《Terpaksa Menikahi Tuan Muda》 Chapter 1 prolog Pengenalan karakter dan cerita Daniah Andini Dia adalah seorang wanita pekerja keras. Ibunya sudah meninggal dunia. Ayahnya sudah menikah lagi, dan pernikahan mereka yang kedua dikaruniai dua anak, Risya Amelia dan Raksa Ardana. Daniah mendapat perlakuan buruk dari ibu tiri dan adik perempuannya. Ayahnya tak terlalu perduli, dan sibuk dengan urusan pekerjaan. Hanya adiknya Raksa yang membuatnya tetap menganggap tempat yang ia tinggali adalah rumah. Suatu hari saat kerugian besar datang di perusahaan ayahnya, sampai pada kondisi perusahaan bangkrut. Daniah harus rela menjadi tumbal keserakahan ayahnya. Dia dijual sebagai gadis penebus hutang. Dia harus menikahi pria kaya yang bisa menyelamatkan keluarganya. Dia harus terpaksa menikahi tuan muda sebagai bayaran darinya karena menolong perusahaan ayahnya. Daniah tahu, dia tidak bisa menolak. Dia harus memasuki neraka yang kedalamannya tidak pernah ia ketahui. Ada apa di sana, bara yang bisa saja menghancurkan dirinya. Saat sekuat tenaga ia berusaha bertahan menjadi istri pria kaya yang seenaknya dan bisa masuk kategori gila, pria yang bahkan tidak pernah mencintainya itu, pria yang diawal pernikahan mengatainya jelek dan kampungan. Akan tetapi sedikit demi sedikit, tuan muda kaya itu menoleh padanya. Mendekapnya, dan mengatakan menyukainya. Apakah itu artinya ia bisa hidup bahagia sekarang, tidak, tapi neraka baru baginya dimulai, karena sekali lagi, laki-laki itu mencintainya dengan cara yang berbeda, ia mengalungkan rantai kuat di lehernya yang semakin lama menyiksanya. merampas kebebasannya. Saga Rahardian Wijaya Horang kaya yang bisa melakukan apapun dan mendapatkan apapun yang ia inginkan. Roda kehidupan berputar di sekelilingnya sesuai apa yang ia inginkan. Fisik dan rupanya yang tampan banyak membuat wanita tergila-gila dan rela melakukan apa pun untuk bisa dekat dengannya. Tapi jangankan untuk terlibat hubungan yang lebih dalam, untuk hanya bisa menyentuh tubuh Saga saja sudah merupakan keajaiban. Lelaki ini dulu tidak seperti itu, ia pernah menjadi pria baik yang memiliki senyuman hangat. Ia pernah mencintai seorang wanita, namun tidak tahu karena apa hubungannya dengan gadis itu kandas. Dan itulah awal mula perubahan sikap dinginnya. Suatu hari, saat laki-laki menyedihkan berlutut di kakinya memohon pertolongan dia mengatakan dengan suara dingin. ¡° Apa yang bisa kau berikan pada ku supaya aku tertarik menolong perusahaan mu?¡± Laki-laki tidak berdaya itu akan memberikan apa pun termasuk anak gadisnya. Saga terbahak, dia bisa mendapatkan wanita mana pun yang ia inginkan. Lalu seberharga apa putri mu sampai bisa membuat ku tertarik begitu gumamnya. Sekertaris Han di sampingnya yang sedari tadi diam menyerahkan hp, menunjukan sebuah foto. Seorang gadis dengan rambut bergelombang yang sama sekali bukan tipenya. Senyum cerianya, bola mata, garis bibir dan sepertinya semua yang dimilikinya sama sekali bukan seleranya. Sekertaris Han mengeser foto lagi, sekarang foto seorang gadis yang jauh mendekati seleranya. Cantik, rambut lurus hitamnya jatuh. Cara berpakaiannya juga menarik. ¡° Mereka kedua putrinya.¡± Saga terbahak, ia seperti menemukan mainan baru yang menyenangkan, dilemparkannya hp itu ke hadapan laki-laki yang sedang berlutut. ¡° Baiklah, berikan padaku anak mu, aku akan menikahinya dan menyelamatkan perusahaan mu.¡± Nada suara Saga tidak bisa ditebak, apakah dia serius atau hanya sedang mempermainkan laki-laki menyedihkan di hadapannya. ¡° Terimakasih tuan. Terimakasih tuan.¡± Laki-laki itu tak perduli, ia hanya mementingkan bahwa ia bisa menyelamatkan perusahaannya. Dia melihat layar hp yang dilemparkan Saga di depannya. Foto anak pertamanya, dengan rambut bergelombang sedang tersenyum dengan ceria. Itulah hari dimana dia menjual anak gadisnya untuk menyelamatkan perusahaan. Kisah akan dimulai, selamat membaca ???????? Chapter 2 Awal mula Hanya pernikahan ini yang bisa menyelamatkan hidup keluarga. Berkorbanlah sedikit saja, kami sudah membesarkan mu sampai dengan dewasa seperti ini, bagaimana kau tidak tahu caranya membalas budi. Tuan muda Saga berjanji akan menyelamatkan perusahaan dan keluarga ini. Berjanjilah pada ayah mu, kau akan melakukannya. Tubuh Daniah bergetar, ia tentunduk dalam. Menatap lututnya sendiri, mencengkram jemarinya yang terkepal. Ia merasa marah, namun perasaan itu pun tidak bisa ia keluarkan. Balas budi, bukankah aku anak kandung mu. Bukankah kewajiban mu memberi ku makan dan tempat tinggal, kenapa aku harus membalas budi untuk kewajiban yang memang harus kau lakukan. Aku membenci mu dengan seluruh kehidupan ku. Pernikahan akan dilaksanakan pada tangal 10. Terhitung dari sekarang hanya sepuluh hari lagi. Daniah bahkan tidak mengatakan apa pun, ia tidak mengelengkan kepala atau pun tidak menganggukan kepala. Toh gerakan kepalanya tidak akan merubah apa pun. ¡° Terimakasih.¡± Huh! Bahkan kata yang sangat ingin didengarnya itu tak pernah mereka lontarkan. Mereka menganggap pengorbananya adalah sebuah keharusan. Bukanlah sesuatu yang layak mendapatkan ucapan terimakasih. Dia anak pertama keluarga ini. Jadi tanggung jawabnya untuk berkorban. Sudah kewajibannya karena dia diberi tempat tinggal, makanan dan pakaian. Balas budi. - - - Daniah masih mematung di depan kaca, menatap bayangan menyedihkan dari wajahnya sendiri. ¡° Permisi nona, utusan dari keluarga Tuan Saga datang ingin menjemput anda.¡± Bibi pengurus rumah sudah berdiri di belakangnya. Tanpa terdengar langkah kaki mendekatnya. ¡° Kenapa?¡± Daniah bertanya tanpa memalingkan wajah, masih menatap bayangan menyedihkan di kaca. Inilah wajah manusia yang bahkan tidak punya kekuatan untuk hanya mengelengkan kepala penolakan. ¡° Saya tidak tahu nona, silahkan turun. Tuan besar dan nyonya sudah menunggu ada.¡± Daniah menapaki anak tangga. Di ruang tamu dia melihat seseorang duduk. Ayah dan ibu tirinya sedang bicara dengan berlebihan. Menjilat apa yang bisa mereka jilat. Tanpa rasa malu. Daniah menghentikan langkahnya saat pria itu berdiri karena melihatnya datang. ¡° Saya akan membawa nona Daniah sekarang.¡± Ucapnya. ¡° Baik sekertaris Han. Daniah , ikutlah dengan sekertaris Han! Tuan Saga ingin bertemu denganmu.¡± Daniah tidak menjawab apa yang ayahnya katakan. Ibu tirinya terlihat memelototinya, namun tidak bisa melakukan apa pun karena ada utusan dari keluarga calon suaminya. Daniah berjalan mengikuti langkah kaki utusan itu, tanpa bicara sepatah kata pun. Dia memasuki mobil masih tanpa suara. Saat mobil berjalan pun dia tetap membisu. Apa yang akan terjadi padaku. Lari, aku ingin lari. Tapi kemana? Walau pun keluarga ini tidak seutuhnya menganggap ku keluarga. Namun hanya tempat ini yang bisa ku sebut rumah. Aku masih punya adik laki-laki satu ayah yang menyayangi ku. Aku tak punya tujuan untuk lari. Merasa beruntung karena memiliki rumah, untuk itulah mungkin benar kata ayah, aku harus membalas budi. Sambil menatap pohon-pohon di pinggir jalan pikiran Daniah berlarian ke mana-mana. - - - Saga Rahardian Wijaya adalah nama calon suaminya. Pemilik perusahaan ternama Antarna Grup. Rumor yang beredar tentangnya adalah, dia laki-laki muda yang berdarah dingin. Kejam terhadap setiap lawan-lawannya. Dia bisa menghancurkan sebuah perusahaan hanya dalam semalam. Untuk alasan yang dirinya dan Tuhan yang tahu. Rumornya lagi ia berganti wanita setiap malam, wanita-wanita mengantri untuk hanya bersamaanya semalam saja tidak pernah kehabisan. Lantas kenapa laki-laki seperti itu ingin menikah. Dan lebih menyedihkannya mengapa harus menikah dengan ku. Perusahaan ayah pasti bukanlah satu-satunya perusahaan bangkrut yang bisa ia kuasi, tapi kenapa dia memilih perusahaan ayah. Dan memilih aku sebagai istrinya. ¡° Kita sudah sampai nona, silahkan!¡± Daniah terjaga dari lamunannya saat sekertaris Han memanggil. Dia sudah berdiri di luar mobil dan membukakan pintu. Daniah berusaha menguasai dirinya. Di mana ini gumamnya. Tempat ini terlihat seperti restoran kelas atas. Dia hanya berjalan mengikuti langkah sekertaris Han. Masih tanpa mengeluarkan suara atau bertanya. ¡° Silahkan masuk ke dalam, tuan muda akan datang sebentar lagi.¡± ¡° Baik.¡± Daniah memasuki ruangan. Ia ingin bertanya sesuatu pada sekertaris Han. Tapi melihat raut muka yang sepertinya jarang tersenyum itu Daniah sudah enggan. Hingga akhirnya dia memilih diam, dan hanya menunggu. BERSAMBUNG Chapter 3 Pertemuan Pertama Dania duduk sambil merapikan rambut dan pakaiannya. Ia mengerutkan pipinya berulang-ulang, melatihnya untuk tersenyum. Apapun yang terjadi yang ia lakukan adalah cukup tersenyum. Tersenyum , sambil melangkah ke lubang neraka yang dasarnya tidak ia ketahui. Pintu terbuka, sekertaris yang tadi menjemputnya muncul. Disusul dengan sosok laki-laki. Perawakan laki-laki itu sungguh sempurna. Daniah berdiri dari duduk, jemarinya. Laki-laki itu memiliki aura yang kuat. Ini kali pertamanya bertemu dengan calon laki-laki yang akan menjadi suaminya. Ntah karena apa, dia sudah merasa sekujur tubuhnya gemetar. Bahkan langkah kaki laki-laki itu memasuki ruangan sudah mengintimidasinya. ¡° Silahkan Tuan.¡± Sekertaris itu menarik kursi, dan laki-laki itu duduk dengan sikap yang sangat angkuh. Sekertaris Han meletakan amplop besar berwarna coklat di atas meja. Daniah menatap benda itu. Apa itu surat perjanjian pra nikah. Dia bergumam sendiri. Dia sudah menyiapkan hatinya untuk kemungkinan terburuk yang bisa terjadi pada pernikahannya. Ini hanya pernikahan untung dan rugi. Ayahnya telah menjualnya untuk melunasi semua hutang perusahaan. Dia tahu bahwa dia tidak punya harga diri lagi di hadapan calon suaminya. ¡° Bacalah, itu peraturan yang harus kamu taati saat menjadi istri ku.¡± Dia melemparkan map besar itu di hadapan Daniah dengan tangan kirinya. Perlahan Daniah meraih amplop. Sejujurnya walaupun dia terlihat tenang namun dadanya berdetak lebih kencang. Ia menghembuskan nafas pelan agar fikirannya tetap bisa fokus. Apa ini! Pihak pertama : Saga Rahardian Wijaya Pihak Kedua : Daniah Andini Peraturan yang berlaku selama pernikahan adalah pihak pertama adalah aturan yang harus dipatuhi oleh pihak kedua. Daniah mencoba mencerna tulisan yang ada di depannya. satu kalimat panjang itu sudah mewakili semuanya. bahwa ia bukan apa-apa, ia hanya harus patuh tanpa bicara. Apa maksudnya ini, apa ini artinya dia lah aturan hidup yang harus aku patuhi selama pernikahan berlangsung. Kata-katanya adalah titah. Begitu? Apa dia pikir dia itu kaisar. Seluruh bulu kudu Daniah merinding. Karena menyadari laki-laki di hadapannya memang bisa melakukan apa pun yang ia mau. ¡° Maaf, boleh saya bertanya maksud dari aturan ini?¡± Saga menatap wanita yang akan menjadi istrinya ini tajam. ¡° Artinya patuhi semua apa yang aku katakan.¡± Setelah mengucapkan kalimat pendek itu, bibirnya menyeringai. ¡° Apa bisa Tuan menjabarkan apa saja itu, agar saya tidak melakukan kesalahaan kedepannya.¡± Daniah menjawab dengan tersenyum, dia menahan hatinya yang bergejolak dengan berwajah ceria. Sekilas Daniah bisa melihat Saga terkejut dengan kata-katanya. Bibirnya terlihat tersenyum samar dengan sinis. ¡° Keluarkan hp mu!¡± Daniah menuruti kata-kata Saga. ¡° Catatlah. Peraturan pertama jangan pernah mencampuri urusan pribadi ku. Apa pun itu, termasuk hubungan ku dengan wanita lain.¡± ¡° Baik.¡± Saga menatap lurus wanita di depannya yang masih mencacat dengan cepat di hpnya. Gadis ini tidak terlihat terkejut dengan aturan pertama yang ditulisnya. ¡° Yang kedua, lakukan kewajibanmu dan peran mu sebagai istri ku tanpa banyak bicara.¡± ¡° Baik.¡± Daniah menatap Saga. ¡° Apa hanya ini Tuan?¡± Gadis ini benar-benar sedang menantang ku sepertinya. Saga menatap tidak suka. ¡° Maaf, apa saya boleh menanyakan sesuatu?¡± ¡° Katakan.¡± Saga menjawab acuh. ¡° Apa saya bisa tetap melakukan pekerjaan saya seperti biasanya?¡± ¡° Aku tidak perduli dengan pekerjaan mu, lakukan sesuka mu. Yang harus kamu lakukan adalah menjaga sikap mu di luar sana, jangan sampai beredar gosip yang bisa menghancurkan nama baik ku. Ingatlah, aku bisa membantu keluarga mu bertahan hidup, tapi aku juga bisa membuatnya hancur berkeping seperti remahan debu.¡± Daniah menelan ludahnya. Benar, seperti inilah watak asli laki-laki di depannya. Ternyata rumor berhati dingin itu sungguh benar adanya. ¡° Baik Tuan saya akan patuh menjadi istri anda dan menjalankan semua aturan yang anda buat. Terimakasih atas semua kebaikan yang Tuan berikan kepada keluarga saya, saya akan membayarnya dengan jiwa dan raga saya.¡± Ya Tuhan apa yang sudah ku katakan, aku pasti sudah gila. Bagaimana kata-kata keputusasaan ku bisa keluar dengan indah begitu. ¡° Sepertinya kau sudah tau harus melakukan apa.¡± Daniah tersenyum. ¡° Terimakasih atas pujiannya Tuan.¡± Siapa yang memujimu. Saga memaki dengan sorot matanya. Aku sedang menghina harga dirimu. Haha, aku tahu, kamu bahkan tidak punya harga diri. Makanan dan minuman masuk saat pembicaraan mereka telah selesai. Sekertaris Han, masuk lalu membisikan sesuatu di telinga Saga. Setelahnya Saga terlihat sudah tidak akan meneruskan makannya. Karena melihat Saga bangun dari duduk, Daniah ikut reflek bangun dari kursinya. ¡° Anda akan pergi Tuan? tidak makan dulu. Sudah banyak sekali makanan di meja.¡± Saga menghentikan langkah kakinya. ¡° Kau bisa menghabiskan semuanya?¡± ¡° Tidak tuan ini banyak sekali.¡± Daniah mengedarkan pandangannya pada makanan di atas meja. ¡° Kalau begitu kenapa tidak kau bawa pulang dan ajak keluarga mu makan. ¡° ia tersenyum, tapi senyum itu berarti merendahkan. Dia menarik bibirnya dengan sinis. ¡° Baiklah, terimakasih atas makanannya Tuan Saga, semoga hari anda berjalan dengan baik.¡± Daniah menundukan kepalanya sampai laki-laki dan sekertarisnya tadi menghilang di balik pintu yang tertutup. Setelahnya ia langsung terkulai lemah. Terduduk di lantai. Aku sangat hina dimata calon suami ku. Daniah pulang dengan membawa semua makanan yang tadi dipesan. Bukankah Tuan saga memerintahkannya untuk membawa semua makanan itu pulang. Tubuhnya masih gemetar, ada air mata menetes di pelupuk saat ia memasuki taksi. Taksi kemudian bergerak pergi memecah jalanan kota. BERSAMBUNG Chapter 4 Jelek dan Kampungan Saga masuk ke dalam mobil. Dia duduk bersandar, lalu terdengar tawa dari mulutnya , hanya dia dan Tuhan yang tahu apa yang membuatnya sampai tertawa seperti itu. Sekertaris Han sudah duduk di belakang kemudi dan memasukan kunci mobil. Bulu kudunya berdiri melihat Saga tertawa seperti itu. ¡° Han.¡± Saga bicara dengan suara ringan. ¡° Ia tuan muda.¡± Sekertaris Han menghidupkan mobil, kemudian keluar dari area parkir dan melajukan mobil membelah jalanan yang ramai. ¡° Kau lihat tadi, rambut bergelombangnya. Haha, apa dia benar-benar perempuan. Bagaimana dia bisa tidak berdandan dan bertemu denganku.¡± Saga tertawa dengan cara yang sama. ¡° aku ingin menarik rambutnya tadi.¡± Sekertaris Han hanya terdiam. Dia melirik kaca spion melihat Saga di belakang. Terlihat sangat terhibur dengan apa yang dia katakan. Bukan, dia terhibur dengan objek yang sedang jadi isi pembicaraannya. ¡° Sepertinya aku suka padanya, dia bisa tersenyum seperti orang bodoh walaupun jelas-jelas tangannya gemetar. Haha, pasti dia akan jadi mainan yang tidak membosankan.¡± ¡° Ia tuan.¡± Aku harus mengatakan apa coba, sepertinya anda menemukan mainan baru yeng menarik. Sekertaris Han bergumam dalam hati. ¡° Han.¡± Saga bicara lagi. ¡° Ia Tuan.¡± ¡° Buat aturan terperinci tentang apa yang harus dia lakukan setelah jadi istri ku, dari aku bangun tidur sampai aku mau tidur. Buat dengan detail, semakin gila semakin baik.¡± Tertawa lagi. Han melirik kaca spion lagi merasa kuatir, tuan mudanya kapan terakhir tertawa seperti itu pikirnya. apa ada yang salah dengannya hari ini. ¡° Dia benar-benar sangat jelek. Haha. Bagaimana dia bisa punya tinggi badan seperti itu, apa orang tuanya tidak memberinya makanan bergizi saat pertumbuhannya. Siapa tadi namanya?¡± Saga bahkan tidak ingat nama wanita yang akan menjadi istrinya. ¡° Daniah Andini.¡± ¡° Haha, bagaimana dia bisa punya nama yang kampungan begitu.¡± Tidak tahu bagaimana harus bereaksi, Han hanya merasa merinding melihat sikap tuan mudanya. ¡° Buatkan semua daftar apa yang aku sukai dan tidak aku sukai. Aku benar-benar ingin tahu apa dia masih bisa tersenyum seperti itu setelah melihat daftar kewajibannya.¡± ¡° Baik tuan.¡± ¡° Bagaimana bisa ada wanita sejelek itu, apa aku suruh dia operasi plastik setelah menikah ya. Tidak-tidak lebih bagus dia jelek seperti itu. Aku penasaran bagaimana reaksinya nanti, kalau wanita yang ada di samping ku sekarang hanya gadis jelek dan kampungan.¡± Deg, Han melirik spion lagi. Suara tuan Saga sudah berubah getir. Senyum atau tawa di bibirnya sudah lenyap. Sekarang dia bersandar di sandaran kursi dan memejamkan mata. Tengelam dalam kesepiannya sendirian. - - - Kenapa bulu kuduku tiba-tiba merinding. Daniah turun dari taxi online yang ia naiki dari restoran tadi. Meraba-raba tengkuknya yang tiba-tiba terasa dingin. Dia membayar biaya taxinya lalu masuk ke rumah, membawa bungkusan kotak makanan yang dia bawa dari restoran. Di ruang tamu ayah dan ibu tirinya sedang berbincang, menunggu kepulangan anaknya yang akan menjadi penyelamat keluarga. Saat Daniah masuk ayahnya langsung berdiri dari duduk dan menarik tangan putrinya untuk duduk di kursi. ¡° Bagaimana? Tuan Saga menyukai mu kan?¡± Hanya itu yang ingin kalian tahu kan. ¡° Kamu tidak membuat masalah kan? Apa itu yang kamu bawa?¡± ibu tirinya mengambil tas yang masih ada di tangan Daniah. ¡° Makanan dari Tuan Saga.¡± Daniah menjawab. ¡° Makanan, apa itu berarti dia menyukai mu, kalian akan menikah kan?¡± ayah yang sangat antusias. ¡° Semuanya berjalan sesuai dengan rencana ayah. Saya lelah, saya permisi ke kamar.¡± Daniah menjawab datar. ¡° Baik, baik, sana istirahatlah.¡± Dua orang tua itu tidak perduli ada kristal bening di pelupuk mata putri mereka, yang menetes saat dia berjalan menaiki tangga. Hanya terdengar tawa bahagia dari keduanya. Mereka sudah lepas dari kebangkrutan, dan hidup akan jadi lebih mudah bagi mereka kedepannya. BERSAMBUNG..................... Chapter 5 Aturan setelah Menikah (Part 1) Disebuah kafe, saat waktu makan siang. ¡° Aturan apa saja yang harus anda perhatikan setelah menjadi istri tuan muda. Saya sudah menuliskannya secara terperinci.¡± Sekertaris Han menyerahkan amplop besar berwarna coklat di hadapan Daniah. Pertemuan lanjutan setelah pertemuan pertama dengan calon suaminya. adalah pertemuan dengan sekertaris Han. Daniah tidak tahu siapa nama asli laki-laki yang duduk di depannya. Hanya Han, begitu dia memperkenalkan diri. Daniah membuka amplop. Ada banyak lembaran kertas di dalamnya. Seperti sedang membaca kertas ujian sewaktu di sekolah dulu tangannya gemetar. Apa ini? Aku seperti dianggap bukan manusia saat membaca setiap aturan yang harus aku taati ketika menjadi istri tuan Saga. Dari aku bangun tidur sampai tidur lagi, sekertaris Han sudah membuatnya secara jelas. Ia pun menuliskan semua kebiasaan dan kesukaan tuan Saga dengan sangat terperinci. Apa aku harus menghafal semua ini. ¡° Kalau ada yang nona ingin tanyakan silahkan?¡± Aku mau protes dan melemparkan kertas-kertas ini kewajah mu. Sialan! ¡° Terimakasih atas kerja keras anda sekertaris Han. Saya akan membaca dan menghafalnya, supaya tidak melakukan kesalahan nanti.¡± Itu yang terucap dari mulut Daniah, sambil tersenyum, seperti mengatakan bahwa, wah anda luar biasa. Saya sangat kagum dengan keluarbiasaan anda. Begitu yang coba ditunjukan Daniah lewat senyumannya. ¡° Itu sudah kewajiban saya nona, untuk menjaga keadaan di dekitar tuan muda berjalan sesuai dengan apa yang semestinya.¡± Waaa, apa kau budak laki-laki aneh itu, gerutu Daniah dalam hati. ¡° Yang utama harus nona perhatikan adalah melayani tuan muda dan menjalankan kewajiban nona sebagai istri tuan muda.¡± Tanpa sadar Daniah menyentuh kancing bajunya. ¡° Saya rasa kecuali itu, nona jangan terlalu berharap untuk bisa melayani tuan muda di atas tempat tidur, karena nona sebenarnya bukan tipe wanita yang disukai tuan muda.¡± Apa! Gila ya, siapa juga yang ingin tidur dengan laki-laki itu. Aku malah senang kalau dia sama sekali tidak pernah menyentuh ku seujung rambut pun. ¡° Sayang sekali ya, padahal tuan Saga sangat tampan. Haha.¡± Daniah kau pasti sudah gila karena mengatakannya, tapi dia benar-benar tertawa dengan ceria sambil mengatakan kalimat barusan. Membuat perubahan wajah sekertaris Han. Gadis ini benar-benar menarik, dia bisa mengatakan hal seperti itu, padahal bibir dan tangannya bergetar. Aku tahu kau sudah mencoba menahan itu, tapi aku masih tetap bisa melihatnya nona. ¡° Anda cukup mengatakan baik pada setiap perintah tuan muda. Tidak perlu bertanya kenapa, hanya jalankan saja semua yang diperintahkan kepada Anda.¡± Han melanjutkan kalimatnya. ¡° Baik, begitukan?¡± Daniah mengedipkan matanya. Haha, gadis ini benar-benar berani. ¡° Di dalam rumah yang akan anda tinggali ada ibu tuan muda dan dua adik perempuan. Anda hanya perlu menghormati mereka dan tidak membuat keributan dengan mereka. Sekali lagi yang harus anda layani adalah suami anda, jadi jangan perdulikan yang lain.¡± Sekertaris Han kembali melanjutkan penjelasannya. ¡° Baik, lanjut.¡± Daniah menenguk es kopinya. Tanpa merasa terbebani dengan apa yang di katakan oleh laki-laki di depannya. Tapi percayalah, tangannya yang berada di bawah meja sudah berkeringat dingin. Dia sudah mulai bisa meraba neraka macam apa yang harus ia masuki, untuk menebus kehidupan mewah keluarganya. ¡° Anda bisa tetap melakukan pekerjaan anda yang sekarang, berhubungan dengan keluarga anda atau bertemu dengan teman-teman anda. Tapi yang harus ada perhatikan adalah, anda sudah harus berada di rumah sebelum tuan muda kembali. Silahkan baca di lembaran kertas itu apa yang harus anda lakukan ketika tuan muda kembali kerumah.¡± Daniah beralih melihat kertas, ia membalik beberapa lembar, lalu menemukan uraian terperinci tentang apa yang harus ia lakukan. Daniah menatap sekertaris Han tajam. Seperti berkata ¡°Apa bos mu itu kaisar?¡± ¡° Benar, seperti yang anda pikirkan.¡± Daniah menutup mulutnya, apa laki-laki ini bisa membaca pikirannya. ¡° Tuan muda adalah raja, yang bisa membuat keluarga anda hidup atau menghancurkannya dalam sekejap mata.¡± ¡° Baik.¡± Daniah merinding. ¡° Saya akan melakukan yang terbaik. Tapi, boleh kan saya bertanya?¡± ¡° Silahkan nona.¡± ¡° Apa saya juga boleh berhubungan dengan laki-laki lain, punya pacar misalnya?¡± Wajah Sekertaris Han berubah. Dia menatap wanita yang ada di depannya. Dia tau gadis ini hanyalah tumbal keserakahan orangtuanya. Tapi bagaimana dia begitu tidak mengenal takut seperti ini. Apalagi setelah dia menyerahkan amplop berisi aturan yang harus dipenuhinya setelah menjadi istri dari Tuan Saga. Daniah kembali menyeruput minumannya, sambil menunggu jawaban dari sekertaris Han. BERSAMBUNG................... Chapter 6 Aturan Setelah Menikah (Part 2) ¡° Apa anda serius dengan apa yang anda tanyakan?¡± Han memberikan sorot mata tidak suka. Gadis di hadapannya ini sepertinya benar-benar memiliki keberanian berlapis. Sekaligus tidak tahu malu yang menggunung. Apa karena keputusasaan membuatnya bersikap seberani ini. ¡° Ia.¡± Jawab Daniah sambil mengeryitkan bibirnya. Sok imut. ¡° Asalkan anda bisa melakukannya tanpa tuan muda tahu saya rasa tidak apa-apa. Tentu saja jangan sampai orang lain juga tahu. Lakukanlah dan sembunyikan rapat jangan sampai tercium baunya sekali pun.¡± Nada suaranya berubah. Tegas, seperti memberi peringatan. Jangan membuatku susah untuk membereskan masalah mu. Begitu Daniah menerjemahkan. ¡° Benarkah? Wah ini sungguh berita mengembirakan.¡± Daniah berusaha mempertahankan caranya bicara. Agar bibirnya tidak bergetar. ¡° Tapi saya peringatkan anda terlebih dahulu nona, kemarahan tuan muda sangat sulit untuk dipuaskan. Jadi saya harap anda bijak dan berhati-hati mengambil sikap.¡± ¡° Baik¡± tersenyum riang. Apa! Dia menunjukan senyum keputusasaan yang ia bungkus dengan ceria lagi. Kau benar-benar hebat. Kalau orang lain, wanita lain pasti sudah gemetar ketakutan, bahkan tidak akan punya keberanian untuk hanya berakting sok tegar. Sekertaris Han mengeluarkan sebuah kartu. ¡° Ini kartu kredit tanpa batas, anda bisa mengunakannya untuk membeli apapun. Tapi saya sarankan bijaksanalah dalam mengunakannya, karena bisa saja nanti Tuan muda akan meminta pertanggungjawaban anda dan menanyakaan uang yang sudah anda pakai untuk apa.¡± ¡° Baiklah, terimakasih, saya akan memakainya dengan penuh syukur dan rasa terimakasih.¡± Daniah mengambil kartu itu dan meletakannya di hadapannya. ¡° Apakah saya bisa membeli rumah dengan kartu ini?¡± ¡° Saya sarankan anda tidak melakukannya nona.¡± Suara sekertaris Han terdengar kembali tegas, lagi-lagi memberi peringatan. Jangan buat masalah. ¡° Haha, aku hanya bercanda sekertaris Han.¡± Han tersenyum kecut, tidak senang. Dia sebenarnya tidak terlalu suka dengan calon istri tuannya ini, dari awal sejak Saga membuat keputusan. Karena dia tahu alasan apa yang mendasari keputusannya memilih Daniah, wanita yang sama sekali bukan tipenya ini untuk menjadi istri. Hanya sebagai pelarian, hanya sebagai sarana balas dendam. Karena ia tahu, ialah yang paling direpotkan kalau kedepannya ada masalah yang timbul. ¡° Apa anda sudah punya kekasih sekertaris Han.¡± Daniah kembali menyeruput minumannya. ¡° Maaf nona, saya tidak bisa menjawab pertanyaan yang sifatnya pribadi kepada saya.¡± ¡° Kalau begitu apakah anda mau menjadi kekasih saya?¡± Wajah sekertaris Han sudah merah padam. Ia mengepalkan tangan karena marah. Wanita di hadapannya ini sudah sangat lancang. ¡° Haha, saya hanya bercanda sekertaris Han, jangan dibawa serius.¡± Tawa kecil masih ada di mulut Daniah saat ia menghabiskan kopinya. Sekertaris Han mengatur nafasnya perlahan. Bagaimana ia bisa hampir saja termakan emosi oleh kata-kata wanita di depannya membuatnya kesal sendiri. Padahal, biasanya ia adalah orang yang sangat tidak mudah terpancing. Bisa dikatakan ia manusia tanpa ekspresi. ¡° Nona kedepannya saya harap anda berhati-hati dengan apa yang anda katakan, terlebih ketika berada di lingkungan tuan muda. Bisa saja apa yang anda anggap hanya bercanda akan ditafsirkan serius oleh tuan muda. Dan anda sendirilah yang akan menanggung akibatnya. Sekali lagi saya mengatakan ini bukan karena saya perduli kepada anda. Saya tidak perduli apakah anda akan hidup atau mati setelah masuk dalam rumah tuan Saga. Yang saya pentingkan hanyalah semua yang ada di sekeliling tuan Saga harus berjalan sebagaimana semestinya.¡± Daniah menelan ludahnya. Hati kecilnya sudah menciut mendengar kalimat panjang itu. Itu adalah bukti laki-laki di hadapannya ini sama sekali tidak perduli kepadanya. Hidup atau pun mati. ¡° Baik sekertaris Han, terimakasih atas nasehatnya, saya akan lebih berhati-hati dengan apa yang akan saya ucapkan.¡± ¡° Kalau begitu sekarang saya akan pergi. Silahkan anda pelajari dan hafalkan apa yang sudah saya tulis di lembaran itu. Untuk persiapan pernikahaan akan ada utusan yang menjemput anda nanti, untuk persiapan pakaian dan lainnya. Jadi saya harap anda tidak melakukan aktifitas apa-apa dan hanya menunggu di rumah anda.¡± ¡° Baik.¡± Daniah berdiri ketika sekertaris Han sudah mau beranjak. ¡° Terimakasih untuk semuanya.¡± Mereka saling menundukan kepala. Daniah terduduk kembali di kursinya. Menatap lembaran demi lembaran di tangannya, lalu beralih pada kartu tanpa batas di sampingnya. Tak terasa ada kristal bening yang tak bisa ia bendung jatuh. Ia sudah kehilangan arti kehidupan yang sesungguhnya mulai hari ini. BERSAMBUNG.................. Chapter 7 Pernikahan (Part 1) Penikahan yang diimpikan setiap wanita adalah menikah dengan laki-laki yang dicintainya, dan juga laki-laki yang mencintainya. Bukan hanya sekedar pesta mewah yang gagap gempita. Bukan hanya dilihat dari gedung super wah, makanan berkelas atau tamu petinggi penting. Itu tidak penting bagi seorang wanita. Yang terpenting adalah siapa yang bersamanya di pelaminan. Daniah sudah berdiri di samping suaminya. mereka sudah sah sebagai sepasang suami istri. Ini adalah pernikahan yang membuat iri seluruh wanita di negri ini. Mungkin mereka tersenyum dan mengucapkan selamat pada Daniah, namun dalam hati mereka mengutuki mempelai wanita kenapa bukan dirinya. Hari ini Daniah terlihat cantik dalam balutan baju pernikahan berwarna putih. Wajahnya juga full dengan senyuman. Sungguh dia sangat pandai berakting. Tolong beri dia penghargaan pernikahan termenyedihkan. Di sampingnya Saga berbalut setelan jas sungguh terlihat sangat Tampan. Para wanita tidak henti takjub dan memujinya. Berharap dia adalah suaminya. Mereka menerima ucapan selamat. ¡° Tegakkan kepala mu, kau tidak perlu mendukan kepala mu kepada mereka.¡± Saga bicara di telinga Daniah, saat melihat istrinya itu berulang kali menundukan kepala menerima ucapan selamat dari para tamu. ¡° Kau hanya perlu menundukan kepala mu pada ku.¡± ¡° Ba, baik.¡± Dan di hari pernikahannya inilah Daniah mulai menyadari seberapa besar kekuasaan dan tingginya posisi suaminya. apa itu membuatnya senang. Tidak, tangan kanannya sudah terkepal gemetar dan berkeringat. - - - Ayah yang sudah menjual putrinya itu terlihat sangat bahagia. Dia bisa menyelamatkan perusahaan dan kehormatannya juga bertambah. Ibu tiri itu tersenyum dengan sangat senang, telah bisa membuang anak yang bukan darah dagingnya pergi dari keluarga tanpa perlu repot ia usir. Sementara wanita itu adik tiri Daniah. Risya terlihat penuh kecewa. Dia marah dan kesal, ketika melihat laki-laki yang menjadi suami kakak tirinya. Ternyata sangat tampan. Kalau tau begini tentu dia yang memilih untuk dinikahkan. Tatapan penuh kebencian ia layangkan pada saudara tirinya Daniah. Sementara yang lain terlihat menikmati pesta, ada seorang laki-laki yang terpuruk kecewa. Dialah Raksa. adik tiri Daniah. Walaupun mereka berbeda ibu namun mereka hidup dengan saling menyanyangi. Dia merasa sedih, karena gagal melindungi kakak perempuan dari kerakusan ayahnya. Dia berjalan lesu, tidak memperdulikan para wanita yang mencoba untuk mendekat dan menyapanya. Dia memilih berjalan menyusuri ruangan lain yang lenggang, di luar aula utama tempat pesta berlangsung. ¡° Kak Niah.¡± Betapa terkejutnya ia ketika mendapati kakak perempuannya, mempelai pesta ini sedang duduk di ujung ruangan. Di depannya ada sebuah taman. Lampu-lampu taman menyala membuat terlihat terang. Tapi, tidak jauh dari kakak perempuannya dia melihat dua laki-laki berdiri dengan sigap. ¡° Bukankah mereka petugas penjaga.¡± Ia berjalan mendekat. ¡° Kak Niah!¡± Gadis itu terkejut, dia buru-buru menyeka matanya dengan sapu tangan yang dipegangnya. Mencari asal suara. Dua orang petugas yang tadi berada di jarak cukup jauh berlari mendekat. ¡° Tidak apa-apa pak, dia adik saya.¡± Daniah terkejut ketika tiba-tiba salah satu pengawal itu sudah memegang tangan adiknya. ¡° Tolong lepaskan tangan anda!¡± ¡° Maaf nona muda.¡± Mereka membungkukan kepala lalu beranjak, berdiri di posisi semula. ¡° Kenapa kakak di sini?¡± Raksa duduk di samping Daniah, mengengam tangan wanita itu erat. ¡° Tuan Saga menyuruh ku mencari udara segar karena melihat ku sudah kelelahan. Lihat.¡± Daniah menunjuk dengan ekor matanya. ¡° Mereka mengikuti ku sesuai perintah tuan Saga.¡± ¡° Maafkan aku kak.¡± ¡° Kenapa?¡± ¡° Karena aku tidak bisa melindungi kak Niah dari keserakahan ayah dan ibu. Kalau saja mereka memilih bangkrut dan merintis semuanya dari awal, mereka tidak perlu mengirimi mu ke tempat ini.¡± ¡° Raksa, kak Niah baik-baik saja. Suami kak Niah orang baik kok.¡± ¡° Apa ada orang baik yang meminta anak gadis sebagai alat pembayaran hutang. Tidak orangtua kita atau pun dia sama-sama manusia jahat.¡± Daniah melihat sekeliling. Dia takut ada yang mendengar ucapan adiknya. ¡° Jaga bicaramu.¡± ¡° Apa aku akan dia bunuh kalau ketahuan memakinya?¡± ¡° Raksa jangan begitu. Jangan bicara sembarangan yang akan mengancam jiwa mu. Kak Niah akan melewati ini semua dengan baik, percayalah.¡± ¡° Bagaimana aku bisa percaya kak. Aku tahu dia laki-laki seperti apa, rumor tentangnya tidak akan muncul tanpa alasan. ¡° Daniah menyentuh kepala adiknya lembut. Aku percaya kalau kau mencintai ku Raksa, tapi kumohon demi keselamatan hidup dan masa depanmu kau harus mulai menjaga sikap dan kata-kata mu. Terutama terhadap suami ku. Karena aku sendiri belum tahu sekejam apa atau seburuk apa hal yang bisa dilakukannya kemudian hari. ¡° Maaf nona muda, tuan muda memanggil anda untuk masuk kembali ke aula.¡± ¡° Oh baiklah, aku sudah merasa segar. Mari kita kembali.¡± Daniah menarik tangan adiknya. ¡° ayo masuk, tersenyumlah dan nikmati pestanya.¡± Walaupun ia sendiri tahu, ia tidak menikmati pesta meriah ini. sama sekali. Bersambung................... Chapter 8 Pernikahan (Part 2) Daniah kembali masuk ke aula pesta. Suana masih meriah, lantunan lagu dari penyanyi ternama silih berganti. Daniah sudah berada di samping suaminya. laki-laki itu sedang berbicara dengan seorang wanita. Wanita itu terlihat sangat cantik, penampilannya terlihat elegan, mungkin dia putri dari keluarga terpandang. ¡° Selamat sudah menjadi istri laki-laki hebat seperti Kak Saga¡± Wanita ini memanggil suaminya dengan sebutan nama, sepertinya mereka dekat. ¡° Terimakasih nona.¡± Daniah menjawab sambil tersenyum cerah. menunjukan bahwa ia bersyukur menikah dengan laki-laki hebat seperti yang dikatakan wanita di hadapannya. ¡° Jangan sungkan, panggil saja Clarissa.¡± ¡° Baik nona Clarissa.¡± Daniah menganguk saja. ¡° Kakak akan datang ke pesta? ¡± Clarissa melingkarkan tangannya di lengan Saga. Tidak perduli kalau laki-laki itu sudah berubah status. Terlebih juga istrinya ada di sampingnya. ¡° Kak Saga terlihat sangat tampan.¡± ¡° Lepaskan tanganmu!¡± suara Saga terdengar masam. Clarissa buru-buru melepaskan tangannya. Laki-laki ini tidak pernah menggunakan nada bicara seperti itu biasanya, apa karena ada istri di sampingnya. Tunggu, dia tidak menikah dengan wanita kampungan ini karena benar-benar mencintainya kan? Tidak mungkin, karena dia tahu siapa wanita yang disukai Saga sebenarnya. Saga meninggalkan istrinya dan Clarissa tanpa sepatah kata pun. Beberapa orang menyapa dan menunduk hormat padanya, lalu mereka memasuki sebuah ruangan VVIP bersama. Tertinggal dua orang wanita yang tidak saling mengenal. Tunggu dasar laki-laki sialan, kenapa kau memanggil ku masuk hanya untuk meninggalkan ku sendirian di sini. lebih baik aku masih duduk di taman bersama Raksa tadi. ¡° Apa kau pikir Kak Saga menikahi mu karena mencintai mu?¡± Clarissa bicara sambil melirik tajam. Pandangan hangatnya lenyap, sekarang mata itu seperti ingin mengiris sesuatu. ¡° Nona bisa menanyakannya pada suami saya.¡± Lagi-lagi Daniah menjawab dengan tersenyum. ¡° Kamu itu cuma wanita rendahan, jangan bermimpi bisa mendapatkan cinta Kak Saga.¡± Ada apa dengan gadis ini, kenapa dia memaki tanpa alasan begitu. Daniah juga merasa kesal, dia menarik nafas dalam berusaha menguasai diri. ¡° Paling tidak saat ini saya menikah dan menjadi istrinya kan?¡± Haha, apa aku tampak hebat. Sejujurnya aku jijik dengan semua kata-kata ku. Daniah mengucapkan kata-kata yang membuat Clasrissa semakin terlihat kesal. ¡° Kamu tahu siapa wanita yang dicintai Kak Saga, wanita yang sudah tidur dengan kak Saga?¡± ¡° Saya tidak tahu, tapi mungkin mulai hari ini saya yang akan lebih sering tidur dengannya.¡± jawaban itu membuat wajah Clarissa merah padam. ¡° Kau!¡± ¡° Nona Clarissa, saya tidak tahu hubungan seperti apa antara anda dan suami saya. Tapi mohon kedepannya jangan menggangu saya.¡± ¡° Apa! Jadi kau sudah besar kepala sekarang.¡± Daniah masih bisa mendengar Clarissa memaki dengan bibirnya. Meninggalkannya dengan sorot mata tajam. Aku hanya bisa menunjukan sikap sok sombong dan tegar begini, agar orang lain tidak mengangap ku rendah. Menikah dengan tuan saga sudah membuat ku kehilangan harga diri. Aku tidak mau dihadapan orang lain jauh lebih parah dari ini. Malam semakin menuju puncaknya. Pesta harus tetap usai. Dan semuanya berakhir pada waktunya. ¡° Antar nona muda kembali ke rumah.¡± Setelah mengucapkan perintah pada seorang sopir, Saga sendiri masuk kedalam mobil lain. Sekertaris Han yang membawa. Daniah melihat mobil suaminya meninggalkan tempat parkir. Ia mengigit bibir dan mengepalkan tangannya. Memang apa yang dia harapkan. Pesta pernikahan telah usia. Dia akan menjalani kehidupan pernikahan yang sebenarnya sekarang. Sebuah jurang yang akan melumatnya hidup-hidup jika dia salah mengambil langkah. ¡° Saya akan mengantar nona muda pulang.¡± Sopir itu membukankan pintu belakang mobil dan mempersilahkan Daniah masuk. ¡° Ia, terimakasih pak. Mohon bantuannya ya.¡± Setelah masuk Daniah mengucapkan terimakasih. Dia duduk menatap nanar. ¡° Eh ia nona muda.¡± Sopir muda itu menjawab gelagapan. Ia tidak pernah mendapat perlakuan seperti ini sebelumnya dari wanita yang dekat dengan tuan Saga. Ia melirik kaca spion melihat kursi belakang. Ada air mata yang menetes diujung pelupuk nona mudanya. BERSAMBUNG............ Chapter 9 Pesta telah berakhir Mobil memasuki pintu gerbang utama yang sangat besar. Daniah melihat sekeliling. Taman yang ia lewati terang berpendar, terkena sinar lampu-lampu taman. Dia bisa melihat beberapa penjaga berdiri siaga. Melihat para penjaga itu terasa sudah mengikat seluruh tubuhnya. Dia sudah kehilangan semua kebebasannya ketika mobil ini memasuki pelataran halaman rumah. Pelayan menyambutnya di depan pintu masuk. Dia sendiri tidak melihat ibu atau kedua adik iparnya. Mungkin mereka sudah pulang dan masuk ke kamar mereka masing-masing, atau melanjutkan pesta di tempat lain seperti suaminya. ¡° Selamat datang nona muda.¡± Mereka menundukan kepala dan memberikan salam. ¡° Selamat atas pernikahannya.¡± Lagi-lagi Daniah hanya bisa merasa tercengang. Tolong jangan perlakukan aku seperti nona muda kalian. Aku hanyalah gadis penebus hutang. Aku bahkan tidak memiliki kehormatan apa-apa. Posisi kalian jauh lebih terhormat daripada aku. ¡° Anda pasti lelah, saya akan menunjukan kamar anda.¡± Seorang laki-laki menuntun Daniah untuk mengikutinya. Gadis itu pun menurut di belakangnya. Menaiki tangga, sampailah dia di sebuah kamar. ¡° Silahkan masuk, ini kamar anda dan tuan muda.¡± Ragu, Daniah belum melangkahkan kaki ke dalam pintu yang sudah terbuka. Tidak bisakah ia tinggal di kamar yang berbeda. Ia bisa tidur di mana saja, kecuali bersama laki-laki itu. ¡° Silahkan masuk nona.¡± Kata lelaki itu lagi, saat Daniah tidak bergerak dari tempatnya berdiri. ¡° Ba, baik. ¡° Daniah tidak punya pilihan lain selain masuk. Kamar yang sangat mewah dan indah gumamnya. ¡° Kalau anda ingin ke kamar mandi anda bisa masuk melaui pintu ini, ini adalah lemari pakaian. Pakaian anda sudah tersedia di dalam.¡± Apa! Pakaian apa. Koperku saja masih ada di lantai bawah. ¡° Dan kamar mandi ada di dalam juga. Silahkan anda beristirahat, saya permisi.¡± ¡° Terimakasih pak.¡± ¡° Anda tidak perlu sungkan nona.¡± Ketika pelayan itu sudah keluar Daniah menjatuhkan tubuhnya ke atas sofa, lelah. Menghela nafas panjang. Meyakinkan diri bahwa yang ia alami hari ini bukanlah mimpi. Dia sudah jatuh ke dalam sebuah lubang besar yang sudah tidak memungkinkan untuk merangkak lagi. Kini ia hanya tinggal berdoa, tidak ada buaya di dalam lubang itu. Seletah lama tergeletak dia bangun dari tidurnya, Daniah berjalan masuk melalui pintu yang ditunjukan laki-laki pelayan rumah tadi. Melihat-lihat isi lemari pakaian ganti. Wahhh! Apa ini. Ini bukan toko baju? Lemari pakaiannya dan milik suaminya terpisah. Semua tertata dengan sangat baik. Pakaian yang ada di lemarinya semua adalah pakaian baru. Dia mengambil satu setel pakaian tidur, lalu masuk kekamar mandi untuk berganti pakaian. Dia sangat lelah. Daniah mencari-cari selimut di dalam lemari. Dia menemukannya. Lalu mengambil bantal diatas tempat tidur, dan berjalan ke sofa. Kursi besar inilah yang akan menjadi tempat tidurnya. Tidak perlu menunggu lama dia sudah terlelap. - - - Sementara itu di sebuah pesta. Sekertaris Han duduk tidak jauh dari Saga. Ia sedang memeriksa pesan di hpnya. ¡° Nona muda sudah sampai di rumah dan masuk ke dalam kamar.¡± Setelah membaca pesan itu, ia kembali memasukan hp ke dalam saku jasnya. ¡° Tuan saga bagaimana apa anda menyukai pesta pernikahan anda?¡± seorang teman, sekaligus pengusaha muda bicara. Saga menunjuk gelas minumannya, wanita yang ada di sampingnya sigap mengambil, dia menyerahkan gelas itu ketangan Saga dengan hati-hati. Saga tidak minum alkohol, jadi walaupun di ruangan ini yang lainnya minum alkohol dia hanya minum minuman dingin. ¡° Kenapa kau tidak menikah saja kalau mau tahu rasanya.¡± ¡° haha.¡± Malam semakin larut, gelak tawa di mana-mana. Saga menyentuh rambut wanita di sampingnya, gadis itu tersentak. Dia menatap lembut pria yang diinginkan semua wanita ini. Ia ingin menyentuhnya, ia ingin mencium bibir laki-laki ini. Tapi ia tidak punya keberanian, ia hanya bisa memandangi keindahan di depannya. Saga tidak suka disentuh oleh wanita-wanita yang menemaninya. Jadi tidak tahu rumor yang beredar yang mengatakan ia tidur dengan wanita yang berbeda tiap malam. Karena kenyataannya, wanita-wanita yang menghiburnya hanya bisa duduk di sampingnya, mengambilkan minumannya, menemaninya tertawa itu saja. BERSAMBUNG................. Chapter 10 Clarissa Tawa masih memenuhi ruangan. Mereka bicara diselingi sesekali nyanyian dari para wanita. Sekertaris Han bangun dari tempat duduknya karena mendengar keributan di balik pintu, belum dia bangun karena ingin mencari tahu, pintu sudah terbuka lebar. Muncul seorang wanita dan dua penjaga di belakangnya. ¡° Maafkan kami tuan, nona Clarissa memaksa untuk masuk.¡± Dua pengawal terlihat takut saat melihat wajah Han. Mereka bicara sambil menundukan kepala. ¡° Kalian berdua mengurus satu perempuan saja membuat keributan tidak berguna seperti ini.¡± Han berjalan mendekat. ¡° Maafkan kami tuan.¡± ¡° Minggir.¡± Clarissa mendorong tubuh penjaga, dia menatap Han sebal ketika melewatinya. Sekarang dia sudah berdiri di dekat kursi, dimana pesta berpusat. Matanya menatap ke arah dua wanita yang duduk di samping Saga. Ia ingin menarik rambut kedua wanita itu dan mencakar wajah mereka. ¡° apa kalian bisa pergi, wanita rendahan seperti kalian kenapa bisa duduk di samping kak Saga?¡± Semua orang yang duduk di ruangan itu tahu siapa Clarissa, mereka ciut menatap Saga, tidak tahu bagaimana laki-laki itu akan bereaksi. Mungkin dulu Clarissa bisa berbuat sesukanya, tapi sekarang tentu semuanya sudah berbeda. ¡° Nona Clarissa silahkan pergi dari ruangan ini.¡± Han sudah mendekat. " Anda hanya membuat suasana menjadi canggung." ¡° Benar Clariss pergilah, jangan membuat keributan. Ini pesta tuan Saga.¡± " Ini pesta tuan Saga, tolong jaga sikap mu." Semua bicara menyuruhnya pergi, namun gadis itu seperti tidak mengenal takut. Dia mendekat ke kursi Saga, menarik tangan dua wanita yang duduk di sampingnya. ¡° Apa kak Saga akan pura-pura menikmati ini, mereka bahkan tidak diizinkan menyentuh kakak, lantas apa gunanya mereka di sini!¡± ¡° Nona!¡± Han rasanya ingin menarik tangan gadis muda di hadapannya. ¡° Keluar semua!¡± mendengar Saga yang berbicara semuanya terdiam, saling memandang, lalu satu persatu bangun dari tempat duduk. Para wanita juga demikian, mereka mengikuti tamu yang keluar ruangan. Tanpa bicara. Hanya Han yang masih berdiri di tempatnya. ¡° Kau juga keluar Han!¡± ¡° Baik tuan muda.¡± Han menunduk hormat sebelum melangkah pergi, dia menatap tajam Clarissa. Seringai muncul di bibir Clarissa. ¡° Ambilkan aku minum!¡± Saga bicara setelah Han menutup pintu. Clarissa mengambil botol soda di dalam wadah es. Menuangkan ke dalam gelas lalu menyerahkan kepada saga. Dia sudah duduk di samping Saga. Saga menerima minuman itu dan menghabiskannya. ¡° Jangan bersikap melebihi batas.¡± Suara Saga terdengar lebih lembut. ¡° Kak Saga.¡± ¡° Kau tahukan Han tidak akan menahan diri kalau kamu melebihi batas mu lebih dari ini.¡± ¡° Kak Saga, kenapa kakak menikah dengan wanita kampungan itu, kakak tidak mencintainyakan? kakak menikah dengannya hanya untuk membalas kakak ku kan?¡± Airmuka Saga berubah. Dia menarik nafas panjang lalu menyandarkan tubuhnya ke kursi. ¡° Kemarilah.¡± Dia menjentikan jarinya agar Clarissa mendekatkan wajahnya. Gadis itu patuh. Lalu dalam sekelebat mata, wajah Saga juga sudah ada di depannya. Hanya tersisa ruang beberapa centi meter. ¡°Apa kau mau mengantikan kakak mu?¡± Bahkan saat bicara, gadis itu bisa mencium aroma soda dari mulut Saga. Sekarang Saga menyusuri bibir gadis itu dengan jemarinya. Deg, deg. Clarissa merasa jantungnya ingin meledak. Saat ini yang di pikirkannya bukan lagi kakaknya, tapi dirinya sendiri. Bahwa ia ingin berada di samping Saga. Tanpa sadar ia memejamkan mata, membayangkan saga mencium bibirnya. ¡° Masuklah Han!¡± Saga bicara agak keras agar Han yang berada di luar pintu mendengarnya. Eh, Clarissa membuka matanya, wajahnya merah karena malu. Saga sudah duduk bersandar pada kursi. Dari pintu yang terbuka muncul sekertaris menyebalkan itu. ¡° Antar Clarissa pergi!¡± ¡° Kak Saga.¡± Clarissa menolak, dia menarik tangan Saga, mengenggamnya erat. ¡° Kak.¡± ¡° Hentikan ketidaksopanan anda nona!¡± Sekertaris Han sudah tidak bisa menahan dirinya. dia bahkan ingin mengendong wanita ini dan melemparnya keluar. ¡° Hei, lepaskan aku sekertaris bodoh, jangan sentuh aku!¡± Tapi, tangan Han benar-benar mencengram lengannya dengan kuat. Ia tidak bisa melawan. Clarissa berteriak memanggil Saga, namun laki-laki itu hanya melihatnya, lalu menuangkan minuman dan menghabiskannya. ¡° Lepaskan aku!¡± Han melepaskan tangannya, mendorong tubuh gadis itu keluar pintu. ¡° Antar dia pulang ke rumahnya, dan jangan biarkan dia masuk ke tempat ini lagi kedepannya!¡± ¡° Baik Tuan.¡± dua penjaga sigap menjawab, sambil membentangkan tangan saat Clarissa mau memaksa masuk lagi. ¡° Hei Han kurang ajar, kalau kakak ku kembali dengan Kak Saga, aku pastikan kamu yang akan ditendang dari sisi kak Saga.¡± ¡° Saya menantikan hari itu nona.¡± Han membungkukan kepalanya, tapi bibirnya tersenyum sinis sebelum dia berbalik meningalkan Clarissa yang masih berteriak marah memaki namanya. BERSAMBUNG....................... Chapter 11 Menyambut suami Pulang Daniah mengerjapkan matanya tersentak. Ia seperti bermimpi mendengar orang berteriak memanggil namanya. Rasa kantuk masih mengantung di pelupuk mata. Hoaam. Menguap lebar. Mengelengkan kepala berulang mencoba mencari kesadaran. Dia duduk bersandar. Masih setengah sadar. ¡° Nona muda.¡± Berulang kali dan disusul ketukan di pintu. ¡° Apa anda bisa bangun sekarang.¡± Hemmm, ada apa sebenarnya ini. Jam berapa memang sekarang. Saat namanya kembali disebut berulang dia memaksakan menyeret tubuhnya membuka pintu. Laki-laki yang semalam mengantarnya masuk ke dalam kamar sudah berdiri di depan pintu. ¡° Maaf nona membangunkan anda selarut ini.¡± Dia menundukan kepalanya. ¡° Ada apa pak?¡± Daniah masih setengah sadar, bicara dalam kebingungan. Aku ngantuk sekali, Daniah menguap lagi berulang. ¡° Tuan muda sudah pulang, sudah sampai di gerbang utama.¡± Kata pelayan itu lagi. ¡° Ia, terus?¡± Terus kenapa kalau laki-laki jahat itu pulang, apa aku harus menyambutnya! ¡° Silahkan ikut saya menyambut tuan muda di depan.¡± Apa! Aku benar-benar harus melakukannya. Kenapa cuma aku yang harus menyambutnya. kenapa juga harus disambut, ini kan sudah malam. Walau pun merasa kesal, tapi dia tidak bisa melakukan apa-apa selain menurut. Daniah mengikuti langkah kaki laki-laki di depannya, menyeret kakinya. Dia menguap, berpegangan pada tangga agar tidak terjatuh. Daniah memilih bersender di pintu, agar dia tidak ambruk. Dia memejamkan matanya tanpa ia sadari. Tersentak saat mendengar decit mobil berhenti. Sekertaris Han, keluar lalu bergegas membuka pintu belakang. Selelah itu keluar laki-laki yang tetap tampan walaupun dilihat dengan mata mengantuk sekali pun. ¡° Nona, mendekatlah ke arah mobil.¡± Pelayan itu bicara lagi pada Daniah. ¡° Apa! Saya.¡± Daniah menunjuk dirinya, pelayan itu mengangukan kepala. Daniah berjalan mendekat ke arah suaminya. tapi dia hanya berdiri dan tidak melakukan apa-apa. ¡° Kau datang menyambut ku.¡± Tangan suaminya sudah mencengkram dagunya, membuatnya mendongak. Namun segera ia mengalihkan pandangan dari bersitatap mata. ¡° Ia tuan.¡± Terbata Daniah menjawab. Dia mengikuti langkah kaki suaminya, dan sekertaris Han, sementara pelayan tadi berjalan di belakangnya. - - - ¡° Nona bisakah anda menganti pakaian tuan muda.¡± Daniah yang sedang melepaskan sepatu Saga tersentak. Dia menatap Han tidak percaya. Bagaimana dia bisa menyuruhnya menganti pakaian laki-laki jahat ini. Sementara Saga yang sedang duduk di sofa tidak bereaksi apa-apa. ¡° Ah, saya ambilnya bajunya sebentar, tapi tolong sekertaris Han saja yang melakukan.¡± Gila apa, memang kenapa aku harus menganti baju orang ini. Daniah menyerahkan pakaian tidur pada Han, akhirnya dialah yang membantu Saga. Daniah menerima setelan jas suaminya. mendekapnya di dadanya. Dia membelakangi suaminya dan menundukan kepala. Setelah selesai berganti pakaian Saga berjalan menuju tempat tidur. Dia ambruk di sana. ¡° Selamat malam nona, silahkan kembali istirahat, saya permisi.¡± ¡° Eh ia, terimakasih atas kerja keras anda sekertaris Han.¡± Daniah berjalan mengikuti Han sampai di depan pintu. ¡° Nona, apa nona sudah membaca lembaran aturan dan tugas yang saya berikan kepada nona?¡± Sekertaris Han berbalik lagi. ¡° Eh, ia sudah.¡± ¡° Baiklah, selamat malam nona.¡± Han membungkukan badannya sebelum menghilang di balik pintu yang tertutup. Tersadar dia masih memegang pakaian suaminya, Daniah masuk ke dalam ruang ganti pakaian lalu meletakan baju itu di dalam keranjang. Keluar dari ruangan itu dia melewati suaminya yang sudah memiringkan tubuhnya. Dia berdiri lama disamping tempat tidur Saga, menatap lekat laki-laki itu. Laki-laki yang akan ia benci seumur hidupnya. Laki-laki pemilik tubuhnya. Laki-laki yang harus ia layani sampai dia bosan dan membuangnya. Dia sungguh berharap permainan rumah-rumahan ini akan cepat berakhir. Ia berharap agar menjadi mainan membosankan yang akan segera di buang ke tempat pembuangan oleh suaminya sendiri. ¡° Matikan lampu!¡± ¡° Eh, ia tuan. Selamat malam.¡± Bergegas, dia mematikan semua lampu. Lalu berjalan menuju sofa, dia sudah menyelimuti tubuh. Dan terlelap begitu saja. Berharap mimpinya indah. BERSAMBUNG................ Chapter 12 Menjalankan Kewajiban Istri Pagi setelah hari pernikahan. Daniah berada di rumah besar ini. Di dapur hanya ada para pelayan yang sedang sibuk memprsiapkan makanan. Dibeberapa sudut dia juga melihat pelayan yang sedang melakukan pekerjaan bersih-bersih. Sepertinya penghuni rumah ini banyak juga gumamnya sambil melangkah ke dapur. ¡° Selamat pagi nona muda, saya kepala pelayan, panggil saja saya Mun.¡± Kepala pelayan memperkenalkan dirinya, semalam Daniah memang belum tahu siapa namanya. ¡° Baik pak Mun, ehh, apa ada yang bisa saya bantu di dapur?¡± Kepala pelayan terkejut mendengar pertanyaan Daniah, bagaimana seorag nona muda mau membantu urusan dapur selama masih banyak pelayan yang melakukan. ¡° Huh memang apa yang mau kamu lakukan di dapur, kami punya koki profesional yang bertugas untuk memasak.¡± Ibu mertua dan dua adik iparnya sudah muncul. Wahh, mereka terlihat sangat cantik seperti mau pergi kepesta. padahal ini masih pagi begini. Takjub Daniah mendapati fakta baru kehidupan masyarakat kelas atas. ¡° Selamat pagi bu, selamat pagi adik ipar.¡± Daniah menyapa dengan sopan berusaha tidak perduli dengan ucapan mertuanya barusan. tapi ketidakperduliannya malah membuat masalah. ¡° Dasar wanita bodoh, kamu pikir sudah merasa hebat karena menikah dengan kakakku. Semalam saja kamu ditinggalkan di malam pernikahan mu kan?¡± Adik ipar pertama. ¡° Haha menyedihkan, wanita rendahan dan kampungan tidak mungkin selevel dengan kakak.¡± ¡° Ibu juga tidak tahu, kenapa kakak mu memilih perempuan seperti ini sebagai istrinya.¡± " Kamu harus tahu diri, kamu itu tidak pantas berada dalam keluarga kami." Neraka itu sudah akan melumat habis Daniah. Tapi hebatnya gadis itu masih bisa tersenyum membalas semua caci maki dari tiga wanita di depannya. ¡° Terimakasih atas perhatian ibu dan adik ipar, kedepannya mohon bimbingannya ya.¡± ¡° Apa! Kau benar-benar tidak tahu malu.¡± Ibu mertua tersenyum sinis. sementara dua adik iparnya masih mengeluarkan cacian yang tidak pantas keluar dari mulut secantik milik mereka itu. Saat mereka masih belum mengakhiri intimidasi dan celaan, teflon di dinding dapur menyala. Lampu di no satu menyala. Deniah melihat kepala pelayan langsung sigap meraih telfon dalam deringan ke dua. ¡° Baik tuan muda.¡± jawabnya singkat. ¡° Ada apa? Apa Saga membutuhkan sesuatu?¡± Ibu mertua bertanya. ¡° Tidak nyonya, tuan muda meminta nona muda untuk kembali ke kamar.¡± Daniah binggung. Kenapa? ¡° Aku, memang kenapa Pak Mun?¡± ¡° Nona bisa kembali ke kamar sekarang, tuan muda sedang menunggu.¡± ¡° Baiklah, ibu dan adik ipar, saya permisi.¡± Daniah menundukan kepalanya lalu beranjak pergi. Melewati tangga, sambil terus berfikir apa yang diinginkan suaminya. sementara di belakangnya ketiga wanita itu masih belum berhenti membicarakannya, yang isinya hanya makian. Duh, pagi-pagi tidak lelah apa memaki. Daniah melangkah menuju kamarnya. Ia masuk kedalam kamar, mencari di mana keberadaan laki-laki menyebalkan yang meninggalkannya di malam pertama tanpa penjelasan. Dia ada di atas tempat tidur. Duduk sambil mengibaskan rambutnya. Sial, kenapa dia terlihat tampan padahal baru bangun tidur. Daniah bergumam pada dirinya sendiri. Belum dia sampai di samping tempat tidur. ¡° Air¡± Apa! Air, air minumkan, bukannya jelas-jelas ada di samping mu. Bersebelahan dengan telfon yang kamu pakai tadi. ¡° Air.¡± Saga mengulang kata-katanya. Daniah terperanjak. ¡° Ba, baik.¡± Ia bergegas melangkah meraih gelas dan menyerahkannya kepada Saga. Gila! Apa ini maksudnya aturan kedua melakukan tanggung jawab sebagai seorang istri tanpa bicara. Tapi inikan keterlaluan, kau kan punya tangan. Daniah kembali terkejut saat Saga menyerahkan gelas kosong padanya bukannya langsung meletakannya di atas meja di sebelahnya. Dia mengambil gelas itu dengan hati-hati, lalu meletakannya lagi ke posisi semula. Saga mengerakan kepalanya ke kanaan dan ke kiri. Mungkin mengusir pusing. Daniah sudah mau beranjak dari samping tempat tidur, karena merasa suaminya ingin tidur lagi sepertinya. ¡° Jam berapa sekarang?¡± Lihat! Itukan jam dinding, mata mu rabun apa? ¡° Jam delapan.¡± Diam lagi. Ahhhhh Daniah frustasi sendiri sebenarnya mau laki-laki ini apa. ¡° Aku mau mandi.¡± Hah! Kalau mau mandi ya sana bangun. Memang aku harus melakukan apa kalau kau mau mandi. Apa aku harus memandikan mu juga! ¡° Apa kau tuli, aku bilang aku mau mandi.¡± Ia aku tahu kamu mau mandi, lantas apa hubungannya denga ku. ¡° Siapkan air untuk mandi.¡± Daniah baru paham maksudnya. Lalu tanpa menjawab ia bergegas menuju kamar mandi. ¡° Sungguh merepotkan.¡± Saga bangun dari tempat tidur. Menyusul istrinya yang kikuk menuju kamar mandi tadi. Daniah sudah mengisi air di bak mandi, dia menambahkan sabun dan beberapa tetes aroma terapi yang ia temukan di dekat tempat sabun. Daniah terperanjak saat mendapati suaminya sudah ada di kamar mandi. Lebih parahnya tanpa sehelai pakaian pun. Piayamanya sudah tergeletak di lantai. Teronggok begitu saja. BERSAMBUNG............. Chapter 13 Mandi Apa! Gila, kenapa pagi-pagi aku harus berada di neraka berulang kali. Aku ini masih perawan laki-laki gila, kenapa aku harus melihat mu telanjang di depan ku. Tubuh Daniah bergetar, ia sudah mau melangkah keluar dari kehinaan ini. ¡° Kau mau ke mana? Cuci rambut ku!¡± Saga sudah masuk ke dalam bak mandi. ¡° Baik.¡± Daniah duduk di belakang bak mandi. Mulai membasahi rambut Saga. Ia melihat leher dan bahu suami yang ada di depannya. Bahunya sangat bidang. kulitnya juga putih bersih. Bagaimana laki-laki bisa punya kulit semulus ini. Daniah menatap punggung suaminya sambil memijat kepalanya. Sepertinya ia menghabiskan malam yang melelahkan, pikir Daniah. Saat ia meletakan pakaian Saga semalam ke dalam keranjang, ia bisa mencium parfum wanita dari sana. Tidak hanya satu, ada tiga aroma parfum yang berbeda. Jika satu miliknya, maka sisanya kalian pasti bisa menebak berapa wanita yang menemaninya semalam. Tidak ada yang bicara satu sama lain. Saga tengelam dalam kebisuan, sementara pikiran Daniah ke mana-mana. Memikirkan sampai hal terburuk tentang suaminya. Daniah terperanjak ketika Saga tiba-tiba berdiri, sementara dia masih memijat kepalanya. Laki-laki itu berjalan menuju shower dan membilas tubuhnya. Daniah memalingkan wajah. Menunduk sambil membuka pembuangan air bak mandi. Setelah ia yakin Saga sudah keluar dari kamar mandi dia terduduk lemas sambil menarik nafas kuat. Kenapa? Kenapa aku harus mengalami ini untuk membayar kehidupan mewah keluarga ku. Ayah, seharusnya kau menjualku sebagai pelayan di rumah ini. Aku akan merasa lebih berterima kasih dan tidak akan membenci mu sebesar ini. Kenapa? Kenapa? Kau begitu kejam pada anak kandung mu sendiri. Ibu rasanya aku ingin menyusul mu. Agar lepas dari kehinaan ini. Daniah keluar dari kamar mandi, dia mengeringkan tangannya dengan handuk kecil. Mendapati Saga yang sedang duduk sambil memegang hpnya. ¡° Keringkan rambut ku.¡± Dia melemparkan handuk menempel tepat di wajah Daniah. Gadis itu melakukan apa yang dimau Saga tanpa sepatah bicara sepatah kata pun. Ia hanya mengigit bibirnya menahan semua penghinaan ini. - - - Semua orang sudah menunggu di meja makan. Kepala pelayan menarik kursi utama di meja dan Saga duduk disana. Yang lain pun ikut duduk, sepertinya inilah posisi mereka makan sebelum Daniah masuk ke rumah ini. ¡° Pindah kursimu Jen!¡± Saga menatap adiknya. Jenika adik ipar pertama terperanjak. Dia menatap Daniah penuh kebencian. ¡° Baik kak.¡± Dia bangun, lalu menyenggol Sofia agar pindah ke kursi sebelahnya lagi. Daniah duduk di samping suaminya. Dia tahu kenapa dia duduk di sini, tentu saja untuk berperan menjadi istri laki-laki di hadapannya ini. Daniah meletakan dua potong sanwich sayuran dan telur di atas piring di hadapan suaminya. ¡° Silahkan dimakan suami ku.¡± Daniah melihat semua orang menatapnya merinding dan penuh kebencian. Bagaimana wanita gila ini berani bicara seperti itu. Seperti itulah yang terbaca di wajah mereka. ¡° Saga, apa kamu mau pergi ke kantor hari ini?¡± ¡° Ia.¡± Saga makan sanwich sebelumnya dia meminum jus jeruk di sampingnya. ¡° Kenapa tidak libur sehari, kamu kan baru sehari menikah.¡± ¡° Aku tidak punya waktu bu, banyak hal yang harus ku kerjakan.¡± ¡° Baiklah nak, ibu tahu kamu sangat sibuk. Makanlah.¡± Semua membisu setelahnya. Daniah menghabiskan makannya tanpa ingin melihat orang-orang disekitarnya. Biarlah, ia dianggap tak terlihat. Itu akan menyelamatkan kehidupannya, hari-hari masih sangat panjang. Tidak tahu sampai kapan ia akan berada di rumah ini. Setelah selesai sarapan, Saga sudah mau berangkat. Mobil sudah siap, seorang sopir membuka pintu dan berdiri di samping pintu. Sekertaris Han juga sudah berdiri dekat mobil. Dia memungkukkan kepala dan mengucapkan selamat pagi pada Saga dan Daniah. Hanya Daniah yang menjawab sapaan itu. ¡° Maaf Tuan saga.¡± ¡° Kenapa?¡± ¡° Hari ini saya juga akan kembali bekerja seperti biasa.¡± ¡° Terserah, aku tidak perduli dengan apa yang kamu lakukan. Aku sudah pernah mengatakannyakan.¡± ¡° Eh iya.¡± ¡° Yang harus kamu lakukan hanya pastikan sudah ada di rumah sebelum aku kembali. Karena kau harus menjalankan tugas mu sebagai istri ku.¡± ¡° Ba, baik Tuan.¡± Saga masuk ke dalam mobil. Sopir pun sudah beranjak masuk mengikutinya. Sekertaris Han juga akan masuk, namun Daniah memanggilnya. ¡° Permisi sekertaris Han, apa saya bisa minta no telfon anda.¡± Dia terlihat berfikir. ¡° Bolehkah saya mengirimkan pesan untuk menanyakan jam berapa suami saya kembali ke rumah. Agar saya tidak melakukan kesalahan.¡± Sekertaris Han mengeluarkan dompetnya, menyerahkan selembar kartu nama. ¡° Nona bisa menghubungi saya di nomor ini.¡± ¡° Ah, terimakasih.¡± ¡° Jangan sungkan kepada saya nona, saya hanya pelayan tuan muda dan nona termasuk majikan saya.¡± Eh, dia menunduk sopan kepada Daniah sebelum masuk ke dalam mobil. Saga menoleh tadi, saat melihat istrinya bicara dengan sekertaris Han. Tapi apa yang dibicarakan mereka ia tidak bisa mendengar. BERSAMBUNG................... Chapter 14 Bekerja Setelah berganti pakaian dengan baju sehari-hari yang biasanya Daniah pakai ia bergegas keluar dari kamar. Dia sudah memesan ojek online tadi. Menuruni tangga sambil membawa tas ransel yang selalu ia pakai. Penampilannya sangat berbeda dari tadi pagi saat Saga ada di rumah. ¡° Wah, wah, mau kemana kamu dengan pakaian gembel seperti itu?¡± Ibu mertua ada di bawah tangga, beserta kedua putrinya. Daniah benar-benar ingin mengacuhkan mereka, toh bersikap manis di hadapan suaminya sudah menguras semua energi. Kenapa ia harus berpura-pura lagi di di depan mereka. ¡° Saya mau bekerja bu, suami saya mengizinkan saya bekerja seperti biasa.¡± Daniah berhenti sebentar, meladeni mereka bertiga. ¡° Bekerja, haha, memang apa pekerjaan mu?¡± kata-kata penuh dengan penghinaan dari adik ipar. ¡° Saya membuka toko pakaian online.¡± ¡° Haha, toko online, pasti jualannya baju-baju murahan seperti yang kamu pakai sekarang kan? Kamu tahu, kamu bisa memalukan kakak.¡± Adik ipar menatap sebal, ini juga pasti gara-gara dia harus pindah duduk waktu makan tadi. ¡° Adik ipar, bukankah tidak ada yang tahu kalau saya istrinya suami saya Saga Rahardian Wijaya, jadi jangan kuatir saya tidak akan mempermalukan siapa-siapa. Dan saya akan kembali sebelum suami saya pulang.¡± Kumohon berhentilah menggangu ku wahai wanita penghuni rumah ini, lakukan saja pekerjaan kalian, mari hidup dengan tenang dan jangan saling menggangu. ¡° Kamu tidak perlu bekerja lagi, memang berapa uang yang kamu hasilkan hah! Uang bulanan yang diberikan Saga pasti lima kali lipat besarnya dari omset penjualan mu kan.¡± Ibu mertua sudah ingin menarik tangan menantunya. ¡° Kamu cukup tinggal di rumah, menunggu Saga pulang.¡± ¡° Maaf bu, tapi suami saya sudah mengizinkan. Ibu bisa menanyakannya langsung padanya kalau tidak percaya.¡± ¡° Kau!¡± Daniah tahu, ibu mertua atau dua adik iparnya ini tidak akan berani menanyakannya pada Saga. Dia tahu, hidup ketiga wanita ini juga tidaklah mudah. Dari luar kepala pelayan masuk. ¡° Nona, sudah ada ojek online yang menunggu ada di depan.¡± ¡° Baik pak Mun, katakan sebentar lagi saya keluar.¡± Daniah lalu menundukan kepalnya hormat pada ibu mertuanya. ¡° Saya permisi bu.¡± ¡° Apa! Ojek online, kamu bahkan naik ojek. Benar-benar wanita kampungan.¡± Daniah tidak mendengarkan ketiga wanita itu masih ribut memakinya. ¡° Nona kenapa anda naik ojek, di rumah ini ada mobil yang bisa anda pakai mengantarkan anda ke mana pun.¡± ¡° Tidak apa-apa pak Mun.¡± Daniah menepuk bahu lelaki itu, pelayannya terperanjak. ¡° Saya sudah biasa naik ojek.¡± Daniah berjalan cepat menuju drivernya menunggu. ¡° Maaf mas menunggu ya, ayo kita berangkat.¡± Driver ojek itu memandang rumah dimana penumpangnya keluar, ada mobil juga yang terlihat berjejer. Orang kaya memang susah dimengerti gumamnya, padahal mobilnya banyak begitu, tapi masih memilih naik ojek. Dalam perjalanannya Daniah menghabiskan waktu dengan berfikir. Ia membisu, tidak ada pembicaran apa-apa dengan driver yang fokus membawa motornya. Lakukan tugasmu sebagai seorang istri tanpa bicara. Apa dia sedang mencari pelayan untuk melayaninya. Tapi di rumah ada banyak pelayan wanita, dan anehnya kenapa mereka cantik-cantik juga. Haha, kalau hanya pelayan cantik pasti dia bisa memilih salah satu dari mereka. Para pelayan itu pati akan bersuka cita, seperti mendapat berkah dari langit. Tapi, tapi kenapa dia memilih aku, memilih menikah dengan ku. Dari semua perkataan adik ipar dan ibu jelas-jelas mengatakan aku tidak selevel. Aku itu kampungan, ya aku memang agak kampungan juga si, dari segi manapun. Haha, aku juga sadar kok tanpa perlu dicela sekali pun. Jadi kenapa aku dipilih Tuan Saga untuk menikah dengannya. Apa karena aku terlihat bodoh. Aku gak bodoh juga kali. Apa karena aku terlihat penurut dan patuh, kalau tidak demi keluarga ku mana mungkin juga aku sepatuh ini. Kalau tidak memikirkan mereka aku mungkin sudah lari atau melemparkan sepatu ke wajahnya. Dia tidak punya tangan apa sampai minum saja harus ku layani. Daniah terkejut saat motor tenyata sudah berhenti, di depan ruko toko onlinenya. ¡° Mbak sudah sampai.¡± Driver ojek memberikan info. ¡° Hah! Maaf ya mas saya melamun.¡± Daniah menyerahkan selembar uang. ¡° Kembaliannya mbak.¡± ¡° Buat mas aja, makasih ya.¡± Daniah baru berjalan menuju ruko, dia terkejut saat seseorang muncul dari pintu kaca. Dia terlihat muram. Wajah laki-laki itu terlihat lesu. ¡° Kak Niah!¡± Panggilnya pelan. BERSAMBUNG........................ Chapter 15 Kedatangan Raksa ¡° Raksa, ada apa? Sepagi ini sudah datang? Kamu gak kuliah? Apa terjadi sesuatu?¡± Daniah memberondong adiknya dengan pertanyaan. Apalagi adiknya muncul bahkan tanpa pemberitahuan. Dia tidak menelfon atau kirim chat. ¡° Aku gak papa kak.¡± Raksa menarik tangan Daniah, dia yang baru mau masuk ke dalam ruko menurut saat adiknya membawanya duduk di kursi taman. Di depan ruko berjajar ini memang ada taman kecil dan tempat duduk. Pohon rindang dua batang membuat tempat ini nyaman dipakai duduk istirahat. ¡° Kak Niah baik-baik saja?¡± Tanyanya dengan kuatir. ¡° Hei, kenapa? Tentu saja aku baik-baik saja.¡± Daniah tersenyum ceria, berusaha menunjukan kalau dia tidak apa-apa. ¡° Dia tidak memukul mu atau memperlakukan mu dengan buruk kan?¡± Raksa menyentuh pipi Daniah, memeriksa leher kakak perempuannya, kalau-kalau ada tanda tindakan kekerasan atau apa. Tidak ada yang terlihat aneh pikirnya. ¡° Aku baik-baik saja, tuan Saga memperlakukan ku dengan baik.¡± ¡° Bohong!¡± membantah cepat perkataan Daniah. ¡° Sungguh jangan kuatirkan aku, aku akan menjaga diri dengan baik di sana. Aku akan bertahan hidup dengan baik di neraka sekali pun, jadi jangan kuatir ya. Sudah sarapan belum?¡± Daniah menepuk kepala adiknya lembut. ¡° Kak Niah belum makan?¡± ¡° Aku hanya sarapan roti isi tadi, mau makan?¡± ¡° Hemm, boleh, aku juga lapar.¡± ¡° Raksa, apa kamu sedang melakukan aksi protes di rumah ya?¡± Sepertinya tebakan Daniah benar karena Raksa menundukan wajahnya tanda bersalah. Mungkin ini yang bisa dilakukan adiknya sebagai wujud kasih sayangnya. ¡° Apa kamu bertengkar dengan ibu mu?¡± Raksa menunduk semakin dalam. ¡° Jangan seperti itu, ayah ku yang sudah menjual ku, ini tidak ada hubungannya dengan ibu mu.¡± Walau pun sejujurnya Daniah membenci ibu tirinya, tapi di hadapan Raksa dia tidak pernah menunjukan kebencian itu. ¡° Tapi ibu terlihat sangat bahagia setelah kepergian Kak Niah.¡± Aaaa, walaupun aku sudah tahu, kenapa saat mendengar kebenarannya terasa menyakitkan begini. Sudahlah, toh ini sudah terjadi aku sudah menjadi istri atau tepatnya pelayan tuan Raksa. Sebesar apapun kebencian yang aku tunjukan tidak akan merubah apapun. Saat pembicaraan mereka masih mengantung dikebisuan seseorang terlihat mendekat. ¡° Mbak Niah sudah datang ya? Kami sudah selesai update stok barang.¡± Tika memberikan info. ¡° Barusan kok, sudah pada sarapan belum? saya sama Raksa beli sarapan dulu ya.¡± Daniah menjawab dan sudah bangun dari duduknya. ¡° Ia mbak.¡± ¡° Yang lain lagi apa?¡± Daniah bertanya lagi. ¡° Sudah mulai balas chat orderan mbak.¡± ¡°Baiklah, mau sarapan apa, biar sekalian dibeliin.¡± ¡° Apa aja mbak. Saya lagi nunggu paketan katanya sebentar lagi sampai.¡± Tika tersenyum malu-malu, tidak mau menyebutkan sarapan apa yang dia inginkan. Daniah mengacungkan jempolnya. Lalu dia menarik tangan adiknya. Agar berjalan mengikutinya. Di dekat tempatnya bekerja ini banyak warung makan. Mereka punya banyak pilihan menu untuk sarapan. Ruko dua lantai yang dia tempati sekarang sebagai tempatnya bekerja adalah tempat yang ia beli dengan modal uang yang diberikan ayahnya. Saat itu ia berlutut di depan ayahnya. Mengemis bantuan. Ia ingin hidup mandiri. Alasan konyol, yang utama adalah melarikan diri dari kebencian ibu tirinya. Wanita itu, sampai dia sebesar ini tetap saja memandangnya sebelah mata. Anak tidak berguna, anak yang ingin ia buang jauh dari keluarga. Daniah telah merintis usahanya dari bawah. Dari dia yang awalnya hanya seorang reseller tanpa stok barang, tapi ia bekerja keras dengan belajar bagaimana berjualan online dengan benar. Dia bertemu dengan kelompok pengusaha online. Dari situlah sedikit demi sedikit ia bisa mengembangkan usahanya. Sekarang produk jualannya terbagi menjadi dua. Pakaian anak dan pakaian dewasa. Lantai satu untuk stok barang pakaian dewasa dan lantai dua untuk stok barang pakaian anak. Dia sudah punya enam karyawan yang membantunya. Pada tahun ketiganya ini, ayahnya menagih uang modal sekaligus bunga yang harus ia bayar. Menikah dengan Saga Rahardian untuk menebus hutang perusahaan, dan menyelamatkan keluarga dari kebangkrutan. Modal yang dulu diberikan ayahnya harus ia kembalikan dengan tubuh dan seluruh kehidupannya. BERSAMBUNG.............. Chapter 16 Adik tiri datang Mereka memilih sarapan dengan soto ayam. Makanan dengan isi mi, kol dan touge disiram kaldu dan irisan daging. Makanan ini sangat nikmat untuk sarapan. Kuahnya yang hangat akan ikut menghangatkan hati mu. ¡° Kak, aku akan bekerja keras setelah lulus kuliah dan akan membantumu pergi dari keluarga tuan Saga.¡± Raksa, mendengarnya saja sudah membuatku senang dengan keperdulian mu. Tapi ku mohon berhentilah. Aku melakukan pengorbanan ini agar semuanya bisa hidup dengan baik. ¡° Terimakasih ya dek.¡± Hanya itu yang dia ucapkan, karena meyakinkan Raksa juga akan sia-sia. ¡° Tapi pergilah kuliah dan selesaikan tanggung jawab mu dengan benar. sebentar lagi kamu magang kan? Mau ke mana?¡± Raksa belum menjawab, dia menyuapan nasi ke mulutnya. ¡° Mau magang ke kantor ayah?¡± Daniah bertanya lagi karena Raksa masih belum menjawab. ¡° Tidak.¡± ¡° Kenapa? Lalu mau kemana?¡± Daniah menatap adiknya. ¡° Antarna Grup.¡± ¡° Apa! Kenapa pergi ke sana?¡± mendengar nama perusahaan itu sudah membuatnya merinding. ¡° Siapa yang tidak ingin bekerja di sana kak?¡± Ya, aku tahu, siapa yang tidak ingin bekerja di perusahaan sebesar itu. Setiap tahun, perusahaan itu memang memberikan kesempatan bagi lulusan terbaik universitas untuk melakukan magang kerja. Kalau karyawan magang itu bisa bekerja dengan baik sesuai standarisasi perusahaan maka dia bisa diangkat menjadi karyawan. Dan siapa yang tidak mau bekerja disana. Ribuan orang selalu berperang mendapatkan kesempatan. Itu pasti yang akan dipikirkan Daniah, kalau dia tidak menikah dengan pemilik perusahaan itu. ¡° Tapi dek.¡± ¡° Kenapa?¡± ¡° Tidak apa-apa, semoga kamu terpilih dan bisa bekerja di sana ya.¡± Daniah mencoba berfikir jernih, tidak mungkinkah kalau presdir Antarna Grup sampai ikut campur hal sepele masalah anak magang. Jadi ia berfikir, tidak mungkin akan terjadi apa-apa pada adiknya Raksa. - - - Akhirnya Raksa mau kembali pulang ke rumah, setelah panjang lebar Daniah berusaha meyakinkan adiknya, bahwa ia hidup dengan baik. Bahwa ia setegar karang yang tidak akan terhempas dan menangis hanya karena masalah pernikahan. Ya ia harus kuat, toh ia masih hidup hari ini. Jika dia harus menjadi istri yang hanya menjadi pelayan tuan Saga dia pasti bisa menjalaninya. Daniah dan keenam karyawannya sibuk dengan pekerjaannya masing-masing. Daniah membalas chat pesanan, menuliskan catatan dan meminta seseorang memeriksa stok barang. Begitu selanjutnya. Ada beberapa yang sudah mulai dibungkus, yang sudah fix transfer. Daniah melirik hp yang berbunyi di dekat tasnya. ¡° Apa lagi anak ini.¡± Tidak dia hiraukan walaupun beberapa kali hp itu menyala. Saat dia mulai kesal karena menggangu akhirnya dia angkat juga. ¡° Kenapa?¡± ¡° Keluar aku di depan ruko.¡± Si penelpon langsung mematikan hp. ¡° Mau apa lagi dia.¡± Daniah menyerahkan hp toko kepada Tika karyawannya. ¡° Adik perempuanku sedang di bawah, aku temui dia sebentar.¡± ¡° Kenapa lagi dia mbak?¡± Tika tahu adik tiri bosnya, wanita tidak sopan yang datang kemari hanya untuk minta uang. ¡° Gak tau, sebentar ya.¡± Saat keluar dari ruko Daniah melihat sebuah mobil terparkir, dia langsung masuk kedalam mobil. Duduk, belum bicara apa-apa. ¡° Hah! Kau masih bekerja di tempat kumuh ini, padahal sudah menikah dengan konglomerat. Menyedihkan sekali, apa kau dicampakan sehari setelah menikah.¡± ¡° Kenapa? kau iri.¡± Daniah menjawab. Adik tirinya melotot mendengarnya bicara. ¡° Sekarang sudah bisa menjawab ya.¡± Risya melirik tajam pada Daniah, semakin kesal karena Daniah juga menatapnya dengan berani. ¡° Kenapa kau tidak meminta ayah menjual mu kalau kau iri.¡± ¡° Beraninya kau!¡± ¡° Kenapa? Kau mau mengancam ku dengan apa. Mengancam ku dengan menyuruh ibu mu mengusir ku dari rumah. Sekarang aku bahkan tidak tinggal di rumah kalian.¡± Daniah melihat, adiknya ini hanya bisa mengepalkan tangan geram. ¡° Kau mau apa? Minta uang pada ku. Dengarkan aku, mulai sekarang aku tidak akan perduli kau mengadu apa pun pada ayah atau ibu mu, aku tidak akan pernah memberi mu uang sepeser pun. Jangan pernah menelfon ku atau datang kemari lagi.¡± Daniah membanting pintu mobil, gadis di dalamnya terperanjak kaget. Daniah tidak seperti ini sebelumnya. Biasanya kalau dia mengancam akan mengadu pada ibunya, Daniah akan sukarela memberi uang yang dia minta. ¡° Sial, aku bahkan kalah adu mulut dengannya sekarang.¡± BERSAMBUNG................. Chapter 17 Sore hari Daniah sudah menyisir rambutnya, ia merapikan cukup lama rambutnya yang bergelombang. Biasanya dia suka mengikat rambutnya dengan menaikan tinggi dan mengikat asal-asalan, tapi kalau di rumah ini dia hanya menarik rambut di ujungnya saja, dan mengikatnya dengan pita. Dia sudah memakai pakaian yang disediakan di lemari bajunya. Pakaian brand itu, yang harganya bisa dia pakai membeli baju di tokonya dapat 20 pcs. Hp di meja bergetar. ¡° Tuan muda sudah sampai di gerbang depan.¡± Gila ya! Kenapa kau memberitahu ku saat orangnya sudah di depan gerbang. Tidak sekalian beritahu aku kalau dia sudah ada di depan kamar. Beritahu aku sejam sebelumnya, bagaimana kalau aku masih ada di luar rumah. Benar-benar sekertaris itu. Daniah setengah berlari menuruni tangga. Bertemu dengan kepala pelayan yang datang dari arah sebaliknya. ¡° Nona, tuan muda sudah kembali.¡± ¡° ia pak.¡± Tahu, tahu, aku tahu. Makanya aku berlari begini. Daniah menuruni tangga, kepala pelayan menyusul di belakangnya. Daniah menunggu di dekat pintu, seperti yang ia lakukan kemarin malam. Saat mobil berhenti ia berjalan mendekat. Saga turun dari mobilnya. ¡° Selamat datang tuan saga.¡± Saga melihat istrinya, tapi dia tidak menjawab sapaan itu. Dia berjalan cepat diikuti oleh Han, Daniah memaki dalam hatinya, lalu mengikuti langkah kaki setengah berlari. Kenapa mereka berjalan cepat sekali si, gerutunya dalam hati. Sampai di kamar Saga duduk di sofa seperti kemarin. Duduk sambil menyandarkan tubuh, dia juga memejamkan matanya. Kemana sekertaris sialan itu, tidak ikut masuk kamar apa. ¡° Kenapa diam di situ.¡± ¡° Eh, iya Tuan, maaf.¡± Daniah mengambil sandal rumah lalu berjongkok melepaskan sepatu suaminya. sekarang kaki itu sudah memakai sandal, dia berjalan meletakan sepatu di tempatnya. ¡° Duduk!¡± Eh ada apa ini, aku tidak melakukan kesalahan apa pun kan. Daniah melakukan apa dikatakan Saga, dia duduk di pojok sofa. Agar dia tidak terlalu dekat dengan suaminya. ¡° Apa yang kau lakukan hari ini?¡± Kenapa bertanya, kau bilang tidak perduli dengan semua urusan ku kan. Aku bisa bekerja dan pergi melakukan apa pun sesuka ku. ¡° Jangan membuatku mengulangi kata-kata ku.¡± ¡° Maaf Tuan, saya hanya pergi ke tempat kerja saya.¡± Yang penting awali semua dengan kata maaf, begitu pikir Daniah. ¡° Benarkah?¡± Saga menatap Daniah dengan sorot mata mengiris, seperti mengatakan kau berani berbohong pada tuan mu. Tunggu, apa dia tahu aku bertemu Raksa. Apa aku dimata-matai. ¡° Saya bertemu adik saya Raksa di toko, lalu kami pergi sarapan bersama, dan mengobrol agak lama. Setelah itu saya kembali ke toko dan bekerja di sana.¡± ¡° Siapa yang perduli kau pergi dengan siapa?¡± Hei tadikan kau yang bertanya. Kenapa sekarang kesal begitu. Aku kan hanya menjawab pertanyaan mu. Lagi pula kenapa kau perduli, jelas-jelas bilang tak perduli aku melakukan apa. ¡° Aku mau mandi.¡± ¡° Baik,¡± setelah menjawab itu Daniah langsung masuk kedalam kamar mandi. Menyiapkan bak mandi. Lagi-lagi ia terpenjak saat saga sudah berdiri di belakangnya. Sial mataku yang suci harus melihat tubuh telanjang ini lagi. Daniah menundukan kepala agar tidak melihat tubuh suaminya yang melewatinya. Daniah masih berdiri mematung ketika Saga sudah ada di dalam bak mandi. ¡° Keluarlah! Katakan pada pelayan aku ingin makan semangkok mi untuk makan malam.¡± ¡° Baik.¡± Setelah menutup pintu dia langsung bernafas dengan normal. Benar-benar gila, bagaimana dia bisa begitu santainya telanjang di depan wanita. Ya, ya aku tahu aku ini istri mu, bukan pelayan mu, tapi malu sedikit kenapa. Eh tadi dia menyuruhku mengatakan kepada pelayan ingin makan semangkok mi kan. Kenapa terdengarnya makan malam ini akan sangat merepotkan ya. Apa dia mau minta dibuatkan mi buatan sendiri. Setelah Daniah menyampaikan pesan dari suaminya, kepala pelayan terlihat tegang. Dia langsung memanggil semua koki dapur. Dan kesibukan luar biasa terjadi di dapur. ¡° Jadi benar minya harus dibuat dulu. Dasar sinting.¡± Maaf, aku banyak memaki, karena laki-laki gila itu memang pantas untuk dimaki. Siapa juga yang makan mi, perlu buat minya dulu. Lalu buat apa dia punya pabrik mi instan di negara ini. Daniah melihat sekertaris Han keluar dari sebuah ruangan. Pas sekali, aku ingin menendang kakinya. ¡° Permisi sekertaris Han, bisa kita bicara.¡± Han menundukan kepala sopan, artinya mempersilahkan Daniah untuk bicara. ¡° Sekertaris Han, apa anda tahu maksud saya yang mengatakan untuk memberitahu saya informasi kapan tuan Saga akan pulang.¡± ¡° Ia, bukankah saya memberi nona informasi tadi.¡± ¡° Maksud saya bukan begitu!¡± protes ¡° Lalu maksud nona apa?¡± ¡° Beritahu saya kalau tuan Saga akan kembali satu jam sebelumnya, atau minimal setengah jam sebelumnya. Bagaimana kalau tadi saya belum pulang dan masih ada di toko.¡± Daniah bicara berapi-api. Menunjukan kalau ia kesal. ¡° Kenapa saya harus melakukan itu.¡± Apa! Sial. Jadi sikap sopan dan hormat mu pada ku itu apa maksudnya. ¡° Karena saya tahu anda mementingkan semua kepentingan Tuan Saga. Agar semua yang ada disekitar tuan Saga berjalan dengan semestinya. Bukankah begitu.¡± Daniah melihat bibir laki-laki di hadapannya menyeringai mendengar jawabannya yang lugas. ¡° Baik, lain kali saya akan mengirimkan pesan kepada nona satu jam sebelum kepulangan tuan muda. Sekarang saya permisi.¡± Pergilah, pergi jauh sana! BERSAMBUNG.............. Chapter 18 Semangkok mi Semangkok mi yang dibuat dengan ketegangan sudah terhidang di meja makan. Ibu dan dua adik ipar yang seharian tidak terlihat batang hidungnya sudah duduk di meja makan. Sepertinya aturan makan bersama di rumah ini sangat ketat. Hingga semua orang harus ada di meja makan ketika Tuan Saga ada di rumah untuk makan malam. Memikirkan bukan hanya aku yang menderita di rumah ini, kenapa aku jadi senang ya. Haha. Daniah melirik sambil menatap semangkok mi di hadapannya, sepertinya enak. Apa rasanya bisa seenak taburan micin mi instan ya. Saat Saga sudah meraih sendok dan mulai makan semua mengikuti gerakannya. Bahkan ibu mertua juga. Waah, aku benar-benar merasa sedikit terhibur, karena aku benar-benar bukan orang paling menderita di rumah ini. Daniah mulai makan mi di hadapannya. Wajahnya berubah ada terkejut dan senang bercampur. ¡° Minyaa enak sekali.¡± Eh, ia keceplosan. Mereka yang tadi makan dalam keheningan menoleh padanya semua. Termasuk Saga. ¡° Minya enak sekali suamiku, terimakasih sudah memberi ku kesempatan makan mi selezat ini.¡± Aku pasti benar-benar gila, bagaimana aku bisa bicara dengan kalimat seindah itu. Ibu mertua dan kedua adik iparnya menatap sebal Daniah. Bagaimana wanita itu bisa bicara setenang itu dengan Saga. Begitu yang ada dipikiran mereka. ¡° Kalau kau suka, kau bisa minta pelayan membuatkan mu setiap hari.¡± Saga bicara. Wajah kepala pelayan yang berdiri di belakang Saga langsung berwajah pias. Dalam hati Daniah tertawa. Ya pak Mun andalah orang yang akan paling menderita di sini. Kalau sampai menu mi ini harus ada setiap hari. ¡° Haha tidak apa suamiku, sayaa juga suka mi instan XX¡± Daniah menyebutkan merk mi instan keluaran pabrik milik Antarna Grup. Aku menyelamatkanmu Pak Mun, bersikap baiklah padaku kedepannya. Daniah menatap Pak Mun sekilas, wajah piasnya sudah menghilang. Kesunyian kembali tercipta di meja makan. Semua hanya fokus pada mangkok mi dihadapan mereka. Daniah bergegas mengunyah dengan cepat saat melirik isi mangkok Saga sudah hampir habis. Dia harus menghabiskan makanannya sebelum. Terlambat, Saga sudah meletakan sendoknya. Mengambil selembar tisu dan membersihkan mulutnya. Dia sudah selesai makan. Saat dia bangun dari duduk Daniah refleks bangun juga, walaupun mi dalam mangkoknya belum habis. ¡° Habiskan makanan mu.¡± Saga melirik Daniah yang sudah berdiri dari duduk. ¡° Ah, baik.¡± Ah syukurlah, aku bisa menghabiskan makanan enak ini. Tahu begitu kenapa aku harus terburu-buru tadi. ¡° Mana hp ku?¡± Saga mengulurkan tangan menerima hp dari Pak Mun. Lalu ia berjalan menuju ruangan kerjanya diikuti Pak Mun dari belakang. Setelah Saga masuk ke dalam ruangan kerjanya, kenapa aura di meja makan ini berubah drastis begini ya. Ada hawa dingin yang tiba-tiba datang memenuhi udara di ruangan ini. Daniah masih memilih menunduk dan menghabiskan makanannya, dia tahu sebenarnya mata ibu dan dua adik iparnya sedang memandangnya. ¡° Kamu benar-benar tidak mengenal takut ya?¡± Daniah tidak mengubris, dia masih makan dengan tenang. ¡°Kakak ipar!¡± Saat tahu ia yang diajak bicara dia mendongakan kepala. Sambil menyendok suapan kuah mi terakhirnya. ¡° Ada apa adik ipar?¡± masih bicara dengan tenang sambil senyum sejuta watt. ¡° Bagaimana kau bisa seberani itu bicara pada kak Saga.¡± Apa! Seberani itu, memang aku bicara apa. Tidak tahu apa aku selalu berusaha menundukan kepala dan bicara dengan pilihan kata yang paling baik, agar kakak mu yang seperti raja itu tidak marah atau tersinggung. Aku bahkan harus hati-hati walaupun hanya bernafas di sampingnya. Kau bilang itu berani. haha. ¡° Aku tidak paham maksud adik ipar apa?¡± ¡° Berhenti menyebut kak Saga suamiku. Itu lancang sekali.¡± ¡° Lalu aku harus menyebut dia apa?¡± Mereka saling berpandangan binggung. Benar juga, wanita dihadapan mereka inikan istrinya, tentu wajar saja kalau dia memanggil kak saga suami ku. Tapi itu terdengar sangat menyebalkan di telinga mereka. Karena tidak bisa menjawab pertanyaan Daniah mereka hanya melengos. ¡° Tapi kamu jangan besar kepala ya, Kak Saga sama sekali tidak menyukai mu.¡± ¡° Benar.¡± ¡° Kak Saga sedang menunggu wanita yang dicintainya kembali.¡± ¡° Haha, kalau kekasih kak Saga kembali kamu pasti akan ditendang dari rumah ini.¡± ¡° Keluar dan kembali ke asal mu, kampungan.¡± Aku menantikan saat itu adik ipar dan ibu. Saat aku ditendang dari rumah ini, saat aku dibuang dari tempat mengerikan ini. Itu akan menjadi saat paling membahagiakan bagiku. Ahh, seperti apa ya rupa wanita yang disukai tuan Saga itu. Daniah tengelam dalam pikirannya sendiri. Tidak mendengar apa yang dikatakan ketiga wanita di meja makan ini. BERSAMBUNG....................... Chapter 19 Jemari tangan Daniah bersyukur masih bisa menang ketika bicara dengan penghuni perempuan rumah ini. Tapi sejujurnya dia merasa lelah. Kenapa juga kalian tidak bisa berdamai dengan ku. Kitakan sama-sama berjuang hidup ditempat mengerikan ini. Setelah selesai makan malam Daniah memilih masuk ke dalam kamar. Toh dia tidak mengenal siapa pun di rumah ini, termasuk para pelayan. ¡° Sepertinya aku harus menyapa dan berkenalan dengan para pelayan. Paling tidak aku punya teman di tempat asing ini. Adik ipar dan ibu mertua ku sudah seperti ibu tiri ku dan Risya. Mereka sudah seperti membenci ku tanpa alasan saja.¡± Daniah menyalakan tv. Menonton film juga pasti lebih menghibur. Sampai tanpa sadar gadis itu terlelap dengan tv yang masih menyala. Daniah mengerjapkan mata kaget. Matanya terbuka dan langsung menyipit lagi karena silau lampu. Segera bangun dari sofa dia berdiri dan menoleh ke tempat tidur. Kosong, tuan Saga belum kembali. Jam berapa ini? Dia bergumam sambil mencari hpnya. ¡° Jam sebelas.¡± Daniah memilih ke kamar mandi, mencuci muka, dan ganti baju. Terserahlah, dia mau kembali kapan, tidur saja lagi. Mengambil selimut dan bantal di lemari lalu membawanya ke sofa. Tapi karena kantuknya malah sudah lenyap akhirnya dia beralih bermain hp. Tv yang tadi masih menyala saat dia tinggal tidur dia matikan. ¡° Wahh grup chat ramai.¡± Daniah masuk kedalam obrolan grup chat karyawannya. ¡° Kalian belum pada tidur?¡± ¡° Hehe, mbak Niah juga belum tidur?¡± ¡° Baru kebangun ini, tadi sudah tidur sebentar.¡± Ketik-ketik terus, tidak berhenti. Pembicaraan sudah meleber kemana-mana. Tika memposting foto seorang lelaki kenalanya dari kampung. Lumayan tampan juga. Yang jomblo di grup langsung mencak-mencak teriak pamer. Daniah cekikikan sendiri. Dia berguling di bawah selimut, menyelimuti tubuhnya dengan mengerakan tubuh tidak menariknya dengan tangan. jadi badanya geliat geliut kesana kemari. Sementara itu pintu terbuka, Saga berdiri cukup lama di sana. Melihat Daniah dalam balutan selimut geliat geliut tidak jelas. Tawa juga terdengar dari bawah selimut. Sekilas senyum samar muncul di bibir Saga melihat tingkah wanita di bawah selimut. Apa yang dilakukan gadis bodoh itu. ¡° Apa yang sedang kamu lakukan?¡± suaranya terdengar setengah berteriak. Brugg, karena terkejut Daniah refleks bangun. Karena tidak siap dengan posisinya dia terjungkal jatuh dengan selimut menimpa kepalanya. Hpnya terjatuh menyentuh lantai dengan cukup keras. Daniah merapikan pakaiannya tergesa. ¡° Apa yang sedang kamu lakukan?¡± Daniah belum menjawab pertanyaan itu. Ia masih binggung. Saga melirik ponsel yang terjatuh di lantai. ¡° Kemari!¡± dia menjentikan jarinya. Wajahnya terlihat tergelak, tapi segera berubah dengan cepat. Apa ini, apa dia mau memukul ku. Walaupun gemetar Daniah berjalan mendekat. Cetakk! Sentilan jari di kening Daniah terdengar ngilu. Daniah mengerang dengan suara rintihan, namun terdengar agak keras. Sakittt! ¡° Sudah kubilang jangan buat aku mengulangi kata-kata ku.¡± ¡° Maafkan saya Tuan.¡± Sakit! Keningku sakit. ¡° Saya sedang menunggu tuan sambil bermain hp.¡± Aaaa sakit, aku ingin mengelus keningku. Tapi aku bahkan tidak berani mengangkat tanganku. ¡° Aku mau tidur" Otak daniah langsung bekerja memilah draf aturan yang dibuat sekertaris Han. Kalau tuan Saga bilang mau tidur berarti dia minta ganti pakaian begitu bunyinya. ¡° Ba, baik. Saya ambilkan pakaian dulu.¡± Berbegas dia masuk kedalam ruang pakaian. Sakit! Diusap-usapnya keningnya dengan rambut. Ahhh sakit. Hiks. Karena tidak mau membuat Tuan Saga menunggu dia bergegas. Menyerahkan pakaian, membalikan badan saat Saga berganti pakaian. Saga melemparkan pakaian yang ia pakai tepat di kepala Daniah. Pelan gadis itu meraih dan memeluk di dadanya. ¡° Kau menangis?¡± Daniah langsung mengusap wajahnya dengan pakain Saga yang ada ditangannya. Bagaimana air mata bodoh ini bisa keluar begini. pikirnya penuh sesal. ¡° Tidak tuan.¡± ¡° Kemarilah.¡± Lagi-lagi Saga menjentikan jarinya. Menyuruh Daniah mendekat. Tubuh Daniah membeku. Sakit di keningnya masih terasa menyayat. Apa dia akan menyentilku lagi. Daniah mendekatkan wajahnya ke arah Saga yang sudah duduk di tempat tidur. Dia memajamkan matanya, mengepalkan tanganya kuat. Jika dia harus merasakan sakit kedua kali di keningnya. Eh, dingin. Kenapa keningku rasanya dingin. Rasa nyeri juga berangsur sedikit menghilang. Daniah membuka matanya. Dia melihat Saga, laki-laki itu melemparkan salep kecil yang gelagapan ditangkapnya. ¡° Olesi kening mu dengan itu.¡± ¡° Baik tuan. Terimakasih.¡± Ternyata dia orang yang masih punya sedikit hati nurani. Daniah bergumam. Lalu dia masuk ke ruang ganti dan meletakan pakaian Saga di sana. Dia meraba keningnya yang sudah terolesi oleh saleb tadi. Setelah menghapus sisa air mata yang tadi keluar tanpa izinnya ia keluar dari ruangan baju. Melewati tempat tidur. ¡° Baru seperti itu kau sudah menangis.¡± Daniah menghentikan langkah. ¡° Maaf tuan saya tidak menangis, mungkin tadi saya mengantuk sampai mengeluarkan airmata.¡± ¡° Benarkah? Aku bahkan belum mematahkan jari-jarimu kau sudah menangis seperti bayi.¡± Tubuh Daniah gemetar, dia berdiri diam. Tanganya tergengam kuat. Merasai jemarinya sendiri. ¡° Matikan lampu.¡± ¡° Ba, baik tuan. Selamat malam, semoga anda mimpi indah.¡± Saga sudah menarik selimutnya, Daniah bergegas mematikan semua lampu. Dia menatap jemarinya yang masih menempel disaklar lampu. Merinding mengingat kata-kata yang diucapkan Saga tadi. Bergegas dia menjatuhkan diri kesofa. Menarik selimut dan berusaha tertidur. Hanya berharap bisa mimpi indah. Aku bakar kata-kataku tadi, dia iblis, bagaimana iblis punya hati nurani. BERSAMBUNG...................... Chapter 20 Sarapan Pagi Pusing. Kepalaku pusing, aku bahkan tidak bisa tidur nyenyak. kening ku juga ma sih nyeri. Kata-kata tuan saga tentang mematahkan jari-jari terus terngiang dikepalaku. Aku sampai mimpi dikejar-kejar jari-jari ku sendiri. Daniah bengong sambil memegang sepatu Saga di pangkuannya. Duduk di sofa yang jadi tempat tidurnya kalau malam. Sementara Saga muncul dari ruang ganti sudah memakai setelan jas. Rambutnya sudah tersisir dengan rapi. Membuatnya terlihat sangat tampan. Kalau ada efek kilau cahaya, sudah bersinar punggungnya karena aura sempurnanya. Dia berdiri sambil merapikan dasinya. Haha, lihat dia, sudah bengong seperti orang bodoh. Apa kata-kataku semalam keterlauan ya. Sepertinya dia benar-benar ketakutan saat aku bilang akan mematahkan jari-jarinya. Benar-benar hari pagi yang menyenangkan melihatnya begitu. Pagi-pagi Saga sudah punya hiburan menarik. Setelah berguman agak lama dan selesai dengan urusan dasinya, dia berjalan mendekat ke sofa. Dia duduk disamping Daniah dengan menjatuhkan dirinya. Membuat Daniah terlonjak kaget. Refleks Daniah segera berlutut. Dalam diam dengan pikiran sudah berlarian kemana-mana dia memakaikan kaos kaki. Eh kenapa ini. Saga menarik ujung rambut Daniah yang terurai. Membuat gadis itu merinding, pikirannya sudah mengajaknya mengingat sentilan keras dikeningnya semalam. Dia mengigit bibirnya kuat, kalau tiba-tiba rambut itu ditarik. ¡° Apa dari lahir rambutmu sejelek ini?