamu lakukan?" Ziko berbisik ke telinga Zira. " Aku mau kamu menyanyikan lagu untukku." Ucap Zira berbisik. " Aku tidak pernah nyanyi di depan umum, aku cuma penyanyi level kamar mandi." Ucap Ziko tetap berbisik. " Sudah anggap saja kamu sedang di kamar mandi." Ucap Zira lagi masih dengan berbisik. " Aku tidak bisa bernyanyi?" Ucap Ziko cepat sambil tetap berbisik ke telinga Zira. Zira sudah merayunya tapi dia tetap bersikeras untuk tidak menyanyikan sebuah lagu di hadapan orang banyak. Penonton sudah riuh meminta mereka untuk bernyanyi. Karena Ziko tidak mau bernyanyi jadi Zira yang akan menggantikannya. Lagi-lagi Ziko menahan tangan Zira, dia tidak yakin dengan suara Zira. " Apa kamu bisa bernyanyi?" Ucap Ziko penasaran. " Aku bisa bernyanyi dengan suara perut." Ucap Zira asal. Zira sudah ingin melangkahkan kakinya ke depan bergabung dengan pengamen itu tapi Ziko menahannya. " Jangan kamu rusak citraku dengan suara perutmu." Ziko menatap Zira dingin. " Tenanglah kalo suara perutku jelek aku bisa menggunakan bahasa isyarat?" Ucap Zira cepat sambil menepis tangan Ziko. Ziko berdiri dengan penonton yang lain dia tidak ingin bergabung dengan Zira. Dia mencari posisi aman jika suara Zira hancur maka dia tidak akan terlalu di sorot orang banyak. Penonton yang mengelilingi sang pengamen sudah riuh, mereka semua bertepuk tangan. Zira mengambil mikropon yang ada di depannya. " Test test." Ziko menutup wajahnya dengan satu tangannya dia khawatir dengan suara Zira yang hancur. Zira membisikan sesuatu ketelinga sang pengamen. Ziko melihat adegan seperti itu mulai marah, dia ingin berjalan mendekati mereka tapi Kevin memegang bahu Ziko. " Tuan kendalikan emosi anda, ini cobaan." Ucap Kevin sambil memegang bahu Ziko. Sang pengamen sudah memainkan gitarnya dengan Zira sudah mulai menyanyikan sebuah lagu. Oooh... (Kumau dia) Kuharap semua ini bukan sekedar harapan Dan juga harapan ini bukan sekedar khayalan Biarkan ''ku menjaganya sampai berkerut Dan putih rambutnya jadi saksi cintaku padanya Tak main-main hatiku Apapun rintangannya kuingin bersama dia Kumau dia, tak mau yang lain Hanya dia yang s''lalu ada kala susah dan senangku Kumau dia, walau banyak perbedaan Kuingin dia bahagia hanyalah denganku Biarkan ku menjaganya sampai berkerut Dan putih rambutnya jadi saksi cintaku padanya Tak main-main hatiku Apa pun rintangannya kuingin bersama dia Kumau dia, tak mau yang lain Hanya dia yang s''lalu ada kala susah dan senangku Kumau dia, walau banyak perbedaan Kuingin dia bahagia hanyalah denganku Bukan ku memaksa, oh, Tuhan Tapi kucinta dia (Yang kucinta hanya dia)¡­ Jantung Ziko berdebar mendengar nyanyian Zira, dan kata yang terakhir di dengar Ziko membuat hatinya bergumuruh tidak karuan. Ziko menepis tangan Kevin dari bahunya, dia berjalan mendekati Zira yang masih berdiri di depan mikropon. Tanpa sadar Ziko memeluk pinggang Zira dan mengecup bibirnya dengan lembut. Semua penonton riuh bertepuk tangan melihat gembira kemesraan yang mereka tampilkan. Zira baru sadar dengan kegilaaan yang dibuat Ziko. Mereka pergi dari keramaian itu, mereka kembali ke mobil, kevin melihat dan merekam setiap kejadian itu. Ziko merasakan hatinya sedang berbunga-bunga, dia memeluk Zira dengan erat. " Tatap aku? Apa yang kamu nyanyikan tadi memang keluar dari hatimu yang paling dalam atau hanya mengikuti lirik lagu penyanyi aslinya." " Kamu kenapa?" Ucap Zira mengalihkan pembicaraan. Dia sudah salah memilih lagu, sebenarnya dia tidak ingin menyanyikan lagu itu. Tapi entah kenapa lagu itu keluar begitu saja dari mulutnya. Zira belum bisa mengatakan perasaan yang sebenarnya, Zira masih menunggu sampai waktunya yaitu waktu satu tahun kebersamaan mereka. Walaupun lagu itu merupakan gambaran perasaan hatinya tapi dia menutup dulu pintu hatinya. Zira ingin Ziko memahaminya sendiri dan mengatakannya terlebih dahulu. Dia ingin Ziko melakukannya tanpa harus ada dorongan dari siapapun, dan waktu itu akan tiba. Perasaan itu berhubungan dengan cinta. Dan cinta berhubungan dengan hati. Jika perasaan sudah mengenal tempatnya maka cinta itu akan tumbuh, dan jika cinta sudah tumbuh maka sang hati akan tetap terjaga. " like komen dan vote yang banyak ya terimakasih." Chapter 153 episode 153 Pagi hari di gedung Rahasrya, sudah ramai dengan wajah-wajah baru. Mereka adalah para pelamar kerja yang telah lulus dan masuk ke tahap selanjutnya yaitu tahap interview atau wawancara. Dari sekian ratusan orang yang melamar hanya 15 orang memenuhi standar kualitas. Mereka telah memberikan yang tebaik pada test sebelumnya, dan hari ini adalah penentunya. Kevin sudah mengendarai mobil seperti biasanya. Dia tidak mengantar Zira ke butik tapi langsung membawanya ke gedung Raharsya group. " Kenapa aku tidak di antar ke butik?" Zira melihat jalanan yang panjang, jalan itu tidak menuju ke arah butik. " Hari ini kamu harus membantu aku di kantor." Ziko melemparkan senyuman sambil menyisir rambut Zira dengan jari-jarinya. Zira melihat jalanan yang sangat padat. Lalu lintas hari ini sangat padat, banyak pengendara mengendarai kendaraannya untuk sekedar berangkat ke kantor atau untuk mengantar anak-anaknya ke sekolah. Mobil telah sampai di depan gedung Raharsya group. Zira dan Ziko turun dari mobil ketika pintu mobil di buka oleh Kevin. Di depan meja resepsionis sudah tidak terlihat lagi wajah-wajah para pelamar kerja, mereka sudah menunggu di depan ruang interview. Ziko dan Zira sudah sampai di lantai tempat ruangan Ziko berada. Zira memperhatikan meja resepsionis yang masih kosong belum ada penggantinya. Ziko duduk di kursi kebesarannya dan Zira masih berdiri terpaku di depan Ziko. " Kamu kenapa? Apa kamu mau duduk di pangkuanku?" Ziko tersenyum memperhatikan Zira yang masih menatapnya bingung. " Suamiku aku harus melakukan apa? Apa kamu mau aku menjadi sekertaris mu?" Ucap Zira penasaran, dia selalu melihat ke arah pintu. Dan Ziko memperhatikannya. " Kenapa kamu terus melihat ke arah pintu." Zira tidak melihat ke arah pintu lagi setelah Ziko menegurnya. Tidak beberapa lama Kevin datang dan membisikkan sesuatu ke telinga Ziko. Ziko terlihat menganggukkan kepalanya. Ziko beranjak dari kursinya, dia menggandeng tangan Zira yang masih berdiri di depan meja. " Kita mau kemana?" Ziko menarik tangan Zira menuju lift di ikuti Kevin dari belakang. Dia masih tetap menggandeng tangan Zira. Mereka bertiga keluar dari lift menyusuri beberapa ruangan menuju satu ruangan, yang Zira sendiri tidak mengerti ruangan apa itu. Sebelum sampai ke dalam ruangan itu, dia memperhatikan beberapa orang sedang duduk di kursi sambil memegang amplop atau map di dada mereka. " Suamiku kita mau ngapain di ruangan ini dan siapa mereka semua." Ucap Zira sambil berbisik. Dia menunjuk ke arah perempuan dan beberapa orang yang sedang duduk di dalam ruangan itu. Beberapa orang yang duduk di ruangan itu menyodorkan tangannya ke arah Zira. Mereka menyapa Zira dan memperkenalkan dirinya masing-masing dan posisi mereka di gedung itu. " Nona anda akan membantu kami memilih calon sekertaris Tuan muda." Ucap Kevin pelan. Zira membelalakkan matanya tidak percaya mendengar ucapan Kevin. " Aku." Ucap Zira sambil menunjuk dirinya sendiri. Ziko dan Kevin menganggukkan kepalanya serentak. " Hahaha jangan bercanda dong, aku tidak pernah melakukan hal ini sebelumnya." Ucap Zira sambil tertawa kecil. " Ikuti saja mereka dan ingat jangan pilih yang ganteng pilih yang paling jelek." Ucap Ziko berbisik ke telinganya. " Kalo ganteng bagaimana suamiku." Ucap Zira penasaran. " Kalo kamu pilih yang ganteng akan langsung aku pecat hari ini juga, dan kamu yang akan menjadi sekertaris ku." Ucap Ziko tertawa licik. " Hahaha jangan bercanda sayang." Ucap Zira sambil tertawa di buat-buat. " Siapa yang bercanda, aku lebih menginginkan kamu menjadi sekertarisku, kita bisa menghabiskan waktu berdua saja di dalam ruangan khusus." Ucap Ziko tersenyum licik. Zira sudah membayangkan yang enggak-enggak mendengar ruangan khusus. " Suami ku tenang saja, aku akan pilih sekertaris yang paling jelek untukmu." Ucap Zira yakin. Ziko keluar dari ruangannya bersama dengan Kevin. Zira duduk dengan beberapa orang yang ada di sampingnya di depan meja. Mereka terlihat sangat ramah dan sopan. Seseorang memasuki ruang itu, dia duduk di depan Zira dan yang lainnya. Beberapa orang yang di samping Zira sudah mengajukan beberapa pertanyaan. Dan dia hanya sebagai penonton saja, karena memang itu bukan bidangnya. Semua yang berada di luar sudah mendapatkan giliran untuk di wawancarai. Mereka sudah meninggalkan gedung itu. " Nona sekarang giliran anda sebagai penentunya." Ucap Bu Mery menyodorkan beberapa berkas hasil wawancara ke depan Zira. Kevin sudah memberitahu kepada semuanya yang berada di ruangan itu bahwa keputusan final ada di tangan Zira. " Silahkan." Ucap Ibu Mery sopan. Zira sudah mengikuti hasil wawancara dari awal sampai akhir. Semua peserta sangat pintar dalam bidangnya, mereka bisa menjawab semua pertanyaan dengan caranya masing-masing. Zira melihat berkas yang ada di depannya, dia melihat foto mereka satu persatu. Dia masing ingat pesan Ziko untuk memilih yang paling jelek. Tapi semua peserta wawancara berpenampilan menarik dan wajah mereka juga sangat tampan. Zira menjadi bingung harus memilih siapa. Zira memperhatikan semua foto di depannya, sambil membuka video hasil wawancara tadi. Zira mengingat satu peserta yang menjadi unggulannya. " Yang ini." Ucap Zira sambil menunjukkan foto pria itu. " Apa anda yakin nona?" Ucap Bu Mery lagi untuk meyakinkan Zira. " Iya saya yakin." Ucap Zira cepat sambil meyakinkan orang-orang yang berada di sampingnya. Bu Mery dan yang lainnya menganggukkan kepalanya dan saling memandang satu dengan yang lainnya. Mereka setuju dengan keputusan Zira. Yang Zira pilih berwajah tampan seperti artis tapi dia mempunyai kelebihan yang berbeda dengan yang lainnya. Semua yang berada di ruangan itu kembali ke ruangannya masing-masing dan Zira kembali ke ruangan Ziko. Zira menjatuhkan badannya di atas sofa. Pekerjaan mewawancarai pekerjaan yang sangat membosankan dan membutuhkan waktu yang sangat lama. " Bagaimana hasil wawancaranya." Ucap Ziko melirik Zira dan kembali lagi menatap laptopnya. " Hemmm pekerjaan yang membosankan." Ucap Zira cepat sambil menutup matanya karena capek. " Bagaimana pilihan mu?" Ziko masih tetap serius memandang laptopnya. " Hemmm." " Apa kamu ingat dengan ucapanku?" Ucap Ziko untuk meyakinkan pilihan Zira. " Iya ingat." Ucap Zira cepat sambil berbaring di sofa. " Apa kelebihan dari calon sekertarisku." Ucap Ziko lagi sambil memutari meja kerjanya dan duduk di samping Zira. Zira duduk dari posisi berbaring, dia semangat untuk bercerita tentang semua peserta wawancara. " Kamu tau suamiku, semua peserta sangat ganteng dan tampan-tampan." Ucap Zira sambil membayangkan wawancara tadi. Dia merasa cemburu mendengar Zira memuji semua peserta wawancara. " Jadi siapa yang kamu pilih." Ucap Ziko penasaran. " Kamu tau suamiku, aku bingung harus memilih siapa, secara mereka ganteng dan tampan belum lagi kepintaran mereka menjawab semua pertanyaan, sampai-sampai aku bingung harus memilih siapa, tapi aku ingat pesan kamu." Ucap Zira yakin. " Apa pesanku." Ucap Ziko masih penasaran dengan pilihan Zira. " Like komen dan vote yang banyak ya terimakasih." Chapter 154 episode 154 " Pilih yang paling jelek. Tapi aku tidak memilih yang paling jelek yang aku pilih adalah yang paling tampan dan yang paling pintar di antara yang lainnya." Ucap Zira semangat dan yakin dengan pilihannya. Ziko menjewer kuping Zira, dia tidak suka dengan pilihan Zira. " Kenapa kamu menjewerku." Ucap Zira kesal sambil memegang kupingnya. " Kenapa kamu memilih yang paling ganteng di antara mereka semua apa kamu tidak ingat dengan ucapanku?" Ziko teriak kesal, dia sudah merasa cemburu dengan calon sekertarisnya. Zira tidak punya pilihan lain, dia membuat keputusan dengan pikiran yang matang dan dengan pikiran yang waras. Dia menjatuhkan pilihannya pada pria itu karena di antara sekian peserta hanya dia yang unik. Dan Zira mempunyai alasan khusus yang tidak dimiliki peserta lainnya. " Tenang saja pasti kamu setuju dengan pilihanku." Ucap Zira yakin. " Baiklah kita lihat saja nanti, jika pilihanmu salah siap-siap pindahkan ruanganmu kesana." Ucap Ziko tersenyum licik sambil menunjuk ke arah ruangan khusus yang berada di belakangnya. Ruangan khusus itu berupa kamar untuk Ziko beristirahat. Zira sudah membayangkan bagaimana cara sekertaris baru melayani bosnya dan membayangkan yang lucu-lucu tentang semuanya. Zira tersenyum tipis sambil membayangkan kejutan yang di buatnya. " Kamu jangan kebanyakan tersenyum nanti kamu kesurupan." Ucap Ziko mengingatkan istrinya. Ucapan Ziko membuyarkan lamunannya. Pintu ruangan di ketuk dari luar, ada Kevin berada di depan pintu. Dia masuk ke dalam ruangan itu dengan percaya diri. " Tuan menurut informasi dari Bu Mery besok sekertaris baru anda sudah mulai bekerja di sini." Ucap Kevin menjelaskan sambil berdiri tegak di depan Ziko. Zira membelalakkan matanya, dia tidak percaya kejutannya akan datang besok. Ziko memperhatikan Zira yang kegirangan. " Besok kamu tetap berada di sini, aku mau melihat kejutan apa yang kamu pilih untukku." Ucap Ziko cepat sambil melihat Zira. Zira menganggukkan kepalanya cepat, dia sangat semangat menyambut hari esok. Keesokan harinya. Matahari tidak bersinar dengan cerah, sang mentari tidak memberikan sinarnya yang indah. Cuaca hari ini sedikit mendung tapi tidak dengan mereka yang berada di kamar, perasaan pemilik kamar bersinar secerah mentari. Pemilik kamar melakukan pergumulan semalaman suntuk. Pergumulan yang panjang dan tidak tau siapa pemenangnya. Ziko dan Zira sudah berangkat ke gedung Raharsya group. Mereka berangkat agak siang dari hari sebelumnya. Ziko sudah duduk di kursi kebesarannya dan Kevin berdiri di samping mejanya. Zira hanya duduk di sofa sambil menunggu kejutannya datang. Tidak berapa lama pintu ruangan di ketuk dari luar. Asisten Kevin memegang handel pintu dan membuka pintu tersebut. Ada Ibu Mery di depan pintu dengan seorang pria di belakangnya. Kevin mempersilahkan mereka untuk masuk. Ibu Mery masuk bersama dengan pria tersebut, mereka berdiri di depan meja Ziko. Ibu Mery memperkenalkan pria yang ada di sampingnya. Setelah memperkenalkan pria di sampingnya, Ibu Mery di perintahkan untuk meninggalkan ruangan. Ziko menatap pria di depannya dengan sangat lekat, pria dengan berpostur tinggi dan wajah yang ganteng. Kegantengannya dapat di sandingkan dengan artis-artis tanah air. Ziko melirik istrinya yang sedang duduk di sofa. Dari lirikannya bisa di artikan kalo dia sangat tidak setuju dengan pilihan Zira. Tapi Zira tidak bergeming, dia masih memandang pria di depannya dengan tersenyum tipis. " Perkenalkan diri kamu?" Ucap Kevin cepat. " Perkenalkan nama saya Koko." Ucapnya dengan gaya khasnya. Ziko dan Kevin saling pandang mendengar pria tersebut memperkenalkan dirinya. Tidak dengan Zira, dia tertawa terbahak-bahak mendengar pria tersebut berbicara. Pria tersebut menjelaskan semuanya dari latar belakang dan semua pengalaman kerjanya sampai bahasa asing yang di kuasai di jelaskannya dengan cara uniknya. Ziko sudah tidak tahan mendengar pria itu berbicara. Dia mengusir pria itu keluar dari ruangan, dia ingin mendiskusikan kembali pilihan Zira. Pria tadi sudah keluar dari ruangan Ziko dan menunggu di depan ruangan. " Kenapa kamu pilih sekertaris seperti itu?" Ucap Ziko cepat menunggu penjelasan dari Zira. Zira geli masih membayangkan pria tadi berbicara. Pria yang unik yang pernah di temui dan sangat cocok untuk dijadikan sekertarisnya. " Kan bagus kalo dia jadi sekertaris kamu?" Ucap Zira cepat sambil tersenyum geli. " Apanya yang bagus, tangannya yang lemah gemulai seperti mau menari, seperti itu kamu bilang cocok untuk jadi sekertarisku." Gerutu Ziko cepat. Zira tertawa terbahak bahak mendengar ucapan Ziko terkahir. Zira memilih Koko sebagai sekertarisnya karena Koko lemah gemulai seperti banci tapi Koko mempunyai skill yang tidak kalah hebat dengan yang lainnya. " Tenang suamiku, aku memilihnya karena ada alasan khusus, sebelumnya kamu meminta ku untuk memilih yang paling jelek, dari sekian peserta hanya dia yang paling ganteng tapi hanya dia juga yang banci." Ucap Zira tertawa terbahak bahak. " Terus apa alasanmu memilih pria lemah gemulai itu." Ucap Ziko kesal. " Tentu aku mempunyai alasan yang tepat, yaitu kalo dia banci tentu dia tidak akan tertarik padaku." Ucap Zira bangga dengan pilihannya. Apa yang di katakan Zira memang benar adanya. Pada saat sekertaris Ziko berjenis kelamin wanita ada saja yang ingin merusak hubungan mereka, dan kalo pria normal yang di pilih Zira pasti akan terjadi bencana dalam hubungan mereka. Dan dengan pilihan pria lemah gemulai atau panggilannya banci, bisa di pastikan pria tersebut tidak akan melirik Zira dan hubungan mereka bisa aman damai sentosa. " Benar juga yang di katakan nona Zira, lebih aman kalo memilih pria tersebut." Kevin menyetujui pilihan dan alasan Zira. " Ya tapi kalo dia juga suka denganku bagaimana?" Ziko sudah merasa geli membayangkan yang terjadi nantinya. Zira dan Kevin tertawa melihat ekspresi geli yang di tampilkan Ziko. " Tenang suamiku, pria seperti itu tidak suka dengan pria beristri dia lebih suka dengan pria lajang seperti ini." Ucap Zira yakin sambil melirik ke Kevin. Kevin yang tadinya tertawa sekarang menutup mulutnya rapat, dia juga tidak bisa membayangkan apa yang terjadi dengan nasib ke depannya. Ziko dapat bernafas lega mendengar penjelasan dari istrinya, tapi tidak dengan Kevin. Pria yang bernama koko tadi di panggil kembali ke dalam ruangan. " Baiklah mulai hari ini kamu akan menjadi sekertaris saya." Pria yang bernama Koko teriak kegirangan dengan gaya kemayunya. Ziko dan Kevin membelalakkan matanya melihat ekspresi lucu dari si pria. Sedangkan Zira tertawa melihat tingkah lucu si sekertaris. " Tapi ingat jaga jarak denganku dan istriku." Ziko tetap harus waspada dengan dirinya dan istrinya, karena lebih baik waspada dengan kemungkinan yang bisa terjadi. " Tenang saja bos saya akan menjaga jarak dari anda dan istri anda, tapi boleh kah saya tidak menjaga jarak dengannya." Ucap koko sambil mengedipkan satu matanya kepada Kevin. Ziko menganggukkan kepalanya cepat, dia tidak mempermasalahkan itu. Tapi Kevin yang mempermasalahkan itu, Kevin sudah ngeri sendiri mendapatkan serangan kedipan mata dari Koko sekertaris baru Ziko. Ziko dan Zira tertawa terbahak bahak melihat tingkah lucu Koko. " Like komen dan vote yang banyak ya terimakasih." Chapter 155 episode 155 Dengan berat hati Kevin mengantarkan Koko ke meja kerjanya. Kevin menjelaskan beberapa peraturan yang harus di ikuti Koko. " Apa kamu mengerti." Bentak Kevin. Koko memegang dadanya kaget jarinya yang lemah gemulai membuat Kevin serasa ingin muntah. " Iya Pak saya mengerti." Sambil memegang dadanya. Kevin hendak pergi meninggalkan Koko, tapi dia membalikkan badannya kembali melihat kearah Koko. " Siapa tadi nama kamu?" Ucap Kevin lupa. " Cici, nama saya C i c i di baca Cici." Ucap Koko dengan gaya bicaranya yang kemayu bak bunga yang layu. Kevin membelalakkan matanya mendengar Koko menyebutkan nama yang lain kepadanya. " Siapa Cici?" " Saya Cici." Ucap Koko sambil menunjuk dirinya sendiri. " Bukannya nama kamu Koko?" Ucap Kevin bingung. " Nah itu Bapak tau, kenapa masih tanya sih ah." Ucap Koko dengan gaya mendesahnya. Kevin serasa ingin bunuh diri di pohon cabe, dia tidak rela kalo selalu berurusan dengan makhluk tak kasat mata ini. " Bapak jangan pergi dulu." Koko menahan Kevin untuk tidak pergi meninggalkannya. Koko berdiri sejajar dengan Kevin, postur tubuh mereka sama tinggi, yang satu gagah perkasa dan yang satu lagi luar biasa tingkahnya. " Apa lagi!" Kevin menoleh ke arah Koko dengan tatapan sinis. " Bapak jangan panggil saya Koko tapi panggil aja saya Cici." Ucap Koko malu sambil menutupi mulutnya dengan salah satu tangannya. Lagi-lagi Kevin membelalakkan matanya dia merasa heran dengan mahluk astral di depannya. Di pikiran Kevin ngidam apa mamaknya sampai melahirkan mahluk seperti ini. " Aku tidak akan memanggilmu Cici ataupun Koko tapi aku akan memanggilmu manusia jadi-jadian." Ucap Kevin tegas sambil pergi meninggalkan Koko yang sedang ngambek sebutannya di ganti. Walaupun Koko seperti banci tapi dia mempunyai kepintaran di atas rata-rata. Dia tipe pekerja keras dan pantang menyerah. Seperti hatinya yang tidak akan menyerah untuk mendapatkan perhatian dari asisten Kevin. Di dalam ruangan Presiden direktur. Zira bergelayut manja di lengan Ziko. Dia sedang merayu Ziko untuk mengizinkannya pergi sebentar ke luar gedung. " Boleh ya? sekejap saja." Ucap Zira sambil membentuk jarinya menjadi huruf V. " Untuk apa kamu pergi? Sebentar lagi juga waktunya kita makan siang." Dia tidak ingin Zira pergi karena kalo Zira pergi makan siang mereka akan terlewatkan. " Kan masih ada satu jam lagi, bisalah aku pergi." Ucap Zira memohon. Dia ingin pergi ke rumah sakit menjenguk Naura, dia sudah berjanji pada dirinya hari ini akan membelikan sebuah boneka untuk Naura. Zira mengecup bibir Ziko dengan lembut. Ini adalah jurus terkahir yang dia keluarkan karena jurus merayunya sudah tidak berhasil mau tidak mau dia dominan menicum Ziko. " Boleh." Ucap Zira cepat sambil melepaskan bibirnya dari atas bibir Ziko. " Hemmmmm." Zira kegirangan senang karena jurusnya berhasil. " Kamu mau pergi kemana?" Ziko mengelus rambut Zira lembut. " Aku mau pergi ke mall mencari sesuatu di sana." Ucap Zira cepat. " Ok kalo begitu aku ikut, kita makan siang di Mall bagaimana." Dia menunjukkan mata lasernya kepada Zira agar Zira menyetujui idenya. Zira pura-pura tertawa kecil. Dia sudah bingung harus mencari alasan apa. " Kamu kan masih banyak kerjaan." Sambil menunjuk ke arah meja kerja Ziko. Ziko memang sangat sibuk hari ini, pekerjaannya sudah menumpuk di meja. Beberapa berkas membutuhkan tanda tangannya dengan segera. " Ok kamu pergi duluan kesana dan nanti aku menyusul." Dia memegang bahu Zira untuk meyakinkan istrinya kalo dia akan menyusulnya ke mall terdekat. Mau tidak mau Zira menyetujuinya, walaupun dia tidak tau bisa sampai tepat waktu atau tidak ke mall itu. " Bawa sekertaris kemayu itu untuk ikut menemanimu." Dia merasa khawatir dengan kepergian Zira ke mall, khawatir akan ada Sisil-sisil dan Kia-kia lainnya. Di pikirannya dengan membawa seorang pria pasti wanita seperti Sisil dan Kia tidak akan berani menyentuhnya. " Tapi bukannya kamu bilang sama Koko untuk mejaga jarak." Zira merasa heran dengan ucapan suaminya yang plin-plan. Ziko tidak menjawab ucapan Zira, dia menghubungi sekretaris kemayunya. Dalam sekejap Koko sudah sampai dan berdiri di depan Ziko. " Siap bos." Masih dengan gayanya. " Kamu ikuti istriku kemanapun dia pergi dan tetap jaga jarak." Ucap Ziko memerintahkan Koko. Koko menganggukkan kepalanya mengerti. Tapi dia masih bingung dengan kata mengikuti. " Maaf bos saya mengikuti kemana?" Koko bertanya dengan polosnya. Zira tertawa lucu, sedangkan Ziko menepuk dahinya, dia jengah menghadapi manusia seperti Koko. " Kamu itu banyak tanya ikuti saja dia kemanapun dia pergi, dan ingat jaga jarak. Paham." Ucap Ziko mengingatkannya. " Paham. Jadi saya harus menjaga jarak seperti mobil truk." Ucap Koko sambil mengangguk-anggukan kepalanya. Zira dan Koko hendak pergi tapi lagi-lagi dia kembali menghadap bosnya. " Bos kalo nona ke toilet apa saya juga harus ikut." Ucapnya ragu. " Dasar bego, memangnya kamu mau mati sampai mengikutinya ke toilet. Apa kamu mau mengintipnya." Ziko bicara dengan keras. " Hehehe siapa lagi yang mau ngintip, enggak tipe saya deh." Koko berbicara sambil menggerakkan jari jemarinya. " Memangnya seperti apa tipe kamu ko?" Ucap Zira penasaran. Dia berpikir semoga si Koko normal dan bukan abnormal. " Aku suka yang punya belalai." Koko berbicara sambil menggoyang-goyangkan badannya ke kanan dan ke kiri. " Buaahaaa." Zira sudah tidak kuasa menahan tawanya, ucapan Koko mengocok perutnya. Ziko jadi khawatir dengan dirinya, dia seperti mendapatkan sebuah ancaman dari dekat. " Awas kalo kamu mendekati ku." Ziko menuding jarinya ke arah Koko. " Ah si bos bisa aja deh, aku itu lebih suka sama yang singel seperti asisten Kevin." Ucapnya malu. Zira masih tetap tertawa. Koko seperti malaikat iblis yang di turunkan untuk merebut hati asisten Kevin. Walaupun Koko menyukai pria singel tapi Ziko tetap harus waspada, waspada dengan belalainya. Ziko memerintahkan mereka untuk pergi dan tidak lupa untuk mengecup dahi Zira dan mengecup lembut bibir Zira, dan Koko menjadi saksi atas peristiwa itu. " Oh my God." Ucapnya sambil mengipasi wajahnya dengan tangannya. Koko baru pertama kali melihat seorang Ziko mencium langsung istrinya tanpa ada rasa sungkan ataupun malu sama siapapun. Zira menjadi biasa mendapatkan serangan mendadak dari Ziko. Apalagi Kevin dia sudah seperti cicak yang sedang merayap kalo melihat kejadian itu. Dan sekarang telah hadir kecoa di depan mereka yaitu Koko ???? " Like komen dan vote yang banyak ya terimakasih." Chapter 156 episode 156 Supir mengantarkan mereka ke mall terdekat. Koko duduk di depan dengan Pak supir, dan Zira duduk di belakang. Mereka turun dari mobil, ketika Pak Supir sudah memarkirkan mobilnya dengan sempurna. Zira berjalan di depan Koko dan Pak supir. Mereka berdua menjadi bodyguardnya Zira untuk hari ini. Zira berhenti ke toko boneka, dia membeli sebuah boneka Barbie yang lumayan gede. " Nona sini." Ucap Koko mengulurkan tangannya mengambil boneka yang ada di tangan Zira. " Terimakasih Koko, kamu baik sekali." Zira tersenyum tipis melihat Koko membantunya. " Aduh nona saya itu bukan mau membantu, tapi saya kasihan sama boneka ini." Ucap koko sambil mengelus boneka yang di pegangnya. " Memangnya kenapa?" Zira penasaran dan bingung. " Idih nona kok enggak peka banget sih, apa nona enggak kasihan sama boneka yang lainnya. Kalo nona beli satu, beli semuanya, jadi kan adil." Ucap Koko manyun. " Adil gundulmu!" Zira menoyor kepala Koko. " Bilang aja kamu mau di belikan?" Ucap Zira menerka - nerka. Koko menganggukkan kepalanya sambil menggoyang - goyangkan badannya kesana kemari. Koko berwajah tampan, dan berpostur tinggi, setiap kaum hawa melihatnya pasti langsung terpesona, tapi kalo mendengar dia berbicara bisa di pastikan kaum hawa langsung diare. " Kamu mau boneka apa?" Ucap Zira menawarkannya. " Aku mau boneka Frozen, Ratu Elsa." Ucap Koko sambil bergelayut manja memegang lengan Pak supir. Pak supir sudah risih dengan tangan Koko yang tidak bisa mengkondisikan. Zira tidak membelikan boneka Frozen, dia membelikan boneka yang lain untuk Koko. " Nona kenapa boneka yang ini." Ucap Koko kesal. Zira membelikan boneka gajah, dan ada maksud dari boneka itu. " Kan boneka itu sama seperti kamu." Zira mengambil boneka Barbie dari tangan Koko. " Sama apanya?" " Sama-sama punya belalai." Ucap Zira tertawa cekikikan. Zira sudah tidak memperdulikan gerutu Koko, dia sudah jalan terlebih dahulu meninggalkan Koko yang masih terpaku dengan bonekanya. " Nona tunggu." Ucap Koko berlari mengejar, Zira melihat kebelakang dan memandangi cara berlari Koko seperti atlet renang. " Ko, kamu kalo lari kenapa normal." Zira menatap Koko bingung. Koko masih mengatur nafasnya. " Ah nona bisa aja, jalan saya normal, kalo lari juga normal cuma hati aja yang abnormal." Ucap Koko tertawa sambil menutup mulut dengan salah satu tangannya. Pak supir sudah mengantar Zira ke rumah sakit. Zira turun dari mobil, Koko mengikutinya dari belakang. " Stop kamu enggak usah ikut, aku hanya ingin mengantarkan ini." Sambil menunjukkan boneka bawaannya. " Owh tidak bisa, ingat! saya harus mengikuti kemanapun nona pergi." Koko bergaya layaknya seorang Ziko. " Apa ke neraka kamu juga mau ikut?" Zira sudah berjalan memasuki loby rumah sakit diikuti Koko dari belakang. Zira masuk ke dalam lift dan menuju lantai 4. " Jangan banyak tanya, dan jangan banyak bicara, kamu cukup perhatikan saja." Ucap Zira sambil menuding jarinya ke arah Koko. " Kalo bahasa isyarat boleh enggak?" " Mau bahasa isyarat bahasa kalbu atau bahasa hewan, semuanya enggak boleh, kamu cukup diam dan perhatikan saja." Zira menatap Koko tajam. Yang di tatap langsung menganggukkan kepalanya setuju. Mereka sudah sampai di lantai 4, dan menuju ruang cempaka. Naura masih terbaring di atas tempat tidur dan di pergelangan tangannya masih ada jarum infus. Fiko sedang menceritakan buku dongeng kepada Naura. " Halo Naura." Zira menghampiri Naura dan mengecup keningnya lembut sambil meletakkan boneka bawaannya di samping Naura. " Tante." Naura kegirangan melihat kehadiran Zira. Kehadiran Zira seperti obat untuknya. Fiko memperhatikan pria yang ikut dengan Zira. Di dalam pikirannya Koko seperti seorang bodyguard. Koko tersenyum-senyum cengengesan melihat ada mahluk sempurna di depannya. Koko sudah enggak bisa menenangkan hatinya yang bergejolak. Zira memperhatikan tingkah Koko yang sudah aneh. " Kamu kenapa?" Zira berbisik kepada Koko. " Nona aku sudah enggak tahan nih." Ucap Koko cepat sambil berlari ke kamar mandi. Fiko dan Zira mengobrol layaknya seorang teman, tidak ada rasa canggung sama sekali di antara mereka. Tapi tatapan Fiko kepada Zira tidak memungkiri, kalo dia masih menyimpan rasa itu dalam dirinya. Zira segera pamit kepada Fiko dan Naura. Naura merasa sedih melihat Zira pergi meninggalkannya, tapi Fiko dan Zira bisa memberikan pengertian kepadanya. Koko dan Zira sudah kembali ke mobil. Pak Supir sudah menyalakan mesin mobil dan melajukan mobil dengan kecepatan sedang. " Nona siapa manusia ganteng tadi." Ucap Koko penasaran. Zira melihat Koko sekilas dan kembali menatap jalanan yang sedikit macet. " Siapa?" " Itu yang tadi yang di ruangan cempaka." Koko penasaran dia membalikkan tubuhnya untuk melihat ke arah Zira. " Oh. Itu Fiko dan yang di rawat tadi anaknya." " Nona, anaknya sakit apa?" Lama Zira menjawab pertanyaan Koko. " Nona, are you there?" Ucapan Koko membuyarkan lamunan Zira. " Ya ada apa?" " Apa nona tidak berkenan memperkenalkan aku dengan teman anda Fiko." Ucap Koko malu sambil menutupi wajahnya dengan tangan. " Cih, Katanya naksir dengan asisten Kevin, kenapa kamu sekarang mengincar yang lain." Ucap Zira cepat. " Untuk cadangan nona." Koko sudah membayangkan yang enggak - enggak tentang dirinya jika bersama Kevin atau Fiko. " Cadangan ban serep kali, pakai cadangan." Gumam Zira sambil menendang kursi Koko. Ziko dan Kevin sudah sampai, mereka mencari ke semua restoran, tapi tidak mendapatkan keberadaan Zira dan Koko. Ziko sudah mulai memikirkan hal - hal yang aneh. Dia menghubungi nomor Zira. " Ya halo suamiku." Ucap Zira gugup. " Kamu masih di mall?" Ucap Ziko berbohong. " Iya aku ada di mall." Mobil baru sampai di depan pintu mall, Zira langsung berlari ke dalam Mall di ikuti Koko yang juga berlari. " Kita nanti makan di mana?" " Aku sudah di restoran xx. Kamu masih di kantor ya?" Ucap Zira pelan sambil berlari ke lantai atas menuju tempat restoran itu berada. Ziko dan Kevin langsung masuk ke dalam restoran xx dan mencari sekeliling ruangan tapi tidak ada Zira disana. " Iya aku masih di kantor, aku segera datang ke sana." Ucap Ziko menutup panggilannya. Raut wajah Ziko menunjukkan ketidaksukaan atas kebohongan yang diperbuat Zira. Ziko duduk di dalam private room sedangkan Kevin berdiri di depan pintu masuk. Betapa kagetnya Zira melihat Kevin sudah menunggunya. " Di mana suamiku." Ucap Zira takut. Kevin mengantarkan Zira menuju private room. Koko dan Kevin mengikuti Zira dari belakang. Zira berusaha tersenyum dengan suaminya. " Dari mana saja kamu?" Ucap Ziko membentak. Bentakkan Ziko bukan mengagetkan Zira, tapi mengagetkan Koko. Koko memegang dadanya karena kaget. Zira tidak menjawab, tapi Koko yang menjawab. " Kami dari rumah sakit." Ucap Koko cepat. Zira menatap sinis ke arah Koko. " Ngapain kamu ke rumah sakit." " Ah si Bos, ke rumah sakit kalo enggak berobat berarti menjenguk orang sakit." Ucap Koko lagi. " Diam kamu! Apa mau aku keluar kan lidahmu." Ucap Ziko marah sambil membentak Koko. Koko tidak berkata - kata lagi, dia takut khawatir dengan lidahnya. " Like komen dan vote yang banyak ya terimakasih." Chapter 157 episode 157 " Jawab aku! Untuk apa kamu ke rumah sakit." Bentak Ziko dengan tatapan marah. " Aku menjenguk Naura." Zira mengatakan apa adanya. " Siapa Naura? Apa dia temanmu?" Bentak Ziko lagi. " Hahahaha bos kamu lucu deh Naura itu masih kecil." Ucap Koko keceplosan. Kevin, Ziko dan Zira melihat ke arah Koko secara bersamaan. " Diam kamu! Aku enggak bicara sama kamu." Koko langsung menutup mulut dengan tangannya, bentakan Ziko membuatnya tidak bisa berkutik. " Jawab aku?" Dia menatap Zira kembali dengan tatapan mengintimidasi. " Ya aku akan jawab semuanya, aku menjenguk Naura, dia anaknya Fiko." Zira menatap balik. Ziko mencoba mengingat nama Fiko tapi namanya tidak terdaftar dalam memori ingatannya. " Siapa Fiko?" Ucap Ziko mengernyitkan dahinya. " Fiko yang pernah kamu pukul ketika di restoran. Apa kamu ingat?" Ziko mulai mengingat isi memorinya. Dia mulai kesal dengan Zira. " Berani sekali kamu pergi tanpa minta izin dari ku, jangan-jangan kamu bermesraan di sana dengannya." Ucap Ziko sambil memegang lengan Zira dengan keras. Prak. Zira menampar pipi suaminya. Ziko memegang pipinya dengan salah satu tangannya. " Cukup tuduhan yang kamu berikan kepadaku, aku akui kalo aku salah karena tidak meminta izin padamu, jika aku meminta izin, apa kamu akan mengizinkan ku?" Zira menuding jarinya ke arah Ziko. Ziko tidak menjawab pertanyaan istrinya, walaupun Istrinya minta izin dia tetap tidak akan mengizinkan. Karena Fiko merupakan saingan terberatnya. " Enggak perlu kamu jawab, kamu tidak akan pernah mengizinkan ku, dan asal kamu tau aku bisa menjaga martabatku sebagai seorang istri bukan seperti kamu." Zira menyindir suaminya. Zira bisa menjaga martabatnya sebagai seorang istri tapi tidak dengan Ziko. Masih teringat jelas di benaknya ketika Ziko memeluk dan memegang tangan Vita. Ziko mengambil ponselnya dan menghubungi dokter Diki. Tidak berapa lama panggilan terhubung. " Ada apa ko?" Ucap dokter Diki dari ujung ponselnya. " Siapa pasien yang di rawat di ruang cempaka? Beri informasi mengenai pasien itu." Ziko langsung menutup panggilannya. Dokter Diki langsung mencari informasi mengenai pasien di ruang cempaka. Pihak pertama yang menjadi sumber informasinya adalah bagian pendaftaran, kemudian bagian-bagian lainnya yang bisa di ambil informasinya. Ziko masih menunggu informasi dari dokter Diki. Zira sudah jengah harus terus bertengkar, dia ingin pergi dari ruangan itu. Tapi Ziko menariknya dan mendudukkannya di sampingnya. Tidak berapa lama suara ponsel Ziko berbunyi, dia langsung menjawab panggilan tersebut. Dokter Diki menjelaskan tentang penyakit yang di derita pasien di ruang cempaka secara detail. Ziko tidak bergeming, wajahnya sangat serius. " Berikan pelayanan yang terbaik untuk pasien itu, semua biaya rumah sakit menjadi tanggung jawabku." Ucap Ziko sebelum mengakhiri panggilannya. Zira sampai membelalakkan matanya mendengar ucapan suaminya. Seorang Ziko terkenal kurang peka dan kurang perduli dengan hal-hal seperti itu, tapi hari ini Zira melihat dan mendengar sendiri bahwa suaminya mempunyai hati emas. Walaupun Fiko musuhnya tapi dia dengan ikhlas mau melakukannya. Tanpa pikir panjang Zira langsung memeluk suaminya dengan erat. " Terimakasih suamiku." Ucap Zira sambil memeluk erat. " Hemmm." Ziko hanya menjawab singkat. " Apa kamu mau menjenguknya juga?" Zira menatap mata suaminya lembut. " Enggak aku enggak akan kesana, anggap saja itu sebagai penebus karena aku telah memukul orang tuanya." Ziko enggan pergi menjenguk Naura, egonya masih tinggi untuk sekedar beramah tamah dengan lawannya. Zira tidak memaksakan kemauannya, dia sudah cukup senang mendengar suaminya melakukan hal yang terpuji. " Apa aku masih boleh menjenguk Naura?" Zira memohon sambil mengedipkan kedua matanya. " Hemmm tapi dengan syarat." Zira menanti syarat yang akan di ajukan suaminya. " Hanya dua hari sekali dan hanya sepuluh menit di sana, dan satu lagi kamu harus pergi dengan si kemayu itu." Ucap Ziko menunjuk jarinya ke arah Koko. Zira ingin protes, tapi dia mengurungkan niatnya karena dengan mendapatkan Izin dari Ziko sudah merupakan hal yang baik. Zira memeluk suaminya dan mengecup lembut bibir Ziko. " So sweet." Ucap Koko sambil menyandarkan kepalanya di bahu Kevin. Kevin kaget dan langsung menggeser badannya ke samping sambil membersihkan bahunya dari bekas kepala Koko, dia sangat jijik melihat manusia jadi-jadian di sebelahnya. Koko teringat sesuatu dengan boneka yang di belikan Zira untuknya. Koko memberikan boneka tersebut kepada Kevin. Kevin enggan menerimanya, tapi dia langsung menarik tangan Kevin sambil meletakkan boneka gajah itu di tangan Kevin. " Kamu ngapain sih." Ucap Kevin sambil melempar boneka gajah itu dari tangannya. Koko mengambil boneka itu, dengan wajah yang di tekuk. Zira dan Ziko menyaksikan pertengkaran dua insan itu. Koko dan Kevin sama-sama berawalan K, apakah hatinya akan bersama seperti huruf awal nama mereka. Pertengkaran sudah selesai dan waktunya mereka memesan makan siang. Kevin memanggil pelayan dan memesan beberapa menu khusus untuk Ziko dan Zira. Koko merasa cemburu karena dirinya tidak di tawari apapun. Pelayan mencatat semua menu yang di pesan Kevin dan kembali ke luar ruangan untuk menyiapkan pesanan tamunya. Posisi meja berada di tengah ada enam kursi, dua kursi berada di samping kanan dua kursi berada di samping kiri dan dua kursi berada di tengah, bagian tengah lainnya kosong tidak ada kursi. Posisi itu di buat untuk memudahkan pelayan menyajikan makanan. Koko duduk di depan Kevin, kemudian dia memindahkan posisi duduknya ke sebelah Kevin. " Ngapain kamu duduk di sini." Ucap Kevin marah. " Ah Bapak, aku cuma kasihan." Ucap Koko dengan gayanya. " Kasihan apa?" Kevin menatapnya dengan jijik. " Kasihan dengan kursi ini karena tidak ada yang mendudukinya." Ucap Koko sudah duduk di sebelah Kevin sambil mengedipkan sebelah matanya. Ziko dan Zira tertawa senang melihat pertengkaran dua kurcaci di depannya. " Pindah enggak kamu!" Ucap Kevin dengan nada membentak. Koko menggelengkan kepalanya dengan cepat. " Aku hitung sampai tiga, kalo kamu enggak pindah aku yang pindah." Ucap Kevin lagi marah. Kevin mulai menghitung. Tapi Koko tetap enggan pindah dia malah memeluk lengan Kevin. Dia langsung melepaskan tangan Koko dari lengannya. " Kalo kamu enggak mau pindah aku yang pindah." Ucap Kevin sambil melepaskan tangan Koko dengan kasar dari lengannya. Kevin memindahkan posisi duduknya di depan Koko. Tidak berapa lama pelayan masuk ke dalam ruangan dan menyajikan semua makanan di atas meja. Zira mengambil satu piring dan meletakkan nasi dan lauk di dalam piring itu. Koko memperhatikan Zira sambil membelalakkan matanya. Dia merasa heran dengan nafsu makan Zira seperti seekor sapi. Zira menyuapi suaminya seperti yang biasa dia lakukan. Koko tersipu malu karena telah berpikir jelek mengenai nafsu makan Zira yang besar. " Kamu kenapa tersipu seperti itu?" Zira memperhatikan Koko sambil menyuapi suaminya. " Ah nona tadi saya berpikir kalo nona mau menghabiskan makanan itu sendiri." Ucap Koko sambil menutup mulutnya tersipu malu. Koko tidak melanjutkan ucapannya lagi, dia merasa cemburu dengan dua pasangan yang ada di sampingnya. Walaupun mereka bertengkar tapi mereka bisa dengan cepat melupakan semuanya seperti tidak pernah terjadi apapun. " Like komen dan vote yang banyak ya terimakasih." Chapter 158 episode 158 Koko merasa iri dengan kemesraan yang di tampilkan dua sejoli di sampingnya. Dia tidak mempunyai kekasih yang bisa di ajaknya bermesraan, Kevin sebagai targetnya selalu bersikap jutek dengannya. " Kenapa kamu enggak makan?" Ucap Zira melihat Koko yang masih memain-mainkan sendoknya. Koko melihat ke arah Zira dan hanya tersenyum tipis, tidak menjawab sama sekali. " Kamu harus makan biar kuat menghadapi hidup." Ucap Zira sambil menyuapi suaminya. Ucapan Zira seperti sebuah asupan energi, dia langsung makan dengan lahap sambil melirik ke depannya yaitu Kevin. Kevin tidak memperhatikan dan memperdulikannya, menurutnya Koko itu makhluk tak kasat mata. Koko merencanakan sesuatu untuk mencoba mencuri perhatian Kevin. Dia membuka salah satu sepatunya dan membuka kaos kakinya. Koko mulai melakukan aksinya, salah satu kakinya sudah mulai bergerak dari bawah meja, kakinya ingin menyentuh Kaki Kevin. Kevin bergerak membetulkan kursinya dan menatap mahluk astral di depannya. Dia mengedipkan matanya ketika beradu mata dengan Kevin. Koko melakukan aksinya lagi, kakinya semakin naik ke atas. Tapi yang bergerak sekarang adalah Ziko. Ziko membisikkan sesuatu ketelinga istrinya. " Apa kamu ingin melakukannya sekarang di sini." Ucap Ziko berbisik ke telinga Zira. Zira tidak mengerti dia hanya menyeruput minuman yang ada didepannya. Koko masih dengan aksinya sambil tetap memandang Kevin. Ziko jadi sedikit terangsang sambil melirik ke arah Zira. " Istriku kamu liar juga ya?" Ucap Ziko sambil berbisik. " Liar? Hewan kali Liar." Ucap Zira sambil mengunyah makanannya. Koko merasa heran melihat Kevin yang tidak bergeming sedikitpun dengan sentuhannya. " Kenapa dia tidak bereaksi sedikitpun padahal aku sudah lebih agresif." Koko melakukan aksinya lagi dia kembali menyentuh kaki Ziko. Ziko merasa sedikit terangsang dengan sentuhan itu, di pikirannya yang berbuat seperti itu adalah istrinya. " Istriku jangan kamu bangunkan ubi kayuku." Ucap Ziko berbisik ke telinga Zira. Zira tidak menjawab, dia beranjak dari kursinya pergi keluar ruangan menuju toilet. Ziko melihat ke arah kaki istrinya dan melihat ke bawah meja. Ziko langsung menendang kaki koko. Koko meringis mendapatkan tendangan maut dari Ziko. " Kamu! Berani-beraninya menyentuhku." Ucap Ziko marah sambil menggebrak meja. Kevin yang lagi menikmati makanannya merasa kaget dengan adanya gebrakan dari meja. " Kenapa bos. Kenapa marah?" Ucap Koko yang bingung dengan kemarahan Ziko padanya. Di pikirannya yang menendang kakinya tadi adalah Kevin, dia masih belum mengerti kalo dia telah menyentuh kaki bosnya. " Kenapa kamu menyentuh kaki ku?" sambil menuding ke arah Koko. Koko baru mengerti kalo dia telah menyentuh kaki Ziko. Ziko sudah memegang kerah kemeja Koko dan ingin mendaratkan pukulan kewajah Koko. Zira yang baru kembali dari toilet langsung teriak mendapati suaminya akan memukul Koko " Ada apa ini?" Ucap Zira mencoba menenangkan sambil memegang dada suaminya. " Dia baru menyentuh kakiku." Ucap Ziko seperti sedang mengadu dengan ibunya. Zira melihat ke arah Koko, dari tatapannya Koko harus menceritakan kejadian semuanya. " Maaf tuan saya salah, saya pikir telah menyentuh kaki asisten Kevin. Tapi ternyata saya salah." Ucap Koko sambil tertunduk. Zira dan Kevin tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan polos dari Koko. Zira melepaskan tangan suaminya dari kerah kemeja Koko dan menurunkan tangan suaminya tetap sambil tertawa. " Sudahlah enggak usah di permasalahkan." Ucap Zira menenangkan suaminya. " Bagaimana tidak dipermasalahkan kalo dia melakukan hal gila lagi gimana?" Ziko masih menatap Koko dengan sinis. " Enggak suamiku, dia kan sudah minta maaf kalo pun dia melakukan hal gila lagi pasti bukan dengan kamu tapi dengan itu." Ucap Zira menunjuk ke arah Kevin. Ziko sudah bisa tenang, tapi Kevin yang masih belum tenang. Dia harus tetap waspada untuk hal gila lainnya. " Jaga jarakmu dariku!" Koko langsung menganggukkan kepalanya dengan cepat. Dia tau telah membuat kesalahan yang fatal hari ini. Dia tidak mau mengulangi kesalahan yang sama dengan Ziko tapi kalo dengan Kevin mungkin dia akan melakukannya lagi. Ziko ingin mengajak istrinya kembali ke kantor tapi dia enggan untuk pulang. Zira ingin pergi ke toko ponsel. Zira melangkahkan kakinya ke sebuah toko ponsel terkenal. " Apa ponsel yang aku berikan kepadamu kurang bagus." Ucap Ziko heran sambil tetap mengikuti langkah Zira masuk ke dalam toko. Seorang pelayan toko menyapa mereka ramah. " Selamat siang ada yang bisa saya bantu." Ucap pelayan toko ramah. Pelayan tadi menunjukkan koleksi ponsel terbaru dari berbagai merek. Ada yang baru dan ada juga yang ponsel bekas. Zira melihat-lihat ke dalam etalase toko. " Sudah ambil saja semua kalo kamu mau." Zira menepuk pelan bahu suaminya. " Idih kamu, aku itu cuma mau cari satu ponsel bukan semuanya." Zira masih tetap menatap etalase toko. " Mbak saya mau lihat yang ini." Ucap Zira sambil menunjuk ponsel yang ada di dalam etalase toko. Pelayan tadi memberikan ponsel tersebut dan menjelaskan fungsi dan kapasitas dari ponsel tersebut. " Ok mbak bungkus satu ya." Ucap Zira cepat sambil menyerahkan kartu debitnya kepada si pelayan. Ziko memperhatikan kartu yang di gunakan istrinya. " Ini kartu siapa?" Ziko meminta kartu yang di pegang si pelayan, dia mengamati kartu tersebut. " Ini bukan kartu ku." Ziko menyerahkan kartu tersebut ke istrinya. " Ya memang bukan, ini kartuku." Ucap Zira cepat sambil menyerahkan kartu itu lagi kepada pelayan toko. " Mana kartu ku." Zira mengambil kartu di dalam tasnya dan meletakkan langsung ke telapak tangan Ziko. " Pakai yang ini." Ucap Ziko memberikan kartunya kepada si pelayan toko. Pelayan toko tadi langsung pergi ke kasir. " Tapi eh." Zira melambaikan tangannya memanggil si pelayan, tapi tangannya sudah di tepis Ziko. " Sudah berapa kali aku bilang, gunakan kartu ku jangan pernah pakai lagi kartumu." Ziko menuding jarinya ke wajah istrinya. " Tapi ini bukan untukku, ini untuk Lina asistenku." " Terserah tugasmu hanya memakai kartu ku, kalo perlu habiskan tapi ingat beli sesuai kebutuhan jangan beli yang tidak perlu." Zira menganggukkan kepalanya cepat, dia tidak akan menghabiskan uang suaminya, apalagi memakainya dan hari ini mau tidak mau dia harus memakai kartu itu. Pelayan tadi menyerahkan ponsel yang baru saja di beli Zira. " Suamiku aku mau mengantarkan ini kepada Lina." Sambil menunjukkan bungkusan ponsel di tangannya. " Ya ayo." Ziko ingin ikut ke butik istrinya. Kevin duduk di depan bersama Koko, Zira dan Ziko berada di belakang. Ziko memeluk pinggang istrinya dan meletakkan kepalanya di atas dadanya. Koko memperhatikan dari kaca spion dia merasa iri dengan kemesraan yang ada. Koko melirik ke arah Kevin, dia memperhatikan dari samping sehingga jakun Kevin terlihat naik turun, melihat jakun yang naik turun membuat Koko terpesona dan terus memandanginya. " Jangan kamu pandangi aku! Kalo tidak mau matamu ku ubah jadi telur mata sapi." Kevin tetap menyetir mobil tanpa perlu menoleh mahluk jadi-jadian di sampingnya. Koko memalingkan wajahnya, dia masih ingin melihat ke arah Kevin. Di pikirannya lebih baik melihat Kevin dari pada melihat sepasang suami isteri yang selalu membuatnya cemburu. " Like komen dan vote yang banyak ya terimakasih." Chapter 159 episode 159 Hamparan awan berbentuk gumpalan bulu domba berwarna putih terbentang luas di langit biru. Warna putihnya menimbulkan kesan indah dari balik langit biru, seolah-olah awan itu bergerak kesana kemari. Semua penumpang yang berada di pesawat selalu melihat keindahan awan itu dari balik jendela. Setelah sekian lama, Vita akan kembali ke tanah air. Tanah yang selalu dia rindukan, banyak kenangan indah di sana. Setiap warga negara yang telah lama tinggal di luar negeri pasti merindukan tempat lahirnya, bukan hanya tempat lahirnya, mereka juga merindukan berbagai aneka kuliner baik jajan pasar maupun makanan rumahan, semua merindukannya. Pesawat Vita sebentar lagi landing, Vita sangat merindukan tanah airnya. Dia sudah menunggu saat ini, saat di mana dia bisa menginjakkan kakinya kembali ke tanah air. Pesawat telah landing dengan sempurna, Vita dan beberapa penumpang lainnya sudah keluar dari pesawat menuju ke tempat baggage carousel atau ban berjalan untuk klaim bagasi. Mendapat tas atau koper pertama adalah hal yang paling di tunggu semua penumpang. Bagi penumpang yang memiliki status elite di mana memesan tempat utama atau bisnis, pastinya mendapatkan fasilitas papan atas yang lebih baik dan lebih nyaman, termasuk dalam hal penanganan bagasi menjadi prioritas utama. Tapi tidak dengan Vita, dia hanya memesan tempat kelas ekonomi jadi mau tidak mau dia harus mengantri untuk menunggu kopernya keluar dengan sendirinya. Setelah mendapatkan kopernya, dia memanggil taksi. Taksi meluncur meninggalkan kawasan bandara menuju alamat yang di tuju penumpangnya. Vita melihat pemandangan dari balik jendela taksi. Pemandangan yang selalu dia rindukan, tapi pemandangan itu sudah banyak perubahan di mana - mana, banyak bangunan pencakar langit yang mendominasi pemandangan itu. Walaupun pepohonan ada, tapi mayoritas di dominasi bangunan. Vita serasa bukan di tanah kelahirannya, pada saat dia meninggalkan tanah kelahirannya bangunan itu tidak terlalu banyak, tapi sekarang tanah kelahirannya sudah maju pesat. Taksi sudah berhenti di depan sebuah bangunan yang tidak terlalu tinggi dari bangunan yang di lihatnya tadi. Vita menyerahkan beberapa lembar uang kepada supir taksi. Vita membawa koper memasuk gedung. Vita mendatangi meja resepsionis. " Permisi saya Vita, saya mau bertemu dengan Ibu Ningsih." Ucap Vita ramah. " Tunggu sebentar ya?" Ucap resepsionis ramah. Vita memandangi sekeliling bangunan itu banyak beberapa gambar atau poster di pajang di dinding ruangan itu. " Maaf mbak Vita dari mana ya?" Ucap resepsionis sambil menutup ujung telepon dengan tangannya. Vita melupakan sesuatu, dia menunjukkan undangan kepada resepsionis. Resepsionis membaca undangan itu melalui ujung telepon. " Silahkan masuk. Pintu lift ada di sana. Ibu Ningsih ada di lantai 3, nanti tanya saja sama orang yang ada di situ." Ucap resepsionis ramah menjelaskan. Vita menganggukkan kepalanya, lalu berjalan menuju lift, dan menekan tombol nomor 3. Dalam beberapa menit lift sudah sampai di lantai nomor 3. Vita keluar dari pintu lift sambil melihat sekelilingnya, di lantai itu terlihat sangat sibuk dari lantai dasar. Banyak karyawan yang sibuk dengan komputernya. Mereka terlihat sangat serius dengan pekerjaannya masing-masing. Vita menyapa seseorang yang sedang lewat di depannya. " Maaf, ruangan Ibu Ningsih di mana ya?" Ucap Vita sopan. " Di ujung sana." Ucap pria tersebut sambil pergi meninggalkan Vita dengan terburu-buru. Vita berjalan melewati para karyawan, ada karyawan yang melihatnya sekilas dan banyak karyawan yang tidak menghiraukan kehadirannya. Vita berhenti di depan pintu yang di atasnya tertulis manager pemasaran. Vita mengetuk pintu itu, setelah ada sahutan masuk dari dalam Vita langsung memegang handle pintu, dan masuk dengan perlahan. " Selamat siang Ibu." Sapa Vita ramah. Ibu Ningsih adalah manager pemasaran untuk percetakan karyaku. " Selamat pagi, silahkan duduk." Ibu Ningsih membalas sapaan Vita dengan ramah. " Bagaimana perjalanan anda, pasti sangat melelahkan ya." " Ya lumayan Bu." Vita tersenyum tipis menjawab pertanyaan bu Ningsih. Ibu Ningsih tertarik dengan karya tulis yang di buat Vita, dan dia akan mengadakan kerjasama dengannya. Sebelumnya. Ketika di Belanda dia bekerja sebagai penulis. Dia sangat berharap kalo karya tulisnya akan di kontrak salah satu percetakan di Belanda. Tapi takdir berkata lain, ketika dia iseng manawarkan karya tulis ke negaranya sendiri. Keisengan itu menjadi peluang besar untuknya, dan keisengan itu yang mengantarkannya kembali ke tanah air. Ada rasa ragu pada dirinya ketika di tawarkan sebuah kontrak kerjasama, tapi setelah melakukan perbincangan dengan pihak percetakan, dan pihak percetakan telah meyakinkan dirinya, Maka Vita berani mengambil keputusan untuk datang ke tanah kelahirannya. Karya tulis Vita akan di cetak dan dipasarkan oleh percetakan karyaku. Percetakan akan memproduksi secara masal dengan tulisan dan gambar di dalamnya, Karena percetakan merupakan sebuah bagian penting dalam penerbitan dalam sebuah karya, dan Vita telah mendapatkan kesempatan itu. Vita di kontrak pihak percetakan dan mendapatkan fasilitas berupa sebuah apartemen. Kedua belah pihak menandatangi kesepakatan itu. Kesepakatan yang telah di setujui oleh kedua belah pihak. Ibu Ningsih memberikan sebuah kunci apartemen kepada Vita. " Karya tulis anda akan segera kami cetak dengan segera. Saya akan menghubungi anda lagi nanti." Ucap Ibu Ningsih ramah. Mereka saling berjabat tangan. Vita keluar dari gedung itu dengan membawa kopernya. Dia memanggil taksi yang lewat, dan supir taksi mengantarkan Vita ke alamat apartemennya berada. Vita tidak bosan menatap pemandangan yang berada di setiap jalan. Walaupun pemandangan itu tidak asri lagi, tapi tempat itu tetap indah dimatanya. Vita keluar dari taksi dan masuk ke dalam loby apartemen. Vita bertanya kepada petugas apartemen mengenai nomor apartemennya. Vita masuk ke dalam apartemennya, dengan perasaan suka cita. Walaupun apartemennya tidak terlalu besar, tapi dia senang karena ini adalah hasil dari kerja kerasnya. Selama dia menikah dia tidak pernah berkarir, tapi setelah perceraian itu, dia harus menafkahi dirinya sendiri. Dia menjadikan hobi menulisnya sebagai sumber penghasilan, dan sumber penghasilan itu telah di nikmatnya. Vita menjatuhkan badannya ke atas kasur sambil memandang langit-langit kamar. Ada rasa senang dan bebas. Senang karena karyanya di hargai, dan bebas karena dia bisa membebaskan dirinya dari bayang-bayang mantan suaminya. " Like komen dan vote yang banyak ya terimakasih." Chapter 160 episode 160 Hari berganti hari bulan berganti bulan tidak terasa waktu pernikahan mereka sudah mau memasuki satu tahun. Zira dan Ziko mempunyai pemikiran yang berbeda tentang hubungannya. Zira sudah sangat mencintai suaminya tapi tidak dengan Ziko. Zira belum bisa menebak tentang perasaan suaminya. Menurutnya perasaan Ziko kepadanya hanya sebagai tanggung jawab terhadap seorang suami kepada istrinya. Di gedung Rahasrya group. Kevin sedang membaca situs tentang lelang atau tender. Pihak perusahaan asing akan melelangkan tendernya untuk memperluas jaringan bisnisnya. Lelang atau sistem tender sangat di gemari terutama oleh perusahaan- perusahaan, mengingat jumlah nominal dan durasi kontrak dalam suatu lelang sangat besar dan bervariasi. Kevin memberitahukan hal ini kepada Ziko. " Pagi Tuan, saya membaca di sebuah situs kalo perusahaan A akan membuat tender." Kevin mengambil laptop Bosnya dan mencari iklan tender itu melalui sebuah situs terkenal. Ziko membaca situs yang di perlihatkan kepadanya dengan cermat. " Persiapkan semuanya aku mau perusahaan kita menang tender." Ucap Ziko yakin. Ziko ingin mengikuti tender tersebut karena itu merupakan salah satu nilai upaya meningkatkan nilai usaha dan memperluas jaringan kerja. " Apa saja syarat yang di ajukan perusahaan itu?" Kevin menjelaskan beberapa persyaratan yang harus mereka penuhi sebelum mengikuti tender tersebut. Ziko mendengarkan dengan seksama semuan persyaratan yang di bacakan Kevin. " Apa persyaratan legal kita sudah lengkap untuk memenangi tender itu." Ucap Ziko memastikan semua persyaratan legal perusahaannya sudah lengkap. " Sudah tuan semua persyaratan legal sudah lengkap. " Kapan lelang itu akan di adakan?" " Siang ini tuan?" Ziko menimbang-nimbag pernyataan Kevin tentang waktu tender tersebut. Dia merasa ragu untuk mengikuti tender tersebut karena dia akan kedatangan tamu dari Jepang. " Tapi kita akan ada tamu dari Jepang, dan dia adalah calon investor kita." Ziko masih ragu untuk mengikuti tender tersebut. " Saya sudah mengkoordinasikan sebelumnya dengan asisten tuan Arata, kalo beliau akan tiba di tanah air kurang lebih jam 5 sore. Dan saya rasa pada saat jam tersebut pasti acara tender sudah selesai. Ziko harus memenangkan tender tersebut agar usahanya tambah maju, karena ini merupakan kesempatan emas untuk perusahaan dalam mengembangkan bisnisnya di bidang komunikasi. Kevin mempersiapkan semuanya dengan matang dari persyaratan untuk mengikuti tender dan persyaratan legal semua sudah siap tersedia. " Kamu kesini." Ucap Ziko memanggil sekertarisnya Koko. " Saya akan pergi beberapa jam ada urusan yang harus saya kerjakan di luar. Kalo seandainya ada sesuatu atau tamu dari luar negeri kamu harus bisa menangani itu dengan baik." Ucap Ziko tegas sambil beranjak dari kursinya. Ziko membalikkan kembali badannya untuk mengatakan hal yang ada di dalam benaknya. " Perlakukan tamu kita seperti raja, dan ubah sikapmu menjadi pria seutuhnya." Ucap Ziko lagi. Koko membelalakkan matanya, dia harus merubah sikapnya menjadi pria seutuhnya. " Maaf bos kalo menjadi pria seutuhnya saya kurang bisa saya udah dari sono seperti ini." Ucap Koko merengek dengan gaya syahdunya. " Jangan kamu mempermalukan perusahaanku dengan sikapmu seperti itu." Ziko menatapnya dengan tatapan tajam. Koko tertunduk dia tidak berani menatap kembali mata bosnya. " Bagaimana saya harus bersikap bos." Ucap Koko ragu. " Bersikap wajar seperti pria pada umumnya seperti saya dan Kevin. Kamu bisa berlatih di mulai dari sekarang selama saya pergi." Ziko keluar dari ruangan tapi Koko mencegatnya lagi. " Kalo saya tidak bisa bagaimana?" Ucapnya ragu. " Kamu tau pintu keluar gedung ini? Silahkan keluar dari gedung ini dan jangan pernah kembali lagi ke gedung ini. Kalo kamu tidak bersikap normal di depanku dan semua tamu." Ucap Ziko tegas sambil meninggalkan sekertarisnya yang masih bengong. " Bersikap wajarlah jangan genit sama ku, aku dan kamu sama. Kita sama-sama pria. Jangan pernah menyukai sesama jenis, bergaulah dengan lawan jenis, jangan bergaul dengan orang yang sama sepertimu karena kamu akan ikut mengalir mengikutinya. Aku tau kamu bisa." Ucap Kevin menepuk bahu Koko sambil keluar gedung mengikuti Ziko dari belakang. Koko ingin melompat kegirangan tapi dia ingat pesan bosnya bahwa dia harus bersikap normal seperti pria pada umumnya. Ziko dan Kevin sudah meluncur ke acara tersebut. Koko berlatih dengan cara menonton aplikasi uuutube, dia menonton pertunjukan tinju dan menonton pertunjukan smackdown. Dia berlatih dari cara berjalan dan cara berbicara. Cara berjalan pelan-pelan dia sudah mengikutinya dengan baik walaupun belum sempurna tapi cara berbicara yang masih agak susah dia terapkan. Dia masih kurang yakin dengan suaranya. Di mobil Ziko menghubungi istrinya. " Ya halo." Ucap Zira pelan. " Hari ini kita tidak bisa makan bersama aku ada urusan bisnis di luar, kamu makan sendiri ya." Ucap Ziko dari ujung ponselnya. " Ah kamu kenapa baru bilang, aku sudah membawakan makanan dan sebentar lagi aku sudah sampai kantor." Gerutu Zira. " Ya ini mendadak, begini saja kamu makan saja di kantor, enggak usah balik ke butik, setelah makan kamu baru boleh balik ke butik." Ziko tidak ingin istrinya mengalami namanya sakit maag, karena dia tau kalo istrinya pasti suka menunda-nunda makan. Panggilan terputus, Zira memasuki gedung Raharsya group dengan beberapa tentengan di tangan kanan dan kirinya. Dan Ziko pergi menuju tempat acara tender tersebut di adakan. Zira melihat Koko yang sedang serius melihat komputernya. Zira mengagetkannya dengan cara menepuk bahunya. Koko kaget latah dengan cara melompat-lompat. Zira tertawa melihat latahnya Koko. " Nona kenapa sih mengagetkan ku, aku baru saja berlatih untuk jadi pria seutuhnya." Ucap Koko cemberut. " Apa maksudmu?" Sambil meletakkan bungkusan di atas meja Koko. Koko menceritakan semuanya dari urusan bisnis bosnya, sampai menceritakan keinginannya untuk berlatih seperti pria. Zira manggut-manggut mengerti. " Tenang saja aku akan membantu mu untuk menjadi pria yang gagah perkasa seperti suamiku." Ucap Zira meyakinkan. Koko kegirangan tapi Zira langsung melotot melihatnya. Koko tidak jadi bersorak girang dia hanya menggigit jarinya sebagai ganti kegirangannya. " Sebelum kita mulai pelajaran ada baiknya kita makan dulu." Koko pun setuju dengan saran Zira, mereka harus mengisi perut bagian tengah yang sudah waktunya untuk di isi. Karena dengan perut yang kosong mereka akan sulit berpikir tapi dengan perut yang telah terisi mereka akan dapat berpikir jernih. Sama halnya dengan tidur, ketika kita bangun tidur, kita akan kembali segar kembali. Zira dan Koko makan di pantry. Zira memperhatikan cara makan Koko yang sangat kemayu. Zira membetulkannya, cara Koko memegang sendok normal seperti biasa tapi jadi kelingking dan jari manisnya agak naik seperti ingin menari. " Lihat caramu memegang sendok aja sudah salah, kamu kalo mau jadi pria seutuhnya dari hal-hal kecil dulu yang di ubah." Gerutu Zira sambil memperagakan cara memegang sendok yang benar. " Like komen dan vote yang banyak ya terimakasih." Chapter 161 episode 161 Setelah makan selesai Zira mengajari cara berjalan terlebih dahulu. Koko mempraktekkan cara berjalannya yang masih ada kesan kemayunya. Zira membetulkannya lagi. " Kamu itu kalo berjalan bahu jangan di bungkuk kan, bahu harus tegak dan dada harus di busungkan." Ucap Zira cepat sambil memperagakan cara berjalan seorang pria. " Idih nona kenapa sih anda juga harus membusungkan dada, kan dada anda sudah busung." Ucap Koko cekikkan. Zira melihat ke arah dadanya sambil menutupi dengan tangannya. " Coba kamu praktekan sendiri." Perintah Zira cepat. Koko memperagakan cara berjalan yang di praktekan Zira kepadanya. Dia mengalami kesulitan dengan cara berjalannya. Zira kesal karena sudah berulang kali tapi Koko belum juga bisa mempraktekkannya. Dada dan bahunya sudah mulai terlihat normal tapi jari jemarinya Koko yang membuat matanya Zira sakit. Zira mempunyai ide karena waktu terus berjalan dan tidak mungkin mereka hanya berlatih cara berjalan sedangkan masih banyak lagi yang harus di perbaiki. " Begini saja aku risih dengan jari jemarimu, masukan saja tanganmu ke dalam saku celana. Dengan seperti itu kamu bisa seperti pria seutuhnya. Koko mempraktekkan cara berjalan dengan memasukkan tangannya ke dalam saku celana. Dia berjalan mondar-mandir di dalam pantry. " Nona, aku risih seperti ini, kenapa enggak pakai sarung tangan aja." Ucap Koko cepat. " Sarung tangan apaan? apa kamu mau pakai sarung tangan tukang ojek." Ucap Zira cepat. " Iya enggak apa-apa kan gak keliatan jari jemariku kalo pakai sarung tangan." Ucap Koko yakin. " Kenapa enggak sekalian aja pakai helm dan bawa tamu itu berkeliling kantor. Nanti bilang sama tamunya beri bintang lima ya." Gerutu Zira cepat. " Hehe nona bisa aja deh, jadi aku harus bagaimana?" Ucapnya stres. " Seperti yang aku bilang tadi masukkan tanganmu ke saku celana, apa kamu mau waktumu habis hanya dengan cara berjalan saja." Ucap Zira tegas. Koko menyetujui ide Zira, walaupun risih tapi dia tetap melakukannya. Dan cara berjalannya sudah mendekati sempurna. Zira mengajari tahap selanjutnya yaitu tahap berbicara. Koko kalo bicara selalu agak mentel dan kesan mentel itu harus di tinggalkan. Koko mempraktekkan cara dia berbicara. " Aku tidak mau kamu menyebut kata ah, idih aduh atau kata-kata lainnya. Karena kata itu tidak pernah di ucapkan oleh seorang pria." Ucap Zira tegas. Koko mempraktekkan cara berbicara yang tegas. " Ngapain kamu disini sih." Ucap Koko mempraktekkan latihan bicaranya. Zira menggerak-gerakkan jari telunjuknya ke kanan dan ke kiri. Itu adalah tanda kalo apa yang di ucapkan Koko salah. " Jangan ada embel-embel di belakangnya." Ucap Zira tegas. Koko mengulanginya lagi dengan tidak menyebutkan kata sih di akhir kalimatnya. Dia berbicara sambil memasukkan tangannya ke saku dan berbicara layaknya seorang pria. Koko melakukannya secara berulang-ulang. Semua kalimat di ucapkannya dengan caranya sendiri. Zira bertepuk tangan karena proses mengajar kilatnya telah selesai, belum sempurna tapi masih bisa di terima. Akan sempurna jika Koko tidak meletakkan tangannya terus di saku dan akan jauh lebih sempurna kalo dia mendapatkan seorang kekasih lawan jenis. Dan Zira akan mengajarinya satu persatu secara bertahap. Ziko dan Kevin mengikuti beberapa tahapan umum yang di selenggarakan oleh perusahaan A. Tahap selanjutnya adalah tahap pengajuan proposal dan tahap persentasi proposal. Perusahaan yang menyelenggarakan lelang atau tender akan memilih satu perusahan untuk mempresentasikan proposal yang di ajukan. Dari sekian banyak perusahaan yang mengajukan proposal perusahaan Raharsya group ikut terpilih untuk mempresentasikan proposalnya. Masing-masing perusahaan atau vendor di beri kesempatan untuk melakukan persentasi proposalnya. Dan untuk perusahaan Raharsya group, Ziko yang mempresentasikan proposalnya. Ziko mempersentasikan proposalnya di atas fodium. Kevin duduk memperhatikan Ziko yang sedang mempresentasikan proposal. Dia melihat dan mendengar dengan seksama. Suara ponsel Kevin bergetar, dia mengangkat ponselnya dan keluar dari ruangan itu. Ada panggilan masuk dengan nomor asing. Kevin menjawab dengan perlahan dan menganggukkan kepalanya sambil mengatakan ok ok. Kevin mendapatkan panggilan dari asisten tuan Arata. Asistennya berkata kalo mereka akan tiba satu jam lagi. Dan mereka akan langsung ke gedung Raharsya group. Kevin kembali ke dalam ruangan dan bergabung dengan para vendor lainnya. Tepuk tangan dari masing-masing vendor atau perusahaan di berikan kepada Ziko karena telah selesai mempresentasikan proposalnya. Ziko bergabung duduk di sebelah Kevin. " Tuan, ada berita kalo tuan Arata akan tiba dalam satu jam lagi." Ucap Kevin berbisik. Ziko sedang memikirkan sesuatu. Di dalam pikirannya tidak mungkin dia pergi dari ruangan itu, karena dia masih harus menunggu pengumuman hasil persentasi. " Perintahkan sekertaris kemayu itu untuk menyambut tuan Arata. Jangan lupa bilang ke dia jaga sikap." Kevin menganggukkan kepalanya dan pergi meninggalkan ruangan itu untuk menghubungi Koko. Panggilan terhubung dan Koko langsung menjawab, ada Zira di sampingnya yang ikut mendengarkan. " Sebentar lagi tuan Arata akan tiba beliau dari Jepang, kamu sambut beliau dan jaga sikapmu sejam lagi kami akan selesai." Ucap Kevin mengakhiri panggilannya. Koko terlihat panik, dia bingung harus melakukan apa. Dan Zira memperhatikan kepanikannya. " Siapa yang telepon?" Ucap Zira penasaran. " Asisten Kevin, dia bilang tuan Arata akan tiba dan dia dari Jepang. Aku harus menyambutnya." Ucap Koko panik sambil menggigiti kukunya. Zira langsung menepuk tangan Koko. " Begini cara seorang pria panik." Ucap Zira menepuk tangan Koko. " Aku harus bagaimana nona?" Ucapnya panik. " Kamu kan sudah aku ajarkan caranya sekaranglah prakteknya." Ucap Zira meyakinkannya. " Tapi aku ragu dengan diriku." Ucap Koko ragu sambil mondar-mandir di dalam pantry. Zira harus memberi semangat dan mencari cara agar Koko yakin dengan dirinya sendiri. " Apa pada saat kamu melamar kerja disini kamu percaya bakal di terima?" Ucap Zira penasaran. Koko menggelengkan kepalanya, memang dia tidak pernah berpikir apalagi membayangkan akan bisa berkerja di dalam gedung megah itu. " Apa yang membuat kamu berani mengajukan lamaran ke perusahaan ini?" Zira menatap Koko serius. " Enggak tau, aku hanya iseng saja." Ucapnya bingung. " Apa kamu pernah berpikir mengapa aku memilihmu untuk di terima jadi sekertaris suamiku." Ucap Zira mengajukan pertanyaan balik ke Koko. " Ya karena sekretaris yang dulu cewek dan anda cemburu makanya cari sekertaris cowok." Ucap Koko cepat. " Iya betul apa lagi?" Koko menggelengkan kepalanya karena dia tidak tau kenapa Zira memilihnya. " Karena kamu punya ini, di bandingkan saingan yang lain, kamu lebih unggul dari mereka walaupun kamu kemayu tapi aku akui kamu pintar." Ucap Zira sambil menunjuk kepala Koko. Koko seperti mendapatkan semangatnya kembali. Perkataan Zira membalikkan semangatnya yang telah hilang. " Buktikan kepada suamiku kalo kamu bisa, bisa menyelesaikan semuanya, bisa menjadi pria seutuhnya dan bisa mendapatkan seorang kekasih." Ucap Zira menepuk bahu Koko. " Like komen dan vote yang banyak ya terimakasih." Chapter 162 episode 162 " Nona maukah anda menemani saya bertemu dengan tuan Arata." Ucap Koko pelan. " Hanya sekedar menemanikan?" Ucap Zira cepat. " Enggak, maksud saya apakah anda mau membantu saya selama di guest room. Tidak mungkin kalo saya aja yang berbincang dengan tim tuan Arata." Ucap Koko memohon. " Aduh ini bukan bidangku." Ucap Zira cepat. " Saya mohon nona temani saya di sana, ingatkan saya kalo saya berbuat salah. Saya khawatir tidak bisa menjaga sikap saya." Ucap Koko sambil memandang Zira dengan penuh permohonan. Zira menganggukkan kepalanya, dia merasa kasihan melihat Koko. Dia tau ini bukan bidangnya tapi dia berharap dengan kehadirannya di ruangan itu akan membuat Koko lebih percaya diri. Waktu yang di tentukan sudah tiba. Tuan Arata beserta rombongan sudah tiba di gedung Rahasrya group. Kedatangan mereka di sambut oleh Zira dan Koko. " Konbanwa, Nitta-san (Selamat sore tuan Arata)." Ucap Koko menunduk badannya menghadap Tuan Arata. Zira pun ikut membungkuk kan badannya tanda hormat kepada Tuan Arata. Tuan Arata tersenyum lebar karena biasanya dia di sambut dengan bahasa Inggris tapi di perusahaan Raharsya group dia di sambut dengan bahasanya. Koko sudah mulai bertingkah melihat tuan Arata masih muda dan ganteng, bisa di perkirakan umurnya hampir sama dengan Ziko. Zira mengingatkan Koko dengan menyenggol bahunya. " Kalo kamu mau keluar dari gedung ini silahkan, pintu ada di sana." Ucap Zira berbisik menyindir Koko. " Suami sama istri sama saja, sama-sama suka mengancam." Ucap Koko berbisik. Mereka mengajak tuan Arata beserta tim menuju guest room. Guest room berada di lantai dasar. " Suwatte kudasai, Nitta-san (Silahkan duduk tuan arata)" Ucap Zira sopan. Koko langsung menolehkan kepalanya menghadap Zira.Dia tidak habis pikir dengan istri bosnya bisa berbicara bahasa Jepang. Koko berbisik kepada Zira. " Berapa bahasa yang anda pelajari nona?" Ucap Koko heran tetap berbisik. " Diam! Jangan tanya berapa bahasa yang aku pelajari. Kalo kamu tau pasti kamu akan pingsan di sini." Ucap Zira berbisik. " Jiko san wa dokodesu ka (Dimana tuan Ziko)." Ucap Tuan Arta sopan. " Mamonaku jiko uji ga t¨­chaku shimasu (Sebentar lagi tuan Ziko akan sampai)." Ucap Koko hormat. " Kono kaisha de no anata no tachiba wa nandesuka (apa posisi kalian di perusahaan ini)." Ucap Tuan Arata ramah. Zira dan Koko saling pandang. " Watashi wa hishodesu (Saya sekertarisnya)." Ucap Koko cepat sambil tersenyum manis. " Soshite anata (dan kamu)." Ucap tuan Arata melihat ke arah Zira. " Watashi wa jiko san no tsumadesu (Saya istrinya tuan Ziko)." Zira tersenyum manis, sebenarnya dia tidak mau mengatakan tentang jati dirinya di hadapan tuan Arta, dia takut perusahaan Raharsya mendapatkan kesan buruk, karena melibatkan seorang isteri untuk membantu suaminya. Tapi di luar dugaan Zira, Tuan Arata tersenyum manis dan berjalan memutari meja. Tuan Arata membungkukkan badannya ke arah Zira. Tanda hormat kepadanya. Zira pun membalasnya dengan membungkukkan badannya. Tuan Arata, Koko dan Zira berbicara sangat akrab. Mereka bukan membicarakan mengenai bisnis mereka membicarakan hal-hal unik yang ada di Jepang. Mobil Ziko sudah sampai di depan pintu loby. Ziko segera berlari di ikuti oleh Kevin dari belakang. Mereka berlari menuju guest room. Ziko membuka pintu guest room, dia mendapatkan pemandangan yang beda dari biasanya. Karena yang Ziko tau kalo tuan Arata sangat suka kedisiplinan dan tidak humoris tapi di hadapannya tuan Arata sangat mudah bergaul dan humoris. " Hello, Mr. Ziko ( Halo tuan Ziko)." Ucap Tuan Arata ramah sambil membungkukkan badannya. Ziko ikut membungkukkan badannya. " according to the secretary agreement and your wife. Then I will invest my shares in your company (sesuai dengan kesepakatan sekertaris dan istri anda. Maka saya akan menanamkan saham saya pada perusahaan anda)." Ucap Tuan Arata ramah. Ziko senang mendengar tuan Arata akan menginvestasikan sahamnya pada perusahaan Raharsya group, tapi Ziko bingung dengan kedua orang di depannya. Bingung karena dua orang tersebut bisa meyakinkan tuan Arata untuk menginvestasikan sahamnya. Kevin sudah mempersiapkan semua dokumen untuk di tandatangani kedua belah pihak. Mereka menandatangani kontrak kerjasama yang disaksikan oleh masing-masing tim mereka. Sebagai persahabatan dan rekan bisnis, Ziko membawa tuan Arata beserta timnya untuk makan malam bersama di sebuah restoran binatang lima. Ziko hari ini benar- benar senang karena perusahaannya telah menang tender dan hari ini dia dapat menjalin kerjasama dengan tuan Arata. Tuan Arata dan timnya berada di dua mobil terpisah dan Ziko satu mobil dengan kevin, Koko dan Zira. Di dalam mobil. Ziko memandang istrinya dan sekertarisnya dengan heran. " Ilmu apa yang kalian pakai sampai kalian bisa meyakinkan tuan Arata untuk menginvestasikan sahamnya pada perusahaanku." Ucap Ziko heran. " Ah tuan sebenarnya." Belum sempat Koko berbicara tapi sudah di pukul duluan dengan Zira. Koko langsung menoleh ke belakangnya. " Ingat apa yang aku ajarkan tadi." Ucap Zira cepat sambil menatap tajam Koko. Ziko memperhatikan mereka berdua. " Apa yang terjadi di antara kalian?" Ucap Ziko penasaran. " Apa kamu tidak bisa melihat perubahan yang di tampilkan sekertaris kemayumu." Ucap Zira cepat sambil menunjuk ke arah Koko. " Ya aku melihat ada perubahan dari tadi, aku perhatikan dia selalu memasukkan tangannya ke dalam saku celana." " Hahahaha itu salah satunya." Ucap Zira sambil tetap tertawa. " Jelaskan padaku semuanya." Zira menjelaskan semuanya kalo dia sudah mengajari kursus kilat untuk menjadikan Koko sebagai pria tulen. Dan kursus kilatnya berhasil walaupun tadi ada kendala karena ketampanan tuan Arata, Koko jadi agak gemulai sedikit. Tapi Zira bisa mengendalikannya dengan baik. " Tuan tau semua karena nona Zira makanya tuan Arata mau menanamkan sahamnya di perusahaan kita." Ziko menatap serius kepada istrinya. Di pikirannya sudah ada yang aneh-aneh. " Apa yang kamu lakukan sampai dia bisa dengan cepat menginvestasikan sahamnya." Ucap Ziko penasaran. " Mana ada, aku enggak melakukan apapun aku hanya menemani dia, dan selebihnya dia yang mengendalikan tuan Arata." Ucap Zira sambil menunjuk ke arah Koko. Tuan Arata langsung menginvestasikan sahamnya kepada perusahaan Ziko. Setelah dia tau kalo Zira adalah istri dari pemilik perusahaan. Tapi Zira tidak mau menyanjungkan dirinya. Dia memberikan penghargaan itu kepada Koko agar dia lebih dihargai di perusahaan itu. Ziko bertepuk tangan mendengar penjelasan dari istrinya. Suatu penghargaan buat Koko yang bisa menarik investor asing ke dalam perusahaannya. " Hebat kamu, besok kalo ada investor asing kamu yang akan aku kirim." Ucap Ziko bangga. Koko hanya tersenyum dia melihat kikuk ke arah Zira. Karena Zira lah yang banyak membantunya tadi. Koko akan banyak belajar dari Zira tentang semuanya. Karena Koko merasa Zira orang pintar. " Like komen dan vote yang banyak ya terimakasih." Chapter 163 episode 163 Mobil sudah menuju sebuah restoran. Restoran bintang lima dengan sajian kelas wahid. Ziko memilih private room untuk menikmati makan malamnya. Sebelumnya Kevin sudah memesan tempat itu ketika mereka masih di kantor. Mereka duduk saling berhadap-hadapan antara tim Ziko dan tim Tuan Arata. Zira duduk di sebelah kanan Ziko, Kevin duduk di sebelah kiri Ziko dan Koko duduk di sebelah kanan Zira. Dua orang pelayan wanita memasuki ruangan tersebut, para pelayan meletakkan daftar menu di depan para tamu restorannya. Mereka merekomendasikan makanan yang paling favorit di restoran itu. Ziko memilih makanan yang di rekomendasikan pelayan wanita itu. Seorang pelayan mencatat menu yang dipilih Ziko. Setelah semua pesanan sudah di catat, pelayan tadi pergi meninggalkan ruangan untuk menyerahkan daftar menu yang di pilih tamunya kepada chef. Tuan Arata dan Ziko mengobrol tentang banyak hal dari obrolan bisnis sampai obrolan yang lain. " Mr. Ziko you have a very smart wife. You are very lucky (Tuan Ziko anda mempunyai isteri yang sangat pintar. Anda sangat beruntung)." Ucap Tuan Arata tersenyum melirik Zira. Zira pura-pura tidak mendengar dia lebih memilih memandang yang lainnya. Ziko menoleh melihat istrinya. Di pikirannya sehebat apa istrinya sampai orang lain bisa memuji kepintarannya, padahal di depan Ziko, istrinya tidak pernah menunjukkan kepintarannya. " Apa Tuan Arata memuji Zira karena dia menyukai istriku atau apa karena memang Zira pintar." Sambil melirik Zira yang berada di sampingnya. Misteri itu bertambah lagi di dalam benaknya, dari bahasa Perancis yang secara mengejutkan dirinya dan dari cara Zira menaklukkan lawannya, semua menjadi misteri di dalam benaknya, misteri ini belum pernah bisa terpecahkan. Beberapa pelayan memasuki ruangan sambil mendorong makanan yang ada di atas rak. Mereka tersenyum sambil meletakkan makanan tersebut di samping kanan para tamunya tidak lupa para pelayan menyebutkan menunya sambil meletakkan makanan. " Selamat menikmati." Ucap Pelayan tadi sebelum meninggalkan ruangan tersebut. Tuan Arata dan Tim sudah mengambil sendok yang berada di samping dan kanan dan kiri piring. Begitupun Ziko, Kevin dan Zira mereka juga sudah mengambil sendok dan menikmati makanannya. Hanya Koko yang belum menyentuh makanannya. Zira memperhatikan Koko yang masih diam sambil menatap makanannya. " Kenapa kamu enggak makan? Apa kamu enggak suka sama makanan ini." Ucap Zira sambil menunjuk ke piring Koko. " Bagaimana aku mau makan tanganku ada di dalam saku celana." Gerutu Koko. Zira tertawa kecil mendengar ucapan Koko barusan. Ziko dan tuan Arata melirik Zira. Mereka penasaran apa yang menyebabkan Zira tertawa. " Naze waratteru no? Omoshiroi koto waarimasu ka (Kenapa anda tertawa nona? Apa ada yang lucu)." Ucap Tuan Arata tersenyum tipis sambil melihat ke arah Zira. Ziko juga melihat ke arah istrinya, di pikirannya kenapa Tuan Arata berbicara bahasa Jepang kepada istrinya. Zira hanya tersenyum dia tidak menjawab pertanyaan tuan Arata. Ziko langsung memahami arti diamnya Zira " Sorry, my wife Arata can''t speak Japanese (Sory tuan arata isteri saya tidak bisa berbahasa jepang)." Ucap Ziko membela istrinya. Tuan Arata tertawa mendengar pembelaan Ziko kepada istrinya. Ziko bingung dan tidak bisa mengerti arti dari tertawa rekan bisnisnya. " It seems like you don''t know more about your wife (Sepertinya anda kurang mengenal lebih dalam tentang isteri anda)." Ucap Tuan Arata sambil tersenyum lebar. Sedangkan Ziko malah menatap tajam ke arah istrinya. Ucapan Tuan Arata seperti menyindirnya karena tidak mengenal tentang istrinya. Zira tidak menghiraukan tatapan suaminya, dia lebih memilih melihat ke arah Koko. " Makanlah makanan mu. Apa kamu kira makanan mu akan habis dengan cara di pelototi seperti itu." Ucap Zira tersenyum kecil. Koko mengeluarkan tangannya dari dalam saku secara perlahan. Dia ada rasa ragu untuk memegang sendok. " Nona bolehkah aku makan pakai tangan? Aku takut jadi kelingking dan jari manis ku terangkat dengan sendirinya." Ucap Koko ragu. Zira tertawa lebar, sambil menutup mulutnya. Ziko dan Tuan Arata melihat kembali ke arah Zira. " Anata wa totemo shiawase-s¨­desu, watashitachi to tanoshimi o ky¨­y¨± shitaidesu ka? (Sepertinya anda sangat senang, apakah anda mau berbagi kesenangan dengan kami)." Ucap Tuan Arata tersenyum tipis. " Hahaha, watashi wa kono tabemono ni totemo manzoku shite imasu (hahaha, saya sangat senang dengan makanan ini)." Ucap Zira tertawa lebar. Tuan Arata tersenyum mendengar cara tertawa Zira yang lucu. Ziko tidak ada ekspresi, dia kaget mendengar istrinya bisa bahasa Jepang sedangkan dia belum sampai sempurna bahasa Jepangnya. " Berapa bahasa yang kamu ketahui?" Ziko penasaran sambil berbisik ke telinga istrinya. " Bukan ketahui tapi pelajari." Ucap Zira meralat ucapan suaminya. " Hemm ya itu, berapa?" Ucap Ziko cepat. " Sebanyak bahasa yang kamu pelajari sebanyak itu juga bahasa ku." Ucap Zira enteng. Ziko sudah tidak mau membahas masalah itu lagi, menurutnya pembahasan itu akan mereka bahas ketika sudah di rumah. Ziko melanjutkan makannya. Zira masih melihat Koko, dia belum juga memakan makanannya. Dia takut jarinya akan merusak suasana di meja makan itu. " Begini saja aku punya ide." Ucap Zira sambil berbisik ke Koko. Koko mengangguk kan kepalanya, dan Zira mengambil sesuatu dari dalam tasnya yaitu sebuah karet rambut.Koko mengikat jari kelingking dan jari manisnya dengan karet. Dengan seperti itu jarinya tidak akan berdiri dengan lentik tapi akan berdiri kaku. Koko dapat menikmati makan malamnya walaupun di awal agak susah tapi dia sudah membiasakan dirinya. Tim tuan Arata yang duduk di depan Koko melihat bingung. Di pikirannya cara makan setiap negara berbeda-beda dan ini yang paling unik menurutnya. Mereka sudah selesai menikmati makan malamnya. Tuan Arata kembali ke mobil menuju hotel untuk beristirahat. Ziko, Zira dan Koko masih berdiri di depan pintu restoran, mereka masih menunggu Kevin yang sedang mengambil mobilnya dari area parkir. Vita yang sedang berjalan-jalan menikmati indahnya malam melihat ke arah seberang jalan. Dari sebrang jalan ada sosok yang sangat di kenalnya yaitu Ziko. Vita ingin menyeberang menghampiri Ziko, tapi jalanan ramai dengan kendaraan, dia tidak berhasil untuk menyeberang. Kevin sudah di depan pintu restoran dengan mobilnya. Koko membukakan pintu untuk dua majikannya. Ziko dan Zira duduk di kursi belakang seperti biasanya dan Koko di samping Kevin. Kevin sudah melajukan mobilnya. Vita tidak bisa menyeberang jadi dia hanya bisa berteriak menyebutkan nama Ziko berulang-ulang. Ziko seperti mendengar seseorang meneriakkan namanya. Ziko melihat ke kaca belakang mobil, untuk mencari siapa yang meneriakkan namanya. " Seperti ada yang meneriakkan namanya ku." Ucap Koko melihat ke belakang. Zira melihat dua orang yang namanya akhiran o melihat kebelakang semua. Dia merasa aneh dengan dua orang ini. " Like komen dan vote yang banyak ya terimakasih." Chapter 164 episode 164 " Ada apa dengan kalian berdua?" Sambil memandang Ziko dan Koko yang sama-sama melihat kebelakang. " Sepertinya ada yang meneriakkan nama ku." Ucap Ziko serius sambil melihat kebelakang. Zira kembali melihat Koko. " Dan kamu apa yang menyebabkan kamu sampai tengleng seperti itu." " Ada yang meneriakkan namaku juga." Ucap Koko juga melihat ke belakang. " Mungkin saja yang berteriak tadi bukan menyebutkan nama kalian tapi menyebutkan nama sikomo." Ucap Zira santai sambil memperbaiki arah pandangan suaminya untuk melihat ke arah depan. Ziko dan Koko kembali melihat arah depan. Walaupun mereka yakin bahwa pendengarannya tidak salah. " Apa anda mau berhenti tuan? atau kita putar arah." Ucap Kevin ingin memberhentikan mobilnya sambil memutar arah mobil yang di kendarainya. " Lanjutkan saja, mungkin hanya orang iseng." Kevin kembali melajukan mobilnya. Vita masih bengong di tempat, pada saat dia berteriak menyebutkan nama Ziko. " Bagaimana aku tidak bisa kepikiran tentang keberadaan Ziko di sini." Gumam Vita. Vita memang tidak memikirkan tentang keberadaan Ziko di kota itu, saking senangnya karena tulisannya akan di cetak dan senang karena dapat kembali ke tanah air, sampai-sampai dia tidak memikirkan orang penting di kota ini. Vita tidak mempunyai nomor ponsel Ziko karena memang sudah lost contacts lama, dan pada saat di Belanda dia juga tidak kepikiran untuk meminta nomor ponselnya. Di pikirannya, dia akan dengan cepat dapat menemui Ziko, secara dia masih ingat tempat tinggal Ziko dan masih ingat tentang perusahaan Ziko. Vita akan menemui Ziko besok. Sekarang dia masih ingin menikmati suasana malam hari yang indah. Kevin mengantarkan Koko terlebih dahulu ke kantor karena kendaraannya masih di sana. Setelah itu baru Kevin mengantarkan dua majikannya. Bintang-bintang berkilauan di atas langit memancarkan cahayanya membuat suasana malam itu terlihat sangat indah. Di pinggir jalan banyak para pedagang yang menjajakan dagangannya. Makanan yang mempunyai citarasa yang enak untuk lidah Zira. Biasanya Zira sering menghabiskan malamnya dengan makan di situ. " Suamiku, makanan di situ enak loh." Ucap Zira sambil menunjuk ke arah luar jendela mobil. Ziko melihat ke arah yang di tunjuk istrinya. " Kamu kan baru makan bagaimana bisa kamu mau minta makan lagi." Ucap Ziko cepat. " Ah suamiku apa kamu lupa dengan anak cabang lambungku." Ucap Zira cepat merayu suaminya. Zira kurang suka dengan makanan western karena memang bukan lidahnya, makanan western memang lebih mahal di bandingkan dengan makanan lokal. Kalo dari segi porsi lebih banyak makanan lokal di bandingkan makanan western, itu yang membuat Zira bingung kenapa makanan western bisa lebih mahal di bandingkan makanan lokal. Sempat di dalam benaknya mungkin makanan western harganya mahal karena di sajikan dalam bentuk dan warna yang indah, seperti banyaknya bunga warna-warni yang sering di sajikan diatas meja. Beda dengan makanan lokal di sajikan hanya dengan potongan timun atau bunga kantil ????????????. Zira merayu suaminya agar di ijinkan membeli makanan di pinggir jalan. " Boleh ya, satu aja?" Ucap Zira merayu suaminya dengan mimik wajah sendu. " Hemmm." Ucapan yang singkat dari Ziko tapi membuat istrinya girang. Kevin langsung memberhentikan mobil di pinggir jalan. Zira menarik tangan suaminya agar menemaninya memilih makanan di sana, tapi Ziko menahan tangannya. " Aku tidak terbiasa makan makanan itu." Zira tidak memaksa suaminya untuk mengikuti seleranya. Zira memakluminya secara di mansion mereka bisa mendapatkan makanan apa saja, yang jauh lebih terjaga kebersihannya. Zira keluar dari mobil sambil membaca semua tulisan yang ada di atas steling. Dia masih memilih makanan apa yang bisa menggugah seleranya. Kevin keluar dari mobil dan Ziko memperhatikannya. " Mau kemana kamu?" Ucap Ziko dari balik kaca mobil. " Saya mau menemani nona Zira, saya khawatir terjadi apa-apa karena di sini banyak orang." Ucap Kevin langsung pergi meninggalkan Ziko di mobil. Ziko hanya bengong melihat Kevin lebih sigap dan sedia di bandingkan dengan dirinya. Kevin mengikuti Zira dari belakang. " Nona mau beli apa?" Ucapan Kevin mengagetkannya. " Ah kamu suka banget mengagetkan aku. Mana suamiku?" Ucap Zira sambil melihat ke belakang Kevin. " Tuan menunggu di mobil." Ucap Kevin sambil berjalan beriringan dengan Zira. Zira masih memilih makanan yang menggugah seleranya. Dia tertuju pada satu gerobak kecil yang bertuliskan telor gulung. Zira langsung memesan dua porsi. Sang pedagang langsung membuat pesanan Zira. " Ini nona." Ucap Bapak pedagang menyerahkan pesanan Zira. Zira memberikan pesanannya kepada Kevin. Dia masih memilih makanan yang lain. Dia berhenti pada satu gerobak yaitu bakso bakar dan sosis bakar. Zira memesan makanan itu dan langsung membayarnya. " Kamu tunggu di sini. Aku mau membeli rujak dulu." Ucap Zira menunjuk ke arah steling penjual rujak. Zira pergi meninggalkan Kevin yang masih menunggu pesanan Zira. " Ini pesanan istri anda mas." Ucap penjual sambil menyerahkan bakso bakar dan sosis bakar. Kevin ingin meralat ucap sang penjual tapi dia mengurungkan niatnya. Kevin menuju ke steling penjual rujak. " Mau pesan berapa mas?" Ucap penjual kepada Kevin. " Oh saya tidak pesan." Ucap Kevin sambil menunjuk ke arah Zira yang lagi duduk di pojok dengan ponselnya. " Oh suami mbaknya toh?" Ucap penjual lagi. Lagi-lagi Kevin bingung karena sudah dua orang yang berpikiran kalo mereka suami istri. Kevin tidak menjelaskan lagi karena sang penjual sudah membungkus makanan itu. " Lagi isi ya istrinya?" Ucap sang penjual rujak. " Maksudnya?" Ucap Kevin bingung. " Ya tadi mbaknya pesan jangan pakai nenas. Jadi saya kira mbaknya lagi hamil." Ucap penjual menyerahkan bungkusan rujak. Kevin menghampiri Zira yang masih duduk di kursi. " Nona apa ada lagi yang mau di beli." Zira menyimpan ponselnya ke dalam tas jinjing sambil menggelengkan kepalanya. Dia mengambil beberapa bungkus makanan yang di pegang Kevin. " Terimakasih Bu." Ucap Zira kepada penjual. " Sama-sama, jaga istrinya ya mas." Ucap penjual kepada Kevin. Zira melihat kepada Kevin. " Apa maksud penjual tadi?" Ucap Zira penasaran. " Enggak tau." Ucap Kevin gugup. Mereka berjalan beriringan menuju mobil. Zira memberikan sebungkus bakso bakar dan sosis bakar kepada Kevin. Mereka sangat akrab dan saling mengobrol. Ziko memperhatikan mereka dari jauh. Ada rasa cemburu melihat Kevin dan Zira berjalan beriringan seperti sepasang kekasih. Ziko langsung turun dan menghampiri mereka. Ziko merampas bungkusan yang ada di tangan Kevin. " Jangan di ambil, itu memang untuknya. Ini punya kamu." Ucap Zira sambil menyerahkan sebungkus bakso bakar dan sosis bakar. Tapi Ziko tetap mengambil bungkusan yang di pegang Kevin. Ziko menarik tangan istrinya berjalan menuju mobil. Dan Kevin mengikuti mereka dari belakang. Zira duduk sambil menikmati makanannya. Bungkusan yang di pegangnya tadi di buang ke tong sampah. " Kenapa di buang? Bungkusan itu belum di makan sama sekali, Kevin tadi hanya masih memegangnya." Ucap Zira kesal. Kevin paham kalo Bosnya sedang tidak baik-baik saja. " Like komen dan vote yang banyak ya terimakasih." Chapter 165 episode 165 " Kamu bilang beli satu kenapa beli banyak." Ziko sudah terlihat kesal karena cemburu, untuk pelampiasan rasa cemburunya dia memarahi Zira. " Ya tadi aku mau beli satu, tapi banyak makanan yang membuatku tergoda." Ucap Zira cepat sambil menikmati telur gulungnya. Kevin sudah mengendarai mobil, dia memperhatikan dari kaca mobil. Ziko merampas semua bungkus makanan yang ada disampingnya dan akan membuangnya. Tapi Zira menahan tangannya. " Kamu kenapa sih? Tiba-tiba marah enggak jelas. Kalo kamu enggak suka aku makan beginian tutup aja mata kamu." Ucap Zira kesal sambil menarik makanan yang ada ditangan suaminya. " Udah enggak nemani istrinya malah marah-marah." Gumam Zira pelan. Gumaman Zira terdengar suaminya. " Jadi kamu senang kalo di temani dia?" Ucap Ziko kesal sambil menunjuk ke arah Kevin. " Ya senanglah! Orang lain lebih perhatian di bandingkan suami sendiri." Ucap Zira kesal sambil melihat keluar jendela. Ucapan Zira seperti tamparan keras pada dirinya. Tapi Ziko terlalu ego untuk mengakuinya. " Kamu kan tau kalo aku tidak terbiasa dengan daerah seperti itu." Ziko melakukan pembelaan untuk dirinya sendiri. " Kalo kamu enggak terbiasa maka biasakanlah. Biar kamu bisa tau kerasnya kehidupan orang lain." Ucap Zira menyindir. Ziko belum lahir atau masih dalam proses pembuatan dia sudah di takdirkan kaya. Harta keluarganya sampai tujuh turunan tidak akan habis. Itu yang menyebabkan dia kurang peka terhadap hal-hal seperti itu. Ziko diam tidak mau berdebat dengan istrinya. " Maafkan saya tuan karena telah lancang menemani nona Zira." Ucap Kevin mengalah agar hubungan keduanya membaik. Apa yang di lakukan Kevin tidaklah salah karena dia hanya mengantisipasi kemungkinan yang terjadi. Ziko tidak menjawab dia lebih memilih memandang keluar jendela sama halnya dengan istrinya. Mobil telah sampai di depan mansion. Zira mengambil semua bungkusan makanan yang di belinya dan membuangnya ke tong sampah. " Kenapa kamu buang? Bukannya tadi kamu bilang lapar." " Udah hilang selera makanku." Zira menjawab ketus dan meninggalkan Ziko yang masih berdiri di depan pintu mansion. Zira lebih baik menahan laparnya dalam diam. Zira masuk ke dalam mansion. Ada yang berlari dari ujung ruang keluarga. Yang tidak lain adalah Zelin. " Kakak ipar?" Ucap Zelin memeluk kakak iparnya. Zira kaget melihat adik iparnya sudah sampai ke tanah air. " Kapan kamu sampai?" Ucap Zira sambil mengelus rambut adik iparnya. " Tadi siang." Zelin menarik tangan kakak iparnya untuk di bawa duduk ke ruang keluarga. Ziko baru masuk dan melihat adiknya sudah ada di dalam mansion. " Halo kakakku yang paling ganteng." Ucap Zelin menyapa kakaknya. Ziko tidak menjawab ataupun tersenyum dia lebih memilih untuk pergi ke kamar. Zelin memperhatikan tingkah kakaknya yang aneh. " Kakak ipar ada apa dengan kakakku." Ucap Zelin sambil menatap ke arah Zira. " Lagi datang bulan kali." Ucapan kakak iparnya membuat Zelin tertawa lebar. " Sudah cukup tertawanya ceritakan keadaan mama dan papa?" Ucap Zira mencubit pipi adik iparnya. Zelin menceritakan keadaan orang tuanya di sana. Dan menceritakan tentang perjalanannya dari Belanda ke tanah air. " Kamu kenapa pulang?" Zelin menceritakan perihal kepulangannya karena sudah memasuki musim kuliah. Mereka melepaskan rindu yang sudah berbulan-bulan. " Kakak udah isi belum?" Ucap Zelin penasaran. Zira tidak menjawab dia hanya tersenyum manis. Dia tidak memikirkan tentang kehamilan karena yang paling utama dalam dirinya adalah hubungannya kedepan berlanjut atau tidak. Setelah hubungan lanjut dia akan memikirkan tentang program kehamilan. Zira dan Zelin masuk ke kamarnya masing-masing. Zira melihat suaminya sedang duduk di atas kasur tanpa melihat keberadaannya. Zira membersihkan tubuhnya di kamar mandi setelah itu mengenakan baju tidurnya. Ziko tidak menyapa sama sekali, dia masih kesal dengan istrinya. Zira mengambil bantal dan tidak berniat untuk tidur di sebelah suaminya, dia memilih untuk tidur di atas sofa. Ziko melirik istrinya yang pindah ke atas sofa, ada rasa kasihan tapi di tahan egonya untuk tidak menegur ataupun menyapa istrinya. Zira menutupkan matanya perlahan dengan cepat dia sudah masuk ke dalam alam mimpinya. Di dalam mimpinya dia sedang terbang dan pindah tidur ke atas kasur dan di dalam mimpinya dia merasa ada yang basah di atas bibirnya. Setelah itu dia sudah tidak sadarkan diri lagi. Keesokan paginya cahaya mentari sudah masuk kedalam celah jendela dan menyinari sudut kamar. Zira membuka matanya perlahan dan meregangkan ototnya yang kaku. Dia duduk di atas kasur sambil menurunkan kakinya ke bawah. Zira hendak melangkahkan kakinya tapi dia melihat ada pakaiannya berserakan di lantai. Zira kaget dan memperhatikan tubuhnya yang sudah tidak tertutup benang sama sekali. Zira melirik ke arah suaminya yang sudah bertelanjang dada hanya di tutupi selimut. Zira berlari kecil ke kamar mandi sambil menutupi tubuhnya dengan baju tidur. Di dalam kamar mandi Zira mengumpat habis-habisan. Karena seingatnya dia tidur di sofa dan pagi harinya dia sudah di atas kasur tanpa ada benang sedikitpun di badannya. " Bagaimana bisa dia mengambil kesempatan pada diriku. Marah ya marah tapi jangan main jungkat jungkit seenaknya dong." Teriak Zira kesal. Zira tambah kesal melihat ada tato ikan di sekujur tubuhnya. " Zikoooooo ubi kayu, manusia es batu." Teriak Zira kesal. Zira langsung mandi, setelah selesai mandi dengan segera dia langsung memakai bajunya. Zira tidak ingin membangunkan suaminya karena dia masih kesal dengan kejadian tadi malam dan kesal karena diam-diam suaminya mengambil kesempatan di atas tubuh moleknya. Zira keluar dari kamar dan mendapati Pak Budi sedang menyiapkan meja makan. " Selamat pagi nona? Pagi sekali anda bangun hari ini?" Ucap Pak Budi heran. Pak Budi sudah mengerti biasanya pasangan suami istri ini selalu bangun jam-jam setengah 9 bahkan bisa lebih. " Eh iya pak saya banyak kerjaan." Ucap Zira gugup. " Tuan muda mana?" Ucap Pak Budi sambil melihat kebelakang majikannya. " Masih tidur pak. Biarkan saja suami saya tidur, bangunkan satu jam lagi ya pak. Pak Budi mengangguk dan menyiapkan sarapan untuk Zira. Zira menikmati makanannya dengan terburu-buru. Dia tidak mau kalo Ziko bangun masih mendapati dirinya di sini yaitu di mansion. " Pak saya pamit ya. Bangunkan suami saya satu jam lagi." Ucap Zira cepat sambil keluar dari mansion menuju parkir mobil. Supir sudah stand by di sana dan siap mengantarkan Zira ke butik. Ziko membuka matanya perlahan dan melihat ke sebelahnya. Dia tidak mendapati Zira di atas kasur. Ziko duduk dari posisi sebelumnya terlentang. Dia berjalan menuju ke kamar mandi tapi tidak ada Zira di sana. " Mungkin dia menungguku di meja makan." Ziko mandi dan selesai mandi langsung mengenakan setelan jas yang sudah di siapkan Zira sebelumnya. Walaupun Zira kesal dan marah sama suaminya tapi dia tetap melakukan tugas-tugasnya sebagai istri. " Like komen dan vote yang banyak ya terimakasih." Chapter 166 episode 166 Ziko keluar dari kamarnya menuju meja makan. Dia melihat sekeliling ruangan tapi tidak menemukan istrinya hanya ada Zelin yang masih duduk di kursi makan. " Tuan sudah bangun." Ucap Pak Budi sopan. " Hemmmmm." Jawaban singkat dari Ziko sambil melebarkan pandangannya ke ruangan lain. " Kakak ipar mana kak?" Sambi melihat ke arah tangga. " Maaf Tuan, tadi nona Zira berangkat pagi, nona bilang banyak pekerjaan hari ini." Ziko tidak menjawab pertanyaan adiknya. Dia membiarkan adiknya dan Pak Budi berpikir kalo tidak terjadi apa-apa dengan mereka berdua. " Oh iya Pak, dia lagi sibuk ni hari." Pak Budi mengambilkan makanan untuk tuannya dan meletakkannya di piring. Ziko memakan sarapannya walaupun masih kepikiran tentang masalahnya. Ziko tidak bisa menelan makanannya dengan baik. Ziko beranjak dari kursinya. " Kakak mau kemana?" Zelin memperhatikan piring kakaknya yang masih banyak makanannya. " Kakak mau berangkat kerja, asisten Kevin pasti sudah menunggu di depan." Ucap Ziko langsung keluar mansion. Ada Kevin yang sedang duduk di beranda depan. Kevin langsung berdiri ketika melihat bosnya sudah berjalan mendekati mobil. Kevin berlari kecil membukakan pintu mobil. Ziko langsung duduk di tempat biasa. Kevin belum menyalakan mesin mobil, dia masih menunggu majikannya satu lagi. " Kenapa enggak jalan?" Ucap Ziko melihat kevin yang masih melihat ke luar jendela sebelah samping kirinya. " Tapi nona Zira belum naik tuan." " Sudah jalan saja, dia sudah berangkat pagi tadi." Ucap Ziko cepat. Kevin langsung menyalakan mesin mobil menuju pusat kota. Di pikiran Kevin telah terjadi sesuatu antara dua majikannya. Zelin sudah menyelesaikan sarapannya. Dia beranjak dari kursinya. " Pak Budi, aku berangkat ya?" Ucap Zelin pamit sambil keluar mansion menuju parkiran. Zelin menyalakan mesin mobil dan langsung keluar mansion. Ada taksi yang berhenti di depan mansion. " Iya pak berhenti di sini." Ucap Vita memberitahu kepada supir taksi sambil mengeluarkan beberapa lembar uang dan menyerahkan kepada supir taksi. Vita berdiri di depan mansion megah itu. Dia memandang kagum melihat kemegahan bangunan itu. Tidak banyak perubahan dari luar mansion masih sama dengan yang dulu pada saat Vita sering main ke bangunan itu. Hanya ada perubahan dari warnanya saja. Vita menekan bel yang ada di pinggir pagar. Seorang penjaga mansion dengan postur tinggi dan kumis tebal keluar dari mansion dan memperhatikan tamu yang ada di depannya. " Mau apa?" Ucap penjaga tegas. " Saya mau ketemu Ziko." Ucap Vita gugup. Wajah penjaga memang sangar lebih sangar dari preman pasar. " Tuan muda tidak ada. Ada keperluan apa anda mencari tuan muda." Masih dengan wajah sangarnya. " Saya temannya dan saya baru datang dari Belanda." Ucap Vita menyakinkan penjaga. " Silahkan anda pergi dari sini, karena tuan muda sudah pergi beberapa menit yang lalu." Ucap penjaga mengusir Vita dan langsung menutup pagar. Vita kesal dengan sikap penjaga yang tidak ada ramah-ramahnya kepada dia. Vita melihat jam di tangannya. Waktu sudah menunjukkan pukul sembilan tepat. " Hemm mungkin si penjaga benar, jam-jam segini adalah jam kantor. Lebih baik aku menemuinya di kantor." Vita memanggil taksi yang lewat di depannya. Dia memberikan alamat yang di tujunya kepada supir taksi. Taksi langsung meluncur ke alamat tersebut. Zelin mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang. Dia mendengarkan alunan musik yang sedikit kencang sehingga membuatnya ikut terbawa suasana sambil menggoyangkan badannya ke kanan dan ke kiri. Zelin menghidupkan lampu sein mobilnya ke kiri, tapi pada saat dia hendak belok ke kiri mobilnya ada yang menabrak dari belakang. Zelin langsung memberhentikan mobilnya di tempat yang agak lebar. Si penabrak langsung bangun dari motor besarnya di bantu dengan beberapa orang yang ada di sekitar situ. Zelin keluar dari mobil dan melihat ke belakang mobilnya yang penyok karena kena tabrak. Si penabrak langsung menghampiri Zelin. " Maaf mbak saya enggak sengaja." Ucap si penabrak. " Semua orang kalo sudah menabrak pasti bilangnya enggak sengaja." Zelin bicara ketus sambil mengambil ponsel dari dalam mobil. Dia hendak menghubungi nomor kantor polisi. " Mbak mau ngapain?" Ucap si penabrak. " Ya hubungi polisi lah." Ucap Zelin ketus sambil tetap menekan nomor kantor polisi. Tapi si penabrak langsung merampas ponsel Zelin. " Kembalikan ponselku." Ucap Zelin ingin mengambil ponselnya. Si penabrak mempunyai tubuh yang tinggi jadi agak susah Zelin mengambil ponselnya. " Aku akan menyerahkan ponsel ini, tapi aku mohon jangan hubungi pihak berwajib, kita ambil jalan damai saja ya?" Memohon kepada Zelin. " Enggak." Ucap Zelin ketus. Si penabrak mengambil dompetnya yang ada di saku celana bagian belakang dan menyerahkan beberapa lembar uang kepada Zelin. " Untuk apa ini?" Zelin bingung karena si penabrak meletakkan beberapa lembar uang ke telapak tangannya. " Untuk mengganti kerusakannya." Ucap si penabrak sambil menaiki motornya dan mengenakan helmnya kembali. " Hei aku enggak butuh uangmu." Ucap Zelin menyerahkan kembali ke atas motor si pria. " Jadi mau anda apa?" Si pria membuka lagi helmnya dengan sedikit emosional. " Aku mau kamu masuk penjara atas tindakan mu ini." Ucap Zelin ketus sambil menuding ke wajah sang pria. " Nona saya mohon jangan persulit, saya sudah terlambat kerja. Begini saja ambil kartu identitas saya sebagai jaminan." Ucap si pria sambil memberikan kartu identitasnya kepada Zelin. " Hey apa kamu pikir dengan memberi ini masalah kita akan selesai." Ucap Zelin ketus sambil menunjuk kartu yang di pegangnya. Si pria mengambil ponselnya sambil mengetik sesuatu dan menunjukkannya ke arah Zelin. Pria tersebut menunjukkan layar ponselnya. " Ini nomor ponsel ku. Coba anda hubungi." Ucap si pria. Zelin mengetik nomor tersebut ke dalam ponselnya dan mencoba menghubungi nomor itu. Panggilan terhubung langsung kepada ponsel si pria " Itu nomor ku, dan itu kartu identitasku sebagai jaminan kalo aku enggak akan kabur. Aku sudah terlambat kerja, sore nanti aku akan menghubungi anda." Ucap si pria langsung menyalakan motor gedenya dan pergi meninggalkan Zelin bengong. Mobil sudah sampai di depan gedung Raharsya group. Ziko langsung masuk ke dalam gedung itu di ikuti Kevin dari belakang. Ziko melihat meja sekertarisnya kosong tidak ada Koko di kursinya. Di dalam ruangan. " Kemana sekertaris itu? Apa dia sudah ijin sama kamu?" Ucap Ziko menanyakan kepada Kevin. " Tidak ada tuan, dia tidak ada menghubungi saya." Ucap Kevin sambil melihat ponselnya, mengecek panggilan masuk. " Cari informasi tentang pemilik properti perumahan X, aku ingin membeli propertinya." " Maaf tuan kenapa anda tertarik di bidang ini." Ucap Kevin penasaran. " Kamu tau, sebelumnya aku sudah mengecek kalo bidang properti perumahan X banyak menghasilkan untung dan setelah aku telusuri di antara properti perumahan di kota ini, perumahan X yang banyak peminatnya. " Like komen dan vote yang banyak ya terimakasih." Chapter 167 episode 167 Kevin langsung bergegas menuju ruangannya untuk mencari informasi mengenai pemilik properti perumahan X. Kevin melihat Koko yang baru keluar dari lift khusus karyawan. " Jam berapa ini?" Ucap Kevin sambil melihat jam di tangannya. " Maaf Pak, tadi saya mengalami musibah." Ucapnya pelan sambil menunduk ke bawah, dia tidak mau bertatap muka dengan Kevin. Koko sudah mulai membiasakan dirinya bertingkah layaknya seorang pria. Dari cara berbicara sudah banyak perubahan, tapi kalo untuk perasaan masih banyak yang harus di perbaiki. Dan itu adalah Pr buatnya. Kevin memberikan isyarat dengan mengerakkan jari tangannya agar kembali bekerja. Kevin menghubungi orang-orangnya untuk mencari tau tentang kepemilikan properti perumahan X. Sebelumnya Ziko sudah pernah mengutarakan niatnya untuk membeli saham properti perumahan X. Tapi tidak pernah terwujud karena sang pemilik tidak pernah mau melepaskan propertinya. Dan sekarang properti itu tambah besar membuat keinginan untuk memiliki properti itu semakin besar. Ziko yakin dengan mengembangkan bisnisnya di bidang properti pasti akan sangat menguntungkan perusahaannya. Koko sibuk di depan mejanya, dari menjawab semua panggilan telepon yang masuk dan menerima beberapa berkas atau dokumen untuk di tandatangani bosnya. Koko mengantarkan beberapa berkas ke ruangan Presiden direktur. " Selamat pagi bos." Koko memasuki ruangan Presiden direktur dengan membawa beberapa berkas di tangannya. Koko meletakkan di meja bosnya. Ziko mengambil berkas yang diletakkan sekertarisnya di atas meja. " Dari mana saja kamu?" Ucap Ziko sambil menandatangani dokumen satu persatu. " Maaf bos tadi saya telat." " Kenapa bisa telat?" Masih menandatangani berkas. " Saya baru menabrak mobil seseorang bos." " Kenapa bukan kamu saja yang tertabrak!" Ucap Ziko ketus. " Idih si bos, doanya jelek banget." Ucap Koko sambil menutup mulutnya. Koko tanpa sengaja lupa dengan cara berbicara yang kemayu. Ziko langsung melotot mendengar ucapan sekertarisnya. " Kamu mau aku pecat!" Bentak Ziko. " Enggak bos, enggak, saya enggak sengaja." Ucap Koko gugup, dia tidak bisa membayangkan kalo dia di pecat dari perusahaan besar itu. Ziko menyerahkan berkas yang sudah di tanda tanganinya kepada sekertarisnya. " Awas kalo kamu masih bertingkah seperti itu." Ancam Ziko sambil memberikan berkas kepada sekertarisnya. Zelin pergi ke kampus dengan mobil yang penyok. Dia memarkirkan mobilnya bersama-sama dengan mobil mahasiswa dan mahasiswi lainnya. " Hai Zelin." Ucap Tia sahabat Zelin sambil memeluk sahabatnya. " Hemmm". " Idih kenapa jutek gitu sih? Baru juga hari pertama tapi wajah sudah di tekuk seperti itu." Ledek Tia. " Ya ini hari yang sial buatku." Ucap Zelin malas. Tia penasaran dengan ucapan sahabatnya. " Kenapa dengan kamu? Bukannya kalo masuk kuliah pasti kamu senang secara ada kakak kelas ganteng." Goda Tia sambil menggerakkan alisnya. " Aku kesal dan sebel ni hari, coba kamu lihat ini." Ucap Zelin menunjukkan mobilnya yang penyok. Tia membelalakkan matanya tidak percaya. " Kamu baru menabrak siapa?" Penasaran. " Siapa yang nabrak, aku itu yang di tabrak dari belakang." Kesal. " Yang tabrak ganteng enggak?" Tia malah bertanya yang aneh-aneh. " Idih kenapa juga kamu tanya ganteng segala." Ucap Zelin kesal sambil berjalan meninggalkan Tia yang masih di parkiran. " Aku kan cuma tanya aja, kalo ganteng lanjutkan, kalo jelek tinggalkan." Ucap Tia sambil tertawa kecil. Zelin tidak menjawab celotehan sahabatnya. Memang si penabrak mempunyai wajah yang ganteng dan postur tubuh yang tinggi. Cuma ada yang mengganjal dari si penabrak tadi, yaitu cara berbicaranya yang agak berbeda dengan pria umumnya. Kevin masuk ke dalam ruangan Bosnya. " Tuan saya sudah mengetahui siapa pemilik properti perumahan X tersebut. " Siapa?" Ziko semangat dan penasaran. " Saya kurang tau Tuan, anak buahnya saya sudah mengecek, katanya ada seseorang yang selalu datang ke kantor perumahan itu. " Bagaimana cara kita menemuinya." Ucap Ziko tambah penasaran. " Saya dengar beliau ada di kantor perumahaannya sekarang." " Ok kita langsung berangkat, tahan pemiliknya jangan sampai dia pergi." Perintah Ziko. Ziko dan Kevin langsung bergerak keluar gedung menuju mobil. Kevin langsung menyalakan mesin mobil dan langsung mengemudikan dengan kencang. Taksi yang di tumpangi Vita sudah sampai di depan gedung Raharsya group. Cukup lama dia sampai ke gedung itu. Vita masuk ke dalam loby dan menuju meja resepsionis. " Selamat pagi, ada yang bisa di bantu." Ucap resepsionis ramah. " Saya mau bertemu dengan Ziko." Ucap Vita ramah sambil tersenyum tipis. " Ziko presiden direktur kan?" Vita menganggukkan kepalanya agak ragu, seingatnya dulu Ziko belum menjadi presiden direktur. " Tunggu sebentar ya." Resepsionis menekan tombol extension, dia menghubungi sekertaris Ziko. Resepsionis menjelaskan dari ujung teleponnya bahwa seseorang telah mencari presiden direktur. Resepsionis hanya menjawab iya baik, iya baik dan terimakasih sambil menutup teleponnya. " Maaf nona, presiden direktur tidak ada di tempat, kalo anda mau menemui beliau silahkan buat janji terlebih dahulu." Ucap resepsionis ramah. Vita tidak bergeming, dia kecewa dengan keadaan yang membuatnya sangat susah untuk bertemu sahabat kecilnya. " Bolehkah saya duduk di sana." Ucap Vita minta izin kepada resepsionis. " Silahkan tapi anda belum bisa menemui presiden direktur kalo belum membuat janji." Vita menganggukkan kepalanya mengerti karena seorang presiden direktur jadwalnya sangat padat, jadi wajar kalo dia harus membuat janji terlebih dahulu dengan sekertarisnya. " Sampaikan saja sama sekertarisnya kalo Vita datang." Ucap Vita sambil menuliskan nomor ponselnya di atas kertas. Resepsionis menganggukkan kepalanya dan mengambil kertas yang berisi nomor ponsel Vita. Resepsionis menghubungi sekertaris Koko untuk membuat janji antara Vita dan presiden direktur. Vita meninggalkan meja resepsionis, membiarkan resepsionis membuat janji temunya dengan Ziko. Vita duduk di sofa untuk mendinginkan tubuhnya. Di dalam mobil. Ziko tidak sampai hati berdiam diri dengan Zira. Dia menghubungi nomor Zira. " Ya halo." Ucap Ziko pelan. " Hemmm." " Aku tidak bisa makan siang denganmu, aku banyak pekerjaan hari ini." " Hemmm." Ucap Zira langsung menutup panggilannya. Ziko kaget mendapat panggilannya terputus. Kevin memperhatikan bosnya dari kaca mobil. " Vin bagaimana cara merayu perempuan yang ngambek?" Ucap Ziko bingung. " Saya kurang tau tuan, tapi biasanya perempuan itu suka dengan bunga." Ucap Kevin menjelaskan. " Baiklah nanti mampir ke toko bunga." Kevin menganggukkan kepalanya. " Tunggu istriku suka dengan bunga apa?" Ucap Ziko bingung. " Biasanya perempuan suka bunga mawar tuan." " Kamu kan tau istriku seorang Avengers belum lagi dia berguru sama thanos, mana mungkin dia mau bunga mawar." " Kalo itu saya kurang mengerti tuan, kalo seorang perwira atau superhero memang tidak suka dengan bunga." Ucap Kevin ikut terbawa suasana. " Sebaiknya bunga apa yang aku berikan kepadanya?" Kevin memikirkan sesuatu yang mungkin cocok dengan sosok Zira. " Tuan belikan aja semua bunga yang ada di toko bunga." Ucap Kevin cepat. " Bagus juga ide kamu. Tapi kalo dia enggak suka bangaimana?" Bingung. " Gampang tuan berikan aja rumput sama nona Zira nanti beri pita di ujungnya." Ucap Kevin cepat tersenyum lebar. " Apa kamu pikir istriku sapi." Ucapnya menendang kursi kevin. " Like komen dan vote yang banyak ya terimakasih." Chapter 168 episode 168 Kevin hanya tertawa kecil mendengar gerutu bosnya. Dia hanya ingin mencairkan suasana yang tegang. Sudah hampir setengah jam Vita duduk di sofa loby, sudah waktunya dia untuk pergi meninggalkan gedung Raharsya group, badannya juga sudah dingin berada di ruangan itu. Mobil sudah sampai di perumahan X. Perumahan X merupakan perumahan elite di kota itu. Pembelinya kebanyakan adalah golongan kelas menengah ke atas. Kevin memarkirkan mobil 50 meter dari kantor perumahan X. Dari kejauhan ada dua orang pria yang datang mendekati mobil tersebut. Kevin membuka kaca mobilnya. " Selamat siang Pak Kevin dan Tuan muda." Ucap dua orang itu. Mereka adalah orang kepercayaan Kevin yang selalu bergerak di luar area. Kevin dan Ziko menganggukkan kepalanya. " Tuan sepertinya pemilik perumahan ini masih ada di dalam kantor itu." Ucap salah satu orang sambil menunjuk ke arah kantor. " Baiklah terimakasih." Ucap Kevin. Kedua orang tadi masih berdiri di samping mobil Ziko. " Tuan bagaimana kalo saya saja yang masuk terlebih dahulu ke dalam kantor itu, saya khawatir pemiliknya adalah musuh anda." Ucap Kevin khawatir. Yang di pikirkan Kevin kemungkinan bisa benar, karena pemilik perumahan itu tidak pernah mau melepaskan propertinya walaupun Ziko sudah memberikan harga 5 kali lipat dari harga yang di tawarkan orang lain, tapi tidak pernah ada respon sama sekali. Ziko melihat sekeliling mobil yang parkir di dekat kantor tersebut, dia tidak melihat ada bodyguard lain selain bodyguardnya yang berada di samping mobil. " Sepertinya pemiliknya bukan musuh kita, karena tidak ada satu orangpun bodyguard yang ada di dekat situ." Ucap Ziko sambil menunjuk ke arah kantor. Kevin pun setuju dengan pendapat bosnya. Mereka keluar dari mobil berjalan beriringan di ikuti dua bodyguardnya. Masuk kedalam kantor tersebut pertama yang di lihat adalah meja besar seperti meja resepsionis. Mereka di sambut ramah oleh karyawati itu. " Selamat siang. Ada yang bisa di bantu?" Ucap karyawati ramah. " Kami mau bertemu dengan pemilik perumahan ini." Ucap Kevin cepat. " Maaf ada keperluan apa ya?" " Kami ada keperluan dengannya." Ucap Kevin cepat. " Tunggu dulu di sini." Ucap karyawati tadi sambil masuk ke dalam satu ruangan seperti ruangan admin. Karyawati tadi keluar dengan seorang wanita. " Maaf ada yang bisa kami bantu?" Ucap wanita yang keluar dari ruang administrasi. " Anda pemilik dari perumahan ini?" Ucap Kevin lagi. " Bukan, saya hanya karyawan di sini. Ada keperluan apa anda semua mencari pemilik perumahan ini." Ucap wanita tadi tegas. Wanita itu seperti tidak asing dengan wajah orang di depannya, tapi dia lupa mengingat siapa mereka semua. " Kamu panggilkan saja pemiliknya, Jangan banyak tanya." Ucap Kevin ketus sambil menatap tajam kearah dua wanita di depannya. Dua orang wanita tadi agak takut mendapat tatapan tajam dari Kevin. Dua wanita tadi saling berbisik, salah satu dari mereka pergi meninggalkan mereka semua. Wanita tadi masuk ke dalam ruangan lainnya. Sudah sampai 15 menit tapi wanita tadi belum juga keluar dari ruangan. Ziko dan Kevin jenuh harus menunggu, seumur-umur belum pernah Ziko di perlakukan seperti ini yaitu menunggu, selama ini semua orang yang selalu menunggunya. Ziko langsung berjalan menuju ruangan yang di masukin wanita tadi, Kevin mengikutinya dari belakang. Wanita yang ada di depan Ziko dan Kevin sudah melarang mereka berdua untuk masuk ke dalam, tapi Ziko tidak perduli dengan larangan wanita itu. Ziko langsung membuka ruangan itu. Ziko terkejut dengan penglihatannya, ada istrinya di dalam ruangan itu bersama wanita yang tadi. Zira memerintahkan wanita tadi untuk keluar dari ruangannya. Ziko menatap heran. Dari tatapan Ziko mengisyaratkan ada sesuatu yang di sembunyikan istrinya. Di dalam ruangan itu hanya ada mereka bertiga yaitu Zira, Ziko dan Kevin. " Silahkan duduk." Ucap Zira anggun. Ziko dan Kevin duduk di kursi berhadapan dengan Zira. Ziko dan Kevin masih bengong melihat sosok wanita yang ada di depan mereka. " Ada yang bisa saya bantu." Ucap Zira tersenyum ramah. Ziko langsung menggelengkan kepalanya, karena tidak yakin dengan penglihatannya. " Apa kamu pemilik dari properti perumahan ini." Ucap Ziko penasaran. " Menurut anda?" Ucap Zira cuek. Ziko tidak tau lagi harus berkata apa, dia seperti bukan melihat istrinya. Zira seperti orang lain di hadapannya. " Apa yang kamu lakukan disini." Ucap Ziko lagi. Zira sudah mengetahui sebelumnya tentang keberadaan dua orang yang ingin menemuinya. Dia dan karyawannya melihat dari kamera Cctv. Zira sebenarnya ingin kabur ketika mengetahui kalo suaminya yang datang, tapi pintu masuk dan pintu keluar hanya ada di depan, tidak ada pintu belakang di kantor itu. " Tuan Ziko yang terhormat ada yang bisa saya bantu." Ucap Zira cepat. " Bagaimana kamu bisa mempunyai properti ini?" Ucap Ziko heran. " Maaf tuan Ziko, ini bukan punya saya, saya hanya bekerja di sini." Ucap Zira merendah. " Jangan bohong, sudah banyak kejutan yang kamu berikan kepadaku dan sekarang ini." Ziko sedikit emosi, dia seperti di permainkan istrinya. Zira hanya tertawa tidak menjawab pertanyaan Ziko. " Apa yang kamu sembunyikan dari ku." Ucap Ziko penasaran. Zira memang seorang yatim piatu. Sepeninggal orang tuanya dia dirawat dan di asuh oleh neneknya yaitu orang tua dari ibunya. Setelah neneknya meninggal Zira pergi ke kota untuk melanjutkan hidupnya yaitu bekerja. Di kota Zira hidup luntang lantung mencari pekerjaan. Dia merasakan kerasnya hidup di kota besar. Sampai dia menemukan Novi yang menjadi sahabatnya. Banyak kenangan yang indah ketika orang tuanya masih hidup. Kenangan itu masih melingkar di lehernya yaitu liontin foto mereka bertiga yaitu kedua orang tuanya dan fotonya. Sebelum meninggal Bapaknya pernah berpesan kepadanya. " Jaga liontin ini, ini adalah kunci semuanya." Zira menjaga liotinnya dengan penuh perjuangan. Kenapa perjuangan, karena pada saat Zira bekerja di pasar ada yang menjambret kalungnya. Dari situlah dia menemukan arti kunci yang sesungguhnya. Sang penjambret membawa kabur kalung Zira, Zira sudah teriak histeris tapi tidak ada yang mau membantunya untuk menangkap si penjambret. Penjambret itu lari sekencang-kencangnya sampai dia menabrak pintu mobil yang terbuka dengan sengaja. Si penjambret langsung pingsan karena mendapatkan hantaman keras dari pintu mobil. Pada saat itu keluar lah seorang wanita dari mobil itu. Wanita itu mengambil sesuatu dari tangan sang penjambret. " Terimakasih Nyonya." Ucap Zira sopan. Wanita tadi menyerahkan liotin ke tangan Zira. Tapi Nyonya tadi mengambil liotin itu lagi dan memperhatikannya dengan detail. " Dari mana kamu dapat ini?" Ucap Nyonya penasaran. " Itu dari orang tua saya." " Siapa nama orang tua kamu?" Zira menyebutkan nama orang tuanya. " Siapa nama ibu kamu?" Wanita itu terus bertanya kepada Zira. Zira menyebutkan nama ibunya beserta nama kakek dan neneknya. Dia juga menceritakan tentang meninggalnya kedua orang tuanya. Ketika mendengar semuanya wanita tadi langsung menangis dan memeluk Zira histeris. " Kamu adalah cucuku." Ucap Nyonya tadi. Awalnya Zira tidak percaya, tapi Nyonya tadi membawa Zira ke rumah besarnya dan menunjukkan semua foto kecil sampai foto besar Bapaknya. Untuk memastikannya lagi Nyonya tadi melakukan test DNA. " Setelah hasil test DNA keluar nyonya tadi atau nenek Zira langsung menyerahkan harta kekayaannya kepada cucunya yaitu Zira. Mungkin Ziko tidak mengenal siapa nenek Zira. Nenek dan Kakek Zira adalah orang terkaya di kota itu pada jamannya. " Like komen dan vote yang banyak ya terimakasih." Chapter 169 episode 169 " Aku tidak menyembunyikan apapun." Ucap Zira tetap merendah. " Apa semua ini punya kamu?" Ziko menatap istrinya dengan hipotesisnya sendiri. " Punya nenek ku." Ucap Zira santai tanpa perlu harus menjelaskan semuanya. Ziko menoleh ke arah sekertarisnya, karena menurutnya yang harus di salahkan adalah Kevin. " Bagaimana bisa, kamu sampai lengah menyelidiki masalah ini." Ucap Ziko berbisik. Kevin juga tidak bisa menjelaskan, semuanya seperti cerita rekayasa. Kevin yang bingung langsung bergerak cepat untuk memecahkan misteri ini. Kevin membuka situs melalui ponselnya dan mencari informasi mengenai perumahan X dan mencocokkan data dengan dengan perumahan lainnya. Kevin terkejut setengah melihat tampilan layar ponselnya. " Tuan coba lihat." Ucap Kevin menunjukkan ponselnya. Ziko melihat layar ponsel asistennya, yang tertera nama pemilik properti perumahan X dan perumahan elite lainnya. Di layar tertulis Mahesa Rakarna Amrin. Ziko mengingat sesuatu pada saat mengucapkan ijab kabul, dia mengucapkan nama Zira Kanaya Amrin. " Apa hubunganmu dengan Eyang Mahesa Rakarna Amrin." Ziko mengingat nama itu sejak dia kecil, nama keluarga itu pernah melegenda pada jamannya, bukan hanya karena kekayaannya tapi karena hilangnya anak semata wayang mereka. Cerita yang pernah menjadi makanan publik dan cerita yang hilang dengan sendirinya. Zira masih diam, menurutnya biarlah teka teki ini menjadi misteri yang tidak harus di ungkapkannya. Ziko beranjak dari kursinya dan berdiri di samping kursi kerja istrinya sambil menatap Zira lekat, kedua tangannya memegang pinggiran kursi. " Jawab aku? Apa kamu telah membohongi eyang Raka dengan mengaku sebagai cucunya." Ziko menatap tajam. Zira tertawa kecil sambil membalas tatapan suaminya. " Terserah kamu mau menganggap aku pencuri atau penipu." Dia tidak mau berdebat. " Tuan sepertinya nona Zira adalah cucu dari Eyang Mahesa Rakarna Amrin." Ucap Kevin meyakinkan bosnya. " Dari mana kamu bisa mendefinisikan seperti itu." " Eyang Raka tidak mungkin langsung menyerahkan kekayaannya kepada sembarang orang, pasti beliau sudah mengecek terlebih dahulu tentang nona Zira." Ucapan Kevin seperti membuka lebar isi kepalanya. Seorang keluarga Mahesa dengan kekayaannya tidak akan gampang memberikan hartanya kepada orang lain tanpa penyelidikan detail. " Sudahlah tidak usah di bahas lagi, mau apa kalian ke sini?" Ziko mengutarakan niatnya untuk membeli perumahan X. " Maaf suamiku, sampai kapan pun perumahan ini tidak akan di jual." Hampir semua perumahan elite yang ada di kota itu punya kakeknya, dia tidak akan melepaskan semuanya karena hanya itu peninggalan dari kakek dan neneknya. Ziko mau adu argumen dengan istrinya untuk membeli perumahan itu. Tapi Kevin menghalanginya. " Tuan sebaiknya batalkan rencana anda, toh ini juga harta istri anda." Ucap Kevin meyakinkan. Setelah pemikiran yang panjang Ziko membatalkan niatnya untuk membeli perumahan X. Cuma masih ada yang mengganjal dalam benaknya. " Kalo memang kamu benar cucu dari Eyang Raka, kenapa kamu tidak membatalkan saja rencana mama untuk menjodohkan kita." Ucap Ziko penasaran. Zira tersenyum tipis. " Aku memang ingin membatalkan rencana mama, tapi aku masih punya hati untuk tidak menyakiti perasaan orang tua walaupun yang paling tersakiti di sini adalah aku." Ucap Zira tegas. Ziko hanya diam tidak berkomentar lagi. Memang yang paling tersakiti atas hubungan mereka adalah Zira. Kevin ikut berkomentar. " Maaf nona kalo anda adalah cucu dari Eyang kenapa tidak ada bodyguard di samping anda? dan kenapa anda tinggal di apartemen?" Dua pertanyaan sekaligus yang diutarakan Kevin. " Hahahaha, apa kamu lupa asisten Kevin. Aku kan pasukan Avengers belum lagi berguru sama Thanos jadi untuk apa aku butuh bodyguard." Ucap Zira tertawa lebar. " Kalo untuk masalah tempat tinggal aku memang memilihnya sendiri." Zira tidak suka dengan kemewahan, dia lebih memilih tinggal di apartemen yang tidak terlalu besar. Untuk rumah mewah peninggalan kakek dan neneknya telah di jual dan uangnya di sumbangkan untuk membangun kampung ibunya semua wasiat dari kakek dan neneknya sebelum meninggal. Kampung yang jauh dari hingar bingar kebisingan, jauh dari kesan modern dan jauh hiruk pikuk keramaian. Kampung yang mempunyai sejuta kenangan di sana. " Kalo tidak ada keperluan lagi aku mau kembali ke butik." Ucap Zira beranjak dari kursinya. Ziko dan Kevin mengikutinya dari belakang. Dua wanita yang berada di depan melihat bingung dengan keadaan semuanya. Mereka membuat praduganya sendiri tentang adanya hubungan antara satu sama lain. Mereka sudah sampai di area parkir. Ziko melebarkan pandangannya ke sekeliling parkiran tapi tidak menemukan mobilnya dan supirnya. Zira menekan remote yang ada di tangannya. Tut Tut ada suara yang terdengar dari ujung parkiran. Sebuah mobil sport berwarna pelangi mengedipkan lampunya. Ziko dan Kevin tambah bingung dengan kejutan lainnya. Zira sudah berjalan menuju mobilnya. Diikuti Kevin dan Ziko dari belakang. " Bukannya kamu tidak bisa membawa mobil." Ucap Ziko bingung. Zira duduk di belakang setir kemudi. " Hahaha suamiku aku memang enggak bisa membawa mobil tapi kalo untuk menyetir roda empat ini aku bisa." Ucap Zira tertawa lebar sambil menutup pintu mobilnya. " Kenapa kamu berbohong kepadaku yang mengatakan kalo kamu tidak bisa mengendarai mobil." Ziko masih berdiri di samping mobil sport mewah itu. " Suamiku itu jawaban yang gampang sekali, kalo aku mengendarai mobil pasti kamu akan mengecek detail tentang diriku." Ucap Zira sambil menyalakan mesin mobil. Memang di awal Zira ada ketakutan saat mengendarai mobil, dia mempunyai trauma pada roda empat. Karena roda empat lah yang telah merenggut nyawa kedua orang tuanya. Untuk menghilangkan traumanya, kakek dan neneknya membawa ke psikiater untuk menghilangkan kenangan buruk yang telah menjadi momok menakutkan pada dirinya. Neneknya pernah berpesan kepadanya membumilah kepada sesama jangan menunjukkan tingginya langit karena tingginya langit tidak akan pernah bisa di ukur. Maksudnya dari ucapan neneknya bahwa sebagai manusia harus rendah hati tanpa harus menunjukkan kekayaannya karena semakin di ukur kekayaan seseorang maka tidak akan ada rasa puas. Jadi seperti itu sikap Zira yang selalu rendah hati tanpa harus mempublikasikan kekayaannya. Kunci mobil yang sudah tergantung di tempatnya di ambil Ziko. " Keluar dari mobil." Ucap Ziko membukakan pintu mobil istrinya. " Mau apa?" Ucap Zira bingung. Ziko menarik tangan istrinya dan membawa mendekati mobilnya. Ziko mendudukkan istrinya di kursi depan sambil memasang safety belt pada istrinya. " Tapi mobilku." Ucap Zira penasaran. Ziko sudah duduk di belakang setir. " Biarkan Kevin yang membawa mobilmu." Ucap Ziko sambil menyalakan mesin mobilnya dan memberikan kunci mobil kepada Kevin. Kevin menerima kunci mobil itu dengan wajah yang di tekuk. Kevin bukan tidak mau mengendarai mobil sport milik majikannya, tapi dia malu mengendarai mobil dengan warna pelangi. Menurutnya mobil itu terlalu ramai warnanya dan warna pelangi menurutnya warna untuk perempuan. Sebelum mobil meluncur, Ziko membisikkan sesuatu kepada asistennya. Kevin menganggukkan kepalanya cepat. Zira hanya memperhatikan saja tapi tidak mendengar apa yang di bicarakan dua orang aneh di sampingnya. " Like komen dan vote yang banyak ya terimakasih." Chapter 170 episode 170 Ziko sudah mengemudikan mobilnya keluar dari area perumahan X. Kevin sudah duduk di belakang setir mobil dan ikut meluncurkan mobil sport milik majikannya. " Nona anda memang luar biasa, bisa menyembunyikan identitas anda dengan baik. Tapi saya kecewa dengan anda dengan pilihan warna mobil ini." Gerutu Kevin. Menurut Kevin pilihan warna mobil majikannya terlihat norak karena terlalu banyak warna seperti warna krayon. Kevin mengikuti mobil bosnya dari belakang. Lalu lintas siang ini lumayan ramai, banyak pengedara yang membawa kendaraannya menuju pusat kota, baik hanya sekedar untuk berkeliling pusat kota maupun untuk sekedar nongkrong di tempat mangkalnya. " Kita mau kemana?" Ucap Zira heran karena suaminya tidak membawanya ke butik atau ke kantor. Ziko masih membawanya berputar-putar entah kemana. Sampai setengah jam mereka berputar-putar di jalanan itu. Setelah mendapatkan notifikasi dari ponselnya, Ziko langsung membawa mobilnya ke rumah makan yang cukup asri. Banyak pepohonan disana sini sehingga membuat mereka serasa berada di taman. Ziko membuka pintu mobil dan mempersilahkan istrinya untuk keluar dari mobil sambil mengulurkan tangannya. Zira menyambut tangan suaminya. Ziko memeluk pinggang Istrinya membawanya ke dalam rumah makan itu. Rumah makan itu di buat dengan nuansa joglo. Kanan kiri banyak terdapat joglo-joglo kecil sebagai tempat makan yang tidak ada sekat atau pembatas seperti dinding di kanan kiri joglo. Ziko membawa istrinya lebih ke dalam yaitu tempat joglo besar berada. Joglo besar merupakan tempat private room. Mereka sudah sampai di depan Joglo besar ada dua pelayan yang membuka pintu joglo. Ziko menutup mata istrinya sambil menuntun kedalam rumah joglo tersebut. Ketika sudah sampai di dalam joglo Ziko melepaskan tangannya dari kedua bola mata istrinya. Zira tidak menunjukkan keterkejutan sama sekali tapi suaminya yang terkejut dengan pemandangan di dalamnya. Sebelumnya Ziko telah memerintahkan asistennya untuk membuat kejutan dengan unsur bunga. " Ini kamu bilang kejutan." Ucap Ziko kaku. Kevin menganggukkan kepalanya cepat. " Bagaimana dengan kejutannya nona? Apakah anda terkesan?" Ucap Kevin tersenyum bangga. Ziko menarik lengan asistennya membawanya ke pojok ruangan. " Aku bilang unsur bunga kenapa ada unsur bercocok tanam di sini." Ucap Ziko kesal. " Maaf tuan saya bingung, waktu tidak memungkinkan untuk menata begitu banyak bunga di ruangan ini. Jadi saya punya ide kenapa tidak di berikan unsur yang lain saja yaitu unsur bercocok tanam." Ucap Kevin pelan. Ziko melihat sekeliling joglo yang penuh dengan bunga dan sayur-sayuran. " Kenapa ada bawang segala di sini? apa kamu pikir aku mau buat warung." Ucap Ziko heran sambil memegang bawang di tangannya. " Hahaha." Zira tidak bisa menahan tawanya kejutan yang di berikan suaminya dan asisten Kevin telah mengocok perutnya. " Sudahlah suamiku aku senang dengan kejutan dari mu." Ucap Zira tertawa terbahak bahak. Ziko melihat sekeliling ruangan. Ada pot bunga di dalam ruangan itu. " Vin, Ini bunga apa?" Ucap Ziko sambil memegang sesuatu. Ziko berpikiran kalo yang di pegangnya adalah rumput " Itu daun bawang tuan." Ucap Kevin polos. Ziko langsung melempar daun bawang itu ke arah Kevin. Dia kesal rencananya gagal karena ulah asistennya. Rencana Ziko gagal. Dia ingin memberikan kejutan kepada istrinya tapi bukan istrinya yang terkejut tapi dirinya sendiri. Zira mencoba mengontrol tertawanya. " Sudahlah suamiku, aku sudah lapar mari kita makan." Ucap Zira tersenyum sambil mengelus lembut lengan suaminya. Ziko menganggukkan kepalanya setuju. Mereka akhirnya makan siang di dalam joglo dengan nuansa bercocok tanam. Di gedung Rahasrya group. Koko menghubungi nomor ponsel orang yang di tabraknya. " Selamat sore nona, saya sudah mau pulang kerja. Bisa kita ketemu." Ucap Koko pelan. " Baik aku tunggu kamu di taman di pusat kota." Ucap Zelin dari ujung teleponnya. Koko keluar dari gedung Raharsya group menuju parkiran. Dia menyalakan motor gedenya dengan gagah menuju taman. Taman itu terletak di pusat kota. Dalam sekejap Koko sudah sampai di sana. Koko memarkirkan motornya di area parkir taman. Koko menunggu Zelin di bangku taman. Kurang lebih 15 menit Koko menunggu kemudian ponsel berdering. " Kamu di mana?" Ucap Zelin dari ujung ponselnya. " Aku di bangku taman." Zelin melebarkan pandangannya. Ada lambaian tangan dari seseorang yang belum di kenalnya tapi sudah sok akrab dengannya. Zelin mendatangi pria itu. " Ini kartu mu." Ucap Zelin mengembalikan kartu Koko. Koko menerimanya sambil meletakkan kartu tersebut dialam dompetnya. Zelin sudah pergi meninggalkan Koko yang masih sibuk dengan dompetnya. Koko berlari mengikuti langkah kaki Zelin. " Koko." Ucap Koko sambil mengulurkan tangannya. " Udah tau." Ucap Zelin tetap berjalan. Koko mengikutinya sambil berjalan beriringan. " Tapi aku belum tau nama anda nona." Ucap Koko merayu.Koko merasa heran dengan dirinya Karena dia merasa sedang merayu seorang wanita. Zelin tidak memperdulikan pria di sampingnya. Dia sudah menekan remote mobilnya. Dan memegang handle pintu mobil mau membuka pintu tapi di tahan sampai Koko. " Nona bagaimana cara saya mengganti kerusakan mobil anda?" Ucap Koko menahan pintu mobil. " Aku tidak perlu uangmu." Ucap Zelin cepat sambil menepis tangan pria itu dari pintu mobilnya. " Nona jangan seperti ini, ijinkan aku menggantinya." Ucap Koko cepat. Dia khawatir kalo Zelin akan melaporkannya ke kantor polisi. " Bagaimana kalo kita ke bengkel." Ucap Koko cepat sambil mengambil kunci mobil dari tangan Zelin. Dia menggeser badan Zelin menjauh dari pintu mobil dan langsung masuk dan duduk di belakang setir mobil. Zelin bingung dengan tingkah pria di depannya. " Ayo." Ucap Koko sambil melambaikan tangannya mengajak gadis cantik itu untuk masuk ke dalam mobil. Walaupun ragu Zelin masuk juga ke dalam mobilnya duduk di samping Koko. Koko menyalakan mesin mobil dan menekan pedal gas, menuju bengkel terdekat. " Aku Koko." Ucap Koko sambil mengulurkan tangannya ke arah gadis cantik di sampingnya. Zelin tidak memabalas uluran tangan pria di sampingnya. " Zelin." Ucapnya ketus sambil melirik sinis. Koko memaklumi sikap Zelin. Dia menganggap Zelin masih kesal karena perbuatannya. Koko memarkirkan mobilnya di depan bengkel. Koko membicarakan tentang kerusakan mobil kepada montir tersebut. Montir tersebut langsung memperbaiki mobil Zelin. Koko dan Zelin duduk di ruang tunggu. Pihak bengkel memberikan minuman dingin kepada Koko dan Zelin. Zelin menegakkan minuman itu dalam tenggorokannya begitupun dengan Koko. Koko memperhatikan gadis yang duduk di sampingnya. Di pikirannya wajah Zelin sangat tidak asing. " Kenapa kamu menatapku seperti itu." Ucap Zelin sambil melirik pria di sebelahnya. " Eh maaf nona Zelin wajah anda sangat tidak asing. Aku seperti pernah melihat anda sebelumnya tapi aku lupa di mana dan kapan." Ucap Koko sambil mengingat sesuatu. " Sudah sering aku mendengar orang lain berkata seperti itu. Rayuanmu sungguh pasaran." Ucap Zelin ketus. Koko tidak berkata lagi, menurutnya gadis di sampingnya sangat cantik walaupun sombong. Mereka masih menunggu mobil selesai diperbaiki. Tanpa bicara tanpa berkata-kata. Mereka hanya berperang dengan pikirannya sendiri. Mobil telah selesai di perbaiki, Koko membayar semua biayanya. Dan kembali kembali ke taman untuk mengambil motornya. Koko keluar dari mobil tanpa berkata-kata. Zelin memindahkan tempat duduknya ke belakang kemudi mobil. Zelin langsung menekan pedal gas meninggalkan Koko yang masih diam di tempat. Walaupun sikap Zelin dingin tapi Koko mengaguminya. " Like komen dan vote yang banyak ya terimakasih." Chapter 171 episode 171 Flashback Off Tuan Mahesa Rakarna Amrin dan Nyonya Aiza Bahira Adnan adalah orang kaya pada Zamannya. Mereka mengadu kasih sebagai sepasang suami istri. Pernikahan mereka sudah memasuki musim ke empat yaitu 4 tahun tapi tidak ada tanda-tanda kehamilan dari diri nyonya Aiza. Mereka mendambakan kehadiran seorang bayi. Nyonya Aiza memeriksa dirinya ke semua dokter yang ada di negaranya. Dokter mengatakan tidak ada masalah dalam rahimnya. Tapi dari pihak keluarga Tuan Amrin sangat menginginkan seorang cucu. Waktu empat tahun adalah waktu yang sudah lumayan lama untuk menunggu kehadiran seorang bayi. Dalam keluarga besar Amrin keturunan merupakan hak wajib sebagai ahli waris. Keluarga besar Amrin sudah memberikan calon istri yang lain sebagai pengganti Nyonya Aiza. Dalam waktu lima tahun jika rumah tangga mereka tidak dihadirkan seorang bayi, maka tuan Raka dan Nyonya Aiza harus berpisah. Walaupun mereka saling mencintai tapi kehadiran seorang bayi merupakan pelengkap dalam sebuah keluarga. Siang malam pasangan suami isteri ini selalu berusaha dan berdoa agar di berikan momongan. Pada saat memasuki musim kelima ketika keluarga Amrin sudah sibuk dengan semua rencana. Mereka di kejutkan dengan kehamilan Nyonya Aiza. Kehamilan Nyonya Aiza merupakan suatu kejutan buat keluarga besar. Nyonya Aiza yang tadinya di asingkan sekarang sangat di puja-puja. Kehamilan Nyonya Aiza normal seperti kehamilan pada ibu-ibu lainnya. Tidak banyak keluhan hanya di trisemester pertama yang mengalami sedikit mual dan pusing. Sembilan bulan sepuluh hari lahirlah seorang bayi yang sangat di nanti-nanti. Bayi tersebut berjenis kelamin laki-laki dan di beri nama Azlan Zaydan Amrin yang mempunyai arti anak laki-laki yang pemberani yang memiliki kelebihan dalam dirinya. Azlan panggilan yang di sematkan untuk nama anaknya. Masa kecil Azlan seperti anak-anak pada umumnya. Cuma yang membedakannya pada saat umur 3 tahun Azlan sudah di berikan beberapa bahasa kepada orangtuanya. Umur 5 tahun Azlan sudah bisa menguasai 5 bahasa dan dan remaja Azlan sudah menguasai 20 bahasa asing. Azlan anak yang pintar, dia bisa dengan cepat langsung mengingat semuanya di dalam isi kepalanya. Memasuki usia remaja Azlan sudah di kirim keluar negeri untuk melanjutkan studi di sana. Masa pendidikannya di habiskan di luar negeri. Ketika masa pendidikannya usai Azlan kembali ke tanah Air. Azlan harus meneruskan bisnis keluarga Amrin. Masa-masa mudanya habis di sekolah dan di kantor. Pada waktu itu jam 10 malam jalanan sudah mulai sepi dari lalu lintas. Azlan mengendarai mobilnya untuk pulang ke rumahnya. Pada saat di jalan dia melihat pemandangan yang kurang menyenangkan yaitu seorang wanita sedang ganggu beberapa pria. Azlan sebenarnya ingin pergi tidak mau ikut campur, tapi hati nuraninya tergerak melihat wanita yang lemah di tindas oleh segerombolan pria. Azlan menghentikan mobilnya di pinggir jalan dan menghajar semua pria berandalan itu. Dalam keluarga Amrin ilmu beladiri harus di kuasai karena untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak di inginkan. Tuan Amrin tidak pernah memberikan bodyguard kepada istrinya ataupun anaknya, karena mereka bisa menjaga dirinya sendiri dengan ilmu beladiri yang mereka kuasai. Dalam sekejap Azlan dapat menghabisi segerombolan pria tersebut. " Terimakasih." Ucap wanita itu dengan wajah yang sudah berantakan. Azlan membantunya berdiri. " Mari saya antar anda pulang." Ucap Azlan. Wanita tadi menolak tapi Azlan meyakinkannya bahwa dia tidak akan berbuat yang tidak baik. Setelah cukup yakin wanita tadi mau di antar Azlan pulang. " Saya Azlan." Sambil mengulurkan tangannya. " Saya Dzikra." Membalas uluran tangan Azlan. Mereka bertatap muka lama. Dzikra langsung tertunduk malu ketika beradu tatap dengan Azlan. Mata yang sendu tapi tajam membuat Dzikra malu untuk terus menatap matanya. Mobil sudah berhenti di depan gang kecil. Dzikra turun dari mobil mewah tersebut dan mengucapkan banyak terima kasih kepada pemuda itu. Azlan memperhatikan wanita tersebut dari jauh sampai tidak terlihat bayangannya. Azlan merasa tertarik dengan wanita itu. Setiap malam Azlan selalu menunggu di pinggir jalan untuk sekedar melihat wanita itu lewat. Hari berganti hari bulan berganti bulan Azlan selalu menjadi penggemar wanita cantik itu dalam persembunyiannya. Pada suatu ketika Azlan menunggu di tempat biasa tapi dia tidak melihat Dzikra lewat di depan mobilnya. Hari esoknya dia juga menunggu Dzikra di tempat yang sama, tapi di tidak juga mendapati wanita itu. Azlan mencapai informasi melalui teman-temannya Dzikra mengenai tempat tinggal pujaannya. Mobil berhenti di depan gang kecil, tanpa sungkan Azlan masuk ke dalam gang tersebut untuk mencari tempat tinggal Dzikra. " Mbak Dzikra sudah pulang kampung." Ucap salah satu tetangga. " Apa ibu tau alamatnya." Tetangga tadi memberikan sebuah alamat kepada Azlan. Azlan mengucapkan terima kasih dan langsung mencari ke alamatnya Dzikra. Setelah melakukan perjalanan yang sangat panjang Azlan sampai pada sebuah pedesaan yang jauh dari pusat kota. Desa itu sangat tentram dan damai tidak ada hingar bingar kebisingan di sana. Dzikra kaget mendapati Azlan sudah sampai di depan rumahnya. Rumah yang sangat kecil yang terbuat dari papan. Mereka melakukan percakapan ala kadarnya. Sampai Azlan menyatakan perasaannya ingin mempersunting Dzikra. Dzikra kaget dan tidak percaya, tapi Azlan meyakinkannya dan meyakinkan kedua orang tua Dzikra. Azlan meminta izin kepada kedua orang tua Dzikra, untuk membawa anaknya ke kota. Dia ingin memperkenalkan Dzikra kepada kedua orangtuanya. Setelah melakukan perundingan yang panjang akhirnya orang tua Dzikra mengizinkannya. Mereka berdua kembali ke kota. Ada perasaan was-was dalam diri Dzikra kalo-kalo dirinya tidak diterima oleh keluarga besar Amrin. Azlan telah sampai di rumah besarnya sambil menggandeng tangan Dzikra. Kedua orang tuanya yaitu Tuan Raka dan Nyonya Aiza sedang duduk di ruang keluarga. Mereka kaget dengan kehadiran seorang wanita di samping anaknya. " Siapa wanita ini." Ucap tuan Raka. " Dia calon istriku." Ucap Azlan cepat. Tuan Raka dan Nyonya Aiza kaget mendengar penuturan anaknya. " Jelaskan latar belakang keluarganya." Ucap Tuan Raka cepat. Azlan menceritakan perihal tentang keluarga Dzikra. Tidak ada yang bisa di banggakan dari keluarga Dzikra di bandingkan dengan keluarga Azlan. " Perempuan seperti ini yang akan kamu jadikan Istrimu! Mau di letakkan di mana wajah kami." Ucap Tuan Raka marah. Azlan bersikeras untuk tetap menikahi pilihan hatinya. Dua orang pria itu saling adu argumen dengan pendapatnya masing-masing. " Walaupun papa tidak merestui, kami akan tetap melangsungkan pernikahan." Ucap Azlan tegas. " Kalo sampai kamu menikahi wanita ini, kamu sudah papa anggap hilang." Nyonya Aiza hanya bisa menangis dengan pertengkaran kedua orang yang di kasihnya. Azlan bersikeras dengan pendiriannya, dia meletakkan semua fasilitas yang diterimanya. Dia keluar rumah itu sambil menggandeng tangan Dzikra. Nyonya Aiza berlari mengikuti langkah anaknya dengan derai air mata. " Restu mama untukmu nak. Simpanlah liontin ini sebagai hadiah dari mama." Ucap Nyonya Aiza sambil memberikan ke telapak tangan Dzikra. Nyonya Aiza menangis sambil memeluk dan mengecup dahi anaknya. Derai air matanya mengiringi kepergian mereka. " Like komen dan vote yang banyak ya terimakasih." Chapter 172 episode 172 Flashback off Azlan dan Dzikra pergi meninggalkan rumah mewah itu. Mereka kembali ke desa dengan menggunakan bis. Azlan tidak mempunyai banyak uang di sakunya, dia pun hanya membawa satu baju yang di pakai di badannya. Azlan menceritakan semuanya kepada ke dua orang tua Dzikra. Keluarga Dzikra tidak mempermasalahkan apapun, mereka senang dengan kehadiran Azlan di dalam rumahnya. Orang tua Dzikra mempersiapkan pernikahan mereka, pernikahan yang sederhana tanpa ada pesta sama sekali, karena Keluarga Dzikra memang tidak mampu jadi menurut mereka yang penting menghalalkan pernikahan anaknya. Setelah hubungan Azlan dan Dzikra halal mereka numpang tinggal di rumah orang tua Dzikra. Azlan tidak membawa sertifikat sekolahnya sama sekali dan untuk di desa itu mata pencaharian di sana kebanyakan adalah petani. Azlan membiasakan diri ikut bertani dengan mertuanya. Karena hanya itu yang bisa di kerjakan di desa itu. Awal ikut bertani tangannya Azlan pecah- pecah dan sakit. Tapi lama kelamaan dia sudah bisa membiasakan diri. Dzikra yang dulu bekerja di perusahaan konveksi menyalurkan bakatnya dengan menerima jasa jahit pakaian di desanya. Dengan seperti itu dia dapat membantu kehidupan keluarganya. Azlan mencoba menyalurkan bakatnya sebagai guru les di desanya. Dia menerima jasa mengajar beberapa bahasa asing. Walaupun di bayar receh tapi dia tetap merasa bersyukur dengan semuanya. Pada saat pernikahan mereka memasuki 6 bulan, Dzikra dinyatakan hamil. Dan itu merupakan sebuah anugerah yang terindah yang di turunkan Tuhan kepada mereka. Azlan bekerja serabutan dari bertani, mengajar les bahasa asing sampai menjadi kuli bangunan. Dia mengumpulkan pendapatan recehnya setiap hari, uang receh itu di kumpulkan untuk biaya istrinya melahirkan. Tuan Raka dan Nona Aiza menjadi pribadi yang berbeda, dulunya rumah mewah itu selalu banyak canda tawa tapi setelah kepergian anak semata wayangnya, Nyonya Aiza bersikap dingin kepada suaminya. Nyonya Aiza tidak pernah setuju dengan perilaku suaminya kepada anaknya. Karena sikap suaminya lah yang telah memisahkan seorang ibu dengan anaknya. Tuan Raka memerintahkan satu media yang menyatakan anaknya telah hilang. Tidak di sebutkan mengenai hilangnya Azlan. Tuan Raka sengaja melakukan itu agar para investor tidak menanyakan tentang keberadaan anaknya, karena sebelum Azlan di usir atau pergi dari kehidupan keluarga Amrin, yang menjalankan bisnis adalah Azlan. Berita itu sengaja dibuat meledak dan dengan cepat juga dibuat menghilang. Nyonya Aiza merasa kecewa dengan sikap suaminya yang menjelaskan kepada media tentang hilangnya anaknya. Hari-hari kehidupan rumah mewah itu seperti kuburan. Selalu terjadi pertengkaran antar kedua pasangan suami isteri itu. Pada suatu waktu Tuan Raka tiba-tiba jatuh karena kecapekan, dia di bawa ke rumah sakit dan di vonis dokter tekena stroke. Nyonya Aiza merasa bersalah sebagai istri karena tidak mengontrol makan suaminya. Nyonya Aiza lebih banyak keluar rumah untuk mencari anaknya. " Maafkan mama, ini semua karena salah mama." Ucap Nyonya Aiza dengan derai air matanya sambil mengelus tangan suaminya. " Papa yang minta maaf. Karena telah memisahkan seorang ibu dengan anaknya." Ucap tuan Raka dengan bicara sedikit susah. Tuan Raka tidak bisa berjalan lagi, kaki kiri dan tangan kirinya sudah tidak bisa bergerak lagi. Dia hanya bisa duduk di kursi roda atau terbaring di kasur. " Carilah anak kita, aku ingin meminta maaf kepadanya." Derai air mata keluar dari bola mata pria yang sudah paruh baya itu, dia merasa bersalah dan ingin menebus semua kesalahannya. Nyonya Aiza yang meneruskan bisnis keluarganya. Dia memerintahkan orang untuk mencari anaknya. Keberadaan anaknya seperti hilang di telan waktu. Tidak ada yang bisa menemukan keberadaannya. Tepat sembilan bulan 10 hari, Dzikra melahirkan seorang bayi kecil yang berjenis kelamin perempuan. Mereka memberi nama untuk putri ciliknya Zira Kanaya Amrin. Walaupun dia sudah di anggap hilang oleh keluarga besarnya tapi Azlan tetap menyematkan nama Amrin di akhir nama anaknya. Zira putri kecil yang cantik dan pintar setiap hari dia selalu di dengarkan kosa kata dalam berbagai bahasa oleh Bapaknya. Umur tiga tahun Zira sudah bisa berbicara dua bahasa walaupun belum sempurna cara penyampaian. Azlan selalu berkomunikasi dan anaknya menggunakan bahasa asing, dan dengan ibunya menggunakan bahasa Indonesia. Umur lima tahun Zira sudah di ajarkan ilmu beladiri. " Jangan kamu gunakan ilmu beladirimu untuk melakukan perbuatan yang tidak baik, tapi gunakan ilmu beladiri ini jika kamu dalam keadaan terdesak." Pesan yang selalu di ingatnya. Waktu kecilnya tidak banyak di habiskan di luar rumah, dia lebih suka membantu ibunya menjahit, sedikit banyaknya dia paham dengan cara menjahit. Hari berganti hari bulan berganti bulan tahun berganti tahun Zira menjadi gadis yang cantik dan rupawan. Cantik wajahnya dan cantik hatinya. Dia didik menjadi anak yang tidak sombong dan di didik menjadi anak yang kuat. " Jagalah liontin ini dengan baik, ini adalah kunci semuanya." Ucapan Bapaknya sambil memakaikan liotin di leher putrinya. Bapak dan ibunya pergi ke pasar dengan menggunakan sepeda butut mereka. Pada saat di persimpangan jalan, sepeda yang di tumpangi Bapaknya ketabrak mobil. Ibunya tercampak jauh dan bapaknya terkena bagian depan mobil. " Zira, Zira." Teriak salah satu tetangga memanggil namanya, pada saat itu dia sedang menjahit pakaian. " Ada apa?" Ucap Zira heran. " Bapak dan ibumu." Tetangga itu langsung menarik tangannya di ikuti kakek dan neneknya dari belakang. Zira berlari mengikuti tetangganya sampai kepersimpangan. Di persimpangan jalan sudah banyak warga mengerumuni tempat kejadian itu. Zira terduduk lemas, derai air matanya mengalir deras. Orang tua yang sangat dia sayangi telah meninggal karena ketabrak mobil. Zira teriak histeris dan pingsan. Pada saat terbangun rumahnya sudah banyak di penuhi dengan para pelayat. Zira nangis terisak-isak melihat badan kedua orangtuanya sudah kaku tak bernyawa. Para pelayat tak henti-hentinya memberikan semangat kepada Zira dan memberi doa kepada jenazah. Jenazah di bawa ke tempat pemakaman umum. Pada saat jenazah di masukkan ke dalam liang lahat, lagi-lagi Zira pingsan. Zira sudah tidak sadarkan diri, dia sadar ketika sudah berada di rumah. Hari-harinya sepi tidak ada candaan dari orang tuanya. Dia banyak menghabiskan waktu di dalam kamar. Kakek dan neneknya memberikan semangat untuknya dengan memberikan kesibukan kepadanya. Hari-harinya sibuk dengan banyak jahitan dan di sibukkan dengan mengajar bahasa asing menggantikan Bapaknya. Walaupun masih terus teringat dengan bayang-bayang wajah kedua orang tuanya, dia tetap bangkit dari keterpurukannya. Masih ada dua orang yang sangat menyayanginya yaitu kakek dan neneknya. Lama-lama Zira sudah bisa melupakan kematian kedua orangtuanya. Jarak tiga bulan setelah kematian kedua orang tuanya, Zira di beri cobaan lagi dengan kematian kakeknya. Zira kembali terpuruk di rundung duka. Neneknya berduka dengan kematian suaminya. Zira yang tadinya terpuruk di rundung duka harus bangkit memberikan semangat untuk neneknya, sama halnya pada saat dia terpuruk yang memberikan semangat adalah kakek dan neneknya. Sekarang dia harus menjadi semangat untuk neneknya. " Like komen dan vote yang banyak ya terimakasih." Chapter 173 episode 173 Flashback Off Hari-harinya Zira di habiskan berdua dengan sang nenek. Wanita yang sangat menyayanginya, wajahnya sudah penuh keriput dan rambutnya sudah memutih tapi rasa sayang wanita itu tidak pernah lekang di makan usia. Neneknya sudah banyak terbaring di kasur karena penyakit tuanya. " Zira." Ucap sang nenek sambil memegang tangan cucunya. " Nenek sudah tua, usia nenek tidak lama lagi di sini." Ucap sang nenek sambil mengelus rambut cucunya. " Nenek Jangan berkata seperti itu, aku ingin nenek selalu ada di dekatku selamanya." Ucap Zira tanpa terasa ada bulir-bulir air mata yang keluar dari ujung matanya. " Zira, jika nenek sudah tidak ada pergilah ke kota, juallah rumah gubuk ini sebagai modal untukmu di sana." Ucap sang nenek. " Tidak nek aku tidak akan menjual rumah ini." " Zira kalo kamu tetap di sini, kamu tidak akan menjadi apapun di desa ini. Kamu anak yang pintar sama seperti alamarhum Bapak mu. Salurkan bakat kamu di sana, Nenek yakin kamu akan menjadi orang sukses dan menikah dengan pria yang mencintaimu." Zira menganggukkan kepalanya. " Carilah Kakek dan nenek kamu di kota A, sampaikan maaf nenek dan kakek." Zira tidak pernah menanyakan hal itu lagi, sebelumnya Bapaknya sudah bercerita kalo liontin yang di kenakannya adalah pemberian dari eyang utinya. Dan itu adalah sebuah kunci. Zira tidak bertanya kepada Bapaknya mengenai arti kunci yang di tuturkan orang tuanya. Beberapa bulan setelah percakapan itu. Orang yang sangat disayanginya meninggal dunia. Zira merasa jalan hidupnya tidak adil. Semua orang yang di sayanginya telah pergi menghadap sang pencipta. Ada rasa terpukul dan terpuruk menghadapi cobaan yang begitu berat. Tapi demi kelangsungan hidupnya dia kembali bangkit, dia berjuang sekuat karang walaupun badai menghadang dia tetap tegak berdiri. Zira menjual rumah neneknya, uangnya di gunakan untuk ongkos perjalanan ke kota A dan sisanya untuk modal usaha di sana. Perjalanan ke kota A memakan waktu yang sangat lama. Zira sampai di kota A pada pagi hari. Kegiatan di terminal tidak pernah sepi banyak penumpang yang turun dari bus atau yang akan berangkat ke tempat tujuan mereka. Zira mencoba mencari pekerjaan di dekat terminal, tapi tidak ada yang menerimanya. Karena belum ada tempat tinggal Zira tidur di depan ruko-ruko seperti para pemulung lainnya. Pagi harinya dia akan pindah lagi ke tempat lain sambil mencari pekerjaan. Tapi karena wajah Zira yang kucel dan badan yang agak jorok membuatnya sulit mendapatkan pekerjaan. Uang dari penjualan rumah neneknya dipakai untuk mengisi perutnya. Zira banyak menghabiskan waktunya di pasar. Pada suatu hari Zira di ganggu preman pasar. Mereka mengambil tas pakaiannya, dan membuangnya di jalanan. Banyak orang-orang yang melihat tapi tidak berani bertindak mereka lebih memilih mencari jalan aman, karena tidak mau terlibat dengan preman itu. Preman pasar membongkar isi tasnya. " Di mana kamu menyimpan uangmu." Ucap preman yang berwajah sangar. Zira tidak menyimpan uangnya di dalam tas, dia menyimpannya di gulungan kemejanya. Menurutnya itu adalah tempat yang paling aman dari copet. Zira menatap tajam wajah preman yang membongkar tasnya. " Mau aku keluarkan matamu!" Ucap ketua preman sambil memukul kepala Zira dan mendorongnya sampai tersungkur di jalan. Pada saat kejadian itu ada dua orang wanita yang merasa prihatin dengan kejadian itu, mereka adalah ibunya Novi dan Novi. Novi membantu Zira yang tersungkur di jalan. Tapi begitu Novi membantunya untuk berdiri punggung Novi di tendang dari belakang. Bag! Punggung Novi di tendang, Novi meringis kesaktian. Ibunya Novi teriak histeris meminta pertolongan kepada siapapun yang ada di pasar tapi tidak ada ya menolongnya. " Tolong Pak, jangan sakiti anak saya kasihanilah kami." Ucap Ibu Novi sambil merapatkan kedua tangannya memohon. Si preman sudah ingin menampar ibunya Novi Bag. Si preman mendapatkan tendangan dari Zira. Preman tadi yang badannya besar tersungkur. " Masih ada nyawa rupanya kamu ya." Ucap si preman sambil melambaikan tangannya memerintahkan anak buahnya untuk menghajar Zira. Zira berada di tengah-tengah para preman. Preman itu berjumlah 5 orang. Salah satu preman sudah akan bergerak maju tapi kaki kanan Zira sudah menghantam preman itu. Zira menghajar preman itu sampai babak belur. Ketua preman tadi sudah terduduk di tanah memohon ampun kepada Zira. Zira sudah mengepalkan tangannya akan memukul wajah si preman lagi. " Ampun saya tidak akan membuat onar lagi di sini." Ucap sang preman dengan wajah yang bengkak dan biru di sana sini. Zira melepaskan sang preman dengan gerakan kepalanya. Semua preman kabur terbirit-birit mereka telah dipermalukan. Pengunjung pasar yang tadinya sok tidak tau langsung bertepuk tangan riuh melihat Zira dapat menghajar preman-preman yang telah meresahkan warga sekitar. Zira membantu Novi yuntuk berdiri. Kemudian dia memunguti pakaainnnya yang telah berserakkan di jalan. " Aku Novi." Ucap Novi sambil membantu Zira memungut pakaian Zira. Sejak itu Zira tinggal di rumah Orang tuanya Novi. Ibu Novi merupakan singel mother. Suaminya sudah lama meninggal, pekerjaan ibu Novi adalah tukang jahit di dekat pasar. Novi berdagang kecil-kecilan di pasar. Zira membatu ibunya Novi sebagai penjahit. Zira banyak belajar dari ibunya Novi tentang berbagai macam jenis model jahitan. Dia sudah mempunyai bakat dari almarhumah ibunya dan sekarang ilmunya bertambah lagi. Pada suatu hari di pasar, Zira baru datang ke pasar bersama-sama dengan Novi. Mereka banyak mengobrol di jalan sampai ada seseorang yang menjambret liontinnya. Zira teriak histeris tapi tidak ada yang membantunya. Zira berlari mengejar si penjambret tapi langkah si penjambret cukup lebar jadi agak susah untuk Zira mengikuti langkahnya. Ada seseorang yang duduk di mobil memperhatikan kejadian itu. Wanita yang ada di mobil sudah mengestimasi kalo si penjambret akan lewat dari samping mobilnya. Dan betul pada saat si penjambretan akan lewat, wanita yang berada di mobil langsung membuka pintu mobilnya. Si penjambret dengan kuat langsung menghantam pinggir pintu mobil. Seorang wanita tua keluar dari dalam mobil dengan anggunnya. Wanita itu mengambil sesuatu dari tangan si penjambret. Zira sudah ngos-ngosan mengejar penjambret itu. Zira berdiri tidak jauh dari mobil. " Terimakasih Nyonya." Ucap Zira sambil ngos-ngosan. Zira mengulurkan tangannya. Wanita tadi menyerahkan liotin Zira tapi kemudian Wanita itu mengambilnya lagi dan melihat detail liontin itu. " Dari mana kamu mendapatkan ini?" Ucap wanita tua itu. " Itu pemberian orang tua saya." Zira menyebutkan nama Bapaknya Azlan Zaydan Amrin. " Siapa nama ibu kamu?" Zira menyebutkan nama ibunya beserta nama kakek dan neneknya. Wanita tadi berteriak histeris. " Kamu adalah cucuku." Ucap wanita itu sambil memeluk Zira. Wanita tadi membawa Zira kerumahnya. Sebelumnya Zira sudah minta izin kepada ibunya Novi dan Novi. Zira mobil duduk di kursi belakang bersama wanita tadi. Supir meluncurkan mobilnya menuju rumah mewah. Mobil telah sampai di depan rumah mewah tersebut. " Maaf Nyonya ini rumah siapa?" Ucap Zira heran. " Ini adalah rumah nenek dan kakek dan rumah bapak kamu." Ucap Wanita tadi. Zira di bawa berkeliling rumah mewah itu dan di bawa ke dalam sebuah kamar. Kamar dengan nuansa maskulin. Zira melihat di dinding kamar itu ada banyak foto berjejer di dinding dan semua adalah foto bapaknya. " Bagaimana foto Bapak saya ada di sini." Ucap Zira heran. Wanita tadi menunjukkan semua foto yang ada di dalam album foto. Dari foto kecil sampai foto dewasa. " Cerita kepada nenek bagaimana kabar Bapakmu." Ucap wanita tadi antusias. " Like komen dan vote yang banyak ya terimakasih." Chapter 174 episode 174 Flashback Off Zira menceritakan semuanya tentang meninggalnya kedua orang tuanya. Semua di ceritakan Zira dari awal sampai akhir. Wanita tua tadi berteriak histeris tidak membayangkan susahnya kehidupan anak semata wayangnya. Begitu lama dia mendapatkan Azlan untuk hadir dalam kehidupannya begitu cepat juga Sang Pencipta memanggil anaknya. Derai air mata terus mengalir membayangkan semuanya, penyesalan datangnya terlambat. Semua sudah menjadi kehendak sang pencipta. " Sebelum nenek meninggal nenek berpesan untuk menyampaikan permintaan maaf almarhum kakek dan nenek." Ucap Zira pelan. " Panggil saya eyang uti." Ucap Nyonya Aiza. Dia membawa Zira ke sebuah kamar yang cukup besar dari kamar yang tadi. Di dalam ada seorang pria tua terbaring di kasur. Nyonya Aiza mengecup kening pria tersebut dan mengecup punggung tangan pria tersebut. " Ucapkan salam kepada eyang Kakung." Nyonya Aiza memerintahkan Zira untuk menyapa suaminya. Tuan Raka tidak percaya dengan pendengarannya. Nyonya Aiza menceritakan semua kisah almarhum anaknya. Derai air mata kembali mengalir dari bola mata pria tua itu. Tuan Raka merasa bersalah dengan kejadian semuanya. Di pikirannya seandainya dia tidak terlalu egois memandang status sosial seseorang pasti anaknya tidak akan mengalami hal-hal menyakitkan di luar sana. " Eyang semua sudah menjadi kehendak Tuhan, kita hanya menjalankan garis takdir yang sudah di tetapkan." Zira berusaha untuk memberi semangat kepada orang tua Bapaknya. Awalnya dia ragu untuk mengakui kedua orang yang berada di depannya, tapi dia ingat akan pesan neneknya bahwa orang tua Bapaknya ada di kota A. Nyonya Aiza memerintahkan seorang dokter untuk melakukan tes DNA kepada Zira. Setelah hasilnya positif kalo Zira adalah cucu kandung mereka berdua. Mereka langsung menyerahkan harta kekayaannya kepada Zira. Rumah yang tadinya sepi, ketika Zira hadir rumah itu seperti hidup kembali. Apalagi Zira yang humoris membuat kedua eyangnya merasa senang. Tuan Raka merasa hidup kembali, ketika tadinya banyak terbaring di kasur sekarng dia lebih semangat untuk duduk di kursi roda. Walaupun kakinya tidak bisa bergerak tapi dia semangat untuk menyenangkan cucunya. Zira belajar secara kilat untuk meneruskan bisnis kakeknya. Zira belajar semuanya dari cara makan, cara berjalan cara berbicara dan cara berdandan. Zira di latih menjadi seorang bangsawan. Semua kekayaan di serahkan kepadanya. Zira meneruskan bisnis kakeknya. Sebenarnya bisnis bukanlah bidang yang di gelutinya dia lebih suka di bidang fashion. Zira mengutarakan niatnya untuk menyalurkan bakatnya di dunia fashion yaitu sebagai desainer. Kedua eyangnya menyetujui idenya, mereka mau membantu usaha Zira agar cepat berkembang. Tapi Zira tidak ingin usahanya ada campur tangan eyangnya. Di pikirannya biarlah usahanya mengalir seperti air tanpa harus ada campur tangan orang penting. Biarlah orang menilai usahanya dari kerja kerasnya bukan dari kharisma Eyangnya. Tidak berapa lama setelah itu, Tuan Raka meninggal dunia. Nyonya Aiza merasa terpukul dengan meninggal suaminya. Zira yang sudah sekuat karang dengan mudah bangkit dari kesedihan. Dia menjadi penyemangat untuk eyang utinya. Zira dapat menjalankan bisnis keluarganya dengan sangat apik. Di rumah mewah itu Zira hanya tinggal berdua dengan eyang utinya. Ada beberapa pelayan yang tinggal dengan mereka dan sebagai tinggal di rumah belakang. Rumah belakang di tempati untuk para pekerja dan rumah depan di tempati oleh tuan rumah dan kepala pelayan dan orang-orang kepercayaan lainnya. " Zira jika eyang sudah meninggal jual saya rumah ini, dan bangunlah desa orang tua kamu dengan uang hasil penjualan rumah ini." Nyonya Aiza merasa masih bersalah dengan semuanya. Dia ingin menebus dosa-dosa dengan memajukan desa kelahiran cucunya dan desa kelahiran ibunya. " Zira membumilah kepada sesama jangan tunjukkan tingginya langit karena tingginya langit tidak akan pernah bisa di ukur." Ucapan Nyoya Aiza mempunyai makna yang begitu dalam. Dari ucapan eyang utinya, dia bertekad untuk menutup jatidirinya. Karena dengan menutup jatidirinya dia bisa menilai seseorang yang tulus dengannya atau yang tidak tulus. Karena dengan kekayaan semua manusia akan buta. Lebih baik Zira menutup jatidirinya sampai waktu yang memungkinkan. Kevin mengendarai mobil pelangi majikannya menuju masion. Zira berada di mobil Ziko, mereka sampai di mansion terlebih dahulu dari Kevin. Ziko membukakan pintu mobil untuk istrinya. " Masuklah terlebih dahulu aku masih menunggu Kevin di sini." Ucap Ziko mengecup kening istrinya. Zira menganggukkan kepalanya sambil berjalan ke dalam mansion. Ziko duduk di beranda depan sambil menunggu asistennya. Zira masuk ke dalam kamar dan dari belakang dia kejutkan dengan adik iparnya. " Kakak ipar." Ucap Zelin sambil memegang bahu kakak iparnya. " Kamu mengagetkan saja." Ucap Zira membuka kamarnya. Zelin ikut masuk dan langsung berbaring di kasur. " Pasti mau curhat?" Ucap Zira sambil mengambil baju tidurnya dari dalam lemari. " Hehehe kakak tau aja." Ucap Zelin manja. Zira hendak mandi tapi tangannya ditarik sama adik iparnya. " Kakak jangan mandi dulu, waktuku enggak banyak nanti kalo kak Ziko masuk aku enggak akan bisa curhat lagi sama kakak." Ucap Zelin merengek. " Baiklah." Ucap Zira pelan sambil menarik tangan adiknya. Zira membawa adiknya ke sofa. " Ayo ceritakan." Ucap Zira memegang pangkal hidung Zelin. " Aku pagi ini mengalami kecelakaan." " Apa!" Zira kaget sambil melihat sekujur tubuh adik iparnya. " Mana yang luka, mana yang sakit." Ucap Zira khawatir sambil memeriksa siku tangan dan punggung kepala Zelin. " Idih kakak ini, khawatirnya melebihi mama deh." Ucap Zelin sambil memegang kedua tangan kakak iparnya. " Dengarkan aku dulu. Aku memang mengalami kecelakaan tapi mobilku yang kena." Zira mengelus dadanya lega. " Kamu bukan menabrak orangkan?" Ucap Zira khawatir lagi. " Enggak kak, aku yang di tabrak dari belakang sama seseorang." Ucapan Zelin menggantung. " Hemm ganteng enggak cowoknya atau Kakek-kakek yang menabrak kamu." Goda Zira sambil menyenggol lengan Zelin dengan bahunya. " Ih kakak tau aja, ganteng banget kak seperti artis gantengnya." Zelin memandang langit-langit kamar masih membayangkan wajah Koko. " Terus ya udah langsung aja gebet." Ucap Zira cepat. " Idih kakak, aku kan perempuan mana mungkin aku yang gebet duluan. Mau letak di mana nih muka." Ucap Zelin frustasi. " Di sini, letak aja wajah kamu di sini." Goda Zira sambil menunjuk bokongnya. " Idih kakak. Bantu aku napa?" Ucap Zelin manja. " Ya udah kamu kenalkan saja pria itu dengan kakak." Ucap Zira tegas. " Ye kalo aku kenalkan dia sama kakak nanti dia jadi suka sama kakak dong." Merengek. " Iya juga ya, secara kakak mu ini cantik ya." Goda Zira lagi. " Kak bantu aku agar dapat berkomunikasi lagi dengannya atau kalo bisa kasih ide biar kami bisa ketemu lagi tanpa sengaja." Memohon. Zira memikirkan cara untuk membantu adiknya. " Begini saja kamu ada no telepon dia enggak?" Zelin menganggukkan kepalanya. " Apa kamu sudah mengucapkan terimakasih kepadanya?" Zelin menggelengkan kepalanya. " Nah itu caranya." Ucap Zira menyemangati Zelin. " Apa aku harus menghubunginya sekarang?" Ucap Zelin bingung. " Lah iyalah sekarang masa hari raya tuyul." Ucap Zira spontan. Zelin mengambil ponselnya dari dalam sakunya. Dia menghubungi nomor Koko. Dalam sekejap panggilan terhubung. " Ya halo." Ucap Koko dari ujung ponselnya. " Halo Koko." Ucap Zelin pelan. Zira mendengar nama Koko di sebut langsung memutar kepalanya cepat. Koko, apa Koko si gemulai yang menabrak Zelin atau Koko yang lain. Ah mana mungkin nama Koko di kota ini hanya satu bisa saja ada Koko yang lain. Zelin mengucapkan terimakasih kepada Koko atas semuanya dan meminta maaf karena telah bersikap sombong kepadanya. Koko merasa senang mendengar suara Zelin. Ada perasaan aneh ketika tiba-tiba Zelin bersikap ramah kepadanya. Tapi Koko merasa tidak masalah dengan perubahan sifat Zelin malah perubahan ini yang di tunggunya. Mereka mengakhiri percakapannya. " Terimakasih kakak ipar atas idenya. Besok aku akan bertemu lagi dengannya." Ucap Zelin senang sambil mengecup pipi kakaknya dan pergi keluar kamar. Ziko dan Kevin berbicara di beranda. " Vin tiga hari lagi adalah satu tahun pernikahan kami, aku mau kamu membuat diner romantis untukku dan Zira." Ucap Ziko semangat. Kevin menganggukkan kepalanya senang. Di pikirannya, dia akan mempersiapkan dinner romantis yang pernah ada. Dia sudah membayangkan kalo Ziko dan Zira akan menyatakan perasaannya. Itulah momen yang paling di tunggunya. " Like komen dan vote yang banyak ya terimakasih." Chapter 175 episode 175 " Baik tuan saya akan mempersiapkannya." Ucap Kevin semangat. " Awas kalo kamu buat dinner ku berantakan." Mewanti-wanti. " Apa saya harus membeli bunga untuk dinner nanti." " Enggak usah, biakan aku yang membeli bunga, aku enggak percaya sama kamu. Aku hanya ingin kamu mempersiapkan dinner ku terlihat sempurna dan romantis. Soal bunga biar aku yang atur." Ucap Ziko antusias. Kevin akan mempersiapkan dinner romantis, dinner yang akan selalu diingat mereka berdua. Kevin sudah pergi meninggalkan mansion. Ziko masuk ke dalam kamar melihat istrinya sudah membenamkan wajahnya ke dalam selimut. Ziko mendekati kasur sambil membuka selimut dari wajah istrinya. Ziko mendaratkan bibirnya ke mulut Istrinya. " Hemmmmm apaan sih." Ucap Zira dengan mata terpejam. " Kamu udah bobok?" " Udahlah." Ucap Zira ketus sambil membelakangi suaminya. Ziko memeluk tubuh istrinya dari belakang. " Istriku." Zira tidak menjawab. " Istriku." Teriak Ziko di telinga Istrinya. Zira langsung membalikkan badannya dan memukul lengan suaminya secara berulang. " Apaan." Ucap Zira setelah memukul lengan suaminya sambil kembali membelakangi suaminya. " Lihat aku, memangnya enak bicara sama rambut." Gerutu Ziko Zira membalikkan badannya. Mereka bertatap muka sangat dekat. " Iya." Ucap Zira pelan sambil menatap lembut wajah dan mata suaminya. " Kamu ingat enggak tiga hari lagi, hari apa?" " Hari Kamis." Ucap Zira cepat. " Iya hari Kamis maksud aku apa ada momen pada hari itu." Ucap Ziko mencoba mengingatkan istrinya. Zira mencoba mengingat tanggal untuk tiga hari mendatang. " Iya. Aku ingat." Ucap Zira pelan. " Baiklah kalo kamu ingat." Ucap Ziko cepat sambil membuka baju istrinya. " Ngapain sih." Ucap Zira cepat sambil menahan tangan suaminya. " Sudah diam saja, aku mau mengerjakan pr ku." Ucap Ziko sudah tidak bisa mengontrol lagi. Ziko melakukan jurus kungfu masternya. Jurus paling jitu yang pernah di kuasainya. Pasangan saumi istri membuat pr nya dengan sempurna dan lama. Pagi harinya mereka di sambut dengan cahayanya. Cahaya yang menyilaukan mata. Pasangan suami istri itu turun ke ruang makan sudah ada adiknya di sana. " Pagi kakak." Ucap Zelin ramah. Ziko tidak menjawab hanya Istrinya yang menjawab. " Pagi." Ucap Zira tersenyum manis. " Ih manis banget senyumnya." Goda Zelin. Hati Zira sedang berbunga-bunga. Dia sudah tidak sabar menunggu hari Kamis. Hari satu tahun pernikahan mereka. Pada hari itu dia akan mengungkapkan perasaannya. Zira akan mempersiapkan hari spesial itu dengan sempurna. Zira sudah merencanakan tampil secantik mungkin di depan suaminya. Kevin sudah datang dan menunggu mereka di beranda depan. Pasangan suami itu keluar sambil bergandengan tangan. " Aku tidak ikut, aku mau naik mobil ku sendiri." Ucap Zira melepaskan genggaman tangan suaminya. " Siapa yang memberi perintah kamu apa aku." Ucap Ziko sambil menahan genggaman tangannya. " Ayolah suamiku. Aku banyak pekerjaan ini hari." Zira merayu suaminya. " Aku juga banyak pekerjaan." " Suamiku, aku hari ini mau pergi ke panti. Sudah lama aku tidak berkunjung kesana. Boleh ya." Ucap Zira sambil memeluk lengan suaminya dengan salah satu tangannya. " Baiklah, kamu hati-hati ya." Ucap Ziko sambil mengecup bibir Istrinya. Zira mengangguk kan kepalanya. Zira berjalan ke parkiran menekan remote mobilnya. Dia menyalakan mesin mobilnya sambil memakai kaca mata hitamnya. Zira melambaikan tangannya kepada suaminya sebelum meninggalkan mansion tersebut. Zira terlihat sangat anggun dan terlihat sangat bergaya dalam menaklukkan si roda empat. Ziko membalas lambaian tangan istrinya. Sebenarnya dia ingin ikut menemani istrinya ke panti. Tapi pekerjaannya sangat banyak hari ini. Ziko melambaikan tangannya kepada supir Zira. Supir itu berlari mendekat. " Ya tuan muda." Ucap Pak supir ramah. " Ikuti mobil nona Zira. Jaga jarak dan ganti mobil kamu." Ucap Ziko cepat, dia masih merasa khawatir kalo Zira pergi sendiri. Walaupun Istrinya pasukan Avengers tapi dia masih merasa harus waspada terhadap musuh-musuhnya. " Sudah bisa berangkat tuan." Ucap Kevin dari balik punggung bosnya. Ziko membalikkan tubuhnya dan menganggukkan kepalanya. Kevin membukakan pintu mobil untuk bosnya. Mobil sudah meluncur ke jalan menuju pusat kota. Zelin keluar dari mansion sambil naik ke mobilnya. Dari bibirnya menyunggingkan senyuman yang indah. Dia melewati jalan yang sama, jalan pada saat dia di tabrak Koko. Zelin mencoba melihat sekeliling jalanan dan melihat dari kaca spion. Dia berharap Koko ada di belakang mobilnya. Tapi Koko tidak ada di jalan itu. Walaupun agak kecewa karena tidak bisa melihat wajah Koko. Tapi dia masih senang karena sore nanti mereka akan bertemu. Mobil sudah sampai di parkiran kampus. Sudah ada Tia yang menunggunya di sana. Dia selalu menyediakan tempat parkir untuk sahabatnya agar mobil mereka bisa berjejer bersama. " Kapan mobil kamu di perbaiki." Ucap Tia sambil mengelus bagian belakang mobil sahabatnya. " Kemaren sore." Ucap Zelin cepat sambil menekan remote mobilnya agar terkunci dengan sendirinya. Mereka berjalan beriringan melewati parkiran dan rerumputan yang ada di area kampus. Pemandangan yang indah untuk sebuah kampus. Kampus yang sangat mahal dan mewah di kota itu. Sesuai dengan harganya fasilitas di kampus itu juga memadai. Dari kantin, kafe, minimarket dan tempat fitness juga ada di dalam kawasan kampus itu. " Berapa duit tuh benerinnya." Ucap Tia masih jalan beriringan. " Enggak tau." Ucap Zelin cepat. " Owh jelaslah enggak tau, secara kamu kan orang kaya, pasti tinggal beri perintah aja sama supir." Ucap Tia sambil menunjukkan jari telunjuknya ke semua arah mempraktekkan cara memerintah. Zelin langsung memukul jari telunjuk tia. " Kamu apaan sih." Ucap Zelin memukul jari telunjuk tia dengan tangannya. Tia tertawa kecil karena telah menyindir orang kaya di sampingnya. " Bukan aku yang bayar tapi dia." " Dia siapa?" Ucap Tia sambil memegang lengan sahabatnya agar berhenti berjalan. " Itu loh yang nabrak aku kemaren." Ucap Zelin sambil berjalan lagi. Tia sedikit berlari mengejar sahabatnya. " Bagaimana wajahnya ganteng enggak?" Ucap Tia penasaran. Zelin tersenyum tipis. Tia tertawa kecil melihat sikap temannya yang malu-malu. " Kenalkan sama aku ya?" Ucap Tia juga penasaran. " Enggak enak aja. Nanti kamu lirik lagi dia." Gerutu Zelin cepat. Mereka sudah sampai di dalam kelas. " Enggak kok aku cuma ingin memberi penilaian saja tentang seleramu." Ucap Tia sambil duduk di kursi sebelah sahabatnya. Zelin memikirkan sesuatu. Ada baiknya dia mengajak Tia, agar bisa menilai karakter Koko. " Baiklah kamu ikut, nanti sore aku akan berjumpa dengannya, kamu enggak boleh gabung sama kami, kamu hanya boleh melihat dari jauh. Beri penilaianmu tentang dia, dan jangan berisik." Ucap Zelin cepat. Dosen sudah datang dan semua mahasiswa mengikuti bidang studi yang dibawakan dosen tersebut. Zira pergi ke panti terlebih dahulu. Setelah selesai dari panti dia akan pergi ke butik. Mobil sudah sampai di depan pagar panti asuhan. Panti terlihat sepi dari biasanya. Biasanya ada anak-anak yang bermain di taman. Zira melangkahkan kakinya menyusuri setiap lorong. " Like komen dan vote yang banyak ya terimakasih." Chapter 176 episode 176 Zira sampai di depan pintu ruangan Ibu panti. Zira mengetuk pintu tapi tidak ada sahutan dari dalam. Dia mencari ke ruangan lain tempat biasa Ibu panti beristirahat. Zira mengetuk ruangan itu secara perlahan, handle pintu bergerak ke bawah, ada seseorang yang menggerakkannya dari dalam. Dan Ibu panti yang membuka pintu itu. " Zira." Ucap Ibu panti sambil memeluk. Zira membalas pelukan Ibu panti tersebut dan menyalami wanita itu. Ibu panti membawa Zira ke dalam tempat istirahatnya. " Masuklah." Ucap Ibu Panti mengajak Zira masuk. Zira dan Ibu panti duduk di kursi yang berada di dalam ruangan itu. " Ceritakan pada Ibu, bagaimana pernikahan kamu?" Sambil memegang kedua tangan Zira. " Baik ibu, semuanya baik, ibu apa kabar?" sambil mengecup punggung tangan wanita yang ada di depannya. " Ibu baik sayang." Mereka melepaskan rindu sambil bertanya tentang semuanya. Baik tentang perkembangan anak-anak panti maupun tentang semua hal yang berhubungan dengan panti. " Apa kamu sudah hamil?" Ucap Ibu Panti pelan. Zira menggelengkan kepalanya. " Belum Bu, aku belum hamil." Ucap Zira pelan sambil tertunduk. " Apa kamu menunda kehamilan atau kalian berdua memang ingin menundanya." Ucap Ibu panti lagi sambil memandang lekat gadis cantik di depannya. " Enggak Bu, saya dan suami tidak menundanya. Kami memang ingin mempunyai momongan secepatnya." Ucap Zira pelan sambil tertunduk. " Bersabarlah pasti Tuhan akan memberikan kalian momongan. Kalo pun kalian belum mendapatkan momongan bukan karena sesuatu hal tapi mungkin Tuhan punya rencana lain. Tuhan mungkin sedang menguji kesiapan kalian berdua untuk memiliki momongan." Ucapan Ibu panti seperti membuka jalan atas semuanya. Apa yang di ucapkan Ibu Panti benar adanya. Tuhan tidak akan memberikan mereka momongan kalo mereka belum siap. Perasaan mereka yang utama, dan Zira yakin jika perasaan mereka telah mencintai satu sama lain, malaikat kecil itu akan hadir dalam kehidupan mereka. " Doakan saya agar cepat di beri momongan ya Bu." " Pasti ibu doakan, Ibu doakan yang terbaik buat keluarga kamu." Ucap Ibu panti mengecup dahi Zira. Ziko duduk di kursi kebesarannya dan ada Koko yang sedang berdiri di depan. Koko sedang menyerahkan beberapa berkas yang harus di tanda tangani bosnya. " Bos ini daftar yang telah membuat janji untuk bertemu dengan anda." Ucap Koko sambil menyerahkan selembar kertas. Ziko membaca satu persatu. " Sore ini ada janji bertemu dengan Bapak Deni dari perusahaan minyak." Ucap Koko menunjukkan daftarnya. Ziko menganggukkan kepalanya, sambil menyerahkan kembali kertas itu kepada sekertarisnya. Koko sudah memegang kertas itu tapi di tarik lagi sama bosnya. Ziko kembali membaca satu nama yaitu Vita. " Ini Vita siapa?" Ucap Ziko menunjuk ke atas kertas yang ada nama Vita. " Oh iya, kemaren siang ada yang datang mencari bos, namanya Vita, dia dari Belanda ada nomor ponsel di situ." Ucap Koko sambil menunjuk kertas yang ada di meja bosnya. Ziko melambaikan tangannya mengusir Koko dari ruangannya. Koko langsung bergerak keluar meninggalkan ruangan tersebut. Ziko membaca nama Vita di situ. " Apa benar ini Vita teman kecilku atau Vita yang lain." Gumam Ziko sambil mengambil ponselnya dan menekan nomor yang tertera di kertas tersebut. Panggilan terhubung ada suara seorang dari ujung sana. " Halo." Ucap Vita pelan. " Ya Halo." Ucap Ziko ragu. Dia tidak mengenal suara yang ada di ujung sana. " Ziko." Ucap Vita cepat. Vita masih ingat dengan suara yang ada di ujung sana. " Ya." Ucap Ziko pelan mencoba mengingat suara tersebut. " Ini aku Vita, teman kamu kecil. Aku baru beberapa hari sampai ketanah air." Ucap Vita antusias. Ziko pun merasa antusias mendengar temannya telah kembali ke tanah air. " Kamu ada waktu?" Ucap Vita cepat. " Ada." " Baiklah sampai ketemu di cafe dekat kantor kamu." Ucap Vita cepat sambil menutup panggilan. Ziko bersiap-siap hendak pergi ke cafe. Dia semangat untuk bertemu dengan Vita. Ziko sudah keluar dari ruangan, tapi Kevin memanggilnya. " Tuan, tunggu?" Teriak Kevin sambil berlari mengejar bosnya. " Ada apa." Ucap Ziko cepat sambil berjalan terburu-buru menuju lift. " Saya mau merekomendasikan beberapa restoran untuk dinner nanti." Ucap Kevin sambil menunjuk beberapa kertas yang ada di tangannya. " Kamu atur saja, aku ada keperluan." Ucap Ziko sudah menekan tombol lift. " Apa tuan akan pergi sendirian?" Ucap Kevin penasaran. Biasanya bosnya selalu mengajaknya jika akan berpergian keluar. Tapi siang ini dia merasa ada yang beda dengan bosnya. " Iya aku hanya pergi ke cafe seberang kantor." Ucap Ziko cepat sambil masuk ke dalam lift. Lift sudah turun ke loby. Ziko langsung menyebrang menuju cafe. Kevin merasa curiga dengan sikap bosnya. Kevin mencari informasi melalui Koko. " Kemana tuan muda pergi?" Ucap Kevin sambil berdiri di depan meja Koko. " Enggak tau Pak, tadi saya hanya memberikan daftar nama yang akan membuat janji dengan beliau." " Mana daftar itu." Ucap Kevin penasaran. Koko telah mengcopy daftar itu, satu untuknya dan satu lagi untuk bosnya. Koko menyerahkan daftar nama itu kepada asisten Kevin. Kevin membaca satu persatu daftar nama itu. Hampir semua dia kenal dengan nama yang ada di kertas itu. Tapi ada satu nama yang dia merasa asing tapi pernah di dengarnya yaitu nama Vita. " Siapa ini?" Ucap Kevin menunjukkan kertas yang di pegangnya kepada Koko. Koko membacanya. " Vita." Ucap koko cepat. " Vita siapa?" Ucap Kevin penasaran. " Aduh Pak, enggak kamu enggak bos, semua bertanya tentang nama perempuan itu. Memangnya kenapa dengan nama Vita." Ucap Koko cepat ketus. Dia. heran dengan dua orang pria yang penasaran dengan namanya wanita itu. Kevin tidak bertanya lagi dia langsung paham, kenapa bosnya bisa langsung cepat pergi tanpa harus ada pengawalan darinya. Kevin kembali ke ruangannya. Di pikirannya pasti rencana dinner ini akan gagal karena hadirnya Vita. Ziko sudah duduk di pojok sambil menunggu Vita. Tidak berapa lama Vita datang, dia melebarkan pandangannya sekeliling cafe. Dari pojok ada lambaian tangan. Vita tersenyum dan berjalan mendekati meja tersebut. Ziko berdiri ketika temannya sudah sampai di dekat meja. Ziko melebarkan tangannya ingin memeluk Vita. Tapi Vita mundur teratur. Ziko merasa ada yang aneh dengan temannya. Masih teringat di dalam benaknya pada saat di Belanda, Vita menyambut pelukan hangat dari dirinya tapi sekarang tidak, Vita malah mundur teratur beberapa langkah. " Maaf Ziko kamu sudah beristri tidak seharusnya kamu melakukan itu kepadaku." Ucap Vita pelan. Ziko hanya tersenyum kikuk. Di pikirannya bagaimana bisa dia bisa lupa akan statusnya ketika bertemu dengan temannya. " Silahkan duduk." Sambil menarik kursi untuk Vita. Vita menganggukkan kepalanya dan duduk dengan anggun di atas kursi yang sudah di tarik Ziko. Ziko memanggil pelayan, mereka memesan makan sederhana. " Sudah berapa lama kamu di sini?" Ucap Ziko penasaran. Vita menceritakan semuanya dari awal dia datang dan tujuan dia datang. Ziko sangat antusias mendengar semuanya. " Kamu tau, aku awalnya enggak percaya kalo tulisanku akan di cetak, ini seperti mimpi, apalagi di cetak di tanah kelahiranku semuanya seperti kebetulan saja." Ucap Vita antusias. Vita mengambil sesuatu dari dalam tasnya. Dan meletakkan di meja. " Apa ini?" Sambil mengambil sesuatu yang di letakkan Vita di atas meja. " Itu adalah undangan launching buku terbaru aku, kamu harus datang jangan lupa ajak istri kamu." Ucap Vita antusias membayangkan acara launching bukunya berjalan lancar. " Like komen dan vote yang banyak ya terimakasih." Chapter 177 episode 177 " Kapan acaranya?" " Nanti malam acaranya." Ucap Vita cepat. Mereka mengobrol seperti biasa tanpa ada rasa sungkan. Ziko memberanikan diri untuk bertanya kepada Vita. Pertanyaan yang sudah lama ingin di tanyakannya. " Maaf aku mau bertanya mungkin ini masalah yang sensitif." Ucap Ziko ragu. " Iya silahkan." Ucap Vita santai sambil meneguk minumannya. " Kenapa kamu bercerai dengan suami kamu?" Ucap Ziko pelan. Vita tertunduk karena pertanyaan itu pernah di tanyakan orang kepadanya. Dia tidak menjawab pertanyaan dari Ziko. " Tidak usah kamu jawab kalo memang itu menyakiti perasaanmu." Vita mengangkat kepalanya. Dia memberanikan diri untuk mengatakan penyebab pernikahan hancur. Vita mengambil nafas terlebih dahulu sebelum berbicara. " Satu tahun pernikahan kami sangat bahagia, kami bisa memahami masing-masing, tahun kedua mulai ada konflik kecil seperti kebiasaan dari masing-masing pasangan baik yang di sukai maupun yang tidak di sukai." Pandangan Vita menatap jauh entah kemana. Ziko masih menunggu temannya melanjutkan ucapannya. " Tahun ketiga dan keempat sudah sering terjadi pertengkaran, dari masak kecil sampai masalah besar. Dan tahun kelima pertengkaran itu memuncak karena, karena." Ucap Vita pelan. " Karena apa?" Ziko penasaran. " Karena aku tidak bisa mengandung." Ucap Vita menangis. Ziko tidak bisa berkata-kata lagi, dia hanya terdiam mengambil hikmah dari semua pelajaran yang di dapatnya. " Maafkan aku, karena telah membuka kenangan burukmu." Ucap Ziko pelan. " Terimakasih atas perhatiannya, Bisakah aku meminta sesuatu kepadamu." Ucap Vita pelan. Ziko menganggukkan kepalanya. " Hargailah istrimu." Ucap Vita sambil beranjak dari kursinya. Ziko bingung dengan ucapan Vita, dia ingin bertanya mengenai kalimat yang terakhir di ucapkan Vita. Tapi Vita sudah beranjak dari kursinya. " Maaf telah mengganggu mu." Ucap Vita langsung pergi meninggalkan temannya yang masih bingung. Ziko masih diam di tempat sambil menelaah setiap ucapan Vita. Zira sudah datang ke kantor Rahasrya group. Dia mampir ke meja Koko. " Siang Koko." Sapa Zira. " Eh siang guruku." Ucap Koko tersenyum. " Guru?" " Iya guru, nona kan telah banyak mengajariku." Ucapnya antusias. Zira melambaikan tangannya mau masuk ke dalam ruangan suaminya. " Maaf nona, tuan muda sedang pergi keluar." Zira memutar badannya kembali berdiri di depan meja Koko. " Pergi kemana?" Koko mengangkat kedua bahunya. " Ya sudah aku tunggu di dalam aja." Ucap Zira sambil pergi ke dalam ruangan suaminya. " Nona tunggu." Zira kembali membalikkan badannya. " Ada apa?" " Hehehe, apa saja persiapan yang harus di lakukan kalo kita mau bertemu dengan cewek." Gugup. Zira membelalakkan matanya tidak percaya. " Apa aku enggak salah dengar?" Penasaran. Koko tersenyum lebar. " Ceritakan kepadaku bagaimana kamu berjumpa dengan gadis itu." Ucap Zira penasaran sambil duduk di kursi. " Sebenarnya pertemuan kami tidak di sengaja. Baru kemarin kami bertemu, bertemunya karena aku menabrak mobilnya." Ucap Koko pelan. Zira yang tadinya santai mendengarkan, sekarang jantungnya berdegup kencang seperti lampu disko. Jangan sampai yang aku pikirkan benar, aku tidak bisa bayangkan apa yang terjadi. Koko menceritakan semuanya sama persis seperti yang di ucapkan adik iparnya. Zira langsung menutup wajahnya dengan salah satu tangannya. Dia tidak berani berkomentar lagi. " Nona hari ini kami mau berjumpa, aku mohon sarannya." Ucap Koko semangat. Zira membenamkan wajahnya ke atas meja kerja Koko. Dia berharap kalo Koko tidak minta bantuannya. " Nona kamu kenapa?" Ucap Koko bingung. " Eh enggak apa-apa." Ucap Zira gugup. Zira sudah beranjak dari kursi mau ke ruangan kerja suaminya. " Nona jangan seperti itu, bantu aku." Rengek Koko. Koko berdiri di depan Zira sambil merapatkan telapak tangannya. Zira tidak tega melihat pria gemulai itu. " Aku mau tanya, bagaimana perasaanmu ketika di ajak bertemu dengannya." " Senanglah." Zira mengangguk-anggukkan kepalanya. " Begini saja, bagaimana kalo kamu pergi ke psikiater ceritakan masalahmu." Zira berharap tidak di mintai bantuannya lagi. Zira tidak mau terlibat lagi dalam urusan Koko. " Yah nona, bagaimana aku mau ke psikiater, sore ini aku akan bertemu dengannya." " Udah cari saja di aplikasi uuutube pasti ada di sana caranya." Ucap Zira pergi masuk ke dalam ruangan. Zira merasa khawatir kalo Koko tidak bisa menjadi laki-laki seutuhnya. Walaupun dia sudah banyak perubahan tapi untuk urusan cinta Zira masih ragu. Zira berharap hubungan Koko dan adik iparnya hanya sebatas teman saja dan tidak lebih. Ziko masuk ke dalam ruangan. " Kamu sudah datang?" Ucap Ziko mengecup bibir Istrinya. Ziko membawa istrinya duduk di sofa. Ziko memberikan kartu undangan Vita kepadanya. " Apa ini?" Sambil melihat undangan. " Nanti malam ada launching buku Vita." Zira membelalakkan matanya tidak percaya dengan ucapan suaminya. " Vita yang di Belanda sekarang ada di sini?" Bertanya dengan intonasi tinggi. Ziko menganggukkan kepalanya. " Dari mana kamu mendapatkan undangan ini?" Penasaran. Di benaknya pasti ada yang di sembunyikan suaminya. " Aku baru saja berjumpa dengannya. Dia menyerahkan ini kepadaku." Zira sudah memalingkan wajahnya marah. Zira tidak ingin berjumpa dengan Vita kembali. " Bagaimana apa kamu mau ikut?" Ucap Ziko sambil mengelus rambut Istrinya. " Ya aku ikut." Ucap Zira cepat. Sebenarnya dia tidak mau berjumpa dengan Vita, tapi dia juga tidak akan membiarkan suaminya berduaan dengan teman kecilnya. Ziko tidak menjawab, dia sedang melamunkan sesuatu. Melamunkan semua ucapan Vita. Setelah makan siang bersama Zira kembali ke butiknya, dia mau mempersiapkan gaunya. Gaun yang akan di pakainya ke acara nanti malam dan gaun untuk wedding anniversary mereka. Kevin mengetuk pintu ruangan Presiden direktur. Dia masuk sendiri karena tidak ada sahutan dari dalam. Kevin memperhatikan bosnya yang melamun. Kevin pura-pura batuk agar lamunan bosnya buyar. Mendengar suara batuk, lamunan Ziko langsung buyar. " Ada apa?" Ucap Ziko cepat. " Ini daftar restoran untuk acara dinner." Kevin meletakkan kertas referensi yang berisi daftar restoran di atas meja bosnya. Ziko tidak menyentuhnya apalagi melirik kertas yang ada di mejanya. Kevin merasa sudah ada gelagat yang tidak baik. Dia memberanikan diri untuk bertanya. " Maaf tuan? Kenapa anda tidak semangat lagi? Padahal semalam anda sangat semangat untuk membuat dinner ini." Ziko menoleh kepada asistennya. " Entahlah aku bingung dan bimbang." Ucap Ziko sambil menggaruk rambutnya secara berulang. " Apa karena nona Vita." Ucapan Kevin langsung tertuju pada pusatnya. " Dari mana kamu tau kalo aku bertemu dengannya." Ziko menatap tajam. " Maaf tuan, saya sudah lama berkerja dengan anda dan saya sudah mengerti semuanya." Ucap Kevin tegas. Ziko tidak membantah sama sekali, apa yang di ucapkan asistennya benar. Semua tentangnya di ketahui asistennya tidak ada rahasia sama sekali di antara mereka. " Nanti malam ada acara launching buku pertama Vita." " Apa tuan akan hadir?" " Entahlah." " Apa nona Zira di ajak?" Ucap Kevin penasaran. " Iya dia ikut, aku sudah memberitahukannya tentang undangan ini." Ziko menunjukkan undangan di mejanya kepada asistennya. Kevin melihat isi undangan itu. " Tuan izinkan saya untuk ikut bersama anda." Kevin telah memikirkan semuanya, dia akan jadi tameng untuk hubungan majikanya. " Like komen dan vote yang banyak ya terimakasih." Chapter 178 episode 178 Zelin sudah menunggu di sebuah cafe bersama Tia. Tia duduk di ujung cafe, dia mencari tempat pengintaian yang strategis dan aman. Zelin bolak balik melihat jam di tangannya. Sudah setengah jam dia menunggu di cafe itu tapi belum ada kabar atau berita dari Koko. Pelayan sudah dua kali bertanya kepadanya tentang menu yang akan di pesannya. Zelin sudah beranjak dari kursinya tapi dari pintu cafe ada sosok Koko yang sedang berjalan menuju mejanya. " Maaf aku telat." Ucap Koko sambil memberikan buket bunga kepada Zelin. Zelin menerima buket bunga itu sambil tersipu malu dan melirik ke arah Tia. Tia memberikan kodenya dengan jari jempolnya. Mereka memesan makanan sambil berbicara semua hal. Baik mengenai kampus maupun mengenai pekerjaan Koko. " Kamu bekerja di mana?" Ucap Zelin bertanya. " Aku kerja di Raharsya group." Ucap Koko bangga. Zelin membelalakkan matanya. Di pikirannya mengapa dunia ini begitu sempit, hampir semua orang yang di kenalnya bicara mengenai Raharsya group. Walaupun dia anak dari Raharsya tapi dia selalu menutupi jadi dirinya. Dia tidak mau orang tau kalo dia anak dari Raharsya. Pertama untuk keamanannya dari intaian musuh dan yang kedua untuk bisa terbebas dari pengintaian bodyguard. Mereka menikmati makanannya. Zelin memperhatikan jari jemari Koko yang lentik. " Jari kamu lentik banget?" Ucapan Zelin membuat Koko tersedak. Dia takut kalo Zelin curiga mengenai kelainannya dulu. " Kamu kenapa?" " Enggak apa - apa, mungkin karena aku tidak membaca doa." Ucap Koko sambil menyembunyikan jarinya di bawah meja. Zelin mengangguk dan kembali menyantap makanannya. Tapi Koko tidak melanjutkan makannya, dia malu dengan jari jemarinya yang seperti wanita. Aku harus membuat jariku seperti jempol semua. Pantesan nona Zira memerintahkan aku untuk memasukkan jariku ke dalam saku, ternyata itu sebabnya. Koko melamun sedang memikirkan cara membesarkan jari jemarinya. " Kamu kenapa enggak makan? Apa enggak enak?" " Eh enak kok, cuma aku sudah kenyang." Gugup. Zelin tidak bertanya lagi, dia merasa heran dengan pria di depannya yang mengatakan kenyang. Karena makanan Koko masih utuh. Mungkin dia malu. Koko hanya menatap jari jemarinya. Aduh Tuhan kenapa aku di beri jari seperti cewek. Di mansion. Zira sudah tampil secantik mungkin dengan gaun merah marun, membuatnya tampil lebih seksi. Sedangkan Ziko sudah mengenakan setelan tuksedo berwarna hitam dan dasi berwarna hitam. Ziko melihat penampilan istrinya sangat mempesona. Tapi Ziko merasa risih dengan bagian bahu Zira yang terbuka. " Bagaimana penampilanku?" Ucap Zira sambil menggerakkan-gerakkan gaunnya ke kanan dan ke kiri. " Tutupi bagian atas." Ucap Ziko menunjuk ke bahu istrinya. " Yang ini?" Ucap Zira menunjuk ke bahunya. Ziko menganggukkan kepalanya. " Kalo di tutupi enggak Kelihatan dong modelnya." Gerutu Zira. " Apa kamu mau menunjukkan kepada semua orang kalo bahumu bagus." Ucap Ziko protes. " Aku harus menutupinya pakai apa?" Ucap Zira bingung karena memang gaun itu terbuka bagian atas dan tidak akan indah kalo di tutupi. Ziko membongkar semua isi lemari untuk mencari sesuatu yang dapat menutupi bahu istrinya. Tapi tidak ada wanita senada yang cocok untuk menutupinya. " Bagaimana?" " Ganti saja gaunmu." Ucap Ziko cepat. " Aih enak saja kamu bilang ganti, aku sudah mempersiapkan gaun ini dengan ekstrak kilat. Baik aku ganti gaunku, tapi apapun yang akan aku kenakan jangan kamu komplain." " Iya." Ucap Ziko malas. Zira langsung mengganti gaunnya, dia memang sengaja membuat gaun yang sedikit terbuka agar rencana ke acara Vita gagal karena masalah gaun. Zira keluar dari kamar sambil mengenakan daster. Ziko langsung membelalakkan matanya. " Punya siapa itu kamu pakai?" Ucap Ziko enggak suka. " Punya nenekku." Ucap Zira cepat. " Enggak lucu, cepat ganti yang lebih bagus." Ucap Ziko cepat. " Maaf suamiku, di lemari tidak ada gaun, hanya ada baju kerja dan baju santai saja." Zira berharap kalo suaminya membatalkan acaranya. Memang didalam lemari Zira hanya ada baju yang di belikan Ziko. Gaun hanya ada di apartemennya. " Ya sudah pakai gaun yang tadi." Ucap Ziko cepat. Zira kembali lagi mengenakkan gaunnya, gaun berwarna merah marun. Mereka turun bergandengan tangan menuju mobil. Sudah ada Kevin yang juga mengenakan tuksedo berwarna hitam. Mobil langsung meluncur ke tempat acara itu berlangsung. Acara itu di adakan di sebuah aula besar. Kedatangan Ziko menjadi pusat perhatian, banyak media yang mengambil foto mereka berdua. Vita menyambut kedatangan Ziko dan Zira. Vita memperkenalkan mereka kepada direktur percetakan Karyaku. Direktur percetakan merasa sangat senang dengan kehadiran orang nomor satu di kota itu. Direktur mempersilahkan pasangan suami istri itu untuk duduk di kursi depan berderetan dengan tamu-tamu penting lainnya. Host yang memandu acara itu langsung, langsung membuka acara. " Acara pertama kata sambutan dari direktur percetakan karyaku." Tepukan dari tamu undangan. Direktur memberikan sepatah dua kata. Setelah selesai di lanjutkan dengan acara berikutnya sampai acara mempromosikan beberapa buku termasuk di dalamnya buku Vita. Vita dan beberapa orang lainnya yang berperan sebagai penulis menyampaikan beberapa katanya sambil memberikan sedikit bocoran mengenai isi bukunya masing-masing. Setelah selesai dengan sepatah dua kata dari penulis. Pihak perusahaan memberikan kesempatan kapada penulis untuk menandatangani semua buku yang di promosikan dalam acara itu. Ziko merasa jenuh dengan acara seperti itu. Terlalu banyak kamera yang mengabadikannya foto mereka berdua. Zira memperhatikan wajah suaminya yang jutek. " Suamiku kalo kamu lelah kita pulang saja." Ucap Zira berbisik. Ziko menganggukkan kepalanya. Dia hendak pergi, tapi Vita memanggil namanya. " Ziko tunggu." Ucap Vita sedikit berlari. Ziko dan Zira membalikkan badannya. Zira agak malas melihat wanita yang ada didepannya. " Kalian mau kemana?" " Kami mau pulang." Ucap Kevin dari belakang Vita. Vita langsung melihat suara seseorang berada di balik punggungnya. " Maaf kalo acara ini sedikit membosankan. Ambilah ini sebagai cenderamata dariku." Ucap Vita memberikan bukunya kepada Zira. Zira menerima pemberian dari Vita. Vita menyalami Zira sambil membisikkan sesuatu kepadanya. " Ada sebuah catatan kecil di dalam buku itu, nanti kamu baca ya." Ucap Vita sambil membisikkan ke telinga Zira. Ziko dan Zira pergi meninggalkan acara tersebut. Mereka sudah masuk ke dalam mobil. " Apa yang di ucapkannya tadi ketelingamu?" Ucap Ziko tanpa menatap ke arah Istrinya. Ziko lebih memilih menatap ke depan. Zira gugup harus berkata jujur apa tidak. " Oh dia tadi mengucapkan selamat atas pernikahan kita." Ziko diam dengan lamunannya. Melamunkan tentang semua ucapan Vita. Di mansion. Zelin sudah menunggu kakak iparnya di ruang keluarga. Begitu mereka datang Zelin langsung menghampirinya. Ziko meninggalkan mereka berdua. " Kakak ipar aku mau bicara." Zira sudah bisa menebak apa yang akan di bicarakan adiknya. Zira harus menghindari curhatan adik iparnya. Dia lebih memilih tidak tau dari pada harus terlibat lebih jauh. " Besok saja ya? Kakak capek." Ucap Zira pelan. Zelin menghembuskan nafasnya secara kasar. Sambil menganggukkan kepalanya. Di kamar Ziko sudah mengganti tuksedonya dengan baju tidur. Zira pergi kekamar mandi sambil membuka buku pemberian Vita. Zira membuka perlembar demi perlembar. Ada kertas kecil di pertengahan buku. Zira membuka kertas kecil itu ada sebuah tulisan tangan. Zira aku minta maaf tentang semuanya, pada saat di Belanda aku tidak tau kalo Ziko sudah menikah. Kalo aku mengetahui dia sudah menikah aku pasti akan menjauh. Kedatangan ku kesini bukan sebagai benalu dalam rumah tangga kalian. Kamu jangan khawatir walaupun rasa itu pernah ada dan masih ada, tapi aku tidak akan merebutnya dari mu. Aku sadar karena aku tidak pantas untuknya karena aku bukan perempuan yang sempurna. Tetaplah mendampinginya baik dalam suka maupun duka. Semoga pernikahan kalian tetap abadi selamanya. Vita " Like komen dan vote yang banyak ya terimakasih." Chapter 179 episode 179 Setelah membaca surat dari Vita, Zira bisa bernafas lega. Tapi masih ada yang mengganjal di pikirannya yaitu suaminya. Zira keluar dari kamar mandi dan mengganti gaunnya dengan baju tidur. Zira memperhatikan suaminya yang sudah tertidur. Zira naik ke atas kasur dan memeluk tubuh suaminya. Tapi Ziko langsung membalikkan tubuhnya dan membelakangi istrinya. Zira merasa perilaku suaminya berubah. Tapi dia tidak mau memikirkan yang aneh-aneh. Dia membaringkan tubuhnya sama seperti Ziko, dengan posisi saling membelakangi. Kenapa dia seperti ini? Apa karena kehadiran Vita. Mereka saling berpikir dengan praduga masing-masing. Zira memikirkan tentang perilaku suaminya, sedangkan suaminya memikirkan ucapan Vita. Sampai pagi hari mereka tidur dengan posisi yang sama. Ziko bangun terlebih dahulu di bandingkan istrinya. Ziko melirik istrinya yang masih tertidur ada rasa kasihan dan enggak tega karena telah berprilaku tidak sewajarnya. Ziko keluar dari kamar mandi tapi istrinya masih tetap tidur. Dia ingin membangunkan istrinya tapi di urungkan niatnya. Biarlah dia tidur sepertinya dia kelelahan. Ziko keluar kamar menuju ruang makan. Ada Zelin yang sudah menunggu di meja makan. " Kakak ipar mana kak?" Ucap Zelin sambil melihat kearah tangga. " Masih tidur." " Ah pasti kalian lembur ya semalaman." Goda Zelin. " Hust diam! Kamu masih kecil." Ziko menatap adiknya dengan tatapan mengintimidasi. Zelin langsung menutup rapat mulutnya. Dia merasa kakaknya tidak bisa di ajak bercanda sama sekali. Selesai sarapan Ziko langsung pergi keluar menaiki mobilnya bersama dengan asistennya. " Nona Zira mana tuan?" Ucap Kevin heran, biasanya pasangan suami istri ini selalu keluar bersamaan tapi hari ini seperti beda. " Dia lagi tidur." Ucap Ziko ketus. Kevin tidak bertanya lagi mengenai lainnya. Dipikirannya pasti telah terjadi pertengkaran di antara mereka berdua. Zelin menghabiskan sarapannya dan kembali ke atas untuk mengecek kakak iparnya. Dia mengetuk pintu kamar kakaknya secara berulang tapi tidak ada sahutan sama sekali. Zelin mencoba membuka pintu itu secara perlahan, dan memasukkan sebagian kepalanya ke dalam kamar kakaknya. Dia melihat kakak iparnya masih terbaring di kasur. Zelin langsung masuk mendekati kasur. Dia memperhatikan kakak iparnya yang agak sedikit pucat. Dan meletakkan punggung tangannya di dahi kakaknya. " Enggak demam kok." Gumam Zelin. Gumaman Zelin membangunkan kakak iparnya. " Zelin." Ucap Zira sambil menguap. Zira bangun dari posisi berbaringnya. Duduk di pinggir kasur sambil mengikat rambutnya. Dia melihat ke sebelahnya dan memandang sekeliling kamar. " Mana kak Ziko?" Sambil memandang sekeliling kamar. " Kak Ziko sudah berangkat kak." " Kamu ngapain di sini?" Ucapnya heran. " Tadi aku dengar dari Kak Ziko kalo kakak ipar masih tidur jadi aku cek deh kesini. Dan benar kakak sedang tidur. Kakak sakit ya?" Ucap Zelin langsung. Zira menggelengkan kepalanya. " Enggak kok, kakak sedikit kelelahan." Ucapnya cepat sambil beranjak dari kasur. Zira berjalan beberapa langkah dan membalikkan tubuhnya ke arah si bungsu. " Pasti kamu mau membicarakan masalah kemaren ya?" Ucap Zira langsung. Zelin menganggukkan kepalanya. " Hehehe iya kak, tapi sepertinya waktunya enggak cukup Kak. Aku mau berangkat kuliah dulu, nanti kita bicarakan lagi ya." Ucap Zelin sambil melambaikan tangan dan pergi keluar kamar. Zira membersihkan badannya di kamar mandi. Dia memikirkan sikap suaminya yang tidak seperti biasanya. Zira merasa hari ini badannya agak capek, dia tidak berniat untuk pergi ke butik atau ketempat lainnya. Selesai mandi Zira kembali berbaring di kasur sambil menghubungi Pak Budi. " Pak bisa antarkan sarapan saya ke kamar?" Ucap Zira di ujung telepon. Zira meletakkan telepon ke tempatnya setelah berbicara kepada kepala Pelayan. Dia malas untuk sarapan di bawah karena suaminya sudah berangkat kerja dan merasa kasihan dengan Pak Budi dan pelayan lainnya yang harus menghidangkan lagi semua di atas meja makan. Lebih baik sarapan di atas dengan menu secukupnya itu dipikirannya. Zelin sudah sampai di kampus dan memarkirkan mobilnya persis di sebelah mobil Tia. Tia sudah menanti menunggunya. " Kenapa kemaren kamu meninggalkanku." Gerutu Tia. Kemareb setelah Zelin berbicara panjang lebar dengan Koko. Mereka keluar keluar dari cafe dan langsung pulang. " Kamu kan lihat kalo pria itu mengantarkan aku sampai ke parkiran, apalagi dia masih menunggu mobil ku bergerak baru dia mau pulang. Kalo aku menunggumu bisa berabe rencana kita." Ucap Zelin cepat. Tia mengangguk-angguk kan kepalanya. " Iya deh aku paham, tapi aku melihat ada yang beda dari cowok itu." Tia sedang mencoba mengingat kejadian pada saat di cafe. " Apanya yang beda?" Zelin menatap penasaran. " Postur tubuh Ok, wajah apalagi, tapi kalo di dengar dia berbicara kok seperti wanita ya?" Ucap Tia cepat. Zelin langsung memukul temanya. Tia langsung meringis kesakitan lebay. " Kamu kalo bicara jangan asal." Ucap Zelin sambil berjalan meninggalkan area parkiran. Tia berjalan mensejajarkan langkahnya dengan Zelin. Mereka berjalan beriringan. " Terus ya, aku lihat jari jemari seperti wanita. Apa kamu tidak memperhatikannya juga?" Sambil menoleh sekilas dan berjalan lagi. Zelin memang melihat jari jemari Koko yang seperti wanita. Tapi dia mencoba mengelak perkataan temannya. " Memang jari jemarinya seperti wanita tapi mungkin karena kesehariannya yang tidak pernah mengangkat beban berat makanya seperti itu jarinya." Hipotesanya sendiri agar Tia tidak membuat praduga yang aneh-aneh. Setengah jam lagi pelajaran baru akan di mulai. Mereka duduk di depan kelas untuk melanjutkan obrolannya. " Kamu tau enggak kalo Koko bekerja di perusahaan Raharsya group." Tia merasa aneh dengan ucapan temannya " Aku curiga jangan-jangan itu hanya rancangan dia saja agar kamu terkagum-kagum dengannya." Tia berbicara seperti itu, karena banyak orang yang selalu membanggakan ketika bekerja di perusahaan besar itu. Perusahaan yang sangat besar, gajinya bisa berkali-kali lipat dari perusahaan saingannya. Banyak para mahasiswa dan mahasiswi yang sudah selesai kuliah berlomba-lomba untuk dapat bekerja di sana. Salah satunya Tia, cita-citanya ketika selesai Kuliah dia ingin bekerja di perusahaan itu. " Bagaimana kalo kamu bertanya kepada kak Ziko mengenai nama-nama karyawannya yang bernama Koko. Jadi dari situ kita bisa lihat apakah dia berbohong atau tidak tapi kalo dia berbohong lebih baik kamu akhiri niat kamu untuk berdekatan dengannya." Ucap Tia cepat. Zelin langsung menoyor kepala temannya. Tia mengelus kepalanya sambil menjulurkan lidahnya. " Kamu ngomong enggak pakai pikir. Mana mungkin kakak ku tau semua nama karyawannya. Dan lagian kalo aku bertanya kepadanya pasti dia curiga, bisa-bisa batal semua rencaku." Gerutu Zelin bingung. " Terus bagaimana, apa ada ide lainnya?" Ucap Tia juga bingung. Zelin menggelengkan kepalanya sambil memikirkan sesuatu. " Hemmm apa aku tanya aja ke asisten Kevin pasti dia tau." Gumam Zelin. " Siapa asisten Kevin?" Ucap Tia penasaran. Tapi Zelin mengacuhkan pertanyaan temannya. " Kalo aku bertanya dengan asisten Kevin pasti nanti dia akan menyelidiki terus nanti akan memberitahukan semuanya kepada kak Ziko. Aaah aku harus bagaimana dong." Gerutu Zelin sambil menghentakkan kakinya ke lantai. Mahasiswa yang berada di dekat situ langsung melihat ke arah mereka berdua, karena telah terjadi kebisingan yang di buat Zelin. " Hussst diam, apa kamu mau memecahkan keramik ini dengan sepatu mahalmu." Ucap Tia sambil memukul lengan temannya. " Terus aku bagaimana dong." Gerutu Zelin sambil menyandarkan kepalanya di bahu Tia. " Hemmm begini saja, bagaimana kalo kita menunggu di dekat gedung Raharsya group. Dengan seperti itu kita bisa melihat semua karyawan yang masuk dan keluar." Ucap Tia semangat. Zelin mengangguk setuju. Ide temannya sungguh brilian. Zelin berharap pengintaian mereka berhasil. " Like komen dan vote yang banyak ya terimakasih." Chapter 180 .episode 180 Di gedung Rahasrya group. " Tuan saya sudah mempersiapkan untuk dinner nanti malam." Ucap Kevin. " Baiklah." Ucap Ziko tidak semangat. " Tuan apa anda ada masalah dengan dinner nanti malam? Ziko yang tadinya melihat ke arah laptop langsung menoleh ke arah asistennya. " Kenapa kamu berkata seperti itu?" Ucap Ziko cepat. " Maaf Tuan anda seperti tidak bersemangat." Ucap Kevin pelan. " Ini bukan urusanmu, urus saja acara dinner nanti malam." Ucap Ziko dengan sedikit emosi. Kevin hendak melangkahkan kakinya keluar, tapi dia berbalik lagi karena ada suara Ziko yang menahan langkahnya. " Hubungi Zira agar bersiap-siap, dan katakan padanya nanti malam langsung pergi ke restoran itu." Perintah Ziko. Kevin menganggukkan kepalanya sambil keluar ruangan itu. Di dalam ruangannya Kevin menghubungi majikannya Zira. Panggilan terhubung. " Selamat siang nona?" Ucap Kevin dari ujung ponselnya. " Ya asisten Kevin ada apa?" Ucap Zira pelan. " Apa anda baik-baik saja?" Ucap Kevin khawatir karena suara Zira yang agak bindeng. " Aku kurang enak badan, dan sedikit flu." Ucap Zira pelan. " Apa anda sudah meminum obat?" Ucap Kevin lagi. " Aku kurang suka minum obat, dengan istirahat nanti flu ku akan sembuh." Ucap Zira lagi. " Ada apa asisten Kevin?" " Maaf nona, anda di minta Tuan muda untuk bersiap-siap untuk acara dinner nanti malam." Ucap Kevin pelan." " Apa aku tidak salah dengar?" Ucap Zira kegirangan karena dia berpikir kalo rencana dinnernya akan gagal karena sikap suaminya yang berubah. " Ya nona anda di suruh bersiap-siap. Dan anda diminta langsung berangkat ke restoran sendiri nanti malam." " Baiklah asisten Kevin, aku akan berdandan secantik mungkin." Ucap Zira semangat. " Selamat siang Nona." Ucap Kevin mengakhiri panggilannya. Dia merasa senang mendengar Zira semangat menyambut acara dinner nanti malam. Di ruangan Presiden direktur. Ziko masih melamun, dia banyak melamun memikirkan omongan Vita. Kevin mengetuk pintu ruangan bosnya. Ziko memberi sahutan mempersilahkan asistennya untuk masuk ke dalam ruangan. " Tuan saya sudah menghubungi nona Zira, nona sangat bersemangat menyambut acara nanti malam, dan." Ucap Kevin menggantung. " Dan apa?" " Nona sepertinya sedang sakit. Apa tidak sebaiknya nona pergi bareng tuan." Ucap Kevin pelan. Ziko diam mendengar istrinya sedang sakit. " Suruh saja dia banyak istirahat nanti juga akan sembuh." Kevin menganggukkan kepalanya. Memang untuk flu bisa di sembuhkan dengan banyak beristirahat tanpa harus minum obat. Sore hari. Zelin dan Tia sudah menunggu di depan gedung Raharsya group. Mereka mengintai dengan menggunakan mobil Tia. Banyak karyawan yang keluar dari gedung itu, kebanyakan dari mereka menggunakan kendaraan sendiri seperti roda empat dan roda dua, hanya beberapa orang yang menggunakan angkutan umum. " Mana sih kok enggak ada?" Gerutu Zelin sambil melihat jam di tangannya. " Iya nih padahal sudah jam setengah enam, dan karyawan yang keluar juga sudah tidak ada lagi. Sepertinya dia tidak bekerja di sini." Ucap Tia. Tia sudah menyalakan mesin mobilnya dan menekan pedal gas secara perlahan. " Tunggu itu ada yang keluar." Ucap Zelin memegang lengan temannya. Ada motor gede yang keluar dari gedung itu, dan motor itu adalah motor yang sama dengan motor yang menabrak Zelin. " Itu dia." Ucap Zelin ceria. Dia bisa bernafas lega karena Koko telah berkata jujur kepadanya. Mobil langsung melaju bukan untuk mengikuti Koko, tapi mobil melaju untuk mengantarkan Zelin ke rumahnya. Zira sudah bersiap-siap, dia mengenakan gaun panjang berwarna ungu, warna ungu adalah warna favoritnya dan menurutnya dengan memakai warna itu dia terlihat sangat cantik. Zelin sudah sampai di mansion dan melihat kakak iparnya sedang menuruni anak tangga. Zelin membulatkan matanya merasa takjub dengan penampilan kakak iparnya yang luar biasa cantik. " Kakak cantik banget sih." Memuji. Zira tersenyum merekah mendapatkan pujian dari adik iparnya. " Kakak mau kemana?" Ucap Zelin sambil melihat sekelilingnya. " Kakak mau dinner dengan kakak kamu." Ucap Zira antusias. " Tapi di mana kak Ziko?" Ucap Zelin masih melihat sekeliling ruangan. " Kakak kamu lagi di kantor nanti dia langsung menyusul ke sana. Sudah ya, nanti kita bicara lagi, kakak enggak mau telat nih." Ucap Zira sambil mengelus pipi adik iparnya. Zelin menganggukkan kepalanya. " Semoga dinnernya sukses ya kak, dan hati-hati di jalan." Teriak Zelin. Zira melambaikan tangannya sambil tetap berjalan keluar mansion. Dia langsung menaiki mobil pelanginya dan meluncurkan mobilnya menuju restoran. Di gedung Rahasrya group. " Tuan sudah waktunya kita berangkat." Ucap Kevin mengingatkan. Ziko beranjak dari kursinya. Dan langsung keluar gedung Rahasrya group di ikuti asisten Kevin dari belakang. Kevin mengambil mobil di area parkiran dan Ziko menunggunya di depan pintu loby. Ziko langsung menaiki mobilnya ketika sudah berada di depannya. Mobil langsung meluncur ke tempat tujuan. " Tuan apa anda tidak membawa bunga untuk nona Zira." Ucap Kevin mengingatkan karena dia tidak melihat bosnya membawa atau mempersiapkan sesuatu. " Baiklah mampir dulu ke toko bunga." Mobil melaju dengan kecepatan sedang. Kevin membawa mobil menuju daerah pedagang bunga. Di mana sepanjang jalanan terdapat banyak pedagang bunga. Dan bunga yang di tawarkan di situ masih sangat segar di bandingkan toko bunga yang ada di tempat lain. Kevin memberhentikan mobilnya tepat di pinggir jalan. Kevin turun dari mobil dan membuka pintu mobil dan mempersilahkan bosnya untuk turun. " Kamu saja yang pilih." Ucap Ziko dari dalam mobil. " Baik tuan, apa ada kriteria khusus tentang bunga yang di sukai nona Zira." Ucap Kevin lagi agar tidak salah dalam membeli bunganya. " Terserah yang penting jangan rumput." Ucap Ziko cepat. Kevin tersenyum karena dialah yang pernah memberikan ide untuk membelikan rumput kepada istri majikannya. Kevin memilih buket bunga mawar. Bunga yang berwarna merah darah. Bunga itu mengeluarkan aroma wanginya. Kevin memberikan bunga itu kepada bosnya. Ziko menerima bunga itu dan mencium aroma yang ada dari bunga tersebut. " Bagaimana pilihan saya tuan." Ucap Kevin bangga. Ziko manggut-manggut. " Kenapa kamu memilih warna merah." Penasaran dengan pilihan warna asistennya. " Merah artinya berani tuan, sama halnya dengan nona Zira, dia wanita yang berani dan pantang menyerah. Jadi menurut saya warna ini sesuai dengan karakter nona Zira." Ucap Kevin cepat. Ziko tidak berkata-kata lagi. Di pikirannya dia harus mengatakan semuanya. Karena malam ini adalah waktu yang tepat untuk semuanya. " Like komen dan vote yang banyak ya terimakasih." Chapter 181 episode 181 Mobil Zira berhenti di depan sebuah restoran. Restoran yang mahal, tapi tidak ada mobil di area parkir hanya ada mobilnya. Zira agak ragu untuk turun. Dia masih menimbang-nimbang apakah dinnernya jadi apa tidak. Lebih baik aku turun untuk memastikan lebih lanjut. Zira turun dari mobil melangkahkan kakinya perlahan. Pada saat sampai di depan pintu restoran, seorang pelayan membukakan pintu untuknya. " Nona Zira?" Ucap Pelayan wanita ramah. Zira menganggukkan kepalanya. " Silahkan." Ucap Pelayan sambil mengantarkan Zira ke tempat reservasi. Zira memandang sekeliling restoran. Di dalam restoran itu tidak ada orang lain selain dirinya dan pelayan. Restoran itu di sewa oleh Kevin untuk acara dinner. Pelayan mengajak Zira menaiki anak tangga. Tempat reservasi yang sudah di pesan Kevin berada di balkon atas. Sehingga nuansa malam terlihat dengan jelas dari atas. Tempat itu di sulap Kevin jadi nuansa bunga. Banyak bertebaran bunga mawar di sepanjang anak tangga. Dan di dekat meja sengaja di letakkan bunga mawar yang memutari meja, bunga mawar itu sengaja di bentuk dengan bentuk hati ??. Zira merasa senang dengan dinner yang di siapkan dengan matang dan sempurna. Walaupun dia tau yang membuat nuansa dinner ini adalah Kevin. Zira masih belum duduk, dia masih menunggu suaminya datang. Hampir 20 menit Zira menunggu tapi tidak kunjung datang juga. Zira masih bersabar dan berpikir positif. Mungkin jalanan lagi macet. Beberapa menit kemudian ada suara sepatu menaiki anak tangga. Zira menoleh ke arah anak tangga. Dan yang di tunggu akhirnya pun tiba. Ziko datang dengan membawa sebuket bunga mawar merah. Ziko memberikan buket bunga itu kepada istrinya. Zira menerimanya dengan tersenyum lebar. Kevin berdiri di anak tangga, walaupun dia sudah mendapatkan instruksi dari bosnya untuk menjauh, tapi dia ingin mendengar percakapan dua orang tersebut. Ziko menarik kursi untuk Istrinya. Zira duduk dengan anggunnya. Seorang pelayan datang memberikan minuman kepada mereka. Dan memberikan daftar menu ke atas meja. " Letakkan saja itu di sini." Ucap Ziko kepada pelayan sambil menggerakkan tangannya agar pelayan tadi pergi. " Zira." Ucap Ziko pelan sambil menunduk. " Iya suamiku." Ucap Zira dengan hati yang berdebar-debar. " Terimakasih telah menjadi istriku selama satu tahun ini, terimakasih telah membuat berwarna hidupku, terimakasih telah menerima kekuranganku." Ucap Ziko tertunduk. Zira masih menunggu kalimat selanjutnya. Dia menunggu dengan hati yang berdebar-debar. Ziko masih terdiam belum melanjutkan kalimatnya. " Apa sudah selesai?" Ucap Zira di dalam keheningan itu. Ziko mengangkat kepalanya dan kembali menatap istrinya. Dia menghembuskan nafasnya dengan kasar. " Selama satu tahun pernikahan kita, aku aku belum ada perasaan kepadamu." Ucap Ziko pelan. Zira masih tetap bisa tersenyum tapi batinnya sudah menangis sejadi-jadinya. " Dan menurutku pernikahan kita harus berakhir." Ucap Ziko lagi pelan. Zira tetap menyunggingkan senyum di bibirnya. Walaupun hatinya hancur berkeping-keping. Kevin yang mendengar di dekat anak tangga sudah merasa kecewa dengan tindakan bosnya. Ingin rasanya dia naik ke atas sambil menyadarkan tindakan bosnya yang gegabah. Zira membuka mulutnya. " Apa hanya itu atau ada yang lain yang menyebabkan kamu mengambil keputusan ini." Zira berbicara dengan suara bergetar karena menahan tangisnya. Ziko menatap ke wajah istrinya lagi. " Aku tidak mungkin melanjutkan pernikahan ini karena kamu tidak ada tanda-tanda kehamilan. Aku tidak mau melanjutkan pernikahan ini dengan wanita mandul." Ucap Ziko cepat. Zira langsung melempar air yang ada di dalam gelas ke wajah suaminya. Zira beranjak dari kursinya. Melangkahkan kakinya beberapa langkah sambil menginjak buket bunga mawar tersebut, kemudian dia menoleh lagi. " Terimakasih atas penghinaan yang kamu berikan kepadaku. Aku akan mengurus perceraian ini secepat mungkin, jangan pernah kamu perlihatkan wajahmu di depanku. Untukku kamu sudah mati." Ucap Zira tegas sambil menuruni anak tangga. Ada Kevin yang berdiri di situ. " Nona." Ucap Kevin bingung. " Jangan halangi langkahku." Ucap Zira tegas. Kevin ragu sambil melihat ke atas kalo-kalo bosnya mengejar istrinya. Tapi tidak ada sama sekali pergerakan dari atas. " Jangan halangi langkahku." Teriak Zira lagi. Kevin langsung menggeser badannya memberikan ruang untuk Zira agar bisa berjalan. Zira melangkahkan kakinya lebar. Dan Kevin mengikuti Zira dari belakang sambil berlari. " Nona aku mohon mungkin ini hanya salah paham." Ucap Kevin berteriak. " Pergilah, tidak perlu kamu mengasihani aku, aku masih bisa berdiri dengan kedua kakiku tanpa bantuan siapapun." Ucap Zira sambil mengusap air matanya yang sudah jatuh. Zira langsung naik ke dalam mobilnya dengan derai air mata yang tak bisa terbendung lagi. Dia mengemudikan mobilnya dengan sangat kencang. Kevin kembali berbalik dan berlari ke atas menghampiri bosnya. " Tuan apa yang anda lakukan?" Ucap Kevin teriak. " Bukan urusanmu." Ucap Ziko ketus sambil mengacak-acak rambutnya. " Tuan kenapa anda tega menghina nona Zira seperti itu, apa semua karena nona Vita." Ucap Kevin cepat. " Ini atas kemauan ku sendiri tidak ada sangkut pautnya dengan Vita. Memang aku berkaca dari rumah tangganya. Lima tahun dia menjalin rumah tangga tapi ternyata di mandul dan kalo aku melanjutkan pernikahanku sama saja aku seperti rumah tangga Vita. Aku tidak mau menunggu lebih dari satu tahun." Ucap Ziko dengan penuh emosi. " Tuan kenapa anda berkaca pada rumah tangga yang hancur kenapa anda tidak berkaca pada rumah tangga kedua orang tua anda." Kevin pun ikut teriak. Ziko memang salah dalam mencari penilaian atas rumah tangganya. " Aku tidak akan menikah dengan perempuan mandul." Ucap Ziko teriak. " Tuan ini masih satu tahun, apa anda tau ada yang menikah sampai 8 tahun tapi belum di kasih momongan, rumah tangga mereka tetap bahagia." Ucap Kevin teriak. " Mungkin anda yang mandul." Ucap Kevin pelan. " Apa kamu bilang." Bag! Sebuah pukulan mendarat di mulut Kevin. " Jaga omonganmu." Ucap Ziko marah. Kevin memegang mulutnya yang agak bengak. " Saya kecewa sama anda, begitu cepat anda membalikkan keadaan semuanya. Terimakasih telah menjadi bos saya selama ini. Mulai hari ini saya berhenti dari Raharsya group." Ucap Kevin tegas sambil meninggalkan bosnya sendiri. " Kamu lebih membela dia di bandingkan aku." Ucap Ziko teriak. " Saya tidak membela siapapun, saya hanya berdiri di atas kebenaran." Ucap Kevin tegas sambil meninggalkan Ziko. Hari ini dua orang yang selalu berperan dalam kehidupannya meninggalkannya. Ziko frustasi dia merusak semua fasilitas yang ada di depannya. Tidak ada lagi candaan atau rengekan dari seorang Zira dan tidak ada lagi orang yang bisa di andalkannya dalam segala hal. Semua telah pergi karena kecerobohannya. " Hai-hai, gimana dengan episode ini pasti kesal dan nyesek banget kan? Sama author juga gereget dan nyesek membuat ceritanya. Jangan lupa vote yang banyak ya." Chapter 182 episode 182 Zira pergi dengan hati yang terluka. Di dalam apartemennya Zira menangis sejadi-jadinya. " Cintaku telah mati untukmu Ziko. Aku benci sama kamu." Zira teriak histeris, dia menangis tak henti-henti. Dia mengambil ponselnya dan mengirim sebuah chat kepada pengacaranya. Pak urus perceraianku secepat mungkin. Zira meletakkan ponselnya sambil memandang langit-langit kamar. Zira masih teringat akan pesan neneknya. " Zira kamu adalah wanita yang kuat, jadilah sekuat karang yang apabila di terjang ombak tidak pernah goyah." Ucapan itu di ucapkan neneknya sebelum meninggal. Zira menghapus air matanya. Dia mengambil sebuah koper dan mengisi beberapa pakaian ke dalamnya. Zira tidak mau menjadi wanita yang cengeng. Di pikirannya, air matanya terlalu berharga untuk seorang Ziko. Zira melihat situs aplikasi tiket online. Dia mengecek penerbangan malam ini. Setelah ada penerbangan untuk malam ini, Zira langsung memesan tiket pesawatnya melalui aplikasi itu. Dia akan pergi menemui sahabatnya Novi. Taksi sudah menunggunya di depan pintu loby apartemen. Zira ingin menghilang sejenak sambil menata hatinya yang telah hancur. Taksi langsung meluncur ke bandara. Kevin kembali ke rumahnya, dia merasa sangat kecewa dengan sikap Ziko. Kevin menghubungi nomor Zira. Panggilan terhubung tapi di tolak dari Zira. Kevin mencoba menghubungi kembali, tapi lagi-lagi di tolak. Kevin mengirim sebuah chat kepada Zira. Nona anda di mana? Saya ingin bertemu dengan anda. Chat terkirim, tapi tidak di balas Zira. Zira hanya melihat ponselnya tanpa membalas ataupun membacanya. Dia ingin melupakan semuanya. Kevin merasa khawatir dengan keadaan Zira. Dia langsung berlari ke garasi langsung menaiki mobilnya. Kevin melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Lalu lintas tidak terlalu padat, karena hari ini cuaca gerimis seperti hati Zira yang gerimis. Dalam sekejap Kevin sudah sampai di depan apartemen Zira. Kevin berlari secepat mungkin menuju lift dan langsung menekan tombol sesuai lantai apartemen Zira. Dia langsung berlari secepat kilat keluar dari lift ketika pintu sudah terbuka. Kevin mengetuk pintu secara berulang tapi tidak ada sahutan dari dalam. Kevin putus asa, di pikirannya takut kalo Zira melakukan hal-hal yang tidak di inginkan. Kevin berteriak sambil mengetuk pintu secara berulang-ulang. Tetangga yang ada di sebelah merasa kebisingan yang di buat Kevin. Salah satu tetangga keluar dan melihat siapa yang membuat kebisingan di situ. " Mas cari siapa?" Ucap salah satu tetangga. Kevin berjalan menghampiri tetangga tersebut. " Apa pemilik apartemen ini ada?" Ucap Kevin cepat sambil menunjuk apartemen Zira. " Tadi pergi keluar." Ucap si tetangga. " Keluar kemana?" Ucap Kevin lagi penasaran. " Enggak tau, tapi tadi bawa koper gitu." Ucap si tetangga lagi. " Terimakasih." Ucap Kevin langsung pergi. Di dalam mobilnya, Kevin berpikir kemana tujuan Zira. Dia mencoba mengingat teman-teman Zira. Kevin teringat akan nama Lina. Dia menghubungi nomor Lina. Beberapa saat panggilan terhubung. " Halo." Ucap Lina " Nona Zira ada di sana tidak?" Ucap Kevin langsung. " Enggak, memangnya kenapa?" Lina langsung mengerti siapa yang menghubunginya yaitu asisten Kevin, karena hanya dia yang menyebut Zira seperti itu. " Oke kalo begitu, terimakasih." Ucap Kevin langsung menutup panggilannya. Dia mencoret daftar nama Lina dari daftar kunjungan Zira. Dia mencoba mengingat siapa yang menjadi sahabatnya. Dia memutar otaknya agar mengingat sesuatu. Dan ingatannya langsung tertuju pada teman Zira yang berada di luar Kota. Kevin melihat jam di tangannya. Dan mencoba mencari aplikasi tiket online. Dia mencari penerbangan ke luar kota. Tapi penerbangan terkahir sudah satu jam yang lalu. Di pikirannya seandainya dia punya pesawat Jet, pasti dia akan langsung pergi ke sana. Kevin berdoa, di dalam doanya semoga Zira dalam keadaan baik-baik saja dan Zira benar-benar pergi ke rumah temannya. Kevin memesan tiket untuk penerbangan paling awal untuk besok pagi. Kevin kembali ke rumahnya sambil mempersiapkan keperluan untuk di bawa besok. Zira sudah berada di dalam pesawat, pesawat sudah terbang selama satu jam lebih. Dan sebentar lagi pesawat akan landing. Zira sudah menghubungi Novi sebelumnya mengenai kedatangannya. Setelah beberapa jam terbang mengudara di atas langit. Pesawat akhirnya akan segera landing. Pramugari sudah menginformasikan kepada penumpang untuk duduk di tempat dan menggunakan sabuk pengaman sampai posisi pesawat mendarat dalam keadaan sempurna. Setelah pesawat mendarat dengan sempurna. Penumpang sudah di izinkan untuk membuka sabuk pengamannya. Semua penumpang keluar satu persatu, mengikuti pintu yang sudah di tunjukkan oleh pramugari. Para penumpang termasuk Zira mengantri koper mereka keluar dari ban berputar. Zira mengambil kopernya dan langsung menuju pintu keluar. Ada Novi yang menunggunya di depan pintu keluar. Novi melambaikan tangannya. Zira membalas lambaian tangan tersebut. Mereka saling berpelukan melepaskan rindu. " Kamu sama siapa kesini?" Ucap Novi. " Sendirian." Ucap Zira cepat. Novi membawa temannya ke parkiran bandar. Di dalam mobil sudah ada suami Novi dan anaknya. Zira menyapa suaminya Novi. Ada anak Novi yang sedang tidur di kursi belakang. Zira duduk bersebelahan dengan anaknya Novi. " Maaf ya aku datangnya mendadak." Ucap Zira enggak enak hati. " Ah kamu ini seperti orang lain saja." Ucap Novi pelan. Dalam beberapa menit mobil sudah sampai di rumah Novi. Zira turun bersama dengan Novi sambil membawa kopernya. " Aku senang kamu berkunjung ke sini." Ucap Novi sambil menunjukkan kamar temannya. " Terimakasih." Ucap Zira sambil memeluk Novi erat. " Kamu kenapa?" Ucap Novi merasa curiga dengan kehadiran temannya yang datang mendadak. Zira menangis di pelukan temannya. Dia mengatakan semua masalahnya dari awal sampai akhir. Novi tidak ingin memperkeruh masalah yang di hadapi temannya. Dia hanya berkata bijak. " Semua sudah takdir dari Sang Pencipta. Tuhan akan mengirimkan malaikat terbaik untukmu. Jangan pernah sesali apapun yang pernah terjadi, tapi jadikan ini sebagai pelajaran hidupmu." Ucap Novi pelan sambil mengelus rambut temannya. Zira merasa lega karena dapat mencurahkan isi hatinya. Walaupun masih ada kerikil di dalam hatinya, tapi dia yakin lambat laun kerikil itu akan menghilang dengan sendirinya. " Kamu sudah makan belum?" Ucap Novi menawarkan temannya. Zira tidak ingat kapan terakhir kali dia makan. Novi mengajaknya ke dapur. Dia menghidangkan makanan di atas meja. Makanan rumahan tapi menggugah seleranya. " Makanlah." Ucap Novi sambil duduk di depan temannya. Zira mengambil makanan dan di letakkannya di atas piring. Baru beberapa suap dia makan, dia merasa mual dan langsung berlari ke kamar mandi. Novi merasa curiga. Zira kembali dari kamar mandi dengan wajah pucat. " Sudah berapa lama kamu seperti ini?" Ucap Novi penasaran. " Sudah seminggu ini aku sering mual, mungkin karena masuk angin." Ucap Zira pelan sambil mengelap mulutnya dengan tisu. Novi langsung berlari keluar dan membisikkan sesuatu kepada suaminya yang sedang menonton televisi. Zira hanya melihat tidak bertanya apapun. Suami Novi langsung pergi mengendarai motornya. Novi kembali ke dapur. Dan memberikan minyak kayu putih kepada Zira. Zira menerima minyak itu dan mengolesinya kebawah hidungnya. Beberapa menit kemudian suami Novi kembali dengan membawa bungkus plastik obat dan menyerahkan kepada istrinya. Novi mengambil sesuatu dari bungkus plastik obat dan menyerahkan kepada Zira. " Apa ini?" Ucap Zira bingung. " Tespek." Ucap Novi cepat. " Untuk apa?" " Untuk memastikan kamu mandul atau tidak." Ucap Novi cepat sambil mendorong tubuh Zira kedalam kamar mandi. " Gunakan dengan tepat seperti petunjuk di situ." Ucap Novi cepat sambil menunjuk ke arah tespek. Zira menganggukkan kepalanya sambil berjalan ke kamar mandi. " Like komen dan vote yang banyak ya terimakasih." Chapter 183 episode 183 Zira mengecek hasil urinnya dengan tespek. Zira menunggu hasilnya keluar. Tidak beberapa lama muncul garis merah. Zira keluar dari kamar mandi membawa hasil itu dan menunjukkan ke Novi. " Bagaimana hasilnya?" Ucap Novi sambil mengambil tespek. Novi melihat ada dua garis merah tapi yang satu tidak terlalu jelas. " Kamu hamil Ra!" Ucap Novi antusias. " Hamil? Tapi aku baca disitu garis dua berwarna merah, dan ini garis yang satu kurang jelas." Ucap Zira sambil menunjuk ke arah tespek. " Kalo menurutku kamu hamil, tapi untuk mengetahuinya besok kita periksa lagi ke dokter." Zira tertunduk lemas, dia tidak bisa membayangkan kedepannya. " Bagaimana kalo aku beneran hamil?" Ucap Zira cemas. " Kan bagus kalo kamu hamil, kamu tinggal memberitahukan hal ini kepada suami kamu." Ucap Novi cepat. " Enggak aku enggak mau, sudah cukup dia menghinaku." Teriak Zira menangis kembali. Novi memeluk temannya. Sebagai teman dan sebagai sesama wanita dia mengerti akan perasaan seorang wanita yang telah di hina dan terluka akan sulit untuknya menerima keadaan untuk kembali normal. " Kita istirahat saja dulu, besok kita pergi ke dokter untuk melihat rencana selanjutnya." Ucap Novi menuntut temannya masuk ke dalam kamar. Mata Zira susah untuk terpejam, ketika matanya terpejam ingatannya tentang kejadian pada saat dinner membuatnya sulit untuk tidur. Novi menemani temannya sampai benar-benar tidur. Novi memijat dan mengelus rambut temannya agar dapat memejamkan matanya. Beberapa menit kemudian Zira tertidur. Dan Novi bisa kembali ke kamarnya untuk beristirahat. Pagi yang cerah sang mentari menyambut datangnya pagi. Suara ayam berkokok bersahut-sahutan menyambung datangnya pagi. Kegiatan pagi hari di rumah Novi sangat sibuk. Novi harus bangun pagi menyiapkan sarapan pagi untuk keluarganya dan memandikan si kecil untuk berangkat sekolah. Zira belum terbangun dari tidurnya, dan Novi membiarkannya saja. Novi membereskan semua keperluan keluarganya, setelah keperluannya siap sedia. Suaminya pergi berangkat kerja beserta dengan si kecil. Setiap pagi rutinitasnya seperti itu. Pada pagi hari yang mengantarkan si kecil ke sekolah suaminya dan yang menjemput si kecil adalah Novi. Mereka berbagi tugas dalam menjaga dan merawat si kecil. Novi membersihkan rumahnya sendiri, tanpa bantuan seorang pembantu. Zira keluar dari kamarnya, dengan mata yang sembab. Zira duduk di kursi makan, Novi menghidangkan teh panas untuk temannya. " Minumlah ini untuk menghangatkan tubuhmu." Ucap Novi meletakkan segelas teh ke depan temannya. Zira meminum teh nya perlahan-lahan. Novi langsung menyiapkan sarapan pagi untuk temannya. " Kamu cepat sarapan, hari ini kita akan ke dokter. Aku mau bersiap-siap dulu." Ucap Novi meninggalkan Zira di meja makan. Zira memakan sarapannya beberapa suap dan langsung memuntahkan begitu seterusnya. Novi mendengar suara orang yang sedang muntah, dia langsung keluar melihat keadaan temannya. Zira terlihat pucat karena baru mengeluarkan makanan yang ada dalam perutnya. " Aku enggak bisa memakannya." Ucap Zira sambil menggerserkan piring yang ada di depannya. " Baiklah enggak usah di paksakan, memang seperti itu bawaan ibu hamil. Kamu bersiap-siap kita akan ke dokter sebentar lagi." Zira beranjak dari kursinya dan pergi ke kamar. Setelah semuanya siap mereka langsung pergi ke dokter dengan menggunakan taksi. Dokter yang dipilih Novi adalah dokter kandungan yang terkenal di kota itu. Tempat dokter itu peraktek tidak begitu jauh dari sekolah anaknya, dengan begitu sepulang menemani Zira, dia bisa langsung menjemput anaknya. Setelah mengantri beberapa nomor akhirnya nama Zira di panggil. Zira naik ke atas tempat tidur, Novi menjelaskan semuanya kepada Dokter tersebut. Seorang perawat memberikan jel berwarna biru ke atas perut Zira. Dokter tersebut menggerakkan sebuah benda ke atas perut Zira. Dari layar terlihat jelas seperti apa isi rahim Zira. " Selamat anda hamil, dan usia kandungan anda sudah memasuki 5 minggu." Ucap Dokter. Zira ingin menangis mendengar dokter itu berbicara, tapi dia menahannya. Zira turun dari tempat tidur di bantu seorang perawat. Dia duduk berhadapan dengan dokter itu. Zira tidak mengajukan pertanyaan karena dia tidak mengerti akan hal itu. " Dok kenapa pada tespek garis duanya kurang jelas." Ucap Novi penasaran. " Sepertinya kandungan Ibu Zira lemah. Apa Ibu ada keluhan seperti flek atau apa gitu." Ucap dokter tersebut. " Ada dok, sering keluar flek pada daerah sensitif saya." Ucap Zira pelan. " Hemmm iya saya mengerti, itu tidak boleh di biarkan. Jadi saya memberikan anda vitamin penguat rahim, vitamin untuk zat besi dan vitamin yang mengandung asam folat." Dokter itu menuliskan resepnya di atas kertas dan menjelaskan satu persatu kegunaan atau manfaat dari vitamin tersebut. " Ada yang mau di tanyakan lagi?" Ucap dokter tersebut. Novi yang banyak bertanya di bandingkan temannya. " Dok temannya saya susah makan, dia sering merasa mual, kadang perutnya tidak terisi, bagaimana dengan nutrisi untuk si janin." Ucap Novi. " Untuk kehamilan di tri semester pertama memang seperti itu, hampir semua ibu hamil mengalami mual, muntah pusing tidak selera makan, tapi jangan di biarkan, walaupun tidak bisa terisi dengan nasi, coba di akali dengan makan yang lain seperti buah atau susu." Ucap Dokter menjelaskan. " Terimakasih dokter." Ucap Novi sambil mengajak Zira untuk keluar. Tapi Zira masih belum mau pergi, dia masih mengajukan pertanyaan yang terus berputar di dalam benaknya. " Dok kalo saya mau menggugurkan anak saya bagaimana?" Ucap Zira pelan. Dokter tadi menatap lekat wajah pasiennya begitupun dengan Novi, dia tidak percaya dengan pertanyaan temannya. " Maaf dok teman saya bercanda." Ucap Novi memegang tangan Zira agar bangun dari tempat tidur. Tapi Zira bertahan duduk di kursi itu. " Ibu maaf, kami sebagai dokter ada sumpah dokter yang harus kami taati, dan tidak semua keinginan pasien kami penuhi. Apabila kami menyarankan mengugurkan janin pasien pasti ada sebabnya. Misalnya janin tidak berkembang atau karena ada efek samping yang mengakibatkan keselamatan nyawa si Ibu. Dan menurut saya janin Ibu sehat hanya memang rahim ibu lemah, dan Ibu harus banyak berisitirahat." Ucap Dokter itu menjelaskan. Zira terdiam, dia belum tau harus bagaimana dengan janin yang ada di rahimnya. Dia senang dengan kehadiran malaikat kecil tapi dia juga bingung dengan nasibnya kedepan. Novi mengajak temannya keluar dari ruangan dokter dan membawanya ke sekolah anaknya. Mereka mengobrol di sana. " Kenapa kamu bertanya seperti itu tadi?" Ucap Novi penasaran. " Aku enggak tau harus bagaimana?" Ucap Zira dengan mata berkaca-kaca. " Kamu tau perbuatan mengugurkan adalah perbuatan dosa, itu sama saja dengan membunuh. Janin yang ada di dalam kandunganmu tidak bersalah." Ucapan Novi semuanya benar bahwa mengugurkan kandungan adalah perbuatan dosa dan dia tidak mau menambah dosanya dengan mengugurkan janin yang tidak berdosa. Walaupun dia masih bingung dengan kedepannya tapi dia akan merawat dan menjaga janinnya dengan semampunya. " Like komen dan vote yang banyak ya terimakasih." Chapter 184 episode 184 Pesawat terbang yang menerbangkan Kevin dan penumpang lainnya sudah landing dengan sempurna. Para penumpang beranjak dari kursinya setelah ada perintah dari pramugari dan pramugara. Semua penumpang menunggu kopernya di ban berjalan. Tapi tidak dengan Kevin, dia tidak membawa koper, dia hanya memabawa satu ransel yang ada di punggungnya. Di dalam ransel itu berisi pakaian ganti dan peralatan lainnya yang di butuhkannya selama di kota itu. Kevin yang biasanya mengenakan setelan jas, sekarang dia lebih mengenakan pakaian kasual. Tapi tidak membuat kegantengannya memudar. Dengan penampilan seperti itu dia terlihat jauh lebih muda dan lebih bergaya. Kevin memesan taksi yang ada di sekitar bandara dan memberikan sebuah alamat kepada supir taksi tersebut. Soal daya tangkap dan daya ingatnya memang kuat tak heran jika dia di jadikan orang kepercayaan Raharsya group. Supir taksi membawa penumpangnya menuju alamat tujuannya. Setelah beberapa kali mendapatkan traffic light mereka sampai di sebuah perumahan. Kevin meminta sang supir untuk memutari semua perumahan itu. Agar dia bisa melihat dengan jelas rumah temannya Zira. " Berhenti di depan pak." Ucap Kevin memerintahkan Pak supir. Mobil berhenti di depan, seperti yang di minta penumpangnya. Kevin memberikan beberapa lembar uang kepada Pak supir dan tidak lupa mengucapkan terimakasih. Kevin mengetuk pintu rumah Novi secara berulang tapi tidak ada sahutan atau tanda-tanda ada orang di dalamnya. Kevin duduk di kursi teras. Dia akan menunggu di depan sampai pemilik rumahnya datang. Karena menurutnya cuma pemilik rumah yang bisa di mintai informasi mengenai keberadaan Zira. Hampir satu jam Kevin menunggu tapi belum juga ada yang datang. Tapi dia tidak putus semangat, dengan sabar dia masih menunggu. Setelah beberapa menit ada taksi yang berhenti di depan. Ada dua orang wanita yang keluar dari taksi itu dan seorang anak kecil. Wajah dua wanita itu di kenalnya yang satu adalah pemilik rumah dan yang satu lagi majikannya yaitu Zira. Zira kaget melihat asisten Kevin sudah sampai di depan rumah temannya. Zira menunjukkan wajah kesalnya. " Dari jam berapa di sini?" Ucap Novi. " Barusan." Ucap Kevin ramah. " Mari masuk." Ucap Novi mempersilakan tamunya untuk masuk sambil membuka pintu rumahnya. " Terimakasih saya di sini saja." Ucap Kevin lagi. Novi tidak memaksa, dia pergi ke dapur untuk menyiapkan minuman. Kevin senang melihat majikannya dalam keadaan sehat, walaupun wajahnya Zira sedikit pucat tapi dia bisa bernafas lega karena majikannya tidak melakukan hal-hal yang merugikan. " Nona anda apa kabar?" Ucap Kevin menyapa majikannya yang akan masuk ke dalam rumah. " Hemmmmm." Zira bersikap jutek karena di pikirannya pasti yang menyuruh asisten Kevin datang ke rumah Novi adalah suaminya. " Nona saya mau bicara?" Ucap Kevin agar majikannya tidak meninggalkannya sendirian di teras. " Tidak perlu bicara lagi, bilang saja sama manusia es itu, perceraian tetap berlanjut." Ucap Zira jutek. " Nona saya kesini bukan atas perintah dari tuan muda tapi atas kemauan saya sendiri." Ucap Kevin pelan. " Apa maksud kamu? Apa kamu mau membohongiku dengan berkata seperti itu dan ini adalah rencana kamu agar menyatukan kami kembali, benar kan!" Ucap Zira kesal. Novi keluar dengan membawa secangkir teh, meletakkannya di atas meja teras. " Silahkan di minum?" Ucap Novi mempersilakan tamunya untuk minum. Kevin menganggukkan kepalanya dan mengucapkan terimakasih. Novi membisikkan sesuatu ketelinga temannya. " Kamu sedang hamil jangan terlalu emosi, karena akan mempengaruhi perkembangan janin yang ada di dalam. Dengarkan saja dulu maksud kedatangannya untuk apa." Ucap Novi berbisik sambil meninggalkan mereka berdua di depan. Zira baru tersadar kalo dirinya sedang hamil. Bawaan hormon ibu hamil membuatnya tidak bisa mengontrol emosinya. Zira duduk di sebelah asisten Kevin. " Untuk apa kamu kesini?" Ucap Zira sambil menatap kedepan. " Saya hanya mau melihat keadaan anda nona?" Ucap Kevin pelan. " Kamu sudah lihat keadaan saya baik-baik saja kan." Ucap Zira masih ketus. Kevin menganggukkan kepalanya tetap tersenyum. " Bilang kepada manusia es itu, perceraian akan tetap berlanjut." Ucap Zira ketus. " Maaf nona, kenapa bukan anda yang memberitahukannya sendiri." Ucap Kevin pelan. Zira menoleh dan menatap tajam ke arah Kevin. " Apa maksudmu? Ini bukan akal-akalan kamu saja agar aku berkomunikasi dengannya kan?" Ucap Zira lagi ketus. " Tidak nona, saya sudah keluar dari Raharsya group." Ucap Kevin pelan sambil memandang jauh kedepannya. Zira menatap Kevin dengan membelalakkan matanya. Karena setau dia, Kevin adalah orang kepercayaan dan selalu setia mendampingi suaminya. " Kamu jangan bohong?" Ucap Zira lagi penasaran. Kevin menggelengkan kepalanya dan menceritakan semuanya. Tentang mereka bertengkar dan berdebat semua di ceritakannya. " Kenapa kamu harus bertindak bodoh seperti ini? Untuk apa kamu memberi pembelaan terhadap diriku." Gerutu Zira. Dia merasa Kevin bertindak di luar batas, karena Kevin adalah orang luar tapi mau mengorbankan karirnya dan masa depannya. " Maaf nona saya bukan memberikan pembelaan kepada anda tapi saya berdiri kepada kebenaran." Ucap Kevin tegas. Zira merasa kesetiaan Kevin pudar karena dirinya. Dia merasa bersalah atas semuanya. Zira bangkit dari kursinya dan berdiri. " Maafkan aku karena telah merusak persahabatan kalian. Semua rusak karena kehadiranku." Ucap Zira menyesali. " Cukup nona sampai kapan anda selalu mengalah seperti ini dan selalu menyalahkan diri anda. Anda tidak salah yang salah adalah tuan muda." Ucap Kevin cepat sambil memperhatikan Zira yang sedang memegang kepalanya. Zira tidak berkata-kata lagi. Pandangannya sudah menghitam dan nafasnya sudah tidak teratur. Dalam sekejap dia pingsan, Kevin langsung menangkap tubuh Zira dan mengangkatnya ke dalam. " Tolong." Ucap Kevin sambil menggendong tubuh majikannya. Novi kaget melihat tubuh temannya sudah terkulai pingsan. Dia langsung memerintahkan Kevin untuk meletakkan Zira di atas kasur. Novi memberikan minyak kayu putih ke bawah hidung temannya. Dalam sekejap Zira bisa membuka matanya walaupun masih agak kabur. " Aku kenapa?" Ucap Zira yang melihat dirinya sudah berada di dalam kamar. " Kamu pingsan." Ucap Novi. " Kenapa aku bisa pingsan?" Ucap Zira heran, karena biasanya dirinya kuat tapi hari ini kakinya sangat lemas. " Kamu lupa apa yang dokter katakan tadi." Ucap Novi mengingatkan. Kevin mendengarkan percakapan dua orang di depannya. " Maaf anda sakit apa nona?" Ucap Kevin khawatir. Zira meletakkan jari telunjuknya ke mulutnya memberi isyarat kepada temannya agar tidak mengatakan hal sebenarnya. Novi melihat isyarat itu, tapi dia tidak mau menutupi karena menurutnya kehadiran seorang bayi dalam perut seseorang bukan sebuah masalah tapi sebuah anugerah. " Bukan sakit tapi hamil." Ucap Novi tersenyum. Kevin membelalakkan matanya tidak percaya dan Zira hanya bisa melotot kepada temannya karena tidak bisa di ajak bekerjasama dalam menutupi kehamilannya. " Like komen dan vote yang banyak ya terimakasih." Chapter 185 episode 185 " Apa benar anda hamil nona?" Ucap Kevin penasaran. Zira menganggukkan kepalanya. Kevin merasa senang mendengar ucapan majikannya. Ini lah kalimat yang di tunggu-tunggunya. " Jangan kamu hubungi manusia es batu itu." Ucap Zira tegas. " Kenapa nona? Bukannya ini yang di tunggu tuan muda." Ucap Kevin bingung. " Apa kamu tidak lihat bagaimana penghinaan nya kepada ku." Ucap Zira emosi. Novi yang berada di situ hanya bisa melihat belum berani berkomentar. " Iya nona saya mengerti, tapi tidak mungkin anda membesarkannya sendirian." Ucap Kevin lagi. " Aku bisa membersarkannya sendirian tanpa bantuan siapapun." Ucap Zira tegas. Novi mulai mengambil bicara dalam perdebatan ini. " Ra, aku tau kamu bisa membesarkan bayi ini, tapi apa kamu tau mulut netizen yang melihat wanita hamil tanpa seorang suami. Mulut netizen lebih tajam dari silet loh." Ucap Novi. Apa yang di ucapkan Novi semua benar. Wanita hamil yang tidak mempunyai suami pasti akan jadi bahan buly an. Dan Novi tidak mau Zira mengalami hal seperti itu. " Tapi beda ceritanya kalo anda berpura-pura jadi suaminya." Ucap Novi menunjuk ke Kevin. " Apa saya?" Kevin menunjuk dirinya sendiri. " Iya kamu. Kamu sudah tau kalo Zira tidak akan mau balik ke suaminya, tapi kamu bisa membantunya sebagai suami kw." Ucap Novi menjelaskan. " Novi kamu jangan bercanda." Ucap Zira memukul lengan temannya. Novi menggelengkan kepalanya. " Coba kamu banyangkan bagaimana kamu akan pergi kontrol ke rumah sakit tanpa di dampingi seorang suami, pasti dokter akan bertanya mana suaminya." Ucap Novi membayangkan. Zira bingung harus berbuat apa. Dia tidak mau memberitahukan mengenai kehamilannya kepada Ziko dan dia tidak mungkin pergi ke rumah sakit tanpa di dampingi orang lain. " Aku akan meminta bantuan karyawan ku untuk menemaniku pada saat kontrol." Ucap Zira cepat dia tidak mau melibatkan Kevin dalam sandiwara bodoh yang di