¡± Apa! Jelek! Ini rambut ikal bergelombang tau. Banyak artis juga yang memakai tren rambut seperti ini sebagai gaya hidup. ¡° Ia tuan.¡± Hanya bisa menjawab dengan pasrah. ¡° Luruskan rambutmu, mataku sakit melihatnya.¡± Saga mengibaskan rambut yang dia pegang, setelah itu seperti habis menyentuh benda menjijikan dia mengusapkan tanganya ke bahu Daniah. Gadis itu mengigit bibirnya keras agar tidak merasa kesal. Bagaimana laki-laki ini bisa menakutkan sekaligus menyebalkan begini. ¡° Baik tuan saya akan meluruskan rambut saya.¡± Mendongak dengan tersenyum. ¡° Sudah selesai sepatunya.¡± Daniah bangun dari berlututnya. Tanganya terkepal kesal. Dia memaki sepanjang perjalanannya dari kamar sampai kemeja makan. Paginya yang menegangkan sekaligus menyebalkan di kamar berdua dengan Saga, bukanlah akhir dari drama paginya. Di meja makan sudah ada 4 orang duduk. Eh, kenapa bertambah satu lagi para wanita yang meramaikan meja makan. ¡° Kak Saga selamat pagi!¡± Aku ingat, bukankah dia nona Clarissa, wanita yang tiba-tiba mengibarkan bendera perang waktu acara pernikahan. Tanpa aku tahu sebabnya. Dia langsung mendekat menyambut Saga yang menuruni tangga, melihat ke arah Daniah. ¡° Selamat pagi kakak ipar.¡± Huh, dia memanggil Daniah dengan sebutan kakak ipar. Aku cukup punya dua adik ipar, tidak mau nambah lagi. Apalagi yang sifatnya seperti mu. ¡° Kenapa kau disini.¡± Saga bertanya sambil berjalan menuju meja makan. ¡° Aku dan Jenika pergi ke pesta kemarin, karena terlalu malam jadi aku menginap di sini.¡± Clarissa sudah akan mendekat dan merangkul tangan Saga, tapi kalimat Saga kemudian membuatnya tidak berani bertindak lebih jauh lagi. ¡° Makan sarapanmu dan pulanglah!¡± ¡° Baik kak.¡± Kepala pelayan menarik kursi yang biasa Saga tempati, Clarissa bergerak cepat mau duduk di sebelahnya tidak perduli kalau Daniah berdiri di sampingnya. Saat Saga menoleh dan memberikan pandangan menusuk Jenika segera menarik lengannya. ¡° Itu tempat duduk kakak ipar.¡± Walaupun kesal Clarissa memilih menyingkir dan duduk di kursi yang kosong. Disamping Jenika, sementara Sofia berpindah ke kursi di samping ibunya. ¡° Selamat pagi Saga, sudah lamakan Clariss tidak menginap di rumah dan makan bersama.¡± ¡° Pagi bu.¡± Ahh, ternyata dia masih manusia, dia masih menjawab salam selamat pagi dari ibunya. Daniah meletakan sarapan kepiring Saga seperti sebelum-sebelumnya. ¡° Habiskan makanan kalian, aku tidak mau mendengar ada yang bicara.¡± Satu kalimat itu sudah membuat semua orang yang ada di meja makan tidak mengeluarkan sepatah kata pun. Bahkan Daniah berusaha bernafas tanpa suara. Sarapan pagi ini sesunyi embun pagi yang menetes dan menguap karena matahari. Daniah melirik semua orang di tempat makan ini, mereka menghabiskan makanan dengan raut muka yang sama dengannya, Aku benar-benar bersyukur bukan aku saja yang gila menghadapi sifat dan kelakukan laki-laki ini. Menakutkan sekaligus menyebalkan, dua kata itu sepertinya tidak cukup mewakilinya. BERSAMBUNG Chapter 21 Perang 3 lawan 1 Setelah mengantar kepergian Saga, Daniah menunggu sampai mobil itu menghilang dikejauhan. Keluar dari gerbang utama. Tidak ada yang berani mengikuti langkah Saga, tidak ibu, Clarissa atau adik ipar. Mereka tadi hanya bangun dari tempat duduknya saat Saga sudah selesai makan. Tapi bahkan Clarissapun tidak berani merengek atau bertindak aneh. Pasti semua karena makan pagi yang mencekam tadi. Agak lama Daniah berdiri di tempatnya. Membiarkan sinar matahari jatuh di seluruh tubuhnya. Memberinya sedikit saja kekuatan, untuk bertahan di tempat mengerikan ini. Baiklah, lebih baik aku pergi bekerja. Daniah masuk ke dalam rumah. Baru saja dia melangkahkan kaki keruang tamu sudah berdiri menghadang tiga wanita di hadapannya. Ahh, kalau saja aku hanya melihat foto kalian di sosial media aku pasti akan bilang kalau kalian tiga wanita cantik dan mempesona. Bahkan mungkin aku akan iri dengan kecantikan kalian dan gaya hidup kalian. ¡° Saya permisi adik ipar.¡± Daniah malas menanggapi, lebih baik ia menghindar dan tidak perlu mencari masalah. Dia ingat pesan sekertaris Han untuk tidak mencari masalah dengan penghuni perempuan rumah ini. ¡° Tunggu!¡± Clarissa menarik lengan Daniah. Daniah mulai kesal sekarang. ¡° Ada apa nona Clarissa?¡± ¡° Kenapa kak Saga bersikap dingin seperti itu? Dia tidak pernah bersikap begitu pada ku sebelumnya.¡± Mana kutahu! Tanyakan saja padanya. ¡° Saya permisi nona, saya harus berangkat bekerja.¡± Daniah menarik nafas dalam agar tidak terpancing untuk menjawab apapun. ¡° Aku bilang tunggu, tidak dengar aku bicara pada mu!¡± ¡° Sebenarnya masalah anda apa nona. Sudah saya katakan sebelumnya, saya tidak tahu dan tidak mau tahu hubungan anda dan suami saya itu apa. Jadi tolong, jangan menggangu saya.¡± ¡° Apa kau pikir Kak Saga menyukai mu?¡± Tidak! Aku tahu dia tidak menyukai ku! Aku tahu, aku ini hanya pelayan berkedok istri! Tidak tahu kenapa dia memilih ku untuk main rumah-rumahan ini. Tapi aku sungguh-sungguh tahu posisi ku. Jadi berhenti menggangu ku. ¡° Lihat ini!¡± Clarissa menyodorkan hpnya di wajah Daniah. ¡°Ini wanita yang dicintai kak Saga. Lihat diri mu, apa kau pikir kau pantas berada di samping kak Saga.¡± Hei sialan! Daniah memaki. Lebih sialannya lagi dia hanya bisa memaki dalam hati. ¡° Haha, ternyata wanita yang disukai tuan Saga bukan nona Clarissa ya. ¡° ¡° Apa!¡± ¡° Kalau begitu berhenti menghabiskan energi anda dengan membenci dan memaki saya. Kejar dan buat Tuan Saga menyukai anda bukan malah menggangu saya yang jelas-jelas tidak ada artinya di hadapan tuan Saga,¡± ¡° Kau!¡± ¡° Minggir. Seharusnya ada berdandan lebih cantik dari nona difoto itu.¡± ¡° Kurang ajar kamu!¡± Clarissa sudah ingin menarik rambut Daniah kalau Jenika dan Sofia tidak menahannya. Kedua gadis itu memegang lengan Clarissa kuat. ¡° Lepaskan aku Jen biar ku cakar wajah wanita sialan itu.¡± ¡° Sudah hentikan, dia memang pandai bicara, kita tidak akan menang berdebat dengannya.¡± ¡° Sialan!¡± Mereka bertiga duduk di kursi, terperanjak saat kepala pelayan masuk ke dalam rumah. Pak Mun menundukan kepalanya kepada ketiga gadis muda itu. Lalu beranjak pergi setelahnya. ¡° Apa dia mendengar semuanya?¡± ¡° Apa?¡± ¡° Makian kita pada kakak ipar.¡± ¡° Bagaimana ini? Kalau kak Saga tahu.¡± ¡° Memang kenapa? Kak Saga jelas-jelas tidak mencintai wanita itukan.¡± ¡° Benar, dia gadis rendahan.¡± ¡° Aku yakin sebentar lagi dia akan dicampakan dan ditendang dari rumah ini.¡± BERSAMBUNG.................. Chapter 22 Orang Asing Di pinggir jalan, dekat Danau buatan yang populer di sebut danau hijau. Karena danau yang cantik itu dikelilingi taman yang menghijau. ¡° Maaf mas bisa saya turun di sini saja?¡± Daniah menepuk bahu driver agar menghentikan motornya. ¡° Kenapa mbak, ini belum sampai titik pengantaraan.¡± Katanya menjawab sambil menepikan motor berhenti di pinggir jalan. ¡° Gak papa mas, saya ada urusan sebentar.¡± ¡° Bisa saya tunggu mbak.¡± Penumpangnya sudah turun dan menyerahkan helm. ¡° Gak usah mas, selesaikan saja orderannya ya, nanti saya kasih bintang lima. Ini ongkosnya.¡± ¡° kembaliannya mbak.¡± ¡° Buat tips masnya, semoga hari ini lancar ya semuanya.¡± ¡° Eh ia mbak. Terimakasih banyak lho mbak, tipsnya banyak banget.¡± ¡°Hehe rejeki masnya. Makasih ya mas.¡± ¡° Ia mbak saya yang terimakasih.¡± Driver ojek meninggalkan Daniah. Daniah belumlah sampai di rukonya bekerja. Dia menyebrang jalan. Sampai di tepi danau buatan yang masih berwarna keemasan karena terpancar sinar matahari pagi. Gadis itu berjalan menyusuri jalan setapak. Melangkahkan kaki diantara trotoar yang rapi terjajar. Tempat ini akan lumayan ramai diakhir pekan. Tapi kalau hari-hari sibuk kerja seperti sekarang, nyaris tidak ada siapapun di sini. Dia mengedarkan pandangan berkeliling. Tempat ini streril dari manusia. Tidak ada satu pun manusia yang terlihat. Daniah menarik nafas dalam, sambil menikmati ketenangan ini. Sepertinya pembangunan tempat ini terhenti sementara. Daniah melihat beberapa tumpukan material di sudut-sudut taman. Rapi tersusun. Tempat ini akan digadang-gadang sebagai wisata keluarga. Sebuah danau buatan dengan taman hijau di sekelilingnya. Tidak tahu alasanya kenapa pembangunan tempat ini terhenti begitu saja. Setelah sibuk meneliti lokasi di sekitarnya, Daniah terduduk dan tengelam dalam lamunan yang panjang. Perlahan, dia sudah tidak bisa menahan. Air mata mulai membasahi pipi. Dadanya mulai sesak, dan dia mulai sesengukan. ¡° Laki-laki sialan! Kamu pikir karena kau punya uang kau bisa melakukan segalanya. Huh!¡± Daniah berteriak keras pada air danau yang tenang. ¡° Kenapa rambutku hah! Ini rambut bergelombang! Sudah seperti rambutmu yang paling bagus di dunia saja.¡± Aaaaaaa, tangisnya pecah lebih keras lagi. ¡° Laki-laki sialan! Urus adik-adik mu itu. Kalau kau tidak menyukai ku kenapa menikahi ku. Kau bahkan mau mematahkan jari-jari ku. Hik, hiks. Kalau kau sudah punya wanita yang kau sukai kenapa tidak menikah dengannya. Kenapa memilih main rumah-rumahan dengan ku. Apa salah ku pada mu sebenarnya.Huuuuuu¡± suara tangisan dan makian semakin melemah. ¡° Tapi memang ayah ku yang jahat, dia sudah menjual ku. Tapi tidak mungkin kalau ada jual beli kalau kau menolaknya. Ya tetap kau yang lebih jahat. Kau makhluk terkutuk, semoga penghuni langit dan bumi mengutuk mu juga. Aku membenci mu sampai urat nadi ku. Semoga kau tersendak saat minum kopi!¡± Hug, hug, Daniah sampai terbatuk-batuk karena saking kerasnya memaki dia sampai lupa menarik nafasnya sendiri. Dipukul-pukulnya dadanya sendiri. Sambil bernafas, masih terengah-engah. Hufff! Hembusan keras nafasnya yang terakhir. ¡° Ternyata memakinya begini benar-benar membuat ku lega. Apa aku datang kemari saja setiap pagi untuk memakinya. Ahh, tapi kasihan juga ikan-ikan di danau itu bisa mati keracunan. Aku harap dia benar-benar tersendak karena aku maki-maki.¡± ¡° Hahaha!¡± terdengar suara tawa laki-laki. ¡° Eh¡± Tubuh Daniah yang tadi sudah terasa rileks membeku. ¡° Ada orang tertawa?¡± Daniah segera bangun dari duduknya. Matanya berkeliling ke seluruh penjuru mencari asal suara. Daniah terduduk saking kagetnya saat ia melihat seorang laki-laki tiba-tiba muncul dari dekat pepohonan. Dia mengucek mata dan mengibaskan rambutnya. Daniah semakin terpukul saat laki-laki itu kembali tertawa. ¡° Anda siapa?¡± katanya terbata. ¡° Ahh aku, aku hanya tukang foto.¡± Dia menaikan kamera yang melingkar di lengannya. ¡° Aku habis ambil foto matahari terbit di sini tadi. Karena ngantuk jadi ketiduran.¡± Tidur, jadi dia tidurkan, dia tidak mendengar aku memaki-maki tadikan. Tidak, dia tertawa, pasti dia dengarkan walaupun hanya bagian akhirnya. Karena jelas-jelas dia tertawa. ¡° Kenapa anda berjalan kemari.¡± ¡° Aku hanya ingin duduk di sebelah mu.¡± Kenapa juga duduk di samping ku. Daniah sudah akan berjalan menghindar, tapi langkah kakinya sudah kalah cepat. Karena laki-laki asing itu sudah berdiri didepannya, menghadang langkah kakinya. Dia terkepung dan tidak bisa menghindar. Akhirnya dia duduk lagi ketempatnya tadi. ¡° Nah begitukan manis, duduklah aku hanya ingin mengobrol. Semalaman aku begadang dan tidur pagi ku juga terganggu, rasanya kesal juga.¡± ¡° Maaf saya sudah mengganggu tidur anda. Saya tidak tahu kalau ada orang di sekitar sini.¡± ¡° Benar juga kalau kau tahu ada orang kau pasti tidak berteriak sekeras itu.¡± ¡° Maaf.¡± Sial apa dia mendengar semuanya. ¡° Maaf anda tidak mendengar semuanyakan.¡± ¡° Hahaha, maaf sekali ya tapi aku mendengar semuanya.¡± Daniah merinding melihat senyum itu, walaupun dia tersenyum dengan cara yang jenaka, tapi kenapa dia merasa senyum itu terasa licik sekali. BERSAMBUNG........................... Chapter 23 Proyek Danau Hijau Di dalam gedung Antarna Group, ruangan paling tertinggi, yang tidak sembarang orang bisa masuk ke dalamnya. Saga tertawa mengingat kejadian semalam dan pagi ini. Sementara Han di sebelahnya menatapnya penuh tanya. Akhir-akhir ini tuan muda sepertinya sering sekali tertawa, gumamnya dalam hati. Han mengeluarkan hpnya saat mendengar tanda pesan masuk. ¡° Kenapa?¡± Saga menghentikan pekerjaannya. menoleh pada Han. Menanyakan pesan masuk siapa. ¡° Sepertinya ini pertama kalinya nona muda mengunakan kartu yang anda berikan.¡± ¡° Apa yang dia beli.¡± ¡° Nona muda mengunakannya di sebuah salon.¡± ¡° Hahaha.¡± Saga tertawa dengan senang lagi. ¡° aku menyuruhnya meluruskan rambut.¡± Apa! Sepertinya anda benar-benar merasa bahagia ya. Tapi syukurlah, semoga hati anda yang sudah mengeras itu bisa kembali melunak. ¡° Han.¡± ¡° Ia tuan muda.¡± ¡° Apa kau tidak penasaran, melihat rambut lurusnya. Aku jadi ingin segera pulang melihatnya.¡± ¡° Tapi kita akan ada acara sampai malam, apa perlu saya batalkan.¡± ¡° Tidak perlu. Aku bisa melihatnya nanti.¡± Han keluar ruangan masih sempat melirik, senyum yang lahir di bibir Saga. - - - Sore hari, masih di ruangan yang sama. Saga sudah melemparkan berkas di tanganya ke wajah laki-laki yang sedang berlutut di hadapannya. Sementara Han mengerutkan dahi dan memandang laki-laki itu dengan kesal. Kenapa sampai membuat masalah, dasar tidak berguna. Begitu isi sorot matanya. ¡° Apa kau pikir aku menaikan mu di posisi sekarang supaya kau bisa berbuat semau mu.¡± ¡° Tolong ampuni saya tuan. Beri saya kesempatan membereskan ini.¡± Suaranya terbata-bata. Tangannya gemetar karena menahan berat tubuhnya. ¡° Kalau kau mau korupsi dan memperkaya diri mu seharusnya kau pakai otak mu.¡± ¡° Maafkan saya tuan.¡± Dentuman keras terdengar. Benda kecil mendarat di kepala laki-laki yang berlutut itu. Hp yang terbentur itu jatuh ke lantai dan pecah. ¡° Tuan saga tidak menyuruh anda bicara.¡± Han bicara dengan tegas. Laki-laki itu gemetar ketakutan, darah menetes dari pelipis kanannya. Mengalir sampai ke pipi. Tapi dia masih berlutut tidak berani mendongak, membuka mulut atau menyeka darah yang mengalir. ¡° Sudah berapa lama proyek ini berhenti.¡± Saga bertanya pada Han yang berdiri di sampingnya. ¡° Seminggu.¡± Han menyodorkan hp di depan Saga. Laki-laki itu membacanya sekilas. Han mengeser ke slide berikutnya. ¡° Dalam sebulan apa kau bisa membereskan kekacauan ini¡± Saga beralih pada laki-laki yang sedang berlutut itu. ¡° Ia tuan, ia tuan.¡± ¡° Jangan mengecewakan ku lagi.¡± ¡° Baik tuan, saya akan melakukan yang terbaik.¡± ¡° Pergilah.¡± ¡° Terimakasih tuan, terimakasih atas kebaikan anda.¡± Dia bangun, kakinya gemetar karena terlalu lama berlutut. Dia menundukan kepalanya berulang sebelum beranjak meninggalkan ruangan. Han mengikuti langkah kaki laki-laki itu. ¡° Bersihkan luka anda.¡± Sekertaris Han menyerahkan tisu yang dia minta dari staff sekertaris yang ada di depan ruangan. Para staf sekertaris menundukan kepala mereka. Tahu, baru saja ada keributan di ruangan presdir di dalam. ¡° Berapa kali saya harus mengingatkan anda untuk tidak menjawab kata-kata tuan Saga.¡± ¡° Maafkan saya. Maafkan saya.¡± ¡° Danau hijau ini proyek yang sudah ditunggu tuan Saga, anda masih bisa berdiri diposisi anda sekarang, bahkan setelah melakukan kesalahan bodoh, itu sudah keberuntungan buat anda.¡± ¡° Baik tuan. Saya akan bekerja lebih baik lagi.¡± ¡° Pergilah. Bereskan kekacauan ini sebelum satu bulan.¡± ¡° Baik tuan. Baik.¡± Laki-laki itu menundukan kepalanya beberapa kali pada sekertaris Han. Dia tahu kalau laki-laki di hadapannya ini bisa seratus kali menakutkan dibandingkan tuan Saga. Ia menyeret kakinya walaupun gemetar. Keluar dari gedung megah Antarna Group. Sementara di depan ruangan presdir sekertaris Han belum beranjak, dia mendekat kemeja staff sekertaris. Tiga orang sekertaris di hadapannya menunduk tidak berani menatapnya. ¡° Bawakan aku hp baru.¡± Katanya. ¡° Baik.¡± Salah satu dari mereka menjawab, lalu bergegas keluar dari ruangan. Sekeraris Han kembali keruanganya. Menyandarkan kepalanya dikursi. ¡° Kenapa banyak sekali orang-orang bodoh bekerja untuk tuan muda.¡± Dia kesal sendiri, karena membereskan setiap kekacauan yang ditimbulkan oleh orang-orang itu adalah tanggung jawabnya. BERSAMBUNG................ Chapter 24 Alasan meluruskan rambut Daniah menatap dirinya di balik cermin kamar mandi. Ia bisa gila sendiri melihat rambutnya yang sekarang. Ini bukan dirinya. Ya walaupun memang terlihat lebih rapi, lebih cantik. Cih, cantik. Ya Daniah tahu satu kata itu tidak tidak akan pernah mewakili dirinya. Tapi memang dia terlihat lebih baik dengan gaya rambut seperti ini. Kenapa aku tidak pernah mencoba meluruskan rambut ku ya. Ya, omongan ibu tiri ku yang mengatakan rambut ku menjijikan seperti milik ibu malah membuat ku ingin menyiksanya dengan melihatnya setiap hari. Kekanakan sekali. Biarkan saja. Sekarang wanita itu pasti sangat senang karena tidak melihat rambut ku inikan. Apa tuan Saga akan menyukainya ya kalo melihat. Haha, memang apa perduli ku kalau sigila itu suka atau tidak. Daniah keluar dari kamar. Memeriksa hp. Kenapa sekertaris Han tidak mengirimkan pesan apa-apa ya. Apa tuan Saga tidak pulang untuk makan malam. Daniah menuruni tangga. Dia berpapasan dengan pelayan yang sedang mengatur meja makan. Pelayan itu terlihat terkejut, lalu menundukan kepala sopan pada Daniah. Ya, kau pasti melihat aneh rambut ku ya. Daniah mencari di mana kepala pelayan. Ternyata dia sedang di dapur memberikan beberapa instruksi kepada para pelayan yang lain. ¡° Permisi pak Mun.¡± Dia langsung berjalan mendekati Daniah. ¡° Ada yang bisa saya bantu nona?¡± ¡° Tidak ada apa-apa pak. Saya hanya mau bertanya, apa tuan Saga tidak kembali ke rumah untuk makan malam.¡± ¡° Tuan muda tidak makan malam di rumah malam ini, karena ada pekerjaan.¡± ¡° Begitu ya, kapan dia akan pulang.¡± Tanya Daniah lagi memastikan. ¡° Saya belum mendapat informasi pastinya nona. Biasanya tengah malam, nanti saya akan bangunkan nona jika tuan muda kembali.¡± ¡° Hehe ia pak. Hidup pak Mun berat sekali juga ya sepertinya. Ayo kita toss.¡± Daniah mengantung tangannya di udara. Di hadapan Pak Mun, laki-laki itu terdiam dan hanya memandang binggung. ¡°Toss. Begini.¡± Daniah memperagakaan. Pak Mun walaupun canggung mengikuti. ¡° Semoga hidup kita lebih baik kedepanya.¡± Pak Mun mengangukan kepalanya, walaupun masih tidak mengerti apa yang dimaksud Daniah. Jadi Pak Mun itu kapan tidur dan istirahatnya ya. Kira-kira berapa ya gajinya. ¡° Wahhh, wahhhh siapa ini?¡± Daniah melengos saat dia sudah sampai di meja makan. Dia sudah merasa kelelahan hari ini, tidak mau berdebat lagi. Memang bertengkar sudah seperti minum obat apa, rutin. Tapi ntah kenapa, kalau Daniah diam dan tidak memperdulikan malah kedua adik iparnya ini seperti semakin terangsang dan terpancing untuk membuat api berkobar. ¡° Kau meluruskan rambut mu?¡± ¡° Haha, supaya apa? Supaya terlihat seperti kakak difoto yang ditunjukan Clarissa tadi pagi.¡± Sial! Kenapa memang momenya pas begini. Daniah geram sendiri. Ini perintah kakak gila mu! kenapa waktunya pas begini. Aku bicara apapun hanya terdengar sebagai dalil mengelikan. Malah aku yang akan malu. Jadi baiklah, sebaiknya aku mengalah dan diam saja. Oh, apa kalau Daniah diam saja masalah selesai. Tentu tidak wahai penduduk bumi. Mulut berbisa dua adik ipar malah semakin menjadi-jadi. Daniah sudah tidak tahan. Telinganya perih. Apalagi saat melihat ibu mertuanya yang malah tersenyum senang melihatnya terhina seperti itu. Brak! Daniah mengebrak meja makan. Meletakan sendok. Dia siap menyerang balik setiap ucapan yang dikeluarkan dari bibir cantik kedua adik iparnya. Dan pertengkaran pun terjadi. Semua orang bicara dengan suara keras. Daniah mendelik tajam pada ibu mertuanya yang kenapa hanya menonton dan menikmati pertunjukan. ¡° Terimakasih makan malamnya hari ini Pak Mun.¡± Daniah menoleh pada Pak Mun yang berdiri tidak jauh dari meja makan. Posisinya saat semua penghuni rumah ini makan. ¡° Anda bahkan belum makan malam nona, kembalilah ke meja anda. Anda harus makan kan?¡± ¡° Saya sudah tidak berselera.¡± Daniah meninggalkan ruang makan. Berjalan tidak tahu kemana langkah kakinya melangkah. Dia sendiri belum sempat berkeliling rumah ini. Tapi dia tetap membawa kakinya melangkah, toh dia tidak mungkin kesasarkan. Penjaga rumah ini saja ada di setiap sudut rumah. Kalau dia kesasar diakan bisa bertanya juga. BERSAMBUNG..................... Chapter 25 Laporan Pak Mun Saga dan sekertaris Han sudah masuk ke dalam mobil. ¡° Katakan pada Pak Mun tidak perlu membangunkan gadis itu!¡± ¡° Baik tuan muda.¡± Sekilas Han melihat senyum samar di bibir Saga. Mereka melajukan mobil kembali ke rumah. Sekertaris Han mengirimkan pesan kepada Pak Mun. Lalu dia meletakan hp, dan fokus mengemudi. ¡° Tuan muda.¡± ¡° Hemm.¡± ¡° Dua bulan lagi nona Helena akan kebali.¡± Han melirik kaca spion. Saga masih terdiam sambil menyandarkan kepalanya, memejamkan mata. ¡° Dia akan mengadakan pameran tunggal kepulangannya ke tanah air. Apa anda mau saya mengurus semuanya.¡± Han melihat kaca spion lagi, Saga belum bereaksi. ¡°Sudah ada beberapa perusahaan yang mengajukan diri untuk menjadi sponsor, tapi kalau mereka tahu tuan muda akan menjadi sponsor nona Helena, mereka pasti akan mundur dengan sukarela.¡± ¡° Lakukanlah. Aku ingin lihat sebaik apa dia hidup selama ini.¡± ¡° Baik tuan muda.¡± Mobil menyusuri jalanan yang mulai lenggang. Mobil melaju dengan cepat masuk ke dalam gerbang besar, dan sampailah di depan rumah utama. Saga keluar dari mobil sementara Pak Mun sudah menunggu di depan pintu dan berjalan mendekat. ¡° Selamat datang tuan muda.¡± ¡° Pulanglah. ¡° Katanya pada Han. Han yang sudah mau ikut masuk menghentikan langkah kakinya. ¡° Baik tuan muda. Selamat istirahat.¡± Dia menundukan kepala, menunggu sampai Saga masuk kedalam rumah. Baru berbalik menuju mobil yang dia kendarai tadi. Keluar dari gerbang utama. Pak Mun membatu Saga melepaskan jas, dipegangnya pakaian itu seperti memegang sesuatu yang sangat berharga. Saga duduk dikursi, sementara Pak Mun berjalan kebelakang mengambilkan sandal rumah. Dia melepaskan sepatu Saga dan meletakan sandal di dekat kaki. ¡° Ada kejadian apa hari ini di rumah?¡± Pak Mun mendekat dan menyerahkan hp yang dia keluarkan dari kantong bajunya. ¡° Nona muda bertengkar dengan nona Jenika, nona Sofia dan pagi tadi juga dengan nona Clarissa.¡± ¡° Hebat sekali, siapa yang menang?¡± ¡° Sepertinya nona muda yang menang. Anda bisa melihat dua vidio di hp ini.¡± Saga membuka hp yang tadi diberikan pak Mun. Adegan drama perkelahian tiga lawan satu. Wajahnya berkerut sebentar, tapi tidak lama sudah terdengar gelak kecil setelah mendengar kata pamungkas yang dikeluarkan Daniah untuk menjatuhkan Clarissa. Mental Clarissa sepertinya langsung down setelah mendengar kalimat ¡°Haha, ternyata wanita yang disukai tuan Saga bukan nona Clarissa ya. Gadis ini ternyata benar-benar lumayan. Seperti habis menonton pertunjukan yang membuatnya puas. Sekarang Saga beralih melihat vidio yang kedua. Senyumnya kembali terlihat apalagi saat adegan Daniah mengebrak meja dan meletakan sendoknya. " Rambutnya benar-benar lurus" Mata Saga melihat vidio yang sedang diputar. ¡° Apa kalian bisa berhenti bersikap mengerikan seperti ini?¡± Daniah bangun dari tempat duduknya, memandang ibu mertua dengan kesal. ¡° Bisakah kalian tidak menggangu ku, mari hidup di tempat mengerikan ini tanpa saling menggangu.¡± ¡° Beraninya kau bilang ini tempat mengerikan, kau tahu kau wanita beruntung yang bisa menikah dengan kak Saga.¡± ¡° Ya, ya, aku wanita beruntung yang bisa menikah dengan tuan Saga.¡± Daniah terlihat mengigit bibirnya geram. ¡° Apa kau pikir kalau kau meluruskan rambutmu kamu bisa seperti kak Helena¡± Saga yang melihat vidio itu menatap tajam, bibirnya bergetar. Pak Mun yang berdiri di sebelahnya sudah ingin mengambil hp di tangan Saga, tapi tentu dia tidak berani melakukannya. ¡° Aku tidak meluruskan rambutku karena ingin mirip dengan siapa pun.¡± ¡° Haha benarkah, tidak tahu malu. Kau itu licik sekali, apa itu yang diajarkan ibu mu pada mu.¡± ¡° Hentikan! Jangan menghina ibu ku. Kalau kau mau aku pergi suruh kakak mu itu menceraikan ku. Suruh dia mengusir ku dari rumah ini. Aku akan pergi keluar dari rumah ini dengan bahagia. Aku akan memeluk kalian dan berlutut di kaki ibu mertua karena bahagia.¡± ¡° Kau!¡± Saga menjatuhkan hp kelantai. Beraninya kau mengucapkan kata cerai dari mulutmu tanpa izinku. Sepertinya aku sudah terlalu baik padamu sampai kau bisa berfikir kurang ajar begitu. Saga bangun dari duduk. Pak Mun mengambil hp yang tadi dijatuhkan Saga. ¡° Apa dia belum makan malam.¡± ¡° Nona makan malam dengan mi instan bersama para pelayan di rumah belakang.¡± Saga menghentikan langkahnya. Menunggu cerita lebih lanjut. ¡°Nona muda menyapa para pelayan dan mengajak mereka bicara terlebih dulu. Lalu mereka sudah makan malam bersama tadi.¡± ¡° Tidak usah mengantar ku, istirahatlah.¡± Saga menyuruh kepala pelayan tidak mengikutinya. ¡° Baik tuan muda, selamat istirahat.¡± Pak Mun menundukan kepalanya, dan menunggu sampai Saga menaiki tangga dan hilang menuju kamarnya. Lalu iapun beranjak juga, menuju kamarnya sendiri. Menghela nafas dalam. Tidak tahu apa yang dipikirkan oleh tuan mudanya. BERSAMBUNG........................ Chapter 26 kembalikan rambutmu Lagi-lagi harus berada di kamar berdua. Daniah sudah menyiapkan air di dalam bak, dia mengatur suhu agar walaupun menunggu lima belas menit lagi suhu air tetap hangat. Sekarang dia kembali duduk di sofa. Memijat jemarinya. kata-kata Saga tempo hari masih melekat diingatannya. Melirik ke atas tempat tidur. Aku pasti sudah gila, bagaimana semalam aku bisa tidak bangun menyambutnya pulang. Hari ini apa aku akan dipenggal seperti kaisar yang memotong leher istrinya karena tidak patuh. Aaaaaa! Daniah sudah frustasi, menjerit tanpa suara. Hei pak Mun apa kamu sedang menghianati ku. Bukankah kita sudah toss persahabatan kemarin. Saat Daniah masih melamun dengan segala kemungkinan. Dia mendengar suara gumaman dari tempat tidur. Segera dia bangun dan berlari mendekat ke tempat tidur. Eh, masih tidur. Bukankah seharusnya dia sudah bangun. Jam berapa dia pulang semalam ya. Daniah membawa langkah kakinya lagi, duduk di sofa. Dia merebahkan tubuhnya jatuh kesamping. Menghela nafas. Menunggu lagi. Karena tahu dia berbuat kesalahan, dia bahkan tidak berani melirik hp di sampingnya. Padahal biasanya dia selalu menunggu Saga dengan bermain-main dengan hpnya. Terdengar gumaman dari tempat tidur, Daniah bangun. Tapi ternyata Saga hanya berguman dalam tidurnya. Hari ini sepertinya dia benar-benar terlambat bangun. Dia masih terlelap. kalau tidur, dia benar-benar terlihat tampan. Sampai tiga kali Daniah bolak balik dari sofa ke samping tempat tidur. ¡° Selamat pagi tuan.¡± Setelah kelima kalinya, akhirnya laki-laki di hadapannya ini benar-benar bangun. ¡° Air.¡± Saga sudah duduk bersandar di tempat tidur. Daniah menuangkan air ke dalam gelas dari botol kaca, memberikanya dengan hati-hati kepada Saga. Setelah Saga menghabiskan minum, dia menyerahkan gelas itu. Tapi dia menjatuhkannya karena terkejut saat membuka mata, dan melihat Daniah. Daniah yang panik, segera mengambil gelas yang terjatuh di atas tempat tidur. Untung gelasnya kosong, dia bernafas lega seperti selamat dari hukuman mati. ¡° Apa-apaan rambut mu itu?¡± ¡° Ia tuan.¡± Inikan rambut yang sudah diluruskan, inikan perintah dari mu kemarin. Apa kamu lupa ingatan! ¡° Kenapa sekarang kamu tambah jelek begitu?¡± Daniah menyentuh rambutnya. Sialan, kan kamu yang menyuruhku begini. ¡° Saya meluruskan rambut saya kemarin.¡± ¡° Kenapa jadi tambah jelek begitu?¡± ¡° Tapi, tuan yang menyuruh saya meluruskan rambut saya kemarin.¡± Berusaha mengingatkan fakta, agar berhenti menghina dan mengatainya jelek. ¡° Jadi ini salah ku, kamu jadi jelek begitu.¡± Saga menjawab kesal. Duarrr! Kenapa jadi seperti tersambar petir disiang bolong begini. Wajah Daniah semakin panik. ¡° Tiadak tuan bukan begitu maksud saya.¡± ¡° Minggir, mana sandal ku aku mau mandi.¡± Saga bangun dari duduk, mendorong Daniah dengan kata-katanya. Gadis itu mundur. ¡° Ba, baik tuan.¡± Daniah meletakan sendal di dekat kaki Saga. ¡° Saya sudah menyiapkan air.¡± Aaaaaaaa, kenapa jadi begini si. Daniah sudah akan mengikuti langkah kaki Saga, tapi terhenti saat Saga berhenti melangkah. ¡° Beraninya kau menyalahkan ku dengan tampang jelekmu setelah semalam tidur dan tidak menyambutku.¡± ¡° Maafkan saya tuan.¡± Daniah menundukan kepalanya berulang. Fakta yang tidak bisa dia bantah. ¡° Jangan ikuti aku. Tunggu disini dan pikirkan apa kesalahan mu.¡± ¡° Baik.¡± Daniah lemas, menyeret kakinya. Duduk di sofa. Apa aku mati saja ya. Persetan dengan urusan perusahaan ayah. Dia tidak tahukan aku antara hidup dan mati disini. Sementara dia dan istrinya hidup dengan enak. Kenapa juga aku meluruskan rambut ku, tapi jelas-jelas dia menyuruh ku meluruskan rambut. Kalau pagi ini aku berdiri di depannya dengan rambut ku yang biasanya bisa-bisa gelas kaca tadi dilemparkan kewajah ku kan. ¡° Hahaha.¡± Eh Apa itu, kenapa dia tertawa terbahak-bahak di kamar mandi. Apa dia sudah sinting. Daniah lagi-lagi mendengar Saga tertawa dari dalam kamar mandi. Dia sudah merinding. Apa dia sedang merancang rencana membunuh ku, sampai sesenang itu. Daniah berjalan mengambil sepatu. Menunggu Saga keluar dari ruang ganti baju dengan setelan jas rapinya. Kenapa kau senang sekali menyentuh rambut ku. Tahu tidak itu membuat ku merinding. Saga menarik ujung rambut Daniah lagi seperti yang dia lakukan kemarin saat Daniah berlutut memakaikan sepatunya. ¡° Kembalikan rambutmu kebentuk semula.¡± Seharusnya Daniah cukup menjawab baik, tapi sepertinya karena kesal dia lupa dengan aturan draf berlembar-embar yang diberikan sekertaris Han. Jadi dia menjawab dengan kalimat panjang. ¡° Kata salon ini hanya sementara, paling lama seminggu akan kembali normal.¡± ¡° Kau mau membuat mataku sakit karena melihat rambut jelek mu selama seminggu.¡± Inikan kau yang suruh juga sialan! Daniah bangun. ¡° Duduk!¡± Perintah Saga sambil menatap Daniah tajam. Eh kenapa sorot matanya menakutkan. ¡° Beraninya kau memelototi ku.¡± Saga menempelkan telunjuknya di kening Daniah, Gadis itu sudah memejamkan mata siap menahan sakit. ¡° Kau lupa, hanya dengan sekali menelfon aku bisa membatalkan semua bantuan keperusahaan ayah mu. Aku bisa membuat mereka jadi gembel di depan mu sekarang.¡± ¡° Tidak tuan, maafkan saya.¡± Tanpa sadar Daniah menyentuh tangan Saga. Mengengamnya. Setelah tersadar dia melepaskan tangan itu. ¡° Maafkan saya tuan, saya bersalah. Saya mohon maafkan saya. Saya akan mengembalikan rambut saya seperti sebelumnya.¡± Saga menunjuk kening gadis itu lagi. Beraninya kau berfikir tentang perceraian tanpa izin dariku. aku bahkan belum puas bermain denganmu, jangan mimpi bisa lari dari gengaman ku. " Memohonlah aku mengampuni mu." Daniah mengumpulkan nafas di rongga dadanya, menarik bibirnya sekuat tenaga agar bisa tersenyum. wahai kalian pemilik medali, tolong anugrahi dia penghargaan akting paling menyedihkan. " Tuan Saga, saya akan melakukan apapun yang anda katakan. saya mohon selamatkan hidup saya dan keluarga saya." Haha, aku suka ini, matamu yang membenciku dengan seluruh nyawa mu. tapi bibirmu tersenyum penuh semangat mengoda dan mencoba merayu ku. Baiklah aku akan bermain-main dengan mu lebih lama lagi. Saga mencengram dagu Daniah kuat. " Aku memaafkan mu hari ini." BERSAMBUNG............... Chapter 27 Kenangan Buruk Tubuh kecil Daniah ditarik ibunya keluar rumah, wanita itu sudah membuka pintu mobil dan mendorongnya masuk ke dalam. ¡° Bu, kita mau kemana? Bu?¡± anak kecil itu mulai merengek. Wanita itu diam tidak menjawab, dia menghidupkan mobil lalu membawanya melaju memecah keramaaian kota. Tidak bicara apapun, dia hanya menatap anak tirinya sekali. Lalu melengos dan menatap jalanan lagi. Aku harus memberi mu pelajaran berharga, supaya kamu tahu siapa yang berkuasa di dalam rumah. Dasar, kenapa aku harus membesarkan anak orang lain seperti mu. Lebih sebal lagi ayah mu yang tidak mau membuang mu, mengembalikan mu pada keluarga ibu mu. Kalau kau pergi semuanya jadi mudah kan. ¡° Ibu, kita mau ke mana?¡± Daniah merasa takut, tangannya sudah gemetar. Wanita di sampingnya tidak menjawab membuatnya semakin ketakutan. ¡° Ibu.¡± ¡° Aku bukan ibu mu!¡± Kata-kata itu mencekik Daniah, dia yang sudah mau merengek takut mengunci mulutnya. Dia menyadari kalau wanita yang sedang mengemudikan mobil di sampingnya ini sedang marah. Dia tahu, dia tidak disukai oleh ibu tirinya. Beberapa kali dia dimarahi untuk alasan yang tidak jelas. Dia tidak menngangu adik tirinya, tapi dia selalu dituduh bersalah kalau adiknya menangis. Mobil terus berjalan tidak tahu kemana tujuan, Daniah menatap keluar kaca mobil, mereka memasuki kawasan pinggiran perkotaan. Dia bisa melihat pohon-pohon besar sepanjang jalan. Mobil berhenti. Daniah mengkerut di kursinya. Sementara ibu tirinya turun. Dia membuka pintu mobil dan menarik tubuh Daniah. ¡° Ibu, maafkan aku bu. Maafkan aku.¡± Airmata mulai menganak sungai dan pecah, suaranya sudah bergetar karena takut. ¡° Turun.¡± Wanita itu menarik lengan Daniah, anak kecil yang berpegangan pada kursi mobil itu kalah tenaga. Tubuhnya sudah tertarik, dan dia sudah turun dari mobil. Brak! Pintu mobil dibanting dengan keras. ¡° Ibu, ibu mau kemana? Jangan tinggalkan aku bu.¡± Ibu tirinya tidak bicara apa-apa, dia hanya menatap Daniah dengan kebencian. Lau berjalan memutari mobil dan masuk ke dalam mobil. Dia menghidupkan mobil. ¡° Ibu jangan tinggalkan aku bu.¡± Daniah berusaha membuka pintu mobil, tapi terkunci. ¡°Maafkan aku bu, maafkan aku. Aku bersalah, aku bersalah bu. Jangan tinggalkan aku bu. Aku takut. Ibu, buka pintu mobilnya bu. Aku mohon bu.¡± Mobil berjalan pelan. Daniah mulai berlari mengejar sambil mengetuk kaca pintu keras. ¡° Ibu jangan pergi bu, jangan tinggalkan aku. Aku mohon bu.¡± Daniah tersungkur jatuh saat mobil yang dia kejar semakin melaju kencang. Meninggalkannya sendirian. Tangis anak kecil itu pecah. Dia melihat sekeliling hanya ada pohon-pohon besar dimana-mana. ¡° Maafkan aku bu, maafkan aku. Jangan buang aku, jangan usir aku bu. Maafkan aku bu. Aku takut.¡± Tubuh Daniah menggigil, dia ketakutan. Berjongkok sambil menangis sekerasnya yang bisa dia lakukan. Udara di sekelilingnya sudah terasa semakin dingin, matahari pun sudah mulai meredup. Daniah kecil masih menangis sesengukan. Duduk bersimpuh di tanah. Dia mendongak saat mendengar suara mobil. Dia bangun dari duduk saat ia tahu itu mobil ibunya yang kembali. Dia berlari saat mobil sudah berhenti. Wanita yang tadi menariknya paksa keluar dari mobil, Daniah memeluk kaki wanita itu erat. Seperti menjaga benda paling berharga miliknya. ¡° Maafkan aku bu, aku salah, aku nakal. Aku akan jadi anak baik dan patuh pada ibu dan ayah. Jangan buang aku bu, jangan usir aku.¡± Ibu tirinya menyentuh kepala Daniah. ¡° Kamu tahukan sekarang, anak yang tidak patuh akan diusir dan dibuang. Kamu akan tinggal sendirian, tidak punya rumah dan keluarga seperti ini. Kamu mau.¡± ¡° Tidak bu, maafkan aku bu. Aku akan patuh pada ibu, jangan buang aku bu.¡± Air mata masih membanjir, dia tidak melepaskan pelukan eratnya di kaki ibu tirinya. ¡° Nah begitu, kalau kamu jadi anak yang patuh, aku juga akan merawat mu.¡± ¡° Ia bu, aku akan patuh dan menurut, jadi jangan buang aku bu, jangan usir aku.¡± ¡° Masuklah, kita pulang.¡± ¡° Ia bu.¡± Tubuh Daniah yang masih gemetar masuk ke dalam mobil. Dia menerima sebotol minuman. ¡° Minum, kalau ayah mu bertanya dari mana, jawab kalau ibu mengajak mu pergi jalaan-jalan.¡± ¡° ia bu.¡± Sejak hari itu Daniah tumbuh dengan rasa takut di hatinya, takut untuk dibuang jika dia tidak patuh, takut terusir dari rumah jika dia tidak mendengarkan ibu tirinya. Dia selalu menganggukan kepala bahkan sampai dia dewasa. Walapun seiring waktu, kepatuhan pada ibunya berubah menjadi kebencian namun dia sama sekali tidak berani melawan. Apapun yang diputuskan orang tuanya. Termasuk menikahi Saga Rahardian. ¡° Maaf bu. Maaf.¡± ¡° Mbak Niah, mbak Niah bangun.¡± Tika menguncang-guncang tubuh Daniah agar gadis itu terjaga. Daniah mengerjapkan mata terkejut. ¡° Mbak gak papa? Mimpi buruk ya.¡± Daniah mengusap wajaahnya, keringat membanjir. Dia mengingat apa yang baru saja ia impikan. Kenapa kenangan buruk itu muncul lagi diingatannya. Ia selalu kehabisan nafas kalau mengingat kejadian dulu dimasa kecilnya. ¡° Tika bisa tolong ambilkan air dingin.¡± ¡° Ia mbak sebentar. Mbak Niah sakit ya.¡± ¡° Gak papa, hanya pusing. Terimakasih ya.¡± Daniah menerima minumannya. Dia meminum hampir setengah botol. Bayangan gelap itu belum berhasil dia usir. Masih mengantung di pelupuk mata bayangan kecilnya yang meringkuk di tanah karena ketakutan. Takut dibuang, takut diusir dari keluarga. BERSAMBUNG.................. Chapter 28 Menyusun rencana Aku harus membuat tuan saga menceraikan ku dengan baik-baik. Bukan karena dia mengusir ku. Kalau aku ditendang keluar dari rumah karena dia marah, itu akan berimbas pada perusahaan ayah. Bisa saja dia membuat keluargaku benar-benar bagkrut dan tidak punya harga diri lagi. Kalau ayah dan ibu marah, jangankan aku bisa kembali ke rumah, aku pasti akan langsung diusir dan dibuang dari daftar keluarga. Tapi dia kan benar-benar gila, aku tidak tahu apa yang ada di kepalanya. Kadang dia tertawa tanpa alasan. Kadang dia marah tanpa aku tahu sebabnya. Kadang bibirnya menyeringai tersenyum tanpa sebab. Ahhh pusing, aku bahkaan belum bisa menemukan alasan kenapa dia menikah dengan ku. Sekertaris sialan itu juga pelit sekali kalau ditanyai. Aku ingat jelas perkataan sekertaris Han. ¡° Sekertaris Han boleh saya bertanya?¡± ¡° Silahkan nona.¡± ¡° Apa anda tahu kenapa tuan Saga memilih menikah dengan saya?¡± ¡° Tidak.¡± ¡° Tidak mungkin anda tidak tahu.¡± ¡° Saya memang tidak tahu.¡± ¡° Sekertaris Han, lewati pertanyaan saya tadi. Saya akan bertanya pertanyaan selanjutnya.¡± ¡° Silahkan nona.¡± ¡° Apa tuan Saga tidur berganti-ganti wanita setiap malam.¡± ¡° Tidak.¡± ¡° Hei, bisa tidak menjawab lebih spesifik, jangan hanya satu kata tidak ada maknanya itu.¡± Sekertaris Han diam, tidak menyanggah apapun semakin membuat ku kesal setengah mati. Aku kan hanya penasaran dan ingin tahu tentang tuan Saga. Mungkin jika aku bisa memahami laki-laki itu, mudah diri ku untuk lepas darinya. ¡° Sekertaris Han, seperti apa tipe wanita yang disukai tuan Saga?¡± ¡° Apa anda ingin berubah menjadi tipe wanita yang disukai tuan Saga?¡± Gila ya, kenapa juga aku harus berubah menjadi wanita yang disukainya, sedangkan aku jelas-jelas tahu aku jauh dari standar kecantikannya. Dia bahkan mengatai ku jelek di depan mata ku sendiri. Ini supaya aku bisa menemukan wanita yang sesuai dengan seleranya dan kabur dari tempat ini. ¡° Seperti apa nona Helena itu?¡± ¡° Apa anda sedang cemburu?¡± Hei, hei berhenti menanyakan hal tidak masuk akal. ¡° Kenapa saya harus cemburu.¡± Sekertaris Han diam, tidak menjawab atau bertanya lagi. Aku benar-benar ingin mencekiknya kesal. Aku sama sekali tidak bisa mendapatkan informasi berharga apa pun darinya. Benar, nona Helena. Wanita itu, jika benar dia wanita yang disukai tuan Saga, apa dengan kemunculan wanita itu aku bisa bebas dari neraka mengerikan ini. Tapi di mana keberadaan wanita itu sekarang. Seingat ku Clarissa pernah mengatakan, kalau kakak ku kembali kau pasti akan ditendang dari sisi kak Saga. Dia sedang ada di mana sekarang. Benar, aku harus mencari tahu tentang Helena. Tapi dari siapa, sekertaris Han. Mengingat namanya dan senyum di bibirnya saja sudah membuatku jengkel. Baiklah misi pertama ku untuk lari dari tuan Saga adalah mempertemukannya kembali dengan wanita yang disukainya. Helena. ¡° Mbak niah kenapa tertawa sendiri?¡± Daniah gelapagapan, tersadar dia sedang ada di mana. Tiga karyawannya menatap antusias dan penuh harap, seperti bocah yang akan dibacakan dongeng oleh orangtua mereka. ¡° Mbak Niah lagi jatuh cinta ya.¡± ¡° Iakan, iakan, mbak Niah sudah punya pacar ya.¡± Aku bahkan sudah sudah punya suami gila! ¡° Pacar apa, gak kok, cuma kepikiran kucing tetangga ku saja, sepertinya lucu kalau dia punya pasangan.¡± ¡° Ahhh, yang benar. cieee, mbak Niah udah melepas status jomblo ni.¡± Haha, aku sudah gak jomblo lagi kali, aku sudah punya suami laki-laki gila yang bisa melakukan apa saja. Pada ku atau pada keluarga ku. Mereka tidak berhenti meledek, sampai Daniah binggung sendiri menjawabnya. BERSAMBUNG Chapter 29 Gigitan di Bahu Sebenarnya apa si maunya? Kenapa senang sekali membuatku kesal setiap hari. Mengerjai ku tidak ada habisnya. Aku takut padanya sekaligus jengkel. Kenapa tingkahnya seperti anak-anak begitu. Aku paling senang kalau dia sudah tidur, melirik wajah tampannya sudah seperti obat saat aku keracunan. Tapi kalau dia sudah membuka mata dan mulutnya yang indah itu terbuka sudah seperti penyihir jahat yang akan memakan ku hidup-hidup. ¡° Hei air.¡± Daniah mengambilkan air yang jelas-jelas ada di meja di sampingnya duduk bersandar. Tangan mu kemana si tuan, Daniah mendelik jengkel tapi wajahnya tersenyum. ¡° Kau tidak bisa mengosok lebih keras, Pak Mun tidak memberi mu makan!¡± ¡° Maaf tuan.¡± Daniah mengeraskan tekanan tangannya. ¡° Hei, kau mau membunuh ku ya!¡± Gerrrrr, Daniah mengerutkan bibirnya. Kau mau apa sebenarnya, aku gosok lembut kau bilang kelembekan, aku kuatkan kau bilang kekencangan. Kenapa tidak kau bunuh aku saja tuan Saga. ¡° Maaf tuan, kalau seperti ini bagaimana sudah pas?¡± ¡° Hemm.¡± Sambil mengosok punggung laki-laki di depannya Daniah memandang leher putih bersih itu, rasanya dia ingin mengigit leher itu. ¡° Apa yang kau lakukan?¡± Saga menoleh, melihat Daniah yang sudah menempelkan giginya di bahunya, Tidak Daniah malah sudah mengigit bahu putih itu. ¡° Haaaa! Maaf tuan, maafkan saya.¡± Daniah ambruk terduduk ke belakang. Spon busa di tangannya terjatuh. Aku pasti sudah gila! Bagaimana aku sampai mengigitnya sungguhan. ¡° Kau berani menggigit ku!¡± Saga sedang berganti baju memakai jas dan menyelesaikan dasinya, sementara Daniah duduk berlutut sambil menundukan kepala. ¡° Maafkan saya tuan, saya pasti sudah gila.¡± Saga berjongkok di depan Daniah yang menundukan kepalanya, dia mengangkat dagu Daniah yang tertunduk dengan jarinya. ¡° Kau tidak suka melayani ku?¡± ¡° Tidak tuan.¡± Panik. ¡° Padahal kau sudah memohon dan akan melakukan apa pun yang ku mau, tapi sepertinya itu bohong ya?¡± ¡° Tidak tuan maafkan saya. Saya pasti sudah gila karena mengigit anda, maafkan saya.¡± ¡° Kau mau ku tendang dari rumah ini sekarang? Aku penasaran setelah ku buat keluarga mu sekarat apa mereka masih menerima mu.¡± Wajah daniah langsung pias. Tidak, kalau sampai dia terusir dari rumah ini karena Saga membencinya, keluarganya juga akan ikut hancur. Jadi kalau dia pergi dari rumah besar ini, jelas-jelas dia tidak akan punya tempat kembali. Ayah, ibu tiri bahkan mungkin adiknya Raksa juga akan membencinya ¡° Tidak tuan, saya akan melayani anda dengan baik sesuai dengan aturan yang anda buat. Saya akan melakukan yang terbaik. Saya mohon maafkan saya.¡± ¡° Aku bosan mendengar mu. Minggir.¡± ¡° Tidak tuan.¡± Daniah memeluk kaki Saga. ¡°Jangan buang saya, saya mohon¡± Saga melihat ujung mata Daniah sudah mulai menganak sungai, dia tersenyum, dan ntah kenapa dia merasa senang. Sebenarnya gigitan Daniah sama sekali tidak sakit, dia saja yang lebay (Haha kayaknya kata ini yang paling cocok mewakil kan). Saga berdehem pelan. ¡° Baiklah jangan menangis, lepaskan tangan mu. Ambilkan sepatu sana.¡± ¡° Baik tuan.¡± Kenapa dia jadi imut begitu si kalau ketakutan. Saga mengoyangkan kepalanya, menyesali apa yang baru saja dia pikirkan. ¡° Hei.¡± ¡° Ia tuan.¡± Daniah sudah selesai dengan sepatu Saga. ¡° Duduk.¡± Apa lagi si ini. Gak ada habisnya. ¡° Kau pakai kartu yang ku berikan pada mu?¡± Daniah jemarinya. Apa ini, apa dia marah karena aku pakai kartunya dua kali buat ke salon. ¡° Ia, saya pakai ke salon dua kali, waktu meluruskan rambut.¡± ¡° Aaa, rambut jelek mu yang waktu itu ya.¡± Hei, hei kenapa menyentuh rambut ku lagi. Saga mengulung rambut Daniah di jemarinya, semakin dia mengulung Daniah pun ikut mengeser tubuhnya mendekat ke arah Saga. Dia ini kenapa si. ¡° Bulan ini kalau kau tidak memakai kartu ku lebih dari 20 kali aku akan menghukum mu.¡± ¡° Apa¡± Daniah merinding, Saga bicara tepat di dekat telinganya. ¡° Kau mau dihukum apa?¡± ¡° Tidak tuan, saya akan memakai kartu anda lebih dari 20 kali.¡± Saga mengibaskan tangannya, melepaskan rambut Daniah. Bibirnya terlihat tersenyum tipis saat berjalan keluar kamar, sementara Daniah mengikutinya dari belakang. Terlihat sangat geram. BERSAMBUNG............. Chapter 30 Menyusun buku Malam panjang belum berakhir bagi Daniah. Sebelum mata laki-laki itu terpejam sepertinya dia pun tidak boleh lengah sedikit pun. ¡° Mana Hp ku?¡± Daniah menyerahkan hp dari tangan pak Mun. Seperti halnya Daniah, Pak Mun mengikuti langkah kaki Saga menuju ruang kerjanya. Saga menyuruh Pak Mun tidak ikut masuk, kepala pelayan itu menundukan kepala lalu beranjak pergi. Sekarang hanya ada Daniah, seperti digiring menuju lubang neraka dia masuk ke dalam ruang kerja Saga. ¡° Carikan buku di rak yang judulnya ini!¡± Daniah menerima selembar kertas tulisan tangan Saga, sebuah judul buku. Dia mencari-cari di rak judul buku yang dimaksud. Sepuluh menit berlalu, dia belum menemukan buku yang dicarinya. ¡° Apa kau tidak bisa membaca?¡± ¡° Maaf.¡± Dia sadar dia sedang dikerjai habis-habisan oleh laki-laki di depannya. Walaupun sambil mengutuki Saga sepanjang ia melakukan perintah, dia tetap tersenyum sambil menyelesaikan tugasnya. Hebat ya, tolong beri dia penghargaan untuk akting terbaik. Akhirnya buku yang dicari ia temukan, bergegas ia menyerahkan buku. ¡° Sepertinya kalau ada perubahan suasana di rak buku akan terlihat lebih bagus.¡± Apa ini, kenapa aku sudah merinding duluan. Daniah mengusap tengkuknya. ¡°Susun buku sesuai warna cover, sepertinya kelihatan lebih bagus kalau disusun sesuai warna.¡± Benar kan, benar dugaan ku kan. Sudah gila ya, kamu pikir ini baju. Dia menaikan level mengerjai ku. ¡° Aku mau membaca buku di kamar. Selesaikan sebelum waktunya tidur.¡± ¡° Baik tuan.¡± Saga berjalan keluar, diikuti sorot tajam mata Daniah. Laki-laki itu sadar, kalau Daniah sudah sangat kesal. Dia tergelak di belakang pintu yang tertutup. Kenapa mengerjainya membuat ku bersemangat begini ya. Daniah mengambil foto setiap sudut rak buku yang akan dibongkarnya. Dia tahu laki-laki gila itu akan menyuruhnya menata ulang buku-buku ke tempatnya semula lagi setelah dia menyusun sesuai warna. Kau pikir aku bodoh, aku sudah kau kerjai berulang kali setelah masalah meluruskan rambut. Kau pernah menyuruh ku mengantri seprei tempat tidur dengan warna yang tidak biasa kau pakai. Tapi setelah aku selesai menganti seprei kau bilang matamu sakit melihat warna mencolok itu. Haha, aku tidak bisa kau kerjai lagi. Daniah sudah menyelesaikan separuh pekerjaanya. Dia mau istirahat dulu, duduk di lantai, dia meluruskan kakinya, lalu menarik tumpukan buku untuk dijadikannya bantal. Persetan dengan si gila itu pikirnya. Kalau perlu dia akan tidur disini dan tidak kembali kekamar. Daniah mengambil hp, dia memandang foto di layar depan hpnya. Fotonya dan Raksa. Rasanya kalau tidak memikirkan adiknya dia juga ingin lari dari tempat ini. Tapi kalau memikirkan adiknya yang bahkan belum lulus kuliah sudah harus hancur terpuruk membuatnya harus kuat bertahan. ¡° Hallo dek, sedang apa?¡± Daniah menelfon adiknya. ¡° Kak Niah, sedang belajar untuk ujian. Kak Niah sedang apa?¡± ¡° Istirahat dirumah.¡± Aku sedang menyusun buku di ruang kerja laki-laki gila itu. ¡° Bagaimana perusahaan ayah dek, semua berjalan dengan lancarkan?¡± ¡° Semua sudah stabil, kak Niah tidak perlu mengkhuatirkan kami. Ayah dan ibu hidup dengan sangat baik.¡± ¡° Kamu juga harus begitu donk.¡± Suara Daniah dibuat seceria mungkin. ¡° Kak Niah baik-baik saja?¡± Namun suara Raksa di sebrang sana terdengar getir. ¡° Ia, kak Niah baik-baik saja di sini. Aku bisa makan enak dan tidur nyenyak. Bisa bekerja seperti biasa, kamu jangan kuatir.¡± Kalau perusahaan ayah sudah stabil artinya laki-laki itu tidak bisa mengunakannya untuk selalu mengancam ku kan. Dia gak mungkin bisa membuat perusahaan ayah bangkrut dalam sekejap kan. Tapi tiba-tiba sebuah slide tergambar jelas di pikiran Daniah. ¡° Aku bisa menolong keluarga mu, tapi aku juga bisa menghancurkannya seperti serpihan debu.¡± Ternyata dia bisa melakukan semua itu ya. ¡° Maaf nona muda.¡± Daniah terlonjak, dia bangun dari posisinya tiduran. Melihat apa Saga juga muncul. Dia bernafas lega karena hanya pak Mun. Bergegas dia matikan hp, adiknya di sana pasti kebinggungan. ¡° Saya bawakan makanan dan minuman untuk nona.¡± ¡° Terimakasih pak mun. Bapak baik sekali.¡± ¡° Tuan muda yang memberikan untuk nona¡± Dia belum benar-benar kehilangan nurani disituasi seperti ini rupanya. ¡° Tuan muda juga berpesan¡± ¡° Apa?¡± Daniah seperti sudah bisa menebak kata-kata selanjutnya pak Mun. ¡° Nona diminta mengembalikan buku ketempat semula, menyusun sesuai warna cover akan membuat tuan muda binggung kalau mau memilih buku. Begitu pesannya.¡± ¡° Sialan!¡± Pak Mun terkejut mendengar kata-kata Daniah. ¡° Haha, maaf pak, saya tidak memaki tuan Saga sumpah.¡± Aku bakar kata-kataku tadi yang mengatakan dia punya hati nurani. ¡° Nona muda diminta segera menyelesaikan pekerjaan di sini dengan segera. Karena tuan muda juga sudah mau tidur.¡± Terus apa hubungannya denganku, aku masih banyak pekerjaan yang harus aku lakukan. Bahkan sampai pagi aku akan tidur di sini. ¡° Tolong pak mun layani tuan Saga ya, saya mau menyusun ulang buku-buku ini ke tempatnya semula. Mungkin saya juga gak akan kembali ke kamar malam ini.¡± ¡° Baik nona. Tapi apa nona tidak mau meminta bantuan pelayan lain untuk membantu nona.¡± ¡° Eh memang boleh.¡± Wajah Daniah berbinar. ¡° Tentu saja, setahu saya tuan muda tidak mengatakan kalau nona harus mengerjakannya sendirian kan.¡± Daniah seperti mendapatkan oase setelah perjalanan panjangnya. ¡° Kalau gitu bapak bisa tolong panggil pelayan yang lain.¡± Pak Mun terdiam. Kenapa lagi ini pikir Daniah. ¡° Kenapa pak?¡± ¡° Tapi masalahnya tidak ada yang boleh masuk keruangan ini tanpa izin tuan muda.¡± ¡° Bunuh saja saya pak!¡± Daniah berteriak kesal. ¡° Terimakasih makanan dan minumannya ya pak, silahkan keluar saya mau melanjutkan pekerjaan saya.¡± Pak Mun dengan wajah tanpa ekspresinya keluar ruangan. Daniah ambruk duduk lagi mengutuki pak Mun, apa laki-laki itu sudah sama tidak warasnya seperti majikannya. Suka melihatnya menderita karena kesal. Kenapa juga sudah memberinya angin segar, lalu membantingnya jatuh ke lantai keras. Awas kamu ya pak Mun. BERSAMBUNG................... Chapter 31 Hubungan Keluarga Ruangan tertinggi gedung Antarna Group Han masuk ke dalam ruangan dengan membawakan segelas jus dan sepiring potongan buah segar. Saga yang melihatnya masuk beranjak dari kursi kerjanya dan duduk di sofa. Setelah Han meletakan nampan di atas meja dia memberikan sendok garbu yang diterima Saga dengan tangan kiri. ¡° Silahkan tuan muda.¡± ¡° Duduklah.¡± Saga menunjuk kursi di depannya. Han melakukan apa yang diperintahkan. Dia melihat Saga mulai makan buah di dalam piring. ¡° Bagaimana perusahaan keluarga Daniah sekarang?¡± potongan pertama habis, dilanjutkan potongan kedua. Eh, barusan tuan muda menyebut nama nona Daniah kan. Dia benar-benar menyebutan nama wanita yang menjadi istrinya itu. ¡°Sudah 100% stabil, saya sudah masukan tiga orang dalam jajaran atas untuk mengawasi semuanya. Apa ada yang anda inginkan menyangkut perusahaan?¡± Saga mengambil potongan kiwi ¡°Makanlah!¡± Eh apa ini? Kenapa akhir-akhir ini aku merasa kiamat seperti mau datang saja, kenapa tuan Saga bisa bersikap aneh begini. Pikiran Han berperang dengan pendapatnya sendiri. Han menerima sendok yang disodorkan Saga, lalu memasukan buah itu kedalam mulutnya. Seperti habis mendapatkan hadiah istimewa dia terlihat sangat bahagia. Dia menyerahkan kembali garbu ke tangan Saga. ¡° Apa Daniah dekat dengan keluarganya?¡± Tuan muda benar-benar menyebut nama nona Daniah. ¡° Tidak¡± Han menjawab singkat. Saat Saga masih terdiam lalu menatapnya itu artinya dia minta penjelasan lebih. ¡° Hubungan nona Daniah dan keluarganya tidak terlalu dekat, kecuali dengan adik laki-lakinya.¡± ¡° Bocah yang bergandengan tangan dengannya waktu pernikahan?¡± ¡° Ia.¡± ¡° Kalau hubungannya dengan ibunya bagaimana?¡± ¡° Ibunya yang sekarang itu hanya ibu tiri.¡± Saga sedikit terkejut. Han melanjutkan ceritanya. ¡°Ibu kandung nona Daniah meninggal saat nona berusia 6 tahun.¡± Sepertinya tuan Saga ingin tahu semua tentang nona Daniah. Han bergumam lalu bersiap melanjutkan informasi detail mengenai Daniah. ¡° Bisa dibilang hubungan mereka tidak baik. Gunawan sendiri hanya sibuk dengan perusahaan, jadi semua urusan anak-anaknya diserahkan pada istrinya. Ketiga anak itu mendapatkan perlakuan yang berbeda dalam keluarga.¡± ¡° Apa Daniah pernah mengalami kekerasan fisik?¡± Saga mengambil gelas jus di meja dan meminumnya. ¡° Tidak, tapi ada info kalau waktu dia kecil dia pernah mau dibuang oleh ibunya. Sebenarnya bukan benar-benar dibuang, tapi dia dibawa ke tempat sepi dan ditinggalkan. Ibunya datang lagi setelah beberapa jam,¡± ¡° Ada kejadian seperti itu?¡± Ntah kenapa sorot mata kesal muncul ditatapan Saga. ¡° Infomasi itu diketahui bahkan oleh para pelayan mereka tapi saat itu Gunawan membiarkan, karena istrinya mengatakan itu adalah cara mendidik nona Daniah supaya menjadi anak yang patuh.¡± Huh! Saga tergelak. Jadi aku harus berterimakasih pada ibu tirinya yang jahat yang sudah membuat ku punya istri yang sangat patuh, atau aku harus mulai membalas dendam karena berani-beraninya dia memperlakukan istri ku seperti sampah. ¡° Jadi ini alasanya kenapa dia jadi anak yang patuh begitu. Kalau aku mengancamnya dengan keluarganya dia langsung berwajah pias. Kupikir karena dia sayang pada keluarga. Mulai sekarang, aku tidak mau Daniah berhubungan dengan keluarganya lagi.¡± Saga memberikan sorot mata tajamnya. Han tahu maksudnya, bahwa ini tidak bisa ditawar lagi. ¡° Apa dengan adik laki-lakinya juga?¡± ¡° Apa mereka benar-benar berhubungan baik.¡± Saga menyerahkan garbu kepada Han. ¡° Habiskan.¡± Lalu dia sendiri menaikan kaki lalu mengambil posisi tiduran di atas sofa. Han mengambil bantal kursi di sampingnya lalu meletakan di bawah kepala Saga. Membuat laki-laki itu bersandar dengan nyaman. ¡° Ia.¡± Han sambil sibuk mengunyah. Melirik Saga yang memejamkan matanya. ¡° Biarkan saja mereka. Selama adiknya tidak menggangu.¡± ¡° Baik. Dan..." " Apa?" " Adik nona Daniah mengajukan permohonan Magang di Antarna Group." Haha, adik yang kau sayangi pun ada dalam genggaman ku. kalau aku menyiksanya sedikit bagaimana reaksi mu ya. pasti semakin menarik. " Bawa dia kekantor pusat." " Baik." Cukup lama keduanya terdiam. Saga memejamkan matanya, sementara Han fokus dengan makanan di depannya. ¡° Carikan pakaian untuk dia pakai waktu pembukaan galery.¡± ¡° Apa anda mau membawa nona Daniah?¡± ¡° Kenapa masih bertanya, untuk itu kan aku menikahinya.¡± Saga terdiam lagi setelah mengatakan kalimat yang membuat Han juga bungkam. Dia menatap tubuh tinggi sempurna yang sedang tertidur di atas sofa itu. Kenapa anda membuat semuanya rumit begini, kalau anda mau saya bisa membawa nona Helena secara paksa dua tahun lalu. Tapi anda membiarkannya pergi dan membuat anda terluka. Sekarang, setelah kabar kepulangannya ketanaah air, anda bukanya menyambutnya, malah menyiapkan cara pembalasan dendam. Dan orang yang paling terluka di sini adalah nona Daniah. Seseorang yang bahkan tidak tahu apa-apa. ¡° Ceritakan tentangnya semuanya?¡± Kenapa ini? Apa dunia sudah mau berakhir? Apa tuan muda sudah jatuh cinta pada nona Daniah. Tapi tidak mungkinkan. ¡° Sebetulnya nona Daniah itu anak yang pendiam kalau dalam lingkungan keluarganya saja. Tapi kalau di luar rumah dia tetap jadi anak yang ceria. Riwayat sekolahnya juga tidak ada masalah. Dia sekolah dan berteman dengan banyak orang.¡± Saga terdengar menarik nafas dalam. Han masih memakan buah di atas meja. Han bicara lagi, semua informasi mendetail tentang kehidupan Daniah yang ia cari sebelum gadis itu menikah dengan Saga. Termasuk informasi tentang ketiga mantan kekasih Daniah. ¡° Sudah kamu habiskan?¡± ¡° Sudah tuan muda.¡± ¡° Siapkan mobil!¡± ¡° Apa anda ingin pergi kesuatu tempat?¡± ¡° Ayo kita bersenang-senang!¡± Saga bangun dengan bersemangat. Walaupun tidak tahu kemana tujuan yang ingin didatangi, Han berjalan di belakang Saga dalam diam. BERSAMBUNG................ Chapter 32 Kunjungan mendadak (Part 1) Jadi ini tempat anda bersenang-senang. Han mengerutkan kening. Mobil sudah berhenti di area parkir ruko berlantai dua. Sekarang mereka tepat berdiri di depan ruko dengan pintu kaca hitam di depannya. Ya, ini tempat kerja Daniah. Han menoleh kebelakannya, sudah ada dua pengawal berdiri siaga. Tidak tahu kenapa, tapi tuan Saga meminta membawa mereka. Mungkin ini adalah caranya bersenang-senang melihat nona Daniah panik dan kebinggungan. Level penyiksaanya sepertinya naik satu tingkatan setiap hari gumam Han. Han masih merasa bingung dengan apa yang dilakukan Saga, tapi dia tetap mengikuti apapun yang dimau tuannya ini. Dia membukakan pintu kaca. ¡° Permisi¡± Han memberi salam. Ketiga wanita yang ada diruangan itu terkejut. Mereka berdiri, bahkan ada yang menjatuhkan hp yang masih dia pegang. Siaga terlihat dari wajah mereka. ¡° Maaf siapa ya?¡± mereka bertanya dengan nada curiga dan tubuh yang siaga. Biasanya tidak pernah ada yang datang ke ruko ini kecuali para kurir paket. Dan dilihat dari tampilan tamu tidak diundang ini. Mereka memakai setelan jas lengkap dengan dasi. Terlihat bukan seperti orang biasa. ¡° Apa Daniah ada?¡± Saga yang menjawab dengan pertanyaan, Han sampai terkejut dibuatnya. Ini benar-benar diluar kebiasaan Saga. Wajah dingin dan tidak bersahabatnya tiba-tiba memudar begitu saja. ¡° Mbak Niah sedang keluar membeli makanan.¡± Dari lantai atas turun dua orang, ikut berkerumun dengan yang lainnya. ¡° Eh bukannya itu Saga Rahardian Wijaya.¡± ¡° Apa kalian mengenal ku?¡± Lagi-lagi Saga yang menjawab. Dunia benar-benar mau kiamat. Han memekik dalam hati. Saga meladeni pembicaraan orang lain. Dengan bahasa manusia lagi. Tahu artinya bahasa manusia. Artinya dia bicara tanpa sorot mata tajam dan bibir yang tersenyum sinis. ¡° Siapa dia?¡± gadis di sebelahnya menyenggol. ¡° Presdir Antarna Group.¡± Wajah yang lainnya terlihat sangat terkejut. tentu siapa yang tidak mengenal kalau di sebutkan Antarna Group. Han maju menjelaskan, sementara Saga sudah duduk di kursi plastik yang ada dilantai satu. Mengedarkan pandangannya keseluruh ruangan. Tumpukan pakaian di rak stenlis, rapi berjajar. Beberapa kertas berserak, dan ada paket yang sudah terbungkus dengan rapi. Daniah menenteng dua kantong plastik di tangannya, begitu juga Tika di sampingnya. Mereka berjalanan beriringan, sambil bercerita hal remeh. Diselingi dengan tawa kecil. ¡° Mbak siapa mereka?¡± Tika menunjuk dua orang yang berdiri tepat di depan ruko. Daniah langsung terperanjak, dia melihat dua mobil terparkir. Satu mobil yang ia kenali milik Saga. Dan satunya tidak tahu tapi saat ia melihat dua penjaga, dia benar-benar yakin ada tamu tidak diundang yang datang ke tempatnya. Bergegas dia berlari mendekat menghampiri salah satu penjaga. ¡° Nona muda.¡± Dia mengganguk sopan. ¡° Kenapa kalian di sini?¡± Daniah panik, Tika di belakannya menyusul mendekat. ¡° Apa tuan Saga ada di dalam.¡± Pengawal itu menggangukan kepala. Rasanya kaki Daniah seperti kehilangan penopang, dia ingin ambruk saja atau tidak, dia ingin kabur. Tapi bagaimana dengan karyawannya yang ada di dalam. Daniah membuka pintu kaca perlahan, yang pertama dilihatnya tentu saja sekertaris sialan itu. Bagaimana dia bisa membawa Saga ke tempat ini, tanpa pemberitahuan pikirnya. ¡° Nona muda.¡± Han menyapa dengan masih bisa tersenyum seperti itu. Para karyawan sudah berisik berdiri di sudut berbeda. Daniah mengangkat bahunya pura-pura binggung. Daniah mencari di mana dia, di mana suaminya. dia duduk di kursi, bahkan tanpa melepas sepatu. Ya, ya, kau rajanya bisa melakukan apapun yang kau mau. Daniah mendekat, Saga bangun dari tempat duduknya. ¡° Apa yang anda lakukan di sini tuan?¡± Daniah bicara dengan suara sangat pelan. Berharap karyawannya tidak mendengar apa yang terucap dari mulutnya. Hal yang diluar dugaan siapa pun terjadi, bahkan Hanpun terkejut. Saga melingkarkan tangannya di bahu Daniah. Lalu menyandarkan kepalanya di bahu gadis itu. ¡° Apa kau tidak mau mengenalkan suami mu pada teman-teman mu?¡± Brug! Tika yang baru masuk menjatuhkan plastik makanan yang dia pegang. Wajahnya terlihat sangat terkejut. Daniah melihat yang lain, ekspresi mereka tidak jauh berbeda. Kalau saja dia bisa membungkam mulut laki-laki yang menyandarkan kepala di bahunya ini. ¡° Tika, ajak yang lain makan di luar dulu ya.¡± Daniah memberi sorot mata memohon padanya. Untung Tika cepat tanggap, dia segera mengambil plastik yang dia jatuhkan tadi. Dan menarik yang lainnya untuk keluar. Setelah semua orang keluar Saga melepaskan tangan yang melingkar di bahu Daniah. ¡° Apa tidak ada tempat duduk yang nyaman disini?¡± Apa! Setelah melemparkan bom dasyat kau bisa berwajah tanpa dosa begitu. Lihat itu, bagaimana nanti aku menjelaskan pada karyawan ku. Wajah panik, kuatir dan penuh tanda tanya itu, bagaimana aku menjelaskan pada mereka. ¡° Ada sofa di atas, apa...¡± Daniah belum menyelesaikan kalimatnya Saga sudah berjalan naik meninggalkannya mematung. Sekertaris Han sudah menyusul naik ke lantai dua berjalan patuh di belakangnya. Kenapa kalian datang kesini bedebah gila! BERSAMBUNG............ Chapter 33 Kunjungan mendadak (Part 2) Daniah masih mematung di tempatnya berdiri, mencoba mencerna apa yang terjadi. Tapi sebanyak apapun dia mencoba berfikir, dia tetap tidak mendapat alasan apa pun, kenapa laki-laki itu sampai datang ke tempatnya bekerja. Memproklamirkan dia sebagai suami. Kecuali, ya kecuali satu hal terpikir Daniah. Menaikan level penyiksaannya. ¡° Nona muda.¡± Sejak kapan laki-laki ini sudah berdiri di depan ku. Sekertaris han berdiri didepannya dengan wajah masih tersenyum, semakin membuat kekesalan naik keubun-ubun. Daniah reflek memukul lengan lelaki di hadapannya. Han terkejut saat tangan Daniah kembali memukulnya untuk kedua kali. Ini pertama kalinya, ada yang kurang ajar mendaratkan tangan di tubuhnya. ¡° Nona.¡± Suara Han datar terdengar. ¡° Kenapa membawanya ke sini?¡± berteriak tapi dengan suara pelan. Takut yang di lantai dua mendengar. ¡° Tuan muda yang mau datang ke sini.¡± Saya juga tidak tahu kenapa tuan muda mau datang kesini. ¡° Kenapa?¡± Daniah melotot. ¡° Saya tidak tahu nona.¡± Plak! Tangan Daniah kembali memukul lengan Han. Han benar-benar dibuat terkejut. ¡° Tidak mungkin kamu tidak tahu kan.¡± Gadis itu lengan yang dipegangnya. Belum selesai urusan dengan Han, tiba-tiba sebuah suara yang memecah ketengan pandangan Han pada Daniah. ¡° Kau mau mati, membuat ku menunggu!¡± Dari lantai dua terdengar teriakan. Daniah terperanjak, dia melepaskan cengkraman di lengan Han dan berlari menaiki tangga. Sementara Han menyentuh lengan yang tadi di cengkram Daniah. Ternyata anda kuat juga ya nona. Senyum tipis dari bibirnya, lalu dia melangkah dan duduk dikursi plastik di dekat tangga. Daniah berhenti tepat di depan pintu. Melihat Saga duduk bersandar di sofa yang biasanya dia pakai tidur. ¡° Duduk!¡± Saga menepuk ruang kosong di sampingnya saat melihat Daniah muncul. Hati-hati Daniah melangkah, lalu duduk di tempat yang ditunjuk Saga. Tangan Daniah sudah gemetar. Apalagi Saat Saga lagi-lagi menyentuh rambutnya. Rambutnya yang sekarang terikat tinggi. Tunggu! Rambut, Tidakkk! Penampilan ku. Bagaimana ini. ¡° Ternyata seperti ini penampilan mu yang sesungguhnya.¡± Tubuh Daniah membeku. Saat tangan Saga menyusuri pipi dan lehernya dia hanya bisa mengigit bibirnya. ¡° Apa baju ini ada dilemari pakaianmu?¡± ¡° Tidak tuan, ini pakaian saya yang saya bawa dari rumah.¡± Bagaimana ini, aturan berpakaian jelas-jelas ada di draf berlembar-lembar yang ditulis sekertaris Han. Daniah berusaha mengolah pikirannya, menemukan alasan yang paling masuk akal yang bisa dia berikan. ¡° Terserah kau mau pakai baju apa diluar rumah aku tidak perduli.¡± Dasar pendusta, kau bilang tidak perduli, terus kenapa kemari. Mau menyiksa ku. Tidak cukup di rumah, di luar rumah juga harus gitu menyiksa ku begini. ¡° Kau tidak senang aku disini.¡± Saga menyeringai. ¡° Bagaimana mungkin saya tidak senang tuan, anda datang ke tempat jelek seperti ini merupakan kehormatan buat saya.¡± Daniah menepukan kedua tanganya di depan wajahnya, sambil tersenyum ceria. ¡° Kalau kau tau berterimakasihlah.¡± Ya Tuhan, ada ya makhluk tidak tahu malu seperti ini. ¡° Terimakasih tuan atas kunjungan anda.¡± Sekarang pergilah, pergi dari sini. nanti bagaimana aku menjelaskan pada yang lain coba. Dan apa itu tadi, suami, kenapa juga kau bilang kau suamiku. ¡° Kau tidak mau memberi ku minum.¡± ¡° Ah ia minum. Sebentar tuan, saya turun sebentar.¡± Daniah beranjak, setengah berlari menuruni tangga. Dia melirik tajam pada sekertaris Han yang sedang duduk sambil sibuk dengan hpnya. Laki-laki itu mengganguk dan tersenyum. Daniah melengos masam. Daniah mengambil bungkusan makanan yang tadi dibelinya. Lalu naik lagi kelantai dua. Melewati sekertaris Han tanpa menoleh. Dia menarik meja kecil lalu membuka bungkusan plastik makanan yang dibawanya. ¡° Apa itu?¡± Saga melirik. ¡° cilok dan somay, apa anda mau mencoba.¡± Daniah membuka cup minuman, dia tadi membeli dugan jeruk dan jus sirsak. ¡°Anda mau yang mana?¡± tunjuknya sambil mengangkat gelas dikedua tangannya. ¡° Apa lagi itu?¡± ¡° Ini dugan yang diberi jeruk peras, dan ini jus sirsak.¡± Daniah menyodorkan dua gelas agar dipilih salah satu. ¡° Berikan semua pada ku.¡± Apa! Kenapa ada orang tidak tahu malu begini si. Saga menyedot jus sirsak terlebih dahulu, lalu terdiam dan mencoba merasainya. Lalu dia mengambil gelas satunya dari tangan Daniah. Menyedotnya lagi dengan cara yang sama. Lalu setelah menimbang beberapa saat sepertinya dia memilih gelas dugan dan jeruk peras. ¡° Minumlah.¡± Saga menyodorkan gelas jus sirsak ke depan wajah Daniah. Apa! Itukan bekas bibir anda tuan. Bukannya seperti ciuman tidak langsung. ¡° Tidak apa-apa tuan, kalau tuan mau minum semuanya.¡± ¡° Ambil! Aku memberi mu bukanya berterimakasih, apa sekarang kau sedang membantah ku.¡± ¡° Tidak tuan.¡± Grap, Daniah mengengam tangan Saga. Lalu mengambil jus sirsak di tangannya, ¡° Terimakasih minumannya, saya akan menikmatinya dengan sukacita.¡± Inikan minuman ku! Kenapa aku yang harus berterimakasih. Aku minum bekas bibir mu lagi. ¡° Minum!¡± ¡° Baik tuan.¡± Dan aku menghisap bekas bibir pria gila ini. ¡° Apa anda mau mencicipi ini.¡± Daniah mengambilkan satu buah cilok dengan tusukan bambu. ¡° Kau sedang tidak berencana meracuni ku dengan makanan aneh itu kan?¡± Daniah tergelak. Sementara Saga terperanjak melihat tawa di bibir Daniah, untuk pertama kalinya Saga melihat gadis di depannya itu tersenyum tanpa dibuat-buat. ¡° Lihat, enak lho. Anda tidak mau?¡± ¡° Habiskan saja sendiri.¡± ¡° Aaa, baik-baik.¡± Daniah kembali menyuapkan cilok berbumbu kacang ke dalam mulutnya. Sore itu mereka bicara selayaknya sesama manusia. Saga bertanya tentang apa yang dilakukan Daniah sepanjang hari di ruko ini. Daniahpun menjawab dengan antusias, seperti obrolan dengan teman. Mereka menghabiskan minuman dalam gelas mereka masing-masing. BERSAMBUNG................ Chapter 34 Sekertaris Han (Part 1) Han menutup pintu mobil setelah Saga masuk, lalu diapun masuk dan duduk di belakang kemudi. Melajukan kendaraan dengan kecepatan sedang. Membelah keramaian malam kota. Larutnya malam semakin membuat jantung kota ramai dibeberapa titik. Sekertaris Han, begitulah dia dipanggil. Tangan kanan sekaligus orang berpengaruh kedua di Antarna Group. Jika Saga hanya memikirkan lalu mendesah, ntah kenapa laki-laki itu sudah tahu apa yang harus dia lakukan. Dia berhati dingin, wajahnya yang juga tampan namun jarang sekali tersenyum. Tentu saja dia hanya menunjukan wajah seperti anjing manis di hadapan tuannya. Dia bisa hanya duduk diam, atau berdiri lama di samping Saga tanpa melakukan apapun. Han melirik kaca spion, akhir-akhir ini dia melihat perubahan yang cukup signifikan dalam diri laki-laki yang sudah dilayaninya sekian lama itu. Apalagi dengan kejadian sore tadi di ruko milik Daniah. Apa gadis itu benar-benar sudah berhasil mengubah Tuan Saga. Sekali lagi ia mencoba mengurai benang rumit di kepalanya tentang hubungan Saga dan Daniah. ¡° Apa yang mereka inginkan?¡± Perkataan Saga membuyarkan konsentrasinya. Tapi dia bisa menjawab cepat. ¡° Proyek pencahayaan danau hijau.¡± ¡° Mereka tahukan, aku tidak akan memaafkan sekecil pun kesalahan yang mereka buat nanti.¡± Suara desahan Saga. ¡° Ia tuan.¡± Saga mendesah lagi, kenapa dia lagi-lagi susah sekali keluar dari lubang ini. Dia ingin menghancurkan danau hijau tanpa sisa. Menimbunnya dan menjadikannya tanah yang rata. Tapi saat ia sudah memberi Han perintah dia terdiam. Hanpun sepertinya sangat tahu dirinya, karena dia tidak melakukan apa yang Saga perintahkan. Hingga akhirnya Saga malah membuat Danau Hijau seperti sekarang. Saya akan memastikan Danau hijau menjadi seperti yang anda inginkan tuan muda. Han memasuki area parkir, para penjaga sudah mengenai mobil siapa yang datang. Mereka bergegas mendekat, menundukan kepala hormat saat Saga keluar dari kendaraan. Han tahu, sebenarnya Saga tidak terlalu suka tempat ini, hanya ada alkohol yang bahkan tidak dia sentuh. Bau parfum wanita yang menyengat, wanita yang duduk di sampingnya yang bahkan tidak diizinkan untuk menyentuhnya. Tapi di tempat inilah biasanya kesepakatan bisnis berlangsung. Han membukakan pintu dan dia berjalan di belakang tuannya. Saat melihat Saga otomatis semua yang ada di ruangan bangun. Tidak ada suara kecuali langkah kaki yang terdengar. Han memperhatikan kedua orang yang sudah tergopoh menyambut. Wajah mereka terlihat pucat karena tidak tahu apa yang akan terjadi di ruangan ini. Apakah mereka berhasil meyakinkan tuan Saga atau pulang hanya dengan membawa kehinaan. ¡° Selamat malam tuan Saga.¡± Mereka mengucapkan salam sambil menundukan kepala. Terjadi pembicaraan basa-basi yang isinya hanya menjilat Tuannya. Han duduk menatap mereka tanpa bergeming sedikit pun. Lalu masuklah dua orang wanita cantik membawakan minuman soda. Ya itu yang diminum saga. ¡° Selamat malam tuan.¡± Sapa mereka dengan manis. Han menolak ketika salah satu wanita akan duduk di sampingnya. ¡° Duduklah disamping tuan Saga.¡± Ucapnya dingin. Gadis itu sudah menciut, lalu duduk di samping kanan Saga. Sementara Han duduk di kursi di sebelah kiri Saga. Dua laki-laki dari perusahaan Light and Desain ditemani oleh seorang wanita masih-masing. Hanya Han yang sendirian. Duduk diam tanpa ekspresi, hanya mengamati yang terjadi di sekitar. ¡° Tuan Saga karena anda Danau hijau akan terlihat jauh semakin indah.¡± Menjilat satu. ¡° Sekarang saja sudah bisa terlihat.¡± Perkataan selanjutnya. ¡° Hanya tender pencahayaan malam saja yang belum diputuskan, apakah anda bersedia memberi kami kesempataan.¡± ¡° Kami akan melakukan yang terbaik.¡± Saga menunjuk gelas minumannya. Wanita di sebelahnya sigap mengambilkan. Dia menyerahkan dengan hati-hati gelas kaca berbuih putih itu. ¡° Apa anda mau es tuan.¡± ¡° Hemm.¡± Dia meletakan dua butir es kedalam gelas. ¡° Habiskan!¡± Saga menyodorkan gelasnya kepada CEO yang banyak bicara di depannya tadi. Laki-laki itu gelagapan lalu menerima gelas itu dengan kedua tangannya. ¡° Alkohol tidak baik untuk kesehatan mu, jadi minum soda saja ya.¡± ¡° Baik tuan saya akan mengingatnya.¡± Dia menghabiskan minumannya dalam beberapa kali tegukan, walaupun dahinya mengeryit, karena ternyata soda menusuk tengorokannya yang tidak terbiasa meminumnya. ¡° Terimakasih tuan.¡± ¡° Aku sudah melihat proposal pengajuan perusahaan mu, apa kau bisa memastikan semua yang ada diproposal itu bisa teraplikasi seratus persen.¡± ¡° Saya akan melakukan yang terbaik taun Saga.¡± ¡° Bukan yang terbaik yang bisa kau lakukan, tapi aku mau hasil yang terbaik. Apa kau bisa melakukannya?¡± ¡° Kami siap memberikan hasil yang terbaik tuan. Berikan kami kesempatan.¡± Lali-laki itu menundukan kepalanya dalam. Sepertinya dia bahkan ingin berlutut. Namun karena takut akan terlalu berlebihan dan membuat tuan Saga tidak suka jadi dia mengurungkan niatnya. Han bisa melihat kedua tangannya sudah gemetar dan keluar keringat. Yang ia usap beberapa kali di celananya. Cih, awas saja kalau kau cuma bisa bicara dan tidak bisa merealisasikan proposalmu, bukan hanya perusahaan mu saja yang hancur. Kaupun harus ikut hancur di dalamnya. Sementara itu Saga tidak memperdulikan janji-janji yang diucapkan CEO Light and Desain, matanya beralih pada wanita di sebelah kirinya, disentuhnya rambut hitam lurus yang jatuh sampai ke bahu itu. Wanita itu menoleh, tidak tahu karena terpesonanya dengan tatapan Saga tangannya terulur tanpa sadar menyentuh wajah Saga. Gadis itu terperanjak kaget, mundur membentur meja. ¡° Maafkan saya tuan.¡± Tidak hanya gadis itu, wajah semua orang sudah terlihat pias. Dua laki-laki dari perusahaan yang mengajukan tander pencahayaan danau hijau, beserta ketiga gadis lain yang berada di ruangan itu. Mereka berlima sudah gemetar takut. ¡° Maafkan saya tuan.¡± Beraninya kau menyentuh tubuh tuan Saga yang berharga. Han menarik lengan wanita yang tadi menyentuh pipi Saga dengan kasar. Menjauh dari meja. Plak! Tamparaan keras di pipi gadis itu dua kali, membekas merah yang menyayat hari. ¡° Bukankah sudah kuperingatkan berkali-kali berhati-hati dengan tubuh mu, tuan Saga tidak suka disentuh.¡± Gadis itu bersimpuh, berlulut, memohon. ¡° Maafkan saya tuan, maafkan saya.¡± Ketegangan diantara semua orang, mereka tahu gadis itu sudah melakukan kesalahan yang fatal. Rumor yang mengatakan Saga sama sekali tidak suka bersentuhan dengan orang lain sudah menyebar dikalangan petinggi perusahaan. CEO muda itu jarinya, melirik Saga yang hanya memberi tatapan dingin. Apa gadis itu akan mati pikirnya. Sekertaris Han benar-benar sesuai dengan gosipnya, kejam dan berdarah dingin. Han sudah menarik rambut gadis yang berlutut dan mau menyeretnya keluar ruangan. ¡° Maafkan saya tuan, ampuni saya, saya mohon tuan.¡± Dia sudah menangis. Saga menatap gadis yang diseret Han, mendengar rintihannya tiba-tiba sepasang bola mata muncul di kepalanya. Tangis Daniah yang memohon padanya. ¡° Biarkan dia Han.¡± BERSAMBUNG.................... Chapter 35 Sekertaris Han (Part 2) Han berhenti, dia menatap Saga yang baru saja mengatakan perintahnya. Tadinya dia berfikir dia salah mendengar, tapi saat melihat mata Saga dia melepaskan rambut gadis itu. ¡° Maafkan saya tuan, Karena sudah membuat keributan.¡± Dia menundukan kepalanya. Apa aku baru saja melihat tatapan lembut tuan Saga pada gadis ini. ¡° Bawa dia kemari.¡± Han menarik lengan gadis yang masih merintih itu, sakit, takut semua bercampur di dadanya, tubuhnya gemetar. Han mendorong tubuhnya sampai berlutut di dekat meja. ¡° Kenapa kau membuatnya menangis, duduk lah di sini.¡± Saga menepuk kursi kosong di sebelah kirinya. Tenpat gadis itu tadi duduk. Semua orang yang ada di dalam ruangan itu semakin gemetar, menciut takut. Berfikir apa Saga ingin menghukum gadis itu dengan tangannya sendiri. Mereka saling pandang mengisyaratkan mereka ingin kabur dari tempat itu sekarang juga. Tapi jangankan beranjak untuk menarik nafas saja mereka lakukan tanpa bersuara. Cih, Han melihat mereka dengan dingin. Tuan Saga memandang wajah wanita di sampingnya, masih tersisa airmata di pelupuk mata gadis itu. ¡° Maafkan saya tuan.¡± Lirih masih terdengar dari bibir mungilnya. ¡° Kau membuat pipinya merah Han.¡± ¡° Maafkan saya tuan.¡± Han masih berdiri. Yang lain sudah menundukan kepala, tidak berani melihat adegan selanjutnya. Mereka benar-benar berfikir ini adalah akhir tragis gadis di samping Saga. ¡° Ambilkan es untuk mengompres pipinya.¡± ¡° Baik tuan.¡± Han beranjak keluar ruangan, sementara yang lain mulai berani mengintip melalui ekor mata. Gadis itu masih baik-baik saja, pikir mereka bersamaan dalam hati. Han muncul dari arah pintu dengan membawa alat kompres. ¡° Tempelkan di pipi mu¡± ¡° Baik tuan, terimakasih.¡± Gadis itu meraih kompres yang di berikan Han, dia melirik laki-laki yang sudah menamparnya tadi. Wajahnya datar tanpa ekspresi, tapi begitu saja membuat tanganya kembali gemetar. Han kembali duduk di tempatnya tadi. ¡° Kenapa kalian diam saja.¡± Saga menoleh pada makhluk hidup yang ada di ruangan ini . seperti baru saja kembali mendapatkan nyawa mereka tersentak kaget. ¡° Ia tuan, apa boleh saya menuangkan minuman anda.¡± Saga meraih gelasnya, wajah CEO muda itu berbinar senang. Dan pesta kembali dilanjutkan seperti tidak pernah terjadi apapun sebelumnya. ¡° Kedepannya wisata keluarga juga sangat diminati.¡± ¡° Saya sudah tidak sabar menantikannya.¡± Obrolan yang isinya hanya menjilat, Han sudah terlalu muak mendengarnya. Semua orang bicara dengan sangat hebat di hadapan tuan Saga, tapi selalu saja membuat kesalahan bodoh. Dia melirik gadis yang ada di samping Saga, pipinya yang memerah dia tampar tadi. Sudah bisa tersenyum dan tertawa lagi. Dia terlihat gemetar lagi saat bersitatap mata dengan Han. ¡° Kenapa rambutmu begini, apa kau tidak tahu, rambut yang bagus itu seperti ini.¡± Saga mengulung rambut gadis itu di tangannya. Gulung, lagi dan lagi. Lalu dia lepaskan sampai terbentuklah rambut bergelombang. Han mengeryit. Apa! Tuan muda tidak salah minum alkoholkan. Itukan rambut milik nona Daniah. Wajah Han seperti baru saja menemukan harta karun yang sudah lama terpendam di dasar bumi. Jadi hati anda sudah sedikit demi sedikit terbuka untuk nona muda. Han kembali mencoba menguraikan banyak kejadian yang terjadi akhir-akhir ini. ¡° Ia, tuan saya akan buat rambut saya bergelombang seperti yang anda katakan.¡± Ucapnya dengan terbata namun jelas. ¡° Benar kan rambut yang seperti ini yang paling pagus.¡± Saga mengulung rambut wanita di sebelah kanannya dan meminta pendapat yang lain. Cepat semua menjawab dengan mengangukan kepala. Walaupun tidak paham kenapa tiba-tiba Saga membahas masalah rambut. Yang penting setuju saja, biar semua selamat begitu pikir mereka. ¡° Berapa biaya untuk membuat rambut bergelombang begitu?¡± Saga menatap Han. ¡° Kurang lebih dua juta tuan muda.¡± Ingatan tentang laporan pemakaian kartu kredit Daniah. Han melihat Saga mengeluarkan dompet di saku celananya. ¡° Aku tidak punya uang cash ternyata. Berikan no rekening mu pada Han, dia akan mentransfer uang, pakai itu untuk membuat rambut mu bergelombang, supaya indah dilihat.¡± ¡° Ba, baik tuan.¡± Tubuh gadis itu gemetar lagi, saat tangan Saga menyentuh rambutnya sekali lagi. ¡° Apa kau mau juga¡± Saja bicara dengan gadis di sebelahnya lagi. ¡° Ia tuan.¡± Menjawab sekedar untuk menyelamatkan dirinya. ¡° Han, berikan mereka uang untuk merubah rambut mereka¡± Saga menatap para wanita yang ada di dalam ruangan. ¡° Baik tuan muda.¡± Saga bangun dari duduk, yang lainnya juga langsung ikut bangun. ¡° Lanjutkan pesta kalian, hubungi Han untuk kontrak selanjutnya¡± ¡° Baik tuan, terimakasih, terimakasih atas kebaikan anda.¡± CEO dan orang di sampingnya langsung menundukan kepalanya dan mengucapkan terimakasih berulang-ulang. Malam itu ntah kenapa Han merasa kalau Saga benar-benar sudah kembali seperti dua tahun lalu. BERSAMBUNG................. Chapter 36 Saga Sakit (Part 1) Pagi hari, Saga yang terlambat bangun sedang mandi. Daniah masuk ke dalam kamar setelah mengisi perutnya di dapur. Dia sudah kelaparan, kalau menunggu Saga untuk sarapan bisa-bisa dia pinsan. Pagi ini laki-laki itu terlambat bangun, di bawah tadi dia sudah melihat sekertaris Han datang. Sibuk dengan urusannya sendiri di ruang kerja Saga. Ibu mertua yang panik karena tidak melihat anaknya, adik ipar juga begitu sudah meributkan kenapa kakak tersayang mereka tidak muncul. Huh! Daniah menjatuhkan diri ke kursi. Walaupun dia menyebalkan, tetapi banyak yang sayang padanya ternyata. Daniah melihat layar ponselnya lama. Berfikir keras. Semalam dia sudah mendapatkan sedikit informasi mengenai wanita bernama Helena itu dari pelayan. Ya, dia harus hati-hati juga, jangan terlalu terlihat antusias ketika bertanya, nanti mereka curiga. Biarkan saja pelayan itu menduga bahwa dirinya mencari tahu karena cemburu. ¡° Nona Helena itu wanita yang baik dan juga cantik.¡± Begitu obrolan pertamanya dengan pelayan yang sudah mulai akrab dengannya. Daniah nyengir. ¡° Maafkan saya nona, nona Daniah juga sangat baik dan cantik juga.¡± Haha, matamu sedang berbohong tuh. Aku cukup tahu diri kok. ¡° Gak papa, makanya aku penasaran seperti apa wanita yang dicintai tuan Saga, apa dia sering kemari dulu.¡± ¡° Sering.¡± Dia menjawab cepat. ¡°Tuan Saga sering membawanya pulang.¡± ¡° Kenapa ya mereka sampai berpisah?¡± Daniah mengetuk-ngetuk meja, supaya tidak terlihat kalau dia penasaran sekali. ¡° Saya juga tidak tahu alasan pastinya nona, tapi kalau nona Jenika pernah mengatakan katanya nona Helena pergi keluar negri. Apa nona Daniah merasa cemburu ya?¡± ¡° Haha tentu saja.¡± Daniah memukul pundak pelayan wanita di depannya. Cemburu, sudah gila apa aku sampai cemburu. Ini misi untuk mempertemukan tuan Saga dengan cintanya, agar aku bisa lari dari penjara ini. Plak! Handuk kecil menempel di wajah Daniah yang sedang tenggelam dalam lamunan. Dia langsung terbangun dari duduk menjatuhkan hp yang dipegangnya. Eh, kenapa dia tidak memakai pakaian kerja. ¡° Minggir, keringkan rambutku!¡± Daniah menyingkir memberi jalan Saga untuk duduk, lalu dia berjalan ke belakang kursi dan mulai mengeringkan rambut. ¡° Apa anda tidak bekerja Tuan?¡± bertanya karena penasaran saja. ¡° hemm, aku sedang sakit sekarang.¡± Apa! Sakit, memang kau bisa sakit juga, kamukan bukan manusia. Penyakit saja pasti malas mendekatimu. ¡° Tapi anda terlihat baik-baik saja.¡± Sambil mengeringkan rambut dengan hati-hati dan lembut. ¡° Kalau aku bilang aku sakit berarti sakit.¡± Saga mendongakan kepalanya, menatap Daniah tajam. Wajahnya masam. ¡° Baik tuan, anda sedang sakit, saya akan mengeringkan rambut anda dengan hati-hati.¡± Wajah Daniah merengut, ya, ya, kau rajanya. Terserah mau mengatakan apa. Saga membungkukan badan, mengambil benda kecil yang dijatuhkan Daniah tadi. ¡° Hp zaman kapan ini?¡± ¡° Saya membelinya setahun yang lalu.¡± Sudah panik. ¡° Kau lupa yang aku bilang, kalau tidak memakai kartuku lebih dari 20 kali kamu bakal dihukum.¡± ¡° Saya ingat tuan, saya akan memakainya.¡± Akan kubeli seisi dunia kalau perlu, teriak Daniah. Dalam hati ya beraninya. ¡° Ganti hpmu dengan keluaran terbaru.¡± ¡° Baik tuan.¡± Menjawab pasrah biar cepat selesai urusan. Eh kenapa ini. Saga menarik jari Daniah, menempelkannya pada pemindai sidik jari di layar hp. ¡° Tuan itu hp saya.¡± Terlalu banyak dosa di dalam hp itu, Daniah panik sendiri. ¡° kenapa? Jiwa dan ragamu saja miliku, apalagi cuma benda begini. Selesaikan pekerjaanmu!¡± Mendengarnya Daniah sudah tidak punya kata-kata untuk membalas lagi. ¡° Baik tuan.¡± Pasrah. ¡° Manis sekali, kenapa tidak sekalian kau menikah dengan adikmu.¡± Saga melihat layar depan hp Daniah. ¡° Diakan adik saya¡± Saga masih bicara kemana-mana, intinya cuma menghina. Setelah selesai mengeringkan rambut Daniah keluar kamar menyampaikan pesan, kalau Saga ingin makan bubur karena katanya sedang sakit. Diluar dugaan semuanya terlihat sangat panik. Pak Mun langsung memberikan instruksi kepada para koki. Semetara ibu memberikan pandangan penuh kuatir. Daniah ingin sekali tertawa sekaraang, Hei, laki-laki gila itu baik-baik saja kenapa kalian bersikap seolah-olah dia mau mati saja. ¡° Nona anda harus kembali ke kamar sekarang.¡± Han mengangkat tangannya, mempersilahkan Daniah berjalan didepannya. Apalagi si orang ini ¡° Saya menunggu sarapan tuan Saga.¡± ¡° Pak Mun akan mengantarnya ke kamar kalau sudah siap nanti, anda harus melayani tuan Saga karena dia sedang sakit.¡± Walaupun berwajah kecut Daniah akhirnya menuruti kata-kata Han. ¡° Hei sekertaris Han, dia itu tidak sakit beneran.¡± Daniah menoleh pada laki-laki di belakangnya. Dia tidak bergeming. ¡° Lihat sendiri sana.¡± Masih berjalan mengikuti dan tidak bergeming. ¡° Sekertaris Han, apa anda tahu kapan Helena akan kembali?¡± Han menghentikan langkah kakinya, tangannya yang berpegang pada tangga terkepal. Daniah merinding melihat sorot mata tajam Han. ¡° Akukan hanya bertanya, kenapa serius sekali.¡± Walaupun tahu Han sedang menahan emosinya, Daniah tetap bicara sambil bersenandung ria. Karena dia tidak tahu bahwa sebenarnya orang yang harus lebih dia waspadai adalah laki-laki di hadapannya. Apa yang anda rencanakan nona Daniah, kalau tuan Saga meginginkan anda maka sampai kapanpun saya tidak akan membiarkan anda lari. walaupun anda menolak sekalipun. BERSAMBUNG Chapter 37 Saga Sakit (Part 2) Daniah memasuki kamar, disusul oleh Han di belakangnya. Eh kemana dia, tadikan dia duduk di sofa, ya ampun, apa itu, dia benar-benar berakting seperti orang sakit sungguhan. Wah, wah, aku sampai kehilangan kata-kata. Saga duduk bersandar di atas tempat tidur. Dia meluruskan kaki sambil melihat hp. ¡° Dari mana saja kamu? Sudah kubilang aku sakit masih saja pergi lama-lama.¡± Langsung mencecar, setelah melihat Daniah mendekat. ¡° Maaf tuan saya menunggu sarapan anda.¡± Huh, kalau sakit kenapa masih semenjengkelkan ini. Sepertinya tenagamu sama sekali tidak berkurang. ¡° Apa anda baik-baik saja tuan muda, apa saya perlu siapkan pesawat untuk cek up di negara XXX.¡± Daniah menutup mulutnya hampir saja keceplosan tertawa. Tapi sialnya kedua orang itu mendengar dan menoleh bersamaan ke arahnya. ¡° Kau menertawakanku?¡± Saga menuding dengan sorot mata kesal. ¡° Tidak tuan mana saya berani menertawakan anda.¡± Tapi kalian benar-benar lucu si, lagi main drama ya. ¡° Duduk!¡± Saga menarik kakinya, agar ada tempat Daniah duduk di tempat tidur. Gadis itu menurut, setelah dia duduk tiba-tiba Saga menarik kakinya dan meletakannya di pangkuan Daniah. Gadis itu terkejut. Apalagi Han yang berdiri di sampingnya. Tuan Saga bahkan membiarkan nona Daniah menyentuh kakinya. Sepertinya sekarang dia sudah mulai meyakini fakta yang dia kumpulkan. Kalau Saga sudah mulai membuka hatinya pada Daniah. ¡° Kakiku sakit.¡± Ha,,ha,,ha.. apa-apan dia ini. Daniah tertawa dalam hatinya. ¡° Saya akan menghubungi dokter Harun untuk memeriksa anda, apa tuan muda tidak butuh perawat.¡± Han berkata lagi. ¡° Akukan sudah ada dia.¡± Tunjuk Saga dengan ekor matanya sambil menyeringai licik. Daniah merinding melihat senyuman itu. ¡° Baik.¡± Ketukan pintu terdengar, lalu pak Mun muncul dengan membawa nampan berisi makanan. Han memberi instruksi untuk memanggil dokter keluarga. Pak Mun mengangukan kepala lalu permisi keluar. Han menyerahkan mangkok berisi bubur ke depan Daniah yang sedang memijat kaki Saga. Gadis itu tersenyum pada Han, mengatakan kalau tangannya sedang sibuk bekerja. Tapi Saga malah mengangkat kakinya, menekuk, lalu memindahkannya ke belakang tubuh Daniah. Sekarang tangan anda menggangurkan? Begitu sorot mata yang diberikan Han. Membuat Daniah kalah lagi. Dia menerima mangkok berisi bubur dengan kedua tangannya, masih sambil tersenyum, palsu. Kenapa aku harus melakukan hal seperti ini si. ¡° Kau mau membakar mulutku!¡± Saga berteriak kesal. ¡° Maaf tuan.¡± Akukan tidak tahu kalau ini masih panas. ¡° Tapi meniup makanan panas jugakan tidak boleh.¡± Gumam-gumam pelan. ¡° Andakan bisa menempelkan di bibir anda untuk mengetes apakah buburnya sudah dingin atau belum.¡± Han dengan santainya memberi ide gila. Jangan memberi ide aneh-aneh sialan! Itukan namanya ciuman. Kemarin aku sudah menghisap bekas sedotan dia, sekarang ini lagi. Daniah melirik Saga, laki-laki itu juga tidak memberi reaksi apa-apa. Akhirnya dia benar-benar menempelkan sendok berisi bubur ke bibirnya. Aww panas, ternyata dia ingin membakar bibirku. Dasar sialan, tertawa lagi. Setelah memastikan bubur di sendok tidak panas Daniah mulai menyuapkan ke mulut Saga. Sambil sekertaris Han memberikan laporan pagi. ¡° Hari ini nona Helena akan sampai di tanah air, apa tuan muda mau saya membawanya kemari.¡± Mendengar nama Helena disebut Daniah refleks melirik Han, yang dilirik memberikan sorot mata tidak suka. ¡° Aku akan bertemu dengannya di galery besok.¡± Saga menjawab sambil mengunyah bubur. ¡° Baik tuan muda. Ini pakaian yang anda minta untuk nona Daniah.¡± Han menyerahkan tas yang ada di dekat kakinya. ¡° Aku, kenapa?¡± Daniah menerima tas yang diberikan Han. Dia melihat isinya sekilas, karena bubur disendoknya sudah mulai dingin. Ia suapi lagi Saga. ¡° Nona akan menemani tuan muda besok ke galery.¡± ¡° Kenapa?¡± Binggungkan, kenapa dia harus pergi menemani Saga, ke galery lagi. ¡° Karena aku bilang begitu, kenapa? Mau membantah.¡± Ya, sang Raja sudah memberikan titah yang tidak bisa di bantah. ¡° Tentu saja tidak tuan, saya menerima pakaian ini dengan penuh terimakasih dan akan pergi kemanapun anda memintanya.¡± Menyuapi lagi, sampai habis. Dengan perasaan dongkol tapi wajah tetap tersenyum secerah matahari pagi. Ketukan dari pintu terdengar, disusul suara pak Mun. ¡° Tuan muda, saya membawa dokter Harun.¡± ¡° Masuklah!¡± Han yang menjawab. Seorang dokter muda masuk disusul oleh pak Mun. Dia langsung mendekat ke arah tempat tidur. Meletakan tasnya di samping Saga. ¡° Ada apa ini Saga, kau bisa sakit juga?¡± Lagi-lagi Daniah ingin sekali tertawa terbahak-bahak, dokter juga tahukan kalau penyakit tidak akan menghampiri tubuh iblis. Lalu dia melakukan pemeriksaan layaknya dokter sungguhan. Memeriksa denyut nadi, mata, tekanan darah dan suhu tubuh. ¡° Tuan Saga sakit apa dok?¡± Daniah seperti bocah yang penasaran mendekati dokter. Laki-laki itu menoleh, seperti merasa terkejut. Kenapa ada dirinya disana. ¡° Tidak apa-apa nona, Saga hanya perlu istirahat.¡± ¡° Hei, kalau aku bilang aku sakit artinya aku sakit.¡± Pasien galak mendengar diagnosa dokter. ¡° Ia, ia kamu sedang sakit. Sudah sarapan?¡± Dokter muda itu mengalah, karena tahu dia yang waras. ¡° hemm.¡± ¡° Nona apakah anda bisa mengambilkan air, supaya Saga bisa minum obat.¡± Dokter Harun mengedipkan mata pada Daniah, gadis itu terkejut dan menjawab spontan. ¡° Ia, baik.¡± Pak Mun belum membawa botol minum ke atas ya, membuat gadis itu keluar untuk mengambilnya dari dapur. Di dapur tentu saja dia tidak mudah begitu saja lepas dari berondongan ibu mertua dan adik iparnya. Yang penasaran dengan kondisi Saga. Sementara di dalam kamar. ¡° Kenapa ini? Kamu sedang main dokter-dokteran.¡± Harun tertawa terbahak. ¡° Nyah kau, Han bawa dokter sialan ini keluar.¡± Han masih berdiri diam, karena tahu perkataan Saga tidak serius. Dokter Harun termasuk teman dekat Saga, yang bisa bicara layaknya teman padanya. ¡° Dia istrimukan?¡± tanyanya lagi. ¡° Hemm.¡± ¡° Wahh, wahh.¡± ¡° Pergi sana.¡± Saga mengusir lagi. ¡° Tapi kamu tahukan Helena hari ini kembali, kamu pura-pura sakit biar gak ketemu dia?¡± Ahh, ternyata itu alasannya dia pura-pura sakit. Supaya tidak perlu bertemu dengan cintanya. Tapi kenapa. Bukankah seharusnya dia senang karena kekasihnya kembali. Mereka menghentikan pembicaraan saat Daniah datang dengan membawa sebotol air. Saling pandang, menduga-duga apa Daniah mendengar kalimat yang baru diucapkan dokter Harun. BERSAMBUNG Chapter 38 Saga Sakit (Part 3) Saga sedang menyelesaikan pekerjaan di ruang kerjanya, presdir Antarna Group walaupun sakit tetap harus bekerjakan. Apalagi sakit yang dibuat-buat. Bersama sekertaris Han yang aneh itu. Sementara Daniah tetap berada di kamarnya. Dia sedang tiduran di sofa. Berfikir dan mencoba menemukan titik terang masalahnya. Kenapa Han itu tidak senang kalau aku bertanya tentang Helena. Gadis itukan wanita yang disukai tuan Saga. Seharusnya dia juga suka dong kalau gadis itu kembali dan membuat tuan Saga bahagia. Ahh, karena memikirkan masalah ini aku nyaris lupa lagi menghubungi Tika. Urusan toko dulu, mumpung raja zhalim itu sedang tidak ada. Hubungan tersambung. ¡° Hallo Tika¡± Daniah senang, akhirnya bicara dengan manusia normal. ¡° Mbak Niah gak ke toko hari ini?¡± ¡° ia, kamu bisa handle semuakan? Maaf ya aku gak bisa ke toko hari ini.¡± ¡° Kenapa mbak?¡± ¡° Suamiku sakit.¡± ¡° Apa? Tuan Saga sakit, kok bisa.¡± Lihatkan, lihat manusia normal pasti akan bicara begini. ¡° Diakan manusia Tika.¡± Kata Daniah sok-sokan begitu bijak, padahal pikirannya juga sama. ¡° konveksi sudah menghubungi belum, soal PO baju anak yang terakhir.¡± ¡° Sudah mbak, aku kirim via chat ya jumlah yang musti di transfer. Nanti mbak Niah konfirmasi kalau sudah.¡± ¡° Oke Tika, makasih ya. Maaf membuatmu mengerjakan semuanya.¡± Daniah sudah ingin menyudahi panggilan. ¡° Apa?¡± Terkejut dengan info yang diberikan Tika barusan. ¡° Ia mbak, ini semua barangnya sudah masuk ke dalam toko. Katanya kiriman dari suami mbak Niah.¡± Kegilaan apalagi si yang mau kau buat. ¡° Ya udah biar aja ya Tika, nanti kalau mbak sudah ke toko baru diatur. Kalian jangan lupa makan siang ya.¡± Ketukan dipintu membuat Daniah segera mengakhiri panggilan. Sekertaris Han muncul. Masih dengan wajah yang sulit ditebak suasana hatinya. ¡° Nona, tuan muda ingin makan buah.¡± Langsung memberikan info jelas. ¡° Sekertaris Han, apa kamu yang mengirim semua barang-barang itu ke toko.¡± Daniah tidak menjawab perkataan Han, malah balik bertanya dengan nada kesal. ¡° Ia.¡± Apa! Hanya menjawab dengan satu kata. ¡° Memang aku memintanya?¡± Rasanya kali ini dia benar-benar kesal, situasi ini sungguh diluar dugaannya. Karena dia pikir tuan Saga tidak akan ikut campur sama sekali dengan pekerjaannya. Ya ini pekerjaan tidak penting, omsetnya juga tidaklah terlalu besar. Bahkan Daniah tahu, dia bisa mengunakan kartu yang diberikan Saga lebih besar dari omset bulanannya. Tapi toko ini adalah hidupnya. Satu-satunya pegangannya kalau dia harus terusir dari rumah ini nanti. ¡° Itu perintah dari tuan muda, saya hanya menjalankan perintahnya.¡± ¡° Baik, baik, aku tahu anda hanya menjalankan perintah, tapi bukankah anda bisa bicara dengan tuan Saga. Toko saya itu sudah sempit dan banyak stok barang. Tidak akan bisa muat untuk ditambah benda-benda seperti itu¡± ¡° Apa anda mau saya pindahkan ke tempat yang lebih luas.¡± ¡° Tidak! Bukan seperti itu. Ini adalah pekerjaanku, tuan Saga sudah mengatakan kalau dia tidak perduli dengan pekerjaan atau apapun yang aku lakukan. Jadi bisakah tolong jangan mengusik pekerjaanku. Biarkan aku menjalankan pekerjaanku tanpa campur tangan kalian.¡± ¡° kenapa?¡± ¡° kenapa apanya?¡± Daniah gusar bertanya. Han diam tidak menjawab. Dia hanya melihat Daniah lekat. Kenapa? Anda ingin lari dari tuan saga suatu hari nanti. ¡° Silahkan turun nona, tuan muda menunggu anda.¡± Karena Daniah tidak memberikan pertanyaan lagi, Han meminta Daniah segera turun. ¡° Minggir.¡± Daniah mendorong tubuh Han yang tidak bergeming dengan tenaganya. ¡°Kau tidak punya hati nurani ya, selain berurusan dengan tuan Saga.¡± Mendengar ucapan Daniah, Han tetap tidak bergeming. ¡° Apa yang kau lakukan? Kenapa lama sekali.¡± Sudah selesai menandatangani dokumen. Sudah merasa kesal menunggu. ¡° Maaf tuan.¡± Daniah membawa nampan berisi buah. Mendekat. Sementara Han juga mengikutinya masuk ke dalam ruangan kerja. ¡° Kau kesal sekali sepertinya, Han bicara apa padamu?¡± Saga seperti bisa membaca aura di wajah Daniah, apalagi gadis itu melengos ketika Han masuk ke dalam ruangan. ¡° Saya, tidak tuan. Saya hanya berterimakasih karena dia sudah mengirim barang-barang ke toko saya.¡± Barang tidak berguna, gumam-gumam. ¡° Kau suka?¡± Malah Saga yang merasa antusias. ¡° Ia.¡± Suka kepalamu! Memang tokoku mega ruko, tokoku itu cuma ruko kecil dua lantai. ¡° Kenapa benggong, suapi aku.¡± Menunjuk buah di tangan Daniah. ¡° Baik tuan.¡± Selesai makan buah masih minta disuapi makan siang juga. Setelah melayani Saga Daniah pergi ke dapur untuk makan. Dia harus mengumpulkan tenaga ekstra untuk dikerjaikan. Apalagi pria gila yang pura-pura sakit itu semakin menjadi. Di dapur dia bertemu ibu mertua. Wajahnya masih terlihat kuatir. ¡° Apa saga sudah baik-baik saja.¡± ¡° Ia bu, dia sudah sehat walafiat, sudah makan siang banyak.¡± ¡° Apa kamu merawatnya dengan baik.¡± ¡° Ia bu, saya merawatnya dengan baik.¡± Memang apalagi yang bisa kulakukan, aku merawatnya dengan sangat baik sekali. Disaat itu muncul Jenika turun dari tangga, dia menyodorkan hp ditangannya untuk dilihat ibunya. ¡° Ibu kak Helena pulang hari ini ke tanah air.¡± ¡° Benarkan!¡± Ibu mertua juga sangat antusias. Dia melirik Daniah, tersenyum kecut, lalu berjalan duduk di ruang keluarga. ¡° ia bu, dia mau hadir dipembukaan galery.¡± Jenika berteriak lagi. Itukan acara besok ya, aku disuruh datang bersama tuan Saga. ¡° Jen.¡± Memanggil adik ipar dengan lembut. ¡° Apa?¡± menjawab kesal. ¡° Helena itu seperti apa?¡± ¡° Kenapa? kau iri karena dia wanita yang dicintai kak Saga.¡± ¡° Hehe, ia. Apa kamu tahu kenapa dulu dia pergi dan meninggalkan kakakmu?¡± ¡° Karena dia ingin mengejar mimpinya sebagai pelukis. Dia ingin dikenal sebagai dirinya bukan sebagai kekasih kak Saga.¡± ¡° Wahh dia gadis yang luar biasa ya.¡± ¡° Apanya yang luar biasa, gadis itu sudah meninggalkan tuan muda tanpa izin, bukankah saya sudah berpesan kepada nona Jenika untuk tidak membahas masalah nona Helena secara terbuka di rumah ini.¡± Han muncul seperti hantu mengagetkan semua. ¡° Maaf, maafkan aku. Soalnya kakak ipar yang bertanya.¡± Jenika lari meninggalkan Han dan Daniah, menyelamatkan diri. ¡° Kenapa? Akukan hanya bertanya, aku tidak bertanya pada mu karena kamu tidak mau menjawabkan.¡± ¡° Kenapa anda ingin tahu tentang nona Helena.¡± ¡° Tidak apa-apa, aku hanya penasaran tentang wanita yang dicintai tuan Saga.¡± Han menyeringai. ¡° Sekertaris Han, kenapa sepertinya anda tidak menyukai Helena. Bukankah dia wanita yang dicintai tuan Saga.¡± ¡° Kenapa saya harus menyukai wanita yang sudah membuat tuan Saga terluka.¡± Daniah merinding dengan jawaban Han. Apa ini, apa ini sejenis penyakit seperti brother compleks, inikan namanya sekertaris compleks. Apa anda pikir setelah mempertemukan nona Helena, anda bisa lari dari tuan Saga. Maafkan saya nona Daniah, karena sepertinya nama anda sudah mulai terukir di hati Tuan Saga. Jadi kali ini, saya akan memastikan anda tidak bisa melukai tuan Saga untuk kedua kalinya. BERSAMBUNG Chapter 39 Tidur bersama Lihat dia, tersenyum seperti orang bodoh. Seharian ini aku sudah mengerjainya habis-habisan, tapi sekarang dia masih menonton tv sambil tertawa seperti orang gila. Sial! Sebenarnya apa yang kulakukan seharian ini. Aku pura-pura sakit hanya untuk puas mengerjainya. Saga menyandarkan kepalanya. Mengacak rambutnya sendiri. Hari ini Helena kembali, wanita yang dulu pernah mengisi kehidupannya. Karena kembalinya wanita itu membuat pikirannya campur aduk. Ada penasaran yang mengelitik hatinya, namun tertutup dengan ego yang jauh lebih besar. Membuatnya bukannya pergi menemuinya, malah main rumah-rumahan dan asik mengerjai Daniah. Aku malah asik dengannya sampai melupakan apa yang membuatku malas keluar rumah hari ini. Lihat itu, dia tersenyum lagi. Kurang ajar, dia bahkan tidak pernah tersenyum setulus itu padaku. Bisa-bisanya dia tersenyum begitu saat nonton tv. ¡° Daniah!¡± panggilnya keras. ¡° Ia.¡± Eh, tadi dia menyebut namakukan. Daniah segera beranjak dari kursi menuju tempat tidur. ¡° Apa ada yang anda butuhkan lagi tuan?¡± Sampai kapan kau akan pura-pura sakit. ¡° Duduk! Kakiku sakit.¡± Apa! Lagi! Kalau kau sesuka itu dipijat, panggil tukang urut profesional sana. Daniah duduk dan mulai memijat kaki Saga dipangkuannya. ¡° Kamu sedang apa?¡± menunjuk kursi sofa yang tadi dia duduki. ¡° Menonton tv.¡± ¡° Nonton apa?¡± bertanya lagi. ¡° Lawakan.¡± Sial! Kenapa menjawab pendek-pendek begitu hah! Akukan jadi binggung harus bertanya apa lagi. ¡° Kau tidak senang merawatku hari ini?¡± Nada bicaranya sudah mulai kesal. ¡° Haha, bagaimana mungkin saya tidak senang tuan, ini sudah merupakan kehormatan sebagai istri anda.¡± ¡° Baguslah kalau kau tahu. Tidak sembarang orang bisa menyentuhku walaupun mereka ingin.¡± Daniah mengeraskan pijitannya. ¡° Aww sudah gila ya, kau mau mematahkan kakiku.¡± ¡° Maaf tuan. Kalau seperti ini sudah paskan?¡± ¡° hemm. Ahhh minggir, pijatanmu sama sekali tidak enak. Pergi ke sekolah memijat sana, biar tanganmu bisa berguna.¡± Daniah diam saja, berfikir kalau itu hanya gurauan. ¡° Tidak menjawab?¡± Dia terkejut karena ternyata Saga serius. ¡° Baik tuan saya akan ikut kursus memijat.¡± ¡° Matikan tv berisik itu, aku mau tidur.¡± Saga sudah menarik selimutnya. ¡° Baik.¡± Daniah geleng kepala, pusing sendiri tidak bisa menebak suasana hati laki-laki di hadapannya. Dia berjalan ke sofanya. Mematikan tv lalu mematikan semua lampu. Sial! Karena hari ini aku harus melayaninya aku sampai tidak bisa bicara dengan orang lain. Aaaa, aku ingin bicara dengan sesama manusia. Daniah melirik tempat tidur, cahaya remang-remang memperlihatkan kalau Saga sepertinya sudah berbaring di bawah selimut. Dia berjinjit berjalan ke pintu. Pintu setengah terbuka. ¡° Kau mau kemana?¡± Hp ditanganya terjatuh karena terkejut. ¡° Saya belum mengantuk tuan, jadi mau keluar sebentar.¡± ¡° Tutup pintu dan kemari!¡± Daniah menurut mendekat ketempat tidur. ¡° Naik.¡± Perintah selanjutnya dari Saga. ¡° Na, naik kemana tuan.¡± ¡° Naik ke tempat tidur.¡± Semakin kesal suaranya terdengar. ¡° Ke, kenapa?¡± Pikiran Daniah sudah kemana-mana, ini level penyiksaaan paling mutahir pikirnya. ¡° Kenapa? Malah bertanya. Tidak dengar aku bilang. Aku menyuruhmu naik ke tempat tidur.¡± ¡° ia tuan.¡± Daniah sudah merasai sinyal merah dari nada ucapan Saga. Dia mulai gusar karena kata-katanya dibantah. ¡° Mulai hari ini, kau tidur di tempat tidur.¡± ¡° Tapi tuan bilang agar saya jangan mimpi untuk tidur bersama anda.¡± Daniah sudah tidur divbawah selimut. Berada di pinggir, di sebelahnya ada bantal guling sebagai pengaman yang memisahkan. Saga tergelak ¡° Aku menyuruhmu tidur di tempat tidur, bukannya mau menidurimu.¡± ¡° Haha, maafkan saya sudah berharap lebih.¡± Tertawa seperti orang yang kecewa. Dia harus benar-benar terdengar seperti orang yang berharap. Aku pasti sudah gila, siapa yang mau tidur satu tempat tidur denganmu iblis. ¡° Bermimpilah kalau mau aku tergoda oleh mu.¡± ¡° Hahaha.¡± Untunglah. Grab! tidak tahu sekarang jam berapa. Mata Daniah terbuka, antara sadar dan tidak. Apa ini, tangan, kaki. Haaaaaa, kenapa dia memeluku seperti bantal. Aku harus bagaimana ini. Sial, di mana guling yang memisahkan kami tadi si. ¡° Tu, tuan Saga.¡± Daniah berusaha mengangkat lengan yang mendekap tubuhnya. Kenapa berat sekali! Aaaaa, tolonggg. Dan kaki ini, aku tidak bisa bergerak. Kalau aku dorong tubuhnya pasti bisa geserkan. ¡° Jangan menggangu tidur tuan muda, itu hal yang paling terlarang di rumah ini.¡± Bagaimana ini, aku ingat kata-kata pak Mun membuatku merinding. Kalau aku mendorongnya dan dia bangun lalu dia murka bagaimana. Baiklah terserah, anggap saja aku sedang dipeluk gorila. Kalau aku melepaskan diri malah aku yang akan diterkam. Baik, baik sekaraang pejamkan saja mata. Besok aku harus pergi ke galeri dan bertemu Helena. Wanita yang bisa membuatku lepas dari penjara ini. Nafas Daniah sudah terhembus pelan, artinya dia mulai memasuki mimpi dan terlelap. Sementara sebuah senyum penuh kemenangan muncul di bibir Saga yang mempererat pelukannya. Sementara malam semakin larut sepertinya. BERSAMBUNG................ Chapter 40 Pertemuan setelah 2 tahun Hari bersejarah itu datang, hari ini Daniah telah bertekad akan memulai misi menyelamatkan hidupnya. Ia ingin hidup lepas dari Saga namun tetap bisa menyelamatkan keluarganya. Dan inilah jalan satu-satunya. Hari ini akan menjadi awal rencana besarnya, bertemu dengan Helena dan membuat hubungan baik dengannya. Kalau melihatnya dari sosial media dan mendengar dari pelayan, sepertinya dia wanita yang baik. Semoga jalan yang akan dia tempuh lebih mudah. Misi pertamanya untuk bisa lepas secara baik-baik dengan Saga adalah dengan mempertemukan kembali cinta antara mereka. Daniah sudah memakai pakaian yang diberikan sekertaris Han, merias wajah dengan dandanan yang elegan. Ya, tentu saja ini dibantu dengan pelayan di rumah besar ini. Karena kalau untuk berdandan full make up dia memang tidak mampu melakukannya sendiri. Sedari pagi dia sudah bersiap diri. Saga sudah menunggu di ruang tamu. Setelah memastikan semua sempurna, dan mengucapkan terimakasih pada dua pelayan yang membantunya, dia keluar kamar. Menuruni tangga dan menjumpai Saga. ¡° Kau mau mati ya? Kenapa dandan begitu lama sekali.¡± Wajah Saga memerah saat melihat Daniah mendekatinya. Sebelum gadis itu menyadari. Dia langsung memalingkan wajah. Sial! Tenyata dia cantik juga. ¡° Maaf tuan.¡± Daniah menundukan kepalanya berulang. ¡° Ayo jalan, beraninya membuatku menunggu.¡± Gusar membalikan tubuh dan melangkah dengan cepat. Tapi senyum di bibirnya tidak bisa berbohong. dia sedang senang. ¡° Maaf.¡± Daniah berjalan di belakang Saga dengan wajah kecut. Akukan gak bisa dandan, malah disuruh berpenampilan begini. Ya pasti lamalah. Ini saja kalau tidak dibantu sampai besok mungkin belum kelar. Sekertaris Han sudah menunggu di dekat mobil. Matanya lekat tertuju pada Daniah. Dengan penampilan seperti itu ternyata anda sangat terlihat berbeda ya nona. Gumamnya lirih sambil membukakan mobil. Didalam mobil. ¡° Tuan Saga apa saya harus berada di samping anda sepanjang acara?¡± bertanya dengan halus. ¡° hemm.¡± Bisa tidak si menjawab normal, kalau ditanya jawabnya cuma hemm, hemm saja. Tapi kalau bertanya tidak dijawab jelas pasti marah. ¡° Tapi saya tidak tahu menahu mengenai lukisan.¡± Berusaha mencari alasan, supaya bisa kabur ditengah keramaian. ¡° Memang kamu disuruh jadi kritikus lukisan.¡± Saga mendengus. Karena mendengar jawaban kesal dari Saga Daniah tidak mau bertanya lagi. Dia mengeluarkan hp dari tasnya, belum menghubungi Tika kalau lagi-lagi dia tidak bisa datang ke toko. ¡° Hei, aku bilang apa kemarin, ganti hp mu.¡± Saga menunjuk benda yang dipegang Daniah. ¡° Ia tuan.¡± ¡° Ia, ia, tapi kamu masih pakai hp jelek itu juga.¡± Sudah kesal suaranya. Meninggi. ¡° Sayakan belum sempat beli tuan, kemarinkan saya menemani anda karena anda sakit.¡± Menyampaikan fakta. ¡° Han, belikan dia hp baru, mataku sakit melihat benda ketinggalan zaman itu.¡± ¡° Baik tuan muda.¡± Hei, hei, siapa juga yang suruh kamu lihat. Daniah dengan cepat mengetik pesan kepada Tika dan segera memasukan hp ke dalam tas lagi daripada mengundang masalah. Apalagi ini. Hei berhenti menyentuh rambutku seenaknya. ¡° Ternyata dandanan begini lumayan juga.¡± ¡° Terimakasih tuan atas pujiannya.¡± memundurkan kepala supaya mereka tidak terlalu dekat. Saga mengibaskan tangannya dan tergelak menyeringai. ¡° Aku tidak memujimu, aku memuji pakaian dan makeup mu.¡± Ia, ia aku tahu, aku jelek dan tidak sesuai seleramu. Daniah melengos. Sementara Han, tersenyum mendengar pertengkaran di kursi belakang sambil terus melajukan kendaraan. ¡° Kalau begitu besok kamu ikut sekolah makeup juga, biar tampang jelekmu itu bisa diminimalisir.¡± Wajah Saga yang tampan semakin tampan saat dia tersenyum dan merasa senang. Menemukan cara baru menindas Daniah lagi. ¡° Tapi tuan, saya jugakan sudah mau ikut sekolah memijat.¡± Aku bahkan belum mencari tahu dimana sekolah memijat, sekarang disuruh tambah makeup juga. ¡° Lakukan keduanya.¡± Seenaknya menjawab. ¡° Tapi sayakan bekerja juga tuan, bagaimana kalau satu-satu dulu.¡± Daniah menjawab lagi, lupa sudah aturan untuk tidak membantah apapun yang Saga katakan. ¡° Han.¡± Saga beralih bicara pada Han. ¡° Ia tuan muda.¡± ¡° Beli semua baju ditoko pembangkang ini, jangan sisakan satupun. Kalau tokomu gak ada stok barang kamu gak ada kerjaankan.¡± Tangan Saga sudah menunjuk kening Daniah, memberi intonasi kata pembangkang lebih gereget. ¡° Baik tuan muda.¡± Grab, tangan Daniah sudah menyentuh tangan Saga erat. Daniah tahu situasi yang sedang mengancamnya. ¡° Maafkan saya tuan, saya akan ikut kursus makeup dan juga sekolah memijat seperti apa yang tuan katakan. Tapi saya mohon batalkan perintah anda.¡± Intervensi Saga ke dalam tokonya adalah hal yang harus dihindari. ¡° Lepaskan! Aku bosan mendengarmu memohon tapi tidak mematuhiku.¡± Saga mengibaskan tangannya. ¡° Maafkan saya tuan, saya akan patuh.¡± Daniah tetap memegang erat tangan yang digengamnya. Daniah melirik kaca spion. ¡° Tolong batalkan perintah anda pada sekertaris Han yang barusan.¡± Semakin erat gengaman keputusasaan. ¡° Kau mau mati ya, lepaskan tanganmu.¡± Berteriak sambil mengibaskan tangan. ¡° Tuan.¡± Sorot mata jinak dan memelas yang bisa dia tampilkan, akting. ¡° Ia, ia. Kamu dengar Han, aku batalkan perintahku tadi.¡± Tertipu dengan sorot mata Daniah yang menghiba. ¡° Baik tuan muda.¡± Huh! Dasar sekertaris sialan. Bisa tidak si membantah sedikit atau memberi penolakan halus. Kamukan bukan aku yang terikat kontrak mematikan dengan laki-laki ini. Kamukan laki-laki bebas. Cih, aku jadi penasaran sekali berapa gajimu. Beberapa lama semua membisu setelah urusan kursus selesai, namun Daniah segera menemukan satu pertanyaan penting yang sudah dia pikirkan lama saat mandi. Yang bisa menguncang, paling tidak dia bisa melihat reaksi spontan Saga. ¡° Apa semua lukisan di galeri nanti milik pelukis Helena?¡± Saga yang tadinya menatap kaca menoleh pada Daniah. Daniah tidak menujukan pertanyaan itu khusus untuk Saga sebenarnya, hanya ingin mengetes saja. Kalau Saga yang menjawab itu lebih baik, kalau Han yang menjawab juga tidak masalah. ¡° Nona Daniah nanti anda hanya perlu berada di samping tuan Saga.¡± Han yang sedang mengemudikan kendaraan memotong pembicaraa, Daniah tahu, pasti karena dia menyebut nama Helena. Sekarang dia bahkan ingin menyebut nama Helena berulang-ulang karena ingin melihat reaksi Saga. Tapi tentu saja dia tidak punya keberanian untuk itu. Mobil terus melaju, Saga membisu. Daniahpun memilih untuk menatap kaca dan menyusun strategi lebih lanjut. Saga bersatu kembali dengan Helena. Aku bisa pergi dari sisinya dan kembali pada keluargaku. Perusahaan ayah selamat. Aku akan kembali fokus pada toko onlineku. Sempurna, itu sempurna sekali. Baik, ayo kita pelan-pelan jalankan rencana. Sampailah mobil di tujuan. Aaaa, aku sudah merasa pusing saat memasuki pintu galery. Aku benar-benar buta akan dunia yang satu ini. Keindahan apapun yang ada dibenda mengantung di dinding itu tidak pernah bisa lihat apalagi sampai bisa kurasakan. ¡° Tuan, apa saya perlu ikut masuk.¡± Saga melirik dengan tatapan mengancam. Baiklah, kau rajanya. Daniah berjalan di samping Saga. Saat kedatangan Saga langsung tercipta kesibukan, beberapa orang datang menyambut dan membungkukkan kepala dengan sopan. Sementara laki-laki di samping Daniah masih saja bersikap dingin seperti biasanya. Han mengisyaratkan agar mereka tidak mengikuti Saga, dan ajaibnya kerumunan semut itu benar-benar bubar. Daniah berdecak kagum dalam hati. Sekertaris Han memang layak untuk mendapat pujian. Saat Saga dan Daniah berjalan tanpa hambatan masuk ke dalam galery. Sebuah sapaan lembut dari seorang gadis seperti membuyarkan semua konsentrasi. ¡° Saga sudah lama ya.¡± Seorang wanita berambut indah berdiri dengan sangat anggun. Kakinya jenjang, pinggangnya ramping. Dan tangannya juga indah. Daniah menatap wanita yang seperti selebriti di hadapannya. Dia menelan ludah takjub. ¡° Sudah lama ya, dua tahun.¡± ucapnya lagi. Dialah pelukis Helena, wanita yang beruntung mendapatkan cinta tuan Saga. Helena mendekat memeluk Saga tidak perduli banyak orang yang memperhatikan, lebih tidak perduli ada seorang wanita yang juga berstatus istri sah Saga di sampingnya. BERSAMBUNG..................... Chapter 41 Berkenalan Yang paling tidak suka dengan situasi ini adalah Han. Wajahnya sudah masam. Bahkan lebih seperti lipatan koran usang di terminal. Biasanya dia tetap terlihat tampan walaupun tanpa tersenyum. Tapi kali ini tidak. Dia berjalan mendekat. ¡° Maaf nona Helena, mohon untuk menjaga sikap anda.¡± Helena melepaskan pelukannya, dia masih bisa tersenyum dengan sangat manis. ¡° Maaf sekertaris Han, aku hanya merindukan Saga.¡± Pandangan penuh kerinduan itu jujur ada di mata Helena. Tapi tetap tidak bisa diterima oleh Han. ¡° Tuan muda.¡± Han menyentuh lengan Saga. Seperti baru saja terbangun dari keterkejutan, Saga menatap Helena, pandangannya lembut. ¡° Kau tidak berubah ya, masih suka senaknya sendiri.¡± Helena tergelak, tertawa kecil sambil menutup mulutnya dengan tangan. Dan dia melakukannya dengan sangat manis, membuat orang yang melihat terpesona. Daniah sampai berdecak, seperti sedang melihat akting wanita cantik yang sedang tersenyum. Dia bahkan ingin minta foto bareng karena terpesona. Dia memang sangat cantik. Daniah bergumam di samping Saga. ¡° Ah, ini Daniah ya. Clarissa sudah memberitahuku, kalau dia istrimu.¡± Dia mengulurkan tangan yang diraih Daniah dengan sopan. tapi pandangan dan bicaranya ditujukan kepada Saga. ¡° Apa kabar nona Helena?¡± ¡° Jangan sungkan padaku, panggil saja secara biasa, aku Helena.¡± Gadis cantik menepuk punggung tangan Daniah lembut. Bersahabat. Dia baik sekali sepertinya, ayo Helena, aku akan membantumu kembali dengan tuan Saga. Dan kalau kau bisa kembali kepelukannya, aku bisa bebas. Mari kita berteman dan saling membantu meraih tujuan hidup kita. Acara pembukaan galery dimulai. Pidato Saga disambut tepuk tangan, selaku investor utama. Lalu Helena yang merupakan bintang siang itu maju ke depan. Sebagai mantan kekasih Saga, sebagai pelukis yang mendapat dukungan dari Antarna Group sudah menjadikan semua lukisannya berkelas. Harganya bisa sepuluh kali lipat dari harga biasanya. Daniah mencoba untuk mengamati semua yang ada. Perubahan wajah Saga, atau trik Helena yang tidak canggung walaupun sudah dua tahun mereka tidak bertemu. Saga memang masih terlihat memberi jarak, namun dia tidak menunjukan penolakan agar Helena tidak mendekat. Mungkin yang berwajah paling masam di sini adalah sekertaris Han. Ekspresi wajah yang biasanya bisa ia kendalikan dengan mudah, sepertinya tidak bisa ia ikat dengan baik hari ini. Daniah bisa melihat pandangan tajam dan penuh benci di sana. Dasar sekertaris compleks, seharusnya kau sedang sekarang tuanmu bisa bertemu dengan cintanya setelah dua tahun. Aku saja merasa bahagia. Haha, tentu saja aku bahagia, dia seperti pusaka yang akan menyelamatkan hidupku. Seremonial acara berlangsung dengan baik tanpa hambatan. Semua antri untuk menyapa Saga, selain Helena dia juga bintang hari ini. Tentu saja, mereka juga tahu kalau Helena adalah mantan kekasih Saga. Jadi bisa jadi acara hari ini yang sepenuhnya disponsori oleh Antarna Group adalah ucapan selamat datang kepada mantan kekasih. Tentu saja kedatangan mereka memiliki motif terselubung, ingin membuat hubungan baik dengan mantan kekasih yang bisa menjadi jembatan hubungan dengan Antarna Group. Ntah kenapa mereka lantas memberikan pandangan iba kepada Daniah. Mereka seperti berfikir, kasihan sekali istri yang sudah dinikahinya. Han memberi isyarat agar kerumunan para penjilat itu untuk tidak mendekat, karena dia sudah mendengar Saga mendesah dan mulai merasa bosan meladeni mereka. Karena sudah mendapatkan informasi begitu, merekapun menjauh, yang belum mendapat giliran menyapa terlihat sangat kecewa. Lalu yang lain kembali berjalan menyusuri galery, menikmati lukisan Helena. ¡° Daniah apa kau suka lukisan? Saga sangat menyukai lukisan.¡± Helena sungguh luar biasa, dia tidak canggung sekali memulai pembicaraan. Haha, tuan Saga menyukai pelukisnya, itu baru benar. ¡° Hehe, maafkan saya nona, saya tidak terlalu mengerti tentang lukisan. Saya juga tidak terlalu paham tentang seni.¡± Mengaku saja begitu pikir Daniah, daripada dia harus sok tahu malah terlihat bodoh kalau ketahuan nanti. ¡° Bukankah kamu harus mulai belajar dari sekarang.¡± ¡° Baik. Kedepannya mohon bimbingannya.¡± Jika bersikap sopan bisa menyelamatkan dirinya, dia akan lakukan. apalagi kalau dengan cara ini dia bisa membuka hubungan persahabatan dengan Helena. Obrolan mengenai lukisan yang gak nyambung dipikiran Daniah, membuatnya pusing sendiri. Sementara Saga di sampingnya masih terdiam seperti biasanya. ¡° Apa pekerjaanmu Daniah?¡± Ragu Daniah ingin menjawab, tapi saat melirik Saga yang tidak bergeming jadi dia berfikir boleh menjawab. ¡° Saya membuka toko online, menjual pakaian.¡± ¡° Apa Saga sudah memberikan salah satu market place padamu?¡± bertanya dengan nada terkejut. Apa! Market place. ¡° Yang mana yang paling populer?¡± Yang paling populer, maksudnya. Market place XX. Tiba-tiba Daniah serasa menciut di antara kedua orang ini. Saga di sampingnya yang masih diam mendengar pembicaraan Helena sama sekali tidak berniat untuk ikut menimpali, walaupun jelas-jelas dia yang sedang dibicarakan. Daniah meraba tengkuk lehernya sendiri. Merinding. Sebenarnya sekaya apa si dia. ¡° Sepertinya anda salah paham. Saya hanya membuka toko online biasa.¡± Pembicaraan terhenti saat seseorang muncul mendekati mereka. ¡° Maaf aku datang terlambat.¡± Sebuah suara laki-laki, dia terlihat tampan dalam jas putih yang dia pakai. ¡° Noah!¡± Helena memekik senang. ¡° Sudah lama ya.¡± Dia memeluk laki-laki itu seperti yang dia lakukan pada Saga. Walaupun kali ini secepat kilat dia melepaskan pelukannya. Daniah menyeryit melirik Saga yang masih tanpa ekspresi bisa dibaca. Hei kenapa tidak cemburu, ayo cemburu, aku ingin lihat tuan Saga yang hebat cemburu. ¡° Dari mana kamu? Bukankah seharusnya kau datang lebih dulu dariku.¡± Saga bicara. Laki-laki yang baru datang itu sudah menepuk bahu Saga akrab. ¡° Hehe, aku tidak mau menggangu nostalgia sahabatkukan. Eh siapa dia?¡± Daniah menutup wajahnya dengan tas, menundukan kepala berharap tidak dikenali. ¡° Dia Daniah, wanita yang sudah menikah dengan Saga.¡± Helena membantunya memperkenalkan diri. Kenapa aku harus bertemu dia disini si. BERSAMBUNG Chapter 42 Cemburu Apa bisa aku lari saja sekarang. Kenapa laki-laki sok akrab ini mengenal tuan Saga. Lebih-lebih sepertinya mereka akrab. ¡° Matahari, benar, ini kamukan?¡± Noah mendekat memastikan. Sambil membungkukan kepala segala. ¡°Benar! hampir saja aku tidak mengenalimu. Turunkan tasmu, kau sudah ketahuan. Hehe.¡± Daniah menurunkan tasnya sambil bergumam kesal. ¡° Ma-ta-ha-ri Apa kalian saling kenal?¡± Saga meletakan tangannya di bahu Daniah, mencengkramnya kuat. Seperti terusik sesuatu miliknya diganggu orang lain. Bagaimana kalian bisa saling mengenal, dan kenapa Noah memanggilmu matahari? Lengan Daniah berdenyut karena Saga mencengkramnya dengan kuat, dia meringis sambil memegang tangan Saga. Laki-laki itu menyadari, dia mengendurkan cengkramannya tapi tidak merubah posisi tangannya. Senyum jenaka yang muncul kapan saja itu menyeringai. sepertinya keahliannya membuat orang sedikit kesal. Karena dia hanya tersenyum, tidak ada niat menjawab pertannyaan Saga. ¡° Noah, apa kalian sudah saling mengenal?¡± Helena yang masih merasa binggung. ¡° Tidak!¡± Daniah ¡° Iya ¡° Noah Saga melihat Daniah dengan pandangan menusuk, tidak suka. Ah, sial, bagaimana aku bisa bertemu lagi dengan orang sok akrab ini di sini. Aku harus menjawab apa ini. sepertinya tuan Saga juga tidak suka. ¡° Saga, kami kebetulan bertemu saat dia sedang mema..¡± ¡° Tuan Noah senang berjumpa dengan anda lagi, maaf saya tidak mengenali anda tadi.¡± Daniah menabrak tubuh Noah, dia menginjak kaki lali-laki itu. Noah menjerit tanpa mengeluarkan suara. Sementara Saga tangan kirinya yang tadi menempel di lengan Daniah. Geram. Apa-apaan dia ini, memeluk laki-laki lain di depanku. ¡° Bagaimana kalau kita bicara sebentar.¡± Dia memegang tangan Noah. ¡° Suamiku saya permisi sebentar.¡± tanpa mendengar jawaban dari Saga dia sudah berjalan menjauh. Daniah menarik tangan Noah dibawah sorot mata tajam Saga. ¡° Ternyata Daniah hebat juga, berbeda dari yang kudengar dari Clariss, dia bahkan mengenal Noah.¡± Helena mendekat dan melingkarkan tangan di lengan Saga. Laki-laki itu sekali lagi tidak berusaha menghindar atau menolak. Mereka berjalan beriring karena Helena menarik lengan itu, menyisir galery. ¡° Saga aku merindukanmu.¡± Helena berjalan sambil menyandarkan kepalanya di bahu Saga. ¡° Benarkah?¡± ¡° Aku sangat merindukanmu.¡± Saga tidak menjawab. Kakinya berhenti melangkah, dia memandang sebuah lukisan di dinding. ¡° Apa kau merasa puas sekarang? Menukarku dengan apa yang kau dapatkan hari ini.¡± ¡° Saga¡± suara Helena terdengar sedih. ¡° Kalau hanya seperti ini dari dua tahun lalu aku juga bisa memberikannya padamu, bahkan bisa lebih baik dari pada galery kecil ini. Aku bisa membuatkan mu galery seluas gedung perpustakaan nasional atau musium nasional.¡± ¡° Dan aku hanya pelukis yang dikenal sebagai kekasihmu. Bukan pelukis dengan karya-karyaku.¡± Huh! Saga tergelak, alasan itu selalu kau pakai. Bahkan hari ini lukisanmu bisa berharga sepuluh kali lipat juga masih karena aku. Karena aku di belakangmu, karena kau mantan kekasih yang masih kusponsori. ¡° Sekarang bolehkan aku menjadi lebih serakah.¡± Saga menoleh pada wanita yang ada di sampingnya. ¡° Aku sudah mendapatkan impianku, dan aku ingin kembali padamu. Aku ingin mendapatkan cintamu lagi.¡± Cih, wanita itu benar-benar tidak tahu diri. Bagaimana dia bisa segampang itu menyatakan perasaannya. Apa dia benar-benar tidak tahu malu. Han yang berdiri di samping Saga, mendengar semua. Melirik tajam pada Helena. ¡° Aku sudah menikah.¡± ¡° Daniah.¡± Helena mendekatkan tubuhnya ke samping Saga. ¡° Ya, kau berhasil membuatku sangat marah dan kesal ketika mendengar kabar kamu akan menikah, dan lebih-lebih menikah dengan gadis sepertinya. Kau tahu bagaimana frustasinya aku dan ingin segera kembali ke tanah air.¡± ¡° Ele¡± lihat, kamu bahkan masih memanggilku dengan nama itu. hanya kamu yang memanggilku begitu. Helena seperti mendapat angin segar, bahwa Saga masihlah sama seperti dulu. laki-laki yang mencintainya, dan akan melakukan apapun untuknya. ¡° Ya kau berhasil, aku kembali karena kesal dan cemburu dan sekarang aku akan merebut cintamu lagi.¡± ¡° Berusahalah! Karena dua tahun ini aku sudah berubah.¡± Saga yang hendak melangkah terhenti, tangannya terkepal erat. Apa yang dilihat di depannya sungguh membuatnya kesal. Helena disampingnya juga melihat. ¡° Dia dekat juga ya dengan Noah.¡± BERSAMBUNG................. Chapter 43 Tentang Noah Daniah melepaskan tangannya ketika sudah berada pada jarak aman, baik dari pendengaran saga atau yang paling parah dari anjing setia yang bisa mendengar apapun sekertaris Han. ¡° Jangan panggil saya matahari. Tadikan sudah dengar nama saya Daniah.¡± Kalimatnya tegas. ¡° Aku tetap akan memanggilmu matahari.¡± Ya Tuhan, dia memang benar-benar memiliki senyum jenaka yang cenderung membuat orang kesal. Daniah sudah mengepalkan tangan karena geram. ¡° Kenapa?¡± Daniah bertanya. ¡° Karena itu bisa membuat Saga gusar, senang rasanya bisa membuatnya marah.¡± Alasan yang paling masuk akal bisa dipikirkan Noah. Dia melihat tadi, saat Saga mencengkram lengan gadis di depannya. Dia yang sedang menunjukan kemarahan secara terbuka, menghibur Noah . ¡° Tuan, jangan membuat saya susah.¡± Eh, ini bukannya lukisan matahari terbit di danau hijau. Daniah dan Noah menghentikan langkah mereka di depan sebuah lukisan indah matahari terbit. Sebuah lukisan sempurna yang menampilkan keindahan matahari terbit. Walaupun tidak tahu tentang lukisan, tapi menurutnya gambar di depannya sangat indah. Danau hijau memang sangat indah gumamnya. ¡° Bukannya ini danau Hijau?¡± Daniah menoleh pada Noah. ¡° Benar, ini matahari terbit Danau hijau.¡± Tiba-tiba Daniah menepuk bahu lelaki di sampingnya. Beberapa kali, seperti memberi semangat. ¡° Tuan ternyata hubungan percintaan anda rumit sekali ya.¡± Daniah teringat percakapannya dengan laki-laki sok akrah yang ia temui di danau hijau saat dia mampir untuk memaki-maki Saga. Pagi itu setelah dia tercegat dan tidak bisa kabur, dari laki-laki yang terganggu tidur karena teriakan makiannya. ¡° Namaku Noah, siapa namamu?¡± ¡° Maaf saya tidak mau memperkenalkan diri.¡± Daniah berusaha mencari celah agar dia bisa kabur dari tempat duduknya, tapi dia terkunci oleh laki-laki di depannya. Kaki panjangnya sudah mencegatnya dan tidak bisa memberinya kesempatan kabur. ¡° Aku mengambil foto matahari terbit.¡± ¡° Gak nanya.¡± ¡° Haha, lucu banget si. Hemm, bagaimana kalau aku memanggilmu matahari.¡± ¡° Maaf tuan, saya bukan matahari.¡± ¡° Jadi beritahu siapa namamu!¡± ¡° Tidak.¡± Hemmm, ternyata tidak berhasil juga ya. Gumam-gumam Noah sambil menatap danau yang tenang. Dia menoleh pada wanita di sampingnya. Dia jadi merasa penasaran seperti apa suami yang dia maki-maki dengan penuh semangat tadi. ¡° Karena wanita yang aku sukai menyukai tempat ini, dia sering melukis matahari terbit di sini.¡± Dan hari itu Noah bercerita banyak hal. Bercerita tentang kisah cintanya. Kisah cintanya dengan seorang wanita yang sering menghabiskan waktunya melukis matahari terbit. ¡° Tuan, kenapa anda bercerita masalah pribadi anda kepada saya yang baru anda temui.¡± Daniah hanya merasa aneh, bagaimana bisa menceritakan hal semacam ini kepada orang asing. ¡° Karena kita tidak akan bertemu lagi. Aku hanya ingin cerita saja. Sepertinya hubungan percintaanmu dengan suamimu tidak berjalan baik. Aku akan mendengarkan kalau kamu mau cerita.¡± ¡° Tidak terimakasih.¡± tegas. Lagi-lagi Noah bicara semaunya karena Daniah tidak mau menceritakan dirinya. Kembali di depan lukisan matahari terbit danau hijau. Hasil karya pelukis Helena. Dan kenapa kami malah bertemu disituasi yang rumit seperti ini. ¡° Bukankah sekarang matahariku sudah terlibat dalam hubungan percintaan kami yang rumit ini.¡± Tertawa senang, karena mendapat teman seperjuangan. ¡° Jangan panggil saya matahariku." Daniah tersadar akan kata-kata Noah. Noah menyukai helena. Helena dan Saga Saling menyukai. Dan dia juga ada di antara mereka berdua, miris, walaupun hatinya tidak terikat pada Saga, namun tali yang mengikat hubungannya dengan Saga bahkan jauh lebih kuat dari itu. ¡° Apa mereka tahu, kalau anda menyukai Helena.¡± Rasa penasaran mengelitik, bagaimana cinta segitiga bisa tetap berlanjut dalam hubungan pertemanan. Daniah teringat tadi, Helena bahkan memeluk Noah tanpa canggung. apakah wanita itu tahu kalau Noah menyukainya. ¡° Tahu.¡± Apa! tahu, tapi bagaimana dia bisa bersikap sewajar itu. ¡° Haha, apa itu tidak memalukan tuan.¡± sepertinya bukan hanya malu, tapi juga pasti makan hatikan. Tepukan lagi dibahu Noah. ¡°Anda sungguh-sungguh hidup dengan sangat bekerja keras.¡± ¡° Berikan no hpmu.¡± tiba-tiba langsung mengalihkan pembicaraan. ¡° Gak mau.¡± Daniah menjawab cepat. ¡° Ayolah, kamu bahkan sudah menepuk bahuku, bukankah artinya kita berteman.¡± Noah menyentuh bahunya, tempat tadi Daniah menepuk untuk memberinya semangat. ¡° Maaf ya saya tiap hari juga menepuk bahu driver ojek, tapi tetap saja saya tidak berteman dengan mereka.¡± Noah membalikan badan tiba-tiba.¡° Saga! Mau kuceritakan.¡± Cubitan di pinggang Noah membuatnya menjerit tanpa suara. Daniah menoleh pada Saga dan Helena yang memandangnya dari kejauhan. Dia mengangukan kepalanya sekali, lalu menatap Noah kesal. ¡° Tuan Noah, berikan hp anda,¡± akhirnya menyerah sudah. dia tahu menghadapi laki-laki seperti Noah memang jauh lebih baik dengan mengalah. ¡° Panggil aku Noah saja.¡± sambil mengedipkan mata kirinya jenaka. ¡° Tidak mau.¡± Noah langsung cemberut. ¡° Kalau begitu aku tetap akan memanggilmu matahariku.¡± ¡° Tuan.¡± Satu lagi bertambah orang tidak tahu malu. apa semua orang di kalangan ini memang suka seenaknya saja. ¡° kenapa? Kau takut Saga akan marah.¡± ¡° Haha, tuan bukankah anda tahu hubungan saya dan tuan Saga bagaimana?¡± ¡° Kalau begitu aku tetap akan memanggilmu matahari.¡± ¡° Noah, Noah, Noah. Puas!¡± Daniah menyodorkan hp ke dada Noah, menempel tepat. Tangan mereka bersentuhan saat Noah mengambil hp itu. Daniah langsung menarik tangannya. Sementara dari kejahuan bukan hanya Saga yang mengepalkan tangan, sekertaris setia di sampingnya bahkan terlihat jauh lebih kesal. BERSAMBUNG Chapter 44 Suamiku Saga menarik lengan Daniah. Gadis itu setengah berlari karena langkah cepat mengikuti irama Saga. Saat mobil sudah berhenti di depan mereka, tanpa menunggu Han keluar dari mobil dia sudah membuka pintu mobil. Mendorong tubuh Daniah masuk ke dalam mobil. ¡° Tuan Saga.¡± Daniah bingung, kenapa dia diseret seperti ini. jauh lebih binggung lagi karena sepertinya Saga sangat marah. ¡° Kenapa?¡± ¡° Tidak, bukankah Helena masih ingin bicara dengan anda.¡± ¡° Ele mau bicara padaku, atau kau yang mau bicara dengan Noah?¡± Ahh ternyata panggilan Helena itu Ele, hihi, kenapa terdengar manis sekali. Aku tidak bisa membayangkan saat mereka berkencan dan saling memanggil dengan panggilan kesayangan. eh, bukan itu masalahnya sekarang. masalahnya kenapa dia tiba-tiba marah. ¡° Saya dan Noah hanya mengobrol.¡± " Kau selingkuh dengannya? kau sampai menyentuh bahunya beberapa kali." " Tidak tuan, saya hanya sedang menghiburnya tentang masalah percintaannya." Masalah percintaan seharusnya tidak diucapkan Daniah, dia lupa tentang rumitnya hubungan ketiga orang ini sepertinya. " Masalah percintaan, jadi kau benar-benar selingkuh dengannya? Beraninya!" Saga sudah berteriak sambil mendorong tubuh Daniah. menunjuk bahu Gadis itu. " Tidak tuan, saya tidak mungkin berselingkuh dari anda. Saya bertemu Noah sekali, itupun secara kebetulan." Daniah takut kesalahpahaman ini akan berbuntut semakin panjang. ¡° Noah! Kau panggil siapa dia? Noah!¡± suaranya bahkan sudah meninggi. ¡° Ia Noah.¡± Daniah menjawab terbata. ¡° Kau memanggilnya Noah, dan kau panggil aku apa?¡± Saga berteriak keras saat mobil mulai melaju, keluar dari area parkir. Han melirik kaca spion melihat situasi. ¡° Tuan Saga.¡± Terbata Daniah mengucapkannya. Memang aku harus memanggilmu apa, aku memanggilmu tuan Sagakan, kenapa protes. biasanyakan aku memang memanggilmu begitu. Cletak, jari Saga sudah menyentil kening Daniah lagi. Sekarang tekanannya lebih ringan, tidak sekeras waktu itu. Tapi tetap Saja Daniah meringis sekaligus terkejut. Saga meraih pakaian Daniah, mendekatkan wajahnya. Apa! apa! kenapa aku disentil lagi? ¡° Aku ini siapa?¡± ¡° Anda tuan Saga.¡± Masih terbata menjawab, dia mengkerut takut. Sorot mata Saga sudah sangat kesal. ¡° Maksud tuan muda mungkin posisi tuan muda bagi nona itu siapa?¡± Apa maksudnya? ¡° Tuan mudakan suami nona.¡± Terus, jangan bicara muter-muter semakin membuatku binggung. ¡° Bukankah seharusnya nona memanggil tuan muda suamiku.¡± ¡° Apa!¡± Saga melepaskan cengraman tangannya di baju Daniah. Apa! Jadi dia setuju dengan ide bedebah sialan sekertaris Han. Hei jangan memberi ide-ide aneh yang membuatku merinding. ¡° Saya akan memanggil anda begitu kalau di tempat umum dan banyak orang.¡± Saga menggeram dan memandangnya kesal. ¡° Nona bisa mulai memanggil tuan muda seperti itu mulai sekarang, walaupun kalian sedang berdua.¡± Aku ingin menendangmu sekertaris Han. Berhenti memberi ide gila. Dan kenapa kau diam saja, kau benar-benar mau kupanggil begitu. ¡° Tapi saya lebih nyaman memanggil anda.¡± ¡° Hei, apa karena aku baik padamu akhir-akhir ini membuatmu jadi kurang ajar, panggil seperti yang Han katakan. Aku tidak mau tersebar gosip di luar sana karena kau memanggil suamimu dengan panggilan pada orang asing begitu.¡± Kenapa jadi aku yang terpojok begini. alasanmu memang masuk akal si. ¡° Jawab!¡± ¡° Baik Tuan.¡± Saga mengeram lagi karena Daniah belum merubah panggilannya. ¡° Baik suamiku.¡± ¡° Kenapa kaku memang kau sedang main drama, ulangi!¡± Dan hal konyol terjadi sepanjang perjalanan, Saga meminta Daniah mengulang panggilan sampai beberapa kali. Sementara Han menahan senyum dan gelaknya sampai terus mengendari mobil dengan kecepatan sedang. Akhirnya hari ini terlewati. Daniah ambruk di sofa. Saga sedang ada di ruang kerjanya bersama sekertaris Han. Mandi berendam memang yang paling nyaman gumamnya sambil mengeringkan rambut dengan handuk. Hari ini benar-benar gila. Bagaimana aku bisa bertemu dengan Noah, laki-laki sok akrab yang tersenyum jenaka itu. Aku bahkan memberinya no hp. Helena, dia benar-benar wanita yang cantik, sudah sepantasnya dia di samping tuan saga. Dan laki-laki gila itu kenapa ingin kupanggil dengan sebutan menjijikan itu. Apa tidak akan aneh kalau aku sedang berdua dengannya memanggilnya dengan panggilan suamiku. Aku sudah merinding hanya dengan membayangkan. Pintu terbuka membuat Daniah yang sedang tiduran terlonjak. ¡° Santai sekali kamu.¡± Haha, memang apa yang bisa saya lakukan di rumah ini kalau tidak bersantai saat anda tidak menggangu saya. ¡° Aku mau tidur.¡± ¡° Baik tuan.¡± ¡° Tuan.¡± intonasinya sudah penuh tekanan, seperti menemukan kesalahan ribuan tahun yang terus terulang. ¡° Maafkan saya, baik suamiku.¡± Daniah mengambil pakaian tidur, dan seperti biasa, Saga melemparkan pakaian yang dia pakai di kepala Daniah. ¡° Matikan lampu.¡± ¡° Baik.¡± Daniah bergegas mematikan semua lampu, lalu masuk ke dalam ruang pakaian. Meletakan pakaian Saga ke dalam keranjang. Dia belum beranjak, masih berdiri di tempatnya. Ia hanya berdiri diam. Pikirannya kosong. Ia ingin menyusun rencana dengan matang, tapi hari ini benar-benar melelahkan, jadi dia ingin ambruk saja. BERSAMBUNG.......... Chapter 45 kenyamanan Saga menatap pintu menuju ruang baju, istrinya sudah beberapa menit masuk ke dalam untuk meletakan bajunya. Tapi belum ada tanda batang hidungnya muncul. Kenapa dia belum keluar juga. Karena penasaran Saga bangun dan mendekat ke pintu, membukanya sedikit. Dia melihat Daniah berdiri mematung di dekat keranjang pakaian. Apa yang dilakukannya sekarang Saga kembali ke tempat tidur. Pikirannya yang sedang campur aduk semakin kesal saja. Sepulang dari Galery sampai makan malam tadi dia sedang menahan diri. Rasa gusarnya saat Daniah bisa bicara dengan begitu akrabnya dengan Noah benar-benar mengusiknya. Bagaimana Noah bisa mengenal Daniah, dan apa itu tadi panggilannya. Matahariku. Saga selimut benar-benar kesal. ¡° Daniah!¡± Gadis itu muncul dengan tergesa dari ruang baju. ¡° Ia suamiku.¡± ¡° Apa yang kau lakukan di sana? Kenapa lama sekali.¡± ¡° Maaf.¡± ¡° Naik.¡± ¡° Saya akan kembali tidur di sofa.¡± Daniah menunjuk sofa. Suasana hatimu sedang buruk, kalau kau menindihku sampai mati bagaimana. ¡° Kau mau kupukul, aku sedang kesal sekarang, jangan buat aku mengulangi kata-kataku.¡± ¡° Baik.¡± Secara otomatis nyalinya menciut. Daniah bergegas naik ke tempat tidur, menarik selimut dan bergeser agar dia tepat berada di pinggir. Semalaman dia dipeluk laki-laki gila ini, dia tidak mau kejadian semalam terulang. Mereka terdiam, mencoba untuk memejamkan mata. ¡° Suamiku apa anda tidur?¡± Kenapa aku harus memanggilnya dengan pangilan mengelikan ini si, dan kenapa juga kamu sepertinya senang kupangil begitu. Ini pasti kamu tahukan karena aku tidak suka panggilan itu. kamukan selalu menyukai hal yang tidak kusuka. ¡° Hemm.¡± ¡° Apa anda senang hari ini?¡± ¡° Kenapa?¡± ¡° Hemm, tidak, andakan suka dengan lukisan dan.¡± ¡° Dan apa? Aku juga suka dengan pelukisnya.¡± Eh, aku harus menjawab apa ini. kenapa kata-katanya telak begitu. Nada suaranya si tidak terdengar kesal. Tapi kalau aku lanjutkan dia marah bagaimana? ¡° Kau pasti tahu aku dan Ele pernah punya hubungan yang spesialkan?¡± Saga mengambil guling yang ada di sampingnya, membuat Daniah terperanjak dan mengeser tubuh. sepertinya dia tidur sambil mendekap guling, apa itu kebiasannya ya. gumam-gumam takut kejadian semalam terulang. ¡° Kenapa anda tidak mencoba untuk kembali dengan Helena, bukankah anda masih mencintainya.¡± ¡° Berani sekali kau mengatakan itu.¡± kata-katanya mulai bernada setengah tinggi. ¡° Maafkan saya tuan.¡± ¡° Hemm.¡± mengeram karena panggilan Daniah. ¡° Maksudnya maafkan saya suamiku.¡± Sensitif amat si ini laki-laki. ¡° Kenapa aku harus kembali padanya, bukankah aku sudah punya istri¡± Haha, kenapa aku merinding ya. Karena gelap aku tidak bisa melihat seringai di bibirnya, tapi kok aku merasa takut dengan kalimatnya yang barusan. istri? siapa yang istrimu, akukan pembantumu. ¡° Andakan bisa me.¡± Kata-kata Daniah belum selesai, sudah dipotong oleh ucapan Saga. ¡° Hati-hati dengan kata-katamu! Kau belum pernah melihatku benar-benar marahkan?¡± Daniah menutup mulutnya, benar dia sudah terlalu berani bicara secara terbuka. Laki-laki ini, sangat sulit ditebak suasana hatinya. kalau dia marah, Daniah yakin dia bisa melakukan apapun. bahkan bisa jadi dia membeli rumah hanya untuk dibakar olehnya. tidak ada yang tahu pikirannya kecuali dia dan Tuhan. ¡° Maafkan saya, selamat malam suamiku, semoga anda mimpi indah.¡± Daniah menarik selimutnya sampai ke leher. Hari ini sudah cukup di sini saja. Jangan melangkah lebih jauh. Benar, aku belum pernah melihatnya benar-benar marah seperti apa. Aku berharap, aku tidak akan pernah melihatnya. ¡° Hei kamu sudah tidur.¡± Saga memanggil dengan suara yang agak keras. ¡° Daniah!¡± yang dipanggil sudah terlelap, diam di bawah selimut. Tangannya terulur menyentuh kepala Daniah. tepukan lembut beberapa kali dia berikan. " Baiklah, tidurlah, kau sudah bekerja keras hari ini." Dia tidak memindahkan tangannya untuk waktu yang lama. Kenapa tangan laki-laki ini hangat ya. Daniah merasa nyaman, bahkan dia merasa sentuhan itu lembut dan ingin melindunginya. Hingga akhirnya yang awalnya pura-pura tidur, membuatnya sungguhan terlelap. BERSAMBUNG Chapter 46 Berbenah Toko Akhirnya bisa kembali bekerja. Hp Daniah sudah keluaran terbaru, sekertaris Han menyerahkannya pagi ini saat menjemput Saga. Daniah menatap hpnya lekat. ahh orang kaya memang bebas ya mau ganti hp kapan saja. Padahal hpku yang kemarin juga sudah bagus. sepertinya kapan-kapan aku harus mengusulkan pada tuan Saga untuk periksa mata. dikit-dikit kalau melihat barang punyaku selalu bilang sakit matanya. Baiklah ayo hidup dengan semangat lagi! Daniah mengepalkan tangan ke udara. Kita mulai dari mana ini, bereskan kekacauaan di toko. Cari tempat kursus memijat dan juga make up. Daniah membawa tas makeupnya yang dia jinjing. Dia mau berlatih nanti sambil balas chat costumer, sebelum menemukan sekolah khususnya. ¡° Mbak niah tuan Saga juga mengirim tempat tidur.¡± Baru juga sampai di toko sudah dikejutkan dengan info dari Tika. Dia menunjuk lantai dua, memberi tahu kalau bendanya ada di lantai dua. ¡° Apa! Tempat tidur!¡± Dia pasti benar-benar tidak waras. Gumam-gumam kesal sambil masuk ke dalam toko. Daniah menjatuhkan tas ranselnya. Melihat banyak sekali perabotan rumah tangga menumpuk di dekat tangga. ¡° Tempat tidur ada di atas mbak.¡± ¡° Kalo gitu kita close order hari ini ya, kita beresin toko dulu. Kita mau bergerak bagaimana kalo begini. Tika, ada yang bisa dimintai tolong bantu gak ya. Laki-laki gitu, dua atau tiga orang biar semua cepat selesai.¡± Daniah memilih duduk dulu, bernafas sambil berfikir tindakan tepat apa selanjutnya yang bisa dia ambil. ¡° Ada mbak, saya panggil om saya ya mbak.¡± ¡° Ia boleh siapa aja, yang penting semua ini bisa selesai hari ini.¡± Hari ini close order, besok lanjutkan jualannya. Kalau semua disambi balas chat orderan gak mungkin bisa kekejar hari ini. Setelah bala bantuan datang pekerjaan dimulai. Daniah mengikat rambutnya tinggi, mengulung lengan baju. ¡° Ayo kita mulai.¡± Mereka mengeluarkan semua peralatan lama, kursi, sofa, kulkas, karpet. Menumpuk berjajar di halaman ruko. Mereka bahkan mengirimi AC 4 buah, sudah benar-benar gila. Sebenarnya otak sekertaris Han itu bagaimana bekerja si. Memang dia itu budak apa yang disuruh apa aja musti manut. Aku saja masih sedikit-sedikit membantah. Huhh, gak bisa dibanggakan juga kali kehinaan ini. Tidak! Setidaknya aku masih punya otak untuk membedakan mana yang benar dan salah. Berbeda dengan sekertaris itu. Kalau buat dia apa yang diucapkan Saga sudah pasti kebenaran semua. Dasar sekertaris compleks. ¡° Mbak Niah apa Acnya mau dipasang semua?¡± Satu persatu barang baru sudah mulai diletakan mengantikan posisi barang lama. ¡° Memang kita mau membekukan daging? Ganti aja yang lama seperti biasa. Satu lantai satu aja Acnya. Sudah panggil tukang Acnya.¡± ¡° Sudah mbak, sebentar lagi datang.¡± ¡° Kalo gitu kita beli makanan sama minuman dulu yuk, sepertinya enak kalau minum es.¡± ¡° Boleh mbak.¡± Daniah sengaja mau membeli ditempat yang agak jauh, jadi dia memesan taxi online. Dia mencari restoran yang masih tidak jauh dari rukonya. Aku akan memakai kartu kreditmu tanpa merasa bersalah sama sekali. Haha, tertawa sendiri dalam hati. Daniah dan Tika meninggalkan ruko yang masih sibuk berbenah setelah taxi datang. Mencari makanan dan minuman. Hpnya berbunyi saat mereka sudah mulai berjalan. Sekertaris sialan memanggil. ¡° Hallo¡± Daniah menjawab dengan suara jengah. ¡° Selamat siang nona.¡± ¡° Selamat siang juga sekertaris Han, apa ada yang bisa saya bantu.¡± Daniah melirik Tika di sebelahnya, yang penasaran dan antusias ingin tahu. Daniah nyengir, lalu menutupi mulutnya dengan tangan. Walaupun tetap saja percuma, toh Tika tetap bisa mendengar. ¡° Tuan muda ingin tahu, apa ada lagi yang anda butuhkan di toko.¡± Daniah sudah mengerutkan bibir kesal, mau mengirim apalagi kalian hah. Kenapa tidak sekalian kalian kirim Pak Mun untuk mengurus rukoku. ¡° Tidak ada, sampaikan terimakasih yang mendalam saya pada tuan Saga. Maksudnya kepada suami saya. ¡° diakhiri dengan tertawa sebal. ¡° Baik, akan saya sampaikan. Saya juga akan menyampaikan informasi, kalau tuan muda akan makan malam di rumah hari ini.¡± ¡° Apa!¡± hei tunggu, jam berapa dia pulang? ¡° Sampai jumpa lagi nona.¡± Hei bedebah aku belum selesai bicara. Kenapa dia seenaknya saja seperti tuannya. Aku harus menyelesaikan semua urusan toko dulu. Daniah memesan makan memilih menu spesial dan minuman spesial. Semua yang serba spesial. Dengan porsi 10 orang. Tidak dia memesan untuk porsi lima belas orang. Biarkan saja, aku akan berfoya-foya. Diakan kaya raya. Tika sampai tercengang dengan pilihan menu Daniah. ¡° Mbak ini benar gak papa?¡± ¡° Haha, Tika gak papa, kalau ada yang mau kamu pesan, pesan saja.¡± Ayo kita buang sial dengan menghabiskan uang laki-laki gila itu. BERSAMBUNG Chapter 47 Aroma sampo Selepas mandi berendam dengan sedikit aromaterapi membuat tubuh Daniah rileks. Aku ingin tidur saja rasanya, cape sekali. Daniah menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidur. Berguling ke kanan dan ke kiri. ¡°Nyaman sekali.¡± Di toko tadi sungguh melelahkan. Daniah meraih hpnya, sekertaris Han belum memberikan info kapan Saga akan kembali. Tapi Daniah berfikir kalau dia tidurpun pak Mun pasti akan membangunkannya nanti. Akhirnys gadis itu malah terlelap di atas tempat tidur. Sementara itu selang waktu tidak lama, mobil milik Saga sudah memasuki gerbang utama. Sekertaris Han sudah memberikan informasi kepada Pak Mun. ¡° Nona Daniah sedang tidur tuan muda.¡± setelah dia membaca pesan dari Pak Mun. ¡° Biarkan dia.¡± ¡° Baik.¡± Han mengetikan pesan cepat, lalu mengirimkan pada pak Mun. Mobil menepi tepat di halaman rumah. Pak Mun sudah berdiri di dekat pintu, berjalan mendekat menyambut Saga. Saga mengisyaratkan agar Han boleh pergi. sekertaris itu mengangukan kepala. menunggu diam sampai Saga menghilang dari balik pintu. ¡° Tuan muda nyonya mengundang seorang tamu untuk makan malam bersama.¡± Pak Mun membantu Saga melepaskan jasnya. ¡° Persiapkan saja semuanya. Di mana Daniah?¡± tidak perduli dengan tamu yang diundang ibunya. ¡° Nona muda sedang tidur di kamar.¡± Pak Mun mengikuti langkah Saga sampai masuk ke dalam kamar, Saga mengedarkan pandangannya menyapu ruangan, melihat tempat tidur, tersenyum sekilas melihat Daniah tergeletak di sana. Pak Mun bergegas mengambilkan sandal dan melepaskan sepatu. ¡° Apa anda mau mandi?¡± ¡° Keluarlah, aku mau istirahat sebentar.¡± ¡° Baik tuan muda.¡± Pak Mun mengangukan kepala lalu beranjak keluar kamar. Lihat ini, beraninya tidur saat aku pulang kerja. Saga duduk di bibir tempat tidur, menusuk-nusuk pipi Daniah yang kemudian mengeliat. Tidak tahu apa yang mendorong tubuhnya sampai dia ikut ambruk di samping Daniah. Mencium pipi gadis yang terlelap itu. Aku pasti sudah gila! Tapi Saga seperti menikmati raut nyaman istrinya yang tidur di sebelahnya. Daniah sudah duduk di sofa. Terjaga dengan terkejutnya. Melihat situasi. Dia mendengar suara air di kamar mandi artinya Tuan Saga sudah kembali. Aaaa, lagi-lagi aku ketiduran. Padahal jelas-jelas tahu tuan Saga akan pulang untuk makan malam di rumah. Dia sedang mandikan, bagaimana aku memberi alasan padanya nanti. Oke, yang penting minta maaf dan tersenyum. Mau dia melemparkan handuk atau sandal sekalipun aku harus tetap tersenyum Daniah mengepalkan tangan penuh semangat, untuk menyelamatkan diri. ¡° Kau sudah bangun?¡± Saga muncul dari dalam ruang baju, sudah memakai pakaian lengkap, rambut sudah disir dengan rapi. Kenapa dia bisa tampan begini si. Kalau saja aku bukan pembantunya, eh istrinya, eh istri yang seperti pembantu. Terserahlah aku disebut apa. Aku pasti jadi fansnya. ¡° Maaf tuan.¡± Saga melotot. ¡° Maaf suamiku.¡± Kenapa inget aja si kalau aku salah manggil. Saga menjatuhkan tubuh di sofa, menarik lengan Daniah untuk duduk kembali. Gadis itu mengeser tubuhnya, lagi-lagi supaya berada di jarak aman. Baik dari sentilan ataupun aroma parfumnya. ¡° Apa yang kau kerjakan hari ini.¡± ¡° Membereskan toko.¡± ¡° Kau suka.¡± Tersenyum bangga, seperti sudah menaklukan negara dan mendapat kemenangan. padahal mah cuma nyusahin orang aja bisanya. ¡° Tentu saja, toko saya jadi lebih indah dan nyaman berkat anda.¡± Suka kepalamu. ¡° Saya harus berterimakasih karena keperdulian anda.¡± ¡° Baguslah kau tahu berterimakasih.¡± Hahaha. Tersenyum kecut dan geram. Apalagi si sekarang, hentikan menyentuh rambutku. ¡° Apa yang kau pakai untuk rambutmu ini?¡± Saga mengulung lagi rambut Daniah, membuatnya mengeser duduk. Sampai mereka berdempetan. karena kalau dia tidak melakukannya rambutnya tertarik dan dia yang kesakitan sendiri. ¡°wangi apa ini? kamu pakai sampo apa?¡± Apa! Kenapa menciumi rambutku. Inikan rambut yang katamu jelek dan membuat matamu sakit. ¡° Saya pakai sampo di kamar mandi, sama seperti yang anda pakai.¡± ¡° Benarkah, kenapa wanginya beda. Coba cium punyaku.¡± Saga menyodorkan kepalanya. Daniah disampingnya cuma bisa mengeryit, apa-apan dia ini. ¡° Cium wangi rambutku.¡± menyodorkan kepala. ¡° Ba, baik.¡± Daniah bangun dari duduk, berdiri di hadapan Saga.mencium rambut dari kejauhan. Karena tidak terlalu tercium dia mencoba mendekatkan hidung namun menjauhkan badannya. ¡° Gimana wanginya?¡± Sok berfikir dan bergumam sebentar. inimah ya jelas sama, kitakan memang pakai sampo yang sama. ¡° Sepertinya sama.¡± Aaaaaa, hidungku. Kenapa anda bangun si. ¡° Hei, aku menyuruhmu mencium aroma sampo di rambutku. Bukan mencium kepalaku, kau sedang cari kesempatan menciumku?¡± Apa! Kan kamu yang bangun tuan muda sialan. Hidungku saja terbentur, siapa juga yang mau menciummu. Sudah gila apa aku. ¡° Anda yang tiba-tiba bangun, hidung saya saja sampai terbentur.¡± ¡° Sudah mengaku saja, kau memang mau menciumkukan. Banyak alasan ¡° Saga menunjuk hidung Daniah yang berwajah kesal. "Cium aroma rambutku, bukan cium kepalaku." katanya lagi dengan wajah puas. ¡° Tidak Tu.¡± Saga sudah melotok. ¡° Tidak suamiku.¡± ¡° Kali ini kumaafkan kamu ya.¡± Saga bangun dari duduk dan berjalan keluar dari kamar. Hei, tunggu, luruskan dulu kesalahpahaman ini. Siapa yang mau menciumu. Aku sama sekali tidak bermaksud menciummu tadi. Kan kamu yang bangun. Chapter 48 Makan Malam (Part 1) Setelah bisa menguasai segenap hati dan emosi, Daniah bergegas menyusul keluar ruangan. Mensejajari langkah Saga yang besar, dia berjalan tepat di belakang suaminya. Brug! tubuhnya menempel di punggung Saga. ¡° Lihatkan, kamu cari-cari kesempatan menciumku lagi.¡± Saga membalikan badan, menyeringai. Sambil mencubit hidung Daniah. Siapa yang mau menciummu! Kenapa juga berhenti mendadak begitu.Tuan apa perlu kita periksa ke dokter kejiwaan, sepertinya anda mengidap penyakit narsis yang akut. bahkan mungkin seluruh tubuhmu sudah dipenuhi dengan kenarsisan yang hakiki. ¡° Saya sedang melamun tadi dan anda berhenti mendadak.¡± ¡° Banyak sekali alasanmu.¡± Aku sedang tidak membuat alasan, dan aku juga tidak mau menciummu! Saga melanjutkan langkahnya menuruni tangga, terhenti lagi langkahnya, untung saja Daniah menyadari, jadi dia juga berhenti. Daniah mengintip dari balik punggung Saga. Eh, bukankah itu Helena. ¡° Selamat malam Saga.¡± Helena sedang meletakan sendok di meja makan. Ibu di sampingnya menyentuh tangannya. ¡° Ibu yang mengundang Helen ke rumah, gak papakan?¡± ¡° Bawakan buah ke ruang kerjaku.¡± Pak Mun yang berdiri menggangukan kepala. Lalu dia memberikan instruksi kepada koki kemudian menyusul Saga ke ruang kerja. " Lakukan saja yang ibu inginkan." Tanpa memandang Helena di samping ibunya, dia melangkah meninggalkan kesunyian. semua terdiam, hanya terdengar langkah kaki pak Mun menyusul masuk ke ruang kerja. Daniah duduk di kursi di dapur, mengambil sekotak stroberi dari kulkas lalu memakannya. Sambil melihat koki sedang mengupas buah dengan hati-hati. ¡° Maaf ya bu, aku memaksa ibu untuk mengundangku?¡± Helena terduduk di kursi, ada kepingan hatinya yang terbuka. Dia kecewa bercampur sedih. setelah pulang ketanah air dia tidak pernah membayangkan akan seperti ini reaksi yang ia dapat dari Saga. ¡° Tidak, sudah seharusnya kamu datang. Helen, ayo lakukan semua cara yang kamu bisa untuk kembali pada Saga.¡± ibu mencoba menguatkan, dia ingin mempunyai menantu seperti Helena. wanita yang bisa ia banggakan saat perkumpulan para sosialita. Helena melirik Daniah di kursi dapur, dia tersenyum saat mereka bersitatap. Dan mungkin karena kadar tidak tahu malunya atau kepercayaan dirinya sangat tinggi dia mendekati Daniah. ¡° Daniah maaf ya membuatmu sangat tidak nyaman pasti ya, aku sangat akrab dengan ibu, jadi dia memaksaku datang untuk makan malam di sini.¡± ¡° Hehe, tidak apa-apa nona.¡± ¡° Kenapa kamu masih canggung begitu, panggil saja aku Helen. Bolehkah kita berteman?¡± Helena mengulurkan tangannya. ¡° Tentu saja nona.¡± Daniah menerima uluran tangan itu, ya inilah tujuannya, menjadi teman Helena. Pak Mun sudah muncul, Daniah sudah mengambil nampan berisi buah yang diminta Saga tadi. bersiap membawakan ke ruang kerja. namun langkahnya terhenti saat melihat Pak Mun yang sepertinya merasa tidak enak. ¡° Nona Helena, tuan muda meminta anda membawakan buah ke ruangan kerja.¡± Dia menatap Daniah seperti permintaan maaf, gadis itu menjawab dengan senyuman seperti biasanya. Ntah kenapa aku kok merasa sedih ya. Padahal harusnya akukan senang. Daniah menyerahkan nampan yang ia pegang pada wanita di depannya, yang tersenyum sangat senang menerimanya. Ia seperti menang. ¡° Maaf ya Daniah.¡± ¡° Tidak apa-apa nona silahkan.¡± Daniah menatap setiap langkah kaki Helena dengan dada yang berkecamuk. ¡° Kasihan sekali kakak iparku, sekarang bersiap-siaplah.¡± ¡° Ia bersiap-siaplah.¡± Ibu ikut bicara. ¡° Bersiap-siap untuk apa?¡± wajah polos Daniah. Padahal tentu dia tahu maksud perkataan mereka. ¡° Tentu saja keluar dari rumah ini.¡± Sofia dengan kesal membalas. Daniah maju mendekat, menepuk bahu adik iparnya. ¡° Adik ipar kalau kamu sebenci itu katakan pada kakakmu untuk menceraikanku. Tapi, kalau kamu berani si. Hehe.¡± tawa Daniah menantang harga diri adik iparnya. " Gak berani kan? Kalau begitu berhenti mengganguku." ¡° Kau!¡± ¡° Sofi hentikan, kalau kakakmu mendengar keributan nanti malah kamu yang akan dihukum.¡± Ibu melerai anaknya yang sudah seperti ingin menjambak rambut Daniah. Daniah memilih berjalan ke rumah belakang. Menunggu di rumah utama hanya akan membuatnya sesak nafas. Udara di luar rumah sangat sejuk. Karena jarang bisa menikmatinya, Daniah merasa suasana rumah utama dan rumah belakang itu sudah seperti syurga dan neraka. Segarnya. Gumamnya pelan menghirup udara. Apa yang mereka lakukan di ruang kerja ya, mengobrol, berciuman, atau. Hehe, berhentilah berfikir mesum Daniah. Apa ini akan berjalan dengan mudah ya. Ayolah, kamu bahkan belum memulai apapun, masak sudah takut begini. Bukankah aku sudah melihat kegigihan Helena, ya gadis itu pasti bisa melunakan hati tuan Saga. Apa aku bisa pergi dari tempat mewah ini ya, pergi bebas, walaupun bercerai tapi bisa pergi tanpa kebencian. ¡° Nona, kenapa anda di sini?¡± Pelayan yang biasanya menemani Daniah mengobrol mendekat. ¡°Bukankah tuan Saga ada di rumah? Sudah waktunya makan malamkan?¡± tanyanya, sambil duduk di samping Daniah. ¡° Duduklah, udara hari ini sejuk ya.¡± ¡° Eh ia. Apa ini karena nona Helena datang.¡± Pelayan wanita itu bertanya lembut. Seperti bisa meraba kegundahan hati nona mudanya. ¡° Nona Daniahkan sudah menjadi istri tuan muda, kenapa masih menghuatirkan hal seperti itu?" Haha, kamu pasti tidak tahukan kenapa aku bisa ada di tempat ini. Aku hanyalah gadis yang dijual ayahku untuk menebus hutang. Aku bukanlah wanita istimewa yang dipilih tuan Saga. ¡° Bukankah Helena sangat cantik?¡± ¡° Nona, anda juga sangat cantik dan baik.¡± Daniah hanya membalas dengan tertawa. ¡° Bukankah mereka pasangan yang serasi?¡± ¡° Nona juga serasi dengan tuan muda.¡± ¡° Haha, apa si.¡± Saat mereka masih berbincang, Pak Muncul, mendekat. ¡° Nona Muda sudah saatnya kembali, tuan muda sudah keluar dari ruang kerja.¡± ¡° Eh ia pak. Aku masuk dulu ya.¡± ¡° Ia nona.¡± Pelayan wanita yang menemani Daniah bangun dan menundukan kepalanya. Kenapa aku terhibur dengan kata-kata sederhananya ya. Hehe. aku jadi ingin mentraktirnya jalan-jalan dan makan diluar. Terimakasih Maya, sudah menjadi temanku di lubang neraka ini. bersambung Chapter 49 Makan malam (Part 2) Formasi makan malam hari ini berubah. Ibu mengeser tempat duduknya supaya Helena bisa berdekatan dengan kursi Saga. Selepas keluar dari ruangan kerja Saga tidak bicara apapun, Helena hanya mengikutinya dari belakang. Juga tidak bicara kecuali dengan ibu dan adik ipar. Daniah berusaha menebak lewat sorot mata laki-laki itu, tapi sial, dia benar-benar susah dicari tahu isi hatinya. Daniah yang sudah mau mengambilkan lauk, mengantung sendoknya tepat di depan piring Saga. Helena sudah lebih cepat, dia sudah meletakan lauk dan sayur ke dalam piring Saga. Ibu tersenyum senang dan menepuk bahunya. ¡° Ayo Helen juga makan yang banyak.¡± Tersenyum seperti memenangkan hadiah lotre undian pertama. Begitu juga Helena, tersenyum malu-malu. Daniah meletakan lauk yang tadi akan ia letakan di piring Saga ke piringnya sendiri. Lalu mulai makan. Kenapa aku sekarang berfikir Helena agak sedikit jahat ya. Baiklah, dia memang wanita yang dicintai Tuan Saga. Tapi bukankah aku ini istrinya, ya, istri yang cuma seperti pembantu si. Tapi paling tidak bukankah dia seharusnya sedikit saja berempati padaku. Aku ada di hadapannya lho. ¡° Hei.¡± ¡° Ia suamiku.¡± Terkejut karena sedang memikirkan banyak hal. ¡° Ambilkan ikan pedas.¡± Saga menunjuk piring ikan pedas yang ada di depannya. ¡° Biar aku yang ambilkan.¡± Helen sudah menyentuh sendok di piring ikan pedas. Tangannya terhenti ketika Saga bicara lagi. ¡° Tidak dengar aku menyuruhmu apa?¡± Saga menatap Daniah. ¡° Eh, ia.¡± Helena melepaskan sendok di piring ikan pedas. Lalu dengan tertunduk ia menghabiskan makanannya lagi. Ibu dan adik ipar saling lirik, tapi menahan diri untuk bicara. Mereka tentu mencari keselamaatan diri masing-masing. Daniah mengambilkan lauk yang diminta. Perasaannya sedikit merasa tidak enak. Aku bukannya mau mengambil kesempatan Helena, tapi dia yang menyuruh, kalau aku tidak menurutinya aku yang mati. Maafkan aku ya. Mereka sejenak makan dalam pikiran masing-masing. Sial! Lihat dia masih bisa tersenyum. Padahal aku membawa wanita lain masuk ke ruang kerjaku. Jangankan cemburu sepertinya dia sama sekali tidak sedih. Sialnya kenapa ini membuatku semakin kesal saja. Saga Kenapa tuan Saga begitu ya? Apa dia sedang membalas kepergian Helena. Cih, pendendam sekali. Seharusnya kau memperlakukannya dengan baik, jelas-jelas masih suka. Apa dia ingin Helena berlutut dan memohon. Benar-benar, waktu itu akukan berlutut sambil mencengkram kakinya. Apa perlu kuberitahu Helena. Walaupun sepertinya dia bukan gadis seperti malaikat hatinya, tapi akukan harus baikin dia untuk menjalankan misi. Daniah Saga aku akan kembali merebutmu. Coba lihat gadis ini, benar-benar bukan seleramukan, kamu menikahinya memang hanya untuk membalasku. Helena Ibu memecah kesunyian. ¡° Saga, Helen boleh menginapkan?¡± ¡° Ibu saya pulang.¡± Helena menyentuh lengan ibu. Karena sepertinya akan memalukan kalau sampai Saga menolak. ¡° Terserah.¡± Saga meletakan sendoknya, menatap Daniah yang masih mengunyah dan belum selesai makan. ¡° Ikut aku!¡± Daniah sudah panik sendiri, dia melihat semua orang yang ada di meja makan. Sambil mengangkat bahu. ¡°hehe, maaf saya permisi dulu. Selamat malam semuanya.¡± Dia bangun lalu menyusul Saga yang sudah menaiki tangga. ¡° Padahal aku belum selesai makan.¡± Di meja makan, Helena menitikan airmata setelah Saga pergi meninggalkannya. ¡° Maaf ya bu, aku membuat semua jadi canggung.¡± Gadis itu mengusap airmatanya. ¡° Helen, berusahalah lebih keras. Kamu tahukan kalau Saga masih sangat mencintaimu. Dia hanya sedang marah memohonlah.¡± Ibu menepuk bahu gadis itu agar lebih kuat. ¡° Benar kak, kak Saga masih sangat mencintai kak Helen.¡± Sofia menimpali. ¡° Kalau tidak , gak mungkinkan Danau hijau dibangun seperti sekarang.¡± Jenika juga mencoba menghibur. ¡° Kak Helen lihat beritanyakan, gimana danau hijau sekarang.¡± ¡° Benar Helen. Berusahalah, memohonlah padanya. Kalau perlu berlututlah di kakinya supaya dia mau memaafkanmu.¡± Helena jemarinya dibawah meja. Benarkah dia memang masih punya kesempatan untuk kembali merebut hati Saga. Dengan wajah kemenangan dia masuk ke dalam ruangan kerja Saga, tadi dia sempat melihat wajah terkejut Daniah. ¡° Apa kau pikir dengan wajah seperti itu bisa mengalahkanku. ¡° Dia membawa nampan berisi buah. Saga duduk di sofa yang ada di dekat rak buku. Terdiam. ¡° Saga.¡± Helena meletakan nampan di meja lalu duduk di samping Saga, dia melingkarkan tangannya di lengan laki-laki itu. ¡° Apa hanya ini cara yang bisa kau pikirkan untuk dekat denganku lagi.¡± Sebenarnya dari cara bicaranya Saga masih masuk kategori lembut. ¡° Saga.¡± Gadis itu cukup tahu diri, dia melepaskan tangannya. ¡° tidak bisakah kamu memaafkanku. Aku akan memohon padamu.¡± Saga mengambil sepotong buah lalu memakannya. Mengambil lagi, lagi dan lagi. Dia hanya fokus makan belum bicara. Sekarang dia sudah meletakan sendok. ¡° Kau tahu apa kesalahanmu dua tahun lalu?¡± Helena menundukan kepalanya. ¡° Kau pergi tanpa izin dariku.¡± Lanjutan kalimatnya. ¡° Kalau aku izin padamu, apa kamu akan mengizinkan?¡± Helena jemarinya. ¡° Tidak!¡± ¡° Karena itu aku pergi tanpa mengatakannya padamu, kalau aku mengatakanyapun kamu tidak akan mengizinkan.¡± Menyentuh lengan Saga. ¡° Itulah kesalahanmu, walaupun tahu aku tidak mengizinkan, setidaknya cobalah memohon padaku. Memohon padaku agar aku mengizinkanmu. Kamu tahukan, kalau dua tahun lalu aku adalah laki-laki yang akan melakukan apapun untukmu. Aku akan memberikan apapun yang kamu mau, bahkan seluruh isi dunia ini.¡± ¡° Saga.¡± Helena mulai berlinang, tahu titik kesalahannya dimana. Kebodohannya. ¡° Sekarangpun kamu tidak menyesalinyakan?¡± Saga melanjutkan kalimatnya, suaranya sudah terdengar dingin. ¡° Saga, aku menyesalinya. Aku masih mencintaimu, sangat mencintaimu.¡± ¡° Benarkah? Lalu cuma ini caramu untuk memohon pengampunanku. Sepertinya kamu masih terlalu percaya diri ya. Bahwa waktu dua tahun tidak mengubahku.¡± Saga bangun dari duduk, namun segera Helena meraih tangannya. ¡° Saga.¡± ¡° Memohonlah yang benar.¡± Seperti terjatuh dari ketinggian Helena mengepalkan tangannya, terguncang dengan kata-kata Saga. Kenapa dua tahun lalu dia begitu bodoh. Bodoh sekali dirinya yang berfikir kalau dia kembali Saga akan menyambutnya dengan hangat. Karena dulu dia tahu, bagaimana Saga mencintainya. BERSAMBUNG.......... Chapter 50 Hadiah dari Saga Sudah masuk ke dalam kamar. Zona berbahaya kalau Saga sedang dalam suasana hati yang tidak baik. Saga menjatuhkan diri di sofa, Daniah menyusul ikut duduk di sampingnya. Dia melihat laki-laki itu mendesah dan masih terdiam, bahkan memejamkan mata sambil menyenderkan kepala. ¡° Kenapa memelototiku.¡± Saga menjentikan telunjuknya di kening Daniah. Padahal dia masih memejamkan mata. ¡° Maaf suamiku.¡± Cih, aku bahkan sudah fasih memanggilnya begitu. ¡° Apa anda tidak mau turun dan berbincang di bawah?¡± berusaha untuk kabur dari situasi yang canggung ini. Akan jauh lebih baik berbincang dengan orang-orang yang ada di bawah. Walaupun mendengar sindiran-sindiran adik ipar jauh lebih baik dari pada berduaan seperti ini. ¡° Kenapa?¡± Saga berhenti menunggu jawaban sepertinya. Namun Daniah tidak menjawab ¡° Aku dengar kau tertarik sekali dengan Ele.¡± Eh, darimana dia bisa tahu. Apa sekertaris sialan itu yang melaporkan kalau aku beberapa kali kepergok menanyakan tentangnya. ¡° Tidak, hanya saya pikir anda sudah lama sekali tidak bertemu dengannyakan. Pasti banyak yang bisa anda bicarakan dengannya.¡± Alasan yang masuk akal diberikan. ¡° Aku sudah bicara banyak dengannya di galery, bukankah kau lihat tadi aku bicara dengannya berdua.¡± Saga mendekatkan wajahnya ke arah Daniah. Gadis itu terperanjak dan memundurkan kepalanya. Katakan kau cemburu! Katakan kau cemburu. Gumam Saga sambil menatap Daniah lekat. ¡° Hehe, benar juga. Jadi apa anda sudah mau tidur?¡± Daniah mengeser duduk dan kepalanya lebih ke belakang. Sial, bahkan kau masih bisa tersenyum begitu. Kau sama sekali tidak marah aku dekat dengan wanita lain. Huff. ¡° Tidur, kenapa aku mau tidur. Aku mau menyiksamu dulu. Minggir!¡± Apa! Kenapa dia marah? Aku salah apa coba. Kenapa minta dipijat lagi si. Sudah duduk sambil bersandar di tempat tidur, meletakan kaki dipangkuan Daniah. ¡° Kau sudah mulai kelas memijat.¡± tanyanya biasa, tapi kalau Daniah menjawab belum pasti marah lagi. ¡° Saya baru mendaftar hari ini dan mulai kelasnya minggu depan.¡± ¡° Baguslah, buat dirimu berguna, aku sudah memberimu makan.¡± ¡° Baik suamiku.¡± menjawab cepat, setengah ketus dan malas. ¡° Kau sedang kesal padaku!¡± ¡° Haha, tidak mana mungkin saya berani.¡± Tertawa, lalu tersenyum secerah mentari dan melanjutkan memijat lagi. ¡° Terus kenapa kau menekan kakiku!¡± ¡° Maafkan saya.¡± Pijatan di kaki selesai, naik ke arah paha. Setelah itu menyodorkan tangan kiri. Daniah sudah naik ke atas tempat tidur, duduk bersimpuh di samping Saga. Saga meyentuh bahunya, agar Daniah juga memijatnya. Hei panggil tukang pijak sana! Katamu kau tidak suka disentuh dengan orang, tapi ini apa! Setiap hari aku mengerayangimu. Ya walaupun kamu tampan tetap saja ini menyiksa tahu. Hiks. ¡° Lumayan juga.¡± Saga mengoyangkan kepalanya, puas dengan hasil pijatan Daniah. Apanya yang lumayan bedebah, aku sudah kelelahan. Cium tangan untukmu wahai pemijat profesional. Hidup anda sungguh sangat mulia, aku akan cium tangan kalau habis pijat. ¡° sandal, aku mau ke kamar mandi.¡± ¡° Baik.¡± Haha, baiklah mulai sekarang aku akan menghabiskan uangmu tuan Saga, akan kupakai kartu kreditmu tanpa belas kasih. Aku akan menggangapnya sebagai gajiku sebagai pembantumu. Haha. Lemas Daniah menyeret kakinya ikut masuk ke ruang ganti, mengambilkan pakaian dan menunggu di dekat pintu. Saga keluar dari kamar mandi langsung menganti pakaian dengan yang dipegang Daniah. Eh, dia melemparkan baju ke dalam keranjang. Bukan ke mukaku. Ada apa dengannya. ¡° Kemarilah.¡± Eh ada apa? Daniah mendekat, Saha menyentuh dagu Daniah, gadis itu terkejut, tapi belum sempat dia mundur tangan itu sudah mencengkramnya. ¡° Ini hadiah untuk kerja kerasmu hari ini.¡± Daniah mendorong tubuh Saga, tapi malah dia yang terjerembah jatuh terduduk. Wajahnya merah merona. Terkejut sekaligus marah. ¡° Wah, wah, ternyata kamu sesenang itu dengan hadiahmu. Wajahmu sampai merah begitu.¡± Saga bicara sambil tertawa. Gemetar-gemetar menahan geram. Siapa yang sedang senang!! ¡° Bersikap manis dan patuhlah, aku akan memberimu hadiah lagi nanti.¡± Saga menyentuh bibirnya, lalu tergelak dan meninggalkan ruangan dengan santai. Sialan! Kenapa kamu menciumku seenaknya. Hadiah! Siapa yang mau hadiah ciuman darimu bedebah gila. Inikan ciuman pertamaku. Hiks, hiks. Aku menjaganya bahkan walaupun punya pacar aku belum pernah berciuman. Dan, dan dia sudah mengambilnya dariku. Daniah mengusap bibirnya berulang kali di kamar mandi. Setelah mengosok gigi dia kumur-kumur lebih lama. Kali ini dia bahkan mengosok bibirnya juga dengan sikat gigi. Memandang wajahnya sendiri di pantulan cermin. Kenapa kau sampai bersemu merah bodoh. Akukan terkejut. Ya, ya, aku hanya sangat terkejut tadi. Siapa juga yang senang dicium olehnya. Berapa ratus wanita yang sudah dicium bibir itu. cih. Sementara itu di luar ruang pakaian, Saga yang sudah tiduran tertawa terbahak tanpa suara. Aku pasti sudah gila, bagaimana aku bisa sesenang ini hari ini. Diapun lupa, ada seseorang di lantai bawah, gadis bernama Helena yang selama ini ia rindukan kehadirannya. bersambung Chapter 51 Mendisiplinkan pelayan Pagi hari datang, suasana hati Saga terlihat baik sejauh ini. di luar matahari sudah sedari tadi memanaskan bumi. Daniah menatap laki-laki di depannya. gumam-gumam kecil dari mulutnya. Dia benar-benar tidak mengangap kejadian semalam sebagai dosa ya. ¡° Katakan pada pak Mun bawa sarapan ke kamar.¡± ¡° Baik suamiku.¡± Saga masuk ke dalam kamar mandi, sementara Daniah keluar dari kamar. Gemetar-gemetar menahan kesal dia mencengram tangga. Ingat lagi kejadian semalam. Saat ia terbangun dan berteriak terkejut karena lagi-lagi Saga memeluknya. Tapi yang akhirnya terjadi malah membuatnya mengemerutukan gigi karena kesal. ¡° Kamu benar-benar memanfaatkan kesempatan karena aku baik padamu ya.¡± Saga menendang kaki Daniah di bawah selimut. ¡° Apa!¡± menjawab setengah berteriak. ¡° Beraninya meninggikan suaramu di depanku.¡± ¡° Maafkan saya suamiku.¡± Menutup mulutnya rapat dengan tangan. ¡° Kau mau memeluku?¡± ¡° Tidak, kan anda yang mendekati saya.¡± ¡° Haha, jadi kamu bilang aku mau memeluku begitu.¡± ¡° Tidak, bukan begitu. Kalau begitu saya pindah ke sofa saja biar anda bisa tidur dengan nyaman.¡± Daniah memilih lari dari situasi ini. ¡° Kalau kau mau tidur selama-lamanya, tidur di sofa sana.¡± Kata-kata ancaman itu membuatnya membeku, dan akhirnya dia tetap tidur di tempat tidur. Geram setengah mati Daniah kalau ingat kejadian semalam. Siapa juga yang mau memelukku. Kamu yang sudah seenaknya memeluku, dan menciumku. gerutunya dalam hati. ¡° Eh, kenapa turun sendiri. Mana Saga?¡± Ibu mertua sudah duduk di ruang tengah menunggu, bersama Helena. Ternyata dia menginap ya. ¡° Masih mandi bu.¡± ¡° Terus kenapa kamu malah turun?¡± ¡° Tuan Saga ingin sarapannya di bawa ke kamar.¡± ¡° Apa!¡± Daniah menoleh pada Helena yang masih duduk, sekarang wajahnya tertunduk. Ntah kenapa dia merasa kasihan juga pada gadis itu. Selama pernikahan selain waktu dia pura-pura sakit, tidak pernah sekalipun sarapan dilewatkan tanpa makan bersama di meja makan. Ini kali pertamanya ingin sarapan di kamar. Karena ada seorang gadis masa lalunya di rumah ini. ¡° Tidak apa-apa bu, seharusnya aku memang tidak menginap di sini.¡± Daniah meninggalkan kedua wanita itu yang sedang saling menghibur diri. Dia menoleh saat mendengar suara ribut dari arah rumah belakang. Ada keributan apa di luar ya. Daniah memberikan info kepada Pak Mun untuk menyiapkan sarapan ke kamar ¡° Ada keributan apa di belakang pak?¡± ¡° Sekertaris Han sedang mendisiplinkan pelayan nona. Saya siapkan sarapannya sebentar.¡± ¡° Apa! Mendisiplinkan pelayan, apa yang bakal si sinting itu lakukan.¡± Daniah menoleh pada ibu dan Helena berharap mendapat bantuan, tapi mereka terlihat tidak perduli. Lalu dia pergi sendiri kerumah belakang. Tempat dia biasa menghabiskan waktu dengan para pelayan rumah ini. Plak! Plak! Daniah mematung, sejenak dia tersentak karena merasa terkejut. Untungnya segera tersadar, kalau dia tidak boleh diam saja. ¡° Sekertaris Han, apa yang anda lakukan?¡± Daniah sudah berdiri diantara tiga pelayan yang sedang mendundukan kepalanya dan juga sekertaris Han yang berwajah marah. Sakit yang menjalar di pipi namun tidak berani mereka sentuh. Han mengantung tangannya di udara. Dia terhenyak sebentar. ¡° Maafkan saya nona, karena sudah membuat keributan.¡± Han mundur dua langkah sambil membungkukan kepalanya. Apa! Dia minta maaf padaku sudah melakukan keributan, bukannya minta maaf karena sudah menampar tiga pelayan wanita ini. aku memang tidak terlalu akrab dengan mereka, tapi ini sudah keterlaluan namanya. Mata Daniah berkeliling, dia menemukan Maya dan para pelayan lainnya sedang berdiri berbaris tidak jauh darinya. Mereka semua menundukan kepala mereka. ¡° Kenapa anda memukul mereka.¡± Tegas Daniah bertanya. ¡° Saya sedang mendisiplinkan ketiga pelayan ini nona.¡± ¡° memang apa kesalahan mereka. Tidak bukan kesalahan, tapi apa perlu anda sampai menampar mereka.¡± Daniah yang gusar mendengar jawaban Han. Dia jujur menjawab, tapi jawabannya menyebalkan untuk di dengar telinganya. ¡° Seperti anda yang harus mematuhi peraturan yang sudah dibuat tuan muda, begitu juga para pelayaan yang ada di rumah ini nona.¡± Glek, kenapa aku sampai lupa fakta ini. Aku juga tidak lebih dari pelayan di rumah ini. " Tapi saya tidak suka melihat anda melakukan kekerasan dalam mendisiplinkan para pelayan." " Baik nona, saya akan berhati-hati dan tidak melakukannya di depan anda." Apa! bukan begitu maksudnya bodoh. ¡° Ikut aku!¡± Daniah menarik tangan Han, yang mau tidak mau mengikutinya. Setelah menjauh dari rumah belakang dia melepaskan tangannya. ¡° Sekarang katakan, apa kesalah mereka?¡± ¡° Mereka membicarakan anda.¡± ¡° Aku?¡± Daniah menunjuk dirinya. ¡° Mereka mengatakan kalau anda tidak pantas dari semua segi bersama tuan muda, dan nona Helenalah yang jauh lebih pantas daripada anda.¡± Kenapa aku merasa malu mendengar kejujuran sekertaris Han yang blak-blakan. Dan kenapa juga dia marah, inikan memang fakta. ¡° Tadinya saya pikir kesalahan mereka itu apa. Bukankah anda sudah sangat keterlaluan, kalau hanya seperti itu bukannya anda hanya perlu menegurnya. Tidak perlu sampai menampar mereka. Lagi pula itu memang kenyataankan.¡± Kenapa dia tersenyum, menakutkan sekali. ¡° Nona apa anda tahu berapa para pelayan dibayar di rumah ini?¡± Daniah mengelengkan kepala. Aku juga penasaran berapa gajimu. ¡°Mereka dibayar lima kali lipat dari gaji pelayan biasanya, itu belum termasuk uang bonus dan lembur.¡± ¡° Apa!¡± ¡° Dan mereka digaji sebesar itu bukan hanya untuk bekerja saja, tapi untuk menutup mata, telinga dan mulut mereka tentang semua yang terjadi di rumah ini.¡± ¡° Tapi merekan hanya mengobrol.¡± ¡° Mereka sedang membicarakan anda, nona muda sah rumah ini, istri dari tuan Saga.¡± Kenapa itu terdengar keren sekaligus menakutkan. ¡° Hei sekertaris Han, andakan yang paling tahu posisi saya bagi tuan Saga itu seperti apa.¡± bahwa sebenarnya tidak ada yang perlu dibanggakan dari statusnya sebagai nona muda di rumah ini. ¡° Sepertinya anda sudah terlalu lama di sini, silahkan kembali ke dalam, tuan muda pasti sudah selesai bersiap dan saatnya sarapan.¡± Sialan! dia malah mengalihkan pembicaraan. tapi benar juga, aku sudah terlalu lama. " Kumohon lepaskan mereka." " Baik nona." Daniah sudah mau berbalik saat Han sudah menggangukan kepala. walaupun menyebalkan, tapi ia yakin kalau Han sudah berkata akan melepaskan mereka itu artinya para pelayan tadi sudah aman. " Nona, kalau saya boleh memberi saran, anda tidak perlu merapikan rambut anda dengan sungguh-sungguh." Apa? maksudnya dia apa si. bersambung Chapter 52 mengikuti Daniah Daniah masuk ke dalam rumah utama, mencari pak Mun. Tidak menemukan laki-laki itu. Di meja makan para wanita penghuni rumah sedang menikmati sarapan. Daniah melewati mereka tanpa menyapa, setengah berlari menaiki tangga. Membuka pintu dengan suara keras. Sial! pikirnya. Pak Mun sudah ada di dalam kamar, Sarapan sudah ada di meja. Dia sedang membantu Saga dengan sepatunya. Daniah langsung mendekat dan meminta Pak Mun bangun karena dia yang akan melakukannya. Saga menyentuh kepalanya yang tertunduk. Menepuknya tiga kali. ¡° Darimana kamu heh?¡± ¡° Maafkan saya suamiku.¡± Daniah bangun lalu duduk di samping suaminya, menarik nampan berisi sandwich dan jus buah seperti biasanya. Menu sarapan ringan Saga. Dia menyerahkan segelas jus. Saga menerimanya sambil melirik pak Mun, mengisyarakan kalau dia sudah bisa pergi. Pak Mun mengangukan kepala lalu keluar kamar tanpa bersuara. ¡° Kenapa wajahmu kesal begitu?¡± ¡° Suamiku, apa saya boleh mengatakan sesuatu tentang sekertaris Han.¡± ¡° Hemm.¡± Idih, maksud hemm kamu itu apa? ¡° Apa kau membuatnya kesal?¡± tanya Saga. ¡° Apa?¡± ¡° Berhati-hatilah dengannya, dia lebih menakutkan dari pada aku lho.¡± Tangan, tangan, tolong kondisikan tangan anda tuan. Berhenti menyentuh rambutku, apa sesuka itu kamu sama rambutku. Saga menyodorkan sandwich yang habis dia gigit di depan mulut Daniah. Kenapa anda suka sekali membuatku makan bekas gigitan anda tuan? ahh, sudahlah, makan saja. persetan, toh bibir kita juga pernah bersentuhan. Daniah membuka mulutnya, mengigit bekas gigitan laki-laki di depannya. ¡° Nah gitu donk, akukan suka kalau kamu penurut begitu.¡± Menggigit lagi sandwich bekas gigitan Daniah. Daniah mengeryit, sepertinya dia sudah sinting. gumamnya pelan melihat kelakuan Saga. ¡° Saya melihat sekertaris Han memukul tiga pelayan wanita.¡± Daniah memandang wajah suaminya lekat. Wajah Saga tidak terlihat terkejut atau apa, dia kembali makan dengan santai, menunjuk gelas agar daniah mengambilkan jusnya. ¡° Suamiku.¡± ¡° Hemm.¡± ¡° Bukankah berlebihan kalau dia sampai memukul pelayan perempuan itu cuma karena masalah sepele.¡± ¡° Memang kenapa sampai mereka ditampar.¡± Aku bahkan tidak bisa mengatakan kalau gara-gara membicarakanku dengan Helena. Saga bersikap sangat dingin saat bertemu dengan Helena di bawah. Dia hanya menjawab melaui sorot matanya, lalu meninggalkan mereka yang ada di ruang makan. Daniah malah merasa yang sangat tidak enak dan tidak nyaman. Dia menoleh sebentar pada gadis itu. Wajahnya terlihat sangat sedih. Lalu segera berlari menyusul Saga yang sudah masuk ke dalam mobil Dia bersitatap mata dengan sekertaris Han. Pandangannya penuh rasa sebal. Tapi sekertaris Han malah tersenyum dan mengangukan kepala padanya lalu masuk ke dalam kendaraan. Mobil keluar dari gerbang utama. meninggalkan Daniah yang masih mematung, memandang langit dari kejauhan. Di dalam kendaraan. ¡° Apa kau memukul pelayan wanita?¡± Saga menyandarkan kepalanya. ¡° Ia tuan muda.¡± Rupanya anda mengadukan saya ya nona, saya pikir anda akan menyimpan kejadian ini sendirian. ¡° Jangan lakukan di depan Daniah.¡± ¡° Baik tuan, saya akan berhati-hati kedepannya.¡± Mobil melaju. ¡° Kenapa kau memukul mereka?¡± bertanya lagi, diluar kebiasaan yang seringnya tidak perduli. Rupanya anda tidak mengatakan semuanya ya nona. ¡° Mereka bergosip tentang nona muda. Mengatakan kalau nona tidak pantas di samping anda, dan lebih pantas nona Helena karena lebih cantik dan sederajat dengan anda.¡± Huh! Saga mendesah. ¡° Kenapa tidak kamu robek saja mulut mereka.¡± ¡° Baik tuan muda, kedepannya saya akan pastikan tidak akan ada kejadian seperti ini lagi.¡± Setelah hukuman tadi Han percaya tidak akan ada yang berani menyinggung masalah Helena lagi di rumah utama. ¡° Hentikan mobil.¡± ¡° Baik.¡± Dia biasanya naik ojekkan, pak Mun lapor kalau dia selalu keluar dengan ojek online setelah aku berangkat. sebentar lagi dia pasti lewat. ¡° Kita punya berapa persen saham di ojek online?¡± ¡° 59 persen tuan muda.¡± Tunggu apa anda mau menutup perusahaan karena nona Daniah lebih memilih memakai itu dari pada mobil di garasi. Tidakkan? Han melirik kaca spion ¡° Daniah bisa bawa mobil gak?¡± ¡° Bisa.¡± ¡° Kalau begitu hari ini bawa dia untuk membeli mobil. Ini hari terakhirnya naik ojek.¡± ¡° Baik tuan muda." Seperti dugaan tidak selang waktu lama sudah ada ojek yang melintasi mobil mereka, menuju arah rumah besar milik Saga. Han mengirimkan pesan, sambil menatap jalanan. jangan sampai terlewat saat nona Daniah pergi. tidak perlu menunggu lama Daniah yang naik ojek online melewati mobil. Han ikut melajukan kendaraan mengikuti. walaupun Saga tidak memberi perintah, tapi dia tahu ini yang diinginkan tuannya. " Kenapa dia boncengan begitu?" Namanya naik ojek, ya memang boncengan berduakan. " Han, mereka sedang selingkuh ya? apa yang kamu kerjakan akhir-akhir ini? bukannya sudah kusuruh mengawasinya." Ngomel-ngomel bawel di belakang. Kenapa anda jadi bodoh kalau menyangkut nona Daniah tuan muda. " Mereka naik ojek tuan muda, jadi memang boncengan. menurut pak Mun driver berganti-ganti setiap hari, jadi tidak mungkin nona selingkuh." Saga mencengkram lengan Han kuat. " Apa itu? mereka sedang berciuman." " Sepertinya nona sedang berbicara dengan driver, karena memakai helm suaranya jadi tidak terdengar. makanya dia mendekatkan kepala." Saya mohon hentikan dari sekarang tuan muda, atau anda yang akan malu dengan sikap anda ini. " Kenapa mereka berhenti?" " Nona mampir ke warung makan." " Bawa dia hari ini membeli mobil, kalau dia menolak memilih, beli semua mobil yang ada di dealer." Saga benar-benar sudah kehilangan akal sehatnya. Dia menatap punggung driver ojek yang berhenti menunggu di pinggir. membaca mantra kutukan. " Tabrak dia Han." Han terdiam. untung saja selang Saga bicara Daniah muncul dari dalam rumah makan, menghampiri ojeknya yang menunggu. " Nona muda akan terluka juga tuan." " Aaa, lupakan! kenapa dia memberi bungkusan makanan sama driver itu?" marah lagikan. " Sepertinya nona berbagi makanan dengan driver itu tuan muda. nona memang baik hati, sering mentraktir makanan dengan pelayan yang ada di rumah." Saga tidak menjawab. Han kembali melajukan mobil mengikuti Daniah dan ojeknya, mengantar mereka ke ruko. Setelah cukup lama, sampailah mereka di dekat ruko. Daniah sudah turun, dia menggangukan kepala dan mengucapkan terimakasih. lalu hilang ditelan pintu kaca. " Han, kenapa kamu mengikuti gadis bodoh itu sampai ke rukonya. memang kamu pikir kita gak punya kerjaan?" berteriak marah. tidak sadar kalau dia sendiri yang ingin mengikuti Daniah, Han hanya menyalurkan isi hatinya. " Maaf tuan muda, saya hanya ingin memastikan nona Daniah sampai dengan selamat. sekarang kita kembali ke kantor." " Pergilah cari pacar Han, biar kamu gak pikun." " Baik tuan muda." Terserah anda mau bilang apa tuan muda, tapi saya mohon tunjukan kebodohan anda ini hanya di depan saya. Tak lama mobil sudah melewati jalan raya, menuju gedung-gedung perkantoran. menuju bangunan megah Antarna Group. "Tuan muda, apa anda mau saya mengurus perihal nona Helena?" "Biarkan dia, aku ingin liat sejauh apa usahanya" "Baik" Sepertinya anda belum menyadari perasaan anda yang sebenarnya ya tuan muda. Bersambung Chapter 53 Menjemput Daniah Pekerjaan harian yang dilakukan Daniah, dalam ruko dua lantai di kawasan perkantoran. Profesi yang dia jalani dengan sepenuh hati, baik sebelum dia menikah atau sampai hari ini setelah dia menikah dengan Saga. Dia menggantungkan impiannya di tempat ini, berharap setelah bisa melarikan diri dari Saga tempat inipun yang akan menjadi pegangan hidupnya. Tumpukan pakaian sudah dipisahkan, sesuai dengan status orderan. Sudah menempel dimasing-masing tumpukan, kertas bertuliskan nama pemesan. Dipisahkan ke dalam boks yang sudah transfer dan baru sekedar keep barang, alias menunggu transferan. Di setiap lantai ruko melakukan aktivitas yang Sama. Daniah sebagai penanggung jawab pakaian anak di lantai atas, dan lantai bawah Tika sebagai penanggung jawab pakaian dewasa. Daniah sedang membalas chat orderan. ¡° Kaos ogree size s sama l yang motif mobil, sama motif superhero.