utarakan sahabatnya. " Hahaha, Zira-zira iya memang betul, tapi sampai kapan kamu akan melakukan hal ini?" Novi tidak mau kedepannya melihat Zira kesusahan jadi dia memberikan gambaran apa yang akan di hadapi temannya. Zira tidak mau berkata-kata lagi, menurutnya dia hanya harus merawat janin di dalam perutnya tanpa harus memberitahukannya kepada pihak keluarga Raharsya. " Maaf untuk ide ini saya tidak setuju." Ucap Kevin lagi. Dia tidak mau mengambil resiko akan kemarahan yang di timbulkan dari perbuatannya. " Maaf asisten Kevin, sebelumnya anda datang kesini karena apa?" Ucap Novi cepat. " Saya prihatin dengan keadaan nona Zira." Ucap Kevin cepat. " Apa anda tidak khawatir dengan keadaan Zira kedepannya." Ucap Novi tegas. Ucapan Novi seperti menyindir dirinya bahwa dia hanya prihatin dengan keadaan Zira sekarang tapi tidak prihatin dengan keadaan kedepannya. Kevin memikirkan semua ucapan wanita yang ada di depannya. Lama dia dalam diam, menimbang-nimbang semua ucapan Novi. " Apa saja yang harus saya lakukan untuk sandiwara ini." Ucap Kevin penasaran. " Nah gitu." Ucap Novi sambil memukul pelan bahu pria di depannya. " Novi jangan kamu libatkan masalah ini kepadanya. Aku tidak mau menyusahkan dirinya." Ucap Zira pelan sambil tertunduk. Kevin merasa kasihan melihat majikannya yang tidak ada semangat-semangatnya. Dia mau melihat Zira seperti dulu yang penuh dengan keceriaan. Dan semua ada di tangannya. " Nona saya tidak keberatan untuk melakukan sandiwara ini, saya siap menjadi suami kw anda." Ucap Kevin cepat. Zira terkejut mendengar ide bodoh yang di setujui Kevin. Matanya sudah berkaca-kaca mendengar kesediaan pria itu. Novi memperhatikan sikap temannya. " Cup sudah, aku tidak mau ada yang menangis lagi di dalam kamar ini." Ucap Novi cepat menyudahi, dia tidak mau melihat Zira banjir air mata lagi. Menurutnya kesedihannya harus digantikan dengan kegembiraan. Novi menatap tajam ke arah pria di depannya. " Jadilah suami kw siaga, perhatikan pola makannya dan bawa dia kontrol minimal sebulan sekali. Dan satu lagi awasi dia untuk tetap minum vitaminnya dan susu hamilnya." Ucap Novi seperti seorang dokter. Kevin menganggukkan kepalanya paham. Walaupun dia belum mengerti harus seperti apa menghadapi ibu hamil tapi dia nanti akan banyak belajar dari Mbah guuuling. Zira dan Kevin sepakat menjadi pasangan suami istri kw sampai proses cerai itu jatuh. Tidak berapa lama suara ponsel Zira berbunyi. Zira melihat ada nomor pengacaranya di layar ponselnya. " Ya halo." Ucap Zira cepat. " Mbak Zira. Bisa kita bertemu?" Ucap pengacaranya. " Maaf Pak saya sedang berada di luar kota. Ada apa pak?" Ucap Zira cepat. " Ada yang harus kita bahas." Ucap Pengacara itu dari ujung ponselnya. " Bagaimana Pak tapi saya lagi di luar kota?" Ucap Zira lagi. " Baiklah besok kita berjumpa, tapi saya harus menanyakan intinya saja perihal tentang perceraian anda." Ucap Pak pengacara. Zira menjelaskan semuanya kepada pengacaranya. Pengacaranya adalah pengacara eyangnya. Beliaulah yang mengurus semua harta kekayaan eyangnya. Jadi mereka tidak ada rasa sungkan sama sekali. Bapak pengacara itu diam setelah mendengarkan penjelasan dari Zira. " Maaf sebelumnya ini hanya pandangan saya saja. Kalo menurut hukum seandainya istri dalam keadaan hamil dan menggugat untuk bercerai dengan alasan yang masuk akal maka biasanya pihak hakim akan banyak mengambil pertimbangan dan syukurnya anda tidak dalam keadaan hamil." Ucap Pak pengacara itu. Zira terdiam, dia takut kalo keputusan cerainya akan di persulit hakim kalo tau dia sendang mengandung. Tapi dia lebih khawatir kalo dia kena pasal karena menutupi kehamilannya. " Saya sedang hamil Pak." Ucap Zira pelan dari ujung ponselnya. Tidak ada suara dari ujung ponsel Pak pengacara. Pak pengacara sedang memikirkan dan melihat apakah ada celah untuk mereka memenangkan kasus ini. " Setelah saya baca menurut ketentuan hukum, anda bisa bercerai dengan alasan yang masuk akal, tapi anda tidak bisa menikah sampai anda melahirkan." Ucap pengacara tersebut. " Bapak urus saja semuanya. Saya mau secepat bercerai dengannya." Ucap Zira semangat. " Baiklah besok kita membicarakan langkah selanjutnya." Ucap pengacara sambil menutup panggilannya. Zira meletakkannya ponselnya. Ada rasa kekhawatiran pada dirinya kalo dia batal cerai. " Siapa yang menghubungi kamu?" Ucap Novi penasaran. " Pengacara." Ucap Zira khawatir. " Kenapa kamu terlihat khawatir seperti itu." Ucap Novi lagi. " Pengacara bilang kalo kondisi hamil bercerai maka pihak hakim akan banyak mengambil pertimbangan. Tetap bisa di menangkan, tapi." Ucap Zira menggantung. " Tapi apa?" " Bagaimana dalam hukum agama?" Ucap Zira khawatir. Novi langsung mengambil ponselnya temanya dan mencari dari aplikasi guuuling. " Di sini aku baca kalo talak di bagi menjadi dua yaitu talak sunni dan talak bid''i. Kalo talak sunni talak yang di lakukan sesuai ajaran syariat. Dan talak bid''i kebalikannya." Ucap Novi lagi sambil membaca kembali. " Dan di sini di sebutkan mentalak istri dalam keadaan hamil termasuk talak sunni dan ini hadisnya shahih." Ucap Novi cepat. Zira bisa bernafas lega. Awalnya dia khawatir kalo perceraiannya tidak sesuai dengan syariat agama tapi setelah mendapatkan penjelasan dari temannya dia bisa bernafas lega. Mereka meninggalkan Zira di kamar untuk beristirahat. Novi mengajak asisten Kevin ke ruang keluarga. " Asisten Kevin saya mohon dengan sangat kamu jaga sahabatku, aku khawatir dia stress dan takut membahayakan janinnya. Dan tolong hindari makanan seperti tape, durian, nenas, soda, pokoknya makanan yang sangat di larang untuk ibu hamil." Ucap Novi menjelaskan semuanya. Novi masih khawatir mengenai perkataan Zira pada dokter tentang menggugurkan kandungannya. Dia takut Zira akan melakukannya jadi lebih baik dia memberirahukan semuanya kepada Kevin. " like komen dan vote yang banyak ya terimakasih." Chapter 186 episode 186 Kevin menganggukkan kepalanya, dia sudah paham apa saja yang harus di lakukan ketika menjadi suami kw. " Dan satu lagi asisten Kevin, kalian tidak boleh satu rumah. Karena haram hukumnya kalo tanpa adanya ikatan tinggal satu rumah. Setiap malam kamu harus pulang ke rumah kamu sendiri. Aku harap kamu mengerti." Ucap Novi menjelaskan. Kevin mengerti, memang di dalam agama di larang tinggal satu rumah kalo tidak ada ikatan. Ziko menepuk tangan ke sebelahnya dengan mata tertutup. Dia masih tidak menyadari kalo Zira sudah pergi. Dia masih tetap menepuk sebelahnya, kebiasaannya pada saat tidur selalu menepuk atau menyentuh badan istrinya. Dilakukannya secara berulang tapi tidak ada sesuatu di sebelahnya hanya ada sebuah guling di sebelahnya. Ziko membukakan matanya dan menyadari kalo Istrinya telah pergi. Dengan badan yang lemas dia pergi ke kamar mandi. Setelah mandi dia tertegun. Masih ingat di benaknya kalo Zira selalu menyiapkan pakaiannya. Tapi hari ini dia menyediakannya sendiri. Ziko membuka lemari sebelah, ada pakaian istrinya masih tersusun rapi. Pakaian yang ada di lemari Istrinya adalah pakaian yang di belikannya dari butik istrinya sendiri. Ziko menatap lama dan mengelus pakaian itu. Dia masih mengingat kapan saja pakaian itu di kenakan istrinya. Bayang-bayang Zira tidak bisa lepas dari ingatannya. Semakin dia ingin melupakan semakin sulit dia melepaskannya. Ziko melihat meja rias, masih banyak peralatan makeup istrinya. Semuanya masih tersusun sesuai dengan tempatnya. Ziko duduk terkulai, dia merasa sebagian nyawanya hilang. Ketukan dari pintu membuat Ziko tersadar. Ziko membuka pintu kamarnya ada Pak Budi berada di depannya. " Selamat siang tuan, maaf mengganggu istirahat anda dan nona Zira. Saya hanya mengingatkan sekarang sudah waktunya makan siang, tuan dan nona Zira belum makan sama sekali." Ucap Pak Budi khawatir. Pak Budi sebagai kepala pelayan harus mengontrol pola makan semua majikannya. Dia tidak mau kalo majikannya sakit. " Baik Pak." Ucap Ziko berjalan mendahului Pak Budi. Pak Budi melirik ke dalam kamar melihat sekeliling kamar tapi tidak ada Zira di dalamnya. Pak Budi tidak berani bertanya, walaupun pertanyaan itu memutari isi kepalanya tapi dia tidak ada kuasa untuk bertanya karena dia adalah seorang pelayan. Ziko duduk di kursi makan sambil melirik kursi yang selalu di tempati istrinya. Pak Budi meletakkan nasi dan lauk ke dalam piring tuannya. Memori itu kembali memutar isi kepalanya, biasanya kegiatan itu selalu di lakukan istrinya tapi mulai hari ini di lakukan kepala pelayan. " Silahkan tuan." Ucap Pak Budi. Ziko melihat sendok yang biasa di gunakan istrinya untuk menyuapinya. Ziko merasa stres dan melemparkan piringnya ke lantai. Ziko mengacak-acak meja makan dengan tangannya. Pak Budi hanya diam di tempat menyaksikan kemarahan tuannya. Pelayan yang lain hanya mengintip dari balik dinding dapur. Ada cairan berwarna merah mengenai telapak tangannya Ziko. Pak Budi langsung bergegas memberikan pertolongan pertama. Pak Budi mengambil tangan Ziko dan membersihkan luka itu. " Maaf tuan lukanya terlalu dalam, luka ini tidak akan menutup kalo hanya dengan sebuah plester. Luka ini sepertinya harus di jahit." Ucap Pak Budi. Ziko tidak memberikan respon sama sekali. Dia tidak menyadari tangannya berdarah. Pak Budi berlari ke pojok mengambil gagang telepon dan menekan nomor dokter Diki. Menurutnya dokter Diki yang bisa mengobati luka majikannya. Pak Budi menjelaskan kepada dokter Diki tentang luka yang ada di tangan majikannya. Pak Budi menuntun majikannya untuk duduk di ruang keluarga sampai dokter Diki datang. Pak Budi kembali ke ruang makan memerintahkan pelayan untuk membersihkan kerusakan yang di timbulkan majikannya. Zelin yang baru masuk melihat banyak pecahan kaca berserakan di lantai. Membuatnya bertanya-tanya. " Apa yang terjadi Pak." Ucap Zelin penasaran. Pak Budi hanya meletakkan jari telunjuknya ke mulutnya memerintahkan nona muda untuk diam. Zelin melebarkan pandangannya sekeliling ruangan. Dia melihat ada kakaknya berada di ruang keluarga. Zelin ingin menghampirinya, tapi Pak Budi melarangnya. " Jangan di tanya kenapa dan ada apa. Biarkan tenang dulu." Ucap Pak Budi. Pak Budi sudah mengenal karakter semua majikannya dan yang paling menonjol karakternya adalah Ziko. Ziko bisa melampiaskan kemarahannya pada siapapun. Dan Pak Budi tidak mau Zelin jadi bahan amukan dari kakaknya sendiri. Zelin mencoba menerka-nerka apa yang terjadi. Dia berlari ke lantai atas untuk mengecek kakak iparnya. Tapi tidak ada siapapun di dalam situ. Pasti telah terjadi sesuatu antara mereka berdua. Zelin kembali berlari turun ke lantai bawah dan menuju ruang keluarga. Dari balik dinding dia mendengar ada suara seseorang yang dia kenal yaitu dokter Diki. Zelin mendengarkan percakapan mereka dari balik dinding. " Kenapa tanganmu bisa seperti ini?" Ucap Dokter Diki sambil membersihkan luka dan menjahit luka tersebut. Ziko tidak menjawab pertanyaan temannya. Dia masih saja melamun. " Mana Zira?" Ucap Dokter Diki sambil melihat sekeliling ruangan. Ziko yang tadi melamun mendengar ada orang menyebut nama Zira langsung emosi. " Jangan pernah kamu sebut namanya di sini." Ucap Ziko teriak. Dokter Diki menjadi pelampiasan amukan darinya. Zelin yang mendengar langsung kaget dan berspekulasi sendiri masih tetap mendengarkan. " Ko tenang kamu harus tenang." Ucap Dokter Diki menenangkan temannya. Dengan gampang dokter Diki menenangkan temannya karena dia dokter jadi dia tau cara menenangkan pasien baik melakukan pendekatan atau melakukan yang lainnya. " Tarik nafas kamu dan hembuskan secara perlahan agar kamu bisa lebih tenang." Dokter Diki memperaktekannya kepada Ziko. Ziko tidak mengikutinya. Ziko malah terduduk di lantai sambil merapatkan kedua kaki di dadanya. Dokter Diki duduk di sebelah temannya. Dia berusaha menenangkan temannya. " Ceritakan kepadaku apa masalahmu." Sambil menatap ke arah Ziko. Ziko masih diam dia tidak membuka mulutnya sama sekali. " Baiklah kalo kamu tidak mau cerita aku tidak akan memaksa." Ucap Dokter Diki sambil berdiri dari posisi duduknya. " Aku akan bercerai dengannya." Ucap Ziko pelan. Dokter Diki yang berdiri langsung duduk kembali dan menatap heran. Dia masih kurang percaya dengan pendengarannya. Zelin yang berada di balik dinding ikut kaget mendengar ucapan kakaknya. " Ko Apa yang menyebabkan kamu melakukan seperti itu, apa masalahnya?" Ziko menceritakan semuanya dari awal sampai dia menyebutkan kata mandul kepada Zira. Dokter Diki ingin meluruskan masalah temannya tapi untuk hari ini dia bertindak sebagai pendengar saja, karena dia tau watak Ziko yang tidak bisa di bantah. Dia akan membicarakan hal ini setelah Ziko sudah bisa di ajak bicara. Zelin yang mendengarkan pembicaraan kakaknya langsung berlari ke atas menuju kamarnya. Zelin menghubungi mamanya. Panggilan terhubung tapi tidak ada jawaban sama sekali. Zelin mengulanginya kembali tetapi tidak ada yang menjawab panggilan tersebut. " Aduh di sana masih jam 5 subuh lagi." Gerutu Zelin sambil menepuk dahi dengan tangannya. Jarak antar Belanda dan tangan air sekitar 6 jam. Zelin mengirimkan sebuah chat kepada mamanya yang isinya. Ma, cepat balik ke tanah air. Telah terjadi sesuatu antara Kak Ziko dan kak Zira. Love you mam. (urgent) " Like komen dan vote yang banyak ya terimakasih." Chapter 187 episode 187 Zelin kembali ke bawah menuju ruang keluarga. Dia masih mau mendengarkan cerita kakaknya. " Ko, apa kamu yakin kalo Zira mandul?" Ucap dokter Diki. " Pastilah dia mandul, sampai kemarin malam dia belum menunjukkan ada tanda-tanda kalo dia hamil." Ucap Ziko penuh emosi. Dokter Diki memikirkan bagaimana cara untuk menyampaikan sesuatu yang tidak menyinggung perasaan temannya. " Ko, kalo lah tuduhan yang kamu berikan kepadanya adalah benar maka pilihan cerai adalah putusan yang tepat. Tapi." Ucap Dokter Diki melirik temannya. Melihat apakah Ziko tertarik mendengar pendapatannya atau tidak. " Tapi apa?" Ucap Ziko penasaran. Menurutnya Ziko tertarik untuk mendengar pendapatannya. Dokter Diki menghembuskan nafasnya perlahan sebelum melanjutkan ucapannya, agar penyampaian tidak membuat ziko tersinggung. " Kalo ternyata Zira tidak mandul bagaimana? Apa kamu tidak menyesal nantinya?" Ucap Dokter Diki lagi. " Mana mungkin dia tidak mandul ini sudah satu tahun." Ucap Ziko sedikit emosi. Zelin yang mendengar ucapan kakaknya merasa geram. Ingin sekali dia memaki kakaknya karena telah menghina wanita. " Ko, kamu tidak bisa bilang kalo dia mandul sebelum melakukan pengecekan terlebih dahulu. Ada yang baru hamil lebih dari satu tahun, apakah itu juga bisa di bilang mandul?" Ucap Dokter Diki menjelaskan. Ziko terdiam, ucapan temannya benar. Tapi dia masih ego untuk mengakui kesalahannya. " Ko, bagaimana kalo ternyata sekarang Zira sedang hamil?" Ucapan Dokter Diki membuat dirinya tersentak. " Apa yang kamu lakukan, kalo dia ternyata benar-benar hamil." Ziko tambah frustasi mendengar semuanya. " Cukup jangan kamu membuat praduga seperti itu." Teriak Ziko emosi. Dokter Diki tidak melanjutkan lagi ucapannya. Menurutnya sudah cukup pendapat yang di utarakannya. " Pertimbangkan ucapan ku." Ucap Dokter Diki sambil beranjak pergi keluar. Ziko terdiam sambil merenungkan semua ucapan temannya. Dia memilih kembali ke kamarnya untuk merenungkan semuanya. Di dalam kamar dia merasa frustasi karena kenangan dirinya dengan Zira kembali berputar seperti video. Dia menurunkan semua pakaian yang ada di dalam lemari Zira. Sambil teriak histeris. Zelin yang mendengarkan dari balik pintu merasa bingung harus melakukan apa. Tiba-tiba suara ponselnya berbunyi, dia langsung berlari takut kedengaran Ziko. Dari layar ponselnya ada nomor luar negeri. " Ya mama." Ucap Zelin cepat. Dia bisa menebak kalo yang menghubunginya adalah mamanya. " Kenapa sayang?" Ucap Nyonya Amel dari ujung telepon. " Ma kak Ziko dan kakak ipar mau bercerai." Ucap Zelin. " Apa?" Nyonya Amel teriak dari ujung ponselnya. Zelin menceritakan semua yang di dengarnya. Sampai kata mandul juga di ucapkannya. Nyonya Amel yang berada di Belanda merasa emosinya sudah memuncak. Dan tidak terkendali lagi. Panggilan berakhir ketika semua sudah diceritakan Zelin. Di Belanda. Nyonya Amel menghampiri suaminya yang sedang duduk di ruang keluarga. " Pa sepertinya kita harus kembali ke tanah air sekarang juga." Ucap Nyonya Amel cepat. " Kenapa mendadak?" Ucap Tuan besar. Nyonya Amel menceritakan semua kepada suaminya. Tuan Raharsya yang mendengar juga ikutan emosi. Dia merasa anaknya sangat bodoh dalam bertindak. " Baiklah kita pulang sekarang." Ucap Tuan besar sambil menghubungi seseorang. Tuan besar sedang menghubungi seorang pilot yang akan menerbangkan pesawat jetnya. Setelah mengutarakan niatnya kepada sang pilot, tuan besar menutup panggilannya. " Bersiap-siaplah." Ucap Tuan besar kepada Istrinya. Nyonya Amel pergi meninggalkan suaminya. Mempersiapkan semua keperluannya untuk di bawa pulang. Karena masalah yang di timbulkan anaknya mereka berdua selaku orang tua akan turun tangan untuk menyelesaikan masalah tersebut. Zira mengemasi pakaiannya ke dalam koper. Walaupun dia masih ingin berada lama di dekat temannya, tapi dia harus kembali ke kotanya untuk menyelesaikan urusannya di sana. Urusan perceraiannya itu yang utama. Dia sudah ingin lepas dari orang yang sangat di cintanya. Zira mengelus perutnya sambil bergumam. " Anakku jadilah anak yang kuat, walaupun tidak ada ayahmu di sisi kita. Ibu akan tetap selalu menjagamu." Mengelus perutnya. Zira membayangkan dirinya hamil besar dan tidak ada suaminya di sisinya. Bayangan itu membuatnya meneteskan air mata. Pintu kamar di ketuk dari luar. Zira menghapus air mata. " Apa ada yang bisa aku bantu?" Ucap Novi sambil duduk di pinggir kasur bersebelahan dengan temannya. Zira menggelengkan kepalanya. " Kamu kenapa?" Ucap Novi menatap wajah temannya. Wajah Zira terlihat sendu. " Ayolah Zira jangan bersikap seperti ini. Aku tau ini memang menyakitkan buatmu, tapi aku yakin kamu bisa melewati ini semua. Mana Zira yang aku kenal dulu. Wanita yang kuat, Wanita yang pantang menyerah. Aku ingin Zira yang dulu." Ucap Novi sambil memegang kedua bahu temannya. Zira menatap temannya lekat. " Apakah aku bisa kembali seperti Zira yang dulu?" Ucap Zira ragu. Zira tidak yakin dengan dirinya. Rasa cintanya kepada Ziko membuatnya menjadi lemah. " Aku yakin kamu bisa kembali seperti dulu lagi. Ingat ada malaikat kecil dalam perutmu. Itulah yang akan membuatmu menjadi wonder woman." Ucap Novi memberi semangat. Zira menganggukkan kepalanya. Malaikat kecil yang ada di dalam perutnya harus menjadi sumber kekuatan baginya. " Aku merasa kasihan dengan asisten Kevin. Dia harus terlibat dalam masalahku." " Ra, dia bukan berperan sebagai suami kamu seutuhnya, dia hanya akan mengantarkan mu untuk kontrol atau memenuhi kebutuhan mu." Ucap Novi menjelaskan. " Owh berarti dia seperti bodyguard ku ya?" Ucap Zira lagi. Novi menganggukkan kepalanya. " Kenapa kamu tidak menyebutkan dirinya sebagai bodyguard saja, kenapa harus memberikan julukan kepadanya suami kw?" Gerutu Zira. " Biar keren aja." Ucap Novi sambil tertawa. Zira tertawa kecil bersama temannya melupakan sejenak masalahnya. Tapi tidak tau pada saat dia sendirian. " Tidurlah, istirahatkan tubuhmu dan pikiranmu. Jangan pernah memikirkan yang telah lalu tapi jadikan masa lalu sebagai pelajaran buat mu. Tatap lah yang ada di depanmu." Ucap Novi sambil memegang perut temannya. Novi meninggalkan temannya di kamar untuk beristirahat. Ada Kevin yang baru keluar dari kamarnya. " Malam asisten Kevin." Ucap Novi sambil berjalan meninggalkan pria tersebut. Tapi Novi menghentikan langkahnya karena ada suara pria tersebut. " Tunggu." Ucap asisten Kevin. Novi membalikkan badannya melihat kearah yang punya suara. " Ya ada apa?" " Apa nona Zira sudah tidur?" Novi menganggukkan kepalanya. " Bisa kita bicara sebentar?" Ucap Kevin lagi. Novi menganggukkan kepalanya membawa pria tersebut ke dapur. " Ya ada apa?" Ucap Novi sambil menarik kursi. " Bagaimana kalo saya bertemu dengan tuan muda? Apa yang harus saya ucapkan kepadanya?" Sedikit was-was. " Begini saja, kalo bisa kamu menghindarinya." " Tapi bagaimana kalo pertemuan itu tidak bisa di hindari apa aku harus berakting tetap sebagai suami kw?" Kevin takut peran dia akan terbongkar karena dia memang tidak pintar berakting. " Hemmm, sepertinya seperti itu. Sudahlah tidak usah kamu pikirkan terlalu dalam nanti kamu stres, biarkan itu mengalir sendiri seperti air. Aku yakin kamu bisa memerankannya dengan baik." Novi langsung pergi meninggalkan pria tersebut. Kevin yang masih berada di dapur masih agak khawatir dengan semuanya. Dia sudah bisa membayangkan kemarahan yang akan di berikan Ziko kepadanya. Dia juga bisa membayangkan bencinya Keluarga Raharsya kepadanya. " Like komen dan vote yang banyak ya terimakasih." Chapter 188 episode 188 Pagi harinya. Zira dan Kevin sudah bersiap-siap berangkat ke bandara. Sebelumnya mereka berpamitan kepada Novi dan suaminya. Novi dan Zira berpelukan erat satu sama lain. " Jaga kandungan mu, kabari aku kalo kamu sudah sampai di sana." Ucap Novi. Taksi yang mereka pesan sudah tiba di depan rumah Novi. Novi melepaskan kepergian mereka. Kevin membukakan pintu taksi kepada Zira. Kevin memilih duduk di sebelah supir taksi. Taksi sudah pergi menuju bandara. Sesampai di bandara supir taksi membukakan pintu bagasi mobil dan Kevin membukakan pintu mobil untuk Zira. Pada saat momen seperti ini Zira mengingat kenangannya bersama Ziko. Di mana setiap turun dari mobil Ziko selalu mengulurkan tangannya. Tetapi beda dengan Kevin, dia tidak mengulurkan tangannya tapi sebagian kepalanya yang masuk. Tetapi momen itu tetap membuat Zira bersedih. Kevin masih menunggu di luar mobil. Zira belum juga kunjung keluar. Kevin memasukkan sebagian kepalanya, melihat Zira sedang melamun. " Nona." Ucap Kevin membuyarkan lamunannya. " Eh iya." Ucap Zira gugup. Mereka memasuki pintu keberangkatan. Selama perjalanan menuju ruang tunggu. Kevin selalu berada di belakang Zira. Dia tetap menjaga jarak. Mereka duduk di ruang tunggu hanya 20 menit, setelah ada informasi dari pihak bandara. Mereka masuk ke dalam pesawat bersama penumpang lainnya. Pramugari menunjukkan kursi mereka. Kevin memesan kelas bisnis untuk perjalanan mereka. Zira duduk di dekat jendela dan Kevin duduk bersebelahan dengan majikannya. Tapi Kevin merasa kurang pas jika dia duduk di sebelah Zira. Dia bertanya kepada pramugari yang sedang lewat di sampingnya. " Permisi mbak. Bisa saya pindah duduk ke belakang." Ucap Kevin menunjuk kursi di belakangnya. " Memangnya kenapa dengan kursi Bapak?" Ucap pramugari ramah. " Tidak apa-apa sih mbak, cuma saya ingin duduk di belakang saja." Ucap Kevin lagi. " Sebentar ya Pak, kalo tidak ada penumpang lainnya anda bisa duduk di belakang." Ucap Pramugari cantik itu. Kevin menganggukkan kepalanya. Dia masih melihat penumpang yang lalu lalang di sebelahnya. Tidak berapa lama ada seorang Bapak-bapak duduk di kursi belakangnya. Kevin bingung mau pindah ke belakang atau di sebelah Zira. Bolak-balik dia melihat ke belakangnya dan Zira memperhatikannya. " Kamu kenapa?" Ucap Zira sambil melihat kebelakang. " Eh enggak nona." Ucap Kevin gugup. Kevin masih saja melihat kebelakang. Dia merasa segan untuk duduk bersebelahan dengan Zira. " Kenapa kamu gelisah seperti itu duduk di sebelahku." Ucap Zira langsung. " Tidak nona saya tidak gelisah." Ucap Kevin cepat. " Kenapa dengan bokongmu? Apa kamu bisulan?" Ucap Zira pelan. " Tidak nona." Ucap Kevin cepat. Kru kabin atau pramugari yang bertugas pada penerbangan di sepanjang lorong pesawat, mempraktekkan demo keselamatan penerbangan atau safety briefing. Seperti sabuk pengaman, masker udara dan pelampung semua mereka praktekan. Kevin masih saja duduk gelisah. Dia tidak ingin duduk di sebelah Zira, dia mencari penumpang perempuan yang bisa di ajak bertukar tempat duduk. " Kamu kenapa sih? Apa kamu mau buang air besar." Ucap Zira cepat. Kevin lagi-lagi menggelengkan kepalanya. " Terus kenapa kamu seperti gelisah seperti itu?" Kevin memberanikan diri untuk bertanya kepada wanita di sebelahnya yaitu Zira. " Nona bagaimana kalau saya pindah ke belakang." Sambil menunjukkan kursi belakang. Ada perempuan paruh baya sedang duduk di sana. Zira melihat kearah yang di tunjuk Kevin. " Memangnya kenapa kalo duduk di sini?" Ucap Zira heran. " Hemmm saya kurang nyaman duduk di sini." " Maksudnya?" Heran. " Hemmm biasanya saya selalu duduk di belakang anda dan tuan muda, tapi sekarang saya harus duduk di sebelah anda. Saya merasa kurang pantas duduk di sebelah anda." Ucap Kevin pelan. Zira menghembuskan nafasnya. Dia salut dengan pemikiran Kevin. Dia selalu bisa menempatkan posisinya di mana saja. " Asisten Kevin, aku sekarang bukanlah majikanmu.Tidak perlu kamu merasa sungkan hanya untuk duduk di sebelah ku. Kamu harus membiasakan diri untuk selalu beradampingan denganku. Anggap saja kamu sedang menjaga seorang adik." Ucap Zira pelan. Kevin menganggukkan kepalanya. Dia akan menganggap Zira sebagai adiknya. Zira sengaja menyebutkan seperti itu. Agar Kevin tidak merasa sungkan dengannya, dan dengan seperti itu Kevin tidak akan mempunyai perasaan yang lebih kepadanya. Hanya perasaan sebagai seorang kakak dan adik. Ziko masih duduk di kamar, dia tidak makan selama dua hari. Pak Budi merasa khawatir begitupun dengan Zelin. Dia takut terjadi sesuatu dengan kakaknya. " Pak kita masuk saja ke kamar kak Ziko. Aku takut kak Ziko kenapa-kenapa." Ucap Zelin khawatir. Seperti yang sering di lihatnya di semua televisi nasional, banyak pemberitaan mengenai orang yang bunuh diri karena stres. Dan Zelin tidak mau hal itu terjadi dengan kakaknya. Pak Budi dan Zelin masuk ke kamar. Mereka melihat ruangan itu sudah berantakan. Baju Zira berserakan di mana-mana. Semua tidak pada tempatnya. Mereka menemukan Ziko berada di samping lemari. Dengan wajah yang berantakan dan pucat. " Kakak." Teriak Zelin. Pak Budi dan Zelin memapah Ziko ke kasur. Pak Budi langsung bertindak cepat menghubungi Dokter Diki. Kemudian dia menghubungi pelayan untuk menyiapkan makanan untuk Ziko. " Kakak jangan seperti ini." Ucap Zelin menangis sambil duduk di pinggir kasur. Zelin merasa sedih melihat keadaan kakaknya. Ini adalah kedua kalinya kakaknya mengalami stres seperti ini. Pertama karena putus dengan Sisil, dan yang kedua karena akan bercerai dengan Zira. Setelah beberapa menit, Dokter Diki datang dan langsung masuk ke kamar untuk memeriksa Ziko. " Bagaimana dok." Ucap Zelin khawatir. " Dia kekurangan cairan dan tubuhnya juga sangat lemas. Jadi dia harus di infus." Ucap Dokter Diki menjelaskan. Zelin hanya menganggukkan kepalanya. Yang terpenting adalah kesembuhan buat kakaknya. Dokter Diki memasangkan jarum infus kepunggung tangan temannya. Tidak ada penolakan sama sekali dari Ziko. Biasanya Ziko selalu berontak dengan jarum infus tapi hari ini dia bisa di ajak kerjasama. Ziko masih bisa melihat sekitarnya. Tapi dia tidak bisa berpikir dengan jernih, karena di dalam pikirannya hanya memori pada saat dia mengatakan kata cerai kepada Zira. " Saya akan menghubungi perawat untuk berjaga di sini." Ucap Dokter Diki sambil menghubungi perawatnya. Dia tidak mau hal ini terulang lagi. Masih ingat di benaknya ketika Ziko menarik jarum infus karena stres. " Baik dokter." Zelin masih melihat ponselnya. Dia masih menunggu kabar dari orang tuanya. Dia tidak bisa menghadapi kakaknya seperti ini. Hanya Nyonya Amel yang bisa mengatasi semuanya. Sama halnya seperti pada saat putus dengan Sisil. Nyonya Amel yang berperan penting untuk menyembuhkan Ziko. Dan Zelin berharap kakaknya bisa pulih dengan secepatnya. " Like komen dan vote yang banyak ya terimakasih." Chapter 189 episode 189 Pesawat yang di tumpangi Zira dan Kevin sudah mendarat. Kevin memanggil taksi yang berada di lokasi bandara. Seperti biasa Kevin memilih duduk di sebelah supir. Kevin menyebutkan alamat tujuan mereka yaitu apartemen Zira. " Bukan Pak, bukan ke situ tapi ke jalan xy." Ucap Zira cepat. Kevin yang berada di depan membalikkan badannya melihat ke Zira. Kevin mengernyitkan dahinya dari ekspresinya menunjukkan kalo dia bingung dengan alamat tersebut. Secara apartemen Zira bukan di jalan Xy. Menurutnya lebih baik dia mengikuti kemauan Zira. Supir sudah melajukan mobilnya menuju tempat tujuan. Mereka memasuki sebuah kawasan perumahan. Pak supir mengikuti instruksi dari Zira. Pak supir memberhentikan mobilnya ketika ada instruksi dari Zira. Mereka berhenti di sebuah rumah besar. Rumah itu lebih besar dari rumah Ziko. Pagarnya dan temboknya menjulang tinggi. Dan pohon-pohon besar berada di luar pagar dan di dalam pagar, membuat rumah itu terlihat sangat asri. Kevin melihat dari balik kaca jendela mobil. Dia masih bengong siapa pemilik rumah tersebut. Zira sudah turun terlebih dahulu dari kevin. Kevin masih diam di tempat. Zira mengetuk jendela kaca mobil sambil melambaikan tangannya agar Kevin turun mengikutinya. Kevin keluar dari taksi masih dengan semua hipotesanya. Di dalam pikirannya pasti pemilik rumah tersebut adalah orang hebat. Zira memencet bel dan melambaikan tangannya ke arah kamera. Di dekat kamera itu ada sebuah speaker dan tombol untuk bicara. Tidak berapa lama pintu pagar terbuka sendiri. Zira langsung masuk sambil menarik kopernya. Dari dalam, ada dua orang lari tergopoh-gopoh menyambut Zira dan yang satu membantu mengangkat kopernya. Kevin masih diam belum mengerti dengan keadaan di depannya. Di dalam rumah besar itu Zira di sambut dengan beberapa pelayan. Mereka langsung menghidangkan minuman dan makanan kecil kepada Zira. " Duduklah." Ucap Zira mempersilahkan Kevin untuk duduk. Kevin duduk di sebelah Zira. " Siapa pemilik rumah ini?" Ucap Kevin heran. Zira menunjuk kepada seseorang yang masuk ke dalam ruangan itu. " Apa dia pemilik rumah besar ini?" Ucap Kevin bingung. " Selamat pagi nona." Ucapan wanita paruh baya. Zira menganggukkan kepalanya sambil tersenyum. Sambil memperkenalkan Kevin kepada wanita tersebut. " Selamat pagi Nyonya, rumah anda sangat bagus sekali." Ucap Kevin sambil mengulurkan tangannya. Wanita paruh baya tadi tersenyum tipis. " Bukan Nyonya dan saya bukan pemilik rumah besar ini." Ucap wanita tersebut ramah. " Owh anda bukan pemiliknya jadi siapa pemiliknya? saya ingin memberikan pujian kepada pemiliknya." Kevin ingin memberikan pujian kepada pemiliknya karena pemiliknya mempunyai selera yang sangat bagus dari desain rumahnya dan semua furniture terlihat sangat elegan dan berkelas. " Anda bisa memberikan pujian kepadanya langsung." Ucap wanita tadi sambil menunjuk ke arah Zira. Kevin terbelalak tidak percaya. " Maaf nona bisa anda jelaskan dari mana semua kekayaan anda ini? Anda tidak memelihara tuyul kan?" Ucap Kevin penasaran. Karena setau dia kekayaan Eyang Mahesa berupa rumah sudah di jual. " Sudahlah tidak perlu kamu bertanya dari mana aku mendapatkan ini, yang jelas aku tidak memelihara tuyul apalagi korupsi cuma aku memelihara jin." Ucap Zira tersenyum, begitupun dengan pelayan yang berada di situ juga tersenyum. Rumah ini adalah rumah lain dari Eyang Mahesa. Rumah ini sudah ada ketika Bapaknya Zira lahir. Rumah ini merupakan harta warisan yang di berikan Eyang Mahesa kepada anaknya yaitu Azlan. Rumah tersebut hanya di jadikan sebagai rumah tinggal saja. Dan rumah itu memang sengaja tidak di jual karena memang tidak di izinkan eyangnya. Menurut eyangnya rumah itu pertinggal untuk cucunya. Walaupun rumah itu untuknya tapi Zira lebih suka tinggal di apartemen, karena memang dia suka kesederhanaan. " Nona kenapa anda lebih memilih tinggal di apartemen." " Sebelumnya kan sudah aku jelaskan. Apa kamu lupa?" Ucap Zira cepat. Kevin mencoba mengingat sesuatu tentang ucapan Zira pada saat waktu di perumahan X. " Iya saya ingat. Tapi?" Ucap Kevin menggantung. " Tidak perlu di pertanyakan lagi." Ucap Zira cepat. Zira sengaja kembali ke rumah tersebut agar dia bisa menghilang dari keluarga Raharsya. Dia tidak mau keberadaannya di ketahui Ziko dan keluarganya. Kevin tidak bertanya lagi mengenai hal-hal lainnya. Misteri nona Zira lama-lama terungkap. Nyonya Amel dan Tuan besar kembali ke tanah air. Seorang supir dan seorang bodyguard sudah menunggu mereka di sana. Mobil langsung melaju menuju ke mansion. Ziko masih terbaring dengan jarum infus di punggung tangannya. Zelin menemani kakaknya bersama dua orang perawat. Kedatangan Nyonya Amel di sambut Pak Budi dan pelayan lainnya. " Dimana Ziko?" Ucap Nyonya Amel cepat. " Tuan muda ada di kamarnya Nyonya." Ucap Pak Budi sambil membawakan koper ke dalam berserta pelayan lainnya. Nyonya Amel berlari menuju kamar anaknya. Betapa terkejutnya dia melihat anaknya terbaring dengan jarum infus. " Mama, kak Ziko." Ucap Zelin menyambut mamanya sambil menangis sesenggukan. " Apa yang terjadi dengan kakakmu?" Ucap Nyonya Amel cemas sambil memerintahkan dua orang perawat itu pergi ke luar kamar. Zelin menceritakan kembali tentang peristiwa ketika dia menguping hasil pembicaraan antara kakaknya dan dokter Diki. Dia juga menceritakan mengenai kakaknya yang tidak makan selama dua hari. Pada saat di Belanda Nyonya Amel sangat emosi dan ingin memarahi anaknya. Tapi melihat keadaan anaknya yang tidak berdaya, emosi Nyonya Amel luluh. Tuan besar masuk melihat keadaan anaknya. " Pak coba hubungi Kevin, kenapa dia tidak berada di samping anak kita ketika Ziko terpuruk." Ucap Nyonya Amel. Tuan besar menghubungi nomor asisten Kevin. Panggilan terhubung. Kevin yang sedang duduk kaget melihat nomor dari layar ponselnya ada nomor tuan besar. Kevin tidak menjawab panggilan tersebut dia malah meletakkan ponselnya di meja. Zira memperhatikannya. " Siapa yang menghubungi mu?" Ucap Zira penasaran. Kevin menunjukkan layar ponselnya. Zira pun langsung membuat praduga sendiri kalo Bapak mertuanya sudah kembali ke tanah air dan sudah mengetahui semua masalahnya. " Angkat dan ceritakan semuanya. Jangan sampai kamu di salahkan dalam peristiwa ini. Dan jangan bilang tentang keberadaan ku." Ucap Zira pelan. Kevin menganggukkan kepalanya. " Halo tuan besar." Ucap Kevin pelan. " Kamu di mana?" " Saya ada di rumah?" Ucap Kevin lagi. " Kenapa kamu tidak bersama anakku?" Ucap tuan besar lagi. " Maaf tuan." Kevin menceritakan kalo dirinya sudah keluar dari Raharsya group. Dan menceritakan semuanya tentang alasan dia keluar. " Kevin, aku mau kamu kembali ke sini sekarang. " Ucap tuan besar memberi perintah. " Maaf tuan saya tidak bisa kembali kesana, karena saya sudah bekerja dengan orang lain." Ucap Kevin berbohong. Dia mengerti lambat laun kebohongannya akan terbongkar karena Keluarga Raharsya dengan sangat gampang menyelidiki semuanya. Tuan besar terdiam, dan tidak bertanya lagi. Walaupun dia masih ingin Kevin berada di dalam Raharsya group. Tapi dia menerima keputusan Kevin. Dan dia paham keputusan yang di ambil asisten Kevin pasti dengan pertimbangan yang sangat berat. Karena dia paham tentang kesetiaan asisten Kevin kepada keluarga itu. " Baiklah, kalo begitu." Ucap Tuan besar menutup panggilannya. Zira ikut penasaran dengan pembicaraan Kevin dan mertuanya. " Ada apa?" Ucap Zira penasaran. Kevin menceritakan semuanya, tentang dia di suruh kembali ke Keluarga Raharsya. " Asisten Kevin kembalilah ke sana bagaimana pun kamu adalah bagian dari keluarga itu." Ucap Zira pelan. " Maaf nona, saya tidak bisa kembali ke sana." " Aku tau pasti kamu berat karena telah berjanji untuk menjagaku. Tidak usah kamu hiraukan tentangku. Aku bisa sendiri ada mereka semua di dekatku." Ucap Zira sambil menunjuk ke arah pelayan yang sedang bersih-bersih di rumahnya. " Maaf nona saya tidak akan kembali, keputusan saya sudah bulat." Ucap Kevin tegas. Zira tidak bisa memaksa Kevin untuk kembali kepada Keluarga Raharsya karena memang dia tidak punya hak sama sekali. Tuan besar merasa ada yang mencurigakan tentang ucapan Kevin, yang mengatakan kalo dia sudah bekerja dengan orang lain. Karena menurutnya asisten Kevin tidak terlalu gampang untuk menerima pekerjaan dari orang lain. Dia pasti akan melihat kredibilitas bosnya sebelum menerima tawaran itu. Dan menurut tuan besar ini terlalu cepat bagi seorang Kevin. Dan tuan besar akan menyelidiki hal ini. " Like komen dan vote yang banyak ya terimakasih." Chapter 190 episode 190 " Bagaimana pa?" Ucap Nyonya Amel. " Kevin sudah keluar dari Raharsya." Ucap Tuan besar. Nyonya Amel dan Zelin membelalakkan matanya karena tidak percaya. Mereka merasa asisten Kevin orang yang setia. " Idih kenapa sih asisten Kevin itu, di saat kak Ziko seperti ini, dia malah meninggalkannya." Gerutu Zelin. " Ini bukan salahnya tapi salah kakakmu." Ucap tuan raharsya sambil menunjuk ke anaknya Ziko. " Maksudnya papa apa?" Ucap Nyonya Amel Tuan besar kembali menceritakan semuanya. Dan menceritakan tentang asisten Kevin yang sudah bekerja dengan orang lain. " Ah itu alasan dia aja kali pa, buktinya cepat banget dia mendapatkan bos baru." Gerutu Zelin lagi. " Zelin, kita tidak boleh menuduh kalo belum ada bukti, kita harus menunggu penjelasan kakak mu, tentang keluarnya asisten Kevin." Ucap Nyonya Amel menenangkan anaknya. " Itu benar yang terpenting sekarang menunggu penjelasan dari kakak kamu, dan mama coba hubungi Zira. Ajak bertemu dan bicara kan baik-baik. Papa tidak mau ada perceraian." Ucap tuan besar. Nyonya Amel menganggukkan kepalanya. Dia mengambil ponselnya mencoba menghubungi menantunya. Beberapa kali di coba tapi tidak bisa terhubung. " Kenapa ma?" Ucap Zelin. " Nomor mama tidak bisa masuk sama sekali, seperti di alihkan terus. Coba kamu yang menghubungi?" Ucap Nyonya Amel memerintahkan anaknya. Zelin menghubungi nomor kakak iparnya. Dan sama semua nomor ponsel keluarga Raharsya sudah di blokir sama Zira. Zira tidak mau berhubungan lagi dengan keluarga itu. " Enggak bisa juga loh ma." Gerutu Zelin. " Sepertinya nomor kita semua sudah di blokir Zira." Ucap tuan besar. " Terus bagaimana cara kita bertemu dengan kakak ipar ma?" Rengek Zelin. Nyonya Amel memikirkan sesuatu. Di dalam pikirannya Nyonya Amel yang pertama yaitu bertemu Zira di butik. " Kita bisa bertemu dia di butik." " Kalo kak Zira ada di butik, kalau engkau ada bagaimana?" Ucap Zelin khawatir. Dia juga tidak menginginkan kakaknya bercerai. Dia sudah merasa nyaman dengan Zira. " Nanti mama pikirkan lagi." Ucap Nyonya Amel. Nyonya Amel sudah merencanakan akan mengirimkan orang untuk menyelidiki keberadaan Zira jika menantunya tidak ada di butik. Tuan besar keluar dari kamar. Ada sesuatu pekerjaan yang harus di selesaikannya. Nyonya Amel duduk pinggir kasur. Sambil mengelus tangan anaknya. Dia merasa sedih melihat anaknya tergeletak seperti itu. Tidak terasa bulir air matanya keluar dari ujung matanya. " Zira, Zira." Ucap Ziko sambil mata tertutup. Nyonya Amel langsung menenangkan anaknya. Ziko sedang mengigau dengan menyebutkan nama istrinya. " Ma, kenapa kak Ziko mengigau seperti itu? Bukannya Kak Ziko yang memutuskan perceraian ini tapi kenapa Kak Ziko yang stress seperti ini. " Mungkin bukan Ziko aja yang stres, mungkin kakak ipar kamu juga stres, tapi karena kita tidak tau saja." " Tapi ya ma, kalo menurut aku, kalo mereka berdua stres berarti mereka masih saling mencintai, benar enggak ma?" Ucap Zelin cepat. Nyonya Amel mengangguk-anggukan kepalanya. Ucap anak perempuannya benar. Dan dia akan menyatukan kembali pernikahan anaknya. Tuan besar menghubungi orang kepercayaannya untuk menyelidiki Kevin. Tuan besar ingin mengetahui siapa bosnya Kevin dan ingin mengetahui apakah mantan asistennya membongkar atau membocorkan semua rahasia Rahasrya group. Zira masih menunggu kedatangan pengacaranya di ruang keluarga. Ada seorang pelayan yang sedang memijat kepala Zira. " Nona anda istirahat saja. Saya yang akan menunggu pengacara itu di sini." Kevin tidak tega melihat Zira seperti itu. " Asisten Kevin, aku bisa minta tolong." Ucap Zira dengan mata tertutup karena sedang di pijat kepalanya. " Ya nona." Ucap Kevin cepat. " Bisa kamu urus barang-barang aku di apartemen. Kamu bisa minta tolong pelayan di sini." Ucap Zira. Dia mau semua barangnya di ambil dari apartemen, karena dia tidak akan pernah kembali ke sana. " Baik saya akan mengerjakannya." Ucap Kevin cepat. Kevin sudah beranjak dari kursinya tapi Zira menahannya dengan ucapannya. " Tunggu, aku belum bertanya berapa gaji yang aku berikan kepadamu." Ucap Zira cepat. Kevin menolehkan kepalanya cepat ke arah Zira. Dia merasa tersinggung dengan pertanyaan Zira. " Maaf nona saya membantu anda bukan karena uang, saya tidak meminta sepeserpun uang anda. Saya hanya ingin anda senang. Itu saja." Ucap Kevin tegas. Kevin memang tidak membutuhkan uang. Walaupun dia tidak sekaya dan sehebat Zira dan Ziko. Tapi dia juga lumayan tajir. Dia mempunyai beberapa tempat fitness dan beberapa super market yang tersebar di kota itu. Semuanya dia kumpulkan dari gajinya selama di Raharsya group. Sebenarnya dia sudah lama membuat usahanya dan semua dari gajinya. Dulu dia pernah berpikir akan keluar dari Raharsya group dan memulai usahanya sendiri, kalo dia sudut tua. Tapi kenyataannya usianya yang masih matang belum tua, dia sudah meninggalkan keluarga Raharsya. " Maaf asisten Kevin kalo saya telah menyinggung anda." Ucap Zira tidak enak hati. " Saya permisi dulu." Ucap Kevin cepat meninggalkan majikan barunya sambil mengajak beberapa pelayan untuk membantunya. Zira masih tidak enak hati karena telah menyinggung Kevin dengan ucapan gaji. Dia hanya melakukannya seperti orang-orang pada umumnya, yang memberi upah atau gaji kepada pekerjanya. Dan menurutnya Kevin sebagai pekerjanya. " Mana mungkin aku tidak memberikan gaji kepadanya. Walaupun dia tidak menerima aku akan memaksanya." Gumam Zira. Seorang pelayan datang menghampiri Zira. " Mbak ada tamu." Ucap pelayan tadi. " Siapa?" Ucap Zira cepat. " Katanya pengacara." Ucap pelayan tadi cepat. " Perintahkan saja masuk." Zira membetulkan rambutnya yang sudah semberaut karena habis di pijat. Dia memerintahkan pelayan yang memijatnya meninggalkannya. " Selamat siang mbak Zira." Ucap pengacara itu sambil mengulurkan tangannya. " Siang." Ucap Zira membalas uluran tangan pria tersebut. Pengacara itu memberitahukan niat kedatangannya ke situ. Yaitu untuk mengambil beberapa berkas yang di perlukannya. Seperti buku nikah, kartu identitas dan lainnya. Zira menyerahkan beberapa dokumen yang masih ada bersamanya. Yaitu kartu identitas tapi untuk buku nikah dia menyimpannya di apartemen. " Pak untuk buku nikah nanti menyusul. Buku itu sekarang tidak ada di tempat." Ucap Zira cepat. " Iya tidak apa-apa, buku nikah memang merupakan syarat administrasi yang harus dilengkapi." Pengacara menulis beberapa berkas, persyaratan pengajuan perceraian. " Nona bagaimana dengan harta gono-gini." Ucap pengacara itu. " Saya tidak mau itu di lampirkan di sana. Saya hanya mau pisah saja." Ucap Zira yakin. " Baiklah." Pengacara mengikuti permintaan kliennya. Kevin pergi menggunakan mobil Zira lainnya. Mereka sampai di depan apartemen. Tapi Kevin merasa ada yang mencurigakan, sebuah mobil hitam sedang parkir tidak jauh dari apartemen itu. Dan asisten Kevin kenal dengan orang yang berada di mobil itu. Mereka adalah orang-orang Raharsya group. Kevin memikirkan cara bagaimana agar dia masuk ke dalam apartemen itu. " Kenapa kita belum turun Pak?" Ucap salah satu pelayan. " Sepertinya ada yang sedang mengintai apartemen ini." Ucap Kevin pelan. Pelayan melihat ke arah semua jalan. Mereka mencari tau siapa yang sedang mengintai apartemen itu. " Yang mana Pak?" Ucap seorang pelayan. Kevin tidak menjawab, dia tidak mau pelayan itu tau dimana si pengintai itu berada. Dia khawatir kalo pelayan-pelayan itu tau. Pasti mereka bertindak agak kaku. Ternyata Nyonya Amel sudah bertindak cepat dengan mengirimkan orang-orangnya. " Like komen dan vote yang banyak ya terimakasih." Chapter 191 episode 191 Kevin tidak mungkin masuk ke dalam apartemen. Pasti dua orang itu akan merasa curiga kepadanya. " Kalian yang pergi ke apartemen nona Zira. Semua dokumen yang penting bawa. Seperti baju juga bawa." " Bapak enggak ikut." Ucap pelayan yang duduk di sebelah Kevin. " Tidak, saya berjaga di sini saja." Ucap Kevin memberikan kunci apartemen Zira. Beberapa orang pelayan itu keluar dari mobil. Mereka langsung masuk ke dalam apartemen. Kevin memperhatikan dari kaca spion. Melihat apakah dua orang yang berada di mobil itu curiga dengan beberapa orang yang baru keluar dari mobil. Dari kaca spion Kevin bisa melihat kalo dua orang itu tidak curiga apalagi bertindak. Mereka hanya asik mengobrol satu sama lain. Tidak beberapa lama seorang pelayan membawa dua koper. Pelayan tadi langsung memasukkan koper ke bagasi. Dan dia kembali duduk di kursi belakang. Beberapa menit kemudian datang lagi seorang pelayan dengan membawa box. Dan beberapa menit kemudian datang lagi dua orang dengan membawa sisa-sisanya. Kevin melihat dua orang itu mulai tampak curiga. " Apa tidak ada yang tertinggal lagi?" Ucap Kevin sambil melirik kaca spion. Satu orang pria yang berada di mobil itu turun dan berjalan menghampiri mobil yang di kendarai Kevin. Sebelum sampai orang itu menghampiri mobil, Kevin sudah menyalakan mesin mobil dan melaju dengan cepat. Orang tadi kembali berlari ke mobil dan memerintahkan temannya untuk mengejar mobil yang melaju kencang. " Kejar mobil itu." Ucap pria tadi. Mobil langsung mengejar mobil Zira. Mereka dapat melihat mobil itu dari balik mobil lain. Pelayan yang berada di mobil merasa takut dengan cara mengemudi Kevin yang seperti pembalap. " Sepertinya itu suruhan nona Zira." Ucap salah satu pria. Pria yang satunya menganggukkan kepalanya. Kevin mencari celah agar dia tidak di ikuti orang-orang itu. Mereka melakukan kejar-kejaran di jalan raya. " Pak sebentar lagi traffic light. Kita bisa ketahuan sama mereka." Ucap salah satu pelayan yang duduk di belakang sambil melihat kaca belakang mobil. Dalam hitungan detik traffic light akan berwarna merah. Dan Kevin langsung menekan pedal gasnya dengan kencang. Mereka lolos dari kejaran mobil itu. Mobil yang mengikuti mereka harus berhenti karena lampu sudah berwarna merah. Si pengemudi memukul setir mobil berulang-ulang dengan tangannya. Karena target incaran mereka bisa lepas. " Kamu sudah mencatat plat nomor tadi." Ucap si pengemudi. " Sudah." Ucap si pria yang duduk di sebelahnya, sambil menunjukkan ponselnya. " Sebaiknya kita kembali ke masion. Kita harus menginformasikan ini kepada Nyonya besar." Ucap si pengemudi dan temannya menganggukkan kepalanya tanda setuju. Pelayan yang duduk di mobil mengelus dadanya karena mobil sudah melaju normal. " Siapa orang-orang tadi Pak?" Ucap pelayan yang duduk di sebelah Kevin. Pelayan yang duduk di belakang Kevin menimpali pertanyaan temannya sambil membuat hipotesisnya sendiri. " Mungkin musuhnya nona Zira." Ucap Pelayan itu. Kevin tidak bisa menyimpulkan apakah dua orang itu musuh Zira atau teman. Yang terpenting menurutnya menghilang seperti ucapan Zira. Mobil telah sampai di rumah besar itu. Yaitu kediaman Zira. Pelayan turun dari mobil dengan membawa beberapa barang Zira. Kevin ikut masuk ke dalam. Di dalam dia tidak melihat keberadaan Zira. Dia duduk di ruang tamu. Seorang pelayan menghampirinya dan menawarkan minuman kepadanya. " Mau minum apa Pak?" Ucap Pelayan ramah. " Minuman dingin saja. Nona Zira kemana?" Ucap Kevin sambil melihat sekeliling ruangan. " Nona Zira lagi berbaring di kamarnya, katanya pusing." Ucap pelayan tadi menjelaskan. Kevin menganggukkan kepalanya mengerti kalau orang hamil muda akan seiring mengalami namanya pusing. " Apa mau saya panggilkan?" Ucap Pelayan tadi. " Tidak usah. Saya tunggu saja di sini." Ucap Kevin cepat. Pelayan tadi meninggalkan Kevin yang sedang duduk santai. Ziko sudah bisa membuka matanya secara perlahan. Nyonya Amel merasa senang dapat melihat anaknya kembali. " Mama?" Ucap Ziko sambil duduk dari posisi berbaringnya. Ziko melihat tangannya ada jarum infus. " Berbaringlah." Ucap Nyonya Amel sambil memegang bahu anaknya agar kembali berbaring. Ziko kembali berbaring. Nyonya Amel menyuapkan makanan ke mulut Ziko. Nyonya Amel belum mau menyinggung tentang permasalahan anaknya. Dia mau anaknya pulih terlebih dahulu. " Kapan mama datang." Ucap Ziko sambil mengunyah makanannya. " Sudah beberapa jam mama datang." Ucap Nyonya Amel sambil menyuapi anaknya lagi. Ziko berpikir secepat itu orang tuanya datang. Menurutnya apakah semua karena kebetulan atau karena ada aduan dari orang dalam tentang kondisi dia. " Mama aku mau bercerai dengan Zira." Ucap Ziko pelan. Nyonya Amel meletakkan sendok di atas piring. Dia tidak mau membicarakan hal ini tapi anaknya sudah mengutarakan niatnya. Jadi mau tidak mau Nyonya Amel ikut ambil bicara. " Iko, apakah kamu yakin dengan keputusan mu." Ziko menganggukkan kepalanya yakin. " Iko apa kamu mengambil keputusan ini dengan keputusan matang." Ucap Nyonya Amel pelan. Ziko sudah bisa menyimpulkan kalo mamanya sudah mengetahui tentang rencana mau bercerai. Karena dari ekspresi mamanya tidak ada rasa kaget sama sekali. Dan dia sudah menduga ada yang memberitahukan hal ini kepada orang tuanya. " Dari mana mama tau tentang rencana perceraianku." Ucap Ziko penasaran. " Tidak perlu kamu tahu, dari mana mama dapat informasi ini. Cuma mama hanya mau kamu mempertimbangkannya." Ucap Nyonya Amel dengan intonasi yang rendah. " Mama aku sudah mempertimbangkan, papa dan mama tidak bisa menghalanginya niatku." Ucap Ziko dengan intonasi tinggi. Ingin rasanya Nyonya Amel ikut marah tapi dia masih sadar dengan kondisi anaknya. " Terserah kalo kamu mau bercerai. Tapi satu yang mama minta. Buktikan sama mama kalo di antara kalian siapa yang mandul." Ucap Nyonya Amel tegas. " Baik aku akan buktikan ucap Ziko yakin." Nyonya Amel tidak bisa mengerti dengan jalan pikiran anaknya, sebelum kepulangannya ke tanah air, Ziko stres tapi sekarang anaknya seperti tidak mengalami stres. Dan Nyonya Amel curiga apakah ini hanya akal-akalan Ziko agar dirinya dapat dukungan dari orang tuanya. Karena kalo dia stres pasti orang tuanya akan menolak rencana cerainya. Bagaimanapun Nyonya Amel tidak akan pernah setuju dengan rencana anaknya. Dia hanya mengalah untuk beberapa saat karena kondisi anaknya. Tidak beberapa lama pintu kamar di ketuk. " Masuk." Ucap Nyonya Amel. Ada Pak Budi berada di depan pintu sambil memegang handel pintu. " Maaf Nyonya ada Karyo dan Samin di luar. Mereka mau bertemu dengan Nyonya." Ucap Pak Budi. " Mama keluar dulu ya." Ucap Nyonya Amel sambil beranjak dari kasur. " Ma, apa ini sudah boleh aku lepas." Ucap Ziko menunjuk jarum infus yang ada ditangannya. " Tunggu Dokter Diki." Ucap Nyonya Amel. Pak Budi menutup pintu kamar dan mengikuti majikannya dari belakang. " Pak." Ucap Nyonya Amel sambil membalikkan badannya ke arah Pak Budi. " Jaga Ziko, saya enggak mau dia mencabut jarum infus itu lagi." Pak Budi menganggukkan kepalanya dan kembali ke kamar Ziko. Di ruang tamu ada dua orang yang sedang berdiri menunggu Nyonya Amel. Mereka sedang berbicara panjang lebar dengan tuan besar. " Ada apa?" Tanya Nyonya Amel. Dua orang yang mengintai apartemen Zira bernama Karyo dan Samin. Mereka di tugaskan Nyonya Amel untuk mengawasi apartemen. Dan salah satu dari mereka yang bernama Karyo menceritakan tentang kecurigaan mereka pada satu mobil. " Bagaimana kamu bisa curiga kalo mobil itu orang suruhan Zira." Ucap Nyonya Amel penasaran. Yang bernama Samin menceritakan tentang beberapa orang yang mengenakan pakaian pelayan masuk ke dalam mobil sambil membawa beberapa barang. Dia juga yang turun dari mobil untuk menghampiri mobil yang di curigainya. " Bisa jadi itu orang suruhan Zira." Ucap tuan besar ikut ambil bicara dalam permasalahan itu. Nyonya Amel merasa ada yang janggal tentang semuanya. " Tapi menurut mama, kalo memang Zira kenapa dia menyuruh pelayan untuk mengambil semua barangnya. Bukannya dia hanya tinggal di apartemen." Ucap Nyonya Amel penasaran. Tuan besar mengangkat kedua bahunya memberikan isyarat kalau dia juga tidak bisa menyimpulkan apapun. " Apa kalian ada mencatat nomor platnya?" Ucap Nyonya Amel. Pria yang bernama Samin menyerahkan ponselnya dan menunjukkan sebuah foto, di dalam foto itu ada sebuah nomor plat di situ. " Pa coba lihat?" Ucap Nyonya Amel menunjukkan ponsel Samin. Tuan besar mencoba mengingat dan memahami nomor plat tersebut. Nomor itu hanya mempunyai satu angka. Dan biasanya yang mempunyai nomor plat satu angka adalah orang-orang dari kalangan atas. Karena mereka memesan nomornya sendiri. Plat itu bertuliskan MH 3 SA. " Like komen dan vote yang banyak ya terimakasih." Chapter 192 episode 192 " Bagaimana Pa? Apa papa mengerti dengan nomor plat itu." Ucap Nyonya Amel. " Hemmm, sepertinya ini di pesan oleh seseorang, dan ini seperti inisial nama seseorang. Tapi biar lebih jelas kita akan bertanya kepada kepala polisi di kota ini." Ucap Tuan besar. Tuan besar mengambil ponselnya dan membuka daftar kontak. Tuan besar menghubungi kepala kantor polisi. Panggilan terhubung beberapa saat. " Selamat sore Bapak polisi." Ucap tuan besar Bapak polisi menjawab sapaan tuan besar, mereka mengobrol tentang lain hal sebelum masuk ke pokok inti. Hampir semua orang penting di kantor polisi kenal dengan Keluarga Raharsya. " Begini Pak saya mau minta bantuan sama Bapak." Ucap Tuan besar. " Bantuan apa itu Pak?" Ucap Bapak kepala kepolisian. Tuan besar menyebutkan nomor plat yang ada di ponsel Samin. " Bapak mau saya mengecek pemiliknya atau yang lainnya?" Ucap Bapak Kepala kepolisian. " Boleh juga Pak. Kalo bisa sama alamatnya." Ucap tuan besar lagi. " Hemmm apakah Bapak ada masalah dengan nomor polisi itu?" Ucap Bapak Kepala kepolisian. " Owh tidak, saya hanya ingin membeli mobilnya. Dan saya hanya ingin bertemu dengan pemilik aslinya." Ucap Tuan besar berbohong. Panggilan terputus, Bapak kepala kepolisian meminta waktu untuk mengecek nomor polisi tersebut. " Bagaimana pa?" Ucap Nyonya Amel penasaran. " Bapak Kepolisian akan mengecek terlebih dahulu. Nanti beliau akan menghubungi kembali." Ucap Tuan besar lagi. Dari luar datang seseorang yang mereka kenal. Yaitu Dokter Diki. Dia akan memeriksa pasiennya yaitu Ziko. " Selamat sore tante, om." Ucap Dokter Diki menyapa pemilik mansion. " Selamat Sore dokter." Ucap kedua orang tersebut secara bersamaan. " Saya mau memeriksa Ziko." Ucap Dokter Diki . Nyonya Amel mengantarkan Dokter Diki ke kamar anaknya. " Silahkan." Ucap Nyonya Amel mempersilahkan masuk. Nyonya Amel meninggalkan mereka. Di dalam kamar ada Ziko dan dua orang perawat jaga. " Bagaimana keadaan kamu Ko?" Ucap Dokter Diki sambil memeriksa perut pasiennya dengan stateskop. " Aku sudah baikan. Aku ingin benda ini di lepas." Ucap Ziko cepat. Dokter Diki tidak menjawab permintaan temannya. Dia malah mengajukan beberapa pertanyaan kepada temannya. Pertanyaan umum yang sering di ajukan seorang dokter ketika hendak memeriksa pasiennya. " Bagaimana perut kamu? Apa masih sakit?" Ucap Dokter Diki sambil menekan bagian perut pasiennya. Semua di periksa dokter Diki. " Bagaimana aku sudah sembuh kan?" Ucap lagi. Dokter Diki menganggukkan kepalanya. Dan memerintahkan perawat untuk membuka jarum infus. Dokter Diki memerintahkan dua orang perawat itu untuk kembali ke rumah sakit setelah membuka jarum infus. " Ko, jangan bertindak bodoh lagi." Ucap Dokter Diki. Ziko sadar dia telah berbuat bodoh untuk dirinya. Ziko tidak menjawab ucapan temannya. " Ki, aku mau periksa kesuburan." Ucap Ziko pelan. " Maksud mu? cek mandul atau tidak seperti itu?" Ucap Dokter Diki lagi meyakinkan temannya. Ziko menganggukkan kepalanya. " Baiklah, aku akan mengatur jadwalnya. Kenapa kamu tiba-tiba mau mengecek kesuburan?" Dokter Diki merasa penasaran karena sebelumnya dia sudah mengutarakan niatnya tapi di bantah dan di marahi oleh temannya. Tapi sekarang dengan sukarela Ziko menawarkan dirinya untuk melakukan pengecekan. " Ko, Maaf sebelumnya. Apa kamu tetap akan bercerai dengan Zira." Ucap Dokter Diki pelan tanpa maksud menyinggung perasaan temannya. " Ya aku akan bercerai dengannya." Ucap Ziko tegas sambil menatap langit-langit kamar. " Tapi Ko kalo seandainya kamu yang mandul, bagaimana?" Dokter Diki khawatir kalo dirinya akan menjadi bahan amukan temannya. " Tetap, aku akan tetap bercerai." Ucap Ziko cepat. " Tapi kenapa Ko? Apa begitu kuat keinginanmu untuk bercerai." Ziko menatap temannya. Dia tidak bisa mengatakan apakah dia yakin dengan keputusannya atau tidak. " Kalo aku mandul, tidak mungkin aku melanjutkan pernikahan ini. Karena kepala rumah tangga tidak bisa memberikan keturunan merupakan hal yang memalukan bagiku." " Kalo seandainya kalian berdua tidak mandul, apa kamu tetap mau bercerai?" Ziko tidak bisa menjawab. Dia juga tidak bisa melihat kemungkinan yang terjadi di depannya. " Entahlah." Ucap Ziko ragu. " Saran ku ada baiknya kamu bicara ini lagi dengan Zira. Seandainya kalian pun ingin berpisah tapi berpisahlah secara baik-baik, jangan ada permusuhan di antara kalian berdua. Ucapan Dokter Diki semuanya benar. Seharusnya dia membicarakan hal ini baik-baik dengan Zira. Dia masih ingat di dalam benaknya ketika Zira menyiramkan minuman ke wajahnya. Dari situ Ziko mengambil keputusan kalo perang di antara mereka telah di mulai dan semua karena ulahnya. Dokter Diki kembali ke rumah sakit setelah berbincang-bincang dengan temannya. Zira turun dari lantai atas. Dia melihat asisten Kevin tertidur di sofa ruang tamu. Zira menghampiri pria yang tidur di sofa. Zira pura-pura batuk agar Kevin terbangun. Dan betul sekali, dengan sekali batuk asisten Kevin sudah terbangun. " Maaf nona saya ketiduran." Ucap Kevin dengan suara serak bangun tidur sambil menurunkan kakinya dari sofa. " Tidak apa-apa." Zira duduk di seberang Kevin. " Nona, semua barang sudah di ambil. Tapi tadi ada sedikit masalah." Ucap Kevin cepat. " Masalah apa?" Penasaran. " Orang-oranga Raharsya sudah mengintai apartemen nona." Ucap Kevin cepat. " Apa?" Ucap Zira kaget. " Sepertinya nona harus mengganti plat nomor." Ucap Kevin cepat memberi saran. Karena dia yakin lambat laun pasti keberadaan Zira akan di ketahui oleh keluarga Raharsya. Zira mondar mandir sambil memikirkan sesuatu. " Saran kamu betul, tapi aku tidak akan mengganti nomor plat itu." Ucap Zira cepat. " Tapi nona bagaimana kalo Keluarga Raharsya datang ke sini." Kevin sudah bisa membayangkan akan kedatangan Keluarga Raharsya ke kediaman Zira. " Biakan mereka datang, akan aku ladeni." Ucap Zira yakin. " Nona saya khawatir dengan anda." Ucap Kevin cepat. " Tidak perlu kamu khawatirkan aku, apa kamu lupa kalo aku pasukan Avengers." Ucap Zira mantap. " Iya nona saya yakin anda pasukan Avengers, tapi pasukan Avengers tidak ada yang hamil. Apa nona sudah minta izin cuti sama kapten Amerika." Ucap Kevin asal agar Zira terhibur. Zira tertawa mendengar izin cuti. Kevin dapat menghiburnya, dia dapat tertawa lepas. Setelah beberapa hari penuh air mata hari ini dia bisa tertawa lebar. Zira tiba-tiba merasa mual. Dia berjalan cepat ke kamar mandi sambil menutup mulutnya. Dan Kevin mengikutinya dari belakang. Dari luar Kevin dapat mendengar suara mual Zira. Setelah beberapa saat muntah Zira keluar dengan wajah yang pucat. Tanpa sadar Kevin memapah Zira untuk duduk di sofa. Kevin tersadar dan langsung melepaskan pegangannya dari lengan dan bahu Zira. " Nona apa mau saya ambilkan sesuatu?" Ucap Kevin cepat. " Hemmmmm, aku pengen mangga muda." Ucap Zira cepat. " Baiklah saya akan membelinya di super market." Ucap Kevin cepat hendak pergi. Dia memilih super market karena pasar jam-jam sore seperti ini sudah banyak tutup. Menurutnya di supermarket dia bisa memilih beranekaragam buah. " Hahaha." Zira kembali tertawa. " Kenapa anda tertawa." Ucap Kevin bingung. " Aku enggak mau mangga yang di beli, aku mau mangga yang langsung di petik dari pohonnya." Kevin membelalakkan matanya tidak percaya. Di dalam benaknya kemauan orang hamil sangat susah di nalar akal sehatnya. Dia tidak tau harus mencari pohon mangga di mana. Tuan muda kenapa bukan anda saja yang berada di posisi ini. Aku ingin menyerah, lebih baik aku memukuli penjahat dari pada memenuhi permintaan istri anda. " Like komen dan vote yang banyak ya terimakasih." Chapter 193 episode 193 Kevin pergi mencari mangga muda. Dia tidak tau harus mencari kemana, yang penting jalan saja menurutnya. Didalam benaknya semoga Zira menemukan Hidayah, tidak ngidam yang aneh-aneh. Kevin melihat sepanjang jalan yang ada pohon mangga. Banyak pohon mangga di sekitar perumahan itu tapi belum ada buahnya. Ada yang berbuah tapi sudah matang. Tapi dia memberanikan diri untuk meminta kepada pemiliknya. Menurutnya yang penting mangga. " Permisi." Ucap Kevin dari luar pagar. Secara berulang dia berteriak memanggil pemilik rumah. Beberapa saat kemudian ada wanita paruh baya, keluar dari pagar. " Ada apa mas?" Ucap si wanita tersebut. " Ibu boleh saya minta buah mangganya." Ucap Kevin cepat. Si Ibu memperhatikan penampilan pria yang ada di depannya. Penampilannya terlihat orang berduit dan dia melirik ada mobil yang parkir di depan pagarnya. " Di pasar kan banyak." Ucap Ibu itu ketus. " Iya Bu di pasar banyak apalagi di supermarket banyak, tapi kalo yang masih bergantung di atas pohon sedikit bu." Ucap Kevin cepat. Di dalam pikiran Ibu itu. Kalau Kevin orang kaya kere. Karena tidak mampu untuk membeli buah mangga. Ibu itu menutup pagarnya. Dia tidak ingin memberikan mangganya kepada orang kaya itu yaitu Kevin. " Bu, kalo ibu tidak mau memberikan saya buah mangga itu. Bagaimana saya beli semua buah yang ada di pohon ibu." Teriak Kevin dari balik pagar. Ibu itu kembali membuka pagarnya dengan senyum pasta gigi. " Yakin mau beli semua buahnya." Ucap Ibu itu lagi. Kevin langsung mengangguk-anggukan kepalanya cepat. Ibu itu membuka pintu pagarnya dan mempersilahkan Kevin untuk masuk. Ibu itu menunjukkan pohon mangganya. " Yang itu Bu?" Ucap Kevin ragu. Si Ibu menganggukkan kepalanya. Kevin langsung mengambil semua mangga yang ada di atas pohon itu. Si ibu tersenyum saja, yang penting menurut mangganya berubah menjadi uang. Kevin kembali ke rumah Zira dengan membawa sebungkus buah mangga. Zira sedang duduk di kursi makan sambil mengobrol dengan pelayananya. " Selamat malam nona. Ini permintaan calon anak anda." Ucap Kevin sambil meletakkan sebungkus buah mangga ke atas meja makan. Dengan cepat Zira membuka plastik tersebut. Dia mengeluarkan semua yang ada di dalam plastik tersebut. Sambil mengernyitkan dahinya. " Yang mana mangga mudanya?" Ucap Zira heran sambil memegang buah mangga. " Yang ini kan mangga muda nona." Ucap Kevin menunjuk buah mangga. Zira menepuk dahinya. " Asisten Kevin kalo yang kuning ini namanya mangganya sudah tua, tapi kalo yang ini namanya cucu mangga." Ucap Zira cepat. Kevin memang membawa buah mangga yang tua dan buah mangga yang kecil. " Tapi menurut saya itu masih muda nona, karena dari usia masih balita." Ucap Kevin polos sambil memegang buah mangga yang kecil-kecil. " Nona mau buah mangga muda? Di belakang ada pohon mangga." Ucap Pelayan yang berdiri di sebelah Zira. Pelayan pergi ke belakang untuk mengambil buah mangga muda. Kevin langsung terduduk lemas. Sudah koyak dompetnya karena ide si Ibu menawarkan kepadanya untuk membawa mangga kecil-kecil itu. " Maaf asisten Kevin, aku enggak tau kalo di belakang ada pohon mangga." Ucap Zira enggak enak hati. Tuan muda anda di mana? Dengarkan permintaan buah hati anda. Ziko sudah mulai pulih badannya. Dia merasa sudah bisa bergabung makan malam dengan keluarganya. Walaupun masih teringat bayang-bayang Zira ketika duduk di sebelahnya, tapi dia berusaha untuk melupakan secara perlahan. Pak Budi beserta pelayan lainnya menghidangkan semua makanan di atas meja makan. " Ko, coba kamu lihat ini semua makanan kesukaan mu." Ucap Nyonya Amel. Semua sudah berkumpul dan meletakkan hidangan ke dalam piringnya masing-masing. Tapi Ziko masih terdiam tanpa melakukan apapun. Nyonya Amel menegur anaknya walaupun dia telah melanggar peraturan pada saat di meja makan. " Iko kenapa enggak makan." Tuan besar melirik ke arah istrinya karena telah melanggar aturan yang di buatnya. Ziko tidak berkata-kata lagi, dia berlari ke kamar mandi. Dan memuntahkan semua yang ada di dalam perutnya. Semua yang ada di meja makan saling pandang. Mereka berasumsi kalo Ziko sedang masuk angin, karena dua hari tidak makan. " Pak Budi suruh saja Iko istirahat, dan bawakan makanan untuk nya ke kamar." Ucap Nyonya Amel cepat. Pak Budi menunggu di depan kamar mandi. Beberapa menit kemudian Ziko keluar. Pak Budi memberikan tisu kepada majikannya. " Sebaiknya tuan muda beristirahat saja. Nanti saya akan membawakan makanan untuk tuan muda." Ucap Pak Budi. " Saya tidak mau makan, tapi saya ingin makan buah mangga." Ucap Ziko cepat sambil berjalan ke lantai atas menuju kamarnya. Sesuai permintaan majikannya. Pak Budi membawakan berbagai macam jenis buah mangga. " Ini buah mangganya tuan muda." Ucap Pak Budi menyodorkan satu buah mangga. Ziko melirik buah mangga itu. Dari lirikannya Pak Budi menyimpulkan kalo majikannya tidak suka buah mangga itu. Pak Budi menyodorkan satu persatu buah mangga yang ada di dalam keranjang buah. " Tidak, aku tidak suka yang berwarna kuning. Aku suka yang hijau." Ucap Ziko. Pak Budi menyerahkan mangga yang berwarna hijau. Walaupun kulitnya berwarna hijau tapi rasanya buah mangga itu sangat manis. Pak Budi membantu mengupas mangga itu, dan menyerahkan kepada majikannya. Ziko mencicipi mangga itu, tapi dia langsung melepehkan buah mangga itu dari dalam mulutnya. " Kenapa tuan? Apa mangganya tidak manis?" Ucap Pak Budi heran. " Mangganya manis tapi saya mau yang asem." Ucap Ziko cepat. Pak Budi mengerti, menurutnya lidah Ziko pahit makanya majikannya meminta buah yang asem. " Baik saya akan membeli buah mangga muda." Ucap Pak Budi cepat sambil berjalan menuju pintu. " Pak aku mau buah mangga yang di petik dari pohonnya." Ucap Ziko cepat. Pak Budi agak heran dengan permintaan tuannya yang aneh. Tapi dia bersyukur dengan seperti itu dia tidak perlu pergi keluar untuk mencari mangga muda. Dia bisa mengambil nya dari taman belakang " Baik tuan." Ucap Pak Budi. Pak Budi pergi ke taman belakang melewati meja makan. Dia melihat majikannya sedang menikmati makan malamnya. Pak Budi pergi ke taman sambil membawa senter, dia memilih buah mangga yang bisa di jangkau tangannya tanpa harus memanjat. Pak Budi membawa satu buah mangga, karena menurutnya pasti itu bisa mengobati lidah Ziko yang pahit. Pak Budi kembali melewati ruang makan sambil membawa buah mangga. Nyonya Amel memperhatikan Pak Budi. " Pak untuk siapa itu?" Ucap Nyonya Amel. " Untuk tuan muda, Nyonya." Ucap Pak Budi ramah. " Kenapa yang muda? Kan ada buah mangga yang sudah matang." Ucap Nyonya Amel lagi. " Maaf Nyonya, sudah saya sodorkan semua buah mangga kepada tuan muda. Tapi tuan muda minta yang muda." " Mau di apakan Ziko buah mangga itu?" Ucap Nyonya Amel lagi. " Mau di makan, sepertinya lidah tuan muda pahit." Ucap Pak Budi menjelaskan. Pak Budi sudah meninggalkan ruang makan setelah tidak ada pertanyaan lagi dari Nyonya besar. Nyonya Amel berpikir dalam benaknya. Untuk lidah pahit seharusnya berkumur dengan air garam, tapi apa mungkin dengan mangga muda bisa mengembalikan lidah yang pahit. " Like komen dan vote yang banyak ya terimakasih." Chapter 194 episode 194 Ziko memakan mangga muda itu dengan lahap. Pak Budi yang melihat hanya bisa menyengir, membayangkan asemnya mangga itu. Keluarga Raharsya group sudah selesai makan malam. Mereka mengobrol di ruang keluarga. Suara ponsel tuan besar berbunyi. Tuan besar mengambil ponselnya dan melihat layar ponselnya. " Halo selamat malam." Ucap Tuan Besar. Tuan Besar mengobrol melalui ponselnya. Hanya ada sebutan kata baik, iya, benar. Dan kata yang terakhir di ucapkan Tuan besar adalah Terimakasih sambil meletakkan ponselnya di atas meja. " Siapa Pa?" Ucap istrinya. " Bapak Kepala kepolisian yang barusan menghubungi papa. Mengenai nomor polisi itu. Kata beliau nomor itu di pesan oleh Bapak Mahesa. Dan hampir semua nomornya polisinya ada kata Mahesa." Ucap Tuan besar sambil memikirkan siapa Mahesa itu. " Namanya seperti tidak asing di telinga kita ya Pa? Tapi kapan dan di mana ya?" Ucap istrinya tuan besar mencoba mengingat sesuatu. " Siapa Mahesa itu ma?" Ucap Zelin juga ikut nimbrung dalam obrolan orang tuanya. " Hust diam." Ucap Nyonya Amel cepat. Zelin langsung manyun karena baru mendapatkan teguran dari sang mama. " Mahesa, Mahesa." Ucap tuan besar mengulang kata tersebut sambil mengingat sesuatu. " Pa, apa mungkin Bapak Mahesa yang istrinya bernama Aiza?" Ucap Nyonya Amel menerka-nerka. Tuan besar mencoba mencari informasi terbaru mengenai berita kalangan bisnis yang bernama Mahesa. Untuk informasi berita seputar bisnis yang terbaru tidak ada menyebutkan nama Mahesa. Tuan besar mencari informasi lagi untuk 10 tahun yang lalu. " Ma coba lihat di sini." Ucap Tuan besar menunjukkan ponselnya. Pemberitaan itu tertulis mengenai perjalanan bisnis Tuan Mahesa. Semua bisnisnya ditulis dengan apik. Sampai penyerahan kekayaan beliau kepada cucunya yang berinisial ZKA. Sepasang suami istri itu saling pandang. Mereka mencoba mencocokan nama Zira dengan inisial itu. " ZKA sama dengan Zira Kanaya Amrin." Ucap Nyonya Amel merinding sambil menyebutkan nama itu. Sepasang suami istri itu tidak bisa membayangkan kalo memang benar inisial itu adalah nama Zira. " Ma, memangnya kenapa dengan inisial itu?" Ucap Zelin penasaran. " Kamu tau kalo memang inisial ZKA adalah nama Zira, berarti kakak ipar kamu orang terkaya di sini." Ucap Nyonya Amel merinding. Zelin pun ikut terbengong mendengarkan ucapan orang tuanya. Dia tambah kagum jika Zira memang yang berinisial itu. " Apa yang selanjutnya kita lakukan." Ucap Nyonya Amel penasaran. " Sebaiknya kita mencari informasi inisial ini kepada surat kabar ini." Ucap tuan besar. " Kenapa pa? Kalo menurut mama, inisial itu benar untuk naman Zira." Ucap Nyonya Amel yakin. " Bisa jadi ma? Tapi apa mama ingat tentang pemberitaan anaknya beliau yang hilang. Kita tidak tau apakah anaknya hilang atau meninggal. Karena seperti kebetulan saja kalo tiba-tiba ada seseorang anak yang mengaku sebagai cucunya." Ucap Tuan besar. Dia berpikir memakai akalnya mengkaitkan sesuatu dengan yang lainnya. Tuan besar beranjak dari sofa dan pergi ke ruang lainnya. " Papa mau kemana?" Ucap Nyonya Amel. " Papa mau menghubungi pihak redaksi surat kabar itu." Ucap Tuan besar. Zelin yang duduk berjauhan sekarang memindah duduknya bersebelahan dengan mamanya. " Ma, kalo ternyata inisial itu bukan nama Kak Zira bagaimana?" Ucap Zelin penasaran. " Kalo itu bukan nama Zira, kita bisa membatalkan perceraian itu, tapi kalo memang itu benar, akan sulit bagi kita untuk membatalkan perceraian itu. Karena kakak kamu telah melakukan penghinaan terhadap cucunya." Nyonya Amel bisa membayangkan apa yang terjadi kedepannya. Dia tidak terlalu percaya diri jika Zira cucu dari Bapak Mahesa. " Ma, kalo memang benar coba lakukan pendekatan kepada Kak Zira. Mana tau kak Zira luluh." Ucap Zelin menenangkan mamanya. Nyonya Amel jadi tidak bisa bertenang diri. Dia tidak bisa memikirkan cara melakukan pendekatan kepada Zira. " Ma, bukannya mama bilang kak Zira itu hidup sendirian di sini? Tapi kenapa sekarang bisa jadi orang terkaya di kota ini." Zelin penasaran. " Sebelum mama menjodohkan kakak kamu dengan Zira. Mama sudah mencari informasi tentangnya. Tapi kalo memang benar, berarti Zira bisa menutupi identitasnya dengan sangat baik." " Apa kehebatan Keluarga Mahesa?" Ucap Zelin lagi. " Mama tidak bisa menyebutkan secara detail. Tapi yang terpenting dia orang kaya di jamannya, dan kalo menurut mama dan papa keluarga Mahesa itu tetap orang nomor satu di sini. Tapi mereka bisa menutupi kekayaannya dengan apik sampai tidak terhembus media." Ucap Nyonya Amel menjelaskan. " Kenapa bisa sampai terhembus media ma?" " Mungkin di tutupi kekayaannya karena telah hadir cucunya yaitu Zira. Mungkin beliau tidak mau cucunya jadi incaran para awak media." Tuan besar kembali ke ruang keluarga. Nyonya Amel dan Zelin masih menanti kabar dari papanya. " Bagaimana pa?" Ucap Nyonya Amel penasaran. " Mereka butuh waktu karena pemberitaan itu sudah lama, jadi mereka harus mengecek terlebih dahulu." Ucap Tuan besar. Keluarga Raharsya mengobrol tentang kemungkinan yang ada. Mereka harus mencari cara agar bisa bertemu dengan Zira. Zira sudah menghabiskan mangganya dengan lahap. Mangga yang sangat asam. Kevin merasa ngilu melihat Zira dapat menghabiskan mangga itu dengan garam. Tiba-tiba Zira merasa ulu hatinya sakit. Dia tidak bisa bergerak, wajahnya pucat pasi. " Nona anda kenapa?" Ucap Kevin khawatir. Zira memegang perutnya menahan sakit. " Nona apa anda mau melahirkan?" Kevin bingung karena Zira tidak menjawab ucapkannya. Kevin mencoba mengingat sesuatu tentang pesan Novi kepadanya. Makanan yang tidak boleh di makan Ibu hamil. Novi tidak menyebutkan buah mangga di situ. Jadi menurutnya buah mangga aman. Tapi dia masih belum tau apa yang menyebabkan Zira sakit seperti itu. " Pelayan." Ucap Kevin berteriak. Seorang wanita paruh baya datang menghampiri Zira. Wanita tersebut adalah wanita yang pernah di cetuskan Kevin sebagai pemilik rumah itu. " Kenapa dengan Mbak Zira." Ucap wanita itu khawatir. Kevin menceritakan tentang kemauan Zira memakan buah mangga muda. " Cepat kita bawa ke rumah sakit. Sepertinya asam lambungnya naik." Ucap Wanita itu cepat. " Bagaimana saya membawanya?" Ucap Kevin bingung. " Kamu gendong tuan?" Ucap Wanita itu sedikit kesal. Kevin ragu untuk menggendong Zira. Secara dia tidak berani menyentuhnya apalagi menggendongnya. Wanita itu terus mendesak Kevin. Dan akhirnya Kevin memberanikan diri untuk menggendong Zira. Kevin mengangkat tubuh Zira dengan kedua tangannya dan di letakkan di depan dadanya. Dengan seperti itu mereka cukup dekat. Kevin berjalan sambil memperhatikan wajah Zira yang pucat. Ada rasa ketertarikan ketika dia menggendong tubuh Zira seperti itu. Wanita tadi membukakan pintu mobil dan memerintahkan Kevin untuk memasukkan tubuh Zira kedalamnya. Supir sudah siap di belakang setir. Setelah meletakkan tubuh Zira, Kevin menutup pintu dan ingin duduk di sebelah supir.Tapi wanita paruh baya tadi sudah duduk di sebelah supir. " Tuan anda mau kemana?" Ucap wanita itu cepat dari balik kaca mobil. " Saya mau duduk di depan." Ucap Kevin pelan. " Tuan jangan bercanda seperti ini, mana mungkin saya memangku anda untuk duduk di sini. Sudah tau keadaan lagi genting malah buat guyonan yang enggak lucu." Ucap Wanita itu ketus. Kevin tidak bermaksud membuat candaan, dia hanya ingin duduk di depan. Tapi wanita itu salah mengartikan ucapannya. " Cepat masuk tuan." Ucap wanita itu lagi ketus. Akhirnya Kevin masuk lagi. dan duduk di sebelah Zira yang masih terbaring sambil menekuk lututnya. Wanita itu melihat ke belakang melihat kondisi majikannya. " Aduh tuan, apa anda tidak ada perasaan sama sekali. Coba anda lihat kondisi nona Zira. Letakkan kepala nona Zira di atas paha anda, agar mbak Zira bisa bernafas secara teratur." Gerutu wanita itu. Dan lagi-lagi Kevin meletakkan kepala Zira di atas pahanya. Walaupun ragu dia tetap melakukannya. Ada bulir keringat yang keluar dari dahi Zira, tanpa sadar Kevin mengelapnya. " Like komen dan vote yang banyak ya terimakasih." Chapter 195 episode 195 Mobil sudah sampai di depan rumah sakit. Kevin langsung menggendong tubuh Zira. Tubuh Zira di letak di atas tempat tidur ruang IGD. Wanita paruh baya itu menjelaskan semuanya kepada dokter jaga. Dokter jaga langsung memeriksa kondisi Zira. Sambil mengajukan beberapa pertanyaan kepada keluarga pasien. " Apa nona ini ada alergi obat?" Ucap Dokter sambil memeriksa. Kevin tidak bisa menjawab karena dia memang tidak tau. Yang menjawab wanita paruh baya itu, wanita itu bernama Ibu Nur. " Tidak ada." " Sudah berapa lama pasien mengidap penyakit mag?" Ucap Dokter lagi. " Sudah lama." Ucap Ibu Nur. " Ini harus di rawat dulu semalam untuk observasi." Ucap Dokter cepat. " Bagaimana dengan kandungannya." Ucap Kevin khawatir. " Untuk kandungan nanti dokter spesialis yang akan memeriksa, silahkan Bapak mengisi kertas rawat inap di depan." Ucap Dokter menjelaskan. Kevin pergi ke bagain pendaftaran. Untuk mendaftarkan Zira. " Silahkan isi ini." Ucap bagian pendaftaran. Kevin mengisi data - data Zira. Dan menyerahkan kembali setelah sudah terisi penuh. " Maaf pak. Untuk bagian ini di isi?" Ucap wanita di bagian pendaftaran. Ada satu kolom yang belum di isi Kevin yaitu hubungan dengan pasien. Kevin bingung harus menuliskan apa. Dia pergi ke ruang IGD dan menyerahkan kertas itu kepada Ibu Nur " Bu isi di sini." Ucap Kevin dan menyuruh Ibu Nur untuk menandatangani. Wanita yang bernama Ibu Nur, merupakan orang kepercayaan Zira. Ibu itu mengisi kolom yang kosong dan mengembalikannya lagi ke Kevin. Kevin mengecek kolom yang di isi Ibu Nur. Ibu itu menulis hubungan dengan pasien suami. " Bu, kenapa di tulis seperti ini?" Ucap Kevin berbisik. " Jadi saya harus tulis apa? Kamu kan tau kalo mbak Zira lagi hamil. Kalo tidak ada suaminya sebagai penanggung jawab pihak rumah sakit tidak akan berani melakukan tindakan." Ucap Ibu Nur berbisik. Kevin masih bengong dia tidak mau di anggap memanfaatkan kesempatan. " Cepetan tanda tangani itu, dan serahkan ke bagian pendaftaran, biar Mbak Zira cepat di tangani." Ucap Ibu Nur masih berbisik. Kevin menandatangani dan menyerahkan kertas tersebut ke bagian pendaftaran. Dia kembali ke ruang IGD. Setelah dapat informasi dari pihak pendaftaran. Zira di bawa ke ruang rawat inap. Kevin mendorong tempat tidur di bantu dengan perawat. Ibu Nur mengikuti dari belakang. Zira di letakkan di ruangan VVIP. Zira di rawat di Rumah sakit tempat dokter Diki praktek. Di ruang rawat inap Zira sudah ditangani oleh dua dokter, yang pertama dokter spesialis kandungan dan dokter spesialis bagian penyakit dalam. Kevin dan Ibu Nur merasa lega karena kandungan Zira dalam keadaan baik - baik saja, hanya ada pantangan dari dokter, kalo Zira di larang makan makanan yang asem jika perutnya dalam keadaan kosong. " Tuan pulang saja, silahkan istirahat di rumah, saya yang akan berjaga di sini." Ucap Ibu Nur. Kevin ingin menemani Zira di situ, tapi dia tidak berani melawan ataupun membantah wanita tua itu, karena menurut Kevin, wanita itu lebih sangar dari Ibu tiri. Kevin di antarkan supir ke rumahnya. Setelah mobil pergi, Kevin melihat ada mobil yang sedang parkir tidak jauh dari rumahnya. Kevin sudah menduga kalau yang mengintia rumahnya pasti suruhan Raharsya. Kevin mendatangi mobil itu. Orang yang di dalam mobil merasa khawatir, mereka merasa pengintai mereka tidak berhasil. Kevin mengetuk jendela kaca. Seorang pria membuka separuh jendelanya. " Asisten Kevin." Ucap mereka gugup. " Untuk apa kalian memata-matai ku?" Ucap Kevin tegas. " Maaf asisten Kevin, kami hanya menjalankan perintah tuan besar." Ucap pria yang dekat jendela. " Kalian sudah melihat aku kan? Silahkan kalian pergi sekarang. Atau aku akan teriakan kepada warga kalo kalian mau merampok." Ucap Kevin tegas. Pria yang ada di mobil saling pandang. Mereka takut untuk balik dan takut untuk bertahan di situ. Mereka sudah mengerti akan kesangaran Kevin. Kevin dengan gampang bisa menghabisi mereka. " Satu, dua." Ucap Kevin teriak. " Baik asisten Kevin, kami akan pergi." Ucap Pria yang dekat kaca sambil memukul tangan temannya agar menyalakan mesin mobil. " Sampaikan saja kepada Tuan besar kalo saya dalam keadaan sehat." Ucap Kevin cepat. Mobil langsung meluncur kencang. Mereka takut di pukuli masa dan takut juga di pukuli Kevin. Mereka mencari aman saja terlebih dahulu. Kevin kembali ke rumahnya. Rumah yang tidak terlalu besar tapi cukup nyaman sebagai tempat tinggal. " Tuan besar sepertinya anda kurang percaya dengan saya. Sampai anda mengirimkan orang untuk memata-matai saya. Apa saya sudah tidak di anggap penting lagi sama anda, atau saya sudah dianggap musuh." Gerutu Kevin. Pagi hari sang surya sudah memunculkan sinar indahnya. Sinar jingganya menyinari seluruh bumi. Semua melakukan aktivitasnya masing-masing. Tapi tidak dengan Ziko, dia merasa berat kepalanya dan merasa malas untuk beranjak dari kasur. Pak Budi sudah mengetuk pintu kamar majikannya. Tapi Ziko belum juga menjawab atau keluar. Pak Budi memberanikan diri untuk masuk ke dalam kamar majikannya, dia khawatir tuan mudanya akan berbuat yang aneh-aneh lagi. Di dalam kamar Pak Budi melihat Ziko masih terbaring di kasur. " Tuan, sudah waktunya sarapan." Ucap Pak Budi membangunkan. " Hemmm." Ucap Ziko sambil beranjak dari kasur. Walaupun kepalanya berat tapi dia tetap bangun, dia tidak mau di rawat lagi, kalau orang tuanya mengetahui tentang kondisinya yang menurutnya kurang enak badan. Di dalam kamar mandi Ziko lagi-lagi mual. Dan memuntahkan semua yang ada di dalam perutnya. Ziko merasa sakit di ulu hatinya karena baru selesai muntah. Dan dia tidak berani untuk mandi dan menyentuh benda cair itu. Dia lebih memilih keluar dari kamar mandi. Masih ada Pak Budi yang berdiri menantinya. " Tuan apakah anda sakit?" Ucap Pak Budi khawatir. " Enggak Pak, saya hanya merasa mual dan kepala saya terasa berat." Ucap Ziko mengenakan pakaiannya. Ziko turun ke ruang makan di ikut oleh Pak Budi. Di sana Keluarganya sudah menantinya. " Pagi sayang." Ucap Nyonya Amel. " Pagi mama." Ucap Ziko sambil duduk di kursinya. Ziko melihat dan memandang kursi yang ada di sebelahnya yaitu kursi yang biasa Zira pakai untuk duduk. Pak Budi mengambil piring majikannya dan memasukkan beberapa nasi dan lauk pauk. Semua keluarga makan menikmati sarapan paginya. Hanya Ziko yang merasa susah untuk menelannya. Tapi dia tetap berusaha makan, karena dia khawatir orang tuanya akan merawatnya kembali. Beberapa suap telah berhasil masuk ke dalam tenggorokan Ziko. Dan tiba-tiba Ziko merasa mual lagi. Dia berlari ke kamar mandi dan memuntahkan makanannya. Semua keluarga saling pandang. " Sepertinya kak Ziko masih sakit ma." Ucap Zelin khawatir. " Sepertinya." Ucap Nyonya Amel. Ziko kembali duduk di kursi makan dengan wajah yang sedikit pucat. " Ko, kita kerumah sakit saja ya? Mama khawatir dengan kamu seperti itu." Ucap Nyonya Amel cepat. " Enggak ma, aku merasa sehat. Memang aku tidak mengerti dengan perutku. Setiap aku makan selalu saja semuanya keluar. Seperti tidak bisa menerima semua makanan." Ucap Ziko pelan. " Itu namanya sakit. Pokoknya kita harus ke rumah sakit. Biar nanti dokter yang menjelaskan." Ucap Nyonya Amel tegas. " Tapi aku enggak mau di rawat" Ucap Ziko memelas. " Nanti dokter yang menentukan apakah dirawat atau tidak." Ucap Nyonya Amel cepat. " Like komen dan vote yang banyak ya terimakasih." Chapter 196 episode 196 Ziko tidak berniat untuk menghabiskan makanannya. Dia lebih memilih untuk berbaring di sofa. Dari luar Pak Budi datang dengan membawa sebuah amplop. Dan menyerahkannya kepada Ziko. " Apa ini Pak?" Ucap Ziko sambil membuka amplop tersebut. Ziko membelalakkan matanya melihat sebuah surat dari pengadilan negeri agama. Dia tidak berfikir kalo Zira bisa melakukan selangkah lebih cepat dari dirinya. Ziko meletakkan amplop itu ke atas meja makan. Nyonya Amel yang duluan mengambil amplop tersebut dan membacanya. Nyonya Amel membelalakkan matanya sama persis dengan yang di lakukan anaknya. Tuan besar mengambil amplop itu. Sambil menghembuskan nafasnya dengan keras. " Zira sudah bertindak sangat cepat. Kita tidak mungkin bisa membatalkan perceraian ini." Ucap tuan besar pelan. " Kenapa harus di batalkan, aku lebih senang kalo dia sudah melakukannya terlebih dahulu. Jadi aku langsung bisa menceraikannya." Ucap Ziko santai. Nyonya Amel sudah mulai emosi dari kemaren dia berusaha untuk menahan amarahnya. " Mana perjuanganmu? Coba katakan ke mama kalo kamu membencinya." Ucap Nyonya Amel teriak. Ziko terdiam dia tidak merasa membenci Zira. Menurutnya tidak ada karakter Zira yang membuat dirinya membencinya. " Cepat katakan?" Ucap Nyonya Amel mendesak. Ziko tidak menjawab, dia malah hendak pergi ke kamarnya. Tapi tangannya sudah di tahan mamanya. " Katakan kepada kami kalo kamu tidak mencintai Zira. Cepat!" Teriak. " Untuk apa aku mengatakan itu." Ucap Ziko gugup. " Untuk dirimu sendiri, kalo kamu memang tidak ada perasaan kepadanya pasti tidak ada penyesalan pada saat kamu bercerai nanti, tapi kalo perasaan itu ada dan kamu menutupinya, mama yakin kamu akan menyesal selamanya." Ucap Nyonya Amel menghempaskan tangan anaknya. Ziko pergi ke kamarnya. Di dalam kamarnya dia merenungkan semuanya. Genderang perang sudah di tabuh. Dan aku akan meladeninya. Ziko menghubungi pengacaranya dan mengatakan semua masalahnya. Pihak pengacara Ziko siap melayani pihak Zira. Ziko bersiap-siap untuk pergi ke rumah sakit. Dia ingin memeriksakan kondisinya yang beberapa hari ini mengalami mual dan pusing. Dibawah Nyonya Amel sudah bersiap-siap. " Ayo, ma kita pergi." Ucap Ziko. " Kamu pergi sendiri mama masih ada urusan yang lainnya." Ucap Nyonya Amel ketus. Ziko pergi sendiri kerumah sakit dengan menggunakan mobilnya sendiri. " Mama mau kemana?" Ucap Zelin penasaran. Nyonya Amel tidak menjawab, dia malah mengajukan pertanyaan kepada suaminya. " Pa bagaimana dari pihak redaksi itu? Sudah ada belum tentang inisialnya." Ucap Nyonya Amel. Tuan Besar melupakan sesuatu bahwa dia harus menghubungi pihak redaksi. " Oh iya papa lupa, seharusnya sudah ada informasi dari mereka sekarang. Papa menghubungi mereka sekarang." Ucap Tuan besar sambil mengambil ponselnya. Dalam sekejap panggilan terhubung. Pihak redaksi menerima panggilan tersebut dan menyerahkan bagian yang terkait seperti bagian peliputan berita dan bagian percetakan. Tuan besar masih mendengarkan penjelasan semuanya dari pihak redaksi. Dengan penuh kecewa tuan besar menutup panggilannya. " Bagaimana Pa?" Ucap Nyonya Amel penasaran. " Mereka tidak mau memberitahukan inisial itu karena itu merupakan privasi dari yang bersangkutan dengan kata lain Tuan Mahesa. Mereka tidak berani memberitahukan karena ada undang-undangnya yang mengatur tentang itu." Ucap Tuan besar menjelaskan. " Coba Papa cek, di mana rumah Bapak Mahesa. Mama mau menemuinya di sana." " Sepertinya kita harus menanyakan hal ini pada bagian pertanahan. Karena mereka pasti tau mengenai ini." Ucap Tuan besar Cepat. Tuan besar dan Nyonya Amel bergegas keluar mansion, mereka pergi ke bagian pertanahan yang ada di kota itu. Tinggal Zelin yang masih ada di ruang itu. Dia mengirim chat kepada Koko. Hai koko, lagi sibuk ya? Bisa bertemu enggak nanti sore. Dicafe Santuy. Tidak berapa lama Zelin dapat balasan chat dari Koko. Ok Balasan yang singkat padat dan jelas. Tapi tetep membuat hati Zelin berbunga-bunga. Karena dia ingin menanyakan sesuatu kepada Koko. Kevin mengendarai mobilnya untuk pergi ke rumah sakit. Dia membawakan sekeranjang buah-buahan segar untuk Zira. Kevin langsung menuju lift khusus tamu. Dia masih menunggu di depan pintu lift sambil menekan tombol yang ada di luar lift. Dokter Diki melihat seseorang yang sangat di kenalnya. Dokter Diki menghampiri Kevin dengan menepuk bahu pria itu. " Hai Kevin." Ucap Dokter Diki sambil menepuk bahu. " Hai." Ucap Kevin gugup. " Mau ke lantai berapa?" Ucap Dokter Diki sambil melihat pintu lift yang sudah terbuka. Kevin langsung masuk ke dalam lift di ikuti oleh dokter Diki. Begitu sudah sampai di lantai 5 Kevin ingin keluar. Tapi bahunya di tahan Dokter Diki. " Aku ingin bicara denganmu, penting. Kita bicara di ruanganku." Ucap Dokter Diki cepat sambil menekan tombol lantai ruanganya. Dengan berat hati Kevin mengikuti ajakan dokter Diki. " Silahkan duduk." Ucap Dokter Diki mempersilakan tamunya untuk duduk. " Anda mau bicara apa dokter?" Ucap Kevin cepat. " Ini tentang Ziko dan Zira." Ucap Dokter Diki. Dokter Diki tidak mengetahui kalo Kevin telah keluar dari Raharsya group, karena Ziko memang tidak menceritakannya. Ziko hanya menceritakan masalah rumah tangganya. Kevin mendengarkan semua yang di ucapkan dokter Diki. Tentang Ziko yang frustasi sampai melukai tangannya dan tentang Ziko tidak makan dua hari juga di ucapkannya. Tuan muda, ternyata anda tersiksa dengan perpisahan ini. Kenapa anda masih begitu egois tidak mau mengakui perasaan anda sebenarnya. " Bagaimana tanggapan kamu?" Ucap Dokter Diki bertanya. " Eh hemmm, saya tidak berani ikut campur dalam urusan rumah tangga mereka." Ucap Kevin gugup. Dokter Diki baru tersadar kalo di tangan Kevin ada sekeranjang buah. " Kamu mau menjenguk siapa? Apa kamu mau menjenguk Naura?" Ucap Dokter Diki menerka-nerka. Kevin gugup dia harus berkata jujur atau berbohong. Seandainya dia berkata jujur kalo Zira sedang sakit pasti dokter Diki akan memberitahukan semuanya kepada Ziko. Dan sebagai imbas kemarahan dari Zira adalah dirinya. Kevin belum menjawab tiba-tiba pintu ruangan Dokter Diki terbuka, ada Ziko di depan pintu sambil memegang handle pintu. Kevin dan Ziko saling berpandangan. Ziko membuang mukanya ketika beradu tatap dengan mantan asistennya. " Selamat siang tuan muda." Ucap Kevin hormat keluar ruangan sambil membawa keranjang buah. Ziko memperhatikan Kevin dari jauh. " Duduk ko." Ucap Dokter Diki mempersilakan temannya untuk duduk. Ziko duduk seperti yang di perintahkan temannya. " Untuk apa dia ke sini?" Ucap Ziko penasaran. " Bukannya kamu yang menyuruhnya ke sini?" Ucap Dokter Diki heran. " Untuk apa aku menyuruh seorang mantan." Ucap Ziko ketus. " Mantan? Maksudmu apa?" Ucap Dokter Diki tambah penasaran. " Dia sudah keluar dari Raharsya group tepatnya ketika aku memutuskan bercerai dengan Zira." Ucap Ziko ketus. Dokter Diki terkejut, menurutnya mereka berdua susah di pisahkan karena sudah terlalu dekat dan saling percaya tapi hanya karena seorang wanita mereka bisa berpisah. " Apa yang menyebabkan dia keluar dari Raharsya group." Ucap Dokter Diki penasaran. Ziko menceritakan semuanya ketika Kevin marah kepadanya, tidak terima karena dirinya telah menghina Zira. Sampai perkelahian itu juga di bahasanya. Dokter Diki mengambil kesimpulan bahwa yang di lakukan Kevin adalah benar. Menurutnya Kevin bukan menentang Ziko, tapi Kevin hanya menyuarakan kebenaran. " Ngomong-ngomong untuk apa kamu kesini? Bukannya jadwal pemeriksaan kesuburan belum aku tentukan." Ucap Dokter Diki cepat. " Aku ingin periksa yang lain." Ucap Ziko menjelaskan semua masalah yang di alaminya. " Like komen dan vote yang banyak ya terimakasih." Chapter 197 episode 197 Kevin sudah masuk ke dalam ruang VVIP tempat Zira di rawat. Dia melihat wanita tersebut sudah cukup membaik. " Maaf saya hanya bisa membawakan buah ini, buah mangga muda saya tidak bisa menemukannya lagi." Ucap Kevin pelan sambil meletakkan di atas meja. " Hahaha. terimakasih atas perhatian anda." Ucap Zira tersenyum. Kevin tidak duduk, dia masih berdiri di dekat pintu sambil mengintip ke luar. Dia merasa cemas kalau tiba-tiba dokter Diki datang ke ruangan itu. " Kamu kenapa?" Ucap Zira penasaran. " Saya baru bertemu dengan dokter Diki." Ucap Kevin cepat sambil mengintip keluar. " Apa?" Zira membelalakkan matanya. " Dimana kamu bertemu dokter Diki? Apa dokter Diki tau, kamu berada di sini?" Zira mengajukan pertanyaan beruntun. Kevin menjelaskan tentang pertemuannya mendadak dengan dokter Diki. Dan dia juga menceritakan tentang informasi yang di dapat dari dokter tersebut. " Informasi apa?" Ucap Zira penasaran. Kevin menyampaikan semua yang di ucapkan dokter Diki kepadanya, tentang tangan Ziko yang robek dan tidak makan dua hari. Zira terdiam sejenak mendengar pria yang dicintainya telah terluka. " Pada saat kami berbicara, tiba-tiba tuan muda datang." Ucap Kevin cepat. " Apa? Dia juga ada di sini? Untuk apa dia ke sini?" Ucap Zira cepat. " Mungkin mau memeriksa kondisinya setelah dua hari sakit." " Sepertinya itu alasan dokter Diki saja yang menyebutkan kalau manusia es itu sakit. Agar kamu menyampaikannya kepada ku. Buktinya manusia es batu itu masih bisa berdiri tegak di rumah sakit ini." Gerutu Zira. " Tapi menurut saya dokter Diki memang tidak mengerti hal ini. Dia berpikir kalo saya masih bekerja di Raharsya group. Tapi tidak tau kalau sekarang, mungkin saja tuan muda sudah menceritakannya." Ucap Kevin cepat. " Sebaiknya aku keluar ini hari?" Ucap Zira cepat. " Nona bagaimana dengan kondisi kesehatan anda? Pikirkan juga tentang janin di dalam perut anda." Ucap Kevin cepat. " Aku dalam keadaan baik-baik saja." Ucap Zira cepat. " Sebaiknya kita menunggu penjelasan dari dokter." Ucap Kevin cepat sambil pergi keluar ruangan, menemui perawat jaga. Dia menanyakan perihal jam Visit dokter. Setelah mendapatkan informasi dari dokter jaga Kevin kembali lagi ke ruangan Zira. " Nona kata perawat biasanya jam segini dokter sudah Visit." Dokter Diki memeriksa keadaan temannya. Dari perut semua di periksanya. " Ko, kalo menurut hasil pemeriksaan kamu tidak mengalami sakit apapun." Ucap Dokter Diki menjelaskan. " Bagaimana tidak sakit, aku mual terus dan pusing. Seperti itu kamu bilang tidak sakit." Ucap Ziko ketus. " Begini saja, aku beri resep untuk menghilangkan rasa pusingnya tapi kalo untuk mual-mualnya aku tidak bisa memberikan resepnya. Karena memang kamu tidak sakit." Ucap Dokter Diki tegas. " Baiklah kalo begitu, mana resepnya." Ucap Ziko mengulurkan tangannya. Dokter Diki menulis resepnya di atas kertas resep. " Tadi aku perhatikan ditangannya dia, sedang membawa sekeranjang buah? Dia mau menjenguk siapa?" Ucap Ziko penasaran. " Maksudnya kamu Kevin?" Ucap Dokter Diki lagi. " Iya." " Mungkin menjenguk Naura?" Ucap Dokter Diki cepat. " Siapa Naura? Pacarnya?" Ucap Ziko penasaran. Dokter Diki tertawa lebar mendengar tebakan Ziko yang asal. " Hahaha. Naura itu masih kecil, apa kamu lupa kalo Naura itu anaknya Fiko. Kan kamu yang membiayai perobatannya di sini." Ucap Dokter Diki menjelaskan. " Yang sakit kanker itu ya?" Ucap Ziko seperti mengingat sesuatu. Ziko memang tidak mengingat nama anak yang terkena sakit kanker itu, nama orang tuanya pun dia tidak ingat tapi wajah orang tuanya masih sangat jelas teringat di benaknya. Wajah orang yang pernah memegang tangan Zira. Wajah itu yang pernah di pukulnya. " Untuk apa dia menjenguk anak itu?" Ucap Ziko penasaran. Dokter Diki mengangkat kedua bahunya memberikan isyarat kalau dia tidak tahu menahu dengan kunjungan Kevin ke rumah sakit. Dokter spesialis kandungan dan dokter bagian penyakit dalam sudah memeriksa Zira. Mereka mengizinkan Zira untuk pulang, dan melakukan kontrol setelah 3 hari. Kevin membayar tagihan ke bagian kasir. Ibu Nur membereskan semuanya di ruangan rawat inap. Kevin kembali ke ruang VVIP setelah melunasi semua tagihan. Zira masih menunggu perawat untuk membuka jarum infusnya. Tidak beberapa lama dua orang perawat datang dengan satu perawat membawa kursi roda dan satunya lagi membawa box yang berisi peralatan kesehatan. Setelah jarum infus di buka mereka mengizinkan Zira untuk pulang. " Ini resep obatnya." Ucap perawat memberikan copy resep kepada Zira. " Terimakasih." Ucap Zira sambil memberikan copy resep itu kepada Kevin. Zira duduk di atas kursi roda. Perawat mendorong pasiennya sampai ke depan pintu loby. " Nona sebaiknya anda tunggu di mobil saja, biar saja yang tebus resep ini." Ucap Kevin cepat sambil pergi ke apotek. Zira dan Ibu Nur menunggu di depan pintu Loby. Ada seseorang dari jauh yang mengenali Zira. " Zira apa kamu baik-baik saja." Ucap Fiko yang baru datang. " Fiko." Ucap Zira cepat. Mereka saling bersalaman dan berbicara panjang lebar mengenai semuanya. Kevin mengantri obat sambil duduk di sofa. Dari lain sisi ada yang meletakkan copy resep di atas meja apotek, yang tidak lain adalah Ziko. Kevin dan Ziko beradu tatap. Ziko membuat praduganya sendiri tentang kedatangan Kevin ke rumah sakit ini. Mereka duduk di sofa terpisah. Tapi masih tetap bisa saling pandang. " Nyonya Zira." Ucap apoteker wanita. " Iya." Ucap Kevin cepat sambil berjalan ke meja apotek. Ziko kaget nama istrinya di sebut. Dan lebih kaget lagi ada Kevin di sisi istrinya. Kevin menerima obat tersebut dan mengucapkan terimakasih kepada wanita apoteker tersebut. Ketika Kevin hendak pergi bahunya di tahan oleh Ziko. " Kenapa kamu ada di sisi Zira." Ucap Ziko berbisik. Kevin tidak mengacuhkan pertanyaan Ziko. Dia malah menepis tangan Ziko dari bahunya. Ziko mengikuti Kevin dari belakang. Di balik pintu Loby Ziko melihat istrinya sedang berbicara dengan fiko. Cemburunya semakin memuncak. Bagiamana mungkin dia bermesraan dengan dua pria. Sedangkan dia masih berstatus istri sah ku. Fiko berhenti berbicara ketika dia melihat Kevin datang menghampiri mereka. " Jaga kesehatan kamu." Ucap Fiko sambil masuk ke dalam loby rumah sakit. Ziko ingin menghajar Fiko, tapi dia masih penasaran dengan Zira yang duduk di kursi roda. Perawat mendorong kursi roda sampai ke tempat parkir, karena permintaan dari Kevin. Dan Ziko masih mengintip dari balik mobil lain yang parkir di situ. Zira masuk ke dalam mobil di bantu Kevin. Zira memegang tangan Kevin agar memudahkannya untuk masuk ke dalam. Ziko terbakar emosinya. Ziko bertepuk tangan, dia seperti sedang menangkap basah istrinya sedang berselingkuh dengan mantan asistennya. Zira melihat ke arah yang bertepuk tangan. Zira kaget melihat suaminya ada di dekat situ. " Wah wah hebat kamu ya, ternyata kamu mengajukan cerai terlebih dahulu karena kamu sudah berselingkuh dengannya." Ucap Ziko mengejek. Zira tidak ingin meladeni Ziko. Menurutnya jika dia meladeninya sama saja dia stres seperti suaminya. " Tuan anda salah, saya dan nona Zira tidak ada hubungan apapun." Ucap Kevin memberikan pembelaan. " Banyak omong kamu." Bug. Ucap Ziko mendaratkan pukulan ke wajah Kevin. Ibu Nur dan Zira berteriak histeris. Zira kembali turun dari mobil. Berusaha menangkap tangan Ziko. " Kalo kamu mau pukul dia, pukul aku terlebih dahulu." Ucap Zira teriak sambil berdiri di depan Kevin. " Berani kamu membela dia?" Ucap Ziko teriak lagi. " Ya, memangnya kenapa kalo aku membela dia?" Ucap Zira teriak. " Jadi kamu mengurus surat ceria karena kamu ingin bersama dengannya." Ucap Ziko teriak lagi. Zira menggelengkan kepalanya. " Bukannya kamu yang meminta kita bercerai karena kamu tidak mempunyai perasaan kepada ku, dan bukannya kamu yang mengatakan kalo aku mandul. Jadi untuk apa kamu mengurusi kehidupan ku lagi." Ucap Zira teriak sambil mendorong tubuh suaminya dengan kedua tangannya. Ziko terdiam, memang dia yang mengatakan pertama tentang perceraian, dan dia juga yang mengatakan kalo Zira mandul. Tapi dia tetap tidak terima kalo Zira dengan orang lain. " Baiklah, ternyata tidak salah kalo aku mengatakan kata cerai. Dengan cepat kamu langsung mendapatkan pengganti ku." " Bersenang-senanglah dengan selingkuhan mu." Ucap Ziko tersenyum sinis. Prak. Zira menampar wajah suaminya dengan keras. " Jaga omongan mu. Kalo tidak kamu akan menyesal." Ucap Zira menekan intonasinya sambil naik ke dalam mobil. " Menyesal apa? Menyesal karena telah menikah denganmu." Ucap Ziko mengejek. Zira kembali lagi keluar dari mobil sambil memegang ponselnya. " Ucapkan sekali lagi kalau kamu tidak menyukaiku dan ucapkan sekali lagi kalau aku mandul, dan ucapkan kalau kamu menyesal telah menikah dengan ku." Ucap Zira cepat. " Baiklah aku akan mengulanginya biar kamu puas." Ucap Ziko sambil tersenyum sinis. Ziko mengulangi kata-katanya seperti menyesal telah menikah dengan Zira, menyebutkan Zira mandul dan menyebutkan kalo dia tidak punya perasaan sama sekali dengan Zira. Dia menyebutkan dengan lantang. Zira menekan tombol berhenti pada layar ponselnya. Zira merekam semua ucapan suaminya. " Ini sebagai bukti agar proses perceraian kita cepat selesai." Ucap Zira cepat sambil menunjukkan ponselnya. " Oh satu lagi. Aku ingin memberitahukan sesuatu yang sangat penting untukmu." Ucap Zira sinis. " Apa?" Ziko penasaran. " Apakah aku akan menggunakan nama Zevisa Zanira Raharsya atau Zokoh Raharsya." Ucap Zira tersenyum sinis sambil naik ke dalam mobil. Ziko terdiam, dia mengingat nama itu. Nama itu adalah nama yang akan di sematkan untuk anaknya jika lahir. Mobil sudah melaju kencang meninggalkan Ziko yang masih terbengong-bengong sendiri. " Like komen dan vote yang banyak ya terimakasih." Chapter 198 episode 198 Di dalam mobil Zira menagis sejadi - jadinya. Dia tidak menyangka akan bertemu dengan Ziko. Dan tidak menyangka kalo suaminya masih terus menghinanya dan masih berburuk sangka tentang dirinya. " Nona tenangkan diri anda. Kasihan janin anda." Ucap Kevin menenangkan. " Benar mbak Zira. Kalo mbak bersedih, nanti anak mbak Zira jadi anak yang pemurung." Ucap Ibu Nur ikut menenangkan. " Aku benci sama kamu Ziko. Aku benci." Teriak Zira sambil menagis histeris. Kevin tidak tega dia memberanikan diri untuk menyentuh rambut Zira. Zira langsung membenamkan wajahnya dalam dada Kevin. Di dalam dada Kevin, dia menangis sejadi-jadinya. Sampai baju Kevin basah. Dan tidak terasa Zira muntah di atas baju Kevin. Kevin tidak merasa jijik. Dia malah menampung muntahan Zira dengan tangannya. Ibu Nur memberikan tisu kepada Zira. " Maaf aku asisten Kevin, bajumu kotor karena muntahanku." Ucap Zira tidak enak hati. " Enggak apa - apa nona. Anggap saja saya kurang beruntung." Ucap Kevin tersenyum kecil. Zira pun ikut tertawa mendengarnya. Kevin ingin mencairkan suasana yang sedikit menegang. Hari ini dia dua kali mendapatkan jackpot yang pertama pukulan dari Ziko, dan yang kedua muntahan dari istrinya Ziko. Dua - duanya telah memberikan kenang - kenangan kepadanya. Ziko berlari ke rumah sakit dan masuk ke dalam ruangan Dokter Diki. " Ada apa Ko? Aku kira kamu sudah pulang." Ucap Dokter Diki heran. Ziko mengatur nafasnya agar bisa berbicara normal. " Aku baru bertemu Zira dan dia baru di rawat di rumah sakit ini. Coba kamu cek, kamar berapa dia di rawat dan sakit apa dia." Ucap Ziko memberikan perintah kepada temannya. Dokter Diki langsung menghubungi bagian pendaftaran untuk menanyakan pasien yang bernama Zira. Setelah dapat informasi tentang ruangan Zira di rawat. Bagian pendaftaran menyebutkan dua dokter yang menangani Zira yaitu Dokter kandungan dan dokter spesialis penyakit dalam. Dokter Diki terdiam dan memandang ke arah Ziko. " Ada apa? Dia sakit apa?" Ucap Ziko penasaran. Dokter Diki tidak menghiraukan pertanyaan temannya dia menghubungi dokter penyakit dalam terlebih dahulu. Setelah mendapatkan penjelasan dari dokter penyakit dalam. Dokter Diki melanjutkan menghubungi dokter spesialis kandungan. Di sana Dokter Diki mendapatkan informasi lagi mengenai Zira. " Ko, istrimu ditangani dua dokter." Ucap dokter Diki menyebutkan dua dokter spesialis itu. Ziko terdiam ketika temannya menyebutkan ditangani spesialis kandungan. " Istrimu sedang mengandung dan masuk jalan 6 minggu." Ucap Dokter Diki pelan. Ziko teriak histeris. " Tidakkk, apa yang sedang aku lakukan." Ucap Ziko memukul tembok berkali-kali. Dokter Diki menenangkannya dengan membawanya duduk di sofa. " Kamu kan belum bercerai masih ada kata untuk rujuk." Ucap Dokter Diki sambil memberikan air putih kepada temannya. Ziko meminum air pemberian temannya. " Kamu tau, tadi kami baru bertengkar lagi di parkiran dan aku kembali menghinanya." Ucap Ziko frustasi. " Aku harus bagaimana?" Ucapnya lagi. " Sebaiknya kamu meminta maaf kepadanya." Menurut Dokter Diki hanya itu cara yang bisa melupakan semua masalah temannya. " Apa dengan minta maaf dia akan mencabut semua gugatan perceraian itu?" Ucap Ziko pelan. " Kamu kan belum coba. Ucapkan perkataan maaf dari hati yang paling dalam. Aku yakin pasti Zira akan menerimamu kembali." Ucap Dokter Diki menenangkan temannya. " Bagaimana kalo dia tidak menerima permintaan maafku." Ziko agak ragu karena dia sudah berulang kali menghina istrinya. " Sepertinya dia akan menerimamu kembali, karena ada buah cinta kalian di dalam perut istrimu." Ucap Dokter Diki menjelaskan agar temannya mau mengakui kesalahannya di hadapan istrinya. Ziko hendak bangkit dari sofa, tapi dia duduk kembali. " Apakah Zira mencintaiku?" Ucap Ziko bertanya kepada temannya. " Sekarang aku tanya kepadamu. Apakah kamu mencintainya?" Ucap Dokter Diki mengajukan pertanyaan balik kepada temannya. Ziko mengangkat kedua bahunya, karena dia juga tidak mengerti dengan perasaannya. Dokter Diki membuat perumpamaan. " Di saat kamu cemburu melihat istrimu dengan orang lain, itu tandanya kamu ada perasaan sama dia. Di saat kamu merasa kesepian ketika tidak ada dia di sisimu, itu tandanya kamu kesepian dan rindu akan sosoknya. Di saat kamu frustasi memikirkan tentang dia, itu tandanya di dalam benakmu hanya ada dia. Dan satu lagi, di saat kamu terpuruk seperti ini, itu tandanya kamu cinta kepadanya. Katakan kalo kamu mencintainya, katakan kalo kamu menyesal." Ucap Dokter Diki menjelaskan. Ziko menyimak semua ucapan temannya. " Katakan terus secara berulang, aku yakin ada satu ruang di dalam hatinya untukmu." Setelah mendapatkan penjelasan dari temannya. Ziko seperti mendapatkan semangatnya kembali dia pergi meninggalkan ruangan temannya. Dari balik pintu dokter Diki mengatakan. " Ko, turunkan egomu untuk mendapatkan cintanya." Ziko menganggukkan kepalanya. Dia akan mengejar kembali Cinta Zira. Cinta yang tidak pernah tercetuskan. Cinta yang selalu di remehkannya. Semua karena keegoisannya. Keegoisannya membuatnya tidak mengerti akan arti cinta sesungguhnya. Baju Kevin yang terkena muntah sudah di bersihkan pelayan. Kevin tidak mempunyai pakai ganti. Pelayan hanya memberikan sebuah sarung untuknya. Zira tertawa melihat Kevin hanya mengenakan sarung. " Kamu baru sunat ya?" Goda Zira. Kevin menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Dia memang seperti sedang sunat. " Nona apa anda sudah membaik?" Ucap Kevin mengalihkan pembicaraan. " Sudah." Ucap Zira cepat sambil menganggukkan kepalanya. " Syukurlah kalo begitu." Ucap Kevin sambil mengelus dadanya. Zira pergi ke salah satu ruangan dan keluar dengan membawa box obat. Zira memberikan obat ke atas kapas. Dan menyerahkan kepada Kevin. " Obati lukamu." Ucap Zira cepat sambil memberikan kapas yang ada obatnya. Kevin menerima kapas tersebut dan ingin menempelkan kapas tersebut. Tapi karena tidak ada kaca. Kapas tersebut tidak tepat di letakkannya. " Sini aku bantu." Ucap Zira cepat sambil mengambil kapas dari tangan Kevin. " Tidak perlu nona, saya bisa melakukannya sendiri." Ucap Kevin tidak enak hati. " Apanya yang bisa, kamu saja meletakkannya salah." Gerutu Zira. Zira meletakkan obat itu ke wajah Kevin secara berulang. Dengan seperti itu posisi mereka sangat dekat. " Maaf ya, karena aku kamu mendapatkan pukulan terus dari si ubi kayu." Ucap Zira sambil meletakkan obat ke wajah Kevin. Kevin tidak berani menatap wajah Zira. Dia hanya melihat kearah lain. Nona jangan perlakukan aku seperti ini. Aku tau cintamu hanya untuk tuan muda. Jangan buat aku mencintaimu, cukup jadikan aku sebagai sahabatmu. Aku takut jika mencintaimu hatiku akan terluka. Karena aku tau di dalam hatimu hanya ada ruang untuk suamimu. " Like komentar dan Vote yang banyak ya terimakasih." Chapter 199 episode 199 Ziko pergi meninggalkan rumah sakit. Di dalam mobil dia menghubungi pengacaranya. " Selamat sore tuan muda." Ucap Pengacara tersebut. " Selamat sore. Aku ingin perceraian ku di batalkan." Ucap Ziko tegas. " Baik tuan, kami akan usahakan agar perceraian ini tidak terjadi." Ucap pengacara lagi. " Apa kita bisa menghentikan persidangan nanti." Ucap Ziko cepat sambil tetap mengendarai mobilnya. " Kalo yang menghentikan persidangan itu nanti pihak penggugat. Dimana pihak penggugat harus mencabut atau menarik semua berkas dari pengadilan maka persidangan tidak akan di adakan atau batal." Ucap Pengacara menjelaskan. " Bagaimana kalo pihak penggugat tidak mau mencabut berkasnya?" Ucap Ziko ragu. Dia rugu untuk memenangkan perkara ini. Karena istrinya baru saja merekam semua hinaan yang di utarakannya. Dan itu sebagai bukit kuat untuk Zira memenangkan persidangan nanti. " Mungkin tuan bisa memanfaatkan mediasi. Mediasi itu merupakan suatu proses usaha perdamaian antara suami dan istri yang telah mengajukan gugatan cerai, di mana mediasi ini di jembatani oleh seorang hakim yang di tunjuk di pengadilan agama." Ucap pengacara menjelaskan. Dan target mediasi ini biasanya di arahkan untuk merukunkan kembali kedua belah pihak dan mendorong perceraian dengan cara yang baik. Karena sering terjadi perceraian tapi tidak bisa di damaikan. Dengan cara mediasi ini walaupun mereka berpisah mereka tetap bisa saling rukun. Tanpa mempermasalahkan hal-hal lainnya di kemudian hari. " Tapi istriku sedang hamil, apa kita tidak bisa langsung membatalkan gugatannya." Ucap Ziko lagi ragu. " Kalo untuk yang membatalkan hanya pihak penggugat tuan. Tapi biasanya pada saat istri hamil, nanti hakim akan melakukan banyak pertimbangan apakah meluluskan permintaan penggugat atau menunda." Ucap pengacara menjelaskan lagi. " Baiklah kabari aku jika ada info lainnya. Dan terus berusaha untuk membatalkan perceraian ini." Ucap Ziko sebelum menutup panggilannya. Ziko mengendarai mobilnya menuju pusat kota. Jalanan pusat kota di padati kendaraan roda empat dan roda dua. Banyak warga yang pulang kerja atupun melakukan kegiatan lainnya. Ziko terjebak macet. Dari jauh Ziko bisa melihat mobil adiknya sedang parkir di sebuah kafe. Ziko memutar mobilnya untuk sampai ke kafe tersebut. Di dalam kafe. " Kamu mau pesan apa?" Ucap Koko menawari gadis cantik di depannya. " Aku mau jus sirsak." Ucap Zelin mengalihkan pandangannya agar tidak bersitatap dengan pria tersebut. Koko melambaikan tangannya ke arah pelayan. Seorang pelayan wanita datang menghampiri meja mereka. Koko memesan makanan dan minuman kepada pelayan tersebut. Pelayan tersebut meninggalkan meja setelah mencatat semua menu yang di pesan. " Maaf aku mengganggu pekerjaanmu." Ucap Zelin tidak enak hati. " Ah kamu enggak mengganggu kok. Beberapa hari ini bosku tidak datang jadi aku agak santai sedikit." Ucap Koko sambil menatap lembut gadis cantik di depannya. Zelin merasa malu dan tidak berani membalas tatapan dari pria ganteng di depannya. " Kamu bekerja di bagian apa di sana?" Ucap Zelin mengalihkan pembicaraan agar terhindar dari tatapan pria tersebut. " Owh aku bekerja sebagai sekretaris." Ucap Koko bangga. Dia dapat membanggakan dirinya dapat bekerja di perusahaan besar itu. Dan lebih membanggakan lagi dia menjadi sekertaris orang nomor satu. " Wah pasti bos kamu cantik tuh." Goda Zelin. Dia ingin melihat apa reaksi yang di timbulkan ketika Zelin membicarakan wanita lain di hadapan Koko. Apakah Koko akan membanggakan bosnya atau tidak sama sekali. " Hahaha, asal kamu tau bosku seorang pria tulen dan beristri." Ucap Koko tertawa. Koko tertawa sambil menatap gadis di depannya. Dia menatap dengan tatapan tajam. Sambil tersenyum lebar. " Aku tidak menyangka di dunia ini ada orang yang sangat mirip." Ucap Koko sambil menegakkan isi gelasnya ke dalam tenggorokannya. " Maksud kamu." Ucap Zira sambil ikut menyeruput jusnya dengan sedotan. " Ya wajah kamu sangat mirip dengan bosku." Ucap Koko sambil menikmati makanannya. Zelin langsung tersedak ketika mendengar kalimat yang di ucapkan pria tersebut. " Kamu kenapa?" Ucap Koko sambil memberikan air mineral kepada gadis cantik itu. Dari pintu ada seseorang yang masuk ke dalam kafe. Pria tersebut melebarkan pandangannya ke sekeliling kafe. Pria tersebut langsung berjalan menghampiri meja Zelin dan Koko. " Kakak." Ucap Zelin kaget karena tiba-tiba saja ada kakaknya berdiri di samping meja mereka. Koko pun ikut melihat ke samping meja. Dia melihat dari bawah ke atas. Betapa terkejutnya dia, pria yang berdiri di samping meja adalah bosnya. Bos sekaligus kakak dari gadis yang di incarnya. " Tunggu kakak di mobil." Ucap Ziko tegas. " Tapi kak?" Ucap Zelin khawatir. Dia merasa khawatir kalau kakaknya akan menghajar Koko. " Masuk dan tunggu di mobil." Ucap Ziko tegas. Dengan berat hati Zelin meninggalkan Koko dengan kakaknya. Dia menunggu di dalam mobilnya. " Jangan pernah sekali-kali kamu mendekati adikku. Pria gemulai seperti kamu tidak akan cocok untuk adikku. Ini peringatan terkahir buatmu. Kalau sampai aku melihatmu masih mendekati adikku. Siap-siap tinggalkan Raharsya group." Ucap Ziko meninggalkan kafe tersebut. Koko merasa ketakutan. Dimana dia takut akan kesalahan yang baru saja di buatnya. Yaitu peraturan perusahaan yang menyebutkan tidak boleh ada ikatan sesama rekan kerja. Dan dia mendefinisikan sendiri kalau Zelin bukan rekan kerjanya tapi adalah pemilik dari perusahaan itu. Dengan berarti dia tidak di izinkan untuk berhubungan dengan gadis itu lagi. Dia akan menjauhi Zelin demi kariernya. Demi masa depannya, walaupun dia sudah merasa ada ketertarikan dengan gadis itu, tapi dia akan menguburnya. Ziko melambaikan tangannya memerintahkan adiknya untuk ikut dengannya. Zelin langsung menuju mobil kakaknya. Dan duduk di samping Ziko. " Kakak membuntuti aku ya?" Ucap Zelin kesal. Ziko tidak menjawab, dia memang tidak berniat membuntuti adiknya. Dia hanya ingin meminta bantuan adiknya untuk mempertemukan dirinya dengan Zira. Ziko sudah menyalakan mesin mobil dan melajukan si roda empat keluar dari kafe tersebut. " Bagaimana dengan mobilku." Rengek Zelin. " Biar supir yang mengurusi mobilmu." Ucap Ziko sambil fokus mengendarai mobilnya. " Kakak jawab aku? Apa kakak baru membuntuti aku?" Ucap Zelin penasaran. " Siapa yang mengikutimu, kakak itu mau meminta bantuan samamu. Kebetulan kakak melihat ada mobil kamu di kafe, jadi kakak sempatkan untuk mampir tapi apa yang baru saja kakak lihat sungguh di luar akal sehat kakak." Ucap Ziko cepat sambil tetap menyetir. " Maksud kakak apa?" Ucap Zelin penasaran. " Kakak tidak mau membahas masalahmu, masalahmu akan kita bahas di rumah. Sekarang kakak cuma mau kamu membantu kakak untuk bertemu dengan kakak iparmu." Ucap Ziko tegas. " Apa maksud kakak? Apa kakak ingin menghina kak Zira lagi?" Ucap Zelin sambil menatap sinis ke arah pria di sampingnya. " Aih, siapa yang mau menghinanya, kakak mau meminta maaf kepadanya." Ucap Ziko semangat. Zelin membelalakkan matanya tidak percaya, karena baru tadi pagi dia mendengar kalau kakaknya ingin proses perceraian itu berjalan dengan cepat dan lancar, tapi sore ini kakaknya sudah berubah seperti bunglon. " Kakak enggak pura-pura kan?" Ucap Zelin lagi ragu. Ziko menggelengkan kepalanya. Dia tidak ada berniat untuk menyakiti hati Istrinya. Menurutnya Zelin nanti bisa mencairkan suasana yang beku antar dirinya dan Zira. " Like, komen dan vote yang banyak ya terimakasih." Chapter 200 episode 200 Ziko membawa adiknya ke Zira boutique. Mobil parkir tidak jauh dari butik. " Kak kenapa kita turun di sini?" Ucap Zelin bingung. " Coba kamu lihat di dalam butik ada tidak kakak kamu di sana?" Ucap Ziko memerintahkan adiknya. " Baik, kak." Zelin dari mobil pergi menemui karyawan di sana. Setelah berbasa-basi dengan karyawan, dia keluar dari butik sambil membawa tentengan. Dan kembali masuk ke dalam mobil kakaknya. " Enggak ada, kata karyawannya, kak Zira sudah tidak datang selama beberapa minggu." Ucap Zelin sambil membuka tentengan yang berbentuk paper bag. Di dalam paper bag itu ada sebuah baju hasil rancangan kakak iparnya. " Dari mana kamu mendapatkan itu?" Ucap Ziko sambil memperhatikan adiknya yang sedang memegang baju tersebut. " Ya belilah, gimana bagus enggak?" Ucap Zelin menunjukkan baju tersebut kepada kakaknya. Ziko menggeleng-gelengkan kepalanya tidak percaya dengan tingkah adiknya. " Di saat serius seperti ini masih sempat-sempatnya kamu membeli baju." Gerutu Ziko sambil menoyor kepala adiknya. " Hehehe, habisnya bagus kak, nanti aku enggak kebagian." Ucap Zelin asal. Ziko memikirkan tempat lain untuk menemukan istrinya. Dia mengendarai mobilnya menuju apartemen. Dan langsung parkir di depan loby apartemen. " Cepat turun." Ucap Ziko kepada adiknya. " Ini di mana?" Ucap Zelin heran. " Ayo turun kita mau menemui kakak iparmu di apartemennya." Ucap Ziko cepat sambil turun dari mobil. Zelin tidak turun dia masih berada di dalam mobil. Dia membuka pintu kaca mobil, dan sedikit berteriak memanggil kakaknya. Karena Ziko sudah berjalan mau masuk ke dalam loby. " Kakak sini?" Teriak Zelin dari dalam mobil sambil melambaikan tangannya. Ziko kembali mendekati adiknya yang masih ada di dalam mobil. " Apalagi sih?" Ucap Ziko kesal. " Kak Zira enggak ada di sini." Ucap Zelin cepat. " Dari mana kamu tau." Ucap Ziko mengernyitkan dahinya. Zelin menceritakan kalau mamanya telah mengirim orang-orang mereka untuk mengintai apartemen Zira. Dan dia juga menceritakan tentang plat mobil yang ada inisial nama orang. " Berapa nomor polisinya." Ucap Ziko penasaran. Zelin mencoba mengingat-ingat nomor plat tersebut. Ziko sudah memutari mobil dan duduk kembali di belakang setir mobil. " Ayo berapa nomor polisinya." Ucap Ziko tidak sabar. " Kalo tidak salah nomor platnya MH 3 SA. Ya itu MH 3 SA." Ucap Zelin yakin. Ziko mencoba menyambungkan huruf yang satu dengan yang lainnya. " Jadi pada saat orang-orang papa mengintai, ada mobil yang bernomor polisi MH 3 SA. Dari mobil itu keluar beberapa orang yang menggunakan pakaian pelayan. Mereka kembali masuk satu persatu dengan membawa koper dan lainnya seperti mau pindahan." Ucap Zelin menceritakan. " Terus apa?" Ucap Ziko masih penasaran. " Ya pada saat orang-orang papa mau mendekati mobil tersebut. Mobil itu langsung tancap gas. Dan orang-orang papa kehilangan jejaknya. Hanya nomor itu yang dapat mereka simpan." Ucap Adeknya menjelaskan. Ziko masih mencoba menyatukan huruf demi huruf. " Mahesa. Ya itu Mahesa, Mahesa adalah nama kakek Zira." Ucap Ziko yakin. " Ya betul kata mama Mahesa. Tapi mama dan papa masih belum menemukan keterikatan antara Mahesa dengan kakak ipar." Ucap Zelin lagi. Ziko frustasi dia memukul berkali-kali setir mobilnya. Karena otaknya buntu tidak bisa mencari keberadaan Istrinya. " Kakak tenanglah. Pasti kita bisa menemukan keberadaan kak Zira. Coba kita kembali ke rumah. Soalnya tadi aku ada dengar mama dan papa hari ini pergi ke bagian pertanahan mereka mau mengecek rumah atas nama Mahesa." Ucap Zelin menenangkan kakaknya. Ziko tidak menyalakan mesin mobilnya, dia masih berdiam di belakang setir mobilnya. Jadi Zelin berinisiatif untuk menghubungi orang tuanya. " Aku akan menghubungi mama dulu ya, mana tau mama sudah dapat informasinya." Ucap Zelin sambil menghubungi mamanya. Panggilan terhubung. " Halo mama? Ma bagaimana dengan pencarian mama dan papa di bagian pertanahan." Ucap Zelin langsung to the poin. Zelin tidak dapat jawaban dari mamanya tapi malah dapat semprotan dari orang tuanya. Zelin menjauhkan ponselnya dari telinganya. " Kenapa?" Ucap Ziko heran. " Ini mama malah jadi raper, katanya urusi saja kuliahmu." Ucap Zelin mengadu pada kakaknya. Ziko menarik ponsel adiknya. " Ma, ini Ziko. Bagaimana hasil pencarian mama? Apa sudah mendapatkan informasi dari bagian pertanahan?" Ucap Ziko cepat. Mamanya agak heran ketika anak sulungnya ikut menanyakan hal yang sama dengan anak bungsunya. Ziko menceritakan semuanya kepada mamanya tentang dia mau membatalkan perceraian itu. Nyonya Amel merasa senang mendengar cerita anaknya. Nyonya Amel tidak menanyakan perihal tentang sebab anaknya bisa berubah secepat itu. Menurutnya anaknya sudah mau berjuang untuk rumah tangganya merupakan hal yang patut di syukuri. " Mama sudah mendapatkan informasi mengenai rumah atas tuan Mahesa. Tapi hampir semua rumah atas nama Mahesa. Seperti properti juga nama Mahesa. Jadi mama sama papa lagi mencari alamat yang cocok untuk Zira tempati." Ucap Nyonya Amel dari ujung ponselnya. Ziko terdiam, di benaknya ternyata mencari keberadaan istrinya sendiri sangat sulit. " Ko, apa kamu tau hubungan antara tuan Mahesa dengan Zira?" Nyonya Amel menanyakan kepada anaknya karena mereka juga belum mengerti hubungan antara Zira dengan tuan Mahesa. Mereka masih mengait-ngaitkan kalo Zira adalah cucu dari orang nomor satu di kota itu. Tapi mereka masih kurang yakin. " Zira adalah cucu dari Eyang Mahesa." Ucap Ziko cepat. Zelin sampai kaget begitupun dengan mamanya di sana. " Serius kamu Ko?" Ucap Nyonya Amel tidak percaya. Ziko menceritakan tentang kecurigaan dia kepada istrinya. Dari tidak bisa bahasa Inggris awalnya, kemudian tiba-tiba bisa bahasa Perancis. Dan bisa bahasa Jepang semua di ceritakannya. Dan dia juga menceritakan awal mula dia mengetahui kalo Istrinya orang hebat, ketika dia ingin membeli saham properti perumahan yang mana pemiliknya adalah Zira. " Ko, bagaimana kamu meyakinkan Zira agar mau membatalkan gugatannya." Ucap Nyonya Amel ragu, menurutnya Zira tidak akan cepat luluh ketika mereka tau kalau menantunya adalah orang terpandang. " Serahkan semuanya sama Iko ma. Mama pasti akan terkejut kalo mendengar berita satu lagi." Ucap Ziko cepat. " Apa itu Ko?" Ucap Nyonya Amel penasaran. " Zira hamil ma?" Ucap Ziko menangis mengadu kepada mamanya. Zelin langsung menoleh cepat ke arah kakaknya. Dia kaget mendengar ucapan kakaknya. Begitupun mamanya. Namanya berteriak histeris, dan ikutan menangis sejadi-jadinya. Mereka merasa bersalah terhadap menantunya. Yang lebih merasa bersalah adalah Ziko. Dia merasa terpuruk membayangkan siksaan yang di berikannya kepada istrinya. " Jemput istrimu nak. Jangan sia-siakan dia. Ada darah kami yang mengalir di dalam perut istrimu." Ucap Nyonya Amel sambil berlinang air mata. " Iya ma, aku akan menjemput Zira dan calon anak kami." Ucap Ziko sambil menghapus air matanya. Panggilan terputus. Kedua orang yang berkomunikasi melalui ponsel sama-sama menangis, sama-sama tidak bisa membayangkan penderitaan Zira. " Kakak, jangan bersedih. Aku tau kakak merasa bersalah atas hal ini. Tapi jadikan ini sebagai pembelajaran buat kakak." Ucap Zelin pelan sambil menutup mulutnya. Zelin tidak menyangka dengan ucapannya yang bisa keluar dengan bijak. Ziko memandang Zelin sambil mengacak rambut adiknya. Dia merasa adiknya benar. Jadikan semua pembelajaran bukan jadikan ajang saling mengalahkan. Semua mengalami namanya problematika hidup. Ada yang bertahan dan ada yang berjuang. Semuanya tergantung dari pribadi masing-masing. Tapi Ziko akan berjuang untuk menghadapi problematika rumah tangganya dan berjuang untuk membahagiakan orang terkasihnya yaitu Zira. " Like, komen dan Vote yang banyak ya terimakasih." Chapter 201 episode 201 Ziko mencoba mengingat di mana mereka dapat mencari informasi tentang tempat tinggal istrinya. Ziko menyalakan mesin mobil secara perlahan sambil menghubungi temannya yaitu dokter Diki. Panggilan terhubung. " Ya ko ada apa?" Ucap Dokter Diki dari ujung ponselnya. " Biasanya kalo pada saat pasien mau rawat inap, apa mereka mencantumkan alamat mereka?" Ucap Ziko cepat. " Ya, kenapa?" Ucap Dokter Diki cepat. " Coba kamu cek di mana alamat tempat tinggal Zira." Ucap Ziko cepat. " Baik, aku akan mengecek, nanti aku akan menghubungimu lagi." Ucap Dokter Diki sambil menutup panggilan tersebut. Ziko masih melajukan mobilnya dengan perlahan. Dia masih menunggu kabar dari temannya. Dokter Diki langsung menghubungi bagian pendaftaran menanyakan perihal tentang pasien yang bernama Zira beserta alamat lengkapnya. Setelah mendapatkan informasi tersebut, dokter Diki langsung menghubungi Ziko kembali. " Ko, alamatnya di jalan Xy nomor. xx." Ucap Dokter Diki cepat. " Terimakasih Ki." Ucap Ziko langsung menutup panggilannya dan segera meluncur ke jalan Xy. Mereka sampai di jalan Xy kira-kira jam setengah delapan malam. Mereka memutari perumahan itu mencari nomor rumah yang tepat. Ziko berhenti pada satu rumah yang bertembok tinggi dan berpagar tinggi. " Apa kakak yakin kalo kak Zira tinggal di sini?" Ucap Zelin ragu. " Kita coba saja, ini alamat yang sesuai dengan ucapan Dokter Diki." Ucap Ziko turun dari mobil. Di ikuti Zelin yang juga ikut turun dari mobil. Ziko memencet tombol bel yang ada di pinggir pagar. Ada suara seseorang yang terdengar dari speaker di sana. " Cari siapa?" Ucap seorang pria dari dalam pagar. " Saya mau bertemu Zira." Ucap Ziko sambil menekan tombol untuk berbicara. Penjaga pagar masuk ke dalam rumah. Dan menyampaikan hal itu kepada Ibu Nur. Ibu Nur langsung menyampaikan kepada Zira. Di luar pagar. " Kak, sepertinya kakak ipar tidak tinggal di sini." Ucap Zelin ragu. " Kakak yakin, kakak iparmu tinggal di dalam rumah ini, buktinya penjaga rumah tidak membantah atau mengusir kita dengan mengatakan tidak ada." Ucap Ziko yakin. Di dalam rumah. " Mbak Zira ada tamu?" Ucap Zira yang sedang berada di ruang keluarga. " Siapa?" Ucap Zira kurang yakin. Karena dia tidak mempunyai banyak teman. Dan sebagian temannya hanya mengetahui kalo dia hanya tinggal di apartemen. Ibu Nur mengangkat kedua bahunya memberikan isyarat tidak tahu. Zira dan Kevin saling pandang. Zira mengajak Kevin masuk ke dalam ruang kerjanya. Di ikuti Ibu Nur dari belakang. Dari sana dia bisa melihat layar monitor yang mengarah ke arah pagar. Zira kaget melihat suaminya ada di depan pagarnya. " Apa yang di lakukan si ubi kayu di depan rumahku." Gerutu Zira. Kevin tidak menjawab karena otaknya juga tidak bisa menjangkau sampai sana. Karena masih ingat peristiwa tadi siang ketika dia di pukul karena terjadi kesalahpahaman. Jadi, menurutnya tidak mungkin Ziko mau meminta maaf kepada Zira secepat itu. " Ibu katakan kepadanya kalo aku tidak tinggal di rumah ini." Ucap Zira cepat. Ibu Nur memencet tombol yang ada di dekat layar. " Mbak Zira tidak tinggal di sini." Ucap Ibu Nur sambil menekan tombol untuk berbicara. Ziko dan Zelin yang berada di luar saling pandang. Ziko langsung menekan tombol tersebut dan berbicara lagi. " Aku tau Zira ada di dalam, ijinkan aku bertemu dengannya." Ucap Ziko cepat. Ibu Nur memandang majikannya lagi. Dia masih menunggu instruksi selanjutnya. " Nona sepertinya tuan muda mendapatkan alamat anda dari pihak rumah sakit. Ada baiknya anda menemuinya." Ucap Kevin cepat. " Apa kamu bilang? Aku harus menemuinya, apa kamu tidak ingat hinaan yang baru saja di ucapkannya siang tadi." Ucap Zira emosi. Kevin tidak berani berkata-kata lagi. Dia takut salah berbicara, jika dia salah berbicara maka dirinya yang akan di salahkan. " Katakan kepadanya. Kalo aku tidak mau menemuinya." Ucap Zira memerintahkan Ibu Nur. Ibu Nur mengatakan hal yang sama melalui tombol berbicara. Ziko masih tidak putus asa. Dia terus merayu agar bisa bertemu dengan Istrinya. Zelin menggeser tubuh kakaknya. Dia mengambil alih tombol bicara tersebut. " Halo kakak ipar?" Ucap Zelin sambil melambaikan tangannya ke arah kamera. " Kakak, apa kabarnya?" Ucap Zelin basa-basi. Ziko langsung menjewer kuping adiknya. " Kamu mau ngapain basa-basi seperti itu. Bicara aja ke intinya." Gerutu Ziko. " Aih kakak ini, aku kan tidak ada masalah dengan kakak ipar, yang ada masalahkan kakak." Ucap Zelin cepat. Dari layar Zira bisa melihat pertengkaran kecil antara kakak adik itu. " Kakak sayang, jawab dong. Kakak apa kabarnya?" Ucap Zelin masih di depan monitor. Ziko hanya bisa mengacak-acak rambutnya. Dia berpikir dengan membawa adiknya, maka ada jalan untuknya bertemu lagi dengan istrinya. " Kakak baik sayang." Ucap Zira dari dalam rumah. Zelin membanggakan dirinya kedepan kakaknya karena bisa membuat kakak iparnya bisa berbicara kepadanya. Ziko langsung menggeser badannya adiknya dan menekan tombol berbicara lagi. " Zira ijinkan aku berbicara denganmu secara langsung." Ucap Ziko memohon. Zira tidak menjawab permohonan suaminya. Dia merasa benci kepada suaminya. " Aku mohon Zira. Ijinkan aku berbicara denganmu. Aku mohon dengan sangat." Ucap Ziko lagi memohon. Zelin menarik tangan kakaknya dan membicarakan sesuatu kepadanya. Zira memperhatikannya dari layar monitor. " Ucapkan permintaan maaf kakak kepada kakak ipar. Jangan hanya mau ngomong mau ngomong, kakak kan juga sedang ngomong dengan kakak ipar." Ucap Zelin sedikit emosi. Apa yang di ucapkan adiknya benar. Dia memang sedang berbicara kepada istrinya walaupun ada pembatas tapi mereka tetap bisa berkomunikasi. Ziko memencet tombol berbicara lagi. " Zira, maafkan aku. Aku tau kalau aku telah menyakiti perasaanmu. Aku tau kalau aku bersalah. Tidak pantas aku mendapatkan maaf darimu setelah penghinaan yang telah aku ucapkan berulang-ulang kepadamu." Ziko terdiam sejenak untuk menyambung kalimat selanjutnya. " Aku ingin menebus semua kesalahanku kepadamu. Maafkan aku Zira. Karena keegoisanku, aku tidak mengetahui tentang perasaanku kepadamu. Tapi sekarang aku sadar kalau aku sangat mencintaimu." Ucap Ziko pelan sambil tertunduk. Hati Zira terenyuh mendengar itu. Tapi dia masih belum bisa memafkan perbuatan suaminya. " Tidak segampang itu bagimu untuk meminta maaf kepadaku, Setelah hinaan yang engkau lontarkan." Ucap Zira ketus. " Zira aku menyesal, aku tidak tau kalau kamu telah mengandung, jangan siksa aku seperti ini." Ucap Ziko lagi. " Kamu mencintaiku karena ada janin di dalam perutku. Kalau aku mandul apa kamu masih mencintaiku." Ucap Zira cepat. " Zira, jangan beri pertanyaan seperti itu. Aku mencintaimu sekarang, dan yang kemaren telah menjadi masa laluku." Ucap Ziko lagi. " Semua sudah jelas, kamu hanya mencintai janin ini tidak mencintaiku." Ucap Zira cepat. " Tidak Zira, bukan seperti itu. Aku mencintaimu, tapi aku tidak tau akan artinya cinta. Cinta itu sebenarnya sudah ada dan aku baru menyadarinya." Ucap Ziko lagi dari luar pagar. " Terserah kamu mau mengatakan apa tentang perasaanmu kepadaku. Yang jelas cintaku kepadamu sudah hilang ketika kamu menghinaku. Cintaku kepadamu telah berubah menjadi kebencian." Ucap Zira cepat. Ziko diam. Rasa cinta istrinya telah berubah menjadi kebencian dan semua karena ulahnya dan karena keegoisannya. " Zelin pulanglah. Jangan libatkan dirimu dengan masalah kami. Kakak menyayangimu." Ucap Zira sambil mencabut kabel layar monitor. Ziko teriak- teriak di luar sambil memukul dan menendang pagar. Ziko terus menyebutkan nama istrinya. " Kakak pulanglah. Tidak baik kalau di lihat orang." " Zira, aku mencintaimu." Teriak Ziko sambil menggedor-gedor pagar. " Kakak jangan seperti anak kecil. Masih ada hari esok. Besok kakak bisa memikirkan cara untuk menemui kak Zira." Ucap Zelin cepat. Zelin kesal karena kakaknya tidak mau bergerak, masih terus memukul dan menendang pagar. Di dalam benaknya dia berpikir. Cinta memang sulit di artikan. Cinta datang dan pergi sesuka hati. Tapi cinta sejati tidak akan pernah pergi dari sisinya. Cinta sejati akan mencari cinta sebenarnya. " Like, komen dan Vote yang banyak ya terimakasih." Chapter 202 episode 202 Di dalam rumah Zira menangis kembali. Setelah pengakuan mengenai perasaan yang di lontarkan suaminya, perasaannya semakin sakit. Sakit karena mengetahui kalau Ziko mencintainya bertepatan dengan adanya janin di dalam perutnya. " Aku ingin menggugurkan kandungan ini." Ucap Zira teriak histeris. " Nona apa yang anda lakukan. Janin yang ada di dalam perut anda tidak bersalah. Jangan hukum dia dengan permasalahan kalian berdua. Biarkan dia lahir seperti yang di kehendaki Tuhan." Ucap Kevin menenangkan Zira. Zira masih menangis tersedu-sedu. Kehadiran Ziko ke rumahnya bukan membuat hatinya senang, karena telah mengungkapkan perasaannya. Tapi kehadirannya malah menghancurkan hatinya kembali. Di dalam benaknya suaminya hanya mencintai dirinya karena ada janin di dalam perut. " Jangan membuat dosa besar dengan mengugurkan kandungan anda. Seharusnya anda berbangga hati karena apa yang di tuduhkan tuan muda kepada anda semua salah. Buktinya anda sedang mengandung anaknya." Ucap Kevin lagi. " Benar mbak Zira. Jaga dan rawat janin ini. Tuhan mengirimkan malaikat kecil ini ke dalam perut anda mungkin ada hikmah di dalamnya." Ucap Ibu Nur. Hikmahnya mungkin dengan Zira mengandung, mereka bisa bersatu kembali seperti layaknya pasangan suami istri yang lain. Walaupun kebencian itu sudah menggerogoti rasa cintanya. Tapi dia tidak menyesal karena telah pernah mencintai suaminya. Pelan-pelan dia yakin rasa cintanya akan hilang seiring jalannya waktu. " Kakak ayo kita pulang, mau sampai jam berapa kakak di sini?" Gerutu Zelin. Ziko masih memukul dan berteriak kencang. Penjaga yang berada di dalam merasa berisik dengan suara yang di timbulkan dari Ziko. Penjaga membuka sebagian pagar. " Cepat kamu pulang dari sini!" Ucap penjaga itu berteriak. Ziko memohon kepada pria tersebut. " Izinkan saya bertemu dengan isteri saya." Ucap Ziko memohon. " Kamu kan sudah dengar kalo nona tidak mau bertemu dengan anda." Ucap pria tersebut. Zelin ikut membujuk pria tersebut. " Izinkan kakak saya ya pak." Ucap Zelin cepat. Zelin mengedipkan mata ke arah kakaknya. Ziko mengerti arti kode yang di berikan adiknya. Pria itu sibuk menjawab semua rayuan Zelin. Ketika pria itu lengah Ziko langsung berlari masuk ke dalam pagar. " Hey kamu, cepat Keluar." Ucap pria yang berada di luar mengejar Ziko. Penjaga yang lain sibuk mengejar Ziko. Mereka kewalahan untuk mengejar karena perut buncit menjadi penghalang yang membuat mereka susah bergerak dengan bebas. Ziko sudah masuk ke dalam rumah. Dia berteriak memanggil nama Zira. " Zira, Zira." Teriak Ziko sambil memasuki semua ruangan. Penjaga masih mengikuti Ziko dari belakang. Dari ruang kerja terdengar ada suara kebisingan dari lantai bawah. Ibu Nur pamit pergi keluar melihat apa yang terjadi. Di lantai bawah dia melihat Ziko masih lari kesana kemari mencari istrinya. " Apa yang terjadi di lantai bawah?" Ucap Zira penasaran sambil ikut turun ke lantai bawah bersama Kevin. Zira berhenti di anak tangga, dia kaget melihat suaminya sudah masuk ke dalam rumahnya. Ziko melihat ada sosok Istrinya yang berdiri di ujung atas anak tangga. Ziko berhenti ketika melihat sosok Istrinya. Penjaga langsung memegang kedua tangannya. Dan menendang bagian belakang lututnya, sehingga Ziko berlutut di lantai. " Zira, maafkan aku." Ucap Ziko dengan posisi berlutut dan tangan di pegang ke arah belakang. Melihat seperti itu Zira tidak tega. Perlakuan yang di berikan penjaga kepada suaminya sangatlah tidak pantas. Perlakuan seperti itu hanya bisa di berikan kepada seorang penjahat. " Lepaskan." Ucap Zira cepat. Ziko langsung berdiri dan berlari menaiki beberapa anak tangga. Ketika dia mau menaiki anak tangga yang lainnya, kedua pergelangan tangannya sudah di pegang lagi oleh penjaga. Posisi Zira dan Ziko hanya beberapa anak tangga saja. Ziko berontak dari genggaman dua pria di sampingnya. Semakin Ziko memberontak semakin keras genggaman dua pria tersebut. " Zira izinkan aku berbicara denganmu." Ucap Ziko memohon. Zira tidak menjawab dia hanya memandang jauh ke arah lain. Dari luar ada seseorang yang masuk ke dalam rumah tersebut. " Kak Ziko?" Ucap Zelin cepat sambil berlari ke arah kakaknya. Zelin memukul lengan pria yang memegang tangan kakaknya. " Kak Zira, aku mohon perintahkan kepada dua pria ini untuk melepaskan kak Ziko." Ucap Zelin memohon. Zira melambaikan tangannya kepada dua pria tersebut. Dua pria tersebut langsung melepaskan genggamannya. Ziko memegang pergelangan tangannya. " Zira izinkan aku berbicara empat mata denganmu." Ucap Ziko memohon. " Pulanglah, jangan habiskan waktumu dengan mengemis seperti itu. Keputusanku tetap sama yaitu cerai." Ucap Zira cepat sambil memutar badannya naik ke anak tangga lainnya. " Zira apa kamu tidak memberikan kesempatan kepadaku untuk menebus semua kesalahanku." Ucap Ziko masih memohon. Zira membalikkan badannya lagi dan melihat kembali ke arah suaminya. " Kesempatan kamu bilang. Kenapa kamu baru mengatakannya sekarang, kenapa kamu tidak mengatakan pada saat malam anniversary kita. Kenapa?" Ucap Zira penuh emosi. Pada saat anniversary, Zira ingin suaminya mengatakan tentang kesempatan kedua untuk rumah tangganya. Walaupun suaminya pada saat itu mengatakan belum mempunyai perasaan kepada dirinya, tapi dia ingin Ziko berusaha dengan rumah tangganya. Bukan dengan perkataan pisah. " Aku tau semua salahku. Semua karena keegoisanku, tapi belum ada kata terlambat untuk kita memulainya kembali." Ucap Ziko dengan intonasi yang pelan. " Bagimu mungkin belum ada kata terlambat tapi bagiku semua sudah terlambat." Ucap Zira ketus. Apapun yang di ucapkan Zira tentang hubungan mereka, dia tetap akan berjuang mempertahankan rumah tangganya. Zira melambaikan tangannya kepada penjaga, untuk membawa Ziko keluar dari rumah itu. " Lepaskan." Ucap Ziko memberontak. Penjaga sudah menarik tangan Ziko dan membawanya keluar rumah tersebut. Zelin berlari menaiki anak tangga mengejar kakak iparnya yang sudah tidak terlihat lagi dari bawah. Ibu Nur dan pelayan lainnya berusaha untuk mengejar Zelin. Di lantai atas dia melihat kakak iparnya mau memasuki sebuah ruangan, dan Zelin tidak tau ruangan apa itu. " Kakak ipar." Ucap Zelin dengan nafas yang ngos-ngosan. Zira membalikan badannya, melihat gadis cantik yang telah berdiri kurang lebih 20 meter dari tempatnya. Ibu Nur dan pelayan yang lain ingin menarik tangan Zelin tapi di tahan oleh Kevin. " Kakak izinkan aku memelukmu." Ucap Zelin pelan. Zira menganggukkan kepalanya. Zelin berlari dan memeluk kakak iparnya. Kedepannya dia tidak tau mengenai pernikahan keduanya. Yang jelas di dalam benaknya Zelin, jika hubungan pernikahan kakaknya harus berakhir maka berakhirlah dengan damai, tanpa ada permusuhan. " Kakak, mungkin aku hanya bisa memelukmu hari ini saja, besok-besok pasti akan sulit untuk menemuimu." Ucap Zelin memeluk erat kakak iparnya. " Pulanglah, katakan kepada kakakmu berbesar hatilah menghadapi ini semua, seperti kakak telah berbesar hati menerima penghinaan darinya." Ucap Zira cepat. " Kakak, apakah kakak tidak memaafkan kak Ziko?" Ucap Zelin masih di dalam pelukan kakak iparnya. Zira diam, dia tidak berkata-kata apakah dia bisa memaafkan atau tidak. " Perlakuan yang di berikan kakakmu sangat sulit untuk di lupakan, semua masih menjadi kenangan buruk buat kakak." Ucap Zira pelan. Zira yakin masalahnya akan cepat selesai, baik selesai di meja hijau atau yang lainnya. Menurutnya untuk sekarang dia lebih memilih menenangkan hatinya yang bergejolak. Bergejolak karena amarah, bergejolak karena benci dan bergejolak karena sakit hati. Karena jika soal hati yang berbicara akan sulit untuk di lupakan, karena hati merupakan kelenjar terbesar dalam tubuh manusia. " Like, komen dan Vote yang banyak terimakasih." Chapter 203 episode 203 Zelin dengan susah payah membawa kakaknya pulang. Zelin yang mengambil alih mengemudikan mobil. Di dalam perjalanan ke rumah hanya ada keheningan, ada suara kendaraan yang lalu lalang di sekitar jalanan. Zelin tidak berniat untuk membuka pembicaraan, dia lebih memilih fokus dalam mengendarai mobil. Mobil sudah sampai di perkarangan rumah. Zelin turun dari mobil tapi kakaknya belum ikut turun. " Kak, sudah sampai." Ucap Zelin sambil membungkukkan badannya melihat ke arah kakaknya yang masih duduk diam di samping kursi kemudi. Ziko tidak bergeming, dia masih melamunkan kejadian tadi, melamunkan masalahnya. Ziko tersentak kaget karena ada suara pintu mobil di tutup. Ziko melihat ke sebelahnya, sudah tidak ada adiknya di situ. Dia melihat lagi ke sekelilingnya. Ziko baru tersadar kalau dirinya sudah sampai di rumahnya. Dengan langkah gontai dia masuk ke dalam rumah. " Mana kakakmu?" Ucap Nyonya Amel kepada anak bungsunya. Tidak berapa lama Ziko masuk ke dalam rumah. Dia melihat mamanya sedang mengobrol dengan adiknya. Nyonya Amel langsung memeluk anak sulungnya. Nyonya Amel ikut prihatin melihat rumah tangga anaknya. Ziko pergi meninggalkan mamanya, dia memilih masuk ke dalam kamarnya. Nyonya Amel dan tuan besar melihat anaknya tidak ada rasa semangat lagi dalam dirinya. Nyonya Amel menarik tangan Zelin ke ruang keluarga. " Apa kalian dapat menemukan tempat tinggal Zira?" Ucap Nyonya Amel penasaran. Zelin menganggukkan kepalanya, sambil beranjak dari sofa. Tapi Nyonya Amel menahan tangan anaknya. " Ceritakan kepada mama dan papa, apa kalian bertemu dengan Zira?" Ucap Nyonya Amel lagi. " Iya ma, kami sudah bertemu dengan kak Zira. Bolehkah aku makan. Perut bagian tengahku sudah menari-nari minta di isi." Ucap Zelin sambil memegang perutnya. Zelin sudah tidak bisa menahan rasa laparnya lagi. Sudah hampir 4 jam mereka di rumah Zira. Dan tanpa makan sedikitpun. Zelin pergi ke meja makan, dia mau menikmati makan malamnya yang tertunda. " Pa sepertinya Ziko belum makan juga, mama khawatir dia sakit." Ucap Nyonya Amel pergi meninggalkan suaminya yang duduk di ruang keluarga. Nyonya Amel mengambil nasi, lauk dan meletakkannya di atas piring. Dan beberapa buah yang sudah di potong. " Pak antarkan ini ke kamar Ziko." Ucap Nyonya Amel kepada Pak Budi. Pak Budi meletakkan piring tersebut ke atas nampan. Dan membawanya ke lantai atas. Pak Budi mengetuk pintu kamar, beberapa kali tidak ada jawaban dari dalam kamar. Pak Budi memberanikan diri untuk membuka pintunya, dia masih khawatir dengan kejadian beberapa hari yang lalu, pada saat dia dan Zelin melihat majikannya terkapar tak berdaya di kamar. Pak Budi melihat majikannya terlentang sambil memandang langit-langit kamar. " Maaf mengganggu tuan, ini saya bawakan makan malam anda." Ucap Pak Budi. Tapi Ziko tidak bergeming sama sekali. Dia sedang berperang dalam pikirannya sendiri. Pak Budi keluar dari kamar dan memberitahukan hal itu kepada Nyonya Besar. " Makanan sudah saya antar ke kamar, tapi sepertinya tuan sedang memikirkan sesuatu, beliau tidak bergeming sama sekali ketika ada saya di kamar itu." Ucap Pak Budi menjelaskan. " Baiklah Pak, saya akan melihatnya ke kamar." Ucap Nyonya Amel langsung berjalan menaiki anak tangga. Di dalam kamar Nyonya Amel mendapati anaknya sama persis seperti yang di bilang Pak Budi. Nyonya Amel menggoyangkan tangan anaknya. Ziko tersentak dan langsung duduk di pinggir kasur. " Makanlah sayang." Ucap Nyonya Amel memberikan nampan yang berisi makanan. " Aku enggak selera makan ma." Ucap Ziko cepat. Dari ekspresi yang di berikan Ziko kepada dirinya, menunjukkan kalau rencana anaknya untuk merayu Zira tidak berhasil. Walaupun Nyonya Amel tidak bertanya tapi bisa di baca dari raut wajah anaknya yang sendu. " Kamu harus makan, bagaimana kamu membesarkan anak kamu, kalo kamu sendiri seperti ini." Ucap Nyonya Amel menyemangati. " Apa mungkin kami akan membesarkan anak kami bersama-sama." Ucap Ziko ragu. " Ko, kamu jangan menyerah, mama tau kamu pasti putus asa karena mendapat penolakan dari Zira. Tapi bukan berarti kamu langsung menyerah. Kamu harus berjuang kembali untuk merebut simpati Zira lagi." Ucap Nyonya Amel cepat. " Bagaimana aku bisa merebut simpati Zira, sedangkan aku tidak bisa bertemu dengannya, kami berbicara saja ada jarak." Gerutu Ziko kesal dengan keadaan. " Ko, semakin sulit kamu merebut cinta Zira, maka semakin sulit juga kamu akan melepaskannya." Ucap Nyonya Amel menyakinkan anaknya. Menurutnya pernikahan anaknya karena ancaman yang di berikannya kepada Zira. Dengan ancaman itu membuat Ziko dengan cepat dapat memiliki Zira. Ziko mendapatkan Zira melalui proses yang gampang dan tanpa proses panjang. Hal ini yang menyebabkan Ziko dengan gampang melepaskan Istrinya. " Bagiamana caraku merebut hati Zira kembali." Ucap Ziko ragu sambil memandang wajah orang tuanya. " Pertama kamu harus semangat untuk bangkit dari keterpurukan, seperti ini." Ucap Nyonya Amel menunjukkan piring ke depan anaknya. Ziko menerima piring yang di berikan mamanya. " Yang kedua, jangan siksa tubuhmu, dengan tidak makan sesuatu. Itu namanya kamu menambah siksaan untuk dirimu sendiri." " Yang ketiga, kamu harus memberikan perhatian kepada Zira." Ucap Nyonya Amel lagi. " Caranya bagaimana ma?" " Kamu bisa mengirimkan sesuatu kerumah Zira. Bisa bunga, boneka atau yang lainnya. Dengan seperti itu pelan-pelan Zira akan terus mengingat kamu." Ucap Nyonya Amel lagi. Nyonya Amel merencanakan itu semua, agar Zira tidak melupakan anaknya, semakin sering Ziko mengirimkan sesuatu yang romantis, maka kenangan mereka yang indah tidak akan bisa di lupakan Zira. Ziko mulai memahami maksud mamanya. Dia akan berencana mulai mengirimkan sesuatu besok ke rumah Zira. " Makanlah." Ucap Nyonya Amel sambil mengingatkan kembali anaknya. " Aku sulit makan ma, entah kenapa beberapa hari ini aku sering pusing dan mual apalagi pada saat pagi hari, badanku malas bergerak dan pasti aku muntah, dan aku hanya ingin makan yang segar-segar." Ucap Ziko cepat. " Apa kamu sudah periksa ke dokter?" Ucap Nyonya Amel khawatir. " Sudah, kata Diki aku tidak sakit apapun hanya pusing biasa." Ucap Ziko cepat. " Sudah berapa lama kamu mengalami pusing seperti ini." Ucap Nyonya Amel penasaran. " Beberapa minggu ini." Ucap Ziko lagi. Nyonya Amel berdiam sejenak sambil memuji sesuatu. " Sepertinya kamu ngidam." Ucap Nyonya Amel cepat. " Maksud mama apa?" Ziko bingung. " Ya, biasanya kalau istri kita hamil pasti mengalami namanya ngidam, Zira kan sedang hamil jadi yang mengalami ngidam adalah kamu." Ucap Nyonya Amel tersenyum tipis. " Apa Zira juga mengalami hal seperti ini?" Ucap Ziko penasaran. " Mungkin iya mungkin tidak." " Apa ngidam membahayakan bagi ibu hamil dan janinnya?" Ucap Ziko lagi khawatir. " Ya bahaya kalo si ibu tidak mau makan sesuatu, maka bisa membahayakan janinnya. Karena si janin hanya mendapatkan nutrisi dari ibunya." Ucap Nyonya Amel menjelaskan. Ziko jadi merasa khawatir mendengar penjelasan mamanya. Dia khawatir kalau Zira tidak bisa makan sesuatu. Maka akan berdampak pada anaknya. " Ma, aku takut anakku tidak makan sesuatu." Ucap Ziko khawatir. " Mama rasa Zira tau cara mengatasinya." Ucap Nyonya Amel cepat. " Ma, bagaimana kalo Zira benci dengan anak yang di kandungnya." Ucap Ziko cemas. " Maksud kamu apa?" Ziko menjelaskan tentang pertemuannya dengan Zira. Dan dia juga sudah mengungkapkan perasaannya kepada istrinya. " Bagaimana reaksi Zira ketika kamu mengatakan hal itu." Ucap Nyonya Amel lagi. " Dia merasa, kalau aku hanya mencintainya karena ada anak kami dalam perutnya. Selebihnya tidak." Ucap Ziko cemas. Nyonya Amel menenangkan anaknya, agar tidak memikirkan hal-hal yang aneh, walaupun dia memang ada rasa kekhawatiran mendengar ucapan Ziko. Tapi Nyonya Amel mencoba bersikap tenang. " Memang wajar kalau Zira mengatakan seperti itu, karena tiba-tiba kamu mengatakan cinta kepadanya pada saat kamu sudah tau ada benih kalian di sana. Tapi menurut mama Zira bisa mengendalikan emosinya dan bisa bersikap bijak." Ucap Nyonya Amel menenangkan anaknya. Ziko merasa tenang mendengar penjelasan dari mamanya. Nyonya Amel ingin menemui menantunya, menurutnya di terima atau di tolak nantinya tidak masalah. Dia hanya ingin menjalin silaturahmi yang putus karena ulah anaknya sendiri. " Like, komen dan Vote yang banyak ya terimakasih." Chapter 204 episode 204 Pagi harinya. Suasana pagi yang cerah menyambut datangnya sang mentari. Hiduplah dan bangunlah, tanpa ada rasa kebencian, keraguan dan kegalauan. Apapun yang terjadi hadapilah. Ziko tidak menunggu keajaiban dunia untuk memulai pagi ini, tanpa menunggu keajaiban dia sudah merencanakan sesuatu untuk menarik simpati istrinya. Ziko pergi ke ruang makan, kebiasaan yang selalu di lakukan Keluarga itu. Makan bersama sebelum melakukan aktivitas. Dengan berat Ziko tetap memakan sarapannya. Ziko berangkat ke kantor, walaupun hatinya masih galau, dia tetap harus berdiri tegak. " Kamu berangkat ke kantor nak?" Ucap sang mama. " Iya ma." Ucap Ziko cepat. " Ko, jadi siapa yang akan menggantikan asisten Kevin?" Ucap sang papa. " Ntahlah, aku belum menemukan calon yang tepat untuk dirinya." Ucap Ziko lagi. " Kenapa kamu tidak panggil aja lagi asisten Kevin untuk bergabung dengan Raharsya group." Ucap Nyonya Amel. " Hemmm, dia sudah bekerja dengan orang lain." Ucap papanya cepat. " Dari mana papa tau kalau Kevin sudah bekerja dengan orang lain." Ucap sang isteri penasaran. Tuan besar belum bicara, tapi sudah di potong pembicaraannya oleh anak sulungnya. " Betul ma, asisten Kevin sudah bekerja dengan orang lain, asal mama dan papa tau, dia telah bekerja dengan Zira." Ucap Ziko ada rasa benci dengan mantan asistennya. Papa dan mamanya saling pandang. Mereka kaget mendengar penuturan anaknya. " Bagus kalau seperti itu, ada yang menjaga Zira ketika dia lagi membutuhkan sesuatu." Ucap Tuan besar. " Apanya yang bagus, kalau dia juga suka dengan Zira bagaimana?" Ucap Ziko cepat tidak membayangkan apa yang terjadi jika pikirannya benar adanya. " Hust, jangan kamu ngomong seperti itu, omongan itu doa." Ucap mamanya mengingatkan anaknya. " Tapi ma, kalau asisten Kevin benar-benar suka sama kakak ipar, berarti tambah seru dong." Ucap Zelin ikut nyeletuk. Ziko langsung menoyor kepala adiknya. " Apanya yang seru, yang benar dia akan mengambil istriku." Ucap Ziko khawatir. " Ah kakak, justru itu tantangan buat kakak, kalau benar adanya berarti kakak harus mulai melakukan strategi." Ucap Zelin cepat sambil menikmati sarapannya. " Tidak perlu melakukan strategi apapun, cukup ambil simpati Zira, mama yakin kalau ruang hati Zira masih ada untuk kamu." Ucap Nyonya Amel cepat. " Baiklah aku akan berangkat kerja dulu." Ucap Ziko cepat sambil beranjak dari kursi makan. Sebelum berangkat Ziko membisikkan sesuatu ketelinga adiknya. " Urusan kita belum selesai." Ucap Ziko berbisik. " Tentang apa?" Ucap Zelin lupa. " Koko." Ucap Ziko kembali berbisik. Zelin langsung menutup mulutnya tidak percaya, dia berpikir kalau kakaknya akan melupakan masalahnya dengan Koko karena kakaknya juga mempunyai masalah sendiri. Pasangan suami istri yaitu Nyonya Amel dan suaminya hanya menggelengkan kepalanya tidak mau terlibat dalam urusan kakak beradik itu. Ziko menyalakan mesin mobil, dan menuju jalan raya. Pemandangan yang terlihat dari kaca mobil adalah kepadatan lalu lintas di sepanjang jalan membuat udara terkontaminasi dengan asap dari kendaraan tersebut. Pepohonan yang ada di sepanjang jalan tidak dapat mengontrol populasi udara tersebut, karena di bandingkan dengan jumlah pepohonan lebih banyak jumlah kendaraan bermotor. Didalam kemacetan Ziko memikirkan obrolan dia dengan keluarganya. Ada rasa khawatir ketika dia harus bersaingan dengan mantan asistennya. Dia mencoba menepis pikiran yang aneh-aneh, tapi semakin dia mengingat peristiwa tadi malam, yang mana ada Kevin di dalam rumah Istrinya, membuat dia jadi berpikir yang aneh. Ziko memutar mobilnya, dia melajukan mobilnya ke arah lain. Dalam perjalanan dia berhenti di depan toko bunga. Penjaga toko menyapa ramah kepada calon pembelinya. " Ada yang bisa saya bantu?" Ucap penjaga toko. " Kirimkan bunga ini semua ke alamat ini?" Ucap Ziko menunjuk semua bunga yang ada di toko bunga tersebut. Si penjaga kaget karena dia baru saja membuka tokonya tapi tiba-tiba ada seseorang yang ingin memborong semua bunganya. " Maksud Bapak apa?" Ucap penjaga toko meyakinkan lagi. " Aku bilang bungkus semua bunga di sini, dan kirim ke alamat ini." Ucap Ziko memberikan kertas yang berisi alamat rumah Zira. Si penjaga toko merasa senang ketika semua barang dagangan di borong oleh orang kaya di depannya. Menurutnya pagi yang membawa berkah. Penjaga toko tadi menjumlahkan berapa total harga bunga tersebut dan menyerahkan kepada Ziko. Ziko langsung membayar dengan kartunya. " Pastikan hari ini di antar." Ucap Ziko sebelum meninggalkan toko tersebut. " Baik Pak, terimakasih banyak." Udah penjaga toko tersenyum lebar mendapatkan rezeki secepat itu. Ziko melajukan mobilnya kembali, dia memutar arah mobil bukan ke kantor. Ziko ingin mengerjakan sesuatu yang sangat penting. Ziko berhenti didepan sebuah rumah. Rumah yang tidak terlalu besar dari tempat tinggalnya. Ziko memencet bel rumah tersebut beberapa kali. Tidak berapa lama ada seseorang yang membuka pintu rumah. Sang pemilik rumah kaget mendapati Ziko ada di depan rumahnya. " Tuan muda." Ucap Kevin kaget. Ziko tidak menjawab, dia merasa benci melihat mantan asistennya. " Silahkan masuk." Ucap Kevin mempersilahkan masuk. Ziko tidak mau masuk dia hanya berdiri di depan pintu sambil berkacak pinggang. Apa tuan muda ke rumahku mau minta maaf atas perlakuannya kepadaku atau mau meminta bantuan agar bisa dekat kembali dengan nona Zira. " Aku tidak mau membuang waktuku dengan orang sepertimu." Ucap Ziko ketus. Kevin masih menunggu kalimat selanjutnya. " Jangan pernah kamu dekati istriku." Ucap Ziko cepat. " Maaf tuan, saya tidak pernah mendekati nona Zira, saya hanya membantunya saja." Ucap Kevin meluruskan masalah yang selama ini membuat dirinya selalu menjadi kambing hitam. " Tidak usah banyak bicara, aku mau kamu tidak berada di dekat istriku." Ucap Ziko lagi tegas. " Maaf tuan, saya sudah di tugaskan nona Zira untuk membantunya tidak lebih dari itu." Ucap Kevin pelan melakukan pembelaan. " Aku tidak percaya dengan semua ucapanmu, pasti kamu ingin merebut Zira dari sisiku, iya kan?" Ucap Ziko emosi. " Tuan sudah saya katakan saya tidak bermaksud seperti itu." Ucap Kevin lagi. " Kamu lama-lama ngeselin ya, lebih baik kamu menjauh dari istriku, kalau tidak aku akan memusnahkan dirimu." Ucap Ziko mengancam. " Silahkan tuan memusnahkan saya, jika dengan memusnahkan saya hubungan anda membaik maka silahkan, tapi jika dengan memusnahkan saya membuat hubungan anda semakin memburuk bagaimana?" Ucap Kevin cepat. Ziko diam, tidak berkata-kata. " Saya tidak pernah ingin merebut ataupun ingin memiliki nona Zira. Tapi kalau anda merasa saya saingan buat anda, dengan senang hati saya akan menjadi saingan terberat anda." Ucap Kevin tegas. Ziko menghembuskan nafasnya dengan kasar. Dia menahan emosinya agar tidak memukul pria di depannya. " Tuan jika anda tidak ada keperluan lagi, silahkan anda pulang, saya masih banyak kerjaan. Dan nona Zira juga sedang menunggu saya." Ucap Kevin mengusir Ziko. Kevin langsung menutup pintunya. Dia tidak mau meladeni mantan bosnya. Karena dia paham dengan karakter bosnya yang gampang emosi dan berpikiran pendek. Ziko menendang pintu rumah Kevin sebelum pergi meninggalkan perumahan tersebut. Dia merasa Kevin adalah saingan terberatnya sekarang. " Like, komen dan Vote yang banyak ya terimakasih." Chapter 205 episode 205 Zira kaget ketika melihat rumahnya penuh dengan bunga. Dia mencari kartu ucapan dari balik celah bunga tersebut. Kartu itu bertuliskan. Terkadang bukan kupu-kupu yang memberitahu bahwa kamu sedang jatuh cinta, tapi rasa sakit. Cinta itu bukan apa yang di pikirkan oleh akal tapi cinta adalah apa yang di rasakan oleh hati. Seperti hatiku padamu. by Ziko Kata-kata yang tertulis di kartu itu membuat Zira terenyuh sejenak. Membuatnya membayangkan sisi romantis dari diri suaminya. Sisi romantis yang tidak pernah di perlihatkan kepadanya. Kevin sudah tiba di kediaman Zira. Dia juga melihat beraneka ragam bunga berada di setiap ruangan. " Siapa yang memberi bunga indah ini?" Ucap Kevin sambil memegang salah satu bunga. Zira memberikan kartu ucapan yang di pegangnya kepada Kevin. Kevin membaca kartu tersebut sambil tersenyum tipis. " Nona suami anda sangat romantis." Ucap Kevin cepat. " Tidak perlu kamu memujinya di depanku." Ucap Zira ketus. " Maaf nona." Ucap Kevin langsung menutup mulutnya. Di Gedung Rahasrya group. Ziko sudah berada di gedung tersebut. Sebelum memasuki ruangan, dia melirik pria gemulai yang jadi sekertarisnya. Koko hanya bisa menundukkan kepalanya segan. Dia masih merasa segan ketika kedapatan telah duduk berdua dengan adik dari bosnya. " Bawa semua berkas-berkas penting ke dalam ruanganku." Ucap Ziko sambil lalu meninggalkan pria tersebut. Koko menganggukkan kepalanya cepat. Secepat kilat dia mengantarkan tumpukan berkas ke meja bosnya, dan meletakkannya diatas meja. Koko membalikkan badannya ingin meninggalkan ruangan tersebut. " Ceritakan kepadaku, sejak kapan kamu berpacaran dengan adikku." Ucap Ziko ketus sambil tetap melihat berkas yang ada di depannya. Koko memutar badannya untuk bisa menatap bosnya, walaupun hanya dengan tertunduk. " Maaf bos, saya dan Zelin tidak berpacaran." Ucap Koko gugup. " Jangan bohong." Ucap Ziko mengebrak meja. " Eh copot copot copot." Ucap Koko latah. " Tingkahmu saja sudah seperti banci, lebih baik kamu pergi menjauh dari kehidupan adikku." Ucap Ziko ketus. " Baik bos, saya tidak akan mendekati Zelin lagi, kalau saya tau dia adik sekaligus pemilik dari perusahaan ini, pasti saya sudah mundur dari awal." Ucap Koko mantap. Walaupun ada rasa ketertarikan dengan Zelin, tapi untuk saat ini dia lebih memilih melupakan gadis tersebut. Biarlah pertemuan mereka menjadi kenangan indah di dalam benaknya. Koko sudah meninggalkan ruangan bosnya. Tinggal Ziko yang masih duduk dengan semua kesibukannya. Kesibukan kerja yang telah beberapa hari tidak dia selesaikan. Pintu bel rumah Zira berbunyi. Ada seorang wanita paruh baya yang berada di depan pagar rumahnya. Penjaga bertanya melalui tombol berbicara. " Ada keperluan apa ibu ke sini?" Ucap penjaga dari balik pagar. " Saya mau bertemu dengan pemilik rumah ini." Ucap Nyonya Amel cepat. Penjaga tadi masuk ke dalam rumah dan membicarakan hal tersebut kepada orang kepercayaan Zira yaitu Ibu Nur. " Pagi Bu, ada seseorang yang ingin bertemu dengan nona Zira." Ucap penjaga tadi. " Siapa? Apa pria yang kemaren lagi?" Ucap Ibu Nur. Dia berpikiran kalau suami majikannya datang kembali ke rumah itu. " Bukan Bu, ini seorang wanita paruh baya." Ucap penjaga tadi cepat. Ibu Nur memberitahukan hal ini kepada Zira. Kebetulan Zira ada di ruang makan sedang duduk dan mengobrol. " Siapa itu Bu?" Ucap Zira cepat. " Saya kurang tau mbak. Kata penjaga seorang wanita paruh baya." Ucap Ibu Nur menjelaskan. " Baiklah perintahkan untuk masuk." Ucap Zira lagi. " Tapi apa tidak sebaiknya mbak Zira melihat dulu ke layar monitor. Saya khawatir ada orang yang ingin berbuat jahat kepada anda." Ucap Ibu Nur khawatir. Walaupun Zira tidak mempunyai musuh tapi lebih baik berjaga-jaga begitu pikiran Ibu Nur. Zira memerintahkan Kevin untuk melihat orang yang berada di luar pagarnya. Kevin dan Ibu Nur melihat dari layar monitor yang berada di pos penjagaan. Kevin mengenali wanita tersebut. Dia memerintahkan penjaga untuk membukakan pintu pagar kepada wanita tersebut yaitu Nyonya Amel. Nyonya Amel masuk kedalam pagar tersebut. Di dalam pagar dia di sambut oleh dua orang pria dan wanita. Yang wanita Nyonya Amel tidak mengenalnya, sedangkan yang pria dia sangat mengenal dekat dengan pria tersebut yaitu Kevin. " Selamat pagi Nyonya besar." Ucap Kevin ramah. Nyonya Amel tidak begitu kaget ketika melihat Kevin berada di rumah itu. Nyonya Amel hanya menggunakan kepalanya tidak berbicara. Ibu Nur membawa tamu majikannya memasuki rumah tersebut. Nyonya Amel di persilahkan untuk menunggu Zira di ruang tamu. Ibu Nur masuk untuk memanggil Zira. Kevin yang menemani Nyonya Amel. " Apa kabarnya Nyonya?" Ucap Kevin ramah. " Baik." Ucap Nyonya Amel cepat. Sambil melihat ruangan yang penuh dengan bunga segar. Sepertinya Ziko sudah mulai mencari simpati istrinya. Suasana hening tidak ada percakapan lagi. Kevin tidak ada bahan pembicaraan untuk mantan majikannya. Dari dalam ruangan lain keluar wanita cantik pemilik dari rumah tersebut. Nyonya Amel merasa aura yang di tampilkan dari wajah Zira sangat sedap untuk dipandang. Wajahnya terlihat bersih dan bercahaya, walaupun wajahnya ada sedikit pucat tapi tidak membuatnya kehilangan aura kecantikannya. " Zira." Ucap Nyonya Amel langsung menghampiri Zira. Nyonya Amel mencium kening menantunya dan memeluk erat tubuhnya. " Bagaimana keadaan kamu." Ucap Nyonya Amel menuntun menantunya untuk duduk di sofa. Zira melirik ke arah Kevin memberikan isyarat kepadanya untuk meninggalkan mereka berdua di ruangan itu. " Saya baik ma." Ucap Zira pelan. Nyonya Amel menanyakan beberapa hal mengenai proses kehamilan menantunya. Dan menceritakan pengalamannya ketika sedang mengandung. " Maaf mama kesini ada keperluan apa?" Ucap Zira cepat, karena dia tau tidak mungkin mertuanya datang hanya untuk menanyakan keadaannya atau menceritakan pengalamannya ketika mengandung. " Zira mama datang kesini mau bersilaturahmi dengan kamu. Walaupun mama tau perlakuan anak mama telah menyakiti perasaanmu, tapi mama tidak ingin silaturahim kita terputus." Ucap Nyonya Amel pelan. " Mama, kalau mama datang kesini hanya untuk bersilaturahmi pintu ini akan tetap terbuka untuk mama, tapi jika silaturahmi ini ada hubungannya dengan menyatukan kami kembali, maka semua akan sia-sia." " Iya Zira. Memang mama kesini untuk bersilaturahmi sekaligus untuk menyatukan kembali rumah tangga kalian." Ucap Nyonya Amel lagi. " Mama jangan buat aku marah. Sampai kapanpun aku tidak akan bersatu dengan Ziko." Ucap Zira tegas. " Zira kamu tidak boleh seperti itu, di dalam perut kamu ada anak Ziko darahnya mengalir di sana." Ucap Nyonya Amel mencoba mengambil hati menantunya. " Maaf ma, mengapa dia baru mengatakan sekarang, kenapa ma? Kenapa dia tidak mengungkapkan perasaannya kepadaku ketika aku belum mengandung." Ucap Zira sedikit emosi. Nyonya Amel mencoba menenangkan agar Zira tidak terbalut emosi. Karena emosi sangat berpengaruh pada janinnya. " Zira ini semua salah mama, mungkin kalau kamu tidak mama ancam pasti kamu belum menikah dengan Ziko. Mama minta maaf atas kesalahan yang telah mama perbuat. Tidak seharusnya mama merusak kebahagiaanmu dengan ancaman pernikahan. Tapi nasi sudah menjadi bubur. Terimalah maaf anak mama, walaupun berat tapi maafkanlah dia." Ucap Nyonya Amel pelan. Zira terdiam hening. Memang ada benarnya, ketika Nyonya Amel mengancamnya, semua menjadi berubah. Dia terjebak dalam cintanya sendiri, cinta yang telah membuatnya sakit dan cinta itu yang ingin di hilangkannya. Aku merasa sepi di tengah keramaian dan aku merasa sedih di tengah kegembiraan. Dan aku merasa takut di tengah keberanian. Semua itu selalu aku rasakan jika tidak ada kamu di dalam perut mama sayang. " Like komen dan vote yang banyak ya terimakasih." Chapter 206 episode 206 " Maaf ma, jangan paksakan aku untuk kembali dengannya, biarkan hakim pengadilan yang akan memutuskan nasib pernikahan kami." Ucap Zira tegas. Nyonya Amel hanya bisa memandang wajah menantunya. Wajah yang selama ini menghiasi hari-hari anaknya, wajah ini juga yang akan pergi meninggalkan anaknya. " Terimakasih Zira telah mengizinkan mama untuk datang ke sini. Jaga kandungan dan jaga kesehatan." Ucap Nyonya Amel sebelum pergi meninggalkan rumah Zira. Mama mertua sudah pergi dari kediamannya. Entah kenapa ketika Zira melihat orang-orang yang pernah menjadi bagian hidupnya membuat dirinya langsung meneteskan air mata. " Maaf nona jangan anda sandingkan ego anda dengan perasaan anda, jika anda ingin balik dengan tuan muda, maka anda bisa membatalkannya dengan segera." Ucap Kevin cepat. " Apa maksud kamu?" Ucap Zira menghapus air matanya. " Saya tau sebenarnya anda bimbang dengan semuanya. Kembalilah kepadanya kasihan anak anda." Ucap Kevin lagi. " Diam kamu, tau apa kamu dengan perasaanku." Ucap Zira marah. " Maaf nona saya hanya menyampaikan pendapat saya mengenai ekspresi anda." Ucap Kevin lagi. " Ya memang aku bimbang dengan ini semua, ketika aku semangat untuk berpisah dengannya ketika itu juga dia datang kepadaku. Apa salah kalau aku bimbang." Ucap Zira sedikit teriak. " Anda tidak salah nona, tapi ada baiknya anda mempertimbangkannya lagi jangan sampai hakim sudah mengetuk palu mengambil keputusan, di saat itu juga anda menyesal." Ucap Kevin menjelaskan. " Aku sudah yakin dengan pendirianku." Ucap Zira tegas. " Kalau anda yakin kenapa anda masih menangis. Jangan jadi wanita cengeng nona, mana pasukan Avengers yang pernah saya kenal. Semua hilang dan lenyap dalam sekejap hanya masalah perasaan." Ucap Kevin cepat. Dia tidak ingin melihat Zira menagis lagi. Air matanya sudah banyak keluar ketika bertemu dengan keluarga itu. Sebagai orang luar memang Kevin tidak berhak untuk ikut campur, dia hanya bisa mengutarakan pendapatnya yang menurutnya benar. Zira hening diam sekejap dalam lamunannya. Lamunan ketika dia diberi cobaan berturut-turut, dari meninggalnya kedua orang terkasihnya yaitu ayah dan ibunya, kemudian di susul meninggalnya kakek dan neneknya dan terakhir meninggalnya kedua eyangnya. Cobaan ini memang tidak terlalu berat dibandingkan dengan meninggalnya orang terkasih. Dan Zira semakin mantap mengahadapi cobaan ini dengan bersikap tegar seperti sebuah karang di lautan. " Terimakasih telah mengingatkan aku." Ucap Zira cepat. " Sama-sama nona." " Persiapkan diri kamu, aku mau makan sesuatu di luar." Ucap Zira cepat sambil meninggalkan Kevin. Zira berganti pakaian setelah berganti pakaian dia langsung menuju ke lantai bawah. Tempat Kevin berada. " Kita mau kemana nona." Ucap Kevin penasaran. " Nanti kita bicara di mobil." Ucap Zira cepat keluar dari rumah. Kevin duduk di belakang setir mobil miliknya. Dan Zira duduk di sebelahnya. " Kenapa naik mobil kamu?" Ucap Zira yang sedang duduk di kursi mobil. " Mobil anda terlalu mewah nona. Tidak pantas saya menggunakan mobil tersebut." Ucap Kevin merendah. " Cih jangan sok merendah deh. Semua mobil sama saja. Jangan pernah merasa minder ketika kamu menaiki mobil mewah orang lain bisa saja suatu saat kamu memiliki mobil mewah juga." Ucap Zira agar Kevin tidak merendahkan dirinya. " Baik nona, tapi untuk sekarang karena kita sudah di mobil saya lebih baik kita naik mobil ini." Ucap Kevin cepat. " Ok deh lanjut." Ucap Zira semangat. Dia sudah membayangkan makan sesuatu yang ada di warung di pusat kota, namanya warung rujak wenak. Entah kenapa bisa terlintas rujak itu di dalam benaknya. Mungkin itu yang dinamakan ngidam. Ketika dia pengen sesuatu maka harus di lakukannya. Mobil sudah sampai di warung rujak wenak. Kevin membukakan pintu mobil untuk Zira. Walaupun dia tidak mau tapi Kevin merasa tetap wajib melakukannya. " Jangan kamu bertingkah seperti ini lagi, ingat aku bukan majikanmu." Ucap Zira cepat. " Kalo bukan majikan jadi anda siapanya saya." " Anggap saja aku adik kamu." Ucap Zira cepat. Zira sudah berjalan meninggalkan Kevin yang masih berdiri di samping mobilnya. Entah kenapa ketika Zira mengatakan kata adik kakak, hatinya Kevin terenyuh dia sendiri tidak mengerti akan hal itu. Zira sudah mengambil kursi dengan satu meja. Dua kursi saling berhadapan-hadapan. " Nona sudah pesan?" Ucap Kevin lagi. " Vin tolong jangan panggil aku nona, panggil aku Zira, kan sudah aku sebutkan tadi di depan tidak ada bawahan dan majikan." Ucap Zira tegas. " Baik nona, eh baik Zira." Ucap Kevin gugup. " Sepertinya langsung pesan sendiri disana deh." Ucap Zira menunjuk beberapa orang yang sedang mengantri pesanan mereka di depan meja pesanan. " Biar saya yang pesankan." Ucap Kevin cepat tapi tangannya sudah di tahan Zira. Kevin melihat tangan Zira memegang lembut tangannya. " Biar aku yang pesan sendiri. Kamu mau pesan juga kan?" Ucap Zira lagi. " Iya nona eh iya Zira, ingat punya kamu enggak boleh pakai nenas, dan mangga muda karena itu tidak baik buat kesehatan kamu." Ucap Kevin mengingatkan. Zira menganggukkan kepalanya, dia pergi ke meja pesanan. Ada tiga orang di depan Zira. Zira mendapatkan antrian nomor empat. Dari belakang ada seseorang yang juga mengantri di belakang Zira. Zira tidak membalikkan badannya tapi dari ujung matanya, dia bisa melihat ada seseorang yang ikut ngantri di belakang dia. Dari jauh Kevin melihat pria yang sedang mengantri di belakang Zira. Dia ingin memberitahu hal itu, tapi di tahannya. Menurutnya biarlah Zira tau sendiri. Zira mengenal wangi parfum orang yang berada di belakangnya. Wangi parfum itu seperti punya suaminya. Apa mungkin si ubi kayu yang berada di belakangku. Atau hanya parfumnya saja yang sama. Ziko sibuk dengan ponselnya, dia juga tidak menyadari kalau yang berdiri di depannya adalah Istrinya. Zira maju satu langkah menuju meja pesanan. Pelayan warung menyapa ramah kepada calon pembelinya. " Ada yang bisa saya bantu?" Ucap pelayan tersebut ramah. " Saya mau pesan rujak dua porsi. Yang satu porsi komplit yang satu porsi lagi tidak pakai nenas sama mangga muda dan cabenya hanya 2." Ucap Zira cepat. Ziko yang sedang fokus dengan ponselnya langsung kaget ketika mendengar suara orang yang selalu terngiang di telinganya. Ziko langsung berdiri di samping Zira, untuk memastikan apa yang di lihatnya dan di dengarnya adalah benar. " Zira." Ucap Ziko cepat sambil berdiri di samping istirnya. Zira kaget ketika yang berdiri di sampingnya adalah partnernya sekaligus musuhnya. Aih kenapa dia ada di sini sekarang, berarti yang berdiri di belakangku tadi dia. " Kamu pesan apa?" Ucap Ziko membuka pembicaraan. " Pesan mie goreng." Ucap Zira asal. Ziko melihat daftar menu yang tertempel di dinding tidak ada menu mie goreng yang ada hanya berbagai macam jenis rujak. " Ah jangan bercanda, mana ada mie goreng di sini." Ucap Ziko cepat sambil terus menatap istrinya. " Udah tau tanya." Ucap Zira ketus. Pelayan tadi masih berdiri di depan mereka berdua. " Saya pesan yang sama dengan istri saya." Ucap Ziko cepat. " Hey jangan ikut-ikutan." Ucap Zira cepat sambil menuding jarinya ke arah suaminya. " Siapa yang ikut-ikutan, aku itu hanya mengikuti permintaan si jabang bayi kita." Ucap Ziko mengelus perut istrinya. Zira langsung menepis tangan suaminya yang masih menempel di perutnya. Pelayan yang berada di depan mereka bingung. Tentang perdebatan dua pembeli tersebut. Ini suaminya apa bukan ya, tapi kalau suaminya terus yang duduk sendiri di kursi itu siapa? Apa mbak ini punya suami dua. Entah apa yang ada di pikiran pelayan tersebut. Dia berperang dengan pikirannya sendiri. Zira membayar pesanannya dengan uang cash. Tapi uangnya di geser Ziko. " Ambil ini, uang yang ini palsu." Ucap Ziko cepat sambil menggeser uang Zira. Zira melotot melihat ke arah suaminya. Dengan cepat Zira mencubit dan meninggalkan suaminya di situ. " Mbak uangnya." Ucap pelayan tersebut. " Ambil aja untuk kamu." Ucap Zira cepat sambil berjalan ke arah mejanya. Pelayan tadi menerawang uang tersebut, untuk memastikan uang tersebut asli apa palsu. " Like, komen dan Vote yang banyak ya terimakasih." Chapter 207 episode 207 Pelayan masih sibuk dengan uang pemberian dari Zira. Dia melakukan seperti yang sering di iklankan di televisi tentang mengecek keaslian uang kertas. Setelah di cek, pelayan tadi merasa gembira karena uang tersebut asli. Zira sudah duduk berhadapan dengan Kevin. Ziko melihat dan berjalan ke arah meja Zira. Walaupun ada rasa marah ketika melihat istrinya dengan pria lain, tapi dia berusaha untuk menahan emosinya. Ziko berdiri di samping meja. Zira dan Kevin melihat ke arahnya. " Mau apa kamu di sini." Ucap Zira ketus. " Mau duduklah." Ucap Ziko cepat. Zira melihat sekeliling warung, masih banyak kursi yang kosong di dalam warung itu. " Kenapa kamu harus duduk di sini, kan masih banyak kursi yang kosong." Ucap Zira menunjuk ke arah kursi yang kosong. " Sayangku, apa kamu lupa, aku itu takut akan kesendirian." Ucap Ziko cepat langsung duduk di sebelah istrinya. " Hey siapa yang mengizinkan kamu duduk di sebelahku." Ucap Zira lagi. " Istriku sayang, kita sama-sama mengidam jadi tidak baik duduk saling berjauhan." Ucap Ziko asal mencari alasan agar bisa duduk berdekatan dengan istrinya. Zira memikirkan sesuatu. Apa si ubi kayu benar-benar mengidam juga, apa hanya alasan saja. Tapi ngapain juga dia datang ke warung rujak ini, jangan-jangan dia ikutan ngidam juga. Ziko terus memandangi wajah istrinya dari samping. Dia mengelus lembut rambut Istrinya. " Ih ngapain sih." Ucap Zira kesal dengan tingkah pria di sebelahnya. Zira langsung menepis tangan suaminya dengan keras. " Ada kutu di rambut kamu." Ucap Ziko cepat. Ziko merasa alasannya terlalu di buat-buat. " Kenapa enggak kamu bilang aja ada jangkrik di rambutku." Ucap Zira cepat. Kevin tersenyum melihat dua orang di depannya. Mereka bertengkar kembali suasana seperti ini yang selalu di kangenin dirinya. " Ngapain kamu tersenyum sendiri." Ucap Ziko cepat. " Saya kesurupan tuan." Ucap Kevin asal sambil tertawa kecil. " Cih, kalau kamu kesurupan tidak berpengaruh kepadaku, mau kamu ayan mau kamu muntaber enggak ada pengaruhnya kepadaku." Ucap Ziko cepat. Kevin hanya tersenyum tidak membalas apapun. Tanpa sengaja Kevin menyenggol kaki Ziko. Ziko kembali menendang ke arah Kevin. Dia melakukan berulang kepada Kevin. Zira memperhatikan kedua pria tersebut secara bergantian. " Kalian berdua kalau mau main bola jangan di bawah meja. Main bola di bawah meja, kalau berani main tuh di tengah jalan." Ucap Zira ketus sambil menunjuk ke jalanan. Kedua pria tersebut saling diam tidak melakukan tindakan apapun. Walaupun Ziko belum puas menendang kaki Kevin, dia merasa kalau Kevin sengaja melakukannya. Ziko berusaha untuk lebih tenang di depan Istrinya. Pelayan datang membawakan pesanan mereka. Satu porsi untuk Zira, satu porsi lagi untuk Kevin. Dan dua porsi langsung di hadapkan pelayan di depan Ziko. " Kenapa aku dua porsi?" Ucap Ziko bingung karena yang lain hanya mendapatkan satu porsi. " Bukannya tadi tuan bilang pesan yang sama dengan mbak ini." Ucap Pelayan tersebut. " Mbak, mbak, dia ini istriku." Ucap Ziko meralat omongan pelayan tersebut. Pelayan tersebut menganggukkan kepalanya. " Mbak terima kasih atas uangnya, uangnya ternyata asli bukan palsu." Ucap Pelayan tersenyum senang. Zira menganggukkan kepalanya cepat. Pelayan tadi langsung pergi meninggalkan meja. Zira sudah mulai memakan rujaknya. Zira memakan rujaknya sangat teliti. Dia memakan buah jambu terlebih dahulu, ketika buah jambu habis dia melanjutkan makan buah bengkuang seperti itu seterusnya. Ziko memperhatikan cara makan istrinya dia mengikuti semuanya tanpa ada celah. Zira melirik sekilas dan langsung merencanakan sesuatu ingin mengerjai suaminya. Zira mengambil potongan buah pepaya dan memasukkan ke dalam mulutnya, Ziko mengikutinya dan menelannya, tapi tidak dengan Zira, dia mengeluarkan buah pepaya itu dari dalam mulutnya dan meletakkan di atas tisu. " Aih kenapa kamu keluarkan lagi buah itu." Ucap Ziko heran. " Cih apa kamu tau, sekarang bukan jadwalnya buah pepaya yang masuk ke dalam perutku masih ada buah timun yang belum aku habiskan." Ucap Zira cepat. " Terus bagaimana dengan buah yang aku telan tadi, apakah akan berpengaruh pada iler anak kita." Ucap Ziko ragu. Karena setau dia, kalau tidak mengikuti kemauan si jabang bayi biasanya anaknya akan ileran. Jadi menurut dia, apa yang di lakukan Zira adalah kemauan anaknya. " Enggak anakku enggak akan ileran tapi kamu yang akan ileran." Ucap Zira lagi sambil mengunyah rujaknya. " Jangan bercanda kamu, memangnya ada yang seperti itu ya?" Ucap Ziko ragu. Dia memang belum paham mengenai semuanya baik tentang ngidam dan yang lainnya. " Iya benar." Ucap Zira lagi cepat. " Memangnya kalau suami ileran dari mananya?" Ucap Ziko penasaran. " Dari sini." Ucap Zira menunjukkan lubang hidungnya. Ziko menutup mulutnya ketika melihat lubang hidung istrinya. " Sayang kenapa bulu hidung kamu lebat seperti hutan." Goda Ziko. " Ini bukan bulu hidung tapi bulu ketek aku pindahkan kesini." Ucap Zira cepat. Ziko mau berbicara lagi tapi sudah di marahi istrinya. " Stttt diam, aku mau makan, jangan buat selera makanku rusak." Ucap Zira cepat. Ziko diam, selama dia menikah baru ini dia di bentak sama istrinya. Tapi dia tidak mengambil perasaan atau perilaku Zira kepadanya. Zira menyeruput minumannya dan Ziko ikut menyeruput minuman istrinya. " Hey kenapa kamu minum punyaku." Ucap Zira kesal. " Ah sayang apa kamu lupa, kita makan sepiring berdua dan minum segelas berdua." Ucap Ziko mencari alasan. " Cih itu dulu, sekarang tidak ada berduaan denganmu." Ucap Zira lagi. " Kenapa? Apa sebegitu bencinya kamu dengan diriku." Ucap Ziko sambil melihat kearah istrinya. " Ya aku sangat benci benci sama kamu." Ucap Zira tegas. Ada rasa perih ketika Zira mengucapkan kata itu. Tapi Ziko bertekad untuk lebih bersabar dalam menghadapi istrinya. " Sayang kalau kamu benci sama aku, kenapa kamu tidak mengusirku duduk bersebelahan denganmu." Ucap Ziko lembut. Zira baru tersadar seharusnya dia sudah mengusir pria yang berada di sampingnya dari tadi. Tapi entah setan apa yang merasukinya sehingga dia tidak bisa berbuat seperti itu kepada suaminya. " Aku itu hanya mewujudkan kemauan anakku." Ucap Zira lagi cepat. " Memangnya apa kemauan anak kita." Ucap Ziko penasaran. " Anak kita, anak kita, ini anakku ya." Ucap Zira sedikit emosi. " Ya anak kamu dan anak kita." Ucap Ziko cepat. " Enggak anak ini bukan anak kamu." " Ok, kalau memang itu bukan anak aku, jadi itu anak siapa? Memangnya kamu bisa hamil sendirian tanpa ada bantuan dari aku. Secarakan aku yang banyak bekerja keras pada saat itu." Ucap Ziko asal. Zira langsung menutup mulut suaminya. Kevin tidak bisa membayangkan ungkapan yang di ucapkan Ziko. " Maaf tuan, seperti apa kerja keras maksud anda." Ucap Kevin polosnya Zira langsung menepuk dahinya. " Kamu sudah keluar dari Raharsya group masih saja . Memangnya di kasih makan apa kamu sama majikan barumu." Ucap Ziko menyindir Zira. " Makan pantat ayam." Ucap Zira lagi. Tidak tau apa yang dipikiran Kevin, kata kerja keras menurutnya berkaitan dengan fisik dan yang terlintas dalam benaknya adalah bekerja untuk menafkahi keluarga. " Like, komen dan Vote yang banyak ya terimakasih." Chapter 208 episode 208 Zira sudah menghabiskan rujaknya begitupun dengan suaminya, hanya mereka yang merasa nikmat dengan hidangan tersebut. Zira beranjak dari kursinya, di ikuti dengan pria di sebelahnya. " Ayo cepetan." Ucap Zira cepat ke arah Kevin, sambil jalan keluar. Ziko mengikutinya dari belakang, begitupun dengan Kevin, dia juga mengikuti majikan barunya. Ziko menghadang langkah Kevin ketika istrinya sudah berada di luar warung. " Jauhi istriku." Ucap Ziko memperingatkan. " Maaf tuan, saya lebih mendengarkan ucapan majikan saya." Ucap Kevin cepat. Ziko jengkel dan merasa cemburu, ketika berada di dalam warung, dia berusaha untuk menahan diri agar tidak menunjukkan kemarahannya. Kevin sudah berjalan melewati pria di belakangnya. " Hey, aku belum selesai dengan kamu." Ucap Ziko sambil menarik bahu Kevin. " Maaf tuan, silahkan anda memberitahukan hal ini kepada nona Zira." Ucap Kevin langsung menepis tangan pria di depannya dengan keras. Selama ini Kevin tidak pernah berani melakukan hal itu, tapi setelah dia bersama dengan Zira, dia berani melakukan itu. Ini bukan sikap perlawanan atau berontak kepada mantan bosnya. Tapi ini adalah sikap pengabdian dirinya kepada bos barunya. Zira sudah menunggu di samping mobil Kevin. Kevin menyalakan remote mobil untuk membuka kunci mobil. Zira langsung duduk di sebelah kiri di samping kemudi setir. Ziko melihat hal itu, dia langsung bergegas dan menghampiri Kevin. Ketika Kevin hendak masuk ke mobilnya, badannya di geser oleh Ziko. Dengan otomatis Ziko yang masuk terlebih dahulu ke dalam mobil tersebut, dan duduk di belakang kemudi setir. " Hey, untuk apa kamu di sini, seharusnya Kevin yang berada di situ." Gerutu Zira sambil melihat Kevin yang sudah berdiri di samping mobil, tepat di sebelah Ziko. " Tuan ini mobil saya." " Yang bilang mobil aku siapa? Ini pakai mobilku." Ucap Ziko memberikan kunci mobilnya kepada Kevin. Kevin tidak mengambil kunci mobil itu, dia masih berdiri di samping mobilnya. " Cepat kamu keluar dari sini." Ucap Zira kesal sambil mendorong lengan suaminya. " Aku akan tetap berada di sini." Ucap Ziko bertahan. " Baik, kalau kamu tidak mau keluar, aku yang akan keluar." Ucap Zira cepat sudah membuka pintu mobil. Ziko menahan lengan Istrinya agar tidak keluar dari mobil. " Lepaskan." Ucap Zira menunjuk lengannya hanya dengan lirikan matanya. " Sayang aku mohon, izinkan aku ikut mengantarkan kamu pulang." Memohon. " Siapa yang mau pulang, aku itu mau shoping." Ucap Zira cepat. " Nah terserah, kamu mau shoping atau kamu mau pulang pokoknya aku yang antar." Ucap Ziko cepat masih tetap memohon. " Enggak, aku kan mau berpisah dengan kamu, untuk apa kamu mendekatkan dirimu lagi kepadaku." Ucap Zira cepat sambil membuka genggaman tangan suaminya di lengannya. Ziko hening, dia tidak menyangka Istrinya mengucapkan kata itu lagi. Ziko berusaha bersabar dengan semua kenyataan yang akan di hadapinya kelak. " Sayang, apa salahnya jika kita tidak bertengkar seperti ini, seandainya pun kita berpisah aku mau berpisah dengan damai tanpa ada permusuhan." Ziko sengaja mengucapkan kalimat seperti itu agar dia bisa terus bersama dengan Zira. Dia yakin jika mereka terus bersama lambat laun Zira akan menarik gugatan tersebut. " Enggak, aku bilang enggak ya enggak." Ucap Zira keras. Kevin sudah duduk dibelakang. Dia merasa capek harus berdiri terus di luar. " Maaf tuan dan nona sekalian, ini adalah mobil saya, jika anda berdua mau bertengkar silahkan pindah ke mobil yang lain. Jangan tambah kotoran di telinga saya dengan pertengkaran kalian." Ucap Kevin tegas sambil menyandarkan kepadanya diatas kedua tangannya. Pasangan suami istri itu saling pandang dan menoleh ke arah pria yang ada di belakang mereka. Ziko langsung memukul pria tersebut dengan tangannya. " Sejak kapan kamu berani seperti ini." Ucap Ziko tegas. " Sejak pertengkaran kalian yang tidak pernah kunjung selesai, semenjak itu keberanian saya muncul." Ucap Kevin menyindir. Dia sengaja melakukannya agar dua orang tersebut behenti bertengkar. " Ayo nyalakan mesin mobilnya, saya ingin merasakan nikmatnya seperti apa ketika mobil ini di kemudikan bos sendiri." Ucap Kevin tersenyum tipis. " Kamu lama-lama melunjak ya!" Ucap Ziko tegas. " Hahahaha." Gelak tawa Zira terdengar suaminya. Ziko yang tadinya berniat ingin memukul Kevin, kini melihat aneh ke arah Istrinya. " Kenapa kamu tertawa, apanya yang lucu?" Ucap Ziko bingung. " Lucu aja membayangkan kalau kamu yang mengemudikan mobil ini, dan si asisten ada di belakang. Kapan lagi melihat Ziko jadi supir dari asistennya." Ucap Zira masih dengan gelak tawanya. Apa yang di katakan Istrinya seperti mengejek dirinya. Dia sudah membuka pintu, salah satu kakinya sudah keluar tapi dia memikirkan sesuatu. Jangan-jangan ini rencana dia, agar aku keluar dari mobil ini. " Karena hari ini perasaanku sedang baik, maka aku akan menjadi supir untuk kalian berdua." Ucap Ziko merapatkan giginya seperti tidak rela, sambil menutup pintu mobil kembali dengan keras. " Tuan kalau pintu mobil saya lepas, bagaimana?" Ucap Kevin khawatir dengan mobilnya. " Ganti aja pakai tirai." Ucap Ziko cepat. Ziko sudah menyalakan mesin mobil. Dan melajukan mobil tersebut ke jalanan. Zira manyun, rencananya gagal. Dia tidak menginginkan kehadiran Ziko di sisinya. Tapi dengan berat hati dia ikhlas. Menurutnya biarlah ini sebagai awal perkenalan anak dengan Bapaknya. Pusat kota di penuhi dengan kendaraan. Banyak kendaraan yang lalu lalang di jalanan. Dan ada kendaraan yang terjebak macet, karena memang lalu lintas pada saat itu lumayan ramai. Asap knalpot mengudara dimana-mana. Asap yang sangat tidak sehat karena bisa mengganggu tenggorokan manusia. Banyak gedung di sana sini, membuat udara semakin terasa panas. Begitupun dengan Zira, dia merasa gerah. Dia menyetel AC mobil yang paling kencang. Karena faktor hamil, jadi Zira merasa gampang gerah. Mungkin akan nikmat bagi Zira ketika dia sudah merasa adem tubuhnya, tapi tidak dengan dua orang pria yang berada di dalam mobil. Mereka merasa kedinginan. " Nona, kenapa kencang banget menyetel AC mobilnya." Ucap Kevin sambil melipatkan kedua tangannya kedada. Zira melirik sekilas dan tidak menghiraukan lagi. Menurutnya suhu yang ada di dalam mobil itu sudah pas. Ziko menyetel kembali AC mobil dengan suhu yang normal. Tapi Zira langsung menepuk tangan suaminya. " Jangan di ganti-ganti." Ucap Zira cepat sambil mengembalikan suhu yang paling dingin. " Sayang jangan buat kami beku seperti ini. Cukup hati Kevin saja yang beku." Ucap Ziko dengan suara bergetar. " Cih, apa kamu tau? Ini adalah permintaan si orok." Ucap Zira cepat sambil menunjuk ke arah perutnya. " Sayang apa nama anak kita sudah berubah dari Zokoh menjadi orok?" Ucap Ziko dengan suara bergetar. Ziko memang tidak mengerti dengan istilah yang di utarakan istrinya. Menurutnya orok itu adalah sebuah nama. Zira menepuk dahinya, tidak percaya dengan pria di sebelahnya. Seorang CEO bisa tidak mengerti dengan istilah yang di ucapkannya. " Aih kamu itu sekolah tinggi-tinggi sampai keluar negeri, tapi tidak mengerti istilah orok. Orok itu adalah sebutan untuk bayi." Ucap Zira menjelaskan. Ziko manggut-manggut mulai paham. " Tapi bagus juga kalau nama anak kita Orok putra Raharsya." Ucap Zira tertawa kecil. Ziko yang melotot, dia tidak rela jika yang memberikan nama anaknya adalah Zira. Menurutnya jika Zira yang memberikan nama untuk anaknya pasti hancur tidak ada bagus-bagusnya. " Like, komen dan Vote yang banyak ya terimakasih." Chapter 209 episode 209 " Kenapa tidak di tambahi huruf Z aja, di awal kata Orok. Kan keren kalau namanya jadi Zorok putra Raharsya." Ucap Kevin dengan gelak tawa. Walaupun dengan badan yang kedinginan dia masih bisa nyeletuk memberikan komentar yang lucu. Ziko mengerem mendadak ketika pria yang jadi sok bos itu mengucapkan kata itu. Kevin terjerembab di belakang kursi Zira. " Kenapa sih, kamu rem mendadak." Gerutu Zira kesal. " Apa kamu tidak dengar apa yang di katakan bos jadi-jadian ini." Ucap Ziko kesal. Kevin tidak merasa bersalah dia malah asik dengan perannya sebagai bos. Didalam benaknya kapan lagi dapat menikmati momen seperti ini. " Baru satu hari jadi supir sudah mau buat kami celaka. Dasar enggak becus jadi supir." Ucap Kevin santai. Zira tertawa mendengar ucapan pria di belakangnya. Ziko sudah mulai emosi, wajahnya memerah kalau bisa dilihat dengan mata batin, dari ubun-ubun ada keluar cerobong asap yang menandakan emosinya sudah sampai level 10. Ziko membuka safety beltnya. Sebagian badannya sudah masuk ke celah antara kursi Zira dan kursi yang di dudukinya. Ziko berusaha menarik dan menggapai kerah kemeja Kevin. Tapi suara klakson dari belakang membatalkan niatnya. Ziko menyalakan mesin mobil dan melajukan mobil dengan kecepatan sedang. Dia memberhentikan mobil di area yang tidak padat lalu lintas. " Kenapa berhenti lagi." Ucap Zira cepat. Ziko sudah turun dari mobil. Dia ingin melampiaskan amarahnya yang tertunda. Ziko sudah membuka pintu mobil belakang, tepat pintu di belakang Zira. Zira sudah mulai melihat gelagat yang tidak baik. " Stop Ziko. Kalau kamu masih mau menyetir mobil ini lebih baik kamu batalkan niat kamu memukulnya." Ucap Zira cepat sambil memutar badannya. Ziko tidak menghiraukan ucapan istrinya lagi. Dia sudah memegang kerah kemeja Kevin. Ziko sudah mengepalkan tangannya ingin memukul Kevin lagi. Zira turun dari mobil dan langsung menjewer telinga suaminya. " Masuk enggak." Ucap Zira cepat sambil tetap menjewer telinga suaminya. Ziko membatalkan aksinya untuk memukul Kevin. Orang yang lewat melihat kejadian itu berasumsi sendiri. Pasti suami takut istri tuh. Mereka berasumsi aneh-aneh tentang kejadian itu. Zira membuka pintu belakang ada Kevin duduk di kursi itu. " Geser." Ucap Zira memerintahkan Kevin untuk bergeser ke sebelah kanannya. " Masuk." Ucap Zira memerintahkan suaminya masuk duduk di belakang. " Apa? Kamu suruh aku duduk dengan hantu blau ini?" Ucap Ziko kesal. Dia tidak rela untuk duduk bersebelahan dengan Kevin. " Terserah mau kamu bilang hantu blau, hantu deterjen terserah yang penting masuk." Ucap Zira tegas. Dengan malas Ziko masuk dan duduk bersebelahan dengan Kevin. " Siapa yang akan menyetir mobilnya?" Ucap Ziko lagi. " Aku yang akan menyetir mobil ini, dan kalian berdua yang akan jadi bosnya." Ucap Zira tegas sambil memutari mobil dan duduk di belakang setir mobil. " Nona, sebaiknya saya saja yang menyetir." Ucap Kevin. " Kevin seperti yang telah aku bilang jangan panggil aku nona, panggil namaku." Ucap Zira sambil melirik dari kaca. Dia tidak mau jika harus duduk dengan Ziko. Jadi ini termasuk dalam rencana dirinya agar tidak duduk berdampingan. " Apa? Aku tidak setuju kalau dia menyebutkan namamu tidak ada embel-embel nona di depannya." Ucap Ziko protes. " Siapa yang minta persetujuan darimu." Ucap Zira cepat. Zira menyalakan mesin mobil, tapi sebelumnya dia membalikkan badannya melihat kedua pria tersebut. " Untuk kalian berdua, jangan ada yang bertengkar lagi, awas kalau masih bertengkar aku tabrakan mobil ini ke pohon." Ucap Zira tegas. " Baik Zira. Memangnya mau di tabrakan ke pohon mana." Ucap Kevin cepat tidak ragu dengan menyebutkan nama majikannya sambil melihat sekeliling jalan yang tidak ada pohon sama sekali. " Pohon toge." Ucap Zira cepat. Ziko dengan mulut manyun mengejeknya ke arah Kevin. Dia tidak ikhlas kalau Kevin langsung menyebut nama istrinya tanpa ada gelar nona. " Satu lagi baca doa." Ucap Zira sambil mengemudi mobil dengan kecepatan tinggi. Ziko dan Kevin sampai miring kesana kemari sehingga mereka saling berdekatan. Mereka tidak memakai safety belt jadi badan mereka dengan gampang terhentak kesana kemari. Dan itu juga bagian dari rencana Zira agar dua orang kakak beradik beda ibu dan beda bapak yang hanya di satukan dalam ikatan pekerjaan saling bersahabat kembali. " Istriku, hentikan aku mau muntah." Ucap Ziko cepat. Zira menghentikan mobilnya di jalanan yang sepi. Ziko keluar dari mobil langsung memuntahkan semua makanan yang baru saja di makannya yaitu rujak. Ketika sudah merasa lega dia menyandarkan tubuhnya ke samping mobil. Zira melihat suaminya muntah jadi ingin ikutan muntah. Zira sama-sama mengeluarkan rujak tersebut dalam muntahannya. Mereka saling berdekatan berdiri di samping mobil. Momen yang lucu di abadikan Kevin dari dalam mobil. " Sekarang saya yang akan menyetir." Ucap Kevin cepat sambil keluar dari mobil. " Aku masih kuat untuk menyetir mobil ini. Masuk! Kalian berdua masuk." Ucap Zira memerintahkan dua pria tersebut masuk ke dalam mobil. " Aku tidak mau kamu yang menyetir. Kamu menyetir seperti seorang pembalap Rosa." Ucap Ziko cepat. " Maaf tuan, kalau pembalap Rosa bukannya pembalap motor bukan mobil." Ucap Kevin protes. " Sama saja, mau pembalap motor atau mobil pokoknya dia mirip sama Rosa." Ucap Ziko lemas. Kevin sudah duduk di belakang setir mobil. Ziko menuntun istrinya untuk duduk di belakang. Dia enggan untuk duduk di sebelah suaminya apalah daya dia sudah lemas karena muntah yang lumayan banyak. Dan semua karena ulahnya sendiri. Mereka duduk saling bersebelahan. Sama-sama lemas, sama-sama saling menyandarkan kepalanya masing-masing bersebelahan. Kevin tersenyum dari balik kaca mobil. Walaupun ada rasa senang ketika mereka berbaikan sementara, tapi ada rasa sedikit kecewa melihat hal seperti itu. Dan dia belum mengerti akan arti itu. Kevin melajukan mobil dengan kecepatan sedang. Tanpa terasa dua orang di belakang tertidur. Kepala Zira sudah jatuh ke paha Ziko. Dan Ziko menyandarkan kepalanya di sandaran kursi. Mereka tidak sadar akan hal itu. Kevin mengabadikan lagi momen itu ketika berada di traffic light. Setelah mobil menyusuri jalan demi jalan. Mobil sampai di sebuah supermarket terbesar di kota itu. Sebelumnya Zira sudah mengatakan kepadanya kalau dia ingin membeli sesuatu di sana. Kevin memarkirkan mobil di parkiran jauh dari pintu masuk. Dia masih menunggu dua orang di belakangnya bangun. Dia tidak ingin membangunkan keduanya. Dia mengirimkan sesuatu ke ponsel dua orang tersebut. Dia berharap dengan ini, kedua orang ini sadar akan kesalahannya dan saling memaafkan satu sama lain. Dia ingin semua bisa kembali seperti semula. Seperti pada saat mereka jadi trio Kwek Kwek. Selalu ada canda di antara mereka. Perkawinan yang bahagia adalah penyatuan dua orang insan yang saling memaafkan dan saling memperbaiki diri menjadi lebih baik. " Like komen dan vote yang banyak ya terimakasih." Chapter 210 episode 210 Zira membuka matanya perlahan. Dengan setengah kesadaran dia menggerakkan kepalanya ke kiri, pemandangan yang di lihatnya adalah sebuah jok mobil dan dia menggerakan ke sebelah kanan. Ketika dia melihat ke arah kanan pemandangan yang di lihatnya adalah sebuah ikat pinggang masih melingkar di pinggang seseorang. Zira berteriak histeris sambil bangun dari paha suaminya. Ziko kaget begitupun dengan Kevin. " Kenapa kamu berteriak, apa tidak bisa membangunkan aku dengan cara yang lebih lembut lagi." Ucap Ziko masih menguap. " Sempat-sempatnya kamu mengambil kesempatan di atas kesempitan." Ucap Zira memukul paha suaminya. Ziko heran dengan tingkah istrinya apalagi dengan kalimat yang barusan terlontar dari mulut istrinya. " Kamu kesurupan ya? Atau kamu baru bermimpi." Ucap Ziko heran masih menguap. Dia sama sekali tidak menyadari akan hal itu. " Ya aku baru bermimpi. Sebuah ular melingkar di pagar sedang memakai ikat pinggang." Ucap Zira ketus. Ziko menggaruk kepalanya yang tidak gatal, dia tidak mengerti istilah yang di ucapkan istrinya. " Sejak kapan ular pakai ikat pinggang? Ular saja enggak punya pinggang." Ucap Kevin dengan gelak tawanya. Zira sudah tidak menghiraukan lagi. Dia keluar dari mobil dan berjalan menuju super market. Ziko dan Kevin langsung bergegas menyusul dari belakang. Ziko mengiringi langkah Istrinya yang cukup lebar. " Kamu kalau jalan jangan seperti paskibraka, kamukan lagi hamil, tidak baik seperti itu." Ucap Ziko khawatir akan kandungan istrinya. Zira memang melangkahkan kakinya dengan keras dan sambil menghentakkan kakinya. Zira tidak menghiraukan sama sekali, dia sudah masuk ke dalam super market besar itu. Banyak beranekaragam makanan berderet di satu lorong, di lorong lain ada aneka merek sabun terpajang di sana. Zira mencari lorong yang menempatkan aneka ragam merek susu ibu hamil. Zira membaca komposisi dari masing-masing merek susu. Setelah di baca di letakkannya lagi, seperti itu terus. Ziko dan Kevin bingung dengan tingkah wanita di depan mereka. " Kamu kesini mau membaca komposisi atau mau membeli susu sih?" Ucap Ziko bingung. " Sttt diam. Mana tau kamu tentang perihal susu Ibu hamil." Ucap Zira cepat. " Bukannya susu Ibu hamil semua sama?" Ucap Ziko lagi. Zira sudah malas berdebat dengan suaminya. Dia lebih memilih menanyakan kepada salah seorang SPG wanita. " Mbak, susu merek X enggak ada ya?" Ucap Zira cepat. " Ada Kok mbak." Ucap SPG tersebut sambil berjalan mendekati mereka susu yang di sebutkan Zira tadi. SPG itu menunjukkan merek susu yang berjejer di atas rak. " Iya mbak, cuma saya mau yang rasa cendol." Ucap Zira lagi. " Owh untuk rasa cendol sudah habis mbak, masih ada varian rasa yang lain loh mbak, semuanya juga enak." Ucap SPG itu mempromosikan produknya. " Tau dari mana mbak enak? Memangnya semua embak cicipi rasanya?" Ucap Zira jutek. SPG tadi bingung menjawab ucapan calon pembelinya, dia memang tidak ada mencicipi semua rasa susu tersebut. Dia melakukannya hanya untuk menarik pembeli agar tertarik dengan varian rasa lain. "Sudahlah sayang, kita cari di tempat lain saja yuk." Ucap Ziko memegang bahu Istrinya. " Lepaskan tanganmu dari bahuku." Ucap Zira ketus. Ziko langsung melepaskan tangannya dengan cepat. SPG yang berada di depan mereka berasumsi sendiri dengan pikirannya. Istrinya judes banget pasti ngidamnya, ngidam cabe rawit. Pasangan suami istri itu sudah meninggalkan lorong tersebut. Zira memilih untuk duduk di kursi besi yang di letakkan sepanjang meja kasir. " Apa kamu kecapekan?" Ucap Ziko khawatir. Zira merasa kakinya letih karena kebanyakan jalan. Dia mau mengistirahatkan kakinya terlebih dahulu. " Kevin belikan minum untuk istriku." Ucap Ziko memberi perintah. Kevin langsung berlari bergegas membeli minuman untuk majikannya. " Kita pulang saja yuk. Nanti aku yang akan mencari susu rasa cendol itu." Ucap Ziko khawatir dengan kandungan istrinya. Kevin sudah datang dengan membawa minuman di tangannya. Setelah di bukanya, dia memberikan minuman tersebut kepada Zira. Sekali tegak dia langsung menghabiskan minum mineral tersebut. " Sepertinya kamu haus sekali." Ucap Ziko cepat. Zira memberikan botol minuman kosong kepada suaminya. " Lagi." Ucap Zira cepat. " Apa lagi? Sebesar apa rasa hausmu sampai kurang?" Ucap Ziko lagi. " Udah cepatan." Gerutu Zira. Kevin kembali berlari untuk membeli minuman. Agak lama pasangan suami istri itu menunggu Kevin. " Beli di mana sih dia?" Gerutu Ziko. Tidak berapa lama Kevin datang dengan membawa minuman yang di letakkan di atas bahunya. " Silahkan Zira." Ucap Kevin memberikan minuman tersebut. Zira tertawa melihat pria yang membelikannya minuman. Tapi Ziko merasa marah dengan tingkah mantan asistennya. " Kenapa kamu membelikan galon untuk istriku." Ucap Ziko kesal. " Tuan saya pikir dengan membeli ini, rasa haus Zira akan hilang." Ucap Kevin polos. " Tapi enggak gini juga kali." Ucap Ziko memukul lengan pria tersebut. Kevin membelikan minuman dengan ukuran jumbo, yaitu sebuah galon kecil. " Tuan hargai jerih payah saya, butuh perjuangan untuk mendapatkan minuman ini." Ucap Kevin pelan. " Memangnya seperti apa pengorbanan untuk membelikan ini?" Ucap Ziko penasaran. " Apa tuan lihat antrian di kasir itu? Saya harus menyerobot antrian tersebut dari the power of emak-emak. " Masih segitu kamu bilang pengorbanan." Ucap Ziko menganggap enteng. " Silahkan tuan mencobanya jika anda bisa lolos dengan baik tanpa luka seperti ini, berarti anda hebat." Ucap Kevin memberikan tantangan sambil menunjukkan luka bekas cubitan dari emak-emak. " Baik jika aku bisa lolos tanpa luka sedikitpun, aku mau setiap hari selalu ikut kemanapun istriku pergi." Ucap Ziko yakin. " Apa? Kenapa aku di libatkan?" Ucap Zira menunjuk dirinya sendiri. Ziko menganggukkan kepalanya cepat. " Ini pertandingan kalian berdua dan aku tidak ikut campur dalam hal ini." Ucap Zira cepat, dia tidak mau jika Ziko ikut dalam kegiatan sehari-harinya. Menurutnya cukup untuk hari ini mereka bersama. " Istriku kami membelikan minuman ini juga untuk kamu, berarti kamu terlibat dalam pertandingan ini." Zira melihat ke arah Kevin, Kevinpun setuju dengan pendapat mantan bosnya. Zira melihat antrian di meja kasir yang panjang seperti ular tangga. Dan menurutnya tidak mungkin suaminya bisa lolos dengan cepat menyerobot antrian the power of emak-emak. " Baik, aku tantang kamu. Jika kamu lolos dan tidak luka, maka kamu bisa ikut denganku dalam seminggu. Tapi jika tidak lolos, maka ini hari terakhir kamu ikut dengan ku." Ucap Zira menjelaskan. " Baik aku siap." Ucap Ziko mantap. " Ingat waktumu hanya 3 menit." Ucap Zira lagi. " Apa 3 menit. Mana bisa aku melewati emak-emak itu selama 3 menit. Tadi Kevin tidak memakai waktu untuk membeli minuman itu." Ucap Ziko menunjuk minuman yang ada di lantai. " Ya itu urusanmu." Ucap Zira cepat sambil tersenyum licik. Ziko melihat ke kasir dan memikirkan cara untuk bisa melewati rintangan tersebut. Setelah beberapa saat, dia tersenyum ceria karena idenya sudah keluar dari dalam kepalanya. " Baik aku siap, dengan tantangan ini." Menurutnya walaupun cuma seminggu dia dekat dengan Zira. Dia berharap ada keajaiban dalam waktu seminggu itu, keajaiban akan pernikahannya yang sudah berada di ujung tombak. " Like, komen dan Vote yang banyak ya terimakasih." Chapter 211 episode 211 " Siap, waktumu di mulai dari...." Zira masih menggantung ucapannya sambil melihat kesiapan suaminya. Ziko mengangkat jari jempolnya, memberikan isyarat kalau dia sudah siap sedia. " Aku hitung sampai lima, hitungan ke lima kamu harus sudah berlari." Ucap Zira memberikan instruksi. Zira mulai menghitung. " Siap-siap satu dua lima go." Ucap Zira teriak. Ziko sudah mau protes karena istrinya menghitung dengan cara melompat dua angka. Tapi dia tetap berlari karena waktunya hanya 3 menit. Kevin melihat stop watch yang ada di ponselnya. Minuman air mineral sudah ada ditangan tinggal tantangan sesungguhnya yang harus dia hadapi. Ada sepuluh meja kasir yang berada di super market itu, tapi semuanya penuh dengan antrian. Rata-rata Ibu-ibu yang belanja, sepertinya mereka belanja bulanan. Jadi semua keranjang troli penuh dengan kebutuhan bulanan. Kalau menurut estimasi Ziko. Setiap pembeli dengan keranjang penuh seperti itu biasanya bisa menghabiskan waktu kurang lebih 5 sampai 10 menit. Jadi dia harus memilih antrian yang tidak terlalu panjang. Ziko mengantri di meja kasir nomor 5. Dan dia mendapatkan urutan kedelapan. Jadi kalau menurut perhitungannya satu orang 5 menit berarti dia akan selesai kira-kira pada menit ke 40. Ziko mulai melakukan aksinya. Dia menepuk pundak Ibu-ibu yang ada di depannya. Ibu itu menoleh. " Bu uang pedangnya jatuh." Ucap Ziko menunjuk ke arah uang pedang yang sudah di jatuhkannya terlebih dahulu. " Owh iya uang saya tuh, makasih ya mas." Ucap Ibu itu cepat. Melihat uang pedang matanya langsung hijau. Ibu itu mengambil uang yang jatuh. Ziko langsung berdiri di antrian nomor 7. Masih ada 6 orang lagi yang harus di lewatinya. Dari jauh Zira dan Kevin melihat. Mereka tidak bisa melihat dengan jelas. Zira berjalan menuju pintu keluar meja kasir nomor 5. Dia ingin melihat lebih dekat lagi. Kevin masih menatap stop watch di ponselnya. Ziko melakukan aksinya kepada ibu kedua. Dia menepuk bahu ibu kedua. Ibu kedua menoleh. " Bu, ibu baru datang bulan ya?" Ucap Ziko tidak tau malu. Yang penting menurutnya dia sampai tepat waktu. " Ah yang bener." Ucap Ibu itu sambil melihat belakang bajunya. " Iya bener, kalau enggak percaya lihat aja ke toilet." Ucap Ziko lagi berbohong. Si Ibu panik dan malu karena yang memberitahukannya adalah seorang pria. Si Ibu mundur dengan menarik keranjang troli. Ziko sekarang mendapatkan antrian nomor 6. Dia melakukan aksinya lagi seperti ibu di antrian nomor 7, terus dia melakukannya sampai di antrian nomor 3. Ziko berada di antrian nomor 3. Dia melakukan aksinya lagi. Tapi aksi yang ini berbeda. Ziko menepuk bahu Ibu-ibu di depannya. Si Ibu menoleh dengan sinis. " Bu, nama ibu, ibu Santi ya?" Ucap Ziko sok ramah. Si ibu menganggukkan kepalanya cepat. Ziko sudah mendengar namanya sebelumnya, ketika si Ibu menerima panggilan dari orang lain. " Suami Ibu selingkuh di kantor." Ucap Ziko bohong. Si Ibu langsung panik ketika mendengar suaminya selingkuh. Si Ibu memikirkan sesuatu lagi. Dia menelaah ucapan pria di belakangnya. " Tapi mas, suami saya hari ini tidak masuk kerja, suami saya ada di depan sedang nungguin saya." Ucap Ibu itu jujur. Ziko mulai bingung, dia takut aksinya gagal. " Bukan hari ini Bu, tapi kemaren-kemaren." Ucap Ziko cepat. Ibu-ibu ketika di ucapkan suaminya selingkuh pasti langsung memikirkan bahwa semuanya benar tanpa mengecek terlebih dahulu. Dan Wajar untuk seorang wanita ketika di katakan suaminya selingkuh pasti langsung marah dan panik. Seperti Ibu di depan Ziko. Dia meninggalkan belanjanya dan pergi mencari suaminya. Ziko sekarang berada di urutan nomor dua. Walaupun aksinya kurang terpuji tapi dia melakukan ini dalam keadaan terpaksa untuk rumah tangganya juga. Menurutnya tidak mungkin dia menjelaskan kepada semua Ibu-ibu yang mengantri tentang perihal rumah tangganya yang berada di ujung tombak, karena itu merupakan suatu aib dalam rumah tangganya. Ziko mulai melakukan aksinya kembali. Dia menepuk bahu perempuan yang menggunakan hijab. Kalau dari perawakannya bisa di perkirakan wanita itu seumuran dengan istrinya. " Mbak, mbak lagi datang bulan ya?" Ucap Ziko cepat. " Enggak." Ucap si wanita cepat. " Tapi kok ada darah di gamisnya." Ucap Ziko lagi tidak putus asa. Wanita itu tidak melihat ke arah bajunya, dia hanya menjawab dengan jawaban yang cukup singkat. " Memang warnanya seperti itu." Ucap wanita tadi cepat. " Jadi ini bukan datang bulan ya?" Ucap Ziko pura-pura jijik. " Eh mas, asal kamu tau ya, aku itu sedang hamil mana ada orang hamil datang bulan." Ucap wanita itu jutek. Ziko kaget mendengar ucapan wanita itu. Dan menurut rencananya bakal gagal karena Zira sudah menghitung dengan menggerakan mulutnya secara perlahan. " Sepuluh, sembilan, delapan. enam." Ucap Zira dengan hanya menggerakkan mulutnya tanpa mengeluarkan suara yang keras. Tapi Ziko sudah bisa mengartikan gerak bibir istrinya. Ziko tidak putus asa masih ada beberapa detik lagi menurutnya. " Mbak saya cuma beli satu, saya mohon izinkan punya saya di hitung dulu ya." Ucap Ziko berharap. " Nanti dong, ini kan juga mau selesai menghitungnya." Ucap wanita itu cepat. " Ya sudah saya titip ya." Ucap Ziko sambil meletakkan botol air mineral ke keranjang wanita tersebut. " Eh jangan dong." Ucap wanita itu lagi. Ziko tidak menghiraukan ucapan wanita tersebut. Dia sudah menyerahkan kartunya kepada kasir. " Saya yang bayar belanja wanita ini." Ucap Ziko cepat sambil meletakkan kartunya di atas meja kasir. Wanita tadi sudah mau marah karena di titip belanja oleh pria di belakangnya. Tapi dia senyum sumringah ketika di traktir oleh pria tersebut. " Terimakasih mas." Ucap wanita tersebut. Ziko sudah selesai dengan semua aksinya. Dia berjalan ke arah Zira. Sambil memberikan botol minuman ke arah istrinya. " Bagaimana waktuku, apakah cukup." Ucap Ziko sambil melihat stop watch yang ada di ponsel Kevin. " Waktumu lebih 5 detik." Ucap Zira cepat. " Apa? Tidak mungkin." Dengan wajah kesal dan kecewa. " Aku sebenarnya bisa sampai tepat waktu di sini." Ucap Ziko kecewa. " Apa yang kamu ucapkan kepada wanita itu?" Ucap Zira penasaran sambil menegakkan air yang ada di dalam botol minuman itu. Ziko menceritakan semua aksinya dari awal, dari meletakkan beberapa uang di lantai, sampai masalah perselingkuhan juga di ucapkannya. Zira membelalakkan matanya tidak percaya. Dia tidak menyangka suami bisa berbuat senekat itu untuk dapat menyelesaikan tantangannya. " Kamu tau istriku, kenapa aku membayari wanita tadi?" Ucap Ziko sambil menunjuk wanita yang sedang jalan beriringan bersama seorang pria, bisa di pastikan itu suaminya. Zira menggelengkan kepalanya karena dia tidak tau menahu tentang niat terselubung di dalam hati suaminya. " Karena dia hamil seperti kamu, jadi apa salahnya aku membayari belanjaannya." Ucap Ziko cepat. Zira merasa terharu ketika suaminya bisa perhatian dengan wanita hamil lainnya. " Baiklah karena aku gagal, besok aku tidak akan mengikuti langkahmu." Ucap Ziko dengan pandangan nanar entah kemana. Zira merasa kasihan ketika suaminya mengucapkan kalimat tersebut. Walaupun ada rasa benci tapi dia juga enggan untuk berjauhan dengan suaminya. " Baiklah aku hargai usaha kamu, walaupun gagal, kamu tetap bisa ikut selama seminggu denganku." Ucap Zira pelan. " Apa? Kamu serius?" Ucap Ziko meyakinkan lagi. Zira menganggukkan kepalanya cepat. Ziko terlihat kesenangan, dia memeluk erat tubuh istrinya, dan menciumi perut Zira. Zira kaget dengan ekspresi mendadak yang di berikan suaminya. Tapi ada rasa bahagia ketika perutnya di elus dan di cium oleh bapak biologis dari anaknya. " Like, komen dan Vote yang banyak ya terimakasih." Chapter 212 episode 212 Ziko melihat ada beberapa orang Ibu-Ibu yang sedang mencari seseorang. Dan Ziko kenal dengan beberapa orang itu. Mereka adalah orang yang di kerjain Ziko. Dari Ibu-Ibu yang di katakan datang bulan sampai Ibu-ibu yang di kerjain Ziko dengan mengatakan kalau suaminya selingkuh. Untuk Ibu-ibu yang mendapatkan uang tidak merasa di rugikan mereka bebas hambatan. Ziko sembunyi di balik badan Istrinya. Agar wajahnya tidak kelihatan dari Ibu-ibu tersebut. Ziko agak ketir juga ketika menghadapi the power of emak-emak. " Kamu kenapa sih?" Ucap Zira risih karena badannya di pakai untuk menutupi wajah suaminya. " Sayang apa kamu lihat, Ibu-Ibu yang badannya seperti balon?" Ucap Ziko menunjuk dari balik badan Istrinya. " Ya kenapa." " Itu Ibu yang tadi aku kerjain, aku bilang suaminya selingkuh." Ucap Ziko cepat sambil tetap sembunyi. " Tuan sepertinya dia dan suaminya sedang mencari seseorang." Ucap Kevin pelan. " Iya dia sedang mencari aku." Ucap Ziko pelan. " Wah selera anda sudah berubah ya tuan, dari body bak gitar Spanyol, sekarang berubah bak balon udara." Ucap Kevin mengejek. Ziko menendang kaki pria yang duduk di sebelahnya. " Diam kamu." Ucap Ziko dengan gigi rapat. Ibu itu dan suaminya sudah berdiri di depan mereka bertiga. " Ini pa, yang bilang kalau papa selingkuh di kantor." Ucap Ibu itu menunjuk ke arah Ziko. Zira dan Kevin menoleh secara bersamaan ke arah pria yang ada di tengah. " Kenapa kamu bilang kalau aku selingkuh." Ucap pria yang sedang berdiri di depan mereka sambil memegang kerah kemeja Ziko. Ziko berdiri ketika di pegang kerah kemejanya. Dengan seperti itu tangan si Bapak terangkat ke atas. Karena tinggi badan Bapak itu setengah dari badannya. Si Bapak langsung melepaskan pegangannya ada rasa takut ketika melihat manusia tiang listrik berdiri di depannya. " Ayo jawab." Ucap Bapak itu sambil melihat ke arah dada Ziko. " Pak kalau bicara lihat wajah orangnya dong. Biar lebih intim." Ucap Kevin mengejek di Bapak karena badannya yang kecil sekaligus mengejek Ziko. " Kenapa kamu mengatakan kalau aku selingkuh di kantor." Ucap Bapak itu dengan mengangkat kepalanya tinggi-tinggi. " Owh itu salah paham saja." Ucap Ziko santai. " Bagaimana salah paham, kan kamu sendiri yang bilang kalau suami saya selingkuh." Ucap Ibu itu sambil mengangkat kepalanya tinggi-tinggi ke arah Ziko. Mereka berdua sama-sama mengangkat kepalanya. Zira dan Kevin tertawa lucu melihat tiga orang tersebut. " Bapak dan Ibu apa enggak sakit kepalanya seperti itu." Ucap Zira tersenyum tipis. " Enggak, kami sudah terbiasa seperti ini." Ucap si Bapak sombong. " Okelah kalau begitu, tadinya saya mau menyuruh pria di samping saya ini duduk, agar leher kalian tidak sakit." Ucap Zira tersenyum. Kedua pasangan suami istri itu, menurunkan kepalanya secara bersamaan karena ada rasa capek ketika harus menengadah ke atas. " Silahkan kamu duduk saja." Ucap Bapak itu menyerah. Zira dan Kevin tertawa tipis tidak berani mengeluarkan gelak tawa suaranya. Ziko duduk seperti permintaan Bapak itu. " Beri alasan kepada aku, kenapa kamu bisa berkata tentang aku, padahal tidak ada bukti sama sekali aku melakukannya." Ucap Bapak itu cepat. " Saya bertanya tentang nama istri Bapak, dan istri Bapak menjawab namanya Santi, tapi saya tidak bertanya kepada istri Bapak di mana suaminya bekerja. Jadi bisa di pastikan ini hanya kesalahpahaman saja. Karena ada banyak nama santi di dunia ini dan mungkin saja istri Bapak mirip dengan seseorang yang bernama Santi yang pernah saya kenal." Ucap Ziko menjelaskan. Kedua pasangan suami istri yang masih berdiri saling pandang, apa yang di ucapkan Ziko benar. " Tapi tadi mas bilang saya dengan wajah yang sangat menyakinkan." Ucap Ibu itu tidak mau di salahkan suaminya kelak. " Ibu apa ekspresi wajah saya tertulis di dahi saya. Dengan tulisan wajah meyakinkan, wajah marah, wajah bahagia." Ucap Ziko tidak mau mengalah. Kevin mulai ikut dalam akting dadakan tersebut. " Hey tuan, Santi kan nama istri saya berarti kamu menuduh saya selingkuh ya?" Ucap Kevin pura-pura. " Stop stop dan stop jangan di perpanjang lagi. Kan sudah di jelaskan oleh suami saya, kalau dia salah, jadi untuk apa di perpanjang lagi. Dan kalau memang Bapak tidak berselingkuh kenapa harus adu urat sih, tinggal tunjukkan kepada istri Bapak kalau Bapak adalah suami yang setia." Ucap Zira menengahi masalah tersebut. Istrinya Bapak itu manggut-manggut, dia paham dengan situasi ini. Dia berbisik kepada suaminya. Dan mereka bertiga tidak tau apa yang di bisikan Ibu tersebut. " Bawa sini kartu nama kamu." Ucap Bapak Itu tidak mau kalah. " Untuk apa?" Ucap Ziko penasaran. " Saya akan mengatakan kepada atasan kamu kalau kamu telah menghina dan merusak nama baik saya. Jadi saya mau kamu di pecat dari perusahaan tempat kamu bekerja." Ucap Bapak itu sok hebat. Zira berbisik ketelinga suaminya. " Sepertinya mereka mau uang damai, berikan saja, apalah artinya beberapa lembar." Ucap Zira berbisik. " Cepat, mana kartu nama kamu." Ucap si Bapak cepat. " Pak kartu nama saya ada. Apa Bapak mau?" Ucap Kevin menawarkan diri ingin menyerahkan kartu namanya. Pasangan suami isteri itu melihat penampilan Ziko sangat formal dengan setelan jas yang masih melekat di badannya. Jadi mereka berpikir kalau Ziko adalah orang berduit dan bisa di manfaatkan untuk mengorek pundi-pundi rupiah. " Cih, aku enggak butuh kartu namamu." Ucap si Bapak menganggap remeh Kevin. Karena dari cara berpakaian, Kevin hanya menggunakan pakaian kasual jadi tidak menunjukkan kalau dia orang berduit. Tapi kalau si Bapak lebih teliti. Kevin mengenakan kaos yang bermerek, ada merek lopo di sebelah kiri dadanya. Dan merek lopo yang di kenakan Kevin adalah asli bukan kaleng-kaleng. " Tolong Pak jangan, jangan mengatakan kepada bos saya, nanti saya di pecat karena telah merusak citra perusahaan tempat saya bekerja." Ucap Ziko berakting, sebenarnya tidak ada hubungannya antara tempat dia bekerja atau perusahaannya dengan merusak nama baik seseorang. Karena itu merupakan personal bukan merusak nama baik suatu badan ataupun company. Jadi menurut Ziko, sepasang suami isteri ini hanya ingin menggertak dan mencari keuntungan dari peristiwa ini. " Bapak mau berapa, saya hanya punya uang ini." Ucap Ziko menunjuk beberapa lembar uang kertas di dalam dompetnya. Ziko memang tidak pernah membawa uang cash banyak-banyak. Karena dia lebih suka menggunakan kartu ketika berbelanja. Sepasang suami isteri itu saling berbisik. Entah apa yang di bisikkan mereka berdua. " Saya tidak mau uang kamu, saya hanya mau kartu nama kamu." Ucap Bapak tersebut sambil mengulurkan tangannya. " Baiklah kalau Bapak memaksa." Dengan berat hati Ziko menyerahkan kartu namanya. Bapak tersebut melihat kartu nama tersebut dan membacanya dengan teliti, dan sesekali melihat ke arah Ziko. Dia membelalakkan matanya merasa kurang percaya. " Permisi Tuan, maaf atas kelancangan saya dan isteri saya." Ucap Bapak itu meraih tangan Ziko dan menyalaminya. Bapak itu menyenggolnya lengan isterinya agar ikut menyalami Ziko. Si isteri bingung dan tidak mengerti dengan tingkah suaminya yang tiba-tiba melembek seperti bubur. Isteri Bapak itu ikut menyalami Ziko, dan mereka langsung pamit setelah meminta maaf kepada Ziko. Epilog Sebelumnya Ziko menunjukkan isi dompetnya yang tidak ada uang cash. Isteri Bapak itu membisikkan sesuatu ketelinga suaminya. Di dompetnya memang enggak ada uang cash tapi di kartunya pasti banyak uangnya. Karena bisikan itu si suami langsung mengancam Ziko dengan meminta kartu namanya. Dengan alasan akan melaporkan ke atasan Ziko. Tapi setelah dia melihat kartu nama Ziko. Dia langsung ketar ketir tidak berani karena tertulis di kartu nama itu. Ziko Putra Raharsya Presiden direktur Raharsya group Hp. 64164semua (arti nomor ponsel Ziko nampaksatunampaksemua ????????????) Dalam perjalanan ke mobil istri Bapak itu ngomel kepada suaminya. " Kenapa kita harus minta maaf, seharusnya kita bisa mendapatkan pundih-pundih rupiah". " Asal kamu tau, kita berhadapan dengan orang nomor satu di kota ini, apa kamu mau aku menganggur karena ide gilamu itu." Pasangan suami itu ribut, masing-masing saling menyalahkan. Tinggal trio kwek-kwek yang terawa penuh dengan kemenangan. "Like, komen dan vote yang banyak ya terimakasih." Chapter 213 episode 213 Mereka sudah keluar dari super market. Walaupun Zira tidak mendapatkan keinginannya yaitu susu rasa cendol. Tapi Ziko menyakinkan kembali kepada istrinya kalau besok dia akan membawakan susu tersebut. Mobil sudah berhenti di depan rumah Zira. Zira ingin turun di depan pagar. Dia tidak ingin Ziko masuk ke rumahnya. Karena menurutnya sudah cukup waktu mereka bersama untuk hari ini. Mobil belum beranjak dari depan pagar. Mereka masih melihat mahluk yang sempurna itu masuk ke dalam kawasan rumahnya secara aman. Kevin sudah menyalakan mesin mobil. Tinggal mereka berdua di dalam mobil itu. Ada rasa canggung ketika mereka hanya berdua. " Vin." Ucap Ziko memecahkan keheningan. " Iya tuan." Ucap Kevin menjawab dan hanya melirik dari balik kaca mobil. " Maafkan aku, karena telah memukulmu berkali-kali." Ucap Ziko dengan penuh perasaan bersalah. Kevin masih diam, dia tidak menyangka kalau mantan bosnya bisa mengucapkan permintaan maaf. Menurutnya Ziko mau menurunkan egonya dengan meminta maaf kepadanya. " Aku tau, apa yang kamu ucapkan pada saat anniversary semua benar. Tidak seharusnya aku mengatakan hal yang sangat menyakiti perasaan Zira. Aku tau semua wanita pasti marah jika berada di posisi istriku. Aku hanya berpikir pendek pada saat itu. Aku berpikir Zira mandul seperti Vita. Kemaren Aku berpikir tidak mau melanjutkan hubungan dengan Zira lebih lama karena aku takut rasa sayangku kepadanya akan semakin dalam, dan nantinya akan sulit untukku melepaskannya. Tapi sekarang aku menyesal telah mengatakan hal itu kepadanya. Aku tau permintaan maaf tidak akan bisa mengobati luka yang sudah membesar. Aku ikhlas seandainya dia tetap mau bercerai denganku." Ucap Ziko pelan. Tidak terasa ada bulir air mata yang keluar dari ujung matanya. Kevin diam, dan masih fokus dengan mengemudikan mobil. Belum saatnya berbicara itu pikirnya. " Seandainya kami berpisah karena tidak ada ruang lagi untuk diriku, aku mohon kepadamu jaga dia, seperti kamu selalu berdiri di belakangku dulu." Ucap Ziko menahan tangisnya. " Tuan." Ucap Kevin pelan. " Perpisahan itu merupakan hal yang terberat bagiku, apalagi setelah aku tau ada benih cinta kami di dalam perut istriku. Akan semakin berat bagiku untuk melupakannya. Seandainya kami berpisah mungkin aku akan gila." Ucap Ziko dengan suara bergetar. " Tuan, jangan berbicara seperti itu, masih ada waktu untuk anda memperbaiki keadaan seperti semula. Anda bisa meminta maaf secara tulus, walaupun mungkin akan sulit di maafkan tapi lakukan itu secara berulang-ulang. Saya yakin nona Zira bisa memaafkan anda." Ziko diam beberapa saat. " Berhubung aku tidak bisa bersama denganmu Zira, untuk saat ini ataupun untuk kedepannya. Aku harus puas hanya dengan memimpikanmu dan menanti pertemuan kita nantinya kelak." Ucap Ziko pelan. " Hari kemarin, bagaimana pun baik atau buruknya telah berlalu. Hari ini adalah waktu untuk melihat langit biru." Ucap Kevin memberikan semangat. " Aku tidak mau hubungan kami berakhir dengan sia-sia, aku mau hubungan kami terus berlanjut sampai maut memisahkan." Ucap Ziko berharap. " Tuan, belajarlah mengalah sampai tak seorang pun yang bisa mengalahkanmu. Belajarlah merendah sampai tak seorangpun bisa merendahkanmu. Jika kita berada di jalan yang salah. Tuhan selalu mengizinkan hambanya untuk kembali ke jalan yang benar." Ucap Kevin memberi semangat. Setelah percakapan itu. Mereka kembali hening. Keheningan tercipta karena Ziko mencoba menelaah semua ucapan mantan asistennya. Sebagai seorang mantan asisten, Kevin memang sangat piawai dalam memberikan semangat dan dukungan kepada bosnya. Dia bisa berpikir jernih dengan semuanya. Mungkin karena dia memang bisa mengontrol emosinya di bandingkan Ziko. Ziko minta di turunkan di warung rujak tadi siang. Dia ingin mengambil mobilnya di sana. " Tuan, apa tidak sebaiknya saya antar anda ke rumah." Ucap Kevin cepat. " Aku masih ada urusan yang harus aku kerjakan." Ucap Ziko cepat sambil menyalakan remote mobilnya. Ziko sudah menaiki mobilnya. Dan melajukan mobilnya ke jalan raya. Kevin baru meninggalkan area itu ketika di lihatnya Ziko sudah tidak berada di situ. Ziko pergi ke suatu tempat. Dia ingin menemui seseorang di luar sana. Zira sudah membersihkan tubuhnya yang sudah lengket. Hari yang melelahkan dan menegangkan ketika dia harus berdekatan kembali dengan suaminya. Pada saat di warung rujak enak, ingin rasanya dia pergi menghindar ketika dia harus berhadapan dengan Ziko. Tapi entah kenapa hatinya tidak menginginkan hal itu. Hatinya lebih memilih dia untuk tidak menolak Ziko. Tetapi rasa sakit di dadanya masih belum hilang. Sekarang perasaan sakit hati dan perasaan sayang berperang di dalam benaknya. Entah siapa yang akan menang nantinya. Zira membuka ponselnya. Ada beberapa pesan yang masuk dari dalam daftar chatnya. Baik urusan butik maupun urusan bisnis. Zira membalas satu persatu chat tersebut. Dan ada satu chat dari Kevin. Kevin mengirimkan sebuah foto dirinya dan Ziko. Dimana foto itu ketika mereka sama-sama bersandar di mobil karena lemas muntah. Dan foto ketika dia tidur di paha Ziko. Zira memandangi langit-langit kamar. Sambil membayangkan sebuah petunjuk untuk pernikahannya. Ada sebuah pesan lagi yang masuk dalam layar ponselnya. Zira membuka sebuah foto dari Kevin. Kevin mengirimkan lagi foto-foto dia dan Ziko. Foto-foto lama mereka semua dikirimkannya. Dan video ketika dia di suruh berjanji sama Ziko tidak mengucapkan kata homo. Dan foto mereka di pesawat jet juga dikirimkan Kevin. Dimana mereka foto banyak gaya pada saat itu. Dan masih ingat di benaknya, ketika Kevin mengatakan poni Ziko seperti poni selamat datang. Zira masih mengingat itu. Seharusnya kenangan itu membuatnya bahagia karena telah mengingat kembali momen kebersamaan mereka. Tapi dengan foto itu Zira menagis tersedu-sedu. Dia merasa sakit mengingat kebersamaan mereka yang nantinnya akan berakhir. Kevin bukan hanya mengirimkan kepada Zira, dia juga mengirimkan kepada mantan bosnya. Dia bermaksud dengan semua kenangan itu rasa yang ada di hati mereka semakin bertambah dan semakin kuat. Zira mengirimkan sebuah chat kepada Kevin. Kenapa kamu mengirimkan kembali kepadaku? Apa rencana kamu di balik ini semua. Kevin belum membalas. Zira bolak balik melihat layar notifikasi di ponselnya. Dia menunggu balasan dari Kevin. Saya tidak bermaksud apapun, untuk apa saya menyimpan foto kalian berdua, kalau ternyata kalian juga akan berpisah. Jadi simpanlah foto dan Video itu sebagai kenang-kenangan dari saya. Zira membacanya dengan perlahan. Memang tidak sepatutnya kenangan mereka disimpan orang lain. Zira mengirimkan chat lagi. Apapun niatmu, aku hargai. Walaupun kenangan ini membuatku tambah terluka. Kevin membalas lagi. Cinta itu seperti angin, kamu tak bisa melihatnya tapi kamu bisa merasakannya. Jangan saling menyalahkan. Jikapun anda di salahkan dan anda tidak terbukti bersalah, lebih baik diam dan menentramkan dari pada pertengkaran. Semua chat yang di kirim Kevin sebagai pemberi semangat kepadanya. Semangat untuk bertahan dengan cintanya. Cinta yang pernah ada dan akan segera sirna. " Like, komen dan Vote yang banyak ya terimakasih." Chapter 214 episode 214 Sang mentari menyinarkan sinar hangatnya di pagi hari, bukalah mata indahmu Zira dengan penuh keceriaan dan penuh kasih sayang. Tinggalkan pikiran yang membuatmu lemah, dan peganglah pikiran yang memberimu kekuatan yaitu anakmu. Zira sudah bersiap-siap, hari ini adalah jadwal dia untuk kontrol ke dokter setelah beberapa hari yang lalu di rawat. Seperti yang di alami Ibu hamil lainnya, dia mengalami mual pada pagi hari. Sebelum perutnya di isi makanan dia sudah muntah. Di lantai bawah sudah ada Ibu Nur dan asisten Kevin. Mereka berdua menuggu di meja makan. Zira melihat meja makan hanya ada satu mangkok besar dan mangkuk kecil dan susu di meja makan itu. " Apa ini?" Ucap Zira menunjuk mangkok besar. " Itu bubur kacang hijau mbak." Ucap Ibu Nur. " Tapi aku kan tidak suka makan bubur kacang hijau." Ucap Zira lagi. Memang dia tidak menyukai bubur kacang hijau tapi untuk bubur yang lain dia menyukainya. " Nona Zira, eh Zira kacang hijau bagus buat kandungan kamu, selain untuk menambah darah, kacang hijau juga bisa membuat rambut bayi kamu tambah lebat." Ucap Kevin menjelaskan. " Dari mana kamu belajar itu?" Ucap Zira penasaran. Karena kalau dari pengalaman jelas Kevin tidak mempunyai pengalaman tapi dia mendapatkan informasi itu dari pembantunya di rumah. Dia sengaja datang pagi untuk memberitahu hal ini kepada Koki di rumah Zira. Walaupun enggan untuk memakannya, tapi dia memaksakan diri untuk memakannya semua demi si buah hati. Dari luar datang penjaga masuk ke dalam rumah, pria tersebut mencari Ibu Nur. Pria tersebut berbicara kepada Ibu Nur. " Mbak ada pria yang pernah buat rusuh beberapa hari yang lalu datang atau tepatnya suami mbak datang." Ibu Nur berbicara cukup bertele-tele. " Iya suruh masuk." Ucap Zira cepat. Ibu Nur kaget karena tidak ada penolakan dari majikannya. Karena setau dia, Zira enggan untuk bertemu dengan pria itu. Ibu Nur kembali menemui penjaga, dan memberitahukan hal itu semula. Ziko masuk ke perkarangan rumah Zira. Dan di belakangnya ada mobil box tertutup ikut masuk ke dalam perkarangan itu. Ziko sudah memarkirkan mobilnya. Dari dalam terdengar kebisingan yang di timbulkan suara mobil box itu. " Ada apa di luar Bu?" Ucap Zira penasaran. Ibu Nur berlari keluar rumah di ikuti Kevin. Ada raut wajah bingung ketika ada sebuah mobil box datang ke dalam rumah tersebut. " Apa tuan yang membawa mobil itu kesini?" Ucap Ibu Nur penasaran. " Iya." Ucap Ziko cepat. Tidak berapa lama Zira ikut keluar melihat suara mobil yang lagi mundur untuk memarkirkan mobil tersebut. " Ada apa ini?" Ucap Zira heran. " Seperti janjiku padamu kemarin, kalau aku telah memenuhi permintaanmu." Ziko melambaikan tangannya kepada supir mobil box, untuk membuka pintu belakang mobil tersebut. Zira jalan menghampiri mobil tersebut. Di dalam mobil tersebut terdapat susu ibu hamil dengan merek X. Semua rasa cendol. " Bagaimana? Apa kamu suka dengan ideku?" Ucap Ziko menggerakkan kedua alisnya. Zira menepuk dahinya. " Ya suka, tapi kenapa harus satu mobil kamu membelinya." Ucap Zira sewot. " Ya, aku pikir dengan membeli satu mobil, kamu tidak akan kekurangan susu lagi." Ucap Ziko bangga karena menurutnya ide ini adalah ide yang sangat cemerlang. Kevin dan Ibu Nur tertawa melihat dan mendengar penjelasan dari Ziko. " Kamu tau, aku saja minum susu satu bulan hanya habis satu kotak. Ini kamu beli sampai satu mobil. Memangnya aku mau jualan?" Ucap Zira sewot. " Jadi yang kulakukan ini sia-sia ya?" Ada rasa sedih ketika ide itu tidak membuat dirinya mendapatkan sanjungan tapi ide itu hanya di anggap salah oleh Zira. " Bukan sia-sia tapi mubazir." Ucap Zira lagi. " Ya sudah kamu ambil saja sesuai keperluan kamu sampai sembilan bulan. Sisanya nanti aku buang." Ucap Ziko cepat dan tidak mau ambil pusing. " Kenapa harus di buang, justru kita bisa mendonasikan susu ibu hamil ini ke rumah sakit Ibu dan anak. Jadi dengan susu gratis ini Ibu-ibu yang tidak, bahkan jarang minum susu, bisa menambah gizi mereka dari susu ini." Ucap Zira semangat. " Jadi yang aku kerjakan tidak sia-sia." Ucap Ziko semangat. Pelayan mengambil beberapa box untuk keperluan Zira selama 9 bulan. Sisanya dia memerintahkan penjaga dan supir mobil box tersebut untuk mengantarkan susu tersebut ke rumah sakit ibu dan anak. " Apa jadwal kita ini hari?" Ucap Ziko semangat. " Hari ini jadwal kontrol ke rumah sakit." Ucap Zira cepat. Sekarang Kevin yang mengambil alih kemudi. Ziko dan Zira duduk di belakang, seperti yang mereka lakukan pada saat sebelum terjadi pertengkaran. Zira tidak melarang ataupun marah ketika dia harus duduk berdampingan sama suaminya. Dia hanya memenuhi janjinya kepada Ziko. Bahwa hal itu hanya sampai satu minggu selebihnya tidak. Di dalam mobil mereka hening, tidak ada yang berbicara satu sama lain. Masing-masing dari mereka melihat ke luar jendela kaca mobil. Hanya Kevin yang melirik mereka dari balik kaca mobil. Kevin sengaja menyetel radio di mobil, agar suasana tidak terlalu kaku. Sebuah siaran radio memutar lagu yang sangat hits yaitu Kumau dia, tak mau yang lain Hanya dia yang slalu ada, kala susah dan senangku Kumau dia, walau banyak perbedaan Kuingin dia bahagia hanyalah denganku Bukan ''ku memaksa Oh tuhan Tapi kucinta dia Pasangan suami istri itu yang tadinya melihat keluar jendela. Kini mereka sama-sama saling pandang. Lagu itu adalah lagu yang di nyanyikan Zira pada saat berada di taman. Dia mengungkapkan perasaannya melalui lagu itu. Zira mengalihkan pandangannya ke radio tersebut. " Ganti." Ucap Zira cepat kepada Kevin. " Jangan di ganti, aku suka lagu itu." Ucap Ziko menahan Kevin agar tidak mengganti siaran yang lain. Zira dan Ziko saling berdebat dengan pendapat mereka masing-masing. Yang satu minta ganti dan yang satu bertahan dengan lagu itu. Kevin merasa bising dengan adu argumen dari pasangan suami istri di belakangnya. Dia mengganti siaran radio. Dia mencari lagu yang menurutnya enak di dengar. Di daun yang ikut Mengalir lembut Terbawa sungai ke ''Ujung mata Dan aku mulai takut Terbawa cinta Menghirup rindu Yang sesakkan dada ... Jalanku hampa Dan kusentuh dia Terasa hangat Oh didalam hati Kupegang erat dan Kuhalangi waktu Tak ''urung jua Kulihatnya pergi Tak pernah kuragu Dan s''lalu kuingat Kerlingan matamu Dan sentuhan hangat ''Ku saat itu takut Mencari makna Tumbuhkan rasa yang Sesakkan dada Kau datang dan pergi Oh begitu saja Semua ''ku terima Apa adanya¡­ Lagu itu di putar sampai habis, kedua pasangan itu tidak ada yang marah. Menurut mereka lagu itu bukan menggambarkan sesuatu dalam hubungan mereka. Lagu itu sebenarnya di khususkan untuk Kevin. Dia menyukai setiap kata dari lirik lagu itu. Di mana dia merasa takut akan jatuh cinta kepada Zira. Dia menerima apa adanya. Dan secara sadar dia juga sudah menyukai Zira tapi dia menutupnya dengan diam. Karena dia sadar akan posisinya dan dia sadar cinta Zira bukan untuknya. Menurutnya lebih baik dia menyatukan dua orang yang saling mencintai daripada harus mengungkapkan perasaannya. Mobil sudah sampai di depan pintu rumah sakit. Kevin sengaja memberhentikan di depan pintu loby rumah sakit. Agar Zira tidak kelelahan ketika harus berjalan jauh ke dalam rumah sakit. Seperti biasa Kevin membuka pintu mobil untuk majikannya. Ziko keluar paling awal dan mengulurkan tangannya kepada istrinya agar memudahkan Zira untuk keluar dari mobil. Zira tidak menyambut tangan suaminya. Dia berusaha untuk bisa sendiri. Walaupun ada rasa sedih ketika dia diacuhkan oleh istrinya. Dia tetap tersenyum ceria. Menurutnya kesedihan itu tidak sebanding dengan rasa sakit hati yang di rasakan Zira. " Saya tidak ikut ke dalam, silahkan tuan dan nona Zira masuk ke dalam." Ucap Kevin sambil memutari mobil untuk masuk ke dalam mobil tersebut. " Tapi, aku ingin kamu ada di sini." Ucap Zira pelan. Ziko yang mendengar merasa cemburu. Karena didepan matanya istrinya tidak membutuhkan keberadaannya. " Maaf nona saya tidak berhak berada di dekat anda, ada seseorang yang lebih berhak mengetahui tentang perkembangan janin anda." Ucap Kevin sambil melirik pria yang ada di sebelah Zira. Kevin sudah pergi, dia menunggu di parkiran. Pasangan suami istri itu jalan berdampingan. Ziko mendaftarkan ke bagian pendaftaran. Mereka masuk ke dalam lift bersamaan setelah mendapatkan nomor antrian. Mereka jalan ke bagian poli kandungan, ada beberapa pasang suami istri yang sedang duduk ikut mengantri di sana. Zira duduk di kursi yang di sebelahnya ada pasangan suami istri. Dimana pasangan suami isteri itu saling bergandengan tangan. Hanya mereka saja yang tidak bergandengan tangan. Ziko juga melihat hal itu, ingin rasanya dia menggandeng mesra tangan Istrinya. Tapi dia tidak ada kuasa untuk melakukannya. Menurutnya sudah ikut dalam kegiatan istrinya saja merupakan hal yang baik. Jadi lebih baik dia mengikuti kemauan Zira. " Anak pertama ya mbak?" Ucap wanita yang ada di sebelah Zira. " Iya mbak?" Ucap Zira pelan. " Itu suaminya?" Ucap wanita itu menunjuk ke arah Ziko. Kebetulan Ziko duduk di seberang Zira. Karena tidak ada tempat duduk untuk duduk di sebelah istrinya. Zira memang sengaja memilih tempat duduk yang sebelahnya sudah tidak ada tempat duduk agar mereka tidak duduk berdampingan. Walaupun ada kursi yang masih ada untuk mereka berdua tapi dia enggan melakukannya. Zira menganggukkan kepalanya pelan. Dia tidak mau bersuara agar Ziko tidak mendengar ucapannya. " Berapa bulan mbak?" Ucap Zira. Dia melihat perut wanita itu sudah cukup besar. " 32 minggu." Ucap wanita itu ramah. " Berarti bulan depan melahirkan ya?" Ucap Zira ikut senang karena dia juga akan mengalami hal itu. Wanita itu mengangguk kepalanya dengan senyum sumringah. " Apa kendala saat hamil sebesar ini?" Ucap Zira penasaran. " Kalau kendala sih enggak banyak, cuma kalau tidur sudah enggak enak, terus sering buang air kecil. Tapi kalau waktu hamil muda seperti mbak, kendalanya itu pengen dekat terus sama suami." Ucap wanita itu tersenyum malu. Zira tertunduk diam sambil tersenyum kaku. " Kalau mbak sama enggak dengan aku?" Ucap wanita itu lagi. " Hehehe saya enggak tau." Ucap Zira gugup. " Kok enggak tau sih mbak, biasanya kalau lagi hamil muda seperti ini, itu saat manja-manjanya." Ucap wanita itu lagi. " Like, komen dan Vote yang banyak ya terimakasih." Chapter 215 episode 215 Memang Zira ingin bermanja-manja dengan suaminya, tapi keadaan yang tidak memungkinkan dia melakukannya. Perawat memanggil nama seseorang, dan nama tersebut adalah nama wanita yang ada di sebelahnya. Dengan penuh perhatian suami wanita tersebut menggandeng tangan sambil memegang bahu istrinya. Zira merasa iri melihat kejadian itu. Dan Ziko memperhatikannya. Setelah beberapa nama, akhirnya nama Zira di panggil. Zira beranjak dari kursinya, dan suaminya langsung menggandeng tangannya dengan mesra. " Jangan gandeng aku." Ucap Zira berbisik. " Aku tidak menggandeng kamu, aku hanya mengikuti kemauan anak kita." Ucap Ziko cepat. Ziko tau kalau istrinya sangat menginginkan hal itu, karena dia bisa melihat dari raut wajah istrinya ketika semua pasangan suami istri saling bergandengan tangan masuk ke dalam ruangan dokter. Tapi Zira enggan mengakuinya. " Selamat pagi." Ucap dokter ramah. Dokter itu adalah dokter yang memeriksa sekaligus yang menangani Zira pada saat di rawat di rumah sakit tersebut. Dokter itu melihat wajah pria di depannya seperti tidak asing, dia mencoba mengingat siapa pria tersebut. Pasangan suami istri itu tersenyum ramah kepada dokter tersebut. " Apa kabarnya tuan muda?" Ucap dokter tersebut ramah sambil mengulurkan tangannya menyalami Ziko. Dia sudah ingat pria yang di depannya adalah pemegang saham terbesar di rumah sakit itu. Ziko membalas uluran tangan dokter tersebut. " Maafkan saya tuan muda, kalau saya tau istri tuan muda yang periksa pasti akan saya prioritaskan." Ucap dokter itu tidak enak hati. Seingat dokter itu pada saat Zira di rawat yang mengantar dan mengaku sebagai suami pasiennya adalah orang lain, bukan pria sukses di depannya. Walaupun ada kebingungan tapi dokter tersebut tidak mau ambil pusing. Perawat memerintahkan Zira untuk baring di atas tempat tidur. Perawat meletakkan jel khusus untuk USG. Dokter wanita tersebut menggerakkan alat bantunya ke perut Zira. Ziko berdiri di samping istrinya. Dari alat bantu itu langsung terhubung ke layar monitor yang ada di depan mereka. Dokter tersebut menjelaskan secara rinci. Tentang kondisi kandungan pasiennya. Ada seperti biji kecil di dalam rahim Istrinya. " Janin nona sudah masuk usia 7 minggu, masih sangat mungil ya. Tapi otaknya sedang berkembang dalam kecepatan yang sangat luar biasa, menghasilkan sel-sel baru setiap menit." Ucap dokter itu menjelaskan. Tanpa terasa bulir air mata kedua pasangan itu keluar secara bersamaan. Ziko menggenggam erat tangan istrinya dan mengecup dahinya. Zira tidak menyadari hal itu. " Apa ada pertanyaan lain?" Ucap dokter itu lagi. " Saya sering mual dok, apa itu tidak masalah?" Ucap Zira khawatir. " Itu namanya morning sickness. Semua ibu hamil mengalami namanya morning sickness, bukan hanya pagi saja mualnya, tapi siang sore dan malam juga mengalami mual. Dan itu hanya selama trimester pertama kehamilan. Nanti akan hilang secara berangsur-angsur." Ucap dokter menjelaskan. " Apakah tidak berbahaya dok?" Ucap Ziko khawatir mendengar kata mual tersebut. " Kalau mualnya parah dan menyebabkan dehidrasi dan berat badan yang turun drastis maka perlu penanganan yang khusus untuk mengalami hal itu. Dan sepertinya istri tuan muda tidak mengalami mual yang terlalu berat." Ucap dokter itu menjelaskan lagi. Setelah melakukan perbincangan dan seputar tanya jawab mengenai kehamilannya istrinya, akhirnya pasangan suami istri itu pergi meninggalkan ruangan tersebut. Ziko menyerahkan copy resep yang telah di tuliskan dokter tersebut ke apotek. Dari jauh datang dokter Diki menepuk pundak temannya. " Hai Ko." Ucap Dokter Diki menepuk bahu temannya. Dokter Diki melihat ke arah lain, ada Zira sedang duduk di sofa. Dokter Diki menyapa dan menyalami istri temannya. Kemudian dia mengajak Ziko berbicara agak lebih jauh. Mereka membahas tentang masalah Ziko. " Bagaimana? Sepertinya hubungan kalian sudah mulai membaik." Ucap dokter Diki pelan. " Entahlah. Gugatan itu belum juga di cabut Zira. Aku sudah meminta maaf kepadanya, tapi dia belum juga mencabutnya." Ucap Ziko frustasi. " Tapi kalian sekarang terlihat akrab seperti tidak ada masalah sama sekali." Ucap Dokter Diki lagi. Ziko menjelaskan awal mula mereka bertemu dan berlanjut dengan kegiatan hari keduanya dengan Zira. Dan dia juga menjelaskan kalau waktunya hanya seminggu untuk bisa mengikuti kegiatan istrinya. " Jangan putus asa, sebelum hakim ketuk palu untuk memutuskan perkara kalian, masih ada peluang untuk kamu mencari dan mencuri hatinya." Ucap dokter Diki menyemangati. Dokter Diki dan suaminya berbicara serius, dan Zira hanya bisa melihat dari jauh. Dia tidak paham dengan apa yang di obrolkan dua orang yang berbeda profesi tersebut. Menurutnya dua orang tersebut sedang membicarakan hal mengenai rumah sakit. Tidak beberapa lama ponsel Zira berdering. Zira menjawab panggilan tersebut. Zira menjawab iya, kapan baik saya akan usahakan. Hanya itu yang keluar dari mulut imutnya. Ziko juga mendapatkan panggilan. Dia juga menjawab panggilan tersebut dan sesekali melihat ke arah Zira. Panggilan terputus setelah Ziko mengucapkan kata terimakasih. " Siapa?" Ucap Dokter Diki penasaran. " Pengacara." Ucap Ziko cepat. " Ada kabar apa? Apa Zira mencabut gugatannya?" Ucap dokter Diki ikut penasaran. " Tidak, besok sidang pertama di mulai." Ucap Ziko melihat ke arah istrinya. Dari jauh mereka saling memandang. Mereka bisa mengartikan dari pandangan masing-masing tentang sidang tersebut akan di gelar besok pagi. Ziko mengambil resep obat di apotek. Mereka berjalan menuju pintu loby. Sudah ada Kevin di depan pintu Loby. Sebelumnya Ziko sudah menghubungi Kevin. Pasangan suami istri itu duduk saling berdampingan. Mereka diam tidak berbicara satu sama lain. Kevin sampai heran dan berasumsi sendiri. Apa selama di dalam mereka diam seperti ini. Keheningan kembali tercipta, hanya suara kendaraan yang terdengar dari balik kaca mobil. Tidak ada percakapan sama sekali sepanjang perjalanan. Mereka berpikir dengan pikirannya masing-masing. " Nona, eh Zira bagaimana hasil pemeriksaan kandungannya." Ucap Kevin menghilangkan keheningan tersebut. Zira tidak menjawab pertanyaan Kevin, dia mengajukan pertanyaan yang lain kepada suaminya. " Apa kamu juga mendapat panggilan tentang jadwal sidang besok?" Ucap Zira pelan. Kevin menyimak, dia bisa menyimpulkan sendiri tentang keheningan yang tercipta di dalam mobil. " Ya." Ucap Ziko tidak mau melihat ke arah istrinya. Dia sedang menyembunyikan air matanya yang sudah menetes di ujung matanya. " Kita harus mempersiapkan diri mulai dari sekarang. Lambat laun perpisahan itu tetap akan terlaksana." Ucap Zira pelan. Ziko menghapus air matanya. Dan berbalik ke arah istrinya. " Zira kenapa kamu seperti ini. Apa kamu tidak bisa memaafkan aku?" Ucap Ziko pelan. " Aku mohon terimalah maafku, aku mohon." Ucap Ziko sambil memegang kedua tangan istrinya. " Aku sudah memaafkan dan melupakan penghinaan yang telah kamu berikan kepadaku. Tapi sidang tidak bisa di batalkan." Ucap Zira pelan. " Zira aku mohon kepadamu, biarkan kita merawat dan membesarkan anak kita bersama-sama. Jangan kamu hukum aku dengan seperti ini. Aku sangat mencintaimu." Ucap Ziko banjir air mata. Selama Kevin bekerja dengan Ziko baru sekali ini dia melihat air mata pria tersebut. Pria yang begitu sombong akan kekayaan dan kepintarannya. Pria yang begitu egois tidak mau mengalah dan hanya mau jadi pemenang. Tapi hari ini di hadapannya, pria tersebut mau merendahkan dirinya untuk mendapatkan cinta sejatinya. " Maafkan aku, bila aku telah banyak mengukir luka di hatimu, maaf pula jika aku telah banyak meneteskan air mata yang keluar dari matamu. Yang kulakukan hanya bisa meminta maaf, bila aku tidak bisa memahamimu, memahami keinginanmu. Tapi yang perlu kamu ketahui, bahwa hanya engkaulah yang ingin ku jadikan satu-satunya teman sekaligus istriku selamanya, dan aku benar-benar menyayangimu." Ucap Ziko dengan suara bergetar sambil mengecup punggung tangan istrinya. " Like, komen dan vote yang banyak ya terimakasih." Chapter 216 episode 216 Matahari mulai terbangun