¡± Karyawannya sigap mengambilkan stok, lalu menempelkan kertas di atasnya begitu seterusnya. Daniah menguap beberapa kali, menutup dengan tangan. Mengusap airmata yang muncul di ujung matanya. Kenapa sekarang aku gampang lelah begini si, biasanya juga sekuat baja. Gara-gara harus berjuang bertahan hidup menghadapi tuan Saga sepertinya energi kehidupanku makin hari makin berkurang saja. aku bisa mati bukan karena dia membunuhku, tapi karena aku tidak punya sisa energi untuk bertahan hidup. Daniah melirik hpnya, ketika sebuah pesan masuk. Dia lalu menyerahkan hp toko dan berjalan menuju tempat tidur, benda ini ternyata berguna juga, gumamnya sambil ambruk dan menjatuhkan diri. Daniah membuka pesan. ¡° Nak ini ibu, apa kamu bisa pulang ke rumah waktu ulang tahun ayahmu, dan bisakah kamu mengajak tuan Saga untuk makan malam di rumah?¡± Daniah langsung terbahak setelah membaca pesan di hp. Ibu penyihir mengirimi pesan. Dia memanggilku apa? Nak? Aku sampai merinding. ini pertama kalinya dia menyebutku dengan panggilan nak. sepertinya hari ini akan hujan deras di bumi. Daniah meraba tangan dan tengkuknya sendiri, wanita itu telah kehilangan harga diri yang ia jaga dengan baik selama ini. Demi bisa membawa tuan Saga dia bahkan mengirim pesan dengan bahasa yang baik pada Daniah. Walaupun tidak tahu bagaimana rautnya saat mengetikan pesan. Tapi demi memikirkan itu berhasil membuat Daniah terpingkal diatas tempat tidur. Daniah bangun dari tiduran karena mendengar Tika memanggil dari lantai bawah, gadis itu turun dengan tergesa. Mematung di tangga, saat melihat siapa yang sudah berdiri di depan pintu kaca. Kenapa dia kemari lagi, mana tuan muda yang selalu merasa benar itu. Apa dia sedang bersembunyi di mobil dan menunggu untuk memberi kejutan. Han menggangukan kepalanya sopan. ¡° Selamat siang nona muda, saya datang untuk menjemput anda.¡± Semua penghuni toko sudah berkerumun antusias, yang dari lantai atas sudah menuruni tangga, sementara Tika dan yang lainnya sudah berbisik penuh spekulasi dengan sok tahunya. ¡° Mbak Niah keren ya.¡± ¡° Ia, dia dipanggil nona muda.¡± ¡° Bagaimana tidak, suami mbak Niahkan tuan Saga.¡± ¡° Ahh, ia, ia. Luar biasa ya, kita bahkan menghirup nafas yang sama dengan wanita yang dicintai oleh tuan Saga.¡± ¡° Tuan Saga lho, pemilik hampir separuh kekayaan negri ini.¡± ¡° Aku iri.¡± Tidak! Tidak seperti itu wahai karyawanku yang berhati polos, kehidupan rumitku tidak akan pernah masuk dalam pikiran kalian. Berhentilah bicara yang tidak-tidak. Aku tidak mendapatkan anugrah kemulyaan dari baginda raja Saga Rahardian. Aku hanya gadis penebus hutang keluargaku. Hiks, andai aku orang yang tidak tahu malu menceritakan kisah hidupku, kalian pasti akan manangisi nasibku. Dan kita bisa bercucuran airmata bersama. Tapi aku bukan makhluk tidak tahu malu, jadi aku hanya bisa menangis sendirian. Daniah mengisyaratkan agar semua kembali keperjaan mereka masing-massing, walaupun tampak kecewa karena harus melewatkan tontonan luar biasa. Tapi mereka menurut, dan kembali dengan hp dan stok barang. Sementara Daniah menarik lengan Han keluar dari pintu kaca. ¡° Apa yang membuat anda datang kemari. Eh, tuan Saga tidak adakan?¡± Daniah mengedarkan pandangan, melihat mobil yang terparkir, sepertinya benar tidak ada orang di sana. Mobilnya kosong. Tapi demi meyakinkan diri dia meninggalkan Han dan mendekati mobil, menempelkan wajah di kaca. ¡° Saya datang sendiri nona.¡± Ketika Han mulai paham apa yang dilakukan Daniah. Gadis itu celingak celinguk mengintip dalam mobil, dan mengedarkan pandangan di halaman ruko. ¡° Apa yang membawa anda kemari?¡± berkacak pinggang. Sok menantang. ¡° Saya akan menjemput nona.¡± Menjawab tanpa wajah bergeming. ¡° Kenapa?¡± Suara Daniah masih terdengar sok, kapan lagi aku bisa bicara semauku padanya kalau dia tidak sedang sendirian. Gumam-gumam hati Daniah. ¡° Membawa nona kesuatu tempat, nona akan tahu nanti.¡± Apa! Kau pikir kau siapa heh. Kamukan sekertaris Han bukan tuan Saga, apa aku harus patuh juga padamu. Tidak kan. Daniah menatap sekertaris Han. Yang ditatap tajam, sama sekali tidak terganggu. Dia memang ahlinya menyembunyikan perasaan begitu sorot matanya mengisyaratkan. ¡° Silahkan ambil tas anda nona.¡± Kata Han, setelah lama mendapat sorot mata sebal dari Daniah. ¡° Tidak mau!¡± Apa kamu! Aku berani kalau menentangmu. Kamu pikir aku takut padamu, ya walaupun sedikit takut si, soalnya kadang matamu tajam dan menusuk. Tapi akukan tidak terikat kontrak hidup dan mati denganmu. ¡° Ini perintah tuan Saga nona.¡± ¡° Haha.¡± Plak, Daniah memukul bahu sekertaris Han, membuat lelaki itu menatap tangan Daniah yang menempel pada tubuhnya. ¡° Baiklah Saya ambil tas sebentar ya. Permisi.¡± Seharusnya aku tidak menantangnya, betapa bodohnya aku. Dia pasti datang karena perintah tuan Sagakan, dia tidak mungkin melakukan sesuatu atas inisiatifnya sendiri apalagi urusannya denganku. Aku tidak mau membangkitkan singa yang tidak berperasaan sepertinya. benar, dia menampar tiga pelayan tanpa bergeming. aku memang harus berhati-hati padanya. Sementara Han berjalan mendekat ke mobil. Kenapa anda mudah sekali menyentuh tubuh orang lain nona, apalagi yang anda sentuh adalah laki-laki. Cih, kedepannya pasti akan sangat merepotkan, kalau anda tidak bisa menjaga tangan anda. BERSAMBUNG Chapter 54 Kehidupan pribadi Han? Sebenarnya apa si maunya? Membawaku kesuatu tempat, tempat apa itu? Makan siang, ya mungkin makan siang. Tapi tuan Saga tidak pernah mengajaku makan siang. Kecuali kalau sedang akhir pekan. Apa aku akan dieksekusi hari ini ya. Tapi apa salahku. Kalau dia kesal dengan Helena kenapa melampiaskannya padaku. Daniah keluar dengan membawa tas. Menyeret langkahnya mendekat ke mobil. Sekertaris Han sudah membukakan pintu mobil. Dia masih berdiri di samping pintu sambil melihat hp. Daniah langsung masuk ke dalam mobil tanpa bicara. Setelah Daniah masuk, Sekertaris Han mengikuti. Mobil menyala lalu keluar dari area parkir. Luar biasa, dia benar-benar tidak bicara sepatah katapun. Aku sudah gatal ingin bicara padanya. Tuhan, kunci mulutku, kumohon. Harga dirinya pasti pasti melambung ke angkasa kalau aku bertanya duluan, juga belum tentu dia jawabkan. Lebih baik aku diam. ¡° Sekertaris Han.¡± Aku angkat tangan dan menyerah kalah. Aku penasaran setengah mati. ¡° Ia nona.¡± Gila! Semudah itu kamu menjawab, ngobrol kenapa dari tadi? ¡° Kita mau pergi ke mana?¡± pertanyaan penting yang harus ditanyakan. ¡° Anda akan tahu nanti setelah kita sampai.¡± Tidak berhasil, ternyata jawabannya masih sama. Daniah menatap kepala Han yang tertutup kursi mobil. Dia ingin menjambak rambut itu melalui lubang sandaran kursi. ¡° Apa tuan Saga menunggu di sana?¡± Ternyata dia tidak punya keberanian untuk itu. ¡° Tidak.¡± Syukurlah gumam Daniah, tapi Han mendengarnya. ¡° Tidak ada yang pernah membuat tuan muda menunggu, biasanya dia yang selalu ditunggu.¡± Haha, lucu sekali kamu sekertaris compleks.Ya aku tahu, diakan yang mulia raja. Semua orang menunggunya. Kalau ada yang berani membuatnya menunggu kau pasti sudah menebas leher mereka. Untung aku tidak hidup dijaman kekaisaran, kalau ia kepalaku pasti sudah lama melayang. Daniah meraba lehernya, berterimakasih kepada Tuhan, hidup di zaman ini. ¡° Sekertaris Han apa anda punya pacar.¡± Akhirnya daripada bertanya sesuatu yang tidak akan dijawab oleh orang yang mengemudikan kendaraan itu, lebih baik dia bertanya sesuatu yang bisa membuatnya sedikit saja tahu tentang sekertaris Han ¡° Maaf nona, saya tidak akan menjawab pertanyaan pribadi mengenai saya.¡± ¡° Huh! Pelit.¡± Ternyata sama sekali tidak berhasil. Apa dia bilang pelit. Han melirik kaca spion yang menunjukan apa yang sedang dilakukan Daniah. Gadis itu hanya duduk sambil menyandarkan kepala. ¡° Kalau begitu saya ganti pertanyaan saya. Apa Jenika dan Sofia punya pacar.¡± ¡° Punya.¡± Menjawab singkat. ¡° Waaah dijawab ya. Kalau begitu apa ibu mertua juga punya pacar?¡± Kehidupan sosialita ibu mertuanya diluar daya nalar rakyat jelata seperti dirinya. Dia terkadang sangat penasaran, tapi karena lelah menghadapi Saga membuatnya lupa tertarik untuk hal yang sebenarnya menarik. Gaya hidup janda sosialita, bukankah itu sesuatu yang mengiurkan untuk jadi bahan pergosipan. ¡° Saya tidak perduli dengan kehidupan nyonya.¡± Wajah Daniah berkerut, mendengar jawaban Han. ¡° Jahat sekali, kenapa anda tidak perduli.¡± ¡° Karena tuan muda juga tidak perduli.¡± Haha, biarkan aku tertawa saja. Kau tidak perduli karena tuan Saga tidak perduli. Wahai penduduk bumi jangan-jangan manusia yang dicintai oleh sekertaris Han adalah tuan Saga. Dia bukan hanya selalu menempel dan menghirup udara yang sama. Tapi dia sudah terobsesi dengan tuannya. ¡° Apa anda mencintai tuan Saga?¡± Berani sekali aku menanyakannya. Persetan! Kumohon jangan marah sekertaris Han, kata tuan Saga kamu jauh lebih menakutkan darinya. ¡° Tentu saja, diakan majikan saya.¡± ¡° Maksud saya bukan begitu. Tapi perasaan seperti tuan Saga dan Helena. Cinta yang seperti itu?¡± Haha, aku semakin berani saja sepertinya. ¡° Saya harus membunuh anda jika anda bertanya lagi tentang masalah ini.¡± ¡° Haha, langitnya sangat cerah ya sekertaris Han, saya penasaran sekali ke mana anda akan membawa saja. Makan mi instan juga sepertinya enak.¡± Mengoceh kemana-mana tentang cuaca dan hal remeh temah lainnya, sedang berusaha menyelamatkan nyawanya. Sambil bicara ke mana-mana, Daniah teringat dengan pesan yang dikirimkan ibu penyihir padanya tadi. Dia melirik Han, wajahnya tetap tidak terlihat. ¡° Sekertaris Han, akhir pekan, apakah tuan Saga ada agenda keluar rumah.¡± Kalau seharian laki-laki itu tidak keluar, maka dia juga harus terkurung di dalam rumah seharian. Dia juga sedang berusaha menemukan alasan kalau sampai tidak bisa datang keulang tahun ayahnya. Dia sedang sok-sokan membangkang ibu tirinya, tapi tetap dia tidak bisa melakukannya secara mencolok. Kenapa? Karena kalau sampai dia bercerai dengan Saga mau tidak mau dia harus kembali pada keluarganya. ¡° Kenapa anda menanyakan itu?¡± ¡° Tidak apa-apa, sepertinya saya akan pulang ke rumah.¡± Pulang kerumah, maksudnya kerumah orang tua anda. Ternyata anda masih begitu perduli pada keluarga anda, setelah perlakukan mereka selama ini. ¡° Saya akan sampaikan kepada tuan muda, nona bisa menunggu informasi nanti, apakah tuan muda mengizinkan atau tidak.¡± Jawaban Han terdengar seperti petir disiang bolong tanpa ada hujan. Kenapa dia harus menunggu izin tuan Saga untuk pergi ke rumah orangtuanya. ¡° Hei tunggu, kenapa saya harus meminta izin. Bukankah sudah jelas kalau anda pernah mengatakan kalau saya bisa tetap melakukan pekerjaan saya, bertemu dengan keluarga dan teman-teman saya seperti sebelum saya menikah. Anda lupa pernah mengatakannya.¡± Bibir Han tersenyum. Tapi tentu Daniah tidak melihatnya. ¡° Apa anda lupa, dengan aturan utama yang anda tandatangani bersama tuan Saga.¡± Daniah terdiam, berfikir. Otaknya secepat kilat memutar kembali kenangan pertemuannya dengan Tuan Saga. Selembar kertas dengan satu kalimat yang dia tanda tangani. ¡° Benar, tuan Saga adalah peraturan yang harus anda taati, jadi kalau dia mau merubah apapun dalam pasal-pasal aturan anda tidak bisa menolak.¡± Seperti menjawab pertanyaan dari diamnya Daniah. ¡° Ha...ha....ha....¡± tertawa garing karena sekujur tubuhnya kesal. ¡°Kenapa tuan Saga melarang saya mengunjungi keluarga saya.¡± ¡° Anda bisa menanyakannya langsung pada tuan muda.¡± ¡° Berhenti bicara seperti itu sekertaris Han, anda tahu kalimat anda terdengar sangat menyebalkan sekali. Kenapa? Karena anda tahu kalau saya tidak akan berani menanyakannya. Lihat, anda pasti sedang tersenyum senang sekarangkan.¡± Han diam masih memegang kemudi. Tapi tidak lama terdengar gelak kecil dari mulutnya. Semakin membuat Daniah geram. Dia menendang kursi sekertaris Han di depannya. Laki-laki itu tidak bergeming dan tetap mengemudi. ¡° Aku penasaran berapa gaji anda sekertaris Han, anda sepertinya tidak punya waktu untuk hidup anda sendiri.¡± Han masih diam. ¡°Setiap hari selalu di samping tuan Saga, apa anda bahkan punya impian selain tuan Saga. Aku penasaran sekali.¡± Han masih diam. ¡°Kenapa anda tidak menulis buku sekertaris Han, buku biografi, saya rasa banyak orang yang penasaran bagaimana anda menjalani hidup anda.¡± Han masih diam. ¡° Apalagi tentang cinta anda, saya saja penasaran. Tipe ideal anda itu seperti apa.¡± Han masih terdiam. Daniah mengepalkan tangan geram. ¡° Hei, paling tidak jawab dong. Seperti tuan Saga kalau diajak bicara, paling tidak dia menjawab hemm. Tidak seperti anda.¡± Daniah lelah bicara dan akhirnya terdiam. ¡° Hemmm.¡± Apa! Gemetar-gemetar, Daniah mencengkram kursi di depannya. Seharusnya membuat orang jengkel masuk dalam tindakan pidana yang bisa mendapatkan hukuman kurangan penjara atau dendakan? BERSAMBUNG Chapter 55 mobil Baru Sampailah di tujuan, setelah perjalanan menyenangkan versi sekertaris Han , dan perjalanan versi menyebalkan menurut Daniah. Mobil berhenti di depan sebuah bangunan besar, sebuah dealer mobil terbesar di kota ini. Ketika mobil berhenti sudah ada beberapa orang berdiri di dekat pintu, mereka mendekati mobil yang ditumpangi Daniah. Gadis itu melihat, sepertinya mereka menyambut kedatangannya. ¡° Siapa mereka, ini dealer mobilkan. Kenapa anda membawa saya kemari?¡± Han tidak menjawab, dia keluar dari mobil lalu membukakan pintu. Menundukan kepalanya dan mempersilahkan Daniah untuk keluar. Wajahnya tersenyum, seperti puas sudah membuat Daniah dihujani penasaran. Jangan tersenyum, tahu tidak kalau kamu tersenyum seperti mengisyarakan kepadaku untuk hati-hati, karena kalau salah melangkah sedikit saja kau bisa menebas leherku. ¡° Kenapa anda membawa saya kemari?¡± Daniah menunjuk dealer mobil yang berdiri kokoh di depannya. Orang-orang yang tadi berdiri di dekat pintu sudah mendekat, menyapa sekertaris Han dengan hormat. Orang yang paling depan memperkenalkan diri lalu menggangukan kepala dan akan membantu apapun yang dibutuhkan sekertaris Han. ¡° Bisa kita bicara sebentar.¡± Daniah mendekat dan bicara dengan nada lirih di dekat telinga Han. Daniah melirik orang-orang dari Dealer, meminta sekertaris Han agar membuat mereka pergi. Hanya dengan mengerakan tangannya Han membuat semua orang di depan Daniah kembali ketempatnya tadi. Gadis itu merinding, tangan kanan tuan Saga, sekertaris Han gerakan tangannya sungguh bisa membawa dampak yang luar biasa. ¡° Kenapa anda membawa saya ke sini.¡± Setelah terpesona dengan kekuatan tangan laki-laki di depannya, dia tersadar kenapa meminta karyawan dealer untuk mundur. Daniah bertanya dengan suara kecil, memastikan kalau orang-orang dealer tidak bisa mendengarnya. ¡° Untuk membeli mobil anda.¡± ¡° Mobilku. Kenapa? Aku tidak mau beli mobil.¡± memang siapa yang mau membeli mobil? ¡° Ini perintah tuan Saga.¡± Memberi jawaban yang mempermudah langkah hidupnya, karena dia tahu jawaban mutlak itu sudah bisa membungkam mulut nona muda di hadapannya. ¡° Berhenti menggunakan kalimat menakutkan itu sebagai senjata anda sekertaris Han. Jawablah pertanyaan saya sebagai seorang manusia.¡± Setengah berteriak, karena tidak mau kata-katanya sampai di dengar oleh orang-orang dealer. ¡° Tuan muda tidak mau anda naik ojek lagi, hari ini hari terakhir anda untuk naik ojek.¡± ¡° Memang kenapa dengan saya naik ojek, saya bahkan naik ojek setelah dia pergi, apa dia bilang dia sakit mata karena melihat saya naik motor?.¡± Suruh tuan mudamu periksa mata sekaligus kejiwaan sana! ¡° Tidak, Tuan muda tidak suka ada ojek yang masuk ke halaman rumahnya.¡± ¡° Hei, kalau cuma begitu, aku akan naik dari gerbang utama. Aku akan mengatakan pada Pak Mun agar jangan mengizinkan ojek masuk ke halaman.¡± Gampangkan, begitu. Daniah menantang melalui sorot matanya. ¡° Tuan muda bahkan tidak suka semua yang berhubungan dengan ojek.¡± sudah malas menanggapi Daniah, dia tahu mulut Daniah pandai bersilat. ¡° Jangan membuat alasan tidak masuk akal ya.¡± Sekertars Han melihat jam ditangannya, sepertinya dia merasa telah membuang banyak waktu dengan perdebatan kecil itu. Lalu tangannya bergerak meminta manager tadi untuk mendekat. Laki-laki itu tergopoh berlari mendekat. ¡° Ada yang bisa saya bantu tuan.¡± ¡° Kirim semua jenis mobil dengan warna yang berbeda ke rumah tuan Saga.¡± ¡° Baik.¡± Manager dealer itu menggangukan kepala, seperti tidak baru saja mendengar perintah tidak masuk akal. ¡° Tunggu.¡± Daniah mendekati sekertaris Han, lagi-lagi memukul bahu sekertaris Han, sekarang tangan kanannya mecengkram bahu itu. ¡° Kalaupun gila harus ada batasannya donk. Haha, kenapa tidak sekalian anda bilang kalau saya minta dibuatkan pabrik mobil.¡± Mencengkram bahu lebih keras lagi. Ini adalah bentuk pelampiasan emosi yang sudah tidak terbendung lagi. Sekertaris Han mundur dua langkah, membuat tangan Daniah terjatuh di samping pinggangnya. ¡° Baik nona, saya akan menyampaikan kepada tuan muda.¡± ¡° Menyampaikan apa?¡± berteriak sekaligus merasa kuatir. Dia tidak akan melaporkan kalau aku membangkang padanya dan bahkan minta dibuatkan pabrik mobilkan? ¡° kalau anda ingin dibuatkan pabrik mobil.¡± ¡° Jangan bercanda, siapa yang mau minta pabrik mobil!¡± suara Daniah sudah semakin tidak terkontrol. dia tidak perduli kalau manager dealer mendengar, dan wajahnya terlihat mulai pias. ¡° Bukankah anda baru saja mengatakannya.¡± Aku ingin mencekiknya, apa dia tidak melihat aku sedang sangat marah sekarang. kenapa kata-kata bercandaku dia anggap serius. Jangan bilang hanya dengan sekali bicara dia bisa langsung mengakuisisi pabrik milik orang lain. Dan dalam sekejab mata dia bisa melemparkan sertifikat kepemilikan ke mukaku. ¡° Lupakan kata-kata saya yang tadi!¡± ¡° Apa anda ingin memakai nama anda sebagai merek salah satu mobil. Atau anda ingin nama anda menjadi brand utama perusahaan.¡± ¡° Bukan itu! Lupakan kata-kata saya tentang pabrik mobil.¡± Sekarang aku tahu, Tuan Saga bahkan bisa membeli separuh negri ini dengan kekayaannya. Kenapa aku harus menikah dengan laki-laki mengerikan itu. ¡° Lupakan kata-kata saya tentang pabrik mobil, jangan pernah bicara tentang pabrik mobil. Saya akan memilih satu mobil, apa itu membuat anda dan tuan Saga puas.¡± ¡° Tentu saja nona, saya akan senang kalau tuan muda juga senang.¡± Sorot mata Han mengikuti setiap langkah Daniah. Seorang SPG membantunya menjelaskan tentang tipe dan keunggulan mobil. walaupun tidak nyambung dia tetap tersenyum dan berterimakasih. " Antarkan hari ini ke rumah Tuan Saga." " Baik sekertaris Han, semoga hari anda menyenangkan." Mereka sepertinya bernafas lega dengan kepergian kami. tentu saja si, siapa yang ingin berlama-lama dengannya. Di dalam kendaraan, mobil sudah melaju, kembali ke ruko milik Daniah. ¡° Saya tidak punya SIM.¡± Masih berusaha menggagalkan kepemilikan mobil. Bukannya dia menolak karena dia tidak suka barang mewah, tapi baginya benda bernama mobil masih diluar daya belinya. lagipula untuk apa mobil, kalau angkutan kota sudah sangat nyaman. ¡° Lalu SIM siapa yang ada di dompet anda?¡± Darimana dia tahu aku punya SIM, akukan belum pernah mengendarai mobil di depannya. ¡° Sekertaris Han apa anda memeriksa kehidupan pribadi saya.¡± kesal sekaligus merasa ngeri. ¡° Saya memeriksa kehidupan calon istri tuan muda.¡± Apa-apaan dia, apa dia mau bilang kalau yang dia lakukan bukan kejahatan. bahwa dia menerobos sampai kehidupan pribadi untuk melindungi tuannya. Enak sekali jadi kamu. ¡° Sejauh apa anda memeriksa saya?¡± walaupun ingin jawaban, sekaligus tidak mau tahu jawabannya. karena kalau sampai dia tahu jawabannya, sepertinya akan membuatnya merinding. ¡° Apa anda mau saya memberitahu siapa nama mantan pacar anda yang berjumlah tiga orang.¡± Daniah terperanjak. ¡° Tidak! Saya percaya anda bisa melakukan hal luar biasa dalam tingkatan.¡± gila, gumam-gumam kecil. " tingkatan kecil sekalipun, hingga hal sepele begitu saja anda sampai tahu." Daniah membisu sepanjang perjalanan, tidak mau bertanya lagi apa-apa. semakin dia tahu sesuatu sepertinya semakin banyak ancaman untuk nyawanya. sekertaris Han menurunkan Daniah diruko seperti tadi dia menjemputnya. " Anda bisa menyampaikan terimakasih kepada tuan muda nona, dia pasti sangat senang sekali." " Terimakasih sudah mengantar saya. sekarang kembalilah pada tuan Saga. sampaikan terikasih saya kepadanya." " Anda bisa menyampaikannya sendiri, ditempat tidur nanti." Apa! dia bilang apa? tempat tidur! bersambung Chapter 56 Hadiah Daniah Rutinitas pagi hari, mengantarkan Saga masuk ke dalam mobil untuk pergi bekerja. Sekertaris Han sudah berdiri sedari tadi di dekat mobil. Saga melambaikan tangan kirinya, hal yang tanpa sadari dia lakukan saat mobil melaju meninggalkan Daniah. Lagi-lagi Daniah masih berdiri tidak bergerak ketika mobil menghilang di gerbang utama. Dia masih memandang langit, melihat serombongan burung terbang bebas di langit yang luas. Senangnya, andai dia hanya seekor buruk milik Tuhan, dia bisa terbang kemanapun yang dia ingginkan. Mobil Saga sudah melewati gerbang utama, Han dibelakang kemudi membetulkan posisi kaca spion. Meliriknya sebentar. Melihat Saga yang pagi ini terlihat sangat senang. Senyum yang jarang dia tunjukan lahir tanpa sengaja saat dia beberapa kali menarik bibirnya. ¡° Han, buat janji dengan dokter Harun.¡± ¡° Apa anda sedang sakit tuan muda.¡± ¡° Sepertinya ada masalah dengan tubuhku akhir-akhir ini.¡± Han menyentuh dadanya. ¡°Bagian sini jadi sering berdebar tanda alasan.¡± Han yang tadinya panik dan mau langsung memutar arah, terdengar benafas lega. Itu karena anda jatuh cinta tuan muda. ¡° Saya akan segera mengatur jadwal untuk bertemu dokter Harun.¡± Saga menyandarkan kepalanya, lagi-lagi tersenyum. Kejadian semalam masih sangat membekas dalam ingatannya. Kejadian kemarin. Hari ini dia pulang cukup awal, sengaja ingin makan malam di rumah. Kenapa? Tentu saja dia sudah merasa tidak sabar dengan reaksi Daniah tentang hadiah mobilnya. Kalau Han mengatakan, Daniah antara kesal namun tetap mengucapkan terimakasih kepadanya. Saking penasarannya dia membatalkan jadwal malamnya. Sudah duduk bersandar di tempat tidur, lampu masih menyala dengan terang. Daniah naik ke atas tempat tidur, karena perintah sang raja demikian. ¡° Bagaimana hadiah mobilnya, kamu suka?¡± Haha, dia tersenyum tapi sorot matanya sangat kesal, seperti mengatakan, hal gila apa yang mau kamu lakukan. Ini belum apa-apa, aku bahkan belum melakukan apapunkan. Terlalu dini untuk kesal sekarang. Begitu Saga bergumam dalam hatinya. ¡° Tentu saja saya sangat senang dan berterimakasih, apalagi yang bisa saya lakukan kalau anda sudah memberi perintah. Saya harus menerima dan berlapang dadakan, untung saja hati saya seluas samudra.¡± Ucapan terimakasih mengandung ketidaksukaan. ¡° Berterimakasih dengan benar!¡± tunjuknya di kening Daniah, gadis itu mundur. Bagaimana aku harus berterimakasih lagi padamu heh. Akukan sudah mengucapkan kalimat pujian bertele-tele dengan muatan sindiran tadi. Kamu tidak betul-betul bisa mencerna kata-kataku barusan kan. ¡° Kenapa diam?¡± Daniah mengatupkan tangannya, mengumpulkan senyum sejuta watt di bibirnya. ¡°Terimakasih suamiku, mobil yang anda berikan bagus sekali, saya akan memakainya setiap hari. Dengan penuh syukur.¡± ¡° Itu saja?¡± Saga menyentuh bibirnya sambil menyeringai. ¡° Tidak ada hadiah?¡± ¡° Hadiah?¡± Maksudnya apa? Jadi dia mau hadiah balasan dariku, memang apalagi si yang kamu butuhkan, kamukan sudah punya semua. Kamukan bisa mendapat semua hal hanya dengan menghirup nafas saja. Kenapa dia menyentuh bibirnya. Tunggu, dia tidak minta hadiah seperti hadiah yang dia berikan kepadaku waktu itukan. Hadiah ciuman. Tidakkan! ¡° Mana hadiahku.¡± Lagi-lagi mengisyaratkan kalau dia ingin Daniah menciumnya. Persetan! Daniah maju menabrakan bibirnya di bibir laki-laki di depannya. ¡°Terimakasih atas mobilnya suamiku.¡± Lalu dia mundur ke belakang sampai di bibir tempat tidur. ¡° Berani sekali kamu menciumku, sedang cari-cari kesempatan ya!¡± berteriak marah, tapi lihat senyumnya, seperti habis makan durian yang dia beli dari hasil pilihan tangannya sendiri dan rasanya manis sekali. Puas menjalar dimana-mana. Tapi sayangnya Daniah tidak melihat, dia sudah masuk ke dalam selimut, menarik kain itu sampai menutupi kepalanya. Aku pasti sudah gila! ¡° Kau pasti senang sekali bisa menciumkukan?¡± Saga menendang kaki Daniah di bawah selimut. ¡°Berani sekali kamu!¡± Daniah masih meringkuk, wajahnya merah padam. Lagi-lagi Saga menendangkan kakinya. Apalagi ya, yang bisa kuberikan padanya? Melihat wajah merah padamnya malah membuat dia mengemaskan. Haha. ¡° Matikan lampu sana!¡± ¡° Baik suamiku.¡± Daniah turun menjatuhkan diri dari bawah selimut, menundukan mukanya dalam, tidak mau sampai bersitatap. Setelah lampu semua padam sekarang dia bisa berjalan dengan kepala tegak. Saga sudah tidur di bawah selimut. BERSAMBUNG Chapter 57 Perjuangan Helena (Part 1) Ada banyak bunga bermunculan di sekitar Saga, wajah tampan itu ntah kenapa semakin hari terlihat manusiawi. wajah dingin dan kaku yang berangsur memudar sedikit demi sedikit. membuat dia selayaknya laki-laki yang pantas untuk disukai, dalam artian sebenarnya. Disukai sebagai seorang manusia, bukan hanya dipuja sebagai presdir Antarna Group. ¡° Hahaha.¡± Saga benar-benar sudah tidak bisa menahan tawanya. Wajahnya sampai merah padam karena puas tertawa. dia memukul kursi beberapa kali. membayangkan wajah Daniah semalam, dia berharap hari tak pernah pagi. ¡° Apa yang membuat anda tertawa tuan muda.¡± Iseng bertanya walaupun sudah bisa menduga apa yang membuat Saga sesenang itu kalau bukan tentang Daniah. ¡° Rahasia.¡± Cih, bahkan anda bertingkah seperti anak-anak yang sedang jatuh cinta. Mobil sampai di area parkir, Saga turun masih dengan suasana hati yang sangat baik. Saat memasuki lif juga begitu. Masih terlihat senyum di bibirnya. Han merasa hari ini semua agenda akan berjalan dengan sangat baik. Semua agenda akan terselesaikan dengan lancar dan tanpa hambatan. Tapi sepertinya kesenangannya berakhir dalam sekejap mata. Karena ada bom waktu yang kapan saja bisa membuat gedung ini meledak sedang menunggu mereka di ruangan presdir. Tiga staff sekertaris sedang berdiri di depan pintu ruangan presdir Antara Group. Mereka terlihat sangat tegang. Wajah mereka semakin pias saat melihat kedatangan Saga dan sekertarisnya. Tangan mereka sudah terlihat gemetar. ¡° Kenapa kalian berdiri di depan pintu?¡± tentu Han yang bicara, kedatangan mereka sudah mengintimidasi, apalagi saat Han membuka mulutnya. ¡° Selamat pagi tuan.¡± Ucap mereka bersamaan, Han melihat bibir mereka bergetar. Ia menyadari mereka sudah melakukan kesalahan besar. Dan tahu, kesalahan bahkan sekecil apapun di lantai gedung ini tidak akan mudah termaafkan. ¡° Nona Helena ada di dalam.¡± Salah satu staff bicara, walaupun takut tetap dia yang harus bicara karena dia yang paling senior di sini. mendengar itu sambil menahan geram Han segera berjalan di depan Saga dan membuka pintu. Benar, gadis cantik itu sedang duduk dengan elegan di sofa. Dia terkejut saat pintu terbuka, bangun dari duduknya. Sementara Saga dan Han masuk, sekertaris itu mengisyaratkan ketiga staff sekertaris untuk mengikuti masuk kedalam. Kaki ketiga wanita itu sudah seperti terkulai tidak berdaya. Namun mereka tidak punya pilihan selain mengikuti langkah pimpinan mereka. Kejadian beberapa waktu lalu. ¡° Maaf nona tapi anda tidak diperbolehkan masuk, mari saya antar ke ruang tunggu sebelum tuan Saga datang.¡± Staff sekertaris bicara dengan sangat sopan, dia mempersilahkan dengan tangannya. Mereka tahu siapa Helena, sehingga itu membuat nyali mereka menciut. ¡° Kamu tidak tahu siapa aku?¡± staff sekertaris menundukan kepalanya, meminta maaf. Dia tentu sangat tahu siapa gadis di hadapannya. Dua tahun lalu gadis ini bisa keluar masuk ke ruangan presdir, bahkan tanpa pemberitahuan atau membuaat janji terlebih dahulu. ¡° Maafkan saya nona Helena, tapi saya tidak bisa mengizinkan anda masuk. Sekertaris Han mengatakan siapapun tidak boleh masuk ke ruangan presdir tanpa izin darinya.¡± ¡° Huh, dia masih saja sok berkuasa. Minggir.¡± Helena mendorong tubuh sekertaris wanita, akhirnya dia masuk ke dalam ruangan. Seharusnya aku memilih bertengkar dengannya dari pada mati. ¡° Siapa yang mengizinkannya masuk?¡± Saga duduk sofa. Bertanya tanpa melihat ke arah staff sekertaris. Helena mendekat, dia menyentuh lengan Saga. Walaupun saat ini dia merasa takut, tapi dia benar-benar mengumpulkan keberanian dan rasa tidak tahu malunya sebelum naik ke gedung ini. Hingga dia harus melakukan upaya maksimal untuk mendapat pengampunan dari Saga. walaupun tidak tahu malu, tetap harus maju. ¡° Saga, aku yang memaksa masuk. Aku mohon jangan menyalahkan mereka.¡± Helena bicara dengan lembut dan penuh percaya diri. ¡° Siapa yang mengizinkan dia masuk.¡± Saga berteriak untuk kedua kalinya. ¡° Han.¡± Satu kata itu sudah seperti instruksi khusus, Han menoleh pada ketiga staff sekertaris. Hanya tuhan yang tahu apa yang akan dilakukannya. ¡° Jawab pertanyaan tuan Saga, selagi saya masih bicara dengan kata-kata.¡± Wajah mereka bertiga semakin pias. Dengan gemetar, salah satu dari mereka maju kedepan. ¡° Maafkan saya tuan.¡± Dia menjawab terbata karena bibir dan tangannya gemetar. Seluruh tubuhnya merasakan takut. Dia mulai menyadari, kalau gadis itu, Helena bukan lagi wanita spesial bagi presdir Antarna Group. Seketika semua sesal menjalari tubuhnya. ¡° Saga, maafkan dia aku yang memaksanya masuk.¡± Helena memohon di samping Saga, sambil memegang tangan laki-laki di sampingnya. ¡° Kalau kau menghormati aturanku seharusnya kau tidak melakukannya. Kamu yang sudah menyusahkan mereka. Potong setengah gajinya bulan ini.¡± Saga melihat staff wanita yang tadi maju ke depan bicara. ¡° Baik tuan muda.¡± ¡° Terimakasih tuan Saga, terimakasih atas kebaikan anda.¡± Dia berlutut dan mengucapkan terimakasih, dia tahu hukuman ini sangat ringan baginya. Biasanya sekecil apapun kesalahan yang dilakukan karyawan di lantai ini bukan hanya hukuman fisik, tapi juga harus siap di tendang dari Antarna Group. Dan siapapun yang dipecat dari perusahaan ini, jangan harap bisa hidup dengan layak lagi. BERSAMBUNG.............. Chapter 58 Perjuangan helena (Part 2) Pintu sudah tertutup, ketiga staff sekertaris sudah meninggalkan ruangan dan kembali mengerjakan tugas mereka masing-masing. Han sudah berdiri di belakang Saga, diam seperti manekin versi hidup yang di pajang di toko pakaian. Sorot matanya belum melunak, dari pada melihat ke arah Helena dia seperti mencari hal yang lain untuk dipandang. Walaupun sorot matanya tertuju pada gadis itu. Tapi pikirannya berlainan ntah ke mana. ¡° Kenapa datang kemari?¡± Saga bicara setelah senyap tercipta untuk sementara waktu tadi. Diantara mereka selain jarak perpisahan, sepertinya telah terbentang keterasingan yang sulit diobati dengan apapun. ¡° Saga, berikan aku kesempatan untuk bicara.¡± Helena melirik sekertaris yang berdiri di belakang Saga. Berharap laki-laki itu paham dan meninggalkannya berdua. Tapi laki-laki itu tidak bergeming. ¡° Kenapa? Kamu terganggu dengan keberadaannya. Aku bahkan tidak mendengarnya menarik nafas, jadi anggap saja dia tidak ada disini.¡± Saga bicara. Bagaimana aku bisa menggangapnya tidak ada, dengan sorot mata seperti itu, sudah bisa membelah tubuhku menjadi serpihan. ¡° Saga. Apa kamu sangat membenciku?¡± Helena tau bagaimana dia harus mengatur intonasinya dengan baik, kata-kata yang keluar dari mulutnya terdengar seperti keputusasaan. ¡° Tidak.¡± Menjawab singkat. Saga menyandarkan kepalanya ke sofa. Sampai hari inipun aku benar-benar tidak bisa membencimu, walaupun perlahan namamu mulai memudar di hatiku, tapi aku tetap belum bisa membencimu. Tapi, perasaan aku ingin melepasmu bukan sesuatu yang dibuat-buat. Aku tidak lagi mengginkanmu. Begitulah yang di rasakan Saga hari ini. awalnya dia hanya ingin membalas Helena dan bermain-main dengan Daniah, tapi sepertinya dia sudah terperangkap dengan permaianannya sendiri. ¡° Lalu kenapa sampai hari ini kamu masih sangat marah padaku. Aku kembali padamu sekarang, aku masih sama sangat mencintaimu. Maafkan kebodohanku yang lalu, aku sungguh tidak dewasa, kamu benar seharusnya aku memohon padamu dua tahun lalu. Tapi karena kebodohanku aku pergi tanpa izinmu. Sekarang aku pulang dan memohon padamu, maafkan aku dan kembalilah padaku.¡± Helena mulai terisak, pecahan kristal mulai merembes di pipinya. Sengaja tidak dia seka. ¡° Ele, apa segitu percaya dirinya dirimu?¡± Glek! Helena menelan ludah. Nyalinya menciut. Namun secepat kilat ia berusaha menguasai diri. Andaikan tidak ada sekertaris sialan itu dia pasti sudah berlutut di kaki Saga sekarang. Menangis dan memohon, tapi keberadaan laki-laki itu sudah menghancurkan semua rencana yang ia susun. Dia masih tidak sudi dilihat berlutut oleh sekertaris sok berkuasa itu. Dia merubah strateginya sekarang. ¡° Aku percaya padamu, bahwa kamu tidak akan berubah.¡± Kembali mengatakan kalimat menyentuh. " Makanya aku nekat untuk pergi." ¡° Aku sudah berubah.¡± kalimat sederhana itu menghancurkan kepercayaan diri Helena. tapi dia segera mengumpulkan harapan di dadanya. Untuk berjuang tanpa mengenal malu. ¡° Saga, apa kamu tahu, selama dua tahun aku selalu menunggumu. Menunggumu mencariku dan menjemputku. Aku memang bersalah pergi tanpa izin, tapi apa kamu tahu aku terpaksa dan tersiksa melakukannya. Setiap malam aku kesepian menantikan kedatanganmu. Kamu bisa datang kapanpun kamu mau menjemputkukan. Kenapa kamu tidak datang.¡± Cih! Helena mendongak menatap sekertaris Han yang baru saja mendesah. Dia melihat sorot mata yang ingin menikamnya lagi. Sekarang anda berusaha memojokan tuan Saga agar merasa bersalah ya, bahwa semua ini adalah salahnya. Karena tidak menyusul kepergian anda. Licik sekali. Begitu kira-kira isi pandangan Han. ¡° Saga.¡± Tangan gadis itu menyentuh tangan Saga. ¡° Berikan aku kesempatan lagi, ayo kita coba semuanya dari awal lagi.¡± ¡° Aku sudah menikah.¡± ¡° Berhentilah memakai alasan tentang pernikahanmu Saga. Aku tahu kamu tidak mencintainya, aku tahu kamu memilihnya menjadi istrimu hanya untuk membuatku marah dan cemburu. Ceraikan dia, dan kembalilah padaku.¡± ¡° Hahaha.¡± Helena terhenyak mendengar tawa Saga. Kata-katanya terhenti yang tadi terlontar secara spontan. ¡° Sudah kukatakan memohonlahlah yang benar, tapi kenapa dari tadi yang keluar dari mulutmu hanya memojokanku. Kamu menyalahkanku atas kepergianmu, dan sampai akhir kamu bahkan menghina istriku.¡± Saga menyentuh bibir Helena dengan jemarinya. ¡° Bagaimana kalau aku benar-benar jatuh cinta pada wanita jelek dan kampungan itu.¡± Persetan dengan Daniah, ini senjata terakhir yang bisa kulakukan. Aku akan merebut kembali cinta Saga. Helena menabrakan bibirnya, pertemuan kembali bibir itu setelah dua tahun. Dia melingkarkan tangannya memeluk bahu Saga. Hanya ini satu-satunya harapan yang bisa ia pikirkan, mengingatkan Saga tentang memori lama. Mulut Saga sedikit terbuka, lalu secepat kilat Helena memasukan lidahnya. Mereka berciuman. Dia bisa merasakan Saga membalas ciumannya. Seharusnya bisa semudah inikan, kenapa aku tidak memikirkannya. Ciuman panjang itu terhenti, Helena melepaskan tangannya, mengatur nafasnya yang tersengal. Wajahnya merah merona, perasaan bahagia yang tiba-tiba berlarian keluar di dadanya. ¡° Apa kamu sudah puas sekarang?¡± Saga bangun dari duduk. Menerima saputangan yang disodorhan Han. Laki-laki itu mengusap bibirnya di hadapan Helene, membuat gadis itu langsung berwajaah pias. ¡° Anggap saja itu ciuman perpisahan kita.¡± Saga melemparkan saputangan yang tadi dia pakai membersihkan bibirnya di pangkuan Helena, gadis itu gemetar menyentuhnya. ¡° Kenapa kamu jahat sekali.¡± Satu-satunya senjata yang bisa dia pakai. airmata. ¡° Jahat. Siapa? Aku? Bukannya kamu yang menciumku duluan, aku hanya meladenimu.¡± ¡° Saga!¡± mulai berteriak dan menangis. ¡° Apa yang harus kulakukan supaya kamu mau menerimaku lagi.¡± ¡° Bukankah aku menyuruhmu memohon dengan benar, tapi kamu malah bertingkah seolah-olah aku tergila-gila padamu." Saga berteriak, sambil menjatuhkan diri di sofa lagi. " Han.¡± ¡° Baik tuan muda.¡± Han berjalan mendekati Helena, dia ingin menarik lengan gadis itu tapi tangannya ditepis. ¡° Jangan menyentuhku!¡± marah. ¡° Baik nona, silahkan keluar sekarang.¡± Han menunjuk pintu keluar. Helena bangun dari duduknya, dia masih berdiri mematung, ingin berteriak sekali lagi. Namun Saga malah menyandarkan kepala dan memejamkaan mata. Laki-laki itu tidak mau mendengarnya bicara lagi, bahkan walaupun hanya sepatah kata. Plak! Tangan Helena terasa panas, dia yang menampar malah dia yang kesakitan. Sementara sekrtaris Han meraba pipinya. Staff sekertaris sudah berdiri pucat, mereka menundukan kepala dalam. ¡° Apa yang kamu lakukan, racun apa yang kamu masukan dalam pikiran Saga setiap hari.¡± Han tidak bergeming. ¡°Apa kamu juga yang memilihkan istri untuknya? Seharusnya aku menendangmu dari dulu! aku memang tidak pernah suka padamu¡± ¡° Haha.¡± Han tertawa, senyum sinisnya yang menakutkan muncul. ¡° Daripada menggangu saya bukankah sebaiknya anda mengkhuatirkan diri anda. Karir anda kedepannya.¡± Han menyentuh tangan kanan Helena yang dia pakai untuk menamparnya tadi. Gadis itu berontak, tapi tidak berhasil melepaskan cengraman kuat Han. Han meletakan tangan itu di pipinya yang tertampar tadi. " Anda harus menjaga tangan inikan, bukankah karir dan hidup anda tergantung tangan ini. Jangan menggunakannya untuk hal yang berbahaya.¡± Seringai jahat Han muncul saat ia melepaskan tangan Helena. Helena mengipaskan tangannya sampai menjauh. Nyalinya menciut. Dia gemetar, jemarinya. " Saya harap anda paham dengan kata-kata saya barusan, jika ingin menemui tuan Saga, buatlah janji terlebih dahulu dengan mereka." Han meninggalkan Helena. saat dia berbalik melangkah, dia mendengar gadis itu terduduk di lantai. Dia tidak bergeming dan masuk ke dalam ruangan presdir. BERSAMBUNG Chapter 59 Masa lalu Saga Daniah melamun, sambil menghabiskan sekotak stroberi di meja dapur. Melihat para koki yang sedang mempersiapkan makan malam. Walaupun matanya melihat mereka tapi tidak dengan pikirannya. Hubunganku dengan tuan Saga sejauh ini berjalan dengan sangat baik. Ya, dia sudah seperti manusia yang bisa diajak bicara. Walaupun begitu aku tetap harus bisa menjaga jarak, baik hatiku atau tubuhku. Kenapa? Karena aku tahu dia adalah tuan Saga. Dia tidak mencintaiku dan aku hanyalah pelayan berstatus istri. Helena wanita yang dicintainya juga telah kembali, mungkin saat ini dia sedang bimbang. Tapi cinta tidak bisa dibohongikan, dia pasti kembali ke tempat sejatinya. Daniah sudah menghabiskan stroberinya. mengeser kotak ke pinggir. Lalu dia bangun dari duduk, dia ingin bicara dengan manusia. Dia sudah mau melangkah menuju rumah belakang, tapi saat melihat Jenika adik iparnya sedang tiduran di sofa ruang keluarga. Dia mendekatinya. Duduk menjatuhkan diri di sofa di depannya. Jenika melirik sekilas, tidak beraksi, lalu memilih kembali dengan hpnya. ¡° Jen.¡± Daniah memanggil. ¡° Apa!¡± ketus, membalas. ¡° Jangan bicara padaku.¡± ¡° Jen, menurutmu tuan Saga masih mencintai Helena gak ya.¡± Tidak perduli dengan kalimat terakhir Jenika. Dia kesal, bangun dari duduk dan membanting hp di sampingnya. Dia sudah mendapat cerita tentang semakin ketatnya aturan rumah ini menyangkut penyebutan nama Helena. Apalagi sampai Han sudah menghukum tiga pelayan karena bergosip tentang Helena. Jenika tidak tahu kalau sebenarnya gadis di depannya inilah sumber masalah kemarin. ¡° Kakak ipar jangan membahas Kak Helena lagi, aku tidak mau dihukum Han.¡± ¡° Sekarangkan sekertaris Han kan tidak ada.¡± mengedarkan pandangannya menyapu ruangan. Tidak ada orang di sinikan begitu gumam Daniah. ¡° Memang kakak pikir mata kak Saga di rumah ini hanya sekertaris Han?¡± Pak Mun lewat, berjalan menuju dapur. Daniah melihat Jenika melirik laki-laki itu. ¡° Makanya pelankan suaramu, kenapa juga teriak-teriak, aku juga gak tuli kali.¡± Daniah tersenyum sambil angkat bahu. ¡° Tapi kenapa tuan Saga dingin sekali kepada Helena kemarin? Bahkan aku saja merasa kasihan padanya.¡± ¡° Kakak ipar, sebenarnya apa si yang kamu tahu? Menyedihkan sekali hidupmu. yang harus kamu kasihani itu dirimu sendiri bukan kak Helen.¡± Menghina dengan sorot matanya. Dia menepuk kursi di sebelahnya agar Daniah pindah. Telinga dan mata Kak Saga dirumah ini banyak sekali, bisa celaka dia kalau sampai Han tahu dia bicara banyak pada Daniah. Sebenarnya dia mau bicara begini bukan karena dia menyukai Daniah, tidak sama sekali. Dia hanya ingin melihat mental down kakak iparnya. ¡° Aku cerita dari mana ya, biar otak kakak ipar ini nyambung.¡± Berfikir. padahal dalam hatinya, aku harus bicara dari mana ni, biar wanita ini sampai menangis meratap-ratap. pasti puas sekali melihatnya sedih. Selama inikan aku selalu kalah bersilat lidah dengannya. ¡° Kenapa tidak dari pertemuan mereka.¡± Antusias. Asik, ternyata Jenika ini sebenarnya polos dan manis ya. Dia ini seperti Raksa, dipancing sedikit saja semua rahasia akan terbeber dengan sempurna. Daniah yang tidak tahu isi hati Jenika yang sebenarnya berfikir dengan baiknya. ¡° Danau hijau.¡± ¡° Kenapa kalian selalu membahas danau hijau, memang ada apa dengan danau itu?¡± ¡° Itu adalaah tempat pertama kali kak Saga dan Kak Helena bertemu.¡± Daniah tercenggang. Jadi danau itu tempat tumbuhnya cinta mereka. Tapi tunggu, bukankah Noah juga menggangap tempat itu keramat. Jadi sebenarnya hubungan ketiga orang itu bagaimana si. ¡° Sekarang kakak ipar sudah pahamkan? Walaupun sikap kak Saga dingin pada kak Helena tapi dia masih sangat mencintai kak Helen. Jadi kakak yang sebenarnya yang harus dikasihani¡± ¡° Kenapa?¡± polos yang tidak dibuat-buat, daniah memang tidak paham dengan maksud Jenika kali ini. ¡° Kakak ipar memang gak pernah liat tv apa, gimana Danau hijau sekarang.¡± kesal. ¡° Aku juga lewat kali setiap hari, sekarangkan lagi dibangun megah.¡± ikutan nyolot, karena Jenika mulai sok tahu. ¡° Itu kak Saga yang sedang membangun tahu, bego banget si.¡± mendelik pada Daniah. ¡° Menjadi bego bisa menyelamatkan hatiku tahu, hiks, hiks, ternyata secinta itu ya tuan Saga dengan Helena. Jadi aku harus bagaimana donk.¡± Sambil mengusap pipinya, akting sedih. ¡° Kakak ipar sudah tidak ada harapan.¡± Jenika menepuk punggung Daniah berulang, merasa sedikit iba. ¡° Kasihan sekali kamu kak, bahkan belum mendapatkan kemewahaan setahun sudah harus ditendang dari rumah ini.¡± Haha, aku bahagia Jen, aku bahagia tahu sekarang. Daniah menemukan oase, yang bisa membantunya bertahan hidup. " Tapi bukankah seharusnya tuan Saga senang ya kalau Helena kembali, tidak perlu sampai bersikap dingin begitukan. yang pentingkan Helena sudah kembali." " Cih, kakak ipar ini benar-benar tidak tahu apa-apa ya." mendengus. " Kak Saga adalah anak laki-laki konglomerat negri ini yang memulai meneruskan bisnis keluarga dari usia masih sangat muda. kecelakaan ayah merubah segalanya dalam hidup kami. kakak yang seharusnya masih sekolah sudah harus menjadi pimpinan tertinggi di Antarna Group. ahh, mungkin dulu kakak ipar masih main boneka saat kak Saga harus mulai mengantikan ayah." " Aku gak pernah main boneka setelah usiaku 7 tahun." Daniah getir menjawab. " Kasihan sekali, apa dulu keluarga kakak ipar miskin sekali." Jenika menepuk pundak Daniah lagi, dia tidak tahu, karena selepas itu ibu tirinya tidak pernah memberinya boneka lagi. " Kak Saga jadi jauh lebih posesif pada kami. karena takut kami celaka atau apa, setiap hal yang kami lakukan harus dilaporkan padanya. Dia bisa marah kalau kami melakukan sesuatu tanpa izinnya." " Kenapa?" " Karena kak Saga takut terjadi apa-apa pada kami, dia tidak mau kehilangan lagi." Ada yang menyeruak ke dalam dada Daniah. ternyata laki-laki yang tampak dingin itu ternyata berhati hangat dan perduli pada keluarganya. " Dan karena helena pergi tanpa izin darinya makanya dia sangat marah ya." " Ya begitulah. Walaupun kami sayang pada kak Helen, tapi kami juga sedikit kesal padanya. kak Helen membuat luka lama kak Saga terbuka lagi. dia pasti ingat kepergian ayah yang sangat tiba-tiba waktu itu." Aaaaaa, kenapa aku jadi menoleransi beberapa sifat arogannya si. baiklah, aku akan memaafkan dia menanindasku asalkan masih dibatas kewajaran. BERSAMBUNG Chapter 60 no hp Helena Daniah sudah menarik lengan laki-laki yang biasanya tidak berpisah dengan Saga. Saat ini tuan muda itu sedang melakukan pekerjaan rutin di ruang kerjanya. Seharian bekerja, masih saja pulang ke rumah bekerja juga. Sepertinya walaupun sudah jadi horang kaya tidak bisa membuatnya berleha-leha. Saat sudah merasa aman dari pandangan para pelayan, Daniah melepas tangannya. Sementara Han hanya berdiri menatap Daniah. Menunggu apa yang mau dibicarakan nona mudanya. Tapi, bisakah anda tidak semudah itu menyentuh lengan saya nona, kalau tuan muda melihat saya juga mungkin tidak akan semudah itu selamat. ¡° Sekertaris Han, bisakah saya meminta nomor Helena.¡± Berbicara pelan. ¡° Untuk apa?¡± Rencana apa lagi yang mau anda buat nona, sudahlah menyerah saja. Peran dewi cinta bagi anda hanya akan sia-sia. Karena bukannya jadi perantara cinta, tapi andalah target cinta itu. ¡° Saya hanya ingin menyapanya, diakan mantan kekasih tuan Saga, saya hanya ingin berbincang dengannya.¡± Daniah berusaha bicara meyakinkan, kalau tidak ada maksud apapun. Cuma sebatas ingin berteman. ¡° Helena juga sangat cantik, siapa tahu saya bisa ketularan cantik juga. Hehe.¡± Huhh, Han menyeringai. Daniah tahu tidak akan semudah itu. ¡° Kalau begitu saya akan minta pada ibu atau Jenika.¡± Ancaman yang tidak memiliki kekuatan apa-apa. Dia mendengus, andai sedikit saja dia memiliki kelemahan sekertaris Han. Sedikit saja aib yang bisa dipakai untuk menekannya. Tapi walaupun dia mencari tahu, pelayan akan bungkam, Mayapun hanya mengeleng dan minta maaf karena tidak bisa memberi info apapun. ¡° Nona, kalau saya boleh memberi saran, sebaiknya anda menjauhi Helena. Dia tidak akan membawa kebaikan untuk anda.¡± Apa maksudnya? Kamu tidak tahukan walaupun terdengar jahat aku hanya ingin sedikit saja memanfaatkan dia untuk hidup dan mendapat kebebasan. Kami hanya akan saling menguntungkan, dia kembali pada tuan Saga dan aku kembali pada kehidupan bebasku. Bagaimanapun aku juga ingin jatuh cinta pada laki-laki yang mencintaiku juga. Hiks, bukannya terkubur dan main rumah-rumahan ini selamanya. ¡° Kenapa? Bukankah seharusnya anda mendukung Helena sekertarsi Han?¡± ¡° Saya hanya akan mendukung siapapun wanita yang disukai tuan muda.¡± Kata-katanya telak tidak bisa dibantah. Termasuk anda. Kalau anda adalah wanita yang dicintai tuan muda, saya akan membuat anda berada di sisi tuan muda. Sekalipun saya akan melakukan dengan sedikit paksaan. Tidak ada yang tahu makna kata sedikit versi dari sekertaris Han, selain dia dan Tuhan. ¡° Dasar seketaris compleks.¡± mendengus sambil membuang muka. ¡° Apa?¡± Han sedang mencari tahu makna sekertaris compleks dengan hpnya. Ternyata tidak semudah itu wahai penduduk bumi. Jenika langsung lari, sama seperti halnya Sofia saat Daniah meminta nomor Helena. Bagaimana tidak dua adik ipar melihat Han berkeliaran seperti hantu di rumah ini. ¡° Kenapa kalian takut sekali pada Han, diakan cuma bawahan tuan Saga berarti posisi kalian seharusnya lebih tinggikan? Dia tidak akan menghukum kalian.¡± Daniah memegang lengan adik iparnya. Memohon dengan sorot matanya. ¡° Kakak ipar hentikan, kami masih mau hidup. Aku gak punya no kak Helena.¡± Sofia dan Jenika memberi alasan yang sama. ¡° Bohong.¡± ¡° Ia sumpah.¡± Mulut Jenika dan Sofia akan terkunci rapat tentang informasi mengenai Helena. Ancaman sekertaris Han akan membekukan semua kartu milik mereka sudah menjadi jaminan mereka tidak akan berani membuka mulut. Percayalah, sekertaris Han tidak hanya bicara kalau mengancam dia akan mengeksekusi setiap ancamannya dengan nyata. ¡° Kami tidak bisa hidup tanpa kartu kami kakak ipar, jadi menyerahlah. Kami tidak akan membuka mulut.¡± Apa! Ternyata selain tamparan, dia bahkan punya wewenang membekukan kartu kredit dan rekening ya. Kenapa dia berkuasa sekali si. Gagal merayu adik ipar, akhirnya kembali menghadap laki-laki ini. ¡° Saya akan mencium anda di depan tuan saga, dan saya akan bilang kalau saya mencintai anda. Saya akan bilang kalau tipe saya adalah laki-laki kejam yang bisa menampar pipi perempuan tanpa mengedipkan mata. Haha. ¡± Ayo kita mati sama-sama, kalau aku melakukannya dia akan membunuhku atau membunuhmu juga. Han tergelak mendengar ancaman Daniah. ¡° Nona, apa anda lupa dengan yang saya katakan untuk menjaga bicara anda, sesuatu yang anda anggap bercanda belum tentu akan dianggap seperti itu oleh tuan muda. Bagaimana kalau tuan muda menggangap apa yang anda ucapkan barusan serius.¡± ¡° Kenapa? Kitakan mati sama-sama. Apa yang saya takutkan. Hehe.¡± Padahal bibir Daniah sudah bergetar, tangannya juga terkepal gemetar. Dan sialnya Han melihat itu. Laki-laki itu tersenyum. ¡° Nona, kalau saya boleh menyarankan, sebaiknya hentikan saja rencana anda sampai disini. Itu adalah rencana gagal bahkan saat anda belum memulainya.¡± Han berdiri, memberi sorot mata prihatin kalau Daniah sudah melakukan hal sia-sia. ¡° Rencana apa?¡± tapi wajah Daniah sudah terlihat pias. ¡° Rencana anda kabur dari tuan Saga, dengan mempertemukan tuan Saga kembali dengan Helena.¡± Deg, Daniah mundur beberapa langkah ke belakang. Dia menatap Han tajam, bagaimana dia tahu apa yang dia rencanakan selama ini. Padahal dia jelas-jelas tidak pernah membicarakan perihal rencana pelariannya pada siapapun. Dia tidak pernah menuliskannya di manapun kecuali hanya menyimpannya dalam hati. ¡° Haha, anda bicara apa sekertaris Han.¡± Maju dua langkah dan memukul bahu sekertaris Han. ¡° Bagaimana anda bisa berfikir sejauh itu, saya hanya ingin akrab dengan mantan kekasih tuan saga. Saya hanya inggin mendapat tips bagaimana supaya bisa menaklukan hati tuan Saga yang sedingin es itu.¡± ¡° Nona muda, anda tidak perlu tips apapun dari Helena. Bukankah sudah saya katakan, cukup jangan menyisir rambut anda sungguh-sungguh itu saja sudah bisa membuat tuan muda senang.¡± Apa si maksudnya orang ini. ¡° Lagi pula anda tidak perlu repot-repot mencium saya untuk mendapatkan nomor Helena, karena saya yakin dia yang akan duluan menemui anda.¡± ¡° Sekertaris Han, saya benar-benar tidak berniat lari dari rumah ini. Percayalah, saya punya tanggungjawab pada keluarga saya. Jadi saya tidak mungkin seberani itu.¡± Han hanya tersenyum tipis. ¡° Benar, anda seharusnya tahu itu. Sekarang kembalilah ke kamar anda, jangan terlalu lama berkeliaran mencari tahu, karena orang yang banyak tahu biasanya yang mati duluan lho.¡± Deg, dia menakutkan sekali. Sorot matanya menakutkan sekali. BERSAMBUNG Chapter 61 Bertemu Helena Ternyata apa yang dikatakan sekertaris Han benar. Apa dia itu cenayang, bahkan bisa menebak kejadian dengan tepat seperti ini. Hari ini Daniah mendapat telfon dari no tidak dikenal. Saat diangkat ternyata itu suara Helena. Gadis itu bertanya ramah, dan bicara dengan sangat manis, sampai keluarlah kata-kata ¡°Bisakah kita bertemu? Bagaimana kalau minum kopi.¡± Kenapa aku sampai mengancam mau menciumnya segala si. Kalau ternyata Helena akan menghubungiku duluan. Daniah menundukan kepalanya, berusaha menutup urat malunya yang bermunculan. Di depannya Helena dengan sangat angun dan elegan duduk. Rambutnya yang terurai hitam, jatuh dengan sempurna di bahunya. Bibir ranum itu tersenyum. Saat pelayan mengantarkan segelas kopi untuknya, dan segelas jus mangga pada Daniah dia menggangukan kepala dan tersenyum. Bahkan Daniah tersihir juga dengan kecantikan wanita ini. Eh, kenapa ini. Helena menyentuh tangan Daniah, mengengamnya erat. Seperti memberikan persahabat, yang Daniah sendiri tahu pasti tujuannya adalah untuk membuatnya dekat dengan tuan Saga. Tapi dia tidak mau berfikir buruk, toh memang itu yang dia harapkan dari persahabatan ini. Sejujurnya diapun punya niat terselubung. ¡° Daniah, maafkan aku, aku pasti membuatmu tidak nyaman ya?¡± Helena menepuk pungguh tangan Daniah lembut. ¡° Eh, tidak nona.¡± Merasa canggung, karena dia sebenarnya tidak seakrab inikan. ¡° Panggil saja aku Helen.¡± Masih lembut menepuk punggung tangan Daniah. ¡° Baiklah Helen.¡± Karena merasa tidak nyaman dia melepaskan tangan Helena secara natural, gadis di depannya juga sepertinya tidak menyadari. ¡° Nah begitukan lebih baik.¡± Daniah merasa binggung sendiri sekarang. Dia ingin sekali membantu, tapi percakapannya dengan Han kemarin benar-benar membuatnya goyah. Dia bimbang, yang awalnya setegar karang dan semangat sekuat pendaki himalaya sekarang dia seperti berfikir, apa benar rencana yang sudah ia buat ini benar adanya. Sekertaris Han bahkan bisa meraba apa yang aku pikirkan, dia tidak melaporkankukan. Tapi tidak mungkin dia melaporkan, memang dia punya bukti apa. Inikan hanya sekedar rencana di kepalaku. ¡° Daniah apa kamu tahu kenapa Saga memilihmu untuk menjadi istrinya.¡± Helena membuka percakapan, ada senyum tipis di bibirnya saat ia menyeruput kopi di gelasnya, yang tidak di sadari Daniah. ¡° Haha, tentu saja saya tahu.¡± Aku adalah gadis penebus hutang orang tuaku, dia memilihku karena, karena apa ya. Karena aku jelek dan kampungan, mungkin aku seperti mainan unik yang bisa menghiburnya. ¡° Syukurlah kalau kamu sudah tahu, kamu pasti sangat terlukakan? Maafkan aku ya, ini semua salahku.¡± Eh kenapa? Ya, aku memang terluka si, tapikan kamu tidak perlu bersimpati padaku. Inikan tidak ada hubungannya denganmu. ¡° Saga memilihmu karena kamu bukan tipe wanita yang disukainya, dia hanya ingin membuatku marah dan cemburu. Itu adalah pembalasan karena aku meninggalkannya dua tahun lalu tanpa izin.¡± Daniah mencengkram jemarinya di bawah meja, dia menundukan kepala menyedot jus mangga tanpa menyentuh gelasnya. Suara saat ia menyedot jus terdengar jelas. Jadi ini alasan kenapa aku yang terpilih, karen aku jelek dan berambut bergelombang. Berbeda dengan wanita yang dia sukai. Aku berpenampilan kampungan, bereda dengan Helen yang modis dan jelita. Jadi karena ini. Kenapa dadaku berdenyut ya. Ayolah Daniah, kamukan tahu kalau tuan saga memang tidak mencintaimu. Perusahaan ayah hanyalah alasan, karena alasan utamanya adalah aku. Karena aku bukan tipenya, karena aku bisa membuat kekasihnya yang lari cemburu. Bagaimana gadis jelek dan kampungan itu bisa mengantikanku. begitu pasti yang dipikirkan Helena. Huh! Kenapa hatiku sakit ya kalau alasannya seperti ini. ¡° Maaf ya Daniah, karena aku hidupmu harus menderita.¡± Daniah menarik senyum di wajahnya dengan lebar. ¡° Haha, Helen bicara apa si. Saya bahagia kok menjadi istri tuan saga, hehe. Bagaimanapun saya bisa hidup mewah dan mendapat fasilitas premuim. Tuan saga bahkan membelikan saya mobil.¡± Daniah menunjuk area parkir dengan jarinya. Masih terdengar tawa dari bibirnya. ¡° Saya suka uang. Hehe.¡± Menyedihkan sekali aku. ¡° Benar, dia memberikanmu uang ya. Tapi sampai kapanpun Saga tidak akan pernah memberikan hatinya kepadamu. Karena dia tidak mencintaimu?¡± Eh, kenapa mengucapkan kalimat ini. Bukankah ini jahat sekali. Walaupun aku tahu ini, tapi kenapa kamu membeberkan fakta-fakta ini supaya aku cukup tau diri dan tidak berharap lebih. Seperti sebuah penegasan. Jangan bermimpi mendapatkan hal lain selain uang. ¡° Apa Helen masih mencintai tuan Saga?¡± ¡° Tentu saja.¡± Menjawab cepat. ¡° Lalu kenapa dua tahun lalu anda pergi? Bukankah anda orang yang paling tahu bagaimana trauma tuan saga karena kehilangan seseorang yang dia cintai. Selain anda membuat luka baru, tapi anda juga membuka luka lama yang sedikit demi sedikit dia obatikan.¡± Hehe, maaf Helen, aku hanya ingin membalas kata-kata jahatmu. Karena ternyata kamu bukan gadis lembut bak malaikat seperti wajahmu. Rasanya puas juga pasti kalau membuatmu tak bisa berkata-kata. ¡° Itu karena kebodohanku, kebodohan masa laluku. Aku yang belum dewasa, hanya ingin sukses dengan namaku sendiri. Aku benar-benar menyesalinya.¡± Untung kamu mengakuinya, kalau tidak akukan jadi semakin ingin mencela. ¡° Apa Helen sudah pernah mencoba memohon pada tuan Saga?¡± Helena menggangukan kepala dalam, sambil menyeka airmatanya. ¡° Sampai pada titik apa?¡± Daniah bertanya lagi. ¡° Maksudnya?¡± ¡° Apa anda sampai berlutut dan memohon dengan beurai airmata padanya.¡± Eh, apa aku sudah gila, bagaimana aku bisa melakukannya apalagi di depan sekertaris sialan yang tidak pernah lepas dari sampingnya itu. Aku masih punya harga diri yang harus kujaga. ¡° Ahh, aku tidak punya harga diri yang harus kujaga di depan tuan saga atau sekertaris Han.¡± Daniah menjawab seperti paham apa yang dipikirkan Helena. ¡° Anda benar, aku tidak mendapatkan cinta dari tuan Saga, karena itu berusahalah Helena. Berusahalah merebut tuan Saga kembali. Aku tidak akan memeluknya di tanganku, karena aku tidak punya hak untuk itu. Tuan Saga akan kembali padamu kalau dia mengginkannya. Jadi kejarlah dia dengan seluruh tenaga yang bisa kamu pakai.¡± Daniah menghela nafas dalam. " Kalau dia sudah menerima Helen, perceraian kami pasti tidak bisa dihindari." Begitulah akhirnya, Daniah mengatakan apa yang harus ia katakan. Dia sudah membuka setitik jalan, selanjutnya semua tergantung bagaimana h/Helena memanfaatkan kesempatan dan peluang. BERSAMBUNG Chapter 62 Jangan Menahan diri Prankk! Gelas kaca itu pecah terburai menjadi serpihan kecil, berhambur ke mana-mana. Masuk di kolong meja, bercecer di dekat tembok tempatnya terhantam tadi. Laki-laki yang diutus Han mengawasi pergerakan Daniah berdiri tepat di mana gelas kaca itu melayang. Tangannya bergetar, tapi dia tetap tidak bergeming dari tempatnya. Mengirimnya adalah hal yang tepat, Han sudah memperkirakan semua ini. Karena pasti tidak semudah itu Helena akan menyerah. Setelah rekamam percapakan itu selesai, darah di tubuh Saga seperti mendidih. Lava kemaraahan meluap di sekujur tubuhnya. Dia membuang semua benda yang ada di mejanya. Berjatuhan begitu saja. Sementara Han masih berdiri di sampingnya. Aku benar-benar sudah terlalu baik padanya. Apa cuma aku yang merasa, hubungan kami akhir-akhir ini sudah berjalan lebih manusiawi. Tapi kenapa hanya aku yang merasa seperti itu. Lihat dia, bagaimana dia bisa melepaskanku dengan begitu mudahnya. Bercerai, jangan mimpi. Sampai matipun kau tidak akan bisa bergerak selangkahpun dari sisiku. ¡° Han.¡± ¡° Ia tuan muda, apa anda mau saya mengurus nona Helena.¡± Tahu apa yang harus dia lakukan, itulah sekertaris Han. ¡° Terserah.¡± Aku menyuruhmu memohon dan mengakui kesalahanmu dengan benar, tapi kamu malah mengambil langkah sulit ini. ¡° Apa yang dilakukan Daniah setelah itu?¡± kembali kemasalah Daniah. ¡° Nona muda kembali ke ruko, setelah itu tidak keluar lagi sampai saya datang kemari.¡± ¡° Keluarlah, kau sudah bekerja dengan baik. Han, berikan bonus padanya.¡± ¡° Baik tuan muda.¡± Han menyusul pengawal yang sudah mengawasi Daniah seharian ini keluar dari ruangan. Jadi ini yang kamu rasakan ya. Tersiksa di dekatku. Padahal aku sudah sangat baik padamu. Apa otakmu seujung kuku sampai tidak bisa merasakan bahwa aku memperlakukanmu berbeda. Jadi semua sikap baikmu itu cuma akting, palsu, menyenangkanku hanya untuk menyelamatkan keluargamu. Sepertinya Saga sedang mengalami suatu pristiwa dan fakta yang mengejutkan. Selama ini dia merasa Daniah yang bersikap malu-malu dan membencinya namun juga menyimpan sedikit debaran hati padanya. Senyum dan sorot mata yang tidak singkron berhasil membuatnya terhibur sekaligus membuatnya tidak menyadari. Bagaimana sebenarnya hati Daniah. ¡° Tuan muda.¡± Han muncul dengan dua orang di belakangnya, yang membawa peralataan untuk membersihkan pecahan kaca. kedua orang itu langsung sigap mengurus pekerjaannya. Lalu Han mendekati Saga. Dia melihat Saga yang tertidur di sofa. ¡° Seharusnya anda memakai bantal, kepala anda akan sakit kalau begini.¡± Han mengangkat kepala Saga seperti ibu yang memindahkan kepala anaknya. ¡° Kenapa tuan muda harus menahan diri seperti ini.¡± Saga bergumam menyentuh kepalanya. ¡° Apa maksudmu?¡± Saga masih memejamkan mata. ¡° Bukankah nona Daniah itu istri sah anda.¡± Lalu? dia memang istriku. ¡° Anda tidak perlu menahan diri seperti ini, terlepas pernikahan ini terlaksana karena ada suatu alasan, yang pentingkan hati anda sekarang. Bukankah Tuan muda sudah menandatangani kontrak yang hanya bisa dibatalkan oleh anda sendiri, nona Daniah sudah terikat hidup dan mati dengan anda.¡± Han sudah duduk di sofa di samping Saga. Saga terdiam, mengurai penjelasan Han. Saga teringat kata-katanya saat awal pernikahannya ¡° Jangan mimpi untuk mendapatkan cinta atau belas kasihku, kamu tahukan kenapa kamu kunikahi. Aku hanya perlu seorang pelayan, jadi lakukan semua kewajibanmu, itu sudah cukup membayar semua hutang keluargamu." ¡° Baik tuan.¡± Gadis itu masih tersenyum, seperti tidak menghadapi sesuatu yang berbahaya. " Saya akan melakukan apapun, untuk membalas kebaikan anda pada keluarga saya." Dia sudah terikat padaku, dengan tali bernama " keluarga" Ketukan di pintu membuat Han bangun dari duduk, saat dibukanya salah satu staffnya sedang berdiri dengan hormat. " Tuan, dokter Harun sudah menunggu." " Persilahkan dia masuk." " Baik tuan." Setelah melakukan general cekup dokter Harun membereskan peralatannya. Dia melirik Han sambil angkat bahu, meminta penjelasan. Ada apa dengan tuanmu, begitu sorot matanya. Tapi Han tidak bergeming. ¡° Kenapa? Apa ini masalah Helen?¡± jelas, jelas tidak ada yang aneh dengan kondisi tubuhmu. ¡° Hei, kenapa selalu menghubungkan dengan Ele. Memang aku gak boleh move on.¡± Mengeram kesal, Harun yang terkejut dengan kalimat Saga. ¡° Darimana kata-kata move on itu? Membuatku merinding. Saga, kenapa denganmu? Dulu waktu jatuh cinta dengan Helen, kamu seperti bocah yang baru jatuh cinta seumur hidup. Saat dia pergi, sudah seperti orang gila yang ingin menghancurkan dunia. Sekarang saat dia kembali, kamu jadi menakutkan begini, bahkan tahu istilah move on segala.¡± Mengelengkan kepala kuat-kuat, sambil meletakan tas di dekat tempat duduknya. ¡° Aku akan melepaskan Ele.¡± Suara Saga terdengar lirih, namun penuh keyakinan. ¡° Apa!¡± mendengar kalimat Saga, sorot matanya sekarang benar-benar kuatir, dia minta jawaban Han. Ada apa dengan tuanmu ini. ¡° Tuan muda mulai menyukai wanita lain.¡± Jawaban Han seperti hujanan anak panah yang melesat ke dadanya. Tidak mungkinkan? ¡° Hei, kalian sedang main-mainkan. Saga jatuh cinta?¡± Bangun dari kursi dan mencengkram lengan Han. ¡° Siapa dia? Jangan bertele-tele.¡± Harun tahu, bagaimana sifat Saga. Dia tidak semudah itu untuk membalikan hatinya. Apalagi urusan cinta. Dua tahun berpacaran dengan Helena. Dua tahun ditinggalkan. Selain Han, dialah yang paing tahu bagaimana orang ini berubah wujud dan hatinya. ¡° Nona Daniah.¡± ¡° Daniah, siapa dia?¡± berusaha menggingat nama-nama anak konglomerat atau selebriti yang sedang populer akhir-akhir ini. Nihil, sepertinya tidak ada nama sekampungngan itu di dunia pergaulannya. ¡° Istri tuan muda.¡± Lagi-lagi jawaban Han mengonjang dunia Harun. ¡° Apa!¡± wanita yang dia temui, saat Saga memanggilnya tempo hari. ¡°Hei, jangan bercanda Han, mau kuhajar kamu! Diakan jelas-jelas jauh dari selera Saga.¡± Malah Harun yang jadinya marah karena merasa dipermainkan. ¡° Han, bawa bedebah gila ini pergi, membuat kepalaku pusing dengan ocehannya.¡± Harun tidak mendengarkan, dia malah mendekati Saga, mengeser kaki laki-laki yang masih terbaring itu. ¡° Benar yang dibicarakan Han?¡± ¡° Apa?¡± ¡° Daniah!¡± Berteriak kesal, memang siapa lagi. Kitakan sedang membicarakan Daniah, yang katanya wanita yang kamu sukai. Harun sudah geram. ¡° Dia tidak menyukaiku.¡± ¡° Apa! Memang ada perempuan yang tidak menyukaimu. Aku jadi ingin mencium tangan kakak ipar yang keren itu.¡± Saga menendangkan kakinya keras, mengusir Harun agar enyah dari hadapannya. ¡° Seret dia keluar Han.¡± ¡° Baik tuan muda.¡± ¡° Hei, lepaskan aku Han, aku ingin dengar cerita lebih lanjut. Baik-baik, aku keluar. Bawa tasku. Istirahatlah Saga, jangan terlalu sedih, kalau ada perempuan yang tidak menyukaimu, itu artinya kamu memang manusia biasa.¡± Pintu tertutup, ruangan jadi lenggang. Terdengar Saga mendesah beberapa kali. Tangannya terkepal erat. Dia sudah memutuskan, perihal Daniah. Sementara di luar ruangan Harun sudah tenang, dia menerima tas yang dibawa Han. " Apa dia gadis yang baik, Daniah. wanita yang dinikahi Saga untuk membalas Helen." Dokter Harun melangkah menuju lif disusul Han di sampingnya. sudah berjalan penuh wibawa seperti biasanya. " Nona muda gadis yang baik." Mereka berhenti di depan lif. " Saya sudah memastikan latar belakangnya." " Aku percaya padamu Han. Urus Helena, kalau Saga sudah benar-benar melepaskannya." " Baik." Pintu lif terbuka, Dokter Harun masuk, Han menundukan kepalanya hormat sampai pintu lif tertutup BERSAMBUNG Chapter 63 Amarah Saga Daniah berlutut sambil melepaskan sepatu Saga. Dia melakukannya jauh lebih hati-hati dari sebelumnya, Karena sedari turun dari mobil Saga sudah membisu. wajahnyapun terlihat sedang kesal. Ditambah lagi satu kalimat yang diucapkan sekertaris Han membuatnya berdebar sepanjang menaiki tangga memasuki kamar. ¡° Suasana hati tuan muda sedang sangat buruk, jangan membantah apapun yang dikatakannya.¡± Memang kapan aku berani membantahnya secara terang-terangan coba, mau suasana hatinya sedang baik sekalipun aku selalu patuhkan. Kenapa? Anda kenapa lagi si? Kalau sedang kesal kenapa pulang, kan aku yang harus kena imbasnya. Apa kesal lagi masalah Helena? Daniah selesai melepas sepatu, dia meletakan sandal rumah di bawah kaki Saga. Saat dia mau bangun, suaminya menyentuh bahunya. Setengah menekan. Membuatnya kembali berlutut. Daniah mulai dirasuki perasaan tidak nyaman. Ini bukan hanya sekedar suasana hatinya yang sedang buruk, tapi sepertinya dia benar-benar sedang marah. ¡° Kau bertemu Ele hari ini?¡± suaranya terdengar dingin. Deg! Bagaimana dia bisa tahu. Aku bertemu dengan Helena. Apa dia benar-benar mengawasi setiap pergerakanku di luar sana. Apa Han membuntutiku. Bagaimana dia bisa tepat membaca pergerakanku. Selama ini bahkan Han sepertinya mudah sekali tahu apa yang hanya sekedar aku pikirkan. ¡° Ia suamiku.¡± Daniah terbata. Dia masih menundukan kepala. ¡°Saya pergi minum kopi dan berbincang dengannya.¡± Takut melihat sorot mata Saga. ¡° Hah!¡± Saga mencengkram lengan baju Daniah, Gadis itu terperanjak. Sorot mata Saga penuh kemarahan. Kenapa? Kenapa kamu marah? Saga melepaskan baju Daniah, sekarang dia mencengkram dagu gadis itu. ¡° Kau mau bercerai dariku?¡± Daniah mulai bisa meraba arah pembicaraan Saga. ¡°Dan kamu mau memakai Ele untuk membuatku melepaskanmu.¡± Sekertaris sialan apa yang kamu katakan pada majikanmu hah! Kenapa kamu membeberkan hipotesa yang sudah kubantah kemarin. itukan hanya rencana di kepalaku, kenapa kamu mengadukanku. memang niat itu kejahatan apa? niat itu belum bisa masuk ranah pidana tahu. ¡° Jawab!¡± Saga berteriak. ¡° Ti, tidak suamiku.¡± Saga menjatuhkan tubuh Daniah di sofa, di sampingnya. Gadis itu meringsek mundur ke belakang. ¡° Saya hanya bicara dengan Helena, saya hanya ingin berteman dengannya.¡± sekujur tubuh Daniah sudah bereaksi mengingatkan, kalau Saga sedang dalam kondisi tidak stabil emosinya. salah menjawab sedikit saja, habislah dia. ¡° Berteman. Kenapa?¡± ¡° Karena dia sangat cantik. Begitulah perempuan suamiku, kami senang punya teman wanita cantik, karena dengan berteman dengan sicantik siapa tahu membuat kami cantik juga.¡± tambahkan tawa dan senyum di bibirmu Daniah, biasanya berhasilkan. Begitu dia berfikir. ¡° Hahaha.¡± Saga tergelak. ¡° Kau pikir aku bodoh?¡± Daniah semakin meringsek, mengeser tubuhnya sampai terbentur ujung kursi. ¡° Tidak suamiku.¡± Bagaimana ini, kenapa dia semarah ini si. Tunggu, apa dia marah karena aku sok-sokan ingin menjodohkannya dengan Helena lagi. Aku melakukan sesuatu terlalu awal, padahal dia masih belum memaafkan Helena. Benar, aku yang salah strategi, seharusnya aku menunggu amarahnya pada Helena mereda baru bertindak. ¡° Kau benar-benar ingin membuatku marah ya.¡± ¡° Tidak suamiku, tidak, saya tidak berani. Saya mohon maaafkan saya.¡± memohon, tubuh Daniah sudah merinsek semakin merapat di pojokan. Kenapa anda marah? Hiks. hiks. Aku tidak tahu kenapa anda marah. Apa karena aku ingin bercerai. Apa karena aku ingin mencoba merajut ikatan cinta antara kalian. Atau karena aku bilang ingin berteman dengan Helena. Tapi saat ini sorot matanya sangat menakutkan. Aku benar-benar takut dia akan melakukan hal yang buruk, tidak hanya padaku, tapi juga pada keluargaku. ¡° Kau tahu kenapa aku menikahimu?¡± Daniah menggangukan kepalanya berulang. Dia tahu, tahu dari Helena tadi alasan sebenarnya. ¡° Anda hanya ingin membalas Helena. Saya tidak apa-apa suamiku, anda sudah memberi keluarga saya kesempatan untuk hidup kedua kalinya. Jadi apapun alasan anda itu tidak masalah buat saya.¡± Biarkan sakit hati ini yang merasakan hanya aku, toh setelah aku terlepas dari semua ini aku bisa mencari kebahagiaanku sendiri. Saga menarik tubuh gadis itu mendekat. mencengkram dagu Daniah. Lalu secara paksa dia mencium bibir daniah. Kali ini bukan hanya kecupan di bibir, tapi lebih dari itu. " Buka mulutmu!" Digigitnya bibir Daniah yang tidak mau terbuka. Akhirnya gadis itu kalah. Saga melumat habis pertahanannya gadis di depannya. Ciuman itu berlangsung lama. Ada buliran airmata yang membasahi pipi Daniah. Tangannya mencengkram sofa gemetar. ¡° Itu hukuman untukmu karena sudah berfikir lancang.¡± Saga sudah duduk, menyentuh bibirnya lalu menatap masih dengan sorot mata tidak bersahabat. Apa! Apa salahku. Di mana salahku. Katakan letak kesalahanku di mana? biar aku bisa memohon dan tidak mengulanginya lagi. ¡° Pak Mun! Masuklah!¡± Pintu terbuka, Daniah mengusap bibir dan membetulkan rambutnya yang terburai. ¡° Panggilkan 2 pelayan wanita untuk membantu nona muda bersiap-siap untuk nanti malam.¡± Bersiap untuk nanti malam, memang aku mau apa nanti malam? ¡° Baik Tuan muda.¡± Pak Mun setelah mengangukan kepala lantas keluar dengan cepat, menutup pintu tanpa suara. Setelah pak Mun keluar Daniah sudah selesai merapikan rambutnya. Mencoba memberanikan diri bertanya. ¡° Su, suamiku.¡± ¡° Bersiaplah untuk malam pertama kita.¡± Daniah terperanjak. ¡° Aku akan mencabik-cabikmu malam ini, bukankah ini yang kamu inginkan juga? Tidur denganku.¡±. dipeganggnya dagu Daniah lagi, Saga mengusap bibir yang merah bekas gigitannya tadi, seringai dingin muncul di wajah Saga. Tidak perduli kata-katanya sudah seperti petir disiang bolong yang menyambar tubuh Daniah, dia beranjak keluar kamar membanting pintu dengan suara keras. Daniah meloncat terkejut. Kenapa? Kenapa ini? Bukankah selama ini aku sudah bisa hidup dengan baik. Kenapa kamu benar-benar marah hari ini. Dimana salahku? Malam pertama? mencabik-cabikku. Ibu! Ibu tolong aku. Bersambung................ Chapter 64 Persiapan malam pertama Di kamar mandi, selang tidak lama Saga meninggalkan kamar dengan amarah, menunjukannya dengan membanting pintu yang membuat orang setengah mati terkejut. masuklah dua pelayan. Salah satunya Maya yang cukup akrab dengan Daniah. Maya sedang mengosok punggungnya, sementara pelayan satunya sedang membersihkan kuku dan memotongnya. Daniah membisu, membiarkan mereka melakukan pekerjaannya. Walaupun dia merasa pelayanan kali ini berlebihan, tapi dia benar-benar tidak punya tenaga untuk membantah lagi. Dia berusaha menarik nafasnya perlahan. Berkonsentrasi. mengurai semua kejadian yang baru saja terjadi ini. Apa yang membuat tuan Saga marah begitu? tadi dia menyinggung tentang perceraian. darimana dia tahu, kalau bukan dari Han. Benar, pasti sekertaris compleks itu. Dia mau mencabik-cabiku. Aku harus bagaimana ini? Malam pertama, kenapa aku harus tidur dengannya. Jelas-jelas dia tidak suka padaku. Apa ini caranya menghukumku, karena aku sudah berani berfikir untuk pergi. Benar, kontrak hanya bisa terputus kalau dia merobeknya. Apapun yang aku katakan tidak ada nilai jual di hadapannya. Kalau aku melayaninya dengan benar, dia janji tidak akan mengusik keluargaku. Tapi sekarang, kalau emosinya tidak stabil begitu, aku harus bagaimana. Bukan hanya aku yang terancam, tapi seluruh keluargaku. tapi tidur denganku, kenapa? kenapa dia sampai menghukumku sejauh ini. Ini sudah sangat berat. Aku sudah sangat bahagia saat dia tidak tertarik padaku di atas tempat tidur. Tapi sekarang. Ini bahkan pengalaman pertamaku. tapi akan jadi trauma seumur hidupku. Kata-kata mencabik-cabik yang dia pakai untuk mendeskripsikan keinginannya memperlakukanku itu apa maksudnya. apa aku akan di siksa dulu. Tolong! ¡° Maya.¡± Daniah memutuskan untuk mencari tahu dengan bertanya, daripada dia binggung sendirian. Karena langkah ke depan masih terlalu gelap untuk diraba. ¡° Ia nona.¡± ¡° Apa sekertaris Han ada di bawah?¡± sumber informasi dari kebinggungannya. walaupun tidak mudah mendapat info darinya, tapi sepertinya akan lebih baik dari pada bertanya pada Saga. ¡° Ia nona, sekaraang sekertaris Han pasti ada di ruangan kerja bersama tuan muda.¡± ¡° Apa pak Mun mengatakan sesuatu pada kalian? Bukankah anehkan tiba-tiba kalian membantuku mandi begini.¡± Daniah mengangkat tangannya yang sudah bersih, masuk kembali ke dalam bak. ¡° Pak Mun hanya mengatakan kepada kami untuk membantu nona membersihkan diri.¡± ¡° Apa ada kejadian aneh di bawah?¡± Daniah ingin mendengar penjelasan, tapi gadis itu diam saja. Selepas mandi Daniah memaksa kedua pelayan keluar kamar. ¡° aku bisa melakukannya sendiri.¡± Daniah setengah berteriak mendorong tubuh mereka. memalukan sekali pikir Daniah harus ganti baju di depan mereka. Setelah memastikan mereka keluar Daniah memilih baju dan memakainya. Dia duduk bengong di depan kaca sambil menyisir rambut. Cukup lama dia diam di tempatnya. Lalu dia meraih hpnya. ¡° Sekertaris Han apa yang anda katakan pada tuan saga¡± ¡° Dia sangat marah¡± ¡° Apa anda tahu, anda sudah menghancurkan hidup saya.¡± ¡° Apa anda memata-matai saya, sampai tahu saya bertemu Helena.¡± ¡° Perceraian? Apa anda yang mengadukan saya.¡± " Saya sudah mengatakan kemarin, kalau saya tidak seberani itu" " Saya punya keluarga yang harus saya lindungi." " Tapi kenapa tuan Saga sangat marah!" " Dia bahkan mau mencabik-cabik saya." " Salah saya apa?????????" ¡° Hei sekertaris sialan jawab!!!!¡± Daniah sudah tidak bisa menahan diri. Dibantingnya hp di meja riasnya. Bunyi tringg pesan sekali, langsung dia sambar. Bedebah sialan! Jawaban sekertaris Han. ¡° Hemmm.¡± Makan malam yang mencekam sepertinya hanya milik Daniah, Saga bersikap seolah-olah tidak habis mengancam hidup dan mati seseorang. Dia makan dengan lahap. Menunjuk makanan yang ingin dia makan seperti biasanya. Daniah di sampingnya sudah seperti kehabisan nafas. Apa ini makan malam terakhirku di dunia ini. Ibu mertua, tolong aku. Anakmu mau mencabik-cabik tubuhku malam ini. Adik ipar, kumohon berbelas kasihlah hari ini saja. Sembunyikan aku dimanapun, asalkan kakakmu tidak bisa menemukanku. Setelah makan malam satu keluarga duduk berkumpul, Daniah duduk di samping Saga. Membeku. Dia hanya menyimak, sepatah katapun tidak keluar dari mulutnya. Bahkan wajahnyapun nyaris membeku. Pikirannya sedang fokus pada kata "mencabik-cabik." Bukankah kata itu hanya dipakai saat menggambarkan binatang buas mengoyak mangsa dengan giginya. ¡° Kakak ipar, kenapa denganmu, apa kamu sakit?¡± Jenika jauh lebih bisa bicara baik-baik sekarang setelah obrolan panjaangnya waktu itu dengan Daniah. Saga meraih ujung rambut Daniah memainkannya di tangannya. ¡° Apa kamu sakit?¡± Tanyanya. Sambil memainkan rambut Daniah. ¡° Tidak suamiku saya baik-baik saja.¡± menjawab dengan lugas sambil tersenyum. ¡° Baguslah.¡± Saga menarik rambut Daniah, membuat gadis itu mengeryit, lalu dia melepaskannya. Kenapa banyak sekali yang mereka bicarakan, biasanya jugakan tidak seperti ini. Apa ini benar-benar jamuan malam terakhir untuku. Mencabik-cabik, enyah kau dari pikiranku! Saga bangun dari duduk setelah pembicaraan panjang keluarga, membuat Daniah terperanjak, dan refleks berdiri. ¡° Apa sudah mau tidur?" ibu bertanya. ¡° Ia bu.¡± Saga hanya menjawab pendek. " Baiklah, istirahatlah." Ibu mertua menatap Daniah agar segera mengikuti suaminya. tapi buru-buru dia menarik lengan menantunya lagi. ¡° Apa kamu membuat kesalahan?¡± ¡° Tidak!¡± jawabannya yang berteriak malah semakin mencurigakan. Sebenarnya membuat ibu mertua ingin bertanya lagi. Tapi diurungkan karena Saga sudah menghilang dari pandangan. ¡° Sudah sana kembali ke kamar, susul Saga.¡± ¡° Ia bu.¡± Bagaimana ibu bisa tahu, kalau tahu kumohon tolong aku bu. Pintu terbuka kecil, lampu kamar sudah padam. Daniah membeku di depan pintu. Aaaaa, aku takut setengah mati. ¡° Apa yang kamu lakukan di sana?¡± ¡° Maaf suamiku.¡± Baik, minta maaf saja. Jawab dengan minta maaf saja. Dia tidak benar-benar akan menidurikukan, jelas-jelas dia tidak suka padaku. Kenapa? Kenapa saat Helena kembali. Apa ini caranya balas dendam lagi. Tapi kenapa memakai tubuhku. Toh Helena tidak akan tahu. ¡° Naik.¡± Malam panjang baru akan dimulai. BERSAMBUNG.................. Chapter 65 Malam pertama Daniah berjalan perlahan menuju tempat tidur. Sehabis mengatakan kata naik tidak terdengar suara apapun. Sagapun sudah tidur di bawah selimut. Jangan bicara apapun sekarang, cukup lakukan yang dia katakaan. Aku yakin dia hanya mengertak. Dia tidak mungkin memintaku tidur bersama. Meniduriku maksudnya. Jelas-jelas dia tidak menyukaiku. Baik, pelan-pelan Daniah. Jangan membuat suara menggangu. Sebentar lagi dia juga tidur seperti biasanya. Aku hanya perlu menahan nafas sampai dia tidur. ¡° Kau lupa apa yang kukatakan tadi.¡± Saat Daniah sudah terbaring di tempat tidur. Saga menendang selimut sampai benda itu terongok di lantai. Sekarang Kaki kanan Saga sudah naik ke atas kaki Daniah, menindihnya. ¡° Akukan bilang akan mencabik-cabik habis dirimu. Apa kau sudah siap.¡± Sudah tidak tahu sepucat apa sekarang wajah Daniah, tangannya bergetar berpegang pada pinggir tempat tidur. Berusaha mengerakan kakinya agar leluasa menyingkir. Tenaganya kalah jauh. Kaki panjang milik Saga bahkan tidak bergeser sedikitpun. Semakin dia berusaha mengerakan kaki, semakin kuat kaki laki-laki itu menekannya. ¡° Suamiku, maafkan saya. Maafkan kesalahan saya.¡± Daniah berusaha mengeluarkan kalimat menghiba, yang terdengar sangat tulus. Kemampuan aktingnya makin hari memang semakin membaik. ¡° Saya salah sudah bertemu dengan Helena, padahal anda masih belum memaafkannya. Dan saya lancang berfikir untuk mempertemukan anda kembali dengannya.¡± Saga mengeram kesal, sekarang tangannya malah melingkar ditubuh Daniah. Memeluk gadis itu. Daniah semakin menciut ketakutan. ¡° Kenapa membahas Ele lagi?¡± bergumam di dekat telinga Daniah. ¡° Karena anda masih mencintai Helen, makanya saya berfikir¡± terbata, suara Daniah tertahan ketika Saga mencengkram lehernya. Semakin lama semakin kuat, Daniah mulai tersengal. Dia terbatuk berulang setelah Saga melepaskan tangannya. ¡° Jangan menyebut namanya dengan mulutmu lagi, aku akan menghukummu untuk itu!¡± ¡° Ba.. hemm. Hemm.¡± Daniah membuka mulutnya karena intuisi untuk menyelamatkan diri. Bibir lembut Saga menyatu dengan miliknya. Tapi, kenapa dia melakukannya dengan sangat lembut. Padahal diakan sedang kesal. begitu yang sepintas terpikir di kepala Daniah. Dia bahkan mencekikku barusan karena aku menyebut nama Helen. Tapi dia menciumku dengan sangat lembut. Menarik nafas sebentar, lalu Saga kembali melancarkan serangan ciuman yang keduanya, kali ini lebih lama dan dalam. ¡° Su.. suamiku¡± Ini salahkan, ini salahkan. Aku tidak harus tidur dengannyakan. Bibir Saga mulai menelurusi telinga, leher, dan bahu Daniah. Kecupan lembut mengalirkan semua perasaannya yang sebenarnya. Tapi tidak dengan Daniah. Gadis itu memejamkam mata, mengigit bibirnya kelu, mencengkram seprei. ¡° Suamiku, maafkan saya.¡± Masih berusaha menyelamatkan diri. Saga masih menelusuri lekukan tubuh Daniah. ¡° bukankah anda bilang tidak menyukai saya karena saya jelek dan kampungan.¡± ¡° Hemmm¡± tidak menghentikan aktivitas bibirnya. Lihatkan, kamu mengakui kalau aku memang tidak sesuai seleramu. Kenapa masih melakukan ini. ¡° Dan agar saya cukup tahu diri untuk tidak mengharapkan bisa melayani anda sebagai istri di tempat tidur.¡± ¡° Hemm.¡± Bagaimana ini, tangannya mulai tidak bisa dikondisikan. Sudah masuk ke dalam bajuku. ¡° Kenapa sekarang anda.¡± Jemari Saga menutup bibir Daniah yang mau bicara lagi. ¡° Apa kau lupa dengan aturan utama yang kamu tanda tangani denganku. Aku adalah aturan hidup yang harus kamu patuhi. Kalau aku bilang kamu jelek artinya apa.¡± ¡° Saya jelek.¡± Menjawab lirih, masih sambil memalingkan wajah. ¡° Kalau aku bilang aku mau tidur denganmu artinya apa?¡± ¡° Saya akan tidur dengan anda.¡± Kecupan lembut di leher Daniah lagi. setelah mendengar jawaban Daniah. Apa ini, kenapa dia melakukannya dengan sangat lembut. Dia bilangkan ingin mencabik-cabikku. Apa memang seperti ini yang namanya mencabik-cabik. ¡° Aaaaaa, sakit.¡± Erang Daniah. Aku bakar kata-kataku tadi. Dia menggigit bahuku. ¡° Suamiku.¡± Daniah berusaha mengerakan tubuh, melepaskan diri perlahan dari cengkraman harimau di sampingnya. ¡°Andakan harus tidur dengan wanita yang anda cintai. Silahkan hukum saya apapun, saya mengaku bersalah.¡± ¡° Jadi kamu menolak tidur denganku?¡± Saga mendesah, suaranya sudah terdengar sangat kesal. Dia menghentikan kecupan lembut di leher Daniah, mengangkat kakinya. Saga mengeser tubuhnya kembali ke posisi biasanya dia tidur. Mengumpat kesal. ¡° Aku tidak pernah memaksa perempuan untuk melayaniku. Pergilah kalau kamu tidak mau tidur denganku!¡± suaranya terdengar sangat kesal, tapi ntah kenapa seperti angin surga bagi Daniah. Syukurlah, aku selamatkan! Walaupun dia marah dan akan menghukumku dengan cara yang lain. Tapi bukankah lebih baik, daripada ini. Daniah bernafas lega. Dia menarik nafas pelan, sambil menurunkan kakinya dari atas tempat tidur. Dia sudah menyinggung Saga, kalau dia masih tidur satu tempat tidur dengannya bukankah itu tidak tahu malu namannya. ¡° Pergilah, dan lihat bagaimana aku menghancurkan semua keluargamu tanpa sisa!¡± Deg, Daniah yang sudah berdiri tiga langkah dari tempat tidur membeku. Dia tidak punya keberanian untuk bergerak lagi. Kalau aku tidak bisa membuatmu berada di sisiku karena kau mencintaiku, maka aku akan memaksamu berada di sampingku dan belajar mencintaiku. Biarkan aku yang mencintaimu duluan sekarang. ¡° Pergi sana! Enyah dari hadapanku!¡± Seharusnya Daniah pergi dan tak perlu memikirkan apapun kalau dia mau selamat, tapi sekali lagi dia harus menyerah, karena hal konyol melindungi keluarga. Daniah membalikan badan, berjalan pelan menuju tempat tidur, dia naik duduk bersimbuh di samping Saga yang duduk bersandar sambil menekuk kakinya. Nafasnya masih berhembus pendek, dia masih sangat kesal. Begitu yang diraba Daniah. ¡° Maafkan saya suamiku.¡± ¡° Pergi sana! Aku sudah tidak berselera lagi.¡± Menendang lutut Daniah dengan mengeser kakinya. ¡° Maafkan saya suamiku, saya salah, maafkan saya.¡± ¡° Aku tidak pernah memaksa perempuan melayaniku.¡± Kurang ajar! Aku bahkan harus memaksaku menoleh padaku. ¡° Saya tidak dipaksa sama sekali, saya melakukannya karena senang. Bukankah anda tahu kalau ini yang saya impikan ketika menjadi istri anda. Bisa tidur bersama anda.¡± Lupakan harga diri, kalau aku masih hidup besok itu sudah keberuntungan. Memohonlah Daniah. Kau sudah tidak punya apa-apa, bahkan dari awal ketika menandatangani kontrak hidup dan mati dengan laki-laki ini. ¡° Keluar kau!¡± ¡° Tidak suamiku.¡± Daniah meraih tubuh Saga dan memeluknya. Wajahnya terbenam di dada Saga. ¡°Saya yang mengginkannya, saya yang ingin bersama anda. Anda tidak memaksa saya. Saya mohon jangan buang saya.¡± Dan pada akhirnya aku yang memohon. Hal yang paling gila yang aku lakukan dalam hidupku adalah memohon untuk ditiduri laki-laki ini. ¡° Wah, wah, beraninya memeluku.¡± ¡° Maafkan saya.¡± Daniah yang sudah mau melepaskan tangannya malah ditahan. Sekarang Sagalah yang memeluknya dengan erat. Mulai menyusuri setiap bagaian lekuk leher Daniah dengan bibirnya. Kecupan keras sampai membuat Daniah merintih membekas tanda merah. ¡° Kau menyukainya. Ini stempel kepemilikan, kamu tahu artinya?¡± ¡° Ia saya menyukainya.¡± Aku pasti sudah gila. " Malam ini walaupun kau merintih kesakitan aku tidak akan melepaskanmu." Saga berbisik ditelinga Daniah. Gadis ini mencengkram seprei tempat tidur. Malam yang panjang baru saja dimulai.... BERSAMBUNG Chapter 66 Kejutan Pagi Ada dua wajah kehidupan yang bisa dilihat di kamar ini. Wajah bahagia, milik laki-laki yang sudah memperdayai wanita yang dicintainya untuk memohon tidur dengannya. Senyum cerah dan kemenangan, mengalahkan semua isi bumi. Dan satu wajah penuh rona malu dari wanita yang bagaimana bisa tidak tahu malunya menyerahkan diri pada laki-laki yang dibencinya. Laki-laki yang sudah memperlakukannya seperti pembantu. Yang jelas-jelas tidak mencintainya. Saga benar-benar seperti pengantin baru yang habis melakukan malam pertama dengan penuh cinta. Ya, mungkin dia merasakan gairah penuh cinta itu. Tapi tentu saja tidak dengan Daniah. Dilihat dari sudut manapun wajahnya terlihat sangat letih bercampur malu. ¡° Apa ini?¡± Saga menarik syal bunga yang melingkar di leher Daniah. Dia terlihat sangat tampan dengan setelan jas dan dasi warna navy. ¡° Memang negara ini punya musim dingin?¡± katanya sambil mengeryit melihat benda di tangannya. ¡° Tidak suamiku.¡± Menutup wajahnya dengan tangan. Malu, isi kepalanya tentang pristiwa semalam masih sangat lekat diingatan.¡° Saya hanya ingin memakainya.¡± Sambil menutupi lehernya. Aib yang ingin dia sembunyikan dari semua mata orang di rumah ini. ¡° Apa ini benar-benar ada di lemarimu?¡± Mengangkat syal tinggi di tangannya, melihat dari berbagai arah. Seperti berkata, bagaimana benda aneh ini bisa ada di lemarimu. ¡° Ia, saya menemukannya di dalam laci.¡± Bersungguh-sungguh. Tidak mungkin dia memakai pakaiannya sendiri di hadapan Saga. ¡° Cih, selera Han kampungan sekali. Buang itu!¡± katanya tegas. ¡° Mataku sakit melihatnya.¡± Siapa juga yang mau memakai benda aneh itu di musim seperti sekarang. Hiks, kalau bukan karena tanda merah di leherku ini. Kalau matamu sering sakit, pergi ke dokter sana! ¡° Saya mohon suamiku biarkan saya memakainya hari ini saja.¡± Sudah mau merebut dari tangan Saga, tapi tentu dia kalah cepat. Saga mengibaskan tangannya lalu menyimpannya di balik punggungnya. ¡° Kenapa? Apa yang mau kamu sembunyikan.¡± Saga sudah menempelkan bibirnya di telinga Daniah. Gadis itu menjerit, tiba-tiba Saga mengigitnya. ¡° Ini stempel kepemilikan.¡± Jemari Saga menyentuh leher Daniah. ¡° Kenapa wajahmu merah? Sesenang itu ya.¡± ¡° Ti, tidak!¡± spontan menjawab keras. Siapa yang senang, toh kamu melakukannya juga bukan karena menyukaiku, tapi hanya karena menghukumku yang sudah lancang menyusun rencana untuk mempertemukanmu dengan Helena. ¡° Tidak!¡± Saga melotot. Tidak suka mendengar jawaban Daniah. ¡° Tidak begitu, maksudnya ia saya senang. Saya senang sekali bisa tidur dengan anda semalam.¡± Puas! Puas! Kalau aku bicara begitu, lihat kamu tersenyum sesenang itu membuatku menderitakan. Puaskan kamu sekarang. Saga melemparkan syal yang dia pegang, lalu menarik tangan Daniah keluar dari kamar. Berjalan beriringan. Pak Mun sudah berdiri di bawah tangga, menyambut mereka. Dia tersenyum saat melihat Saga turun dengan mengandeng tangan Daniah. ¡° Selamat pagi tuan muda dan nona muda.¡± Angukan kepalanya saat kedua orang sudah ada di hadapannya. ¡° Pagi pak Mun.¡± Hanya Daniah yang menjawab ramah, Saga hanya sedikit mengangukan kepalanya. Ibu mertua dan dua adik ipar yang sudah duduk di meja makan ikut berdiri. Wajah mereka penuh tanda tanya, apalagi kalau bukan melihat tangan Saga yang mengengam tangan Daniah. Bahkan sampai mereka berada di dekat meja makan. Apa yang terjadi hari ini, apa akan turun hujan es. Kenapa kak Saga mengandeng tangan kakak ipar, dan lihat wajahnya. Kenapa dia terlihat senang sekali. Wajah kakak ipar juga, malu-malu dan canggung begitu. Ada apa ini? Sofia Apa itu, kenapa mereka seperti pengantin baru. Jenika Tidak bisa berfikir apa-apa saking terkejutnya. Ibu ¡° Selamat pagi bu!¡± Saga menyapa duluan, Daniah sampai mengeryit, selama mereka menikah sepertinya belum pernah dia melihat Saga menyapa orang duluan, walaupun pada ibunya. Ibu tersadar lalu mengisyaratkan kedua putrinya untuk duduk. ¡° Selamat pagi juga Saga, apa semalam tidurmu nyenyak?¡± Ibu tersenyum, menatap Daniah, seperti berusaha mencari tahu sesuatu. ¡° Ya begitulah.¡± Saga melepaskan tangannya. Lalu duduk di kursi yang sudah ditarik pak Mun. ¡° Daniah membuatku tidur dengan nyenyak semalam.¡± Daniah hanya bisa tersenyum di samping Saga. Sambil terkekeh dalam hati, karena suaminya seperti makhluk lain yang ntah datang darimana. Ada apa dengannya, apa dia selalu segila ini kalau habis tidur dengan wanita. Ya, aku pasti bukan yang pertama atau satu-satunyakan. Walaupun jelas sekali dia memperlakukanku dengan sangat lembut, tapi aku harus tetap menutup hatiku. Laki-laki ini milik Helena, cinta sejati akan kembali pada pemiliknya. Daniah Apa itu bekas kecupan di leher kakak ipar. Aaaaaa, aku ingin menjerit sekarang. Apa kak Saga benar-benar tidur dengan kakak ipar. Dan barusan kak saga benar-benar menyebutkan namanyakan. Daniah, jadi itu nama kakak ipar. Sofia Saking tidak pernah berinteraksi dan merasa kalau kakak iparnya tidak akan bertahan lama di rumah ini jadi dia merasa tidak penting untuk menggingat namanya. Apa itu bekas kecupan. Gila! Banyak sekali. Leher kakak ipar seprti habis dipukuli. Hei, tidak mungkinkan mereka bercinta semalaman. Jelas-jelas kemarin malam sepertinya kakak ipar sangat canggung, dan kak Saga terlihat menakutkan. Apa dia memang habis dipukuli. Tapi kalau habis dipukuli kenapa kak Saga sesenang itu, dan wajah kakak ipar sangat malu sepertinya. Jenika Lagi-lagi ibu kehilangan kata-kata walaupun hanya sebatas dalam pikirannya. Mereka sarapan dengan membawa pikiran sampai pada titik terdalam. Penasaran, namun tidak ada yang berani sekedar bertanya, atau sedikit membahasnya. Baiklah, nanti mereka akan menghujani Daniah dengan ribuan pertanyaan saat Saga sudah berangkat bekerja. Begitu akhirnya keputusan final mereka bertiga. Sama, walaupun tanpa kerja sama. Saga tersenyum sambil menyentuh bibir Daniah, mengusap pelan sisa saus yang menempel di sana. Lalu dia menjilat jari yang tertempel saos dari bibir Daniah. ¡° Makanlah.¡± ¡° Ba. Baik.¡± Daniah binggung sendiri. Semua orang merinding melihatnya. Tengkuk ibu berdenyut dengan kejutan pagi ini. Pak Mun yang biasanya diam tanpa ekspresi terlihat tersenyum tipis. Sementara kedua adik ipar saling tangan mereka berdua di bawah meja. Membuat daftar dosa yang sudah mereka lakukan pada Daniah. Dan menyesalinya. BERSAMBUNG Chapter 67 3 wanita penghuni rumah Kenapa si dua orang ini bertingkah seperti bukan mereka yang biasanya. Tuan Saga bahkan tersenyum dan melambaikan tangan. Membuatku merinding saja. Dan lihat itu, bedebah itu sama sekali tidak merasa bersalah padaku. Dia bahkan juga terlihat sama senangnya dengan majikannya. Daniah masuk kembali ke dalam rumah setelah mengantar kepergian Saga. Berdialog sebentar dengan hatinya di luar rumah. Baru saja masuk melewati pintu dia sudah disambut oleh tiga wanita penghuni rumah. Dua adik ipar berdiri di samping ibunya. Menunggu tanpa mempersiapkan kesabaran. Terlihat dari raut wajah mereka. ¡° Kakak ipar, bisa kita bicara.¡± Jenika mewakili mereka bertiga. ¡° Saya mau berangkat bekerja Jen.¡± Tersenyum. Biar cepat urusannya. Kenapa lagi si mereka bertiga, tidak ada habisnya. ¡° Ibu mau bicara.¡± ibu bicara singkat, lalu dia berjalan menuju ruang keluarga, mau tidak mau Daniah mengikuti. Lalu dibelakang Daniah menyusul dua adik ipar yang berjalan saling mendorong. Sudahlah Daniah, ikuti saja mau mereka. Biar semua cepat selesai. ¡° Bagaimana ini, kita harus minta maafkan.¡± Sofia mendorong tubuh Jenika dengan lengannya. Masih berjalan mengekor ibu dan Daniah. ¡° Kitakan sering kurang ajar sama kakak ipar.¡± ¡° Sofi diam, kitakan sedang mencari tahu kebenaran. Sikap kita akan ditentukan dari jawaban kakak ipar nanti.¡± Jenika menghardik supaya Sofia menutup mulutnya. Ibu sudah duduk, Daniah juga demikian. Sementara Jenika dan Sofia memilih berdiri tidak jauh dari mereka. Tetap bisa mendengar pembicaraan ibu dan Daniah, tapi tidak mau terlibat langsung dengan kejadian apapun yang bakal berlangsung. Mencari aman. ¡° Ada apa bu?¡± Daniah membuka pembicaraan setelah ibu hanya memandangnya. Sepertinya ibu sedang menganalisis dan mengamatinya. ¡° Bagaimana hubunganmu dengan Saga?¡± Kenapa ini? Apa ibu menyadari tanda merah di leherku. Sial! Sudah pasti dia menyadari perubahan tingkah anaknyakan. Apalagi tadi tuan Saga bahkan mengandengku, dan mengusap saos di bibirku. ¡° Apa maksud ibu apa saya melayani tuan Saga dengan baik. Ibu tidak usah risau saya tahu kewajiban saya pada tuan Saga. Saya menjalankan kewajiban saya pada tuan Saga sebagai istrinya dengan baik.¡± Yang dimaksud melayaninya dari dia bangun tidur, menyiapkan air untuknya mandi, membantunya memakai sepatu sampai melayaninya makan. Itukan maksudnya. ¡° Apa kamu bermimpi bisa mengantikan posisi Helena? Sampai hari ini kamu tahukan, bahwa aku tidak mengakuimu sebagai menantuku.¡± Akhirnya kata-kata ibu yang ingin ia lontarkan pada Daniah saat pertama kali masuk ke rumah ini keluar juga. Selama ini dia menahannya, karena berfikir umur pernikahan anaknya dengan gadis kampungan bernama Daniah tidak akan seumur jagung. Tapi, setelah hari ini sepertinya diamnya selama ini adalah kesalahan. Lelahnya. Kenapa ibu mencercaku si. Katakan itu pada tuan Saga. Dia rajanya, yang menentukan hidup dan keluarnya aku dari rumah ini. ¡° Saya tahu bu, saya juga tidak mengharapkan kasih sayang ibu. Saya tahu ibu tidak menyukai saya. Jadi berjuanglah bu.¡± ¡° Apa!¡± Ibu mertua belum menangkap pembicaraan Daniah, tapi sepertinya dia kesal dengan jawaban Daniah. ¡° Berjuanglah untuk menyatukan kembali Helen dan tuan Saga.¡± Daniah menjawab yakin. Sambil menatap wajah ibu. ¡° Apa? Jadi kakak ipar tidak mencintai kak Saga.¡± Jenika mendekat, duduk di sebelah ibunya. Tidak percaya mendengar ucapan Daniah barusan. ¡° kakak ipar tidak menyukai kakakku?¡± Mereka kenapa si, apa mereka tidak tahu alasanku menikah dengan tuan Saga. Aku ini hanyalah alat untuk menebus hutang perusahaan ayahku. apa kalian tidak tahu? ¡° Tunggu!¡± jenika berdiri, meringsek, mendekati Daniah. Menyentuh lengan baju gadis itu. Daniah terkejut dan refleks menepis tangan adik iparnya. ¡° Apa yang kamu lakukan Jen?¡± Daniah tersungkur duduk di sofa, Jenika menunduk di depannya. Tangannya sudah menempel di leher, matanya memeriksa dengan teliti. ¡° Tanda merah di leher kakak ipar ini apa? Ini ciuman dari kak Sagakan?¡± Apa-apaan si mereka. Kenapa kakak beradik ini, apa mereka sama-sama maniak. suka sekali mengerayangi tubuh orang lain. Terkejut sekaligus malu, bagaimana Jenika bisa menanyakan hal seperti ini langsung tanpa malu sedikitpun. ¡° Kalian ini kenapa? Lepaskan aku Jen. Aku mau berangkat bekerja.¡± ¡° Kakak ipar tunggu. Sofi bantu aku pegang kakak ipar.¡± Jenika berteriak pada adiknya untuk mendekat. Dia sudah menahan bahu Daniah. Sofia datang memberi bantuan, memegang tangannya. Ibu diam menonton ulah anaknya. ¡° Hei apa yang kalian lakukan, lepaskan aku Jen!¡± Daniah berteriak marah. Tapi dua lawan satu. Dan postur tubuh Jenika yang setinggi Saga membuatnya kalah tenaga. Dia terpojok terduduk di sofa. Jenika memeriksa leher dan sudah mau menarik baju depan Daniah. ¡° Jen lepaskan aku!¡± Berteriak. Apa yang kalian mau lakukan hah! Menelanjangiku! Daniah bersyukur bisa selamat karena mendengar langkah kaki mendekat. ¡° Nona Jenika, nona Sofia, apa yang sedang anda lakukan?¡± Jenika langsung membeku mendengar suara pak Mun yang dingin. Habislah aku pikir Jenika. Pak Mun berdiri memandang dengan sorot mata tidak suka. Daniah segera bangun ketika Jenika menyingkir. Dia merapikan pakaiannya. ¡° Pak Mun, kami hanya ingin bicara dengan kakak ipar.¡± Jenika sudah kembali normal. ¡° Minggir!¡± Daniah menepis tangan Jenika. Sofia sudah sedari tadi mundur. ¡° Kamu kenapa si?¡± ¡° Kakak ipar tolong katakan pada Mun aku hanya main-main, aku hanya ingin lihat tanda kecupan di leher kakak ipar.¡± Wajah Daniah langsung merona malu. ¡° Tolong katakan padanya aku tidak menyiksa kakak ipar. Kumohon.¡± Seperti tak tahu malu Jenika memeluk Daniah. Daniah berontak melepaskan pelukan tubuh Jenika. ¡° Habislah hidupku kakak ipar, kumohon katakan pada pak Mun kalau kita cuma sedang bercanda tadi.¡± Jenika bicara menghiba ditelinga Daniah. Wajahnya sudah hampir menangis putus asa. ¡° Baiklah lepaskan aku dulu.¡± Jenika melepaskan pelukannya. Daniah lalu meninggalkan mereka dan meminta pak Mun mengikuti. Walaupun tidak paham kenapa sampai Jenika memohon begitu tapi sesampainya di dapur dia meminta pak Mun jangan menceritakan peristiwa pagi ini pada tuan Saga. Kenapa keluarga ini semua orangnya tidak waras si. Hiii, Jenika lagi. Membuatku merinding semua. Ia, ia ini bekas kecupan kakak tersayang kalian. Lantas anehnya di mana. Seperti dia baru pertama kali dia tidur dengan perempuan saja. Daniah menaiki tangga bersiap untuk pergi bekerja. Sementara di ruang keluarga. ¡° Habislah kita kak, pak Mun pasti mengadu pada kak Saga. Lagian kenapa kamu mau mencekik kakak ipar tadi.¡± Sofia bukannya menenangkan malah hanya memperkeruh suasana. ¡° Siapa yang mau mencengkik kakak ipar, memang aku sudah gila. Aku hanya ingin memeriksa tubuhnya. Lehernya jelas-jelas dipenuhi tanda kecupankan.¡± Jenika ikut nyolot karena disalahkan. ¡° Tapi mungkinkan hanya sampai disitu.¡± Sofia membuat hipotesanya lagi. ¡° Apa?¡± ¡° Ya sekedar kecupan di leher saja.¡± jawabnya yakin. ¡° Tidak mungkinkan!¡± Jenika kesal sendiri. ¡° Memang kamu gak pernah dengar cerita kak Helen, kalau hubungan dia dan kak Saga sejauh ini baru sampai batas ciumam di bibir.¡± Ibu yang sedari tadi diam mendesah. ¡° Panggil Helen kemari.¡± katanya kesal. ibu tahu dia sudah kalah, tapi tentu tidak mau menyerah. dia ingin punya menantu yang berkelas yang bisa dia pamerkan di pergaulan sosialita. ¡° Bu, kalau kak Saga memang sudah tidur dengan kakak ipar sebaiknya ibu menyerah saja.¡± Jenika berusaha menyakinkan fakta penting itu. ¡° Panggil Helen kemari!¡± ibu mengulangi kata-katanya lagi dengan intonasi lebih keras. ¡° Mana mungkin ibu menyerah dan membiarkan menantu yang tidak selevel itu hidup dengan Saga dan melahirkan penerus keluarga ini.¡± ¡° Tapi ibu tahu sendirikan, kalau kakak belum pernah tidur dengan perempuan manapun. Dan kalau memang benar dia tidur dengan kakak ipar itu artinya apa?¡± ¡° Itu artinya mulailah bersikap baik dengan nona muda dari sekarang.¡± Pak Mun muncul seperti hantu mengagetkan semua orang. Wajah Jenika pias. Pak Mun mengangukan kepalanya, menunduk hormat. pada ketiga wanita penghuni rumah. ¡° Saya permisi mau mengantar nona Daniah bekerja.¡± Wajah mereka bertiga pias, sejauh apa kepala pelayan itu mendengar pembicaraan mereka. BERSAMBUNG Chapter 68 Sehari bersama Raksa (Part 1) Selang beberapa hari, sebelum ulang tahun Ayah Daniah. Waktu bergerak seperti jatuhnya air dari pegunungan, mengalir deras tidak perduli pada apapun. Ya, ia berputar tanpa memihak pada siapapun. Dengan durasi yang sama 24 jam bagi semua manusia. Pagi ini tingkatan penyiksaan yang dilakukan Saga naik. itu yang ada dipikiran Daniah, bagi Saga ini bukti semakin dalamnya perasaannya. Saga meminta ciuman selamat pagi sebelum keluar dari kamar. ¡° Kenapa? Tidak mau?¡± jari telunjuk Saga sudah menunjuk kening Daniah. Membuatnya terdorong mundur selangkah. Daniah tersenyum ceria. Akting. ¡° Tentu saja saya senang sekali suamiku. Ciuman selamat pagi di pagi hari, tentu saja, akan saya lakukan setiap hari dengan penuh kebahagiaan.¡± Wajahnya secerah matahari yang mulai memanaskan bumi. ¡° Dasar mencari kesempatan, sesenang itu menciumku sampai melakukannya setiap hari. Padahal aku hanya mau hari ini saja tuh.¡± Menyeringai licik. ¡° Karena kamu yang memohon, baiklah, lakukan setiap hari.¡± Gemetar-gemetar kesal sambil menuruni tangga mengikuti langkah kaki Saga. Sambil memaki Daniah melajukan mobilnya dengan perlahan, memasuki gerbang tinggi universitas ternama di kota ini. Dia memarkir kendaraannya di tempat parkir khusus untuk tamu universitas. Bertanya kepada satpam yang sedang berjaga. Satpam memberikan penjelasan dengan menunjuk area yang ditanya Daniah. ¡° Terimakasih ya pak.¡± ucap Daniah sopan. ¡° Sama-sama mbak, mau cari siapa?¡± ¡° Adik saya. Saya permisi ya pak.¡± tersenyum sekenanya. ¡° Ia mbak.¡± Daniah menyusuri jalan setapak dengan langkah kecil sambil menikmati pemandangan sekitar. Senangnya ya, anak-anak muda yang baru memulai mimpi dan belajar untuk memperjuangkan mimpi. Belajar yang rajin ya adik-adik. Nikmati hidup kalian dengan benar, dan jadilah orang sukses yang bisa membuat bahagia untuk diri kalian sendiri dan orang-orang yang kalian sayangi. Daniah melihat beberapa anak sedang mengerombol, berbicara dengan ribut. Ah, manisnya gumamnya. Inilah kehidupan normal itu. Aku harus berusaha sekuat tenaga agar Raksa tetap bisa menikmati kehidupan normal semacam ini. ¡° Kak Niah!¡± teriakan seseorang membuyarkan pikiran Daniah. Dia melihat adiknya melambaikan tangan dari kejauhan. Dia terlihat berpamitan dengan dua teman di sampingnya lalu berlari mendekati Daniah. ¡° Kak Niah sampai kemari, kitakan bisa janjian ketemu di mana gitu.¡± ¡° Gak papa, sekalian biar gak tunggu-tungguan. Yuk jalan.¡± Daniah menarik lengan adiknya, melingkarkan tangan lalu berjalan bergandengan. ¡° Mau makan siang dulu gak?¡± ¡° Kak Niah mau makan di kantin kampus gak, makanan di sini lumayan enak lho. Ada kantin di dekat danau juga.¡± Raksa menjelaskan dengan bersemangat, sambil menunjuk kantin di dekat danau kampus. Wajah Daniah langsung berbinar senang, kapan lagi bisa makan dengan sesama manusia di tempat yang pemandangannya indah. Dia mengangukan kepala, Raksa tertawa paham kalau kakak perempuannya sedang antusias. Lalu dia menarik lengan Daniah mengajaknya mengikuti langkah kakinya. ¡° Benarkan? Kak Niah suka?¡± Raksa menyenggol lengan Daniah. ¡° Hehe, ia. Suka sekali. Kak Niah jadi ingin kuliah di kampus kamu dek.¡± ¡° Haha, ayo foto kak.¡± Raksa mengeluarkan hpnya, lalu mereka berfoto dengan pemandangan danau sebagai backgroun. ¡°Baguskan, aku kirim ke kak Niah ya.¡± Daniah menggangukan kepala. Lalu dia juga mengambil beberapa foto Raksa sendirian dan pemandangan danau yang indah. Danau ini sepertinya danau buatan, karena batu-batu pondasi di setiap pinggirnya. Tapi tetap saja membuat hati rasanya nyaman, sambil ditiup angin lembut. Pepohonan di sekitar danau juga membuat udara segar. Terasa sejuk dan nyaman. Dimana-mana tempat indah dan makanan adalah sesuatu yang saling berhubungan. cukup ramai juga yang makan di sini. Pastilah begitu, gumam Daniah. Kalau dia kuliah di sini ini pasti jadi tempat favoritnya di kampus. ¡° Kak Niah baik-baik saja?¡± Sebenarnya inilah yang sedari tadi ditahan Raksa, dia tahu Daniah akan selalu memasang wajah tersenyum sepanjang hari kalau bersamanya. Tapi dia bukan anak-anak yang bisa ditipu oleh senyum itukan. Dia sudah dewasa sekarang. Tahu bagaimana saatnya harus senang atau ikut merasakan kesedihan kakak perempuannya. ¡° Masih saja kuatir ya?¡± Mengusap kepala adiknya. ¡° Kak Niah baik-baik saja.¡± Minuman datang, mereka menikmati pesanan mereka sambil menatap danau yang tenang. Apa di danau setenang itu tidak ada kesedihan ya, apa semua makhluk penghuninya benar-benar hidup damai setenang permukaan air itu. ¡° Kak.¡± ¡° hemm.¡± eh kenapa aku menjawab dengan kalimat keramat tuan Saga. saking seringnya aku mendengar kata itu sampai spontan terucap. ¡° Ayah sangat kesal saat tahu aku tidak mau magang di perusahaan.¡± Daniah menghentikan lamunannya dan fokus menoleh pada adiknya. ¡° tadinya dia mengancam tidak mau memberiku uang.¡± ¡° Ayah bilang begitu, lalu ibumu?¡± tidak percaya ayah sampai sejauh itu pada anak laki-laki kesayangannya. ¡° Dengar dulu, tapi setelah aku bilang kalau pengajuan permohonan magangku diterima Antarna group .¡± belum menyelesaikan kalimatnya. Daniah memotong karena terkejut. ¡° Apa! Kamu jadi magang di sana?¡± Kenapa ini, perasaanku sudah merasa tidak nyaman begini. Kenapa bukannya bisa melepaskan diri, tapi kenapa sedikit demi sedikit keluargaku malah semakin terikat dengan Tuan Saga. Aku yang ingin berlari sekuat tenaga sepertinya hanya upaya sia-sia. Dia mencengkramku dari segala penjuru. ¡° Ia, dari sekitar duaratus ribu pemohon, aku terpilih tahun ini diantara 200 orang. Belum tahu penempatannya di mana, informasi akan diberikan saat training nanti.¡± Ini bukan hanya kebetulankan? Tidak, bisa jadi ini hanya kebetuan saja. Raksa anak yang pandai, nilainya selalu yang terbaik di kampusnya. Ini hanya kebetulan, tidak mungkin tuan Saga mengurusi masalah anak magang. Daniah berusaha meyakinkan dirinya. ¡° Lalu reaksi ayah.¡± Kembali melanjutkan cerita Raksa, daripada dihantui kepanikan tentang Tuan Saga. ¡° Senang sekali, sampai sujud syukur. Dia memberiku uang jajan dobel. Menyedihkan sekali.¡± Suara Raksa getir, meminta maaf pada Daniah. ¡° Hehe. Sudahlah dek, nikmati saja apa yang sudah ayah berikan.¡± Tertawa menghibur adiknya. Apalagi yang bisa diharapkan. Toh laki-laki yang jelas-jelas ayah kandungnya itu bahkan rela menukar anak gadisnya dengan perusahaan miliknya. ¡° Kak Niah tau, kak Risya sekarangkan sudah menandatangani kontrak drama dan iklan.¡± Raksa melanjutkan cerita mengenai keluarga. Walaupun Daniah tidak bertanya, tapi memang ini yang ingin diketahuinya, kalau semua baik-baik saja. ¡° Berhasil juga dia rupanya.¡± balasnya tidak terlalu antusias. ¡° Ibu menjual nama Antarna Group.¡± ¡° Apa ibu mengaku pada semua orang kalau dia punya menantu Tuan Saga.¡± Daniah merasa kuatir sendiri. ¡° Tidak kak, mereka pasti tidak punya keberanian untuk itu. Sekertaris tuan Saga sudah mengingatkan ibu dan ayah untuk menjaga sikapnya. Jadi aku yakin mereka tidak akan seberani itu.¡± Tapi apa yang dilakukan ibu sampai akhirnya Risya bisa masuk dunia entertrainer. ¡° Syukurlah. Jangan bermain-main dengan tuan Saga.¡± Bedebah sialan itu bisa melakukan apa saja diluar batas pikiran manusia normal seperti kita. Sekarang setiap malam selalu memelukku, mengerayangi tubuhku dengan tangannya, kalau dia sedang berselara, dia akan memintaku melayaninya. Tapi kurang ajarnya dia selalu menemukan taktik seperti aku yang merayunya. Daniah tangannya gemas sekaligus kesal. Karena nyaris setelah malam pertama dia tidak pernah lagi bisa tidur dengan tenang. Tapi kenapa sekarang hampir tiap malam dia berselera si. Dan sepertinya sekarang gak punya kerjaan. Setiap hari selalu pulang tepat waktu, sesenang itu menyiksaku. BERSAMBUNG Chapter 69 Sehari bersama Raksa (Part 2) Alih-alih meladeni Raksa untuk memanggil taksi online, Daniah menarik tangan adiknya menuju area parkir tamu kampus. lalu dia mengeluarkan kunci mobil, terdengar suara kunci terbuka. Raksa mematung di depan mobil Daniah. Tidak percaya. Dia melihat mobil dan Daniah bergantian. ¡° Ini mobil kak Niah?¡± ¡° Hehe, ayo masuk.¡± Mendorong adiknya yang masih tidak percaya. Dia menurut dan masuk ke dalam mobil. ¡° Ini hadiah dari tuan Saga katanya matanya sakit kalau melihatku naik ojek. Dia gak mau ada ojek masuk di halaman rumahnya.¡± ¡° Hah!¡± Memang alasan begitu masuk akal apa? Raksa binggung, lebih binggung lagi kenapa Daniah tidak merasa aneh dengan alasan itu. ¡° Sudahlah, jangan dipikirkan. Tuan Saga itu tidak bisa dijangkau dengan akal manusia normal seperti kita. Jangan membahas namanya lagi. Aku ingin bermain hari ini denganmu dan melupakan dia sejenak.¡± Mobil melaju kembali melewati gerbang universitas. meninggalkan momen makan siang yang menyenangkan, makanannya enak dan pemandangannya bagus. sungguh makan siang yang sempurna. Setelah lebih dari setengah jam, karena terjebak macet dibeberapa titik. Sampailah mobil di area parkir sebuah mall ternama dikota ini. Lagi-lagi Daniah hanya memicingkan mata, sedikit kesal, ketika melihat logo besar milik Antarna Group di dekat pintu masuk mall. Dia sebenarnya sekaya apa si, sampai punya mall juga. Kenapa harus mall ini lagi, inikan tempat kesukaanku. Daniah mengandeng adiknya. Menyusuri beberapa toko yang ramai pengunjung. Dia menarik lengan Raksa memasuki toko sepatu. ¡° Kitakan cuma mau cari kado ayah kak, kenapa ke sini?¡± ¡° Mau membelikanmu hadiah.¡± Daniah tertawa, mendorong tubuh adiknya yang awalnya menolak masuk. ¡° Tapi kak.¡± Masih menolak, karena sepertinya ini terlalu berlebihan. Raksa tahu, bagaimana usaha Daniah bekerja keras mengumpulkan uang dari usaha toko onlinenya. Jadi berbeda dengan kakaknya Risya yang terkadang tidak tahu malu meminta uang pada Daniah, dia selalu berusaha menahan diri, walaupun terkadang Daniah selalu memberinya uang tanpa dia perlu meminta. ¡° Sudah Ayo.¡± Daniah membantu Raksa memilih sepatu, tas dan beberaapa baju yang bisa dia pakai untuk magang nanti. Pakaian formal dan sepatu formal. ¡° Kamukan mau magang, anggap ini hadiah keberhasilanmu magang di Antarna Group.¡± Masuk dari satu toko ke toko yang lain. Daniahpun membeli beberapa pakaian untuknya sendiri. Dan juga memilih satu setel baju cantik untuk dia berikan pada Maya. Temannya yang bekerja sebagai pelayan di rumah tuan Saga. ¡° Kak Niah, benar ini gak papa?¡± Daniah tertawa, menarik tangan adiknya menuju arena bermain. Seperti sepasang kekasih mereka tertawa dan bermain sampai puas disana. Daniah melepaskan semua stress dan juga rasa tertekannya. Dia tertawa dan bersenang-senang, sejenak lupa siapa dirinya. Biarkan aku bersenang-senang hari ini sampai puas. Aku ingin menikmati hari ini tampa berfikir harus kembali ke rumah besar itu. Daniah kapan lagikan begini. Mereka masuk kedalam toko asesoris. Daniah membeli beberapa ikat rambut ntuk mengikat rambutnya kalau di rumah. Membeli beberapa jepit. Lalu sambil melihat-lihat dia menempukan benda lucu di etalase. ¡° Apa ini? "Tanyanya pada pelayan toko ¡° Ini asesori couple untuk hp kak.¡± Pelayan tadi memberi contoh bagaimana memakainya. Menyala kalau dua buah hape saling berdekatan. Seperti menemukan benda paling lucu di toko ini Daniah memilih dengan antusias. Dia membelikan sepasang untuk Raksa, dan sepasang untuknya. ¡° Berikan pada pacarmu. Hehe lucukan.¡± Raksa hanya mengeryit, bukannya ini terlalu kekanak-kanakan pikirnya. Tapi biarlah demi melihat rasa senang di wajah Daniah dia menerima hadiah itu dengan suka cita. Tapi tidak berjanji akan memakainya. Dalam hati tapi ya, dia mengucapkan janjinya. Keluar dari toko aksesoris baru menyadari. Dari semua tas yang mereka jinjing belum ada hadiah untuk ayah. ¡° Gimana si dek, kita malah lupa tujuan kita ke sini.¡± ¡° Haha, benar, mungkin karena kita gak benar-benar sayang sama ayah.¡± ¡° Huss, gak boleh bilang begitu. Ayo jalan, kamu mau beliin ayah apa? Gimana kalau kita lihat jam tangan.¡± ¡° Jangan kak, jam tangankan mahal. Gimana kalau kita belikan ayah baju saja.¡± Raksa menunjuk semua tas yang dia pegang, pasti uang yang dikeluarkan Daniah tidaklah sedikit. ¡° Dia pasti mencelaku nanti, sudahlah, belikan dia barang yang paling mahal yang ada di toko. Kitakan pakai uang tuan Saga.¡± Tertawa puas sekali, bagaimana tidak, dia membayangkan menghabiskan gajinya selama menjadi pembantu berkedok istri. menghabiskannya bersama Raksa ternyata benar-benar bisa memperbaiki moodnya. Daniah menarik tangan adiknya bergegas, lupa sudah dengan penjelasan sekertaris Han pada saat memberikan kartu. Kalau tuan Saga bisa saja meminta pertanggungjawabannya untuk apa kartu dipakai. Sementara itu ditempat yang tidak jauh dari mereka berdiri, seorang wanita anggun dengan rambut terurai yang cantik dan jatuh di punggungnya terlihat tersenyum senang. Dia sudah mengambil foto yang bisa dia pakai untuk rencananya nanti. ¡° Huh! Ternyata Daniah tidak sepolos itu ya. Dia bahkan tidak berbeda denganku.¡± Lalu dia beranjaak pergi mengengam hp di tanganya. ¡° Aku bisa mendapatkan Saga kembali dengan cara inikan. Aku hanya perlu menangis lebih keras lagi.¡± Begitulah dia, Helena masih sangat terlalu percaya diri. Kalau dua tahun tidak merubah apapun dari Saga. BERSAMBUNG.................... Chapter 70 Pangilan Sayang Malam yang sejuk. Semilir angin menerbangkan ujung rambut Daniah. Dia sudah mengikatnya rapi, tapi tetap saja rambut bergelombangnya tidak bisa jatuh manis di belakang punggungnya. Menyenbul kemana-mana. Kalau saja dia bisa mengikat rambutnya tinggi seperti saat di luar rumah. ¡° Maaf nona membuat anda menunggu.¡± Senyum gadis itu bersinar tulus. Maya berlari mendapati Daniah yang sedang duduk di area istirahat rumah belakang. Ada beberapaa pelayan yang sedang istirahat dan bermain dengan hp mereka. Tapi tentu saja mereka memilih menghindari Daniah, daripada harus terlibat urusan yang panjang dengannya. ¡° Ada beberapa pekerjaan yang harus saya selesaikan malam ini.¡± ¡° Gak papa kok, cuma mau kasih ini.¡± Daniah menyodorkan tas di tangannya. ¡° Apa ini? Maya terlihat binggung. Dia membuka tas yang di serahkan Daniah. ¡° Nona, saya tidak pantas mendapatkan hadiah dari nona.¡± Sesungguhnya dia senang, tapi dia harus tahu dirikan, siapa wanita di hadapannya ini. Walaupun kerap kali dia mengatakan kalau mereka teman. Tapi Maya tetap harus menjaga sikap dan jarak. ¡° Ambilah, aku tidak sengaja mengambilnya di toko karena memikirkanmu. Hehe. ¡° ¡° Tapi nona, saya .¡± ¡° Aku masuk ke rumah ya, takut tuan Saga sudah selesai.¡± Benar saja, baru saja mengatakan, belum beranjak masuk Pak Mun sudah muncul dari rumah utama. Mendekati Daniah. ¡° Nona, tuan muda sudah kembali ke kamar dan menunggu anda.¡± Pak Mun mempersilahkan Daniah masuk ke rumah utama. ¡° Eh ia pak. Maya aku pergi ya.¡± ¡° Ia nona, terimakasih atas hadiahnya. ¡° Pak Mun melirik Maya, dan melihat tas yang ada di tangannya. Lalu melangkah mengikuti Daniah. Tanpa ekspresi apapun. Saat masuk ke rumah utama Daniah tidak melihat ketiga wanita penghuni rumah, dia berlari menaiki tangga, karena sepertinya dia sudah membuat sang raja menunggu. Terengah ketika membuka pintu, dia bahkan melihat Saga sudah berganti baju. Keluar dari ruang ganti. Habislah aku. ¡° Keluyuran ke mana kamu?¡± Hardiknya saat Daniah masuk, dia bisa mendengar suara nafas terengah Daniah. ¡° Maaf suamiku, tadi saya ketemu Maya sebentar.¡± ¡° Siapa maya?¡± ¡° Teman saya.¡± menjawab singkat. ¡° Teman?¡± Saga malah makin penasarankan. ¡° Ah, dia pelayan di rumah belakang tadi.¡± ¡° Ganti bajumu" Malas mendengarkan Daniah saat bicara tentang orang lain " dan naik ketempat tidur cepat, kalau membuatku menunggu lagi, habis kamu!¡± Daniah tidak berani menjawab, langsung masuk ke ruang ganti. Masuk ke kamar mandi lalu menuju lemari mau mengambil pakaian tidur. Lho, di mana baju tidurku yang biasanya. Kenapa baju tidurku ganti modelnya semua. Sekertaris Han! Apa kamu yang melakukan ini. Sial! Siapa lagi kalau bukan kamu. Memang kamu pikir aku mau mengoda tuanmu di tempat tidur apa. ¡° Daniah! ¡° Ia suamiku.¡± Secepat kilat menyambar baju, lalu keluar ruangan. Dengan tertunduk sambil membisikan mantra agar tidak terlihat. Berjalan mematikan lampu, lalu naik keatas tempat tidur. ¡°Suamiku.¡± ¡° Hemm.¡± Idih, tidak, tidak, jawab begitu saja lalu tidurlah dengan tenang. ¡° Apa anda menganti semua pakaian tidur saya.¡± ¡° Kenapa aku kurang kerjaan menganti baju di lemarimu.¡± menjawab dengan suara ketus seperti biasanya. ¡° Maksud saya bukan begitu, apa anda meminta sekertaris Han untuk menganti baju tidur saya. Kenapa sekarang baju tidur saya seperti ini semua.¡± Saga menendang selimutnya sampai terongok di lantai lagi. Daniah paham maksuknya, dan dia sudah mengumpat di dalam hati. ¡° Mungkin Han pikir kalau kau memakainya, aku akan lebih mudah melepaskannya.¡± Apa! Apa! Sudah gila ya, kalimatmu barusan itu menakutkan tahu. Tapi bagaimana bisa kau ucapkan sesantai itu. Dan untukmu sekertaris Han, seleramu buruk sekali memilih baju tidur. Kumohon hentikan! Daniah berusaha mengeser tubuh. Terlambat, Saga menarik tubuh Daniah agar miring menghadapnya. Dia membenamkan wajahnya ke dada Daniah. Sekertaris sialan jadi ini maksudmu memberiku baju tidur terbuka begini, untuk membuat majikanmu semakin mudah menyiksaku. Stempel kepemilikan sekarang bukan hanya di leher lagi. Setelah erangan kecil akhirnya Saga menghentikan kelakuan gilanya ¡° Kau suka.¡± ¡° Haha, tentu saja saya sangat menyukainya suamiku.¡± Mencengkram geram dalam kegelapan. Sekarang Saga gantian membenamkan wajah Daniah kedadanya. ¡° Apa yang kau lakukan hari ini?¡± Aku tahu, sebenarnya yang kamu tanyakan ini sebenarnya sudah kamu tahukan. Kamu tahu seharian aku bersama Raksa. Kalau aku berbohong sedikit saja pasti bakal ketahuankan. ¡° Aku pergi membeli kado untuk ulang tahun ayah. Sekertaris Han bilang anda mengizinkan saya pergi.¡± ¡° Hari ini sepertinya kau bersenang-senang?¡± Sial! Sebenarnya aku tidak mau menyebut nama Raksa. ¡° Saya pergi bersama Raksa.¡± ¡° Jadi kamu menghabiskan uangku untuk laki-laki lain.¡± Apa ini, diakan bilang aku boleh berfoya-foya dengan kartu tanpa batasku. ¡° Anda bilang saya boleh memakai kartu saya untuk membeli apapun, bahkan anda pernah bilang kalau saya harus memakai kartu anda lebih dari 20 kali sebulan.¡± ¡° Banyak sekali kamu bicara.¡± ¡° Maaf suamiku.¡± Daniah membenamkan wajah ke dada Saga, lalu melingkarkan lengannya. meminta pengampunan dengan tubuhnya. ¡° memang siapa yang mengizinkanmu menghabiskan uangku untuk laki-laki Hah!.¡± ¡° Tapi dia adik saya.¡± Saga malah mendesah kesal mendengar pembelaan Daniah. Dia menarik tangan Daniah, mencium gadis itu agar berhenti menyebut adiknya. Ciuman di bibir berhenti. " Bernafas bodoh, kamu mau mati!" Daniah tersengal. Memang aku itu kamu! bisa sesantai itu mencium wanita yang tidak kamu sukai. " Panggil aku sayang mulai sekarang." Tiba-tiba menjatuhkan bom lagi. Apa lagi si ini. " Ini hukuman karena sudah menghabiskan uangku untuk laki-laki lain." kecupan keras di leher Daniah. " Cepat panggil aku sayang!" mulai mengeraskan intonasi suara. Daniah masih terdiam. membuang semua malu yang muncul. Kenapa harus panggilan sayang gerutunya. " Tidak mau? Baiklah aku bisa menghukum adikmu yang manis itu." Rintihan keluar dari mulut Daniah. Kali ini kecupan Saga menyisa rasa sakit di lehernya. dia benar-benar marah pikir Daniah. " Apa dia tidak mengatakan padamu, kalau permohonan magangnya di Antarna Group diterima." Deg, benarkan ini memang tidak kebetulan. Daniah bangun, lalu duduk di atas perut Saga secara tiba-tiba. dia masih bertumpu pada lulutnya. Saga sampai terperanjak terkejut dengan tindakan cepat Daniah. wajahnya merona dalam kegelapan. Tapi karena Daniah tertunduk dan menyembunyikan rona wajahnya sendiri jadi dia tidak melihat, kalau Sagapun sedang tersipu senang. Apa yang mau dilakukannya sekarang. " Beraninya kamu!" " Sayang." lirih terdengar. Daniah merapikan rambutnya ke belakang telinga. " Sayang, maafkan aku yang memakai uangmu untuk Raksa." Daniah menarik pakaian Saga sampai tersibak sampai ke leher. Lalu hal paling memalukan seumur hidupnya dia lakukan untuk menyelamatkan kehidupan magang Adiknya. " Buahahahaa. sudah hentikan." Saga tertawa terpingkal-pingkal. Dia sebenarnya masih ingin melihat sejauh apa Daniah bisa melakukan aksi mengodanya, tapi dia sudah tidak bisa menahan gelak tawan. Wajah merona malu campur kesal yang samar terlihat di wajah Daniah mengemaskan sekaligus lucu. Saga menarik tubuh Daniah, ambruk terbaring di sampingnya. " Lakukan dengan benar, kalau mau mengodaku." Tangan Daniah sudah ditariknya ke atas kepala. Dan Saga mengajari bagaimana cara mengoda yang benar, lagi-lagi Daniah hanya bisa memalingkan wajah dan mengigit bibir kelu. Membiarkan Saga melakukan apa yang dia inginkan. " Apa saja yang kamu belikan untuk adikmu?" Setelah selesai dengan urusannya, Saga kembali memeluk Daniah di sampingnya. menempelkan wajahnya di leher Daniah. Gadis itu memalingkan wajah ke arah yang lain. Hembusan nafas Saga menerpa lehernya. Daniah menjawab sejujurnya, menyebutkan semua yang ia beli untuk Raksa. Dan anjing gila ini mengigit bahunya saat Daniah selesai menjelaskan. Gusar. " Lalu untukku apa? kamu beli apa untukku?" Habislah aku, aku bahkan tidak mau mengingatnya saat aku bersama Raksa tadi. BERSAMBUNG Chapter 71 Barang couple Aku seharusnya mencatat nasehat sekertaris Han bukan hanya di hatiku, tapi di buku catatan, supaya aku tidak lupa sedikitpun. kalau laki-laki ini prilakunya memang seenaknya dan semaunya sendiri. Memberiku kartu tanpa batas tapi kalau dia iseng dia bisa saja meminta pertanggungjawabanku. Memang kamu maunya aku memakai kartumu untuk apa. Buat beli baju, tas atau sepatu untukku saja. ¡° Sekarang bertanggungjawablah atas perbuatanmu yang tercela itu.¡± Kesal, sambil berbaring di samping Daniah. Saga mengangkat kakinya kaki Daniah karena tahu gadis itu ingin mengeser tubuhnya. Menjauh darinya. Apa! Apa! Memang aku melakukan apa? Sudah seperti aku melakukan perselingkuhan terencana saja. Akukan membelikan adiku. dia adik tiriku juga, kami memiliki darah yang sama. Gila ya sampai berfikir aku main gila dengan adik sendiri. Kenapa si anda nggak waras sedikit saja. kalau anda sedikit saja normal, anda itu tampan dan luar biasa tahu. ¡° Kamu membelikan laki-laki lain banyak sekali barang, lantas mana untukku.¡± Eh apa! dia memang mau aku membelikan apa si. Kamukan sudah punya semua di lemarimu, berlebih lagi. dan itupun pasti dibuat khusus untuk anda oleh desainer ternama. masih mau apa dari rakyat jelata sepertiku. Mall tempat aku belanja saja milikmu. ¡° Jangan bilang kamu bahkan lupa membelikanku sesuatu.¡± Menarik ujung rambut Daniah. Saga mengulungnya sampai wajah Daniah menempel di pipinya. ¡° Habis kau kalau tidak ada barang untukku. Aku akan membuatmu merintih semalaman.¡± Wajah Daniah sudah pucat pasi, dia bergerak menjauhkan pipinya beberapa centi. Agar otaknya bisa dipakai untuk berfikir. Seperti melihat bola lampu yang menyala. Dia menemukan ide yang bisa menyelamatkannya malam ini. ¡° Saya membelikan anda sesuatu.¡± terbata bicara, sambil meyakinkan kalau ini bukan ide gila yang semakin membuat Saga marah. ¡° Apa?¡± jemari Saga sudah sesuatu, membuat Daniah merintih. ¡° Kalau kau cuma cari alasan, habis kau.¡± Daniah mundur dan bangun membuat tangan Saga udara. ¡° Kau mau kemana heh?¡± sudah berteriak kesal. ¡° Saya mau mengambilkan hadiah anda.¡± Sudah berdiri di samping tempat tidur. Dia membetulkan pakaian tidurnya yang sudah berantakan ke mana-mana. ¡° Kemari cepat sebelum aku benar-benar marah.¡± ¡° I, ia.¡± Daniah bergegas masuk ke dalam ruang ganti baju, mengambil tas, lalu secepat kilat kembali ke tempat tidur. Saga sudah duduk bersandar, lampu di atas meja sudah menyala. Dia menunggu Daniah mencari-cari sesuatu yang ada di dalam tasnya. Setelah menemukan benda yang dicari Daniah menyerahkan dengan kedua tangannya. ¡° Apa ini?¡± memperhatikan dibawah sorot lampu. ¡° Apa ini berlian?¡± Apa si, berlian darimananya coba. ¡° Kau sedang mempermainkanku!¡± menarik tangan Daniah agar mendekat. ¡°Kamu membelikan adikmu banyak sekali barang dan cuma membelikanku ini. Mau mati ya!¡± ¡° Maaf suamiku.¡± ¡° Hemm.¡± Mencengkram baju tipis Daniah. ¡° Kamu panggil apa?¡± ¡° Maaf sayang, saya hanya belum terbiasa.¡± ¡° Kalau begitu biasakan dirimu mulai sekarang, kalau salah lagi aku akan menghukummu.¡± Mengusap bibir Daniah dengan tanngannya. Lalu kembali melihat hadiah Daniah di sorot lampu. ¡° Apa ini?¡± ¡° Itu hiasan hp.¡± ¡° Apa! Kamu sedang cari-cari alasan biar tidak dihukum ya. Buat apa memberiku ini.¡± Melemparkan ke tubuh Daniah. Ditangkap gelagapan oleh kedua tangannya. Benda kecil itu kini di gengamnya. Daniah mengambil hp miliknya di dalam laci meja ingin menunjukan bagaimana benda itu bekerja, Saga memperhatikan setiap gerakan yang dilakukan istrinya. ¡° Anda bisa menempelkannya seperti ini.¡± Benda berbentuk bintang kecil itu berkilau terkena cahaya lampu. Tunggu, dia juga pakai. Jadi itu benda couple. Wajah Saga merona senang. Dia mengulurkan tangannya. ¡° Kalau anda tidak suka, saya akan memberi anda hadiah yang lain.¡± ¡° Berikan! Kamu sudah memberikan padaku beraninya mengambilnya lagi.¡± Kan kamu yang melemparkan padaku tadi. Saga meraih hp di atas meja, melemparkannya kepangkuan Daniah. ¡°Tempelkan itu!¡± Daniah menempelkan lambang bintang di hp Saga. Saat sudah menempel dengan benar, dua benda kecil itu menyala bersama. ¡° Ahh, benar menyala.¡± Daniah girang melihat benda mungil itu menyala. ¡° Lucu ya, jadi kalau hp kita berdekatan lampu dibintang ini akan menyala.¡± Saga mematikan lampu meja di sampingnya. Dia tidak mau kalau sampai Daiah melihat rona senang di wajahnya. Kenapa dia imut begini coba. mengusap wajahnya sendiri. Saga mengambil dua hp yang yang sedang dipegang Daniah dengan penuh takjub. Dia meletakan keduanya di atas meja di dekat lampu. Tubuhnya melorot dan dia menarik Daniah untuk ikut tidur juga. " Baiklah, aku memaafkanmu kali ini." " Terimakasih sayang." Berterimakasih dengan senyum tulus lalu tidur. aku sudah memberi hadiah, seharusnya kamu cukup senangkan. " Hei, apa itu cukup untuk berteimakasih." Daniah terkejut saat Saga membuka bajunya dan melemparkannya ke lantai. Mau apa dia? apa belum cukup menyiksaku hari ini. " Aku akan memberikan tubuhku untuk membayar hadiah bintang kecilmu tadi. kau bisa melakukan apapun yang kamu mau." Saga menepuk dadanya yang sudah terbuka. Sementara Daniah gemetar mencengkram bibir tempat tidur. Siapa yang sudi kau hadiahi tubuhmu! BERSAMBUNG Chapter 72 Permintaan Noah (Part 1) Saga masih berdiri setelah dia memakai sepatu, belum beranjak keluar. Dia malah berkaca pinggang, melihat Daniah dengan sorot mata kesal. Apa lagi! ¡° Ciuman selamat pagi. Bukannya kamu yang memohon kemarin.¡± Menyeringai licik di bibirnya. ¡° Mau kutulis di keningmu supaya kamu mengingatnya.¡± Saga menuliskan ciuman di kening Daniah dengan telunjuknya. Gadis itu meringis geli. ¡° Ia suamiku.¡± Saga mencengkram dagu Daniah, melumat habis bibir gadis itu. Saat sudah menyadari lagi-lagi Daniah tersengal dia melepaskan ciumannya. " Bernafas bodoh!" Daniah mengatur nafasnya pelan. sambil melihat Saga dengan kesal. Bagaimana aku bisa bernafas normal kalau kau tiba-tiba mencium. Hei, hatiku yang bodoh kenapa kamu berdebar. Sudah gila ya. Diakan menciummu hanya untuk menyiksamu. Sadarlah! ¡° Maaf Sayang, saya hanya belum terbiasa.¡± ¡± Sepertinya hukumanmu membuatmu ketagihan ya? Kamu sengaja lupakan? Biar aku menciummu.¡± Saga tergelak sambil mengusap bibirnya. Mengelikan sekali, kenapa ada manusia seperti dia ini si. ¡° Kembali sebelum jam 10 dari rumah orangtuamu.¡± Berhenti di depan pintu. ¡° Baik.¡± ¡° Kamu tidak mengajakku.¡± menarik ujung rambut Daniah. Issh, kalau aku boleh mendorongnya. Bisa tidak si tidak berulah dengan tanganmu itu. Kenapa jatuh cinta dengan rambutku? ¡° Sayang, apa anda mau datang. Ayah pasti sangat senang kalau anda mau datang?¡± ¡° Memang aku gak punya kerjaan.¡± menjawab ketus seperti yang sudah di duga. Lantas kenapa masih bertanya. Apa misi hidupmu itu cuma untuk membuatku kesal. Dasar menyebalkan. Daniah mengikuti langkah kaki Saga tangannya ditarik. Mereka berjalan bergandengan tangan menuruni tangga. Ibu dan adik ipar yang sudah ada di meja makan. Ibu terlihat sangat masam, melihat pergelangan tangan Saga. Tapi tetap saja tidak ada yang berani mengatakan apapun. Semua makan dengan tenang tanpa bicara. Kalau saja suasana setenang ini adalah cara mereka berbahagia tentu saja ini lebih baik. Selesai makan seperti biasa Daniah mengantarkan Saga sampai ke mobil. Lihat bedebah sialan itu. Saga masuk ke dalam mobil, dia menjentikan jarinya agar Daniah menundukan kepalanya. ¡° Aku akan mengirim hadiah untuk ayahmu.¡± ¡° Terimakasih sayang atas kebaikan anda.¡± ¡° Berterimakasih dengan benar nanti.¡± Mengusap bibir Daniah lembut dengan jemarinya. Sambil menyeringai. Daniah mengepalkan tangannya geram. Dasar gila! Mau apa lagi kamu? ¡° Ahh, maaf sekertaris Han. Saya tidak melihat kaki panjang anda.¡± Padahal sengaja lho, dia sengaja. Wkwkw. Jelas-jelas sebenarnya kaki sekertaris Han jauh dari jangkauannya. Tapi Daniah sengaja mendekat dan menginjak kaki Han. Han masih tidak bergeming, seperti berkata. ¡°Oh anda menginjak kaki saya ya, tapi kok gak kerasa ya.¡± Membuat Daniah semakin jengkel saja. ¡° Oh ya, sekalian saya mau mengucapkan ribuan terimakasih karena sudah menganti model baju tidur saya.¡± tapi sorot matanya seperti ingin melumat habis tubuh sekertaris Han. ¡° Sama-sama nona, saya senang anda menyukainya.¡± ¡° Haha, tentu saja saya senang sekali, saking senangnya saya ingin mencium anda di depan tuan Saga. Dan kita mati sama-sama.¡± Tersenyum cerah. Mengalahkan matahari yang bersinar di langit sana. Han sedikit tergelak, dia membungkukkan kepalanya. ¡° Hati-hati dengan kata-kata anda nona.¡± ¡° Tentu saja saya akan hati-hati, Haha. Tapi bisakah anda tidak seenaknya mulai sekarang.¡± ¡° Saya hanya menjalankan perintah tuan muda nona.¡± Kurang ajar! Lagi-lagi memakai mantra itu untuk membuatku diam. ¡° Haha, selamat pagi sekertaris Han, semoga hari anda menyenagkan. Silahkan pergi sekarang, wajah anda membuat saya kesal.¡± Tertawa ceria. Han membungkukan kepala lalu masuk ke dalam mobil, sementara Saga tergelak mendengar perdebatan dua orang itu. Dia sengaja tidak menutup kaca mobil. ¡° Apa dia masih mengancam mau menciummu?¡± Saat Han sudah masuk dan duduk di belakang kemudi. ¡° Maafkan saya tuan muda, saya akan berhati-hati.¡± Han mulai menghidupkan mobil, dan melajukan kendaraan. ¡° Biarkan saja dia, bukankah itu imut saat melihatnya geram. Tapi kalau dia benar-benar menciummu habis kamu Han.¡± Ancaman Saga tidak main-main. ¡° Baik tuan muda.¡± Terserah anda tuan muda, selamat menikmati rasanya jatuh cinta untuk kedua kalinya. Gedung pusat Antarna Group di akhir pekan setiap akhir bulan akan beraktivitas seperti hari biasa. Karena hari ini adalah laporan kinerja para petinggi anak perusahaan Antarna Group. Para CEO dari masing-masing perusahaan akan berkumpul setiap akhir bulan untuk mendapatkan evaluasi dari pemilik tertinggi Antarna Group. Di loby sudah terlihat beberapaa pimpinan, mereka sudah mau mendekat, tapi saat Han mengangkat tangannya mereka menahan langkah dan hanya menundukan kepala memberi hormat dari kejauhan. Sementara Saga langsung menuju lif. ¡° Jaga ini seperti menjaga nyawamu.¡± Saga menyodorkan hpnya ke dada Han, dia menerimanya. Sambil memperhatikan. Benda mungil berbentuk bintang menempel. ¡° Hadiah dari Daniah, itu benda pasangan. Dia juga ada menempel di hpnya. Kamu tahu, dia bisa menyala kalau hp kami berdekatan.¡± Apa ini, kalau orang lain yang mendengar anda bicara pasti bisa langsung pingsan, anda menyuruh saya menjaga bintang kecil ini dengan nyawa saya. Baiklah tuan muda saya akan menjaga agar semuanya berjalan dengan baik bagi anda dan nona Daniah. Staff sekertaris berdiri saat Saga dan Han mendekat. ¡° Selamat pagi tuan, tuan Noah sudah menunggu di ruang tunggu.¡± ¡° Noah?¡± Saga melirik Han ¡° Tuan Noah meminta untuk bertemu dengan anda, kalau anda keberatan saya akan menemuinya.¡± Han menjawab. ¡° Biarkan dia masuk, sudah lama juga tidak bicara serius dengannya.¡± ¡° Baik.¡± Saga masuk ke dalam ruangan, sementara Han menutup pintu kembali tanpa bersuara. Lalu berjalan menuju ruang tunggu untuk menemui Noah. Saat dia membuka pintu Noah langsung bangun, mengambil tas kertas yang ada di atas meja. ¡° Selamat pagi Han. Apa kabarmu?¡± ¡° Saya baik tuan, maaf membuat anda menunggu. Silahkan, tuan Saga ada di ruangan.¡± Noah berjalan di depan diikuti oleh Han. Mereka tidak terlibat pembicaraan apapun. Bisa dibilang hubungan mereka tidak terlalu baik. Han hanya menghormatinya sebatas Noah adalah teman Saga tidak lebih. Berbeda dengan dokter Harun. ¡° Apa yang membuatmu kemari.¡± Noah sudah duduk dan meletakan tas kertas di meja. ¡° Aku bawakan sandwich dan jus buah kesukaanmu.¡± dia mengambil gelas jus untuk Saga, dan kopi untuk dirinya sendiri. ¡° Huh! Kalian benar tidak tahu apa-apa ya, aku sudah dua tahun tidak pernah makan itu.¡± Saga menunjuk makanan di atas meja dengan matanya. " Aku tidak perlu mengatakan alasannyakan?" Noah terlihat terkejut, untuk mengusir canggung dia meraih gelas kopinya. Lalu menenguknya perlahan. ¡° Han, bisakah tinggalkan kami, aku ingin bicara dengan Saga berdua.¡± Noah mendongakan kepala memandang Han. Han tidak bergeming tetap berdiri di tempatnya. ¡° Jangan perdulikan dia. Apa yang mau kamu bicarakan. Apa ini tentang Ele?¡± Saga yang menjawab. Noah masih melirik Han, berfikir apa dia tidak setahu malu itu masih berdiri di tempatnya. Apa dia tidak punya pekerjaan selain menjaga tuannya. ¡° Apa kau lupa kalau kau pernah memukulku.¡± Saga bicara lagi untuk menyudahi upaya Noah mengusir Han. ¡° Apa! Itukan sudah lama sekali. Bukankah kita juga sudah impas¡± Berteriak karena merasa tidak masuk akal, peristiwa beberapa tahun lalu diungkit lagi. ¡° Urusanku dengamu memang sudah selesai. Tapi dia pasti masih ingat itu.¡± Saga menunjuk belakang kepalanya dengan jarinya. ¡° Hati-hatilah, Han itu pendendam lho.¡± Saga tergelak saat melihat wajah Noah yang mulai pias. ¡° Sudahlah jangan hiraukan Han, apa yang mau kamu katakan tadi.¡± ¡° Apa kamu belum bisa memaafkan Helen?¡± Akhirnya terlontar juga. kedatangannya kemari semata-mata hanya untuk Helena. Karena beberapa hari gadis itu menelfon dengan menangis kalau dia mendapatkan perlakuan buruk dari Saga. ¡° Noah, apa perasaanmu pada Ele belum berubah sampai sekarang.¡± Bukannya menjawab malah balik bertanya. ¡° Apa?¡± ¡° Masih mencintai seseorang dengan cara menyedihkan seperti ini.¡± Kata-kata Saga walaupun benar, tapi tetap terasa mencekik. Tangannya terkepal geram. ¡° Aku hanya ingin melihat orang yang aku cintai bahagia, karena aku tahu yang bisa membuat Helen bahagia adalah kamu Saga. Makanya aku tidak tahu malu dan datang kepadamu.¡± Saga Tertawa mendengarnya sekaligus merasa prihatin, waktu yang sudah mengubah banyak hal pada dirinya ternyata sama sekali tidak berlaku untuk Noah. Dia masih sama seperti dulu, laki-laki menyedihkan yang rela melakukan apapun untuk membuat wanita yang dicintainya bahagia. Walaupun harus rela melepaskannya untuk orang lain. " Bodoh! Kalau kau mau kejar dan ambil dia sekarang." " Apa!" " Aku sudah melepaskan Ele, jadi kejarlah dia." Kenapa? tidak mungkin karena Daniahkan. aku jelas-jelas tahu bagaimana hubungan menyedihkan antara kalian. " Kenapa? Apa kamu sudah tidak mencintai Helen." " Aku sudah menikah." Jawaban sederhana yang membuat Noah tidak terima. " Saga, berhentilah membohongi dirimu sendiri. Kamu menikahi gadis itu hanya untuk membalas Helenkan? Lagipula Daniah juga tidak menyukaimukan. Ya aku tahu itu, hari pertama aku bertemu dengannya di danau hijau waktu itu adalah saat dia memaki-maki dengan penuh kebencian padamu." " Benarkah? Apa kamu merekamnya?" Saga antusias, wajahnya berbinar penuh harap. " Apa!" Tidak hanya Noah yang terkejut, tapi juga Han. Tuan muda, saya mohon jangan tunjukan kebodohan anda sekarang. " Pasti mengemaskan sekali kalau kamu merekamnya, aku bisa melihatnya memakiku dengan bibirnya yang mungil itu." Tuan muda hentikan saya mohon. Tuan Noah sudah merinding dan ketakutan melihat sikap anda. BERSAMBUNG........... Chapter 73 Permintaan Noah (Part 2) Apa aku salah strategi ya, kenapa sepertinya apa yang aku pikirkan sepanjang jalan tadi salah. Kenapa kelihatannya Saga benar-benar menikah karena menyukai wanita itu. Tidak, jelas-jelas aku jadi saksi makian dan sumpah serapah istrinya Daniah. Sial, seharusnya aku merekamnya. ¡° Saga, apa kau mencintai Daniah?¡± Bertanya langsung saja pikirnya. ¡° Hemm.¡± Menjawab seperti biasanya. Apa! Dia memastikan perkataanku. ¡° Lalu, apa istrimu Daniah juga menyukaimu?¡± Noah menatap lekat Saga, seperti tidak mau sedikitpun melewatkan perubahan air muka Saga. ¡° Memang ada perempuan yang tidak menyukaiku.¡± Haha, kenapa rasa percaya dirimu membuatku gila. Tapi benar juga, mana ada perempuan yang tidak menyukaimu. Kamukan tipe ideal semua wanita dari segala lapisan masyarakat. Kamu menantu idaman yang diimpikan semua orang tua. aku saja pasti jatuh cinta padamu kalau aku perempuan. puas kau, aku tidak akan mengatakan kalimat tercela itu, pasti bisa membuatmu tambah besar kepala. Noah menoleh pada Han, dia sama sekali tidak bergeming. Luar biasa, orang itu begitu gumamnya kesal. Dia beralih pada Saga lagi, laki-laki itu mengetuk tempat duduknya beberapa kali. Sepertinya sedang menyusun serangan menyerang. ¡° Noah bagaimana kau hidup selama ini?¡± Lihat, Noah memicingkan mata. Dia kesal dengan pertanyaanku tadi tentang istrinya. Sekarang dia ingin menjatuhkan lawan bicaranya. Begitu Noah mengambil ancang-ancang perlawanan. ¡° Apa?¡± Jawaban Noah datar. ¡° Kamu mencintai Ele, tapi membiarkanku bersamanya. Sekarang aku melepaskannya dan kamu minta aku kembali padanya. Kenapa tidak sekalian kamu buat buku paling menyedihkan di dunia ini. Tulis pengalaman hidupmu di sana. Kalau banyak yang iba padamu, aku akan berikan salah satu rumahku padamu.¡± Saga mendesah karena mencela kebodohan orang di depannya. ¡°Tapi kalau lebih banyak yang mencelamu, kau harus lakukan satu hal permintaanku.¡± Dia benar-benar gila! Noah memilih tidak meladeni ide gila yang dilontarkan Saga, karena dia pasti kalah. Ya, dia tidak pernah menang dalam hal apapun dengan laki-laki yang ada di depannya. Waktu mereka kecil, dulu ataupun sekarang. Hingga akhirnya terakhir kalinya Noah merasa harus menyerah bersaing dengan Saga adalah saat dia harus melepas Helen yang lebih memilih Saga daripada dirinya. ¡° Helen gadis yang baik Saga.¡± Mengalihkan pembicaraan. Atau tepatnya kembali kemisi utamanya datang ke tempat ini. Eh kenapa malah si Han mengeram dan terlihat sangat kesal begitu. Dia memang aneh, dulu atau kapanpun aku memang tidak bisa akrab dengannya. ¡° Kalau begitu nikahi saja dia!¡± Saga menjawab dengan kalimat mematikan. Telak menghujam Noah. ¡° Saga, apa ini sudah tidak berlebihan. Aku tahu kamu marah, tapi kamu juga tahukan kenapa Helen pergi. Dia hanya ingin mengejar impiannya sebagai pelukis.¡± Noah berapi-api membela Helen. ¡° Hentikan! Aku tidak perduli dengan semua alasan bodohnya meninggalkanku 2 tahun lalu. Sekarang aku tidak perduli dengannya. Kau bisa ambil dia.¡± Saga menunjukan sikap dinginnya. Jangan melebihi batas begitu dia ingin mengatakan. ¡° Aku juga sudah punya pacar!¡± berteriak kesal. Saga tertawa mendengarnya, ternyata kamu tidak semenyedihkan itu pikir Saga. ¡° Benarkah? Aku pikir kamu masih laki-laki bodoh dan menyedihkan.¡± Lagi-lagi telak menancap di dada Noah. Sakit, walaupun tidak berdarah. ¡° Hei.¡± ¡° Kapan kalian menikah?¡± Bertanya lagi. Noah terdiam. ¡° Jangan bilang kau akan menikah setelah melihat Ele bahagia. Haha, ayolah Noah, ternyata tidak ada yang berubah darimu.¡± ¡° Kalau kau tidak mau menerima Helen, paling tidak maafkanlah dia.¡± Saga jengah sendiri mendengar permohonan Noah, dengan wajah kesal dia bersandar di kursi sambil meraba tengkuknya sendiri. Lalu menarik nafas. ¡° Kenapa kau yang memohon mengantikannya. Dia saja masih sepercaya diri itu. Sudahlah! Kapan kamu mau menikah.¡± Ntahlah, Saga merasa malas membahas perihal Helen. Gadis itu sudah menghilang di hatinya. Sejak hari itu, sejak dia memutuskan mempertahankan Daniah di sisinya. Dia sudah membuang satu nama dari hatinya. Menghapus tanpa meninggalkan jejak sedikitpun. ¡° Apa? Kenapa malah membahasku. Kita selesaikan dulu perihal Helen.¡± ¡° Hentikan bicara tentang Ele! aku sama sekali tidak tertarik. Kapan kau akan menikah, aku akan memberimu rumah, kalau kau menikah.¡± ¡° Benarkah?¡± mendengar kata rumah dan syarat yang tidak begitu berat membuatnya antusias. ¡° Hemm.¡± Tapi Saga tahu, laki-laki bodoh ini tidak akan menyerah tentang Helena. Walaupun jelas-jelas dia tergiur dengan hadiah rumah yang dia tawarkan. ¡° Seperti katamu, akupun akan menikah kalau Helen sudah bahagia. Saga, bagaimana kalau kita pergi makan malam bertiga. Aku akan mengatur semuanya.¡± ¡° Hentikan!¡± Mendesah keras, menatap Noah dengan sebal. Gigih sekali kamu begitu batinnya. ¡° Kumohon ini permintaan pertama dan terakhirku padamu. Berikan kesempatan Helen dan maafkan dia. Kalau kau memang tidak mau kembali padanya biarkan dia melepaskanmu dengan hati yang lapang.¡± ¡° Hati yang lapang, apa kau bercanda. Dia pergi dua tahun lalu tanpa bicara apapun padaku, dan sekarang kembali bukannya memohon pengampunan tapi dengan percaya dirinya. Ahh, sudahlah. Aku sudah menikah sekarang.¡± Saga tak ingin membuat alasan apapun. Yang ia yakini hatinya sudah berpaling. Waktu sudah membalikan hatinya. ¡° Saga.¡± Berusaha sampai titik terakhir. ¡° Han, antar Noah keluar. Sepertinya pembicaraan kami sudah selesai.¡± Saga mendongakan kepala menatap Han. ¡° Baik tuan muda.¡± Han mengerakan tubuhnya, mendekati Noah. ¡° Saga dengarkan aku sebentar.¡± Han sudah mendekat dan mempersilahkan Noah untuk keluar dengan tangannya. Noah masih sempat bicara meminta Saga untuk membuka pintu maaf terakhir kalinya. Tapi dia malah memejamkan mata, dan menutup telinga dari teriakan Noah. Sudah di luar ruangan, Noah menepis tangan Han yang menyeretnya. Menatap kesal sekertaris berbadan tinggi itu dengan sorot mata menghujam. Muak, teramat sangat. Sialan, laki-laki ini benar-benar kuat. Noah menghentikan langkahnya menuju lif, dia berbalik berdiri tepat di hadapan Han, Han pun menghentikan langkahnya. Dia menunggu, tidak bergeming ketika Noah menatapnya dengan tajam dan pandangan tidak bersahabat. ¡° Kenapa? Dulu bukannya kamu mendukung hubungan Helen dan Saga.¡± Karena Noah benar-benar penasaran dengan perubahan sikap Han pada Helen. Apa benar suasana hati sekertaris dihadapannya ini hanya mengikuti suasana hati majikannya. ¡° Maaf tuan, sepertinya anda salah paham. Saya tidak mendukung hubungan tuan muda dan nona Helena, saya hanya mendukung wanita yang dicintai tuan muda.¡± ¡° Maksudmu?¡± ¡° Kalau dulu nona Helena adalah wanita yang dicintai tuan muda, tapi sekarang karena tidak lagi, maka sayapun tidak perduli dengan keberadaan nona Helena selama dia tidak menggangu tuan muda.¡± Wajah Noah benar-benar menunjukan rasa tidak suka pada kalimat Han barusan. ¡° Jadi karena itu kamu sampai mengancam Helen.¡± Mulai berkata keras, emosinya terpancing mendengar jawaban Han yang tidak masuk akal barusan. ¡° Huh!! Merepotkan sekali.¡± Celaan yang keluar dari mulut Han. ¡° Apa!¡± Noah mencengkram lengan baju Han. Dia tersinggung mendengar ketidak sopanan Han barusan. ¡° Maaf tuan, saya menghormati anda karena tuan muda menggangap anda teman, tapi hubungan kita tidak sampai sejauh itu sampai saya harus menahan diri pada anda.¡± Han menarik tangan Noah yang mencengkram bajunya dan mengibaskannya. ¡° Tolong jaga sikap anda kedepannya, untuk tidak menyebut nama nona Helena di depan tuan muda. Karena tuan muda sudah tegas mengatakan kalau dia melepaskan nona Helena.¡± ¡° Kau.¡± ¡° Kalau saya boleh memberi saran, buka mata dan telinga anda dengan benar jika bicara dengan nona Helena.¡± Senyum tipis di bibir Han muncul, seperti menertawakan Noah dengan sifat pengorbanan dan kegigihannya membantu Helen. ¡° Apa?¡± ¡° Silahkan, saya akan mengantar anda. Tuan muda akan ada rapat setelah ini.¡± Han lagi-lagi mempersilahkan Noah berjalan di depannya. Mengusirnya secara halus, agar segera pergi dari gedung Antarna Group. Rapat yang akan berlangsung hari ini pasti melelahkan, harus ditambah mengurusi orang menyedihkan, tidak tahu malu dan bodoh seperti Noah. Membuatnya semakin kesal saja. BERSAMBUNG Chapter 74 Daniah pulang Ke Rumah Sepertinya sudah lama ya, aku terakhir kali masuk kerumah ini. Ini untuk pertama kalinya aku pulang setelah menikah. Lucunya, aku bahkan butuh alasan dan acara khusus untuk hanya pulang kerumah orangtuaku. Daniah memasuki gerbang halaman rumah, mobilnya berhenti parkir di samping mobil Risya. Daniah melihat seorang pelayan membuka pintu utama lalu berdiri di dekat pintu dan selang tidak lama di belakangnya menyusul Raksa, Risya dan ibu. Daniah yang melihat wajah Ibu terlihat kecewa ketika melihatnya muncul seorang diri. Daniah hanya menghela nafas pelan, melihat reaksi wajah mereka. ¡° Memang apa yang kita harapkan.¡± Ibu bicara pada Risya. Melihat kemunculan Daniah yang sendirian, tanpa suami, tamu kehormatan yang ditunggu. ¡° Tuan Saga tidak mungkin datang.¡± Anak perempuannya menimpali. " jelas-jelas dia istri yang diabaikan. dulu ataupun sekarang dia masih sama menyedihkan." Risya mencibir senang. Dia memang selalu senang kalau melihat Daniah terpuruk sedih ataupun kalah. Saat dia tahu Daniah menikah dengan Tuan Saga, dia merasa bagai dijungkir balikan masuk keperut bumi. kalah dari semua segi, tapi setelah tahu tidak mungkin Daniah mendapatkan cinta dari laki-laki seperti Tuan Saga. itu membuatnya sangat bahagia. ¡° Ibu kenapa mengatakan seperti itu. Sudah lama tidak bertemu Kak Niah, paling tidak jangan bicara yang tidak menyenangkan begitu.¡± Raksa menjadi pembela. ¡° Diam kamu bocah. Ibu, Daniah pasti tidak mendapatkan cinta dari tuan Saga. Sudahlah jangan berharap lebih.¡± Suara Risya keras sekali, jelas-jelas sengaja agar Daniah mendengarnya. ¡° Apa kalian tidak tahu malu. Perusahaan dan hidup kita bisa selamat karena pengorbanan Kak Niah.¡± ibu dan Risya tidak perduli dengan apa yang diucapkan Raksa. Mereka berbalik masuk kedalam rumah tanpa semangat lagi untuk menyambut Daniah, Hanya Raksa dan seorang pelayan yang masih tertinggal. Raksa mendekat dan mengambil tas yang dipegang Daniah. ¡° Kak.¡± ¡° Sudahlah, kenapa kamu yang kecewa begitu. Aku tahu kok siapa yang mereka tunggu. Tuan Saga tidak akan datang. Lagipula alasan apa yang membuatnya sampai datang kerumah kita.¡± Daniah tetap memberikan senyum pada adiknya. ¡° Maaf ya kak.¡± Raksa merangkul bahu Daniah. ¡° Kenapa kamu yang minta maaf. Bibi.¡± Daniah menyerahkan kunci mobilnya. ¡° Ada beberapa barang di bagasi, tolong dikeluarkanya. Panggil yang lain untuk membantu.¡± ¡° Baik nona.¡± Bibi pengurus rumah mengangukan kepala. Setelahnya Raksa menarik lengan Daniah memasuki rumah. Bercerita tentang betapa irinya Risya dengan semua hadiah yang dibelikan Daniah. Di ruang keluarga, sudah duduk di sofa. Ibu, Risya, Daniah dan Raksa. Raksa diam karena Risya beberapa kali menghardiknya karena dia menyela pembicaraan. Karena tidak mau mendengar pertengkaran akhirnya Daniah menyentuh tangan adiknya. Dia mengelengkan kepala, tersenyum, sambil bicara pelan. ¡° Biarkan dia bicara semaunya. Masuklah ke kamar dulu sana.¡± Raksa mengeleng, dia tidak mau pergi. Jadi pada akhirnya dia memilih diam. ¡° Apa tuan Saga yang memberimu hadiah mobil?¡± ¡° Apa tuan Saga tidak bisa datang, bukankah ini ulang tahun mertuanya, kenapa dia tidak bisa menyempatkan waktu sedikit saja.¡± ¡° Apa kamu sudah merasa beruntung bisa tidur dengan tuan Saga, dan bisa bersikap sombong begitu.¡± ¡° Aku dengar dia tidur dengan banyak wanita setiap malam. Huh! Siapa juga yang tidak mau dengannya.¡± ¡° Apa yang kamu dapatkan saat menjadi istri tuan Saga.¡± Daniah mendengus mendengar pernyataan adik tirinya yang panjang. ¡° Apa kamu sudah selesai? Aku mau menemui ayah.¡± ¡° ibu lihat Daniah, dia benar-benar sudah kurang ajar sekali.¡± Merengek seperti bayi, mengadu. Padahal tanpa perlu mengadu ibu juga sudah menonton pertunjukannya. ¡° Sudahlah jangan menggangunya.¡± Ibu cukup tahu diri juga rupanya. Walaupun Daniah tidak mendapatkan kasih sayang Tuan Saga, tapi statusnya tetaplah istri sah. ¡° Ibu, apa sekarang ibu takut karena dia menikah dengan tuan Saga. Dia juga tidak mendapat kasih sayang suaminya bu, kalau memang suaminya perduli pasti tuan saga datang hari ini.¡± Masih mengoceh kemana-mana tidak mau mengalah. Daniah sudah mulai jengah. Saat itu masuklah bibi pelayan diikuti oleh sopir yang sudah lama bekerja dirumah ini dan seorang pelayan wanita lagi. Dirumah ini ada tiga pelayan wanita dan dua pelayaan laki-laki yang merangkap sopir. Mereka membawa barang-barang yang dibeli Daniah tadi. ¡° Nona dimana kami harus meletakan barang-barang ini?¡± tanya bibi pengurus rumah sambil meletakan boks kardus yang dia pegang. Daniah mendekat meninggalkan Risya yang masih mengoceh panjang. ¡° Bibi dua boks ini dibagi-bagi ya. Satu boks isinya makanan silahkan dinikmati bersama-sama. Kalau satunya hadiah, sudah saya pisahkan sesuai nama. Semoga cocok untuk kalian. Dan juga ini.¡± Daniah mengeluarkan amplop yang berjumlah lima buah. Menyerahkan ke tangan bibi pengurus rumah. Tangan bibi bergetar, matanya sudah berkaca-kaca. ¡° Nona, kenapa anda baik sekali.¡± Katanya pelan sambil menepuk tangan Daniah lembut. ¡° Bibi bicara apa. Aku yang berterima kasih, bibi dan semuanya sudah menjagaku selama ini dengan sangat baik.¡± Membalas dengan menepuk punggung bibi hangat, tersenyum pada sopir dan pelayan yang lainnya. Mengucapkan terimakasih tulus lewat sorot matanya. ¡° Terimakasih nona. Terimakasih untuk semuanya, semoga nona bahagia.¡± Ketiga orang itu menundukan kepala mereka hormat. Bibi masih menyeka ujung matanya. Lalu mereka masuk ke dapur meletakan beberapa barang yang Daniah beli untuk rumah ini. ¡° Cih, kamu bahkan memberi para pelayan hadiah, dan membelikan Raksa banyak hadiah mahal. Tapi sama sekali tidak ingat pada adikmu ini.¡± Ternyata wujud orang tidak tahu malu itu banyak sekali rupanya ya, salah satunya sedang berdiri di hadapan Daniah sekarang. ¡° Adik, maaf ya sepertinya kamu dan aku tidak terlalu akrab, sampai aku harus memberimu hadiah.¡± Wajah Risya memerah karena geram. Sementara Raksa yang sedari tadi diam tergelak mendengar ucapan Daniah. Risya melotot. Kalau dulu dia pasti sudah maju menjambak Daniah atau memukulnya. Kenapa dia bisa seberani itu, karena di belakangnya berdiri pembela yang selalu membiarkan apa yang dia lakukan. ¡° Baiklah kamu memang kurang ajar ya. Tidak memberiku hadiah tidak masalah, tapi sampai tidak memberi ibu hadiah sepertinya kamu sudah sangat keterlaluan.¡± Menemukan kata tepat untuk menjatuhkan Daniah. ¡° Kak jangan keterlaluan!¡± Raksa menjawab kesal. ¡° Diam Raksa, jangan ikut-ikut ya. Kamu sudah di sogok hadial mahal sama diakan.¡± Raksa memandang jengah pada Risya dan ibunya yang hanya diam. Daniah menoleh pada ibu tirinya. Senyum tipis muncul di bibirnya. ¡° Ibu, bukankah aku sudah memberikan hadiah yang sangat dia inginkan.¡± Wajah ibu terlihat bingung, karena tidak merasa pernah mendapatkan hadiah berharga apapun dari anak tirinya ini. ¡° Apa?¡± Risya menantang. ¡° Bukankah keluarnya aku dari rumah ini itu adalah hadiah terindah yang bisa kuberikan pada ibu.¡± Daniah membungkukan kepalanya. Senyum samar penuh kemenangan muncul dibibirnya. ¡°Saya mau menemui ayah. Permisi.¡± ¡° Ibu!¡± Risya berteriak marah. ¡° Dia kurang ajar sekali bu, mentang-mentah menikah dengan tuan Saga.¡± Daniah menuju ruang kerja ayahnya, dia bernafas lega dan puas sekali meninggalkan ruang keluarga. Walaupun sedikit bergetar karena rasa percaya dirinya yang berlebihan. Sampai di depan pintu dia membisu. Sepertinya aku terlalu berani tidak ya? Kalau aku di tendang dari rumah tuan Saga dan harus kembali kerumah ini, aku pasti akan dikuliti habis, dan dijadikan pajangan di dinding atau dipakai mengepel lantai oleh Risya. Ahh, terserahlah. Yang penting aku puas sekarang. Daniah mengetuk pintu, setelah mendengar sahutan dari dalam Daniah membuka pintu dan masuk. Berdiri diam melihat ayahnya yang sudah duduk di sofa. ¡° Duduklah!¡± Ayah menunjuk sofa di depannya, Daniah menurut tanpa bicara sepatah katapun. ¡°Bagaimana dirumah tuan Saga? Apa semua berjalan dengan baik?¡± Dia mulai bertanya setelah Daniah duduk. Apa yang mau ayah ketahui. Kabarku atau apa dia mengatakan untuk tidak melakukan kesalahan dirumah tuan saga. ¡° Jangan kuatir, saya melukan semuanya sesuai dengan rencana ayah.¡± Aku hanya ingin sedikit saja mengingatkanmu, kalau aku jadi seperti ini karenamu. Daniah meringis. Ketika mendapati kenyataan, kalau semuanya sebenarnya bukanlah salah ayahnya. Tuan Saga memilihnya, karena dirinya, bukan karena ayah yang menjualnya. Karena wajahku dan rambutku maka akulah yang terpilih. Daniah mengambil tas kertas kecil yang dia letakan dibawah kakinya. ¡° Hadiah untuk ayah, selamat ulang tahun. Semoga ayah selalu sehat.¡± ¡° Niah, apa kamu masih marah sama ayah.¡± Bukannya menerima hadiah dari Daniah laki-laki itu malah mengengam tangan Daniah. ¡° Apa tuan Saga memperlakukanmu dengan baik?¡¯ Apa ini. Apa ayah benar-benar perduli padaku. Dada Daniah bergetar, apalagi saat Ayah menepuk punggung tangannya lembut. Ayolah Daniah, jangan selemah ini begitu dia menyadarkan diri. Laki-laki ini yang sudah memasukanmu dalam lubang neraka. Karena dialah kamu harus menikah dengan tuan Saga. jangan selemah itu. " Maafkan ayah Niah, dan terimakasih untuk semuanya." Ini curangkan namanya, aku tidak mempersiapkan diriku untuk perubahan sikap ayah seperti ini. Tidak bisa dicegah, ada yang menganak di ujung mata Daniah. Dia ingin memeluk ayahnya dan menangis, namun urung ia lakukan. Hatinya belum sepenuhnya siap. untuk memafkan semuanya. BERSAMBUNG Chapter 75 Celemek Pesta telah dimulai. Tamu dari keluarga besar sudah mulai berdatangan, bergerombol dan membentuk kelompok masing-masing. Bicara memamerkan apa yang mereka punya. ¡° Kak Niah, duduklah, kenapa malah kak Niah yang sibuk si.¡± Raksa menarik lengan kakak perempuannya. Hilir mudik orang-orang menikmati makanan. Mereka sedang menikmati hidangan pembuka dan camilan. Tenaga tiga orang pelayan perempuan dan dua pelayan laki-laki tidak akan cukup menangani ini. Jadi Daniah sudah memakai celemek dan ikut membantu mempersiapkan makanan. Untuk makanan utama sendiri sudah terhidang secara prasmanan, bukan hasil masakan bibi pelayan rumah tentunya. Bisa pingsan mereka kalau harus mempersiapkan menu makan malam utama. ¡° Sudah sana pergilah, temani ayah.¡± Daniah mendorong tubuh Raksa. Bagaimanapun dia anak laki-laki yang akan menjadi wajah keluarga ini. Apalagi di rumah ini garis keturunan laki-laki sangat diagungkan. Daniah yang hanya anak dari ibu yang sudah meninggal sudah pasti hanya dipandang sebelah mata. Karena tamu yang datangpun tidak ada yang berasal dari kerabat ibunya. Keluarga ini sudah lama terputus hubungan dengan keluarga ibunya. Hanya Daniah yang masih sering berkunjung ke kampung halaman ibunya. ¡° Nona, kenapa di dapur?¡± Bibi pengurus rumah yang muncul dari dalam sudah mengambil pisau ditangan Daniah. ¡° Sudah jangan perdulikan aku. Mana buah yang harus dipotong, biar aku yang kerjakan. Bibi yang lain saja.¡± Daniah memotong buah kecil-kecil lalu measukannya dalam wadah. Menambahkan sirup dan susu. Setelah itu memasukan batu es. Selesai. Dia meminta pelayan membawakannya ke depan. ¡° Ternyata kamu bersembunyi di dapur ya?¡± Risya muncul dengan bala tentaranya. Daniah mendengus. Sudahlah, aku sudah menghadapi dua adik ipar yang bahkan jauh lebih julid darimu. Kata-katamu tidak akan mempan padaku. Begitu kira-kira yang dikatakan Daniah. Mengacuhkan adik tiri dan sepupu di belakangnya. ¡° pergilah jangan mengganguku!¡± Daniah mengacungkan pisau yang habis dia pakai memotong buah di tangannya. Pisau berlumuran warna merah terkena daging buah naga. Risya dan dua sepupunya memandang pisau itu ngeri. ¡° Ada apa denganmu. Mereka hanya ingin menyapamu, nyonya Antarna Group. Haha.¡± Yang lain ikut tertawa. Daniah menarik nafas dalam. Kesal sekaligus tidak bisa melakukan apapun. Ketidakhadiran Tuan Saga hari ini memang menunjukan bagaimana statusnya. Dia tidak lebih seperti istri yang diabaikan. Jadi kalau Risya menyinggung itu, dia memang tidak punya bantahan untuk mematahkannya. Setelah bicara macam-macam ketiga orang itu akhirnya pergi. Huhh! Ternyata berbeda dengan adik ipar yang akan terus mengoceh walaupun diacuhkan, ternyata mental kalian masih sangat lemah ya. Daniah tertawa menghibur dirinya sendiri. Acara ulang tahun ayah dimulai. Dia maju kedepan dan memberikan sambutan kata pembuka membangakan keberhasilannya dan perusahaan. Dia menarik tangan putra kesayangannya. Penerus keluarga dengan senyum bangga. Dia juga menyebut nama Daniah. Semua orang diam, mencari-cari sosok yang di sebutkan oleh Gunawan, wajah mereka penuh tanda tanya, sedangkan wajah ibu tiri terlihat tidak senang. Apalagi saat suaminya tidak menyebut nama Risya untuk membanggakan keberhasilannya menembus dunia entertrainer. Daniah yang sedang merapikan meja terdiam, melihat wajah orang-orang, lalu matanya bersitatap dengan Ayahnya. ¡° Kemarilah!¡± Ayah mengulurkan tangannya. Karena terkejut Daniah hanya terdiam, dan memandang semua orang. Merasa tidak percaya, kalau benar-benar namanya yang baru di sebutkan ayahnya. ¡° Karena Daniah kita bisa melewati banyak hal yang sulit, terimakasih untuk semuanya Daniah.¡± Eh kenapa ini, kenapa ayah bisa aneh begini. Menurut Raksa ayah memang sedikit berubah, tapi kalau seperti ini bukannya sedikit ini mah sudah 180 derajat. Dia bahkan menunjukannya di depan orang lain. Di depan keluarga besar dan ibu. Kupikir dia hanya akan melakukannya kalau kami hanya berdua. Ayah.... apa aku memang harus mulai membuka hati dan memaafkanmu. Semua orang bertepuk tangan dan mengucapkan selamat. Daniah mendekat ke samping Ayahnya, laki-laki itu mengusap kepalanya lembut. ¡° Terimakasih untuk semuanya.¡± ¡° Ayah.¡± Daniah menjawab lirih, dia masih belum bisa memahami, kenapa sikap ayahnya berubah seperti ini. Apa ada yang salah dengan Ayah. Apa benar laki-laki dihadapannya benar-benar sudah berubah, apa dia merasa menyesal. Ntahlah, yang pasti dia menunjukan kasih sayangnya pada Daniah. Huh! Apa memang kesabaran benar-benar akan berbuah manis pada akhirnya. Daniah menatap orang-orang di sekelilingnya. Yang paling tidak suka dengan perlakuan ayah pada Daniah tentu saja ibu tiri, dia berwajah masam sepanjang acara. Makan malam berlangsung dengan baik. Semua orang dewasa mengambil makanan bergiliran lalu berkumpul di meja makan, mengobrol, membahas hal remeh temeh. Sementara anak-anak duduk di karpet sambil menonton tv menikmati makanan mereka. Pelayan sibuk dengan pekerjaannya, keluar masuk, menyiapkan apa yang kurang. Daniah masih mondar mandir membantu. Dia membantu meladeni segerombolan anak-anak. Mereka ribut meminta ini dan itu. Main dorong-dorongan juga. Ada yang menangis, ibu mereka menghentikan makan dan melerai perkelahian antar anak-anak. ¡° Kak Niah, ayo duduk di meja makan.¡± Raksa sudah mau menarik lengan Daniah. ¡° Sudah sana, kak Niah gak papa. Lagi ngurusin ini bocah-bocah.¡± Tunjuknya pada anak-anak yang duduk di sampingnya. Dia mengusap kepala anak yang tertawa senang di sampingnya. ¡° Tidak, kakak harus makan jugakan.¡± Pembicaraan Raksa terhenti, saat terdengar keributan dari luar, semua orang menoleh. Seorang pelayaan laki-laki tergopoh-gopoh masuk. Memberi hormat sebentar. Menghadap Gunawan yang sedang berbincang dengan anggota keluarga lainnya. ¡° Maaf tuan, Tuan Saga.¡± Dia bukan hanya berkeringat karena berlari, tapi lebih pada keterkejutan. Melihat tamu yang datang terlambat, yang sedang ada di halaman depan. ¡° kenapa?¡± Ayah Daniah bangun dari tempat duduknya mendekat. ¡°Ada apa dengan tuan Saga.¡± Sudah terdengar nada panik dari suaranya. ¡° Tuan Saga datang.¡± ¡° Apa!¡± Sudah seperti ada kilatan petir yang menyambar. Antara antusias dan wajah pucat. Apalagi anggota keluarga yang lain, yang tadi sudah memandang sebelah mata dan berkata nyinyir pada Daniah. Wajah ibu tiri juga terlihat sangat pias. Keributan tidak terelakan, semua bicara membuat hipotesanya masing-masing. ¡° Kak tuan Saga datang.¡± Raksa menarik lengan kakak perempuannya. ¡° Hei mana mungkin.¡± Belum menyelesaikan kalimatnya Ayah dan tuan Saga muncul beriringan, dan seperti biasa sekertaris Han megikuti dari belakang. Dengan pandangan datar dan tidak bergeming. ¡° Terimakasih anda sudah meluangkan waktu tuan.¡± Ayah Daniah bicara pelan di samping Saga. ¡° Saya mewakili keluarga sangat berterimakasih. Saga tidak mendengarkan, Ia mengedarkan pandangan mencari Daniah. Tertangkap, sosok gadis itu di antara kerumunan anak-anak. Apa itu yang dia pakai? Celemek. Kurang ajar! Apa kalian menjadikan istriku pelayan di sini. Saga mendekati Daniah, gadis itu masih ternganga tidak percaya kalau yang sedang berjalan mendekat itu benar-benar Saga. Tapi demi melihat siapa yang berdiri di belakangnya, dia yakin ini benar tuan Saga. ¡° Aku kemari hanya untuk melihat istriku.¡± Saga melingkarkan lengannya di bahu Daniah, lalu mencium pipi kiri Daniah. Seisi ruangan ribut. Bahkan Daniahpun terlonjak. ¡° Sa, sayang.¡± Ada apa denganmu, kenapa kamu melemparkan nuklir mematikan sekarang. Apa yang ingin kamu tunjukan sekarang pada keluargaku. Kalau aku adalah istri yang dicintai. Terserahlah. Begitu pikir Daniah, karena ketika ekor matanya berkeliling, sepertinya sekarang keluarga besarnya ini melihatnya dengan cara yang berbeda. Takjub, bangga, juga menyesal. Kalian pasti menyesal karena mengacuhkankukan? ¡° Apa ini?¡± Saga menarik celemek yang dipakai Daniah. ¡° Kamu datang Cuma disuruh jadi pelayan disini.¡± Melirik semua orang, matanya berakhir pada ibu. Wanita itu sudah pucat. ¡° Apa kamu yang menyuruh istriku memakai ini!¡± Suasana yang tadinya adalah makan malam yang menyenangkan dan penuh tawa tiba-tiba berubah tegang. Saga membuka ikatan celemek di pinggang Daniah, lalu menariknya. Dia melemparkan benda itu kelantai. Tepat di hadapan ibu. ¡° Han, catat siapa saja yang sudah berani minta dilayani istriku.¡± Tunggu apa yang mau dilakukannya, apa dia mau balas dendam. ¡° Baik tuan muda,¡± Hei, sekertaris Han jangan asal menjawab perintah aneh begitu. Kemana otakmu? Mereka keluargaku tahu! ¡° Sayang.¡± Daniah melingkarkan tangan dipinggang Saga. Persetan! Lakukan hal memalukan untuk melunakan amarahnya dulu. Semua orang yang melihat terkejut, dengan panggilan Daniah pada Saga. Mereka semakin menciut ngeri. ¡° Saya hanya membantu anak-anak.¡± Kata Daniah pelan menunjuk anak-anak. Kenapa mereka tidak takut si, tapi malah sepertinya tersihir dengan pesona Tuan Saga. Hei, bocah-bocah. Sadarlah, kalian tidak boleh ngefans pada orang semacam dia. Kalian tidak boleh meniru tindakannya sekarang, walaupun dia keren dan sok hebat begini. hentikan tatapan terpesona kalian. ¡° Han, catat siapa nama orang tua mereka, beraninya menjadikan istriku pengasuh anak-anak.¡± ¡° Baik tuan muda.¡± Daniah menatap sekertaris Han geram sekaligus memohon, hentikan kegilaan majikanmu bukan menurutinya. Kumohon! ¡° Sayang bukan begitu. Saya sedang bermain bersama anak-anak. Karena mereka makannya belepotan makanya saya pakai celemek.¡± Komohon percayalah seperti biasanya. Komohon bodoh sekali ini saja. ¡° Sepertinya memang begitu tuan muda, keluarga nona Daniah kan tahu kalau nona Daniah adalah istri anda sekarang. Tidak mungkin mereka seberani itu untuk memperlakukan nona tidak baik. Anda tidak memanggil nona untuk menjadi pelayankan nyonya?¡± Han beralih melihat ibu, wajah ibu pias. ¡° Ti, tidak tuan. Saya tidak.¡± Dia terbata menjawab, tangannya gemetar. ¡° Sayang.¡± Aku tahu, kata-katamu mengandung ancaman mematikan sekertaris Han. Aku harus mengakhiri ini ¡° Apa anda mau makan sesuatu?¡± Saga tersenyum mendengar tawaran dari Daniah. Dia melihat orang-orang di sekelilingnya, mereka masih mematung. Menonton dengan perasaan campur aduk, cenderung takut. ¡°Apa yang kalian lihat? Lanjutkan makan kalian.¡± ¡° Ba, baik tuan.¡± Kemudian mereka bubar, kembali kemeja makan. Yang tadi bersuara berisik dan bisik-bisik kini suasana menjadi mencekam. Mereka meneruskan makan, walaupun kini tidak terlalu berselera. Selamatkan aku sekertaris Han! Daniah memohon melalui sorot matanya. ¡° Tuan muda saya akan menyiapkan meja di ruangan lain.¡± Sekertaris Han si pembaca pikiran yang berguna dalam situasi mencekam. ¡° hemm.¡± Saga menarik tangan Daniah agar mengikutinya. Mereka duduk di ruang tamu yang lengang. ¡° Bodoh!¡± tunjuknya di kening Daniah. ¡° Apa?¡± lirih menjawab. ¡° Tundukan kepalamu hanya kepadaku!¡± menuding kening Daniah lagi. ¡° Pakai namaku untuk membungkam mulut mereka.¡± ¡° saya tidak apa-apa, merekan keluarga saya.¡± Getir menjawab, inilah kelemahan terbesar Daniah. ¡° keluarga. Haha.¡± Saga tertawa sendiri, benar keluarga. Itulah tali yang megikatmu denganku. Satu kecupan lembut di pipi Daniah, membuat Gadis itu terlonjak. Untung saja dia tidak mendorong tubuh Saga. Kalau dia melakukannya karena refleks, maka habislah dia. ¡° Kau senang aku datang?¡± ¡° Ia sayang.¡± Kali ini aku benar-benar senang melihatmu. Kamu datang sudah seperti dewa penolong untukku. ¡° Berterimakasihlah dengan benar.¡± Mengusap bibir Daniah dengan jemarinya, lalu melumat bibir itu. Dia menghentikan sebentar serangannya ¡° Bernafas bodoh!¡± Gelagapan Daniah menjawab. Serangan selanjutnya kembali dilancarkan. Diujung ruangan sekertaris Han memalingkan wajah. BERSAMBUNG.............. Chapter 76 Menginap Malam semakin berputar, gelap semakin larut dan menengelamkan penduduk bumi untuk masuk ke dalam mimpi-mimpi panjang. Mengistirahatkan sejenak tubuh untuk mengumpulkan kembali tenaga demi esok hari yang lebih baik. Di rumah ini pun, pesta telah berakhir, satu persatu keluarga pamit pulang. Mereka tampak sangat senang karena mendapat kesempatan untuk menyapa presdir Antarna Group. Melihat dari dekat, bernafas dengan udara yang sama, sudah menjadi kebanggaan yang bisa mereka ceritakan pada teman sejawatnya. Pesta ulang tahu Gunawan kali ini, adalah pesta paling spesial sepanjang hidupnya. Statusnya di hadapan keluarga besar naik drastis. Daniah yang tadi dipandang sebelah mata pun tidak luput dari jilatan sikap mereka. Seperti menjilat ludah sendiri, mereka tidak tahu malu, berpamitan dengan hangat dan bahkan ada yang memeluknya. Mengajaknya bermain dan berjanji akan mengirimkan hadiah pernikahan. Daniah tersenyum, jujur, saat ini dia dalam kondisi hati yang sangat buruk. Perubahan drastis orang-orang ini setelah kedatangan tuan Saga, hanya menunjukan bahwa dia sama sekali tidak berharga tanpa laki-laki yang sedang melingkarkan tangan di pinggangnya ini. ¡° Terimakasih tuan Saga, anda sudah menyempatkan waktu datang ke pesta sederhana kami.¡± Saga hanya duduk mendengarkan dan tidak bicara apapun. Tapi dia membiarkan Ayah Daniah terus saja bicara. Dia sendiri lebih tertarik dengan wanita yang ada di sampingnya, Saga memainkan rambut Daniah. Menariknya, memaksa gadis itu menoleh dan memperhatikannya. Hanya fokus padanya. Aku ingin menciumnya. Mata Saga fokus menelusuri lekukan leher Daniah. Aku ingin menciuminya. Sialan! Apa yang aku pikirkan sekarang. Lihat aku, hanya lihat aku sekarang! ¡° Apa kau mau menginap di sini?¡± tanyanya sambil membelai lembut rambut Daniah. Ternyata dia bisa bertahan. Karena tidak mungkin dia melakukannya di depan orang tua Daniahkan. Pertanyaannya berhasil membuat Daniah fokus padanya. ¡° Tidak!¡± spontan berteriak. Karena reaksi spontannya yang menolak Saga malah semakin menjadi. Diakan selalu senang kalau Daniah tidak suka. Intinya dia akan melakukan apapun yang tidak diinginkan Daniah. Dan Daniah menyesali jawaban reaktifnya barusan, karena dia melihat bibir Saga tersenyum mencurigakan. ¡° Kenapa? Aku ingin tidur di kamarmu, tempat di mana dulu kamu tidur sebelum menikah denganku.¡± Tersenyum. Tidak perduli semua orang di ruangan ini kecuali manusia setengah batu sekertaris Han sudah terkejut dan panik. Apalagi ibu, dia yang sudah terlihat takut semakin tampak pias. Benarkan, dia punya rencana terselubung. Senyumnya sudah seperti itu. Dan kamarku, tidak, dia tidak boleh melihat kamarku. ¡° Sa, saya akan menyiapkan kamar tamu untuk anda tuan.¡± Ibu yang dari tadi hanya menunduk diam membuka suara. Dia kembali tangannya kuatir ketika lagi-lagi sorot mata Saga tertuju padanya. ¡° kenapa? Aku ingin tidur di kamar istriku yang dulu.¡± Masih tetap dengan pilihan pertamanya. Karena melihat gelagat wanita itu mencurigakan Saga malah semakin tertarik saja. ¡° Kamar Daniah sudah lama tidak dipakai jadi berantakan, saya akan minta pelayan menyiapkan kamar tamu. Niah, gak papakan kalau tidur di kamar tamu. Kamu bisa membantu ibu menganti sprei tempat tidur, biar ayah dan tuan Saga bisa berbincang.¡± Ibu bicara sudah dengan kalimat memohon, seharusnya Daniah menyeringai sekarang, tapi dia sungguh anak yang baik ya. Ia merasa iba melihat ibu tirinya. ¡° Apa! Kau suruh istriku apa? Menganti sprei. Haha, sepertinya kalian benar-benar tidak tahu posisi kalian ya.¡± Amarahnya memuncak mendengar kalimat ibu. ¡° Sa, sayang, bukan begitu.¡± Daniah memeluk Saga yang sudah bicara sambil berteriak. ¡° Ibu hanya ingin aku membantu memilihkan sprei yang cocok. Iakan bu?¡± Daniah menoleh pada ibunya. Berusaha menyelamatkan wanita itu. Kurang baik apa dia, seharusnya dia menimati ini sebagai ajang balas dendamkan. Tapi ternyata tidak, sebencinya dia pada ibu tirinya, dia masih menggangap bahwa keluarga adalah hal paling penting di atas semuanya. ¡° Ia, ia tuan.¡± Ibu menjawab terbata. Saga hanya memandang sebentar, lalu beralih pada han. Sekertarisnya duduk di sofa tidak jauh dari mereka duduk. ¡° Han!¡± saat namanya dipanggil sekertaris cekatan itu sigap dan langsung mendekat. ¡° Ia tuan muda.¡± Siap menunggu perintah. ¡° Bereskan kamar, aku dan Daniah akan menghabiskan malam disini.¡± Memutuskan semuanya secara sepihak, sekaligus memberi tahu keluarga Daniah untuk jangan melakukan apapun. Han yang akan menyiapkan semuanya. ¡° Baik tuan muda.¡± Han menganguk, lalu pergi keluar, terdengar dia menelfon dan bicara panjang. Daniah hanya menduga-duga apa yang dilakukan sekertaris Han, setelah mendengar perintah sependek itu. Apa dia benar-benar tahu apa yang harus dia lakukan? Memang dia sehebat itukah? Aku saja tidak paham yang dimau tuan Saga apa. ¡° Bereskan kamar, aku dan Daniah akan menghabiskan malam disini.¡± Membereskan kamar menghabiskan malam apa lagi-lagi aku yang jadi korbannya! Apa-apaan dia ini. Dia memanggil pak Mun dan para pelayan datang ke rumah ini. Lihat apa yang dia bawa. Kenapa sekalian tidak membawa tempat tidur. Kenapa tidak sekalian kalian pindahkan kamar tuan Saga kemari. Memang kalian pikir kami mau menginap berapa lama. ¡° Apa anda mau saya membawa tempat tidur juga?¡± Bertanya pada Daniah yang menatapnya kesal. Han tahu nona mudanya pasti ingin menendang atau menginjak kakinya sekarang. ¡° Tidak!¡± Mengeram kesal. ¡° Tolong, kalau gila jugakan harus ada batasannya dong.¡± Medekat dan berkata lirih, supaya hanya Han yang mendengar. ¡° tempat tidur di kamar tamu juga sangat nyaman, sayang aku antar Pak mun kekamar tamu dulu ya.¡± sudah berkata dengan suara normal. Saga malah melirik ibu. ¡° Tidak Niah, kamu temani tuan Saga saja. Biar ibu yang mengantar mereka ke kamar tamu. Ayo silahkan pak lewat sini." ibu pergi, Daniah kembali duduk di samping Saga. Raksa yang duduk jauh, hanya mengamati. Risya mengigit jarinya kuatir, melihat semua pemandangan sepanjang acara setelah kedatangan Tuan Saga dan saat ini. Dia sungguh-sungguh merasa sebentar lagi duri tajam akan melilitnya kuat. Membalasnya dengan lebih tidak manusiawi, daripada yang sudah dia lakukan pada Daniah. Ibupun berjalan gemetar, mengingat semua hal yang dia lakukan kepada daniah. Dia tidak pernah berfikir kalau anak tirinya itu benar-benar mendapatkan kasih sayang Tuan Saga. Sesal tiada tara menghujani dirinya. Sambil menunggu Pak Mun menyiapkan kamar, pembicaraan ayah kembali berlanjut, yang isinya berterima kasih, tentang perusahaan dan juga anaknya. Dia melirik Daniah memberikan sorot mata hangat yang masih dirasa janggal oleh Daniah. Tapi gadis itu tersenyum tulus dengan ucapan ayahnya. Ya, mungkin ini kerinduan yang sudah teramat lama. Saat ayahnya mencoba menyentuh hatinya. Jiwanya yang selama ini kering akan kasih sayangpun berterimakasih. Lupa, semua hal buruk yang sudah dilakukan ayahnya. Saga hanya membalas sekenanya, tidak jauh berbeda ketika dia bicara dengan orang lain selama ini. ¡° Aku mau mandi.¡± Saga bangun sambil menoleh pada Daniah. Kata-katanya menghentikan bicara ayah Daniah secara paksa. Padahal Gunawan belum menyelesaikan pujian-pujiannya. ¡° Baik, saya akan siapkan.¡± Daniah bangun menyusul Saga yang sudah berjalan ke arah pak Mun tadi pergi. ¡° Ayah kami permisi.¡± ¡° Baiklah, pergilah, tuan Saga pasti lelah. Pergi dan layani dia.¡± Ayah Daniah tersenyum sangat senang, hanya Tuhan yang tahu arti dibalik senyuman itu. Daniah menoleh sekali lagi pada ayahnya, berharap senyum hangat itu selamanya tertuju untuknya, terlepas apapun hubungannya dengan tuan Saga nanti. Daniah mengandeng lengan Saga agar mengikutinya. Setelah kedua orang itu menghilang Gunawan memberi perintah kepada bibi pelayan untuk mengantar sekertaris Han menuju kamarnya. Laki-laki yang sedari tadi hanya diam dan ntah makan atau tidak dia tadi. Tidak ada yang tahu. Benar, rasanya sekertaris Han memang belum pernah ketahuan makan atau minum sekalipun ya. Wkwkw. ¡° Silahkan beristirahat sekertaris Han, bibi akan mengantar ke kamar anda.¡± Gunawan bicara dengan sopan, sama sopannya ketika bicara dengan tuan Saga. Karena dia tahu, laki-laki dihadapannya ini sama berkuasanya di Antarna Group. Han menggangukan kepala, mengucapkan terimakasih lalu berjalan mengiku bibi pelayan. Rasanya juga sudah lelah dan ingin tidur gumamnya. Baiklah untuk hari ini sepertinya cukup, tuan muda tidak mungkin keluar dari kamarnya lagi. Aaaa, hari yang benar-benar merepotkan. Sepertinya ini pertama kalinya tuan muda perduli pada orang lain. Bahkan pada keluarga Helenapun tidak begini. Nona Daniah anda benar-benar berhasil membuat tuan Saga mati gaya. aku ingin mandi air hangat lalu tidur. Sekertaris Han masuk ke dalam kamar. Hari untuk sebagian orang sudah berakhir, tapi untuk yang lain, malam panjang mungkin baru saja dimulai. Bersambung............. Chapter 77 Alasan kedatangan Saga Yang pasti malam belum berakhir untuk penghuni kamar sebelah sini. Daniah yang sudah selesai mandi di kamar mandi di luar. Rebahan menunggu di tempat tidur. Sementara itu masih terdengar jatuhnya air dari kamar mandi. Tuan Saga sedang ada di dalam sana, mandi setelah tadi mengumpat kesal, protes dengan kondisi kamar mandi yang sempit. Jangan bandingkan rumahmu dan rumahku! Dan ini lagi, Pak Mun! Kenapa membawakanku baju tidur juga si, dia pikir aku mau melakukan apa disini. Aku ingin baju tidur lamaku kembali! Aku mau protes! Tapi aku protes pada siapa. Hiks, hiks. Tapi karena tidak mungkin memakai pakaian pesta yang dia pakai tadi, atau bahkan seberani itu memakai pakaiannya sendiri yang masih ada di rumah ini. Akhirnya Daniah memakai juga baju tidurnya. Baju tidur Saga saja normal kenapa bajuku begini si. Daniah mengomel sambil menarik-narik bajunya seperti anak kecil protes. Pintu kamar mandi terbuka. ¡° Anda sudah selesai?¡± Daniah bangun dari tempat tidur saat Saga keluar dari kamar mandi. ¡° hei kenapa tempat ini sempit sekali!¡± Masih meneruskan kekesalannya yang tadi. ¡° Keringkan rambutku.¡± Saga berjalan duduk di tempat tidur. Sementara Daniah duduk bersimpuh di belakangnya. Mengambil handuk kecil yang menempel di bahu Saga. Tumben dia tidak melemparkannya padaku. Tapi kenapa anda bertelanjang dada, pakai baju anda kenapa. Kumohon normallah, inikan bukan di rumahmu. ¡° Maaf, kalau anda tidak nyaman bagaimana kalau kita pulang saja.¡± Bicara pelan sambil mulai mengeringkan rambut dengan handuk kecil. Daniah memberi pijatan lembut di kepala. Teori memijat kepala sudah dia dapatkan, berusaha mengingat kembali penjelasan guru di sekolaah memijatnya. ¡° Kenapa? Bukanya ini rumah keluarga kesayanganmu. Seharusnya kamu senangkan aku mengizinkanmu menginap.¡± Saga mengoyangkan kepalanya, menikmati setiap sentuhan Daniah. ¡° Apa mereka memperlakukanmu dengan baik, sebelum aku datang?¡± pertanyaan Saga membuat Daniah terkejut. Dia terdiam. Eh kenapa ini, apa dia datang karena perduli padaku. Dia pasti tahu, ya Han pasti tahu bagaimana aku diperlakukan oleh keluargaku sebelum menikah. Dia bahkan tahu nama mantan pacarku. Mengerikan sekali. Jadi tuan Saga datang karena dia perduli padaku? Tapi, benarkah? ¡° Kenapa anda datang sayang. Bukankah anda sangat sibuk hari ini?¡± Saga menyentuh tangan Daniah yang sedang menyentuh kepalanya. Tidak menjawab. Lalu dia tiduran tengkurap. Daniah binggungkan, mau apa laki-laki ini pikirnya. ¡° kenapa lagi, seharian ini aku bekerja sangat keras dan tubuhku sakit semua. Aku datang karena mau kau memijatku.¡± Dia menepuk bahunya beberapa kali. ¡° Pijat aku!¡± Apa! Sia-sia aku sudah aku sedikit tersentuh tadi. Benar. Dia ini tuan Saga, Daniah, memang apa yang kamu harapkan. ¡° cepat! Kenapa benggong!¡± sudah naik satu oktaf nada suaranya. ¡° Ia sayang.¡± Mulai menyentuhkan tangannya di punggung Saga. ¡° Awas kau, kalau pijatanmu masih seperti dulu.¡± Belum apa-apa sudah mengancam. Padahal ya, padahal ya dari dulu dia juga sudah senang dengan hasil pijatan Daniah. ¡° Baik, saya sudah mulai kelas memijat, sudah dua kali. Saya mulai ya?¡± ¡° Baguslah, buat dirimu berguna.¡± Daniah mengepalkan tangannya, membuat gerakan meninju di udara. Tepat di belakang kepala Saga. Dua kali sambil mulutnya maju beberapa centi. ¡° Kau sedang memakiku sekarang?¡± ¡° Haha, sayang mana mungkin. Bagaimana apa anda merasa nyaman?¡± berusaha mengalihkan topik. Tangan Daniah menyusuri punggung dan Tengkuk Saga. Memberi tekanan yang normal seperti yang dia pelajari ketika kelas memijat. Orang ini, kenapa dia sempurna begini si. Tubuhnya juga sangat harum. Hei, otak apa yang kamu pikirkan. Sebelum memujinya pikirkan semua hal jahat yang sudah dia lakukan padamu. Dia bahkan meniduriku semaunya. Bukankah kamu memang istrinya? Hei hati kumohon kamu hatiku bukan si, kenapa membelanya. Akukan cuma bilang kalau kamu istrinya, wajarkan dia tidur denganmu. Keluar kau, keluar dari tubuhku sekarang. Masuk saja kehatinya dan berdiam diri di hatinya yang dingin itu. Sejenak hati Daniah kembali tenang. Pijatan tangan Daniah sudah mulai turun ke kaki. Eh, apa dia tidur. Ya tuhan apa pijatanku seenak itu. Apa perlu aku buka panti pijat sekalian ya. Hiks, mata duitan amat aku ini. Baiklah, ini talenta yang harus aku jaga. Kalau tuan Saga menendangku suatu hari nanti aku bisa memakai kemampuan tanpa modal ini untuk hidup. Aku harus giat belajar memijat sekarang. Daniah mendekatkan kepalanya ke wajah Saga. Mengintip. Benar, laki-laki itu sudah terlelap. Hembusan nafas pelan terdengar dari mulutnya. Tenang. Wajahnya yang tampan terlihat sangat tenang, membuat yang melihat pasti jatuh hati. Kecuali aku ya! Pantas dia diam saja, kalau sedang tidur kamu kelihatan tampan. Aku ingin mencubit pipi itu. Daniah mencegah tangannya yang sudah mau menyentuh pipi Saga. Bisa mati kalau sampai laki-laki ini bangun. Dia beralih menyentuh kepala Saga lalu mengusapnya pelan. Lalu menjatuhkan diri dan ikut berbaring di samping Saga. Menghembuskan nafas perlahan, sambil menatap langit-langit kamar . Ini kamar tamu, kalau kamarku sendiri ada di mana. Ada di ujung ruangan, kamar paling kecil. Ibu selalu ingin mengasingkanku sejauh mungkin, jadi dia memberiku kamar sempit itu. Kadang aku memilih tidur di ruko, walaupun sepi yang mencekam dan udara dingin, lebih baik tidur ditempat itu. Sekarang aku bisa tidur ditempat yang hangat. Tapi... Daniah melirik laki-laki disampingnya. Lalu dia memiringkan tubuhnya memandang punggung yang mulus dan bersih itu. Tanpa dia sadari, dia sudah menempelkan telunjuknya di punggung Saga. Saga tidak bereaksi, sepertinya dia benar-benar terlelap. Lalu seperti mendapat maian baru Daniah membuat tanda titik-titik di punggung Saga. Membuat bentuk sebuah kata. ¡°Sayang.¡± Dia nyengir sendiri, bagaimana bisa memakai panggilan semacam itu, pada laki-laki yang bahkan tidak dia sukai. ¡° Apa nanti saat anda sudah mulai membuka hati pada helena, anda akan mengusir saya? Tapi bolehkah saya memohon, jika hari itu datang bolehkan saya pergi tanpa tersakiti. Saya akan mendoakan kebahagiaan anda. Dan semoga saya juga bisa mendapat kebahagiaan saya juga.¡± Daniah mendesah, menghentikan jarinya yang masih menempel di tubuh Saga. ¡° Selamat malam tuan Saga, semoga anda mimpi indah.