dari peraduannya, memancarkan sinarnya yang menghapus titik-titik embun di dedaunan, menghangatkan tubuh dari udara dingin. Dan membakar semangat baru di hari yang baru. Zira bersemangat menyambut pagi hari, tapi tidak semangat untuk menghadiri persidangan yang di gelar pagi ini. Zira menghubungi pengacara mengatakan kalau dia tidak bisa datang pada sidang perdananya. Ziko dan pengacaranya sudah datang di pengadilan Agama, mereka menunggu di ruang tunggu. Dia masih mencari keberadaan istrinya. Waktu sudah menunjukan jam 9 tepat. Dari pihak pengadilan memanggil nama Zira dan Ziko. Masing-masing pihak masuk ke dalam ruang sidang tersebut. Ziko tidak melihat keberadaan istrinya di dalam ruangan itu. Dia mendatangi pengacara istrinya. " Mana Zira?" Ucap Ziko kepada pengacara istrinya. " Mbak Zira tidak bisa datang, lagi kurang enak badan." Ucap pengacara tersebut. Hakim ketua masuk ke dalam ruangan. Semua yang berada di ruangan itu berdiri menyambut hakim tersebut. Di dalam ruangan itu hanya ada beberapa orang. Karena sesuai kesepakatan dari masing-masing pengacara bahwa sidang tersebut di lakukan tertutup. Ada empat orang yang memakai jubah salah satunya adalah hakim ketua. Hakim menjelaskan pengadilan agama di bedakan antara suami yang mengajukan cerai di sebut permohonan talak dan istri yang mengajukan di sebuah gugatan cerai. Dari masing-masing pihak memperkenalkan kepada hakim. " Mana penggugat?" Ucap hakim cepat. " Maaf hakim ketua, klien kami sedang tidak enak badan." Ucap pengacara Zira. Sidang di mulai. Dari pihak Zira membacakan alasan-alasan yang di jadikan dasar untuk mengajukan perceraian. Salah satu adalah sering terjadi perselisihan di antara kedua pasangan. " Bisa anda jelaskan lebih rinci apa yang menyebabkan perselisihan itu terjadi?" Ucap hakim ketua kepada pengacara Zira. Pengacara Zira menjelaskan semua penghinaan yang di berikan pihak tergugat seperti kata mandul. Pihak dari pengadilan mengajukan pertanyaan balik kepada pihak tergugat mengenai alasan Ziko memberikan kata tersebut. Ziko jalan ke depan dan duduk di kursi yang sudah di siapkan pengadilan. Dia menceritakan awal mula dia mengatakan kata itu. Dan dia mengatakan kalau menyesal telah menghina istrinya. Pihak hakim bertanya mengenai alasan tergugat menyesal. Pihak tergugat yaitu Ziko mengatakan kalau istrinya sekarang sedang hamil. Pihak hakim yang berada di depan Ziko. Saling berbicara satu sama lain. Dari masing-masing pihak tidak bisa memprediksi apa yang di bicarakan orang yang pakai jubah di depan mereka. Pihak penggugat memberikan barang bukti kepada hakim. Bukti tersebut berupa rekaman Video ketika mereka bertengkar di parkiran rumah sakit. Bukti tersebut di putar dan di perdengarkan di dalam ruangan. Pihak tergugat melakukan pembelaan kepada kliennya. Mereka memberikan alasan tersendiri ketika Ziko mengucapkan kalimat itu. " Maaf yang mulai hakim, klien kami pada saat itu sangat emosi karena telah berpikir yang tidak-tidak tentang istrinya." Pembelaan dari pihak Ziko. Dari pihak Zira juga menyampaikan mengenai perkataan pisah di lain tempat. Yaitu pada saat anniversary mereka. Hakim dan yang lainnya berpikir mengenai hal ini. Mereka berembuk dengan kasus ini. " Sidang kami tunda minggu depan. Dari masing-masing pihak silahkan bawa saksi." Ucap hakim ketua sambil mengetuk palunya. Hakim keluar dari ruang persidangan di ikuti beberapa orang persidangan lainnya. Ziko dan timnya sedang berembuk di luar. Sedangkan pengacara Zira pergi meninggalkan persidangan, mereka akan menemui kliennya di kediamannya. " Apakah bisa perceraian ini batal." Ucap Ziko ragu. " Kami akan usahakan tuan." Ucap pengacara juga ragu, karena dari pihak Zira memberikan bukti yang memberatkan kliennya. " Berapa persen kira-kira kita memenangkan sidang ini." Ucap Ziko lagi. " Saya belum bisa memberikan estimasi persentasenya, karena ini masih sidang perdana." Ucap pengacara lagi ragu. Di kediamannya Zira terlihat gusar. Dia merasa tenang. Dia berjalan mondar-mandir dari kiri ke kanan. Kevin melihatnya merasa jengah sendiri. " Nona tenanglah, lebih baik anda duduk dan menenangkan diri. Jangan berjalan mondar-mandir seperti itu. Anda kan tidak boleh lelah." Ucap Kevin khawatir. Zira tidak duduk, dia masih saja melakukannya lagi. Mondar mandir dan kelihatan cemas. " Nona." Ucap Kevin pelan. Tapi Zira sudah melihat sinis ke arahnya. Kevin tau ada ucapkannya yang salah. " Maaf Zira. Kenapa anda terlihat cemas, seharusnya hati anda bisa lega, karena sidang ini yang anda nanti-nantikan. Zira tidak bisa lega sebelum mendengar penjelasan dari pengacaranya. Dari luar ada Ibu Nur datang bersama pengacaranya. " Selamat pagi mbak Zira." Ucap pengacara bersama timnya. " Bagaimana hasilnya." Ucap Zira langsung, dia penasaran ingin mendengar hasil sidang hari ini. " Kami sudah menyerahkan semua bukti dan alasan kita mengajukan gugatan cerai. Dan pihak pengadilan sudah menerima berkas kita. Tapi sidang akan berlanjut minggu depan." Ucap pengacara menjelaskan. " Mengapa harus minggu depan, kenapa tidak ada hasilnya ini hari?" Ucap Zira penasaran. " Minggu depan adalah tentang saksi dari pihak penggugat dan tergugat. Pihak hakim ingin mendengarkan semua bukti yang di sampaikan saksi." Ucap pengacara cepat menjelaskan. " Maaf mbak Zira, siapa yang akan kita jadikan saksi untuk persidangan minggu depan?" Ucap pengacara cepat. " Dia dan dia." Ucap Zira cepat menunjuk ke arah Kevin dan Ibu Nur. Karena mereka berdua yang ada pada saat perkelahian itu terjadi. Tim pengacara menjelaskan beberapa peraturan yang harus di ucapkan kepada saksi dari pihak Zira. Ibu Nur dan Kevin mendengar dan menelaah semua peraturan tersebut. Intinya berbicara jujur jangan menambahkan apapun pada saat penyampaian suatu bukti. " Apa minggu depan sidang akan ada hasilnya?" Ucap Zira lagi penasaran. " Pihak hakim yang akan menentukan apakah lanjut atau pembacaan putusan." Ucap pengacara menjelaskan. Tim pengacara keluar meninggalkan kediaman Zira. Hanya ada mereka bertiga di ruangan itu. " Zira, kenapa saya harus jadi saksi dalam persidangan minggu depan." Ucap Kevin. Dia tidak ingin di libatkan dalam masah rumah tangga Ziko dan Zira. Karena itu akan memperkeruh hubungan dengan mantan bosnya. " Kamu saksi awal dan kamu adalah saksi kunci. Katakanlah apa yang menurutmu benar. Dan katakanlah apa yang menurutmu salah. Aku tau ini berat untukmu, karena kamu harus memihak kepadaku. Tapi hanya kamu saksi kunci di permasalahan ini." Ucap Zira memohon. " Baiklah aku akan kesana dan menjadi saksi atas permasalahan kalian." Ucap Kevin lagi. Zira bernafas lega karena Kevin mau menjadi saksinya. " Kenapa anda tidak hadir ke persidangan? Seharusnya anda hadir dan memberikan kesaksian di persidangan hari ini." Ucap Kevin bingung. " Aku tidak enak badan." Ucap Zira cepat. Kevin agak curiga ketika wanita di depannya mengatakan tidak enak badan. Karena dari tadi di lihatnya Zira bisa berjalan mondar-mandir tanpa ada mual atau lainnya. Dan menurutnya itu hanya alasan Zira saja. Dia yakin sebenarnya dari hati yang paling dalam Zira juga enggan dengan persidangan tersebut. Enggan untuk hadir dan enggan untuk sidang itu di gelar. Dan Kevin tidak tau apa alasan Zira untuk bertahan dengan persidangan ini selain sakit hati pasti ada alasan Zira tetap bersikukuh kuat dengan pendiriannya. " Like, komen dan Vote yang banyak ya terimakasih." Chapter 217 episode 217 Hari berganti hari waktu sidang ke dua di laksanakan. Masing-masing pihak membawa saksi. Dari penggugat saksinya Kevin dan Ibu Nur. Dari pihak tergugat Ziko membawa saksinya dokter Diki. Mereka semua menunggu di ruang tunggu yang terpisah. Pihak pengadilan sengaja memberikan ruang yang terpisah agar saksi tidak di pengaruhi kesaksiannya kelak. Dari luar ruangan pintu di ketuk. Pihak staf pengadilan memerintahkan pihak tergugat memasuki ruang sidang. Ziko dan timnya meninggalkan ruang tunggu dan menuju ruang sidang perkaranya. Tidak berapa lama pintu di buka kembali. Tim penggugat datang bersama dengan saksinya. Ziko sudah bisa menebak kalau saksi dari pihak Istrinya. Dia berharap Kevin tidak memberikan kesaksian yang memberatkannya. Tapi tidak ada Zira di dalam timnya. Keberadaan si penggugat tidak ada. Tim pengacara Ziko mulai merencanakan memenangkan kasus ini. Hakim ketua dan hakim anggota memasuki ruangan. Semua yang berada di dalam ruang sidang berdiri menyambut kedatangan pengadil. Hakim memerintahkan saksi dari pihak penggugat memberikan kesaksiannya. Kevin sebagai saksi pertama memberikan kesaksiannya. Sebelumnya Kevin di perintahkan untuk bersumpah memberikan kesaksian yang benar. Dia melakukan sumpah di atas kitab suci dan di bimbing pihak pengadilan. Hakim anggota mengajukan berapa pertanyaan mengenai kapan dan di mana saksi mendengar pertengkaran yang melibatkan Ziko dan Zira terjadi. Kevin menjelaskan secara rinci dan akurat. Tanggal dan tempat di jelaskannya. Dia menjelaskan dua tempat kejadian. Yang pertama di sebuah restoran dan yang kedua di parkiran rumah sakit x. Hakim anggota bertanya lagi mengenai apa saja ucapan yang terlontar dari pihak tergugat dan pihak penggugat. Dan Kevin menjelaskan semuanya secara rinci. " Apa hubungan anda dengan tergugat dan penggugat?" Ucap hakim anggota. Kevin menjelaskan tentang statusnya sebagai asisten tergugat. Dan dia juga menjelaskan tentang statusnya bekerja kepada penggugat. Pertanyaan terus berlanjut mengenai status Kevin yang bisa berpindah kerja dengan penggugat. Kevin menjelaskan semuanya pada saat dia mengundurkan diri secara langsung tepat pertengkaran itu terjadi dan di tempat yang sama. Semua di jelaskan sampai dia diminta pihak penggugat untuk bekerja dengannya. Pada saat Kevin menjelaskan, Ziko merasa dirinya akan menjadi bahan pertimbangan dari pihak pengadilan karena telah memukul asistennya. Tapi tidak ada sedikitpun yang keluar dari mulut Kevin mengenai pertengkaran dan pemukulan yang di lakukannya. Setelah melakukan serangkaian pertanyaan kepada saksi pertama dari pihak penggugat. Kini hakim melakukan pertanyaan kepada saksi tergugat. Dokter Diki melakukan sumpahnya di atas kitab suci. Pihak hakim anggota memberikan pertanyaan yang sama kepada saksi tergugat yaitu dokter Diki. Pertanyaan seputar pekerjaannya dan pertanyaan seputar hubungannya dengan pihak tergugat. Setelah dokter Diki menjelaskan detail. Hakim anggota mengajukan pertanyaan tentang kasus itu. " Apa anda pernah dengar kalau pihak tergugat mengatakan kata cerai kepada anda?" " Ya ada yang mulia." Ucap Dokter Diki. " Kapan saja dan bagaimana?" Ucap hakim anggota. " Pertama kali saya mendengar ucapan itu ketika Ziko mengalami pendarahan di tangannya. Saya mendapatkan telepon dari kepala pelayan yang mengatakan kalau tangan Ziko terluka. Saya langsung pergi ke kediaman Ziko. Dan dari situ saya tau kalo Ziko akan bercerai dengan istrinya. Dan luka yang di timbulkan dari tangannya karena dia stres telah mengatakan kata pisah kepada istrinya." Ucap dokter Diki sambil memberikan bukti-bukti berupa luka di tangan Ziko. Dokter Diki juga menjelaskan kalau Ziko pernah mengalami dehidrasi karena tidak makan selama dua hari karena masalah itu. Dan dokter Diki juga menjelaskan kalau Ziko memang menyesal dan dokter diki lah orang yang pertama di perintahkan Ziko untuk mengecek tentang kehamilan istrinya. Semua yang memakai jubah saling berunding. Mereka mencatat kemungkinan yang terjadi. " Setelah kami pertimbangkan dan kami rundingkan. Bahwa pihak penggugat tidak ingin memberitahukan kehamilanya kepada pihak tergugat karena sesuatu hal dan itu tidak dibenarkan. Dan yang kedua pihak tergugat dua kali sidang tidak menghadiri persidangan ini. Yang seharusnya hari ini adalah waktunya pihak tergugat dan penggugat melakukan mediasi. Jadi untuk itu minggu depan kami akan melakukan pembacaan putusan mengenai hal ini. Apakah jatuh talak atau belum. Sekian dan terima kasih." Ucap hakim ketua menutup sidangnya sambil mengetuk palunya. Hakim ketua dan hakim anggota keluar meninggalkan ruangan tersebut. Masing-masing tim juga keluar dari ruangan tersebut. Ziko menghampiri Kevin dan menyalaminya. " Terimakasih karena kamu tidak memberitahukan hal yang memberatkan aku." Ucap Ziko memeluk mantan asistennya. " Saya hanya ingin membantu anda kembali mendapatkan nona Zira. Walaupun saya tidak tau apakah persaksian saya dapat menjadi bahan pertimbangan apa tidak." Ucap Kevin agak ragu. " Kamu sudah sangat membantu." Ucap Ziko lagi. Kevin beserta tim Zira pergi meninggalkan pengadilan agama. Ziko dan timnya masih berembuk mengenai putusan sidang minggu depan. " Bagaimana dengan keputusan minggu depan?" Ucap Ziko agak ragu. " Kalau mendengar persaksian dari pihak saksi memang tidak terlalu memberatkan anda. Dan seandainya putusan minggu depan adalah perceraian kita akan melakukan banding dengan alasan ada darah daging anda di dalam perut penggugat." Ucap pengacara Ziko menjelaskan. " Apakah banding itu akan di terima pihak pengadilan?" Ucap Ziko penasaran. " Bisa jadi di terima bisa tidak. Tapi karena ini kasus darah daging saya yakin pasti pihak pengadilan akan mempertimbangkan itu." Ucap pengacara menjelaskan. Zira merasa was-was dengan sidang kedua. Dia menunggu pengacaranya untuk datang ke kediamannya. Ada rasa gundah gulana ketika tidak bisa menyaksikan jalannya persidangan tersebut. Pengacara Zira sudah datang ke rumahnya. Dengan perasaan cemas Zira mendengarkan penjelasan dari tim pengacaranya. " Minggu depan adalah hasil putusan sidang. Karena mbak Zira tidak mau datang jadi putusan langsung di tetapkan minggu depan." Ucap pengacara menjelaskan. Zira hanya diam, dia punya alasan tersendiri yang membuatnya tidak hadir ke persidangan tersebut. Pengacara menjelaskan jalannya persidangan pagi itu. Dia juga menjelaskan semua saksi yang memberikan kesaksian tidak sepenuhnya memberatkan pihak tergugat. " Maaf mbak Zira saya rasa minggu depan waktunya hadir ke persidangan." Ucap pengacara tersebut. Zira menjelaskan kenapa dia tidak mau hadir dalam persidangan itu. Terutama berat untuk bertemu dengan suaminya. Dan hal lainnya yang menjadi bahan pertimbangannya. " Saya serahkan semua kepada anda. Apapun keputusannya dan alasan yang di berikan pihak pengadilan cepat sampaikan kepada saya." Ucap Zira menjelaskan. Walaupun ada rasa bingung ketika kliennya menjelaskan alasan yang tidak bisa di pikirkannya selama ini. Tapi dia menerima apapun keputusan dari Zira. Di satu sisi dari pihak Ziko mereka sudah bisa memprediksi apa putusan yang akan di bacakan hakim ketua. Dan mereka sudah melakukan cara agar rumah tangga kliennya tetap bersatu. Bukan kebahagiaan yang menjadikan kita bersyukur tapi bersyukurlah membuat kita bahagia. Hidup bukan untuk menemukan jati diri tapi hidup untuk menciptakan sebuah jati diri. Mungkin jati diri Ziko sudah ada tapi dia sedang berusaha menciptakan jari diri yang terpendam di dalam dirinya. Jati diri lebih mencintai dan menghargai pasangannya. " Like, komen dan Vote yang banyak ya terimakasih." Chapter 218 PENGUMUMAN! Halo aku Anita Rachman, apa kabar para pembaca semua? Sudah membaca semua episode Menikah Karena Ancaman? Terimakasih atas respon dan apresiasinya di kolom komentarnya ya. Sekali lagi aku selalu berterima kasih untuk kalian yang berkomentar dengan kalimat yang positif. Untuk Novel Menikah Karena Ancaman akan segera berakhir. Tapi untuk penggemar Novel ini saya akan melanjutkan menjadi dua musim. Musim pertama menceritakan tentang perjalanan lika-liku pernikahan Zira dan Ziko. Menceritakan kisah cinta mereka yang penuh konflik. Maaf kalau ceritanya agak bertele-tele dan sedikit membosankan. Tapi saya sudah melakukan sesuai kemampuan saya dan kapasitas saya. Dan saya mengakui banyak kesalahan ejaan dan tanda baca di awal-awal episode. Tapi setiap hari saya belajar untuk menjadi lebih baik dan lebih baik lagi. Terimakasih atas dukunganya lagi. Untuk musim kedua akan bercerita tentang semua karakter yang ada di dalam musim pertaman. Dan akan ada karakter baru dalam Novel ini. Tapi tidak mengurangi karakter utama. Di musim kedua tetap ada namanya konflik karena kalau tidak ada konflik seperti selesai makan enggak minum air putih rasanya seret ????. Dari konflik kita belajar dan belajar menjadi lebih baik. Menjadi lebih dewasa dalam menyikapi setiap permasalahan yang ada. Jangan jadikan konflik itu suatu masalah besar tapi jadikan konflik itu sebagai jalan hidup yang harus di selesaikan hari itu juga. Semua rumah tangga pasti akan mengalami namanya masalah, baik masalah besar maupun masalah kecil. Sama halnya dengan yang masih belum menikah. Pasti juga mengalami konflik atau permasalahan hidup. Mau masalah cinta atau masalah lainnya. Jadi jangan bilang kebanyakan konflik ????. Soalnya ada saya baca di komen yang mengatakan kebanyakan konflik. Jadi tergantung pribadi dari reader masing-masing dalam menanggapinya. Apakah menjadi bahan pembelajaran atau yang lainnya. Musim kedua saya tetap berusaha menyajikan cerita yang kocak. Yang pasti sudah sangat kalian tunggu. Dan untuk updatenya saya akan mengusahakan update setiap hari semampu saya ya. Jadi seandainya hari ini saya hanya bisa update tiga episode jadi harap di maklumi. Atau saya hanya update dua episode, pasti saya hari itu benar-benar ada kesibukan. Tapi jika saya ada keluangan waktu saya akan mengusahakan update lebih tergantung imajinasi saya. Dan semoga imajinasi saya bisa panjang ya ????. Terimakasih atas dukungan kalian. Karena kalian saya bertahan karena kalian saya dapat melanjutkan novel ini. Komen dan kritik yang membangun tetap saya perhatikan. Tapi ingat gunakanlah kalimat yang sopan dan positif. Karena author juga manusia ????. Terimakasih banyak atas dukungan dan Vote kalian yang luar biasa untuk novel ini. Sekali lagi terimakasih. I Love you all ???????????? Anita Rachman Chapter 219 episode 218 Minggu ketiga adalah minggu penentuan untuk hubungan Zira dan Ziko. Dimana pada hari ini hakim akan membacakan keputusan hasil sidang yang telah di gelar selama dua pekan yang lalu. Ada rasa gundah ketika harus menunggu keputusan itu. Walaupun tim pengacara Ziko akan mengambil jalur banding jika hasil tidak sesuai dengan harapan tapi tetap saja hati Ziko tidak tenang. Dia masih tetap cemas menunggu hasil keputusan. Begitupun dengan Zira dengan perasaan cemas, dia menunggu keputusan di tempat yang berbeda. Dia tetap tidak akan menghadiri persidangan itu. Semua tim pengacara sudah dengan formasinya. Hanya formasi dari penggugat yang tidak lengkap. Yaitu si pengaju gugatan tidak hadir lagi ke persidangan tersebut. Ziko merasa heran dengan sikap istrinya. Di hari terakhir persidangan Zira juga tidak mau datang menemuinya. Ziko sampai membuat asumsi sendiri kalau istrinya sangat membenci dirinya. Semua tim sudah masuk ke dalam ruang persidangan. Mereka menempati kursi mereka masing-masing. Pihak pengadil selaku hakim ketua dan hakim anggota masuk ke dalam ruang persidangan. Seperti biasa semua yang hadir harus berdiri menyambut kedatangan pihak pengadil sebagai rasa hormat kepada pemutus perkara. Waktu pembacaan putusan pertama di bacakan oleh hakim anggota dengan menyebutkan nomor putusan. " Bismillahirrahmanirrahim, Pengadilan agama x yang memeriksa dan mengadili perkara perdata pada tingkat pertama pada sidang majelis telah menjatuhkan putusan pada perkara cerai gugatan antara: Zira Kanaya Amrin binti Amrin, agama Islam pekerjaan desainer dan pengusaha. Beralamat jalan Xy sebagai penggugat melawan." " Ziko putra Raharsya bin Raharsya, pekerjaan sebagai pengusaha. Beralamat jalan xxxx sebagai tergugat." " Pengadilan agama tersebut telah membaca dan mempelajari berkas perkara yang bersangkutan. Telah mendengar keterangan tergugat dan penggugat serta para saksi di persidangan." Hakim anggota membacakan semua duduk perkara persidangan dari awal sampai akhir. Dan di lanjutkan dengan pembacaan putusan yang di bacakan oleh Hakim ketua. " Menimbang bahwa berdasarkan dalil-dalil penggugat yang di hubungkan dengan bukti yang saling bersesuaian telah di temukan fakta hukum bahwa. Penggugat dan tergugat telah menikah dan telah di catatkan di kantor urusan agama. Bahwa antara penggugat dan tergugat telah menikah selama 1 tahun dan sering berselisih." Ucap hakim ketua. " Mengingat peraturan yang berlaku maka pengadilan memutuskan bahwa apa yang di katakan tergugat belum bisa di katakan talak. Dan talak hanya bisa di lakukan di depan pengadilan agama. Menimbang selanjutnya selama proses persidangan berlangsung pihak penggugat tidak pernah menghadiri persidangan ini, dengan ini kami menyebutnya pihak penggugat tidak kooperatif. Dan pengadilan memutuskan perkara ini di batalkan, dan penggugat dan tergugat di katakan masih sah di dalam mata hukum sebagai suami istri." Hakim ketua mengetuk palunya. Ziko yang mendengar merasa senang karena perkaranya di batalkan oleh pihak pengadilan. Semua hakim anggota dan hakim ketua keluarga meninggalkan ruangan sidang tersebut. Tim kuasa hukum Zira mendatangi lawannya dan menyalami Ziko. " Selamat tuan, pernikahan anda masih sah di mata hukum." Ucap pengacara tersebut. " Apa kalian sudah merencanakan ini semuanya?" Ucap Ziko penasaran. " Sebenarnya ini adalah rencana nona Zira. Pada saat sidang perdana, dia tidak mau datang dengan alasan kurang enak badan. Dan sidang kedua dia telah memberikan penjelasan kepada kami kalau dia tidak akan pernah hadir dalam persidangan. Dengan alasan karena beliau tidak mau dengan perpisahan ini." Ucap pengacara tersebut. Ziko tidak habis pikir dengan ucapan pengacara istrinya. Karena di dalam benak istrinya sangat menginginkan perpisahan ini. " Akhirnya kami memutuskan agar nona Zira jangan pernah hadir ke persidangan agar perkara ini di batalkan oleh pihak pengadilan. Dan ternyata terbukti perkara ini batal." Ucap pengacara menjelaskan. Ziko tersenyum lebar. Dia merasa bahagia karena istrinya masih mencintai dirinya. Tidak pernah terpikirkan kalau perkara ini akan selesai dan batal. Karena dari perilaku Zira kepadanya pada saat mereka bersama. Dia memaafkan Ziko tapi persidangan tetap berjalan. Tidak pernah terlontar dari mulutnya kalau Zira akan membatalkan perkara perceraian yang di ajukannya. " Bagaimana saya menemukan istri saya?" Ucap Ziko penasaran. " Nona Zira tidak ada di kediamannya. Dia pergi ke suatu tempat." Ucap pengacara tersebut. " Kemana?" Ucap Ziko penasaran. Pengacara membisikkan sesuatu ketelinga Ziko. Ziko paham, di mana dia bisa menemukan Istrinya. Dan Ziko yakin pasti ada Kevin di dekat istrinya. Dia mencoba menghubungi mantan asistennya. Penggilan terhubung. " Kamu di mana?" Ucap Ziko cepat. " Saya di rumah tuan." Ucap Kevin cepat. " Di rumah Zira apa di rumah kamu?" Ucap Ziko penasaran. " Di rumah saya." Ucap Kevin lagi. Kevin memang tidak datang ke rumah Zira. Karena sesuai dengan instruksi Zira kalau Kevin hari ini di liburkan. Ziko membicarakan rencananya kepada Kevin. Dan dia paham apa yang harus di kerjakannya. " Baik tuan, saya akan laksanakan dengan segera." Ucap Kevin dengan cepat. Ziko bergegas keluar dari gedung pengadilan agama. Dia sudah meluncur mencari Zira ke suatu tempat. Tidak berapa lama Kevin sudah sampai di sebuah pantai. Pantai adalah tempat wisata yang selalu di datangi orang-orang. Karena pantai bisa menghilangkan stres. Anginnya yang bertiup kesana kemari membuat udara terlihat sejuk dan segar. Dari kejauhan Kevin bisa melihat keberadaan Zira. Kevin memberitahukan kepada pihak resort untuk membuat sesuatu yang di inginkan Ziko. Di pinggir pantai Zira duduk diatas pasir putih. Pemandangan yang tersaji bukan hanya pasirnya yang putih dan air lautnya yang biru tapi, deretan batu-batu besar banyak berjejer di lautan. Sehingga membuat pantai itu terasa sangat indah. " Selamat sore nona." Ucap Kevin cepat. Zira kaget karena Kevin sudah berada di belakangnya. " Untuk apa kamu kesini? Dan siapa yang memberitahukan keberadaanku di sini?" Ucap Zira penasaran. Kevin tidak menjawab dia duduk di samping Zira. Melihat ombak yang saling berkejar-kejaran. " Pemandangan yang sangat indah." Gumam Kevin. " Kehidupan itu Indah, tapi ada jalannya masing-masing. Carilah jalan terindah untukmu. Mulai hari ini kamu bisa pergi mencari kebahagiaan di luar sana." Ucap Zira kepada pria di sampingnya. Kebahagiaan saya adalah melihat anda dan tuan muda bersatu. Walaupun saya akui saya mulai sayang kepada anda. Tapi biarlah rasa sayang ini terkubur di dalam hati. Tanpa terasa mereka sudah duduk lama di pinggir pantai. " Mari kita pergi dari sini. Waktu sudah semakin senja." Ucap Kevin mengajak Zira pergi dari pinggir pantai. Zira dan Kevin berjalan saling beriringan. Mereka memasuki loby resort dari pintu belakang. Zira melihat pemandangan di dalam penuh bunga mawar. Di lantai juga berjejer bunga yang mawar. Ada rasa aneh ketika Zira memasuki loby tersebut yang mana tidak ada orang lain di dalam Loby tersebut. Zira melangkahkan kakinya di atas bunga mawar yang telah di lepas dari tangkainya. Di ujung ada seorang pria yang sedang berlutut sambil membawa buket bunga mawar dan dia adalah Ziko. Zira kaget melihat kehadiran suaminya di situ. Dia menghampiri suaminya yang sedang berlutut. " Sayangku Zira, biarlah berlian dan emas menjadi tidak ada artinya, di bandingkan keberadaanmu di hidupku. Hanya ucapan yang paling mendalam untukmu karena telah menjadi seseorang yang paling berharga dalam hidupku. Istriku sayang seindah apapun pemandangan di dunia ini, takkan bisa cukup untuk menjelaskan dan mengungkapkan arti penting dirimu bagi diriku. Engkau adalah pusat dunia bagi hidupku dan mengisi seluruh hati dan pikiranku. Terimalah permintaan maaf ku." Ucap Ziko sambil menyerahkan buket bunga mawar. Zira meneteskan air matanya. Suaminya telah mengukir kata romantis untuk dirinya. Suami yang di cintainya akan selalu ada di hatinya sampai kapanpun. Zira menerima buket bunga mawar tersebut. " Maukah kamu menemani hidupku selamanya dan menjadi ibu bagi anak-anak kita kelak." Ucap Ziko lagi. Zira menganggukkan kepalanya dengan cepat. Ziko langsung memeluk dan mengecup dahi istrinya. Dia ingin mengecup bibir Istrinya tapi di tahan oleh Kevin. " Stop, jangan pertontonkan kemesraan kalian di hadapan saya. Apa kalian lupa ada jomblo abadi di sini." Ucap Kevin cepat. Ziko dan Zira tertawa bersama. Mereka bersatu kembali sebagai sepasang suami istri. Pasangan Yang terikat karena cinta dan terikat karena sebuah anugerah yaitu malaikat kecil. " Untuk musim ke satu tamat ya. Akan lanjut ke musim kedua. Musim kedua saya akan melanjutkan di cover yang sama dengan alasan dan pertimbangan lainnya. Pertimbangannya karena jika saya melanjutkan ke cover baru maka karya saya akan menjadi karya baru, dan proses untuk karya baru bisa berhari-hari. Jadi untuk menghindari rasa penasaran readers saya tetap melanjutkan di cover yang sama dan judul yang sama. Thank you all." Chapter 220 episode 219 (S2) Ziko dan Zira telah kembali sebagai pasangan suami istri yang memadu kasih. Memadu kisah cintanya. Kisah cinta yang baru karena di satu tahun terakhir mereka menjadi pasangan suami istri tanpa ada rasa sama sekali. Sekarang mereka menjadi pasangan suami istri yang baru. Baru karena mereka baru membina rumah tangga dengan perasaan cinta. Rumah tangga yang di bina dengan kasih sayang dan cinta lebih indah rasanya jika dibina di bandingkan rumah tangga yang tidak ada cinta sama sekali di dalamnya. Keluarga Raharsya menyambut Zira dengan sukacita. Perasaan bahagia terpancar dari raut wajah keluarga tersebut. Zira pun ikut bahagia dapat berkumpul lagi dengan keluarga suaminya yang telah menjadi keluarganya juga. " Terimakasih sayang, karena kamu mau kembali kesini bersama kami." Ucap Nyonya Amel sambil memeluk menantunya. " Aku yang mengucapkan terimakasih karena papa dan mama masih mau menerimaku sebagai menantu." Ucap Zira pelan. " Oh sayang jangan pernah berpikir seperti itu, tidak pernah terpikirkan oleh kami seperti itu. Sampai kapan pun kamu tetap menjadi menantu idaman mama." Ucap Nyonya Amel memeluk menantunya. Ziko merasa bahagia melihat istrinya bisa membaur dengan keluarganya lagi. Tanpa ada rasa sungkan sama sekali. Ziko melihat kebelakangnya masih ada Kevin di belakangnya. Ziko mengajak pria tersebut untuk berbicara di ruangan yang berbeda. " Vin." Ucap Ziko sambil menepuk bahu Kevin. " Terimakasih banyak atas semuanya, aku tau semuanya karena ada campur tangan dirimu di dalamnya." " Tuan, saya tidak melakukan apapun. Ini terjadi karena kekuatan cinta kalian yang sangat dalam." Ucap Kevin cepat. " Dan sebagai penghargaan atas semua bantuan dari kamu, aku mau kamu kembali menjadi asistenku." Ucap Ziko cepat. " Hemmmmm, bolehkah saya memikirkannya dulu." Ucap Kevin cepat. " Seperti yang kamu ketahui, kalau aku tidak suka dengan penolakan." Ucap Ziko cepat dengan tatapan tajam. Kevin tertawa begitupun pria di depannya. Dia hanya berpura-pura berakting seperti memikirkan tawaran dari Ziko. Di ruang keluarga semuanya berkumpul tanpa ada terkecuali. Mereka membahas tentang rencana empat bulanan Zira. Nyonya Amel dan tuan besar ikut andil dalam merencanakan itu. " Maaf ma, sebaiknya nanti saja di pikirkan. Ini kan masih 3 bulan." Ucap Zira pelan. " Sayang, justru itu. Waktu kami hanya satu bulan untuk mempersiapkan ini." Ucap Nyonya Amel antusias. " Ma, sepertinya tidak perlu mengadakan acara yang meriah, lebih baik syukuran saja. Undang ibu-ibu pengajian mama dan papa." Ucap Ziko memberikan ide yang menurutnya sederhana tapi lebih terlihat sakral. " Betul itu, ide kak Ziko bagus. Kalau perlu panggil anak yatim-piatu." Ucapan Zelin ikut nimbrung dalam percakapan itu. Zira tersenyum manis melihat gadis cantik itu bisa berpikir yang sama dengan kakaknya. Nyonya Amel dan suaminya saling pandang. Ide anaknya ada benarnya. Dari pada mereka berdebat masing-masing ingin melakukan sesuai idenya sendiri. Mending mereka menampung ide anaknya dan menyelenggarakan sesuai keinginan menantunya. " Zira kamu ingin acara empat bulanan kamu seperti apa?" Ucap Nyonya Amel penasaran. " Hemmm, sepertinya ide Zelin dan suami saya bagus ma." Ucap Zira cepat. " Baiklah sesuai permintaan menantu kita. Acara empat bulanan di lakukan dengan mengadakan pengajian dan syukuran dengan memanggil anak-anak panti." Ucap Nyonya Amel antusias. Setelah melakukan perbincangan. Pasangan suami istri itu kembali ke kamar mereka. Kamar yang sudah lama tidak ditempati Zira. Sebuah ruangan yang pernah menjadi saksi atas hubungan mereka. Kamar itu masih sama seperti dulu. Tidak ada yang berubah hanya alat make up Zira yang sudah tidak ada di meja rias. Zira mengernyitkan dahinya melihat meja rias tersebut. " Sayang kemana semua alat makeup ku?" Ucap Zira penasaran. Ziko baru teringat tentang hal itu. Kalau dia merusak dan memerintahkan pelayan untuk membuang alat makeup istrinya. Karena pada saat itu, menurutnya dengan membuang alat make up istrinya, dia akan dapat melupakan wanita cantik di depannya. " Sudah aku buang." Ucap Ziko mengecupi punggung belakang istrinya. " Kok di buang." Ucap Zira agak geli karena mendapat kecupan mendadak dari suaminya. " Udah expired." Ucap Ziko cepat masih tetap melakukan aksinya. Zira menahan tubuh suaminya agar tidak melakukan hal-hal yang lain. " Sayang, kamu tau enggak kalau istri lagi hamil tidak boleh berhubungan." Ucap Zira menghindari. " Apa?" Ziko membelalakkan matanya sambil melihat ubi kayunya. Zira menganggukkan kepalanya cepat. Agar suaminya menyudahi niatnya. " Siapa yang bilang?" Ucap Ziko penasaran. " Dokter lah enggak mungkin Mbah Jambrong." Ucap Zira cepat. Ziko tidak percaya dengan ucapan istrinya. Dia mengambil ponselnya yang ada di nakas. Dia sedang menghubungi seseorang. Ziko pergi agak menjauh sambil membelakangi istrinya. " Wah kalau dia menghubungi dokter Diki bagaimana? Atau jangan-jangan dia sedang melihat aplikasi guuuling." Gumam Zira. " Halo Ko, apa kabar." Ucap dokter Diki antusias mendapatkan panggilan dari temannya. " Baik, aku mau bertanya dengan kamu." Ucap Ziko tapi ucapannya sudah di potong temannya. " Bagaimana hasil putusan sidang." Ucap Dokter Diki penasaran. Ziko menjelaskan tentang putusan sidang yang di adakan tadi pagi. Dan dia juga menceritakan tentang dirinya yang telah bersatu kembali dengan pujaan hatinya. " Aku mau bertanya apa kalo hamil tidak boleh berhubungan?" Ucap Ziko tanpa rasa malu. Dari ujung ponsel terdengar kalau temannya tertawa mendengar pertanyaan Ziko. Dia tidak habis pikir dengan Ziko. Bisa langsung memikirkan hal itu ketika sudah berdekatan dengan istrinya. " Bagaimana? Aku menghubungimu bukan mau dengar ketawamu yang cempreng itu." Gerutu Ziko. Dokter Diki tertawa lagi dan tetap berusaha untuk menjelaskan di celah-celah tertawanya. Ziko mendengarkan dengan hikmat dan cermat. Ada beberapa pesan yang di beritahu dokter Diki kepadanya. Mungkin kalau ada kertas di depannya dia akan mencatat agar dia tidak melakukan kesalahan. Mungkin karena penyampaian dokter Diki menggunakan bahasa kedokteran jadi Ziko agak kurang paham. " Udah intinya saja, aku kurang ngerti dengan bahasa ilmiah yang kamu sebutkan." Gerutu Ziko dari ujung ponselnya. " Apabila suami ingin menggauli istrinya yang sedang hamil maka aman-aman saja, tapi jangan terlalu memaksa kepada pasangan. Buatlah suasana yang nyaman pada saat berhubungan. Tapi ingat buatlah pasangan kita rileks dulu." Ucap Dokter Diki sebelum mengakhiri ucapannya. Panggilan terputus Ziko kembali menghadap istrinya. Sekarang Istrinya sudah berada di kasur sambil memijat kakinya. " Kamu menghubungi siapa?" Ucap Zira sambil memijat kakinya. " Diki." Ucap Ziko sambil berjalan menuju kasurnya. Waduh dia sudah menghubungi dokter Diki. Berarti dia akan melakukan jurus mautnya. Ziko memegang kaki istrinya dan berusaha mengambil alih untuk memijatnya. " Enggak usah sayang, aku sudah enakkan kok." Ucap Zira menghindari tangan suaminya yang akan merayap kemana-mana. " Stttt diam, aku hanya mau memijat." Ucap Ziko cepat masih dengan posisi tangan di kaki Istrinya. Zira merasa enak ketika mendapatkan pijatan dari suaminya. Kakinya memang terasa lelah karena pada saat siang hari dia banyak menghabiskan waktu bermain pasir di pantai. " Hai-hai readers ini udah masuk musim kedua ya. Maaf author tidak memberikan prolog untuk musim kedua. Karena menurut author sudah ada di pengumuman kemaren yang mana tertulis menceritakan tentang semua karakter. Jadi supaya tidak bertele-tele jadi author langsung garap aja season 2. Semoga kalian suka." Chapter 221 episode 220 (S2) Ziko sudah tidak bisa mengkondisikan tangannya. Zira langsung mulai panik melihat pemilik tangan tersebut. " Sayang kan aku sudah bilang kalau hamil enggak boleh berhubungan." Ucap Zira pelan. " Siapa yang berhubungan aku kan hanya memijat." Ucap Ziko mempraktekkan pijat profesional. " Iya terserah mau ngapain. Yang penting jangan macam-macam." Ucap Zira mewanti-wanti suaminya. " Kamu bisa diam enggak sih. Jangan ganggu konsentrasiku." Ucap Ziko sok fokus. Zira tau sebenarnya itu hanya rencana suaminya agar bisa memegang tubuhnya. " Bagaimana hasil pijatan yang aku lakukan?" Ucap Ziko lagi sambil tetap memijat lembut Istrinya. " Wenak sekali suamiku. Kamu memang ada bakat jadi tukang pijat plus-plus." Ucap Zira menyindir suaminya. Ziko menghentikan aksi memijatnya dan sudah membuka bajunya. " Kamu mau ngapain?" Ucap Zira cepat karena ada sesuatu yang ganjil dengan tingkah suaminya. " Aku kepanasan." Ucap Ziko santai sambil memijit istrinya. Zira memegang dadanya. Ada rasa tenang ketika suaminya mengatakan kepanasan. Walaupun dia tetap heran dengan suaminya. Karena yang merasa sumuk sebenarnya dirinya, mungkin karena faktor hamil itu pikirnya. Tapi dia memikirkan kalo Ziko juga mengalami hal yang sama. Secara Ziko juga pernah mengatakan kepadanya kalau dia juga ngidam. Beberapa menit kemudian, Ziko membuka celananya di hadapan Istrinya. " Hey jangan bilang kalau kaki kamu juga kepanasan." Ucap Zira mulai panik. " Iya badanku agak panas. Apakah kamu mau mendinginkan tubuhku." Ucap Ziko dengan cara berbicara di buat-buat. " Masuk aja ke kulkas pasti dingin." Ucap Zira ketus. Dia tau semua hanya akal-akalan suaminya dengan bersandiwara seperti itu. " Oh jadi kamu tidak sayang sama aku lagi ya. Seharusnya sebagai pasangan suami istri kita harus melengkapi. Ketika aku kepanasan kamu memberikan suasana yang adem kepada diriku dengan pelukan tubuhmu. Dan ketika kamu kedinginan aku akan memberikan kehangatan untukmu." Ucap Ziko cepat. Ziko sudah melingkarkan tangannya di tubuh istrinya. Tubuh yang selama ini di rindukannya. Tubuh yang imut di bandingkan dengan tubuhnya, dan dia sudah mulai melakukan aksinya. " Sayang pr kita kan sudah selesai." Ucap Zira sambil menunjuk perutnya. Menahan aksi Ziko. " Hemmm ini pr yang lain. Dan harus selesai malam ini." Ucap Ziko cepat sudah menjatuhkan selimut ke lantai. Ziko berperan aktif di sana. Dia melakukannya dengan kelembutan. Dia tidak ingin menyakiti Istrinya dan anaknya. Jadi ketika dia sudah membuat pr nya. Dia mengakhiri dengan segera. Tanpa harus ada rumus rumus yang lainnya. Malam semakin larut pasangan itu masih saja mengobrol tentang semuanya. Tentang hubungan mereka yang pernah di ujung tombak. Dan mereka juga membicarakan tentang calon anak mereka. " Nanti jika bayi kita lahir yang akan memberi nama harus aku." Ucap Ziko cepat. " Eh enggak boleh gitu. Kita kan buatnya bersama jadi harus bersama juga dalam memberi nama." Gerutu Zira cepat. " Enggak, aku enggak mau kamu terlibat dalam hal pemberian nama. Pasti nama yang kamu kasih Zonoh, Zokoh dan Zorrok. Enggak ada nama yang benar kalau kamu yang kasih." Ucap Ziko cepat. Mereka bisa berdebat hanya dengan masalah kecil. Walaupun berdebat, mereka akan dengan cepat membaik lagi. Tidak dengan kejadian yang lalu. Mereka berdebat bukan karena masalah sepele. Tapi mereka berdebat karena masalah hati. Hati yang belum jelas keberadaannya dan sekarang hati itu sudah menemukan tempatnya. Tiba-tiba ada suara di tengah perdebatan mereka. " Sayang kamu kenapa?" Ucap Ziko cepat memegang perut istrinya. " Perutku lagi konser." Ucap Zira cepat. " Konser musik apa?" Ucap Ziko ikut dalam suasana. " Konser musik rock." Ucap Zira sambil memperagakan jarinya seperti anak rocker. " Jadi apa yang harus aku lakukan kalau perut kamu konser." Ucap Ziko bingung. Entah kenapa dia seperti lupa akan sesuatu. Zira menepuk dahinya. " Sayang ini tandanya anak kita mau mamam." Ucap Zira manja. " Mamam apa? Mang Kardi gitu?" Ucap Ziko lagi bingung. " Aih. Kenapa pula harus mang Kardi." Ucap Zira ketus. Mang Kardi adalah tukang kebun mereka dan di dalam benaknya Ziko kalau Istrinya sedang ngidam dan mau mang Kardi yang mengambil makanan untuk istrinya. " Terus apa dong?" Ucap Ziko lagi. " Aku mau maem." Ucap Zira pelan. " Owh mingkem." Ucap Ziko lagi. Zira mencubiti lengan suaminya. Dia gemes dengan suaminya yang tiba-tiba lola yaitu loading lama. Ziko meringis kesakitan ketika mendapatkan cubitan dari Istrinya. " Kamu kalau bicara jangan pakai bahasa yang tidak aku mengerti." Gerutu Ziko sambil memegang lengannya yang habis di cubit. Zira ingin bermanja-manja dengan suaminya, makanya dia menyebutkan kata makan dengan bahasa anak kecil. " Aku mau eat." Ucap Zira lagi dengan bahasa Inggris. " Apa kamu mau eek." Ucap Ziko cepat. Sambil menarik tangan istrinya agar masuk ke dalam toilet. " Hey aku bukan mau eek atau buang air besar. Aku itu mau makan, makan sama dengan mamam, maem dan eat. Gitu aja enggak tau. Bagaimana nanti kalau anak kita lahir terus dia minta makan pada saat itu aku enggak ada di rumah. Apa yang akan kamu lakukan sama anak kita." Ucap Zira cepat. " Ya karena aku enggak tau dan paham bahasa anak kecil. Mungkin aku diami saja. Paling aku kasih mainan diam." Ucap Ziko cepat. Ziko bisa berbahasa Inggris tapi entah kenapa tiba-tiba ketika Istrinya berbicara bahasa asing dia berpikir masih menggunakan bahasa yang aneh. " Baiklah aku akan membawakan makanan untuk kamu." Ucap Ziko mantap sambil menuruni kasur Zira ikut turun dari kasur. Dia juga ingin ikut ke dapur bersama suaminya. " Stop kamu jangan turun dari sini. Biar aku yang membawakan makanan untuk kamu dan bayi kita ke sini." Ucap Ziko sambil mengecup perut istrinya. " Aku enggak mau makanan yang ada di dapur. Aku mau makan telur dadar dengan bawang goreng di atasnya dan nasi yang panas." Ucap Zira membayangkan makanan itu akan sudah masuk ke dalam tenggorokannya. " Baik sayang, aku akan memerintah Pak Budi yang membuatnya." Ucap Ziko cepat sambil memegang handle pintu ingin keluar dari kamar tersebut. " Sayang aku ingin yang masak telur itu kamu. Kan kamu ayahnya jadi lebih baik jika makanan itu di racik oleh tangan kamu. Agar rasa sayangnya mengalir ke dalam tubuh anak kita." Ucap Zira manja. Ziko membelalakkan matanya. Karena seumur-umur dia belum pernah masak apalagi menghidupkan kompor. " Sayang kalau aku minta bantuan Pak Budi boleh enggak?" Ucap Ziko bingung. " Enggak, kamu harus belajar jadi Bapak yang bisa segalanya. Jangan semua mengandalkan pembantu. Ada kalanya kamu harus belajar susah." Gerutu Zira cepat. " Tapi sayang, aku enggak bisa menghidupkan kompor gasnya." Ucap Ziko pelan. " Apa kamu bisa menyalakan lilin?" Ucap Zira cepat. Ziko menganggukkan kepalanya cepat. " Kalau enggak bisa pakai kompor gas masak aja pakai lilin." Ucap Zira asal. Dia hanya membuat perumpamaan lilin dan kompor gas sama-sama dapat mengeluarkan sebuah Zat panas. " Like, komen dan Vote yang banyak ya terimakasih." Chapter 222 episode 221(S2) Ziko pergi kedapur sendirian. Awal masuk ke dalam ruangan itu yang di rasakannya adalah takut. Wajar karena Ziko memang penakut. Hanya badannya yang besar tapi mentalnya, mental tempe untuk hal seperti itu. Dia bingung mencari letak saklar di mana. Karena memang dia tidak tahu menahu keberadaan benda tersebut. Dia meraba semua dinding. Menurut logika biasanya letak saklar akan di letakkan di dinding dan dekat pintu masuk, agar memudahkan untuk menghidupkan lampu itu pikirnya. Dan setelah meraba akhirnya Ziko menemukan letak saklar tersebut. Dia menekan tombol saklar tersebut dan menyalalah lampu di dalam ruangan tersebut. Ziko berjalan mendekati kompor hanya melihat benda tersebut tanpa menyentuh sama sekali. Dia membuka laci mencari keberadaan si putih yaitu lilin. Menurutnya lebih baik masak pakai lilin karena dia bisa menyalakan benda tersebut, dari pada dia menggunakan kompor yang sama sekali tidak akan menyala itu pikirnya. Ziko meletakkan beberapa lilin putih di atas lantai membentuk lingkaran dan menyalakan benda tersebut dengan korek. Dia bingung membedakan antara telur dadar dengan telur mata sapi. " Lebih baik aku bertanya sama Zira." Gumamnya. Ziko mengambil gagang telepon yang ada di dinding, dan menekan extension nomor kamarnya. " Sayang." Ucap Ziko cepat. " Hemmmmm." Ucap Zira dari ujung telepon. " Perbedaan telur dadar sama telur mata sapi apa?" Ucap Ziko bingung. " Owh gampang telur dadar itu telur yang di kocok, dan telur mata sapi kuningnya di tengah." Ucap Zira menjelaskan. " Kuning di tengah? Seperti lampu lalu lintas aja pakai kuning di tengah." Gumam Ziko. Telepon di letakkan di tempatnya. Ziko mulai mengambil wajan. Dia masak sambil jongkok. Dia memecahkan telur di atas wajan. Detik berganti detik, menit berganti menit tidak terasa waktu sudah sampai 30 menit. Tapi telur juga belum masak. Zira yang berada di kamar sudah tidak tahan dengan perutnya yang konser terus menerus. Zira turun ke lantai bawah dan mencari keberadaan suaminya. Suaminya sedang jongkok di depan lilin sambil memegang wajan. " Kamu ngapain?" Ucap Zira sambil tertawa terbahak-bahak. " Masaklah." Ucap Ziko cepat. Zira masih tertawa tidak habis pikir kalau suaminya akan melakukan seperti yang di ucapkannya di kamar. Tangan kirinya memegang wajan dan tangan kanannya mengaduk telur tersebut dengan menggunakan sendok. Setelah menurutnya udah masak. Dia mengangkat wajan tersebut dan meletakkannya di atas piring. " Memangnya udah masak?" Ucap Zira penasaran. " Udahlah Ziko." Ucapnya membanggakan dirinya. Zira melihat piring yang ada telur tersebut. Dia mengernyitkan dahinya. " Sayang tadi sepertinya aku mintanya telur dadar lah bukan telur orak arik." Ucap Zira bingung karena permintaannya sama yang di buatkan suaminya tidak sama. " Aih, apalagi itu telur orak arik?" Ucap Ziko bingung. " Ini." Ucap Zira menunjuk telur yang ada di piring. " Bukannya kamu bilang telur dadar telur yang di kocok?" Ucap Ziko protes. " Iya sayang di kocok di lain tempat, bukan di dalam wajan mengocoknya." Ucap Zira komplen. " Jadi ini salah ya?" Ucap Ziko ragu. " Ya salah." " Yakin?" Ucap Ziko lagi enggan mendengar kata salah dari Istrinya. Zira menganggukkan kepalanya cepat. Ziko menarik nafasnya dan menghembuskan secara kasar. Dia merasa capek dan lelah karena sudah 30 menit dia jongkok memperjuangkan masak telur itu untuk si buah hati. Zira merasa kasihan dan enggak tega melihat suaminya memasak lagi. " Udah jangan di buang, yang itu juga enggak apa-apa." Ucap Zira cepat agar suaminya tidak kecewa. " Jangan makan yang ini nanti anak kita ngences. Aku akan menyiapkan semua permintaan kamu." Ucap Ziko semangat. " Apa kamu yakin? Mau enggak aku bantu?" Ucap Zira kasihan. " Hemmm kamu ajarkan aku cara menghidupkan kompor ini, dan apa saja yang harus aku masak dan caranya." Ucap Ziko cepat. Zira mengajari cara menghidupkan kompor dan mengaduk telur di tempat lain. Tidak lupa dia mengajari cara membuat bawang goreng. Setelah menurutnya Ziko paham. Zira keluar dari dapur. Dia tidak tahan dengan aroma masakan. " Sayang aku nunggu di meja makan ya?" Ucap Zira cepat. " Nanti kalau sudah siap akan aku hidangkan kepadamu." Udah Ziko cepat. Ziko memasak dengan penuh hati-hati. Setelah beberapa menit Ziko mengangkat telur tersebut dan meletakkannya di atas piring yang ada nasinya. Tidak lupa dia meletakkan bawang goreng di atasnya. " Makanan ala chef Ziko sudah siap terhidang." Ucap Ziko bangga. Kembali Zira mengernyitkan dahinya. Melihat warna bawang goreng yang hitam legam. Untuk telur dadar warnanya coklat keemasan jadi menurut Zira sudah pas. " Sayang apa lagi yang salah." Ucap Ziko penasaran melihat dahi istrinya berkerut. " Ini bawang goreng apa bawang keling?" Ucap Zira cepat. Ziko membelalakkan matanya tidak percaya ternyata ada kesalahan dalam masakannya. Walaupun begitu Zira tetap mencicipi makanan tersebut. " Bagaimana rasanya." Ucap Ziko lagi penasaran melihat istrinya seperti terpaksa menelan makanan tersebut. Zira tidak menjawab, dari ekspresi Istrinya mengunyah makanan itu, kelihatan kalau makanan itu tidak enak. " Sayang jangan di paksakan, kalau tidak enak enggak usah di makan." Ucap Ziko khawatir Zira menghargai kerja keras suaminya. Dia tetap berusaha menelan makanan itu dengan hati-hati dengan mimik muka yang jelek. Ziko menarik piring yang ada di depan Istrinya. " Kenapa di ambil." Ucap Zira bingung. " Aku enggak mau kamu makan lagi. Aku takut kamu keracuna." Ucap Ziko cepat. " Enggak kok." Ucap Zira masih dengan mulut yang penuh. " Apanya yang enggak. Mimik wajahmu saja sudah menunjukkan kalau kamu keracunan. Mana ada orang menikmati makanan dengan mimik wajah yang jelek seperti itu. Berarti makanan ini tidak enak." Ucap Ziko cepat. Ziko membuang makanan tersebut. Dia khawatir terjadi apa-apa dengan anak dan istrinya jika melanjutkan makan makanan tersebut. Perut Zira masih tetap konser. Karena makanan yang masuk ke dalam perutnya belum cukup untuk mereka berdua. " Sayang kamu masih lapar ya?" Ucap Ziko khawatir. " Iya." Ucap Zira sambil menganggukkan kepalanya. " Makan yang lain aja ya, yang penting masuk makanan. Besok aku akan belajar sama Pak Budi untuk membuat telur dadar yang enak." Ucap Ziko lagi sambil membuka kulkas. Di dalam kulkas ada beraneka ragam buah dan sayuran. Ziko menunjukkan beberapa buah ke hadapan istrinya tapi semua di tolak. " Apa kamu mau ini?" Ucap Ziko menunjukkan sayur kangkung kehadapan Istrinya. Zira menganggukkan kepalanya cepat. Ziko malah membelalakkan matanya ketika melihat istrinya mengiyakan tawarannya. " Sayang kenapa selera kamu seperti kambing." Ucap Ziko cepat. " Enak aja kambing, kalau aku kambing berarti kamu kambing juga." Ucap Zira protes. " Terus kenapa kamu mau makan sayur mentah?" Ucap Ziko lagi sambil memegang sayur kangkung tersebut. " Sayang aku mau sayur itu di olah dulu baru di makan. Seperti tumis kangkung ikan asin. Pasti enak tuh." Ucap Zira membayangkan makanan itu sudah ada di dalam tenggorokannya. Ziko menjedutkan kepalanya kedepan pintu kulkas secara berulang, sambil berbicara. " Sayang aku menyerah lebih baik aku melakukan rumus di kasur berkali-kali dari pada harus masak. Aku enggak kuat." Ucap Ziko lemas. Zira tertawa lucu melihat tingkah suaminya. Yang sudah menyerah. " Sayang baru satu malam loh, masih ada malam-malam lainnya." Ucap Zira sambil tertawa kecil. Ziko sudah menjatuhkan badannya seperti orang pingsan. " Oh sayang kamu kenapa? Apa kamu ayan?" Ucap Zira sambil menekan tombol saklar di dinding. Dengan otomatis Ziko langsung bangun dari kepura-puraannya. Zira tertawa dapat mengerjai suaminya. Suami yang tampan bak artis bollywood, body kekar tapi cemen dengan kegelapan. " Like, komen dan Vote yang banyak ya terimakasih." Chapter 223 episode 222 (S2) Matahari terbit dari timur. Menunjukkan warna khasnya. Warna yang cerah dan menyilaukan hati. Warna itu yang selalu di tunggu setiap orang. Setiap orang ingin menikmati sang mentari. Sang Mentari menandakan bergantinya hari dan menyambut hari baru. Seperti itu yang di rasakan semua orang. Seperti pasangan suami istri yang satu ini. Selain menikmati indahnya sang mentari. Mereka juga menikmati ciptaan Tuhan lainnya yaitu ciptaan yang ada di hadapan mereka. Ziko selalu menikmati indahnya mahluk di depannya. Dia memandang wajah istrinya dengan lekat. Semua garis wajah istrinya terlihat sangat sempurna dihadapannya. Tanpa ada yang salah menurutnya. Mungkin itu yang di namakan cinta. Dia tidak merasa ada kekurangan dalam diri istrinya. Semakin dia melihat semakin dalam rasa itu, rasa cinta seperti itu kata yang tepat mengartikannya. Zira tersadar dan terbangun karena hembusan nafas suaminya, menyentuh wajah indahnya. " Sayang." Ucap Zira sambil menutup wajah suaminya dengan telapak tangannya. Zira membalikkan badannya ke arah lain. Agar wajahnya tidak di pandangi suaminya. Dia masih merasa malu jika terus di pandang suaminya. Apalagi ini adalah hari pertama mereka tidur bersama setelah beberapa bulan tidak bersatu. Ziko memberikan morning kiss untuk Istrinya. Dan memeluk erat tubuh mungil itu dari belakang. " Sayang." Ucap Zira pelan dengan suara serak masih dengan mata tertutup. " Hemmmmm." " Aku ingin setiap pagi kamu memberikan kata-kata romantis kepadaku, seperti kemaren." Ucap Zira pelan. " Baiklah karena kamu yang minta setiap hari aku akan memberikan kata-kata romantis untukmu dan anak kita." Ucap Ziko sambil mengelus perut istrinya. " Tapi ada syaratnya?" Ucap Ziko lagi. " Apa?" " Berikan aku morning kiss yang luar biasa darimu." Ucap Ziko licik. " Ih, enggak mau jigongmu bau." Ucap Zira menutup mulutnya. Ziko sudah menjulurkan muncungnya kehadapan Istrinya sambil menutup matanya. Beberapa detik kemudian Zira sebuah memberikan morning kiss untuk orang terkasihnya. Menurutnya biarlah ini menjadi pengobat rindu mereka berdua. " Sekarang giliran kamu." Ucap Zira cepat. " Baiklah." Ziko menarik nafasnya sebelum berbicara. " Sayang kaulah bulan kaulah bintang karena hanya engkau orang tersayang." " Asik." Ucap Zira cepat sambil mengangkat jempol tangannya. " Ayam goreng di masak setengah matang. Dimasak sama Pak ujang. Abang sayang sama adek seorang tapi sayang kepala adek peyang." Ucap Ziko cepat sambil berlari ke kamar mandi menghindari cubitan maut istrinya. " Sayangggg, kamu jahat." Teriak Zira dari kamar. Ziko tertawa terbahak-bahak di kamar mandi karena dapat mengerjai istirnya. Setelah Ziko selesai mandi. Kini giliran istrinya yang mandi. Dari luar Ziko bisa mendengar kalau Istrinya muntah di kamar mandi. Ziko menggedor pintu kamar mandi secara berulang-ulang. " Sayang buka pintunya?" Ucap Ziko sambil menggedor-gedor pintu. Belum ada jawaban, hanya terdengar suara Zira sedang muntah. Ziko jadi khawatir mendengar suara itu terasa sangat berat. Dia bisa membayangkan sakitnya muntah kalau perut dalam keadaan kosong. Karena dia juga pernah merasakan muntah seperti itu. Tidak berapa lama Zira membuka pintu kamar mandi dengan wajah yang pucat pasi dan mata merah. Ziko menuntun istrinya ke sofa. " Kamu mau apa?" Ucap Ziko khawatir. " Ambilkan minyak kayu putih di atas nakas." Ucap Zira cepat sambil menunjuk nakas. Ziko langsung mengambil minyak yang ada di nakas. Karena hanya itu yang ada di nakas selain telepon. Ziko memberikan minyak tersebut kepada istrinya. Zira meletakkan minyak tersebut di bawah hidungnya. Sambil menghirup aroma dari minyak tersebut. Ziko sampai terheran-heran dengan tingkah Istrinya. Menurutnya istrinya sedang kecanduan minyak kayu putih. Setelah cukup enak. Ziko menuntun istrinya ke ruang ganti untuk memilih pakaian, dan membantu istrinya memakai pakaian pilihannya. Ziko melihat perut Istrinya yang terlihat sedikit membesar. Dia mengecup berulang perut istrinya. " Sehat-sehat yang sayang." Ucap Ziko mengecupi perut Istrinya. Zira merasa senang melihat suaminya sangat mendambakan kehadiran bayi kecilnya. Dia berharap yang sama dengan suaminya agar anaknya lahir dengan keadaan sehat dan tidak kurang satu apapun. Dengan hati-hati Ziko membantu Istrinya menuruni anak tangga tersebut. Di dalam ruang makan formasi sudah lengkap. Mereka menunggu kehadiran dua orang yang sedang di mabuk kepayang. Nyonya Amel membantu menarik kursi untuk menantunya. Dengan hati-hati Ziko menuntun Istrinya untuk duduk. " Bagaimana tidur kamu sayang, apa nyenyak?" Ucap Nyonya Amel pelan. " Nyenyak ma." Ucap Zira cepat. " Zira baru muntah ma." Ucap Ziko memberitahu hal yang menurutnya menyakitkan buat Istrinya. " Biasa itu. Nanti kalau sudah bulan ke empat mualnya akan berkurang berangsur-angsur." Ucap Nyonya Amel menenangkan anaknya. Di meja makan sudah terhidang sarapan, beraneka ragam makanan western. Tapi tidak ada yang menggelitik lidah Zira untuk menikmati makanan tersebut. Ziko melihat raut wajah istrinya yang bingung. Ziko mendatangi Pak Budi yang sedang berdiri tidak jauh dari meja makan. Ziko membisikkan sesuatu ke Pak Budi. Setelah itu dia kembali duduk di sebelah istrinya. " Zira kenapa enggak makan?" Ucap Nyonya Amel melihat menantunya hanya diam tanpa melakukan pergerakan sama sekali seperti memindahkan satu menu ke piringnya. " Iya ma." Ucap Zira pelan. Zira mengambil potongan buah yang ada di piring kecil. Dan menikmati buah tersebut dengan lahap. Zira tidak bisa membedakan antara lapar apa doyan. Yang penting menurutnya makan aja. Di pikirannya lebih baik makan buah dari pada makan makanan yang tidak membangkitkan selera makannya. Ziko menyodorkan piring buah miliknya kepada istrinya. " Makanlah." Ucap Ziko pelan. Zira memakan semua buah yang ada di piring dengan cepat dan lahap. Nyonya Amel hanya memperhatikan tidak berkomentar. Menurutnya masih wajar kalau nafsu makan Zira kadang naik turun. Dan menurutnya nafsu makan menantunya sedikit membaik ketika makan potong buah tersebut. Tidak berapa lama Pak Budi datang dengan membawa hidangan dan meletakkan di depan Zira. Zira langsung menelan salivanya. Dia tergiur dengan makanan tersebut. Pak Budi membawa tumis kangkung ikan asin dan telur dadar bawang goreng. Semua adalah makanan yang di idam-idamkannya tadi malam. Tanpa pikir panjang dia menikmati makanan tersebut tanpa melihat ke sekelilingnya. Ada Ziko yang bengong dengan tingkah Istrinya. " Sayang apa kamu lupa kalau kita makan sepiring berdua." Ucap Ziko pelan. Ucapan Ziko terdengar oleh mamanya. " Iko, makan sendiri. Jangan ganggu istri kamu. Biarkan dia menikmati makanannya." Ucap Nyonya Amel cepat agar anaknya tidak bersikap manja sama menantunya. " Enggak apa-apa ma, Maaf sayang aku lupa. Habis sayur kangkung dan telur dadar ini menggoda imanku." Ucap Zira cepat. Zira ingin menyuapi suaminya, tapi lagi-lagi mama mertuanya marah. " Ziko, jangan seperti anak kecil dong, cukup yang kecil di sini Zelin." Ucap Nyonya Amel tegas. Zelin yang sedang makan tersedak. Karena mamanya menyebutkan dirinya anak kecil. Sampai sekarang di mata orang tuanya dan kakaknya dia masih kecil. Mungkin itu yang menyebabkan dia tidak boleh dekat dengan lawan jenis. Karena menurut orang tuanya anak kecil belum bisa membedakan antara yang di larang dan tidak. Dan Zelin mengumpat dalam hatinya. Sampai kapan aku akan di anggap anak kecil. Umur sudah kepala dua masih aja di bilang anak kecil. Kalau seperti ini aku tidak akan punya kekasih. Koko oh Koko di mana dirimu. Semoga kamu ikut tersedak ketika aku menyebut namamu, agar kamu mengingatku. " Like, komen dan Vote yang banyak ya terimakasih." Chapter 224 episode 223 (S2) Pasangan suami istri itu sama-sama keluar dari mansion. Ada perasaan bahagia ketika mereka bisa melakukan aktivitas itu lagi bersama. Di depan sudah ada asisten Kevin yang siap sedia mengantarkan majikannya. " Apa kamu juga kembali bekerja bersama suamiku?" Ucap Zira melihat pria tersebut membukakan pintu untuk mereka. " Nona, tidak ada alasan saya untuk pergi lagi. Sekarang kalian telah kembali bersama." Ucap Kevin. Ziko memerintahkan Istrinya untuk masuk ke mobil. Tapi Zira enggan untuk masuk. " Sayang aku nyetir mobil sendiri ya?" Rayu Zira sambil melingkarkan tangannya di lengan suaminya. " Enggak, mulai sekarang kamu tidak boleh nyetir mobil lagi." Masih ingat di benak Ziko ketika Istrinya mengemudikan mobil layaknya pembalap Rosa. Zira tidak mau berdebat apalagi membantah omongan suaminya. Menurutnya ini adalah rasa sayang suaminya. Mobil sudah melaju meninggalkan mansion. Ziko meluruskan tangannya dan meletakkan di sandaran kursi mobil. Zira bersandar di dada suaminya dan Kevin memperhatikan dari balik kaca mobil. " Bagaimana tidur anda berdua apakah nyaman?" Goda Kevin. " Hemmmmm." Ucap Ziko cepat. " Nona bagaimana dengan anda apakah anda betah dengan pria di sebelah anda?" Ucap Kevin menggoda lagi. " Hei apa maksud kamu betah. Jadi kamu pikir selama ini istriku tidak betah berada di sampingku." Ucap Ziko sewot. Kevin tertawa mendengar penjelasan bosnya yang sedikit emosional. Dia kembali fokus mengemudikan benda bergerak tersebut. Dan Zira masih saja lengket dengan bersandar pada dada suaminya. " Vin, kamu tau enggak?" Ucap Ziko cepat. Kevin menggelengkan kepalanya cepat. " Sekarang micin bukan hanya ada di mulut istriku, tapi juga ada di sini." Ucap Ziko tertawa sambil menunjuk keteknya. Zira memukul lengan suaminya. Menurut Ziko istrinya mulai dari semalam suka bersandar pada dadanya atau lebih jelas mencium keteknya, dia berpikir kalau istrinya ketagihan dengan aroma tubuhnya. " Kamu tau enggak, kalau deodorant suamiku udah berganti merek menjadi micin." Ucap Zira cepat. Buahahah... Kevin tertawa lepas membayangkan kalau micin jadi deodorant. " Wah sepertinya bagus juga itu idenya, mana tau dengan menaburkan micin ke ketek saya, cewek-cewek pasti akan mengantri." Ucap Kevin asal. " Bukan cewek aja, banci kalengpun ikut ngantri." Ucap Zira cepat. Mereka tertawa bersama ada saja candaan yang mereka buat kalau sudah kumpul seperti itu. Masih ingat di dalam benak mereka ketika Koko mengincar Kevin. " Betul tuh, Koko aja sampai ngincar kamu." Ucap Ziko cepat. " Iya tuan, tapi saya tidak pernah di sentuhnya. Tidak dengan tuan dapat sentuhan mendadak dari dia." Ucap Kevin sambil tertawa menggoda bosnya balik. " Hahaha, iya betul ketika kaki mereka berdua perang di bawah meja." Ucap Zira tidak membela suaminya. Ziko yang tadinya ketawa ketika dapat mengerjai asistennya. Sekarang dia hanya bisa tutup mulut karena yang jadi bahan candaan adalah dirinya. Ziko menatap wajah istrinya karena terlalu bebas tertawanya. " Sttt, udah Vin jangan tertawa lagi." Zira memberikan kode kepada Kevin agar menutup mulutnya. Kevin melirik kaca mobil, dari situ bisa di lihat kalau Ziko tidak suka dengan candaan yang mereka buat. Mungkin karena berhubungan dengan banci makannya dia agak sedikit esmosi. Setelah itu mereka tidak ada yang tertawa lagi. Walaupun masih agak geli membayangkan cerita itu tapi Zira dan Kevin berusaha untuk menahan tawanya. " Sayang." Ucap Zira masih tetap bersandar pada dada suaminya. " Hemmmmm." Ucap Ziko singkat. " Aku boleh minta sesuatu enggak?" Ucap Zira memainkan kancing kemeja suaminya. " Apa?" " Aku ingin bertemu Alia Bhatt." Ucap Zira pelan. " Siapa Alia Bhatt? Pembantu kamu?" Zira langsung mencubit dada suaminya karena telah menghina idolanya. " Aw sakit tau. Ya siapa dong?" Ucap Ziko memegang dadanya yang sakit karena di cubit. " Kamu gitu aja enggak tau." Ucap Zira memalingkan wajahnya ke arah lain. Dia melihat ke arah luar jendela mobil. Zira ngambek, hormonnya ketika hamil naik turun seperti roller coaster. " Vin, apa kamu tau siapa Ali. Ali apa tadi?" Ucap Ziko lupa. " Ali baba." Ucap Kevin menjawab asal. Ziko langsung menendang belakang kursi Kevin. " Kalau ngomong yang benar." Ucap Ziko kesal sambil melihat istrinya yang ngambek. Ziko mencoba mengingat nama yang di sebutkan Istrinya. " Sayang Ali apa tadi namanya?" Ucap Ziko merayu istrinya. " Aha saya tau, nona Zira pasti mau bertemu dengan pemain tinju legendaris yang bernama Muhammad Ali, benarkan nona?" Ucap Kevin merasa benar. Sekarang Zira yang memukul belakang kursi Kevin. Zira tidak terima kalau idolanya di plesetkan namanya. " Sayang apa permintaan kamu ini juga termasuk dalam kategori ngidam?" Ucap Ziko khawatir. Zira langsung menganggukkan kepalanya cepat. " Siapa tadi namanya?" Ucap Ziko penasaran. " Alia Bhatt." Ucap Zira cepat. " Siapa dia, dan apa hubungan kamu dengannya." Ucap Ziko penasaran karena nama yang di sebutkan Istrinya seperti nama laki-laki. Zira belum menjelaskan tapi Kevin menyerahkan ponselnya kepada bosnya. Ziko membaca dan melihat gambar di dalam aplikasi guuuling tersebut. Dia membelalakkan matanya enggak percaya. Istrinya ngidam pingin ketemu dengan artis India. " Sayang jangan yang ini ya? Aku enggak tau bisa apa enggak mempertemukan kamu dengannya. Secara dia artis papan catur pasti jadwalnya padat dan penuh bodyguard di sebelahnya." Ucap Ziko sedikit menyerah. Zira mencubit lagi lengan suaminya secara berulang. " Enak aja kamu bilang idolaku artis papan catur. Artis papan atas tau." Ucap Zira komplen. " Atas apa?" Ucap Ziko lagi. " Atas kamu." Ucap Zira sambil memonyongkan mulutnya. Ziko langsung mengecup lembut bibir Istrinya. Dan pria yang mengemudikan mobil hanya bisa gigit stir mobil. " Uhuk, uhuk." Kevin berakting agar pasangan tersebut menyudahi aksi mereka mereka. Aksipun berhenti karena mereka baru sadar kalau ada cicak di depan mereka. " Sayang bagaimana?" Ucap Zira lagi. Ziko memikirkan sesuatu tentang ngidam Istrinya yang betul-betul unik dan penuh perjuangan. " Aku akan pikirkan caranya." Ucap Ziko asal agar Istrinya tidak merengek terus. Zira bersorak gembira ketika suaminya mengatakan hal itu. " Sebelum itu terpenuhi, kamu ngidam apa lagi?" Ucap Ziko cepat. Dia sengaja bertanya agar Istrinya melupakan ngidam ketemu artis papan cucian tadi. Zira memikirkan sesuatu sambil mengelus-ngelus perutnya. " Aha, aku pengen kamu membawakan preman pasar ke hadapan aku." Ucap Zira semangat. " Aih, untuk apa pula aku harus membawa mereka kehadapan kamu, kamu kalau ngidam jangan aneh deh. Kamu bisa membayangkan wajah suami kamu yang ganteng ini. Ini mintanya ketemu preman. Apa kamu mau anak kita nanti berwajah sangar seperti mereka." Gerutu Ziko. " Siapa lagi yang membayangkan wajah mereka. Aku itu cuma pengen menjitak kepala preman yang pernah mengganggu aku. Entah kenapa kalau aku menjitak kepalanya pasti dia enggak akan bertingkah lagi di pasar." Ucap Zira membayangkan yang aneh-aneh. Ziko menepuk jidatnya dengan telapak tangannya. Dan Kevin yang mendengar hanya bisa melongo. Seumur-umur dia baru sekali ini melihat dan mendengar permintaan orang ngidam yang di luar akal manusia. " Sayang apa ini juga ngidam atau hanya hasrat ingin menjitak saja?" Ucap Ziko cepat. " Iya aku ngidam?" Ucap Zira cepat. " Waduh sayang kalau hanya hasrat menjitak saja, dengan ikhlas aku akan memerintah Kevin memberikan kepalanya kepada kamu agar kamu bisa melampiaskan hasrat menjitak. Tapi karena ini ngidam mau enggak mau aku harus memenuhinya." Ucap Ziko sedikit lemas. " Ye ye ye." Ucap Zira bersorak gembira. Sedangkan Kevin bisa mengelus dadanya karena kepalanya aman dari jurus baru pasukan Avengers yaitu jurus jitak menjitak. " Like, komen dan Vote yang banyak ya terimakasih." Chapter 225 episode 224 (S2) Tidak ada lagi pembahasan mengenai ngidam. Entah apa yang di rencanakan Ziko untuk memenuhi hasrat ngidam Istrinya. Dari ngidam minta ketemu artis sampai mau menjitak kepala preman pasar. Mungkin terkesan mengada-ada, tapi Ziko hanya mengambil pemikiran yang baik tentang itu. Dengan ngidam artis maka dia berharap anaknya jika perempuan akan berwajah cantik seperti artis tersebut dan berakhlak yang baik seperti ibunya. Dan untuk yang ngidam preman Ziko belum bisa membaca maksud Istrinya, walaupun sudah di katakan ngidam tapi menurutnya Zira seperti ada dendam kesumat dengan preman itu. Tapi itu entah benar entah tidak hanya Zira yang tau dengan rencananya. Mobil melaju dengan lambat, karena ada perbaikan jalan di ujung sana sehingga menyebabkan jalanan macet. Ada kebosanan sama mereka bertiga. " Vin, tadi seharusnya jangan lewat jalur yang ini, kenapa tidak lewat jalur yang lain." Ucap Ziko memberi ide kepada asistennya. Ada dua jalur untuk menuju pusat kota. Satu jalur melewati perkotaan dan jalur satu lagi melewati jalan-jalan singkat rumah penduduk. " Tuan gimana kalau menghilangkan kebosanan di dalam mobil, kita main tebak-tebakan." Ucap Kevin memberikan ide. " Bagus juga tuh idenya." Ucap Zira cepat. Zira melihat ke arah suaminya memastikan apakah setuju dengan ide Kevin. " Ya terserah." Ucap Ziko malas. " Baik di mulai dari aku." Ucap Zira semangat. Pertanyaan pertama. " Apa itu cemilan? Kevin mengacungkan jarinya. Menurutnya itu pertanyaan yang gampang. " Cemilan adalah makanan ringan yang di makan untuk mengisi waktu luang." Ucap Kevin mantap. Zira menggelengkan kepalanya dengan cepat. Dan jawaban Kevin ternyata salah. Zira melihat kearah suaminya untuk meminta jawaban. " Nyerah." Ucap Ziko cepat malas berpikir. " Cih malas banget kamu mikir." Gerutu Zira. " Jawabannya cecudah celapan, cebelum cepuluh." Ucap Zira cepat sambil tersenyum tipis. Kevin betepuk tangan dengan jawab asal dari istri bosnya. Tidak dengan Ziko, dia hanya bisa menggaruk kepalanya mendengar perkataan istrinya yang seperti anak kecil. Tapi menurutnya ok sih. Lanjut ke Kevin, sekarang dia yang mulai memberikan pertanyaan. " Apa warna angin?" Ucap Kevin cepat. " Angin mana punya warna, dan hanya bisa di rasakan saja." Ucap Zira komplen dengan arti dia tidak tau jawabannya. Dan Ziko hanya menggelengkan kepalanya tanpa mau berpikir panjang. " Jawabannya merah kalau enggak merah kehitaman." Ucap Kevin cepat. Zira sudah mau komplen dengan jawaban pria tersebut. " Coba lihat hasil kerokan di badan orang yang masuk angin?" Ucap Kevin tersenyum. Zira manggut di paham. Menurutnya untuk jawab pria tersebut memang terkesan asal tapi bisa di benarkan juga karena kalau orang masuk angin yang lagi kerokan berwarna merah malah ada yang merah kehitaman tidak pernah berwarna pelangi. Giliran Ziko yang mulai membuat pernyataan. " Kura-kura apa yang salam?" Ucap Ziko cepat sambil melihat kearah Istrinya. Zira berpikir kalau kura-kura tidak pernah pakai salam dan hanya pakai cangkang di badannya. Zira berpikir kalau pertanyaan berupa daun apa yang pakai salam, maka dengan cepat dia bisa menjawab daun salam. Dan Kevin juga tidak bisa menjawab pertanyaan itu. " Kurasakan ku sedang jatuh cinta ya salam." Ucap Ziko cepat sambil mengelus lembut wajah istrinya. Zira merasa berbunga-bunga mendengar gombalan suaminya. Kevin langsung memberi tebakan. " Kenapa kalo kucing buang air besar selalu di tutup dengan pasir?"Ucap Kevin. " Ah gampang tuh, karena takut di ambil sama kamu." Ucap Zira asal. Tanpa terasa mobil sudah bisa keluar dari kemacetan. Awalnya membosankan tapi setelah main tebak-tebakan itu, waktu membosankan itu bisa hilang dengan sekejap. Kevin mengantarkan istri majikannya ke butik. Zira ingin melanjutkan pekerjaannya yang banyak tertunda di butik itu. Sebelum Zira turun dari mobil tak lupa Ziko mengelus perut dan mengecup dahi Istrinya. Mobil langsung menuju ke gedung Raharsya grup. Gedung menjulang tinggi yang menjadi primadona di kalangan perusahaan lain. Koko menerima panggilan dari Zelin. Awalnya dia enggan menerima panggilan tersebut. Tapi karena ada rasa kangen ketika mendengar suara imut itu maka dia memberanikan diri menjawab panggilan dari Zelin. " Apa kita bisa ketemu?" Ucap Zelin dari ujung ponselnya. Koko tidak menjawab, dia sudah berjanji kepada bosnya untuk menjauh dari kehidupan gadis tersebut. Tapi dia bingung harus mengatakan apa. " Koko jawab aku?" Rengek Zelin dari ujung ponselnya. Koko mau menjawab, dari jauh dia melihat ada dua orang keluar dari lift khusus presiden direktur yaitu Ziko dan Kevin. " Aih kenapa bisa muncul berbarengan seperti ini, adiknya di ujung ponsel ini malah kakanya sudah berada di depan mata." Gumam Koko. " Koko, kamu ngomong apa sih." Ucap Zelin bingung, karena dia tidak mendengar ucapan pria tersebut. " Aku lagi keselek layar komputer." Ucap Koko langsung menutup panggilan tersebut secara buru-buru. Ziko dan Kevin sudah mulai mendekati mejanya. " Pagi bos." Ucap Koko menyapa bosnya. Ziko menganggukkan kepalanya cepat. Dan bisa di artikan sama Koko kalau mood bosnya dalam keadaan baik. Dan dia tidak mau merubah mood bosnya. Jangan sampai terdengar di telinga bosnya kalau yang menelepon dirinya barusan adalah Zelin itu pikirnya. Ziko sudah masuk ke dalam ruangan. " Pagi asisten Kevin." Ucap Koko cepat. " Pagi Cici." Ucap Kevin cepat. Koko yang mendengar namanya di panggil Cici langsung manyun. " Cici udah enggak ada yang ada hanya Koko." Ucap Koko gagah. Kevin hanya tertawa kecil mendengar penjelasan dari mantan pria gemulai tersebut. Dia belum bisa memastikan apakah pria tersebut benar-benar sudah sembuh dari gemulainya atau hanya pura-pura. Di dalam ruangan. Ziko sudah duduk di singgasananya. Penuh berkas di atas mejanya. Sudah lama dia meninggalkan pekerjaannya, karena kemaren dia sedang fokus menyelesaikan masalah rumah tangganya. Sekarang masalah rumah tangganya sudah selesai jadi Ziko bisa fokus memikirkan pekerjaan tanpa harus berbagi memikirkan yang lainnya. " Tuan bagaimana dengan ngidam nona Zira." Ucap Kevin mengingatkan bosnya. " Iya, aku juga belum memikirkan cara memenuhi permintaan istriku tentang artis itu." " Bagaimana dengan preman itu?" Ucap Kevin lagi. " Hemmmmm." Ziko memikirkan cara memenuhi permintaan Istrinya. " Kamu kumpulkan semua preman yang ada pasar kalau perlu preman jalanan juga kumpulkan." Ucap Ziko cepat. " Baik tuan, apa perlu copet juga di kumpulkan." Ucap Kevin memberikan ide. " Iya kumpulkan mereka jadi satu tempat. Kalau bisa di sebuah aula. Dan bawa seorang ustadz untuk mereka." Ucap Ziko cepat. " Untuk apa ustadz tuan?" Ucap Kevin penasaran. " Ya untuk memberikan pengajian kepada preman-preman itu lah. Aku mau mereka berubah menjadi lebih baik. Bukan meresahkan warga. Kalau perlu bilang sama ustadz tema ceramahnya menjadi manusia yang lebih baik dan bermanfaat." Ucap Ziko memberikan ide isi ceramah. Kevin menganggukkan kepalanya mengerti. " Apa lagi tuan." Ucap Kevin mengingatkan kembali sebelum dia melakukan rencananya. " Tutup semua mata mereka. Aku tidak mau mereka melihat wajah istriku. Dan aku tidak mau mereka mengetahui siapa yang menjitak kepala mereka." Ucap Ziko cepat. " Baik tuan." Kevin hendak pergi meninggalkan ruangan tersebut, dan ucapan Ziko menghentikan langkahnya. " Beri santunan kepada mereka setelah selesai mendengarkan pengajian itu." Ucap Ziko lagi. " Maaf tuan untuk apa santunan di berikan sama para preman itu?" " Untuk modal mereka berwirausaha, biar mereka bisa lepas dari pekerjaan tersebut." Ucap Ziko menjelaskan. Kevin manggut-manggut paham. Bosnya mempunyai hati yang mulia. Walaupun menurutnya bersakit-sakit dahulu karena kena jitak kemudian bersenang-senang karena mendapatkan santunan untuk modal wirausaha. " Like, komen dan Vote yang banyak ya terimakasih." Chapter 226 episode 225 (S2) Kevin mengerahkan anggotanya untuk mengumpulkan semua preman tersebut. Pekerjaan itu bukanlah hal yang gampang buat Kevin dan rekannya. Mereka harus mengintai terlebih dahulu memastikan siapa saja preman di masing-masing pasar. Ziko dan Zira menikmati makan siang di tempat yang berbeda. Zira di butik bersama dengan karyawannya sedangkan suaminya makan siang di restoran. Hari ini dia memilih makan di restoran sendiri, tanpa ada Kevin di sisinya. Kevin masih melaksanakan tugasnya di luar kantor. Restoran yang dipilih Ziko tidak jauh dari gedung perkantorannya Hanya beberapa blok dari gedung tersebut. Ziko mengemudikan mobilnya sendiri. Didalam restoran dia sudah di sambut ramah oleh pelayan restoran. " Berapa orang tuan?" Ucap pelayan ramah. " Satu." Pelayan mengantarkan Ziko ke sebuah meja yang hanya ada dua kursi yang saling berhadapan. Pelayan meletakkan daftar menu di atas meja. Ziko memilih makanan sesuai dengan seleranya yaitu chicken steak with brown sauce. Pelayan sudah meninggalkan meja. Dan pergi ke dapur untuk menyerahkan daftar menu pilihan pengunjung restoran. Ziko mengambil ponselnya dan memberikan kabar kepada istriya melalui sebuah chat. Sayang aku hari ini makan siang di restoran dekat kantor. Kamu makan di mana? Zira membalas chat tersebut. Aku makan di rumah makan tradisional. Zira mengirimkan foto makanannya dan tempat dia makan. Sengaja di kirimanya foto tersebut agar suaminya tau keberadaan dirinya. " Ziko." Ucap seorang wanita sudah menarik kursi dan duduk di depannya. " Oh Vita." Ucap Ziko cepat. " Kamu sama siapa ke sini?" Ucap Vita sambil melihat sekeliling restoran. " Sendiri. Kamu sama siapa ke sini?" Ucap Ziko lagi. " Owh aku ada janji dengan seseorang. Katanya jam makan siang. Tapi sampai sekarang belum datang." Ucap Vita melihat jam tangannya. Ziko meletakkan ponselnya di atas meja. Dan tidak melanjutkan lagi chating kepada istrinya. " Bagaimana kabar Zira?" Ucap Vita ramah. " Baik." Ucap Ziko cepat. " Syukurlah kalau hubungan kalian baik-baik saja." Ucap Vita keceplosan. Vita terlupa sesuatu kalau dia pernah mingirim sebuah kertas kecil untuk Zira. Beberapa bulan yang lalu Vita merasa khawatir jika dirinya di anggap sebagai perusak rumah tangga orang lain. Tapi dengan penjelasan darinya mengenai hubungannya dengan Ziko, dia merasa agak tenang. Dan dia juga ikut senang mendengar pernikahan temannya dalam keadaan baik-baik saja. " Mbak Vita." Ucap seorang pria yang berdiri di samping meja. Ziko kaget begitupun dengan pria tersebut. " Ya saya Vita. Apa kamu Fiko?" Ucap Vita berdiri sambil mengulurkan tangannya. Ziko yang berada di situ kaget. Karena pria yang bersalaman dan berdiri di samping mejanya adalah pria yang pernah di pukulnya. " Kamu?" Ucap Ziko langsung berdiri. " Apa kalian saling mengenal?" Ucap Vita bingung. Fiko ikut kaget melihat ada Ziko di sebelahnya. Menurutnya ini adalah waktu yang tepat untuk mengatakan semuanya. " Ya aku sangat mengenalnya, di adalah donatur yang membiayai perobatan anak ku." Ucap Fiko cepat sambil mengulurkan tangannya. Ziko bingung harus berbuat apa ketika bertemu dengan pria itu. Secara Fiko pernah menjadi musuh besarnya. Dengan kerendahan hatinya dan berpikir positif, dia menerima uluran tangan Fiko. Menurutnya Fiko bukan lagi sebuah ancaman. " Terimakasih tuan muda, saya tidak bisa berkata-kata, jasa anda sangat banyak dan tidak bisa tergantikan dalam membiayai perobatan Naura." Ucap Fiko menyanjung pria di depannya. " Tidak perlu kamu menyanjungku. Semua orang akan melakukan hal yang sama." Ucap Ziko merendah. Vita hanya bisa mendengar tanpa berkomentar. Karena semuanya seperti kebetulan. Dia sedang membuat buku tentang penderita kanker yang bisa survive dan yang sembuh dari penyakit tersebut. Dan setelah melakukan riset ke beberapa rumah sakit. Maka fiko adalah salah satu narasumber yang akan di mintai keterangannya tentang penyakit tersebut. Ini adalah pertemuan pertama mereka berdua antar Vita dan Fiko. Dan pertemuan ini seperti membuka jalan untuk Vita lebih mengenal narasumbernya. " Kalau boleh tau hubungan anda dengan tuan muda seperti apa?" Ucap Fiko penasaran. " Saya dan Ziko teman kecil." Ucap Vita cepat. Tidak berapa lama pelayan datang membawakan makanan pesanan Ziko. " Ziko sepertinya kami pindah ke meja sebelah sana. Selamat menikmati hidangan kamu." Ucap Vita mengajak narasumbernya untuk pindah ke meja sebelah. Ziko menganggukkan kepalanya cepat. Dia tidak mengerti tentang hubungan dua orang tersebut antara Vita dan Fiko. Karena itu bukan ranah wewenangnya, jadi dia lebih baik diam dan menikmati hidangan di depannya. Pelayan datang ke meja Vita dan menyerahkan daftar menu. Vita dan Fiko memilih menu yang tidak terlalu berat. Setelah mencatat pelayan pergi meninggalkan meja tersebut. Sebelum Vita langsung ke pokok intinya. Dia melakukan perkenalkan terlebih dahulu kepada narasumbernya. Agar tercipta suasana yang nyaman ketika mereka mengobrol nantinya. Fiko pun ikut memperkenalkan dirinya dan juga menceritakan tentang anaknya. Mereka berbicara panjang lebar mengenai semuanya. Dari sisi lain Ziko melihat keakraban dua orang tersebut. Dia melihat ada kecocokan antara dua orang tersebut. Dari pandangan Ziko, dua orang tersebut bisa langsung akrab ngobrol satu sama lainnya. Setelah Ziko menyantap hidangannya. Dia beranjak dari kursi dan pamit kepada dua orang tersebut. Kevin menunggu informasi dari anak buahnya. Dia hanya memantau dari dalam mobil. Seorang pria lari terburu-buru mendekati mobilnya. Pria tersebut mengetuk kaca mobil. Kevin membuka sebagai kacanya. " Pak, untuk di pasar ini kira-kira ada 5 preman." Ucap Pria tersebut menunjukkan bukti video tentang preman itu yang sedang beraksi. " Baik, silahkan kembali ke markas." Ucap Kevin dan berlalu dengan mobil meninggalkan pria tersebut. Kevin masih menunggu informasi lainnya. Dia harus memastikan total preman yang berada di kota itu. Setelah sudah ada jumlah yang akurat, dia akan melakukan tahap selanjutnya. Tahap mencari ustadz dan tahap santunan. Dan tidak lupa dia juga akan menyiapkan penutup mata untuk semua preman itu. Kevin merasa ide bosnya agak konyol dengan menutup mata semua preman. Apalagi ide ngidam Zira yang luar biasa aneh. Kevin sudah bisa membayangkan ketika semua preman di angkut dan di bawa ke sebuah aula. Pasti pikiran aneh yang muncul dalam benak mereka. Mereka pasti akan berpikiran tentang penculikan semua preman. " Like, komen dan vote yang banyak ya terimakasih." Chapter 227 episode 226 (S2) Tanpa terasa siang berganti sore, sore berganti senja, senja berganti malam. Kevin berserta timnya sudah menyelesaikan tugasnya. Malam kian sunyi, tapi yang bermalam di benak Kevin kian bising. Seperti rencananya masih saja terus berputar di kepalanya. Kevin melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Kendaraan hanya ada beberapa yang lalu lalang. Dan tidak ada lagi manusia yang berada di pusat kota. Hanya suara kendaraan mobil yang terdengar terlalu nyaring di malam sepi itu. Kevin membelokkan mobilnya ke arah kiri. Tanpa sengaja mobil yang di kemudikannya menerjang genangan air yang bertepatan di depan halte. Kevin tetap mengemudikan mobilnya fokus ke depan. Dari halte ada yang teriak-teriak mengumpat si pengemudi yaitu Kevin. Tanpa pikir panjang yang berada di halte itu langsung melemparkan sebuah batu kecil ke arah belakang mobil Kevin. Otomatis Kevin berhenti dan melihat dari kaca spion. Ada seseorang pria yang mengenakan topi dan kemeja panjang telah melambaikan tangannya. Seseorang yang berada di halte itu langsung menghampiri mobil Kevin. Dia mengetuk jendela mobil Kevin. Kevin enggan membuka, dia khawatir ini jebakan untuk merampoknya. Seseorang yang berada di samping mobil terus mengetuk jendela mobil. Kevin tidak membuka dia melihat sekeliling halte, mencari keberadaan teman orang tersebut. Orang yang berada di luar mobil mulai kesal. Karena pemilik mobil tidak mau keluar sama sekali. Orang tersebut mengambil batu dan menggoreskan batu tersebut ke badan mobil. Kevin melihat aksi orang tersebut. Menggores panjang badan mobilnya. Dia keluar dari mobil. Pria tersebut sudah berdiri di halte. Kevin masih melihat mobilnya yang babak belur karena gesekan. Kevin berjalan ke halte dan mulai mengumpat pria tersebut. Dari dekat dia bisa melihat wajah pria tersebut. Pria dengan postur yang kecil dan berjenggot telah berdiri di hadapannya sambil melipatkan kedua tangannya di dada. " Apa maksud kamu menggores batu ke mobilku?" Teriak Kevin. " Siapa suruh kamu tidak turun." Suara pria yang di depan Kevin terdengar aneh. Tapi Kevin tidak mempermasalahkan suara pria tersebut. Dia mempermasalahkan nasib mobilnya. " Kamu harus ganti rugi." Ucap Kevin tegas. " Enak aja ganti rugi. Apa kamu tidak lihat apa yang barusan kamu lakukan." Ucap orang itu sambil menunjuk badannya yang sudah basah kuyup. Kevin tertawa terbahak bahak melihat pria tersebut sudah mandi genangan air. " Kenapa kamu tertawa? Apa ada yang lucu." Kevin tidak tertawa lagi. Dia menatap orang tersebut dengan tajam. " Memang pantas kamu mendapatkannya." Ucap Kevin menekan intonasinya. " Cih, dasar orang kaya sombong. Perbuatanmu lebih hina dari yang aku lakukan. Kalau saja kamu turun dan meminta maaf kepadaku pasti nasib mobilmu tidak seperti itu." Tersenyum licik. " Jadi apa maumu?" Ucap Kevin dengan tatapan tajam. Orang tersebut mengambil botol air mineral di dalam tas ranselnya. Dan menegakkan minuman tersebut ke dalam tenggorokannya. Kevin masih memperhatikan tingkah manusia di depannya. Tiba-tiba wajah Kevin di siram air mineral. Kevin merasa kemarahnya sudah tidak terbatas. Dia mencengkram leher pria tersebut. Tapi nyali pria tersebut tidak langsung menciut. Dia malah menantang Kevin. " Ayo tunggu apa lagi pukul aku pukul." Kevin melepaskan cengkramannya dan mendorong pria kecil tersebut hingga jatuh tersungkur. Dan pemandangan yang aneh terlihat. Topi pria tersebut terlepas, rambut indahnya jatuh tergerai indah. Pria tersebut merapikan topinya dengan cara menggulung rambutnya dan memasukkan ke dalam topi dengan buru-buru. " Siapa kamu?" Ucap Kevin bingung. Dari jauh sudah ada sorot lampu yang menyinari halte tersebut, sebuah motor telah berhenti di dekat halte. Pria yang mengenakan topi langsung berdiri dan berjalan menuju motor tersebut. Sebelum naik ke atas motor, dia melepaskan topi dan jenggotnya. Dan langsung mengenakan helm. Motor sudah melaju sebelum melaju tidak lupa dia memberikan jari tengahnya ke arah Kevin. Kevin tidak bergeming sama sekali. Pria yang didorongnya tadi adalah seorang wanita. Yang menyamar menjadi seorang pria. Kevin baru tersadar ketika motor sudah pergi meninggalkan dia sendirian di halte. Dia belum meminta ganti rugi kepada wanita itu. Wanita yang tomboi dan pemberani itu pikirnya. Aku akan mencari keberadaanmu dengan segera. Dan kamu harus ganti rugi atas kerusakan dan penghinaan yang baru kamu lakukan. Entah kenapa Kevin merasa geram dengan wanita itu. Entah siapa nama wanita itu. Tapi lambat laun dia akan menemukan identitas wanita itu dengan segera. Karena plat motor itu sudah terekam dalam memorinya. Motor sudah melaju dengan kecepatan tinggi. Wanita itu memeluk tubuh pria di depannya. " Apa lagi yang kakak lakukan?" Ucap pria tersebut. " Aku enggak melakukan apapun. Dia yang sengaja menerjang genangan air sehingga bajuku basah." Si pengemudi motor fokus dengan mengendarai motornya. " Aku sudah berkerja, kakak enggak usah bekerja lagi di cafe itu. Banyak resiko kalau kakak pulang malam. Aku enggak bisa selalu menjemput kakak. Kalau aku masuk pagi bisa. Tapi kalau aku masuk malam bagaimana?" " Tenang aja, dengan penyamaranku seperti tadi. Tidak akan ada yang mau menggangguku." " Tapi pria yang tadi kan sudah melihat wajahmu?" " Biar saja itu bonus buat dia?" Tertawa kecil. " Kakak tidak melakukan hal aneh dengan pria itu kan?" Penasaran. " Aku baru menyiram wajahnya dengan air mineral." " Apa? Kenapa kakak melakukan hal itu? Kalau dia minta ganti rugi bagaimana?" Khawatir. " Tenang dek, orang kaya memang suka seenaknya dan sombong. Itu biar jadi pembelajaran buatnya. Motor sudah memasuki jalan kecil. Jalanan dengan padat penduduk. Motor berhenti di depan rumah kecil. Rumah yang sangat kecil mereka menyebutnya rumah kotak sabun. Karena hanya itu peninggalan orang tuanya. Rumah dengan dua kamar dan satu kamar mandi. Dapur jadi satu dengan ruang tamu. Walaupun rumah kotak sabun mereka kecil, tapi mereka masih bisa bersyukur karena mereka tidak perlu membayar uang sewa lagi. Mereka adalah dua bersaudara. Yang wanita adalah si kakak, dan yang pria di adik. Mereka menjadi yatim piatu sejak 5 tahun yang lalu. Semenjak itu kakaknya berkerja paruh waktu untuk bertahan hidup. Dari hasil kerjanya dia bisa membiayai sekolah adiknya sampai selesai. Dan ini adalah pertama kali adiknya bekerja. Setelah beberapa kali di tolak akhirnya dia bisa berkerja. Tapi sebelumnya Bima mengikuti sekolah khusus sekurity terlebih dahulu agar dia bisa diterima. Setelah mendapatkan pelatihan dan sertifikaat akhirnya Bima bisa berkerja di perusahaan besar sebagi sekuriti. " Kak nanti kalau ada lowongan di tempat aku bekerja, kakak coba aja. Mana tau keterima." " Aduh dek mana mungkin kakak keterima, kakak aja cuma tamatan SMA. Mana ada perusahaan yang mau menerima ijazah SMA." Putus asa. Apa yang di katakan kakaknya benar. Memang tidak ada perusahaan besar yang mau menerima mereka. Hanya pekerja pabrik yang mau menerima tamatan SMA. Jadi mereka tidak mau bermimpi tinggi-tinggi, karena takut akan sakit nantinya. Sudah bisa bekerja mereka berdua sudah sangat bersyukur. Sebelum Bima berkerja yang menjadi tulang punggung adalah kakaknya. Sekarang dia bisa membantu kakaknya, dengan gaji bulanan dia bisa memberikan uang belanja untuk kakaknya. " Kakak ambil pekerjaan yang pagi saja. Jangan malam lagi. Aku rasa cukup dengan gaji bulanan dan gaji harian kakak. " Lihat nanti, selagi ada kesempatan dan aku masih sanggup aku akan tetap bekerja. Walaupun belum bisa menyimpan banyak. Tapi setidaknya masih ada penggangan saja sudah syukur." Dua bersaudara yang saling mengasihi. Jarak yang tidak terlalu jauh. Jarak mereka hanya beda dua tahun. Banyak orang yang belum mengenal mereka berpikiran kalau mereka sepasang kekasih. Mereka tidak mempermasalahkan apa pendapat orang lain yang penting di lingkungan tempat tinggal mereka sudah tau latar belakang mereka berdua. " Like, komen dan Vote yang banyak ya terimakasih." Chapter 228 episode 227 (S2) Semua sudah terlelap dan masuk ke dalam alam mimpi. Tapi salah satu kamar masih terang benderang. Sepasang suami istri itu masih main jungkat jungkit satu ronde. Menurut Ziko satu ronde sudah cukup. Setelah melakukan pergumulan, mereka berdua terkapar tak berdaya. Apalagi Zira yang gampang lelah dan sedikit sesak. Mata Ziko sudah mulai terpejam karena memang sudah lelah. Tapi dia di kagetkan dengan suara perut istrinya yang konser. " Sayang apa kamu lagi konser lagi?" Ucap Ziko langsung duduk di sebelah istrinya. Zira menganggukkan kepalanya sambil tersenyum tipis. Ziko menepuk dahinya sambil menjatuhkan badannya ke kasur lagi. Ziko belum belajar sama Pak Budi cara membuat telur dadar. Dan dia sudah yakin pasti bakal gagal lagi masakannya malam ini. " Sayang kamu kenapa?" " Aku belum belajar masak telur dadar." Ucap Ziko lemas. " Sayang aku enggak minta telur dadar kok. Aku pengen makan ayam kecap." Ucap Zira merayu. " Baik sayang kalau itu sih gampang." Ucap Ziko menunjukkan ujung jari kelingkingnya. " Baiklah kalau begitu, aku tunggu di kamar ya." Ucap Zira cepat. Ziko pergi ke lantai bawah dan menuju dapur. Dia sudah tau letak saklar lampu dan sudah tau cara menyalakan kompor gas. Dia mencari potongan ayam di dalam kulkas. Dia mengambil dua potongan ayam yaitu sayap dan dada. Pertama-pertama dia memasukkan minyak goreng ke dalam wajan dan menyalakan kompor gas. Sebelum minyak panas dia langsung memasukkan potongan ayam ke dalam penggorengan. Setelah beberapa menit masakan Ziko telah siap. Ziko membawa makanan itu dengan nampan. Dia mendapati istrinya tengah tertidur. Tidak tega rasanya membangunkan tapi karena istrinya sedang lapar, dia harus tega membangunkannya. " Sayang, bangun ayam kecapnya sudah datang." Ucap Ziko memegang kaki Istrinya. " Ohhha." Zira menguap sambil bangun dari posisi berbaringnya. Ziko meletakkan nampan di depan Istrinya. Dengan mata yang masih setengah terbuka Zira melihat isi nampan tersebut. " Sayang ini apa?" Ucap Zira menguap. " Ayam kecap. Ini ayamnya dan ini kecapnya." Ucap Ziko menunjuk ayam dan botol kecap. Zira langsung menjatuhkan badannya ke kasur. " Sayang kamu kenapa? Apa masakan aku salah lagi?" Ucap Ziko bingung. " Iya." Ucap Zira menganggukkan kepalanya. " Di mana salahnya? Aku sudah membuat permintaan kamu, dua potong ayam goreng dan kecap." Ucap Ziko menjelaskan. Zira bangun dari posisi dan duduk kembali. " Sayang maksud aku itu ayamnya di kecapin." Ucap Zira menjelaskan. Ziko meletakkan kecap di atas ayam goreng tersebut. " Bukan gitu, maksud aku itu ayam ini setelah di goreng, bumbu di tumis dan di beri kecap lalu masukkan gorengan ayam itu ke dalam tumisan bumbu tadi." Ucap Zira menjelaskan. " Ya mana aku tau, aku pikir ayam sama kecap." Gerutu Ziko. Walaupun begitu Zira tetap memakan masakan suaminya. Bagaimanapun dia tetap menghargai kerja keras suaminya. " Terimakasih kasih sayang telah memanjakan aku." Ucap Zira sambil mengecup bibir suaminya. Malam sudah berganti pagi. Waktunya sang mentari menyinari bumi. Sinarnya membangkitkan semangat pagi untuk menyambut hari baru. Kevin sudah melajukan mobil menuju mansion. Dia sudah mempunyai beberapa agenda yang akan di bahasnya dengan Ziko. Kevin sudah parkir di tempat biasa yaitu di depan pintu masuk. Dia menunggu majikannya di beranda depan. Sambil mengingat kejadian tadi malam. Dan mencatat nomor plat tersebut di dalam ponselnya. Ziko dan Zira keluar dari rumah dengan bergandengan tangan. Kevin buru-buru menyimpan kembali ponselnya, dan berlari mendekati mobil sambil membuka pintu belakang. Dia mempersilahkan majikannya masuk. Zira masuk terlebih dahulu setelah itu Kevin menutup pintu. Dan Ziko masuk melalui pintu sebelahnya. Ketika Ziko mau masuk, dia melihat ada goresan panjang di badan mobil sebelah kanan. " Kenapa ini?" Ucap Ziko heran. " Maaf tuan kemaren ada kejadian yang tidak terduga." Kevin menjelaskan semuanya. Tentang pertemuannya dengan wanita jadi-jadian itu. Dia menceritakan awal mula mereka bertemu dan dia juga menceritakan tentang wajahnya yang di siram air minum. " Buahahah. Berani benar wanita itu. Kalau aku bertemu dengannya akan aku acungkan jempol kepadanya. Mendengar bosnya tertawa Kevin merasa kecewa karena bosnya tidak berpihak pada dirinya malah menyetujui ide wanita itu. Ziko sudah duduk di dalam mobil. Sedangkan Kevin masih diam bengong di luar. " Mau sampai kapan kamu berdiri di sana?" Ucap Ziko sambil membuka sebagian kaca mobil. Kevin buru-buru masuk dan langsung menyalakan mesin mobil. Mobil sudah melaju ke jalanan. " Kenapa sayang?" Ucap Zira penasaran. " Ini si Kevin tadi malam kena siram air wajahnya." Ucap Ziko masih tertawa kecil. " Wah berita viral tuh. Siapa tuh orangnya sepertinya aku harus berguru dengannya." Ucap Zira semangat. Kevin masih diam, dia merasa malu karena dia menjadi bahan olokan majikannya. Ziko yang tadi tertawa langsung berhenti dan menoleh ke arah istrinya. " Kenapa sayang?" Ucap Zira melihat tatapan suaminya yang sedikit tajam. " Untuk apa kamu berguru lagi. Bukannya ilmu yang di ajarkan Thanos masih melekat di dalam tubuhmu. Apa kamu mau menghabisi aku jika semua ilmu kamu pelajari." Gerutu Ziko. Zira tertawa lucu. Ucapan yang tadinya bercanda di anggap serius oleh suaminya. " Iya aku enggak belajar lagi. Enggak usah khawatir aku jinak kok." Ucap Zira mengelus tangan suaminya. Mobil telah sampai di depan butik tinggal Ziko dan Kevin yang berada di dalam mobil. " Apa agenda hari ini?" Ucap Ziko cepat. " Tuan saya sudah mendapatkan semua data preman dari masing-masing pasar. Mereka sudah di culik sesuai dengan permintaan tuan dan di letakkan di dalam aula besar." Ucap Kevin menjelaskan. " Culik? Aku tidak ada memerintahkan kamu untuk menculik mereka." Ucap Ziko cepat. " Tuan, saya tidak memberikan undangan kepada mereka. Dan kalaupun ada undangan, mana mungkin mereka mau datang. Apalagi undangan itu di sebutkan undangan jitak menjitak." Ucap Kevin menjelaskan. " Lalu bagaimana perkembangannya?" Ucap Ziko lagi. " Penuh perjuangan untuk mengumpulkan mereka. Jadi mau tidak mau kami memberikan ancaman kepada mereka dan mengikat tangan mereka ke belakang serta menutup mulut dan mata mereka." Ucap Kevin lagi. " Kenapa jadi rumit seperti ini sih." Ucap Ziko bingung. " Maaf tuan yang rumit itu ngidam istri anda. Mungkin kalau tidak ngidam menjitak kepala preman hal ini tidak akan terjadi." Ucap Kevin menyindir. " Hey jangan kamu menyalahkan tentang ngidam istriku. Mungkin anakku akan menjadi penerus pasukan Avengers." Gumam Ziko menghayal. Mobil telah memasuki area gedung Raharsya group. Mobil berhenti di depan pintu loby. Seseorang dari luar langsung membukakan pintu untuk Ziko. Ziko keluar dari mobil dan masuk ke dalam loby tersebut. Kevin di luar menghampiri pria yang membukakan pintu. " Bawa mobil ini ke bengkel ada goresan di body sebelah kanan." Ucap Kevin menyerahkan kunci mobil ke pada pria tersebut. Kevin mengikuti langkah bosnya. Mereka masuk ke dalam lift khusus presiden. " Kapan pengajian untuk preman itu di laksanakan?" Ucap Ziko lagi. " Kami hanya menunggu kesiapan nona Zira saja tuan." Ucap Kevin cepat. " Baiklah aku akan menghubungi Zira nanti dan untuk soal mengidam ketemu artis itu aku mau di adakan di sebuah restoran." Ucap Ziko membisikkan sesuatu ketelinga Kevin. Kevin membelalakkan matanya tidak percaya. Tugas ngidam menjitak preman saja susahnya minta ampun. Dan sekarang tugas baru lagi yang menurutnya jauh lebih sulit. " Apa kamu bisa?" Ucap Ziko cepat menatap tajam asistennya. " Akan saya usahakan tuan." Ucap Kevin ragu. " Pastikan kapan waktu dan tempatnya. Dan usahakan pada malam hari." Ucap Ziko lagi. Kevin menganggukkan kepalanya. Dia bingung untuk urusan ngidam yang kedua apakah dia bisa memenuhi apa tidak. Secara dia ragu akan keberhasilan usahanya yang kedua ini. " Like, komen dan Vote yang banyak ya terimakasih." Chapter 229 episode 228 (S2) Didalam ruangannya Ziko menghubungi istrinya. " Ada apa sayang?" Ucap Zira dari ujung ponselnya. " Kamu siang ini sibuk enggak?" Ucap Ziko. " Kenapa?" " Aku mau mengajak kamu pergi ke pengajian?" Ucap Ziko cepat. " Pengajian? Tumben kamu insyaf." Ucap Zira santai. " Manusia di berikan kemampuan untuk memilih, maka pilihan ku adalah menjadi manusia yang lebih baik dari sekarang." Ucap Ziko pelan. " Hidupmu adalah di tempatku maka jadikan tempat itu taman surga buatku." Ucap Zira lagi. Setelah mengobrol panjang dengan istrinya, dia mengakhiri panggilannya. Ada suara pintu di ketuk dari luar. Ziko memerintahkan seseorang yang berada di luar untuk masuk. Koko masuk ke dalam ruangan itu dengan tertunduk. " Ada apa?" Ucap Ziko cepat. " Saya mau menyerahkan ini?" Ucap Koko memberikan selembar kertas kepada bosnya. " Apa ini." Ucap Ziko sambil membuka kertas dan membaca isinya. Ziko membelalakkan matanya tidak percaya. " Apa? Kenapa kamu mau resign?" Ucap Ziko cepat. Selama Koko berkerja sebagai sekretarisnya tidak pernah terjadi kesalahan sedikitpun. Malah bisa di katakan kalau Koko selevel dengan mantan sekertarisnya yang dulu yang bernama Lia. Walaupun di awal Koko bersikap gemulai tapi setelah Ziko mengancamnya, Koko langsung menunjukkan perubahan sikap menjadi pria seutuhnya. Tidak ada jari jerami gemulai lagi. Dan pekerjaannya juga sempurna. " Kenapa kamu mau keluar?" Ucap Ziko penasaran. " Hemmm saya tidak pantas di sini tuan?" Ucap Koko pelan. " Tidak pantas bagaimana? Bukannya kamu menginginkan pekerjaan ini kenapa tiba-tiba kamu mengundurkan diri? Apa kamu mendapat pekerjaan di tempat lain?" Ucap Ziko tegas. " Tidak tuan. Saya belum mendapatkan pekerjaan di tempat lain. Saya hanya ingin keluar saja." Ucap Koko cepat. " Alasan kamu tidak tepat dan seperti ada sesuatu yang kamu sembunyikan." Ucap Ziko sambil menyobek kertas pengunduran diri Koko. Koko keluar dengan wajah sendu. Dia mengambil keputusan itu dengan pemikiran yang sangat berat. Dia enggan sebenarnya untuk keluar dari perusahaan itu. Tapi dia sengaja keluar dari perusahaan itu agar dirinya bisa berdekatan dengan Zelin. Jika dia masih berkerja di perusahaan itu, maka tidak ada kesempatan untuknya mendekati Zelin. Masih ingat di benaknya ketika Ziko mengatakan kalau dirinya tidak pantas bersama Zelin. Dan Koko mengambil kesimpulan kata pantas itu antara atasan dan bawahan. Dengan dia resign maka tidak ada lagi bawahan dan atasan yang ada hanya manusia biasa. Koko keluar dari ruangan Presiden direktur, berpapasan dengan Kevin. Kevin melihat raut muka sendu pria gemulai itu. " Tuan pengajian sudah 100 persen, tinggal menunggu kehadiran tuan dan nona Zira." Ucap Kevin mengingatkan. " Sebentar lagi kita meluncur ke sana. Aku harus menyelesaikan pekerjaan ini dulu." Ucap Ziko menunjuk beberapa berkas di atas mejanya. Kevin merasa agak yang ganjal dengan pria gemulai itu. Dia memberanikan diri untuk bertanya. " Maaf tuan, sepertinya wajah Koko sedikit sendu ketika keluar dari ruangan ini. Apakah ada sesuatu hal yang terjadi?" Ucap Kevin penasaran. " Hemmmmm, dia mau resign." Ucap Ziko tidak berpaling dari tumpukan kertas di depannya. " Kenapa tuan?" " Alasannya terlalu di buat-buat. Dia bilang kalau dia tidak pantas bekerja di sini. Kenapa tidak bilang di awal saja kalau dia tidak pantas." Gerutu Ziko. Kevin memikirkan sesuatu. Alasan Koko memang tidak bisa masuk akal. Di mana semua orang berlomba-lomba untuk dapat bekerja di perusahaan itu. " Seingat saya pada saat dia di terima bekerja di sini, hatinya sangat gembira. Sepertinya ada sesuatu tuan." Ucap Kevin cepat. " Sepertinya dia takut karena beberapa bulan yang lalu aku ancam." Ucap Ziko cepat. " Maksud tuan?" Ziko menceritakan pertemuan dirinya dengan Koko dan ada adiknya di sana. Semua di ceritakannya tanpa ada yang terlewati. " Sepertinya benar tuan, dia merasa kurang nyaman karena telah mendapatkan ancaman itu." Ucap Kevin sambil manggut-manggut. " Jadi bagaimana? Apa aku harus memberikan lampu hijau untuk kedekatan mereka berdua?" Ucap Ziko putus asa. Kevin mengangkat kedua bahunya, dia tidak mau terlibat dalam masalah ini. " Kalau seandainya dia pria seutuhnya mungkin aku akan memberi restu." Gumam Ziko. Ziko sudah menyelesaikan semua pekerjaannya. Waktu makan siang tiba. Ziko dan Kevin pergi keluar gedung dan berangkat menjemput Zira. Didalam mobil. " Kita mau makan siang dulu ya?" Ucap Zira cepat. Dua orang pria yang berada di dalam mobil itu tidak menjawab. Mereka tidak ingin memberitahu hal itu kepada Zira. Mobil menuju sebuah gedung serbaguna. Gedung itu biasanya di gunakan untuk melakukan aktivitas besar seperti pernikahan, atau kegiatan positif lainnya. " Sayang apa di sini tempat pengajiannya?" Ucap Zira heran. Karena di dalam pikirannya pengajian itu akan di adakan di sebuah rumah atau tempat ibadah. Dan ternyata pengajian itu di adakan di sebuah gedung serbaguna. " Pasti banyak jamaahnya nih." Ucap Zira antusias. Mereka memasuki gedung. Sebelum masuk ke dalam gedung mereka di sambut dengan pria-pria berbadan besar. Zira sedikit heran dengan sambutan itu. Dan tidak ada suara lantunan apapun yang di perdengarkan. Di lantai sudah terbentang karpet besar. Dan di atas ada sebuah panggung kecil, dan ada seorang pria yang sedang memakai baju Koko. " Sayang jamaahnya cuma kita aja?" Ucap Zira heran karena tidak ada orang selain mereka bertiga dan pak ustadz. Dan puluhan orang-orang Ziko yang berada di luar gedung. " Enggak sebentar lagi juga datang." Ucap Ziko pelan. Mereka berjalan ke atas panggung sambil bergandengan tangan. Pak ustadz menyalami yang mempunyai hajatan. Setelah semuanya duduk di atas panggung kecil. Kevin memberi isyarat sebuah siulan. Lagi - lagi Zira heran dengan tingkah Kevin. " Bisa enggak jangan bersiul. Seperti tukang parkir aja yang takut kehilangan setoran." Gerutu Zira. Pintu di buka lebar. Masuklah ratusan orang pria berbadan besar dengan mata tertutup dan tangan terikat kebelakang. Zira membelalakkan matanya. Yang lain tidak terkejut apalagi Pak Ustadz juga tidak terkejut karena dari awal sudah mendapatkan penjelasan dari Kevin. " Sayang, ini pengajian apa kontes bodyguard sih?" Gerutu Zira karena badan pria yang masuk sama besar dengan badan orang-orang Raharsya group. Semua preman itu masuk dan duduk di atas karpet sesuai instruksi dari Kevin. " Kenapa kami di bawa kesini?" Ucap salah satu preman. " Sstt diam, kalian tidak berhak bicara." Ucap Kevin tegas. " Beri penjelasan kepada kami, kenapa kami dibawa kesini dengan mata tertutup?" Ucap preman lain. " Karena istriku ngidam ingin ketemu dengan preman pasar." Ucap Ziko cepat. Suasana jadi riuh ketika Ziko berbicara seperti itu. Hampir rata-rata berpikir kalau mereka di culik, dan ingin di musnahkan. " Sayang kenapa kamu membawa begitu banyak preman sih. Aku cuma perlu satu preman saja." Gerutu Zira berbisik. Kevin yang mendengar langsung menepuk dahinya dengan keras. " Kenapa nona tidak menjelaskan kepada kami kalau hanya satu preman bukan seratus preman." Gerutu Ziko. " Sayang kalau kasih perintah yang jelas dong." Ucap Ziko kesal. " Ya maaf, aku lupa menyebutkan nama pasarnya." Ucap Zira merapatkan kedua tangannya meminta maaf. Kevin memperintahkan Pak ustadz untuk mulai ceramah. Dan lagi-lagi preman mulai membuat kebisingan. " Lepaskan penutup mata kami agar kami bisa melihat siapa kalian semua." Ucap salah satu preman. " Diam." Ucap Ziko teriak. " Kalian tidak berhak bicara di sini, kalau kalian masih bicara dan tidak mendengarkan dengan baik, maka selamanya mata dan tangan kalian akan seperti itu." Ucap Ziko tegas. " Siapa yang bisa menjawab isi ceramah Pak ustadz akan mendapatkan sebuah bingkisan yang berisi sejumlah uang tunai. Tapi ingat uang ini hanya untuk modal wirausaha. Kalau sampai saya melihat uang ini tidak di gunakan pada tempatnya, maka saya akan meminta uang itu kembali. Dan kalian akan saya kirimkan ke satu pulau terpencil." Ancam Ziko. Semua preman yang tadinya bising mulai terkontrol. Mereka sudah bisa menutup mulutnya rapat-rapat. Kevin memerintahkan Pak Ustadz untuk ceramah. Ceramah Pak ustadz di awali dengan pengucapan salam dan di lanjutkan dengan isi ceramah. Setelah beberapa menit berlalu Pak ustadz mengajukan pertanyaan. Salah satu preman mengangkat tangannya. " Ya kamu, apa jawabannya?" Ucap Pak ustadz. " Aku bukan mau menjawab pertanyaan tapi aku mau ke toilet." Ucap preman itu. Semua yang berada di situ bising dengan menyebutkan kata hu hu hu, mengejek si preman. Kevin memerintahkan anak buahnya untuk menemani si preman ke toilet. Zira mengingat wajah si preman. " Tunggu, dia preman itu. Ya aku masih ingat pulau (botak) di tengah kepalanya." Teriak Zira kencang. Ziko memerintahkan anak buahnya untuk mengajak preman itu naik ke atas panggung. Si preman dengan keadaan tertutup bingung apakah dia sudah sampai di toilet apa belum. " Halo penjaga, aku mau buang air kecil. Apa kita sudah sampai di toilet?" Ucap preman itu. Semua yang berada di situ tertawa terbahak bahak melihat tontonan itu. Zira membisikan sesuatu ketelinga suaminya. " Apa! Aku? Enggak, yang ngidamkan kamu? kenapa harus aku yang menjitak kepalanya." Ucap Ziko kencang. Preman yang berada di karpet dan di panggung mulai ketar ketir. Apalagi di sebutkan Ziko tentang kata ngidam. Mereka sudah bisa memikirkan kalau kepala mereka akan kena jitak. Setelah melakukan perdebatan dengan istrinya akhirnya Ziko mau melakukannya. Dia tidak menjitak tapi hanya mengelus kepala preman tersebut. Zira bertepuk tangan riuh dan gembira. Ziko dan Kevin bingung dengan kegembiraan Zira. Apalagi si preman dia malah lebih bingung karena kepalanya mendapatkan sentuhan lembut dari seseorang yang dia tau pasti wanita yang ngidam. " Apa yang aku lakukan benar?" Ucap Ziko heran. Zira menganggukkan kepalanya cepat sambil tertawa senang. " Bukannya kamu bilang menjitak kepala preman yang pernah mengganggu kamu?" Ucap Ziko bingung. " Hahaha, bukan sayang aku hanya sedang memberikan tes kepadamu. Dan ternyata kamu lulus. Aku tidak punya dendam dengan preman ini. Aku hanya ingin melihat seberapa siap kamu mengabulkan permintaanku. Dan seberapa kejam kamu dengan preman yang pernah menyakiti aku dulu. Dan ternyata kamu tidak melakukan kekerasan sama sekali." Ucap Zira bangga dengan suaminya Kevin menjatuhkan badannya ke atas karpet yang berada di atas panggung. Dia merasa ikut dikerjai oleh istri majikannya. Sudah di persiapkan dengan matang dan sempurna, ternyata hanya tes belaka. " Like, komen dan Vote yang banyak ya terimakasih." Chapter 230 episode 229 (S2) Tak terasa pengajian dengan preman selesai. Semua preman mendapatkan bingkisan berupa amplop beserta isinya. Di dalam mobil, Zira dapat tersenyum puas. Tes telah berhasil, tidak dengan dua pria yang berada di mobil. Hembusan nafas suaminya terdengar jelas di telinganya, ada rasa jengkel dengan tingkah istrinya yang luar biasa kelewat. Dan Kevin hanya bisa menunjukkan muka cemberutnya. Terlihat jelas kalau dia benar-benar kalah telak dari ide ngidam itu. Dia teringat sesuatu tentang ngidam yang kedua. " Maaf nona apakah ketemu artis itu juga tes belaka?" Ucap Kevin cepat. " Memangnya kenapa?" " Kalau hanya tes saya tidak mau melakukannya lagi." Ucap Kevin tegas. " Aku memang mendambakan ketemu Alia Bhatt, jadi yang itu masih dalam kategori ngidam ya." Ucap Zira menghayal ketika wajah anaknya mirip Alia Bhatt. Kevin memukul kepalanya ke setir mobil secara berulang. Dia enggak rela melakukannya lagi. Begini amat sih nasib ku. Apa aku yang harus menuruti ngidam aneh ini. " Sudahlah, aku juga sama lelahnya dengan kamu." Ucap Ziko pelan. Ziko menyandarkan kepalanya di sandaran kursi. Kepalanya betul-betul pusing menghadapi preman tadi. " Iya tuan, tuan masih enak tinggal memerintahkan kalau saya harus menyiapkan ngidam istri anda semuanya." Ucap Kevin protes. " Apa! Jadi kamu enggak iklas melakukan ini? Asal kamu tau setiap malam aku juga harus memenuhi ngidam makanan aneh istriku." Ucap Ziko dengan suara yang keras. " Ssstt diam. Sudahlah anggap saja tadi pelajaran buat kamu sebelum punya istri, dan sayang terimakasih karena telah menuruti kemauan istrimu." Ucap Zira sambil mengelus lengan suaminya. Kevin sebagai asisten teladan. Dia bisa menyelesaikan semua pekerjaan tanpa ada kesalahan. Walaupun jengkel tapi dia bisa belajar sesuatu dari sini. Yaitu menyayangi istrinya kelak, dan memenuhi semua kemauan istrinya tapi dalam kategori wajar. Dan menurutnya permintaan Zira tidak masuk dalam kategori wajar, tapi dia tetap akan memenuhi ngidam ke dua. " Sayang lain kali kalau mau buat pengajian preman, kasih deodorant dulu sama masing-masing preman. Apa kamu enggak kecium mambu ketek mereka. Parfum aku aja kalah wangi dengan aroma terapi dari tubuh mereka." Gerutu Zira. Ziko memang tidak memungkiri ucapan istrinya. Mereka di apit ratusan orang pria dengan bau badan yang aneh-aneh. Saking baunya Ziko sampai pusing. Dan Zira merasa mual dengan aroma terapi dari ketek preman tersebut. Kevin sudah mengantarkan majikannya ke mansion. Majikannya sekarang mungkin telah beristirahat atau malah main masak-masak. Kevin berhenti di salah satu halte, tempat dia melihat manusia setengah genre. Menurutnya itu julukan yang tepat untuk wanita itu. Halte masih dalam keadaan ramai. Banyak orang yang menunggu. Untuk menghilangkan jenuh ada yang sekedar memainkan game dari ponselnya. Ada yang mendengar musik menggunakan earphone. Dan banyak yang mengobrol dengan temannya. Mereka melakukan aktivitas untuk mengisi kejenuhan di halte itu. Dari sekian banyak orang tidak ada wanita setengah genre itu. Kevin melihat semua kebanyakan wanita, ada beberapa pria tapi lebih dominan wanita. Dari pakaiannya wanita yang di halte mereka seperti baru pulang kerja. Karena mereka menggunakan seragam yang sama dengan beberapa temannya. Dan sebagian lagi sepertinya masyarakat umum yang baru pulang kerja. Bus telah berhenti di depan halte. Sebagian masuk ke dalam bus itu. Sesuai dengan tujuan mereka. Dan sebagian lagi belum masuk karena bus jurusan rumahnya belum datang. Kevin masih setia menunggu kehadiran wanita setengah genre itu. Menit berganti menit jam berganti jam sampai halte itu kosong, tapi wanita itu juga tidak nongol. Kevin melihat jam di tangannya, waktu sama dengan jam pada saat mereka bertemu, tapi tidak ada tanda-tanda kehadiran wanita itu. Kendaraan juga mulai berkurang di jalanan. Hanya beberapa yang melintas. Kevin mengemudikan mobilnya meninggalkan halte tersebut. Suara pintu di ketuk dari luar. Seseorang wanita membukakan pintu. " Kakak belum tidur?" Ucap Bima kepada kakaknya. " Belum, kakak masih menunggu kamu." Bima melihat jam di dinding waktu sudah menunjukkan jam dua belas malam. Tapi kakaknya masih setia menunggunya pulang. " Sepertinya pria semalam menunggu kakak di halte?" Ucap Bima cepat. " Pria yang mana?" Dia lupa sesuatu karena setiap hari dia sering ketemu pria. Baik pria baik-baik maupun pria hidung belang yang ingin mengajaknya kencan semalam. Pekerjaan yang cukup berat untuk seorang wanita. Pagi dia berkerja di rumah makan dan malam hari dia harus bekerja sebagai pelayan di salah satu cafe. Dengan dua pekerjaan sekaligus dalam sehari dia bisa memenuhi kebutuhan hidupnya dan adiknya. Tapi banyak kejadian yang tidak enak jika berkerja di cafe. Karena kalau malam pengunjung cafe kebanyakan pria. Dan banyak mata-mata nakal di sana. " Yang kakak siram pakai air." Ucap Bima. " Serius kamu?" Bima menganggukkan kepalanya. Dia meyakinkan kakaknya kalau penglihatannya tidak salah. " Sepertinya nomor platnya tidak asing tapi di mana ya?" Ucap Bima memikirkan. " Sudahlah kakak mau tidur besok mau kerja pagi." " Kak, kakak enggak usah kerja di cafe lagi ya. Aku enggak mau kakak pulang malam terus. Banyak kejahatan malam hari." Ucap Bima khawatir. " Tenang saja, kalau kakak dapat pekerjaan baru dan penghasilannya lumayan, kakak pasti berhenti kerja di cafe itu. " Memangnya kakak mau kerja di mana?" Ucap Bima penasaran. " Tadi kakak masukkan lamaran sebagai office girl di salah satu perusahaan jasa. Kalo penempatannya sesuai dengan permintaan. Ada yang di rumah sakit, di perusahaan besar atau di mall. Kakak berharap di terima di sih. Soalnya kakak dengan perusahaan jasa ini gajinya lumayan. Karena perusahaan ini menyalurkan pekerjanya ke perusahaan-perusahaan besar." Ucap Kakak Bima menjelaskan. " Aku berdoa semoga kakak cepat keluar dari cafe itu, dan bekerja hanya pagi saja. Dan segera mendapatkan calon suami." Ucap Bima berdoa. " Cih, kenapa kamu berdoa untuk jodoh kakak, apa kamu tidak ingin kakak berada di dekatmu." Menggerutu sambil mengacak rambut adiknya. " Bukan gitu kak, kalau kakak sudah punya suami, maka tugasku selesai. Sudah ada yang menjaga dan menyayangi kakak." " Sudahlah enggak usah memikirkan jodoh kakakmu yang jelek ini, pasti akan datang pangeran kodok di hadapan kakak." " Kodok apa?" Ucap Bima cepat. " Kodok ngorek." Mereka tertawa bersama, kasih sayang kakak adik itu terpancar jelas. Layaknya hubungan asmara, hubungan persaudaraanpun harus di pelihara. Karena persaudaraan adalah sebuah ikatan yang tidak bisa di putus seperti air yang tidak pernah bisa di cincang seperti itulah persaudaraan. " Like, komen dan vote yang banyak ya terimakasih." Chapter 231 episode 230 (S2) Pagi harinya. Semua penghuni mansion sudah melakukan aktivitasnya. Pasangan suami istri sudah berangkat kerja. Ziko sudah tiba di kantor dan Zira sudah tiba di butik. Mereka mengawali pagi dengan penuh suka cita. Karena seminggu lagi usia kandungan Zira memasuki 4 bulan. Ziko melakukan aktivitasnya di kantor. Jadwal sudah tersusun rapi. Hari ini banyak kegiatan meeting di kantor salah satunya meeting laporan masing-masing departemen. Zira memainkan pensilnya di atas kertas putih. Karya yang indah selalu bisa di ciptakannya. Dia selalu mempunyai ide yang cemerlang untuk menciptakan setiap karyanya. Dia mencari inspirasi dari berbagai sumber baik dari media cetak maupun media elektronik, semua di padupadankannya sehingga menjadi sebuah maha karya. Ada suara orang menaiki anak tangga. Dan seseorang itu mengetuk pintu ruangan Zira. " Siang mbak?" Ucap Lina. " Siang." Zira tidak melepaskan pandangannya dari kertas putih itu. Menurutnya jika dia mengalihkan pandangannya dari kertas putih itu maka inspirasinya akan hilang. Jadi dia berniat menyelesaikan hasil gambarnya sampai menjadi sebuah karya. " Mbak, ada adik ipar mbak Zira di bawah." Ucap Lina cepat. " Mungkin dia mau melihat-lihat saja." Ucap Zira masih fokus. " Enggak mbak, dia mau ketemu dengan mbak Zira, katanya penting banget." Ucap Lina lagi. Zira belum mengiyakan, dia masih menyelesaikan gambarnya. Lina memperhatikan detail karya bosnya. Tanpa mau bersuara lagi. Hampir sepuluh menit Lina berdiri didepan meja Zira. Belum ada perintah dari bosnya untuk mengizinkan Zelin masuk. Lina mengambil inisiatif sendiri mengatakan kepada gadis cantik di bawah kalau bosnya sangat sibuk. Lina beranjak pergi. " Selesai." Ucap Zira cepat sambil mengangkat kertas gambarnya ke arah langit-langit ruangan. Dia melihat garis tiap garis melalui cahaya dari lampu ruangan itu. " Panggilkan dia." Ucap Zira memerintahkan. Lina beranjak dari ruangan bosnya dan menuju lantai bawah. Di sana dia melihat Zelin sedang berdiri di meja kasir. Pihak kasir memberikan paper bag kepada Zelin. Lina menghampirinya. " Nona, silahkan masuk. Mbak Zira sudah menunggu." Ucap Lina cepat. " Baik, terimakasih." Zelin pergi ke lantai atas sambil membawa tentengan berupa paper bag. Suara seseorang menginjak anak tangga terdengar cukup nyaring dari ruangan Zira. Sehingga dengan cepat Zira bisa mengetahui ada seseorang yang ingin menemuinya. " Siang kak." Ucap Zelin menyapa kakaknya. " Ya siang. Ada apa tumben kamu datang ke butik." Ucap Zira heran. " Ah kakak, aku itu sering ke butik kakak, tapi jarang aja menemui kakak di sini." Ucap Zelin menunjukkan tentengan kepada kakak iparnya. " Hemmm iya deh, apanya yang penting? Kenapa enggak ngobrol di rumah aja kan waktunya lebih banyak. Kalau di sini kakak enggak bisa ngobrol banyak." Ucap Zira menjelaskan. " Aih apa kakak lupa, kalau suami kakak itu over protective kepada kakak. Mana boleh aku dekat-dekat sama kakak. Pasti baru ngobrol aku sudah di usir. Jadi mumpung aku lagi kosong kuliah makanya aku mampir ke sini." Ucap Zelin lagi. " Iya deh, ayo ada apa?" Ucap Zira penasaran. " Kakak kenal Koko enggak?" Ucap Zelin pelan. Zira kaget karena nama itu lagi yang di dengarnya. Dia sudah bisa menebak kalau arah pembicaraan adiknya ingin mencari informasi tentang pria gemulai itu. " Kakak kok bengong, kakak kenal kan?" Ucap Zelin membuyarkan lamunannya. " Eh iya kenapa?" Ucap Zira gugup. " Yes Kakak tau. Apa kakak kenal dekat dengan sekertaris kak Ziko?" Ucap Zelin mencari informasi. " Hemmmm, bagaimana ya. Hemmm kakak kurang begitu dekat sih. Memangnya kenapa?" Ucap Zira berpura-pura. " Ah kakak ini. Dia adalah pria yang menabrak mobil ku." Ucap Zelin. Zira pura-pura kaget. Padahal dia sudah mengetahui semuanya dari awal. Tapi untuk lebih meyakinkan dia berakting pura-pura tidak tau. " Ah serius kamu?" Ucap Zira akting. Zelin menganggukkan kepalanya cepat. Dia melihat ekspresi kakak iparnya kurang semangat ketika dia menyebutkan nama Koko. " Kakak aku suka dengan dia." Ucap Zelin cepat. Zira menggaruk kepalanya, sambil memikirkan cara menjawab pertanyaan adik iparnya. " Kakak mau bantu aku pedekate kan?" Ucap Zelin to the poin. Zira yang tadinya menggaruk kepalanya sekarang beralih membelalakkan matanya. Waduh bagaimana nih, apa aku bilang saja mereka tidak cocok. Tapi nanti kalau Zelin menanyakan alasannya bagaimana dong, kan enggak mungkin aku bilang kalau jari jemari Koko lemah gemulai. " Apa kamu yakin?" Ucap Zira pelan. " Awalnya kurang yakin sih kak, tapi aku selalu kebayang wajahnya terus. Berarti itu tandanya suka, benarkan kak?" Ucap Zelin meyakinkan perasaannya. " Hemmm enggak juga sih, soalnya kakak dulu mikirin kakak kamu terus. Tapi kakak enggak suka, malah karena kakak benci." Ucap Zira pelan. " Terus apa dong defenisi tentang bayanganku." Ucap Zelin kurang yakin. " Bisa jadi kamu hanya kagum, atau karena kamu baru bertemu dengannya makanya kamu memikirkan dirinya terus." " Enggak kok kak, aku udah lama enggak ketemu dengannya. Makanya aku bingung kenapa bayangan wajahnya selalu menghiasi isi kepalaku." Ucap Zelin lagi. " Enggak taulah." Ucap Zira menghindari agar tidak ditanyai lagi. Zelin melamun, entah apa yang di lamunkan gadis cantik itu. Tapi Zira berpikiran kalau adiknya sedang membayangkan perasaannya. " Kak, bantu aku ketemu dengan dia ya?" Ucap Zelin pelan. " Apa! Kakak?" Zira menunjuk dirinya sendiri. Zelin langsung menganggukkan kepalanya cepat. " Enggak lah." " Kakak ayo bantu aku, aku bingung bagaimana bisa bertemu dengan dirinya." Rengek Zelin. " Kamu kan tau kalau kakak kamu tidak mentolerir kalau kamu ada hubungan dengan anak buahnya. Apa kamu tidak takut?" Ucap Zira menjelaskan. " Nah itu kak yang jadi masalahnya." Zelin menceritakan dirinya janjian ketemu dengan Koko beberapa bulan yang lalu tepatnya sore hari sebelum mereka ke rumah Zira. Dia juga menceritakan kalau kakaknya mendapati dirinya janjian dengan Koko. Dan dia juga menceritakan awal mula dia tau kalau Koko adalah sekertaris kakaknya pada saat di cafe itu. Dan lebih meyakinkan lagi ketika kakaknya ngobrol dengan Koko tanpa ada dia di situ. Dari situ dia mengambil kesimpulan kalau kakaknya sudah melarang atau melakukan sesuatu kepada Koko. Zira yang mendengar membelalakkan matanya tidak percaya. Dia baru mengetahui hal ini setelah beberapa bulan dia tidak di rumah itu. Ternyata telah terjadi sesuatu dengan kakak beradik itu. " Kalau kakak ada pasti kak Ziko enggak akan marah. Secara kakak adalah wanita yang paling di cintainya." Ucap Zelin menyanjung kakak iparnya. Zira merasa kasihan dengan adik iparnya. Ketika dia menyukai pria, pria itu belum jelas genrenya. Dia tidak tau harus berbuat apa, dia mungkin akan mengambil keputusan yang sama dengan Ziko. Jika adiknya ada hubungan dengan anak buahnya. Dan dia tau kalau Ziko melarang Koko mendekati adiknya bukan karena Koko sebagai bawahan, tapi jenis kelamin yang belum jelas. " Apa yang harus kakak lakukan." Ucap Zira pelan. Zelin bersorak gembira, karena wanita cantik di depannya mau membantunya. " Kakak hanya mengajak aku pergi ke kantor. Dan kalau di tanya kak Ziko bilang aja, kakak yang mengajak aku. Aku hanya ingin ngobrol berdua dengan Koko sebentar saja." Ucap Zelin menjelaskan. " Ok, berarti kakak seperti tidak tau permasalahan kamu dengan Koko ya. Anggap aja kakak tidak mengerti sama sekali ya?" Ucap Zira cepat. Zelin menganggukkan kepalanya cepat. Dia setuju dengan ide seperti itu, Zira tidak akan terkena masalah kalau kakaknya marah. " Like, komen dan vote yang banyak ya terimakasih." Chapter 232 episode 231 (S2) Zira dan Zelin pergi ke gedung Raharsya grup. Dia ikut naik mobil adik iparnya. Mereka datang sebelum makan siang. Resepsionis yang berada di loby memberikan senyum terbaiknya untuk istri dari pemilik perusahaan itu. Mereka masuk ke dalam lift khusus staff. Hanya ada mereka berdua di dalam situ. " Kak, aku kok grogi seperti ini ya?" Ucap Zelin. " Santai aja lagi. Anggap aja kamu mau ketemu kakakmu. Jangan langsung memikirkan dia, yang ada kamu malah salah tingkah lagi." Ucap Zira cepat. Lift sudah sampai di lantai atas. Dimana lantai itu khusus untuk para pejabat tinggi saja. Salah satunya ruangan Presiden direktur dan beberapa direktur lainnya. Dari jauh sudah kelihatan ada seorang pria yang duduk di depan meja kerja. Dia adalah Koko, dia amat serius dengan pekerjaannya sampai-sampai dia tidak tau kedatangan seseorang dari arah lift. Zira berhenti di depan meja sekertaris itu. Zelin memegang tangan kakak iparnya dengan gemetar. " Selamat siang Koko. Sibuk amat sih kamu sampai enggak liat kalau aku datang." Ucap Zira menyapa. " Nona Zira." Ucap Koko bersorak senang. Kemudian dia tidak lagi bersorak karena ada seseorang gadis yang cukup dia kenal. Koko langsung menundukkan kepalanya ketika beradu tatap mata dengan gadis tersebut. Begitupun gadis itu, dia tidak kuasa melihat mata teduh pria itu. " Suamiku di dalam?" Ucap Zira langsung agar dua orang tersebut tidak saling salah tingkah. " Tuan muda lagi meeting dengan para klien." Ucap Koko pelan sambil menundukkan kepalanya lagi. " Dari jam berapa meetingnya." Ucap Zira cepat. " Dari pagi nona, mungkin sebentar lagi selesai." Ucap Koko kembali menundukkan lagi. Koko senang ketika ada Zira di depannya. Dia ingin curhat kepada wanita yang banyak membantunya. Dan dia juga senang dengan kehadiran gadis cantik itu.Tapi dia tidak kuasa untuk menatap dalam mata indah itu. Zira menggoyangkan lengan kirinya kepada Zelin. Memberi kode kepada adik iparnya ini adalah kesempatan untuknya berbicara. Tapi Zelin bingung harus memulai dari mana. Zira memilih untuk pergi agar dua orang itu bisa berbicara bebas. " Kak jangan pergi." Ucap Zelin berbisik sambil menarik lengan kakak iparnya. " Lah kenapa? Kamu bukannya mau bicara sama dia." Ucap Zira juga berbisik. " Nanti kalau kak Ziko datang bagaimana?" Ucap Zelin takut. Zira melihat sekeliling gedung itu. Dan melihat jam di tangannya. Dia membuat estimasi selesai meeting jam berapa. " Kamu bicara di pantry kakak akan menjaga di luar." Ucap Zira berbisik. Zelin menganggukkan kepalanya setuju. Zira duduk di sofa, tempat para tamu ingin menemui presiden direktur. " Aku mau bicara penting." Ucap Zelin memberanikan diri. " Aku enggak bisa, apa kamu tau aku sedang sibuk." Ucap Koko pelan sambil tidak menatap wajah gadis itu. " Aku jauh-jauh datang mau bicara dengan kamu, tapi kamu malah bersikap acuh seperti ini." " Uhuk-uhuk." Zira pura-pura batuk mengingatkan waktu semakin sempit. Mendengar kakak iparnya batuk, Zelin dan Koko bersamaan melihat ke arah suara itu. " Cepat waktunya tidak banyak." Ucap Zelin lagi. " Bicara saja di sini." Ucap Koko dingin. Karena waktu semakin sempit. Dengan terpaksa Zelin memberanikan berbicara di depan meja Koko. " Kenapa kamu tidak membalas semua chat dari aku, kenapa?" Ucap Zelin cepat. " Maaf, saya tau batas nona, saya lebih memilih menjauh dari pada saya harus masuk dalam ruang lingkup kehidupan anda." Ucap Koko dingin. " Apa sebenarnya yang terjadi, sebelum ketemu kak Ziko kamu baik dan perhatian sama aku. Apa semua ini karena kak Ziko." Ucap Zelin cepat sambil menatap lekat pria tersebut. " Bukan nona, ini tidak ada sangkut pautnya dengan tuan muda. Saya yang ingin menjauh dari kehidupan anda. Karena kita seperti langit dan comberan." Ucap Koko pelan. Zelin tidak percaya dengan ucapan pria tersebut. Dia merasa ada sesuatu yang menyebabkan pria itu bersikap dingin. " Kamu bohong, pasti ada sesuatu yang kamu simpan dariku, jujur padaku." Ucap Zelin dengan mata yang berkaca-kaca. Koko tak kuasa melihat mata indah itu. Mata indah itu sudah ingin menumpahkan sesuatu. Dari jauh sudah terdengar suara pintu lift terbuka. Koko harus mengambil keputusan singkat. " Aku, aku telah kembali dengan pacarku. Maaf kamu bukan sebagai pelarian buatku, tapi aku hanya ingin kita berteman saja." Ucap Koko pelan. Zelin mundur teratur, dia berlari ke toilet. Zira yang duduk langsung kaget, melihat adik iparnya lari dengan cepat. Zira mengikuti adik iparnya ke toilet. Ziko dan Kevin baru keluar dari lift mereka hanya melihat sekilas dua wanita itu. " Apa tadi istriku?" Ucap Ziko menanyakan kepada sekertarisnya. " Iya bos. Nona Zira lagi ke toilet." Ucap Koko cepat. Dia bisa menyimpulkan kalau dua wanita itu pasti akan menumpahkan keluh kesahnya di dalam ruangan itu. Ziko manggut-manggut saja. Tapi dia heran kenapa istrinya tidak menggunakan toilet di ruangan. " Dan satu wanita lagi siapa?" Ucap Ziko ragu dengan penglihatannya. Koko diam, dia tidak ada keberanian untuk menjawab pertanyaan bosnya. " Nona muda tuan." Ucap Kevin menyahut dari belakang bosnya. Ziko langsung memberikan tatapan tajam kepada pria di depannya. Tatapan itu seperti sedang mengintrogasi. " Apa kamu mengambil kesempatan ketika aku tidak ada di sini." Ucap Ziko dengan tatapan mengintimidasi. " Tidak bos. Saya tidak mengambil kesempatan apapun. Nona Zelin memang datang ingin menemui saya. Tapi saya sudah menolaknya." Ucap Koko cepat agar dia tidak menjadi bahan amukan bosnya. " Maksud dari penolakan kamu apa?" Ucap Ziko penasaran. " Saya mengatakan kepada nona Zelin kalau saya sudah kembali dengan kekasih saya." Ucap Koko pelan. Koko sengaja melakukannya agar Zelin menjauh dan tidak berteman lagi dengannya. Alasan ini di buat secara mendadak karena desakan dari Zelin yang membuat Koko mengambil keputusan itu. " Bagus, ternyata kamu masih mengingat ultimatum dariku." Ucap Ziko sambil berlalu meninggalkan pria tersebut. Koko merasa sakit harus membohongi dirinya dan gadis cantik itu. Dia merasa berat untuk kembali bertemu dengan Zelin. Apalagi karena ucapannya yang menyebabkan gadis cantik itu meneteskan air mata. Zelin menangis sejadi-jadinya, air matanya mengalir deras. Zira mengecek setiap pintu toilet, untuk memastikan apakah ada orang lain selain mereka di situ. Setelah pengecekan selesai, dia mengunci pintu dari dalam agar tidak ada satu orangpun masuk ke dalam toilet. Zira mengelus rambut adik iparnya sambil memeluk tubuhnya. Zira membiarkan air mata itu tumpah. Seorang wanita jika mempunyai masalah akan lega ketika sudah menumpahkan air matanya. Zelin menceritakan semua percakapannya dengan Koko. Dari sikap Koko yang dingin sampai sebuah pengakuan yang mengatakan kalau Koko telah kembali dengan kekasihnya. Zelin membicarakannya sambil menagis. Zira tidak banyak berkomentar, dia bisa mengambil kesimpulan kalau ini semua hanya sandiwara yang di permainkan Koko, karena dia telah mendapatkan tekanan dari bosnya. Suara ponsel Zira berbunyi. Zira mengambil ponselnya dan melihat ada nomor suaminya di layar ponselnya. " Ya sayang." Ucap Zira pelan. " Kamu di mana?" " Aku di toilet sama Zelin." Ucap Zira cepat. " Ngapain kamu di toilet?" Ucap Ziko lagi. " Aku lagi masak." Ucap Zira ketus. " Masak? Kamu jangan bercanda sayang." Ucap Ziko dari ujung ponselnya. " Udah tau nanya." Ucap Zira lagi ketus. " Cepat kembali ke sini, aku enggak mau aroma tubuhmu berganti parfum pembersih toilet." Ucap Ziko cepat sambil menutup panggilannya. " Like, komen dan vote yang banyak ya terimakasih." Chapter 233 episode 232 (S2) " Keluar yuk, kakak kamu sudah telepon nih." Ucap Zira merayu adik iparnya. " Aku kesal kak, aku enggak mau bertemu dengan Koko lagi." " Jangan seperti itu, itu perbuatan tidak baik. Kamu harus berjiwa besar. Seharusnya kamu bangga dengan Koko, atas pengakuannya bisa saja dia menduakan dirimu, berpura-pura tidak tau dan mengambil kesempatan dari dirimu. Tapi Koko tidak kan? Dia dengan sengaja memberikan pengakuan, walaupun pengakuan itu memang sakit tapi kamu harus berjiwa besar." Zira sengaja mengatakan seperti itu, agar adik iparnya merasa tenang. Ingin rasanya dia bicara berdua dengan Koko, menanyakan hal sebenarnya. Tapi keadaan yang tidak memungkinkan untuk bicara sekarang, karena ada suaminya. Tahap awal dia harus menenangkan adik iparnya. Tahap kedua dia akan membicarakan hal ini kepada suaminya. Tahap selanjutnya akan menanyakan kebenaranya kepada Koko. Zira akan ikut andil dengan permasalah adik iparnya. Semua masalah harus ada titik temu. Dan tidak mungkin dia membiarkan wajah gadis cantik itu sendu setiap hari. Jadi Zira harus bertindak. Setelah emosi Zelin sudah membaik, dia mengajak adik iparnya untuk keluar dari toilet. Mereka keluar dari toilet dan berjalan beriringan ke ruang presiden direktur. Koko melihat sekilas wajah Zelin, karena kebanyakan menangis mata Zelin sembab. Didalam ruangan sudah ada Ziko dan Kevin. Mereka sedang membicarakan sesuatu hal, ketika dua wanita itu masuk. Mereka langsung diam seribu bahasa apalagi mata Zelin terlihat sembab. Ziko menghampiri adiknya yang baru saja masuk ke dalam ruangannya. " Kamu kenapa?" Ucap Ziko khawatir. " Nangis." Jawab Zira. " Kenapa kamu nangis, apa ini karena ulah si Koko." Ucap Ziko emosi. Dia tidak bisa terima kalau orang yang di sayanginya mengeluarkan air mata hanya dengan masalah sepele. Dia sudah ingin beranjak dari ruangan itu. Tapi Zira menahan tangannya. " Apa?" Ucap Ziko ketus. " Ikut aku." Ucap Zira menarik tangan suaminya. " Nanti aku harus memberikan pelajaran pada pria gemulai itu." Ucap Ziko keceplosan. " Apa maksud kakak pria gemulai?" Ucap Zelin bingung. Ziko menatap wajah adiknya, kemudian beralih menatap wajah istrinya. Dia tidak tau harus memberikan penjelasan apa dengan adiknya. " Itu hanya plesetan aja, maksud tuan muda kebalikannya. Benarkan tuan muda?" Ucap Kevin menengahi masalah itu. " Iya, aku suka memberikan plesetan sama orang lain. Seperti kakak iparmu mulut micin." Ucap Ziko sambil memegang tubuh istrinya. Zelin tidak curiga lagi. Dia memang mengenal kakaknya luar dalam jadi menurutnya semua hanya julukan saja. Zira menarik tangan suaminya ke dalam ruangan yang ada di belakang meja kerja Ziko. " Ih kamu ini, kenapa sampai mengatakan pria gemulai segala." Ucap Zira cepat. " Aku keceplosan." Ucap Ziko pelan. " Aku mau memberikan pelajaran untuk pria gemulai itu." Ucap Ziko emosi. " Hello suamiku sayang, bukannya kamu yang memberikan ancaman kepada dia sebelumnya. Dan sekarang dia sudah mencoba menjauh malah mau kamu hajar. Kamu harus konsisten dong. Itukan cara agar dia bisa menjauh dari Zelin. Jangan main hajar saja." Ucap Zira cepat. Zira tidak tau menahu tentang ancaman yang di berikan suaminya kepada pria gemulai itu. Tapi dari pembicaraan adik iparnya di butik. Kalo Ziko mendapati Zelin dan Koko di sebuah cafe. Dan setelah pertemuan Ziko dan Koko, sikap Koko langsung dingin jadi Zira menyimpulkan kalau pria gemulai itu mendapatkan ancaman dari suaminya. " Dari mana kamu tau kalau aku memberikan ancaman kepada si Koko. Apa dari Zelin? Tapi Zelin juga tidak tau dengan ancaman itu, karena pada saat itu aku hanya berdua dengannya." Gumam Ziko cepat. " Sayang aku mengambil kesimpulan sendiri. Memang Zelin ada cerita, tapi dia tidak tau tentang percakapanmu dengan si Koko pada waktu itu. Aku mengambil kesimpulan sendiri karena kamu memang tukang mengancam." Ucap Zira cepat. " Iya iya aku memang mengancamnya. Semua demi kebaikan adikku." Ucap Ziko cepat. " Apa kamu lihat Zelin membaik. Dia malah terpuruk seperti itu. Dia baru saja meluapkan airmatanya di toilet dan ini semua karena kamu." Ucap Ziko menunjuk dada suaminya. " Aku? Kenapa aku?" Ucap Ziko menunjuk dirinya sendiri. " Coba kalau kamu tidak mengancam pria itu pasti dia tidak akan membuat pengakuan yang menyakiti Zelin." Ucap Zira mengumpamakan. " Tapi kalau aku tidak mengancam pasti mereka akan bersatu, aku enggak mau Zelin jadian dengan pria gemulai itu. Enggak bisa aku bayangkan kalau adikku nikah dengannya. Apa kata dunia kalau mereka tau menantu keluarga Raharsya seorang banci." Ucap Ziko membayangkan yang aneh-aneh. " Aih sayang, kenapa kamu harus memikirkan sampai kesitu. Merekakan hanya berteman saja. Kalau memang mereka jadian biar itu di ketahui Zelin sendiri tanpa harus kita yang memberitahukannya. Dan belum tentu juga dia masih pria gemulai. Bisa jadi dia sudah sembuh dari penyakit itu. Jadi jangan berpikiran negatif dulu." Ucap Zira menjelaskan. Semua ucapan istrinya seperti merapikan benang kusut yang runyam. Ada kelegaan ketika dia bertukar pikiran dengan istrinya. " Baiklah aku akan bersikap tenang setelah ini. Dan membiarkan mereka mengikuti alurnya. Aku akan memantau dari jauh." Ucap Ziko yakin. " Nah gitu dong. Seorang kakak harus bisa berpikiran panjang jangan gampang emosi. Menilai seseorang dari sisi baiknya jangan cepat mengambil keputusan dari masa lalu seseorang." Ucap Zira lagi. " Iya sayang." Ucap Ziko mengecupi bibir istrinya. " Mumpung kita berdua di dalam sini, bagaimana kalau kita melakukan satu jurus. Aku ada jurus baru loh." Ucap Ziko merayu istrinya agar mengikuti kemauannya. " Idih kamu, di mana ada tempat selalu menjadi peluang usaha." Ucap Zira asal. " Iya usaha menaklukan lubang ajaib." Ucap Ziko menciumi bibir istrinya. Dan suara konser terdengar kembali. Ziko melepaskan aksinya sambil melihat wajah istrinya. " Kenapa sih jika aku lagi pengen nyoblos selalu saja perut kamu konser." Gerutu Ziko. " Ya gimana lagi, yang di dalam sudah minta makan." Ucap Zira manja. " Jadi kita makan siang dulu nih." Ucap Ziko meyakinkan istrinya agar mengatakan lanjutkan aksimu. Tapi Zira tidak mengatakan apapun dia hanya menganggukkan kepalanya cepat. " Nasib-nasib ubi kayu." Gerutu Ziko. Zira tertawa mendengar gerutu dari suaminya. Selalu mengalah ketika perut istrinya sudah konser. " Sayang kita makan di luar ya. Sekalian bawa Zelin dan Koko." Ucap Zira cepat. " Si Koko juga?" Ucap Ziko kurang yakin. " Iya kan enggak apa-apa kalau dia di ajak. Anggap saja kamu lagi menebus dosa-dosa kamu." Ucap Zira lagi. " Aih seberapa besar dosa aku sampai harus mengajak dia ikut makan bersama apa lagi ada Zelin di sana nanti." Ucap Ziko protes. " Ssstt , apa kamu lupa yang baru saja kamu utarakan kepadaku. Kalau kamu akan membiarkan hubungan mereka mengalir mengikuti arus. Dan kamu hanya melihat dari jauh saja. Baru sebentar saja udah lupa." Ucap Zira protes balik. " Ya maaf, mungkin aku lupa karena aku belum menaklukkan gua ajaib." Ucap Ziko mengada-ada. Zira menarik hidung suaminya gemes. Tingkah suaminya kadang kekanak-kanakan, tingkah seperti itu yang selalu jadi ruang rindu dirinya. " Like, komen dan Vote yang banyak ya terimakasih." Chapter 234 episode 233 (S2) Zelin dan Kevin masih duduk menunggu pasangan suami istri itu. Begitu mereka keluar, Zelin langsung berdiri. Dia menunggu sebuah penjelasan dari kakaknya. " Kita makan di luar siang ini." Ucap Ziko cepat. Zelin bengong, di pikirannya akan ada pembahasan masalah dirinya dengan Koko tetapi hanya terlontar dari mulut kakaknya mengenai makan siang di luar. " Kakak." Rengek Zelin. " Kenapa?" " Aku enggak ikut." Ucap Zelin cepat. " Ya sudah." Jawaban singkat dari kakaknya. Zira yang melihat merasa geram melihat tingkah suaminya. Bukan merayu adiknya untuk ikut malah cuek bebek. Ziko sudah keluar dari ruangan tersebut di ikuti Kevin di belakangnya. Zira dan Zelin masih di dalam ruangan. " Kakak, apa kakak tidak menanyakan kepada kak Ziko?" Ucap Zelin penasaran. " Ada kok, dia hanya berpesan agar kamu bisa jaga diri. Dan bisa memilih jalan hidup yang lebih baik. Tidak langsung memutuskan suatu perkara tanpa mengecek ataupun mencari tau terlebih dahulu." Ucap Zira menjelaskan. " Jadi mengenai hubungan aku dengan Koko bagaimana?" Ucap Zelin lagi penasaran. " Ya kamu nilai aja sendiri. Apakah dia baik atau tidak. Apakah dia bisa di jadikan pasangan atau hanya sekedar teman. Jangan cepat memutuskan ya. Pikirkan saja dulu." Ucap Zira menarik tangan adik iparnya. Di luar ruangan. " Kita akan makan siang di luar. Kamu juga ikut." Ucap Kevin cepat. " Baik Pak." Ucap Koko sopan. Mereka semua turun ke loby dan menunggu di depan pintu loby. Kevin mengambil mobil di area parkiran beserta Koko juga. Koko di perintahkan Kevin mengendarai mobil Zelin. Di area parkiran sekilas Kevin melihat sebuah motor gede. Dia mengingat plat motor itu. Motor itu adalah motor yang dia lihat pada saat di halte. " Kenapa Pak?" Ucap Koko pelan. " Apa ini motor kamu?" Ucap Kevin cepat. " Bukan Pak, motor saya ada di sana." Ucap Koko menunjukkan motornya yang di parkir di ujung. " Siapa yang punya motor ini?" Ucap Kevin penasaran. " Kalo saya tidak salah liat. Itu motor sekuriti kita." Ucap Koko lagi. Kevin manggut-manggut, dia seperti bisa menemukan jejak wanita setengah genre itu. Ternyata jejaknya tidak jauh dari penglihatannya. " Kenapa Pak?" Ucap Koko penasaran juga. " Tidak aku kirain punya kamu." Ucap Kevin bohong. Kevin menyalakan mesin mobil Raharsya. Dan Koko sudah meluncur ke depan Pintu loby terlebih dahulu. Kevin ada di belakangnya. Koko menyerahkan kunci mobil kepada Zelin. " Kamu yang menyetir mobil Zelin. Dan Zelin ikut sama kami." Ucap Ziko cepat. Zira membisikkan sesuatu ketelinga suaminya. " Biarkan mereka pergi satu mobil. Kasih kesempatan untuk mereka berbicara." Ucap Zira berbisik. " Zelin ikut sama Koko saja." Ucap Zira cepat. Ziko mau melarang tapi sudah di tarik lengannya sama istrinya. Zira menarik suaminya mendekati mobil. Kevin sudah membukakan pintu untuk mereka berdua. " Tapi." Ucap Ziko pelan. " Sudah masuk saja dulu." Ucap Zira cepat mendorong tubuh suaminya dengan susah payah agar bisa masuk ke dalam mobil. Sedangkan Zelin sudah berada di dalam mobilnya berdua dengan Koko. " Cepat ikuti mereka." Ucap Ziko memerintahkan Kevin. Kevin menyalakan mesin mobil dan mengikuti mobil Zelin dari belakang. " Sayang kamu kenapa sih? Jangan norak deh. Biarkan saja mereka berbicara. Kasih kesempatan dong." Ucap Zira mengingatkan suaminya agar tidak terlalu over protective. " Kalau dia macam-macam bagaimana?" Ucap Ziko khawatir. " Tenang sayang, Koko tidak akan macam-macam. Dia hanya satu macam saja." Ucap Zira menenangkan. Ziko tidak bisa duduk tenang, dia terus melihat kedepan dengan perasaan was-was. Zira hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat tingkah suaminya yang terlalu berlebihan. Di dalam mobil Zelin. Dua manusia yang beda jenis kelamin itu hanya dia membisu. Tidak ada yang saling berbicara. Ada rasa sungkan untuk mereka memulai pembicaraan. Di dalam terasa hening hanya suara kendaraan yang terdengar lalu lalang di jalanan. Koko melirik sekilas begitupun Zelin. Mereka saling lirik-lirikkan. Koko memberanikan diri untuk memulai pembicaraan. " Maafkan aku, karena telah membuat kamu menangis." Ucap Koko pelan. Zelin hanya diam dan melirik sekilas. Menurutnya tidak ada yang perlu di jawab. Biarkan Koko mengakui kesalahannya sendiri. " Aku tau, tidak pantas aku berbicara seperti itu kepadamu. Aku tidak bermaksud membuat kamu sedih atau kecewa." Belum selesai Koko dengan kalimatnya, Zelin langsung memotong pembicaraannya. " Ya tapi kamu telah mengecewakanku." Ucap Zelin emosi. Koko diam, ingin rasanya dia mengatakan perasaannya yang sesungguhnya. Tapi dia tidak punya daya dan kuasa untuk mengatakannya. " Apa sebelumnya kamu tidak mempunyai perasaan kepadaku?" Ucap Zelin lagi. Deg jantung Koko berdebar kencang seperti perlombaan pacuan kuda. Dia tidak mungkin mengatakan iya dan tidak mungkin mengatakan tidak. " Jawab aku jangan diam saja?" Ucap Zelin sedikit teriak. " Aku, aku belum tau mengenai perasaanku kepadamu." Wajah Zelin sudah terlihat sendu ketika mendengar kalimat yang terlontar dari pria di sebelahnya. Koko melanjutkan kalimatnya. " Tapi aku senang ketika bertemu denganmu apalagi dekat denganmu. Momen itu yang selalu aku tunggu." Ucap Koko pelan. Zelin bisa tersenyum tipis ketika mendengar ucapan Koko. Dia bisa mengambil kesimpulan sendiri. Perasaan Koko terhadap dirinya sama seperti perasaan dia kepada pria itu. " Dan apa yang kamu ucapkan di kantor tadi benar?" Ucap Zelin penasaran. Koko bingung mau menjawab apa. Ini sebenarnya kesempatannya untuk mengungkapkan perasaannya. Tapi dia merasa khawatir dengan ancaman yang di berikan bosnya. " Aku, aku sebenarnya menyukaimu. Dan aku tidak mempunyai kekasih." Ucap Koko pelan hampir tidak terdengar sama Zelin ucapan pria tersebut. " Apa! Apa kamu menyukai aku?" Ucap Zelin menanyakan balik. Koko menganggukkan kepalanya pelan. Zelin terlihat bahagia mendengarkan pengakuan pria itu. " Tapi." Ekspresi bahagia Zelin langsung berhenti ketika Koko melanjutkan kalimatnya. " Tapi aku sadar kita tidak bisa bersama. Status sosial kita berbeda. Tidak mungkin kita bersama jadi aku harap kita hanya sebagai teman saja." Ucap Koko lagi. Zelin ingin teriak. Mengapa semua orang selalu membuat perbedaan dengan status sosial. Di saat dia dekat dengan pria. Si pria mundur karena status sosial mereka yang berbeda. " Kenapa?" Ucap Zelin teriak. " Aku tidak bisa memiliki kekasih orang kaya sepertimu. Bisa di bayangkan apa kata orang-orang kalau kamu jadi kekasihku. Secara aku manusia yang hina." Ucap Koko merendah. " Tidak kamu jangan berpikir seperti itu. Tidak semua orang kaya memandang status sosial seseorang untuk menentukan jodoh anaknya. Seperti orang tuaku. Dia tidak pernah memandang rendah orang lain. Semua sama di mata mereka. Sama-sama sederajat." Ucap Zelin menjelaskan. " Sudahlah, kita berteman saja. Biarkan pertemanan kita seperti sediakala tanpa ada perasaan di dalamnya. Boleh ada perasaan tapi hanya perasaan sebagai sahabat." Ucap Koko menengahi masalah perbedaan itu. Zelin tidak bisa memaksakan hubungan dengan pria itu. Menurutnya sudah mengetahui perasaan pria itu kepada dirinya sudah merupakan hal yang sangat membahagiakan. Dia juga setuju lebih baik mereka menjalani apa adanya. Dia yakin suatu saat Koko akan memperjuangkan cintanya. Dan suatu saat dia akan menjadi gadis yang paling bahagia ketika pria itu memperjuangkan hatinya. Dengan memperjuangkan hatinya lambat laun pasti kakaknya akan setuju dengan hubungan mereka. " Like, komen dan Vote yang banyak ya. Terimakasih." Chapter 235 episode 234 (S2) Mereka telah sampai di rumah makan. Rumah makan dengan aneka masakan tradisional. Seperti permintaan Istrinya, kalau Zira lebih menyukai masakan tradisional dari pada makanan Eropa. Pelayan membukakan pintu ketika mereka masuk. Pelayan merekomendasikan tempat yang cocok untuk mereka. Mereka mengikuti dari belakang menuju tempat tersebut. Tapi Ziko kurang nyaman dengan suasana terbuka dan bergabung dengan orang lain. Kevin melihat gelagat bosnya kurang nyaman dengan tempat yang di tunjukkan pelayan itu. " Apa ada ruangan khusus seperti private room untuk kami semua." Ucap Kevin cepat. " Owh ada Pak, tapi untuk ruangan itu nanti akan di kenakan biaya lagi." Ucap pelayan menejelaskan. " Tidak masalah, antarkan kami keruangan itu." Ucap Kevin cepat. Pelayan menunjukkan jalan menuju private room. Ruangan itu berada di pojok, jadi ketika mereka menuju kesana, mereka di sajikan pemandangan berupa taman bunga yang ada di kanan dan kiri mereka. Pelayan mempersilahkan mereka untuk masuk. Ruangan yang tidak terlalu besar tapi sangat nyaman dengan fasilitas sebuah air conditioner dan televisi. Dan kursi empuk untuk menemani makan mereka. Pelayan menyalakan televisi itu dengan menyetel sebuah video musik untuk menghibur makan siang tamunya. Pelayan yang tadi keluar dari ruangan itu dan di ganti dengan 2 orang pelayan. Dua orang pelayan masuk ke dalam ruangan itu. Sambil membawa buku menu di tangan mereka. Ada pemandangan yang aneh ketika 2 orang pelayan tadi masuk. Salah satunya adalah wanita setengah genre yang sangat misterius. Kevin membelalakkan matanya melihat wanita setengah genre itu. Begitupun pelayan itu, dia tidak berkedip. Masih mengingat siapa pria yang melototi dirinya. Teman wanita setengah genre itu menyenggolnya, memberikan kode untuk menyerahkan buku menu kepada para tamunya mereka. 2 orang pelayan menyerahkan buku menu di sebelah kanan pengunjungnya. Ziko dan yang lainnya membaca dan memilih daftar menu yang menggugah selera mereka. Tidak dengan Kevin, dia masih tidak berkedip melihat wanita setengah genre itu. Sepertinya itu pria yang aku siram air, tapi kenapa dia melihat aku seperti itu. Apa dia naksir denganku. Hello mana mungkin dia naksir sama aku. Dia pasti mau menagih utang samaku. Karena dia tidak berkedip melihat aku, lebih baik aku main mata dengannya. Kita lihat sampai seberapa tahan kamu melihat kedipan mata dariku. Kevin masih melotot melihat wanita yang tidak jauh dari depannya. Dan tiba-tiba wanita itu mengedipkan matanya secara berulang. Sampai Kevin malu sendiri, Kevin langsung melihat kebawah ketika mendapatkan kedipan mata dari wanita setengah genre itu. Sial kenapa dia malah mengedipkan mata kapadaku. Kenapa aku jadi grogi ketika dia mengedipkan mata seperti itu. Apalagi sekarang dia yang terus memandangi aku. Kevin tidak berani menatap mata wanita setengah genre itu. Sekarang posisi kebalik wanita setengah genre itu yang memandang dirinya. Yes berhasil, dia enggak kuat melihat mata nakalku. Makanya jangan coba-coba main dengan aku. Setelah dua orang pelayan itu mencatat semua daftar menu pilihan pengunjungnya mereka pergi meninggalkan ruangan tersebut. " Permisi, saya mau kebelakang dulu." Ucap Kevin beranjak dari kursinya. Kevin mengikuti wanita setengah genre itu dari belakang. Dua pelayan itu berbalik melihat ada orang yang mengikuti mereka. " Kenapa tuan? Apa ada menu tambahan?" Ucap teman wanita setengah genre itu. " Tidak, aku hanya ada perlu dengan dia." Ucap Kevin menunjuk wanita setengah genre. Teman si wanita langsung mengambil buku catatan yang ada di tangan temannya. Dan meninggalkan temannya berdua dengan tamu mereka. " Ada apa?" " Ada apa? Seharusnya aku yang bertanya kenapa kamu mengedipkan mata kepadaku." Ucap Kevin cepat. " Idih pede banget, aku itu tadi kelilipan." Ucap wanita itu asal. Kevin yang tadinya mau protes malah malu karena mendapatkan jawaban telak dari wanita jadi-jadian di depannya. Wanita itu membalikkan badannya hendak pergi. " Tunggu, aku mau ketemu dengan manager kamu." Ucap Kevin cepat. Wanita itu berbalik lagi melihat pria tersebut. " Untuk apa?" Ucap wanita itu. " Untuk memberitahukan kepada manager rumah makan ini, kalau dia mempunyai pekerja yang tidak bertanggung jawab. Karena telah mempermalukan orang lain." Ucap Kevin cepat. " Hello Bapak yang terhormat. Dari mananya aku tidak bertanggung jawab. Seharusnya bukan aku saja yang di anggap tidak bertanggung jawab tapi kamu juga, coba kalau kamu turun dan meminta maaf kepadaku pasti aku tidak akan merusak mobil kamu." Ucap wanita itu pelan. Kevin diam, tidak menjelaskan kenapa pada saat itu dia tidak keluar dari mobil. " Dan lagi, bagaimana kamu bisa bilang kalau aku mempermalukan dirimu. Pada saat itu di halte cuma kita berdua tau. Tidak ada yang melihat. Ada sih yang melihat." Ucap wanita itu cepat. " Siapa yang melihat?" Ucap Kevin penasaran. " Hantu." Wanita itu langsung pergi meninggalkan pria tersebut. Dia merasa enggan berbicara dengan pria sombong. Wanita itu berjalan menuju dapur. Tapi langsung di selip oleh Kevin. Kevin melangkahkan kakinya cukup lebar. " Pasti kebelet tuh." Gumam wanita itu. Kevin berhenti pada seorang pelayan dan menanyakan di mana ruangan manager rumah makan tersebut. Wanita tadi yang mendengar langsung mulai panik. Dia sudah kebayang apa yang akan di perbuat pria itu. " Lurus aja Pak, belok kanan, nanti ada tulisan di atas pintu." Ucap pelayan itu menjelaskan. Kevin langsung berjalan menuju ruangan manager, diikuti wanita setengah genre itu dari belakang. Kevin mengetuk pintu ruangan tersebut. Setelah ada sahutan masuk. Dia langsung masuk ke dalam ruangan tersebut. Ada seorang wanita paruh baya duduk di kursi kebesarannya. Wanita setengah genre itu menguping dari balik pintu. " Ada yang bisa saya bantu Pak?" Ucap wanita tua itu. " Saya mau komplain." Ucap Kevin langsung. Wanita yang menguping langsung ketar ketir. Mati aku, dia benar-benar komplain. Bakalan di pecat lagi. " Komplain apa Pak?" Ucap wanita tua itu. " Mengenai pelayan ibu." " Siapa namanya?" Ucap ibu itu. Kevin bingung mau menyebutkan apa. Dia belum tau nama wanita setengah genre itu. " Saya enggak tau namanya, yang jelas dia setengah genre." Ucap Kevin cepat. " Aih kurang ajar betul, seenaknya bilang aku setengah genre." Gerutu wanita itu pelan. " Maaf Pak, semua pelayan kami di sini berjenis kelamin pria dan wanita tidak ada yang setengah." Ucap Ibu itu menjelaskan. Wanita yang berada di balik pintu tertawa kecil, mendengar ibu managernya berbicara. Dia tertawa sampai terdengar dari dalam ruangan. " Siapa itu?" Ucap Ibu manager. Kevin langsung membuka pintu dengan cepat. Dan di balik pintu ada wanita setengah genre itu yang menguping pembicaraan mereka. " Kamu menguping ya?" Ucap Ibu manager dengan intonasi yang tinggi. Wanita itu masuk ke dalam ruangan sambil menundukkan kepalanya. " Enggak bu." Ucap wanita itu gugup. " Ini dia wanita setengah genre itu." Ucap Kevin menunjuk wanita di sampingnya. " Maaf Pak, dia berjenis kelamin wanita bukan setengah." Ucap Ibu manager menekan intonasinya. " Ya terserah ibu mau jawab apa, yang jelas saya mau dia di pecat." Ucap Kevin tegas. " Maaf Pak, apa alasan Bapak meminta saya untuk memecat karyawan saya." Ucap Ibu itu tegas. Kevin mau menjelaskan tapi mulutnya sudah di bungkam dengan tangan wanita setengah genre itu. " Ibu sebenarnya ini hanya masalah pribadi, dia minta balikan sama saya Bu. Tapi saya menolak." Ucap wanita setengah genre itu. Kevin melepaskan tangan wanita itu dari mulutnya. " Oh masalah pribadi jangan di bawa ke dalam ruangan ini. Silahkan kalian selesaikan di tempat lain." Ucap Ibu itu mengusir dua orang di depannya. " Like, komen dan Vote yang banyak ya terimakasih." Chapter 236 episode 235 (S2) " Tapi bu, bukan itu masalahnya." Ucap Kevin teriak. Tangan Kevin sudah di tarik wanita itu keluar dari ruangan manager. " Apa maksud kamu dengan kata menolak?" Ucap Kevin penasaran. " Sudahlah, makanan kamu sudah hampir matang. Apa kamu mau memperdebatkan masalah ini terus. Nanti kalau aku ada uang aku ganti kerugian mobil kamu." Ucap wanita itu asal sambil mendorong tubuh Kevin dari belakang agar kembali ke ruangannya. Kevin pergi meninggalkan wanita itu. Wanita itu mulai iseng lagi. " Hai Bapak, bagaimana wangi tanganku?" Teriak wanita itu. " Kamu baru megang apa sih kok tangan kamu bau." Ucap Kevin cepat kembali lagi mendekati wanita setengah genre itu. Wanita itu pura-pura lupa sambil menepuk jidatnya. " Maaf Pak, tadi aku baru selesai cebok dan lupa membilasnya." Ucap wanita itu langsung berlari. Kevin langsung mual mendengar kata cebok. Dia membayangkan kotoran wanita itu ada di hidungnya. Kevin berlari ke toilet untuk memuntahkan semuanya. Si wanita tertawa bahagia di dalam dapur. Dia senang dapat mengerjai pria itu. Dasar orang kaya apa tidak bisa membedakan bau kotoran sama bau amis. " Antarkan ini ke private room tadi." Ucap chef. " Saya chef?" Ucap wanita itu menunjuk dirinya. " Ya kamu, kan tadi kamu yang mencatat menu itu." Ucap chef tersebut cepat. Dengan perasaan was-was dia dan temannya mengantarkan semua hidangan kedalam ruangan itu. Wanita itu melihat sekeliling ruangan itu. Tidak ada Kevin di dalamnya. Menurutnya Kevin pasti masih di toilet. Dua pelayan itu menghidangkan semua makanan dia atas meja. " Kevin kemana dari tadi belum balik." Ucap Ziko pelan. Ucapan Ziko terdengar oleh wanita itu. Owh namanya Kevin. Bukan Kevin tapi klepon. Wanita itu menghidangkan sambil tersenyum-senyum sendiri. Tidak berapa lama Kevin datang, begitu melihat wanita itu ada di dalam ruangan, Kevin langsung mual dan berbalik lagi ke toilet. " Kevin kenapa? Sepertinya dia sakit." Ucap Zira pelan. " Mungkin sayang." Ucap Ziko pelan. Wanita itu hanya tersenyum-senyum saja, karena dapat mengerjai pria klepon itu. Setelah makanan terhidang mereka beranjak pergi dari ruangan itu tidak lupa mereka mengucapkan. " Selamat menikmati." Kevin berpapasan dengan wanita setengah genre itu. Dia langsung menutup mulutnya ketika berpapasan dengannya. " Hey tunggu." Ucap wanita itu memang Kevin. Kevin tidak memperdulikan wanita yang telah membuatnya mual. " Hey Klepon. Eh salah hey Kevin." Teriak wanita itu. " Sial dari mana dia tau kalau namaku Kevin." Gumam Kevin pelan. Kevin berhenti dan tidak membalikkan badannya. Dia tidak mau melihat wanita setengah genre itu. " Bagaimana wangi tanganku." Goda wanita itu lagi. " Cih, kamu jorok banget. Wanita itu seharusnya penuh dengan kerapian dan kebersihan bukan bawa-bawa kotoran di tangan. Kalau kotoran hidung sama kotoran mata masih aman. Ini kotoran yang warna kuning di bawa-bawa." Ucap Kevin sambil menutup mulutnya. Wanita itu tertawa terbahak bahak mendengar gerutu pria di depannya. Kevin teringat sesuatu kalau dia harus mengingatkan majikannya untuk tidak makan apapun dari rumah makan itu. Karena menurutnya pelayannya saja sudah jorok apa lagi dapurnya. Kevin berlari terburu-buru masuk ke dalam ruangan itu. Dia melihat majikannya sudah makan dengan lahap. Dia ingin mengatakan tapi tidak tega. Jadi dia hanya sebagai penonton tanpa mau makan sesuatu. " Kamu kenapa?" Ucap Ziko sambil menikmati makanannya. " Saya mual tuan." Ucap Kevin pelan. Entah kenapa dia masih merasa ujung hidungnya ada kotoran wanita itu. Kevin menutup mulutnya. Dia merasa mual ketika melihat majikannya makan dengan lahap. " Apa kamu tidak mau makan sesuatu?" Ucap Zira menawari. " Tidak terima kasih." Ucap Kevin menolak. Zira memanggil pelayan dengan menggunakan telepon yang di sediakan di dalam ruangan itu. Seorang pelayan datang ke dalam ruangan itu. Dan lagi-lagi wanita itu yang datang. " Ada yang bisa saya bantu." Ucap wanita setengah genre itu. " Bisa buatkan minuman hangat untuk bapak ini." Ucap Zira cepat sambil menunjuk Kevin. Kevin menggerakkan tangannya ke kanan dan ke kiri menolak tawaran Zira. Dia tidak mau makan ataupun minum dari rumah makan itu. " Baik nona." Ucap wanita setengah genre sambil keluar dari ruangan itu. Kevin beranjak dari kursinya dan mengikuti wanita setengah itu. " Hey enggak usah kamu buatkan aku minuman apapun. Aku tidak akan minum sama sekali." Ucap Kevin cepat. " Memangnya kenapa?" Ucap wanita itu heran. " Karena kamu jorok. Hidungku masih terasa bau taik kamu." Ucap Kevin cepat. Wanita itu tertawa terbahak bahak sambil memegang perutnya. Dia tidak menyangka pria di depannya masih menganggap candaannya sebuah kebenaran. " Apanya yang lucu?" Ucap Kevin bingung. " Kamu." Masih terdengar gelak tawa wanita itu. Dia tidak kuat menahan tawanya. " Hey jangan tertawa terus. Tidak baik tertawa terus kamu bisa kesurupan nanti." Ucap Kevin khawatir juga. " Buahahhaha." Wanita itu kembali tertawa ketika Kevin mengatakan kesurupan. Kevin menarik tangan wanita setengah genre itu. Dia membawa masuk ke dalam ruangan makan mereka. Menurutnya yang bisa mengobati kesurupan wanita itu adalah Zira. " Ada apa Vin?" Ucap Ziko cepat. " Dia kesurupan?" Ucap Kevin cepat. Wanita itu tambah tertawa terpingkal-pingkal, dia sudah tidak bisa menahan tawanya. " Wah ini beneran kesurupan." Ucap Ziko ikut panik. Semua yang berada di ruangan itu pada ketakutan. Hanya Zira yang bisa bersifat tenang. Kevin dan Ziko menjauh takut. Begitupun dengan Zelin dan Koko semuanya berdiri di pojok. Ziko tidak sadar dengan istrinya yang masih duduk di atas kursi menikmati makanannya. " Sayang cepat habiskan makananmu. Sepertinya wanita kesurupan itu mengincar makananmu." Ucap Ziko asal sambil melambaikan tangannya agar ikut menjauh. Wanita itu kembali tertawa mendengar ucapan seseorang (Ziko) yang mengatakan dirinya masih kesurupan. Zira beranjak dari kursinya bukan berjalan kearah suaminya, dia mendekati wanita itu. " Sayang kesini." Ucap Ziko lagi. Zira tidak menghiraukan, dia mendekati wanita itu. Melihat tajam mata wanita itu. " Kamu tidak seperti orang kesurupan kamu hanya tertawa." Ucap Zira pelan. Wanita itu menganggukkan kepalanya pelan. Di saksikan semuanya. Mereka yang berada di ruangan itu mulai berasumsi sendiri-sendiri. " Kak Zira bisa berkomunikasi dengan arwah." Ucap Zelin pelan. Beda lagi dengan Koko dia membuat asumsi sendiri. " Nona tanyakan nomor berapa besok yang keluar?" Ucap Koko pelan. Kalo Ziko yang benar-benar aneh. Tanpa pikir panjang terlontar di mulutnya sesuatu yang membuat si wanita tertawa lagi. " Sayang, tanyakan jenis kelamin anak kita apa?" Ucap Ziko asal. Wanita setengah genre tadi yang sudah mulai diam kembali tertawa terbahak-bahak mendengar kalimat yang terlontar dari mulut Ziko. Zira langsung membalikkan badannya ke arah suaminya. " Apa kamu kira dia mesin USG sampai harus bertanya jenis kelamin segala." Gerutu Zira. Zira kembali melihat wanita itu. Dan berbisik sesuatu kepada wanita itu. " Mereka semua paling takut kalau mengenai kesurupan. Jadi bantu aku untuk membuat akting kamu berhasil kita kerjain mereka semua." Ucap Zira sambil berbisik. Zira membisikkan sesuatu ketelinga wanita itu. Mereka berakting mengeluarkan arwah dari dalam tubuh wanita itu. Wanita itu langsung setuju. Zira memegang kepala wanita itu sambil komat kamit. Ziko dan Kevin bergidik melihat itu. " Tuan sepertinya nona Zira sedang baca mantra." Ucap Kevin cepat. " Ssstt diam, ini bukan baca mantra tapi sedang menghafal perkalian." Ucap Zira asal. Kevin diam, menurutnya mungkin itu cara baru mengeluarkan arwah dari tubuh seseorang dengan menanyakan perkalian. Zira kembali berakting dengan memegang kepala wanita itu sambil komat kamit, dan wanita itu juga ikut berakting sambil berteriak. Wanita itu sudah tidak tertawa lagi. Dia sudah bisa mengontrol ketawanya. Yang ada di ruangan itu merasa lega ketika melihat pelayan itu sudah kembali normal. Semua bertepuk tangan melihat aksi Zira mengatasi orang kesurupan. " Pasukan Avengers bukan hanya memberantas kejahatan tapi juga bisa memberantas kesurupan." Ucap Ziko bangga dengan istrinya. Pelayan itu keluar dari ruangan. Keluar dengan hati yang gembira dan lucu. Menurutnya orang bisa bertindak konyol ketika melihat seseorang kesurupan. " Like, komen dan Vote yang banyak ya terimakasih." Chapter 237 episode 236 (S2) Mereka telah selesai makan siang. Semua kembali ke mobil masing-masing, semua posisi tetap sama. Zelin dan Koko dalam satu mobil. Trio kwek-kwek di mobil yang lainnya. Mobil sudah meninggalkan rumah makan itu dan kembali ke gedung Raharsya group. Di dalam perjalanan belum ada percakapan antara tiga orang itu. Yang terlihat hanya tingkah Zira yang bergelayut manja di ketiak suaminya. " Kamu suka bau deodoran micinku." Ucap Ziko mengelus rambut Istrinya. Zira menganggukkan kepalanya sambil tetap bergelayut manja di situ. " Vin, ngomong-ngomong kenapa kamu membawa pelayan kesurupan itu ke dalam ruang makan kita. Seharusnya kamu membawanya ke manager rumah makan itu." " Memangnya kenapa sayang?" Ucap Zira pelan. " Kan pelayan itu bukan tanggung jawab kita kenapa dia langsung membawa ke tempat kita. Aneh aja lihat tingkah si Kevin yang tiba-tiba sok perhatian seperti itu." Ucap Ziko cepat. " Ayo jawab Vin. Jangan pura-pura amnesia." Ucap Zira asal. Kevin belum menjawab pertanyaan bosnya. Dia bingung harus menyusun kalimatnya. Dia sudah bisa membayangkan olokan yang akan di berikan kepada dirinya. " Ayo cepat." Ucap Ziko lagi. " Sebenarnya wanita itu yang menyiram air ke wajah saya dan yang merusak mobil anda." Ucap Kevin pelan. " Apa!" Ucap Ziko kaget sambil duduk tegak. Prok, Zira langsung memukul paha suaminya dengan keras. " Kenapa kamu memukul suamimu." Gerutu Ziko. " Kamu kalau kaget kasih tau dong, telingaku bisa budek mendengar teriakanmu." Ucap Zira cepat. " Oh maaf sayang." Rayu Ziko sambil menciumi wajah istrinya. Kevin selalu akting batuk kalau melihat dua orang yang lagi di mabuk kepayang itu. " Vin, batukmu kok pakai musiman ya?" Ucap Ziko berhenti menciumi istrinya ketika mendengar batuk asistennya. Zira sudah duduk normal tidak bersandar pada ketiak suaminya. Dia menyandarkan dagunya ke bahu suaminya. " Ya tuan. Batuk ini ada alarmnya." Ucap Kevin asal. " Lanjutkan kenapa kamu membawa pelayan tadi?" Ucap Ziko lagi. Kevin sebenernya ingin melarikan pembicaraan mengenai hal lain. Dia merasa malu jika mengatakan sebenarnya. " Hemmmmm, sebenarnya tadi saya berdebat dengan dia. Dan saya melaporkannya ke manager rumah makan itu. Tapi ketika saya melaporkannya, malah saya yang kena batunya. Dia mengatakan hal gila. Dia bilang kepada managernya kalau saya minta balikan samanya." Ucap Kevin pelan. " Apa!" Ucap Zira teriak di samping telinga suaminya. Ziko kaget dan memegang telinganya, telinganya seperti mendapatkan dentuman keras. " Sayang apa kamu ada dendam tersendiri?" Ucap Ziko memegang telinganya. " Maaf sayang aku kaget juga." Ucap Zira lagi pelan. " Sayang kenapa teriakan kamu kencang banget apa itu juga jurus yang dj ajarkan Thanos kepadamu." Ucap Ziko asal. Dia merasa teriakan istrinya betul-betul kencang melebihi toa. Zira dan Ziko kembali melihat ke depan. Melihat si pengemudi mobil tersebut. " Serius kamu Vin? Sepertinya aku harus berguru dengannya." Ucap Zira cepat. Ziko yang melihat ke depan langsung melihat ke arah istrinya. Melihat dengan mengernyitkan dahinya sambil menyengir. " Jangan mengada-ada kamu? Sudah cukup ilmu yang di ajarkan Thanos kepadamu, jangan kamu berguru lagi dengannya. Semua ilmu sudah kamu kuasai, ilmu semua bahasa bisa, ilmu bisnis sudah, apalagi ilmu bela diri itu juga sudah. Dan terakhir ilmu mengeluarkan arwah juga bisa. Heran kenapa semua hal kamu bisa tapi ada yang tidak bisa kamu lakukan?" Ucap Ziko cepat. " Apa?" Ucap Zira penasaran. " Ilmu buat anak." Ucap Ziko genit. Kevin langsung batuk lagi ketika mendengar kata-kata bosnya. Menurutnya dia harus mengeluarkan alarm batuknya dengan segera agar tidak terjadi hal-hal yang tidak di inginkannya, jika hal itu terjadi jiwa jomblowatinya ikut memberontak. Ziko tidak jadi melakukan aksinya. Dia teringat tentang sesuatu akan percakapannya yang terputus. " Hebat betul pelayan itu, dengan cepat bisa menaklukkan kamu ya." Ucap Ziko cepat sambil manggut-manggut. " Maksud tuan menaklukkan apa?" Ucap Kevin lagi. " Ya dengan cepat dia bisa membaur bersama kamu. Secara aku kenal dengan kamu lama. Kamu sama dinginnya dengan aku. Tapi entah kenapa kamu bisa mencair dengan wanita." Ucap Ziko penasaran. " Sebenarnya itu karena istri anda tuan?" Ucap Kevin pelan. " Apa! Jangan bilang kalau kamu juga suka dengan istriku." Ucap Ziko cepat. Tuan kalau saya boleh jujur, saya memang jatuh hati dengan istri anda bahkan semua pria pasti akan menyukai sosok wanita seperti nona Zira, cantik, kaya, pintar dan rendah hati. Jarang wanita seperti itu. Dan anda sangat beruntung memilikinya. " Maksud saya, semenjak nona Zira datang semuanya berubah. Banyak perubahan yang kita dapatkan. Salah satunya aksi kocak nona Zira." Ucap Kevin pelan. " Iya kamu benar, semenjak dia masuk ke dalam kehidupanku, semuanya berubah. Aku sampai heran kenapa dia bisa mendapatkan banyak kosa kata sebanyak itu. Jangan-jangan kamu nelan kamus bahasa ya?" Ucap Ziko cepat sambil melihat istrinya. " Buahahhaha." Hanya terdengar gelak tawa dari Zira. Kosa kata yang banyak membuatnya semakin di cintai suaminya. Mobil tetap bergerak seperti jarum jam yang tidak pernah berhenti detiknya. Keheningan kembali tercipta setelah percakapan itu. Suara mesin mobil terdengar cukup jelas di telinga mereka sampai Zira kembali bertanya sesuatu. " Siapa nama gadis itu?" Ucap Zira penasaran. " Saya tidak tau namanya nona, saya hanya memberikan sebuah julukan untuknya." Ucap Kevin pelan. " Apa julukan yang kamu berikan kepadanya?" Ucap Zira penasaran. " Wanita setengah genre." Jawab Kevin. " Buahahhaha, bisa-bisanya kamu memberikan julukan seperti itu kepadanya. Kenapa kamu memberikan julukan seperti itu kepadanya?" Ucap Zira penasaran. " Ya karena dia memang pantas untuk itu." Jawab Kevin cepat. Jawaban Kevin tidak cukup menjelaskan sesuatu. Tapi biarlah julukan itu bersemayam di dalam ingatan pria itu. Menurutnya sebuah julukan di berikan seseorang kepada orang lain itu merupakan pertanda akan adanya suatu ikatan. Seperti dirinya dahulu memberi julukan kepada suaminya ubi kayu dan kebalikannya Ziko memberikan julukan kepada dirinya mulut micin. Dengan julukan itu mereka semakin dekat satu sama lain. " Oh iya bagaimana dengan jadwal artis idola ku?" Ucap Zira mengingatkan sesuatu sambil melirik suaminya. " Vin, bagaimana?" Ziko membalikkan pertanyaan kepada asistennya. Duh kenapa masih di ingatkan sih. Paling males kalau sama urusan mengidam yang satu ini. " Nanti saya kabari tuan, saya sudah mendapatkan informasi kalau artis idola anda sudah sampai ke sini. Saya akan membuat jadwal untuk bertemu dengannya." Ucap Kevin asal. " Serius kamu Vin? Aku akan berdandan secantik mungkin kalau perlu berdandan mirip dengannya." Ucap Zira menghayal. " Ssstt jangan kamu samakan diri kamu dengannya. Aku lebih suka kamu apa adanya tanpa merubah sesuatu apapun. Boleh mengidolakan artis itu, tapi ingat ada batasnya. Jangan terlalu menyanjungnya, karena dia sama seperti kita sama-sama manusia. Hanya Tuhan yang wajib kita sanjung." Ucap Ziko menasehati istrinya. " Siap Pak ustadz laksanakan. Nanti aku datang pake daster aja." Ucap Zira sambil memberi hormat kepada suaminya seperti seorang tentara. " Aih jangan pakai daster juga kali. Kenapa kamu enggak pakai baju tidur sekalian." Gerutu Ziko. Gelak tawa Zira terdengar ringan. Dia tau kalau suaminya berkata seperti itu karena suaminya tidak ingin melihat istrinya jelek dan tidak mau berdandan terlalu berlebihan. Karena menurutnya berdandan cantik hanya di perbolehkan untuk suaminya. " Like, komen dan Vote yang banyak ya terimakasih." Chapter 238 episode 237 (S2) Senja sudah menepi ke peraduannya. Walaupun senja hanya sejenak. Namun senja meninggalkan rasa hidup yang teramat indah. Sepasang suami istri sudah kembali ke mansion menikmati waktu berduanya di kamar. Waktu kebersamaan dengan pasangan adalah kisah yang membuat siapapun tersenyum ketika mengingatnya di hari tua. Setiap kebersamaan pasti akan berakhir, tapi semua kenangan indah itu akan tetap abadi selamanya. " Sayang, perut kamu sudah mulai membesar, aku jadi tidak sabar menunggu kehadirannya." Ucap Ziko mengecup perut istrinya. " Sama aku juga tidak sabar ingin menggendong anak kita." Ucap Zira mengelus rambut suaminya. " Berarti tinggal berapa bulan lagi lahirannya?" Ucap Ziko penasaran. " Perkiraan dokter sembilan bulan sepuluh hari tinggal kamu kurang aja berapa bulan lagi. Tapi enggak tau juga." Ucap Zira pelan. Suara ponsel Ziko berdering. Zira mengambil ponsel suaminya yang berada di atas nakas sambil melihat layar ponsel suaminya. " Siapa?" Ucap Ziko cepat sambil mengulurkan tangannya. " Kevin." Ucap Zira menyerahkan ponsel suaminya. Ziko beranjak dari kasur dan menerima panggilan tersebut. " Ya halo. Ada apa?" Ucap Ziko cepat. " Maaf tuan mengganggu, malam ini bisa datang ke restoran X." Ucap Kevin dari ujung ponselnya. " Ngapain?" Ucap Ziko lagi. " Tuan, apa lupa jadwal ngidam nona Zira kan malam ini." Ucap Kevin mengingatkan. " Serius kamu? Apa semua sudah di persiapkan?" Ucap Ziko lagi. " Sudah tuan, tinggal datang aja ke restoran X." Ucap Kevin. Kevin menjelaskan semuanya dari ujung ponsel. Dari private room dan segalanya yang berhubungan dengan artis itu. Dan apa saja yang harus di kerjakan Ziko ketika bertemu dengan artis tersebut. Ziko manggut-manggut setelah mendengar penjelasan dari asistennya. Setelah itu panggilan tertutup. " Kenapa sayang?" Ucap Zira penasaran. " Ganti baju kamu, kita akan pergi keluar." Ucap Ziko memerintahkan Istrinya. " Enggak ah, aku malas keluar lagi, badanku capek." Rengek Zira. " Yakin capek. Kalau ketemu dengan idola kamu? Apa kamu juga capek." Ucap Ziko memberi perumpamaan. " Ah yang bener sayang. Secepat itu aku bisa menemuinya." Ucap Zira antusias. Ziko menganggukkan kepalanya cepat. Zira mengecup bibir suaminya tidak lupa mengucapkan terimakasih kepada suaminya karena telah menuruti permintaannya. Zira keluar dari ruang ganti dengan memakai gaun yang indah. Dia menggunakan makeup yang flawless warna senada dengan gaunnya. " Bagaimana penampilanku." Ucap Zira sambil menggerakkan gaunnya ke kanan dan ke kiri seperti peragawati. " Kenapa kamu terlalu formal sih. Pakai aja pakai yang biasa kamu gunakan. Enggak usah terlalu cantik di depan dia." Gerutu Ziko cepat. " Sayang, aku juga harus cantik dong. Jangan dia aja yang cantik. Kita harus bisa mengimbangi artis idola kita." Ucap Zira lagi. " Kamu sudah cantik sayang, jadi enggak usah kamu banyak berhias diri untuknya." Ucap Ziko cemburu. " Sayang, apa kamu cemburu?" Ucap Zira penasaran. Ziko tidak menjawab dia hanya menyelesaikan mengenakan pakaiannya. Ziko menggunakan pakaian yang kasual tidak sebanding dengan pakaian istrinya. " Sayang, kenapa kamu harus cemburu, dia kan wanita. Jadi biarkan aku berdandan seperti ini ya." Ucap Zira merayu suaminya. " Kalau makeup tidak masalah tapi pakaian harus kamu ganti, kita bukan seperti pasangan suami istri kalau kamu menggunakan gaun itu. Kita seperti majikan dan supir." Ucap Ziko protes. Karena tidak mau berdebat, Zira akhirnya mengalah dia mengganti pakaiannya dengan baju kasual. Dengan seperti itu mereka jadi sangat serasi. Mereka keluar dari mansion saling bergandengan tangan. Di luar sudah terparkir mobil lain. Seorang supir membukakan pintu mobil untuk mereka. " Aku akan menyetir sendiri." Ucap Ziko kepada supirnya. Si supir menyerahkan kunci mobil kepada majikannya. Zira sudah duduk di kursi depan di sebelah suaminya. Malam ini Ziko yang menyetir mobilnya sendiri tanpa ada Kevin di sisinya. " Sayang, asisten Kevin mana?" Ucap Zira pelan. " Dia sudah menunggu di sana." Ucap Ziko langsung menyalakan mesin mobil. Mobil sudah meluncur meninggalkan mansion menuju pusat kota. Jalanan tidak begitu padat dengan kendaraan sehingga mobil bisa melaju dengan lancar tanpa ada hambatan. Beberapa menit kemudian mereka sudah sampai di depan restoran X. Restoran yang cukup mewah. Lampu kristal berjejer di langit-langit restoran. Pelayan langsung mengantarkan mereka ke ruangan khusus yang telah di sewa Kevin untuk artis itu. Ada pemandangan yang aneh ketika masuk ke dalam restoran itu. Restoran itu sepi dari pengunjung. Mungkin restoran ini sengaja di sewa satu malam untuk artis idolaku. Dengan perasaan bahagia Zira masuk ke dalam ruangan khusus. Di dalam ruangan itu Zira agak heran karena ruangan itu hanya ada satu lampu yang menyala. " Sayang kenapa restoran ini seperti restoran remang-remang." Ucap Zira berbisik. " Sstt diam. Itu artis idola kamu duduk di pojok." Ucap Ziko menunjuk seseorang dalam remang-remang. " Sayang kenapa tidak ada bodyguard di sini." Ucap Zira lagi heran." " Sudah sapa saja artis idola kamu." Ucap Ziko lagi. " Aku menggunakan bahasa apa untuk menyapanya." Ucap Zira lagi. " Terserah kamu, mau gunakan bahasa apa?" Ucap Ziko pelan. " shubh sandhya mera naam jeera hai (Selamat malam nama saya zira)." Zira menunggu jawaban dari artis idolanya. " Sayang kenapa dia tidak bisa bahasa Hindi?" Ucap Zira penasaran. " Mana aku tau?" Ucap Ziko asal. Seharusnya dia paham bahasa Hindi. Tapi mungkin penyampaianku yang salah makanya dia enggak ngerti. " Good evening my name is zira (Selamat malam nama saya zira)." " Good evening too (Selamat malam juga)." Ucap artis idola itu. " Aih kenapa suaranya seperti alat musik bass." Gerutu Zira. Uhuk-uhuk, terdengar seseorang batuk dari pojok kursi. " Dia mungkin lagi batuk sayang." Ucap Ziko cepat. Zira berjalan ke pojok ruangan mendekati artis idolanya. " Sayang kamu ngapain ke situ?" Ucap Ziko cepat sambil mencegah istrinya. " Ssstt diam." Ucap Zira pelan sambil meletakkan jari telunjuk ke bibirnya. Zira berjalan mendekati artisnya. Dia merasa curiga. Prok, Zira memukul artis Idolanya itu dengan tas jinjing. " Sayang apa yang kamu lakukan?" Ucap Ziko cepat. " Aw sakit nona, ampun ampun." " Kevin. Ngapain kamu berdandan seperti banci?" Ucap Zira cepat. " Ini permintaan suami anda nona, saya hanya menjalankan perintah saja." Ucap Kevin sambil pelan. Zira melihat ke arah suaminya dengan tatapan mematikan. " Jadi kalian berdua ingin mengerjai aku ya?" Ucap Zira emosi. " Bukan seperti itu sayang, jujur aku tidak bisa memenuhi permintaan ngidam kamu yang itu. Jadi aku memerintahkan Kevin untuk pura-pura jadi artis idola kamu. Dan berdandan semirip mungkin dengan artis idola kamu." Ucap Ziko menjelaskan. " Cih, berdandan semirip mungkin. Ya mirip kalau aku lihatnya pakai sedotan." Ucap Zira kesal. " Jangan marah ya sayang. Aku jamin anak kita enggak akan ngences setelah melihat artis kw itu." Rayu Ziko sambil menunjuk ke arah kevin. " Bersihkan wajah kamu! Aku jijik lihat kamu seperti itu." Ucap Zira kesal. Dia masih emosi karena seharusnya hari ini adalah hari bahagianya karena dapat bertemu dengan artis idolanya. Tapi hari ini merupakan hari sial baginya. " Nona bagaimana penampilan saya. Apakah mirip?" Ucap Kevin lagi. " Mirip dari mananya, kamu itu malah mirip banci kaleng kerupuk." Gerutu Zira cepat. Ziko menarik tangan istrinya untuk duduk didekatnya. Dengan malas Zira menjatuhkan badannya di sebelah suaminya. " Maaf ya sayang, aku tidak tau harus berbuat apa. Aku pikir dengan kamu melihat dari jauh saja rasa ngidam kamu akan terpenuhi. Tapi aku tidak memikirkan kalau kamu bisa langsung paham kalau itu Kevin." Ucap Ziko heran. " Pastilah aku ngerti. Batuk musimannya itu yang membuat aku paham." Ucap Zira cepat. Ziko langsung menendang kaki Kevin. " Makanya jangan batuk." Ucap Ziko cepat. " Ya gimana lagi tuan, walaupun saya enggak batuk pasti nona Zira juga tau kalau saya artis dadakan. Secara suara saya sudah mirip alat musik bass sama seperti yang nona Zira ucapkan tadi." Ucap Kevin menjelaskan. " Sudahlah tidak usah di permasalahkan lagi tentang ngidamku. Aku hargai kerja keras kalian. Tapi ingat kalau sampai anakku ngences kalian berdua harus bertanggung jawab." Ucap Zira mengancam. Ada perasaan takut ketika mereka berdua mendapatkan ancaman seperti itu dari Zira. " Sayang kalau anak kita ngences apa kamu akan memanggil semua pasukan Avengers." Ucap Ziko asal. Ziko sengaja mengatakan seperti itu agar Istrinya bisa tersenyum lagi. " Bukan hanya pasukan Avengers yang akan aku panggil, Thanos dan kawan-kawannya juga akan aku panggil." Ucap Zira menggertak. Ziko dan Kevin mencari aman untuk tidak mengatakan apapun yang bisa menyinggung perasaan ibu hamil. Perasaan ibu hamil memang sedikit sensitif. Biarlah itu menjadi pelajaran buat mereka berdua. Belajar memahami dan belajar mengerti. " Like, komen dan Vote yang banyak ya terimakasih." Chapter 239 episode 238 (S2) " Nona bagaimana penampilan saya?" Ucap Kevin lagi. " Cih, jijik tau. Aku itu tambah mual lihat kamu seperti itu. Cepat bersihkan wajah kamu." Gerutu Zira marah. Kevin beranjak dari kursi, berjalan menuju toilet. Langkahnya terhenti ketika ada suara Zira lagi menahan langkahnya. " Tunggu." Ucap Zira cepat. Kevin berhenti dan membalikkan badannya. " Iya nona?" Kevin berhenti tepat di depan Ziko dan Zira. Zira beranjak dari kursinya mengelilingi pria tersebut. Zira melihat dari atas sampai bawah. " Gaun siapa ini?" Ucap Zira langsung. " Gaun dari butik nona." Ucap Kevin cepat. Kevin berdiri sambil menutupi bagian depannya agar tidak menyembul. " Serius kamu? Kenapa aku tidak bisa mengenal gaun hasil rancanganku." Ucap Zira lagi sambil melihat brand butiknya pada gaun yang di gunakan Kevin. " Ya mungkin karena Kevin yang pakai, jadi semua terlihat menonjol semua." Ucap Ziko ikut nimbrung. " Iyalah. Gaun ini seharusnya tidak terlalu ketat tapi kamu pakai jadi ketat banget. Dan itu lagi, kenapa balon di bawa-bawa." Gerutu Zira. Kevin melihat gaun yang di gunakannya. Sambil memperhatikan arti kata balon yang di ucapkan majikannya. " Maksud nona ini?" Ucap Kevin sambil menunjukkan lengannya. Zira menganggukkan kepalanya cepat. " Nona oh nona, ini bukan balon tapi otot. Sayakan atletis jadi otot lengan saya nongol seperti ini." Ucap Kevin membanggakan diri sambil memperagakan seorang binaragawan. " Cih, ini lagi. Apa yang kamu pakai? Kenapa kamu pakai celana training?" Ucap Zira protes. Kevin menggunakan gaun hasil rancangan Zira yang dengan model terusan. Dan ada belahan panjang di sampingnya. " Ini legging model terbaru nona." Ucap Kevin asal. " Aih kenapa kamu merusak hasil karyaku. Tidak seharusnya ini di padu padankan dengan training olah raga atau kamu sebut legging kekinian. Seharusnya biarkan belahannya gaunnya terlihat, bukan di tutupi." Ucap Zira komplen. " Maaf nona ini aurat." Ucap Kevin lagi. Prok, Zira memukul lengan Kevin dengan kuat. Karena telah merusak hasil karyanya. " Cepat ganti atau aku foto dan aku kirim ke Koko. Biar Koko terpesona dengan tingkahmu yang kemayu." Ancam Zira. " Dari tadi saya mau ganti tapi nona yang memanggil saya." Ucap Kevin kembali komplen. " Cih alasan aja. Cepat!" Ucap Zira teriak. Pasangan suami istri itu menunggu asistennya. Walaupun perasaannya kecewa tapi Zira cepat melupakannya. " Jangan marah-marah sayang, nanti kamu keriput." Ucap Ziko menasehati istrinya. " Biarin aja, kalau keriput nanti aku operasi plastik." Ucap Zira lagi asal. " Aih, memangnya operasi plastik bisa menghilangkan keriput?" Ucap Ziko penasaran. " Bisalah. Tapi bahannya apa dulu harus di sesuaikan sebelum mau operasi." Ucap Zira lagi. " Memangnya bahannya bukan plastik?" Ucap Ziko penasaran. " Ya plastik. Kalau bahanya dari plastik asongan berarti wajah kita di rubah mirip plastik asongan, atau yang lebih keren lagi bahan plastik untuk membuat ember." Ucap Zira asal. " Kalau bahan dari ember berarti wajahnya seperti ember dong." Ucap Ziko bloon. " Bukan ember tapi gayung." Ucap Zira asal. Ziko bergidik, entah apa yang di bayangkan ketika istrinya mengucapkan kata operasi plastik. Yang jelas operasi plastik itu sangat membahayakan itu pikirnya. " Stop sayang, mulai sekarang kamu tidak boleh marah-marah lagi. Aku tidak mau kamu keriput. Dan tidak mau kamu operasi plastik. Aku tidak bisa bayangkan wajah kamu mirip keranjang berlubang-lubang." Ucap Ziko bergidik lagi. Zira senang dapat mengerjai suaminya. Menurutnya suaminya bisa di kerjai. Padahal suaminya pintar tapi entah kenapa kalau istrinya bicara dia langsung yakin. Mungkin itu yang membuat Zira di sebut power of faces. Di lain sisi. Di jalan sempit dua orang kakak beradik itu saling mengobrol satu sama lain. " Dek, kakak tadi ketemu sama pria yang di halte." " Serius Kak? Dimana kakak melihat dia?" Ucap adiknya. " Di rumah makan. Tadi dia datang bersama teman dan istrinya. Dan kalau enggak salah namanya Kevin." Ucap Kakaknya menjelaskan. " Kevin? Namanya tidak asing, tapi di mana ya?" Gumam adiknya. " Kamu tau, tadi ada cerita lucu." Ucap kakaknya sambil menceritakan tentang akting kesurupan. Semua di ceritakannya dari pertanyaan yang di lontarkan pengunjung rumah makannya sampai cara mengeluarkan roh dari dalam tubuhnya juga di ceritakannya. Adiknya ikut tertawa membayangkannya. " Ngomong-ngomong kenapa kakak tau kalau mereka suami isteri." Ucap adiknya penasaran. " Gini dek. Kan ada lima orang nih yang datang. Tiga pria dan dua wanita. Kalau pria yang satu duduk di sebelah wanita yang berperan sebagai pengeluar arwah. Nah kakak perhatikan mereka mengenakan cincin yang sama. Pasti mereka suami istri. Wanita yang satu lagi masih keliatan muda. Dia duduk dekat dengan si klepon. Jadi itu pasti istrinya ataupun kekasihnya. Dan pria yang satu lagi lebih cocok jadi supir mereka." Ucap kakaknya menjelaskan. " Tunggu kak? Klepon itu siapa?" Ucap adiknya bingung. " Klepon itu si Kevin lah. Dia lebih cocok dengan nama itu. Nah kalau si supir ini entah kenapa wajahnya tidak asing. Kakak pernah melihatnya tapi sudah lama. Tapi dengan penampilan yang berbeda." Ucap kakaknya penasaran. " Dimana kakak melihat? Coba ingat-ingat." Kakaknya mencoba mengingat sesuatu. Dia memang sering melihat wajah-wajah baru yang berkunjung ke rumah makan atau ke cafe. Tapi dengan pria itu dia merasa penasaran. " Kalau kakak perhatikan dia mirip Cici. Pelanggan tetap di cafe koma, tempat kakak bekerja." Ucap kakaknya ragu. " Kok Cici? Apa hubungannya Cici sama pria di rumah makan itu?" Ucap adeknya bingung. " Jadi begini dek. Di cafe koma ada langganan tetap kami. Yaitu para banci mereka berenam. Mereka berdandan layaknya seorang perempuan. Tapi mereka tidak menjual diri mereka. Mereka hanya melakukan hobi saja." Ucap kakaknya menjelaskan. " Sepertinya kakak paham betul dengan tamu kakak itu." Ucap adeknya bingung. " Pahamlah. Mereka sendiri yang cerita. Mereka mempunyai pekerjaan hebat di siang hari. Dan malam mereka hanya nongkrong di cafe tanpa melakukan apapun. Pokoknya mereka bersenang-senang di sana. Dan yang kakak tau mereka tidak boleh saling menyukai sama kelompok mereka. Itu peraturannya. Tapi itu dulu ya. Sekarang kakak perhatikan Cici tidak pernah datang ke cafe koma lagi. Grup itu juga tinggal 3 orang. Enggak tau kenapa." Ucap kakaknya menjelaskan. " Mungkin mereka sudah bertaubat kak?" Ucap adiknya lagi. " Mungkin juga. Tapi enggak tau juga, apa yang di rumah makan itu Cici apa bukan. Karena kakak juga belum pernah melihat Cici versi prianya. Tapi kalau dari cara bicaranya mirip Cici sih." Ucap kakaknya. " Ya sudahlah kak. Itu urusan mereka dan kehidupan mereka. Yang penting jangan pernah ikut campur. Jadi ngomong-ngomong gimana hasil wawancara kakak di Perusahaan jasa itu?" Ucap adiknya lagi. " Belum tau nih. Mungkin besok mereka akan menghubungi kakak. Tapi kalau tidak ada yang menghubungi balik berarti kakak enggak di terima." Ucap kakaknya pelan. " Ya sudah. Di terima atau tidaknya aku tidak mempermasalahkan, yang penting aku sudah bekerja. Dari hasilnya cukup untuk membiayai hidup kita sebulan." Ucap adiknya menyemangati kakaknya. Walaupun sudah sering adiknya melarang kakaknya untuk bekerja tapi tetap di lakukannya. Karena dia merasa tanggung jawab ada di tangannya. Berperan sebagai orang tua dan menjadi tulang punggung pernah di lakukannya. Menurutnya tidak ada masalah kalau dia tetap bekerja sediakala. " Like, komen dan Vote yang banyak ya terimakasih." Chapter 240 episode 239 (S2) Zira dan suami sudah kembali ke rumahnya. Jadwal yang hari ini bertemu dengan artis idolanya. Harus pupus di tengah jalan, karena semua tidak dapat di penuhi oleh suami tercinta. Zira membaringkan tubuhnya terlebih dahulu. Hari yang cukup melelahkan pikirannya. Lebih baik dia beristirahat sebelum suaminya masuk itu pikirnya. Ziko belum masuk ke dalam kamar. Dia masih berbicara dengan orang tuanya. Membahas acara empat bulanan. Walaupun yang mempersiapkan orang tuanya, tapi calon kakek dan nenek itu tetap menayangkan hal-hal lain yang diperlukan anaknya. Setelah berbicara panjang lebar dengan orang tuanya. Ziko kembali ke kamar, menemukan istrinya sudah terlelap. Wajah yang bersih nan indah terlihat jelas di wajah istrinya. Auranya cukup kuat, membuat Ziko terlalu terpesona memandang bidadarinya. Ziko memeluk tubuh istrinya, dan mengecupi perut dan bibir istrinya. Zira terbangun dari tidurnya karena mendapatkan gangguan dari sang suami. " Kenapa sih?" Ucap Zira malas dengan mata setengah terbuka. " Aku cinta kamu." Ucap Ziko membisikkan ke telinga istrinya. " Hemmmm." Ucap Zira pelan sambil menutup matanya lagi. " Aku sayang kamu." Ucap Ziko lagi. " Hemmmmm." Zira malas untuk meladeni suaminya, dia lebih memilih untuk tetap tidur. " Aku ingin kamu dan aku ingin itu." Ucap Ziko pelan membisikkan ke telinga Istrinya. " Apaan sih." Ucap Zira cepat. Dia merasa ada sesuatu yang mengganjal, tangan suaminya sudah menempatkan posisi di bagian favoritnya. " Enggak aku capek." Ucap Zira cepat. " Sebentar aja, tadi siangkan enggak jadi di kantor. Jadi gantinya malam ini ya?" Rayu Ziko. " Enggak ah, aku capek." Ucap Zira menolak. " Sebentar aja, nanti apapun yang kamu minta aku turuti." Ucap Ziko lagi merayu istrinya. " Alah artis idola aja enggak bisa memenuhi malah mau tawarin yang lain." Sindir Zira. " Ya kalau itu jangan masuk hitungan dong. Yang masih bisa aku penuhi pasti aku penuhi. Tapi kalau seperti ketemu dengan artis lagi, lebih baik aku tidur di kamar mandi." Ucap Ziko cepat. " Ya udah tidur sana di kamar mandi." Ucap Zira lagi. Ziko tidak menghiraukan kicauan istrinya. Dia sudah menarik selimut dari tubuh istrinya. Dan melakukan kebiasaannya. Ada yang beda malam ini, Ziko melakukan jurus baru dalam melakukan pertempurannya yaitu jurus ngulek cabe. Permainan hanya berlangsung sebentar. Tubuh Zira merasa cukup lelah, apabila telah memenuhi hasrat suaminya. Tapi dia tidak merasa khawatir, karena sudah di jelaskan oleh dokter kandungan bahwa selama proses kehamilan akan merasa cepat lelah. Zira melirik suaminya, yang dengan cepat langsung tertidur pulas. " Sial, aku yang ngantuk berat kenapa dia udah tidur duluan." Gumam Zira. Zira memukul lengan suaminya dengan lembut. Tapi sang suami belum menunjukkan ada tanda-tanda kesadaran. " Dasar . Ayo bangun, kamu belum memenuhi permintaan aku." Ucap Zira cepat menggoyang-goyangkan lengan suaminya. " Apa, aku ngantuk nih." Gumam Ziko. " Bangun , anak kamu mau makan nih." Ucap Zira lagi. Si suami tetap saja masih tidur. Zira mulai berinisiatif mengganggu dengan berteriak di telinga suaminya. " Woi bangun dasar ." Teriak Zira. Ziko kaget dan langsung bangun dari posisi berbaringnya sambil memegang telinganya. " Kenapa harus teriak sih. Apa kamu selalu berteriak, seperti tukang parkir aja." Gerutu Ziko sambil memegang telinganya. Zira tertawa lucu ketika melihat ekspresi suaminya bangun tidur karena kaget. " Kamu sih banget, udah di bangunin masih aja molor. Susah banget bangunnya." Gerutu Zira lagi. " apaan sih? itu sejenis peluru bukan?" Ucap Ziko penasaran. " itu asal nempel molor, seperti kamu ketemu kasur langsung ." Ucap Zira komplen. " Ya udah kamu mau apa?" Ucap Ziko cepat agar bisa tidur kembali. " Aku mau makan mie instan." Ucap Zira cepat. " Mie instan yang macam mana?" Ucap Ziko bingung. Karena selama dia di rumah itu tidak pernah terlintas di benaknya nama makanan itu. Dia tidak ingat apakah pernah memakannya apa tidak. Zira membenamkan wajahnya dengan bantal. Dia heran dengan orang kaya di depannya. Menurutnya suaminya terlalu kaya sampai makanan alternatif untuk penunda lapar saja suaminya tidak tau. " Itu loh mie yang sering wara wiri di televisi." Ucap Zira lagi. " Owh mie itu. Aku tau, yang warna bungkusnya ada hitam merah putih dan warna apalagi ya." Ucap Ziko mengingat bungkus mie instan itu. " Udah enggak usah kamu pikirkan warna bungkusnya. Aku hanya mau isinya." Ucap Zira cepat. Ziko pergi meninggalkan istrinya sendiri di kamar. Dia pergi ke dapur mencari tempat mie instan itu berada. Semua laci di periksanya dan dia menemukan benda keriting itu ada di laci paling bawah bersamaan dengan makanan pokok lainnya. " Aha ketemu kamu, main sembunyi di bawah kamu ya." Ucap Ziko cepat. Beberapa menit kemudian Ziko sudah kembali ke kamar membawa nampan, diatas nampan ada tutup yang berbahan stainless. Ziko meletakkan nampan itu ke depan istrinya dan membuka tutup tersebut. Zira mengernyitkan dahinya sambil nyengir. " Apa ini?" Ucap Zira heran. " Mie instan." Ucap Ziko cepat. " Ya mie instan, tapi kenapa enggak di masak?" Ucap Zira bingung. " Lah kamu bilang mie instan, di situ tertulis mie instan." Ucap Ziko menunjuk tulisan yang tertera di depan bungkus merek mie tersebut. " Iya sayang tapi kenapa kamu memberi aku sama bungkusnya. Kalau seperti ini akupun bisa ambil sendiri ke dapur." Protes Zira. " Aih kenapa kamu yang protes? Seharusnya kamu bilang ke pada aku, kalau kamu mau mie instan masak. Bukan hanya mie instan jadi enggak salah dong kalau aku bawa yang itu." Ucap Ziko membela diri. Zira menepuk jidatnya dengan keras. Zira bingung, yang sebenarnya bodoh dia apa suaminya. Berdebat tidak akan membuat dia kenyang. Zira beranjak dari kasur dan turun ke lantai bawah menuju dapur. Dari belakang suaminya mengikutinya. " Kamu mau ngapain?" Ucap Ziko cepat sambil mengikuti langkah Istrinya. " Masak, tadi ada suami mau bunuh bayi dan istrinya." Sindir Zira. " Siapa yang mau membunuh?" Ucap Ziko belum loading. " Kamulah, kamu sengaja mau membunuh aku dan bayi kita dengan memberi makanan mentah." Ucap Zira komplen. " Aih sejak kapan aku mau membunuh, aku cuma mau memenuhi permintaan kamu." Ucap Ziko membela. " Suamiku tersayang coba kamu pikirkan dengan baik, apa mungkin ibu hamil makan mie instan mentah?" Ucap Zira cepat. " Mungkin saja." Ucap Ziko tetap pada pendiriannya. Zira malas berdebat, dia menyalakan kompor dan mulai memasak benda kerting itu. " Awas kalau kamu minta." Ancam Zira sambil melirik suaminya. " Enggak, aku tidak selera dengan makanan itu." Ucap Ziko lagi. Ziko memperhatikan cara istrinya masak. Zira memberikan potongan sawi dan cabe rawit ke dalam rebus mie tersebut. " Sayang itu sayur apa?" Ucap Ziko penasaran. " Rumput." Ziko mengernyitkan dahinya mendengar kata rumput. " Kenapa kamu memberikan rumput sama anak kita?" Ucap Ziko komplen. " Ssstt diam, jangan ganggu selera makanku." Ucap Zira sambil meniup sendok yang masih panas. Setelah dingin Zira menyuapi sendok itu ke dalam mulut suaminya. " Coba kamu cicip rumput ini." Ucap Zira cepat menyodorkan sendok ke arah suaminya. " Aku bukan sapi, kamu aja yang makan." Ucap Ziko cepat. " Ya sudah kalau enggak mau. Aku habiskan semuanya." Ucap Zira menikmati mie rebusanya dengan uap panas yang masih terlihat. Ziko menelan air liurnya, dia merasa seleranya makannya tergugah, aroma yang di keluarkan dari makanan tersebut sungguh tidak bisa di tolak apalagi uap panas yang masih keluar dari dalam mangkuk itu cukup menarik menurutnya. " Kenapa? Mau?" Ucap Zira melihat suaminya yang tidak berkedip sedikitpun. Ziko menganggukkan kepala dengan cepat. Dan menyambar mangkuk tersebut. Dia menikmati sesendok demi sesendok mie instan itu. Sampai tidak terasa makanan itu sudah kosong. " Aih kenapa di habiskan? Yang lapar aku yang makan kamu." Gerutu Zira cepat. " Enak sayang, ternyata rumput juga enak di makan dengan mie instan itu. Pantas saja sapi badannya gemuk-gemuk." Ucap Ziko ngelantur. " Iya tapi kalau besok pagi kamu berbicara aneh awas ya." Ucap Zira wanti-wanti. " Aneh gimana?" " Besok pagi jangan kaget, kalau bicaramu sedikit moooow." Ucap Zira mempraktekkan. " Maksudnya moooow apa?" Ucap Ziko bingung. " Ya nanti kamu sedikit-sedikit menjulurkan lidah seperti sapi." Ucap Zira mengerjai suaminya. Ada rasa tidak percaya ketika istrinya berkaitan seperti itu. Tapi entah kenapa ekspresi Zira ketika mengatakan itu cukup meyakinkan, jadi ada sedikit ketakutan ketika membayangkan kalau dirinya sering menjulurkan lidah. " Like, komen dan Vote yang banyak ya terimakasih." Chapter 241 episode 240 (S2) Pagi hari sang Surya sudah menunjukkan kemilau indahnya dengan warna merah dan oranye keemesan. Semua penduduk bumi melakukan aktivitasnya. Ada yang melakukan di luar rumah dan di dalam rumah. Seperti pasangan suami istri itu. Mereka melakukan aktivitas paginya. Seperti morning kiss dan ucapan romantis menyambut sang pagi juga terlontar dari mulut Ziko. " Jangan takut menyambut sang mentari, karena kau terbangun pagi ini untuk suatu tujuan yaitu bersamaku." Ucap Ziko memberikan kalimat romantis untuk istri tercinta. Zira selalu bahagia ketika mendengarkan kalimat romantis dari sang suami. Tiada yang indah selain belaian lembut dan kata-kata romantis itu. Zira tengah bersiap diri di ruang ganti pakaian. Ziko menghubungi Pak Budi melalui sambungan telepon yang ada di kamarnya. " Selamat pagi." Ucap Pak Budi menyapa. " Pagi Pak, saya minta di buatkan sarapan mie instan." Ucap Ziko. " Baik tuan muda." " Tunggu tambahkan rumput di dalam mie itu." Ujar Ziko lagi. Pak Budi merasa heran dengan permintaan majikannya. Menurutnya ada yang salah dengan permintaan terakhir. Tapi dia tidak berani mempertanyakan hal itu. Dia hanya berpikir kalau permintaan orang ngidam memang di luar nalar akal sehat. " Kamu sudah siap?" Ucap Ziko melihat istrinya sudah berdandan rapi. Zira menganggukkan kepalanya sambil menggandeng tangan suaminya. Mereka menuruni tangga dengan tetap bergandengan tangan. Di ruang makan hanya ada Zelin. Zelin sudah menunggu mereka sedari tadi. " Akhirnya sang pengaten nongol juga." Gerutu Zelin. " Mana mama dan Papa?" Ucap Ziko sambil melihat sekelilingnya. " Mama dan papa lagi berolah raga di taman." Ujar Zelin. Di atas meja makan sudah terhidang makanan tradisional. Semua seperti permintaan Istrinya. Semenjak Zira hamil, dia lebih suka dengan makanan tradisional. Menurutnya lebih sesuai dengan seleranya. Jadi Pak Budi dan pelayan lainnya selalu menyiapkan semua hidangan tradisional itu dengan berbagai menu. Zira mengambilkan nasi untuk suaminya. Dan menuangkan beberapa lauk pauk di atasnya sambil meletakkan di depan Ziko. " Sayang aku tidak makan ini. Kamu saja yang makan." Ucap Ziko sambil menggeser makanan itu ke depan istrinya. " Kalau kamu tidak sarapan, nanti kamu lemas loh. Apa kamu mau aku buatkan sesuatu?" Ucap Zira menawarkan. " Pak Budi sedang mempersiapkannya di dapur. Kamu makan saja tidak usah menunggu aku." Ucap Ziko lagi. Zira dan Zelin menikmati sarapannya tanpa saling berbicara, hanya terdengar suara sendok dan garpu yang sedang beradu di atas piring masing-masing. Sambil menunggu makanan, Ziko menyempatkan diri untuk membuka ponselnya. Melihat daftar chat yang lumayan panjang. Membaca dan membalas satu persatu itu merupakan hal yang membosankan. Tapi tetap di lakukannya untuk menghilangkan rasa bosannya di meja makan. Di dapur. Pak Budi memerintahkan pelayan untuk menyiapkan sarapan sesuai permintaan majikannya. Pelayan menyerahkan mangkuk yang berisi mie instan ke depan Pak Budi. Pak Budi mengecek isi mangkuk itu dan memerintahkan pelayan untuk menggantinya. " Apa yang salah Pak?" Ucap sang Koki. " Tidak ada yang salah, tapi tuan muda ingin ada tambahan rumput di dalam mie instan ini." Ucap Pak Budi sambil menunjuk isi mangkuk tersebut. " Rumput?" Koki itu menggaruk kepalanya. Selama dia bekerja di mansion itu, tidak pernah sama sekali terbersit majikannya minta sesuatu yang aneh-aneh. Tapi sekarang di luar akal sehatnya, sang majikan minta di masakan rumput. Dan rumput selama dia belajar sekolah masak memasak sampai sekarang tidak pernah di olah menjadi makanan lezat apapun. Tapi pagi ini dia baru tau ternyata rumput bisa di makan, dan itu juga dari sang majikan. Pak Budi memerintahkan pelayan untuk mencari rumput yang segar. Pelayan yang di perintahkan tidak bertanya sedikitpun. Dia berlari ke taman belakang sambil mencari rumput segar. Di taman belakang ada Nyonya Amel dan Tuan besar. Mereka berdua sedang berolahraga sambil memperhatikan pelayan sedang mencari sesuatu di atas rumput. Tuan besar melambaikan tangannya ke arah pelayan. Dengan segera si pelayan langsung berlari ke arah majikannya. " Kamu cari apa?" Ucap tuan besar dengan suara yang sedikit ngos-ngosan. Karena baru selesai lari keliling taman. " Pak Budi minta di carikan rumput segar." Ucap pelayan itu sopan. Tuan besar tidak menanyakan apapun lagi. Dia memerintahkan pelayan itu untuk melanjutkan pekerjaannya. Setelah mendapatkan rumput segar. Si pelayan kembali ke dapur dengan membawa si rumput hijau, menyerahkannya ke Pak Budi. " Masak ini dengan mie instan itu?" Ucap Pak Budi memerintahkan Koki. " Apa Bapak yakin?" Ucap Koki ragu. " Sudah lakukan saja, aku juga enggak terlalu yakin rumput di campur mie instan. Tapi ini permintaan tuan muda. Mungkin tuan muda lagi ngidam atau nona Zira yang ngidam mau makan rumput." Ucap Pak Budi menjelaskan. Pelayan yang ada di dapur mendengar percakapan itu. Mereka ingin tertawa tapi di tahan, karena sorotan tajam mata Pak Budi sudah memberi tanda kalau mereka semua tidak di perkenankan membuka mulut sama sekali. Setelah rumput di masak dengan mie instan. Koki menyerahkan mangkuk tersebut kepada Pak Budi. Dengan hati-hati di bawa ke ruang makan. Di dalam ruang makan, Zira dan Zelin sudah selesai menghabiskan sarapannya. Kedatangan Pak Budi dengan membawa nampan yang diatasnya ada mangkuk membuat Ziko meletakkan ponselnya. Dia mengakhiri semua kegiatan yang berhubungan dengan ponsel tersebut. Mangkuk di letakkan di depan Ziko. Ziko memperhatikan isi mangkuk tersebut, ada uap panas yang keluar dari dalam makanan itu. " Wah ada yang ngidam nih?" Ledek Zelin. " Sstt diam." Ucap Ziko sambil mengaduk mie instan itu. Zira memperhatikan dari samping tanpa melihat isinya. Sekilas dari samping tidak ada yang salah dengan makanan tersebut. " Apa kamu mau?" Ucap Ziko menawari istrinya. " Enggak, aku udah kenyang makanlah." Ucap Zira sambil memperhatikan suaminya. Ziko menyendokkan isi mangkuk tersebut dengan sendok garpu. Ketika Ziko ingin menyuapkan sendok itu ke dalam mulutnya. Zira melihat ada yang aneh di atas garpu tersebut. " Tunggu." Ucap Zira menahan suaminya. Ziko meletakkan garpu itu kembali dan menggeser mangkuk itu ke depan istrinya. Dia hanya berpikir kalau istrinya juga pengen makanan itu. Mangkuk itu di aduk Zira, dia melihat sayuran berwarna hijau yang aneh. Zira tidak bisa menebak sayuran apa itu. " Pak ini sayuran apa?" Ucap Zira kepada Pak Budi. Kebetulan Pak Budi ada di dalam ruang makan. " Rumput nona." Ucap Pak Budi cepat. " Apa! Rumput?" Teriak Zira. Begitupun dengan Zelin. Dia juga ikut kaget mendengar rumput bisa di masak. " Itu permintaan tuan muda." Ucap Pak Budi menjelaskan. " Buahahhaha." Kedua wanita yang berada di meja makan itu tertawa terbahak bahak mendengar ucapan Pak Budi sambil melirik ke arah Ziko. " Kak Ziko moooow." Tawa Zelin. " Apaan sih kalian?" Ucap Ziko bingung. Pak Budi juga bingung. Mereka berdua belum mengerti dengan arti tertawa dua wanita itu. " Sayang rumput tidak bisa di makan. Yang makan hanya sapi atau kambing. Apa kamu mau jadi sapi?" Ucap Zira sambil tertawa. " Apa! Bukannya kamu yang bilang tadi malam, pada saat masak mie instan." Ucap Ziko sewot. " Buahahhaha." Zira kembali tertawa terbahak-bahak. Dua wanita itu masih belum bisa mengontrol tawanya. Ziko menatap tajam wajah istrinya. Zira langsung menutup mulutnya rapat-rapat. Ia harus bisa mengontrol tawanya, karena tatapan suaminya sudah cukup menakutkan. " Maaf sayang, yang tadi malam aku masak itu sayur sawi bukan rumput." Ucap Zira merapatkan kedua tangannya. " Apa! Jadi kamu mengerjai aku?" Teriak Ziko. Zira menganggukkan kepalanya pelan sambil dengan gelak tawanya. Pak Budi ikut tertawa mendengar penjelasan Zira. Semua orang yang ada di ruang makan ikut tertawa lucu. Hanya Ziko yang manyun, dan pergi meninggalkan meja makan. Zira mengikuti langkah suaminya. Dia tau suaminya ngambek karena telah di permainkan. Ziko pergi berjalan ke ruang keluarga di ikuti Zira dari belakang. " Sayang maafkan aku? Tidak seharusnya aku mempermainkanmu. Aku berpikir kamu mengerti tentang sayur mayur. Ternyata apa yang aku ucapkan langsung kamu praktekan." Rayu Zira sambil memeluk tubuh suaminya. " Ya sudah cepat siap-siap, kita harus berangkat." Ucap Ziko pelan sambil mengecup bibir Istrinya. " Terimakasih sayang karena telah memaafkan sifat jahilku." Ucap Zira sambil berlalu meninggalkan suaminya. Zira pergi ke kamar mengambil tas dan beberapa keperluan lainnya untuk di bawa ke butik. Suaminya sedang menunggunya di ruang keluarga. Ziko memang marah karena telah di kerjain istrinya. Tapi dia sadar semua karena ketidakpahaman dirinya tentang dunia dapur. Jadi egois jika dia langsung marah kepada Zira. Karena semua hanya gurauan belaka dari istrinya, tapi langsung di ambil serius olehnya. Menurutnya belajar bukan hanya di dunia pendidikan saja. Banyak pelajaran yang harus di ketahui, salah satunya jangan cepat langsung percaya dengan ucapan seseorang tanpa menelaahnya terlebih dahulu. " Like, komen dan Vote yang banyak ya. Biar semangat updatenya." Chapter 242 episode 241 (S2) Mobil sudah meluncur ke jalanan meninggalkan mansion mewah itu. Tidak ada percakapan di antara mereka bertiga. Mereka fokus dengan kegiatan masing-masing. Kevin fokus mengendarai kendaraannya. Dan Ziko fokus dengan mengelus perut istrinya. Kevin mengantarkan Zira terlebih dahulu ke butik. Karena jalur mereka yang berlainan arah. Zira telah di antar ke butik. Tinggal mereka berdua di dalam mobil. " Vin, apa kamu suka mie instan?" Ucap Ziko. " Suka, memangnya kenapa tuan?" Jawab Kevin. " Apa kamu pernah menambahkan sayuran di dalam mie instan tersebut." Ucap Ziko lagi. " Suka tuan, apalagi pakai sayur sawi enak loh tuan." Jawab Kevin menjelaskan. Ziko ingin mengerjai asistennya balik. Tapi dia ragu, karena Kevin bisa menyebutkan nama sayur. Jadi menurutnya Kevin lebih pintar tentang urusan dapur dari dirinya. " Memangnya kenapa tuan? Apa anda juga suka mie instan?" Ucap Kevin balik. " Suka, apa kamu pernah menambahkan rumput di dalamnya?" Ucap Ziko iseng. " Maksud tuan? Rumput untuk makanan sapi?" Ucap Kevin ragu? " Iya, apa kamu pernah mencobanya?" Ucap Ziko mulai jahil seperti istrinya. " Belum pernah tuan, karena setau saya rumput itu hanya untuk hewan. Saya kan manusia mana mungkin makan rumput." Jawan Kevin pakai logika. " Ya betul, tapi ada anak sapi juga minum susukan? Walaupun susu ibunya tapi tetap minumkan. Sama halnya dengan manusia, kita juga minum susu walaupun itu dari hewan. Apa kita juga bisa di katakan hewan juga?" Ucap Ziko memberi perumpamaan. " Jadi maksud tuan, rumput itu bisa di olah juga jadi makanan manusia?" Ucap Kevin bingung. " Ya bisa. Aku juga baru tau dari istriku. Kamu coba saja nanti. Nanti kamu bisa rasakan sensasi yang berbeda dari rumput itu." Ucap Ziko cepat. Ziko ingin asistennya juga merasakan gimana rasanya di kerjain. Menurutnya Kevin sama dengan dirinya. Sama-sama tidak paham dengan dunia sayur mayur. " Tuan bukan sedang mengerjai aku kan?" Ucap Kevin cepat sambil melirik dari kaca mobil. " Ya enggak lah." Ucap Ziko gugup. " Kalau kamu tidak percaya dengan ucapanku tidak masalah. Tapi apa kamu tidak percaya juga dengan omongan istriku." Ucap Ziko meyakinkan. " Waduh, justru itu saya enggak percaya. Saya harus waspada dengan ucapan nona Zira. Dan harus bisa membedakan antara yang benar atau rekayasa. Masih ingat di benak saya tentang ngidam menjitak preman, sudah mempersiapkan sedemikian rupa dari mengumpulkan preman sampai acara pengajian. Tapi ternyata hanya sebuah tes belaka." Gerutu Kevin dengan keluh kesahnya. Kenapa lebih pintar si Kevin dari pada aku. Aku dengan gampang langsung percaya aja sama omongan istriku. Apa mungkin aku jadi bodoh karena terlalu mencintainya sehingga semua ucapannya benar. " Ini benar." Ucap Ziko menyakinkan. " Bagaimana kita tanding, siapa yang bisa memakan rumput dengan mie instan akan mendapatkan hadiah. Yang kalah mendapatkan hukuman." Ucap Kevin memberikan ide konyolnya. Kevin sengaja membuat ide konyol itu untuk membuktikan kalau dia tidak bisa di kerjai. Dengan tantang ini akan terlihat apakah rumput itu termasuk dalam kategori sayur atau tidak. " Baik, aku tantang kamu makan rumput dengan mie instan. Kalau aku menang, kamu harus mengikuti semua kemauanku, tidak ada penolakan. " Kalau saya yang menang bagaimana?" Ucap Kevin lagi. " Akan aku naikkan gaji kamu 5 kali lipat." Ucap Ziko meyakinkan. " Baik saya setuju. Dan siapa jurinya?" Ucap Kevin lagi. " Istriku yang akan jadi juri. Dan dia yang akan memasak mie instan itu untuk kita." Ucap Ziko. " Boleh saya membuat permintaan?" Ucap Kevin agak ragu. Ziko menganggukkan kepalanya cepat. " Bolehkah perlombaan makan mie itu hanya di saksikan juri saja, tidak ada yang lain." Ucap Kevin pelan. Kevin malu jika harus di saksikan penghuni mansion apalagi pertandingannya tidak lazim. Secara dia manusia normal. Tapi semua itu ide konyolnya, mau tidak mau dia harus melakukannya. " Kenapa apa kamu malu?" Ucap Ziko lagi. " Malu lah, kalau nona Zira yang lihat saya enggak akan malu tapi kalau sampai Nyonya besar dan Tuan Besar yang lihat. Mau di letak dimana ini wajah." Ucap Kevin membayangkan ide konyolnya. Ziko memikirkan hal yang sama. Dia juga malu kalau sampai di tonton semua penghuni mansion. Pasti akan teramat malu di olok-olok sebagai si moooow nantinya. " Baiklah, kita lomba di rumah kamu saja. Tidak ada orang di sana. Jadi kita tidak akan malu." Ucap Ziko lagi. Mereka berdua setuju dengan kesepakatan pertandingan nanti malam. Mereka tinggal menunggu keputusan juri apakah bisa ikut berpartisipasi apa tidak. Mobil sudah sampai di depan pintu loby. Seorang sekuriti membukakan pintu mobil Ziko. Ziko memasuki gedung itu dengan gagah perkasa diikuti asistenya dari belakang. Suasana di loby pada pagi itu cukup ramai. Bukan ramai staf perusahaan tapi ramai orang baru yang menggunakan seragam berwarna biru dan celana biru. Ketika Ziko dan Kevin masuk ke dalam loby, semua mata tertuju pada mereka berdua. Secara mereka adalah orang paling ganteng, yang mempunyai kharismanya luar biasa, kharisma itu yang membuat kaum hawa terpesona. Ziko dan Kevin masuk ke dalam lift khusus presiden direktur. " Kenapa ramai sekali di loby. Apa hari ini ada kunjungan kerja dari sekolah-sekolah." Ucap Ziko penasaran. " Sepertinya tidak ada jadwal kunjungan dari sekolah bulan ini. Dan kalau dari seragam tadi, sepertinya mereka bukan dari sekolah." Ucap Kevin seperti pernah melihat seragam biru itu. Pintu lift terbuka. Ziko dan Kevin keluar bersamaan, menuju ruangan Presiden direktur. Di dalam ruangan Presiden direktur. " Kamu cari tau, ada kepentingan apa seragam biru itu ke perusahaan kita." Ucap Ziko memerintahkan. " Baik tuan." Kevin pamit keluar menuju ruangannya. Di dalam ruangannya dia langsung menghubungi pihak HRD. " Selamat pagi dengan Human Resource Departement." Ucap salah seorang dari ujung ponselnya. " Selamat pagi. Saya mau bicara dengan Ibu Mery." Ucap Kevin cepat. " Saya Ibu Mery, ada yang bisa saya bantu Pak Kevin?" Ucap Ibu Mery. Ibu Mery langsung mengenal suara Kevin. Secara Kevin adalah orang kedua setelah Ziko. Powernya sama kuat dengan presiden direktur. Jadi tidak heran suaranya langsung cukup familiar di telinga para staf. " Bisa Ibu keruangan saya?" Ucap Kevin langsung. Setelah itu panggilan terputus. Beberapa menit kemudian suara pintu ruangan Kevin di ketuk. Tok tok tok. " Masuk." Ucap Kevin sedikit berteriak. Di depan pintu ada Ibu Mery. Beliau memegang handle pintu dan membukanya secara perlahan setelah mendapatkan instruksi untuk membuka pintu tersebut. " Selamat pagi Pak." Ucap Ibu Mery sopan. " Silahkan duduk." Ucap Kevin ramah. Ibu Mery menarik kursi yang ada di depannya dan duduk dengan sopan. " Saya lihat tadi di loby ada banyak orang, dan mereka semuanya berseragam berwarna biru." Ucap Kevin langsung. " Owh itu karyawan perusahaan jasa yang bekerjasama dengan perusahaan kita. Mereka mau mengganti personil mereka dengan personil yang baru." Ucap Ibu Mery menjelaskan. " Perusahaan jasa dalam bidang apa yang mengenakan seragam seperti itu." Ucap Kevin lagi. " Mereka menyalurkan karyawannya untuk menjadi cleaning service di perusahaan kita. Hampir semua perusahaan besar bekerjasama dengan perusahaan jasa itu." Ucap Ibu Mery menjelaskan. Kevin manggut-manggut, dia baru ingat kalau seragam warna biru itu sering wara-wiri di gedung itu, dengan peralatan kerja mereka. " Kenapa mereka harus mengganti personil lagi, bukannya karyawan yang lama tidak bermasalah." Ucap Kevin bingung. " Memang tidak bermasalah tuan, tapi mereka sistem kontrak. Mungkin sebagian mereka kontraknya habis atau sebagian lagi resign." Ucap Ibu Mery menjelaskan. " Apakah bisa terjamin kalau petugas cleaning service itu bisa di percaya?" Ucap Kevin ragu. " Seperti yang di jelaskan pihak perusahaan jasa itu. Sebelum mereka menerima karyawan baru. Mereka melakukan serangkaian test. Dan dari hasil tes yang lulus yang bisa di terima berkerja di perusahaan itu." Ucap Ibu Mery menjelaskan. " Baiklah, saya tidak mau ada masalah di kemudian hari. Ibu harus lebih sering memonitor. Dan untuk di lantai ini. Berikan beberapa Daftar riwayat hidup mereka kepada saya. Saya harus memilih siapa saja yang pantas untuk membersihkan di lantai ini." Ucap Kevin tegas. Kevin sengaja meminta daftar riwayat hidup untuk para cleaning service. Karena semua menjadi tanggung jawabnya, dan untuk lantai presiden direktur harus dipilih orang-orang khusus dan yang bisa di percaya. Tidak sembarang orang masuk ke dalam perusahaan itu apalagi untuk membersihkan ruangan Presiden direktur. Semua harus di pertimbangkan dan hanya orang terpilih yang bisa membersihkan ruangan itu. " Like, komen dan vote yang banyak ya. Biar tambah semangat updatenya." Chapter 243 episode 242 (S2) Ibu Mery kembali keruangan asisten Kevin dan menyerahkan beberapa daftar riwayat hidup para pekerja dari perusahaan jasa itu. " Terimakasih." Ucap Kevin sambil meletakkan tumpukan kertas di atas mejanya. " Saya permisi." Ucap Ibu Mery meninggalkan ruangan Kevin. Kevin hanya melihat tumpukan kertas itu, tanpa menyentuhnya sama sekali. Dia masih sibuk dengan pekerjaannya Di ruangan Presiden direktur. Ziko menghubungi istrinya. " Sayang apa kamu sibuk?" Ucap Ziko langsung. " Kenapa sayang?" Ucap Zira. " Nanti malam aku ada pertandingan dengan Kevin lomba makan mie instan." Ucap Ziko lagi. " Terus, hubungannya dengan aku apa dong?" Jawab Zira pelan. " Aku mau kamu jadi juri untuk perlombaan nanti." Ucap Ziko lagi. " Ok. Itu saja kan?" " Kamu harus memasakkan untuk kami dan tidak lupa menambahkan rumput di dalamnya." Ucap Ziko menjelaskan. " Apa! Rumput? Kamu jangan mengada-ada dong." Ucap Zira kaget. " Udah tenang saja. Aku akan menghabiskan mie instan itu dengan cepat. Biar Kevin mendapatkan hukuman dari aku." Ucap Ziko semangat. " Apa kamu yakin mau makan rumput itu?" Ucap Zira khawatir. " Tenang saja kamu enggak usah mengkhawatirkan apapun. Perutku pasti bisa menerima rumput itu." Ucap Ziko yakin. " Bagaimana aku bisa tenang, kalau kamu makan rumput terus sakit perut masih bisa di obati, tapi kalau gara-gara makan rumput itu kamu jadi moooow gimana?" Ucap Zira menakuti suaminya. Ziko terdiam, ada keraguan ketika istrinya mengatakan seperti itu. " Aku enggak mau masak untuk perlombaan itu dan aku tidak mau kamu makan rumput." Ucap Zira tegas. " Sayang jangan seperti itu dong. Apa kamu mau melihat wibawaku jatuh karena menolak perlombaan itu." Ucap Ziko merayu istrinya. " Makan itu wibawa? Pokoknya aku enggak mau." Ucap Zira lagi tegas dari ujung ponselnya. Dia tidak mau suaminya sakit perut jika makan rumput. Karena belum teruji manfaat yang terkadung di dalam rumput tersebut. " Sayang, aku tau kamu takut aku sakit. Tapi apa mungkin aku menolak tantangan itu. Kalau aku menolak berarti aku harus menaikkan gaji Kevin 5 kali lipat. Tapi kalau aku menang, Kevin akan menuruti semua permintaanku." Ucap Ziko menjelaskan. " Memangnya jika kamu menang, kamu mau minta apa sama Kevin." Ucap Zira penasaran. " Belum tau, aku belum memikirkannya." Ucap Ziko lagi. Zira memikirkan cara untuk memenangkan pertandingan nanti malam. Dan hukuman apa yang harus di terima Kevin nantinya. " Baiklah aku akan masakan rumput itu. Tapi dengan satu syarat ini yang terakhir kamu minta makan rumput. Kalau sampai kamu malam hari mengigau dengan menggunakan bahasa sapi atau kambing. Aku tidak akan mau tidur sama kamu lagi." Ucap Zira mengancam. Setelah itu panggilan terputus. Ada suara ketukan dari luar ruangan. Koko membuka pintu ketika ada sahutan dari dalam. " Bos, ada meeting dengan perusahaan minyak." Ucap Koko mengingatkan. " Hubungi Kevin untuk langsung menuju ruang meeting." Ucap Ziko cepat. " Baik tuan." Ucap Koko pelan sambil pergi meninggalkan ruangan itu. " Tunggu?" Ucap Ziko sedikit berteriak. " Iya Bos." " Apa kamu telah menjalin hubungan dengan adikku." Ucap Ziko penasaran. " Tidak bos, saya tidak menjalin hubungan apapun seperti perintah yang bos utarakan kemaren." Ucap Koko menjelaskan. " Baiklah. Jika kamu menjalin hubungan dengan adikku jangan sampai kamu dustai dan khianati dia. Jaga dan sayangi dia seperti aku menyayanginya." Ucap Ziko tegas. Koko bingung harus menjawab apa. Ucapan bosnya seperti memberi tanda lampu hijau untuk hubungannya dengan Zelin. " Apa kamu mengerti?" Ucap Ziko tegas. " Saya mengerti." Ucap Koko gugup. Ziko keluar ruangannya dan berpapasan dengan Kevin. Mereka jalan beriringan menuju ruang meeting. Di dalam ruang meeting ada pengusaha minyak yang sangat kaya raya yang bernama tuan Sultan. Tuan Sultan merupakan perusahaan penambangan minyak terbesar di Asia. Banyak perusahaan ingin bekerjasama dengan perusahaannya. Tapi ia hanya memilih perusahaan tertentu untuk menjalin kerjasama dengannya. " Good afternoon (Selamat siang)" Ucap Ziko ramah sambil menyalami pengusaha sukses itu. Ziko mempersilahkan tamunya untuk duduk. Mereka membicarakan masalah perminyakan, dari harga minyak dunia dan yang lainnya. Setelah berbicara panjang lebar. Ziko menanyakan kesepakatan lebih lanjut untuk hubungan bisnis mereka. " So, how is our business going? (Jadi, bagaimana kelanjutan bisnis kita)" Ucap Ziko ramah. " After I consider we can establish cooperation. But there are a prerequisite. (Setelah saya pertimbangkan kita bisa menjalin kerjasama. Tapi ada syaratnya)" Ucap tuan Sultan. Tuan Sultan ingin mengembangkan bisnis minyaknya di negara Ziko. Menurutnya peluang usaha di negara itu cukup meyakinkan. " What do you mean? (Maksud tuan)." Ucap Ziko penasaran. " I want my people to get an important position in this company. (Saya ingin orang saya mendapatkan posisi penting di perusahaan ini)." Ucap Tuan Sultan sambil memegang tangan seorang wanita di sebelahnya. " I will be happy to prepare a special room for your person (Dengan senang hati saya akan mempersiapkan ruangan khusus untuk orang anda). Ziko tidak tau untuk siapa posisi itu. Tapi dari raut wajah tuan Sultan dan cara pandangnya. Kalau posisi itu untuk seorang wanita di sebelahnya. " And the second condition I want you to marry my daughter so that our business is growing (Dan syarat yang kedua aku ingin kamu menikah dengan anak perempuanku agar bisnis kita semakin berkembang)" Ucap Tuan Sultan. " What! ......Thank you for this business offer. This business relationship is canceled. (Apa! Terimakasih atas tawaran bisnis ini. Hubungan bisnis ini batal)" Ucap Ziko emosi sambil beranjak dari kursinya. Tuan Sultan kaget mendapat penolakan dari seseorang. Selama ini semua orang ingin menikahi anaknya. Tapi semua di tolaknya. Dan ketika dia menemukan jodoh yang tepat untuk anaknya. Dia malah di tolak mentah-mentah. " Just so you know. I am married and I love my wife very much. (Asal tuan tau. Saya sudah menikah dan saya sangat mencintai istri saya)." Ucap Ziko tegas sambil berlalu meninggalkan ruang meeting tersebut. Tuan Sultan merasa malu karena mendapatkan penolakan telak dari seorang Ziko. " Please leave. The door is over there. (Silahkan anda keluar. Pintu ada di sebelah sana)" Ucap Kevin tegas sambil menunjuk arah pintunya. Dengan perasaan marah dan kecewa, tuan Sultan dan rombongan pergi meninggalkan gedung itu. Dirinya merasa terhina karena mendapatkan penolakan yang cukup telak. Di dalam mobil dia merencanakan sesuatu. Dia memerintahkan orang kepercayaannya untuk menghancurkan bisnis Raharsya group. Ziko menjatuhkan badannya ke sofa dengan cukup keras. Dia merasa harga dirinya jatuh karena bisa di perjual belikan dengan bisnis. Kevin masuk ke dalam ruangan melihat bosnya sudah uring-uringan. " Apa sudah pulang si tua bangka itu?" Ucap Ziko emosi. " Sudah tuan. Dia dan timnya sudah meninggalkan gedung." Jawab Kevin. " Kurang ajar betul itu orang tua. Kalau tidak tua sudah aku pukul wajahnya. Seenaknya saja memberikan syarat yang tidak masuk akal." Gerutu Ziko. " Tuan, kalau menurut saya dari syarat pertama yang di ajukannya. Ada sesuatu yang mencurigakan." Ucap Kevin menjelaskan. " Maksud kamu?" Ucap Ziko bingung. " Banyak perusahaan besar yang menjalin kerjasama dengan perusahaan kita. Tapi tidak ada yang meminta posisi apapun di perusahaan ini. Dan kenapa ketika dia menjalin kerjasama dengan kita, dia langsung meminta posisi penting, apalagi meminta anda menikah dengan anaknya. Ada sesuatu yang janggal." Ucap Kevin penasaran. Ziko memikirkan sesuatu apa maksud dari syarat tuan Sultan itu. " Mungkin jika ada orang kepercayaannya di perusahaan ini, maka dia bisa mengecek bisnisnya di sini." Ucap Ziko cepat. " Menurut saya bukan. Dia ingin merebut semua perusahaan anda." Ucap Kevin sambil menunjuk beberapa berita tentang perjalanan bisnisnya dari nol sampai sekarang. " Semua perusahaan yang menjalin bisnis denganya pasti di ambil alih oleh perusahaan Sultan. Ada rasa khawatir ketika tuan menyetujui syaratnya yang pertama. Saya tadi ingin melarang tuan memberikan posisi penting di perusahaan ini. Tapi saya bisa lega karena anda bisa mengusirnya dengan kekuatan cinta anda." Ucap Kevin. " Dia sudah menghina harga diriku. Seenaknya saja menjodohkan aku dengan anaknya." Ucap Ziko emosi. " Masalah ini jangan sampai terdengar Zira. Aku tidak mau dia kepikiran masalah ini." Ucap Ziko khawatir. " Tenang saja tuan." Ucap Kevin menyakinkan. Kekuatan cinta Ziko sudah di uji. Dengan rasa cinta semua rintangan bisa di lewatinya. Sebuah cinta tidak pernah gagal. Karena bahagia dan sedih adalah suatu hasil menuju cinta abadi. " Like, komen dan Vote yang banyak. Biar semangat updatenya." Chapter 244 episode 243 (S2) Setelah meredakan emosi bosnya. Kevin kembali keruangannya. Dia melihat tumpukan kertas pemberian Ibu Mery. Kevin melihat waktu yang tidak memungkinkan lagi untuk memeriksa daftar riwayat hidup tersebut. Dia menghubungi bagian HRD. Sambungan tersambung ada Ibu Mery dari ujung telepon. " Ibu Mery, kapan para cleaning service itu mulai bekerja?" Ucap Kevin langsung. " Besok Pak? Besok mereka masuk jam 6 pagi. Briefing sekitar sepuluh menit." Ucap Ibu Mery. " Hemmmmm." Kevin memikirkan sesuatu tentang siapa yang memberishkan ruang presiden direktur. " Untuk ruangan Presiden direktur jangan di sentuh terlebih dahulu. Saya yang akan menentukan siapa yang membersihkan ruang tersebut." Ucap Kevin sambil menutup panggilannya. Waktu sudah menunjukkan jam 5 sore. Kini tiba waktunya mereka untuk pulang. Kevin menuju parkiran untuk mengambil mobil dari sana. Dari jauh ada suara motor yang masuk ke area parkiran itu. Kevin memperhatikan plat motor tersebut. Seorang pria masih cukup muda turun dari motor. Pria tersebut berbadan tinggi dan berkulit sawo matang. Dia mengenakan baju seragam berwarna putih dan celana berwarna biru. Setelah pria itu memarkirkan motornya dia berjalan keluar parkiran, tapi Kevin memanggilnya. " Hei Kamu?" Teriak Kevin. Pria itu melihat sekelilingnya tidak ada orang di belakang dan di sekitar situ. Hanya dia dan pria yang berdiri tidak jauh dari tempatnya memarkirkan motor. Pria itu menunjuk dirinya sendiri. " Iya kamu?" Ucap Kevin melambaikan tangannya memanggil pria tersebut. Pria tersebut jalan menghampiri Kevin. " Iya Pak?" Ucap si pria ramah. Kevin memperhatikan pria tersebut dari atas sampai bawah. Dan melihat name tag di seragam pria tersebut. Tertulis namanya Bima. " Apa kamu security baru di sini?" Ucap Kevin langsung. " Iya Pak, ini bulan ke dua saya berkerja disini." Ucap Bima ramah. " Baiklah, lanjutkan pekerjaanmu." Ucap Kevin memerintahkan security baru itu. Bima pergi meninggalkan area parkiran. Menuju pos penjagaan bersama rekan kerjanya. Di dalam mobil Kevin mengingat nama pria tadi. " Namanya Bima, apa hubungannya pria itu dengan wanita setengah genre." Gumam Kevin. Kevin menyalakan mesin mobil keluar dari area parkiran menuju pintu loby. Di depan pintu loby ada Ziko yang sedang menunggunya. Dari jauh ada yang memperhatikan mereka yaitu Bima. Bima bertanya kepada rekan kerjanya. " Siapa yang naik mobil itu?" Ucap Bima sambil menunjuk ke arah mobil yang di kemudikan Kevin. " Oh yang naik itu adalah bos kita. Dia pemilik gedung mewah ini." Ucap rekan kerjanya. " Kalau yang membukakan pintu itu siapa?" Ucap Bima lagi. " Apa kamu enggak kenal. Dia adalah asisten Kevin, merupakan tangan kanan bos kita. Dia punya pengaruh besar untuk perusahaan ini. Dia tidak memberikan toleransi kepada karyawan yang tidak becus dalam bekerja." Ucap rekan kerjanya menjelaskan. " Jadi kalau karyawan tidak becus langsung di pecat apa potong gaji." Ucap Bima penasaran. " Gaji tetap di berikan, kecuali si karyawan menyalah gunakan uang perusahaan itu beda lagi ceritanya." Ucap rekan kerjanya. " Memangnya hukuman seperti apa yang di berikan pria itu." Ucap Bima penasaran. " Kalau korupsi di pecat dan harus mengganti kerugian perusahaan. Yang lebih menakutkan langsung di jebloskan ke penjara." Ucap rekan kerjanya. Jleb begitu getaran jantung Bima. Ada ketakutan ketika rekan kerjanya mengatakan hal itu. Dia bertekad tidak akan membuat kesalahan sekecil apapun. Agar dapat bertahan di perusahaan besar itu. Di mobil. " Kenapa kamu lama sekali." Gerutu Ziko. " Maaf tuan, tadi saya berbicara dengan security baru." Ucap Kevin menjelaskan. " Sudah jalan, istriku sudah menunggu lama di butik." Ucap Ziko cepat. Mobil sudah meluncur ke jalan raya menuju Zira boutique. Setelah mobil Kevin meluncur ke jalanan, Bima mengambil ponselnya menghubungi kakaknya. Panggilan terhubung " Kak, lagi ngapain?" Ucap Bima langsung. " Lagi kerja." Ucap kakaknya. " Kakak tau enggak?" Ucap Bima lagi. " Enggak." " Mobil yang kakak rusak dan pria yang kakak siram pakai air itu adalah bosku." Ucap Bima sedikit histeris. " Apa! Serius kamu?" Ucap kakaknya tidak percaya. Bima menceritakan awal mula dia bertemu dengan Kevin. Sampai dia mendapatkan informasi lain dari teman kerjanya. " Sepertinya dia memperhatikan plat motor aku." Ucap Bima lagi. " Ya biarin aja. Yang penting kamu tidak membuat kesalahan di sana." Ucap kakaknya menenangkan. " Bukan itu kak, kalau dia minta ganti rugi atas kerusakan mobilnya sama aku bagaimana?" Ucap Bima khawatir. " Sudah bilang aja kamu enggak tau." Ucap Kakaknya lagi. " Tapi kak?" " Sudah jangan cengeng, Kakak mau bertemu dengan manajer rumah makan." Ucap kakaknya lagi. " Kakak buat kesalahan apa?" Ucap adiknya khawatir. " Kesalahan? Apa kamu kira kakak selalu membuat kesalahan?" Gerutu kakaknya. " Ya mana tau. Soalnya kakak orangnya ngeyelan." Ucap adiknya dari ujung ponselnya. " Enak aja, awas nanti kamu pulang." Ucap kakaknya sedikit teriak. Setelah itu panggilan terputus hanya terdengar suara tut tut tut. Zira sudah di jemput, tidak lupa dia memerintahkan Kevin untuk mampir ke supermarket. " Kamu mau beli apa di supermarket?" Ucap Ziko cepat. " Aku mau beli mie instan. Bukannya malam ini kalian lomba." Jawab Zira cepat. " Oh iya." Ucap Ziko lagi. Zira dan Ziko turun ke supermarket. Asisten Kevin menunggu di mobil. Dia enggan menjadi nyamuk di antara pasangan suami istri itu. Zira berjalan menuju rak tempat mie instan di Jejerkan. Dia memilih mie yang menurutnya enak. Dari jauh ada yang berteriak memanggil namanya. " Zira?" Ucap seorang wanita yang tidak lain adalah Vita. " Vita?" Ucap Zira heran. Vita menyalami sambil memeluk erat tubuh Zira. Zira melirik ke arah suaminya, melihat gimana reaksi suaminya ketika bertemu dengan Vita. " Kamu sendirian?" Ucap Zira basa basi. Zira tidak tau harus memulai pembicaraan apa sama wanita didepannya. Secara mereka memang tidak akrab. Malah Zira pernah berpikiran negatif dengan wanita itu. " Sama teman." Ucap Vita langsung. Vita berjalan menjauh memanggil temanya. Dari jauh terlihat seorang pria menggandeng tangan anak kecil. " Tante Zira." Ucap anak kecil itu. " Naura?" Ucap Zira memeluk tubuh imut mensejajarkan tinggi tubuhnya dengan Naura. Vita bingung melihat keakraban Zira dan Naura. " Apa kalian saling kenal?" Ucap Vita bingung. " Kenal, ini peri yang aku ceritakan Tante." Ucap Naura. " Peri?" Ucap Zira lagi dengan mimik muka bingung. " Dia suka cerita kepada kami tentang seorang peri. Dan peri itu di tujukan untuk kamu." Ucap Fiko menjelaskan. " Owh sayang." Ucap Zira terharu sambil memeluk erat tubuh anak kecil itu. " Bagaimana kalian saling mengenal?" Ucap Vita masih bingung. Zira tidak ingin menjelaskan apapun tentang perkenalan dirinya sama fiko. Dia menghargai perasaan suaminya. Walaupun dia sudah jadi milik suaminya. Tapi perasaan suami harus tetap di jaga agar tidak terjadi salah paham di kemudian hari. " Ceritanya panjang." Ucap Zira cepat. Zira melihat tubuh anak kecil itu. Tubuhnya sudah sedikit berisi di bandingkan dengan yang dulu. Wajahnya sudah tidak pucat, ada keceriaan di wajah Naura. " Bagaimana keadaan kamu?" Ucap Zira kepada Naura. " Baik Tante. Aku udah enggak di suntik lagi. Aku hanya minum obat saja. Itupun hanya sekali. Kata dokter aku sudah sembuh." Ucap Naura antusias. " Syukurlah Tante senang melihat kamu sudah ceria dan sembuh. Maaf sayang Tante tidak bisa berlama-lama di sini. Tante harus pulang. Kamu jaga kesehatan ya, jangan capek." Ucap Zira mengecup kening Naura dan memeluk erat tubuh mungil itu. Naura menganggukkan kepalanya sambil melambaikan tangannya ke arah Zira. Ada rasa cemburu ketika Zira bisa akrab dengan Naura. Tapi Vita bisa berpikir positif tentang semuanya. Menurutnya Zira orang yang baik, seperti yang di utarakan Nauara, kalau Zira adalah seorang peri. Peri merupakan sosok figur yang baik. Jadi dia mengambil kesimpulan sendiri tentang arti peri itu dalam diri Zira. " Like, komen dan Vote yang banyak ya biar semangat updatenya." Chapter 245 episode 244 (S2) Setelah berbelanja kebutuhan untuk lomba, mereka berjalan ke parkiran. " Apa semua sudah lengkap." Ucap Ziko sambil berjalan beriringan dan menggandeng tangan istrinya. " Sudah." Ucap Zira cepat. " Apa saja yang kamu beli tadi. Kenapa aku lihat ada warna hijau. Apa yang kamu beli tadi rumput?" Ucap Ziko penasaran. " Mana ada rumput di jual di supermarket." Ucap Zira lagi. " Terus apa yang berwarna hijau tadi." Ucap Ziko lagi penasaran. " Itu pengganti rumput." Ucap Zira menunjuk bungkusan yang ada di tangan suaminya. " Apakah aman?" Ucap Ziko lagi. " Aih kenapa kamu tanya aman segala, kamu aja makan rumput enggak ada tanya aman apa tidak. Malah mau makan aja tanpa melihat kandungan gizi dari rumput itu. " Sayang sudah terbukti kalau rumput itu menyehatkan, buktinya sapi aja bisa gemuk makan rumput. Berarti manusia juga bisa kan?" Ucap Ziko memberikan perumpamaan. Zira mencubit lengan suaminya gemes, karena suaminya bisa memberi perumpamaan sapi dengan manusia. Kevin membukakan pintu mobil untuk mereka berdua. Mobil sudah berjalan keluar area supermarket. " Sayang, maaf boleh aku bertanya?" Ucap Zira pelan. " Ya, ada apa?" Ucap Ziko sambil memeluk istrinya. " Kenapa Vita bisa kenal sama Fiko?" Ucap Zira gugup. Dia melirik ke arah suaminya, melihat ekspresi Ziko. " Kenapa? Apa kamu cemburu?" Ucap Ziko asal. " Aih, kenapa pula aku cemburu, kamu kan sudah tau, cintaku hanya untukmu dua orang." Ucap Zira. " Dua orang? Kenapa dua orang?" Ucap Ziko protes. " Ya dua orang kamu dan dia." Ucap Zira sambil mengelus perutnya. " Owh." Ziko bisa bernafas lega mendengarnya. " Kamu pikir dua orang itu siapa saja?" Ucap Zira penasaran. " Aku dan Kevin?" Ucap Ziko asal. " Uhuk-uhuk." Batuk musiman Kevin di mulai. Dia berakting layaknya batuk benaran. " Kenapa batuk musiman kamu muncul." Ucap Ziko protes. " Apa tuan merasa saya saingan terberat untuk anda?" Ucap Kevin cepat. " Kamu saingan? Mana mungkin kamu jadi pesaingku." Ucap Ziko cepat. " Sudahlah tidak usah di perdebatkan lagi. jawab dulu bagaimana Vita bisa kenal dengan Fiko?" Ucap Zira cepat. " Owh itu cerita bermula waktu di cafe." Ziko menjelaskan awal pertemuan dirinya dengan Vita di cafe. Raut wajah Zira sedikit cemburu ketika mendengar kalau suaminya bertemu dengan mantan pacarnya. Ziko menjelaskan lagi pertemuan mereka tidak di sengaja. Karena Vita ada janji dengan seseorang dan orang itu adalah Fiko. " Seperti kebetulan saja kan?" Ucap Ziko lagi. " Bukan kamu yang menjodohkan mereka berdua?" Ucap Zira penasaran sambil menatap tajam suaminya. " Aih kenapa pula aku menjodohkan Vita dengan pria itu. Apa aku kurang kerjaan sampai menjodohkan orang lain. Mending aku menjodohkan Kevin dengan wanita lain. Dari pada menjodohkan pria yang pernah suka dengan istriku." Gerutu Ziko. " Apa! Tuan mau menjodohkan saya?" Ucap Kevin ikut nimbrung. " Iya, apa kamu mau?" Ucap Ziko cepat. " Terimakasih tuan, dengan anda mencarikan jodoh untuk saya berarti kesannya kalau saya kurang pintar dalam memilih pasangan. Lebih baik mencari sendiri saja." Ucap Kevin cepat. " Apa kamu yakin?" Ucap Ziko ragu. " Yakin." " Bagaimana dia mau mencari pasangan. kesehariannya saja di bawah ketiak kamu." Ucap Zira cepat. Ziko membenarkan tentang ucapan istrinya. Keseharian Kevin tidak lepas dari penglihatannya. Hari-harinya habis hanya mengurusi Raharsya group. " Baiklah aku beri kamu satu bulan untuk menemukan kekasih." Ucap Ziko cepat. " Apa! Satu bulan? Kenapa cepat banget tuan?" " Sayang kamu tidak boleh memberikan jangka waktu seperti itu. Mencari kekasih bukan seperti mencari pakaian. Dia harus memilih wanita yang pas untuk dirinya. Kecuali hanya untuk bersenang-senang saja, maka dalam satu hari pasti langsung dapat." Ucap Zira menjelaskan. Ziko manggut-manggut mengerti. Dia juga ingin melihat asistennya bahagia seperti dirinya. Mempunyai seseorang pendamping sungguh nikmat rasanya. " Baiklah aku tidak memberi waktu untukmu, tapi kalau dalam tahun ini jika kamu tidak terlihat menggandeng seorang wanita. Aku akan menjodohkan kamu dengan nenekku." Ucap Ziko asal. " Aih bukannya itu juga ada jangka waktunya." Ucap Zira komplen. " Sstt diam. Kamu tidak boleh banyak bicara ini urusan pria." Ucap Ziko sambil menutup mulut istrinya dengan jari tangannya. Mobil sudah sampai di perumahan. Perumahan yang tidak terlalu besar, tapi masih masuk dalam kategori elite. Mobil berhenti di sebuah rumah berwarna putih dengan arsitektur modern klasik. Kevin membukakan pintu untuk majikannya. " Apa ini rumah kamu?" Ucap Zira kagum. " Ya nona. Ini hasil jerih payah saya selama bekerja." Ucap Kevin pelan. Kevin membukakan pintu untuk dua orang tamunya. Memasuki ruang tamu, mereka di sajikan dengan berbagai furniture modern tapi tetap ada nuansa klasiknya. " Apa yang memilih furnitur ini juga kamu?" Ucap Zira kagum. " Iya nona." Zira kagum dengan penataan ruangan itu di susun sedemikian rapi dan apik. Semua tertata dengan rapi. Dari pigura di susun sesuai dengan bentuknya. Zira melihat foto-foto yang di tempelkan di dinding. Ada foto pria dab wanita paruh baya dan foto satu wanita cantik. " Ini foto keluarga kamu?" Ucap Zira sambil menunjuk pigura tersebut. " Iya nona." " Mereka sekarang dimana?" Ucap Zira penasaran. Karena selama ini mereka tidak pernah tau keberadaan keluarga Kevin. " Mereka ada di luar negeri. Mari saya tunjukkan dapurnya." Ucap Kevin sambil mengajak Zira menuju dapur. Zira mengikuti Kevin dari belakang. Ziko menunggunya di meja makan sambil memainkan ponselnya. " Ini dapurnya, semua peralatan masak ada di bawah." Ucap Kevin sambil membuka lemari yang berada di bawah. Ada beberapa peralatan dapur seadanya di dalam sana. Zira melihat peralatan itu dan mengambil beberapa yang di perlukannya. " Silahkan Nona. Saya permisi dulu." Ucap Kevin meninggalkan Zira sendirian di dapur. Zira mulai memasak mie instan itu dengan peralatan seadanya, dan tidak lupa menambahkan sesuatu yang berwarna hijau ke dalam mie tersebut. Dalam sekejap mie tersebut sudah matang. Dia menyajikan di meja makan. " Ini punya kamu dan ini punya suamiku tercinta." Ucap Zira memberikan mangkuk tersebut kedepan dua pria tersebut. " Tunggu, kenapa harus dipilih-pilih. Apa nona memasukkan sesuatu ke dalam mangkuk saya?" Ucap Kevin curiga. " Iya aku masukkan racun tikus di dalamnya." Ucap Zira ketus. " Kamu serius?" Ucap Ziko yang setengah kaget. " Ya enggaklah. Untuk apa aku meracuninya. Memangnya dia tikus." Ucap Zira jutek. " Kalau kamu tidak percaya kita tukaran mangkuk." Ucap Ziko sambil menggeser mangkuknya ke depan Kevin. Semua mangkuk sudah ada didepan mereka masing-masing. Zira mulai memberikan aba-aba. " Tunggu? Apa ini rumput?" Ucap Kevin bingung. " Kenapa?" Ucap Zira lagi. " Kenapa rumput seperti berjari-jari ya?" Ucap Kevin masih bingung. Dia bingung jenis rumput apa yang ada di mangkuknya. " Ini rumput blesteran. Makanya bentuknya beda." Ucap Zira asal. Sebelum memulai perlombaan Zira memberikan peraturan. " Peraturan pertama. Kalian hanya perlu memakan 3 sendok tidak lebih. Siapa yang bisa menghabiskan paling cepat dia pemenangnya. Dan yang kalah akan mendapatkan hukuman." Ucap Zira menjelaskan. Zira sudah memberikan aba-aba. Dalam hitungan ketiga dua pria itu sudah mulai menyuapkan sendok ke dalam mulutnya masing-masing. " Pahit." Ucap Ziko sambil meletakkan kembali sendok ke mangkuk. " Nona rumput kenapa pait banget." Ucap Kevin juga merasakan hal yang sama. " Masak kalian berdua kalah sama sapi. Sapi aja enggak pernah komplain kalau rasa rumputnya pahit." Gerutu Zira. Ziko dan Kevin enggan untuk memakannya. Sesendokpun mereka tidak sanggup untuk memakannya. " Kita batalkan saja pertandingan ini." Ucap Ziko cepat sambil menatap asistennya. Kevin setuju sambil menganggukkan kepalanya. " Enak saja pakai acara batal. Aku sudah susah payah memasaknya tapi kalian membatalkannya." Ucap Zira dengan nada yang sedikit tinggi. " Tapi pahit sayang." Ucap Ziko dengan tatapan memohon. " Kalian hanya perlu memakan tiga sendok tidak lebih." Ucap Zira lagi. " Sayang aku takut nanti sakit perut." Ucap Ziko dengan memohon. " Alah kamu yang bilang kalau perut kamu akan tahan dengan namanya rumput. Sekarang makanlah." Ucap Zira cepat memerintahkan dua pria tersebut. Dengan penuh perjuangan mereka mulai menyuapkan sendok pertama. Mimik wajah mereka cukup aneh ketika mengunyah makanannya tersebut. Zira sampai tertawa dan merekam aksi makan yang penuh tantangan dan ranjau di dalamnya. Setelah mulut kosong, mereka menunjukkan ke arah Zira. " Sendok ke dua." Ucap Zira cepat. Ziko dan Kevin mulai memasukkan sendok ke dalam mulut mereka, dengan porsi yang sedikit. Dua pria itu mengunyah dengan sangat terpaksa sambil merem melek. Kevin mengangkat tangannya dan berlari kebelakang. Di sana dia memuntahkan semuanya. Setelah merasa lega, dia kembali ke meja makan. " Kenapa kamu muntahkan?" Ucap Zira protes. " Nona saya kegigit rawit. Pedasnya minta ampun. Apa nona tau, gimana rasanya mulut kita, ketika pedas campur pait." Ucap Kevin sambil menegakkan air putih kedalam tenggorokannya. " Rasanya nano-nano." Ucap Zira spontan. " Betul seperti itulah mulut saya. Makanya saya muntah." Ucap Kevin menjelaskan. " Tapi kamu di diskualifikasi karena telah menuntahkan dengan sengaja." Ucap Zira tegas. " Ya mau gimana lagi. Coba kalau nona tidak meletakkan rawit itu pasti tidak akan saya muntahkan." Ucap Kevin memberi alasan. " Itu bukan rawit tapi ranjau. Aku memang sengaja memberikan dua puluh rawit ke dalam mangkuk kalian." Ucap Zira bangga. " Apa! Sayang apa kamu mau membunuhku secara perlahan?" Ucap Ziko memelas. " Itu namanya tantangan, kalau hanya pahit. Obat juga pahit, makanya aku menambahkan rawit di dalamnya agar lebih menantang." Ucap Zira bangga. " Menantang sih menantang tapi lihat-lihat dong. Kenapa enggak masak sekalian sama pohon-pohonnya." Ucap Ziko komplain. " Sstt diam, yang jadi juri aku bukan kamu. Baiklah sesuai kesepakatan, yang menang adalah suamiku tersayang." Ucap Zira kencang. Ziko berteriak histeris layaknya seorang anak kecil. Kevin menerima kegagalannya dengan lapang dada. " Baiklah sesuai kesepakatan yang kalah mendapatkan hukuman, hukumannya adalah, kamu harus menuruti semua permintaan pemenang." Ucap Zira menjelaskan. Kevin setuju, menurutnya permintaan bosnya masih di ambang wajar. Beda halnya jika Zira yang meminta pasti dia akan kabur duluan. " Besok hukumanmu akan di mulai. Sekarang aku mau kamu jelaskan apa saja isi mangkuk tersebut." Ucap Ziko sambil melihat istrinya. " Sebenarnya yang aku masukkan itu bukan rumput tapi daun kates." Ucap Zira pelan. " Daun kates? Apa lagi itu? Jadi itu termasuk rumput atau tanaman liar." Ucap Ziko panik. Ziko belum pernah makan namanya daun kates. Tadi adalah pertama kalinya dia memakan sayuran itu. " Daun kates sama dengan daun pepaya. Biasanya di masak untuk urap atau lalapan, dan lainnya. Rasanya memang pahit." Gumam Kevin pelan. " Nah itu kamu pintar. Kenapa kamu tidak bisa mengunyahnya tadi?" Ucap Zira lagi. " Bagaimana saya bisa mengunyahnya, tadi nona bilang itu rumput blasteran. Pasti takut lah saya, takut Virus." Ucap Kevin protes. Zira bisa tertawa gembira. Karena dua pria di depannya masuk ke dalam jebakan Batman. Hukuman Kevin akan berlangsung, dan hukuman itu merupakan tantangan terbesar, Zira yakin Kevin akan dengan susah payah melakukannya. " Like, komen dan vote yang banyak ya. Biar tambah semangat updatenya." Chapter 246 episode 245 (S2) Pagi harinya kira-kira jam 5. Tok tok tok. Pintu di ketuk dari luar. " Iya tunggu." Ada Bima didepan pintu dengan wajah yang sangat mengantuk. Bima baru pulang kerja, dia masuk shift malam. Bima melihat kakaknya tengah bersiap-siap kerja. " Kakak mau kemana sepagi ini?" Ucap Bima heran. Biasanya kakaknya selalu berangkat jam 7 pagi. Tapi hari ini beda, kakaknya berangkat pagi buta. " Kakak sudah dapat pekerjaan baru. Tidak ada lagi shift malam." " Memangnya kakak kerja dimana?" Ucap Bima sambil membuka jaket yang menempel di tubuhnya. " Di gedung Rahasrya group." Ucap kakaknya semangat. " Apa! Kenapa kakak bekerja di tempatku." Ucap adiknya cemas. " Ye manalah kakak tau. Kakak hanya melamar pekerjaan di perusahaan jasa. Dan penempatan juga dari mereka." Ucap kakaknya menjelaskan. " Ya itu sama saja kalau kakak menyerahkan diri." Ucap Bima cemas. " Menyerahkan diri bagaimana?" " Kakak ingat enggak percakapan kita tadi siang. Kalau pria yang kakak siram pakai air itu bos aku. Nah dia orangnya kejam tau." Ucap Bima lagi. " Kejam?" Ucap kakaknya sambil memikirkan Kevin. Menurutnya Kevin tidak begitu menakutkan yang ada malah sedikit oon. " Tenang saja, gedung itukan besar. Mana mungkin dia bisa menemukan kakak. Kakak pasti akan berjaga diri." Ucap kakaknya menenangkan adiknya. " Kalau sampai dia menemukan kakak bagaimana? Bisa-bisa kakak di pecatnya." Ucap adiknya masih khawatir. " Aduh dek, kenapa kamu malah menakuti kakak sih. Lihat aja nanti bagaimana. Kalau sampai dia memecat kakak, ya terima aja. Gitu aja kok repot." Ucap Kakaknya tetap tenang. Bima tidak bisa berdebat lagi dengan kakaknya. Menurutnya kakaknya bisa bersikap setenang mungkin dalam menghadapi persoalan hidup. Di saat para wanita gampang panik, tapi tidak dengan kakaknya. Semua bisa di selesaikannya dengan kepala dingin. " Kakak naik motor aku aja. Aku masuk jam tujuh malam ini hari." Ucap Bima menyerahkan kunci motornya. Kakak Bima memang tomboi, dari cara berpakaiannya saja sudah kelihatan tomboinya. Dia selalu mengenakan celana jins dan kemeja panjang. Tak heran kalau dia suka menyamar jadi cowok kalau pulang malam. " Baiklah kakak berangkat dulu." Ucap kakaknya sambil melambaikan tangannya ke adiknya. Motor gede bisa di taklukannya dengan mudah. Dia seperti sedang mengendarai seekor kucing karena dengan gampang menaklukkan si roda dua. Di dalam mobil. " Sayang siang ini, aku mau ke kantor kamu." Ucap Zira sambil bergelayut manja di lengan suaminya. " Untuk apa? Biar aku saja yang datang ke butik." Sambil mengelus puncak kepala istrinya. " Aku mau makan siang di sana." Ucap Zira manja. " Ya sudah nanti aku suruh supir untuk menjemput kamu." Ucap Ziko sambil memeluk erat tubuh istrinya. Ziko mengalihkan pandangannya ke arah depan. Dia teringat sesuatu tentang kemaren pagi. " Mengenai seragam biru kemaren, apa ada informasi mengenai itu?" Ucap Ziko sambil menatap kedepan. " Sudah tuan, mereka dari perusahaan jasa. Mereka menyalurkan karyawannya sebagai cleaning service di perusahaan-perusahaan besar. Dan mall-mall besar." Ucap Kevin menjelaskan. " Baiklah aku percayakan semua sama kamu." " Sayang hukuman apa yang akan kamu berikan sama Kevin?" Ucap Zira mengingatkan. Kevin memijat dahinya, dia tidak menyangka sepagi ini sudah mendengar tentang hukuman yang akan di dapatkannya. " Bagusnya seperti apa?" Ucap Ziko kembali bertanya kepada istrinya. " Bagaimana kalau Kevin meminta nomor ponsel karyawan." Ucap Zira semangat. Uhuk-uhuk. Kevin berakting batuk, menurutnya hukuman itu terlalu berat. " Kalau nomor ponsel sih gampang. Karyawan dengan gampang pasti ngasih nomornya. Secara Kevin idola cilik di kantor." Ucap Ziko asal. " Buahahhaha idola cilik." Ucap Zira mengejek Kevin. " Jadi kamu maunya apa?" Ucap Zira lagi sambil terdengar gelak tawanya. " Bagaimana kalau kita pilih seseorang untuk menemaninya makan malam." Ucap Ziko cepat. Zira setuju dengan ide suaminya. Kevin yang mendengar semakin batuk. " Vin, kamu batuk atau bengek?" Sindir Zira. " Sakit kepala nona." Ucap Kevin asal. " Sejak kapan kepalamu pindah ke mulut." Ucap Ziko sambil menendang kursi bagian belakang Kevin. " Sejak anda berdua memberikan ide konyol untuk hukuman saya." Jawab Kevin. " Ya sudah besok-besok, kalau sakit kepala kasih koyo di mulutnya." Ucap Zira mengejek. Zira sudah di antarkan ke butik. Tinggal dua pria itu di dalam mobil. Mobil sudah meluncur ke pusat kota menuju gedung Rahasrya group. Mobil berhenti tepat di pintu loby. Di dalam loby banyak karyawan yang wara wiri baru datang kerja. Dua pria itu datang lebih awal dari biasanya. Biasanya mereka datang setelah karyawan mulai kerja, tapi sekarang mereka datang seperti karyawan lainnya. Seragam warna biru ada di mana-mana. Mereka membersihkan semua ruangan. Setelah memastikan keperluan bosnya sudah lengkap. Kevin berjalan menuju ruangannya. Dia melihat tumpukan kertas diatas mejanya. Kevin memencet extension Ibu Mery. " Ibu Mery bisa datang ke ruangan saya." Ucap Kevin dari ujung telepon. Beberapa menit kemudian Ibu Mery datang dengan membawa beberapa kertas di tangannya. Setelah Ibu Mery Sampai di ruangannya. Kevin mempersilahkan wanita paruh baya itu untuk duduk. Ibu Mery menarik kursi yang ada di depannya, dan menduduki kursi tersebut. " Apa semua cleaning service sudah di bagi tugasnya?" Ucap Kevin cepat. " Sudah tuan, hanya lantai ini yang belum ada petugas kebersihannya." Ucap Ibu Mery sambil menunjuk lantai ruangan Kevin. " Baiklah, pilihkan sama saya 5 orang." Ucap Kevin menyodorkan tumpukan kertas di samping mejanya. Ibu Mery mengecek satu persatu, yang menurutnya dapat di percaya dan tidak pernah bermasalah. " Ini Pak?" Ucap Ibu Mery menyodorkan 5 kertas kepada Kevin. Kevin melihat kertas pemberian Ibu Mery. Dia mengernyitkan dahinya tidak percaya dengan pilihan wanita paruh baya itu. " Kenapa semuanya sudah berumur. Apa karena mereka seumuran Ibu, makanya memilihnya mereka semua." Ucap Kevin cepat. " Bukan itu Pak, menurut saya mereka pasti lebih terampil di bandingkan yang muda-muda. Karena dari pengalaman pasti lebih banyak mereka." Ucap Ibu Mery memberikan alasannya. " Apa Ibu lupa tekanan di lantai ini lebih besar dari lantai lainnya. Apa mereka siap dengan itu semua?" Ucap Kevin lagi. Ibu Mery terlupa sesuatu, kalau di lantai tempat Kevin bekerja, tekanannya lebih besar di bandingkan lantai-lantai yang lainnya. Karena lantai itu di penuhi dengan jabatan-jabatan penting. " Saya khawatir pilihan anda tidak tahan dengan tekanan. Lebih baik yang masih muda. Karena mereka pasti tahan banting dan kebal dengan amarah." Ucap Kevin cepat. Ibu Mery setuju, dia harus merekomendasikan lima orang yang bisa di jadikan cleaning service di lantai itu. Ibu Mery menyerahkan lima nama ke arah Kevin dan tahun kelahiran. Kevin melihat sekilas. " Baiklah, suruh lima orang itu datang ke ruangan saya." Ucap Kevin memerintahkan. Ibu Mery keluar meninggalkan ruangan Kevin. Menuju ruangannya, dia memerintahkan karyawannya untuk mengumpulkan lima nama yang di rekomendasikannya. " Like, komen dan vote yang banyak ya, biar semangat updatenya, terimakasih." Chapter 247 episode 246 (S2) Lima orang itu telah berkumpul di ruangan HRD. Sebelum mereka di bawa ke ruangan asisten Kevin, Ibu Mery memberikan pengarahan kepada mereka. " Kalian ada lima orang terbaik pilihan saya. Walaupun saya baru kenal dengan kalian hari ini. Tapi dari semua daftar pengalaman kerja kalian, semua tidak ada yang bermasalah. Kalian akan di tempatkan di lantai yang penuh dengan para pejabat penting di gedung ini. Salah satunya ruang presiden direktur ada di lantai itu." Ucap Ibu Mery menjelaskan. Kelima orang itu saling pandang, ada rasa bangga ketika mereka di pilih untuk membersihkan ruangan-ruangan penting. " Kalian harus jujur dan bertanggung jawab, jangan sampai membuat nama baik saya rusak karena telah merekomendasikan kalian. Ingat kamera di mana-mana. Kalau sampai kalian mengambil sesuatu yang ada di meja, kalian akan di penjara. Kalian boleh membersihkan meja. Tapi tidak boleh mengambil kertas atau memindahkan barang-barang yang ada di meja. Kalau sampai kalian ada memindahkan apapun di situ. Dengan otomatis kalian akan di pecat." Ucap Ibu Mery tegas. Deg deg deg jantung kelima orang itu menciut ketika mendengar kata pecat dan penjara. Seseorang mengangkat tangannya. " Ya kamu, ada apa?" Ucap Ibu Mery. " Saya mau ke toilet Bu." Ucap seorang wanita yang tidak lain adalah kakaknya Bima. Semua orang sampai geleng-geleng kepala melihat tingkah wanita itu. Wanita itu pergi ke toilet. Di dalam toilet dia bergumam sendiri. " Mau bersihkan ruangan aja ribet banget banyak betul peraturannya." Setelah selesai dia kembali ke kelompoknya. Bersama lima empat orang temannya. Ibu Mery mengantarkan mereka ke ruangan asisten presiden direktur yaitu Kevin. Tertera di atas pintu sebuah papan nama yang bertuliskan asisten presiden direktur. Ibu Mery mengetuk pintu secara perlahan. Tok tok tok, setelah ada sahutan, dia masuk ke dalam ruangan itu. " Selamat siang Pak, lima orang itu sudah ada di luar." Ucap Ibu Mery. " Suruh mereka masuk." Ucap Kevin memerintahkan. Ibu Mery keluar ruangan memanggil kelima orang itu. Semua masuk menundukkan kepalanya, tidak lupa kelima orang itu melirik pria ganteng di depan mereka. Alah mak, mati aku. Kenapa aku harus berhubungan dengan si Klepon. Semua berbaris jadi satu. Kevin menghitung hanya ada empat orang yang berdiri di depannya. " Kenapa hanya empat satu lagi mana?" Ucap Kevin bertanya kepada Ibu Mery. Ibu Mery melihat wanita yang ke toilet tadi, berdiri di belakang temannya yang berbadan lebih tinggi darinya. " Kamu maju kedepan." Ucap Ibu Mery dengan intonasi di tekan. Wanita itu maju ke depan dengan kepala tertunduk. Dia sengaja menundukkan kepalanya, agar wajahnya tidak terlihat Kevin. " Mana daftar riwayat hidup mereka." Ucap Kevin meminta kertas tentang kelima orang itu. Ibu Mery memberikan kertas itu ketangan asisten Kevin. Kevin membaca dan memanggil nama mereka satu persatu. " Mia?" Ucap Kevin. Seorang wanita yang berbadan sedikit bongsor mengangkat tangannya. Berlanjut terus sampai pada satu nama, yang menurut Kevin sangat unik. " Samudra?" Ucap Kevin sambil mengernyitkan dahinya membaca nama yang aneh. Wanita yang tertunduk itu mengangkat tangannya. Masih tetap menundukkan kepalanya. Kevin sampai tidak bisa melihat wajahnya dengan jelas. " Angkat kepala kamu, Saya mau lihat wajah kamu." Ucap Kevin sambil memperhatikan wanita yang tertunduk itu. Kakak Bima mengangkat kepalanya secara perlahan. Kevin membelalakkan matanya tidak percaya. Wanita setengah genre ada di depannya. " Kamu!" Ucap Kevin dengan intonasi yang tinggi. " Apa Bapak mengenalnya? Apa dia pernah membuat kesalahan?" Ucap Bu Mery dengan pertanyaan beruntun. " Ya saya sangat mengenalnya dengan jelas." Ucap Kevin sambil merapatkan giginya. " Apa dia bermasalah?" Ucap Ibu Mery penasaran. Kevin tidak menjawab pertanyaan Ibu Mery. Dia langsung mengambil keputusan. " Untuk ruangan saya dan ruangan Presiden direktur, biarkan manusia ini yang membersihkannya." Ucap Kevin dengan tatapan tajam. " Apa Bapak yakin. Saya bisa menggantikan yang lainnya." Ucap Ibu Mery ragu. Apa! Dia mau mencarikan yang lainnya. Berarti aku di pecat gitu. " Tidak usah cari yang lain. Aku ingin dia yang membersihkan ruang saya dan ruangan Presiden direktur. Yang lain silahkan keluar, tinggal manusia setengah genre ini disini." Ucap Kevin dengan tatapan menusuk. Ibu Mery ingin bertanya lebih lanjut dengan julukan yang di berikan Kevin kepada office girl itu. Tapi karena sudah mendapatkan perintah untuk keluar, dia langsung keluar dari ruangan itu. Tinggal mereka berdua di dalam ruangan itu. Kevin duduk sambil memainkan pena di tangannya. Ada rasa senang ketika melihat wanita setengah genre itu terpojok. " Bagaimana, apa kamu masih kesurupan?" Ucap Kevin dengan intonasi tinggi. " Ah Bapak, bisa aja." Ucapnya mencairkan suasana. " Enggak usah sok akrab, kamu harus membersihkan ruanganku dan ruangan bos besar. Kalau sampai kamu melakukan kesalahan, maka kamu akan aku tendang." Ucap Kevin tegas. " Tunggu Pak, kesalahan bagaimana dulu, coba Bapak jelaskan. Agar saya tidak melakukan kesalahan kedepannya." Ucapnya santai. " Banyak ngomong juga merupakan salah satu kesalahan." Ucap Kevin asal. " Apa! Bapak serius? Jadi saya harus pakai bahasa apa bicara sama Bapak? Pakai bahasa kalbu boleh enggak?" Ucapnya lagi. " Kamu ya." Ucap Kevin geram. Kevin bingung mau bicara apa lagi. Semua orang sama dia tunduk dan patuh. Tapi tidak dengan wanita di depannya. Wanita itu dengan gampang menjawab semua ucapannya. Suara telepon berdering, Kevin mengangkat telepon yang ada di samping mejanya. Ada suara bos besar terdengar dari ujung telepon. Kevin langsung beranjak dari kursinya. " Ikut aku." Ucap Kevin memerintahkan wanita itu. Kevin membawa kertas yang berisi data wanita di depannya. Dia ingin menunjukkan kepada Ziko. Wanita itu mengikutinya dari belakang. Dia melihat kearah pria yang duduk di pojok. Dia tetap melangkahkan kakinya sambil menatap ke arah Koko. " Itu pria yang makan di rumah makan. Ternyata dia bukan supir. Mana ada supir duduk di depan komputer. Tapi wajahnya mirip banget sama Cici." Gumamnya sambil berhenti mendadak karena menubruk punggung Kevin. " Kamu sengaja ingin dekat-dekat denganku ya?" Ucap Kevin ketus. " Idih siapa yang mau berdekatan dengan kamu. Makanya jangan pakai rem cakram jadinya numbruk deh." Ucapnya menyalahkan Kevin. " Malah menyalahkan orang lain. Kamu punya mata tidak? Bukannya di pakai dengan benar malah melamun." Ucap Kevin jutek. Mereka berdebat tepat di depan meja Koko. Koko mendengar perdebatan itu. Dan melihat wanita di samping Kevin. " Itu wanita kesurupan yang di rumah makan. Mau apa dia kesini." Gumam Koko. " Kamu tunggu disini. Jangan kemana-mana." Ucap Kevin tegas. " Boleh enggak nunggunya sambil duduk di sofa." Ucapnya cepat. " Banyak betul permintaan kamu, aku bilang di sini yang di sini. Kecuali aku bilang tunggu disana. Maka kamu tunggu disana." Ucap Kevin sambil menunjuk kearah sofa. " Dasar pelit." Ucap wanita itu pelan. Kevin hendak masuk ke dalam ruangan Ziko tapi terhenti karena mendengar perkataan wanita itu lagi. " Siapa yang pelit?" Ucap Kevin berbalik arah lagi ke wanita itu. " Hantu." Ucapnya ketus. " Awas kamu!" Ancam Kevin sambil berlalu meninggalkan wanita itu. " Like, komen dan vote yang banyak ya terimakasih." Chapter 248 episode 247 (S2) Didalam ruangan. Ziko menanyakan tentang beberapa tender yang mereka ajukan. Kevin menjelaskan secara rinci tentang pengajuan itu. " Belum ada respon dari sana tuan." Ucapnya. " Cepat kabari kalau sudah ada respon dari mereka." Ucap Ziko lagi. " Baik tuan, saya membawa seorang office girl di luar. Dia akan membersihkan ruangan ini. Saya ingin anda melihatnya." Ucap Kevin menjelaskan. " Hei untuk apa kamu harus memperkenalkan office girl kepadaku, bukannya aku bilang kamu yang urus." Ucap Ziko protes. " Iya tuan, saya yang urus semuanya. Cuma nama wanita ini unik." Ucap Kevin lagi. " Ya sudah suruh dia masuk." Ucap Ziko cepat. Kevin keluar ruangan dan mencari sosok wanita setengah genre itu. Wanita itu tidak ada di depan pintu. Dia sedang duduk santai di sofa. Kevin berjalan menuju sofa tempat wanita itu duduk. " Hei wanita setengah genre, siapa yang suruh kamu untuk duduk disini. Apa kamu tidak dengar yang tadi aku katakan. Berdiri disana." Ucap Kevin ketus sambil menunjuk ke arah pintu ruangan Ziko. " Aduh Bapak, kaki saya capek banget. Dari tadi belum ada duduk." Ucapnya pelan sambil memelas. Ada rasa kasihan ketika wanita itu berbicara sambil memelas. Memang dia tau pekerjaan cleaning service memang sangat melelahkan. Di saat orang-orang masih tidur mereka sudah berangkat kerja dan membersihkan ruangan tanpa henti. " Sudah istirahatnya? Kalau sudah, ikut aku." Ucap Kevin memerintahkan wanita itu. Wanita itu beranjak dari sofa dan mengikuti pria di depannya. Dia tidak melihat kesana kemari. Dia fokus mengikuti pria didepannya, agar tidak menubruk lagi. Wanita itu berdiri didepan meja, sambil memegang jari jemarinya. Ziko fokus dengan layar laptopnya. " Tuan." Ucap Kevin pelan. Ziko menoleh dan melihat wanita yang berdiri di depannya. Dia melakukan hal yang sama dengan Kevin ketika melihat wajah wanita itu. Ziko membelalakkan matanya. " Kamu?" Ucap Ziko heran. " Kenapa ekspresi mereka sama." Gumamnya pelan. Kevin menyodorkan kertas yang ada di tangannya kepada Ziko. Ziko membaca nama wanita itu. " Samudra nuansa pagi, apa itu nama kamu?" Ucap Ziko heran. " Iya Pak, itu nama pemberian orang tua saya." Ucapnya bangga. " Lucu juga nama kamu. Jadi panggilan kamu apa? Samudra atau pagi?" Ucap Ziko penasaran. " Nama saya Samudera Nuansa Pagi, di singkat Menik." Ucapnya cepat. " Apa! Menik?" Ucap Ziko heran karena nama panjang dengan nama panggilan tidak nyambung. Wanita itu menganggukkan kepalanya cepat. " Buahahhaha Menik." Ucap Ziko tidak bisa menahan tawanya. Kevin ikut tersenyum mendengar nama panggilan wanita itu. Menurutnya nama panjang wanita itu bagus, tapi nama panggilannya yang tidak cocok. " Baik Menik. Kenapa nama panggilan kamu harus itu, kenapa tidak Samudera atau Nuansa?" Ucap Ziko penasaran. " Begini Pak, dulu waktu kecil nama panggilan saya Samudera, tapi namanya anak kecil suka salah menyebutkan nama, jadi mereka memanggilnya saya dengan sebutan udara." Ucap wanita itu menjelaskan. " Kan bagus nama udara." Ucap Ziko menimpali. " Ya Pak bagus, kalau tidak ada penambahan kata di depan atau di belakangnya." " Seperti apa coba?" Ucap Ziko lagi. " Mereka suka mengejek saya dengan sebutan polusi udara." " Buahahhaha." Ziko tertawa lagi mendengar wanita itu berbicara, menurutnya wanita ini sama lucunya dengan istrinya. " Ok, ok kalo Nuansa lebih bagus menurut saya." Ucap Ziko sudah bisa mengontrol tawanya. " Nuansa lebih parah lagi Pak. Mereka mengejek saya dengan sebutan nyungsep." Ucapnya polos. " Buahahhaha." Kevin dan Ziko tertawa lepas mendengar kata-kata wanita didepannya. Menurutnya kreativitas anak-anak dahulu memang tidak ada duanya dengan anak-anak jaman sekarang. " Sudahlah, aku sakit perut mendengar perkataan kamu. Baik yang terakhir kenapa tidak menggunakan kata pagi, pasti mereka tidak mengejekmu kan?" Ucap Ziko cepat. " Memang enggak mengejek sih Pak. Tapi mereka Nyanyi kalau menyebutkan nama saya. Seperti pagi-pagi pasti happy." Ucapnya sambil bergoyang layaknya dangdutan. " Buahahaha. Kenapa kamu bergoyang?" Ucap Ziko dengan gelak tawanya. " Ya saya mempraktekkan saja seperti teman saya lakukan. Mereka pasti bergoyang ketika memanggil saya pagi-pagi pasti happy." Ucapnya menjelaskan. Ziko sudah bisa mengontrol tawanya. Dia melihat wanita didepannya lagi. " Apapun nama yang di berikan orang tua kita. Itu semua ada artinya. Jangan pernah menyesal karena diberi nama jelek. Tapi hargai setiap pemberiannya." Ucap Ziko menasehati. " Iya Pak, saya tidak pernah marah ataupun kecewa dengan orang tua saya. Menurut saya nama pemberian mereka cukup bagus." Ucapnya bangga. " Apa dengan nama Menik kamu tidak di bully dengan teman kamu?" Ucap Kevin ikut nimbrung. " Enggak, mereka tidak membully saya sama sekali. Kata mereka nama Menik cocok untuk saya. Karena kata mereka wajah saya kampungan." Ucapnya lagi. Ziko dan Kevin saling pandang. Mereka sampai heran mendengar penjelasan wanita di depannya. Wanita di depan mereka bukannya jelek malah cantik. Jadi untuk kategori office girl dia memang terlalu cantik. " Kenapa orang tua kamu memberikan nama Menik, selain penjelasan kamu tadi." Ucap Ziko penasaran. " Owh itu dulu masih kecil saya juga sering sakit-sakitan. Kata nenek saya keberatan nama. Jadi makanya orang tua saya memberi nama panggilan untuk saya dengan nama Menik." Ucapnya menjelaskan. " Memangnya masih ada mitos seperti itu? Kalau anak yang sering sakit-sakitan di ganti namanya?" Ucap Ziko bingung. " Enggak tau Pak, tapi begitulah cerita saya." Ucapnya pelan. Dari luar ada seseorang yang membuka pintu ruangan Presiden direktur. Zira datang dengan membawa beberapa tentengan yang berisi makanan. " Selamat siang." Ucap Zira sambil meletakkan tentengan di atas meja. Semua mata tertuju padanya. " Lagi meeting ya?" Ucap Zira heran karena ada tiga orang di dalam ruangan itu. " Enggak, mari sini." Ucap Ziko melambaikan tangannya memanggil istrinya. Zira menghampiri meja suaminya. Ziko mengecup pipi istrinya di depan Menik dan Kevin. Menik membelalakkan matanya tidak percaya. Kevin melihat tingkah wanita itu langsung ambil posisi siaga. " Balikan badan kamu." Ucap Kevin cepat. " Untuk apa? Saya mau melihat mereka berdua." Ucap Menik sambil tersenyum-senyum sendiri. " Cepat balikkan badan kamu." Ucap Kevin cepat sambil memutar badan wanita itu membelakangi Zira dan Ziko. Kevin bisa memperhitungkan apa yang terjadi di belakang mereka. Pasangan suami istri itu saling berciuman mesra. Kevin tidak ingin office girl itu melihatnya. Cukup dia yang menjadi saksi atas kemesraan pasangan suami istri itu. " Pak, memangnya kenapa kita harus melihat kearah sofa. Bukannya tidak baik kalau kita membelakangi mereka berdua." Ucap Menik penasaran. " Apa kamu mau kena batuk musiman seperti aku." Gerutu Kevin cepat. " Maksudnya Bapak apa?" Ucap Menik bingung. " Sudah diam, ikuti saja perintahku, kalau sudah waktunya berbalik maka kita berbalik." Ucap Kevin cepat. " Memangnya apa yang mereka lakukan di belakang." Ucap Menik bingung. " Mereka lagi menghitung gigi masing-masing." Ucap Kevin asal. " Like, komen dan Vote yang banyak ya. Biar semangat updatenya." Chapter 249 episode 248 (S2) " Bapak, sampai berapa lama kita membelakangi mereka." Ucap Menik bingung. " Nanti juga mereka berhenti." Ucap Kevin pelan. " Ngapain sih mereka." Ucap Menik memiringkan kepalanya ke samping agar bisa melihat dari ujung matanya. " Jangan lihat!" Ucap Kevin sambil memegang kepala wanita di sampingnya agar melihat ke depan lagi. Zira tersadar akan kelakuan mereka yang di luar batas. Zira mengakhiri ciumannya sambil memandang dua orang yang membelakangi mereka. " Sayang itu." Ucap Zira menunjuk dua orang di depannya. Ziko memberikan sinyal berupa siulan. Kevin dan Menik masih melihat ke arah sofa. " Pak siapa yang bersiul?" Ucap Menik bingung. " Sudah waktunya membalikkan badan." Ucap Kevin pelan. Menik dan Kevin langsung membalikkan badannya melihat sepasang suami istri itu. " Kamu!" Ucap Zira dengan ekspresi yang sama dengan dua pria di dalam ruangan itu. Waduh kompak banget mereka bertiga semuanya membuat ekspresi yang sama. Sama-sama melotot, apa mereka melihat aku seperti melihat hantu. " Eh nona pengusir arwah ada di sini juga." Ucap Menik spontan. Zira tidak mengetahui siapa yang berdiri di depan suaminya tadi. Ketika mereka berciuman dia juga tidak memperhatikannya siapa wanita itu. Sama halnya dengan Menik, dia kurang paham dengan wanita yang masuk ke dalam ruangan itu, karena dia hanya melihat sekilas. " Apa kamu tidak kesurupan lagi?" Ucap Zira sambil mengedipkan matanya ke arah Menik akting. " Tidak nona, saya sudah sembuh total." Ucapnya ngarang. Zira memperhatikan pakaian wanita di depannya. Dia bisa langsung paham kalau Menik bekerja di perusahaan suaminya. Dia memandang Menik dan Kevin secara bergantian, muncul ide konyol di dalam benaknya. " Sayang." Ucap Zira sambil membisikkan sesuatu ke telinga suaminya. Ziko membelalakkan matanya, tidak habis pikir dengan ide istrinya. " Apa kamu yakin?" Ucap Ziko kurang yakin. Zira menganggukkan kepalanya cepat. Ziko langsung memanggil asistennya. Dia membisikkan sesuatu ketelinga Kevin. " Apa!" Ucap Kevin kaget. " Maaf tuan, saya tidak bisa itu terlalu berat untuk saya." Ucap Kevin menolak. " Ingat kamu kalah dalam pertandingan." Ucap Ziko tegas. " Tapi kenapa harus itu hukumanya? Apa tidak ada yang lain." Ucap Kevin memelas. Ngomongin apa sih dua bos ini. Ini lagi sampai kapan aku harus berdiri. Kenapa mereka cakep-cakep banget ya kalau aku perhatikan. Apalagi nona pengusir arwah itu, cantiknya enggak ketolongan. Aku jadi ngiri. " Udahlah laksanakan saja. Anggap aja kami patung kuda yang tidak mendengar dan melihat percakapan kalian." Ucap Zira ikut nimbrung. " Ayo cepat." Ucap Ziko tidak sabar. Dengan penuh pertimbangan, mau tidak mau dia melakukannya. Menurutnya lebih baik melakukan di sini dari pada di depan umum. Karena Kevin tau karakter bosnya yang tidak suka di bantah. Kevin berjalan mendekati Menik sambil berlutut. " Eng ing eng." Ucap Zira cepat. Kevin melirik ke arah majikannya, ada ragu untuk melakukan hukuman itu. " Bapak kenapa berlutut?" Ucap Menik bingung. " Menik oh Menik." Ucap Kevin kemudian diam sejenak. " Ya." Ucap Menik pelan. Sepasang suami istri itu sudah kekeh tidak bisa menahan tawanya. Kevin melirik sinis ke arah majikannya. " Sstt diam. Kevin marah tuh." Ucap Zira mengingatkan suaminya. Ziko dan Zira berusaha untuk menahan tawanya sambil melipat bibirnya secara kuat, agar tidak keluar tawanya. Tidak lupa Zira mengambil ponselnya untuk merekam atraksi Kevin. Kevin melanjutkan kalimatnya. " Menik, apa kamu mau menikah denganku?" Ucap Kevin cepat dengan jantung yang berdebar. Deg deg deg, begitulah bunyi jantung Menik. Mendengar seorang pria di depannya melamar dirinya. Wadow dia melamarku sungguhan apa hanya akting ya. Sepertinya dia berakting, pasti itu akal-akalan bosnya saja. Aku harus mengerjai dia balik. " Buahahhaha, Bapak lucu deh. Saya itu sudah tunangan." Ucap Menik bohong. Kevin langsung berdiri ketika mendengar Menik tertawa. Dia bersyukur karena wanita itu tidak menganggap serius perkataannya. " Tunangan?" Ucap Ziko memperhatikan wanita di depannya. Zira membisikkan sesuatu ketelinga suaminya. Ziko manggut-manggut paham. " Siapa tunangan kamu?" Ucap Ziko penasaran. Menik langsung berpikir cepat ketika di tanya perihal siapa tunangannya. " Tunangan saya juga berkerja di sini. Sebagai sekuriti." Ucap Menik bohong. Owh sekuriti itu tunangannya. Pantesan dia terlihat akrab dengan si wanita setengah genre. " Sekuriti yang mana?" Ucap Ziko penasaran. " Mungkin tuan tidak paham, dia sekuriti baru di Perusahaan kita." Ucap Kevin menjelaskan. Walaupun di jelaskan pasti bosnya tidak akan mengenal satu persatu karyawan di perusahaannya. Ziko hanya mengenal beberapa orang saja di gedung itu. " Kenapa tidak ada cincin di jari kamu?" Ucap Ziko lagi. " Owh, karena saya pakainya di jari kaki." Ucap Menik asal. " Buahahhaha, memangnya bisa seperti itu." Ucap Zira dengan gelak tawanya. " Bisa nona, saya khawatir ada jambret makanya saya letakkan di jari kaki. Soalnya harta saya cuma itu. Mana mau jambret mengambil ponsel saya yang butut. Udah butut cuma lima digit lagi." Ucap Menik cepat. Menik mengarang indah untuk menutupi kegugupannya karena dilamar Kevin. Walaupun dia tau kalau itu hanya candaan, tapi dia merasa harus melakukan sandiwara itu. " Lima digit? Apa maksud kamu dengan lima digit." Ucap Ziko bingung. Kevin bisa berlega hati ketika Menik tidak menganggap serius tapi ada rasa kekecewaan ketika mendengar kata tunangan dari mulut wanita itu. " Iya Pak lima digit." Ucap Menik merogoh kantong celananya sambil mengambil ponselnya. Menik meletakkan ponselnya di atas meja Ziko. " Itu ponsel saya Pak." Ucap Menik. Ziko memegang ponsel menik yang lumayan tebal. Dan memang hanya ada lima digit di atas ponsel itu. " Kenapa ponsel kamu seperti sabun batangan." Ucap Zira kasihan. " Ya, karena saya memang orang susah nona. Menurut saya ponsel di gunakan hanya untuk berkomunikasi jarak jauh. Jadi tidak perlu mahal-mahal untuk benda seperti itu." Ucapnya lagi. Ponsel menik bukan ponsel layar sentuh seperti pada umumnya. Punya Menik keluaran lama, yang hanya berguna untuk menelepon dan SMS. Sisanya tidak bisa. Dan keypadnya hanya ada 5 digit. Lima digit lagi sudah hilang bahkan sompel. " Bagaimana cara kamu menghubungi seseorang kalau hanya ada 5 digit?" Ucap Ziko penasaran. " Dari daftar kontak Pak." Ucap Menik cepat. " Maksud saya bagaimana cara kamu mencatat nomor baru, jika tidak ada keypadnya di sini." Ucap Ziko sambil menunjuk ke arah ponsel Menik. " Pakai pena pak." Ucap Menik sambil menunjukkan pena yang ada di kantongnya. Ada rasa kasihan ketika melihat wanita di depannya tampil seadanya. Ketika mereka berfoya-foya untuk mengganti ponsel setiap ada keluaran model terbaru. Tapi tidak dengan Menik, dia tetap menggunakan ponsel jadulnya untuk berkomunikasi. " Apa kamu tidak malu, dengan ponsel seperti itu." Ucap Kevin pelan. " Enggaklah, kenapa saya harus malu. Inikan dari hasil saya kerja. Kecuali saya mencuri baru malu." Ucapnya bangga. Zira berjalan menghampiri wanita didepannya sambil memeluk erat Menik. Menik bingung karena mendapatkan pelukan hangat dari Zira. " Terimakasih telah mengajarkan kami banyak hal, kamu sangat pemurah dan rendah hati. Saya salut sama kamu." Ucap Zira memeluk erat tubuh wanita itu. Menik hanya diam, dia tidak tau harus menjawab apa. Menurutnya perkataannya hanya biasa saja tanpa harus menggurui atau mengajari seseorang. " Like, komen dan vote yang banyak. Biar Author rajin updatenya terimakasih. Chapter 250 episode 249 (S2) Setelah percakapan itu, Menik di perintahkan menunggu di luar. Entah apa yang di bicarakan para bos di dalam ruangan Presiden direktur. Di luar dia mengambil kesempatan untuk bicara sama Koko. " Permisi, apa kamu Cici?" Ucap Menik langsung. " Bukan." Ucap Koko gugup dengan intonasi yang di tekan. " Tapi kenapa wajah kamu mirip Cici?" Ucap Menik lagi. Koko gugup karena ada orang lain yang mengenalnya. Walaupun itu sudah lama tapi dia merasa gugup. " Memangnya siapa Cici?" Ucap Koko pura-pura tidak tau. " Cici itu sering nongkrong dengan temannya di cafe Koma, dan aku pelayan di sana." Ucap Menik menjelaskan. Koko memperhatikan wajah gadis di depannya. Raut wajah Menik mengingatkannya tentang seorang gadis yang selalu melayani mereka ketika nongkrong di cafe koma. " Kenapa kamu langsung berpikir kalau aku Cici?" Ucap Koko cepat. " Ya karena kamu mirip banget sama Cici. Cuma bedanya kalau Cici pakai baju wanita dan riasan kalau ini pake jas." Ucap Menik cepat. Koko spontan langsung menutup mulut wanita di depannya dengan tangannya. " Diam, jangan kamu lanjutkan lagi." Ucap Koko sedikit berbisik. " Kamu Cici kan?" Ucap Menik lagi. " Sstt diam. Aku dulu memang Cici tapi sekarang aku telah menjadi Koko sejati." Ucap Koko sedikit berbisik. " Nah betul tidak salah dengan penglihatanku. Dari awal di rumah makan aku sudah ingat dengan kamu, syukurlah kalau kamu sudah berubah. Ngomong-ngomong sejak kapan kamu berubah menjadi pria tulen?" Ucap Menik penasaran. " Aku memang dari dulu pria tulen, mungkin karena salah pergaulan makanya aku bertingkah seperti banci." Ucap Koko menjelaskan. Menik manggut-manggut mengerti. Dari semua kelompok Koko yang sering nongkrong di cafe, hanya pria yang di depannya jarang nongkrong di sana. Dan dia adalah orang yang pertama kali menghilang dari kelompok itu. " Kelompok kamu sudah bubar loh." Ucap Menik cepat. " Serius kamu?" Ucap Koko kaget. " Iya, pertama kamu yang jarang nongol lama-lama keluar satu persatu." Ucap Menik menjelaskan. " Memang kami sudah salah, tidak seharusnya kami berdandan layaknya seorang wanita, walaupun itu hanya hobi belaka." Ucap Koko penuh penyesalan. " Sudah tidak perlu kamu sesali. Jadikan itu pelajaran hidup buat kamu. Kamu di ciptakan Tuhan sebagai pria jadi kamu tetap pria. Kalau ada perubahan dalam diri kamu itu tergantung kamu menyikapinya." Ucap Menik lagi. Apa yang di katakan Menik memang benar, semua jadikan pelajaran hidup. " Aku mohon jangan bicarakan hal ini sama orang lain." Ucap Koko memelas. " Tenang saja, aku bukan orang yang suka membongkar aib orang lain. Tapi kamu harus berjanji akan menjadi pria sejati." Ucap Menik tegas. " Ya aku berjanji." Ucap Koko cepat. " Kalau dari penampilan, kamu sudah terlihat seperti cowok cuma ada satu yang masih meragukan." Ucap Menik sambil memperhatikan pria di depannya. " Apaan?" Ucap Koko ada sedikit takut. " Cara ngomong sudah layak seperti seorang pria, tapi jari jemari kamu ini lebih lentik dari jariku." Ucap Menik sambil menunjukkan jari-jarinya. Koko memandang jari jemarinya. Yang panjang dan lentik, dan kuku yang bersih. " Apanya yang salah." Ucap Koko bingung. " Ya salahlah, kamu cowok tapi jari jemari kamu mirip perempuan. Uratnya aja enggak pada kelihatan. Apa kamu tidak pernah mengangkat beban berat?" Ucap Menik penasaran. Koko menganggukkan kepalanya cepat. Memang dia tidak pernah mengangkat beban berat, mungkin itu yang menyebabkan jari jemari lentik selentik bulu mata palsu. " Aku kasih tau ya, cewek itu suka dengan tangan pria yang kekar. Karena tangan ini yang akan memberikan kenyamanan pada pasangan, genggam tangan ini yang akan menunjukkan kamu sebagai pria sejati." Ucap Menik menasehati. " Jadi bagaimana? Aku naksir dengan seorang gadis, tapi aku ragu dengan sikapku." Ucap Koko lagi. " Ragu karena kamu belum menjadi pria sesungguhnya atau ragu karena hal lain?" Ucap Menik bertanya balik sambil menunjuk ke arah tangan Koko. " Entahlah aku tidak punya kepercayaan diri." Ucap Koko pelan dengan wajah yang sendu. Menik merasa kasihan melihat pria di depannya tidak ada rasa percaya dengan dirinya sendiri. " Kalau kamu sudah suka dengan seorang wanita, itu pertanda kalau kamu sudah berubah. Tinggal kamu saja yang meyakinkan diri kamu sendiri." Ucap Menik menjelaskan. " Bagaimana cara aku meyakinkan diriku." Ucap Koko lagi. Menik memikirkan cara menyelesaikan masalah Koko. " Hemmm, menurut aku tembak aja tuh cewek. Berjalannya waktu nanti akan mengalir dengan sendirinya. Dan untuk masalah jari jemari, sering aja angkat beban berat. Seperti di tempat gym itu banyak beban berat." Ucap Menik menjelaskan. " Terimakasih ya, mau mendengarkan ceritaku." Ucap Koko lagi. " Santai aja lagi." Ucap Menik sambil tersenyum tipis. Didalam ruangan Presiden Direktur. " Vin, menurut saya kamu cocok dengan Menik." Ucap Zira langsung. " Apa! Nona jangan bercanda. Saya betah dengan kesendirian ini." Ucap Kevin pelan. " Mau sampai kapan kamu sendiri? Apa kamu tidak ingin memiliki sebuah keluarga?" Ucap Ziko lagi. " Saya belum memikirkannya." Ucap Kevin cepat menghindar. " Baiklah itu semua jalan hidup kamu. Cuma kalau aku boleh beri saran. Menik wanita yang pantas untuk kamu. Apa adanya dan rendah hati. Jarangloh ada wanita seperti dia. Dimana semua wanita pada gengsi dengan gonta ganti ponsel. Tapi dia tetap dengan pendiriannya. Apa kamu enggak mau wanita seperti itu." Ucap Zira pelan. " Maaf nona, untuk masalah perasaan tidak bisa di paksakan. Jika memang dia jodoh saya pasti akan di permudah." Ucap Kevin tegas. Dia tidak mau terlalu terlihat seperti mengejar-ngejar wanita setengah genre itu. Walaupun ada rasa kasihan mendengar cerita Menik, tapi dia berusaha untuk menutupinya. " Ya sudah terserah kamu. Cuma mengingat saja sebelum janur kuning melengkung, apa salahnya kamu mengejar dan mendapatkan cintanya Menik." Ucap Zira asal. Entah kenapa Zira mengatakan hal seperti itu. Padahal Kevin belum mau memikirkan masalah pernikahan. Tapi dia enggan untuk melihat Menik dengan orang lain. Menurutnya Kevin yang bisa membahagiakan wanita itu. Setelah perbicangan itu Kevin keluar dari ruangan Presiden Direktur. Dia masih melihat Menik ada di depan meja Koko. Mereka berbicara panjang lebar. Wajah Kevin langsung terlihat jutek ketika melihat mereka berdua. " Kamu mau kerja atau mau ngerumpi?" Ucap Kevin tegas. Koko langsung mengambil posisi siap dengan komputernya. Menik hanya menoleh tanpa menjawab pertanyaan bosnya. Kevin meninggalkan dua orang itu dengan wajah yang sedikit di tekuk. Menik mengikutinya dari belakang. " Kenapa kamu mengikutiku?" Ucap Kevin sambil membalikkan badannya. Menik mengulurkan tangannya ke arah Kevin. " Untuk apa ini?" Ucap Kevin ketus. Menik menarik tangan Kevin dan memegangnya secara lembut. " Kamu mau ngapain." Ucap Kevin berusaha melepaskan tangannya dari genggaman wanita setengah genre itu. Menik memegang tangan kanan Kevin dengan dua tangannya. Walaupun Kevin berusaha untuk melepaskan tangannya dari Menik tapi dia tidak berusaha dengan sungguh-sungguh. Ada rasa aneh ketika tangannya di genggam Menik. " Maafkan atas sikap saya kemaren di halte. Saya kemaren benci banget sama Bapak. Dan soal kerusakan mobil boleh saya mencicilnya?" Ucap Menik memohon. " Baik kamu boleh mencicilnya. Gaji pertama aku potong 50 persen untuk membayar hutangmu." Ucap Kevin tegas. " Aih besar banget potongannya, aku makan apa dong." Ucap Menik cepat. " Ya sudah kamu mau bayar berapa?" Ucap Kevin cepat. " Kalau sebulan satu juta, boleh enggak?" Ucap Menik memohon. " Ya terserah." Ucap Kevin pelan. " Tapi sampai berapa lama saya harus membayar satu juta. Saya juga tidak tau berapa total kerusakan itu." Ucap Menik bingung. " Sampai kamu setahun kerja di sini itu juga belum lunas." Ucap Kevin cepat sambil menarik tangannya dari genggaman Menik. Kevin berjalan ke ruangan meninggalkan Menik yang masih menghitung biaya mencicilnya. " Like, komen dan vote yang banyak ya terimakasih." Chapter 251 episode 250 (S2) Menik menghitung hutangnya selama setahun. " Yang benar aja, masak memperbaiki mobil sampai 12 juta. Aku harus minta bukti pembayarannya." Gerutu Menik. Menik berjalan ke ruangan asisten Kevin. Dia mengetuk pintu secara perlahan. Setelah ada sahutan, dia membuka pintu itu. " Kamu! Ngapain lagi di sini?" Ucap Kevin ketus. " Pak, berapa biaya perbaikan mobil itu?" Ucap Menik langsung. " Memangnya kenapa?" Ucap Kevin santai tanpa melirik sedikitpun ke arah Menik. " Ya saya mau buktinya, kalau tidak ada buktinya saya enggak mau bayar." Ucap Menik mengancam. " Hahaha, gayamu nik nik. Memangnya siapa kamu pakai mengancam aku." Ucap Kevin tertawa mengejek. " Ya anda benar saya memang tidak ada apa-apanya dibandingkan Bapak. Saya hanya kotoran di sepatu anda." Ucapnya pelan. Kevin terdiam mendengar ucapan wanita di depannya. Menik begitu merendahkan dirinya dihadapannya. " Kenapa kamu berkata seperti itu?" Ucap Kevin cepat. " Lalu saya harus berkata seperti apa? Saya memang orang susah pak. Apa Bapak bisa memberi keringanan kepada saya." Ucap Menik lagi memohon. " Keringanan?" Ucap Kevin sambil memikirkan. " Baiklah biaya di tanggung kita berdua kamu 90 persen dan saya 10 persen." Ucap Kevin cepat. " Aih, sepuluh persen? Dikit amat?" Gerutu Menik. " Jadi kamu mau berapa persen?" Ucap Kevin memberi tawaran. " Bagaimana kalau kita bagi dua." Ucap Menik cepat. " Hey kenapa kamu menambahkan persennya." Ucap Kevin sedikit kencang. " Aduh Bapak jangan teriak dong, jangan sampai satu kantor ini tau kalau saya ada hutang sama Bapak. Begini Pak, dalam hal ini Bapak juga salah. Coba kalau mau berhenti dan membuka kaca mobil pasti saya tidak akan melakukannya." Ucap Menik membela diri. " Mana bisa seperti itu, yang paling bersalah di sini itu kamu. Kamu dengan sengaja menyiram air ke wajah saya. Dan dengan sengaja menggesekkan batu kemobil. Coba kalau di polisikan, sudah kena berapa pasal." Ucap Kevin menakuti. Menik ketar ketir ketika Kevin mengatakan pasal. Dia tidak habis pikir dengan jalan pikiran pria di depannya yang langsung ingin membawa kasus ini ke ranah hukum. " Pak, jangan seperti itu lah. Aku sudah minta maaf. Bapak tega banget sama aku." Ucap Menik berakting nangis. Kevin paling tidak tega melihat seorang wanita menangis, apalagi tangisan itu keluar karena ulahnya. " Cup cup. Ya sudah cicilan kamu aku beri keringanan dengan membawakan aku setiap hari sarapan pagi." Ucap Kevin pelan. " Serius Pak?" Ucap Menik langsung kegirangan. " Hey bukannya tadi kamu menangis, mana air matanya?" Ucap Kevin bingung. " Tadi lagi mampet Pak, makanya air matanya enggak keluar." Ucap Menik asal. " Jadi kamu mengerjai aku lagi." Ucap Kevin kesal. " Ya enggaklah. Mana mungkin saya mengerjai Bapak. Tapi terimakasih atas kebaikan Bapak. Besok saya bawakan sarapan." Menik meninggalkan ruangan itu sambil tersenyum bahagia. Telah tiba waktunya makan siang. Dia berlari ke pantry untuk menikmati bekalnya. Di pantry tidak ada satupun orang di sana. " Kenapa semua orang tidak ada semua. Apa mereka makan di bawah. Lebih baik aku makan bersama mereka. Dari pada di sini sendirian." Ucap Menik sambil memegang bekal di tangannya. Menik melihat sekeliling lantai itu sepi tidak ada orang. Koko juga tidak ada. Dia bergumam sendiri. " Apa semua orang makan di kantin ya? Tapi mana boleh di kantin bawa makanan dari luar." Menik balik lagi ke pantry untuk menikmati makan siangnya sendirian. Semua sedang makan siang, Ziko dan Zira menikmati makan siangnya di dalam ruangan. Kevin melihat jam di tangannya, waktu sudah menunjukkan jam 12 siang, telah waktunya masuk makan siang. Dia beranjak dari kursinya menuju luar ruangan. Dari jauh dia bisa melihat seseorang didalam pantry sedang duduk sambil menundukkan kepala. Kevin bisa menebak wanita yang ada di pantry itu adalah Menik, tapi dia tidak bisa melihat apa yang di lakukan wanita itu. Karena posisi badan Menik yang membelakangi pintu masuk. Dari jauh hanya terlihat punggungnya saja. " Kamu ngapain di sini? Bukannya seharusnya makan siang?" Ucap Kevin cepat. " Eh Bapak, mari makan." Ucap Menik menawarkan makanan kepada bosnya. Kevin melirik isi bekal Menik. Makanan rumahan yang sederhana tapi sangat menggugah seleranya. " Kamu beli di mana makanan itu?" Ucap Kevin basa basi. " Saya enggak beli, ini saya bawa dari rumah. Tadi subuh saya masak." Ucap Menik sambil menikmati makan siangnya. " Itu apa?" Ucap Kevin menunjukkan makanan yang ada di mangkuk kecil. " Jengkol." Ucapnya cepat. Kevin mengernyitkan dahinya tidak percaya. Di dalam benaknya Menik dan Zira mempunyai karakteristik yang sama. Dan mempunyai selera makan yang juga. " Apa semua wanita makan jengkol?" Ucap Kevin penasaran. " Enggak tau Pak. Kalau saya yang karena jengkol masih dalam batas wajar harganya. Kalau mau beli ayam atau dagingkan mahal. Mending masak jengkol atau telur." Ucapnya lagi sambil makan. " Bapak enggak makan?" Ucap Menik melirik bosnya masih berdiri di dekat meja sambil memperhatikan dirinya sedang makan. " Saya mau keluar sekarang mencari makan." Ucap Kevin berjalan meninggalkan pantry tersebut. " Pak enggak usah keluar. Saya bawa bekal banyak. Kalau Bapak berkenan makan masakan saya." Ucap Menik menawarkan diri. Menik membawa rantang dari bahan plastik. Dan sengaja membawanya dengan terpisah agar lauk dan nasi tidak menjadi satu. Menurutnya jika terpisah rasanya tetap masih enak walaupun sudah dingin. " Saya makan di luar saja." Ucap Kevin menolak. " Ayolah Pak, anggap saja ini cicilan pertama saya." Ucap Menik memohon. " Nanti kamu kasih guna-guna lagi di dalam sini." Ucap Kevin asal. " Idih Bapak, ngapain saya guna-guna Bapak, saya juga mau menikah." Ucapnya bohong. Menik mengambil piring yang ada di pantry dan meletakkan nasi dan lauk pauk. " Ini hanya makanan sederhana, semoga Bapak suka." Ucap Menik sambil menyerahkan piring ke tangan Kevin. Kevin menerima piring tersebut dan membawanya ke ruangannya. Dia tidak mau ada gosip yang beredar jika para staf memergoki dirinya sedang makan berdua dengan office girl. Enak masakan, walaupun dingin tapi masih bisa di makan. Jengkol ini juga enak. Kenapa dia bawa begitu banyak? Kevin menikmati makan itu dengan penuh penghayatan. Dia seperti sedang makan bersama keluarganya. " Sayang, lusa adalah acara empat bulanan anak kita. Boleh aku mengundang Menik?" Ucap Zira meminta izin. " Terserah kamu saja." Ucap Ziko cepat sambil menyandarkan badannya di sandaran sofa. " Terimakasih sayang. Sayang kamu percaya kalau Menik sudah bertunangan?" Ucap Zira curiga. " Memangnya kenapa? Apa urusannya dengan kamu tentang pertunangan dia." Ucap Ziko cepat. " Kalau menurut aku, Menik cocok dengan Kevin. Kevin itu butuh pendamping loh. Umur dia sama kamu sama. Dan menurut aku dia sudah mapan dan sudah waktunya menikah." Ucap Zira cepat. " Sayang, kamu kan sudah dengar kalau Menik sudah bertunangan, jangan kamu rusak pertunangannya dengan hadirnya Kevin. Dan Kevin juga bilang soal perasaan tidak bisa di paksakan. Biarkan saja dia mencari pendamping hidupnya sendiri." Ucap Ziko menasehati istrinya agar jangan ikut campur dengan masalah itu. Zira hanya mengangguk kepalanya saja. Walaupun yang di katakan suaminya benar. Tapi dia masih belum percaya dengan omongan Menik tentang pertunangan. Menurut logikanya, cincin tidak mungkin di letakkan di jari kaki. Jika sudah bertunangan setidaknya Menik menyimpannya di rumah. Karena kekhawatiran Menik akan jambret sangat tidak bisa masuk di akal. Zira ingin mencari tau sendiri kebenarannya. Melihat office girl itu, Zira seperti memandang dirinya sendiri. Itu yang menjadi daya tarik Menik, sehingga Zira ingin mengenalnya lebih jauh. " Like, komen dan vote yang banyak ya. Biar semangat updatenya, Terimakasih." Chapter 252 episode 251 (S2) Hari sudah menjelang petang semua karyawan sudah beranjak meninggalkan gedung Raharsya group. Begitupun para cleaning service mereka mempersiapkan diri untuk pulang ke kerumahnya masing-masing. Zira dan Ziko menunggu di depan pintu loby. Sedangkan Kevin masih mengambil mobil di area parkiran. Di area parkiran banyak karyawan yang mengambil kendaraannya masing-masing. Ada sosok yang menarik perhatian di area itu, yaitu Menik. Dimana yang lain mengendarai motor bebek sedangkan dia mengendarai motor gede layaknya seorang pembalap. Menik menggunakan jaket tebal untuk menutupi tubuhnya, dan dipunggungnya ada tas ransel. Kevin hanya memperhatikan sekilas, walaupun menjadi pusat perhatian ketika seorang wanita mengendarai motor gede, tapi dia berusaha untuk bersikap cuek. Hanya para karyawan yang merasa riuh ketika melihat Menik dengan motor gedenya. Kevin menyalakan mesin mobil, dan menekan pedal gas dengan pelan. Dia berhenti tepat di depan pintu loby. Setelah pasangan suami istri itu naik kedalam mobil. Dia menekan kembali pedal gas dan meluncur ke jalanan. Dari belakang ada yang menyelip mobil mereka dengan cukup kencang. " Kencang banget tuh motor. Apa enggak takut sama nyawanya." Ucap Zira cepat karena kaget mendengar suara motor yang cukup memekakkan telinga mereka. " Mungkin nyawanya ada sembilan." Ucap Kevin cepat. " Kucing kali sembilan." Ucap Zira lagi. " Kalau aku perhatikan seragamnya, itu seperti karyawan kita." Ucap Ziko cepat. Mobil berjalan dengan kecepatan sedang, mereka berhenti di traffic light. Banyak kendaraan yang berhenti di situ. Salah satunya motor yang menyelip mereka. Motor itu tepat berhenti di samping mobil Ziko. Semua yang ada di mobil memperhatikan orang yang berada di atas motor itu. " Itu bukannya si Menik?" Ucap Ziko cepat. " Ya tuan, itu memang dia." Ucap Kevin santai. " Wah keren banget. Dia seperti sepupunya kapten Amerika." Ucap Zira asal. " Sepupu dari mana?" Ucap Ziko bingung. " Coba kamu perhatikan tasnya. Itu ibaratkan sebuah tamengnya kapten Amerika. Cuma bedanya di penutup kepala saja. Kalau kapten pakai penutup kepala dia pakai helm." Ucap Zira lagi. Ziko melirik istrinya melihat ekspresinya, ketika menyangjung office girl itu. " Kamu berlebihan sekali?" Ucap Ziko komplen. " Ah sayang, aku itu salut dengan dia. Dia seperti diriku." Ucap Zira membayangkan dirinya sendiri. Ziko memang memikirkan hal yang sama. Ketika dia mendengar office girl itu bicara, ada kesamaan dengan istrinya. Sama-sama humoris. Mobil sudah meluncur mengikuti arah yang mereka tuju. Menik juga sudah meninggalkan jalanan. Dalam beberapa menit dia sudah sampai di jalanan sempit, tempat rumah dia berada. Dia memarkirkan motornya di depan rumah. Bima langsung membuka pintu ketika ada suara motor di depan rumahnya. " Bagaimana kerjaan kakak?" Ucap Bima penasaran. " Baik." Ucap Menik sambil membuka helmnya. " Apa kakak bertemu dengan bos itu." Ucap adiknya penasaran. " Aduh kamu itu, bukan di tawarkan minum malah di tanya aneh-aneh." Gerutu Menik. Bima pergi ke dapur mengambil minuman hangat untuk kakaknya. " Ini minumannya." Ucap Bima sambil menyerahkan gelas yang berisi teh hangat. " Nah gitu, baru benar." Ucap kakaknya sambil tersenyum tipis. Bima masih menunggu kelanjutan kakaknya ubur berbicara mengenai pekerjaan barunya. " Kakak di tempatkan di lantai para bos." " Serius Kak?" Ucap Bima ragu. Menik menceritakan awal mula dia, di pindahkan dengan keempat temannya. Dan menceritakan cara mereka bertemu dengan satu sama lain. Menik juga menceritakan ruangan apa saja yang menjadi tanggung jawabnya untuk di bersihkan. " Jadi kakak, membersihkan ruangan Presiden direktur dan asistennya?" Ucap Bima kurang yakin. Menik menganggukkan kepalanya dengan cepat. Dia juga menceritakan tentang Kevin melamar dirinya di ruangan Presiden direktur. " Apa! Kakak bercanda ya?" " Kakak tidak bercanda menceritakan ini. Yang becanda bos itu." Ucap Menik kesal. " Maksud kakak apa?" " Jadi sebelum bos Kevin melamar kakak, presiden direktur dan istrinya berbisik sesuatu. Sepertinya mereka memerintah asisten itu untuk melamar kakak. Seperti tantangan gitu." Ucap Menik menjelaskan. " Owh nama bos itu Kevin, terus kakak jawab apa?" Ucap Bima penasaran. " Kakak bilang aja kalau kakak sudah bertunangan dan kamu tunangannya." Ucap Menik sambil memegang rambut adiknya. " Waduh kakak menjatuhkan pasaranku, aku tidak mau terlibat dalam urusan ini." Ucap Bima menolak. " Jadi apa kakak harus menerima lamaran pura-pura itu. Mau di letak dimana nih wajah kalau kakak menerimanya. Ya supaya enggak kalah malu, mau tidak mau kakak berakting seolah sudah bertunangan dengan kamu." Ucap Kakaknya lagi. " Ya, tapi apa tidak ada ide yang lebih masuk akal. Kalau mereka tau kita kakak adik bagaimana?" Ucap Bima juga bingung. " Sudah tidak usah di pikirkan. Yang penting mereka tidak tau kalau kita kakak adik. Dan kamu jangan panggil di sana dengan sebutan kakak. Panggil nama saja Menik." Bima menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Dia harus terlibat dengan urusan kakaknya. Walaupun dia berusaha untuk menolak tapi ada rasa kasihan ketika melihat kakaknya di kerjain atasannya. " Kenapa mereka jahat banget ya kak. Mempermainkan kakak seperti itu." Ucap adiknya kesal. " Sudahlah tidak usah dipikirkan. Mungkin bos Kevin kalah dalam pertandingan yang mereka lakukan beberapa hari. Buktinya dia juga terpaksa melakukannya." Ucap kakaknya menjelaskan. " Ya tapi jangan acara melamar segala. Coba kalau kakak tidak sampai memikirkan ide tunangan itu. Kakak jawab apa?" Ucap adiknya lagi. " Kakak tolaklah. Mana mungkin kakak terima pria seperti dia. Levelnya terlalu tinggi, kita tidak sederajat dengannya." Ucap Menik cepat. Menik memikirkan sesuatu tentang di kantor dan di rumah makan. Dalam benaknya ada sosok wanita yang ada di dekat Kevin. Dan dia pernah berpikir kalau wanita itu adalah pacar dari Kevin. Tapi setelah lamaran pura-pura, dia menyimpulkan kalau Kevin belum mempunyai kekasih, karena dengan gampang mau menerima tantangan dari bosnya. " Jadi wanita itu siapa ya? Apa dia juga berkerja di sana, tapi kenapa aku tidak melihatnya." Gumam Menik. " Kakak bicara apa sih." Ucap Bima tidak jelas mendengarkan perkataan kakaknya. " Ah sudahlah, ini kunci motor. Ingat jangan pernah memanggil dengan sebutan kakak di sana." " Iya kak, kalau aku enggak lupa ya." Bima sangat menyayanginya kakaknya. Hanya Menik keluarga satu-satunya. Begitupun dengan Menik, mereka saling mengasihi satu sama lain. Kesusksesan dan harta bukanlah jaminan bisa membuat keluarga bahagia. Akan tetapi rasa cinta, waktu dan kepedulian yang mereka dambakan. Karena keluarga merupakan satu-satunya tempat kita belajar arti kebahagiaan dan kebersamaan. " Like, komen dan vote yang banyak ya. Biar semangat updatenya." Chapter 253 episode 252 (S2) Senja sudah berpindah ke malam. Malam semakin larut, Menik membaringkan tubuhnya di kasur kecilnya. Matanya belum bisa terpejam, dia masih mengingat kejadian tadi siang di kantor itu. Raut wajah Kevin terlintas di benaknya. Menurutnya wajah Kevin terlihat polos ketika berakting melamarnya. " Seharusnya tadi aku terima saja lamarannya. Pasti bos klepon kaget." Gumam Menik di selingi gelak tawanya. Menik memikirkan makanan apa yang dibawanya besok, secara dia juga belum tau selera makan bosnya. " Tapi sepertinya bos itu tidak masalah dengan semua makanan, jengkol aja di makannya. Jadi besok aku masakin yang ayam cabe rawit. Jontor-jontor tuh bibir." Guman Menik dengan masih gelak tawanya. Di Mansion. Semua penghuni mansion sudah terlelap tidur. Tapi tidak dengan pasangan suami istri itu. Zira dan Ziko masih sibuk membicarakan hal-hal lainnya. Begitupun Zelin, dia masih belum bisa tertidur lelap. Ada rasa kangen dengan sosok Koko. Zelin mengambil ponselnya yang ada di nakas. Dia memilih daftar kontak, ada nama Koko di sana. Dia mau menghubungi Koko tapi di letakkannya lagi. Ada rasa ragu ketika mau menghubungi pria itu. " Apa dia juga merasakan hal yang sama padaku? Sudah beberapa hari ini dia tidak menghubungi aku, apa dia sudah tidak ada perasaan kepadaku." Gumam Zelin pelan. Suara ponsel Zelin berdering. Ada nama Koko di sana. Dia berteriak histeris senang. Ternyata apa yang dipikirkannya salah. Zelin berakting pura-pura bangun tidur. " Ya halo." Ucap Zelin dengan suara yang di buat-buat. " Zelin ada?" Ucap Koko cepat. Aih kenapa dia tidak kenal dengan suaraku. Apa aku terlalu berlebihan aktingnya. " Ini aku Zelin." Ucap Zelin dengan suara yang normal. " Owh, aku pikir tadi bukan kamu, soalnya suaranya jelek banget." Goda Koko. " Ah kamu." Rengek Zelin. " Ada apa?" Ucap Zelin basa-basi. " Hemmm aku hanya mau tanya kabar kamu?" " Kabarku baik." Ucap Zelin dengan perasaan yang berbunga-bunga. Koko diam, dia tidak tau harus membicarakan hal apa lagi. " Apa kamu sudah makan?" Ucap Koko sedikit kaku. Pertanyaannya kaku banget. Kenapa tidak mengungkap perasaannya saja sih. " Sudah." Ucap Zelin sambil memonyongkan bibirnya. Zelin tidak ingin membicarakan hal-hal yang biasa. Dia ingin membicarakan masalah perasaan. Koko menemukan arah pembicaraan yang menurutnya cocok untuk mereka berdua. " Kamu tau, tadi ada office girl baru." Ucap Koko cepat. " Cewek ya?" Ucap Zelin penasaran. " Ya, kamu tau siapa office girl baru itu?" " Enggak." Ucap Zelin jutek karena merasa cemburu dengan sosok cewek yang di bicarakan Koko. " Dia pelayan di rumah makan." Ucap Koko lagi. " Pelayan yang mana?" Ucap Zelin jadi ikut penasaran. " Yang kesurupan?" " Apa! Pelayan kesurupan itu bekerja di sana? Dia cantik loh. Apa kamu tidak suka?" Ucap Zelin memancing pria di ujung sana. Zelin ingin mendengar reaksi apa yang di timbulkan ketika dia membicarakan wanita lain dengan Koko. " Cantik sih tapi lebih cantik kamu." Ucap Koko pelan. Zelin melompat-lompar kegirangan karena baru di puji sama cowok idamannya. Dia berusaha menutup mulutnya agar tidak terdengar kalau dia sangat bahagia ketika mendengarkan rayuan idolanya. Sedangkan Koko menutup mulutnya rapat. Dia heran dengan mulutnya bisa menggombal seorang wanita tanpa memikirkan terlebih dahulu. Kenapa aku bisa berkata seperti itu, apa aku sudah normal? Koko menyukai Zelin, tapi dia belum ada keberanian untuk mengutarakan perasaannya. Dia khawatir akan mengecewakan Zelin nantinya. Mereka melakukan obrolan lainnya, Dengan obrolan itu rasa kangen mereka bisa terobati. Menurut Zelin, walaupun Koko belum mengutarakan perasaannya, tapi dia merasa tetap bahagia karena telah mengetahui isi hati Koko kepadanya. Zelin berpikir mengutarakan rasa cinta hanya merupakan simbolisasi untuk memiliki seseorang. Tanpa adanya pengutaraan mereka tetap memahami satu sama lain. Zira bersandar di badan suaminya. Saling mengobrol satu sama lain. Menurutnya dengan saling berkomunikasi hubungan itu semakin dekat. " Sayang sejak kapan keluarga Kevin di luar negeri?" Ucap Zira penasaran. " Kevin besar di luar negeri. Jadi dari kecil orang tuanya sudah berada di sana." Sambil mengelus rambut Zira. " Kenapa dia tidak pernah izin cuti ya, untuk menjenguk keluarganya?" Ucap Zira lagi. " Dia mungkin terlalu cinta dengan Raharsya group." Ucap Ziko asal. " Yang benar cinta sama kamu." Ziko memiringkan kepalanya melihat ke arah istrinya. " Cinta dari mana?" Ucap Ziko lagi sambil menaikkan salah satu alisnya. " Iyalah, dia tidak pernah cuti atau libur karena seharian selalu bersama kamu." Ucap Zira protes. " Cih kamu salah. Besok akan aku beri surat cuti untuknya. Pasti dia akan menolaknya. Sayang, kamu harus tau kalau Kevin tipe pria pekerja keras. Dia belum pernah mengambil cutinya selama bekerja denganku. Kadang aku heran, apa dia tidak rindu dengan keluarganya." Ucap Ziko sambil membayangkan kejadian-kejadian pada saat asistennya menolak semua tawaran cutinya. " Sayang boleh tidak kita pergi naik kapal. Bermalam di atas kapal seperti asik ya." Ucap Zira sambil membayangkan hamparan angin yang semilir di atas sebuah kapal mewah. " Apa ini termasuk dalam kategori ngidam?" Ucap Ziko penasaran. " Enggak tau, tapi aku pengen banget nginap di atas kapal. Menikmati air laut yang saling berkejaran." Ucap Zira lagi. " Apa tidak membahayakan kalau kamu lagi hamil seperti ini?" Ucap Ziko khawatir. " Bagaimana kalau kita ajak dokter Diki. Jadi ada yang memantau kondisi bayi kita." Ucap Zira penuh harap. " Nanti aku pikirkan. Sekarang fokus ke acara empat bulanan anak kita. Setelah selesai acara aku janji akan membawa kamu naik kapal pesiar." Ucap Ziko sambil memeluk erat tubuh istrinya. " Nanti bawa Menik, Kevin, dokter Diki, Zelin dan Koko." Ucap Zira cepat. " Hey kamu bukan mau jadi Mak comblang untuk merekakan?" Ucap Ziko penasaran. " Ya iyalah. Memangnya enak kalau mereka hanya sebagai penonton kemesraan kita." Ucap Zira lagi. " Sayang, Office girl itu bukannya sudah bertunangan, nanti kalau tunangannya minta ikut bagaimana? Atau malah gara-gara perjalanan ini hubungan mereka bubar bagaimana?" Ucap Ziko khawatir. " Sudah tenang saja. Istrimu ini yang atur, tidak akan ada pertengkaran atau keributan." Ucap Zira menenangkan suaminya. " Baiklah jangan sampai kamu menjadi duri di dalam hubungan mereka." Ucap Ziko lagi. " Tidak sayang, aku tidak akan jadi duri ataupun benalu. Aku akan jadi Ibu peri disana." Ucap Zira dengan gelak tawanya. Kevin tidak bisa tidur, bukan karena matanya tidak bisa terpejam tapi karena perutnya sakit. Dia sudah beberapa kali ke kamar mandi buang hajat. Kevin sampai terkulai lemas, karena beberapa kali mengeluarkan kotoran. Kevin membaringkan tubuhnya di atas kasur. Sambil memegang perutnya. " Ini pasti karena makan jengkol si Menik. Awas saja kalau besok membawakan makanan yang pedas." Gerutu Kevin pelan. Ada rasa kosong ketika di dalam rumah sendirian. Dimana pada saat sakit seperti itu pasti jika ada seorang pendamping akan beda rasanya. Karena ada yang mengurusinya. Tiba-tiba bayangan wajah Menik terlintas di benaknya. Cara bicara Menik yang hampir mirip dengan Zira membuat Kevin sedikit terpesona. " Kenapa aku memikirkan sepupu kapten Amerika. Kalau kapten tau, bisa mati aku kena tamengnya." Gerutu Kevin. Kevin menutup matanya dan bayangan wanita itu tetap ada. Wajah Menik menghiasi semua isi kepalanya. " Kenapa aku memikirkan dia terus, apa jangan-jangan dia pakai jampi-jampi di jengkol itu." " Besok aku akan menanyakan hal ini kepadanya." Ucap Kevin lagi. Kevin menyalakan televisi agar dia bisa tertidur dan bayang-bayang Menik hilang dari pikirannya. " Like, komen dan vote yang banyak ya. Biar semangat updatenya terimakasih." Chapter 254 episode 253 (S2) Langit berwarna biru selalu indah di pandang. Saat fajar ketika matahari terbit warna jingganya juga mempunyai daya tarik sendiri. Daya tariknya selalu di nantikan siapapun. Seperti Menik, dia selalu bersiap lebih awal untuk berangkat kerja. Setelah adiknya pulang, dia mengambil alih motor itu untuk mengendarai si roda dua. Jalanan pada pukul 5 lebih tidak cukup padat. Sehingga Menik dengan cepat sampai di tempat tujuan. Seperti karyawan lainnya, begitu masuk dia harus di periksa tasnya. Dan melakukan absensi dengan sidik jari (fingerprint). Sebelum melakukan pekerjaan masing-masing, mereka di berikan pengarahan terlebih dahulu atau di sebut apel pagi. Menik mulai membersihkan ruangan khusus terlebih dahulu, yaitu ruangan Presiden direktur. Ruangan itu ruangan favoritnya, karena besar dan juga arsitekturnya sangat bagus. Membersihkan ruangan bukan merupakan hal yang sulit untuknya dengan sigap dia langsung bisa menyelesaikan ruang itu. Ada yang menjadi pusat perhatiannya. Yaitu sebuah pigura di atas meja. Didalam pigura ada sebuah foto kemesraan pasangan suami istri itu. Dimana foto itu terlihat Ziko sedang mengecup pipi istrinya. " Pasangan yang cocok." Gumam Menik. Setelah selesai ruangan Presiden direktur, Menik membersihkan ruangan asisten Kevin. Ruangan yang besar tapi tidak sebesar ruangan Presiden direktur. Penataan di ruangan itu juga sama bagusnya dengan ruangan Ziko. " Ruangannya bagus tapi sayang tidak ada bunga di meja ini." Gumam Menik. Setelah urusan bersih membersihkan selesai dia pergi ke pantry untuk mengistirahatkan kakinya. Para karyawan sudah banyak yang berdatangan. Termasuk Koko dia juga baru datang. Dan Mengambil minuman hangat untuk di bawanya ke mejanya. " Pagi Koko?" Sapa Menik. " Pagi, kamu sudah minum?" Ucap Koko menawari minuman kepada Menik. Menik menganggukkan kepalanya cepat sambil melihat beberapa karyawan yang wara wiri kedalam pantry. Dia memilih keluar dari pantry menuju ke lantai bawah. Di lantai bawah atau tepatnya di lobby ada dua orang temannya yang sedang membersihkan ruangan itu. Dia menghampiri temannya. " Kenapa pekerjaan kalian belum selesai?" Ucap Menik. " Bagaimana mau selesai, belum kering di pel sudah di injak. Jadi tapak sepatunya terlihat di atas keramik." Gerutu seorang wanita. " Apa pekerjaan kamu sudah selesai?" Ucap temannya pria. " Sudah." Ucap Menik cepat. " Kamu enak hanya di berikan dua ruangan khusus. Sedangkan kami selesai di loby masuk ke ruangan HRD." Gerutu si cewek lagi. " Ya sudah, sini aku bantu." Ucap Menik mengambil alat penyemprot kaca. Menik membantu membersihkan kaca pintu loby. Memang pekerjaan dia yang paling ringan karena hanya membersihkan dua ruangan, ada rasa tidak enak hati ketika temannya mempermasalahkan pekerjaannya yang hanya dua ruangan. Sedangkan koridor lantai tempat dia bekerja bukan menjadi tanggung jawabnya, tetapi temannya yang lain. Untuk menenangkan pikiran temannya tentang pembagian tugas itu, Menik membantu temannya untuk membersihkan kaca loby. Waktu sudah menunjukkan jam 8 pagi. Semuanya sudah terlihat sepi. Karyawan sudah tidak ada yang wara wiri di area loby. Hanya terlihat tiga orang resepsionis di depan mejanya. Dan tiga cleaning servis di lantai itu salah satunya adalah Menik. Ada sebuah mobil sedan hitam yang berhenti tepat di depan pintu loby. Menik memberanikan diri untuk bertanya kepada temannya pria. " Mobil itu harganya berapaan ya?" Ucap Menik penasaran. " Waduh itu mobil mahal, harganya sampai em eman." Ucap temannya. " Kalau ada kerusakan kena berapa tuh." Ucap Menik lagi. Menik mencari informasi berapa kira-kira biaya kerusakan untuk mobil mewah itu. " Wah mahal lah. Mungkin gaji kita setahun aja belum bisa memperbaiki mobil mewah itu. Asal kamu tau, itu pajak mobilnya sampai ratusan juta loh." Ucap temannya lagi. Menik membelalakkan matanya tidak percaya. Pantas si bos bilang gajiku setahun belum bisa melunasi cicilan perbaikan mobil itu. Kevin turun dari mobil sendirian, tidak ada Ziko di dalam mobil itu. Dia melihat Menik sedang membersihkan kaca bersama temannya yang berjenis kelamin laki-laki. Dia memandang sinis ke arah wanita itu. Menik hanya mengangguk kepalanya ketika berhadapan dengan bosnya. " Apa pekerjaan kamu sudah selesai?" Ucap Kevin cepat. " Sudah Pak bos." Ucap Menik cepat. " Ikut saya." Ucap Kevin cepat. Menik memberikan alat penyemprot kaca dan kain yang di pegangnya kepada temannya. Dia mengikuti Kevin dari belakang. Kevin memilih lift khusus presiden direktur. Sedangkan Menik menuggu lift khusus karyawan. Pintu lift khusus presiden direktur sudah terbuka dan Kevin masuk ke dalam ruangan persegi itu. Dia menahan pintu itu untuk Menik. Tapi Menik tak kunjung masuk. Kevin melihat keluar sudah tidak ada wanita itu di luar. Dia langsung memencet tombol khusus lantai ruangannya. Setelah lift berhenti pintu terbuka sudah ada Menik di depan pintu lift khusus itu. " Bapak kalah." Ucap Menik bangga. " Apa kamu pikir kita baru bertanding." Ucap Kevin cepat. Kevin berjalan menuju ruangannya di ikuti Menik dari belakang. Dia melihat hasil kerja wanita itu. Sambil meletakkan jari jemari di semua sudut ruangan, untuk memastikan masih ada debu apa tidak di ruangan itu. Kevin manggut-manggut seperti puas dengan hasil kerja si Menik. Kemudian Kevin pergi keluar ruangan menuju ruangan Presiden direktur masih tetap di ikuti Menik. Kevin melakukan hal yang sama seperti di ruangannya. Mengecek sudut mana yang masih ada debu. " Ikuti saya." Ucap Kevin lagi keluar dari ruangan Presiden direktur menuju ruangannya. Di dalam ruangan. Kevin sudah duduk di kursi kerjanya. " Apa yang kamu lakukan di bawah?" Ucap Kevin langsung. " Membantu teman Pak." " Kamu membantu atau mengobrol?" Ucap Kevin lagi. " Membantu sekaligus mengobrol." Ucap Menik jujur. " Saya tidak mau kamu berkeliaran di mana saja. Tugas kamu hanya di lantai ini. Di ruangan saya dan ruangan Presiden direktur." Ucap Kevin sedikit emosi. Kevin memang tidak suka melihat karyawan yang ngobrol satu sama lainnya. Apalagi Menik, dia tidak suka melihat Menik berbicara dengan lawan jenis. " Iya Pak, tapi kenapa Bapak emosi seperti itu." Ucap Menik cepat. " Karena kamu." Kevin terdiam tidak melanjutkan perkataannya. " Ah sudahlah." Ucap Kevin. Menik membalikkan badannya hendak meninggalkan ruangan itu. " Siapa yang suruh kamu pergi?" Ucap Kevin lagi. " Lah tadi Bapak bilang sudahlah, jadi saya pergi dong." Ucap Menik membela diri. " Ya tapi saya belum mengizinkan kamu untuk pergi dari ruangan ini." Menik kembali dengan posisi bersiap seperti layaknya seorang tentara. " Besok empat bulanan nona Zira. Hari ini tuan dan Nona tidak datang ke kantor karena lagi mempersiapkan untuk acara besok." Ucap Kevin menjelaskan. " Terus urusannya dengan saya apa Pak?" Ucap Menik bingung dengan arah pembicaraan bosnya. " Ya makanya kamu diam dulu, jangan main potong aja." Ucap Kevin dengan menekan intonasinya. Menik memegang mulutnya dengan jari tangannya. " Kamu di undang ke acara besok." Ucap Kevin cepat. Owalah Pak, tinggal bilang kamu di undang aja pakai acara mutar-mutar enggak menentu. " Baik Pak." Ucap Menik cepat. " Ingat besok acara pengajian, jadi jangan pakai pakaian kasual. Pakai pakaian feminim." Ucap Kevin cepat. " Waduh Pak, saya tidak punya pakaian yang feminim. Semuanya celana setan." Ucap Menik cepat. " Setan?" " Jins maksud saya celana jins." Ucap Menik memperbaiki kosa katanya. " Kamu wanita apa pria sih. Rok aja enggak punya." Gerutu Kevin. " Kalau rok ada pak, tapi rok sekolah. Mana mungkin saya pakai itu ke sana. Nanti di kirain orang-orang saya mau reunian." Ucap Menik lagi. " Pokoknya saya enggak mau tau kamu harus terlihat." Ucap Kevin diam. " Cantik? Maksud Bapak cantikkan?" Ucap Menik cepat. Kevin terdiam, tidak mengiyakan perkataan wanita itu. Dia memang ingin melihat penampilan wanita itu jika memakai pakaian feminim. Apakah dengan memakai pakaian feminim dia masih terlihat seperti sepupu kapten Amerika atau malah seperti ibu kapten Amerika. " Like, komen dan vote yang banyak biar semangat updatenya terimakasih." Chapter 255 episode 254 (S2) " Baiklah Pak, besok saya akan memakai gaun nenek saya." Ucap Menik cepat. " Aih kenapa harus pakai gaun. Besok acara pengajian jadi kamu harus pakai pakaian yang tertutup." Ucap Kevin komplain. " Aduh Bapak ini, gaun itu juga tertutup kok." Ucap Menik cepat. Menik bingung kenapa cara pakainya harus di atur dengan bosnya. " Pak apa saya boleh balik?" " Tunggu, apa kamu meletakkan sesuatu ke dalam jengkol kemaren?" " Maksud Bapak apa?" " Apa kamu memakai jampi-jampi di dalam jengkol kemaren yang aku makan." Ucap Kevin cepat. " Iya Pak, saya memberikan jampi-jampi agar mulut Bapak juga bau." Ucap Menik asal. " Kamu!" Kevin menatap tajam ke arah wanita itu. " Enggaklah Pak, saya bercanda. Untuk apa saya jampi-jampi Bapak? Memangnya Bapak kenapa?" Ucap Menik heran. " Saya memikirkan ka." Ucapan Kevin terhenti. Tidak mungkin Kevin melanjutkan ucapannya, dengan berbicara jujur sama saja dia mengakui kalau bayang-bayang Menik menghiasi isi kepalanya. " Memikirkan apa Pak?" Ucap Menik penasaran. " Mana makanan saya." Ucap Kevin mengalihkan pembicaraan. Menik keluar ruangan Kevin dan berlari menuju pantry. Dia mengambil rantang yang ada di dalam tas ranselnya dan membawanya ke ruangan Kevin. Menik mengetuk pintu dan meletakkan rantang itu di atas meja Kevin. Dia membuka satu persatu rantang itu dan meletakkan berjejer di atas meja. " Silahkan makan, mumpung masih hangat." Ucapnya pelan. Aroma makanan itu menggugah selera makannya. Kevin di bantu Menik untuk mengambil makanan itu. Kevin kepedasan sampai keluar bulir-bulir keringat dari pelipisnya. Menik sampai heran ruangan itu sudah cukup dingin tapi pria di depannya bisa kepanasan karena menahan rasa pedas itu. " Pak ini pedas banget, apa Bapak yakin menghabiskannya?" Ucap Menik khawatir. Menik membawa 3 potong ayam cabe rawit. Rencananya satu untuk dia dan dua untuk Kevin. Tapi semua di habiskan sama Kevin. Walaupun kepedasan dia tetap berusaha untuk menghabiskan makan itu. Menik sampai membelalakkan matanya tidak percaya semua isi rantang habis di makan Kevin. " Waduh siang ini aku puasa." Gumam Menik pelan. Menik menyusun rantangnya. " Masakan kamu enak." Puji Kevin. " Bapak doyan apa lapar?" Ceplos Menik. " Sebelas dua belaslah." Ucap Kevin dengan nada kepedasan. Tiba- tiba Kevin memegang perutnya, dan berlari keluar ruangan menuju toilet. Menik yang melihat menjadi khawatir. Dia takut di salahkan jika terjadi sesuatu dengan bosnya. Memang Menik memasak masakan yang pedas, tapi dia tidak habis pikir kalau Kevin menghabiskan semuanya. Menik menunggu di depan pintu toilet khusus wanita bersebelahan dengan toilet pria. Hampir setengah jam Menik menunggu di sana tapi belum ada tanda-tanda Kevin keluar dari sana. Menik berlari ke depan menemui Koko. Dan menceritakan hal itu kepada pria gemulai itu. " Cepat kamu lihat di dalam sana. Aku khawatir terjadi apa-apa dengan bos Kevin." Ucap Menik gugup. Koko berlari ke toilet di ikuti dengan Menik. Menik menunggu di depan pintu. " Pak, Bapak tidak apa-apa?" Teriak Koko. Menik mendengar teriakan Koko, dia langsung masuk ke dalam toilet pria, dan menemukan Kevin sudah terduduk lemas di lantai toilet. " Ayo kita bopong." Ucap Menik cepat. Kevin masih sadar tapi dia terlalu lemas untuk berkata-kata. " Kita bawa ke rumah sakit aja." Ucap Koko cepat. Menik setuju, dia mengambil tas ranselnya kemudian kembali menuju toilet. Dan memapah Kevin keluar dari situ. Tanpa sadar mereka terlihat cukup dekat seperti itu. Koko tidak mau ikut memapah Kevin, karena dari tatapan bosnya sudah terlihat kalau pria tersebut enggan untuk di papah olehnya. Mereka menuju lift khusus presiden direktur. Tangan Kevin merangkul bahu wanita itu dan salah satu tangan Menik memegang pinggang bosnya. Mereka sampai didepan loby, security ikut membantu memindahkan Kevin ke dalam mobil. " Kamu tidak usah ikut, kamu ambil tanggung jawab di sana." Ucap Kevin memerintahkan Koko untuk tetap berdiam diri di kantor. Kevin duduk di kursi belakang di ikuti Menik di sebelahnya. Supir mengantarkan mereka ke rumah sakit. Setelah beberapa menit mereka sampai di rumah sakit. Mobil berhenti di pintu IGD, dua orang perawat pria membantu Kevin untuk pindah ke tempat tidur. Menik terlihat khawatir melihat kondisi bosnya yang pucat pasi. Dokter menanyakan beberapa hal. Dan Menik menceritakan semuanya kepada dokter tersebut. " Bapak tidak tahan dengan makanan pedas. Itu yang menyebabkan Bapak diare, diare itu yang membuat Bapak lemas, karena dehidrasi." Ucap sang dokter menjelaskan. " Apa berbahaya dokter?" Ucap Menik khawatir. " Kalau lambat penanganan bisa berbahaya." Ucap dokter tersebut. " Pasien harus bermalam di sini? Silahkan anda daftarkan ke bagian registrasi." Ucap Dokter lagi. Supir sudah pergi meninggalkan rumah sakit. Hanya ada Menik di situ. Jadi dia yang harus bertanggung jawab penuh dengan kejadian itu. Dia berjalan kebagian pendaftaran. " Pagi mbak, saya mau mendaftarkan pasien di IGD." Ucap Menik pelan. " Pagi, silahkan isi formulir ini." Ucap Bagian pendaftaran. Menik melihat formulir itu yang berisi daftar riwayat hidup pasien. Dia tidak tau perihal tentang Kevin. Dia meminta ijin kebagian pendaftaran untuk membawa formulir itu ke IGD. Setelah mendapatkan ijin, Menik berlari ke IGD untuk menjumpai Kevin. " Pak, saya tidak tau harus mengisi apa?" Ucap Menik pelan. Kevin memberikan dompetnya kepada Menik. " Untuk apa Pak?" Ucap Menik bingung. " Ambil kartu identitas saya di dalam." Ucap Kevin pelan. " Maaf Pak, saya tidak boleh mengambil atau melihat isi dompet itu." Ucap Menik menolak. " Cepat ambil, memangnya apa yang mau kamu ambil di dompet saya. Tidak ada uang sama sekali di dalamnya." Ucap Kevin pelan. Menik memberanikan diri untuk membuka dompet itu di saksikan Kevin. Pria itu menunjukkan dimana letak kartu identitas itu berada. " Wah benar, dompet Bapak tidak ada uangnya. Bapak koleksi kartu nama ya?" Ucap Menik pelan. Kevin hanya melirik tidak membalas gurau wanita itu. Menik menyalin identitas Kevin ke dalam formulir. Menik berhenti pada satu pertanyaan yang menayangkan status. " Status Bapak apa?" Ucap Menik lagi. " Single." Ucap Kevin pelan. " Apa singlet?" Ucap Menik cepat. " Kamu kalau oon jangan di pelihara." Gerutu Kevin pelan. Kevin mengeja kata single. Menik mencatatnya di dalam formulir itu. " Hubungan dengan pasien?" Ucap Menik pelan. " Maksudnya apa Pak?" " Hubungan kamu dengan saya apa?" Ucap Kevin menjelaskan. Menik paham dia menuliskan kata bos. Dan menunjukkan kearah Kevin. " Kenapa kamu buat bos." Ucap Kevin komplain. " Terus saya buat apa? Tidak mungkin hubungan kita hubungkan ayah dan anak." Ucap Menik lagi. " Ganti dengan saudara." Ucap Kevin pelan. " Eh Bapak bukan saudara saya." Ucap Menik komplain lagi. " Sudah kamu tulis aja seperti itu, biar cepat saya pindah ke ruangan rawat inap." Ucap Kevin cepat. Menik menulis sesuai dengan permintaan bosnya. Dia berlari ke bagian pendaftaran dan menyerahkan formulir itu. " Untuk uang muka minimal 10 juta." Ucap bagian pendaftaran. Menik membelalakkan matanya mendengar nominal yang di sebutkan bagian pendaftaran. " Mana punya aku uang sebanyak itu." Gumamnya pelan. Menik berjalan ke ruang IGD dengan wajah yang sedikit lesu. " Kenapa?" Ucap Kevin cepat melihat wanita itu lesu. " Pak kita pindah rumah sakit lain aja ya." Ucap Menik cepat. " Pindah kemana?" Ucap Kevin bingung. " Ke bidan." Ucap Menik cepat. " Bidan? Memangnya saya mau melahirkan.". Ucap Kevin cepat. " Di sini mahal, saya tidak sanggup membayarnya." Ucap Menik pelan. Kevin terlupa sesuatu dan mengambil dompetnya kembali menyerahkan kepada Menik. " Ambil kartu yang berwarna gold." Ucap Kevin cepat. " Gold warna apa pak?" Ucap Menik pelan. " Warna emas." Ucap Kevin lagi. Menik mencari kartu yang ada di dalam dompet Kevin. Ada banyak kartu di dalam situ, dan hampir semuanya berwarna emas. " Bapak selain hobi mengoleksi kartu nama juga koleksi kartu atm ya. Kenapa enggak mesinnya aja yang di pindahkan disini." Ucap Menik lagi. " Like, komen dan vote yang banyak ya terimakasih." Chapter 256 episode 255 (S2) Kevin melirik Menik dengan tatapan tajam. Mulut wanita di depannya tidak pernah berhenti berbicara. Kartu yang berwarna gold itu adalah kartu asuransi kesehatan. Menik menyerahkan kartu itu ke bagian pendaftaran. Pihak pendaftaran menyalin dan mengecek nomor asuransi yang tertera di kartu tersebut. Pihak pendaftaran menyerahkan kartu tersebut kepada Menik. " Silahkan tunggu di ruang IGD." Ucap seorang wanita yang bekerja di bagian registrasi. Menik berjalan kembali ke ruang IGD sambil memandangi kartu yang ada di tangannya. Dia menyerahkan kartu tersebut kepada si empunya. " Bapak hebat ya, hanya pakai kartu saja sudah langsung di proses. Saya kalau sakit menunjukkan kartu ke bagian administrasi, boro-boro di rawat di lirik aja tidak." Gerutu Menik. " Memangnya kamu pakai kartu apa?" Ucap Kevin penasaran. " Kartu SPP pak?" Ucap Menik sambil tertawa terbahak-bahak. " Kamu ya! Bisa tidak kamu berbicara serius?" Ucap Kevin kesal. Mulut Menik memang bawel, Kevin tidak bisa membedakan mana serius sama bercanda. Karena mimik wajah Menik cukup serius ketika berbicara. " Ops, ada yang marah." Ucapnya sambil menutup mulutnya. Perawat datang menghampiri mereka. " Bapak sudah bisa pindah ke ruang rawat inap." Ucap seorang perawat. Menik membantu bosnya untuk duduk, dan memapahnya ke atas kursi roda. Menik mencium aroma parfum dari balik kemeja Kevin. Perawat mendorong kursi roda tersebut ke ruang rawat inap. Menik membantu membawa botol infus di tangannya. Mereka sampai di ruang rawat inap, dan dia membantu bosnya untuk pindah ke atas tempat tidur. Perawat IGD pergi meninggalkan mereka berdua menuju ruang perawat. Perawat IGD menyerahkan berkas kepada pihak perawat yang menangani Kevin. Menik memperhatikan sekeliling ruangan itu dengan takjub. Dia teringat sesuatu untuk menanyakan hal yang membuatnya penasaran. " Bapak pakai parfum apa?" Ucap Menik sambil menatap tajam pria yang terbaring di kasur. " Memangnya kenapa?" Ucap Kevin pelan. " Parfum Bapak seperti parfum mobil." Ucap Menik dengan gelak tawanya. Kevin menepuk jidatnya dengan telapak tangannya. Menurutnya wanita ini luar biasa konyolnya. Bahkan melebihi Zira menurutnya. " Apa kamu tidak punya parfum?" " Enggak ada, saya hanya punya minyak angin. Biasanya saya pakai kalau selesai habis mandi." Ucap Menik sambil menarik kursi yang berada dekat tempat tidur. Dia duduk di atas kursi tersebut sambil menatap sekeliling ruangan. " Kenapa kamu seperti nenek-nenek." Ucap Kevin cepat. " Maksudnya Bapak?" Ucap Menik bingung. " Ya, tadi kamu bilang selesai mandi kamu pakai minyak angin itu sama saja seperti nenek-nenek." Ucap Kevin lagi. " Bapak salah, bukan nenek-nenek tapi seperti seorang bayi." Ucapnya sambil menyandarkan dagunya di atas tempat tidur. " Bayi dari mana?" Ucap Kevin protes. " Bayi gorila." Ucapnya sambil tetap menyandarkan dagunya di kasur. Waktu sudah menunjukkan jam 12 siang. Pada saat itu perut Menik sudah menari salsa untuk minta di isi. Dia melirik jam yang ada di dinding. Kemudian melihat dompetnya, di dalamnya hanya ada uang berwarna hijau. Cukup untuk beli mei rebus. " Pak saya boleh permisi sebentar?" Ucap Menik pelan. " Kamu mau kemana?" " Mau ke kantin." Ucapnya lagi. " Baiklah belikan saya teh hangat." Ucap Kevin cepat. Menik menimbang-nimbang apakah uangnya cukup untuk makan dan membeli teh hangat. Karena dia tau makanan di rumah sakit termasuk mahal. " Baik pak, saya pergi dulu." Ucapnya sambil berjalan keluar menuju kantin. Dia menanyakan terlebih dahulu harga mie rebus tersebut kepada pihak kantin dan menanyakan harga teh hangat. " Waduh mahal banget, masak mie saja bisa 20 ribu. Teh hangat lima ribu." Gumam Menik pelan. " Mbak mie rebus satu bungkus ya." Ucapnya. Setelah pesanannya selesai dibuat, dia membayar mie tersebut tidak lupa membawa pesanan bosnya. Di dalam ruangan dia melihat Kevin sedang tertidur. Menik berjalan pelan-pelan agar tidak menggangu istirahat Kevin. " Kamu sudah balik?" Ucap Kevin pelan sambil membuka matanya perlahan. " Eh Bapak sudah bangun?" Ucapnya sambil tersenyum. " Mana tehnya?" Ucap Kevin sambil mengulurkan tangannya. Menik menyerahkan sebuah pelastik putih yang ada sedotan di dalamnya. Kevin mengernyitkan dahinya. " Aku tadi minta teh hangatkan?" Menik menganggukkan kepalanya. " Terus kenapa kamu bawa air putih?" Ucap Kevin komplain. " Itu pak, tadi warnanya pudar, karena terlalu panas." Ucapnya gugup. Kevin memandang wanita di depannya. " Apa kamu tidak punya uang?" " Punya, saya punya uang. Tadi di kantin gulanya habis." Ucap Menik mengarang indah. " Nik nik, kamu kalau tidak ada uang bilang." Ucap Kevin sambil mengambil dompetnya. Kemudian Kevin terdiam, dia juga tidak mempunyai uang cash di dalam dompetnya. " Pak Pak, kalau tidak punya uang bilang." Ucap Menik sambil menggelengkan kepalanya menyindir bosnya. Kevin tersenyum, mereka berdua sama-sama tidak punya uang. " Apa yang kamu beli?" Ucap Kevin mengalihkan pembicaraan agar Menik tidak menyindirnya lagi. " Mie rebus, mahal banget Pak. Biasanya mie rebus di hargai lima ribuan, ini sampai dua puluh ribu. Padahal mienya sama-sama keriting, kalau mienya di rebonding wajarlah mahal. Ini tidak bentuknya sama saja." Gerutu Menik. " Bapak enggak maukan?" Ucap Menik langsung. " Hey seharusnya kamu itu menawarkan saya dengan kata bapak maukan? Bukan menambahkan kata enggak." Ucap Kevin komplain. " Memang sengaja, soalnya saya lapar kalau Bapak makan juga saya enggak kenyang." Ucap Menik cepat sambil menikmati makanannya. Pintu di ketuk, dua orang perawat dan satu dokter datang untuk memeriksa kondisi pasien. Dokter mengajukan beberapa pertanyaan kepada pasiennya. Perawat mencatat semuanya di sebuah kertas, kemudian mereka pergi meninggalkan ruangan tersebut. " Ruangan ini besar sekali, lebih besar dari rumahku. Belum lagi udaranya sejuk." Gumam Menik pelan. Gumaman Menik terdengar oleh Kevin. Ada rasa kasihan ketika mendengar gumaman wanita di depannya. " Apa kamu sudah menghubungi tunangan kamu? Nanti dia cemburu lagi." Ucap Kevin mengingatkan. " Oh iya, saya belum menghubunginya." Ucap Menik sambil mengambil ponselnya dari dalam tas ransel. " Apa kamu tidak berniat beli ponsel?" Ucap Kevin pelan. " Belum Pak, saya kumpulkan uang dulu." Ucap Menik sambil pergi keluar ruangan. Kevin memperhatikan dari dalam. Ketika melihat Menik berbicara dengan seorang pria. Entah kenapa hati Kevin seperti terasa sakit. Dia tidak mengerti akan hal itu. Beberapa menit kemudian Menik kembali ke dalam ruangan tersebut. " Sudah?" Ucap Kevin cepat. " Hemmm." Menik meletakkan ponselnya di atas meja di samping tempat tidur. " Kamu bilang apa sama dia?" Ucap Kevin penasaran. " Saya bilang kalau Bapak lagi sakit karena makan ayam buatan saya. Eh saya malah di marahi. Katanya saya mau meracuni Bapak." Gerutu Menik. " Memang iya kan?" Ucap Kevin lagi. " Ah Bapak, saya tidak ada niat untuk meracuni Bapak. Bapak aja yang doyan." Ucapnya pelan. Tangan Kevin mengambil sesuatu di atas meja sebelah tempat tidur. Dia memencet tombol sambil mengarahkan ke arah televisi. " Sepertinya remotenya rusak." Ucap Kevin sambil memukul-mukul benda tersebut ketalapak tangannya. " Aih Bapak, jangan menghina seperti itu dong. Memang ponsel saya besar tapi jangan di pukul-pukul." Ucap Menik komplain. Kevin melihat benda di tangannya kemudian melihat ke arah meja. Dia tertawa lucu karena salah mengambil remote. " Aku pikir ini remote TV." Ucap Kevin dengan gelak tawanya sambil menunjuk ponsel Menik. Sekilas ponsel Menik memang seperti remote TV, bahkan banyak julukan untuk ponselnya dari sabun batangan sampai sikat sepatu. Julukan itu pantas untuk ponselnya. " Like, komen dan vote yang banyak ya terimakasih." Chapter 257 episode 256 (S2) " Pak, sampai berapa lama Bapak disini?" " Kenapa? Apa kamu bosan?" Ucap Kevin cepat sambil melirik Menik yang tengah duduk di sofa. " Enggak bosan sih, cuma saya tidak enak dengan karyawan yang lain. Kalau mereka tau saya keluar sama Bapak, bisa berabe dunia persilatan." " Berabe kenapa?" " Aduh Pak, saya tidak mau ada gosip antar kita. Membersihkan dua ruangan saja mereka sudah bising apalagi sampai mengetahui hal ini." Gerutu Menik. " Bukannya bagus kalau kamu dekat dengan seorang bos." Ucap Kevin keceplosan. " Apanya yang bagus, cobaannya banyak yang pertama pasti di cibir semua karyawan, yang kedua pasti kekasih anda datang dan siap-siap melabrak saya." Kevin lucu mendengar kicauan Menik. Dia bingung dari mana wanita itu bisa berasumsi hal-hal seperti itu. " Bapak sepertinya sudah membaik, jadi saya kembali ke kantor ya." Ucap Menik cepat. " Bos kamu siapa?" " Bapak?" " Kalau Bos kamu sakit, apa yang kamu lakukan?" " Menjenguknya." " Iya menjenguk, terus yang menyebabkan aku seperti ini siapa?" " Bapaklah, enggak mungkin saya. Saya sudah melarang Bapak tadi." Ucap Menik membela diri. " Iya betul, tapi yang membuat masakan pedas dan enak itu siapa?" " Saya." " Ya sudah jadi semua tanggung jawab ada sama kamu." Ucap Kevin tegas. " Tapi Pak?" " Ssstt diam. Saya mau tidur. Pastikan kamu menjagaku dengan benar." Ucap Kevin sambil memejamkan matanya. " Menjaga? Apa Bapak mau saya nyanyikan sebuah lagu, biar tidur Bapak pulas." Ucap Menik. " Memangnya kamu mau nyanyi apa?" " Cendol dawet cendol cendol." Ucap Menik sambil bergoyang layaknya sedang dangdutan. Kevin membelalakkan matanya melihat tingkah wanita di depannya sudah dalam batas tidak wajar. " Hey stop stop. Kamu sudah minum obat belum?" " Sudah, tadi saya minum obat cacing." Ucap Menik sambil bernyanyi lagi. " Cendol dawet cendol cendol." " Hey stop stop, aku tidak mau membeli cendolmu. Berisik!" Ucap Kevin sambil menutup telinganya. Menik langsung menutup rapat mulutnya. " Apa lagu yang saya nyanyikan salah?" Ucap Menik pelan. " Ya, kamu seharusnya bisa memilih lagu untuk membuat aku cepat terlelap bukan lagu seperti itu. Dengan lagu itu bukan malah terlelap tapi malah aku ikut bergoyang nanti." Ucap Kevin cepat. " Pilih lagu yang menghibur tapi tidak terlalu berisik." Ucap Kevin lagi. Menik memikirkan sebuah lagu yang bisa menemani tidur bosnya. " Baby shark do do baby shark." " Stop, lebih baik kamu diam." Ucap Kevin sambil memijat dahinya. Menik menutup rapat mulutnya. Tidak beberapa lama Kevin tertidur. " Wah cepat banget tidurnya. Sepertinya bapak ini bisa tertidur dengan mendengar nyanyian perutku." Gumam Menik. Menik ikut tertidur di atas sofa. Dia juga cukup lelah hari ini. Ziko dan Zira sedang membantu orang tuanya mempersiapkan acara besok. Mereka mempersiapkan souvernir untuk ibu-ibu pengajian dan para tamu. Rumah sudah di desain sederhana mungkin oleh event organizer seperti permintaan Zira. Ziko pergi menjauh dari keramaian di dalam rumahnya. Dia pergi ke taman dan duduk di kursi taman. Ziko mengambil ponselnya dan menghubungi asisten Kevin. Di tempat lain. Menik kaget mendengar ada suara ponsel berbunyi yang jelas itu bukan suara ponselnya. Ponselnya tidak berdering cukup indah. Dering ponselnya hanya suara ayam berkokok atau ayam batuk. Menik berjalan melihat ponsel bosnya ada di atas meja dekat tempat tidur. Ada nama Bos Ziko di situ. Menik mau membangunkan bosnya tapi dia merasa kasihan melihat pria itu sedang tertidur pulas. Menik berusaha untuk menjawab panggilan tersebut. Dia belum pernah memegang ponsel layar sentuh. Jadi dia salah menggeser, tombol merah yang di tekannya. " Halo halo. Lah kok di matikan." Gerutu Menik. Di mansion. " Sialan kenapa si Kevin mematikan panggilanku." Gerutu Ziko. Ziko kembali menghubungi Kevin. Dan lagi-lagi Menik salah menggeser. Seharusnya yang di tekan adalah warna hijau, tapi Menik salah lagi. " Bos Ziko niat telepon enggak sih. Aku jawab di matikan." Gerutu Menik. Begitupun dengan Ziko, dia mengumpat habis-habisan di sana. Zira memperhatikan suaminya yang sedang marah-marah dengan ponselnya. Zira mendekati suaminya. " Kenapa? Apa yang di lakukan ponsel kamu? Sampai kamu terlihat cukup kesal dengan benda itu." Ucap Zira sambil menunjuk ponsel suaminya dengan lirikan matanya. " Si Kevin, sudah dua kali aku hubungi tapi di matikan. Aku mau tanya perkembangan pekerjaan di sana." Gerutu Ziko. " Coba hubungi lagi, kalau dia tidak menjawab mungkin dia sedang meeting." Ucap Zira menenangkan suaminya. " Sayang kalau meeting ponsel harus di matikan. Pasti telah terjadi sesuatu dengannya." Ucap Ziko penasaran. " Sstt tidak boleh berkata seperti itu, coba kamu hubungi lagi. Mana tau langsung terhubung dan di jawabnya." Ucap Zira lagi. Ziko menghubungi lagi, kali ini dia memakai speaker. Zira ikut mendengarkan panggilan masuk itu. Di tempat yang berbeda. " Waduh berbunyi lagi, aku jawab malah di matikan. Tapi apa aku yang salah tekan ya?" Gumam Menik. Menik mencoba mengangkat panggilan itu dan kali ini dia menggeser ke warna hijau. " Halo." Ada suara bentakan dari ujung sana. Terhubung, berarti tanganku tadi kepleset makannya salah terus. " Ya halo?" Ucap Menik pelan. Zira dan Ziko saling pandang. Ada suara wanita dari ujung ponsel Kevin. Setau Ziko, asistennya tidak pernah memberikan ponselnya sama seorang wanita. Dan kali ini mereka mendengar suara seseorang wanita dari ujung sana. " Mana Kevin?" Ucap Ziko tegas. " Lagi tidur." Ucap Menik polos. Ziko membelalakkan matanya, dia tidak habis pikir dengan pendengarannya. Ziko menutup speaker kemudian berbicara dengan istrinya. " Kurang ajar, diam-diam dia tidur dengan seorang wanita. Apa itu yang menyebabkan dia tidak pernah memikirkan pernikahan." Ucap Ziko emosi. Zira berusaha menenangkan suaminya. " Sayang jangan berpikiran negatif, dengarkan dulu penjelasan wanita itu." Ucap Zira pelan. Zira mengambil ponselnya suaminya, dan dia menanyakan lagi kepada wanita di ujung sana. Di lain tempat. Menik masih saja berkata halo dan halo. " Halo, dimana kalian menginap?" Ucap Zira cepat. " Di rumah sakit." Ucap Menik polos. Zira menutup speaker dan melihat kearah suaminya. " Kan betul mereka nginap di rumah sakit. Dasar modus." Ucap Ziko emosi. " Sayang mana mungkin mereka melakukan hal itu di rumah sakit." Ucap Zira pelan. " Tapi itu si wanita sudah jujur." Ucap Ziko sewot. " Sstt diam. Biarkan aku bicara lagi." Ucap Zira sambil meletakkan jari telunjuknya di bibir suaminya. Speaker di nyalakan kembali. Suara Menik masih terus terdengar dengan menyebutkan kata halo dan halo. " Halo mbak yang ada disana? Kalau boleh tau kalian nginap di rumah sakit mana ya dan nomor berapa?" Ucap Zira cepat. Menik langsung menyebutkan nama rumah sakit dan dia keluar ruangan sebentar sambil melihat tulisan yang ada di atas pintu ruang rawat inap. Kemudian dia kembali menyebutkan nama ruangan tersebut. " Apa yang kalian lakukan di sana?" Ucap Ziko cepat. " Owh tadi kami mengobrol panjang lebar, kemudian bapak tertidur karena kelelahan." Ucap Menik polos. Ziko langsung mematikan panggilannya. Dia terlihat kesal mendengar wanita itu bercerita. " Duh Pak bos main tutup aja." Gerutu Menik. " Sayang sepertinya kita harus grebek mereka berdua. Aku mau lihat seperti apa tipe perempuan pilihan si Kevin." Ucap Ziko cepat. " Sayang, menurutku tidak mungkin mereka melakukan hal itu di sana." Ucap Zira lagi. " Bisa saja, dia menyewa satu ruangan. Kalau di hotel akan dengan gampang dia ketahuan para wartawan. Tapi di rumah sakit siapa yang pernah terpikirkan seperti itu." Ucap Ziko menjelaskan. Walaupun Zira tidak percaya, tapi dia dan suaminya berencana pergi untuk membuktikan kebenarannya. Mereka bersiap-siap pergi ke rumah sakit itu. " Like, komen dan vote yang banyak ya terimakasih." Chapter 258 episode 257 (S2) Kevin membuka matanya perlahan, mendapati Menik sedang berdiri di sebelah tempat tidurnya. " Bapak sudah bangun?" Ucap Menik. " Hemmmmm." Ucap Kevin sambil melihat jam di dinding. Waktu sudah menunjukkan jam 5 sore. Pada saat ini biasanya para karyawan sudah pulang kerja. " Apa kamu mau pulang?" Ucap Kevin pelan. " Kalau saya pulang, Bapak sama siapa?" Ucap Menik khawatir. " Ada perawat di sini, kamu balik saja." Ucap Kevin cepat. Menik memikirkan apakah dia balik atau menetap di rumah sakit itu. Tapi kalau dia balik, dia tidak punya uang di sakunya. Secara sudah habis untuk membeli mie rebus. Sedangkan motor adiknya ada di kantor. " Saya di sini saja menemani Bapak." Ucap Menik pelan. " Sudah pulang saja, aku bosan lihat pakaimu itu." Ucap Kevin menunjuk seragam Menik. " Memangnya kenapa? Seragam ini kan bagus, warnanya biru seperti langit." Ucapnya bangga. " Ya tapi dari subuh kamu pakai seragam itu. Apa kamu tidak risih dengan pakaian itu." Ucap Kevin lagi. Menik melihat pakaiannya dari atas sampai bawah. Dan mencium pakaiannya yang sudah beraroma tidak sedap. " Bapak benar, pakaianku bau terasi. Untuk saja ketekku masih wangi parfum laundry." Ucapnya bangga. Pintu di buka oleh seseorang dari balik pintu masuk dua orang yang di kenal mereka berdua. " Tuan, nona." Ucap Kevin gugup. " Jadi kamu berduaan dengan sepupu kapten Amerika?" Ucap Ziko kesal. Menik melihat kebelakangnya memastikan siapa yang di maksud Ziko. Zira menghampiri tempat tidur dan memandang jarum infus yang masih terpasang di pergelangan tangan Kevin. " Sayang, Kevin sedang sakit." Ucap Zira sambil menunjuk pergelangan tangan Kevin. Ziko melihat Kevin kemudian melihat kembali pergelangan tangan asistennya secara berulang. " Bisa juga kamu sakit." Ucap Ziko mengejek. " Sepandai-pandainya tupai melompat pasti kepleset juga. Sama juga seperti saya." Ucap Kevin pelan. " Apa Bapak juga tupai?" Ucap Menik polos tanpa mengerti pribahasa yang di ucapkannya bosnya. Semuanya memandang ke arah Menik. Office girl itu langsung tertunduk. Dia sadar kalau dirinya tidak berhak bicara di situ sebelum ada perintah dari atasannya. " Buahahhaha, kamu betul dia sejenis tupai berbulu landak." Ucap Ziko senang sambil melirik asistennya. Ziko kembali menatap asistennya dengan tatapan tajam. " Apa yang kamu lakukan dengan sepupunya kapten?" Ucap Ziko lagi. Menik kembali mendengar kata sepupu. Dia ingin menanyakan hal itu. Dan mencoba memberanikan diri untuk bertanya. " Permisi, siapa yang di maksud sepupu kapten Amerika." Ucap Menik pelan. Tiga orang yang berada di ruang itu menjawab dengan serentak. " Kamu." Sambil memandang ke arah Menik. Menik tambah bingung, seingatnya dia tidak mempunyai sepupu seorang kapten apalagi kapten Amerika. " Maaf Pak, kapten Amerika siapa ya?" Ucap Menik bingung. Dua pria itu mendengar ucapan Menik, tapi mereka melihat ke arah Zira. Yang berarti jawaban di alihkan ke Zira. Zira berjalan menghampiri Menik, dan membawanya untuk duduk di sofa. Sedangkan Ziko duduk di kursi di samping tempat tidur. " Apa yang kamu lakukan sama dia?" Ucap Ziko menginterogasi. " Tidak ada?" Ucap Kevin lagi. " Tadi katanya kamu lagi tidur." Ucap Ziko lagi. Kevin mengerti, kenapa bosnya bisa datang tiba-tiba dan menanyakan hal-hal aneh kepada dirinya. Itu karena si Menik tidak menjelaskan secara detail. " Namanya juga orang sakit pasti banyak tidur." Ucap Kevin menjelaskan. " Ini alasan kamu sajakan?" Ucap Ziko lagi. Kevin tidak bisa berkata apa-apa, menurutnya Ziko terlalu mendramatisir keadaan di situ. " Jujur saja, aku tidak mau kalian kumpul kebo, cukup kebo aja yang kumpul." Ucap Ziko lagi. " Tidak tuan, coba anda lihat di tangan saya ada jarum infus." Ucap Kevin sambil menunjuk jarum infus di tangannya. " Seharusnya aku menikahkanmu dengan si Menik. Tapi melihat jarum infus itu aku percaya. Kalau sampai aku melihat kalian berduaan lagi tanpa suatu ikatan. Maka aku ikat kalian berdua dengan ikatan perkawinan." Ancam Ziko. Kevin membelalakkan matanya mendengar ancaman bosnya seperti bukan isapan jempol belaka. Di sofa Menik dan Zira saling mengobrol. " Apa yang menyebabkan si Kevin bisa di rawat?" Ucap Zira penasaran. Menik menceritakan semuanya tentang masakan yang di masaknya. Dan semua habis di makan Kevin. Zira mendengarkan sambil tersenyum lucu. " Vin, Vin seharusnya kalau makan itu pakai etika, jangan langsung embat aja." Ucap Zira sedikit berteriak agar suaranya kedengaran Kevin. " Memangnya kamu sakit apa?" Ucap Ziko pelan sambil melihat ke arah Kevin. " Diare tuan." Ucap Kevin pelan. " Buahahhaha diare aja pakai di rawat segala." Ucap Ziko mengejek. Kembali ke Zira dan Menik. " Apa Kevin sudah memberitahukanmu kalau besok adalah acara empat bulanan aku. Dan aku mau kamu hadir ke acara besok." Ucap Zira pelan. " Sepertinya saya tidak bisa." Ucap Menik pelan. " Memangnya kenapa?" Ucap Zira penasaran. " Maaf nona, apakah di acara itu saya boleh pakai celana setan? Eh salah celana jeans." Ucap Menik sambil menutup mulutnya. " Boleh saja. Yang penting sopan." Ucap Zira lagi. " Dasar klepon, bilangnya harus pakai pakaian yang tertutup." Gerutu Menik pelan. Zira mendengarkan ucapan Menik. " Siapa Klepon?" Ucap Zira lagi. " Itu." Ucap Menik sambil menunjuk Kevin. Zira tersenyum, dia sudah mengerti julukan yang di berikan Menik kepada Kevin. Menurutnya dengan julukan itu mereka berdua bisa akrab. Dan Zira tinggal melanjutkan tahap selanjutnya. " Memang besok acara pengajian, kebanyakan yang datang memakai pakaian tertutup seperti gamis dan lainnya." Ucap Zira menjelaskan. " Waduh, berarti kalau pakai celana jeans tidak sopan dong. Tapi saya tidak punya gamis ataupun rok panjang." Gerutu Menik. Zira melihat wanita di sebelahnya sambil tersenyum. Dia bisa mengukur pakai apa yang cocok untuk di kenakan Menik. " Tunggu ya." Ucap Zira sambil mengambil ponselnya dan menghubungi butiknya. Panggilan terhubung tapi yang menerima panggilan tersebut bukan Lina. Pegawai lain yang menerima panggilan tersebut. Zira meminta kepada pegawainya untuk mengirimkan dua pakaian, yang pertama pakaian untuk acara besok dan pakaian ganti untuk hari ini. " Baiklah Menik, saya sudah menghubungi butik. Nanti mereka akan mengantarkan pakaian pesanan saya. Ada dua pakaian yang saya pesan, satunya untuk besok dan satunya lagi untuk kamu pakai di sini." Ucap Zira cepat. " Berapa saya harus bayar nona?" Ucap Menik cepat. " Tidak perlu kamu membayarnya. Cukup kamu berdandan secantik mungkin di acara besok." Ucap Zira pelan sambil memegang tangan Menik. " Terimakasih banyak nona." Ucap Menik lagi. " Vin, aku perhatikan kalian berdua cocok." Ucap Ziko lagi sambil melirik office girl itu. Kevin tidak mengiyakan dia hanya tersenyum tipis. " Ayo pepet terus." Ucap Ziko lagi. " Maaf tuan, saya tidak bisa dengannya secara dia sudah bertunangan." Ucap Kevin cepat. " Berarti kalau dia tidak bertunangan kamu mau?" Ucap Ziko penuh selidik. " Bukan, maksud saya bukan itu." Ucap Kevin gugup. " Hahaha kenapa wajahmu biru seperti itu? Apa kamu malu?" Goda Ziko. " Like, komen dan vote yang banyak ya terimakasih." Chapter 259 episode 258 (S2) " Memang wajah saya seperti ini tuan." Ucap Kevin pelan. Ziko masih tertawa melihat asistennya seperti teraniaya. Dia senang karena bisa mengerjai Kevin. Sebelumnya dia yang selalu jadi bahan candaan antar Zira dan Kevin. Tapi sekarang beda, kartu Kevin seperti ada di tangan Ziko. Pintu di buka dari luar ruangan. Ada Koko dan Zelin di balik pintu itu. Ziko langsung diam seribu bahasa. Dia menyaksikan adiknya datang bersama Koko. " Kok diam bos, ayo ketawa lagi." Goda Kevin. " Diamlah." Ucap Ziko seperti jaga wibawa di depan Koko. Zelin dan Koko menghampiri tempat tidur secara perlahan. Ada ketakutan ketika dia harus bertemu Kakaknya di rumah sakit itu. Setau dia, kakaknya masih berada di rumah mengurus persiapan untuk acara besok. " Kakak." Ucap Zelin pelan. Ziko diam, dan memandang tajam pria gemulai yang tidak berdiri jauh dari adiknya. " Wah pacaranya Pak Kevin sudah datang." Ucap Menik pelan. Zira melihat kearah Zelin. Dan mengartikan sendiri siapa yang di maksud Menik sebagai pacar Kevin. " Itu bukan Pacarnya, itu adik ipar saya." Ucap Zira menjelaskan. " Owh adik ipar ya. Pantesan mirip sama Pak Bos, tapi ini genre romantisnya kalau pak Bos genre horornya." Ucap Menik pelan. Zira tertawa mendengar ucapan Menik. Yang menurutnya suka ngomong keceplosan. " Ups, maaf nona. Tidak seharusnya saya berkata seperti itu." Ucap Menik agak takut. Dia takut ucapannya menjadi boomerang untuk perkerjaanya. " Sudah tenang saja. Memang suami saya kalau di perhatikan sekilas menakutkan tapi sebenarnya dia tipe yang penyayang dan romantis loh." Ucap Zira membanggakan suaminya. Zira beranjak dari sofa berjalan mendekati tempat tidur Kevin. Zelin dan Koko masih terlihat takut untuk menatap Ziko. " Baiklah karena semua sudah lengkap siapa yang mau kesurupan lagi." Ucap Zira cepat. Semua orang yang berada di ruangan itu melihat Zira bersamaan. " Sstt sayang jangan bicara kesurupan lagi di sini." Ucap Ziko mengingatkan istrinya. Melihat ekspresi suaminya yang takut. Dia tertawa lucu. Karena menurutnya suaminya memang penakut dan itu terbukti ketika dia membicarakan hal-hal gaib. Ziko menutup mulutnya istrinya agar tidak tertawa lagi. " Ngapain sih." Ucap Zira sambil membuka tangan Ziko yang menempel di mulutnya. " Diam sayang, jangan di pancing." Ucapnya pelan. " Iya aku tau. Halo Koko tadi kesini naik apa?" Ucap Zira basa basi agar suasana tidak mencekam. " Saya naik motor nona." Jawab Koko pelan. " Owh saya kira naik kuda." Ucap Zira lagi. " Saya enggak punya kuda, yang punya kelinci." Ucap Koko lagi. Suasana masih saja terlihat kaku. Karena tatapan Ziko tetap memandang ke dua orang itu. Yaitu Zelin dan Koko. Zira menarik tangan suaminya agar menjauh dari situ. " Biarkan mereka jangan kamu pandangi terus. Apa kamu mau melototi mereka terus-menerus. Enggak takut mata kamu katarak." Ucap Zira asal sambil berbisik. " Idih doa kamu jelek banget, tapi diam-diam mereka jalan berdua tanpa sepengetahuan aku." Ucap Ziko pelan. Zira melirik dua muda mudi yang baru datang. Zelin dan Koko berusaha untuk berbicara dengan Kevin. Mereka masih melirik ke arah suaminya. " Kamu sudah dengar kalau Koko naik motor kesini. Mungkin mereka janjian mau menjenguk Kevin." Ucap Zira menjelaskan. " Kok janjiannya di rumah sakit. Enggak modal banget." Ucap Ziko protes. " Aduh sayang mereka bukan mau berpacaran, tapi hanya mau menjenguk Kevin. Kamu tau jengukan? Kalau enggak tau dengan kata itu kelihatan nilai ulangan bahasa kamu waktu sekolah jelek." Ucap Zira cepat. " Iya, iya aku paham." Ucap Ziko cepat tapi tetap melirik dua orang itu. Menik memperhatikan tingkah bosnya yang sangat tidak menyukai kehadiran Koko dan Zelin di ruangan itu. Sepertinya Bos besar tidak suka dengan kehadiran Koko. Sebenarnya apa yang terjadi diantara mereka berdua. Apakah Koko berpacaran dengan adiknya bos. Atau tidak. Tapi kalau dari tingkahnya sepertinya Koko dan nona itu saling menyukai. Tapi di tentang sama kakaknya. Tumben aku bisa berasumsi sehebat ini. " Bagaimana keadaan anda Pak?" Ucap Koko pelan. " Saya sudah membaik, mungkin besok pagi sudah bisa pulang." Ucap Kevin pelan sambil melirik Menik yang duduk diam mematung karena tidak ada yang mengajaknya bicara. Koko dan Zelin berbicara panjang lebar mengenai banyak hal, sampai masalah mereka berdua di singgung Kevin. " Apa kalian sudah berpacaran?" Ucap Kevin pelan. Dia berbicara agak pelan, karena tidak mau mendahului bosnya. Secara bosnya kurang setuju dengan hubungan mereka berdua. Zelin dan Koko kaget karena mendapatkan pertanyaan dari orang lain. Dan orang itu adalah Kevin. Kevin merupakan orang luar, tapi dia lebih bisa berpikir panjang di bandingkan Ziko. Tak heran Kevin selalu dijadikan penasehat untuk bosnya. " Enggak kami tidak pacaran. Koko menghubungi aku dan mengatakan kalau anda di rawat di rumah sakit. Jadi karena sudah sore kami janjian untuk menjenguk anda di sini. Kami juga baru ketemu di loby." Ucap Zelin menjelaskan. Koko ikut menganggukkan kepalanya, setuju dengan penjelasan pujaan hatinya. " Apapun hubungan itu, ada baiknya kalian memahami satu sama lain. Jangan cepat mengambil keputusan untuk menjalin satu ikatan tanpa adanya rasa cinta." Ucap Kevin menasehati. Zelin dan Koko saling pandang. Mereka memang mempunyai perasaan tapi belum tau apakah perasaan itu cinta yang sesungguhnya atau hanya sekedar suka belaka. " Apa itu yang menyebabkan asisten Kevin belum menikah sampai sekarang? Karena belum menemukan cinta sejati." Ucap Zelin pelan. Waduh kenapa pertanyaan ini di ajukan ke aku. " Hehehe, bisa iya bisa tidak." Ucap Kevin gugup. " Apa anda tidak pernah menyukai seseorang?" Ucap Koko ikut nimbrung. Kevin menatap tajam kearah Koko, dia kaget karena pertanyaan itu di ucapkan oleh pria gemulai. " Ayo jawab." Ucap Zelin cepat. " Apa anda suka sama Cici. Bencanda ya." Ucap Koko pelan. Kevin langsung menatap tajam kearah Koko. Menurutnya Koko sudah keterlaluan dengan mengartikan keakraban yang mereka jalin selama ini. " Siapa Cici?" Ucap Zelin penasaran. Dari raut muka Kevin seperti ingin menjelaskan sesuatu tentang Koko. Tapi Koko memberikan muka melasnya kepada Kevin agar tidak membicarakan masa lalunya. " Cici banci kaleng." Ucap Kevin cepat. " Apa! Apa Bapak suka sama Cici?" Ucap Menik ikut nimbrung karena mendengar nama Cici di sebut. Menik paham siapa Cici. Dan dia juga mengerti cerita di balik nama itu. Ziko dan Zira yang tadinya mengobrol langsung melihat ke arah Kevin. " Kenapa semua jadi melihat aku. Bukan seperti itu. Aku tidak suka dengan Cici dan aku membencinya." Ucap Kevin gugup. " Kalau suka juga enggak apa-apa." Goda Ziko. Kevin tampak menjadi bahan bulan-bulan di situ. Dia melihat sinis ke arah office girl itu. Semua karena ulah Menik yang asal bicara. " Wah, ternyata diam-diam asisten Kevin menyukai Cici. Walaupun aku tidak tau siapa dia, tapi aku salut dengan anda. Karena anda bisa juga suka dengan seorang wanita." Ucap Zelin. Nama masa lalu Koko adalah Cici. Dan sebutan itu hanya di dengar Kevin. Ziko dan Zira tidak tau siapa sebenarnya Cici itu. " Buahahhaha." Ucap Menik tertawa terbahak bahak. Dia merasa lucu mendengar perkataan Zelin yang mengatakan kalau Cici adalah wanita. Semua melihat kearah Menik kembali. Mereka ingat pada saat di rumah makan, Menik tertawa seperti itu. Masih ingat jelas di pikiran mereka semua tentang kesurupan beberapa hari lalu. " Wah kesurupan lagi." Ucap Ziko yang sudah mulai panik. " Diam, dia bukan kesurupan tapi mungkin lagi stress." Ucap Zira asal. Menik masih tertawa mendengar ucapan dua orang itu. Ada saja tingkah lucu orang kaya itu. " Nik, jangan kesurupan. Hari ini aku tidak bisa mengeluarkan arwah setan dari tubuhmu." Ucap Zira cepat. Menik melihat kearah Zira dan berusaha untuk menutup mulutnya. Walaupun masih lucu membayangkan bosnya suka dengan Koko. Koko seperti mengerti arti ketawa Menik. Dia ikut menundukkan kepalanya takut kalau Menik keceplosan bicara. Suasana sudah kembali normal. Menik sudah bisa mengontrol tawanya. Zelin yang masih penasaran dengan jalan hidup pria yang selama ini sebagai mata dan tangan untuk kakaknya. " Ayo ceritakan kisah anda? Kalau anda tidak suka dengan Cici. Pasti anda pernah suka dengan seseorangkan?" Ucap Zelin cepat. Menik masih lucu ketika Zelin menyebutkan nama Cici. " Sudah ceritakan semua kisahmu kepada kami. Anggap saja kamu lagi mendongeng." Ucap Ziko mengambil posisi duduk di sofa, diikuti oleh Zira. " Like, komen dan vote yang banyak ya terimakasih." Chapter 260 episode 259 (S2) " Ayo Pak bos, sudah saatnya anda bercerita." Menik ikut nimbrung. " Ya aku akan cerita. Memang aku dulu menyukai seorang wanita. Tapi sekarang tidak lagi." Ucap Kevin pelan. " Berarti sekarang kamu suka sesama jenis?" Ucap Zira cepat. Semuanya lagi-lagi melihat kearah Kevin dengan tatapan tajam. " Serius kamu Vin?" Ucap Ziko yang agak jijik. " Bukan itu. Kenapa jadi runyam seperti ini sih." Ucap Kevin sambil menggaruk kepalanya. Semua orang yang di dalam ruangan itu masih menunggu penjelasan Kevin. " Saya pernah menyukai seorang wanita, dan sekarang dia telah bahagia. Saya hanya berdoa untuk kebahagiaannya." Ucap Kevin pelan. " Berarti kamu menyukai dia dalam diam ya?" Ucap Zira pelan. Kevin tidak melanjutkan ucapannya. Masa lalunya tentang Zira sudah di kuburnya, dia ingin menatap masa depan yang baru. " Siapa wanita itu?" Ucap Zira lagi. Semua melihat kearah Kevin. " Ayo siapa? Kasih tau kami siapa pujaan hatimu." Desak Ziko. " Maaf tuan saya tidak bisa mengatakannya. Cukuplah itu menjadi rahasia saya." Ucap Kevin pelan. Tuan kalau saya harus jujur mengatakan yang sebenarnya tentang perasaan saya sebelumnya kepada istri anda. Pasti anda akan marah dengan saya. Dan hubungan kita akan rusak kembali. Biarlah ini menjadi rahasia saya. " Alah cemen kamu. Walaupun itu masa lalu apa salahnya kamu ungkap di sini. Jarang-jarang kami mendengarkan cerita kamu." Ucap Ziko lagi. " Sudahlah tidak usah di bahas masa lalunya. Masa lalu biarlah berlalu dan saatnya untuk melihat masa depan." Ucap Zira. " Apakah anda sudah punya masa depan dengan seseorang?" Ucap Zelin penasaran. " Saya belum memikirkan hal itu." Ucap Kevin pelan. Zira tau sedikit banyaknya rahasia Kevin akan terbongkar dan dia mempunyai ide untuk melakukan permainan di dalam ruangan itu. " Bagaimana kalau kita main permainan. Biar tidak bosan." Ucap Zira cepat. " Permainan apa?" Ucap Ziko cepat. " Permainan memutar botol. Kalau botol berhenti di depan salah satu pemain, pemain yang di depannya harus mengajukan pertanyaan atau sebuah tantangan." Ucap Zira menjelaskan. " Bagaimana?" " Setuju." Mereka semua setuju. Kevin tidak setuju. " Maaf saya tidak bisa mengikuti permainan itu." Ucap Kevin pelan. " Alah kamu tidur aja di situ nanti kami yang memutarkan botolnya." Ucap Ziko. " Menik kamu ikut ya." Ucap Zira cepat. Menik menganggukkan kepalanya. Walaupun dia belum paham dengan permainan itu, tapi menurutnya bakal seru kalau di lakukan bersama-sama. Mereka duduk di atas kursi hanya Kevin yang ada di atas kasur. Zira duduk bersebelahan dengan Koko. Berhadapan dengan Zelin dan Menik. Dan Ziko berhadapan dengan Kevin. Permainan di mulai. Ziko melakukan putaran pertama. Yang akan mengajukan pertanyaan ataupun tantangan adalah orang di depannya. Botol berputar pelan dan berhenti didepan Zira. Yang mengajukan pertanyaan Zelin. " Hemmm, siapa orang yang paling di benci dan sebutkan alasannya." Ucap Zelin untuk Zira. " Ziko, aku membencinya ketika dia ingin mengakhiri rumah tangga kami." Ucap Zira cepat. Ziko membelalakkan matanya tidak percaya. Ucapan istrinya mengulang masa lalu itu lagi. Sedangkan Koko kaget, karena dia tidak pernah mendengar masalah itu sama sekali. Kalau Menik tidak bisa berkomentar karena memang tidak tau menahu. Botol di putar dan kali ini berhenti kearah Menik. Yang mengajukan pertanyaan adalah Koko. " Hemm, siapa orang yang paling kamu sayangi?" Ucap Koko. " Bima, Bima adalah orang yang paling aku sayangi di dunia ini." Ucapnya bangga. Semua yang berada di ruangan itu mendengarkan ucapan Menik. Zira, Ziko dan Kevin langsung mengerti siapa itu Bima. Menurut mereka nama itu adalah nama tunangannya. Botol di putar Menik, dan berhenti pada Kevin Ziko mengajukan pertanyaan gampang. " Aku memberi tantangan kepadamu untuk merayu salah satu wanita di sini." Ucap Ziko cepat. " Maaf tuan, saya tidak bisa merayu." Ucap Kevin menolak. Semua yang berada di ruangan itu bersorak huh huh mengejek Kevin. Menurutnya Kevin terlalu mengada-ada. " Ayo asisten Kevin ini hanya sebuah tantangan. Kamu bisa." Ucap Zira menyemangati Kevin. Kevin bingung harus merayu siapa. Menurutnya kalau dia merayu Zira pasti Ziko akan marah. Kalau merayu Zelin apalagi. Yang jadi bahan target rayuannya adalah Menik. Karena hanya Menik yang bisa di buat candaan. " Baiklah, saya akan merayu Menik." Ucap Kevin cepat. Menik di perintahkan jalan mendekati tempat tidur, agar lebih dekat dengan Kevin. " Aku enggak minta lebih dari kamu, mengenal kamu saja merupakan hal yang terindah dalam hidupku." Rayu Kevin. Zira bersiul layaknya melihat pertunjukan. Semua bertepuk tangan senang. " Lagi." Ucap Zira cepat. " Bukannya satu aja." Ucap Kevin bingung. Kevin mengambil ancang-ancang untuk merayu lagi. " Bapak kamu kerja di perusahaan telekomunikasi ya?" Ucap Kevin lagi. " Enggak Bapakku pedagang." Ucap Menik cepat. Hahaha, semua orang tertawa mendengar ucapan jujur dari Menik. " Kamu bilang aja Kok tau." Ucap Zira mengajari. Menik paham dengan permainan itu. Rayuan Kevin di mulai lagi. " Bapak kamu kerja di perusahaan telekomunikasi ya?" " Kok tau." Ucap Menik seperti perintah Zira. " Karena sinyal cinta kamu begitu kuat di hatiku." Ucap Kevin gombal. Semua bersorak sambil tertawa mendengar rayuan gombal dari Kevin. " Saya, saya mau merayu juga." Ucap Menik menawarkan diri. " Baik, siapa yang mau kamu rayu?" Ucap Zira lagi. " Pak Kevin." Ucap Menik mantap. Kevin menggaruk kepalanya. Menurutnya Menik punya dendam terpendam samanya. " Cinta aku ke kamu itu bagaikan cicilan, awalnya kecil lama-lama di diemin malah tambah gede." Kevin terdiam, memang Menik mempunyai hutang dengannya. Menik pernah mengutarakan ingin mencicil hutangnya. Entah kenapa menurutnya perkataan Menik seperti pengungkapan isi hatinya. Permainan selesai karena waktu sudah menunjukkan jam 7 malam. Ziko dan Zira kembali ke mansion di ikuti oleh Zelin. Koko kembali ke rumahnya dengan sepeda motornya. Ziko melihat ke arah Koko yang pergi meninggalkan rumah sakit dengan menggunakan motor. Ada rasa senang ketika mengetahui kalau pria gemulai itu berbicara jujur mengenai kedatangannya ke rumah sakit. Di mobil. " Sayang, aku rasa Kevin mulai ada perasaan sama Menik." Ucap Zira pelan. " Memang." Ucap Ziko cepat. " Kok kamu tau." Ucap Zira penasaran. " Taulah tadi aku memancing dia dengan mengatakan kalau mereka berdua cocok. Entah kenapa spontan keluar dari mulutnya kalau penghalangnya adalah pertunangan itu." Ucap Ziko sambil mengemudi mobilnya. " Kalau Kevin sudah ada rasa, berarti tinggal Menik nih. Apakah dia juga ada rasa apa tidak." Ucap Zira lagi. " Sudahlah sayang, jodoh tidak akan kemana-mana. Kalau memang mereka berjodoh pasti akan di pertemukan seperti kita." Ucap Ziko sambil mengelus rambut Istrinya. Ziko fokus mengendarai mobilnya. Bukan hanya fokus mengendarai mobil tapi dia fokus untuk menyambut kehadiran buah hati mereka. Ada suara ketukan dari luar. Menik membuka pintu ruangan. Ada seseorang dengan membawa paper bag di tangannya. " Mbak Menik ada?" Ucap salah seorang pria. Dari penampilan pria itu, dia seperti seorang kurir online. " Ya saya." " Ini pesanan anda." Ucap pria tersebut sambil menyerahkan paper bag ke arahnya. Menik mengingat sesuatu kalau Zira membelikannya sebuah pakaian untuk di pakai acara pengajian besok dan untuk pakaian ganti. " Terimakasih." Ucap Menik sambil menutup pintu ruangan. " Kamu pesan apa?" Ucap Kevin penasaran. " Bukan saya, tapi nona Zira yang membelikan." Ucap Menik pelan. Menik membuka paper bag itu. Dan mengeluarkan isinya. Ada dua pakaian yang satu untuk acara resmi besok dan yang satu pakaian kasual. Menik hendak berjalan ke kamar mandi tapi di tahan dengan suara Kevin. " Nik, tunggu." " Iya." Ucap Menik sambil menoleh ke arah Kevin. " Mengenai rayuan yang saya ucapkan tadi hanya bercanda ya. Saya tidak mau kamu berpikiran yang aneh-aneh tentang ini. Jangan memikirkan hal yang tadi. Pikirkan saja rencana pertunangan kamu." Ucap Kevin pelan. " Ah Pak Bos, tenang saja. Saya juga tadi bercanda kok." Ucap Menik sambil berlalu meninggalkan Kevin menuju kamar mandi. " Like, komen dan vote yang banyak ya. Terimakasih." Chapter 261 episode 260 (S2) Menik kembali ke ruangan, setelah menyalin pakaian kerjanya dengan pakaian baru. Zira membelikan Menik pakaian kasual berbahan kulot. Dan atasannya memiliki lengan hanya sampai bahu. Sehingga lengan Menik yang putih bersih terlihat jelas. " Bagaimana penampilan saya?" Ucap Menik sambil berdiri di depan Kevin. " Kamu seperti wanita kalau mengenakan pakaian itu." Ucap Kevin cepat. Menik memperhatikan pakaian yang di kenakannya. Memang dia terlihat lebih feminim di bandingkan dengan pakaian sebelumnya. Sebelumnya menggunakan celana jeans yang ketat dan kaos oblong atau kemeja panjang. Tapi ini dia terlihat sangat feminim. " Ya Bapak betul, saya sudah terlihat seperti wanita, kalau kemaren seperti waria." Ucapnya sambil tertawa kecil. Menik duduk di sofa sambil menyalakan televisi menurutnya menghabiskan waktu dengan menonton televisi lebih asik di bandingkan dengan memainkan ponselnya jadulnya. Kevin melirik Menik, dari samping wajahnya terlihat sungguh cantik. Tidak bosan Kevin memandang wajah wanita itu Tiba-tiba Menik memegang perutnya yang sedang nyanyi keroncong. Kevin memperhatikannya. " Kamu kenapa?" Ucap Kevin cepat. " Saya lapar." Ucap Menik pelan. " Ya sudah pergi makan sana." Ucap Kevin memerintahkan Menik untuk pergi ke kantin. " Tapi.... saya tidak punya uang." Ucapnya jujur. Menurutnya lebih baik dia jujur mengatakan sebenarnya. Dia tidak ada rasa gengsi untuk mengatakannya, karena kalau gengsi tidak bisa di makan, itu pikirnya. " Hahaha, kenapa kamu tidak bilang?" Ucap Kevin lucu. " Bagaimana saya mau bilang, Bapak aja enggak punya uang." Ucap Menik lagi. Kevin tersadar kalau di dompetnya tidak ada uang cash. Hanya beberapa kartu debit yang berjejer di dompet mahalnya. Kevin Mengambil dompetnya dan mengambil salah satu kartu debitnya. Dan menyerahkan ke Menik. " Untuk apa?" Ucap Menik bingung. " Ambillah uangku di mesin ATM ini." Ucap Kevin sambil menunjuk kartu debitnya. Menik membaca tulisan yang ada di kartu tersebut. " Ini tulisannya Bank Sendiri. Berarti Bank yang berlogo warba biru ya Pak?" Ucap Menik lagi. " Ya, ada mesin ATM Bank Sendiri di bawah. Nanti kamu tarik dua juta disana." Ucap Kevin lagi. " Narik? Benang kali di tarik." Ceplos Menik. " Ya sudah sana pergi." Ucap Kevin memerintahkan Menik untuk segera pergi ke mesin ATM. " Apa semua orang kaya tidak mau membawa uang cash di dalam dompetnya." Gumam Menik. Kevin mendengarkan gumaman Menik, tapi tidak menjawab. Menik telah keluar dari ruang rawat inap dan menuju ke mesin ATM. Tidak berapa lama dia kembali lagi. " Bapak mau mengerjai saya ya?" Ucap Menik sewot. " Kenapa?" Kevin bingung. " Mana PINnya? Suruh ambil tapi tidak ada PINnya. Memangnya uang itu bisa keluar kalau hanya di pelototi saja." Gerutu Menik. Kevin tertawa kecil. Dia terlupa untuk memberikan nomor Pinnya. " Lila." Ucap Kevin cepat. " Aih memangnya ada pin ATM sebuah abjad." Ucap Menik pintar. " Lila artinya 7174. Kalau dibaca jadi Lila." Ucap Kevin. Dia sengaja membuat pin atmnya sebuah kata, yang jika di artikan menjadi sebuah angka. Agar lebih gampang mengingatnya. Menik menggaruk-garuk kepalanya, karena dia belum paham dengan pin Kevin. " Sudaha berapa nomor ponsel kamu." Ucap Kevin cepat. Menik menyebutkan nomor ponselnya. Kemudian Kevin mencoba menghubungi nomor tersebut. Setelah ponsel Menik berbunyi, Kevin mematikan panggilannya dan mengirim pesan singkat sebuah nomor pin atmnya. " Sudah masukkan?" Ucap Kevin cepat. Menik melihat sebuah notifikasi dari ponsel jadulnya. Ada pesan dari Kevin. " Ya Pak sudah masuk." Ucapnya sambil berjalan keluar menuju mesin ATM. Kevin sengaja memberikan kartu ATMnya kepada Menik. Dia tidak ingin wanita itu sakit, sekaligus dia ingin mengetes kejujuran wanita itu. Kevin bisa melihat berapa uang yang di tarik Menik dari ponsel pintarnya. Menik masuk ke dalam ruangan kecil. Didalam ruangan itu ada sebuah mesin yang biasanya di gunakan orang-orang untuk menarik uangnya di situ. Menik memasukkan kartu debit tersebut kedalam mesin ATM, tidak lupa dia menekan pinnya. Dia mengecek saldo di dalam rekening tersebut. Betapa terkejutnya Menik, melihat angka nol berjejer di layar mesin ATM. " Waduh, banyak banget uangnya." Ucap Menik sambil membelalakkan matanya. Dia menarik sesuai permintaan Kevin. Dan setelah itu keluar dan kembali ke ruang rawat inap. Ketika Menik masuk, Kevin sedang menonton televisi. Menik menyerahkan uang dan kartu debit tersebut kepada pemiliknya. " Ini Pak." Ucap Menik sambil meletakkan setumpuk uang limapuluh ribuan di atas tempat tidur. " Ambil, semua itu untuk kamu." Ucap Kevin cepat. " Untuk apa Pak?" " Untuk membeli makanan." Ucap Kevin cepat. " Ini kebanyakan Pak, memangnya saya mau memborong makanan yang ada di kantin." Ucap Menik cepat. " Yang suruh kamu memborong makan makanan di kantin siapa? Saya hanya bilang ambil semua uang itu. Anggap aja itu gaji kamu karena telah merawat saya dengan baik." Ucap Kevin menjelaskan. " Tapi saya tidak merawat Bapak, yang merawat Bapak perawat." Ucap Menik lagi. " Sudah jangan berdebat, kalau kamu tidak mau ambil uang ini, silahkan kamu pulang." Ancam Kevin. " Wah pakai mengancam, baik saya akan mengambil uang Bapak." Ucap Menik. Menik menhambil satu lembar uang limapuluh ribuan. Dan berjalan keluar menuju kantin. " Hey, kenapa hanya selembar." Ucap Kevin teriak. " Ini cukup." Ucap Menik teriak dari balik pintu. Kevin tersenyum, tes pertama dan kedua lolos. Tes kejujuran dia lolos, dan tes tidak materialistis dia juga lolos. Ada rasa senang ketika melihat seorang wanita yang kurang mampu tapi tidak menganggap uang sebagai segala-galanya. Walaupun Menik serba kekurangan, tapi dia tidak memanfaatkan kebaikan bosnya. Menik telah kembali membawa sebungkus makanan yang ada ditangannya. " Kamu beli apa?" Ucap Kevin cepat. " Nasi goreng." Ucapnya. " Kenapa hanya beli satu." Ucap Kevin lagi. " Lah Nasi Bapakkan ada." Ucap Menik sambil melihat kotak nasi yang ada di meja sebelah tempat tidur. " Aku tidak suka makanan rumah sakit." Ucap Kevin cepat. " Kamu beli lagi." Ucap Kevin memerintahkan Menik untuk meninggalkan bungkus nasi goreng itu kepadanya. " Kantinnya sudah tutup Pak, ini yang terakhir." Ucap Menik lagi. Kevin melihat jam di dinding yang sudah menunjukkan jam 9 malam. " Kalau Bapak mau kita bisa bagi dua." Ucap Menik menawarkan. " Nanti kamu kurang."Ucap Kevin lagi. " Kalau kurang kita berdua puasa." Ucap Menik sambil tertawa. Menik mencari sesuatu yang bisa di gunakan untuk meletakkan sebagian nasi goreng itu. Tapi tidak ada sesuatu yang bisa di gunakannya. " Pak tidak ada piring." Ucap Menik cepat. " Ya sudah kita makan berdua saja." Ucap Kevin lagi. " Enggak ah, nanti aku ketularan." Ucap Menik cepat. " Ketularan? Memangnya saya sakit apa?" Ucap Kevin bingung. " Sakit Rabies." Ucap Menik sambil tertawa kecil. " Memangnya saya hewan." Ucap Kevin ketus. Menik membuka bungkus nasi goreng itu di atas tempat tidur dan mengambil sendok yang ada di kotak makanan dari rumah sakit. " Pak, nanti makannya saya makan dua sendok Bapak satu. Seperti itu seterusnya." " Kenapa harus seperti itu." Ucap Kevin bingung. " Biar saya kenyang." " Ya, terserah kamu." Kevin mengambil nasi goreng dengan sendoknya, dan menyuapkan ke mulutnya. Setelah itu Menik menyuapkan nasi kedalam mulutnya sebanyak dua kali. Mereka melakukannya secara berulang. Kevin memperhatikan wajah Menik dari dekat. Posisi mereka sangat dekat seperti itu. Ada rasa lucu ketika melihat dia makan dengan orang asing. Tapi ada rasa senang karena bisa melihat lebih dekat wajah Menik yang polos tanpa riasan. " Bapak mau makan enggak. Nanti saya habiskan nih." Ucap Menik cepat. " Habiskan saja saya sudah kenyang." Ucap Kevin sambil memandang wajah Menik. Sekilas Menik melihat kalau Kevin memperhatikannya. " Bapak jangan memperhatikan saya terus. Nanti Bapak bisa jauh hati sama saya." Ucap Menik cepat. Kevin terlihat gelagapan ketika, dia tertangkap basah memperhatikan Menik. " Ge er, aku itu hanya memperhatikan cara makan kamu yang seperti pria." Ucap Kevin cepat. " Hahaha, Bapak baru tau ya. Kalau saya itu dulu preman." Ucap Menik asal. " Kalau kamu preman kenapa saya tidak melihat kamu pada saat saya mengumpulkan preman di aula." Ucap Kevin lagi. " Maksud Bapak?" Ucap Menik bingung. " Ah sudahlah." Ucap Kevin menyudahi. Dia bisa membuat kesimpulan sendiri kalau wanita di depannya sedang bergurau. " Kapan kamu akan menikah?" Ucap Kevin lagi. " Siapa yang mau menikah, aku itu masih sing." Ucap Menik langsung menutup mulutnya rapat. Menik hampir saja membuka jati dirinya, dengan mengatakan single. Kevin mendengarkan sambil mengernyitkan dahinya. Ada rasa curiga ketika Menik tidak melanjutkan ucapannya. " Apa hubungan kamu baik-baik saja." Ucap Kevin pelan sambil menatap lekat wajah Menik. " Baik... Pak." Ucap Menik gugup. " Sepertinya hubungan kamu tidak dalam keadaan baik-baik saja. Ada apa? Kamu bisa menceritakan kepadaku." Ucap Kevin penuh selidik. " Bukan Pak, aduh gimana ceritanya ya." Ucap Menik sambil menggaruk rambutnya. " Apa dia berselingkuh?" Ucap Kevin asal. Menik tambah bingung tidak mungkin dia membuat cerita yang mengada-ada tentang hubungannya. " Baiklah aku akan membicarakan hal ini kepada tunanganmu. Walaupun aku orang luar, aku sangat tidak suka kalau suatu hubungan di khianati." Ucap Kevin cepat. " Bukan itu Pak, tapi." Ucap Menik ragu untuk menjelaskan. Tenang Menik, tenang. Kamu bisa berpikir jernih. Ceritakan semuanya sama Bima. Buat cerita yang mengatakan kalau hubunganku dalam keadaan baik-baik saja. Dan jangan tentang selingkuh. " Bukan seperti itu Pak. Pernikahan saya di tunda. Karena kucing neneknya Bima melahirkan." Ucap Menik asal. " Apa hubungannya kucing melahirkan dengan pernikahan kamu?" Ucap Kevin bingung. " Kucingnya baru melahirkan sesar jadi tidak boleh banyak bergerak jadi si pusy butuh istirahat. Rencananya pernikahan kami di lakukan di rumah neneknya, tapi di tunda sampai jahitan si pusy mengering." Ucap Menik asal. Dia tidak tau apakah alasannya bisa di terima akal sehat Kevin apa tidak. Kalau orang yang normal pasti langsung membantah ucapan Menik, tapi Kevin hanya memicingkan matanya bingung. " Like, komen dan vote yang banyak ya terimakasih." Chapter 262 episode 261 (S2) Walaupun bingung Kevin tetap menanyakan hal mengenai kucing itu. " Serius kamu? Hebat betul kucing itu, gara-gara mau lahiran rencana pernikahan kamu di undur." Ucap Kevin cepat. " Kucing apa dulu." Ucap Menik santai sambil menghabiskan makanannya." " Memangnya kucing apa?" Kevin bingung karena dia tidak paham dengan jenis kucing. " Kucing garong." Ucap Menik lagi. " Ah kamu sudah ngawur. Mana ada kucing garong. Yang ada lagunya." Ucap Kevin komplain. " Bapak sih udah tau kucing nanya kucing apa. Ya saya jawab aja apa adanya." Ucap Menik membela diri. Nasi goreng telah habis. Waktu sudah menunjukkan jam setengah sepuluh malam. Menik sudah cukup lelah. Dia ingin membaringkan tubuhnya di sofa. " Nik, bantu saya ke toilet." Ucap Kevin pelan. Menik berjalan mendekati tempat tidur, dan memapah Kevin dengan meletakkan tangan tangan bosnya di bahunya. Salah satu tangannya, memegang botol infus. Kevin merasa cukup dekat ketika tangannya dapat memegang bahu Menik. " Sampai sini saja." Ucap Kevin sambil meminta botol infus yang ada di tangan office girl itu. " Apa Bapak yakin?" Ucap Menik ragu. " Yakinlah, memangnya kamu mau masuk juga." Ucap Kevin cepat. " Cih, siapa lagi yang mau masuk. Saya cuma khawatir aja. Kalau Bapak tidak bisa. Saya bisa memanggil perawat untuk membantu." Ucap Menik. " Aku bisa." Ucap Kevin cepat. Kevin masuk ke dalam toilet. " Bapak coba bersiul. Agar saya tau kalau kondisi Bapak baik-baik saja di dalam sana." Ucap Menik dari balik pintu toilet. Kevin bersiul seperti permintaan Menik. Setelah selesai dia keluar masih tetap bersiul. " Sudah cukup bersiulnya. Saya bukan burung." Ucap Menik cepat. " Siapa yang bilang kamu burung." Ucap Kevin protes. Menik membantu memapah lagi. Botol infus di pegang tm Menik dengan tangan yang lainnya. Mereka jalan beriringan menuju tempat tidur. Pada saat Kevin membaringkan badannya ke tempat tidur, tangan Menik masih berada di pinggang Kevin. Dengan otomatis Menik ikut terjatuh ke atas tempat tidur disamping Kevin. Mata mereka saling beradu cukup lama. Kevin tidak mengalihkan penglihatannya dia menatap Menik dengan lembut. Menik merasa Kikuk. Karena pertama kalinya dia sedekat itu dengan seorang pria. " Pak tangan saya ada di belakang badan Bapak." Ucap Menik pelan. Kevin langsung bangun dari posisi berbaringnya, memberikan ruang untuk Menik agar bisa menarik salah satu tangannya. " Owh maaf." Ucap Kevin pelan. Menik pergi dari tempat tidur itu dan berjalan menuju sofa. Dia membaringkan badannya di sofa. Sofa berjarak kurang lebih 5 meter dari samping tempat tidur Kevin. Dia melirik Menik, sekilas wanita itu sedang melihat langit-langit ruangan. " Nik?" Ucap Kevin pelan. " Hemmm." Ucap Menik sambil menatap ke atas. " Besok kamu datang jam berapa ke acara tuan muda?" Ucap Kevin pelan sambil melirik Menik sekilas. " Siang mungkin." Ucap Menik pelan. " Kamu sama siapa?" Ucap Kevin lagi. " Sendiri."Jawab Menik. " Tunangan kamu tidak ikut?" Selidik Kevin. " Enggak, dia masuk pagi." Ucap Menik lagi. Mereka diam, tidak berkata apa-apa. Suasana hening, hanya terdengar suara detik jam yang berdenting. " Nik, apa kamu sudah tidur?" Ucap Kevin pelan. " Hampir." Ucap Menik pelan. " Hampir? Maksudnya?" Kevin bingung dengan ucapan Menik. " Maksudnya saya sudah mau masuk ke dalam alam mimpi. Tapi Bapak tanya terus, jadi arwah saya masuk lagi deh." Ucap Menik asal. " Jangan ngomong arwah di sini. Aku takut dengan hal seperti itu." Ucap Kevin bergidik. Seperti halnya anak kecil, jika mendengar rumah sakit pasti sering dengar dengan kamar jenazah. Makanya sampai hari itu Kevin selalu membayangkan kalau di rumah sakit sangat seram. Menik diam, matanya masih memandang ke langit-langit ruangan. " Nik, saya tidak bisa tidur." " Jadi saya harus berbuat apa? Agar Bapak bisa tidur?" Ucap Menik melirik sekilas ke Kevin. " Apa Bapak mau saya nyanyikan sebuah lagu." Ucap Menik menawarkan diri. " Cih, lebih baik aku nyanyi sendiri daripada mendengar kamu yang bernyanyi. Pasti lagu yang akan kamu nyanyikan lagu cendol dawet dan lagu baby sharks kan?" Ucap Kevin cepat. " Salah tapi aku akan menyanyikan sebuah lagu balonku ada 100. Biar Bapak cepat tidur." Ucap Menik cepat. " Memangnya ada lagu balonku ada seratus?" Ucap Kevin lagi. " Adalah, mau dengar?" Ucap Menik menawarkan diri. " Iya coba kamu nyanyikan?" " Balonku ada seratus rupa-rupa warnanya. Meletus balon hijau hatiku sangat kacau balonku tinggal 99 ku lepaskan semua, habis." Ucap Menik cepat ingin segera tidur. Dia cukup lelah hari ini. Apalagi dia bangun subuh, dan sudah waktunya dia memejamkan mata. " Nik, kamu ngarang lagunya?" Ucap Kevin protes. " Hemmmmm." Ucap Menik pelan ingin memejamkan matanya. Kevin masih saja terus berbicara. Dia tidak bisa tidur karena seharian sudah tidur di rumah sakit. " Nik, kalau saya selalu memikirkan seorang wanita, itu tandanya apa?" Ucap Kevin pelan sambil melirik Menik. " Memikirkan bagaimana dulu." Ucap Menik dengan mata tertutup. " Ya bayangan wajahnya selalu menghiasi pikiran saya." Ucap Kevin menjelaskan. " Mungkin Bapak suka sama dia." Ucap Menik masih menutup matanya. " Jadi saya harus bagaimana?" Ucap Kevin bingung. " Katakan saja kalau Bapak menyukai dia." Ucap Menik pelan. " Kalau dia tidak suka dengan saya bagaimana?" Ucap Kevin ragu. " Belum perang udah nyerah." Ucap Menik protes. Kemudian ruangan itu hening. Kevin tidak bertanya lagi. Dia masih menimbang-nimbang perkataan Menik. Apa sebenarnya perasaanku sama dia. Kenapa aku senang ketika dekat dengannya. Apa betul aku menyukainya? Apa aku harus mengungkapkan perasaanku padanya. Ini adalah pertama kalinya Menik tidur satu ruangan dengan seorang pria. Walaupun mereka beda tempat tidur tapi tetap saja ada rasa canggung tidur dalam satu ruangan dengan pria. Tapi dia cukup tenang untuk bisa tidur dengan cepat. Karena ada rasa aman ketika Kevin yang ada di dalam ruangan itu. " Nik, aku...." Ucap Kevin ragu. Kevin melanjutkan kalimatnya kembali. Sambil menghembuskan nafasnya secara kasar. " Nik, sepertinya aku menyukai kamu." Ucap Kevin pelan sambil melirik Menik. Tidak ada jawaban dari Menik. " Nik... Nik?" Ucap Kevin lagi. Menik tidak menjawab hanya suara dengkuran yang terdengar. " Aih, dia tidur. Cewek kok dengkur." Ucap Kevin pelan. Kevin memiringkan badannya memandangi wajah Menik dari samping. Diam-diam dia mengambil foto Menik. Dan menjadikannya foto wallpaper di layar ponselnya. Walaupun foto itu hanya di ambil dari samping, tapi Kevin merasa senang karena dapat melihat wajah Menik yang polos. " Apa aku harus membatalkan rencana pertunangan Menik. Tapi kalau Menik benci sama aku bagaimana?" Gumam Kevin pelan sambil memandang wallpaper foto Menik. Mencintai dalam diam itu memang sakit. Sakit tidak bisa mengungkapkan sakit karena hanya bisa memiliki dalam angan-angan. Akankah Kevin mengejar cinta Menik. Cintanya yang dulu telah di kubur lama. Dan setelah perasaan itu muncul kembali dengan orang yang berbeda. Orang itu akan dimiliki oleh orang lain. " Like, komen dan vote yang banyak ya terimakasih." Chapter 263 episode 262 (S2) Malam sudah semakin larut. Menik sudah terlelap sambil menekuk kakinya. Udara di ruangan itu terasa dingin, Kevin masih memperhatikan Menik, dia berusaha bangun dari posisi berbaringnya dan berjalan ke sofa sambil menarik tiang infus. Di tangannya yang lain ada selimut. Dia menyelimuti tubuh Menik dengan susah payah, karena salah satu pergelangan tangannya ada jarum infus. Kevin menyelimuti tubuh Menik, walaupun dia meletakkan selimut itu tidak sempurna, tapi ada kehangatan ketika melihat Menik bisa meluruskan kakinya. Kevin mengambil lagi foto Menik dari dekat. Walaupun perbuatannya tidak sopan, karena mengambil diam-diam tapi dia tetap melakukannya. Menurutnya kecantikan seorang wanita terlihat pada saat dia tidur dan bangun tidur. Kevin memandang foto Menik yang barusan di ambilnya. Sampai akhirnya dia terlelap. Menit berganti menit dan jam berganti jam. Alarm ponsel Menik menyala. Menik terbangun dari tidurnya, sambil mematikan alarm. Waktu menunjukkan pukul setengah 5 pagi. Menik melihat tubuhnya sudah terbalut dengan selimut. Dia melihat kembali ke atas tempat tidur, disana terlihat Kevin yang meringkuk kedinginan. " Tadi malam aku tidak pakai selimut, dan selimut ini sudah ada di tubuhku. Berarti dia yang meletakkan selimut ini. Padahal dia kedinginan." Ucap Menik sambil berjalan ke tempat tidur dan menyelimuti Kevin. Ponsel Kevin tergeletak di atas tempat tidur. Menik mengambil ponsel itu dan meletakkan di atas meja sebelah tempat tidur. Pada saat dia memegang ponsel itu, ada sebuah foto di layarnya Kevin. Dia melihat dengan seksama. " Apa ini pacarnya Pak Bos, tapi sepertinya wajahnya tidak asing." Gumam Menik. Menik belum seratus persen nyawanya kumpul. Jadi dia belum sadar kalau yang ada di foto itu adalah dirinya. Menik meletakkan ponsel itu dan pergi berjalan ke dekat meja. Ada sebuah galon minuman di sana. Menik menegakkan air putih itu ke dalam tenggorokannya. Rutinitas yang di lakukannya ketika bangun tidur adalah minum air. Mungkin karena masih terlalu ngantuk air putih itu sebagian tumpah mengenai pakaiannya. Menik mengelap pakaiannya dengan tisu. Dan dia tersadar ketika melihat pakaiannya sama dengan foto yang ada di ponsel Kevin. Menik berjalan pelan dan melihat kembali ponsel Kevin. Ponsel Kevin memang tidak di kunci. Jadi dengan gampang dia melihat kembali foto wallpaper itu. Menik memegang mulutnya, dia melihat ada beberapa foto dirinya di dalam galeri ponsel Kevin. " Gawat Bapak ini sepertinya, punya pikiran mesum. Bisa-bisanya mengambil fotoku dalam keadaan tidur." Gerutu Menik sambil meletakkan ponsel itu kembali ke atas meja. Menik memikirkan kejadian tadi malam. Semua rentetan peristiwa tadi malam coba di ingatnya. " Kalau tidak salah dengar, Bapak ini bilang selalu memikirkan seorang wanita. Apa jangan-jangan itu aku." Gumam Menik kikuk. " Ah mana mungkin dia suka dengan aku. Tapi kenapa dia menyimpan fotoku. Apa mungkin dia menyukaiku. Tapi kenapa secepat itu. Padahal kemaren malam dia cerita kepada semua orang, kalau dia menyukai seorang wanita dan wanita itu sekarang sudah bahagia. Berarti dia mencari pelarian kepada diriku." Menik berpikir keras mengenai masalah ini. " Baiklah rencananya sudah terbaca. Dan aku harus pura-pura tidak paham tentang keadaannya. Anggap saja kalau aku tidak tau menahu. Aku akan berakting seperti biasa." Gumam Menik pelan. Ada suara ketukan dari luar. Menik membuka pintu, ada seorang cleaning service wanita dengan membawa semua peralatan tempurnya. " Permisi saya mau membersihkan ruangan ini." Ucap cleaning service wanita. " Silahkan." Ucap Menik sopan. Ruangan di bersihkan, tapi Kevin masih terlalu lelap untuk di bangunkan. Setelah selesai ruangan di bersihkan. Menik ingin keluar ruangan untuk membeli sarapan di kantin. Tapi dia melihat dompet dan ponsel Kevin tergeletak sembarangan di atas meja. Menik mengambil dompet dan ponsel itu dan memindahkannya ke atas tempat tidur. Dia meletakkan di bawah bantal Kevin. Pada saat dia mau pergi tangannya di pegang Kevin. " Mama, aku rindu." Ucap Kevin mengigau. Kevin menarik tangan Menik dengan keras. Sehingga tubuh Menik jatuh ke badan Kevin. Kevin sedang mengigau. Dia merasa sedang memeluk tubuh ibunya. Menik hanya diam, tidak bisa bergerak. Dia mengerti kalau Kevin sedang mengigau. " Memangnya ada mengigau pagi hari." Gumam Menik pelan. Kepala Menik berada di dada Kevin. Menik berusaha untuk bangkit tapi pelukan Kevin terlalu erat. Walaupun hanya satu tangan tapi dia tetap susah untuk melepaskan pelukan itu. " Apa aku berdiam saja dulu di sini sampai pelukan ini longgar. Tapi kalau dia terbangun, bagaimana?" Gumam Menik pelan. Mungkin karena ada beban di dadanya, sehingga Kevin terbangun. " Ngapain kamu di badanku." Ucap Kevin cepat. Menik langsung bangun dari dada Kevin. Dan merapikan pakaiannya. " Ngapain-ngapain. Seharusnya saya yang tanya sama Bapak. Kenapa Bapak menarik tangan saya." Ucap Menik tidak mau kalah. " Mana ada saya menarik tangan kamu." Ucap Kevin lagi. " Hello Bapak, anda itu tadi lagi tidur dan mengigau dengan memanggil mama aku rindu." Ucap Menik memperagakan cara bicara Kevin. Kevin terdiam, dia mengingat mimpi yang barusan saja terjadi. Di sana dia merindukan sosok ibunya. Dia bertemu dengan sang ibu sambil memeluk erat tubuh ibunya. " Enggak bisa jawabkan?" Ucap Menik lagi sambil berlalu meninggalkan Kevin. " Kenapa badan kamu berat sekali. Padahal kamu kecil. Apa itu lemak semua." Ucap Kevin cepat. " Bukan, itu bukan lemak. Tapi itu berat timbangan dosa saya." Ucap Menik pelan sambil berlalu hendak pergi. " Kamu mau kemana?" " Mau sarapan." " Apa kamu ada uang." Ucap Kevin lagi. " Masih ada sisa kemaren malam." Ucap Menik sambil tetap pergi dan tidak menghiraukan ucapan Kevin dari dalam. Menik kembali dengan membawa dua cup bubur di tangannya. Pada saat dia masuk, Kevin sedang berusaha untuk bangun dari posisinya. Menik cepat-cepat meletakkan makanan itu ke atas meja. Dan membantu Kevin untuk berdiri. Dia memapah Kevin dengan meletakkan tangan Kevin di bahunya. Kevin mencium aroma tubuh Menik yang harum. Padahal seharian Menik tidak mandi, tapi badannya tetap harum. Sama seperti yang di ucapkan Menik pada waktu itu. Kalau keteknya wangi parfum laundry. Kevin membuang hajatnya di dalam toilet. Menik dengan setia menunggu di depan pintu. Setelah ada suara pintu di buka. Menik langsung berhambur ke dalam toilet untuk membantu Kevin. Tapi Menik menutup hidungnya. Karena aroma toilet itu sangat bau. " Bapak baru ngapain?" Ucap Menik cepat sambil membawa Kevin keluar dari toilet. " Buang hajat." Ucap Kevin cepat. " Bapak makan sampah ya. Baunya seperti tong sampah." Ejek Menik. " Cih, enak aja. Tinggal hirup aja susah banget." Mereka berdua makan sarapan bubur yang di beli dari kantin. Kevin tidak mau makan makanan dari rumah sakit. Karena menurutnya rasa makanan di rumah sakit kurang menarik. " Ini namanya bubur apa?" Ucap Kevin pelan sambil mengaduk buburnya. " Bubur sumsum." Ucap Menik pelan. " Apa bubur sun sun." Ucap Kevin lagi. " Idih Bapak genit. Pagi-pagi mau minta sun." Goda Menik. Kevin terdiam, dia seperti mati kata jika berbicara dengan Menik. Pendengarannya yang salah apa dia yang salah menyebutkan kata itu. Kevin tidak mau berbicara mengenai bubur itu. Dia hanya menikmati setiap sendok makanan itu. Pintu di ketuk, ada dua orang perawat dan satu orang dokter yang ingin memeriksa Kevin. Dokter melakukan kebiasaannya seperti bertanya tentang kondisi pasien. Dan meletakkan stateskop ke atas dada dan perut Kevin. " Baiklah anda bisa pulang pagi ini." Ucap dokter. Perawat memerintahkan seseorang untuk datang ke bagian registrasi untuk melaporkan kepada pihak sana untuk mempersiapkan kepulangan Kevin. Setelah berkas dan tandang tangan yang di bubuhkan di atas kertas. Perawat melepaskan jarum infus dari pergelangan tangan Kevin. Perawat mendorong Kevin dengan kursi roda menuju loby rumah sakit. Di sana mereka menunggu taksi online yang akan mengantarkan mereka pulang. " Like, komen dan vote yang banyak ya terimakasih." Chapter 264 episode 263 (S2) Taksi sudah datang, mereka masuk dan duduk di belakang Pak supir. " Dimana alamat kamu?" Ucap Kevin cepat. Menik memberitahukan alamatnya. " Tapi lebih baik saya turun di halte saja. Karena mobil tidak bisa masuk ke dalam, soalnya jalannya sempit." Ucap Menik. " Halte yang mana? Yang pertama kali kita bertemu?" Ucap Kevin. " Bukan, nanti sambil jalan saya sebutkan halte yang mana." Ucap Menik menjelaskan. Mobil sudah berjalan menjauh dari rumah sakit. Seperti di awal yang pertama kali di antar adalah Menik. Setelah melewati beberapa kali traffic light. Akhirnya sampai di sebuah halte. Menik memerintahkan Pak supir untuk berhenti di depan halte. " Rumah kamu di mana?" Ucap Kevin sambil melihat keluar jendela." Kevin keluar terlebih dahulu, untuk memberikan ruang bagi Menik agar bisa keluar dari dalam taksi. " Rumah saya di seberang jalan." Ucap Menik sambil menunjukkan gang kecil. " Baiklah, dua jam lagi aku jemput." Ucap Kevin cepat sambil memegang handle pintu mobil. " Untuk apa?" Ucap Menik bingung. " Malah balik tanya. Untuk pergi ke acara Tuan muda dan nona Zira. Apa kamu amnesia?" Ucap Kevin cepat. " Owh iya lupa." Ucap Menik sambil menepuk dahinya karena lupa. " Mungkin kebanyakan makan bubur sun sun ini Pak, makanya saya jadi pelupa." Ucap Menik lagi. " Idih genit kamu. Apa kamu mau di sun?" Ucap Kevin cepat sambil menatap Menik tajam. " Alah palingan juga supir taksi yang sun." Ucap Menik asal " Sudah sana. Kalau lama aku suruh supir taksi sun kamu." Ucap Kevin sambil memerintahkan Menik untuk pulang ke rumahnya. Menik menyebrang jalan, dan Kevin masih melihatnya. Sampai bayangan Menik hilang baru supir taksi melajukan mobilnya. Di dalam rumah Menik. Hari ini adalah hari Sabtu, Menik bersyukur karena hari Sabtu dan Minggu adalah hari libur untuk semua karyawan. Di dalam rumahnya tidak ada Bima. Bima hari ini masuk pagi. Sebagai seorang sekuriti liburnya bukan seperti karyawan lainnya. Dia libur sesuai dengan jadwalnya. " Lebih baik aku berbaring sejenak." Gumam Menik pelan tanpa terasa dia sudah terlelap. Kevin sudah sampai di rumahnya. Dia langsung berkemas dan membersihkan diri di kamar mandinya. Setelah itu dia memilih pakaian yang non formal. Memakai Kemeja biru dan di padupadankan dengan celana hitam. Dan sepatu yang di pakainya sepatu kasual. Kevin langsung menyalakan mesin mobilnya. Dalam sekejap dia sudah sampai di depan gang rumah Menik. Dia menghubungi nomor ponsel Menik. Tapi panggilan tidak terhubung. Hampir 15 menit Kevin menunggu di dalam mobilnya tapi keberadaan Menik belum juga ada tanda-tandanya. Kevin memang lebih cepat datangnya. Lebih cepat setengah jam. " Ini si Menik kemana." Gerutu Kevin bosan. Dia mematikan mesin mobil dan turun dari kendaraannya. Kevin berjalan ke gang kecil itu. Gang yang sangat kecil, hanya bisa di lewati oleh roda dua. Walaupun dia tidak tau dimana rumah Menik, setidaknya dia bisa bertanya itu pikirnya. Di dekat gang, ada anak-anak yang sedang bermain permainan tapak gunung. Mereka melukis bentuk yang mereka inginkan di gang sempit itu. Kevin menghampiri anak-anak kecil tersebut. " Adek tau rumahnya Menik?" Ucap Kevin pelan. " Owh kak Menik yang nama adiknya Bima kan?" Ucap salah seorang anak yang badannya lebih besar dari yang lainnya. Kevin bingung, setau dia Bima adalah tunangan Menik. " Bukan, Menik yang tinggal sendirian." Ucap Kevin lagi. " Enggak tau om. Setau kami kak Menik di sini cuma satu." Ucap salah seorang anak. " Baiklah yang itu di mana rumahnya?" Ucap Kevin cepat. " Om lurus aja, nanti belok kanan, kemudian belok kiri. Di depan ada warung." Ucap anak itu. " Warung itu rumahnya." Ucap Kevin lagi. " Bukan om tanya aja sama warung itu." Ucap anak kecil itu menjelaskan. Kevin mengernyitkan dahinya, menurutnya satu gang tempat tinggal Menik orang-orangnya sama lucunya dengan Menik. " Jadi kalian tidak tau rumahnya?" " Tau." Ucap anak-anak itu serentak. " Kalau tau kenapa kalian suruh om tanya sama warung lagi." Ucap Kevin penasaran. " Biar lebih jelas aja." Ucap anak-anak itu lagi. Kevin mengikuti jalan setapak itu. Jalan yang sangat sempit. Lebih sempit dari koridor kantornya. Kevin sampai di depan warung, sesuai dengan petunjuk anak-anak itu. Dia harus menanyakan rumah Menik kepada pemilik warung. " Permisi." Ucap Kevin sedikit berteriak. " Ya mau beli apa?" Ucap seorang Ibu yang baru keluar dari dalam rumahnya. " Mau tanya rumah Menik di mana ya? Ucap Kevin pelan. " Itu." Ucap pemilik warung menunjukkan rumah kecil yang tepat ada di depan warung itu. Kevin menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Menurutnya anak kecil itu telah mengerjai dia. " Terimakasih Bu." Ucap Kevin sambil berjalan ke arah rumah Menik. " Sialan aku di kerjain anak kecil." Gerutunya. Dia mengetuk pintu rumah Menik secara berulang. Tidak berapa lama keluar seorang wanita dengan rambut yang acak-acakan seperti rambut Naruto, jengat di sana dan jengat di sini. Menik membuka pintunya sambil terus menguap. Di mengenakan celana pendek di atas lutut dan baju yang tidak berlengan. Tubuh mulus Menik terlihat jelas dimata Kevin. Menik cukup seksi di situ. Menik belum sadar, dia masih berpikir yang pulang adalah adiknya. Dia membuka pintu lebar. Dan langsung tidur lagi di kasurnya. Kevin bingung melihat tingkah Menik. Yang tidak berkata sedikitpun. Dia memberanikan diri untuk masuk, dan mencoba mengetuk pintu kamar Menik yang terbuka lebar. " Apa." Ucap Menik sambil tetap tengkurap. Kevin memalingkan wajahnya, paha Menik terlihat jelas dari depan pintu. " Menik bangun." Ucap Kevin teriak. Menik mengingat suara itu. Dia membuka perlahan matanya sambil memutar cepat kepalanya melihat ke arah pintu. " Aaaaa...." Menik teriak. Kevin masuk ke dalam kamar Menik sambil menyumpal mulut wanita itu dengan ujung bantal. Kevin khawatir teriaknya Menik akan mengundang warga datang ke rumah itu. Mereka pasti berpikiran yang aneh-aneh. " Ngapain Bapak kesini." Ucap Menik kencang sambil menutup badannya dengan bantal. " Sudah jam berapa ini? Apa kamu tidak mau pergi ke acara tuan muda." Ucap Kevin komplain. " Alah Mak jang, kenapa aku bisa ketiduran seperti ini." Gumam Menik. " Cepat kamu bersiap. Waktumu hanya 15 menit." Ucap Kevin keluar dari kamar Menik. " Cepat banget 15 menit." Gerutu Menik. Sebelum keluar, Kevin memperhatikan ruang tamu yang langsung jadi satu dengan dapur. Dan ada yang menarik di dinding ada foto Menik dengan seorang pria yang dia tau itu adalah Bima. Foto mereka cukup mesra seperti sepasang kekasih. Kevin berjalan keluar gang sempit itu menuju mobilnya. Sedangkan Menik besiap diri di rumahnya. " Apa benar mereka kakak adik? Atau pertunangan Bima memang tunangannya." Gumam Kevin. Kevin menghubungi seseorang dari ponselnya. Dia memerintahkan orang kepercayaannya untuk menyelidiki latar belakang Menik. " Baik Pak, bisa kirimkan fotonya." Ucap seseorang dari ujung sana. Kevin mengirimkan foto Menik yang lagi tidur. Tidak berapa lama ponselnya berdering lagi. " Pak, apa tidak ada foto yang matanya terbuka?" Ucap orang kepercayaan Kevin. " Maksud kamu apa?" " Itu Pak, kalau matanya tertutup saya tidak bisa mencarinya pasti akan sulit untuk mengenalinya. Tapi kalau terbuka matanya lebih gampang." Ucap pria itu. Apa yang di katakan orangnya benar. Akan sulit untuknya mengenali wajah yang lagi tidur. Tapi dia tidak punya foto Menik dalam keadaan buka mata. Sedangkan foto yang dia kirim saja hasil foto sembunyi-sembunyi. " Like, komen dan vote yang banyak ya terimakasih." Chapter 265 episode 264 (S2) Menik telah bersiap mandi dan berlari ke depan sambil menggendong tas ransel di bahunya. Kevin memperhatikan dari jauh. Dan membuka pintu kaca sebelah kirinya. " Maaf Pak? Apakah saya terlambat dari menit yang Bapak tentukan?" Ucap Menik sambil ngos-ngosan dan berbicara sambil sedikit membungkuk. Kevin melihat jam di tangannya, Menik datang tepat waktu. Tapi dia berbohong dengan mengatakan kalau Menik terlambat. " Kamu terlambat satu detik. Dan kamu harus di hukum." Ucap Kevin cepat. " Satu detik. Memangnya terlambat satu detik masih tetap di hukum." Ucap Menik protes masih berbicara dari luar mobil. " Ah sudahlah, masuk cepat." Ucap Kevin memerintahkan Menik untuk masuk ke dalam mobilnya. Menik duduk dan tiba-tiba Kevin mengambil foto Menik. " Untuk hukuman kamu." Ucap Kevin cepat sambil menunjukkan hasil fotonya. " Itu saja? Kalau begitu mending saya foto sendiri. Yang itu kurang bagus. Pinjam handphone Bapak." Ucap Menik. Kevin menyerahkan ponselnya. " Bagaimana caranya?" Ucap Menik cepat. " Kamu kampungan banget sih, gitu aja enggak bisa." Ucap Kevin protes. " Lebih baik saya jujur mengakui kalau saya tidak bisa menggunakannya dari pada bohong nyatanya kosong." Ucap Menik cepat. " Ya, Bu guru." Ucap Kevin sambil mengajari Menik cara menggunakan kamera ponselnya. Menik mengambil beberapa gaya fotonya. Semua gaya di ambilnya. Setelah itu dia menyerahkan ponsel itu kepada pemiliknya. " Berapa banyak foto yang kamu ambil." Ucap Kevin sambil menyalakan mesin mobilnya. " Banyak, semua gaya sudah saya ambil. Cuma gaya jengking aja yang belum." Ucap Menik cekikkan. " Sstt diam. Jangan tertawa seperti itu, kalau seperti itu kamu seperti kuntilanak." Ucap Kevin cepat. " Kuntilanak apa kuntilbapak." Ucap Menik masih dengan cekikikannya. Kevin fokus mengendarai mobilnya. " Kenapa tertawamu seperti suara kucing kejepit." Ejek Kevin. " Bukan kucing kejepit tapi sandal kejepit." Jawab Menik. " Samalah itu." Ucap Kevin lagi. " Pak memangnya foto saya mau di apakan? Bapak bukan mau jampi-jampi sayakan?" Ucap Menik cepat sambil melihat ke Kevin. " Idih siapa pula yang mau menjampi-jampi kamu." Ucap Kevin cepat. " Lalu itu untuk apa?" " Fotomu akan aku tempel di dinding rumahku. Untuk menakut-nakuti setan di rumahku." Ucap Kevin asal. " Owh kalau itu tidak apa-apa. Saya setuju, memang wajah saya lebih seram dari setan." Ucap Menik cekikkan. Kevin melirik tas yang ada di paha Menik. Kemudian dia melirik ke bawah kaki Menik. Kevin langsung rem mendadak. Brukkk. Dahi Menik menghantam dashboard mobil. " Aw, Bapak kalau mau bunuh diri jangan ngajak saya." Ucap Menik komplain sambil memegang dahinya. " Maaf." Ucap Kevin sambil memegang dahi Menik yang merah. " Kamu juga, kenapa tidak pakai sabuk pengaman." Ucap Kevin komplain balik. Dia memegang dahi Menik yang merah karena terhantam dashboard cukup kencang. " Nanti kita berhenti di apotek untuk membeli salep." Ucap Kevin khawatir. " Enggak usah, saya sudah sembuh." Ucap Menik cepat sambil tersenyum tidak meringis lagi. Kevin menekan pedal gas mobilnya. Mobil melaju lagi dengan kecepatan sedang. " Bapak kenapa tadi berhenti mendadak." Ucapan Menik mengingatkan Kevin. " Kamu mau pergi pengajian atau mau pergi main bola." Ucap Kevin cepat sambil melirik sepatu Menik. " Hehehe." Ucap Menik sambil cengengesan. " Ini lagi kenapa harus bawa tas ransel. Apa kamu tidak punya tas jinjing." Semua penampilan Menik di komplain habis oleh Kevin. " Sepatu pakai sepatu bola. Tas pakai tas ransel. Rambut di kuncir kuda. Wajah polos seperti buku gambar enggak ada coretan." Gerutu Kevin. " Aih Bapak ini sebenarnya pengarah gaya atau asisten rumah tangga sih?" Ucap Menik asal. " Semuanya di komplain." Gerutu Menik. " Habis kamu mau pergi pengajian seperti enggak ada niat. Udah terlambat berdandanpun tidak." Ucap Kevin komplain lagi. " Bapak kasih waktu hanya 15 menit, mana bisa saya berdandan. Ini aja saya asal ambil sepatu." Ucap Menik membela dirinya. Menik tetap terlihat manis, ada riasan di wajahnya ataupun tidak dia tetap manis. Kevin hanya ingin melihat Menik tampil sesuai harapannya. Karena pesan dari Zira adalah Menik harus cantik. Jadi itu menjadi tanggung jawabnya. Kevin memutar arah mobilnya. Dia melirik jam di tangannya. Masih ada satu jam lagi untuk acara itu di mulai. Mobil berhenti di depan sebuah salon. " Turun." Ucap Kevin cepat sambil membuka sabuk pengamannya. " Kita mau ngapain?" Ucap Menik bingung. " Mau permak kamu." Ucap Kevin cepat sambil keluar dari mobil. Kevin sudah berhenti di samping pintu mobil sebelah kiri. Dia membukakan pintu untuk Menik. " Permak? Memangnya celana setan di permak." Ucap Menik protes sambil memegang tas ranselnya. " Tinggalkan tas kamu di situ." Perintah Kevin. " Tapi di dalamnya ada dompet dan ponsel saya." Ucap Menik masih memegang tas ranselnya. " Ambil, yang penting tinggalkan yang tidak penting." Ucap Kevin cepat. Menik mengambil ponsel sabunnya dan dompet buruknya. " Ini kamu bilang dompet?" Ucap Kevin komplain sambil menunjuk dompet yang di pegang Menik. Di dompet itu ada tulisan toko emas x. Ukurannya yang kecil membuat Kevin sampai tercengang dan berpikir siapa yang memberi julukan dompet untuk benda itu. " Ya dompetlah. Kalau plastik beda lagi." Ucap Menik cepat. " Bawa sini dompet sama ponsel kamu." Ucap Kevin. Kevin menyimpan dompet toko emas itu dan ponsel sabun batangan di dalam sakunya. Mereka masuk ke dalam sebuah salon. " Ada yang bisa di bantu?" Ucap Pelayan salon. " Rias secantik mungkin tapi jangan menor." Ucap Kevin cepat. " Baik Pak." Ucap Pelayan sambil mengajak Menik untuk duduk di sebuah kursi yang didepannya ada kaca besar. Kevin duduk di sofa dan di suguhkan minuman dingin di depannya. Selagi Menik di rias. Dia mengirimkan foto Menik kepada orang suruhannya. Kevin merasa bosan menunggu, dia meletakkan kepalanya di atas sandaran sofa. Sambil memejamkan matanya. Tiba-tiba ada suara ayam berkokok. Dan semua orang mencari asal muasal suara itu. Begitupun Kevin di kaget karena siang hari ada suara ayam yang berkokok. " Permisi sebentar." Ucap Menik kepada perias salon. Menik berjalan kearah Kevin. " Pak, ayam saya lagi batuk." Ucap Menik sambil mengulurkan tangannya. " Ayam?" " Ya cepat, nanti batuknya tambah parah." Ucap Menik lagi sambil mengulurkan tangannya. " Apaan sih?" Kevin tampak bingung. " Aduh cepat mana ponsel remote tv saya." Ucap menik cepat. Kevin sadar dengan ucapan Menik dan menyerahkan ponsel itu kepada pemiliknya. Ada satu panggilan di situ. Menik menarik nafasnya panjang ketika melihat nama seseorang di ponsel bututnya. Dan langsung menolak panggilan tersebut. " Siapa?" Ucap Kevin penasaran. " Bukan siapa-siapa." Ucap Menik sambil mematikan ponselnya. Menik menyerahkan ponselnya kembali kepada Kevin. " Apa nada dering kamu tidak ada yang lebih keren dari ayam batuk." Ucap Kevin komplain. " Ada suara kucing, sama suara jangkrik. Tapi keduanya sangat pelan padahal volume suaranya sudah full tapi tetap pelan. Jadi saya pilih suara ayam. Biar semangat menjawab panggilan semuanya." Ucap Menik menjelaskan. " Tapi kamu tadi tidak semangat menjawab panggilan tadi, malah menonaktifkan ponselmu." Ucap Kevin. Kevin memperhatikan gerak gerik Menik. Menurutnya Menik menyembunyikan sesuatu. Menik kembali ke kursi tempat dia dirias. Perias melanjutkan riasannya. Dia memilih warna makeup yang tidak terlalu terang agar terlihat natural. Setelah beberapa menit di dalam salon. Akhirnya Menik selesai di rias. " Mbak cantik sekali." Puji perias itu. " Apa ini saya." Ucap Menik sambil melihat wajahnya di dalam kaca. Dia sendiri kurang yakin dengan penglihatannya. Itu bukan seperti dirinya, karena tidak pernah berhias jadi wajah Menik sangat jauh berbeda dari sebelumnya. Menik berjalan mendekati sofa. Tempat Kevin menunggunya. Dia berdiri di depan Kevin yang hanya terhalang sebuah meja kecil di depannya. Kevin melihat sekilas kemudian melanjutkan lagi melihat ponselnya. " Pak saya sudah siap di rias." Ucap Menik cepat. Kevin langsung melihat kearah wanita yang berdiri di depannya. " Kamu Menik?" Ucap Kevin pangling. " Bukan ini neneknya Menik." Ucap Menik asal. Kevin masih melihat Menik tidak berkedip. Wanita itu sangat cantik. Beda dari penampilan sebelum yang apa adanya. Dan menurutnya tampilan Menik luar biasa. " Apa Bapak mau memandang saya seharian seperti ini." Ucap Menik cepat menyindir Kevin yang terus memandanginya. Kevin tersadar dan beranjak dari sofa menuju meja kasir. Setelah menggesek kartunya di mesin, mereka keluar sambil beriringan. Kevin terus mencuri-curi pandang dari Menik. Dia membukakan pintu mobil untuk wanita cantik itu. Sambil terus menyunggingkan senyuman di bibirnya. " Jangan terlalu sering tersenyum ataupun tertawa. Apa mau gigi Bapak kering?" Sindir Menik. Kevin gelagapan mendengar sindiran Menik. Setelah Menik masuk dalam mobil. Kevin berjalan memutari mobil dan masuk ke dalam mobil dari pintu sisi lainnya. " Like, komen dan vote yang banyak ya terimakasih." Chapter 266 episode 265 (S2) Kevin sudah menyalakan mesin mobil dan meninggalkan salon. Dia masih menyunggingkan senyum di bibirnya. Menik memperhatikan dari ujung matanya. " Pak tetangga saya kemaren ada yang meninggal." Ucap Menik asal. " Kenapa meninggalnya?" Ucap Kevin penasaran. " Mulutnya tidak bisa tertutup karena giginya kaku." Ucap Menik asal. Kevin memicingkan matanya, melihat sekilas ke arah Menik. Dia kurang percaya dengan omongan Menik. Tapi dia teringat sesuatu tentang sinetron di salah satu Chanel tv yang membuat cerita tentang orang-orang yang meninggal mendadak karena sesuatu hal yang ganjil. Contohnya meninggal karena tidak bisa bayar hutang dan meninggal karena suka bergunjing. Kevin fokus dengan mobilnya. Sekilas-sekilas dia melirik Menik. Menurutnya Menik sangat cantik. " Kenapa Bapak melirik saya terus?" Ucap Menik penuh selidik. " Hemmm, kamu seperti Cinderella." Ucap Kevin memuji Menik. Menik merasa senang ketika dia di puji oleh seorang pria. " Biasanya di negeri dongeng, Cinderella pakai sepatu kaca, tapi kamu Cinderella pakai sepatu bola." Ucap Kevin sambil tertawa kecil. Menik melihat kearah kakinya yang terbalut sepatu bola berwarna hijau. " Apa nanti jam dua belas tengah malam akan berubah menjadi Upik abu?" Ucap Kevin bercanda. " Ya saya akan berubah menjadi Upik abu. Dan akan meninggalkan sesuatu nanti di sana." Ucap Menik lagi. " Hahaha, paling sepatu bola yang kamu tinggalkan." Ucap Kevin mengejek Menik. " Salah, saya akan meninggalkan kaos kaki saya di sana." Ucap Menik sambil cekikikan. Kevin melirik sambil memicingkan matanya seperti orang jijik. " Agar penampilan kamu lebih maksimal, kita pergi ke toko sepatu." Ucap Kevin cepat. " Jangan Pak, saya tidak ada uang untuk mengganti ini semua." Ucap Menik khawatir. " Kamu cicil saja." Ucap Kevin asal sambil terus menatap ke arah depan. " Cicil dengan apa? Uang saja tidak punya." Gerutu Menik. " Dengan doa." Ucap Kevin sambil melirik Menik sekilas kemudian dia melirik ke arah depan lagi. " Oh bisa ya seperti itu, baiklah saya akan mencicil dengan doa masuk WC." Ucap Menik semangat. " Aih kenapa harus doa masuk WC? Apa kamu tidak hafal dengan doa yang lainnya?" Gerutu Kevin. " Doakan saya agar bisa menikah tahun ini." Ucap Kevin pelan sambil menatap lembut Menik dengan sekilas. Deg jantung Menik langsung berdetak kencang ketika mendengar perkataan bosnya. Menurutnya doa itu sangat menyentuh dirinya. Walaupun dia tidak tau siapa gadis itu tapi dia cukup deg-degan ketika Kevin mengatakan itu. Mobil telah sampai di sebuah toko. Toko itu adalah yang menjual beraneka ragam merek sepatu branded. Kevin mengajak Menik untuk ikut keluar dengannya. " Saya nunggu di sini saja." Ucap Menik menolak. " Kenapa?" Ucap Kevin bingung. " Sepatu saya licin. Nanti saya terpleset di sana. Tadi aja di salon saya menyeret sepatu ini." Ucap Menik khawatir. Kevin yang tadi duduk di belakang kemudi, kini turun dari mobil dan memutari mobil dan membuka pintu mobil tersebut. " Ayo turun, nanti saya pegangi." Ucap Kevin mengulurkan tangannya. Menik ragu, tapi dia mengulurkan tangannya. Tangannya di genggam erat sama Kevin. Menik berjalan sedikit pelan sambil tetap di gandeng. Mungkin karena terlalu lama. Kevin langsung membopong Menik dan di letakkan di depan dadanya. Dengan gampang dia mengangkat tubuh Menik. Semua orang melihat ke arah mereka berdua. " Pak turunkan saya." Ucap Menik malu sambil memegang pundak Kevin. Kevin tersenyum penuh kemenangan. " Badan kamu ringan sekali. Seperti sekarung beras." Ucap Kevin melangkahkan kakinya ke dalam toko. Menik malu dia tidak bisa menjawab gurau dari Kevin. Biasanya dia bisa menjawab telak omongan bosnya tapi kali ini tidak. Wajahnya merona merah. " Kenapa wajah kamu merah seperti saus tomat." Canda Kevin lagi. Mereka sudah masuk ke dalam toko sepatu. Pelayan tersenyum melihat mereka berdua. Apalagi melihat kaki Menik yang terbalut dengan sepatu bola, semua pelayan tertawa kecil melihat tontonan itu. " Ada yang bisa di bantu?" Ucap salah seorang pelayan toko sambil tersenyum tipis. " Carikan sepatu yang cocok untuk nona ini?" Ucap Kevin cepat sambil tetap membopong tubuh Menik. " Sepatu model apa?" Ucap pelayan lagi ramah. " Carikan yang paling bagus, yang jelas bukan sepatu seperti ini." Ucap Kevin sambil menunjuk sepatu bola Menik dengan tatapannya. " Baik, silahkan ikut saya." Ucap pelayan. Menik masih berada di depan dadanya Kevin. " Pak turunkan saya." Ucap Menik berbisik. Kevin menurunkan Menik dan meletakkan tubuh wanita itu di atas sofa. Pelayan datang satu persatu membawa berbagai model sepatu dari berbagai merek terkenal. Mereka membantu Menik memakai sepatu itu. Kevin duduk di sebelahnya sambil memperhatikannya. Semua sepatu yang di antarkan pelayan bertumit. Menik membisikkan sesuatu ke telinga Kevin. " Pak saya tidak bisa pakai sepatu ini. Saya takut jatuh. Lebih baik saya pakai egrang dari pada pakai ini." Ucap Menik sambil berbisik. Kevin mengernyitkan dahinya. Menurutnya Menik orangnya polos dan apa adanya. " Enggak usah aneh-aneh. Mana ada orang pergi pengajian pakai egrang." Ucap Kevin komplain. " Memang belum ada tapi saya akan melakukan kalau anda menyuruh saya memakai sepatu bertumit tinggi ini." Ucap Menik sambil menunjuk sepatu yang di pegangnya. Kevin melihat sekilas ke arah Menik dan kembali ke pelayan. " Carikan sepatu yang tidak terlalu tinggi." Ucap Kevin memerintahkan pelayan lagi. Pelayan berhamburan pergi sambil membawa sepatu yang tadi dan kembali ke rak sepatu. Mereka mencari sepatu sesuai permintaan Kevin. Dalam beberapa menit mereka sudah sampai di depan pengunjung tokonya dengan membawa box sepatu di tangannya. Mereka membuka box sepatu tersebut dan menunjukkan di depan Menik. Wanita itu memperhatikan dan mencoba satu persatu. Dia menjatuhkan pilihannya pada sepatu berwarna moka. Dan bagian depan terbuka dengan model tali di belakangnya. " Bagaimana? Bagus tidak Pak?" Ucap Menik sambil berjalan mondar mandir di depan Kevin. " Bagus." Ucap Kevin cepat. Kevin beranjak dari sofa dan menggandeng tangan Menik layaknya kekasihnya. " Pak kenapa tangan saya masih di gandeng, saya sudah bisa jalan sendiri." Ucap Menik cepat sambil berusaha melepaskan tangannya dari genggaman tangan Kevin. Kevin tidak menghiraukan, dia menggandeng tangan Menik sampai ke meja kasir. " Totalnya 15 juta." Ucap seorang wanita yang bekerja di bagian kasir. Menik membelalakkan matanya, dan membuka mulutnya. Dia tidak percaya dengan harga sepatu yang di pakainya. Kevin menyerahkan kartunya ke pelayan toko. Pelayan toko menggesek kartu tersebut. " Tutup mulutmu, nanti masuk nyamuk ke situ." Ucap Kevin sambil berbisik melihat Menik yang terus menganga. " Pak mahal banget?" Ucap Menik berbisik. Kevin hanya melirik dan menyelesaikan pembayaran itu. Kemudian menggandeng tangan Menik kembali. Mereka berjalan menuju parkiran. Kevin seperti tidak ingin melepaskan tangan Menik. Dia menekan remote mobilnya, dan membukakan pintu mobil. Setelah Menik duduk, tidak lupa dia memakaikan wanita itu sabuk pengaman. Kevin sudah duduk di belakang kemudi. Dan menyala mesin mobilnya, meninggalkan pertokoan. " Pak, jawab saya? Kenapa beli sepatu seharga motor?" Ucap Menik protes. " Sudahlah anggap saja itu sebagai hadiah buat kamu." Ucap Kevin cepat. " Tapi ini terlalu mahal." Rengek Menik. " Aku tidak minta kamu menggantinya. Kenapa kamu harus memusingkannya." Ucap Kevin lagi. " Saya tidak mau berhutang Budi sama Bapak." Ucap Menik pelan. " Saya bernama Kevin bukan Budi." Ucap Kevin mengalihkan pembicaraan. " Ahhhh Bapak." Rengek Menik. Kevin merasa gemas melihat rengekan Menik. Dia memegang kepala Menik dengan lembut. " Like, komen dan vote yang banyak ya terimakasih." Chapter 267 episode 266 (S2) " Penampilan kamu sudah ok." Ucap Kevin sambil melirik jam tangannya. " Masih ada waktu." Gumam Kevin pelan. Kevin menekan pedal gasnya dengan kecepatan sedang. Menuju ke mall terbesar di kota itu. Dia langsung memarkirkan mobilnya di area parkiran yang dekat dengan pintu masuk. " Pak kenapa kita ke mall. Memangnya acara pengajiannya di sini." Ucap Menik bingung. Kevin menarik kunci mobilnya dan turun dari mobil. Dia membuka pintu mobil Menik dan mengulurkan tangannya. " Saya bisa jalan sendiri." Ucap Menik cepat sambil menepis tangan Kevin. Kevin tidak perduli, dia tetap menarik tangan wanita itu. Dan menggenggam erat tangan mungil itu. " Pak saya bisa jalan sendiri." Ucap Menik yang berjalan di sisi Kevin. " Ya saya tau kamu bisa jalan. Tapi saya hanya ingin menggandeng tangan kamu." Ucap Kevin jujur sambil tersenyum tipis. " Pak kalau mau menggandeng tangan saya minta izin dong. Jangan langsung pegang saja." Gerutu Menik sambil tetap melangkah ke dalam mall. " Kalau saya minta izin, apa kamu mau mengizinkan? Tentu tidak kan?" Ucap Kevin cepat. " Kalau tunangan saya lihat, bisa batal pernikahan saya." Ucap Menik mengarang indah. " Biarkan saja batal. Kalau dia membatalkan saya yang akan menggantikannya." Ucap Kevin tegas. Menik membelalakkan matanya melihat pria di samping. Omongan Kevin seperti bukan isapan jempol belaka. Menik tidak mau kalah dia berani membantah ucap Kevin. " Kalau saya tidak mau bagaimana?" Ucap Menik mantap. " Akan saya culik dan saya nikahi kamu secara paksa." Ucap Kevin dengan mimik wajah yang tegas. Nyali Menik langsung menciut. Dia mulai berpikir yang aneh-aneh tentang semuanya. " Jadi ini rencana Bapak, biar saya terlilit hutang dan di tebus dengan sebuah pernikahan." Ucap Menik cepat. " Terserah kamu mau mengartikan apa, yang jelas kalau kamu batal nikah. Saya yang akan menggantikan pria itu." Ucap Kevin tegas sambil melirik Menik. " Stop, saya tidak mau lagi ikut dalam rencana Bapak." Ucap Menik berusaha melepaskan tangannya dari genggaman Kevin. " Kamu ngapain?" Ucap Kevin cepat sambil melihat orang-orang yang berada tidak jauh dari mereka. Para pengunjung mall berasumsi sendiri melihat kejadian itu. Mereka berbisik-bisik satu sama lain. " Nik, kalau kamu melepaskan tanganmu dari genggaman saya. Kamu akan saya gendong." Ucap Kevin berbisik seperti sebuah ancaman. " Coba saja." Tantang Menik. Ketika di tantang seperti itu, jiwa jantannya memberontak. Kevin langsung menggendong Menik dan meletakkan tubuh wanita mungil itu di bahunya. Pengunjung mall jadi ribut. Kevin tidak perduli dengan tatapan tajam yang di berikan pengunjung mall kepadanya. Kevin menggendong tubuh Menik menuju toko tas. Sesampainya mereka ditoko tas, sekuriti menegurnya. " Maaf Pak, apa yang Bapak lakukan sama nona ini." Ucap salah seorang sekuriti. Kevin menurunkan tubuh Menik dari bahunya. " Dia calon istri saya. Kami lagi bertengkar dan dia ngambek minta pulang." Ucap Kevin bohong. " Bukan Pak, bukan seperti itu." Ucap Menik menyangkal ucapan Kevin. Kevin mendekati tubuh Menik dan membisikkan sesuatu ketelinga wanita itu. " Silahkan kamu mau bilang apa sama sekuriti itu. Tapi besok tunanganmu Bima langsung aku tendang keluar dari gedung itu." Ucap Kevin mengancam. Menik langsung diam ketika mendapatkan ancaman seperti itu. " Ya Pak, kami mau menikah dan kami sedang bertengkar." Ucap Menik sambil menekan intonasinya. Sekuriti itu meninggalkan mereka berdua. Dan Kevin tersenyum penuh kemenangan. Entah kenapa dia bisa membuat ide mengancam seperti itu. Yang jelas dia tidak ingin menakuti Menik. Dia ingin pekerjaannya cepat selesai. Untuk urusan menikah tadi, semua terlontar begitu saja dari mulutnya. Mungkin karena dia sudah menyukai Menik, jadi dia ingin memiliki wanita itu seutuhnya. " Puas Bapak?" Ucap Menik sambil memonyongkan bibirnya. Kevin tertawa kecil melihat mulut Menik yang imut. Tingkah Menik seperti itu membuat dia jadi terlihat imut. Pelayan toko mendatangi mereka. Dan menawarkan beberapa merek tas terkenal kepada mereka. Menik sudah malas berurusan dengan Kevin, dia lebih memilih untuk duduk di sofa. Menurutnya ini adalah rencana Kevin untuk membuatnya berhutang banyak dan berakhir dengan pernikahan. Kevin memilih tas berwarna coklat tua, hampir senada dengan sepatu yang dipilih Menik. " Bagaimana yang ini?" Ucap Kevin sambil menunjukkan tas di tangannya. Menik melihat tas itu dari merek dan harganya di perhatikannya. Lagi-lagi Menik membelalakkan matanya. " Waduh mahal banget, kenapa beli tas merek kremes ini. Belum lagi harganya 25 juta." Gerutu Menik sambil melihat tas merek kremes itu. Kevin berjalan kemeja kasir sambil membawa tas tersebut. Dan langsung membayarnya. " Pak, cukup ayam aja yang Kremes tas jangan." Ucap Menik komplain. " Kamu tidak harus membayar ini semua. Kamu harus terlihat cantik di sana. Dan itu menjadi tanggung jawab saya." Ucap Kevin sambil mengambil tas tersebut dari tangan kasir. Kevin menyerahkan tas tersebut kepada Menik. Wanita itu takut untuk menerimanya. Dia takut itu modus Kevin. " Sudah ambil ini. Nanti aku akan di marahi nona Zira." Ucap Kevin sambil menyerahkan tentengan plastik yang didalamnya ada tas kremes. " Apa ini semua permintaan nona Zira?" Ucap Menik penasaran. " Iya betul." Ucap Kevin. Mereka berjalan menuju parkiran. " Apa tentang pernikahan itu juga ide nona Zira?" Ucap Menik penasaran. " Owh itu tidak itu adalah ideku." Ucap Kevin sambil membukakan pintu mobil untuk Menik. Didalam mobil dia menatap tajam wajah Kevin. Mengenai pernikahan itu apa di serius, bukannya aku hanya pelarian dia saja. Kenapa aku lihat wajahnya seperti orang yang sedang jatuh cinta. Tersenyum enggak jelas. Kevin selalu menyunggingkan senyuman. Sebelumnya dia sudah mendapatkan informasi dari orang kepercayaannya kalau Menik kakak beradik dengan Bima. Itu yang membuat Kevin selalu tersenyum. Dia tidak ingin menanyakan hal itu kepada Menik. Menurutnya biarlah Menik menjelaskan sendiri. Dia ingin wanita itu jujur. Apapun alasan itu pasti dia tetap menerimanya. Kevin masih menunggu waktu yang tepat untuk mengungkapkan perasaannya. Dia tidak ingin menjalin hubungan dengan seorang wanita yang tidak punya perasaan kepadanya. Cukup belajar dari rumah tangga tuannya, pernikahan Ziko dan Zira terjalin awalnya karena suatu ancaman dan tidak ada perasaan di dalamnya, dan berkahir dengan cinta di dalamnya. Dia mengambil pelajaran dari situ bahwa pernikahan dia harus terjadi karena suatu ikatan cinta. Dan dia berharap cinta Menik ada untuknya. " Terserah yang jelas saya sudah bertunangan. Bapak tidak boleh menggangu hubungan saya." Ucap Menik cepat. Kevin hanya tersenyum. " Baiklah kalau saya meminta kamu kepada tunanganmu bagaimana?" Ucap Kevin pelan sambil melirik Menik. Menik gugup dia langsung takut. Kalau-kalau rencananya bakal terbongkar oleh Kevin. " Bapak jangan suka mempermainkan perasaan orang kecil seperti saya." Gerutu Menik. " Siapa yang mempermainkan kamu, saya mencari seorang isteri. Bukan mencari pasangan sesaat. Kalau untuk senang-senang saya bisa mendapatkannya dengan mudah. Tapi bukan itu yang saya mau." Ucap Kevin menjelaskan. Menik bingung, dia hanya bisa terdiam. Pikirkannya berkecamuk entah kemana. Dia merasa orang kaya hanya ingin mempermainkan perasaan orang rendah seperti dirinya. Seperti masa lalunya yang suram karena telah di permainkan oleh seorang pria. " Like, komen dan vote yang banyak ya terimakasih." Chapter 268 episode 267 (S2) Mereka dua diam membisu, hanya suara deru mobil yang terdengar. Tiba-tiba Menik bersuara. " Pak ponsel dan dompet saya mana?" Ucap Menik cepat sambil mengulurkan tangannya ke arah Kevin. Kevin lupa kalau ponsel dan dompet toko mas Menik ada di dalam saku celananya. Dia mengambil dan menyerahkan kepada pemiliknya. Menik mengaktifkan kembali ponselnya. Begitu ponsel itu dalam keadaan on. Banyak pesan singkat yang masuk ke dalam ponsel. Semua dari orang yang sama. Menik menghembuskan nafasnya dengan kasar ketika melihat isi pesan tersebut. Kevin memperhatikannya. Terlihat jelas kalau Menik sedang marah dan kecewa. " Kamu kenapa?" Ucap Kevin cepat sambil melirik Menik. " Tidak apa-apa." Ucap Menik gugup. " Sepertinya kamu mendapatkan banyak pesan." Tebak Kevin. Menik tidak menjawab dia hanya menyandarkan kepalanya ke kursi sambil melihat kearah luar. " Apa kamu ada masalah?" Ucap Kevin lagi khawatir. " Tidak." Ucap Menik pelan masih dengan menatap kejalanan. Kevin tidak bertanya lebih lanjut, dia memperhatikan ponsel Menik sekilas dan memutar arah mobilnya. " Kita mau kemana?" Ucap Menik bingung. Kevin tidak menjawab dia hanya fokus untuk menyetir mobilnya. Mobil sampai ke mall yang tadi. " Untuk apa kita kesini lagi. Bukannya semua sudah ada." Ucap Menik bingung. " Sudah turun saja." Ucap Kevin lagi sambil mematikan mesin mobilnya. Menik turun dari mobil, kali ini dia memegang tas jinjing di tangannya. Sengaja tas itu di letakkan di depannya agar kedua tangannya bisa memegang benda tersebut. Sehingga tidak ada celah untuk Kevin memegang tangannya. Kevin tidak memegang tangan Menik tapi dia memegang bahu Menik. Wanita itu kaget dan melihat ke sampingnya. " Kenapa Bapak memegang bahu saya." Ucap Menik cepat sambil tetap berjalan masuk ke dalam mall. " Saya tidak bisa memegang tangan kamu. Karena tangan kamu terlihat sibuk. Jadi saya pegang saja bahu kamu." Ucap Kevin cepat. " Apa bisa tidak memegang saya." Ucap Menik cepat. " Justru dengan seperti ini kita terlihat akrab. Apa mau aku memegang rambutmu. Yang ada aku seperti sedang memacu seekor kuda." Ucap Kevin asal. Rambut Menik di biarkan terurai jatuh, bukan seperti diawal yang hanya di ikat seperti kuncir kuda. " Mana ada kuda rambutnya di gerai seperti ini. Yang jelas rambut saya bukan seperti kuda tapi seperti kain pel." Ucap Menik asal. Menik memang kurang suka rambutnya di gerai seperti itu. Mungkin karena sifat tomboinya sehingga dia lebih suka menguncir rambutnya asal. Selain lebih dingin dan tidak semak, itu menurutnya. Kevin membawa Menik berhenti pada salah satu toko ponsel. " Apa ponsel Bapak rusak?" Ucap Menik bingung. Kevin memegang pinggang Menik dan menuntut wanita itu untuk masuk ke dalam toko ponsel tersebut. " Kenapa Bapak memegang pinggang saya." Ucap Menik komplain lagi sambil berbisik. " Tadi pegang bahu tidak boleh, pegang rambut apa lagi, kata kamu seperti memegang kain pel. Jadi saya inisiatif memegang pinggang kamu." Ucap Kevin asal. " Lepaskan, saya tidak suka tangan Bapak di pinggang saya." Ucap Menik tegas. " Sudahlah, apa kamu tidak melihat kalau tangan saya lagi nganggur. Jadi biarkan dia mencari tempat yang cocok." Ucap Kevin sambil menunjuk tangannya dengan lirikan matanya. Menik hanya melihat tajam ke arah Kevin. Menurutnya pria di sebelahnya ini mengambil kesempatan dari dirinya. Kevin tetap menuntun Menik untuk masuk kedalam toko ponsel tersebut. Seorang penjaga toko datang dan menyapa mereka berdua. " Selamat siang, ada yang bisa di bantu?" Ucap penjaga toko. " Saya mau lihat ponsel keluaran terbaru." Ucap Kevin sambil tetap memegang pinggang Menik. Wanita itu terus menatap tajam ke arah Kevin. " Ini keluaran terbaru." Ucap penjaga toko sambil menunjuk etalase kaca yang didalamnya berjejer merek ponsel terkenal. Kevin melihat ke arah Menik. " Jangan kamu tatap aku seperti itu. Kamu tambah cantik kalau seperti itu." Goda Kevin. Menik langsung mengalihkan penglihatannya melihat ke arah yang lain. Dia tidak berani menatap mata Kevin. Apalagi dia baru saja di goda oleh pria itu. Menik bukan marah tapi merasa malu karena di goda seperti itu. " Pilihlah." Ucap Kevin sambil berbisik di telinga Menik. Mereka berdua terlihat mesra seperti itu. Penjaga toko sampai tersenyum malu melihat kemesraan mereka. " Untuk siapa?" Ucap Menik bingung. " Untuk kamu." Ucap Kevin lagi. " Saya sudah punya ponsel." Ucap Menik cepat sambil melihat kearah Kevin. Lagi-lagi Menik memikirkan hal jelek, kalau semuanya adalah rekayasa Kevin untuk membuatnya berhutang dan jika hutang menumpuk dengan otomatis Menik terpaksa menikah dengan Kevin. " Cepat pilih, waktu kita hanya terbatas." Ucap Kevin sambil melirik jam di tangannya. " Saya sudah punya ponsel." Ucap Menik pelan sambil menekan intonasinya. " Di dalam situ bukan ponsel tapi itu seperti remote AC." Ucap Kevin mengejek. " Tapi ini saya beli sendiri bukan hasil mencuri." Ucap Menik tidak mau kalah. Penjaga toko sampai bingung, melihat keduanya yang tadi terlihat mesra sekarang malah bertengkar. Kevin tau Menik pasti tetap pada pendiriannya. Akhirnya Kevin memilih merek ponsel dengan lambang buah di belakangnya. Dia memilih warna pink, dan langsung membayar dengan kartunya. Menik sampai terheran-heran melihat Kevin menggelontorkan uangnya dengan mudah hanya untuk dirinya. Bukan harga yang murah, ponsel itu di hargai 30 juta. Kevin menyerahkan paper bag itu kearah Menik. " Maaf Pak saya tidak bisa menerima ini." Ucap Menik menolak secara halus. " Cepat kamu ambil ini." Ucap Kevin cepat sambil menarik tangan Menik untuk menerima pemberiannya. Tapi Menik enggan untuk menerima ponsel tersebut. Karena Menik tidak mau menerima ponsel tersebut. Mau tidak mau Kevin memberi ancaman kepada wanita itu. " Cepat kamu ambil ponsel ini kalau tidak." Ucap Kevin menggantung. " Kalau tidak apa?" Ucap Menik lagi sambil menatap sinis. " Aku akan menciummu di depan umum." Ucap Kevin tegas. Kevin tidak ada niat untuk mencium Menik di depan umum. Dia hanya mengancam seperti yang di lakukan Ziko terdahulu mengancam Zira jika tidak mengikuti kemauannya. Dan terbukti ancaman Ziko berhasil dengan cepat Zira langsung manut. Menik mengingat kejadian tadi di mall ketika Kevin dengan cepat menggendong dia. Kalau aku tidak menerima ini, bisa di pastikan dia akan menciumku. Kejadian tadi saja sudah membuatku malu apalagi ini sebuah ciuman. Mau di simpan di mana nih muka. Menik mengambil peper bag tersebut dan pergi meninggalkan Kevin. Dia berjalan sambil menghentakkan sepatunya. Kevin tertawa penuh kemenangan. Menurutnya penampilan Menik sudah jauh sempurna. Apalagi ponselnya sudah berganti dengan ponsel mahal. Di dalam mobil. " Buka ponsel itu." Ucap Kevin lagi. Menik menuruti kemauan Kevin, dengan membuka isi peper bag itu dan mengeluarkan ponsel itu dari dalam boxnya. Menik melihat seksama, ponsel itu menurutnya sangat bagus. " Pak kenapa ponsel ini setipis keju slice." Ucap Menik sambil membolak-balik ponsel itu. " Baguskan." Ucap Kevin lagi sambil melirik Menik dan kembali fokus mengemudikan mobilnya. " Apa ini tidak pakai baterai?" Ucap Menik bingung. Menik memang gaptek dia tidak paham dengan hal seperti itu. Apalagi menggunakannya bisa di pastikan dia akan kesusahan. " Pak kenapa tidak ada keypadnya." Ucap Menik bingung. " Yang ada keypad itu keluaran lama. Cukup remote aja yang pakai keypad atau tombol, ponsel jangan." Ucap Kevin menjelaskan. Mobil berhenti di depan traffic light. Kevin mengambil ponsel tersebut dan membukanya. " Bawa sini ponsel lama kamu." Ucap Kevin sambil mengulurkan tangannya. Menik menyerahkan ponsel lamanya. Kemudian Kevin mengeluarkan kartu Menik dari ponsel lamanya ke ponsel baru. Setelah diaktifkan Kevin menyerahkan ponsel tersebut kepada Menik. " Wah bagus banget. Terus bagaimana cara menggunakannya. Saya hanya tau pesan singkat dan telepon yang lainnya enggak tau." Ucap Menik jujur. " Kamu baca di dalam box, semua panduannya ada di sana." Ucap Kevin cepat sambil mengemudi lagi mobilnya. " Ini semua bahasa asing. Saya tidak bisa." Rengek Menik lagi seperti anak kecil. Kevin tambah gemes melihat tingkah Menik yang kekanak-kanakan. Dia mengelus rambut Menik layaknya seorang anak kecil. " Nanti saya ajarkan." Ucap Kevin pelan sambil tersenyum tipis. " Like, komen dan vote yang banyak ya terimakasih." Chapter 269 episode 268 (S2) Di mansion. Suasana di rumah besar itu terlihat ramai. Zira dan Ziko masih bersiap di kamar. Mereka mengenakan baju dengan warna senada. Zira berdiri di depan kaca. Memperhatikan tubuhnya yang sudah tambah berisi dan perut yang semakin maju. Ziko datang menghampirinya dan memeluknya dari belakang. Tidak lupa di mengecup pundak istrinya. " Kenapa?" Ucap Ziko sambil memeluk Zira dari belakang. " Bentuk badanku sudah tidak seperti dulu lagi." Ucap Zira sambil memperhatikan badannya. " Tidak masalah buatku, walaupun badanmu seperti gentong aku akan tetap mencintaimu." Ucap Ziko sambil menyandarkan dagunya di bahu istrinya. " Sebentar lagi drumband ini akan keluar, aku tidak sabar ingin menggendongnya." Ucap Zira pelan sambil melihat dirinya. " Drumband? Drumband apa?" Ucap Ziko bingung. " Ini." Ucap Zira sambil mengelus perutnya. " Wah bisa-bisanya kamu memberi julukan drumband untuk perutmu." Ucap Ziko komplain. " Sayang coba kamu perhatikan, aku seperti membawa sebuah drumband. Mungkin sebentar lagi aku seperti membawa tong air. Ucap Zira sambil terus-menerus memegang perutnya. " Walaupun badanmu melar seperti karet aku akan tetap mencintaimu." Ucap Ziko gombal. " Kalau badanku melar, apa yang akan kamu lakukan?" Ucap Zira sambil memutar badannya menghadap sang suami. " Aku akan ikut melar seperti dirimu." Ucap Ziko pelan sambil mengecup bibir istrinya. " Yakin?" Ucap Zira penasaran. " Iyalah tidak mungkin aku jalan sama balon. Kita akan terlihat seperti angka sepuluh. Tapi kalau aku sama bulatnya dengan kamu kita berdua seperti bakso jumbo." Ucap Ziko sambil tersenyum. Ada suara ketukan dari pintu kamarnya. Ziko melepaskan pelukannya dan berjalan ke arah pintu. Pak Budi sedang berdiri di depan pintunya. " Tuan, acara akan segera di mulai. Para ibu pengajian juga datang. Tamu-tamu juga sudah hadir. Tinggal menunggu anda berdua." Ucap Pak Budi. " Apa Kevin sudah datang?" Ucap Ziko lagi. " Sepertinya belum tuan." Ucap Pak Budi sopan. " Baiklah saya dan Zira akan segera turun." Ucap Ziko. Pak Budi kembali turun ke bawah ketempat acara itu berlangsung. Ziko berjalan ke nakas dan mengambil ponselnya. " Kenapa sayang?" Ucap Zira sambil berjalan mendekati suaminya. " Kevin belum datang? Aku khawatir dia di operasi." Ucap Ziko penasaran. " Operasi kenapa?" Ucap Ziko ikut panik. " Ya karena sakit diarenya itulah." Ucap Ziko khawatir. " Buahahhaha. Kamu imut banget sayang like semut." Ucap Zira memegang hidung suaminya. " Memang kenapa?" Ucap Ziko heran. " Belum pernah aku dengar kalau orang diare di sembuhkan dengan operasi. Memangnya mau di tutup lobang pencernaannya." Ucap Zira sambil tertawa. Ziko memikirkan omongan istrinya, belum ada sejarahnya hal itu terjadi. " Mungkin cacingnya yang di operasi." Ucap Ziko asal sambil mencari daftar nama Kevin dari ponselnya. Panggilan terhubung. Kevin lagi menyetir, dia melihat ada nama Ziko di layar ponselnya. Dia menyerahkan ponselnya kepada Menik. " Untuk apa?" Ucap Menik bingung sambil menerima ponsel tersebut. " Jawab." Ucap Kevin lagi. " Caranya?" Menik lupa cara menjawab panggilan yang masuk. Karena pada saat di rumah sakit dia sudah salah menekan tombol. Jadi dia agak ragu untuk menjawab panggilan itu. " Pilih yang warna hijau." Ucap Kevin cepat. Menik melakukannya, dia memilih warna hijau. Karena sedang menyetir Kevin tidak ingin memegang ponselnya, dia memerintahkan Menik untuk memegang ponsel itu. Suara Ziko terdengar cukup kecil. " Nyalakan speakernya." Ucap Kevin memerintahkan Menik untuk menyalakan speaker ponselnya. Menik membuka sabuk pengamannya dan berusaha untuk masuk dari celah kursi antar kursi driver dan kursinya. " Kamu mau kemana?" Ucap Kevin bingung sambil tetap mengemudikan mobilnya. " Kebelakang." Ucap Menik polos masih tetap memegang ponsel. " Ngapain kebelakang?" Ucap Kevin bingung. " Ambil speaker." Ucap Menik polos. " Bukan speaker itu." Ucap Kevin cepat sambil menggaruk rambutnya. " Jadi?" Ucap Menik tambah bingung. Sedangkan suara Ziko masih terus berteriak menyebutkan kata halo-halo. " Kenapa sayang? Panggilan terhubung tidak? Ucap Zira ikut penasaran. " Ya terhubung tapi suara di Kevin kurang jelas." Ucap Ziko lagi. Kevin masih menggaruk kepalanya. " Bapak ada kutu ya?" Ucap Menik cepat sambil memperhatikan bosnya yang asik menggaruk rambutnya. Kevin gemes banget sama Menik. Menurutnya Menik sangat polos. " Bukan kutuan lagi disini. Tapi mbahnya kutu sudah bersemayam di sini." Ucap Kevin asal. " Oh gitu ya." Ucap Menik jijik. Ganteng-ganteng kok kutuan, Ih jijik. Kevin kembali fokus dengan speaker ponselnya. " Tekan yang itu." Ucap Kevin cepat memerintahkan Menik. Menik melakukannya, dia menekan tanda speaker di layar ponselnya Kevin. " Halo." Ucap Ziko dengan intonasi yang marah. " Ya halo." Ucap Menik. " Kamu siapa?" Ucap Ziko cepat. " Saya Menik." Ucap Menik lagi. Ziko teringat nama Menik hanya ada satu di kantornya. Dan itu adalah gadis incaran asistennya. " Si Menik yang jawab." Ucap Ziko sedikit berbisik ketelinga istrinya. Zira tersenyum mendengarnya. Menurutnya ada kemajuan. " Kevin mana?" Ucap Ziko lagi. " Pak Kevin lagi menggaruk rambutnya. Katanya ada kutu di kepalanya." Ucap Menik polos. Kevin tercengang mendengar penuturan si Menik. Ziko yang mendengarkan dari ujung ponselnya kata kutu langsung terlihat jijik. Dia menggoyangkan badannya sangking jijiknya. " Kenapa?" Ucap Zira bingung. " Si Kevin jorok banget dia kutuan." Ucap Ziko cepat. Zira yang mendengar hanya bisa memicingkan matanya sambil mengerutkan dahinya. " Kenapa kamu bilang aku ada kutu?" Ucap Kevin komplain. " Terus saya bilang apa? Tidak baik bohong Pak. Tadi Bapak sendiri bilang kalau ada kutu di kepala Bapak. Apa mau saya bilang ke bos besar kalau bapak bukan kutuan tapi kesemutan." Ucap Menik dengan wajah polosnya. Kevin langsung memarkirkan mobilnya di pinggir jalan. Dia mengambil ponselnya langsung dari tangan Menik. " Ya tuan?" Ucap Kevin pelan sambil mematikan speaker ponselnya. " Apa itu yang menyebabkan kamu terlambat?" Ucap Ziko cepat. " Maksud tuan?" Ucap Kevin bingung. " Kutumu. Kemaren diare sekarang kutuan." Ucap Ziko komplain. Zira masih mendengarkan percakapan suaminya dengan Kevin. " Bukan begitu tuan." Ucap Kevin. Kevin menjelaskan semuanya tentang perumpamaan yang di ucapkan kepada Menik. Dan semua ucapannya di anggap serius oleh Menik. " Baiklah, kamu di mana?" Ucap Ziko lagi. " Saya lagi di jalan." Ucap Kevin. " Yang bilang kamu di planet siapa?" Ucap Ziko tegas. Kevin langsung menyebutkan nama jalan yang sedang di laluinya. " Apa acaranya sudah berlangsung?" Ucap Kevin lagi. " Iya ini sedang menunggu kamu." Ucap Ziko. " Memangnya kenapa harus menunggu saya. Bukannya saya hanya tamu." Ucap Kevin cepat. " Enak aja tamu, kamu itu harus mengisi doa, dan setelah itu mencuci piring yang kotor." Ucap Ziko cepat. " Maaf Pak, kalau untuk mencuci piring, apa tuan tidak bisa mengupahkan kepada orang lain. Saya sudah ganteng begini di suruh cuci piring. Dan untuk doa, maaf sekali lagi maaf, saya tidak tau dengan nama-nama doa. Saya hanya hafal doa mau makan sama doa mau tidur." Ucap Kevin cepat. Ziko hanya mengerjai asistennya. Agar asistennya cepat datang segera kekediamannya. Menurutnya jika tidak ada Kevin acaranya ada yang kurang. Secara Kevin sudah dianggap keluarga oleh mereka. " Persiapkan saja doa yang kamu bisa. Kalau perlu kamu duet sama si Menik." Ucap Ziko asal. Zira yang berada di samping tertawa cekikikan mendengar ide brilian suaminya. " Duet? Memangnya saya mau dangdutan." Ucap Kevin protes. " Ya terserah, intinya kamu harus tampil di acara kami." Ucap Ziko langsung mematikan panggilannya. Kevin bingung, dia tidak paham dengan macam-macam doa. Dia tidak tau harus melakukan apa. Apalagi tanya si Menik, dia yakin wanita itu tidak akan tau menahu. " Pak apa ponsel saya juga ada speakernya?" Ucap Menik memperhatikan ponsel barunya. " Hemmmmm." Ucap Kevin cepat. " Di letakkan di mana speakernya?" Ucap Menik bingung. Kevin gemes sekaligus bingung. Gemes melihat tingkah Menik yang lugunya tidak ketulungan. Dan apa yang harus dia ucapkan pada saat acara bosnya. Dia tau omongan Ziko bukan candaan, jadi dia harus mempersiapkannya dari sekarang. " Like, komen dan vote yang banyak ya terimakasih." Chapter 270 episode 269 (S2) Menik memperhatikan tingkah bosnya yang gusar. " Bapak kenapa?" Ucap Menik pelan sambil memperhatikan tingkah Kevin. Kevin sudah melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. " Saya di minta Tuan muda untuk mengisi doa di acara itu." Ucap Kevin gusar. " Ya sudah isi." Ucap Menik santai. " Apa yang mau di isi. Waktu kecil saya sering bolos mengaji. Makanya hanya beberapa doa saja yang saya tau." Ucap Kevin jujur. " Nanti Bapak saya bantu." Ucap Menik menyemangati bosnya. " Memangnya kamu bisa mengaji." Ucap Kevin penuh selidik. " Enggak." Ucap Menik cepat. " Jadi kamu mau bantu apa?" Ucap Kevin lagi sambil tetap mengemudikan mobilnya. " Bantu semangat." Ucap Menik pelan. Kevin melirik Menik sekilas dan fokus ke depannya. Menurutnya walaupun dia tidak hafal dengan doa-doa, setidaknya dia memberikan sebuah kata-kata untuk yang punya acara. " Nik, nanti kalau saya tampil kamu ikut tampil juga ya." Ucap Kevin cepat. " Untuk apa?" Ucap Menik bingung. " Tadi kamu bilang mau memberikan semangat, jadi dengan ikut tampil itu juga di namakan memberi semangat." Ucap Kevin cepat. Di masion. Ziko dan Zira turun saling bergandengan tangan. Dilantai bawah sudah banyak Ibu-ibu pengajian. Dari berbagai majelis taklim. Dan di bagian depan duduk ratusan anak yatim. Zira mengenal anak-anak yatim itu. Karena dia merupakan donatur tetap di sana. " Kak Zira." Ucap anak-anak panti sambil berlari mendekatinya dan menyalami dirinya dan Ziko. Di taman banyak para tamu undangan. Mereka adalah kalangan bisnis dari Ziko. Mereka ikut memberikan doa untuk acara itu. Zira ikut gabung dengan para Ibu-ibu majelis taklim dan disampingnya ada Ibu panti dan mertuanya Nyonya Amel. Ziko memilih pergi ke taman untuk menyalami para tamu undangan. Dia menghampiri satu persatu tamunya. " Iko." Ucap Tuan besar memanggil anaknya. Ziko berjalan mendekati papanya. Di depan papanya ada seorang pria yang gagah. Wajah pria itu tidak asing, dia seperti pernah ketemu dengan pria itu. " Halo Ko. Apa kabarnya?" Ucap pria itu sambil menyalami Ziko. " Siapa ya?" Ucap Ziko bingung. " Iko, Iko dia ini sepupu kamu. Anak om Kurniawan." Ucap papanya menjelaskan. " Om Kurniawan yang pengusaha batu bara?" Ucap Ziko semangat sambil menyalami sepupunya. " Apa kabar bro?" Ucap Ziko sambil memeluk sepupunya. " Kapan kamu kembali?" Ucap Ziko cepat. " Baru beberapa minggu ini aku kembali. Mana istrimu." Ucap pria itu. " Istriku sangat cantik jadi jangan kamu lirik dia." Ucap Ziko langsung. " Hahaha Ziko, dia itu sudah punya tunangan." Ucap Papanya. " Oh ya, kapan resminya?" Ucap Ziko penasaran. Pria itu tidak menjawab dia hanya tersenyum kecut. Ziko mengajak sepupunya untuk menemui istrinya. Ziko melambaikan tangannya memanggil Zira. Zira mendekati suaminya. " Ini bidadariku." Ucap Ziko langsung memeluk pinggang Istrinya. Dia sengaja mempertontonkan kemesraan di khalayak ramai agar siapapun yang ingin merusak rumah tangganya langsung mundur teratur. " Ini Rudi, dia sepupuku. Papanya adik bungsu Papa." Ucap Ziko memperkenalkan sepupunya. Rudi mengulurkan tangannya untuk bersalaman dengan istri sepupunya. " Saya Rudi Kurniawan anak dari Bapak Kurniawan." Ucap Rudi. Ziko langsung menurunkan tangan sepupunya. " Ini Zira, dia istriku yang paling aku cintai." Ucap Ziko cepat. Zira melihat tingkah suaminya yang sedikit cemburu. Dia paham kalau suaminya tidak mengizinkan tangannya di sentuh oleh pria lain. " Sayang kamu kembali ke sana." Ucap Ziko memerintahkan Istrinya untuk gabung dengan Ibu-ibu pengajian. Zira pamit meninggalkan dua pria itu. " Kamu tidak berubah ya Ko. Masih aja takut kalau istri kamu di ambil pria lain." Ucap Rudi. Mereka melakukan obrolan layaknya saudara. Ziko menanyakan tentang bisnis sepupunya di luar negeri. " Mana tunanganmu." Ucap Ziko langsung. Rudi hanya terdiam. Dia tidak menjawab pertanyaan Ziko. " Apa kamu di jodohkan juga?" Ucap Ziko cepat. " Apa maksud kamu juga?" Ucap Rudi penasaran. " Aku juga di jodohkan dengan bidadariku. Tapi kamu lihat, sekarang kami saling mencintai." Ucap Ziko bangga. Rudi mengingat sesuatu, tentang mantan pacar sepupunya yang bernama Sisil. " Ya, aku pernah dengar dari papa kalau kamu batal menikah dengan Sisil. Dan ternyata kamu menikah dengan Zira." Ucap Rudi. Ziko menganggukkan kepalanya cepat. " Bagaimana bisa kamu di jodohkan, yang aku tau kamu pemberontak." Ucap Rudi. " Panjang ceritanya. Yang jelas aku sangat bersyukur dengan perjodohan ini. Karena Zira adalah cinta sejatiku." Ucap Ziko lagi. Rudi hanya terdiam dan menundukkan kepalanya. Dari jauh seseorang yang datang mendekat. " Tuan." Ucap Kevin. " Lama banget kamu." Ucap Ziko cepat. Ziko melihat kebelakang, mencari sosok Menik. Dari jauh Zira melihat kedatangan asisten suaminya. " Vin, kamu masih ingat dengan Rudi?" Ucap Ziko. " Iya saya ingat, anda adalah sepupu tuan muda." Ucap Kevin menyalami Rudi dan saling berpelukan. " Apa kabarnya tuan?" Ucap Kevin ramah. " Baik." Ucap Rudi. Zira mendekati mereka semua. " Mana Menik?" Ucap Zira cepat sambil melihat sekelilingnya. Rudi langsung kaget ketika ada nama orang yang dicintainya di sebut. Dari jauh datang seorang wanita yang berbalut baju gamis modern, dengan rambut di gerai. Menik berjalan kearah mereka. " Menik kamu cantik sekali." Ucap Zira sambil memeluk tubuh Menik. Ada sosok yang memperhatikan kejadian itu. Yaitu Rudi, dia kaget dengan kehadiran Menik di acara itu. Selama dia balik ke tanah air, dia berusaha untuk menghubungi Menik tapi semua panggilan di tolak. Menik kaget ketika ada Rudi di dekatnya. Dia hanya bisa menundukkan kepalanya. " Baiklah acara sudah mau di mulai. Ayo Menik." Ucap Zira menarik tangan Menik untuk ikut kedalam bersamanya. Tiga pria itu duduk di luar. Mereka mengikuti acara itu di luar bersama para tamu lainnya. Sosok Koko juga ikut berpartisipasi dalam acara itu. Selama acara berlangsung Rudi tidak fokus, dia merasa rindu dengan Menik. Tapi tidak dengan Menik, dia merasa malas harus bertemu lagi dengan pria yang pernah menyakiti hatinya. Serangakaian acara telah berlangsung. Ziko di perintahkan untuk masuk ke dalam ruangan bergabung dengan istrinya. " Silahkan tuan muda menyampaikan sepatah dua patah kata. Sebelum acara kita tutup." Ucap salah satu Ibu-ibu yang berperan sebagai pembawa acara. Ziko mengambil mikropon dan menyampaikan sepatah dua kata untuk acara empat bulanan itu. Kemudian acara doa. Zira membisikkan sesuatu ke pembawa acara. " Baiklah acara doa akan di tutup oleh Bapak Kevin." Ucap pembawa acara. Kevin yang berada di luar langsung panik. Dia tidak tau harus memulai dari mana. Kevin berjalan mendekati Ziko, dan duduk di sebelahnya. " Tuan, kamu serius mau buat saya malu." Ucap Kevin sambil berbisik. " Ini bukan saya, tapi yang melakukan ini pasukan Avengers." Ucap Ziko berbisik sambil menunjuk istrinya dengan lirikkan matanya. " Silahkan Bapak Kevin." Ucap Ibu itu lagi. Kevin menerima mikropon itu. Dia meletakkan mikropon itu di depan mulutnya. " Tes." Ucap Kevin pelan. Semua orang sudah tunduk menunggu doa yang akan di bacakan oleh Kevin. " Tes 1 2 3 dicoba." Ucap Kevin sekali lagi. Ziko dan Zira langsung melihat kearah Kevin. Begitupun Menik dia langsung menepuk dahinya dengan telepak tangannya. " Tes 1 2 3 dicoba." Ucap Kevin lagi. Ziko berbisik ke Kevin. " Kamu mau baca doa atau mau memberikan tes berhitung di sini." Ucap Ziko berbisik. " Sudah saya bilang, kalau saya tidak tau baca doa. Boleh tidak saya baca doa tidur di sini." Ucap Kevin pelan. " Ya baca saja, tapi kalau mereka semua tidur di sini kamu yang tanggung jawab." Ucap Ziko sambil berbisik. Ibu-ibu yang tadi tertunduk sekarang mengangkat kepalanya. Mereka capek menunggu doa yang belum juga di bacakan. " Tuan, jangan membuat saya malu di sini." Ucap Kevin berbisik. " Kalau kamu tidak bisa membaca doa penutup, aku juga malu. Keliatan sekali kalau kita mengaji tidak tamat." Ucap Ziko berbisik. Menik jalan jongkok mendekati Ziko dan Kevin. Dia duduk di sebelah Kevin. Dari jauh Rudi memperhatikannya. " Kamu mau ngapain di sini? Jangan bilang kamu mau memberikan semangat untuk saya." Ucap Kevin pelan. " Iya saya memang mau memberikan semangat untuk Bapak." Ucap Menik mengambil mikropon dari tangan Kevin. " Kamu mau ngapain? Jangan bilang kalau kamu mau nyanyi cendol dawet." Ucap Kevin khawatir. " Ya saya memang mau nyanyi cendol dawet versi rabbana." Ucap Menik lagi. Menik meletakkan mikropon itu ke depan mulutnya. " Mau ngapain dia?" Ucap Ziko panik. " Dia mau nyanyi cendol dawet." Ucap Kevin pelan. " Mati aku, cepat ambil mikropon itu. Jangan buat acara ini tambah rusak." Ucap Ziko sambil berbisik ketelinga Kevin. Kevin hendak mengambil mikropon itu. Tapi Menik sudah mengucapkan salam dan melantunkan surat-surat pendek. Dia melantunkan surat-surat pendek itu dengan syahdu. Kevin dan Ziko sampai terbengong melihat kemahiran Menik melantunkan surat-surat itu. Dan Menik menutup dengan doa. Setelah selesai Menik mengembalikan mikropon itu kepembawa acara. " Acara telah selesai dan semua di persilahkan untuk menikmati hidangan yang telah tersedia." Ucap pembawa acara. Zira mendekati Menik. " Terimakasih lantunan ngaji kamu sangat bagus." Ucap Zira senang. Ziko dan Kevin masih saja bengong melihat Menik. " Vin ternyata sepupu kapten Amerika bisa mengaji juga." Ucap Ziko pelan. " Mengaji sama siapa dia?" Ucap Kevin lagi. " Hus kalian ini. Makanya kalau ngaji jangan bolos." Ucap Zira komplain. Ziko dan Kevin saling pandang mereka sama-sama tidak bisa mengaji. Mereka kalah langkah dari dua wanita itu. " Like, komen dan vote yang banyak ya terimakasih." Chapter 271 episode 270 (S2) Para tamu undangan sedang menikmati hidangan yang di sajikan begitupun Menik, dia ikut menikmati makanan tersebut. Menik duduk di bawah di atas karpet berbarengan dengan ibu-ibu yang lainnya. Zira dan Ziko sibuk mengurusi hal-hal yang lainnya. Seperti membagikan santunan untuk anak yatim dan cenderamata untuk semua yang datang ke acara itu. Kevin ikut serta membantu mereka. Seseorang datang dan duduk di samping Menik. " Hai Menik?" Ucap Rudi. Menik melihat sekilas. Dan tetap menikmati makanannya. " Kamu apa kabarnya?" Ucap Rudi dengan tatapannya yang lembut. Menik tidak menjawab, dia beranjak dari duduknya dan hendak pergi. Tapi tangannya di pegang sama Rudi. " Duduk dulu, aku mau bicara dengan kamu." Ucap Rudi pelan. Menik melihat sekelilingnya, untuk memastikan apakah ada yang menyaksikan mereka berdua. Dia duduk kembali. " Untuk apa sih?" Ucap Menik cepat. " Aku mau meminta maaf kepadamu." Ucap Rudi pelan. " Untuk apa? Apa kamu baru sadar kalau kamu telah melukai hati seorang wanita." Ucap Menik ketus. " Menik, izin aku menebus kesalahanku." Ucap Rudi lagi. Kevin memperhatikan dua insan itu. Ada rasa cemburu ketika melihat kearaban di antara mereka berdua. Ada rasa penasaran, ketika melihat Menik dan Rudi bisa begitu cepat membaur satu sama lain. Apa mereka sudah mengenal sebelumnya? " Vin jangan diam aja, cepat bagikan ini." Ucap Ziko cepat. Kevin membantu membagikan santunan itu. Tapi penglihatannya tidak lepas dari dua orang itu. " Dengan cara apa kamu mau menebus kesalahanmu." Ucap Menik ketus. " Aku ingin menikahimu." Ucap Rudi pelan sambil menatap Menik lembut. Kevin berjalan mendekati mereka berdua. " Menik kamu sudah selesai makan belum? Ayo bantu kami." Ucap Kevin mencari alasan agar dua insan itu tidak saling mengobrol satu sama lain. Menik langsung berdiri dan meninggalkan Rudi sendiri. Dia ikut membantu Kevin. Pria itu memperhatikan wajah Menik yang sendu. " Kamu kenapa?" Ucap Kevin pelan. " Tidak apa-apa Pak?" Ucap Menik cepat. " Kamu bisa cerita kepadaku." Ucap Kevin pelan. " Permisi Pak, saya mau ke toilet." Ucap Menik meninggalkan Kevin dengan tugasnya. Menik berjalan ke kamar mandi. Tapi dia diikuti oleh Rudi. " Kamu mau apa sih?" Ucap Menik pelan sambil melihat sekelilingnya. " Bisa kita bertemu malam ini." Ucap Rudi cepat. " Aku tidak bisa." Menik berjalan menuju kamar mandi. " Sekali ini saja. Aku ingin menjelaskan sesuatu kepadamu." Ucap Rudi cepat. " Aku tidak mau." Ucap Menik menghindar. " Kenapa? Apa kamu tidak ada perasaan lagi kepadaku?" Ucap Rudi lagi. " Perasaanku telah musnah ketika kamu bertunangan. Dan satu lagi untuk apa kamu mau menikahiku kalau kenyataannya kamu akan menikah dengan dia." Ucap Menik cepat. Menik berjalan dan menghilang dari hadapan Rudi. Dia masih menunggu di depan pintu kamar mandi. Kevin terus memperhatikan mereka. Didalam kamar mandi. Menik menangis sejadi-jadinya. " Kamu jahat Rudi. Kenapa kamu kembali?" Tangis Menik. Air matanya mengalir deras. Dia mengingat semua masa lalunya. Flashback. Pada saat itu malam hari. Seperti biasa jadwal Menik untuk bekerja di cafe koma. Ada sosok pria yang selalu duduk di kursi menikmati makanannya. Kebiasaan pria itu selalu menghabiskan waktunya di sana. Menik selalu ramah ketika melayani semua pengunjung cafe. Termasuk Rudi, dia juga mendapatkan pelayanan yang baik dari Menik. Awal mula pertemuan dan keakraban mereka terjalin ketika Rudi tertidur di cafe itu. Pada saat itu cafe akan tutup. Semua pengunjung sudah meninggalkan cafe. Hanya Rudi yang belum pulang. Dia sudah terlelap di sana. Semua pelayan cafe membangunkannya tapi Rudi bukannya bangun, dia malah tidur semakin nyenyak. Karena waktu semakin larut para pelayan juga butuh istirahat. Jadi Menik membangunkannya dengan menyiramkan air ke wajah Rudi. Sontak Rudi bangun. Rudi kesal dan marah sama semua pelayan. Semua pelayan tidak ada yang berani berhadapan dengan pria itu. Hanya Menik yang berani menatap wajah pria itu. " Siapa yang menyiramkan air ke wajahku." Ucap Rudi dengan intonasi yang di tekan. " Saya." Ucap Menik berani sambil menatap Rudi. " Kurang ajar betul kamu!" Ucap Rudi lagi. " Kalau mau tidur di rumah bukan di sini. Ini bukan sekalinya anda tidur di sini. Tapi sudah kesekian kalinya tidur di sini. Bukan anda saja yang mau istirahat tapi kamu juga butuh istirahat." Ucap Menik cepat kala itu. Rudi diam, kelakuannya memang salah. Seharusnya dia beristirahat di rumahnya. Tapi dia menghabiskan waktunya di cafe itu. " Silahkan anda keluar. Kami sudah tutup." Ucapan Menik tegas. Rudi keluar dengan langkah yang gontai. Setelah Rudi keluar, semua pelayan juga keluar meninggalkan cafe. Di mobil Rudi memperhatikan pelayan yang menyiramkan air ke wajahnya. Pelayan itu pulang dengan berdandan layaknya seorang pria. Rudi merasa penasaran, dia mengikuti dari belakang. Menurutnya wanita itu cukup menarik. Sampai setiap hari dia mengikuti Menik. Setiap pulang kerja malam, Menik berdandan layaknya seorang pria. Tapi kalau siang dia normal seperti yang lainnya. Rudi memberanikan diri untuk bertanya kepada Menik. Dengan cara berkunjung lagi ke cafe itu. Setelah penyiraman air itu. Rudi tidak lagi nongkrong di sana. Tapi malam ini dia akan nongkrong di cafe koma lagi. Seperti biasa Rudi duduk di kursi biasanya. Pelayan ingat wajah pria yang suka tidur di cafe itu. Mereka malas untuk melayani Rudi. Dan menyerahkan urusan itu kepada Menik. " Nik, si tukang tidur datang lagi. Layani tuh." Ucap salah satu temannya. Menik menarik nafasnya dalam-dalam. Kemudian mengeluarkannya secara perlahan. Dia datang menghampiri Rudi. " Kalau anda hanya mau tidur, silahkan anda keluar dari sekarang." Ucap Menik tegas. " Aku tidak akan tidur, bisakah kamu menemani aku mengobrol." Ucap Rudi pelan. " Apa kamu tidak bisa lihat kalau aku sedang bekerja." Ucap Menik tegas. " Baiklah, kapan kamu ada waktu. Aku butuh teman curhat. Dan sepertinya kamu bisa aku jadikan teman." Ucap Rudi cepat. " Maaf teman saya sudah banyak. Saya tidak membuka pertemanan lagi." Ucap Menik tegas. Menik pergi meninggalkan Rudi, dia melayani pengunjung cafe yang lainnya. Setelah jam sebelas malam waktunya cafe untuk tutup semua pengunjung sudah keluar. Dan Rudi juga keluar. Dia menunggu Menik di mobil. Pada saat Menik pulang dan keluar dengan setelan biasanya. Dia berjalan menuju halte. Rudi mengikutinya dari belakang dengan mobilnya. Menik mulai khawatir kalau ada orang yang ingin berbuat jahat kepadanya. Dia berlari kencang agar mobil itu tidak mengikutinya. Tapi karena sudah larut malam, keadaan juga gelap. Menik tersandung batu, dia terjatuh tersungkur. " Aw." Ucap Menik meringis. Rudi turun dari mobilnya. Dan menghampiri Menik. " Kamu tidak apa-apa?" Ucap Rudi khawatir sambil melihat lutut Menik yang sobek. Celana jeans yang di gunakan Menik ikut robek. " Apa anda yang mengikuti saya." Ucap Menik sambil meringis kesakitan. Rudi tidak menghiraukan dia membantu memapah Menik ke mobilnya. " Kamu mau ngapain?" Ucap Menik cepat. " Aku mau membawamu ke rumah sakit." Ucap Rudi cepat. Rudi merasa bersalah, karena dirinya Menik sampai terluka. Dia berniat mengobati luka itu dengan pergi ke rumah sakit. " Like, dan vote yang banyak ya. Biar semangat updatenya. Dan jadikan novel ini favoy kalian, ketika author update akan ada notifikasi. Terimakasih." Chapter 272 episode 271 (S2) Flashback. " Lepaskan." Ucap Menik cepat. Tapi Rudi sudah mengangkat tubuh Menik masuk ke dalam mobil. " Diam, jangan cerewet kita akan ke rumah sakit." Ucap Rudi cepat sambil menyalakan mesin mobilnya. " Aku tidak apa-apa." Ucap Menik menolak. " Apanya yang tidak apa-apa. Kakimu sobek dan itu karena aku." Ucap Rudi sambil mengemudikan mobilnya. " Kenapa kamu mengikuti aku." Ucap Menik sambil menatap tajam ke arah pria yang ada di sampingnya. " Kamu wanita yang unik. Seperti namamu unik. Dan aku ingin berteman denganmu. Maafkan aku karena mengikutimu." Ucap Rudi sambil mengulurkan tangannya. Menik menerima uluran tangan itu. Hari itu merupakan awal pertemanan mereka. Setiap malam Rudi selalu mengantarkan Menik pulang ke rumahnya. Di dalam mobil mereka selalu berbicara panjang lebar mengenai semuanya, sambil di selingi canda tawa. Keakraban itu semakin erat ketika Rudi mengungkapkan perasaannya. Dan Menik langsung menerimanya. Karena dia juga menyukai Rudi. " Aku akan membicarakan hal ini kepada orang tuaku. Sebelum aku pergi ke luar negeri aku ingin menikahimu. Dan membawamu bersamaku ke sana." Ucap Rudi sambil memegang kedua tangan Menik. Menik merasa terharu mendengar ucapan Rudi. Dia sampai meneteskan air mata bahagianya. " Besok aku tidak bekerja." Ucap Menik cepat. " Baiklah tunggu aku di taman. Aku akan membawa kabar baik untuk kita berdua." Ucap Rudi semangat. Setelah itu mobil Rudi pergi. Menik berjalan masuk ke dalam gang rumahnya dengan hati yang berbunga-bunga. Dia menceritakan kisah cinta sama Bima. Adiknya ikut senang mendengar cerita itu. Tapi setelah itu wajah Menik menjadi sendu. " Kakak kenapa?" Ucap Bima khawatir. " Kalau kakak pergi keluar negeri kamu sama siapa? Kakak tidak mau meninggalkan kamu sendirian di sini." Ucap Menik sedih. " Kakak, aku sudah besar. Jangan pernah menganggap diriku anak kecil lagi. Aku bisa jaga diri." Ucap Bima sambil memegang tangan kakaknya. Keesokan harinya Menik menunggu Rudi di taman. Dia sudah menunggu dari sore. Waktu senja telah tiba. Tapi Rudi juga belum datang. Dia masih setia menunggu Rudi di taman. Menik mencoba menghubungi nomor ponsel Rudi. Tapi panggilan tidak terhubung. Sudah hampir tengah malam sosok pujaan hatinya tidak datang. Menik pulang dengan hati yang sedih dan kecewa. Sampai berhari-hari kabar Rudi tidak didengarnya. Sampai dia mendapatkan sebuah surat yang di kirimkan melalui pos. Dan surat itu dari Rudi. Menik maafkan aku. Aku tidak bisa datang ke taman. Hubungan kita di tentang orang tuaku. Aku belum bisa menikahimu karena kondisi orang tuaku yang sakit. Mereka menjodohkanku dengan wanita pilihan mama. Aku tidak punya kuasa untuk menolaknya. Pertunangan itu terjadi sangat cepat. Dan aku di kirim Papa keluar negri untuk melupakanmu. Tapi aku tidak mungkin bisa melupakanmu. Karena kamu orang terkasihku. Tunggu aku, sepulang dari luar negeri aku akan melamarmu. Rudi Rudi menulis surat itu sebelum pergi keluar negeri. Surat itu sengaja dibuatnya untuk menjelaskan kesalahpahaman yang di buatnya. Dia tau Menik pasti menunggunya di taman itu. Dan untuk menjelaskan kesalahpahaman yang terjadi Rudi membuat surat itu. Karena tidak ada akses yang bisa dilakukannya untuk bertemu Menik, semua di halangi orang tuanya. Sampai ponselnya di sadap kedua orangtuanya. Orang tuanya tidak segan-segan memberikan ancaman kepada anaknya dengan membuat Menik susah. Dengan perasaan kecewa Rudi mengikuti kemauan orang tuanya. Menurutnya penderitaan yang di derita Menik adalah karena kesalahannya, dan dia tidak mau wanita pujaan hatinya mengalami kesusahan lagi. Rudi masih menunggu di depan pintu kamar mandi. " Apa anda mau kekamar mandi juga?" Ucap Kevin basa basi. " Ya, saya tidak tau di dalam siapa?" Ucap Rudi bohong. " Kamar mandi masih ada di sana." Ucap Kevin menunjuk kearah lain. Rudi pergi meninggalkan Menik yang masih di dalam kamar mandi. Sekilas dia melihat Kevin yang masih berdiri di depannya. Kevin merasa khawatir dengan keadaan Menik di dalam. Menurutnya Rudi masa lalu Menik. Kevin mengetuk pintu kamar mandi. Tok tok tok. " Nik, kamu di dalam?" Ucap Kevin pelan. Tidak ada sahutan dari dalam kamar mandi. " Nik, cepat keluar." Ucap Kevin cepat. Para tamu undangan sudah keluar meninggalkan acara itu. Hanya beberapa kerabat yang duduk di taman. Menik membuka pintu kamar mandi secara perlahan. Dengan mata yang sembab. " Kamu kenapa?" Ucap Kevin khawatir. " Saya pusing." Ucap Menik bohong. Kevin membantu memapah Menik untuk duduk di atas kursi. " Kamu disini saja. Saya akan mengambil teh hangat untuk kamu." Ucap Kevin khawatir. Kevin pergi ke dapur meminta Pak Budi untuk menyiapkan teh hangat untuk Menik. Setelah itu dia membawa teh itu kepada Menik. " Minumlah." Ucap Kevin pelan. " Menik kenapa Vin?" Ucap Zira yang ikut datang menghampiri mereka berdua. " Dia kurang enak badan." Ucap Kevin cepat. " Lebih baik Menik istirahat di kamar tamu." Ucap Zira cepat. " Vin antarkan Menik ke kamar tamu." Ucap Zira cepat. Kevin dengan cepat langsung membawa Menik ke kamar tamu yang ada di mansion itu. Kevin tau setiap sudut rumah besar itu. Karena dia juga sering tidur dirumah. Di dalam kamar. " Kamu istirahat saja di sini. Apa kamu mau pulang?" Ucap Kevin pelan. " Tidak, saya di sini saja. Silahkan anda bergabung dengan yang lainnya." Ucap Menik cepat. " Baiklah, saya akan pergi keluar. Istirahatlah, nanti saya akan datang lagi." Ucap Kevin pelan sambil meninggalkan kamar tamu tersebut. Di taman. Para kerabat kumpul berbicara panjang lebar mengenai banyak hal. Ziko dan Zira duduk berbeda dengan yang lainnya. Mereka duduk bersama dengan tuan besar dan Nyonya Amel. Rudi ikut duduk bersama mereka. Zelin datang menghampiri mereka semuanya. Sebelumnya dia mengantarkan Koko kedepan. Pria itu telah pergi meninggalkan rumah mewah itu. Dia tidak enak hati untuk berlama-lama di sana. Menurutnya dia belum pantas untuk bergabung dengan keluarga itu. Cukup hanya sebagai tamu itu pikirnya. " Kak Rudi mana tunangan kakak?" Ucap Zelin sambil menjatuhkan badannya di kursi taman. Rudi hanya diam dan tersenyum tipis. Tidak menjawab pertanyaan adik sepupunya. Kevin datang ikut membaur bersama keluarga itu. " Bagaimana keadaan Menik." Tanya Zira kepada Kevin. " Dia sedang istirahat." Ucap Kevin cepat sambil melirik Rudi. Rudi yang mendengar itu tidak enak hati. Secara tadi Menik dalam keadaan baik-baik saja. Tapi kedatangannya membuat suasana hati Menik jadi kacau. " Siapa Menik?" Ucap Nyonya Amel penasaran. " Itu loh ma, pacarnya asisten Kevin." Celetuk Zelin. Zira dan Ziko tidak membantah mereka setuju kalau dua insan itu saling melengkapi. Begitupun Kevin, dia hanya tersenyum tipis sambil melirik ke arah Rudi. Rudi merasa kecewa dan sedih mendengar penuturan adik sepupunya. Sedih karena Menik sudah mempunyai kekasih. " Maaf saya permisi dulu." Ucap Rudi pamit pulang. Pikiran Rudi sudah kacau. Dia tidak bisa berlama-lama lagi di situ. Setelah berpamitan dia pergi meninggalkan mansion itu dengan hati yang kecewa. " Kapan kamu akan meresmikannya?" Ucap tuan besar. " Belum tuan, saya belum ada ikatan apapun dengannya." Ucap Kevin cepat. " Belum ada ikatan. Tapi sudah suka." Ucap Ziko cepat. Semua saling tertawa. Mereka berharap Kevin akan segera menyusul Ziko menuju pelaminan. " Like, komen dan vote yang banyak. Biar semangat updatenya terimakasih." Chapter 273 episode 272 (S2) Didalam kamar tamu. Menik mencoba menenangkan dirinya dengan merenung. Semua kejadian yang di alaminya bersama Rudi, adalah atas kehendak yang kuasa. Dan pertemuan ini juga atas rencana sang Pencipta. Menik tidak mau terpuruk dalam kesedihan, dia menyemangati dirinya untuk bangkit dan menjadi wanita yang lebih tegar. Pintu kamar di ketuk. Tok tok tok. Menik berjalan memegang handle pintu dan membuka pintu secara perlahan. " Halo Menik." Ucap Zira ramah. " Halo nona." Ucap Menik sambil tersenyum manis. " Apa kamu sudah membaik." Ucap Zira cepat. " Sudah nona, saya sudah merasa lebih baik." Ucap Menik semangat. Zira masuk kedalam kamar tamu itu, dan duduk di pinggir tempat tidur. " Suara kamu tadi pada saat mengaji sangat bagus." Ucap Zira memuji. Tidak berapa lama Kevin datang bersama dengan Ziko. " Ternyata kamu di sini. Hampir saja aku mau mengirim personil untuk mencarimu." Ucap Ziko lebay sambil berjalan dan mengecup dahi istrinya. Menik tersipu malu melihat kemesraan sepasang suami istri itu. " Bagaimana keadaan kamu." Ucap Kevin cepat. " Saya sudah membaik Pak." Ucap Menik semangat. " Syukurlah, aku sampai khawatir kalau kamu akan seperti ini terus." Ucap Kevin pelan sambil menatap lembut wajah Menik. Uhuk-uhuk. Pasangan suami istri itu batuk bersamaan. Ziko dan Zira merasa batuk musiman Kevin sudah pindah ke mereka. Kevin dan Menik melihat sepasang suami istri itu secara bersamaan. Batuk musiman yang di buat Ziko terdengar cukup berat. " Sepertinya tuan muda batuknya parah." Ucap Menik pelan. " Tuan anda batuk atau kesurupan?" Ucap Kevin asal. Karena menurutnya batuk bosnya dibuat-buat. Zira memukul lengan suaminya, yang memberi tanda kalau alarm batuknya sudah waktunya berhenti. Ziko langsung berhenti dengan cepat. " Nik duduk di sini." Ucap Zira sambil menepuk pinggir kasur sebelahnya. Ziko mundur teratur dan memilih duduk di sofa bersamaan dengan Kevin. " Ceritakan sama kami, dari mana kamu belajar ngaji, karena mengaji seperti itu bukan hal yang gampang." Ucap Zira penasaran. " Apa kamu anak pondokan?" Ucap Zira cepat. Menik menggelengkan kepalanya. " Pondok makan maksud nona?" Ucap Kevin bingung. " Aih kamu itu, pondok aja enggak tau. Pesantren maksud aku itu." Ucap Zira cepat. " Tuh Vin, keliatan banget kamu tidak pintar mengaji." Ucap Ziko sambil menyenggol pelan kaki asistennya. Ziko melihat kearah kedua wanita yang duduk di atas pinggir tempat tidur. " Sayang aku juga sering ikut pesantren. Biasanya aku ikut pada saat bulan puasa. Dan di adakan di sekolah." Ucap Ziko bangga. " Buahahaha. Bukan pesantren itu. Itu namanya pesantren kilat." Ucap Zira sambil tertawa. Kevin ikut tertawa terbahak-bahak. Karena bosnya salah perkiraan. " Owh beda ya, jadi maksud kamu pesantren yang anaknya mondok di sana gitu. Bukan yang kilat?" Ucap Ziko bingung. Zira menganggukkan kepalanya. Menurutnya suaminya kebanyakan makan kertas jadi hal-hal seperti itu kurang paham. " Kelihatan banget kamu sama Kevin ngajinya enggak pernah tamat." Ucap Zira sambil tersenyum lucu. Zira menatap Menik kembali. Dengan arti dia ingin wanita itu menjelaskan latar belakangnya. Secara dia akan menjadi seorang Ibu, jadi dia harus menerapkan ajaran agama dari kecil untuk anaknya kelak. " Saya belajar mengaji dari almarhum Bapak saya. Beliau dulu semasa hidupnya suka mengajarkan anak-anak tetangga mengaji. Dan saya sudah bisa mengaji dari umur 3 tahun." Ucap Menik pelan. Prok prok prok. Kevin bertepuk tangan mendengarkan cerita Menik. Semua yang tadinya serius memalingkan wajahnya melihat arah suara itu. " Ngapain lagi pakai acara tepuk tangan." Ucap Ziko komplain. " Saya hanya tersungging mendengar ceritanya." Ucap Kevin pelan. " Tersungging tersanjung yang benar." Ziko membenarkan kosa kata asisten yang salah." " Vin, Vin, sudah tidak pandai mengaji tidak pintar juga pelajaran bahasa." Ucap Zira menggoda Kevin. Mereka mendengarkan asal usul Menik, dan tidak lupa dia menceritakan tentang saudaranya. Tapi Menik tidak menyebutkan nama adiknya di situ. " Dimana sekarang adik kamu?" Ucap Zira pelan. " Ada, dia tinggal sama saya." Jawab Menik lagi. Kevin yang mendengar tambah yakin kalau informasi yang di dapat dari orang suruhannya adalah benar. Dia tinggal menunggu waktu yang tepat untuk merasakan perasaannya. Kevin yakin ketika mereka saling dekat. Lama-lama rasa itu akan muncul. Walaupun dia bisa menebak ada sesuatu diantara Menik dan Rudi. Tapi dia malah tambah semangat untuk mengejar cinta Menik. Karena sesuatu yang sulit di dapat akan sulit juga untuk di lepaskan. Menurutnya Menik bukan wanita yang gampang di tebak. Dia bisa dengan cepat merubah moodnya dengan baik. Waktu sudah semakin petang. Kevin beranjak dari sofa. " Tuan sepertinya sudah petang. Kami balik dulu." Ucap Kevin cepat sambil melihat Menik. " Saya balik dulu nona." Ucap Menik sopan sambil menyalami Zira. " Baiklah hati-hati." Ucap Zira sambil memeluk Menik. Sepasang suami istri itu mengantarkan Kevin dan Menik kedepan. Setelah mobil melaju mereka masuk kedalam saling bergandengan tangan. " Sayang, bagaimana kalau kita buat adik untuk anak kita." Ucap Ziko genit sambil berbisik dan menarik tangan istrinya kekamar. Ziko pintar dalam membuat alasan untuk bercumbu dengan istrinya. Walaupun ucapannya tidak masuk akal tapi tetap saja dia suka membuat kata-kata nyeleneh untuk hal itu. Bintang-bintang bertaburan di langit. Menemani perjalanan mereka. Jalanan cukup ramai karena malam itu adalah malam Minggu. Banyak muda mudi yang duduk nongkrong dengan kekasihnya. Ini adalah pertama kalinya Kevin malam Minggu berdua dengan seorang wanita. " Nik, kamu mau langsung pulang atau mau jalan dulu." Ucap Kevin pelan sambil melirik ke arah Menik. Menik memang tidak punya kekasih. Dan dia juga malas di rumah. " Saya ikut saja, asalkan Bapak tidak membawa saya ke jurang." Ucap Menik pelan. " Kalau kejurang pernikahan mau tidak?" Ucap Kevin pelan sambil menatap sekilas ke arah Menik. " Ih Bapak ini sudah saya bilang kalau saya mau menikah dengan tunangan saya." Ucap Menik pelan. Menik merasa ucapan Kevin hanya candaan belaka dia tidak mau terbawa suasana itu. Karena masa lalunya yang menyebabkan dia lebih berhati-hati dalam memilih pasangan hidup. Mobil sampai di sebuah taman. Kevin memarkirkan mobilnya di dekat taman. " Ayo turun." Ucap Kevin sambil mencabut kunci mobil dari tempatnya. Kevin turun dari mobil dan jalan berputar sambil membukakan pintu mobil untuk Menik. " Saya bisa jalan sendiri." Ucap Menik cepat. " Ye siapa lagi yang mau menggendong kamu." Ucap Kevin cepat. Menik turun dari mobil sambil menenteng tas jinjing pemberian Kevin. Mereka jalan beriringan. " Maaf tangan saya lagi nganggur." Ucap Kevin langsung memegang tangan Menik. " Bapak mau ngapain sih?" Ucap Menik pelan. " Sudahlah apapun masalahmu jangan di bawa berlarut-larut. Anggap saja kamu lagi memegang tangan boneka." Ucap Kevin asal. " Ya boneka chucky." Ucap Menik cepat sambil tetap berjalan. " Aih jelek banget, apa kamu tidak lihat penampilan saya sudah ganteng seperti ini. Kamu bilang boneka chucky. Saya itu boneka Barbie." Ucap Kevin asal. Menik tertawa sambil mencubit lengan Kevin. Dia tau walaupun bisa melepaskan tangannya dari genggaman Kevin, pasti bosnya akan melakukan hal-hal yang aneh lagi seperti di mall yang mana dia di gendong layaknya sekarung beras. Dia membiarkan tangannya di genggaman Kevin. Menurutnya ada rasa nyaman ketika berdampingan dengan pria itu. Beda halnya ketika tangannya di pegang dengan Rudi, rasa itu hanya rasa senang tidak ada yang lain. Dari jauh ada sosok yang memperhatikan mereka berdua yaitu Rudi. Dia memata-matai Menik. Ingin membuktikan kalau ucapan adik sepupunya adalah benar. Dan seperti yang di lihatnya. Menik bergandengan tangan dengan Kevin. Hatinya hancur, wanita yang di cintainya sudah mempunyai kekasih lain. Dia pergi meninggalkan taman dengan hati yang hancur, membiarkan dua insan itu mengadu kasih di taman itu. " Like, komen dan vote yang banyak ya. Biar semangat updatenya." Chapter 274 episode 273 (S2) Bintang-bintang bertaburan di langit. Menemani malam panjang itu. Banyak muda-mudi berada di taman. Baik hanya untuk berkumpul ataupun untuk menghabiskan malam minggu dengan kekasih hati. Ada seorang pengamen jalanan yang berdiri di tengah taman. Pengamen itu menyanyikan lagu-lagu romantis. " Kamu tau, setahun yang lalu nona Zira menyanyikan sebuah lagu untuk tuan muda." Ucap Kevin. " Oh ya, romantisnya. Lagu apa yang di nyanyikan nona Zira?" Ucap Menik pelan. " Judulnya saya kurang tau, cuma isi lagu itu tentang perasaan cinta nona Zira." Ucap Kevin pelan mengingat kejadian dulu. " Apa Bapak selalu ada diantara mereka berdua?" Ucap Menik lagi. " Iya, aku selalu ada untuk mereka." Ucap Kevin lagi. " Apa Bapak tidak iri dengan keromantisan mereka berdua." Ucap Menik sambil menatap Kevin. " Untuk apa iri, saya senang mereka saling mencintai satu sama lain." Ucap Kevin lagi. " Sepertinya anda cukup dekat dengan mereka berdua. Apa Bapak tidak pernah punya perasaan dengan nona Zira. Biasanya kedekatan bisa menimbulkan rasa yang berbeda." Ucap Menik sambil mengingat kedekatannya dulu dengan Rudi. Kevin diam, dia memandang jauh. " Nona Zira cantik, bukan hanya parasnya hatinya juga tulus." Ucap Kevin. " Semua ada batasannya. Mana mungkin saya menjadi benalu untuk hubungan mereka. Saya adalah pengikat untuk hubungan mereka." Ucap Kevin. " Apa kamu mau makan sesuatu?" Ucap Kevin menawarkan sesuatu. " Enggak ah, Bapak sudah banyak mentraktir saya. Bagaimana kalau malam ini saya yang traktir." Ucap Menik sambil melihat Kevin. " Memangnya kamu ada uang?" Ucap Kevin menatap wajah Menik dengan penuh kelembutan. " Ada." Menik mengambil sesuatu dari dalam tasnya. Dia mengeluarkan dompet toko masnya. " Ini uang saya." Ucap Menik menunjukkan dompetnya. " Aih seperti ini kamu bilang dompet. Sepertinya aku melupakan sesuatu." Ucap Kevin lagi. " Apa?" Ucap Menik penasaran. Kevin tidak menjawab, dia lupa membelikan Menik dompet baru. Mungkin karena dompet itu terlalu kecil. Jadi dia tidak memikirkannya. " Besok kamu ada kegiatan apa?" Ucap Kevin pelan. " Biasa bersih-bersih." Ucap Menik pelan. Kevin teringat sesuatu lagi. Kalau pembantunya telah pulang kampung. " Apa kamu ada teman yang bisa bersih-bersih rumah saya?" Ucap Kevin pelan. " Maksud Bapak apa?" " Pembantu saya telah pulang kampung, jadi saya butuh seseorang untuk membantu saya membersihkan rumah dan menyetrika pakaian. Apa kamu punya kenalan?" Ucap Kevin lagi sambil menatap Menik. Menik mendengarkan dan memikirkan sesuatu. Dia sudah banyak memberiku, kalau untuk membayarnya secara cash pasti akan lama. Belum lagi hutang kerusakan mobil. Apa aku bekerja dengannya saja. " Pak saya aja yang bersih-bersih rumah Bapak." Ucap Menik cepat. Kevin menatap Menik sambil memicingkan matanya. " Maksud kamu?" Sekarang Kevin yang bingung. " Begini Pak, saya Sabtu dan Minggu tidak ada pekerjaan. Biasanya dulu waktu weekend saya mengambil pekerjaan paruh waktu. Tapi karena saya banyak hutang sama Bapak, jadi saya mau membantu untuk membersihkan rumah, dan tidak perlu di gaji. Jadi hutang saya lama-lama bisa lunas." Ucap Menik menjelaskan. " Enggak." Ucap Kevin menolak. " Ayolah Pak, hutang saya sudah banyak. Nanti perbulan saya cicil, dan seminggu dua kali untuk membersihkan rumah Bapak." Ucap Menik lagi. Dia tidak mau berhutang Budi sama Kevin. Jadi cara menebus hutangnya dengan bekerja sebagai pembantu. Dan Kevin juga menolak untuk mempekerjakan Menik sebagai pembantunya. Secara wanita itu adalah orang yang di sukainya. Menurutnya tidak elok menjadikan Menik sebagai pembantu. " Mana mungkin aku menganggap kamu sebagai pembantu." Ucap Kevin menolak. " Aduh Bapak, terserah Bapak mau menganggap saya sebagai apa. Tapi Izinkan saya bekerja dengan anda. Agar hutang saya lunas." Ucap Menik sambil merapatkan kedua telapak tangan di depan Kevin. " Semua pemberian itu dari saya untuk kamu. Dan itu bukan hutang. Saya ikhlas memberikannya untukmu." Ucap Kevin menolak. Walaupun sudah di jelaskan Kevin, tapi Menik tetap keras kepala. Menurutnya semua itu tetaplah hutang. " Ayolah Pak. Saya mohon izinkan saya bekerja di sana." Ucap Menik memohon sambil menggoyangkan badannya Kevin. Pendirian Menik memang kuat. " Baiklah, besok kamu bekerja. Hanya hari libur. Sisanya kamu bekerja di Raharsya group." Ucap Kevin cepat. Kevin dengan berat hati menerima Menik sebagai pembantunya di rumah. Dia hanya ingin melihat bagaimana Menik melayani dirinya. Apakah Menik termasuk dalam kriteria calon istri idaman. Atau tidak, semua akan terlihat berjalannya waktu. Malam semakin larut. Keadaan ditaman masih ramai. Semua yang ada di taman seperti lupa akan waktu. " Pak ayo kita makan sesuatu. Saya sudah lapar. Tapi saya yang traktir." Ucap Menik cepat. " Apa uangmu cukup?" Ucap Kevin lagi. " Cukup, kitakan hanya makan di pinggir jalan, kalaupun tidak cukup saya akan mencuci piring." Ucap Menik cepat sambil menarik tangan Kevin. Mereka berjalan beriringan menuju para pedagang kaki lima. " Bapak mau makan apa?" Ucap Menik pelan. " Terserah saya ikut saja yang penting enak." Ucap Kevin cepat. " Kalau makan mie ayam bagaimana?" Ucap Menik menawarkan. " Boleh juga." Ucap Kevin sambil menganggukkan kepalanya. " Tapi Bapakkan baru keluar dari rumah sakit. Saya khawatir perut Bapak sakit lagi." Ucap Menik khawatir. " Sudahlah, saya sudah sembuh. Kemaren saya yang salah karena makan tidak pakai batasan. Sesuatu yang berlebih itu juga tidak bagus." Ucap Kevin lagi. " Baiklah kalau begitu." Ucap Menik sambil menarik tangan Kevin menuju pedagang kaki lima. Kevin memperhatikan tingkah Menik yang kekanak-kanakan. Tapi menurutnya sangat lucu. Ingin rasanya dia memiliki wanita itu. Tapi dia harus bersabar untuk merebut hati wanita itu. Mereka berhenti di salah satu pedagang yang menjajakan dagangannya. Di etalase kacanya tertulis mie ayam dan bakso. " Yang ini aja ya Pak." Ucap Menik. Kevin setuju sambil menganggukkan kepalanya. Di dalam tenda itu ada pasangan muda-mudi yang juga menikmati mie ayam tersebut. Kevin tidak bisa memilih tempat duduk lain. Mereka harus bergabung dengan pasangan kekasih lainnya. Mereka duduk saling berhadapan dengan sepasang kekasih lainnya. Pasangan yang duduk di depan mereka terlihat romantis. Mereka saling menyuapi satu sama lain. " Aih kapan selesainya kalau makan seperti itu." Gumam Menik pelan sambil berbisik ketelinga Kevin. " Jangan lihat itunya, tapi lihat keromantisannya." Ucap Kevin membela sepasang kekasih itu. " Ribet banget ya." Pedagang mie ayam datang membawakan dua mangkok. Dan dua botol es teh. " Ingat jangan pedas-pedas sambelnya." Ucap Menik mengingatkan Kevin. Mereka menikmati mie ayam tersebut. Sepasang kekasih yang duduk di depan mereka sudah pergi. Tinggal mereka berdua di meja itu. Kevin meminum es tehnya, kemudian memberikan mimik wajah jeleknya. " Kenapa Pak." Ucap Menik bingung. " Es ini seperti rasa urin?" Ucap Kevin berbisik ketelinga Menik. " Urin apaan?" Ucap Menik bingung. " Air pipis." Ucap Kevin berbisik lagi ketelinga Menik. Menik membelalakkan matanya, dia ingin protes sama pedagang itu. " Sstt jangan, coba punya kamu." Ucap Kevin pelan sambil menyeruput minuman Menik. Kevin sebenarnya berbohong dia, hanya ingin minum satu gelas dengan Menik. Jadi dia membuat ide asal seperti itu. " Punya kamu enak?" Ucap Kevin cepat. Menik mencicipi minumannya setelah Kevin. Dengan seperti itu mereka satu bibir. Kemudian Menik mencicip minuman Kevin. " Rasanya sama saja. Ini bukan seperti air pipis. Sepertinya Bapak ada masalah dengan lidah. Enak seperti ini di bilang rasa pipis. Memangnya Bapak sudah pernah minum air pipis." Ucap Menik cepat sambil melihat Kevin. Kevin tertawa kecil mendengar penuturan Menik yang mengatakan kalau dia ada masalah dengan lidah. " Mungkin ini efek samping dari minum obat mencret itu." Ucap Kevin asal. " Aih, memangnya efek samping obat ada yang tidak peka dengan rasa. Kok saya baru tau." Ucap Menik sambil menggaruk kepalanya. " Ya ada dan hal itu biasa. Yang aneh itu kalau efek sampingnya malah pengen cepat-cepat kawin." Ucap Kevin asal. Menik mengingat sesuatu tentang percakapan dirinya hari ini. Semuanya mengatakan kalau Kevin ingin mengajaknya menikah. Menik langsung berdiri dan membayar makan itu. " Ayo cepat." Ucap Menik sambil menarik tangan Kevin. Kevin beranjak dari kursinya. Dan mengikuti langkah Menik. Menik masih menarik tangannya dengan tergesa-gesa. " Kamu kenapa? Sepertinya kamu sedang gusar." Ucap Kevin pelan. " Kita akan kerumah sakit." Ucap Menik cepat. " Untuk apa, aku kan sudah sembuh." Ucap Kevin sambil melepaskan tangan Menik. " Bagaimana sudah sembuh. Bapak itu masih sakit. Yang pertama lidah Bapak tidak peka dengan rasa. Mungkin saja Bapak tidak bisa membedakan antara manis dan asin. Dan yang kedua efek samping dari obat mencret itu Bapak selalu mengajak saya menikah. Itu bahaya." Ucap Menik panik. Kevin tertawa terbahak-bahak melihat penjelasan Menik. Menurutnya semua ucapannya di anggap serius oleh Menik. Mereka sudah sampai di depan mobil. Seperti biasa Kevin duduk di belakang kemudi. " Cepat nyalakan mesin mobilnya. Saya tidak mau disalahkan dalam hal ini." Ucap Menik panik. " Sstt diam. Sekarang sudah malam saya akan mengantar kamu pulang." Ucap Kevin sambil melihat jam tangannya. " Enggak usah pulang dulu. Bapak harus berobat. Jangan sampai efek obat itu tambah parah." Ucap Menik panik. " Baiklah kita akan ketemu dengan dokter pribadi saya saja. Nanti dia akan menjelaskan semuanya." Ucap Kevin tersenyum menyeringai. Kevin keluar dari mobilnya. Sambil membawa ponselnya. " Bapak mau kemana?" Ucap Menik dari dalam mobil. " Saya menghubungi dokter dulu." Ucap Kevin cepat. Kevin menghubungi nomor telepon dokter Diki. Dia merencanakan sesuatu. " Like, komen dan vote yang banyak ya terimakasih." Chapter 275 episode 274 (S2) Panggilan terhubung. Lama Kevin menunggu jawaban dari dokter Diki " Ya halo." Ucap dokter Diki dari ujung ponselnya. " Dokter ini saya Kevin." " Hemmmmm, kenapa malam-malam kamu menghubungiku. Tidak terjadi sesuatu dengan Zira kan?" Ucap Dokter Diki pelan. " Nona Zira dalam keadaan baik-baik saja. Saya yang tidak dalam keadaan baik." Ucap Kevin pelan. Kevin menceritakan semuanya, tentang dia menaksir seseorang cewek. Dan menceritakan tentang dia di rawat karena diare. Tidak lupa dia menceritakan tentang kepolosan wanita itu. " Jadi seperti itu ceritanya." Ucap Kevin pelan. " Jadi hubungannya dengan saya apa?" Dokter Diki bingung. " Dokter harus membantu saya degan mengatakan saya terkena efek samping obat diare." Ucap Kevin menjelaskan. Dia juga menjelaskan tentang rencananya. " Ah kamu ngawur banget. Kenapa aku di ikutkan ke dalam masalahmu." Ucap Dokter Diki menolak. " Saya mohon dokter. Apa Dokter tidak ingin melihat saya memiliki kekasih." Ucap Kevin memohon. " Saya saja belum menikah." Ucap Dokter Diki lagi. " Ye itu urusan dokter. Saya tidak mau perjaka tua seperti dokter." Ucap Kevin sambil tertawa kecil. " Wah sialan luh Vin." Ucap Dokter Diki. Dokter Diki sangat akrab dengan Kevin dan Ziko. Dokter Diki dan Ziko sahabatan itu yang membuat Kevin bisa akrab juga dengan dokter tersebut. " Baiklah, demi kamu apapun akan saya lakukan." Ucap Dokter Diki lagi. Kemudian panggilan terputus. Kevin masuk kedalam mobil sambil meletakkan ponsel di pintu. " Lama banget teleponnya Pak." Ucap Menik cepat. " Hemmmmm." " Siapa nama dokternya?" Ucap Menik cepat. " Dokter diki." Ucap Kevin sambil menyalakan mesin mobilnya. " Cewek atau cowok?" Ucap Menik lagi. " Cowoklah mana ada Diki berjenis kelamin cewek." Ucap Kevin sambil melajukan mobilnya ke jalanan. " Ada Pak, tentangga saya namanya Sobri, Bapak tau dia berjenis kelamin apa?" Ucap Menik sambil melihat kearah Kevin. " Cowok lah." Ucap Kevin sekilas melihat Menik kemudian kembali menatap jalanan. " Salah, Sobri berjenis kelamin dua." Ucap Menik dengan wajah yang cukup meyakinkan. " Ah serius kamu? Memangnya ada jenis kelamin dua?" Ucap Kevin bingung. " Ada Pak, Kalau siang dia jadi Sobri kalau malam jadi Sobiha." Ucap Menik cepat sambil cekikikan. " Aih itu bukan jenis kelaminnya dua. Tapi punya kelainan ganda." Ucap Kevin cepat. Menik masih cekikkan, dia baru saja mengerjai Kevin. " Nik jangan kesurupan. Disini tidak ada nona Zira. Apalagi Mbah Jambrong, dia juga lagi cuti melahirkan." Ucap Kevin cepat. Karena suasana sudah cukup malam. Kevin agak takut mendengar suara cekikikan Menik. " Kalau saya kesurupan panggil saja Ibu Ningsih." Ucap Menik dengan wajah serius. " Huss diam. Jangan ada cekikkan lagi. Lebih baik kamu diam." Ucap Kevin cepat. Menik diam dengan menatap ke depan. Lalu lintas tidak terlalu padat. Karena waktu sudah malam. Dengan cepat mereka sampai di depan gapura. Gapura itu merupakan pintu masuk utama untuk masuk ke dalam perumahan Dokter Diki. " Pak, rumah sakitnya kok beda sama yang kemaren." Ucap Menik bingung. " Ini bukan rumah sakit. Ini perumahan, Dokter Diki tinggal di perumahan ini." Ucap Kevin cepat. Mobil Kevin di berhentikan oleh sekuriti yang bertugas di perumahan itu. Mereka menanyakan hal-hal yang biasa, seperti mau bertemu siapa. Dan alamat rumah yang di tuju. Setelah memastikan aman pihak sekuriti mengizinkan mobil untuk masuk. Rumah dokter Diki tiga blok dari gapura. Dengan cepat mereka sampai di depan rumah besar berwarna gading. Kevin mematikan mesin mobilnya. " Ayo turun." Ucap Kevin cepat. Menik turun dari mobil sambil memandang rumah itu. Ada rasa takjub ketika melihat rumah-rumah besar. Menurutnya dia sangat beruntung bisa akrab dengan orang-orang hebat. Kevin menekan bel yang ada di pinggir pagar. " Pak rumahnya bagus banget." Ucap Menik kagum. Kevin melihat Menik sekilas kemudian melihat kedepan. Ada suara seseorang sedang membuka pagar. Seseorang pria berpostur tinggi, berkulit putih dan berwajah ganteng telah berdiri di depan mereka. " Masuk." Kevin mengajak Menik untuk masuk ke pekarangan rumah itu. " Pak, pembantunya ganteng sekali saya maulah sama pembantu itu." Ucap Menik sambil menggoyangkan lengan Kevin. " Huss itu Dokter Diki bukan pembantu." Ucap Kevin cepat. Menik menutup mulutnya dengan salah satu tangannya. " Pak, apa pembantu Dokter Diki juga pulang kampung." Ucap Menik heran. Mereka berdua mengikuti langkah Dokter Diki untuk masuk ke dalam rumah besar itu. " Maksud kamu?" Ucap Kevin sambil berbisik. " Soalnya, yang buka pagarnya dokter sendiri. Berarti pembantunya enggak ada." Ucap Menik memberikan asumsi sendiri. Kevin hanya melihat sekilas ke arah Menik. Mereka sudah sampai di dalam rumah besar itu. Dokter Diki mempersilakan mereka untuk duduk di ruang tamu. Dokter Diki melihat sekilas wanita idaman Menik. Cantik juga pantas dia ngebet kawin. Kevin memperkenalkan Menik kepada Dokter Diki. Sandiwara di mulai. " Ada keperluan apa kamu kesini?" Ucap Dokter Diki basa basi. " Begini Dok, saya baru keluar dari rumah sakit karena diare. Dan apakah ada efek samping dari obat yang saya minum. Masalahnya lidah saya tidak peka dengan rasa." Ucap Kevin berakting. " Bukan itu saja Dok. Dia juga sering mengajak saya untuk menikah. Apa itu juga efek samping obatnya?" Ucap Menik dengan wajah penasaran. Dokter Diki sebenarnya ingin tertawa. Dia tidak tahan harus berakting, apalagi wajah wanita di depannya begitu polos. " Seperti itu ya. Tidak usah khawatir, efek samping itu akan hilang dalam beberapa tahun." Ucap Dokter Diki asal. " Aih lama banget. Minum obatnya sehari efek sampingnya tahunan." Gumam Menik pelan. Gumaman Menik terdengar Dokter Diki. Dia permisi pergi ke dapur. Di dapur Dokter itu tertawa terbahak-bahak. Dia melepaskan ketawanya di sana. Karena sudah larut malam suara tawa itu menggema sampai ke ruang tamu. Menik sampai memiringkan badannya untuk melihat asal suara itu. " Pak sepertinya Dokter Diki kesurupan. Kita harus memanggil ibu Ningsih." Ucap Menik panik. " Itu bukan kesurupan, Dokter itu lagi bersin." Ucap Kevin asal. " Mana ada bersin ada cengkoknya. Apa Bapak tidak bisa mendengarkan dengan baik. Kalau memang itu bersin. Bersinnya pakai cengkok dangdut." Ucap Menik cepat. Kevin mau tertawa mendengar celotehan Menik yang polos. Tidak berapa lama Dokter Diki keluar dan bergabung dengan tamunya. " Dokter tidak apa-apa?" Ucap Menik cepat. " I''m ok." Ucap Dokter Diki pelan. " Oh Ok. Tapi kenapa bersin Dokter aneh ya? Dokter tidak terkena virus cicakkan?" Ucap Menik dengan wajah serius. " Buahahaha. Kamu lucu sekali." Ucap Dokter Diki tidak bisa menahan tawanya. " Dokter jangan terlalu lebar ketawanya. Kemaren tetangga saya mati." Ucap Menik lagi. " Kenapa dia mati, apa terjadi sesuatu?" Ucap Dokter Diki penasaran. " Dia meninggal karena enggak bisa mingkem." Ucap Menik pelan. Dokter Diki tertawa lagi tapi tidak selebar tadi. " Baiklah melanjutkan yang tadi. Efek samping obat itu seperti yang saya sebutkan tadi sebelumnya. Ada cara menyembuhkannya dengan cepat." Ucap Dokter Diki sok serius. " Apa itu." Ucap Menik penasaran. " Penuhi kemauannya untuk menikah. Dengan seperti itu efek samping obat itu langsung hilang." Ucap Dokter Diki menjelaskan sambil tersenyum tipis. " Tunggu Dok, memang saya kurang paham hal seperti itu. Tapi menurut logika saya. Efek samping obat itu bukannya seperti mengantuk dan lain sebagainya. " Ya itu obat yang ringan. Kalau ini dosis yang tinggi." Ucap Dokter Diki asal. Menik diam, dia merenungkan semua ucapan Dokter Diki. Dua pria itu tersenyum penuh kemenangan. " Baiklah, sakit Bapak karena makan masakan saya, maka saya akan membantu Bapak menyembuhkan efek samping obat itu." Ucap Menik semangat. Kevin mulai tersenyum sumringah. Dia merasa predikat jomblonya akan lepas. " Like, komen dan vote yang banyak ya. Jadikan Novel ini dalam daftar favorit kalian. Apabila author sudah upadate kalian akan dapat notifikasinya, terimakasih." Chapter 276 episode 275 (S2) " Memangnya apa yang mau kamu lakukan?" Ucap Dokter Diki penasaran. " Saya akan menikahkan Pak Kevin dengan janda kaya." Ucap Menik semangat. " Enggak bisa seperti itu, nanti efek sampingnya tambah parah kalau menikah dengan janda." Ucap Kevin cepat. Dokter Diki tersenyum mendengar ucapan Kevin dan Menik. " Tadi Dokter Diki bilang bisa di sembuhkan dengan menikah. Jadi Bapak nikah saja dengan janda di gang saya tinggal. Asal Bapak tau, janda punya surat pengalaman loh. Dari pada gadis ting ting belum tentu ada sertifikatnya." Ucap Menik cepat. " Maksud kamu apa sih. Surat pengalaman dan sertifikat?" Ucap Kevin bingung. " Mungkin maksudnya urusan ranjang." Ucap Dokter Diki menjelaskan. Kevin menggaruk kepalanya. Dia heran Menik bisa berpikiran sampai kesitu. " Dokter salah, surat pengalaman dan sertifikat itu mengenai urusan masak di dapur bukan urusan ranjang. Sepertinya pikiran dokter harus di cuci." Ucap Menik cepat. Dokter Diki melihat Kevin, mereka saling pandang. " Bisa saya bicara dengan kamu." Ucap Dokter Diki sambil beranjak dari kursi tamu menuju ke ruang tengah. " Baik." Kevin mengikuti dari belakang. " Hey bicaranya kenapa tidak di sini saja. Saya akan tutup kuping kok." Ucap Menik sedikit berteriak. Di ruang keluarga. " Saya hanya membantu kamu sampai disini. Walaupun dia begitu polos tidak baik kita mempermainkannya." Ucap Dokter Diki pelan. " Dokter benar, tidak seharusnya saya memaksa Menik untuk menikah." Ucap Kevin pelan. " Kenapa kamu tidak mengungkapkan perasaan kamu saja. Dengan seperti itu kamu bisa mempersuntingnya." Ucap Dokter Diki. " Sepertinya Menik banyak pertimbangan. Tidak gampang menaklukkan hati Menik." Ucap Kevin pelan. Menik datang ke ruang keluarga. " Halo, sudah selesai bicaranya?" Ucap Menik pelan. " Owh iya sudah." Ucap dua pria itu. " Dokter kami pamit dulu." Ucap Kevin. " Baiklah, semoga kamu segera pulih dari efek samping itu." Goda Dokter Diki. Kevin dan Menik keluar dari rumah itu. " Menik tunggu? Apa kamu mempunyai saudara kembar?" Ucap Dokter Diki pelan. Menik menoleh kebelakang. " Enggak? Memangnya kenapa?" Ucap Menik bingung. " Saya kemaren bermimpi mengarungi bahtera rumah tangga dengan kembaran kamu." Gombal Dokter Diki. Kevin membelalakkan matanya, tidak percaya dengan pendengarannya kalau dokter Diki menggombal target incarannya. Menik mendengar rayuan itu merasa berbunga-bunga sambil menggoyangkan badannya ke kanan dan ke kiri. Kevin langsung menarik tangan Menik untuk masuk ke dalam mobil. Dia tidak mau Menik terpikat dengan Dokter Diki. Mobil sudah meninggalkan perumahan itu. Mobil melaju dengan kecepatan sedang. Bisa saja Kevin malajukan mobilnya dengan cepat. Tapi dia enggan berpisah dengan Menik. Menurutnya waktu berdua bersama Menik sangat terbatas. " Pak, jangan lupa kirimkan alamat rumah Bapak." Ucap Menik pelan membuyarkan lamunan Kevin. " Untuk apa? Kamu bukan mau mengajak janda itu kan?" Ucap Kevin cepat. " Memangnya Bapak mau dengan dia. Dia itu janda kaya. Dia itu juragan rumah." Ucap Menik cepat. " Mana ada juragan rumah yang ada juragan tanah." Ucap Kevin memotong kalimat Menik. " Yeh Bapak, kalau tanahnya banyak di sebut juragan tanah. Kalau kontrakan di sebut, juragan rumah." Ucap Menik tidak mau kalah. " Ya, iya kamu menang." Ucap Kevin mengalah. " Untuk apa alamat rumah saya." Ucap Kevin cepat. " Aduh Bapak ini pelupa banget, besokkan saya mulai bekerja dengan Bapak." Ucap Menik semangat. Kevin melupakan hal itu. " Baiklah, saya akan mengirimkan alamatnya via pesan singkat." Ucap Kevin cepat. Kevin melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Karena waktu sudah menunjukkan larut malam. Menurutnya tidak baik jika Menik terlalu lama berdua dengannya. Dalam beberapa menit mereka sudah sampai. " Terimakasih Pak." Ucap Menik sambil membuka pintu mobil. " Besok akan saya jemput." Ucap Kevin cepat. " Enggak usah, Bapak hanya mengirimkan alamatnya saja. Nanti saya datang sendiri. Dimana-mana pembantu datang sendiri tidak pernah di jemput." Ucap Menik sambil menutup pintu mobil. " Tapi kamu bukan pembantu, kamu ke..." Ucapan Kevin terpotong karena Menik sudah pergi. Setelah bayangan Menik menghilang Kevin melajukan mobilnya. Dalam perjalanan dia tersenyum sendiri mengingat kejadian hari