¡± Daniah bangun dari tidur, mematikan lampu kamar. Setelah diam sebentar, sebenarnya dia mau keluar kamar. Tapi melihat bajunya yang sekarang, dia mengurungkan niatnya. Kejadian tadi saja sudah sangat parah gumamnya. Apalagi kalau sampai keluarganya melihat pakaian yang dia pakai sekarang. Aku akan mengotori mata perawan Raksa. Akhirnya dia kembali ketempat tidur, berbaring lagi di samping Saga. Dia menarik selimut, dan menyelimuti tubuh Saga yang masih tidur tengkurap. Daniah tidur juga di sampingnya, ditepatnya tadi. Dia menarik selimut hanya sampai pinggangnya. Lagi-lagi dia memiringkan tubuh menghadap punggung Saga. Kenapa menyentuhnya membuatku ketagihan ya. Haha. Kapan lagikan aku bisa menistakan tubuhnya kalau dia tidak sedang tidur nyenyak begini. Tuk, tuk, menusuk-nusuk dengan jari telunjuk. Sambil memikirkan kalau saja dia punya keberanian, dia ingin mengambari wajah saga dengan lipstik. Dan mengambar punggungnya, menjadikan punggung itu kanvas. Dan karena tahu kemampuan melukisnya yang buruk Daniah cekikikan sendiri membayangkan gambar yang bisa ada di punggung putih bersih itu. Daniah menempelkan telapak tangannya dipunggung Saga. Tersenyum sendiri dengan pikirannya. ¡° Kau senang?¡± Daniah terlonjak kaget, apalagi saat Saga membalikan badan. ¡° Aku menyuruhmu memijatkukan. Malah bermain-main dengan punggungku. Mengoceh yang tidak-tidak lagi.¡± ¡° Sa, sayang, karena anda tidur makanya saya berhenti. Saya tidak mau membangunkan anda.¡± Berusaha mundur dan mengeser tubuh. Tapi tangannya sudah di cengkram. ¡° Aku belum menyuruhmu berhentikan?¡± senyum menyeringai muncul, senyum yang seperti ingin menghabisi itu. ¡° Ma, maaf. Kalau begitu biar saya lanjutkan.¡± Daniah mau bangun dari posisinya. Kaki dan bahu Saga jauh lebih cepat, menahan tubuh Daniah yang mau bangun. ¡° Makin hari kamu makin tidak patuh ya.¡± Sudah memberikan kecupan keras di leher Daniah, membuat gadis itu mengerang keras. ¡° Kau mau membuat keluargamu berlari kemari dengan teriakanmu?¡± ¡° Tidak sayang.¡± Mengigit bibirnya, apa yang akan dipikirkan Raksa kalau sampai dia benar-benar lari dan mengetuk kamar, lalu mendapati kakak perempuannya dengan pakaian seperti ini. Padahal Raksa gak sepolos itu kali. Wkwkwk. ¡° Diam dan terima hukumanmu.¡± Berbisik lirih di telinga Daniah. Beraninya kau masih berpikir untuk lari dariku. Beraninya masih berusaha menyebut Helen dengan bibirmu. Habis kau malam ini. Saga sudah menendang selimut, dia sudah berada di atas tubuh Daniah dengan bertumpu pada lutut dan tangannya. Meraih Dagu Daniah dengan jemarinya yang lain. ¡° Pesta kita baru saja dimulai.¡± Aaaaaa, kenapa aku main-main dengan tubuhnya! Rintihan masih terdengar di malam yang semakin larut. BERSAMBUNG Chapter 78 Balas dendam Saga Saga menarik selimut sampai kebahu Daniah, memberi kecupan lembut di kening istrinya yang sudah dalam terlelap. Dia mengusap kepalanya lembut. ¡°Tidurlah dengan nyenyak, kamu sudah banyak sekali menderita di rumah ini. Sekarang giliranku untuk membalas mereka.¡± Satu kecupan lagi di pipi, gadis itu mengeliat pelan, namun tidak terbangun, satu kecupan lagi sebelum dia beranjak dari tempat tidur. ¡° Tuan muda.¡± Han sudah berdiri di luar pintu, dia menyodorkan gelas berisi air dingin. Saga membawa gelasnya, meminumnya setelah duduk di ruang keluarga. Sisa pesta semalam sudah selesai dibereskan. Selain para pelayan rumah ini, pelayan yang dibawa pak Mun juga ikut membantu, sehingga semua bisa kembali normal, seperti rumah ini tidak baru menyelengarakan pesta. Sekarang sudah jam tiga. Bukan tengah malam, tapi masih terlalu pagi juga untuk terjaga. ¡° Panggil mereka!¡± ¡° Baik tuan muda.¡± Baiklah, kita mulai dari mana balas dendam ini. Memikirkan Daniah yang semalam memakai celemek saja sudah membuatku kesal. Apalagi kalau menoleh cerita masa lalunya. Bisa-bisa aku menghancurkan seisi rumah ini karena kesal. Ayo kita balas semua perlakuan yang pernah kamu dapatkan dirumah ini. Saga menghabiskan air dingin yang ada di gelasnya. Tidak lama Han sudah muncul lagi, diikuti seluruh anggota keluarga minus Daniah pastinya. Gadis itu pasti sedang terlelap setelah kelelahan meladeni Saga. Bocah itu, siapa namanya ya? Baiklah, kau bisa selamat malam ini karena menyayangi Daniah. Karena hubunganmu dengan kakakmu sejauh ini baik. Tapi.... Mereka semua sudah duduk di sofa panjang, rapi berjajar. Risya menarik baju ibunya, wajahnya sudah sangat terlihat takut. Selain ibu, dialah yang masuk daftar hitam sering berprilaku semaunya pada Daniah. Kejahatannya kalau dibukukan mungkin setebal laporan keuangan perusahaan. Gunawan dan Raksa yang tampak binggung. Raksa sebenarnya mengantuk, sepanjang menuruni tangga saja dia menguap. Mungkin dia sendiri yang tidak ketakutan di sini. ¡° Kenapa kalian takut begitu, aku hanya igin mengobrol bersama keluarga istriku. Dengan orangtua istriku dan adik-adiknya.¡± Suara Saga terdengar sangat riang, seperti tidak punya maksud apa-apa. Mengobrol, dengan posisi seperti ini. Inimah sudah di sebut sebagai hari eksekusi. Dijam segini juga. Han bergumam dalam hati, masih berdiri di samping kursi Saga, tidak bergeming. Dia hanya akan menjadi saksi. ¡° Apa yang ingin anda bicarakan tuan Saga.¡± Ibu tiri Daniah memberanikan diri bicara. Tapi tertahan ketika tangan suaminya menyentuh tangannya. Menahannya untuk jangan mengatakan apapun lagi. Aturan utama ketika berurusan dengan tuan Saga adalah, dengarkan dia bicara, diam, dan tundukan kepala. Bahkan ini berlaku untuk para petinggi perusahaan. Ayah Daniah menyadari posisinya sebagai mertua Saga tidak mempuyai nilai apa-apa. Dia yang sudah menjual anak gadisnya untuk menyelamatkan perusahaan, memang tidak pantas untuk mendapatkan penghormatan apapun dari menantunya. ¡° Aku hanya ingin mengobrol, jadi jawab saja pertanyaanku seperti kita sedang mengobrol santai. Jangan tegang begitu ibu mertua, memang apa yang ingin aku lakukan pada keluarga yang di sayangi istriku.¡± Aura ketegangan sedikit mencair. ¡° Tapi jangan menjawab berbelit-belit.¡± Seketika semua kembali tangan mereka. Bahkan Raksapun mulai merasa bahwa obrolan pagi buta ini tidak baik-baik saja. ¡° Berikan hpmu!¡± Saga menunjuk Raksa, walaupun binggung kenapa dia harus menyerahkan hp, tapi dia menunjuk kamarnya. Mengatakan Kalau hpnya ada di kamar. ¡° Cepat ambil sana!¡± Saga mengerakan kepalanya menunjuk kamar. ¡° Cepat!¡± Raksa bergegas menuju kamarnya. Kalau kau punya bintal kecil di hpmu, habis kamu, aku tidak akan semudah itu melepaskanmu. Walaupun kau baik pada Daniah. Dan daniah menyanyagimu. Raksa muncul setengah berlari menuruni tangga. ¡° Kenapa langkahmu berisik sekali, bagaimana kalau kau menggangu Daniah tidur.¡± Mulai kesalkan dia, padahal belum melihat hp Raksa. ¡° Maaf tuan.¡± Raksa memperlambat langkah, dia menyodorkan hp yang dia pegang. Ahh, jadi bintang pasangan itu hanya diberikan Daniah untukku kan. Wajah Saga langsung merona senang. Dilemparkannya hp Raksa ke pangkuannya, gelagapan Raksa menangkap. ¡° Pergi tidur sana! kau belum cukup umurkan?. Aku tidak mau menggangu anak di bawah umur¡± ¡° Ia.¡± Binggung lagikan, bukan hanya Raksa semua orang binggung. Raksa meminta jawaban ayahnya, ada apa sebenarnya ini. Sementara Gunawan sama tidak mengertinya. Tuan, kumohon bersikaplah dewasa sedikit. Mereka sedang ketakutan sekarang, kenapa anda malah ngelawak begini. Han mengambil tindakan. ¡° Saya akan mengantar tuan Raksa ke kamar. Silahkan ikuti saya.¡± ¡° Apa? Kenapa?¡± Raksa seperti berat untuk meninggalkan orangtuanya dan Risya. Karena sepertinya mereka tidak akan semudah itu selamat. ¡° Pergilah tidur, hp anda sudah menyelamatkan anda.¡± Raksa melihat Saga binggung, Apalagi dengan perkataan Han barusan. lalu bergantian melihat orang tuanya. Sebenarnya dia ingin tetap tinggal, tapi tangan Han sudah menariknya untuk naik ketangga dan sekertaris tuan Saga ini mengikutinya sampai ke depan pintu kamar. Bahkan membukakan pintu untuknya. ¡° Maaf, tapi bagaimana dengan orangtuaku dan Kak Risya.¡± Raksa menyentuh lengan sekertaris Han, saat sekertaris itu memberi sorot tidak suka saat di sentuh Raksa segera menarik tangannya. ¡° Masuklah, kalau saya boleh memberi saran, sebaiknya anda tidur dengan tenang dan tidak perlu keluar kamar lagi. Selamat malam.¡± Han sudah membungkukan kepalanya, dan mau beranjak. Dia sudah membalikan badan sekarang. ¡° Tunggu! Mereka tidak akan kenapa-napakan. Orangtuaku.¡± Raksa memohon jawaban. ¡° Memang apa yang akan terjadi pada mereka, anda tadi mendengarkan, kalau tuan muda hanya ingin mengobrol.¡± Raksa sudah memegang gagang pintu ketika melihat senyum sekertaris Han. Senyumnya menakutkan sekali pikirnya. ¡° Baiklah, selamat malam.¡± Bergegas menutup pintu, tanpa ingin mendengar pria di depan pintu menjawab salam selamat malamnya. Han sudah berdiri di samping kursi tuannya lagi, dia melihat ketiga orang yang duduk di sofa panjang, mereka terlihat sangat pias. Apalagi kedua wanita itu. Mereka saling berpegangan. Mengantungkan diri atau saling memberi kekuatan. Saga sudah bicara terlalu banyak untuk ukurannya, di selingi desahan. Mereka bertiga walaupun sedikit terbata tetap menjawab. Kalau saja kalian baik sedikit saja pada nona Daniah, urusannya tidak akan sepanjang ini. ¡° maafkan saya tuan Saga, saya sebagai ayah yang tidak bisa bersikap adil pada anak-anak saya.¡± Ayah Daniah mengangukan kepala dalam. Dia tidak tahu kata apa yang harus dipilihnya untuk membuat laki-laki dihadapannya ini puas. Yang pasti dia harus mengakui kesalahannya. Selama ini dia sudah memandang Daniah sebelah mata. Dia bersikeras mempertahankan anak wanita yang dulu di cintainya. Tapi tidak bisa benar-benar memberikan kasih sayang layaknya ayah yang benar padanya. ¡° Baguslah, ayah mertua tahu kesalahan apa yang sudah dilakukan. Aku jadi tidak perlu repot memberitahu kesalahanmukan.¡± Saga menjawab sinis. Aku benar-benar ingin menghukum mereka. Saga mengepalkan tangannya geram. ¡° Ibu tidak pernah memaksa Daniah tuan, dia sendiri yang memang mau membantu pelayan mengerjakan pekerjaan rumah. Ibu.¡± Kalimat Risya berhenti ketika sorot mata tajam Saga tertuju padanya. ¡° Tutup mulutmu!¡± Gadis itu gemetar. ¡° Berapa usiamu, apa Daniah itu adikmu? Sebaiknya bersikap sopanlah mulai sekarang dengan kakakmu.¡± Risya bahkan menitikan airmata karena takut. Ibunya tangannya. ¡° Kau mau aku batalkan semua kontrak drama dan iklanmu?¡± kedua wanita itu semakin ketakutan. ¡° Huh! Apa kau pikir kau bisa masuk ke dunia entertainer karena kemampuanmu?¡± ¡° Maafkan saya tuan Saga. Maafkan saya.¡± Ibu mengantikan anaknya meminta maaf. Risya sudah tidak bisa mengeluarkan sepatah katapun karena ketakutan. ¡° Ahh, menyebalkan sekali.¡± Udara sudah terasa sesak untuk dipakai bernafas. ¡° Maafkan kami tuan Saga.¡± Mereka minta maaf berulang bersamaan. Ibu dan ayah mertua. ¡° Kenapa kalian minta maaf padaku, memang salah kalian padaku.¡± Mereka bertiga terdiam. Benar, kesalahan mereka adalah pada Daniah. Kesalahan terbesar mereka adalah mereka tidak tahu, kalau pada akhirnya nanti Daniah bisa mendapatkan dukungan dari orang berkuasa ini. Semua sesal menghujani diri mereka kenapa mereka bisa memperlakukan Daniah dengan buruk. Tapi kesadaran mereka bukan murni mereka merasa bersalah, tapi karena takut pada Saga. Saga bangun dari duduknya. Menoleh pada Han. ¡° Han, pastikan mereka minta maaf dengan benar pada Daniah. Aku mau tidur sekarang.¡± ¡° Baik tuan muda. Selamat malam, selamat istirahat.¡± Han menundukan kepala sampai Saga menghilang. Merepotkan sekali, sekarang aku harus mulai dari mana ini. Han duduk dikursi yang tadi di dududki Saga. ¡° Mohon maaf karena sudah membuat kalian bangun sepagi ini.¡± Tidak ada yang berani menjawab, semuanya terdiam. ¡° Besok pagi mulailah bersikap baik pada nona Daniah.¡± Semua masih terdiam menunggu kelanjutan. ¡° Itu saja, bersikap baiklah selayaknya sebuah keluarga.¡± Mereka berfikir kalimat Han sudah selesai. Tapi senyum tipis tiba-tiba muncul. Dan kalimat selanjutnya membuat mereka tergugu, kelu mengigit bibir. ¡° Sebenarnya tuan muda ingin melihat kalian memohon maaf dan pengampuan dengan berlutut di depan nona Daniah. Tapi saya rasa itu pasti sangat memalukan. Apalagi untuk nyonyakan? Nona Daniah juga pasti akan merasa tidak nyaman. Apalagi anda Tuan, andakan ayahnya. Kalau untuk anda nona Risya sepertinya tidak terlalu masalah karena usia anda yang memang lebih muda dari nona Daniah. Tapi tetap saja pasti itu tidak nyamankan. Saya juga tidak bisa memaksa kalian. Tapi sepertinya yang kalian lihat, tuan muda menyanyangi nona Daniah, jadi.......¡± Kalimat Han menggantung. dia sengaja, lihat senyumnya itu. Han bangun dari duduk. ¡° Sepertinya masih terlalu pagi, sebaiknya kita kembali ke kamar untuk tidurkan. Selamat malam tuan dan nyonya. Selamat malam juga nona Risya. Semoga kalian mimpi indah." Berjalan dengan ringan menuju kamar tamu yang disiapkan untuknya. Seperti tidak habis menjatuhkan kata-kata mematikan. Dia serius, dia serius menyuruh kami berlutut dan memohon pengampunan pada Daniah. Ketiga orang itu jemari, memikirkan hal yang sama. BERSAMBUNG Chapter 79 Perubahan sikap Langkah Daniah terhenti tepat di depan dapur. Melihat sepertinya kehidupan di dapur saat ini berjalan diluar kebiasaan yang seharusnya. Ada apa ini? Ibu sedang di dapur dan Risya juga. Kenapa hari ini mereka aneh sekali. Ahh, ia, tentu karena tuan Saga ada di sini. mereka sedang cari muka rupanya. Apa mereka mau memasak sarapan untuk tuan Saga. Ah, terserah sajalah, lakukan apa yang ingin kalian lakukan. Aku mau ambil minum dan sedikit membantu saja. ¡° Niah kenapa sudah bangun? Apa ada yang kamu butuhkan, biar ibu siapkan.¡± Daniah mengeryit, merasa ngeri sendiri. Seumur hidup baru pertama kalinya ibu bicara seramah itu padanya. ¡° Apa tuan saga sudah bangun? Apa dia membutuhkan sesuatu.¡± Masih bicara dengan cara yang menakutkan menurut Daniah. ¡° Tidak bu, tuan Saga belum bangun. Biar saya membantu di dapur.¡± Daniah sudah mau megambil pisau dapur. ¡° Apa!¡± kaget kata dia berteriak sendiri. ¡° Maaf bukan maksud ibu berteriak padamu, masuklah kekamar dan istirahatlah. Temani tuan Saga saja.¡± Ibu menepuk bahu Daniah lembut, sorot matanya sekaligus memohon. Pergilah jangan membuat kami dalam masalah begitu arti sorot matanya. ¡° Ibu benar, kak Niah istirahat saja.¡± Apa! Kak Niah, sejak kapan bocah ini memanggilku sesopan ini. Tunggu, kenapa mereka aneh sekali si. Apa kalian salah minum obat semalam. Daniah mengedarkan pandangan menyapu ruangan, tengkuknya merinding, ia merasakan aura kegelapan. Tentu saja, di ujung ruangan itu, dia sedang duduk sambil bekerja dengan laptopnya. Ada secangkir gelas di sampingnya. Dia memang tidak memandang ke arah dapur atau terlihat mendengarkan pembicaraan. Tapi keberadaannya sudah pasti mengintimidasi semua penghuni rumah ini. Apa karena dia, dua orang ini jadi berubah sikap padaku, walaupun sedang tidak ada tuan Saga sekalipun. ¡° Baiklah, saya permisi bu.¡± Karena tetap tidak diizinkan membantu akhirnya Daniah menyingkir secara sukarela. ¡° Ia Niah istirahatlah.¡± Ibu tersenyum. Daniah meninggalkan ibu dan Risya keluar dari dapur, berjalan mendekati sekertaris Han. Dia masih sibuk dengan pekerjaannya. Dia meraih gelas, lalu minum dan meletakannya lagi. Apa itu, kenapa gaya minumnya keren begitu. Lagi syuting iklan! ¡° Ehmm, ehmm.¡± Daniah batuk kecil di depan sekertaris Han, laki-laki itu mendongak dari layar laptopnya. Dia bangun dari duduk. Menggangukan kepala sopan. ¡° Selamat pagi nona, ada yang bisa saya bantu?¡± tanyanya sambil menutup layar laptop, karena dia melihat Daniah memiringkan kepalanya mau mengintip apa yang dia kerjakan. ¡°Haha.¡± Ternyata dia sadar aku mau mengintip. Peka sekali anda. ¡± Anda pasti sedang sibuk bekerja di akhir pekan ya. Apa anda tidak pulang ke rumah anda? Oh ya, anda punya rumahkan, anda tidak tinggal di rumah tuan Sagakan.¡± Dipikir-pikir benar juga, aku bahkan tidak tahu setelah dia bekerja dia bernafas gak ya, apa yang dia lakukan setelah melepas tanggung jawab melayani tuan Saga padaku kalau sudah di rumah. ¡° Maaf nona, saya tidak bisa menjawab pertanyaan pribadi tentang saya.¡± Apa! Kenapa dia selalu dalam kondisi fokus si. Padahal kupikir tadi dia akan terjebak dengan pertanyaanku. ¡° Tapi, terimakasih atas perhatian anda, saya hidup dengan nyaman selama ini. Apalagi kalau anda bersikap sebagaimana mestinya dan tidak menimbulkan masalah.¡± Apalagi si orang ini, bicara semaunya persis seperti majikannya. ¡° Tapi, bisakah anda tidak duduk di sini sekertaris Han. Kenapa anda tidak kembali ke kamar anda dan bekerja di sana. Anda menggangu disini.¡± Daniah kembali tersadar tujuannya menyapa laki-laki dihadapannya ini. ¡° Saya tidak melakukan apapun nona.¡± Menjawab enteng menunjuk laptopnya. ¡° Saya hanya duduk.¡± Aura kegelapan yang muncul dari dirimu, yang bisa meledak kapanpun telah mengintimidasi keluargaku tahu. Ibu dan Risya jadi menakutkan begitu sikapnya. Itu karena anda di sinikan sekertaris Han, mereka jadi tidak berkutik. Mereka jadi bersikap sangat baik padaku. Aku sampai diusir dari dapur, padahal biasanya Risya menarikku untuk membuatku ikut mengerjakan pekerjaan rumah. ¡° Tapi sepertinya keluarga saya terganggu.¡± Daniah menunjuk ibu dan Risya yang memandang dari kejauhan. ¡° Lihat! Mereka ketakutan melihat anda.¡± ¡° Padahal saya tidak melakukan apa-apa lho.¡± Tersenyum tipis sambil melihat dapur. ¡° Itu karena anda memang menakutkan, belum sadar juga.¡± Gumam-gumam kecil sambil membuang muka. ¡° Saya dengar itu nona.¡± ¡° haha, sebaiknya anda minum minuman sehat sekertaris Han kalau pagi. Minum jus buah jangan kopi, supaya lambung anda sehat. haha Baiklah saya mau menyiapkan sarapan untuk tuan Saga saja, tapi kalau anda tidak mau kembali ke kamar bisakah pindah ke ruang tamu.¡± Paling tidak aku hanya perlu mengusirnya dari duduknya disinikan, biar dia tidak membuat ibu dan Risya ketakutan begitu. ¡° Pak Mun akan mengantar sarapan tuan muda, sekarang nona kembalilah ke kamar.¡± ¡° Apa! Pak Mun.¡± Ibu dan bibi bahkan sedang sibuk memasak sarapan sekarang. Daniah melihat ke arah dapur ¡° Saya bisa menyiapkan disini, ibu juga sedang memasak di dapur.¡± ¡° Tuan muda tidak suka makan makanan yang dimasak sembarang orang.¡± Huh! Lagi-lagi sang raja berulah dan pelayannya jauh lebih bertingkah karena sedikitpun tidak pernah membantah. ¡° Apa perlu saya mengantar anda ke kamar nona.¡± Sepertinya Han sudah mulai kesal, dia ingin segera menyelesaikan pekerjaannya. ¡° Tidak! Saya bisa sendiri.¡± Daniah mendengus sebal, tau dia sudah diusir. ¡° Baiklah, selamat istirahat.¡± Mengangukan kepalanya hormat. ¡° Ini sudah pagi, memang siapa yang mau tidur lagi.¡± Menatap kesal sambil berlalu. Daniah menghentikan langkah menuju kamarnya dia kembali ke dapur bicara pada ibu. ¡° Maaf bu, ibu tidak perlu menyiapkan sarapan untuk tuan Saga.¡±bicara langsung saja begini pikirnya. ¡° Kenapa?¡± ibu merasa kuatir karena takut tuan Saga tidak nyaman. ¡° Pelayan tuan Saga akan mengirimkan makanan nanti.¡± ¡° Apa! Padahal ibu sudah bangun sepagi ini untuk memasak sarapan!¡± Ibu memegang tangan Risya. Gadis itu tersadar telah melakukan kesalahan lagi. ¡° Risya, hentikan. Minta maaf pada kakakmu!¡± Risya menggigit bibirnya kelu, menatap sekertaris Han yang duduk di kursinya, pandangan mereka bertemu. Gadis itu gemetar. ¡° Maaf kak Niah, maafkan aku.¡± Mengatupkan kedua tangannya ke depan wajah. ¡° kembalilah kekamarmu, tuan Saga mungkin membutuhkanmu.¡± ¡° Baik bu.¡± Benarkan, ini karena kamu duduk di sanakan, ibu dan Risya jadi bersikap seaneh itu. Tidak usah tersenyum begitu, semakin membuat ibu dan Risya ketakutan tahu. Saat Daniah masuk ke dalam kamar, bersamaan Saga keluar dari kamar mandi. Dia sedang mengeringkan rambutnya dengan handuk. Lagi-lagi bertelanjang dada. ¡° Naik!¡± Katanya tegas. ¡° Apa! Naik.¡± Tidak kalah kaget menjawab. Mau apa lagi dia, tunggu, kenapa kamu naik lagi ketempat tidur. Mau apa lagi sekarang, tidak lihat matahari di luar jendela itu. Saga sudah duduk bersandar di tempat tidur, menepuk ruang kosong di sebelahnya. Artinya menyuruh Daniah duduk di sana. ¡° Sayang, apa yang mau anda lakukan, bukankah saatnya bangun, ini sudah pagi.¡± Daniah menunjuk jendela kamar. ¡° Tidur, memang mau melakukan apa di akhir pekan. Aku hanya ingin bermalas-malasan hari ini.¡± Saga menjatuhkan diri, sudah berbaring di tempat tidur. Masih menepuk kasur di sampingnya. Apa! Kenapa kau mau bermalas-malasan saat dirumahku begini. Biasanya juga akhir pekan kadang kamukan pergi bekerja juga. ¡° Naik.¡± Saga melemparkan handuk kecil ditangannya, mendarat di tubuh Daniah. Membuat gadis itu reflek langsung bergerak naik ketempat tidur. ¡° Kau belum membayarku dengan benarkan?¡± Apa! Lalu malam tadi apa! ¡° Bukankah semalam saya sudah.¡± Sambil menutup wajah dengan tangan, malu meneruskan kaliamatnya. ¡° Semalam, itu hukuman karena berhenti memijatku dan mengoceh kemana-mana dibalik punggungku.¡± Sial! Benar-benar mendengar berarti. Jadi kamu pura-pura tidurkan! ¡° Aku sudah memberi ayahmu hadiah istimewa semalam di hari ulang tahunnya, sekarang saatnya kamu berterimakasihkan?¡± Apa! Memang kamu memberi apa pada ayahku. Aku bahkan tidak melihatmu memberi kado apa-apa, selain kemunculanmu yang dramatis itu. Tunggu, kamu tidak sedang berfikir kalau kedatanganmu itu hadiah istimewa untuk ayahkan. Walaupun itu benar, tapi kenapa terasa mengelikan begini si. ¡° Aku bahkan datang kepesta orang tuamu, meladeni keluargamu bicara. Apa itu semua tidak kamu anggap hutang yang harus kamu bayar¡± Benar, itu berkah untuk rakyat jelata seperti kami. Ayah bisa sangat bangga dan membusungkan dada dengan kedatanganmu. Menantu terhormat negri ini. ¡° Terimakasih Sayang, kehadiran anda sungguh hadiah istimewa diulang tahun ayah. Saya sungguh berterimakasih.¡± Baik berterimakasihlah dengan kata-kata manis Daniah, selesaikan ini dan bangun. ¡° Itu saja.¡± Saga sudah menarik rambut Daniah, menggulungnya pelan. ¡° Aku mau yang lainnya.¡± Bulu kudu Daniah merinding saat Saga mulai menciumi rambutnya. ¡° Apa yang bisa saya berikan?¡± Hemm.¡± Sok berfikir ¡° Aku memberikan tubuhku untuk hadir diulang tahun ayahmu, kau harus membayarnya setimpal juga donk. Itu baru adil.¡± Daniah sudah ambruk karena Saga mendorong dengan bahunya. ¡° Bagaimana?¡± ¡° Benar, anda benar sekali.¡± Terpaksa tertawa. Licik sekali kamu heh! Lagi-lagi memojokanku dengan cara begini. Seperti aku berhutang dunia saja padamu. Daniah sperei tempat tidur, membiarkan Saga melakukan sekali lagi mendapatkan apa yang ingin ia lakukan. Sementara matahari terus bergerak naik. Aaa aku lapar, karena kaget melihat ibu dan Risya aku bahkan tidak makan tadi. BERSAMBUNG Chapter 80 Hari Yang Melelahkan Memulai hari setelah akhir pekan yang melelahkan. Seharusnya akhir pekan jadi ajang bersantai dan mengendurkan saraf, tapi bagi Daniah akhir pekannya harus diisini dengan penuh perjuangan. Mengengam kemudi dengan erat. Gemetar-gemetar karena kesal. Jangan dipikirkan! Jangan diingat! Lupakan! Lupakan! Tuan Saga hanya ingin menindasmu Daniah, jaga jarak hatimu sejauh mungkin darinya. Oh ya, tadi pagi aku sudah mengirim pesan pada helen, tapi kenapa dia belum membalas ya. Dia hanya mengerjaimu, walaupun kadang senyumnya tulus, tapi tidak mungkin dia setulus itu padamu. Melajukan kemudi lagi. Selesai menyelesaikan kelas memijat, Daniah menyempatkan mampir membeli makan siang dan minuman untuk karyawannya. Dia mampir ke minimarket juga membeli buah dan aneka camilan. Lalu dia kembali ke rukonya. Daniah menyerahkan kunci mobil dan meminta karyawannya mengambil belanjaan, sementara dia naik ke lantai dua dan ambruk di tempat tidur. ¡° Nyaman sekali.¡± Berteriak keras sambil merebahkan diri terlentang menatap langit-langit kamar. Sebenarnya apa yang terjadi padaku si, coba berfikir Daniah. Pakai otakmu yang bodoh ini untuk berfikir sebentar saja. Kita mulai dari mana ya? Aaaa, aku binggung harus membeberkan dari mana. Terdengar langkah kaki menaiki tangga. ¡° Mbak Niah mau makan apa?¡± Tika muncul. ¡° Aku minta jus aja Tika, jus sirsak ya.¡± Masih menjawab sambil terlentang ditempat tidur. ¡° Aku ambilin ya, mau roti juga gak, kalau gak mau makan nasi, makan roti aja ya.¡± Menawarkan lagi. ¡° hemm, boleh deh.¡± Tidak lama tika sudah muncul dengan apa yang diminta Daniah tadi. Dia juga membawa piring dan makanannya sendiri. Segelas jus jeruk peras. Tika menarik meja kecil lalu meletakan makanan milik Daniah di atasnya. ¡° Cape ya mbak?¡± ¡° Lumayan. Baru dari sekolah memijat tadi, pokoknya aku hormat sama tukang urut dan pijat profesional Tika. Mereka itu luar biasa.¡± Daniah duduk meminum jusnya dan makan roti yang dia beli tadi di mini market. ¡° Kenapa mbak Niah musti belajar mijat, bukannya bisa panggil tukang pijat profesional kalau tuan Saga mau dipijat.¡± Orang normal seperti Tika pasti akan bicara beginikan, begitu gumam Daniah. ¡° Karena dia tidak mau di sentuh sembarangan orang.¡± Tangannya terkepal, membayangkan wajah Saga di depannya. Dia garuk dengan kukunya keras-keras. Mengusir jengkel. ¡° Tidak suka di sentuh tapi mau aku mengerayanginya tiap malam.¡± Daniah menutup mulutnya. Dia telah melakukan perbuatan tercela, karena bicara dengan seorang jomblo sejati. lebih-lebih arah pembicaraannya menjurus. Tika malah tertawa. aku tidak sepolos itu mbak. begitu pikir Tika. ¡° Waahh, berarti dia cuma mau di sentuh sama mbak Niah ya. Ih so sweat ya.¡± So sweat apaan, ini gak ada manis-manisnya tahu, lebih manis jus sirsak ini. Dia begitukan memang Cuma ingin mengerjaiku, memanfaatkan tenaga yang sudah dia beri makan. So sweat dari mananya. ¡° Mbak Niah beruntung sekali ya, bisa menikah dengan tuan Saga. Mau apa aja pasti dikasih.¡± Nggak Tika, nggak gitu. Hidupku gak sebahagia itu kali. Daniah menangis dalam hati. ¡° Hehe, tika kalau kamu menikah nanti yang paling penting adalah, kamu harus menikah dengan suami yang mencintai kamu ya. Mau dia seperti apa yang penting dia mencintaimu. Nanti jugakan kalian akan berjuang sama-sama.¡± Tika cengegesan, Daniah mengeryit. ¡° Cieee seperti mbak Niah ya. Hehe. Aku iri deh, tuan Saga pasti sayang banget sama mbak Niah ya.¡± Tidak begitu Tika, aku ingin cerita padamu. Tapi jiwa polosmu pada dunia ini tidak akan mampu menerimanya. Aku tidak mau kamu syok nantinya. Menggigit sedotannya sendiri sampai penyok. Setelah rekap barang di toko selesai Daniah memilih untuk pulang. Belum ada info kalau tuan Saga akan pulang cepat. Tapi dia memilih pulang. Dia ingin mandi air dingin lalu tidur nyaman di kasur yang empuk di kamar. Bersantai meluruskan saraf. ¡° Mbak pulang duluan ya, terimakasih kerja keras kalian ya. Dua hari lagi gajian ya. Hehe.¡± Daniah tertawa sambil berpamitan. ¡° Hore!¡± anak-anak berteriak girang. ¡° makasih ya mbak makanan sama camilannya, mbak Niah pulang dan istirahat aja. Di sini kami yang bereskan.¡± ¡° Makasih semuanya, aku sayang kalian.¡± Daniah pamit pulang, dia melajukan kendaraannya sambil lamunannya berlarian kemana-mana. Tuan saga menikahiku karena aku itu jelek dan kampungan. Wajahku yang seperti ini ingin dia pakai sebagai senjata untuk membuat Helen cemburu. Dan ini berhasil, Helen cemburu, dan pulang ketanah air. Dia ingin kembali kepada tuan Saga. Tapi masalahnya kenapa laki-laki itu sok-sokan jual mahal begitu si. Lagaknya sudah seperti raja. Hiks dia memang yang mulia rajanya. Dan masalahnya lagi, kenapa dia senang sekali meniduriku sekarang. Hiks, hiks. Tunggu, bukankah aku bisa menolaknya. ¡° Aku akan menghancurkan keluargamu tanpa sisa.¡± Kenapa aku selalu kalah dengan ancaman mengerikan itu. Kediaman keluarga Saga Rahardian. ¡° Ibu, berhentilah bu. Aku tidak mau ikut-ikut.¡± Jenika ngotot, Sofia di sampingnya hanya manut apa yang diucapkan kakaknya. ¡° Kak Helen sudah tidak punya kesempatan lagi.¡± ¡° Siapa bilang.¡± Ibu tersenyum jahat. ¡°Dia punya senjata yang bisa dipakai untuk menjatuhkan wanita itu.¡± Sekarang ibu terawa. ¡° Ibu tidak rela kalau keturunan kita harus dilahirkan dari wanita tidak sederajat itu.¡± ¡° ibu, tapi kak Saga mencintai kakak ipar.¡± Jenika berusaha membeberkan fakta yang tidak bisa dibantah itu. ¡° Ibu yang akan membuat Saga mengusir wanita itu.¡± Ibu sangat percaya diri rupanya, tidak tahu bukti apa yang dibawa Helen, tapi gadis itu berhasil meyakinkannya untuk menjatuhkan Daniah. ¡° Aku tidak mau ikut-ikut rencana ibu. Kalau kak Saga marah jangan bawa-bawa kami.¡± Jenika dan Sofia menganguk pasti. Mereka keluar dari kamar, saat ini kalau mereka sedang bicara jauh lebih aman bicara di dalam kamar. Pak Mun selalu berkeliaran dimana-mana membuat orang jantungan saja. Saat mereka menuruni tangga pak Mun juga berjalan naik. Dia berhenti di hadapan ibu. ¡° Nyonya ada nona Helena di gerbang utama, apa anda mengundangnya.¡± Tanyanya sopan. ¡° Apa! Kenapa tidak membiarkannya masuk. Pak Mun, memang kamu tidak tahu siapa Helena?¡± Ibu berteriak marah dengan kekurang ajaran Pak Mun yang mencegat helena di gerbang utama. ¡° Maaf nyonya, ini perintah dari sekertaris Han, untuk melarang nona Helena masuk. Kecuali jika dia datang karena undangan anda.¡± Apa! Sekertaris kurang ajar itu benar-benar. bahkan kekuasaannya melebihi diatasku. ¡° Biarkan dia masuk.¡± Tidak lama Helena sudah muncul di antar Pak Mun, setelah melepas kaca mata hitamnya, terlihat matanya yang bengkak dan sembab. Ibu memerintahkan Pak Mun untuk pergi, laki-laki itu hanya mengangukan kepala. ¡° Ibu, aku tidak mau ikut-ikut ya. Aku sudah menasehati ibu, kalau kak Saga marah ibu tanggung sendiri ya.¡± Jenika mulai mengancam lagi dihadapan Helena. Gadis itu binggung meminta penjelasan. ¡° Pergi kalian berdua! Jangan urusi mereka. Ayo kita bicara di kamar ibu. Di sini banyak mata dan telinga.¡± Ibu menarik tangan Helena untuk mengikutinya. Tertinggalah dua wanita yang menatap kepergian mereka dengan kesal. ¡° kenapa ibu nekad sekali si.¡± ¡° memang apa salahnya dengan kakak ipar. Ya, dia memang gak cantik-cantik amat si, gak kaya juga, gak modis juga, apalagi rambutnya.¡± Jenika tertawa mendengar kalimatnya. ¡° Kak, kamu menghina kakak ipar.¡± Sofia menyenggol lengan jenika. ¡° Siapa yang menghina kakak ipar, memang aku sudah gila. Aku sedang memujinya. Walaupun dia mempunyai kecantikan yang dibawah standar internasional, tapi dia bisa menaklukan hati Kak Saga. Lantas apa yang kurang lagi dengannya.¡± ¡° Ya, itulah satu-satunya kelebihannya. Bisa membuat Kak saga jatuh hati padanya.¡± Sofia bangga sudah menemukan fakta yang luar biasa. "Kelebihan Daniah itu cuma satu, dia gak punya kelebihan apa-apa. Wkwkwk." Kedua adik ipar tertawa. ¡° Apa yang sedang kalian lakukan?¡± Daniah muncul dari belakang mengagetkan mereka berdua. Jenika menoleh. ¡° Kakak ipar ayo ikut kami bersenang-senang, dirumah ini sedang ada tamu tidak diharapkan.¡± Jenika mendekat, membisikan sesuatu di telinga Sofia. Lalu gadis itu sudah berlari menaiki tangga. ¡° Siapa?¡± ¡° Tidak penting, ayo kita pergi.¡± Jenika menyeret lengan Daniah yang masih binggung. Dengan badan setinggi Jenika menyeret Daniah bukanlah perkara susah. ¡° hei, kamu mau membawaku kemana. Aku gak mau pergi! Aku mau mandi air dingin dan tidur! Lepaskan aku Jen. Lepaskan aku!¡± Jenika tidak mengubris, mendorong Daniah masuk kedalam mobil. Sofia berlari membawa dua tas langsung masuk dan duduk di belakang. Jenika langsung tancap gas tidak perduli teriakan kakak iparnya. BERSAMBUNG Chapter 81 Pergi bersama Jen dan Sofi " Kamu mau membawaku kemana jen?" berteriak karena kesal. " Sudah kakak ipar duduk diam saja, aku akan bawa kakak ke tempat luar biasa, kakak ipar bisa melepas ketegangan." jenika dan Sofia tertawa bersamaan. " Jangan aneh-aneh ya Jen, kalau kakakmu tahu aku pergi ke tempat begituan, habis aku." walaupun tidak tahu mau dibawa ke mana tapi pikiran Daniah sudah menjurus. " Haha, kakak ipar mikir apaan si." jenika melajukan mobil tidak perduli gerutuan kakak iparnya. Saat Daniah menoleh pada Sofi meminta jawaban diapun hanya tertawa dan membungkam mulutnya. Merahasiakan tempat tujuan mereka. ¡° Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa!¡± Teriakan keras memenuhi langit-langit tinggi ruangan. Karena sepertinya belum puas, membuat mereka bertiga mengantri untuk kedua kalinya menaiki roller coaster. Walaupun sudah kedua kalinya teriakan ketiga wanita itu masih sama kerasnya. Bahkan jauh lebih membahana. Setelah wahana berhenti mereka turun. Di dekat mereka ada dua orang langsung tersungkur duduk. Mual dan pucat. Tapi tidak dengan Daniah dan kedua adik iparnya, mereka tertawa bersama saat menuruni tangga untuk kali kedua. Puas berteriak tanpa ada yang merasa terganggu mendengar teriakan mereka. Sepertinya tujuan pencipta permaian roller coaster mungkin memang untuk untuk itu ya. Membuat orang berteriak sepuasnya, sampai membuat lega dan hati plong. ¡° Bagaimana ada tempat sekeren ini di kota kita ya?¡± Daniah menarik tangan Jenika, dia menunjuk wahana bom-bom car. ¡° Naik itu yuk.¡± Daniah sudah seperti bocah merengek pada ibunya. Jenika dan Sofia mengikuti. Hari ini adalah harinya kakak ipar, begitu gumam mereka berdua. Hari ini kedua adik ipar itu akan berakrab ria dengan wanita yang di cintai kakaknya. ¡° Kakak ipar, bagaimana kamu menikati masa mudamu si. Tempat ini sudah ada dari dua tahun lalu kali.¡± Daniah terperangah, takjub, tapi dia buru-buru melengos. ¡° Aku bekerja keras untuk bertahan hidup adik ipar. Akukan bukan adik dari laki-laki kaya seperti kalian.¡± Paham kalian, harus harus mencari uang dan hidup dengan tidak mudah di keluargaku. ¡° hehe, kakak ipar sekarangkan kamu istri laki-laki kaya itu. Jadi silahkan bersenang-senang sepuasnya hari ini¡± Mereka naik memilih mobil masing-masing. Main tabrak-tabrakan seperti bocah. Daniah terbahak saat Jenika memakinya dengan keras karena menghantam mobilnya. Menyenangkan sekali ya ternyata pergi dengan sesama perempuan begini. Dan kalian ternyata imut begini. Mereka sudah kehabisan tenaga setelah keluar dari arena bom-bom car, sekarang ambruk di kedai food court. Sofia yang paling kecil yang dapat jatah memesan minuman, sementara jenika dan Daniah duduk menjatuhkan kepala mereka di meja. ¡° Terimakasih Jen, sudah mengajakku kemari. Ini menyenangkan sekali.¡± Kapan-kapan aku harus mengajak karyawanku liburan kemari. Biarkan mereka main puas sambil berteriak-teriak. Selama ini paling mereka cuma bisa teriak-teriak di dalam ruko kalau ketemu custemer bawel dan aneh-aneh. Disini, aku bahkan sempat memaki tuan Saga tadi tanpa merasa bersalah dan membuat orang terganggu. Jen dan Sofi bahkan tidak mendengarnyakan. Haha. Sofia muncul membawa tiga gelas minuman. Dia juga membeli camilan. ¡° Ayo makan!¡± Tanpa perlu malu-malu mereka menyantap hidangan di hadapan mereka. Ahh, ternyata kalian ini manis juga ya. Rukun lagi. Hehe, maaf ya, aku selama ini menilai kalian buruk karena ya memang kalian nyebelin sih. Haha. Aku tidak mau minta maaf ya, kalian memang menyebalkan kemarin-kemarin. ¡° Kakak ipar bagaimana rasanya malam pertama.¡± Daniah tersendak minumannya mendengar pertanyaan Jenika yang tanpa sensor. ¡° Apa? Akukan penasaran malam pertama kakak ipar dan kak Saga, ceritakan donk.¡± Rasanya Daniah ingin mencubit bibir di depannya, bisa-bisanya menanyakan hal memalukan begitu dengan wajah biasa saja, sambil ngemil lagi. ¡° Itukan pertama kalinya juga untuk Kak Saga, kalian pasti malu-malu mengebu ya. Haha.¡± Kali ini Daniah menjatuhkan camilan yang ada ditangannya. Apa barusan jenika bilang, pertama kalinya. Tuan Saga? Jadi aku adalah yang pertama dan satu-satunya. hei, mana mungkin? ¡° Pertama kalinya bagi tuan Saga. Hei jangan bercanda Jen.¡± Daniah menyeringai lalu meminum jus dari gelasnya. ¡° Siapa yang bercanda!¡± Berteraiak bersamaan. Kakak beradik yang sangat kompak kalau urusannya tentang kakaknya. ¡° Hei.¡± Daniah masih menunjukan reaksi tidak percayanya. Jenika mengebrak meja, membuat Daniah terlonjak. Gadis itu mengelus dadanya dan melotot pada Jenika. ¡° Memang kakak ipar itu pikir kakakku itu laki-laki seperti apa?¡± Daniah tidak bisa berkata-kata, binggung mencari pilihan kata yang pas. Tapi dia lebih binggung lagi memikirkan supaya kalimatnya bisa diterima dua bocah pengagum kakaknya ini. ¡° Kak Saga itu laki-laki paling baik di dunia.¡± Ya, ya diakan kakakmu. ¡° Dia laki-laki yang harus dewasa sebelum waktunya dan menjaga kami bertiga. Dia tidak punya waktu bersedih karena menguatkan ibu dan adik-adiknya. Apa kakak ipar tahu!¡± berapi-api. ¡° kecilkan suaramu jen, kamu mau dilaporkan polisi karena menggangu ketertiban umum.¡± Daniah mencubit tangan adik iparnya. Mungkin karena itu tuan Saga selalu menjaga jarak untuk membuka hati dengan orang lain ya. Ahh, tidak tahulah. Aku tidak mau menduga-duga, karena aku sendiri tidak tahu yang dipikirkannya. ¡° Kak Helen itu cinta pertama kak Saga.¡± Melanjutkan ceritanya. Kenapa info yang kamu berikan mematikan begini. Wajah Daniah kali ini semakin berkerut. Dia benar-benar tidak percaya. ¡° Hei Jen, baiklah ceritakan semuanya tapi tidak boleh kamu tambah-tambahin ya. Kakakmu memang sudah hebat, jadi jangan dipoles lagi kehebatannya. Aku ingin tahu dia yang sebenarnya!¡± Daniah menyentuh tangan Jenika. Tersenyum hangat. Ayo katakan semua rahasia tuan Saga, kalau perlu sekalian sekertarisnya. ¡° Empat tahun lalu mereka bertemu di danau hijau¡± Jenika memulai ceritanya. Sofia juga menimpali dengan sangat antusias di sampingnya. Mereka berdua ini memang pemuja kakaknya. Daniah tahu di beberapa bagian cerita tentang Saga dilebih-lebihkan. Tapi dia tidak menyela. Biarkan saja, yang penting mereka senang pikir Daniah. ¡° Tapi dua tahun lalu kak Helen pergi tanpa pamit.¡± Menyudahi ceritanya dengan nada kesal. Sekarang Jenika benar-benar sudah beralih hati dari Helena. Ya, karena merasa wanita itu memang sudah tidak punya kesempatan lagi. ¡° Tapi tunggu dari mana kamu tahu? Kalau tuan Saga dan Helen belum bernah melakukannya bersama.¡± Daniah merasa malu dengan pertanyaannya sendiri. ¡° Kak Helen curhat sama kami. Jangan-jangan kakak ipar sebelum dengan kak Saga pernah melakukannya ya?¡± Sofia yang marah, merasa di khianati. ¡° Sembarangan!¡± memukul tangan Sofia, yang dipukul melotot. Sambil mengelus tangannya. " Tuan Saga itu yang pertama kali dan satu-satunya juga untukku tahu. " Wajah Daniah merona malu, dia mengusir canggung dengan meraih camilan dan memakannya lahap. " Cieee, malu ya. senang ya. Haha." jenika dan Sofia mengangkat tangannya tos. ¡° Kami juga masih perawan tahu kak. Kak Saga bisa murka kalau kami pacaran bebas, kami boleh pacaran tapi jangan sampai terlibat pergaulan bebas.¡± Daniah memicingkan mata. Tidak percaya. ¡°Hei gak percaya lagi. Kami bisa dapat hukuman berat kalau melanggar aturan pacaran kak Saga.¡± ¡° memang apa hukumannya, kalian bakal digunduli.¡± Maaf ya, tapi Daniah terkikik ketika mengatakannya. Jenika mendengus. ¡° lebih parah dari itu.¡± Jenika memukul meja. ¡° hentikan tanganmu jen, mau jadi hakim apa, main pukul-pukul meja terus.¡± Daniah melanjutkan ngemil cantiknya. ¡° Kami gak boleh main sosial media lagi. Akun kami bakal di hapus. Pokoknya gak boleh main sosial media bentuk apapun¡± ¡° Apa! memang yang begitu bisa di sebut hukuman apa. Aku kira apa?¡± menjawab malas. ¡° Seharusnya hukumannya itu di gunduli, atau di ikat di gunung. Haha, maaf Jen bercanda kali. Serius banget.¡± Daniah mengelus tangan jenika yang wajahnya sudah berkobar. Daniah masih menahan tawa sambil minta maaf. ¡° Kakak ipar digunduli atau di ikat di gunung itu masih belum seberapa, rambut kami bisa tumbuh lagi ketimbang kami gak boleh main media sosial. Kami ini selebriti media sosial kak. Follower kami.¡± ¡° halah. Sudah-sudah ia, kamukan gak bisa hidup kalau gak pegang hp sebentar saja.¡± Daniah mengalah saja. Berbeda dengannya yang main media sosial untuk jualan dan cari uang kedua adik iparnya memang memakai sosial media untuk bergaya. " Tapi memang tuan Saga sungguh bicara begitu?" Daniah benar-benar penasaran, sebenarnya sifat Saga itu seperti apa. "Melarang kalian pacaran bebas." " Kak Saga bilang, cuma kami bisa yang bisa menjaga diri dan kehormataan kami sendiri. pacaran boleh saja, tapi jaga kehormatanmu. Begitu yang dia bilang. diakan mengkhuatirkan kami kakak ipar." Ahh, ternyata dia benar-benar sayang pada adik-adiknya ya. pantas saja dua orang ini memuja kakaknya begitu. ¡° Eh kalau begitu kita foto bertiga yuk.¡± cerita tentang malam pertama berakhir. Cekrik-cekrik heboh. Ya gitu deh, taukan kalau lagi heboh foto bareng, Daniah juga ikutan berebut posisi dan bergaya. Posting. Captionnya ¡° Bersama Sofia dan kakak ipar tersayangnya kak Saga, muah, muah. Ayo bersenang-senang.¡± Tring! Terkirim. Epilog : " Kenapa?" Saga sudah menyerahkan dokumen terakhir yang dia tanda tangani ke tangan Han. " Nona Jenika memposting foto baru di akun sosial medianya, apa anda mau melihat?" Han menyerahkan ponsel yang dia pegang. Wajah Saga langsung berubah cerah, membaca caption yang ditulis Jenika. " Biarkan mereka bersenang-senang." Saga benar-benar terlihat sangat senang melihat yang ditulis jenika. Rupanya kamu sudah tahu harus mendukung siapa ya. Gumam Saga pada adik-adiknya. " Baik tuan muda." " Apa orang tua Daniah sudah minta maaf." Beralih pada masalah lain. " Belum tuan muda, mereka sudah bersikap baik, tapi saya rasa nona muda juga hanya berdikir mereka baik karena ada anda di sana." " Pastikan mereka minta maaf dengan benar pada Daniah. aku lapar, ayo kita makan." " Baik tuan muda." Para pekerja di gedung Antarna Group masih bergeliat dengan pekerjaannya. BERSAMBUNG Chapter 82 Berapa kali? Camilan di depan mereka sudah kandas, berpindah tempat. Minuman juga sudah habis. Sofia mengumpulkan semua sampah bekas pembungkus lalu membawanya ke tempat pembuangan sampah. Sementara jenika membersihkan meja yang mereka pakai dengan tisyu. Adiknya merengut saat dia menyerahkan tisyu yang habis ia pakai lap meja. Tapi tidak bisa protes akhirnya kembali berjalan menuju tempat sampah. ¡° Kakak ipar ayo kita nonton.¡± Setelah membereskan tempat mereka duduk. ¡° Nonton? Tapi.¡± Daniah melihat jam di hpnya inikan sudah hampir petang pikirnya. ¡° Kitakan harus pulang Jen, bagaimana kalau tuan Saga pulang makan malam di rumah. Habis aku nanti kalau tidak menyambutnya.¡± ¡° Coba kakak ipar tanya sama sekertaris Han, hari ini Kak Saga makan malam di rumah tidak. Aku ingin nonton film, ada film baru, yang main model kece yang aku suka.¡± Jenika menarik tangan adiknya. ¡° Dia tampan ya. Aaa, tapi sudah punya pacar.¡± ¡° Coba lihat ini kak, manis ya. Gimana kalau kita minta kenalin sama kak Arya.¡± Dua orang gadis itu sedang bergosip ria. Lupa deh, kalau mereka sudah punya pacar masing-masing. Sementara Daniah mulai mengetikan pesan bertanya pada sekertaris Han. Sebenarnya dia sendiri juga tidak rela untuk pulang. Dia masih ingin bermain bersama Jen dan Sofi, dia lupa kalau tadi dia merasa terpaksa dan kelelahan pergi dengan mereka. Sekarang yang dia rasa adalah tawa dan bahagia. ¡° Sekertaris Han, apa tuan Saga akan makan malam di rumah?¡± ¡° Tidak nona.¡± Jawaban singkat padat dan jelas. Dan cepat sekali membalasnya. Daniah berbinar senang, dia sudah akan menyelesaikan pesannya tapi kembali berfikir. Aku harus minta izin tidak ya? Baiklah, pemberitahuan saja. ¡° Saya sedang bersama Jen dan Sofia. Kami akan pulang malam, Jen ingin menonton film.¡± Terkirim. ¡° Baik nona, selamat bersenang-senang.¡± Jawaban secepat kilat. Baiklah bereskan, dia sudah bilang begini artinya aku bisa pulang sepuasku bermain nanti tapa kuwatir. Tring, pesan masuk lagi. ¡° Bisa kirimkan foto anda bersama nona jenika dan nona Sofia.¡± ¡° Kenapa? Anda tidak percaya saya?¡± Sekarang giliran Daniah membalas secepat kilat. ¡° Tuan muda yang memintanya.¡± Duarr, lagi-lagi cuma bisa mengepalkan tangan geram. Dia selalu memakai cara licik untuk membungkam mulut Daniah. Sepertinya sekertaris Han faham sekali kelemahan Daniah dalam point ini. Kenapa aku selalu berfikir aku sedang berkirim pesan dengan tuan Saga kalau begini si. Baiklah, Cuma foto bukti kalau aku sedang bertigakan. ¡° Jen, kirimkan foto yang kita ambil tadi ke nomorku.¡± Padahal ya, merekakan belum bertukar nomor. ¡° kenapa?¡± mendongakan kepala, belum selesai membahas cowok tampan di hpnya dengan Sofia. ¡° Aku belum simpan nonor kakak ipar jugakan?¡± ¡° Tuan Saga minta aku mengirimkan foto kalau aku sedang bersama kalian. Aku mau kirim foto yang tadi saja.¡± Daniah menyerahkan hpnya, meminta Jenika memasukan nomornya. Jenika menurut saja. ¡° hei, kakak ipar ini bilang apa.¡± Merebut hp Daniah lagi setelah dia selesai menyimpan nomornya. ¡° Kakak ipar harus mengambil foto baru dari hp ini, kakak ipar yang pegang hpnya sekarang.¡± Menyerahkan hp ke tangan Daniah. Lalu dia menarik Sofi untuk mencari posisi foto terkece. ¡° Memang kenapa? Sama ajakan sama foto kamu tadi.¡± Toh yang dia minta Cuma bukti kalau dia benar-benar sedang bertiga bersama adik-adiknya. Begitu yang dipikirkan Daniah. ¡° Ishh, kakak ipar ini benar-benar tidak tahu apa-apa ya. Kak Saga pasti sudah melihat foto yang aku posting tadi. Kalau kakak ipar juga mengirim foto itu dia bisa jadi kesalkan, kenapa, karena dia dianggap tidak spesial.¡± Menjelaskan lagi hal yang di rasa Daniah tidak masuk akal. Tapi dia jadi mendapatkan info baru. Ternyata Saga benar-benar sensitif sampai memperhatikan hal detail semacam ini. ¡° Jadi tuan Saga juga mengawasi kalian.¡± Mengeleng tidak percaya. Lebih tidak percaya lagi karena dua anak di depannya ini baik-baik saja. ¡° bukan mengawasi kami kakak ipar, tapi itu wujud kasih sayang kak Saga untuk melindungi kami.¡± Sofia menjelaskan. ¡° idih, kalian pengertian sekali.¡± Daniah mengeryit tidak bisa menerima cara berfikir kedua adik iparnya. Akhirnya mereka mengambil foto baru dengan menggunakan hp milik Daniah. Beberapa pose, sudah cukuplah. ¡° Kakak ipar edit dulu kasih love sama kecupan, baru dikirim.¡± Kalian ini kenapa si, kami itu bukan pasangan suami istri yang saling mencintai tahu. Sudah asal kirim saja. Daniah memilih foto yang paling bagus menurutnya, lalu terkirim. Selesaikan, begitu pikirnya. Urusan perizinan selesai. Sekertaris Han juga tidak membalas pesannya lagi. Mobil melaju menuju mall ternama milik Antarna Group. Hari ini mereka akan menonton film pilihan jenika. ¡° Kakak ipar kita buat grup chat yuk.¡± Jen bicara sambil mengemudikan kendaraaan. ¡° idih, gak mau. Memang kita seakrab itu.¡± Daniah menyandarkan kepala, menatap hpnya. ¡° Jahat, kok gitu si. Kakak ipar, ayo kita mengakrabkan diri donk, kakak ipar adalah wanita yang dicintai kakakku, jadi kedepannya aku akan membela kakak ipar.¡± Ya, ini juga untuk membuat hidupku jadi lebih muda juga. Jenika menyeringai. ¡° Jangan aneh-anen deh, siapa yang mencintai siapa.¡± Pembicaraan mereka terhenti saat mobil sudah memasuki area parkir. Sudah mulai gelap menuju malam. ¡° Kita makan dulu aja ya.¡± Jenika menarik tangan adik dan kakak iparnya menju food court mall. ¡° Mau makan apa?¡± ¡° Kita makan nasi yuk, tadi siang aku gak makan nasi soalnya.¡± Daniah memilih menu. Dia juga merasa perutnya lapar. ¡° Boleh-boleh¡± Mereka sudah menghadapi mangkok berisi makanan pilihan masing-masing. Segelas minuman juga sudah mendampingi. Bersiap menyantap hidangan makan malam ¡° Ayo makan.¡± Ucap mereka bersamaan, lalu tertawa. Suapan pertama juga bersamaaan. ¡° kakak ipar!¡± Jenika memanggil, dia masih mengunyah dan tidak menghentikan makannya. ¡° Iya.¡± Dijawab sekenanya, masih fokus makan juga. ¡° Apa benar kakak ipar tidak mencintai kak Saga?¡± Deg, kenapa menanyakan hal begini secara terbuka si. Aku harus menjawab apa coba. Terang-terangan mengatakan tidak mencintai juga tidak mungkinkan. ¡° Padahal kak Saga mencintai kakak ipar.¡± Sofi mengantikan jenika bicara. Seperti tahu sekali bagaimana perasaan kakak laki-lakinya. Ya, mereka tahu, karena mereka mengenal bagaimana Saga selama ini hidup. Hei, kenapa kalian rasanya memojokanku begini. Seperti berkata, kenapa kakak ipar tidak mencintai kakakku yang sempurna itu. Apa kekurangannya. ¡° Kalian pasti salah. Aku dan tuan Saga menikah karena ada alasan tertentu.¡± Akhirnya menjawab begitu. Tapi Daniah akan mencukupkan jawaban sampai di sini saja. Dia tidak mau membeberkan alasannya menikah dengan tuan Saga. Baik itu tentang pelunasan hutang atau tentang alasan sebenarnya perihal Helena. ¡° Apa?¡± Jenika bicara lagi. ¡° Kalian tidak akan paham.¡± Menolak secara harus untuk bercerita. ¡° Apa alasan kak Saga yang memilih kakak ipar untuk membalas kak Helen.¡± Jenika bicara santai sambil mengunyah. ¡° Lho kalian kok tahu.¡± Daniah terkejut, apa selama ini cuma dia yang tidak tahu. Dan menggangap alasan itu perlu dirahasiakan. ¡° Ya ampun kakak ipar, jadi karena itu kakak ipar sampai berfikir kalau kak Saga tidak mencintai kakak ipar.¡± Nada bicara Jenika sudah seperti mengvonis kalau Daniah itu wanita paling bodoh di dunia. Daniah terdiam. Tapi memang itu alasannyakan. Saat ini tuan Saga hanya sedang galau dan bimbang. Tapi kalau dia sudah bisa menata hatinya, dia pasti akan kembali pada cintanya lagi. Bukankah memang seperti itu cinta, dia akan kembali pada tempatnya. ¡° Baiklah, ayo habiskan makanan kita dulu. Sepertinya aku perlu membuka kuliah khusus untuk kakak ipar. Selain wajah pas-pasan, ternyata kakak ipar juga tidak pintar, tidak peka, lugu, polos yang cenderung bodoh ya.¡± ¡° Hei Jen, itu kurang ajar namanya.¡± Daniah jelas sewot mendengarnya. Jenika tertawa, tapi dia tidak minta maaf. Akhirnya tidak jadi nonton film. Mereka malah pergi ke cafe. Jenika dan Sofia memesan kopi sementara Daniah lebih memilih minum air putih dingin. Dia sudah kekenyangan tadi. ¡° Baiklah, kita mulai pelajaran pertama kita kakak ipar. Apa sudah siap.¡± ¡° Ia, ia, jangan kebanyakan drama, kamu mau bilang apa sebenarnya.¡± Daniah mengalah dan mengikuti mau adik iparnya. ¡° Setelah malam pertama sudah berapa kali kakak ipar tidur dengan Kak Saga?¡± lagi-lagi bicara tanpa sensor. Wajah Daniah langsung memerah malu. Bayangan dekapan saga menghantui kepalanya lagi. ¡° Jangan bertanya yang aneh-aneh.¡± Menghabiskan hampir separuh botol minumannaya. ¡° Sekali.¡± Daniah menjawab dengan mengelengkan kepala pelan. ¡° Tiga kali.¡± Daniah mengeleng lagi. ¡° Sepuluh kali.¡± Kali ini Jenika yang mulai menggebu. Dia mengebrak meja. Bukan hanya membuat Daniah yang terkejut, orang di meja tidak jauh dari mereka juga sama. ¡° Jadi berapa kali kalian sudah tidur bersama?¡± berteriak kesal. BERSAMBUNG Chapter 83 Melindungi diri Daniah mendukan kepala malu saat melirik meja yang lain, mereka ada yang tertawa tapi tidak lama sudah tidak perduli lagi. Fokus dengan lawan bicara mereka masing-masing. ¡° Gila ya! Pelankan suaramu jen. Aku juga gak tahu sudah berapa kali, memang aku iseng menghitungnya.¡± Daniah menundukan kepalanya malu, mendengar omongannya sendiri. Aku malu untuk mengatakannya, kalau hampir setiap malam. ¡° Jadi, sudah sampai sejauh itu. tapi kakak ipar masih mengatakan kalau tidak menyukai kak Saga.¡± Kata-kata Jenika kenapa seperti sedang menghujam dadaku ya, benar, bagaimana perasaanku pada tuan Saga ya. Apa aku benar-benar tidak menyukainya. Apa aku tidak menikmati sentuhan lembut saat dia menciumku. Walaupun dia kasar, tapi anehnya dia memang selalu memperlakukanku lembut di tempat tidur. ¡° Aku hanya ingin melindungi diriku Jen.¡± Daniah mengangkat kepalanya, dan menatap Jenika dan Sofia bergantian. ¡° aku hanya tidak ingin terluka lebih dalam kalau sampai aku menyimpan perasaan pada tuan Saga. Aku menikah karena alasan apa aku sudah tahu itu. Tuan Saga punya wanita yang dicintainya aku juga tahu itu. Jadi aku hanya melindungiku diriku, kalau nanti tuan Saga membuangku. Aku tidak akan terlalu sakit. Berbeda kalau aku menyukainnyakan, tidak tahu akan sesakit apa hatiku nanti.¡± Jenika dan Sofia mendekati Daniah. Menepuk pundaknya. Bodoh! Memang siapa yang mau membuangmu kakak ipar. Kalaupun kamu ingin kabur sekarang, kak Saga tidak akan pernah melepaskanmu. ¡° Ternyata kakak ipar ini benar-benar bodoh ya.¡± Jenika masih menepuk bahu kanan Daniah. ¡° Kak Jen, jangan menghina kakak ipar terus donk. Kakak ipar memang bodoh tapi jangan dibilangin keras-keras juga.¡± Sofia protes. Sambil menepuk bahu kiri Daniah. Kalian itu sama aja tahu! Sama-sama mengataiku bodoh. ¡° Memang kakak ipar tidak berdebar-debar apa kalau sedang bersama kak Saga. Kalau sedang menyentuh dada bidang dan putihnya kak Saga. Kalau kalian sedang berciuman memang gak kerasa apa-apa gitu.¡± Jen dan Sofi sudah berhenti menepuk bahu, sekarang mengeser duduk lagi. ¡° Apa si, aku sampai gak bisa bernafas karena rasanya dadaku ingin meledak.¡± Lagi-lagi malu yang ada. Kenapa dua orang ini bisa membahas masalah begini dengan riang si. Daniah cemberut sendiri. Ternyata kakak iparku ini benar-benar bodoh ya, bahkan tubuhnya jauh lebih pintar bereaksi daripada hatinya. ¡° Kak Saga itu mencintai kakak ipar tahu, kalau tidak kenapa dia tidur dengan kakak ipar. Hemm, sampai sudah tidak terhitung lagi jumlahnya berapa kalinya.¡± Jenika tertawa menyeringai membuat lagi-lagi wajah Daniah merah padam. ¡° Memang kakak ipar pikir, kalau laki-laki tidak menyukai perempuan dia bisa tidur sampai berkali-laki begitu.¡± Menghujamkan kalimat keras, biar telak menghantam kebodohan kakak iparnya. ¡° Diakan senang menyiksaku saja.¡± Daniah menjawab. ¡° Kakak ipar ini bodoh atau apa si. Hiii gemes sekali aku jadinya.¡± Mencubit pipi Daniah. Gadis itu menepis tangan jenika sebal. Sakit tahu begitu katanya. ¡° Kakak ipar itu wanita pertama dan satu-satunya yang tidur dengan kak Saga! Catat itu diotak kakak ipar ya. Artinya apa, ya memang kakak ipar yang diinginkan kakakku. Bukan kak Helen atau siapapun, dia memang mau kakak ipar, dia suka sama kakak ipar. Dia mencintai kakak ipar.¡± Jen kembali berapi-api, Sofia di samping juga ikutan menyemangati. Apa! Cinta, tuan Saga. Padaku. Tuan Saga mencintaiku. Yang benar saja. Bayangan buram melintas seperti film berputar dikepala Daniah. ¡° Bersiaplah aku akan mencabik-cabikmu.¡± ¡° Habis kamu! Berani membantahku.¡± ¡° Apa! Berani memelototiku!¡± ¡° Gosok punggungku dengan benar, apa kamu tidak diberi makan.¡± ¡° Beraninya kau!¡± ¡° Tidak mau tidur denganku, pergilah. Akan kuhancurkan keluargamu tanpa sisa.¡± ¡° Kau harus membayar dengan tubuhmu donk, itu baru setimpal.¡± ¡° Mau mati ya!¡± Daniah mengaruk meja dengan kukunya. Ia menangis dalam hati. Itu darimananya yang disebut cinta si. Hiks, hiks. Memang ada orang yang mengatakan hal begituan pada orang yang di cintainya. Ya, tuan Saga tidur denganku hanya karena aku istrinya. Wanita yang sudah dia beli dan dia beri makan. Pasti dia hanya berfikir begitu, kenapa aku menyia-yiakan apa yang ada di sampingku. Pasti begitukan alasan sebenarnya. ¡° kakak ipar! Kakak ipar!¡± Jenika mengoyangkan tubuh Daniah, membuatnya tersadar dari lamunan. ¡° Sekarang pahamkan.¡± ¡° Apa?¡± ¡° Bagaimana si, pahamkan kalau kak Saga itu sudah jatuh cinta sama kakak ipar.¡± ¡° Sudahlah, ia, ia. Aku paham.¡± Walaupun tetap tidak bisa menerima sedikitpun penjelasan Jenika. Malam semakin larut, merekapun memutuskan pulang. Dalam perjalanan malam, lampu jalan bersinar terang. Daniah menatap kaca mobil nanar. Jenika fokus mengemudi. Sofia ambruk tiduran di kursi belakang sambil bermain dengan hpnya. Tuan Saga menyukaiku, Hei Daniah jangan bermimpi. Tetap jaga jarak sejauh mungkin hatimu. Kau tidak mau terluka nantikan. Malam semakin larut, sekali lagi Daniah berhasil meyakinkan hatinya, untuk tidak boleh jatuh hati atau bersimpati pada Tuan Saga. Kendaraan menepi di depan pintu rumah utama. Saga keluar setelah Han membukakan pintu. Pak Mun sudah berdiri di dekat mobil. ¡° Pulang dan istirahatlah.¡± Han mengangukan kepala. ¡° Selamat istirahat tuan muda.¡± Dia menunggu sampai Saga dan Pak Mun masuk ke dalam rumah, lalu kembali masuk ke dalam mobil. Keluar dari gerbang utama. Sekarang, Saga sudah duduk dan memakai sandal rumahnya. ¡° Jam berapa Daniah kembali? Apa dia sudah tidur sekarang.¡± Pak Mun memberikan penjelasan. ¡° Nona kembali jam sepuluh tuan muda, langsung masuk ke kamar. Nona jenika dan Nona Sofia juga.¡± ¡° Baiklah.¡± Saga sudah mau bangun. Tapi tertahan karena pak Mun mengatakan sesuatu lagi. ¡° Maafkan saya tuan muda, tadi saya membiarkan nona Jenika membawa nona muda.¡± ¡° Setelah pulang apa mereka bertengkar?¡± Saga bertanya. ¡° Tidak tuan muda. Semuanya terlihat sangat senang. Nona muda juga tertawa senang.¡± Jawaban Pak Mun sudah membuat Saga puas. ¡° Baiklah, untung kamu tidak menahan Jen membawa Daniah. Mulai sekarang biarkan Jen dan Sofia dekat dengan Daniah. Mereka sepertinya sudah mulai paham siapa kakak iparnya sekarang.¡± ¡° Baik tuan muda. Dan juga tadi Nyonya kedatangan nona Helena.¡± Saga hanya terdiam, sepertinya tidak tertarik. ¡° Mereka pergi mengobrol di kamar, jadi saya tidak tahu apa yang dibicarakan.¡± Merasa bersalah dengan ketidakmampuannya. ¡° Sudahlah, biarkan ibu melakukan apa yang dia mau. Cukup awasi saja dia. Tidak perlu mengantarku, pergi istirahatlah.¡± Mencegah Pak Mun yang sudah berjalan mengikuti. ¡° Baik tuam muda. Selamat malam, selamat istirahat.¡± Pak Mun hanya mengantarkan Saga sampai ke ke tangga. Lalu dia pergi mematikan beberapa lampu, lalu berjalan kekamarnya. Untuk istirahat. Hari ini pekerjaannya sudah cukup berat. Sementara Saga masuk ke dalam kamar dengan perlahan. Dalam keremangan cahaya lampu dia melihat Daniah yang terbaring lelep di atas tempat tidur. Dia tidak mendekati tempat tidur. Dia masuk ke kamar mandi. Selang tidak lama sudah terlihat segar, sambil mengeringkan rambut sebentar. Dia melemparkan handuk kecilnya ke atas meja. Kau pasti kelelahan karena bersenang-senangkan. Saga menyibakan selimut, mendapati Daniah dalam balutan baju tidurnya. Wajahnya tersenyum tipis. Dia naik ke atas tempat tidur. Kau yang menggodaku dengan baju tidur itu ya. Jangan salahkan aku. Sentuhan lembut di bibir, dan leher. Daniah mengeliat. Saga menghentikan aktivitasnya sementara. Pura-pura terdiam berbaring. Daniah kembali terdiam, hanya kecapan yang terdengar dan hembusan nafasnya pelan. Saga tergelak tanpa mengeluarkan suara. Imut sekali, dia bahkan tidak bangun. Saga menarik selimut menghempaskannya ke ujung tempat tidur. Ternyata Han menganti model baju tidurmu berguna juga ya. Saga menikmati semua bagian tubuh istrinya, lekukan leher, bibir, telinga hingga membenamkan wajah ke dada Daniah, dia makan waktu jauh lebih lama dibagian itu. Beberapa kecupan meninggalkan bekas merah, terdengar Daniah mengeliat tapi dia sama sekali tidak terbangun. Membuat Saga tidak menghentikan apa yang dia lakukan. Daniah jatuh ke dalam mimpi yang akan membuatnya malu esok hari. Malam semakin larut, setelah meninggalkan satu kecupan merah di atas dada gadis itu, dia terbaring di sampingnya. Memeluk istrinya erat, menempelkan bibirnya di bahu Daniah. Sampai dia sendiri jatuh ke dalam mimpi yang indah. BERSAMBUNG Chapter 84 Aku mau kau mencintaiku Cuaca pagi yang hangat, matahari masih malu-malu menampakan diri. Akhir-akhir ini cuaca memang cenderung cerah. Hujan masih jarang turun membasahi bumi. Setiap orang bersemangat untuk menyambut pagi. Tapi sepertinya tidak dengan seseorang. Daniah duduk di ruang ganti baju. Diam berfikir dalam. Bengong. Wajahnya sedikit memerah, dia menundukan kepala malu. Merasa di gerogoti dari dalam. Padahal dia sendiri menyadari bahwa tidak ada yang tahu, karena ini mimpinya sendiri. Tapi ntah kenapa dia merasa sangat malu. Apa yang ada di kepalaku si, kenapa aku sampai bermimpi mesum. Aku mimpi tuan Saga menciumiku. Dan sepertinya, kenapa aku menikmati. Dasar tidak tahu diri. Apa ini efek pembicaraanku dengan jen kemarin sampai terbawa mimpi segala. Daniah memaki dirinya sendiri, kesal karena merasa tidak berdaya. Kata-kata jen kemarin kembali terlintas dipikirannya, menghantui dan berlarian mengejar. Bunyi pintu kamar mandi terbuka membuat Daniah berdiri terkejut. Sejenak pikirannya mengenai mimpinya semalam buyar. Saga keluar dari kamar mandi hanya memakai handuk yang melingkar di pinggangnya, dia sedang mengeringkan rambut. Sambil mengibaskannya. Kenapa dia terlihat tampan begitu... ¡°Memang kakak ipar tidak berdebar-debar apa kalau sedang bersama kak Saga. Kalau sedang menyentuh dada bidang dan putihnya kak Saga¡± Glek, Daniah menelan ludah sendiri. ¡° Sudah puas melihatnya?¡± Daniah terperanjak karena Saga sudah berdiri di depannya. Dia mengibaskan rambutnya lagi. ¡° Kenapa? Kau mau menyentuhnya.¡± Saga menyentuh dadanya yang terbuka. ¡° Liurmu sudah mau menetes tuh.¡± Daniah refleks langsung mengelap mulutnya. Saga tergelak. ¡° Kemarilah!¡± Daniah malam membeku. Dia tidak berani mendekat sedikitpun. Kalau sampai selangkah saja dia maju, dia sadar pagi ini tidak akan terlewat semudah itu. ¡° Aku mengizinkanmu menyentuhnya.¡± Saga menepuk dadanya beberapa kali, sambil tersenyum tipis. ¡° Tidak sayang, saya tidak apa-apa. Saya keluar dulu, silahkan ganti baju.¡± Kaki Saga sudah menghadang langkah Daniah. Membuat Daniah berhenti melangkah dan tidak bisa bergerak lagi. Bibirnya sedikit merengut. Dia paham, bahwa pagi ini tidak bisa keluar kamar semudah biasanya. Tai saat matanya menatap tubuh terbuka Saga, wajahnya memerah dengan sendirinya. ¡° Kenapa wajahmu semerah itu, apa yang kamu pikirkan. Jangan-jangan kamu sedang berfikir hal mesum ya.¡± Tambah merah muka Daniah karena Saga berkata seperti itu. Dia menutup wajahnya. Mimpinya semalam kembali terlintas nyata di kepalanya. ¡° Tidak sayang, saya hanya bermimpi.¡± Menutup mulutnya sendiri. Menyesali kalimat yang keluar dari mulutnya barusan. Ia merasa geli sekaligus malu teramat sangat. ¡° Mimpi, jadi kamu mimpi mesum ya.¡± Tertawa. Padahal dia jelas sedang merasa sangat senang sekarang. Haha, jadi dia setengah sadar dan menggangap yang semalam itu mimpi ya. ¡° Kemarilah.¡± Saga menarik tangan Daniah yang sudah berdiri di depannya. Dia meletakan tangan itu di dadanya. ¡° Bagaimana kau suka?¡± Kumohon biarkan aku tengelam di dasar bumi saja, ini terlalu memalukan. Daniah menjerit dalam hati, dia bahkan tidak mau menatap Saga karena perasaan malu. ¡° Beri tanda di sini!¡± Saga menunjuk dadanya. ¡° Apa!¡± Apa dia sudah gila! Maksudnya kecupan yang sering dia berikan padakukan. Stempel kepemilikan. ¡° Kau boleh menciumku, itu yang kamu inginkankan dari tadikan?¡± Masih memegang tangan Daniah yang menempel di dadanya. Dia mencubit tangan itu karena Daniah tidak bereaksi. ¡° Aku mendengarmu menelan ludah saat menatapku lho.¡± ¡° Ti, tidak sayang.¡± Aku harus segera keluar dari ruang baju. ¡° Tidak!¡± sudah terdengar nada tidak suka. Saga sudah mencengkram Dagu Daniah. ¡° Benar, tidak mau menciumku.¡± Sorot matanyanya mengatakan, kalau kau pergi tanpa menciumku lihat apa yang aku lakukan padamu nanti. Cih, begini yang katanya jen kalau kakaknya mencintaiku. ¡° Ia sayang, ia saya mau.¡± Tidak punya pilihan lain lagi. Daniah menjinjit, memberi kecupan keras di dada Saga. Laki-laki itu tergelak, melihat usaha Daniah. Yang mencium dengan kaku. Dia menunjuk leher kirinya. Mengetuknya beberapa kali. Agar Daniah melakukan hal yang sama di sana. Apa! Dia mau lagi. Satu kecupan lagi membekas. Saga menunjuk bagian yang lain lagi. Tidak sanggup menunjukan reaksi kesal. Dia memberi satu kecupan merah lagi di leher bagian kanan yang dia tunjuk dengan jarinya. Setelah tiga tanda merah sepertinya Saga sudah merasa cukup. Dia melepaskan tangan yang melingkar memeluk Daniah. ¡° Kau senang sekarang?¡± Padahal jelas-jelas dia yang berwajah puas, masih saja menjahili istrinya dengan kata-katanya. ¡° Haha, ia saya senang sekali.¡± Kenapa kau pintar sekali membalikan fakta begini! ¡° Keluar sana, aku mau ganti baju.¡± Mengusir, setelah mendapatkan apa yang dia inginkan. Dia tersenyum tipis saat mendengar jawaban Daniah. Suara dia sudah tertahan karena kesal dan malu. ¡° Baik sayang.¡± Pergi meninggalkan Saga tanpa menoleh lagi. Di belakangnya Saga tergelak, Dia menyusuri tubuhnya sendiri dalam pantulan kaca, melihat tanda merah yang ditingalkan Daniah. Menghitungnya. Sementara Daniah menyeret tubuhnya lunglai, baru sepagi ini, tapi dia sudah kehabisan energi. Dia mengambil sepatu Saga. Lalu ambruk di sofa sambil memeluknya. Bengong lagi. Pikirannya mengudara belarian. Apa itu yang dibilang mencintaiku! Sudah gila ya! Aku tidak akan percaya sedikitpun padamu lagi Jen. Selang tidak lama. Saga keluar dari ruang ganti, sudah bisa menguasai tawanya. Tapi masih tergelak tanpa suara ketika melihat Daniah terbaring di sofa sambil memeluk sepatu. Bengong seperti kehilangan separuh nyawa. Saat melihat Saga sudah ada di depannya Daniah refleks bangun. Dia masih memeluk sepatunya. ¡° Kenapa rambutmu bisa lucu begini?¡± Menggulung rambut saat daniah berlutut memakaikan sepatu. Dia bertanya, tapi Daniah tidak mau menjawab apa-apa. Apa! Sekarang dia bilang lucu. Kemarinkan dia bilang jelek dan kampungan. Saga menepuk sofa di sebelahnya setelah Daniah selesai, menyuruh Daniah duduk di sana. Gadis itu patuh, dia duduk menjauh. ¡° Apa yang kau lakukan kemarin bersama jen dan Sofi.¡± Mencari tahu apa yang sudah dia tahu. Tidak mungkin tuan Saga tidak tahu fikir Daniah, dia hanya ingin mengkonfirmasi. ¡° Kami pergi ke wahana permainan, dan makan malam.¡± Ceritakan saja garis besarnya. ¡° Tidak jadi menonton film.¡± Saga bertanya sambil mendekatkan wajahnya, dia mencium rambut daniah. ¡° Tidak.¡± Mengeser tubuh. Tapi sepertinya jangankan menjauh, dia malam bergerak mendekati Saga. Karena laki-laki itu menarik rambutnya. ¡° Apa yang kamu bicarakan dengan Jen dan Sofi?¡± Daniah terdiam sesaat. Memutar otak berfikir, apa yang harus dia berikan sebagai jawaban. Tidak mungkinkan obrolan unfaedahnya bersama Jen harus dia ceritakan. ¡° Kami hanya mengobrol biasa sayang.¡± Seharusnya kalimat ini berhasilkan, begitu pikir Daniah. ¡° Benarkah? Jelaskan semua, kalau kamu tidak mau, aku bisa bertanya pada Jen dan Sofi.¡± Ternyata tidak bagi Saga. Dia ingin tahu, semua, sampai detail sederhananya. Benar laki-laki ini sangat mendetail. ¡° Tapi anda jangan marah ya.¡± Menyentuh tangan Saga dan mengengamnya, agar tangan itu berhenti memainkan rambutnya. Saat Daniah berhasil menghentikan tangan tapi tidak berhasil menghentikan bibir. Saga kembali menciumi rambut Daniah. Anda kenapa si, sudah tergila-gila dengan rambut saya ya! ¡° Berani sekali kamu sekarang ya. Kalau pembicaraanmu dengan jen bisa membuatku marah, masih berani menyembunyikannya.¡± Mencium leher Daniah tiba-tiba, Gadis itu kaget tapi tubuhnya membeku. ¡° Katakan!¡± Dia ini kenapa si? ¡° Kata Jen, anda baru pertama kali tidur dengan wanita itu saat malam pertama kita.¡± Membuang muka kearah yang berlawanan dengan wajah Saga. Habislah aku, sudah bergosip. ¡° Jen mengatakan begitu? Apa dia juga bilang kalau aku mencintaimu.¡± Lagi-lagi mengatakan seringan dia tersenyum. Padahal kata-katanya yang barusan seharusnya syarat akan makna. Eh, bagaimana dia bisa tahu. Tunggu, dia tidak memasang alat penyadap dalam tubuhkukan. Saat lagi lagi Saga menyentuh rambut Daniah, gadis itu menjawab cepat.¡° I, ia.¡± ¡° Dan kamu percaya?¡± Tangan dan jemari Saga yang lembut menyusuri garis wajah Daniah, menempel pada bibir mungil yang merona merah itu. Dia menghentikan tangannya menunggu jawabaan Daniah. ¡° Tidak sayang, saya rasa Jen pasti hanya bercanda .¡± ¡° Baguslah!¡± Saga mendorong tubuh Daniah sampai dia ambruk di sofa, laki-laki itu mengendurkan dasi yang baru dia pakai. Lalu menarik dan melemparkannya sembarangan. Daniah sudah merasa gelagat mencurigakan. Mau apa dia? Apa dia marah karena kata-kata Jen. Kenapa melampiaskan padaku! ¡° Sayang, anda mau bekerjakan. Sekertaris Han juga pasti sudah sampai.¡± ¡° Kenapa? Bukankah ini yang kamu inginkan semalam. Kamu sampai bermimpi mesumkan. Aku hanya mewujudkan apa yang kamu impikan. seharusnya kamu berterimakasih padaku.¡± Saga menarik baju Daniah dengan kasar, dan membuangnya, terongok di bawah kursi. ¡° Apa kau mau aku mencintaimu?¡± menciumu bagian Dada Daniah. Meninggalkan kecupan merah di samping yang ia berikan semalam. ¡° Saya tidak berani berharap sayang, andakan sudah mencintai wanita lain.¡± Terbata menjawab. Daniah sudah memalingkan wajahnya. ¡° Tapi aku mau kau mencintaiku.¡± Kata-kata Saga menancap di dada Daniah. ¡° Apa!¡± Ada apa dengannya. Kenapa dia mau aku mencintainya. ¡°Aku mau kau mencintaiku. Katakan kau mencintaiku.¡± Tidak mau! Saga mengigit bibir Daniah saat gadis itu hanya diam memalingkan wajah sambil menggigit bibirnya, memaksanya untuk mengatakan. ¡° Saya mencintai anda.¡± Pasrah Sampai Saga menyelesaikan urusannya, bibir Daniah beberapa kali lirih mengatakannya. ¡° Saya mencintaimu sayang.¡± Pak mun menuruni tangga, sendirian. Ibu dan kedua anaknya berfikir heran kenapa dia turun sendiri. Sebelum mereka bertanya Pak Mun sudah berjalan mendekati sekertaris Han yang sedang duduk sambil menikmati segelas jus buah dan roti isi. ¡° Kenapa?¡± Han mendongak dari pekerjaannya. ¡° Sepertinya tuan muda baru akan turun satu jam lagi.¡± Apa! Padahal pagi ini ada pertemuan. Han mengeram kesal sendiri. Dia mengusir pak Mun dengan tangannya. Laki-laki itu paham dan meninggalkannya. Menemui ketiga wanita yang sedang ada di meja makan. Untuk memulai sarapan terlebih dahulu. ¡° Gila, kakak ipar luar biasa.¡± Jen tertawa karena tahu sedang terjadi apa di lantai atas. Sofi yang masih berjiwa agak polos meminta penjelasan. Jen hanya terbahak membalasnya. Sementara ibu menatap tangga dengan kesal. Sekertaris Han menghabiskan sarapannya, lalu membawa laptopnya menuju ruangan kerja Saga. Dia menelfon sebelum masuk. ¡° Mundurkan semua jadwal tuan Saga sampai dua jam kedepan.¡± BERSAMBUNG..................... Chapter 85 Usaha Helena (Part 1) Siang ini, semua agenda berjalan dengan baik. Walaupun harus mundur dua jam dari jadwal yang ada. Kalau sudah seperti ini bisa di bilang Han yang bisa bernafas lebih lega. Dia bisa menyimpaan banyak tenaganya. Efek keberadaan nona Daniah ternyata sangat berpengaruh besar pada mood tuan muda. Sepanjang hari ini dia bahkan masih terlihat senang. Kesalahan CEO Defika bahkan bisa dia maafkan. Padahal CEO perempuan itu jelas-jelas sudah ketakutan. Dan siap menerima hukuman apapun yang diberikan padanya. ¡° Han.¡± Saga menutup berkas laporan yang baru saja selesai dia tanda tangani. Proyek Antarna Group tahun ini, danau hijau. ¡° Ia tuan muda.¡± Han bangun dari duduk dan lamunannya, menghampiri meja kerja Saga. Dia menerima berkas yang sudah selesai di periksa Saga. ¡° Apa anda tidak mau datang di peresmian.¡± Menebak setelah menerima berkas laporan dan membacanya. ¡° kenapa? Apa kamu juga berfikir aku belum move on.¡± Menyandarkan kepala, tapi menatap kesal. ¡° Tidak tuan muda. Saya hanya tidak mau anda merasa tidak nyaman.¡± ¡° Danau hijau akan jadi tempat pengabdian Antarna Group pada kota ini. Anggap itu saja, tidak ada cerita apapun dibalik itu semua. Aku tidak mau ada artikel apapun tentang ele setelah peresmian danau hijau. Fokus hanya pada Antarna Group.¡± Seharusnya seperti ini saja, awalnya dia memang akan menjadikan tempat itu sebagai tempat bersejarah pernikahannya. Tapi sekarang, tempat itu akan menjadi wisata kota gratis untuk masarakat umum. ¡° Baik tuan muda.¡± Ketukan pintu mengalihkan pandangan Han. Dia mengganguk sekilas pada Saga, lalu berjalan membukakan pintu. Staff sekertarisnya sudah berdiri di depan pintu. ¡° kenapa?¡± Tanyanya. ¡° Maaf tuan. Nyonya datang dan ingin bertemu dengan tuan Saga. Dan...¡± dia tidak melanjutkan kalimatnya. Lihat, dia sudah tangan karena ingat kejadian beberapa waktu lalu. ¡° kenapa?¡± ¡° Bersama nona Daniah.¡± ¡° Persilahkan mereka masuk.¡± Staff sekertaris itu menganguk, setelah Han berbalik dia menutup pintu tanpa bersuara. Bernafas lega. Selang tidak lama dia menunggu di depan lif muncul nyonya besar, ibu dari presdir dan juga wanita itu. Wanita yang sudah membuatnya kehilangan separuh uang gaji. Dia menggangukan kepalanya sopan. ¡° Silahkan nyonya, tuan Saga mempersilahkan untuk masuk.¡± ¡° Aku hanya ingin bertemu dengan anakku kenapa kalian mempersulit seperti ini.¡± Hardiknya marah. Staff sekertaris itu hanya menunduk dalam tidak menjawab. Lebih baik melihat anda yang marah daripada tuan Saga yang marahkan. Sungguh melelahkan hidupku. Hiks, tapi aku akan berjuang untuk hidup seperti ini sampai akhir. Demi gaji yang besar. Dia mengikuti langkah kaki nyonya dan Helena, mengetuk pintu, lalu mempersilakan mereka masuk. Setelahnya kembali menutup pintu tanpa bersuara. Tidak tahu dan tidak penasaran untuk tahu juga, akan ada kejadian apa di ruangan presdir. Han mengangukan kepala sembari menarik kursi di depan meja kerja Saga. Mempersilahkan kedua tamu tidak di undang untuk duduk. Dia melirik tajam Helena, gadis itu masih tidak tahu malu juga menatapnya dengan sorot mata sebal. Setelah kedua orang itu duduk, dia tetap berdiri di dekat meja. Ibu menoleh pada sekertaris Han, mengusir lewat pandangannya. Tapi tentunya, sekertaris Han tidak mau terlalu peka kalau urusannya bukan dengan majikannya. Jadi dia tetap berdiri tidak bergeming. ¡° Jangan perdulikan Han. Kenapa ibu kemari tanpa pemberitahuan?¡± Saga seperti tahu ketidaknyaman ibu. Tapi dia tidak perduli. Dia bahkan tidak melirik Helena yang duduk di samping ibunya. Wanita itu yang sedari tadi ingin tersenyum hanya bisa memegang kursi erat. Kecewa. ¡° Saga, ada yang mau ibu bicarakan. Ini mengenai Daniah.¡± Di tempat duduknya, airmuka Saga berubah. Ada indikasi tidak senang dengan pembicaraan ibunya barusan. Apalagi saat ini Ele sedang duduk di hadapannya. Rencana apa yang sedang dibuat wanita ini pikirnya. Dia tahu, ini mungkin ide Ele. ¡° Daniah bukan gadis yang baik dan pantas untukmu Saga.¡± Ibu langsung pada poin utamanya, tidak mau berbasa-basi lagi. Selama ini kesabaarannya menunggu sepertinya sia-sia. Karena sepertinya Daniah berhasil menjerat putranya. Ibu menerima hp yang diambil Helena dari tasnya. ¡°Lihatlah, dia bahkan menemui laki-laki lain di belakangmu.¡± Han bereaksi, tidak mungkin begitu arti sorot mataanya. Tidak mungkin dia sampai kecolongan begini. Dan dia tahu, bahwa Daniah tidak akan seberani itu bertindak di luar batas. Dia hanya berani bicara. Tapi tidak akan punya keberanian merealisasikannya. Tapi foto yang dibawa Helena, seketika membuatnya kesal. Apa dia sudah kehilangan kemampuannya untuk membuat semua yang ada di sekeliling tuan Saga berjalan dengan semestinya. Han yang menerima hp di tangan ibu, wanita itu terlihat kesal. Dia terlihat ingin mempertahankan alat bukti yang ia miliki, tapi karena sorot mata Han dan diamnya putranya dengan tidakan sekertarisnya itu akhirnya dia melepaskan tanganya. Hp sudah berpindah tangan. Senyum tipis muncul, saat Han melihat foto dan terdengar ia bernafas lega. Dengan tangan kanan dia menyerahkan hp ketangan kiri Saga. Sekarang giliran Saga yang tergelak, dia bersandar di kursinya. Ibu dan Helen terkejut dengan reaksi yang di berikan Saga. Ini diluar rencana mereka. Helen terlihat memegang erat pegangan kursi. Kenapa begini, seharusnya dia marahkan. Jelas-jelas Daniah bergandengan tangan dengan laki-laki. Aku bahkan sudah mengambil banyak foto yang terlihat mesra. Helena ¡° Ibu ada apa denganmu? Apa ibu tidak tahu, kalau Jen dan Sofi saja aku awasi. Aku tahu siapa teman -teman mereka dan pacar mereka sekarang.¡± Ibu menelan ludah. Merasakan kebodohannya. Benar, tidak mungkin Saga tidak tahu. Tapi sekelebat sesal itu tidak membuatnya berfikir dengan sehat. ¡° Seharusnya ibu tahukan kalau aku saja mengawasi Jen dan Sofi, pasti aku jauh lebih mengawasi istrikukan.¡± Menekankan pada kata terakhirnya. Deg, Kali ini Helen menjatuhkan tas yang ia sengol di atas meja Saga. Lebih terkejut lagi ketika Saga melemparkan hp yang dia pegang tadi di hadapannya. ¡° Tanyakan saja pada Han bagaimana dia mengawasi istriku. Dan satu lagi, aku mengenal laki-laki yang difoto itu. Aku juga pernah tidur di rumahnya.¡± ¡° Apa!¡± bersamaan menjawab. Han benar-benar senang melihat wajah Helena yang pias, matanya yang sekarang takut bersitatap dengannya. Sekarang anda sudah menyadarinyakan, sejauh apa saya tahu tentang anda nona Helena. ¡° Anda jangan kuatir nyonya saya mengawasi semua orang yang dekat dengan tuan muda. Nona Jenika, nona Sofia dan Nona Daniah. Anda tidak perlu kwatir. Saya hanya memastikan semua hal di sekeliling tuan muda berjalan dengan semestinya.¡± Wajah Helen semakin pias. Ia bahkan hampir terjatuh dari tempat duduknya setelah mendengar kalimat Han. ¡° Bawa dia ke sofa.¡± Saga menerintahkan Han untuk membawa Helen duduk di sofa, dia tidak mau melihat gadis itu. Sorot matanya yang menghiba malah membuatnya kesal. Setelah Helen dan ibu berpindah, Han keluar dari ruangan. Tidak lama dia muncul membawa sebotol air dan gelas. ¡° Silahkan nona, anda tidak apa-apakan?¡± Helen mendongak, menerima gelas dengan gemetar. ¡° Seharusnya anda duduk dan melukis sekarang, kenapa masih melakukan hal tidak berguna seperti ini.¡± Helena meletakan gelas di atas meja, karena kalau sampai masih dia pegang, dia yakin gelas itu akan pecah terburai karena terjatuh dari tangannya. ¡° Pergilah!¡± Ibu seperti paham kalau Helen gelisah karena siapa. Dia mengambil gelas lalu membantu Helen minum. ¡° Kenapa denganmu? Apa Han mengancammu?¡± ¡° Tidak bu.¡± terbata menjawab. Udara di ruangan seperti sudah tidak nyaman di pakai Helen bernafas. Dia menyadari dia harus keluar dari tempat ini. Situasi sudah semakin tidak terkendali. Tidak tahu siapa yang bersama Daniah, tapi yang pasti tidak berhasil membuat Saga marah. Dia harus pergi sekarang, supaya bisa kembali berfikir jernih. Saga berjalan dan duduk di sofa, sementara sekertaris Han berdiri di sampingnya. ¡° Han bilang ibu minta izin untuk megadakan pesta ulang tahun di rumah.¡± ¡° Ia, karena ibu ingin membuat konsep keluarga, jadi apa boleh.¡± ¡° Tidak.¡± Saga memotong kalimat ibunya. ¡°Aku tidak mau banyak orang berkeliaran di rumahku.¡± Melirik Helen, sepertinya kata-katanya barusan memang di tujukan untuk Helen. ¡° Jadi buatlah pesta di gedung seperti biasanya. Han akan mengirim sekertaris wanita untuk membantu ibu.¡± Saga bangun dari duduknya. ¡° Bawa dia pergi kalau dia sudah bisa berdiri.¡± Helen gemetar, apa benar dia sudah benar-benar kehilangan kesempatan. Han sudah membuka pintu, Saga berhenti dan berbalik lagi. ¡° Ibu jangan lupa undang Daniah ke pesta ulang tahun ibu, ibukan harus memperkenalkan menantu ibu pada teman-teman ibukan.¡±pintu tertutup. Kedua wanita itu bersitatap, ibu meminta pertanggungjawaban atas hal memalukan yang baru saja terjadi. Tapi Helena bahkan tidak bisa berkata apa-apa. Kata-kata sekertaris Han masih menghantui pikirannya. ¡° Anda jangan kuatir nyonya saya mengawasi semua orang yang dekat dengan tuan muda. Nona Jenika, nona Sofia dan Nona Daniah. Anda tidak perlu kwatir. Saya hanya memastikan semua hal di sekeliling tuan muda berjalan dengan semestinya.¡± Apa dia juga mengawasiku selama ini, apa dia juga tahu kalau aku........... Tangan Helena gemetar BERSAMBUNG Chapter 86 Usaha helena (Part 2) Kenapa! Kenapa ini. Prank! Prank! Serpihan gelas kaca berhamburan. Berlarian ke segala penjuru di dalam kamar. Helena terduduk, tubuhnya menggigil keras, karena sakit hati, karena kemarahan semua bercampur sekarang. Dia benar-benar merasa tidak berdaya. Pandangan Saga yang membencinya sungguh sangat menakutkan. Kenapa saga bisa berubah seperti itu? Sialan apa benar-benar karena Daniah. ¡° Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa!¡± prank! Semua benda sudah berjatuhan di kamarnya, cermin di meja rias juga sudah berantakan. Gedoran pintu terdengar, lalu pintu terbuka keras. Clarissa dengan seorang pelayan muncul. Suara dan wajah mereka sangat panik. Apalagi ketika mendapati kamar yang sudah seperti habis terkena banjir besar. ¡° Nona.¡± Pelayan mendekat, kuwatir. Tapi dia tidak berani melangkah karena pecahan kaca ada di mana-mana. ¡° Kak Helen, ada apa denganmu.¡± Clarissa memberi sorot mata prihatin. ¡° keluar! Keluar kalian! Keluar kalian sungguh tidak berguna.¡± Clariss memerintahkan pelayan untuk keluar, tapi dia mendekati kakaknya, dan meraih tangan Helen. Gadis itu menepis uluran tangan adiknya. ¡° Hentikan kak, kenapa kamu marah padaku. Memang salahku apa?¡± sekarang Clarissa merasa kesal sendiri. Sejak kepulangan Helena dari luar negri dia sering mengamuk tanpa sebab begini. Clarissa tahu alasannya, ternyata kak Saga menolaknya. Dia frustasi. Tapi jujur walaupun Helena adalah kakaknya dia tidak bisa seratus persen bersimpati karena semua ini terjadi karena kebodohan Helena sendiri. ¡° Saga, saga tidak mau memaafkanku. Hiks, huaaaaaa.¡± Tangisnya pecah. Dia memukul-mukul tempat tidur, mengacak rambutnya yang indah. Clarissa prihatin memandang kakaknya, tapi apa yang bisa dia lakukan. Diapun berfikir bahwa apa yang terjadi hari ini memang sepenuhnya adalah kesalahan Helena. ¡° Apa kak Helen sudah minta maaf dengan benar pada kak Saga.¡± Bertanya tegas tanpa nada simpati. ¡° Aku harus minta maaf bagaimana lagi!¡± Malah menanggapi dengan marah, karena merasa dia sudah melakukan apa yang dia bisa. ¡° Berlutut sambil menangis, kalau perlu sakiti diri kakak di depan kak Saga.¡± Helena terdiam, Clarissa tahu, harga diri setinggi langit kakaknya tidak akan pernah melakukan itu. Apalagi di hadapan sekertaris menyebalkan yang bahkan tidak pernah bergerak sedikitpun di sekitar Saga. ¡° Apa kakak masih sepercaya diri itu setelah pergi meninggalkan Kak Saga. Aku saja merasa kak Helen itu menyebalkan apalagi kak Saga.¡± Akhirnya terucap juga, kata-kata menyalahkan dari mulut Clarissa. ¡° Clariss jaga sikapmu!¡± mendorong tubuh adiknya kesal. ¡° kenapa? Kalau kak Helen sepercaya diri itu seharusnya sebelum pergi minimal tidur sekali dulu dengan Kak Saga. Itu bisa kak Helen pakai sebagai jaminan. Tapi ini, hanya bermodal cinta kak Saga kak Helen sudah sangat yakin sampai berani pergi tanpa izin begitu. Kebebasan, huh! Sekarang dan selamanya kak Helen bisa bebas dari kak Saga. Bodoh!¡± ¡° Diam kamu, bukanya membantu malah. Keluarlah. Aku tidak butuh kata-kata tidak bergunamu sekarang.¡± Helen mendorong tubuh Clarissa, dia merasa kata-kata adiknya sudah sangat keterlaluan sekarang. ¡° Kalau kak Helen benar-benar tidak mau menyerah, satu-satunya hanya kak Noah. Laki-laki bodoh yang pernah mencintai kakak. Tapi jangan berharap lebih, aku dengar dia sudah punya pacar juga sekarang. Aku tidak yakin dia punya waktu untuk kak Helen.¡± Clarissa memberi ide tapi dia juga setengah ragu apa idenya akan berhasil. Helena mengepalkan tangan. ¡°Noah, ya dia satu-atunya harapanku untuk mendekati Daniah.¡± ¡° Tapi, jangan bilang kak Helen mau memakai kak Noah untuk untuk mencelakai Daniah. Kalau itu rencana kak Helen, sebaiknya batalkan. Itu rencana gagal sebelum dimulai. Kalau sampai sekertaris sialan itu tahu, habis kak Helen di tangannya. Kak Helen tahu sekarang siapa yang dijaga dengan nyawanya, Daniah. Han menjaga Daniah sendiri. Dia sudah jadi istri kesayangan kak Saga.¡± Mulai kuwatir dengan ide yang diberikannya. Helen menghardik lewat matanya. ¡° Jen dan Sofi yang cerita. Kak Helen sudah tidak punya kesempatan kata mereka.¡± Membeberkan fakta kenapa dia bisa berkesimpulan begitu. ¡° Sial, pantas dua anak itu berubah sekali sikapnya padaku.¡± Helen bangun dari tempat tidur, mengambil sisir, dia mengibaskan sampai pecahan kaca yang menempel bertebaran. Bercermin di kaca yang pecah. Dia harus bangun sekarang, dia tidak boleh kalah. Meratapi nasib di kamar saat ini adalah pilihan menyedihkan. Aku harus bertemu Noah sekarang. ¡° Suruh bibi membereskan kamarku.¡± ¡° Kak helen mau kemana sekarang.¡± Clarissa merasa kuatir. ¡° Jangan mencari masalah lagi.¡± ¡° Diam kamu.¡± Hanya ini kesempatan terakhir yang bisa dia pakai untuk kembali pada Saga. Noah menatap Helena dengan seksama. ¡° Apa kamu menangis lagi?¡± Noah mengengam erat tangan Helen. ¡°Sudah sampai di sini saja, lepaskan Saga seperti aku melepaskanmu.¡± ¡° aaaaaaaaa.¡± Menangis semakin keras. Padahal tadi hanya isak kecil. Helen menghambur memeluk Noah. Noah tersentak, tidak mempersiapkan hati dan tubuhnya. ¡°Noah, tolong aku. Hiks. Huuuu. Tolong aaku. Kamu tahukan aku sangat mencintai Saga, aku bodoh yang meninggalkannya. Aku menyesal, sangat menyesal. Aku ingin hubungan kami kembali. Aku tidak bisa hidup tanpanya.¡± Menangis sekuatnya, membuat Noah merasa bersalah sendiri. ¡° Baiklah, lepaskan aku dulu.¡± Noah menepuk bahu Helen dan mendorong tubuhnya agar menjauh. Perasaannya pada wanita di hadapannya mungkin sudah berhasil dia tuntaskan, tapi kalau interaksi sedekat ini dia takut akan membangkitkan kembali perasaan yang sudah dia kubur. Dan dia tentu akan merasa sangat bersalah sekali pada kekasihnya. ¡° Bagaimana aku harus menolongmu. Saga pasti tidak mau menemuiku. Waktu itu aku berhasil menemuinya tapi semuanya percuma. Maaf.¡± Lihat, Helen sudah berhasil membuat Noah merasa bersalah untuk sesuatu yang bukan kesalahannya. Helen menggengam tangan noah. ¡° Bisakah kamu bertemu dengan Daniah.¡± ¡° Daniah, kenapa? Apa yang mau kamu lakukan dengan Daniah.¡± Noah tahu, urusannya akan semakin runyam, karena dia tahu bahwa wanita itu benar-benar menempati tempat khusus di hati Saga. Salah sedikit saja melangkah, habislah semua. Dia sudah merinding membayangkan bagaimana amukan Saga dan amarah sekertarisnya yang menyebalkan itu. ¡° Aku hanya mau kamu bicara dengannya. Dia sangat polos. Diapun tidak mencintai Saga. Saat aku memberi tahu alasan Saga menikahinya dia masih bisa tertawa dan berkata, kalau dia menikah karena uang. Dia tidak mencintai Saga.¡± Dari mana Helen berkesimpulan semacam ini. Jelas-jelas tidak seperti ini dari sudut pandang Saga. ¡° Bicaralah dengannya, dan bujuk dia untuk bercerai dengan Saga.¡± Memohon, ujung mata Helena sudah berair. Ini senjata menatikan untuk Noah. Karena puluhan kali ia pakai selalu berhasil membuat Noah luluh. ¡° Noah, kumohon demi hubungan kita yang lalu tolong kali ini.¡± Noah mengigit bibir, luluh. Dia menyeka airmata Helena yang berlinang. ¡° Baiklah, jangan menangis. aku akan bicara pada Daniah. Tapi aku tidak bisa menjanjikan apapun.¡± Hanya itu yang bisa dia ucapkan, walaupun dia sendiri ragu. Mengingat ucapan Saga waktu itu, dia sadar Helena sudah tidak punya kesempatan. BERSAMBUNG Chapter 87 Kesalahan Helena Hari kedua kelas makeup berjalan dengan baik. Ternyata makeup itu sudah-susah gampang ya. Di sekolah makeup Daniah juga sudah memiliki teman. Jadi dia benar-benar menikmati. Agak lama tadi dia mematung di depan cermin, melihat hasil riasannya sendiri. Aku pasti sudah gila! Kenapa aku ingin menunjukan riasan ini pada tuan Saga. Kalau dia melihatnya apa lantas kau mau dipuji cantik begitu. Dia pasti akan menyentil keningku dan berkata ¡°Apa ini, kenapa wajahmu. Kau pakai apa di mukamu. Hapus.¡± Ya, ya itu pasti yang akan dia bilang. Daniah melajukan kendaraannya setelah kelas makeup. Hp ditasnya berdering, dia menepikan kendaraan. Takut yang menghubungi yang mulia raja melalui sekertarisnya. ¡° Noah, kenapa dia.¡± Ragu apakah akan dijawab, sampai bunyi dering mati. Lalu telfon yang kedua akhirnya diangkat. ¡° Hallo nona matahariku.¡± Suara renyah yang sok akrab jauh di sana. ¡° Aku bukan mataharimu. Kenapa?¡± bertanya langsung tujuan Noah menelfon, hubungan mereka tidak seakrab itu untuk hanya bertanya kabar. ¡° Sedang di mana? Boleh ketemuan gak ada yang mau aku bicarakan.¡± ¡° tentang apa? Sekarang saja.¡± Hubungan rumit antara Saga, Noah dan helena yang ikut di ceritakan Jenika waktu itu membuat Daniah berhati-hati. Dia tidak mau terlibat kedalamnya. Saat ini hubungannya dengan tuan Saga saja sudah jauh lebih memusingkan. Dia mau aku mencintainya. Untuk apa! Seharusnya akupun mengatakan aku mau dia mencintaikukan. Tapi sial, aku tidak punya keberanian. Kalau aku menjawab aku mau dia mencintaiku, reaksinya apa ya? Daniah tersadar sedang berbicara dengan Noah. ¡° Sepertinya tidak bisa hanya bicara di telfon, aku ingin bicara langsung. Sekarang juga sudah waktunya makan siangkan, bagaimana kaalaau aku traktrir makan siang.¡± ¡° Tidak mau.¡± Menjawab cepat. ¡° Hei, matahariku kenapa jahat sekali begitu. Yang mau aku bicarakan ini penting sekali lho, menyangkut hidup dan matiku.¡± ¡° Kalau kamu sekarat, pergilah ke dokter,¡± Daniah tahu kalau laki-laki itu sedang main-main, kesan pertama dan kedua kalinya dia sudah bisa tahu kalau Noah laki-laki yang suka bercanda. Tuh kan, sudah terdengar dia terpingkal di sana. ¡° Ayolah kumohon, aku tungu di kafe XXX ya. Aku akan menunggumu sampai kau datang.¡± Sambungan terputus. ¡° kenapa dia seenaknya beginii si.¡± Daniah melemparkan hpnya di kursi di sebelahnya. Memegang kemudi mobil. Bimbang. Dia tidak mau datang. Tapi ancaman akan menunggunya membuatnya gelisah juga, bagaimana kaalau Noah benar-benar akan menunggunya. Sial, sudah pasti aku akan datang. Kenapa si, aku jadi orang perdulian begini. Menyebalkan. Akhirnya datang juga. Daniah sudah berdiri di depan sebuah meja, sementara laki-laki yang selalu seenaknya itu tersenyum sangat puas. wajah jenaka dan sok ramahnya itu membuat dia dimaafkan. Guman Daniah kesal pada dirinya sendiri. ¡° Terimakasih matahariku.¡± ¡° Daniah! Panggil aku Daniah. Da-ni-ah. Aku bukan mataharimu. Aku mataharinya tuan Saga.¡± Daniah merinding mendengar ucapannya. Tapi kata-katanya berhasil membuat tawa di mulut Noah terhenti. Laki-laki itu jelas sangaat terkejut. Sekarang wajahnya tampak serius. Dia memanggil pelayan, lalu memesan menu makanan dan minuman mengusir canggung. Menawari Daniah untuk memeilih menu. ¡° Saya pilh menu yang sama aja ya mbak.¡± ¡° Baik, sebentar ya.¡± Pelayan itu mengangukan kepalanya. ¡° Baiklah, sekarang ada apa? Kenapa ingin bertemu.¡± Daniah duduk, meletakan tasnya di atas meja. ¡° Hari ini sepertinya kamu jauh lebih cantik dari yang ada di ingatakanku. Apa sekarang kamu merubah penampilanmu.¡± Noah memperhatikan penampilan Daniah. Gadis yang dia lihat waktu di danau hijau seingatnya tidak seperti ini. Daniah meraba rambutnyaa, benar, ini hasil kelas makeupnya hari ini. Bagaimana ini, akukan tidak mau menjawab kalau aku habis ikut kelas makeup. ¡° Aku memang sudah begini dari dulu, waktu kita baru bertemu di danau hijau itu penampilanku yang lain dari biasanya. Tapi biasanya aku seperti ini kok.¡± Tersenyum, menyembunyikan kebohongan. ¡° hehe, benarkah. Pantas Saga sangat tergila-gila padamu. Istrinya memang cantik si.¡± Apa dia bilang barusan. ¡° Noah mau bicara apa?¡± Daniah mengakhiri basa-basinya, dia ingin langsung ke inti pembicaraan. Noah menatap Daniah dengan seksama. Meyakinkan dirinya sendiri, bahwa apa yang ingin dia sampaikan sekarang adalah pilihan tepat. Ini adalah janjinya terakhir kali untuk Helena. Dia akan membantu hanya sampai di sini saja. ¡° Apakah Daniah juga mencintai Saga.¡± Juga? Maksudnya? ¡° seperti Helen mencintai Saga.¡± Jadi ini tentang Helena, apa dia yang meminta Noah untuk bicara denganku. Maafkan aku Helen, aku tidak mau mendukungmu lagi. Jen sudah menceritakan semuanya padaku. Dan aku memilih tidak mendukungmu sekarang. Walaupun aku akan merelakan tuan Saga jika dia kembali padamu, tapi aku tidak akan mendukungmu mulai sekarang. ¡° Apa Noah datang karena Helen?¡± Laki-laki itu tidak bisa menutupi kebenaran. Dia tampak kikuk. ¡° Helen sangat mencintai Saga. Empat tahun lalu mereka bertemu.¡± ¡° Aku tahu, empat tahun lalu mereka bertemu di danau hijaukan. Tempat itu adalah tempat yang sangat bermaksa untuk mereka. Sama halnya Noah yang juga mengangap tempat itu penting.¡± Penjelasan jen yang dilebih-lebihkan dengan menambah porsi spesial untuk Saga di ringkas Daniah secara wajar. ¡° kamu sudah tahu?¡± terkejut dengan jawaban Daniah. ¡° Jen sudah menceritakan semuanya, tentang hubungan tuan Saga dan Helen. Tentang cinta mereka dan bagaimana mereka bersama. Ntahlah, aku bahkan tidak merasa sakit hati ataupun cemburu. Aku hanya senang karena saat itu Tuan Saga bersama wanita yang dicintainya dan hidup dengan bahagia. Ya, sampai Helen pergi meninggalkan Tuan Saga yang sudah sangat percaya dan mencintainya.¡± Apa penjelasanku sudah sangat jelas. Kalau aku tidak cemburu dan berfikir secara obyektif. ¡° Tapi saat itu Helen punya alasan sendiri kenapa dia harus pergi.¡± ¡° Alasan? Alasan yang dia ingin di kenal dengan karyanya sendiri. Dia tidak mau dikenal hanya sebagai pelukis bayangan tuan Saga. Begitu? Ntahlah, mungkin alasan itu memang terdengar masuk akal. Tapi kalau aku yang jadi Helen, saat itu aku bukannya pergi tanpa izin begitu saja. Jika aku jadi Helen aku pasti percaya akan cinta Tuan Saga. Hingga aku akan memohon padanya untuk mengizinkanku pergi mengejar mimpiku. Kalau Noah juga akan perfikir seperti Helen atau berfikir sepertiku.¡± ¡° Apa?¡± binggung dengan penjelasan Daniah. ¡° Apa Noah juga berfikir kalau tuan Saga tidak akan mengizinkan Helen pergi. Saat itu jika Helen memohon, aku yakin tuan Saga akan mengizinkannya pergi, memang berapa si jarak yang harus di tempuh. Tuan Saga bahkan punya jet pribadi yang bisa dia pakai bolak-balikkan.¡± Ayo sadarlah Noah, bahwa Helen sudah memanfaatkan kebaikanmu. Dalam hal ini dia yang bersalah, biarkan dia memohon pengampunan tuan Saga. Kamu atau aku tidak perlu ikut campur. ¡° Daniah.¡± Noah tidak menduga, Daniah yang dia temui di danau hijau akan menjawab secerdas ini. Dia berfikir Daniah hanya gadis polos yang tidak tahu apa-apa. ¡° Tapi itulah kesalahan terbesar yang sudah di lakukan Helen, dia tidak percaya pada laki-laki yang mencintainya.¡± Benar, inilah kebodohan terbesar yang sudah di lakukan Helenan pada Tuan Saga. Kebodohan yang harus dia bayar dengan sagat mahal. Aku mengatakan ini bukan untuk membela tuan Saga. aku hanya ingin Noah sadar bahwa dia sudah dimanfaatkan. ini semua kesalahan helen, biar gadis itu yang memohon untuk dirinya sendiri. ¡° Tuan muda, sepertinya nona muda ada di sini.¡± Han menunjukan hp dengan bintang kecil yang menyala. Dia mengedarkan pandangan menyapu ruangan. Begitu pula Saga. Wajahnya yang tadi merasa senang tiba-tiba berubah. Dia terlihat mengepalkan tangan geram. ¡° Apa dia sedang benar-benar selingkuh sekarang?¡± Bertanya pada Han. ¡° Itu tuan Noah.¡± ¡° Noah. Brengsek, apalagi yang dia lakukan.¡± Kesal dia berjalan cepat sementara Han mengikuti. Sementara itu Daniah meletakan sendoknya, meraba tengkuknya, kenapa tiba-tiba udara sangat dingin ya. Gumamnya pelan. BERSAMBUNG Chapter 88 Ingin di puji ¡° Noah!¡± Suara tidak asing ini. Daniah terperanjak kaget, ketika sebuah tangan melingkar di bahunya. Walaupun terkejut tapi dia tidak bisa bergerak. Tangan Saga menekan bahunya. Sendoknya jatuh berdenting. ¡° Kenapa kau selalu tertarik dengan wanitaku.¡± Mengecup pipi kiri Daniah. Sekarang pipi mereka menempel. Saga bersandar di bahu Daniah. ¡° Kalian sedang makan siang. Apa makanannya enak?¡± Tapi kata-latanya terdengar tidak senang, walaupun dia mengucapkannya sambil tersenyum. ¡° Sayang.¡± Mulut Daniah tertahan, karena sorot mata Saga menghujamnya dengan sorot mata kesal. Saat dia menolehkan kepala. Dibiarkannya laki-laki itu mencium pipinya lagi. Sekarang dia menggigit telinganya. Daniah melihat Noah yang terkejut melihat kelakuan Saga padanya, sampai dia menjatuhkan sendoknya. Kenapa jadi begini si, seperti aku ketahuan sedang sedang selingkuh. ¡° Habis kau nanti.¡± Bisik Saga di telingan Daniah, membuat gadis itu membisu seketika. ¡° Apa yang kau lakukan di sini?¡± sekarang sudah beralih, matanya dan sorot menakutkan itu sudah beralih pada Noah. Dia duduk di kursi yang diletakan sekertaris Han. ¡°Kalau alasanmu tidak jelas aku bisa benar-benar marah lho.¡± Bibirnya tersenyum, tapi nadanya sudah mengancam. Glek. Noah menelan ludah. ¡° kami tidak sengaja.¡±belum selesai Noah bicara, Daniah sudah meraba gelagat laki-laki itu akan berbohong. ¡° Noah meminta bertemu untuk membahas tentang Helen.¡± Jangan berbohong, dia tahu semuanya. Sekertaris di sampingnya ini tahu semuanya. Kalau kau ketahuan berbohong yang habis itu aku nanti. Daniah mengatakan dengan suara tegas, berharap tidak ada kesalahpahaman. Tapi sepertinya dia salah, kata-katanya bukan hanya membuat Saga kesal tapi juga sekertarisnya. Kenapa kau ikutan marah begitu si. Tolong kami sekarang. Aku dan Noah benar-benar tidak melakukan apapun. Cih, bereskan urusan anda sendiri nona. Begitu arti sorot mata Han. Apalagi dia tersenyum tipis menikmati kepanikan Daniah. ¡° Apa yang kau rencanakan? Mendekati Daniah setelah gagal memohon padaku.¡±Saga mencengkram kerah baju Noah. Daniah terpenjak, ingin melerai. Tapi saat dia melihat Han meggelengkan kepalanya pelan dia menarik tangannya lagi. Tidak berani ikut campur. ¡° Jawab dengan benar kalau tidak mau kuhajar.¡± ¡° Tunggu Saga, ini tidak seperti itu yang kamu bayangkan.¡± Saga melepaskan tangannya. ¡° Katakan!¡± sekarang pandangan Saga beralih pada Daniah, gadis itu terperanjak kaget. Apalagi saat Saga meraih sendok dan menyuapinya. ¡° Buka mulutmu!¡± walaupun mengatakan dengan suara pelan tapi sudah terdengar seperti ancaman. Habis kau kalau tidak mau kusuapi. Daniah membuka mulutnya, mengunyah makanan yang disuapi Saga. Menelanya. Kenapa makanan ini jadi tidak enak si. ¡° Noah!¡± Saga berteriak karena Noah yang terdiam membeku. ¡° Maafkan aku, aku hanya sedang terpesona pada hubungan kalian yang terlihat serasi ini. Haha.¡± Daniah mendelik, bisa-bisanya melucu di situasi semacam ini. ¡° Helen ingin aku biacara dengan istrimu dan memastikan bagaimana perasaan Daniah padamu itu saja. Dia belum mau menyerah sebelum yakin kalau kalian benar-benar saling menyukai.¡± Saga meletakan sendoknya. Beralih memandang Noah. ¡° Apa kau mau aku percaya itu?¡± Glek, dia tahu, ya dia tahu aku bohong. Sial! ¡° Helen memintaku menceritakan pada Daniah bagaimana hubungan kalian terjalin empat tahun lalu.¡± Bahkan Noahpun takut pada tuan Saga, apalagi aku yang secuil debu ini. Dia langsung berkata jujur hanya karena di gertak begitu. ¡° Dan aku sudah mengatakan semua yang aku tahu tentang hubungan kalian.¡± Sorot mata Saga masih meengancam. ¡° Dan ajaibnya Daniah tidak terpengaruh dengan kata-kataku, karena ternyata dia sudah tahu.¡± Apa kenapa bawa-bawa aku. ¡° Sayang, jen kemarin sudah menceritakan padaku.¡± Saga menyentuh bibir Daniah. Membuat gadis itu tak melanjutkan kalimatnya. ¡° Baiklah. Undang kami makan malam. Aku juga ingin bertemu pacarmu.¡± Saga sepertinya percaya dan menerima penjelasan Noah. ¡° Apa! Kenapa tiba-tiba?¡± Panik. ¡° Kau tidak berfikir aku akan melepaskanmu semudah itukan. Kau diam-diam makan bersama dengan istriku begini, aku tidak menghajarmu itu sudah keberuntungan untuk mu. Han.¡± Saga mendongak. ¡° Ia tuan muda.¡± ¡° Atur jadwal makan malam bersama Noah minggu ini.¡± ¡° Baik tuan muda.¡± Kenapa dia memaksa orang mengundangnya begini. ¡° Ayo pergi.¡± Menarik tangan Daniah. ¡° Kamu bayar semuanya.¡± Menunjuk wajah Noah yang kecut, tapi tidak bisa berbuat apa-apa. Memang dia yang salah di sini. ¡° Baik-baik aku yang bayar.¡± Keluar dari kafe, saga menarik tangan Daiah mengikutinya. Gadis itu setengah berlari mengikuti irama langkah Saga. ¡° Sayang, aku bawa mobil.¡± Aku bisa habis kalau pergi satu mobil dengannyakan. Dia sudah sekesal itu tadi. ¡° Han, suruh orang mengambil mobil Daniah. Berikan kuncimu pada Han!¡± tidak bisa menolak, mengambil kunci dalam tas lalu menyerahkannya. Setelah itu Saga sudah mendorongnya masuk kedalam mobil. Sekertaris Han hanya masuk, menghidupkan mobil dan Ac lalu dia keluar dan menutup pintu lagi. Hei, kau mau kemana? Kenapa kau tahu sekali apa yang dimau tuanmu si, dia bahkan tidak bicara apa-apa. ¡° Kenapa? Kau takut, kau tahu apa kesalahanmu hari ini.¡± Sudah tahu kepanikan Daniah yang mencari pertolongan melalui keberadaan sekertaris Han. ¡° Sayang.¡± Meraih tangan Saga. ¡° Kami hanya bicara. aku dan Noah.¡± ¡° Bicara! Kalau bukan Noah aku bisa mentoleransinya. Tapi ini Noah. Dan apa ini!¡± Saga mencengkram Dagu daniah ¡° Kau bahkan berdandan untuk bertemu dengannya, kau mengikat rambutmu lebih rapi. Kenapa?¡± Bukan begitu, ini bukan karena Noah. ¡° Kau mau membuatku benar-benar marah¡± menghempaskan tubuh Daniah. ¡° Tidak sayang, aku baru pulang dari kelas make up lalu Noah menelfon dan minta bertemu.¡± Daniah mencari-cari di luar mobil, keberadaan sekertaris Han. Makhluk itu pasti tahu jadwalnyakan. Tapi yang dicari menghilang di telan bumi. ¡° Jadi, kau ikut kursus makeup hari ini karena mau bertemu Noah!¡± Ini gimana si menjelaskannya. ¡° Bukan sayang, hari ini memang jadwal saya sekolah makeup. Dan kebetulan setelah pulang saya bertemu Noah. Ini bukan untuk Noah, saya makeup bukan buat Noah.¡± Daniah kehabisan ide. Menjelaskan pada Saga yang sedang bahagia saja bukan hal mudag, apalagi ini, saat dia sudah gusar begini. Lalu tiba-tiba hal gila muncul di kepalanya. Dia memeluk Saga yang masih gusar di depannya. ¡°Saya berdandan begini untuk anda. Saya ingin menunjukannya pada anda.¡± ¡° Kau bahkan sudah berani memelukku tanpa izin ya.¡± Walaupun begitu Daniah tidak mau melepaskan. ia tetap memeluk tubuh Saga. Karena Saga tidak menolak dengan tubuhnya. ¡° Saya ingin dipuji cantik oleh anda.¡± Saga tergelak keras, mendorong tubuh Daniah. ¡° Memang kamu secantik apa sampai pantas di puji.¡± Tapi kata-katanya tidak sejalan dengan tindakannya. Dia mengangkat Dagu Daniah dan melumat bibir lembut gadis itu. Semakin dalam, sampai tubuh Daniah terdorong terbaring di kursi mobil. ¡° Apa kau mau aku memujimu." Daniah menganggukan kepala. Saga tertawa. Lalu menarik pakaian Daniah. Aku memujimu melalui tindakan nyata bukan kata-kata. Jeglek! pintu mobil terbuka. Bagaimana kau tahu kalau kami sudah selesai di sini! Daniah merapikan rambutnya, sekarang dia sudah mengenakan jas yang dipakai Saga. Saat melihat rambut istrinya berantakan Saga menariknya, menyelipkan dibelakang telinga. mencium rambut itu lembut. " katakan!" " Apa?" Jangan minta yang aneh-aneh lagi. " Katakan kau mencintaiku." Tidak mau! kau mau pamer pada siapa! Air muka Saga langsung berubah kesal saat Daniah memilih menggigit bibir bukannya bicara. Akhirnya Daniah pun menyerah, dia yang waras yang harus mengalah. begitu pikirnya. " Aku mencintaimu sayang." Memeluk Saga di sampingnya, membenamkan wajah di dada Saga. Puas! puas sekarang. " Kau dengar itu Han." Saga tergelak sambil mencium kepala Daniah yang terbenam di dadanya. " Ia tuan muda saya mendengarnya. " Pamer. Han Pamer. Daniah BERSAMBUNG Chapter 89 Panggilan untuk Daniah Daniah menyeret langkah kakinya menaiki tangga, dibawah ibu baru saja mengatakan tentang pesta ulang tahunnya. Dia juga di undang, tapi wajah saat mengundang itu sudah membuat orang yang di undang untuk engan datang. Kalau bukan jen dan Sofi yang akan menemaninya rasanya lebih baik menolak undangan itu. walaupun membuat ibu mertua kesal sekalipun. Badanku sakit semua, apa aku pergispa besok ya. Tapi pekerjaanku banyak sekali. Aaaa aku gak mau masuk kamar.Aku mau kabur saja sekarang. Daniah mematung di depan pintu, kalau kakinya melangkah sekarang berarti dia masuk ke lubang harimau. Tapi kalau dia tidak masuk dan melarikan diri, gigi taring harimau itu bisa menerkamnya di mana saja dia bersembunyi. Masuk habislah aku, gak masuk matilah aku. Aku tidak akan mengangkat telfon dari Noah lagi. Nomornya jugaakan ku hapus. Semua ini gara-gara dia.Aku dikerjai habis-habisan tadi. dan sepertinya semua belum berakhir sampai malam ini. Membuka pintu pada akhirnya. ¡° Kemarilah, naik ketempat tidur.¡± Saga menepuk ruang kosong di sampingnya. Tuhkan, dia sudah ada di posisinya. Saga sudah berada di bawah selimut ketika Daniah masuk membawa sebotol air dan gelas kosong. Laki-laki itu sudah bertelanjang dada. Ia menyibakan selimutnya. Sementara Deniah meletakan nampannya di atas meja. Deniah terjerembah dalam pelukan Saga karena laki-laki itu menarik tangannya. ¡° Kenapa lama sekali.¡± Aku mau menghindarimu! ¡° Maaf Sayang. Aku bicara dengan Jen dan Sofi tadi di bawah mengenai ulang tahun ibu.¡± Sekarang mereka duduk bersandar di tempat tidur, Saga bisa sangat nyaman sambil melingkarkan tangannya dalam pelukan istrinya, sementara Daniah mengeliat pelan ingin melepaskan diri. Tapi bagaimana melakukannya secara wajar agar laki-laki di hadapannya tidak menyadari. Itu yang sedang dipikirkannya sekarang. ¡° Apa anda akan datang? Hadiah apa ya yang pantas di berikan pada ibu? Kalau anda mau memberi hadiah apa pada ibu.¡± Ayo habiskan waktu sebelum mengantuk dengan mengobrol saja. Tapi kenapa kamu sudah melepas bajumu begini si, dadaku bahkan sudah berdebar sebelum waktunya. ¡° kedatanganku di pesta ulang tahunnya sudah jadi hadiah terbesar untuk ibu.¡± Jawaban klise yang sudah tidak bisa dibantah oleh argumen apapun. Idih, kenapa kesombonganmu itu selalu benar adanya. ¡° Belikan apa saja sesukamu, toh dia juga tidak akan menerima hadiahmu dengan senangkan.¡± Lagi-lagi, kenapa yang dikatakan Saga selalu benar adaanya, membuat Daniah kesal sendiri. ¡° Benar. ibukan tidak menyukai saya. Yang dia sukai itu Helen.¡± mendengus sebal, lalu menyadari kesalahan fatal apa yang barusan dia lakukan. Habis aku menyebut nama Helen. Saga meraih dagu Daniah kuat, menatap lekat gadis itu, Daniah sudah berusaha memalingkan wajah, tapi tentu tidak berhasil membuatnya lari dari hukuman. Saga melumat habis bibir Daniah sampai gadis itu tersengal. ¡° Kau masih berani menyebut namanya dengan bibirmu.¡± ¡° Maaf sayang, maafkan saya.¡± ¡° Kau benar-benar senang kalau aku marah ya!¡± Daniah menggelengkan kepalanya berulang-ulang. Menggigit bibirnya. Tunjukan penyesalanmu melalui wajahmu Daniah, jangan bicara apapun. Begitu nalarnya berfikir cepat. Salah kata sedikit habis kamu. Dia masih kesal dengan kejadian siang tadi juga. ditambah menyebut nama helena, lengkap sudah. ¡° Berhenti pergi ke kelas make up.¡± Masih dengan nada yang sama kesalnya seperti sebelumnya. Tiba-tiba memberi perintah, sambil tangannya menyusuri garis wajah Daniah. ¡° Kenapa? Anda bilang saya lebih bagus kalau berdandan.¡± polos bertanya. ¡° Memang kamu mau menunjukan pada siapa heh! Pada Noah! Kau mau mengoda siapa dengan dandanamu itu.¡± Mulai lagi memilin ranbut Daniah, tapi kali ini dia melakukannya dengan emosi. ¡° Berdandan kalau hanya pergi denganku, tunjukan wajah cantikmu itu hanya di hadapanku.¡± Cantik, apa barusan dia bilang aku cantik. ¡° Jawab!¡± ¡° Baik sayang, saya memang berdandan hanya untuk anda. Sumpah!¡± menggangkat dua jarinya. Sial! Kenapa sekarang aku mulai kelihatan tergila-gila padanya begini. Untung saja otakmu itu seujung kuku jadi pikiranmu tidak sampai kesana. ¡° Dan satu lagi berhenti bicara dengan bahasa formal padaku. Kau bahkan bisa bicara santai dengan Han, tapi denganku masih bicara anda, saya.¡± Menuding kening Daniah kesal. ¡° Sayang, panggil aku sayang.¡± ¡° Sayakan sudah memanggil anda sayang.¡± Raut wajah binggung Daniah menghadapi kelakukan suaminya yang terkadang di luar nalar manusia normal. ¡° Tapi kamu masih memakai bahasa formal memanggilku.¡± Tidak terima diperlakukan dengan formal. " Selalu panggil aku dengan sebutan sayang. Kamu itu istrikukan, panggil dengan panggilan romantis kenapa." Romantis, tidak berfikir apa, kamu memanggilku apa. ¡° Jadi maunya bagaimana?¡± bertanya saja biar jelas yang dimau dia apa. ¡° Seperti saat kamu bicara dengan adikmu.¡± ¡° Maksudnya seperti ini, sayang apa kamu bisa melepaskan pelukanmu. Begitu.¡± ¡° Benar. Apa! Barusan kamu bilang apa? Jadi aku memaksa memelukmu.¡± Mendorong tubuh Daniah dengan kesal. ¡° Kamu tidak suka aku peluk. Iya?¡± sudah kesal sambil menendang kaki Daniah mengusirnya. Aduh! Kenapa sensitif sekali si, kayak kulit bayi begini. ¡° Tidak sayang, akukan hanya memberi contoh. Aku suka dipeluk kok. Suka sekali.¡± Menghambur memeluk pinggang Saga. Walaupun Saga mengumpat kesal, tapi Daniah tidak melepaskan pelukannya, sampai laki-laki itu berhenti mengoceh. ¡° lepaskan aku!¡± ¡° Tidak mau.¡± Mengoyangkan wajah di dada Saga. Kalau aku melepaskanmu, kamu akan tambah marahkan. Dasar! Mulut sama perbuatanmu selalu tidak sejalan. Saat Saga sudah memberikan kecupan lembut di kepala Daniah, saat itu gadis itu sudah merasa bisa melepaskan pelukannya. Dia mendongak lalu memasang senyum sejuta watt. ¡° Maaf sayang. Tapi kamu juga selalu memanggilku hei, hei, apa tidak bisa merubah panggilan untuk ku¡± Saga tergelak, dia meraih dagu Daniah, membuat mata mereka bersitatap. Imutnya ¡° Jadi kamu mau aku memanggilmu apa?¡± Panggil aku sayang, atau panggil aku istriku. ¡° Panggil saja namaku, keluargaku biasanya memanggilku Niah.¡± Sial! Aku terlalu malu untuk mengatakannya, padahal aku ingin sekali mendengar dia memanggil sayang misalnya. Hiii, aku merinding sendiri. ¡° Namamu kampungan sekali, bisa sakit mulutku kalau menyebutkannya.¡± Apa! Saga sudah mendindih kedua kaki Daniah. Gadis itu tidak bisa bergerak, dia yang masih kesal karena Saga bahkan tidak mau memanggil namanya hanya bisa memalingkan wajah. Tangan Saga mulai menarik pita yang terikat di baju di dada Daniah, membuat pakaiannya terbuka. Bibir laki-laki itu mulai bersentuhan dengan kulit Daniah. Leher, telinga, dada, semua tidak luput. ¡° Aku akan memanggilmu sayang.¡± Apa! Aku tidak salah dengarkan. ¡° Sayang katakan kau mencintaiku.¡± Apa! Lagi, kenapa selain dengan rambutku kau terobsesi dengan pernyataan cinta. ¡° Tidak mau? Aku bahkan sudah menganti nama pangilanku padamu. Dan sekarang¡± Suara Saga sudah terdengar kesal. ¡° Tidak sayang. Aku mencintaimu sayang.¡± Selalu kalah telak dalam hak apapun jika beradu argumen dengan Saga. Dia harus membayar mahal untuk panggilan sayang dari bibir Saga. Bibir Saga terus menelusuri setiap lekuk tubuh Daniah. Gigitan keras dibahu gadis itu membuatnya menjerit. ¡° Siapa yang menyuruhmu berhenti. Katakan kau mencintaiku. Jangan berhenti sampai aku menyuruhmu berhenti.¡± ¡° Ba, baik sayang.¡± Apa ini obsesi barumu. Suara nafas Daniah terdengar sangat keras. Dia harus mengatakan kata-kata bodoh bersamaan dengan bibir laki-laki ini yang tidak berhenti mengerayanginya. ¡° Aku mencintaimu sayang. Aku mencintaimu sayang.¡± Aaaaaaaa. Sakit. Kenapa dia seperti predator begini si. ¡° Aku belum menyuruhmu berhenti.¡± Malam semakin larut, Kata-kata aku mencintaimu masih terdengar lirih lalu menghilang ditelan malam. Sampai Saga merasaka puas dengan tubuh istrinya, Daniah sudah terlelap dalam tidur malamnya. ¡° Hahaha, manis sekali istriku ini.¡± Saga mencium bibir dan seluruh bagian wajah istrinya sebelum dia ikut berbaring di samping Daniah. ¡° Sejak kapan aku benar-benar tergila-gila padanya.¡± Malam semakin larut memeluk Daniah erat. Gadis itu mengeliat pelan. Tidurlah, kau sudah bekerja keras hari ini. Aku mencintaimu istriku sayang. BERSAMBUNG Chapter 90 Minta Maaf (Part 1) Kediaman Gunawan, rumah tempat tinggal Daniah sebelum menikahi Saga. Ditempat inilah saksi bisu bagaimana dia menjalani masa-masa cukup berat, sebagai seorang anak, sebagai seorang remaja. Di rumah ini pulalah dia menjadi anak patuh yang bahkan tidak bisa mengelengkan kepalanya untuk berkata tidak. Dia hanya bisa menerima setiap putusan dengan anggukan kepala. Risya sudah mondar mandir di ruang makan, ibunya duduk sama halnya dengan anaknya wajahnya nampak sangat gelisah. Hari ini batas akhir laporan kepada sekertaris Han, apa mereka sudah minta maaf kepada Daniah dengan benar atau belum. Minta maaf dengan versi yang diminta sekertaris Han. ¡° Bu bagaimana ini, walaupun aku sudah mulai syuting filmnya tapi kalau sutradara menendangku aku bisa apa. Kita harus bagaimana bu?¡± merengek seperti biasanya. ¡° Ibu!¡± hanya itu yang bisa dilakukan Risya. Tidak mudah mendapatkan kesempatan untuk menjadi pemeran kedua dalam film yang akan dia bintangi ini. Risya bahkan sudah pamer ke mana-mana. Kalau sampai film ini gagal dia bintangi, sepertinya dia memilih tengelam ke dasar bumi saja. ¡° Diamlah! Memang hal seperti ini terjadi karena apa? Karena rengekanmu seperti anak kecil yang selalu ingin dituruti itukan!¡± ibu menghardik, menyadarkan Risya. Kalau selama ini sikap kejam yang ditujukan untuk Daniah sebagian besar memang karenanya. ¡° Ibu, ia semua ini salahku. Jadi aku harus bagaimana.¡± Mengaku, nasi sudah menjadi bubur. Saat ini tidak ada yang bisa ia lakukan. Dia sudah kalah telak dari semua segi. Menikahnya Daniah dengan tuan Saga adalaah kekalahan terbesar dalam hidupnya. ¡° Baiklah, hanya berlutut dan mememohonkan. Ayo kita lakukan.¡± Ibu bicara lirih. walaupun dia berkata dengan bibir yang bergetar menahan kesal. Kedua orang itu gemetar, membayangkan apakah mereka benar-benar sanggup melakukannya. Memohon pengampunan di hadapan Daniah secara langsung. Kalau hanya untuk bersikap baik walaupun kaku dan janggal mereka masih mampu. Tapi ini. Tapi demi mengingat kembali kejadian siang itu sepertinya mereka tidak punya pilihan. Siang itu karena sebuah telfon, Risya dan ibunya sepulang syuting menunggu di sebuah kafe. Wajah mereka sudah terlihat pucat. Saat seseorang muncul seorang diri mereka sudah bernafas lega. Padahal seharusnya laki-laki yang di hadapaan mereka inilah yang harusnya paling di kwatirkan. Sekertaris Han yang nama dan siapa dirinya tak ada yang tahu. ¡° Maaf sudah membuat kalian menunggu, padahal nyonya dan nona Risya pasti sangat sibuk.¡± Tersenyum ramah sebagai salam pembuka seperti biasanya. Han duduk dengan tenang. ¡° Tidak sekertaris Han.¡± Belum selesai bicara. ¡° Baiklah, saya langsung saja.¡± Mematahkan harapan keduanya. Sekarang mereka mulai memasuki labirin menakutkan yang ujungnya tidak diketahui. Rasa takut mulai muncul, melebihi saat mereka bersitatap dengan Tuan Saga. Glek. Kedua wanita itu berpegangan tangan di bawah meja. Suara sekertaris Han sudah terdengar sangat serius. Dia tersenyum tipis, tapi senyum itu sebenarnya sangat menakutkan. ¡° Tuan muda memang agak sedikit pendendam, tapi mohon kalian berdua memakluminya ya, karena nona Daniah adalah istri yang di sayangi tuan muda.¡± Dia mau bilang apa sebenarnya. Risya dan ibu berfikir sama. ¡° Tuan muda ingin kalian meminta maaf dengan benar kepada nona Daniah. Atas semua yang sudah kalian lakukan selama ini.¡± Menghentikan kalimatnya dan memberikan intimidasi melalui sorot mata. ¡° Kami.¡± Ibu menahan tangan Risya, mencegahnya bicara. Sekertaris Han tersenyum tipis. ¡° Saya sebenarnya tidak mau mengatakannya, tapi saya tahu semua yang sudah kalian lakukan pada nona Daniah. Bahkan saya juga tahu kejadian waktu kecil nona Daniah dan nyonya.¡± Wajah ibu langsung pucat pasi. ¡° Apa saya menakuti kalian, maafkan saya. Bagaimanapun kalian adalah keluarga berharga yang dilindungi nona muda. Seharusnya saya tidak boleh mengancam atau membuat kalian takutkan. Maafkan saya.¡± Lagi-lagi tersenyum menakutkan. ¡° Intinya minta maaflah secara tulus dan natural kepada nona Daniah. Lakukan sebaik mungkin ya, jangan sampai nona muda merasa kalian minta maaf karena terpaksa, karena ada yang menyuruh kalian. Atau bahkan jangan sampai nona Daniah berfikir tuan Saga mengancam kalian agar kalian minta maaf. Apa bisa begitu.¡± Tapi kaliankan memang mengancam kami. Risya memegang tangan ibunya yang sama gemetarnya di bawah meja. ¡° Ia tuan, kami akan lakukan.¡± Risya yang mewakili ibunya. ¡° Tentu saja nona Risya jugakan aktris saya rasa bisa berakting dengan baik dan natural. ¡° Tersenyum tipis. ¡° Baik tuan, saya akan melakukan yang terbaik.¡± ¡° Tentu saja, hidup mati kaliankan tergantung ini, haha.¡± Terkadang sekertaris Han tidak bisa menempatkan diri kapan seharusnya dia bisa tertawa, karena sering kali senyum atau tawanya maknanya jauh lebih mematikan dari pada saat dia berwajah serius. Dia tidak sedang tertawa, dia sedang mengancam. Ibu dan Risya lagi-lagi berfikir sama. ¡° Baiklah saran dari saya itu saja, nikmati makan dan minuman yang sudah kalian pesan. Biar saya yang bayar. Oh ya satu lagi, buat secara natural mungkin ya, kalau nona muda curiga bahkan sampai bertanya kepada saya tentang kalian yang minta maaf berarti akting kalian gagal ya. Dan kita akan bertemu lagi nanti. Sampai jumpa.¡± Han menundukan kepalanya hormat, berlalu sambil tersenyum tipis. Saat Risya tengah latihan menangis di depan ibunya dari arah tangga Rasya muncul. Bernyanyi dengan riang. Dia sudah memakai setelan formal. ¡° Raksa kemari!¡± Panggilnya dari meja makan. ¡° Apa kak? Aku mau berangkat.¡± Menolak panggilan kakaknya, dia akan berlalu ke ruang tamu. Melirik jam di tangannya. ¡° Mau kemana?¡± ¡° Ada pertemuan persiapan untuk magang.¡± Risya mendekat dan menarik tangan adiknya yang sudah mau berlalu. masalahnya kali ini jauh lebih penting dari apapun. ¡° Kak aku mau pergi, nanti aku terlambat. Aku berurusan dengan perusahaan Antarna Group, kalau aku salah sedikit saja aku bisa ditendang dari daftar peserta magang.¡± Raksa benar-benar menolak keras melalui kata-katanya. ¡° Sebentar saja, kumohon.¡± Eh ada apa dengan kak Risya, sampai memohon segala. ¡° Antar kami menemui Daniah.¡± ¡° kenapa?¡± curiga, memandang Risya dan ibu secara bergantian. ¡° kalian mau apa lagi dari kak Niah? Jangan macam-macam lagi bu, kemarin kalian sudah lihatkan bagaimana tuan Saga memperlakukan kak Niah. Dia istri yang menampat kasih sayang tuan Saga.¡± ¡° Banyak sekali bicaramu seperti perempuan.¡± Risya menutup mulut adiknya. ¡° Kami bertemu Daniah mau minta maaf.¡± ¡° hemm, lepas.¡± Mengibaskan tangan Risya. ¡°Itu malah lebih mencurigakan, memang kenapa kalian mau minta maaf.¡± ¡° hei, adiku memang orang jahat itu harus selamanya jadi jahat apa. Aku mengakui semua kesalahaanku di masa lampau dan sekarang ingin minta maaf pada Daniah apa itu salah.¡± Raksa mencibir. ¡° Kalau itu bukan kak Risya aku percaya.¡± Risya memukul kepala adiknya, sekarang ibu yang melotot. ¡° Jangan pukul adikmu!¡± ¡° ia, ia bu, maaf. Habis dia begitu si. Kak Risya kasih kamu uang jajan sebulan.¡± menggoda dengan tawaran uang yang menggiurkan. sebulan lho, uang jajan. untuk anak yang hanya bermodal uang jajan dari ayahnya Risya berfikir pasti Raksa akan tergoda. ¡° Tidak butuh uang kak Risya.¡± Raksa mengibaskan tangannya, sombong, jumawa dan besar kepala. ¡°Sekertaris tuan Saga meminta rekening padaku, dan dia mentransfer uang kemarin.¡± ¡° Apa! Kenapa?¡± Risya yang emosi, bagaimana perlakukan sekertaris menyebalkan itu sangat berbeda. Pada Raksa dan dirinya. ¡° Aaaa, katanya karena selama ini aku baik pada kak Niah, jadi tuan Saga memberiku uang jajan.¡± Tertawa puas. ¡° Haha, jadi kamu menjual hubunganmu dengan Daniah, ternyata kamu menyedihkan juga ya.¡± Risya mencibir kesal. ¡° Apa! Aku sudah minta izin pada kak Niah kok, katanya terima aja semua yang diberikan tuan Saga. Jangan menolak apapun, anggap saja itu uang jajan yang diberikan kakak ipar. Wekk!¡± Raksa mematahkan argumen Risya. Dan menjulurkan lidahnya meledek kakak perempuannya. ¡° berapa?¡± Emosi sekaligus penasaran menjadi satu. mengumpal dan ingin dia muntahkan ke wajah Raksa. Dia sedang iri, kenapa Raksa seberuntung itu. ¡° Apanya?¡± ¡° Yang diberikan tuan Saga padamu?¡± Berteriak. ¡° Aaa, aku tidak mau beritahu, nominalnya pasti membuat kak Risya semakin kesal nanti.¡± Risya mencengkram bahu adiknya saking geramnya. Berapa, seratus juta, duaratus juta. ¡° Risya jangan bersikap begitu pada adikmu, lepaskan tanganmu.¡± Ibu walaupun sangat menyanyangi Risya tapi tetap memposisikan Raksa sebagai anak laki-laki berharga keluarga ini. ¡° Nak, hubunganmu dengan Daniahkan sangat baik. Kali ini bisa tolong ibu dan kakak mu ya.¡± Risya melepaskan tangannya dan memilih duduk. Ya Raksa memang agak kurang ajar padanya, tapi kalau ibu yang meminta dia pasti tidak bisa menolak. ¡° Memang ibu mau melakukan apa?¡± Raksa mendekati ibunya yang duduk di kursi di meja makan. Raksa masih tidak suka, pandangannya masih curiga saja. ¡° Ibu dan kakakmu mau minta maaf, itu saja,¡± Menyentuh tangan anak laki-lakinya. "Ibu tidak akan melakukan apapun pada Niah, sekarang dia suami tuan Saga, memang ibu seberani itu mau melakukan sesuatu padanya. ¡° kenapa? Apa ini tuan Saga yang minta.¡± Kecurigaan Raksa semakin menjadi, karena ini memang sangat tidak biasanya. Lakukan secara natural, jangan sampai ada yang menduga kalau tuan Saga yang memintanya kepada kalian. ¡° hei Raksa, aku hanya ingin berubah. Aku tahu aku salah memperlakukan Daniah selama ini. Dan aku ingin minta maaf.¡± ¡° Benarkah? Apa kak Risya tulus.¡± Ini anak kenapa si, seumur hidup pernah dibohongi orang apa. ¡° Ia, aku tulus.¡± Memohon. " Aku tulus sekali. ini hal paling tulus yang aku lakukan seumur hidupku. percayalah padaku. bantu aku sekali ini saja." " Baiklah, jemput aku nanti sekitar waktu makan siang. aku akan kirim lokasinya nanti. sekarang aku pergi ya." " Baiklah adiku tersayang terimakasih ya." Ibu dan kak Risya semoga kalian benar-benar tulus kali ini. Kak Niah sudah melindungi kita dengan mengorbankan hidupnya. dia selalu menggangap keluarga ini sebagai keluarga seperti apapun perlakuan kalian padanya. " Ibu ayo kita berlatih lagi. jangan sampai Daniah curiga kalau kita sedang berakting." Risya menarik tangan ibunya. Ya, berubah untuk sebagaian orang itu memang tidak mudah. apalagi mengenai arti ketulusan, cinta dan kasih sayang. BERSAMBUNG Chapter 91 minta maaf (Part 2) Ruko milik Daniah Kembali bekerja, kembali mengumpulkan uang hasil keringat sendiri. Sekarang, bahkan dia tidak tahu alasan apa yang membuatnya masih bersemangat menjalankan toko onlinenya. Uang yang diterimanya dari tuan Saga sangat jauh dari nominal pendapatannya. Makin hari ketika waktu bergulir dan berlarian di sekitarnya, seperti mengataakan, sudahlah terima nasibmu sebagai istri tuan Saga. Jangan pura-pura ingin lari dan pergi. Memang kamu mau kemana? Apa kamu benar tidak suka pada tuan Saga? Apa benar kamu tidak akan menangis kalau dia membuangmu. Lihat, dasar tidak tahu malu, kau menikmati tidur bersamanya setiap malamkan? Kamu tersipu saat dia mengatakan kamu cantikkan, ya walaupun pujian itu bisa jadi lidahnya hanya kepeleset. Hemm, bagaimana saat dia memanggilmu sayang. Jantungmu ingin meledak saking senangnya ya kan. Diam kau hati kurang ajar! Aku ini pemilikmu, jangan menghianatiku. Daniah mengusir kegalauannya kembali dengan jauh lebih bersemangat bekerja. ¡° Dorong tik!¡± aaaaaa, Daniah menarik sekuat tenaga paket besar berisi pakaian anak menuju lantai dua. Tika mendorong dari bawah ngos-ngosan juga. Ini paket ke tiga hari ini. Ambruk di kasur setelah ke tiga paket mendarat dengan sempurna. ¡° aaaaa, aku ingin punya toko satu lantai aja!, yang besar, luas, lebar!¡± berteriak keras agar impiannya terbang ke langit tinggi. Sementara Tika tertawa, duduk bersandar di tempat tidur, di mana Daniah berbaring meluruskan pinggangnya. ¡° Mbak Niah, boleh aku tanya gak.¡± Setelah menengak hampir separuh dari botol minuman dingin di tangannya. Dia melirik bos wanitanya itu. ¡° Kenapa?¡± Ada apa ini, biasanya juga gak pernah izin kalau mau bertanya. ¡° Memang tuan Saga gak komentar tentang pekerjaan mbak Niah. Ya, semua orang jugakan tahu mbak kekayaan tuan Saga itu sampai semana kalau di jejerin.¡± Tika tertawa sendiri mendengar kalimatnya. Rasanya memang tidak ada angka pasti kalau untuk menghitung berapa uang tuan Saga. Daniah sendiripun tidak tahu berapa perusahaan yang dimilikinya di bawah Antarna Group. Daniah menatap langit-langit ruangan. Nafasnya terhembus berat. Karena aku tidak tahu kedepannya bagaimana nasibku Tika. Apa aku masih tetap bisa berada di samping tuan Saga atau tidak. Sampai hari ini, mungkin cuma hatiku yang sedikit bergoyah karena sikap lembutnya. Tapi aku tidak mau berharap. ¡° Dia tidak pernah bertanyaa juga Tika berapa omset jualanku. Yang penting aku pulang tepat waktu dan ada di rumah saat dia kembali, itu sudah cukup.¡± ¡° Ya ampun sweat banget si suami mbak Niah, jadi dia selalu minta di sambut ya kalau pulang. Ciee, ciee, mbak Niah gimana menyambutnya. Langsung peluk tuan Saga kalau pas turun dari mobil atau gimana. Hehe.¡± Gak gitu kali! Kebanyakan kena racun drama ya otakmu itu. ¡° Huss mau tau aja, urusan orang dewasa.¡± Daniah duduk, meraih botol minum yang tadi di minum Tika, lalu menghabiskan isinya sampai tak bersisa. ¡° Aaaa, segarnya.¡± ¡° Oh ya mbak, apa gak papa kalau mbak sekarang selalu beli makanan mewah banyak-banyak untuk kami. Walaupun kami senang, hehe, tapi itukan gak murah mbak.¡± Karyawanku memang baik-baik ya, mereka ini gak pernah banyak menuntut dan bekerja keras. Tapi kalau aku memberi sesuatu apapun itu wujudnya mereka selalu berterimakasih dengan tulus. Aaaa, aku ingin memeluk mereka satu-satu. Mereka yang sudah berjuang bersamaku dari bawah. ¡° Hehe, akukan pakai kartunya tuan Saga. Tenang saja, kalau aku tidak memakai uangnya dia malah bisa ngamuk. Hitung-hitung kita membantunya menghabiskan uang.¡± ¡° enaknya jadi mbak Niah, aku juga ingin punya suami seperti tuan Saga.¡± Tika tertawa sambil berangan-angan. Menuliskan karakter impiannya untuk menjadi pasangan. Jangan Tika, jangan berharap dan bermimpi punya suami seperti dia. Dering hp membuyarkan obrolan mereka, bersamaan dua karyawan muncul dari lantai bawah. Mereka sudah terlihat puas istirahat. Makan enak, perut kenyang, saatnya kembali bekerja lagi. Daniah mengambil tas yang terongok di pojok tempat tidur. Sementara Tika bicara dengan teman karyawannya. ¡° Sudah selesai makan siangnya?¡± ¡° Ia mbak.¡± ¡° Kita pisahkan dulu baju-bajunya aja ya, pisahkan semua yang punya reseller dulu. Catatannya ada di laci.¡± Mereka mengambil buku sesuai instruksi Tika. Sementara Daniah masih mencari-cari hp yang berbunyi di dalam tas. ¡° Hallo dek kenapa?¡± mendengarkan pembicaraan adiknya. ¡° kenapa? Ibu dan Risya juga? Memang mereka mau apa?¡± diam mendengarkan. ¡° Baiklah, Kak Niah tunggu ya,¡±. Sambungan terputus. Daniah membisu di atas tempat tdur, hpnya ada di dekat kakinya. Pikirannya berlarian kemana-mana. Risya dan ibu, mau apa mereka. Kenapa aku merasa sangat tidak nyaman begini. Mereka tidak akan melakukan apa-apakan. Mereka tidak akan membalasku karena kejadian ulang tahun ayahkan. Karena ada tuan Saga waktu itu merekakan jadi tidak bisa mengerjaiku. Tapi merekakan datang bersama Raksa. Seharusnya tidak apa-apa. Sudah hampir jam tiga, Daniah sedang membungkus paket-paket kecil orderan eceran. Sementara yang lain membungkus paket-paket yang lebih besar milik para reseller. Daniah masih tampak gelisah. Saat Tika berteriak dari lantai bawah membuatnya terlonjak. Terkejut. Mengatakan Raksa menunggu di luar ruko. ¡° Ia sebentar!¡± Sebaiknya aku menghubungi sekertaris Han dulu, menanyakan tuan Saga akan kembali sebelum makan malam atau tidak. ¡° Sekertaris Han, apa tuan Saga akan kembali sebelum makan malam.¡± Pesan terkirim. ¡° Ia nona.¡± Jawaban secepat kilat. Hidih, apa hp itu selalu di gengamnya. Bagaimana reaksinya sangat tangap begini. Jadi aku harus kembali sebelum jam lima berarti ya. Bagaimana kalau mereka lama ya. ¡° Apa anda bisa membawa tuan Saga pergi kemana dulu gitu, sebelum pulang. Sepertinya saya ada sedikit keperluan mendesak. Jadi saya takut belum bisa kembali pada waktunya.¡± Memberi emoji memohon dengan kedua tangan terkatup. ¡° Apa yang akan anda lakukan nona?¡± Kalimatnya sudah seperti mengatakan, jangan berbuat yang merepotkan nona. Kembalilah tepat waktu dan jangan membuat masalah. ¡° Tidak, aku hanya ingin bertemu dengan adikku.¡± Maaf Raksa aku hanya memakai namamu, karena kalau menyebut ibu dan Risya pati butuh perizinan yang lebih lama. ¡° Baiklah, akan saya sampaikan pada tuan muda.¡± ¡° Benarkah?¡± Agak lama jeda menunggu, tidak seperti tadi. Mungkin sekertaris Han sedang bertanya pada tuan Saga. ¡° Nikmati waktu anda bersama adik anda, sampai jumpa nanti.¡± Kenapa aku merasa setiap kalimatnya selalu bermakna terselubung si. Dia tidak akan tiba-tiba muncul di rukoku nantikan? Daniah bergegas turun setelah menyelesaikan pesannya. Dia keluar dari ruko mendapati mereka bertiga sedang duduk di kursi taman. Saat melihatnya muncul Raksa yang berlari mendekat. ¡° Kak Niah.¡± Mengandeng tangan Daniah mendekati ibu dan Risya. ¡° Ehh. Ibu apa kabar?¡± Daniah tersenyum sekenanya pada ibunya. ¡° Niah yang apa kabarnya, sudah lama ya tidak bertemu.¡± Ibu datang memeluk Daniah duluan, membuat Daniah bereaksi dengan menarik tangannya. Dia memandang Raksa. Adiknya menggangkat bahu. ¡° Bagaimana kalau kita bicara di dalam saja.¡± Daniah tahu, ini sikap tidak wajar. Cara ibu memperlakukannya tidak berbeda saat ulang tahun ayah. Tapi waktu itukan ada tuan Saga dan sekertaris Han yang seperti hantu di mana-mana. Tapi kalau sekarang, merekakan tidak ada yang mengawasi. ¡° Baiklah.¡± Ibu dan Risya berjalan di depan mereka. ¡° Ada apa ini?¡± berbisik di samping Raksa. ¡° Tidak tahu kak.¡± Semua karyawan pindah ke lantai satu. Raksa membantu memindahkan boks paketan dari lantai dua. Dia ikut bergabung membantu mengantikan Daniah. Membungkus paket. Melirik sebentar ke tangga. ¡° Kak Niah gak papa di tinggal sendirian?¡± Tika merasa kuatir, dia tahu bagaimana hubungan keluarga ini. Dia tahu kalau selama ini yang baik pada Daniah hanya laki-laki di hadapannya ini. ¡° Mas Raksa naik aja temani mbak Niah.¡± Merebut lakban putih benih di tangan Raksa. ¡° Sepertinya gak papa. Kalau kak Niah berteriak nanti baru aku ke atas.¡± Merebut kembali lakban di tangan Tika. Sambil mendelik. ¡° Ia, ia mas maaf. Ini yang ada di boks ini yang sudah bisa dipasang lakban. Mohon bantuannya ya mas Raksa.¡± ¡° Hehe, gitu donk.¡± Dengan senang hati membantu, bagian yang paling di senangi Raksa saat membungkus paket adalah memberi lakban pada paket-paket yang sudah selesai di beri alamat. Dia tinggal finishing akhir. Bunyi gulungan lakban yang tertarik ntah kenapa menurutnya lucu. Hingga kadang dia membungkus paket sampai lakbannya double berkali lipat. Tuh kan, Tika merebut lakban di tangan Raksa kalau dia sudah diluar kendali. ¡° Ia, ia maaf. Habis seru si suaranya.¡± Yang lain hanya bisa geleng kepala melihat kelakuan Raksa. Untung kamu adik yang di sayangi mbak Niah. BERSAMBUNG Chapter 92 Minta Maaf (Part 3) Walaupun masih berada dalam satu ruko, sepertinya perputaran udara antara lantai satu dan lantai dua sangat berbeda. Kalau di bawah sana Raksa bisa sangat rukun dengan ke enam karyawan berbeda dengan tiga orang di lantai dua. Di lantai atas. Dua jus kotak rasa buah ada di depan ibu dan Risya. Sementara Daniah duduk di sebrang mereka. Keheningan yang tercipta begitu saja, Risya duduk diam, ibu juga demikian. Daniah jadi merasa serba salah sendiri, ada apa dengan mereka berdua sebenarnya. Mereka yang datang tanpa di undang, tapi mereka juga yang diam. Belum juga Daniah mulai bicara Risya bangun dari duduknya. Mau apa dia? Eh, kenapa kamu berlutut begitu? ¡° Maafkan aku kak Niah.¡± Risya menundukan kepalanya dalam. Terdengar isak kecil. ¡° Risya ada apa denganmu?¡± Daniah yang tidak menduga akan terjadi hal seperti ini terlihat panik. Dia sudah mau memanggil Raksa. Tiba-tiba ibu juga mengikuti bangun dan berlutut di samping Risya, Daniah bangun dari duduknya. Dia tahu dia tidak menyukai wanita yang ada di hadapannya ini, tapi bagaimanapun dia tidak pantas berlutut di hadapannya, bagaimanapun dia anak yang sudah dia rawat selama ini. Walaupun dia merawat dengan konsep tanpa kasih sayang sekalipun. ¡° Ibu, bangunlah, ada apa dengan kalian?¡± Daniah menarik tangan ibunya. ¡° Maafkan kami maafkan kesalahan kami selama ini.¡± Ibu dan Risya bicara bersamaan. ¡° Apa ini karena tuan Saga? Kalian sampai berlutut begini karena tuan Sagakan.¡± Hanya ini yang ada di pikiran Daniah sekarang. Karena dia yakin dua wanita ini tidak mungkin sampai melakukan di luar batas harga diri mereka hanya untuk meminta maaf padanya. ¡° Tidak kak, ini tidak ada hubungannya dengan tuan Saga. Aku hanya benar-benar merasa sangat bersalah selama ini. Dan ingin memohon pengampunanmu agar aku bisa hidup dengan tenang. Itu saja.¡± Apa karena sekarang kalian merasa aku diperlakukan baik oleh tuan Saga, kalian takut aku akan memintanya balas dendam padanya untuk kalian. Jadi kalian yang datang duluan padaku. Aku tidak sejahat itu tahu. Memang kalian pikir untuk apa aku menikah dengan tuan Saga kalau bukan demi keluarga. Aku tidak akan melakukan hal mengerikan seperti balas dendam pada keluargaku sendiri. ¡° Bangunlah!¡± ¡° Maafkan kami dulu kak, maafkan aku dan ibu dulu.¡± Merengek berulang dengan suara menghiba. Suara isak Risya lebih terdengar sekarang. Di ujung matanya ada yang menetes, sengaja tidak dia seka. Biar lebih dramatis pikirnya. ¡° Bangunlah! Baiklah aku memaafkan kalian, jadi bangunlah sekarang.¡± Daniah sudah bicara dengan suara keras. Dia sudah tidak tahan, melihat ibu tirinya berlutut di hadapannya begitu. Risya membantu ibunya bangun dan menuntunya duduk. Harga dirinya tercabik, tapi ini jauh lebih baik, daripada harus kehilangan mimpi menjadi selebriti. Risya mengigit bibirya kelu. ¡° Ibu.¡± Daniah bicara lirih saat ibunya sudah duduk kembali di sofa. Dia mengambil jus kotak di meja, menusukan sedotan dan menyerahkannya ke tangan ibu tirinya. Wanita itu menerimanya dan menepuk tangan Daniah lembut. ¡° Ia Niah.¡± ¡° Apa ibu sudah membuang semua foto ibuku.¡± Baiklah, mungkin ini saatnya aku bisa mendapatkan harta berhargaaku lagi. Benda berharga yang harus terebut dari dirinya. Wanita di hadapannya ini bukan hanya mencopot semua foto di dinding, tapi dia tidak mengizinkan satupun kenangan tertinggal di rumah. Sekedar untuk menguatkan Daniah tumbuh berkembang menjalani hari-harinya. ¡° Foto ibumu.¡± Air muka ibu kembali menunjukan kebencian, tapi segera berubah sedetik kemudian dengan senyum di bibirnya. Dia sedang berusaha menahan perasaannya. ¡°Ibu masih menyimpanya tentu saja. Akan ibu bereskan semuanya. Ambilah ke rumah kapan saja.¡± ¡° Bisakah ibu kirimkan supir untuk mengantar kemari.¡± Sekelebat rasa tidak suka itu masih bisa di tangkap oleh Daniah. Kau berlutut sekarang tidak benar-benar memohon maafkankan. Aku tahu. Kalian hanya takut aku balas dendam melalui tuan Sagakan? Daniah mengepalkan tangannya geram. Tapi dia berusaha menarik nafas perlahan untuk membuang semua kebencian dalam dirinya. ¡° kenapa tidak Niah ambil kerumah saja? Sekalian bisa bertemu ayahkan. Apa sekarang kamu sudah tidak mau pulang kerumahmu.¡± Kalimat ibu menusuk telak, rumahmu. Haha, sejak kapan itu jadi rumahku. Dada Daniah bergetar mengulangi kata-kata itu di hatinya. ¡° Bukan begitu, aku harus mendapat izin dari tuan saga untuk pulang.¡± ¡° Apa!¡± Ibu dan Risya terkejut. ¡° Kak Niah, bukankah itu rumahmu juga, kenapa tuan Saga melarangmu untuk pulang.¡± Tanyakan saja padanya kalau mau tahu, aku juga tidak tahu kenapa dia melarangku pulang ke rumah. Aku tidak perlu mengatakannya kalau sebenarnya akupun di larang bertemu kaliankan. Aku hanya boleh bertemu dengan Raksa tanpa izin terlebih dahulu. ¡° Niah, hubunganmu dengan tuan Saga benar-benar baikan?¡± ibu tersenyum bertanya. Tapi Daniah hanya berfikir kalau ibu hanya ingin memastikan sesuatu. Baiklah, ayo bersandiwara kalau hubungan kami itu luar biasa baiknya. Supaya kalian tidak mengganguku lagi. ¡° Tentu saja bu, hubungan kami sangat baik. Tuan Saga memperlakukanku sangat baik. Bahkan aku berfikir, mungkin akan segera hamil karena seringnya tuan Saga. Hehe.¡± Daniah menutup wajahnya dengan tangan. Menunduk malu. Dia mengintip melalui celah tangan bagaimana reaksi terkejut Risya dan ibu. Kalian sudah kehilangan kata-katakan. Yang terdengar selanjutnya hanyalah kalimat puji-pujian, baik kepada Daniah ataupun tuan Saga. Risya berfikir sudah jatuh masuk ke dalam air kehinaan sekalian menjilat saja. Mereka sudah kehilangan harga diri. Di hadapan Daniah sekarang yang mereka lakukan cukup bersikap baik dan ramah saja. Sampai waktunya Raksa naik dan mengajak pulang ibu tidak berhenti bicara tentang kebaikan Daniah. Daniah pergi mengantar mereka keluar ruko. Saat tepat mereka berdiri di luar pintu kaca. Bukan hanya dia yang terkejut, semua terlihat panik. Ya, tentu kecuali Raksa. Dia benar-benar berperan jadi anak cool dalam segala situasi. Kekacauan apa ini? Kenapa dia bisa ada di sini. Saga berdiri bersandar pada mobil, sementara sekertarisnya berada dua meter darinya berdiri tidak bergeming. ¡° Sayang ada apa ini?¡± Daniah berlari mendekat meninggalkan keluarganyanya. ¡° Aku ingin menjemputmu, rupaya kau sedang kedataangan keluargamu.¡± Ibu, Risya dan Raksa menggangukan kepala memberi salam. Risya mengandeng tangan ibunya sudah merasa ketakutan. Apalagi saat tatapannya bertemu dengan sekertaris Han. ¡° Mereka kebetulan mampir sebentar tadi.¡± Daniah berusaha berfikir seefektif mungkin mencari alasan. ¡° Sekarang juga sudah mau pulang.¡± Saga mengerakan tangannya agar Daniah mendekat, gadis itu berjalan mendekat berdiri tepat di samping Saga. Suaminya tidak terduga melingkarkan tangan dan mencium pipinya. ¡° Bukankah sudah kukatakaan untuk meminta izinku saat kamu bertemu keluargamu.¡± Saga menoleh pada ibu dan Risya. ¡° Apa Han tidak memberitahu kalian? Kalau aku tidak suka kalian menemui istriku tanpa pemberitahuan.¡± ¡° Maafkan kami tuan Saga.¡± ¡° Sayang, mereka hanya mampir. Dan aku sudah menyampaikan pada sekertaris Han tadi.¡± Saga meraba bibir Daniah. Membuat gadis itu tidak melanjutkan kalimatnya. Sial, aku hanya mengatakan kalau yang datang hanya Raksa. ¡° Jangan banyak alasan, terima hukumanmu nanti karena melanggar kata-kataku.¡± Senyum tipis di bibir Saga berarti habis kamu. Sebuah mobil mendekat, dua orang laki-laki memakai jas turun sambil membawa setumpuk pizza dan makanan pelengkapnya. ¡° Mereka sudah datang, ayo masuklah!¡± Saga menarik tangan Daniah meninggalkan ibu dan adiknya. ¡° Ada apa ini?¡± ¡° Aku mau mentraktir camilan sore untuk karyawanmu. Han, antar mereka pergi.¡± Saga menarik tangan Daniah tanpa melihat yang lain, masuk ke dalam ruko. Daniah menoleh sebentar pada keluarganya, dia tersenyum pada Raksa dan melambaikan tangan. ¡° Aku akan menelfonmu nanti.¡± Dia bicara tanpa mengeluarkan suara. Raksa menggangukan kepalanya. Sekertaris Han mengantar mereka sampai masuk ke dalam mobil. Menggangukan kepala saat mobil mulai melaju meninggalkan halaman parkir ruko. Nona bagaimana kau bisa membuat tuan muda berbuat sampai senorak ini, tapi anda belum menyadari juga perasaan tuan muda yang sebenarnya. Cih apa semerepotkan ini yang namanya jatuh cinta. BERSAMBUNG Chapter 93 Ruko Yang Nyaman Kenapa si dia, apa dia marah. Duduk diam tanpa mengucapkan sepatah katapun. Saat ini mereka sedang berada di lantai dua. Semua karyawan sedang menyelesaikan membungkus paket sambil menikmati makanan yang dibawa tuan Saga. Sekotak pizza, pasta dan dua gelas minuman sudah ada di meja. Belum tersentuh. Daniah hanya meliriknya sebentar, fokusnya sedang pada mahkluk yang susah di tebak maunya apa ini. Saga memandang Daniah dengan perasaan kesal, dia juga tidak tahu kenapa. Tapi dia merasa istrinya ini wanita yang sangat bodoh. Ya, wanita bodoh karena dia memiliki hati yang sangat baik. Mengusir canggung, Daniah beringsut turun dari duduknya di sofa, dan sekarang duduk di lantai. Dia mengambil satu slice pizza dan mulai memakannya. Menenguk minumannya. Karena perasaanku sedang tidak karuan, aku bahkan tidak bisa menelan dengan benar sekarang. ¡° Kenapa kau baik sekali bodoh!¡± Akhirnya setelah lama hanya saling memandang Saga mulai bicara duluan. Dan yang dia ucapkan tidak lain hanya celaan. Udara jadi semakin sesak saja, melihat sorot mata kesal dan tidak terima Saga. Saat ini walaupun dia sudah tahu ibu dan adik tiri sudah minta maaf pada Daniah tapi perasaan marah dari dalam dirinya belum sepenuhnya menguap. ¡° Apa?¡± Meletakan kembali pizza yang sudah dia gigit. ¡° Keluargamu, aku tahu kalau hanya Raksa yang selama ini baik padaamu.¡± Ya, tidak mungkin kau tidak tahu, sekertaris Han bahkan punya informasi tentang mantan pacarku. Kenangan yang bahkan tidak ku ingat saja bisa dia ketahui, apalagi hanya tentang keluargaku. ¡° sayang, kamu pasti salah paham.¡± Naik lagi ke sofa, duduk di samping Saga. Tidak ada yang salah, suasana hari ini sangatlah kondusif. Walaupun Saga kesal karena dirinya menemui ibu dan Risya tanpa izin tapi sepertinya dia tidak benar-benar dalam kondisi marah. Dia hanya ingin meluapkan kekesalan saja. ¡° Aku bahkan ingin menghancurkan keluargamu tanpa sisa karena perlakuan mereka padamu.¡± Glek! Saat ini ancamannya tidak terdengar sedang main-main. ¡° Sayang, bukankah begitu yang namanya ikatan darah. Jauh lebih kental dari pada air. Terkadang benci namun seiring waktu dengan mudah di maafkan. Karena kita keluarga.¡± Cih, Saga melengos. ¡° Sayang.¡± Daniah meraih tangan Saga. ¡° Bukankah kamu juga begitu, selalu mendukung keluargamu. Menyanyangi Jen, Sofi dan Ibu. Apapun yang mereka lakukan, kenapa, karena mereka keluargakan.¡± Keluarga, ikatan yang terbentuk tanpa kita minta. Ada ikatan darah, ikatan kasih sayang, cinta dan pengorbanan. Untuk sebagian orang sangat penting namun tak jarang ada pula yang menggangapnya sebatas garis nasib yang di tulis Tuhan. Tapi keluarga adalah tempat dimana kamu dimaafkan ketika melakukan kesalahan, bahkan sebelum kamu minta maaf sekalipun. Orang tua adalah pilar yang terkadang selalu menggangap dirinya benar, mereka selalu berujar karena sudah makan asam garam kehidupan maka mereka tahu mana yang baik dan benar. ah, apa itu salah. Tidak, walaupun tidak selamanya itu benar, tapi juga tidak selamanya salah. Hingga saat kau membuat ibumu marah atau kau bertengkar dengan ayahmu, tubuhmu akan bereaksi mendekat, hatimu ingin memeluk mereka, walaupun ego terus menganjal. Tapi itulah keluarga, ketika kau salah bahkan sebelum kau minta maaf kau sudah dimaafkan. Ketika kakak laki-lakiku yang biasanya paling senang menjahilimu, tapi saat kau menangis karena baru putus dari pacarmu. Dialah yang akan berdiri di garda terdepan membelamu. Ntah yang kau lakukan salah atau benar. karena apa, karena kalian keluarga. Sepenting itulah arti keluarga bagi Daniah, karena dia tahu, bagaimana rasanya terasing dari keluarganya selama ini. ¡° Lantas apa yang mereka lakukan di sini tadi?¡± menjentikan jarinya agar Daniah mendekat. Membenamkan tubuh Daniah dalam pelukannya. ¡° Apa mereka melakukan hal buruk padamu lagi. Dan kenapa adikmu ikut-ikut tadi.¡± Bagi Saga ini hanya rasa kuatirnya yang berlebihan pada istrinya. ¡° Tidak sayang, Raksa hanya menemani ibu dan Risya, sungguh mereka tidak melakukan hal buruk padaku. Mereka hanya datang untuk minta maaf.¡± Bagi Daniah dia hanya merasa Saga sedang menjaga miliknya, tidak ingin siapapun menyentuh miliknya. ¡° Minta maaf¡± Mendengus sambil mencibir, seperti berkata mereka minta maaf, apa aku harus percaya itu. ¡° Mereka tulus minta maaf kok, ibu dan Risya bahkan sampai berlutut. Aku malah yang merasa tidak nyaman.¡± Akhirnya Daniah menceritakan semua kejadian yang terjadi sore ini. Membeberkan semuanya tanpa curiga sedikitpun kalau orang yang sedang dia gemgam tangannya inilah alasan ibu dan Risya sampai berlutut di hadapannya. ¡° Kenapa kau baik sekali, seharusnya kau balas dendam dulu tadi.¡± Mencium bibir Daniah lembut, sekarang walaupun langsung berdegup tapi dia sudah mulai bisa mengendalikan reaksi wajahnya. Ketika Saga melakukan serangan tiba-tibanya. ¡° Sudah kubilangkan. Keluarga pada akhirnya akan selalu saling memaafkan.¡± Ya, ya, aku memang menikahi malaikat baik hati. Daniah beralih pada hidangan yang ada di meja. Dia mengambil sepotong pizza dan menyerahkan pada Saga laki-laki itu mengeleng. Lebih suka memainkan rambut Daniah. Daniah menyodorkan pizza yang baru saja dia gigit di depan mulut Saga. Hup, suaminya tidak menolak. Dasar, jadi kau mau makan kalau bekas gigitanku. ¡° Apa kau nyaman bekerja di sini, mau kusuruh Han siapkan rumah yang lebih besar. Sepertinya akan lebih baik kalau hanya rumah lantai satu.¡± Ya Tuhan apa secepat ini permintaanku dikabulkan. Tidak, jangan serakah Daniah. ¡° Tidak sayang, walaupun memang terlihat kecil tapi ruko ini sangat nyaman kok.¡± Saga bangun mengedarkan pandangan menyapu ruangan. Matanya menyusuri tumpukan rak pakaian anak yang berjejer. Jendela terbuka menunjukan warna keemasan sore. ¡° Sepertinya melelahkan kalau harus memindahkan paket besar ke lantai atas.¡± ¡° Haha, tidak, biasanya kami bersama-sama mengerjakannya.¡± Berhenti mengamati rukoku. Duduk kemari saja. ¡°tempat ini benar-benar sangat nyaman.¡± ¡° Benarkah?¡± Berjalan menuju tempat tidur. Daniah mengikuti setiap gerakan suaminya. Sekarang Saga sudah duduk di tempat tidur. Menepuk kasur beberapa kali dengan tangannya. Memastikan kenyamanan tempat tidur dengan tubuhnya sendiri ¡° Apa tempat tidur ini nyaman?¡± ¡° Ia sangat nyaman, terimakasih sudah memberi barang-barang berkualitas bagus.¡± Daniah ikut mendekati tempat tidur, menepuk kasurnya lembut. ¡° Empuk dan nyaman, kadang aku ketiduran di sini dan bermalas-malasan. Hehe. Terimakasih sudah memberiku banyak sekali hal sayang.¡± Saga menjatuhkan tubuhnya, menghadap langit-langit kamar. ¡° Aku jadi ingin mencoba senyaman apa tempat tidur ini.¡± Tertawa penuh makna. Hei, hei, kau mau apa tuan muda tidak tahu malu. Daniah yang merasa terancam mau bangun dari duduknya, tapi terlambat. Saga sudah meraih tangan dan menariknya hingga ia ikut terjerembah terbaring di samping Saga. ¡°Mau kemana?¡± senyumnya sudah menyeringai. ¡° Tunjukan senyaman apa tempat tidur ini padaku.¡± Tangan sudah mulai tidak bisa di kondisikan. ¡° Sayang jangan begini, kita lakukan nanti di rumah ya, hemmm. Hemm.¡± Saga sudah tidak membiarkan Daniah mengeluarkan sepatah katapun. Mereka berciuman dalam. Berganti posisi beberapa kali. Membiarkan Daniah mengambil nafas perlahan. Lalu melanjutkan serangannya lagi. Kecupan mulai berpindah. Saga melepaskan sepatu dengan kakinya yang jatuh membentur Lantai. Tangannya menarik baju Daniah. ¡° Mbak Niah ini catatan. Maaf! Aku tidak melihat kalian berciuman! Maafkan aku.¡± Tika berlari menuruni tangga. ¡° Aku tidak lihat kalian sumpah.¡± Tapi dia lemas terduduk di lantai. ¡° Apa-apaan Tika, tidak melihat tapi berteriak sekencang itu. Sayang sudah ya. Hemmm. Hemm.¡± Lagi-lagi menutup mulut Daniah dengan bibirnya.¡° Sayang.¡± Memohon pelan. ¡° Biarkan mereka, teriakan karwayanmu pasti di dengar Han.¡± Melanjutkan aktivitas yang sudah setengah jalan. Kecupan keras membekas di leher Daniah. ¡° Ternyata tempat tidur ini memang nyaman ya.¡± Hentikan! Ini memalukan sekali tahu. Tika ambruk terduduk, sekelebat adegan berbahaya yang dilihatnya di lantai atas kembali menari-nari nakal di pikirannya. Dia merinding. Antara ngeri tapi juga ntahlah, dia tidak tahu apa perasaannya sekaraang. Yang pasti wajahnya pucat. ¡° Mbak Tika lihat apa!¡± ¡° Apa mbak, cerita donk!¡± ¡° Kamu lihat mbak Niah berciuman ya. Haha.¡± Tawa para karyawan di lantai bawah. Membuat malu yang mendengarnya. Mereka berhenti cekikikan saat melihat Han masuk melalui pintu kaca. Laki-laki itu menggangukan kepala lalu berjalan menuju tangga. Duduk diam tidak bergeming. Seperti semesta yang hening, tidak perduli keadaan sekitarnya. Han duduk di tangga sambil memeriksa hpnya. Dia mendengar suara pelan dari lantai dua. Tapi tidak ada reaksi apa-apa di wajahnya. ¡° Tuan apa anda mau makan pizza atau minum sesuatu.¡± Tika mendekati Han. Laki-laki itu mendongak. ¡° Tidak terimakasih, nikmati saja makanannya.¡± ¡° aaa, baiklah.¡± Tika berlalu kembali, berkumpul bersama karyawan yang lain. Membereskan semua sisa pekerjaan. Dia melirik sekertaris Han yang memandang hpnya dengan kusyu tidak perduli dunia di sekitarnya. Dia juga terlihat sangat tampan, tapi juga sangat dingin. Tapi mbak Niah juga tidak pernah menyebutkannya dalam ceritanya. Apa dia bukan orang yang terlalu penting ya. Sudahlah. Aaaaa, apa yang sedang terjadi dilantai atas ya. Tika menahan tawa sendiri. BERSAMBUNG Chapter 94 Dunia sekertaris Han Mungkin tidak akan ada yang menarik dalam kehidupannya, sekertaris Han, laki-laki penuh misteri. Siapa dia? Apa yang dilakukannya setelah dia menjalankan rutinitas hariannya? Setelah melewati sore yang penuh cinta di ruko dua lantai, yang penuh cinta hanya kedua majikannya. Dia sendiri hanya duduk diam di tangga, menyelesaikan urusan pekerjaannya. Memeriksa laporan kinerja para petinggi perusahaan. Sambil menikmati sebotol jus dingin yang diberikan karyawan toko sebelum mereka meninggalkan toko, karena habisnya jam kerja. Setelahnya makan malam yang hangat di sebuah restoran privat di tengah kota. Han memilih keluar dari ruangan, meninggalkan bos gila yang sedang di mabuk cinta pada istrinya. Padahal Daniah sudah mencegahnya agar dia tetap berada di ruangan dan ikut makan malam bersama. Memohon dengan sangat lewat sorot mata menghiba, dan mulut yang bicara tanpa bersuara. Apa anda pikir saya tidak tahu arti lirikan tuan Saga, selamat menikmati makan malam panjang kalian berdua. Maaf nona, saya tidak bisa menolong anda. Kendalikan sendiri laki-laki yang sudah tergila-gila pada anda ini semampu anda. Begitulah, pada akhirnya dia menikmati makan malamnya di sudut sebuah meja. Tanpa bicara sepatah katapun, hanya menikmati makanan. Ekspresi wajahnyapun ntah menunjukan apakah makanan itu nikmat atau tidak, hanya dia yang tahu. Saatnya kembali ke rumah setelah makan malam yang panjang untuk ukuran hanya makan malam saja. Sepanjang perjalanan di kursi belakang hanya terdengar ¡° Sayang hentikan. Aku mohon hentikan.¡± Cih, apa cinta benar-benar bisa membuat pelakunya bertingkah setidak waras tuan muda sekarang. Rasanya dia tidak sampai seperti ini dulu saat bersama Helena. Han berdiri di tempatnya sampai Saga dan Daniah yang diikuti pak Mun masuk ke dalam rumah. Setelah mereka menghilang ditemani dengan kesendirian dan angin malam yang berhembus dia masuk kembali ke dalam mobilnya. Meraih hp yang tersimpan di laci mobil, menghidupkan lalu melemparkannya pelan di kursi depan. Setelah itu menghidupkan mobil dan membawanya keluar dari gerbang utama. Menuju kehidupannya sendiri. Hp di kursi depan berkedip-kedip. Pesan masuk bergetar beberaapa kali. Email masuk. Itu adalah hp khusus yang dia pakai sebagai laporan rahasia semua hal yang berhubungan dengan tuan Saga dan Antarna Group. Mobil melewati jalanan yang cukup lenggang, ramai orang yang menikmati kehidupan malam, namun tidak sampai menimbulkan kemacetan. Mobil berhenti di perempatan lampu merah. Terdapat beberapa antrian menunggu. Han mengetukan tangannya beberapa kali sambil melirik lampu yang belum berubah warna. Sedetik setelah warna lampu berganti sudah terdengar bunyi klakson mobil di belakang. Wahai penduduk bumi, mbok ya sabar kalau lampu baru ganti warna, gak usah pada ribut klakson juga, mobil di depanmu juga akan bergerak. Han melajukan mobilnya lagi dengan kecepatan sedang, menyusuri jalanan menuju kediamannya. Sampailah di area parkir sebuah apartemen mewah, di kawasan elite kota. Seorang petugas keamanan mengangukan kepala sopan ketika Han melewatinya. Han hanya mengerakan tangannya membalas sapaan itu. Dia memasuki area lobi dan menuju lif. Lif khusus menuju lantainya. Tunggu, apa dia pemilik seluruh lantai yang ada di gedung ini. Ntahlah, bahkan gajinya di Antarna Group saja masih menjadi misterikan. Sambil menunggu lif mengantarkan ke lantainya, dia membuka hp khususnya. Laporan mengenai perusahaan. Dia membacanya tanpa bergeming. Bahkan air mukanya tidak berubah. Lif terbuka, dia berjalan menuju satu-satunya pintu yang ada di lantai ini. Ya, satu lantai di gedung ini hanyalah rumahnya. Han memasuki rumahnya, lampu sensor menyala saat dia melepaskan sepatu. Menghidupkan beberapa lampu di ruang utama. Mengendurkan dasi jasnya lalu duduk di meja di dekat dapur. Meletakan kunci mobil, dan dua buah hp disana. Melihat tuan muda jatuh cinta untuk kedua kalinya, kupikir awalnya mustahil. Tapi teryata dia benar-benar bisa merubahnya ya. Daniah, rambut bergelombang, tubuh yang mungil. Sebenarnya daya tariknya itu dimana si, sampai tuan Saga tergila-gila. Apa di mulutnya yang pandai sekali bicara itu. Terdengar Han mendesah sebelum memasuki kamar mandi. Cukup lama dia menghabiskan waktu di kamar mandi. Melebihi tuan putri saja. Salah satu hobinya memang berendam di bak kamar mandi sambil berfikir. Apa yang dipikirkannya, hanya Tuhan yang tahu. Lagi pula selain Daniah mungkin tidak akan pernah ada yang iseng menanyakannya padanya. Malam semakin larut, Han menghidupkan kompor dan menuangkan segelas susu ke dalam panci kecil. Dia menghangatkannya sebentar kemudian kembali menuangkannya ke dalam gelas yang tadi. Mencampurkan sesendok madu ke dalam susu hangat. Lalu membawanya menuju meja di mana hpnya berada. Kembali dia memeriksa pesan yang masuk di hp khusus. Cih, banyak sekali yang harus kubereskan. Hp yang satunya menyala, hp resmi yang dia pakai, pesan masuk. ¡° Nona Daniah mengirimkan sejumlah uang yang cukup besar ke badan amal kota. Akan saya periksa penerimanya siapa saja.¡± pesan diterima. ¡° berikan semua laporan transaksi keuangan yang dipakai dari kartu dan rekening yang diberikan tuan Saga.¡± pesan balasan terkirim. ¡° Baik.¡± selesai laporan. Han menikmati setiap tegukan minumannya. Minum susu hangat sebelum tidur katanya bisa membantu tidur nyenyak. Sepertinya berhasil untuknya, karena setiap malam dia tidak pernah melewatkanya sama sekali. Sekarang Han yang mengirimkan pesan. ¡° Bagaimana helen?¡± terkirim ¡° Dia sudah mendekati EO, undangan untuk peresmian juga sudah dia dapatkan.¡± ¡° Biarkan saja, urus media jangan sampai ada berita tentangnya setelah peresmian.¡± ¡° Apa akan membiarkannya muncul di peresmian.¡± ¡° Itu akan jadi terakhir kalinya dia menggangu tuan saga. Kumpulkan semua bukti, cetak semua foto yang kau dapat.¡± ¡° Baik tuan.¡± Aku sudah memberimu kesempatan untuk menyerah Helen, tapi sepertinya kau benar-benar keras kepala dan tidak tahu malu. Berbeda denganmu yang dari awal memang hanya ingin memanfaatkan ketulusan cinta tuan Saga. Kalau Daniah bahkan sampai hari ini saking bodohnya dia dia tidak menyadari perasaan sesungguhnya tuan Saga. Kenapa perempuan itu banyak sekali macamnya begini. Meletakan hp yang biasanya, sekarang beralih pada hp khusus ditangannya. Membuka beberapa email penting, yang dikirimkan para kaki tangannya di dalam perusahaan. Bukan CEO, tapi Han selalu punya wakil khusus yang berada di bawahnya langsung untuk memberi informasi mengenai kinerja perusahaan secara nyata. Bukan hanya laporan tertulis yang dibuat sebaik mungkin, namun fakta real di lapangan. Siapa saja mereka, tidak ada yang tahu. Siapa saja bisa menjadi bayangannya apapun posisinya di perusahaan. Tapi yang pasti mereka adalah orang-orang yang setia pada Antarna Group. Orang-orang yang separuh hidupnya mengabdikan diri untuk Antarna Group. Melelahkan, aku juga ingin pergi berlibur. Tapi di situasi seperti ini, saat bos yang tidak bisa membedakan mana buah apel dan buah semangka.Kapan mereka akan saling mengakui perasaan mereka. Setelah memeriksa semua laporan dia meletakan semua hpnya bercampur dengan kunci mobil, di meja dapur. Han mematikan beberapa lampu, dan menyisakan satu. Lalu berjalan menuju kamarnya. Sebentar setelah menjatuhkan diri diatas tempat tidur dia sudah mulai bergumam lembut masuk ke dalam mimpi. ¡° Aku juga ingin jatuh pada gadis berambut bergelombang dan berwajah manis.¡± Aaaa, andai ada yang merekamnya saat mengigau dalam tidur, itu bisa jadi aib yang bisa dipakai untuk mengancam sekertaris Han seumur hidupnya. Bersambung ¡° Hidupku yang membosankan, hei tor kapan aku jatuh cinta? ¡± @Han Chapter 95 Ulang Tahun Ibu Hari perayaan ulang tahun ibu. Pesta yang sudah sedari kemarin menjadi topik hangat di kalangan para pelayan di rumah utama. ¡° Kakak ipar maafkan aku, pelatihan magang belum selesai aku akan langsung menyusul ke gedung. Kakak ipar tegakan kepala kakak ipar, kalau ada yang menggangu kakak ipar catat saja siapa dia, aku akan membalaskan dendam kakak ipar. Atau kalau tidak pakai senjata mematikan kakak ipar bicara untuk menghantamnya.¡± ¡° Kalau bertemu kak Helen jangan perdulikan dia.¡± ¡° Aku akan menyusul nanti.¡± Pesan beruntun dari Jenika. Anak ini, memangnya mulutku semematikan itu apa. ¡° Kakak ipar, maafkan aku aku tidak bisa pergi bareng, aku akan menyusul langsung ke gedung.¡± ¡° Pacarku sedang sidang skripsi, dia merengek minta aku menunggunya.¡± ¡° aku mendukungmu kakak ipar, kalau bertemu kak Helen jangan hiraukan dia.¡± ¡° Kakak ipar adalah wanita kesayangan kak Saga, aku akan mendukungmu selalu.¡± Pesan dari Sofi. Ya ampun dua anak ini manis sekali si, mereka benar-benar mengkhuatirkanku. Daniah meletakan hpnya. Beralih pada pantulan dirinya di dalam cermin. Dia sudah memakai riasan yang cukup baik sekarang. Kemampuan berdandanya walaupun hanya beberapa kali mengikuti kelas makeup sepertinya sudah melewati tingkat dasar dan menuju perkembangan yang sangat baik. Ini menurutnya sendiri lho, jangan diukur dari standar keahlian makeup nasional ya. Cukupkan, lagipula nanti tamunya pasti kebanyakan ibu-ibu sosialitakan. Kalau seperti ini tuan Saga juga tidak akan marah karena aku berdandankan. Masak aku tidak boleh berdandan di pesta mewah ulang tahun ibunya. Bisa-bisa aku diusir di pintu masuk. Daniah meyakinkan dirinya, untuk berani. Dia percaya tuan Saga akan muncul dengan cara yang dramatis seperti saat ulang tahun ayahnya. Walaupun dia tidak mengenal siapapun di pesta itu, bukankah dia hanya perlu menunggu sampai Jen dan Sofi datang. Baiklah, beranikan dirimu Daniah. Makan saja dan tunggu sampai jen dan sofi datang. Jangan perdulikan ibu atau Helen. Daniah mengambil hadiah kecil yang sudah dia siapkan untuk ibu. Jangan terlalu berharap ibu menyukainya. Aaaaa, aku ingin menangis karena saking tegangnya. Bahkan ini jauh lebih menegangkan dari pada saat pernikahan. Karena saat menikah aku bersama Raksa dan keluargaku, aku jadi tidak setakut ini. Daniah menuruni tangga, rumah tampak lengang. Para pelayan bahkan pak Mun memang di berbantukan di acara sejak siang tadi. Hanya ada beberapa pelayan dan penjaga yang tinggal di rumah utama. Mayapun ikut pergi ke gedung. ¡° Nona muda mobil sudah siap.¡± seorang penjaga sudah menunggu di luar pintu masuk, mendekat ketika Daniah keluar. ¡° Terimakasih pak.¡± Laki-laki itu menganguk sopan, tidak berani mengangat kepalanya. Aturan baru di rumah ini, tuan muda melarang para penjaga atau pelayan laki-laki itu memandang nona Muda lebih dari tiga detik. Peraturan aneh yang lahir karena alasan. ¡° Kalau kau memandang istriku lebih dari tiga detik, dia akan terlihat semakin manis di detik ke empat. Jadi ingat itu sampaikan pada para pelayan laki-laki aturan baru ini. Aku akan memecat siapapun yang melanggarnya tanpa peringatan. Itu berlaku untukmu juga pak Mun.¡± ¡° Baik tuan muda.¡± Akhirnya mulai hari itu berlakulah aturan tiga detik di rumah ini. Semua pelayan di rumah tahu aturan ini, kecuali, orang yang menjadi sumber di buatnya aturan ini. Kenapa para pelayan laki-laki tidak ada yang mau menatapku ya. Apa aku sejelek itu sampai mereka malas melihat wajahku saat bicara. Daniah bergumam pelan sambil melajukan mobil meninggalkan halaman, saat sampai di gerbang utama melihat mobilnya yang mendekat penjaga gerbang langsung sigap membukakan gerbang. Daniah membuka kaca pintu mobil dan mengucapkan terimakasih. Penjaga gerbang membalas sambil menundukan kepalanya. Bahkan diapun tidak mau melihatku. Sudahlah. Mobil memecah jalanan, menuju gedung tempat berlangsungnya ulang tahun meriah nyonya besar Antarna Group. Ibu dari presdir Saga Rahardian. Akan semewah apa pesta yang berlangsung, mungkinkah mengalahkan pesta ulang tahun negara ini. Daniah meringis sendiri membayangkan pesta semacam apa yang akan dia datangi. Di tengah pintu masuk ruang acara. Daniah celingukan mencari orang yang dia kenal. Nihil, bahkan para pelayan dari rumah utama juga tidak ada. ¡° Maaf nona bisa tunjukan undangan anda.¡± Undangan! Bagaimana ini, ibukan hanyaa bicara lisan mengundangku waktu itu. Tunggu apa ini awal dia berusaha mempermalukanku. Daniah kenapa kamu bodoh sekali. ¡° Maaf saya.¡± Daniah terlonjak dan tidak melanjutkan kata-katanya ketika seseorang datang dan memukul bahu pengawal yang menanyakan undangan padanya. ¡° Bodoh! Apa kamu tidak mengenali majikanmu sendiri. Maaf nona atas keteledoran saya.¡± Dia membungkukan kepalanya sopan. ¡°Tundukan kepalamu dan minta maaf pada nona muda.¡± Pengawal yang tadi gelagapan binggung. ¡° Maafkan saya nona, saya tidak mengenali anda.¡± ¡° Sudahlah tidak apa-apa. Jangan memarahinya, diakan hanya melaksanakan pekerjaannya.¡± ¡° Sekarang nona silahkan ikuti saya.¡± Dia mempersilahkan dengan tangannya lalu berjalan pelan di depan Daniah. Aku sepertinya pernah bertemu dengannya, ya, mungkin kami beberapa kali berpapasan di rumah. ¡° Saya tidak apa-apa pak, tapi tolong jangan hukum pengawal yang tadi ya, diakan hanya menjalankan tugas saja. Terimakasih sudah mengantar.¡± ¡° Terimakasih atas kebaikaan anda nona.¡± Lagi-lagi bicara tanpa melihat kearahku, mereka ini kenapa si. ¡° Silahkan menikmati pestanya.¡± ¡° Baik, terimakasih.¡± Ruangan ballroom yang sangat megah. Dekorasi bunga yang mewah menyambut tamu. Tatanan lampu serta pencahayaan yang sempurna membuat tempat ini bak negri dongeng. Tempat duduk bundar yang tersusun secara rapi. Ada pantulan cahaya dari gelas-gelas bening yang ada di atas meja. Sudah ada banyak tamu yang duduk diantara meja-meja itu. Tunggu ini acara ulang tahun ibukan, aku benar tidak salah masuk gedungkan. Gemerlapnya pesta bersinergi dengan glamornya para tamu undangan. Daniah melihat dirinya sendiri, untung saja dia berdandan dengan layak tadi, kalau tidak, tidak tahu akan semalu apa dia sekarang. Tamu-tamu sudah berdatangaan, mereka menunjukan kartu undangan mereka lalu seseorang menuntun mereka untuk duduk di meja yang sudah di sediakan. ¡° Nona Daniah.¡± Seorang wanita dengan penampilan rapi menyapa. ¡° Saya staff sekertaris tuan Saga, silahkan ikuti saya.¡± Daniah yang sedari tadi kebinggungan merasa sangat bersyukur. Oh dewi penolongku, terimakasih. Daniah mengikuti langkahnya keluar dari ballroom memasuki ruang tunggu. ¡° Silahkan nona bisa menunggu di dalam sebelum acaraa di mulai.¡± Daniah memasuki ruangan, staff sekertaris tadi hanya membukakan pintu, dan tidak mengikuti langkahnya. Setelah ada di dalam dia melihat ibu dan helen sedang berbincang hangat. Dia ada di sini ya. ¡° Daniah, kamu sudah datang ya.¡± Seperti biasa, Helen selalu menjadi yang pertama menyapa dengan senyum hangat. Dia mengandeng tangan Daniah untuk ikut duduk di meja dimana ibu juga duduk. Wanita itu sudah memberi pandangan tidak suka sejak masuknya Daniah melalui pintu tadi. ¡° Selamat malam bu, selamat ulang tahun.¡± Daniah mengeluarkan bingkisan kecil dari tasnya. Dan menyerahkannya pada ibu. Wanita itu hanya tersenyum sinis menerimanya. Lalu melemparkan bingkisan itu berkumpul dengan tumpukan kado mahal lainnya. Daniah menatap nanar hadiah yang bahkan tidak di buka oleh ibunya. Sudahlah, kau sudah tahu akan seperti inikan. Jangan sedih. ¡° Apa Saga akan datang hari ini?¡± pertanyaan Helen itu ditujukan pada Daniah. Mana kutahu! Melihat Daniah yang terdiam sepertinya Helen merasa perlu melancarkan serangan keduanya. ¡° Aku pikir sebagai istrinya kamu pasti tahu.¡± Senyum seringai muncul dibibirnya. Kau mau mengatakan apa? Kalau aku istri yang tidak dicintai, menantu yang dibenci begitu. Maaf ya Helen, aku sudah tidak mendukung eksistensimu lagi. ¡° Jangan banyak bicara denganya, sebentar lagi dia juga akan keluar dari rumah. Dan kamu akan mengantikannya Helen. Jadi bersabarlah.¡± Lihat, dia tersenyum, bagaimana dia bisa tersenyum setelah mendengar ibu mengatakan itu. Itukan namanya jahat sekali. Karena aku ada di sini. kalau dia sedang mengunjingku di belakangku itu akan lain ceritanya. ¡° Maafkan aku bu. Tapi sekarang kami sedang dalam suasana yang sangat bahagia lho. Aku dan tuan Saga. Hehe.¡± Aku pasti sudah gila! Memancing mereka seperti ini. Wajah ibu dan helen terlihat sangat terkejut dan masam. Tapi mereka tidak lagi bicara sepatah katapun dengan Daniah setelahnya. Helenpun berhenti memasang wajah penuh senyumnya. Kemeriahan pesta semakin bertambah ketika para artis papan atas mulai menyanyikan lagu ceria. Daniah duduk di mejanya bersama Jen dan Sofi. Tampak sangat murung. Sepanjang acaranya dia sudah mendengar dan menerima banyak sekali tatapan menyedihkan untuknya. Apalagi saat dia keluar dari ruang tunggu tadi, karena alih-alih ibu mengandengnya dia malah mengandeng Helen. memperkenalkan gadis itu dengan penuh kebanggaan. Saat menerima hadiah lukisan dari Helen juga. ¡° Kakak ipar jangan hiraukan mereka, merekaan tidak tahu kebenarannya biarkan saja mereka bicara apa saja sekarang.¡± Jen bicara berapi-api menenagkan Daniah. ¡° benar, kalau tahu pasti mereka akan ketakutan karena berani bersikap begitu pada kakak ipar.¡± Sofi dengan manisnya memeluk Daniah. Terimakasih ya. Beberapa kali Daniah melihat hpnya, menatap pintu masuk, seseorang yang dia harapkan akan muncul secara dramatis menyelamatkan dirinya. Namun sampai acara berakhir tidak ada yang muncul. dia tidak muncul seperti yang diharapkan. Daniah menyeka ujung matanya merasa sakit dan kecewa. Bodoh! bukankah sudah berkali-kali ku ingatkan untuk menjaga agar hatimu tidak terluka. Jangan pernah berharap banyak. kenapa kau membuka hatimu dan bersandar padanya. Bodoh! dia tetaplah tuan Saga. Kau sudah terlalu banyak bergantung padanya. sekarang kau ingin dia datang menyelamatkan dirimukan. Kasihan! Sampai akhir dia tetap tidak muncul. " Kakak ipar ayo pulang bersama, biar pengawal yang membawa mobil kakak ipar." Jen sudah membaca gurat sedih dan kecewa di wajah Daniah. Jadi dia tidak ingin membiarkannya sendiri. Kakak ipar pasti sedih sekali, ibu juga sangat keterlaluan, kak Saga juga kenapa sampai tidak datang begini si. " Pulanglah, aku ingin berkeliling mencari angin sebentar. Nanti aku pulang setelahnya. Jangan kuatir, pulanglah duluan dengan Sofi." Walaupun berat hati akhirnya jen membiarkan Daniah membawa mobilnya sendiri, meninggalkan area parkir gedung pesta. Perasaannya sudah tidak enak, tapi dia sudah terlambat menyadari. Karena mobil Daniah sudah menghilang di tengah keramaian mobil para tamu yang lainnya. Sepertinya akan terjadi hal mengerikan. Aaaaa bagaimana ini, mobil kakak ipar sudah tidak kelihatan lagi. BERSAMBUNG Chapter 96 Kepanikan Saga Ruang tunggu privat Bandara. Guyuran hujan deras tidak berhenti dari siang, beberapa kali kilat besar menyambar. Menyisa gelegar di angkasa. Awan juga masih mengelap di beberapa sudut kota termasuk di atas bandara. Hari ini alam sedang menangis cukup lama. Membuat rencana Saga buyar dalam kemarahannya. ¡° Kenapa ini?¡± Saga mencengkram jas sekertaris Han kesal. ¡° Aku harus kembali sekarang.¡± Melepaskan dan mendorong tubuh Han. Lalu dia menghempaskan tubuh ke atas sofa dengan sangat kesal. ¡° Maafkan saya tuan muda, cuaca sedang buruk sekali. Landasan pacu terendam air cukup parah. Kita tidak bisa lepas landas, itu akan membahayakan keselamatan anda. Dan saya tidak akan mengambil resiko jika menyangkut keselamatan anda.¡± Han bicara sama tenangnya seperti biasanya. Akhir-akhir ini perbuatan paling gila yang dilakukan tuannya sudah bisa dia tanggapi dengan hanya helaan nafas ringan. Dia laki-laki yang sedang dimabuk cinta, biarkan dia melakukan apapun yang dia suka. ¡° Sialan, kamu tahukan ini hari penting apa.¡± Mengeram kesal lagi, sambil memandang jendela. Melihat guyuran hujan yang membanjiri bumi. ¡° Maaf tuan muda.¡± Minta maaf saja, asal membuat suasana hatinya lebih baik. Cuaca yang memburuk membuat semua jadwa penerbangan ditunda keberangkatannya. Pesawat komersil berbadan besar saja di larang apalagi pesat jet pribadi. Bandara sedang di penuhi penumpang yang kesal karena penerbangan mereka tertunda. Berbeda mereka yang menunggu dalam ruangan yang ramai Saga sendiri berada di ruangan yang sangat nyaman. Tapi tentu itu tidak bisa mengusir gelisah yang dirasakannya. Dua orang pelayan masuk membawakan hidangan mewah, sama sekali tidak diliriknya. Pikirannya hanya satu. Pesta ibunya dan bagaimana Daniah di sana. ¡° bagaimana kereta. Kita pulang naik kereta saja.¡± Agak bersemangaat bicara, padahal idenya ide gila yang segera mungkin dibantah Han. ¡° Kita akan sampai besok kalau naik kereta.¡± Saga menendang udara kesal. ¡° Bagaimana kalau kita naik mobil sekarang!¡± Bangun dari duduk. ¡° Siapkan mobil sekarang Han.¡± Berhentilah berfikir tuan muda, sudah duduk saja. Han tidak menjawab dengan kata-kata, hanya gelengan kepala yang mewakili suasana hatinya. ¡° Cih, ternyata ada yang tidak bisa kamu lakukan juga ya. Ternyata kamu memang manusia ya.¡± Mengomel kesal, meluapkan emosi. Memang anda pikir selama ini saya apa! Bicara saja sesuka anda tuan muda. ¡° Bagaimana keadaan Daniah di sana?¡±Han terdiam tidak mau semakin memancing kemarahan majikannya. Karena kalau dia menjawab update suasana pesta sekarang, laki-laki dihadapannya ini pasti akan berfikir tentang ide gila lagi. Mungkin kali ini dia ingin minta alat teleportasi. ¡° Kau mau aku menghancurkan tempat ini karena kesal!¡± Lihatkan, belum dijawab saja sudah emosi. ¡° saat ini nona jenika dan nona Sofia sudah bersama nona Daniah tuan muda. Kita tunggu .¡± ¡° aaa, sial. Kenapa harus ada perjalanan keluar kota di hari sepenting ini. Dia pasti menungguku. Seharusnya aku muncul di hadapannya dengan keren, menciumnya dan menunjukan pada semua orang siapa statusnya. Aaaa, memikirkannya saja sudah membuatku sangat kesal.¡± Saga sudah tidak tahan, dia menjatuhkan tumpukan buku di atas meja di sampingnya dengan marah. ¡° Maafkan saya tuan muda.¡± Silahkan lakukan apapun yang membuat anda bisa tenang. Hari ini Saga dan Han harus melakukan perjalanan ke luar kota untuk menghadiri peresmian salah satu pabrik teksil di kota sebelah. Sebenarnya kalau cuaca sedang normal tidak sampai setengah jam dengan mengunakan pesawat pribadi dia sudah bisa bolak balik. Semuanya sudah sesuai jadwal, dia bisa datang menghadiri ulang tahun ibunya. Sebenarnya ulang tahun ibunya tidak terlalu penting, tapi pada momen itulah dia ingin mengenalkan Daniah pada masyaraakat. Status Daniah sebagai wanita yang dia cintai, bukan haanya statusnya sebagai istri presiden Antarna Group. ¡° Han.¡± Menendang kaki Han di depannya yang sedang melihat hujan di luar jendela. ¡° Ia tuan muda.¡± Menoleh sigap. ¡° Sampai kapan kau akan membereskan masalah Ele. Bukankah seharusnya ini sudah diambang batas kesabaranmu.¡± Dia tahukan aku memang sudah sangat kesal pada mantannya yang menyusahkan itu. ¡° karena nyonya masih mendukungnya saya pikir akan membereskannya setelah pesta ulang tahun.¡± Tidak, saya akan membiarkan dia sekali lagi tampil di publik bersama anda pada saat peresmian danau hijau. Tapi Han akan menyimpan rencana itu sampai waktunya tiba. ¡° Bagaimana kalau Daniah menangis di sana.¡± Berhenti membahas Ele dan kembali panik mengingat istrinya di pesta ibunya. Saga bangun, mondar-mandir dan menendang sofa. ¡° Nona muda tidak akan secengeng itu tuan.¡± Han menjawab. ¡° Cih, kau benar-benar tidak tahu apa-apa tentang Daniah ya.¡± Mencibir. ¡° di awal pernikahan dia sering menangis diam-diam di lemari pakaian tahu. Memang hanya aku yang tahu pasti tentang istriku.¡± Kenapa anda membanggakan itu, itukan karena anda dulu sering menyiksa nona Daniah dengan kata-kata anda. Apa saya boleh bilang, kalau anda tidak tahu malu membanggakan hal begituan. ¡° Menurutmu kapan momen yang pas aku menyatakan perasaanku padanya, ahhh, sial, sial, seharusnya dunia tahu hari ini. Seharusnya Daniah tahu hari ini. Tapi aku malah terkurung di tempat ini?¡± ¡° Perasaan apa?¡± menjawab datar. ¡° Perasaan apa. Ya perasaan cintalah.¡± Saga melemparkan bantak ke wajah Han, membuat sekertarisnya tergelak. ¡° Jangan pura-pura bodoh kalau kau tidak menyadari aku menyukainya.¡± ¡° Haha, ia maafkan saya tuan muda.¡± Bagaimana saya tidak menyadari, kalau ada jadi sebodoh ini karena jatuh cinta. ¡° Apa anda mau saya menyiapkan kejutan yang romantis setelah peresmian Danau hijau. Pesta kecil untuk kalian berdua.¡± Mengambil bantal yang tergeletak di lantai, dan menempatkannya di tempat semula. ¡° Sepertinya bagus juga. Tapi yang pertama, bawa aku keluar dari kota ini dulu!¡± berteriak kesal, sadar kembali sekarang berada di situasi seperti apa. ¡° Mana hpku.¡± Han menyerahkan hp dari saku jasnya. Di sambar Saga, dan dia langsung menghubungin Jenika. ¡° Kak Saga, kakak dimana? Kakak datangkan?¡± suara panik di sana. ¡° Apa yang dilakukan kakak iparmu? Apa dia menangis sekarang.¡± Suara Saga terdengar sangat kuatir. ¡° Apa menangis. tidak, tapi dia benar-benar menunggumu. Kak Saga ada di mana?¡± ¡° Sial. Tetap ada di sampingnya sampai acara selesai.¡± Tidak menjawab pertanyaan Jenika sama sekali. ¡° Kak Saga akan datangkan?¡± Panik meminta kepastian, lebih panik lagi ketika Saga memutuskan sambungan tanpa penjelasan berarti apapun. Sudah akan membanting hp ditangannya karena kesal, tapi karena benda kecil berbentuk bintang dia malah mencium benda itu. Lihatkan kelakuan gila anda. Han mendekat kearah jendela mengetikan beberapa pesan dihpnya. Memastikan semua berjalan dengan semestinya. ¡° Tuan muda sebaiknya anda makan malam dulu.¡± Han mendekat kearah meja makan. ¡° Makan! Kamu pikir aku bisa makan sekarang.¡± Marah. ¡° Demi nona Daniah anda harus makankan? Nona juga pasti sedang makan malam sekarang. Anggap saja kalian sedang makan bersama di belahan dunia yang berbeda.¡± Maaf nona, saya memakai nama anda seenaknya. ¡° Jangan bicara sembarangan.¡± Tapi dia bangun dan mendekati meja makan, menunjuk beberapa hidangan yang mengundang selera. Lalu duduk dan menikmati makan malamnya. Konsep makan malam bersama di belahan dunia yang berbeda membuatnya tersenyum, mengulangi kata itu di hatinya. Hujan berhenti pada akhirnya di malam hari. Petugas bandara membersihkan sisa genangan air agar landasan pacu bisa segera di gunakan. Saga sudah berada di dalam pesawatnya menunggu untuk lepas landas. Pesta sudah berakhir. Dia memejamkan mata sepanjang perjalanan, mengusir rasa kesal yang teramat sangat. Hari ini rencana memperkenalkan Daniah pada masyarakat gagal. Dan bisa jadi hari ini dia telah membuat istrinya kecewa karena dia tidak muncul. Harusnya malam ini jadi hari paling romantis. Sial! Mobil berhenti di pintu masuk, Saga keluar bahkan sebelum Han keluar dari mobil. Pak Mun sudah menunggu di dekat pintu masuk. Dia langsung mendekat saat Saga keluar dari mobil. ¡° Di mana Daniah?¡± Pak Mun sudah terlihat gelisah. ¡° Dimana dia pak?¡± bertanya dengan suara keras. ¡° Nona muda belum kembali dari pesta.¡± Saga mencengkram kerah pakaian pak Mun. ¡° Apa yang kalian lakukan hah. Pengawal sebanyak ini, bagaimana kalian bisa kehilangan istriku.¡± Ingin rasanya dia memukul pak Mun. Tapi pikirannya masih bisa dipakai sehingga dia melepaskan kerah baju yang di cengkramnya. ¡° Maafkan saya tuan muda sudah mengecewakan anda.¡± Membungkukan kepalanya dalam sambil mengikuti langkah Saga masuk ke dalam rumah. ¡° Jen dan Sofi di mana?¡± ¡° Ada di kamar.¡± ¡° Panggil mereka.¡± Han yang bergerak duluan sebelum pak Mun, dia berjalan cepat menuju kamar Jenika dan Sofia. Selang tidak lama mereka sudah muncul bersamaan. Jen dan Sofi langsung duduk bersimpuh di hadapan Saga. Tuan muda sedang sangat luar biasa marah karena nona Daniah menghilang dan belum kembali. Minta maaf dan jawab pertanyaanya dengan benar kalau kalian tidak mau mendapat masalah lebih besar. Ucapan sekertaris Han sepanjang menuruni tangga. ¡° Bodoh! Kenapa kalian meninggalkan kakak ipar kalian sendirian?¡± ¡° Maafkan aku kak. Kakak ipar bilang mau pergi mencari angin sebentar, jadi aku membiarkannya pergi dengan mobilnya sendiri. Maafkan aku, aku sudah menelfon kakak ipar beberapa kali tapi tidak diangkat. Maafkan aku kak.¡± Saga mengeram kesal. ¡° Masuk ke kamar kalian, jangan tunjukan wajah kalian sebelum kakak ipar kalian kembali.¡± ¡° Maafkan kami kak.¡± Han menggelengkan kepalanya cepat, mencegah Jenika bicara lebih banyak. Dia menempelkan jemari telunjuknya di bibir. Diam dan pergi kekamarmu. Begitu arti isyaratnya. Jen dan sofi bangun lalu menyeret kaki mereka menaiki tangga. Aaaa, ternyata ini perasaan tidak nyaman tadi. Bodohnya aku! Kenapa aku membiarkan kakak ipar tadi. ¡° Han, kau tidak mungkin tidak memasang alat di hp atau mobil Daniahkan?¡± memegang Bahu Han kuat. ¡° Jangan mengecewakanku sekarang,¡± Cih, aku memang harus segila itu untuk meladeni lelaki yang sedang jatuh cintakan. Tapi kenapa harus secepat ini. Han mengambil telfonnya, sementara Saga belum melepaskan tangannya. ¡° Lacak posisi nona Daniah sekarang, hpnya masih aktif sampai sekarang.¡± Diam sebentar. ¡° Baiklah, bawa ahli kunci dan mobil patroli polisi untuk pengamanan. Sepertinya kita akan membobol gedung milik nona.¡± Saga melepaskan tangannya, dia sudah bisa bernafas lega. ¡° Tunggu apa lagi, ayo pergi sekarang!¡± ¡° Apa anda tidak mau mandi dan ganti baju dulu tuan muda, sudah seharian anda memakai pakaian inikan.¡± ¡° Apa itu masih penting sekarang!¡± berteriak di telinga Han kesal. ¡° Tentu saja, andakan akan bertemu nona Daniah.¡± Sial, benar juga. Aku tidak mau muncul dengan penampilan kumal dan bau asam beginikan. ¡° pak Mun bantu aku bersiap.¡± ¡° Baik tuan muda.¡± Saga bergegas menaiki tangga, yang diikuti pak Mun di belakangnya. Nona, anda benar-benar jadi senjata ampuh menjinakan tuan muda. Pesan di terima. ¡° Mobil nona Daniah ada di depan ruko, dan lampu lantai dua ruko menyala. Apa anda mau saya membuka kunci sekarang.¡± ¡° Tidak, tunggu tuan Saga datang.¡± Karena drama malam ini masih akan berlanjut. aku juga ingin mandi air hangat. BERSAMBUNG Chapter 97 Cuma Mimpikan? Malam semakin larut, udara dingin sudah menyelimuti bumi, mengajak manusia untuk beristirahat dalaam mimpi yang indah. Namun tidak di depan ruko dua lantai ini. Dua orang ahli kunci sedang membuka pintu, dengan peralatan yang mereka bawa. Seorang pengawal memperhatikan semua kerja mereka dengan seksama. Sementara mobil patroli dan dua petugas polisi berdiri di samping mobilnya. Siaga. Lokasi ruko yang cukup ramai akan menimbulkan keributan sendiri jika tiba-tiba ada yang melihat serombongan orang terlihat membobol ruko. Han hanya tidak ingin ada masalah merepotkan. Jadi sebagai antisipasi maka hadirlah mobil patroli sebagai pelengkap ketegangan malam ini. Mereka sedang berpacu dengan waktu membuka pintu. Sementara itu, Saga masih duduk di dalam mobil, memandang lantai ruko dua yang lampunya menyala. Tidak berpendar terang, tapi mengisyaratkan ruko itu sedang ada penghuninya. Sepertinya Daniah hanya menyalakan satu lampu dari tiga lampu di lantai dua. Tirai tebalnya juga menghalangi bayangan atau apapun tampak dari luar. ¡° Apa yang harus kulakukan di atas sana nanti?¡± bertanya pada Han yang duduk diam di belakang kemudi, tapi mata Han memperhatikan setiap kemajuan yang dilakukan orang-orang di depan pintu itu. Rollingdoor sudah terbuka, tinggal pintu kaca. Saga sendiri sedang merasa binggung akan bersikap seperti apa jika pintu itu sudah terbuka, apa lagi jika mendapati Daniah menangis nanti. ¡° Bersikap cool seperti biasanya saja tuan muda.¡± Andakan selalu begitu kalau ingin menyembunyikan perasaan anda padaa nona Daniah. Pura-pura sok menindas, padahal hanya ingin menyentuhnyakan? Saga menendang kursi di depannya. ¡° Kau pikir aku masih bisa bersikap sok cool ditengah kecemasanku ini.¡± Mengetuk-ngetukan jarinya di kaca jendela. Sepertinya dia benar-benar sedang salah tingkah karena merasa cemas. ¡° Saya akan mencegah anda melakukan sesuatu yang akan membuat anda malu nanti.¡± Saga mendesah, melihat kearah pintu yang sedang berusaha dibuka. ¡° Menurutmu hal paling memalukan apa yang bisa ku lakukan di dalam sana.¡± Sudah terlihat sangat tidak sabar. Dia ingin keluar, mendobrak pintu dan menemukan istrinya. ¡° Anda akan menangis, dan memohon kepada nona untuk tidak meninggalkan anda.¡± Saya akan tertawa kalau melihatnya, tapi saya akan pastikan itu tidak akan terjadi. ¡° Sialan kamu Han.¡± Saga mencengkram bahu Han di kursi kemudi depan. ¡° Cegah jangan sampai aku melakukan hal itu, kalau sampai yang kamu katakan tadi terjadi awas kamu.¡± ¡° Sepertinya mereka sudah selesai, saya turun sebentar tuan muda.¡± Mengalihkan emosi sesaat Saga yang muncul tadi. ¡° Hemm.¡± Saga hanya memperhatikan dari tempatnya duduk, sepertinya pintu kaca memang sudah terbuka. Dia menyentuh dadanya yang berdebar karena tegang. Masih memikirkan hal pertama yang akan ia lakukan setelah memasuki ruko. Han turun, mendekat ke arah pintu. Pengawal yang sedari tadi berdiri sigap mengawasi dua ahli kunci itu mendekat. Menyampaikan informasi kalau pintu sudah terbuka. Dia menunjuk ke arah mobil polisi, ¡°apa mereka sudah bisa pergi?¡± tanyanya kemudian. Sepertinya situasi cukup kondusif, sehingga tidak banyak masyarakat yang mendekat. ¡° Tidak, bereskan tempat ini seperti semula setelah tuan Saga pergi. Sekarang menyingkirlah. Ajak semuanya, menunggu di sana.¡± Han menunjuk kursi taman. Radius aman yang membuat mereka tidak akan mendengar apapun, sekalipun Tuan Saga atau nona Daniah akan berteriak nanti di dalam. Pengawal itu menggangukan kepala dan mengajak semua orang untuk meninggalkan posisinya. Kedua polisi tetap meninggalkan mobilnya di tempat semula. ¡° Anda sudah bisa masuk tuan muda.¡± Han membukakan pintu mobil, di susul Saga keluar. Terlihat dia mengedarkan pandangan memeriksa sekeliling sambil menarik nafas pelan. Mengusir ketengangan. Sial! Kenapa aku sepanik ini sekarang. ¡° Ingat itu, cegah aku melakukan hal yang memalukan di depan Daniah nanti.