ini. Dari kejadian di mall sampai kejadian di taman semua menjadi kenangan indah dalam ingatannya. Kevin melihat ke samping kursi yang di duduki Menik. Ada sebuah tas jinjing yang tertinggal di situ. Dan melihat ke kursi belakang, ada tas ransel dan sepatu bola Menik di sana. " Nik, nik kamu itu yang pelupa bukan saya. Apa di antar malam ini saja. Ah besok saja, diakan besok kerumah. Tapi bagaimana mengirim alamatnya sedangkan ponselnya ada di dalam tas." Gerutu Kevin pelan sambil memutar arah mobil kembali ke jalan rumah Menik. Di depan rumahnya Menik mencari tas jinjing dan ranselnya. " Aduh tasku ketinggalan di mobil nih." Gumam Menik pelan. Tapi dia teringat sesuatu kalau adiknya masuk pagi. Dan jam segini pasti adiknya sudah pulang. Dia mengetuk pintu rumahnya. Tok tok tok. Beberapa kali Menik mengetuk pintunya. Tapi belum ada tanda-tanda kehidupan di dalam rumahnya. Dia mengetuk lagi. Tok tok tok, tidak berapa lama ada suara seseorang sedang memutar kunci pintu. Hoamm, Bima menguap, sambil melihat seseorang yang berdiri di depannya. " Cari siapa malam-malam begini." Ucap Bima sambil menguap. Bima belum cukup sadar. Dia belum paham kalau yang berdiri di depannya adalah kakaknya. Apalagi lampu di depan rumahnya tidak terlalu terang. Menik tidak menjawab dia masih berdiri di depan adiknya dengan rambut terurai. Bulu kuduk Bima merinding. Dia memperhatikan Menik dari atas sampai bawah. Mungkin karena sepatu heal itu ada tumitnya sehingga baju gamis yang di kenakan Menik seperti melayang di udara. Bima sontak kaget. " Hantu." Teriak Bima sambil masuk ke dalam rumahnya. Menik ikut berlari masuk ke dalam mengikuti adiknya. " Mana hantunya?" Ucap Menik sambil berlari masuk ke dalam rumahnya. Dengan perasaan takut Menik melihat ke arah pintu yang masih terbuka. Sedangkan Bima menutup badannya dengan selimut. Prok.. Menik memukul pantat adiknya. " Ampun, ampun hantu." Ucap Bima dari balik selimutnya. " Ini kakakmu Menik." Ucap Menik sambil membuka selimut yang menutupi badan Bima. " Ah kakak. Kenapa kakak berpenampilan seperti ini." Ucap Bima sambil memegang pakaian yang di kenakan kakaknya. " Memangnya salah kalau kakak pakai ini." Ucap Menik lagi sambil memegang pakaiannya. " Seumur-umur kakak tidak pernah pakai baju terusan seperti ini. Belum lagi rambutnya di gerai seperti itu. Wajar kalau aku kira kakak hantu." Gerutu Bima cepat. Menik memang tidak pernah memakai pakaian seperti yang di kenakannya sekarang. Dia lebih suka memakai celana panjang seperti celana setan dan kawan-kawannya. " Terus mana kunci kakak? Bukannya kakak ada kunci sendiri.". Gerutu adiknya lagi. " Tas kakak ketinggalan di mobil." Ucap Menik santai sambil masuk ke dalam kamarnya. Bima menahan pintu kamar Menik. " Mobil siapa? Kakak tidak macam-macam dengan pria hidung belangkan?" Ucap Bima penasaran. " Enak saja. Tas kakak ketinggalan di mobil bos. Jangan pernah kamu memikirkan hal-hal buruk tentang kakakmu ini. Kakak bisa jaga diri dan tau batasan-batasannya." Ucap Menik cepat sambil menutup pintu kamar. " Ya mana aku tau. Biasanya kakak mengabarkan aku." Ucap Bima teriak dari depan pintu kamar kakaknya. " Sudah malam kakak mau istirahat. Tutup pintu rumah cepat." Ucap Menik lagi dari dalam kamarnya. Bima berjalan ke arah pintu dan hendak menutup pintunya. Ada sosok pria tengah datang ke arah rumahnya. " Like, komen dan vote yang banyak ya. Dan jadikan novel ini dalam daftar favorit kalian. Apabila author sudah update nanti akan ada notifikasi. Terimakasih atas dukungannya." Chapter 277 episode 276 (S2) " Yang mendekat kesini manusia atau hantu." Gumam Bima. Kevin berdiri di depan Bima. Bima sampai mengucek matanya tidak percaya. Dia berlari kedalam dan keluar lagi dengan membawa senter. Lampu senter itu di sorotnya ke Kevin. Dia memastikan kalau yang ada di depan rumahnya adalah bosnya. " Bapak cari siapa?" Ucap Bima pelan. Menik memang ada cerita kalau pria yang di siram air olehnya adalah bos di perusahaan tempat adiknya bekerja. Tapi Bima tidak tau siapa sosok bos yang di siram air itu, Kevin atau presiden direktur. " Saya mencari Menik." Ucap Kevin sambil menutup matanya silau karena sorotan dari senter itu. Bima mematikan senternya. " Saya Bima Pak, adiknya Menik." Ucap Bima ramah sambil mengulurkan tangannya bersalaman. Kevin menerima uluran tangan itu dengan senyum ceria. Menurutnya sandiwara Menik terbongkar malam ini. " Silahkan masuk pak." Ucap Bima mempersilahkan Kevin untuk duduk di kursi pelastik yang ada di rumahnya. Kevin duduk sambil memegang barang-barang Menik. " Maaf Pak rumah kami kecil. Dan kursi kami juga tidak nyaman." Ucap Bima gugup. Dari kamar, Menik mendengar adiknya tengah berbicara dengan seseorang. Dia melihat jam di dinding waktu sudah menunjukkan jam setengah dua belas malam. " Mana mungkin ada tamu malam-malam begini. Apa Bima kesurupan?" Gumam Menik sambil keluar dari kamarnya. Menik telah berganti pakaiannya dengan celana pendek dan kaos yang tidak berlengan. Karena kesehariannya di rumah memang mengenakan pakaian itu. Menik memilih pakaian itu karena di rumahnya tidak ada pendingin ruangan. Jadi menurutnya dengan memakai itu badannya terasa dingin. " Bapak!" Ucap Menik kaget. Bima sedang membuatkan minuman untuk Kevin. " Ngapain Bapak kesini?" Ucap Menik gugup sambil melihat Bima. Ruang tamu dan dapur jadi satu, jadi dia bisa melihat kegiatan adiknya di situ. " Kak, ini bosku." Ucap Bima sambil membawakan minuman untuk Kevin. Menik mengigit bibirnya. Suaranya seperti tercekat. Dia tidak bisa berkata apa-apa lagi. " Siapa nama kamu tadi." Ucap Kevin pura-pura lupa sambil melihat Menik. " Bima Pak, saya sekuriti di perusahaan Raharsya group." Ucap Bima semangat. Menurutnya kapan lagi bisa berakrab ria dengan bos. Menik gugup dia hanya memberikan senyum melasnya kepada Kevin. " Silahkan minum Pak." Ucap Bima pelan sambil duduk di kursi sebelah Kevin. Sedangkan Menik masih berdiri dengan wajah melasnya. Menik melihat kearah Bima, dengan tatapan tajam. Menik memberikan Instruksi berupa gerakan kepala kepada adiknya untuk masuk ke kamar. Bima paham, dia langsung beranjak dari kursinya. " Saya masuk dulu Pak." Ucap Bima pelan sambil meninggalkan Kevin berdua dengan kakaknya. Setelah adiknya pergi, Menik langsung bersimpuh di depan kaki Kevin. " Maafkan saya Pak. Saya tidak bermaksud membohongi Bapak. Ide ini muncul ketika Bapak pura-pura melamar saya." Ucap Menik pelan sambil memegang lutut Kevin. Kevin sebenarnya tidak masalah, dia sudah tau cerita itu dari orang suruhannya. Menurutnya saatnya dia berakting pura-pura marah. " Kamu bukan hanya membohongi saya tapi membohongi tuan muda dan nona Zira." Ucap Kevin cepat. Bima menguping dari dalam kamarnya. Dia tidak tau apa yang menyebabkan pria di depan itu marah sama kakaknya. " Ya Pak, saya akui salah. Saya terpaksa melakukannya." Ucap Menik pelan masih terus memeluk kaki Kevin. Kevin menikmati pelukan dari Menik walaupun hanya kaki. " Saya tidak mau di permainkan dengan pria kaya lagi." Ucap Menik pelan. " Maksud kamu apa?" Kevin penasaran, dia mengorek masa lalu Menik. Menik menceritakan masa lalunya dengan seorang pria. Semua di ceritakannya, dari awal dia bertemu dengan pria itu sampai mereka menjadi pasangan kekasih. Dan sampai hubungan mereka gantung di tengah jalan juga di ceritakannya. " Pria itu adalah Rudi. Yang ada di acara pengajian tadi siang." Ucap Menik pelan sambil tertunduk. Kevin mengangkat dagu Menik dengan tangannya. " Apakah kamu mencintainya?" Ucap Kevin pelan sambil menatap wajah Menik lembut. " Tidak, rasa sayang itu sudah hilang ketika dia menghilang." Intonasi suara Menik langsung kencang ketika ditanya perihal perasaannya terhadap Rudi. " Rudi adalah sepupu dari tuan Muda." Ucap Kevin pelan. " Apa!" Menik terlihat panik. " Kamu kenapa?" Ucap Kevin pelan. " Pak, saya mohon jangan ceritakan masa lalu saya sama tuan muda dan nona Zira." Ucap Menik sambil merapatkan kedua telapak tangannya di hadapan Kevin. " Menurut saya tuan dan nona tidak akan ikut campur dengan masalah kamu, dan saya juga tidak ada hak untuk membuka masa lalu seseorang." Ucap Kevin cepat. " Tapi bagaimana kalau Rudi cerita sama tuan muda dan nona Zira." Ucap Menik ragu. " Kemungkinannya tidak. Tadi di taman pada saat kamu di kamar telah terjadi sesuatu." Ucap Kevin menjelaskan tentang ucapan Zelin yang menyatakan kalau Menik kekasih Kevin. " Sepertinya dia cemburu dengan saya." Ucap Kevin lagi. Menik mengelus dadanya ada rasa lega ketika mendengar penjelasan dari Kevin. " Saya pernah bilang sama kamu. Kalau kamu tidak jadi menikah maka saya akan menggantikan pria itu. Dan ternyata itu hanya sandiwara. Jadi posisi saya aman tidak ada saingan." Ucap Kevin sambil menatap lembut wajah Menik. " Ah Bapak, efek samping obat diare itu di bawa-bawa lagi." Ucap Menik pelan. " Ini milik kamu, kalaupun efek samping obat itu sudah menghilang saya akan tetap melamar kamu." Ucap Kevin sambil mulai beranjak dari kursinya. Menik berdiri dengan pikirannya. " Saya pamit dulu. Besok datang ke jalan. xxxx No. 15." Ucap Kevin cepat sambil berjalan keluar. Menik masih diam terpaku, kemudian Kevin membalikkan badannya dan berjalan mendekati Menik. " Jangan goda saya dengan pakaian seperti itu. Cukup goda saya pada saat malam pertama kita." Ucap Kevin berbisik di telinga Menik. Setelah bisikan itu Kevin pergi. Menik terpaku diam membisu. Hatinya berdebar-debar kencang. Ucapan bosnya seperti bukan isapan jempol belaka. Pikirannya entah kemana-mana. Prok. Bima memukul pundak kakaknya. Menik kaget dan memegang dadanya cepat. " Kakak kenapa?" Ucap Bima penasaran. Menik menutup pintu rumahnya. Kemudian menarik tangan adiknya untuk duduk di kursi. " Duduk." Ucap Menik cepat. " Ada apa. Kenapa kakak terlihat gusar seperti itu?" Ucap Bima cepat. Menik menceritakan pembicaraannya tadi dengan Kevin. Dan dia juga menceritakan Rudi yang datang ke acara pengajian presiden direktur. " Wah bisa-bisanya dia hadir di acara itu." Ucap Bima geram. " Dengar dulu." Ucap Menik cepat. Dia menceritakan tentang ucapan Kevin yang ingin menikahinya. " Apa! Wah kakak hebat, aku sebentar lagi akan jadi kepala sekuriti." Ucap Bima asal. Menik langsung menoyor kepala adiknya. " Kamu itu mencari kesempatan di dalam situasi ini. Kamu tidak memikirkan posisi kakak." Gerutu Menik. " Ok sekarang aku tanya sama kakak. Bagaimana perasaan kakak ketika bos Kevin bicara tentang pernikahan?" Ucap adiknya. " Jantunganlah." Ucap Menik cepat. " Apa kakak merasa nyaman dengan bos Kevin?" Ucap adiknya lagi. Menik menganggukkan kepalanya cepat. " Ya sudah itu tandanya kakak juga ada perasaan sama dia." Ucap Bima cepat. " Kakak belum tau apakah kakak hanya nyaman atau cinta dengan dia." Ucap Menik bimbang. " Itu gampang kak, kalau kakak cemburu melihat bos Kevin dengan wanita lain, itu tandanya kakak cinta sama dia." Ucap adiknya lagi. Menik diam seribu bahasa. Dia pergi ke kamarnya. Di dalam kamar dia tidak bisa memejamkan matanya. Ucapan Bima dan Kevin terngiang di benaknya. Bayang-bayang wajah Kevin selalu menghiasi isi kepalanya. " Like, komen dan vote yang banyak ya terimakasih." Chapter 278 episode 277 (S2) Matahari bersinar cerah memancarkan warna jingganya. Menik masih terlelap, tadi malam dia susah memejamkan matanya. Matahari telah meninggi dan Menik belum juga kunjung bangun. Bima yang berada di luar merasa resah, karena ini bukanlah kebiasaan kakaknya. Dia mengetuk pintu kamar kakaknya secara berulang. Dari dalam kamar Menik membuka perlahan matanya, kemudian melihat jam di dinding. " Hah sudah jam 10." Gumam Menik langsung lompat dari kasurnya. Menik membuka pintu kamarnya. Dan Bima masih berdiri di depan pintu. Menik langsung masuk ke kamar mandi. " Kakak tidak apa-apa?" Ucap Bima dari depan pintu kamar mandi. " Ya, kakak baik-baik saja." Ucap Menik sedikit teriak dari kamar mandi. Bima menunggu kakaknya di kursi pelastik. Kursi tamu sekaligus kursi makan. Hanya itu yang mereka punya. Malah biasanya mereka lebih suka duduk di lantai. Beberapa menit kemudian Menik keluar dengan mengenakan handuk dan penutup kepala. Dia langsung masuk ke kamar untuk mengenakan pakaiannya. Setelah berpakaian dia keluar dan duduk di kursi sebelah Bima " Kamu makan apa?" Ucap Menik sambil merapikan rambutnya. " Nasi uduk, kakak lama banget bangunnya jadi aku beli sarapan di luar. Ini punya kakak." Ucap Bima sambil menunjukkan bungkusan yang ada di atas meja. " Terimakasih adik kakak yang ganteng." Ucap Menik mengelus rambut adiknya. Menik menikmati sarapannya yang kesiangan. Di selingi dengan obrolan. " Kakak mau pergi kemana? Bukannya hari ini libur?" Ucap Bima sambil melihat pakaian kakaknya. Menik menggunakan celana jeans dan atasan kaos. " Kakak mau keluar." Ucap Menik sambil mengunyah makanannya. " Kamu hari ini libur atau masuk sore?" Ucap Menik di selingi dengan mengunyah makanan. " Hari ini aku libur, besok aku masuk pagi." Ucap Bima pelan. Menik sudah selesai makannya. Dia masuk ke dalam untuk bersiap-siap. Di dalam dia mencari tasnya. " Kamu lihat tas kakak tidak?" Ucap Menik pelan dari dalam kamarnya. " Tas ransel ini?" Ucap Bima menunjukkan tas yang tergeletak di lantai. Menik berjalan keluar mengambil tas itu dan mengeluarkan isinya. Di dalamnya ada tas jinjing dan sepatu bola. " Wah kakak punya tas baru." Ledek adiknya. " Sepatu bolaku kenapa ada di tas kakak? Kakak pakai ini ya?" Ucap Bima sambil memegang sepatunya. " Ya, kemaren kakak buru-buru jadi yang ketemu sepatu bola itu." Ucap Menik cepat sambil mengeluarkan isi tas jinjingnya. " Memangnya sepatu ini cukup sama kakak?" Ucap Bima heran. Tinggi badan Bima lebih tinggi dari kakaknya. Jadi ukuran kakinya juga lebih besar. " Enggak cukuplah, tapi di ujungnya kakak sumpel pakai kertas." Ucap Menik menjelaskan. Bima memasukkan tangannya dan mengeluarkan kertas dari ujung sepatunya. Dia melirik tangan kakaknya, yang mana ada ponsel keluaran terbaru di situ. Bima langsung mengambil ponsel itu dari tangan kakaknya. " Wah handphone baru, banyak banget uang kakak." Ucap Bima sambil membolak balik ponsel itu. " Ini ngutang tau." Ucap Menik asal. " Ngutang sama siapa? Kakak tau ini ponsel mahal. Kalau beli ponsel ini bisa dapat dua motor matic tau." Ucap Bima cepat. " Ya kakak tau. Ini dari Pak Kevin." Ucap Menik pelan. " Apa! Pak Kevin? Wah bos itu sudah ada rasa tuh. Ini tas juga dari dia ya?" Ucap Bima penuh selidik sambil memegang tas jinjing yang ada di paha kakaknya. Menik menganggukkan kepalanya cepat. " Wah bos Kevin tau cara memanjakan seorang wanita." Ucap Bima antusias. " Bisa-bisa kalau kakak jadian sama dia. Mobilpun akan di berikannya." Ucap Bima lagi. Menik langsung menoyor kepala adiknya. " Kamu sepertinya senang sekali kalau kakak jadian sama dia." Gerutu Menik. " Tentu aku senang, aku tidak selamanya bisa menjaga kakak. Kalau sudah ada bos itu di sisi kakak aku bisa tenang. Sepertinya dia pria yang baik." Ucap Bima lagi. " Ah sudahlah, kakak mau berangkat dulu." Ucap Menik sambil mengelus rambut adiknya. Menik keluar dengan mengenakan tas ransel dan sepatu kets. Dia keluar dari gang rumahnya. Ketika dia sudah sampai di depan jalan besar, ada sosok yang begitu di kenalnya yaitu Rudi. " Mau apa kamu di sini?" Ucap Menik ketus. " Aku mau berbicara padamu." Ucap Rudi pelan. Menik tidak menghiraukan dia sudah hendak menyebrang jalan, tapi tangannya di tarik Rudi. " Nik izinkan aku bicara denganmu sebentar saja. Aku ingin menjelaskan semuanya." Ucap Rudi memelas. " Aku tidak ada waktu meladeni pria sepertimu." Ucap Menik ketus sambil menepiskan tangan Rudi dari tangannya. " Apa karena Kevin kamu bersikap dingin seperti ini kepadaku?" Ucap Rudi lagi. Menik menatap tajam wajah Rudi. " Aku bersikap dingin sejak kamu pergi." Ucap Menik sedikit teriak. " Aku pergi terpaksa, karena orang tuaku akan mengancam mau membuat kamu susah. Aku tidak ingin melihat kamu susah, makanya pergi mengikuti kemauan mereka." Ucap Rudi pelan. " Dan mengenai pertunangan itu, kamu juga menerimanya kan?" Ucap Menik lagi ketus. " Aku terpaksa Nik, aku akan memutuskan hubungan itu dengannya." Ucap Rudi dengan wajah melasnya. " Walaupun kamu putus dengannya aku tidak akan pernah mau menerimamu kembali." Ucap Menik tegas. " Apa karena Kevin? Makanya kamu begitu cepat melupakanku." Ucap Rudi cepat. " Jangan kamu sangkut pautnya masalah ini dengan dia. Dia lebih baik dari pada kamu." Ucap Menik cepat. Menik spontan mengucapkan kata itu. Dia membela Kevin di hadapan Rudi. " Seberapa besar rasa cintamu kepadanya?" Ucap Rudi lagi. " Lebih besar dari rasa sayangku padamu." Ucap Menik ketus. Rudi diam dengan tatapan nanar jauh ke depan. Menik langsung menyebrang jalan. Dan berdiri di halte. Tidak berapa lama angkutan umum datang. Dia langsung naik ke dalam bis itu dengan cepat untuk menghindari Rudi. Didalam bis, dia hanya merenung dengan percaya tadi. Ingin rasanya dia nangis kembali ketika mengingat masa lalunya dengan Rudi. Tapi dia menepis rasa itu dengan cepat. Di kediamannya, Kevin tengah berolah raga. Kebiasaan setiap hari libur adalah berolahraga. Dia menyempatkan diri untuk melakukan kegiatan itu dijadwalnya yang padat. Kevin sedang menunggu Menik. Dia enggan untuk menghubungi wanita itu. Karena dia tau kalau tadi malam pasti Menik susah tidur. Dia masih berolah raga tanpa mengenakan pakaian karena itu memang kebiasaannya. Kevin pergi ke dapur untuk menyegarkan tenggorokannya dengan meminum minuman dingin. Ada suara bel dari depan. Dengan tangan kanan yang masih memegang minuman Kevin berjalan ke depan. Tangan kirinya membuka pintu. Ada sosok Menik di depan rumahnya. Menik sampai membulatkan matanya melihat pemandangan yang cukup luar biasa. Badan Kevin yang kekar terlihat jelas di depannya. Keringatnya mengucur deras dari pori-pori badannya. " Masuk." Ucap Kevin pelan. Menik masih tetap bengong, menurutnya Kevin sangat seksi hari ini. " Wah perutnya kotak-kotak seperti buku matematika." Gumam Menik pelan. Kevin mendengar kicauan Menik, dia tersenyum sambil melihat perutnya. Kevin menarik tangan Menik untuk masuk ke dalam rumahnya. Pada saat di tarik tangan Menik langsung bertumpu pada dada Kevin yang bidang. Mereka berdua saling pandang. Jantung Menik berdebar kencang, begitupun dengan Kevin, dia tidak bisa mengontrol perasaannya. Dia mendekatkan bibirnya di bibir Menik. Kemudian ciuman itupun terjadi. Ciuman hangat yang di berikan oleh Kevin untuk Menik. Tiba-tiba ada suara gonggongan anjing yang menyadarkan mereka berdua. " Maaf." Ucap Kevin pelan sambil menutup pintu rumahnya yang masih terbuka lebar. Menik langsung salah tingkah, pipinya memerah karena malu. Dua insan itu saling diam, mereka memalingkan wajahnya melihat ke arah lain. " Like, komen dan vote yang banyak ya terimakasih." Chapter 279 episode 278 (S2) Pintu sudah di tutup tapi mereka masih diam membisu. Beberapa menit hening, Kevin langsung memecahkan keheningan itu. " Mari saya antar kamu ke dapur." Ucap Kevin pelan. Kevin melangkahkan kakinya ke dapur di ikuti oleh Menik. Menik memperhatikan setiap sudut rumah Kevin. Mereka berdua telah sampai di dapur. " Apa yang harus saya lakukan terlebih dahulu." Ucap Menik bingung. " Hemmmmm, saya belum makan, maukah kamu membuatkan makanan?" Ucap Kevin cepat. Menik langsung menganggukkan kepalanya. Kemudian Kevin pergi meninggalkan Menik sendirian. Di dapur Menik mencari sesuatu yang bisa di masaknya. Sambil terus memikirkan kejadian tadi. " Kenapa dengan diriku. Bisa-bisanya aku menerima ciuman itu. Dasar bibir." Ucap Menik menepuk bibirnya dengan tangannya. Di lain tempat. Kevin membersihkan dirinya di kamar mandi. Di sana dia juga memikirkan kejadian tadi. " Kenapa aku tidak bisa mengontrol diri." Gumam Kevin. Di dapur hanya ada beras dan telur. Dengan kata lain dia hanya bisa memasak nasi putih dan telur. " Di suruh masak, tapi hanya ada ini." Gerutu Menik. Menik memandang setiap rumah itu. Dan Melihat pigura di dinding rumah Kevin. " Sepertinya ini keluarganya. Dan pasti ini orang tuanya." Gumam Menik pelan. Dari lantai atas ada seseorang yang menuruni anak tangga. Menik melihat sosok tersebut. Dia adalah Kevin, Kevin mengenakan kaos yang tidak terlalu longgar dan tidak terlalu sempit. Sehingga bentuk tubuhnya masih terlihat jelas. Seperti dadanya masih terlihat menyembul layaknya seorang atletis. " Waduh ganteng banget sih." Gumam Menik lagi pelan. Kevin berjalan ke dapur di ikut oleh Menik. Dia langsung menghidangkan makanan untuk Kevin. Di meja makan Kevin melongo karena hanya nasi putih dan telur mata sapi yang di hidangkan Menik. " Nik apa kamu tidak bisa memasak?" Ucap Kevin cepat. Posisi Menik membelakangi Kevin. Dia tidak ingin menatap wajah pria itu. Menik mencari kesibukan dengan mencuci piring. " Bisa." Ucap Menik masih terus membelakangi Kevin. " Kenapa hanya ini yang kamu masak." Ucap Kevin lagi. " Karena hanya itu yang ada di rumah ini." Ucap Menik lagi. Kevin baru ingat, selama ini dia tidak pernah mengisi kulkasnya. Hanya ada telur di kulkas dan itu juga di masakan oleh pembantunya yang terdahulu. " Bagaimana saya mau masak kalau bawang dan cabe saja tidak ada." Ucap Menik cepat masih tetap berlama-lama membelakangi Kevin. Kevin bukan orang pemilih soal makanan. Dia tetap makan masakan itu. " Apa kamu sudah makan?" Ucap Kevin sambil menyuapkan sendok ke mulutnya. " Sudah." Tangan kanan Kevin memegang sendok dan tangan kirinya merekam Menik dari belakang. " Naik apa tadi kamu kesini?" Ucap Kevin lagi. " Kuda." Ucap Menik cepat. Kevin mengernyitkan dahinya, dia tau kalau wanita itu sedang bercanda. Menik menjawab dengan acuh tak acuh. Kevin berencana membuat pertanyaan jebakan. " Apakah ciuman itu enak." Ucap Kevin pelan. Karena suara keran air mengalir deras jadi pertanyaan itu terdengar kurang jelas. Menik hanya mendengar kata enak saja. " Enak." Ucap Menik cepat. Kevin senyum-senyum sendiri. " Apa kamu mencintai saya." Ucap Kevin cepat. " Ya." Menik baru sadar ada kata yang lain dari pertanyaan Kevin. " Eh tidak bukan." Ucap Menik gugup sambil membalikkan badannya. Kevin tersenyum dan memutar Video rekaman itu. Mendengar dirinya sedang di rekam, Menik langsung panik. " Hapus enggak itu." Ucap Menik cepat. " Enggak." Ucap Kevin cepat sambil beranjak dari kursinya. " Hapus." Ucap Menik ingin menggapai ponsel itu. Kevin meletakkan ponselnya lebih tinggi agar tidak di gapai oleh Menik. Dia terus mengikuti kemana langkah Kevin. Mereka berputar-putar di dekat meja. Menik tidak putus asa. Pada saat didekat sofa dia mendorong tubuh Kevin ke sofa panjang, dan Kevin refleks menarik baju Menik. Dengan seperti itu posisi tubuh Menik ada di atas badan Kevin. " Nik, apa kamu mau di cium lagi." Ucap Kevin cepat. Menik kaget dan langsung menutup mulutnya dan berusaha untuk bangun. Tapi badannya di peluk oleh Kevin. " Serahkan tidak ponsel itu." Ucap Menik masih tetap berusaha bangun dari posisinya. " Nik jangan banyak bergerak, apa kamu tidak takut tongkat saktiku berdiri." Goda Kevin. " Aaaaaa." Menik teriak sambil menjambak rambut Kevin dengan kedua tangannya. " Aw kamu, sakit tau." Ucap Kevin sambil melepaskan tangannya dari badan Menik. Posisi Menik sudah tidak telungkup di badan Kevin. Tapi dia sengaja duduk di atas dada pria itu. " Cepat bagi ponsel itu." Ucap Menik sambil menggerakkan tangannya. " Kamu berat juga." Ucap Kevin dengan suara berat. Kevin memberikan ponselnya kepada Menik. Dengan girang dia pergi ke dapur mengotak ngatik benda tipis itu. Dia bisa membuka ponsel itu, tapi dia tidak bisa mencari di mana video itu di simpan. Kevin datang ke dapur sambil tersenyum tipis. " Bisa tidak?" Ucap Kevin cepat. " Enggak." Ucap Menik polos. Setiap yang ada di layar ponsel itu di bukanya. Tapi dia tetap tidak bisa menemukan apapun di sana. " Cepat hapus." Ucap Menik cepat. " Iya saya hapus." Ucap Kevin cepat sambil mengambil ponselnya dari tangan Menik. Kevin terlihat serius dengan benda tipis itu. Dia mengirimkan video itu ke emailnya. Setelah itu dia menghapus video itu di depan Menik. Menik merasa lega karena video rekaman dirinya sudah di hapus. " Kenapa sih harus di hapus. Kamu tau nanti kalau kita menikah pasti akan banyak rekaman kita berdua." Goda Kevin. Menik menginjak kaki Kevin. " Aw sakit." Ucap Kevin pura-pura. " Bapak genit banget sih." Gerutu Menik. " Memangnya kenapa? Kan wajar kalau saya genit dengan calon istri." Goda Kevin lagi. Menik pergi meninggalkan Kevin. Kemudian balik lagi. Karena dia tidak tau harus mengerjakan apa lagi. " Setelah ini saya mengerjakan apa?" Ucap Menik cepat. Menik ingin menyelesaikan pekerjaannya dengan cepat. Agar tidak terjadi hal-hal aneh lagi di rumah itu. " Hemmmmm, cucikan pakaian saya." Ucap Kevin sambil berlalu meninggalkan Menik. Menik mengikuti Kevin. Mereka sampai di bagian belakang. Ada sebuah mesin cuci berwarna putih di sana. " Pakaiannya mana?" Ucap Menik melihat di dekat situ tidak ada keranjang yang berisi pakaian kotor. " Pakaian kotornya ada di lantai atas." Ucap Kevin cepat. " Tepatnya di dalam kamar." Ucap Kevin lagi. Kevin pergi meninggalkan Menik yang masih terpaku di depan mesin cuci. Setelah tidak ada Kevin, dia pergi manaiki anak tangga menuju kamar yang di maksud. Di lantai bawah tidak ada Kevin, jadi menurutnya Kevin ada di lantai atas. Ada tiga pintu di lantai atas. Pintu pertama yang di dekat tangga di ketuknya. Karena tidak ada jawaban, dia memberanikan diri untuk membuka pintu itu. Dia memasukkan sebagiam kepalanya untuk melihat isi ruangan itu. Kamar itu cukup besar, dan di cat berwarna biru laut. " Sepertinya ini kamar Pak bos." Gumam Menik sambil masuk perlahan ke dalam ruangan itu. Dugaan Menik benar. Kamar itu adalah kamar utama. Tapi tidak ada Kevin di sana. Menik membawa sekeranjang pakaian kotor ke lantai bawah. " Dimana si bos." Gumam Menik lagi sambil celingak-celinguk. Tanpa pikir panjang dia langsung menuju bagian belakang tempat mesin cuci itu berada. Di pandanginya mesin cuci itu. Banyak tombol di dekat pintu mesin cuci. " Bagaimana cara menggunakannya, sih bos mana lagi." Gerutu Menik. Karena tidak bisa menggunakan mesin cuci, dia mencuci pakaian bosnya dengan tangan. Kevin tidak mengetahui hal itu, dia sibuk di ruang kerjanya. Sibuk melihat video yang di rekamnya " Like, komen dan vote yang banyak ya terimakasih." Chapter 280 episode 279 (S2) Hampir setengah jam Menik berkutat dengan pakaian kotor itu. Pakaiannya sampai basah karena berulang kali kena air. Kevin keluar dari ruang kerja mencari keberadaan si Menik. " Mungkin dia masih di belakang." Gumam Kevin sambil berjalan ke belakang. Menik sedang membilas pakaian, dengan posisi membungkuk. Pada saat Kevin masuk dia tidak sengaja melihat sebagian dada Menik. Kevin memalingkan wajahnya dan kembali masuk ke dalam dapur. Dia tidak mau mengambil kesempatan untuk menikmati bentuk indah itu. Walaupun itu rezekinya tapi dia berusaha untuk mengontrolnya. Tapi di dapur dia memikirkan Menik yang mencuci pakaiannya dengan tangan. " Kenapa sih dia tidak mencuci dengan mesin." Gerutu Kevin sambil mengambil sesuatu dari dalam kamarnya. Setelah itu dia masuk ke bagian belakang tempat mesin cuci itu berada. Sekarang posisi Menik berubah, dia membungkuk bukan menghadap pintu masuk tapi membelakangi pintu. Jadi bagian celana dalamnya terlihat sampai celahnya juga. Kevin yang masuk dengan kaca mata hitam keluar lagi. " Sial, kenapa ini dengan juniorku." Gumam Kevin. Kevin tidak bisa mengendalikan juniornya, dia sudah berusaha untuk mengendalikannya tapi semakin dia berusaha untuk melupakan semakin sulit. Mau tidak mau dia menuntaskan di kamar mandi. Menik sudah selesai dengan aktivitas mencucinya. Dia menjemur pakaian itu. Setelah itu dia masuk ke dapur, dia berniat membersihkan semua ruangan itu. Walaupun pakaiannya basah dia tetap tidak risih melakukannya. Baju kaos Menik berwarna putih dan dia memakai bra berwarna hitam karena pakaiannya basah, tanpa di sadari bentuk bra dan bayangan dari dalamnya terlihat cukup jelas. " Sebaiknya aku membersihkan bagian atas dulu." Gumam Menik. Menik membersihkan kamar paling pojok kemudian dilanjutkan dengan kamar nomor dua. Dan terakhir dia masuk ke dalam kamar Kevin. Dengan perlahan dia membuka pintu itu. Seperti diawal dia memasukkan sebagian kepalanya untuk memastikan ada pemiliknya apa tidak. Karena tidak ada siapapun dia masuk dengan santai. Langsung membersihkan kamar itu. Pada saat itu Kevin keluar dari kamar mandi dengan mengenakan handuk putih yang hanya menutupi bagian pinggangnya sampai lutut. Menik membulatkan matanya, melihat buku kotak-kotak matematika di perut Kevin. Dengan rambut yang basah, dan air yang menetes dari ujung rambutnya membuat Kevin jadi terlihat seksi. Kevin memandang Menik dengan pakaian basahnya. Tanpa di sadari Menik, bentuk dadanya terlihat karena bajunya basah. " Kamu nyuci apa mandi?" Ucap Kevin cepat sambil memalingkan wajahnya. Menik melihat tubuhnya sendiri dan berjalan ke depan cermin. Dari pantulan cermin itu bentuk bagian atas Menik terlihat jelas. Menik menutupi bagian atasnya dengan kedua tangannya sambil jalan keluar. " Maaf Pak." Ucap Menik sambil keluar dari dalam kamar itu. " Tunggu." Ucap Kevin sambil mengambil sesuatu dari dalam lemarinya. " Ambil ini dan pakailah." Ucap Kevin memberikan kaosnya sambil memalingkan wajahnya dari Menik. Kevin merasa tergoda ketika melihat Menik memakai pakaian basah. Menurutnya cukup seksi. Menik menerima kaos itu dan berlari menuju kamar mandi. Di sana dia mengganti pakaiannya. Karena badan Kevin yang besar jadi kaos itu cukup besar untuk badan Menik. Bagian lehernya cukup lebar sehingga bahunya terlihat lagi. " Pakai ini juga sama." Gerutu Menik. " Kenapa juga aku memilih pakaian setipis saringan santan." Gerutu Menik sambil melihat pakaiannya yang basah. Dia mengambil ikat rambut dari kepalanya dan mengikat kaos itu, dengan seperti itu bagian lehernya tidak turun kebawah. Kevin menunggunya di ruang keluarga. Melihat penampilan Menik dia tersenyum tipis. " Kenapa kamu ikat kaos itu?" Ucap Kevin cepat sambil tersenyum. " Lehernya besar banget, kedua kaki saya aja bisa masuk ke dalamnya." Gerutu Menik. Menik melanjutkan membersihkan ruangan atas. Sedangkan Kevin memilih aplikasi online pakaian wanita. Dia memilih pakaian yang cocok untuk Menik. Dia melakukan pembayaran dengan mbanking. Akhirnya pekerjaan Menik selesai. Dengan penuh perjuangan dia dapat menyelesaikan pekerjaan. " Pak pekerjaan saya sudah selesai." Ucap Menik cepat. " Tapi pakaian Bapak belum kering, jadi saya tidak bisa menyetrika." Ucap Menik cepat. " Dan pakaian ini saya pinjam dulu ya Pak." Ucap Menik cepat. Menik mengambil tasnya yang ada di dapur dan hendak pergi pulang. " Tunggu jangan pulang dulu." Ucap Kevin cepat. Kevin memperhatikan jam dinding. Pesanannya juga belum kunjung datang. " Bapak kenapa?" Ucap Menik cepat. " Sudahlah. Ayo saya antar kamu pulang." Ucap Kevin cepat sambil beranjak dari sofa. Tiba-tiba suara bel berbunyi. " Pak ada tamu." Ucap Menik sedikit teriak. Karena Kevin berada cukup jauh dari ruangan itu. " Buka saja." Ucap Kevin sedikit teriak. Menik membuka pintu itu. Ada seorang pria berdiri dengan memakai jaket. " Permisi saya mau antar pesanan atas nama Bapak Kevin." Ucap Pria itu. " Ya ini rumahnya." Ucap Menik pelan. Pria itu menyerahkan paket yang di bungkus dengan plastik warna hitam. Dia meminta Menik untuk menandatangani sebuah struk. Setelah itu pria tersebut pergi. " Pak ini ada paket." Ucap Menik. Kevin berjalan mendekati Menik. " Bukalah." Ucap Kevin cepat. Menik membuka bungkus plastik warna hitam itu. Dan di dalamnya ada pakaian wanita dengan corak bunga. " Bapak bukan jadi Kavina kan?" Ucap Menik membelalakkan matanya. " Apa maksud kamu?" Ucap Kevin bingung. " Ya kalau Sobri malam jadi sobiha dan bapak kalau malam jadi Kavina." Ucap Menik asal. " Ini untuk kamu tau." Ucap Kevin sambil menarik hidung Menik. " Untuk saya? Saya kan sudah mau pulang untuk apa juga pakai ini." Ucap Menik cepat. " Siapa yang mengizinkan kamu pulang." Ucap Kevin lagi. " Tadi Bapak bilang mau antar saya pulang." Ucap Menik mengingatkan ucapan bosnya yang tadi sebelum ada kurir datang. " Enggak jadi. Cepat ganti baju kamu dengan yang baru itu." Perintah Kevin. Dengan langkah gontai Menik jalan ke kamar mandi. Dan tidak berapa lama dia keluar dengan mengenakan pakaian baru itu. Pakaian itu model terusan sampai lutut dan agak mengembang bagian bawahnya. Kevin sangat senang melihat penampilan Menik seperti itu. Dengan seperti itu dia terlihat lebih feminim. " Kenapa Bapak melihat saya seperti itu. Saya tidak seperti waria kan?" Ucap Menik ragu sambil melihat pakaian yang di kenakannya. " Kamu terlihat cantik dengan pakaian wanita. Kalau kamu pakai pakaian tadi, saya bukan sedang berjalan dengan wanita tetapi seperti berjalan dengan bodyguard." Ejek Kevin. " Ah Bapak." Rengek Menik. Kevin tersenyum dan memeluk bahu Menik. Mereka jalan keluar bersama. Kevin memencet remote garasinya. Di dalam sana ada empat mobil mewah berjejer. Dan empat motor gede. " Wah mobil dan motornya keren banget." Ucap Menik sambil menyentuh kendaraan tersebut. " Apa kamu suka? Kalau kamu suka ambil saja." Ucap Kevin cepat. Menik teringat sesuatu tentang ucapan adiknya yang mengatakan kalau Kevin pasti akan memberikan mobil untuknya. Dan semua terbukti hari ini. Kalau Kevin benar-benar menyukainya. " Ah tidak saya hanya bercanda." Ucap Menik gugup. Kevin memilih mobil sport untuk menemani hari mereka. Kevin melajukan mobilnya ke pusat kota. " Pak, kita mau kemana? Ini bukan jalan ke arah rumah saya." Ucap Menik pelan. " Saya mau makan siang dan setelah itu kita akan nonton di bioskop." Ucap Kevin cepat. Kevin sengaja membawa Menik ke bioskop, dia mau memanfaatkan situasi itu dengan memilih film horor. " Like, komen dan vote yang banyak ya terimakasih." Chapter 281 episode 280 (S2) Mereka telah sampai di sebuah restoran. Dia memarkirkan mobilnya. Kemudian turun dan membantu Menik, tidak lupa dia menggandeng tangan wanita itu. " Pak, saya bisa jalan sendiri." Ucap Menik menghindari Kevin. " Sudahlah, kalau kita tidak bergandengan tangan, orang-orang pikir kita sedang bertengkar." Ucap Kevin sambil menggandeng tangan Menik. " Ye Bapak, kenapa lagi harus memikirkan omongan orang. Kita kan memang tidak ada hubungan." Gerutu Menik. " Bukan tidak ada hubungan tapi akan ada hubungan." Ucap Kevin memperbaiki kalimat Menik sambil tersenyum menyeringai. Setelah di garasi mobil tadi. Menik bisa mengambil kesimpulan kalau Kevin memang menyukainya. Tapi dia berusaha untuk menghindar. Menghindar karena dia belum paham dengan perasaannya. Pelayan menyapa mereka. Dan memberikan meja khusus dengan dua kursi saling berhadapan. Pelayan tersebut meletakkan buku menu di samping kiri mereka. Pelayan masih menunggu di samping meja. " Kamu mau makan apa?" Ucap Kevin menawarkan Menik. " Ayam penyet." Ucap Menik cepat tanpa melihat buku menu. Pelayan yang berdiri di samping meja. Tertawa sampai terdengar gelak tawanya. Kevin melihat pelayan wanita itu. " Nanti saya panggil lagi." Ucapnya. Pelayan wanita itu pergi meninggalkan meja sambil tersenyum terus tersenyum. " Nik, di sini enggak ada ayam penyet." Ucap Kevin pelan. " Kok enggak ada sih. Restoran kok enggak ada ayam penyet." Gerutu Menik cepat. Semua pengunjung restoran melirik kearah mereka. " Sstt Nik jangan berisik. Mereka merasa terganggu dengan celotehan kamu." Ucap Kevin lagi. Menik melihat sekelilingnya. Semua pengunjung serius menikmati makanannya. Hanya terdengar suara garpu dan sendok. " Pa, kenapa mereka makan dengan wajah yang serius." Tanya Menik pelan. " Hemmmmm mungkin biar makanannya terasa nikmat." Ucap Kevin asal. Di restoran itu kebanyakan yang datang orang bule, ada sebagian orang lokal tapi lebih dominan orang asing. " Kamu mau makan apa." Tanya Kevin lagi. " Saya tidak makan Pak." Ucap Menik cepat. " Kenapa?" " Karena tidak ada ayam penyet." Ucap Menik lagi. " Restoran ini hanya menyajikan makanan western, jadi makanan lokal tidak ada." Ucap Kevin menjelaskan. " Owh website." Ucap Menik pelan. " Bukan website tapi western." Kevin mencoba mengulang kata western dengan lambat. " Wes wes bablas angine." Ucap Menik cepat. " Bukan itu." Ucap Kevin lagi. " Ah sudahlah Pak, saya tidak bisa menyebutkannya. Lidah saya kebanyakan makan terasi jadi hal-hal berbau itu tidak bisa." Ucap Menik lagi. " Baiklah." Kevin mencari menu yang cocok untuk pengganti ayam penyet. Dia memanggil pelayan restoran. Pelayan yang tertawa tadi datang. " Bawakan steak ayam panggang dua." Ucap Kevin cepat. Setelah mencatat menu yang di pesan, pelayan pergi meninggalkan meja. Dan kembali ke dapur untuk menyerahkan menu yang di pesan kepada chef. " Pak, stik itu bukannya untuk bermain golf." Ucap Menik polos. " Buahahhaha." Kevin tertawa. Semua pengunjung restoran melihat kearah dia. Kevin langsung menutup mulutnya, walaupun masih terdengar gelak tawanya tapi dia berusaha untuk mengontrolnya. " Bukan, ini bukan stik golf. Ini makanan dari daging ayam yang di panggang. Cuma bedanya dari bumbu, sebutannya hampir sama tapi bukan itu maksudnya." Ucap Kevin menjelaskan. Setelah beberapa menit. Pelayan datang dengan membawa menu pesanan mereka. Dan meletakkan di atas meja. " Silahkan di nikmati." Ucap Pelayan ramah kemudian meninggalkan meja. " Wah sepertinya enak." Gumam Menik. " Ya sudah makan." Ucap Kevin pelan. Kevin mengambil sendok garpu dan pisau. Pisau di letakkannya di tangan kanan dan garpu di tangan kiri. Dia sudah menikmati makanannya. Tapi Menik belum menikmati makanannya. " Kamu kenapa belum makan?" Ucap Kevin sambil menikmati makanannya. " Saya tunggu nasinya Pak." Ucap Menik cepat. Mendengar ucapan itu, Kevin langsung tersedak. Menik langsung memberikan air putih untuknya. Setelah cukup lega dia mulai bicara. " Di sini tidak ada nasi. Nasi di ganti dengan kentang ini. Karena kentang juga mengandung karbohidrat." Ucap Kevin menjelaskan sambil menunjuk potongan kentang yang ada di piringnya. " Wah enggak kenyang dong Pak." Ucap Menik lagi. " Kalo kamu tidak kenyang kita bisa memesan dua porsi lagi untuk kamu." Ucap Kevin menawarkan. " Enggak usah Pak, saya makan ini dulu. Nanti sekiranya saya masih lapar, pesan lagi." Ucap Menik cepat. Dia mengikuti cara makan Kevin. Dengan meletakkan garpu di tangan kiri dan pisau di tangan kanan. Agak sulit untuknya memotong daging ayam itu. Sampai-sampai pisaunya jatuh. Menik beruntung karena lantai di restoran itu di lapisi karpet. Jadi tidak terdengar suara benda jatuh. Menik mau mengambil pisaunya sambil celingak-celinguk ke sekelilingnya. Hanya beberapa pelayan yang tersenyum melihat kejadian lucu itu. " Jangan di ambil." Ucap Kevin sambil melambaikan tangannya ke arah pelayan. Pelayan datang dengan segera. " Bawakan pisau baru." Ucap Kevin pelan. Setelah itu pelayan pergi dengan membawa pisau yang jatuh dan kembali lagi dengan pisau yang bersih. Kevin mengambil piring Menik, dan membantu memotong steak ayam. " Makanlah." Ucap Kevin sambil menyerahkan kembali piring Menik. Menik makan dengan lahapnya, tidak berapa lama piringnya sudah licin. " Apa kamu masih lapar?" Ucap Kevin. " Saya sudah kenyang Pak." Ucap Menik sambil memegang perutnya yang kekenyangan. Kevin kembali melambaikan tangannya. Dia meminta pelayan untuk membawa billnya. Pelayan menyerahkan bill holder kepada Kevin, yang mana di dalamnya tertera tagihannya. Kevin mengambil dompetnya. Menik menarik bill holder itu dan melihat nominal yang tertera di dalamnya. Dia langsung membulatkan matanya tidak percaya. Kevin menyerahkan kartunya kepada pelayan. " Pak mahal banget makan di sini." Ucap Menik berbisik. Pelayan menyerahkan kembali kartu Kevin. Setelah selesai dengan urusan itu. Mereka pergi meninggalkan restoran. Di dalam mobil Menik masih bertanya mengenai mahalnya makanan tadi. " Pak kenapa mahal sekali? Dua juta itu kalau di belikan ayam bisa dapat ratusan." Gerutu Menik. " Mungkin saya bisa kasih makan satu gang tempat tinggal saya." Gerutu Menik lagi. " Dua juta dapat ayam ratusan? Memangnya ada seperti itu." Ucap Kevin bingung. " Ada anak ayam." Ucap Menik cepat. Mobil berhenti di depan mall. Kevin langsung memarkirkan mobilnya di basemen. " Pak katanya mau nonton?" Ucap Menik lagi. " Ya bioskopnya ada di lantai atas." Ucap Kevin sambil keluar dari mobil di ikuti oleh Menik. Keadaan mall cukup ramai. Banyak pengunjung menghabiskan waktu weekendnya di sana. Sebelum ke lantai atas. Kevin berhenti pada satu toko tas dan dompet. " Pak kenapa belanja lagi. Bukannya kita mau nonton." Ucap Menik mengingatkan. Dia menarik tangan Menik untuk masuk ke dalam toko. " Pilihlah dompet yang kamu suka." Ucap Kevin berbisik. " Pak dompet saya masih bagus." Ucap Menik menolak. " Dompet seperti itu kamu bilang bagus. Dompet itu tidak layak di katakan dompet." Ucap Kevin tegas. " Cepat pilih, kalau tidak nanti kita terlambat nonton." Ucap Kevin lagi. Dengan terpaksa Menik memilih dompet yang paling murah harganya. Dia menjatuhkan pada satu dompet kecil. " Pak yang ini." Ucap Menik sambil menunjuk sebuah dompet kulit kecil. Kevin memicingkan matanya. Dia tidak percaya dengan pilihan Menik. " Kenapa kamu memilih dompet itu. Kamu tau tidak dompet itu biasanya di gunakan untuk apa?" Ucap Kevin bertanya lagi sama Menik. Menik menggelengkan kepalanya. " Ini bukan dompet, tapi ini gantungan kunci yang berbentuk dompet dan biasanya di pakai untuk gantungan kunci mobil." Ucap Kevin menjelaskan. Menik hanya diam, karena waktu terbatas. Kevin langsung mengambil dompet kulit berwarna coklat secara asal. Dan dompet itu bermerek Cikgu. " Like, komen, dan vote yang banyak ya terimakasih." Chapter 282 episode 281 (S2) Kevin membawa dompet merek cikgu itu ke meja kasir. " Tiga juta Pak?" Ucap penjaga toko. Menik membelalakkan matanya tidak percaya, menurutnya harga untuk sebuah dompet sangat mahal. Setelah melakukan pembayaran Kevin menarik tangan Menik. Mereka berjalan cukup tergesa-gesa. " Pak pelan-pelan, saya capek." Ucap Menik dengan nafas yang ngos-ngosan. Kevin berhenti dan melihat Menik. Kemudian mengangkat tubuh Menik dengan gampangnya sambil meletakkan di bahunya. " Pak turunkan." Ucap Menik dengan suara yang beda. " Biar cepat." Ucap Kevin sambil terus berjalan. Semua orang melihat mereka. Banyak yang merekam kejadian langka itu. " Air panas air panas." Ucap Kevin sedikit berteriak agar semua orang memberikan jalan untuknya. " Pak saya bukan air panas." Gerutu Menik. Akhirnya mereka sampai tepat waktu. Tinggal 10 menit lagi film akan di tayangkan. Kevin menurunkan tubuh Menik di hadapan semua orang. Menik membaca judul-judul film yang akan tayang siang itu. Untuk film animasi judul yang di baca Menik adalah cenderamata. Dia membaca ringkasan cerita itu. " Mengkisahkan tentang seorang wanita yang mempunyai dua saudari tiri dan ibu tiri. Setelah Bapaknya meninggal yang menguasai adalah ibu tirinya. Pada saat kerajaan mengadakan pesta, cenderamata tidak diizinkan ikut oleh saudari tiri dan ibu tirinya. Akhirnya datang seorang peri yang mengubahnya menjadi putri semalam dan hanya bertahan sampai waktu jam 12 malam. Pak bukannya judulnya Cinderella kenapa ini cenderamata?" Ucap Menik bingung. Kevin tidak menjawab dia membaca ringkasan cerita film yang lainnya. Ada beberapa film yang di tayangkan pada hari itu. Untuk film bergenre romantis judulnya Rumput liarku. Untuk film animasi cenderamata, untuk film horor beranak dalam peti. Dan untuk film actionnya berjudul mission important. " Pak film mission impoten aja." Ucap Menik pelan. " Apa!" Ucap Kevin mencoba mendekati telinga ke Menik. " Film mission impoten." Ucap Menik lagi. " Buahahhaha." Kevin tertawa mendengar Menik salah mengucapkan kata itu. " Jangan ketawa kenapa? Kalau salah di benerin bukan di tertawai." Gerutu Menik. " Baiklah bukan impoten tapi important." Ucap Kevin cepat. Pengucapan kata impoten sama important hampir mirip. " Nah loh, Bapak aja salah menyebutnya." Ucap Menik lagi. " Beda, di akhirnya." Ucap Kevin mengulangi kata itu lagi. " Ah menurut saya sama aja. Kita nonton film impoten itu aja ya?" Ucap Menik cepat. Kevin langsung menutup mulut Menik dengan tangannya. " Jangan kencang-kencang bilang impotennya nanti mereka pikir saya impoten benaran." Ucap Kevin pelan sambil melihat sekeliling mereka. Menik membuka tangan Kevin dari mulutnya. " Yang ini ya." Ucap Menik lagi. " Yang itu saya sudah nonton. Bagaimana kalau kita nonton film beranak dalam peti." Ucap Kevin cepat. " Peti apa ni? Peti mati atau peti kemas." Tanya Menik. " Mana saya tau, makanya kita nonton biar tau ceritanya." Ucap Kevin pelan. " Ok siapa takut." Ucap Menik semangat. Mereka setuju untuk nonton film horor. Setelah memberi karcis dan membeli makanan ringan beserta minuman. Mereka ikut ngantri dengan yang lainnya. Petugas menunggu di pintu masuk. Satu persatu masuk sambil menunjukkan tiketnya. Dan tidak lupa petugas memeriksa barang bawaan penonton. Mereka sampai di studio tempat pemutaran film horor itu. Untuk penggemar film horor itu tidak terlalu banyak. Jadi Kevin dapat memilih tempat duduk paling belakang. Sebelum film di putar, banyak Iklan wara wiri di layar bioskop. Menik heran barisan mereka duduk tidak ada siapapun kecuali mereka berdua. " Pak kenapa tidak ada yang duduk di barisan kita. Mereka pada duduk di kursi paling depan. Padahal kan tidak enak kalau duduk paling depan." Ucap Menik bingung. " Ya mungkin mereka lebih suka di sana dan yang kedua karena satu baris ini sudah saya beli tiketnya." Ucap Kevin cepat sambil menikmati popcornnya. " Boros banget sih Bapak. Buang-buang uang aja. Belum lagi tadi beli dompet harganya 3 juta. Kan sayang Pak. Di pasar 3 juta bisa dapat 30 biji." Gerutu Menik. " Biji? Buah kali." Ucap Kevin tertawa kecil. " Saya tidak suka di ganggu. Makanya beli satu baris ini." Ucap Kevin menjelaskan. " Kalau enggak mau di ganggu buat aja bioskop sendiri." Gerutu Menik lagi. " Nanti kalau kamu ngidam minta buat bioskop akan saya wujudkan." Ucap Kevin cepat sambil melihat ke layar bioskop. Menik hanya diam. Beberapa hari ini dia selalu mendengar Kevin ingin menikahinya tapi hari ini dia mendengar kalau Kevin berharap lebih dari pernikahan yaitu anak. Film di putar sudah selama 30 menit. Setengah jam pertama penonton pada teriak histeris. Kevin melirik Menik. Wanita di sebelahnya tidak ada ekspresi takut sama sekali. Dia malah habis menikmati popcornnya. Penonton yang datangnya berpasangan merasa beruntung karena kekasihnya teriak takut dan mereka mengambil kesempatan untuk memeluk. Tidak dengan Kevin, dia hanya bingung dengan ekspresi Menik. Malah yang takut dia, kadang spontan dia memegang lengan Menik. Begitu lengannya di pegang Kevin, Menik hanya mengelus rambut Kevin layaknya seorang anak kecil. Dan tidak lupa dia menyuapi popcorn. Film berkahir, semua penonton keluar dengan masih membayangkan kejadian mengerikan dari film itu. Mereka berdua ikut keluar dari situ. " Bagaimana filmnya? Apakah seram?" Ucap Kevin cepat sambil melihat wajah Menik yang datar. " Enggak, film itu tidak menakutkan sama sekali." Ucap Menik cepat. Mereka keluar sambil menuruni eskalator. " Bukannya wanita takut dengan film horor." Ucap Kevin lagi sambil melihat sekilas ke arah Menik. " Mungkin, tapi saya tidak takut." Ucap Menik cepat. " Hemmmmm, kamu memang wanita setengah genre dan sepupu kapten Amerika." Ucap Kevin pelan. " Bos Ziko bilang saya sepupu kapten Amerika dan Bapak juga. Sebenarnya julukan itu dari siapa sih." Ucap Menik cepat. Mereka sudah keluar dari mall dan sampai di parkiran. " Julukan itu di berikan nona Zira." Ucap Kevin sambil menyalakan remote mobilnya. Dia membukakan pintu mobil untuk Menik. Kemudian dia memutari mobil dan duduk di belakang kemudi sambil menyalakan mesin mobilnya. " Kenapa saya di beri julukan itu?" Ucap Menik bingung. " Ya mungkin nona beranggapan kamu seperti dirinya." Ucap Kevin sudah melajukan mesin mobilnya. " Maksudnya?" Ucap Menik bingung. " Kamu wanita pemberani seperti dirinya. Tapi saya tidak tau apakah kamu bisa berkelahi?" Ucap Kevin lagi. " Tentu saya bisa. Bapak mau jurus apa? Jurus menjambak atau jurus menabok." Ucap Menik semangat. Kevin memicingkan matanya. " Bukan jurus seperti itu. Maksud saya ilmu bela diri. Apa kamu menguasainya?" Ucap Kevin lagi sambil sekilas melihat Menik. " Enggak, saya tidak bisa ilmu bela diri. Ilmu pengetahuan alam saya bisa." Ucap Menik lagi. " Hemmmmm, mungkin itu yang membedakan kamu dengan nona Zira. Kalian wanita pemberani cuma beda di ilmu beladiri." Ucap Kevin cepat. " Jelas saya berbeda dengannya. Dia wanita yang cantik. Pintar dan kaya, saya jadi iri dengan kehidupannya." Ucap Menik sambil membayangkan Zira. Kevin diam. Nik, kamu hanya melihat hari ini. Kalau kamu tau gimana jalan hidupnya nona Zira. Pasti kamu akan menangis mendengarnya. Karena sudah sore, Kevin langsung mengantarkan Menik ke rumahnya. " Terimakasih Pak." Ucap Menik sambil turun dari mobil. Kevin menganggukkan kepalanya. Ketika Menik menutup pintu mobil. " Nik." Ucap Kevin cepat. " Ya." Menik kembali membungkuk dan melihat ke dalam mobil. " Mimpikan saya ya." Ucap Kevin pelan. Menik diam. Entah kenapa wajahnya langsung memerah seperti tomat. Dia membayangkan kejadian tadi di rumah Kevin. Yang mana dia di sambut dengan ciuman oleh pemilik rumah. " Like, komen dan vote yang banyak ya terimakasih." Chapter 283 episode 282 (S2) Pagi adalah waktu yang istimewa bagi manusia. Karena pada saat itu segala aktivitas akan di mulai. Manusia akan melaksanakan apa yang telah di rencanakan, dan mewujudkan sesuai yang di harapkan. Seperti pasangan suami istri yang sedang memadu kasih di tempat tidur. Setiap pagi Zira selalu memberikan kecupan selamat pagi untuk suaminya dan di sambut dengan kata-kata romantis dari suaminya. " Aku mencintai dirimu bukan karena kamu mengandung anakku, tapi karena bersama denganmu menjadikan aku lebih baik." Ucap Ziko sambil mengecup bibir Istrinya. Zira merasa terharu ketika suaminya mengucapkan kata-kata romantis untuk dirinya. Hatinya serasa berbunga-bunga ketika mendengar itu. Setelah mendengarkan kata-kata romantis dari suaminya, Zira beranjak dari kasur. " Sayang kamu mau kemana?" Ucap Ziko menahan istrinya untuk tetap bersamanya di kasur. " Sayang aku harus bersiap-siap. Ini hari senin, akan banyak kegiatan di butik." Ucap Zira pelan. " Sayang, perut kamu sudah semakin membesar, apa tidak sebaiknya kamu di rumah saja. Kerjakan pekerjaan kamu dari sini." Ucap Ziko menasehati istrinya. Ziko merasa khawatir dengan keadaan Zira. Perutnya yang sudah mulai membesar membuat Zira susah untuk berjalan. " Sayang aku hanya sebentar. Makan siang aku akan balik ke rumah." Ucap Zira pelan sambil mengecup dahi suaminya. Zira meninggalkan suaminya ke kamar mandi. Tidak berapa lama ada suara ketukan dari luar pintu kamar mandi. Zira membuka pintu tersebut. Ziko langsung nyelonong masuk ke dalam. " Kamu mau ngapain?" Ucap Zira cepat. " Kita main mandi-mandian." Ucap Ziko sambil tersenyum menggoda. Hampir setengah jam mereka di kamar mandi. Mereka melakukan jurus menyikat wc. Setelah selesai dengan itu, mereka keluar bersama-sama. Zira menyiapkan pakaian suaminya. Mereka turun bersama-sama menuju ruang makan. Di ruang makan telah ada keluarga Raharsya. Mereka sudah menikmati sarapannya. Karena mereka tau, kalau pasangan suami istri itu tidak pernah tepat waktu. " Pagi mama, papa." Ucap mereka berdua menyapa Nyonya Amel dan tuan besar. " Pagi sayang." Ucap Nyonya Amel. Tuan besar hanya menjawab dengan anggukan kepala. Mereka duduk di tempat biasa. " Zira apa sebaiknya kamu tidak pergi ke butik." Ucap Nyonya Amel. " Iya ma, tadi aku juga bilang hal yang sama." Ucap Ziko seperti mengadu kepada mamanya. " Saya sampai siang aja kok ma. Nanti makan siang di rumah. Banyak pekerjaan di butik." Ucap Zira pelan. Mereka menikmati sarapannya. Setelah itu mereka keluar saling bergandengan tangan. Kevin menunggu di beranda depan. Setelah bayangan majikannya ada, dia langsung bergegas membukakan pintu mobil untuk keduanya. Mobil sudah meluncur meninggalkan mansion. Suasana hening hanya suara mesin mobil yang terdengar. Zira membuka ponselnya. Di salah satu grupnya ada sebuah video. Grup itu beranggotakan para pekerjanya. Zira membuka video itu. Di dalam aplikasi uuutube itu terlihat jelas seseorang sedang menggendong wanita seperti membawa sekarung beras. Si pria adalah Kevin dan si wanita Menik. Zira membelalakkan matanya melihat itu semua. Dia menunjukkannya kepada Ziko. Ziko yang melihat langsung menepuk pundak asistennya. " Apa kamu sudah jadian sama Menik?" Ucap Ziko langsung. Kevin kaget mendengar pertanyaan dari bosnya. Dia tidak menjawab. " Salah pertanyaannya. Kapan kamu jadian sama Menik." Ucap Zira cepat sambil menepuk bahu Kevin. " Hemmmmm saya belum jadian sama Menik." Ucap Kevin gugup. " Bohong." Ucap mereka bersamaan. Kevin melihat sekilas kebelakang. Dia sampai kaget mendengar ucapan bosnya yang kompak. " Cepat jawab." Ucap Zira cepat. " Saya belum jadian sama Menik, nona." Ucap Kevin gugup. " Seperti ini belum jadian." Ucap Zira sambil menunjukkan video yang beredar. Kevin mengambil ponsel Zira. Dan melihatnya. " Kamu fokus saja menyetir biar kami yang membacakan komentar di situ." Ucap Zira sambil menjulurkan tangannya untuk meminta ponselnya. Kevin mengembalikan ponsel Zira. " Kapan mereka mengambil video itu." Gumam Kevin. " Video ini di upload kemaren sore. Berarti kemaren sore kamu jalan sama dia ya?" Ucap Zira lagi. Kevin menganggukkan kepalanya. " Sip mantap." Ucap Ziko semangat sambil memberikan jempolnya kearah Kevin. Zira melihat suaminya yang semangatnya luar biasa. Kemudian dia fokus membaca komen di uuutube itu. " Seorang pria telah menculik satu karung beras hidup." Ucap Zira membacakan komentar seseorang. " Buahahhaha." Zira dan Ziko tertawa bersamaan. " Yang ini lebih lucu lagi." Ucap Zira cepat. " Inilah pria yang terlalu maniak olah raga. Di manapun bisa di lakukan yang penting ada adik seorang." Ucap Zira membacakan komentar itu. Lagi-lagi mereka tertawa. Kevin merasa malu pertama kalinya dia pergi dengan seorang wanita. Dan pertama kalinya juga dia ketahuan sama bosnya. " Vin jelaskan." Ucap Ziko cepat. Dengan perasaan malu Kevin menjelaskan, dari pulang acara pengajian, sampai malamnya dia kembali lagi ke rumah Menik juga di ceritakannya. Tentang bima juga di ceritakannya. " Apa! Jadi Menik tinggal berdua dengan kekasihnya." Sekarang Ziko yang kaget. " Sstt dengar dulu, Kevin belum selesai menceritakannya." Ucap Zira pelan. Kemudian Kevin menceritakan siapa Bima. Dan menceritakan alasan Menik membohongi mereka semua. Dan tidak lupa dia menceritakan kekasih lama Menik. " Jadi itu alasan dia, kenapa dia berbohong. Masuk akal." Gumam Zira pelan. " Apa kamu tau siapa mantannya." Ucap Zira lagi. " Mantannya Rudi, sepupu anda Tuan." Ucap Kevin cepat. Kali ini mereka berdua kaget. " Jadi kemaren Menik bukan sakit kepala, tapi sakit perasaan karena ketemu dengan mantannya. Dasar pria sama saja." Gerutu Zira. " Sayang apa aku termasuk pria kurang ajar." Ucap Ziko sambil melihat istrinya lembut. " Dulu iya, sekarang tidak." Ucap Zira cepat. Kevin sebenarnya tidak ingin membuka masa lalu Menik, tapi setelah di pikirnya dengan matang lebih baik dia mengatakannya. Karena lambat laun pasti akan terbongkar. Dan yang akan di salahkan atas masalah ini adalah dirinya. Karena dianggap sekongkol membohongi majikannya. " Tuan dan nona tidak marah karena di bohongi Menik." Ucap Kevin sambil serius mengemudikan mobil. " Untuk apa kami marah. Yang melamarkan kamu." Timpal Ziko dan Zira ikut mengangguk setuju. " Terus bagaimana ceritanya kamu bisa pergi ke mall." Ucap Zira penasaran. Kevin bercerita lagi dengan malu-malu. Dia menceritakan kalau Menik membantunya membersihkan rumahnya pada weekend. " Wah kamu selangkah lebih maju dari aku. Kenapa aku tidak memikirkan hal seperti itu." Ucap Ziko pelan membayangkan masa lalunya dengan Zira. " Maksud kamu apa? Mempekerjakan aku sebagai pembantu kamu, sebelum menikah gitu?" Gerutu Zira sambil melihat suaminya sinis. " Enggak sayang, tidak mungkin aku menyuruhmu membersihkan mansion. Kalau kamu membersihkan mansion pasti jari tangan kamu sudah jempol semua." Goda Ziko sambil memeluk istrinya. Kemudian keadaan di mobil kembali hening. Kevin merasa lega ketika tidak ada pertanyaan lagi dari bosnya. " Selanjutnya apa yang terjadi di rumah kamu? Apa kamu sudah menciumnya?" Ucap Ziko langsung. Kevin diam tidak menjawab. Dia hanya menganggukkan kepalanya. " Apa!" Zira yang kaget. " Wah ilmuku turun ke kamu. Benar-benar kamu praktekan. Bagus muridku." Ucap Ziko sambil menonjok pelan lengan Kevin. " Bos sama anak buah sama saja. Sama-sama nafsuan." Ucap Zira sambil memijat dahinya. " Sayang, manusia pasti ada nafsu, hewan aja ada. Yang enggak punya nafsu hanya orang gila." Ucap Ziko cepat. " Jadi kalau perempuan yang kurang bernafsu di anggap gila gitu." Ucap Zira emosi. " Bukan seperti itu." Ziko bingung, sekarang dirinya yang kena marah sama istrinya. Karena kondisi Zira yang sedang hamil jadi emosinya gampang naik turun. Dan syukurnya Ziko sudah paham. Karena sebelumnya dia sering bertanya sama temannya Dokter Diki. Ziko berusaha merayu istrinya yang ngambek. Dan Kevin merasa beruntung dalam hal ini. Karena dia terhindar dari olokan lebih lanjut dari keduanya. Dia menikmati saja aksi pertengkaran dua insan di belakangnya. Dirinya menganggap pertengkaran itu seperti radio rusak dengan arti tidak boleh di ganggu dan akan berhenti dengan sendirinya. " Like, komen dan vote yang banyak ya terimakasih." Chapter 284 episode 283 (S2) Radio rusak di belakang Kevin sudah berhenti. Akhirnya Ziko dapat merayu istrinya. Dengan kata-kata romantis dari suaminya dan kecupan hangat membuat Zira cepat luluh. Keadaan kembali hening. Keadaan lalu lintas cukup padat. Karena Senin adalah hari yang sibuk, seperti itulah orang-orang sering mengatakannya. Zira bersandar pada bahu suaminya. Ziko teringat sesuatu, yang ingin di tanyakan dari tadi. Tapi karena istrinya ngambek, dia melupakan itu. Sekarang dia mengingat kembali. " Vin, kamu tau kan kalau aku memberikan julukan untuk istriku mulut micin." Ucap Ziko sambil mengelus pipi istrinya. " Ya tuan." " Untuk Menik kamu beri julukan apa?" Ucap Ziko sambil tertawa lucu. " Sstt, kamu itu jangan samakan dia dengan kamu." Ucap Zira menepuk tangan suaminya. " Sayang, dia muridku pasti dia akan ketagihan seperti aku ketagihan bibirmu." Goda Ziko sambil mengecup kembali bibir istrinya. Kevin melihat dari balik kaca mobil. Melihat itu otomatis batuk musimannya kambuh. " Uhuk uhuk." Ziko langsung menghentikan aksinya. " Kamu kan sudah mendapatkannya dari Menik. Kenapa batuk musiman kamu masih kambuh. Apa kamu kena virusnya?" Ucap Ziko asal. " Maaf tuan, saya bukan kena virus tapi kalau anda melakukan itu sama nona di hadapan saya. Nanti saya bisa ngences. Secara saya belum resmi dengan Menik." Jawab Kevin. " Benar sayang, kamu jangan menciumku." Ucap Zira menasehati suaminya. " Memangnya kenapa, toh Kevin juga sudah tau dan sering lihat." Ucap Ziko tidak mau mengalah. " Bukan itu masalahnya. Kamu sebagai guru seharusnya mencontohkan yang baik. Bukan sembarangan cium." Ucap Zira menjelaskan. " Aku tidak sembarangan cium, kamu kan sudah resmi jadi istriku." Ucap Ziko lagi. " Halah belum jadi istri aja, kamu sudah berkali-kali menciumku. Apa seperti itu yang mau kamu ajarkan sama Kevin." Ucap Zira cepat. Ziko diam , dia memikirkan sesuatu. " Hemmmmm, baiklah Vin untuk hal ini jangan kamu ikuti, tapi kalau kamu tersedak. Eh salah terdesak maka lakukanlah." Ucap Ziko cepat. " Itu sama saja." Ucap Zira lagi. " Baik tuan, saya jika tersedak akan minum air dan jika terdesak saya akan mencium dinding." Ucap Kevin santai. Mobil masih tetap melaju. Kemacetan bukan hanya karena padatnya kendaraan tapi lampu lalu lintas juga membuat kemacetan panjang. " Vin jawab yang tadi." Ucap Ziko lagi. " Yang mana tuan?" Ucap Kevin bingung. " Itu masalah mulut." Ucap Ziko cepat. Zira langsung melirik suaminya. Menurutnya suaminya keponya luar binasa. " Apa mulutnya ada rasa micinnya atau malah lebih parah." Ucap Ziko lagi penasaran. Zira mencubit lengan suaminya. " Aw sakit sayang. Cuma ini aja kok pertanyaannya." Ucap Ziko sambil meringis. " Saya malu tuan." Ucap Kevin pelan. " Malu? Memangnya kamu punya urat malu?" Ucap Ziko cepat. " Wajar dia malu, bukan seperti kamu, malu-maluin." Gerutu Zira. " Jangan bela si Kevin, ini alasan dia aja. Menurutku, kamu hanya pura-pura malu di depan kami. Buktinya di depan umum kamu berani mengangkat Menik seperti karung beras." Ucap Ziko cepat. Kevin tersenyum tipis. Dia memang tidak malu jika berhadapan dengan masyarakat umum. Tapi dengan pasangan suami istri itu, dia malu. Mungkin karena Zira dan Ziko suka menggodanya, makanya sifat pemalunya kambuh. Kevin melanjutkan lagi ucapan dengan tetap menyetir. " Mulutnya dia, bukan seperti mulut micin. Tapi lebih parah dari itu." Ucap Kevin pelan. " Seperti apa?" Ucap Zira cepat. Sekarang Zira yang penasaran. " Mulutnya seperti lambe curah." Ucap Kevin pelan. " Buahahhaha." Zira dan Ziko tertawa bersamaan. " Curah? Minyak kali curah." Ucap Zira sambil tetap dengan gelak tawanya. " Vin kenapa kamu memberikan julukan untuknya lambe curah?" Ucap Zira lagi. Ziko masih tetap tertawa, dia belum bisa mengontrol tawanya. " Mulutnya seperti akun gosip." Ucap Kevin cepat. " Buahahaha." Sepasang suami istri itu tertawa lebih kencang. " Ok, ok julukan itu untuk mulutnya yang sembrono. Tapi untuk bibirnya apakah setelah kamu menciumnya, ada julukan lain untuknya." Ucap Zira lagi masih dengan gelak tawanya. Kevin seperti memikirkan sesuatu. Dia mencari kata yang cocok untuk mulut Menik. " Sepertinya dia cocok di beri julukan mulut boraks." Ucap Kevin lagi. " Buahahhaha, parah banget mulut boraks." Ucap Ziko sambil tertawa kekeh. " Ya mau gimana lagi. Mulut micin sudah tuan ambil. Kalau lambe curah nanti saya di marahi sama yang punya akun. Ya mau tidak mau mulut boraks aja." Ucap Kevin asal. Pasangan itu masih saja tertawa. Menurutnya ide Kevin dalam memberikan julukan kepada Menik wajib di acungi jempol. " Dengan cepat ilmu yang aku contohkan langsung kamu praktekan. Tinggal jurus membersihkan kasur saja belum aku ajarkan." Ucap Ziko cepat. Lagi-lagi Zira mencubit lengan suaminya. " Aw sayang, kenapa sih kamu suka mencubit. Apa kamu kebanyakan makan kepiting jadi ilmu kepiting itu turun ke kamu." Ucap Ziko sambil meringis. " Kamu sih, sampai ilmu membersihkan kasur juga mau di ajarkan." Gerutu Zira. " Enggak sayang, aku hanya bercanda. Menurutku Kevin pasti tau ilmu-ilmu yang lainnya. Ya kan Vin?" Ucap Ziko cepat sambil melirik Kevin. Kevin hanya menganggukkan kepalanya. Menurutnya jika dia sudah menikah segala bentuk jurus akan mengalir dengan sendirinya. Ziko lagi-lagi menggoda Kevin. " Vin, apa punyamu di beri julukan ubi kayu juga." Ucap Ziko pelan. Prok Zira menepuk pundak suaminya. " Kamu ya, masalah junior masih tetap di omongin. Malu kenapa? Di sini ada wanita. Kalau kamu mau bertanya hal itu tunggu istrimu ini turun." Ucap Zira menceramahi suaminya. " Ya sayang, justru ada kamu makanya aku bertanya. Pada saat dulu juga ada Kevin." Ucap Ziko cepat. Ziko melirik Kevin, dengan arti kalau dia harus menjawab pertanyaan bosnya " Saya tidak seperti ubi kayu anda. Tapi..." Ucapan Kevin menggantung. " Tapi apa?" Ucap Ziko penasaran. Zira malas mendengar, dia lebih melihat keluar jendela. " Tapi punya saya lebih seperti gagang sapu." Ucap Kevin asal " Buahahaha." Zira yang tadinya diam. Mendengar dan membayangkan gagang sapu langsung terbahak-bahak. Dia membayangkan yang aneh-aneh dengan nasib Menik nantinya. " Gagang sapu. Sapu apa? Sapu lidi." Ziko tertawa sambil membuat pertanyaan sendiri dan di jawab sendiri olehnya. " Ah Vin, kamu gila banget. Gagang sapu di bawa-bawa. Gimana nasibnya si Menik nanti malam pertama." Ucap Zira sambil dengan gelak tawanya. " Enaklah." Ucap Kevin polos. Pasangan suami istri itu malah tambah tertawa mendengar ucapan polos dari Kevin. Kevin ikut tertawa membayangkan malam pertamanya dengan Menik. Menurutnya pasti akan seru, apalagi mulut Menik yang super kocak dan polos. Membuatnya jadi pingin cepat-cepat Menikah. " Sudah-sudah jangan tertawa lagi. Aku mau kebelet pipis kalau tertawa terus." Ucap Zira mengontrol tawanya. " Si Menik pasti di kantor mabuk debu tuh. Pasti matanya merah." Ucap Ziko asal. " Mata merah, memangnya matanya seperti mata ikan busuk merah." Gerutu Zira. " Jadi apa dong." Ucap Ziko lagi. " Yang benar telinganya panas karena kebanyakan di ceritain sama kita bertiga." Ucap Zira cepat. Zira melihat kearah Kevin. " Vin, apa kamu sudah mengungkapkan perasaanmu kepadanya?" Ucap Zira pelan. " Belum nona. Saya ingin membuatnya jatuh cinta terlebih dahulu. Walaupun saya sudah memberikan rambu-rambu lalulintas, tapi saya belum mengungkapkannya secara resmi." Ucap Kevin pelan. " Kenapa seperti itu." Ucap Ziko penasaran. " Apa tidak sebaiknya kamu cepat melamar dia. Kalau tiba-tiba dia di lamar orang lain bagaimana?" Ucap Ziko mengingatkan asisten. Kevin tidak menjawab. Apa yang di ucapkan bosnya benar. Dia tidak bisa membayangkan kalau Menik di lamar orang lain. " Like, komen dan vote yang banyak ya terimakasih. Chapter 285 episode 284 (S2) " Memang ada baiknya kalian saling mengenal terlebih dahulu. Jangan langsung menikah. Nanti ujung-ujungnya seperti kisah kami." Ucap Zira sambil melirik suaminya. " Tapi kisah kita sekarangkan beda. Penuh keceriaan di mana-mana." Timpal Ziko. " Tapi kalau memang Menik jodoh kamu, pasti dia akan di dekatkan dan di permudah urusanmu." Ucap Ziko lagi. Mobil sudah sampai di depan butik. Zira memegang pelipis matanya. " Kenapa sayang?" Ucap Ziko memperhatikan tingkah istrinya. " Pelipis mataku bergerak, kata orang tua dulu, itu tandanya mau nangis." Ucap Zira pelan. " Ah salah tuh. Mungkin mata kamu kelilipan. Dari tadi kita tertawa bahagia kok, tiba-tiba mau nangis." Ucap Ziko cepat. " Ya sudah, aku turun ya." Ucap Zira. Sebelum turun Ziko mengecup bibir dan perutnya istrinya. Entah kenapa dia merasa tidak ingin melepaskan Istri dan anaknya. " Sudah sayang, nanti kita bertemu lagi." Ucap Zira pelan sambil mengelus rambut suaminya. " Hati-hati ya." Ucap Ziko pelan. Zira keluar dari mobil, dan Ziko memperhatikannya istrinya sampai masuk ke dalam butik. Setelah itu mobil baru bergerak meninggalkan butik. Mobil sudah meluncur ke gedung Raharsya group. Kondisi di loby sudah tidak ada karyawan yang wara wiri. Mereka sudah mulai bekerja. Di depan hanya ada resepsionis yang bertugas menjawab dan mencatat panggilan yang masuk. Dan ada dua orang cleaning service yang masih membersihkan bagian loby. Kevin melihat sekeliling loby. Dia tidak menemukan Menik di situ. Sepertinya dia tidak membantu temannya lagi. Ziko dan Kevin masuk ke dalam lift khusus presiden direktur. Setelah pintu lift tertutup, Kevin menekan tombol lantai tempat ruangan mereka berada. Dalam sekejap mereka sudah sampai di lantai ruangan mereka. Dari jauh Kevin dapat melihat keberadaan Menik yang sedang keluar dari ruangannya. Ziko masuk ke dalam ruangannya. Dan Kevin juga ikut masuk ke dalam ruangannya sendiri. Menik melihat kedatangan dua orang berpengaruh di perusahaan itu. Tapi dia harus bersikap hormat kepada keduanya. Secara dia adalah pekerja di perusahaan itu. Beda kalau di luar perusahaan, dia bisa dengan cepat akrab dan membaur sama Kevin. Di dalam ruangannya, Kevin terlihat cukup sibuk. Menik mengetuk pintu ruangan bosnya. " Masuk." Ucap Kevin cepat. Kevin sibuk dengan laptopnya. Dia hanya melihat sekilas kearah Menik. Kemudian fokus lagi melihat layar datar itu. " Bapak mau kopi?" Ucap Menik menawarkan sesuatu. " Boleh." Ucap Kevin cepat tanpa melihat Menik. Menik jengkel, kemaren sore Kevin bersikap sangat romantis kepadanya, tapi pagi ini pria di hadapannya seperti orang asing. Dia mencoba menawarkan sesuatu. " Bapak, udah sarapan? Saya ada bawa nasi uduk untuk Bapak?" Ucap Menik dengan pertanyaan beruntun. " Saya sudah makan." Ucap Kevin cepat dan lugas. Lagi-lagi Menik heran dengan sikap Kevin yang menurutnya berubah. Suara telepon berdering. Kevin langsung mengangkat telepon itu dan menjawabnya. " Baik tuan." Ucap Kevin cepat. Kevin melirik wajah Menik yang cemberut. " Maaf Nik, hari ini saya sangat sibuk. Nanti siang akan saya makan nasi uduk itu." Ucap Kevin pelan. Kevin langsung bisa mengartikan wajah Menik. Dia memberikan penjelasan seadanya. " Maaf Pak, saya telah menggangu anda. Saya permisi dulu." Ucap Menik pelan sambil meninggalkan ruang asisten presiden direktur. Di pantry dia kesal dan ngomel sendiri. " Dari tadi kenapa tidak bilang, kalau lagi sibuk. Pasti aku juga akan keluar dengan cepat. Apa seperti itu tingkah semua pria. Ketika sudah mendapatkan bibirku, dengan secepat itu dia melupakannya." Gerutu Menik. Kevin berlari kecil menuju ruangan Ziko sambil membawa laptopnya. Suara tapak seseorang berlari cukup keras terdengar sampai Menik keluar dari pantry dan melihat siapa gerangan yang punya tapak sepatu seperti tapak kuda. " Oh bos Kevin, kirain kuda." Gumam Menik pelan. " Sepertinya si bos, sibuk banget sampai-sampai harus berlari ke ruangan bos besar." Gumam Menik lagi. Tanpa mengetuk pintu sama sekali Kevin langsung masuk ke dalam ruangan Ziko. " Ada apa?" Ucap Ziko cepat. " Tuan lihat ini." Ucap Kevin cepat sambil meletakkan laptopnya di meja kerja Ziko. Ziko melihat laptop itu dengan seksama. " Kenapa bisa seperti ini?" Ucap Ziko dengan suara meninggi. " Saya tidak tau tuan. Kemaren harga saham kita masih naik bahkan cenderung stabil. Tapi hari ini langsung merosot drastis." Ucap Kevin menjelaskan. " Kamu cari tau, siapa dalang di balik ini semua." Ucap Ziko tegas. Ada suara ketukan dari luar. " Masuk." Ucap Ziko cepat. Koko masuk dengan tergesa-gesa. " Tuan ada rapat dengan para pemegang saham." Ucap Koko cepat. " Bukannya masih seminggu lagi rapatnya." Ucap Ziko lagi. " Ini para pemegang saham yang ada di luar negeri. Mereka mengadakan rapat via video conference." Ucap Koko lagi. " Kapan rapatnya?" Ucap Ziko cepat. " Sekarang? Mereka tinggal menunggu anda." Ucap Koko cepat. " Vin sepertinya ini ada sangkut pautnya dengan saham kita. Kamu cari tau siapa dalang di balik ini semua. Dan kamu Koko siapkan semuanya, dan jangan terima tamu siapapun. Ziko selalu mengadakan meeting dengan para pemegang saham dari berbagai negara. Dan untuk menghemat waktu dan agar lebih efisien, mereka menggunakan video conference. Yang merupakan seperangkat teknologi komunikasi interaktif yang memungkinkan mereka berkomunikasi dua pihak atau lebih di lokasi yang berbeda. Ziko menonaktifkan ponselnya. Setelah semuanya di persiapkan oleh Koko. Dia langsung mengikuti jalannya meeting itu. Dari raut wajah semua para pemegang saham terlihat jelas ada sesuatu yang mendesak. Mereka menggunakan bahasa Inggris untuk percakapan. Kevin sedang mencari sumber atau dalang di balik anjloknya nilai saham Raharsya group. Di ruangannya Ziko terlihat cukup detail memberikan penjelasan kepada para pemegang saham. Tapi pemegang saham terlihat tidak bisa berbesar hati. Mereka menarik sahamnya dari Raharsya group. Karena menurut mereka, akan sia-sia jika mereka bertahan di perusahaan itu. Dan mereka hanya ingin mencari perusahaan yang bisa memberikan untung untuk perusahaannya. Kevin di dalam ruangannya terlihat sibuk. Dan menghubungi beberapa orang rekan kerjanya. Ada panggilan yang masuk ke dalam ponselnya. Dia melihat nomor asing di layarnya. Dengan cepat dia langsung menjawab panggilan itu. Dia berharap yang menghubunginya adalah rekan-rekan kerjanya atau orang-orang kepercayaannya. " Halo." Ucap Kevin cepat. " Ya saya Kevin." Jawab Kevin. Ada suara seseorang wanita dari ujung ponselnya. Kevin mendengarkan dengan seksama, sambil membulatkan matanya, dia seperti tidak percaya mendengar ucapan seseorang dari ujung sana. Setelah mendapatkan kabar itu. Dia berlari ke ruangan Ziko. Di dalam ruangannya Ziko terlihat frustasi. Kevin melihat layar laptop bosnya. Yang mengartikan kalau meeting telah selesai. Kevin ingin menyampaikan kabar yang baru di dengarnya. Tapi Ziko langsung berbicara kepadanya. " Semua para pemegang saham menarik sahamnya." Ucap Ziko frustasi. " Saya sudah menduganya." Ucap Kevin cepat. " Apa kamu sudah dapat kabar siapa di balik ini semua." Ucap Ziko lagi. " Belum tuan. Tapi sepertinya kita harus pergi segera." Ucap Kevin cepat. " Kenapa?" Ucap Ziko penasaran. " Nanti di mobil saya jelaskan." Ziko mengikuti Kevin. Mereka bersama-sama keluar dari gedung itu. Ziko terus mendesak apa yang terjadi. Tapi Kevin berusaha untuk tetap diam. Dia tidak ingin bosnya panik jika mendengar kabar yang menurutnya dapat membuat bosnya stres. " Like, komen dan vote yang banyak ya terimakasih." Chapter 286 episode 285 (S2) Di butik. Hari ini di butik banyak yang harus dilakukan. Zira sibuk di belakang mejanya, dan karyawan yang lain sibuk menata barang-barang yang masuk sesuai dengan jenis modelnya. Karena sibuknya hari ini, dia ikut serta membantu karyawannya di lantai dua dan satu. Dia memberikan instruksi kepada karyawannya dalam menata pakaian yang baru masuk. Saking sibuknya dia harus mondar mandir naik dari lantai satu kelantai dua, begitu seterusnya. Pada saat akan turun kaki Zira terpleset. Dia teriak sekencang-kencangnya. Karyawan mendengar suara teriakan itu. Mereka ramai-ramai mencari suara itu. Betapa kagetnya mereka, melihat Zira sudah mengeluarkan banyak darah. Lina sebagai orang kedua di butik itu ikut panik. Dia mencoba menghubungi nomor Ziko. Tapi nomor Ziko tidak aktif, dia berlari ke lantai 3 membawa semua barang-barang berharga milik Zira. Lina berinisiatif membawa Zira ke rumah sakit. Karyawan yang lain menghubungi taksi. Setelah taksi datang mereka membopong Zira untuk masuk ke dalam taksi. Lina ikut menemani Zira ke rumah sakit. Karyawan yang lain menjaga butik. Di perjalanan Lina menghubungi nomor Ziko kembali menggunakan ponsel Zira. Tapi pada saat di hubungi nomor Ziko tidak aktif. Dia mengingat sesuatu tentang orang yang selalu ada di samping Ziko, yaitu Kevin. Dia langsung menghubungi nomor itu melalui ponsel Zira. " Halo." Ucap Lina. " Halo." Ucap Kevin. " Saya Lina asistennya mbak Zira. Kami sekarang dalam perjalanan ke rumah sakit. Mbak Zira mengalami pendarahan." Ucap Lina. Kemudian panggilan terputus. Begitu sampai di rumah sakit, Zira di angkat perawat menuju ruang IGD. Perawat bertidak dengan cepat. Dokter IGD menanyakan penyebabnya kepada Lina. Setelah mendapatkan penjelasan dari Lina. Dokter IGD menghubungi dokter spesialis kandungan. Dan Lina di perintahkan perawat untuk melaporkan ke bagian pendaftaran. Lina berlari dengan paniknya ke bagian registrasi. " Selamat pagi." Ucap bagian registrasi. " Saya mau mendaftarkan pasien yang bernama Zira." Ucap Lina cepat. " Silahkan isi ini dulu." Ucap bagian registrasi. Lina melihat kertas yang di sodorkan bagaian registrasi. Dia harus mengisi data-data Zira. Tapi dia tidak tau harus mengisi apa. Untuk nama dia bisa tau, tapi untuk tempat tinggal dia tidak paham. Walaupun tas Zira ada dengannya tapi dia tidak berani untuk membukanya. " Mbak bisa tidak isinya nanti. Tunggu suaminya, saya tidak tau." Ucap Lina cepat. " Tidak bisa itu harus di isi." Ucap wanita di bagian registrasi. " Tapi saya tidak tau." Ucap Lina ngotot. " Kalau tidak di isi pasien tidak di akan di obati." Ucap wanita itu ketus. " Bos saya lagi sekarat, hanya masalah biodata saja tidak di obati. Parah banget nih rumah sakit." Ucap Lina berteriak. Semua orang yang ada di situ melihatnya. " Dia mengalami pendarahan hebat." Ucap Lina lagi tetap teriak. " Iya mbak, tapi datanya harus di isi." Ucap wanita itu lagi. " Apa mbak takut kalau kami tidak membayar perobatan ini. Asal kamu tau ya, suaminya orang nomor satu di kota ini." Ucap Lina berteriak. Pada saat itu Dokter Diki sedang lewat dan mendengar suara seorang wanita yang teriak-teriak. Dia dokter penanggung jawab di rumah sakit itu. Dokter Diki menghampiri bagian registrasi dan menanyakan yang terjadi. Bagian registrasi menjelaskan semuanya. Kemudian Dokter Diki menanyakan hal itu kepada Lina. " Di mana pasien sekarang." Tanya dokter Diki ke Lina. " Ada di IGD, dia sedang mengalami banyak pendarahan." Ucap Lina cepat. Dokter Diki berlari kecil menuju ruang IGD, di ikuti Lina dari belakang. " Itu Dokter pasiennya." Ucap Lina menunjuk jarinya ke arah tempat tidur yang di atasnya ada Zira. Dokter Diki mendekati tempat tidur itu. Dia kaget wanita yang ada di tempat tidur itu adalah Zira. " Zira." Ucap Dokter Diki kaget. Lina ikut kaget karena dokter tersebut kenal dengan Zira. Dokter Diki memberikan perintah kepada dokter IGD dan dokter spesialis kandungan untuk langsung menangani Zira. " Apa kamu sudah menghubungi suaminya." Tanya Dokter Diki. " Ponsel tuan muda Ziko tidak aktif, tapi saya sudah menghubungi asistennya." Ucap Lina cepat. Dokter Diki mengambil ponselnya yang ada di sakunya. Dia menghubungi keluarga Raharsya. Zira langsung mendapatkan penanganan cepat. " Dokter, pasien kekurangan darah dan bayinya juga mendapatkan benturan hebat." Ucap Dokter spesialis kandungan. Lina mendengar itu langsung menangis, dia tidak bisa membayangkan. Zira masih setengah sadar. Walaupun wajahnya pucat, tapi dia bisa mendengarkan percakapan Dokter itu. " Selamatkan anak saya." Ucap Zira pelan. Dokter yang berada di situ harus mengambil tindakan cepat. Tapi pihak keluarga belum juga datang. Dokter Diki berbicara agak menjauh dengan para dokter di situ. " Apa kemungkinan bayinya akan selamat." Tanya Dokter Diki kepada Dokter spesialis. " Kami mengecek jantung bayi masih berdetak tapi tidak terlalu kencang. Mungkin karena benturan itu." Ucap Dokter spesialis menjelaskan. " Lakukan yang terbaik." Ucap Dokter Diki. Perawat mendorong tempat tidur yang di atasnya ada Zira. Mereka membawa Zira ke ruang bersalin. Lina ikut panik dan hanya bisa menangis. Dia tidak bisa membayangkan sakit yang teramat besar yang di alami Zira. Lina menunggu di depan ruang bersalin, hampir setengah jam dia disitu. Tidak berapa lama keluarga Raharsya datang. Di mobil. Kevin sudah melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. " Kita mau kemana?" Ucap Ziko penasaran. Kevin diam, dia tidak ingin membuat bosnya panik. Dia bisa membayangkan yang terjadi jika Ziko mendengar kalau istrinya mengalami musibah. " Kenapa kamu tidak menjawab." Ucap Ziko penuh selidik. " Maaf tuan, nanti anda akan tau." Ucap Kevin pelan. " Jangan buat aku mati penasaran." Ucap Ziko emosi sambil menendang bagian kursi belakang Kevin. Mobil sudah masuk ke kawasan rumah sakit. Dan langsung memarkirkan mobilnya dengan cepat. " Siapa yang sakit?" Ziko sudah mulai panik. Tapi dia langsung berlari masuk kedalam rumah sakit. Dia bingung harus mencari kemana. Kevin di belakang mengikutinya dan mencoba menghubungi nomor Zira. Panggilan terhubung dan Lina langsung menjawab panggilan itu. " Di mana?" Ucap Kevin cepat. " Kami menunggu di depan ruang bersalin." Ucap Lina cepat. Kemudian panggilan terputus. " Tuan ke arah sini." Ucap Kevin cepat. Ziko mengikuti Kevin dari belakang. Di ujung ruangan sudah ada keluarganya yang menunggu. Dari mama dan papanya beserta Zelin ada di situ. Dan ada satu wanita yang wajahnya tidak asing. Tapi Ziko lupa kapan dan di mana dia melihat wanita itu. Ziko berjalan mendekati kedua orang tuanya. Dia langsung membuat asumsi sendiri. " Mana Zira?" Ucap Ziko panik. " Tenang sayang." Ucap Nyonya Amel menenangkan anaknya. " Mana Zira." Ucap Ziko berteriak. " Iko, Zira ada didalam." Ucap Papanya pelan sambil memegang bahu anaknya. " Apa yang terjadi dengan Zira?" Ucap Ziko teriak lagi. Semua yang ada berada di situ, tidak berani mengatakannya hal yang sebenarnya. " Kenapa semua diam. Apa yang terjadi dengan Zira ku." Ziko teriak lagi. " Sayang kamu harus tenang, Dokter Diki ada didalam bersama Zira dan dokter yang lainnya." Ucap Nyonya Amel menenangkan kembali anaknya. Ziko menoleh ke arah wanita yang tidak asing di lihatnya. Sekarang dia mengenali siapa wanita itu. Dia berjalan mendekati Lina. " Kamu yang ada di butik. Apa yang terjadi dengan Zira ku?" Ucap Ziko dengan intonasi yang tinggi. Lina menundukkan kepalanya sambil memegang tas Zira di tangannya. " Jawab." Ucap Ziko sambil memukuli tembok dengan tangannya. Lina sudah menceritakan kejadian yang di alami Zira kepada keluarga Raharsya. Tapi kepada Ziko, dia tidak berani mengatakannya. Semuanya tidak berani menjelaskan peristiwa yang di alami Zira. " Like, komen dan vote yang banyak ya terimakasih." Chapter 287 episode 286 (S2) Semua tidak mempunyai keberanian untuk mengatakan hal yang sebenarnya terjadi. Mereka menunggu dokter untuk menjelaskan. Tidak berapa lama pintu ruang bersalin terbuka. Semua keluarga langsung mendekat. " Nona Zira membutuhkan donor darah." Ucap salah satu dokter. " Apa yang terjadi dengan istri saya Dok." Ucap Ziko panik. " Nona mengalami banyak pendarahan. Kami membutuhkan golongan darah A." Ucap Dokter itu. " Apa di PMI tidak ada?" Ucap tuan besar. " Lagi kosong Pak." Ucap Dokter itu lagi. Tuan besar tau semua golongan darah keluarganya. Tidak ada yang bergolongan darah A. " Ambil darah saya." Ucap Ziko cepat. " Iko golongan darah kamu O, kamu tidak bisa mendonorkannya untuk Zira." Ucap Tuan besar lagi. " Aku harus bagaimana." Ucap Ziko stres. " Dokter ambil darah saya. Saya bergolongan darah A." Ucap Kevin cepat. Semua melihat kearah Kevin. Menurut mereka Kevin seperti malaikat penyelamat. Dokter masuk ke dalam ruangan. Kemudian tidak berapa lama perawat keluar. " Bapak yang mau mendonorkan darahnya, silahkan ikuti saya." Ucap perawat cepat. Kevin mengikuti perawat itu. Dia di bawa ke salah satu ruangan. Di sana ada satu dokter dan dua orang perawat yang sedang menunggunya. Sebuah jarum di pasangkan ke pergelangan tangan Kevin. Bagaian lab mengambil sampel darah Kevin. Dan membawanya ke laboratorium untuk mengecek golongan darah Kevin. Tidak beberapa lama, bagian lab kembali keruangan yang ada Kevin di dalamnya. Dia membawa sebuah kertas dan menunjukkan kepada Dokter. " Pak golongan darah Bapak sama dengan pasien. Jadi Kami akan mengambil darah Bapak." Ucap dokter menjelaskan. " Silahkan." Ucap Kevin cepat. Dokter dan perawat melakukan kegiatannya. Memindahkan darah Kevin ke dalam kantong. Sampai kantong itu penuh. Setelah penuh, mereka mengganti lagi kantong itu dengan kantong yang baru. Kantong yang berisi darah di bawa ke ruang bersalin. Kantong itu di alirkan ke tubuhnya Zira dengan selang yang mengalir ke pergelangan tangannya. Dokter Diki dan dokter spesialis masih memantau keadaan Zira. Ada sebuah layar yang terhubung langsung keperut Zira. Dari situ bisa di pantau keadaan bayi di dalamnya. " Dokter jantung bayi melemah." Ucap Perawat mengatakan kepada dokter Diki dan dokter spesialis. Mereka kembali sibuk, dengan melakukan yang terbaik. Mereka ingin menyelamatkan ibu dan bayinya. Tidak berapa lama jantung si bayi tidak berdetak lagi. Dokter saling pandang. " Selamatkan nyawa ibunya. Dan keluarkan bayinya." Ucap Dokter Diki sambil keluar ruang bersalin. Pintu di buka oleh Dokter Diki. Semua langsung mendekatinya. " Bagaimana kondisi Zira dan bayiku." Ucap Ziko cepat. Dokter Diki diam, dia melihat semua orang yang ada didepannya. " Cepat jawab." Ucap Ziko sambil memegang kerah kemeja Dokter Diki. " Maaf Ko, kami tidak bisa menyelamatkan bayinya." Ucap Dokter Diki pelan. " Apa!" Ziko langsung mundur dan terduduk di lantai. Dia menangis sejadi-jadinya. Bayi yang selama ini di nantikannya meninggal dunia. Nyonya Amel menangis dalam pelukan suaminya. Zelin ikut menangis sesenggukan. Dan Lina ikut serta menangis mendengar penjelasan dari dokter. Ziko menangis sejadi-jadinya. Firasatnya dari awal sudah ada. Dia enggan melepaskan Zira dan anaknya. Pagi hari sebelum pergi, Ziko sudah menasehati Zira untuk tidak pergi. Tapi kejadian itu tidak bisa dielakkan. Karena semuanya sudah kehendak sang pencipta. Dan pelipis mata Zira yang bergerak seperti tanda akan adanya air mata yang keluar. Dan terbukti air mata Ziko mengalir deras. Ziko tidak bisa melakukan apapun. Dia seperti orang bodoh. Tuan besar duduk di lantai bersama dengan anaknya. Dia berusaha menenangkan anaknya. " Ko, papa tau, ini cobaan berat buat kamu. Kamu harus mengikhlaskannya. Semua sudah kehendak sang pencipta." Ucap papanya. Ziko hanya diam, derai air matanya terus saja mengalir. Di sisi lain tepatnya di depan pintu ruang bersalin. Nyonya Amel menanyakan keadaan menantunya. " Zira mengalami banyak kehilangan darah. Dengan donor darah itu, keadaan Zira akan pulih kembali." Ucap Dokter Diki menjelaskan. " Berapa kantong yang di butuhkan untuk Zira." Tanya Nyonya Amel lagi. " Untuk sementara tiga kantong. Ini baru masuk satu kantong. Dua jam lagi kami akan memasukkan lagi donor darah itu." Ucap Dokter Diki menjelaskan. " Dokter, lakukan yang terbaik untuk menantu saya. Jika perlu cari pendonor darah lainnya. Karena tidak mungkin semuanya dari Kevin." Ucap Nyonya Amel cepat. " Baik Tante." Kemudian Dokter Diki masuk ke dalam lagi. Di dalam dokter sedang berusaha mengeluarkan bayi yang ada didalam perut Zira dengan melakukan operasi. Kevin sudah selesai di ambil darahnya. Tapi dia belum di ijinkan untuk bergerak dan turun dari tempat tidur. Karena kondisinya yang masih pusing. Dokter melakukan dengan sangat hati-hati. Mereka memberikan obat bius kepada Zira. Dalam beberapa jam bayi dapat dikeluarkan. Jika kondisi Zira sadar maka dengan mudah Zira bisa mengeluarkan bayi dengan mengedan seperti proses melahirkan normal. Setelah bayi dapat dikeluarkan mereka memandikan bayi kecil itu seperti memandikan jenazah. Dokter Diki membawa bayi kecil itu dengan kedua tangannya. Dan menyerahkannya kepada Ziko. Ziko yang masih duduk di lantai langsung bangun. Melihat anaknya yang sudah di bungkus dengan kain kafan. " Anakku." Ucap Ziko menangis sesenggukan. Semua yang ada di situ nangis sesenggukan. Melihat bayi kecil tidak berdosa ada dihadapan mereka. " Jenis kelaminnya laki-laki." Ucap Dokter Diki. Ziko menerima jenazah anaknya dan membawanya dengan kedua tangannya. Bayinya seperti boneka sangat-sangat kecil. Ziko di dampingi papanya dan dokter Diki menuju mesjid yang ada di kawasan rumah sakit. Mereka melakukan sholat jenazah untuk bayi mungil itu. Setelah selesai jenazah bayi itu di bawa Ziko kembali. Mereka membawa jenazah itu kepemakaman keluarga. Di dalam mobil ada Ziko dan tuan besar dan Dokter Diki. Dokter Diki yang mengemudikan mobil itu. Dan tuan besar duduk di belakang untuk menenangkan anaknya. Dengan perasaan hancur lebur Ziko melihat tubuh anaknya yang mungil. Bayi itu sudah kembali kepada sang pencipta. Dia hanya bertahan empat bulan lebih di dalam perut Istrinya. Air mata Ziko tidak bisa di bendung. Dia merasa bersalah atas semuanya. " Ko, kamu harus mengikhlaskannya. Hidup, jodoh, rezeki dan maut semua sudah di tentukan oleh sang Pencipta. Kita hanya harus mengikhlaskanya." Ucap papanya. Ziko menganggukkan kepalanya. Walaupun berat tapi dia berusaha untuk mengikhlaskan anaknya. Karena Tuhan lebih sayang kepada anaknya di bandingkan dirinya. Mereka sampai di pemakaman keluarga ada seorang ustadz di sana yang telah menunggu mereka. Pemakaman hanya di lakukan oleh mereka bertiga, dan sebagian orang yang mengurusi tanah pemakaman itu juga ikut serta dalam pemakaman itu. Lagi-lagi air mata Ziko mengalir ketika melihat anaknya di kubur. Tak kuasa dia melihat anaknya. Diki memeluk temennya agar bersabar dengan cobaan ini. Ziko menuliskan nama anaknya di batu nisan sementara. Nama itu terlintas di benaknya. Nama yang sering di ucapkan istrinya. Dan sekarang nama itu di gunakannya. Dia menulis nama anaknya Zokoh Putra Raharsya. " Like, komen dan vote yang banyak ya terimakasih." Chapter 288 episode 287 (S2) Di kantor. Menik masih celingak-celinguk melihat keadaan di luar. Waktu sudah menunjukkan jam makan siang, tapi keberadaan Kevin juga belum ada. Di meja pantry ada Nasik uduk yang sudah di belinya dari pagi. Siang ini Kevin berjanji akan makan nasi uduk itu. Tapi kenyataannya sampai waktu makan siang sudah mau selesai Kevin belum ada kabarnya. Koko masuk ke pantry. Dia melihat wajah Menik sendu sambil melihat dua bungkus nasi di atas mejanya. " Kamu sudah makan?" Ucap Koko sambil mencuci tangannya. " Belum." Ucap Menik cepat. " Kok belum makan, waktu makan siang udah mau habis loh." Ucap Koko sambil melihat bungkus nasi yang ada di meja. " Kamu sudah makan?" Ucap Menik cepat. " Sudah. Memangnya kenapa?" Ucap Koko cepat. " Aku tadi pagi beli nasi uduk dua. Kalau kamu mau, makan aja satu. Sekalian temani aku makan siang." Ucap Menik menawarkan ke Koko. " Baiklah, lambungku masih cukup satu porsi lagi." Ucap Koko cepat. Mereka menikmati makan siang itu di pantry. Sambil bercengkrama satu sama lain. " Bos besar sama bos Kevin pergi ya?" Ucap Menik. " Iya, selesai meeting dengan para pemegang saham mereka pergi." Ucap Koko menikmati nasi uduknya. " Hemmmmm, sepertinya ada urusan di luar ya." Ucap Menik lagi. " Sepertinya begitu, mereka cukup serius. Kadang aku bingung dengan keduanya. Mereka bisa sangat dingin jika berhadapan dengan karyawannya. Tapi kalau mereka sudah kumpul berdua, mereka bisa tertawa bahkan membuat guyonan lucu." Ucap Koko. Menik manggut-manggut. " Kalau kamu tau, jika bercanda mereka tidak seperti bos sama sekali. Konyol habis pokoknya. Apalagi masuk nona Zira, tambah parah pokoknya." Ucap Koko lagi. " Sepertinya kamu sudah cukup dekat dengan mereka." Timpal Menik. " Dekat sih tidak, tapi tau aja sikap mereka di luar kantor seperti apa." Ucap Koko lagi. Menik teringat sesuatu tentang peristiwa di rumah sakit. Yang mana Koko datang bersama Zelin. " Ko, adiknya bos besar pacar kamu ya." Tanya Menik langsung. " Uhuk-uhuk." Koko batuk karena tersedak. Dia melegakan tenggorokannya dengan minum air putih. Setelah cukup lega dia mulai bicara lagi. " Kenapa kamu bertanya seperti itu?" Ucap Koko cepat. " Ya aku perhatikan cara kamu memandang dia, dan caranya memandang kamu beda." Ucap Menik lagi. " Seperti?" " Ya seperti supir dan majikan." Ucap Menik asal. Koko yang tadinya jantungnya berdebar agak lega, karena ucapan Menik tidak menjurus ke perasaannya. " Kamu suka sama adiknya bos ya?" Ucap Menik lagi. " Ti tidak." Ucap Koko gugup. " Kok kamu gugup, berarti benar." Tebak Menik cepat. Akhirnya Koko menceritakan perasaannya terhadap Zelin. " Apa perasaan dia ke kamu sama?" Ucap Menik lagi. " Ya, dia juga menyukaiku." Ucap Koko pelan dengan wajah lesu. " Kenapa kamu lesu, seharusnya kamu bergembira kalau kamu sudah mengetahui perasaannya." Ucap Menik memberikan semangat. " Aku belum mengatakannya." Ucap Koko lagi. " Kenapa?" " Aku takut masa lalu itu akan muncul dan jika Zelin tau, pasti dia akan meninggalkan ku. Lebih baik aku mengaguminya saja dalam jauh." Ucap Koko dengan wajah yang tetap lesu. " Sebaiknya kamu berkata jujur, kalau dia mencintai kamu pasti dia akan menerimamu. Apa ada faktor lain yang menyebabkan kamu takut untuk mengungkapkan perasaanmu." Tanya Menik lagi. " Bos besar masalahnya." Ucap Koko pelan. " Apa! Jadi bos besar tau kalau kamu Cici." Ucap Menik sedikit teriak. Koko langsung menutup mulut Menik dengan telapak tangannya. Dia khawatir masa lalunya akan terbongkar karena mulut Menik yang sembrono. " Bukan seperti itu, beliau tidak tau kalau aku dulu berdandan ala perempuan, yang dia tau aku itu seperti banci tapi tidak berdandan layaknya seorang wanita. Dia berpikir kalau aku suka sama sejenis." Ucap Koko pelan. " Hemmmmm, seperti itu ya. Urusan kamu rumit juga ya. Tapi ada baiknya kamu jujur kepada nona itu. Siapa namanya?" " Zelin." Ucap Koko. " Ya Zelin. Kalau kamu tidak pernah punya perasaan sama sejenis kenapa kamu harus takut. Aku yakin di saat cinta sudah berkobar ada api yang menyala." Ucap Menik layaknya membuat perumpamaan. " Maksudnya?" Ucap Koko bingung. " Enggak tau, kalimat itu terlontar saja dari mulutku." Ucap Menik cepat. Saking gemesnya Koko langsung menoyor kepala Menik. Waktu jam makan siang telah usai. Koko beranjak dari kursinya, tiba-tiba suara ponselnya berdering. Koko melihat layar ponselnya. Dia menjawab panggilan itu. " Ya halo Pak." Ucap Koko cepat. " Apa!" Koko berteriak. Menik yang ada di dekat Koko langsung kaget mendengar teriakan pria itu. " Baik Pak baik. Di rumah sakit mana Pak?" Ucap Koko. Kemudian panggilan terputus. " Kenapa harus teriak sih. Aku kaget tau." Ucap Menik sambil memukul lengan Koko. " Nona Zira mengalami pendarahan." Ucap Koko lagi. " Apa!" Sekarang Menik yang teriak. Gantian Koko yang sekarang menepuk pundak Menik. " Enggak usah ikut-ikutan teriak." Ucap Koko cepat. " Sekarang ada di rumah sakit mana?" Ucap Menik penasaran. Koko menyebutkan nama rumah sakit itu. " Berarti mereka dari tadi keluar karena nona Zira mengalami pendarahan." Gumam Menik pelan. " Apa saja kata Pak Kevin." Ucap Menik penasaran. " Dia tadi mendonorkan darahnya untuk nona Zira. Sekarang dia masih pusing." Ucap Koko cepat. " Apa, Pak Kevin di rawat juga?" Ucap Menik khawatir. " Tidak, dia hanya harus istirahat dulu." Ucap Koko sambil berjalan meninggalkan pantry. Koko mengambil beberapa berkas yang ada di meja Kevin, dan mengambil foto semua berkas, kemudian mengirimkannya kembali ke Kevin. Kemudian dia keluar lagi dari ruangan itu, dan kembali melanjutkan pekerjaannya. Menik datang menghampirinya. " Ko, sepulang kerja kita ke rumah sakit ya." Ucap Menik. " Ok." Ucap Koko. Menik kembali ke pantry membersihkan ruangan itu. Di rumah sakit. Kevin terbaring lemah, karena darahnya baru saja di donorkan kepada Zira. Dia masih di tempat tidur rumah sakit. Dia mengingat sesuatu yang ada di meja kerjanya, kemudian dia mengambil ponselnya dan menghubungi Koko. Panggilan terhubung. " Halo Koko." Ucap Kevin cepat. " Ya halo." Jawab Koko. " Saya dan tuan muda tidak kembali ke kantor, tolong kamu kirim berkas yang ada di meja kerja saya. Nona Zira sedang mengalami pendarahan. Saya baru selesai mendonorkan darah untuknya." Ucap Kevin menjelaskan. " Apa!" Koko teriak. " Baik Pak baik, di rawat di rumah sakit mana." Tanya Koko. Kevin memberitahukan nama rumah sakit tempat Zira di rawat. Kemudian dia menutup panggilannya. Kevin belum tau keadaan Zira dan bayinya. Yang dia tau isteri bosnya mengalami pendarahan. Kabar meninggalnya anak Ziko belum sampai ketelinganya. Dia masih berasumsi kalau Zira dan bayinya dalam keadaan sehat. Dan donor darah yang di berikannya dapat membantu proses pemulihan Zira itu pikirnya. Zira sudah selesai di operasi tubuhnya sudah di pindahkan ke ruang rawat inap. Dia belum sadarkan diri. Nyonya Amel dan Zelin masih setia menunggunya siuman. Mereka tidak bisa membayangkan ketika Zira sadar, dan mendapati anaknya sudah meninggal. Nyonya Amel tidak tau harus mengatakan apa kalau menantunya sadar. Lina masih ikut menemani Zira di ruang rawat inap. " Kamu kelihatan sangat letih. Lebih baik kamu berisitirahat, biarkan kami yang menemani Zira di sini." Ucap Nyonya Amel kepada Lina. " Saya ingin di sini bersama mbak Zira." Ucap Lina lagi. " Dari pagi kamu sudah di sini. Pulanglah dan istirahatlah. Kalau kamu sakit siapa yang akan mengurus butik." Ucap Nyonya Amel lagi. Dengan penuh pertimbangan Lina akhirnya pulang. Dia memang harus dalam keadaan sehat, agar bisa mengurus butik. " Baiklah saya pulang Nyonya." Ucap Lina. " Terimakasih banyak." Ucap Nyonya Amel sambil memegang tangan Lina. " Sama-sama. Ini tas mbak Zira." Ucap Lina sambil menyerahkan tas jinjing bosnya kepada Nyonya Amel. Kemudian dia keluar dari ruangan itu dan pergi meninggalkan rumah sakit. " Like, komen dan vote yang banyak ya terimakasih." Chapter 289 episode 288 (S2) Ziko dan papanya telah selesai memakamkan anaknya. Di dalam perjalanan papanya tidak henti-hentinya menyemangati dan menasehati anaknya. " Iko, Tuhan memberikan cobaan sesuai kemampuan kalian. Kamu dan Zira pasti bisa menghadapi ini semua." Ziko hanya diam dan melihat ke luar jendela mobil. Pikirannya masih belum menerima kenyataan. Dia masih menganggap kalau ini semua hanya mimpi belaka. Tuan besar mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang yaitu Pak Budi. Beliau memerintahkan kepada kepala pelayan itu untuk menyiapkan acara tahlilan untuk cucunya. Tidak lupa beliau memerintahkan Pak Budi untuk mengundang para tetangga di sekitar rumahnya. Mobil masih meluncur menuju rumah sakit. Dokter Diki masih mengambil alih kemudi mobil itu. Dia tau dua orang di belakangnya masih berduka dan suasana hati keduanya masih kacau. Di rumah sakit. Zira sudah mulai siuman, dia membuka matanya secara perlahan. Yang pertama di lihatnya adalah cahaya lampu, kemudian dia melihat sekelilingnya. Dia melihat mertuanya sedang duduk di sofa sambil memijat dahinya. Dan tidak jauh dari situ ada Zelin yang memejamkan matanya sambil menyandarkan kepalanya di sandaran sofa. Zira berusaha bangun dari posisi berbaringnya. Tapi dia merasa ada yang perih dan sakit di bawah perutnya. " Aw." Zira meringis. Nyonya Amel mendengar suara langsung beranjak dari sofa, di ikuti oleh Zelin. Mereka menghampiri tempat tidur itu. " Zira kamu sudah sadar." Ucap Nyonya Amel. Zira menganggukkan kepalanya. Dia berusaha untuk bangun. " Sayang jangan bangun dulu. Kamu harus istirahat." Ucap Nyonya Amel melarang Zira untuk duduk. Zira mencoba mengingat sesuatu. Dia berusaha mengingat kejadian hari itu. Semua kejadian di ingatnya dari dia jatuh sampai ucapan Dokter yang mengatakan kalau dia mengalami pendarahan juga di ingatnya. Dia hanya mengingat kalau dia di pindahkan ke ruang bersalin, setelah itu dia lupa. " Ma berapa lama aku tidur." Ucap Zira cepat. " Kurang lebih 5 jam." Ucap Nyonya Amel. Waktu sudah sore, jadi Nyonya Amel mencoba menerka-nerka berapa lama menantunya tidak sadarkan diri. Zira mengelus perutnya. Dia kaget, biasanya perutnya menonjol tapi sekarang datar. " Ma, kenapa dengan perutku. Apa aku sudah melahirkan?" Ucap Zira cepat. Nyonya Amel dan Zelin saling pandang, mereka belum siap mengatakan yang sebenarnya. " Ma, mana anakku." Ucap Zira lagi. Nyonya Amel menundukkan kepalanya. Zira mengalihkan penglihatannya kepada adik iparnya. " Zelin mana anak kakak." Ucap Zira dengan sedikit teriak. Zelin yang di tanya hanya bisa menangis, dia tidak sanggup mengatakan kepada Zira. Melihat adik iparnya menangis Zira langsung membuat asumsi sendiri. " Apa yang terjadi dengan anakku, cepat jawab." Ucap Zira teriak. " Zira, anak kamu tidak bisa di selamatkan." Ucap Nyonya Amel dengan derai air mata. " Mama lagi bercanda kan?" Teriak Zira. Nyonya Amel menggelengkan kepalanya. " Mama bohong, anakku masih hidup. Dia sedang menunggu asi ku." Ucap Zira lagi. Zira berusaha untuk bangun. Tapi semakin di paksakannya rasa sakit itu semakin menjadi. " Zira jangan, nanti jahitan kamu lepas lagi." Ucap Nyonya Amel menahan Zira. " Aku mau melihat anaku." Ucap Zira sambil menagis. " Sayang, kamu di mana?" Zira terus menangis. " Zira anak kamu sedang di makamkan. Ziko dan papa lagi mengurus itu semua." Ucap Nyonya Amel sambil menangis. " Kakak yang sabar ya. Kakak wanita kuat, pasti bisa menghadapi cobaan ini semua." Ucap Zelin menyemangati tetap dengan air mata. " Anakku, anakku." Zira terus menangis. " Yang sabar sayang, kamu harus mengikhlaskan dia. Kasih sayang kamu tidak sebanding dengan kasih sayang Tuhan kepadanya. Jadi kamu harus ikhlas, ada yang menjaga dan merawatnya di sana." Ucap Nyonya Amel menyemangati Zira. Zira hanya diam, air matanya terus mengalir. Kejadian yang di alaminya seperti mimpi. Firasatnya memang sudah ada, jauh hari sebelum pelipis matanya bergerak-gerak. Dia mimpi anaknya lahir dan pergi meninggalkannya. Dia tidak mengatakan mimpi itu kepada suaminya. Menurutnya itu adalah bunga tidurnya. Tapi mimpi itu ternyata firasat, kalau anaknya akan pergi meninggalkannya untuk kembali kepada sang Pencipta. Air mata Zira masih saja mengalir. Tidak berapa lama pintu kamar diketuk. Zelin berlari untuk membuka pintu itu. Di depan pintu ada Kevin. " Masuk asisten Kevin." Ucap Zelin mempersilahkan untuk masuk. Kevin masuk dengan perlahan. Walaupun kepalanya masih pusing, dia tetap berusaha untuk melihat keadaan Zira dan anaknya. Kevin ingin menyapa dan menanyakan keadaan Zira. Tapi di urungkannya, dia langsung paham bahwa telah terjadi sesuatu dengan bayi Zira. Kevin memilih untuk duduk, dari pada bertanya. Ada rasa kasihan melihat cobaan rumah tangga Zira dan Ziko yang datang bertubi-tubi. Tidak berapa lama, pintu di ruangan di buka dari luar. Ada Ziko dan papanya di depan pintu. Mereka masuk ke dalam ruangan itu. Ziko melihat istrinya dengan penuh rasa sedih. Dia menghampiri istrinya yang sedang menangis. " Sayang." Ucap Ziko sambil mengecup dahi Zira. " Anak kita, mana anak kita." Ucap Zira menangis sesenggukan. Ziko hanya bisa mengelus dahi dan menciumi punggung tangan istrinya. " Mana anak kita." Ucap Zira lagi. " Sayang, anak kita sudah di surga." Ucap Ziko dengan terbata-bata. " hiks hiks hiks." Zira terus menangis. Ziko berusaha untuk tegar dan kuat. Dia tidak boleh menangis di hadapan Istrinya. Walaupun hatinya hancur tapi dia berusaha untuk menyemangati istrinya. Zira sudah bisa menerima kenyataan kalau anaknya sudah meninggal. Tapi derai air mata masih saja terus mengalir dari matanya. Nyonya Amel dan tuan besar pamit untuk pulang. Mereka harus mempersiapkan acara tahlilan di kediamannya. Zelin masih di situ untuk menemani kakaknya beserta Kevin. Setelah Nyonya Amel dan Tuan besar pulang, Koko dan Menik baru tiba di area parkiran. Setelah memarkirkan motornya, Koko dan Menik masuk kedalam loby rumah sakit. " Ko, coba kamu hubungi Pak Kevin. Tanyakan di mana ruangan nona Zira di rawat." Ucap Menik cepat. Koko mengambil ponselnya dari saku, kemudian dia menghubungi Kevin. Tidak berapa lama panggilan masuk. Kevin langsung keluar ruangan dan menjawab panggilan itu di luar. " Ya halo." Ucap Kevin cepat. " Pak saya sudah di loby rumah sakit. Diruangan apa nona Zira di rawat." Tanya Koko. Kevin memberitahukan nama ruangan Zira di rawat. " Nona Zira sedang mengalami musibah. Bayinya baru saja meninggal. Jadi nanti jangan banyak tanya." Ucap Kevin mengingatkan Koko. Mendengar itu Koko langsung kaget. Pasalnya dia baru dapat kabar kalau Zira mengalami pendarahan, tapi barusan kabar duka menyelimuti keluarga Raharsya. " Apa kamu ngerti." Ucap Kevin dari ujung ponselnya. " Iya Pak." Setelah itu panggilan terputus. " Udah tau nama ruangannya." Tanya Menik. Koko menganggukkan kepalanya. " Ayo jalan." Ucap Menik sambil memegang tentengan buah di tangannya. " Ada kabar duka." Ucap Koko pelan. " Apa?" Menik melihat wajah Koko dengan penuh tanda tanya. Koko diam sambil menundukkan kepalanya. " Nona Zira baru kehilangan bayinya." Ucap Koko pelan. " Apa!" Menik kaget, entah kenapa perasaannya ikut hancur mendengar itu. Mungkin karena mereka sama-sama wanita, jadi dengan cepat hatinya terenyuh. " Ko, sebaiknya kita jangan masuk. Aku enggak kuat." Ucap Menik sambil menghapus air matanya. Koko membawa Menik untuk duduk. " Kamu tenangkan diri dulu. Setelah kamu cukup kuat kita masuk ke sana." Ucap Koko pelan. Menik menganggukkan kepalanya. " Kasihan nona Zira. Aku tidak bisa membayangkan kalau di posisinya." Ucap Menik pelan sambil menghapus bulir air matanya. " Ini sudah goresan takdir yang di tentukan sang Pencipta." Ucap Koko pelan. Kemudian mereka diam. Menik masih menenangkan dirinya. Dia tidak mau menangis di depan Zira. Jadi dia berusaha untuk tenang. Dan Koko hanya memandang jauh entah kemana. " Like, komen dan vote yang banyak ya terimakasih." Chapter 290 episode 289 (S2) Di dalam ruang rawat inap. Ziko masih setia menemani istrinya. Dia duduk di kursi samping tempat tidur. Tanpa terasa waktu sudah mulai petang. Perut yang ada didalam ruangan itu belum ada yang terisi. Zelin sudah tidak betah dengan nyanyian perutnya. " Kak, aku mau ke kantin. Kakak mau di belikan apa?" Ucap Zelin menawarkan sesuatu. Ziko sebenarnya enggan untuk makan, tapi di meja sebelah tempat tidur ada makanan rumah sakit yang sama sekali belum tersentuh. Dia tau kalau istrinya belum makan apapun. " Sayang, kamu mau makan apa?" Ucap Ziko menawari Zira. Zira tidak menjawab, dia masih tetap melamunkan anaknya. Melihat itu Ziko langsung mengambil inisiatif untuk membelikan sesuatu untuk istrinya. " Zel, belikan kakak soto." Ucap Ziko masih terus memegang tangan istrinya. " Baik." Zelin kemudian berjalan menghampiri Kevin. " Asisten Kevin, kamu mau makan apa?" Ucap Zelin lagi. " Saya sama saja dengan tuan muda." Ucap Kevin cepat. Kemudian Zelin pergi keluar ruangan itu dan menuju lift. Dia harus melewati loby rumah sakit, karena kantin ada di luar gedung. Ketika dia melangkahkan kakinya, dia melihat Koko sedang duduk berdua dengan Menik. Zelin langsung cemburu, dan mendatangi dua orang itu. " Owh ternyata kamu di sini juga. Sedang apa kalian di sini? Kalau mau pacaran jangan di rumah sakit. Enggak bagus karena banyak penyakit." Ucap Zelin jutek. Koko yang sedang duduk di samping Menik langsung kaget. Apalagi Zelin berpikir aneh-aneh tentang mereka berdua. " Bukan, ini tidak seperti yang kamu pikirkan. Kami ingin menjenguk nona Zira." Ucap Koko membela diri. " Alah alasan." Ucap Zelin sambil melipat tangannya dan meletakkan di depan dadanya. Zelin menatap sinis kepada dua orang itu. " Maaf nona, anda salah. Kami mau menjenguk nona Zira. Ini buktinya." Ucap Menik menunjukkan keranjang buah yang ada di pangkuannya. Zelin melihat sekilas keranjang buah itu. " Kenapa kalian tidak langsung saja ke atas. Kenapa harus duduk di sini." Ucap Zelin jutek. Koko berdiri dan berusaha menjelaskan semuanya. Tentang informasi yang di dapatnya dari Kevin. Dia juga memberitahukan kalau Menik ikut berduka. " Jadi dia ingin menenangkan dirinya dulu sebelum masuk ke sana. Betul kan Nik." Ucap Koko bertanya kepada Menik. " Betul nona, kami sebelumnya hanya mendengar kalau nona Zira mengalami pendarahan. Tapi ketika kami sampai sini, informasi berbeda. Saya jelas syok. Walaupun saya bukan keluarga. Tapi saya bisa merasakan hancurnya perasaan nona Zira dan keluarga." Ucap Menik menjelaskan. Zelin diam penjelasan Menik bisa di terimanya. " Tenang nona, saya tidak akan mengambil kekasih anda." Ucap Menik pelan. " Bukan, kami tidak..." Zelin gugup. Dia merasa malu karena Menik menganggap kalau dia dan Koko menjalin hubungan. Kenapa juga aku seperti ini. Wajarlah wanita itu berpikiran kalau kami ada hubungan. " Saya permisi dulu." Ucap Menik sambil berjalan meninggalkan dua insan itu. Koko tidak mengikuti Menik, dia masih berdiri di samping Zelin. " Kamu mau kemana." Tanya Koko. " Aku mau ke kantin." Ucap Zelin lagi. " Mari aku temani." Ucap Koko pelan. Zelin menganggukkan kepalanya. Menurutnya kapan lagi dia bisa jalan berdua dengan pujaan hatinya. Menik mencari ruangan tempat Zira di rawat. Dia berhenti di depan pintu yang di atasnya bertuliskan Flamboyan. Dia mengetuk pintu secara perlahan. Tok tok tok. Tidak berapa lama handle pintu bergerak. Ada Kevin di balik pintu itu. " Menik." Ucap Kevin sambil senyum sumringah. Ketika melihat wajah Menik, semangatnya kembali. Tadinya badannya serasa lemas, tapi sekarang dia seperti baru minum vitamin. " Masuk." Ucap Kevin mempersilahkan Menik untuk masuk. Menik masuk sambil menenteng keranjang buah. Dia berjalan perlahan mendekati tempat tidur dan meletakkan kerajaan buah itu ke atas meja. " Nona tuan, Saya turut berdukacita." Ucap Menik pelan sambil menundukkan kepalanya. " Terimakasih." Ucap Ziko. Zira tidak menjawab. Dia seperti enggan untuk berbicara sama siapapun. Kevin mengajak Menik untuk duduk di sofa. " Kamu sama Koko kesini." Tanya Kevin langsung. Menik langsung menganggukkan kepalanya. " Mana Koko." Tanya Kevin lagi. " Di loby bersama adiknya bos besar." Ucap Menik. Kevin terus memandangi wajah Menik dari samping. Menik merasa malu dan sesekali membenarkan rambut halusnya untuk di selipkan di belakang telinganya. " Kenapa Bapak melihat saya terus." Ucap Menik pelan. " Apa kamu baru menangis?" Ucap Kevin cepat. " E... enggak saya tadi kelilipan." Ucap Menik bohong. Dia tidak mungkin mengatakan yang sebenarnya karena dia tidak ingin tambah merusak suasana hati Zira. Menurutnya Zira sudah lebih tegar. Terlihat tidak ada air mata lagi yang keluar dari bola matanya. Hanya matanya yang terlihat sembab. Begitupun dengan Ziko. Dia bisa melihat pria itu jauh lebih tegar di bandingkan istrinya. " Apa kamu menangis karena aku." Goda Kevin berbisik. " Maksud Bapak apa?" Ucap Menik bingung. " Mana tau kamu menangis karena mendengar kalau aku baru mendonorkan darah untuk nona Zira." Goda Kevin lagi. " Ih siapa lagi yang menangisi Bapak. Donor darah aja harus di tangisi." Ucap Menik pelan. " Owh kamu tidak bersedih atau prihatin gitu." Tanya Kevin. " Enggak lah. Memangnya siapa Bapak? Saudara bukan kekasih juga bukan." Ucap Menik pelan. " Saudara tentu bukan, kekasih juga bukan. Tapi saya calon suami itu baru benar." Goda Kevin lagi. Dia merasa senang ketika berdekatan dengan Menik. Menurutnya Menik seperti ada candunya yaitu boraks. " Nik." Ucap Kevin pelan sambil tetap menatap Menik dari samping. " Iya." " Kamu tadi malam mimpikan aku tidak?" Goda Kevin lagi. " Iya saya mimpi Bapak di tangkap satpol Popo karena maling ayam." Ucap Menik asal. " Cih, satpol Popo mana tangkap pencuri tapi tugasnya memelihara ketentraman dan ketertiban umum." Ucap Kevin menjelaskan. " Ah sama saja itu." Ucap Menik tidak mau kalah. Tidak berapa lama pintu di buka. Koko dan Zelin masuk ke dalam ruang rawat inap itu sambil membawa beberapa bungkus makanan. Zelin menyerahkan makanan yang isinya soto kepada Kevin dan kakaknya. Ziko membuka makanan itu dan mengambil sesendok untuk di suapkan ke istrinya. " Aaak." Ucap Ziko sambil menyodorkan sendok ke depan mulut Zira. Tapi Zira enggan untuk membuka mulutnya. Dia tidak semangat untuk makan apapun. Ziko tidak putus semangat. " Sayang kamu harus makan banyak. Agar bisa pulang secepatnya dari sini. Apa kamu tidak ingin melihat tempat peristirahatan buah cinta kita." Ucap Ziko pelan. " Hiks hiks." Zira menagis lagi sambil membuka mulutnya. Dia memang tidak berniat untuk makan sesuatu, tapi ucapan suaminya membuatnya harus cepat pulih, agar dia bisa melihat makam bayi mungilnya. Dengan berlinang air mata Zira berusaha untuk menelan makanannya. Dan Ziko juga menikmati makanan itu. Mereka makan semangkuk berdua. Sambil tetap bersedih. Yang berada di ruangan itu ikut menangis. Baik Zelin dan Menik ikut nangis tersedu-sedu. Para pria tidak mau melewatkan kesempatan itu. Mereka membenamkan kepala pujaan hatinya di dada mereka masing-masing. " Like, komen dan vote yang banyak ya terimakasih." Chapter 291 episode 290 (S2) Menik baru sadar ketika dia mencium aroma maskulin dari tubuh Kevin. Dia langsung mengangkat kepalanya dari dada bidang itu. " Bapak mengambil kesempatan di dalam situasi ini ya?" Ucap Menik pelan. " Bukan mengambil kesempatan, tapi saya kasihan dengan kepala kamu tidak ada sandarannya, makanya saya letakkan saja di dada yang bidang ini." Ucap Kevin pelan. Menik hanya manyun sambil melihat ke arah yang berbeda yaitu Koko dan Zelin. Dia menggerakkan sikunya ke pinggang Kevin. " Apa?" Ucap Kevin cepat. " Lihat tuh." Ucap Menik menunjuk ke arah Koko dan Zelin dengan gerakan kepalanya. Kevin melihat dua orang itu. " Biarkan saja. Apa kamu mau lagi? Sini saya peluk." Ucap Kevin sambil merentangkan kedua tangannya. Menik mencubit lengan Kevin. " Aw." Kevin meringis. Semua orang melihat mereka berdua. Zelin langsung mengangkat kepalanya ketika mendengar suara itu. Dan Ziko ikut menoleh. " Maaf tuan." Ucap Kevin cepat. Menik ikut menganggukkan kepalanya. Kevin membuka bungkus soto yang di belikan Zelin untuknya. " Apa kamu sudah makan?" Ucap Kevin menawari Menik. " Belum." Ucap Menik jujur. " Ayo makan berdua." Ucap Kevin lagi. " Enggak ah, nanti saya ketularan." Jawab Menik. " Ketularan dari mananya. Justru kamu yang bawa virus." Ucap Kevin sambil menarik hidung Menik. " Virus? Memangnya saya membawa virus apa." Tanya Menik balik. " Virus cinta." Goda Kevin. Menik langsung menundukkan kepalanya karena malu. " Kenapa kamu menundukkan kepala? Hening cipta selesai." Ucap Kevin cepat. " Ih Bapak." Rengek Menik. Akhirnya Menik mau makan berdua dengan Kevin. Karena dia juga lapar. Sedangkan Koko dan Zelin makan di tempat terpisah. Mereka belum berani untuk makan sepiring berdua. Zira dan Ziko sudah menghabiskan makanannya. " Apa kamu mau makan sesuatu." Tanya Ziko pelan sambil mengelus rambut Istrinya. Zira menggelengkan kepalanya. Kemudian dia melihat dua pasang pria dan wanita yang duduk di sofa. Ziko melihat ke arah dua pasang itu. " Vin, ini sudah malam. Lebih baik kamu istirahat." Ucap Ziko cepat. " Dan Zelin pulanglah. Kamu juga harus istirahat." Ucap Ziko cepat. Kevin beranjak dari duduknya. " Baiklah saya pulang dulu." Ucap Kevin cepat sambil melirik Menik yang masih duduk. Menik melihat tatapan Kevin, dia ikut berdiri. " Saya juga mau pulang." Ucap Menik sambil berdiri di sebelah Kevin. Akhirnya Koko juga ikut pamit. Mereka keluar dari ruangan itu secara bersama-sama. " Ko, Menik biar saya yang antar." Ucap Kevin cepat. " Enggak saya ikut Koko aja." Ucap Menik menolak. Kevin menatap wajah Menik tajam. Dia tidak ingin Menik memeluk tubuh Koko. " Zelin kamu bawa mobil tidak?" Ucap Koko sambil berjalan beriringan dengan Zelin. " Enggak, tadi pagi aku ikut mobil papa kesini." Ucap Zelin pelan. " Mau aku antar pulang?" Ucap Koko menawari diri. Zelin tersipu malu sambil menganggukkan kepalanya. Kevin dan Menik berjalan di belakang Koko dan Zelin. " Apa kamu tidak mau memberi kesempatan untuk mereka berdua." Ucap Kevin pelan. " Memberikan kesempatan kepada mereka, atau Bapak yang mau ambil kesempatan?" Sindir Menik. Kevin diam, dia hanya tersenyum tipis. Mereka semua masuk ke dalam lift. Kevin menekan tombol lantai dasar tempat loby berada. Dalam beberapa menit pintu lift langsung terbuka. Mereka berjalan keluar secara bersamaan, ketika sampai parkiran mereka berpisah. Karena parkiran motor dan mobil di bedakan. Koko memberikan helm kepada Zelin untuk di pakainya. Setelah Zelin duduk, Koko mulai melajukan motornya. Koko sengaja melajukan motornya dengan kecepatan tinggi, agar Zelin mau memeluknya. Akhirnya ide Koko kesampaian, Zelin memeluk pinggang Koko. Ketika di peluk dari belakang jantung mereka berdua berdetak kencang. Koko mulai menurunkan kecepatan motornya. Didalam perjalanan mereka hanya diam. Menikmati malamnya syahdu di atas motor, itu yang mereka rasakan. Di mobil. Kevin sudah melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang dengan membawa Menik di sampingnya. " Nik?" Ucap Kevin memecahkan kesunyian malam itu. " Iya." Ucap Menik cepat sambil menoleh ke arah Kevin. " Nasi uduk saya mana?" Ucap Kevin basa basi. " Nasi uduk? Nasi uduknya sudah di makan Koko." Ucap Menik cepat. " Kenapa kamu berikan kepada Koko?" Ucap Kevin cepat. " Terus nasi itu harus saya berikan kepada siapa?" Ucap Menik cepat. " Kamu berikan saja kepadaku." Ucap Kevin lagi. Menik langsung membulatkan matanya, bingung dengan arah pembicaraan bosnya. " Udah basi tau." Ucap Menik cepat. " Enggak apa-apa. Nanti saya awetkan seperti cintaku kepadamu awetnya." Gombal Kevin. Menik langsung malu, karena lampu di dalam mobil tidak menyala, jadi rona merah dari wajahnya karena malu tidak terlihat. Dia merasa malu jika Kevin selalu mengatakan kata cinta di depannya. " Nik." Ucap lagi cepat. " Kalau saya melamar kamu, apakah kamu siap?" Ucap Kevin pelan. Menik bingung dia berusaha untuk menjawab itu dengan candaan. " Aduh Bapak, jangan bercanda deh. Saya ini miskin, jelek hidup lagi. Apa Bapak enggak malu hidup sama saya. Belum lagi saya bukan anak sekolahan." Ucap Menik cepat. " Enggak." Ucap Kevin cepat. " Tapi kalau saya malu jalan sama Bapak." Ucap Menik cepat. " Malu kenapa?" Kevin penasaran. " Ya karena saya tidak berpendidikan." Ucap Menik merendah. " Nik, saya tidak pernah malu jalan dengan kamu." Ucap Kevin cepat sambil sekali-kali melihat ke arah Menik. " Maaf Pak, saya memang tidak tau apakah perasaan Bapak dengan saya hanya main-main atau serius. Saya belum mau memikirkan itu. Bapakkan sudah tau tentang masa lalu saya. Jadi kita hanya sebatas bos dan bawahan." Ucap Menik cepat. Kevin diam. Menurutnya terlalu cepat dia mengatakan itu semua. Dia harus bersabar untuk mendapatkan hati Menik. " Baiklah, saya tidak memaksa kamu. Tapi jangan pernah menganggap ini hanya candaan atau gurauan. Setelah kamu siap, saya akan melamar kamu." Ucap Kevin tegas. Menik diam, ketika mendengar kalimat itu hatinya langsung berdetak kencang. Dia belum paham akan perasaannya. Mereka diam seribu bahasa. Kevin merasa tidak enak hati ketika mengatakan itu. Dia khawatir Menik akan menjauhinya. " Nik." Ucap Kevin cepat sambil melirik Menik. Menik hanya menoleh. " Kamu tidak akan menjauh kan?" Ucap Kevin lagi. Menik diam sambil menghembuskan nafasnya. " Saya akan menjauh kalau Bapak tidak mengatakan hal itu lagi." Ucap Menik tegas. Menik takut jatuh cinta lagi. Karena bayang-bayang tentang pertentangan hubungan mereka pasti akan muncul. " Kenapa Nik?" Ucap Kevin lagi. " Saya sudah jelaskan tadi. Harap Bapak maklum. Dan menurut saya, Bapak hanya menjadikan saya pelarian saja." Ucap Menik cepat. Kevin diam, menurutnya akan sia-sia jika menjelaskan dan mengatakan tentang perasaannya. Menik hanya butuh bukti itu pikirnya. Dan untuk perasaan Menik kepadanya, dia akan sabar menunggu dalam waktu yang tidak bisa di tentukan. Kebanyakan pria cenderung mendua, namun saat dia telah menemukan tambatan hati yang membuatnya merasa tenang, dia tidak akan pernah mampu untuk berpaling. " Like, komen dan vote yang banyak ya terimakasih." Chapter 292 episode 291 (S2) Kevin sudah mengantarkan Menik ke rumahnya. Tidak ada candaan atau godaan kepada wanita itu. Dia lebih memilih diam selama perjalanan ke rumah Menik. Di rumah sakit. Zira masih saja diam. Air matanya seperti mengering. " Sayang." Ucap Zira pelan. " Iya." Ziko mengelus punggung tangan istrinya. " Maafkan aku karena tidak mendengarkan nasehatmu." Ucap Zira pelan. " Sudahlah tidak ada yang harus di salahkan dalam hal ini." Ucap Ziko menengahi masalah itu " Kalau aku mengikuti nasehatmu untuk tetap di rumah pasti kejadian ini tidak akan terjadi." Ucap Zira lagi. " Sayang ini semua sudah kehendak yang di Atas, jangan pernah kamu mengulangi itu lagi. Kamu harus mengikhlaskannya." Ucap Ziko pelan. Zira memilih untuk diam. Dia memikirkan sesuatu tentang hubungannya dengan Ziko. " Ceraikan aku." Ucap Zira lagi. " Apa!" Ziko langsung berdiri dari kursi yang di dudukinya. " Kamu ngomong apa sih?" Ucap Ziko dengan intonasi yang tinggi. " Kamu ingat pada saat sebelum aku hamil, kamu pernah mengatakan akan menceraikan ku. Dan kamu kembali kepadaku ketika aku hamil. Sekarang aku sudah tidak hamil. Kamu bisa menceraikanku." Ucap Zira dengan pandangan jauh. " Maksud kamu apa? Kamu menganggap kalau aku hanya mencintaimu karena ada bayi dalam perutmu? Kamu salah besar. Aku mencintaimu tulus, seperti kamu mencintaiku. Walaupun kamu tidak hamil sekalipun aku akan tetap mencintaimu dan tidak akan menceraikanmu." Ucap Ziko tegas. Zira meneteskan air matanya. Dia tidak menyangka suaminya tetap mencintainya. " Jangan pernah mengatakan kata cerai lagi. Karena aku tidak suka. Aku masih mencintaimu dan akan tetap mencintaimu sampai rambut kita memutih, sampai nyawa sudah tidak di raga lagi. Cintaku tidak akan pernah pudar." Ucap Ziko sambil mengecup punggung tangan Zira. Ziko kembali duduk di kursi di samping tempat tidur. Zira tambah meneteskan air matanya. Rasa cinta mereka berdua lebih besar di bandingkan dunia ini. " Terimakasih telah mencintaiku." Ucap Zira mengelus tangan suaminya. " Cinta kita seluas samudera dan sedalam lautan. Siapapun tidak akan bisa memisahkan kita. Hanya Tuhan yang bisa memisahkan kita. Dan aku berharap dan berdoa agar Tuhan selalu menjaga cinta kita untuk selamanya." Ucap Ziko. " Kita adalah dua insan yang berbeda pemikiran tapi kita telah di satukan dalam suatu ikatan pernikahan." Ucap Zira. " Penyatuan yang awalnya hanya sebuah ikatan, tapi sekarang telah di patri dengan cinta." Ucap Ziko. " Terimakasih sayang telah mau menerima cintaku." Ucap Ziko. Zira menganggukkan kepalanya sambil tersenyum. " Tidurlah, hari sudah malam. Aku akan menjagamu di sini." Ucap Ziko. Akhirnya Zira bisa menutup matanya, dan tidur dengan perasaan yang lega. Walaupun kehilangan anaknya sangat menyakitkan tapi dia sudah bisa merelakan bayi mungil ini. Perasaannya tenang, karena suaminya tetap mencintainya sepenuh hati. Malam semakin ralut, tapi Ziko masih belum bisa memejamkan matanya. Dia terus memandangi wajah istrinya. Wajah yang pernah dia sakiti sekarang menjadi penyemangat untuk hidupnya. Wajah itulah yang akan selalu ada di dalam relung hatinya. Di tempat lain. Menik juga belum bisa memejamkan matanya. Perasaannya gundah gulana. Ucapannya kepada Kevin, menurutnya sungguh keterlaluan. Dia keluar dari kamarnya dan mengetuk pintu kamar adiknya. Tok tok tok. Lama Menik didepan pintu, Bima belum juga membukakan pintunya. Menik mengetuk pintu kamar itu lagi. Tidak berapa lama pintu di buka. Bima membuka pintu sambil menguap. " Apa sudah pagi." Ucap Bima pelan sambil tetap menguap. " Belum, kakak mau curhat." Ucap Menik cepat sambil menarik tangan adiknya untuk duduk di kursi. " Besok aja lah curhatnya. Aku ngantuk." Ucap Bima dengan mata sedikit tertutup. " Enggak bisa, kakak mau dengar pendapat kamu." Ucap Menik cepat sambil memegang kedua bahu adiknya agar duduk di kursi. Dengan susah payah akhirnya Bima duduk di kursi. " Kakak tadi di antar Pak Kevin." Ucap Menik cepat. Arggggghhhh Bima mendengkur. " Di ajak ngobrol malah ngorok." Gerutu Menik langsung mencubit adiknya agar bangun. " Aw." Ucap Bima sambil meringis kesakitan. " Kenapa kakak mencubitku." Gerutu Bima. " Kakak mau bicara, bukan mau dengar ngorokmu." Gerutu Menik balik. " Kakak sih, ini sudah larut malam. Lebih baik kakak istirahat." Gerutu Bima. " Kakak enggak bisa tidur kalau tidak mendengar pendapat kamu." Ucap Menik cepat. " Memangnya kakak mau bicara apa?" Ucap Bima pelan sambil menguap. " Di mobil tadi Pak Kevin berkata tentang pernikahan, dia bertanya tentang pendapat kakak mengenai idenya untuk melamar kakak." Ucap Menik. " Terus." " Kakak jawab, kalau kakak tidak suka dia membicarakan hal itu di depan kakak. Kamu kan tau kalau kakak pernah trauma." Ucap Menik sambil menggoyang lengan adiknya. " Terus yang mau kakak tanyakan kepadaku apa." Tanya Bima. " Apa kakak tidak keterlaluan bicara seperti itu kepadanya." Ucap Bima pelan. " Menurutku sih enggak keterlaluan, cuma yang aku bingung itu, kenapa setelah kakak mengatakan itu kepadanya, baru kakak merasa bersalah?" Ucap Bima balik. " Enggak tau, kakak rasa kata-kata kakak menyakiti perasaannya." Ucap Menik lagi. " Sebenarnya kalau aku di posisi Bapak itu, sama saja kakak menolak dia mentah-mentah. Dan kalau aku jadi dia, pasti aku cari yang mau menerimaku. Untuk apa menunggu yang jelas-jelas sudah menolak." Ucap Bima. " Jadi seperti itu pemikiran pria?" Ucap Menik bingung. " Iya, kakak kenapa sih. Gusar banget." Bima memperhatikan Menik duduk di kursi dengan tidak tenang. " Kakak bisulan." Ucap Menik asal. " Kalau tidak ada yang mau di bicarakan lagi, aku kembali nih." Ucap Bima sambil beranjak dari kursinya. Bima berjalan beberapa langkah menuju kamarnya, kemudian dia membalikkan lagi badannya melihat ke arah Menik. " Kalau kakak memang tidak mempunyai perasaan kepadanya. Tidak perlu cemas, tindakan kakak sudah benar. Tapi kalau kakak ada punya rasa terhadap dirinya, tindakan kakak salah." Ucap Bima sambil berlalu meninggalkan kakaknya. " Tunggu! Salahnya di mana?" Ucap Menik menahan adiknya untuk tidak meninggalkannya sendirian. " Ya karena sudah kakak tolak, siap-siap saja dia mencari yang lain." Bima pergi dan berlalu meninggalkan kakaknya. Menik bingung, dia tidak paham dengan perasaannya. Ketika adiknya mengatakan kalau Kevin bisa mencari wanita lain. Hatinya langsung perih. Dia membenamkan wajahnya di dalam selimut kamarnya. Perkataan adiknya seperti mimpi buruk yang akan di alaminya. " Apa yang harus aku lakukan?" " Apakah aku juga mencintainya, Kalau memang rasa itu ada aku tidak tahan jika ada penolakan dari keluarganya." " Apa harus merenung dan menjauh agar aku bisa paham arti hati ini." Menik melihat ke langit-langit kamarnya. Dalam beberapa menit dia langsung masuk ke dalam alam mimpi. Dimana dia bermimpi sedang di dalam sebuah acara pernikahan. Pernikahan yang cukup mewah, dengan tema garden dan warna dress codenya putih. Di dalam mimpinya dia mengenakan gaun berwarna putih. Ada sosok pria yang datang berjalan kearahnya, pria itu mengenakan setelan tuxedo putih senada dengannya. Dan pria itu tersenyum sambil terus berjalan kearahnya. Tapi Kevin tidak berhenti didepannya dia terus melangkah meninggalkan Menik dan berhenti pada satu wanita yang mengenakan gaun pengantin berwarna senada dengan Kevin. Wajah wanita itu tidak terlihat karena adanya pantulan cahaya yang menyinarinya. " Tidak." Teriak Menik. " Like komen dan vote yang banyak ya terimakasih." Chapter 297 episode 296 (S2) Kevin sudah menghubungi perusahaan jasa yang bersedia menjual apartemen milik bosnya. Mobil sudah meluncur meninggalkan gedung apartemen itu. " Selanjutnya kita kemana tuan?" Ucap Kevin fokus menyetir. " Kita ke developer perumahan." Ucap Ziko cepat. Kevin langsung menekan pedal gasnya cepat. Mereka sampai di sebuah perumahan elite. Mobil berhenti di depan kantor developer perumahan itu. " Selamat siang. Ada yang bisa di bantu." Ucap seorang wanita ramah. " Saya ingin membeli rumah yang tidak terlalu besar. Ucap Ziko cepat. Wanita itu menunjukkan model rumah yang di maksud Ziko. Dia menjelaskan luas bangunan dan lebar tanahnya. " Kalau Bapak berkenan, mari saya tunjukkan rumahnya." Ucap wanita itu ramah. " Baiklah." Ucap Ziko cepat. Mobil Kevin mengikuti mobil wanita di depannya. Mereka berhenti pada satu rumah yang berada di pinggir. " Silahkan." Ucap wanita itu sambil membuka pintu rumah itu. Wanita itu menjelaskan semuanya, dari material semua di jelaskannya. Ziko dan Kevin memperhatikan setiap sudut rumah itu. Rumah dengan tiga kamar. Dan dua kamar mandi. Satu kamar mandi di kamar utama dan satu kamar mandi di bagian dapur. Rumah itu hanya mempunyai beberapa ruangan. Ruang tamu, ruang keluarga dan ruang makan, beserta dapur. Untuk menambah kesan asri ada taman di bagian belakang beserta berandanya. Dan di bagian depan hanya ada rerumputan yang di susun sedemikian rupa sehingga menjadi daya tarik rumah itu. " Bagaimana menurut kamu." Tanya Ziko meminta pendapat Kevin. " Bagus tuan." Ucap Kevin cepat. " Rumah ini memang tidak terlalu besar. Malah lebih besar rumah kamu. Tapi menurutku dengan rumah ini suasana kekeluargaan akan terasa lebih hangat." Ucap Ziko cepat. " Tuan benar, nanti saya jual rumah juga." Ucap Kevin cepat. " Ngapain kamu mengikuti aku. Selera kita berbeda. Kalau kamu sudah punya rumah pakai saja yang itu. Jangan ikuti aku." Ucap Ziko cepat. " Ah tuan, apa tuan tidak ingin bertetangga dengan saya." Goda Kevin. " Boleh kamu bertetangga denganku tapi kalau sudah nikah. Kalau belum jangan." Ucap Ziko cepat. Wanita tadi menjelaskan harga rumah itu. " Baiklah, saya ambil ini. Kirimkan berkas dan surat-suratnya ke gedung Raharsya group." Ucap Ziko cepat. Wanita itu menganggukkan kepalanya pelan. Ziko hendak keluar meninggalkan rumah itu kemudian berbalik lagi sambil melihat wanita yang bekerja di developer perumahan itu. " Saya mau surat-surat rumah selesai hari ini. Besok kami pindah ke sini." Ucap Ziko cepat. " Ba..baik tuan." Ucap wanita itu gugup. Ziko dan Kevin sudah berlalu meninggalkan wanita itu sendirian di rumah itu. Wanita itu di awal tidak tau kalau yang berada di depannya adalah Ziko orang nomor satu di kota mereka. Tapi setelah dia tau kalau itu adalah Ziko, dia langsung gugup. Dia terlihat panik ketika mendengar surat-surat harus di urus dan selesai hari ini. Dia memutar otaknya agar bisa menghubungi bagian pertanahan dan departemen yang terkait. " Antarkan aku ke rumah sakit saja. Kamu tunggu wanita itu di kantor. Kabari aku jika surat-suratnya sudah lengkap." Ucap Ziko cepat. " Baik tuan." Ucap Kevin. Ziko sudah di antarkan ke rumah sakit. Kevin kembali ke kantor. Dia tiba di kantor pada saat jam makan siang. Sehingga keadaan di loby kantor cukup ramai karyawan yang hendak pergi ke kantin atau sekedar makan di luar. Ketika hendak masuk ke ruangannya. Dia melihat Menik duduk di pantry sambil menikmati makan siangnya. Dia menghampiri ruangan itu. " Selesai makan, masuk ke ruangan saya." Ucap Kevin cepat. " Untuk apa Pak. Bukannya ini masih makan siang." Ucap Menik cepat. Kevin tidak menjawab, dia berlalu meninggalkan wanita itu dengan makan siangnya. Di dalam ruangannya Kevin terlihat kesal. " Bisa-bisanya dia lupa membawakan makan untukku." Gerutu Kevin. Tidak berapa lama, pintu ruangan di ketuk. " Masuk." Ucap Kevin sedikit teriak. Menik langsung masuk dan kembali menutup pintu ruangan itu. " Mana makan siang saya." Ucap Kevin cepat sambil menatap tajam wajah wanita yang berdiri di depannya. " Bukannya Bapak tidak mau." Ucap Menik cepat. " Kapan saya bilang tidak mau. Kemarenkan saya sibuk bukan tidak mau." Ucap Kevin cepat. " Yah mana saya tau, berarti saya salah mengartikan maksud Bapak ya." Tanya Menik lagi. " Ayo ikut saya." Ucap Kevin cepat. " Kemana Pak?" Menik mengikuti langkah Kevin yang menurutnya cukup lebar. Pria itu berdiri di depan lift khusus presiden direktur. Dan Menik berdiri didepan lift khusus karyawan. Pintu lift khusus presiden direktur terbuka. Kevin langsung masuk dan menarik tangan Menik untuk masuk ke dalam lift. Wanita itu berdiri sambil bersandar dan Kevin berdiri persis di depannya. Hanya ada jarak beberapa centimeter posisi mereka berdua. " Pak saya bukan presiden direktur. Nanti kalau orang lain lihat bagaimana?" Ucap Menik gugup karena Kevin sangat dekat dengan wajahnya. Kevin tidak menjawab, dia melihat mulut Menik yang merah merekah bak buah strawberry. Ingin rasanya dia mencomot bibir itu. Menik terlihat salah tingkah. Tapi Kevin terus memojokkannya. Wanita itu langsung menutup matanya sambil membuka mulutnya, dia spontan melakukan itu. Kevin langsung tertawa melihat Menik seperti itu. Mendengar Kevin tertawa Menik langsung membuka matanya dengan perasaan malu. " Siapa lagi yang mau menciummu, aku cuma mau bilang ada cabe di gigimu." Ucap Kevin cepat sambil dengan gelak tawanya. Menik malu, dia langsung berkaca pada dinding kaca yang ada di dalam lift itu. Dia mengecek satu persatu giginya, memang ada cabe yang nyelip di giginya. " Harga cabe lagi murah Pak, makanya dia nyelip di gigi saya." Ucap Menik untuk menutupi rasa malunya. " Buahahaha, memangnya celana dalam pakai nyelip segala." Ucap Kevin sambil tertawa. Menik langsung membuang mukanya melihat kearah yang lain. Dia merasa malu dengan tingkahnya. Aku ini oon banget, kenapa mulut ini langsung menganga seperti minta cium. " Bapak enggak usah geer, saya itu tadi tutup mata. Karena lagi kelilipan." Ucap Menik asal. " Kelilipan dari mana. Jelas-jelas kamu menginginkan bibirku." Goda Kevin. " Terus kenapa mulut kamu terbuka seperti ikan koi." Ucap Kevin asal. Menik menggaruk kepalanya, dia bingung harus menjawab apa. " Oh itu karena parfum Bapak harum banget. Tadi saya menikmati aroma itu." Ucap Menik asal membela diri. Kevin mencium aroma tubuhnya sambil mengangkat tangannya. " Apa kamu suka dengan aromo tubuhku." Goda Kevin lagi. " Suka banget Pak, tapi sayang aromo tubuh itu tidak asli." Ucap Menik cepat. " Maksud kamu apa." Tanya Kevin. " Coba Bapak tidak pakai parfum pasti aroma tubuh Bapak tidak harum seperti sekarang. Saya yakin aroma tubuh Bapak bau ikan asin." Ucap Menik asal. Kevin memikirkan sesuatu yang pasti menguntungkan untuk dirinya. " Ok, kita lihat besok. Kalau aroma tubuhku tetap wangi sampai pulang kerja. Apapun yang aku inginkan harus kamu penuhi." Ucap Kevin cepat. " Ok siapa takut. Kebalikan dari itu, kalau aroma tubuh Bapak bau, saya mendapatkan apapun yang saya inginkan." Ucap Menik. " Ok deal, mereka saling bersalaman." Kevin langsung mematikan hasil rekamannya. " Kenapa bapak rekam." Ucap Menik bingung. " Ini sebagai bukti kalau kamu tidak akan mengingkari perjanjian ini." Ucap Kevin cepat. " Pak kalau boleh tau, nanti kalau saya kalah, bapak mau minta apa." Menik mulai khawatir kalau Kevin minta aneh-aneh kepada dirinya. " Ada deh." Ucap Kevin cepat. " Bapak tidak minta mahkota sayakan." Ucap Menik pelan sambil tertunduk. " Idih rendah sekali harga diri saya. Seperti tidak laku saja." Ucap Kevin cepat. " Syukurlah kalau Bapak tidak minta yang ini." Ucap Menik sambil menutup bagian bawahnya dengan kedua tangannya. " Nik, untuk hal seperti itu bukan di jadikan candaan." Ucap Kevin cepat. Kemudian pintu lift terbuka. Kevin sudah melangkahkan kakinya keluar lift. Tapi Menik masih diam terpaku di dalam ruangan kecil itu. Ada rasa senang ketika mendengar hal itu bukan candaan bagi Kevin. Menurutnya bosnya pria yang baik. " Like, komen dan vote yang banyak ya terimakasih." Chapter 298 episode 297 (S2) " Nik, kamu mau keluar atau mau bermalam di situ." Ucap Kevin cepat. Menik tersadar dari lamunannya. " Iya Pak." Ucap Menik sedikit berlari keluar dari lift itu. Lift khusus karyawan bersebelahan dengan lift khusus presiden direktur. Pada saat Kevin keluar dari lift kemudian di susul dengan Menik. Semua mata karyawan tertuju pada office girl itu. Mereka terlihat sinis melihat Menik. Karyawan saling berbisik-bisik satu sama lain. " Bisa-bisanya dia naik lift khusus presiden direktur. Pasti pakai pelet tuh." Ucap Karyawati dengan teman-temannya. " Pasti dia ada main dengan Pak Kevin." Timpal seorang lagi. Kevin berjalan agak jauh beberapa langkah dari Menik. Menik berada di belakangnya kira-kira lima langkah dari Kevin. Dia mendengarkan semua pembicaraan karyawati itu. Ada rasa sakit di bagian telinganya ketika orang berpikiran jelek tentangnya. Dia memberhentikan langkah kakinya, dan memutar badannya. Kemudian dia berjalan kembali dan berhenti pada kerumunan karyawati yang sedang menggosipkan dirinya. " Lihat dia datang." Ucap salah satu karyawati kepada temannya. " Siapa yang bilang aku ada pakai pelet dan ada main dengan Pak Kevin." Tanya Menik kepada semua karyawati yang berkerumun di depan pintu lift. Semua karyawati itu acuh tak acuh sambil melihat ke arah lain. Kevin sudah sampai di depan pintu loby, tapi ketika dia berbalik Menik tidak ada di belakangnya. Kevin kembali lagi masuk ke dalam loby itu, mencari keberadaan Menik. " Kemana lagi si Menik." Gumam Kevin pelan. Dari jauh Kevin bisa melihat Menik sedang di tengah-tengah kerumunan karyawati. " Jawab aku siapa yang bilang aku pakai pelet dan ada main dengan Pak Kevin." Ucap Menik emosi. " Aku." Ucap salah satu karyawati yang postur tubuhnya lebih tinggi dari Menik. Menik melihat tubuh wanita itu sambil tertawa terbahak-bahak. " Kenapa kamu tertawa?" Ucap wanita itu heran. " Kamu itu sebenarnya iri dengan aku." Ucap Menik sambil tetap dengan gelak tawanya. " Apa yang harus aku irikan dari kamu, cih." Ucap wanita itu ketus. " Kalau jabatan memang aku kalah, apalagi tinggi badan aku juga kalah. Tapi postur tubuh aku menang." Ucap Menik mengejek wanita itu. Teman karyawati itu tertawa mendengar ucapan Menik. Karena tubuh wanita itu bulat seperti balon. " Diam." Ucap karyawati itu kepada temannya. Menik masih tetap tertawa. Karyawati yang berada didepan Menik langsung diam seperti ketakutan. " Kenapa kalian semua diam." Tanya Menik bingung sambil melihat sesuatu ke belakangnya. " Kamu kenapa sayang." Ucap Kevin didepan karyawati semua. Menik kaget, mulutnya seperti tercekik. Dia tidak habis pikir kalau Kevin akan mengatakan sayang di depan semua karyawannya. " Apa mereka mengganggumu." Tanya Kevin sambil melebarkan pandangannya ke semua karyawati. Pintu lift sudah terbuka, tapi semua karyawan tidak ada yang berani bergerak untuk masuk ke dalam lift itu. Menik masih diam seribu bahasa. Perasaannya campur aduk seperti nasi campur. " Jangan ganggu Menik, kalau ada yang menggangu atau membicarakan hubungan saya dengan Menik. Kalian semua akan saya pecat." Ucap Kevin cepat. " Enggak Pak maaf." Ucap wanita tadi yang berbadan tinggi dan berbody balon. Dia langsung menyalami Menik sambil mencium tangan. Semua karyawan mencium tangan Menik. Setelah itu mereka masuk ke dalam lift secara bersamaan. Menik bingung dengan tingkah semua karyawati tadi yang langsung melembek ketika berhadapan dengan Kevin. " Ayo kita pergi." Ucap Kevin cepat sambil menggandeng tangan Menik. Di loby masih banyak orang, semua karyawan dan karyawati yang ada di loby melihat kejadian itu. Mereka memilih untuk menundukkan kepalanya seperti tidak terjadi apa-apa. " Pak tangan saya jangan di gandeng." Ucap Menik berbisik. " Ya sudah kalau tidak mau di gandeng, saya gendong mau." Ucap Kevin sambil melepaskan genggamannya. " Eh... genggam aja enggak apa-apa kok. Tangan saya sudah pakai hand sanitizer." Ucap Menik polos sambil menyerahkan tangannya kepada Kevin. Mereka berjalan sambil bergandengan tangan sampai ke parkiran. Ada seseorang yang melihat kejadian itu yang tidak lain adalah adiknya Bima. " Katanya trauma, tapi di gandeng diam saja." Gumam adeknya pelan. Kevin membukakan pintu untuk Menik. Dia langsung masuk dengan perasaan campur aduk. Dia bisa membayangkan gosip tentang dirinya akan tersebar luas di gedung itu. Mobil sudah melaju dengan kecepatan sedang. Sepuluh menit kemudian Mobil berhenti. " Lah sudah sampai ya Pak." Ucap Menik bingung. " Ayo turun." Ucap Kevin. Menik turun sambil melihat sekelilingnya. " Pak itu kan kantor kita." Ucap Menik sambil menunjuk ke arah gedung Raharsya group. Gedung itu ada di depan tempat mobil Kevin berhenti. " Iya, memangnya kenapa?" Ucap Kevin pelan sambil menutup pintu mobilnya. " Bapak mau makan di sini." Tanya Menik lagi. Kevin menganggukkan kepalanya. " Owalah Pak, kenapa harus naik mobil sih. Tinggal menyebrang sampai. Enggak harus naik mobil, polusi udara tau." Gerutu Menik. " Ya udara." Ucap Kevin sambil senyum tipis. " Nama kamu cocok dengan kepribadian kamu. Yaitu tidak suka dengan polisi udara." Ejek Kevin. " Polusi bukan polisi." Ucap Menik memperbaiki kata bosya. Pelayan restoran memberikan tempat duduk di tengah dengan dua kursi yang saling berhadapan. " Kamu mau makan apa." Tanya Kevin. " Saya sudah makan, Bapak aja yang pesan." Ucap Menik cepat. " Setidaknya minum ya." Ucap Kevin lembut. " Ya sudah air putih satu." Ucap Menik polos kepada pelayan restoran. " Air putih di kolam juga banyak." Gerutu Kevin. Kevin membuka buku menu. " Saya pesan spaghetti dan es krim." Ucap Kevin cepat kepada pelayan restoran. Pelayan restoran sudah mencatat menu pesanan Kevin dan pergi meninggalkan tamunya. " Pak, kenapa tadi mengatakan sayang di depan mereka semua. Kan semalam sudah saya bilang kalau saya tidak mau Bapak mengatakan hal itu." Gerutu Menik. " Hal yang mana, bukannya kamu bilang tentang pernikahan. Perbedaan kata sayang dan pernikahan itu jauh banget." Ucap Kevin tidak mau kalah. " Bukan itu Pak, memang perbedaannya jauh tapi maknanya sama." Ucap Menik asal. " Sama dari mana. Sayang itu bisa sayang sebagai kakak, kekasih atau sahabat." Ucap Kevin cepat sambil tersenyum licik. Menik bingung dia tidak bisa melawan perkataan bosnya. " Iya Pak, tapi pasti akan banyak yang membenci saya." Gerutu Menik pelan. " Kalau saya tadi tidak datang, pasti kamu akan tetap menjadi bulan-bulanan mereka." Ucap Kevin pelan. " Jadi yang bapak katakan tadi benar." Tanya Menik lagi. " Yang mana?" " Bapak akan memecat mereka semua." Ucap Menik lagi. Kevin menganggukkan kepalanya cepat. Ada tidaknya mereka membicarakan tentang kita pasti tetap akan di pecat. Karena kondisi perusahaan yang tidak stabil. Pelayan datang dengan membawa hidangan ke meja mereka. Kevin langsung makan menu pilihannya. Dan es krim di serahkan pelayan kehadapan Menik. " Makanlah." Ucap Kevin cepat. Menik menikmati es krim itu dengan nikmatnya. Sambil tertawa kecil. " Nik jangan kesurupan." Ucap Kevin mengingatkan Menik. " Enggak kok Pak, saya itu lucu melihat karyawan tadi menyalami saya seperti orang tuanya saja." Ucap Menik dengan gelak tawanya. " Ya sudah anggap saja mereka anak didik kamu." Ucap Kevin cepat. Menik menikmati es krim itu yang menurutnya rasanya luar biasa enak. " Pak es krim ini enak sekali. Beda banget sama es lilin." Ucap Menik asal. " Kalau kamu suka, setiap hari akan saya belikan untuk kamu." Ucap Kevin cepat sambil menyuapkan sendok ke dalam mulutnya. Menik menganggukkan kepalanya cepat. " Berapa harganya Pak." Tanya Menik pelan sambil menikmati lembutnya es krim itu. " Satu juta." Ucap Kevin cepat. " Apa!" Menik kaget. Orang yang berada di dalam restoran itu melihat kearah mereka. " Sstt kecilkan suara kamu." Ucap Kevin pelan. " Satu juta, mending enggak usah Pak. Kalau pengen es krim saya makan aja es batu di kulkas. Kalau perlu saya tidur di kulkas." Ucap Menik dengan ekspresi kaget. Kevin tidak menghiraukan ucapan Menik. " Mahal banget. Padahal hanya es." Gerutu Menik. " Ya sudah cepat habiskan es krim itu. Waktu istirahat sudah mau habis." Ucap Kevin mengingatkan Menik. Tadinya Menik menikmati es krim itu dengan semangat tapi ketika mendengar harganya dia kurang bernapsu menghabiskan isi mangku es krim itu. Kevin memperhatikan Menik. Dia mulai iseng. " Nik, kalau enggak habis harganya bisa dua kali lipat." Ucap Kevin bohong. " Apa!" Menik berteriak lagi semua melihat kearah mereka berdua. " Jangan berteriak, nanti semua orang yang berada di sini kena serangan jantung." Ucap Kevin pelan. Dengan cepat Menik langsung menghabiskan es krim itu. " Sudah Pak saya kenyang." Kevin mengambil tisu dan membersihkan mulut Menik yang belepotan es krim. " Kamu seperti anak kecil." Ucap Kevin pelan sambil membersihkan bibir Menik. " Enggak usah Pak, biar saya sendiri." Ucap Menik mengambil tisu yang ada di tangan Kevin. Tangan mereka saling bersentuhan, dan pandangan mereka bertemu cukup dalam. Menik langsung tersipu malu sambil menunduk wajahnya. Kenapa kalau dia menyentuh tanganku secara tidak sengaja hatiku terasa berdebar-debar, tapi ketika dia menggenggam tanganku dengan sengaja perasaan itu biasa saja. " Like, komen dan vote yang banyak ya terimakasih." Chapter 299 episode 298 (S2) Ziko sudah tiba di rumah sakit, di dalam ruangan istrinya di rawat ada kedua orang tuanya. Ziko melihat Zira sedang belajar berjalan, dia di bantu perawat. " Sayang kamu sudah bisa berjalan." Ucap Ziko melihat istrinya berjalan secara perlahan. Zira menganggukkan kepalanya. Kedatangan Ziko di sambut sang mama dengan pertanyaan seputar masalah kantornya. " Iko bagaimana." Tanya mamanya. Ziko langsung melirik mamanya, dia tidak ingin membicarakan masalah ini di depan istrinya. Zira mengerti maksud lirikan Ziko kepada mamanya. " Belajar jalannya sudah dulu suster, aku capek." Ucap Zira pelan. Perawat pergi meninggalkan ruangan itu. Zira kembali duduk di atas kasur. Ziko membantunya. Ziko memperhatikan makanan yang sudah kosong di atas meja samping tempat tidur. " Kamu sudah makan siang sayang." Tanya Ziko. Zira menganggukkan kepalanya cepat. " Aku ngantuk." Ucap Zira bohong. " Tidurlah, kamu harus banyak istirahat." Ucap Ziko sambil mengelus rambut Istrinya. Zira pura-pura memejamkan matanya. Hampir 15 menit Ziko duduk di sebelah istrinya sambil mengelus rambutnya. Setelah di rasanya Zira sudah tidur dia pindah duduk di sebelah kedua orangtuanya. " Kamu sudah makan." Tanya mamanya. " Belum ma." Ucap Ziko cepat. Nyonya Amel menyerahkan makanan yang telah di bawakan Pak Budi siang tadi. " Makanlah." Ucap mamanya. Sambil makan mamanya terus bertanya. " Bagaimana, apa sudah ada kabar mengenai dibalik anjloknya nilai saham kita." Tanya mamanya. " Sudah." Ucap Papanya cepat. " Kenapa papa tidak bilang dari tadi kepadaku." Gerutu Nyonya Amel. " Mana mungkin aku bicara mengenai hal ini di depan Zira. Kamu itu seharusnya mengerti." Ucap Tuan besar cepat. Nyonya Amel paham kenapa suaminya tidak mau membicarakan hal itu kepadanya ketika baru tiba di rumah sakit, ternyata alasannya karena Zira. " Siapa." Tanya Nyonya Amel. " Hariadi." Ucap papanya. Zira masih mendengar nama seseorang yang di sebut papa mertuanya. " Hariadi, seperti tidak asing nama itu." Ucap Nyonya Amel sambil berpikir. " Papanya Sisil." Timpal suaminya. " Apa!" Ucap Mamanya kencang. " Sstt jangan berisik ma, nanti Zira dengar. Jangan sampai dia tau tentang permasalahan perusahaan itu. Aku tidak mau Zira memikirkan hal-hal yang berat." Ucap Ziko pelan sambil melihat ke arah tempat tidur. Zira masih terbaring seperti orang tidur. " Ya kamu benar." Ucap Mamanya. " Apa motif di balik ini semua." Tanya mamanya lagi. Tuan besar menceritakan semuanya, dari foto yang di terima Ziko, sampai mereka langsung mendefinisikan kalau yang ada di dalam foto itu adalah Hariadi. " Hariadi sudah terlalu lama dendam dengan keluarga kita. Jadi dia memanfaatkan situasi ini dengan memberikan informasi perusahaan kepada tuan sultan dengan imbalan sebuah kerjasama." Ucap Tuan besar. " Dan dia juga minta kebebasan anaknya." Timpal Ziko. " Ya sudah cabut saja gugatan itu." Ucap mamanya. " Sama saja, ketika kita mencabut gugatan itu anaknya bebas. Sultan tidak akan mau memperbaiki nilai saham kita. Dia manusia yang sangat egois." Ucap papanya. " Jadi bagaimana." Tanya mamanya khawatir. " Kita mencari perusahaan lain yang mau bekerjasama dengan perusahaan kita." Ucap Ziko. " Siapa." Tanya mamanya lagi. Ziko mengangkat kedua bahunya, dia juga belum tau siapa yang mau bekerjasama dengan perusahaan yang sudah mau bangkrut. " Kalau tidak ada bagaimana." Ucap mamanya lagi. " Kemungkinan besarnya semua karyawan di PHK. Kita gulung tikar." Ucap tuan besar sambil mengeluarkan nafasnya secara kasar. Hati Zira merasa sedih mendengar cerita itu. Begitu banyak cobaan yang di alami dia dan keluarganya. " Besok bawa bukti itu ke kantor polisi. Papa ingin Hariadi di angkut kepenjara." Ucap papanya cepat. " Baik pa. Aku juga mau minta bantuan sama pengacara." Ucap Ziko cepat. Ziko melihat istrinya yang masih tertidur. " Kapan Zira boleh pulang." Tanya Ziko. " Kata dokter kemungkinan besar besok." Ucap mamanya. Ziko teringat sesuatu, dia mengambil ponselnya dan keluar dari ruangan itu. Dia menghubungi Kevin " Halo." Ucap Ziko cepat. " Ya tuan." Jawab Kevin. " Apa sudah ada kabar dari perusahaan developer itu." Tanya Ziko lagi. " Belum tuan, nanti kalau dia sudah datang saya kabari." Ucap Kevin cepat. " Baiklah, kalau sudah deal. Besok cari furniture untuk rumah baru kami. Dan minta Pak Budi untuk membantu kamu. Semua pakaian kami pindahkan ke rumah baru." Ucap Ziko cepat. " Baik tuan, jam berapa kira-kira nona Zira keluar dari rumah sakit." Tanya Kevin. " Belum tau, tapi nanti aku akan membawanya ke makam anak kami terlebih dahulu. Setelah itu kami akan langsung kerumah baru." Ucap Ziko menjelaskan. " Baik tuan." Ucap Kevin. " Tunggu." Ucap Ziko lagi " Ya tuan." Tanya Kevin. " Renovasi butik Zira. Buat ruangan istriku di lantai satu. Aku tidak mau dia naik tangga lagi." Perintah Ziko. " Maaf tuan, jika nona Zira ingin mengecek barang pasti akan naik tangga juga." Ucap Kevin cepat. " Aku akan melarangnya, dan akan aku perintahkan seseorang untuk mengawasinya." Ucap Ziko lagi. " Apa sebaiknya butik itu di jual, dan cari yang lebih besar dan tidak bertingkat." Ucap Kevin memberikan sebuah ide. " Bagus juga ide kamu, tapi akan sulit bagi Zira untuk melepaskan bangunan itu. Bangunan itu banyak sejarah baginya. Pelan-pelan akan aku bicarakan sama istriku. Kamu fokus saja dengan yang tadi." Ucap Ziko lagi. " Baik tuan." Setelah itu panggilan tertutup. Ziko kembali masuk ke dalam kamar istrinya di rawat. " Ko, karena kamu sudah datang, papa dan mama mau pulang dulu. Besok pagi mama kesini lagi." Ucap mamanya pamit. Tinggal Ziko dan Zira di dalam ruangan itu. Setelah mama dan papa mertuanya pergi Zira membuka matanya. " Kamu sudah bangun." Ucap Ziko menghampiri tempat tidur Zira. Zira menganggukkan kepalanya cepat. Ziko menawari sesuatu untuk di makan istrinya. " Kamu mau buah." Ucap Ziko. Zira menganggukkan kepalanya dan Ziko mengupas buah mangga untuk di makan istrinya. Zira memperhatikan wajah suaminya. " Kamu kenapa sayang?" Ucap Zira pura-pura tidak tau. " Maksud kamu apa." Tanya Ziko balik. " Kamu tidak ada masalah kan." Ucap Zira langsung. " Enggaklah, wajah ganteng gini di bilang ada masalah." Ucap Ziko mencoba menghindar dari pertanyaan istrinya. " Ya ganteng." Ucap Zira sambil menarik hidung suaminya. Zira menikmati potong buah mangga yang di berikan suaminya. " Manis banget mangganya." Ucap Zira cepat. " Manislah semanis diriku." Ucap Ziko cepat. " Heleh kamu itu bukan manis tapi pahit." Ucap Zira cepat. " Obat dong kalau pahit." Ucap Ziko kemudian mereka tertawa bersama. " Sayang, besok pagi aku akan pergi sebentar ke kantor. Kamu sama mama ya." Ucap Ziko sambil mengelus rambut Istrinya. Zira menganggukkan kepalanya cepat. " Sayang berapa lama jahitan di perut kamu hilang." Tanya Ziko cepat. " Enggak tau." Ucap Zira cepat. Ziko mengambil ponselnya, dia menghubungi seseorang yaitu Dokter Diki. " Kalau tidak sibuk, kamu datang ke ruangan Zira." Ucap Ziko sambil menutup ponselnya. " Kamu menghubungi siapa." Tanya Zira. Sebelum Ziko menjawab pintu ruangan itu di ketuk dari luar. Ziko langsung membuka pintu dengan segera. " Selamat siang menjelang sore Zira." Ucap Dokter Diki ramah. Zira menjawab dengan senyuman. " Jangan kamu tersenyum sama perjaka tua ini." Ucap Ziko melarang istrinya untuk tersenyum. " Enggak apa-apa dong Ko, senyum itu ibadah. Betul tidak Zira." Ucap Dokter Diki sambil melirik Zira. " Bagaimana keadaan kamu." Ucap Dokter Diki cepat. " Sudah mulai membaik dokter." Ucap Zira pelan. " Ki, jelaskan kepadaku berapa lama jahitan ini akan hilang." Tanya Ziko cepat. " Biasanya seminggu jahitan luar sudah kering, jahitan dalam mungkin sampai sebulan lebih." Ucap Dokter Diki menjelaskan. " Apa tidak ada obat yang membuat jahitannya cepat kering." Tanya Ziko lagi. " Ada kok, apa kamu ada di kasih resep obat sama dokter spesialis kandungan." Tanya Dokter Diki kepada Zira. " Ada." Ucap Zira sambil menunjuk laci meja. Ziko mengambil obat yang ada di laci tersebut, dan menunjukkan kepada temannya Dokter Diki. " Ya ini obatnya. Ini obatnya mahal Ko, dia cepat membuat luka mengering dengan sangat cepat. Kamu bertanya mengenai hal ini. Jangan bilang kalau kamu mau honeymoon lagi." Tebak dokter Diki. " Honeymoon pasti, iyakan sayang." Ucap Ziko sambil mengedipkan matanya ke arah Zira. " Mata kamu kenapa sayang." Goda Zira. " Aku lagi mengedipkan mata kepada semut di dinding." Ucap Ziko cepat. Zira tersenyum mendengar celoteh suaminya. " Ziko apa kamu tidak bisa menahannya." Goda Dokter Diki. " Ya bagaimana lagi, aku itu pria normal. Wajar kalau si tole minta haknya." Ucap Ziko sambil melirik juniornya. " Ya tapi pakai perhitungan dong." Ucap Dokter Diki tidak mau kalah. " Aku pakai rumus kok, kalau berdua dengan istriku. Makanya kamu cepat kawin, biar tau rumusnya." Ucap Ziko cepat. Zira menutup wajahnya dengan telapak tangannya. Biasanya suaminya membicarakan hal itu dengan Kevin, tapi sekarang sama Dokter Diki. Dia merasa malu, karena masalah itu di bicarakan sama Dokter. " Like, komen dan vote yang banyak ya terimakasih." Chapter 300 episode 299 (S2) " Lama banget satu bulan." Ucap Ziko. " Untuk sementara kamu puasa dulu ya Ko." Goda Dokter Diki. " Padahal aku ada rencana." Ucap Ziko cepat. " Rencana apa sayang." Tanya Zira. " Aku ingin mengajak kamu menginap di kapal pesiar. Apa kamu masih ingat?" Ucap Ziko bertanya balik ke Istrinya. Zira menganggukkan kepalanya sambil tertunduk, dia mengelus perutnya. " Sayang maafkan, aku tidak bermaksud membuat kamu bersedih. Aku hanya ingin menunaikan keinginanmu. Walaupun mungkin terlambat, tapi setidaknya biarkan keinginanmu tercapai." Ucap Ziko pelan sambil memeluk tubuh istrinya. " Tidak apa-apa sayang, aku sudah tidak menginginkan itu lagi. Keinginanku hanya ingin selalu berdua denganmu." Ucap Zira pelan. " Uwek uwek." Ucap Dokter Diki seperti orang mau muntah. Sepasang suami istri itu langsung melihat yang punya suara. " Kamu hamil." Tanya Ziko cepat. " Jangan mempertontonkan kemesraan kalian di depan perjaka tua. Aku bisa muntah mendadak." Ucap Dokter Diki cepat. " Buahahaha." Zira tertawa lucu mendengar ucapan dokter Diki yang menurutnya hampir sama dengan Kevin. " Dokter kenapa kamu seperti Kevin." Ucap Zira dengan gelak tawanya. " Maksud kamu apa." Tanya Dokter Diki. " Maksud istriku Kevin juga punya penyakit musiman yaitu batuk. Kalau kamu muntah musiman." Ucap Ziko menjelaskan. " Hemmm, keromantisan kalian membuat jiwa jomblo kami meronta." Ucap Dokter Diki lagi. " Sepertinya sebentar lagi predikat jomblo tidak di sandang oleh Kevin. Predikat itu hanya untuk kamu." Ucap Ziko cepat. " Iya, sepertinya Kevin sebentar lagi akan melepas masa lajangnya. Tinggal aku sendiri." Ucap Dokter Diki pelan. " Tau dari mana kamu, kalau Kevin akan melepaskan masa lajangnya." Tanya Ziko. " Beberapa hari yang lalu, kalau tidak salah setelah acara pengajian di rumah kamu, Kevin dan Menik datang kerumah ku. Dia minta aku untuk berpura-pura." Ucap Dokter Diki cepat. Dokter Diki menceritakan semuanya dari dia harus berakting menjelaskan tentang efek samping obat diare. " Buahahaha." Zira tertawa mendengar cerita lucu itu. Ziko memperhatikan istrinya yang tertawa lebar. Ada rasa senang karena dia bisa melihat istrinya tertawa kembali. " Dia selangkah lebih maju dari gurunya." Ucap Zira mengejek Ziko. Mereka kembali tertawa. " Baiklah Ko, karena tidak ada sesuatu hal lagi, aku akan balik ke ruanganku. Dan kalau kalian jadi pergi naik kapal pesiar, aku diajak ya." Ucap Dokter Diki sambil berlalu. Setelah kepergian Dokter Diki, telepon Ziko berbunyi, Kevin menghubunginya. " Sayang, aku keluar dulu ya." Ucap Ziko pamit kepada istrinya. Zira menganggukkan kepalanya. Ziko menerima panggilan dari Kevin. " Pasti masalah itu lagi. Kasihan suamiku." Gumam Zira pelan. Di luar ruangan. Kevin menginformasikan kepada Ziko bahwa surat untuk rumah-rumah sudah beres dan dia sudah melakukan pembayarannya secara tunai. " Malam ini saya langsung ke toko furniture." Ucap Kevin cepat. " Baiklah selesaikan semuanya, karena besok kita ada jadwal penting." Ucap Ziko cepat. Ziko kembali ke dalam ruangan itu. Zira tidak bertanya siapa yang menghubungi suaminya, dia sudah bisa menebak kalau yang menghubungi suaminya adalah Kevin. Petang berganti malam. Malam berganti pagi. Mentari sudah menunjukkan sinarnya. Setelah mamanya datang Ziko langsung bergegas pergi ke kantornya. " Sayang aku pergi dulu ya." Ucap Ziko pamit. Zira menganggukkan kepalanya cepat. " Kita langsung ke kantor polisi." Ucap Ziko sambil berjalan ke luar rumah sakit. " Baik tuan." Ucap Kevin. Mobil sudah meluncur meninggalkan rumah sakit menuju kantor polisi. Di perjalanan Ziko menghubungi pengacaranya. Mereka janjian ketemu di sana. Setelah melewati beberapa rambu lalu lintas, akhirnya mereka tiba di kantor polisi. Pengacaranya sudah tiba lebih cepat dari Ziko. " Selamat pagi tuan muda." Ucap pengacara sambil menyalami Ziko. Ziko sudah membicarakan masalah yang di hadapinya. Dan pengacara akan membantu Ziko untuk menggiring Hariadi ke kantor polisi. Setelah melaporkan kasusnya kepada pihak berwajib dan menyerahkan bukti berupa hasil percakapannya dengan Hariadi. Pihak kepolisian menerima laporan itu, tapi pihak kepolisian meminta waktu beberapa hari untuk menyelidiki kasus itu. " Baiklah, saya serahkan semuanya sama kepolisian." Ucap Ziko cepat. " Kami akan menghubungi jika hasil penyelidikan selesai." Ucap penyelidik. Setelah urusan selesai, mereka keluar dari kantor kepolisian. Ziko terlihat ragu untuk keluar dari kantor itu. " Ada apa tuan." Tanya pengacaranya. " Saya ingin mengecek nomor ini." Ucap Ziko cepat sambil menunjukkan nomor pesan yang masuk di ponselnya. " Untuk apa tuan." Ucap Kevin penasaran. " Aku penasaran siapa yang berbaik hati mau membantuku." Ucap Ziko cepat. " Sepertinya akan sulit tuan, karena nomor itu privasi." Ucap Kevin mengingatkan. " Tidak sulit jika kita minta bantuan kepolisian." Ucap Ziko cepat sambil melirik pengacaranya. " Baik tuan, akan saya bicarakan dengan Bapak kepala." Ucap pengacara sambil pergi dan masuk kembali ke dalam kantor kepolisian. " Tuan, apa yang anda lakukan jika sudah tau pemilik nomornya." Tanya Kevin. " Aku akan mengucapkan terimakasih." Ucap Ziko cepat. " Itu saja." Tanya Kevin lagi. " Jadi maksudmu, aku harus menikahi jika perempuan." Ucap Ziko cepat. " Enggak tuan, apa tidak ada yang lain gitu." Ucap Kevin lagi. " Baiklah kalau laki-lakinya akan aku jadikan saudaraku." Ucap Ziko cepat. " Kalau perempuan." Tanya Kevin lagi. " Akan aku suruh kamu menikahinya." Ucap Ziko cepat. " Kenapa harus saya tuan." Ucap Kevin lagi. " Karena kamu belum nikah." Ucap Ziko cepat. " Tapi saya sudah punya Menik." Ucap Kevin cepat. " Punya? Yang benar belum." Ucap Ziko lagi. Tidak berapa lama pengacaranya kembali dengan membawa sebuah surat. Dan di sebelahnya ada dua orang polisi. " Bagaimana." Tanya Ziko cepat. " Pihak kepolisian akan membantu kita." Ucap pengacara sambil menunjuk sebuah kertas yang ada ditangannya. Ziko membaca surat itu. " Apa kita sudah bisa berangkat." Tanya pengacara. Ziko menganggukkan kepalanya cepat. Mereka pergi ke perusahaan telekomunikasi. Sesampainya di sana mereka bertemu dengan resepsionis. " Ada yang bisa di bantu." Tanya resepsionis. Pihak polisi maju paling depan dan menunjukkan surat kepada resepsionis. " Sebentar ya Pak." Ucap resepsionis. Resepsionis menghubungi manager perusahaan itu. Tidak berapa lama seorang pria datang menghampiri mereka. " Ada yang bisa di bantu." Tanya pria itu. " Kami ada surat penyelidikan. Kami ingin mengecek nomor seseorang." Ucap pihak polisi. " Baik Pak, silahkan ikut kami." Ucap manager perusahaan. Mereka semua mengikuti manager itu. " Silahkan Bapak tunggu disini. Kami akan memberikan data kepada Bapak semua secepatnya." Ucap Manager. Mereka menunggu di sebuah ruangan khusus. Tidak berapa lama manager tadi keluar dengan seorang wanita sambil membawa beberapa berkas di tangannya. " Ini ada berkas dan data pemilik nomornya." Ucap manager. Pihak kepolisian menyerahkan berkas itu kepada Pengacara, dan pengacara langsung menyerahkan kepada Ziko. Ziko membuka dan membaca satu persatu data yang tertulis di situ. Dia tertegun dan membaca nama pemilik itu sampai dua kali. " Vin, coba kamu baca. Apa penglihatanku salah." Ucap Ziko cepat. Ziko menyerahkan berkas itu kepada Kevin. Kevin langsung memandang bosnya dan menganggukkan kepalanya cepat. " Terimakasih banyak atas bantuannya." Ucap Ziko cepat sambil beranjak dari kursinya. Mereka keluar dari gedung telekomunikasi itu. " Tuan, selanjutnya apa? Apa pemilik nomor itu kita giring ke kantor polisi." Tanya pengacara. " Lupakan, aku bisa menyelesaikan masalah ini sendiri." Ucap Ziko cepat. Ziko langsung masuk ke dalam mobil bersama Kevin. " Bagaimana tuan." Tanya Kevin cepat. " Aku bingung dengan istriku. Dia bisa menyembunyikan sesuatu dengan sangat rapi." Ucap Ziko cepat. Zira Kanaya Amrin nama itulah yang di baca mereka di dalam berkas tadi. " Saya bangga dengan nona Zira, dia bisa bertindak lebih cepat dari kita." Ucap Kevin cepat. " Tidak salah kalau dia masuk pasukan Avengers. Mungkin kalau tidak ada dia kita tidak tau siapa di balik dalang ini." Ucap Ziko lagi. " Selanjutnya apa tuan." Tanya Kevin lagi. " Antar aku ke rumah sakit." Ucap Ziko cepat. " Like, komen dan vote yang banyak ya terimakasih." Chapter 301 episode 300 (S2) Ziko sudah tiba di rumah sakit. Didalam ruangannya Zira sedang bersiap-siap. " Siang sayang." Ucap Ziko langsung mengecup pipi istrinya. " Apa kamu sudah siap." Tanya Ziko cepat. " Sudah." Ucap Zira sambil menganggukkan kepalanya. " Silahkan duduk." Ucap perawat memerintahkan Zira untuk duduk di kursi roda. Perawat itu mendorong Zira. Ziko dan mamanya mengikuti dari belakang. Kevin menunggu mereka di mobil. " Ma, aku mau ke makam dulu. Mama tunggu di rumah baru kami ya." Ucap Ziko pelan. " Iya sayang." Ucap mamanya. Perawat hanya mendorong sampai depan loby rumah sakit. Tidak berapa lama, mobil yang di kendarai Kevin tiba. Ziko langsung membantu istrinya untuk masuk ke dalam mobil. Setelah Zira dan Ziko masuk ke mobil, Kevin langsung menekan pedal gasnya meninggalkan rumah sakit itu. Jalan yang di lalui Kevin berbeda dengan jalan yang biasa mereka lalui. " Sayang, kita mau kemana." Tanya Zira bingung. " Rahasia." Ucap Ziko cepat. " Rahasia? Kenapa kamu pakai rahasia kepadaku." Tanya Zira cepat. " Sama, kamu juga pakai rahasia kepadaku." Jawab Ziko santai. " Maksud kamu apa sih." Zira bingung dengan maksud dari ucapan suaminya. Ziko mengambil ponselnya dan menunjukkan nomor ponsel yang ada dalam daftar pesan yang sudah terbaca. Zira membuka pesan itu. " Foto siapa ini." Ucap Zira pura-pura tidak tau. " Seharusnya aku yang bertanya kepadamu. Bagaimana kamu mendapatkan foto ini." Tanya Ziko cepat. " Mana aku tau sayang." Ucap Zira mengelak. Ziko langsung memiringkan tubuhnya menghadap Zira. " Sayang, jawab jujur bagaimana kamu mendapatkan foto ini." Ucap Ziko dengan tatapan tajam. " Enggak tau." Ucap Zira cepat sambil mengalihkan pandangannya. " Sayang, aku baru dari kantor telekomunikasi dan mengecek pemilik nomor ini. Di sana tertulis nama kamu." Ucap Ziko cepat. Zira langsung melihat kearah suaminya. " Ya itu memang nomorku." Ucap Zira cepat. " Bagaimana kamu bisa merahasiakan ini kepadaku. Kenapa kamu tidak mengatakan saja dengan jujur." Ucap Ziko cepat. " Bagaimana apanya. Kamu saja tidak jujur kepadaku. Kenapa kamu tidak memberitahukan kepadaku kalau perusahaan kamu lagi goyang." Ucap Zira cepat. " Bagaimana kamu tau masalah itu. Apa kamu menguping." Tanya Ziko cepat. " Ya aku menguping pembicaraan kamu dengan papa dan mama." Ucap Zira cepat. " Sayang tidak baik menguping nanti telinga kamu timbilan." Ucap Ziko cepat. " Mana ada kuping timbilan, yang benar mata timbilan." Ucap Zira protes. " Ya terserahlah." Ucap Ziko lagi. " Kenapa kamu tidak mengatakan itu kepadaku." Ucap Zira cepat. " Aku tidak ingin kamu memikirkan hal ini. Masalah ini muncul ketika kamu mengalami pendarahan, makanya sangat sulit untukku mengatakannya." Ucap Ziko pelan. Zira langsung menyandarkan kepalanya di bahu suaminya. " Terimakasih sayang, kamu mau mempertahankan rumah tangga kita." Ucap Zira pelan. " Aku yang berterima kasih kepadamu. Karena kamu aku bisa mengetahui dalang di balik anjloknya nilai sahamku." Ucap Ziko cepat. " Sebagai istri memang tugasnya membantu suami." Ucap Zira pelan. " Sayang tapi aku masih penasaran, bagaimana kamu bisa mendapatkan informasi itu dengan cepat. Sedangkan kamu ada di rumah sakit." Ucap Ziko penasaran. " Owh aku memerintahkan pasukan Avengers untuk mengecek itu." Ucap Zira asal. " Apa Menik juga ikut membantu." Tanya Kevin. " Maaf Vin, Menik kemaren cuti." Ucap Zira asal. Sayang sebenarnya aku adalah pemilik hotel itu. " Sayang walaupun jawaban kamu tidak masuk akal. Tapi aku cukup senang karena telah menikah dengan wanita pemberani seperti kamu. Tindakan kamu memang cepat seperti pasukan Avengers. Tidak salah kamu bergabung dengan mereka." Ucap Ziko cepat. Mobil berhenti di pinggir jalan. Dari jauh banyak makam-makam yang berjejer. " Apa disini makam anak kita." Tanya Zira cepat. " Iya sayang, tapi makam anak kita ada di dalam. Yang ini untuk umum. Untuk keluarga Raharsya ada di dalam." Ucap Ziko cepat. Zira keluar dari dalam mobil, Ziko membantunya dengan memapah istrinya. Cukup jauh jika berjalan kaki ke dalam. " Sayang apa kamu capek." Tanya Ziko cepat. " Tidak sayang, aku sangat semangat untuk melihat pusara makam anak kita." Ucap Zira cepat. " Kalau kamu capek biar aku gendong." Ucap Ziko cepat. " Jangan gendong sayang, nanti jahitannya lepas." Ucap Zira mengingatkan suaminya. " Oh iya, aku lupa kalau perut kamu ada bekas jahitan." Ucap Ziko cepat. Mereka berjalan beriringan menuju makam keluarga Raharsya. Setelah lima belas menit berjalan, akhirnya mereka sampai di sebuah makam. Makam yang ada di sana di batu nisannya semua ada nama belakang Raharsya. " Ini semua makam leluhur papa, semuanya ada di sini." Ucap Ziko cepat. Mereka berhenti di sebuah makam, yang masih tanah basah. Tidak ada keramik di pinggir makam itu hanya ada sebuah batu nisan di tengahnya. Ziko telah menghubungi pihak pemeliharaan pemakaman itu. Mereka sudah menyiapkan kursi kecil beserta bunga. Zira duduk di kursi kecil itu, dekat dengan batu nisan anaknya. Tanpa terasa air matanya mengalir deras. Dia melantunkan ayat-ayat suci dengan perlahan sambil berdoa. " Sayang ini mama, maafkan mama karena tidak bisa merawatmu dengan baik." Ucap Zira sambil berlinang air matanya. Zira mengelus batu nisan itu sambil terus berbicara. " Izinkan mama untuk bertemu kamu walaupun hanya dalam mimpi." Ucap Zira menangis tersedu-sedu. Ziko hanya memperhatikan, dia membiarkan istrinya meluapkan semua kegundahan yang ada. " Sayang, kamu pasti anak yang ganteng sama seperti papa." Ucap Zira pelan sambil mengelus batu nisan. " Walaupun mama sedih karena harus kehilangan kamu, tapi mama senang karena ada yang lebih menyayangi kamu di sana." " Anak mama yang ganteng, doa mama selalu bersamamu. Izinkan mama untuk bertemu denganmu nanti di surga." Ucap Zira sambil menangis terisak-isak. " Sayang sudah bisa kita pulang." Tanya Ziko pelan. Zira menganggukkan kepalanya cepat. Dia sudah merasa senang karena dapat melihat makam anaknya, dan dia juga senang karena nama anaknya sesuai dengan nama yang diinginkannya yaitu Zokoh Putra Raharsya. " Like, komen dan vote yang banyak ya terimakasih." Chapter 302 episode 301 (S2) Mereka kembali menuju mobil sambil berjalan beriringan. " Sayang, kalau aku meninggal makamkan aku dekat dengan makam anak kita." Ucap Zira pelan sambil berjalan perlahan. " Kamu ngomong apa sih." Ucap Ziko kesal. " Aku ngomong jika aku meninggal makamnya di sebelah makam Zokoh anak kita." Ucap Zira mengulangi kalimatnya. " Jangan kamu ngomong seperti itu. Aku tidak suka." Ucap Ziko lagi dengan wajah kesal. Zira menghentikan langkahnya dan menahan tangan suaminya untuk ikut berhenti. " Ada apa sayang." Ucap Ziko sambil menoleh menghadap istrinya. " Bilang kalau kamu akan memenuhi permintaanku." Ucap Zira kesal. " Tidak akan, kamu masih akan menemani aku sampai tua. Sampai rambut kita memutih bersama." Ucap Ziko memalingkan pandangannya dari wajah istrinya. Zira memegang pipi suaminya untuk melihat kearahnya. " Sayang aku juga ingin menemani kamu sampai maut memisahkan kita. Aku hanya berandai-andai saja. Karena maut ada di tangan sang pencipta." Ucap Zira pelan. Ziko diam sejenak sambil memandang jauh entah kemana. " Ya sayang aku akan memenuhi permintaanmu, sama halnya dengan kamu, makamkan aku di sebelah anak kita, jika aku sudah meninggal lebih dulu dari kamu." Ucap Ziko pelan. Zira menganggukkan kepalanya, mereka saling berpelukan erat satu sama lain. Tidak ada yang bisa memisahkan kekuatan cinta mereka hanya maut dan sang Pencipta yang mampu memisahkan mereka berdua. Mereka kembali berjalan menuju mobil. Kevin sedang menunggu di mobil. Di mobil setiap setengah jam sekali dia memakai deodorant. Bagaimanapun dia tidak mau kalah dalam pertandingan melawan Menik. Kevin sudah merencanakan sesuatu untuk kemenangannya yaitu selalu memakai deodorant setiap setengah jam sekali. " Aku akan menang Menik." Ucap Kevin sambil mengoleskan deodorant ke ketiaknya Ketika Kevin sedang mengoleskan deodorant Ziko membuka pintu mobil. " Kamu ngapain." Tanya Ziko. " Pakai deodorant tuan." Ucap Kevin cepat sambil menutup deodorant itu dan menyimpannya di dalam saku celana. Zira masuk ke dalam mobil dan di susul Ziko. " Ngapain kamu pakai deodorant siang hari seperti ini." Ucap Ziko cepat. " Ketiak juga butuh di install ulang tuan dengan cara memakai deodorant setiap setengah jam sekali." Ucap Kevin asal. " Install ulang? Kamu ada-ada aja Kevin." Ucap Zira sambil tersenyum. Kevin langsung menyalakan mesin mobil dan melajukan kendaraan itu dengan kecepatan sedang. Zira bergelayut manja di tangan suaminya. " Sayang, mengenai menginap di kapal pesiar lebih baik batalkan saja. Aku tidak mau kamu menghabiskan uang hanya untuk memenuhi keinginanku." Ucap Zira pelan. Ziko belum menjawab tapi Kevin langsung memotong pembicaraan itu. " Apa! Saya di ajakkan tuan." Ucap Kevin memotong pembicaraan. " Kamu." Ucap Ziko sambil memukul jok mobil di belakang Kevin. " Maaf tuan, saya hanya ingin menikmati momen indah kalian saja. Dengan mengabadikan foto kalian berdua di sana." Ucap Kevin cepat. Ziko hanya mendengarkan jawaban Kevin tapi dia enggan untuk berbicara. " Sayang, untuk hal itu aku memang pernah berjanji kepadamu, walaupun aku tidak memenuhinya pada saat kamu hamil. Tapi setidaknya biarkan aku memenuhi keinginanmu agar tidak menjadi dosa nantinya." Ucap Ziko sambil memegang lembut tangan istrinya. " Baiklah, tapi kamu harus janji. Kamu tidak akan menyewa kapal pesiar itu hanya untuk kita berdua." Ucap Zira cepat. " Maksud kamu apa." Tanya Ziko bingung. " Maksud aku, kita ikut trip kapal pesiar dengan orang banyak." Ucap Zira cepat. " Jadi di dalam kapal pesiar itu ada orang lain selain kita." Tanya Ziko penasaran. Zira menganggukkan kepalanya cepat. " Wah tidak seru dong, aku hanya akan menyewa sebuah kapal seperti kapal pesiar tapi tidak terlalu besar. Dan ukuran kapal itu mungkin setengahnya dari kapal pesiar." Ucap Ziko menjelaskan kepada istrinya. " Walaupun kamu sewa kapal yang kecil, harganya tetap sama. Tapi kalau kita ikut trip dengan kapal itu akan terasa lebih menyenangkan." Ucap Zira cepat. " Nanti aku pikirkan." Ucap Ziko cepat. " Vin coba kamu cek berapa harga sewa satu kapal pesiar dan berapa harga perorang untuk ikut trip naik kapal pesiar." Ucap Ziko cepat. " Baik tuan, kapan ngeceknya tuan." Tanya Kevin lagi. " Hari raya kuda." Ucap Ziko kesal. " Maaf tuan, apakah kuda ada hari raya juga." Ucap Kevin bingung. " Kamu banyak tanya lagi. Cepat cek harganya." Perintah Ziko cepat. Kevin langsung memberhentikan mobilnya di tengah jalan. " Kenapa berhenti." Tanya Ziko bingung. " Tuan suruh cek harga, saya harus berhentikan mobil dulu baru bisa mengecek harga itu." Ucap Kevin cepat. " Tapi bukan di tengah jalan. Ayo jalankan mobilnya." Ucap Ziko sewot. " Tidak bisa tuan." Ucap Kevin cepat. " Kenapa tidak bisa." Tanya Ziko lagi. " Lampu lalu lintas sedang berwarna merah." Ucap Kevin sambil menunjuk lampu lalulintas. " Kenapa tidak bilang saja kalau lampu lalulintas berwarna merah pakai mutar-mutar ngomongnya." Ucap Ziko kesal sambil memukul lengan Kevin. Ziko tidak memperhatikan rambu lalulintas di sepanjang jalan, dia berpikir kalau Kevin berhenti hanya untuk mengecek harga kapal pesiar. Sedangkan Zira tertawa mendengar pertengkaran bos dan bawahannya. Kevin menunjukkan ponsel pintarnya kepada Ziko. Dia sudah mengemudikan kembali mobil itu. Ziko dan Zira memperhatikan daftar harga untuk sewa sebuah kapal pesiar dan membandingkan daftar harga untuk ikut trip di sebuah kapal pesiar. " Mahal banget sayang." Ucap Zira cepat. " Coba kamu lihat kalau kita menyewa kapal yang tidak terlalu besar harganya hanya seratus juta. Tapi kalau kita ikut trip harga perorang sampai 25 jutaan perorang." Ucap Ziko cepat sambil menunjukkan daftar harga kepada istrinya. " Dan untuk menyewa kapal itu kita hanya di batasi sampai 2,5." Ucap Zira lagi. " Tapi kalau kita ikut trip, ini bisa sampai berhari-hari di atas kapal. Dan menurutku lebih murah yang ini." Ucap Zira lagi. Ziko mendengarkan penjelasan istrinya. " Memang wanita paling pintar dalam soal perhitungan." Ucap Ziko cepat. Zira tersenyum lebar mendengarkan pujian yang di berikan suaminya. " Kapan kita akan berangkat tuan." Tanya Kevin cepat. " Siapa yang mau mengajak kamu, ini dalam rangka honey moon kami yang kedua." Ucap Ziko cepat. " Saya ikut ya tuan." Ucap Kevin memelas. " Boleh ikut tapi ada syaratnya." Ucap Ziko cepat. " Apa syaratnya." Tanya Kevin lagi. " Bawa pasangan dan bayar sendiri." Ucap Ziko cepat. " Pasangan? Hubungan saya saja belum resmi dengan Menik." Ucap Kevin lagi. " Maka resmikanlah." Ucap Ziko cepat. " Bagaimana mau di resmikan, saya saja belum bisa membaca perasaan Menik kepada diri saya." Gerutu Kevin. Ziko dan Zira saling pandang. " Vin bagaimana kalau aku akan mengajak seorang wanita ke acara kita nanti." Ucap Zira cepat. " Maksud anda apa nona." Tanya Kevin cepat. " Aku ada model di luar negeri, biasanya aku memakai jasanya untuk menjadi model setiap acara fashion show. Nanti akan aku suruh dia datang ke sini." Ucap Zira cepat. " Untuk apa kamu ajak model itu ke sini." Tanya Ziko bingung. " Untuk mendekati Kevin, nanti akan terlihat apakah Menik cemburu dengan kehadiran wanita itu atau tidak. Kalau dia cemburu berarti Menik juga suka dengan kamu." Ucap Zira menjelaskan. " Bagaimana kalau Menik tidak cemburu." Tanya Kevin balik. " Berarti kesalahan ada di kamu." Ucap Ziko cepat. Kevin diam dan memikirkan rencana yang akan di buat Zira untuknya. Menurutnya akan mustahil untuk Menik cemburu terhadap wanita. " Nona saya kurang yakin dengan rencana ini." Ucap Kevin cepat. " Sudah kamu tenang saja. Urusan ini serahkan kepadaku." Ucap Zira cepat. Kevin hanya menganggukkan kepalanya cepat. Dia yakin jika urusan di serahkan sama pasukan Avengers semua akan cepat selesai. " Like, komen dan vote yang banyak ya terimakasih." Chapter 303 episode 302 (S2) Mobil masih melaju menuju rumah baru mereka. " Sayang ini bukan jalan ke mansioankan." Tanya Zira. " Bukan." Ucap Ziko cepat. " Kita mau kemana." Tanya Zira lagi. Sekitar satu kilometer lagi mereka sampai di kediaman baru mereka. Ziko ingin membuat kejutan untuk istrinya. " Sayang tutup mata kamu." Ucap Ziko sambil mengambil selendang yang ada di jok depan sebelah Kevin. " Untuk apa." Tanya Zira lagi. " Nanti kamu juga akan tau." Ucap Ziko cepat. " Kenapa harus pakai selendang." Tanya Zira lagi. " Maaf nona cuma itu yang ada." Ucap Kevin cepat. Ziko menutup mata istrinya dengan selendang. Kemudian Zira membuka lagi penutup matanya. " Kenapa selendang ini bau." Tanya Zira. Ziko ikut mencium aroma selendang yang melingkar di leher istrinya. " Vin, kenapa selendang ini bau. Kamu mulung ya?" Ucap Ziko asal. " Bukan mulung tuan, tapi tukar tambah." Ucap Kevin cepat. " Maksud kamu apa?" Ziko bingung. " Tadi waktu tuan di rumah sakit saya lupa membeli penutup mata untuk nona Zira. Jadi saya menukar selendang itu dengan nenek-nenek." Ucap Kevin pelan. " Nenek siapa dan apa yang kamu tukarkan untuk mendapatkan selendang ini." Tanya Zira beruntun. " Itu punya nenek-nenek yang baru pulang berobat." Ucap Kevin pelan. Bruk, Ziko langsung menendang kursi belakang Kevin setelah itu dia langsung membuka selendang yang melingkar di leher istrinya. " Kamu biasanya pakai perhitungan kenapa sekarang asal." Ucap Ziko kesal. " Sakit apa nenek itu." Tanya Zira cepat. " Flu nona." Bruk sekarang Zira yang memukul lengan Kevin. " Maaf nona jangan siksa, saya sudah mendapatkan hukuman dari nenek itu tadi." Ucap Kevin pelan. " Apa?" Zira dan Ziko menunggu jawaban Kevin. " Nenek itu mau memberikan selendangnya asal saya mau tukar tambah." " Memangnya apa yang kamu berikan kepada nenek itu. Ponsel masih sama, sepatu ikat pinggang semua sama." Tanya Ziko penasaran. Kevin malu untuk mengatakannya. Kalau dia tidak menjawab pertanyaan bosnya, dia akan terus di desak. Malu tidak malu dia menjawab pertanyaan majikannya. " Nenek itu minta saya menciumnya." Ucap Kevin pelan. " Buahahaha." Ziko dan Zira tertawa bersama. Mereka bisa membayangkan adegan yang terjadi tadi pasti lucu. " Kenapa nenek itu minta kamu menukar selendangnya dengan ciuman." Tanya Zira dengan gelak tawanya. " Katanya wajah saya mirip almarhum suaminya." Ucap Kevin pelan. Kedua pasangan suami istri itu kembali tertawa. " Vin, Vin ternyata fansnya kamu nenek-nenek." Ejek Ziko. Setelah tertawa mereka berdua reda, Ziko mengambil dasi yang melingkar di lehernya. Dia menjadikan dasinya sebagai penutup mata istrinya. " Kalau tidak pakai penutup bagaimana." Tanya Zira yang masih di pakaikan dasi untuk menutup matanya. " Kalau mata kamu terbuka nanti tidak suprise." Ucap Ziko cepat. Mata Zira sudah tertutup dengan menggunakan dasi suaminya. " Simpan selendang ini." Ucap Ziko sambil melemparkan selendang ke kursi samping Kevin. " Nanti saya buang, untuk apa juga menyimpan selendang bau seperti itu." Ucap Kevin cepat. " Jangan gitu Vin, itu dari penggemar kamu loh, hargai pemberiannya." Goda Zira sambil mata tertutup. Kevin hanya diam, dia mulai iseng ingin mengejek Zira. " Sekarang sibuta bukan dari gua hantu. Tapi si buta turun dari mobil." Ucap Kevin menggoda Zira. Bruak terdengar suara pukulan dari belakang. " Aw sakit sayang." Ucap Ziko cepat. " Oh maaf sayang, aku mau memukul Kevin tapi terkena kamu." Ucap Zira cepat sambil meraba di mana letak suaminya. Zira meraba suaminya dengan kedua tangannya. Zira berhenti pada satu tempat. " Sayang, ini tangan kamu. Kenapa tangan kamu pakai resleting." Ucap Zira sambil mata tertutup. " Itu si tole sayang, kamu pengen ya." Goda Ziko. " Uhuk-uhuk." Batuk musiman Kevin kambuh. " Kamu kalau batuk jangan sembarangan." Ucap Ziko cepat. " Maaf tuan, bukan itu maksud saya. Ini batuk refleksi." Ucap Kevin pelan. " Sekarang batuk di takuti jadi kamu harus hati-hati." Ucap Ziko mengingatkan asistennya. " Betul tuh Vin, dulu jika ada orang kentut pasti orang sekitarnya menjauh. Tapi sekarang beda, kentut lebih di segani daripada batuk." Ucap Zira cepat sambil mata tertutup. Ziko mengernyitkan dahinya sambil memandang istrinya. Menurutnya pemikiran istrinya ada benarnya. " Vin, sekarang dasi bukan hanya diletakkan di leher tapi di mata juga." Goda Ziko. " Ah, kamu." Rengek Zira sambil mencubit sesuatu yang ada di dekatnya. " Aw sakit sayang." Ucap Ziko cepat. Zira mencubit suaminya asal karena kondisi matanya yang tertutup. Mobil sudah sampai di gapura perumahan mereka. Setelah beberapa belokan mobil yang di kendarai Kevin sampai. Ketika ada suara mobil yang berhenti didepan rumah. Tuan besar dan Nyonya Amel beserta Zelin berlari keluar rumah. Mereka menunggu di depan pintu. Ziko membantu istrinya turun dari mobil. Kemudian dia membuka penutup mata istrinya. " Surprise." Ucap mereka semua teriak. Pandangan Zira masih buram, dia masih melihat bangunan di depannya. " Sayang ini rumah siapa." Tanya Zira pelan. " Ini rumah baru kita." Ucap Ziko cepat sambil memeluk bahu istrinya. " Sayang, sepertinya aku kenal rumah ini." Ucap Zira pelan masih tetap berdiri di depan rumah itu. Nyonya Amel dan Zelin datang menghampirinya dan memeluknya lembut. " Ayo masuk Zira." Ajak mama mertuanya. " Iya ma, aku mau melihat-lihat dulu." Ucap Zira pelan sambil menarik tangan suaminya. " Sayang rumah ini kamu beli." Tanya Zira penasaran. " Enggak nyolong. Jelas belilah." Ucap Ziko cepat. " Kenapa kamu tidak tanya dulu kepadaku." Ucapan Zira sedikit meninggi. " Kenapa aku harus bertanya kepadamu. Kalau aku bertanya pasti ini tidak menjadi kejutan buatmu." Ucap Ziko cepat. " Kamu salah besar." Ucap Zira cepat. " Maksud kamu apa sih. Bukan bilang terima kasih sayang malah bilang salah besar." Gerutu Ziko. " Kamu tau tidak perumahan ini kepunyaanku." Ucap Zira cepat. " Apa!" Ziko kaget. Kejutan berbalik kepada dirinya. Ziko melupakan sesuatu kalau istrinya adalah seorang pengusaha di bidang properti. Karena masalah yang di alaminya dia melupakan hal itu. " Jadi sia-sia, aku membelikan rumah untukmu." Ucap Ziko sedih. " Enggak sia-sia sih. Cuma kamu menyerahkan rumah kepada pemiliknya." Ucap Zira sambil tersenyum tipis. " Lagian kamu tidak pernah menceritakan tentang usaha kamu kepadaku. Yang aku ingat kamu itu hanya punya butik dan pengusaha properti. Aku tidak memikirkan kalau hampir semua punya kamu." Ucap Ziko pelan. " Sudahlah aku hargai pemberian kamu. Tapi kenapa kamu harus beli rumah sih. Apa kamu mau kita lepas dari rumah utama." Tanya Zira. " Iya, aku ingin membangun rumah tangga denganmu berdua, tanpa ada bayang-bayang pembantu di sana sini." Ucap Ziko pelan. " Kenapa harus beli rumah, apartemen aku ada. Kamu kan lagi susah sayang." Ucap Zira pelan. " Untukmu tidak ada yang susah. Apapun akan aku penuhi selagi nyawa masih di kandung badan." Ucap Ziko sambil memeluk istrinya. Mereka berjalan beriringan masuk ke dalam rumah itu. " Rumah ini tidak terlalu besar, dibandingkan dengan mansion dan rumah kamu. Tapi aku ingin mengabadikan momen kita di rumah ini." Ucap Ziko sambil mengecup dahi Istrinya. " Terimakasih sayang atas perhatian kamu dan kasih sayangmu. Aku tidak bisa berkata-kata hanya untaian doa untuk kita berdua, agar kita selalu bahagia sampai akhir hayat." Ucap Zira cepat. " Aamiin." Ucap Ziko. " Like, komen dan vote yang banyak ya terimakasih." Chapter 304 episode 303 (S2) Di dalam rumah baru Zira, sudah ada keluarga suaminya beserta Pak Budi dan dua orang pembantu yang bertugas untuk membantu bersih-bersih di rumah itu. Mereka menyambut Zira dengan beraneka ragam makanan. Makanan itu sengaja di buat Pak Budi untuk menyambut kedatangan tuan rumah. Zira berkeliling melihat rumahnya, dari ruang tamu, ruang keluarga dan kamar. Semua di lihatnya. " Siapa yang memilih furnitur ini." Tanya Zira. " Kevin dan Pak Budi. Apa kamu suka." Tanya suaminya lagi. " Suka sayang." Ucap Zira smabil memeluk pinggang suaminya. " Baju kita sudah di pindahkan ke sini semua sama Pak Budi." Ucap Ziko sambil membuka lemari pakaian. Zira melihat pakaiannya yang ada di mansion telah tersusun rapi di dalam lemari. " Apa Pak Budi juga yang menyusun pakaian ini." Tanya Zira penasaran. " Tidak sayang, yang menyusun pakaian kamu pembantu wanita." Ucap Ziko menjelaskan. Mereka kemudian jalan ke dapur. Zira melihat kitchen set bermotif kayu di pajang di dinding dapurnya. Dia membuka setiap laci yang ada di dapur itu. " Dari mana perabotan dapur ini." Tanya Zira kepada pembantu yang ada di dapur. " Dari mansion nona. Kami memindahkan sebagian ke sini." Ucap pembantu wanita. Zira manggut-manggut kemudian dia masuk ke dalam ruang keluarga, berkumpul bersama keluarga suaminya sambil menikmati makanan yang telah terhidang di meja makan. Kevin tetap ikut dalam acara keluarga itu, karena dia termasuk dari bagian keluarga Raharsya. Setelah mereka menikmati makanan yang di hidangkan. Zira undur diri ke kamar. " Saya permisi dulu ke kamar." Ucap Zira pelan. " Kenapa sayang." Tanya Ziko khawatir. " Ada rasa perih di bagian bawah perut ini. Mungkin kalau berbaring rasanya akan hilang." Ucap Zira menjelaskan. " Pergilah sayang." Ucap mama mertuanya. Ziko menemani istrinya ke kamar. " Sayang tinggalkan saja aku di sini sendirian, temani papa dan mama di luar." Ucap Zira pelan. " Baiklah aku akan pergi keluar menemani mama dan papa. Kamu kalau memerlukan sesuatu teriak saja." Ucap Ziko cepat. " Tarzan dong." Ucap Zira cepat. " Ya kamu tarzin wanitaku." Ucap Ziko menarik hidung istrinya. Kemudian dia pergi meninggalkan Zira untuk beristirahat. Ziko duduk di beranda teras bersama dengan Kevin. " Aku tidak pernah duduk di depan seperti ini di mansion. Di sini tidak ada jarak antara jalan dengan rumah." Ucap Ziko pelan. Di perumahan baru mereka, semua rumah tidak di perkenankan untuk menembok atau membuat pagar di depan rumahnya. Semua rumah di perumahan itu modelnya sama. Ada taman dan rerumputan berwarna hijau yang membuat rumah itu terkesan asri dan indah. " Ya tuan, di mansion anda kalau duduk pasti tembok yang pertama di lihat, walaupun ada rerumputan tapi di sini kita seperti masyarakat umumnya tidak ada jarak sama sekali." Ucap Kevin sambil melihat pemandangan anak-anak main sepeda yang di dampingi orang tuanya. " Makanya aku ingin punya rumah sendiri karena itu salah satu alasannya." Ucap Ziko lagi. " Lihat anak-anak yang bermain bersama orang tuanya, suatu saat aku akan mengalami hal yang sama. Rasanya nikmat sekali bisa bermain dengan buah hati kita." Ucap Ziko sambil membayangkan dirinya bermain bersama anak-anaknya. " Apa ada alasan lainnya tuan." Ucap Kevin penasaran karena dia tau pasti ada hal yang membuat bosnya pindah dari rumah utama. " Ya alasan yang lainnya karena aku tidak mau Zira naik tangga lagi. Jika nanti dia hamil maka akan resiko untuk istriku. Dan aku harus pelan-pelan meninggalkan kemewahanku. Karena aku tidak tau sampai kapan perusahaanku akan tetap berdiri. Makanya aku mempersiapkan jauh-jauh hari." Ucap Ziko dengan tatapan yang jauh. Kevin diam dan sambil memikirkan sesuatu. " Tuan, kenapa anda tidak minta bantuan sama nona Zira untuk bekerjasama dalam membangun bisnis di luar negeri. Pasti perusahaan anda akan sangat besar dan jaya jika bergabung dengan nona Zira." Ucap Kevin pelan. " Ah mana mungkin aku merengek minta sama istriku. Walaupun dia ku akui wanita yang penuh misteri. Aku saja tidak tau kekayaannya. Tapi biarlah ini menjadi tanggung jawabku. Usahanya adalah miliknya dan aku tidak ada hak untuk menikmati itu. Dan usahaku adalah usahanya yang penghasilannya untuk dia." Ucap Ziko cepat. Kevin manggut-manggut mengerti. " Dan tidak mungkin juga bekerja sama dengan nona Zira, sedangkan bidang kalian berbeda." Ucap Kevin cepat. " Ya kamu benar. Zira mungkin hanya mengetahui beberapa bidang. Aku tidak ingin melibatkan dia dalam urusan bisnis. Biarkan dia menjalankan bisnisnya sendiri, karena itu sudah bidangnya. Dan aku akan menjalankan bisnisku dengan sekuat tenagaku, untuk mengembangkan kembali bisnis yang telah goyang." Ucap Ziko cepat. Kevin melihat jam di tangannya. " Tuan, jika tidak ada keperluan lain saya undur diri." Ucap Kevin cepat. " Baiklah." Ucap Ziko. Kevin telah pergi meninggalkan kediaman Ziko. Ziko kembali bergabung dengan keluarganya di dalam rumahnya. Di mobil Kevin tidak lupa menggunakan deodorant lagi untuk ketiaknya. Sebentar lagi adalah waktunya karyawan pulang. Dan sore ini adalah penentuan siapa pemenangnya. Kevin melihat jam di tangannya, dia tidak akan bisa sampai di kantor tepat waktu. Dia memperhitungkan kalau dia tiba di kantor setelah karyawan semua pulang. Di sela-sela mengemudikan mobil, dia mengambil ponselnya dan menghubungi Menik. Panggilan terhubung " Halo." Ucap Kevin cepat. " Ya halo, ini siapa." Ucap seseorang dari ujung sana. " Ini saya Kevin." Ucap Kevin lagi. Menik kembali melihat layar ponselnya, tertera di situ nama Kevin. " Kenapa aku tidak membaca dulu nomor yang menghubungiku, dasar Menik selalu terburu-buru." Gumamnya sendiri. " Ya Pak ada apa." Tanya Menik cepat. " Sebentar lagi kamu akan pulang, dan saya perintahkan kamu untuk tetap di sana." Ucap Kevin cepat karena dia mengenakan speaker jadi harus berbicara cukup kencang. " Untuk apa Pak." Ucap Menik bingung. " Untuk mengambil hadiah dari kamu." Ucap Kevin lagi. " Hadiah? Memangnya saya bawa kado apa." Tanya Menik bingung. " Alah kamu lupa atau sudah pikun. Kita kemaren bertanding, apa kamu ingat? Kejadian itu di lift." Ucap Kevin teriak. " Waduh dia ingat." Gumam Menik pelan. " Oh masih bertanding ya." Ucap Menik lagi " Masih, tunggu saja di sana, jangan pulang dulu." Ucap Kevin cepat. " Ah Bapak pasti curang." Ucap Menik cepat. " Curang bagaimana." Ucap Kevin pura-pura. " Pasti Bapak selama di luar pakai parfum." Ucap Menik asal. " Enggak, saya tidak pakai apapun selama di luar, nanti kamu cium saja ketek saya." Ucap Kevin bohong. " Pertandingan batal." Ucap Menik lagi " Enak saja batal. Tidak ada kata batal dalam pertandingan ini. Saya pastikan saya menang, dan hadiahnya persiapkan." Ucap Kevin masih teriak. " Pasti dia curang, lebih baik aku pulang saja." Gumam Menik pelan. " Ingat jangan pulang, sampai saya tiba. Kalau kamu pulang hadiahnya saya minta double." Ucap Kevin cepat. " Bagaimana dia tau kalau aku mau pulang." Gumam Menik pelan. " Ya pak, saya tidak pulang, tapi kalau Bapak ketahuan curang pertandingan batal." Ucap Menik lagi. " Baik." Ucap Kevin. Setelah itu panggilan terputus. Sekitar sepuluh menit setelah Kevin menghubungi Menik, semua karyawan sudah keluar dari gedung itu. Hanya Menik yang masih menunggu di pantry. " Nik, kamu tidak pulang." Tanya Koko cepat. Koko sedang cuci tangan di pantry, dia mendapati Menik tidak bersiap-siap pulang. " Belum." Ucap Menik pelan. " Lagi nunggu kekasih kamu ya." Ucap Koko cepat. " Apa maksud kamu." Tanya Menik bingung. " Berita kamu sudah tersebar di kantor ini, kalau kamu menjalin kasih dengan Pak Kevin. Selamat ya." Ucap Koko sambil mengulurkan tangannya kearah Menik. Menik langsung menepis tangan Koko. " Jangan sembarang kalau bicara, nanti kalau kedengaran sama orangnya baru tau rasa kamu." Ucap Menik cepat. " Ah memang kenyataannya benar kok. Kenapa Pak Kevin harus marah. Seharusnya kalian itu mengumumkan kepada seluruh karyawan biar fansnya beliau mundur teratur." Ucap Koko cepat. " Memangnya Pak Kevin banyak fansnya." Tanya Menik penasaran. " Ye ada yang penasaran nih. Banyaklah, semua wanita mengagumi Pak Kevin dan Bos Ziko. Cuma karena bos Ziko sudah menikah para karyawan wanita langsung mundur dan mereka berharap kepada Pak Kevin." Ucap Koko cepat. " Like, komen dan vote yang banyak ya terimakasih." Chapter 305 episode 304 (S2) " Apa Cici juga suka dengan Pak Kevin." Tanya Menik cepat. Deg jantung Koko berdesir ketika mendengar pertanyaan Menik. Koko terlihat gugup dan diam sejenak. " Hahahaha, aku bercanda Koci." Ucap Menik di selingi dengan tawanya. " Koci?" Koko terlihat bingung dengan julukan yang di berikan Menik untuknya. " Iya, Koko dan Cici di singkat Koci." Ucap Menik sambil masih tertawa. " Eh jangan kamu memanggilku dengan sebutan Koci, nanti yang lain tanya bagaimana." Ucap Koko panik. " Ya bilang saja sejujurnya." Ucap Menik cekikkan. " Jangan bongkar rahasiaku, please." Ucap Koko memohon sambil berdiri dengan kedua lututnya di depan Menik. Tiba-tiba Kevin datang dan langsung masuk ke dalam pantry tersebut. " Apa yang kalian lakukan." Ucap Kevin cepat. Koko langsung berdiri kembali, dan Menik masih terlihat santai dengan duduk di kursi pantry. " Tidak ada Pak." Ucap Koko gugup. " Jangan bilang kalau kamu baru melamar Menik." Ucap Kevin cepat sambil melihat jari tangan Menik. Kevin memegang tangan Menik. " Bapak ngapain sih." Ucap Menik cepat. " Saya mau memastikan kalau di jari kamu tidak ada cincin dari si Koko." Ucap Kevin cepat. " Siapa lagi yang tunangan, Koko bukan tipe saya." Ucap Menik cepat. Kevin bisa bernafas lega karena Koko bukan saingannya. Dia melihat kearah pria yang masih berdiri mematung di pojok pantry. " Kamu kenapa belum pulang." Tanya Kevin cepat. " Ini saya mau pulang Pak." Ucap Koko cepat sambil berlari kecil meninggalkan ruangan itu. Kevin menatap wajah Menik. " Kalau dia bukan tipe kamu, kenapa tadi dia jongkok di depan kamu, seperti orang mau melamar." Tanya Kevin cepat. " Rahasia." Ucap Menik singkat sambil beranjak dari kursi. Kevin langsung menarik lengan Menik dengan cukup kuat. " Apa dia baru mengatakan cinta kepadamu." Tanya Kevin lagi dengan tatapan tajam. " Kalau iya kenapa?" Ucap Menik asal. " Kurang ajar." Kevin terlihat marah dia mengambil ponselnya dan mencoba menghubungi Koko kembali. " Bapak mau ngapain." Tanya Menik bingung. " Mau berduel dengan Koko, karena dia telah menjadi sainganku." Ucap Kevin sambil mencari daftar ponsel Koko. Menik terlihat panik, dia tidak menyangka candaannya di anggap serius oleh bosnya. Dia langsung menarik ponsel bosnya. " Kembalikan ponsel saya." Ucap Kevin cepat. " Pak, saya bercanda. Koko tidak mengutarakan perasaannya kepada saya. Kami hanya sedang bermain." Ucap Menik membela Koko. " Main apa?" Tanya Kevin lagi. Mana mungkin aku bilang kalau nama si Koko, Cici. Dan tidak mungkin juga mengatakan rahasia Koko kepada Pak Kevin. Menik berusaha untuk mengalihkan pembicaraan bosnya. " Pak apa kita masih bertanding." Tanya Menik untuk mengalihkan pembicaraan. " Masihlah." Ucap Kevin cepat. " Mana ketiak Bapak." Ucap Menik cepat. " Jangan di sini, nanti orang lain berpikiran aneh tentang kita." Ucap Kevin mengajak Menik meninggalkan gedung itu. Menik mengikuti Kevin dari belakang. Mereka naik mobil menuju suatu tempat. " Mau kemana kita Pak." Tanya Menik cepat. " Sebentar lagi juga sampai." Jawab Kevin. Mobil berhenti di sebuah taman. " Di taman?" Ucap Menik heran. " Ya taman, itu tamannya dan kita hanya di sini saja." Ucap Kevin cepat. " Maksud Bapak apa." Tanya Menik bingung. Kevin sudah membuka kemejanya di depan Menik. Menik langsung mengalihkan pandangannya melihat ke arah luar. Dia merasa malu melihat pemandangan yang cukup seksi menurutnya. " Kamu kenapa?" Tanya Kevin pelan. " Bapak kenapa buka baju." Ucap Menik bingung. " Untuk menunjukkan kepada kamu kalau saya tidak berbohong." Ucap Kevin cepat. Menik melihat kearah Kevin. " Ayo cek, apa ketiak saya wangi parfum?" Ucap Kevin sambil mengangkat salah satu tangannya. Menik ragu-ragu untuk mencium ketiak Kevin. Karena seumur hidupnya belum pernah dia mencium ketiak orang lain selain ketiaknya sendiri. Menik memberanikan diri mencium aroma yang di hasilkan dari ketiak Kevin. " Ih kok enggak bau, malah lebih bau ketiakku." Gumam Menik pelan sambil mengangkat salah satu tangannya ke atas. Menik masih kurang yakin, dia memegang ketiak bosnya dengan salah satu jarinya. " Kok licin Pak." Tanya Menik. " Jadi maksud kamu ketiak saya harus keset gitu." Jawab Kevin. " Enggak, heran saja dengan ketiak Bapak, seharusnya tidak licin. Apa Bapak pakai oli untuk menghilangkan bau badan Bapak." Tanya Menik. " Oli? Memangnya ketiak saya mesin harus pakai ganti oli." Gerutu Kevin. " Bapak enggak bohongkan." Tanya Menik lagi. Kevin tidak menjawab, dia hanya memakai deodorant, karena seingat dia. Tidak boleh memakai parfum sama sekali, jadi menurutnya deodorant tidak masalah. " Kamu sudah kalah, saya minta hadiah." Ucap Kevin cepat. " Hadiah apa? Bapak jangan minta yang aneh-aneh ya, saya orang susah uang saya tidak banyak." Ucap Menik mengingatkan bosnya. " Ini tidak pakai biaya sama sekali, hanya butuh keikhlasan dari kamu." Ucap Kevin sambil memakai kemejanya lagi. Menik memikirkan maksud ucapan Kevin. " Oh saya tau, tidak memakai biaya sama sekali dan butuh keikhlasan adalah sedekah senyum, benarkan Pak?" Ucap Menik cepat. Kevin langsung memicingkan matanya. " Siapa yang minta sedekah senyuman dari kamu." Ucap Kevin protes. " Lah tadi Bapak bilang hanya butuh keikhlasan dan tidak memakai biaya, senyum juga ibadah, kalau tidak ikhlas tidak jadi sedekah." Ucap Menik menjelaskan. " Ya tapi bukan itu maksudnya." " Lalu apa?" Menik terlihat bingung, dia tidak bisa memikirkan arti dari ucapan bosnya. " Hemmm, sebagai hadiahnya saya minta kamu mencium bibir ini." Ucap Kevin sambil menunjuk bibirnya dengan jarinya. " Apa! Ah ini enggak adil." Ucap Menik cepat. " Apanya yang tidak adil, saya hanya minta kamu mencium bibir ini. Sayakan pemenangnya." Ucap Kevin sambil tersenyum licik. " Tapi kenapa itu hadiahnya." Gerutu Menik. " Ok, sebagai gantinya apa kamu mau mentraktir saya makan di restoran?" Ucap Kevin lagi. Menik terlihat bingung dengan pengganti hadiah yang pertama. Menurutnya sama saja, sama-sama menyusahkan dirinya. " Bapak kan tau saya belum gajian. Kalau makan di kaki lima saya berani, tapi di restoran saya akui enggak sanggup." Ucap Menik menyerah. " Apa tidak ada pertimbangan lainnya." Tanya Menik. Kevin sedang memikirkan sesuatu yang jelas pasti harus menguntungkannya. " Baiklah sebagai ganti semuanya, aku ingin kamu menikah denganku." Ucap Kevin cepat. " Apa!" Menik terlihat kaget mendengar kalimat yang terlontar dari mulut bosnya. " Kenapa aku seperti buah si malakama." Gumam Menik. Dia memikirkan sesuatu apa yang harus di pilihnya. " Baiklah, saya akan mencium Bapak." Ucap Menik tegas. " Ok." Kevin terlihat semangat dan tersenyum lebar. " Tapi Bapak harus tutup mata." Ucap Menik lagi. " Baik, saya akan menutup mata, kamu malu ya?" Gofa Kevin. " Jelas malulah." Ucap Menik lagi. Kevin menutup matanya, Menik mendekatkan tubuhnya dan meletakkan jari-jari di bibir bosnya. " Sudah." Ucap Menik cepat. " Jangan bohong, itu bukan bibir tapi jari." Ucap Kevin dengan mata tertutup. " Kok Bapak tau." Tanya Menik bingung. " Jari kamu bau." Ucap Kevin cepat. Menik mencium jarinya. " Iya bau, baunya sama seperti waktu di rumah makan dulu. Waktu saya menutup mulut Bapak." Ucap Menik cepat. " Apa!" Kevin langsung membuka matanya dan keluar dari mobil. Dia membayangkan kotoran Menik sekarang nempel di bibirnya. Kevin langsung muntah seketika membayangkan hal itu terjadi lagi. Menik melihat dari dalam mobil, ada rasa senang karena dapat mengerjai bosnya. Tapi ada rasa kasihan melihat wajah bosnya sampai merah karena memuntahkan semua isi perutnya. " Like, komen dan vote yang banyak ya terimakasih." Chapter 306 episode 305 (S2) Menik berjalan keluar mobil dan berusaha memijat pundak bosnya. " Jangan pegang, tangan kamu bau." Ucap Kevin cepat. " Bapak saya bercanda, mana ada cebok pakai tangan kanan. Kalau tangan kiri mungkin." Rengek Menik. Kevin sudah bisa berdiri tegak, walaupun sedikit lemas tapi dia masih mampu berdiri dengan kedua kakinya. " Cuci tanganmu dulu." Ucap Kevin cepat. " Bapak saya tidak sejorok itu, saya hanya mengerjai saja." Ucap Menik jujur. " Udah cuci tangan sana." Ucapan Kevin lagi. Menik berjalan dengan langkah gontai menuju toilet umum. Disana dia mencuci tangannya menggunakan sabun. Setelah cukup wangi dia mampir ke salah satu warung untuk membeli teh manis hangat. Dia kembali lagi ke mobil dengan menenteng minuman di tangannya. " Minumlah." Ucap Menik sambil menyodorkan teh hangat tersebut kearah Kevin. " Apa ini? Jangan bilang kalau Ini sebagai pengganti hadiahnya." Ucap Kevin cepat. " Enggak Pak, saya hanya kasihan sama Bapak, pasti perut itu kosong karena baru muntah. Jadi dengan meminum minuman hangat perut itu akan terasa enak." Ucap Menik menjelaskan. Kevin meminum teh yang di berikan Menik kepadanya. " Bapak sih gampang banget percaya. Mana mungkin saya bawa kotoran kemana-mana." Gerutu Menik. " Stop jangan kamu bicarakan masalah kotoran lagi di depan saya." Ucap Kevin cepat, dia takut muntah lagi jika membayangkan kotoran itu. Kevin sudah merasa cukup lega setelah minum teh hangat itu. " Baiklah lanjutkan yang tadi." Ucap Kevin cepat. " Lah masih ya, bukannya tadi sudah muntah." Ucap Menik bingung. " Sudah jangan banyak ngomong, kalau kamu tidak mau mencium saya. Nanti saya yang balik mencium kamu." Ucap Kevin cepat. Menik mengingat ciuman yang di berikan Kevin kepadanya. Walaupun tidak lama, tapi ciuman itu terasa intim untuknya. " Baik, tutup mata Bapak." Ucap Menik pelan. Kevin langsung menutup matanya. Menik mendekatkan tubuhnya di dekat bosnya. Dengan hati yang berdebar-debar dia mengecup bibir Kevin, kemudian badannya mundur lagi. " Sudah." Ucap Menik cepat. " Sudah? Saya bilang mencium bukan mengecup. Itu suatu hal yang berbeda tau." Ucap Kevin cepat. " Ayo lakukan lagi." Perintah Kevin. Bibir Menik menurutnya ada candunya yaitu boraks. Dengan perasaan yang sama yaitu hati yang berdebar-debar Menik kembali mendekatkan tubuhnya dengan Kevin. Dia menempelkan bibirnya di atas bibir bosnya. Kevin langsung menyambut bibir imut itu dengan lumatannya. Ciuman itu semakin dalam, keduanya tidak sadar dengan kelakuan mereka. Sampai mereka tersadar ada suara klakson mobil. " Maaf Pak." Ucap Menik dengan wajah yang malu. Kevin terlihat tersenyum puas sambil merapikan kemejanya. " Pintar juga kamu dalam hal seperti itu." Goda Kevin. Menik tidak menjawab, dia masih merasa malu sambil melihat keluar jendela mobil. Kevin menyalakan mesin mobilnya meninggalkan taman itu. Bodohnya aku, kenapa aku menyambut ciumannya. Kevin fokus dengan mengemudikan mobilnya, dia sesekali melihat kearah Menik. Wanita yang ada di sebelahnya sama sekali tidak mau melihat kearahnya. " Nik apa kamu marah." Tanya Kevin. Menik tidak menjawab, dia tetap melihat kearah luar jendela mobil. Dia berkecamuk dengan pikirannya dan perasaannya. " Nik, kamu marah." Tanya Kevin lagi. Menik tetap tidak menjawab. " Maaf atas perbuatan saya yang tadi. Entah kenapa saya tidak bisa mengontrol diri ketika bertemu dengan kamu. Kamu harus tau kalau saya suka dengan kamu." Ucap Kevin pelan sambil sesekali melihat ke arah Menik. " Terimakasih telah berkata jujur kepada saya. Tapi mohon maaf saya belum tau dengan perasaan ini." Ucap Menik jujur. " Tidak apa-apa. Jangan kamu paksakan perasaanmu untuk mencintai saya. Tapi carilah siapa pemilik hati itu." Ucap Kevin pelan. Tanpa terasa air mata Menik menetes, belum pernah dia melihat orang yang sangat penyabar dan berbesar hati seperti Kevin. " Kamu menangis." Ucap Kevin pelan. " Enggak Pak, saya terharu mendengar perkataan Bapak." Ucap Menik pelan sambil menghapus bulir-bulir air matanya. Kevin mengelus rambut Menik dengan cukup lembut. " Jika pemilik hati itu bukan saya, maka menjauhlah. Kejarlah pemilik hati itu." Ucap Kevin pelan. " Saya akan mencari siapa pemilik hati ini, dan saya berharap orang itu tidak jauh dari saya." Ucap Menik pelan. " Kenapa." Tanya Kevin. " Kalau dia jauh, saya capek mengejarnya." Ucap Menik manja. Kevin tersenyum melihat tingkah Menik yang manja. Menurutnya sudah cukup mengatakan perasaannya lewat perbuatannya beberapa minggu ini. Sekarang semuanya di serahkan kepada si pemilik hati. " Pak saya turun di halte saja." Ucap Menik cepat. " Kamu mau kemana." Tanya Kevin cepat. " Saya mau ketemu teman." Ucap Menik cepat. Kevin memberhentikan mobilnya di sebuah halte. Menik turun dari mobil mewah tersebut. " Nik terimakasih atas hadiahnya." Ucap Kevin pelan. Menik tersipu malu mendengar ucapan bosnya. Kevin melajukan mobilnya secara perlahan, dia masih penasaran dengan temannya Menik. Menik naik sebuah ojek yang nongkrong di dekat halte. Dia menyebutkan tujuannya. Motor sudah melaju dengan kecepatan sedang dan di ikuti Kevin dari belakang. Setelah lima belas menit, motor berhenti di sebuah Mall. Menik memberikan beberapa lembar uang kepada si tukang ojek. " Ngapain dia ke mall." Gumam Kevin pelan. Menik masuk ke dalam mall itu, dan Kevin memarkirkan mobilnya. Ketika sampai didalam Mall, Kevin tidak menemukan keberadaan Menik. Dia berkeliling mencari keberadaan wanita itu. Lama dia berkeliling tapi batang hidung Menik tidak terlihat sama sekali. " Kamu kemana sih Nik." Gerutu Kevin. Dia duduk di kursi yang di sediakan pihak mall. Ada rasa lelah mencari keberadaan wanita itu. Sampai dia mendengar suara seseorang yang ada dibelakangnya. Ada suara dua orang wanita keluar dari sebuah salon. Salah satu suara itu Kevin mengenalnya yaitu suara Menik. Kevin membalikkan badannya melihat dua sosok wanita itu. Dia merasa tidak asing, dengan wanita di depannya. " Itu si Menik, cantik sekali dia. Kenapa dia berhias seperti itu." Gumam Kevin pelan. Menik sudah meninggalkan salon itu. Dia menyusuri setiap mall. Tidak ada yang di belinya tapi dia hanya menghabiskan waktunya di sana. Kevin terus memperhatikannya dari jauh. " Apa dia mau bertemu dengan seseorang di sini. Tapi kenapa sudah satu jam temannya tidak kunjung datang. Dan untuk apa dia berdandan secantik itu." Gumam Kevin pelan. Kevin sengaja jalan di depan Menik, dia berharap wanita itu melihatnya. Ketika Kevin berjalan di depan Menik. Wanita itu terlihat sibuk dengan ponselnya. Jadi dia tidak melihat Kevin melewatinya. " Sial, dia tidak melihatku." Gerutu Kevin. Dia berjalan lagi di depan Menik, dan lagi-lagi wanita itu sibuk dengan ponselnya. " Dasar ponsel sialan, kalau dia masih pakai ponsel remote tv itu pasti dia tidak sibuk seperti sekarang." Gerutu Kevin. Kevin berjalan lagi di depan Menik. " Harus berhasil, kalau tidak berhasil aku pulang." Gumam Kevin pelan. Kevin sengaja menjatuhkan dompetnya didepan Menik. " Mas dompetnya jatuh." Ucap salah seorang wanita yang duduk di sebelah Menik. " Terimakasih." Ucap Kevin pelan. Menik melirik sekilas seorang pria yang sedang berdiri tidak jauh dari tempat duduknya. Kemudian dia melihat kembali ponselnya. " Itu bukannya Pak Kevin, ngapain dia di sini. Apa jangan-jangan dia mengikutiku. Ah sepertinya tidak, atau dia tidak kenal denganku karena aku berdandan seperti ini." Gumam Menik pelan. " Lebih baik aku menghindar darinya." Ucap Menik berjalan menghindari Kevin. " Sial, mau pergi kemana dia." Gerutu Kevin. Kevin tidak punya pilihan lain, mau tidak mau dia menyapa Menik. " Menik." Teriak Kevin. Menik berhenti. " Wah dia mengenaliku." Gumam Menik pelan. Kevin sudah berdiri di samping Menik. " Kamu Menik kan?" Ucap Kevin basa-basi. " Udah tau nanya." Ucap Menik ketus. " Kenapa kamu berdandan secantik ini di mall." Tanya Kevin. Kan betul pasti dia penasaran dengan penampilanku, apa aku harus jujur kepadanya. " Hemmmmm, saya lagi kursus." Ucap Menik malu. " Kursus? Kamu kursus bahasa apa." Tanya Kevin lagi. " Dan kenapa harus berdandan seperti ini." Tanya Kevin cepat. " Aduh Bapak banyak banget tanyanya. Saya itu kursus kecantikan." Ucap Menik malu. " Apa!" Kevin terlihat kaget mendengar penuturan wanita di depannya. " Pak enggak usah seperti itu reaksinya." Ucap Menik melihat ekspresi bosnya yang membelalakkan matanya. " Ok, kenapa kamu kursus kecantikan. Apa kamu mau jadi perias." Tanya Kevin. " Bukan itu pak, saya hanya ingin cantik." Ucap Menik pelan sambil menundukkan kepalanya. " Menik kecantikan seseorang itu bukan di lihat dari wajah atau bentuk dari tubuhnya, tapi kecantikan itu di lihat dari hatinya." Ucap Kevin pelan sambil memegang kedua pundak Menik. " Maksud Bapak kalau hati saya sudah menemukan pemiliknya maka saya cantik, kalau belum ada pemiliknya jelek gitu." Ucap Menik polos. " Bukan seperti itu." Kevin menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Perkataannya tentang pemilik hati di sangkut pautkan Menik dengan kecantikan. Kevin berusaha menjelaskan arti kecantikan yang sesungguhnya. Akhirnya Menik mengerti. " Kamu tetap boleh belajar berhias. Tapi berhiaslah seperlunya. Dan kondisinya dan situasinya seperti apa. Jangan kamu berhias seperti ini pada saat membersihkan gedung yang ada luntur semua tuh makeup." Ucap Kevin. Mereka berdua saling tertawa dan duduk berdampingan melihat lalu lalang pengunjung mall. " Like, komen dan vote yang banyak ya terimakasih." Chapter 307 episode 306 (S2) Pagi hari mentari sudah menunjukkan cahaya kilaunya. Zira membuka matanya secara perlahan, karena sinar mentari masuk melalui celah-celah jendela. Dia mendapati suaminya di depannya, sedang tertidur pulas. Zira mengecupi suaminya, untuk memberikan kecupan selamat pagi. Ziko membuka matanya perlahan. " Selamat pagi sayang." Ucap Ziko dengan suara bangun tidur. " Kamu mau sarapan apa hari ini." Tanya Zira. " Kenapa kamu yang memasak, aku sudah menyuruh pembantu di mansion datang ke sini. Mereka yang akan memasak untuk kita." Ucap Ziko cepat. " Aku sudah baikan kok, semua bisa aku kerjakan." Ucap Zira cepat. " Jahitan kamu belum kering benar sayang." Ucap Ziko sambil duduk dari posisi berbaringnya. Ting tong. Ada suara bel berbunyi. " Siapa yang datang pagi-pagi." Tanya Zira. " Mungkin pembantu di mansion." Ucap Ziko sambil beranjak dari kasur dan menuju kamar mandi. Zira keluar dari kamar dan membuka pintu ruang tamu. Yang di katakan suaminya benar, kalau di depan rumahnya ada pembantu mansion. " Selamat pagi nona." Ucap pembantu itu ramah. " Pagi, saya harus memanggil apa." Tanya Zira. " Panggil saja saya Inah." Ucap wanita paruh baya itu. " Silahkan masuk bi Inah." Zira mempersilahkan wanita paruh baya itu masuk ke dalam rumahnya. Bi Inah langsung ke dapur dengan membawa tentengan di tangannya. " Bi, apa bibi baru dari pasar." Tanya Zira. " Iya nona, saya mampir ke pasar dulu baru ke sini." Ucap pembantu itu ramah. " Kenapa bibi repot-repot." Ucap Zira lagi. " Saya tidak merasa di repotkan, dan saya juga menjalani perintah ini sesuai dengan instruksi Nyonya besar." Ucap Bibi itu jujur. Hati Zira berdesir mendengar penuturan pembantunya. Menurutnya mama mertuanya sangat perhatian dengannya. Zira membantu Bi Inah di dapur. Mereka masak yang simpel untuk sarapan paginya. Setelah selesai dari kamar mandi, Ziko menikmati sarapannya, dan untuk pertama kalinya mereka menikmati sarapan pagi di rumah baru mereka. " Sayang, aku hari ini ke kantor. Kamu di rumah saja, jangan pergi kemanapun." Ucap Ziko tegas. " Iya sayang, aku akan menunggu kamu di sini." Ucap Zira cepat. Zira mengantarkan suaminya sampai di depan rumahnya. Ziko mengecup istrinya sebelum berangkat kerja, ada rasa senang ketika mereka melakukan rutinitas itu. Dia masuk kembali ke rumahnya setelah bayang mobil tidak ada lagi. Suasana di kantor di penuhi kesibukan, Kevin sudah tiba terlebih dahulu daripada Ziko. Dia terlihat sibuk di depan laptopnya. Ziko sudah tiba di ruangnya. Koko melihat kedatangan bos besar, dia langsung menghubungi Kevin. Karena sebelumnya dia sudah memerintahkan sekertaris itu untuk mengabarinya jika Ziko sudah tiba di kantor Suara telepon berdering. " Ya halo." Ucap Kevin dari ujung teleponnya. " Pak, bos besar sudah datang." Ucap Koko cepat. " Baik." Kevin langsung beranjak dari kursinya, dia terlihat sangat sibuk hari ini, sambil meletakkan teleponya. Ziko sedang duduk di kursinya, Kevin langsung masuk dengan segera. " Pagi tuan." Sapa Kevin. " Ya, ada kabar apa." Tanya Ziko cepat. " Sepertinya kita ada investor baru di luar negeri." Ucap Kevin cepat. " Apa!" Ziko terlihat semangat mendengar kabar itu. Kevin memberikan beberapa berkas yang baru di terimanya dari luar negeri. Ziko membaca profil perusahaan yang akan berkerja sama dengan perusahaannya. " Itu merupakan kabar yang sangat baik." Ucap Ziko semangat. " Kapan penandatanganan kontrak kerjasama." Tanya Ziko. " Secepatnya tuan, mereka masih mengirim beberapa berkas perusahaan mereka." Ucap Kevin menjelaskan. " Kamu cek dulu perusahaan itu, apakah itu perusahaan bonafit atau perusahaan yang sedang di ambang kehancuran seperti perusahaan kita." Perintah Ziko. " Baik tuan." Ucap Kevin cepat. " Kabari secepatnya." Ucap Ziko lagi sebelum Kevin pergi meninggalkan ruangannya. Kevin telah kembali ke ruangannya, dia harus mengecek perusahaan yang akan bekerjasama dengan perusahaan Ziko di luar negeri. Ada suara ketukan dari luar ruangan Presiden direktur. Tok tok tok. " Masuk." Ucap Ziko cepat. " Tuan, ada seseorang ingin bertemu dengan anda." Ucap Koko cepat. " Siapa." Tanya Ziko lagi. " Namanya Vita." Ucap Koko cepat. " Vita? Mau ngapain dia ke kantorku." Gumam Ziko pelan. " Bagaimana tuan, apa saya tolak." Ucap Koko lagi. " Jam berapa meeting dengan kepala bagian?" Tanya Ziko lagi. " Satu jam lagi tuan." Jawab Koko cepat. " Baik, suruh dia masuk." Perintah Ziko lagi. Koko keluar dari ruangan itu, dan kembali menghubungi resepsionis. " Perintahkan dia masuk." Ucap Koko dari ujung telepon. Vita sudah tiba di lantai tempat ruangan Ziko berada. Dia menuju meja sekertaris. " Selamat pagi, saya mau bertemu dengan presiden direktur." Ucap Vita ramah. " Tunggu sebentar." Ucap Koko. Koko berjalan dan mengetuk ruangan Presiden direktur. Dia masuk kedalam ruangan itu, meninggalkan Vita sendirian di ruang tunggu. Dan beberapa detik kemudian dia keluar lagi dari ruangan Presiden direktur. " Silahkan masuk." Ucap Koko ramah. Vita berjalan dengan anggunnya. Kecantikan Vita memang tiada duanya, sama halnya seperti Sisil, cuma mereka beda karakter. Vita memiliki sifat cenderung lebih sopan di bandingkan Sisil. Di dalam ruangannya Ziko terlihat sibuk menatap laptopnya. " Pagi Ziko. Maaf mengganggu." Ucap Vita cepat. " Silahkan duduk." Ziko mempersilahkan mantan pacarnya duduk di kursi depan meja kerjanya. " Ada yang bisa saya bantu." Ucap Ziko langsung. Vita tidak menjawab dia malah menundukkan kepalanya. " Kamu kenapa? Apa ada masalah dengan bukumu." Tanya Ziko langsung. Vita menggelengkan kepalanya cepat. " Lalu kenapa." Tanya Ziko lagi. " Aku di lamar Fiko." Ucap Vita pelan. " Wah itu kabar yang luar biasa." Ucap Ziko sambil bertepuk tangan. Vita terlihat tidak semangat sama sekali. " Kamu kenapa? Seharusnya kamu senang." Tanya Ziko cepat. Vita masih menundukkan kepalanya. " Apa ada masalah? Coba kamu ceritakan kepadaku." Tanya Ziko lagi. " Aku aku belum menjawab lamaran itu." Ucap Vita gugup. " Kenapa kamu belum menjawabnya? Apa kamu tidak mencintainya." Tanya Ziko lagi. " Aku datang kesini ingin meminta pendapat kamu, tentang ini. Karena hanya kamu yang mengerti kondisiku." Ucap Vita pelan. " Maksud kamu apa?" Ziko terlihat cukup bingung. " Aku pernah bercerita kepadamu penyebab hancurnya pernikahanku. Apa kamu ingat?" Ziko menganggukkan kepalanya cepat, dia masih mengingat hal itu, karena ucapan Vita yang menyebabkan dia salah dalam mengambil keputusan. " Bagaimana aku mau menerimanya jika aku mandul. Pasti pernikahan kami tidak akan bertahan lama nantinya." Ucap Vita dengan derai air mata. " Apa kamu mencintainya?" Ziko melihat Vita merasa kasihan. Vita menganggukkan kepalanya. " Apa dia juga mencintai kamu." Tanya Ziko lagi. " Aku tidak tau, cuma dia sering mengutarakan perasaannya kepadaku." Ucap Vita lagi. Ziko terlihat sedang memikirkan sesuatu dari sisi pria. " Kapan dia melamar kamu." Tanya Ziko. " Dua hari yang lalu." Ucap Vita. " Bagaimana cara kamu menjawabnya." Tanya Ziko lagi. Dua hari yang lalu. Di apartemen Vita. Fiko sering berkunjung ke apartemen itu. Dia terlihat dekat dengan Vita setelah dirinya menjadi narasumber untuk buku yang di tulis Vita. Kedekatan itu terjalin cukup dekat, sampai anaknya Naura juga menyukai Vita. Pada saat itu siang hari, Vita tengah sibuk memasak di dapur apartemennya. Ada seseorang datang dari belakang dan berdiri sambil berlutut di belakangnya. Vita membalikkan badannya. " Fiko kamu ngapain." Tanya Vita. Fiko membuka sebuah kotak kecil yang di dalamnya ada sebuah cincin. " Maukah kamu menikah denganku." Tanya Fiko sambil berdiri dengan lutut kakinya. Vita sontak menagis terharu, dia merasa senang dan tiba-tiba dia diam seribu bahasa. Fiko mengulang perkataannya tentang melamar Vita. Vita berderai air mata terharu sekaligus bingung, bayang-bayang kehancuran rumah tangga yang lalu menghantuinya. " Terimakasih Fiko, kamu sangat baik kepadaku, bisakah kamu memberikan waktu untukku berpikir, karena ini adalah pengalaman yang kedua yang aku alami." Ucap Vita dengan derai air matanya. Fiko kembali berdiri. " Baiklah, aku tau mungkin ini berat untukmu, karena kamu pernah mengalami kegagalan dalam berumah tangga. Tapi yang ingin aku sampaikan, bahwa aku mencintaimu tulus." Ucap Fiko. " Aku mencoba merenung dan memikirkan sendiri, tapi tidak bisa. Makanya aku datang kesini meminta pendapatmu." Ucap Vita pelan. " Apa kamu pernah bercerita tentang hancur pernikahan kamu yang lalu." Tanya Ziko. Vita menggelengkan kepalanya. " Aku tidak sanggup mengatakannya." Ucap Vita dengan air matanya. " Seharusnya kamu berkata jujur kepadanya. Katakan apa yang menjadi penyebab rumah tangga kamu berhenti di tengah jalan." Ucap Ziko menjelaskan. " Bagaimana kalau dia tidak bisa menerima pengakuanku." Tanya Vita lagi. " Kalau dia tulus mencintai kamu, dia akan menerima kekuranganmu." Vita terlihat masih menundukkan kepalanya. " Percayalah yakinkan hatimu bisa mengatakan yang sebenarnya, dan yakinkan dia terbaik buat kamu." Ucap Ziko pelan. Vita sudah berani mengangkat kepalanya, ucapan Ziko membuatnya semangat. " Terimakasih Ko, setelah berbicara denganmu aku merasa lega. Aku semakin mantap untuk berkata jujur kepadanya." Ucap Vita. Vita pamit untuk pulang, Ziko mengantarnya sampai pintu. Ada Koko dan Menik yang melihat kejadian itu. Mereka berasumsi dengan pikirannya masing-masing. Cantik sekali wanita itu, kenapa dia menangis. Batin Menik. Kenapa wanita itu menangis, tadi pada saat tiba di sini, tidak ada air mata sama sekali. Batin Koko. Setelah mengantarkan Vita, Ziko kembali masuk ke ruangannya. Pada saat Kevin keluar dari ruangannya dia berpapasan dengan Vita. Dia melihat mata Vita yang sembab. " Mau apa lagi dia kesini. Apa dia mau merusak hubungan tuan muda dan nona Zira." Gumam Kevin pelan sambil berjalan menuju ruangan Presiden direktur. " Like, komen dan vote yang banyak ya terimakasih." Chapter 308 episode 307 (S2) Kevin masuk kedalam ruangan bosnya. " Apa sudah ada kabar." Tanya Ziko. " Tuan perusahaan itu sudah cukup lama berkecimpung di semua bidang, salah satunya bidang ekspor impor dan bidang perkapalan." Ucap Kevin menjelaskan. " Kedua bidang itu yang paling signifikan, dan bisa di bilang keuntungan perusahaan itu setiap tahunnya selalu meningkat tajam." Kevin menjelaskan lagi. " Apa nama perusahaan itu." Tanya Ziko lagi " Alpha corporate." " Baik persiapkan semua berkas dan kontrak kerjasama. Kita harus berangkat secepatnya kesana." Ucap Ziko cepat. " Tuan, mereka yang akan berkunjung kesini. Mereka ingin mengunjungi tanah air kita, sekaligus melihat perusahaan kita di sini." Ucap Kevin menjelaskan. " Ok kalau begitu, itu keputusan yang bijak, dan tidak mungkin juga aku meninggalkan istriku sendirian." Ucap Ziko lagi. " Tapi mereka menginginkan salah satu dari pihak perusahaan kita untuk berkunjung ke perusahaan mereka." Ucap Kevin lagi. " Tadi kamu bilang mereka yang akan datang, dan penandatanganan di sini." Ucap Ziko bingung. " Memang seperti itu tuan, itu permintaan dari mereka. Tapi sebelum penandatanganan terjadi mereka ingin menunjukkan perusahaan mereka pada pihak kita." Ucap Kevin menjelaskan. Ziko diam, dia memikirkan keadaan Zira. " Apa hanya perusahaan Alpha saja yang mau bekerjasama dengan kita." Tanya Ziko cepat. " Iya tuan, perusahaan lain enggan untuk bekerjasama dengan kita. Mereka menganggap perusahaan kita tidak bisa memberikan untung kepada mereka." " Baiklah, karena investor itu percaya dengan perusahaan kita, maka saya akan berangkat kesana sekalian mengecek perusahaan kita di sana." Ucap Ziko lagi. " Tuan bagaimana dengan nona Zira. Apa sebaiknya di tunda saja." Ucap Kevin. " Jangan di tunda, ini kesempatan emas untuk kita, aku akan memberikan penjelasan untuk Zira. Pasti dia mengerti." Ucap Ziko. " Bagaimana kalau saya yang ke sana. Jadi tuan tidak meninggalkan nona Zira sendirian. Saya bisa mengecek keadaan di sana. Lagian kontrak kerjasama akan di tanda tangani di sini." Ucap Kevin lagi. " Apa kamu yakin." Tanya Ziko. " Yakin tuan, sekalian saya mau berkunjung kerumah orang tua saya." Ucap Kevin pelan. " Ah betul itu, kamu sudah lama tidak berkunjung kerumah orang tua kamu. Apapun masalahmu selesaikanlah. Jangan jadi anak durhaka." Ucap Ziko mengingatkan. " Baik tuan, saya berangkat malam ini." Ucap Kevin sambil berlalu meninggalkan ruangan bosnya. Entah kenapa Kevin merindukan kedua orang tuanya, bayang-bayang mereka selalu menghiasi mimpinya. Kevin mempersiapkan semua kebutuhannya. Semua dokumen yang akan di bawanya semua sudah tersusun rapi. Tidak terasa waktu sudah menunjukkan waktu istirahat. Semua karyawan banyak yang makan di luar dan sebagian makan di kantin. Kevin terlihat sibuk di ruangnya, sampai-sampai dia tidak menghiraukan makan siangnya. Suara pintu di ketuk. Tok tok tok. " Masuk." Ucap Kevin cepat. Menik masuk ke dalam ruangan Kevin. Dengan membawa sebungkus nasi di tangannya. " Bapak ini makan siangnya." Ucap Menik sambil meletakkan di atas meja Kevin. " Kamu makan saja, saya hari ini sangat sibuk." Ucap Kevin cepat sambil menyusun beberapa berkas di atas mejanya. " Bapak harus makan, nanti sakit loh." Ucap Menik mengingatkan. " Terimakasih atas perhatiannya, saya masih kenyang, kamu makan saja." Ucap Kevin lagi. Dengan langkah gontai dia keluar dari ruangan itu. Dia melihat Koko yang hendak pergi keluar. " Koci kamu mau kemana." Tanya Menik. Koko langsung mendekati Menik. " Kan sudah aku bilang jangan panggil aku Koci. Aku mohon panggil saja Koko." Ucap Koko mengeja namanya. " Oh iya, aku lupa. Kamu mau kemana." Tanya Menik lagi. " Aku mau makan siang." Ucap Koko cepat. " Makan aja ini." Ucap Menik menyerahkan bungkusan makanan di tangannya. " Kenapa? Apa kalian lagi bertengkar." Ucap Koko asal. " Siapa yang bertengkar, jadian aja belum." Ucap Menik ketus. " Terus kenapa nasi ini tidak di makan bos Kevin." Tanya Koko cepat. Menik tidak menghiraukan pertanyaan pria gemulai itu, dia meninggalkan Koko dengan menuju pantry. " Ditanya malah pergi." Gerutu Koko sambil mengikuti Menik masuk ke dalam pantry. Di dalam pantry Menik membuka bungkus makanan dengan wajah yang sedikit suram. Koko duduk di depannya. " Kamu kenapa." Tanya Koko. " Aku hanya menawarkan makanan itu kepada Pak Kevin, tapi dia hanya menjawab sibuk, dan dia menyuruh aku untuk memakannya. Apa Pak Kevin memang sibuk sekali akhir-akhir ini." Tanya Menik. " Iya, beliau dan tuan muda sangat sibuk. Malah aku dengar beliau akan pergi ke luar negeri dalam beberapa hari." Ucap Koko sambil membuka bungkus nasi yang di berikan Menik untuknya. " Apa?" Menik terlihat kaget mendengar penuturan temannya. " Kamu tidak tau?" Ucap Koko sambil menyuapkan nasi itu kemulutnya. Menik menggelengkan kepalanya. " Dalam rangka apa kesana." Tanya Menik lagi. " Sepertinya kunjungan ke luar negeri." Ucap Koko lagi. " Berarti selama beberapa hari dua bos besar itu tidak ada di tempat ya." Ucap Menik pelan. " Tuan muda Ziko tidak ikut, karena istrinya masih dalam proses pemulihan. Jadi yang di tugaskan Pak Kevin." Ucap Koko menjelaskan. Menik langsung diam, dia merasa hatinya akan sepi karena tidak ada sosok bayangan Kevin selama di kantor itu. " Hey kamu jangan melamun." Ucap Koko membuyarkan lamunan Menik. " Eh tidak." Menik terlihat gugup. " Apa kamu sudah kenal dengan Pak Kevin lama." Tanya Menik. " Tidak terlalu lama, aku bekerja di sini satu setengah tahun. Tapi aku banyak dengar info beredar tentang bos kita itu." Ucap Koko pelan. Koko melihat sekeliling memastikan tidak ada orang di ruangan itu selain mereka berdua. " Pak Kevin tidak pernah mengambil cutinya sama sekali. Dia selalu sibuk dengan kegiatannya dan kegiatan bos besar." Ucap Koko. Menik masih mendengarkan cukup hikmat. " Aku sampai heran, apakah Pak Kevin di dunia ini hidup sendirian. Atau dia lahir tanpa melalui proses sembilan bulan sepuluh hari." Ucap Koko pelan. Menik langsung menoyor kepala Koko. " Kalau tidak melalui proses sembilan bulan sepuluh hari, terus dia lahir dari mana? Apa kamu pikir dia robot." Ucap Menik ketus. " Ya enggak tau juga, soalnya momen hari raya, bos kita itu tidak pernah terlihat bersama keluarganya. Aku jadi penasaran dengan kehidupan pribadinya. Apa ada orang tuanya atau tidak." Ucap Koko pelan. " Ada kok, aku pernah melihat foto keluarganya." Ucap Menik keceplosan. Menik langsung menutup mulutnya karena baru saja mengatakan hal yang seharusnya tidak di ucapkannya. Koko langsung melihat tajam ke arah Menik. " Kapan kamu melihatnya dan dimana?" Koko mulai penasaran. " Di rumahnya." Ucap Menik pelan. " Apa! Jadi kamu sudah berkunjung kerumahnya, aku saja belum pernah. Apa yang kamu lakukan di sana?" Menik hanya menggelengkan kepalanya. " Kamu bilang belum jadian, tapi kamu sudah berkunjung ke rumahnya. Apa Pak Kevin juga pernah berkunjung kerumahmu." Tanya Koko lagi. " Pernah." Ucap Menik cepat. Koko melihat Menik dengan tatapan penuh kecurigaan. " Hubungan kalian berdua seperti apa sih? Kemaren kamu bilang tidak ada hubungan apapun. Tapi kamu berkunjung ke rumahnya malah sebaliknya." Ucap Koko penasaran. " Hubungan kami hanya sebatas bos dan bawahan." Ucap Menik cepat. " Bohong! Mana ada bos datang ke rumah anak buah, malah kebalikannya. Kecuali ada acara di rumah si bos, kalau itu masih bisa di terima akal sehat." Ucap Koko penasaran. " Serius Ko, aku dan dia belum ada kesepakatan menjalin hubungan. Walaupun." Menik diam. " Walaupun apa?" Koko terus mengorek informasi. " Walaupun Pak Kevin sudah mengatakan perasaannya, tapi kami belum ada hubungan." Ucap Menik pelan. " Apa! Itu pengakuan yang luar biasa. Dia itu pria yang gentleman." Ucap Koko lagi. Menik hanya menundukkan kepalanya, dia bingung harus mengatakan apalagi. Karena yang di katakan Koko tentang Kevin benar. Bahwa Kevin pria yang gentleman. " Like, komen dan vote yang banyak ya terimakasih." Chapter 309 episode 308 (S2) Kevin keluar dari ruangannya, dia pergi menuju ruangan Ziko. Kevin harus melewati pantry sebelum menuju ruangan bosnya. Koko melihat Kevin sedang melewati pantry. " Nik, itu Pak Kevin." Ucap Koko sambil menunjuk ke arah luar pantry. Kepala Menik keluar sebagai, melihat dari jauh bayangan Kevin. Kemudian dia balik lagi duduk di depan Koko. " Kalau aku kasih saran, kalau kamu menyukainya lebih baik kamu katakan sekarang. Jangan sampai kamu menyesal." Ucap Koko mengingatkan. " Kenapa?" Menik terlihat bingung. " Kita tidak tau, kedepannya bagaimana? Bisa jadi sekarang dia menyukai kamu, tapi sepulang dari luar negeri dia menemukan cinta sejatinya." Ucap Koko lagi. Hati Menik berdesir mendengar penuturan Koko. " Aku tidak tau dengan perasaanku, aku trauma." Ucap Menik pelan. " Kamu trauma apa? Trauma cowok ganteng." Timpal Koko. " Bukan seperti itu." Akhirnya Menik menceritakan kisah hidupnya dengan Rudi, menurutnya biarlah Koko tau tentang masa lalunya. Koko terlihat manggut-manggut mengerti. " Masa lalu di jadikan sebuah pengalaman hidup, bukan di jadikan momok yang menakutkan untuk melangkah ke depan." Ucap Koko. " Kalau seandainya orang tuanya tidak menyetujui hubungan kami bagaimana." Ucap Menik pelan. Bayang-bayang penolakan akan dirinya selalu menghantuinya. " Nik, itu hanya mimpi kamu saja, kamu dan dia belum menjalani apapun. Sudahlah lebih baik kamu katakan tentang perasaanmu yang sesungguhnya, itu kalau memang ada hati untuk Pak Kevin. Tapi kalau tidak ada perasaan mending tidak usah." Ucap Koko cepat. " Kenapa." Tanya Menik pelan. " Sakit tau, kamu tau rasanya mencintai tapi tidak di cintai. Rasanya seperti di iris-iris." Ucap Koko lagi. " Kamu punya pengalaman pribadi ya? Kenapa kamu lancar mengatakannya." Goda Menik. " Ah kamu, aku itu lagi ngomongin kamu, bukan tentang diriku." Gerutu Koko. Menik diam, dan membayangkan semua ucapan Koko. " Aku harus meyakinkan hatiku dulu." Ucap Menik pelan. " Apa sekarang hatimu belum yakin?" Koko terlihat bingung. Menik menggelengkan kepalanya. " Ya terserah kamu, semua keputusan di tangan kamu. Kalau kamu sudah yakin dengan hatimu sekarang jujur kepada Pak Kevin, tapi kalau belum yakin, yakinkan perasaanmu dan ingat jangan lama-lama." Ucap Koko mengingatkan. " Kenapa lagi Ko." " Seperti yang aku bilang tadi, kita tidak tau sampai berapa lama Pak Kevin menyukai kamu." Ucap Koko lagi. " Tapi kalau cinta sejati pasti akan menunggu kan." Tanya Menik. " Iya itu dulu, tapi sekarang jarang namanya cinta sejati. Apalagi Pak Kevin sudah lumayan berumur, dia tidak akan main-main dalam hal percintaan." Ucap Koko lagi. Di dalam ruangan Presiden direktur. " Tuan, ini semua berkas yang akan saya bawa ke sana." Ucap Kevin sambil menunjuk beberapa berkas dan di letakkannya di atas meja Ziko. Ziko membaca berkas itu satu persatu. Setelah cukup yakin, dia menyerahkan kembali kepada asistennya. " Aku percayakan semuanya kepadamu." Ucap Ziko cepat. " Baik tuan, saya akan sering mengabari anda nantinya." Ucap Kevin semangat. " Tuan, saya mungkin izin pulang setengah hari, saya ingin bersiap-siap." Ucap Kevin lagi. " Oh iya, persiapkan segala keperluanmu. Oh satu lagi. Bawa buah tangan kesana." Ucap Ziko mengingatkan. " Baik tuan." Ucap Kevin semangat. Dia keluar dari ruangan itu dengan wajah bahagia. Perasaannya sudah membayangkan akan bertemu dengan keluarganya. Keluarga yang sudah lama di tinggalkannya. Kevin melewati pantry lagi. Menik memanggilnya. " Pak Kevin." Ucap Menik sedikit berteriak. Kevin menghentikan langkahnya, dan membalikkan posisi badannya ke belakang. Ada Menik yang sedang berjalan menuju kearahnya. " Ya ada apa." Ucap Kevin pelan. " Saya dengar Bapak akan pergi keluar negeri." Tanya Menik. " Iya." " Berapa lama Bapak di sana." Tanya Menik lagi. " Belum tau." Ucap Kevin cepat. " Kenapa kamu bertanya seperti itu." Tanya Kevin. " Tidak apa-apa Pak, semoga Bapak selamat sampai tujuan, dan pulang kembali kesini dalam keadaan sehat." Ucap Menik pelan sambil berlalu meninggalkan Kevin. " Jika saya kembali ke tanah air, akankah kamu memberikan jawaban untuk saya." Ucap Kevin sedikit berteriak. Menik membalikkan badannya dan menganggukkan kepalanya pelan. Kevin tersenyum lebar, dia membayangkan jawaban kepastian pemilik hati Menik. Kevin kembali keruangannya dengan perasaan yang bahagia, bahagia karena akan bertemu dengan keluarganya, dan bahagia akan mendapatkan kepastian dari Menik. Dia sudah meninggalkan gedung itu. Kevin mampir ke sebuah toko yang menjual beraneka ragam oleh-oleh yang akan di bawanya sebagai buah tangan darinya. Semua buah tangan sudah lengkap. Dia menyetir mobilnya kembali ke kediamannya. Sesampainya di sana, dia menyiapkan keperluannya dari pakaian dan keperluan lainnya. Tak terasa waktu sudah hampir petang, dia langsung membersihkan dirinya di kamar mandi. Kevin sudah menghubungi supir perusahaan untuk menjemput di rumahnya. Supir sudah menunggu di depan rumahnya. Setelah selesai dengan semuanya, dia keluar rumah dengan membawa satu koper dan tas ransel. " Selamat petang Pak Kevin." Sapa supir itu ramah. Kevin menganggukkan kepalanya. Supir itu menyimpan koper Kevin di bagasi belakang. Dia langsung duduk di kursi belakang supir. " Kita langsung ke bandara, atau mau mampir dulu ke tempat lain." Tanya Pak supir. " Langsung saja." Ucap Kevin cepat. Kevin akan pergi naik pesawat jet pribadi milik bosnya. Jadi dia bisa lebih santai dengan penerbangan itu. Dalam beberapa menit mobil sudah sampai di bandara, tempat pesawat jet itu parkir. Pilot dan co-pilot menyambutnya beserta dua orang pramugari. " Selamat petang Pak Kevin. Apa anda sendirian." Tanya Pilot. " Iya, saya berangkat sendirian, tuan muda tidak bisa ikut." Jawab Kevin. Kevin langsung naik kedalam pesawat jet itu. Pramugari menawarkan makanan dan minuman untuk Kevin. Sedangkan pilot sedang mempersiapkan pesawat take off. Setelah beberapa menit, pesawat jet sudah melayang di udara. Pramugari datang menyiapkan makanan dan minuman untuknya. Perjalanan memakan waktu 14,5 jam. Kevin bisa mengistirahatkan tubuhnya di pesawat itu. " Selamat malam sayang." Sapa Zira menyambut kedatangan suaminya. Ziko mencium hangat dan memeluk tubuh istrinya. " Maaf aku pulang agak telat." Ucap Ziko cepat. " Tidak apa-apa sayang." Ucap Zira sambil membawa suaminya masuk ke dalam rumahnya. " Aku dan bi Inah sudah mempersiapkan makan malam untuk kamu." Ucap Zira sambil membuka tudung saji di meja makan. Di meja makan telah tersedia makanan rumahan. " Aku bersih-bersih dulu." Ucap Ziko sambil berlalu meninggalkan Zira. Setelah beberapa menit, Ziko kembali menuju meja makan. Zira melayani suaminya dengan penuh cinta. Mereka makan sepiring berdua, kebiasaan itu mereka lakukan lagi. " Kenapa kita makan sepiring berdua lagi." Tanya Ziko. " Kemaren karena aku lagi hamil, karena sekarang sudah tidak hamil, aku ingin momen yang dulu kita ulang lagi. Tapi kalau aku hamil lagi, enggak boleh lagi makan sepiring berdua." Ucap Zira cepat. " Kenapa." " Nanti aku enggak kenyang." Ucap Zira jujur. Saking gemesnya Ziko mengecupi bibir istrinya. " Kamu mau makan atau mau mengecupi bibirku terus." Ucap Zira cepat. " Aku mau makan kamu." Ucap Ziko genit. " Ah sayang, aku itu lagi palang merah, mana boleh kamu memakanku. Lagian jahitanku belum sembuh benar." Rengek Zira. " Iya sayang, aku tau. Aku bisa menahan si tole ini. Walaupun tidak ada gua, tapi masih bisa kocok arisan." Ucap Ziko asal. Zira tertawa melihat tingkah suaminya. Mereka menikmati makan malam itu. " Ada kabar apa di kantor." Tanya Zira sambil mengunyah makanannya. " Oh iya sayang, aku lupa mengabari kamu. Ada perusahaan yang akan menjalin kerjasama dengan perusahaanku." Ucap Ziko antusias. " Oh ya, syukurlah. Aku turut bahagia mendengar kabar itu." Ucap Zira senang. " Sekarang Kevin lagi ke luar negeri, mengurus segala hal di sana dan sekalian dia mau berkunjung menjenguk orang tuanya." Ucap Ziko menjelaskan. " Oh itu kabar baik juga. Apapun masalahnya dengan kedua orangtuanya semoga dapat cepat selesai." Ucap Zira. " Like, komen dan vote yang banyak ya terimakasih." Chapter 310 episode 309 (S2) Setelah menempuh jarak selama 14,5 jam, akhirnya pesawat yang membawa Kevin tiba di bandara. Pesawat jet sudah mendarat dengan sempurna. Kevin turun dari pesawat itu. " Berapa lama kita di negara ini." Tanya Pilot. " Dua hari, jika ada perubahan penambahan hari akan saya kabari." Ucap Kevin cepat. Kevin sudah di jemput oleh supir kantor. " Good morning, sir (Selamat pagi, Pak)." Sapa si supir. " Good morning, too (Selamat pagi juga)." " You want me to take you to the hotel first or to the office (Bapak mau saya antar ke hotel dulu atau ke kantor)." Tanya supir. " Take me to the hotel first, then we go to the office (Antarkan saya ke hotel dulu, setelah itu kita ke kantor)." Ucap Kevin Mobil langsung bergerak meninggalkan bandara dan pergi menuju hotel yang telah di booking Kevin sebelumnya. Setiba di hotel dia langsung membersihkan tubuhnya dan setelah itu langsung bergegas keluar hotel. Supir masih setia menunggunya di depan loby hotel. Setelah melihat bosnya datang, supir itu langsung berlari kecil dan membuka pintu mobil untuk Kevin. Mobil langsung melaju meninggalkan hotel dan menuju perusahaan Ziko. Sesampainya di sana, dia langsung bertemu dengan penanggung jawab perusahaan Ziko yaitu Bapak Hendrik. Hendrik adalah berwarga negara sama dengan Ziko dan Kevin, cuma dia bertempat tinggal di luar negeri. Dia termasuk orang kepercayaan Ziko untuk mengurusi semua perusahaan di luar negeri. " Selamat pagi, Pak Kevin." Sapa Pak Hendrik sambil mengulurkan tangannya. Kevin menyambut uluran tangan itu, dan pria itu menemani Kevin untuk berkeliling perusahaan. Kevin mengecek semua departemen, waktu yang dihabiskan untuk mengecek habis dalam satu harian. Dan besok adalah jadwalnya Kevin berkunjung ke perusahaan yang akan menjalin kerjasama dengan perusahaan Raharsya group. Kevin sudah tiba di kamar hotelnya. Dia merasa waktu sangat singkat. Kevin membayangkan terakhir kali dia bertemu dengan kedua orang tuanya, kejadian itu sekitar 6 tahun yang lalu. Flashback Sekitar 6 tahun yang lalu. Kevin berkunjung ke rumah orangtuanya, dia selalu menghabiskan waktu cutinya untuk bertemu dengan keluarganya di luar negeri. Kepulangannya di sambut suka cita oleh keluarganya. Kevin blasteran, papanya warganegara Indonesia dan mamanya berwarganegara asing. Mereka sudah menetap di luar negeri. Adat istiadat tidak menjadi masalah di sana. Malah adat ketimuran sudah hilang di sana, karena mayoritas di luar negeri kebanyakan orang asing, jadi adat itu hilang begitu saja. " Selamat datang sayang." Ucap mamanya Paula sambil memeluk tubuh anak sulungnya. Mamanya Kevin sudah fasih berbahasa Indonesia dengan lancar dia gampang melafalkan bahasa itu. Kevin mengistirahatkan tubuhnya di kamar, setelah petang dia turun dan keluar dari kamarnya. Pada saat itu suasana di rumahnya sangat banyak orang. Dia merasa bingung. " Mari sini sayang." Ucap mamanya Paula sambil mengajak Kevin untuk duduk dan bergabung bersama keluarga mereka. " Ada apa ini ma." Tanya Kevin bingung. " Ini pesta untuk menyambut kepulanganmu." Ucap mamanya pelan. " Kenapa harus menyambutku seperti ini." Ucap Kevin lagi. " Tidak apa-apa sayang." Ucap mamanya. Semua keluarga besar datang dan menikmati hidangan yang telah di sajikan keluarga Kevin. Papanya Kevin berdiri di tengah-tengah untuk menyampaikan sepatah dua patah kata. Papanya menyampaikannya dengan bahasa asing, karena keluarga dari mamanya tidak bisa berbahasa Indonesia. Hanya keluarga Kevin yang paham bahasa Indonesia. " Welcome my boy, we are very happy with your presence here. And papa will surprise you. (Selamat datang anakku, kami sangat senang dengan kehadiranmu di sini. Dan papa akan memberikan kejutan untukmu)." Semua yang berada di situ riuh sambil bertepuk tangan, Kevin hanya diam dan menikmati acara itu. Papanya memanggil seseorang dengan jari tangannya. Datang seorang cewek bule mendekat papanya dan berdiri di sampingnya. " This is Jasmin, she is your future wife (Ini jasmin, dia adalah calon istri kamu)." Ucap papanya. Kevin kaget, dia spontan berdiri dan meninggalkan ruangan itu. Keluarga yang berada di situ juga bingung, karena mereka tidak menyangka reaksi Kevin sangat bertolak belakang dengan yang di katakan papanya. Kevin kembali ke kamarnya dan langsung menyusun pakaian ke dalam koper. Dia keluar dari kamar dengan membawa kopernya. " Kevin kamu mau kemana." Tanya Papanya. " Aku akan kembali ke tanah air." Ucap Kevin ketus. " Kevin kamu baru tiba siang ini, kenapa kamu harus balik hari ini juga." Ucap mamanya dengan penuh air mata. " Maaf Ma, aku tidak suka di jodohkan." Kevin berkata di depan orang banyak. Semua keluarga yang ada di situ bingung dan tidak bisa mengartikan percakapan itu. Keluarga Jasmin juga bingung dengan bahasa yang mereka pakai. Cuma mereka mengambil kesimpulan kalau Kevin tidak menerima perjodohan itu. Kevin melangkahkan kakinya hendak keluar dari rumah itu. " Kevin stop." Ucap Papanya tegas. Kevin menghentikan langkahnya. " Maaf Pa, aku harus kembali. Tolong jangan anggap aku seperti anak kecil. Aku bisa mencari pasangan hidup sendiri. Aku bisa menentukan langkahku sendiri." Ucap Kevin tegas. Prak, papanya menampar wajah Kevin. " Berani kamu melawan!" Papanya terlihat marah, rahangnya mengeras matanya merah. Semua keluarga diam. Nyonya Paula berusaha menenangkan suaminya sambil berderai air mata. " Pergi kamu dari sini, jangan pernah kamu injakan kakimu di rumah ini lagi." Teriak papanya. Lamunan Kevin buyar. Ketika ada suara pesan masuk. Dia melihat layar ponselnya. Ada pesan dari Menik, yang isinya. Bapak apa kabarnya. Kevin langsung membalas chat tersebut. Saya baik. Kamu apa kabar. Tidak berapa lama Menik mengirim balasan. Saya baik Pak. Kamu kenapa belum tidur. Balasan dari Kevin. Belum bisa tidur Pak. Balasan dari Menik Apa kamu tidak bisa tidur karena memikirkan saya. Kevin membalas lagi. Lama Kevin menunggu jawaban dari Menik. Iya. Kevin langsung melonjak kegirangan mendapatkan jawaban itu dari Menik. Menurutnya sinyal cinta Menik sudah berwarna hijau. Dia mengirim pesan lagi. Boleh aku menghubungi mu. Menik membalas. Boleh. Panggilan terhubung tapi bukan panggilan biasa, Kevin melakukan Video call. Menik menjawab panggilan tersebut. " Malam Menik." Ucap Kevin cepat. " Malam Pak." Jawab Menik. " Kamu lagi di mana." Tanya Kevin. " Di rumahlah Pak, sekarang kan sudah jam 2 pagi, mana mungkin aku di luar." Jawab Menik cepat. Kevin melihat jam di dinding kamar hotel. Waktu sedang menunjukkan jam delapan malam, dan perbedaan di luar negeri sama tanah air 6 jam. Menik menerima panggilan itu dengan berbaring di kasurnya. Begitupun Kevin, dia sedang menyandarkan badannya di sandaran tempat tidur. Mereka melakukan percakapan sewajarnya, dari percakapan mengenai kegiatan Menik dan kegiatan Kevin di luar negeri. " Pak di sana musim apa." Tanya Menik cepat. " Summer." Jawab Kevin. " Oh semur. Kalau di sini musim rambutan." Jawab Menik pelan. " Bukan semur nik. Tapi summer." Kevin mengulang kata summer. " Oh summer, saya kirain semur ayam." Ucap Menik. Tidak terasa waktu percakapan mereka sudah sampai setengah jam, Menik sudah tidak bisa membuka matanya lagi. " Pak saya ngantuk." Ucap Menik dengan mata tertutup. " Ya sudah tidur, saya mau melihat wajah kamu ketika tidur." Jawab Kevin. Menik tidak menjawab lagi, video call itu tetap terhubung, hanya Kevin yang melihat wajah Menik yang terlelap. Ada rasa rindu ketika melihat wajah Menik yang polos tidur dengan pulasnya. Ingin rasanya dia datang dan memeluk tubuh itu. Tapi dia hanya bisa memeluk Menik dalam angan-angannya saja. " Like, komen dan vote yang banyak ya terimakasih." Chapter 311 episode 310 (S2) Pagi hari waktu tanah air. Zira melakukan aktivitasnya sebagai ibu rumah tangga penuh. Dia menyiapkan pakaian kerja suaminya dan menyiapkan sarapan untuk mereka berdua. Ziko datang dan menghampiri istrinya sambil memeluk tubuh Zira dari belakang. Dia mengecup punggung leher istrinya. " Selamat pagi sayang." Ucap Ziko, kemudian duduk di kursi makan. " Apa kamu yang menyiapkan makanan ini semua." Tanya Ziko. " Iya." " Kemana bi Inah." Tanya Ziko. " Bi Inah izin tidak datang, kurang enak badan." Jawab Zira. Mereka menikmati sarapan paginya. " Sayang aku siang ini mau ke rumah sakit. Mau kontrol jahitan." Ucap Zira sambil menyuapi suaminya. " Ya sudah nanti aku jemput." Ucap Ziko cepat. " Tidak usah sayang, kamu pasti sibuk. Apalagi tidak ada Kevin bersama denganmu. Aku bisa pergi sendiri." Jawab Zira. " Maksudnya, kamu mau menyetir mobil sendiri gitu." Tanya Ziko cepat. " Iya." Jawab Zira. " Enggak, kamu tidak aku izinkan menyetir mobil lagi, biar mama atau Zelin yang menemaninya kamu." Ucap Ziko cepat. " Tapi sayang." Ucap Zira pelan. " Jangan bantah. Aku tidak mau kamu kenapa-napa." Ucap Ziko tegas. " Aku akan menyetir mobil dengan kecepatan 40 kilometer per jam. Boleh ya." Rayu Zira. " Pokoknya tidak boleh, kalau kamu masih ngeyel, aku panggil dokter spesialis itu ke rumah kita untuk memeriksamu." Ucap Ziko tegas. Zira hanya manyun, Ziko mengambil ponselnya dan menghubungi adiknya. " Halo Zelin." " Ya Kak." " Nanti kamu antarkan kakak kamu ke dokter." Ucap Ziko cepat. " Jam berapa kak." Tanya Zelin. Ziko menutup sebagian ponselnya. " Jam berapa kamu mau kontrol." Tanya Ziko kepada istrinya. " Jam sebelas." Jawab Zira. Ziko meletakkan ponselnya di dekat bibirnya. " Jam sebelas." Jawab Ziko. " Enggak bisa kak, aku ada kuliah jam segitu." Jawab adiknya. " Ok kalau begitu, kakak akan menghubungi mama." Jawab Ziko. " Mama juga tidak ada." Jawab Zelin. " Mama kemana." Tanya Ziko. " Mama pergi sama Papa, katanya mau ke panti asuhan." Jawab adiknya. Kemudian panggilan terputus. " Bagaimana sayang. Siapa yang akan mengantar aku ke dokter." Tanya Zira. " Suamimu yang handsome ini yang akan mengantarkan kamu ke dokter." Jawab Ziko cepat. " Zelin kemana." Tanya Zira lagi. Ziko menjelaskan kalau adiknya tidak bisa mengantarkannya ke dokter begitupun dengan mamanya juga tidak ada di tempat. " Oh ya udah aku naik mobil aja." Jawab Zira lagi. " Enggak, kamu tidak boleh naik mobil lagi. Kalau jam 10 aku belum tiba di sini. Berarti aku sibuk, dan aku akan mengirimkan supir untuk menjemput kamu." Ucap Ziko cepat. Zira tidak mau membantah omongan suaminya, dia takut jika melanggar omongan suaminya takut terjadi sesuatu dengan dirinya. " Ya sudah, nanti kabari aku ya." Ucap Zira. Setelah itu Zira mengantarkan suaminya sampai di depan pintu rumah. Mobil sudah pergi meninggalkan kediaman mereka. Zira masuk ke dalam dan menghubungi modelnya di luar negeri. " Halo Katherine." Ucap Zira. " Ya Zira." Jawab Katherine. Zira menceritakan kepada modelnya untuk membantunya berpura-pura sebagai kekasih asisten suaminya. Dan Katherine setuju. " Kapan acaranya." Tanyanya. " Nanti aku kabari." Jawab Zira. Kemudian mereka melakukan percakapan yang lain, dari masalah butik dan fashion mereka bicarakan. Di luar negeri. Jam delapan pagi waktu luar negeri Kevin langsung bergegas mau keluar hotel. Dia ada jadwal untuk bertemu dengan calon investor pagi ini. Dan Kevin terlihat khawatir karena dia kesiangan. Pak Hendrik sudah menunggunya di loby hotel. " Pak Kevin." Teriak Pak Hendrik. Kevin hendak keluar hotel. Tapi dia menghentikan langkahnya ketika ada seseorang memanggilnya. Pak Hendrik mendekatinya. " Maaf saya terlambat." Ucap Kevin. " Ya Pak, kita langsung saja ke sana ya." Ajak Pak Hendrik. Kevin menganggukkan kepalanya cepat. Mobil sudah meluncur menuju Alpha corporate. Hampir setengah jam mereka di jalan raya, dan akhirnya mereka tiba di dekat sebuah perusahaan itu. Bangunan itu tidak menjulang tinggi seperti gedung Raharsya group. Ketika mereka sampai di depan perusahaan itu, mereka berhenti di depan gate 1, dimana pihak security mengecek keperluan mereka dan identitas tamunya. Setelah itu pihak sekuriti mengizinkan mobil masuk, dan di kanan kiri mereka berjejer mobil. Dan Pak Hendrik memarkirkan kendaraan mereka disitu. Mereka harus melewati gate 2, di mana identitas mereka harus di tinggal di situ. Dan salah satu security mengantarkan mereka ke gedung perkantoran. Dari gate 2 ke gedung perkantoran cukup jauh, mereka harus berjalan kaki, kurang lebih 2 kilometer. Pemandangan yang mereka lihat adalah banyaknya alat berat yang di simpan di tempatnya. Dan banyak pekerja yang wara wiri melewati mereka. Para pekerja tersebut mengenakan helm dan memakai seragam kerja model terusan. Mereka tiba di gedung perkantoran. Gedung itu tidak menjulang tinggi. Tapi gedung itu cukup besar dan lebar. Pak Hendrik menyapa resepsionis dan mengatakan masksud tujuan mereka datang ke situ. " Good morning, I want to meet with the person in charge of this company (Selamat pagi, saya mau bertemu dengan penanggung jawab perusahaaan ini)." " If you may know where you are from (Kalau boleh tau anda dari mana)." Tanya resepsionis. " We are from Raharsya Group (Kami dari raharsya group)." Ucap Pak Hendrik. Resepsionis langsung menghubungi nomor ekstension yang dituju. Kemudian resepsionis meletakkan teleponnya. " Please wait in the waiting room (Silahkan tunggu di ruang tunggu)." Ucap Resepsionis. Pak Hendrik dan Kevin berjalan ke sebuah ruangan kaca. Dan di depan pintu ruangan itu ada tertulis waiting room. Mereka menunggu seseorang di sana. Tidak berapa lama keluar seorang pria bule. Pria tersebut menyalami keduanya, dan mereka melakukan percakapan tentang bisnis mereka. " Are you the managing director of this company. (Apa anda direktur utama perusahaan ini)." Tanya Kevin. " No, I''m not the director. I am only the manager of this company. The director is having a meeting outside. (Bukan, saya bukan direkturnya. Saya hanya manager perusahaan ini. Direktur sedang meeting di luar)." Ucap manager itu. Pria bule itu mengajak tamunya untuk berkeliling melihat lapangan kerja mereka. Perusahaan itu bergerak di bidang shipyard atau perkapalan. Mereka membuat kapal baru atau memperbaiki kapal lama. Kapal baru itu sebagai di jual, dan sebagai lagi di pesan oleh seorang klien. Selain itu perusahaan itu juga bergerak dalam bidang ekspor impor barang. Barang yang mereka ekspor adalah barang-barang berat. Setelah berkunjung dan melakukan percakapan, akhirnya mereka sepakat untuk mengambil keputusan. Bahwa kontrak kerjasama akan di tanda tangani di negara Kevin, dan akan di lakukan 4 minggu lagi setelah surat kerjasama selesai di buat. Kevin dan Pak Hendrik meninggalkan perusahaan itu. " Pak antarkan saya ke hotel, saya mau ambil koper." Ucap Kevin cepat. " Baik, Pak Kevin. Apa Bapak mau balik ke tanah air." Tanya Pak Hendrik. " Owh tidak, saya masih ada urusan di negara lain." Ucap Kevin cepat. Setelah mobil sampai Kevin langsung mengambil kopernya dan langsung check out. Pak Hendrik mengantarkan Kevin menuju bandara. Persawat dan pilot sudah menunggunya di sana. " Terimakasih Pak." Ucap Kevin sambil menyalami Pak Hendrik. Pesawat sudah take off dan menuju ke negara lain yaitu Inggris. Kevin akan mengunjungi kedua orang tuanya di sana. Dia sudah merindukan kedua orang tuanya. Walaupun kepergiannya membuat orang tuanya marah, tapi dia berharap papanya akan melupakan kejadian itu dan mau memaafkannya. " Like, komen dan vote yang banyak ya terimakasih." Chapter 312 episode 311 (S2) Zira masih menunggu kabar dari suaminya, waktu sudah menunjukkan jam 10 tepat, tapi Ziko belum memberi kabar tentang siapa yang akan mengantarkannya ke dokter. Tiba-tiba ada suara pintu di ketuk. Tok tok tok. Zira langsung membuka pintunya. Ada seorang pria yang menurut Zira tidak asing wajahnya. Tapi dia lupa kapan dan di mana terakhir kali dia bertemu pria separuh baya itu. " Selamat pagi nona, saya di perintahkan tuan muda untuk menjemput nona." Ucap pria tersebut. " Bapak bukan supir baru kan? Soalnya wajah Bapak tidak begitu asing." Tanya Zira. " Tidak nona, saya adalah supir yang dulu pernah di pecat Pak Kevin." Ucap pria itu. Zira memikirkan telah berapa banyak supir yang di pecat Kevin selama dia menjadi istri Ziko. " Maaf Pak saya lupa." Ucap Zira lagi. " Saya yang pernah mengantar nona kebandara. Dan pada saat itu juga saya di pecat." Ucap supir itu menjelaskan. " Oh Bapak yang mengantarkan ke bandara pada waktu itu." Tanya Zira. " Boleh kita berangkat nona." Tanya supir itu lagi. " Oh iya." Ucap Zira sambil masuk sebentar ke dalam dan keluar lagi dalam beberapa detik. Dia mengambil tas jinjingnya. Kemudian dia mengunci pintu rumahnya. Supir itu membukakan pintu untuk majikannya. Setelah Zira duduk, supir langsung menyalakan mesin mobil dan mobil langsung melaju ke jalan raya. Di mobil. " Tunggu Pak, seingat saya, ada dua supir yang mengantar saya ke bandara. Bapak yang mana?" Zira terlihat bingung, seingatnya pada saat suaminya keluar negeri dia nyusul ke luar negeri juga, dan yang mengantarkannya ke bandara pria yang berbeda. " Oh saya yang pertama kali mengantar nona ke bandara. Kalau saya tidak lupa, pada saat itu nona baru beberapa hari bertunangan dengan tuan muda." Ucap supir itu menjelaskan. Zira manggut-manggut, dia mengingat peristiwa itu. Dimana ketika dia tiba di bandara tujuan, dia di stop sama petugas bandara. Dan Ziko menyusulnya ke bandara itu. " Oh iya Pak saya ingat betul dengan peristiwa itu." Ucap Zira. " Jadi Bapak, di panggil lagi." Tanya Zira. " Iya seperti itu nona." Ucap supir itu. Setelah percakapan itu, suasana menjadi hening. Hanya suara mesin mobil yang terdengar. Suara ponsel Zira berdering. " Halo sayang." Ucap Ziko ketika panggilannya masuk. " Ya." Ucap Zira ketus. " Marah ya? Maaf ya suami kamu sibuk banget ini hari. Aku sampai lupa menghubungi kamu jam 10. Tapi supirnya sudah datangkan." Ucap Ziko. " Belum sayang, aku sekarang naik taxi ke dokter." Jawab Zira manja. " Serius kamu." Tanya Ziko panik. Zira merasa khawatir, kalau suaminya akan memecat supir itu lagi. " Wah mau di pecat lagi dia." Ucap Ziko cepat. " Enggak sayang, aku bersama supir kamu di mobil, menuju rumah sakit." Ucap Zira cepat. " Yang benar." Sekarang Ziko yang tidak percaya. Zira langsung menyerahkan ponselnya kepada Pak supir. " Apa ini nona." Tanya supir itu. " Bilang saja sama suami saya kalau kita sudah berangkat dan menuju rumah sakit." Perintah Zira. Supir itu mengambil ponsel Zira dan mengatakan seperti yang di perintahkan majikan. Kemudian Pak supir mengembalikan ponsel itu kepada pemiliknya. " Ya halo sayang." Ucap Zira. " Kabari aku tentang jahitan kamu." Ucap Ziko cepat. " Maksudnya." Tanya Zira bingung. " Iya, nanti kamu tanya ke dokter itu jahitan sudah kering sempurna apa belum. Dan satu lagi." Ziko menggantung kalimatnya. " Apa." " Tanyakan kepada dokter, kapan kita bisa honeymoon lagi." Ucap Ziko cepat. " Idih kamu itu buat malu saja. Enggak aku enggak mau tanya hal itu kepada dokter." Ucap Zira membantah. " Ya sudah kalau kamu tidak mau tanya nanti aku tanya sama Diki." Ucap Ziko cepat. " Terserah, yang jelas jangan aku yang tanya." Ucap Zira cepat. Dia tidak bisa membayangkan bagaimana malunya jika dia mengikuti suaminya untuk bertanya hal itu kepada dokter. " Ya sudah, aku mau meeting lagi." Ucap Ziko. Kemudian panggilan terputus. Tidak berapa lama mobil sampai di rumah sakit. Mobil langsung berhenti di depan pintu loby. Supir membukakan pintu untuk Zira. Zira mendaftar kebagian registrasi. Dia mendapatkan nomor urut 5. Zira menyusuri beberapa ruangan kemudian dia tiba di poli kandungan. Ada beberapa ibu hamil di situ yang juga sedang menunggu. Zira merasa sedih ketika melihat wanita hamil. Dia membayangkan perutnya yang dulu. Tidak terasa bulir air matanya mengalir. Dia langsung buru-buru menghapusnya. Dokter kandungan telah tiba. Perawat memanggil satu persatu untuk di periksa. Setelah melewati beberapa nomor, akhirnya nomor Zira di panggil. Zira masuk ke dalam ruangan itu. " Nona Zira." Ucap dokter itu ramah. Dokter spesialis kandungan itu terlihat ramah dan langsung menyalami Zira. Dokter itu ingat wajah pasiennya. " Bagaimana keadaan anda." Tanya dokter itu. " Sudah lebih baik dok." Jawab Zira. " Saya turut berdukacita." Ucap Dokter itu. Kemudian Dokter itu memeriksa jahitan yang ada di perut Zira. Dan sekaligus Zira konsultasi tentang seputar kehamilan. " Dok, apa saya bisa hamil lagi." Tanya Zira. " Tentu nona, tidak ada masalah dengan rahim anda." Ucap dokter menjelaskan. " Saya khawatir tidak bisa hamil lagi." Ucap Zira pelan. " Saya yakin anda bisa hamil lagi. Karena rahim anda tidak ada masalah. Tapi kita harus serahkan sama Tuhan, karena semua ada ditangan-Nya." Ucap Dokter itu. Dokter itu memberikan resep obat untuk pasiennya. " Ini resep obatnya. Dan mengenai jahitan sudah bagus, dan sudah mulai mengering, mungkin beberapa minggu lagi jahitan dalamnya akan mengering sempurna. Yang penting obatnya di minum." Ucap dokter itu menjelaskan. Kemudian Zira keluar dari poli kandungan itu. Dan berjalan menuju apotek. Zira meletakkan resepnya di keranjang khusus resep. Dia duduk di sofa yang telah di sediakan pihak rumah sakit, untuk pasien yang menunggu antrian obat. Dari jauh ada sosok yang memperhatikannya. Dan berjalan mendekatinya. " Zira." Zira langsung mengangkat kepalanya, melihat sosok pria yang berdiri di depannya. " Fiko." Ucap Zira cepat sambil melihat sekelilingnya. " Mana Naura." Tanya Zira. " Naura sehatkan." Zira terlihat khawatir. " Naura sehat, Naura lagi kontrol saja." Jawab Fiko cepat. Fiko langsung duduk di sebelah Zira. " Kamu ngapain ke sini." Tanya Fiko. " Kontrol." Jawab Zira pelan. " Kamu sakit apa." Tanya Fiko lagi. " Aku tidak sakit, aku hanya mengontrol jahitan di perutku." Jawab Zira. " Apa kamu baru operasi usus buntu." Tanya Fiko. Zira tertawa mendengar tebakan Fiko yang asal. " Bukan, aku baru kehilangan anakku seminggu yang lalu." Ucap Zira pelan. " Oh maaf Zira, aku tidak bermaksud membuat kamu bersedih." Ucap Fiko tidak enak hati. " Tidak apa-apa, Tuhan lebih sayang kepada bayiku, dibandingkan kasih sayang kami berdua." Ucap Zira pelan. " Maaf, karena aku tidak tau kabar ini. Dan aku juga tidak tau kalau kamu hamil." Ucap Fiko lagi. " Tidak apa-apa." Jawab Zira pelan. " Zira, aku mau kasih kabar ke kamu, dan kebetulan kamu di sini. Maka kamu orang pertama yang harus tau kabar ini." Ucap Fiko semangat. " Apa." Zira penasaran. " Aku akan menikah dengan Vita." Ucap Fiko antusias. " Sungguh." Zira merasa senang mendengar kabar baik itu. Fiko menceritakan tentang kedekatan mereka berdua, dan juga menceritakan tentang dia melamar Vita. " Bagaimana reaksinya ketika kamu lamar." Tanya Zira penasaran. " Dia menolakku." Ucap Fiko pelan. " Kenapa? Apa dia memberi alasannya." Tanya Zira lagi. Fiko menganggukkan kepalanya pelan. " Dia menceritakan tentang hancurnya rumah tangganya yang pertama, dan dia menceritakan kepadaku apa yang menyebabkan rumah tangganya yang dulu hancur." " Apa." Tanya Zira. " Dia mandul, dia menolakku karena itu." Ucap Fiko pelan. " Kamu jawab apa setelah mendengar itu." Tanya Zira lagi. " Aku menerima dia apapun kekurangannya. Tidak ada manusia yang sempurna di dunia ini. Kekurangannya bukan menjadi penghalang untuk kami berumah tangga." Ucap Fiko lagi. " Iya kamu betul, dengan kekurangan masing-masing kalian bisa saling melengkapi. Karena kekuatan cinta sebuah rumah tangga bisa bertahan sampai akhir hayat." " Jadi kapan kalian akan menikah." Tanya Zira lagi. " Tiga bulan lagi kami akan menikah. Dan aku ingin kamu merancang gaun pengantin untuk kami berdua." Ucap Fiko cepat. " Baiklah, aku akan merancang gaun yang paling bagus untuk kalian berdua." Seorang apoteker memanggil nama Zira. Zira beranjak dari kursinya dan mengambil obatnya. " Fiko aku harus balik." Ucap Zira cepat. " Baiklah, hati-hati dan jaga kesehatan." Ucap Fiko. " Oh iya, salam sayang buat Naura." Ucap Zira kemudian berlalu meninggalkan Fiko. " Zira kamu wanita yang baik. Aku bangga pernah menyukaimu. Walaupun kamu bukan jodohku, tapi aku tetap berdoa yang terbaik untukmu dan keluargamu." Gumam Fiko pelan. " Like, komen dan vote yang banyak ya terimakasih." Chapter 313 episode 312 (S2) Pesawat jet yang membawa Kevin telah tiba di Inggris. Kevin turun dari pesawat dengan perasaan campur aduk. Ada senang dan ada khawatir. Ada rasa senang karena dia menginjakkan lagi ke negara kelahirannya. Dan khawatir jika orang tuanya tidak menerima kehadirannya. Kevin naik taksi yang ada di dekat bandara. Dia memberitahukan alamatnya. Alamat tempat tinggalnya masih tetap ada di dalam benaknya. Kevin memandangi penjuru kota London. Bangunan megah dan menjulang tinggi di setiap jalan. London masih mempertahankan arsitektur abad pertengahan, hal ini yang membuat London menjadi tempat romantis dan juga penuh dengan arsitektur yang bersejarah. Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 45 menit. Taksi yang di tumpangi Kevin sampai di alamat tujuan. Dengan perasaan was-was dia turun dari taksi itu. " Thank you." Ucap Kevin sambil menyerahkan selembar uang kertas poundsterling. " Your welcome (Sama-sama)." Jawab supir taksi. Taksi telah pergi meninggalkan penumpangnya. Kevin berdiri di sebuah rumah besar dan pagar yang menjulang tinggi. Dia membuka pagar rumah itu dan menyusuri jalan menuju bangunan tua, di kanan kirinya terbentang rerumputan hijau dan pohon-pohon besar. Kevin mengingat setiap momen di perkarangan rumahnya. Semasa kecil dia sering bermain dengan kedua orang tuanya dan adik di situ. Dia sudah sampai di depan pintu rumahnya. Bangunan rumahnya masih sama tidak ada perubahan sama sekali, hanya catnya yang sudah di ganti warnanya. Dengan perasaan ragu, dia memencet bel rumahnya. Tidak berapa lama keluar seorang wanita dengan seragam pelayan. " Who are you looking for (Cari siapa)." Ucap wanita yang memakai pakaian pelayan. " Mr. Hendrik and his family are there (Bapak Hendrik dan keluarganya ada)." Ucap Kevin. " Sorry, the owner of this house is Mr. Steven, not Mr. Hendrik (Maaf pemilik rumah ini bapak steven bukan bapak hendrik)." Jawab pelayan itu. Kevin kaget, seingat dia itu adalah rumah kedua orangtuanya. Tapi yang di dengarnya sungguh di luar pemikirannya. Tiba-tiba datang seorang wanita paruh baya berambut pirang. " What is this (Ada apa ini)." Tanya wanita yang baru saja keluar dari dalam rumah itu. Pelayan tadi menjelaskan maksud kedatangan Kevin yang menanyakan tentang perihal keluarga Hendrik. " My husband is the owner of this house (Suami saya adalah pemilik rumah ini)." Ucap wanita itu tegas. Lagi-lagi Kevin kaget mendengar penuturan wanita itu. " When did you occupy this house (Kapan anda menempati rumah ini )." Tanya Kevin. " Around five years ago (Sekitar lima tahun yang lalu)." Ucap wanita itu. Kevin mengingat terakhir dia pergi dari rumahnya enam tahun yang lalu, dia berasumsi kalau setahun setelah itu, rumahnya di jual. " Do you know where the old owner lived (Apa anda tau di mana tempat tinggal pemilik yang lama)." Tanya Kevin. " Sorry, I do not know the owner. I bought this house from an agent (Maaf, saya tidak kenal dengan pemiliknya. Saya membeli rumah ini dari agen)." Jawab wanita itu lagi. Kevin diam, pikirannya entah kemana. " Sorry for disturbing your day. Thank you for your time (Maaf telah mengganggu hari anda. Terimakasih waktunya)." Ucap Kevin. Wanita itu hanya menganggukkan kepalanya, Kevin pergi meninggalkan rumahnya dengan pikiran yang berkecamuk entah kemana. " Kemana kalian." Gerutu Kevin sambil mengacak-ngacak rambutnya. Kevin terus memikirkan cara untuk menemui keluarganya. " Apa aku datang ke kantor papa." Gumam Kevin pelan. Kevin mencegat taksi yang lewat didepannya. Dia menyebutkan alamatnya kepada supir taksi. Taksi langsung melaju ke alamat yang di tuju. Kevin turun dari mobilnya, sambil melihat bangunan yang menjulang tinggi. Papanya bekerja di perusahaan itu, sebagai arsitek. Dia melangkahkan kakinya sambil tetap membawa kopernya. Dia menanyakan kepada resepsionis atas nama Gunawan Hendrik. Resepsionis menanyakan hal itu kepada pihak HRD, dan lagi-lagi jawaban yang di dapatnya sangat mengejutkannya. " Mr. Gunawan Hendrik doesn''t work here anymore (Bapak Gunawan Hendrik sudah tidak bekerja di sini lagi)." Ucap resepsionis. " Do you know the address of his residence? (Apa anda tau alamat tempat tinggalnya)." Tanya Kevin. " Sorry, we cannot give our employees'' addresses (Maaf, kami tidak bisa memberikan alamat karyawan kami)." Jawab resepsionis. " Even though he doesn''t work here anymore? (Walaupun dia sudah tidak bekerja di sini)." Tanya Kevin. Resepsionis itu menganggukkan kepalanya cepat. Dengan langkah gontai dia keluar meninggalkan gedung tinggi itu. " Kemana perginya kalian. Aku harus mencari kemana lagi." Gerutu Kevin. Dia mengingat semua kejadian enam tahun yang lalu, dimana pada saat itu banyak keluarga dari mamanya yang datang. " Apa aku harus mencari ketempat tinggal mereka." Gumam Kevin. " Tapi tempat tinggal mereka beda kota. Apa aku mencari keberadaan mereka yang sama kota dulu. Tapi siapa yang satu kota dengan tempat tinggalku dulu." Gumam Kevin pelan sambil mengingat terus kejadian enam tahun lalu. " Jasmin, ya aku ingat rumahnya." Ucap Kevin semangat. Kevin kembali memberhentikan taksi yang lewat di depan. Dia langsung menyebutkan alamat rumah Jasmin. Jasmin adalah wanita yang di jodohkan papanya kepada Kevin. Dan Kevin sudah mengenal dekat dengan keluarga Jasmin. Mereka sudah berteman dari kecil. Kedekatan itu terjalin karena mereka sama-sama blasteran, papanya Jasmin berwarga negara sama dengan papanya Kevin. Itu yang menyebabkan dua keluarga itu sangat dekat dan akrab. Kevin langsung turun dari taksi dan memerintahkan supir taksi untuk menunggunya. Kevin mengetuk pintu rumah itu, dia menanyakan keberadaan orang tua Jasmin. Tapi pelayan memberitahukan kepadanya kalau majikannya tidak ada di tempat. " Jasmin is there (Kalau Jasmin ada)." Tanya Kevin. " Miss Jasmin is at the hospital (Nona jasmin lagi di rumah sakit)." Ucap Pelayan itu. " Which hospital (Rumah sakit mana)." Tanya Kevin lagi. Kevin langsung pergi meninggalkan rumah itu dan menuju rumah sakit yang di sebutkan pelayan tadi. Setibanya di rumah sakit Kevin langsung menemui bagian pendaftaran untuk menanyakan pasien yang bernama Jasmin. " Excuse me, I want to find a patient named Jasmin, what room is he treated at? (Permisi saya mau mencari pasien yang bernama jasmin, dia di rawat di ruangan apa)." Tanya Kevin. Bagian pendaftaran langsung mencari data pasien yang bernama Jasmin. Dan menyebutkan ruangannya. Kevin langsung berlari menuju lift, dan mencari ruangan itu. Dia tiba di lantai 5. Kevin menanyakan lagi perihal pasien yang bernama Jasmin kepada perawat jaga. Perawat langsung menunjukkan ruangan tersebut. Ruangan itu berada di pojok. Kevin melangkahkan kakinya, dan dia langsung mengetuk pintu ruangan itu secara perlahan. Seseorang wanita yang tidak terlalu tua membuka pintu. " Who are you looking for (Cari siapa)." Tanya wanita itu. " I''m looking for Jasmin (Saya mencari jasmin)." Ucap Kevin. Wanita itu membuka pintu ruangan dan mempersilahkan Kevin masuk. Kevin secara perlahan mendekati tempat tidur pasien. Dan melihat wajah yang ada di atas tempat tidur itu. Dia langsung membelalakkan matanya. " Sorry, Jasmin that I want to meet is already an adult (Maaf, Jasmin yang mau saya temui sudah dewasa)." Ucap Kevin gugup. Kevin langsung keluar dari ruangan itu dan sebelumnya meminta maaf kepada wanita yang ada didalam ruangan itu, karena telah mengganggunya. Di lorong rumah sakit yang sepi Kevin terlihat putus asa. Dia tidak tau harus mencari kemana lagi. Dia berjalan dengan langkah gontai sambil menarik kopernya. Suara roda kopernya menjadi pusat perhatian semua perawat yang ada di sana. Dan ada salah satu wanita yang memakai seragam berwarna putih juga melihat kebisingan itu. Wanita itu mencoba mengingat pria yang menarik koper sambil menundukkan kepalanya. " Kevin." Teriak wanita itu. " Like, komen dan vote yang banyak ya terimakasih." Chapter 314 episode 313 (S2) Kevin langsung menoleh mencari seseorang yang memanggil namanya. Wanita yang memakai seragam berwarna putih itu mendekatinya. " Kamu Jasmin." Tanya Kevin ragu. Wanita itu langsung menganggukkan kepalanya cepat. " Ya aku Jasmin. Teman kamu kecil." Jawab Jasmin. Penampilan Jasmin terlihat berbeda dari enam tahun yang lalu. Enam tahun yang lalu wanita itu masih terlihat muda, dan yang sekarang terlihat lebih dewasa dan cantik. " Jasmin apa kamu sudah mendapatkan gelar dokter seperti yang kamu impikan." Tanya Kevin pelan. " Ya, aku sudah menyelesaikan kuliahku empat tahun yang lalu. Dan sekarang aku telah menjadi dokter." Jawab Jasmin cepat. " Apa kamu baru tiba dari tanah air." Jasmin melihat penampilan Kevin yang terlihat kacau, dan di tangannya masih ada koper. " Iya, aku baru tiba, aku mencari keberadaan orang tuaku." Ucap Kevin pelan. " Apa kamu tau di mana alamat rumah orang tuaku." Tanya Kevin langsung. Jasmin langsung menganggukkan kepalanya. " Jadwalku tinggal 30 menit lagi. Kamu tunggu di bawah, aku akan mengantarmu setelah pekerjaanku selesai." Ucap Jasmin. Jasmin meninggalkan Kevin yang masih terpaku, wanita yang dulu di tolaknya tetap baik kepadanya. Kevin menunggu Jasmin di loby rumah sakit. Dia menunggu sambil melihat layar ponselnya. Ada pesan masuk dari Menik. Dia ingin membalas pesan dari wanita pujaannya, tapi tiba-tiba Jasmin sudah berdiri di depannya. " Ayo." Ajak Jasmin. Kevin menutup ponselnya, dan mengikuti Jasmin. Mereka berjalan menuju parkiran tempat mobilnya di parkirkan. Jasmin langsung menyalakan mesin mobilnya dan meninggalkan area rumah sakit. Suasana di dalam mobil hening, Kevin belum berani memulai percakapannya. " Apa yang kamu lakukan tadi di rumah sakit." Tanya Jasmin. Kevin menceritakan dari awal dia tiba di London, sampai dia ke rumah sakit di ceritakannya. " Aku pikir kamu sakit, makanya aku langsung menanyakan pasien yang bernama Jasmin." Ucap Kevin cepat. Jasmin tertawa mendengar itu. " Pelayan kamu juga tidak menjelaskan kalau kamu bekerja di rumah sakit, wajar kalau aku berpikiran kalau kamu sakit." Gerutu Kevin. " Apa kamu ketemu dengan pasien yang bernama Jasmin." Tanya wanita itu sambil tetap menyetir mobilnya. " Aku ketemu dengan pasien itu tapi dia masih anak-anak." Ucap Kevin pelan. Jasmin kembali tertawa lagi. " Jasmin, maafkan atas sikapku yang dulu." Ucap Kevin pelan sambil melihat wanita yang sedang menyetir mobil. " Tidak apa-apa, aku memakluminya. Memang perjodohan kita sudah di tetapkan dari kita kecil. Aku juga kurang setuju dengan perjodohan." Ucap Jasmin pelan. " Apa kamu sudah menikah." Tanya Jasmin. " Belum." Ucap Kevin pelan. " Kenapa? Apa kamu mau menjemputku untuk menjadikan aku sebagai istrimu." Ucap Jasmin serius. Kevin langsung diam, dia tidak menjawab hanya memandang lurus kedepan. " Hahaha, aku hanya bercanda Kevin." Timpal Jasmin sambil tertawa kecil. Kevin kembali tersenyum, yang tadinya dia kaku karena mendapatkan pertanyaan telak dari Jasmin, sekarang dia sudah bisa kembali tersenyum. Mobil berhenti di sebuah rumah, yang tidak terlalu besar. " Turunlah." Ajak Jasmin sambil mematikan mesin mobil. " Apa ini rumah orang tuaku." Tanya Kevin. Jasmin menganggukkan kepalanya cepat. " Ayo." Ajak Jasmin cepat. Kevin merasa rumah yang di tempati orang tuanya sangat jauh dari tempat tinggal mereka dulu. Rumah itu sangat kecil, dibandingkan tempat tinggal mereka yang lama. " Apa yang terjadi dengan kedua orangtuaku." Tanya Kevin sambil menarik tangan Jasmin. Dia ingin mendengarkan penjelasan dari wanita itu sebelum mereka masuk ke dalam rumah itu. " Aku tidak ada hak untuk bercerita, kamu tanyakan saja kepada orang tua kamu." Jawab Jasmin sambil berlalu meninggalkan Kevin yang masih diam mematung. Jasmin mengetuk pintu rumah itu. Seorang gadis membuka pintu itu. " Kak Jasmin." Ucap gadis itu ceria. Jasmin tersenyum dan melihat kebelakangnya ke arah Kevin. Gadis itu melihat arah pandangan Jasmin, dia membulatkan matanya. " Kak Kevin." Ucap gadis itu sambil berlari memeluk kakaknya. Gadis itu menangis sambil memeluk erat tubuh Kevin. Kevin berusaha menenangkannya. " Kamu sudah besar sekarang." Ucap Kevin sambil mengelus rambut adiknya. " Kakak aku rindu." Ucap adiknya sambil menangis. " Mari masuk kak." Ajak adiknya. Kevin ragu untuk melangkahkan kakinya. " Ayo kak." Ajak adiknya sambil menarik tangan Kevin. Kevin masuk ke dalam rumah itu. Dia melihat sekeliling rumah itu, furniture rumah mereka terlihat biasa saja. Berbeda dengan rumah mereka yang dulu, furniture yang dulu sangat berkelas. " Apa yang terjadi dengan kalian." Tanya Kevin sambil terus berjalan mengikuti adiknya. " Mana mama." Tanya Kevin. " Mama lagi ke toko roti sebentar lagi pulang." Jawab adiknya. " Dan Papa." Tanya Kevin lagi. Adiknya Jesy tidak menjawab, dia hanya menunjuk sebuah kamar dengan jari telunjuknya. " Apa papa ada di dalam." Tanya Kevin. Jesy menganggukkan kepalanya pelan sambil menundukkan kepalanya. " Masuklah." Ucap adiknya. " Tapi." Kevin terlihat ragu untuk membuka pintu itu. " Masuk Kevin." Ucap Jasmin sambil membukakan pintu itu secara perlahan. Kemudian dia mendorong tubuh Kevin. Ruangan itu adalah sebuah kamar ada kasur dan sebuah meja rias. Dan ada satu kursi yang menghadap ke arah jendela. Dia melangkahkan kakinya untuk mendekati kursi itu. Kevin kaget melihat keadaan papanya yang sudah tidak gagah lagi. Tangan dan kaki papanya sudah tidak bisa bergerak lagi. Bibirnya miring, anggota tubuhnya kaku. " Papa." Ucap Kevin sambil bersimpuh di bawah kaki orang tuanya. Jasmin dan Jesy menangis melihat kejadian itu. " Maafkan aku papa." Ucap Kevin dengan isak air mata. Papanya tidak menjawab, dia hanya membalas dengan air mata, yang mengalir dari ujung matanya. " Apa yang terjadi dengan papa." Tanya Kevin. Jesy hanya diam tidak menjawab pertanyaan kakaknya. Tiba-tiba ada seorang wanita paruh baya masuk ke dalam kamar itu. " Ada apa Jesy." Tanya wanita itu sambil melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar itu. Wanita paruh baya itu melihat sosok pria yang selama ini selalu di rindunya. Dan pria itu sedang bersimpuh di bawah kaki suaminya. " Anakku Kevin." Ucap wanita paruh baya itu sambil memeluk anaknya. " Mama." Jawab Kevin. Mereka melepaskan rasa rindu yang sudah amat sangat di pendam. " Apa yang terjadi dengan kalian Ma." Tanya Kevin. Mamanya hanya meneteskan air matanya sambil mengelus rambut suaminya. " Kamu sudah makan nak." Jawab Mamanya mengelak pertanyaan anaknya. " Ma, jawab aku." Tanya Kevin cepat. " Jasmin silahkan periksa om Hendrik." Ucap mamanya sambil keluar meninggalkan kamar itu. " Baik tante." Jawab Jasmin. Kevin memperhatikan Jasmin memeriksa papanya. " Papa kamu butuh istirahat." Ucap Jasmin cepat. Langkah kaki Kevin terasa berat untuk meninggalkan papanya. Tapi yang di katakan Jasmin benar, papanya membutuhkan banyak istirahat. Kevin dan Jesy memindahkan tubuh papanya ke atas kasur. " Papa istirahat dulu di sini." Ucap Kevin sambil mengelus lengan papanya. Kevin meninggalkan kamar itu bersama dengan adiknya dan Jasmin. Di meja makan mamanya sedang menghidangkan roti dan teh hangat untuk anaknya. " Minumlah nak." Ucap mamanya sambil menyodorkan gelas yang berisi teh. " Tante aku harus pulang." Ucap Jasmin cepat. " Tapi kamu baru tiba di sini sayang." Ucap Nyonya Paula. " Besok aku akan main kesini lagi." Jawab Jasmin. Kemudian wanita itu pamit sambil mengecup pipinya Nyonya Paula. " Bye Kevin." Ucap Jasmin. Setelah Jasmin pergi, Kevin menanyakan hal yang dari tadi di tanyakannya. Tapi orang tuanya selalu mengelak untuk menceritakan peristiwa yang mereka alami. " Like, komen dan vote yang banyak ya terimakasih." Chapter 315 episode 314 (S2) " Ma apa yang terjadi dengan kalian? Kenapa kalian tinggal di rumah ini." Ucap Kevin cepat. Mamanya hanya menundukkan kepalanya sambil menangis. Jesy datang mendekati mamanya, dan memeluk bahu mamanya dari belakang. " Mama katakanlah kepada kak Kevin, jangan ada yang di tutupi lagi." Ucap adiknya mengingatkan. Nyonya Paula mengambil nafasnya dalam-dalam. Dia mengatur pernafasannya agar bisa berbicara normal tanpa ada sesegukan karena menangis. Nyonya Paula mengingat kejadian enam tahun lalu. Flashback Enam tahun yang lalu ketika Kevin meninggalkan rumahnya. Papanya marah besar, dia tidak mengizinkan keluarganya berkomunikasi dengan putra sulungnya. Kemarahannya telah membuatnya benci dengan darah dagingnya sendiri. Dia memutuskan komunikasi secara sepihak dengan Kevin. Menurut papanya Kevin tidak di anggap anak lagi olehnya. Papanya merasa malu dengan temannya yaitu papanya Jasmin, karena mereka sudah menjodohkan anaknya semasa kecil. Tapi kenyataannya anaknya telah mencoreng wajahnya sendiri. Setiap hari papanya marah, semua jadi bahan amukan oleh papanya. Tuan Hendrik menjadi pria yang temperamental, tidak hanya di rumah, di kantor dia juga marah. Emosinya tidak ada habisnya, sampai suatu hari dia terjatuh di ruang kerjanya. Pada saat itu dia ada di kantor. Karyawan tidak mengetahui kejadian itu, hampir setengah jam papanya tergeletak di lantai. Dan setelah itu salah satu karyawan ada yang mengetuk pintunya, karena tidak ada jawaban sama sekali dari dalam, karyawannya memberanikan diri untuk membuka pintu. Karyawan itu langsung meminta bantuan kepada temannya untuk menghubungi ambulans. Tubuh papanya dibawa kerumah sakit. Dan dokter mengatakan kalau papanya mengalami stroke. Awalnya bagian tubuh papanya hanya sebelah yang tidak bisa di gerakkan. Lama-lama seluruh anggota badannya tidak bisa di gerakkan sama sekali. Selama setahun pihak perusahaan selalu membayar gajinya secara full. Tapi setelah setahun pihak perusahaan mengambil keputusan untuk memberhentikan tuan Hendrik secara hormat. Karena sudah tidak ada penghasilan mamanya berinisiatif menjual rumahnya dengan seorang agen. Dan hasil dari penjualan rumah itu di belikan rumah yang mereka tempati sekarang, dan sisanya di jadikan modal usaha untuk mamanya membuat toko roti. Kevin merasa iba mendengar cerita mamanya. Mamanya telah bertukar peran menjadi tulang punggung untuk menafkahi keluarganya. " Mama bersyukur kami bisa bertahan dengan toko roti itu." Ucap mamanya sambil sesegukan. " Kenapa mama tidak menghubungi aku." Tanya Kevin. Mamanya menggelengkan kepalanya. " Nomor kamu sudah di hapus papa kamu. Kami tidak di izinkan untuk berkomunikasi dengan kamu nak." Ucap mamanya. " Kak Jasmin yang banyak membantu kami. Karena perobatan mahal, dia yang datang untuk mengecek papa. Dan dia juga yang selalu membelikan obatnya." Jawab adiknya. " Maafkan aku yang tidak pernah mencari keberadaan kalian." Ucap Kevin sambil menggenggam tangan mamanya. " Kamu tidak salah nak. Papamu yang sangat terobsesi menjodohkanmu dengan anak sahabatnya." Ucap mamanya. " Semua sudah terjadi, dan aku sekarang ada disini. Kita harus bangkit dari keterpurukan ini." Ucap Kevin memberikan semangat untuk mamanya dan adiknya. " Bagaimana caranya." Tanya mamanya. " Kita semua pindah ke tanah air." Ucap Kevin cepat. Dua wanita di depannya saling pandang. " Tapi, kenapa harus di sana." Ucap mamanya bingung. " Ma, aku sudah ada rumah di sana. Kalian tidak harus memikirkan segala sesuatunya. Aku akan menafkahi kalian semua. Dan untuk perobatan papa, akan kita lanjutkan di sana. Perobatan di sana juga bagus." Ucap Kevin cepat. Mamanya belum memberikan jawaban apapun. Wanita paruh baya itu pergi meninggalkan anaknya menuju kamarnya. " Mama kenapa." Tanya Kevin berat. Adiknya Jesy menggelengkan kepalanya cepat. " Apa kamu setuju dengan ide kakak." Tanya Kakaknya. " Aku mau kak. Sudah lama aku ingin melihat tanah kelahiran papa kita." Ucap Jesy antusias. " Nanti kamu akan melanjutkan kuliah di sana." Ucap Kevin lagi. Jesy tambah semangat, menurutnya tidak ada kendala untuk dirinya melanjutkan pendidikan di sana. Secara bahasa dia sudah paham, tinggal mental dan adaptasi dengan lingkungan saja yang harus dia perbaiki. Keadaan di sana sudah malam, dan Kevin di antarkan adiknya menuju kamarnya. " Kak ini kamar kakak." Ucap adiknya sambil menunjuk sebuah kamar yang sangat kecil. Kevin masuk dan melihat kamar itu. Fotonya yang dulu masih ada di situ. Dia melihat isi lemari, pakaiannya masih tersusun rapi di tempatnya. " Kalian tidak di izinkan berkomunikasi dengan kakak. Tapi kenapa kalian masih menyediakan kamar untuk kakak." Tanya Kevin. " Karena mama yakin suatu saat kakak akan kembali. Dan sekarang terbukti kakak telah kembali." Ucap adiknya. Jesy keluar dari kamar itu. Dia juga akan istirahat. Di kamar itu Kevin merebahkan tubuhnya di kasur yang kecil. Badannya terasa capek tapi matanya enggan untuk tertutup. Dia mengambil ponselnya, pesan dari Menik di bukanya kembali. Tapi pesan itu tidak di balasnya, Kevin ingin menghubungi Menik, tapi di tanah air waktu sudah terlalu malam, jadi dia mengurungkan niatnya. Waktu tengah malam di tanah air. Pasangan suami istri Ziko dan Zira masih sibuk mengobrol, mereka menghabiskan waktunya di atas kasur. " Sayang, aku tadi ke rumah sakit ketemu dengan Fiko." Ucap Zira. Ziko langsung menoleh. " Apa yang di bicarakannya kepada kamu." Ziko penasaran sambil menatap tajam wajah istrinya. " Sayang, kamu kenapa? Apa kamu cemburu." Ucap Zira cepat. " Jelas aku cemburu, bagaimana pun dia pernah menyukaimu." Ucap Ziko cepat. " Kamu tidak harus cemburu lagi dengannya, karena dia akan menikah." Ucap Zira cepat. " Oh jadi ya." Ucap Ziko pelan dengan wajah yang tidak menegangkan lagi. " Jadi? Memangnya kamu tau rencana dia mau menikah." Sekarang Zira yang balik penasaran. Ziko menganggukkan kepalanya. " Bagaimana kamu bisa tau, kalau dia akan menikah? Apa Vita menemui kamu." Sekarang Zira yang cemburu sambil membelakangi tubuh suaminya. " Kamu cemburu ya." Ziko mencoba merayu istrinya dengan memeluknya. " Jelas aku cemburu, dia mantan kamu. Dan kamu tidak berkata jujur kepadaku. Kalau kamu pernah menemuinya." Ucap Zira marah. " Sayang, jangan marah. Yang penting sekarang aku telah jujur kepadamu." Ucap Ziko sambil tetap memeluk istrinya. " Alah kalau aku tidak berbicara mengenai ini pasti kamu tidak akan bercerita tentang pertemuanmu dengannya." Ucap Zira sewot. " Kamu mau dengar enggak? Kenapa dia menemui aku." Ucap Ziko cepat. Karena penasaran akhirnya Zira membalikkan badannya menghadap suaminya. " Apa?" Ucap Zira. " Dia datang ke kantorku dalam keadaan bingung." Ziko menceritakan semuanya yang dibicarakan dengan Vita. Masalah lamaran, dan masalah mandul juga di ceritakannya. " Jadi kamu jawab apa?" Ucap Zira penasaran. " Dia datang kekantor minta pendapatku. Dan aku mengantakan kepadanya jika ada cinta di antara mereka berdua maka dia harus berkata jujur kepada Fiko. Dan sekarang terbukti pria itu mau menerima dia apa adanya." Ucap Ziko cepat. " Oh jadi itu maksudnya kedatangan Vita." Ucap Zira sambil manggut-manggut. " Sayang, aku sudah mengatakan kepadamu, kalau cintaku hanya untukmu. Mereka adalah masa laluku. Masa lalu yang tidak pernah ada rasa cinta, dan cinta sejati ada dihadapanku." Ucap Ziko sambil mengecup bibir Istrinya. Malam semakin larut, akhirnya mereka dapat memejamkan matanya, mengistirahatkan tubuh mereka yang sudah seharian beraktivitas. " Like, komen dan vote yang banyak ya terimakasih." Chapter 316 episode 315 (S2) Pagi hari waktu luar negeri, Kevin terbangun dari tidurnya. Dia mendengar suara kebisingan dari luar. Kevin langsung keluar dari kamarnya menuju kebisingan itu. Didalam kamar orang tuanya, dia mendapati papanya telah jatuh dari tempat tidur. " Apa yang terjadi." Tanya Kevin. " Tidak tau, mama tadi di dapur sedang masak. Tiba-tiba ada suara sesuatu jatuh." Ucap mamanya. Kevin langsung mengangkat dan memindahkan tubuh papanya ke atas kursi roda. " Kak, apa mungkin papa turun dari tempat tidur sendiri." Tanya Jesy. Kevin memandang wajah papanya. " Apa papa berusaha untuk turun dari tempat tidur." Tanya Kevin. Papanya hanya berbicara dengan suara yang serak dan tidak jelas. Kevin memastikan kondisi papanya yang tidak ada luka sama sekali. " Bawa papa kamu berjemur." Ucap mamanya. Kevin langsung mendorong kursi roda itu kebelakang rumahnya. Dibelakang rumah itu ada perkarangan yang sangat kecil, di sana papanya di jemur. Dia berdiri dengan kedua lututnya di depan papanya. " Pa, kalian akan balik ke tanah air. Aku harap papa setuju dengan ideku." Ucap Kevin. Papanya hanya mengatakan kata aaaa, dan Kevin mengartikan kata itu dengan setuju. Kemudian dia meninggalkan papanya untuk berjemur. Di meja makan sudah ada mamanya dan adiknya. " Mama masak makanan kesukaanmu sayang." Ucap Mamanya sambil meletakkan piring yang sudah berisi makanan tepat di depan anaknya. " Terimakasih ma." Ucap Kevin sambil mulai menikmati makannya. " Ma, persiapkan semuanya." Ucap Kevin cepat. " Apanya." Tanya mamanya bingung. " Apa mama lupa, kemaren aku sudah bicarakan hal ini sama mama, tentang kepindahan kalian semua ke tanah air." Ucap Kevin menjelaskan lagi kepada mamanya. " Sepertinya kami tidak akan ikut." Ucap mamanya pelan. " Tapi ma." Jesy terlihat cemberut. " Kenapa ma? Di sana mama tidak perlu bersusah payah untuk berjualan lagi." Ucap Kevin lagi. " Keputusan mama sudah bulat, kami tidak akan ikut ke tanah air." Ucap mamanya tegas. Kevin meletakkan sendoknya. " Baiklah aku tidak akan memaksa, tapi beri satu alasan kenapa mama masih bertahan di sini." Ucap Kevin cepat. Jesy dan Kevin menatap mamanya. Mereka ingin mendengar alasan mamanya. " Karena Jasmin." Ucap mamanya pelan. " Kak Jasmin? Ayolah ma, pasti kak Jasmin mengerti, dia orangnya juga baik." Ucap adiknya. " Kamu tidak mengerti Jesy." Ucap mamanya pelan. " Maksud mama apa?" Kevin mendekati mamanya dan duduk di sebelah mamanya. " Kamu tau, berapa banyak kami berhutang budi kepadanya. Tidak mungkin kami pergi begitu saja." Ucap mamanya. Kevin diam, dia tidak bisa berkata-kata lagi. " Kamu tau, keluarganya banyak membantu keluarga kita. Hutang budi tidak bisa di balas dengan apapun." Ucap mamanya. " Mama benar, jadi mama mau aku melakukan apa, agar kalian semua mau ikut denganku." Ucap Kevin cepat. Mamanya diam, dia menggenggam tangan anaknya. " Jasmin wanita yang baik, sampai sekarang dia belum memiliki kekasih. Mungkin karena kesibukannya, dia sampai tidak memikirkan hal itu. Apa salahnya kalian menikah, toh kamu juga belum memiliki pasangan." Ucap mamanya pelan. Kevin langsung beranjak dari kursinya, dia terlihat gusar dan bingung, dia jalan mondar mandir di depan orang yang di kasihnya. " Ma, apa tidak ada pilihan untukku." Ucap Kevin bingung. " Mama tidak akan memaksa kamu untuk menikah dengannya. Tapi bagaimana cara kita membalas hutang budi ini." Ucap Mamanya bingung. " Aku akan membicarakan hal ini kepada Jasmin." Ucap Kevin cepat. " Jangan nak jangan, ini hanya ide mama, keluarganya tidak pernah menyinggung masalah itu lagi. Kalau kamu berat menikah dengannya, tidak apa-apa, tapi izinkan kami tetap di sini. Mama ingin melihat Jasmin menikah dan bahagia." Ucap mamanya pelan. Kevin terlihat serba salah, dia tidak bisa mengambil keputusan. Dia pergi meninggalkan meja makan dan keluar dari rumah itu. Kevin ingin menenangkan pikiran dengan mencari udara segar di luar rumah. Dia menyusuri setiap jalan dengan berjalan kaki. Sambil menghirup udara pagi yang segar. " Ma, kenapa mama mengatakan hal itu lagi kepada kak Kevin. Apa mama ingin membuat kak Kevin pergi dari rumah ini lagi." Gerutu Jesy. " Jesy, kamu tidak tau rasanya berhutang budi, hutang budi itu tidak bisa di balas dengan uang sekalipun." Ucap mamanya. " Jadi menurut mama, kalau kak Kevin menikah dengan kak Jasmin, hutang budi itu akan lunas." Gerutu Zelin. " Mungkin tidak akan pernah lunas, setidaknya rasa tidak percaya diri mama akan tumbuh kembali dengan menikahkan mereka berdua." " Aku tidak ngerti dengan jalan pikiran mama, yang jelas aku tidak setuju dengan keputusan mama. Apa mama pernah memikirkan perasaan kakak." Gerutu Jesy. " Jesy! Jangan ajari mama tentang sesuatu hal. Mama tidak memaksa kakakmu untuk menyetujui ini semua." Ucap mamanya marah. " Iya memang mama tidak memaksa, tapi mama membuat kak Kevin jadi merasa bersalah." Gerutu Jesy. Jesy pergi meninggalkan mamanya sendiri di rumah, dia mencari keberadaan kakaknya. Kevin masih menyusuri jalanan. Dia mengambil ponselnya. " Aku rindu kamu Nik." Ucap Kevin sambil melihat layar ponselnya. " Kak." Ucap Jesy sambil menepuk bahu kakaknya. " Oh kamu." Ucap Kevin langsung menyimpan ponselnya. " Foto siapa itu." Tanya adiknya. " Yang mana?" Kevin terlihat gugup. " Itu di ponsel kakak." Ucap adiknya sambil menunjuk saku Kevin. " Enggak ada." Kevin mencoba menghindari pertanyaan beruntun dari adiknya. Mereka berjalan beriringan. " Kenapa kamu meninggalkan mama sendirian." Tanya Kevin. " Tidak sendirian, ada papa kok di rumah." Ucap Jesy cepat. Kevin menganggukkan kepalanya, dia melupakan sosok papanya untuk sesaat. " Kak." " Hemmm." Mereka tetap berjalan beriringan. " Bagaimana menurut kakak tentang ucapan mama tadi." Tanya Jesy sambil melirik kakaknya. " Entahlah, kakak juga bingung, tapi tidak mungkin juga kakak membiarkan kalian di sini." Ucap Kevin sambil memandang lurus kedepannya. " Kak, aku kasih saran ya. Jangan korbankan kebahagiaan kakak untuk menuruti permintaan mama." Ucap adiknya. Kevin melihat adiknya sambil tersenyum. Jesy terlihat lebih dewasa dari enam tahun yang lalu. " Tau apa kamu tentang arti bahagia." Tanya Kevin. " Taulah, kebahagiaan itu perasaan yang senang dan tentram yang terus ada." Ucap Jesy. Kevin mengacak-acak rambut adiknya. " Ah kakak, aku itu berkata benar. Kalau kakak mengorbankan kebahagiaan kakak untuk orang lain dalam hal ini mama, nantinya kehidupan kakak tidak akan tentram." Ucap adiknya. " Terus kamu ingin kakak jadi anak durhaka." Jawab Kevin cepat. " Enggak sih, cuma aku tidak ingin kakak mengorbankan diri kakak dan perasaan kakak. Walaupun aku tidak tau foto siapa yang ada di dalam ponsel kakak. Tapi aku mengambil kesimpulan kalau dia sangat berharga buat kakak." Ucap adiknya. " Ah kamu adik kakak yang imut." Ucap Kevin sambil merangkul bahu adiknya. " Untuk pagi ini cukup olah raganya. Ayo kita kembali ke rumah." Ajak Kevin sambil tetap merangkul bahu adiknya. " Like, komen dan vote yang banyak ya terimakasih." Chapter 317 episode 316 (S2) Mereka telah tiba di rumah, mamanya sedang memandikan papanya di kamar mandi. " Ma, mari aku bantu." Ucap Kevin. Kevin mengambil alih membersihkan tubuh papanya. Kulit papanya kering dan banyak yang mengelupas. Setelah selesai dia menyerahkan kembali kepada mamanya, di kamar mandi mamanya memakaikan baju untuk papanya. Setelah itu tubuh papanya di dorong ke kamar dan di pindahkan lagi ke atas kasur. Kevin ikut membantu memindahkan tubuh papanya. Menurutnya tubuh papanya sangat berat dan dia bisa melakukannya sendiri, tapi dia tidak bisa membayangkan dua wanita di rumah itu mengangkat papanya. " Mama mau ke toko roti. Kamu jaga papa di sini." Ucap mamanya sambil mengecup dahi suaminya. " Iya ma." Ucap Jesy. Kevin memperhatikan peran mamanya. Dia bisa membayangkan tubuh mamanya sudah tidak kuat lagi mengangkat badan papanya. " Sampai jam berapa mama di toko roti." Tanya Kevin. " Biasanya jam tiga sore sudah balik, tapi kalau sepi sampai jam lima sore." Ucap adiknya. " Apa kamu selalu menemani papa di rumah." Tanya Kevin lagi. " Iya kak, aku tidak pernah keluar rumah." Ucap Jesy sambil menundukkan kepalanya. " Kenapa? Apa mama melarangmu untuk bermain dengan teman-temanmu." Tanya Kevin lagi. " Enggak, mama tidak melarang sama sekali, tapi aku sadar diri, kalau aku pergi siapa yang akan mengurus papa. Dan lagian temanku pada kuliah semua. Omongan mereka seputar kampus, mana aku tau tentang itu. Jadi dari pada aku jadi bahan olokan, mending aku menghabiskan waktu di rumah untuk mengurus papa." Ucap Jesy. Kevin merasa sedih mendengar adiknya berbicara seperti itu. Dimana usia belia seperti itu lagi gemar-gemarnya kumpul dengan temannya. Tapi Jesy menghabiskan waktu untuk mengurus papanya. Untuk orang tuanya, satu poundsterling sangat berarti untuk mereka. Berbanding berbalik dengan dirinya, di tanah airnya dia bisa menghamburkan uang dalam sehari. Tidak berapa lama ada suara pintu diketuk. Jesy langsung berlari membuka pintu. " Hai kak Jasmin." Sapa Jesy. " Hai Jesy." Ucap Jasmin. " Masuk kak." Jasmin melangkahkan kakinya masuk kedalam rumah itu. Dia melakukan rutinitasnya untuk mengecek keadaan tuan Hendrik. " Bagaimana keadaan papaku." Tanya Kevin. " Ada kemajuan, tangan kirinya tadi mulai ada pergerakan, walaupun tidak banyak tapi kemajuan itu ada." Ucap Jasmin. " Baiklah aku akan langsung ke rumah sakit." Ucap Jasmin pamit untuk pergi. " Kakak enggak minum dulu." Jesy mencoba menawarkan minuman untuk Jasmin. " Lain kali saja." Ucap Jasmin sambil berlalu meninggalkan dua kakak beradik itu. Di luar rumah. " Jasmin tunggu." Kevin sedikit berteriak agar Jasmin menghentikan langkahnya. " Iya ada apa?" Jasmin memutar badannya ke arah Kevin, mereka berbicara cukup dekat. Kevin menghembuskan nafasnya secara perlahan. " Aku mau mengucapkan terimakasih karena selama ini kamu yang telah mengurus keluargaku." Ucap Kevin cepat. " Sudahlah, tidak perlu kamu mengatakan hal itu kepadaku. Aku menganggap keluargamu sama seperti keluargaku." Ucap Jasmin sambil melangkah kakinya lagi menuju mobilnya. " Tunggu." Jasmin kembali menoleh kebelakangnya. " Ada apa?" " Aku berencana akan mengajak keluargaku ikut denganku." Ucap Kevin pelan. Jasmin kaget, dia merasa sedih mendengar itu. " Kenapa." Mata Jasmin berkaca-kaca. " Aku merasa kasihan dengan orang tuaku, jika mereka ikut denganku, mama tidak akan bersusah-susah lagi untuk jualan roti." Ucap Kevin pelan. " Kamu benar, Tante Paula memang terlalu letih. Kenapa kamu saja yang tidak pindah ke sini." Tanya Jasmin cepat. " Aku tidak bisa meninggalkan pekerjaanku dan usahaku di sana." Ucap Kevin lagi. Jasmin berusaha untuk tetap tersenyum, walaupun dia merasa sedih harus kehilangan keluarga itu. " Semua keputusan ada ditanganmu." Ucap Jasmin cepat. " Tapi." Kevin menggantung kalimatnya. " Apa lagi Kevin." Jasmin memandang lekat wajah pria yang pernah menolaknya mentah-mentah. Dengan berat hati Kevin harus mengambil keputusan singkat. " Sebelum kami pergi, aku mau kita bertunangan." Ucap Kevin cepat. " Apa!" Jasmin terlihat kaget. " Kevin tolong jangan permainkan perasaanku." Ucap Jasmin cepat. Kevin menganggukkan kepalanya cepat. " Aku serius." Ucap Kevin cepat. Mata Jasmin berkaca-kaca, dia merasa bahagia mendengar ucapan Kevin. Kemudian wajahnya langsung kembali sendu. " Apa kamu mau bertunangan denganku karena ada dorongan dari tante Paula." Tanya Jasmin. Kevin menggelengkan kepalanya, dia berbohong kepada Jasmin. Jasmin terlihat senang dan bahagia. " Apa kamu mencintaiku." Tanya Jasmin lagi dengan wajah bahagianya. Untuk urusan perasaan Kevin tidak bisa berbohong. " Aku memang belum mencintai kamu, tapi izinkan aku belajar mencintaimu." Ucap Kevin pelan. Wajah Jasmin kembali sendu. " Kevin, aku tidak mau menjalin ikatan karena adanya tekanan. Aku mau hubungan ini berjalan dengan semestinya." Ucap Jasmin. Kevin diam, dia mengambil keputusan itu dengan tekanan, dan perasaan bersalah. " Jasmin, aku juga ingin hubungan ini berjalan dengan semestinya, tapi apa salahnya kita coba." Ucap Kevin pelan. " Kenapa dulu kamu tidak menerima perjodohan kita." Tanya Jasmin. " Aku tidak menyukai hubungan karena perjodohan. Dan menurutku dulu terlalu cepat buatku." Ucap Kevin cepat. Jasmin tersenyum ceria. " Baiklah, aku akan mengatakan hal ini kepada orang tuaku." Ucap Jasmin sambil berlalu meninggalkan Kevin. Mobil Jasmin sudah pergi meninggalkan rumah itu. Wanita itu pergi dengan perasaan senang. Tidak dengan Kevin, dia merasa bersalah atas semuanya. Dia telah membohongi banyak orang dalam hal ini, dari dirinya, Jasmin dan Menik. Kevin duduk di kursi sambil menyandarkan kepalanya di sandaran sofa. " Kakak kenapa?" Jesy penasaran dengan wajah kakaknya yang sedih. " Kakak telah mengatakan kepada Jasmin." Ucap Kevin pelan. " Maksud kakak apa?" Jesy belum mengerti arah pembicaraan kakaknya. " Kakak mengatakan kepada Jasmin semuanya, kalau kakak akan bertunangan dengannya sebelum kita kembali ke tanah air." Ucap Kevin cepat. " Apa yang kakak lakukan? Kakak telah mengorbankan kebahagiaan kakak." Jesy tidak setuju dengan keputusan kakaknya. " Bagaimana lagi, kakak tidak mungkin tega meninggalkan kalian di sini seperti ini. Mama harus mencari uang untuk membiayai kalian. Dan kakak tidak ingin melihat masa-masa indahmu habis hanya mengurusi papa." Ucap Kevin sambil memeluk adiknya. Jesy menangis, menurutnya kakaknya pria yang bertanggung jawab dan mau mengorbankan kepentingan orang lain di bandingkan dirinya sendiri. " Jangan kamu ceritakan hal ini kepada mama atau siapapun." Ucap Kevin pelan sambil menghapus air mata adiknya. " Pasti mama akan mengerti kak, tapi bagaimana dengan wanita yang ada di ponsel kakak. Apa yang akan kakak lakukan." Ucap Jesy lagi. " Entahlah, kakak belum bisa berpikir sampai kesitu. Tapi kakak mohon sama kamu, setibanya kita di tanah air jangan kamu ceritakan hal ini sama siapapun." Ucap Kevin cepat. " Kenapa kak." " Kakak tidak ingin siapapun tau mengenai hubungan dadakan ini. Biarkan ini menjadi rahasia kita." Ucap Kevin pelan. " Tapi jika ada pertunangan pasti ada pernikahannya. Apa yang akan kakak lakukan, nanti." Tanya Jesy lagi. " Ada pertunangan belum tentu ada pernikahan, tapi kebalikannya ada pernikahan belum tentu sebelumnya ada pertunangan." Ucap Kevin cepat. " Maksud kakak apa?" Jesy penasaran. " Kakak berharap setelah pertunangan itu, Jasmin akan menemukan cinta sejatinya." Ucap Kevin pelan. " Dari mana kakak tau, kalau kak Jasmin akan menemukan cinta sejatinya. Bukannya kakak cinta sejatinya." Ucap Jesy cepat. " Entahlah, keajaiban selalu ada. Kakak berharap bukan kakak cinta sejatinya." Ucap Kevin cepat. Jesy mengangkat kepalanya dari dada kakaknya. " Kak, bagaimana jika kak Jasmin tau kalau kakak tidak mencintainya." Ucap Jesy khawatir. " Kakak sudah mengatakan kepadanya untuk mencoba belajar mencintainya. Dan dia mengerti akan hal itu." Ucap Kevin cepat. Jesy hanya diam, dia merasa kasihan dengan kakaknya. Semua di korbankannya hanya untuk membahagiakan keluarganya. " Like, komen dan vote yang banyak ya terimakasih." Chapter 318 episode 317 (S2) Tidak terasa hari sudah menjelang sore, mamanya sudah tiba di rumah. " Bagaimana keadaan papa." Tanya mamanya kepada anak-anaknya. " Kata kak Jasmin ada perkembangan, tadi tangan papa bergerak." Ucap Jesy. Kevin ingin mengatakan hal yang tadi pagi di bicarakannya bersama Jasmin. Tapi dia masih menunggu waktu yang longgar. Mamanya terlihat sibuk di dapur untuk membuat makan malam. Dalam 30 menit makanan sudah tersedia di atas meja makan. Kevin menggunakan kesempatan itu untuk membicarakan rencana pertunangannya dengan Jasmin. " Ma." Ucap Kevin pelan. " Iya." Ucap mamanya. " Aku sudah bicarakan dengan Jasmin." Ucap Kevin pelan. " Tentang apa." Tanya mamanya. " Pertunangan kami." Ucap Kevin singkat. Mamanya meletakkan sendoknya, dia ingin mendengar kelanjutannya. " Aku sudah mengatakan kepadanya, kalau kami akan bertunangan sebelum kita kembali ke tanah air." Ucap Kevin cepat. Mamanya hanya diam dan menundukkan kepalanya. " Dan Jasmin setuju." Ucap Kevin lagi. " Tapi mama tidak setuju." Ucap mamanya. " Kenapa? Bukannya mama yang menginginkan aku dengan Jasmin." Ucap Kevin cepat. " Iya, mama memang menginginkan kalian bersatu, tapi bukan bertunangan tapi pernikahan." Ucap mamanya cepat. " Ma, pernikahan tidak bisa secepat itu, banyak yang harus di persiapkan dan pertimbangankan." Ucap Kevin cepat. Jesy merasa kasihan dengan kakaknya. Tiba-tiba ada suara pintu di ketuk. " Biar aku yang buka." Ucap Jesy sambil berlalu meninggalkan mama dan kakaknya. Jesy membuka pintu rumahnya. Dan di depannya telah berdiri keluarga Jasmin. " Malam om tante." Sapa Jesy. " Silahkan masuk." Ucap Jesy. Keluarga itu masuk ke dalam rumah mereka. Jesy masuk ke dalam menemui mamanya. " Ma, keluarga kak Jasmin datang." Ucap Jesy cepat. Kevin dan mamanya saling pandang. Mereka keluar bersamaan menuju ruang tamu. " Selamat malam semuanya." Sapa Nyonya Paula. " Selamat malam Paula." Ucap mamanya Jasmin sambil memeluk erat temannya. " Selamat malam om." Ucap Kevin menyapa papanya Jasmin. " Silahkan duduk." Ucap Nyonya Paula. Keluarga itu kembali duduk. Mereka mengobrol tentang perkembangan papanya Kevin, dan Jesy baru tiba dari dapur dengan membawa teh dan makanan kecil untuk tamunya. " Silahkan tante om dan kak Jasmin." Ucap Jesy. " Terimakasih Jesy." Ucap mamanya Jasmin. " Apakah ada hal penting yang ingin kalian bicarakan." Tanya mamanya Kevin. Papanya Jasmin melirik istrinya. " Iya, kami datang kesini untuk membicarakan hal yang di ucapkan Kevin kepada anak kami Jasmin." Ucap papanya Jasmin. Kevin melihat pria paruh baya itu dengan tatapan yang menyelidiki. Mengapa hal ini harus di bicarakan pada malam hari begini. " Iya, om." Ucap Kevin. "Jasmin sudah membicarakan semuanya kepada kami." Ucap papanya Jasmin. Pria paruh baya itu mengambil nafasnya dalam-dalam. " Apa kamu serius dengan ucapan kamu." Ucap papanya Jasmin sambil menatap Kevin dengan tatapan tajam. Kevin menganggukkan kepalanya. " Kamu ingin bertunangan dengan Jasmin karena tidak enak hati dengan keluarga kami atau karena hal lain." Ucap papanya Jasmin tegas. Semua yang berada di situ melihat kearah Kevin. " Saya melakukan ini bukan untuk membalas jasa om dan tante, ini saya lakukan dari hati yang paling dalam." Kevin berkata bohong, dari hati yang paling dalamnya, dia tidak menginginkan pertunangan itu. " Tapi saya sebagai orang tuanya tidak setuju." Ucap papanya Jasmin tegas. Kevin dan Jasmin saling pandang. " Kenapa pa." Tanya Jasmin. " Papa tidak ingin ada pertunangan, yang papa inginkan langsung menikahkan kalian berdua secepatnya." Ucap papanya tegas. Kevin menatap wajah adiknya. Jesy menggelengkan kepalanya dengan arti tidak menyetujui rencana itu. Nyonya Paula dan mamanya Jasmin terlihat senang mendengar itu, karena mamanya Kevin memang menginginkan pernikahan, tapi Kevin dan Jasmin terlihat gusar. " Maaf om, untuk pernikahan tidak bisa secepat itu. Saya harus mempersiapkan semua dengan matang." Ucap Kevin menolak. " Tapi saya tidak setuju kalian bertunangan." Ucap papanya Jasmin tegas. " Kenapa pa." Tanya Jasmin lagi. " Karena jarak kalian terlalu jauh, banyak yang tidak berhasil melanjutkan ke jenjang pernikahan karena adanya jarak. Tapi beda halnya jika kalian dalam satu negara." Ucap papanya Jasmin tegas. " Maaf om, untuk pernikahan harus saya persiapkan semuanya dengan matang. Dan saya tidak bisa tinggal di sini. Karena pekerjaan saya di sana." Ucap Kevin tegas. Papanya Jasmin terlihat sedang memikirkan sesuatu. " Bagaimana dengan kamu Jasmin." Tanya Papanya. " Maksud Papa apa." Jasmin bingung. " Apa kamu bisa pindah ketanah air." Tanya Papanya. " Tidak bisa pa, aku masih terikat kontrak dengan rumah sakit." Jawab Jasmin. " Kapan kontrak kamu selesai." Tanya Papanya lagi. " Beberapa bulan lagi." Jawab Jasmin. " Hemmm, baiklah pertunangan tidak di laksanakan, jika kamu serius dengan anak saya. Kamu lamar dia setelah kontraknya selesai." Ucap papanya Jasmin tegas. " Tapi bagaimana kalau kontrak aku di perpanjang." Tanya Jasmin lagi. " Anakku, kamu bisa mencoba melamar di rumah sakit di tanah air. Papa ingin kamu ikut ke tanah air dengan Kevin setelah kontrak kamu selesai. Dengan itu jarak tidak jadi masalah untuk kalian." Ucap papanya Jasmin lagi. " Dan kamu Kevin, kamu bisa persiapkan semuanya jauh-jauh hari." Kevin tidak bisa menolak, walaupun hatinya ingin teriak, tapi dia berusaha untuk bersikap tenang. " Baik om." Ucap Kevin cepat. Setelah itu mereka menikmati minuman yang di sediakan Jesy. Tidak berapa lama keluarga itu pamit pulang. " Mama sudah mendengar semuanya dari papanya Jasmin, jadi aku harap besok mama ke kantor imigrasi untuk mengurus semuanya." Ucap Kevin cepat. " Mama ingin di sini." Ucap mamanya pelan. " Mama, jangan seperti itu. Kak Kevin sudah merencanakan pertunangan itu, tapi dari pihak sana tidak ingin ada pertunangan, mereka ingin kakak segera menikahi anaknya. Tapi keputusan sudah di ambil. Kalau pernikahan terjadi setelah kak Jasmin habis kontrak kerja." Ucap Jesy membela kakaknya. Mamanya menundukkan kepalanya. Kevin mendekati dan memeluk bahu mamanya dari samping. " Apa yang mama khawatirkan. Disana semua sudah ada." Ucap Kevin membujuk mamanya. " Mama khawatir pernikahan kalian tidak berlangsung." Ucap mamanya pelan. Kevin diam, dia memang tidak menginginkan pernikahan itu terjadi. Karena hatinya telah di isi oleh Menik. " Ma, jika dia jodohku, pasti urusan kami akan di permudah." Ucap Kevin meyakinkan mamanya. Di dalam relung hati Kevin, dia berharap dan berdoa agar jodohnya Menik. " Baiklah, mama akan ikut dengan kamu." Ucap mamanya. Kevin terlihat senang, dia mengecup pipi orang yang melahirkannya. Setibanya di tanah air, dia tidak tau harus berbuat apa. Yang jelas hatinya masih untuk Menik. Hanya keajaiban yang di harapkan dari Kevin. Keajaiban tentang perasaan Jasmin yang akan menemukan cinta sejatinya. Karena Kevin sadar sesuatu hubungan yang di paksakan tidak akan baik nantinya. Dan hubungan rumah tangga akan berjalan lancar jika perasaan cinta itu ada kepada pasangannya. " Like, komen dan vote yang banyak ya terimakasih." Chapter 319 episode 318 (S2) Malam semakin larut tapi Menik tidak bisa menutup matanya, bayang-bayang Kevin selalu menghiasi pikirannya. Dia selalu melihat layar ponselnya, semua pesan yang di kirimnya belum ada yang di balas Kevin. Kevin hanya membalasnya dan menghubunginya sekali dan itu saat tengah malam. " Kenapa pak Kevin tidak membalas pesanku. Apa yang terjadi? Apa dia sibuk." Gumam Menik pelan. " Apa aku coba menghubunginya." Gumam Menik lagi. Menik mengambil ponselnya dan langsung menghubungi nomor Kevin. " Nomor yang anda tuju sedang tidur." Ucap operator telepon. " Oh pak Kevin sedang tidur." Gumam Menik pelan. " Boleh titip pesan." Ucap Menik. " Silahkan, pesan nasi juga bisa." Ucap operator telepon. " Ini operator telepon apa warung nasi." Gumam Menik. " Saya operator telepon, kadang-kadang jualan nasi." Ucap operator telepon. Menik berlari keluar kamarnya sambil membawa ponselnya. " Bima, buka pintu." Ucap Menik sambil mengetuk pintu kamar adiknya. " Maaf, di sini tidak ada pintu yang ada tirai." Ucap operator telepon. Menik mengernyitkan dahinya mendengar jawaban dari operator itu. Bima membuka pintu kamarnya. " Ada apa kak?" Wajah adiknya kusut karena baru bangun tidur. " Coba kamu dengar operator telepon ini, jawabannya aneh." Ucap Menik sambil menunjukkan ponselnya kepada Bima. Bima mengambil ponsel kakaknya. " Ngomong." Ucap Menik. " Ngomong apa." Bima bingung. " Terserah." " Halo." Ucap Bima. " Halo juga." Ucap operator telepon. Bima tambah semangat. " Bilang, mau titip pesan." Bisik Menik. " Saya mau titip pesan." Ucap Bima mengikuti saran kakaknya. " Silahkan, titip salam juga boleh." Ucap operator telepon. Bima menjauhkan ponsel itu. " Kak sepertinya ada masalah." Ucap Bima cepat. " Kakak juga memikirkan hal yang sama." Ucap Menik. " Apa yang kakak pikirkan." Tanya Bima cepat. " Operator itu sepertinya stres." Ucap Menik cepat. " Kenapa bisa stres." Tanya Bima. " Karena mereka setiap hari berbicara tanpa melihat lawan bicaranya." Ucap kakaknya asal. Bima mengernyitkan dahinya. " Halo operator." Tanya Bima. " Halo juga." Ucap operator telepon. " Maaf telah mengganggu waktu istirahat anda." Ucap Bima. " Tidak masalah." Kemudian panggilan terputus. Dua kakak beradik itu saling pandang. " Apa mungkin ponselnya jet lag karena terlalu lama di pesawat." Ucap Menik pelan. " Ah ngawur kakak. Mana ada ponsel jet lag." Ucap Bima cepat. Bima kembali ke kamarnya, dia ingin melanjutkan tidurnya. " Tunggu, kakak mau curhat." Ucap Menik menahan adiknya. " Udah malam kak." Ucap adiknya. " Yang bilang siang siapa." Gerutu Menik. " Aku ngantuk." Ucap adiknya sambil menutup pintu kamarnya. " Dasar tukang tidur." Ucap kakaknya dari luar kamar. " Biarin, dari pada kakak wanita kalelawar. Tengah malam melotot." Teriak adiknya dari kamarnya. Dengan wajah yang cemberut Menik kembali ke kamarnya. Dia membayangkan semua perlakuan Kevin terhadap dirinya, membuatnya merindukan sosok pria itu. Di tempat lain. Zira dan Ziko menghabiskan waktu malamnya untuk mengobrol. Karena untuk melakukan hal yang itu istrinya belum bisa, jadi mereka hanya bisa mengobrol saja. " Sayang, kapan Kevin pulang." Tanya Zira. " Belum tau." Ucap Ziko sambil mengelus rambut Istrinya. " Kenapa." Tanya Ziko. " Enggak ada, kenapa dia lama sekali. Apa dia tidak ada menghubungi kamu." Ucap Zira cepat. " Ada, dia hanya menghubungi masalah pekerjaan, setelah itu tidak ada." Ucap Ziko. " Kamu sepertinya mengkhawatirkan dirinya." Ucap Ziko lagi. " Bukan sayang, rencana kita yang di kapal pesiar itu jadi tidak." Tanya Zira. " Jadilah, tapi aku kan masih menunggu kondisi kamu benar-benar pulih." Ucap Ziko cepat. " Memangnya kenapa." Tanya Ziko. " Aku sudah menghubungi modelku yang di luar negeri dan dia mau membantu kita untuk membuat Menik cemburu." Ucap Zira cepat. " Oh bagus itu, secepatnya lebih baik." Ucap Ziko lagi. " Ya betul, agar Kevin bisa bersatu dengan Menik." Jawab Zira. " Bukan itu saja, aku ingin secepatnya kita honeymoon lagi." Goda Ziko. " Ah kamu genit." Rengek Zira. Mereka tertawa bersama. Malam semakin larut kedua pasangan itu sudah mulai memejamkan matanya. Pagi harinya waktu luar negeri. Mamanya dan Jesy sudah pergi pagi-pagi untuk mengurus semua surat-surat yang akan di bawa mereka ke tanah kelahiran suaminya. Untuk urusan toko kue dan rumah mamanya menjual kepada agen, dan pihak agen akan menjual kembali kepada orang lain. Dia lebih memilih menjual toko dan rumahnya kepada pihak agen, walaupun harga yang di jual jatuh, setidaknya mereka dapat menjual dengan cepat. Kevin mengurusi papanya di rumah. Ada suara ketukan dari luar. Dia langsung membuka pintu rumahnya. " Oh Jasmin, masuklah." Ucap Kevin mempersilahkan wanita blasteran itu untuk masuk. Jasmin masuk ke dalam rumah itu sambil membawa sebuah amplop " Ini surat dari rumah sakit, dengan surat ini kalian bisa membawa om, keluar dari negara ini." Ucap Jasmin. " Apa ini seperti surat keterangan." Tanya Kevin. " Iya seperti itu." Ucap Jasmin cepat. Kevin membuka amplop itu. Dia membaca isi surat itu dan bagian pojok akhir ada tanda tangan Jasmin sebagai penanggung jawab. Jasmin sudah berlalu meninggalkan Kevin, dia memeriksa papanya Kevin. " Kevin." Teriak Jasmin. Kevin langsung berlari menuju kamar papanya. " Ada apa." Tanya Kevin cepat. " Papa kamu baru berbicara." Ucap Jasmin cepat. " Oh iya, apa yang di katakannya." Tanya Kevin cepat. " Papa kamu baru saja menyebutkan nama kamu." Ucap Jasmin senang. Kevin duduk di pinggir tempat tidur dan mengecup tangan papanya. " Sepertinya kamu obatnya." Ucap Jasmin. " Maksud kamu." Kevin terlihat bingung. " Selama enam tahun, kondisi papa kamu sangat memburuk tapi setelah kamu datang kondisinya banyak kemajuan." Ucap Jasmin cepat. Kevin menatap wajah papanya yang sudah tidak muda lagi. Rambut putihnya sudah menghiasi sebagian kepalanya, dan garis halus di wajahnya sudah terlihat jelas. " Kita akan kembali ke tanah air. Aku harap papa senang, dan semoga di sana papa bisa berjalan lagi." Ucap Kevin pelan sambil mengelus lengan papanya. Setelah mata papanya terpejam Jasmin dan Kevin pergi meninggalkan kamar itu. Mereka membiarkan pria paruh baya itu beristirahat. " Kamu mau minum kopi." Kevin menawarkan sesuatu kepada Jasmin, dia merasa sungkan dan gugup ketika berduaan dengan Jasmin. " Boleh." Ucap Jasmin pelan. Kevin menghidangkan kopi panas di depan Jasmin. " Silahkan minum." Ucap Kevin cepat. " Terimakasih." Jawab Jasmin. Jasmin menundukkan kepalanya, dia tidak tau harus berbicara apa dengan Kevin. Lama mereka saling diam, tapi akhirnya Jasmin membuka suara. " Hemmm, Tante dan Jesy kemana." Tanya Jasmin basa basi. " Oh mereka lagi mengurus surat-surat yang harus di bawa ke tanah air." Ucap Kevin cepat. " Kapan kalian akan berangkat." Tanya Jasmin lagi. " Setelah semua urusan selesai kami akan berangkat." Jawab Kevin. Kemudian mereka diam kembali. " Kevin, aku ingin mengatakan sesuatu." Ucap Jasmin pelan. " Iya apa." Kevin terlihat penasaran. " Sepertinya pikiran kamu tidak disini. Apa ada seseorang yang menunggumu di sana." Tanya Jasmin. Kevin kaget, ekspresinya bisa terbaca oleh Jasmin. " Oh tidak, aku hanya memikirkan kerjaanku yang terbengkalai." Ucap Kevin gugup. Maaf Jasmin, aku memang sedang memikirkan seorang wanita. Dan wanita itu juga sedang menunggu kehadiranku. Aku belum bisa mengatakan sejujurnya kepadamu. Aku tidak ingin merusak suasana hatimu dengan kejujuranku. Biarlah aku mengorbankan perasaanku, asalkan mamaku senang. " Like, komen dan vote yang banyak ya terimakasih." Chapter 320 episode 319 (S2) Waktu kepulangan ketanah air tiba. Semua surat sudah lengkap semua. Pembayaran atas penjualan rumah dan toko kue sudah dilakukan pihak agen. Siang ini mereka akan berangkat. Jesy merasa senang, karena dia bisa melihat tanah kelahiran papanya. Dan ada rasa sedih dari raut wajah mamanya, karena Nyonya Paula akan meninggalkan negara kelahirannya. Negara yang pasti selalu akan di rindunya. Keluarga Jasmin sudah tiba di rumah mereka. Keluarga itu akan mengantarkan mereka semua ke bandara. " Apa tidak ada yang ketinggalan lagi." Ucap Kevin kepada mama dan adiknya. Dua wanita itu menggelengkan kepalanya. " Bisa kita berangkat sekarang." Ucap Kevin cepat. Mamanya menganggukkan kepalanya, sambil terus menatapi rumahnya. Kevin beserta Jesy masuk ke mobil Jasmin. Nyonya Paula dan Tuan Hendrik ikut mobil papanya Jasmin. Mobil sudah meluncur meninggalkan rumah menuju bandara. Sepanjang perjalanan mamanya selalu melihat ke luar jendela, dia menikmati setiap kota London dengan suka cita. Kenangan di kota itu dengan suaminya sangat banyak. Dan sekarang dia harus membuat kenangan yang baru di negara orang lain. Mobil telah sampai di bandara. Nyonya Amel memeluk mamanya Jasmin dengan sangat erat, begitu sebaliknya papanya Jasmin memegang pundak sahabatnya. Ini adalah pertama kalinya dua sahabat itu berjauhan. Kevin menyalami Jasmin. " Terimakasih atas bantuan kamu selama ini." Ucap Kevin sambil menyalami tangan Jasmin. " Tidak apa-apa. Aku senang dapat membantu keluarga kamu." Ucap Jasmin pelan. Semua keluarga saling peluk untuk melepaskan kepergian temannya. Tapi hanya Kevin dan Jasmin yang bersalaman, mereka sungkan untuk melakukan itu. Setelah itu keluarga Kevin masuk ke dalam gate keberangkatan. Kemudian mereka masuk ke dalam jalur khusus. " Kak, kenapa kita tidak mengantri seperti yang lain." Tanya Jesy melihat banyak orang yang melakukan check in tapi mereka hanya mengantri pada saat paspor mereka di cek oleh pihak bandara. Setelah itu mereka masuk melalui jalur khusus. " Kak kita naik pesawat apa." Tanya Jesy lagi. Keluarga Jasmin tidak bisa ikut mengantar sampai dalam. Mereka hanya bisa mengantar sampai gate keberangkatan. Kevin mendorong tubuh papanya yang ada di kursi roda. Mereka langsung ke area pesawat di parkirankan. " Kak, kenapa hanya kita yang jalan ke area ini. Penumpang yang lain mana." Lagi-lagi Jesy bingung. " Iya memang hanya kita penumpangnya." Ucap Kevin sambil mendorong kursi roda papanya. " Maksud kakak apa sih." Jesy masih bingung. Sampai mereka berhenti di depan pesawat jet. " Selamat siang Pak Kevin." Sapa Pilot dan co-pilot beserta pramugari. " Siang, ini keluarga saya." Ucap Kevin memperkenalkan keluarganya kepada pilotnya. Kedua pilot itu menundukkan kepalanya memberi hormat. Jesy masih bengong, melihat perlakuan dua pilot dan pramugari yang ramah kepada mereka. Kursi roda sudah di naikkan ke atas pesawat, begitupun dengan papanya juga sudah ada di dalam pesawat. Mamanya dan Jesy terkagum-kagum melihat bagian dalam pesawat. Dua orang pramugari menawari mereka minuman dan makanan. Setelah beberapa saat pesawat telah take off meninggalkan landasan penerbangan. " Kakak ini bukannya pesawat jet." Tanya adiknya. " Iya, ini pesawat jet." Ucap Kevin cepat. " Kakak kerja apa sih, sampai bisa punya pesawat jet pribadi." Tanya adiknya. Mamanya melihat anak sulungnya dengan tatapan penasaran. " Ini bukan punya kakak, ini milik bos kakak." Ucap Kevin cepat. " Wah, kakak hebat." Ucap Jesy bangga. " Sebenarnya apa pekerjaan kamu." Tanya mamanya. " Aku hanya karyawan biasa ma." Ucap Kevin merendah. " Ah kakak bohong, mana mungkin karyawan bisa di pinjamkan pesawat mewah ini." Ucap Jesy. Kevin tidak menjawab pertanyaan adiknya, dia lebih memilih untuk menutup matanya. Karena dengan menutup mata, dia bisa membayangkan wajah Menik yang lucu. Perjalanan yang mereka tempuh 14,5 jam. Perjalanan yang cukup jauh. Ini adalah pertama kalinya Jesy dan mamanya pergi meninggalkan negara London menuju negara Asia. Walaupun perjalanan jauh, ibu dan anak itu cukup senang, karena mereka bisa leluasa untuk berbaring di atas pesawat itu. Di gedung Rahasrya group. Menik menikmati makan siang di dalam pantry. Koko menghampirinya. " Nik jangan melamun." Ucap Koko sambil menepuk bahu Menik. " Ah kamu mengagetkan saja." Ucap Menik pelan. Koko menarik kursi dan duduk di samping Menik. Pria gemulai itu membuka bungkus makan siangnya. " Kamu tidak makan di luar." Tanya Menik. " Enggak, aku mau menemani kamu." Ucap Koko pelan. " Aku enggak butuh teman." Jawab Menik ketus sambil menikmati makanannya. " Benar kamu tidak butuh teman? Ok kalau begitu aku makannya pindah saja." Ucap Koko sambil berdiri dari kursinya. " Eh jangan pergi, aku butuh teman ngobrol." Ucap Menik sambil menarik lengan Koko untuk duduk kembali. Koko kembali duduk di sebelah Menik. " Kamu kenapa." Tanya Koko sambil melanjutkan makannya " Kenapa kamu bertanya seperti itu." Tanya Menik balik. " Aku perhatikan semenjak kepergian Pak Kevin keluar negeri, kamu banyak melamun." Ucap Koko " Kamu benar, aku memang sering melamunkan Pak Kevin." Ucap Menik pelan. Menik tidak merasa malu ataupun sungkan untuk berbicara mengenai perasaannya kepada Koko. Karena menurutnya Koko bisa di ajak bertukar pikiran, malah Koko sering menyemangatinya. " Apa yang kamu lamunkan." Tanya Koko. " Pak Kevin." Ucap Menik cepat. " Iya aku tau Pak Kevin, tapi apanya yang kamu lamunkan. Wajahnya atau bibirnya." Goda Koko. " Idih kamu genit banget." Ucap Menik malu. Dia memang melamunkan semua perilaku Kevin kepadanya dan masalah ciuman itu juga selalu terbayang di dalam angannya. " Kamu malu ya." Goda Koko lagi. " Enggak Kok." Ucap Menik mengelak. " Tapi kenapa wajahmu merah seperti tomat." Goda Koko lagi. Rona pipi Menik tambah merah. Dia merasa malu mengingat ketika dia dan Kevin berciuman. " Sudah jangan goda aku dengan kata itu lagi." Ucap Menik cepat. " Ok, untuk menghemat waktu istirahatku. Ceritakan kepadaku, apa yang membuat kamu melamun pak Kevin." Tanya Koko cepat sambil menikmati makanannya. " Aku bingung, kenapa pak Kevin beberapa hari ini tidak membalas pesan dariku." Ucap Menik pelan. " Mungkin beliau lagi sibuk." Ucap Koko menenangkan. " Tapi apa malam juga sibuk." Ucap Menik lagi. " Mungkin karena kesibukannya di siang hari, jadi beliau cepat tidur." Ucap Koko lagi. " Mungkin juga ya." Ucap Menik sambil manggut-manggut. " Apa ada kabar tentang kepulangan pak Kevin." Tanya Menik. Koko mengangkat kedua bahunya. Dia belum dengar kabar apapun mengenai bosnya yang satu itu. " Kenapa? Kamu mau mengatakan isi hatimu ya." Tebak Koko. Menik tersenyum simpul. " Iya, aku sudah merancang kata-kata romantis untuknya." Ucap Menik. " Selain mengatakan kata-kata romantis, apa lagi yang akan kamu lakukan nanti." Tanya Koko. " Rahasia, kamu tidak boleh tau." Ucap Menik cepat. " Ya aku tau rasanya kalau cinta saling berbalas, beda denganku." Ucap Koko cepat. " Lah cintamu bukannya berbalas juga." Tanya Menik cepat. " Iya cintaku memang berbalas, tapi hubungan kami yang tidak berbalas." Ucap Koko cepat. " Maksudnya." Menik bingung. " Hubunganku dengan Zelin hanya sebatas teman, karena sangat sulit untuk menjalin ikatan yang serius." Ucap Koko pelan. " Kamu tidak boleh pesemis seperti itu, harus semangat. Kamu dan dia harus memperjuangkan bersama-sama." Ucap Menik memberi semangat. " Like, komen dan vote yang banyak ya terimakasih." Chapter 321 episode 320 (S2) Pesawat jet yang membawa keluarga Kevin telah tiba di tanah air pada pagi hari. Jesy merasa senang karena bisa menginjakkan kakinya di tanah kelahiran papanya. Supir Raharsya group sudah menunggu mereka, sebelumnya Kevin sudah menghubungi supir tersebut. Mereka semua sudah berada di dalam mobil, selama perjalanan Jesy dan Nyonya Paula selalu melihat ke arah luar. Mereka mengangumi pemandangan yang ada di luar. Kevin dan keluarga sudah tiba di rumah. Supir membantu Kevin untuk menurunkan tubuh papanya, Jesy dan mamanya mengeluarkan koper dari bagasi. " Terimakasih." Ucap Kevin kepada supir itu " Sama-sama bos." Jawab supir itu. " Masuklah." Ucap Kevin sambil mempersilahkan keluarganya untuk masuk ke dalam rumahnya. Jesy dan mamanya melihat isi rumah itu. Dan mereka juga melihat di dinding ada foto mereka. " Rumah kakak bagus." Puji Jesy. " Ini bukan hanya rumah kakak, tapi rumah kalian juga." Ucap Kevin cepat. Kevin menunjukkan kamar untuk Jesy, kamar untuk adiknya ada di lantai atas. Karena kondisi papanya yang sakit, dia memberikan kamar untuk kedua orang tuanya di lantai dasar. " Terimakasih nak." Ucap mamanya sambil menyentuh pipi Kevin. " Aku yang terima kasih, karena mama mau ikut ke sini." Ucap Kevin cepat. Kevin meninggalkan orang tuanya untuk beristirahat. Mereka tiba di tanah air hari minggu, jadi dia tidak harus berangkat ke kantor. Rumahnya terlihat banyak debu, biasanya pada hari libur Menik yang datang membersihkan rumahnya. Tapi dia tidak akan memperkerjakan office girl itu. " Kevin." Ada suara dari luar kamar. Kevin membuka pintu kamarnya, dia melihat sosok mamanya sedang mencari dirinya. " Aku di sini ma." Ucap Kevin cepat. Mamanya membalikkan badannya. " Kevin, mama sudah melihat isi kulkas kamu. Di dalamnya tidak ada yang bisa di masak. Bagaimana kita makan siang." Ucap mamanya cepat. " Kita makan di luar saja." Ucap Kevin cepat. " Jangan, perut mama belum terbiasa makan makan sini. Kita belanja saja, biar mama yang masak." Ucap mamanya cepat. " Apa mama tidak capek." Tanya Kevin. " Enggaklah, tadi di pesawat mama sudah kebanyakan tidur." " Ya sudah mama bersiap-siap." Ucap Kevin cepat. Mamanya berlalu meninggalkan anaknya. Kemudian kembali menoleh anaknya lagi. " Oh iya, nanti kita ke super market saja ya. Mama belum terbiasa pergi ke pasar tradisional." Ucap mamanya. Kevin menganggukkan kepalanya dan bersiap diri di kamarnya. Setelah selesai dia turun dari lantai satu, di bawah mamanya sedang ngobrol dengan adiknya. " Ngomongin apa." Tanya Kevin. " Mama bilang, selama kita pergi, Jesy akan membersihkan rumah." Ucap mamanya cepat. " Tapi rumah ini besar ma, beda dengan rumah kita yang dulu." Gerutu Jesy. " Kamu jangan manja, kerjakan saja." Ucap mamanya tegas. " Ya sudah nanti kakak akan mencarikan pembantu untuk membersihkan rumah ini." Ucap Kevin. " Memangnya selama ini, yang bersihkan rumah kakak siapa? Apa kakak." Tanya Jesy. " Kemaren setiap weekend ada yang membantu kakak membersihkan rumah ini." Ucap Kevin pelan. " Sekarang mana pembantu itu." Tanya Jesy. Kevin mengernyitkan dahinya, dia tidak suka jika adiknya menyebut Menik sebagai pembantu. " Dia bukan pembantu, dia hanya membantu kakak membersihkan rumah ini." Ucap Kevin tegas. " Oh gitu." Ucap Jesy cepat. " Mari kita berangkat." Ajak Kevin. Kevin pergi ke garasi mobilnya. Di sana berderet mobil dan motornya. " Apa semua ini hasil jerih payah kamu nak." Tanya mamanya. " Iya ma, aku mengumpulkan uang untuk membeli ini semua. Dan ini adalah mobil pertamaku." Ucap Kevin sambil menunjuk mobil sedan berwarna hitam. Dia memilih mobil itu untuk mengantarkan mamanya berbelanja. Mobil sudah menuju jalan raya. Kevin membawa mamanya ke supermarket market terbesar di kotanya. Mobil sudah tiba di supermarket, Kevin memarkirkan mobilnya di parkiran. Dia berjalan beriringan dengan mamanya. Keadaan super market tidak terlalu ramai. Jadi mereka bisa leluasa memilih belanjaannya. Kevin hanya mengikuti mamanya dari belakang sambil mendorong trolley. Mamanya berhenti di tempat sayuran. Wanita paruh baya itu masih sibuk memilih. " Ma, aku mencari keperluanku dulu di sana. Nanti aku kembali lagi." Ucap Kevin cepat. Mamanya menganggukkan kepalanya cepat, Kevin sudah meninggalkan mamanya sendiri di depan aneka macam sayuran segar. Nyonya Paula mengambil satu sayuran yang sangat asing, kemudian dia mengembalikan lagi ke tempat semula. " Itu namanya daun singkong." Ucap seorang wanita yang berdiri di sampingnya. Nyonya Paula memperhatikan wanita di sampingnya dari atas sampai bawah. " Oh sepertinya ibu tidak mengerti bahasa saya." Ucap wanita itu ramah. Karena wanita itu melihat penampilan Nyonya Paula asli bule, jadi di pikiran wanita itu kalau mamanya Kevin tidak bisa berbahasa Indonesia. " Saya bisa berbahasa seperti kamu." Ucap Nyonya Paula cepat. " Oh maaf, saya pikir ibu tidak mengerti bahasa saya." Ucap wanita itu ramah. Wanita itu memilih sayuran yang akan di belinya. " Itu sayur apa." Tanya mamanya Kevin kepada wanita itu. " Oh ini, sayur kangkung. Apa di negara ibu tidak ada." Tanya wanita itu. Nyonya Paula menggelengkan kepalanya cepat. " Sayur ini sangat enak, cara memasaknya juga sangat gampang." Ucap wanita itu cepat. " Bagaimana cara memasaknya." Tanya Nyonya Paula. Wanita itu menjelaskan cara memasak sayuran itu. Mamanya Kevin langsung mencatat di dalam sebuah buku kecil yang ada di dalam tasnya. " Saya baru pertama kali datang ke sini. Maukah kamu membantu saya menjelaskan segala macam sayuran ini." Tanya mamanya Kevin. Wanita itu langsung menganggukkan kepalanya cepat. Dia juga tidak terlalu sibuk, jadi tanpa sungkan wanita itu langsung menyebutkan segala jenis sayuran dan cara memasaknya. Kemudian wanita itu membawa Nyonya Paula menuju tempat rempah-rempah. Segala jenis rempah di sebutkan wanita itu. Nyonya Paula masih menyimak dan mencatat semuanya di dalam buku kecilnya. " Ada lagi yang bisa saya bantu." Tanya wanita itu lagi. " Terimakasih nona, karena telah membantu saya." Ucap Nyonya Paula sambil mengulurkan tangannya. " Panggil saja saya Menik." Ucap wanita itu sambil menyambut uluran tangan wanita paruh baya itu. " Nama kamu lucu sekali." Ucap Nyonya Paula. " Hahaha, bukan ibu saja yang bilang seperti itu, hampir semua orang juga mengatakan hal yang sama." " Apalagi kalau ibu tau nama panjang saya, pasti ibu akan tertawa." Ucap wanita itu. " Oh ya, siapa nama panjang kamu." Tanya mamanya Kevin. " Nama panjang saya Samudera Nuansa Pagi." Ucap Menik cepat. Nyonya Puala tidak bisa mengeja dan mengucapkan nama itu dengan sempurna. " Hahaha, jangan di paksakan Bu. Nanti lama-lama lidah ibu akan terbiasa mengucapkan kata-kata yang aneh." Ucap Menik cepat. " Baiklah ibu, saya pamit dulu." Ucap Menik pamit. " Panggil saja saya Ibu Paula." Ucap mamanya Kevin cepat. " Sampai jumpa lagi Ibu Paula." Ucap Menik pamit sambil melambaikan tangannya. " Tunggu, bisakah saya minta nomor ponsel kamu." Tanya Nyonya Paula lagi. Menik terlihat bingung. " Kamu jangan khawatir, saya hanya ingin menanyakan tentang masakan sama kamu." Ucap mamanya Kevin pelan. " Oh seperti itu ya? Saya kirain Ibu mau menjodohkan saya dengan anak ibu." Ucap Menik bercanda. " Kamu lucu sekali, jika saya ada dua anak lelaki, pasti yang satunya akan saya jodohkan ke kamu." Ucap Nyonya Paula lagi. " Oh jadi anak ibu cuma satu." Tanya Menik lagi. " Anak saya dua, laki-laki dan perempuan." Ucap Nyonya Paula lagi. " Oh, pasti yang pertama yang laki-laki dan dia pasti masih kecil." Tebak Menik. " Hahaha, bukan Menik, memang tebakan kamu benar, anak saya yang pertama laki-laki dan dia akan segera menikah, dan yang wanita masih belia." Ucap Mamanya Kevin. " Oh seperti itu, baiklah Ibu Paula, saya pulang dulu ya. Hubungi saya kapanmu anda mau." Menik berjalan meninggalkan mamanya Kevin. Dia menuju meja kasir untuk membayar belanjaannya. " Wanita yang ramah dan baik." Gumam Nyonya Paula pelan. " Siapa yang baik." Ucap Kevin melihat arah pandangan mamanya. " Like, komen dan vote yang banyak ya terimakasih." Chapter 322 episode 321 (S2) " Oh tadi ada yang membantu mama menjelaskan tentang sayuran di sini." Ucap mamanya. " Sepertinya mama sudah dapat teman." Ucap Kevin. " Bisa di bilang seperti itu." Ucap mamanya. " Apa belanjanya sudah." Tanya Kevin. " Untuk sayur mama rasa cukup, kita cari lauk dulu ya." Ucap mamanya. Kevin menganggukkan kepalanya sambil mendorong trolley belanjaan. Mereka berhenti di depan sebuah box, di dalam box itu ada beraneka ragam makanan laut. Mamanya membeli makanan laut. " Di sini enak ya." Ucap mamanya pelan. " Enak kenapa Ma." Tanya Kevin. " Makanan laut gampang di peroleh dan harganya murah-murah." Ucap mamanya senang. " Masih ada yang lebih murah lagi ma." Ucap Kevin cepat. " Oh iya, dimana." Mamanya penasaran, sebagai ibu-ibu jika ada barang yang lebih murah pasti mereka langsung antusias semangat. " Di pasar tradisional." Ucap Kevin cepat. " Seberapa murahnya dari sini." Tanya mamanya. " Ya aku enggak tau, aku tidak pernah masak. Mana aku tau selisih harganya. Cuma sudah rahasia umum, kalau pasar tradisional harganya lebih miring di bandingkan di supermarket. Karena di pasar kita bisa menawar." Ucap Kevin menjelaskan. " Kapan-kapan kamu ajak mama kesana." Kevin memicingkan matanya, dia belum pernah ke pasar sama sekali tapi dia harus menuruti permintaan mamanya. " Tapi biasanya pasar tradisional becek ma." Ucap Kevin cepat. " Apa becek?" Nyonya Paula terlihat bingung. " Becek itu, banyak genangan air di mana-mana, beda sama di supermarket jalannya mulus seperti jalan tol." Ucap Kevin cepat. " Oh gitu ya, enggak apa-apa, tapi lebih baik mama minta wanita itu mengantarkan mama ke pasar tradisional. Pasti dia bisa membantu mama untuk menawar harga belanjaan. Kalau kamu belum tentu bisa menawar harga." Ucap mamanya cepat. " Ya betul sekali." Ucap Kevin tertawa. " Nanti kapan-kapan mama akan mengenalkan kamu dengannya." Ucap Nyonya Paula lagi. " Untuk apa mama mengenalkan aku dengan teman mama itu." Ucap Kevin cepat. " Ya, tidak apa-apa. Mana tau kalian bisa berteman juga." Ucap mamanya. " Atau mama pengen menjodohkan aku lagi." Goda Kevin. " Kamu itu, Jasmin saja enggak habis malah mau minta dua." Ucap mamanya. Semua keperluan dapur dan perlengkapan dapur sudah di beli. Mereka kembali ke mobil menuju rumah. Menik pulang ke rumahnya dengan menggunakan motor adiknya. Sesampainya di rumah, dia meletakkan belanjaannya ke dalam sebuah keranjang. Menik memang tidak membeli banyak belanjaan karena dia tidak punya kulkas untuk menyimpan belanjaannya, jadi dia hanya membeli untuk hari itu saja. " Kakak dari supermarket." Tanya Bima. " Iya." Ucap Menik sambil merapikan belanjaannya. " Kenapa kakak belanja di supermarket." Tanya Bima sambil membaca tulisan supermarket yang ada di kantong plastik. " Ya pengen aja belanja seperti orang kaya, yang selalu belanja ke sana." Ucap Menik cepat. " Kak jangan mimpi di siang bolong, kita itu orang susah, kan sayang uangnya." Gerutu Bima. " Aduh kamu itu cerewet banget sih, kakak itu tadi mau beli sesuatu di supermarket tapi dari pada kakak mampir ke pasar lagi untuk beli belanjaan mending kakak beli di sana. Hitung-hitung hemat bensin." Ucap Menik cepat. " Ya terserahlah, cuma jangan boros aja." Ucap adeknya sambil meninggalkan kakaknya yang akan memasak. Menik membayangkan pertemuannya dengan Nyonya Paula. " Kenapa wajah ibu itu seperti tidak asing ya, aku seperti pernah melihatnya. Tapi di mana ya." Gumam Menik pelan. Dia melanjutkan masakannya, dan suara ponselnya berdering. Dia mengangkat ponselnya. Di mobil. Nyonya Paula menghubungi nomor Menik. " Mama mau menghubungi siapa." Tanya Kevin. " Itu wanita yang membantu mama." Ucap mamanya cepat sambil menekan nomor Menik. " Halo." Ucap Nyonya Paula. " Halo ini siapa." Jawab Menik. Dia tidak menyimpan nomor Nyonya Puala, karena dia memang tidak menanyakan nomor ponsel wanita paruh baya itu. " Halo ini saya Paula, kita tadi bertemu di supermarket. Apa kamu ingat." Ucap Nyonya Paula. Kevin hanya melirik sekilas mamanya dan kembali menatap lurus kedepan. " Oh Ibu, iya saya ingat. Ada apa ya." Ucap Menik bingung. " Bisakah kamu menemani saya ke pasar tradisional." Ucap Nyonya Paula pelan. " Sekarang." Tanya Menik cepat. " Bukan sekarang, kapan kamu ada waktu saja." Ucap Nyonya Paula lagi. " Saya hanya bisa hari sabtu dan minggu bu. Kalau hari biasa saya kerja." Jawab Menik cepat. " Baik tidak apa-apa, sabtu depan akan saya hubungi lagi. Terimakasih ya." Ucap mamanya pelan kemudian menutup panggilannya. Nyonya Paula melihat anaknya yang sedang menyetir mobil. " Dia hanya bisa sabtu dan minggu." Ucap Nyonya Paula. Kevin tidak menjawab dia hanya melirik mamanya sekilas. " Sepertinya dia anak yang baik, mama akan belajar banyak hal dengannya." Ucap mamanya cepat. " Maksud mama apa." Tanya Kevin bingung. " Mama baru pertama kali menginjakkan kaki di sini, banyak hal yang tidak mama ketahui di sini. Seperti budaya dan lainnya. Apa salahnya mama belajar." Ucap mamanya semangat. " Aku bisa mengajarkan mama tentang adat istiadat di sini." Ucap Kevin cepat. " Mama kurang yakin sama kamu, karena kamu besar di Inggris jadi menurut mama hal-hal seperti itu kamu kurang paham. Lebih baik mama belajar sama penduduk asli sini." Ucap mamanya cepat. " Dari tadi mama hanya menyebutkan wanita itu tanpa menyebutkan namanya. Memangnya mama tidak ingat namanya." Tanya Kevin cepat. " Mama ingat namanya, kalau tidak salah namanya Ma." Ucapan Nyonya Paula menggantung, dia menunjukkan ponselnya kepada anaknya. Karena dia susah menyebutkan nama wanita yang barusan di kenalnya. Nyonya Paula memberi nama Menik di ponselnya dengan nama Manek. Karena menurut bahasa Inggris, untuk huruf e adalah huruf a dan huruf i adalah huruf e. Jadi dia menyebut nama Menik dengan sebutan Manek. Kevin melirik mamanya. " Lucu namanya." Ucap Kevin cepat. " Iya, dia memang lucu sama seperti namanya." Ucap mamanya. Mendengar nama itu Kevin sempat memikirkan Menik, tapi dia berusaha untuk tidak menghubungkan nama yang di sebut mamanya dengan nama wanita pujaan hatinya. Karena menurutnya ejaannya berbeda. Mobil yang di kendarai Kevin sudah tiba di rumahnya. Mereka masuk ke dalam rumah dengan membawa banyak belanjaan. Begitu pintu di buka, Nyonya Paula melihat anak gadisnya sedang baring di sofa. " Dasar gadis pemalas. Kerjaan kamu sudah selesai belum." Ucap mamanya marah. " Capek ma, aku sudah membersihkan lantai atas, lantai ini belum. Aku butuh istirahat ma." Gerutu Jesy. " Alasan saja." Ucap mamanya cepat " Sudah ma, jangan di paksakan, kita juga baru tiba dari luar negeri. Besok kita bersihkan bersama-sama." Ucap Kevin cepat. " Kak cepat kakak carikan pembantu, aku tidak sanggup kalau setiap hari harus membersihkan rumah kakak yang besar ini." Gerutu Jesy lemas. " Iya nanti kakak carikan pembantu secepatnya." Jawab Kevin cepat. " Apa mama minta bantuan sama si Manek aja ya." Ucap mamanya cepat. " Siapa itu ma." Tanya Jesy. " Teman mama, kami tadi baru bertemu di supermarket, dia banyak membantu mama tadi sana." Ucap mamanya cepat. " Nama yang lucu." Gumam Jesy cepat. " Ma jangan gampang percaya sama orang lain. Untuk urusan pembantu biar aku yang cari." Ucap Kevin cepat. " Menurut mama dia wanita yang baik, tapi sudahlah mama serahkan semua sama kamu." Ucap mamanya cepat. " Like, komen dan vote yang banyak ya terimakasih." Chapter 323 episode 322 (S2) Bulan sudah kembali sembunyi di dalam bayang-bayang. Karena telah tiba waktunya sang mentari menunjukkan kemilau indahnya. Zira telah berkutat di dapur dengan bi Inah. Tidak pernah sedikitpun dia melewatkan membuat makanan untuk suami tercintanya. Ziko sedang bersiap-siap di kamar. Ada suara pintu di ketuk. " Biar saya yang buka." Ucap bi Inah. Wanita paruh baya itu berjalan ke ruang tamu, dan membuka pintu rumah. Di depannya sudah ada sosok pria yang di kenalnya. " Eh asisten Kevin, silahkan masuk. Ucap bi Inah. " Terimakasih bi." Ucap Kevin sambil ikut masuk ke dalam rumah itu. " Tuan muda lagi bersiap-siap, dan nona Zira lagi di dapur." Ucap bi Inah. " Ya sudah, saya tunggu di sini saja." Ucap Kevin sambil duduk di sofa ruang tamu. Bi Inah kembali ke dapur untuk membantu majikannya. " Siapa yang datang bi." Tanya Zira. " Assisten Kevin nona." Jawab bi Inah. Zira langsung mencuci tangannya. " Bi lnah lanjutkan." Ucap Zira sambil berlalu meninggalkan wanita paruh baya itu di dapur. Zira mendatangi ruang tamu. " Pagi nona." Ucap Kevin sopan. " Kapan kamu tiba di tanah air." Tanya Zira. " Kemaren nona." Jawab Kevin. Ziko sudah selesai mengenakan jasnya. Dia keluar kamar dan langsung menuju ruang tamu, karena dia mendengar ada suara seseorang yang tidak asing di telinganya. " Pagi tuan." Sapa Kevin. " Pagi." Jawab Ziko. Zira mengajak asisten itu untuk ikut sarapan, tapi dia menolak. " Saya sudah sarapan nona." Ucap Kevin. " Setidaknya minum." Timpal Zira. Mereka menuju meja makan, Zira mempersiapkan sarapan untuk suaminya. Dan Ziko mengobrol tentang perusahaan mereka di sana. " Bagaimana dengan perusahaan kita di sana." Tanya Ziko. " Untuk sementara tidak ada pengurangan karyawan tuan, cuma jam kerja karyawan di batasi tidak ada lembur lagi. " Nanti setelah kita menjalin kerjasama dengan perusahaan Alpa corporate, mereka bisa kembali lembur." Ucap Ziko cepat. Zira duduk di sebelah suaminya. " Kamu yakin sudah makan." Tanya Zira lagi. " Sudah nona, sekarang saya tidak perlu beli makanan lagi di luar." Ucap Kevin cepat. " Maksud kamu? Menik sekarang memasakkan untuk kamu." Tanya Zira. " Bukan nona, orang tua saya sudah ikut kesini." Jawab Kevin pelan. Ziko langsung memberhentikan makannya. " Bagaimana bisa keluarga kamu ikut kesini, bukannya papa kamu masih bekerja di perusahaan ternama di Inggris." Tanya Ziko. " Karena kondisinya yang sakit, papa saya tidak bekerja lagi." Ucap Kevin. " Sakit apa papa kamu." Tanya Zira. " Stroke nona." Ucap Kevin. Dia menceritakan kisah orang tuanya yang hidup susah di London, tapi dia tidak menceritakan apa yang menyebabkan papanya sakit stroke. " Oh kasihannya, jadi karena sakit makanya mereka hidup susah." Ucap Zira prihatin. " Dengan seperti ini masalahmu dengan orang tua kamu sudah selesai." Tanya Ziko. " Sudah tuan." Ucap Kevin cepat. Masalah dengan orang tua saya sudah selesai, tapi saya telah membuat masalah yang baru. Setelah selesai makan mereka berangkat ke kantor. Zira belum berangkat ke butik, karena suaminya belum mengizinkannya, hanya dua pria itu saja yang berada di mobil. Mobil sudah tiba di kantor, loby sudah terlihat sepi dari para karyawan, karena jam kerja sudah di mulai. Dua orang penting di perusahaan itu jalan beriringan menuju lift khusus presiden dalam beberapa detik sudah sampai di lantai ruangan mereka. Ziko langsung menuju ruangannya, dan Kevin juga menuju ruangannya. Koko melihat kedatangan Kevin, ketika bosnya Ziko sudah masuk ruangannya. Koko langsung menghubungi nomor pantry. " Halo Menik." Ucap Koko cepat. " Ini siapa." Tanya Menik cepat. Dia kurang paham dengan suara pria gemulai itu ketika didalam saluran telepon suaranya berbeda. " Ini aku Koko." " Oh Koci. Ada apa." Tanya Zira. " Pak Kevin sudah datang." Ucap Koko cepat. " Oh ya." Menik langsung menutup telepon itu. Dia menyiapkan kopi untuk Kevin, dengan hati yang berdebar-debar dia berjalan menuju ruangan Kevin sambil membawa gelas kopi di tangannya. Pintu di ketuk, tok tok tok. " Masuk." Ucap Kevin. Menik masuk secara perlahan sambil tersenyum. Kevin kaget, dia ingin membalas senyuman yang diberikan Menik kepadanya, tapi dia berusaha untuk menahan rasa rindunya. " Pak ini kopi buat bapak." Ucap Menik pelan sambil meletakkan gelas yang berisi kopi di atas meja. Kevin ingin menolak minuman yang di buatkan Menik untuknya karena dia sudah minum kopi sebelumnya di rumah bosnya, tapi dia tidak ingin menyakiti perasaan wanita itu. " Terimakasih." Ucap Kevin sambil mengalihkan pandangannya ke arah laptopnya. Menik masih berdiri dengan hati yang berdebar-debar. " Bapak apa kabar." Tanya Menik pelan. " Baik." Jawab Kevin cepat tanpa melihat ke arah Menik. Menik berharap pria di depannya menanyakan kabarnya. Tapi sama sekali Kevin tidak menanyakan hal tentang dirinya. Kenapa dia tidak bertanya keadaanku. Apa dia tidak rindu kepadaku. " Pak mengenai jawaban yang kemaren, saya mau mengatakan kalau." Menik belum sempat menyelesaikan kalimatnya tapi Kevin langsung beranjak dari kursinya. " Saya harus ke ruangan bos." Ucap Kevin langsung meninggalkan Menik yang masih berdiri diam mematung. Kevin berjalan menuju ruangan Ziko. Menik maafkan diriku ini, aku tau kamu ingin mengutarakan perasaanmu kepadaku. Aku sangat mencintaimu, tapi kondisiku mengharuskan kita harus berjauhan. " Ada apa dengan Pak Kevin? Kenapa dia seperti orang asing. Apa yang terjadi dengannya." Gumam Menik pelan sambil keluar dari ruangan bosnya. " Mungkin dia letih. Baiklah aku akan menunggu waktu yang tepat untuk mengutarakan perasaanku." Gumam Menik sambil kembali ke pantry. Menik menuju pantry dan dia melirik Koko, pria gemulai itu juga meliriknya. Koko mencoba menghubunginya dengan telepon yang ada di mejanya. " Halo Menik, bagaimana? Apa kamu sudah mengutarakan perasaanmu." Tanya Koko. " Belum, tadi aku mau mengatakan kepadanya, tapi dia langsung beranjak dari kursinya. Sepertinya Pak Kevin sangat sibuk." Ucap Menik cepat. " Mungkin juga, Pak Kevin seperti ada masalah." Ucap Koko lagi. " Maksud kamu apa." Tanya Menik. " Tadi bapak itu jalan menuju ruangan presiden direktur sambil menundukkan kepalanya." Ucap Koko cepat. " Memangnya dengan menundukkan kepala, bisa terlihat banyak masalah." Tanya Menik lagi. " Bisalah, biasanya bapak itu selalu jalan dengan mengangkat kepalanya, tapi sekarang dia jalan menunduk, dengan ibarat ada beban di bahunya." Ucap Koko dari ujung telepon. " Mungkin ada masalah perusahaan atau malah masalah yang lain." Menik mencoba menerka-nerka. " Entahlah, tapi sepertinya masalahnya sangat berat, beliau terlihat tidak bersemangat." Ucap Koko lagi. " Like, komen dan vote yang banyak ya terimakasih." Chapter 324 episode 323 (S2) Kevin berada di ruangan bosnya. Dia masih saja menundukkan kepalanya sambil duduk di sofa. " Kamu kenapa." Tanya Ziko. " Tidak ada apa-apa tuan." Ucap Kevin pelan. " Jangan bohong, aku sudah mengenalmu lama, pasti ada yang kamu sembunyikan." Ucap Ziko cepat. " Tidak tuan, mungkin badan saya masih terlalu letih." Ucap Kevin asal agar terhindar pertanyaan dari bosnya. Ziko menatap tajam wajah asistennya. " Bisa juga kamu letih." Ucap Ziko. " Saya juga manusia tuan, mungkin kalau saya pasukan Avengers rasa letih seperti ini tidak akan pernah di rasakan." Ucap Kevin cepat. Ziko manggut-manggut. " Kalau kamu belum mau menceritakan masalahmu kepadaku tidak masalah. Tapi saranku apapun masalah yang kamu hadapi selesaikan secepatnya jangan sampai masalah itu meledak seperti bom waktu." Ucap Ziko. Kevin mendengarkan nasehat bosnya, apa yang dikatakan Ziko semua benar, setiap masalah harus di selesaikan secepatnya agar tidak berkepanjangan dan tidak banyak yang tersakiti. " Baiklah tinggalkan masalahmu, istriku sudah menghubungi modelnya, dan rencana Zira akan membuat Menik cemburu akan berlanjut di kapal pesiar." Kevin diam, dia berbicara melalui batinnya. Tuan tidak perlu anda membuat rencana itu, karena saya sudah tau perasaan Menik kepada saya. " Kenapa kamu diam." Tanya Ziko. " Tidak tuan, apa rencana itu harus kita lakukan." Ucap Kevin ragu. " Kenapa? Bukannya kamu sudah setuju dengan rencana istriku." Ucap Ziko. " Iya tuan, tapi." " Enggak ada pakai tapi, ikuti saja arahan dari istriku. Dan semoga si Menik cemburu, dan jika dia sudah cemburu, kamu langsung tembak dia." Ucap Ziko semangat. " Mati dong." Ucap Kevin cepat. " Ah itu hanya ungkapan saja, pasti kamu tau harus melakukan apa setelah rencana istriku berhasil." Ucap Ziko semangat. Tuan sia-sia saja anda dan nona Zira menyewa model untuk membuat Menik cemburu, sebelum rencana itu terjadi saya harus mengatakan sejujurnya kepada Menik. " Baik tuan." Ucap Kevin. " Tapi kenapa tuan terlihat semangat sekali untuk acara nanti." Tanya Kevin. " Jelas aku semangat, sudah sekian lama toleku merana, sebentar lagi dia akan masuk ke dalam gawang." Ucap Ziko cepat. Kevin memicingkan matanya. " Maaf tole itu apa ya." Kevin bingung dengan istilah yang di sebutkan bosnya. Ziko menggaruk rambutnya. " Ubi kayu tau." Tanya Ziko. " Tau tuan." Ucap Kevin cepat. " Nah itu dia." Ucap Ziko cepat. " Ubi kayu sama tole, bukannya sesuatu yang berbeda tuan." Tanya Kevin lagi bingung. Kevin sudah melupakan istilah-istilah yang sering di sebutkan Zira. " Ah kamu kelamaan kawin, makanya buruan." Ucap Ziko cepat. " Oh ubi yang itu? Saya pikir ubi kayu yang untuk di buat tape." Ucap Kevin mulai nyambung. " Lah iya yang itu, makanya cepatan sadar dari kesendirian." Ucap Ziko. " Baik tuan, kalau seandainya jodoh saya bukan Menik bagaimana tuan." Tanya Kevin balik. " Kamu kok nanya ke aku, seharusnya pertanyaan itu kamu sendiri yang jawab." Ucap Ziko balik melempar pertanyaan balik kepada asistennya. " Enggak tau saya tuan, tidak bisa mikir." Ucap Kevin sambil menyandarkan kepalanya di sandaran sofa. " Kalau bukan jodoh mau bagaimana lagi, setidaknya cinta itu harus di perjuangkan, seperti cintaku dan mulut micinku." Ucap Ziko membayangkan perjuangan cintanya untuk mendapatkan kepercayaan dari istrinya. Mendengar kata memperjuangkan cinta, Kevin mengurungkan niatnya untuk berkata jujur kepada Menik, dia masih harus banyak berjuang. " Vin, jangan lupa seminggu lagi kita akan trip naik kapal pesiar, kamu cek kapal pesiar apa yang trip seminggu lagi." Perintah Ziko. " Baik tuan." Pintu ruangan Ziko di ketuk. " Masuk." Ucap Ziko. " Tuan ada tamu." Ucap Koko cepat. " Siapa?" " Katanya sepupu anda Rudi." Ucap Koko cepat. Kevin langsung menoleh dengan cepat ke arah pria gemulai itu. " Oh iya aku hampir lupa, suruh dia masuk." Ucap Ziko cepat. " Baik tuan." Koko pergi meninggalkan ruangan presiden direktur dan kembali ke mejanya, untuk menghubungi kembali resepsionis. Kevin masih duduk di sofa. " Kamu ngapain? Cepat kerjakan yang aku perintahkan tadi." Ucap Ziko cepat. Kevin ingin selalu berada di ruangan itu, dia merasa cemburu mendengar Rudi di sebutkan di ruangan itu. Ziko sepertinya melupakan sesuatu tentang hubungan sepupunya dengan Menik. Dengan langkah gontai Kevin melangkahkan kakinya beberapa langkah, kemudian dia berhenti. " Vin, bilang sama office girl itu siapkan kopi dua." Ucap Ziko. " Baik tuan." Ucap Kevin cepat. Kevin keluar dari ruangan itu, dari jauh dia sudah melihat sosok bayangan yang menjadi rivalnya. " Selamat siang asisten Kevin." Ucap Rudi ramah. Kevin hanya menganggukkan kepalanya cepat. Dia berjalan menuju pantry, di pantry Menik sedang merebahkan kepalanya di atas meja. " Uhuk-uhuk." Kevin pura-pura batuk. Menik langsung berdiri ketika mendengar suara orang lain di dalam ruangan itu. " Eh Bapak." Ucap Menik sambil berdiri. " Tuan muda minta di buatkan kopi dua." Ucap Kevin cepat. " Baik." Ucap Menik langsung sigap membuat kopi. Kevin memperhatikan tubuh Menik dari belakang. Ingin rasanya dia memeluk tubuh wanita itu. Rasa rindunya sudah sangat teramat dalam kepada sosok wanita di hadapannya. Menik sudah meletakkan kopi itu di atas gelas dan nampan. " Biar saya yang bawa." Ucap Kevin cepat. " Kenapa Pak? Ini kan tugas saya." Ucap Menik cepat. " Pokoknya biar saya yang mengantarkan kopi ini ke ruangan bos besar." Ucap Kevin tegas. " Bapak kenapa sih? Pak ini tugas saya, kalau sampai Bapak membawa nampan ini ke dalam, bos besar dan tamunya pasti akan curiga." Ucap Menik cepat. " Curiga apanya." Tanya Kevin cepat. " Mereka pasti berpikiran kalau bapak sudah beralih profesi jadi official boy, atau malah mereka tambah berfikir kalau kita sedang menjalin kasih, karena bapak mau membantu saya." Ucap Menik cepat. " Itu perasaan kamu saja." Ucap Kevin sambil memegang nampan dengan wajah datar. Menik melihat wajah datar pria di depannya. " Bapak kenapa? Apa ada masalah." Tanya Menik lagi. Kevin mencoba mengalihkan pandangannya agar tidak di lihat oleh Menik. " Saya akan membawa ini ke ruangan bos Ziko." Ucap Kevin cepat. " Pak ini tugas saya, jangan sampai karyawan melihat ini berpikir negatif tentang saya." Ucap Menik khawatir. Karena sebelumnya tentang hubungan mereka di kantor sudah menjadi bahan cerita karyawan, dan dia tidak mau jika karyawan berpikiran jelek lagi tentangnya. " Pokoknya saya bilang tidak ya tidak." Ucap Kevin emosi. Menik kaget dia memegang dadanya, selama dia bekerja dan dekat dengan pria di depannya ini kali kedua dia dibentak Kevin, yang pertama ketika dia merusak mobil dan menyiram wajah Kevin dengan air dan yang kedua ini. " Kenapa Bapak marah sama saya? Apa salah saya? Apa Bapak tidak mempunyai perasaan lagi untuk saya." Menik mengajukan beberapa pertanyaan kepada Kevin. Kevin tidak menjawab dia hanya diam. Menik langsung menyambar nampan yang ada di atas meja. " Menik tunggu." Ucap Kevin sambil menahan lengan Menik. " Lepaskan tangan Bapak dari lengan saya. Tidak perlu bapak jelaskan apapun kepada saya, semua sudah bisa terbaca." Ucap Menik ketus. " Maksud kamu apa." Tanya Kevin bingung. " Bapak tidak usah pura-pura tidak tau, saya wanita sikap Bapak itu berubah 180 derajat. Beda sekali sebelumnya, sekarang setelah kembali dari luar negeri perubahan itu semakin jelas." Ucap Menik cepat. " Menik kamu salah." Ucap Kevin cepat. Menik meletakkan kembali nampan itu di atas meja. " Ya saya salah, karena telah percaya bujuk rayu anda dan cinta palsu anda." Ucap Menik cepat. " Nik, ini bukan seperti yang kamu pikirkan." Ucap Kevin pelan. Menik menatap tajam wajah pria di depannya. " Walaupun anda tidak mengatakan secara langsung tapi saya bisa membacanya, dan tadi di ruangan anda, saya ingin mengatakan kalau saya bersedia menikah dengan anda. Tapi sepertinya kata-kata itu akan saya kubur dalam-dalam." Ucap Menik tegas. Kevin diam, raut wajah dan sikapnya bisa terbaca oleh Menik. " Oh iya Bapak yang terhormat, saya bukan wanita yang cengeng, jangan anda pikir air mata saya akan menetes untuk anda. Tapi perlu anda ketahui perang baru di mulai." Ucap Menik tegas sambil berlalu membawa nampan meninggalkan Kevin sendirian di dalam pantry. Kevin terdiam, dia merasa bersalah. Ancaman Menik membuatnya tambah merasa bersalah. " Like, komen dan vote yang banyak ya terimakasih." Chapter 325 episode 324 (S2) Menik mengetuk pintu ruangan presiden direktur sambil membawa nampan. " Masuk." Ucap Ziko cepat. Menik membuka pintu secara perlahan dan meletakkan nampan di atas meja. Ziko dan Rudi sedang ngobrol di sofa. Ketika Menik meletakkan kopi untuk keduanya. Tidak sengaja tatapannya dan Rudi bertemu, keduanya kaget. Secara Rudi tidak mengetahui kalau Menik bekerja di perusahaan sepupunya, dan Menik tidak tau kalau tamu bosnya adalah mantannya. " Menik." Ucap Rudi cepat. Menik langsung berdiri. " Permisi." Ucap Menik meninggalkan ruangan itu. Ziko melihat keduanya, dia mencoba menghubungkan antara keduanya. " Permisi Ko." Ucap Rudi sambil beranjak dari sofa. Ziko menganggukkan kepalanya, dia sudah ingat kalau sepupunya pernah menjalin hubungan dengan pekerjanya. Menik berjalan terburu-buru menuju pantry. " Menik tunggu." Ucap Rudi sedikit berteriak. Koko yang sedang fokus dengan pekerjaannya, melihat kejadian itu. Dia mencoba menerka-nerka apa hubungan antara sepupu bosnya dengan temannya. Menik masih terus melangkahkan kakinya sampai dia berhenti, karena ada sosok Kevin di depan pintu pantry. Menik membalikkan badannya melihat ke arah Rudi. " Ada apa." Ucap Menik sambil melirik kearah Kevin. " Apa kamu ada waktu sore ini." Tanya Rudi pelan. Menik sebenarnya sudah malas berbicara dengan Rudi, tapi dia sedang memulai perang dengan Kevin dan alat perangnya adalah mantannya. " Ada." Ucap Menik dengan suara sedikit kencang agar terdengar oleh Kevin. Bukan hanya Kevin yang mendengar, Koko juga mendengar ucapan Menik. " Bagaimana kalau pulang kerja aku jemput kamu." Ucap Rudi pelan. " Ok, nanti tunggu saja aku di depan ya." Ucap Menik kencang. Rudi sambil memundurkan kepalanya karena suara Menik sangat kencang. " Terimakasih Menik." Ucap Rudi pelan. " Sama-sama Rudi." Ucap Menik dengan suara yang masih kencang. Rudi kembali ke ruangan sepupunya. Dan Menik kembali masuk ke dalam pantry sambil melewati Kevin. " Nik, kamu mau pulang bareng dia." Tanya Kevin. Menik tidak menjawab, dia hanya sibuk mencuci nampan yang baru selesai di gunakannya. " Nik, jawab saya. Kamu mau pulang bareng Rudi." Ucap Kevin sambil menatap wajah Menik. " Bukan urusan bapak." Ucap Menik ketus. " Nik, jelas itu urusan saya karena saya..." Kevin berhenti dengan kalimatnya. " Karena saya apa? Kenapa tidak di lanjutkan." Ucap Menik ketus. " Nik, saya mengaku salah. Tapi apa yang kamu pikirkan tentang saya semuanya salah." Ucap Kevin memelas. Menik menoleh dan menatap tajam wajah pria yang di cintainya. " Jelaskan pada saya, kalau apa yang ada dalam pikiran saya semuanya salah." Ucap Menik cepat. Kevin diam, menurutnya belum waktunya dia mengatakan hal yang sebenarnya, bukan karena takut. Tapi status hubungannya dengan Jasmin belum jelas. " Ayo." Ucap Menik cepat. " Belum waktunya saya mengatakan kepada kamu, tapi asalkan kamu ketahui kalau saya sangat mencintaimu." Ucap Kevin pelan. " Pergi bapak dari sini. Jangan pernah mengatakan cinta lagi di hadapan saya." Ucap Menik marah. " Cintamu palsu." Ucap Menik teriak. Waktu sudah menunjukkan jam istirahat. Banyak karyawan yang wara wiri keluar dari ruangan. Kevin langsung meninggalkan pantry. Hanya Menik sendirian di ruangan itu. Di dalam ruangannya Kevin terlihat kesal dan marah. Dia tidak tau mau marah sama siapa. Yang jelas dia merasa cemburu dan tidak rela jika Menik kembali dengan mantannya. Koko pergi ke kantin, dia lebih memilih makanannya di bungkus. Dia merasa penasaran dengan sikap Menik. Office girl itu terlihat diam membisu di pantry. Dia tidak menyadari kehadiran Koko di sebelahnya. " Menik ini makanan untuk kamu." Ucap Koko sambil menyerahkan satu bungkus nasi di hadapan Menik. " Terimakasih, aku masih kenyang." Ucap Menik bohong. " Menik ini sudah siang, makanlah." Ucap Koko pelan. Menik hanya melihat bungkus nasi di depannya, dia tidak semangat untuk menyentuh makanan itu. " Kamu bisa ceritakan kepadaku, agar beban yang kamu rasakan lebih ringan." Ucap Koko sambil mulai menikmati makan siangnya. Menik hanya melihat Koko sekilas, kemudian dia menundukkan kepalanya. " Kamu benar." Ucap Menik pelan. " Benar apanya." Tanya Koko. " Sebelumnya kamu pernah berkata kepadaku untuk mengutarakan perasaanku kepada Pak Kevin, tapi aku menundanya sampai kepulangannya ke tanah air." Ucap Menik pelan. Koko mendengar perkataan Menik dengan cermat. " Dia sudah berubah Ko." Ucap Menik dengan mata berkaca-kaca. " Dia tidak seperti sebelumnya, dia bukan pria yang mencintaiku, dirinya seperti orang asing." Air mata Menik menggantung. " Keluarkan saja air matamu jika itu membuatmu lega." Ucap Koko pelan sambil melihat Menik lembut. Menik berusaha untuk menahan air matanya untuk tidak menetes, tapi bulir air matanya mengalir dengan sendirinya. " Stop air mata, jangan keluar. Aku sudah biasa dengan hal ini." Gerutu Menik sambil mengusap air matanya. Koko masih membiarkan wanita di depannya mengeluarkan semua keluh kesahnya. Menurutnya dengan berbicara dengan seseorang beban itu sedikit berkurang. " Nik, apa kamu yakin perubahan dalam dirinya." Tanya Koko pelan. " Iya aku yakin." Ucap Menik sedikit emosi. " Dari mana kamu yakin." Tanya Koko cepat. " Kamu tau, dia tidak pernah memarahiku sedikitpun tapi hanya karena aku ingin membawa nampan dia membentakku. Dia bukan Kevin yang dulu pernah mengutarakan rasa cintanya kepadaku, dia orang asing." Gerutu Menik. Koko mencoba memikirkan sesuatu dan menghubungkan semuanya. Selama dia dan Menik bekerja di situ, jika ada tamu Ziko pasti yang mengantarkan minuman selalu office girl itu, tapi tadi merupakan hal yang janggal menurutnya. " Nik, apa kamu kenal dengan sepupu tuan muda." Tanya Koko. Menik menganggukkan kepalanya. " Maaf Nik, bukannya aku mau ikut campur dengan masalah kamu, kalau boleh aku tau, kapan kamu kenal dengan sepupu tuan muda." Tanya Koko. " Dia mantanku." Ucap Menik pelan. Koko sedikit kaget. " Apa pak Kevin paham mengenai ini." Tanya Koko lagi. Menik menganggukkan kepalanya lagi. " Ah aku tau sebabnya kenapa pak Kevin marah kepadamu." Ucap Koko sambil tersenyum. " Apa." Tanya Menik sambil mengangkat kepalanya. " Dia cemburu." Ucap Koko cepat. Menik menggelengkan kepalanya cepat. " Iya Nik, dia itu cemburu kamu dekat dengan sepupu tuan muda. Buktinya tadi pak Kevin jutek melihat kamu bicara dengan mantanmu." Ucap Koko cepat. Menik mencoba menelaah ucapan temannya. " Nik, apa kamu tadi sengaja bicara dengan mantanmu dengan suara yang cukup kencang." Tanya Koko pelan. Menik menganggukkan kepalanya. " Kamu pasti ingin membuat pak Kevin cemburukan." Tanya Koko lagi. Lagi-lagi Menik menganggukkan kepalanya. " Bagaimana sikap pak Kevin melihat kamu dekat kembali dengan mantanmu." " Dia marah dan kesal." Ucap Menik pelan. " Nah, berarti pak Kevin masih cinta sama kamu." Ucap Koko menyemangati Menik. " Tapi sikap dia berubah, dia seperti menghindariku." Ucap Menik pelan. " Mungkin dia ada masalah yang lain, sehingga membuat suasana hatinya tidak menentu." Ucap Koko mencoba menerka-nerka. " Mungkin kamu benar, tapi genderang perang sudah aku tabuhkan." Ucap Menik mantap. " Kenapa Nik, bukannya kamu masih mencintainya." Tanya Koko bingung. " Maaf Ko, apapun masalahnya tidak seharusnya dia menjauhi aku. Apa salahnya dia bicara kepadaku. Bukan cara seperti ini." Gerutu Menik. " Aku memang tidak tau masalah yang di hadapi pak bos. Jika dia berkata jujur kepadamu tentang masalahnya. Apa kamu mau menerimanya kembali." Tanya Koko lagi. " Tergantung masalahnya seperti apa. Kalau masalahnya dia sudah punya kekasih lain, dengan terpaksa aku harus menjauh. Lagian hubungan kami gelap." Ucap Menik cepat. Koko merasa hubungan percintaan sangat sulit di pahami. Kadang senang kadang sedih. Dan sekarang terbukti tidak semua orang memahami arti cinta sebenarnya. " Like, komen dan vote yang banyak ya terimakasih." Chapter 326 episode 325 (S2) Hari sudah sore wakutnya semua karyawan yang bekerja di gedung Rahasrya group pulang. Ziko dan Kevin juga bergegas pulang, Kevin mengambil mobil di area parkiran dan Ziko menunggunya di pintu loby. Dari jauh Kevin melihat Menik jalan keluar area perkantoran, wanita itu masuk ke dalam salah satu mobil. " Sialan, dia pulang bareng si Rudi." Gerutu Kevin. Mobil yang di kendarai Kevin sudah tiba di depan loby ketika bosnya sudah naik. Kevin langsung menekan pedal gasnya dengan kencang karena Ziko belum duduk dalam posisi yang benar sehingga membuat tubuhnya terhuyung ke samping. Prok Ziko memukul lengan asistennya. " Kenapa kencang." Ucap Ziko cepat. " Maaf tuan." Ucap Kevin. Kevin ingin mengikuti mobil Rudi, dia tidak ingin kehilangan jejak mobil itu. Ziko tidak mengetahui kalau asistennya sedang mengikuti mobil sepupunya. " Tuan, apa kita tidak makan di luar." Ucap Kevin pelan. Kevin bisa menebak kalau Rudi pasti membawa Menik ke tempat makan. " Untuk apa, aku punya istri. Pasti istri tercintaku sudah masak enak." Jawab Ziko cepat. Di mobil. " Nik, kita makan dulu ya." Ucap Rudi pelan. " Terimakasih, aku ingin cepat-cepat pulang." Ucap Menik menolak. " Ayolah, setidaknya kamu minum ya." Ajak Rudi. Dengan berat hati Menik menganggukkan kepalanya. Sebenarnya dia tidak ingin berlama-lama dengan Rudi, tapi dia mengetahui kalau mobil yang di kendarai Kevin mengikuti mereka. Rudi memberhentikan mobilnya di sebuah cafe. Mobil sudah masuk ke area parkir dan memarkirkan kendaraan. Kevin melihat dari jauh, setelah di lihatnya mobil Rudi sudah parkir sempurna, dia langsung menekan pedal gas dengan kencang. " Jangan kencang-kencang." Ucap Ziko cepat. " Maaf tuan." Ucap Kevin. " Kamu kalau mau bunuh diri jangan ajak aku." Ucap Ziko cepat. " Tidak tuan, saya hanya kebelet." Ucap Kevin asal. " Dasar, sudah mampir saja di pom bensin. Jangan sampai kamu ngompol di sini." Ucap Ziko cepat. Kevin tidak menjawab, ketika ada pom bensin, dia sama sekali tidak memberhentikan mobilnya di situ. " Kenapa tidak berhenti? Tadi kamu bilang kebelet." Ucap Ziko. " Masih bisa di tahan tuan." Ucap Kevin. Ziko menggelengkan kepalanya. Mobil sudah sampai di depan kediaman rumah Ziko. Zira langsung membuka pintu rumahnya untuk menyambut suami tercinta. Ziko langsung memeluk dan mengecup bibir istrinya. Kevin langsung beranjak pergi dari situ. " Vin, tadi kamu bilang kebelet. Kenapa tidak masuk dulu." Ucap Ziko. " Enggak jadi tuan, saya permisi dulu." Ucap Kevin cepat langsung melanjukan mobilnya. Di cafe Menik dan Rudi duduk berhadapan. Mereka sedang menunggu makanannya. " Aku dengar dari Ziko kalau mereka akan mengadakan trip naik kapal pesiar. Apa kamu tau itu." Tanya Rudi. Menik menggelengkan kepalanya. " Apa Kevin belum membicarakan hal ini kepada kamu." Tanya Rudi. Lagi-lagi Menik menggelengkan kepalanya. " Kenapa dia belum membicarakan hal ini kepada kamu, bukannya kalian sepasang kekasih." Ucap Rudi. " Aku sama dia belum ada ikatan apapun." Ucap Menik pelan. Rudi tersenyum sumringah karena peluangnya untuk mendekati Menik masih terbuka lebar. " Jadi yang aku dengar di rumah Ziko tentang kalian berdua itu tidak benar." Tanya Rudi. " Kami hanya berteman, dan aku hanya menganggapnya sebagai bosku." Ucap Menik pelan. Pelayan datang membawa makanan pesanan mereka, dan menghidangkan tepat di depan mereka. " Silahkan." Ucap Pelayan. Rudi menikmati makanannya sambil sesekali melirik Menik. Dari jauh ada sosok yang mengintip mereka yang tidak lain adalah Kevin. " Kurang ajar si Rudi, berani-beraninya dia mengambil posisiku." Gerutu Kevin. Kevin mengintip dari balik buku menu. " Maaf Pak, mau pesan apa." Tanya pelayan. " Jus jeruk saja." Ucap Kevin cepat. Pelayan menyodorkan tangannya ke arah Kevin. Dia tidak mengerti maksud pelayan itu. " Nama saya Kevin." Ucap Kevin menyalami pelayan wanita itu. Pelayan itu tersenyum simpul, dia bukan ingin berkenalan dengan pria di depannya. Walaupun dia senang seorang pria ganteng mau berkenalan dengannya. " Maaf pak, saya hanya minta itu. Bukan minta tangan bapak." Ucap pelayan sambil menunjuk buku menu yang di pegang Kevin. " Oh ini ya." Ucap Kevin gugup. Dia menyerahkan buku itu dengan sambil melirik ke meja tempat Menik dan Rudi menikmati makanannya. Kevin bingung harus menutupi wajahnya pakai apa, secara tugas dia hari ini sebagai tukang ngintip, tapi tidak ada alat yang bisa di pakainya untuk menutupi wajahnya. Hanya ada sebuah botol merica di depannya, mau tidak mau dia menutupi sebagian wajahnya dengan botol kecil itu. Walaupun botol itu tidak bisa menutupi wajahnya tapi dia tetap menggunakannya dengan meletakkan di tengah-tengah hidungnya. Menik merasa curiga dengan tingkah pria yang tidak jauh dari tempat dia duduk. Dia sudah bisa menebak pria yang duduk tidak jauh darinya adalah Kevin. " Dasar oon, mau mengintip pakai botol merica, kenapa tidak sembunyi saja di balik jarum." Gerutu Menik pelan. Rudi mendengar ucapan Menik sayup-sayup. " Kamu bicara apa." Tanya Rudi. " Oh tidak, aku tidak sedang berbicara." Ucap Menik gugup. Menik mulai membuat tingkah yang membuat Kevin cemburu. Dia membersihkan mulut Rudi dengan tisu. " Ada saos di bibir kamu." Ucap Menik bohong sambil mengelap bibir pria di depannya dengan tisu. Rudi merasa senang mendapatkan perhatian dari Menik. Dan pria yang sedang mengintip tambah cemburu. " Bisa-bisanya dia membersihkan mulut si Rudi." Gerutu Kevin. Kevin melihat botol saos ada didepannya, dia meletakkan di bibirnya. Dia juga ingin mendapatkan perhatian dari Menik. Pelayan datang dengan membawa jus jeruk pesanan Kevin. Sambil memicingkan matanya. Pelayan itu bingung karena pria di depannya tidak ada memesan makanan tapi dia heran kenapa bisa ada saos di bibir Kevin. " Maaf pak, apa bapak sangat haus." Tanya pelayan. Kevin melihat pelayan di depannya. " Kenapa." Tanya Kevin cepat. " Apa bapak baru minum saos." Tanya pelayan itu. " Tidak..." Kevin gugup sambil membersihkan mulutnya sendiri dengan tisu. " Pak saos itu bukan untuk di minum, dan pemakaiannya juga seperlunya saja. Maaf kalau minuman yang bapak pesan lambat." Ucap pelayan itu tidak enak hati. " Iya terima kasih." Ucap Kevin gugup. Dia ingin mendapatkan perhatian dari Menik, tapi malah pelayan menganggap tingkahnya salah. Menik memperhatikan tajam. " Apa pria kalau cemburu suka melakukan hal yang tidak semestinya." Tanya Menik. " Maksudnya." Ucap Rudi. " Apa kamu ketika cemburu dengan seorang wanita akan melakukan hal-hal konyol." Tanya Menik lagi sambil melirik kearah Kevin. " Kalau aku tidak melakukan hal yang konyol, kalau marah iya." Ucap Rudi. " Aku cemburu ketika kamu jalan dengan Kevin, tapi aku tidak melakukan hal yang konyol seperti menyakiti diriku sendiri. Hanya melampiaskan kemarahan dengan memukul suatu benda." Ucap Rudi. Menik masih melihat Kevin dengan tatapan seperti sinis. " Kamu melihat siapa." Tanya Rudi cepat sambil memutar kepalanya kebelakang. " Tidak ada." Ucap Menik sambil memegang pipi pria di depannya agar tidak melihat ke arah Kevin. Rudi tersenyum karena sekali lagi dia mendapatkan perhatian dari Menik. Dan Kevin langsung mencak-mencak sambil keluar dari cafe. " Like, komen dan vote yang banyak ya terimakasih." Chapter 327 episode 326 (S2) Kevin keluar dari cafe dan menunggu di mobilnya. " Nik, apa kamu mau memaafkanku." Ucap Rudi pelan. " Sudahlah jangan bahas masalah yang telah lalu, sekarang kita hanya berteman tidak lebih dari itu." Ucap Menik tegas. Rudi yang tadinya semangat sekarang menjadi lesu. " Apa tidak ada harapan untukku." Tanya Rudi pelan. " Rudi sudah aku katakan kita hanya berteman tidak lebih dari itu. Sekarang aku tanya ke kamu, kenapa kamu bertanya tentang sebuah harapan sedangkan kamu sudah bertunangan." Ucap Menik. Rudi diam sambil memandang entah kemana. " Bagaimana hubungan kamu dengan tunangan kamu." Tanya Menik. " Semua baik-baik sajakah." Tanya Menik lagi. " Iya semua baik-baik saja, tapi aku tidak mencintainya." Jawab Rudi. " Rudi coba kamu buka hatimu untuk tunanganmu, beri ruang untuknya. Jangan mengatakan tidak mencintainya sedangkan kamu belum memberi kesempatan untuk cintanya." Ucap Menik menasehati. Rudi mendengarkan nasehat dari Menik. " Tidak seharusnya kita duduk berdua di sini. Aku tidak mau di anggap perusak hubungan kalian." Ucap Menik pelan. " Tidak Menik jangan seperti itu, tunanganku lagi melanjutkan kuliahnya di luar negeri. Dia tidak akan berpikiran yang negatif tentangku." Ucap Rudi. " Kamu tidak boleh seperti itu, walaupun hubungan kalian terbentang jarak. Tapi kamu tidak boleh menghianatinya. Dan kita telah salah dalam hal ini. Terimakasih Rudi atas makan malamnya." Ucap Menik sambil berlalu meninggalkan Rudi. " Menik tunggu." Ucap Rudi. Menik menoleh ke arah Rudi. " Aku akan mencoba memberi kesempatan untuk cintanya, tapi seandainya rasa itu tidak pernah ada bagaimana? Apakah kamu akan menerimaku kembali." Tanya Rudi. " Maaf Rudi, kita hanya bisa berteman saja." Ucap Menik sambil keluar dari cafe. Rudi meletakkan beberapa lembar uang kertas di atas meja. " Nik tunggu." Ucap Rudi sambil berlari kecil mengikuti Menik dari belakang. Kevin memperhatikan mereka dari dalam mobilnya. " Apa mereka sedang bertengkar." Gumam Kevin pelan. " Nik, ok sekarang kita berteman, tapi aku mohon jangan jaga jarak lagi denganku." Ucap Rudi memohon. " Baiklah kita berteman." Ucap Menik sambil menjulurkan jari kelingkingnya kepada Rudi. Pria itu menyambut jari kelingking Menik. " Sedang apa mereka berdua. Sempat-sempatnya mereka bermain osom di parkiran." Gerutu Kevin. Menik dan Rudi masuk ke dalam mobil. Rudi berniat mengantarkan Menik pulang. Kevin mengikutinya dari belakang. " Terimakasih." Ucap Menik. " Sama-sama Nik." Rudi menurunkan Menik di ujung gang. Dia langsung melajukan mobilnya. Walaupun mereka hanya berteman tapi Rudi merasa senang, karena Menik tidak menjaga jarak untuknya. Dia yakin dengan pertemanan rasa cinta Menik akan tumbuh kembali untuknya. Menik telah sampai di depan rumahnya. Dan langsung membuka pintu rumahnya dengan kuncinya sendiri. " Kakak sudah pulang." Ucap Bima dari dalam kamarnya. " Hemmm." Ucap Menik pelan sambil melihat adiknya yang sedang berbaring di kasurnya sambil memainkan ponselnya. " Kamu ngapain." Ucap Menik ikut berbaring di kasur adiknya. " Biasa." Ucap Bima sambil menunjukkan game di layar ponselnya. Tok tok tok suara pintu di ketuk. " Kak ada tamu." Ucap Bima pelan. " Buka saja." Ucap Menik pelan sambil memejamkan matanya. Bima turun dari kasur dan berjalan menuju pintu. Dia membuka pintu rumahnya. Ada seseorang pria berdiri di depannya. " Bapak, mau cari kak Menik." Tanya Bima. " Perut saya sakit." Ucap Kevin pura-pura. Bima menggaruk kepalanya. " Pak kalau sakit ke rumah sakit bukan ke sini." Ucap Bima bingung. Kevin pura-pura memegang perutnya. " Bima siapa yang datang." Ucap Menik sedikit teriak sambil berjalan menuju ke arah Bima. Menik langsung membelalakkan matanya melihat Kevin sedang berdiri di depan rumahnya. " Mau ngapain bapak ke sini." Tanya Menik ketus. Kevin tidak menjawab yang menjawab Bima " Pak Kevin perutnya sakit. Aku sudah bilang kenapa tidak ke rumah sakit. Tapi tidak di jawab." Ucap Bima. " Kamu masuk." Ucap Menik memerintahkan adiknya untuk masuk ke dalam kamarnya. Bima langsung masuk ke dalam kamarnya sambil menutup pintu kamar. Dari balik pintu dia mencoba menguping pembicaraan kakaknya dengan bosnya. " Mau ngapain bapak kesini." Tanya Menik ketus. " Perut saya sakit." Ucap Kevin pura-pura. " Enggak usah akting." Ucap Menik jutek. " Nik, kamu ingat tidak kalau saya pernah diare, dan penyebabnya karena makanan kamu." " Dan sekarang bapak mau bilang kalau bapak lagi diare karena makan masakan saya, gitu." Ucap Menik ketus. " Jelas tidak, kamu tidak membawakan makanan apapun untuk saya hari ini. Sepertinya perut saya sakit karena kebanyakan makan saos." Ucap Kevin pelan sambil pura-pura memegang perutnya. Menik yang tadinya cuek langsung khawatir. " Bimaaaa." Teriak Menik. Bima langsung keluar dari kamarnya. " Tolong kamu bawa bapak ini ke rumah sakit." Perintah Menik cepat. " Baik kak. Kakak enggak ikut." Tanya Bima. " Enggak kakak capek, kamu bawa saja ke rumah sakit, kalau perlu bawa ke bidan." Ucap Menik cepat. Kevin langsung membelalakkan matanya, dia khawatir aktingnya akan ketahuan Menik. " Tidak perlu ke rumah sakit, saya hanya perlu istirahat sejenak. Kebetulan tadi lewat sini dan tiba-tiba perut saya sakit, ya sudah mampir ke sini." Ucap Kevin pelan. Menik hanya memonyongkan mulutnya sambil melipat kedua tangannya di dada. " Ya sudah kita ke bidan saja." Ucap Bima sambil mengeluarkan motornya dari dalam rumahnya. " Tapi saya tidak hamil." Ucap Kevin gugup. " Iya pak, mana ada pria hamil." Jawab Bima lagi. " Apa yang akan dilakukan bidan itu di sana." Tanya Kevin khawatir. " Ah banyak tanya, sudah cepat bawa sana." Ucap Menik cepat. Bima menyalakan mesin motornya. Dengan berat hati Kevin ikut naik di belakangnya. Menik hanya tersenyum simpul. Dia tau kalau Kevin hanya pura-pura sakit agar mendapatkan perhatian darinya. Dan Kevin terjerat sendiri dalam permainannya. Tidak berapa lama motor yang di kendarai Bima sampai. Menik membukakan pintu untuk adiknya agar bisa memasukkan motornya ke dalam. " Ada bidannya." Tanya Menik. " Ada." Jawab Kevin pelan. " Apa kata bidan itu." Tanya Menik lagi. " Bidan itu hanya mengecek tensi pak Kevin, dan menanyakan hal-hal yang menurutku aneh." Ucap Bima pelan. Kevin tidak di perintahkan Menik untuk masuk tapi dia langsung masuk dan duduk di kursi pelastik di dalam rumah itu. " Apanya yang aneh." Tanya Menik penasaran. " Di tanya sudah menikah apa belum, terus nomor ponselnya berapa." Jawab Bima. Menik tersenyum. " Kamu jawab apa." Tanya Menik lagi. " Yang jawab pak bos." Ucap Bima sambil melirik kearah Kevin. Kevin tidak menjawab dia hanya tersenyum menyeringai. " Dia tidak akan mau jawab, kamu saja yang jawab." Tanya Menik lagi kepada Bima. " Kata Pak bos sudah menikah dan kakak istrinya." Ucap Bima pelan. " Cih kegeeran." Ucap Menik ketus sambil membuang muka. " Tapi ada bagusnya juga kak, kalau pak Kevin jawab seperti itu. Kalau enggak pak Kevin sudah di jodohkan sama anaknya." Ucap Bima lagi. " Ya sudah, ambilkan air putih biar langsung di minum obatnya." Ucap Menik lagi. Kevin enggan untuk minum obat itu, karena dia tidak sakit perut sama sekali. " Tapi aku belum makan." Rengek Kevin menghindar. " Bukannya bapak sudah makan saos." Ejek Menik. Bima mendengar kata saos langsung melotot. " Pantesan bapak sakit perut makannya aneh." Ucap Bima. " Cepat makan obat ini." Ucap Menik sambil menyodorkan bungkus obat. Kevin menghindar. " Bisa masakan sesuatu untuk saya." Ucap Kevin sambil merayu. Menik malas harus berhadapan ataupun berbicara dengan musuhnya. Tapi dia tidak tega jika melihat Kevin kelaparan. Dengan menggerutu dia memasakkan sesuatu untuk bosnya. " Makan nih." Ucap Menik menyodorkan mangkok yang berisi mie rebus kehadapan Kevin. Kevin melihat isi mangkuk itu teringat sesuatu, pada saat itu dia dan Ziko harus berlomba makan mie instan dengan rumput. Dan dia sempat muntah ketika makan mie instan itu. " Aku enggak mau.'''' Ucap Kevin menolak. " Kalau enggak mau ya sudah." Ucap Menik sambil membawa mangkuk itu. " Mau di bawa kemana mie itu." Tanya Kevin. " Mau aku makan." Ucap Menik sambil berlalu meninggalkan Kevin yang masih duduk di kursi bersebelahan dengan Bima. Menik membawa mangkuk itu ke dalam kamarnya dan Kevin mengikutinya. " Itukan pahit." Ucap Kevin lagi. " Pahit dari mananya. Memangnya mie ini aku kasih obat." Gerutu Menik. Menik menikmati mie rebus itu. Kevin menelan air liurnya. " Apa yang berwarna hijau itu rumput." Tanya Kevin. " Bukan ini cendol." Jawab Menik asal. " Kalau cendol berati enak dong." Kevin langsung menyambar mangkuk itu dan langsung memakannya dengan lahap sampai habis. Setelah mienya habis Menik langsung menyodorkan bungkus obat kehadapan bosnya. " Silahkan di minum pak bos." Ucap Menik sambil merapatkan giginya. Dengan terpaksa Kevin menelan obat itu. " Baik, silahkan bapak pulang, saya sangat letih." Ucap Menik mengusir Kevin. " Boleh saya tidur di sini." Tanya Kevin. " Enak saja, bapak itu bukan saudara saya. Silahkan bapak pulang sekarang, nanti kalau ada pria yang nginap di sini selain saudara bisa di grebek warga." Ucap Menik cepat. " Kalau sudah di grebek terus bagaimana." Tanya Kevin lagi. " Dinikahkan dan diarak keliling kampung." Ucap Menik cepat. " Kalau dinikahkan saya mau tapi kalau di arak tidak." Ucap Kevin. Menik mendorong tubuh Kevin untuk keluar dari kamarnya. Dan dia memerintahkan Bima untuk mengantarkan Kevin sampai depan gang. " Like, komen dan vote yang banyak ya terimakasih." Chapter 328 episode 327 (S2) Kevin telah meninggalkan rumah Menik. Di tempat lain di kediaman Zira dan Ziko. " Sayang." Ucap Zira sambil memijat kaki suaminya. " Iya sayang." Jawab Ziko. " Besok boleh tidak aku ke butik." Rayu Zira. " Enggak." Ucap Ziko tegas. " Kenapa? Kan jahitan aku sudah kering, badanku juga sudah fit." Rayu Zira lagi. " Enggak sayang, aku belum mengizinkan kamu untuk kemanapun." Ucap Ziko lagi. Zira manyun dan melepaskan tangannya dari kaki suaminya. " Eh kok berhenti." Ucap Ziko cepat sambil menepuk-nepuk kakinya dengan tangannya. " Malas." Ucap Zira. " Surga istri ada di bawah telapak kaki suami, apa kamu mau jadi istri durhaka." Ucap Ziko cepat. " Enggak." Ucap Zira malas sambil kembali memijat kaki suaminya. " Sayang sehari saja." Rayu Zira lagi. " Enggak aku bilang enggak ya enggak." Ucap Ziko sambil menekan intonasinya. " Kok kamu jadi marah sih." Ucap Zira. " Ya marah kamu sih ngeyel. Aku itu takut kamu jatuh lagi." Ucap Ziko khawatir. Zira tersenyum dia baru tau kalau suaminya merasa khawatir jika terjadi sesuatu lagi dengan dirinya. " Aku janji nanti di sana aku diam saja seperti patung." Ziko bangun dari posisi berbaringnya. " Zira sayang, walaupun kamu seperti patung di sana, aku tetap tidak akan mengizinkan." Ucap Ziko cepat sambil mencubit pipi istrinya. " Bagaimana kalau kamu temanin aku di butik selama satu harian." Ucap Zira sambil mengedipkan matanya secara berulang. Ziko merebahkan tubuhnya kembali. " Boleh ya." Ucap Zira sambil mengeluarkan jurusnya. Zira mengecup bibir suaminya dengan lembut. " Stop jangan lanjutkan lagi." Ucap Ziko cepat. " Apanya." Zira bingung. " Itu bibir tolong di kondisikan, apa kamu tidak kasihan dengan si toleku." Ucap Ziko memelas. " Ok deh." Ucap Zira sambil merebahkan tubuhnya di sebelah suaminya. " Eh untuk urusan memijat belum selesai." Ucap Ziko cepat sambil mengangkat kakinya. Zira kembali memijat suaminya. " Sayang." Ucap Zira. " Hemmm." " Kenapa bulu kaki pria keriting." Tanya Zira. " Ya karena memang kodratnya." Ucap Ziko. " Salah, karena belum ada alat pelurus bulu kaki." Ucap Zira asal sambil cekikikan. Ziko tersenyum simpul. " Sayang bulan ada berapa." Tanya Zira lagi. " Ada satu." " Ada dua belas." Ucap Zira cepat. " Dari mana kamu tau." Tanya Ziko. " Dari kalender." Ucap Zira. Ziko menggelengkan kepalanya. " Sayang kamu sudah tidak bisa menjawab dua pertanyaan dariku. Jadi jika pertanyaan yang ketiga ini kamu tidak bisa menjawab, besok kamu kerja di kantorku seharian." Ucap Zira. " Ya terserah." Zira mulai memikirkan sebuah pertanyaan. " Sayang kenapa di dalam kalender tidak di sebutkan bintang tapi bulan." Tanya Zira. Ziko mencoba memikirkan jawaban yang cocok untuk pertanyaan itu. " Ya karena bintang ada di langit." Jawab Ziko. " Bulan juga ada di langit." Timpal Zira. " Jawabannya adalah, karena bintang sudah di pakai untuk judul lagu, bintang kecil di langit yang biru." Ucap Zira sambil bernyanyi. Zira bersorak gembira, akhirnya dia bisa pergi ke butik. " Ok kamu menang sayang, tapi ingat hanya satu hari." Zira menganggukkan kepalanya sambil memeluk suaminya. " Terimakasih sayang." " Tadi Rudi ke kantor." " Rudi yang mana." Tanya Zira. " Rudi sepupuku, aku lupa kalau dia mantan office girl itu." Ucap Ziko pelan. " Oh iya, apa mereka berdua bertemu." Tanya Zira. " Iya bertemu, aku juga baru ingat pada saat office girl itu mengantarkan kopi ke ruanganku." Ucap Ziko. " Lalu apa yang terjadi." Tanya Zira. " Rudi langsung pamit mengejar wanita itu." " Dan kamu membiarkannya." Tanya Zira lagi. " Untuk apa aku menahannya, itu bukan urusanku, kecuali jika dia mengejar kamu, pasti aku langsung turun tangan." Ucap Ziko. " Selanjutnya bagaimana." Tanya Zira lagi " Mana aku tau, mereka berbicara di luar, tapi dari raut wajah Rudi sepertinya dia terlihat bahagia." Ucap Ziko membayangkan wajah sepupunya ketika masuk kembali ke dalam ruangannya. Zira manggut-manggut sambil memikirkan sesuatu. " Sepertinya ada yang aneh." Ucap Zira pelan. " Aneh bagaimana." Tanya Ziko. " Kevin pernah cerita kepada kita kalau Menik pernah kecewa karena Rudi, tapi kenapa tiba-tiba dia bersikap baik dengan mantannya." Ucap Zira. " Mungkin saja dia sudah melupakan masalahnya dengan Rudi, atau." Ziko melihat kearah istrinya. " Atau apa." Tanya Zira penasaran. " Telah terjadi sesuatu antar Menik dan Kevin." Ucap Ziko cepat. " Jangan ngarang deh, Kevin baru tiba dari luar negeri kemaren, kapan dia mau bertengkar dengan Menik. Dan mereka juga belum ada ikatan." Ucap Zira. " Ya tidak tau juga, karena aku perhatikan Kevin lebih banyak diam hari ini." Ucap Ziko lagi. " Mungkin dia lelah dan stres karena orang tuannya sakit." Ucap Zira lagi. " Mungkin juga, tapi apapun masalah mereka, aku tetap mencintaimu." Ucap Ziko. " Idih enggak nyambung." Ucap Zira komplain. Hari sudah larut malam, mereka berdua memilih untuk beristirahat. Di rumah Menik. " Kak, buka pintu." Ucap Bima menggedor pintu kamar kakaknya. " Ada apa." Menik membuka pintu kamarnya dan adiknya langsung masuk ke dalam kamar kakaknya. " Kakak apa yang terjadi dengan kalian berdua." Tanya Bima. " Enggak ada." Ucap Menik mengelak. " Kakak jangan bohong, kakak telah menyembunyikan sesuatu dariku." Ucap Bima lagi. " Tidak terjadi sesuatu antara kakak dan pak Kevin." Ucap Menik tegas. " Bohong, ayo jujur saja kepadaku." Ucap Bima. Menik duduk di depan adiknya. " Baiklah kakak akan cerita." Menik menceritakan tentang perubahan Kevin pada dirinya sampai masalah nampan juga di ceritakannya. " Jadi kalian bertengkar hanya karena masalah nampan." Ucap Bima. " Bukan itu." Ucap Menik langsung menoyor kepala adiknya. " Dia itu berubah, sepertinya cintanya kepada kakak palsu atau hanya pelarian." Ucap Menik sambil melihat langit-langit kamarnya. " Kakak salah, menurutku pak Kevin itu malah mencintai kakak. Buktinya hanya karena sakit perut makan saos dia mau datang ke sini. Itu namanya dia minta di perhatikan sama kakak." Ucap Bima. Menik menelaah ucap adiknya. " Kamu salah, dia cemburu karena egois." Ucap Menik. " Egois bagaimana." Ucap Bima. " Dia ada masalah tapi kenapa harus menjauhi kakakmu ini." Gerutu Menik. " Ya mungkin karena pria dan wanita berbeda, pria lebih berpikir realistis dan wanita terlalu membawa perasaan." Ucap Bima. " Jadi menurut kamu kakak orangnya baperan gitu." Ucap Menik sambil memukul adiknya dengan bantal. " Nah kan baru di bilang langsung marah. Susah ngomong sama wanita gampang banget tensinya." Ucap Bima langsung kabur meninggalkan kamar kakaknya. " Bantu author dengan like, komen dan vote ya. Jangan hanya minta lanjut tapi tidak vote. Dengan vote kalian memberikan apresiasi atas karya author, dengan vote juga author jadi tambah semangat updatenya. Terimakasih." Chapter 329 episode 328 (S2) Hangatnya mentari pagi menyinari bumi. Semua menyambut sang mentari dengan suka cita, karena pagi adalah awal dari sebuah hari dan dari proses terwujudnya mimpi. Zira dan Ziko melakukan aktivitas paginya di kediamannya. " Selamat pagi tuan." Sapa Kevin ketika masuk ke dalam rumah bosnya. " Pagi." Jawab Zira. " Kamu sudah sarapan." Tanya Zira. " Sudah nona." Jawab Kevin. Setelah selesai sarapan mereka semua keluar dari kediaman itu. Kevin membukakan pintu mobil untuk kedua majikannya. Dalam sekejap mobil sudah meninggalkan perumahan menuju jalan raya. " Vin, hari ini ruang kerjaku pindahkan ke butik." Ucap Ziko. " Kenapa tuan." Tanya Kevin. " Aku mau menemani istri tercintaku di butiknya." Jawab Ziko. " Baik tuan." Zira bergelayut manja di lengan suaminya. " Vin, bagaimana hubungan kamu dengan Menik, apa ada kemajuan." Tanya Zira. " Biasa saja nona." Jawab Kevin. " Biasa bagaimana." Tanya Zira lagi. " Masih sama seperti yang kemaren-kemaren nona." Jawab Kevin. Zira langsung duduk dengan tegak. " Apa kamu ada masalah dengan Menik." Tanya Zira. " Enggak nona." Kevin berbohong, dia tidak ingin mengatakan tentang masalah yang di hadapinya. " Oh ya sudah kalau begitu. Berarti rencana kita membuat Menik cemburu lanjut ya." Ucap Zira lagi. " Terserah nona saja." Kevin tidak semangat seperti di awal ketika mereka membicarakan masalah itu sebelumnya. Kevin fokus mengendarai mobil. " Vin, bagaimana apa sudah dapat informasi mengenai trip kita nanti." Tanya Ziko. " Sudah tuan, kira-kira dua minggu lagi kapal pesiar itu akan memulai tripnya. " Ok aku akan menghubungi Rudi." Ucap Ziko. " Maaf, apa tuan mengundang Rudi sepupu anda." Tanya Kevin sambil melirik dari jendela mobil. " Iya, aku mengajak beberapa orang untuk ikut dalam acara kita itu." Ucap Ziko. " Maaf tuan, kenapa anda membawa Rudi." Tanya Kevin. " Biar lebih menantang." Timpal Zira. " Maksud nona apa." " Biar adil, Menik akan cemburu ketika kamu dekat dengan Katherine dan kebalikannya kamu akan cemburu dengan Rudi, bakalan seru nih." Ucap Zira semangat. Kevin sebenarnya tidak setuju dengan rencana bosnya, untuknya Rudi sekarang saingan terberatnya, dulu dia bisa berbangga diri karena Menik sudah menjauhi mantannya, tapi sekarang berbeda, sewaktu-waktu Rudi bisa merebut Menik dari dirinya. " Kalau saya tidak ikut bagaimana tuan." Tanya Kevin lagi. " Boleh boleh, tapi ada syaratnya." Ucap Ziko cepat. " Apa tuan." Tanya Kevin sambil melirik bosnya. Zira menyenggol perut suaminya dengan sikunya. " Apa sayang." Tanya Ziko. " Aku enggak setuju, pokoknya kamu harus ikut." Ucap Zira sambil melirik kearah Kevin. " Biarin sayang, aku yakin dia tidak akan bisa memenuhi syarat ini." Ucap Ziko cepat. " Memangnya apa syaratnya." Tanya Zira. " Vin, kamu boleh tidak ikut ke acara itu asal kamu mau makan mie instan rebus buatan istriku." Ucap Ziko sambil merangkul bahu istrinya. " Baik tuan, tapi saya tidak mau di campur rumput atau daun kates, saya minta di campur cendol." Ucap Kevin. " Memangnya cendol campur mie instan ada." Tanya Zira penasaran. " Ada tuan, tadi malam saya makan mie itu." Ucap Kevin. " Dimana." Tanya Zira. " Di rumah Menik." Jawab Kevin spontan. " Ye yang jadian." Goda Zira. Kevin diam sambil tersipu malu. " Vin, kamu kalau malu lucu dan imut loh." Goda Zira lagi. " Lucu kenapa nona." Tanya Kevin sambil fokus dalam mengemudi. Ziko langsung melirik istrinya. " Imut? bisa-bisanya kamu mengatakan dia imut, amit-amit iya." Ucap Ziko sambil melihat tajam wajah istrinya. Zira tau kalau suaminya tidak suka kalau istrinya memuji pria lain selain dirinya. Dia langsung mengecup bibir suaminya untuk meluluhkan pertahanan suaminya. Dan Ziko menyambut ciuman dari istrinya. Kevin melihat dua manusia itu saling berciuman panjang. Dan dia langsung mengeluarkan jurus musimannya. Tutttttt Kevin buang angin. Spontan sepasang suami istri itu langsung memberhentikan kegiatannya. Prok Zira langsung memukul lengan Kevin sambil menutup hidungnya. Saking baunya Ziko langsung membuka jendela mobil. " Kenapa kamu kentut." Tanya Zira sambil memukul lengan Kevin. " Ya bagaimana lagi, nona dan tuan berciuman di depan saya. Kan nona sendiri yang bilang untuk saat ini kentut lebih di hargai dari pada batuk. Ya saya buang angin saja untuk menggantikan batuk musiman saya." Ucap Kevin menjelaskan. " Jadi kalau kami berdua bermesraan kamu akan buang angin terus." Ucap Ziko kencang. " Hehehe seperti itu tuan." Jawab Kevin. " Sayang mulai sekarang jangan pancing aku dengan jurusmu, cukup di kamar saja. Aku tidak siap kalau setiap hari mencium gas alami dari si Kevin." Ucap Ziko sambil tetap menutup hidungnya. " Entah ini si Kevin, kamu makan sampah ya? Baunya enggak ketolongan." Gerutu Zira. Kevin tertawa mendengar ucapan Zira yang mengatakan kalau dia makan sampah. Mobil sudah tiba di butik. Ziko dan Zira turun dari mobil. Zira masuk di dampingi suaminya. Keadaan butik belum terlalu ramai. Karyawan terlihat sibuk menata pakaian di rak. " Mbak Zira." Ucap Lina sambil berlari dan mendekati bosnya. Karyawan pada berdatangan dan mengucapkan turut berbelasungkawa kepadanya. " Terimakasih atas perhatian kalian semua." Ucap Zira kepada semua karyawannya. Zira hendak berjalan ke lantai atas, tapi suaminya menahan tangannya. " Ada apa sayang." Tanya Zira. " Ruangan kamu bukan di atas lagi, tapi di sana." Ucap Ziko sambil menunjuk salah satu ruangan dengan jari tangannya. Zira melihat kearah suaminya dan berjalan menuju ruangan yang di maksud suaminya. Dia membuka pintu secara perlahan. Zira terkejut di dalam ruangan itu penuh dengan balon dan bunga. " Sayang apa kamu yang membuat ini semua." Tanya Zira. Ziko menganggukkan kepalanya. " Terimakasih sayang." Ucap Zira sambil memasuki ruangan barunya. " Mulai sekarang kamu tidak boleh pergi ke lantai atas, semua kegiatan kamu di kerjakan di sini." Ucap Ziko. " Iya sayang." Ucap Zira senang. " Apa ruangan ini baru selesai di bangun." Tanya Zira. " Sudah selesai seminggu yang lalu." Jawab Ziko. " Bunga dan balon ini kapan kamu menyiapkannya." Tanya Zira penasaran. " Tadi malam, setelah kamu merengek minta ke sini. Jadi aku menyuruh Kevin mempersiapkan kejutan ini." Ucap Ziko menjelaskan. " Tapi bukannya Kevin makan di rumah Menik." Tanya Zira. " Ya nona, selesai makan saat pulang di perjalanan tuan muda mengirim pesan kepada saya untuk menyiapkan kejutan ini." Zira manggut-manggut mengerti. " Nona saya boleh meminta satu permohonan." Ucap Kevin memelas. " Apa." Tanya Zira sambil menduduki kursi barunya. " Tolong bilang ke suami anda, jangan meminta saya melakukan hal ini lagi dalam tempo yang singkat." Ucap Kevin mengeluh. " Memangnya kenapa." Tanya Ziko. " Susah tuan, saya harus mencari toko bunga yang masih buka. Kalau balon saya masih gampang mencarinya. Tapi kalau bunga susah mendapatkannya." Ucap Kevin komplain. " Jadi dari mana kamu mendapatkan bunga ini semua." Tanya Zira. " Dari kuburan nona." Ucap Kevin polos. Buk, Ziko menendang kaki asistennya. " Maaf tuan hanya itu yang terlintas di benak saya. Kalau tuan memberikan kejutan untuk istri anda saya mohon jangan libatkan saya lagi. Saya tidak kuat." Ucap Kevin memelas. " Tapi kenapa harus bunga kuburan." Ucap Ziko protes. Kevin hanya menggaruk kepalanya yang tidak gatal. " Tuan saya ada ide, kalau mau buat kejutan untuk istri anda temanya jangan seperti ini. Tapi ganti tema." Ucap Kevin pelan. " Apa." Tanya sepasang suami istri itu. " Temanya sayur mayur." Ucap Kevin sambil berlalu meninggalkan dua majikannya. " Bantu author dengan like, komen dan vote ya. Jangan hanya minta lanjut tapi tidak vote. Dengan vote kalian memberikan apresiasi atas karya author, dengan vote juga author jadi tambah semangat updatenya. Terimakasih." Chapter 330 episode 329 (S2) Ruangan Zira telah di sulap menjadi taman bunga, bukan bunga seperti kebanyakan di taman, tapi bunga kuburan yang menghiasi ruangan itu. Dengan berat hati Ziko memerintahkan sebagian karyawan Zira untuk membersihkan ruangan itu, dia merasa seram jika bunga itu menemani dia dan istrinya di ruangan itu. " Dasar si Kevin, bisa-bisanya dia meletakkan bunga di ruangan ini. Mau di hajar malah kabur dianya." Gerutu Ziko. " Iya benar juga, kenapa tidak sekalian makam juga di pindahkan kesini." Zira ikut kesal dengan tingkah asisten suaminya. Awalnya dia suka dengan kejutan itu, balon dan bunga memenuhi ruangan barunya, tapi setelah mendengar kejujuran dari Kevin, dia jadi kesal dengan pria itu. Seharusnya dia bisa mulai bekerja tapi semuanya jadi tertunda karena ruangannya harus di bersihkan. Zira dan Ziko tidak ingin ada aroma bunga itu lagi di dalam ruangan. Mereka berdua merasa takut dengan aroma dari bunga itu. " Sayang kalau gara-gara bunga ini aku kesurupan bagaimana." Ucap Zira sambil memegang lengan suaminya. Ziko langsung menoleh kearah istrinya dengan tatapan takut. " Sayang, jangan buat lelucon aneh. Di rumah cuma hanya ada aku dan kamu. Kalau seandainya kamu kesurupan aku mau panggil siapa, Ibu Ningsih?" Zira menganggukkan kepalanya. " Ibu Ningsih sibuk tau, apa aku panggil Feridianto aja." Ucap Ziko " Memangnya Feridianto siapa?" Zira penasaran sambil menatap suaminya. " Itu loh yang bisa hipnotis." Ucap Ziko. " Apa hubungannya ahli hipnotis sama mengeluarkan arwah." Zira tambah bingung dengan ide suaminya. " Kalau ada ahli hipnotis nanti jika kamu kesurupan dia akan menghipnotis arwah itu untuk kembali ke alamnya." Ucap Ziko. Zira manggut-manggut paham. " Bagus juga ide kamu sayang. Kenapa tidak sekalian saja suruh ahli hipnotis itu menghipnotis si arwah agar merubah penampilannya." Ucap Zira. " Memangnya bisa hantu dirubah penampilannya." Tanya Ziko lagi. " Bisalah, soalnya gaya pakaiannya sudah ketinggalan jaman." Ucap Zira asal. " Ah kamu ngada-ngada, terus kamu mau jadi desainer mereka." Tanya Ziko lagi. " Ogah, seram tau." Ucap Zira menolak. Salah satu karyawan Zira datang mendekati mereka berdua yang sedang duduk di sofa. " Mbak Zira ruangan sudah bersih." Ucap seorang karyawan. " Terimakasih." Jawab Zira. " Bunganya kamu bawa kemana." Tanya Ziko sama karyawan tadi. " Di buang tuan." Jawab karyawan itu. " Jangan di buang tapi aku mau kamu membuat sesuatu dari bahan bunga itu." Ucap Ziko cepat. Ziko berbicara cukup serius dengan karyawan tadi, dari tatapan si karyawan dia terlihat bingung dan ingin menolak permintaan suami bosnya, tapi dia tetap menganggukkan kepalanya menuruti perintah Ziko. Zira dan Ziko masuk ke dalam ruangan itu. " Aromanya masih bau bunga kuburan." Ucap Ziko. " Iyalah, kalau bau masakan sana di rumah makan." Ucap Zira. " Iya sayang." Ziko mengibaskan kertas ke atas ruangan itu. " Kamu kenapa sayang." Tanya Zira. " Biar aromanya hilang, aku kalau mencium aroma ini seperti di kuburan, terus kliennya para arwah kan seram." Ucap Ziko membayangkan yang enggak-enggak. " Enggak usah ngomong yang aneh-aneh. Nanti kalau datang benaran bisa gawat." Ucap Zira menakuti. " Iya juga." Ziko duduk di sofa sambil menutupi hidungnya. Dan istrinya duduk di kursi kerjanya. " Lah aku mau mengerjakan apa, laptopku masih di kantor." Gerutu Ziko. " Kamu bantu aku saja." Zira sibuk dengan beberapa kertas di mejanya. " Bantu ngapain, aku tidak bisa menggambar tapi kalau buat anak aku bisa." Ucap Ziko genit. " Idih masih pagi ngomonginnya buat anak, untung tidak ada Kevin, kalau ada dia bisa bau ruangan ini." Ucap Zira " Bau kenapa." Tanya Ziko. " Bau kentut musimannya lah." Jawab Zira. " Malah bagus sayang, di campur dengan aroma bunga kuburan ini pasti aromanya lebih sedap dari parfum laundry." Jawab Ziko. " Iya kalau aroma bunganya mendominasi tapi kalau aromo kentutnya yang mendominasi bagaimana, udah jangan ngomong itu lagi aku jijik." Ucap Zira cepat. Dia masih membayangkan bau angin Kevin. Ziko duduk-duduk santai sambil menggoyangkan kakinya, dia tidak tau harus melakukan apa. " Sayang aku harus melakukan apa di sini." Ziko merasa bosan. " Belajar masukkan benang dalam jarum mau." Tanya Zira. " Untuk apa." " Untuk menghilangkan kebosanan kamu sayang." Ucap Zira sambil sekilas melihat suaminya dan kemudian lanjut dengan pekerjaannya. " Apa tidak ada yang lebih menantang." Ucap Ziko lagi. Zira memikirkan sesuatu sambil memutar-mutar pensilnya. " Ada yang lebih menantang." Ucap Zira semangat. " Apa." Ziko penasaran. " Bersihkan toilet." Ucap Zira sambil cekikikan. " Enggak jorok. Nanti bisa-bisa aroma anginku bisa berubah jadi parfum toilet." Ucap Ziko menolak. " Ya sudah kalau gitu kamu tidur saja di situ." Ucap Zira menunjuk sofa tempat suaminya duduk. " Aku tidak bisa tidur kalau di tiduri mau." Ucap Ziko sambil mengedipkan matanya. " Cukup jangan bicara seperti itu disini." Ucap Zira mengingatkan suaminya. Ziko menutup kembali mulutnya. Dia tetap merasa bosan. Dia mengambil ponselnya. " Halo Kevin." Ucap Ziko. " Ya tuan." Jawab Kevin. " Kamu sudah sampai kantor belum." Tanya Ziko sambil menyandarkan kepalanya di sandaran sofa. " Saya baru sampai di kantor tuan, masih di dalam lift." Jawab Kevin. " Jam berapa kamu ke sini." Tanya Ziko. " Belum tau tuan, saya masih mengerjakan beberapa laporan yang tertunda." Jawab Kevin. " Memangnya kenapa tuan." Tanya Kevin balik. " Aku bosan di sini." Ucap Ziko sambil melirik suaminya. " Apa tuan mau saya jemput biar bisa melakukan pekerjaan seperti biasanya." Ucap Kevin. Ziko melirik istrinya. Dia sebenarnya bosan tapi dia berjanji untuk hari ini menemani istri di butik. " Tidak usah, aku di sini saja." " Apa mau saya bawakan laptop kesana." Tanya Kevin lagi. " Tidak usah, tapi coba kamu kasih ide untukku cara menghilangkan kebosanan menunggu." Ucap Ziko pelan. " Main game saja tuan." Ucap Kevin. " Oh iya, kenapa aku tidak memikirkan hal itu." Ziko langsung menutup ponselnya. " Bosan di sini." Ucap Zira menyindir suaminya. " Enggak sayang, tadi awalnya bosan tapi aku sudah tau cara menghilangkannya yaitu main game dari ponsel ini." Ucap Ziko sambil menunjuk ponselnya. Pintu lift terbuka, Kevin melangkahkan kakinya keluar dari lift, karyawan yang berpapasan dengannya menundukkan kepalanya bentuk rasa hormat dan segan terhadap dirinya sekaligus sapaan kepada orang nomor dua di perusahaan itu. Kevin hanya menganggukkan kepalanya untuk membalas sapaan dari karyawannya. Sebelum masuk ke dalam ruangannya dia mencari sosok Menik. Dia bisa menyimpulkan kalau wanita itu ada di pantry berjibaku dengan pekerjaannya. Kevin masuk ke dalam ruangan dan melihat suatu benda di atas meja kerjanya. Benda itu di bungkus dalam paper bag, Kevin pernah melihat paper bag itu. Dia langsung mengeluarkan isi di dalam paper bag itu. Kevin terkejut, ada tas jinjing merek kremes, dompet merek cikgu, sepatu dan ponsel. Semua barang itu pernah di belinya dan diberikannya kepada Menik. " Bantu author dengan like, komen dan vote ya. Jangan hanya minta lanjut tapi tidak vote. Dengan vote kalian memberikan apresiasi atas karya author, dengan vote juga author jadi tambah semangat updatenya. Terimakasih." Chapter 331 episode 330 (S2) Melihat barang pemberiannya di balikan semua membuat Kevin marah. Dia menghubungi nomor telepon pantry. " Halo." Ucap Kevin dengan nada tinggi. " Ya." Jawab Menik malas. " Datang ke ruangan saya sekarang!" Ucap Kevin dengan nada marah. Menik sudah menduga dan bisa menebak akan kemarahan yang di timbulkan akibat ulahnya. Dengan langkah berani dia mendatangi ruangan itu. Tok tok tok. " Masuk." Teriak Kevin. Menik masuk ke dalam ruangan itu dengan berani, dia mengangkat kepalanya dengan tegak. Kevin menatapnya dengan tatapan mengintimidasi. " Apa maksud kamu dengan semua ini!" Ucap Kevin sambil menunjuk semua barang yang di kembalikan Menik " Ya saya hanya mengembalikan kepada pemiliknya." Ucap Menik santai sambil menatap wajah bosnya. " Itu sudah milik kamu, kalau kamu mau mengembalikan kepada pemiliknya, pergi kembalikan ke tokonya." Ucap Kevin marah. Menik diam, tapi dia masih tetap berani menatap wajah Kevin. " Ambil barang ini semua." Ucap Kevin marah. " Tidak, saya tidak mau menerima pemberian bapak lagi, saya tidak mau berhutang budi." Ucap Menik dengan lantang. Kevin diam, mengenai hutang budi menyebabkan dirinya harus membayar dengan perjodohan. " Maaf pak, kerjaan saya masih banyak." Ucap Menik lagi. " Baik, saya terima ini kembali dengan syarat, bayar semua hutang perbaikan mobil." Ucap Kevin mengancam. Menik membelalakkan matanya, dia tidak tau harus berkata apa. Karena dia memang masih ada hutang dengan Kevin. Tapi karena bosnya baik jadi hutang itu di anggap tidak ada. Tapi karena perbuatannya lagi pria di depannya menagih kembali. " Tapi pak." Ucap Menik gugup. Kevin memutari mejanya dan berjalan mendekati Menik yang berdiri tidak jauh dari belakang pintu. " Tapi apa." Ucap Kevin pelan. " Saya belum ada uang." Jawab Menik. " Ya mau gimana lagi, tidak ada pilihan lain selain kamu menerima itu semua." Ucap Kevin sambil menunjuk barang-barang yang ada di meja kerjanya. " Maaf pak, saya tidak bisa menerima itu semua. Saya harus sadar diri tingginya langit tidak bisa saya raih, seperti rasa sayang ini kepada bapak tidak akan mungkin terbalaskan." Ucap Menik sambil menunduk. Kevin mengangkat dagu Menik dengan tangannya. " Saya memberikan semua itu ikhlas, dan tidak ada niat untuk memanfaatkan keadaan. Terimalah, dan jangan kembalikan lagi." Ucap Kevin pelan. Menik menatap tajam wajah pria di depannya dengan tatapan serba salah. " Baiklah saya terima itu kembali dan terimakasih atas kebaikan bapak selama ini." Ucap Menik sambil berjalan mengambil barang-barang yang diletakkannya di meja kerja bosnya. " Permisi." Ucap Menik pelan sambil membawa barang tersebut dengan tangannya. " Nik." Ucap Kevin sambil menahan tangan office girl itu. Menik berhenti dan menoleh kearah Kevin. " Saya tidak bermaksud menjauhi kamu, rasa cinta ini masih tetap ada di dalam hati. Apapun pemikiran kamu tentang saya semua adalah salah." Ucap Kevin pelan. " Jika bapak ingin meyakinkan saya, maaf pak tidak bisa." Ucap Menik cepat. " Jadi bagaimana saya harus menyakinkan kamu." Ucap Kevin dengan intonasi tinggi. " Tidak perlu meyakinkan apapun untuk saya. Karena rasa itu akan pudar beriringnya waktu." Ucap Menik. Menik melepaskan tangan Kevin dari lengannya. " Terserah kamu mau mengatakan apa tentang saya. Yang jelas saya masih mencintai kamu." Ucap Kevin sedikit berteriak karena Menik sudah berlalu meninggalkannya. Di dalam pantry Menik diam membisu sambil memandangi pemberian Kevin. Dia mengingat momen semua pada saat bosnya memberikan barang-barang berharga itu. Di ruangan Kevin duduk sambil mengacak-acak rambutnya. Dia stress harus melakukan apa tentang hubungannya, sedangkan dia dan Jasmani belum ada ikatan. Ingin rasanya dia mengakhiri semuanya dengan mengatakan sejujurnya kepada mamanya. Kevin menengadahkan kepalanya melihat langit-langit ruangan, lama-lama matanya terpejam sambil membayangkan saat dia mencium bibir Menik. Tak terasa detik jam terus bergerak yang menandakan pergantian waktu. Tiba waktunya karyawan yang bekerja di perusahaan itu beristirahat. Melepaskan kepenatan sejenak dengan beristirahat dan ngobrol dengan teman membuat karyawan melupakan rasa lelah mereka. Banyak karyawan yang makan di kantin perusahaan dan ada juga sebagian yang makan di luar. Seperti halnya Koko dia lebih sering membeli makanan di kantin dan membawanya ke pantry. Dia merasa harus memberikan perhatian untuk office girl itu. " Halo Nik." Ucap Koko mengagetkan Menik yang duduk melamun. " Eh halo." Jawab Menik gugup. " Sudah jam istirahat ya." Tanya Menik sambil melihat jam dinding yang ada di ruangan itu. " Makanya jangan kebanyakan melamun." Ucap Koko. Menik mengambil kotak makan siangnya. Dan membukanya untuk Koko. " Kamu bawa apa." Tanya Koko. " Ayam rica-rica." Jawab Menik. " Wah enak tu." Ucap Koko. " Kamu mau? Ambil saja kalau kamu suka." Ucap Menik menyodorkan kotak makan siangnya kehadapan Koko. Dari pintu ada yang melihat keakraban antara Menik dan Koko. Dengan langkah yang berat Kevin kembali keruangannya. Dia membanting pintu ruangannya. " Untuk apa dia memberikan makan siangnya sama si Koko." Gerutu Kevin. Kevin kembali keluar dari ruangan dan berjalan menuju pantry. Dua manusia yang ada di dalam pantry itu tidak menyadari kalau bosnya sudah berdiri di belakang mereka. " Ehem." Ucap Kevin. Menik dan Koko membalikkan badannya melihat kebelakang. Pria gemulai itu langsung berdiri. " Maaf pak, saya hanya menemani Menik makan siang." Ucap Koko gugup. " Belikan saya nasi di kantin." Ucap Kevin cepat. " Baik pak, pakai lauk apa." Tanya Koko. " Nasi putih saja." Jawab Kevin. Kemudian Koko menjulurkan tangannya kehadapan Kevin. " Untuk apa tangan kamu." Tanya Kevin. " Uangnya pak, saya belum tarik." Jawab Koko. Kevin mengambil dompetnya di saku belakang celana, dan mencari beberapa lembar uang kertas tapi tidak ada mata uang negaranya yang ada mata uang asing. Dia menyerahkan uang itu kepada Koko. Pria gemulai itu membelalakkan matanya sambil melihat uang kertas itu. " Pak ini kebanyakan, nanti pihak kantin mengembalikan pakai apa." Ucap Koko. " Tidak usah di kembalikan." Ucap Kevin cepat. Koko hendak pergi, kemudian langkahnya terhenti. " Koci tunggu." Ucap Menik. Koko berhenti sambil menghentakkan kakinya. Dia tidak suka kalau julukan yang di berikan Menik di sebutkan di depan orang lain, apalagi itu bosnya, karena dia tidak mau masa lalunya di ketahui orang lain selain Menik. " Pakai saja uangku." Ucap Menik sambil menyerahkan uangnya kepada Koci. Pria gemulai itu menerima uang itu sambil cemberut. " Kamu Koci." Tanya Kevin. " Enggak Pak." Elak Koko. Kevin tidak menghiraukan ucapan pria gemulai itu. " Apa arti Koci." Tanya Kevin. " Koko dan Ci..." Menik belum menyelesaikan ucapannya karena mulutnya sudah di sumpel Koko dengan ayam rica-rica. " Dasar Koci." Ejek Menik. Koko merapatkan giginya dengan memberikan isyarat kepada office girl itu, untuk menutup mulutnya. " Udah sana pergi." Ucap Kevin. Koko pergi sambil berlari, dia tidak mau melewatkan momen ketika Menik dan Kevin berduaan. Menik kembali duduk dan Kevin langsung ikut duduk di sebelah office girl itu. Dia terus memandangi wajah office girl dari samping. " Jangan pandang wajah saya." Ucap Menik. " Kenapa." Tanya Kevin. " Berat, cukup Dilan saja yang melakukannya." Ucap Menik santai sambil menikmati makanannya. Kevin mengerutkan dahinya, dia tidak mengerti maksud ucapan wanita di sebelahnya. " Bantu author dengan like, komen dan vote ya. Jangan hanya minta lanjut tapi tidak vote. Dengan vote kalian memberikan apresiasi atas karya author, dengan vote juga author jadi tambah semangat updatenya. Terimakasih." Chapter 332 episode 331 (S2) " Siapa Dilan." Tanya Kevin. Menik tidak menjawab, dia sibuk dengan makanannya. " Apa Dilan nama pacar kamu." Tanya Kevin. Menik menoleh kearah Kevin sambil memicingkan matanya, dengan isyarat bingung. " Makanya jangan kebanyakan nonton film horor sekali-kali nonton film romantis." Jawab Menik cepat. Kevin masih gagal paham dengan ucapan Menik. Dia masih penasaran dengan yang bernama Dilan. Ada suara sepatu yang terdengar cukup nyaring di telinga mereka berdua. Koko masuk ke dalam ruangan itu sambil ngos-ngosan. " Ini nasi putihnya pak." Ucap Koko dengan nafas ngos-ngosan sambil menyerahkan bungkusan yang ada di tangannya. " Apa kamu tau siapa Dilan." Tanya Kevin. Koko mengatur nafasnya sebelum menjawab pertanyaan bosnya. " Oh Dilan dan Menik." Ucap Koko. Kevin menatap tajam kearah Menik. " Nah dia saja tau, berarti kamu ada hubungan dengan si Dilan." Ucap Kevin sewot. " Siapa lagi yang punya hubungan dengan si Dilan. Koko jelaskan sama bapak ini." Perintah Menik. " Oh itu judul film pak yang mana pemerannya bernama Dilan dan Mineah." Ucap Koko menjelaskan. Kevin menggaruk kepalanya, ternyata dia terlalu tua untuk memahami film-film romantis. Mereka makan bersama di dalam pantry, walaupun Menik marah kepada Kevin tetapi dia tetap memberikan lauknya untuk pria itu. " Pak ini pedas, jadi makan sewajarnya jangan seperti yang kemaren." Ucap Menik mengingatkan. Kevin menganggukkan kepalanya. " Pak, saya kira bapak lagi puasa mutih." Ucap Koko sambil mengunyah makanannya. " Apa itu puasa mutih." Tanya Kevin. " Itu loh puasa yang makannya hanya makan nasi putih dan air putih saja."Jawab Koko. " Terus kegunaannya apa." Tanya Kevin lagi. " Biar hati bapak seputih salju sebening embun." Jawab Koko. " Bukan itu saja orangnya juga jadi putih." Timpal Menik. Kevin tertawa, dia sudah mengerti kalau ucapan dua pegawainya hanyalah candaan belaka. Waktu istirahat sudah selesai, semua karyawan yang sudah memanfaatkan waktu istirahatnya telah kembali bekerja, begitupun dengan Koko dan Kevin juga kembali ke rutinitasnya. Menik yang masih setia dengan kegiatannya di dalam pantry. Ada rasa senang ketika dia bisa akrab lagi dengan pria yang di sukainya. Tapi ada rasa gundah gulana karena dia takut kalau keakraban itu membuatnya susah melupakan Kevin. " Bagaimana caranya agar aku bisa melupakannya." Gumam Menik. Jika di hadapan orang lain, Menik bisa berakting dengan baik, pura-pura tidak terjadi sesuatu antara dirinya dengan Kevin. Tapi jika berdua dengan pria yang di sukainya Menik kembali menjauhi pria itu. " Apa aku berhenti saja dari perusahaan ini." Gumam Menik lagi. Waktu adalah sesuatu yang sulit di pahami, dia terus maju mengikuti arah tujuan dan tidak sesekali berhenti. Dan telah tiba waktunya untuk para karyawan yang bekerja di gedung Rahasrya group berhenti bekerja dan melanjutkan pekerjaannya keesokan harinya. Menik terlihat terburu-buru meninggalkan pantry. " Menik." Kevin memanggil wanita itu. Menik pura-pura tidak mendengar dia terus berjalan dan berhenti di depan pintu lift bersama karyawan lainnya. " Menik tunggu." Kevin berteriak memanggil namanya di depan kerumunan karyawan dan karyawati. Semua mata tertuju padanya. Sial, kenapa dia harus memanggil namaku, gosip kemaren saja masih hangat-hangat kuku, di tambah lagi ini malah mendidih nanti gosip ini. Kevin berhenti di depan kerumunan semua karyawan. " Nik, ikut dengan saya." Ucap Kevin sambil menarik tangan Menik. Semua karyawan ngedumel, di dalam hatinya masing-masing, yang isinya banyak mencela hubungan Kevin dengan Menik. Mereka menganggap hubungan bosnya dengan office girl itu seperti film handsome and ugly maid. Kevin sengaja menarik tangan Menik didepan semua staf dengan alasan agar office girl itu tidak menghindarinya. Pintu lift khusus presiden direktur terbuka Kevin membawa wanita itu ke dalamnya. " Ngapain sih pak." Gerutu Menik sambil meronta agar tangannya di lepaskan dari genggaman Kevin. " Saya hanya ingin dekat dengan kamu." Ucap Kevin cepat. Menik memalingkan wajahnya dari hadapan Kevin. " Ayolah Nik, jangan menjauh." Ucap Kevin pelan sambil mendekatkan wajahnya ke depan Menik. Jarak mereka sangat dekat sampai nafas keduanya terdengar satu sama lain. " Bapak mau apa." Ucap Menik gugup. " Saya mau kamu." Ucap Kevin pelan sambil terus memojokkan tubuh Menik ke dinding lift. Menik sudah tidak bisa bergerak lagi, tangan Kevin sudah ada di dinding lift. " Pak tolong jangan buat sulit hubungan ini." Ucap Menik sambil mendorong tubuh Kevin dari depannya. " Baiklah saya tidak akan mempersulit hubungan kita, dengan syarat kamu tidak akan menjauhi saya." Ucap Kevin lagi. Menik sebenarnya tidak setuju dengan syarat yang di ajukan bosnya, tapi jika dia tidak mengetujui Kevin tidak akan menjauh, dan dia sudah bisa memastikan pasti pria di depannya akan menciumnya. " Baik saya tidak akan menjauh dari bapak, tapi dengan satu syarat." Ucap Menik cepat. " Kenapa kamu mengajukan syarat juga." Ucap Kevin protes. " Memangnya bapak saja yang bisa, saya juga bisa." " Baik apa syaratnya." Tanya Kevin. " Saya mau bapak menceritakan penyebab bapak berubah kepada saya." Ucap Menik. " Saya sudah tidak berubah lagi kepada kamu." " Bukan itu maksudnya, bapak jujur saja, ceritakan masalah yang bapak hadapi sekarang." Ucap Menik sambil menatap tajam wajah Kevin. Posisi tangan Kevin tadi berada di dinding lift, mendengar syarat dari office girl itu, dia langsung memindahkan tangannya dan menundurkan badannya dari depan Menik. " Bisa pak." Tanya Menik. " Sulit untuk menjelaskannya, secara posisi saya terjepit." Ucap Kevin seperti mengeluarkan keluh kesahnya. " Ya terserah bapak, saran saya selesaikan satu persatu masalah yang sedang di hadapi, tapi jangan libatkan perasaan saya." Kevin menatap wajah Menik dengan tatapan yang lembut. " Masalah yang saya hadapi ada hubungannya dengan perasaan, dan sulit untuk menjelaskan." Pintu lift terbuka Kevin melangkahkan kakinya keluar dan kemudian membalikkan badannya melihat Menik masih diam di dalam ruangan yang berbentuk kubus itu. " Beri saya waktu satu minggu untuk menyelesaikan masalah ini." Lalu Kevin pergi meninggalkan office girl itu. Menik keluar dari dalam lift, dia mencari sosok Kevin. Pria itu sudah melangkahkan kakinya cukup lebar sehingga Menik tidak bisa mengejarnya. " Apa maksud dengan kata posisi terjepit, masalah apa yang sedang di hadapinya." Gumam Menik sambil terus berjalan keluar gedung Raharsya group. Kevin sudah berada di mobil dan melajukan mobilnya menuju jalan raya. Di dalam mobil hatinya masih terus bimbang, dia belum ada keberanian untuk menjelaskan kepada dua wanita yang pertama orang yang telah melahirkannya dan yang kedua wanita yang telah banyak memberikan bantuan kepada keluarganya. Dengan perasaan yang bimbang dan bingung dia terus melajukan mobilnya menuju butik. Sepasang suami istri itu sudah menunggu kehadirannya. Kevin memberhentikan mobil di depan pintu butik. Dia turun dan melihat dari balik pintu kaca ada beberapa karyawan sedang berdiri dari balik pintu. " Selamat sore pak Kevin." Ucap karyawan Zira sambil mengalungkan bunga kuburan ke lehernya. Semua karyawan mengalungkan bunga itu di lehernya. " Untuk apa ini." Tanya Kevin bingung. " Sesuai perintah dari tuan muda, kami di suruh menyambut anda dengan kalung bunga ini." Ucap salah satu karyawan. " Maksudnya apa." Kevin masih bingung, dia tetap berjalan menuju ruangan Zira. Setelah sampai di depan pintu dia langsung mengetuk pintu ruangan. " Masuk." Ucap Zira. Begitu pintu di buka, cekrek cekrek. Kevin bingung karena di foto mendadak oleh bosnya. " Kenapa tuan mengambil gambar saya." Tanya Kevin bingung. " Mau aku berikan sama malaikat pencabut nyawa." Ucap Ziko cepat. " Tuan jangan bercanda, terus kalung bunga ini untuk apa." Tanya Kevin lagi. " Itu sebagai kenangan dari penjaga alam kubur." Ucap Ziko. Bulu kuduk Kevin langsung merinding dia melepaskan semua kalung bunga itu dari lehernya. " Bantu author dengan like, komen dan vote ya. Jangan hanya minta lanjut tapi tidak vote. Dengan vote kalian memberikan apresiasi atas karya author, dengan vote juga author jadi tambah semangat updatenya. Terimakasih." Chapter 333 episode 332 (S2) " Kenapa di lepas." Ucap Zira. " Seram nona." Jawab Kevin. " Apanya yang seram bagus tau, kamu seperti bunga berjalan." Ejek Zira. " Kalau boleh pilih lebih baik sayur yang dijadikan kalung, lapar masih bisa di kunyah tapi kalau kembang di kunyah kan seram, bukan lapar saya yang hilang kunti yang datang." Jawab Kevin. Setelah melakukan perdebatan dengan dua majikannya, akhirnya kalung bunga kuburan itu boleh di lepaskan. Kemudian mereka berjalan ke luar butik. Kevin membukakan pintu belakang mobil, Zira dan Ziko masuk dan duduk di tempat biasa di baris kedua di belakang Kevin. " Tuan mobil ini aroma kembang semua." Ucap Kevin. " Bagus dong, dari pada aroma angin kamu." Jawab Zira. " Itu karena ulah kamu juga. Makanya jangan kasih kejutan dengan bunga kuburan lagi." Ucap Ziko. " Ya tuan juga, jangan kasih perintah malam-malam." Jawab Kevin. Ziko memukul lengan Kevin. " Kamu pintar membantah sekarang ya." Ucap Ziko cepat. " Bukan membantah tuan tapi melakukan pembelaan." Jawab Kevin. " Vin, aku ada ide. Bagaimana kalau pesta pernikahan kamu temanya kuburan pasti bagus." Ucap Zira. Kevin dan Ziko langsung menoleh melihat Zira. " Kenapa kalian semua melihatku seperti itu." Tanya Zira. " Iya ide kamu memang bagus sayang, tapi menakutkan." Ucap Ziko. " Betul nona, saya tidak setuju." Ucap Kevin. " Justru bagus Vin, tidak banyak biaya. Calon pengantin wanita hanya memakai baju putih dan bedak setebal aspal dan kamu pakai pakaian pocong, belum pernah ada sejarahnya orang membuat tema seperti itu." Ucap Zira membayangkan pernikahan Kevin. Dua pria itu masih menatap heran dengan ide Zira. " Nanti aku yang desain deh. Gratis untuk kamu." Ucap Zira cepat. " Terimakasih nona, saya cari desainer lain saja kalau begitu." Jawab Kevin. " Sayang, kamu tau kalau mereka pakai pakaian setan, tamunya juga memakai pakaian seperti itu. Kan tidak cocok kalau kita datang pakai pakaian bola." Ucap Ziko. Zira tertawa mendengar dua pria yang takut mendengar ide konyolnya. " Ide ini bukan sembarang ide, aku hanya memberi usul. Agar kita mengingat kematian juga, karena kematian bisa datang tiba-tiba tanpa pernah mengenal waktu dan tidak pernah datang permisi." Ucap Zira menjelaskan. Ziko langsung memeluk istrinya, dia merasa tersentuh dengan ucap istrinya. Kematian tidak pernah bisa di duga. " Iya nona saya setuju. Tapi jangan masukkan ide itu dalam pesta pernikahan saya kelak." Ucap Kevin. Zira hanya membalas dengan gelak tawanya. Mobil masih melaju dengan kecepatan sedang melewati padatnya kendaraan bermotor. Karena mereka pulang pada saat jam para pencari nafkah pulang. Mobil yang di kemudikan Kevin sudah tiba di kediaman Ziko dan Zira. Setelah menurunkan majikannya Kevin langsung melaju pulang ke rumahnya. Dia juga melewati padatnya lalu lintas. Butuh waktu lama untuk dia sampai di rumahnya, setelah menempuh perjalanan kurang lebih 40 menit Kevin tiba di kediamannya. Jesy langsung membukakan pintu untuk kakaknya. Kevin tiba di rumahnya jam setengah tujuh malam. " Malam kak." Ucap Jesy. " Hemmm." Jawab Kevin. Kevin mencari keberadaan kedua orangtuanya, dia melihat papanya duduk di kursi roda di depan meja makan. Dia mengecup dahi papanya dan mencari keberadaan mamanya. Kevin menemukan mamanya di dapur. " Masak apa ma." Tanya Kevin. " Masak tumis kangkung." Jawab mamanya. Kevin melihat mamanya dengan penuh tanda tanya. " Dari mana mama belajar membuat masakan rumahan seperti itu." Tanya Kevin. " Kamu lupa, kalau mama pernah bertemu dengan seorang wanita di supermarket dan dia yang mengajarkan mama cara memasak ini semua." Jawab mamanya. " Bersihkan dulu dirimu, kami menunggu kamu di meja makan." Ucap mamanya. Kevin meninggalkan mamanya yang berkutat dengan masakan, dia membersihkan badannya dikamarnya, setelah itu dia bergabung dengan keluarganya. Mereka menikmati makanan hasil olahan mamanya. Untuk pertama kalinya mamanya memasak masakan itu, dan rasanya lumayan lezat. Kedua anaknya kagum akan kelihaian mamanya dalam memasak segala jenis masakan. " Mama hebat, semua bisa di olah jadi makanan lezat." Puji Jesy. Mamanya senang karena masakannya berhasil. " Kakak, bagaimana yang bersihkan rumah kita, apa sudah dapat." Tanya Jesy. Kevin meletakkan sendoknya. " Oh iya, kakak lupa." Kevin mengambil ponselnya sambil melihat jam di layar ponselnya, kemudian dia meletakkan kembali ponselnya. " Kenapa kak." Tanya Jesy. " Kakak mau menghubungi pak Budi. Tapi sepertinya sekarang jam makan malam keluarga Raharsya." Jawab Kevin. " Siapa Pak Budi." Tanya Nyonya Paula. " Kepala pelayan yang bekerja di rumah bosku ma." Jawab Kevin. " Kalau tidak ada, nanti mama tanya sama si Manek." Ucap mamanya. " Jangan ma, aku tidak mau sembarangan orang. Setidaknya kita harus mencari orang yang dapat di percaya." Ucap Kevin. " Oh seperti itu, tapi menurut mama wanita itu baik." Ucap mamanya. " Bagaimana dalam satu hari mama bisa menilai wanita itu." Protes Kevin. " Insting seorang ibu pasti tidak salah, sama halnya dengan Jasmin. Perasaan mama mengatakan kalau kalian berdua cocok." Ucap mamanya. Jika nama Jasmin di sebutkan mamanya Kevin langsung diam. Jesy melihat raut wajah kakaknya yang langsung berubah. " Kalau insting mama benar, kenapa tidak jodohkan saja Kak Kevin sama wanita supermarket itu." Sindir Jesy. Nyonya Paula langsung melihat wajah anak bungsunya dengan tatapan mengintimidasi. " Jesy kenapa kamu berkata seperti itu, sepertinya kamu tidak suka dengan perjodohan kakakmu." Ucap mamanya. Jesy dan Kevin saling pandang. Mereka tau kalau mamanya sedang marah. Kevin mengalihkan pembicaraan. " Jesy besok kita ke kampus." Ucap Kevin. Jesy yang wajah cemberut karena baru saja di marahi mamanya kembali ceria. " Serius Kak." Ucap Jesy. Kevin menganggukkan kepalanya. " Kamu mau masuk jurusan apa." Tanya kakaknya lagi. " Aku ingin jadi dokter seperti Kak Jasmin." Jawab Jesy. " Baiklah, semoga kamu bisa mengikuti tesnya." Ucap Kevin lagi. " Baik kak." Jawab Jesy semangat. " Di universitas mana Jesy kamu daftarkan." Tanya mamanya. " Aku daftarkan di universitas negeri dulu, semoga saja Jesy bisa lulus. Tapi jika dia tidak lulus, aku akan daftarkan di universitas swasta." Ucap Kevin. Mereka melanjutkan makan malamnya dengan lahap. Tanpa membicarakan hal lainnya. Kemudian mamanya memulai pembicaraan lagi. " Vin, tadi Jasmin menghubungi mama." Ucap mamanya. Kevin tidak menjawab, dia hanya sibuk dengan makanannya. " Dia bilang kalau kontrak kerjanya bisa di majukan." Ucap mamanya lagi. " Maksudnya." Kevin penasaran. " Ya Jasmin bisa datang kesini secepatnya." Ucap mamanya. Kevin dan Jesy saling pandang lagi. Mamanya melanjutkan lagi ucapannya. " Jadi pertunangan kamu bisa lebih cepat di laksanakan." Ucap mamanya. Deg jantung Kevin langsung berdetak kencang. Dia tidak menyangka kalau pertunangannya akan di laksanakan juga. " Nanti aku pikirkan baiknya seperti apa, jangan terburu-buru. Biarkan Jasmin mencari rumah sakit yang tepat untuk melanjutkan karirnya." Ucap Kevin asal. Nyonya Paula setuju, menurutnya menantunya pindah ke tanah air tujuan utamanya selain bertunangan dengan Kevin juga ingin melanjutkan karirnya sebagai dokter. " Bantu author dengan like, komen dan vote ya. Jangan hanya minta lanjut tapi tidak vote. Dengan vote kalian memberikan apresiasi atas karya author, dengan vote juga author jadi tambah semangat updatenya. Terimakasih." Chapter 334 episode 333 (S2) Suasana pagi hari menjadi waktu di mana membangun semangat dan kebahagiaan baru. Kevin sudah tiba di kediaman bosnya sambil menikmati secangkir kopi untuk menunggu bosnya bersiap. Hari ini jadwal mereka sangat padat, sehingga dia harus bisa membagi waktunya dengan baik. " Sudah siap tuan." Ucap Kevin melihat kedatangan bosnya dari dalam rumah. Ziko menganggukkan kepalanya. Kemudian dia mengecup dahi Istrinya. " Tuan, jangan di lanjutkan sampai kebawah, kalau tidak mau kentut musiman saya keluar." Ucap Kevin mengingatkan. Ziko hanya mengecup dahi Istrinya, dia tidak melanjutkan dengan bibir Istrinya. Ziko tidak mau parfumnya berubah aroma karena angin dari asistennya. " Nanti aku akan suruh Kevin menjemput kamu." Ucap Ziko. Kevin langsung menoleh. " Mau kemana tuan." Tanya Kevin. " Mengantarkan Zira ke rumah sakit."Jawab Ziko. Kevin hari ini ada jadwal akan menemani adiknya ke kampus. " Maaf tuan sepertinya saya tidak bisa mengantar nona Zira ke rumah sakit. Hari ini saya akan menemani adik saya ke kampus." Ucap Kevin. Ziko melihat wajah istrinya, dia merasa kasihan karena tidak bisa menemani jadwal kontrol istrinya. " Sayang aku setir mobil sendiri ya. Kamu tidak perlu khawatirkan aku." Ucap Zira. " Jelas aku khawatir, kamu kalau menyetir melebihi pembalap." Ucap Ziko. " Aku janji akan menyetir dengan kecepatan 40 kilometer per jam." Rayu Zira. Ziko menoleh kearah asistennya. " Vin, jam berapa kamu pergi menemani adikmu." Tanya Ziko. " Jam sebelas siang tuan." Jawab Kevin. Ziko mengingat kembali jadwal yang di kirimkan sekertarisnya. " Vin, jam sebelas kita ada meeting." Ucap Ziko sambil melihat jadwal kerjanya. Kevin ikut melihat jadwal kerja hari itu. " Oh iya, kenapa aku harus melupakannya." Gerutu Kevin. " Apa jadwal adikmu tidak bisa di undur, seperti besok." Ucap Ziko. Kevin bingung, dia tidak menyusun rapi jadwalnya untuk hari ini. " Begini saja, aku biarkan menyetir mobil sendiri, dan adik kamu nanti aku yang akan mengantarkan." Ucap Zira. " Tidak usah nona, pasti anda akan bosan dan akan banyak orang di sana." Ucap Kevin tidak enak hati. " Tidak masalah, kalau perlu aku akan mengajakkan Zelin untuk menemaniku." Ucap Zira. " Apa kamu yakin sayang." Tanya Ziko lagi. Dia merasa khawatir dengan kondisi istrinya. " Sayang, aku bosan jika harus terus di rumah. Apa salahnya aku menemani adiknya Kevin, sekalian bertemu dengan orang tuanya." Ucap Zira. Ziko masih berat untuk melepaskan istrinya menyetir mobil sendiri. Dia masih sangat trauma. " Kalau bisa, aku akan menjemput Zelin nanti di rumah." Ucap Zira cepat. " Tidak usah, biarkan Zelin yang datang ke sini. Sekalian dia yang menyetir mobil kamu." Ucap Ziko. " Baiklah." Zira setuju. Dua pria itu telah pergi meninggalkan Zira di rumah sendirian. Kevin sudah menyetir mobil, dia menyempatkan untuk menghubungi adiknya. Zira juga menghubungi adik iparnya. " Halo Zelin." Ucap Zira. " Ya kakak." Jawab Zelin. " Kamu hari ini ada jadwal ke kampus tidak." Tanya Zira. " Enggak ada kak." " Bagus, jadi kamu bisa temani kakak ke rumah sakit." Ucap Zira. " Ok kak." Jawab Zelin. " Tapi kamu jemput dengan mobil pelangi punya kakak ya." Ucap Zira. " Kakak sudah di izinkan bawa mobil sendiri." Tanya Zelin. " Sudah, tapi untuk hari ini tetap kamu yang menyetir." Jawab Zira. Kemudian panggilan terputus. Zira bersiap-siap, begitupun dengan Zelin juga bersiap-siap di rumahnya. Di kantor. Ziko memimpin rapat dengan piawai, dia selalu bisa memberi masukan dan gagasan baru untuk perkembangan perusahaannya. Meeting berjalan satu jam, kemudian Ziko dan Kevin kembali keruangan masing-masing. Mereka akan mempersiapkan meeting selanjutnya. Kevin dan Koko mempersiapkan bahan-bahan yang akan di bawa untuk meeting selanjutnya. Mereka mempersiapkan di tempat masing-masing. Suara ponsel Kevin berdering. " Halo." Ucap Kevin. Ada panggilan dari luar negeri, Kevin mendengar dengan seksama kemudian mengecek layar laptopnya. " Baik, saya sudah terima, terimakasih atas infonya." Ucap Kevin. Kemudian panggilan terputus. Kevin langsung berjalan cepat menuju ruangan bosnya dengan membawa laptop di tangannya. Tok tok tok. Setelah ada instruksi, Kevin langsung masuk ke dalam ruangan itu. " Ada apa." Tanya Ziko penasaran. Dia bisa menebak raut wajah asistennya yang cukup serius. " Tuan lihat ini." Ucap Kevin menunjukkan layar laptopnya. Pria itu meletakkan di meja bosnya. Ziko membelalakkan matanya tidak percaya. " Apa ini sungguhan." Tanya Ziko lagi. " Ini buktinya tuan." Jawab Ziko. Ziko tersenyum puas, raut wajahnya menunjukkan kemenangan. " Sultan, Sultan kamu bisa jatuh sendiri rupanya." Ucap Ziko cepat. " Sepertinya ada yang tidak suka dengan tuan Sultan juga." Ucap Kevin. " Memang banyak yang tidak menyukainya." Jawab Ziko. " Bukan itu tuan, sepertinya turunnya nilai saham tuan Sultan karena ada taktik juga." Ucap Kevin menjelaskan. Ziko memandang wajah asistennya, dari raut wajahnya terlihat kalau dia belum paham dengan maksud orang kepercayaannya itu " Begini tuan, saya mendapat informasi dari orang kepercayaan kita di luar negeri, bahwa nilai saham dia turun karena ada campur tangan seorang hackers." Ucap Kevin. " Itu kan sama dengan perusahaan kita. Dia juga menggunakan hackers untuk menghancurkan perusahaan kita." Ucap Ziko. " Bukan itu saja tuan, tapi sebelumnya tuan Sultan sudah mendapatkan informasi perusahaan kita. Kalau ini beda, mereka hanya mengandalkan ahli-ahli komputer." Ucap Kevin menjelaskan. Ziko manggut-manggut. " Hebat betul hackers itu. Berarti perusahaan itu bekerjasama dengan ahli-ahli komputer. Dan jangan-jangan perusahaan itu menaikkan nilai sahamnya dengan hasil menipu." Ucap Ziko. Kevin mengangkat bahunya mengisyaratkan dia juga tidak mengerti dengan keberhasilan perusahaan yang menghancurkan tuan Sultan. " Apa ada info lagi." Tanya Ziko. " Ada tuan. Hariadi sudah di jebloskan ke penjara. Buktinya-bukti sudah terkumpul dan dia terbukti bersalah. " Bagus rasakan Hariadi." Ucap Ziko semangat. " Tapi ada kabar lainnya." Ucap Kevin. " Apa." Ucap Ziko. " Sisil dan Kia akan bebas." Ucap Kevin Ziko yang tadinya duduk santai langsung berdiri tegak seperti marinir. " Apa...!" Ziko kaget. " Kenapa bisa begini, bapaknya masuk penjara anaknya bebas. Aku tidak pernah mencabut gugatanku." Ucap Ziko emosi. " Bukan tuan yang mencabut, tapi nona Zira yang mencabut gugatan itu." Ucap Kevin menjelaskan. " Apa...!" Ziko kembali terkejut, dia tidak bisa memikirkan jalan pikiran istrinya. " Bagaimana mungkin dia mencabut gugatan itu, istriku tidak pernah keluar rumah sama sekali." Gerutu Ziko. " Tuan apa anda lupa, nona Zira juga mempunyai seorang pengacara, istri anda orang hebat tuan, apa anda melupakan hal itu." Ucap Kevin mengingatkan. " Kapan hari kebebasan dua hantu itu." Ucap Ziko kesal. " Besok tuan." Jawab Kevin. " Dan kapan kamu mendapatkan informasi ini." Tanya Ziko lagi. " Dua hari yang lalu." Jawab Kevin. " Kenapa kamu baru mengabari aku." Gerutu Ziko. " Maaf tuan, saya lupa. Karena terlalu sibuk menghias ruangan nona Zira jadi saya melupakan hal itu." Ucap Kevin membela diri. " Jadi kamu menyalahkanku." Gerutu Ziko. " Tidak tuan, saya tidak mungkin berani." Jawab Kevin. " Besok antarkan aku ke penjara." Ucap Ziko cepat. " Untuk apa tuan." Tanya Kevin bingung. " Untuk menjemput dua model iklan sarung." Ucap Ziko. Kevin mengerti yang di maksud model iklan sarung adalah Sisil dan Kia. " Bantu author dengan like, komen dan vote ya. Jangan hanya minta lanjut tapi tidak vote. Dengan vote kalian memberikan apresiasi atas karya author, dengan vote juga author jadi tambah semangat updatenya. Terimakasih." Chapter 335 episode 334 (S2) Zira sudah selesai kontrol di temani adik iparnya. Hasil pemeriksaan dokter kondisi Zira sudah benar-benar pulih, dan jahitan di bawah perutnya sudah mengering sempurna. " Kita langsung pulang atau mampir dulu ke mall." Tanya Zelin sambil mengemudikan mobil kakak iparnya. " Kita ke rumah Kevin." Jawab Zira. " Ngapain kak." Zelin melirik kakak iparnya kemudian kembali fokus menatap jalanan. " Keluarganya datang dan kita akan menemani adiknya." Ucap Zira. " Menemani kemana." Zelin masih penasaran. " Dia akan mendaftar tes perguruan tinggi." Ucap Zira. Gadis belia di sebelah Zira manggut-manggut paham. Mobil melaju dengan kecepatan sedang, kendaraan di jalan raya tidak terlalu ramai, hanya kendaraan roda dua yang masih ada di sepanjang jalan, mereka adalah para pejuang pencari nafkah. Mobil yang di kendarai Zelin tetap bisa berjalan dengan leluasa, karena pengendara roda dua menggunakan jalurnya sendiri tanpa mengganggu roda empat. Mobil memasuki gapura perumahan. Zelin sudah hafal letak posisi rumah asisten Kevin. Mobil berhenti di depan rumah mewah. " Hebat kamu, sudah berapa kali kamu kesini." Tanya Zira. " Beberapa kali saja." Jawab Zelin. Mereka berdua turun dari mobil. Dan jalan beriringan ke pintu depan rumah Kevin. Zelin memencet bel yang ada di pinggir pintu. Tonot tonot. Zelin dan Zira tertawa mendengar bel rumah Kevin yang lucu. " Mungkin rusak kak." Ucap Zelin. Zira tertawa sambil menganggukkan kepalanya. Ada suara gerakan seseorang memutar kunci dari dalam rumah. Dan pintu di buka oleh seorang wanita paruh baya berparas orang bule asli. " Kak pakai bahasa apa." Bisik Zelin. " Bahasa sansekerta." Ucap Zira pelan. " Good Morning madam." Ucap Zira. " Selamat pagi." Jawab Nyonya Paula. " Ternyata bisa berbahasa seperti kita." Ucap Zelin sambil tersenyum. Wanita paruh baya itu tersenyum ramah. " Ada yang bisa saya bantu." Tanya Nyonya Paula. " Perkenalkan saya Zira dan ini Zelin, kami akan menemani anak Ibu ke perguruan tinggi." Ucap Zira sambil mengulurkan tangannya untuk bersalaman dengan wanita paruh baya itu. Nyonya Paula menyambut uluran tangan itu dengan sopan, dan Zelin ikut mengulurkan tangannya. " Oh kamu Zira istri bos Ziko ya." Ucap Nyonya Paula ramah. Zira menganggukkan kepalanya. " Silahkan masuk." Ucap Nyonya Paula mengajak tamunya langsung masuk ke dalam rumah. " Maafkan saya karena tidak mengenal anda nona." Ucap wanita paruh baya itu. " Tidak apa-apa bu, saya dengar suami ibu sakit." Tanya Zira. Wanita paruh baya itu langsung menundukkan kepalanya, dia terlihat cukup sedih jika di tanya tentang kondisi suaminya. Zira memindahkan posisi duduknya dekat dengan mamanya Kevin, dia berusaha untuk menghibur wanita paruh baya itu. " Ibu yang sabar ya, semua sudah ketentuan dari Tuhan, jangan pernah putus asa untuk berdoa dan berusaha menyembuhkan suami ibu." Ucap Zira sambil memegang tangan wanita paruh baya itu. " Terimakasih anda baik sekali." Ucap Nyonya Paula. Wanita paruh baya itu mengajak tamunya melihat keadaan suaminya. Pada saat Zira dan Zelin datang ke kamar itu ada Jesy di sana sedang menyuapi buah kepada papanya. " Jesy kenalkan ini nona Zira istri dari bos kakak kamu." Ucap Nyonya Paula mengenalkan anaknya dengan tamunya. Jesy mengulurkan tangannya ramah. " Nona cantik sekali." Puji Jesy. " Terimakasih, kamu juga cantik." Jawab Zira. " Dan ini adik ipar saya Zelin. Sepertinya perbedaan umur kalian tidak terlalu jauh." Ucap Zira. Dua gadis belia itu bersalaman dan ngobrol panjang lebar, mereka dengan cepat langsung akrab satu sama lain, mungkin karena usia yang tidak terpaut jauh sehingga dengan cepat keduanya bisa membaur. Zira berdiri dengan lututnya dihadapan papanya Kevin. " Halo om saya Zira." Sapa Zira. " Sira." Ucap papanya dengan suara sedikit pelo. Istri dan anaknya langsung mendekati pria paruh baya itu. Sudah sekian lama mereka tidak mendengarkan suara pria paruh baya itu, tapi dengan cukup mengejutkan pria itu langsung berbicara dengan menyebut nama Zira, walaupun pengucapan nama Zira salah tapi kemajuan semakin banyak. " Kamu sudah bisa bicara sayang." Ucap Nyonya Paula sambil memeluk suaminya. Jesy mengecup pipi papanya, dia juga ikut senang melihat perkembangan papanya. Zira masih di posisi yang sama berdiri dengan lutut. " Semoga om lekas sembuh, jangan banyak pikiran ya." Ucap Zira. Pria paruh baya itu menjawab dengan anggukan kepalanya. Zira melihat jam di tangannya. " Jesy apa kamu sudah siap." Ucap Zira. " Mau kemana." Tanya Nyonya Paula bingung. " Oh maaf ma, aku lupa memberitahu mama kalau kak Kevin tidak bisa mengantarkanku untuk daftar tes ke perguruan tinggi, jadi nona Zira dan nona Zelin yang akan menemaniku." Ucap Jesy menjelaskan. " Jesy panggil saja aku Zelin, jangan sematkan kata nona di depannya." Ucap Zelin sambil tersenyum. " Tapi nona adalah adik dari bos Kevin." Ucap Jesy. " Sudahlah ikuti saja aku, lagian umur kita tidak terpaut jauh hanya beda satu tahun." Ucap Zelin. " Baik Zelin." Ucap Jesy gugup. Zelin tersenyum sambil menggerakkan kepalanya dengan arti waktunya berangkat. Zira pamit kepada kedua orangtuanya Kevin. Zelin yang masih mengemudikan mobil kakak iparnya. Zira duduk disampingnya dan Jesy duduk di kursi belakang. Mobil sudah melaju meninggalkan perumahan menuju universitas. " Jesy apa semua berkas sudah kamu bawa." Ucap Zelin mengingatakan. " Sudah semua berkas ada di dalam tas." Ucap Jesy sambil menunjuk tasnya. Dalam beberapa detik mobil sudah masuk ke kawasan perguruan tinggi. Banyak calon mahasiswa baru yang datang ke perguruan tinggi itu, bukan hanya calon mahasiswa baru yang ada di situ, mahasiswa lama juga ada di perguruan tinggi itu. Mereka juga berpartisipasi dalam acara tes tersebut. Mereka bertugas sebagai panitia untuk pendaftaran tes mahasiswa baru. Jesy terlihat gugup. Karena ini kali pertamanya dia menginjakkan kaki ke perguruan tinggi. Dia masih bingung harus melakukan apa. " Kamu mau ambil jurusan apa." Tanya Zelin. " Kedokteran." Jawab Jesy. Zelin menarik tangan gadis bule itu ke kerumunan mahasiswa. Zira mengikuti dari belakang. " Permisi tempat pendaftaran untuk jurusan kedokteran dimana." Tanya Zelin. " Gedung ketiga." Ucap salah seorang mahasiswa. " Terimakasih." Zelin masih memegang tangan wanita indo bule itu menuju gedung tiga. Mereka sampai di depan gedung tiga, di sana ada beberapa meja pendaftaran, dan setiap meja ada dua mahasiswa yang bertugas untuk menerima segala bentuk syarat pendaftaran. Dan di gedung tiga itu bukan hanya untuk jurusan kedokteran tapi banyak jurusan lain yang berhubungan dengan kesehatan seperti ilmu gizi, farmasi, kedokteran, kesehatan masyarakat, keperawatan dan lainnya. " Itu untuk jurusan kedokteran." Ucap Zelin menunjuk salah satu meja. Jesy terlihat gugup. " Kamu kenapa." Tanya Zira. " Saya bingung nona." Ucap Jesy. " Bingung kenapa." Tanya Zelin. " Ini adalah pertama kalinya saya mendaftar ke perguruan tinggi." Ucap Jesy masih gugup. " Ayo saya temani." Zira menarik tangan gadis belia itu. Dia membawa ke depan meja pendaftaran untuk jurusan kedokteran. " Selamat siang, saya mau mendaftarkan jurusan kedokteran untuk adik saya." Ucap Zira. Jesy merasa senang dengan sikap istri bos kakaknya yang tidak membedakan status sosial. " Apa syaratnya sudah di lengkapi." Ucap salah satu mahasiswa. Zira melirik Jesy. Gadis belia itu langsung mengeluarkan semua berkas yang sudah di persiapkannya. Dia menyerahkan berkas itu kepada mahasiswa yang ada didepannya. Mahasiswa itu mengecek kelengkapan semua berkas. " Isi formulir ini." Ucap Mahasiswa itu sambil menyerahkan selembar kertas. Jesy menerima kertas itu dan mulai mengisinya di tempat lain. Setelah semuanya selesai di isi, Jesy menyerahkan kembali kepada mahasiswa itu. " Untuk jadwal ujian akan di umumkan di medsos dan media cetak." Ucap mahasiswa sambil menyerahkan nomor ujian kepada Jesy. Jesy merasa senang untuk tahap pertama dia sudah melaluinya. Dan tahap selanjutnya adalah tahap penentuan dan dia harus lebih rajin belajar agar bisa meraih cita-citanya. " Bantu author dengan like, komen dan vote ya. Jangan hanya minta lanjut tapi tidak vote. Dengan vote kalian memberikan apresiasi atas karya author, dengan vote juga author jadi tambah semangat updatenya. Terimakasih." Chapter 336 episode 335 (S2) Pendaftaran tes perguruan tinggi sudah selesai, mereka kembali masuk ke dalam mobil. " Kak apa kita langsung mengantarkan Jesy pulang." Tanya Zelin. Zira melihat jam tangannya, waktu sudah menunjukkan jam makan siang. " Bagaimana kalau kita makan siang dulu." Ucap Zira. Zelin setuju, tapi Jesy terlihat khawatir. " Bagaimana Jesy, apa kamu mau." Tanya Zira. " Hemmm saya belum izin sama kak Kevin." Ucap Jesy pelan. " Kamu minta izin dulu sama kakak kamu, saya juga mau minta izin sama suami saya." Ucap Zira. Jesy mengirimkan pesan singkat kepada kakaknya yang isinya. Kakak, aku sudah selesai mendaftar di perguruan tinggi, nona Zira dan Zelin mengajak aku makan siang diluar. Apa boleh? Pesan terkirim. Jesy masih menunggu jawaban dari kakaknya. Zira menghubungi nomor suaminya. " Halo sayang." Ucap Zira ketika panggilan terhubung. " Ada apa sayang." Tanya Ziko. " Aku sudah selesai kontrol, dan dokter bilang jahitan aku sudah kering." Ucap Zira. Ziko mendengar langsung antusias. " Serius kamu, berati bisa nanti malam kita lakukan satu jurus." Ucap Ziko genit. " Idih kamu genit banget, masih juga siang." Ucap Zira. " Tidak apa-apa genit sama istri sendiri, daripada genit sama istri orang lain itu baru luar biasa." Ucap Ziko. " Bukan luar biasa tapi luar binasa." Ucap Zira ketus. Ziko tertawa dengan gelak tawanya khasnya yang sedikit berat. " Sayang, aku sudah menemani adiknya Kevin, apa boleh kami pergi makan siang di mall." Ucap Zira merayu. " Kamu baru sembuh udah banyak tingkah." Ucap Ziko ketus. " Banyak tingkah dari Hongkong, aku cuma satu tingkah saja, setelah makan kami pulang, boleh ya." Ucap Zira merayu. " Jesy juga belum berkeliling kota, anggap saja kami lagi menemaninya cuci mata." Ucap Zira lagi. " Baik, tapi ada satu syarat." Ucap Ziko. " Apa syaratnya." Tanya Zira. " Akan aku kirim bodyguard untuk menjaga kalian." Ucap Ziko tegas. " Sayang apa kamu lupa kalau aku telah berguru sama Thanos." Ucap Zira. Zira tidak menginginkan gerak-geriknya selalu di pantau oleh orang suruhan suaminya. Menurutnya dia bisa menjaga dirinya dan dua gadis belia itu. " Ya aku percaya, tapi kamu baru sembuh." Ucap Ziko khawatir. " Sayang yang sakit itu perutku dan sekarang sudah sembuh. Tapi ingat kakiku masih cukup kuat untuk menghajar orang-orang yang jahil kepada kami." Ucap Zira lagi. " Ya sudah jaga diri kamu." Ucap Ziko mengalah. " Terimakasih sayang, muah." Ucap Zira tanpa malu-malu. Panggilan terputus Dua gadis belia itu terlihat tersenyum. " Apa kamu sudah mendapatkan balasan dari Kevin." Tanya Zira. " Belum nona." Ucap Jesy. Di kantor. " Vin, Zira dan Zelin mau mengajak adik kamu makan di mall, apa adik kamu sudah minta izin kepadamu." Tanya Ziko. Kevin melihat ponselnya, ada beberapa pesan yang masuk dari rekan bisnis tapi dia hanya membuka pesan dari adiknya. " Ada tuan." Ucap Kevin sambil membalas pesan adiknya. Di mobil. Jesy melihat ponselnya ada pesan masuk, dia langsung membuka pesan dari kakaknya. Boleh tapi jangan buat susah nona Zira. Jesy membalas. Baik kak " Nona, kak Kevin sudah mengizinkan." Ucap Jesy senang. Zelin langsung menekan pedal gas dan melaju menuju mall terbesar di kota itu. Dalam beberapa menit mereka sudah sampai di depan mall, Zelin memarkirkan mobil di basement mall. Mereka bersama-sama jalan memasuki lift yang ada di basement, lift itu langsung menuju mall. " Kita makan di mana kak." Tanya Zelin. Zira melihat gadis belia yang ada di sampingnya. " Jesy kamu mau makan makanan western apa makanan lokal." Tanya Zira. " Terserah nona saja." Ucap Jesy. " Apa kamu sudah pernah makan makanan sini." Tanya Zira. " Ada nona, kemaren malam mama memasakkan tumis kangkung untuk kami." Ucap Jesy sambil tetap berjalan mengikuti langkah dua wanita di sampingnya. " Oh iya, ternyata mama kamu hebat dalam memasak ya." Puji Zira masih tetap melihat sekeliling mall. " Mama sebenarnya tidak tau menahu tentang masakan sini nona, tapi ada yang mengajari mama." Ucap Jesy menjelaskan. " Oh ya, ternyata mama kamu sudah punya teman di sini." Ucap Zira lagi masih mencari tempat makan yang cocok untuk mereka bertiga. " Iya nona, mereka bertemu di supermarket, wanita itu banyak mengajarkan mama nama-nama sayuran yang masih asing di telinga mama. Dan dia juga menjelaskan segala macam jenis bumbu." Ucap Jesy menjelaskan. Zira manggut-manggut. " Nama wanita yang mengajari mama juga lucu. Kata mama, wanita itu lucu seperti namanya." Ucap Jesy lagi. Zira menghentikan langkahnya di depan rumah makan sunda. Dua gadis belia itu mengikuti seniornya masuk ke dalam rumah makan itu. Mereka memilih meja yang ada di pojok, selain lebih nyamannya tempatnya, di pojok mereka bisa leluasa untuk mengobrol tanpa harus mengganggu pengunjung lainnya. Pelayan datang menyapa mereka, dan meletakkan buku menu di atas meja. Zira dan Zelin mengambil buku menu itu, memilih daftar menu yang cocok untuk menghilangkan rasa lapar mereka. " Saya pesan sate maranggi." Ucap Zira. " Saya pesan nasi liwet." Ucap Zelin. Dan Jesy masih bingung dengan menu yang harus di pilihnya. " Kamu mau makan apa." Tanya Zira. " Ini saja nona." Ucap Jesy menunjukkan gambar yang ada di buku menu. " Oh soto mie." Pelayan mencatat menu yang di pesan. Zira bertanya lagi mengenai ucapan Jesy yang tadi. " Memangnya siapa nama wanita itu." Tanya Zira. " Maksud nona yang membantu mama di supermarket." Tanya Jesy balik. Zira mengangguk kepalanya. " Namanya Manek." Ucap Jesy. " Manek apa Menik." Ucap Zira lagi. " Manek nona." Ucap Jesy membenarkan kalimatnya. " Oh saya pikir Menik." Ucap Zira pelan. " Memangnya ada yang bernama Menik." Ucap Jesy tanya. " Ada orangnya juga lucu seperti namanya." Timpal Zelin. " Oh gitu ya, tapi sepertinya ini orang yang berbeda." Ucap Jesy lagi. Zira dan Zelin menganggukkan kepalanya, menurutnya hanya namanya saja yang hampir mirip. " Ternyata selain nama Menik masih ada nama yang lebih unik." Gumam Zira pelan. Zelin penasaran dengan ucapan kakak iparnya. " Kak, kenapa kakak langsung menyebutkan nama Menik, padahal nama yang di sebutkan Jesy berbeda." Tanya Zelin. " Oh itu spontan saja. Kakak pikir itu si Menik, kalau benar itu dia, berarti calon mertua ketemu dengan calon menantu. Tapi ternyata orangnya berbeda." Ucap Zira. Pelayan datang dengan membawa minuman untuk mereka. " Nona apa maksud anda calon mertua dan calon menantu." Tanya Jesy. " Oh kakak kamu belum cerita tentang wanita pujaannya." Tanya Zira lagi sambil menyeruput minumannya. " Ada tapi tidak detail." Ucap Jesy pelan. " Namanya hampir sama dengan nama yang kamu sebutkan tadi. Orangnya manis, mandiri dan tipe pekerja keras. Dan dia gadis yang periang." Ucap Zira. " Siapa namanya tadi." Tanya Jesy. " Menik." Ucap Zira. " Menik, Menik." Jesy mengulang nama itu untuk mengingat nama wanita pujaan kakaknya. Pelayan datang membawakan makanan pesanan mereka. " Nona, bagaimana saya dapat menemui wanita itu." Tanya Jesy. " Kenapa kamu tidak minta Kevin untuk membawa Menik ke rumah kamu." Ucap Zira. " Karena mama tidak setuju." Ucap Jesy pelan. Zira langsung tersedak, mendengar penuturan gadis belia itu membuat dirinya kaget. " Bantu author dengan like, komen dan vote ya. Jangan hanya minta lanjut tapi tidak vote. Dengan vote kalian memberikan apresiasi atas karya author, dengan vote juga author jadi tambah semangat updatenya. Terimakasih." Chapter 337 episode 336 (S2) Zira langsung meminum minumannya agar tenggorokan sedikit lega. Dua gadis belia itu melihat kearahnya. " Kakak kalau minum hati-hati." Ucap Zelin. " Iya." Jawab Zira. Dia menatap gadis belia di depannya dengan tatapan penasaran. Zira ingin mengorek informasi kepada Jesy. " Jesy saya..." Zira berhenti karena pelayan datang membawa makanan mereka. " Ayo makan." Ucap Zira kepada dua gadis belia itu. Semua menikmati makanannya, walaupun Zira menikmati makanannya tapi dia masih penasaran dengan ucapan Jesy. " Jesy, apa mama kamu sudah pernah bertemu dengan Menik." Tanya Zira. " Menik ... Manek." Jesy mengulang kata itu, dia masih bingung siapa yang di maksud Zira. " Maksud nona, wanita yang di sukai kak Kevin." Tanya Jesy. " Ho...oh." Ucap Zira sambil menganggukkan kepalanya. " Belum nona, kak Kevin juga belum cerita tentang wanita itu." Ucap Jesy jujur. Zira mengernyitkan dahinya seperti sedang berpikir. " Bagaimana kamu bisa bilang kalau mama kamu tidak setuju dengan wanita itu, sedangkan Kevin belum cerita mengenai Menik." Ucap Zira. " Mungkin karena Mama sudah menjodohkan kak Kevin dengan wanita pilihan mama." Ucap Jesy sambil menikmati soto mienya. " Uhuk-uhuk." Zira kembali tersedak. " Kakak kenapa makan terburu-buru, sudah dua kali kakak tersedak, nanti kalau kak Ziko tau, bisa di marahi aku." Gerutu Zelin sambil mengelus punggung kakak iparnya. Zira tidak menghiraukan gerutu adiknya, dia lebih tertarik dengan cerita gadis di depannya. " Apa Kevin setuju dengan perjodohan itu." Tanya Zira lagi. " Pertama tidak, gara-gara perjodohan itu kak Kevin langsung pergi dan kembali ke tanah air, dan itu juga yang menyebabkan papa sakit stroke." Ucap Jesy. Zira sudah mendegar tentang orang tuanya Kevin sakit, tapi penyebabnya baru dia dengar dari Jesy. " Terus bagaimana Kevin bisa menyetujui perjodohan ini." Tanya Zira. Jesy menceritakan awal mula Kevin kembali ke London, dan mencari keberadaan mereka berdua. Dan dia juga menceritakan kalau Kevin mengetahui papanya sakit ketika kembali lagi ke London. Jesy menceritakan tentang niat Kevin membawa keluarganya untuk kembali ke tanah air, tapi mamanya tidak mau dengan alasan hutang budi dengan keluarga Jasmin. " Jadi Kevin mengorbankan perasaannya demi membawa kalian kesini." Ucap Zira. Jesy menganggukkan kepalanya cepat. " Kasihan Kevin, dia berada di posisi yang salah, satu sisi orang tuanya, dan di sisi lain ada wanita yang mencintai dan sebaliknya dia juga mencintai wanita itu." Ucap Zira pelan. " Aku tidak tau harus bagaimana nona, kakak tidak mau menceritakan tentang gadis itu kepada mama." Ucap Jesy lagi. " Mungkin asisten Kevin khawatir mama kamu marah dan kecewa." Timpal Zelin. " Mungkin juga, jadi dia korbankan semuanya." Ucap Zira. " Semuanya." Jesy terlihat bingung. " Iya, dia korbankan perasaannya dengan Menik, perasaan mama kamu dan satu lagi perasaan wanita itu." Ucap Zira menjelaskan. " Iya juga ya." Ucap Jesy. " Seandainya Menik tau tentang ini pasti dia akan menjauh dari kehidupan kakak kamu, dan seandainya wanita itu tau kalau Kevin sudah mempunyai pemilik hati, siapa nama wanita itu." Tanya Zira. " Jasmin." Jawab Jesy. " Iya Jasmin pasti akan kecewa juga." Ucap Zira. " Tapi nona, sebelumnya kak Kevin sudah bilang kepada kak Jasmin untuk belajar mencintai dia." Ucap Jesy lagi. " Ya belajar, tapi Jasmin tidak tau apa yang menyebabkan Kevin masih belajar dengan perasaannya, karena ada seorang wanita di baliknya." Ucap Zira menjelaskan. Jesy manggut-manggut. Mereka masih menikmati makanannya. Zira masih terus berpikir tentang kisah cinta asisten suaminya. " Jesy, kalau mereka sudah bertunangan kenapa Kevin tidak memakai cincin tunangan." Tanya Zira. " Karena mereka memang belum bertunangan, setelah kak Jasmin datang kesini pertunangan baru akan di laksanakan." Jawab Jesy. " Kapan Jasmin kesini." Ucap Zira lagi. " Saya tidak tau kapan, cuma mama kemaren malam cerita kalau kontrak kak Jasmin di rumah sakit London di percepat, jadi dia bisa datang kesini secepatnya." Ucap Jesy menjelaskan. " Apa dia akan menetap di sini." Tanya Zira. " Sepertinya iya, aku dengar kak Jasmin mau melamar jadi dokter di rumah sakit sini." Jawab Jesy. Zira mulai memikirkan cara agar masalah Kevin cepat berlalu. " Begini saja, nanti kamu ceritakan kepada mama kamu, kalau saya akan membantu Jasmin mendapatkan pekerjaan di rumah sakit." Ucap Zira. " Tapi kalau saya cerita nanti mama malah marah, karena telah menceritakan tentang perjodohan ini." Ucap Jesy. " Hemmm begini saja, kamu tidak usah menceritakan tentang ini. Tapi kalau Jasmin datang kenalkan dengan saya." Ucap Zira cepat. " Kenapa kakak terlihat semangat." Tanya Zelin. Zira hanya tersenyum simpul tidak membalas sama sekali ucapan adik iparnya. Makanan yang mereka makan sudah habis. Ketiga wanita itu beranjak dari rumah makan itu. Mereka menyusuri setiap mall, melewati setiap toko yang menjual beraneka ragam benda, dari sepatu, baju, tas dan lainnya. " Kalian mau beli apa." Tanya Zira kepada dua gadis belia itu. " Tidak ada." Jawab Jesy. Zira tersenyum, dia mengerti gadis di depannya merasa segan kepadanya. Dia langsung menarik dua tangan gadis belia itu menuju toko pakaian. " Pilihlah mana yang kalian suka." Ucap Zira. " Tapi aku mau pakaian di butik kakak." Jawab Zelin. " Sekarang kita tidak lagi di butik, jadi kamu pilih saja di sini, lain kali kita ke butik." Ucap Zira. Zelin akhirnya memilih pakaian yang cocok untuk di pakainya kuliah. Jesy masih memilih pakaian yang cocok untuknya. Zira membantu memilihkan pakaian yang cocok untuk Jesy. " Yang ini bagus." Ucap Zira sambil menunjuk pakaian dengan model kekinian. Jesy menganggukkan kepalanya. Setelah mendapatkan pakaian yang cocok, Zira membayar pakaian itu di kasir. Mereka meninggalkan toko itu dan kembali menuju parkiran. " Kak, aku mau tarik uang dulu di ATM." Ucap Zelin. " Kakak ada uang cash." Jawab Zira. " Tidak usah kak, aku punya uang jajan sendiri dari kak Ziko." Zelin menolak pemberian kakak iparnya. " Tapi ini dari kakak bukan dari suami kakak." Ucap Zira lagi. " Enggak kak, kalau aku tidak ada uang nanti minta sama kakak, untuk sekarang masih ada." Ucap Zelin. " Ok kalau begitu." Mereka menuruni eskalator mencari letak mesin ATM. Di mall itu semua mesin ATM ada di luar mall. Dan mesinnya berbarengan dengan mesin-mesin dari berbagai bank, dan hanya di batasi sebuah dinding kaca. Antrian cukup panjang, jadi Zira dan Jesy menunggu di luar, hanya Zelin yang mengantri bersama-sama dengan yang lainnya. Tubuh Zelin sedikit bahenol, apalagi dia memakai baju kaos yang sedikit ketat, sehingga membuat kaum Adam sedikit terpesona melihat bentuk tubuhnya. Di dalam antrian, di depan Zelin ada seorang pria, dan di belakangnya juga pria. Tiba-tiba pria yang di belakangnya meremas bokongnya. Zelin langsung menoleh kepada pria itu. " Kenapa kamu meremas bokongku." Ucap Zelin dengan emosi. Suara Zelin cukup kencang sehingga membuat orang-orang yang mengantri di sisi lain ikut melihat kearah mereka. " Mana ada." Ucap pria itu mengelak. " Dasar pria kurang ajar, aku laporkan kamu sama polisi, karena kamu telah melakukan tindakan asusila kepada seorang wanita." Teriak Zelin. " Mana ada." Ucap cowok itu mengelak lagi. Zelin merasa malu, harga dirinya sebagai wanita di injak-injak oleh perbuatan pria yang ada di belakangnya. " Cepat akui perbuatan kamu." Ucap Zelin lagi. " Tidak, aku tidak melakukan itu." Ucap pria itu. Prak, Zelin langsung menampar pria itu. Pria itu marah dia kembali menampar Zelin. Keadaan di dalam mesin ATM jadi ramai, banyak wanita yang memperolok pria itu. Para wanita yang mengantri di mesin ATM ikut membantu Zelin dengan mengejek pria itu. " Dasar pria genit." Ucap salah seorang wanita. " Kebiri saja." Ucap Ibu-ibu. Pria itu tambah marah dia tidak bisa mengontrol emosinya. Dia menampar ibu yang mengatakan kebiri. Pria lain yang ada disitu sudah memenangkan pria itu, tapi pria yang menampar Zelin seperti kesetanan, dia malah membabi buta memukuli pria yang sudah mencoba menahannya. Dari luar terdengar suara pertengkaran di dalam mesin ATM. " Ada apa itu." Ucap Zira sambil masuk ke dalam mesin ATM di ikuti dengan Jesy di belakangnya. Zira mencari keberadaan adik iparnya. Zelin sedang menangis sambil memegang pipinya. Keadaan di mesin ATM itu sangat ramai dan berisik. Dia menghampiri adiknya. " Kamu kenapa." Tanya Zira. " Di tampar sama pria gila itu." Ucap salah satu ibu. " Kenapa bisa di tampar." Tanya Zira. Ibu itu menceritakan peristiwa yang terjadi di dalam mesin ATM itu. Zira langsung emosi, sambil mengepalkan tangannya dia mendatangi pria yang sedang di pegangi tangannya oleh dua orang pria lainnya. " Apa yang kamu lakukan sama adikku." Ucap Zira emosi. " Siapa kamu." Ucap pria itu sambil emosi. " Aku kakak yang baru saja kamu tampar." Ucap Zira cepat. " Oh yang bokongnya bahenol itu." Ucap pria itu cepat. Prak Zira menampar pria itu dengan cukup kuat. " Kurang ajar." Pria itu marah, dia berusaha melepaskan tangannya dari genggaman dua pria di sampingnya. Pria itu bisa terlepas dari genggaman tangan dua pria di sampingnya. Dia menatap Zira tajam dan ingin menampar wajah wanita di depannya. Tapi dengan sigap Zira bisa menepis tangan pria itu dan menendang perutnya dengan salah satu kakinya. Pria itu langsung tersungkur dan tidak bisa bergerak, karena tendangan yang didapatnya cukup kuat. Tidak berapa lama, tim keamanan mall datang dan membawa pria itu. Dan membawa semua orang yang berada dekat mesin ATM. " Bantu author dengan like, komen dan vote ya. Jangan hanya minta lanjut tapi tidak vote. Dengan vote kalian memberikan apresiasi atas karya author, dengan vote juga author jadi tambah semangat updatenya. Terimakasih." Chapter 338 episode 337 (S2) Sebelum di bawa ke kantor polisi, semua yang berada dekat mesin ATM di bawa ke ruangan khusus. Tim keamanan sudah melaporkan kejadian itu kepada pihak yang berwajib. Zelin dan Jesy merasa takut, karena ini adalah hal pertama yang mereka alami. Zira sebagai orang lebih tua diantara dua gadis itu berusaha menenangkan. " Kalian tenang saja." Ucap Zira sambil mengambil ponselnya. Dia menghubungi pengacaranya. Tidak berapa lama pihak polisi datang membawa mereka semua dengan mengenakan mobil polisi. Ada rasa malu, karena mereka seperti terdakwa yang melakukan kejahatan. Semua pengunjung mall yang tidak mengerti cerita itu berasumsi sendiri, kalau yang di angkut dengan mobil polisi telah melakukan kesalahan. Mobil sudah meluncur ke kantor polisi, sesampainya di sana, mereka di data dan diizinkan untuk menghubungi keluarga. Sebelum menghubungi pihak keluarga, pihak polisi memintai keterangan kepada mereka semua, termasuk Zira, Zelin dan Jesy. " Kak, aku menghubungi kak Ziko apa papa." Tanya Zelin. " Kakak kamu saja." Ucap Zira. Jesy menghubungi Kevin. Sedangkan Zira berkomunikasi dengan pengacaranya. Di kantor Ziko dan Kevin sedang rapat. Ponsel mereka di silent, jadi mereka tidak tau kalau yang menghubungi adalah Zelin dan Jesy. " Kak, tidak di angkat." Ucap Zelin. " Kirim saja pesan." Ucap Zira. " Aku takut kakak marah." Ucap Zelin gugup. " Enggak, sudah cepatan biar kita bisa langsung proses dan pulang." Ucap Zira. Zelin dan Jesy mengirimkan pesan kepada kakak mereka masing-masing. Pesan Zelin untuk Ziko. Kakak, jemput kami di kantor polisi di jalan xxxx. Pesan Jesy untuk Kevin. Kakak, aku takut sekarang kami di kantor polisi, jemput aku kak. Pengacara Zira sudah datang, pria paruh baya itu sudah mendengarkan cerita dari kliennya lewat ponsel, dan dia langsung mengurus masalah itu kepada pihak kepolisian. Ziko telah selesai menyelesaikan meetingnya. Semua yang ada di dalam ruang meeting sudah di izinkan meninggalkan ruangan tersebut. Hanya dua pria itu yang belum keluar dari ruangan. " Apa sudah ada kabar dari mereka." Tanya Ziko sambil melihat ponselnya. " Belum tuan." Jawab Kevin sambil membuka ponselnya. Dua pria itu sama-sama membaca pesan dari adiknya. Mereka saling pandang dan langsung berlari secepat kilat menuju lift. Di dalam ruangan berbentuk kubus itu, jantung mereka berdetak cukup kencang. Ziko berpikiran telah terjadi sesuatu dengan istrinya, dan Kevin memikirkan hal yang sama. Pintu lift terbuka, mereka berlari cukup kencang sehingga tapak sepatu mereka cukup menggema di loby kantor. Semua mata yang ada di loby tertuju kepada dua bos besar itu. " Apa dua bos itu sedang lomba lari." Ucap salah satu karyawan kepada temannya. Kevin langsung mengambil mobil di area parkiran, dan menjemput Ziko di depan pintu loby. Mobil sudah meluncur menuju jalan raya. " Tuan kita ke kantor polisi mana." Tanya Kevin sambil mengemudikan mobil. Ziko membaca pesan dari adiknya dan menyebutkan alamat yang di terimanya. " Apa yang sebenarnya terjadi, ada apa dengan Zira." Ucap Ziko sambil memukul bagian depan mobil. Biasanya bos besar itu duduk di belakang, tapi sekarang Ziko duduk di depan, perasaannya sudah tidak menentu. " Nona Zira tidak menghubungi." Tanya Kevin. " Tidak, berarti telah terjadi sesuatu dengannya." Ucap Ziko emosi. Kevin berusaha menenangkan bosnya, walaupun dia juga panik, tapi di harus bisa berpikiran jernih. Mobil yang mereka tumpangi melewati berbagai rambu lalulintas, setelah melewati jalanan yang cukup panjang, mobil tiba di kawasan kepolisian. Ketika mobil sudah berhenti dengan sempurna, Ziko langsung keluar dan berlari menuju kantor tersebut. Ziko menanyakan perihal adiknya dan istrinya kepada petugas kepolisian yang berjaga di depan. " Tunggu sebentar tuan." Ucap pihak polisi yang sudah mengerti kalau yang berdiri di depannya orang penting. Kevin sudah menyusulnya. Mereka mondar-mandir di dalam kantor polisi itu. Tidak berapa lama petugas kepolisian datang menemuinya. " Sebentar tuan, lagi di proses." Ucap petugas kepolisian. " Apa yang terjadi." Tanya Ziko. " Telah terjadi sesuatu di kawasan mesin ATM." Ucap salah pihak kepolisian. Dua pria itu saling pandang, dan mulai berasumsi sendiri. Mereka berpikir kalau Zira telah di rampok. " Bagaimana mungkin dia bisa di rampok, bukannya istriku menguasai ilmu beladiri." Gumam Ziko pelan. " Mungkin karena nona Zira belum terlalu fit jadi belum bisa menghajar perampok itu." Jawab Kevin. Ziko berjalan mendekati meja jaga. " Kejadiannya di mana." Tanya Ziko lagi. " Di mall tuan." Jawab seorang polisi. " Di mall." Ziko terlihat ragu tentang asumsinya, dia kembali berjalan mendekati asistennya. " Hebat betul perampok itu, punya nyawa berapa dia merampok di dalam mall." Ucap Ziko menahan emosinya. Tidak berapa lama tiga wanita keluar di dampingi seorang pria paruh baya yang bukan lain adalah pengacara Zira. Dan dua orang pihak kepolisian mendampingi mereka sampai depan kantor polisi. " Kakak." Ucap Jesy berlari mendekati Kevin. Dua wanita lainnya yaitu Zelin dan Zira tidak berani mendekati Ziko. Ziko melambaikan tangannya kepada dua wanita yang sangat di sayanginya. Dua wanita itu datang secara perlahan. Yang pertama kali di lihat Ziko adalah Zira, dia melihat wajah istrinya dan sampai ke kaki di lihatnya. Dia ingin memastikan kalau istrinya tidak ada luka lebam. Dan kemudian beralih ke adiknya dan melakukan hal yang sama. " Apa sebenarnya yang terjadi." Ucap Ziko setelah selesai dengan pengecekannya. Pengacara Zira menceritakan kejadian yang terjadi di mall. Wajah Ziko langsung memerah, rahangnya mengeras dan tangannya terkepal. " Mana pria brengsek itu." Ucap Ziko marah. " Pria itu sudah terbukti bersalah saksi-saksi sudah memberikan keterangan dan kamera cctv sudah membuktikan kalau pria itu telah melakukan perbuatan asusila kepada nona Zelin." Ucap pengacara menjelaskan. " Saya mau pria seperti itu di hukum seberat-beratnya agar dia tidak melakukan perbuatan hina seperti itu lagi." Ucap Ziko tegas. " Siap tuan." Jawab pengacara itu. Ziko beralih kepada dua wanita di depannya. " Kenapa kamu tidak menghubungiku." Ucap Ziko marah kepada istrinya. " Aku menghubungi pengacara." Jawab Zira. " Siapa suamimu, pengacara itu atau aku." Ucap Ziko marah. " Aku pikir dengan Zelin menghubungimu, kamu langsung paham." Jawab Zira. " Iya aku paham, tapi aku bisa gila kalau kamu tidak menjelaskan sendiri kepadaku. Kamu tau aku berasumsi sendiri kalau kalian telah di rampok. Apa itu bukan hal gila yang aku pikirkan." Ucap Ziko masih marah. Kemudian Ziko beralih kearah adiknya. " Dan kamu lagi, jangan gunakan pakaian ketat seperti itu, kenapa tidak pakai baju olah raga saja kamu ke mall." Sindir Ziko. Zelin dan Zira menundukkan kepalanya, suaminya marah di depan umum. Di saksikan pihak kepolisian. " Bantu author dengan like, komen dan vote ya. Jangan hanya minta lanjut tapi tidak vote. Dengan vote kalian memberikan apresiasi atas karya author, dengan vote juga author jadi tambah semangat updatenya. Terimakasih." Chapter 339 episode 338 (S2) Ziko memarahi dua wanita itu, dia tidak menyadari kalau perbuatannya membuat Zira dan Zelin malu. " Kamu tidak pernah keluar, sekali keluar pergi ke kantor polisi." Ucap Ziko menyindir istrinya. Zelin membela kakak iparnya. " Bukan begitu kak, kak Zira tadi di luar melihat ada keramaian masuk." Ucap Zelin. Ziko melihat kedua wanita yang di sayanginya dengan tatapan tajam. " Kalian berdua sama saja, coba kalau kamu mau menurutiku dengan memakai bodyguard pasti ini tidak terjadi, dan kamu juga itu pakai baju apa tidak." Ucap Ziko melihat kearah adiknya yang memakai pakaian serba ketat. " Pakailah kak." Jawab Zelin pelan. " Kenapa pakaian kamu ketat semua, apa seperti itu model sekarang." Ucap Ziko marah. Zelin menganggukkan kepalanya pelan. " Iya..!" Ziko melotot kearah adiknya. " Sekalian saja kamu tidak usah pakai baju." Ucap Ziko marah. Kevin mendekati bosnya, dan berusaha menenangkan dan mengingatkan bosnya. " Tuan, sudah cukup marahnya. Ini di tempat umum, nona Zira dan Zelin sudah mengakui kesalahannya." Ucap Kevin berbisik. Ziko melihat sekelilingnya, dia mencari pengacara Zira. " Pak, saya mau melihat pria itu." Ucap Ziko sambil berjalan mendekati pria paruh baya itu. " Pria itu tidak berada di sini tuan, dia di rumah sakit." Ucap pengacara pelan. " Maksud kamu." Ziko bingung. Pengacara menjelaskan kalau tendangan Zira membuat pria itu harus di rawat. Mendengar itu Ziko membelalakkan matanya dan berjalan kembali kearah istrinya. " Ilmu apa yang kamu pakai untuk menjatuhkan lawanmu." Tanya Ziko penasaran. " Ilmu sosial dan budaya." Ucap Zira asal. Ziko masih tidak berekspresi, terlihat dari raut wajahnya kalau dia tidak sedang bercanda. Zira memperbaiki ucapannya. " Melihat Zelin di tampar emosiku naik, lalu aku tendang dia dengan kakiku." Ucap Zira pelan. " Buka sepatumu." Ucap Ziko. " Untuk apa." Zira bingung. " Aku mau melihat apakah ada luka lebam di telapak kakimu." Ucap Ziko khawatir. Menurut Zira kekhawatiran suaminya terlalu berlebihan, dia tidak mau mengikuti suaminya. " Cepat buka." Ucap Ziko lagi. " Sayang, kakiku tidak sakit kalau sakit pasti aku tidak bisa berdiri." Ucap Zira merapatkan giginya. " Kenapa dengan gigimu? Apa kamu pikir kita sedang iklan pasta gigi." Ucap Ziko lagi. Zira tersenyum kaku sambil membuka sepatunya. Ziko langsung mengecek telapak kaki istrinya, mencari ada luka apa tidak di telapak kaki orang yang di cintainya. Semua orang yang berada di situ tersenyum melihat perhatian yang di berikan Ziko kepada istrinya sungguh berlebihan, tapi mereka tetap menikmati drama itu. " Enggak ada kan." Ucap Zira. " Cepat pakai, kakimu bau jempol." Ucap Ziko asal. Zira langsung mencubit lengan suaminya. " Aw..." Ziko meringis. " Masuk ke mobil." Perintah Ziko. Zira menganggukkan kepalanya. " Aku bagaimana kak." Tanya Zelin. " Kamu naik taksi." Jawab Ziko. " Ah kakak." Zelin merengek. " Sudah cepat naik ke mobil." Ucap Ziko lagi " Tapi bagaimana dengan mobil pelangi kak Zira. Mobilnya ada di mall." Ucap Zelin. " Biarin aja, mana tau jika di diamkan di sana coraknya berubah jadi batik." Ucap Ziko asal. Zira, Zelin dan Jesy menunggu di parkiran mobil. Ziko menemui kepala kepolisian. Dia mengurus sesuatu dengan pihak kepolisian. " Di suruh masuk, tapi pintu mobil tidak dibuka." Gerutu Zira. Tiga wanita itu kepanasan, teriknya matahari sore membuat mereka gerah. Tidak berapa lama dua pria itu kembali dan menemui mereka. Ziko tercengang melihat bentuk wajah tiga wanita itu. " Kenapa wajah kalian banyak minyaknya." Ejek Ziko. " Ini gara-gara kamu, di suruh masuk mobil, yang nyuruh malah masuk kantor." Jawab Zira ketus. Ziko tersenyum sambil merangkul bahu Istrinya. " Walaupun wajahmu banyak minyaknya, aku tetap mencintaimu." Rayu Ziko. " Kamu jahat." Zira mencubit pinggang suaminya. " Aw..kenapa cubitan kamu semakin hari semakin ganas, apa itu juga di ajarkan Thanos." Ucap Ziko sambil meringis. Kevin membuka pintu mobil, tiga wanita itu langsung masuk ke dalam mobil dengan cepat. Mereka duduk di baris ke dua, Ziko duduk di sebelah Kevin. Dan Kevin masih bertugas menyetir mobil. Selama perjalanan hanya ada keheningan di dalam mobil, sampai Zira menanyakan lagi perihal mobilnya. " Sayang mobilku bagaimana." Ucap Zira sambil duduknya maju kedepan agar bisa lebih dekat berkomunikasinya. Zira duduk di belakang suaminya. " Biarin aja, kalau coraknya berubah jadi batik baru kita ambil." Ucap Ziko asal sambil menyandarkan kepalanya ke sandaran jok mobil. " Mana mungkin mobil bisa berubah coraknya, kalau tidak di rubah sendiri. Bilang saja itu alasan kamu biar tidak mengizinkanku menyetir lagi." Ucap Zira lagi. " Udah tau nanya, duduk yang bagus dan pakai safety belt." Ucap Ziko masih menyandarkan kepalanya tanpa menoleh kearah istrinya. Posisi duduk Zira masih lebih maju, dia belum mengenakan safety belt. Tiba-tiba Kevin mengerem mendadak, kepala Zira membentur bagian belakang kursi Ziko. " Aw." Ucap Zira sambil memegang dahinya. " Kamu kenapa." Ziko menoleh kebelakang. Dia melihat istrinya sedang memegang dahinya. " Itu kalau tidak mau dengar omongan suami." Sindir Ziko. " Sempit tau, Zelin menguasai semua kursi." Ucap Zira menyindir adiknya karena posisi duduk Zelin yang di tengah dan tubuhnya yang bahenol membuat dia menguasai semua kursi belakang. " Ah kakak." Rengek Zira. " Zelin makanya dapur kamu jangan kebesaran." Sindir Ziko lagi. " Kakak jahat." Rengek Zelin. Semua yang berada di dalam mobil tertawa kecil, melihat tingkah Zelin yang manja. " Kak Ziko." Tanya Zelin lagi. " Hemmm." Jawab Ziko. " Kakak kok tidak perhatian samaku, pipiku kan kena tampar sama pria brengsek itu." Ucap Zelin. " Kamu cemburu." Tanya Ziko. " Iyalah, kakak perhatian sama kak Zira, sampai tapak kaki aja di cek. Aku yang kena gampar tidak di cek sama sekali." Ucap Zelin. " Ya sudah besok kamu datang ke rumah sakit jenguk pria itu dan minta dia untuk menampar kamu lagi, tapi ingat pakai dulu sepatu di wajahmu." Ucap Ziko asal. " Buahahhaha." Semua yang mendengar tertawa, dan Zelin yang tadinya manyun juga ikut tertawa. Mobil masih tetap melaju, melewati padatnya kendaraan dan melewati beberapa rambu lalulintas. Ziko teringat sesuatu, dia menoleh kearah Istrinya. " Sayang, seharusnya kamu bisa di kenakan pasal." Ucap Ziko. " Iya aku tau, karena aku telah mencelakai pria itu. Tapi aku kan membela diriku. Dan saksi juga banyak jadi aku tetap tidak di nyatakan bersalah." Ucap Zira menjelaskan. Ziko manggut-manggut paham. " Zelin, pesan dari kakak jangan kamu abaikan." Ucap Ziko cepat. " Apa itu kak." Tanya Zelin. " Apa itu kak? Kamu lupa yang kakak ucapkan di kantor polisi." Ucap Ziko marah. Zelin mengingat ucapan kakaknya. " Aku lupa mana pesan sama marah." Jawab Zelin polos. Ziko langsung menggaruk rambutnya. " Makanya di catat masih kecil udah pikun." Ziko mengulangi pesannya. " Jangan pakai pakaian yang terlalu ketat, kalau perlu keluar pakai sarung, biar tidak ada yang menggodamu lagi." " Sarung? Kenapa tidak sekalian aja kakak suruh aku pakai selimut." Sindir Zelin. " Nah itu lebih bagus, kalau perlu pakai seprei sekalian." Ucap Ziko tidak mau mengalah. Dua kakak beradik itu perang mulut, tiga orang yang ada di mobil sebagai penontonnya. " Sepertinya kamu perlu belajar beladiri." Ucap Ziko. " Boleh tapi kak Zira gurunya." Ucap Zelin semangat. Zira tersenyum sambil melihat kearah adik iparnya. " Eits jangan salah, justru dengan gurunya Zira kamu tidak akan bisa mengikuti latihannya." Ucap Ziko. " Kenapa kak." Tanya Zelin. " Karena kakakmu Zira belajarnya sama Thanos dan tempat latihannya bukan di bumi tapi di galaksi, jadi bisa kakak pastikan ilmu yang akan di ajarkan ke kamu pasti akan sangat berat." Ucap Ziko asal. " Ah serius kak." Ucap Zelin percaya sambil melihat kearah Zira. " Enggaklah, kakakmu itu mengada-ada, kapan kamu mau belajar kakak selalu ada waktu untukmu." Ucap Zira. " No no, Kevin akan mencarikan guru beladiri untukmu. Kakakmu tidak di izinkan untuk melakukan yang berat-berat karena kami akan memberikan adik untuk Zokoh." Ucap Ziko. Zira mencubit lengan suaminya, dia tidak menyangka suaminya bisa membicarakan hal itu di depan dua gadis belia itu. Zelin kurang mengerti siapa Zokoh, karena dia memang tidak tau nama almarhum anak kakaknya, apalagi Jesy, dia tidak mengerti sama sekali. " Bantu author dengan like, komen dan vote ya. Jangan hanya minta lanjut tapi tidak vote. Dengan vote kalian memberikan apresiasi atas karya author, dengan vote juga author jadi tambah semangat updatenya. Terimakasih." Chapter 340 episode 339 (S2) Kevin sudah mengantarkan semuanya ke rumahnya masing-masing. Tinggal dua kakak beradik yang masih di dalam mobil, menembus kembali keramaian jalan raya untuk tiba di kediaman mereka. Begitu sampai di rumahnya Zira langsung membersihkan tubuhnya. Dan bersiap-siap di dapur untuk menyiapkan makan malam. Begitupun dengan suaminya juga membersihkan tubuhnya di kamar mandi. Setelah selesai dia bergabung dengan istrinya di dapur. Dia ikut membantu dengan menata meja makan. Meja makan sudah terisi dengan makanan hasil olahan Zira. Mereka mulai menikmati makan malamnya, dengan satu piring berdua. " Sayang, tadi Jesy bilang ke aku, kalau mamanya sudah menjodohkan Kevin dengan wanita pilihannya." Ucap Zira sambil mengunyah makanannya. Ziko tidak bergeming dia sibuk dengan makanannya. " Kamu kenapa tidak respon sama sekali." Tanya Zira. " Kamu ingat tidak, hubungan kita bagaimana." Tanya Ziko balik. " Kalau hubungan kita kan karena ancaman, bukan perjodohan." Jawab Zira. " Ah sama saja itu, tapi lihat karena perjodohan itu kita menjadi sebuah keluarga." Ucap Ziko sambil tetap mengunyah makanannya. " Ok kalau pernikahan kita karena perjodohan tapi pada saat itu kamu belum ada perasaan denganku. Sedangkan Kevin ada perasaan dengan Menik, itu bagaimana menurutmu." Tanya Zira. " Kan hanya itu perbedaannya. Menurutku orang tua pasti memilihkan pasangan yang terbaik untuk anaknya, seperti kita." Ucap Ziko lagi. " Idih kamu ini, ok kalau pilihan mamanya Kevin adalah wanita yang cocok untuknya, terus bagaimana dengan Menik. Coba kamu melihat dari sisi wanitanya. Secara Kevin sudah mengutarakan perasaannya, dan Menik pasti juga menyukainya." Ucap Zira sambil memegang sendok. Ziko mengisyaratkan kepada istrinya untuk menyuapi lagi. Zira kembali menyuapi suaminya kemudian menatap suaminya, menunggu jawaban. " Jadi apa yang harus kita lakukan? Itu masalah pribadi Kevin, dia saja tidak cerita sama kita masalahnya. Apa kamu mau jadi pahlawan kesiangan." Ucap Ziko santai. " Aku ada ide, yang ku dengar dari Jesy calonnya itu mau datang kesini dan dia seorang dokter, kenapa tidak kita jodohkan dengan dokter Diki." Ucap Zira semangat. " Hus kamu itu, suka sekali jadi mak comblang, kenapa tidak jadi Mak erot aja." Ejek Ziko. Zira mencubit kembali lengan suaminya. " Aw, dari tadi habis tanganku kamu cubit." Ziko meringis sambil melihat lengannya yang telah di cubit istrinya. " Kamu sih, kalau ngomong suka ngawur." Rengek Zira. " Eh siapa yang pertama bawa kamus kedalam hidupku? Apa itu semua bukan kamu." Tanya Ziko. Zira tersenyum sambil memeluk tubuh suaminya dari samping. " Tapi gara-gara kosakataku kamu tambah cinta kan." Tanya Zira. " Iya cinta mati malah. Mungkin itu pelet yang kamu pakai." Ucap Ziko asal. Mereka berdua tertawa bersama, membayangkan semua kejadian yang berhubungan dengan kosakata aneh dari Zira. Makan malam telah selesai, Zira membersihkan piring-piring kotor, dan suaminya membantu membersihkan meja makan. Pekerjaan yang biasanya di lakukan pembantunya, tapi dia mau melakukannya. Semenjak tinggal di rumah itu, Ziko tidak mau membiasakan hidup mewah, dia ikut serta membantu tugas istrinya. Karena ada rasa iba ketika melihat istrinya harus menahan sakit operasi. Dia tidak bisa membayangkan sakit yang diderita Zira. Menurutnya mengandung saja sudah melelahkan apalagi melahirkan. Setelah selesai bersih-bersih, mereka kembali ke kamar untuk beristirahat. Sebelum tidur pasangan suami istri itu selalu menyempatkan berbicara, karena komunikasi merupakan salah satu hubungan suami istri tetap langgeng. " Jangan ikut campur dengan urusan Kevin, walaupun aku tau pasukan Avengers bisa mengatasi semua masalah, tapi biarkan si Kevin menyelesaikan masalahnya." Ucap Ziko sambil merangkul bahu Istrinya. Mereka menyandarkan tubuhnya di sandaran tempat tidur. Aku tetap akan membantu Kevin, bagaimanapun istrimu ini seorang wanita, tidak tega rasanya kalau dua wanita itu akan tersakiti hatinya. Ziko melepaskan tangannya dari bahu istrinya sambil menatap lekat wajah Zira. " Kenapa kamu mencabut gugatan Sisil dan Kia." Tanya Ziko sambil menatap wajah istrinya. " Oh itu sebenarnya." Zira merasa gugup, dia mengambil keputusan tidak menanyakan terlebih dahulu kepada suaminya. " Aku memang ingin mencabut gugatan itu, karena kasihan satu dan yang kedua aku tidak mau ada permusuhan lagi dengan siapapun." Ucap Zira menjelaskan. " Tapi dengan mencabut gugatan itu kamu memberikan peluang lagi untuk mereka berdua." Ucap Ziko marah. " Sayang, mereka tidak akan melakukan apapun untuk kita, aku sudah mematahkan kaki Sisil, dan Kia hidungnya. Jadi mereka tidak akan berani menyakitiku lagi." Ucap Zira. " Ah kamu itu kalau mau ambil keputusan tanya kepadaku dulu, bukan diam-diam seperti ini." Gerutu Ziko. " Sayang kalau aku minta persetujuan denganmu pasti kamu tidak akan mengizinkanku." Ucap Zira. " Pastilah itu." Jawab Ziko kesal. " Nah betul, makanya aku mengambil keputusan ini sendiri." Ucap Zira. Ziko merasa khawatir dengan keputusan istrinya. Karena dia paham dengan karakter Sisil yang pendendam, dia tidak mau istrinya terluka karena ulahnya sendiri. Zira memijat kaki suaminya sebagai bakti seorang istri. " Aku penasaran dengan pria yang kamu tendang itu, seberapa kuatnya sampai pria itu bisa langsung di rawat." Tanya Ziko penasaran. " Di bahas lagi." Tanya Zira. " Iya, aku masih penasaran." Ucap Ziko. " Itu tendangan biasa saja, mungkin pria itu kaget dan tidak dalam posisi bersiap jadinya sakit banget." Ucap Zira menjelaskan. " Hey nona Zira mana ada orang di tendang tiba-tiba dalam posisi bersiap. Pasti semua orang yang mendapatkan serangan mendadak tidak mempunyai persiapan." Ucap Ziko. Zira tersenyum sendiri dengan penjelasan dari suaminya, ucapannya yang asal di bantah suaminya. " Sebenarnya aku memakai jurus tapak kuda." Ucap Zira asal. Ziko menggaruk kepalanya yang tidak gatal. " Memangnya ada jurus tapak kuda." Tanya Ziko. " Ada...apa kamu mau." Tanya Zira balik. " Oh tidak, aku tidak mau menerima jurus tapak kudamu, aku yang akan melakukan jurus untukmu." Ucap Ziko sambil melucuti baju istrinya. " Sayang mau ngapain." Ucap Zira sambil menahan tangan suaminya. " Kamu yang buka atau suamimu yang buka." Tanya Ziko balik. " Tidak keduanya." Jawab Zira. " Ok, berarti pilihannya aku yang buka." Ucap Ziko sambil melepaskan kancing baju istrinya satu persatu. " Sayang kamu mau ngapain." Tanya Zira lagi. " Tadi di kantor polisi aku belum mengecek tubuhmu apakah ada luka lebam atau tidak." Ucap Ziko. " Alah alasan, bilang saja kalau si tole cari gua." Ucap Zira asal. " Nah itu juga, tapi sebelumnya aku cek dulu. Setelah itu kita lakukan jurus baru." Ucap Ziko semangat. Tubuh Zira sudah tidak memakai pakaian lagi, hanya ada dalaman yang menutupi bagian sensitifnya. " Kamu mau melakukan jurus apa." Tanya Zira. " Berisik, aku mau melakukan jurus bercocok tanam." Jawab Ziko sambil memberikan kecupan di sekujur tubuh istrinya. " Bantu author dengan like, komen dan vote ya. Jangan hanya minta lanjut tapi tidak vote. Dengan vote kalian memberikan apresiasi atas karya author, dengan vote juga author jadi tambah semangat updatenya. Terimakasih." Chapter 341 episode 340 (S2) Malam semakin larut tapi pasangan suami istri itu masih sibuk dengan aktivitasnya, jurus bercocok tanam yang di lakukan Ziko sungguh membuat Zira tak berdaya lagi. Melihat istrinya tidak berdaya Ziko mengakhiri aksinya, dia mengecup dan menyelimuti tubuh mungil istrinya. " Tidurlah yang nyenyak, besok kita lanjutkan lagi." Ucap Ziko. Prok Zira langsung memukul tangan suaminya. " Kamu sudah tidak berdaya tapi masih bisa memukul. Apa kita lanjutkan lagi." Ucap Ziko. " Enggak... aku capek." Ucap Zira menyerah sambil menutup matanya. Ziko membaringkan tubuhnya di sebelah istrinya sambil memeluk tubuh mungil itu. " Besok minta bik Inah buat jamu." Ucap Ziko. " Untuk apa." Tanya Zira sambil menutup matanya. " Untuk kamu." Jawab Ziko. " Ya tapi untuk apa." Zira membuka matanya sambil menatap wajah suaminya yang posisinya tepat di sampingnya. " Untuk melawan jurus bercocok tanamku." Jawab Ziko genit. " Oh jadi aku harus melakukan jurus memanen gitu." Ucap Zira. " Yap betul, semakin lama jurus bercocok tanam yang aku lakukan maka semakin banyak panennya." Ucap Ziko. Zira sudah tidak menjawab ucapan suaminya, badannya merasa lelah, karena sudah cukup lama dia tidak melakukannya dengan Ziko. Dan ini yang pertama kalinya di lakukan mereka berdua, dan yang pertama itu membuatnya cukup kelelahan. Malam semakin larut, keheningan malam membuat udara semakin sejuk. Di dalam kamar hanya suara detik jam yang terus bergerak dan suara nafas dua insan itu juga memecahkan kesunyian malam. Bulan telah kembali peraduannya, digantikan sang mentari untuk menyinari seluruh bumi. Bias cahaya matahari masuk kedalam celah kamarnya. Cahaya itu membuat Zira terbangun dari tidurnya. Zira melihat jam di dinding. Dia langsung lompat dari tempat tidurnya. " Pasti bik Inah sudah datang." Gumam Zira. Dia mencari pakaiannya dan mengenakan pakaian tidurnya. Ketika membuka pintu kamar sudah ada suara seseorang yang sedang memasak di dapur. Bik Inah memang punya kunci sendiri, dia di berikan pemilik rumah kunci duplikat. " Pagi bik." Sapa Zira. " Pagi nona. Maaf telah membangunkan anda." Ucap bik Inah tidak enak hati karena kebisingan di dapur membuat majikannya bangun. " Enggak kok bik, saya tidak merasa terganggu." Ucap Zira. " Bibik masak apa." Zira melihat sebuah panci dan ada potongan daun bawang dan suwiran ayam yang di letakkan di tempat berbeda. " Saya masak bubur ayam nona." Jawab bik Inah. " Wah enak tuh, saya mandi dulu ya." Ucap Zira sambil berlalu meninggalkan bik Inah yang berkutat sendiri dengan masakannya. Ketika pintu kamar di buka, Zira melihat suaminya sedang duduk di pinggir kasur tanpa pakaian sama sekali. " Sayang, aku mandi duluan ya." Ucap Zira sambil mengunci pintu kamarnya dan berjalan menuju kamar mandi. Ziko masih mengumpulkan nyawanya, dia hanya melihat istrinya dan tidak menjawab sama sekali. Zira membersihkan tubuhnya dan tiba tiba suara pintu kamar mandi di ketuk. Tok tok tok. " Apa sayang." Teriak Zira. " Aku mau buang air besar." Ucap Ziko teriak dari balik pintu kamar mandi. " Tunggu, sebentar lagi aku selesai." Teriak Zira sambil buru-buru menyelesaikan mandinya. " Cepat sudah enggak tahan nih." Teriak Ziko sambil menggedor pintu kamar mandi. Zira langsung memakai handuknya dan membuka pintu kamar mandi dengan segera. " Cepat, jangan sampai jatuh, aku tidak mau membersihkan kotoranmu jika jatuh ke lantai." Ucap Zira pelan. Tapi tangan Ziko langsung menarik tangan istrinya. " Hey mau ngapain." Teriak Zira. " Aku tidak mau mencium bau hajatmu." Ucap Zira sambil menutup hidungnya. " Aku bukan mau buang hajat tapi mau bercocok tanam lagi." Ucap Ziko sambil menarik istrinya masuk ke dalam kamar mandi. Di luar kamar bik Inah sudah selesai masak. Dan ada suara seseorang mengetuk pintu rumah. Bik Inah membuka pintu itu, dan mempersilahkan Kevin untuk masuk. " Tuan dan nona masih di kamar." Ucap bik Inah. " Tidak apa-apa bik, saya tunggu di sini saja." Jawab Kevin dan menunggu majikannya di teras depan rumah. " Mau kopi." Tawar bik Inah. " Terimakasih bik, aku sudah minum kopi di rumah." Bik Inah kembali ke dalam untuk membersihkan rumah. " Bakal lama nih, pasti tuan muda sedang membuat adik Zokoh." Gumam Kevin. Untuk mengurangi rasa bosannya Kevin memainkan game yang ada di ponselnya. Hampir satu jam dia menunggu pemilik rumah datang. Dan setelah menit yang ke enam puluh Zira keluar dari dalam rumahnya dengan rambut yang basah. Kevin tersenyum sambil menyapa majikannya. " Pagi menjelang siang nona." Sindir Kevin. " Sore Kevin." Jawab Zira, dia tau kalau asisten itu sedang menyindir dirinya. Kevin hanya tertawa kecil mendengar jawaban majikannya. " Awas nanti kalau kamu menikah. Siap-siap saja akan aku kerjain kamu habis-habisan." Ancam Zira. " Bagaimana nona mau mengerjai saya." Tanya Kevin. " Tunggu saja malam pertamamu." Ucap Zira lagi. " Memangnya apa yang akan anda lakukan nona." Tanya Kevin. " Aku akan menyuruh pasukan Avengers untuk patroli di kamar pengantinmu." Ucap Zira sambil berlalu meninggalkan Kevin. Ziko sudah duduk di kursi makan. Zira langsung menyiapkan sarapan untuk suaminya. Kevin ikut duduk di kursi makan bergabung dengan pemilik rumah. " Bik Inah, aku mau makan juga." Teriak Kevin. Posisi bik Inah ada di dapur jadi Kevin harus berteriak agar suaranya terdengar sampai ke dapur. Bik Inah datang dengan membawa mangkuk. " Katanya sudah makan." Ucap bik Inah sambil meletakkan mangkuk di depan Kevin. " Habis dua majikan kita lama sekali, saking lamanya saya sampai kelaparan." Sindir Kevin. Bik Inah kembali ke dapur untuk melakukan pekerjaannya. Pasangan suami istri itu makan dalam mangkuk yang sama. " Tuan kenapa kalian makan dalam satu mangkuk, apa harga sabun cuci piring mahal." Ucap Kevin asal. " Hust kamu itu, bukan sabunnya yang mahal tapi menghemat tenaga. Karena tenaganya untuk honeymoon." Ucap Ziko sambil melirik istrinya. " Kamu kalau mau makan bawa piring sendiri." Ucap Zira ketus. " Bagaimana kalau saya tidak bawa?" " Pakai saja sepatumu untuk meletakkan makanannya." Ucap Zira asal. " Ih nona jorok. Lalu kalau mau minum bagaimana?" Kevin senang menggangui Zira, karena dia tau kalau majikannya itu malu jika membicarakan yang berhubungan dengan hubungan suami istri. " Pakai aja keran, kalau perlu minum air comberan." Ucap Zira ketus. " Buahahhaha." Kevin tertawa lucu mendengar celotehan majikannya. " Nona kenapa anda sensi banget siang ini." Tanya Kevin pura-pura tidak tau. " Alah, sok enggak tau. Tunggu tanggal mainnya." Ucap Zira mengancam asisten suaminya. Kevin mulai menikmati bubur ayam yang si suguhkan kepadanya. " Enak, boleh tambah lagi." Tanya Kevin. " Kamu kelaparan apa rakus sih." Gerutu Zira. " Perbaikan gizi nona." Ucap Kevin. " Perbaikan gizi dari mananya, badan besar kayak kingkong gitu, bilang perbaikan gizi." Gerutu Zira. " Nona apa tidak lihat jari kelingking saya sangat kecil di bandingkan yang lainnya. Makanya saya perlu perbaikan gizi untuk jari ini agar besar semua." Ucap Kevin asal. Zira meninggalkan asisten itu menuju dapur dan mengisi kembali bubur ayam ke dalam mangkuk Kevin. " Nih makan." Ucap Zira meletakkan kembali ke depan Kevin. Kevin melihat bubur ayam yang di buatkan Zira tidak sama dengan yang di sajikan bik Inah. " Nona kenapa di mangkuk saya ada cabe rawit utuh, bukannya seharusnya cabenya sudah di giling." Ucap Kevin bingung. " Harga cabe mahal, jadi supaya hemat. Kalau kamu mau rasa pedas olesi cabe itu ke bibir kamu seperti lipstik, dan lanjutkan lagi sampai bubur kamu habis. Jadi satu buah cabe bisa di pakai berulang kali, namanya penghematan." Ucap Zira asal sambil cekikikan. Ziko ikut tertawa mendengar ide istrinya yang cukup berlian, menurutnya ide itu sangat bagus dan untuk ibu-ibu yang bingung dalam mengatasi harga cabai yang mahal bisa mengikuti cara istrinya. " Bantu author dengan like, komen dan vote ya. Jangan hanya minta lanjut tapi tidak vote. Dengan vote kalian memberikan apresiasi atas karya author, dengan vote juga author jadi tambah semangat updatenya. Terimakasih." Chapter 342 episode 341 (S2) " Jadi saya harus makan nih cabe rawit." Tanya Kevin. " Enggak usah di makan, di pelototi aja." Ucap Zira. Kevin masih belum kenyang, dia mau makan bubur itu tapi jika tidak ada sensasi sambalnya menurutnya kurang nikmat. " Nona, saya minta sambal yang di giling." Ucap Kevin. " Habis, kalau kamu mau giling sendiri, atau lakukan seperti saran saya." Ucap Zira asal. Dia sedang mengerjai pria di depannya. Rasanya Zira belum puas jika belum mengerjai Kevin. Kevin mulai memasukkan sendok pertama ke mulutnya, dia menggigit cabe rawit utuh itu. Dan menelan dengan buburnya. " Nona, seperti ini juga enak, saya bisa minta cabe rawit yang utuh lagi." Ucap Kevin lagi. Sialan dia menikmati cabe rawit seperti menikmati permen lollipop. " Sudah aku bilang cabe lagi mahal, stok di kulkas juga habis. Jadi satu cabe untuk satu mangkuk." Ucap Zira. " Tapi cabe ini tinggal sedikit sedangkan buburnya masih banyak." Ucap Kevin lagi. " Kamu lakukan saja seperti yang di bilang istriku. Orang jaman dulu belum ada batu gilingan mereka makan cabe seperti itu." Ucap Ziko asal membela istrinya. Kevin mengernyitkan dahinya, menurutnya tidak pernah masuk dalam pelajaran sejarah tentang makan cabe seperti itu. " Tuan, nilai pelajaran sejarah saya bagus dan belum pernah di cantumkan di buku sejarah tentang makan cabe seperti pakai lipstik." Ucap Kevin menyangkal. " Hey kamu kan tinggal di luar negeri, dan sejarah di sana berbeda dengan sejarah disini. Di luar negeri mana kenal namanya cabe rawit apalagi cabe setan." Ucap Zira. " Atau ada cara yang lebih dahsyat dari lipstik cabe itu." Ucap Zira. " Apa nona." Tanya Kevin. " Kamu bisa menjilati batu gilingan yang selesai di pake bik Inah untuk mengulek, rasanya juga pedas." Zira mulai jahil. Kevin menggaruk kepalanya, menurutnya daripada buburnya dingin dan rasanya pasti sudah tidak enak lagi. Mau tidak mau dia melakukan hal yang di perintahkan Zira. Meletakkan lipstik cabe ke seluruh mulutnya kemudian mulai menyuapkan sendok ke mulutnya. Ziko dan Zira menyaksikan itu sambil menahan tawanya. Menurut mereka Kevin pintar-pintar oon. Terus di lakukan Kevin sampai akhirnya dia merasa kepedasan sendiri. " Pedas." Ucap Kevin sambil mulai menegakkan air putih ke dalam tenggorokannya. " Buahahhaha." Sepasang suami istri itu tertawa penuh kemenangan. " Jontor-jontor tuh bibir." Ucap Zira sambil dengan gelak tawanya. Bibir Kevin jadi merah seperti perempuan memakai lipstik. " Kamu seperti artis Holywood anjlok Joli." Ucap Zira sambil dengan gelak tawanya. Kevin baru sadar kalau dirinya baru saja di kerjain majikannya. Ziko melihat jam di tangannya, matahari sudah semakin meninggi, jam terus bergerak yang menandakan pukul sebelas siang. " Sayang, aku berangkat." Ucap Ziko mengecup dahi Istrinya. Ziko sudah bisa mengontrol dirinya untuk tidak sembarang dalam bercumbu dengan istrinya. Itu dia lakukan karena aroma angin Kevin yang masih membekas di hidungnya. Mau tidak mau dia mulai mengontrol dirinya. Mobil sudah bergerak meninggalkan kediaman rumah Zira. Ketika sudah tidak ada bayangan mobil suaminya, dia masuk ke dalam rumah dan mengambil ponselnya. Zira menghubungi modelnya Katherine. " Halo Katherine." Ucap Zira. " Ya Zira." Jawab Katherine. " Sepertinya rencana kita berubah." Ucap Zira. Dia menceritakan tentang Kevin yang akan di jodohkan dengan seorang wanita yang bernama Jasmin. Dan dia juga menceritakan kalau asisten suaminya tidak menyukai wanita itu dan menyukai wanita lain yaitu Menik. " Rencana mana yang berubah." Tanya Katherine. " Kamu akan merayu Kevin di sana, dan buat dua wanita itu cemburu." Perintah Zira. " Terus kalau mereka sudah cemburu bagaimana." Tanya Katherine lagi. " Itu urusan gampang, aku mau lihat siapa yang akan di pilih Kevin, tunangannya atau Menik." Ucap Zira. " Kalau dia malah membela aku bagaimana." Ucap Katherine asal. " Ah kamu, jangan sampai Kevin kepincut dengan bujuk rayu wanita play girl sepertimu." Ucap Zira tegas. " Hahaha, tenang saja bos. Jangan lupa bayaranku." Ucap Katherine sambil dengan gelak tawanya. " Selesaikan dulu pekerjaanmu, tapi kalau sampai Kevin malah kepincut denganmu, sama sekali kamu tidak mendapatkan bayaran." Ucap Zira tegas. " Siap bos laksanakan." Ucap Katherine. Di mobil. " Vin, sepertinya kita tidak usah ke kantor dulu. Mengingat jam sudah semakin siang, kita langsung ke lapas saja." Ucap Ziko. " Baik tuan." Ucap Kevin memutar arah mobilnya menuju lapas tempat Sisil dan Kia di tahan. Siang itu dua wanita yang pernah mengganggu Zira akan bebas, dan kebebasan mereka juga atas izin dari Zira. " Vin, mampir ke toko bunga dulu." Perintah Ziko. " Untuk apa tuan? Apa anda mau membelikan bunga untuk ke dua wanita itu." Tanya Kevin. " Iya betul." Jawab Ziko. " Tapi kenapa tuan harus berbaik hati menyambut mereka berdua dengan sebuket bunga, bukannya kemaren tuan marah ketika mendengar hal ini." Ucap Kevin. " Sudahlah ikuti saja perintahku." Ucap Ziko tegas. Kevin mengikuti perintah tuannya. Walaupun dia bingung dengan jalan pikiran bosnya tapi dia tetap melakukannya tanpa ada bantahan sama sekali. Mobil berhenti di sebuah toko bunga. Toko itu menjual beraneka ragam bunga segar. Ziko memilih bunga dengan warna yang sama untuk kedua wanita itu. Penjual toko bingung dengan pilihan pembelinya. Tapi menurutnya pembeli adalah raja. Jadi apapun yang di pilih pembeli tidak usah di komentarnya, itu pikirnya. Setelah selesai membayar bunga itu, Ziko dan Kevin kembali ke mobil. Kevin merasa aneh dengan bunga kuburan pilihan bosnya tapi dia enggan untuk bertanya. Mobil sudah tiba di lapas. Ziko dan Kevin menunggu di dalam mobil tidak jauh dari pintu tempat keluar para narapidana. Sebelumnya Kevin sudah mendapatkan kabar kalau dua wanita itu akan keluar jam satu siang. Dan mereka tiba di lapas tepat waktu, dalam beberapa menit ada sosok dua orang wanita yang keluar dari pintu lapas. Dua wanita itu terlihat sangat jauh berbeda dari yang pertama kali Ziko kenal. Ziko datang dan menghampiri dua wanita itu sambil memegang dua buket bunga di tangannya. Dua wanita itu terlihat takut dan mundur ketika mengetahui kalau yang mendekat kearah mereka adalah Ziko. " Selamat datang kembali Sisil dan Kia." Ucap Ziko merentangkan tangannya. Dua wanita itu saling pandang, dan mereka tidak mengerti maksud kedatangan suami dari wanita yang menjebloskan mereka ke penjara. Ziko menyerahkan dua buket bunga itu kepada Sisil dan Kia. " Ambilah." Ucap Ziko. Dua wanita itu terlihat ragu. " Cepat ambil." Ucap Ziko sambil merapatkan giginya. Dengan takut dua wanita itu menerima buket bunga itu. " Masuk ke mobil." Ucap Ziko cepat. Sisil dan Kia saling pandang, mereka bingung dengan sikap Ziko yang dingin dan kadang ramah. Begitupun dengan Kevin, dia juga bingung dengan jalan pikiran bosnya. Dengan kaki yang pincang Sisil berjalan menuju mobil Ziko. Dan Kia dengan hidung yang bengkok dia juga berjalan perlahan ke mobil sambil sesekali melihat kebelakang, tempat Ziko dan Kevin berdiri. " Bantu author dengan like, komen dan vote ya. Jangan hanya minta lanjut tapi tidak vote. Dengan vote kalian memberikan apresiasi atas karya author, dengan vote juga author jadi tambah semangat updatenya. Terimakasih." Chapter 343 episode 342 (S2) " Tuan apa yang anda lakukan? Kenapa dua wanita itu ikut masuk ke dalam mobil." Kevin masih belum bisa menemukan maksud di balik ide bosnya. " Nanti kamu juga tau." Ucap Ziko sambil berlalu meninggalkan asistennya menuju mobil. Ziko duduk di sebelah kemudi di samping Kevin. Suasana di dalam mobil sangat hening, dua wanita yang duduk di belakang tidak ada yang berani bertanya untuk apa ataupun mau ngapain mereka di bawa. Yang jelas mereka hanya mengikuti kemauan Ziko. Karena mereka tau kalau mereka keluar karena tuntutan atas kasus mereka di cabut. Mobil berhenti di sebuah restoran, Ziko turun di dampingi asistennya. Ziko agak menundukkan kepalanya agar bisa melihat dua wanita yang masih diam duduk di belakang. " Turun." Perintah Ziko. Dua wanita itu saling pandang dan mereka tetap ikut turun, mengikuti kemauan yang punya mobil. Ziko melangkahkan kakinya masuk ke dalam restoran di ikuti oleh Sisil, Kia, dan Kevin mengikuti dari belakangnya. Sesampainya di dalam restoran, pelayan menyapa mereka dengan senyum terbaiknya. " Selamat siang, berapa orang tuan." Tanya Pelayan. " Empat orang." Jawab Ziko. Pelayan membawa mereka menuju meja yang terdiri dari empat kursi. Ziko langsung duduk dan di sebelahnya Kevin. Dua wanita itu masih belum berani duduk, mereka belum mengerti untuk apa keduanya di bawa ke restoran. " Apa kalian mau makan sambil berdiri." Ucap Ziko. Kedua wanita itu langsung duduk, tepatnya Sisil duduk di depan Ziko dan Kia di depan Kevin. " Pilih makanan yang mau kalian pesan." Ucap Ziko sambil melirik kearah pelayan untuk menyerahkan buku menu kepada dua wanita itu. Tanpa ragu dua wanita itu langsung memilih makanan yang sudah lama tidak di dapatnya selama di penjara. Mereka memesan sesuai selera masing-masing. " Apa masih ada yang mau di pesan lagi." Tanya Ziko. Sisil dan Kia menganggukkan kepalanya, mereka kembali memesan menu yang berbeda. Setelah itu mengembalikan kepada pelayan. Pelayan langsung pergi meninggalkan keempat orang itu. " Ziko... terimakasih karena kamu mau menjemput kami." Ucap Sisil gugup. " Oh saya melakukan ini hanya kasihan saja sama kalian berdua." Ucap Ziko dengan tatapan mematikan. " Walaupun kamu menjemput kami karena kasihan, kami tetap berterima kasih." Ucap Sisil lagi pelan sambil menundukkan kepalanya. Kia menundukkan kepalanya dan memberanikan diri untuk berbicara kepada mantan bosnya tanpa harus melihat lawan bicaranya. " Apa tujuan kamu menjemput kami dan mengajak kami ke restoran mahal ini." Tanya Kia dengan kepala tertunduk. " Owh kamu penasaran, baiklah sebenarnya aku ingin mengatakan setelah kalian selesai makan, tapi karena kalian berdua penasaran akan ku katakan sekarang." Ucap Ziko. " Aku menjemput kalian berdua karena kasihan, kalian berdua hidup sebatang kara di sini. Jadi apa salahnya aku berbaik hati." Ucap Ziko dengan nada suara seperti mengancam. " Tapi aku masih ada orang tuaku." Ucap Sisil. " Oh jadi kamu belum tau, kalau papamu masuk penjara juga sama sepertimu." Ucap Ziko. " Apa..!" Sisil membelalakkan matanya tidak percaya. " Kenapa." Tanya Sisil dengan menutup wajahnya dengan kedua tangannya. " Karena telah melakukan penipuan dan membocorkan rahasia perusahaan orang lain." Jawab Kevin. Sisil meneteskan air matanya, hidupnya benar-benar sebatang kara. Mamanya sudah lama pergi meninggalkannya dan papanya. Dan sekarang tempat dia bertumpu sudah tidak ada lagi. " Tidak perlu kamu menangisi nasibmu, masih banyak orang lebih susah dari kehidupanmu." Ucap Ziko. Kia bertanya lagi mengenai alasan pria di depannya menjemput mereka. " Terus, selain kasihan, kenapa anda menjemput kami dan membawa ke restoran ini." Tanya Kia. " Aku tau kalian lapar dan sudah lama tidak makan makanan seperti ini, jadi apa salahnya aku membawa kalian menikmati makan di restoran ini." Ucap Ziko lagi. " Selain itu." Kia masih belum puas dengan penjelasan Ziko. " Apa kamu mau mendengarkan alasan selanjutnya? Tidak menunggu makanan kamu datang." Tanya Ziko. " Tidak lanjutkan saja." Jawab Kia. " Apa kamu yakin? Nanti selera makan kamu hilang gara-gara mendengar alasanku." Ucap Ziko sambil tersenyum licik. " Langsung saja tidak usah basa basi." Ucap Kia tegas. " Baiklah karena kamu memaksa, akan aku katakan." " Kalian sudah tau kalau kebebasan kalian ini karena jasa istriku, dia menarik semua tuntutannya. Dan karena kebaikan istriku, aku tidak mau kalian membalaskan dendam untuk istriku, atau." " Atau apa." Tanya Sisil. " Atau buket bunga yang kalian pegang akan berpindah ke makam kalian berdua." Ancam Ziko. Deg jantung keduanya berdebar cukup kencang. " Dan satu lagi jika istriku mengalami luka, kalian akan aku cari sampai ke liang lahat." Ucap Ziko dengan tatapan mengintimidasi. " Walaupun bukan kami yang melakukannya." Tanya Sisil lagi. " Ya betul, siapapun yang membuat istriku terluka, kalian yang aku cari." Ancam Ziko lagi. Dua wanita itu merasa tertekan, mereka tidak berniat untuk balas dendam, walaupun rasa benci itu masih ada. Tapi mereka tetap tidak dapat mengalahkan Zira. Dan sekarang ancaman datang lagi, tapi bukan sebagai pelaku, mereka di jadikan kambing hitam atas kesalahan orang lain. Pelayan datang dengan membawa semua pesanan Sisil dan Kia, dan meletakkan di atas meja. " Silahkan." Ucap pelayan sambil meninggalkan meja. " Silahkan nikmati makan kalian." Ucap Ziko menyerahkan sebuah kartu nama dan dua amplop kehadapan dua wanita itu." " Untuk apa ini." Tanya dua wanita itu. " Oh itu, walaupun aku terlihat kejam tapi masih mempunyai perhatian sedikit untuk kalian berdua." Ucap Ziko sambil merapatkan jari telunjuk dan jempolnya. " Itu kartu nama, kalian bisa mencari pekerjaan untuk memulai hidup baru yang lebih baik lagi. Dan di dalam amplop itu ada sedikit uang untuk kalian, gunakan dengan benar." Ucap Ziko sambil beranjak dari kursinya. " Pekerjaan apa yang di tawarkan perusahaan itu." Tanya Kia. " Tidak penting pekerjaan apa, yang jelas pekerjaan itu halal." Ucap Ziko sambil berlalu meninggalkan dua wanita itu. " Tunggu." Teriak Sisil. " Terimakasih atas semuanya." Ucap Sisil sambil menundukkan kepalanya, tapi tidak dengan Kia, dia enggan untuk mengucapkan terimakasih. Ziko sudah berjalan beberapa langkah dan kemudian kembali lagi mendekati meja. " Ingat, jadilah wanita baik-baik jangan ulangi perbuatan kalian lagi, camkan itu!" Ziko pergi meninggalkan dua wanita itu sambil mengenakan kaca mata hitamnya. Sebelum mereka pergi, Kevin sudah membayar tagihan restoran. Mereka naik ke mobil. Dan Ziko tetap duduk di depan. " Sesampai di kantor bersihkan mobil, aku tidak mau duduk bekas dua wanita itu." Ucap Ziko. " Baik tuan." Kevin menekan pedal gas dan meninggalkan restoran menuju ke gedung Raharsya group. " Tuan, kenapa anda memikirkan nasib keduanya." Tanya Kevin. " Aku tidak mau mereka terjerumus kedalam lembah kehancuran lagi, cukup itu jadi pembelajaran buat mereka berdua." Ucap Ziko menjelaskan. " Tapi kenapa tuan harus bersusah-susah mencarikan pekerjaan untuk mereka, memangnya pekerjaan seperti apa yang tuan tawarkan." Tanya Kevin. " Kuli." Mereka berdua tertawa bersama, menurut Ziko tidak mudah untuk keduanya bekerja sebagai kuli, tapi dengan seperti itu setidaknya keduanya memulai dari nol lagi, dan mencari rezeki dengan pekerjaan yang halal. " Bantu author dengan like, komen dan vote ya. Jangan hanya minta lanjut tapi tidak vote. Dengan vote kalian memberikan apresiasi atas karya author, dengan vote juga author jadi tambah semangat updatenya. Terimakasih." Chapter 344 episode 343 (S2) Di kantor. Waktu istirahat para karyawan sudah selesai begitupun dengan Menik, dia juga baru menghabiskan bekalnya. Dia mendatangi meja kerja Koko. " Koci, aku perhatikan dua bos tidak ada di kantor ya." Tanya Menik. " Koci Koci, kenapa tidak panggil saja kuaci sekalian." Gerutu Koko. " Hahaha jangan marah, kamu kalau marah mirip Cici." Goda Menik lagi sambil melihat ke belakangnya. Dari jauh ada dua orang yang sedang berjalan keluar dari lift. " Panjang umurnya." Ucap Menik langsung kabur masuk ke dalam pantry. Koko menyapa bosnya yang lewat di depannya. " Siang, eh sore bos." Ucap Koko bingung harus menyapa apa, karena kedatangan bosnya sudah lewat dari jam istirahat karyawan. " Hemmm." Ucap Ziko. Kevin masuk ke dalam ruangan, dan mulai mengerjakan pekerjaannya yang tertunda. Dia kembali keluar ruangannya dan menuju ke kantor bosnya. Sebelum sampai di ruangan Ziko, Kevin harus melewati pantry dulu, dia melihat sekilas office girl itu sedang berbicara di ponselnya. " Kenapa dia masih memakai ponsel sabun mandi itu." Gerutu Kevin sambil tetap melangkah kakinya. Tok tok tok. " Masuk." Ziko sedang menandatangani beberapa berkas yang di bawakan Koko ke ruangannya. " Ada apa." Tanya Ziko. Koko masih berdiri didepan Ziko, dia masih menunggu berkas yang di tanda tangani bosnya. " Tuan untuk trip dengan kapal pesiarnya sudah ada jadwalnya." Ucap Kevin sambil menyerahkan selembar kertas kepada bosnya. Ziko melihat kertas yang di berikan asistennya dan membaca tanggal keberangkatan, kegiatan di kapal dan harga per orang. " Ada sistem paket tuan." Ucap Kevin menjelaskan sambil menunjuk kertas yang ada di depan Ziko. " Maksud paket apa." Tanya Ziko. " Kalau lebih dari sepuluh orang dapat diskon tuan." Ucap Kevin menjelaskan. " Kalau dapat diskon kamarnya bagaimana? Apa jangan-jangan di suruh bawa kasur sendiri." Ucap Ziko. " Buahahhaha." Koko tidak menyadari kalau dirinya tertawa cukup besar sehingga mengagetkan kedua bos itu. " Kenapa kamu tertawa?" Ziko melihat sekertarisnya dengan tatapan penasaran. " Maaf bos, saya hanya lucu mendengar bawa kasur sendiri, seperti mau camping saja." Ucap Koko sambil menahan tawanya. Ziko dan Kevin saling pandang. Mereka mulai memikirkan ide brilian sekertaris itu. " Bagaimana kalau kita camping saja." Ucap Ziko. " Bagus juga ide kamu." Ucap Ziko. Koko membalas hanya dengan senyuman, dia tidak menyangka kalau guyonannya di jadikan sebuah ide untuk bosnya. " Tuan, tapi nona Zira minta naik kapal pesiar." Ucap Kevin mengingatkan. " Iya, kita naik kapal pesiar. Tapi nginapnya di tenda. Kan lebih menantang." Ucap Ziko. " Sepertinya tidak ada perjalanan seperti itu tuan." Ucap Kevin mengingatkan bosnya. Ziko mulai memikirkan cara agar bisa naik kapal pesiar tapi nginapnya di tenda. " Begini saja, kita sewa kapal yang tidak terlalu besar, dan berhenti di satu pulau." Perintah Ziko. " Apa tuan yakin." Tanya Kevin lagi. Ziko yakin tidak yakin, secara dia tidak pernah tidur di alam, dan sekali tidur di alam itu di halaman rumahnya, dan masih kecil. " Sudah cari saja kapalnya dulu." Perintah Ziko lagi. " Kalau kapal kapanpun ada tuan, cuma saya ragu dengan kita semua, secara kita bukan anak gunung, yang ada anak batu gilingan." Ucap Kevin. " Buahahhaha." Koko tertawa lagi. Ziko dan Kevin kembali melotot kearah pria gemulai itu. " Jangan bersuara dan jangan perlihatkan gigimu, sebelum ada perintah dari bosmu." Ancam Ziko. Koko mengunci mulutnya dengan menutup rapat bibirnya. Ziko mencari sesuatu di dalam laptopnya. Dia menemukan sebuah pulau kecil yang ada vila di pulau itu. " Vin sepertinya rencana kita berubah, kita tetap naik kapal pesiar tapi tidak perlu berkeliling menyusuri lautan. Karena setelah aku pikirkan lautan di susuri tetap berair dan tidak ada rambu lalulintas di dalam lautan." Koko berusaha untuk menahan tawanya sambil memegang mulutnya dengan kedua tangannya. " Benar juga tuan, nona Zira hanya minta naik kapal pesiar, tidak minta menyusuri lautan." Jawab Kevin. " Nah justru itu, kita sewa satu vila itu untuk kita semua." Perintah Ziko. " Baik tuan, terus kami ikut pantungan bayar apa tuan sendiri." Tanya Kevin. " Sialan kamu. Kamu pikir aku sudah bangkrut." Ucap Ziko kesal. Kevin hanya tersenyum sambil berlalu meninggalkan ruangan bosnya. Ziko melanjutkan menandatangani berkas yang di berikan sekertarisnya. " Kamu juga ikut." Ucap Ziko tanpa menoleh kearah depan. Koko melihat kebelakangnya mencari seseorang yang di ajak bicara oleh bosnya. " Kamu kalau di ajak ngomong jawab." Ucap Ziko kesal. " Bos bicara sama saya apa sama mahluk halus." Tanya Koko. " Sama hantu dan kamu hantunya." Ucap Ziko ketus. " Untuk apa saya ikut bos." Tanya Koko. " Aku ingin menceburkan kamu ke lautan." Ucap Ziko asal. " Maaf tuan, saya belum mau bunuh diri." Jawab Koko. " Sudah tidak usah banyak tanya, lagian di sana juga ada Zelin." Ucap Ziko. Koko langsung semangat. " Baik tuan, saya akan ikut." Ucapnya semangat. Ziko menyerahkan berkas kepada sekertarisnya. Lalu pria gemulai itu keluar dari ruangan. Di luar dia melihat Menik sedang berjalan menuju satu ruangan yang bukan lain adalah ruangan Kevin. " Nik." Panggil Koko pelan sambil melambaikan tangannya. Menik menoleh dan berjalan mendekati Koko. " Kamu mau kemana." Tanya Koko. " Aku di panggil pak Kevin." Jawab Menik. " Pasti mau membicarakan masalah jalan-jalan naik kapal pesiar." Ucap Koko. " Mana ada jalan-jalan naik kapal, jalan itu pakai kaki." Protes Menik. " Ya terserahlah." Jawab Koko. " Serius kamu, akan ada perjalan naik kapal dari kantor." Tanya Menik penasaran. Koko menganggukkan kepalanya. " Pasti hanya posisi atas saja yang di ajak, akukan hanya debu yang bertaburan di lantai." Ucap Menik sambil menunduk kepalanya. " Eh jangan minder seperti itu, mana tau pak Kevin memanggil kamu mau mengatakan hal itu." Ucap Koko memberi semangat. " Ah aku kurang yakin." Sambil berlalu meninggalkan meja Koko. Menik berjalan kembali menuju ruangan bosnya. Tok tok tok. " Masuk." Ucap Kevin dari dalam ruangannya. Menik langsung masuk dan berdiri di depan pria itu, sebagai pembatas hanya meja kerja bosnya. " Kenapa kamu masih pakai ponsel sabun mandi itu." Tanya Kevin. Menik mengambil ponsel yang ada dalam saku celananya. " Oh ini, saya belum mau memakai ponsel pemberian bapak." Ucap Menik. " Kenapa?" Kevin menatap tajam wajah Menik. " Apa bapak lupa, kemaren di ruangan ini bapak berjanji akan memberi penjelasan kepada saya dalam satu minggu. Bapak juga bilang kepada saya akan menyelesaikan masalah yang sedang dihadapi. Seminggu itu tinggal beberapa hari lagi pak." Ucap Menik. Deg jantung Kevin langsung berdetak, dia mengingat janjinya yang di ucapkannya. Tapi sampai detik ini belum ada keberanian untuk mengatakan kepada orangtuanya. " Kalau tidak ada keperluan lagi, saya mau pamit keluar pak." Ucap Menik sambil membalikkan badannya hendak melangkah keluar. " Tunggu, besok adalah hari sabtu dan seperti biasanya kamu akan membersihkan rumah saya. Tapi mulai besok kamu tidak perlu datang lagi." Ucap Kevin. " Oh gitu, baik pak." Ucap Menik sambil berjalan keluar ruangan. " Tunggu." Menik memasukkan sebagian kepalanya melihat kedalam ruangan. " Apa lagi pak." Tanya Menik. " Rencananya ada perjalanan dari kantor, apa kamu mau ikut." Tanya Kevin pelan. " Tergantung pak, jika hubungan kita jelas maka saya akan ikut tapi kalau hubungan kita di gantung seperti jembatan gantung, mending saya di rumah saja." Menik langsung menutup pintu ruangan dan kembali ke pantry. " Bantu author dengan like, komen dan vote ya. Jangan hanya minta lanjut tapi tidak vote. Dengan vote kalian memberikan apresiasi atas karya author, dengan vote juga author jadi tambah semangat updatenya. Terimakasih." Chapter 345 episode 344 (S2) Menik kembali ke pantry dan di perhatikan Koko dari jauh. Pria gemulai itu langsung menyambar telepon yang ada di mejanya. " Halo Nik." Ucap Koko. " Apa." Menik sudah menduga yang menghubunginya adalah Koko. " Apa pak Kevin mengajak kamu pergi acara nanti." Tanya Koko. " Iya." Ucap Menik malas. " Yes bagus itu." Koko semangat jika temannya ikut dalam acara itu. " Tapi kenapa kamu sepertinya tidak semangat." Tanya Koko lagi. " Kamu tau pak Kevin berkata seperti ini. Rencananya ada acara dari kantor apa kamu mau ikut." Ucap Menik memperagakan cara berbicara bosnya. " Terus kamu jawab apa." Tanya Koko lagi. " Ku jawab saja, kalau hubungan kami tidak di gantung aku ikut tapi kalau di gantung seperti susu gantung atau jembatan gantung, mending aku tidak ikut." Ucap Menik tegas. " Ih kamu saru pakai susu gantung segala di omongin." Ucap Koko. " Kamu yang saru, susu memang di gantung seperti susu sapi, susu kambing susu kuda semuanya di gantung. Belum pernah sejarahnya ada susu di letakkan tidak digantung." Ucap Menik cepat. " Ada." Ucap Koko tidak mau kalah. " Susu yang di jual di supermarket." Ucap Koko. " Itukan sudah melalui beberapa kali proses. Ah sudah jangan menggosip cepat kerja." Ucap Menik sambil melihat ponselnya yang berdering. Menik buru-buru menjawab panggilan yang masuk, karena suara dering dari ponselnya cukup memekakkan telinga setiap orang yang mendengarnya. " Ya halo." Ucap Menik pelan. " Halo bisa bicara dengan Manek." Ucap salah seorang dari ujung sana. " Manek? Maaf salah sambung." Ucap Menik langsung mematikan panggilan tersebut. " Manek? Manik-manik kali." Gerutu Menik. Tidak berapa lama ponselnya kembali berdering. " Idih suara ayamku jelek banget." Gerutu Menik sambil menjawab kembali panggilan yang masuk. Menik memperhatikan nomor yang masuk sama dengan nomor yang pertama kali menghubunginya. " Halo." Ucap Menik ketus. " Saya mau bicara dengan Manek." " Maaf tidak ada yang bernama Manek di sini." Jawab Menik ketus. " Tunggu jangan di tutup dulu. Apa kamu wanita yang mengajarkan saya tentang macam-macam sayuran dan segala macam bumbu." Ucap Nyonya Paula dari ujung ponselnya. Menik mencoba mengingat kejadian beberapa hari yang lalu. " Apa anda wanita bule yang di supermarket." Tanya Menik lagi. " Ya betul." Ucap Nyonya Paula senang. " Oh ibu, maaf saya tidak mengenali suara ibu dan tidak menyimpan nomor ponsel ibu." Ucap Menik. " Saya yang minta maaf, mungkin saya salah dalam penyebutan nama kamu." Ucap Nyonya Paula. " Hehehe iya Bu. Panggil saya Menik." Ucap Menik secara perlahan. " Manek." Ucap Nyonya Paula. " Menik." Menik mencoba mengulang cara penyebutan namanya. " Manek." Dan lagi-lagi wanita paruh baya itu tetap tidak bisa menyebutkan nama Menik. " Sudah lupakan saja bu. Tidak masalah ibu mau panggil saya Manek atau apapun itu. Yang penting masih sebutan untuk manusia dan bukan hewan." Ucap Menik Nyonya Paula tertawa, terdengar gelak tawanya dari ponsel Menik. " Ada yang bisa saya bantu bu." Tanya Menik lagi. " Owh iya, saya lupa. Besok kamu sibuk tidak?" " Besok saya libur. Memangnya kenapa bu." Tanya Menik. " Saya mau minta bantuan sama kamu." Ucap Nyonya Paula. " Apa yang bisa saya bantu." Ucap Menik sopan. " Maukah kamu menemani saya belanja di pasar." Ucap Nyonya Paula. " Jam berapa bu." Tanya Menik lagi. " Bagaimana kalau jam delapan pagi." Ucap Nyonya Paula. " Baik bu, di mana kita bertemunya." Tanya Menik lagi. Nyonya Paula tidak tau ada berapa pasar di kota itu, dia hanya menyebutkan alamat perumahannya. " Alamat rumah ibu sama dengan alamat rumah teman saya." " Oh ya, berati kamu sering main ke rumah temanmu." Tanya Nyonya Paula. " Tidak sering bu, ada beberapa kali ke sana. Tapi saya lupa bloknya, kalau rumahnya saya ingat." Ucap Menik. " Ya sudah nanti kapan-kapan kamu main ke rumah saya. Mana tau teman kamu tetangga saya." Ucap Nyonya Paula. " Mungkin juga bu." Ucap Menik. " Ibu bagaimana kalau belanja di pasar yang tidak jauh dari perumahan ibu." Ucap Menik. " Boleh juga." Ucap Nyonya Paula. " Baiklah sampai besok lagi Manek." Ucap Nyonya Paula mengakhiri panggilannya. Menik menyimpan nomor telepon Nyonya Paula. " Banyak banget julukan untuk namaku, dari samudera menjadi udara, nuansa jadi nungsep, pagi jadi happy, Menik jadi Manek. Hedeh mungkin kalau masuk dalam nominasi julukan paling banyak aku pemenangnya." Gerutu Menik. Menik mencoba mengingat alamat rumah Kevin dengan rumah yang di sebutkan Nyonya Paula. " Sepertinya rumah mereka berdekatan." Gumam Menik. Menik mencoba mengingat sesuatu. " Wajah Ibu Paula seperti tidak asing tapi di mana aku melihatnya selain di supermarket." Gumam Menik pelan. Tiba-tiba suara ponselnya berdering. Menik kaget dan tidak sengaja menjatuhkan ponselnya. Ponsel itu bercerai berai baterainya lepas dari tempatnya. Menik memungut ponselnya dari lantai. Ada sosok pria yang masuk ke dalam pantry. " Kenapa dengan remotemu." Tanya Kevin. " Remote? Ponsel tau." Jawab Menik ketus sambil meletakkan ponselnya di atas meja dan menyusun kembali ke posisi semula. " Itu remote sudah harus di museumkan. Pakai saja ponsel yang aku belikan." Ucap Kevin. " Enggak." Ucap Menik sambil menghidupkan kembali ponselnya. Menik tersenyum lebar, ponsel jadulnya masih bisa berfungsi. " Ini remote bukan sembarang remote walaupun buruk dan jelek tapi kalau lempar maling langsung ayan tuh maling." Ucap Menik bangga dengan ponsel jadulnya. " Iya tapi ponsel seperti itu sudah ketinggalan jaman." Ucap Kevin lagi. " Ah saya bukan tipe orang yang mengikuti mode, menurut saya sudah bisa telepon dan sms saja sudah syukur." Ucap Menik. " Mau apa bapak ke sini." Tanya Menik sambil tetap tersenyum melihat ponsel jadulnya. " Nona Zira meminta kamu untuk ikut dalam acara nanti." Ucap Kevin bohong. " Ah Bapak bohong ya." Ucap Menik lagi. " Untuk apa saya bohong, tadi nona Zira menghubungi tuan muda Ziko, dan mengatakan kalau kamu harus ikut." Ucap Kevin. " Owh gitu ya, boleh saya minta nomor ponselnya nona Zira." Tanya Menik. " Untuk apa." " Untuk memastikan kalau bapak tidak sedang membohongi saya." Ucap Menik. " Tidak sembarang orang yang boleh memiliki nomor ponsel nona Zira." Ucap Kevin asal. " Oh gitu ya." Menik mencoba memikirkan sesuatu. " Ya sudah, bapak saja yang menghubungi nona Zira, nanti saya yang bicara." Ucap Menik. Kevin bingung, dia tidak tau cara meyakinkan Menik agar percaya dengan omongannya. " Bantu author dengan like, komen dan vote ya. Jangan hanya minta lanjut tapi tidak vote. Dengan vote kalian memberikan apresiasi atas karya author, dengan vote juga author jadi tambah semangat updatenya. Terimakasih." Chapter 346 episode 345 (S2) " Ayo pak, cepat hubungi nomor nona Zira." Ucap Menik. Kevin pura-pura melihat jam di tangannya. Agar terlihat sibuk di hadapan Menik. " Pak, saya suruh Bapak menghubungi nona Zira bukan lihat jam." Ucap Menik lagi. " Oh biasanya jam segini nona Zira lagi kursus menjahit." Ucap Kevin asal. Menik menggaruk rambutnya, menurutnya alasan Kevin terlalu mengada-ada. " Ah Bapak bohong ya, nona Zira kan desainer mana mungkin dia kursus menjahit, seorang desainer pasti bisa juga menjahit." Ucap Menik sambil menuding jari telunjuknya di depan wajah Kevin. Kevin bingung, alasannya terlalu di buat-buat. Menik masih menunggu tepat di depannya. Setiap gerak geriknya di perhatikan office girl itu. Kevin mengambil ponselnya dan menghubungi istri bosnya. Panggilan terhubung. " Halo." Ucap Kevin. " Ya halo ada apa Vin." Ucap Zira. " Hemmm." Kevin bingung mau mengatakan apa, tapi ponselnya keburu di sambar Menik. " Halo nona Zira, ini saya Menik." Ucap Menik sambil berjalan menjauh dari bosnya. Tapi Kevin terus mengikutinya. " Oh ya Menik, ada apa." Tanya Zira. " Kata Pak Kevin, nona menyuruh saya untuk ikut dalam acara nanti." Ucap Menik. " Acara apa." Zira bingung. Dan Kevin yang mendengar langsung garuk-garuk kepalanya. " Biar saya yang ngomong." Ucap Kevin pelan sambil bicara dengan Menik. " Sstt bapak diam saja." Ucap Menik cepat. Dari tempat yang berbeda Zira mendengar perkataan Menik dengan seseorang. " Halo Menik, kamu dengan siapa disana." Tanya Zira. " Dengan Pak Kevin." Jawab Menik. " Jadikan mode speakers ponselnya." Ucap Zira. " Speaker." Menik menoleh kebelakangnya dan sekelilingnya. " Speaker tidak ada di ruangan ini kalau sendok ada." Ucap Menik polos. Kevin langsung mengambil ponselnya dari tangan Menik dan menyalakan speaker ponselnya. " Makanya jangan kelamaan pakai ponsel remote, jadinya enggak paham." Ucap Kevin. Zira mendengarkan percakapan dua orang yang berada di ujung sana. " Sudah cukup berkelahinya." Ucap Zira tegas. Kevin dan Menik diam, mereka berdua menatap ponsel. " Pak letakkan di meja." Ucap Menik. Kevin meletakkan di meja. " Apa yang mau kamu tanyakan Menik." Tanya Zira. " Kata Pak Kevin." Belum selesai Menik berbicar Kevin langsung memotong pembicaraan office girl itu. " Nona, ingat acara yang sudah lama nona dan tuan muda rencanakan. Rencananya minggu depan kita mau berangkat." Ucap Kevin. " Oh acara kapal pesiar itu." Ucap Zira. " Ya betul nona." Jawab Kevin. " Terus apa hubungannya dengan Menik menghubungi saya." Tanya Zira. " Kata Pak Kevin, nona minta saya ikut ke acara itu, apa itu betul nona." Tanya Menik. " Oh tentu itu, kamu harus ikut tidak boleh menolak." Ucap Zira tegas. Kevin tersenyum lebar penuh kemenangan. " Tapi saya." Ucap Menik ragu. " Kenapa Nik? Apa Kevin menyakiti kamu." Tanya Zira. Kevin melotot kearah Menik dengan isyarat jangan mengatakan apapun tentang mereka berdua. " Tidak nona." Jawab Menik. " Apa Kevin sedang melotot kearah kamu." Tanya Zira. Menik dan Kevin saling pandang. " Pak, apa ponsel ini tembus pandang." Tanya Menik sambil berbisik " Tembus pandang? Apa maksud kamu." Tanya Kevin pelan. " Dari mana nona Zira bisa tau kalau anda sedang melototi saya." Ucap Menik. " Mungkin nona Zira punya indera kesepuluh." Jawab Kevin. " Kok sepuluh pak, bukannya enam." Tanya Menik lagi. " Kalau indera keenam untuk melihat hantu tapi kalau kesepuluh untuk melihat jarak jauh." Jawab Kevin asal. " Kok saya baru dengar, seperti satelit aja." Gumam Menik pelan. " Menik, jangan dengarkan jomblo abadi itu, dia sedang mengerjai kamu." Ucap Zira. " Baik nona." Ucap Menik dengan menatap tajam kearah Kevin. " Dan jangan tatap Kevin seperti itu." Ucap Zira lagi. Sekali lagi Menik kaget, dia tidak menyangka tindakannya juga bisa terbaca oleh Zira. " Wah nona hebat." Ucap Menik menyanjung Zira. " Ah itu biasa saja, ingat Menik, kamu harus ikut, apapun alasan yang mau kamu buat tidak akan saya terima. Bye Menik." Ucap Zira mengakhiri panggilan. " Bagaimana nona Zira bisa tau kalau saya sedang menatap bapak." Tanya Menik. " Namanya juga pasukan Avengers, semua bisa di lakukannya." Ucap Kevin enteng. " Contohnya apa saja." Menik penasaran dengan kehebatan Zira. " Kamu tau tidak nona Zira itu bisa menguasai beberapa bahasa." Ucap Kevin. " Beberapa bahasa, berarti bahasa hewan juga bisa ya." Tanya Menik. Kevin memicingkan matanya menatap wanita di sebelahnya. " Kamu jangan ngawur kalau ngomong, dengar tuan muda, bisa habis kamu." Ucap Kevin. " Memangnya apa yang akan di lakukan bos besar." " Mungkin kamu di suruh nikah sama saya." Ucap Kevin sambil tersungging senyuman di bibirnya. " Heleh itu alasan bapak saja. Ayo ceritakan kepada saya, apa saja keahlian nona Zira." Tanya Menik. " Nona Zira bisa menguasai beberapa bahasa asing melebihi dari tuan muda. Dan asal kamu tau kekayaannya lebih banyak di bandingkan tuan muda." Ucap Kevin. " Oh ya, hebat betul." " Kalau orang kaya nikah sama orang kaya, orang miskin nikah sama orang miskin, jadinya tidak merubah status sosial seseorang dong." Ucap Menik. " Hey, tidak semua orang miskin itu berstatus rendah, justru dari orang miskin orang kaya banyak belajar." Ucap Kevin sambil menarik hidung Menik. " Orang miskin itu tau bagaimana caranya bersusah-susah dan ketika dia jadi orang sukses, dia tidak akan tinggi hati. Beda halnya dengan orang kaya, kalau kekayaannya karena dari harta turunan jadi bisa di pastikan orang tersebut belum merasai namanya jatuh bangun, dan ketika orang kaya jatuh, banyak yang gila dan tidak terima." Ucap Kevin. Menik manggut-manggut mengerti. Ada suara tapak sepatu yang terdengar cukup nyaring menuju pantry. Keduanya Kevin dan Menik melihat kearah pintu. " Oh jadi kamu dari tadi di sini ya. Apa ruanganmu mau di pindahkan ke sini." Ucap Ziko tegas. " Apa tidak ada tempat pacaran lagi selain di pantry, apa gajimu tidak cukup untuk membawanya ketempat yang lebih bermodal." Ucap Ziko ketus. Menik langsung membelalakkan matanya, dia tidak percaya kalau bos besar memikirkan hal aneh tentang dirinya dan Kevin. " Ini tidak seperti yang tuan pikirkan, kami baru menghubungi nona Zira." Ucap Kevin. Dia sengaja menjual nama Istri Ziko agar bosnya tidak marah berkelanjutan. " Kenapa kalian menghubungi istriku? Jangan bilang kalau kalian minta restu sama Zira. Menik menggelengkan kepalanya cepat. " Tidak tuan, ini hanya masalah tentang acara kita. Nona Zira mengajak Menik untuk ikut acara nanti." Ucap Kevin menjelaskan. " Aku yang buat acara tapi kamu yang terlalu bersemangat." Sindir Ziko kepada asistennya. Kevin diam sambil melirik Menik. " Kembali bekerja atau gaji kalian akan aku ganti dengan bubuk teh." Ucap Ziko. " Tidak tuan." Ucap keduanya. Kevin keluar dari pantry mengikuti Ziko dari belakang menuju ruangan bosnya. " Bantu author dengan like, komen dan vote ya. Jangan hanya minta lanjut tapi tidak vote. Dengan vote kalian memberikan apresiasi atas karya author, dengan vote juga author jadi tambah semangat updatenya. Terimakasih." Chapter 347 episode 346 (S2) Kevin mengikuti bosnya dari belakang menuju ruangan presiden direktur. Di ruangan itu mereka membahas masalah pekerjaan. Di pantry Menik masih memikirkan acara nanti. Tiba waktunya cofee time untuk semua karyawan. Karyawan bisa menikmati waktu istirahatnya hanya 15 menit. Dan waktu itu hanya sekali dalam sehari dan pada saat sore hari. Banyak karyawan yang datang ke pantry mengambil kopi yang sudah di siapkan dari awal sama Menik. Mereka membawa ke ruangannya dengan cup yang sudah di sediakan. Koko ikut masuk ke dalam pantry untuk mengambil cofee. Karyawan hanya tinggal beberapa orang yang ada di ruangan itu. Koko duduk di kursi pantry menikmati cofeenya yang panas. Setelah sudah tidak ada karyawan lain di pantry. Pria gemulai itu mulai berbicara. " Nik, kamu nanti ikut kan." Tanya Koko. " Mau gimana lagi, nolak tidak bisa." Ucap Menik malas sambil menumpangkan dagunya dengan telapak tangannya. " Kamu di paksa pak Kevin ikut ya." Tanya Koko. " Enggaklah, kalau dia yang maksa mana mau aku ikut, secara kamu sudah dengar alasanku tadi, tapi ini yang mengajak nona Zira." Ucap Menik. " Oh nona Zira. Pasti kamu tidak bisa menolak ya." Ucap Koko lagi. " Iya, mana mungkin aku menolak istri bos besar. Tapi nanti di sana aku bingung, pasti banyak karyawan yang mengejekku." Ucap Menik. " Karyawan? Tadi yang aku dengar di ruangan bos besar, hanya beberapa orang saja yang ikut dalam acara itu salah satunya aku." Ucap Koko bangga. " Oh ya, jadi siapa saja yang di ajak nanti." Tanya Menik lagi. " Aku tidak tau siapa saja, cuma tadi pak Kevin ada bilang tentang paket untuk sepuluh orang. Jadi bisa di pastikan orangnya tidak banyak." Ucap Koko. Menik manggut-manggut. " Kalau tidak banyak orang aku lebih senang dan tidak terlalu minder." Ucap Menik. " Aku pun begitu, dan semoga yang ikut, kita mengenalnya." Ucap Koko pelan. Waktu cofee time sudah berakhir, Koko meninggalkan pantry dan kembali menuju meja kerjanya. Waktu pulang karyawan tinggal satu jam, Menik membersihkan semua peralatan yang kotor. Tidak terasa waktunya karyawan pulang, Menik langsung buru-buru keluar dari pantry dan ikut antri di dalam lift. Semua karyawan selalu memandang rendah kepadanya, apalagi setelah gosip tentangnya dan Kevin menyebar, semua karyawan merasa jijik melihatnya. Tapi Menik adalah orang yang pemberani, dia ikut masuk ke dalam lift bergabung dengan karyawan lainnya. Di dalam lift. " Duh bau banget ya." Ucap salah satu karyawan menyindir Menik. " Iya, baunya dari mana ya." Jawab seseorang. Semua yang ada di dalam lift melihat kearah Menik. " Mungkin dia pakai pelet dengan baunya itu." Ucap karyawati gendut yang pernah bertengkar dengan Menik. Kuping Menik mulai panas. Dia mendekati karyawan yang berbicara tentang dirinya. " Kalau tidak suka samaku bilang ke bos, jangan berani main keroyokkan." Ucap Menik ketus. " Nih cium ketekku yang bau." Ucap Menik sambil mengangkat kedua tangannya di depan karyawan yang mengejeknya. Baju Menik di bagian ketiaknya terlihat basah. Itu yang membuat semua karyawan yang mengejeknya merasa mual. Ting pintu lift terbuka, karyawan pada berhamburan keluar dari dalam lift, tinggal Menik sendiri di dalam lift sambil diam termenung. " Menik kamu mau tidur di situ." Ucap Koko yang melihat ada Menik di dalam lift. Menik langsung keluar dari dalam lift. Berjalan beriringan dengan Koko. " Kamu naik lift yang mana." Tanya Menik. " Itu lift di sebelah kamu." Jawab Koko. " Kamu tadi di lift melamun ya." Tanya Koko. " Ya seperti itu." Jawab Menik. " Kenapa? Apa kamu melamunkan tentang acara nanti." Tanya Koko. " Bukan ini yang lain, aku tadi di dalam lift habis di ejek sama karyawan, mereka bilang aku bau, dan aku pakai pelet dengan bau ku ini." Ucap Menik menceritakan kejadian di dalam lift. " Wah mulut mereka sepertinya mau di sambal." " Memang aku akui ketek kamu bau tapi jangan seperti itu bicara mereka." " Kamu." Menik langsung melotot. " Enggak bercanda." Ucap Koko. Mereka berjalan menuju parkiran. " Ko, aku ikut naik motor kamu ya." Tanya Menik. " Kamu minta izin dulu ke pak Kevin, nanti aku di pecat gara-gara bawa kamu naik motorku." Ucap Koko. " Siapa dia, hubungan kami belum ada kata resmi." Jawab Menik. " Ya setidaknya bilang aja sama pak Kevin, kalau aku di pecat gara-gara bonceng kamu bagaimana." Ucap Koko lagi. " Ya udah aku naik bus saja." Ucap Menik sambil berlalu meninggalkan Koko. " Nik tunggu." Koko langsung menyalakan motornya dan mengejar Menik. " Udah cepat naik." Ucap Koko. Menik tersenyum sambil naik ke atas motor Koko. Dan dari tempat yang tidak jauh, ada Kevin yang memperhatikan mereka berdua. Di dalam perjalanan. " Nik, kenapa kamu tidak mengatakan kepada pak Kevin tentang karyawan yang mengejek kamu." Ucap Koko sambil melajukan motornya. " Aku dan pak Kevin belum ada ikatan apapun, dan aku bisa mengatasi mereka semua." Jawab Menik. " Sampai kapan kamu mau menutup mulut mereka, kalau kamu bilang ke pak Kevin, pasti mereka akan tutup mulut dan tidak akan menggangu kamu lagi." Ucap Koko. " Ko, bagaimana kalau aku sudah mengatakan hal itu kepada pak Kevin, dan ternyata kami tidak berjodoh." Tanya Menik. Koko diam, dia tidak tau harus mengatakan apa. " Bingung kan? Akupun bingung. Makanya biarkan saja mereka mengejekku." Ucap Menik. " Tapi aku kasihan sama kamu." Ucap Koko. " Jangan kasihani aku, kasihanilah dirimu sendiri." Ucap Menik. " Maksud kamu apa." Tanya Koko. " Gitu aja kamu enggak tau, kalau aku hubungan kami memang belum ada kejelasan sama sekali, tapi hubungan kamu sama sekali abu-abu. Maju tidak mundur tidak seperti jalan di tempat." Ucap Menik. " Iya juga, hubunganku dengan Zelin belum ada kepastian sama sepertimu, tapi bedanya aku dan kamu, kalau kamu hanya menunggu kejelasan dari pak Kevin, kalau aku ada kejelasan dari kami berdua tapi aku yang tidak punya prinsip." Ucap Koko pelan. " Nah betul kan, kamu seperti motor mogok." Ucap Menik. " Ko, acara nanti apa nona Zelin di ajak." Tanya Menik. " Aku dengar dari bos besar seperti itu." Jawab Koko. " Ya sudah utarakan saja perasaanmu kepadanya." Ucap Menik. " Kalau aku sudah mengutarakannya berarti kami resmi jadian, tapi masih ada yang mengganjal di hatiku." " Apa itu." Tanya Menik. " Masa laluku." Ucap Koko pelan. " Kalau dia mencintaimu pasti akan menerima kekuranganmu. Dan aku perhatikan kamu sudah banyak berubah, salah satunya jari tanganmu yang sudah tidak lentik lagi." Ucap Menik. Koko memberhentikan motornya di depan halte yang tidak jauh dari gang rumah Menik. " Terimakasih ko." Ucap Menik sambil melangkahkan kakinya. " Nik tunggu." Teriak Koko. " Bagaimana kalau kita sama-sama mengutarakan perasaan kita sama orang yang kita sayangi." Ucap Koko. " Ah aku enggak mau." Menik menolak, dia tidak mau mengatakan perasaannya kepada Kevin walaupun dia tau kalau bosnya sudah tau mengenai perasaannya. " Kenapa Nik? Setidaknya kita sudah mengatakan perasaan kita, kalaupun kita berdua di tolak, aku ada teman untuk bersedih." Ucap Koko pelan. " Enakmu, aku wanita beda sama pria. Untuk mengungkapkan perasaan yang pertama kali adalah pria dan bukan wanita. Walaupun ada wanita yang berani mengungkapkan perasaannya tapi kalau aku tidak berani." Ucap Menik. " Tapi kemaren kamu bilang kalau kamu mengungkapkan perasaanmu kepada pak Kevin." Tanya Koko. " Ya setelah aku tau kalau dia mencintaiku kalau dia tidak mengatakan lebih awal aku tidak akan mengatakannya juga. Tapi sepertinya sia-sia aku mengatakannya." Ucap Menik pelan sambil menundukkan kepalanya. " Kenapa?" " Sepertinya cintanya kepadaku palsu, bye Koko." Menik meninggalkan Koko yang masih ada di atas motornya. " Bantu author dengan like, komen dan vote ya. Jangan hanya minta lanjut tapi tidak vote. Dengan vote kalian memberikan apresiasi atas karya author, dengan vote juga author jadi tambah semangat updatenya. Terimakasih." Chapter 348 episode 347 (S2) Pagi hari udara terasa sejuk suasana masih tenang belum terdengar kebisingan dari jalanan. Menik menyiapkan sarapan untuknya dan adiknya. Bima keluar dari kamarnya dengan setengah mengantuk. " Kakak masak apa." Tanya Bima. " Nasi goreng." Ucap Menik sambil tetap sibuk dengan masakannya. " Bima, kakak pinjam motor kamu ya." Ucap Menik. " Kamu enggak kerjakan." Tanya Menik. " Aku masuk malam." Jawab Bima sambil berlalu meninggalkan kakaknya menuju kamar mandi. Setelah selesai dengan masakannya. Menik langsung menyantap sarapannya. Dia hendak bergegas pergi ke pasar menemui Nyonya Paula. Tidak berapa lama Bima keluar dari kamar mandi. Menik langsung masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Tidak butuh waktu lama untuknya di kamar mandi. " Kakak pergi dulu." Ucap Menik sambil mengambil kunci motor adiknya. " Hati-hati." Ucap Bima. Di tempat lain di kediaman Kevin. " Vin, antarkan mama ke pasar." Perintah mamanya. Kevin sedang menikmati sarapannya. " Iya sebentar ma." Ucap Kevin sambil mengunyah makanannya. " Kamu dari tadi mama bangunin susah banget, mama itu enggak enak sama Manek. Sudah minta tolong sama dia, tapi terlambat." Gerutu mamanya. " Ma, pasar itu dekat dari perumahan kita. Jalan kaki saja bisa." Jawab Kevin. " Jadi kamu suruh mama jalan kaki." Ucap mamanya ketus. " Enggak ma, maksud aku itu, jalan kaki juga bisa karena pasarnya dekat dari sini." Ucap Kevin menjelaskan kepada mamanya. " Apa kamu tega membiarkan mama di culik." Ucap mamanya lagi. " Lah mama kenapa ngomongnya sampai kesana." Kevin bingung, menurutnya mamanya terlalu sensitif. " Ya sudah ayo kita berangkat." Ajak Kevin. " Jesy mama pergi." Teriak Nyonya Paula. " Ya ma hati-hati." Jawab Jesy. Gadis belia itu lagi di taman belakang dengan papanya, dia sedang menjemur papanya sambil menyuapi pria paruh baya itu. Kevin dan mamanya sudah berada di dalam mobil, dalam waktu 15 menit mereka sudah sampai di pasar. " Ini pasarnya." Tanya mamanya. " Iya, cepat kan." Ucap Kevin lagi. " Mana si Manek ya." Gumam Nyonya Paula. " Mama mau aku jemput jam berapa." Tanya Kevin. " Nanti mama hubungi kamu lagi." Ucap Nyonya Paula sambil keluar dari dalam mobil. " Apa perlu mama aku temani dulu sampai wanita itu datang." Tanya Kevin. " Sebentar mama coba menghubungi nomornya." Ucap Nyonya Paula sambil mengambil ponselnya. Panggilan terhubung tapi belum ada jawaban sama sekali. " Kenapa ma." Tanya Kevin. " Panggilannya masuk tapi tidak di jawab." Ucap Nyonya Paula. " Mungkin dia lagi di jalan." Jawab Kevin. Tidak berapa lama ponsel mamanya berdering. " Halo Manek." Ucap Nyonya Paula. " Ibu di mana? Saya di pintu masuk." Ucap Menik. " Saya di parkiran." Jawab Nyonya Paula. " Ya sudah saya kesana." Ucap Menik. " Tidak usah, biar saya yang kesana." Ucap Nyonya Paula. Kemudian panggilan terputus. " Manek nunggu di depan pintu depan, kamu mau nunggu di sini apa mau pulang dulu." Tanya Nyonya Paula. " Mama lama enggak." Tanya Kevin lagi. " Satu jam lah." Jawab Nyonya Paula. " Lama banget." Ucap Kevin. " Mama belanja untuk satu minggu bukan satu hari." Jawab mamanya. " Ya sudah aku pulang dulu." Ucap Kevin sambil menyalakan mesin mobilnya dan meninggalkan mamanya. Nyonya Paula berjalan melewati beberapa kendaraan yang di parkir. Dia bisa melihat Menik sedang berdiri di depan pintu masuk. " Pagi Manek." Sapa Nyonya Paula. Mereka bersalaman satu sama lain. " Ibu sama siapa kesini." Tanya Menik. " Oh di antar anak saya. Tapi dia pulang dulu, biasa anak cowok pasti tidak senang berbelanja." Jawab Nyonya Paula. " Kamu sama siapa kesini." Tanya Nyonya Paula lagi. " Sendirian bu." Jawab Menik. " Apa mau langsung belanja atau mau beli sesuatu di tempat lain." Tanya Menik. " Langsung belanja aja ya." Mereka masuk ke dalam pasar. Suasana pasar begitu ramai. Karena itu adalah hari libur maka banyak pengunjung yang berbelanja di pasar itu. Selain harga murah dan lebih terjangkau, hasil laut dan sayurannya juga segar. Maka banyak yang lebih memilih belanja di pasar di bandingkan dengan supermarket. " Bu, di sini becek beda sama di supermarket." Ucap Menik sambil jalan beriringan dengan Nyonya Paula. " Tidak apa-apa, setidaknya harga di sini jauh lebih murah di bandingkan di supermarket." Jawab Nyonya Paula. Menik mengajak Nyonya Paula ke bagian makanan laut. Dia mengajari wanita paruh baya itu untuk menawar harga ikan. Setelah selesai di bagian makanan laut, Menik mengajak Nyonya Puala untuk ke bagian yang lain, seperti tempat penjualan ayam potong. Nyonya Paula mencoba menawar harga ayam yang di tawarkan si penjual. Walaupun si penjual tidak menurunkan harganya terlalu banyak, tapi Nyonya Paula merasa senang karena dia dapat melakukan hal yang sering di lakukan ibu-ibu lainnya. Menik membawa Nyonya Paula ke bagian sayuran. Menik mengajarkan cara mengolah macam-macam sayuran itu. Semua di beli Nyonya Paula dengan porsi yang lumayan besar. " Ibu, apa itu untuk porsi satu minggu." Tanya Menik. " Iya." " Apa orang bule makan sebanyak itu." Tanya Menik. " Kami tidak makan nasi Menik, beda sama kalian. Kalau kalian karbohidratnya dari nasi kalau kami kentang dan protein yang kami banyakkan. Jadi satu kilo ayam untuk kami hanya sekali makan." Ucap Nyonya Paula menjelaskan. Menik membelalakkan matanya. " Wah kalau satu kilo untuk satu kali makan, berarti satu hari tiga kilo, tiga kali tiga puluh hari." Ucap Menik mencoba menghitung pengeluaran yang di keluarkan oleh Nyonya Paula. " Tidak usah di hitung, nanti kamu pusing." Ucap Nyonya Paula sambil tersenyum. " Untung saya bukan orang bule, kalau saya orang bule, saya hanya bisa makan dua minggu dua minggu lagi puasa." Ucap Menik. " Memangnya kenapa?" Nyonya Puala bingung dengan ucapan Menik. " Gaji saya enggak cukup." Jawab Menik. " Hahaha kamu lucu sekali Menik.'''' Ucap Nyonya Paula. " Kenapa ibu tidak makan nasi." Tanya Menik. " Mungkin belum terbiasa, tapi kapan-kapan saya akan coba makan nasi." Ucap Nyonya Paula. Menik melihat keranjang belanjaan Nyonya Paula semua sudah terisi penuh. " Ibu, apa ada lagi yang mau di beli." Tanya Menik. " Sepertinya sudah cukup. Kalau ada kekurangan saya akan ke pasar sendiri." Ucap Nyonya Paula. " Baiklah kalau begitu, ibu mau saya temani di depan sampai anak cowok ibu datang." Ucap Menik. " Tidak usah, saya mengucapkan banyak terimakasih atas bantuan kamu. Oh iya saya mau minta tolong lagi sama kamu." Ucap Nyonya Paula. " Ada apa Bu." Tanya Menik. " Kamu besok sibuk tidak." Tanya Nyonya Paula. " Besok masih hari libur jadi saya masih bebas." Jawab Menik. " Memangnya ada apa bu." Tanya Menik lagi. " Saya mau minta bantuan kamu untuk membantu saya memasak masakan tradisional. Kebetulan teman saya akan datang dari Inggris." Ucap Nyonya Paula. " Teman saya itu asli orang sini, dia besar disini. Pasti dia rindu dengan masakan tradisional. Makanya saya mau memberikan kejutan untuk mereka dengan menyajikan makanan lokal." Ucap Nyonya Paula. " Hemmm baik bu, tapi saya tidak terlalu pintar dalam mengolah semua masakan." Ucap Menik. " Tidak apa-apa, saya sudah sangat bersyukur kamu mau membantu." Nyonya Paula memberikan alamat rumahnya. " Baiklah bu, saya langsung pulang ya." Ucap Menik sambil meninggalkan Nyonya Paula di depan pintu masuk. Menik jalan ke parkiran motor, dari jauh Kevin melihat Menik sedang menghidupkan motornya. " Si Menik jauh banget belanjanya." Gumam Kevin sambil memarkirkan mobilnya. Dia buru-buru memarkirkan mobilnya agar bisa berjumpa dengan Menik. Ketika dia turun dari mobil, motor Menik sudah berlalu meninggalkan parkiran. " Cepat banget perginya." Gerutu Kevin. Kevin berjalan menuju pintu masuk pasar. Dia melihat sosok mamanya dengan dua keranjang di dekat kaki mamanya. " Sudah siap belanjanya." Tanya Kevin. " Sudah." Ucap Nyonya Paula sambil meninggalkan anaknya dengan dua keranjang. Kevin mengangkat dua keranjang itu dengan tangannya. Dia menunjukkan mamanya tempat mobilnya di parkirkan. " Mana wanita yang membantu mama." Tanya Kevin sambil tetap berjalan menuju parkiran. " Dia sudah pulang, sepertinya dia buru-buru. Mama mau mengenalkan kamu dengannya tapi tidak enak kalau menahannya lebih lama." Ucap Nyonya Paula. Mereka sudah sampai di depan mobil. Kevin membuka bagasi belakang dan meletakkan semua belanjaan ke dalamnya. Nyonya Paula langsung duduk di samping kemudi. " Apa ada yang mau di beli lagi." Tanya Kevin. Nyonya Paula mengingat sesuatu tentang ucapan Menik. " Coba kamu belikan beras." Perintah mamanya. " Untuk apa. Bukannya mama tidak makan nasi." Tanya Kevin " Iya tapi mama mau coba." Jawab Mamanya. Kevin kembali turun dari mobil dan pergi ke toko grosiran yang menjual segala macam bahan pokok makanan. Nyonya Paula tidak mau mengatakan kepada anaknya kalau besok Jasmin dan keluarganya akan datang. Dia ingin memberikan kejutan untuk anaknya. " Jangan lupa like komen dan vote ya, terimakasih." Chapter 349 episode 348 (S2) Kevin sudah kembali dengan membawa sekarung beras dan meletakkannya di bagasi mobil. Kemudian dia kembali duduk di belakang setir mobil. Mamanya sudah menunggunya di sana. " Ma, kenapa banyak sekali belanjanya." Tanya Kevin. " Kan mama sudah bilang itu untuk satu minggu." Jawab Nyonya Paula. " Tapi sabtu lalu mama tidak belanja sebanyak ini." Selidik Kevin, dia penasaran dengan tingkah mamanya yang membeli beras dan jumlah stok makanan yang tidak seperti biasanya. " Ah kamu itu, apa salahnya kita stok banyak, lagian kulkas kamu cukup untuk menampung makanan itu semua." Jawab Nyonya Paula. Kevin langsung menyalakan mesin mobil meninggalkan pasar menuju rumahnya. Sesampainya di rumah Jesy terlihat bingung dengan belanjaan yang di beli mamanya. Dia menanyakan hal yang sama seperti kakaknya. " Ma, kenapa belanjanya banyak banget, apa ada tamu." Ceplos Jesy. Nyonya Paula langsung mengalihkan pembicaraan. " Bagaimana keadaan papa kamu." Tanya Nyonya Paula. " Papa sudah banyak kemajuan, dan sudah mulai berbicara beberapa kata, walaupun kurang jelas tapi banyak kemajuan. Sepertinya pilihan kita pindah kesini tepat." Ucap Jesy. " Maksud kamu apa." Tanya mamanya. " Kalau di sana, papa lebih kelihatan banyak pikiran, tapi di sini papa lebih rileks." Ucap Jesy. " Memang ada banyak kemajuan, tapi bukan karena kita di sini. Tapi karena kakakmu." Ucap Nyonya Paula. Kevin memeluk mamanya. " Aku akan selalu ada di dekat kalian." Ucap Kevin. Jesy membantu mamanya menyusun semua belanjaan. Di tempat berbeda di ruang kerjanya, Kevin menghubungi nomor Menik. Panggilan terhubung tapi tidak di jawab oleh Menik. " Mungkin dia masih di jalan." Gumam Kevin sambil meletakkan ponsel di meja. Kevin menyandarkan kepala dengan kedua tangannya di sandaran kursi. Ponselnya berdering, buru-buru dia mengangkat tapi langsung di matikan dari si penelepon. " Si Menik." Gumam Kevin kembali menghubungi nomor Menik. " Halo Nik? Ada apa." Tanya Kevin. " Kok ada apa? Bukannya bapak yang baru menghubungi saya." Tanya Menik balik. " Oh iya, tadi kamu ke pasar dekat perumahan saya ya." Tanya Kevin. " Kok bapak tau?" " Karena bau amismu membuat ku amis you so much." Gombal Kevin. Menik memonyongkan bibirnya, dia tau kalau sedang di gombal sama Kevin. " Bapak tau enggak hari ini hari apa." Tanya Menik. " Sabtu." Jawab Kevin. " Betul, betul betul aku bingung denganmu." Jawab Menik sambil mematikan ponselnya. Kevin terperanjat karena panggilannya di putuskan Menik sepihak. " Maunya pria apa sih." Gerutu Menik sambil merapikan belanjaannya. Di ruang kerjanya Kevin terlihat bingung. Dia mencoba menghubungi nomor Menik kembali. Menik belum juga menjawab panggilan dari bosnya. " Ayo Nik angkat, aku ingin dengar suaramu." Gumam Kevin sambil menyalakan speaker ponselnya. Dia memutar kursi kerjanya membelakangi pintu. " Apa lagi sih Pak." Jawab Menik ketus. " Apa malam ini kamu ada acara?" Kevin terlihat ragu untuk mengatakannya. " Untuk apa?" Jawab Menik ketus. " Saya mau mengajak kamu nonton film." Ucap Kevin sambil tetap membelakangi pintu. " Maaf pak, saya sibuk." Jawab Menik ketus. " Sibuk? Memangnya kamu mau kemana." Kevin penasaran. " Saya mau pergi sama Rudi." Jawab Menik bohong. " Rudi? Apa kamu sudah balikan dengannya." " Mau balikan apa tidak bukan urusan bapak." Kevin tidak mengetahui kalau mamanya telah masuk ke dalam ruang kerja anaknya, dan mendengarkan sebagian percakapan anaknya dengan seseorang. " Tapi Nik." Kevin memutar kursinya, dan dia kaget melihat mamanya sudah berdiri di depan meja kerjanya. Kevin buru-buru mematikan ponselnya. " Apa wanita itu yang membuat kamu membatalkan perjodohan yang di buat papamu dan Jasmin." Tanya Nyonya Paula dengan tatapan tajam. " Bukan ma." Jawab Kevin pelan. " Kalau bukan kenapa kamu seperti sangat perhatian dengannya?" " Ma, sebenarnya." Kevin mengacak-acak rambutnya, dia takut mengatakan sejujurnya kepada mamanya, karena dia tau kalau mamanya punya riwayat penyakit jantung. " Apa?" Nyonya Paula masih terus menatap tajam wajah anak sulungnya. " Aku...aku mencintai orang lain." Jawab Kevin gugup. " Apa!" Nyonya Paula mundur beberapa langkah. " Mama maafkan aku." Ucap Kevin terbata-bata sambil mendekati mamanya. " Mama tidak mau dengar itu lagi, bagaimanapun mama ingin kamu menikah dengan Jasmin." Ucap Nyonya Paula tegas. " Tapi ma, aku tidak mungkin mencintai Jasmin, karena hatiku sangat mencintai wanita itu." Ucap Kevin lagi menjelaskan. " Stop, mama tidak mau dengar kamu mengatakan cinta untuk wanita itu. Jangan pernah kamu katakan sama Jasmin kalau kamu mencintai wanita lain." Ucap Nyonya Paula tegas. " Ma, aku mohon, jangan berbuat seperti ini. Apa mama tidak kasihan dengan kami berdua, mana mungkin kami menikah tanpa adanya cinta. Rumah tangga seperti apa yang akan kami bangun nantinya." Ucap Kevin. " Pokoknya mama hanya mau Jasmin, siapapun wanita itu harus berhadapan dengan mama." Emosi Nyonya Paula berapi-api, dia sangat marah mendengar kejujuran anaknya. Besok adalah hari kedatangan calon menantunya dan dia tidak mau anaknya merusak semua rencananya. " Ma, asalkan mama tau, pada saat aku pergi ke London, aku sudah mencintai wanita itu. Dan pada saat itu aku mengambil keputusan yang berat dengan menerima perjodohan ini." Ucap Kevin pelan sambil memeluk mamanya. " Jadi kamu membawa kami ke sini karena terpaksa? Iya!" Nyonya Paula menyingkirkan tangan anaknya dari badannya. " Tidak ma? Aku memang ingin membawa kalian ke sini. Tapi perjodohan ini sangat berat bagiku." Ucap Kevin pelan. " Baiklah mama akan kembali ke London agar kamu bisa kembali dengan wanita itu." Ucap Nyonya Paula sambil berlalu meninggalkan anaknya. Kevin mengejar mamanya sampai ke ruang keluarga. " Mama, tolong jangan buat aku tambah bersalah, aku tidak mau jadi anak durhaka." Ucap Kevin sambil memegang tangan mamanya. Jesy yang sedang di ruang keluarga memperhatikan pertengkaran itu. " Baik, kalau kamu tidak mau jadi anak durhaka, ikuti kemauan mama. Kamu harus bertunangan dengan Jasmin secepatnya. Setibanya Jasmin ke sini, kamu harus bertunangan dan mama tidak mau kamu menolak. Kalau kamu membantah, berarti kamu membunuh mama secara perlahan." Ancam Nyonya Paula sambil menepis tangan anaknya dan berlalu meninggalkan Kevin menuju kamarnya. Jesy langsung mendekati kakaknya yang berdiri mematung. " Kakak duduklah." Ucap Jesy sambil menarik tangan Kevin agar duduk di sofa. " Kakak jangan bersedih ya, mama pasti hanya mengancam saja." Hibur Jesy. Kevin tidak menjawab, beban yang di pikuknya terlalu berat. Di satu sisi dia mencintai seorang wanita, dan di satu sisi ada orang yang melahirkannya. " Apa yang harus kakak lakukan." Ucap Kevin pelan sambil memandang langit-langit ruang keluarga. " Kakak bawa bertenang dulu, setelah tenang pasti kakak tau harus melakukan apa." Ucap Jesy menenangkan kakaknya. " Kamu kan tau, mama sama kerasnya seperti papa. Mana bisa mama di bantah." Ucap Kevin cepat. " Iya kakak betul, terus kakak mau melakukan semua permintaan mama? Enggak kan?" " Entahlah." " Apa kakak bilang saja ke kak Jasmin, katakan sejujurnya kalau kakak mencintai wanita itu." Ucap Jesy. " Tidak bisa, mama sudah mengancam dari awal. Kenapa masalah ini semakin rumit seperti ini." Ucap Kevin kesal sambil mengeluarkan nafasnya dengan kasar. " Memang sulit kak, tapi kakak harus mengambil keputusan, lanjut dengan perjodohan ini, apa kakak mengatakan sejujurnya sama wanita itu. Memang berat tapi setidaknya kakak harus jujur. Harus ada yang di korbankan dalam hal ini." Ucap Jesy. " Dan menurut kamu, kakak harus mengorbankan perasaan kakak dengan Menik." Jesy mengangkat kedua bahunya, dia juga tidak bisa banyak memberi masukan untuk kakaknya. " Jangan lupa vote, like dan komen ya. Terimakasih." Chapter 350 episode 349 (S2) Waktu terus berputar meninggalkan sang mentari menyambut sang rembulan. Di kediamannya Menik merasa resah dan gundah. " Kakak kenapa?" Bima memperhatikan kakaknya yang duduk tidak tenang. Mereka sedang menikmati makan malam, tapi Menik serasa tidak bisa menelan makanannya. " Enggak tau, kenapa jantung kakak terus berdetak kencang." Ucap Menik sambil memegang dadanya dengan salah satu tangannya. Bima mengambilkan air putih dan menyerahkan ke kakaknya. " Minumlah, mungkin kakak kecapekan." Ucap Bima menyerahkan gelas yang berisi air putih untuk kakaknya. Menik langsung meminum air pemberian adiknya. " Bagaimana? Apa sudah mendingan." Bima terlihat khawatir melihat kakaknya. " Masih sama." Ucap Menik masih dengan memegang dadanya. Kedua kakak beradik itu saling pandang. Mereka memikirkan hal yang sama. " Apa jangan-jangan." Ucap Bima. " Jangan apa?" Tanya Menik dengan nada tinggi. " Aku belum mau kakak mati." Ucap Bima. Prok Menik langsung memukul adiknya. " Doamu jelek banget, memangnya kamu memikirkan apa?" Ucap Menik sambil merapatkan giginya. " Aku memikirkan kakak sakit jantung." Ucap Bima khawatir. " Kurang ajar, doamu itu yang baik." Menik kembali memukul adiknya. " Habis kakak bilang dada yang sakit, jadi pasti sakit jantung tidak mungkin sakit kepala." Gerutu Bima. " Amit-amitlah." Ucap Menik sambil menggoyangkan badannya takut. Mereka kembali menikmati makan malamnya. " Apa akan terjadi sesuatu dengan kakak." Ucap Menik sambil memberhentikan makannya. " Hus kakak ngomong apa? Jangan seperti itu. Berdoa saja semoga tidak terjadi sesuatu dengan kita berdua." Ucap Bima. Menik menganggukkan kepalanya kembali menikmati makan malamnya. " Kakak besok mau pergi, mau bantu Nyonya Paula." Ucap Menik. " Siapa Nyonya Paula." Tanya Bima sambil melihat kearah kakaknya. " Oh kakak belum cerita ya, Nyonya Paula itu orang bule yang baru datang dari London, dia mau minta bantuan sama kakak untuk masak masakan tradisional." Ucap Menik. " Apa kakak yakin mau kesana?" Bima terlihat khawatir. Menik hanya menganggukkan kepalanya. " Sudah berapa kali kakak bertemu dengan wanita itu." Tanya Bima lagi. " Dua kali." Jawab Menik. " Baru dua kali bertemu tapi sudah minta kakak datang kerumahnya, aneh." Ucap Bima. dengan nada tinggi. " Aneh apanya." Tanya Menik. " Ya aneh saja, baru kenal sudah bawa orang asing ke rumahnya, kalau nyonya itu menipu kakak bagaimana? Soalnya banyak kasus jual beli wanita." Ucap Bima khawatir dengan nada sedikit tinggi. Menik memicingkan matanya, dia tidak menyangka adiknya bisa memikirkan hal itu. " Sepertinya nyonya Paula orangnya baik. Tidak mungkin dia mau menjual kakak. Memang kalau di jual kakak laku berapa." Ucap Menik. " Kakak itu tidak boleh langsung percaya dengan orang, jangan terlalu ramah sama orang yang tidak kenal." Ucap Bima. " Terus kamu mau kakak tidak datang ke sana gitu?" Bima menganggukkan kepalanya. " Kalau dugaan kamu salah bagaimana? Dan kakak tidak datang dengan alasan karena takut di tipu, tapi kenyataannya nyonya Paula menunggu kakak di sana. Kan kasihan kalau dia sampai tidak bisa menjamu tamunya dari luar negeri." Ucap Menik. " Nih yang aku tidak suka dari kakak. Kenapa harus memikirkan sampai segitunya. Bilang saja dari sekarang kalau besok kakak tidak bisa datang, jadi dia bisa mempersiapkan masakan yang lain untuk tamunya." Ucap Bima. Menik memikirkan omongan adiknya. " Kakak sudah berjanji dengan nyonya itu, kecuali belum ada janji." " Kan janjinya hanya lewat omongan. Sudah tidak usah datang." Ucap Bima melarang kakaknya. Menik masih bingung dia tidak enak hati untuk membatalkan sepihak. " Bagaimana kalau besok kamu antar kakak." Ucap Menik. " Enggak bisa, besok aku masuk pagi." Jawab Bima. " Terus bagaimana?" Ucap Menik lagi. " Ya sudah enggak usah datang, jangan-jangan firasat kakak enggak enak karena itu." Ucap Bima. Menik menunjukkan alamat yang di sebutkan nyonya Paula kepadanya. " Ini alamat rumahnya, tidak mungkin ibu itu mau melakukan kejahatan di perumahan elite seperti itu, dan rumahnya juga satu perumahan dengan pak Kevin, jadi kalau terjadi sesuatu kakak akan menghubungi pak Kevin." Bima mengangkat tangannya dia menyerah. Waktu terus bergerak, kedua kakak beradik itu sudah selesai dengan makan malamnya. Mereka kembali ke kamarnya masing-masing. Menik mencoba memejamkan matanya, agar bisa cepat masuk ke alam mimpi, tapi sangat sulit matanya terpejam. Menik menghubungi adiknya dengan ponselnya. " Apa kak." Jawab Bima. " Kakak enggak bisa tidur." Ucap Menik. " Hafal saja perkalian pasti nanti tidur." Jawab Bima sambil menutup panggilan kakaknya. Menik melakukan seperti yang di perintahkan adiknya, dia mulai menghitung perkalian sambil memejamkan matanya, lama-lama dia sudah masuk ke dalam alam mimpi. Di dalam mimpinya, dia ada di sebuah pesta pernikahan. Semua tamu undangan datang mengenakan pakaian serba putih, seperti dirinya tapi dia tidak tau siapa yang menikah. Ada sosok pria yang tersenyum kearahnya dengan memakai setelan tuksedo berwarna putih. Pria itu adalah Kevin. Kevin berjalan ke arahnya, Menik tersenyum kembali kepada Kevin, tapi ketika tangan mereka ingin bersentuhan tidak bisa, seperti ada suatu penghalang untuk mereka. Menik langsung terbangun dari tidurnya. " Ah ternyata aku bermimpi." Gumam Menik sambil mengusap keringat di dahinya. Menik melihat jam di dindingnya. Hari sudah pagi, dia langsung buru-buru turun dari tempat tidurnya. Bima sedang menikmati sarapannya. " Kenapa kamu tidak membangunkan kakak." Ucap Menik. " Bukannya kakak tidak bisa tidur? Makanya aku tidak mau membangunkan kakak." Jawab Bima. Menik menuju kamar mandi setelah itu dia kembali duduk di sebelah adiknya. Dia menikmati sarapan yang di beli adiknya. " Kakak tadi bermimpi." Menik menceritakan tentang mimpinya. " Apa itu suatu pertanda tentang hubungan kakak dengan pak Kevin." Tanya Menik. " Enggak juga, mimpi itu bunga tidur, belum tentu itu kejadian yang akan datang." Jawab Bima. " Tapi kakak sudah memimpikan hal ini dua kali." Ucap Menik lagi. " Kakak itu terlalu banyak memikirkan tentang pak Kevin, jadi terbawa mimpi." Jawab Bima. Bima sudah selesai dengan sarapannya, dia langsung bergegas meninggalkan rumahnya. Sebelum berangkat dia berpesan kepada kakaknya. " Kabari aku jika kakak dalam keadaan baik-baik saja di sana." Ucap Bima sambil pergi dengan motor gedenya. Menik menganggukkan kepalanya, dia menutup pintunya dan kembali ke kamar mandi untuk membersihkan badannya. Setelah selesai dia langsung bergegas untuk mengenakan pakaian yang simpel. Menik menggunakan celana setannya dan baju kaosnya. Rambutnya di kuncir kuda, dan dia menggunakan sepatu ketsnya. Dia berjalan keluar menyusuri gang rumahnya. Di depan gangnya sudah ada tukang ojek yang nongkrong di sana. Menik memberitahu alamat rumah yang di tujunya. Setelah melalui proses tawar menawar akhirnya tukang ojek setuju dengan harga yang di tawar Menik. Di dalam perjalanan Menik masih resah, dia berusaha untuk menenangkan dirinya dengan menghembuskan nafas secara perlahan. " Sakit neng." Tanya supir ojek. " Enggak." Jawab Menik cepat. " Oh abang kirain sakit neng." Ucap supir ojek. " Saya sehat kok." Jawab Menik. Motor melaju dengan kecepatan yang sedang. Lalu lintas sangat padat pada hari itu, karena banyak yang melakukan aktivitas di luar rumah. Sehingga banyak kendaraan di jalan raya. Di tempat lain. Nyonya Paula terlihat gelisah, dia mondar mandir di rumahnya. Dua anaknya memperhatikannya. " Mama kenapa sih." Tanya Jesy. " Apa mama lagi nunggu seseorang." Tanya Kevin yang melihat mamanya sesekali melihat kearah pintu. " Iya, mama sedang menunggu Manek." Jawab Nyonya Paula. " Apa mama mengundang dia kesini." Tanya Kevin. " Iya, mama minta di ajarkan masak sama dia." Jawab mamanya. Ojek yang membawa Menik sudah sampai di depan gapura perumahan. Menik menyebutkan blok rumah nyonya Paula. Supir ojek hendak membelokkan motornya kearah rumah Kevin. " Bang sepertinya bukan belok sini." Ucap Menik. Supir ojek memutari beberapa blok perumahan tapi tidak menemukan alamat rumah yang di tuju penumpangnya. " Neng sudah tau belum alamat rumahnya." Tanya tukang ojek. " Sudah." " Tapi kenapa alamatnya tidak ada, semua blok sudah kita lewati cuma blok yang di depan sana yang belum. Memangnya kenapa dengan blok itu?" Tanya tukang ojek. " Ya sudah kita lewati blok itu." Jawab Menik. Supir ojek masuk ke dalam blok yang belum di lewati mereka. Dan memberhentikan motornya di depan sebuah rumah mewah. " Ini alamatnya. Coba dari tadi kita lewat sini pasti langsung ketemu rumahnya." Gerutu tukang ojek. Menik masih diam, dia melihat rumah mewah di depannya. Supir ojek masih menunggu bayarannya. Menik langsung menyerahkan beberapa lembar uang kertas kepada tukang ojek itu. Motor langsung melaju meninggalkan Menik. " Ini bukannya rumah pak Kevin." Gumam Menik pelan sambil melihat rumah yang ada di sekitar situ. Menik masih berdiam diri di depan rumah mewah itu. Dia memutar memorinya tentang keterkaitan antara nyonya Puala dengan Kevin. Menik langsung membelalakkan matanya tidak percaya, dia memutar badannya hendak meninggalkan rumah itu. " Like, komen dan vote yang banyak ya. Terimakasih." Chapter 351 episode 350 (S2) Dari dalam rumah terdengar ada suara motor di nyalakan. Nyonya Paula langsung berlari kecil ke ruang tamu dan membuka rumahnya. Dia melihat seorang wanita sedang membalikkan badannya dan hendak pergi meninggalkan rumahnya. " Manek." Teriak Nyonya Paula. Menik membalikkan badannya dan tersenyum kecut kearah wanita paruh baya itu. " Eh Ibu." Ucap Menik sambil tersenyum kaku. " Kamu mau kemana? Rumah saya di sini. Mari masuk." Wanita paruh baya itu menarik tangan Menik dan mengajaknya masuk ke dalam rumah mewah itu. " Dari tadi saya nunggu kamu, saya pikir kamu tidak datang." Ucap Nyonya Paula. Menik berusaha untuk tetap tersenyum sambil mengingat semua kejadian di supermarket yang mengatakan kalau anaknya Nyonya Paula hanya dua yang sulung pria dan sudah mempunyai kekasih. Mereka sampai di ruang keluarga. " Vin, ini Manek." Ucap Nyonya Paula mengenalkan anaknya dengan Menik. Kevin beranjak dari kursinya dan membalikkan tubuhnya melihat ibunya sedang memperkenalkan seorang wanita kepadanya. Kevin membelalakkan matanya kaget, Manek yang di maksud ibunya adalah Menik pujaan hatinya. Menik tidak bergeming, dia menatap tajam kearah Kevin. Kevin merasa serba salah, dia bisa membaca raut wajah Menik yang sedang marah kepadanya. " Kenapa kalian hanya diam saja." Ucap Nyonya Paula memperhatikan tingkah Menik dan Kevin yang diam tak bergeming. Di ruang keluarga itu ada Jesy, dia memperhatikan tingkah keduanya. " Kevin." Ucap Kevin mengulurkan tangannya kearah Menik. Kevin berakting seolah-olah tidak mengenal Menik. Menik hanya terdiam tidak membalas uluran tangan pria di depannya. " Manek anak saya sedang mengulurkan tangannya ke kamu." Ucap Nyonya Paula. " Oh iya Bu." Ucap Menik sambil mengulurkan tangannya juga kearah Kevin. " Menik." Ucap Menik. Jesy yang berada di ruangan itu sontak berdiri tegak. Semua yang ada di dalam ruangan itu langsung kaget dan melihat kearahnya. " Kamu kenapa." Tanya mamanya. " Eh enggak ma, nama kakak itu lucu." Jawab Jesy gugup. Kevin masih memegang tangan Menik, buru-buru Menik melepaskan tangannya dari genggaman bosnya. Jesy mengulurkan tangannya untuk bersalaman dengan Menik. " Jesy." " Menik." Nyonya Paula mengajak Menik berkeliling rumahnya. Dia menunjukkan semua ruangan yang ada di situ. Aku sudah tau bu, sebelum anda datang ke sini. Akulah orang yang membersihkan semua ruangan ini. " Dan ini dapurnya." Ucap Nyonya Paula menunjukkan dapur mewah anaknya. Menik hanya menganggukkan kepalanya. Jesy dan Kevin ikut masuk ke dalam dapur. Nyonya Paula memperhatikan dua anaknya yang mengikutinya. " Kevin, apa kamu mau masak juga." Sindir Nyonya Paula. " Tidak ma." Jawab Kevin menggelengkan kepalanya sambil melirik Menik. Semua gerak gerik mereka berdua di perhatikan adiknya. " Kamu nonton saja, mama mau masak sama Manek, dan Jesy kamu jangan pergi dari sini." Perintah mamanya. Jesy menganggukkan kepalanya. Kevin ingin terus berada di dapur, dia ingin mendengarkan semua percakapan mamanya dan Menik. Tapi karena sudah ada ultimatum dari mamanya, maka dia langsung berpindah ke ruangan lain. Nyonya Puala menunjukkan semua belanjaannya yang kemaren di belinya bersama Menik. " Kita masak apa." Tanya Nyonya Paula. Menik memberitahukan masakan yang dapat di olah dengan waktu cepat tapi tidak mengurangi citarasanya. Dia ingin segera keluar dari rumah itu, rasanya dadanya sesak mengingat semua ucapan Nyonya Paula mengenai Kevin yang sudah mempunyai kekasih, tapi dia berusaha untuk tidak meneteskan air mata. Sesekali Menik menengadahkan kepalanya, agar bulir air matanya tidak jatuh. Posisi Menik membelakangi Nyonya Paula dan Jesy. Menik menghadap ke jendela sedang menyiapkan bahan-bahan yang di perlukan. Sedangkan posisi Nyonya Paula dan Jesy sedang duduk di depan meja dapur. " Terimakasih atas kebaikan kamu Menik, kalau kamu tidak datang saya tidak tau mau menyajikan masakan apa untuk calon besan saya." Ucap Nyonya Paula sambil memotong sayuran. Deg jantung Menik langsung berdetak kencang ketika mendengarkan penuturan wanita paruh baya itu. Sedangkan Jesy yang berada di situ, membelalakkan matanya melihat kearah mamanya. Dia tidak suka dengan kejujuran mamanya yang pasti menyakitkan hati Menik. Apa! Aku harus memasak untuk calon istrinya. Hati Menik langsung menjerit, dia tidak bisa meluapkan keluh kesahnya secara langsung, hanya bisa meluapkannya dengan batinnya yang menangis. Menik terus menengadahkan kepalanya agar bulir air matanya tidak mengalir, tapi semakin dia berusaha untuk menahan air matanya, semakin deras bulir itu menetes. Menik buru-buru mengusap air matanya dengan bajunya. Dan Jesy memperhatikannya dari belakang. Dia bisa menebak kalau wanita yang berdiri tidak jauh dari tempat duduknya sedang menangis. " Bagaimana cara mengolahnya." Tanya Nyonya Paula sambil mendekati Menik yang sedang berdiri di depan jendela. " Di goreng saja bu." Jawab Menik dengan suara parau. " Kamu menangis." Tanya Nyonya Paula melihat ada air matanya di pipi Menik. " Eh tidak bu, ini karena mengupas bawang." Ucap Menik bohong dengan suara parau. Nyonya Paula hanya manggut-manggut, ucapan Menik masih bisa di terima akal sehatnya. " Kenapa suara kamu seperti itu." Tanya Nyonya Paula. " Oh saya lagi batuk." Jawab Menik bohong. " Kamu lagi sakit Nek, aduh saya jadi tidak enak sama kamu." Nyonya Paula merasa serba salah, dia langsung menarik tangan Menik untuk duduk di kursi. " Kamu duduk saja di sini. Cukup perintahkan saya dan Jesy untuk memulainya dari mana." Ucap Nyonya Paula sambil membawa Menik duduk di kursi dapur. Dengan perasaan sedih dan kecewa Menik mengajarkan semua masakan yang akan mereka masak. Dua wanita itu sibuk menghadap kompor dan Menik hanya duduk diam, sambil melamun. " Kamu tau tidak Manek, kalau Kevin itu tidak tau tentang kedatangan calonnya. Saya ingin memberikan kejutan untuknya." Ucap Nyonya Paula sambil tetap sibuk dengan masakannya. Menik hanya diam tidak bergeming sama sekali, hatinya sudah sangat hancur. Perasaannya yang resah dan gundah sudah terjawab sudah. Menik lebih banyak diam dan tidak berkomentar banyak tentang semua yang di ceritakan nyonya Paula. Sosok Kevin memperhatikannya dari pintu, dia tidak tau apa saja yang di bicarakan mamanya dengan Menik. Wajah Menik terlihat sendu dan hanya menundukkan kepalanya. Kevin masuk ke dalam dapur, dia curi-curi pandang kepada Menik. Ketika melihat kedatangan Kevin, wajah Menik berubah menjadi marah, tatapan tajamnya membuat Kevin menjadi serba salah. " Kamu ngapain Vin." Tanya mamanya ketika melihat kedatangan anaknya di dapur. " Aku mau minum." Jawab Kevin sambil melirik kearah Menik. Kevin melihat semua makanan yang sudah sebagian terhidang di meja dapur. " Ma, untuk apa makanan sebanyak ini. Apa semua ini kita yang makan." Tanya Kevin. " Iya, semua kita yang makan." Jawab Nyonya Paula. Semua makanan sudah banyak yang selesai di masak. " Ibu, apa sudah selesai." Tanya Menik. " Sepertinya sudah. Saya rasa makanan ini semua sudah cukup." Jawab Nyonya Paula sambil melihat semua masakannya. " Kalau sudah selesai saya mau pamit pulang.'' Ucap Menik. " Kenapa kamu harus pulang, sebentar lagi sudah waktu makan siang. Kamu makan siang di sini ya." Ucap Nyonya Paula. " Terimakasih bu, saya ada janji dengan seseorang." Ucap Menik sambil melirik tajam kearah Kevin. " Pasti kamu ada janji dengan cowok ya." Tebak nyonya Paula. Menik menganggukkan kepalanya, dia sedang berbohong. Menik ingin membuat hati Kevin juga sakit seperti hatinya. Kevin langsung membelalakkan matanya, dia memikirkan tentang Rudi. Jesy melihat semua perilaku keduanya. Dia merasa kasihan dengan hubungan kakaknya dan Menik. " Baiklah, hati-hati di jalan. Kevin antarkan Manek pulang ya." Ucap nyonya Paula. " Terimakasih bu, saya bisa pulang sendiri." Tolak Menik. " Jangan seperti itu, kamu sudah banyak membantu saya, apa salahnya kamu di antar anak saya, sebagai rasa terimakasih saya ke kamu." Ucap Nyonya Paula memeluk Menik. Dua kakak beradik itu saling pandang. Ada rasa senang ketika nyonya Paula memeluk orang yang di cintai Kevin. Tapi jika wanita paruh baya itu mengetahui kalau wanita pujaan hati anaknya adalah Menik, akankah sikap nyonya Paula berubah atau tambah sayang dengan Menik. " Like, komen dan vote yang banyak ya terimakasih." Chapter 352 episode 351 (S2) " Kevin antarkan Manek pulang ya." Perintah mamanya. Kevin langsung bergegas mengambil kunci mobilnya, dia sangat bersemangat untuk mengantarkan Menik. Selain bisa berduaan dengan wanita pujaannya, dia bisa bertanya tentang hal yang barusan di omongin Menik tentang janjian dengan seseorang. " Terimakasih bu, saya tidak biasa naik mobil. Saya pulang naik ojek saja." Ucap Menik menolak. Dia sudah enggan berbicara dengan Kevin. Apalagi lama-lama di rumah itu, rasanya air matanya akan benar-benar membanjiri rumah tersebut. " Jangan menolak, nanti kalau anak saya bertunangan kamu datang ya." Ucap Nyonya Paula berbisik ke telinga Menik. Deg jantung Menik kembali teriris. Irisannya semakin perih, membuat luka yang telah ada semakin membesar. Menik hanya tersenyum kecut. Nyonya Paula mengantarkan Menik sampai kedepan, sudah ada Kevin yang menunggunya di dalam mobil. " Terimakasih Manek." Ucap Nyonya Paula sambil memeluk Menik. Nyonya Paula membukakan pintu mobil untuk Menik. " Hati-hati." Ucap Nyonya Paula sambil melambaikan tangannya kearah mobil Kevin yang sedang bergerak meninggalkan rumah. Di dalam mobil, keduanya masih diam tidak berbicara satu sama lain. Sampai Kevin memulai pembicaraan. " Nik, apa benar yang kamu ucapkan tadi. Apa kamu ada janji dengan Rudi." Tanya Kevin. " Bukan urusan bapak." Jawab Menik ketus. " Kamu kenapa Nik." Ucap Kevin bingung. " Kenapa kenapa! Seharusnya bapak sadar diri. Apa orang kaya memang hobi menyakiti orang susah seperti saya." Ucap Menik dengan nada tinggi. " Maksud kamu apa." Kevin masih bingung. " Jangan bodohi orang miskin seperti saya. Bapak mau menikah kan?" Menik menatap Kevin tajam. Deg jantung Kevin berdetak kencang, dia tidak menyangka kalau rahasia yang di tutupinya akan terbongkar juga. " Kamu dengar dari siapa." Tanya Kevin pelan. " Dari mama anda." Jawab Menik. Kevin langsung menggaruk kepalanya dengan kasar. " Aaaarg." Kevin terlihat marah. " Tidak perlu di jawab, tingkah laku bapak sudah menjawab semuanya." Ucap Menik sarkas. Kevin memberhentikan mobilnya di pinggir jalan. " Nik, saya tidak bermaksud menyakiti perasaan kamu, semuanya serba mendadak. Kamu tau tidak, ketika saya ke Inggris. Rumah masa kecil saya sudah tidak ada. Kamu tau saya mengalami kesulitan mencari keberadaan orang tua saya di sana. Sampai teringat akan teman masa kecil saya. Dan mendapat informasi tentang keberadaan orang tua saya darinya. Kamu tau apa yang saya dapatkan? Orang tua saya tinggal di rumah yang sangat kecil, dan papa saya sakit stroke dan semua karena kesalahan yang telah saya perbuat." Kevin menceritakan semuanya, masalah yang lalu juga di ceritakannya tentang perjodohan yang di tolaknya dan karena penolakan itu membuat Kevin merasa bersalah. " Kamu paham sekarang? Kenapa saya menerima perjodohan ini? Karena orang tua saya telah berhutang budi dengan keluarga itu. Saya juga bingung Nik, saya ingin jujur kepadamu di awal, tapi keberanian saya hilang." Kevin memegang tangan Menik. Menik melepaskan genggaman tangan Kevin. " Tapi dengan seperti ini bapak menyakiti perasaan dua orang wanita." Ucap Menik sambil menangis tersedu-sedu. " Maafkan saya Nik, jujur perjodohan ini menjadi beban berat buat saya." Ucap Kevin. " Bapak jahat." Ucap Menik tersedu-sedu. Kevin langsung memeluk tubuh Menik. Dia mendekap tubuh mungil wanita itu. Menik menangis tersedu-sedu air matanya sudah membasahi baju Kevin. Dia tidak bisa berbuat apa-apa, hanya bisa mendekap erat tubuh wanita yang di cintainya. Perbuatannya memang teramat sangat tidak bisa di maafkan. Menik langsung melepaskan tubuhnya dari dalam dekapan Kevin. " Terimakasih atas pengakuan bapak selama ini. Keputusan bapak tepat, kita memang tidak mungkin bersatu. Jalani hidup bapak dengan wanita itu dan saya akan menata hidup saya yang baru." Ucap Menik pelan. " Nik jangan seperti itu. Saya tidak mau kamu mengatakan seperti itu. Memang egois jika saya meminta kamu untuk tetap menjaga hatimu untuk saya. Jangan pernah menghilangkan rasa yang pernah ada. Saya mohon." Ucap Kevin sambil memegang kedua tangan Menik. " Maaf pak, jalani hidup bapak yang baru. Utamakan orang tua anda. Saya hanya orang baru yang datang kedalam kehidupan anda. Tidak perlu di pikirkan bagaimana saya kedepannya." Menik membuka pintu mobil dan hendak beranjak dari dari kursi mobil, tapi tangan Kevin menahannya. " Jangan turun, biarkan saya mengantarkan kamu pulang." Ucap Kevin sambil memegang tangan Menik. Menik kembali menutup pintu mobil. Dia mengizinkan Kevin mengantarkannya pulang. Menurutnya ini adalah hari terakhir dia naik mobil bosnya. Setelah itu dia tidak akan pernah duduk di mobil itu. Kevin melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. " Nik, apa kamu mau memaafkan saya." Tanya Kevin sambil fokus dalam mengemudikan mobilnya. " Sebenarnya saya sangat marah atas sikap bapak, tapi saya sadar diri. Untuk menggapai bintang di langit hanya angan-angan belaka." Jawab Menik. Menik merendahkan dirinya di depan Kevin, karena memang tidak ada yang perlu di harapakan lagi untuk hubungannya. " Nik, apa kamu akan kembali dengan Rudi." Tanya Kevin. " Saya mau kembali atau tidak, apa akan mempengaruhi hubungan bapak dengan wanita itu?" Ucap Menik sarkas. Perkataan Menik sungguh menohok membuat Kevin tidak bisa berbicara. Menik menghela nafasnya dengan kasar. " Saya menyesal telah mengungkap perasaan ini. Seandainya bapak tidak masuk dalam kehidupan saya, pasti rasa sakit ini tidak ada." Ucap Menik meneteskan air matanya. Kevin sudah tidak bisa berkata-kata lagi. Semua kerena kesalahannya. " Maafkan saya Nik, jangan pernah menjauh dari kehidupan saya." Ucap Kevin pelan. " Maksud Bapak apa? Saya harus tetap bersikap seperti biasanya. Apa bapak tau bagaimana sakitnya hati ini. Ucapan orang tua anda membuat denyut nadi saya berhenti seketika." Menik marah sambil meneteskan air matanya. " Maafkan saya Nik, saya juga mengalami hal yang sama. Kamu tau posisi saya sangat sulit." Ucap Kevin pelan. Menik menghapus air matanya, mobil yang di kendarai Kevin sudah sampai di depan gang rumahnya. " Posisi bapak memang sulit, keputusan bapak untuk menerima perjodohan itu sudah benar. Jadilah anak yang berbakti kepada orang tua. Saya sudah mengikhlaskan anda dengan wanita itu. Selamat siang." Ucap Menik turun dari mobil dan langsung menutup pintu mobil. Dia terus berjalan tanpa mau melihat kebelakang. Menik akan menjadikan itu sebagai pengalaman hidupnya yang tidak akan di lihatnya lagi kebelakang. Masa lalunya harus di lupakannya walaupun berat dan susah, dia akan berusaha untuk melupakan perasaannya kepada Kevin. Kevin memperhatikan Menik yang terus berjalan tanpa mau menoleh kepadanya. Dia merasakan hal yang sama. Rasa sakit yang di rasakan Menik juga di rasakannya. Setelah bayang-bayang Menik sudah tidak terlihat, Kevin melajukan mobilnya. Dengan pikiran yang kacau dia mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang. Tiba-tiba mobil yang di kendarainya di tabrak dari belakang. Dahinya membentur setir mobil. Hantaman itu membuat kepalanya pusing. Terjadi kekacauan di jalan, pengemudi yang menabrak Kevin, turun dari mobil dan meminta maaf kepadanya. " Maafkan saya pak." Ucap supir angkot. Kevin melihat di dalam angkot itu masih banyak penumpang. " Kamu kalau mau bunuh diri jangan bawa mereka." Ucap Kevin sambil melihat kedalam angkot. Banyak kendaraan lain ikut berhenti menyaksikan kecelakaan itu. " Pak berapa saya harus bayar ganti rugi." Ucap supir angkot takut. Dia sudah memperhitungkan biaya yang di keluarkannya sangat mahal. Karena mobil yang di kendarai Kevin termasuk kategori mobil mewah. Karena kecelakaan itu jalanan jadi macet. Kevin tidak ingin memperpanjang urusannya dengan supir angkot itu. Walaupun dia yang di rugikan tapi dia melepaskan pengemudi itu. " Sekarang kamu bebas, tapi jika sampai saya melihat kamu kebut-kebutan di jalan raya. Saya bawa kamu ke kantor polisi." Ancam Kevin sambil memotret supir dan plat angkotya. " Terimakasih pak." Ucap supir angkot. Kevin langsung melajukan mobilnya. Dahinya yang kejedut membuat bekas biru. Tidak berapa lama Kevin sampai di rumahnya. Dari luar terdengar suara keramaian di dalam rumahnya. " Like, komen dan vote yang banyak ya terimakasih." Chapter 353 episode 352 (S2) Kevin mendengarkan kebisingan dari dalam rumahnya. Dia melangkahkan kakinya dan membuka pintu rumahnya yang sengaja di tutup mamanya. Ceklek pintu di buka. Kevin terkejut melihat keluarga Jasmin sudah tiba di rumahnya. " Kevin, kenapa kamu lama sekali." Tanya mamanya sambil menghampiri anaknya yang masih berdiri di depan pintu. Nyonya Paula memperhatikan dahi anaknya yang biru. " Kenapa dengan dahimu." Tanya mamanya. Kevin tidak menjawab, dia masih cukup kaget melihat kedatangan tamunya dari luar negeri. " Mama sengaja memberikan kejutan untukmu." Ucap Nyonya Paula. " Ayo sapa papa dan mamanya Jasmin, jangan diam saja." Bisik Nyonya Paula. Kevin melakukan perintah mamanya. Dia menyalami tamunya. " Saya permisi dulu." Ucap Kevin pamit meninggalkan tamunya. Nyonya Paula merasa tidak enak hati dengan sikap anak cowoknya yang dingin terhadap calon besannya. " Kevin mau mandi dulu." Ucap Nyonya Paula gugup. Di kamarnya Kevin terlihat kesal dan marah. " Kenapa mama tega banget, menyuruh Menik memasak untuk mereka semua. Wajar Menik marah dan sedih. Aaaargh." Kevin membanting benda yang ada di kamarnya. Nyonya Paula meninggalkan tamunya dengan Jesy. Dia mendatangi kamar anaknya. Tok tok tok pintu di ketuk. Kevin tidak menjawab sama sekali. Nyonya Paula langsung membuka pintu kamar anaknya. Begitu membuka pintu kamar, dia melihat kamar anaknya sudah berantakan. Kevin terduduk di bawah tempat tidur dengan rambut acak-acakan dan wajah yang kesal. " Apa yang terjadi dengan kamar kamu." Tanya Nyonya Paula sambil mendekati Kevin. Kevin tidak menjawab, dia hanya melihat sekilas kearah mamanya. " Kevin, jawab mama. Kenapa dengan kamu." Tanya mamanya dengan nada tinggi. " Kenapa? Mama sudah tau aku tidak menginginkan ini semua." Jawab Kevin ketus. " Kevin jangan buat malu mama." Ucap Nyonya Paula merapatkan giginya. " Kenapa mama tidak memberitahukan kepadaku kalau mereka mau datang. Apa maksud mama dengan semua ini, hah." Ucap Kevin marah. " Mama ingin memberikan kejutan untukmu." " Kejutan yang mama buat berhasil. Aku sangat terkejut dengan kedatangan mereka semua kesini." Ucap Kevin sarkas Prak nyonya Paula menampar wajah anaknya. " Cukup Kevin, ingat sebelum kamu ke London siapa yang membantu mama mengurus semuanya? Siapa!" Teriak nyonya Paula. " Kamu tidak tau bagaimana rasanya berhutang budi dengan keluarga mereka. Mereka sama sekali tidak meminta sepeserpun dari kita. Mama mohon jangan buat mama malu. Lakukan seperti perintah mama." Ucap Nyonya Paula. Wanita paruh baya itu berjalan meninggalkan anaknya, kemudian membalikkan badannya. " Bersikap sewajarnya dengan mereka, jangan sampai kamu memperlihatkan ketidaksukaan kamu dengan mereka. Kalau sampai kamu melakukannya, mama akan bunuh diri." Ancam mamanya sambil menutup pintu kamar anaknya. Di dalam kamarnya Kevin masih belum bersiap sama sekali. Di lantai bawah mamanya sudah tidak tenang menunggu kehadiran anak sulungnya. Nyonya Paula memerintahkan Jesy untuk menjemput kakaknya. Jesy menaiki anak tangga dan berdiri tepat di depan pintu. Jesy mengetuk pintu kamar, tidak ada jawaban dari dalam kamar. Dia memberanikan diri untuk membuka pintu kamar Kevin. Ketika di buka yang di temukan Jesy adalah kamar yang berantakan. Dia mencari keberadaan kakaknya. " Kakak apa yang terjadi dengan kakak." Ucap Jesy sambil duduk di sebelah Kevin. Kevin tidak menjawab. " Kak wanita yang datang tadi, apa wanita yang kakak cintai." Tanya Jesy. Kevin langsung menoleh dengan cepat. " Bagaimana kamu tau." Tanya Kevin. " Kakak pernah menunjukkan fotonya dari ponsel kakak, dan namanya juga pernah kakak sebutkan. Dan tingkah kalian berdua juga cukup aneh. Dan ternyata dugaanku benar." Ucap Jesy " Kamu tau kenapa kakak kesal?" " Karena kak Jasmin datang." Jawab Jesy. " Iya dan satu lagi kamu tau. Karena mama telah mengatakan tentang semuanya kepada Menik." Ucap Kevin kesal. " Iya kakak benar, mama tadi mengatakannya. Dan meminta kak Menik untuk datang ke acara pertunangan kakak." Jawab Jesy. " Apa!" Kevin terlihat kaget mendengar penuturan adiknya barusan. " Kenapa mama bisa berbicara itu kepada Menik. Hatinya pasti sekarang sedang hancur." Ucap Kevin sambil mengacak-acak rambutnya. " Kakak tidak boleh seperti itu, mama juga enggak tau kalau wanita kakak adalah kak Menik. Mama mengundang karena memang tidak tau menahu tentang kakak dan dia. Kalau mama tau, akupun tidak bisa membayangkannya." Ucap Jesy. Kevin diam sambil menatap langit-langit kamar. " Kakak bersiap diri, jangan buat mama malu. Setidaknya tutupi masalah kakak dengan mama. Jangan perlihatkan dengan keluarga mereka." Ucap Jesy sambil beranjak dari duduknya dan pergi meninggalkan kamar itu. Dengan malas Kevin masuk ke kamar mandinya. Dia mengikuti semua kemauan mamanya. Setelah selesai membersihkan badannya dia langsung turun bergabung dengan keluarganya dan keluarga Jasmin. Mereka semua sedang menunggu Kevin di meja makan. " Calon pengantin pria sudah datang." Ucap mamanya Jasmin. Kevin hanya membalas dengan senyum kecutnya. " Bagaimana kabar kamu Kevin." Tanya mamanya Jasmin. " Saya lagi kurang enak badan." Jawab Kevin. " Kamu sakit? Sakit apa?" Jasmin dan keluarganya terlihat khawatir. " Aku sering merasakan sakit di sini." Ucap Kevin sambil menunjuk dadanya. Kevin sengaja melakukan itu untuk menyindir mamanya. Nyonya Paula melihat kearah anaknya dengan tatapan tajam. Jasmin yang seorang dokter langsung merasa khawatir. " Bagaimana rasa sakitnya." Tanya Jasmin khawatir. " Jasmin sayang, jangan terlalu di hiraukan. Kevin sengaja melakukan itu agar mendapatkan perhatian dari kamu." Ucap nyonya Paula. Semua yang berada di situ tertawa kecil mendengar penuturan nyonya Paula, hanya Kevin dan Jesy yang tidak menunjukkan ekspresi sama sekali. Dan Jasmin tersipu malu melihat kearah Kevin. " Ayo silahkan makan." Ucap nyonya Paula. " Wah semua ini kamu yang masak." Tanya mamanya Jasmin. " Oh tidak, saya belajar sama seseorang. Dia yang membantu dalam mengolah semua masakan ini. Tidak mungkin saya memasak makanan ini semua." Ucap Nyonya Paula. Semua keluarga mulai menikmati makanan itu. Termasuk papanya Kevin, nyonya Paula dengan telaten menyuapi suaminya. Kevin tidak bersemangat untuk menelan makanan itu, tapi Jesy mengingatkan kakaknya. " Kak makan, mama dan kak Manek sudah susah payah masak ini semua." Ucap Jesy. Kevin melihat adiknya, dia ingat yang di maksud adiknya adalah Menik. Dengan semangat dia menghabiskan semua makanan itu. Menurutnya dengan menikmati setiap makanan itu membuat rasa rindunya kepada Menik terobati. Semua yang ada di situ memperhatikan Kevin makan dengan cukup banyak. " Siapa Manek." Tanya Jasmin. " Manek yang membantu tante memasak makanan ini semua." Ucap nyonya Paula. " Apa dia pembantu di sini." Tanya Jasmin. Kevin langsung meletakkan sendoknya dengan cukup keras. Dia tidak suka orang lain merendahkan harga diri Menik. Keluarganya Jasmin kembali melihat tingkah Kevin, mereka merasa aneh dengan sikap Kevin. " Bukan. Kak Manek bukan pembantu disini. Dia orang yang sangat baik, walaupun baru kenal dengan mama tapi mau membantu mama menyiapkan ini semua." Jesy mencoba mengalihkan perhatian semua orang kepadanya. Dia tidak mau kakaknya jadi pusat perhatian keluarga Jasmin. Karena sikap Kevin membuat keluarga itu bertanya-tanya. " Oh seperti itu." Ucap mamanya Jasmin. Semua kembali menikmati makanannya. Tapi mata nyonya Paula selalu menatap tajam kearah Kevin. " Like, komen dan vote yang banyak ya terimakasih." Chapter 354 episode 353 (S2) " Bagiamana makanannya." Tanya Nyonya Paula. " Enak sekali." Puji mamanya Jasmin. " Terimakasih atas pujiannya." Jawab nyonya Paula. " Sepertinya saya harus belajar memasak masakan tradisional seperti ini sama kamu." Ucap mamanya Jasmin. " Oh tentu bisa, nanti saya minta Manek mengajari kita memasak semua masakan sini." Kevin kembali menatap tajam wajah mamanya. " Oh iya kapan rencana tunangannya." Ucap Nyonya Paula lagi. Kevin semakin kesal dengan tingkah mamanya. Dimana semua orang sibuk dengan makanannya tapi mamanya membicarakan hal yang sangat tidak di sukanya. " Kami menunggu Kesiapan Kevin saja." Ucap Papanya Jasmin sambil melirik Kevin. " Kalau Kevin kapanpun siap. Betul kan nak?" Kevin diam tidak menghiraukan pertanyaan mamanya. Jasmin melihat tingkah Kevin yang berbeda dari sebelumnya. " Tante, sepertinya tunggu aku mendapatkan pekerjaan dulu." Ucap Jasmin. " Betul itu Paula, Jasmin mau melamar pekerjaan dulu di rumah sakit di kota ini. Setelah itu akan kita bicarakan." Ucap mamanya Jasmin. Kevin sedikit lega, karena pertunangannya dengan Jasmin di tunda. Dia berharap pertunangan itu bukan hanya di tunda tapi batal dilaksanakan. " Rumah sakit mana yang menjadi incaran kamu." Tanya mamanya Paula. " Ada beberapa rumah sakit besar di kota ini. Saya akan mencobanya semua." Ucap Jasmin. Nyonya Paula manggut-manggut mengerti. " Vin, apa kamu tidak ada kenalan dokter." Tanya mamanya. Kevin langsung menggelengkan kepalanya. Tentu dia mempunyai kenalan dengan beberapa dokter terutama dokter Diki, tapi dia tidak mau membantu Jasmin untuk mendapatkan pekerjaan di rumah sakit itu. Dengan alasan jika Jasmin cepat bekerja maka pertunangannya juga akan cepat di selenggarakan. " Tidak apa-apa Tante, saya akan mencari sendiri." Ucap Jasmin. Mereka sudah selesai dengan makanannya. Nyonya Paula mengajak keluarga Jasmin untuk duduk di ruang keluarga. Sedangkan Jesy membersihkan piring-piring bekas makan mereka di dapur. Jasmin menghampiri Jesy. " Hai Jesy." Ucap Jasmin sambil membawa beberapa piring kotor. " Hai kak Jasmin." Jawab Jesy. " Mari kakak bantu." Jasmin menawarkan diri untuk membantu Jesy. " Tidak usah kak." Ucap Jesy menolak. Jasmin berdiri di samping Jesy. Gadis belia itu sibuk dengan piring kotornya. " Jes, kenapa dengan Kevin? Kakak perhatikan dia banyak diam dan wajahnya seperti sedang ada masalah." Tanya Jasmin. Jesy bingung mau mengatakan yang sebenarnya apa tidak, tapi jika dia mengatakan dengan jujur. Dia khawatir mamanya akan marah kepadanya. " Oh mungkin kak Kevin lagi banyak masalah di kantornya." Jawab Jesy bohong. Jasmin manggut-manggut. Jesy teringat sesuatu tentang Zira. Di mana Zira berpesan jika Jasmin datang untuk mengabarinya. " Kakak tidur di sini." Tanya Jesy. " Enggak, kakak tidur di apartemen." " Oh seperti itu ya." Ucap Jesy sambil tangannya tetap sibuk bekerja dengan membersihkan piring kotor. " Memangnya kenapa." Tanya Jasmin. " Aku ingin mengajak kakak main ke rumah istri bos kak Kevin." Ucap Jesy. " Oh ya, kenapa kamu ingin mengajak kakak bertemu dengannya, apa kamu menceritakan kakak dengannya." Tanya Jasmin penasaran. Jesy menganggukkan kepalanya. " Kamu bercerita apa tentang kakak." " Hemmm, aku hanya cerita kalau tunangan kak Kevin datang, dan nona Zira sangat antusias. Beliau ingin bertemu dengan kakak." Ucap Jesy bohong, dia tidak menceritakan yang lainnya kepada Jasmin. " Oh baiklah, kapan kita bertemu dengannya. Nanti kakak minta Kevin untuk mengantarkan kita." Tanya Jasmin lagi. " Jangan kak, jangan bilang ke kak Kevin. Kak Kevin tidak tau kalau aku menceritakan tentang kakak dengan nona Zira." " Kenapa?" Jasmin menaruh curiga dengan gadis belia itu. " Ya karena kak Kevin memang sedang merahasiakan hubungan kalian, sampai waktunya tiba. Kak Kevin mau memberikan kejutan untuk semuanya." Ucap Jesy gugup. Jasmin mengernyitkan dahinya, alasan gadis belia itu kurang bisa di terimanya. Dan Jesy bisa melihat ekspresi wanita di sampingnya, kurang menerima alasannya. " Lagian kak Kevin sedang banyak kerjaan, aku tidak mau merepotkan kak Kevin." Ucap Jesy agar alasannya kali ini bisa di terima Jasmin. " Baiklah, kabari kakak kapan kita bertemu dengannya. Setidaknya bisa berkenalan dengan istri orang nomor satu di perusahaan Kevin merupakan suatu kehormatan bagiku." Ucap Jasmin. Jasmin dan Jesy kembali bergabung dengan yang lainnya di ruang keluarga. Mereka mengobrol panjang lebar sampai waktu sudah petang, dan akhirnya keluarga itu pamit pulang. " Kevin antarkan keluarga Jasmin pulang." Perintah mamanya. Jasmin sudah mengetahui dari Jesy kalau Kevin sedang mengalami banyak kesibukan di perusahaannya. Jadi dia langsung menolaknya. " Tidak usah tante, kami pulang sendiri saja, Kevin terlihat terlalu capek." Ucap Jasmin menolak. Nyonya Paula melihat wajah anak sulungnya memang tidak menunjukkan sifat ramah. Dia juga khawatir kalau anaknya akan memperlakukan keluarga itu dengan tidak baik. Jadi dia menyetujui penolakan dari Jasmin. " Baiklah hati-hati di jalan." Ucap Nyonya Paula sambil memeluk mamanya Jasmin, kemudian berganti kepada Jasminnya. Setelah keluarga itu pergi Kevin langsung meninggalkan mamanya dan menuju kamarnya. " Kevin tunggu." Nyonya Paula mencoba mengikuti langkah anaknya dan ikut masuk ke dalam kamar anak sulungnya. " Kenapa kamu bersikap seperti itu kepada keluarga Jasmin. Kenapa!" Ucap Nyonya Paula dengan nada tinggi. " Ma, aku sudah mengikuti kemauan mama untuk turun dan ikut dengan rencana mama, tapi jangan paksa aku untuk beramah-tamah dengan mereka." Ucap Kevin jujur. " Kenapa kamu jadi melawan seperti ini. Apa seperti ini yang di ajarkan wanita itu kepadamu. Melawan dengan orang tua." Teriak nyonya Paula lagi. " Mama salah, justru dia lebih berjiwa besar melepaskanku." Ucap Kevin jujur. " Kalau dia sudah mengikhlaskan kamu, kenapa kamu masih bersikap dingin dengan Jasmin." Ucap mamanya marah sambil menarik tangan Kevin untuk menatap wajahnya. " Karena aku tidak menyukai Jasmin. Apa harus aku katakan sekali lagi kalau aku tidak mencintai Jasmin." Teriak Kevin. Prok, Nyonya Paula kembali menampar wajah Kevin. Dia sudah tidak bisa mengontrol emosinya. " Lupakan perasaanmu kepadanya. Jangan buat mama semakin benci dengannya." Ucap mamanya sambil berlalu meninggalkan kamar Kevin. " Aaaargh" Kevin mengacak-ngacak kamarnya. Terdengar kebisingan dari lantai bawah. Jesy melihat mamanya menuruni akan tangga. " Kenapa lagi ma?" Jesy terlihat khawatir. " Ini semua gara-gara wanita sialan itu. Dia telah mempengaruhi Kevin." Ucap nyonya Paula kesal. " Maksud mama apa?" Jesy terlihat bingung. " Apa kamu tidak lihat sikap kakakmu sungguh berbeda. Pasti wanita itu mempengaruhinya." Ucap mamanya dengan nada tinggi. " Mempengaruhi bagaimana." Jesy masih juga bingung. " Kamu tau, apa jawaban kakakmu ke mama. Karena dia tidak menyukai Jasmin." " Ma, kalau mengenai perasaan memang sulit. Coba mama memberikan waktu untuk kak Kevin, jangan membuatnya merasa tertekan dengan pertunangan ini." " Jadi maksud kamu, mama harus membiarkan Kevin dengan wanita itu." Tanya mamanya ketus. " Bukan ma, maksud aku. Kalau mama terus menekan kak Kevin dengan pertunangan pernikahan, takutnya kak Kevin malah benci sama kak Jasmin." Ucap Jesy memberikan gambaran. " Awas saja kalau sampai dia membenci Jasmin. Mama langsung angkat kaki. Mama penasaran dengan wanita itu, apa kamu tau siapa wanita yang dekat dengan kakakmu." Tanya Mamanya. Jesy langsung menggelengkan kepalanya. Dia pura-pura tidak tau menahu tentang wanita pujaan kakaknya. " Mama minta tolong saja sama Manek. Mana tau dia ada kenalan seorang detektif." " Kenapa mama sangat penasaran dengan wanita itu." Tanya Jesy. " Jelas mama penasaran. Seperti apa wajah wanita itu dan kepribadiannya." Ucap nyonya Paula tegas. " Like, komen dan vote yang banyak ya terimakasih." Chapter 355 episode 354 (S2) Setelah pembicaraan itu Jesy masuk ke kamarnya. Sebelum memasuki kamarnya dia melewati kamar kakaknya. Jesy melihat kamar Kevin yang masih berantakan. Dia ingin masuk ke dalam. Tapi di urungkannya karena di lihatnya Kevin sudah lebih tenang walaupun kamarnya masih berantakan. Di dalam kamarnya Jesy mengambil ponselnya dan menghubungi Zira. Panggilan terhubung. Di kediaman Zira. Suara ponsel berdering, Ziko melihat ponsel istrinya ada nomor asing tertera di layar ponsel. " Sayang ponsel kamu berdering." Ucap Ziko sedikit berteriak. Zira sedang di dapur, jadi Ziko harus sedikit berteriak agar suaranya terdengar oleh istrinya. Tidak ada sahutan dari istrinya, Ziko langsung menghampiri istrinya ke dapur. Di dapur Ziko sedang melihat istrinya mencuci piring. Dia langsung memeluk tubuh Zira dari belakang dan mengecup leher bagian belakang Istrinya. " Ah kamu mengagetkan saja." Ucap Zira kaget. Tangan Ziko sudah bergerilya kesana kemari. Zira merasa geli dengan kelakuan suaminya. " Sayang, aku harus menyelesaikan ini." Ucap Zira sambil melihat ponselnya ada di atas meja. " Apa tadi ada yang menghubungiku." Tanya Zira. " Hemmm, tadi ada yang menghubungi, makanya aku bawa kesini." Ucap Ziko sambil tetap mengecup leher istrinya. Zira melepaskan tangan suaminya dari tubuhnya. Dan mengambil ponselnya. Terlihat ada nomor asing di layar ponselnya. " Nomor siapa ini." Gumam Zira pelan. Ziko mendengar gumaman istrinya. " Kalau tidak terdaftar nomornya tidak usah di hubungi lagi." Ucap Ziko. " Tapi kalau ini kerabatku bagaimana." Ucap Zira penasaran. " Ya sudah kalau kamu penasaran hubungi saja." Ucap Ziko. Zira duduk di kursi dan menghubungi nomor yang tadi menghubunginya. " Halo." Ucap Zira. " Halo nona Zira, ini Jesy adiknya Kevin." Ucap Jesy dari ujung ponselnya. " Oh Jesy, ada apa Jes?" Ziko di sebelahnya mulai bertanya-tanya dengan gerak matanya. Zira hanya membalas dengan gelengan kepalanya. " Maaf mengganggu, saya hanya mau mengabari kalau calon tunangannya kak Kevin sudah datang." Ucap Jesy. " Oh ya, kapan datangnya." Tanya Zira. " Tadi siang nona. Kapan saya boleh mempertemukan nona dengannya." Tanya Jesy. Zira melihat suaminya, dia belum membicarakan hal itu dengan Ziko. " Nanti saya hubungi kamu lagi." Ucap Zira kemudian mematikan panggilannya. " Siapa." Tanya Ziko penasaran. " Jesy adiknya Kevin yang menghubungiku." Ucap Zira. " Untuk apa dia menghubungi kamu." Tanya Ziko penasaran. " Dia baru bilang ke aku, kalau calon tunangannya Kevin datang." " Oh ya, bagus tuh." Ucap Ziko antusias. " Kok bagus? Bagaimana dengan Menik kalau mereka jadi bertunangan." Tanya Zira. " Ya mau gimana lagi, kalau jodoh pasti tidak akan lari." Ucap Ziko santai sambil meninggalkan istrinya di dapur. Zira mengikuti langkah suaminya dan berhenti di ruang keluarga. " Sayang, apa kamu tidak kasihan dengan Menik. Bagaimana jika aku di posisi Menik." Ucap Zira. Ziko langsung menatap tajam wajah istrinya. " Enak saja kamu di posisi Menik. Dengan seperti itu berarti kamu dan Kevin saling menyukai." Ucap Ziko cemburu. Zira menggaruk kepalanya. " Sayang aku hanya memberikan perumpamaan. Ya sudah bagaimana kalau Kevin jadi kamu dan aku jadi Menik. Apa yang akan kamu lakukan." Tanya Zira. Ziko tadinya sedang duduk santai dengan mengangkat kakinya ke atas sofa. Dengan pertanyaan itu dia langsung duduk tegak sambil menghadap istrinya. " Kalau aku jadi Kevin, aku akan memperjuangkan cintaku seperti dulu." Ucap Ziko semangat. " Nah kamu saja mau memperjuangkan cintamu. Tapi sekarang posisi Kevin di tengah-tengah. Dia serba salah harus melakukan apa. Menurut kamu apa yang bisa kita lakukan agar masalah itu cepat selesai." Tanya Zira. Ziko mengerutkan dahinya, dia seperti sedang berpikir. " Apa sayang." Tanya Zira lagi sambil menggoyangkan lengan suaminya. " Berdoa." Ucap Ziko santai. " Ye kamu itu bukan memberikan solusi." Gerutu Zira. " Justru semua harus di awali dengan doa. Setelah itu baru usaha." Ucap Ziko tegas. " Ok berdoa, terus usahanya apa?" " Kalau aku jadi Kevin, aku akan mengatakan sejujurnya kepada semuanya. Baik mamanya, office girl itu dan calon tunangannya. Walaupun berat tapi harus di ungkapkan agar masalah itu tidak berlanjut." Ucap Ziko lagi. " Ok, kalau Kevin sudah mengatakan dengan jujur kepada mamanya. Tapi mamanya tetap tidak setuju bagaimana." Tanya Zira lagi. " Entahlah aku juga bingung, terserah kamu mau melakukan apa. Yang penting semua jangan ada yang tersakiti." Ucap Ziko sambil menaikkan kakinya kembali ke atas sofa. " Calon tunangannya Kevin seorang dokter, dia ingin mencari pekerjaan di rumah sakit sini. Apa boleh aku memasukkannya ke rumah sakit tempat dokter Diki bekerja." Tanya Zira. Ziko langsung menoleh kearah istrinya. " Apa kamu mau menjodohkan Diki sama wanita itu." Selidik Ziko. Zira menganggukkan kepalanya. " Kalau perjodohan itu tidak berhasil bagaimana." Tanya Ziko. " Harus berhasil, apa kamu lupa kalau aku pasukan Avengers." Ucap Zira membanggakan dirinya. " Apa pasukan Avengers juga bekerja jadi mak erot." Tanya Ziko. " Bukan mak Erot tapi mak lampir." Jawab Zira ketus. " Ya sudah coba saja, kamu bilang saja ke Diki. Sebut saja nama ku tiga kali." Ucap Ziko asal. " Tiga kali? Tidak perlu menyebutkan nama kamu pasti Diki langsung menerimanya." Ucap Zira sambil mengambil ponselnya dan menghubungi kembali nomor Jesy. Panggilan terhubung. " Halo Jesy." Ucap Zira. " Iya nona." Jawab Jesy. " Kapan kamu mau mempertemukan dia dengan saya." Tanya Zira. " Bagaimana kalau besok? Apa nona besok sibuk." Tanya Jesy. Jesy tidak tau untuk apa Jasmin harus bertemu dengan Zira. " Ya sudah kamu besok datang ke rumah saya saja. Sepertinya saya tidak di izinkan keluar rumah sama suaminya saya." Ucap Zira. " Baik nona, saya akan mengabari kak Jasmin dulu. Sampai jumpa besok nona." Ucap Jesy kemudian panggilan terputus. Jesy langsung menghubungi nomor Jasmin. " Halo Kak Jasmin." Ucap Jesy. " Ya Jesy, ada apa." Tanya Jesy. " Apa besok kakak ada kegiatan." Tanya Jesy. " Sepertinya besok kakak mau melamar di salah satu rumah sakit." Ucap Jasmin. " Oh seperti itu ya." Ucap Jesy pelan. " Memangnya kenapa Jes?" Ucap Jasmin lagi. " Aku mau mengajak kakak bertemu dengan Istrinya bosnya kak Kevin. Tapi kalau kakak sibuk kita undur saja jadwalnya." Ucap Jesy lagi. " Besok ya, ya sudah besok kita bertemu dengannya, setelah itu kakak baru ke rumah sakit." Ucap Jasmin. " Baiklah, aku setuju. Apa boleh besok aku ikut ke rumah sakit? Aku ingin menemani kakak melamar pekerjaan." Ucap Jesy. " Baiklah, besok kamu boleh ikut. Sampai jumpa besok ya." Ucap Jasmin kemudian panggilan terputus. Di tempat lain di rumah Menik. Pintu rumah di buka oleh seseorang yaitu Bima. " Aku pulang." Ucap Bima sedikit teriak. Tidak ada sahutan dari dalam kamar kakaknya. Bima melihat pintu kamar kakaknya terbuka sebagian. Bima langsung membuka pintu kamar kakaknya, dan mendapati Menik sedang telungkup. Bima duduk di atas kasur kakaknya. " Kakak tidur." Tanya Bima sambil memegang lengan Menik. Menik mengangkat kepalanya dan melihat adiknya. Bima kaget melihat mata kakaknya sembab. " Kenapa kakak menangis? Apa yang terjadi." Tanya Bima khawatir. Dengan berlinang air mata Menik menceritakan tentang masalah yang dihadapinya. Bima merasa marah, karena ini kedua kalinyanya kakaknya di buat nangis oleh pria. " Besok kakak ajukan surat pengunduran diri." Ucap Bima tegas. " Kenapa dek." Tanya Menik bingung. " Lupakan pria itu. Aku tidak mau kakak dengannya lagi. Tidak usah kerja, aku masih sanggup membiayai hidup kita." Ucap Bima tegas. " Tapi dek." Menik tidak mau merepotkan adiknya dengan bertumpang tangan di rumah. " Ikuti saja perintah ku." Ucap Bima tegas. " Apa kamu marah?" Ucap Menik. " Tentu aku marah. Siapa yang suka melihat kakaknya di sakiti." Ucap Bima dengan emosi yang berapi-api. " Like, komen dan vote yang banyak ya terimakasih." Chapter 356 episode 355 (S2) " Sudah cukup ya kak, ini yang terakhir kalinya kakak di sakiti pria." Ucap Bima kesal. " Lupakan pria kaya itu, kita memang tidak sederajat untuk mereka." Ucap Bima. Menik tidak menjawab sama sekali. Kemarahan adiknya terulang lagi. " Jangan tangisi pria kaya itu. Air mata kakak lebih berharga dari pada pria brengsek sepertinya." Ucap Bima marah sambil berlalu meninggalkan kakaknya. Waktu terus berputar, dari petang ke malam. Dan dari malam ke pagi. Menik sudah bersiap dengan pakaian kerjanya. Hari ini adalah hari terakhir dia bekerja di perusahaan itu. Dan adiknya dapat shift pagi. Jadi mereka berangkat bersama-sama ke kantor. Lalu lintas tidak terlalu padat karena mereka berangkat lebih pagi dari karyawan pada umumnya. Sesampainya di gedung Rahasrya group. Menik langsung melakukan kegiatannya. Zira di bantu bik Inah mempersiapkan sarapan. Setelah selesai dengan masakannya dia membangunkan suaminya. " Sayang bangun." Ucap Zira sambil menggoyangkan badan suaminya. " Hemmm." Ucap Ziko sambil duduk dari posisi berbaringnya. Zira menarik tangan suaminya agar segera beranjak dari tempat tidur. Dengan susah payah dia bisa menarik tangan suaminya. Ziko mulai beranjak dari tempat tidur dan melangkah ke kamar mandi. Tapi bukan Ziko bila tidak jahil. Dia sengaja membopong tubuh istrinya untuk masuk ke kamar mandi. " Sayang turunkan aku." Ucap Zira sambil menggoyangkan kedua kakinya. Ziko tidak menghiraukan ucapan istrinya, dia terus membawa tubuh istrinya sampai kamar mandi. " Sayang, aku sudah mandi." Ucap Zira. " Mandi lagi." Ucap Ziko. " Enggak ah." Ucap Zira sambil berlalu meninggalkan suaminya. Tapi Ziko sudah menarik bagian belakang baju istrinya. Dengan seperti itu Zira mundur teratur beberapa langkah. " Aku sudah mandi." Ucap Zira lagi. " Mana buktinya kalau kamu sudah mandi." Tanya Ziko sambil melihat istrinya dari atas sampai bawah. " Cium nih ketekku wangi." Ucap Zira sambil mengangkat salah satu tangannya kehadapan Ziko. " Bohong, kalau mandi badan kamu itu basah. Ini buktinya kering." Ucap Ziko sambil tersenyum licik. " Sudah keringlah." Ucap Zira sewot. " Itu bukan pembuktian yang akurat." Ziko sudah melucuti baju Istrinya. Dengan mulut manyun Zira mandi untuk yang kedua kalinya. Jika hari libur dia bisa mandi berkali-kali, karena kalau hari libur, Ziko memanfaatkan untuk mengerjakan pr nya. Bik Inah sibuk di dapur sedangkan majikannya sibuk di kamar mandi. Setelah selesai dengan aktivitasnya. Sepasang suami istri itu keluar bersama-sama. Zira memilihkan pakaian yang akan dipakai suaminya kerja. " Kenapa sih kamu selalu mengajakku mandi bareng." Tanya Zira. " Aku takut tenggelam sayang." Ucap Ziko asal. " Alah alasan saja. Bilang aja cow cow junior mau masuk." Gerutu Zira. " Cow cow? Memangnya aku sapi." Gerutu Ziko sambil melihat kearah ubi kayunya. " Ya kalau koboi junior sudah ada. Tapi kalau cow cow junior belum ada." Ucap Zira sambil memakai dasi untuk suaminya. Ziko sudah selesai dengan pakaiannya. " Ayo." Ucap Ziko melihat Istrinya sibuk dengan hair dryer. " Ayo makan." Ajak Ziko lagi. " Kamu duluan saja. Aku mau mengeringkan rambut dulu." Ucap Zira mulai mengeringkan rambutnya. Ziko mendekati istrinya dan mencabut soket listrik hair dryer. " Kenapa di cabut." Tanya Zira bingung. " Aku tidak mau makan sendirian." Ucap Ziko. " Iya kamu keluar saja dulu, temanin Kevin. Aku mau mengeringkan rambutku." Ucap Zira menjelaskan. " Kenapa dengan rambutmu. Biasanya kalau basah kamu biarkan kering sendiri. Kenapa sekarang di keringkan." Tanya Ziko. " Aku tidak mau Kevin melihat rambutku yang basah. Pasti dia berpikiran aneh-aneh tentang kita." Ucap Zira. " Kenapa harus di pusingkan. Selama ini dia juga tau." Ucap Ziko menarik tangan Istrinya. Di meja makan sudah ada Kevin yang sibuk dengan ponselnya. Ketika dua majikannya datang dia meletakkan ponselnya. Kevin melihat kearah keduanya. Terutama kearah Zira. " Jangan kamu berpikiran yang aneh-aneh tentang kami. Rambutku basah karena di dalam lagi hujan." Ucap Zira asal. Kevin hanya tersenyum tipis. Dia tidak bersemangat untuk bergurau dengan Zira. Ziko menikmati sarapannya, Zira menawari Kevin, tapi pria itu menolak. Zira memperhatikan asisten suaminya. Terlihat raut wajah Kevin yang suntuk. " Are you ok Kevin." Tanya Zira. Kevin melihat kearah Zira. Dia membalas dengan senyuman yang di paksakan. Setelah selesai sarapan Ziko langsung berangkat ke kantor. Tidak lupa dia mengecup dahi Istrinya. Di mobil Kevin tidak banyak berbicara dan Ziko tidak mau menanyakan masalah asistennya. Menurutnya biarlah istrinya yang membantu asistennya. Setelah Ziko berangkat Zira langsung mengirim pesan kepada Jesy yang isinya. Jam berapa kalian kerumah saya? Tidak berapa lama Jesy membalas yang isinya. Saya lagi nunggu kak Jasmin, kalau kami sudah di jalan saya akan mengabari nona. Ziko dan asistennya sudah sampai di kantor. Mereka memasuki lift bersama. Setelah sampai di lantai tempat ruangan mereka berada. Kedua pria itu berpisah dan masuk ke dalam ruangannya masing-masing. Kevin melihat paper bag yang pernah di berikannya kepada Menik. Dia sudah menduga kalau Menik akan mengembalikan semua pemberiannya. Kevin langsung menghubungi nomor ekstensi untuk pantry. " Halo Menik." Ucap Kevin. " Ya ada apa." Jawab Menik datar. " Datang ke ruangan saya sekarang." Ucap Kevin tegas. " Maaf pak, kalau bapak mau melarang saya karena mengembalikan semua barang pemberian bapak. Mohon maaf saya tidak akan mengambilnya. Karena itu bukan milik saya." Ucap Menik tegas. " Nik kenapa kamu berubah seperti itu." Ucap Kevin pelan. " Berubah? Sepertinya bapak belum kenal saya dengan baik. Sifat saya memang seperti ini dari dulu. Saya selalu dingin dengan pria. Dan entah kenapa beberapa bulan ini saya jadi begitu ramah dengan pria." Ucap Menik sarkas. Kevin diam, dia tidak bisa membalas sindiran Menik. Menurutnya perkataan Menik seperti busur panah yang langsung menusuk jantungnya. " Oh iya terima kasih atas kebaikan bapak selama ini. Saya bukanlah manusia yang sempurna dan luput dari kesalahan. Terimakasih atas semuanya." Menik langsung meletakkan telepon ke tempat semula. Dia sengaja mengatakannya lewat telepon, karena ini adalah hari terakhirnya bekerja di situ. Menik sudah menyerahkan surat pengunduran diri ke bagian HRD, dia tidak mengatakan kepada siapapun tentang pengunduran dirinya. Zira sedang menunggu kedatangan Jesy dan Jasmin, hampir satu jam dia menunggu kedatangan dua wanita itu. Tidak berapa lama ada suara mobil yang berhenti di depan rumahnya. Zira buru-buru melihat melalui jendela. Didepan rumahnya ada taksi dan tidak berapa lama turun dua wanita yaitu Jesy dan satu lagi wanita bule. Zira langsung bisa menebak kalau wanita bule itu adalah Jasmin. Zira menyambut dua tamunya. " Pagi nona Zira." Sapa Jesy. " Perkenalkan ini kak Jasmin." Jasmin mengulurkan tangannya dan Zira menyambutnya. " Morning my name Zira." Ucap Zira menyambut uluran tangan Jasmin. " Jasmin panggil saja saya Jasmin." Ucap Jasmin. " Oh kamu bisa berbahasa seperti saya." Tanya Zira. " Kak Jasmin sama seperti kami, papanya orang sini dan mamanya asli London." Ucap Jesy menjelaskan. Zira mempersilahkan tamunya untuk masuk ke dalam rumahnya. Bik Inah membuatkan minuman untuk keduanya. " Terimakasih atas jamuannya." Ucap Jasmin. " Sama-sama, silahkan." Ucap Zira. " Saya sudah dengar kamu seorang dokter?" Ucap Zira. " Iya nona, saya seorang dokter." Jawab Jasmin. " Kamu kesini pindah tugas atau lagi melanjutkan pendidikan." Tanya Zira basa-basi. " Saya dengar rumah sakit di negara ini bagus, makanya saya ingin mencoba mencari pekerjaan di sini." Ucap Jasmin. " Kamu sudah melamar kemana saja." Tanya Zira. " Belum ada, rencananya hari ini saya mau melamar ke salah satu rumah sakit." Ucap Jasmin. Zira berakting pura-pura sedang memikirkan sesuatu. " Saya ada kenalan dokter, dan dia penanggung jawab di rumah sakit itu." Ucap Zira. Jasmin mendengarkan itu langsung antusias. " Begini saja, kamu datang ke rumah sakit xxx, dan temui dokter Diki. Sebut saja nama saya." Ucap Zira. " Baik nona." Ucap Jasmin semangat sambil melihat kearah Jesy. " Apa nona tidak ikut." Tanya Jesy. " Sebentar saya hubungi suami saya dulu." Ucap Zira sambil berlalu meninggalkan dua tamunya menuju kamar. Zira langsung menghubungi nomor Ziko. Panggilan terhubung. " Halo sayang." Ucap Zira. " Ya sayang." Jawab Ziko. " Calon tunangan Kevin sudah datang. Aku sudah memberitahukannya untuk datang ke rumah sakit tempat Dokter Diki bekerja, apa boleh aku ikut mengantarkan mereka ke sana." Tanya Zira. " Enggak." Ucap Ziko ketus. " Sayang sebentar saja." Rayu Zira. " Baiklah, setelah dari situ jangan pergi ke mall atau kemanapun. Aku tidak mau mendengar kabar seperti kemaren." Ucap Ziko. " Kabar apa." Tanya Zira bingung. " Kabar kalau kalian di kantor polisi? Apa kamu masih ingat." Ucap Ziko ketus. " Hehehe, tenang sayang. Keduanya tidak memakai pakaian yang serba ketat dan dapur mereka tidak sebesar punya Zelin. Jadi tidak mungkin pria tergoda." Ucap Zira. Setelah itu panggilan terputus. Zira kembali ke ruang tamu untuk menemui tamunya. " Baiklah, saya sudah mendapatkan izin. Mari kita berangkat." Ucap Zira. Wanita di depannya menganggukkan kepalanya. Dan mereka menunggu di luar rumah. Zira mengeluarkan mobilnya dari garasi. " Like, komen dan vote yang banyak ya terimakasih." Chapter 357 episode 356 (S2) Mobil yang di kendarai Zira sudah sampai di rumah sakit. Zira memarkirkan mobilnya di area khusus parkir mobil. Mereka berjalan menuju loby rumah sakit. Di sana Zira mengirim pesan kepada dokter Diki. Dokter Diki, ini saya Zira. Apa ada waktu saya ingin bertemu dengan anda. Sekarang saya ada di loby rumah sakit. Hampir setengah jam Zira, Jesy dan Jasmin menunggu balasan dari dokter Diki. Suasana di rumah sakit terlihat sangat ramai. Banyak pasien yang wara wiri di rumah sakit itu. Ada yang berobat ke dokter spesialis sesuai dengan penyakitnya masing-masing. Dan banyak yang menjenguk pasien yang sakit. Ada beberapa dokter yang sekedar lewat di loby rumah sakit itu. Zira melihat sosok yang di kenalnya yaitu Dokter Diki. Zira berjalan cepat untuk bisa mengejar Dokter Diki. " Dokter Diki." Ucap Zira sedikit teriak. Dokter Diki yang sedang berjalan dengan beberapa dokter lainnya, menoleh kearah yang punya suara. " Nona Zira, ada yang bisa saya bantu." Ucap Dokter Diki sambil melihat sekelilingnya mencari keberadaan Ziko. " Dimana tuan muda?" " Suami saya sedang di kantor. Apa dokter sibuk? Saya ada keperluan dengan anda." Ucap Zira. " Mari keruangan saya. Saya baru saja selesai meeting dengan para dokter." Ucap Dokter Diki. Dokter Diki jalan terlebih dahulu, Zira melambaikan tangannya ke arah Jesy dan Jasmin. Dua wanita itu langsung berlari mengikuti langkah Zira. Mereka masuk ke dalam lift khusus pasien. Dan Dokter Diki masuk ke dalam lift khusus dokter. Di lantai atas Dokter Diki sudah menunggu di depan pintu lift khusus pasien. Ting, pintu lift terbuka. " Mari." Ucap Dokter Diki ramah. Ketiga wanita itu mengikutinya dari belakang. Dan mereka berhenti di depan pintu. Dokter Diki masuk ke dalam ruangannya. Dan mempersilahkan tamunya untuk duduk. Dokter itu melirik ponselnya di atas meja. Dia melihat ponselnya ada beberapa pesan dan satu pesan dengan nomor asing. Dokter Diki langsung membuka pesan itu. " Anda tadi mengirim pesan kepada saya." Tanya Dokter Diki. " Iya dok." Jawab Zira. " Maaf tadi ponsel saya tinggal di ruangan ini." Ucap Dokter Diki sambil melihat ketiga wanita yang duduk di depannya. Satu wajah dia kenal dan dua lagi dia asing. Apalagi ada wanita bule di depannya. Membuat dokter Diki penasaran. " Ada keperluan apa nona kesini." Tanya dokter Diki. Zira mengutarakan maksud kedatangannya yaitu ingin meminta bantuan kepada dokter tersebut untuk dapat menerima Jasmin bekerja di rumah sakit itu. " Can see your cover letter and some experience letters from the previous hospital (bisa lihat surat lamaran anda dan beberapa surat pengalaman dari rumah sakit terdahulu)." Ucap dokter Diki. Jasmin menyerahkan beberapa berkas kepada pria tersebut. " Dia bisa berbicara bahasa kita." Ucap Zira. " Oh ya, kenapa tidak bilang dari tadi." Ucap dokter Diki. Dokter Diki melakukan beberapa pertanyaan seputar dunia kesehatan. Dan Jasmin menjawab dengan sangat lancar. Dua wanita lainnya hanya melihat keduanya. " Baiklah tinggalkan berkas ini di sini. Nanti saya akan menghubungi anda." Ucap dokter Diki. " Baik terimakasih dok." Ucap ketiganya. Ketiga wanita itu langsung beranjak dari kursi. " Nona Zira bisa kita bicara sebentar." Ucap dokter Diki. Zira menganggukkan kepalanya dan memerintahkan dua wanita itu untuk menunggunya di loby. " Nona siapa dua wanita itu. Yang satu wajahnya terlihat tidak asing, dan yang bule itu juga." Tanya dokter Diki. " Wajah yang tidak asing itu adiknya Kevin. Dan wanita bule itu kerabat Kevin dari Inggris." Ucap Zira bohong. Dia tidak ingin mengatakan kalau Jasmin calon tunangan Kevin. Jika dia jujur maka rencananya akan gagal. " Pantas rupanya adiknya Kevin. Wanita bule itu kenapa harus mencari pekerjaan di sini. Bukannya di London sudah sangat bagus." Tanya dokter Diki. " Kontraknya sudah habis dok." Ucap Zira. Dia masih mengingat tentang pembicaraannya sama Jesy di mall. " Apa wanita itu tinggal di rumah Kevin." Tanya dokter Diki. " Saya dengar di apartemen." Ucap Zira. Dokter Diki manggut-manggut. " Kenapa dok? Apa perlu saya menanyakan tanggal lahirnya." Goda Zira. " Hahaha." " Kok tertawa dok? Dia single anda single apa salahnya. Apa dokter mau di lomba Kevin." Goda Zira lagi. " Hahaha, biarkan saja si Kevin dulu." Ucap dokter Diki. Setelah percakapan itu, Zira kembali ke loby menemui Jesy dan Jasmin. Mereka meninggalkan rumah sakit. Zira mengantarkan keduanya ke kediamannya masing-masing. Dokter Diki langsung menghubungi Kevin. " Halo Vin?" Ucap dokter Diki. " Ya dok." Jawab Kevin datar. " Kerabat kamu melamar di rumah sakit ini." Ucap dokter Diki. " Kerabat." Kevin terlihat bingung. " Kamu ada kerabat bule tidak mengenalkan kepadaku. Untungnya ada yang berbaik hati mengenalkannya kepadaku." Ucap dokter Diki. " Maksud dokter apa." Kevin belum paham dengan ucapan dokter Diki. " Kamu itu bagaimana, tadi adikmu dan nona Zira datang kesini bersama dengan kerabatmu namanya Jasmin. Apa kamu yang menyuruh wanita bule itu ke sini. Dan kamu juga yang minta kepada nona Zira untuk datang menemuiku." Ucap Dokter Diki. Kevin baru paham, yang di maksud kerabat adalah Jasmin. Dan yang di bingungkan Kevin, bagaimana Zira bisa mengantarkan Jasmin menemui dokter Diki. " Iya." Ucap Kevin asal. " Ya sudah kalau begitu. Kerabat kamu itu pintar sepertinya dia akan aku terima. Kebetulan kami kekurangan dokter spesialis anak, jadi pas sekali dia kalau aku tempatkan di situ." Ucap dokter Diki. Panggilan terputus. Kevin langsung menuju ruangan bosnya. Dia memasuki ruangan itu setelah mendapatkan perintah dari yang punya ruangan. " Ada apa Vin." Tanya Ziko. " Maaf tuan, apa nona Zira sudah meminta izin kepada anda untuk pergi ke rumah sakit." Tanya Kevin. " Iya sudah." Jawab Ziko. " Oh baiklah, saya pikir nona Zira pergi tidak meminta izin kepada anda." Ucap Kevin. Kevin hendak keluar dari ruangan itu. " Tuan, apa adik saya ada datang ke rumah anda." Tanya Kevin. " Mana saya tau. Coba kamu hubungi sendiri. Tanyakan lebih detail. Memangnya kenapa?" Ucap Ziko. " Tidak tuan." Kevin keluar dari ruangan bosnya dan melihat ke pantry. Tapi dia tidak melihat keberadaan office girl itu. Kevin berjalan mendekati meja kerja Koko. " Ko, kemana Menik." Tanya Kevin. " Dia izin pulang cepat, katanya lagi tidak enak badan." Jawab Koko. Kevin kembali keruangannya. " Pasti Menik sakit karena aku. Betapa jahatnya aku." Gumam Kevin pelan. Menik tidak mengatakan dengan jujur kepada Koko, sebenarnya dia sudah pulang. Segala urusan di kantor itu sudah di laksanakannya. Dan dia bisa pulang tengah hari. Zira sudah mengantarkan keduanya yaitu Jesy dan Jasmin. Dia mengemudikan mobil dengan kecepatan sedang. Ketika traffic light berwarna merah, Zira menghentikan mobilnya. Dari samping mobilnya banyak yang sedang berjalan di trotoar, karena itu memang khusus untuk pejalan kaki. Zira melihat sosok yang sangat di kenalnya. Ketika lampu sudah berwarna hijau, Zira langsung menepikan mobilnya. " Menik." Ucap Zira. Menik yang sedang jalan sambil menundukkan kepala langsung mengangkat kepalanya. " Nona Zira." Ucap Menik gugup sambil berdiri di depan Zira. " Kamu kenapa di sini? Bukannya kamu harus kerja." Ucap Zira. Menik tersenyum kaku sambil melihat Zira. Zira langsung membuka pintu mobilnya untuk Menik. " Ayo masuk." Ucap Zira. " Tapi nona." Ucap Menik gugup. Melihat tatapan mata Zira, nyali Menik langsung menciut. Karena dia pernah mendengar sendiri kalau Zira tidak suka di bantah. Menik duduk di kursi depan di samping Zira. Dan Zira langsung melaju mobilnya dengan kecepatan sedang. " Like, komen dan vote yang banyak ya terimakasih." Chapter 358 episode 357 (S2) " Apa kamu sudah pulang." Tanya Zira. " Sudah nona." Jawab Menik pelan. Zira mengernyitkan dahinya sambil memikirkan sesuatu. " Setau saya, kamu pulang sore. Kenapa sekarang kamu pulang setengah hari? Apa yang terjadi dengan kamu." Tanya Zira sambil melirik Menik dan kembali fokus dalam mengendarai mobilnya. " Saya sudah mengundurkan diri." Jawab Menik. " Apa? Kenapa kamu mengundurkan diri, kamu baru beberapa bulan kerja di sana. Banyak orang berlomba untuk bisa bekerja di sana. Kenapa sekarang kamu malah keluar." Ucap Zira dengan melontarkan beberapa pertanyaan kepada wanita di sebelahnya. Menik bingung harus menjawab apa. Dia tidak mempunyai alasan yang tepat. " Kenapa kamu keluar." Tanya Zira lagi. " Saya ingin beristirahat." Ucap Menik bohong. " Beristirahat? Apa kamu sakit?" Zira terlihat khawatir. Menik menggelengkan kepalanya. " Kalau kamu tidak sakit kenapa harus keluar, jika mau istirahat kamu bisa ambil cuti beberapa hari." Zira belum mengetahui tentang Menik sepenuhnya. Yang dia tau hanya tentang Kevin yang akan bertunangan dan menurutnya Menik belum mengetahui hal itu. " Apa kamu ada masalah." Tanya Zira. Menik langsung meneteskan air matanya. Jika seseorang bertanya mengenainya pasti dia meneteskan air matanya. " Kamu kenapa Nik." Tanya Zira. Zira menepikan mobilnya di pinggir jalan. Menik kembali meneteskan air matanya. " Kamu bisa cerita kepada saya. Mana tau dengan bercerita kamu bisa merasa sedikit lega." Ucap Zira sambil memegang tangan Menik. Menik terlihat ragu untuk bercerita, akhirnya dia memberanikan diri untuk berbicara. Menik menceritakan semua masalahnya dan dia juga menceritakan tentang mamanya Kevin. Tidak lupa dia menceritakan tentang perasaannya. Zira menghela nafasnya yang berat. " Masalah kamu sangat rumit. Tapi kamu tidak bisa menyalahkan Kevin, dia juga tidak ingin melakukan ini. Apa yang kamu lakukan sekarang." Ucap Zira. " Kami memang tidak mungkin bersatu. Saya sudah mengikhlaskannya." Ucap Menik dengan suara getir. " Kalau memang kamu sudah mengikhlaskannya kenapa kamu menangis. Kamu itu sebenarnya belum bisa merelakan dirinya, benarkan?" Menik menganggukkan kepalanya pelan. " Apa mengundurkan diri ini juga cara kamu agar bisa menghindari Kevin?" Menik menganggukkan kepalanya lagi. " Dan sekarang apa yang mau kamu lakukan?" Zira tidak ingin menanyakan masalah itu lagi, dia tau karena akan sulit untuk wanita itu menata hatinya kembali. " Saya mau cari kerjaan nona." Ucap Menik. Zira langsung menyalakan mesin mobil dan mulai melajukan mobilnya. Mobil berhenti di depan butiknya. " Ayo turun." Ajak Zira. Menik turun, dia bingung kenapa Zira membawanya ke butik. Di dalam butik Zira memilihkan beberapa potong pakaian untuk Menik. " Ini untuk apa nona." Ucap Menik bingung. " Kamu coba dulu di kamar pas. Saya tunggu kamu di sini." Perintah Zira. Menik hanya mengikuti perintah dari Zira. Dia keluar dari kamar pas dengan mengenakan pakaian yang di pilih Zira. " Kamu sangat cocok dengan pakaian itu." Zira menyerahkan pakaian yang di pilihkannya kepada pegawainya. Kemudian pegawainya membungkus semua pakaian itu dan memasukkannya kedalam paper bag. Menik membawa semua paper bag itu. Dan mengikuti Zira dari belakang. Mereka masuk ke dalam mobil. Dan Zira langsung melajukan mobilnya dan berhenti di sebuah toko sepatu. " Kita mau ngapain lagi nona." Tanya Menik. " Tinggalkan paper bag itu di mobil." Perintah Zira. Menik mengikuti perintah Zira. Mereka masuk ke dalam toko sepatu. Zira memilihkan beberapa pasang sepatu untuk Menik. Sepatu yang di pilihkan Zira semuanya mempunyai tumit yang tinggi. " Nona, saya tidak bisa memakai sepatu seperti ini." Ucap Menik. " Mulai sekarang biasakan." Ucap Zira tegas. Setelah melakukan pembayaran. Mereka kembali ke mobil. Dan Zira membawanya ke toko tas, dan membelikan beberapa tas untuk Menik. Setelah itu Zira dan Menik masuk ke dalam toko ponsel. " Pilih yang kamu suka." Perintah Zira. " Untuk apa nona? Saya sudah punya ponsel." Ucap Menik menunjukkan ponsel remotenya. " Itu dulu ponsel tapi sekarang tidak lagi. Ikuti saja perintah saya." Ucap Zira tegas. " Tapi untuk apa ini semua." Tanya Menik bingung. " Nanti kamu akan tau juga." Ucap Zira. Zira melakukan pembayaran di meja kasir. Setelah melakukan pembayaran mereka berjalan menuju mobil. Di dalam mobil Zira menghubungi seseorang. " Datang ke rumah saya sekarang." Ucap Zira kemudian mengakhiri panggilannya. Menik yang melihat merasa takjub. Zira mempunyai aura seorang pemimpin. Dari cara berbicara sampai berjalan membuat Menik merasa kagum dengan Zira. Ini adalah hari pertamanya dia bisa berdekatan dengan Zira dan hari pertamanya saja membuat Menik bisa menilai kepribadian Zira. Mobil yang di kemudikan Zira masuk ke area rumahnya. Zira membawa Menik kerumahnya. Rumah peninggalan kakek dan neneknya. Menik bengong dengan rumah mewah itu. Setelah mobil sudah parkir, dia mengikuti Zira dari belakang. Sesampainya didepan pintu rumah seseorang menyambut mereka. " Selamat siang nona." Ucap kepala pelayan. " Siang, apa bety sudah datang." Tanya Zira. " Belum ada nona." Jawab kepala pelayan. Zira membawa Menik untuk duduk di ruang tamu. Pelayan langsung menyiapkan minuman dan makanan ringan untuk Zira dan tamunya. " Nona apa ini rumah anda?" Zira menganggukkan kepalanya. " Ini rumah saya, tapi saya tidak tinggal di sini. Rumah ini hanya di tempati para pekerja saya. Jika saya kangen dengan rumah ini maka saya akan datang ke sini." Ucap Zira. Tidak berapa lama kepala pelayan datang dengan seorang wanita. " Selamat siang nona, maafkan atas keterlambatan saya." Ucap wanita itu. " Baiklah langsung saja. Menik kenalkan ini Bety." Keduanya saling bersalaman. " Bety aku mau kamu merubah penampilan Menik. Ajarkan dia cara berdandan dan cara berjalan dengan menggunakan sepatu tinggi. Waktu kamu hanya sampai hari sabtu." Perintah Zira. " Sampai hari sabtu? Kenapa waktunya sangat singkat." Gerutu Bety. " Tidak usah banyak tanya, ikuti saja perintah saya. Dan Menik, kamu belajar semuanya di rumah ini. Dan kamu bisa tinggal di sini. Kapanpun kamu mau." Ucap Zira. " Terimakasih nona, saya tinggal di rumah saya saja." Ucap Menik menolak. " Ya terserah kamu. Kamu bisa membuat jadwal dengan Bety. Dan Bety buat dia menjadi wanita yang cantik dan anggun." " Baik nona." Ucap Bety. Menik mendekati Zira. " Maaf nona, untuk apa semua ini? Seperti ini saja sudah cukup." Zira hanya membalas dengan senyumannya. Aku ingin membuat kamu menjadi wanita yang anggun, cantik dan berwibawa. Karena saingan kamu adalah seorang dokter dan dia sangat cantik. Dan ini aku lakukan untuk menarik perhatian Kevin dan mamanya. " Lakukan saja perintah saya. Setelah kamu sudah bisa menaklukkan sepatu tinggi itu. Kamu bisa kembali kepada saya. Karena akan ada pelajaran tambahan untuk kamu." Ucap Zira. Bety mulai mengajarkan Menik cara menghias wajah. Dengan cepat dia bisa melukis wajahnya sendiri. " Kamu bisa pakai makeup." Tanya Bety. " Aku pernah kursus make up. Tapi tidak aku teruskan." Ucap Menik. " Kenapa." Tanya Bety. " Pertama biaya dan yang kedua yang penting aku sudah tau dasar-dasarnya. Bety menunjukkan hasil riasannya Menik. " Bagus." Puji Zira. " Ini bukan karya saya nona. Tapi karya Menik." Ucap Bety. " Ternyata kamu sudah bisa berhias. Lanjut ke pelajaran kedua." Perintah Zira. Menik di ajarkan cara berjalan dengan menggunakan sepatu heels. Tidak gampang berjalan dengan sepatu yang tumitnya tinggi. Menik sudah bolak balik jatuh. Tapi dia semangat untuk melakukannya. Zira melihat jam di tangannya. Dia berjanji untuk langsung pulang ke rumahnya, tapi dia malah mampir ke beberapa toko. " Menik saya harus pulang. Kamu bisa minta antar supir nanti. Dan Bety pelajaran hanya sampai jam 4 sore." Ucap Zira tegas. Kedua wanita itu menganggukkan kepalanya. Zira memakai tasnya. Dan berjalan keluar dari rumah besarnya. " Nona Zira." Menik berlari kecil mengikuti Zira sampai depan pintu. " Ya ada apa." Tanya Zira. " Terimakasih atas semuanya." Ucap Menik. Zira menganggukkan kepalanya. " Nona bolehkah saya memeluk anda." Ucap Menik. Zira kembali menganggukkan kepalanya. Menik langsung memeluk tubuh Zira. Dan Zira membalas pelukan itu dengan erat. Mereka berdua berpelukan cukup lama. Pelukan sayang untuk keduanya. Zira menganggap Menik seperti saudaranya sendiri begitupun Menik, dia menganggap Zira seperti kakaknya. " Like, komen dan vote yang banyak ya terimakasih." Chapter 359 episode 358 (S2) Menik masuk ke dalam rumah Zira dan melakukan sesuai yang di perintahkan Zira. Dan pemiliknya kembali ke kediamannya yaitu rumah yang di tempati dia dan suaminya. Hari sudah petang Ziko tiba di rumahnya dan kedatangannya di sambut istrinya. Ziko langsung masuk ke dalam rumahnya. " Nona Zira, ada yang mau saya tanyakan." Tanya Kevin. Zira membalikkan badannya. " Apa." " Nona, apa nona tadi pergi ke rumah sakit." Tanya Kevin. Pasti dokter Diki sudah menghubunginya. " Iya, aku tadi ke rumah sakit bersama dengan Jesy dan Jasmin." Ucap Zira jujur. " Maaf nona bagaimana anda bisa kenal dengan Jasmin." Tanya Kevin penasaran. " Aku baru mengenalnya tadi, dan calon tunanganmu cantik juga." Sindir Zira. Kevin kaget, dia tidak tau kalau pertunangannya akan ketahuan oleh Zira dan Ziko. " Vin, tidak perlu kamu tutupi. Kami sudah tau semuanya." Ucap Zira. " Bagaimana masalah kamu dengan Menik." Zira pura-pura tidak tau. " Menik sudah tau tentang rencana pertunangan saya. Dan dia sudah merelakan saya dengan Jasmin." Ucap Kevin dengan nada datar. " Jadi pria itu jangan cengeng." Ucap Zira ketus. " Maksud nona apa." Tanya Kevin bingung. " Masalah kamu tidak akan besar kalau tidak di nyalakan apinya. Yang jadi api di sini adalah kamu. Dan kamu yang harus memadamkannya." Ucap Zira tegas. " Maksud nona apa." Ucap Kevin bingung. " Vin, Jesy sudah cerita semuanya tentang kamu. Dan aku tau kamu tidak menyukai Jasmin. Jadi jangan sakiti hati Jasmin. Mereka wanita yang baik." Ucap Zira. " Mereka?" " Ya Jasmin dan Menik." Jawab Zira. " Nona kamu tidak tau bagaimana dengan mama saya. Dia pasti akan marah dan mengancam akan bunuh diri." Ucap Kevin. " Itu hanya gertakan saja. Mama kamu bukan hidup di jaman batu. Sekarang jaman modern dan bukan jamannya menjodohkan." Ucap Zira. Ziko keluar lagi dan langsung merangkul bahu Istrinya. " Jadi kita dulu kita hidup di jaman batu gitu?" Ucap Ziko ketus. " Bukan sayang, kalau kita ada perbedaannya. Bedanya perjodohan kita karena keduanya belum ada perasaan. Dan kalau Kevin di jodohkan tapi perasaannya ada sama Menik." Ucap Zira menjelaskan. Ziko manggut-manggut paham. " Selesaikan masalah kamu Vin. Jangan sampai semuanya terluka." Ucap Zira. Kevin menganggukkan kepalanya dan pergi meninggalkan rumah bosnya. Di dalam rumahnya Ziko langsung mandi dan Zira menyiapkan makan malam untuk suaminya. Setelah selesai dengan kegiatannya di kamar mandi, Ziko bergabung dengan istrinya di meja makan. " Pulang jam berapa tadi kamu." Tanya Ziko. " Siang." Jawab Zira. " Mampir kemana saja kamu." Tanya Ziko. " Kenapa kamu bertanya seperti itu? Apa kamu mengirimkan bodyguard untuk mengikutiku." Tanya Zira penasaran. " Iya." Jawab Ziko santai. " Kok kamu gitu sih." Ucap Zira kesal. " Ya mau bagaimana lagi. Aku tidak mau kamu terluka, makanya aku kirim dua orang untuk mengikutimu." Ucap Ziko jujur. Zira manyun dia tidak suka dengan ide suaminya yang memberikannya bodyguard. " Sayang, kamu jangan marah dong. Nanti manisnya kamu hilang di ambil semut." Rayu Ziko sambil memeluk tubuh istrinya. " Kesal tau. Kamu seperti tidak percaya denganku." Ucap Zira jutek. " Memang tidak percaya, siapa wanita yang ikut sama kamu." Tanya Ziko. " Jesy dan Jasmin." Jawab Zira. " Setelah itu." Tanya Ziko. " Menik." Jawab Zira santai. " Menik itu office girl yang kerja di kantor ku kan? Kenapa dia bisa pulang cepat." Tanya Ziko bingung. " Hari ini hari terakhirnya bekerja di perusahaan kamu. Dia mengundurkan diri, dan dia di izinkan pulang lebih awal." Ucap Zira menjelaskan. Ziko masih bingung dan mengernyitkan dahinya. Zira melanjutkan lagi ucapannya. " Dia keluar karena ingin menghindari Kevin." Zira menceritakan tentang masalah yang di hadapi Kevin dan Menik. Semua di ceritakannya tidak ada yang di rahasiakannya dari suaminya. " Tapi jangan kamu bilang sama Kevin tentang ini. Aku yakin pasti besok si Kevin panik. Karena tidak menemukan Menik di gedung itu." Ucap Zira tersenyum tipis. " Kenapa kamu tersenyum senang seperti itu." Tanya Ziko bingung. " Habis pria sering menyakiti hati wanita. Aku juga wanita jadi tidak terima kalau wanita di buat seperti itu." Gerutu Zira. " Kenapa kamu selalu ada di dalam hubungan Kevin." Tanya Ziko. " Bukan selalu ada. Tapi jiwa Avengersku itu langsung tergerak untuk membantu mereka." Jawab Zira. Ziko manggut-manggut lagi. " Kenapa kamu membawanya ke rumah besar." Tanya Ziko. " Katanya ada bodyguard, kenapa tidak tanya saja sama bodyguard itu." Sindir Zira. " Ah sudah cepat ceritakan apa saja yang di lakukan wanita itu di rumahmu." Zira menceritakan semua tentang rencananya. Dan Ziko langsung membelalakkan matanya. " Jangan melotot seperti itu. Bagaimana dengan rencanaku." Tanya Zira. " Kalau penampilannya sudah berubah, terus mau kamu suruh kerja di butik gitu?" Sindir Ziko. " Ya enggaklah, nanti kamu akan tau juga. Lihat saja dengan penampilan yang baru Kevin akan semakin tidak rela melepaskan Menik." Ucap Zira semangat. Ziko hanya mendengarkan saja, dia tidak bisa berkomentar dengan ide istrinya. " Kadang aku itu heran dengan pria. Kenapa harus di berikan bom dulu baru bisa bergerak." Ucap Zira. " Maksud kamu apa." Tanya Ziko bingung. " Ya seperti kamu, ketika tau aku hamil dan ngotot minta cerai, kamu langsung mulai bergerak mendekati aku lagi. Sama halnya dengan Kevin, dia perlu di beri amunisi dulu baru bisa melakukan sesuatu." Ucap Zira. " Hey jangan samakan aku dengan si Kevin. Aku bergerak bukan karena ada amunisi atau bom yang kamu buat. Tapi karena rasa cintaku ini yang membuatku tidak bisa melepaskanmu." Ucap Ziko membela diri. " Sekarang waktunya kita makan, kita lupakan masalah Kevin." Ucap Zira sambil menyuapi suaminya. Menik pulang kerumahnya pada saat petang. Dan adiknya sudah tiba di rumah lebih awal dari dirinya. " Kenapa kakak lama sekali." Tanya Bima " Iya kakak baru ikut kursus." Ucap Menik. Bima melihat penampilan kakaknya. Ada yang beda dari wajah kakaknya. Yang berangkat kerja polos dan sekarang ada riasan di wajahnya. " Kak kenapa dengan wajah kakak? Apa kakak mencari pekerjaan baru dengan penampilan seperti ini." Ucap Bima penasaran. " Kakak belum mencari pekerjaan, ini semua pemberian dari nona Zira." Ucap Menik jujur. " Siapa nona Zira." Tanya Bima bingung. " Nona Zira istrinya bos besar." " Kenapa kakak harus berhubungan dengan mereka lagi." Ucap Bima ketus. " Mereka? Maksud kamu apa." Ucap Menik bingung. " Kak aku tidak mau kakak berhubungan dengan perusahaan itu lagi. Apalagi dengan istrinya bos besar. Pasti nanti dia akan menjodohkan kakak dengan pria brengsek itu." Gerutu Bima. " Bima, nona Zira tidak seperti itu. Kamu tau dia dengan sukarela membantu kakak untuk belajar semuanya. Dan asalkan kamu tau beliau mengizinkan kakak untuk tinggal di rumah besarnya. Tapi kakak menolak, karena pemberian darinya sudah lebih dari cukup." Ucap Menik. " Ya terserah kakak, cuma aku tidak akan setuju kalau pria itu mendekati kakak lagi." Ucap Bima tegas sambil berlalu meninggalkan kakaknya. " Like, komen dan vote yang banyak ya terimakasih." Chapter 360 episode 359 (S2) Menik tidak bisa melarang adiknya untuk tidak membenci Kevin. Dia tau yang dilakukan Bima bentuk rasa sayang adik kepada kakaknya. Pagi harinya Bima bersiap-siap untuk berangkat kerja, dan Menik juga bersiap-siap untuk kursus di rumah Zira. " Mau kemana kakak sepagi ini." Tanya Bima. " Kakak mau ke rumah nona Zira." " Sepagi ini mau kursus?" Ucap Bima bingung. " Kursus di mulai jam delapan pagi, tapi kakak ingin berangkat cepat. Agar bisa membantu karyawan nona Zira di sana." Ucap Bima. " Dan riasan itu untuk apa." Tanya Bima. " Mulai sekarang kakak harus berhias, karena menurut nona Zira dengan berhias kakak lebih tampak cantik dan berwibawa. Dan ini untuk membuktikan kepada nona Zira kalau kakak bersungguh-sungguh dalam belajar." Ucap Menik menjelaskan. Bima menghela nafasnya yang berat. Dia bingung dengan pemikiran wanita. Tapi ada rasa senang ketika bisa melihat Menik sedikit sibuk dan bersemangat. Dengan seperti itu Menik bisa melupakan Kevin. " Aku berangkat dulu." Ucap Bima sambil menyalakan motornya. " Tunggu, kakak ikut sampai depan." Ucap Menik sambil menutup dan mengunci pintu rumahnya. Bima membonceng kakaknya sampai depan gang. " Kakak mau naik apa kesana." Tanya Bima. " Kakak nunggu supir." Ucap Menik. " Supir? Kakak dapat fasilitas apa saja di sana." Tanya Bima. " Tidak ada fasilitas, hanya kalau pergi dan pulang sama supir." Ucap Menik menjelaskan. Bima tidak bisa menunggu kakaknya sampai di jemput. Dia pamit dan melajukan motornya. " Pagi nona." Sapa Kevin sambil melihat rambut Zira. Zira sudah paham kalau asisten suaminya selalu memperhatikan penampilannya. Tidak berapa lama Ziko keluar dari rumah. Keduanya langsung berangkat. Suasana di gedung Raharsrya group cukup ramai. Ziko dan Kevin datang awal seperti para karyawan lainnya. Sesampainya di lantai ruangan mereka, ada pemandangan yang aneh, yaitu ada sosok wanita yang sedang membersihkan lantai. Ziko langsung masuk ke dalam ruangannya. Kevin juga masuk ke dalam ruangannya. " Siapa wanita itu? Atau mungkin wanita itu menggantikan Menik untuk sementara waktu, sampai Menik sehat." Gumam Kevin pelan. Kevin mulai bekerja tapi pikirannya terus memikirkan Menik. Dia mencoba menghubungi nomor Menik. Panggilan tidak terhubung. " Kenapa dengan nomornya?" Gerutu Kevin. Kevin beranjak dari kursinya dan meninggalkan ruangan berjalan menuju meja kerja Koko. " Siapa wanita itu." Tanya Kevin. " Dia dari lantai bawah, mungkin sementara waktu menggantikan Menik." Ucap Koko. " Mungkin?" Kevin terlihat kesal dia tidak suka mendengar jawaban yang tidak pasti. " Coba hubungi Menik." Perintah Kevin dan kembali lagi keruangannya. Koko menghubungi nomor Menik tapi tidak terhubung. Koko mencobanya beberapa kali tapi tetap tidak terhubung. Di dalam ruangannya Kevin menghubungi nomor ekstensi bagian HRD. " Ibu Mery datang ke ruangan saya." Perintah Kevin. Ada suara ketukan dari luar. Kevin memerintahkan untuk masuk. Koko membuka pintu ruangan secara perlahan. " Maaf pak, nomor Menik tidak bisa di hubungi. Saya sudah mencobanya beberapa kali." Lapor Koko. " Mungkin ponselnya lagi di isi baterai, setengah jam lagi hubungi Menik." Perintah Kevin. " Baik pak." Koko keluar dari ruangan Kevin dan ketika membuka pintu ada Ibu Mery di depannya. " Pak Kevin ada di dalam." Tanya Ibu Mery. " Ada." Ucap Koko. Kevin melihat ada suara seorang wanita. Dia langsung mempersilahkan wanita paruh baya itu untuk masuk. Koko menutup pintu ruangan itu dan kembali lagi bekerja. " Silahkan duduk." Ibu Mery duduk di kursi yang ada di depan Kevin. " Bu siapa wanita yang membersihkan lantai ini." Tanya Kevin. " Oh dia yang menggantikan Menik." Ucap ibu Mery. " Sampai kapan." Tanya Kevin lagi. " Sampai dapat pengganti yang baru." Ucap ibu Mery. " Maksud ibu apa?" Kevin bingung. " Menik sudah mengundurkan diri pak. Dan kemaren hari terakhirnya. Dan yang sekarang menggantikannya office girl dari lantai dasar tepatnya dari loby. Perusahaan jasa sedang mencari pengganti Menik. Setelah lulus seleksi pengganti itu mulai bisa bekerja di sini." Ucap ibu Mery menjelaskan. Kevin kaget, ucapan ibu Mery seperti mimpi di pagi hari. " Apa ada lagi pak." Tanya ibu Mery. " Kenapa ibu tidak memberitahukan hal ini kepada saya." Ucap Kevin kesal. " Maaf pak, kemaren bapak banyak meeting. Rencananya saya mau memberitahukan hal ini hari ini. Tapi bapak sudah tau terlebih dahulu." Ucap ibu Mery. " Sudah keluar." Ucap Kevin kesal. Ibu Mery meninggalkan ruangan itu. Di dalam ruangan Kevin terlihat kesal. Dia ingin membanting semua yang ada di mejanya. Tapi dia berusaha untuk mengontrol emosinya. Karena posisinya sekarang ada di kantor. Dan jika bukan di kantor dia bisa melampiaskan kemarahannya dengan mengobrak-abrik semuanya. Kevin menghubungi nomor Menik, dan nomor itu tidak bisa di hubungi lagi. " Menik kenapa kamu menyiksaku seperti ini. Aku tau aku salah tapi jangan hukum diriku dengan menghilang seperti ini." Kevin mengacak-acak rambutnya. Dia mulai memikirkan cara untuk mencari informasi tentang Menik. Dan Kevin teringat sesuatu tentang adiknya Menik yaitu Bima. Dia langsung menghubungi nomor ekstensi untuk bagian sekuriti. " Yang namanya Bima suruh datang ke ruangan saya." Ucap Kevin tegas. " Dengan siapa." Tanya salah seorang sekuriti. " Saya Kevin." Jawab Kevin. " Baik pak, saya akan memerintahkan Bima untuk langsung menuju ruangan bapak." Ucap sekuriti sopan. Kemudian panggilan terputus. Kevin merapikan kembali rambutnya, dia tidak mau menunjukkan kepada Bima kalau dia terlihat stress. Ruangan di ketuk, Kevin langsung memberikan instruksi untuk masuk. Bima membuka pintu ruangan itu. Dengan tatapan tajam dia melihat kearah bosnya. " Ada apa pak." Tanya Bima. " Menik kemana?" Ucap Kevin. " Ada urusan apa bapak dengan kakak saya." Tanya Bima ketus. Kevin memicingkan matanya, dia tidak pernah berpikiran kalau Bima akan bersikap dingin dengannya. " Bima dengarkan saya dulu. Mungkin kamu sudah dengar tentang saya dan Menik. Tapi saya tidak bermaksud untuk menyakiti kakak kamu." Ucap Kevin menjelaskan. " Bapak tidak perlu menjelaskan apapun kepada saya. Yang jelas hati kakak saya terluka, dan semua karena bapak." Ucap Bima ketus. Kevin menghela nafas beratnya. Dia beranjak dari kursi kerjanya dan mendekati Bima. " Bima, saya mohon jangan bersikap seperti ini." Ucap Kevin memohon. " Maksud Bapak apa? Saya harus tertawa riang ketika kakak saya di sakiti. Bapak harus tau, kami di dunia ini hanya dua bersaudara, dia adalah segalanya buat saya. Dan restu saya tidak akan turun untuk bapak." Ucap Bima sambil berlalu meninggalkan bosnya. Kevin merasa kesal dengan sikap Bima yang berubah seratus delapan puluh derajat. Tapi dia mengerti rasa kecewa yang di tunjukkan Bima kepadanya semata-mata untuk melindungi kakaknya. Dengan gagah Bima kembali ke posnya. Beberapa sekuriti mulai bertanya kepadanya. " Kenapa bos memanggil kamu." Ucap salah satu temannya. Bima tidak menjawab dia hanya membalas dengan senyuman yang di paksakan. " Like, komen dan vote yang banyak ya terimakasih." Chapter 361 episode 360 (S2) Kepulangan Menik di sambut dengan rumah yang berantakan. " Kenapa semuanya berantakan? Apa yang terjadi?" Menik terlihat bingung. " Kita akan pindah dari sini." Ucap Bima membereskan semua barang-barang yang ada di rumahnya. " Kenapa?" " Aku tidak mau pria kaya itu datang ke sini. Dan merengek sama kakak." Jawab Bima ketus sambil terus menyusun barang-barang. " Tapi kalau kita pindah bagaimana cara membayar sewanya, apalagi kakak belum kerja." Ucap Menik bingung. " Rumah ini akan kita sewakan dan uang sewanya untuk membayar kontrakkan baru kita." " Besok aku keluar dari perusahaan itu." Ucap Bima tegas. " Apa! Kenapa harus keluar? Kamu sangat mendambakan bekerja di sana, tapi karena kakak, kamu rela melepaskan semuanya." Ucap Menik getir. " Sudahlah kak, aku sudah memutuskan untuk keluar dari sana. Dan aku akan bekerja di tempat yang baru. Memang gajinya tidak sebesar yang sekarang. Tapi yang penting kita tenang. Nanti aku akan mencari pekerjaan sampingan." Ucap Bima. Menik memeluk adiknya. Walaupun Bima lebih muda tapi dia mau menanggung beban hidup mereka. Menik membantu Bima menyusun semua barang. Dari pakaian dan perlengkapan dapur di susun mereka bersama-sama. Setelah semuanya tersusun, Bima dan Menik membawa barang itu satu persatu begitu seterusnya sampai semua barang di bawa. Dan tidak lupa di dekat jendela di tempelkan Bima sebuah kertas yang bertuliskan di kontrakkan. Setelah mengantarkan Ziko, Kevin berencana mampir ke rumah Menik. Tidak lupa dia membawa buah tangan untuk Menik. Mobil di parkirkannya di depan gang. Dia melangkahkan kakinya masuk ke dalam gang kecil itu. Setelah sampai di depan rumah, Kevin melihat tulisan di dekat jendela. " Di kontrakkan? Kemana mereka pindah." Gerutu Kevin. " Sudah pindah pak." Ucap pemilik warung yang posisi rumahnya di depan rumah Menik. Kevin membalikkan badannya. " Kapan pindahnya?" " Tadi sore, apa bapak mau mengontrak rumah itu." Tanya pemilik warung. Kevin tidak menjawab, dia menghubungi nomor yang tertera di kertas yang ada di jendela. Panggilan tidak terhubung. Kevin tidak dapat menghubungi nomor itu. Nomor yang di cantumkan Bima adalah nomor ponselnya. Dan nomor Kevin telah di blokirnya, jadi Kevin tidak akan pernah bisa menghubungi Bima. " Sialan." Gerutu Kevin. Pemilik warung masih memperhatikan Kevin. " Ibu ada nomor ponsel yang punya rumah." Tanya Kevin. " Itu nomornya pak." Ucap pemilik warung menunjuk kearah jendela. " Tidak bisa di hubungi Bu." Kevin menyerahkan buah tangan itu kepada pemilik warung. " Ini untuk siapa pak." Tanya pemilik warung sedikit teriak, karena Kevin sudah menjauh meninggalkan ibu itu. " Untuk ibu." Jawab Kevin teriak. Kevin kembali ke mobilnya, dia berkali-kali mencoba menghubungi nomor Menik dan nomor Bima tapi hasilnya nihil. " Menik kamu kemana?" Kevin mengacak-acak rambutnya, dia terlihat stress. Dengan pikiran yang kacau Kevin kembali kerumahnya. Mamanya telah menantinya. " Kevin kenapa dengan kamu? Apa yang terjadi." Tanya mamanya bingung melihat penampilan anaknya yang sangat kacau. " Kevin tidak menghiraukan pertanyaan mamanya. Dia memilih untuk pergi ke kamarnya. " Kevin tunggu." Mamanya terus mengikuti anaknya sampai ke dalam kamarnya. " Vin, Jasmin sudah bekerja dia di terima di rumah sakit terbesar di kota ini. Semua atas bantuan nona Zira." Ucap mamanya. Kevin melihat sekilas sambil membuka jas kerjanya. " Karena Jasmin sudah bekerja jadi rencananya besok malam pertunangan kalian akan di selenggarakan." Ucap mamanya senang. " Apa!" Ucap Kevin singkat. " Iya, besok malam kita mengadakan pertunangan kamu dengan Jasmin. Sebenarnya mama ingin mengundang rekan kerja kamu. Tapi berhubung waktu tidak cukup jadi kita mengadakan acara yang sederhana saja." Ucap mamanya menjelaskan. " Kenapa harus terburu-buru." Ucap Kevin kesal. " Lusa orang tuanya Jamsin akan kembali ke London jadi mereka minta pertunangan kalian segera di langsungkan dan mama menyetujui ide itu." Ucap mamanya senang. Kevin mendengus kesal. Masalahnya sama Menik belum selesai di tambah masalah pertunangan, membuatnya semakin stres. " Besok kamu bisa izin tidak masuk kerja." Tanya mamanya. " Untuk apa." Tanya Kevin ketus. " Membeli cincin pertunangan untuk kalian berdua." Ucap mamanya. " Enggak bisa besok aku sibuk." Jawab Kevin ketus dan meninggalkan mamanya menuju kamar mandi. Nyonya Paula keluar dari kamar anaknya dan kembali ke ruang keluarga bersama dengan suaminya dan anaknya. Papanya Kevin masih duduk di kursi roda. Untuk menghilangkan rasa bosan pria paruh baya itu. Mereka sengaja meletakkannya di depan televisi, agar pikiran papanya Kevin dapat bekerja seperti dulu lagi. " Jes, kamu hubungi nona Zira, undang untuk datang ke rumah kita." " Untuk apa ma?" Ucap Jesy bingung. " Besok malam acara pertunangan kakakmu, mereka adalah tamu spesial dalam acara besok malam." Ucap mamanya senang. " Apa kak Kevin sudah tau." Tanya Jesy. " Sudah." Jawab mamanya singkat. " Lalu apa kata kak Kevin." " Dia tidak banyak berbicara, mama tau dia tidak suka dengan perjodohan ini." Ucap mamanya. Jesy menghubungi nomor ponsel Zira dan nyonya Paula menghubungi nomor Menik. " Kenapa tidak bisa di hubungi." Gerutu nyonya Paula. " Siapa ma." Tanya Jesy sambil meletakkan kembali ponselnya. " Manek, mama mau meminta bantuan kepadanya untuk memasak acara besok malam." Ucap mamanya. Jesy hanya menggelengkan kepalanya, dia menghubungi nomor ponsel Zira. " Malam nona Zira maaf mengganggu." " Iya ada apa Jesy." Tanya Zira. " Mama mengundang nona dan tuan muda untuk hadir ke acara pertunangan kak Kevin." Ucap Jesy pelan. " Apa!" Zira kaget dan Ziko yang lagi tidur di paha istrinya ikut kaget. " Iya nona, besok malam pertunangannya akan di selenggarakan." " Di mana acaranya." Tanya Zira. " Di rumah, acaranya hanya sederhana saja. Kami harap nona dan tuan muda bisa hadir ke acara besok." Ucap Jesy. Kemudian panggilan terputus. Kevin turun dari lantai atas. " Vin, kamu tau rumah Manek." Tanya mamanya. " Untuk apa." Tanya Kevin cepat. " Mama sudah menghubungi nomornya tetapi tidak aktif, jadi mama mau datang ke rumahnya, mau mengundangnya sekaligus mau meminta bantuan kepadanya untuk masak acara besok." Ucap nyonya Paula. Kevin terlihat tidak senang dengan ide mamanya, dia memilih untuk pergi ke ruang makan. " Vin, ayo antarkan mama." Ucap nyonya Paula. " Rumahnya sudah di kontrakkan." Ucap Kevin ketus. " Di kontrakkan? Bagaimana kamu bisa tau? Apa yang kamu lakukan di sana." Tanya mamanya penasaran. Kevin keceplosan, dia tidak tau jika ucapannya yang asal membuat mamanya penasaran. " Eh hem, dia ada cerita kepadaku kalau rumahnya mau di kontrakkan." Jawab Kevin gugup. " Terus bagaimana dengan acara besok." Gerutu mamanya. " Kenapa mama harus repot-repot, suruh aja semua tamu bawa makan dari rumahnya masing-masing. Gitu saja kok repot." Ucap Kevin ketus. " Vin jangan bercanda, mama serius tidak mungkin kita tidak menjamu tamu undangan." Ucap mamanya bingung. Jesy masuk ke ruang makan dan mendengar percakapan mamanya dan Kevin. " Pesan catering saja ma. Dengan seperti itu mama tidak perlu repot-repot." Ucap Jesy. " Tapi apa masakannya enak. Secara mama baru di sini. Dan mama tidak tau catering mana yang masakannya enak." Ucap mamanya bingung. Jesy membuka sebuah aplikasi dan mencari catering yang terkenal di kota itu. Setelah di ceknya lalu di tunjukkannya ke mamanya. Nyonya Paula akhirnya setuju dengan ide anaknya. Wanita paruh baya itu langsung menghubungi pihak catering. " Like, komen dan vote yang banyak ya terimakasih." Chapter 362 episode 361 (S2) " Kenapa kamu teriak." Tanya Ziko sambil duduk di sebelah istrinya. " Jesy bilang besok acara pertunangan Kevin." " Apa!" Ziko kaget sekarang dia yang berteriak. " Kenapa harus teriak sih. Kupingku sakit." Gerutu Zira. " Maaf sayang, nanti kalau kuping kamu sakit aku ganti dengan kuping gajah." Rayu Ziko. Zira memikirkan bagaimana cara membatalkan pertunangan itu. " Sayang kenapa dahi kamu mengkerut. Seperti nenek-nenek saja." Ejek Ziko. " Sayang bagaimana jika pertunangan itu terjadi, dan bagaimana dengan nasib Menik." Ucap Zira bingung. " Sudahlah kenapa kamu harus memusingkan urusan mereka. Memang aku tau jiwa avengermu pasti berontak. Tidak mungkin kamu merusak acara itu. Kalau kamu merusak acara itu pasti nama baikku akan tercoreng karena ulahmu." Ucap Ziko. Zira tidak bisa berpikir jernih, dia tidak tau bagaimana jika Menik tau tentang pertunangan itu. Ziko mengajak istrinya untuk tidur. Dia tidak mau istrinya terlalu pusing memikirkan nasib Menik dan Kevin. Pagi hari suasana terlihat tenang, udara terasa segar. Asap kendaraan belum mengotori udara di pagi hari. Kevin sudah bangun lebih awal dari hari biasanya. Nyonya Paula yang belum selesai dengan masakannya bingung dengan tingkah anak sulungnya. " Kenapa kamu bangun sepagi ini. Mama belum selesai masak sarapan untuk kamu." Ucap mamanya bingung. " Aku banyak kerjaan." Ucap Kevin cepat sambil meminum kopi yang telah di buatkan mamanya. " Vin, kamu jangan membuat mama malu ya." Ucap mamanya dengan tatapan yang tajam. Nyonya Paula seperti bisa membaca pikiran anaknya. Memang Kevin berencana pulang larut malam. Agar pertunangan itu di batalkan. " Apa maksud mama." Ucap Kevin pura-pura tidak paham. " Mama mengundang tetangga dan jika kamu tidak hadir bukan hanya mama yang malu tapi keluarga Jasmin juga malu. Dan mama pastikan keluarga Jasmin akan membenci keluarga kita. Mama mohon dengan sangat jangan rusak acara nanti malam." Ucap mamanya sambil memegang tangan Kevin. Kevin langsung pergi meninggalkan rumahnya. Dia tidak ingin mendengarkan ceramah mamanya di pagi hari. Mobil sudah melaju dengan kecepatan tinggi. Dia sudah tiba di rumah Ziko lebih awal. Tok tok tok. Zira membuka pintu rumahnya. " Kevin? Kenapa kamu datang sepagi ini? Apa kamu ada piket membersihkan ruangan hari ini." Goda Zira. " Boleh saya masuk." Tanya Kevin. Zira menganggukkan kepalanya dan mempersilahkan Kevin untuk masuk. " Tuan muda masih tidur, kamu terlalu awal kesini." Ucap Zira. " Ya saya tau." Ucap Kevin menyandarkan kepalanya di sandaran kursi. " Kamu sudah makan belum?" Kevin menggelengkan kepalanya. Zira ke dapur membantu bik Inah menyiapkan sarapan. Kevin di tinggalkannya di ruang tamu sendiri. Zira kembali ke ruang tamu dengan membawa kopi dan roti gandum untuk Kevin. " Makanlah ini, untuk mengganjal perutmu yang kosong." Ucap Zira sambil meletakkan piring yang berisi roti gandum dan gelas yang berisi kopi di atas meja. " Terimakasih nona." Ucap Kevin. Zira duduk di depan Kevin, dengan batas sebuah meja di antara mereka. " Vin, mamamu mengundang kami ke acara pertunangan kamu. Apakah semua itu betul." Tanya Zira. Kevin menganggukkan kepalanya. " Apa kamu menyetujui pertunangan itu." Tanya Zira pelan. Kevin menggelengkan kepalanya. " Saya tidak tau harus berbuat apa. Yang jelas pertunangan ini ide mama dan orang tua Jasmin." Ucap Kevin kesal. Zira mengeluarkan nafasnya yang berat. " Apa kamu sudah menanyakan hal ini kepada Jasmin." Tanya Zira. " Maksud nona apa." Tanya Kevin bingung. " Apa kamu pernah menanyakan perasaan Jasmin ke kamu." Tanya Zira lagi. " Belum." Jawab Kevin singkat. " Coba beranikan dirimu untuk bertanya kepada Jasmin. Perasaan apa yang di milikinya terhadap kamu. Apa dia termasuk wanita yang penurut, yang mengikuti semua rencana orang tuanya." Ucap Zira. " Aku tidak tau Jasmin wanita seperti apa. Mungkin karena aku tidak menyukai dengan perjodohan ini makanya aku berusaha untuk tidak mau tau tentang dirinya." Jawab Kevin. " Ada baiknya kamu menanyakan hal itu kepada Jamsin." " Tapi jika dia menanyakan hal itu balik bagaimana." Tanya Kevin bingung. " Pasti dia akan menanyakan hal itu balik. Karena memang itu intinya." Ucap Zira. " Maksud nona apa." Tanya Kevin bingung. " Vin, jika dia bertanya tentang perasaan kamu kepadanya, itu adalah kesempatan kamu untuk jujur. Katakan kalau kamu mencintai seorang gadis dan gadis itu sedang menunggu kamu." Ucap Zira lagi. Dengan wajah bangun tidur Ziko ikut duduk di ruang tamu. " Dari jam berapa kamu ke sini." Tanya Ziko sambil menguap. " Baru empat puluh lima menit tuan." Ucap Kevin sambil melihat jam di tangannya. " Ya sudah habiskan rotimu." Ucap Ziko menarik tangan Istrinya. Zira sudah paham dengan tingkah suaminya. Dia harus memandikan bayi kolor ijo itu setiap pagi. Setelah memandikan bayi besarnya, mereka berdua menuju meja makan dan tidak lupa Zira memanggil Kevin untuk ikut bergabung bersama mereka. Kevin tidak bernafsu untuk memakan sarapan. " Vin, kamu itu cengeng banget sih. Aku tau kamu memang ada masalah tapi jangan hukum dirimu dengan tidak makan sesuatu. Bagaimana kamu berjuang untuk cintamu, sedangkan energi saja tidak punya. Semua manusia pasti mengalami namanya masalah. Bagaimana kita menyikapinya, dan kamu harus menyikapinya dengan kepala dingin." Ucap Zira. Kevin tadi tidak mau mendengarkan ceramah mamanya. Tapi pagi ini dia tidak dapat mengelak kultum pagi dari Zira. Setelah mendapatkan kultum Kevin mulai menikmati sarapannya. Setelah itu mobil langsung pergi meninggalkan kediaman Zira dan menuju kantor. " Jasmin, Kevin tidak bisa menemani kamu membeli cincin, jadi mama yang akan menemani kamu." Ucap nyonya Paula. " Ya tante." Ucap Jasmin. Mereka pergi menggunakan taksi menuju salah satu toko perhiasan. Nyonya Paula menyerahkan semua kepada Jesy. Jesy sedang menunggu pihak dekor untuk menyelesaikan pekerjaannya. " Tante apa tidak apa-apa jika acara di rumah pria." Tanya Jasmin. " Memangnya kenapa?" " Saya dengar dari beberapa orang yang bekerja di rumah sakit. Mereka bilang acara pertunangan di adakan di rumah wanita. Bukan di rumah si pria. Dengan alasan tidak baik katanya." Ucap Jasmin. " Tidak baik bagaimana? Mungkin itu adat dan tradisi dari sini. Bagaimana jika acaranya di gedung apa tidak baik juga." Tanya nyonya Paula lagi. Jasmin mengangkat kedua bahunya. Dia juga kurang paham dengan adat istiadat di situ. Mereka sampai di salah satu toko perhiasan. Seorang pegawai perhiasan menyapa mereka ramah. " Ada yang bisa di bantu." Tanya salah satu pegawai. " Saya mau mencari cincin tunangan." Ucap nyonya Paula. Pegawai wanita itu membawa mereka ke etalase kaca, yang di dalamnya berjejer perhiasan bertahtakan berlian dengan ukuran dan berat yang berbeda-beda. Jasmin menjatuhkan pilihannya pada satu cincin berlian dengan berlian kecil di tengahnya.Dia mencoba cincin itu. " Bagus sekali, cocok di tangan kamu." Ucap nyonya Paula. Jasmin tersenyum senang. " Calon prianya mana." Tanya pegawai toko. " Anak saya tidak bisa datang, banyak pekerjaan." Ucap nyonya Paula. Pegawai itu tersenyum ramah. Nyonya Paula langsung membayar dengan kartu yang di berikan Kevin kepadanya. Kartu itu biasanya di gunakannya untuk keperluan mereka sehari-hari. Tapi hari itu di pakainya untuk membelikan cincin. Dia berharap Kevin menyukai cincin pilihan Jasmin. " Like, komen dan vote yang banyak ya terimakasih." Chapter 363 episode 362 (S2) Mobil yang di kendarai Kevin sudah tiba di gedung Rahasrya group. Ziko melangkahkan kakinya menuju lift, tapi asistennya tidak mengikutinya. Ziko membalikkan badannya. " Vin, kamu mau kemana." Ucap Ziko melihat asistennya memutar arah jalannya. " Tuan silahkan masuk dulu. Saya masih ada perlu." Ucap Kevin. Ziko menganggukkan kepalanya dan pergi menuju lift. Kevin berjalan menuju pos sekuriti. Ada beberapa sekuriti yang bertugas di situ. Dan dia tidak menemukan Bima di pos itu. " Pagi pak." Sapa semua sekuriti sambil berdiri. " Pagi." Pandangannya melihat sekeliling pos mencari keberadaan Bima. " Mana Bima." Tanya Kevin. " Bima seharusnya hari ini masuk malam pak. Tapi tadi dia kesini hanya berpamitan dengan kami." Ucap chief sekuriti. " Berpamitan?" Kevin terlihat bingung. " Bima tadi masuk ke dalam gedung, dia menemui pihak HRD, sepertinya dia menyerahkan surat pengunduran diri." Ucap chief sekuriti. Kevin langsung pergi meninggalkan pos sekuriti. " Kenapa mereka semuanya mengundurkan diri. Begitu bencinya mereka kepadaku." Gumam Kevin sambil melangkahkan kakinya menuju lift. Ponselnya berdering, Kevin melihat layar ponselnya. Ada nama mamanya di layar ponsel itu. Dia tidak menjawab panggilan tersebut, dia membuat mode hening ponselnya. " Kemana sih si Kevin." Gerutu nyonya Paula. " Kenapa tante." Tanya Jasmin. " Kevin susah sekali di hubungi. Panggilannya masuk tapi tidak di jawabnya." Gerutu nyonya Paula. " Mungkin dia lagi sibuk." Ucap Jasmin. " Mungkin juga." Nyonya Paula mengirim pesan untuk anaknya. Mama dan Jasmin sudah membeli cincin tunangannya. Pulang cepat ya, kami menunggu kamu di rumah. Love you. Kevin melirik ponselnya dan melihat di layar ada pesan dari mamanya. Dia enggan untuk melihat pesan itu. Dia bisa menebak isi pesan yang di kirim mamanya. Pintu ruangan di ketuk. " Masuk." Ucap Kevin. Ceklek pintu di buka Koko. " Pagi pak, saya baru mendapatkan kabar kalau Menik sudah mengundurkan diri." Ucap Koko. " Saya sudah tau." Ucap Kevin ketus sambil melambaikan tangannya mengusir Koko untuk keluar dari ruangannya. " Kamu sangat cantik Menik. Dalam beberapa hari kamu sudah bisa menaklukkan kuas ini dan sepatu heels ini." Puji Bety sambil menunjuk peralatan make up dan sepatu heels yang di kenakan Menik. " Terimakasih Bety." Ucap Menik. " Selanjutnya kita belajar apa." Tanya Menik. " Pelajaran selanjutnya bukan saya yang mengajarkan." " Kalau bukan kamu siapa." Tanya Menik. " Saya yang akan mengajarkan kamu." Ucap wanita paruh baya. Dia adalah kepala pelayan di rumah Zira. " Ibu?" Ucap Menik singkat. " Karena kamu sudah belajar cara menghias diri dan cara berjalan dengan menggunakan sepatu heels, sekarang tiba waktunya kita belajar table manner. Wanita paruh baya itu menjelaskan apa itu table manner. Dan membawa Menik ke depan meja makan yang di atasnya banyak terdapat sendok dan peralatan makan lainnya. Wanita paruh baya itu memperkenalkan semua peralatan itu kepada Menik. Setau Menik hanya ada sendok yang biasa di gunakan seseorang untuk makan. Tapi ini ada beberapa sendok dan di gunakan untuk bermacam-macam hidangan. Menik agak susah menaklukan benda yang terbuat dari stainless itu. " Ibu bisa tidak pelajaran ini tidak ada. Saya biasa makan pakai tangan." Ucap Menik memelas. " Penampilan sudah ok tapi makan belepotan. Apa seperti itu cara makan seorang bangsawan." Ucap kepala pelayan sarkas. " Ibu saya bukan bangsawan, saya hanya rakyat biasa." Jawab Menik. " Diam ikuti perintah saya. Kalau kamu menolak belajar ini, kamu bisa memberitahukan hal ini langsung kepada nona Zira." Ucap kepala pelayan ketus. Menik diam, dia tidak berani harus berhadapan dengan Zira. Menurutnya lebih baik dia mengikuti semua pelajaran yang di berikan kepala pelayan. Sore hari " Vin kita pulang sekarang." Ucap Ziko dari ujung telepon dan kemudian meletakkan gagang telepon itu ketempat semula. Kevin mendatangi ruangan bosnya. Ruangan di ketuk. " Tuan kenapa kita pulang cepat, bukannya masih ada beberapa jam lagi waktu kita pulang." Tanya Kevin. " Kamu itu bagaimana, malam ini acara pertunangan kamu tidak mungkin aku membiarkanmu terlambat dalam acaramu." Ucap Kevin. Kevin menganggukkan kepalanya. Mereka langsung meninggalkan gedung tersebut. Setelah mengantarkan bosnya Kevin langsung melajukan mobilnya. Di dalam rumahnya, Zira sedang bersiap dengan memakai gaun yang sangat cantik. " Kevin sudah pulang." Ucap Zira sambil melihat penampilannya dari dalam cermin. " Sudah, aku menyuruhnya langsung pulang." Ucap Ziko langsung masuk ke kamar mandi. Suasana di rumah Kevin terlihat sibuk. Pihak catering sudah menyusun makanan di atas meja. Dan tamu undangan yang bukan lain adalah tetangga Kevin mulai berdatangan. Tidak berapa lama Jasmin dan kedua orangtuanya datang. Nyonya Paula menyambut calon besannya. Wanita paruh baya itu sesekali melihat kearah pintu masuk dan melihat jam di dinding. Nyonya Paula terlihat gusar dan resah. Jesy mendekati mamanya. " Ma, aku sudah menghubungi kak Kevin tapi tidak di jawab." Ucap Jesy. " Aduh mama khawatir Kevin tidak pulang." Ucap nyonya Paula cemas. Wajahnya nyonya Paula sudah terlihat pucat. Waktu sudah menunjukkan jam tujuh malam. Tapi Kevin belum juga pulang. Tidak berapa lama tamu istimewa mereka datang yaitu Zira dan Ziko. Nyonya Paula menyambut tamu istimewa mereka, dan memperkenalkan Zira dan Ziko kepada calon besannya. Pasangan suami isteri itu memilih duduk di tempat terpisah tidak bergabung dengan tamu undangan lainnya. Nyonya Paula menghampiri meja Ziko dan Zira. " Maaf tuan, apa anak saya Kevin masih di kantor." Tanya nyonya Paula. " Tidak, kami sudah pulang beberapa jam yang lalu." Ucap Ziko. Nyonya Paula semakin cemas dan gelisah, dia tidak tau harus berbuat apa. Kejadian yang di takutkannya akan terjadi juga. Host mendekati pemilik rumah. " Ibu ini sudah jam tujuh, jam berapa acaranya kita mulai." Tanya host. " Sebentar lagi kita mulai." Ucap nyonya Paula sambil mencoba menghubungi nomor ponsel anaknya. " Sayang kemana perginya Kevin." Ucap Zira. " Aku tidak tau, aku sudah menyuruhnya untuk langsung pulang, tapi sepertinya dia menuju tempat lain." Ucap Ziko. Tamu undangan sudah mulai bertanya-tanya. Karena pihak pria tidak nampak sama sekali. Begitupun keluarga Jasmin juga mulai bertanya-tanya. " Jasmin kenapa Kevin tidak terlihat. Dari tadi mama dan papa tidak melihatnya. Apa Kevin belum pulang kerja." Tanya mamanya Jasmin. " Sebentar ma, aku tanya sama tante Paula dulu." Ucap Jasmin sambil melangkahkan kakinya menuju wanita paruh baya itu. Jasmin terlihat cantik, dia mengenakan kebaya berwarna merah dan di padu padankan dengan kain batik berwarna coklat dan ada corak merahnya di sekitar kain batik itu. " Tante, Kevin kemana?" Ucap Jasmin. " Tante juga tidak tau." Ucap nyonya Paula cemas sambil meremas kedua tangannya. " Tunggu sebentar lagi ya." Ucap nyonya Paula. Jasmin menganggukkan kepalanya dan berjalan menghampiri kedua orang tuanya. " Apa katanya." Tanya Papanya Jasmin. " Tunggu sebentar lagi." Ucap Jasmin. Waktu terus berputar tapi acara belum di mulai. " Ibu jadi mulai tidak? Saya masih ada kerjaan lain nih." Ucap host marah. Nyonya Paula tidak bisa menjawab, keringatnya sudah mengucur deras. Zira dan Ziko melihat suasana di dalam rumah itu semakin riuh. Tamu undangan sudah mulai berpikir yang aneh-aneh tentang pemilik rumah. " Like, komen dan vote yang banyak ya terimakasih." Chapter 364 episode 363 (S2) Waktu sudah menunjukkan jam sembilan malam tapi tanda-tanda keberadaan Kevin belum juga ada. Tamu undangan satu persatu mulai pulang meninggalkan rumah itu. Hanya ada beberapa yang masih di situ yaitu Ziko dan Zira. Keluarga Jasmin dan tentunya pemilik rumah. Ketika tidak banyak orang mamanya Jasmin mulai angkat suara. " Paula apa kamu ingin mempermalukan kami!" Ucap mamanya Jasmin marah. " Aku tidak berniat mempermalukan kalian." Ucap nyonya Paula sambil tertunduk. Mamanya Jasmin melampiaskan semua amarahnya kepada nyonya Paula. Dari luar ada suara mobil yang berhenti dan seperti menabrak sesuatu. Ziko dan Zira langsung melihat keluar rumah. " Itu Kevin." Ucap Zira. Mobil Kevin menabrak tong sampah di depan rumahnya. Ziko mendekati mobil Kevin.Dia mengetuk jendela mobil. Tuk tuk tuk Kevin membuka jendelanya. " Tuan kenapa anda di rumah saya." Ucap Kevin teler. Ziko langsung membuka pintu mobil dan memapah asistennya masuk ke dalam rumah. " Kenapa dengan Kevin?" Zira mencium aroma tidak sedap dari tubuh Kevin, yaitu aroma alkohol. Ziko memapah Kevin sampai ke dalam rumah. " Kevin kamu kenapa?" Ucap nyonya Paula langsung menghampiri anaknya. " Halo mamaku sayang, mana tamu undangan kita?" Racau Kevin sambil jalan sempoyongan melihat sekeliling rumahnya yang penuh dengan bunga. Kevin berhenti di depan Jasmin. " Halo Jasmin, kamu cantik sekali. Kamu yakin mau jadi istriku." Racau Kevin lagi. Keluarga Jasmin terlihat marah, kedatangan Kevin dalam keadaan mabuk membuat keluarga Jasmin merasa tambah terhina. " Kevin apa yang kamu lakukan." Ucap nyonya Paula sambil menarik tangan anaknya. " Aku sudah datang ma, aku penuhi semua permintaan mama untuk bertunangan dengan orang yang tidak aku cintai." Racau Kevin. " Kurang ajar kamu." Buk buk dua pukulan mendarat di wajah Kevin. Kevin langsung terjatuh. Papanya Jasmin hendak mendaratkan pukulan yang ketiga tapi tangannya di pegang Ziko. Nyonya Paula, Jesy berteriak begitupun dengan Jasmin ikut teriak. " Cukup." Ucap Ziko sambil menghentakkan tangan papanya Jasmin dengan kasar. " Papa cukup." Teriak Jasmin. Nyonya Paula terduduk di dekat anaknya sambil menangis. Ada cairan merah keluar dari ujung bibir Kevin. " Kakak." Ucap Jesy sambil menangis. " Seperti ini perlakuan kalian kepada keluarga kami hah! Ini kedua kalinya kalian mempermalukan keluarga kami." Ucap papanya Jasmin emosi. " Papa cukup!" Ucap Jasmin sambil menangis. " Jangan kamu tangisi pria brengsek seperti ini." Ucap papanya ketus. " Papa tidak sudi punya menantu seperti dia dan besan seperti mereka." Ucap papanya Jasmin lagi. " Papa cukup!" Jasmin emosi. " Ini bukan salahnya Kevin tapi ini adalah salah kalian sebagai orang tua." Ucap Jasmin marah. Semua mendengarkan amarah Jasmin. " Kalian sudah menjodohkan kami dari masih dalam perut. Tapi apa kalian pernah bertanya bagaimana perasaan kami? Tidak kan!" " Papa dan om Hendrik bersahabat, terus dengan gampangnya langsung menjodohkan kami seperti ini. Aku tau hal ini akan terjadi, jujur aku kecewa tapi cinta memang tidak bisa di paksakan." " Semenjak Kecil aku sudah menyayangi Kevin, dan aku tidak tau perasaan Kevin kepadaku seperti apa. Tapi sekarang aku tau kalau Kevin tidak pernah mencintaiku." Ucap Jasmin. " Setidaknya sebelum kami melanjutkan ke jenjang yang lebih serius aku tau perasaan Kevin yang sebenarnya. Walaupun sakit aku menerimanya." Jasmin menghampiri Kevin yang tergeletak di lantai. " Jodoh tidak bisa di paksakan. Kejar cintamu Kevin. Aku akan selalu menjadi sahabat kecilmu." Ucap Jasmin sambil mengecup dahi Kevin. Papanya Jasmin langsung menarik lengan anaknya dan membawa keluarganya keluar dari rumah itu. Tidak jauh dari situ Zira tersenyum sumringah. Menurutnya Jasmin wanita yang baik dan berjiwa besar mau menerima kenyataan yang sangat melukai perasaannya. " Kenapa kamu tersenyum seperti itu. Di sini keadaan lagi serius kamu malah tersenyum seperti orang kesurupan." Bisik Ziko. " Sayang tugasku sudah selesai satu." Ucap Zira. " Maksud kamu apa." Tanya Ziko heran. " Sudah nanti saja kita bicarakan di rumah, sekarang bawa Kevin ke dalam kamarnya. Aku mau menyelesaikan tugas lainnya." Ucap Zira sambil berjalan mendekati nyonya Paula yang masih duduk di dekat anaknya. Zira membantu wanita paruh baya itu untuk duduk di tempat yang lebih tinggi. Dia membuatkan teh untuk wanita paruh baya itu. Ziko di bantu Jesy memapah Kevin ke kamarnya. " Minumlah ini." Ucap Zira menyerahkan secangkir teh hangat untuk nyonya Paula. Nyonya Paula masih menangis tersedu-sedu. " Ibu, saya mungkin orang luar dan tidak ada hak untuk berbicara tapi bagi kami Kevin termasuk bagian dari keluarga kami. Masalah yang di hadapi Kevin adalah masalah kami. Anak ibu mencintai seorang wanita dan wanita itu juga mencintainya. Tapi hubungan mereka hancur karena perjodohan ini." " Nona saya melakukan ini karena berhutang budi dengan keluarga Jasmin. Kami sudah menjodoh mereka berdua ketika masih di dalam perut, dan ketika Kevin kembali ke London dia membatalkan semuanya secara sepihak. Dan keluarga Jasmin merasa malu pada saat itu. Tapi mereka tetap bersikap baik kepada kami. Dan pada saat kami susah mereka lah yang menolong kami. Saya melakukan ini karena hutang budi." Ucap nyonya Paula dengan isak tangisnya. " Ibu hutang budi memang tidak bisa di balas. Apa keluarga Jasmin minta imbalan dengan pertunangan ini? Enggak kan? Apa ibu pernah menanyakan perasaan Kevin kepada Jasmin." Ucap Zira. Nyonya Paula menganggukkan kepalanya. " Apa ibu menerima pengakuan Kevin?" Nyonya Paula menggelengkan kepalanya. Zira menghela nafasnya. " Karena perjodohan ini hubungan anak dan ibu jadi rusak. Dan karena perjodohan ini juga persahabatan anda dengan keluarga Jasmin rusak. Coba anda berpikir lebih bijak dalam hal ini. Pasti masalah ini tidak akan terjadi. Tapi nasi sudah jadi bubur yang tidak bisa di rubah lagi. Hanya ada cara untuk memperbaiki semuanya yaitu, jadilah ibu yang mengerti akan kehendak anaknya dan jangan memaksakan semuanya atas kemauan anda. Mulailah dari awal, saya yakin anda bisa memperbaiki ini semua." Ucap Zira sambil beranjak dari kursi. Nyonya Paula masih menundukkan kepalanya, dia mencerna semua ucapan Zira. " Jesy kami pulang. Jaga kakak dan orang tuamu." Ucap Zira sambil menepuk bahu Jesy. " Terimakasih nona." Ucap Jesy. Zira menganggukkan kepalanya dan pergi meninggalkan rumah itu bersama dengan suaminya. Di dalam mobil keadaan terlihat hening. Mereka mengingat kejadian tadi. " Apa Kevin pernah minum alkohol." Tanya Zira. " Selama bekerja denganku, dia tidak pernah meminum minuman haram itu. Dan ini pertama kalinya aku melihatnya." Ucap Ziko. " Bagaimana keadaan Kevin?" " Besok dia akan sadar. Dan lukanya sudah di bersihkan adiknya." Ucap Ziko menjelaskan. Ziko melirik istrinya dan kembali fokus melihat kearah depan sambil mengemudikan mobilnya. " Apa saja yang kamu bicarakan dengan mamanya Kevin." " Tidak ada, aku hanya menasehatinya. Tapi tidak tau apakah mamanya Kevin mau menerima nasehatku atau tidak. Tapi semoga saja, kata-kataku dan kejadian ini membuatnya sadar." Ucap Zira. " Like, komen dan vote yang banyak ya terimakasih." Chapter 365 episode 364 (S2) Pagi hari udara terasa sejuk, angin bertiup kesana kemari. Hujan turun dengan derasnya, membuat udara semakin sejuk. Terpaan angin membuat pohon-pohon bergerak kesana kemari. Untuk pasangan suami istri Ziko dan Zira, mereka memilih untuk menarik selimutnya lagi. Tapi untuk para pencari nafkah, hujan tidak menjadi penghalang untuk mereka mengais rezeki. Turunnya hujan yang deras membangunkan Kevin. Dia terbangun dengan kepala sedikit pusing. Dia melihat sekeliling ruangan, mencoba mengingat-ngingat kejadian tadi malam. Kevin hanya mengingat tentang sebuah pub, dia menghabiskan waktunya disana. Menurutnya dengan menikmati seteguk alkohol masalahnya akan selesai. Tapi dia kebablasan sampai dia menghabiskan beberapa botol. Kevin duduk di atas kasurnya sambil memijat dahinya yang pusing. Dia mencoba beranjak dari tempat tidur dan berjalan ke kamar mandi. Dari pantulan cermin terlihat ada lebam di dekat bibir dan wajahnya yang warnanya sudah kebiruan. Dia mencoba mengingat semuanya, kapan dia mendapatkan pukulan itu. Seingatnya dia tidak mendapatkan pukulan ketika di pub. Dia mencoba mengingat semua kejadian ketika pulang dari pub dan setibanya di rumah. Ingatnya mulai kembali, dia mendapatkan pukulan dari papanya Jasmin. Kevin keluar dari kamar mandi. Dia enggan untuk pergi ke kantor dengan wajah seperti itu. Dia tidak mau menjadi pusat perhatian di kantor dengan wajah membiru seperti itu. Menurutnya lebih baik dia beristirahat di rumah sampai wajahnya kembali normal. Tok tok tok. " Masuk." Ucap Kevin singkat. Pintu di buka, mamanya datang dengan membawakan secangkir teh hangat untuk anaknya. Dan meletakkan di atas nakas. " Minumlah nak." Ucap mamanya. Kevin memalingkan wajahnya dari mamanya. Nyonya Paula duduk di pinggir kasur di sebelah Kevin. " Maafkan mama." Kevin yang tadinya memalingkan wajahnya melihat kearah lain spontan langsung melihat kearah mamanya. Wanita paruh baya itu mengucapkan kata maaf. " Mama telah mengorbankan perasaanmu, mama bukan ibu yang baik. Tidak mau mendengarkan pendapatmu." Ucap mamanya dengan isak air mata. Kevin mendekati mamanya dan duduk dibawah di dekat kaki wanita paruh baya itu. " Mama tau karena keegoisan mama membuat kamu jadi seperti ini. Kamu anak yang baik tapi mama telah membuat kamu menjadi anak yang tidak penurut dan semua itu karena kesalahan mama. Seandainya mama tidak memikirkan diri sendiri pasti hal ini tidak akan terjadi." Kevin menggenggam tangan mamanya. " Bawa calon menantu mama ke sini. Dan sematkan cincin ini di jari manisnya." Ucap nyonya Paula sambil membuka kotak kecil yang di dalamnya ada cincin berlian. " Tapi ma." Ucap Kevin bingung. " Restu mama untukmu dan wanita itu." Ucap nyonya Paula mengelus rambut anaknya. Kevin memeluk tubuh mamanya. Dia sudah durhaka kepada orang yang melahirkannya, tapi berapapun buruknya tingkah anak kepada orang tuanya, selalu ada pintu maaf dari mereka. " Maafkan aku, karena sikapku telah membuat persahabatan keluarga kita dan Jasmin rusak. " Sudahlah nak, semua sudah terjadi. Semua kesalahan ada pada mama. Mama lebih tidak tega melihat kamu seperti ini." Ucap mamanya menyesal. " Jasmin wanita yang baik semoga dia menemukan cinta sejatinya." Ucap Kevin. Nyonya Paula menganggukkan kepalanya. " Jasmin ayo kita kembali ke tanah air." Ucap mamanya dari balik pintu. Jasmin yang sedang di kamarnya langsung membuka pintu. " Ma, aku akan meneruskan karirku di sini. Ada Kevin ataupun tidak bersama Kevin, aku akan tetap melanjutkannya di sini." Ucap Jasmin tegas. " Jasmin kamu bisa melanjutkannya di Inggris. Untuk apa kita di sini. Mereka telah mencoreng wajah kita." Ucap mamanya lagi. " Cukup ma, pendirianku telah bulat. Aku tetap akan berada di sini." Ucap Jasmin tegas. Jasmin memeluk tubuh mamanya. " Aku tau mama khawatir dengan keadaanku, tidak perlu kalian memikirkanku. Aku sudah besar dan bisa menjaga diriku di sini." Ucap Jasmin sambil memeluk erat mamanya. Papanya Jasmin duduk di sofa ruang tamu. Jasmin menghampiri papanya. " Papa jangan bersedih, semua sudah takdirku. Tidak perlu di sesali, kejadian ini kita jadikan pembelajaran buat kita." Ucap Jasmin memeluk tubuh papanya dari samping. Pria paruh baya itu mengecup dahi anak semata wayangnya. " Kamu anak papa satu-satunya, perasaan papa sakit melihat kamu di perlukan seperti ini. Mereka sungguh keterlaluan." Ucap papanya emosi. " Jangan jadikan amarah menguasai diri papa, aku tau papa bukan pria yang gampang marah. Dan aku tau ini bentuk rasa kasih sayang kalian sebagai orang tua. Tapi setidaknya pikirkan kedepannya, jika pertunangan ini berlangsung dan berlanjut ke jenjang pernikahan, aku yakin pasti rumah tangga kami tidak akan bisa bertahan lama. Karena tidak ada cinta di dalamnya. Dan papa yang bilang kepadaku untuk selalu sematkan cinta di dalam kehidupan kita." Ucap Jasmin. Pria paruh baya itu memeluk anaknya. Gadis belianya sudah menjadi lebih dewasa dalam menyikapi masalahnya. Dia juga yang bisa menenangkan kedua orang tuanya. Jasmin membantu kedua orang tuanya untuk menyusun semua pakaiannya. Siang hari kedua orang tuanya akan kembali ke Inggris. Jasmin menghubungi dokter Diki. " Selamat pagi dokter." Ucap Jasmin. " Pagi dokter Jasmin, ada yang bisa saya bantu." Ucap dokter Diki ramah. " Dokter bisa shift saya di gantikan ke malam hari. Siang ini saya tidak bisa masuk, saya harus mengantarkan orang tua saya ke bandara." Ucap Jasmin. " Ok jadwal kamu siang ini akan di gantikan dokter lain." Ucap dokter Diki. " Ada yang bisa saya bantu lagi." Tanya dokter Diki. " Tidak ada dok, terimakasih atas bantuannya." Ucap Jasmin kemudian menutup panggilannya. Kedua orangtuanya mendengarkan percakapan anaknya. " Siapa nak?" " Saya baru menghubungi dokter Diki, dia penanggung jawab di rumah sakit tempat aku bekerja." Ucap Jasmin menjelaskan. Ting tong. " Biar aku yang buka." Ucap Jasmin berlari ke pintu apartemennya. Jasmin melihat dari lubang kecil yang ada di atas pintu apartemennya. " Siapa Jasmin." Tanya mamanya sambil mendekati anaknya. Mama Jasmin melihat dari lubang kecil yang ada di atas pintunya. Matanya langsung membeliak. " Untuk apa mereka datang kesini." Gerutu mamanya pelan. Bel apartemen terus di tekan dari luar. " Siapa yang memencet bel itu." Ucap papanya Jasmin sambil berjalan mendekati anak dan istrinya. Pria paruh baya itu melihat dari lubang kecil. " Mau apa mereka kesini." Gerutu papanya Jasmin sambil membuka pintu apartemen. " Mau apa kalian kesini." Ucap papanya Jasmin ketus. Di depan apartemennya sudah ada Kevin dan mamanya. " Om izinkan saya masuk." Ucap Kevin memelas. " Untuk apa? Untuk menghina kembali keluarga kami." Ucap mamanya Jasmin ketus. " Ma biarkan Kevin dan mamanya masuk tidak baik di lihat orang." Ucap Jasmin. Dengan berat hati kedua orang tuanya Jasmin mengizinkan Kevin dan mamanya masuk. Kedua orang tuanya Jasmin melihat tamunya dengan tatapan benci. " Kami kesini mau meminta maaf." Ucap mamanya Kevin. " Maafkan kesalahan yang telah kami perbuat om dan tante. Kami memang tidak pantas untuk berada di sini. Tapi aku sebagai anak tidak menginginkan masalah ini berlarut-larut. Semua kesalahan ini karena aku. Dan aku ingin hubungan keluarga kita tetap baik seperti dulu." " Sudahlah Kevin, aku tidak pernah membencimu. Semuanya memang sudah takdirku." Ucap Jasmin pelan. " Jasmin!" Ucap mamanya sambil merapatkan giginya. Wanita paruh baya itu tidak ingin anaknya berbaik hati kepada keluarga yang telah mempermalukan keluarga mereka. " Mama papa, kita sudah mengenal keluarga om Hendrik dari lama. Dan persahabatan kalian sudah terjalin ketika masih di sini. Jadi apa salahnya kita saling memaafkan. Lupakan yang telah lalu." Ucap Jasmin. Kedua orang tuanya saling pandang. Anaknya sangat berjiwa besar. " Nak, apa kamu tidak membenci mereka." Tanya mamanya Jasmin pelan. " Tidak ma, aku memang kecewa dengan sikap Kevin. Tapi setelah aku memikirkannya untuk apa membenci Kevin dan keluarganya, kalau memang Kevin jodohku pasti akan di mudahkan buatku. Tapi sepertinya kami tidak berjodoh karena banyak sekali hambatan dan rintangan." Ucap Jasmin menjelaskan. Jasmin mendekati kedua orang tuanya dan memegang tangan mama dan papanya. Dia mengulurkan tangan mamanya untuk bersalaman dengan nyonya Paula. Mamanya Jasmin sebenarnya enggan untuk menyalami nyonya Paula, tapi mamanya Kevin langsung memeluk tubuh temannya dengan erat dan mengucapkan kata maaf berkali-kali. Begitupun dengan Kevin, dia langsung menyalami tangan papanya Jasmin. Dan mengucapkan kata maaf kepada pria paruh baya itu. Akhirnya dua keluarga itu saling bermaaf-maafan dan melupakan masalah yang telah terjadi. Semua berkat Jasmin, dokter muda itu selalu sabar dan berhati mulia. Kevin dan mamanya mengantarkan keluarga Jasmin ke bandara. Setelah kedua orangtuanya masuk ke ruang tunggu. Kevin, nyonya Paula dan Jasmin kembali pulang. " Like komen dan vote yang banyak ya terimakasih." Chapter 366 episode 365 (S2) Kevin mengantarkan Jasmin ke apartemennya. Setelah itu dia kembali ke rumah orang tuanya. Sesampainya di sana, Kevin langsung menghubungi nomor ponsel orang kepercayaannya. " Halo pak." Ucap seseorang dari ujung sana. " Kamu cari wanita yang barusan saya kirim fotonya ke kamu. Cari tempat tinggalnya dan keberadaannya. Kalau perlu tempat dia bekerja kamu cari." Ucap Kevin. " Baik pak." Jawab pria itu. Kemudian panggilan terputus. Kevin menghubungi nomor ponsel Ziko. " Selamat siang tuan." Ucap Kevin. " Siang, sudah tidak teler lagi kamu?" Sindir Ziko. " Hehe, sudah tuan. Saya sudah waras." Jawab Kevin. Di sebelah Ziko ada Zira yang mencoba mendengarkan pembicaraan suaminya dan asistennya. Zira membuat mode speaker untuk ponsel suaminya. " Vin, sepertinya ada angin-angin surga ya." Tanya Zira. " Nona? Kenapa anda bisa di kantor? Atau tuan muda tidak bekerja hari ini." Tanya Kevin. " Tadi pagi hujan Vin, kamu tidak akan tau nikmatnya hujan pada saat pagi hari." Jawab Zira. " Vin jawab dulu, apa ada tanda-tanda angin surga." Tanya Zira lagi. " Maksud nona apa." Tanya Kevin. " Kamu gitu saja tidak tau. Apa ada tanda baik dari orang tua kamu." Tanya Zira. " Hemm." Kevin seperti sedang berpikir. Dia ingin Zira menebaknya sendiri. " Vin, jangan hanya menjawab dengan hemmm, kata hem tidak mengartikan apapun." Ucap Zira ketus. " Nona bisa menebak dari kata itu." Ucap Kevin datar. " Aku bukan tipe wanita yang suka menebak, tapi aku bisa memprediksikan kalau mama kamu sudah merestui hubunganmu." Ucap Zira. " Wah nona hebat. Bagiamana anda bisa menebaknya." " Makanya jangan kebanyakan teler. Apa kamu tidak tau kemaren malam mama kamu baru mendapatkan kuliah malam dariku. Dan ternyata kuliah malam itu membuahkan hasil." Ucap Zira senang. " Anda memang hebat." Puji Kevin. Ziko langsung motong pembicaraan antara Kevin dan istrinya. " Kenapa kamu menghubungiku." Tanya Ziko. " Saya mau mengabari besok kita berangkat sebelum tengah hari. Kapal sudah bersandar hari ini." Lapor Kevin. " Serius Vin?" Zira antusias. " Iya nona, permintaan anda akan terwujud." Ucap Kevin. " Persiapkan semuanya." Perintah Ziko. Kemudian panggilan terputus. " Siapa nama model itu." Tanya Ziko. " Katherine." Ucap Zira. " Apa dia sudah datang." Tanya Ziko. " Seharusnya hari ini sudah tiba. Nanti dia akan menghubungiku ketika pesawat sudah mendarat." Ucap Zira. Zira melangkahkan kakinya menjauh dari suaminya sambil memegang ponselnya. " Kamu mau kemana?" " Aku mau menghubungi seseorang untuk ikut dalam acara kita besok." Ucap Zira. Ziko menganggukkan kepalanya. Diapun mengambil ponselnya dan menghubungi beberapa orang yang pertama di hubunginya adalah Rudi. " Halo Rudi." " Iya Ko." Jawab Rudi " Besok kita akan berangkat sebelum tengah hari. Apa kamu bisa ikut." Tanya Ziko. " Kemana?" Rudi lupa. " Ah kamu itu dasar pelupa. Acara yang pernah aku bicarakan di kantorku." Ucap Ziko mencoba mengingatkan sepupunya. " Oh acara yang naik kapal pesiar ya." Ucap Rudi antusias. " Iya tapi kapalnya bukan sebesar kapal pesiar, ini anaknya kapal." Ucap Ziko menjelaskan. " Oh seperti itu. Baiklah aku akan ikut, dan besok aku langsung ke pelabuhan." Ucap Rudi. Kemudian panggilan terputus. Ziko menghubungi temannya yaitu dokter Diki. " Halo Diki." Ucap Ziko. " Ya Ko ada apa." Tanya dokter Diki. " Besok kamu ada acara tidak." Tanya Ziko. " Acara? Memangnya ada apa?" Dokter Diki mengajukan pertanyaan balik. " Hey yang bertanya sekarang adalah aku bukan kamu. Jawab dulu pertanyaanku." Gerutu Ziko. Dokter Diki tertawa mendengar temannya sewot. " Enggak ada sih. Memangnya kamu mau mengajak aku kemana." Tanya dokter Diki. " Besok kami mau berlibur menggunakan kapal dan berhenti di sebuah pulau kecil." Ucap Ziko. " Oh ya, baiklah aku ikut." Ucap dokter Diki semangat. " Oh iya, jangan lupa bawa peralatan perangmu ketika di sana." Ucap Ziko. " Maksud kamu apa." Tanya dokter Diki bingung. " Kamu di sana bukan hanya berlibur tapi juga kerja. Jadi tetap siaga menjadi dokter untuk kami." Perintah Ziko. " Aman itu, apa perlu aku membawa IGD." Ucap dokter Diki dengan gelak tawanya. " Bawa saja, kalau perlu bawa rumah sakitnya juga." Jawab Ziko. Dokter itu teringat sesuatu. " Ko, boleh tidak aku membawa partner kerja." Tanya dokter Diki. " Partner apa pasangan?" Goda Ziko. " Partner Ko, aku belum mendapatkan pasangan hidup. Tapi aku tidak tau apakah dia mau ikut apa tidak." Ucap dokter Diki. " Ya sudah kamu atur saja." Ucap Ziko kemudian panggilan terputus. Zira kembali duduk di dekat suaminya. " Bagaimana? Apa kamu sudah menghubungi teman kamu." Tanya Ziko. " Sudah, awalnya dia tidak mau. Tapi aku paksa, akhirnya dia mau ikut juga." Ucap Zira. " Memangnya siapa yang kamu undang untuk ikut acara besok." Tanya Ziko. " Menik." Ucap Zira singkat. " Menik? Jangan bilang kamu mau menjodohkan mereka berdua." Tanya Ziko. " Ya enggaklah, aku hanya mengajak Menik untuk ikut acara besok. Untuk urusan selanjutnya aku serahkan sama mereka berdua. Yang penting Kevin sudah dapat restu, tinggal dia yang melanjutkan seterusnya." Ucap Zira menjelaskan. Di tempat lain dokter Diki mencoba menghubungi rekan kerjanya yaitu dokter Jasmin. " Halo dokter Jasmin." Ucap dokter Diki. " Ya dokter." Dokter Diki terlihat ragu untuk mengajak dokter bule itu untuk ikut acara besok. " Hemmm." Dokter Diki ragu. Jasmin masih mendengarkan dari ujung ponselnya. " Ya dokter ada apa." Tanya Jasmin. Bagaimana cara bicaranya, aku saja tidak terlalu dekat dengannya. Apa aku suruh Kevin saja. " Halo dokter, kenapa anda diam." Ucap Jasmin. " Hemmm, saya di ajak tuan muda Ziko untuk ikut dalam acara besok. Mereka hendak liburan dan mereka membutuhkan tenaga medis untuk ikut dalam liburan mereka." Ucap dokter Diki menjelaskan. " Maaf dok, tuan muda Ziko siapa ya." Tanya Jasmin. Dokter Diki menepuk dahinya sendiri, dia lupa menjelaskan siapa Ziko. " Tuan muda Ziko suaminya nona Zira." Ucap dokter Diki datar. " Oh tuan muda itu yang kemaren malam datang ke rumah Kevin." Ucap Jasmin. " Datang? Memangnya ada acara apa di rumah Kevin." Tanya dokter Diki. Jasmin keceplosan, tidak mungkin dia mengatakan tentang pertunangannya yang batal. Dan tidak mungkin juga dia menjelaskan kalau dia di permalukan di sana. Jasmin mengalihkan pembicaraan. " Jam berapa besok acaranya?" Ucap Jasmin. " Sebelum tengah hari kita berangkat dengan kapal dan akan berhenti di pulau kecil." Ucap dokter Diki menjelaskan. " Berapa lama dok?" Ucap Jasmin lagi. " Saya kurang jelas berapa hari. Mungkin tidak lama." Ucap dokter Diki. Jasmin sedang memikirkan sesuatu. " Kalau saya ikut bagaimana dengan pekerjaan saya. Secara saya masih baru di rumah sakit itu." Ucap Jasmin. Dokter Diki mendengarkan ucapan Jasmin. Dia sedang memikirkan sesuatu. " Bagaimana waktu off kamu di ambil lebih awal. Dan setelah itu kamu tidak mendapatkan off dalam satu bulan ini." Ucap dokter Diki. " Memangnya bisa dok." Tanya Jasmin. " Bisa, kalau kamu mau saya bisa mengaturnya." Ucap dokter Diki. Jasmin memang membutuhkan liburan. Setelah kejadian tadi malam, bukan hanya hatinya yang suasana baru, tapi pikirannya juga butuh refreshing. " Baik dok, saya akan ikut." Ucap Jasmin. Kemudian panggilan terputus. Dokter Diki merasa senang, karena pada acara besok ada teman seprofesi dengannya. " Ada acara apa di rumah Kevin? Jarang sekali Ziko pergi ke rumah Kevin." Gumam dokter Diki memikirkan sesuatu. " Like, komen dan vote yang banyak ya terimakasih." Chapter 367 episode 366 (S2) Kevin masih menunggu jawaban dari orang suruhannya. Tidak berapa lama ponselnya berbunyi. " Ya halo." Ucap Kevin cepat. " Pak, saya belum menemukan wanita itu." Lapor pria dari ujung ponselnya. " Terus kenapa kamu menghubungiku." Ucap Kevin ketus. " Maaf pak, ini wanita yang dulu bukan?" Ucap orang suruhan Kevin. " Maksud kamu." Tanya Kevin balik. " Maksud saya, bapak dulu pernah menyuruh saya mencari informasi tentang seorang wanita dan pada saat itu bapak mengirimkan fotonya pada saat tidur. Dan saya minta kirim foto yang matanya terbuka? Apa ini orang yang sama." Ucap pria itu. Kevin melupakan sesuatu, dulu dia pernah meminta orang kepercayaannya untuk menyelidiki tentang Menik. " Ya ini orang yang sama." Jawab Kevin. " Kalau itu saya belum menemukannya. Tapi kalau yang mirip dengannya ada." Lapor pria itu. " Maksud kamu apa." Tanya Kevin. " Ada seorang wanita yang hampir mirip dengan wanita itu, tapi saya ragu kalau itu dia." Ucap pria itu. " Maksudnya kamu apa." Kevin bingung. " Wanita yang mirip dengan yang di foto jauh, banget dengan wanita ini. Wanita ini kaya dan lebih cantik dari yang di foto. Dan cara berpenampilannya juga beda, terlihat seperti wanita pintar." Lapor pria itu. " Itu bukan dia. Dia gadis yang sederhana. Kamu cari saja keberadaannya persis seperti yang di foto. Dia lebih sering pakai celana jeans dan rambutnya selalu di kuncir kuda." Ucap Kevin. " Baik pak." Setelah itu panggilan terputus. " Mana mungkin Menik berubah dalam beberapa hari. Beda halnya dengan nona Zira. Dia berubah drastis karena memang keturunan dari keluarga konglomerat. Kalau Menik, apa mungkin? Selama ini dia hanya mengatakan kepadaku kalau dia hanya mempunyai adik dan tidak punya siapa-siapa. Sama halnya dengan Bima juga mengatakan hal yang sama." Gumam Kevin pelan. Kevin ingin menemukan keberadaan Menik yang pertama dia ingin menyelesaikan masalahnya dengan Menik, dan ingin meminta maaf pada wanita itu. Dia ingin mengajak Menik untuk ikut serta dalam acara besok. Pagi hari Kevin sudah bangun lebih awal, dengan wajah yang masih sedikit membiru dia menyusun beberapa pakaiannya kedalam tas ranselnya. Kevin kembali melihat wajahnya dari dalam pantulan cermin. Bekas membiru itu sudah mulai menghilang, tapi jika di lihat dari dekat masih tetap kelihatan bekas lebamnya. Kevin mencukur rambutnya sendiri di kamar mandi. Setelah itu dia langsung mandi. Orang tuanya sudah menunggunya di ruang makan. " Kamu mau kemana rapi banget? Bukannya hari ini libur." Tanya mamanya. " Dalam beberapa hari aku tidak pulang." Ucap Kevin. " Kamu mau kemana nak? Apa kamu masih marah sama mama." Ucap nyonya Paula pelan. " Tidak ma, tuan muda Ziko akan pergi berlibur dalam beberapa hari. Dan aku harus ikut dengannya." Ucap Kevin menjelaskan. " Wah liburan? Apa aku boleh ikut." Tanya Jesy. " Enggak." Ucap Kevin singkat. " Ah kakak." Rengek Jesy. " Kamu harus jaga mama dan papa di sini." Ucap Kevin. Dengan mulut manyun gadis belia itu menganggukkan kepalanya. Kevin pamit kepada kedua orangtuanya. Dia langsung melajukan mobilnya menuju rumah Ziko. Setibanya di sana, dia langsung mengetuk pintu rumah tersebut. Tidak menunggu waktu lama, Ziko sudah membukanya sambil membawa koper. " Koper? Tuan mau mudik apa mau berlibur." Tanya Kevin sambil heran melihat koper yang lumayan gede di bawa bosnya. " Ini semua ide istriku. Aku sudah memberitahukannya untuk membawa tas seadanya. Tapi dia malah memilih koper ini." Gerutu Ziko. " Apa saja isi koper ini." Tanya Kevin. " Pakaian kami lah, memang kamu pikir aku bawa mayat di dalam sini." Ucap Ziko sambil menunjuk kearah koper dengan lirikan matanya. " Enggak tuan, saya pikir nona Zira bawa kasur." Sindir Ziko. " Siapa yang bilang bawa kasur." Ucap Zira dari dalam rumah sambil berjalan menuju pintu rumah. " Siang nona." Sapa Kevin. " Di dalam itu bukan hanya kasur tapi ada seperangkat alat tidur." Ucap Zira ketus sambil memperhatikan penampilan asisten suaminya. " Itu rambut kenapa seperti tusuk gigi." Ucap Zira. " Maksudnya nona apa." Kevin menyentuh kepalanya. " Kamu jangan dekat-dekat dengan penjual balon." Ucap Zira. " Memangnya kenapa sayang." Tanya Ziko. " Pecah lah, gitu saja enggak tau. Kamu bukan tambah ganteng seperti itu. Tapi kepala kamu seperti pentol korek api." Ucap Zira lagi. " Buahahhaha, pentol korek." Ziko tertawa mendengar celotehan istrinya. " Nona jangan seperti itu. Dengan susah payah saya mencukur rambut ini." Ucap Kevin memelas. Kevin mencukur rambut sendiri, dia membuat rambut dengan model cepak yang tidak terlalu pendek. Dan kalau di perhatikan rambut itu memang seperti tusuk gigi. Zira masuk kedalam rumahnya dan mengambil sesuatu di kamarnya, kemudian kembali dengan membawa topi di tangannya. " Pakai ini." Ucap Zira menyerahkan topi Ziko kepada Kevin. " Untuk apa." Tanya Kevin heran. " Untuk di pelototi. Jelas di pakailah, aku tidak mau melihat tusuk gigi itu. Tutupi pakai ini." Ucap Zira menyerahkan topi. Ziko langsung menyambar topinya. " Kenapa kamu perhatian sama si Kevin!" Gerutu Ziko. " Sayang, aku risih melihat penampilan baru Kevin." Rengek Zira. Selama ini Kevin tidak pernah memotong rambutnya seperti itu. Entah kenapa hari ini pria itu memotong cepak rambutnya. " Cari yang lain, aku tidak mau si Kevin memakai topiku." Ucap Ziko sambil memakai topi yang di bawa Istrinya. Zira kembali kedalam kamarnya dan mencari sesuatu untuk menutupi kepala Kevin. Dia tidak menemukan apapun, dan dia keluar dengan membawa sesuatu di tangannya. " Pakai ini." Ucap Zira sambil menyerahkan sesuatu kearah Kevin. " Helm?" Kevin dan Ziko saling pandang. " Untuk apa helm ini." Tanya Ziko bingung. " Di dalam hanya ada topi dan pasti kamu tidak mengizinkan Kevin memakainya. Jadi pakai saja helm ini, agar mataku tidak sakit." Ucap Zira. " Tapi enggak segitunya, mana mungkin selama di kapal saya pakai helm. Di pantai juga tidak ada razia." Ucap Kevin menolak. " Ya sudah pakai ini." Ucap Zira sambil menyerahkan sesuatu ketangan Kevin. Kevin melebarkan kain pemberian Zira. " Jilbab? Ah yang benar saja nona. Nanti Koko bisa jatuh cinta sama saya." Tolak Kevin. Ziko mengambil helm dan jilbab dari tangan Kevin. Dia menyimpan didalam rumahnya. " Kok di simpan." Ucap Zira. " Kamu lama-lama ngawur." " Habis kamu pelit banget, apa salahnya pinjamkan topi kamu, daripada mata istrimu sakit melihat tusuk gigi di kepala si Kevin." Gerutu Zira. " Ya sudah ambil sana topiku. Tapi ambil topi yang atasnya terbuka." Ucap Ziko. " Terbuka? Bukannya itu sama saja." Ucap Zira sambil mengunci pintu rumahnya. " Kenapa tidak jadi di ambil." Tanya Ziko. " Malas, biar saja rambutnya seperti itu. Vin, kamu jangan dekat-dekat denganku. Aku tidak mau lihat rambut tusuk gigimu." Ucap Zira sambil berlalu dan masuk ke dalam mobil. " Like, komen dan vote yang banyak ya terimakasih." Chapter 368 PENGUMUMAN Halo readers salam hangat dari author. Pasti pada penasaran dengan next episode ya? Author mohon maaf untuk beberapa hari ini belum bisa update karena kesibukan dan lain halnya. Bukan bermaksud mengecewakan kalian. Tapi karena ini bulan puasa, banyak hal yang harus author kerjakan. Author harap kalian memakluminya. Karena membuat novel butuh istirahat yang cukup dan pemikiran yang panjang. Author akan update lagi tanggal 1 mei 2020. Setelah update pengumuman ini akan author hapus. Jadi bagi yang penasaran dengan cerita selanjutnya sabar ya. Jangan lupa selalu vote like dan komen. Komen positif kalian menambah semangat author. Like kalian membuat author tambah cinta dengan kalian.Terima kasih atas tips, vote like dan komen positifnya. Selalu jadikan novel ini dalam daftar favorit kalian. Terima kasih I love you all ???????????? See you friday Chapter 368 episode 367 (S2) " Malas, biar saja rambutnya seperti itu. Vin, kamu jangan dekat-dekat denganku. Aku tidak mau lihat rambut tusuk gigimu." Ucap Zira sambil berlalu dan masuk ke dalam mobil. Ziko dan Kevin mengikuti Zira masuk ke dalam mobil. Tapi sebelumnya Kevin menyimpan koper majikannya di bagasi. " Kita langsung berangkat ke pelabuhan atau mau mampir ke tempat lain dulu." Tanya Kevin sambil menyalakan mesin mobil. " Kita ke hotel A dulu." Ucap Zira. Kevin menganggukkan kepalanya sambil menekan pedal gas mobil. Mobil sudah meluncur ke hotel A, dalam tiga puluh menit mereka telah sampai di depan pintu loby hotel A. Pintu mobil di bukakan oleh pegawai hotel. Mereka turun dari mobil dan masuk bersama kedalam loby hotel tersebut. Mereka duduk di sofa yang sudah tersedia di loby. " Untuk apa kita kesini." Tanya Kevin. " Nanti kamu juga tau." Ucap Zira tanpa melihat kearah Kevin. Zira sedang mengirim pesan kepada Katherene. Tidak beberapa lama datang seorang wanita bule, berpostur tinggi dan seksi. Dia adalah Katherene teman sekaligus sahabat Zira yang sengaja di undang untuk ikut dalam acara liburan mereka. " Good afternoon all." Sapa Katherene sambil mengecup pipi Zira. Kevin mengernyitkan dahinya, dia melupakan sesuatu. " Kenalkan ini suamiku, dan ini Kevin." Ucap Zira. Kedua pria itu mengulurkan tangannya kearah wanita bule itu. Mereka saling berjabat tangan. " Kamu bisa berbahasa seperti kami." Tanya Kevin. Katherene hanya membalas dengan senyum manisnya. " Dia sama seperti kamu blesteran." Ucap Zira menjelaskan. Mereka sama-sama keluar dari hotel dan menunggu di depan pintu loby. Pegawai hotel sedang mengambil mobil mereka di parkiran. Setelah mobil sudah tiba di depan pintu loby, pegawai hotel menyerahkan kunci mobil kepada Kevin tidak lupa dia memberikan tips untuk pria itu. Zira dan Ziko duduk di kursi baris kedua dan Katherene duduk di sebelah Kevin. Mobil sudah meluncur menuju pelabuhan. Wanita bule itu melirik Zira, dan Zira langsung membalas dengan lirikan yang artinya saatnya untuk Katherene memulai aktingnya. Katherene meletakkan tangannya di bahu Kevin. Kevin kaget sambil melirik kearah wanita di sebelahnya. " Apa yang kamu lakukan." Ucap Kevin bingung. " Tanganku lelah, apakah kamu mau memberikan pijatan buatku." Ucap Katherene sambil mengedipkan salah satu matanya kearah Kevin layaknya seorang wanita yang genit. Kevin belum pernah mendapatkan perlakuan seperti itu dari seorang wanita, apalagi wanita itu terlihat lebih agresif dari wanita yang selama ini di kenalnya. Sepasang suami istri yang duduk di belakang hanya tersenyum lebar meyaksikan itu. " Maaf saya bukan tukang pijat, tapi kalau kamu mau minta pijat saya bisa merekomendasikan seseorang." Ucap Kevin gugup. " Siapa." Tanya Zira singkat. " Wak hitam." Jawab Kevin singkat. " Siapa wak hitam." Tanya Ziko. " Kereta api." Jawab Kevin lagi. " What! Aku harus di pijat sama kereta api?" Gerutu Katherene. Ziko dan Zira tertawa terbahak-bahak. Katherene tidak putus asa, dia melakukan lagi aksinya sambil memegang rambut Kevin. " Dengan kereta api, bukan hanya tangan kamu tapi badan juga bisa di pijatnya." Ucap Kevin asal sambil melirik wanita bule yang duduk di sampingnya. Katherene tidak menghiraukan ucapan Kevin menurutnya itu hanya candaan saja. " Model rambut seperti apa ini." Tanya Katherene sambil memegang rambut Kevin. " Rambut tusuk gigi." Timpal Zira. " Nama yang aneh, tapi aku suka." Ucap Katherene lagi sambil meletakkan jari jemarinya di paha Kevin. Kevin sudah tidak konsentrasi dalam mengemudikan mobil. Tangan wanita bule itu mengelus-ngelus paha Kevin. " Kalau kamu jadi tusuk giginya aku jadi giginya." Ucap Katherene. " Kalau aku jadi hidung kamu jadi apa." Tanya Kevin. " Upil." Timpal Zira. Ziko dan Kevin tertawa mendengar celotehan Zira yang asal. Sedangkan wanita bule itu bingung. " What upil." Tanya Katherene sambil menoleh kebelakang melihat Zira. " hidung." Jawab Zira. Katherene langsung melepaskan tangannya dari paha Kevin. Dia terlihat jijik. " Ih Jorok." Ucap Katherene singkat. Katherene tidak mau merayu Kevin, dia masih merasa jijik mendengar ucapan Zira. Setelah tertawa cukup panjang mereka akhirnya hening sekejap. Hanya terdengar suara mesin mobil dan suara kendaraan lain yang ada di sepanjang jalan. " Vin, aku mau kamu mengatasi rambut tusuk gigimu." Ucap Zira tegas sambil melirik rambut asisten suaminya. " Maksud nona pakai topi." Tanya Kevin. " Terserah, atau kamu bisa mengatasinya dengan memakai minyak rambut." Ucap Zira lagi. " Saya tidak bawa minyak rambut." Ucap Kevin. " Pakai saja minyak jelantah, gitu saja kok repot." Ucap Zira ketus. " Minyak jelantah?" Kevin membelalakkan matanya sambil melirik Zira dari kaca mobil. " Apa tidak ada ide yang lebih bagus lagi. Kalau pakai minyak jelantah bukan si bule ini yang lengket tapi semut yang mendekat." Ucap Kevin sambil melirik kearah wanita bule yang duduk di sebelahnya. " Ada ide lebih bagus lagi, apa kamu mau pakai minyak rem." Timpal Ziko. Kevin tersenyum kecut, kedua majikannya memang suka menjahilinya. Sedangkan Zira hanya terdengar gelak tawanya. " Kalau tau model rambut seperti ini jadi bahan candaan mending tidak usah potong rambut." Gerutu Kevin. " Kenapa kamu tiba-tiba buat gaya rambut seperti itu, bukannya dulu model rambut kamu model ombak." Tanya Zira. " Karena hari ini adalah awal baru, maka saya buat model baru, dan ternyata inipun salah di mata nona." Rengek Kevin. " Makanya enggak usah banyak gaya cukup satu gaya seperti rambutku." Ucap Ziko sambil memegang rambutnya. Zira melihat kearah suaminya sambil memicingkan matanya. " Alah kamu sama saja. Kalau kamu tidak pakai minyak rambut pasti poni selamat datang kamu kelihatan." Ejek Zira. " Buahahaha poni selamat datang, keset kali." Ejek Kevin. Ziko manyun seharusnya dia bisa membanggakan dirinya, tapi malah jadi bahan candaan oleh Kevin dan istrinya. Kevin merasa senang karena dia punya teman sependeritaan. " Kalian berdua sama saja, yang satu rambut tusuk gigi dan yang satu lagi poni selamat datang." Sindiran Zira membuat Kevin berhenti tertawa. Katherene bingung dengan arah pembicaraan itu, dia hanya memilih diam dan mendengarkan saja. Tidak terasa mobil sudah sampai di pelabuhan. Kevin memarkirkan mobilnya di area parkir khusus untuk mobil yang menginap. Zira, Ziko dan Katherene jalan menuju kapal. Sesampainya di dekat kapal Zira membulatkan matanya. " Ini kapal pesiar apa kapal nelayan." Gerutu Zira. Ziko pun bingung dengan kapal pilihan asistennya. Dia melihat sekeliling belum ada kelihatan orang-orang yang di undangnya untuk ikut dalam acara itu. Tidak berapa lama Kevin datang mendekati mereka. " Vin, aku mau berlibur bukan mau memancing." Ucap Ziko kesal. " Maaf tuan, kapal kita sepertinya di sebelah sana." Ucap Kevin menunjuk kearah barat. Mereka berjalan beriringan menuju kapal yang di maksud Kevin. " Kenapa kapal nelayan ada di pelabuhan." Tanya Zira. " Mungkin ikannya mau ikut kita naik kapal pesiar." Ucap Ziko asal. Dari jauh sudah kelihatan beberapa orang yang di undang Ziko. Salah satunya ada Rudi, Koko dan si bungsu Zelin. " Jangan lupa like, komen dan vote yang banyak ya." Chapter 369 episode 368 (S2) " Kakak." Ucap Zelin berlari mendekati kakaknya. Zira dan Ziko menyambut adiknya. " Kamu sama naik mobil sendiri apa di antar supir?" Tanya Ziko. " Supir kak." Jawab Zelin singkat. Zira memperhatikan kapal yang tidak jauh dari hadapannya. Dia membelalakkan matanya. Dan Ziko memperhatikannya. " Kenapa kapalnya kecil. Bukannya kita akan trip naik kapal pesiar." Ucap Zira bingung. " Sayang, ini anaknya kapal. Ibunya kapal lagi berlabuh entah kemana." Ucap Ziko. Ekspresi Zira menunjukkan ketidaksukaan dengan penjelasan suaminya yang menurutnya bukan penjelasan yang dapat di terima akal sehatnya. " Baik akan aku jelaskan, begini aku kurang suka gabung dengan orang yang tidak kenal. Jadi aku dan Kevin sengaja menyewa kapal pesiar mini ini untuk mengantarkan kita ke sebuah pulau." Ucap Ziko menjelaskan sambil memegang pundak istrinya. Zira masih manyun, dia kurang setuju dengan ide suaminya. " Tapi aku ingin menginap di kapal pesiar." Rengek Zira. " Kamu bisa tidur di kapal itu. Walaupun kapal ini tidak sebesar kapal pesiar tapi ada kamar di dalamnya tapi tidak banyak." Tunjuk Ziko kearah kapal. Akhirnya Zira tidak ngambek lagi, jika terlalu lama ngambek suasana liburannya pasti akan berbeda. Dia memperkenalkan Katherene kepada semuanya. Kapten kapal turun dari kapal itu dan menghampiri mereka semua. " Silahkan, sudah waktunya kita berangkat." Ucap Kapten kapal. " Sebentar masih ada yang belum datang." Ucap Zira. Kevin memperhatikan semua orang yang ada di situ. Dia mencoba menebak siapa lagi yang sedang di tunggu majikannya. " Ziko." Ada teriakan dari belakang. Semua orang melihat kearah yang punya suara. Ada sosok dokter Diki yang sedang berjalan menuju mereka. Dan seseorang yang berada di sebelah dokter itu membuat Kevin membelalakkan matanya. Dokter Diki menyalami semua orang begitupun dengan Jasmin juga ikut menyalami orang-orang yang berada di dekatnya. Kevin terus memperhatikan Jasmin, begitupun dengan yang punya acara juga memperhatikan wanita bule itu. Dokter Diki memperhatikan arah pandangan Ziko dan Zira. " Aku yang mengajak dokter Jasmin untuk ikut liburan bersama kita. Secara aku perlu teman ngobrol, karena aku sudah bisa membayangkan kalau kalian semua pasti sibuk dengan pasangan kalian masing-masing." Ucap dokter Diki sambil memperhatikan wanita bule yang berdiri di sebelah Kevin. Dokter itu mencari keberadaan Menik, karena tidak ada keberadaan wanita itu, dokter Diki menyimpulkan kalau Kevin sudah mempunyai kekasih baru yaitu Katherene. " Baiklah karena semua sudah datang, ayo kita naik ke kapal." Ucap Ziko. " Tunggu masih ada yang belum datang." Ucap Zira. Kevin melihat semua orang yang ada di sekelilingnya. " Nona sepertinya semuanya sudah lengkap. Anda menunggu siapa lagi." Tanya Kevin. " Iya sayang, apa masih ada yang belum datang." Tanya Ziko. Zira menganggukkan kepalanya. Dia melihat jam di tangannya. Tapi belum ada tanda-tanda kalau Menik akan datang. Dokter Diki merangkul bahu Kevin dan membawanya lebih jauh dari orang-orang yang ada di sekitarnya. Kevin menoleh kearah dokter itu dengan tatapan bingung. " Apa wanita bule itu pengganti Menik." Tanya dokter Diki. " Maksud dokter apa." Tanya Kevin bingung. " Apa wanita bule itu pacar kamu." Tanya dokter Diki. Kevin langsung menggelengkan kepalanya cepat. " Kalau begitu mana Menik? Apa kalian bertengkar." Dokter Diki terus bertanya layaknya seorang polisi. " Mana aku tau." Ucap Kevin ketus. " Apa dokter ada hubungan dengan Jasmin." Tanya Kevin mengalihkan pembicaraan. " Adalah kami mempunyai hubungan sesama dokter. Aku heran kenapa kamu tidak mengajak sepupumu untuk ikut liburan ini." Tanya Dokter Diki. " Sepupu?" " Iya Jasmin, bukannya masih ada hubungan saudara dengan kamu. Tapi untungnya aku mengajak dia, jadi dia tidak kesepian." Ucap Dokter Diki. Kevin tidak menjawab, dia terus mendengarkan semua ucapan Dokter itu. " Selama perjalanan kesini, aku perhatikan Jasmin banyak diam. Apa terjadi sesuatu dengannya." Dokter Diki sesekali melihat kearah Jasmin. Dia memperhatikan Jasmin sedang ngobrol dengan Katherene. " Sepertinya dia lagi bersedih, apa karena orang tuanya kembali ke Inggris." Tebak Dokter Diki. " Mungkin." Jawab Kevin singkat. " Vin, aku dengar Ziko datang ke rumahmu. Untuk apa mereka ke rumahmu. Kenapa kamu ada acara tidak mengundangku." Ucap Dokter Diki mengajukan beberapa pertanyaan beruntun. " Acara? Tidak ada acara apapun di rumahku. Jasmin cerita apa saja sama dokter." Selidik Kevin. " Enggak ada, makanya aku tanya sama kamu." Kevin dan dokter Diki memperhatikan arah pandangan orang-orang. Dari jauh ada sosok wanita seksi datang. Wanita itu sengaja tidak mengikat rambut panjangnya, dia mengenakan maxi dress, long dress berwarna pink dan belahan kaki sampai ke paha sehingga membuat kulitnya yang mulus terlihat sangat jelas. Semua mata tertuju pada wanita itu. Mereka semua belum bisa menebak siapa yang datang mendekat. Karena wanita itu memakai kaca mata dan topi pantai. Beda halnya dengan yang lain. Zira sudah bisa menebak yang datang mendekati mereka adalah Menik. " Wah cantik sekali wanita itu." Ucap Dokter Diki. Dokter Diki dan Kevin berjalan mendekati Zira dan Ziko. Wanita seksi itu alias Menik yang berhenti di hadapan Zira. " Siapa?" Ucap Ziko berbisik ke istrinya. Wanita seksi itu membuka kaca matanya. Setelah di buka semua yang mengenali Menik membelalakkan matanya. Terutama kaum adam yang ikut dalam acara itu seperti Ziko, Kevin, Rudi, Dokter Diki dan Koko mereka membuka mulutnya lebar-lebar. " Tutup mulut kalian semua, apa kalian tidak pernah melihat bidadari." Ucap Zira mengingatkan mata semua pria. Zira melirik kearah suaminya. " Tutup mulut kamu sayang, kalau tidak akan aku buat menganga seperti itu terus." Ucap Zira merapatkan giginya sambil memegang dagu suaminya. " Maaf nona, saya terlambat." Ucap Menik. Kevin mendengar permintaan maaf Menik. Dia mulai berpikir, kalau majikannya yang merancang itu semua. " Tidak apa-apa Menik." Ucap Zira. Dokter Diki masih saja memperhatikan Menik, dia kurang yakin dengan penglihatannya. " Kamu Menik." Tanya dokter Diki. " Iya saya Menik gadis tomboi yang pernah dokter kenal." Ucap Menik sambil memandang sinis kearah Kevin. Semua mendekati Menik dan menyalaminya.Tapi hanya Kevin yang tidak berani menyalaminya. Terutama Rudi, dia cukup antusias melihat perubahan penampilan Menik yang sangat cantik dan seksi. Mata Rudi terus memperhatikan kearah Menik. Kevin tidak suka dengan cara memandang Rudi kepada Menik. " Tuan jika sudah tidak ada yang di tunggu lagi, apa sebaiknya kita naik keatas kapal." Ucap Kevin. Ziko melihat kearah istrinya yang artinya seperti sebuah pertanyaan, apakah masih ada yang di tunggu lagi. " Ayo kita naik kapal." Ajak Zira kepada semua yang ikut acara itu. Ziko menggandeng tangan istrinya untuk naik keatas kapal. Zelin di bantu Koko, Dokter Diki membantu Jasmin untuk naik keatas kapal. Rudi dan Kevin mengulurkan tangannya kearah Menik. Dan Menik memperhatikan dua tangan di hadapannya. Menik menimbang-nimbang siapa yang akan membantunya untuk naik ke atas kapal. " Like, komen dan boom vote ya, terima kasih." Chapter 370 episode 369 (S2) Kedua tangan pria itu ada di depannya. Katherene yang berada di situ memperhatikan, dia sudah bisa menebak kalau Menik jadi primadonanya. " Mari aku bantu." Ucap Rudi masih dengan uluran tangannya. Kevin tidak mau kalah, dia juga mengeluarkan jurus rayunya. " Nik, kaulah bulan kaulah bintang, karena engkau hatiku melayang." Ucap Kevin masih dengan uluran tangannya. Menik tidak menggubris ucapan dua pria di depannya. Dia melepaskan sepatunya dan menyerahkannya kepada Kevin, dan Rudi dapat jatah kopernya. " Bawa itu keatas kapal." Ucap Menik sambil berlalu meninggalkan dua pria di depannya. Dia ingin naik sendiri keatas kapal itu tanpa bantuan siapapun. " Nik, nanti kamu jatuh." Ucap Kevin. " Tenang saja, aku juara panjat pinang." Ucap Menik yang sudah berjalan keatas kapal. Di ikuti Katherene dari belakang. Dua pria itu hanya bisa membawa barang-barang milik Menik. Setibanya di atas kapal kedua pria itu menyerahkan barang bawaan mereka kepada pemiliknya. Menik berdiri menghadap kelaut. Kedua pria itu selalu mengikutinya. Zira memperhatikan dari jauh. " Coba lihat, mereka seperti bodyguardnya Menik." Ucap Zira sambil menunjuk kearah tiga orang itu. Menik berdiri di tengah, dia di apit Rudi dan Kevin. Kapal sudah mulai bergerak secara perlahan meninggalkan pelabuhan. " Nik, kamu cantik sekali." Ucap Rudi untuk memecahkan keheningan. Kevin tidak mau kalah, dia juga mulai merayu dan memuji Menik. " Nik, kamu seperti bidadari surga." Puji Kevin sambil melirik ke Rudi. Rudi kembali memuji Menik. " Kamu seperti bunga yang mekar cantik dan harum." Kevin mulai menyusun kata-kata untuk merayu Menik. Dia tidak mau kalah dari rivalnya. " Kamu cantik seperti peri." Ucap Kevin. Menik menoleh kearah Kevin. " Peri apa? Peri gigi!" Celetuk Menik. " Buahahaha, kasih rayuan seperti aku dong." Ucap Rudi membanggakan dirinya. Kevin cemberut dan Menik menoleh kearah Rudi. " Kamu sama saja, rayuanmu seperti anak sd." Ucap Menik ketus. " Kalau enggak mekar berarti aku tidak cantik." Ucap Menik ketus. Rudi hanya bisa diam. " Nik, kamu tau film titanic enggak." Tanya Kevin lagi. " Kenapa?" Ucap Menik singkat. " Kamu tau adegan yang mana pemeran utamanya sedang merentangkan tangannya dan si pria memeluknya dari belakang seraya ikut juga merentangkan tangannya." " Terus?" Ucap Menik singkat. " Kita bisa melakukannya di sini." Rayu Kevin. " Melakukan apa?" Ucap Menik ketus. " Adegan seperti itu." Ucap Kevin sambil tersenyum. " Enggak usah Nik, nanti kamu jatuh. Kalau adegan yang di lukis kamu mau." Ucap Rudi genit. Kevin langsung mencengkram leher Rudi. " Kalau kamu ngomong seperti itu lagi akan aku ceburkan kamu ke laut." Ancam Kevin. " Hello brother, aku hanya bercanda. Jangan di bawa emosi." Ucap Rudi menepis tangan Kevin dari lehernya. Menik hanya melihat dua pria itu dengan tatapan bingung, dia bergabung dengan yang lainnya. Dia memperhatikan dua wanita bule yaitu Jasmin dan Katherene. Dia mencoba menerka-nerka siapa kiranya tunangan Kevin. Semua berkumpul melingkari meja. Di depan mereka sudah ada makanan khas laut sebagai santapan makan siang mereka. Kedua pria itu yaitu Rudi dan Kevin mencoba menarik kursi untuk Menik. Tapi ketika Kevin menarik kursi, yang duduk di situ malah Katherene, dan Menik duduk di kursi yang di tarik oleh Rudi. Dengan berat hati Kevin duduk di sebelah Katherene. Itu pasti tunangannya. Jasmin juga berpikiran yang sama dengan Menik. Kalau Katherene adalah wanita yang di sukai Kevin. Mereka mulai menikmati makanan itu dengan lahap. Sesekali Kevin curi pandang kearah Menik. Setelah selesai makan mereka semua duduk di tempat yang terbuka. Angin bertiup cukup kencang sehingga membuat rambut di terpa angin. Tiba-tiba topi yang di pakai Menik terbang di bawa angin, Rudi dan Kevin mencoba mengambil topi itu. " Sayang coba lihat Kevin dan Rudi, menurut kamu siapa yang bisa mendapatkan topi Menik. " Apa hadiahnya." Ucap Ziko. " Sebuah ciuman panjang dariku." Jawab Zira. " Baik, kalau aku menang kamu harus menciumku di depan mereka semua." Ucap Ziko sambil tersenyum licik. " Tapi kalau mereka semua kena batuk musiman bagaimana?" Ucap Zira. " Tenang saja ada Diki disini. Dia garda terdepan untuk urusan itu." " Baik aku setuju, tapi kalau kalah kamu harus mencium Koko." Ucap Zira sambil cekikikan. Ziko langsung melotot, dia tidak suka dengan ide istrinya. " Dia sudah insyaf, kamu mau menjerumuskan dia lagi." Ucap Ziko sewot. " Ok ok, aku ganti, kalau kalah kamu harus menyanyikan lagu untukku." Ucap Zira. " Ok siapa takut. Tapi aku cuma tau lagu pembunuhan." Ucap Ziko. " Terserah." Zira dan Ziko masih melihat persaingan antara Rudi dan Kevin. Mereka mencoba mengambil topi Menik yang di terbangkan angin. Bukan hanya pasangan suami istri itu yang melihat kedua pria itu, yang lainnya juga menikmati keseruan itu. Kevin dan Rudi seperti sedang mengejar layang-layang tapi layang-layang berbentuk topi. Topi pantai itu akhirnya jatuh ke laut. Rudi dan Kevin saling pandang. Mereka berdua mulai membuka baju sepatu dan celana mereka. Dan keduanya terjun kelaut untuk mengambil topi itu. Semuanya berdiri di pinggiran kapal menyaksikan persaingan sengit itu. " Kevin Kevin Kevin." Ucap Ziko memberikan dukungan kepada asistennya. Sedangkan Zira memberikan dukungan kepada Rudi dengan menyebutkan nama pria itu. Beberapa orang mendukung Kevin dan hanya sedikit yang mendukung Rudi yaitu Menik dan Zira. Kevin dan Rudi berenang di lautan bebas layaknya seekor ikan. Koko memerintahkan kapten kapal untuk memberhentikan kapal sementara waktu. Kedua atlet renang dadakan itu masih berenang untuk mendapatkan topi milik Menik. Dengan penuh perjuangan mereka sampai di dekat topi itu, dan keduanya seri. Kevin dan Rudi memegang topi itu secara bersamaan. " Ye seri." Ucap Zira senang. " Kok kamu yang senang." Tanya Ziko heran. " Karena seri aku tidak harus menciummu dan tidak harus menyanyikan lagu pembunuhan." Ucap Zira senang. " Ini belum final, siapa yang sampai terlebih dahulu ke sini. Maka dia pemenangnya." Ucap Ziko. Zira menganggukkan kepalanya setuju. Kedua atlet renang itu masih memegang topi milik Menik, mereka belum kembali berenang kearah kapal. Keduanya berusaha untuk mendapatkan topi itu. Kevin dan Rudi saling menarik topi Menik. " Mereka tidak akan berenang kesini." Ucap Ziko. " Iya mereka sibuk memperebutkan topi Menik. Tapi aku ada ide." Zira pergi keatas kapal dan menemui kapten kapal. Dia meminjam pengeras suara kepada kapten kapal. " Kevin, Rudi cepat berenang, ada ikan hiu di belakang kalian." Ucap Zira histeris. Kevin dan Rudi langsung berenang sekencang mungkin. Mereka takut di makan ikan hiu, bukan hanya atlet renang dadakan yang takut. Semua yang ada di atas kapal juga histeris ketakutan. Dengan penuh perjuangan akhirnya mereka sampai di atas kapal. Kevin menyerahkan topi itu kepada Menik, dan Rudi hanya mendapatkan pitanya saja. " Maaf Nik, aku hanya mendapatkan pitanya saja. Semua karena ikan hiu itu." Gerutu Rudi. Zira sudah bergabung dengan yang lainnya. " Bagaimana lomba renangnya?" Ucap Zira. " Capek nona." Jawab Kevin ngos-ngosan. " Like, komen dan boom vote ya, terimakasih." Follow ig. anita_rachman83 Chapter 371 episode 370 (S2) Kevin dan Rudi melihat kelaut. Mereka mecari keberadaan ikan hiu itu. " Kalian lihat apa." Tanya Ziko. " Ikan hiu." Ucap keduanya kompak. " Memangnya ada ikan hiu." Tanya Ziko lagi. " Ada, tadi kami lomba renang sama hiu." Ucap Kevin sambil mengatur nafasnya. " Mana ada ikan hiu yang ada ikan teri." Ucap Zira cekikikan. Kevin dan Rudi mendengus kesal. Mereka baru saja di jahili Zira. " Vin, cepat pakai bajumu, mataku sakit melihat kamu seperti itu." Gerutu Zira. " Ya saya tau, pasti mata nona sakit karena rambut tusuk gigi ini." Ucap Kevin sambil mengelus rambutnya sendiri. " Bukan itu saja, aku risih dengan celana pendekmu. Kamu seperti membawa pot bunga." Ucap Zira. Kevin menggunakan celana pendek dengan motif bunga. Itu yang membuat Zira risih. " Kamu juga sama saja. Pakai celana bola, memangnya ada main bola di dalam laut." Sindir Ziko sambil melihat kearah sepupunya Rudi. Kedua atlet itu bergegas masuk ke dalam kamar untuk mengganti pakaiannya. Setelah itu mereka gabung dengan yang lainnya. " Bagaiamana lomba renangnya." Tanya Zira lagi. " Lumayan." Jawab Kevin singkat. Zira melihat kearah Menik, muncul ide lagi di benaknya. " Nik, besok pakai helm dan buang kedalam laut, kita lihat apa dua atlet ini bisa menahan nafasnya sampai ke dasar laut. Kevin dan Rudi saling pandang, mereka langsung menunjukkan wajah memelas. " Cukup Nik, jangan pakai penutup kepala lagi, kami sudah belajar berenang hari ini. Dan kami tidak mau belajar menyelam." Ucap Kevin memelas. " Siapa yang suruh kalian menyelamatkan topiku." Ucap Menik ketus. " Setidaknya hargai perjuangan mereka Nik." Ucap Dokter Diki. Menik diam, dia tidak ingin membahas masalah topinya. Dia berjalan ke pinggir kapal untuk menghampiri Katherene, yang sedang berdiri di pinggir kapal. " Halo nona Katherene." Sapa Menik. Wanita bule itu melihat kesampingnya, ada Menik di sebelahnya. " Panggil saja aku Katherene." Ucap Katherene ramah. Menik tersenyum, mereka berdua melihat laut. Air laut bergerak kesana kemari seperti sedang menari. Sama halnya dengan hati Menik juga sedang menari-nari, sebelumnya hatinya sangat membenci Kevin, tapi setelah beberapa minggu mereka tidak bertemu, hatinya jadi gundah gulana. " Apa kamu baru datang dari luar negeri." Tanya Menik. " Iya, aku baru tiba di sini kemaren." Ucap Katherene. Menik mengernyitkan dahinya. Seingat dia, tunangan Kevin datang pada saat dia membantu mamanya Kevin masak. Dan itu sudah beberapa minggu yang lalu. Berarti Katherene bukan tunangannya. Lalu mana tunangannya. Apa yang bersama dokter Diki? Ah tidak mungkin, pasti wanita bule itu rekan kerja Dokter Diki. " Perhatian semuanya, kita akan mendengarkan lagu pembunuhan yang akan di bawakan suamiku tercinta." Ucap Zira sambil mendekati suaminya. Semua yang ikut dalam acara itu merasa bingung dengan lagu pembunuhan yang barusan di ucapkan Zira. Dengan gagah berani Ziko berjalan ketengah. Dimana semua orang sedang duduk santai. Dia mengambil gitar dan mulai memetik alat musik itu. " Saya akan menyanyikan sebuah lagu pembunuhan, karena hanya itu yang saya tau." Semua orang saling pandang dan mulai berpikir macam-macam. Salah satunya Jasmin, dia berpikir pasti lagu yang akan di nyanyikan Ziko lagu yang sangat menakutkan. " Tes tes." Ucap Ziko sambil memetik gitarnya. Potong bebek angsa masak di kuali nona minta dansa, dansa empat kali sorong kekiri sorong ke kanan la la la la Semua yang mendengarkan langsung tertawa, mereka semua salah menebak. Zira mendekati suaminya. " Kamu bilang lagu pembunuhan! Kenapa lagu potong bebek angsa." Tanya Zira. " Itukan memang lagu pembunuhan, angsa dan bebek di potong kemudian di masak." Ucap Ziko menjelaskan. " Aku pikir kamu akan menyanyikan lagu gangster." Ucap Zira. Semua bertepuk tangan riuh, nyanyian Ziko cukup menghibur mereka semua. Ziko menarik tubuh Zira dan langsung mencium bibir istrinya dengan lembut. Semua yang ada di situ langsung membelalakkan matanya, terutama Zelin, dia yang paling kecil di antara semuanya. Kevin langsung mulai pasang badan agar semua orang yang berada di situ tidak melihat keromantisan majikannya. " Perhatian semuanya, harap semuanya membalikkan badan." Ucap Kevin. " Kenapa." Tanya Koko. " Karena kalian akan terkena batuk musiman seperti saya." Ucap Kevin. Semua masih memperhatikan ciuman sepasang kekasih itu. Kaum pria merasa iri dengan ciuman itu, terutama Rudi, dia curi-curi pandang membayangkan kalau dirinya mencium bibir Menik. " Cepat balikkan badan sekarang, atau kalian akan kena kentut musiman." Ucap Kevin lagi sambil mengeluarkan kentutnya. Dengan seperti itu semua yang ada di situ bubar, karena angin yang di keluarkan Kevin benar-benar bau. Ziko dan Zira langsung berhenti dengan aksinya. Mereka juga mencium aroma tidak sedap, dan bisa di pastikan oleh keduanya, kalau aroma itu dari Kevin. " Jorok." Ucap Zelin sambil menutup hidungnya. " Kamu makan apa Vin." Tanya Dokter Diki. " Makan sampah." Jawab Zira singkat. " Seharusnya kalian senang, saya bisa menghentikan aksi pasangan suami istri ini." Ucap Kevin bangga. Setelah aroma tidak sedap hilang, semua kembali berkumpul. Dan seseorang anak buah kapal mulai memandu acara untuk mereka. Acara itu di buat untuk menghilangkan rasa jenuh di atas kapal. " Permainan ini di sebut permainan tebak-tebakkan. Saya minta satu orang sebagai perwakilan untuk maju ke depan." Ucap salah satu anak buah kapal. Semuanya saling padang, tanpa pikir panjang Zira maju ke depan berdiri di samping pria yang memandu permainan itu. Pria itu menunjukkan kertas kehadapan Zira. Dan dia mulai membaca satu kata yang ada di kertas itu. Dan hanya boleh menyebutkan kisi-kisinya dalam tiga kali sebutan. " Hitam." Ucap Zira. " Warna." Jawab Ziko. Zira menggelengkan kepalanya. " Besar Kecil." Ucap Zira lagi. " Besar kecil berwarna hitam, apa ya." Ucap semua orang. " Hampir setiap orang punya." Ucap Zira. " Rambut." Jawab Kevin cepat. " Mana ada rambut besar kecil yang ada panjang pendek." Protes Ziko. " Oh iya ya." Ucap Kevin sambil menggaruk kepalanya. " Jawabannya tahi lalat." Ucap Zira. " Kok tahi lalat." Semua orang kompak mengatakan hal itu, dan Zira menjelaskan." " Maaf nona ada tahi lalat yang warnanya coklat. Tidak semua warnanya hitam." Ucap Kevin protes. " Oh itu gampang kalau tahi lalat yang ada di tubuh seseorang berwarna coklat karena warna hitamnya lagi habis. Makanya pakai warna coklat, kan enggak keren kalau warnanya ungu." Ucap Zira menjelaskan dengan caranya sendiri. " Ada tahi lalat warnanya putih." Timpal Koko. " Itu panu." Semua orang serentak mengatakan hal itu sambil melihat kearah Koko. Kata selanjutnya, pria tadi menunjukkan kertasnya kembali kehadapan Zira. " Makanan, panjang." Ucap Zira. " Sosis." Jawab Ziko singkat. Zira menggelengkan kepalanya yang berarti salah. Dia melanjutkan kata selanjutnya. " Keriting." " Mie." Semua kompak menjawab. " Selanjutnya sambung kata, semua orang harus berdiri." Ucap pria yang berdiri di depan. " Dan yang tidak bisa menjawab harus mengecup dahi lawan jenisnya." Ucap pria itu. " Like, komen dan boom vote ya terima kasih." Chapter 372 episode 371 (S2) Permainan di mulai, tapi sebelumnya mereka semua di minta berbaris. Dan yang pertama mulai adalah Zira. Pria yang memandu acara itu menunjukkan kertasnya kehadapannya. Ada kata rasa di kertas itu. " Cinta." Ucap Zira. " Kamu." Jawab Ziko dan kata selanjutnya harus di sambung oleh Kevin, karena dia yang ada di sebelah Ziko. " Dan." Ucap Kevin. " Stop gagal, tidak boleh menggunakan kata penghubung." Ucap pemandu acara itu. Kevin gagal dalam permainan itu, dia di minta untuk mencari salah satu lawan jenis untuk maju kedepan. Tanpa pikir panjang dia menarik tangan Menik. Rudi yang melihat hal itu mulai merasa cemburu. Awalnya Menik menolak, tapi pemandu acara mengatakan setiap yang di pilih harus maju. Dengan berat hati Menik berdiri di depan Kevin. Jarak mereka cukup dekat. " Cium, cium, cium." Ucap Zira. Kevin mengecup dahi Menik dengan lembut dan tidak lupa dia membisikkan sesuatu ketelinga wanita itu. " I love you." Ucap Kevin. Jantung Menik ketika di kecup dahinya berdetak cukup kencang dan mendengar hal itu jantungnya berdesir. Kevin kembali berdiri ke posisi semula. Menik masih bengong dengan hal yang baru saja di dapatkannya. Sampai dia tersadar ketika pemandu acara memintanya untuk berdiri kembali ke posisi semula. Bukan hanya Rudi yang cemburu Jasmin juga merasa terbakar dengan tindakan Kevin, walaupun dia tidak tau apa yang di ucapkan Kevin kepada Menik, tapi dia merasa ada sesuatu di antara keduanya. Pemandu acara menunjukkan kertas kepada Kevin, di situ tertulis kata cantik. " Molek." Ucap Kevin dan kata selanjutnya di sambung oleh Koko. " Tubuh." Ucap Koko. " Besar." Jawab Menik dan di sambung Zelin sampai berhenti pada Rudi. Dia sengaja tidak bisa menjawab dan langsung menarik tangan Menik untuk maju. Dengan berat hati dia maju dan Rudi mulai mengecup pipi Menik dengan lembut. " Stop kok pipi." Protes Kevin. " Di perbolehkan." Ucap pemandu acara. Kevin terbakar rasa cemburu. Zira memperhatikan ekspresi wajah Kevin. Dia mendekati asisten suaminya. " Vin tabahkan hatimu dan keraskan mu." Ucap Zira asal. Benar saja dengan ucapan Zira yang asal membuat Kevin tertawa, dia merasa lucu dengan semua kosa kata yang baru saja di dengarnya. Permainan selesai karena kapal sudah mulai sampai di tempat tujuan. Tak terasa mereka tiba di sebuah pulau. Pulau yang sangat cantik dan hanya ada satu bangunan di situ, tempat itu akan di jadikan sebagai tempat untuk menginap mereka semua. Mereka turun satu persatu dari kapal, tidak lupa Rudi dan Kevin berlomba untuk membantu Menik turun dari kapal. Sama halnya ketika hendak naik keatas kapal, dia tidak mau di bantu ke dua pria itu. Dia malah memberi kopernya dan sepatunya kepada Kevin dan Rudi. " Pemandangan yang sangat indah." Ucap Zira mengagumi keindahan yang di ciptakan Tuhan. Mereka masuk ke dalam vila dan di sambut beberapa pelayan. Pelayan menunjukkan kamar untuk mereka semua. Semua tidur sendiri-sendiri hanya Zira dan Ziko yang tidur bersama. Karena yang lainnya belum ada sebuah ikatan. " Makan malam akan kami sediakan satu jam lagi." Ucap salah seorang pelayan. Semua masuk kedalam kamarnya masing-masing untuk membersihkan tubuh dan beristirahat sejenak di dalam. Menik memandang kamar yang ditempatinya. Kamar yang besar dengan kasur berukuran king dan kamar mandi yang mewah di dalamnya. Menik langsung mandi setelah itu dia membaringkan tubuhnya di kasur. " Nyaman sekali tidur di sini." Ucap Menik sambil memejamkan matanya. Tak terasa waktu makan malam tiba semua orang sudah berkumpul di meja makan. Tapi masih ada yang belum datang yaitu Menik dan Koko. Kevin langsung sigap untuk menjemput Menik begitupun dengan Rudi, dia tidak mau kalah langkah dari rivalnya. Mereka seperti musuh, yang awalnya mereka baik-baik saja, tapi ketika kehadiran Menik, mereka mendadak bersaing. " Di mana kamar Menik." Gumam Kevin. Kedua pria itu berpencar mencari kamar Menik. Kevin berhenti di depan kamar dan mengetuk pintu kamar itu, tidak ada sahutan dari dalam. " Sepertinya bukan ini." Gumam Kevin sambil mengetuk pintu yang lainnya. Sama halnya dengan Rudi, dia juga mengetuk semua pintu kamar. Sampai seseorang membuka pintu yaitu Menik. Dengan muka bantal dia membuka pintu kamarnya. Dan mendapati Rudi ada di depan pintunya. " Whoammmm." Menik menguap. Kevin masih mengetuk pintu kamar satu persatu dan ada pintu yang terbuka lebar. Dia mengetuk pintu itu tapi tidak ada sahutan, tanpa pikir panjang Kevin masuk ke dalam kamar itu. " Aaaaa." Teriak Koko kaget. " Kenapa kamu teriak." Ucap Kevin cepat. " Kenapa bapak masuk kedalam kamar saya. Bapak mau berbuat mesum ya?" Ucap Koko lagi. " Tak sudi aku samamu." Ucap Kevin jijik. " Dimana kamar Menik." Tanya Kevin. " Kamar Menik dua kamar dari sini." Setelah mendengar itu, Kevin langsung berlari keluar dan menuju kamar Menik. Pintu di buka lebar, dia langsung masuk dan menemukan Menik sedang ngobrol dengan Rudi. " Ngapain kamu di kamar Menik." Ucap Kevin cemburu. " Mau jemput Menik makan, dan kamu ngapain di sini." Tanya Rudi balik. " Sama, aku juga mau menjemput Menik makan. Kalau kamu mau menjemput, kenapa kamu malah masuk ke dalam kamarnya. " Bukan urusan kamu." Jawab Rudi ketus. Menik memperhatikan dua pria yang saling berdebat, dia langsung keluar dari kamarnya dan meninggalkan dua pria itu. Setelah sadar tidak ada Menik, kedua pria itu langsung keluar dan jalan beriringan dengan Menik. " Nik selama ini kamu dimana." Tanya Kevin. " Bukan urusan anda." Jawab Menik ketus. " Buahahaha." Rudi tertawa senang, rivalnya dapat jawaban telak dari Menik. " Nik, kamu cantik sekali." Ucap Rudi. " Enggak usah gombal, kalian pria sama saja, lihat paha mulus dikit langsung ingin melahapnya. Aku heran kalian pria apa hewan sih." Ucap Menik judes. " Kalau saya pria sejati tapi kalau si Rudi kucing garong." Ucap Kevin. " Sama saja, kamu bukan kucing garong tapi kucing koreng." Ejek Rudi. Kedua pria itu mulai berdebat lagi. Menik langsung berhenti " Diaaaam! Kalau sama-sama hewan jangan bertengkar." Ucap Menik meninggalkan dua pria itu. Di ruang makan semua sudah berkumpul, Koko juga sudah bergabung dengan yang lainnya. Rudi dan Kevin berlomba menarik kursi untuk Menik. Tapi wanita itu malah duduk di sebelah Koko. Semua memperhatikan tingkah ketiga manusia itu. Makanan telah di hidangkan di atas meja makan, mereka mulai menikmati makan malamnya. " Nik, kamu tambah cantik." Puji Koko. " Cukup deh, dari tadi dua manusia jadi-jadian itu memujiku. Dan aku tidak mau memberikan julukan untukmu." Ucap Zira sambil menunjuk kearah Rudi dan Kevin dengan sorot matanya. Koko mengerti, yang di maksud manusia jadi-jadian adalah Rudi dan Kevin. " Like, komen dan boom vote ya terima kasih." Chapter 373 episode 372 (S2) Setelah selesai makan, ada sebagian orang mengobrol dan sebagian lagi menyendiri seperti Menik, dia lebih memilih untuk duduk di beranda villa. Koko mendatangi Menik. " Nik, kamu kemana saja. Kenapa tiba-tiba kamu mengundurkan diri? Apa yang terjadi?" Koko mengajukan pertanyaan beruntun. " Aku harus jawab yang mana." Tanya Menik. " Kamu enggak harus jawab, tapi wajib menceritakan kepadaku." " Itu sama saja." Ucap Menik. " Apa kamu dan pak Kevin bertengkar?" Menik memicingkan matanya, dengan arti tebakkan Koko benar. " Kamu tau, pak Kevin terlihat stress ketika kamu tidak ada. Memangnya kamu kemana? Dan sekarang kerja di mana?" Menik membisikkan sesuatu ke telinga temannya. " Serius?" Koko membuka mulutnya lebar-lebar. Ucapan Menik seperti kejutan buatnya. " Sstt jangan bilang siapa-siapa. Aku tidak mau siapapun tau." Ucap Menik. Koko menganggukkan kepalanya. Dari jauh ada Kevin yang memperhatikan Menik dan Koko. Kevin ingin ngobrol panjang lebar sama Menik. Dia ingin menjelaskan semuanya. Dan dia butuh penjelasan tetang keberadaan Menik selama ini. Cuma masih ada Rudi yang selalu saja mengikutinya, dia tau Rudi juga mengejar cinta Menik. Muncul ide di dalam benak Kevin. Dia menghubungi nomor Koko. " Ko bisa kebelakang sebentar." Ucap Kevin kemudian menutup ponselnya. Rudi memperhatikannya dari jauh. " Siapa Ko." Tanya Menik. " Pak Kevin, dia meminta aku datang ke belakang, mungkin beliau butuh bantuan ku. Sebentar ya Nik, kamu masih hutang penjelasan kepadaku." Ucap Koko. " Sip." Jawab Menik singkat. Koko meninggalkan Menik seorang diri di beranda, di belakang Kevin sedang menunggunya. Sedangkan Rudi duduk di ruang keluarga bersama yang lainnya. " Ada apa pak." Tanya Koko. " Saya butuh bantuan. Kamu tau Rudi selalu menjadi penghalang buatku untuk dekat sama Menik. Kamu harus menjaga Rudi agar tidak merusak acara kami." " Memangnya apa yang mau bapak lakukan sama Menik." Tanya Koko. " Ko, saya butuh privasi dengan Menik. Banyak hal yang harus saya bicarakan dengannya." Ucap Kevin. " Baik saya akan membantu bapak, tapi apa yang harus saya perbuat dengannya." Tanya Koko. " Terserah kamu, yang penting dia jangan ngikut terus kayak kutil." Ucap Kevin. " Siap saya mengerti." Koko mulai beraksi, dia mendekati Rudi. " Pak Rudi bisa minta tolong." Ucap Koko. " Apa." Tanya Rudi. " Ponsel saya hilang, bisa bapak menghubungi nomor saya." Ucap Koko. Koko sudah menonaktifkan ponselnya. Ponselnya ada di saku celananya. " Tidak aktif." Ucap Rudi " Apa tertinggal di kamar ya." Gumam Koko seperti orang kebingungan. " Kamu mau menghubungi siapa? Pakai saja ponsel saya." Ucap Rudi menyerahkan ponselnya. " Saya mau menghubungi nenek." " Kenapa dengan nenek kamu." Tanya Rudi. " Saya mau mengingatkan kalau sekarang jadwal kucing saya minum obat." Ucap Koko berakting. " Kucing kamu sakit apa." Tanya Rudi penasaran. " Sakit mata pak. Saya takut nenek lupa memberikan obat mata untuk kucing saya." " Memangnya apa yang terjadi kalau lupa memberikan obat." Tanya Rudi lagi. " Matanya tambah sakit, malah bisa lebih parah sakitnya." " Seperti." Ucap Rudi singkat. " Seperti mata keranjang." Ucap Koko. Rudi tidak menunjukkan ekspresi sama sekali, menurutnya semua hanya candaan saja. Koko sengaja membuat Rudi terlihat sibuk agar Kevin dapat leluasa ngobrol dengan Menik. Kevin memanfaatkan kesempatan itu dengan mendekati Menik. " Nik." Ucap Kevin. Menik yang sedang duduk di beranda langsung menoleh kearah yang punya suara. " Saya mau bicara." Ucap Kevin lagi. Menik beranjak dari tempat duduknya, dia menghindari Kevin dengan berjalan ke tepi pantai. " Nik tunggu." Ucap Kevin mengikuti Menik menuju pantai. Ada seseorang yang memperhatikan yaitu Jasmin, dia merasa penasaran dengan Kevin dan Menik. Ada hubungan apa dengan keduanya. Dan dia mulai mencari informasi. Menik masih tetap berjalan menyusuri pantai. Keadaan gelap tidak diperdulikannya. Angin yang cukup kencang tidak membuat nyalinya menciut. Ombak menari-nari kesana kemari, menghasilkan sebuah suara yang terdengar seperti alunan musik yang indah. " Nik tunggu, saya mau bicara." Ucap Kevin sambil memegang pergelangan tangan Menik. " Lepaskan." Ucap Menik sambil berusaha melepaskan tangan Kevin. " Nik, saya mau perasaan kamu kepada saya tetap sama. Jangan hilangkan itu dari lubuk hati kamu yang paling dalam. Saya mohon." " Untuk apa? Kita tidak pernah mempunyai ikatan, dan ikatan kita hanya sebagai bawahan dan atasan. Memang kita pernah mengakui perasaan masing-masing dan menurut saya itu kesalahan." Ucap Menik ketus. " Nik jangan seperti itu, saya tidak pernah menganggap itu sebuah kesalahan. Apa kamu tidak ingin memberi kesempatan untuk kita." Ucap Kevin lagi. " Kesempatan? Bapak pikir perasaan saya seperti bahan percobaan." Ucap Menik kesal. " Nik, saya akui semua karena salah saya. Seandainya saya berani berkata jujur pasti kamu tidak akan marah seperti ini." Ucap Kevin. " Kita tidak usah berkata andai-andai lagi. Katakan yang sekarang bukan yang lalu-lalu." Ucap Menik tegas. Kevin menghela nafasnya dengan kasar. " Baik, saya akan mengatakan tentang kita sekarang." Kevin berlutut di depan Menik sambil membuka kotak yang di dalamnya ada cincin berlian. " Maukah kamu menikah dengan saya?" Menik tidak menjawab seketika dia menjadi bisu. " Maukah kamu menjadi ibu buat anak-anak kita." Ucap Kevin lagi. Kevin melanjutkan semua kalimatnya. " Mungkin kamu belum bisa memaafkan perbuatan saya. Tapi dari hati yang paling dalam. Saya ingin membuat bahtera rumah tangga dengan kamu." Ucap Kevin sungguh-sungguh. Seketika bulir air mata menetes dari kelopak matanya. Dia tidak tau harus berbuat apa, apakah senang dengan lamaran itu atau sebaliknya. Kevin masih dengan posisinya berlutut. Dia masih menunggu jawaban dari Menik. Menik tidak menjawab dia berlari menuju villa meninggalkan Kevin yang masih berlutut. Kevin berusaha mengejar. Ketika sampai di villa, Rudi dan Koko melihat kedatangan Menik yang terlihat terburu-buru. Kenapa cepat sekali, apa yang sedang terjadi dengan mereka berdua. Koko merasa heran dengan kedatangan Menik yang tergesa-gesa. Dan Rudi juga melihat raut wajah Menik yang sembab. Dia mengikuti Menik sampai kamar. Pintu kamar itu sudah di tutup. Rudi mengetuk pintu dengan cukup keras. " Menik, kamu kenapa?" Ucap Rudi dari balik pintu. " Pergilah aku mau beristirahat." Jawab Menik. " Menik, aku tau kalau kamu sedang ada masalah. Kamu bisa bercerita denganku." Ucap Rudi. " Aku ingin sendiri." Ucap Menik lagi. Hampir lima belas menit Rudi merayu Menik untuk berbicara kepadanya. Dia mencoba menerka-nerka apa yang menyebabkan Menik bersedih. Rudi berjalan menuju setiap ruangan. Didalam ruangan itu dia seperti mengabsen setiap orang. Hampir semua orang ada di situ hanya Kevin yang tidak ada. Rudi mencari keberadaan Kevin di setiap ruangan, tapi tidak menemukannya. Dia mencoba mencari di luar villa dan mencoba menyusuri pantai. Dia menemukan Kevin sedang duduk di pinggir pantai. " Kevin, apa yang kamu lakukan disini." Tanya Rudi. Kevin melihat sekilas kearah rivalnya. Dia tidak menjawab hanya memandang ke laut. Penolakan Menik membuatnya sedih dan kecewa. " Apa kamu yang telah membuat Menik menangis." Tanya Rudi. " Iya aku yang telah membuat Menik menangis." Ucap Kevin pelan. Rudi mencengkram leher Kevin. Kevin tidak membalas ataupun meronta. " Apa yang kamu lakukan sampai Menik bisa menangis." Tanya Rudi. " Aku melakukan hal yang sama denganmu." Kevin menepis tangan Rudi dari lehernya. Dan berjalan kembali ke villa. Sedangkan Rudi bingung dengan perkataan Kevin. " Like, komen dan boom vote ya terima kasih." Ig. anita_rachman83 Chapter 374 episode 373 (S2) Dokter Diki duduk di beranda villa, Jasmin mendatangi dokter itu. " Udara yang sejuk." Ucap Jasmin membuyarkan lamunan dokter itu. " Eh dokter Jasmin, silahkan duduk." Ucap dokter Diki memberikan ruang kosong untuk Jasmin duduk di sebelahnya. " Terimakasih." Ucap Jasmin sambil duduk di sebelah dokter Diki. Jasmin mulai mencari informasi melalui dokter Diki. " Dok, sepertinya anda sudah cukup dekat dengan tuan muda dan nona Zira." Tanya Jasmin. " Oh iya, kalau saya sama Ziko sudah berteman dari dulu dan Zira mungkin karena istrinya Ziko, maka dengan cepat kami langsung akrab." Jasmin manggut-manggut mengerti. " Apa anda mengenal semua yang ikut dalam liburan ini." Tanya Jasmin. " Hampir sebagian saya kenal, dan sebagian lagi tidak kenal. Contoh yang masih belia itu, namanya Zelin, dia adalah adik Ziko." Ucap dokter Diki sambil menunjuk kearah Zelin. " Kalau Katherene? Apa dokter mengenalnya." Tanya Jasmin. " Saya baru mengenalnya hari ini, awalnya saya menduga dia kekasih Kevin, tapi sepertinya tidak. Mungkin dia kerabat dari Ziko dan Zira." Ucap dokter Diki. Jantung Jasmin sedikit lega ketika mendengar kalau Katherene bukan kekasih Kevin. " Kalau pria itu, apa dokter kenal?" Tanya Jasmin lagi sambil menunjuk kearah Koko. Dokter Diki menggelengkan kepalanya. " Sepertinya dia bekerja sama Ziko." " Bagaimana dengan wanita yang topinya terbang, apa dokter cukup dekat dengannya." Tanya Jasmin lagi. " Maksud kamu Menik?" Ucap dokter Diki sambil melihat sekilas kearah Jasmin. Jasmin menganggukkan kepalanya. " Tidak terlalu dekat tapi mengenalnya. Kevin tergila-gila padanya." Ucap dokter Diki. Deg deg deg, jantung Jasmin berdetak cukup kencang, apa yang di lihatnya ternyata benar. " Apa Kevin tidak cerita kepada kamu, kalau Menik adalah wanita yang dicintainya. Saya ingat banget ketika malam-malam Kevin membawa wanita itu kerumah." Dokter Diki membayangkan kejadian pada saat dia mengenal Menik, wanita yang polos dan lucu. Terjawab sudah kecurigaan Jasmin, ternyata memang ada sesuatu antara Menik dan Kevin. " Apa hubungan mereka baik-baik saja." Tanya Jasmin lagi. Dokter Diki mengangkat kedua bahunya. " Kenapa dokter bertanya seperti itu, apa yang terjadi? Sebenarnya bagaimana hubungan dokter dengan Kevin, hubungan saudara seperti apa." Tanya dokter Diki. Jasmin terlihat gugup, dia mengalihkan pembicaraan. " Dokter malam semakin larut, sebaiknya kita beristirahat. Selamat malam dokter." Ucap Jasmin sambil beranjak dari tempat duduknya. " Malam." Jawab dokter Diki. Jasmin kembali ke kamarnya. Semua ucapan dokter diki seperti tidak nyata. Dia harus menerima kenyataan pahit kalau Kevin mencintai orang lain. Walaupun dia sudah mengikhlaskan Kevin, tapi rasa perih masih ada. Karena malam semakin larut semua kembali ke kamarnya masing-masing. Mereka mengistirahatkan tubuh dan pikirannya masing-masing. Setelah melewati malam yang singkat akhirnya sang mentari menunjukkan kemilau cahayanya. Pelayan yang bertugas menyiapkan dan membersihkan villa itu sudah bergumul dengan kegiatannya masing-masing. Mereka harus memberikan pelayanan yang terbaik. Makanan harus tersedia di meja makan sebelum tamu mereka bangun. Dan kebersihan villa menjadi prioritas utama untuk mereka. Satu persatu sudah bangun, mereka membersihkan tubuhnya setelah itu langsung menuju meja makan. Zira sedang bersiap dan melihat pantulan tubuhnya dari cermin. Dia mengenakan celana pendek di atas lutut. Sehingga paha mulusnya terlihat. " Kenapa kamu pakai celana pendek?" Ucap Ziko. " Kitakan mau main di pantai, kan tidak cocok kalau aku pakai baju tidur." Ucap Zira sambil sedang berhias di depan cermin. " Tapi pahamu kelihatan." Ucap Ziko lagi. " Namanya celana pendek pasti pahanya kelihatan, kalau celana panjang tentu tidak kelihatan." Jawab Zira. " Ganti." Perintah Ziko. " Ganti pakai apa? Aku hanya membawa satu celana pendek, yang lainnya baju dress pendek. Apa aku pakai yang itu saja?" Ucap Zira. Ziko menganggukkan kepalanya. " Apa kamu yakin? Soalnya kita mau bermain di laut juga loh. Nanti kalau pakai dress malah naik semua bajuku. Apa kamu tidak khawatir celana dalamku kelihatan." Ucap Zira. Ziko menimbang-nimbang ucapan istrinya. Dengan berat hati dia mengizinkan istrinya mengenakan celana pendek itu. Mereka keluar dan menuju meja makan. Semua sudah berada di situ, hanya Menik yang belum bergabung dengan mereka. Ziko memperhatikan wanita di situ semua memakai celana pendek. " Kamu lihat suamiku, bukan aku saja yang memakai celana pendek, semuanya memakai celana yang sama denganku. Jadi kamu tidak perlu khawatir bukan aku saja yang obral paha semuanya juga obral paha." Ucap Zira. Tidak berapa lama Menik ikut bergabung di meja makan, dia juga mengenakan celana pendek di atas paha. Pahanya yang tidak pernah terlihat hari ini terlihat jelas. Rudi dan Kevin memperhatikan Menik. Mata Menik sudah tidak terlalu sembab. Koko menarik kursi untuk Menik. Karena dia tau pasti temannya memilih duduk dengannya di bandingkan dengan Rudi dan Kevin. Mereka sarapan cukup hening hanya suara dentingan sendok dan garpu yang terdengar di keheningan itu. Setelah selesai makan mereka menuju pantai, di sana sudah ada yang menunggu mereka. Ada penjaga pantai yang bertugas sebagai pemandu permainan untuk mereka semua. " Selamat pagi semuanya, nama saya Dodi, dan ini rekan saya yang bernama Stefani." Ucap pria itu memperkenalkan dirinya dan temannya. Semua pria membulatkan matanya melihat Stefani yang sangat seksi. Wanita itu mengenakan pakaian renang berwarna merah yang sangat seksi. Bentuk tubuhnya terlihat membentuk gitar, bokong yang penuh dan dada yang besar membuat kaum adam susah menelan salivanya. Zira memperhatikan suaminya dan semua pria yang ada di situ. Para pria bukan hanya membulatkan matanya tapi membuka mulutnya lebar-lebar. " Sayang tutup mulut kamu, kalau tidak akan aku buat mulutmu tidak bisa tertutup rapat." Ucap Zira merapatkan giginya. Ziko langsung menutup mulutnya, dia khawatir kalau Zira melakukannya. " Pagi ini kita akan berlomba dengan menggunakan jet ski. Dimana ada lima jet ski dan kita akan buat lima kelompok." Penjaga pantai menyuruh pria dan wanita berbaris terpisah. Pria di sebelah kanan dan wanita di sebelah kiri. Semua pria berbaris dan mempunyai nomor masing-masing, yaitu satu sampai lima. Ziko mendapatkan nomor satu, Kevin nomor dua, dokter Diki nomor tiga, Rudi empat dan Koko lima. Pihak wanita di suruh mengambil angka di dalam box dan di samakan dengan nomor pria. Zelin mendapatkan nomor satu, dia satu tim dengan kakaknya. Katherene mendapatkan nomor dua, satu tim dengan Kevin, Jasmin nomor tiga bersama dengan dokter Diki. Menik nomor empat bersama dengan Rudi dan Zira nomor lima bersama dengan Koko. " Silahkan bergabung dengan timnya." Ucap Dodi. Semua berdiri di sebelah timnya. Tapi Ziko protes. " Saya mau satu tim dengan istri saya." Ucap Ziko menunjuk kearah Zira. " Tidak bisa seperti itu tuan, saya tau kalau anda bergabung dengan istri anda, maka bisa di pastikan kami semua kalah." Ucap Kevin. " Bukan itu, kalau istriku jatuh kelaut bagaimana?" Gerutu Ziko. " Sayang tenang saja, aku bisa mengatasinya." Ucap Zira menenangkan. " Bagaimana aku bisa tenang, pasukan avengers selalu menaklukan lawannya di darat bukan di laut." Gerutu Ziko lagi. " Sayang tenang saja, aku sudah berguru dengan aqua man." Ucap Zira. Ziko dan Kevin saling pandang, entah benar apa tidak yang di ucapkan Zira, tapi memang perlu pembuktian apakah Zira juga bisa menaklukkan elemen air. " Like, komen dan boom vote ya, terimakasih." ig: anita_rachman83 Chapter 375 episode 374 (S2) " Stefani akan menunggu di tengah-tengah. Tim siapa yang bisa sampai terlebih dahulu menjadi pemenangnya." Ucap penjaga pantai. Stefani sudah menunggu di atas speed boat, dia berada di tengah laut. Setelah Stefani berada di posisinya. Dodi memerintahkan semua tim untuk mengenakan life jacket. Semua tim sudah berada di atas jet ski. Semua pria berada di depan dan wanita di belakangnya. " Semua siap. Satu dua tiga." Penjaga pantai memberikan instruksi. Semua tim berlomba menjadi pemenangnya. Tapi jet ski tim Zira tidak bergerak sama sekali. " Kenapa tidak jalan." Ucap Zira sambil menepuk pundak Koko. " Serem, kalau ada ikan hiu bagaimana?" Ucap Koko ketakutan. " Aku kasih kamu sama ikan hiu. Cepat jalan kita sudah ketinggalan jauh." Ucap Zira sewot. Koko belum juga mau menyalakan jet skinya. " Pindah, biar aku yang di depan." Ucap Zira. " Tapi." " Udah enggak usah pakai tapi." Ucap Zira menarik tangan Koko agar pria itu berpindah posisi. Koko pindah di posisi belakang. " Nona pelan-pelan ya." Ucap Koko takut. " Pelan-pelan memangnya kita lagi jalan santai. Pegang yang erat kita mau ngebut." Ucap Zira menyalakan jet ski. Jet ski yang Zira kendarai sudah melaju dengan kecepatan tinggi. " Nona pelan-pelan, nanti kita di tangkap polisi." Ucap Koko teriak. " Tenang saja, di laut tidak ada rambu lalu lintas. Dan polisi tidurnya juga sudah bangun." Ucap Zira teriak, karena suara mesin jet ski yang bising membuat mereka harus bicara kencang. Koko masih tetap takut, cara membawa jet ski Zira memang patut diacungkan jempol. " Nona, apa main jet ski ini juga belajar sama aquaman." Tanya Koko. " Bukan, kalau ini aku kursus dengan popeye." Ucap Zira asal. Mereka sudah mengejar ketinggalannya. Tapi Zira melihat Menik yang tidak berpegangan dengan badan Rudi. " Ko, coba kamu lihat Menik." Koko melihat kearah Menik. " Kenapa dengan Menik." Tanya Koko. " Dia tidak berpegangan sama Rudi. Itu bahaya bisa-bisa dia jatuh. Dan lihat life jacketnya, sepertinya dia tidak mengancingnya." Ucap Zira sambil teriak. Di atas jet ski Menik memang tidak memegang pinggang Rudi, dia hanya berpegangan pada tempat duduknya. Dan dia sedang melamun tentang kejadian tadi malam. Tiba-tiba apa yang di khawatirkan Zira terjadi Menik jatuh. " Oh tidak." Ucap Zira. " Rudi, Menik jatuh." Teriak Zira sambil melambaikan tangannya kearah Rudi hanya membalas dengan lambaian tangan juga. Menik tidak bisa berenang, life jacketnya terlepas dari badannya. Dia kesulitan untuk meraih life jacketnya. " Tolong." Ucap Menik pelan. Rudi tidak mengetahui kalau Menik jatuh. Dia sudah mengimbangi posisinya dengan Ziko. Zira mengejar Kevin. Secepat kilat dia mengejar posisi Kevin, Ziko dan Rudi. " Kevin, Menik jatuh." Teriak Zira. Koko juga ikut teriak. " Menik jatuh." Teriak Koko. Zira memutar balik jet skinya. Semuanya bingung, sedikit lagi Zira menjadi pemenang, tapi dia memutar arah jet skinya. Ziko dan Kevin melihat kebelakang. " Kevin, sepertinya ada yang jatuh." Ucap Katherene. Kevin tersadar ketika di belakang Rudi tidak ada Menik. " Menik." Dia panik langsung memutar arah jet skinya. Menik sudah tenggelam, Zira turun dari jet skinya dan berusaha menyelamatkan Menik.Tinggal Koko sendiri diatas jet ski. " Menik tenggelam." Ucap Koko. Kevin membuka life jacketnya dan langsung langsung menyelam. Di dalam laut sudah ada Zira yang sedang memegang badan Menik. Dia kesusahan membawa tubuh Menik ke atas. Untungnya Kevin datang. Di atas laut Ziko mendatangi Koko. " Mana Zira." " Nona Zira ada di bawah." Ucap Koko menunjuk ke dalam laut. " Ngapain dia di bawah? Apa dia mau reuni bersama aquaman di sana." Tanya Ziko lagi. " Menik tenggelam, Kevin dan Zira sedang menyelamatkannya." Timpal Katherene. " Bagaimana bisa tenggelam?" Ziko melihat sekelilingnya mencari Rudi. Tidak berapa lama Rudi dan dokter Diki datang. Ziko bersiap-siap membuka life jacketnya, dia mau ikut menyelam ke laut. " Kenapa berhenti di sini." Tanya Rudi yang tidak menyadari kalau Menik sudah tidak ada di belakangnya. Tiba-tiba dari dalam laut muncul Zira dan Kevin, mereka berdua membawa Menik naik keatas laut. Rudi baru sadar ketika melihat tubuh Menik. " Menik." Ucap Rudi membelalakkan matanya. Stefani yang sudah menunggu di tempatnya mendatangi mereka semua. " Apa yang terjadi." Tanya Stefani. " Dia tenggelam." Ucap Rudi. Tubuh Menik di bawa naik ke atas speed boat, Jasmin ikut naik speed boat. Dia membantu Menik mengeluarkan air dari dalam tubuh wanita itu. Semuanya telah tiba di tepi pantai. Menik belum sadarkan diri. Jasmin menekan telapak tangannya di bagian tengah dada Menik. Dia melakukannya sebanyak tiga puluh kali dalam waktu sekitar dua puluh detik. Menik belum juga bernafas, Kevin langsung panik. Dia langsung mendaratkan pukulannya ke wajah Rudi. Bug, Kevin ingin memukul wajah Rudi lagi. Tapi di halangi Ziko dan Koko. " Kalau sampai terjadi sesuatu dengan Menik, aku akan membunuhmu." Teriak Kevin. Dokter Diki dan Jasmin masih menekan dada Menik agar jantungnya kembali berdetak. Jasmin membuka jalan pernafasan dengan menengadahkan kepala Menik dan mengangkat dagunya. Jasmin memencet hidung dan meniupkan udara kearah mulut Menik. Dia meniupkan dua kali dalam satu detik. Kemudian dia kembali menekan dada menik dengan cepat. Air keluar dari mulut dan hidungnya. " Uhuk-uhuk." Menik sudah bernafas air yang masuk kedalam paru-parunya sudah keluar. Semua merasa lega yang tadinya ketakutan mereka bisa bernafas lega. Zira membantu Menik untuk kembali ke kamarnya. Jasmin mengikuti mereka dari belakang, dia mau melihat kondisi Menik. Tapi sebelumnya dia mengganti pakaiannya. Menik sudah berganti pakaian, dan sedang menikmati minuman hangat yang sengaja di request Zira untuk Menik. Tok tok tok, pintu kamarnya di ketuk. Zira membuka pintu kamar Menik. " Silahkan masuk." Ucap Zira. Jasmin masuk ke dalam kamar itu. " Menik, kamu sama Jasmin dulu ya, saya mau ganti pakaian." Ucap Zira. Menik menganggukkan kepalanya. " Bagaimana keadaan kamu." Tanya Jasmin. " Sudah jauh lebih baik." Ucap Menik. " Syukurlah, aku senang mendengarnya." Jasmin duduk di pinggir kasur. " Bagaimana kamu bisa tenggelam." Tanya Jasmin. " Semua karena kesalahanku, aku tidak memegang Rudi dengan baik." Ucap Menik. " Lalu dimana life jacket kamu." Tanya Jasmin. " Aku tidak memakainya dengan sempurna, mungkin itu yang menyebabkan aku tenggelam." Ucap Menik pelan. " Siapa yang menyelamatkan ku." Tanya Menik lagi. " Nona Zira dan Kevin." " Mereka mau mengorbankan nyawanya untuk aku." Ucap Menik pelan. Jasmin menganggukkan kepalanya. " Sepertinya Kevin sangat mencintai kamu." Ucap Jasmin. Menik langsung menatap ke Jasmin. " Kenapa dokter mengatakan seperti itu." Tanya Menik. " Kamu tau, pada saat kamu tidak sadarkan diri, dia terlihat panik dan stress, dan dia memberikan pukulan kepada Rudi. Dia melampiaskan kekesalannya kepada pria itu." Menik mendengarkan dengan seksama. Ada rasa senang ketika Kevin mau mengorbankan nyawanya untuk Menik. " Like, komen dan boom vote ya, terimakasih." ig.anita_rachman83 Chapter 376 episode 375 (S2) " Maaf Nik bukan mau ikut campur, saya perhatikan kalian tidak akur, apa yang terjadi." Tanya Jasmin. Menik diam, dia tidak tau harus mengatakan kepada Jasmin apa tidak, secara dia belum terlalu kenal dengan wanita itu, dan dia juga bukan tempat curhat Menik. Jasmin memperhatikan raut wajah Menik yang terlihat enggan untuk bercerita kepadanya. " Kalau kamu tidak mau cerita tidak apa-apa. Saya permisi dulu." Ucap Jasmin beranjak dari tempat tidur. " Tunggu." Jasmin melihat Menik. " Bisakah dokter menjaga rahasia ini." Tanya Menik. Jasmin menganggukkan kepalanya. " Sebenarnya hubungan kami dalam keadaan baik-baik saja, sampai..." Menik terdiam beberapa saat. " Sampai apa?" " Sampai dia pulang dari Inggris, semuanya berubah. Dia bersikap dingin kepadaku. Awalnya aku mengira karena dia kelelahan atau ada masalah, tapi ternyata dia akan bertunangan dengan temannya dari Inggris." Deg, jantungnya Jasmin berdetak kencang. Kejujuran Menik membuatnya sakit. " Aku sudah mengikhlaskannya dan menjauh dari kehidupannya, tapi kami di pertemukan lagi disini. Itu yang membuat aku sulit melupakannya." Ucap Menik pelan sambil menundukkan kepalanya. " Kenapa kamu harus melupakannya, dia sangat mencintaimu. Dia telah membatalkan pertunangannya dengan wanita itu." Menik membelalakkan matanya. " Apa maksud dokter? Dan dari mana dokter tau kalau pertunangannya batal. Apa dari dokter Diki." Menik mengajukan pertanyaan beruntun. " Dokter Diki tidak mengetahui tentang hal ini." " Lalu dari mana dokter tau? Apa dia yang cerita." Menik penasaran. Jasmin tersenyum tipis. " Saya adalah wanita itu." Menik langsung membelalakkan matanya, ucapan Jasmin membuatnya terkejut dan tidak percaya. " Maafkan aku dokter, karena aku pertunangan kalian batal." Ucap Menik sambil menundukkan kepalanya. Jasmin memegang tangan Menik. " Kamu tidak bersalah, saya yang telah salah masuk dalam hubungan kalian. Tidak seharusnya saya merusak rencana indah kalian." Ucap Jasmin. " Katakan kalau kamu masih mencintainya, jangan hukum dirimu dan dirinya dengan tidak berkata jujur tentang perasaanmu. Hatinya memang untukmu." Jasmin beranjak dari tempat duduknya. " Terimakasih banyak dok." Ucap Menik. Jasmin menganggukkan kepalanya dan keluar dari kamar itu. Dia berjalan keluar menuju kamarnya dan mendapatkan Kevin sedang menunggunya. " Kevin, apa yang kamu lakukan di depan kamarku." Tanya Jasmin. " Aku mau bertanya tentang keadaan Menik." Jasmin tersenyum simpul. " Kenapa kamu tidak melihatnya sendiri, dengan seperti itu kamu bisa melihat kondisinya secara langsung." Jasmin masuk kedalam kamarnya, meninggalkan Kevin yang masih berdiri di depan pintu kamarnya. Di dalam kamarnya ada rasa perih dan kecewa harus menyaksikan Kevin dan Menik bersatu. Tapi ada rasa senang karena dia dapat menyatukan dua insan yang saling mencintai tapi terhalang sesuatu dan itu karena dia. Dia ingin memperbaiki keadaan Kevin dan Menik seperti sediakala sebelum dia masuk kedalam kehidupan Kevin. Kevin terlihat ragu untuk masuk kedalam kamar Menik. Dia sudah bisa membayangkan reaksi yang akan di terimanya dari Menik. Tapi karena penasaran dengan keadaan Menik, dia memberanikan diri untuk melihat secara langsung. Tok tok tok " Masuk." Ceklek Pintu di buka Kevin, dia memberanikan diri untuk masuk. " Bagaimana keadaan kamu." Tanya Kevin. " Sudah lebih baik." Ucap Menik gugup. " Syukurlah saya senang mendengarnya, istirahatlah." Kevin membalikkan badannya dan hendak melangkahkan kakinya keluar kamar. " Terimakasih banyak pak." Ucap Menik. Kevin membalikkan badannya lagi dan melihat kearah Menik sambil tersenyum. " Saya akan melakukan apapun untuk selalu membuat kamu nyaman. Walaupun nyawa taruhannya, dan yang tadi itu hanya bentuk perhatian saya kepada kamu. Tidak perlu kamu merasa sungkan dengan saya. Jangan karena tidak enak hati kamu bersikap manis kepada saya. Jangan merasa hutang budi, saya tidak meminta balasan apapun dari kamu." Menik terdiam, ucapan Kevin menyentuh hatinya. " Permisi." Ucap Kevin melangkahkan kakinya keluar kamar. " Tunggu." Kevin membalikkan badannya. " Terima kasih atas perhatian bapak. Dan terima kasih atas rasa yang masih bapak miliki untuk saya." Ucap Menik pelan. " Rasa ini tidak akan pernah hilang sampai kapanpun, dan saya berharap kamu juga sama." Ucap Kevin. Kevin pergi meninggalkan Menik yang terdiam di kamarnya. Hatinya terenyuh ketika mendengar perkataan Kevin. " Oh Tuhan, apa yang harus aku lakukan? Apa aku harus mengatakan kalau dokter Jasmin sudah mengatakan semuanya. Kenapa aku jadi seperti ini." " Aku ingin dia melamar lagi Tuhan." Gumam Menik. Di dalam kamar Ziko memperhatikan istrinya yang baru selesai membersihkan dirinya di kamar mandi. " Sayang kenapa kamu melihat aku seperti itu." Ucap Zira sambil menyisir rambutnya yang basah. Ziko menepuk kasur di sebelahnya dengan otomatis Zira langsung duduk di sebelah suaminya. " Apa yang tadi kamu lakukan di dalam laut." Tanya Ziko. Zira memicingkan matanya melihat suaminya lekat. " Shoping." Jawab Zira singkat. " Serius!" Bentak Ziko. " Tidak mungkin kamu tidak tau." Ucap Zira lagi. " Iya aku tau, kamu menyelamatkan Menik. Tapi apa kamu pernah memikirkan dirimu. Jika terjadi sesuatu di dalam laut bagaimana." Gerutu Ziko. " Sayang tenang saja. Kan sudah aku bilang kalau aku bisa menaklukkan elemen air." Ucap Zira. " Iya iya aku tau, kamu telah berguru sama aquaman, tapi tetap saja hatiku tidak tenang ketika kamu menyelam seorang diri di laut. Kalau kamu di makan ikan hiu bagaimana." Gerutu Ziko. " Tenang saja sayang, kalau ikan hiu itu datang, aku akan nyanyi buat mereka baby shark do do do, baby shark do do baby shark." Zira memperagakan cara bernyanyinya. Ziko tertawa melihat istrinya yang selalu punya cara membuat hatinya senang. Dia merangkul bahu istrinya dan menciumi pipinya. " Pipimu kenapa empuk seperti bakpao. Apa berat badanmu naik." Ucap Ziko mencubit pipi istrinya. " Kenapa jelek ya." Tanya Zira. " Bukan jelek tapi gemes. Tapi jangan terlalu gemuk, aku tidak mau tidur sama tong." Ucap Ziko. " Bagus dong kalau badanku seperti tong, kita tidak perlu pakai kasur lagi." Ucap Zira. " Jelek tau, aku tidak bisa membayangkan kalau kamu pakai baju renang pasti semuanya berlipat seperti kain selesai di setrika." " Tapi waktu aku hamil badanku gemuk, kamu tidak protes." Ucap Zira. " Oh kalau hamil kamu harus gemuk, aku tidak mau anakku kelaparan karena badanmu kurus. Jadi jika kamu hamil harus banyak makan. Kalau perlu makan sekalian sama panci-pancinya." Ziko melihat Zira dengan seksama. " Apa kamu lagi hamil?" " Enggak tau." Ucap Zira. " Bagaimana enggak tau. Kapan terakhir kamu datang bulan." Tanya Ziko. " Ye, aku itu belum datang bulan sama sekali. Setelah keguguran itu aku mengalami namanya nifas jadi mungkin itu yang menyebabkan aku belum datang bulan." Ucap Zira menjelaskan. " Tapi berat badanmu naik, aku saja tidak kuat menggendong mu. Apa jangan-jangan kamu hamil." Ucap Ziko kegirangan. " Hey jangan senang dulu, aku belum merasakan hal-hal yang aneh." Ucap Zira. " Seperti?" " Pusing dan mual." Ziko mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang. " Kamu mau ngapain?" " Mau menghubungi Diki." " Untuk apa." " Biar dia ada kerjaan." " Maksud kamu." " Aku mau dia mengecek kehamilan kamu." Ucap Ziko. " Tapi aku tidak hamil." Ucap Zira. " Berisik." " Like, komen dan boom vote ya, terimakasih." ig.anita_rachman83 Chapter 377 episode 376 (S2) Ziko menghubungi nomor dokter Diki. " Ya ko, ada apa." Tanya dokter Diki. " Datang ke kamarku." Kemudian panggilan terputus. Ziko menutupi tubuh istrinya dengan selimut tebal. " Aku bukan demam." Gerutu Zira. " Yang bilang kamu demam siapa?" " Ini buktinya." Zira menunjukkan selimut tebal yang berada di atas tubuhnya. Tidak berapa lama pintu di ketuk. Tok tok tok, Ziko berlari membuka pintu kamarnya. " Masuk." Dokter Diki masuk ke kamar. " Ada apa?" " Istriku hamil." Ucap Ziko. " Bukan dok." Timpal Zira. " Sstt diam, kamu baring saja di kasur. Jangan banyak bergerak." Ucap Ziko sambil menunjuk kearah Zira denagan isyarat tidak boleh bergerak. " Apa kamu yakin Ko." Tanya dokter Diki. " Kamu tidak percaya denganku." Ucap Ziko sewot. Dokter Diki memandang Ziko heran. Dia berpikir yang jadi dokter dirinya apa Ziko. " Biar lebih jelas, periksa istriku." Perintah Ziko. " Tapi aku tidak bisa memeriksanya." Ucap Dokter Diki pelan. " Kenapa kamu tidak bisa memeriksanya, bukannya kamu seorang dokter." " Ya Ko, aku memang seorang dokter, tapi aku bukan dokter spesialis kadungan." Ucap dokter Diki menjelaskan. " Jadi sia-sia aku membawamu kesini." Ucap Ziko kecewa. " Panggilkan rekanmu kesini." Perintah Ziko lagi. " Siapa? Jasmin?" " Memangnya ada berapa orang kamu bawa kesini! Cuma satu kan?" " Dia juga tidak bisa Ko." Ucap dokter Diki lagi. " Ada dua dokter dua-duanya tidak bisa mengecek!" Ziko menggelengkan kepalnya kekanan dan kekiri. " Suruh dia kesini. Tidak mungkin dia tidak tau, mereka sesama wanita, pasti dia tau." Ucap Ziko. Dokter Diki mengalah, dia menghubungi Jasmin untuk datang ke kamar Ziko. " Ya tuan, ada yang bisa di bantu." Ucap Jasmin ramah. " Kamu wanita." Tanya Ziko. Jasmin menganggukkan kepala dengan raut wajah bingung. " Periksa istriku, pastikan kamu mengecek perutnya. Kasih kabar yang bagus buatku." Dokter Diki melihat raut wajah Jasmin yang bingung. " Tuan muda ingin kamu memeriksa tentang kehamilan nona Zira." " Tapi saya bukan dokter kandungan." Ucap Jasmin. " Terus kamu dokter apa." Tanya Ziko. " Dokter anak." Ucap Jasmin singkat. " Nah cocok, kamu cek anak yang ada di dalam perut istriku." Ucap Ziko lagi. Jasmin dan dokter Diki saling pandang. " Sayang, mereka bukan spesialis kadungan. Kalau mau periksa kehamilan ke dokter spesialisnya. Bukan sama mereka berdua. Benar tidak dokter." Ucap Zira sambil melihat kearah Jasmin dan Diki. Kedua dokter itu menganggukkan kepalanya. " Tapi kalau mau mengecek bisa dengan alat yang di sebut test pack." Ucap Jasmin. " Ya sudah bawa alat itu kesini." Ucap Ziko sudah tidak sabar. " Tapi alat itu tidak ada di sini. Biasanya beli di apotik." Ucap Jasmin. " Ya sudah beli." Perintah Ziko. " Mau beli kemana? Kita berada di tengah pulau." Ucap dokter Diki. Ziko sudah mulai penasaran dengan kondisi Zira. Dia memikirkan sesuatu sambil menghubungi asistennya. " Kevin datang kesini sekarang." Tidak berapa lama Kevin tiba di kamar Ziko. Dia heran dengan dua dokter di kamar bosnya. Dan lebih mengherankan lagi, Zira memakai selimut tebal. " Kenapa dengan nona Zira." Tanya Kevin. " Istriku hamil." Ucap Ziko. " Oh ya, selamat tuan." Ucap Kevin. " Belum tau Vin, itu hanya harapannya saja. Jangan di dengarkan." Timpal Zira. Kevin melihat wajah bosnya dengan seksama. " Tidak usah melihatku seperti itu, aku memang lebih tampan di bandingkan kamu." Ucap Ziko. Kevin tersenyum mendengar ucapan bosnya yang sombong. " Diki bilang sama Kevin, alat apa yang harus di belinya." Perintah Ziko. Dokter Diki menjelaskan nama alat itu kepada Kevin. Asisten itu mecatat di dalam catatan ponselnya. " Tuan, sekarang sudah petang. Apa sebaiknya besok saja alat itu di cari." Ucap Kevin pelan. " Bagaimana bisa besok, aku tidak bisa tidur kalau belum mendapatkan hasilnya." Gerutu Ziko. " Tapi kapal tidak akan mau mengantar kesini malam hari." Ucap Kevin lagi. " Gunakan burung merpati." Ucap Ziko asal. Kevin bingung harus mengatakan apalagi sama bosnya. Secara mereka berada di tengah pulau. Untuk sampai ke pulau itu butuh waktu berjam-jam. Zira turun dari kasur dan mendekati suaminya. " Hey siapa yang suruh kamu turun dari kasur." Ucap Ziko teriak. Zira tidak menghiraukan larangan suaminya. " Vin, kamu urus saja bagaimana baiknya. Dan untuk kedua dokter terima kasih atas bantuannya." Ucap Zira memerintah Kevin, Jasmin dan dokter Diki untuk keluar dari kamarnya. Ketiganya keluar dari kamar itu. Semua urusan di serahkan kepada Kevin. Zira menutup pintu kamarnya. " Kenapa kamu menyuruh mereka keluar, aku belum selesai dengan mereka semua." " Aku ngantuk." Ucap Zira singkat sambil menuju tempat tidur. Ziko mengikuti istrinya yang berbaring di kasur. Dia mencari di guuling, dengan mengetik tanda-tanda hamil. Mual, pusing, di tri semester pertama tidak nafsu makan, bawaannya mengantuk. " Sayang apa kamu ada mual dan pusing." Tanya Ziko. " Enggak." Jawab Zira sambil mata tertutup. " Napsu makan kamu bagaimana." Tanya Ziko lagi. " Semua aku sikat, memangnya kenapa? Tidak biasanya kamu bertanya seperti itu." Ucap Zira sambil melihat suaminya yang sedang menatap ponselnya. Dia ikut melihat keseriusan suaminya dalam menatap benda tipis itu. " Kenapa kamu mengecek di situ. Belum tentu itu benar." Ucap Zira. " Kalau ini tidak benar, berarti kebalikannya. Di sini mual dan pusing, kebalikannya berarti tidak. Nah aku yakin kamu pasti hamil. Secara kamu tidak pusing dan mual."Ucap Ziko semangat. Zira sudah malas menjelaskan sama suaminya. Dia memilih untuk tidur. Tenaganya banyak terkuras ketika menaklukan elemen air. " Kamu besok tidak boleh turun dari kasur, sampai hasilnya keluar." Ucap Ziko. " Terserah." Ucap Zira sambil menutup matanya. " Sayang apa kamu ingin memakan sesuatu." Tanya Ziko. " Maksudnya?" Zira membalikan badannya agar bisa melihat suaminya. " Ngidam." Tanya Ziko lagi. " Enggak sayang. Aku tidak ingin memakan apapun, aku hanya ingin tidur. Bisa tidak kamu tidak bertanya dan tidak berbicara yang bisa membuat telingaku gatal." " Ok, aku akan menutup mulut ini. Kamu tidak harus menjawabnya. Beri saja sebuah isyarat dengan mengangkat tangan." Ucap Ziko. Untuk beberapa saat Ziko diam sambil melamunkan sesuatu. " Kalau seandainya kamu hamil aku suruh Kevin dan Koko pulangnya berenang." Ucap Ziko. Zira langsung membuka matanya. " Yang jadi suamiku siapa?" " Aku." Jawab Ziko singkat. " Yang mau punya anak siapa?" " Suamimu yang tampan inilah." " Terus kenapa harus Kevin dan Koko yang berenang. Seharusnya kan kamu!" Ucap Zira. " Itu bentuk peduliku kepada mereka. Agar mereka bisa merasakan bagaimana jika punya anak." Ucap Ziko. " Ok kalau begitu, kalau nanti anak kita wajahnya campur sari antara Kevin dan Koko, kamu tidak boleh komplain ya!" " Apa! Tidak aku tidak mau anak kita bergenre dua dunia." Ucap Ziko. " Dua dunia?" " Ya kalau Kevin dunia nyata kalau Koko dunia lain." " Buhahaha." Zira tertawa terbahak-bahak. " Kamu benar, pada saat tadi naik jet ski dia sama sekali tidak berani menyalakan mesin itu. Kalau ada mantri pasti aku suruh sunat lagi dia. Untungnya istrimu ini sudah berguru dengan aquaman." " Avengers sudah, dan itu di darat. Aquaman untuk elemen air. Bagaimana dengan elemen api dan petir. Apa elemen petir kamu belajar sama thor." Tanya Ziko. " Enggaklah, dia sibuk mencari palunya yang hilang, aku belajar sama boboiboy saja. Dia menguasai beberapa elemen." " Siapa itu boiboiboy? Kok namanya terdengar asing di telingaku?" " Dia tukang sayur keliling kompleks." Jawab Zira asal. " Like, komen dan boom vote ya, terimakasih." ig.anita_rachman83 Chapter 378 episode 377 (S2) Di luar kamar, Kevin menghubungi orang-orang kepercayaannya untuk membeli alat yang namanya test pack. Semuanya berat untuk mengirimkan malam itu. Dengan alasan malam dan tidak ada kapal yang mau membawa benda itu. " Bagaimana Vin." Tanya Dokter Diki. " Alatnya banyak di jual, tapi tidak ada yang mau mengirimkan kesini." Gerutu Kevin. " Ya sudah, kamu info saja pengiriman paling pagi. Dan kalau bisa pagi sudah sampai." Ucap dokter Diki. " Tapi kalau tuan muda marah bagaimana?" " Aku rasa nona Zira bisa mengendalikannya." Akhirnya mereka beristirahat. Tapi sebelumnya Kevin menghubungi orang-orangnya untuk mengirimkan benda itu secepatnya. Malam semakin larut suara deru ombak terdengar cukup nyaring di malam hari. Angin yang kencang membuat udara semakin sejuk. Pepohonan bergerak ke kanan dan ke kiri. Riak ombak menari kesana-kemari. Waktu terus berputar meninggalkan rembulan menyambut mentari. Semua masih terlelap hanya para pelayan dan pengurus villa yang sudah berjibaku dengan pekerjaannya masing-masing. Tiba-tiba ada suara kebisingan terdengar di halaman villa. Semua yang terlelap langsung beranjak dari tempat tidurnya dan keluar villa. " Apa itu bising sekali." Ucap Zira sambil beranjak dari tempat tidur dan pergi keluar villa di ikuti oleh Ziko. Semua sudah berkumpul di luar villa. Ziko dan Zira membelalakkan matanya melihat helikopter ada di depan mereka. " Untuk apa helikopter ini di sini." Teriak Ziko. Kevin tidak menjawab pertanyaan bosnya. Sampai mesin helikopter berhenti dan seseorang turun dari helikopter. " Tuan ini benda yang anda minta." Ucap seorang pria menyerahkan benda kecil kehadapan Ziko. " Apa ini?" Ziko melihat Kevin dan pria yang ada di depannya. " Test pack tuan." Ucap pria itu. " Apa! Benda sekecil ini kamu mengantarkannya dengan helikopter." Ucap Ziko sewot. " Maaf tuan ini ide pak Kevin." Ucap pria itu. Ziko melihat asistennya, dari ekspresinya dia minta penjelasan dari Kevin. " Oh begini tuan, secara tuan membutuhkan alat itu cepat. Maka saya mengusulkan memakai helikopter untuk mengantarkan benda itu. Dan terbukti barangnya cepat sampai." Ucap Kevin membanggakan diri. " Berapa harga benda ini." Tanya Ziko. " Lima puluh ribu." Jawab pria itu. " Apa lima puluh ribu, dan berapa ongkos kirimnya?" " Lima belas juta tuan." Jawab Kevin. " Apa! ongkosnya lebih mahal dari benda ini." Gerutu Ziko. Helikopter telah pergi meninggalkan villa. Ziko masih tidak habis pikir dengan ide asistennya. " Kenapa tuan melihat saya seperti itu. Memang saya akui kalau saya lebih ganteng dari anda." Ucap Kevin. " Sialan kamu." Ziko ingin memukul asistennya tapi Kevin keburu kabur. Ziko memandang benda itu. " Bagaimana cara pakainya." Tanya Ziko ke dokter Diki. " Di celupkan ke air seni." " Ih jorok." Ucap Ziko jijik. " Celup? Teh kali di celup." Timpal Zira. Zira mengambil benda itu dari tangan suaminya dan pergi menuju kamar dikuti Ziko dan dokter Diki. Ziko mengetuk pintu kamar mandi. " Sayang sudah belum." Ucap Ziko dari balik pintu. Zira masih mengetes air seninya dengan alat itu. Tidak berapa lama pintu di buka. " Bagaimana hasilnya." Ucap Ziko penasaran. Zira menunjukkan benda itu kepada suaminya. " Apa ini? Aku tidak mengerti." Dia menunjukkan kepada dokter Diki. " Ko itu garis satu yang artinya negatif." Ucap dokter Diki pelan. " Bagaimana negatif, kami melakukannya setiap malam. Bahkan satu jam bisa 4 ronde." Ucap Ziko sewot. " Sstt." Zira menutup mulut suaminya yang suka sembarangan dalam berbicara. Dokter Diki hanya tersenyum simpul mendengar celotehan Ziko yang asal. " Sudahlah, mungkin belum saatnya kita di beri anak. Sabar saja, pasti Tuhan akan memberikan anak kepada kita ketika sudah waktunya tiba." Ucap Zira menyemangati suaminya. " Tapi kalau hanya sabar tidak usaha sama saja bohong." " Kita kan sudah berusaha, tinggal menunggu dari Sang Pencipta saja." " Apa aku kurang subur ya." Gumam Ziko pelan. " Diki bagaimana cara menyuburkan ubi kayu." Tanya Ziko. " Maaf Ko, aku kurang tahu menahu tentang pertanian, tapi ku rasa untuk menyuburkan ubi kayu bisa dengan pupuk." Ucap dokter Diki. " Buahahaha." Zira tertawa lebar. Dokter Diki berpikiran kalau ubi kayu yang di maksudnya adalah tanaman. Mendengar istrinya tertawa Ziko memperbaiki ucapannya. Yang tahu menahu tentang istilah ubi kayu hanya Kevin, dia dan istrinya. Wajar jika dokter itu tidak paham. " Bukan ubi kayu itu, maksudku junior ku. Bagaimana cara menyuburkannya." Ucap Ziko pelan. " Oh." Dokter Diki menjelaskan kiat-kiat untuk menyuburkan ubi kayu. Dari makanan yang bergizi sampai rajin berolah raga di jelaskan dokter itu. Kevin duduk di beranda villa, Katherene mendekatinya. " Vin, main selancar yuk." Ajak Katherene. Dari jauh Menik memperhatikan keduanya, yang ngobrol lumayan dekat. " Apa betul dia masih mencintaiku. Kalau benar kenapa dia terlihat akrab dengan bule itu." Gumam Menik cemburu. " Tapi ombaknya kurang tinggi." Ucap Kevin. Dari jauh Kevin memperhatikan Menik yang curi-curi pandang kepadanya. Kenapa si Menik melihat aku jutek seperti itu. Sepertinya dia cemburu dengan Katherene. Lebih baik aku buat dia tambah cemburu. Aku mau membuktikan apakah dia masih cinta samaku apa tidak. " Bagaimana kalau kita berenang saja." Ajak Kevin. " Ayo." Jawab Katherene semangat. Kevin dan Katherene pergi menuju pantai. Dan Menik mengikuti dengan bersembunyi di balik pohon. Keduanya sudah mulai berenang. Menik mencak-mencak melihat keakraban keduanya. " Kalau seandainya aku bisa berenang pasti asik banget. Tapi aku hanya bisa gaya botol." Gumam Menik sendiri. Dari jauh Menik dapat melihat Katherene tapi dia tidak bisa melihat keberadaan Kevin. " Kemana perginya pak Kevin." Gumam Menik sambil melebarkan pandangannya kearah lautan. " Saya disini." Ucap Kevin sambil menepuk pundak Menik. " Aw, kenapa bapak mengagetkan saya." Menik memegang jantungnya yang berdebar kencang. " Sudah berapa lama bapak di sini? Bukannya seharusnya bapak di laut." Ucap Menik sambil memperhatikan pakaian Kevin yang basah. " Apa kamu sedang memata-matai saya" " E-enggak, saya main petak umpet sama Koko." Ucap Menik gugup. " Apa kamu berbohong." " Enggak, ngapain juga mengintai bapak. Kita kan lagi marahan." " Oh iya, kamu benar tidak seharusnya saya berbicara panjang lebar sama kamu." Ucap Kevin berakting seolah-olah sedang bermusuhan dengan Menik. Kevin melangkahkan kakinya menuju pantai. " Dasar pria genit." Teriak Menik. Kevin memutar badannya dan berjalan mendekati Menik. " Siapa yang genit?" " Bapak." " Kenapa kamu bilang saya genit?" " Ya karena bapak dengan gampang berduaan dengan wanita lain padahal baru kemaren bilang cinta sama saya.Ops." Menik menutup mulutnya dengan jarinya, dia baru keceplosan dalam berbicara tapi membuat Kevin tersenyum bahagia. " Apa kamu cemburu." " Enggak, ngapain harus cemburu dengan dia. Rambut seperti kesiram kuah sate begitu di cemburui." Ceplos Menik. " Maksud kamu apa?" " Itu loh warna rambutnya seperti kesiram kuah sate." Kevin lucu melihat Menik nyerocos karena cemburu. " Tapi dia seksi loh." Ucap Kevin memanasi Menik. " Dasar pria hidung zebra." Ucap Menik. " Zebra?" " Hidung belang maksudnya." Ucap Menik yang masih saja nyerocos. Kevin mendekati Menik yang sibuk dengan mulutnya yang bawel. Cup " Jangan bawel." Ucap Kevin mengecup bibir Menik. Menik membulatkan matanya karena mendapatkan serangan fajar dari Kevin. Dan Kevin kembali ke pantai dengan penuh kemenangan. " Like, komen dan boom vote ya, Terimakasih" ig.anita_rachman83 Chapter 379 episode 378 (S2) Menik masih bengong dengan serangan Kevin. " Apa yang kamu lakukan disini." Tanya Rudi. " Eh kamu." Menik gugup dengan wajahnya yang merona malu. " Kenapa dengan wajah kamu?" Menik memegang kedua pipinya. " Memangnya wajahku berubah ya." Tanya Menik polos. " Pipimu merona. Apa telah terjadi sesuatu kepadamu." Tanya Rudi. " E-enggak." Ucap Menik gugup. Pasti kamu akan kena serangan jantung kalau mengetahui aku baru dapat serangan fajar dari pak Kevin Menik mengalihkan pembicaraan. " Kamu ngapain disini." Ucap Menik sambil melihat sekelilingnya. " Kamu lihat apa?" Tanya Rudi. " Itu aku lihat penjaga pantai. Apa kita ada perlombaan lagi." Tanya Menik. Rudi mengangkat bahunya. Menik hendak pergi meninggalkan Rudi. " Nik tunggu." Rudi memegang tangan Menik. " Ada apa." " Aku mau minta maaf." Ucap Rudi pelan. Kevin memperhatikan dari jauh. Dia mulai panas mendidih di dalam lautan. " Untuk apa." Ucap Menik. " Gara-gara aku, kamu tenggelam. Seharusnya aku memaksamu untuk memegang pinggangku. Maafkan aku Nik." Ucap Rudi sambil berlutut di depan Menik. Sialan dia melamar Menik. Aku tidak boleh tinggal diam. Kevin kembali ketepi pantai meninggalkan Katherene. " Sudahlah, aku tidak menyalahkan mu, semua kesalahan ada padaku." Menik menarik tangan Rudi untuk berdiri. Mereka berdiri sejajar. " Terima kasih." Rudi dan Menik berjalan menuju villa. Kevin berpikir kalau Rudi baru melamar Menik. " Sialan." Gerutu Kevin sambil berjalan masuk kedalam villa. Dia melebarkan pandangan ke sekeliling villa, dia mencari keberadaan Menik. Tapi dia tidak menemukan Menik. " Mungkin dia di kamar." Gumam Kevin sambil berjalan menuju kamar. Di lorong kamar Ziko berpapasan dengan Kevin. " Vin, kamu mau ngapain." Tanya Ziko. " Mau ngulek." Jawab Kevin singkat. Ziko manggut sambil memegang ponselnya. Sesampainya di depan pintu kamar, dia mengetuk pintu dengan keras. " Bapak?" Ucap Menik bingung. " Mana kaleng kerupuk itu." Tanya Kevin dengan raut wajah marah. " Kaleng kerupuk? Oh ada di atas meja makan." Ucap Menik polos. Kevin menarik tangan Menik dan melihat apakah ada sesuatu yang melingkar di jari manisnya. " Mana cincinnya." Tanya Kevin. " Cincin?" Menik berpikir beberapa saat. " Cincinnya bukannya sama bapak? Apa cincinnya hilang." Ucap Menik polos. Kevin tersadar, dia telah melakukan kesalahan dengan berpikir kalau Rudi telah melamar Menik. " Maaf." Ucap Kevin sambil berlalu meninggalkan Menik. " Apa bapak cemburu." Tanya Menik. Kevin membalikkan badannya. " Tentu saya cemburu, karena rasa itu masih ada." Kevin mendekati Menik kembali. Dengan sigap Menik langsung menutup mulut dengan telapak tangannya. " Bapak jangan mendekat." Ucap Menik sambil mundur teratur. " Kalau saya mendekat akankah kamu menjauh atau malah mendekat." Ucap Kevin sambil membuat Menik berada di pojok dinding. " Tidak keduanya. Sekarang saya tidak bisa bergerak." Kevin merentangkan tangannya di dinding. Posisi mereka cukup dekat. Dia menatap lekat wajah Menik yang manis semanis sirup. " Hey belum halal." Ucap Zira dari depan pintu. Posisi pintu kamar dalam keaadan terbuka, kamar Zira melewati kamar Menik. Dengan seperti itu dia bisa melihat kejadian barusan. Keduanya menoleh kearah Zira. Menik langsung malu pipinya merona merah. Tidak dengan Kevin, dia menanggapi majikannya dengan santai. " Nona, jangan jadi nyamuk? Cukup saya yang jadi nyamuk." Ucap Kevin. " Belum waktunya kamu menikmati itu, buruan lamar Menik keburu di tikung tukang ojek." Ucap Zira. " Tukang ojek." " Rudi maksudnya." Ucap Zira singkat. " Bukan tukang ojek tapi kaleng kerupuk." Ucap Kevin. Zira dan Kevin tertawa bersamaan. Menik malu untuk ikut tertawa. Kejadian barusan membuatnya masih malu. " Saya sudah melamarnya, tapi di tolak." Ucap Kevin seperti mengadu kepada ibunya. " Jadi pria itu harus berkorban pantang menyerah, baru di tolak sekali sudah keok." Ucap Zira lantang sambil meninggalkan keduanya di dalam kamar. " Sebaiknya bapak buruan keluar dari kamar saya. Nanti kalau ke grebek lagi kita bisa di arak." Ucap Menik khawatir. " Bagus dong, dengan seperti itu kita bisa menikah cepat." " Ye bapak di arak di mana dulu." Ucap Menik. " Memangnya di arak di mana." Tanya Kevin. " Di laut." Ucap Menik sambil mendorong tubuh Kevin agar keluar dari kamarnya. Ziko memperhatikan sekelilingnya yang mana semua orang pada mojok dengan lawan jenis. Ada satu pemandangan yang membuatnya kepanasan. Dia dengan sengaja duduk didepan Zelin dan Koko. Spontan keduanya pucat pasi. " Kenapa kalian pucat seperti itu, apa kalian baru melihat hantu." Tanya Ziko. " Bukan hantu yang kami lihat, tapi bos hantu." Ucap Zelin spontan. " Tapi bagus juga kalau kalian takut seperti ini." Ziko memperhatikan adiknya yang hanya mengenakan celana pendek. " Apa bahan celanamu habis." Ucap Ziko dengan sorot mata tajam. Zelin mengetahui arah sorot mata kakaknya. " Kak Zira juga kurang bahan." Ucap Zelin membela diri sambil menunjuk kearah Zira. Ziko mendekati istrinya yang baru berada di depan pintu. " Kenapa kamu datang dengan mengenakan celana pendek seperti ini. Kita tidak main di pantai lagi." Ucap Ziko berbisik. " Memangnya kenapa?" " Aku baru menasehati Zelin untuk tidak mengenakan celana kurang bahan, tapi kamu malah datang dengan celana seperti itu." Gerutu Ziko sambil menunjuk celana pendek istrinya dengan sorot matanya. " Jadi sekarang aku harus bagaimana." Tanya Zira. " Kembali ke kamar dan gunakan pakaian yang tertutup." Ucap Ziko. " Tapi semua pakaian yang aku bawa di atas lutut semua." Rengek Zira. " Kalau tidak ada pakai saja sprei." Ucap Ziko. Zira mengikuti kemauan suaminya. Dia kembali ke kamarnya untuk mengganti pakaiannya. Dan Ziko kembali duduk di depan adiknya beserta Koko. " Ganti pakaianmu." Ucap Ziko tegas. Zelin kembali ke kamarnya dengan menghentakkan kakinya. " Dasar kakak posesif. Tidak senang kalau lihat adiknya bahagia." Gerutu Zelin. Ziko masih memandang tajam kearah Koko. Sekertarisnya langsung menundukkan kepalanya. " Dapur adikku memang besar jadi kamu harus mengingatkan dia untuk menggunakan pakaian yang longgar." Ucap Ziko tegas. " Dapur? Apa hubungannya dapur dengan pakaian bos." Tanya Koko bingung. " Ah kamu istilah seperti itu saja tidak tau, pokoknya larang Zelin memakai pakaian seperti itu." Ucap Ziko tegas. Koko menganggukkan kepalanya. Dan Ziko menoleh cepat kearah pintu. Dia melihat istrinya yang keluar dengan mengenakan pakaian yang tidak lazim. Dia mendekati istrinya. " Sayang, aku menyuruhmu memakai pakaian yang tertutup, bukan pakaian seperti ini." Ucap Ziko sambil menunjuk pakaian yang di kenakan Zira. Zira mengenakan pakaian menyelam. " Ini juga tertutup." Ucap Zira. " Tapi masih membentuk tubuhmu." Ucap Ziko protes. " Aku memakai pakaian ini bukan mau nongkrong tapi mau menyelam." Ucap Zira. " Menyelam? Apa kamu yakin?" Zira menganggukkan kepalanya. " Dan kamu harus ikut." Ajak Zira. " Kalau aku tidak ikut bagaimana." Tanya Ziko lagi. " Ya terserah kamu saja. Kalau nanti di bawah laut aku jatuh cinta sama mahluk laut kamu jangan marah ya." Ziko berpikir mahluk laut itu adalah aquaman. " Tunggu di sini, aku akan ikut denganmu." Tidak berapa lama Ziko kembali dengan pakaian menyelam dan ada Kevin di sebelahnya. " Ngapain si Kevin ikut." Tanya Zira. " Nanti kalau ada ikan hiu, kita kasih si Kevin sama ikan itu." Ucap Ziko asal. Ketiganya berjalan menuju pantai. Sudah ada Stefani dan Dodi yang menunggu mereka di atas kapal kecil. " Sayang apa mahluk laut yang kamu maksud tadi aquaman." Tanya Ziko. " Bukan." Ucap Zira singkat. " Lalu siapa." Tanya Ziko lagi. " Spongebob dan kawan-kawannya." Ucap Zira. " Vote, like dan komen, terimakasih." ig. anita_rachman83 Chapter 380 episode 379 (S2) Mereka sudah berada di atas kapal bersama dengan penjaga pantai Dodi dan Stefani. Keduanya mengarahkan hal-hal yang harus di perhatikan ketika menyelam. Dari peralatan menyelam, penyesuaian udara ketika di bawah laut, dan selalu dalam satu kelompok. Mereka sudah memahami cara-caranya. Tinggal prakteknya yang harus di lakukan. Semua akan turun ke dasar laut ketika sudah sampai di posisi yang mereka inginkan. Stefani dan Dodi juga sudah memakai pakaian menyelam. " Vin, walaupun dia memakai pakaian menyelam semangkanya masih menyembul." Ucap Ziko berbisik. " Semangka?" Kevin bingung. " Semangka Stefani." Ucap Ziko berbisik. Zira menguping pembicaraan dua pria itu. " Dasar pria genit, bisa-bisanya kalian membicarakan itu di atas laut." Gerutu Zira. " Ah sayang, habis dia berada tepat di depan kita. Mana mungkin aku menolak vitamin pagi sepasang semangka." Ucap Ziko pelan sambil melirik kearah Stefani. " Kalau dia semangka aku apa." Tanya Zira. " Kamu jambu biji." Jawab Ziko. " Apa! Jambu biji kecil amat." Gerutu Zira sambil memukul lengan suaminya. " Aw sakit, itu pentilnya saja sayang." Ucap Ziko sambil merapatkan giginya. Zira senang karena dadanya di bilang suaminya lebih besar dari punya Stefani. " Vin, istriku ini enggak sadar diri, padahal pentilnya kecil sekecil kelereng." Ucap Ziko berbisik. " Pentul sepeda maksud tuan." Tanya Kevin. " Ah dasar kamu, terlalu tua untuk tidak tau istilah itu, makanya cepat nikah, biar tau istilah-istilahnya." " Ya tuan, doakan saja saya segera menikah secepatnya. Kapal sudah sampai di tempat yang mereka inginkan. Mereka semua turun ke dasar laut dengan menggunakan peralatan yang lengkap. Waktu mereka menyelam satu jam. Di dasar laut pemandangannya lebih indah di bandingkan di atas. Banyak beraneka ragam ikan di sana. Zira menyempatkan berfoto dengan mahluk bersisik itu. Semua di abadikan mereka.Tertumbu karang yang masih sempurna karena belum terjamah tangan-tangan yang tidak bertanggung jawab. Tidak terasa waktu mereka di dasar laut sudah satu jam. Semuanya kembali keatas laut, dan melepaskan peralatannya ketika sudah di atas kapal. Kapal sudah mengantarkan mereka kembali ke tepi pantai. Hari yang melelahkan buat mereka bertiga. Tenaga mereka habis ketika berada di dasar laut, bukan karena peralatannya saja yang menguras tenaga tapi menyusuri dasar laut juga banyak menghabiskan tenaga. Mereka kembali ke kamarnya dan mengistirahatkan tubuhnya di sana. Karena nanti malam mereka ada acara terakhir yang di adakan di villa. Karena besoknya mereka harus kembali ke ibu kota untuk melanjutkan rutinitas yang padat. Waktu terus berputar tak terasa waktu sudah jam tujuh malam. Semuanya sudah berkumpul di dalam villa. Tempat itu sudah di sulap pelayan menjadi tempat pesta yang mana sudah ada alat musik beserta penyanyinya, lampu yang kelap kelip sehingga menimbulkan kesan sedang berada di pub. Semuanya datang mengenakan pakaian yang resmi, untuk para wanita mengenakan gaun dan untuk pria mengenakan setelan jas. Menik terlihat cantik, dia datang dengan mengenakan halter dress, memiliki kerah yang melingkar di bagian leher dan tidak mempunyai lengan sehingga bahu dan bagian belakangnya terlihat. Zelin mengenaka A line dress, dress ini mempunyai bentuk seperti huruf A yang mana kecil di atas dan besar di bawah. Sehingga sangat cocok untuknya yang memiliki bagian belakang yang besar. Dia bisa menutupi dengan dress itu. Sedangkan Zira mengenakan sheath dress, dress yang di kenakannya benar-benar memperlihatkan bentuk tubuhnya atau bisa di bilang pakaian super ketat. Ziko memperhatikan pakaian istrinya yang menunjukkan kesan seksi. " Sayang kamu cantik sekali." " Baru sadar kalau istrimu ini memang cantik dari orok." Ucap Zira lugas. " Aku tau sayang ketika belum di cetak kamu pasti sudah sangat cantik, tapi aku risih dengan pandangan semua orang yang melihat tubuhmu." " Sayang aku melakukan ini juga untukmu. Agar mata keranjang sampahmu tidak melihat semangka si Stefani." Ucap Zira ketus. Ziko tersenyum kikkuk, pikirannya seperti terbaca oleh istrinya. Semua sudah berada di sana. Para wanita terlihat cantik dan seksi. Yang paliang seksi di antara semuanya adalah Zira, karena dia mengenakan pakaian yang memperlihatkan bentuk tubuhnya dan yang kedua Stefani, wanita itu ketika mengenakan pakaian renang sudah membuat para pria mengences dan sekarang dia mengenakan pakaian yang tidak kalah seksi dari yang lainnya. Dia mengenakan mini dress yang panjangnya hanya sampai paha, dan bagian depannya sengaja di buat jatuh agar dadanya terlihat tumpah. " Awas kalau kamu tidak berkedip." Ancam Zira. " Bagaimana aku mau menolak melihatnya, dia saja host untuk acara kita. Dan coba kamu perhatikan, bukan aku saja yang tidak berkedip para pria semua melotot melihatnya." Ucap Ziko mencari pembelaan. " Aku tidak perduli dengan yang lain, karena mereka bukan suamiku." " Apa kamu cemburu." Tanya Ziko. " Tentu aku cemburu. Kamu belum tau bagaimana seorang murid aquaman kalau cemburu. Aku bisa memeras ubi kayumu seperti memeras pakaian basah." Ucap Zira merapatkan giginya sambil memperagakan memeras pakaian. Ziko langsung bergidik takut. Dia mencari aman untuk tidak menatap Stefani. Musik terus di perdengarkan untuk memeriahkan acara itu. Dan musik berhenti ketika Stefani membuka acara tersebut. " Selamat malam semuanya, saya dan Dodi sangat berterima kasih kepada kalian semua karena sudah sudi datang ke villa ini dan mau terlibat dengan berbagai acara yang kami buat. Dan ini adalah malam terakhir kalian di sini. Kami berharap kita dapat berjumpa lagi di lain kesempatan." Ucap Stefani. Stefani menyerahkan microphone kepada Dodi. " Acara selanjutnya adalah permainan. Dimana permainan ini di beri kesempatan untuk semuanya mengatakan jujur kepada orang yang di pilihnya. Semuanya di harap berbaris, ini ada sebuah kaset dan isinya, tugas peserta hanya memutar kaset ini dan menutupnya kembali. Jika musik berhenti dan peserta belum selesai memutar kaset dan menutupnya maka dia kalah, dan harus memilih salah satu peserta untuk mengatakan sejujur-jujurnya. Apa semuanya mengerti." Ucap Dodi. Semuanya memberi sahutan dengan kata mengerti. Yang paling pinggir adalah Rudi, Stefani memberikan kaset tersebut kepada Rudi, dan dia mulai memutar kaset itu, Dodi berperan sebagai operator musik yang mana dia yang akan memberhentikan musik dan menyalakan kembali. Rudi berhasil menyelesaikan tantangannya dan menyerahkan kaset tersebut kepada Koko, tapi ketika Koko hendak memutar kaset, musik berhenti, dengan terpaksa dia maju ke depan dan menarik tangan Zelin untuk ikut ke depan bersamanya. Semuanya bertepuk tangan riuh tapi tidak dengan Ziko, dia merasa panas sendiri. Dia sudah bisa membayangkan apa yang akan di katakan Koko. " Zelin, aku mungkin pria yang tidak sempurna di bandingkan dengan pria lain." Koko menarik nafasnya sebelum melanjutkan kalimatnya lagi. " Aku mencintaimu, dan ada satu rahasia yang ingin aku sampaikan kepadamu. Kalau dulu aku senang memakai daster." Ucap Koko sambil menundukkan kepalanya. Semuanya riuh tertawa ketika mendengar kejujuran Koko, mereka tidak mengerti apa maksud daster. Hanya beberapa orang saja yang tau tentang itu terutama Menik, dia mengetahui masa lalu Koko. " Aku juga mencintaimu, walaupun kamu suka pakai daster aku juga suka pakai sarung. Jadi kita sama." Ucap Zelin. Semuanya bertepuk tangan riuh. Mereka senang mendengar kejujuran itu yang dapat menyatukan dua insan. " Vote, like dan komen yang banyak ya, terimakasih." ig. anita_rachman83 Chapter 381 episode 380 (S2) Musik kembali di putar, dan kaset masih di tangan Koko kemudian berpindah ketangan dokter Diki, kemudian musik berhenti ketika kaset masih di tangan Jasmin. Dengan ragu Jasmin menarik tangan Kevin. Ziko dan Zira saling pandang. " Kalau sampai dia mengatakan tentang batalnya pertunangannya dengan Kevin, aku yakin dokter Diki akan kecewa." Ucap Zira pelan. Ketika Jasmin menarik tangan Kevin, hatinya langsung teriris, karena dia sudah mengetahui tentang keduanya. Beda halnya jika Menik tidak tau menahu tentang hubungan itu pasti dia tidak mengalami perih. " Kevin, terimakasih untuk segalanya. Karena kamu, aku tau bagaimana artinya sebuah pengorbanan. Dan aku juga mengetahui arti cinta yang sesungguhnya. Aku sudah mengatakan kepadanya tinggal kamu mengatakan secara jujur kepadanya." Ucap Jasmin pelan. Hanya sebagian orang yang mengerti maksud dari pengorbanan yaitu Zira dan Ziko. Dan tentang kalimat kedua, pasangan suami istri itu belum bisa mengartikannya, hanya Kevin dan Jasmin yang tau maksudnya. Kemudian musik kembali di putar kaset dari tangan Jasmin berpindah ketangan Menik, kemudian berpindah ketangan Zelin dan berhenti ketika kaset di tangan Kevin. Tanpa ragu Kevin langsung menarik tangan Menik. Semua orang bertepuk senang. Tapi tidak dengan Rudi, dia sudah merasa cemas. Walaupun dia tidak tau apa yang akan di perbuat Kevin sama Menik, tapi ada rasa was-was dalam hatinya. Menik berdiri di depan Kevin. Pria itu memegang tangan Menik. " Saya bukanlah pria yang baik, tapi saya akan berusaha menjadi pria terbaik untukmu." Semua bertepuk tangan riuh. " Kesempurnaan hanya milik Tuhan, dan saya sebagai ciptaannya bukanlah pria yang sempurna tapi izinkan saya menjadi pria yang sangat sempurna di matamu." Kemudian Kevin berdiri dengan salah satu lututnya. Salah satu tanganya memegang tangan Menik. Tangannya Menik sudah keringat dingin, udara yang begitu dingin membuatnya tambah kedinginan. " Izinkan saya merangkai sebuah bahtera rumah tangga bersama denganmu." Menik diam terpaku. Dan semua yang ada di situ seperti ikut dalam suasana yang romantis itu. Mereka seolah menahan nafasnya agar tidak mengganggu jalannya acara. " Maukah kamu menikah denganku, maukah kamu menjadi ibu dari anak-anak kita." Menik meneteskan air matanya. Air mata yang tidak bisa di bendung lagi. Dia menganggukkan kepalanya. Sontak Kevin langsung menggendongnya dan mengecup dahinya dengan penuh kasih sayang. Semua ikut merasakan kebahagiaan yang di rasakan pasangan itu. Hanya Rudi yang tertunduk lemas. Kevin menyematkan cincin berlian ke jari manis Menik. Semuanya memberikan selamat kepada keduanya. Walaupun Rudi kecewa tapi dia tetap berjiwa besar. " Selamat untuk kalian berdua, jaga dia buatku." Ucap Rudi kemudian pergi meninggalkan keramaian itu. Acara itu di tutup dengan lamaran Kevin kepada Menik. Penutupan yang sangat sempurna untuk liburan mereka. Tidak di bayangkan akan berakhir dengan sebuah lamaran. Hari sudah menjelang malam semuanya kembali ke kamarnya masing-masing. Kevin dan Menik akan memimpikan malam indah itu di dalam dunia mimpinya masing-masing. Pagi hari matahari bersinar cukup cerah, menyambut hari baru bagi semuanya. Hari pertama dan awal status untuk keduanya yaitu Kevin dan Menik. Status yang lebih baik dari sebelumnya di mana status baru ini membuat keduanya menjadi lebih baik dari sebelumnya. Perjalanan menggunakan kapal membutuhkan waktu berjam-jam. Untuk sepasang kekasih waktu itu akan terasa singkat tapi untuk yang tidak mempunyai kekasih seperti Rudi, waktu itu akan terasa lama dan membosankan. Ketika menempuh waktu berjam-jam akhirnya kapal yang mereka tumpangi bersandar di pelabuhan. Kevin ingin mengantarkan tunangannya tapi di larang Menik. Dia lebih memilih pulang dengan menggunakan taksi. Menik sudah mempunyai apartemen dan semua itu atas jasa Zira. Dia kembali ke apartemennya yang baru ditempatinya dalam hitungan hari dan dia mendapati adiknya sedang duduk menunggu kepulangannya. Ceklek. Bima langsung beranjak dari sofa dan mendekati kakaknya. " Lama sekali kakak pulang." Tanya Bima. " Yang penting sekarang kakak pulang dalam keadaan sehat dan tidak kurang satu apapun." Bima mengikuti kakaknya menuju kamar. " Kakak belum menjelaskan kepadaku tentang apartemen ini." Ucap Bima. " Ini semua atas bantuan nona Zira. Dan besok kakak sudah bekerja dan itu juga atas bantuan nona Zira." " Iya aku tau itu, kesulitan kita sekarang semuanya dapat hilang sekejap dalam beberapa menit sama nona itu." " Kakak mau bekerja di mana." Tanya Bima. " Di perusahaan kosmetik." Jawab Menik sambil mengeluarkan pakaian kotornya dari dalam koper. " Tebak kakak bekerja sebagai apa di sana." " Pasti cleaning service lagi." Ucap Bima. " Salah, coba tebak lagi." Bima memikirkan posisi yang cocok untuk kakaknya. " Tidak mungkin kakak bekerja di perkantoran, secara kakak hanya tamatan sekolah menengah." " Justru itu kamu akan terkejut kalau kakak mengatakannya." " Apaan sih." Bima penasaran. " Kakak akan jadi model." " Apa! Model apa? Model sabun cuci piring apa sabun cuci kain." Ejek Bima. " Model makanan kucing." " Serius kak?" " Enggaklah, kakak di percaya sebagai brand ambasador produk kosmetik." " Apa! Kakak serius!" Ucap Bima antusias. Menik menganggukkan kepalanya. " Besok penandatanganan kontrak." " Ini bukan penipuan kan?" Ucap Bima khawatir. " Enggaklah justru kakak dapat info ini dari nona Zira, dia yang merekomendasikan kakak sama perusahaan itu." " Apa nama kosmetiknya." Tanya Bima. " Wardinah." " Wah itu kosmetik terkenal, pasti bayarannya mahal." " Berapapun pendapatan yang di terima di syukuri." Bima manggut setuju. Dia memperhatikan jari manis kakaknya. " Cincin apa itu." Tanya Bima sambil menarik tangan kakaknya. Menik langsung menyembunyikan tangannya di balik badannya. Bima menatap lekat wajah kakaknya. " Siapa yang memberikan cincin itu? Apa itu dari seorang pria?" Bima mengajukan pertanyaan beruntun. Menik terlihat gugup, dia tidak tau harus memulai dari mana. " Ini dari pak Kevin." Ucap Menik pelan. " Apa! Ini dari pria brengsek itu!" Bima marah. " Dia sudah minta maaf dan tanpa kita ketahui pak Kevin sudah membatalkan pertunangannya." Ucap Menik pelan. " Alah itu alasan dia saja agar bisa mempermainkan orang susah seperti kita." Ucap Bima emosi. Dia kembali melihat cincin di jari kakaknya. " Seorang pria tidak akan mudah memberikan sesuatu tanpa ada maksud di baliknya. Seperti cincin ini? Untuk apa dia memberi kakak cincin ini? Jangan bilang kakak sudah dilamarnya?" Menik menganggukkan kepalanya pelan. " Apa!" " Dimana harga diri kakak! Ketika di tendang kemudian dengan gampang menerimanya kembali." Ucap Bima emosi. " Kakak mencintainya Bim." Ucap Menik polos. " Makan itu cinta." Ucap Bima ketus. " Sampai kapanpun aku tidak akan menyetujui pertunangan ini. Dan aku tidak akan sudi jadi wali nikah kakak." Ucap Bima marah. " Bima jangan seperti itu, apa kamu tidak suka melihat kakak bahagia?" " Apa kakak bahagia dengan dia? Baru beberapa. minggu lalu kakak menangisi sikap pria itu dan sangat membencinya tapi kenapa dengan cepat langsung menerimanya?" Bima masih kesal dengan keputusan kakaknya. " Kakak mencintainya." Ucap Menik sambil memegang tangan adiknya. " Terserah sampai kapanpun aku tidak merestui hubungan kalian. Dan jangan harap kalian bisa menikah sebelum dapat restu dariku. Bilang sama dia langkahi dulu mayatku baru kalian boleh menikah." Bima keluar apartemen sambil membanting pintu dengan cukup keras. " Vote, like dan komen ya, terimakasih." ig. anita_rachman83 Chapter 382 episode 381 (S2) Kevin kembali ke rumahnya, nyonya Paula menyambut kedatangan anaknya. " Bagaimana keadaan kamu nak." Tanya wanita paruh baya itu. " Baik ma." Kevin mengecup pipi mamanya. Kemudian dia melangkahkan kakinya menaiki anak tangga. " Vin, apa kamu sudah bertemu dengan calon menantu mama." Kevin berhenti dan membalikkan badannya, dia menuruni anak tangga kembali. " Mama tau? Aku sudah melamarnya. Dan dia menerimanya." Ucap Kevin senang. " Serius kamu nak? Kapan kamu membawanya kesini." " Aku akan menghubunginya." Kevin pergi menjauh dan mencari nama Menik dalam daftar kontaknya. " Sialan, ini kan nomor yang lama, mana aku tidak tanya nomor yang baru. Alamatnya saja tidak aku tanya. Ah dasar ." Gerutu Kevin sambil menggaruk rambutnya. Kevin melupakan sesuatu untuk menanyakan alamat tempat tinggal dan nomor ponsel Menik, karena dia terlalu senang jadi melupakan akan hal itu. Nyonya Paula memperhatikan anaknya yang kesal. " Ada apa Vin?" " Aku lupa menanyakan alamat dan nomor ponselnya." Ucap Kevin. " Bagaimana bisa kamu melupakan hal itu? Terus bagaimana kalian bisa bertemu lagi." " Itulah ma, aku pun baru sadar ketika mama menanyakannya." Kevin merutuki dirinya yang ceroboh. " Ah, ini sama saja aku melamar dengan wanita kasat mata." Gerutu Kevin. " Maksud kamu apa Vin?" " Bagaimana aku bisa menemuinya? alamatnya tidak ada belum lagi nomor ponselnya. Pertunangan seperti apa ini?" Gerutu Kevin lagi. " Sabar nak, mungkin nanti dia akan menghubungimu." Ucap nyonya Paula menenangkan anaknya. Kevin pergi ke kamarnya. Dia butuh istirahat yang cukup untuk melanjutkan aktivitasnya besok. Pagi hari Kevin sudah bergegas pergi ke rumah Ziko. Sesampainya di rumah itu dia di sambut Zira. " Pagi Kevin." Sapa Zira " Pagi juga nona." Ucap Kevin. Kevin duduk di beranda depan, sambil menunggu Ziko bersiap, dia memanfaatkan untuk bertanya tentang keberadaan Menik kepada Zira. " Nona, bagaimana anda bisa menemukan Menik?" " Maksud kamu apa?" " Pasti nona yang mengundang Menik untuk ikut berlibur dengan kita." Tebak Kevin. " Iya, memangnya kenapa?" Ucap Zira. " Berarti nona tau tempat tinggalnya dan nomor ponselnya." Tebak Kevin lagi. " Iya, aku tau." Ucap Zira singkat. " Boleh saya minta alamat dan nomor ponselnya." Tanya Kevin. " Usaha dong." Ucap Zira sambil meninggalkan Kevin sendirian. Ziko sudah selesai, dia langsung bergegas pergi dengan asistennya. Sebelum berangkat tidak lupa dia mengecup istrinya. Di mobil Kevin mencoba bertanya kepada bosnya. " Tuan, apa anda tau nomor ponsel Menik dan alamatnya." Ziko melihat asistennya dengan tatapan penuh tanda tanya. " Untuk apa aku menyimpan nomor ponselnya." Tanya Ziko balik. " Ya, mana tau nona Zira pernah bercerita tentang alamat rumahnya Menik dan nomor ponselnya." " Enggak, lagian untuk apa dia bercerita kepadaku. Memangnya kenapa?" " Saya kehilangan jejak Menik. Saya lupa menanyakan nomor ponsel dan alamatnya." " Buahahaha." Ziko tertawa senang. " Kenapa tuan tertawa senang seperti itu." Tanya Kevin. " kamu pelihara. Bagaimana ceritanya, baru saja lamaran tapi sosoknya tidak di ketahui, sebenarnya kamu itu melamar manusia apa hantu." Ejek Ziko. Kevin tersenyum kik kuk, memang ada benarnya apa yang di katakan bosnya. Saking senangnya dia memelihara begonya. Zira sudah berada di dalam mobil pelanginya, dan melajukan kendaraan itu menuju apartemen Menik. Ketika sampai di depan loby apartemen dia menghubungi nomor wanita itu. Wanita itu langsung bergegas untuk turun kebawah, dia tidak mau membuat Zira menunggu lama. " Maaf nona." Ucap Menik. " Apa kamu sudah siap." Tanya Zira. Menik menganggukkan kepalanya, Zira langsung menekan pedal gas dan menuju perusahaan kosmetik. Sesampainya di perusahaan itu, mereka di sambut baik oleh pihak perusahaan. Pihak perusahaan menyerahkan kontrak kerja kepada Menik. Di situ tertulis dalam dua bahasa yaitu bahasa Inggris dan bahasa Indonesia. Menik akan jadi brand ambasador untuk produk wardinah dalam jangka waktu satu tahun. Dan dia harus memenuhi ketentuan dan syarat-syarat yang di sebutkan pihak perusahaan, salah satunya tidak boleh menerima kontrak kerjasama dengan perusahaan yang lain dalam jenis produk sejenis. Jika dia menerima kontrak kerjasama dengan perusahaan kosmetik lain, maka dia akan membayar denda sebesar 5 miliar. Menik membelalakkan matanya melihat nilai nominal yang di sebutkan di situ. " Nona, besar sekali dendanya." Ucap Menik berbisik. " Justru dari situ kamu jangan sembarangan menerima kontrak kerjasama, kalau tidak kamu akan di denda." " Baik nona, ini saja saya sudah sangat bersyukur." Ucap Menik senang. Setelah penandatanganan kontrak, Menik di minta pihak perusahaan untuk melakukan beberapa foto, yang mana foto itu akan di gunakan produk kosmetik. Menik sedang bersiap-siap di ruang ganti, dia mengenakan pakaian yang telah di siapkan pihak perusahaan. Dan seorang make up artis mengoles wajah Menik agar menampilkan riasan yang sempurna. Pihak foto grafer memberikan arahan kepadanya dari gaya sampai arah pandangan. Proses pemotretan itu berlangsung cukup lama. Setelah mendapatkan hasil yang sempurna Menik di arahkan ke perusahaan lain. Perusahaan yang harus di kunjungi Menik adalah perusahaan iklan, yang mana wajahnya Menik akan seliweran di layar kaca. Dan untuk melakukan iklan itu, dia harus berakting sesuai arahan sutradara. Setelah melakukan beberapa kali pengulangan akhirnya Menik bisa dengan luwes melakukan syuting iklan itu. Dan syuting itu akan muncul di layar kaca televisi. Setelah menghabiskan waktu yang cukup lama, akhirnya mereka kembali pulang. Selama dalam perjalanan pulang Menik banyak bersyukur, bukan karena bayarannya yang fantastis tapi karena ada sosok Zira yang seperti malaikat untuk kehidupannya. " Nona, saya mengucapkan banyak terimakasih. Karena nona saya bisa mendapatkan pekerjaan." Ucap Menik pelan. " Sama-sama Nik, kamu sebentar lagi akan jadi artis, tapi ingat ketika kamu berada di atas jangan lupakan masa sulit kamu. Intinya jangan sombong selalu rendah hati." Ucap Zira mengingatkan. " Iya nona, saya akan mengingat pesan dari nona." " Apa kamu sudah memberitahukan hal ini kepada adikmu." Tanya Zira. " Sudah." Ucap Menik singkat. " Apa Kevin juga sudah tau?" Menik menggelengkan kepalanya. " Kapan kamu memberitahukan hal ini kepadanya." Tanya Zira lagi. Menik menggelengkan kepalanya lagi. " Apa kamu ada masalah." Tanya Zira. " Saya tidak tau hubungan kami akan berlanjut atau tidak." Ucap Menik pelan sambil melihat cincin berlian di jari manisnya. " Apa maksudmu?" " Bima tidak merestui hubungan kami, dia sangat membenci pak Kevin." " Pasti dia punya alasan yang kuat sampai bisa membenci Kevin seperti itu. Menik menceritakan penyebab Bima marah dan membenci Kevin. " Awal mula Bima merestui hubungan kami, tapi setelah dia tau kalau pak Kevin akan bertunangan dan dia melihat saya menangis. Dia menjadi marah dan sangat membenci pak Kevin." " Wajar dia membencinya. Itu bentuk rasa sayang seorang adik kepada kakaknya. Kamu tidak boleh menyalahkannya. Tapi kamu memberikan pengertian kepadanya. Kalau perlu ajak Kevin untuk meyakinkan Bima. Secara Kevin yang telah menghilangkan rasa percaya dan simpati Bima kepadanya." " Like, komen dan vote yang banyak ya, terima kasih." ig. anita_rachman83 Chapter 383 episode 382 (S2) Sudah tiga hari Kevin tidak menemukan keberadaan Menik. Wanita itu seperti hilang di telan bumi. Segala cara sudah di cobanya untuk bertanya kepada Zira tentang keberadaan Menik. Tapi sama sekali Zira tidak mau membantu Kevin. Dia sudah berada di depan rumah bosnya, menunggu di beranda merupakan hal yang rutin di lakukannya. " Pagi nona." Sapa Kevin. " Pagi Vin." " Nona saya mohon dengan sangat beri informasi keberadaan Menik. Apa nona tidak kasihan sama saya. Calon istri saya tidak tau di mana rimbanya." Ucap Kevin. " Buahahaha, rimba? Kamu kira calon istrimu hewan." " Itu istilah saja nona." Ucap Kevin. Zira tidak mau memberitahukan keberadaan Menik. Karena menurutnya Kevin akan mengetahui sendiri. Setelah Ziko bersiap, keduanya pergi meninggalkan Zira menuju gedung Raharsya group. Selama perjalanan Kevin banyak diam, dia malas untuk berbicara. " Kamu kenapa?" Ziko memperhatikan asistennya yang banyak diam. " Saya bingung tuan, Menik tidak bisa di temukan. Segala cara sudah saya coba untuk merayu nona Zira, tapi nihil." Gerutu Kevin. " Terus apa yang kamu lakukan." Tanya Ziko. " Berdoa." Ucap Kevin singkat. " Berdoa?" Ziko bingung. " Ya berdoa agar nona Zira mendapatkan hidayah." Ucap Kevin. Bukk, Ziko memukul kursi belakang Kevin. " Kamu pikir istriku berada di jalan yang sesat." Gerutu Ziko. " Enggak tuan, saya berdoa semoga nona dapat hidayah agar membuka hatinya untuk membantu saya." Mereka berangkat ke kantor tidak terlalu pagi, jadi kendaraan yang berada di jalan raya tidak terlalu padat. Sepanjang jalan banyak pedagang kaki lima yang sudah mulai menjajakan dagangannya Ada beberapa papan iklan di sepanjang jalan dan tiba-tiba Kevin mengerem mendadak. Ziko langsung memukul lengan asistennya. " Kenapa kamu mengerem mendadak." Ucap Ziko kesal. " Maaf tuan, ada semut lagi menyebrang." Ucap Kevin asal. Dia masih memperhatikan papan iklan yang ada di seberang jalan. Dia mau memastikan penglihatannya tidak salah. " Tuan coba anda perhatikan papan iklan di sana." Kevin menunjuk kearah seberang jalan. " Yang mana?" Ziko memperhatikan arah tangan Kevin. " Itu seperti Menik." Ucap Kevin lagi. " Ah mata kamu katarak. Mana mungkin si Menik bisa secantik itu. Sudah jalan jangan kelamaan berhenti nanti kita bisa kena tilang."Ucap Ziko. Kevin menekan kembali pedal gas. Walaupun ada rasa penasaran dengan papan iklan itu, tapi dia tetap menjalankan mesin mobil. Kemudian pada saat traffic light ada muncul videotron yang menampilkan iklan sebuah kosmetik yang modelnya wanita yang sama di papan iklan. Model itu mengatakan dalam videotron tersebut " Cantikku sepanjang hayat." Dan di akhir video iklan tersebut ada sebuah tanda tangan yang jika di baca bertuliskan nama Samudera. " Tuan, itu Menik." Ucap Kevin semangat. " Mana?" Ziko melebarkan pandangannya ke sepanjang jalan. " Enggak ada." Ucap Ziko singkat. " Bukan di jalan tapi di atas itu." Ucap Kevin menunjuk kearah videotron. Ziko melihat video tersebut yang mana di tayangkan secara berulang-ulang. " Ah salah kamu." " Benar tuan, di akhir video nanti ada namanya Menik." Ucap Kevin lagi. Video itu di ulang lagi, Ziko melihat video itu sampai habis. " Mana ada nama Menik di situ, tapi hanya tanda tangan yang bertuliskan Samudera." Ucap Ziko. " Tuan, nama panjang Menik bukannya Samudera Nuansa Pagi." Ucap Kevin mengingatkan. " Iya juga, ngapain dia di atas sana, suruh turun nanti jatuh, Vin" Ucap Ziko asal. " Bagaimana mau turun, enggak ada tangganya tuan." Jawab Kevin asal. Setelah lampu berwarna hijau, mobil langsung melaju. Selama perjalanan Kevin memikirkan tentang Menik. " Tuan, bagaimana mungkin Menik bisa jadi seorang model." Ucap Kevin. " Mana aku tau, tapi kenapa dia bisa jauh berbeda seperti itu ya. Tidak ada kelihatan mantan cleaning service yang ada malah seperti wanita bangsawan." Ucap Ziko. Mobil yang di kendarai Kevin sudah sampai di gedung Raharsya grup. Mereka bersama-sama naik lift khusus presiden direktur, kemudian berpisah ketika sudah sampai di lantai ruangan mereka. Ziko menuju ruangannya begitupun dengan Kevin. Karena liburan itu menyebabkan pekerjaan mereka menumpuk. Pintu di ketuk. Ketika ada titah dari Ziko untuk masuk, Koko langsung masuk ke ruangan bosnya. Dia menyerahkan beberapa berkas yang akan di tanda tangani bosnya. " Bos, ada yang mau bertemu dengan anda." Ucap Koko. " Siapa?" " Vita." Jawab Koko singkat. " Vita, untuk apa dia kesini. Tapi di loby tadi tidak ada seorangpun tamu." Gumam Ziko pelan. " Bagaimana bos." Tanya Koko lagi. Ziko melihat pekerjaannya yang menumpuk. " Semoga dia tidak berlama-lama di sini. Ya sudah suruh masuk." Ucap Ziko. Koko kembali ke meja kerjanya dan menghubungi resepsionis. Selang lima belas menit ada seorang wanita berdiri di depan meja kerja Koko. " Selamat siang, saya mau bertemu dengan Ziko." Ucap Vita ramah. " Selamat siang, mari." Ucap Koko ramah mempersilahkan Vita untuk mengikutinya. Setelah dapat izin dari Ziko, Vita langsung masuk kedalam ruangan itu. " Siang Ziko." " Silahkan duduk." Ucap Ziko. Vita menarik kursi dan duduk di depan meja kerja Ziko. " Ada apa Vit?" Vita mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya dan menyerahkannya ke hadapan Ziko. " Apa ini." Ziko mengambil kertas itu dan membacanya. " Ini undangan pernikahan kamu?" Ucap Ziko. Vita menganggukkan kepalanya. " Tiga hari lagi acara pernikahanku dan aku harap kamu bisa hadir bersama dengan Zira." " Baiklah aku akan datang bersama dengan istriku. Selamat untuk kalian berdua. Tapi kenapa harus kamu yang mengantarkan undangan ini. Bukannya beberapa hari lagi pernikahanmu, dan tidak baik jika calon pengantin wanita berkeliaran di jalan." Ucap Ziko. " Aku tidak berkeliaran Ko, setelah dari sini aku langsung balik. Beberapa hari yang lalu aku kesini, tapi resepsionis bilang kamu sedang pergi cuti, benarkah?" " Oh iya, aku pergi berlibur bersama dengan Zira." Ucap Ziko. " Tapi kamu bisa menitipkan undangan ini kepada resepsionis jadi tidak perlu kamu harus bolak balik kesini." " Tidak apa-apa Ko, aku memang ingin langsung mengantarkan undangan ini kepadamu. Dan ini undangan untuk tante dan om. Dan yang ini untuk Kevin." Ucap Vita menyerahkan beberapa undangan kepada Ziko. " Baiklah Ko, aku harus balik. Semoga kalian semua bisa hadir di acara pernikahanku." Ucap Vita. Ziko menganggukkan kepalanya. " Semoga semuanya berjalan lancar sampai hari H, dan kamu jaga kesehatan. Salam untuk calon suamimu." Ucap Ziko. Ziko dan Vita saling bersalaman. Kemudian Ziko memeluk Vita layaknya seorang teman. " Aku harap pernikahan kamu bahagia sampai maut memisahkan kalian. Aamiin." Ucap Ziko kemudian melepaskan pelukannya. Tanpa sengaja bulir air mata Vita menetes, dia sangat terharu mendengar sebuah doa dari teman masa kecilnya. " Terima kasih atas doanya." Vita keluar dari ruangan Ziko, dan berhenti di depan meja kerja Koko. Dia menyerahkan kartu undangan kepada pria itu. " Apa ini." Tanya Koko. " Kartu undangan pernikahanku, walaupun aku belum terlalu mengenalmu tapi aku harap kamu mau datang." Ucap Vita menyerahkan sebuah undangan langsung ke tangan Koko. Kemudian dia pergi meninggalkan gedung itu. " Jangan lupa vote ya, soalnya rangkingnya turun lagi nih." Chapter 384 episode 383 (S2) Kevin mengetuk pintu ruangan bosnya. " Masuk." " Tuan alpha corporate dalam beberapa hari akan datang, mereka akan survei keperusahaan kita, sekaligus penadatanganan kontrak kerjasama." Ucap Kevin. Ziko yang tadinya serius dengan berkas-berkasnya langsung menatap asistennya. " Kapan?" " Mungkin tiga atau empat hari lagi." Ucap Kevin. " Persiapkan semua kontrak kerjasama, jangan mengecewakan mereka." Ucap Ziko. " Baik tuan." " Tunggu, ini punya kamu." Ucap Ziko menyerahkan undangan kepada Kevin. " Apa ini?" " Baca! Jangan tanya terus." Ucap Ziko ketus. Kevin membaca undangan itu. " Tuan ini Vita mantan anda?" " Enggak usah di pertegas gitu kenapa?" Ucap Ziko malas. " Hehehe." Kevin tertawa. " Tuan saya harus menemukan Menik." Ucap Kevin semangat. " Memangnya kenapa?" " Di sini tertulis Kevin dan patner, berarti saya harus membawa pasangan untuk ke acara pernikahan ini." Ucap Kevin sambil menunjuk kartu undangan kepada Ziko. " Dari mana kamu mau mencarinya?" " Sepertinya dari perusahaan kosmetik itu, saya yakin pasti perusahaan itu tau informasi mengenai Menik. Nanti saya izin keluar sebentar." Ucap Kevin. " Hemmm, tapi jangan buat rusuh di sana." Ucap Ziko. Setelah membereskan pekerjaannya Kevin pamit kepada Ziko, dia langsung menuju perusahaan kosmetik tersebut. Sesampainya di loby Kevin bertemu dengan resepsionis tapi di sekeliling bangunan itu banyak gambar Menik yang sengaja di pajang di situ. " Saya mau bertemu dengan penanggung jawab perusahaan ini." Ucap Kevin " Kalau boleh tau bapak siapa? Dan ada keperluan apa dengan direktur kami." Tanya seorang wanita yang bekerja sebagai resepsionis. " Itu calon istri saya." Kevin menunjuk kearah dinding. " Maksud bapak dinding?" Tanya resepsionis. " Bukan dinding! Model kosmetik itu maksud saya." Ucap Kevin kesal sambil menunjuk kearah gambar Menik. " Oh mbak Samudera. Bapak tunggu dulu di sini, saya akan memberitahukan hal ini kepada atasan.'' Wanita itu pergi meninggalkan Kevin sendirian, dia menunggu dengan duduk di atas sofa. Tidak berapa lama ada sosok wanita yang sangat di kenalnya. " Nona ngapain di sini." Tanya Kevin bingung. " Lah kamu ngapain di sini." Zira bertanya balik. Zira buru-buru masuk ke dalam perusahaan itu. Dan Kevin mengikutinya. " Nona tunggu. Kenapa anda bisa masuk ke dalam perusahaan ini dengan gampang, atau jangan-jangan nona yang merencanakan semua ini." Ucap Kevin sambil mengikuti langkah Zira. " Rencana apa?" Zira terus menghindar tapi Kevin terus mengikuti langkahnya. " Menik di mana." Tanya Kevin. " Menik tidak ada." Ucap Zira gugup. Ada seseorang yang mendekati Zira. " Nona, mbak Samudera sudah selesai pemotretan." Zira dan Kevin saling pandang. " Nah betul, Menik ada di sini." " Nanti saya kesana." Ucap Zira kepada wanita yang baru menemuinya. Wanita itu pergi meninggalkan Kevin dan Zira. " Menik memang di sini. Dan yang menjadikannya seorang model adalah aku." " Saya tidak setuju, seharusnya dia minta persetujuan kepada saya. Dimana Menik sekarang." Zira membawa Kevin menuju satu ruangan dan di dalamnya ada banyak orang dari fotograper sampai makeup artis ada disana. Menik sedang di ruang ganti. Kevin melihat sekeliling ruangan itu, dan tidak berapa lama Menik keluar dari ruang ganti dengan mengenakan pakaian yang biasa. " Menik." Ucap Kevin langsung memeluk Menik " Kamu seperti tidak bertemu satu tahun saja, langsung nyosor. Ngebet banget mau kawin." Sindir Zira. " Batalkan semuanya." Ucap Kevin tegas. " Apanya? Pertunangan kita?" " Bukan, kontrak kerjasama dengan perusahaan ini." " Tidak bisa pak, nanti saya kena denda." Ucap Menik pelan. " Berapapun dendanya akan saya ganti." Ucap Kevin marah. Semuanya yang ada di situ memperhatikan mereka. " Bapak kecilkan suaranya, aku malu." Ucap Menik pelan. " Kenapa harus malu, saya adalah calon suami kamu." Ucap Kevin dengan suara yang menggelegar. " Vin, enggak usah di proklamirkan di sini. Nanti saja hari senin kamu proklamirkan hubungan kalian di depan anak sekolah yang sedang upacara." Ucap Zira. " Mari kita temui direktur perusahaan ini kalau perlu bertemu dengan ceo nya." Ucap Kevin sambil menarik tangan Menik. " Pak jangan, saya suka dengan pekerjaan ini." Ucap Menik pelan. " Bapak? Saya bukan bapakmu, panggil sayang!" Perintah Kevin. Zira yang mendengar itu rasanya ingin muntah. Menik masih malu untuk memberi panggilan kepada Kevin dengan kata sayang. " Hey, tunjukkan ruangan direktur kalau perlu ceo perusahaan ini." Perintah Kevin kepada para pekerja yang ada di ruangan pemotretan. Mereka melihat kearah Zira dan Menik, seperti minta persetujuan dari dua wanita itu. Zira menganggukkan kepalanya. " Ikuti saya." Ucap seorang wanita Kevin menggenggam tangan Menik cukup erat, terlihat sekali kalau dia tidak ingin melepaskan wanita itu. Tapi wanita itu sudah sangat takut, dia tidak tau apa yang akan di perbuat Kevin di ruangan direktur. Mereka sampai didepan ruangan direktur, wanita tadi menemui sekertaris yang sedang duduk di tempat kerjanya. Dia menyampaikan maksud dan tujuan Kevin ingin bertemu dengan direktur perusahaan. " Tunggu sebentar." Ucap sekertaris dan masuk keruangan bosnya. Tidak berapa lama sekertaris itu keluar lagi dan mempersilahkan ketiganya untuk masuk ke dalam ruangan bosnya. Mereka masuk kedalam ruangan itu. " Silahkan duduk semuanya." Ucap direktur perusahaan yang berjenis kelamin pria. Mereka menarik kursi dan langsung duduk. " Ada yang bisa kami bantu nona Zira." Ucap pria itu. Kevin langsung memotong pembicaraan. " Saya ingin membatalkan kontrak kerjasama antara calon istri saya dengan perusahaan bapak." Ucap Kevin tegas. " Apa bapak yakin? Kami akan memberikan penalti kepada siapapun yang melanggar kontrak kerjasama, bukan hanya itu semua fasilitas yang kami berikan akan kami tarik dengan pajak 100 persen full." Ucap direktur perusahaan. Menik membelalakkan matanya, dia sudah bisa membayangkan banyaknya angka nol yang akan di bayarkan. " Berapapun akan saya bayar penalti itu." Ucap Kevin tegas. Pria itu menghubungi seseorang dengan telepon yang ada di meja kerjanya, tidak berapa datang seorang wanita dengan membawa sebuah map. Wanita itu meletakkan di atas meja direktur. Direktur langsung membaca kontrak kerjasama antara Menik dengan perusahaan tersebut. " Di sini denda yang harus bapak bayar hanya lima triliyun." Ucap pria itu. " Apa!" Ucap keduanya secara bersamaan tapi Zira terlihat santai dengan memainkan jari-jarinya. " Lanjut saja pak, saya tidak mau membatalkan kontrak kerja sama ini." Ucap Menik. " Batalkan, saya sanggup membayarnya." Ucap Kevin tegas. " Pak, pikirkan lagi, uang segitu bukannya sedikit. Saya tidak mau di salahkan sama keluarga bapak." Ucap Menik takut. " Bapak?" Kevin memberikan tatapan yang mengintimidasi. " Sa-" Menik masih belum melanjutkan kalimatnya tapi sudah di potong Zira. " Sayur." Ucap Zira singkat. Menik tidak melanjutkan kalimatnya lagi. " Pikirkan dengan bijak pak, menurut saya nona Samudera tidak melakukan hal-hal yang memalukan, dia hanya jadi model dari kosmetik kami." Ucap direktur. " Tapi saya tidak suka wajahnya di tatap orang lain." Ucap Kevin. Zira menggelengkan kepalanya. " Vin, Vin, belum menikah tapi kamu sudah over posesif apalagi sudah menikah. Mungkin si Menik akan kamu bingkai dan di pajangkan di dinding kamar." Sindir Zira. Kevin tidak menghiraukan sindiran Zira. " Apa boleh dendanya di hapus? Bayaran yang kemaren masih utuh di rekening. Saya bisa mengembalikannya." Ucap Menik. " Maaf tidak bisa." Ucap direktur itu. Kevin menghitung aset yang di milikinya, jika di uangkan memang cukup tapi dia harus menjual rumah dan usaha-usahanya yang lain. " Apa tidak ada pengurangan." Tanya Kevin. Pria di depan Kevin menggelengkan kepalanya. " Apa anda pemilik dari perusahaan ini." Tanya Kevin. " Bukan, saya hanya pekerja di sini." Ucap pria itu. " Temukan saya dengan pemilik perusahaan, saya mau negosiasi dengan presiden direktur." " Apa anda yakin mau bertemu dengannya." Ucap pria itu. " Iya saya yakin." Ucap Kevin mantap. " Like, komen dan vote yang banyak ya." Chapter 385 episode 384 (S2) " Dimana ruangan presiden direktur?" " Ada di lantai atas, nanti sekertaris saya bisa mengantarkan anda. Tapi sebelumnya saya mau menanyakan anda perihal pembatalan kontrak kerjasama ini. Apa anda yakin mau membatalkan kontrak ini?" Ucap direktur. " Iya saya yakin." " Tapi sebaiknya anda membaca kontrak kerjasama yang telah di tanda tangani nona Samudera dengan perusahaan kami. Dan di sini legal karena ada materai dan di bubuhi tanda tangan kedua belah pihak. Jadi akan sia-sia kalau bapak minta negosiasi penalti." Ucap direktur. " Itu hanya pemikiran bapak saja. Dan saya belum juga mencobanya. Mana ruangannya." Ucap Kevin. " Baiklah kalau bapak memaksa." Pria itu menghubungi sekertarisnya. Beberapa menit kemudian wanita itu datang. " Antarkan keruang tunggu." Perintah pria itu. " Saya bukan mau ke ruang tunggu tapi mau keruangan presiden direktur." Ucap Kevin. " Ya, anda tunggu dulu di sana. Karena tidak sembarangan orang bisa masuk ke dalam ruangan itu." Ucap pria itu menjelaskan. " Sudahlah, kita jangan berdebat." Ucap Menik. Mereka keluar ruangan bersama-sama dan berjalan mengikuti sekertaris itu. " Silahkan tunggu di dalam." Ucap wanita tadi. " Nona sebaiknya anda tidak usah ikut. Biar saja saya dan Menik yang masuk." Ucap Kevin melarang. " Apa kamu tidak membutuhkan pertolongan pasukan avengers?" Ucap Zira. " Pasukan avengers hanya bisa membasmi kejahatan, mereka tidak tau menahu tentang surat menyurat." Ucap Kevin. " Ok lah kalau begitu." Kevin dan Menik masuk ke dalam ruang tunggu. Seorang wanita anggun dan cantik datang menemui mereka. " Saya mau membatalkan kontrak kerjasama antara calon istri saya dengan perusahaan anda." Ucap Kevin langsung. Wanita yang masih berdiri itu bingung, dia belum duduk dan belum menjelaskan apapun sudah dicerca pertanyaan tentang kontrak. " Tunggu, saya bukan pemilik perusahaan ini.Saya hanya mewakili beliau. Jika ada yang ingin anda keluhkan bisa melalui saya." Ucap wanita itu. " Saya tidak mau ada perwakilan, antarkan saya ke ruangannya." Ucap Kevin. " Baik saya akan membuat keluhan kalau perusahaan ini seperti rentenir. Meraup keuntungan terlalu besar." Ucap Kevin marah. " Maaf perhatikan perkataan anda. Anda bisa kami jerat dengan pasal merusak nama baik perusahaan kami." Ucap wanita itu tegas. " Pak sudahlah, saya malu. Bapak tau baru sekali ini saya dapat gaji yang sangat besar." Ucap Menik berbisik. Kevin melotot kearah Menik, dia tidak suka di panggil bapak. " Kalau kamu sudah menikah, semua gaji saya untukmu." Ucap Kevin. Kevin beranjak dari tempat duduknya. " Anda mau kemana?" Tanya wanita tadi. Kevin mencari ruangan presiden direktur. Dia menelusuri setiap lorong. " Anda tidak di izinkan berkeliaran di sini. Sebaiknya bapak tunggu di sana. Kalau tidak akan saya panggil sekuriti." Ancam wanita itu. Kevin tidak menghiraukan ucapan wanita itu, dia menyusuri setiap lorong sambil memegang erat tangan Menik. Wanita itu langsung menghubungi bagian keamanan. Mereka sudah tiba di depan ruangan presiden direktur. " Pak, jangan." Menik menahan tangan Kevin agar tidak masuk ke dalam ruangan presiden direktur. Tapi Kevin tetap membuka ruangan itu. Di dalam ruangan itu ada empat orang yang satu direktur perusahaan itu dan dua lagi Kevin tidak mengenalnya. Tapi ada yang aneh dengan pemandangan itu. Dia mana Zira ikut duduk di antara ketiga orang itu. " Nona apa yang anda lakukan di dalam ruangan ini." Tidak berapa lama pintu dibuka, wanita tadi datang dengan membawa beberapa orang sekuriti. " Itu orangnya." Ucap wanita itu. Sekuriti langsung memegang kedua lengan Kevin dan memaksa menariknya keluar ruangan. " Lepaskan mereka bersama saya." Ucap Zira. Tiga orang yang berada di dalam ruangan itu, menggerakkan tangannya memerintahkan sekuriti untuk melepaskan Kevin. " Silahkan duduk." Ucap seorang wanita paruh baya. Kevin dan Menik duduk diatas sofa yang di tunjuk wanita paruh baya itu. " Saya mau bertemu dengan presiden direktur." Ucap Kevin lantang. " Saya tau maksud kedatangan anda kesini. Nona Zira sudah memberitahukan hal itu kepada kami. Tapi keputusan kami telah bulat. Kontrak tidak dapat diperbaharui ataupun di batalkan. Tapi jika anda memaksa ada alternatif lain." " Apa itu." Tanya Kevin. " Anda tidak perlu membayar apapun kepada perusahaan ini dan nona ini tidak menjadi brand ambasador perusahaan kami tapi dengan syarat anda masuk penjara. Bagaimana?" " Apa! Bisa-bisanya kalian menyulitkan kami." Gerutu Kevin. " Kami tidak mempersulit tapi anda yang mempersulit diri anda sendiri. Ini hanya iklan kosmetik tidak menunjukkan bentuk tubuh." " Ini ada dua surat kontrak, surat yang pertama nona Samudera tidak jadi model kami tapi anda harus membayar sebesar lima triliyun. Dan ini surat kedua yang menyatakan kalau anda akan di penjara tapi nona Samudera tidak terikat kontrak sama sekali dan tidak perlu ada penalti." Ucap wanita paruh baya itu. Semuanya membuat Kevin bingung, dia membuka setiap lembar perjanjian itu di mana bertuliskan dalam bahasa inggris. Di bagian terakhir ada nama Menik dan tempat untuk tanda tangan dan di sebelahnya ada nama ZK. Amrin dan bertuliskan presiden direktur. Dia mencoba mengingat nama belakang presiden direktur. Kemudian matanya menatap kejadian yang aneh lagi, dimana ketiga orang yang berada di ruangan itu terlihat cukup segan dengan Zira. " Saya tau, nona Zira pemilik dari perusahaan ini." Ucap Kevin. Ketiga orang itu langsung menoleh kearah Kevin. Begitupun dengan Menik, dia tidak percaya dengan ucapan Kevin. " Nona jangan bersembunyi lagi, ini semua punya anda kan?" Ucap Kevin. " Sudah tau masih tanya." Ucap Zira enteng. " Nona kenapa anda mempersulit saya." Rengek Kevin. Zira memerintahkan ketiga orang itu untuk meninggalkan ruangannya. " Siapa yang mempersulit? Bukannya kamu yang mempersulit keadaan. Sudah tau Menik senang dengan pekerjaan ini, tapi kamu malah melarangnya." Ucap Zira tegas. " Apa kamu tau kalau nona Zira pemilik dari perusahaan ini." Tanya Kevin ke Menik. Menik menggelengkan kepalanya. " Apa tidak ada yang mencurigakan selama kamu bekerja sama dengan perusahaan ini." Tanya Kevin. " Tidak ada kami di perlakukan sama dengan yang lainnya tapi kalau para direktur sangat memperlakukan kami dengan baik." Ucap Menik. " Itu salah satu buktinya. Tidak mungkin kamu langsung bisa di terima jadi model tanpa melalui proses." Kevin melihat kearah Zira. " Nona bisa anda batalkan semua kontrak ini." Rengek Kevin. " Bisa kamu mau pilih yang mana? Masuk penjara atau bayar lima triliyun." Ucap Zira tegas. " Nona jangan seperti ini, anda sudah mengenal saya." " Justru itu, aku ingin Menik jadi model kosmetik perusahaanku. Untuk apa coba aku pilih Menik? Bisa saja aku pilih model yang punya jam terbang panjang. Tapi aku tidak mau memilih model yang lain, karena Menik itu berbeda, bukan hanya karakternya yang aku suka tapi perjuangan hidupnya. Bersama dengannya aku seperti berkumpul dengan para pasukan optimus prime." Ucap Zira. Kevin mulai angkat tangan kalau sudah di sebutkan hal-hal yang berbau super hero dia tidak akan bisa mengalahkannya. " Sebelum kalian menikah, biarkan dia berkarir menikmati masa mudanya. Menikmati hasil jerih payahnya, tapi setelah menikah dia sepenuhnya milikmu." Ucap Zira. Kevin dan Menik seperti mendapatkan sebuah wejangan dari Mario Runtuh. Adem enak di dengar dan langsung tepat kesasaran. " Like, komen dan vote yang banyak ya, terimakasih." ig. anita_rachman83 Chapter 386 episode 385 (S2) " Nona sebenarnya berapa banyak kekayaan anda." Tanya Kevin. " Jangan kamu pusingkan kekayaanku, aku saja bingung berapa jumlahnya." Ucap Zira santai. " Apa tuan muda tau, kalau anda punya perusahaan ini." Tanya Kevin. " Enggak." Ucap Zira singkat. " Wah kalau tuan muda tau pasti beliau akan kena serangan jantung." Ucap Kevin. Menik melihat kearah keduanya terutama Kevin. " Jadi bagaimana? Apa saya masih bekerja di sini." Tanya Menik. " Masih." Ucap Zira tegas. " Nona?" Ucap Kevin. " Iya Kevin." Zira merapatkan giginya. Kevin tidak mempunyai keberanian untuk melanjutkan ucapannya. Menik menoleh kearah Kevin dan ada anggukan dari Kevin. Dia langsung bersorak gembira karena masih bisa meneruskan mimpi-mimpinya. " Karena ini perusahaan nona Zira jadi kamu masih bisa bekerja di sini. Lagian mana bisa aku mengalahkan pasukan autobot." Ucap Kevin. " Kalian kalau mau mengobrol jangan disini. Aku tidak mau jadi kecoa. Silahkan cari tempat yang tidak banyak di kunjungi orang." " Dimana tempatnya." Tanya Kevin. " Kuburan." Jawab Zira singkat. Kevin memanfaatkan kesempatan itu. Dia ingin mengobrol dengan calon istrinya. Ada suatu ruangan yang di dalamnya ada sofa dan meja. Zira memerintahkan keduanya untuk mengobrol disana. " Nik, berapa nomor ponsel kamu." Tanya Kevin. " Untuk apa pak." Ucap Menik pelan. " Bapak? Jangan panggil bapak, kesannya kita seperti bapak dan anak. Panggil sayang." Perintah Kevin. " Saya belum terbiasa memanggil dengan kata itu." " Maka biasakan." Menik menganggukkan kepalanya pelan. " Ayo katakan." Kevin mendekatkan kepalanya ke telinga Menik, dia ingin mendengarkan wanita itu mengatakannya. " Sa-sa." Menik gugup. " Kenapa lama sekali, sayang bukan sasa." Ucap Kevin mengulang kalimatnya. " Sayang." Ucap Menik cepat dan nyaris tak terdengar. " Apa?" Kevin meletakkan kembali telinganya kedekat Menik. " Udah tadi, mau minta nomor ponsel saya untuk apa." Ucap Menik mengalihkan pembicaraan. " Nik, selama tiga hari keberadaanmu tidak di ketahui. Kamu tau saya seperti kehilangan jejakmu. Ingin sekali saya ikut dalam acara si bolang, agar dapat bertualang untuk menemukan keberadaanmu." Ucap Kevin. Kevin menjulurkan tangannya di hadapan Menik. Dan dia menyambut tangan Kevin dengan bersalaman. " Bukan bersalaman. Ponsel kamu mana?" " Ada? Bapak mau apa dengan ponsel saya. Jangan bilang mau di ambil." " Bapak lagi? Cepat mana ponselnya." Kevin masih mengulurkan tangannya kearah Menik. Menik mengeluarkan ponselnya dari dalam tas, mengambil benda tipis itu dan menyerahkan kepada Kevin. " Ini ponsel dari siapa." Tanya Kevin. " Dari nona Zira." Jawab Menik. " Terus bagaimana ponsel yang kamu kembalikan itu?" " Bapak pakai saja." Jawab Menik santai. " Saya sudah punya ini." Ucap Kevin mengeluarkan ponselnya dari dalam saku. " Apa ponsel ini saya kembalikan sama nona Zira." Tanya Menik. " Jangan, bisa-bisa di cincang kita kalau mengembalikan itu." Ucap Kevin asal. " Cincang apa." Tanya Menik. " Di potong-potong jadi kecil." " Tapi kita bukan daging." " Ck, itu istilah Nik, kamu sudah belajar apa saja. Istilah seperti itu tidak tau." Gerutu Kevin. Kevin menekan nomornya melalui ponsel Menik. Setelah suara ponselnya berdering, dia mengembalikan ponsel Menik. Dan mencatat nomor itu dengan memberi nama calon istriku. " Kenapa kamu belum menyimpan nomor ponsel saya. Buat calon suami." Perintah Kevin. Menik mengikuti kemauan Kevin. " Akhirnya ponsel remote tv dimuseumkan." Ucap Kevin dengan senyum secerah mentari. " Enggak kok, masih ada disini." Menik mengambil ponsel remotenya dari dalam tas dan menunjukkan kepada Kevin. " Kamu sudah punya ponsel bagus kenapa yang buruk masih di bawa-bawa?" " Saya memang tidak menggunakan ponsel sabun ini, tapi dengan membawa ini, saya selalu mengingat masa sulit saya. Ponsel ini sebagai pengingat agar saya selalu rendah hati." Ucap Menik. " Oh." Kevin merasa terharu dia langsung memeluk Menik. " Apa yang bapak lakukan." Ucap Menik berusaha melepaskan pelukan Kevin. " Memelukmu, jangan gunakan kata bapak lagi. Kalau sudah punya anak kamu boleh memanggil saya dengan kata itu." Ucap Kevin masih memeluk Menik. " Di mana tempat tinggal kamu. Pulang kerja nanti saya mampir kesana." Ucap Kevin. Menik diam, dia bukan tidak mau mengatakan kepada Kevin, tapi dia khawatir Bima akan marah jika Kevin datang kekediaman mereka. " Kamu kok diam? Di mana tempat tinggal kamu." Ucap Kevin masih tetap memeluk Menik. " Kita janjian saja bagaimana?" Ucap Menik. " Kamu kenapa? Saya mau makan malam hasil olahan tanganmu." " Tapi." Menik diam sambil menundukkan Kevin mengangkat wajah calon istrinya dengan memegang dagunya. " Kenapa? Apa yang terjadi? Kenapa kamu murung seperti ini." Ucap Kevin. " Kalau saya berkata jujur apa bapak akan marah." Ucap Menik pelan. " Bapak lagi!" Kevin melonggarkan pelukannya. " Saya belum terbiasa." " Ya biasakan, tapi apa yang mau kamu bicarakan." " Ini tentang Bima." " Kenapa Bima?" " Dia tidak merestui hubungan kita." Ucap Menik pelan. " Kenapa? Apa karena masalah yang lalu?" Menik menganggukkan kepalanya. " Sebenci itu dia kepadaku." Ucap Kevin. " Dia tidak membenci anda cuma dia tidak suka dengan perlakuan bapak kepada saya. Jangan marah kepadanya, dia sangat menyayangi saya." Ucap Menik pelan. " Saya harus bicara kepadanya." Ucap Kevin tegas. " Jangan nanti kalian bertengkar." Kevin memegang bahu Menik. " Saya tidak mungkin berdiam diri, ini hanya kesalahpahaman saja. Biarkan saya bicara dengannya. Suka tidak suka dia harus menerima kenyataan ini." Ucap Kevin tegas. " Tapi, kalau kita tetap melanjutkan hubungan ini akan sia-sia saja. Bima tidak akan mau jadi wali nikah saya." " Tenanglah dia berbicara seperti itu karena emosi sesaat. Dan untuk meluruskan masalah ini, saya harus berbicara empat mata dengannya. Saya tidak mau melepaskan kamu lagi. Setelah dapat restu dari dia kita langsung urus pernikahan." " Secepat itu, apa tidak bisa tahun depan." Ucap Menik. " Enggak bisa, saya tidak mau kamu di ambil orang lain." Ponsel Kevin berdering. Dia buru-buru mengangkatnya. " Ya tuan." Ucap Kevin. " Kamu mau jadi model apa mau jadi asistenku!" Ucap Ziko tegas. " Keduanya tuan." " Apa!" " Tidak tuan, saya masih setia sama anda." Ucap Kevin. " Cih, mau muntah aku mendengar kamu berbicara seperti itu. Kamu seperti waria yang sedang merayu pria ganteng kaya dan gagah seperti aku." " Cepat balik ke kantor. Kalau dalam waktu tiga puluh menit tidak balik. Aku pastikan kamu akan jadi model." Ancam Ziko. " Model apa tuan." Tanya Kevin. " Model tusuk gigi." Ucap Ziko. Kemudian panggilan terputus. " Saya harus balik, kamu nanti pulang sama siapa?" Tanya Kevin. " Sama nona Zira." " Ya sudah hati-hati, nanti malam tunggu saya. Dan jangan lupa kirim alamatnya ke ponsel saya." Kevin hendak pergi meninggalkan Menik, kemudian dia berbalik lagi. Cup, dia langsung mengecup bibir Menik. Menik membelalakkan matanya. " Kenapa bapak terus mengecup bibir saya." Ucap Menik dengan pipi merah dan jantung yang berdetak kencang. " Saya belum minum vitamin hari ini. Dan saya baru mendapatkan vitamin c dari kamu. Tenang saja nanti kalau sudah menikah kecupan itu akan berubah menjadi ciuman panjang." Kevin keluar dari ruangan itu sambil tersenyum lebar, dia mendapatkan vitamin c, dan Menik yang mendengar itu langsung membayangkan yang tidak-tidak. " Like, komen dan vote yang banyak ya, terimakasih." ig. anita_rachman83 Chapter 387 episode 386 (S2) Kevin sudah tiba di gedung Raharsya Group. Dia langsung melangkahkan kakinya keruangan presiden direktur. " Siang bos." Sapa Kevin. " Sore!" Ucap Ziko ketus sambil menatap asistennya yang cengengesan. " Kamu kesambet setan apa?" Ucap Ziko ketus. " Setan cinta." Kevin duduk di sofa dengan mengangkat kakinya. Dia masih membayangkan bibir Menik yang manis. Ziko langsung melempar penanya kearah Kevin. Pria itu langsung kaget dan spontan berdiri layaknya seorang marinir. " Ah tuan mengganggu saja." Ucap Kevin. " Kamu di sini kerja bukan melamun." Ucap Ziko ketus. " Tuan seperti tidak pernah jatuh cinta saja." Kevin mengembalikan pena bosnya dan meletakkan di atas meja kerja. " Ternyata rasanya jatuh cinta seperti ini." Ucap Kevin. " Enggak usah pamer. Aku lebih berpengalaman dari kamu. Aku sudah sampai garis finish kamu masih di start." Ucap Ziko. " Ya tuan, saya tau anda memang pengalaman. Tapi anda akan terkejut kalau saya memberitahukan hal ini kepada anda." " Apa itu." Ziko penasaran. " Anda tau siapa pemilik dari perusahaan kosmetik itu?" " Wardinah lah." Ucap Ziko singkat. " Kalau tuan dapat menebaknya maka saya akan membelikan anda pena baru." " Pena? Aku bisa beli sendiri tidak perlu kamu sok baik. Para pekerjanya juga bisa aku beli." " Ya tuan, saya tau. Tapi anda bisa menebak tidak?" " Apa kita sekarang main tebak-tebakkan?" " Bisa di bilang seperti itu." Ucap Kevin. " Sudahlah aku tidak bernafsu main tebak-tebakkan. Kamu mau menginformasikan apa kepadaku." Ucap Ziko. " Ini tentang pemilik perusahaan kosmetik itu." " Apa yang punya perusahaan itu neneknya Menik dan selama ini dia cucu yang hilang." Ucap Ziko mendramatisir ceritanya. " Hampir mirip tuan, tapi ini bukan Menik." Kevin duduk di kursi tepat di depan Ziko. " Kalau bukan Menik siapa? Tidak mungkin punya istriku lagi." " Ya tuan, perusahaan itu punya istri anda." " Apa!" Ziko kaget dan air liurnya muncrat kearah Kevin. " Haduh hujan lokal." Ucap Kevin membersihkan wajahnya dengan tisu yang ada di meja Ziko. " Kalau tau ekspresi kaget tuan seperti ini mending saya tidak memberitahukannya, mana tidak pakai masker lagi. Air liur tuan tidak mengandung virus kolorna kan?." Ucap Kevin. " Enak aja, air liurku mengandung antiseptik tau." " Jadi saya tidak perlu pakai face sanitizer?" " Tidak perlu. Cepat ceritakan kepadaku informasi apa yang kamu dapat." Kevin menceritakan semuanya dari dia ketemu Zira di perusahaan itu sampai berdebat dengan masalah penalti dengan direktur perusahaan. Dan dia juga menceritakan tentang usahanya bertemu dengan presiden direktur. Semua diceritakanya secara detail. Ziko masih belum percaya dengan ucapan asistennya. " Kamu lagi bercanda kan?" " Tidan tuan, saya serius. Coba tuan tanya sendiri kepada nona Zira." Ziko mengambil ponselnya dan langsung menghubungi istrinya. " Ya sayang." Jawab Zira dari ujung ponselnya. " Apa benar yang di katakan Kevin?" " Apanya?" Ucap Zira bingung. " Kamu pemilik dari perusahaan kosmetik itu?" " Ah Kevin terlalu membesar-besarkan. Aku hanya pemilik kantin dan toiletnya." Ucap Zira merendah. Ziko menutup sebagian ponselnya. " Salah kamu, istriku hanya pemilik kantin." Ucap Ziko ke Kevin. " Nona Zira bohong tuan. Dia tidak mau anda kena serangan jantung." Ucap Kevin. " Sayang jangan bohong. Apa betul kamu pemilik perusahaan kosmetik itu?" " Kalau iya kenapa dan kalau tidak kamu mau apa?" " Iya enggak ada, setidaknya sebagai suami aku harus tau semuanya." " Baiklah sayang, memang aku pemilik dari perusahaan itu. Sudah jelas?" " Memangnya berapa banyak kekayaan kamu?" " Sayang tolong jangan di bahas masalah harta. Aku pusing kalau menjelaskannya. Nanti suatu saat kamu juga akan tau." Ucap Zira. Ziko tidak mau mempertanyakan masalah itu lagi. Walaupun istrinya punya penghasilan sendiri, tapi sebagai suami dia tetap memberikan kewajiban lahirnya kepada Zira. Sebagai istri yang mempunyai penghasilan sendiri tentu dia tidak perlu meminta kepada suaminya. Tapi karena Ziko memaksanya, mau tidak mau dia menerimanya. Dan uang itu hanya di gunakan untuk keperluan rumah tangga. Untuk keperluan pribadinya, dia menggunakan uangnya sendiri. Hari sudah petang, Kevin mengantarkan Ziko kekediamannya. Setelah dari situ Kevin langsung menuju alamat yang di berikan Menik. Dia berhenti di sebuah apartemen. " Pantas keberadaannya tidak di ketahui, rupanya dia sembunyi di sini. Kevin memarkirkan mobilnya. Di dalam apartemen Menik mempersiapkan makanan yang banyak. Bima menghampiri kakaknya yang sedang menyusun meja makan. " Kakak masak banyak sekali." Tanya Bima. Menik tidak menjawab, dia senang jika menyiapkan makan malam untuk calon suaminya. " Kak, kenapa kakak masak sebanyak ini." Bima menanyakan kembali. " Kakak lagi senang." Ucap Menik. " Senang kenapa?" Ting tong suara bel berbunyi. " Siapa yang datang." Gumam Bima sambil melihat kearah kakaknya. " Apa kakak sedang menunggu seseorang." Tanya Bima. " Biar kakak yang buka." Menik tidak menjawab pertanyaan adiknya, dia berlari kecil menuju pintu. Ketika pintu di buka, Menik tersenyum manis karena ada Kevin di hadapannya. " Apa kamu hanya tersenyum saja? Tidak ingin mempersilahkan saya masuk." Ucap Kevin. Belum Kevin masuk, Bima sudah datang dan berdiri di belakang Menik. " Ngapain anda kesini!" Ucap Bima ketus. " Kakak yang mengundang dia kesini?" Tanya Bima. " Iya." Ucap Menik singkat. Bima langsung mendengus kesal. Dia langsung meninggalkan keduanya di depan pintu. " Masuk pak." Ucap Menik. Menik menghampiri adiknya yang duduk di sofa. " Bim, jangan seperti itu. Kakak mengundang pak Kevin kesini agar beliau menjelaskan kepadamu." " Aku tidak perlu mendengarkan penjelasan apapun." Bima beranjak dari sofa dan hendak masuk ke kamarnya. " Bima dengarkan saya." Ucap Kevin. Bima tetap berjalan menuju kamarnya. " Saya akui memang saya salah. Dan semuanya karena terpaksa, tidak seharusnya saya menyakiti hati kakakmu dengan menerima pertunangan itu. Tapi saya sudah membatalkannya." Bima menoleh kearah Kevin. " Aku tidak butuh penjelasan apapun dari anda kalau anda ingin mendapatkan restu dariku. Kembalikan air mata kakakku yang telah mengalir deras pada saat itu!" Ucap Bima ketus. Kevin terdiam tidak bisa berkata-kata. " Bima, jangan seperti itu. Kakak sudah melupakan kejadian yang kemaren-kemaren. Kakak harap kamu jangan jadi pendendam." Ucap Menik. " Secepat itu kakak memaafkan pria ini." Ucap Bima melihat Kevin dengan tatapan tajam. " Heran kenapa kakak tidak memaafkan Rudi juga. Dan menerima cintanya. Dengan seperti itu baru adil." Sindir Bima. Prok, Menik menampar adiknya. Dia tidak suka dengan perkataan Bima. Yang mana perkataan itu telah menjatuhkan harga dirinya. " Demi pria kakak mau menampar adik kandungmu." Ucap Bima sambil memegang pipinya. Dia langsung masuk ke kamar dan membanting pintu dengan keras. Menik merasa bersalah dan menyesal. Tidak seharusnya dia menampar adiknya. Kevin membawa Menik untuk duduk di sofa. " Maafkan saya, karena saya hubungan kamu dan adikmu jadi rusak." Ucap Kevin sambil menggenggam tangan Menik. " Tidak pak, saya yang telah ringan tangan kepada bima." Ucap Menik sambil menundukkan kepalanya. Kevin mengangkat wajah Menik dengan memegang dagunya. " Saya lapar, kalau kamu seperti ini terus, bisa-bisa saya kurus kering." Goda Kevin. Menik tersenyum, dia membawa Kevin ke meja makan. Di atas meja telah terhidang beraneka ragam masakan rumahan. Dan itu menggugah selera makannya. " Like, komen dan vote yang banyak ya, terimakasih." ig. anita_rachman83 Chapter 388 episode 387 (S2) Kevin menikmati makanan hasil olahan tangan calon istrinya. " Apa semua ini kamu yang masak?" Menik menganggukkan kepalanya. Kevin membayangkan dia sedang makan berdua dengan istrinya. Dia menikmati makanan itu dengan selalu tersenyum. " Apa bapak gila." Tanya Menik. " Uhuk-uhuk." Kevin langsung tersedak dan mengambil air yang ada di dekatnya. " Bapak tidak apa-apa?" " Bapak lagi! Apa saya seperti orang gila sampai kamu menanyakan hal itu kepada saya." " Iya, bapak tersenyum-senyum sendiri. Padahal tidak ada yang lucu disini pasti kalau enggak gila kesurupan." " Masih panggil saya bapak!" Kevin menunjukkan wajah tidak suka. " Saya tidak bisa." Rengek Menik. " Baiklah mungkin karena kamu belum terbiasa, jadi kamu boleh memanggil dengan menyebut nama saya. Tanpa ada embel-embel bapak didepannya." Ucap Kevin. Menik setuju dengan menganggukkan kepalanya. " Saya memang lagi gila." Ucap Kevin. " Serius? Kalau anda gila jangan disini. Saya tidak menampung orang gila." Ucap Menik cepat. Kevin memutari meja makan dan duduk di sebelah Menik. " Kamu tau siapa yang menyebabkan saya gila?" Menik menggelengkan kepalanya. " Kamu." Kevin mengecup punggung tangan Menik. Pipi wanita itu langsung merona merah. Dia serasa melayang di udara. Kevin bukan hanya tampan dan mapan tapi dia pandai berkata-kata dalam menaklukkan hati Menik. " Gombal." Ucap Menik malu. " Serius, memikirkanmu aku bisa jadi gila, membayangkanmu bergetar gagang sapuku." " Gagang sapu?" Menik bingung. " Bukan itu, maksudnya hati ini jadi bergetar." Kevin mengalihkan pembicaraan, karena Menik belum mengerti dengan istilah yang diucapkannya. Bisa saja dia berkata jujur. Tapi akan terdengar vulgar untuk Menik. Dan pasti wanita itu bisa pingsan jika membayangkan nantinya sebuah gagang sapu akan masuk ke dalam bagian sensitifnya. " Kapan kamu bisa menemui mama." Tanya Kevin. " Ibu Paula?" Kevin menganggukkan kepalanya. " Saya takut." Ucap Menik pelan. " Kamu jangan menggunakan kata saya lagi. Kamu bukan bicara dengan atasanmu tapi bicara dengan calon suamimu." Ucap Kevin sambil tetap memegang tangan calon istrinya. " Tapi anda juga menggunakan kata saya." Ucap Menik. " Ok, kita berdua menggunakan kata aku, biar kesannya lebih dekat dan tidak terlalu formal." Menik setuju dengan menganggukkan kepalanya. " Kenapa kamu takut bertemu dengan mamaku." Tanya Kevin. " Nanti kalau ibumu membenciku bagaimana? Pasti beliau berpikir kalau aku yang telah membatalkan pertunanganmu." Ucap Menik. " Kamu tau tidak?" " Enggak taulah, kamu belum cerita." Kevin menarik hidung Menik gemas. " Sebelum kita berangkat berlibur, mama menyerahkan cincin itu kepadaku. Dia yang menyuruhku untuk menyematkan cincin itu Ke jarimu. Dan mama juga yang menyuruhku untuk membawamu menemuinya." Ucap Kevin sambil memegang cincin yang ada di jari Menik. " Bagaimana cincin ini bisa sama mamamu. Atau jangan-jangan ini sebenarnya cincin dokter Jasmin." Selidik Menik. " Bukan, cincin itu memang untukmu. Karena aku memakaikannya kepadamu bukan kepadanya. Dan memang yang memilih cincin ini mama dan Jasmin. Tapi cincin ini belum aku sematkan ke jarinya. Kamu jangan memikirkan yang aneh-aneh." Ucap Kevin jujur. " Oh malunya diriku." " Kenapa malu?" " Cincin ini seharusnya punya Jasmin tapi sekarang ada di jariku." Ucap Menik pelan. " Nik, aku sudah menjelaskan kepadamu tadi, cincin ini untukmu dan bukan punya Jasmin. Tapi kalau kamu malu, aku bisa mengganti dengan cincin yang lain." Ucap Kevin. " Jangan, aku pakai ini saja." " Apa kamu yakin?" " Yakin." Ucap Menik singkat. " Kamu tidak malu atau minder memakai cincin itu." Ucap Kevin sambil melirik cincin yang ada di jari manis Menik. " Aku tidak apa-apa. Jangan membuang uang dengan membeli sesuatu yang tidak penting." " Tidak penting? Justru dengan membelikan mu cincin baru merupakan hal yang sangat penting, karena kamu calon pengantinku. Beda halnya jika kamu tidak menerimaku, pasti aku enggan membelikan." Ucap Kevin menjelaskan. " Tapi dulu sebelum kita ada ikatan, kamu membelikan ku begitu banyak benda dari sepatu, tas ponsel sampai dompet kamu belikan. Padahal dulu kita belum ada ikatan." Ucap Menik komplain. Kevin menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Dia heran dengan calon istrinya, yang masih mengingat dan mempermasalahkan hal itu lagi. " Kalau dulu itu pedekate." Ucap Kevin cepat dan lugas. " Oh pedekate, apa orang kaya kalau pedekate seperti itu." Tanya Menik polos. " Tergantung." Jawab Kevin singkat. " Apanya yang digantung?" " Jembatan yang di gantung." Ucap Kevin. Mereka tertawa bersama. Kebahagian yang terpancar dari wajah keduanya, tinggal satu langkah menuju ke pelaminan yaitu restu dari Bima. " Besok sepulang kerja, aku akan menjemputmu." " Jemput? Memangnya kita mau kemana." Tanya Menik. " Nik, kamu lupa ya? Kalau kita harus bertemu dengan mama dan papa." Ucap Kevin. " Kalau orang tuamu tidak menyukaiku bagaimana?" " Kamu nyanyi saja." " Nyanyi? Apa dengan nyanyi orang tuamu akan menyukaiku." Tanya Menik polos. Kevin mengangkat kedua bahunya. " Nah kamu saja tidak tau. Kenapa menyuruhku melakukan hal yang belum tentu orang tuamu suka." Protes Menik. " Jadi kamu mau melakukan apa? Apa kamu mau menyanyikan lagu pembunuhan yang dinyanyikan tuan muda?" " Hahaha, enggak ah, nanti orang tuamu malah membenciku. Lebih baik aku jadi diri sendiri tidak perlu menunjukkan yang palsu kehadapan orang tuamu." Ucap Menik. " Bagus itu, aku setuju." " Besok aku jemput. Dan mengenai Bima tidak perlu kamu pikirkan, kita hanya perlu memberikan bukti kepadanya." Menik setuju, mereka melanjutkan makannya yang tertunda. " Sayang, tadi Vita datang." Ucap Ziko. Zira yang lagi menyisir rambutnya menoleh kearah suaminya, dengan tatapan penuh tanda tanya. " Jangan melihatku seperti itu." " Jadi bagaimana cara melihat yang benar." Tanya Zira. " Dengan mengedipkan mata seperti ini." Ziko mengedipkan matanya secara berulang. " Kamu seperti ayam yang sedang sakit mata." Ejek Zira. Zira naik keatas kasur dan bergabung dengan suaminya. " Untuk apa dia menemuimu?" " Kamu cemburu ya?" Goda Ziko. " Ngapain cemburu, aku hanya bertanya ngapain dia ke kantormu? Bukannya sudah lama dia tidak menemuimu." Ziko membuka nakas yang ada di dekat kasur. Dia mengambil sebuah undangan dan menyerahkannya kepada istrinya. " Apa ini?" Ucap Zira. " Tidak mungkin kamu lupa cara membaca." Ejek Ziko. Zira mengambil undangan dari tangan suaminya dan membacanya. " Oh akhirnya mereka akan menikah." Ucap Zira senang. " Iya, semoga ini menjadi pernikahan yang terakhir buat keduanya. Dan semoga awet sampai kakek nenek." Ucap Ziko seperti berdoa. " Aamiin." Ucap Zira singkat. " Ayo kita lanjutkan." Ucap Ziko. " Lanjutkan apa?" Ucap Zira bingung. " Lanjutkan membuat pr." Ucap Ziko genit. " Apa harus di lanjutkan." Tanya Zira. " Iya sayang, aku sudah memberi pupuk ubi kayuku. Dan aku pastikan pasti kita akan panen besar." Ucap Ziko genit sudah melucuti baju istrinya. " Kamu menggunakan pupuk apa?" " Pupuk kompor." Ucap Ziko singkat yang sudah sibuk dengan aksinya. " Kompos bukan kompor." Ucap Zira memperbaiki ucapan suaminya. " Kalau ubi kayuku mengandung kompor dan akan siap meledak di tempatmu sayang." Ucap Ziko genit. " Like, komen dan vote yang banyak ya, terimakasih." ig. anita_rachman83 Chapter 389 episode 388 (S2) Keesokan harinya, Kevin sudah berada lebih awal di rumah bosnya. Dia datang ketika pemilik rumah masih tidur di kamarnya. Waktu terus bergerak, tapi pasangan suami istri itu belum kunjung keluar kamar. Dia sudah minum tiga gelas kopi, tapi belum juga ada tanda-tanda sepasang suami istri itu. " Lamanya." Gerutu Kevin sambil melihat jam tangannya. Tidak berapa lama sepasang suami istri itu keluar dengan rambut yang basah. Ziko sudah mengenakan seragamnya tapi rambutnya masih basah. " Kehujanan bos." Ejek Kevin. " Bukan kehujanan tapi bocor." Jawab Ziko. Ziko duduk di kursinya dan disampingnya ada Zira. " Apa jam di kamar tuan mati." Tanya Kevin. " Enggak kok." Zira yang menjawab. " Oh saya kirain mati. Apa tuan dan nona tidak bisa membaca waktu." Sindir Kevin. " Maksud kamu apa sih." Tanya Zira bingung. " Saya sudah menghabiskan tiga gelas kopi dan anda berdua baru keluar. Pekerjaan lembur kalian sudah dikerjakan malam hari. Tapi pagi juga di kerjakan, yang menunggu jadi bosan." Gerutu Kevin. " Wah sudah pintar ngomong kamu." Ucap Ziko. " Vin, kamu jadi nikah?" Ucap Zira. " Jadilah." Ucap Kevin semangat. " Ok." " Ok saja? Memangnya nona mau mengatakan apa." Tanya Kevin. " Enggak ada. Aku pernah bilang ke kamu jika kamu menikah, pada saat malam pertama pasukan avengers akan patroli di kamarmu." " Apa anda serius." Tanya Kevin. " Seriuslah." Ucap Zira singkat. " Memangnya apa yang akan di lakukan pasukan avengers di kamarku." Tanya Kevin. " Mereka akan memastikan kamu tidak bisa mencetak gol." Timpal Ziko. " Jangan seperti itu tuan. Kalau tuan dan nona mau hujan-hujanan lagi silahkan. Saya akan minta sama bik Inah kopi lagi." Ucap Kevin dengan senyum yang di paksakan. Zira tersenyum, dia akan merencanakan sesuatu untuk malam pertama Kevin dan Menik. Dia pastikan keduanya akan kesusahan pada saat malam pertama. " Sudah cukup main hujannya sekarang waktunya kita makan." Ucap Zira menuangkan makanan diatas piring. Di sela-sela sarapannya. Ziko menanyakan beberapa pekerjaan kepada asistennya. Keduanya berbicara panjang lebar mengenai itu. Zira hanya menyimak dan tidak mau terlibat dalam urusan suaminya. " Besok alpha corporate akan tiba di tanah air. Rencananya mereka akan langsung berkunjung ke perusahaan kita." " Jam berapa mereka sampai di tanah air." Tanya Ziko. " Kemungkinan pagi tuan, tapi mereka datang ke perusahaan kita siang hari." Ucap Kevin. Ziko menoleh kearah istrinya. " Kenapa kamu melihatku seperti itu?" Ucap Zira yang sibuk dengan sarapannya. " Besok siang kamu ada kegiatan tidak?" Ucap Ziko. " Enggak ada." Jawab Zira singkat. " Bagaimana dengan kantinmu, apa besok siang kantinmu di perusahaan kosmetik itu tutup." Sindir Ziko. " Besok puasa." Jawab Zira singkat. " Ow gitu, kalau kamu tidak ada acara besok datang ke kantorku." Perintah Ziko. " Untuk apa." Zira bingung. " Untuk melobi perusahaan alpha corporate." Ucap Ziko. " Kenapa harus aku?" Ucap Zira bingung. " Karena hanya kamu yang bisa melakukannya. Seperti yang dulu, dengan gampang kamu melobi investor dari Jepang. Dan aku yakin pasti jika kamu ikut urusanku cepat beres." Ucap Ziko. " Enggak mau." Ucap Zira menolak. " Bantu suami anda nona. Anda pasti lebih berpengalaman di bidang ini. Secara bisnis anda lebih besar dari perusahaan suami anda." Ucap Kevin. " Siapa yang bilang bisnis istriku lebih besar? Lebih besar punyaku." " Bagaimana tuan bisa mengatakan seperti itu?" " Ok, bisnis istriku memang besar di tanah air. Tapi dia tidak punya bisnis di luar negeri." Ucap Ziko sombong. " Heleh sudah mau bangkrut masih di banggakan." Ejek Zira. " Hey, enak aja mau bangkrut. Sebenarnya perusahaanku itu tidak bangkrut, kalau si sultan itu tidak main curang pasti para investor tidak menarik sahamnya." Ucap Ziko menjelaskan. " Ah sama saja, buktinya kalau perusahaan itu, apa namanya Vin?" Ucap Zira. " Alpha corporate." Ucap Kevin. " Hah iya, kalau alpha corporate tidak menanamkan saham di perusahaanmu. Pasti kamu sudah gulung lapak." Ucap Zira. " Kok lapak?" Ziko bingung. " Ya sudah gulung tikar." Ucap Zira. " Enggak juga." Ziko masih membanggakan dirinya. " Tuan, bukannya anda pernah mengatakan kepada saya. Kalau perusahaan kita akan bangkrut. Jadi apa yang di katakan nona Zira benar, semua karena alpha corporate. " Nah kan? Sudah akui saja kalau kamu belum lihai dalam menangani perusahaanmu." Ejek Zira. " Iya iya, perusahaanku memang mau bangkrut. Dan sebagai istri yang berbakti kepada suami, aku mau kamu melobi perusahaan itu agar mau menamankan sahamnya sebanyak-banyaknya." " Tapi kamu bilang aku hanya perusahaan lintas ibu kota, bukan lintas dunia. Bagaimana caranya melobi perusahaan itu." Ucap Zira bingung. " Kamu hanya melakukan seperti yang kamu lakukan sama investorku dari Jepang." " Tapi dulu aku hanya mengobrol saja dengan orang Jepang itu, kalau tidak salah ada Koko pada saat itu." Ucap Zira mencoba mengingat yang telah lalu. " Ya sudah kamu ajak saja ngobrol." " Kalau hanya mengobrol kamu pun bisa, kenapa harus aku." Ucap Zira. " Karena kamu membawa keberuntungan sayang." Ucap Ziko meremas tangan istrinya. " Aw kenapa tanganmu susah sekali di remas." Ucap Ziko bingung. " Apa kamu tidak suka diremas? Apa mau meremas?" Ucap Ziko. " Boleh, apa yang mau aku remas. Katakan saja, aku pastikan kalau sudah ku remas akan rusak selamanya." Ziko bergidik sambil melihat tongkat saktinya. Kevin mengalihkan pembicaraan mengenai yang tadi. " Tuan apa anda yakin nona Zira yang melobi alpha corporate?" " Memangnya kenapa?" Ucap Ziko bingung. " Kalau pemilik perusahaan itu seorang pria dan dia minta nona Zira jadi istrinya bagaimana." Ziko diam, dia mengingat kejadian pada saat bersama dengan tuan Sultan. " Ok itu kalau pria, tapi kalau pemiliknya seorang wanita bagaimana?" Ucap Zira dengan membalikkan pertanyaan. " Kalau dia pria akan aku jadikan abang becak, tapi kalau dia wanita akan, akan." Ziko melihat kearah istrinya. " Akan apa." Tanya Zira. " Akan aku jadikan istri kedua." Ucap Ziko asal. " Apa! Berani-beraninya kamu tambah istri!" Zira melotot. " Enggak sayang, aku bercanda. Mana mungkin aku menduakan wanita unik seperti kamu." Ucap Ziko memeluk istrinya. " Lagian mana mau dia samaku." " Kalau dia mau bagaimana?" Ucap Zira. " Ya lanjutlah." " Lanjut kemana." Tanya Zira. " Kepelaminan." Ucap Ziko. " Apa!" Zira langsung naik ke atas meja. Dia berdiri dengan memegang pinggangnya. " Vin, ibunya Thanos lagi marah." Ucap Ziko. " Benar tuan, kalau nona Zira berdiri di atas situ kita seperti hobbit." Ucap Kevin. " Kalau kita jadi hobbit, istriku jadi apanya." Tanya Ziko. " Jadi monsternya." Jawab Kevin. Zira masih berdiri di atas meja makan dengan berkacak pinggang. Dia menatap suaminya tajam, dia melakukan hal itu karena semenjak bertemu dengan penjaga pantai yang bernama Stefani, suaminya sedikit genit. Jadi menurutnya dengan gertakan akan membuat nyali suaminya menciut. " Sayang ini bukan panggung, kalau kamu panggung nanti akan aku buatkan." Ucap Ziko. Zira tidak berkedip ataupun menjawab ucapan suaminya. " Nona kalau mau bernyanyi silahkan nanti kami sawer." Ucap Kevin jahil. " Sudah turun, jangan lama-lama kamu berdiri di atas meja. Nanti aroma makanan kita jadi tidak sedap karena jempolmu." Ucap Ziko menarik tangan istrinya untuk kembali duduk di sebelahnya. " Like, komen dan vote yang banyak ya, terimakasih." ig. anita_rachman83 Chapter 390 episode 389 (S2) " Bim, kamu masih marah." Tanya Menik yang melihat adiknya sedang menonton televisi. Menik duduk di sebelah adiknya. " Jawab Bim?" Ucap Menik. Bima enggan menjawab pertanyaan kakaknya. Dia tidak marah dengan kakaknya tapi kecewa dengan sikap Menik. " Apa pipi kamu sakit?" Ucap Menik sambil memegang pipi adiknya. Tapi Bima menepis tangan kakaknya. " Bim, kenapa kamu seperti ini." Ucap Menik. " Aku seperti ini karena kakak. Kalau kakak tidak bersama dengannya pasti hubungan kita baik seperti dulu." Ucap Bima marah. " Jadi kamu mau kakak berpisah dengannya." Ucap Menik pelan. " Terserah." Ucap Bima ketus. " Apa kamu akan berbaikan lagi dengan kakak jika kakak mengembalikan cincin ini." Ucap Menik lagi. " Aku sudah tidak perduli lagi, mau kakak balikkan itu cincin mau di jual terserah." Ucap Bima marah. " Apa kamu tidak ingin melihat kakak bahagia." Ucap Menik. " Tentu aku ingin melihat kakak bahagia, tapi bukan dengannya. Orang yang telah mengecewakan kakak dan telah membuat air mata kakak mengalir. Aku harus menjaga kakak, apa kata orang tua kita, jika mereka ada disini. Pasti mereka akan kecewa juga dengan pilihan kakak." Ucap Bima. " Bim, beri kesempatan lagi untuk pak Kevin." " Aku malas membicarakan dia. Kalau kakak mau lanjut terus dengan dia terserah tapi aku tidak akan merestui hubungan kalian." Ucap Bima sambil meninggal Menik di depan televisi. Menik bingung harus melakukan apa, dia sangat mencintai keduanya. Yang satu cinta sebagai adik dan yang satu cinta sebagai kekasih. Dia melihat jam di dinding waktu sudah sore. Sudah waktunya dia bersiap-siap, karena Kevin akan menjemputnya. Menik telah berias diri di kamarnya. Dan ponselnya berdering, ada panggilan masuk dari Kevin. " Ya halo." Ucap Menik. " Aku sudah di bawa. Kamu mau aku naik apa menunggu disini." Tanya Kevin. " Tunggu saja disana. Sebentar lagi aku turun." Ucap Menik. Dia tidak ingin Kevin bertemu dengan Bima. Pasti adiknya akan marah jika melihat wajah Kevin. Menik mengenakan gaun yang sangat cantik. Bagian atasnya berlengan pendek dengan model kerah berbentuk huruf v dan berwarna hitam. Dan di padu padankan dengan rok bercorak dengan warna yang lebih terang dari warna atasannya. Rambutnya sengaja di biarkan tergerai, sehingga membuat Menik terlihat anggun dan mempesona. Kevin langsung membukakan pintu mobil untuk Menik. Dia senyum sumringah melihat penampilan calon istrinya yang sangat cantik. Mobil sudah melaju di jalanan. Kevin sesekali melirik kearah Menik. " Kenapa kamu terlihat cemas." Tanya Kevin yang memperhatikan Menik meremas jari jemarinya. " Aku takut kalau-kalau ibu Paula tidak menyukaiku." Ucap Menik. " Tenanglah, pasti mamaku akan menyukaimu." Ucap Kevin sambil memegang salah satu tangan Menik. Dia mengecup punggung tangan calon istrinya. Memberikan rasa tenang dengan cara menggenggam tangan wanita itu. " Kamu sangat cantik, penampilanmu sungguh berbeda dari yang dulu aku kenal. Masih ingat di benakku ketika kita bertemu di halte. Kamu berpakaian layaknya seorang pria. Hahaha." Kevin mencairkan ketegangan di diri Menik. " Hahaha, iya kamu benar. Dan pada saat itu kamu mencengkram leherku dengan sangat kuat." Ucap Menik mengingat kejadian yang telah lalu. " Aku mengira kamu benar-benar pria, mungkin kalau topi yang kamu kenakan tidak lepas pasti sudah mendarat pukulan di pipimu." Ucap Kevin lucu. " Tapi kejadian itu yang membuat aku penasaran denganmu." " Kamu tau apa julukan yang aku berikan kepadamu." Ucap Kevin. " Taulah, aku kan menguping pembicaraanmu dengan manager rumah makan tempat aku bekerja dulu. Kamu menyebutku wanita setengah genre. Hahaha." Ucap Menik tertawa. " Aku pikir kamu memang wanita setengah genre yang mempunyai dua kepribadian." Ejek Kevin. " Enak aja." Ucap Menik sambil mencubit gemas lengan Kevin. " Aw sakit, ternyata seperti ini rasanya di cubit sama orang yang kita cintai. Sakit juga, aku pikir cubitan itu akan terasa seperti coklat ternyata tidak." Ucap Kevin gombal. " Kamu ingat tidak, pada saat acara empat bulanan nona Zira, aku menjemputmu. Kamu mengenakan pakaian yang tertutup sampai kakinya juga tertutup. Apa kamu ingat kamu mengenakan apa di kakimu." Ucap Kevin. " Ingatlah, aku mengenakan sepatu bola dan tas ransel, dan rambut di kuncir kuda. Hahaha kalau mengingat itu aku jadi lucu. Aku pikir dulu gayaku sudah sangat keren tapi di bandingkan sekarang aku malu mengingat penampilanku yang dulu." " Ngomong-ngomong pada saat itu kamu pakai sepatu bola siapa?" " Bima." Ucap Menik singkat. " Memangnya cukup? Badan Bima lebih besar dari kamu pasti kakinya juga besar." " Manalah cukup, kebesaran iya. Di bagian ujungnya aku sumpal." " Aku heran padahal sepatu itu kebesaran denganmu tapi sempat-sempatnya kamu menyumpalnya. Kenapa kepikiran menyumpal sepatu bola, apa tidak kepikiran memakai sepatu yang lain." " Ah bapak, bukan tidak kepikiran tentu aku pikiran, sepatuku pada saat itu cuma satu dan sudah menganga bagian depannya. Mana mungkin aku pakai itu. Yang ada malah telapak kakiku jadi alas sepatu." Ucap Menik. Untuk mengurangi kebosanan di dalam mobil mereka terus mengobrol. " Penampilanmu sudah sangat jauh berbeda dari yang dulu. Tapi apa pakaianmu yang lama masih kamu simpan? Seperti ponsel remote tv masih kamu simpan apa celanamu juga kamu simpan." " Oh celana setan. Tentu aku masih menyimpannya, bukan hanya itu dompet dari toko emas juga masih aku bawa." Ucap Menik mengeluarkan dompet kecilnya dari dalam tas. Dia menunjukkan kearah Kevin. " Apa! Dompet itu masih kamu simpan? Bukannya kamu sudah ada uang. Untuk apa masih membawa itu. " Ah bapak ini kenang-kenangan. Dompet ini banyak sejarahnya. Aku dulu ada uang beli emas dan dapat hadiah dari toko emas dompet ini. Dulu dengan memakai dompet seperti ini rasanya derajat kita naik. Apa lagi kalau belanja di warung mengeluarkan uang dari dalam dompet ini. Ibu-ibu pasti kepo, mereka yang tadinya merendahkan kita, tapi melihat dompet ini langsung mengangkat derajat kita dengan tersenyum secerah-cerahnya. Padahal tadinya pada menggosip tentang kita. Susahlah miskinlah seperti itu." Menik menceritakan masa lalunya yang pahit. Dan Kevin mendengarkan dengan seksama. " Lalu mana emas yang kamu beli dari toko emas itu." " Hehehe, udah enggak ada, sudah saya jual. Jaman kemaren susah jadi untuk membiayai hidup ya saya jual. Daripada mengemis mending jual yang ada." Ucap Menik jujur. Kevin mengelus rambut Menik dengan penuh kasih sayang. Calon istrinya mempunyai masa lalu yang sangat sulit. " Dimana kamu menjual emas itu." Tanya Kevin. " Di pasar." " Kenapa kamu bertanya seperti itu?" " Besok kita ke pasar. Dan tunjukkan emas yang telah kamu jual." " Untuk apa?" " Kita beli lagi emas itu." " Enggak ah. Itu sudah lama, mungkin emas yang saya jual dulu sudah di lebur dengan emas yang lain." " Kamu kan belum tau apakah emas itu sudah di lebur atau belum. Apa kamu tidak ingin membelinya kembali. Ingat! Kamu membeli itu dengan hasil keringatmu, pasti banyak suka dukanya." Menik terdiam, dia membeli emas itu memang tidak mudah, dia mengumpulkan uangnya selama beberapa tahun baru dapat kesampaian membeli sebuah kalung emas. " Like, komen dan vote yang banyak ya, terimakasih." ig. anita_rachman83 Chapter 391 episode 390 (S2) Mobil yang di kendarai Kevin sudah tiba di depan rumahnya. Menik menatap rumah itu. Rumah yang pernah dikunjunginya dan pernah juga ditinggalkannya dalam keadaan bersedih. Tapi hari ini dia kembali ke rumah itu lagi dengan perasaan campur aduk. Apakah dia nanti pulang dalam keadaan bersedih atau bahagia. " Apa kamu mau duduk di mobil saja." Ucap Kevin yang sedang berdiri di samping pintu mobil. Dia membukakan pintu mobil untuk Menik. Dengan perasaan ragu Menik menurunkan kakinya dari mobil dan melangkahkan kakinya secara perlahan. Mereka sudah sampai di depan pintu rumah, Kevin ingin memegang handle pintu tapi di tahan Menik. " Tunggu." Ucap Menik " Kenapa?" " Aku mau baca doa dulu." Ucap Menik. Kevin membiarkan Menik untuk membaca doa. Terlihat mulutnya sedang komat kamit. " Kamu baca doa apa baca mantra." Ejek Kevin. " Baca status." Jawab Menik singkat. " Kamu siap?" Menik menganggukkan kepala. Ketika Kevin hendak memegang handle pintu lagi-lagi tangannya di tahan Menik. " Apa lagi." Tanya Kevin. " Aku lupa menyebutkan kata amin dalam doaku. Boleh aku mengulangnya lagi." Ucap Menik gugup. " Baiklah." Kevin membiarkan Menik melakukannya lagi. " Sudah selesai baca doanya?" " Apa kata aminnya sudah kamu ucapkan." Tanya Kevin lagi. " Sudah." Jawab Menik. " Ok sekarang kita masuk." Ucap Kevin. " Tunggu." Lagi-lagi Menik menahan tangan Kevin. " Apa lagi sih Nik? Kamu mau kita berdiri terus di depan pintu?" Gerutu Kevin. " Aku salah baca doa." Ucap Menik. " Memangnya doa apa yang kamu baca?" Ucap Kevin sambil menatap wajah Menik. " Doa mau makan." Jawab Menik. " Apa! Kenapa kamu baca doa mau makan." Tanya Kevin bingung. " Aku lapar, jadi yang keluar dari mulutku doa itu." Ucap Menik pelan. " Ya sudah, sekali ini jangan salah baca doa lagi." Menik menganggukkan kepalanya, dia mulai membaca doa dengan benar. Kevin melihat mulut Menik berhenti berucap. Dia yakin kalau wanita itu sudah selesai baca doa. " Ok, sekarang kita masuk." " Tunggu, aku belum membaca artinya." Ucap Menik. " Apa! Pakai arti segala?" " Iya, jadi doanya cepat terkabul." Ucap Menik. " Artinya nanti saja. Sekarang kamu masuk dan jangan bilang kata tunggu dan tunggu." Kevin memegang tangan Menik. Dan tangannya yang lain memegang handle pintu. " Malam." Ucap Kevin ketika membuka pintu rumahnya. " Malam sayang." Ucap nyonya Paula sambil menghampiri anaknya. Wanita paruh baya itu memperhatikan wanita di samping anak sulungnya. Dia memicingkan matanya melihat kearah Menik. Nyonya Paula melihat Menik dari atas sampai bawah. " Seperti pernah lihat tapi dimana ya." Nyonya Paula melupakan Menik, dulu ketika dia bertemu dengan Menik, wanita itu polos tanpa ada make up sama sekali. Tapi sekarang di wajahnya ada riasan sehingga membuat wanita paruh baya itu lupa. " Apa mama tidak mengenalnya?" Ucap Kevin. " Tidak, tapi wajahnya tidak asing. Tapi dimana mama melihatnya ya." Nyonya Paula mencoba mengingat kembali. " Ah mama tau. Kamu model kosmetik yang wara wiri di televisi kan?" Ucap nyonya Paula. Menik tersenyum kecut. Ternyata dia hanya di kenal karena sebagai bintang iklan. " Mama tidak ingat? Itu kak Menik ma." Ucap Jesy. " Manek?" Nyonya Paula bingung. " Iya ma, ini Menik. Dia wanita yang pernah mama undang kesini. Dan yang telah memasak masakan untuk keluarga Jasmin. Apa mama sudah ingat." Ucap Kevin menjelaskan. " Apa! Kamu Manek? Oh Tuhan, apa yang telah kuperbuat. Ternyata calon menantuku sudah ku kenal lebih dulu." Nyonya Paula langsung menarik tangan Menik dan membawa wanita itu duduk di sofa. " Maafkan saya Manek." Ucap mamanya Kevin. " Tidak apa-apa bu." Jawab Menik pelan. " Kenapa kamu tidak mengatakan dari awal kalau kamu dan Kevin saling mencintai. Kalau kamu mengatakannya pasti saya dan anak saya tidak akan adu argumen." Ucap nyonya Paula sambil melirik kearah Kevin. " Aku sudah mencoba menjelaskan tapi mama yang tidak mau mendengarkan penjelasannku." Ucap Kevin. " Ah kamu saja kurang usaha. Coba kalau kamu lebih giat pasti kita tidak bertengkar." Ucap mamanya tidak mau kalah. Kevin hanya bisa mendengus kasar mendengar mamanya yang tidak mau mengalah. " Manek maafkan saya ya." Ucap nyonya Paula. " Menik ma bukan Manek." Ucap Kevin memperbaiki ucapan mamanya. " Ah samalah itu. Ya kan Manek." Ucap nyonya Paula. " Kamu cantik sekali, tidak memakai riasan kamu sudah cantik dan memakai make up tambah cantiknya." Puji nyonya Paula. " Jadi kapan rencana pernikahan kalian." Tanya nyonya Paula. Menik melihat kearah Kevin. " Mama ngebet banget." Ejek Kevin. " Iya, mama sudah enggak sabar menimang cucu." Menik menelan salivanya. Membayangkan menikah saja dia takut apalagi melahirkan. Tapi jika mau melahirkan, dia harus melalui proses malam pertama. Itu yang ditakutkannya. " Secepatnya ma, setelah semua urusan beres, kami akan memberitahukan mama." Ucap Kevin. " Nanti temanya apa kak?" Ucap Jesy ikut nimbrung. " Tema apa?" Kevin yang balik bertanya. " Kakak cowok jadi tidak perlu jawab. Biasanya yang mempersiapkan masalah perkawinan pihak perempuan. Jadi kakak cukup keluarkan budget saja." Ucap Jesy. " Ya terserah Menik saja." Ucap Kevin. " Bagaimana Nek." Ucap mamanya Kevin. " Kok nek ma? Kak Menik belum jadi nenek-nenek loh." Protes Jesy. Kevin pun ikut menatap mamanya heran. " Namanya kan Manek jadi di singkat nek." Ucap nyonya paula. " Mama tau nek itu sama dengan grandma." Ucap Kevin menjelaskan kepada mamanya. " Oh gitu ya. Tapi nama kamu susah untuk di sebut." " Terserah ibu saja mau panggil nenek atau kakek tidak apa-apa." Ucap Menik polos. " Buahahaha." Kak Menik lucu. " Sebenarnya nama kamu siapa sih? Apa memang Manek?" " Menik ma Menik." Kevin memperbaiki ucapan mamanya lagi. " Nah itu." " Nama saya Samudera Nuansa Pagi." Ucap Menik. " Nama kakak lucu." Timpal Jesy. " Panjang sekali. Pagi dalam bahasa inggris morning. Benar kan?" " Iya ma." Ucap Kevin. " Ya sudah saya memanggil nama kamu pagi saja, bagaimana?" Ucap nyonya paula. " Terserah ibu." Ucap Menik singkat. " Jangan panggil nama Menik dengan sebutan pagi. Kesannya kalau menyebutkan kata pagi terlalu banyak sambungan katanya." Ucap Kevin komplain. " Maksud kamu apa." Ucap mamanya bingung. " Kalau mama memanggil Menik dengan kata pagi, akan repot nantinya." " Repot bagaimana." Tanya nyonya Paula. Kevin mencoba menjelaskan. " Kalau mama menyebutkan selamat pagi. Pasti Menik langsung menjawab atau menoleh. Belum lagi dengan kata yang lain. Bangun sudah pagi. Ayo sarapan pagi. Apa mama tidak kasihan sama Menik harus berapa kali dia menjawab, padahal sebenarnya kata itu bukan untuk memanggil namanya." Nyonya Paula manggut mengerti. " Ya sudah dari pada bingung. Dan lidah saya susah menyebutkan namamu. Jadi saya beri kamu nama panggilan baru yaitu Ros." Ucap nyonya Paula. " Kenapa Ros? Mama memberikan nama itu bukan terobsesi film animasi ipil dan upil kan?" Selidik Jesy. " Enggaklah. Ros itu kan nama bunga. Nama itu cocok untuk kamu." Ucap nyonya Paula sambil memegang dagu Menik. Wanita paruh baya itu senang karena calon istri anaknya sudah di kenalnya. Jadi dia tidak perlu bersusah-susah untuk adaptasi. " Like, komen dan vote yang banyak ya, terima kasih." ig. anita_rachman83 Chapter 392 episode 391 (S2) " Ma, sudah ngobrolnya kami lapar." Ucap Kevin. " Oh iya, mama sampai lupa. Mari Ros, kita makan malam dulu. Tapi sebelum makan, saya mau mengajak kamu menemui papanya Kevin." Menik menganggukkan kepalanya. Dia mengikuti nyonya Paula menuju sebuah kamar. Di dalam kamar itu papanya Kevin terbaring lemah. " Pa, ini calon menantu kita namanya." Nyonya Paula bingung mau menyebutkan nama Menik. Tapi Kevin langsung membantu mamanya untuk menyebutkan nama Menik. " Namanya Samudera Nuansa Pagi di panggil Menik." Ucap Kevin. " Menik." Ucap papanya terbata-bata. " Ya pak." Ucap Menik. Pria paruh baya itu melihat wajah Menik dengan sangat lekat sambil tersenyum. " Apa papa merestui hubungan kami." Tanya Kevin. " Iya." Ucap papanya terbata-bata. " Baiklah, ayo kita makan malam. Biarkan papa beristirahat." Ucap nyonya Paula. Ketiganya keluar dari kamar dan menuju ruang makan. Di meja makan sudah terhidang makanan rumahan yang sengaja di buat nyonya Paula untuk menyambut Menik. " Lihat Ros, semua makanan ini saya yang masak. Coba kamu cicipi apa yang kurang dari masakan saya." Ucap nyonya Paula. " Wah ibu pintar memasak." Puji Menik. Mereka mulai menikmati makan malam dengan hening. Tidak terdengar suara sama sekali. Hanya dentingan suara garpu dan sendok yang berperang di atas piring masing-masing. Setelah selesai makan malam nyonya Paula membawa Menik menuju ruang keluarga. Dan Jesy menghidangkan cemilan untuk mereka di sana. " Apa yang kurang dari masakan saya." Tanya nyonya Paula. " Tidak ada yang kurang bu, nyaris sempurna." Puji Menik. " Kamu tau, saya belajar memasak itu secara berulang-ulang. Dan ternyata berhasil." Ucap nyonya Paula. " Kamu panggil tante jangan ibu, kesannya saya seperti ibu negara." Ucap nyonya Paula sambil tertawa. " Hahaha, iya tante." Mereka tertawa bersama. " Ros, tante tau. Pasti kamu bersedih ketika mendengar kalau Kevin akan bertunangan dengan orang lain." Menik diam dan hanya menundukkan kepalanya. " Kevin memang sudah berusaha menjelaskan kepada tante tapi tante terus memaksanya. Ternyata perbuatan tante sungguh keterlaluan. Karena telah membuat hati kamu dan Kevin hancur." Ucap nyonya Paula pelan. " Tante jangan di bahas yang telah lalu. Cukup masa lalu dijadikan pembelajaran hidup buat kita." " Iya kamu benar. Tapi tante tidak enak hati melihat kamu sakit dan itu karena saya." " Mama sudahlah, jangan menyalahkan diri." Ucap Kevin. " Baiklah, mama tidak akan bersedih lagi. Tapi izinkan mama ikut serta membantu persiapan pernikahan kalian." Ucap nyonya Paula semangat. " Persiapan? Nanti tante kami belum memikirkan itu." Ucap Menik sambil melirik Kevin. Kevin mengerti arti lirikan itu. Dimana dia harus membantunya untuk menjelaskan kepada nyonya Paula. " Nanti ma, jangan terburu-buru. Pernikahan itu di lakukan sekali seumur hidup. Jadi harus di pikirkan secara matang." Ucap Kevin. " Ya, makanya dari sekarang kita buat list apa saja yang harus di persiapkan." Ucap nyonya Paula. Kendala Kevin dan Menik cuma satu yaitu restu dari Bima. Dan tidak mungkin mereka mengatakan kepada wanita paruh baya itu kalau saudara kandung Menik tidak merestui hubungan keduanya. Setelah mengobrol panjang lebar, akhirnya Menik pamit pulang. Dan Kevin mengantarkannya pulang. Tapi sebelumnya Menik pamit kepada nyonya Paula dan Jesy. Tidak lupa wanita paruh baya itu memeluk erat tubuh Menik dan mengecup dahinya. Terlihat kalau nyonya Paula sangat menyayangi Menik seperti anaknya sendiri. Di dalam mobil. Menik banyak diam, dia memikirkan semua perlakukan yang di dapatkannya dari nyonya Paula. Dia sempat berpikiran jelek kalau wanita paruh baya itu akan menentang hubungan keduanya. Tapi ternyata semua pikiran jeleknya salah. Nyonya Paula menyambutnya dengan penuh suka cita. " Kamu melamun." Tanya Kevin. " Eh iya enggak." Menik gugup. " Apa yang kamu lamunkan?" " Entahlah, aku sempat berpikir kalau mamamu tidak merestui hubungan kita. Tapi ternyata aku salah." " Kan sudah aku bilang kalau mama akan merestui hubungan kita. Sebelumnya aku juga sudah mengatakan kepadamu kalau mama sendiri yang memintaku untuk menyematkan cincin itu kepada pujaan hatiku." " Iya kamu benar, tapi." Menik menggantung kalimatnya. " Tapi apa?" " Bagaimana dengan Bima?" Kevin menghela nafasnya. Mereka masih harus melewati satu rintangan lagi yaitu Bima. " Agak susah menaklukan hati Bima. Apa hatinya sekeras batu." Ucap Kevin. " Enak aja. Dia pria yang berhati mulia. Tidak pernah berbicara kasar kepada siapa pun. Cuma kepadamu saja dia kasar." Ucap Menik membela adiknya. " Tapi tetap saja dia berhati batu, sudah jelas kakaknya bahagia bersamaku tapi dia tetap dengan pendiriannya kepala batu." " Apa! Enak saja kamu bilang adikku kepala batu. Kami dilahirkan dari satu perut yang sama. Kalau dia kepala batu, aku kepala apa?" Menik sewot. " Kepala gilingan." Ucap Kevin. " Apa! Berani sekali kamu mengatai aku kepala batu gilingan. Kamu memangnya kepala apa?" " Kepala rumah tangga." Ucap Kevin santai. Sambil meminggirkan mobilnya di tempat yang sepi. " Jangan alihkan pembicaraan kalau aku lagi marah. Baik kami memang keluarga kepala batu. Dan kamu tidak punya kepala." Ucap Menik sewot. Kevin hanya melihat calon istrinya yang marah tidak berhenti. Omelannya melebihi emak-emak yang lagi memarahi anaknya. " Asal kamu tau walaupun kami kepala batu tapi kami saling mencintai." Ucap Menik marah. " Kalau kalian saling mencintai dan mengasihi kenapa dia tidak merestui hubungan kita. Ayo kenapa?" " Ya itu semua karena kamu. Kalau kamu tidak menyakiti perasaanku pasti dia tidak akan membencimu. Pokoknya semuanya salah kamu." Ucap Menik masih sewot. " Sstt." Kevin meletakkan jari telunjuknya di atas bibir Menik. Tangan kirinya sudah berada di pinggang Menik. Melihat Kevin bersikap seperti itu Menik langsung diam. " Kamu mau apa?" Tanya Menik bingung. " Mau menyumpal mulutmu." " Menyumpal? Walaupun mulutku kamu sumpal, aku tidak akan berhenti marah." " Apa kamu yakin." Ucap Kevin. " Yakin." Belum sempat Menik melanjutkan kalimatnya, bibir Kevin sudah berada diatas bibirnya. " Apa yang kamu lakukan." Menik berusaha mendorong tubuh Kevin. " Menyumpal mulutmu agar tidak cerewet." Ucap Kevin. Kevin sudah mencium bibir Menik yang ranum. Menik berusaha untuk melepaskan ciuman yang di berikan Kevin kepadanya. Tapi dia tidak kuasa ketika lidah calon suaminya sudah ngabuburit di dalam mulutnya. Dia ikut terbuai dan membalas ciuman itu. Sampai akhirnya dia tersadar ketika ada sorot lampu dari arah depan. Dan bisa di pastikan itu dari lampu sorot kendaraan yang melewati mereka. " Cukup, aku tidak akan marah lagi." Ucap Menik mendorong tubuh Menik. Kevin melepaskan ciumannya sambil tersenyum penuh kemenangan. " Kamu boleh kok marah terus." Ucap Kevin licik. " Ya, tapi kalau aku marah kamu sumpal pakai bibirmu." Gerutu Menik. " Tapi kamu menikmati juga." Ejek Kevin. " Tidak." Menik malu pipinya langsung merona merah. " Tuan Ziko bilang kalau wajah seseorang merona biru tandanya dia malu. Dan pipimu sekarang biru, akui saja kalau kamu menikmati ciuman dariku." Goda Menik. " Enggak, ciumanmu tidak sedap." Jawab Menik gugup. " Tidak sedap ya. Baik sekarang kita ulangi lagi. Apa ciumanku membuat kamu melalang buana atau malah pingsan." Ucap Kevin. " Stop. Jangan di lanjutkan lagi. Aku tidak mau kita di tegur karena melakukan itu di sini." " Baiklah, percobaan hari ini kita akhiri. Dan prakteknya akan kita lanjutkan ketika malam pertama." Menik membelalakkan matanya. Dia masih malu mengingat kejadian barusan. Apa lagi malam pertama, dia tidak membayangkan akan semerah apa pipinya. " Like, komen dan vote yang banyak ya, terimakasih." ig. anita_rachman83 Chapter 393 episode 392 (S2) Pagi hari, suasana di kantor cukup ramai. Para pekerja sudah memadati dengan berdiri di depan pintu lift mereka mengantri giliran untuk masuk ke dalam benda persegi panjang itu. Ziko dan Kevin juga sudah tiba di gedung Raharsya group. Mereka berangkat lebih awal karena harus mempersiapkan kedatangan alpha corporate. Ziko ikut sibuk mempersiapkan semuanya. Sebenarnya dia lebih cenderung banyak perintah daripada turun tangan langsung. Seperti mempersiapkan penyambutan alpha corporate, dia ingin ruang meeting di dekor sedemikian rupa. Sebenarnya itu tidak lah perlu tapi entah kenapa dia mendadak dangdut ingin ruangan meeting di sulap menjadi sebuah ruangan yang beda dari yang lainnya. " Tuan sebaiknya anda duduk diam di dalam ruangan anda. Biarkan saya yang mengurus ini semua." Ucap Kevin. " Tidak, aku ingin memantau dari dekat." Ucap Ziko menolak. " Maaf tuan, dengan kehadiran anda disini. Para pekerja bingung mau melakukan apa. Mereka tidak tau siapa yang harus di dengar mereka. Saya apa tuan." Ucap Kevin. " Jadi kamu mengusir nih." Ucap Ziko. " Bisa di bilang seperti itu." Ucap Kevin. " Wah asisten durhaka aku kutuk jadi laptop baru tau rasa kamu." Ucap Ziko kesal. " Tuan, serahkan semuanya kepada saya. Saya jamin sebelum makan siang, ruangan ini akan bagus seperti permintaan anda." Ucap Kevin. " Baiklah, aku serahkan semuanya kepadamu. Tapi awas jangan ada bunga kuburan di dalam ruangan ini. Kalau sampai ada satu kembang kuburan, aku suruh kamu jadi mayatnya." Ucap Ziko. " Siap tuan." Ucap Kevin. " Tuan, maaf sebelum anda pergi. Saya mau bertanya kenapa anda mendadak minta meeting room di rubah. Apa anda lagi ngidam." Tanya Kevin. " Ngidam gundulmu. Istriku masih negatif. Tapi tidak tau bulan depan. Aku sudah memberi pupuk kompor setiap malam semoga panen kami melimpah." Ucap Ziko. " Aamiin, silahkan tuan kembali ke ruangan. Nanti akan saya hubungi lagi." Ucap Kevin mempersilahkan Ziko untuk keluar dari meeting room. Ziko keluar dari ruangan itu dan kembali ke ruangannya. Kevin dan karyawan lainnya dapat melanjutkan pekerjaannya tanpa ada kebisingan yang di buat oleh presiden direktur. Di dalam ruangannya Ziko menghubungi istrinya. " Kamu di mana?" Ucap Ziko. " Aku lagi di butik." Jawab Zira dari ujung ponselnya. " Bukannya kamu di perusahaan kosmetik." Ucap Ziko. " Enggak juga, dimana bumi di pijak disitu kaki melangkah." Ucap Zira. " Ah aku tidak mengerti pepatah yang kamu sebutkan." " Jadi untuk apa kamu menghubungiku." Tanya Zira. " Jam berapa kamu ke kantorku." " Untuk apa?" Ucap Zira bingung. " Pikun itu jangan di pelihara tapi di singkirkan." Sindir Ziko. " Serius aku lupa." Ucap Zira lagi. " Alpha corporate mau datang dan kamu harus tiba disini sebelum makan siang." Perintah Ziko. " Jadi ya? Bukannya ibu thanos tidak setuju." Ucap Zira. " Enggak ada ibu Thanos lagi, pokoknya kamu datang sebelum makan siang." Ucap Ziko. " Aku tidak bisa karena ada meeting dengan kepala bagian." Ucap Zira. " Jadi jam berapa kamu bisa datang." Tanya Ziko. " Mungkin setelah meeting baru bisa kesana." " Ya jam berapa?" " Setelah makan siang. Tapi aku heran, kenapa kamu tidak pede seperti itu." Ucap Zira. " Entah, aku juga bingung kenapa dengan perusahaan alpha ini aku seperti tidak percaya diri." " Apa karena perusahaan kamu yang di luar negeri hampir bangkrut. Jadi kamu minder." Tanya Zira. " Mungkin juga." " Sayang kamu harus percaya akan kemampuanmu. Kalau memang itu rezekimu tidak ada yang bisa merebutnya. Aku yakin kamu bisa mengatasinya seperti dengan perusahaan-perusahaan lainnya, dengan gampang kamu meyakinkan para investor untuk menanamkan saham diperusahaanmu. Ingat kemampuanmu, bagaimana dengan gampang kamu bisa memenangkan banyak tender. Lakukan hal yang sama, tapi ingat terus berdoa." Ucap Zira. " Iya sayang, terimakasih telah meyakinkanku dan menyemangati ku. Tapi aku tetap ingin kamu ada di sampingku." Ucap Ziko. " Oh so sweet. Aku akan mengusahakan datang secepat mungkin. I love you." Ucap Zira. " I love you too." Jawab Ziko, kemudian panggilan terputus. Tok tok tok suara pintu di ketuk. Ziko memberikan titah untuk masuk kedalam ruangannya. Kevin masuk kedalam ruangan bosnya. " Tuan, meeting room sudah saya sulap menjadi ruangan yang jauh berbeda dari sebelumnya." Lapor Kevin. " Baiklah." Ziko beranjak dari kursi kebesarannya menuju meeting room. Ziko terlihat puas dengan kerja asistennya, walaupun dia tidak memuji hasil kerja Kevin dan karyawannya. Tapi terlihat dari senyumnya yang merekah. " Tuan, sudah selesai tersenyumnya?" " Memangnya kenapa?" " Nanti gigi tuan kering kalau kebanyakan tersenyum. Apa perlu saya panggil nona Zira." Ucap Kevin. " Untuk apa?" " Untuk jadi model iklan pasta gigi." " Berani bayar berapa perusahaan istriku kalau aku jadi modelnya." " Tuan jangan bangga dulu, saya belum bilang pasta gigi apa." Ucap Kevin. " Pasta gigi apa?" " Pasta gigi untuk gigi palsu." Ejek Kevin. " Sialan kamu." Ucap Ziko kesal. " Maaf tuan saya hanya bercanda." Kevin merapatkan kedua tangannya meminta maaf. " Kamu sepertinya sedang berbahagia? Apa kamu mendapatkan coklat manis dari si Menik." Tanya Ziko. Kevin tersenyum secerah mentari. " Ah aku sudah bisa tebak dari senyuman mu terlihat kalau kamu tidak mendapatkan apa pun dari si Menik." Senyum Kevin langsung meredup. Dia heran bagaimana bisa bosnya bisa salah mengartikan arti senyumannya. " Tuan kalau saya kecewa pasti tidak tersenyum. Dan sekarang saya tersenyum berarti apa." Ucap Kevin. " Mana aku tau. Kamu yang tersenyum, dan kamu juga yang mengartikan bukan aku." Ziko sengaja menjahili asistennya agar pria itu mau bicara mengenai kebahagiannya. " Ini senyum bahagia tuan." Kevin menunjukkan senyumannya. " Oh." Ucap Ziko singkat. " Tuan tidak tanya kenapa?" Ucap Kevin. " Enggak perlu." Jawab Ziko. " Kalau saya beritahu anda. Apa tuan mau mendengarkan." Tanya Kevin. " Tergantung." " Apanya yang di gantung?" " Jembatan yang di gantung." Keduanya mengucapkan secara bersama-sama sambil tertawa. " Ceritakan tentang kebahagiaanmu." Perintah Ziko. " Saya semalam mengantarkan Menik pulang." " Memangnya dari mana kalian." Ucap Ziko sambil menarik kursi yang ada di ruang meeting lalu dia mendudukkan tubuhnya di sana. Kevin mengikutinya dan duduk di samping bosnya. " Dari rumah saya." " Stop jangan lanjutkan pasti ibumu tidak setuju kemudian dia menangis dan kamu mengecupnya benar kan?" Tebak Ziko. " Betul tuan. Tebakan anda betul-betul salah." Ucap Kevin. " Oh salah ya. Lalu apa yang terjadi ketika bertemu dengan ibumu." Tanya Ziko. " Mama menyetujui hubungan kami." " Oh bagus itu." " Tapi." Ucapan Kevin menggantung. " Stop aku sudah bisa menebak lanjutan ceritanya. Aku tidak mau mendengar cerita yang sedih. Nanti semangatku untuk menyambut alpha corporate meredup. Potong bagian cerita itu, lanjutkan cerita yang bahagia." Ucap Ziko. " Baik tuan." " Saya sudah melakukan percobaan dengan Menik." Ucap Kevin pelan sambil tersenyum. Ziko mendengarkan dengan seksama sambil duduk santai di kursi. " Apa yang tuan ajarkan saya lakukan." Ucap Kevin. " Apa! Kamu melakukan seperti yang aku lakukan?" Ziko kaget langsung duduk dengan tegak. " Iya tuan. Rasanya manis sekali." Ucap Kevin membayangkan kejadian tadi malam. Ziko mendengus kesal sambil memijat pelipisnya. " Tuan tau, kami melakukannya di mobil." " Apa! Aku saja tidak pernah melakukan di mobil bagaimana kamu melakukannya di mobil." " Tuan sering melakukannya di hadapan saya, ketika duduk di belakang bersama nona Zira. Dan karena itu batuk dan angin musiman saya kambuh." Ucap Kevin. " Tunggu, maksud kamu kissing?" " Iya tuan. Memangnya apa yang tuan pikirkan." Tanya Kevin. " Ah sudahlah tidak usah di bahas." Ziko memikirkan yang lain, dia berpikir Kevin dan Menik melakukan hubungan suami istri di mobil. Ternyata dia salah. " Seperti ini rasanya jatuh cinta." Ucap Kevin senang. " Iya betul, kalau jatuh cinta semuanya terasa manis. Taik gigi saja di kira coklat." Sindir Ziko. Kevin langsung menelan salivanya, dia mencoba mengingat kejadian tadi malam, apakah dia menelan taik gigi apa tidak. " Like, komen dan vote yang banyak ya, terimakasih." Ig. anita_rachman83 Chapter 394 episode 393 (S2) Ponsel Kevin berdering, pria itu langsung mengangkat ponselnya. " Ya halo, ok." Kemudian panggilan terputus. " Tuan, rombongan alpha corporate sudah menuju kesini. Dalam beberapa menit mereka akan sampai." Ucap Kevin. " Baiklah, siapa yang menyambut mereka di loby." Tanya Ziko. " Saya dan Koko tuan." Ucap Kevin. " Baiklah kamu sambut mereka di depan. Aku akan menunggu mereka disini." Ucap Ziko. Kevin pergi ke loby bersama dengan Koko dan Ziko menunggu di dalam meeting room. Ziko kembali menghubungi istrinya. " Kamu di mana?" " Aku sedang menyetir." " Jam berapa kamu bisa datang kesini." Tanya Ziko. " Aku lagi menuju ke kantormu. Apa perusahaan alpha sudah datang." " Hampir." Ucap Ziko. " Hampir? Hampir apa?" " Hampir sampai." " Ya sudah kamu sambut saja mereka. Nanti kalau sudah sampai, aku langsung menemuimu." Ucap Zira. Ziko menutup panggilannya, karena Kevin sudah membuka pintu meeting room dan di belakangnya ada rombongan dari perusahaan Alpha. Total rombongan itu ada tujuh orang dua wanita dan lima pria. Kevin menghampiri bosnya. " Tuan, ini alpha corporate." Ucap Kevin. Ziko memperhatikan penampilan dari tim alpha corporate, yang mana semuanya mengenakan pakaian berwarna hitam. Untuk pria mengenakan setelan jas berwarna hitam. Begitupun dengan yang wanita mengenakan seragam berwarna hitam hanya di bedakan bagian bawahnya. Wanita mengenakan rok di atas lutut yang super ketat, sehingga membentuk tubuh mereka. Dan semuanya memakai kaca mata hitam. " Vin, kenapa penampilan mereka semuanya seperti ini. Apa mereka lagi iklan kaca mata." Bisik Ziko. " Please, sit down." Ucap Kevin. " Itu yang saya pikirkan dari tadi. Mereka mengenakan pakaian serba hitam dan kaca mata hitam. Seperti mau ke pemakaman." Bisik Kevin. " Good afternoon." Sapa Ziko kepada semuanya. Semua tim alpha hanya menganggukkan kepalanya, tanpa mengeluarkan sepatah kata. " Vin, kenapa mereka bisa kompak? Seperti grup kompang saja." Ucap Ziko " Yang mana ceo nya." Tanya Ziko. " Enggak tau tuan. Saya belum bertanya, tadi ketika mereka sampai langsung saya bawa kesini." Ucap Kevin " Mungkin di antara dua wanita itu." Ucap Ziko. " Kenapa bisa seperti itu." Bisik Kevin. " Coba kamu perhatikan, semua pria terlihat segan kepada kedua wanita itu." Ucap Ziko. " Ya tuan, tapi di antara kedua wanita itu yang mana ceo nya." Tanya Kevin. " Dari pada bingung kita tanya saja." Ucap Ziko. " Hello, I''m Ziko the president director of Raharsya group (Halo, saya Ziko presiden direktur dari Raharsya grup)." Dia mengulurkan tangannya kearah dua wanita bule itu. Tidak berapa lama ada seseorang masuk kedalam meeting room. " Sorry aku terlambat." Ucap Zira. Ziko menarik kembali tangannya dan melihat kedatangan istrinya. Zira menghampiri suaminya. " Apa sudah dimulai." Tanya Zira. " Belum." Ucap Ziko berbisik. " This is my wife, she is also a businessman (Ini istriku, dia juga seorang pebisnis)." Ziko memperkenalkan Zira kepada tim alpha. " Helo everyone." Ucap Zira sambil tersenyum ramah. " Sayang kenapa mereka mengenakan kacamata hitam semua." Tanya Zira. " Mungkin mereka lagi sakit mata." Ucap Ziko. Ziko duduk di tengah dan di apit oleh Kevin dan Zira. Sedangkan Koko sudah kembali bekerja. " Who among you is the owner of Alpha Corporate (Siapa di antara kalian pemilik dari alpha corporate)." Tanya Kevin. Semua tim alpha tidak menjawab mereka serentak membuka kaca mata hitamnya. " Wah, aku seperti berada di dalam film the matrix." Ucap Zira. Ada pemandangan yang aneh. Ketika tim alpha membuka kaca matanya wajah mereka terlihat satu persatu. Dan ada sosok wanita yang mereka kenal. " Katherene." Ucap Ziko dan Kevin serentak. Mereka kaget melihat modelnya Zira ada di dalam tim alpha. Tapi Ziko dan Kevin menoleh kearah Zira. " Hey, kenapa kalian semua melihat kearah ku." Ucap Zira. Ziko dan Kevin melihat ke tim Alpha lagi. " Perkenalkan ini adalah tim saya yang bekerja di alpha corporate. Katherene memperkenalkan satu persatu timnya, dari nama sampai posisi yang di jabat mereka di jelaskan Katherene. " Baiklah langsung saja. Tanpa perlu basa basi kami akan menanamkan saham kami di perusahaan anda sebesar lima puluh persen." Ucap Katherene. " Apa! Ucap Ziko dan Kevin bersamaan. Itu merupakan nilai persentase yang besar. Biasanya para investor hanya menamankan saham mereka di perusahaan Ziko paling besar hanya dua puluh persen dan hari ini merupakan rekor baru untuk mereka. Di mana alpha corporate menaruh kepercayaan kepada perusahaan Ziko. Nilai yang sungguh fantastis buat mereka. Kevin langsung mempersiapkan kontrak kerjasama. Kontrak kerjasama itu pertama kali di tanda tangani Ziko kemudian di serahkan di hadapan Katherene. Mereka menunggu Katherene menandatangani surat perjanjian kontrak kerjasama. Wanita indo bule itu menyerahkan kepada wanita di sebelahnya. Wanita di sebelahnya membaca isi kontak kerjasama, setelah cukup yakin dengan isi perjanjian itu wanita tadi menyerahkan kembali kepada Katherene sambil menganggukkan kepalanya. Ziko dan Kevin yang menyaksikan itu harap-harap cemas. Ada rasa khawatir kalau isi kontrak kerjasama itu tidak sesuai dengan harapan alpha corporate. Entah kenapa keduanya merasa segan melihat Katherene berpenampilan seperti itu, sebenarnya di benak keduanya sudah penuh pertanyaan yang akan diajukan ke Zira. Tapi berhubung masih ada tim alpha, mereka masih menyimpan daftar pertanyaan itu. Wanita yang di sebelah Katherene menyerahkan pena yang berwarna emas kepadanya. Di benak Ziko dan Kevin berpikir kalau wanita yang menyerahkan pena itu adalah asisten Katherene. Katherene memegang pena emas itu kemudian membuka tutupnya. Dia memainkan penanya. Ziko dan Kevin menahan nafasnya, mereka merasa tegang ketika melihat Katherene melakukan hal itu. Tegang dan khawatir kalau-kalau wanita indo bule itu membatalkan kerjasamanya. " Katherene apa ada masalah dengan penamu." Tanya Kevin. Katheren menggelengkan kepalanya. Dia menarik kontrak itu dan menyerahkan kehadapan Zira. " Apa yang kamu lakukan." Ucap Ziko bingung. " Silahkan nona." Ucap Katherene menyerahkan penanya kepada Zira. Zira langsung menadatangani surat itu. " Loh kenapa kamu yang tanda tangan di situ." Ziko bingung. " Sayang sekarang bukan waktunya bercanda." Ucap Ziko. " Benar nona. Kalau anda butuh kertas untuk coret-coret saya bisa memberikannya kepada anda." Ucap Kevin. Zira hanya tersenyum. Seorang pria yang duduk tidak jauh dari Katherene menyerahkan sebuah berkas kehadapan Ziko dan Kevin. Ketika membaca berkas itu, keduanya langsung membuka mulutnya lebar-lebar. Di dalam itu adalah surat-surat tentang kepemilikan alpha corporate dan di situ tertulis Amrin. Alpha adalah sebuah inisial dari huruf A yang berarti Amrin. " Sayang aku menyerah ternyata kamu lebih hebat dariku." Ucap Ziko. " Ah biasa aja." Ucap Zira merendah. " Apa tuan tau siapa nona Zira sebenarnya." Ucap Katherene. " Ya istriku." Ucap Ziko singkat. " Iya tuan, dunia pun tau kalau nona Zira istri anda. Tapi apa anda pernah mengetahui siapa dan berapa kekayaannya." Ucap Katherene. Ziko dan Kevin menggelengkan kepalanya. " Nona Zira, adalah orang nomor lima terkaya di asia." " Apa!" Ziko dan Kevin kaget. Ekspresi mereka sama yaitu mulutnya menganga dan matanya melotot. Yang di ucapkan Katherene membuat keduanya terkejut, jika keduanya ada sakit jantung pasti Ziko dan Kevin langsung gagal jantung. " Like, komen dan vote yang banyak ya, terima kasih." Ig. anita_rachman83 Chapter 395 episode 394 (S2) Sepasang suami istri itu menandatangani kontrak kerjasama. Di saksikan tim alpha dan Kevin. " Sayang kenapa kita seperti baru menikah ya?" Ucap Ziko. " Maksud kamu apa?" Ucap Zira bingung. " Dulu, kita pernah melakukan hal yang sama yaitu menandatangani buku nikah dan surat-surat dari KUA, sekarang sama, cuma bedanya ini kontrak kerjasama, dan di saksikan tim kamu dan Kevin." Ucap Ziko mengingatkan kembali kenangan yang dulu. Zira hanya nyengir tanpa bicara. " Baiklah karena keduanya telah menandatangani kontrak kerjasama. Apa ada yang mau di tanyakan." Ucap Katherene. Ziko dan Kevin mengangkat tangannya secara bersamaan. " Ya silahkan." Ucap Katherene. " Apa pada saat liburan kamu sudah bekerja di tim Alpha." Tanya Kevin. Katherene tersenyum. " Vin, Vin anak sd juga sudah tau jawabannya. Pasti dia sudah bekerja di alpha corporate. Ya kan?" Ucap Ziko. " Iya tuan." Jawab Katherene singkat. " Begini pertanyaan yang harus kamu tanyakan. Apa kamu mempunyai pekerjaan sampingan jadi model." Ucap Ziko. Katherene tersenyum lagi. " Maaf tuan, saya bukan seorang model. Saya sudah lama bekerja dengan keluarga Amrin. Dan kedatangan saya kesini bukan hanya untuk liburan. Tapi untuk mempersiapkan kontrak kerjasama tim kami dan tim anda. Dan semua rencana ini sudah di susun matang oleh istri anda nona Zira." Ucap Katherene menjelaskan. Kedua pria itu menoleh kearah Zira secara bersamaan sambil menepuk tangannya. " Ternyata kamu hebat dalam menyusun strategi. Apa dulu kamu pernah bekerja di satuan kepolisian?" Ucap Ziko. Zira tersenyum. " Nona, saya curiga apa ada keterlibatan perusahaan anda dengan turunnya nilai saham tuan Sultan." Tanya Kevin. " Iya." Ucap Zira. " Kamu lihat dua orang pria yang duduk di pojok. Mereka adalah sebagian kecil dari ahli komputerku. Perusahaanmu sudah di hack oleh tuan Sultan. Dan aku membalasnya dengan mengobrak-abrik perusahaannya." Ucap Zira. Ziko dan Kevin manggut. " Jangan-jangan kekayaanmu hasil curang." Ucap Ziko. " Katherene jelaskan." Perintah Zira. Wanita indo bule itu menjelaskan secara rinci. " Kekayaan nona Zira sudah ada dari jaman moyangnya. Jadi sebelum ada teknologi yang namanya komputer perusahaan Alpha corporate sudah berdiri. Cuma belum sebesar seperti sekarang. Alpha corporate menjadi besar semenjak Eyang Amrin pegang. Dan menjadi lima terbesar di Asia seperti sekarang ini juga karena istri anda." Ucap Katherene menjelaskan. " Jangan di besar-besarkan. Alpha corporate bisa berdiri seperti sekarang karena kalian semua. Kalian tim yang saya unggulkan, semua karena jasa kalian." Ucap Zira memuji timnya. " Baiklah sesuai kesepakatan kalau alpha corporate menanamkan sahamnya sebesar lima puluh persen, dengan arti kepemilikan nona Zira pada perusahaan tuan muda yang ada di luar negeri sama dengan tuan." Ucap Katherene. " Ya sudahlah, apa perlu semuanya aku serahkan ke kamu sayang." Ucap Ziko. " Maksudnya?" Ucap Zira bingung. " Perusahaanku di ambil alih oleh alpha coroporate. Kalian buat besar dan sukses perusahaanku. Mana tau aku bisa menyaingimu dengan menjadi orang nomor empat di asia." Ucap Ziko sambil tersenyum menyeringai. " Jangan bercanda ya, perusahaan itu bukan hanya tanggung jawabku sendiri tapi tanggung jawab kamu. Jangan serahkan semua tanggung jawab ke alpha corporate." Ucap Zira. " Iya sayang aku tau, tapi apa salahnya tim alpha membantu untuk memajukan perusahaanku." Ucap Ziko. " Tentu tuan, kita akan bersama-sama bangkit kembali untuk membangun perusahaan anda yang sedang terpuruk." Timpal Kateherene. " Bisa tidak kata terpuruknya tidak terlalu di tekan, kesannya hancur banget perusahaanku." Protes Ziko. Mendengar protesnya Ziko semua yang ada di ruang meeting tertawa . Setelah kesepakatan itu. Tim alpha pergi meninggalkan gedung Raharsya group. Tinggal Ziko, Zira dan Kevin yang masih berdiam diri di ruang meeting. Kedua pria itu melihat Zira penuh selidik. " Kenapa kalian melihatku seperti itu?" Ucap Zira. " Aku heran denganmu. Kenapa kamu tidak langsung bilang saja kepadaku kalau alpha corporate punyamu." Gerutu Ziko. " Kan, kamu sendiri yang bilang kalau perusahaanku hanya lintas ibu kota bukan lintas dunia. Kalau aku bilang alpha corporate punyaku apa kamu percaya? Tentu tidak kan?" Ucap Zira. Ziko menggelengkan kepalanya. " Nah, makanya aku tidak mau memberitahukanmu." Ucap Zira. " Tapi kenapa pada saat di rumah kamu tidak mau aku suruh ikut melobi alpha corporate?" Ucap Ziko lagi. " Oh, itu memang taktik ku, agar tidak terbaca olehmu. Dan aku juga mengetesmu." " Tes apa?" " Tes kegenitannmu. Dan ternyata kamu memang rada genit. Untung kemaren aku naik meja." Ucap Zira. " Iya sayang, melihatmu naik keatas meja aku sudah takut. Takut karena melihat kemurkaan ibu Thanos." Ejek Ziko. Kevin dan Ziko tertawa. " Cukup, apa mau aku naik ke atas meja lagi." Ancam Zira. " Jangan sayang, kamu menggunakan rok, nanti si Kevin bisa melihat isi dalam rokmu." Ucap Ziko. Ketiganya beranjak dari kursi dan jalan beriringan keluar dari meeting room menuju ruang kerja Ziko. Sambil berjalan Kevin mencoba bertanya kepada Zira. " Nona, apa pakaian tim alpha semuanya berwarna hitam." Tanya Kevin. " Enggak." Jawab Zira singkat. " Tapi kenapa mereka kesini mengenakan pakaian yang berwarna sama dan memakai kacamata hitam. Dan Untungnya mereka tidak membawa payung hitam. Kalau mereka membawa payung lengkaplah sudah." Ucap Kevin. " Lengkap apanya." Tanya Ziko dan Zira bersamaan. " Lengkap seperti ke pemakaman." Ucap Kevin. " Hahahah." Ziko dan Zira tertawa bersama-sama. " Kalau kaca mata hitam itu memang sengaja aku suruh mereka semua memakainya. Agar kalian tidak mengenali Katherene. Aku sudah memerintahkan Katherene untuk menahan mereka agar membuka kaca mata setelah kedatanganku." Ucap Zira. " Lalu pakaian hitam itu?" Timpal Ziko. " Mengenai pakaian serba hitam aku tidak ada memerintahkan seperti itu. Mungkin mereka berinisiatif sendiri memakai pakaian serba hitam agar serasi dengan kaca mata hitam mereka." Ucap Zira. Mereka sudah sampai di dalam ruangan presiden direktur. " Untung mereka tidak hitam." Ucap Ziko. " Memangnya kenapa kalau hitam." Tanya Zira. " Takutlah, apa kamu bisa membayangkan kalau hanya gigi dan matanya yang terlihat." Ucap Ziko " Menurutku tidak masalah kalau mereka berkulit hitam asalkan giginya putih. Tapi kalau giginya kuning itu yang jadi masalah." Ucap Zira. " Maaf tuan dan nona, bisa tidak kalau tidak membahas masalah gigi. Saya serasa mual mendengarnya." Ucap Kevin. " Buahahaha." Ziko tertawa senang sedangkan Zira masih bingung. " Memangnya kenapa dengan gigimu? Apa kamu sakit gigi." Ucap Zira bingung. " Bukan sayang, si Kevin baru nelan taik gigi kemaren malam, buahahaha." Ziko tertawa terpingkal-pingkal. Kevin langsung mual, dia langsung masuk ke dalam kamar mandi bosnya. " Kenapa dengan Kevin? Dia seperti jijik dengan taik giginya." Tanya Zira. " Bukan taik giginya tapi Menik punya, buahahaha." Ziko tertawa lagi. " Sepertinya Menik enggak sejorok itu, kamu menjahili Kevin ya?" Ucap Zira. " Iya, kemaren dia baru mendapatkan vitamin c dari si Menik." Ucap Ziko. " Mendapatkan atau nyosor duluan." Tanya Zira. " Entah." " Ah pasti dia nyosor duluan." " Kok bisa kamu berpikir seperti itu." " Kamu kan selalu nyosor bibirku dan semua di saksikan Kevin, dengan otomatis kamu mengajarkannya. Untung kamu tidak mencumbuiku di depannya." Ucap Zira. " Like, komen dan vote yang banyak ya, terimakasih." Ig: anita_rachman83 Chapter 396 episode 395 (S2) Kevin sudah kembali dari kamar mandi, wajahnya terlihat pucat. " Mabok loh?" Ejek Ziko. " Ho oh." Jawab Kevin sambil menjatuhkan badannya keatas sofa. " Mabok apa?" Goda Ziko lagi. " Mabok taik gigi." Celetuk Zira. " Buahahaha." Ziko tertawa terpingkal-pingkal. Kevin mendengar kata itu langsung masuk ke kamar mandi. Dia muntah kembali. " Sayang, nanti kalau gara-gara kita, si Kevin trauma bagaimana." Ucap Ziko di selingi gelak tawanya. " Enggaklah, mana ada harimau nolak bangkai." Jawab Zira cepat. " Maksud kamu." " Mana ada pria menolak seorang wanita. Apalagi Menik, aku yakin pasti trauma si Kevin langsung hilang ketika melihat istrinya memakai lingerie. Pasti dia bakalan ngences." " Tapi kalau seandainya dia masih trauma bagaimana?" " Kita bawa ke dokter boy koh." Ucap Zira. Kevin kembali ke dalam ruangan bosnya, dia terlihat pucat. " Tolong jangan membicarakan hal itu lagi. Saya mohon." Ucap Kevin lemas. " Iya, iya." Ucap Zira. Ada rasa kasihan melihat Kevin pucat seperti itu. Dia mengangkat telepon yang ada di meja kerja suaminya. Dan menghubungi pantry, dia memesan teh untuk Kevin. Dalam beberapa menit seorang office girl sudah datang dengan membawa nampan yang di atasnya ada segelas teh hangat. " Letakkan saja di meja." Ucap Zira Office girl itu meletakkan gelas tersebut ke atas meja sesuai dengan perintah Zira. Kemudian wanita itu kembali ke pantry. " Minum tehnya." Ucap Zira. Kevin langsung meminum teh itu. " Kamu itu harus kuat baru begitu saja sudah lemas. Belum kalau kamu ikut mabuk seperti aku." Ucap Ziko. " Mabuk apa." Tanya Zira. " Mabuk-mabuk judi." Ziko bernyanyi. Zira langsung melotot. " Enggak sayang, aku tidak berjudi. Maksudku mabuk karena kamu hamil." " Iya Vin, mabuk karena hamil itu enggak enak banget. Kamu itu harus kuat. Jangan karena membicarakan kata ta." Zira berhenti dengan kalimatnya. Hampir saja dia mengucapkan kata taik gigi lagi. " Mungkin kalau mabuk karena istiri hamil saya masih kuat. Tapi membayangkan yang tadi malam itu saya mual." " Makanya jangan di bayangkan cukup di resapi, anggap aja semuanya coklat." Ucap Ziko. Kevin langsung mengerutkan dahinya. Terlihat kalau dia serasa mual. Prok, Zira memukul lengan suaminya. " Aw ringan sekali tanganmu." Gerutu Ziko. " Lihat tuh, si Kevin mukanya udah jelek lagi." " Jelek lagi? Memangnya dia dulu ganteng." Tanya Ziko. " Ganteng lah." Timpal Kevin. " Wuis yang mabuk udah sadar." Ucap Zira dan Ziko bersamaan sambil melihat kearah Kevin. " Ganteng dari mananya." Ucap Ziko. " Ya Vin, aku perhatikan kenapa wajah kamu ada kacang tanahnya. Biasanya wajah kamu mulus seperti jalan tol. Kenapa banyak kacang demo di wajahmu." Ejek Zira. " Kacang?" Kevin memegang dahinya ada beberapa benjolan di dahinya. " Ini jerawat cinta nona, bukan kacang. Kalau kacang pasti sudah saya buat kacang tojin." Ucap Kevin. " Ngomong-ngomong soal cinta. Seberapa gregetnya kamu karena cinta." Tanya Zira. " Kemaren saya antar Menik pulang." Ucap Kevin semangat. " Asik." Ucap Zira dan Ziko bersamaan. " Eh bukannya pulang malah lidah saya ngabuburit." Ucap Kevin. " Ngabuburit taik gigi." Ucap Zira dan Ziko kompak sambil tertawa terbahak-bahak. " Tuan, kalau masih ngomongin itu lagi saya muntah di sini." Ancam Kevin. " Muntahkan saja. Nanti kamu juga yang bersihkan muntahan mu." Ucap Ziko. Kevin mencoba mengalihkan pembicaraan, agar dia tidak jadi bahan kejahilan dua majikannya. " Nanti malam berangkat jam berapa." Tanya Kevin. " Berangkat kemana?" Ucap Zira. " Oh iya, nanti malam resepsi pernikahan Vita." Ucap Ziko. " Wah hampir saja kita melewatkan momen bahagia itu." Ucap Zira. " Kamu datang dengan Menik." Tanya Zira. " Mungkin nona." " Kok mungkin." Tanya Zira. " Saya belum memberitahukan hal ini kepadanya." Ucap Kevin. " Kenapa? Apa kamu ada masalah dengannya. Tapi sepertinya kalian tidak ada masalah soalnya dari ceritamu, kalau lidahmu baru ngabuburit jadi tidak mungkin terjadi masalah." Ucap Zira. " Bukan dengan Menik masalahnya, tapi adiknya Bima." Ucap Kevin. " Oh." Zira hanya menjawab singkat. " Pasti adiknya tidak setuju." Tebak Ziko. Kevin menganggukkan kepalanya. " Semangat Vin, nyali mu jangan menciut seperti itu." Ucap Zira memberi semangat. " Kami bingung restu dari kedua orang tua saya sudah di dapat. Tapi restu dari Bima belum dapat." Ucap Kevin curhat. " Pepet terus Vin, kalau perlu tunjukkan kalau kamu itu tulus dengan Menik." Ucap Zira. " Bagaimana caranya." Tanya Kevin. " Sayang ajarkan." Perintah Zira. " Aku!" Ziko menunjuk dirinya sendiri dengan jari telunjuknya. Zira mengangguk. " Kamu kan tau kalau aku bukan tipe pria yang ramah. Malah bisa di bilang tipe pria yang garang. Tapi kalau aku jadi kamu, aku kawin lari saja." Ucap Ziko. " Capek dong." Ucap Zira. " Ya udah kawin ojek." Ucap Ziko asal. " Tidak bisa seperti itu tuan. Wali nikah tetap Bima tidak bisa yang lain. Kecuali kalau Bima tidak ada bisa di gantikan sama wali hakim." Ucap Kevin menjelaskan. " Ya sudah racun saja dia pakai racun tikus." Ucap Ziko asal. " Sayang!" Zira merapatkan giginya. " Bercanda sayang, kamu kalau merapatkan gigi seperti itu mirip banget dengan salah satu murid aquaman." " Murid yang mana?" " Baby shark dodododo baby shark." Ziko bernyanyi lagi. Zira hanya melirik suaminya tanpa menyambut candaan suaminya. Dia menoleh kearah Kevin. " Coba mendekatkan diri kepadanya. Mana tau hatinya terbuka." Kevin mendengarkan dengan seksama. " Kamu bisa memberikan perhatian kepada keduanya. Contoh dengan sering mengirim makanan kepada mereka. Atau apalah yang membuat Bima merasa tersentuh." " Atau begini Vin, aku ada ide. Bagaimana kalau kamu menyuruh orang untuk mencegat si Bima, buat adegan seperti perampokan dan kamu tiba-tiba datang sebagai superhero nya." Ucap Ziko. " Kalau perlu pakai kostum dari sarung, seperti super deg deg." Ucap Ziko " Jangan Vin, itu tidak baik. Jangan ikuti ide konyol suamiku. Nanti kalau si Bima tau kamu yang mengirim perampok itu, bisa-bisa dia tambah benci ke kamu. Lakukanlah hal-hal yang wajar." " Baik nona." Ucap Kevin. Kemudian dia pergi meninggalkan ruangan bosnya dan kembali ke ruangannya. Sesampai di ruangannya, dia menghubungi nomor ponsel Menik. Panggilan terhubung. " Halo." Ucap Menik. " Nanti malam aku ada undangan resepsi ke pernikahan. Aku harap kamu mau ikut bersamaku." Ucap Kevin. " Pesta? Tapi aku belum pernah ke acara pesta orang kaya." Ucap Menik ragu. " Menik, tidak ada namanya pesta orang kaya, semua pesta sama saja." Ucap Kevin. " Ada perbedaanya kalau pesta orang kaya di lakukan di gedung dan tamu undangan kebanyakan dari kaum elite. Kalau pesta rakyat jelata seperti kami di adakan di gang sempit kadang di lapangan. Dan tamu undangan hanya dari kalangan kelas menengah kebawah." Ucap Menik minder. " Nik jangan seperti itu, kenapa kamu harus minder. Jangan membandingkan status sosial orang. Semua manusia derajatnya sama." Ucap Kevin. Dia berusaha untuk membujuk Menik agar tidak minder. " Like, komen dan vote yang banyak ya terimakasih." Ig. anita_rachman83 Chapter 397 episode 396 (S2) Kevin terus merayu dan membujuk Menik untuk ikut dalam acara nanti malam. Semua usaha sudah dilakukannya tapi wanita itu tetap kekeh tidak mau ikut. Akhirnya dia menjual nama Zira. " Nona Zira akan pergi juga ke acara itu? Apa kamu juga tidak mau ikut." Ucap Kevin dari ujung ponselnya. Tidak terdengar jawaban apapun dari Menik, hanya keheningan yang di dengarnya. " Halo Nik? Kamu masih di sana? Apa sudah tidur." Ucap Kevin. " Eh iya, aku masih di sini." Ucap Menik gugup. " Kamu melamun." Tanya Kevin. " Eh tidak." Menik gugup. " Apa ada masalah?" Ucap Kevin. " Tidak, kalau aku ikut bersamamu, aku harus mengenakan gaun juga?" " Iya dong Nik, kan enggak lucu kalau kamu datang dengan baju tidur." " Hemmm tapi." Ucapan Menik menggantung. " Kenapa Nik? Apa kamu tidak punya gaun?" Ucap Kevin. " Iya, ada gaun tapi aku tidak tau apakah cocok untuk acara nanti malam." Ucap Menik pelan. " Begini saja, kamu tunggu saja di apartemen, aku akan mencarikan gaun untukmu." Ucap Kevin. " Apa kamu bisa memilih gaun yang cocok untukku." Ucap Menik. " Bukan aku, tapi nona Zira. Dia seorang desainer pasti tau model yang cocok untukmu. Kebetulan beliau ada di sini." Ucap Kevin. " Oh ya, apa yang di lakukan nona Zira di sana." Tanya Menik. " Selain menjahiliku juga mengurus pekerjaan di sini." " Menjahilimu?" " Jangan berpikiran yang aneh-aneh. Pasangan suami istri itu paling suka menjahiliku." " Ya sudah, aku jemput jam tujuh malam." Ucap Kevin, kemudian panggilan terputus. Kevin kembali ke ruangan bosnya. Tok tok tok. " Masuk." Ucap Ziko. Ceklek, Kevin membuka pintu ruangan itu. " Ada apa Vin." Tanya Ziko. " Saya ada perlu dengan nona Zira." Ucap Kevin. " Mau ngapain kamu sama istriku." Ziko cemburu. " Saya mau berkonsultasi dengan istri tuan." Ucap Kevin. " Konsultasi? Kamu pikir istriku tempat konsultasi keluh kesah mu" Ucap Ziko ketus. " Sstt, dengarkan dulu. Jangan berpikir yang aneh-aneh. Kalau tidak ada rahasia beritahu saja di sini." Ucap Zira. " Begini nona, Menik mau ikut dengan saya untuk acara nanti malam. Tapi dia belum ada gaun, jadi saya mau minta tolong anda memilihkan gaun yang cocok untuknya." Ucap Kevin. " Vin Vin, hanya itu saja kamu bilang konsultasi?" Ejek Ziko. Mendengar ucapan bosnya dia tersenyum kecil. " Baiklah tunggu sebentar." Zira mengambil ponselnya yang ada di dalam tasnya dan memilih hasil rancangannya. Semua rancangan yang sudah selesai di jahit pasti di foto karyawannya dan hasil fotonya di kirim ke dia. " Bagaimana dengan yang ini." Ucap Zira menunjukkan hasil rancangannya kepada Kevin. " Terlalu terbuka." Ucap Kevin. Zira memilih lagi foto desainnya di dalam ponselnya. " Kalau yang ini bagaimana?" Ucap Zira. " Terlalu ketat." " Ah kamu ini banyak banget komplain mu. Pilih sendiri." Gerutu Zira sambil menyerahkan ponselnya kepada Kevin. Kevin memilih beberapa gaun melalui ponsel pintar milik Zira. Dan dia menjatuhkan pilihan pada gaun long dress dengan lengan panjang. Gaun itu berwarna hitam dan seperti ada kilauan cahaya di atasnya. " Yang ini." Ucap Kevin menunjuk gaun hasil pilihannya. " Apa kamu yakin?" Ucap Zira. " Iya yakin." Ucap Kevin tegas. " Baiklah tapi jangan ada komplain ya." Ucap Zira lagi. " Komplain? Memangnya kenapa dengan gaun itu." Ucap Kevin sambil menunjuk pilihannya. " Tidak ada." Ucap Zira singkat. Ziko melihat hasil pilihan asistennya, dia langsung memicingkan matanya. " Kamu itu norak sekali." Ucap Ziko. " Norak apanya." Zira yang angkat bicara bukan Kevin. " Ini lihat banyak sekali kilauan di atas gaun itu. Apa kamu tidak berpikir kalau si Menik di dalam gelap akan terlihat seperti lampu petromaks yang berjalan." Ejek Ziko. " Enak aja kamu bilang hasil rancangan ku seperti lampu petromaks. Ini namanya blink-blink, memang terlihat berkilau apalagi kalau kena pantulan cahaya akan tambah Kilauan nya. Jadi ralat ucapanmu yang mengatakan lampu petromaks." Ucap Zira. Zira menghubungi butiknya dan memerintahkan karyawannya untuk mengirimkan hasil rancangannya ke alamat apartemen Menik. Hari sudah petang Zira dan Ziko sudah bersiap. Zira mengenakan gaun hasil rancangannya. Dia mengenakan dress dengan panjang bagian depan sampai di bawah lutut dan bagian belakang panjang sampai mata kaki, dan bagian atasnya berlengan pendek. Dan suaminya mengenakan setelan tuksedo berwarna hitam dengan dasi kupu-kupu. " Kamu cantik sekali." Puji Ziko. " Terima kasih." Ucap Zira senang. " Kamu mengenakan dress itu seperti botol minuman fanta." Ejek Ziko. Zira mengenakan dress berwarna fanta mungkin itu yang membuat Ziko mengatakan kalau istrinya mirip minuman botol. " Ah kamu." Rengek Zira. " Bercanda sayang, kalau kamu isinya aku jadi botolnya." Ucap Ziko. " Ya botol kecap." Ucap Zira. Keduanya tertawa bersama sambil keluar dari rumahnya. Ziko mengendarai mobil sportnya yang berwarna putih. Mobil langsung melaju menuju tempat acara resepsi berlangsung. Sedangkan Kevin baru tiba di depan apartemen Menik. Dia sengaja tidak menelepon Menik untuk turun. Karena dia ingin langsung menjemput Menik di depan pintu apartemennya. Di tangan Kevin sudah ada beberapa paper bag yang di dalamnya berisi beraneka ragam makanan. Dia sengaja membawa makanan itu untuk mengambil hati Bima. Ting tong bel apartemen Menik berbunyi, wanita itu langsung berlari kecil menuju pintu, sedangkan Bima hanya melihat sekilas karena dia sudah bisa menebak kalau yang ada di depan pintu apartemen adalah Kevin. " Kenapa tidak menghubungiku saja. Jadi kamu tidak perlu repot-repot naik kesini." Ucap Menik sambil mempersilahkan Kevin masuk. " Ini." Kevin menyerahkan bawaannya kepada Menik " Apa ini." Tanya Menik sambil menerima bawaan dari calon suaminya. " Beberapa makanan, aku sengaja membelinya untukmu, kalau tengah malam kamu lapar, kamu langsung bisa memakannya." Ucap Kevin sambil melirik Bima. " Oh terima kasih, aku memang sering kelaparan kalau tengah malam, kadang malas kalau mau makan makanan berat. Tapi dengan makanan ini akan bisa makan sepuasnya tanpa harus takut kelaparan." Ucap Menik sambil mempersilahkan Kevin untuk duduk. Wanita itu membawa bungkusan itu ke atas meja. Ketika berjalan bagian punggung Menik terlihat jelas. Kevin langsung menelan salivanya. " Sial kenapa dia seksi sekali. Aduh bergetar hatiku." Gumam Kevin. " Bim, kakak pergi." Ucap Menik sambil berjalan mendekati Kevin. " Nik, ganti gaunmu." Ucap Kevin. " Kenapa? Bukannya ini pilihanmu." Ucap Menik bingung. " Ya, tapi bagian belakangmu terbuka, kamu seperti sundel bolong." Ucap Kevin asal. " Sundel bolong mana punya gaun berwarna hitam dan dia juga tidak pernah menyanggul rambutnya." Jawab Menik. Mungkin ini alasan nona Zira, meyakinkan pilihanku. " Nik, punggungmu terlihat, aku tidak mau para pria melihat punggungmu." Ucap Kevin. " Terus bagaimana? Aku tidak punya gaun lagi. Ada gaun tapi menurutku tidak cocok jika di pakai ke acara pesta." Kevin berpikir bagaimana cara menutup punggung calon istrinya. " Apa kamu ada selendang." Tanya Kevin. Menik berlari ke dalam kamarnya untuk mengambil sesuatu dan kemudian kembali lagi dengan membawa sesuatu di tangannya. " Ini." Ucap Menik sambil menyerahkan bawaannya. " Ini kamu bilang selendang? Ini kain jarik Nik." Gerutu Kevin. " Tapi aku tidak punya selendang hanya ini saja." Ucap Menik pelan. " Kenapa kamu enggak bilang." Gerutu Kevin. " Tapi menurutku kain ini bisa di pakai untuk menutupi punggungku." " Bisa banget, nanti aku belikan bakul sekalian. Biar kamu bisa ngider jamu di acara itu." Ucap Kevin. " Like, komen dan vote yang banyak ya terima kasih." Ig. anita_rachman83 Chapter 398 episode 397 (S2) " Terus bagiamana cara menutupi punggungku." Ucap Menik. Kevin sedang berpikir cara menutup bagian belakang Menik. Tapi wanita itu sudah berlari ke kamar dan kemudian kembali dengan membawa sesuatu di tangannya. Dia menyerahkan kepada Kevin. " Untuk apa ini." Ucap Kevin bingung. Menik menyerahkan sebuah spidol kepada Kevin. " Tolong tulis di punggungku." " Tulis apa." Tanya Kevin bingung. " Bukan sundel bolong." Ucap Menik. " Apa!" Kevin menggaruk kepalanya. Menik walaupun sudah menjadi seorang model tapi masih tetap polos. " Iya, dengan begitu tidak ada yang melihat punggungku." Ucap Menik. Bima mendengarkan percakapan kakaknya dengan Kevin. Dia merasa jengah dengan keduanya. " Tidak usah pergi." Ucap Bima sambil berlalu meninggalkan keduanya yang sibuk dengan gaun. Kevin dan Menik melihat kearah Bima. " Ya sudah aku tidak usah ikut. Kamu pergi sendiri saja." Ucap Menik. " Pokoknya kamu harus ikut." Kevin memikirkan cara agar punggung Menik tertutup. " Lepaskan gulungan rambutmu." Ucap Kevin. " Tapi aku sudah menyiapkan rambut ini selama satu jam." Rengek Menik. " Sudah lepaskan saja. Kamu lebih cantik dengan rambut tergerai." " Tapi kalau rambutku di gerai akan seperti naruto." Karena rambut Menik sedikit ikal, jadi jika di gerai akan terlihat berantakan. Beda halnya kalau rambutnya lurus seperti linggis pasti jika dibiarkan tergerai akan tetap rapi. " Biarkan, mau rambutmu seperti naruto atau seperti ninja hatori yang penting aku tetap cinta sama kamu." Wajah Menik langsung merona merah, entah kenapa jika di rayu Kevin wajahnya langsung merona biru. Menik melepaskan gulungan rambutnya. Dan membalikkan badannya tepat kehadapan Kevin. " Bagaimana." Tanya Menik. " Masih ada ventilasinya." Gaun yang di kenakan Menik bagian belakangnya terbuka cukup panjang kira-kira sampai pinggang terbukanya. Jadi rambutnya masih belum bisa menutupi punggungnya yang terbuka. " Terus bagaimana?" Ucap Menik. " Hemmm, kamu ada jaket?" Ucap Kevin. " Ada, tapi punya bima." Menik berjalan mendekati sofa, kebetulan jaket Bima masih tergeletak di atas sofa, dia mengambil jaket adiknya." " Pakai." Perintah Kevin. " Hah!" Menik bingung. " Tapi gaun dan jaket tidak cocok jika di padu padankan dengan jaket." Ucap Menik komplain. " Sudah pakai saja, aku tidak mau punggungmu di tonton orang banyak." Dengan berat hati Menik mengikuti kemauan Kevin. Mereka sudah berada di dalam mobil dan langsung menuju tempat resepsi. Dalam beberapa menit mobil sudah sampai. Kevin memarkirkan mobilnya. Tapi keduanya belum turun dari mobil. " Apa kita hanya duduk di mobil saja." Tanya Menik. Kevin mengambil ponselnya dan menghubungi nomor Zira. " Kamu menghubungi siapa." Tanya Menik. " Nona Zira." Panggilan terhubung. " Ya halo Vin, kamu di mana?" Ucap Zira. " Kami di parkiran." Jawab Kevin. " Ngapain kamu di sana? Kamu mau jadi tukang parkir." Ucap Zira. " Bisa nona datang ke parkiran." Ucap Kevin. " Untuk apa." Tanya Zira bingung. " Nanti nona akan tau." Kemudian panggilan terputus. Di dalam gedung Ziko berdiri di samping istrinya, dia mendengarkan pembicaraan antara Zira dan Kevin. " Ngapain dia menghubungimu." Tanya Ziko. " Kita di panggil Kevin ke parkiran sepertinya dia sedang dalam masalah." Zira menarik tangan suaminya dan mereka keluar dari gedung menuju parkiran. Mereka mencari keberadaan mobil Kevin. " Itu mobilnya." Tunjuk Ziko. Keduanya berjalan kearah mobil Kevin, ketika sampai di dekat mobil. Ziko langsung mengetuk jendela mobil asistennya. Kevin langsung keluar begitupun dengan Menik juga ikut keluar dari dalam mobil. " Ada apa Vin. Apa kamu ada masalah." Tanya Ziko. " Tidak tuan, saya mau minta bantuan kepada nona Zira mengenai penampilan Menik." Ucap Kevin sambil melambaikan tangannya kearah Menik. Wanita itu langsung datang mendekatinya. Zira yang melihat penampilan Menik langsung angkat bicara. " Menik sakit." Tanya Zira. " Tidak nona." Jawab Menik. " Tapi kenapa penampilan kamu seperti orang demam." Ucap Zira. " Itu penyebabnya, nona merancang gaun sundel bolong." Ucap Kevin protes. " Hahahaha." Zira sudah paham arah pembicaraan Kevin. " Kan sebelumnya aku sudah tanya ke kamu. Dan kamu jawab yakin. Ya sudah jadi bukan salahku dong." Ucap Zira dengan gelak tawanya. " Sudahlah masuk saja. Aku lapar." Ucap Ziko. " Tapi tidak mungkin Menik masuk dengan memakai jaket, nanti di pikir tamu undangan Menik tukang ojek." Ucap Zira. " Ya sudah buka jaketnya." Ucap Ziko santai. " Tidak boleh, nanti tuan dan semua pria yang ada di dalam gedung itu melihat punggung Menik." Ucap Kevin khawatir. " Hahaha." Sekarang Ziko yang tertawa. " Kenapa tuan tertawa? Apa perkataan saya ada yang lucu." Tanya Kevin bingung. " Yang lucu itu kamu. Kamu belum masuk ke dalam gedung itu. Coba kamu lihat kedalam gedung dan perhatikan bagaimana fashion tamu undangan khususnya para wanita. Kamu akan kaget kalau melihat di dalam. Di sana masih banyak yang lebih seksi dari si Menik. Malah ada yang pakai seperti bikini." Ucap Ziko mengada-ngada. " Ah yang benar." Ucap Kevin penuh rasa curiga. " Benar Vin, malah ada yang pakai basahan kesana." Ucap Zira ngarang indah. Entah kenapa kalau Zira yang berbicara Kevin langsung percaya. Dengan berat hati dia memerintahkan Menik membuka jaket hitam itu. " Nah seperti itu baru cantik." Puji Zira. Mereka jalan bersama masuk ke dalam gedung resepsi. Di dalam gedung sudah banyak tamu undangan, mereka dari kalangan menengah keatas dan untuk tamu undangan khusus wanita kebanyakan mengenakan gaun yang super seksi. " Nah Vin, coba kamu perhatikan semua wanita mengenakan gaun yang seksi, jadi enggak usah takut, bukan hanya Menik yang di lirik tapi semua wanita jadi bahan lirikan para pria." Ucap Zira. Di atas panggung terlihat Fiko dan Vita sedang duduk di atas pelaminan. Pengantin wanita mengenakan gaun pengantin berwarna putih dan pengantin pria mengenakan jas berwarna grey. " Mereka serasi ya." Bisik Zira ke telinga suaminya. " Iya, mereka berdua terlihat bahagia." Ucap Ziko. " Aku lapar." Ucap Ziko. Mereka berempat memilih menikmati makanan yang di sajikan di meja prasmanan. Ada beraneka ragam makanan di sana. Semuanya makanan nusantara. Makanan itu sengaja di buat untuk mengobati rasa rindu para tamu undangan akan cita rasa makanan nusantara. Pelayan hilir mudik di tengah-tengah para tamu undangan mereka membawa nampan yang berbentuk lingkaran dan di atasnya ada beraneka ragam minuman dingin. Ada sosok yang memperhatikan kemesraan Ziko dan Zira. Sosok itu sangat iri akan kemesraan suami istri itu. Sosok itu berperan sebagai pelayan, dia wara wiri membawa minuman dan dia sengaja meninggalkan satu minuman di atas nampannya dan itu di peruntukkan untuk Zira. " Silahkan nona." Ucap pelayan. Zira ingin mengambil minuman itu tapi tiba-tiba ada yang mengambil duluan. Pelayan tadi terkejut karena minuman yang seharusnya untuk Zira di minum orang lain. Tiba-tiba ada seseorang yang jatuh. Tamu undangan berteriak histeris. Ziko dan Zira mencoba melihat kerumunan itu. " Sayang itu pria yang mengambil minumanku. Dan di tangannya ada gelas minuman." Ucap Zira berbisik. Kevin mencoba mendekati pria yang jatuh itu. Dan dia memegang denyut nadi pria itu. Kevin menggelengkan kepalanya. " Apa!" Ziko dan Zira melihat sekeliling gedung. Acara resepsi pernikahan Fiko dan Vita berantakan, pria yang menyambar minuman tadi mati seketika. " Ada yang ingin meracuni mu." Ucap Ziko berbisik Kevin dan Ziko langsung menjaga Zira dengan membentangkan tangannya. " Tuan itu pelayan tadi." Ucap Kevin menunjuk kearah pelayan yang sedang berjalan terburu-buru. " Jaga istriku." " Tapi tuan." Kevin ingin ikut dengan Ziko tapi nyawa Zira juga sedang terancam. " Sayang aku ikut." Ucap Zira. " Enggak! Kamu ikut dengan Kevin jauhi keramaian, aku harus mengejar pelayan itu." Ucap Ziko sudah mengikuti pelayan itu. Kevin membawa Menik dan Zira ke tempat yang jauh dari keramaian. Pihak gedung tidak mengizinkan siapapun keluar dari gedung sampai polisi datang. Acara pesta itu berubah jadi acara yang menakutkan, semua takut akan di racuni. Pihak Fiko dan Vita merasa bersalah dan bersedih. Seharusnya hari ini jadi hari kebahagian buat mereka. Tapi malah bencana yang mereka dapat. " Like, komen dan vote ya terima kasih." Ig. anita_rachman83 Chapter 399 episode 398 (S2) Ziko mengejar pelayan itu. Dia mengikuti pelayan itu dari belakang. Pelayan itu seperti sudah paham dengan lokasi gedung itu dia memilih melewati lorong yang sepi. Ziko terus saja mengikutinya. Tapi pelayan itu tau kalau ada yang mengikutinya. Dia bersembunyi agar Ziko tidak menemukannya. " Sial, kemana perginya pelayan itu." Gerutu Ziko sambil melihat sekeliling lorong. Tiba-tiba pada saat dia berbalik pelayan itu ada di belakangnya. Dan sudah mendaratkan sebuah pisau di perut Ziko. " Kamu." Ucap Ziko sambil memegang perutnya yang sudah berdarah. Pelayan itu tersenyum sambil meninggalkan Ziko yang sudah jatuh ke lantai. Di tempat resepsi masih terlihat kebisingan dan kepanikan semua tamu undangan. Kevin, Menik dan Zira memilih ketempat yang jauh dari keramaian. " Vin, coba kamu hubungi suamiku." Ucap Zira cemas. Kevin mengikuti perintah Zira. Dia menghubungi nomor bosnya. Tapi tidak ada jawaban sama sekali. " Tidak di angkat." Ucap Kevin. " Kita susul." Ucap Zira. " Tapi kata tuan muda, nona tidak boleh ke sana. Nyawa nona sedang terancam." Ucap Kevin. " Bagaimana kalau nyawa suamiku yang terancam, kita tidak tau ada berapa orang yang ingin membunuhku. Mungkin ada banyak di sana, ayo cepat." Ucap Zira sambil melangkahkan kakinya menuju kearah kitchen. Kevin mengikuti kemauan Zira. " Nona di belakang, biar saya yang di depan." Ucap Kevin. Zira menganggukkan kepalanya. Menik berada di belakangnya. Mereka menyusuri kitchen tapi tidak ada siapa pun di dalam ruangan itu. Kevin terus melangkahkan kakinya menuju lorong dan dari kejauhan ada seseorang yang terbaring di lantai. Dia mempercepat langkah kakinya. " Tuan." Ucap Kevin melihat Ziko yang sudah berdarah. " Tidak!" Zira berteriak histeris sambil terduduk dan memangku kepala suaminya. Kevin langsung menghubungi rumah sakit dan kantor polisi. Zira menangis tersedu-sedu melihat suaminya sudah berdarah. " Sayang sadar, aku di sini. Jangan tinggalkan aku. Hiks hiks." Zira menangis. Menik melihat kejadian itu hanya bisa bengong, biasanya dia menyaksikan di dalam televisi tapi sekarang tragedi itu ada di depannya. " Nona, bertenang." Ucap Kevin. " Kenapa lama sekali ambulans nya." Teriak Zira. Kevin menghubungi kembali rumah sakit, dia menanyakan tentang keberadaan mobil ambulans. " Nona sepertinya kita bawa naik mobil saja. Tidak mungkin kita membiarkan tuan muda." Zira setuju dengan ide Kevin. Pria itu langsung meletakkan tubuh Ziko di belakang punggungnya. Mereka keluar melalui jalan utama. Karena hanya itu jalan yang mereka tau. Bisa saja Kevin terus menyusuri lorong tapi dia khawatir masih ada bahaya yang mengintai di sana. Mereka harus melewati kerumunan tamu undangan. " Itu Ziko." Ucap Vita kepada suaminya. Sepasang pengantin baru itu menghampiri Kevin dan Zira. " Ziko kenapa." Tanya Vita. " Suamiku baru kena tikam." Ucap Zira dengan derai air mata. " Apa!" Fiko dan Vita kaget. " Mari ikut saya. Kalian tidak akan bisa di izinkan keluar." Fiko menuntun jalan untuk mereka dan memerintahkan tamu undangan untuk memberi ruang agar Kevin dapat berjalan dengan leluasa. Ketika sampai di pintu, sekuriti menahan mereka. " Izinkan mereka keluar. Mereka keluarga saya." Ucap Fiko. " Maaf tuan, tidak ada yang boleh meninggalkan gedung." Ucap salah satu sekuriti. " Apa maksudmu tidak boleh! Suamiku sedang sekarat!" Teriak Zira marah Sekuriti melihat tubuh Ziko yang pucat dan banyak meneteskan darah. " Aku yang menjamin mereka. Biarkan mereka pergi nyawanya sedang terancam." Ucap Fiko. Sekuriti mengizinkan mereka pergi. Kevin berlari kecil di ikuti Menik dan Zira. Mereka menuju parkiran.Tubuh Ziko sudah di letakkan di kursi bagian belakang, Zira menemani suaminya dibelakang. Kepala suaminya berada di pahanya. Dia terus saja menangis, tidak menghiraukan sekelilingnya. Kevin mengendarai mobilnya cukup kencang. " Nik, cari nomor ponsel dokter Diki." Ucap Kevin sambil menyerahkan ponselnya kepada Menik. Wanita itu langsung menghubungi nomor dokter Diki dan membuat mode speaker. " Halo Vin." Ucap dokter Diki. " Siapkan ruang operasi." Ucap Kevin sambil tetap fokus menyetir. " Siapa yang mau operasi." Tanya dokter Diki. " Tuan Ziko, dia baru di tikam." Ucap Kevin " Apa! Bagaimana bisa kamu lengah dengan kejadian itu." Tanya dokter itu. Dia tau banyak yang iri akan keberhasilan sahabatnya, dan banyak juga yang ingin mencelakai temannya. Dan hari ini kejadian itu benar-benar terjadi. " Nanti aku jelaskan. Kami sekarang dalam perjalanan ke rumah sakit sebentar lagi sampai. Dan tolong hubungi tuan besar dan nyonya besar." Ucap Kevin kemudian menutup panggilan. Dokter Diki yang sedang berada di rumah sakit langsung memerintahkan perawat untuk menyiapkan ruang operasi beserta dokternya. Setelah itu dia menghubungi tuan besar. " Selamat malam om." Ucap dokter Diki. " Malam Diki, ada apa." Tanya tuan besar. " Telah terjadi incident dengan Ziko." Ucap dokter Diki. " Incident? Apa yang terjadi dengan anakku." Tanya tuan besar panik. Nyonya Amel yang berada di dekat suaminya juga ikut panik. " Maaf om, sebaiknya om dan tante datang ke rumah sakit. Nanti saya jelaskan di sini." Ucap dokter Diki kemudian panggilan terputus. Di Mansion. " Apa yang terjadi dengan Ziko." Tanya nyonya Amel. " Tidak tau, Diki hanya memerintahkan kita untuk datang ke rumah sakit." Ucap tuan besar sambil mengenakan pakaiannya. Nyonya Amel ikut mempersiapkan dirinya tidak lupa menghubungi anaknya Zelin. Supir langsung membawa mereka menuju rumah sakit. Kevin sudah sampai di rumah sakit dan memberhentikan mobilnya tepat di depan IGD, para perawat langsung sigap dengan membawa tempat tidur dan memindahkan tubuh Ziko ke atas tempat tidur. Dokter IGD langsung melihat kondisi Ziko.Tidak berapa lama dokter Diki tiba di IGD. " Oh Tuhan." Dia kaget melihat wajah Ziko yang pucat dan darah sudah memenuhi setelan tuksedonya. Bukan hanya Ziko yang penuh darah, Kevin dan Zira sudah penuh darah di baju dan tangan mereka. " Langsung bawa ke ruang operasi. Dokter sudah standby di sana." Perintah dokter Diki kepada perawat yang ada di IGD. Tubuh Ziko yang berada di tempat tidur langsung di dorong ke ruang operasi. Kevin, Zira dan Menik menunggu di depan ruang operasi. Tiba-tiba ponselnya Zira berdering. Ada panggilan masuk dan itu dari mertuanya. " Zira." Ucap nyonya Amel. " Ziko di mana." Tanya nyonya Amel. " Ziko di dalam ruang operasi ma." Ucap Zira dengan derai air mata. Deg jantung nyonya Amel langsung perih. " Apa yang terjadi." Tanya nyonya Amel lagi. " Ziko di tikam ma, hiks hiks." Ucap Zira sambil menangis. " Apa." Tiba-tiba tidak terdengar suara dari ponsel mertuanya. " Mama." Ucap Zira. Mendengar berita itu nyonya Amel langsung pingsan. Tuan besar langsung menyadarkan istrinya dengan memberi minyak angin di bagian bawah hidung istrinya. " Mama." Ucap Zira masih dengan ponselnya. " Ini papa, mama pingsan. Sebenarnya apa yang terjadi." Tanya tuan besar. " Ziko baru di tikam seseorang." Ucap Zira dengan derai air matanya. " Apa! Kenapa bisa terjadi? Di mana kejadiannya." Tanya tuan besar. Zira menceritakan kejadian semuanya, dari mereka pergi ke acara pernikahan Fiko dan Vita sampai seseorang mau meracuninya juga diceritakannya. Tuan besar mengingat undangan yang di berikan Ziko untuknya. Tapi dia dan istrinya tidak bisa hadir karena urusan yang lain. Jika tuan besar beserta istrinya ikut hadir dalam acara resepsi itu pasti mereka melihat kejadian yang mencekam itu secara langsung. " Like, komen dan vote yang banyak ya. Rangkingnya turun lagi nih. Ayo semangat vote author biar tambah semangat updatenya. Ig. anita_rachman83 Chapter 400 episode 399 (S2) Tuan besar beserta istri dan anak bungsunya sudah sampai di rumah sakit. Mereka langsung menuju ke ruang operasi. Di depan ruang operasi sudah ada Zira, Kevin dan Menik. " Bagaimana keadaan Ziko." Tanya tuan besar. " Tuan Ziko di dalam ruang operasi." Ucap Kevin. " Zira, hiks hiks." Nyonya Amel memeluk menantunya. Mereka berdua menangis sesegukan. Pakaian Zira dan Kevin masih penuh darah mereka enggan untuk mengganti atau membersihkannya. " Bagiamana kejadiannya." Tanya tuan besar. Walaupun papanya Ziko sudah mendengar kejadian itu dari menantunya tapi dia ingin mendengar langsung dari Kevin. Kevin menceritakan semuanya. Nyonya Amel dan Zelin meneteskan air mata ketika mendengar kejadian itu. " Apa kamu sudah menghubungi pihak polisi." Tanya tuan besar. " Sudah tuan, tadi ketika di sana saya sudah menghubungi pihak kepolisian." Jawab Kevin. Mereka menunggu di luar dengan harap-harap cemas. " Dimana Diki." Tanya tuan besar. " Ada di dalam ruang operasi." Jawab Kevin. " Vin, hubungi pengacara. Saya mau pelakunya tertangkap." Ucap tuan besar tegas. " Baik tuan." Kevin pergi ketempat lain agar bisa menghubungi pengacara Ziko. Kevin masih sibuk dengan pengacara. Dan pintu ruangan operasi di buka. " Keluarga dari tuan Ziko." Ucap dokter. " Kami keluarganya." Ucap tuan besar. Semuanya mengerumuni dokter tersebut. " Maaf tuan, pasien banyak kehilangan darah. Kondisinya sangat kritis, lukanya terlalu dalam. Dan kami membutuhkan donor darah." Ucap dokter. Mendengar itu tangisan Zira tambah menjadi-jadi. Dia tidak bisa membayangkan apa yang terjadi. " Ambil darah saya. Itu anak saya pasti darah kami cocok." Ucap tuan besar. " Baik tuan." Dokter memerintahkan perawat untuk membawa tuan Raharsya ke laboratorium untuk di cek darahnya. Dokter kembali masuk ke dalam ruang operasi. " Dokter apakah dengan donor darah anak saya akan selamat." Tanya nyonya Amel. " Saya tidak bisa menjanjikan, kami akan melakukan yang terbaik. Serahkan semuanya kepada Tuhan." Ucap dokter bedah. " Ziko." Teriak Zira dan tidak berapa lama dia pingsan. Nyonya Amel, Zelin dan Menik berusaha untuk membopong tubuh Zira dan di letakkan di atas kursi. " Zira sadar." Ucap nyonya Amel. Walaupun wanita paruh baya itu tidak kuat mendengar penjelasan dari dokter, tapi dia berusaha menjadi penyemangat untuk menantunya. Kevin baru selesai menghubungi pengacara. Dia melihat tubuh Zira di atas kursi dan kepalanya berada di pangkuan nyonya Amel. " Apa yang terjadi." Tanya Kevin. " Nona Zira pingsan." Jawab Menik. " Kenapa? Apa ada kabar dari dokter." Tanya Kevin. " Ada, tuan Ziko kehilangan banyak darah dan membutuhkan donor darah. Dan papanya baru mendonorkan darahnya." Ucap Menik. " Vin, antarkan Zira pulang. Kalian beristirahatlah. Biar saya dan Zelin yang menunggu di sini." Ucap nyonya Amel. " Tapi nanti nona Zira marah. Apalagi di rumah sendirian." Ucap Kevin. " Apa sebaiknya kita menunggu kabar dari dokter agar ketika di rumah nona Zira bisa tenang." Ucap Kevin. " Baiklah, kita tunggu kabar dari dokter." Tuan besar masih mendonorkan darahnya di ruangan lain. Dan ada petugas kepolisian datang menghampiri mereka. " Selamat malam, kami dari satuan kepolisian ingin menanyakan kejadian yang terjadi di gedung X." Ucap seorang polisi. " Malam pak polisi. Silahkan apa yang ingin bapak tanyakan." Ucap Kevin. " Kami mendapatkan kabar kalau yang bernama Ziko telah di tikam apakah itu benar?" Tanya polisi. " Benar pak. Sekarang beliau lagi di dalam ruang operasi." Ucap Kevin. " Bisakah saudara dan orang yang terlibat dalam kejadian itu ikut dengan kami ke kantor polisi. Kami ingin mengajukan beberapa pertanyaan." Ucap polisi. " Bisa pak tapi tunggu pengacara kami. Dan istri. korban masih pingsan. Jadi kita tunggu sebentar sampai beliau sadar." Ucap Kevin. " Baiklah, kami akan menunggu." Ucap pihak polisi. Tidak berapa lama Zira sadar, dia membuka matanya secara perlahan sambil memegang pelipisnya. " Kak Zira sudah sadar." Ucap Zelin. Zira berusaha duduk dari posisi berbaring. Dia melihat sekelilingnya dengan pandangan yang sedikit kabur. " Bagaimana keadaan Ziko." Tanya Zira. " Dokter belum mengabari lagi." Ucap nyonya Amel. Ada beberapa orang datang ke tempat mereka yaitu tim pengacara. Mereka langsung menemui Kevin dan bertanya lebih detail lagi. Kemudian menghampiri keluarga Raharsya. Zira menghampiri pak polisi. " Pak, aku mau yang melukai suamiku di tangkap!" " Kita bicarakan itu di kantor polisi." Ucap pihak polisi. " Bagaimana bisa kita ke kantor polisi." Tanya pihak polisi. " Tunggu, kami masih menunggu kabar dari dokter." Ucap Zira. Pengacara mendekatinya. " Nona sebaiknya anda dan yang lainnya memberikan kesaksian secepatnya biar polisi cepat bertindak dan menangkap pelakunya segera." Ucap pengacara. Zira melihat kearah mertuanya. Nyonya Amel menganggukkan kepalanya. " Iya Zira, kamu harus memberikan kesaksian segera. Nanti mama akan mengabarimu. Dan setelah dari kantor polisi kamu langsung beristirahat." Ucap nyonya Paula. " Tapi aku ingin berada dekat suamiku." Ucap Zira. " Sayang, kamu harus istirahat dan membersihkan diri. Besok kamu kesini lagi menggantikan posisi mama dan papa." Ucap nyonya Amel merayu menantunya. Dengan berat hati dia mengikuti kemauan mertuanya. Walaupun berat tapi dia harus memberikan kesaksian di kantor polisi agar pelaku dapat segera tertangkap. Semuanya sudah pergi meninggalkan rumah sakit hanya Zelin dan nyonya Amel yang masih menunggu di depan ruang operasi. Mereka ke kantor polisi di dampingi oleh tim pengacara. Pengacara akan membantu mereka untuk menyelesaikan kasus itu. Mereka tiba di kantor polisi sudah larut malam. Tim penyidik langsung mengajukan beberapa pertanyaan. Mereka menceritakan secara detail. Tidak lupa pihak polisi menanyakan ciri-ciri pelayan yang memberikan minuman kepada Zira. " Wajahnya kurang jelas, tapi ada tahi lalat di dekat bibirnya. Dan alisnya tebal." Ucap Zira, dia tidak terlalu mengenal sosok pelayan itu karena pada saat mengantarkan minuman kehadapan nya, pelayan itu lebih sering menundukkan kepalanya. " Apa anda dan suami mempunyai seorang musuh." Tanya polisi. " Tidak ada." Seingatnya mereka sudah tidak punya musuh. Karena Kia dan Sisil sudah dibebaskannya jadi menurutnya bukan kedua wanita itu. Pihak polisi terus mengajukan pertanyaan kepada ketiganya yaitu Zira, Menik dan Kevin. Tapi yang mendapatkan pertanyaan paling banyak adalah Zira. Di apartemen Bima melihat jam di dinding sudah menunjukkan pukul satu pagi. Tapi kakaknya belum juga pulang. Sebagai adik tentu dia merasa khawatir karena kakaknya seorang wanita dan pergi dengan seorang pria. Di dalam benaknya sudah memikirkan hal-hal yang jelek. " Kalau sampai di menyentuh kakakku, akan aku habisi dia." Gerutu Bima. Waktu terus berputar tapi Menik belum juga pulang. Dan ketika tepat pukul dua pagi, ada seseorang membuka pintu apartemen yaitu Menik. Bima melihat penampilan kakaknya yang kusut dan mengenakan jaketnya. " Kenapa baru pulang? Apa tidak tau ini sudah pagi! Dari mana saja kalian?" Ucap Bima marah. " Dari kantor polisi." Ucap Menik sambil menguap. " Apa! Kantor polisi?" Bima kaget. Dia mendekati kakaknya yang berjalan ke dapur dan sedang minum air putih. " Apa yang terjadi dengan kalian? Apa pria brengsek itu baru menabrak seseorang." Ucap Bima. " Sstt diam. Kamu kalau enggak tau tidak usah membuat praduga sendiri. Kakak, pak Kevin dan nona Zira baru memberikan kesaksian." " Kesaksian apa." Tanya Bima lagi. " Kesaksian kalau nona Zira mau di racun dan kesaksian tentang tuan muda Ziko yang kena tikam seseorang." " Apa!" Bima kaget lagi. " Bagaimana bisa itu terjadi bukannya tuan muda selalu membawa bodyguard." Ucap Bima. " Like, komen dan vote yang banyak ya, terimakasih." Ig. anita_rachman83 Chapter 401 episode 400 (S2) " Enggak tau, yang jelas kejadiannya cepat banget. Kasihan nona Zira." Ucap Menik. Bima masih mendengarkan dengan seksama. " Kalau seandainya nona Zira meminum minuman yang di berikan pelayan itu, pasti nona Zira langsung meninggal." Ucap Menik. " Memangnya racun apa yang ada di dalam gelas itu." Tanya Bima. " Enggak tau, yang jelas pria yang minum minuman itu langsung mati dalam hitungan detik. Kakak sudah mengantuk, besok pagi-pagi mau ke rumah nona Zira." Ucap Menik. " Ngapain." Tanya Bima. " Nemenin nona Zira, seharusnya kakak sekarang tidur di rumahnya tapi beliau melarang kakak. Jadi besok pagi-pagi kakak langsung ke rumahnya." Ucap Menik sambil berlalu ke kamarnya. Di rumah sakit. Tuan besar sudah bergabung dengan istri dan anak bungsunya. Mereka masih menunggu di depan ruang operasi. Selang beberapa menit pintu ruang operasi terbuka ada beberapa dokter keluar dari ruangan itu salah satunya dokter Diki. Pihak keluarga langsung mendekati para dokter. " Bagaimana kondisi anak kami." Tanya tuan besar. " Kami telah melakukan operasi dan kondisi pasien masih kritis, kami akan memindahkan pasien ruang ICU agar bisa di pantau oleh dokter di sana." Ucap salah satu dokter. Air mata nyonya Amel dan Zelin menetes deras, kata-kata yang keluar dari mulut dokter itu sungguh menyayat hati. Mereka berdoa untuk kesembuhan Ziko. Di kediaman Zira. Setelah pulang dari kantor polisi, dia membersihkan dirinya dari darah yang menempel pada tubuhnya. Dia membaringkan tubuhnya di kasur sambil membayangkan suaminya ada di sisinya. Tanpa terasa air matanya mengalir deras, kejadian tadi memutari isi kepalanya. Dimana darah sudah memenuhi baju suaminya, wajahnya yang pucat membuat Zira merasa terpukul. Bayang-bayang akan perginya Ziko lewat di benaknya. " Tidak...... " " Jangan pergi sayang, kamu berjanji akan selalu bersamaku. Akan melewati masa tua bersamaku, mengurus buah cinta kita. Mencintai selamanya sampai ajal menjemput kita. Hiks hiks." Air mata terus membanjiri pipinya. Suara ponselnya berdering, Zira tersadar mendengar hal itu, dia langsung bergegas mencari ponselnya yang masih ada di dalam tasnya. Ada nomor mertuanya di layar ponselnya. Dia langsung menjawab panggilan tersebut. " Ya halo ma, bagaimana operasinya?" " Operasi sudah selesai tapi." Nyonya Amel menangis. " Kondisi Ziko masih kritis dan sekarang tubuhnya di pindahkan ke ruang ICU." Ucap nyonya Amel dengan isak tangisannya. Bulir air matanya mengalir deras sudah tidak bisa di bendung. Zira tidak bisa berkata-kata lagi, mulutnya seperti tercekat. " Doakan Ziko agar bisa melewati masa kritis." Ucap mama mertuanya. " Aku akan kesana." Ucap Zira dengan suara yang berat karena sambil menangis. " Jangan sayang, kamu harus istirahat. Biarkan kami yang menunggu di sini. Istirahatlah, besok pagi-pagi kamu datang kesini menggantikan mama." " Tapi aku tidak bisa tidur, bayang-bayang kejadian itu mengisi kepalaku." Ucap Zira. " Minumlah minuman hangat agar kamu bisa tidur pulas. Jika kamu tidak tidur nanti penyakit yang datang menghampirimu. Kalau sudah sakit siapa yang akan mengurus Ziko." Nyonya Amel menasehati menantunya agar beristirahat. Zira mendengarkan nasehat mertuanya. Dia tidak membantah, menurutnya apa yang di ucapkan mertuanya benar. Dia harus beristirahat. Mengikuti saran mertuanya dengan meminum minuman hangat. Dia memilih meminum coklat hangat dan mencoba melupakan kejadian yang terjadi agar bisa terlelap dengan cepat. Agak susah untuknya melupakan kejadian itu sesaat. Tapi dia terus berusaha melupakan sejenak dan tanpa disadarinya matanya sudah terpejam. " Sayang kamu mau kemana?" Ucap Zira melihat suaminya mengenakan pakaian serba putih. " Aku akan pergi sayang." Ucap Ziko sambil tersenyum. " Kemana sayang?" " Menemui anak kita di surga." Ucap Ziko. " Sayang kalau kamu pergi aku sama siapa?" " Tetaplah di sini bersama yang lainnya karena waktumu belum tiba." Ucap Ziko. " Tidak.... " Zira teriak dan langsung duduk. Dia membuka matanya dan melihat keadaan kamarnya tidak ada suaminya di dekatnya. Jam menunjukkan pukul lima pagi. Dia hanya tidur satu jam. Mimpi itu seperti nyata, dia bergegas menuju kamar mandi. Pikirannya tidak tenang sebelum melihat kondisi suaminya secara langsung. Di dapur sudah ada bik Inah yang sedang menyiapkan sarapan untuknya. " Kok sudah bangun non." Ucap bik Inah yang melihat penampilan Zira sudah rapi. " Iya bik, aku tidak bisa tidur." " Bibik sudah mendengar dari pak Budi tentang kejadian yang di alami tuan muda. Bibik turut prihatin, semoga tuan muda cepat sembuh." Ucap bik Inah. " Terima kasih atas doanya bik." Ucap Zira. " Bibik buatkan bubur ayam untuk nona. Mumpung masih hangat di makan dulu." Ucap bik Inah sambil meletakkan mangkuk di atas meja makan. " Enggak usah bik, aku buru-buru." Ucap Zira. " Maaf non, bibik tidak akan mengizinkan nona pergi tanpa makan apapun. Bibik enggak mau melihat nona sakit." Ucap bibik khawatir. " Terima kasih atas perhatiannya, baiklah aku akan makan bubur buatan bibik." Ucap Zira sambil menarik kursi makan dan langsung duduk. " Bibik mulai malam ini tidur di sini." Ucap bik Inah. Zira melihat bik Inah sambil mengunyah makanannya. " Bibik khawatir dengan nona. Jadi kalau ada bibik pasti nona Zira enggak kesepian." Ucap bik Inah. " Terserah bibik." Ucap Zira sambil melanjutkan sarapannya. Ada suara ketukan dari depan rumahnya. " Siapa yang datang sepagi ini." Ucap bik Inah. " Mungkin Kevin." Bik Inah melewati ruang keluarga dan menuju ruang tamu lalu membuka pintu rumah. " Cari siapa ya." Ucap bik Inah. " Apa betul ini rumah nona Zira." " Iya betul." " Saya Menik, nona Zira ada." Ucap Menik. " Ada, tunggu sebentar ya." Ucap bik Inah sambil berlalu meninggalkan Menik. Menik memilih duduk di beranda, yaitu tempat favorit Kevin duduk ketika menunggu majikannya. Di dalam rumah bik Inah menghampiri majikannya. " Mana Kevin." Tanya Zira " Bukan pak Kevin tapi Menik." Jawab bik Inah. " Oh Menik, suruh saja masuk bik." Wanita paruh baya itu menganggukkan kepalanya dan kembali menemui Menik. " Mbak Menik silahkan masuk." " Saya tunggu di sini saja." Ucap Menik menolak dan sungkan. " Tapi nona Zira menyuruh masuk." Ucap bik Inah lagi. Menik beranjak dari kursinya dan mengikuti wanita paruh baya itu masuk ke dalam rumah. " Makan Nik." Ucap Zira ketika melihat kehadiran wanita itu di dalam rumahnya. " Saya sudah makan nona." Ucap Menik menolak. " Ya sudah kalau gitu minum ya. Bik buatkan minuman hangat untuknya." Ucap Zira. Bik Inah menganggukkan kepalanya dan menuju dapur untuk menyiapkan minuman. " Bagaimana keadaan nona." Tanya Menik sambil menarik kursi makan dan duduk tepat di hadapan Zira. " Sakit Nik, nanti kamu akan merasakan sakitnya ketika melihat orang yang kita cintai terluka. Rasanya seperti denyut nadi berhenti seketika. Jantung tidak berdetak lagi. Sakit yang di alami orang terkasih akan sama sakitnya seperti kita mengalaminya. Bedanya di sini." Ucap Zira sambil menunjuk kearah hatinya. Bulir air matanya kembali menetes. Dia tidak kuasa membendung air matanya lagi. Menurutnya biarlah menetes jika dengan tetesan itu dapat mengobati luka yang ada. " Like, komen dan vote yang banyak ya terima kasih." Ig. anita_rachman83is ![](http://up.pic.mangatoon.mobi/contribute/fiction/172679/markdown/7083252/1589697815514.jpg-original600webp?sign=5ea750227b89c59624431b3b9cea7c19&t=5eceff00) Banyak yang komen minta visual Kevin jadi author pilih dia ya. Cakep enggak??? Dan untuk Menik ????, cocok enggak? Kalau tidak sesuai dengan harapan kalian di bayangkan saja sesuai imajinasi masing-masing ya. ![](http://up.pic.mangatoon.mobi/contribute/fiction/172679/markdown/7083252/1589697815512.jpg-original600webp?sign=d19ddf3a8dad7177e31d27ebd71d756d&t=5eceff00) Chapter 402 episode 401 (S2) Kevin sudah tiba di kediaman bosnya. Dia berniat menjemput istri bosnya. Ketika mobilnya berhenti di depan rumah, Zira sedang mengeluarkan mobilnya dari garasi. Dan Menik menunggu di beranda. Kevin turun dari mobilnya dan menghampiri Zira yang sedang berada di garasi mobil. Dia melambaikan tangannya kearah Zira. Wanita itu langsung mematikan mesin mobilnya. " Ada apa Vin." Ucap Zira. " Nona mau kemana?" Ucap Kevin. " Ke rumah sakit." Jawab Zira. " Biar saya yang antar nona. Simpan saja mobilnya." Ucap Kevin. Dia mengikuti kemauan asisten suaminya. Dan memasukkan kembali mobilnya ke dalam garasi. Mereka sudah pergi dengan menggunakan mobil Kevin menuju rumah sakit. " Apa sudah ada kabar siapa yang menikam suamiku." Tanya Zira. " Belum nona, mungkin kepolisian masih mencari bukti-bukti." Ucap Kevin sambil fokus menyetir mobilnya. Karena jalanan belum terlalu ramai dengan kendaraan, mereka bisa tiba di rumah sakit lebih awal. Begitu mobil berhenti di loby rumah sakit, Zira langsung berlari kecil masuk ke dalam loby dan mencari ruangan ICU. Ruangan ICU ada di lantai atas, dia langsung menekan tombol lift. Dia tidak menghiraukan Menik dan Kevin yang masih ada di parkiran. Dia ingin bertemu dengan suaminya. Di depan ruang ICU ada sosok mertuanya yang duduk di kursi bersama dengan Zelin. " Mama." Ucap Zira. " Sayang." Nyonya Amel menyambut menantunya dengan memeluk tubuh Zira. " Bagaimana kondisi Ziko." Tanya Zira. " Masih di dalam. Kondisinya masih kritis." Timpal tuan besar. " Papa dan mama pulang saja. Biar aku yang menjaga Ziko." Ucap Zira. " Apa kamu yakin? Mama perhatikan mata kamu sembab, apa kamu baru menangis?" Zira menganggukkan kepalanya. " Aku takut ma." Ucap Zira pelan sambil meneteskan air matanya. " Takut kenapa?" Ucap nyonya Amel. " Takut kalau Ziko pergi meninggalkanku." Ucap Zira. Nyonya Amel kembali memeluk menantunya. Dia juga memikirkan hal yang sama tapi wanita paruh baya itu berusaha untuk menenangkan Zira. " Kita doakan Ziko sembuh. Jangan memikirkan hal itu." Zira menganggukkan kepalanya. Dan di belakangnya sudah ada Kevin dan Menik. " Ma, aku ingin melihat suamiku." Ucap Zira. " Pergilah nanti perawat akan menuntun mu." Ucap nyonya Amel. Zira melangkahkan kakinya menuju ruang ICU. Dia masuk kedalam ruangan itu, ruangan yang sangat sepi dan hanya ada beberapa perawat dan satu dokter. Di dalam ruangan itu hanya terdengar suara. Alat hemodinamik dan saturasi. Ada beberapa tempat tidur yang di khususkan untuk pasien yang koma. Dan ada beberapa ruangan yang juga di gunakan untuk pasien koma tapi khusus kelas VIP. " Saya mau melihat suami saya." Ucap Zira menyapa perawat yang mengenakan penutup kepala dan masker bedah. Tidak lupa mereka mengenakan seragam khusus untuk di ruang ICU. " Gunakan pakaian dan penutup kepala ini." Ucap perawat memberikan pakaian khusus dan penutup kepala. Tidak lupa dia mengenakan masker. Perawat menunjukkan ruangannya. Zira melihat tubuh suaminya yang terbaring, ada selang oksigen di bawah hidungnya. Dan beberapa alat yang di tempelkan di dada suaminya. Alat itu langsung di hubungkan ke monitor. Sehingga denyut jantungnya langsung terekam dilayar monitor. Dan ada botol infus di pinggir kasur, dan jarum di punggung suaminya. Zira berdiri di samping tempat tidur sambil mengelus rambut suaminya. " Sayang bangun, aku di sini." Ucap Zira sambil menyentuh tangan suaminya. Tangan suaminya begitu dingin dan pucat. Dia terus menggenggam tangan suaminya. Mencoba memberi kehangatan pada suaminya. " Sayang bangun, aku di sini." Ucap Zira terus sambil menangis. " Jangan tinggalkan aku, aku tidak bisa hidup tanpa kamu. Hatiku hampa sayang. Bangun sayang, kamu berjanji akan selalu bersamaku. Sayang bangun, hiks hiks." Di depan ruang ICU masih ada keluarga Raharsya, Kevin beserta Menik. " Apa sudah ada kabar siapa yang melakukan ini semua." Tanya tuan besar. " Belum tuan, kepolisian belum memberikan kabar. Tapi mereka berjanji akan menangkap pelakunya. Waktu terus berputar tapi Zira belum keluar dari ruang ICU. Dan ada panggilan melalui ponsel Kevin. Semuanya melihat kearahnya. " Ya halo." Ucap Kevin. " Baik, saya akan segera datang." Ucap Kevin kemudian menutup panggilan itu. " Siapa." Tanya tuan besar. " Dari pihak kepolisian, tersangka sudah di tangkap. Dan sekarang ada di kantor polisi." " Oh syukurlah." Ucap nyonya Amel. Kevin menghubungi pengacara. Mereka membuat janji untuk ketemu di kantor polisi. " Mama akan menemui Zira." Ucap nyonya Amel sambil berjalan menuju ruang ICU. Nyonya Amel memasuki ruang ICU mengenakan pakaian khusus sama dengan Zira. Dia menghampiri menantunya. " Zira, pelaku yang menikam Ziko sudah di tangkap." Ucap nyonya Amel berbisik. Zira langsung menoleh dengan cepat. Sebelum keluar dia mengecup dahi suaminya. " Sayang, aku harus pergi. Ketika aku kembali kesini, kamu sudah sadar ya." Zira dan nyonya Amel keluar bersama-sama dari ruang ICU. " Ma, aku titip Ziko." Ucap Zira. Kevin mengendarai mobilnya. Emosi Zira sudah sangat memuncak, dia ingin melihat pelaku dan ingin menanyakan motif kejahatannya. Setibanya di kantor polisi sudah ada pengacara yang menunggu kehadiran mereka semua. " Mana pelakunya." Tanya Zira. " Ada di dalam. Saya harap nona bersabar jangan melakukan tindakan yang dapat merugikan anda." Ucap pengacara menasehati Zira. Pengacara membawa mereka kedalam kantor polisi dan bertemu dengan pihak penyidik. " Pak, saya ingin bertemu dengan pelaku." Ucap Zira. " Bisa, nanti kami akan mempertemukan anda semuanya dengannya." " Maaf pak, bagaimana anda bisa menangkapnya." Tanya Kevin kepada pihak kepolisian. " Wajah pelaku sudah ada di kamera Cctv dan kami menemukannya tidak jauh dari gedung kejadian. Mari ikut kami untuk melihat pelaku." Mereka mengikuti bapak polisi untuk menemui pelaku. Pelaku di letakkan di dalam ruangan kaca. Dan kaca tersebut tembus langsung ke ruangan khusus. Ruangan itu khusus di gunakan untuk melihat jalannya pihak penyidik mengajukan beberapa pertanyaan kepada pelaku. Ketika melihat pelaku Zira langsung kaget bercampur emosi. " Kia? Itu Kia, aku baru membebaskannya beberapa bulan yang lalu." Ucap Zira. " Betul nona." " Mana Sisil. Apa dia melakukan hal ini bersama Sisil." Tanya Zira penuh amarah. " Tidak nona, Sisil tidak terbukti melakukan ini. Sepertinya dia merencanakan semua ini sendirian." Ucap polisi. " Izinkan aku menemuinya sendiri." " Maaf nona, anda tidak boleh bertemu langsung dengan pelaku." Ucap pengacara. " Kenapa? Apa kalian takut dia akan mencelakai ku." " Aku ingin bertemu dengannya sendiri." Ucap Zira kekeh. Pengacara membicarakan hal itu kepada polisi. Dan pihak polisi mengizinkan. Ketika memasuki ruangan yang ada Kia di dalamnya salah satu tangan pelaku di borgol. " Wah wah ada nyonya." Ejek Kia tanpa ada rasa bersalah. Zira duduk di kursi tepat di depan Kia. " Kenapa kamu melakukan hal ini kepada suamiku." Tanya Zira. " Hahahaha, kenapa? Aku itu sangat mencintainya dan sangat membencimu. Dan aku sangat ingin membunuhmu tapi ternyata Tuhan masih sayang samamu. Jadi untuk melancarkan aksiku. Aku harus membunuh Ziko agar dia mati dan kamu tidak bisa memilikinya. Hahahah." Kia tertawa menggelegar. Prak. Zira menampar pipi Kia dan mencengkram leher pelaku. Pihak polisi langsung masuk kedalam dan mencoba melepaskan tangan Zira dari leher Kia. " Nona apa yang anda lakukan. Jangan jadi pembunuh nona." Ucap Kevin. " Dia telah mencelakai suamiku." Ucap Zira masih mencengkram leher Kia. Dan tanpa di sadari dari mulut Kia keluar busa. Zira kaget dan melepaskan tangannya dari leher wanita itu. Polisi langsung melihat denyut nadi Kia dan langsung melarikan ke rumah sakit. " Like, komen dan vote yang banyak ya, terima kasih." Ig. anita_rachman83 Chapter 403 episode 402 (S2) " Mohon dukungannya dengan vote, like dan komen." Selamat Membaca. Tubuh Kia sudah di larikan ke rumah sakit. Tapi pihak polisi yang berada di ruangan itu atau yang menyaksikan kejadian itu melihat kearah Zira semua. Salah satu polisi berbicara. " Nona anda kami tahan." Ucap salah satu polisi. " Apa!" Zira kaget begitupun Kevin, Menik dan pengacara juga kaget dan melihat kearah polisi dan Zira. Mereka melakukan secara berulang karena bingung. " Kenapa aku harus di tahan." Ucap Zira ketus. " Karena anda telah melakukan perencanaan pembunuhan." Ucap salah satu polisi lainnya. " Pembunuhan? Aku tidak membunuhnya." Ucap Zira melakukan pembelaan. " Maaf anda harus kami tahan." Ucap polisi meletakkan kedua tangan Zira kebelakang. Dia di perlakukan seperti seorang tahanan. " Kevin lakukan sesuatu aku tidak membunuhnya." Ucap Zira. " Pak polisi. Tidak mungkin nona Zira membunuhnya dengan begitu cepat. Kita menyaksikan kejadian itu bersama-sama dalam hitungan detik Kia langsung mati. Untuk membunuh seseorang dengan mencengkaram leher membutuhkan waktu beberapa menit." Ucap Kevin. " Betul pak Polisi. Tidak mungkin klien saya membunuhnya. Ini sebuah jebakan." Ucap pengacara membela Zira. " Sebelum ada kejelasan dari pihak penyidik anda kami tahan." Ucap polisi sambil membawa tubuh Zira dan meletakkannya di dalam sel tahanan sementara. Kevin dan pengacara mencoba meyakinkan polisi kalau Zira tidak ada rencana membunuh Kia. Dari balik sel Zira berkata kepada pengacara dan Kevin. " Aku tidak membunuhnya Vin." Ucap Zira lagi. " Iya nona saya percaya. Tapi pihak kepolisian tidak mempercayai ini. Karena kejadian ini begitu cepat dan di saksikan kami semua." Ucap Kevin. " Nona, saya akan mengirimkan beberapa tim kita untuk melihat kondisi pelaku." Ucap pengacara. Zira menganggukkan kepalanya setuju. Sebagian tim pengacara menuju ke rumah sakit. Mereka ingin melihat kondisi pelaku. Dan sebagian pengacara masih di kantor polisi. Mereka mencoba meyakinkan kepolisian. " Pak, klien kami tidak berencana membunuhnya." Ucap pengacara. " Nanti kita buktikan. Kalau pelaku tidak mati maka klien anda kami bebaskan. Tapi kalau pelaku mati maka klien anda kami tahan." Ucap polisi. Kevin yang berada di depan sel bingung dan mondar-mandir. Seharusnya mereka memberikan kesaksian tapi malah Zira yang di tahan. " Nona kita berdoa saja. Semoga pelaku tidak meninggal." Ucap pengacara. Kevin mengingat kejadian di gedung resepsi, yang mana pria yang minum minuman Zira langsung meninggal dan mulutnya berbusa seperti Kia. " Sepertinya keadaannya tidak akan selamat." Ucap Kevin. Zira, Menik dan pengacara melihat kearahnya. " Apa maksud anda pak Kevin." Tanya pengacara. " Kejadian ini sama persis dengan pria yang waktu minum minuman anda nona. Apa anda lihat mulutnya mengeluarkan busa. Bisa di pastikan Kia meminum racun yang sama." Ucap Kevin. Pengacara manggut, mereka harus melakukan strategi agar Zira di bebaskan. Pihak kepolisian masih menunggu keadaan Kia. Begitupun dengan sebagian tim pengacara masih menunggu di rumah sakit. Mereka ingin melihat keadaan Kia secara langsung. Hampir satu jam mereka menunggu kabar itu. Dan tiba-tiba tim pengacara mengabari kepada ketua pengacara yang ada di kantor polisi. " Ya halo baik." Ucap ketua tim pengacara kemudian panggilan terputus. " Ada kabar apa." Tanya Kevin. " Pelaku meninggal dunia." Ucap ketua tim pengacara. " Apa!" Zira kaget tapi tidak dengan Kevin, dia sudah menduga kalau Kia akan meninggal. " Selanjutnya apa yang harus kita lakukan." Tanya Kevin. " Jalan satu-satunya melakukan autopsi. Tapi kita tidak tau apakah kepolisian mau melakukannya." Ucap pengacara. " Memangnya kenapa?" " Yang akan melakukan dan memberikan instruksi untuk melakukan autopsi hanya penyidik." Ucap pengacara. " Ya sudah bapak bilang kepada penyidik untuk melakukan autopsi." Ucap Kevin. " Saya bisa mengatakannya sekarang. Tapi pihak penyidik apakah mau melakukannya sekarang atau tidak? Kalau sekarang dan terbukti pelaku meninggal karena minum racun maka nona bisa di bebaskan hari ini juga. Tapi mengingat banyaknya kasus, pasti penyidik membutuhkan waktu untuk mengecek dan melakukan autopsi." Ucap pengacara menjelaskan. " Bapak bilang saja kepada pihak penyidik. Saya mau bebas. Suami saya sedang menunggu di rumah sakit." Ucap Zira. " Baik nona." Tim pengacara pergi meninggalkan Kevin, Menik dan Zira. Ini adalah pertama kalinya bagi Menik ke kantor polisi. Dan untuk Zira ini sudah beberapa kali buatnya berada di kantor polisi. " Vin, lakukan sesuatu. Aku tidak mungkin berada di sini." Ucap Zira. " Baik nona. Saya akan mengabari hal ini kepada tuan besar." Ucap Kevin. " Kenapa kamu mengabari papa, nanti mereka tambah bersedih." Ucap Zira menolak. " Nona hanya tuan besar yang bisa menghubungi kepala kepolisian. Kalau ada tuan muda beliau bisa menghubungi bapak kepala kepolisian. Tapi berhubung tuan muda belum sadarkan diri. Hanya tuan besar yang bisa melakukan ini." Ucap Kevin. Dengan berat hati dia mengikuti Kevin. Dia juga tidak mau berlama-lama di kantor polisi. Karena menurutnya seharusnya dia berada di samping suaminya. " Nik, kamu temani nona Zira dulu. Aku mau menghubungi tuan besar di luar." Ucap Kevin sambil beranjak meninggalkan keduanya. Menik hanya bisa menyemangati Zira. " Nona yang sabar ya. Ini cobaan buat keluarga nona." Ucap Menik. Zira hanya diam dan merenungi kejadian yang di alaminya. Dia memikirkan kebodohannya, karena dengan mudah ikut terbawa rencana Kia. Jika dia bisa mengontrol emosi dan berpikir jernih. Mungkin dia tidak akan di tahan. Di luar kantor polisi Kevin menghubungi tuan besar. " Tuan, kami butuh bantuan anda." Ucap Kevin. " Apa itu." Jawab tuan besar. Kevin menceritakan kejadian yang terjadi di kantor polisi. Dari Zira bertemu pelaku dan mencengkram leher Kia juga diceritakannya. Sampai pelaku di larikan ke rumah sakit diceritakannya. Tidak ada yang dilewatkannya. Semuanya di ceritakan secara detail. Tuan besar yang berada di rumah sakit tentu syok mendengar menantunya di tahan kepolisian. Tapi dia bisa berpikir jernih dan langsung menghubungi kepala kepolisian. Kevin kembali masuk kedalam kantor polisi. Dia mau mengabari kepada majikannya. " Bagaimana Vin." Tanya Zira ketika melihat kedatangan pria itu di depannya. " Saya sudah mengabari tuan besar. Beliau sepertinya langsung menghubungi kepala kepolisian. Semoga nona bisa cepat di bebaskan." Ucap Kevin. " Bagaimana reaksi mereka ketika kamu mengatakan kalau aku di tahan." Tanya Zira. " Sepertinya tuan besar syok. Tapi beliau bisa mengendalikannya." " Bagaimana mama? Apa mama juga syok." Tanya Zira lagi. " Saya hanya mengabari tuan besar jadi tidak tau bagaimana reaksi nyonya Amel. Mungkin tuan besar sudah mengabari kepada istrinya." Zira masih berada di dalam sel. Mereka berbicara dengan pembatas sebuah jeruji besi. Dalam beberapa menit tim pengacara kembali menemuinya. " Bagaimana?" Ucap Zira. " Kami sudah mencoba memberikan analisa kami kepada pihak penyidik tapi mereka belum bisa melakukan autopsi sekarang. Karena mereka harus mencari pihak keluarga pelaku dulu. Pihak kepolisian harus memberitahukan hal ini kepada keluarganya." Ucap pengacara menjelaskan. " Apa ini seperti izin dari pihak penyidik kepada keluarga." Tanya Kevin. " Bisa di bilang seperti itu." " Bagaimana kalau keluarga pelaku tidak ada. Atau keluarga pelaku tidak di temukan dalam beberapa hari. Apa autopsi tetap di lakukan." Tanya Kevin. " Kalau keluarga pelaku tidak ada penyidik bisa melakukan autopsi tapi kalau ada, mereka harus mencari keberadaanya. Dengan kata lain nona Zira masih di tahan di sini. Sampai proses penyidikan selesai." Ucap pengacara menjelaskan. Chapter 404 episode 403 (S2) " Hargai karya author dengan cara vote, like dan komen ya. Terima kasih. Selamat Membaca. Zira masih di tahan pihak kepolisian. Mertuanya sudah menghubungi kepala kepolisian. Kepala kepolisian meminta timnya untuk melakukan penyidikan secepat mungkin dan menyelesaikan kasus itu secepat mungkin. Pihak kepolisian bisa menduga kalau pelaku meninggal karena bunuh diri. Tapi sesuai prosedur mereka harus melakukan autopsi dan untuk melakukan autopsi mereka harus mencari keberadaan orang tua Kia. Dan mereka memanggil Sisil kembali ke kantor polisi. Dia di berikan beberapa pertanyaan mengenai rencana pembunuhan yang di lakukan Kia. " Apa anda tau tentang rencana pembunuhan yang di lakukan korban." Tanya penyidik. " Tidak pak, setelah keluar dari penjara kami berpisah. Saya menggunakan uang pemberian Ziko untuk mencari tempat tinggal dan pekerjaan." Ucap Sisil masih bingung. Dia tidak tau siapa yang jadi korban dalam pembunuhan yang terencana oleh Kia. Karena pihak polisi hanya menyebutkan Kia pelakunya tapi tidak menyebutkan siapa korbannya. " Apa pelaku ada keluarga di sini." Tanya penyidik lagi. " Tidak pak, saya sudah berteman dengannya dari kecil dan dia hidup sendiri." Ucap Sisil. Pihak penyidik memberikan secarik kertas yang harus di tanda tanganinya. " Apa ini pak." Tanya Sisil bingung. " Tanda tangani ini. Karena kesaksian anda yang menyatakan kalau pelaku tidak punya keluarga harus ada bukti tertulis." Ucap penyidik. Sisil menganggukkan kepalanya, dia menuruti kemauan penyidik dengan menandatangani surat itu. " Maaf pak, apa saya bisa bertemu dengannya." Tanya Sisil. " Tidak bisa. Teman anda sudah bunuh diri." Ucap polisi. Sisil kaget dia tidak menyangka kalau jalan hidup temannya terlalu singkat. Setelah penandatanganan surat itu Sisil keluar dari ruang penyidik. Di depan dia bertemu dengan Kevin bersama dengan tim pengacara Zira. " Kamu? Siapa yang telah di bunuh Kia." Tanya Sisil langsung. " Tuan muda Ziko telah di tikamnya. Dan ada korban lainnya juga." Ucap Kevin. " Apa Ziko! Bagaimana kondisinya." Ucap Sisil prihatin. " Masih koma." " Zira bagaimana? Apa dia sangat terpukul." Tanya Sisil lagi. " Iya." Ucap Kevin singkat. Kevin belum seratus persen percaya dengan Sisil, dia tidak ingin mengatakan kalau Zira sedang di tahan. Wanita itu pergi tapi dia kembali menghampiri Kevin. " Boleh aku menjenguk Ziko." Tanya Sisil. Kevin menatap tajam wajah wanita di depannya. " Kevin, jangan kamu pandangi wajahku seperti itu. Aku tidak berniat melakukan apapun. Aku hanya ingin melihat keadaannya." Ucap Sisil memohon. " Doakan saja kesembuhannya." Ucap Kevin dingin. Sisil keluar dari kantor polisi dengan perasaan kecewa. Dia berniat baik tapi tetap di anggap salah. Setelah mendapatkan keterangan dari Sisil dan menyusuri tentang asal usul Kia. Maka pihak penyidik langsung melakukan autopsi. Kevin dan Menik masih setia menunggu Zira di kantor polisi. Mereka yakin Zira akan di bebaskan hari ini. Hari sudah petang tapi belum ada tanda-tanda kebebasan dari pihak kepolisian. " Apa penyidik sudah melakukan autopsi." Tanya Kevin. " Sepertinya sudah. Kita tinggal menunggu dari pihak penyidik. Mereka hanya ingin mengikuti prosedur. Setelah terbukti dan sudah melakukan prosedur maka nona Zira akan di bebaskan. Kevin menganggukkan kepalanya, dia menoleh kearah Menik. Wanita itu terlihat lelah. " Apa kamu lelah." Tanya Kevin. " Tidak." Ucap Menik bohong. Sebenarnya dia cukup lelah. Karena semalam pulang larut malam dan harus berangkat pagi buta. Dan di kantor polisi mereka terlalu panik dan stress sampai melupakan namanya duduk dan makan siang. Kruk kruk. Kevin menoleh kearah Menik. " Kamu lapar." Tanya Kevin. " Tidak." Menik berbohong tidak mungkin dia bermanja-manja ria dengan Kevin. Padahal kenyataanya dia memang kelaparan. Kevin tersenyum dan mengelus rambut Menik dengan lembut. " Maafkan aku, gara-gara ini aku lupa kalau kamu belum makan." " Aku tidak lapar." Ucap Menik bohong, dia tidak mau Kevin mengurusinya. " Tapi perutmu berbunyi." Ucap Kevin. " Oh sudah biasa, kalau mereka kenyang angin pasti seperti itu, ops." Menik menutup mulutnya dia keceplosan. " Ayo kita makan dulu." Kevin memegang tangannya. " Tapi nona Zira bagaimana." Tanya Menik. " Ada pengacara di sini. Nanti mereka akan mengabari kita." Ucap Kevin pamit kepada tim pengacara. Mereka berjalan bergandengan tangan. Kevin membukakan pintu mobil untuk calon istrinya. Setelah Menik duduk tidak lupa dia memasangkan seat belt. " Kita belikan makanan untuk nona Zira." Ucap Menik. Kevin setuju dengan menganggukkan kepalanya. Dia memilih rumah makan yang tidak jauh dari kantor polisi. Dalam beberapa menit mereka sudah sampai di depan rumah makan itu. Mereka memilih meja yang ada di pojok. Mereka memesan makanan rumahan. Kevin terus memandangi wajah Menik. " Kenapa kamu memandangi wajahku seperti itu." Tanya Menik. " Kamu cantik." Ucap Kevin. Menik tersipu malu. Makanan yang mereka pesan telah datang dan di hidang semuanya di hadapan mereka. Menik membantu Kevin untuk mengisi nasi kedalam piringnya. Tapi pria itu menolaknya. " Kenapa?" Ucap Menik bingung. " Aku mau kamu menyuapiku." Ucap Kevin. " Apa!" " Iya, sebelum menikah kamu harus menyuapiku. Sama halnya dengan tuan muda dan nona Zira, mereka selalu makan satu piring berdua. Dan aku mau, kita melakukannya juga." Ucap Kevin. " Apa kamu tidak jijik makan dari mulutku." Ucap Menik. Kevin diam. Dia teringat akan taik gigi yang selalu di ucapkan kedua majikannya. " Halo." Menik melambaikan tangannya di hadapan Kevin. " Iya." Ucap Kevin. " Kamu melamun." Tanya Menik. " Tidak, ya sudah kita makan sendiri-sendiri nanti kalau sudah menikah kamu harus menyuapiku." Ucap Kevin. " Makan yang banyak, aku mau ketika kita menikah tubuhmu lebih berisi dari sekarang." " Memangnya tubuhku yang sekarang kenapa?" " Tidak apa-apa. Aku ingin melihatmu lebih semok." Ucap Kevin tersenyum menyeringai. Menik malu dia menundukkan kepalanya. Mereka makan dengan lahapnya setelah selesai makan mereka kembali ke kantor polisi tidak lupa membawa makanan untuk Zira. " Nona makanlah." Ucap Menik menyerahkan satu bungkus makanan. " Terima kasih, aku tidak lapar." Ucap Zira masih di dalam sel tahanan. Sebenarnya dia sangat lapar. Tapi masalah yang di hadapinya membuatnya lupa akan rasa lapar. " Nona jangan seperti itu nanti nona sakit. Kalau sakit siapa yang akan mengurus tuan muda." Ucap Kevin. " Bagaimana keadaan suamiku." Tanya Zira penasaran. Kevin harus berbohong. " Tuan muda sudah sadar dan sekarang di pindahkan ke ruangan lain." Ucap Kevin bohong agar Zira semangat. " Terima kasih Tuhan." Ucap Zira sambil sujud syukur. " Makanlah, biar anda bisa merawat tuan muda. Saya yakin anda akan bebas malam ini." Ucap Kevin menyemangati Zira. Zira langsung makan makanan yang dibelikan Kevin. Dia semangat untuk keluar dan bertemu dengan orang terkasihnya. Kevin sebenarnya merasa bersalah karena telah berbohong tapi hanya itu cara mengembalikan semangat Zira. Setelah ditahan selama satu hari akhirnya Zira di bebaskan. Dia terbukti tidak melakukan pembunuhan. Dan kepala kepolisian memenuhi janjinya kepada tuan besar untuk menyelesaikan kasus Zira hari itu juga. Bersambung Ig. anita_rachman83