¡± Jangan sampai dia kehilangan harga diri di hadapan Daniah begitu yang ia pikirkan. ¡° Baik.¡± Han mengangukan kepala. Lantai satu gelap, Han mengeluarkan hpnya sebagai penerang. Dia berjalan di depan menaiki tangga terlebih dahulu. Terdengar isak lirih dari lantai dua. Lalu dia kembali menuruni tangga dan memberi penerangan agar Saga dapat berjalan tanpa kendala. ¡° Nona sedang menangis.¡± katanya setengah berbisik, membuat langkah kaki Saga terhenti. Sebentar dia berusaha menguasai emosinya. Bayangan kejadian pesta yang menjadi praduganya terputar di kepalanya. Beberapa pristiwa yang dia karang sendiri berseliweran berputar seperti film. Sebenarnya apa yang terjadi di pesta? Karena ingin segera menyusul ke ruko, Saga bahkan tidak terpikir untuk menanyakan telah terjadi apa di pesata ibunya tadi pada Pak Mun. Sampailah dia di lantai dua. Udara menyeruak, hawa dingin di ruko lantai 2 ini. Padahal AC tidak sedang menyala. Atap yang terbuat dari genting dan cukup tinggi memang membuat udara di lantai 2 ini lumayan dingin di malam hari. Di atas tempat tidur, seorang sedang terisak kecil. Dia berselimut kain tipis untuk menangkal rasa dingin di tubuhnya. Pendar lampu bisa membuat Saga jelas melihat ujung kaki istrinya. Selimut tidak sampai menutupi kakinya dari hawa dingin. Saga mendekati tempat tidur. Sial! Aku ingin memeluknya sekarang, menyuruhnya berhenti menangis dan minta maaf. Saga menoleh pada Han, laki-laki itu mengelengkan kepalanya, jangan melakukan hal yang memalukan di hadapan nona yang akan anda sesali seumur hidup anda. Begitu kata Han pelan mengingatkan Saga. Hingga akhirnya yang terjadi adalah. ¡° Hei bodoh!¡± menarik kain tipis yang menyelimuti tubuh Daniah. Gadis itu terperanjak. Dia bangun, menarik selimutnya menutupi dadanya. ¡° Hei apa yang kau lakukan di sini.¡± Saga setengah berteriak, sementara Daniah mengelengkan kepalanya. Matanya terlihat mengerjab setengah sadar. Seperti tersadar siapa yang datang, Daniah menyeka airmatanya. Dia mengambil bantal di sampingnya. Melemparkan keras menghantam tubuh Saga. Sampai dia sendiri yang melempar terhuyung duduk ke belakang. ¡° Hei, kau sudah tidak waras ya? Beraninya melemparkan bantal ke tubuhku.¡± Wahh, ternyata dia berhasil bersikap sok cool seperti biasanya. ¡° Apa!¡± Daniah berteriak tidak kenal takut ¡° Hei, hei siapa yang hei. Kau bilang akan memanggilku sayang kan. Kenapa masih panggil aku hei, hei. Panggil aku sayang.¡± Daniah berteriak sambil menuding-nuding Saga. ¡° Apa?¡± Karena agak shock sepertinya Saga kehilangan kata-kata membalas Daniah. ¡° Kenapa diam, panggil aku sayang sekarang!¡± Teriakan keras dari mulut Daniah. ¡° Aku sedang bermimpikan, biar aku melampiaskannya sesukaku. Memang aku harus takut padamu. Inikan dalam mimpiku. Aku ratunya di sini. haha. ¡± Gumam-gumam sambil mencari bantal di atas tempat tidur. ¡° Panggil aku sayang sekarang.¡± Melemparkan bantal lagi. Saga yang terpenjak menangkap bantal, wajahnya sudah ingin tergelak keras melihat kelakuan istrinya. Apa dia sudah tidak waras, bagaimana dia bisa mengingau separah ini. Apa sekarang dia sedang berfikir kalau ini mimpi. ¡° Kemari! Mendekat kemari.¡± Saga mengikuti perintah Daniah, gadis itu menjentikan tangannya sama seperti yang sering Saga lakukan. Lalu setelah Saga mendekat di tempat tidur, dia menarik tangan itu. Sampai Saga terduduk di tempat tidur. ¡° Hei kau!¡± menuding kening Saga ¡° Bodoh!¡± senyum tipis di bibir Saga. Dia sudah tidak tahan ingin menghabisi istri dihadapannya yang mengemaskan ini. Tapi dia benar-benar ingin melihat, sampai sejauh mana Daniah melakukan kegilaan ini. Tangan Daniah rambut Saga, mengacak-acaknya. ¡° Kau suka sekali menarik rambut bergelombangku kan, seperti ini, seperti ini.¡± Daniah mengacak-acak rambut Saga seperti sedang keramas. Membuat kepala saga bergoyang kekanan dan kekiri. Sekarang dia melepaskan rambut dan beralih memegang kedua pipi Saga. Muuah, satu kecupan di bibir. ¡° Kau sering seenaknya menciumikan. Seperti ini. Muah, muah, muah. Hentikan kelakuanmu itu. Kau pikir jantungku tidak mau meledak apa. membuat orang berdebar-debar saja.¡± Gumam-gumam. Wajah Saga merona, ternyata upayanya membuka hati Daniah sedikit demi sedikit walaupun belum di sadari gadis itu tapi berjalan dengan baik. Daniah ambruk dalam pelukan Saga. Kali ini mulai terdengar isak seperti saat Saga pertama muncul di ruko ini. ¡° kamu dari mana saja tuan saga tidak berperasaan, tuan Saga jahat.¡± Mulai memukul bahu Saga. ¡° Wahh, wahhh, kau sepertinya sudah benar-benar tidak waras ya, beraninya memakiku.¡± Menyentuh dagu daniah dengan tangan kirinya, namun segera di tepis dengan tangan kanan Daniah. ¡° Mau apa kamu? Pergi! Pergi suami jahat.¡± Menyuruh pergi tapi dia memeluk pinggang Saga sambil mencercau dengan erat, seperti tidak mau di tinggalkan. Namun selang tidak lama terdengar isak, lama kelamaan isak tangis itu mengeras. Daniah menangis sambil membenamkan kepalanya di dada Saga. ¡° Kenapa bersikap baik padaku, hiks, hiks, seharusnya kamu tetap bersikap jahat padaku sampai akhir. Kenapa kau baik padaku, setelah aku membuka hatiku, kau menghianatiku kan!¡± memukul dada Saga berulang, masih dengar airmata berurai. ¡° Kau membuatku menyukaimu, lalu kau mencampakanku kan.¡± Menghentikan pukulannya lalu memeluk pinggang Saga lagi. Nafasnya terdengar tidak beraturan. ¡° Jangan bersikap baik padaku, bagaimana kalau aku mencintaimu.¡± Memukul-mukul dada Saga lagi. Sepertinya ia memukul sekuat tenaga yang tersisa. Karena terlihat Saga meringis menahan sakit. Tapi tetap membiarkan Daniah dengan semua tingkahnya. ¡°Aaaaa, kenapa tanganku sakit yaa, padahal inikan hanya mimpi.¡± Menangis dalam pelukan Saga sampai dia tertidur. Setelah waktu berselang, Daniah tidur semakin dalam. ¡° Bodoh!¡± Saga membaringkan tubuh istrinya perlahan. Memberi kecupan lembut di bibir dan kening Daniah. ¡° Akhirnya kau mengucapkan semua yang kau tahan selama ini ya.¡± Saga turun dari tempat tidurnya, memakai sepatu. ¡° Han.¡± ¡° ia tuan muda.¡± Menyimpan hp di tangannya di dalam saku jasnya. ¡° Kau merekamnya?¡± menebak apa yang dilakukan Han dengan hpnya tadi. ¡° Hehe, mungkin bisa anda pakai nanti untuk menjahili nona kalau dia pura-pura lupa kejadian malam ini.¡± Kekompakan yang hakiki milik mereka berdua dalam hal menjahili Daniah. Saga tergelak sambil menepuk bahu Han penuh kebanggaan, sudah memiliki sekertaris yang sangat bisa di andalkan. ¡° Saya siapkan mobil, anda bisa menggendong nonakan?¡± ¡° Tentu saja, memang kau yang mau mengendongnya.¡± Memukul bahu Han, kali ini kesal. ¡° Kita ke hotel, kalau aku bertemu dengan ibu tidak tahu apa yang akan kulakukan nanti.¡± ¡° Baik.¡± Han bergegas menuruni tangga. menghidupkan lampu di lantai satu. agar Saga bisa berjalan mengendong Daniah. Dia menghidupkan mobil, selang tidak lama Saga sudah keluar membawa Daniah dalam pelukannya. Pengawal yang sedari tadi menunggu mendekat ketika Han sudah memutar mobil mau keluar dari tempat parkir. Mobil berhenti, dia mendekatkan kepalanya. Saat Han menurunkan kaca mobil. ¡° Bereskan tempat ini seperti semula, temui aku di hotel nanti. Beri mereka uang, tidak boleh ada berita sedikitpun keluar tentang tuan Saga.¡± ¡° Baik.¡± Mobil melaju menyusuri jalanan kota. Han menelfon. ¡° Siapkan kamar tuan Saga seperti biasanya.¡± Di kursi belakang Saga menyandarkan kepalanya, sambil tangannya membelai kepala Daniah yang tidur di pangkuannya dengan lembut. Maaf karena sudah membuatmu menangis. BERSAMBUNG Kelakuan Daniah ini di sebut apa ya, gak tau juga aku. Tapi pernahkan kalian mengalami kejadian semacam ini. Malam hari kalian ketiduran sambil nonton tv di karpet di depan tv, terus pagi hari kalian tanya sama mama kalian. ¡° Ma, mama yang pindahin aku ke kamar ya.¡± Mama menjawab dengan ringan. ¡° Nggak tuh, kamu jalan sendiri kok ke kamar, bahkan sempat ke kamar mandi juga, memang kamu gak sadar.¡± ¡° Ih, iakah.¡± Dipikir-pikir kok kayaknya ia ya, tapi kok aku gak sadar... hehe Tapi untuk kasus Daniah memang agak lebay dan di dramatisasi ya... wkwkwkw Chapter 98 Hari melelahkan untuk Semua Kamar hotel presidential suite room satu-satunya di hotel ini, yang hanya boleh di tempati oleh Saga Rahardian seorang. Pintu kamar hotel ini tidak boleh dimasuki oleh sembarangan orang, bahkan staff yang membersihkan ruangan ini pun khusus adanya. Jangan tanya kenapa, ini hotel miliknya, suka-suka dialah mau buat aturan apa. Malam semakin larut, Saga menarik selimut sampai ke bahu Daniah. Lalu dia mencium pipi dan kening Daniah berulang. ¡° Bodoh, bodoh, bodoh. Kau pasti sedih sekali karena aku tidak muncul ya?" sorot mata lembut memandang istrinya. " Maaf sudah membuatmu menangis¡± menyusuri garis wajah Daniah lembut dengan jemarinya. ¡° Aku ingin lihat bagaimana wajahmu besok kalau ingat kejadian malam ini.¡± Tergelak sendiri. Memeluk Daniah sekali lagi yang tidur sangat pulas. Sepertinya gadis ini benar-benar sudah kehilangan energi kehidupannya di pesta tadi, sampai bisa membuatnya tidur sepulas itu. Keluar kamar mendapati Han yang sedang duduk sambil memegang hp. Sekertarisnya itu masih terlihat sibuk bekerja saja. Saga menjatuhkan diri di samping Han. ¡° Panggil pak Mun dan sekertaris yang membantu di ulang tahun ibu.¡± Dia harus mencari tahu ada kejadian apa sebenarnya. Mungkin sebenarnya yang salah adalah dirinya, yang tidak muncul di ulang tahun ibu. Tapi dia juga merasa ada pemicu yang sampai membuat Daniah sangat mengharapkan kedatangannya. ¡° Tuan muda.¡± Saya mohon jangan sekarang, ini sudah larut malam. ¡° Sekarang!¡± tahu, arah kata-kata Han. ¡° Bawa mereka ke mari, sekarang.¡± Cih, aku juga ingin mandi dan minum susu hangat lalu tidur. ¡° Malam ini sebaiknya ada tidur, saya akan memanggil mereka besok.¡± ¡° Han!¡± sorot mata Saga mulai kesal. ¡° Kau tahu semarah apa aku karena masalah ini sekarang, kalau aku bertemu dengan ibu mungkin aku bisa saja berteriak padanya sekarang.¡± Mengeram kesal, memikirkan apa yang sudah ibunya lakukan. Padahal aku sudah jelas-jelas mengatakan undang Daniah dan perkenalkan dia sebagai menantu ibu. ¡° Tentu saja tuan muda saya tahu. Tapi sekarang, prioritas anda sebaiknya berikan pada nona Daniah.¡± Apakah kali ini nama anda bisa tetap menjadi mantra nona ¡° Kenapa? Dia sedang tidur sekarang.¡± Menunjuk kamar dengan jari. ¡° Dia tidur nyenyak sekali seperti bayi. Aku menciuminya saja dia tidak bangun.¡± ¡° Benar, nona sedang tidur. Tapi kalau anda sekarang tidur di sampingnya pasti akan membuat nona semakin tidur nyenyak dan nyamankan.¡± Mencari-cari alasan, supaya dia sendiri bisa istirahat dengan tenang. Terlihat Saga berfikir, menimang perkataan Han yang ada benarnya. ¡° Benar juga, baiklah keluar dan istirahatlah. Kita lanjutkan semuanya besok.¡± Sudah bangun dari duduk dan berjalan menuju kamar. ¡° Baik tuan muda, selamat malam dan selamat istirahat.¡± Akhirnya, aku bisa mandi air hangat dan tidur juga. Han keluar dari ruangan presidential suite room, menuju kamarnya sendiri. Dia cukup berjalan sebentar, di lantai ini hanya ada tiga kamar. Satu yang dipakai saga, satu yang di pakai Han, dan satu lagi kosong. Kenapa? Jangan tanya, suka-suka pemiliknya ya. Han memasuki kamarnya sendiri, melepaskan dasi dan meletakan jas di kursi. Rapi, di sandaran kursi. Menjatuhkan tubuh ke atas sofa yang nyaman. Senyum dan gelak kecil muncul di bibirnya sambil dia meraih bantal dan meletakannya di bawah kepalanya. ¡° Bagaimana anda bisa selucu itu nona.¡± Han meraih hpnya, memutar kembali vidio yang dia ambil di ruko tadi. Wajahnya terlihat sangat terhibur di tengah semua kelelahan dan pristiwa yang terjadi hari ini. Baiklah hentikan, sekarang urus dulu masalah tuan saga. Kenapa anda bisa mengalihkan perhatian orang begini. Menghubungi dua orang yang akan di tanyai tuan Saga besok. ¡° Hallo pak Mun apa kau sudah tidur?¡± ¡° Belum sekertaris Han. Bagaimana?¡± kata-kata Pak Mun terhenti, dia mendengarkan Han bicara. ¡° Nona Daniah sudah di temukan, malam ini tuan Saga akan tinggal di hotel.¡± Pak Mun terdengar bernafas lega. ¡° Ceritakan garis besar yang terjadi di pesta semalam.¡± Pak Mun menjelaskan secara garis besar semua kejadian yang berlangsung pada saat pesta ulang tahun ibu. Bagaimna nona Daniah mendapatkan perlakukaan bukan hanya dari ibu tapi juga dari para tamu. Dia bagai menantu yang tidak diingankan. Ibu sangat sempurna menjadi ibu yang berperan jahat malam itu. ¡° Katakan pada nyonya untuk tidak muncul di hadapan tuan Saga sampai beberaapa hari ke depan, kalau perlu suruh dia pergi keluar negri sekalian.¡± Han yang jauh lebih kesal, karena merasa sikap nyonya kali ini sudah sangat merepotkan. ¡° Baik.¡± ¡° Besok pagi datanglah ke hotel, dan ceritakan pada tuan muda seperti yang kau ceritakan padaku tadi. Jangan buat dramatisasi sedikitpun dalam ceritamu, mengerti.¡± Seperti ini saja pasti sudah membuat tuan muda sangat kesal. ¡° Baik.¡± ¡° Baiklah, istirahatlah, terimakasih kerja kerasnya untuk hari ini.¡± ¡° Baik.¡± Sambungan telfon terputus. Sial, aku saja mengigil marah mendengar bagaimana perlakuan nyonya apalagi tuan Saga nanti. Cih, kenapa kau membuat semua orang susah nyonya. Apa kau juga tidak mengenali putramu bagaimana. Seharusnya kamu jadi orang pertama yang mendukung Daniah dan tuan Saga. Karena wanita itulah yang membuat tuan Saga bisa bersikap lebih manusiawi belakangan ini. Setelahnya dia mengirimkan pesan pada staff sekertarisnya yang dia utus membantu persiapan ulang tahun nyonya. urusan selesai, dia meletakan hpnya. Han bangun dari sofa, melepaskan semua pakaian dan mengambil handuk, ia masuk kamar mandi. Berendam air hangat pasti bisa membuat badan nyaman gumamnya pelan. Kalau seperti ini apa aku bisa menyimpulkan kalau nona Daniah sudah mulai membuka hatinya pada tuan muda. Walaupun belum seratus persen, tapi dia sudah mulai menyukai tuan muda kan. Apa ini artinya semua bisa berjalan jauh lebih mudah sekarang. Paling tidak dia sudah tidak akan berfikir kabur lagikan. Pengakuan cinta, kalau tuan muda menyatakan perasanya, apa nona Daniah akan menyambutnya dengan tangan terbuka. Tapi benarkah bisa semudah itu. Aku yakin dari awal dia sudah menjaga hatinya untuk tidak boleh mencintai tuan muda. Dia bahkan berencana mengunakan Helen untuk bisa kabur. Sampai hari ini tuan muda masih memakai jaminan keluarganya agar dia tetap patuh di sampingnya. Apa kutanyakan langsung saja padanya akan perasaanya ya. Dia pasti tidak akan mengakui apa-apa. Setelah merasa cukup segar Han keluar dari bak mandinya. Mengambil pakaian ganti lalu keluar, dia menjatuhkan diri di sofa lagi. Ketukan pintu membuatnya menoleh. Pelan dia bangun. ¡° Kau sudah datang,¡± seseorang mengangukan kepala di depan pintu yang terbuka. ¡° Masuklah!¡± ¡° Baik tuan,¡± dia masuk, sementara Han menutup kembali pintu tanpa bersuara. Melangkah mendekati laki-laki yang sedang berdiri tegak dengan kedua tangan sigap berada di samping tubuhnya. Berdiri dengan posisi siap. Han semakin berjalan mendekat. Lalu. Plak! Pukulan telak di bahu dan tendangan ringan di kaki. Membuat laki-laki itu limbung dan terjatuh. ¡° Bagaimana kau bisa sebodoh itu?¡± Laki-laki yang terjatuh itu segera bangun dan berdiri dengan sigap lagi. Dia bahkan tidak berani menjawab sepatah katapun. ¡° Bagaimana kau bisa membiarkan nona Daniah menghilang dari pandanganmu!¡± ¡° Maafkan saya tuan.¡± ¡° Kau tahukan bagaimana kekacauan perusahaan setelah Helen pergi. Kali ini tuan muda bisa jauh lebih gila dari waktu itu.¡± Semalam saat pesta sudah mau berakhir, dia sudah berdiri di radius lima meter dari Daniah. Mengawasinya dengan seksama. Karena pesan yang dia terima mengingatkannya bahwa tidak boleh terjadi hal apapun pada nona Daniah sampai tuan Saga kembali. Tapi dia harus kehilangan nona dari pandangannya karena nyonya memintanya membantu Helen dari kerumunan para tamu yang berebut bicara padanya. Dia akan menyimpan rapat alasan semalam. Kalau sekertaris Han tahu, dia sedang membantu Helen dan membiarkan Daniah pergi dari pandangannya. Dia yakin dia tidak akan berjalan dengan kakinya keluar dari kamar ini. ¡° Duduklah, sampai kapan kau mau berdiri di sana.¡± ¡° Baik tuan, terimakasih.¡± Dia duduk di sofa, mengambil jarak aman dari sekertaris Han. Han meraih telfon hotel. Dia memesan dua gelas susu hangat dengan sesendok madu. Kebiasaan sebelum tidur. ¡° Apa semua sudah selesai dengan Helen.¡± Tanyanya lagi setelah meletakan telfon hotel. ¡° Sudah tuan, saya akan bawa setelah peresmian danau hijau.¡± ¡° Huh! Dia pasti sangat bangga di pesta ulang tahun nyonyakan?¡± kesal sendiri dengan pertanyaannya. Kesabaran Han menghadapi tingkah Helen sepertinya benar-benar sudah sampaai ambang batasnya lagi. ¡° Ia tuan, karena nyonya memperkenalkannya sebagai calon menantu ideal yang dia inginkan.¡± ¡° Merepotkan sekali!¡± Ketukan pintu membuat pengawal laki-laki itu bangun dan segera membuka pintu tanpa menunggu Han memberi perintah, dia membawa dua gelas susu di tangannya. ¡° Silahkan tuan.¡± Dia menyodorkan gelas. Han mengambilnya, lalu giliran Han yang mengambil gelas yang ada di nampan dan menyerahkannya kepada pengawal laki-laki itu. ¡° Minumlah! Kau sudah bekerja keras hari ini. Maaf aku sudah memukul mu tadi.¡± Menyodorkan gelas yang di terima dengan sopan oleh pengawal laki-laki itu. ¡° Terimakasih tuan. Tidak tuan, saya pantas menerimanya karena kecerobohan saya.¡± Dia meminum susunya sambil mengeryit, dia tidak pernah minum susu lagi. Bahkan dia sudah lupa rasanya susu seperti apa. glek, ini tidak enak, gumamnya pelan. Tapi dia menghabiskan dalam beberapa kali tegukan, tentu saja sebelum Han mengosongkan gelasnya dia sudah harus menghabiskan miliknya. Han meletakan gelasnya yang sudah kosong lalu bangun menuju kursi di mana dia meletakan jasnya. Mendapati dompetnya. Dia mengeluarkan selembar kertas. ¡° Pulang dan istirahatlah, temui anak dan istrimu. Bersenang-senanglah dengan mereka sehari.¡± Wajahnya berbinar sambil menerima selembar cek yang diberikan sekertaris Han. ¡° Terimakasih tuan." " Kau terlihat senang sekali, kau pasti sangat mencintai istri dan anakmu ya." Pengawal laki-laki itu tersenyum penuh kebanggaan. " Tentu saja tuan, mereka penyemangat dan sumber kebahagiaan saya." " Aku bisa melihat itu." " Tuan juga, semoga segera bertemu dengan wanita yang tepat, tuan Sagakan sudah bertemu dengan nona Daniah. sekaraang giliran anda untuk memikirkan diri anda sendiri." " Kau mau mati ya." Han menendang meja hingga bergoyang. " Pergilah sebelum aku berubah pikiran dan membatalkan liburan seharimu." Wajah pengawal laki-laki itu pias, dia bangun. " Hehe, saya hanya bercanda tuan. terimakasih atas kebaikan anda selama ini pada saya dan keluarga saya. selamat malam." Dia menundukan kepalanya sopan. Sementara Han juga bangun dari duduknya. mensejajaari langkah pengawal laki-laki itu. mengantarnya keluar pintu. " Terimakasih untuk hari ini." Menepuk bahunya dua kali. pengawal laki-laki itu mengangukan kepala tersenyum. " Hanya ini yang bisa saya lakukan untuk membalas kebaikan anda tuan." Dia menundukan kepalanya sampai Han menutup pintu kamar. Cih, kau selalu saja menang kalau membanggakan keluarga dan wanita yang kau cintai ya Waktunya tidur, selamat malam. Hari ini sekertaris Han tidur terlelap tanpa memimpikan apapun. BERSAMBUNG Han memang suka gitu, dia akan melakukan apapun supaya segala sesuatunya berjalan dengan semestinya untuk tuan Saga... Chapter 99 Pembalasan setimpal Sinar matahari masuk melalui jendela kamar yang sudah terbuka, bias cahayanya jatuh ke atas tempat tidur. Menghangatkan ruangan. Seseorang di bawah selimut mengeliat pelan. Terdengar gumaman pelan dari sana. Dia mengeliat lagi, menarik selimut dan mengulungnya dengan badan. Berguling ke kanan dan kekiri. Percayalah, ini kebiasaanya dulu ketika tidur sendirian di ruko. Dia mengumpulkan separuh nyawanya dengan cara ini. ¡° Huammm.¡± Dia menguap, dan menarik selimut. ¡° Kau sudah bangun?¡± Suara Saga di pagi hari yang selalu terdengar lebih kencang dari biasanya. Daniah menjatuhkan selimutnya ke lantai karena terlonjak kaget, dia mengambil bantal menutupi dirinya lalu mengintip. ¡° Sayang.¡± Memanggil dengan suara pelan, memastikan kalau itu benar suaminya. Aku di mana? Di mana aku sekarang? Hei, bukankah aku seharusnya di ruko. Di ruko milikku, dan seharusnya aku sendiriankan! Sudah panik, berusaha mengingat kejadian semalam. ¡° Bangun dan bersihkan dirimu sana!¡± ¡° Ba, baik.¡± Daniah masih mengintip di balik bantalnya, menyapu ruangan dengan seksama. Jendela kaca, tempat tidur yang besar. Suaminya sedang duduk di sofa memakai jubah handuk. Daniah mengoyangkan kepalanya pelan. Menggingat-ingat kenapa dia bisa ada di tempat ini dan bersama Saga. Ada kejadian apa semalam sampai dia bisa bersama Saga tidur di tempat asing ini. Tidak menemukan jawaban sekeras apapun dia berfikir. Daniah turun dari tempat tidur. Kamar mandi, kamar mandi, dimana pintunya. Ah, itu dia. Tanpa menoleh atau melirik Saga dia berjalan cepat menuju kamar mandi. Mengunci pintu. Sekarang dia berdiri di depan cermin, melihat penampilannya. Pakaian yang dia pakai sama persis dengan yang dia pakai saat menghadiri pesta ulang tahun ibu. Pesta ulang tahun yang menyedihkan yang membuatnya kabur tidak pulang, dan memilih pulang ke ruko. Benar, semalam aku tidur di roko karena tidak mau melihat tuan Saga yang menyebalkan itu. Tapi kenapa sekarang aku bahkan bersamanya. Daniah berusaha membongkar memori di kepalanya, sambil menatap bayangannya di dalam cermin. Kira-kira apa yang terjadi semalam. Wajahnya berangsur terlihat pucat di dalam cermin. Ketika otaknya telah berhasil merangkai simpul kejadian semalam. Sedikit demi sedikit semua terputar kembali di kepalanya. Kejadian semalam. ¡° Tidak!¡± Teriakan keras, sambil ia terkulai terduduk di lantai. Jadi yang semalam itu bukan mimpi! Meraih dinding sebagai pijakan untuk bangun, lalu bersandar di dinding. Ia membenturkan kepalanya sendiri pelan. ¡° Bodoh! Bodoh! Bagaimana ini. Apa ini akhir hidupku.¡± Jekrek, jekrek. Suara pintu di buka secara paksa. Namun karena Daniah mengunci pintu, jadi tidak terbuka. Sekarang sudah berganti gedoran keras di pintu. ¡° Keluar dalam sepuluh menit, kalau tidak habis kau!¡± Setelah mengucapkan itu terdengar langkah kaki Saga menjauh. Bagaimana ini! Bahkan tidak punya waktu untuk berfikir. Bergegas melepaskan baju dan juga mandi, karena tidak ada baju ganti diapun memakai jubah handuk yang tergantung di dinding. Keluar dari kamar mandi sambil mengeringkan rambutnya. Dia mengintip di balik pintu, mencari di manakah Saga berada. Laki-laki itu sedang duduk di sofa. Di depannya sudah ada makanan terhidang. Aku lapar. Aku lapar. Daniah memandang makanan di meja. ¡° Kemarilah, habiskan sarapaanmu, kita perlu bicara setelahnya.¡± Menepuk kursi di sebelahnya. Aaaaa, dia mau bicara apa? setelah kau mengatakan begitu apa di pikir aku masih bisa makan. Tapi dalam sekejap jus buah dan sandwich di piring sudah tandas. Lagi-lagi ikutan, bicaramu tidak sesuai perbuatanmu. ¡° Kau pasti kelapaaran ya?¡± mengusap saus yang menempel di bibir Daniah. ¡° Mau makan punyaku?¡± Saga menyodorkan miliknya, yang sudah bekas dia gigit. Daniah mau menolak, tapi dia urungkan. Dia mengangukan kepalanya. Aku sudah melakukan kesalaahan fatal padanya, jadi aku harus menjilatnya supaya tidak marahkan. ¡° Terimakasih sayang.¡± Karena gelisah dan merasakan cemas semalam di pesta aku tidak makan dengan baik. ¡° Sudah selesai? Sudah kenyang?¡± ¡° Ia sayang terimakasih.¡± Daniah sudah mau beringsut dari duduk. ¡° sayang kita dimana sekarang.¡± Tapi Saga menarik tangan Daiah yang mau beranjak dari duduk. Senyum tipis lagi-lagi mengisyaratkan hal buruk akan terjadi. ¡° Dimana kita? Apa kau tidak ingat kejadian semalam?¡± menarik handuk pelan dengan telunjuknya, bahu putih Daniah tersibak. Gadis itu merona lalu menariknya lagi, mengembalikan ke posisinya semula. ¡° Haha, semalam, tidak terjadi apa-apakan semalam?¡± Tapi wajahnya sudah pucat pasi. Karena menyadari apa yang telah terjadi semalam. ¡° Sayang, apa tidak ada baju yang bisa kupakai.¡± ¡° Baju? Untuk apa, kau tidak membutuhkannya sekarang.¡± Lagi-lagi menarik handuk dengan telunjuknya sampai bahu daniah terbuka. ¡° kau benar-benar tidak ingat kejadian semalam.¡± Daniah ingin mengembalikan posisi handuk ketempatnya, tapi tangannya di gengam saga. ¡° Tidak ingat?¡± Saga mengulangi pertanyaannya. ¡° Ti, tidak sayang, aku tidak ingat apa-apa.¡± mengelengkan kepala berulang dengan wajah sepolos mungkin. ¡° Ternyata ada untungnya Han merekam kejadian semalam ya. Bisa jadi bukti sikap kurang ajarmu.¡± Tertawa senang melihat wajah panik Daniah mendengar kata merekam. ¡° Merekam!¡± Bedebah sialan itu bagaimana bisa kepikiran merekamku si. ¡° Sayang maafkan aku kalau aku melakukan hal kurang ajar padamu semalam.¡± Memeluk Saga kuat. Seperti berkata, aku tidak akan melepaskanmu walaupun kau mendorongku. ¡° Lepaskan aku! Kau benar-benar kurang ajar ya.¡± ¡° Tidak mau! Maafkan aku. Maafkan aku. Maaafkan aku dulu.¡± Memeluk sambil memohon. Membenamkan wajah ke dada Saga dengan tidak tahu malu. ¡° Memang apa salahmu? Kau bilang tidak ingat kejadian apa-apa semalam.¡± Menyeringai, sambil meraih dagu Daniah. Bagaimana ini? Kenapa dia pandai sekali memutar balikan keadaan begini. Kalau aku mengaku ingat, aaaaa, aku pasti sudah gila. Habislah aku. ¡° Apa aku memukulmu dengan keras?¡± akhirnya mengaku. Siap menerima apapun yang akan terjadi dalam kepasrahan tingkat tinggi. ¡° Ternyata kau ingat ya sayang.¡± Intonasi kata sayang dibuat sedramatis mungkin, untuk menginggatkan Daniah kejadian semalam. Saat gadis itu berteriak menyuruh Saga memanggil sayang padanya. Aku merinding, pangilan sayangnya sangat menakutkan. ¡° Mau lihat hasil kekurang ajaranmu semalam.¡± Saga melepaskan lilitan handuk di pinggangnya. Daniah ingin memalingkan wajahnya tapi tangannya sudah menempel di dada Saga yang terbuka. ¡°Kau lihat?¡± warna putih dan bidang dada Saga yang biasanya mulus tanpa cela, menyisa beberapa warna merah. Terlihat sekali itu bekal pukulan benda keras. Tanganku yang hina, sekeras apa kau memukulnya si. ¡° Maaf.¡± Daniah meraba perlahan, menyusuri tubuh Saga. ¡° Maafkan aku sayang.¡± Tubuh tuan Saga yang berharga. ¡° Maaf. Apa itu cukup untuk mengampuni kekurang ajaranmu.¡± Hiks, hiks, jadi kau mau apa? kumohon jangan pukul aku balik. Daniah pasrah saat Saga menarik tubuhnya, mendorongnya ke atas tempat tidur hingga dia terjerembah. ¡° Bagaimana kalau aku membalasmu dengan sesuatu yang sepadan. Membuat sekujur tubuhmu memerah juga.¡± Menarik handuk melemparkannya begitu saja ke sudut tempat tidur. ¡° Lihat semerah apa ini.¡± Tunjuknya pada dadanya. ¡° bagaimana kalau kita mulai dari sini, sini dan sini.¡± menunjuk bagian tubuh Daniah dengan jarinya. Habislah aku! Sementara di bagian ruangan yang lain, Han keluar lagi dari kamar Saga, menutup pintu tanpa bersuara. ¡° Kembalilah dua jam lagi kemari.¡± Pak Mun dan staff sekertaris mengangukan kepala. Ntah kenapa mereka paham sekali maksudnya. Cih Han mendengus kembali ke kamarnya. Daniah kembali terlelap di bawah selimut, tirai jendela di tarik Saga menghindarkan istrinya terkena sinar matahari. Lalu dia beranjak keluar kamar. Di ruangan terpisah masih dalam satu kamar, Han sedang duduk sambil menyelesaikan pekerjaannya. Dia bangun dari duduk saat Saga muncul, masih mengenakan jubah handuk. ¡° Selamat pagi tuan muda.¡± Sebenarnya ini sudah siangkan. Kalian bahkan belum makan dengan benar, apa tidak lapar? apa sudah kenyang makan cinta. ¡° hemm.¡± ¡° Ini pakaian anda dan nona Daniah.¡± Han meletakan tas di atas meja. ¡° Taruh saja, dia masih tidur.¡± Menunjuk kamar dengan ekor matanya. ¡° Suruh mereka masuk!¡± Saga duduk di sofa. ¡° Baik.¡± Selang tidak lama Han masuk lagi, diikuti oleh pak Mun dan seorang staff sekertaris. Wanita itu bergumam, pekerjaan melelahkannya kemarin bahkan belum berakhir sampai pagi ini. ¡° Han pasti sudah mengatakan kenapa aku memanggil kaliankan.¡± ¡° Ia tuan.¡± Mereka menjawab bersamaan. ¡° Han, bawakan aku kopi.¡± Saga sepertinya butuh mengembalikan tenaga dan energinya. ¡° Baik tuan muda.¡± Setelah Han keluar dari kamar. ¡° Sekarang mulailah, kau duluan.¡± Saga menunjuk staff sekertaris yang berdiri di samping pak Mun. Belum dimulai pun, ntah kenapa suasana sudah mencekam. ¡° Nona datang tanpa membawa undangan, jadi ketika masuk sepertinya nona kebingungan, sampai saya bertemu dengannya. Lalu saya membawanya keruang tunggu bersama nona Helena dan Nyonya.¡± Aku hanya menjelaskan semuanya kan. Kumohon tuan jangan menghukumku. Aku tidak tau apa-apa mengenai kehidupan rumit anda. ¡° saya mendengar mereka berbincang dengan akrab pada awalnya tapi saat nyonya mengatakaan kalau nona Helen akan mengantikan nona Daniah sepertinya susana menjadi semakin tegang.¡± Cih Mati aku, dia baru saja mengatakan cihkan. Tuhan tolong aku. ¡° Tapi nona Daniah menjawab yang membuat nyonya dan Helena langsung terdiam, dan mereka tidak bicara apa-apa lagi setelahnya sampai keluar ruangaan.¡± ¡° Apa yang di katakan Daniah?¡± ¡° Nona Daniah mengatakan, kalau hubungannya dengan anda sedang sangaat baik. Dan mungkin saja dalam waktu dekat kalian akan memiliki anak.¡± Saga tergelak, membayangkan bagaimana wajah ibunya saat mendengar Daniah mengatakan itu. Staff sekertaris melanjutkan penjelasannya tentang kejadian saat pesta berlangsung ¡° Nyonya mengandeng tangan nona Helena sementara nona daniah berjalan di belakangnya saat keluar ruang tunggu. Sesampainya di aula nyonya memperkenalkan nona Helena sebagai calon menaantu sempurna yang dia dambakan untuk mendampingi anda.¡± Han muncul membawa kopi yang diinginkan Saga ¡° Silahkan tuan.¡± Dia melirik sekertaris yang sedang memberi penjelasan. Lalu berdiri di belakang Saga. Posisinya jauh lebih mengintimidasi sebenarnya. ¡° Karena beberapa tamu ada yang tahu bahwa nona Daniah adalah istri anda maka mulailah mereka bergosip dengan suara keras. Bahkan saya rasa nona Daniah juga mendengarnya.¡± Saga minum beberapa teguk kopinya. Mengisyaratkan agar staff sekertaris itu berhenti bicara. ¡° Pak mun apa ibu masih di rumah?¡± Berani sekali dia kalau sampai dia tidak pergi. ¡° Pagi ini nyonya membawa tas pakaiannya, dia bilaang akan pergi menginap di hotel.¡± Sejauh ini hubungannya dengan ibunya cukuplah baik. Saga menuruti semua keinginan ibunya jika hanya terkait masalah uang. Tapi dia memang tidak mau ikut campur masalah pribadi ibunya, sama halnya dia tidak mau dicampuri urusan pribadinya. Tapi sepertinya kali ini sikap ibu sudah sangat kelewatan. Saga mengisyaratkan agar staff sekertaris pergi. Wanita itu mengangukan kepala dan terdengar dia bernafas lega sekali. ¡° kembalilah kekantor.¡± Han bicara. ¡° Baik tuan.¡± Wanita itu sudah menutup pintu tanpa bersuara. ¡° Han, katakan padanya untuk menghilang dari hadapanku untuk waktu yang lama.¡± Saga yakin, kalau sampai ia bertemu dengan ibunya dia tidak akan bisa menahan diri. ¡° Baik tuan muda.¡± ¡° Kalian semua keluarlah, hari ini aku akan di sini sampai sore. Selesaikan saja urusanmu Han, jemput aku nanti sore.¡± Apa kalian mau menghabiskan hari hanya di kamar? Han tidak mau bertanya dan tidak mau memikirkan jawabannya juga. Dia keluar ruangan bersama pak Mun. Banyak sekali pekerjaan yang harus dia bereskan hari ini. Peresmian danau hijau sudah di depan mata. saatnya mengakhiri perjuangan Helena. aaa, aku bahkan sudah kesal hanya menyebut namanya. BERSAMBUNG Chapter 100 Sopir baru Kejadian menghilangnya Daniah di waktu pesta ulang tahun ibu menjadi titik balik perubahan hubungan Daniah dan Saga. Saat ini Saga sudah memakai panggilan sayang untuk Daniah jauh lebih sering. Sudah jarang berteriak padanya, sudah jarang menuding kening Daniah dengan kesal. Terkadang mereka sudah bicara layaknya manusia normal. Walaupun hubungan mereka belum bisa di sebut wajar, namun setidaknya sudah tidak seekstrem dulu lagi. Seminggu berlalu, ibu belum kembali menampakan diri di rumah. Jen mengatakan kalau Ibu pergi untuk menghindari pertengkaran dengan kak Saga. Kenapa? Memang salah ibu apa? ¡° Kak Saga marah pada ibu karena bukannya memperkenalkan kakak ipar malah memperkenalkan Helena waktu di pesta.¡± Jadi karena itu, tapi seharusnya tuan Saga tidak perlu sampai semarah itukan. Aku saja sudah memaafkan ibu kok. Daniah sekali mengungkit masalah ibu pada Saga, agar suaminya itu mau membuka hatinya. Tapi alhasil, dia bahkan tidak tidur semalaman meladeni kekesalan Saga. Akhirnya diapun tidak pernah mengunkit perihal perginya ibu. Biarkan semua berjalaan dengan normal dengan sendirinya. ¡° Berikan aku waktu, aku akan memaafkan ibu nanti.¡± cuma itu yang di ucapkan Saga. Karena pada akhirnya keluarga akan selalu saling memaafkan. Apapun kesalahan yang di lakukan. Malam yang belum larut, beberapa pelayan masih terlihat menyelesaikan pekerjaanya. Sehabis makan malam tuan Saga menghabiskan waktu di ruang kerjanya bersama pak Mun. Daripada Daniah menunggu sendirian di dalam kamar dia memilih pergi ke rumah belakang. Dia bertemu dengan beberapa pelayan laki-laki yang langsung bergerak menghindarinya. Maya mendekatinya saat dia datang. ¡° Nona ada apa? bukankah tuan muda ada di rumah.¡± ¡° aaa, dia senang bekerja. Aku hanya bosan. Mau makan es cream?¡± Daniah mengangkat satu cup besar es cream di tangannya. ¡° Ayo makan di sana.¡± Daniah menunjuk sebuah kursi kosong tidak jauh dari tempat mereka berdiri sekarang. Mereka duduk di dekat taman, sambil menikmati pemandangan malam dan semilir angin yang menerbangkan rambut mereka. Taman yang indah, yang mungkin nyaris tidak pernah di nikmati pemilik rumah ini. Bahkan Daniah hanya sekedar melewatinya di pagi hari. ¡° Jen sudah mulai magang, jadi setiap pulang ke rumah dia selalu mengeluh kelelahan dan akhirnya langsung ambruk tidur, sofi juga demikian, kuliahnya sedang padat-padatnya.¡± Daniah mulai bercerita, mengeluh sebenarnya. Karena dia kehilangan teman yang bisa di ajak bicara di rumah ini. ¡° Nona Jenika dan nona Sofia memang pekerja keras.¡± Maya mengatakan pujiannya. ¡° Benar, padahal Jen magang di perusahaan kakaknya, tapi aku dengar dia tidak mendapatkan keistimewaan apa-apa. bahkan tidak ada yang tahu kalau dia adik dari pemilik perusahaan.¡± Satu hal ini membuat Daniah takjub pada Jen, padahal dia sempat berfikir kalau Jen termasuk anak manja yang akan memanfaatkan posisinya sebagai adik tuan Saga. Toh dia memang adik yang di sayangi tuan Saga. Tapi ternyata tidak, Jen bekerja keras dengan namanya sendiri. Eh magang ya, apa Jen dan Raksa pernah bertemu ya. Tapi tidak mungkinlah, perusahaan Antarna Group itukan banyak sekali. Ntah mereka ada di perusahaan yang mana. ¡° Tuan muda memang mendidik nona Jenika dan nona Sofia dengan disiplin yang ketat.¡± Maya menutup mulutnya merasa apa yang dia bicarakan sudah lancang. ¡°Maafkan saya nona, saya sudah lancang.¡± Aturan rumah ini melarang para pelayan membicarakan apapun yang terjadi di rumah ini, bahkan dengan sesama pelayan sekalipun. Apalagi sampai membicarakan keluarga tuan Saga. Aku ingat, waktu para pelayan membandingkan aku dan Helen, dan saat itu sekertaris Han menghukum mereka. ¡° Gak papa, bicaralah santai padaku. Ayo makan lagi.¡± Sesuap es cream masuk ke mulut, lumer, dingin, lembut dan manisnya menyatu di dalam mulut. ¡° Jangan bersikap sungkan padaku¡± Maya hanya tersenyum. Anda adalah nona muda kami, bagaimana aku bisa tidak sungkan. Pak Mun saja sering kali mengingatkanku untuk menjaga sikap. Tidak boleh menyapa anda duluan jika anda tidak menyapa. ¡° Maya punya hari libur kapan?¡± Pelayan mendapatkan jatah libur seminggu sekali, yang jadwalnya berbeda setiap orang, semua di susun sesuai jadwal oleh pak Mun. Ternyata pekerjaannya banyak sekali ya, Daniah meghitung jumlah pelayan yang ada di rumah ini, ntah jumlahnya berapa. Diapun tidak terlalu hafal wajah mereka. ¡° Dua hari lagi saya libur nona. Lusa.¡± ¡° Lusa ya, berarti pas akhir pekan, baiklah, nanti aku atur jadwal dengan yang lainnya ya. Kamu kosongkan jadwal liburan kamu ya, aku ingin kita pergi.¡± ¡° Nona.¡± Sudah merasa kuatir karena kebaiakan Daniah sudah melebihi batas kewajaran. ¡° Jangan menolak ya.¡± Menepuk bahu Maya. ¡° Ayo berteman dengan tulus denganku.¡± Pak Mun muncul dari rumah utama. Maya langsung mengeser posisi duduknya agak menjauh. Pak Mun Menghampiri Daniah dan Maya di dekat taman. ¡° Nona, tuan muda meminta anda ke ruang kerjanya sekarang.¡± Pak Mun memperhatikan, mencari tahu apa yang sedang di lakukan Daniah dan Maya. Dia melihat satu cup besar es cream dengan dua sendok di sana. Lalu dia terlihat menatap Maya yang kemudian menundukan kepalanya. ¡° Eh, kenapa pak? Apa dia sudah selesai?¡± ¡° Silahkan ikuti saya nona.¡± Hanya mempersilahkan Daniah dengan tangannya tanpa menjawab pertanyaan Daniah. Selalu deh, tidak menjawab kalau urusannya perintah tuan saga. Kalau sekertaris Han lewat sorot matanya pasti mengatakan. Sudahlah, jangan banyak bicara dan ikuti saja saya. Begitu pasti kalau dia. ¡° Aku pergi dulu ya. Habiskan es creamnya. Selamat malam maya.¡± Maya bangun dari duduknya dan mengangukan kepala. ¡°Selamat malam nona.¡± Daniah memasuki ruang kerja Saga. Pak Mun hanya mengantarkan sampai di depan pintu. Laki-laki itu sedang duduk di sofa. Di dekatnya berdiri seorang wanita. Dia memakai stelan rapi dan celana panjang, sepertinya bukan pelayan wanita di rumah ini. Karena seragam pelayan tidak seperti itu. Sepertinya ini pertama kalinya Daniah melihatnya juga. ¡° Sayang.¡± Mendekat. ¡° kemarilah!¡± Saga mengulurkan Tangannya agar Daniah mendekatinya. Mau tidak mau Daniah menerima uluran tangan itu dan duduk rapat di samping Saga. ¡° Kau habis makan apa?¡± Mengusap bibir Daniah, sepertinya masih ada sisa es cream di sana. Kecupan lembut di bibir Daniah. Membuat gadis itu menolak secara spontan, lebih-lebih karena di samping Saga sedang berdiri seseorang. ¡° Sayang, aku habis makan es cream.¡± Malu sendiri. ¡° Sepertinya enak, aku juga mau.¡± Satu kecupan lagi. Hei, makan sendiri sana, kenapa merasai dari bibirku. ¡° Sayang, hentikan. Dia siapa?¡± Daniah menunjuk wanita yang sedang berdiri, wanita itu mengangukan kepalanya sopan. ¡° Ahh, dia. Perkenalkan dirimu!¡± Saga menoleh padanya. ¡° Selamat malam nona, nama saya Leela. Silahkan panggil saya senyaman anda.¡± Katanya memperkenalkan diri dengan sopan. Hei, kau tidak sedang memberiku pelayan pribadikan. Memang untuk apa? aku tidak butuh pelayan pribadi atau sejenisnya. Memang aku ini putri apa. Jen saja tidak mendapatkan pelayan pribadi. ¡° Selamat malam, senang berkenanalan denganmu. Tapi sayang dia siapa?¡± beralih mencari jawaban pada Saga. ¡° Sopir untukmu.¡± Langsung tercipta kepanikan dalam diri Daniah. Waspada. Tentang rencana apa di balik ini semua. Sampai kapanpun dia memang tetaplah tuan Saga yang seenaknya. ¡° Sayang, kitakan sudah sepakat waktu kamu memberiku mobil, kalau aku boleh membawa mobil sendiri tanpa supir. ¡° Kalau aku pergi dengan sopir itu sudah seperti mengawasiku 24 jam full. ¡° Ini bukan penawaraan, ini perintah.¡± Tegas. ¡° Tapi sayang.¡± Memohon dengan lembut sambil menyentuh tangan Saga. ¡° Kalau tidak mau tinggalah di rumah, jangan pergi kemana-mana.¡± Dengan ringannya bicara, padahal kata-katanya jadi hantaman keras untuk Daniah. Bagaikan jatuh terjerembah ke dalam jebakan yang melilit leher. Tanpa sadar Daniah tangan Saga karena merasakan kesal. Dia melepaskan tangan itu saat Saga mulai mendesah. ¡° Maaf! tapi Sayang akukan bekerja.¡± ¡° Kau bisa pindahkan toko mu di paviliun depan. Lihatkan rumah di kanan jalan saat kau masuk gerbang utama. Aku akan suruh pak Mun membereskannya, kau bisa memakainya untuk toko mu nanti.¡± Lagi-lagi menjawab semudah dia bernafas. Kenapa hal seperti memindahkan toko bisa dengan mudahnya kau bilang, kalau aku bilang ingin buka toko di mall kamu apa kamu juga akan seringan itu menjawab. ¡° Baiklah biar Han yang membereskannya.¡± Sepertinya memang akan semudah itu ya. Hiks. ¡° Baiklah, saya bisa pergi dengan Leela, dia akan jadi supir dan mengantarku ke toko.¡± Puaskan! Kau mau mengikat leherku sampai sejauh mana heh. ¡° Nah begitu donk, kalau kau patuh, kau kan bisa hidup dengan damai.¡± Kecupan lembut di leher. Berhenti menciumiku, kau tidak tahu malu ada orang berdiri di sana! ¡° Tapi dia hanya akan mengantarku ke rukokan? Setelah itu apa dia bisa pulang.¡± Memastikan bahwa dia tidak akan di awasi 24 jam. ¡° Kau bisa menyuruhnya melakukan apapun. Membantumu di toko juga tidak masalah.¡± Tuh kan, kau menjadikannya satpam 24 jam mengawasiku. Sebenarnya kamu kenapa si tuan. ¡° Tapi gajinya.¡± Saga menyentuh telinga Daniah sambil memainkan giginya gemas. ¡° aku ingin mengigitmu kalau kau banyak bicara lagi.¡± ¡° Maaf.¡± Daniah mengangkat tangannya melindungi telinganya. ¡° Kau dengar ini, lakukan semua yang nona katakan.¡± Bicara tanpa memalingkan wajah dari Daniah. ¡° Baik tuan muda.¡± ¡° Sekarang keluarlah!¡± ¡° Baik.¡± Daniah mengikuti langkah kaki wanita muda itu sampai dia menghilang dari pintu. Kebebasannya sedang berjalan menjauh sama halnya dengan kepergian Leela. ¡° Sayang, tapi apa perlu sopir, aku benar-benar bisa pergi tanpa sopir, aku jugakan selalu kembali sebelum waktunya.¡± Masih berusaha memohon. ¡° Kau mau mulai lagi! Mau benar-benar ku laraang keluar rumah.¡± ¡° Tapi Jen juga tidak punya sopir dia bisa pergi dan pulang sampai malam sendirian.¡± Membandingkan fakta. Jen yang usianya lebih muda darinya. Jen yang masih berstatus mahasiswa magang. Jen yang jauh lebih cantik darinya. Jen yang punya seribu satu alasan untuk dilindungi dari pada dirinya. ¡° Kau membandingkan dirimu dengan Jen.¡± Mendorong Daniah sampai ambruk di sofa. Saga duduk di pinggir sofa sementara tangan kanannya ada di samping Daniah. ¡° Jen tidak pernah ingin lari dariku. Jen tidak pernah menghilang dan membuatku kuatir!¡± setengah berteriak. Kuatir, apa dia benar-benar kuatir padaku. Atau hanya karena aku menghilang waktu habis pesta ulang tahun ibu. Ini hukuman untukku. Karena sudah membuatnya susah. Hei, kenapa kau pendendam sekali! ¡° Sayang, tapi itukan.¡± ¡° Masih mau membatah.¡± Daniah mengigit bibirnya agar berhenti bicara. Dia sudah mengancamku tadi, kalau aku membantahnya lagi dia benar-benar melarangku keluar rumah habislah aku. Saga mendekatkan wajahnya, Semakin dekat membuat Daniah memejamkan mata. Muah. Muah. ¡° Apa kau berdebar-debar sekarang? Kau bilang jantungmu ingin meledak kalau aku melakukan inikan.¡± Ciuman tiba-tiba datang, Daniah tersengal lagi. Saga menghentikan ciumannya. Sekarang dia memberikan kecupan lembut tiga kali di bibir Daniah. ¡° Buka matamu bodoh!¡± Sialan! Kenapa aku bisa menggigau separah itu si. ¡° Katakan!¡± Daniah tahu apa yang ingin di dengar Saga. Dia terlihat mengepalkan tangannya. ¡° Aku mencintaimu sayang.¡± Saga membelai rambut dan menyentuh telinga daniah. Memainkan daun telinga tipis yang mulai memerah itu. ¡° Ini terakhir kalinya aku menyuruhmu mengatakannya.¡± Mencium lembut bibit Daniah, lalu dia menjauhkan lagi wajahnya. ¡° Tapi kalau kau mau mengatakannya sendiri nanti, katakanlah, jangan menahannya. Katakan kau mencintaiku dengan kemauanmu sendiri.¡± Apa! mengatakan karena kemauanku sendiri, apa dia benar-benar ingin aku mencintainya. Daniah memejamkan mata saat Saga lagi-lagi mendekatkan wajahnya. Eh, kenapa? Kenapa dia tidak menciumku. Daniah membuka mata perlahan, melihat Saga yang sudah berdiri di samping sofa tempatnya berbaring. ¡° Apa yang kau lakukan di sana? Huh! Kau ketagihan aku cium ya. Bangunlah! Aku lelah mau tidur sekarang.¡± Berjalan meninggalkan Daniah yang di selimuti malu. Dia menutup pintu pelan, lalu tergelak tanpa suara. ¡° Kenapa dia lucu sekali.¡± Wajah malu Daniah yang memerah. Apa! Apa! apa dia sedang menjahiliku lagi. Aaaaaaa................ BERSAMBUNG Chapter 101 Leela (Part 1) Saat ini berciuman sudah menjadi santapan Daniah sehari-hari. Tidak bisa menolak, tidak boleh menawar juga. Tapi sepertinya dia menikmati. Buktinya debaraan keras dadanya seperti mau berloncatan keluar. Walaupun dia terlihat mengepalkan tangan. Apa lagi ciuman selamat pagi di dalam kamar, yang tidak akan pernah di lewatkan Saga. Sudah seperti sarapan wajib saja. Saat sudah keluar kamar Saga menarik tangan Daniah agar berjalan mensejajarinya menuruni tangan. ¡° Sayang, akhir pekan ini aku boleh pergi?¡± memilih bertanya saat situasi sedang kondusif. Setelah ciuman selamat pagi Saga selalu terlihat bersemangat soalnya. ¡° Hemm.¡± Jawaban yang meminta penjelasan. Ntah bagaimana caranya Daniah tahu cara menafsirkannya sekarang. Sepertinya keahlian sekertaris Han sudah sedikit menular padanya. Tapi kenapa sampai hari ini dia masih bebal menafsirkan perasaan tuan Saga, itu masih menjadi misteri. ¡° Aku mau mengajak karyawanku liburan dan juga Maya.¡± Akhir pekan menyenangkan tanpa tuan Saga, itu point utamanya. ¡° Siapa Maya?¡± Akukan sudah pernah mengatakan perihal Maya padanya. ¡° Dia pelayan di rumah belakang.¡± Sampailah di meja makan. Pak Mun sudah menarik kursi Saga, dia duduk di sana. Mengambil sandwich di depannya ke depan mulut Daniah. Gadis itu mengigit lalu menerima dengan kedua tangannya. ¡° Pergilah. Kembali sebelum jam enam sore.¡± Wajah Daniah berbinar senang. Jawaban Saga adalah hal terbaik yang terjadi menyambut pagi ini. ¡° Baiklah, terimakasih ya.¡± Dia juga menunjuk sandwich yang di pegangnya. Terimakasih untuk yang ini juga maksudnya. ¡° Makanlah sayang.¡± Mendekatkan piring milik Saga. Sarapan hanya bertiga, Sofi memilih menjadi pengamat sambil menelan makanannya, Jen sejak mulai magang tidak pernah sarapan bersama lagi. Tidak sempat. Dia bisa terlambat kalau harus menunggu Saga keluar dari kamar. Alhasil dia selalu sarapan duluan di meja dapur sebelum semua orang turun. ¡° Aku berangkat ya.¡± Mencium kepala Daniah, lalu memasuki mobil. Daniah mengeryit bagaimana sikap Saga bisa begitu natural ketika melakukan apapun. Bahkan untuk hal yang baru dia lakukan. Dia menoleh pada sekertaris Han yang mengangukan kepala, lalu masuk ke mobil. Mobil melaju meninggalkan Daniah yang masih memandang dari kejauhan. ¡° Han.¡± ¡° Ia tuan muda.¡± ¡° Siapa Maya dari rumah belakang?¡± ¡° Maya pelayan di bagian pakaian tuan, dia berteman dengan nona muda sejak pertama kali nona masuk ke rumah ini. Apa anda tidak senang dia bersama nona.¡± Masih mengemudikan mobil dengan tenang. Hanya melirik spion sebentar. ¡° Pastikan latar belakaangnya, kalau dia beteman dengan Daniah tanpa maksud apa-apa, biarkan dia.¡± Saga ingat beberapa kali nama Maya muncul dalam perbincangan Daniah, sepertinya wanita itu menjadi teman yang cukup di sukai istrinya. Dia hanya ingin memeriksa, apakah wanita itu benar-benar tulus berteman atau karena maksud tertentu. ¡° Baik tuan muda.¡± Bahkan sekarang aku harus memeriksa latar belakang pelayan yang dekat dengan nona. ¡° Apa nona menerima Leela sebagai sopirnya.¡± Han mengalihkan pembicaaraan. Karena sepertinya tadi reaksinya saat bertemu tidak terlihat kesal. Atau dia tidak menduga, ide sopir itu dariku. ¡° huh! Tentu saja setelah aku mengancam akan mengurungnya di rumah dia tertawa senang dan berterimakasih aku memberinya sopir.¡± Maaf nona, ini adalah upaya saya meringaankaan beban pekerjaan saya. Semoga anda tidak akan tahu kalau ide sopir itu dari saya. Daniah menuruni tangga setelah mengambil tas dari kamarnya, bertemu dengan Sofi yang juga sudah bersiap pergi kekampus. ¡° Kakak ipar punya sopir baru ya?¡± Sofi mendekat, mengandeng lengan Daniah. Mereka berjalan beriringan. ¡° Kau sudah tahu ya.¡± Cemberut. ¡° Jen dan kamu saja bisa bawa mobil sendiri tanpa sopir, tapi tuan Saga mengancamku, kalau aku gak mau bawa sopir aku gak boleh keluar rumah.¡± Rasanya seperti iri, kesal, dan benci. Apalagi melihat Sofi yang masih mahasiswa saja bisa sebebas ini. Dasar menyebalkan. ¡° Itukan karena kakak ipar kabur waktu itu.¡± Duarr, Daniah memukul tangan Sofi yang melingkar di lengannya. ¡° Hei, siapa yang kabur. Akukan cuma mau menenangkan diri, itupun aku cuma di ruko tidak kemana-mana.¡± Protes dengan sebutan kabur yang di sematkan Sofi. Memang dia mau kabur kemana juga. Memang dia punya keberanian sebesar itu di dadanya untuk kabur. Kalau dia bisa dia sudah dari awal lari dari pernikahan. ¡° Kakak iparkan menghilang tanpa jejak. Tidak izin ataupun pemberitahuan juga. Itukan namanya kabur.¡± Sofi masih ngotot, kenapa, karena kelakuan kakak iparnya telah membuat seisi rumah dipenuhi ketegangan dan kepanikan. Daniah kehabisan kata-kata. Mau membantah, tapi dia tau diri kalau dia memang salah. Tidak di bantah harga dirinya rasanya tercabik-cabik. ¡° Tapi kak Saga kuatir sekali tahu kakak ipar. Dia sampai marah sama kami yang membiarkan kakak ipar pergi. Hiks, aku sudah lama tidak melihat dia semarah itu. Kak Jen saja sampai tidak berani bicara apa-apa.¡± Apa! kenapa si, tahu tidak semua sikapmu itu membuatku semakin binggung saja tuan muda. Apa kau benar-benar kuatir padaku. Apa kau benar-benar perduli padaku. ¡° Sofi tapi bagaimana ibu, sampai kapan ibu mau pergi.¡± Mengalihkan topik, malas kalau ujung-ujungnya dia yang di salahkan karena perkara kabur. ¡° Sebentar lagi, kakak ipar tidak perlu kuatir. Kalau ibu melakukan kesalahan memang seperti ini. Dia harus pergi dan menghilang, kalau suasana hati kak Saga sudah baik, dia juga akan menyuruh pak Mun menghubungi ibu. Kakak ipar tidak perlu kuatir, ibu juga sedang bersenang-senang pasti sekarang.¡± Dia yang anaknya saja bisa bicara setenang itu, lantas kenapa Daniah yang di posisi menantu tidak dianggap merasa kuatir. ¡° Benarkah?¡± tidak percaya. Sofia mengeluarkan hpnya. Menunjukan foto-foto ibunya. Banyak sekali fotonya. Apa! dia sedang belanja-belanja dengan wajah riang gembira begitu. Sia-sia sudah kecemasanku selama ini. ¡° Aku berangkat ya kakak ipar, ahh itu Leela ya, sudah kuduga kak Saga akan memberikan dia untuk kakak ipar.¡± Sofi menunjuk seseorang yang sudah berdiri di samping mobil. Dia sedang bicara dengan pak Mun. ¡° Kau kenal dia?¡± Daniah menghentikan langkah kaki Sofi, mau meminta penjelasan lebih lanjut. ¡°Siapa dia?¡± ¡° Dia?¡± terdengar Sofi mendesah tidak suka. ¡°Dia sama menyebalkan dan sama kakunya seperti sekertari Han. Pokoknya dua itu sudah seperti pasangan sejati.¡± Banyak praduga bermunculan di kepala Daniah. ¡° Kakak ipar tau kan slogan hidupnya sekertaris Han, melakukan apapun agar segala sesuatu berjalan dengan semestinya untuk tuan muda. Kalau wanita ini slogan hidupnya adalah : Mematuhi semua yang kak Saga katakan tanpa terkecuali. Pokoknya kakak ipar hati-hati bicara kalau di dekatnya ya.¡± Sofi melambaikan tangan dan kabur ke mobilnya. Apa! pasangan serasi sekertaris Han, satu saja yang itu sudah memusingkan, kenapa harus di tambah lagi dengan yang ini si. ¡° Selamat pagi nona, Silahkan.¡± Katanya sopan, saat Daniah mendekat kearah mobil. Dia sudah membukakan pintu belakang mobil. Apa-apaan si dia. ¡° Aku duduk di depan saja.¡± Daniah membuka pintu mobil depan, dan langsung masuk. Leela bergegas mengitari mobil dan masuk, duduk di belakang kemudi. Tanpa bicara sepatah katapun lagi, dia mulai melajukan mobil menuju gerbang utama, meninggalkan pak Mun yang kemudian berbalik dan akan mulai pekerjaan hariannya yang tidak ada habisnya. Keheningan tercipta di dalam mobil. Leela hanya fokus mengemudi. Daniah meliriknya beberapa kali. Tapi engan untuk menyapa juga. Sedikit kesal juga sebenarnya, karena Leela bisa jadi akan mengawasinya dan melaporkan apaapun yang iaa lakukan pada tuan Saga. Benar-benar mengingatkanku pada seseorang ya. Dia tidak mungkin adik sekertaris Han kan, kenapa sepertinya sifat mereka mirip sekali. Tunggu, dia bukan istrinya sekertaris Hankan. Hal gila apalagi yang aku pikirkan ini. Tapi Sofi bilang tadi mereka adalah pasangan serasi. Leela terlihat sangat manis. Postur tingginya lebih tinggi dari Daniah. Tapi jaraknya tidak terlalu berarti. Dari awal dia sudah terlihat menjaga jarak dari Daniah. Memposisikan dirinya pada tempatnya. Bahwa dia bukanlah teman, dia adalaah sopir yang akan melayani Daniah sebagai nona mudanya. Istri dari tuan Saga. Orang yang harus dia hormati dan dia jaga. Tidak terasa keheningan itu tercipta sampai mobil memasuki halaman ruko. Daniah terkejut saat terbangun dari lamunan dan mendapati dirinya di mana. Eh, dia tahu, padahal aku belum mengatakan apa-apa. dia ini sekertaris Han versi cewek ya? Tau semua hal yang harus di lakukan bahkan sebelum aku mengatakan apapun. Leela keluar dari mobil duluan dengan sigap berlari membukakan pintu mobil untuk Daniah. ¡° Silakan nona.¡± Anak ini, baiklah kita bicara nanti. Aku masih belum punya tenaga untuk bicara denganmu. Sekarang lakukan saja hal sesukamu. Aku hanyaa minta jangan terlalu norak seperti sekertaris Han. Serangan dari dalam ruko saat Daniah muncul dengan orang asing di belakangnya. Wanita berpakaian rapi yang muncul dibelakang Daniah. Yang mengikuti seperti ekor tidak terpisahkan tu. ¡° Mbak Niah siapa dia?¡± ¡° Mbak Niah nambah karyawan ya?¡± ¡° Siapa dia mbak?¡± Dia mata-maata yang dikirim tuan Saga. ¡° Saya Leela, saya akan membantu nona bekerja di ruko ini atas perintah tuan Saga.¡± Daniah menutup mulut Leela. Menghentikan apapun yang ingin ia katakan. ¡° Dia Leela, akan membantu kita. Kedepannya tolong akur dengannya ya.¡± Semua karyawan menjawab kompak. ¡°Jangan bicara yang aneh-aneh di sini.¡± berbisik di telinga Leela, lalu dia melepaskan tanganya saat gadis itu mengangukan kepala paham. Jiwa-jiwa polos karyawanku tidak tahu kehidupanku yang sebenarnya. " Jangan bicara yang aneh-aneh!" Leela mengganguk dan tersenyum. Tapi melihat senyuman gadis di depannya malah membuat Daniah semakin kuatir. BERSAMBUNG Chapter 102 Leela (Part 2) Sepertinya dugaan kalau Leela adalah sekertaris Han versi cewek salah, karakternya 180 derajat sangat berbeda dari laki-laki yang hanya menunjukan ekspresi melalui senyum itu. Leela bekerja dengan sangat sigap. Diapun mudah berbaur dan bergaul dengan karyawan lainnya. Namun setiap pembicaraan mengenai pertanyaan tentang tuan Saga hanya dibalas senyuman olehnya tidak lupa dia meminta maaf karena tidak bisa menjawab apa-apa. sebenarnya karyawan pada kecewa tapi segera terobati karena sifat Leela yang ceria. ¡° Tika, aku mau ketemu dengan calon suplayer baru yang menawari pakaian anak. Mau lihat sample dulu.¡± Leela langsung bangun meninggalkan pekerjaannya tanpa diminta. Padahal Daniah berharap agar anak itu berdiam diri di ruko saja. ¡° Lee bagaimana kalau kamu menunggu di sini saja, aku tidak akan lama kok. Bantu yang lainnya di sini saja. ¡± Berharap Leela akan menurut. ¡° Maaf nona, saya harus berada di samping nona selama nona meninggalkan rumah. Ini perintah dari.¡± ¡° Hentikan! Ayo ikut.¡± Tidak membiarkan dia menyelesaikan kalimatnya. Daniah menarik tangan Leela, tidak lupa dia tersenyum dan melambaikan tangan pada karyawannya. Walaupun lagi-lagi mereka memberi pandangan penasaran dan tanda tanya. Sesampainya di dalam mobil. ¡° Leela, bisa tolong hentikan kata-katamu tentang ini perintah tuan muda. Ini perintah tuan Saga.¡± Itu mantra yang selalu di katakan sekertaris Han kalau aku banyak bicara sebelum melakukan yang dikatakan tuan Saga. Daniah menarik nafas kesal, sekarang benar-benar yakin kenapa Leela menjadi sopirnya. Untuk apa dia sebenarnya berada di sisinya. Hei tuan muda, memang siapa yang mau kabur dari mu si, kau masih memegang kartu asku. Keluargaku, tidak perlu sampai melakukan hal sejauh ini juga kali. Di kafe, bertemu dengan calon suplayer pakaian anak. Terjadi lagi pristiwa memalukan karena Leela. ¡° Maaf tuan anda tidak diizinkan menyentuh tangan nona muda.¡± Laki-laki di hadapan Daniah melongo bingung, lebih-lebih Daniah. Apalagi saat Leela melepaskan tangan mereka yang sedang bersalaman. Dengan ekspresi wajah datar. ¡° Leela ada apa denganmu. Dia bukan mau menyentuhku, kami hanya bersalaman. Tahu, bersalaman.¡± Daniah memberi contoh dengan kedua tangannya. " Inikan tanda sopan santun di negara kita." ¡° Tapi nona ini.¡± Daniah menempelkan jarinya di bibir isyarat untuk diam, tahu Leela akan bicara apa. ¡° Duduk diam disitu ya. Jangan bicara apa-apa.¡± Daniah malu sendiri. Leela menganguk dan benar, dia hanya duduk, diam dan memperhatikan. ¡° Siapa dia mbak, lucu juga?¡± ¡° Bukan siapa-siapa mas, jangan perdulikan perkataaanya barusan.¡± Laki-laki itu mengambil tas cukup besar yang tadi dia letakan di bawah. Lalu dia mengeluarkan isinya dan menyusunnya di atas meja. ¡° Ini contoh produk yang kami produksi mbak. Kami memang baru, tapi kami bisa memastikan bahwa produk yang kami hasilkan itu berkualitas, Silahkan mbak Daniah lihat.¡± " Kenapa anda memanggil nona kami dengan sebutan nama?" lagi-lagi bicara yang mengagetkan semuanya. Daniah mengeram. mencubit tangan Leela. " Maaf nona, tapi dia menyebut nama anda." " Bisa diamkan? mau kusuruh pergi sekarang." " Maaf nona, tapi saya harus menjaga anda." " Kalau begitu diam ya. jangan bicara apapun, jangan menyela. cukup lihat aku saja. Oke, mengerti." Leela mengangukan kepala. Daniah menarik nafas frustasi. "Maaf ya mas, tadi sampai mana?" " Ia mbak." menoleh pada Leela. Dia ini siapa, aku menyebut nama Daniah saja sudah memandangku dengan sorot mata membunuh begitu. Dia beralih dengan barang yang berjajar diatas meja. tidak memperdulikan pandangan wanita yang sedang menatapnya tajam itu. Daniah juga memeriksa setiap detail produk di bawah pengawasan mata tajam Leela, sampai terdengar dia menghembuskan nafas kesal sambil menoleh pada gadis itu. Leela seperti tidak merasa bersalah sedikitpun bahwa keberadaanya sudah membuat suasana tidak nyaman. Dia hanya tersenyum ketika Daniah menataapnya semakin jengah. Selesai juga kesepakatan, mengakhiri perbincangan. Kali ini tidak ada jabat tangan, Daniah hanya menggangukan kepala. Dia akan menghubungi dan memberikan keputusan jadi atau tidaknya kerja sama beberapa hari nanti. Dia perlu merundingkan dengan karyawannya, lebih penting untuk membandingkan produk sample dengan apa yang sudah di jualnya. Daniah sudah duduk di kursi taman, dekat area parkir di cafe tadi bertemu dengan calon suplayer barunya tadi. ¡° Duduklah! Letakan tas itu, beratkan.¡± Daniah menepuk bangku kosong di sebelahnya. ¡° Tidak apa-apa nona.¡± ¡° Duduklah, atau kuadukan pada tuan Saga kalau kau membantah kata-kataku.¡± Idih, sudah pintar dan lihai sekali aku mengancam. Terbukti Leela berjalan menuju kursi, dia duduk dan meletakan tas produk contoh itu di pangkuannya. Menjaganya dengan tangan agar tas itu tidak terjatuh. ¡° Taruh saja tasnya di bawah.¡± menunjuk bawah kursi, toh itu trotoar, plastiknya juga tebal dan tidak akan kotor. ¡° Tidak apa-apa nona, inikan barang milik anda, saya harus menjaganya dengan baik.¡± Ya ampun anak ini apa-apaan si. ¡° Leela, kamu ini bukan adik atau saudara sekertaris Hankan?¡± Sebenarnya bertanya tanpa maksud apa-apa, hanya merasa jengkel saja. ¡° Bagaimana anda bisa tahu nona?¡± terkejut, sebenarnya yang jauh lebih terkejut tentu saja Daniah. ¡° Jadi benar kalian saudara, saudara kandung?¡± Wahh, wahh, isi kepala Daniah berlarian. Mencerna informasi penting yang baru dia dapatkan. ¡° Bukan nona, saya adik sepupu sekertaris Han. Saya anak dari adik kandung ibunya sekertaris Han.¡± Aku tidak pernah membayangkan kalau sekertaris Han ternyata benar-benar manusia. Dia juga punya ibu. Ahh, seperti apa ya ibunya. Pasti cantik. ¡° Berarti kamu tahu banyak tentang sekertaris Han donk.¡± Antusias, lupa deh tujuannya mendudukan Leela, mendengar rahasia sekertaris Han dia jauh lebih sangat penasaran. ¡° Maaf nona saya tidak bisa menjawab apa-apa jika nona menanyakan perihal sekertaris Han.¡± Menyebalkan, dia bahkan sudah membentuk dinding yang tinggi mencegahku masuk. ¡° Apa dia punya pacar?¡± Leela diam. ¡° Dimana dia tinggal.¡± Leela diam. Daniah sudah udara di depannya. Ternyata sekertaris Han jauh lebih misterius dari apapun, bahkan tidak ada celah sedikitpun untuk mencari tahu tentangnya. ¡° Baiklah lupakan dia, tidak penting juga.¡± Aaaaaaa, aku benar-benar penasaran tentang sekertaris Han. ¡° sekarang aku mau tanya tentangmu.¡± ¡° Baik nona.¡± Apa! dia langsung bereaksi. ¡° Apa yang tuan saga perintahkan padamu. Mengawasiku?¡± ¡° Tuan muda hanya meminta saya memastikan anda beraktifitas seperti biasa dan pulang ke rumah pada waktunya.¡± Lugas sekali dia menjawab, seperti tidak dibuat-buat. Baiklah masih terlalu dini menyimpulkan. ¡°Apa dia memintamu melaporkan semua hal yang aku lakukan?¡± ¡° Tidak nona.¡± ¡° Jangan bohong! Kau tidak akan melaporkan aku bertemu dengan laki-laki di cafe ini tadikan?¡± memastikan lagi. ¡° Saya akan menyampaikan kalau tuan muda menanyakannya.¡± ¡° Itu sama saja kau memata-mataiku tahu!¡± kesal sendiri. Tangan Daniah mencengkram bahu Leela ¡°Jangan, jangan katakan apapun tentang aku bertemu dengan laki-laki lain.¡± ¡° Tapi, bukankah nona akan menjawab juga kalau tuan muda bertanya? Kalau jawaban saya tidak sama dengan jawaban nona. Nona pasti tahukan apa yang akan terjadi pada saya.¡± Eh, apa artinya aku menjerumuskannya ke lubang neraka. ¡° Baiklah, sekarang bisa perjelas deskripsi pekerjaanmu? Kenapa tuan Saga menyuruhnya jadi sopirku.¡± ¡° Karena anda pernah kabur.¡± Apa kabur lagi, kabur lagi yang jadi alasannya. ¡° Jadi perintah umum yang harus saya lakukan hanyalah agar apa yang anda lakukan tidak membuat tuan muda kesal.¡± ¡° Maksudnya?¡± binggung. ¡° Saya hanya harus memastikan bahwa apapun yang anda lakukan tidak akan membuat tuan muda marah. Contohnya saat anda bersalaman tadi, tuan muda pasti tidak suka kalau anda di sentuh laki-laki lain jadi saya melarang tuan tadi menyentuh anda.¡± Apa! dia lebih gila dari sekertaris Han. Dia menyimpulkan semua seenaknya. Siapa sebenarnya yang merekomendasikan orang gila ini untuk jadi sopirku! Daniah membisu sepanjang perjalanan, memikirkan siapa yang sudah merekomendasikan leela, dan juga memikirkan bagaimana caranya agar sopirnya ini bisa di pecat. Maaf leela, tapi aku belum siap menghadapi kegilaan sekertaris Han versi cewek di sepanjang hariku! BERSAMBUNG Chapter 103 Liburan Taman bermain atau spa? Hasil final memutuskan. Mereka akan memilih pergi ke spa, ya, ya, kalau kau wanita normal rasanya akan memilih tempat ini sebagai hadiah menyenangkan. Dipijat dan berendam air hangat dengan taburan kelopak bunga. Pasti rasanya akan sangat menyenangkan sekali. Ditambah melakukannya bersama dengan teman wanita. Daniah sudah melakukan reservasi untuk 9 orang, ditambah dengan Leela sebagai penghuni baru. Penghuni baru yang tidak diinginkan. Maafkan aku leela keberadaanmu, hanya dengan keberadaanmu saja sudah jadi ancaman kebebasan hidupku. Akhirnya dengan dua mobil, satu milik Daniah dan satunya adalah taxi online, sampailah mereka di tempat tujuan. Ramai di depan spa. Dua orang muncul dari dalam spa. Menyapa dengan penuh keramahan. Senyum khas yang selalu muncul sebagi service utama penyedia jasa. ¡° Selamat datang, silahkan ikuti kami.¡± Mereka masuk bergantian, memandang sekeliling. Beberapa di antara mereka untuk pertama kalinya masuk ke tempat seperti ini. Menatap takjub. Memejamkan mata, dan belum dipijatpun sudah merasakan sensasi nyaman dari harumnya ruangan yang mereka masuki. ¡° Kalian masuk ganti bajulah dulu.¡± Mereka mengikuti dua pegawai spa. Satu yang tertinggal, siapa lagi, kalau bukan si dia. ¡°Pergilah, ganti baju sana.¡± ¡° Saya akan bersama anda nona.¡± ¡° Baiklah, terserah.¡± Lakukan semua sesukamu gumam Daniah. Daniah duduk di loby. Aku membawa 8 orang untuk melakukan perawatan di tempat seperti ini. Berapa tagihan yang harus aku bayar ya. Tunggu, aku tidak harus memakai uang ku kan. Daniah ingat terakhir kali dia menghabiskan uang untuk Raksa. Tapi sepertinya kali ini tidak apa-apa, karena dia memakainyakan bukan untuk laki-laki. Tapi untuk jaga-jaga akhirnya dia mengirimkan pesan pada sekertaris Han. ¡° Sekertaris Han aku mengajak karyawanku berlibur hari ini, apa aku boleh memakai kartu dari tuan Saga untuk membayar tagihan?¡± Aku tidak akan mengatakan tempat tujuan liburan kami. Langsung dibaca sepeti biasanya, tapi kali ini balasan tidak secepat biasanya. ¡° Tuan muda mengatakan selamat bersenang-senang nona, lakukan apa yang ingin anda lakukan.¡± ¡° Baiklah, terimakasih.¡± Hehe, uangku amankan. Daniah masuk ke dalam ruang ganti pakaian, disusul Leela di sampingnya, suasana sudah ribut. Sembilan orang dalam satu ruangan sudah pasti ada keributan di mana-ama. Karena tidak mungkin melakukan perawatan dalam satu ruangan akhirnya dibagilah menjadi dua ruang. ¡° Mbak Niah ini pertama kalinya aku di pijat di tempat seperti ini. Aku mau update di sosial media ya.¡± ¡° Haha norak. Fotoin aku juga ya.¡± Gak sadar kalau dia sama noraknya. ¡° Aku juga, yuk foto ramaian. Nanti aku tag semuanya.¡± Dorong-dorong mencari posisi yang paling sempurna. Ditengah sedang asiknya berfoto dan berebut posisi, Leela dengan wajah polosnya berkata. ¡° Maaf, jangan ada yang posting foto nona muda ya. Tuan Saga tidak akan.¡± Daniah menutup mulut Leela, sementara yang lain sudah berhenti bicara dan berhenti ganti gaya. Memandang orang yang baru bicara. ¡° Suamiku agak ribet kalau fotoku nongol di sosial media, jadi kalian posting yang nggak ada akunya ya.¡± Daniah menjelaskan. ¡° Ahhhh, pasti suami mbak Niah gak mau foto mbak Niah di lihatin orang lain ya.¡± ¡° Sweat banget si tuan Saga. Cemburuan mengemaskan gitu. Aku jadi pengen lihat dia cemburu, apa aku posting aja ya.¡± Haha, kalian mau mati ya melihatnya marah kok ingin. Daniah menarik tangan Leela yang sudah akan bereaksi mendengar kalimat barusan. Daniah mencegahnya. Masih membekap mulut Leela. ¡° Mereka itu cuma bercanda. Jangan sensitif begitu kenapa?¡± ¡° Jangan posting yang ada foto ku ya. Ingat itu.¡± Daniah bicara lagi, mau menunjukan fakta bagaimana kalau anak perempuan tu saling bercanda. ¡° Ia mbak niah.¡± Menjawab kompak. ¡° Lihat kan mereka cuma bercanda.¡± Melepaskan leela. ¡° Selama ini kamu hidup bagaimana si. Gak pernah dengar orang bercanda ya.¡± ¡° Maaf nona, saya hanya ingin memastikan kalau tuan muda.¡± ¡° Ia, ia aku tahu. Leela hanya melakukan segala sesuatunya untuk tuan Saga.¡± Angkat bahu, malas menjelaskan. Bagi Leela tuan Saga adalah sama halnya dengan kehidupannya, tidak tahu sebaik apa tuan Saga padanya hingga dia bisa begitu terikat pada tuan Saga sampai seperti itu. Daniah bersama Tika, Maya dan leela tentunya. Sisanya dalam ruang di sebelah mereka. Sepertinya kelompok di sebelah sana jauh lebih berisik. ¡° Mbak niah ini gak papa? Kami memilih liburan ke spa?¡± Tika mulai lagi deh. Daniah meliriknya, berbisik di telinganya untuk hati-hati bicara kalau ada Leela. ¡° Dan ini pakai uang tuan Saga. Hehe.¡± Bukan merasa senang Tika malah tambah depresi, apa mereka di izinkan untuk memakai uang tuan Saga seenaknya begini. Daniah berusaha melupakan semua masalahnya dan menikmati setiap pijatan lembut di bahunya. Merasakan setiap sentuhan itu dan membebaskan dirinya dari kepenatan. Sekelebat bayangan Saga melintas di pikirannya. Dia bisa mendengar Tika mengajak bicara Maya dengan nyaman. Ya Tika memang anak yang sangat supel, dia mudah sekali berbaur dan mengkrabkan diri dengan siapapun. Maya yang awalnya cangung dapat segera membuka diri. Merekapun terlibat pembicaraan yang seru. Perasaan tuan Saga padaku. Perasaanku pada tuan Saga. Perasaan tuan Saga padaku. Perasaanku pada tuan Saga. Pertanyaan itu berulang-ulang di kepala Daniah, sampai dia tidak mendengar pembicaraan apapun di ruangan yang sama dengannya. Dia jatuh ke dalam pimpi yang dalam. ¡° Mbak niah.¡± Tika mengoyangkan Bahu Daniah lembut. Membuat Daniah mengeliat dan membuka mataanya. ¡° Mbak tidur ya? Pantas diajak ngomong diam aja dari tadi.¡± Eh, sudah selesai ya. Daniah duduk, mengoyangkan kepalanya. ¡° Sudah selesai ya.¡± ¡° Ia mbak, yuk sekaraang kita berendam.¡± ¡° Dimana yang lain?¡± ¡° Sudah duluan mbak. Mbak Niah kecapaian ya? Atau banyak yang sedang dipikirkan.¡± ¡° Gak papa ko.¡± Leela masih duduk di ruangan yang sama. Belum pergi bersama yang lain. Tika menoleh padanya. ¡° Dia mau menunggu mbak Niah katanya,¡± Menjawab sorot mata Daniah, kenapa Leela masih ada di sana. Ya, ya, aku tahu. Berat sekali pekerjaanmu. Mereka masuk ke tempat pemandian. Kali ini bak mandinya cukup kecil hanya bisa dipakai dua orang saja. Jadi setiap orang berpasangan. Daniah yang sendirian. Seseorang datang memeriksa air dan memberikan aroma terapi. Lalu berbasa-basi dengan sopan menanyaakan bagaimana kenyamanan Daniah, apakah dia suka suhu airnya. Gadis itu menjawab dengan senyuman. Sudah mewakilkan semuanya. Kenapa aku sampai ketiduran si, aku jadi tidak bisa menikmati sensasi nyaman di pijatkan. Aku ingin di ulang pijatnya. Tapi gak mungkinkan. Pesan penting ketika kalian dipijat, jangan tidur biar kaliaan bisa merasakan sensasi kenyamanan ketika pijatan itu berlangsung. Daniah melihat tangannya sendiri, lalu memijat kakinya. Merasakan sentuhannya, sepertinya sedikit berbeda dengan setuhan pemijatnya tadi. Sepertinya aku belum benar-benar ahli ya. Tapi rasanya tuan Saga menyukai sentuhanku. Cih, dia bukan menyukai pijatanku pastinya, dia hanya menyukai sentuhanku. Eh, apa yang kau pikirkan Daniah. Perasaan tuan saga, aku penasaran sekali perasaannya yang sebenarnya padaku. Apa dia benar menyukaiku. Apa aku benar, boleh membuka hatiku untuknya. Tidak! Jangan lakukan apapun. Jangan buka hatimu sebelum kau melihat bukti nyata dia juga suka padamu. Kalau tuan Saga membuangmu kau tidak akan benar-benar terluka. Semua selesai, Daniah muncul belakangan dari pintu setelah selesai urusan pembayaran. ¡° Aku mau sering ke tempat ini. Haha.¡± Menatap sekali lagi pintu spa. Tidak lupa foto sebagai kenang-kenangan. Mau dia pemerkan pada temannya di kampung halaman nanti. ¡° Makasih ya mbak Niah, ini pertama kalinya lho aku masuk spa. Luluran, dipijat. Ahhh, enak sekali. Haha.¡± ¡° Sering-sering ya mbak Niah.¡± Yang ini tipe ngelunjak. Haha, tapi dia cuma bercanda kok. ¡° Makasih ya mbak Niah. Dari semua tempat yang pernah aku kerja, mbak Niah itu bos paling baik dan luar biasa.¡± Memeluk Daniah. Leela yang panik sendiri, bagaimana nonanya seenaknya di sentuh dan di peluk begitu. Kalau tuan Saga melihat pasti dia akan kesalkan begitu pikirnya. Namun Leela tidak melakukan apapun. Dia hanya menatap tajam. Semua tertawa bahagia. Daniahpun demikian, lebih bahagia lagi karena bukan dia yang keluar uang. ¡° Kita makan dulu yuk. Mau makan dimana?¡± saling pandang, sama-sama sok berfikir. ¡° Maya mau makan apa?¡± Daniah beralih pada Maya yang sedari tadi diam saja. ¡° Apa saja nona.¡± Menjawab singkat. ¡° Kita ke food court mall aja yuk, biar semua bisa pilih menu sesuai selera kalian.¡± Pilihan yang bijak. Semuanya setuju. Memesan satu taxi online lagi untuk mengantar mereka ke mall. Menikmati makan malam hangat bersama sesama teman wanita. Daniah menendang kaki Leela beberapa kali mengingatkan gadis itu. ¡° Bercanda Leela, bercanda, mereka sedang bercanda.¡± Tahukan bagaimana kalau obrolan sesama perempuan, apalagi kalau sedang membahas pria tampan. Kali ini Daniah duduk di kursi belakang, karena ada Maya di sana. Maya jauh lebih pendiam dari yang Daniah duga. Biasanya dia tidak hanya bicara kalau ditanya, tapi kali ini dia benar-benar aneh. Apa karena ada Leela jadi dia harus menjaga sikapnya. Daniah melirik dua orang, satu di depannya dan satu di sampingnya. Hemm, hanya bergumam tidak menemukan alasan apa-apa. ¡° Lee sebelum jadi sopirku kamu kerja di mana?¡± ¡° Saya di negara XX nona. Mengurus usaha tuan muda yang baru di buka di sana.¡± menjawab lugas tanpa ada yang berusaha dia sembunyikan. Apa barusan dia bilang, mengurus usaha, artinya dia orang penting di Antarna Group kan. Lantas kenapa dia kembali, dan Cuma jadi sopirku. Masuk akal gak begini? ¡° Lantas kenapa kamu kembali dan cuma jadi sopir. Apa kamu melakukan kesalahan dan tuan Saga sedang menghukummu.¡± Eh dia tertawa lagi, memang aku sedang melucu. Aku sedang merasa bingung tahu. ¡° Karena tugas saya di sini jauh lebih penting.¡± ¡° Apa?¡± ¡° Menjaga sesuatu yang jauh lebih berharga, wanita yang dicintai oleh tuan muda.¡± Daniah tertawa mendengar jawaban Leela, dia sampai memegang tangan Maya dan meremasnya. ¡° Maaf, tapi jawabanmu lucu sekali.¡± Masih tertawa. Sejak kapan aku jadi wanita berharga yang dicintai tuan Saga, sepertinya banyak sekali orang salah pahaam di sini. Daniah berfikir sebentar, kira-kira mau menanyakan apalagi pada leela. ¡° Apa kau tahu kisah percintaan tuan Saga dan Helen.¡± ¡° Semua orang juga tahu nona, kalau Helen adalah mantan kekasih tuan muda.¡± Wahh, dia menjawab ringan. Sepertinya dia tidak sedendam itu pada Helen berbeda dengan sekertaris Han yang langsung mengeram kesal. ¡° Apa dulu kau juga dekat dengan Helen?¡± ¡° Tidak.¡± Hei jelaskan donk, jangan hanya menjawab tidak. ¡° Tuan muda tidak memperlakukan Helen seperti memperlakukan anda.¡± ¡° Benarkah? Seperti apa contohnya. Aku juga penasaran dengan cerita cinta tuan Saga dan helen.¡± ¡° Maaf nona, saya tidak bisa menjawab itu, karena saya dengar tuan muda tidak suka ada yang membicarakan Helen dengan anda.¡± ¡° Hei, inikan Cuma antara kita aja.¡± Daniah melirik Maya. ¡° Maya juga gak akan cerita-cerita kok.¡± ¡° Maafkan saya nona, nyawa saya Cuma satu.¡± Apa! kenapa dia sampai bawa-bawa nyawa segala si. Daniah menyerah, dia bersandar di kursi. Memandang jendela kaca. Sebentar lagi senja mulai akan turun, dan sudut bagian barat akan berwarna keemasan. Hari yang menyenangkan bersama teman, aku akan kembali kerumah besar dan menjadi diriku yang lain lagi. Daniah, nona muda yang harus selalu menjaga sikap. BERSAMBUNG Chapter 104 Istirahat sore Setelah sampai di rumah Daniah berpisah dengan Maya, dia mengucapkan banyak terimakasih lalu meninggalkan Daniah menuju rumah belakang. Leela sendiri ikut masuk ke dalam rumah. Tidak tahu apa yang dibicarakannya dengan pak Mun. Daniah memilih masuk ke dalam kamar. Dia bahkan memilih makan malam di kamar, karena semua orang belum kembali dari urusannya. Dari pada makan di meja makan besar sendirian dia memilih makan sambil nonton tv. sebenarnya dia tidak terlalu lapar, tapi karena pak Mun akhirnya dia makan juga. Berganti pakaian setelahnya lalu menjatuhkan diri di sofa. Kenapa semua orang berfikir kalau tuan muda itu mencintaiku si. Dia bahkan tidak pernah mengatakan kalau dia mencintaiku. Aku malah yang sudah ratusan kali mengatakannya. Daniah menyalakan tv, tapi dia mengambil hpnya. Melihat foto-foto mereka tadi saat di spa dan makan dan juga jalan-jalan sebentar di sekitaraan mall. Daniah terpingkal melihat ulang karyawannya yang ada di dalam foto. Aaahh, mereka ini manis-manisnya. Semoga kalian selalu hidup bahagia nantinya ya. Sedang mengeliat di sofa, dengan gaya seenaknya. Suara pintu terbuka mengejutkan Daniah. Dia sedang mengangkat kakinya ke atas, sementara kepalanya berada di bibir sofa. Membuat rambut bergelombangnya terburai, bahkan hampir menyentuh lantai. Dia mendongak melihat kedatangan Saga. ¡° Sayang.¡± Meringis malu, sudah mau berubah posisi. ¡° Jangan bergerak. Diam di posisimu.¡± ¡° Apa!¡± walaupun malu campur kesal dia tidak berani bergerak. Lebih sialan lagi saat sekertaris Han masuk dan tergelak tanpa suara. ¡° Han, berikan hpku.¡± ¡° Baik tuan muda.¡± Hei, hei, kalian mau apa! Cekrik, cekrik, cekrik. Ntah berapa puluh kali dia memfoto dengan berbagai posisi. Daniah mengeram kesal. ¡° Sudah, kau bisa duduk sekarang.¡± Apa dia sudah gila! ¡° Lihat rambutmu.¡± Membantu Daniah merapikan rambut yang terburai. ¡°Sedang bosan ya sampai jungkir balik begitu.¡± Mengulung rambut, mengulung rambut malah membuat semakin berantakan. ¡° Sayang apa yang kamu laakukan si, biar aku saja.¡± Tidak akan selesai sampai kapan kalau dia sudah main-main dengan rambutku. Kau tergila-gila dengan rambutku ya. Han tersenyum tipis lalu melangkah membawa setelan baju yang terbungkus plastik. Menuju ruang ganti baju. Daniah bisa melihat punggungnya yang bergoyang. Apa dia masih menertawakanku! ¡° Maaf aku tidak turun menyambutmu. Biasanya paak Mun datang dan memberitahuku kalau kau kembali.¡± Beralih pada Saga yang masih duduk di sampingnya. Mengulung-gulung rambut tidak ada habisnya. ¡° Berikan aku ciuman selamat datang sebagai ganti kau tidak menyambutku.¡± Melepaskan tangannya dari rambut, berganti menjentikan telunjuknya di dagu Daniah. Apa sekarang! Ada pak Mun di dekat pintu dan sekertaris Han yang muncul dari ruang ganti. ¡° Tidak mau!¡± kesal. ¡° Siapa yang tidak mau, tentu saja aku mau. Selamat datang sayang.¡± Ciuman hangat menyambut Saga. Sekertaris Han melewati mereka tanpa bergeming, berjalan menuju pintu. Lalu berdiri disana. Sudahkan, puaskan! Senang sekali menjahili orang. Saga melepaskan tangannya setelah mendapatkan apa yang diinginkannya. ¡° Apa mau kusiapkan air untuk mandi.¡± Daniah menyentuh dasi Saga dan mau membantu melepaskannya. Saga malah meraih jemari Daniah lalu menciumnya dua kali. ¡° Tidak usah, pak Mun yaang akan membantuku. Turunlah, Jen dan Sofi ada di bawah. Sudah lama kalian tidak berbincang karena Jen sibukkan?¡± mengulung rambut lagi. Orang ini benar-benar sudah tergila-gila pada rambutku ya. Makanya jangan pernah menghina sesuatu, kena hukumannyakan kamu sekarang. ¡° Ahh mereka sudah pulang juga. Baiklah.¡± Melepaskan tangan Saga dari rambut. Kecupan lembut Daniah di pipi Saga sepertinya bisa jadi hadiah yang membuatnya senang. Saga terlihat terkejut, meraba bibinya. Wajahnya terlihat sangat senang. Dia mencium pipi Daniah juga beberapa kali. ¡° Ia, ia sudah. Hentikan.¡± Mendorong tubuh Saga agar bangun. Daniah menunggu Saga masuk ke dalam ruang ganti baju yang di ikuti pak Mun. Akhir-akhir ini sifatnya memang agak melunak. Sekarang jarang menyuruh Daniah menyambut atau melepaskan sepatunya. Diapun sudah bisa mandi tanpa di siapkan air. Pokoknya standar pembantu yang dulu melekat dalam tubuh Daniah berangsur berkurang, walaupun belum sepenuhnya hilang. ¡° Sekertaris Han!¡± memanggil Han yang sudah duluan menuruni tangga, laki-laki itu berhenti. ¡° Besok peresmian danau hijaunya?¡± mereka berhenti di tengah tangga. ¡° Ia nona.¡± Mengalihkan pandangan setelah beberapa detik. ¡° Apa Helen juga akan datang?¡± ¡° Kenapa? Apa anda juga mau datang. Saya akan siapkan semuanya kalau anda mau menemani tuan Saga.¡± Daniah mengibaskan tangannya panik. Siapa juga yang mau datang, akukan hanya tanya. ¡° Tidak! Aku hanya tanya apa Helen juga akan datang?¡± ¡° Apa nona cemburu?¡± Memukul bahu Han kesal. ¡° Berhenti menjawab pertanyaanku dengan pertanyaan.¡± ¡° Maafkan saya nona, kalau anda cemburu itu akan mempermudah semuanya.¡± Apa! maksud dia ini apa si? ¡° Kalau begitu saya permisi nona.¡± Sudah mau berbalik. ¡° Masih ada beberapa pekerjaan yang harus saya selesaikan.¡± Seperti bilang, berhenti mengganguku. ¡° Tunggu!¡± Lihat, lihat matanya sudah mulai kesal. Mau apa lagi kamu? Begitukan yang ada dipikiran mu. Biarin, memang kamu aja yang bisa buat orang kesal dengan jawaban-jawabanmu. ¡° Ternyata Leela itu adik sepupumu ya.¡± Tersenyum, seakan sudah menemukan kelemahan sekertrais Han. Padahal laki-laki itu tetap tenang, bahkan air mukanya saja tidak berubah. ¡° Aku banyak bicara dengannya tadi.¡± ¡° Benarkah, saya senang kalau anda bisa akrab dengannya. Kalau anda punya keluhan tentangnya katakan saja.¡± Keluhanku adalah dia tidak mau membuka mulutnya saat aku bertanya tentangmu. ¡° Tidak, aku tidak punya keluhan apa-apa kok. Dia bekerja dengan baik. Dia juga banyak bercerita tentangmu.¡± Ayo terpancinglah, terpancinglah. ¡° Bernahkah?¡± Han tersenyum tipis ¡° Kenapa? Tidak percaya.¡± Menantang, padahal Daniah hanya sok-sokan. Dia sama sekali tidak punya modal apa-apa untuk bisa dipakai mengertak sekertaris Han dari sudut manapun. ¡° Tidak.¡± Tergelak kecil, lalu membungkukan kepala. ¡°Usaha yang bagus nona, lain kali berusahalah lebih keras lagi.¡± Apa! dia sedang mengoda dan mempermainkanku juga! Daniah menendang udara di depannya tepat di tempat tadi sekertaris Han berdiri. Dia mengerutu kesal sambil menuruni tangga. Melihat sekertaris Han masuk ke dalam ruang kerja Saga. Dia bahkan bisa masuk ke sana seenaknya. ¡° Kakak ipar!¡± menyambut Daniah yang turun dari tangga. Jenika muncul dari dapur membawa sekotak stroberi. Menarik Daniah duduk di kursi, lalu dia memeluk Daniah dan menyandarkaan kepalanya di dada gadis itu. Apa-apaan anak ini. ¡° Hei, kenapa, ada apa denganmu jen?¡± sedikit kuatir karena kelakuan manja Jen yang tidak biasanya. Huuuu. Huuu. Malahan tersedu. Walaupun tangisannya palsu. ¡° Kakak ipar, kak Jen sedang galau, gara-gara cowok.¡± Sofia tertawa sama sekali tidak bersimpati, dia rebahan di sofa sambil menaikan kaki dan bermain hpnya. Puk, puk, di tepuknya bahu Jenika yang memeluknya. ¡° Kenapa? Bukannya kamu juga sudah punya pacar?¡± ¡° Ia, karena itulah aku galau kakak ipar.¡± Merengek tidak jelas. ¡° di kantor ada teman magangku, dia baik sekali. Aku sepertinya jatuh cinta padanya.¡± Lepaskan aku dulu! Daniah berusahaa melepaskan diri, tapi sia-sia. Dia kalah tenaga, akhirnya menyerah melepaskan diri dia membiarkan Jen memeluknya. ¡° Jen, kamu tahu apa yang paling penting dalam sebuah hubungan selain cinta?¡± ¡° Apa?¡± Tepukan lembut di bahu Jen lagi. ¡° Banyak sekali selain cinta Jen. Menjaga kehormatan, menjaga kepercayaan, kejujuran adalah rantai pengikat dalam sebuah hubungan. Tidak akan berjalan baik kalau kesemuanya itu rapuh. Kalau kau memang menyukainya sudahi dulu hubunganmu yang satunya. Jangan bersandar di dua tubuh, karena bukan hanya kamu yang akan terluka nanti tapi kau juga akan melukai dua orang yang lainnya.¡± ¡° Tapi bagaimana?¡± merengek lagi. ¡° Apanya?¡± mengusap-usap bahu Jen lembut. ¡° Laki-laki di tempat magangku itu memang baik, tapi masalahnya dia baik sama semua orang. Hiks, hiks. Dia bukan hanya baik padaku dalam artian menyukaiku. Itu masalahnya. Huaaaa, aku jengkel sekali. Saat di kantin semua orang membahasnya, bahkan senior-senior pekerja perusahaan juga.¡± Jen menjejakan kaki. Saga muncul, berdiri di dekat kursi. ¡° Apa yang kau lakukan Jen? Kenapa memeluk kakak iparmu?¡± duduk, dia memberi isyarat agar pak Mun meninggaalkaannyaa. Laki-laki itu menganguk dan pergi. Sementara Jen melepaskan pelukannya pada Daniah. Cemberut pada Saga. Apa! akukan hanya memeluk kakak ipar sebentar. Sofi langsung menurunkan kakinya saat mendengar suara Saga. ¡° Kemarilah!¡± Saga menjentikan jarinya. Daniah mendekat, tangannya ditarik dipaksa melingkar di tubuh Saga. Seperti yang jen barusan lakukan padanya. Apa-apaan dia, jadi dia mau aku memeluknya. Jenika tergelak, lalu mengambil kotak stroberi yang belum di sentuhnya di atas meja. Jen melirik kakaknya yang sedang memberi ciuman di wajah Daniah. Cih, segitu tergila-gilanya pada kakak ipar, sampai pamer pada kami. Sofia langsung kembali pada hpnya saat dia ikutan melirik, bergumam hal sama dengan jen. Pamer. Begitu katanya. ¡° Besok peresmian danau hijau ya?¡± Daniah menyenderkan kepalanya di dada Saga, agar laki-laki itu menghentikan bibirnya. ¡° hemm.¡± Sambil mengusap-usap rambut Daniah dengan dagunya. ¡° Iklannya sudah banyak di sosial media kak, mau live di tv ya.¡± Jen nimbrung, Sofi juga sudah membalikan badan. ¡° Besok kalian jangan kemana-mana, temani kakak ipar kalian di rumah. Nonton saja di tv¡± Aaaaaa, gagal deh. Bersamaan dipikiran jen dan Sofi. Gagal sudah semua rencana mereka, tadinya dua beradik itu mau live sosial media di depan danau hijau. ¡° Jen, mungkin sudah ada acara?¡± Saga menarik lagi kepala Daniah yang terangkat, membenamkan lagi di dadanya. Tidak mau Daniah bergeser satu sentipun dari sampingnya. Apa-apaan si dia ini. ¡° Gak ada kakak ipar, besok kami akan nonton tv lihat kak Saga di peresmian danau hijau bersama kakak ipar di rumah.¡± Jen mencari aman dalam hidupnya. Ini jauh lebih baikan, dari pada live sosial media tapi di amuk di rumah. Saga bangun dan menarik Daniah. ¡° Ayo tidur, aku sudah mengantuk.¡± Baiklah, baiklah pergilah kalian pasangan yang dimabuk cinta. Craus-craus, Jen mengunyah stroberinya. Menatap Saga dan Daniah menaiki tangga. Aaaaa, bagaimana ini teman magangku itu wajahnya terngiang-ngiang di kepalaku terus. BERSAMBUNG Chapter 105 Mengandung anak ku Di ruang ganti baju, Saga sudah menganti baju yang baru saja dia pakai dengan setelan baju tidurnya. Daniah meletakan pakaian yang baru beberapa jam dipakai itu di keranjang baju kotor. Dengan perasaan sayang. Cih, baru juga ganti baju sudah ganti baju lagi. Inikan namanya pemborosan. ¡° Sayang.¡± Masih mematung di depan lemarinya, dia sudah menarik pintu dan memegangi handle lemari. Tapi belum membukanya. ¡° hemm.¡± Menatap lekat pada istrinya. ¡° Aku pakai baju ini saja ya.¡± Daniah menarik ujung roknya. ¡° aku juga baru pakai tadi.¡± Sayangkan, bahkan dia tidak berkeringat atau kotor sedikitpun. Dia saja hanya bergulingan di sofa tadi. Saga malah duduk di dekat meja penyimpanan jam tangan. Betopang pada satu tangannya menyandarkan bahu. ¡° Ganti bajumu dengan baju tidur.¡± Ishh, kenapa juga aku musti bertanya tadi. Tapi apa kau mau duduk di situ selama aku ganti baju. Tidak tahu malu sekali. ¡° Sayang kenapa kau tidak menunggu di tempat tidur saja?¡± sudah membuka lemari pakaian lebar, mengambil satu baju warna coklat. ¡° Kenapa? Memang apa yang mau kau sembunyikan.¡± Seringai di bibirnya muncul. ¡° Aku bahkan sudah hafal seluruh lekuk tubuhmu.¡± Tertawanya menyusul kata-katannya. Membuat Daniah memerah malu. Dari telinga sampai wajahnya. Dasar gila! Saga tidak beranjak dari tempat duduknya. Melihat istrinya satu persatu menangalkan pakaian lalu berganti dengan baju tidurnya. Baju tidurnya memang satu model, hanya berbeda warna. ¡° Ganti dengan warna pink.¡± Katanya tiba-tiba setelah Daniah selesai meletakan baju yang dia pakai di keranjang, menumpuk dengan pakaian Saga tadi. Apa! Setelah Daniah selesai dengan baju tidur warna coklatnya. Dia baru bicara, bukannya tadi di awal meminta Daniah untuk memakai baju warna pink. Ini dia sedang mengerjaikukan, batin Daniah kesal. Dia masih menatap Saga jengah. ¡° Aku mau kau pake yang warna pink.¡± Dia ini ya. Gemetar-gemetar kesal. Mengambil baju tidur berwarna pink dengan gusar. Menutup lemari dengan keras. Kali ini sudah tidak bersikap malu-malu. Sudah secepat kilat megganti baju supaya urusan cepat selesai. Sudah puas! ¡° Ayo tidur, aku lelah.¡± Menarik tangan Daniah. Tidak mengomentari apapun. Saga menjatuhkan diri lebih dulu di tempat tidur, lalu menarik selimutnya. Sementara Daniah mematikan lampu setelahnya juga naik ke atas tempat tidur. Masuk ke dalam bawah selimut. ¡° Mendekatlah!¡± Daniah mengeser tubuhnya, sampai menempel. Dia bersandar di dada Saga, sampai laki-laki itu bisa mencium kepalanya. ¡° Kau bersenang-senang hari ini.¡± Membelai kepala Daniah yang bersandar di dadanya. ¡° Hemm.¡± Saga menarik telinga Daniah mendengar jawaban istrinya. ¡° Apa?¡± Daniah bertanya sambil menyentuh jemari saga agar melepaskan telinganya. Sakit tahu, begitu katanya lirih. ¡° Jawab dengan benar kalau aku bertanya.¡± ¡° Maaf.¡± Padahal dia kalau ditanya jawabnya cuma hemm, hemm. Orang lain suruh menafsirkan sendiri. Memang semua orang sesakti sekertaris Han apa. ¡° Kami pergi ke spa, makan dan jalan-jalan sebentar tadi.¡± ¡° Spa?¡± maksud pertanyaannya tempat apa itu, kenapa kalian pergi ke spa. ¡° Ia, tempat untuk pijat seluruh badan.¡± Daniah menjawab sambil memperagakan tangannya memijat kaki Saga di sampingnya. ¡° Pijat! Kamu di pijat? Siapa? Kamu di pijat siapa? laki-laki atau perempuan hah!¡± menguncang tubuh Daniah keras. Membuat orang kaget saja. Daniah sampai mengeser tubuhnya panik. Idih apa-apaan si dia ini. ¡° Dipijat perempuan sayang. Semua dipijat perempuan kok. Itu juga spa khusus perempuan.¡± Saga mengeram kesal. Walaupun sudah dibilang dipijat perempuan juga tetap membuatnya kesal. ¡° Kami di pijat ramaianan kok, satu ruangan empat orang.¡± ¡° Apa empat orang.¡± Frustasi sendiri membayangkan. Istrinya di dalam ruangan bersama empat orang tanpa pakaian. ¡° bodoh! Memang siapa yang mengizinkanmu menunjukan tubuhmu di depan orang lain.¡± Kesal dia mendorong Daniah dari pelukannya. ¡° Apa!¡± Daniah juga kesal. Ada ya orang seperti dirimu ini. Kenapa tidak normal begini jalan pikiranmu. ¡° Kami kan pijat juga pakai baju sayang. Pakai baju. Lagian semua perempuan kok.¡± ¡° Memang kalau perempuan lantas boleh melihat tubuhmu. Cih bagaimana Leela bekerja, begini saja tidak becus.¡± Aaaa kenapa ini, kenapa bawa-bawa leela juga. Apa ini maksudnya dia yang selalu mengatakan kalau tuan Saga pasti tidak suka. ¡° Sayang maafkan aku.¡± Merasakan sinyal bahaya mengancam. ¡° Aku benar-benar salah dan tidak berhati-hati. Maafkan aku.¡± Apa si, akukan cuma di pijat perempuan. Kenapa sampai segitunya. Aku bahkan harus minta maaf karena di pijat perempuan. ¡° lain kali kalau kau mau di pijat katakan padaku, Han akan panggil ahli memijat nanti, lakukan hanya di depanku.¡± ¡° Apa?¡± binggung. ¡° Buka bajumu hanya di depanku.¡± Berteriak. ¡° Ia, ia baik sayang.¡± Kehabisan kata-kata. ¡° Ahhh, membuat kesal saja. Kemarilah.¡± Menepuk dadanya tempat tadi daniah berbaring. Memang aku masih berani kebali ke situ. ¡° Kenapa diam?¡± Daniah beringsut mendekat kepelukan Saga lagi. Tangan laki-laki itu menepuk kepalanya lembut. ¡° Jangan memancing kemarahanku lagi.¡± ¡° Ia sayang. Maafkan aku.¡± Kalau gila kumohon ada batasannya juga tuan muda, standar kehidupanmu ini aneh sekali si. Marah hanya karena aku di pijat. Kenapa tidak marah sekalian kalau ada laki-laki yang memanggil namaku. Eh, Leela pernah mengingatkanku inikan. Cih, sudah seperti aku ini istri yang kamu cintai setengah mati saja. Daniah melingkarkan tangannya memeluk pingang Saga. Laki-laki itu tidak bereaksi. Tapi hembusan nafasnya belum terdengar seperti dia sudah tidur. Daniah mendongak, melihat Saga sudah memejamkan matanya. Apa dia benar-benar mengantuk ya. ¡° Sayang, apa kau sudah tidur?¡± ¡° hemm.¡± Ternyata belum ya gumam Daniah. ¡° Apa aku boleh bertanya sesuatu?¡± meneruskan kata-katanya. Dia ingin iseng memastikan sesuatu. Kalau dia mendapatkan jawaban itu akan lebih baik, kalau tidak ya sudahlah. ¡° hemm.¡± ¡° Apa kau mencintaiku?¡± menutup mulutnya, terkejut sendiri dengan pertanyaan yang ia lontarkan. Ayo jawablah, jawablah. ¡° hemm.¡± Jawaban yang sama dari sejak dia mulai bertanya. Jadi maksudnya apa? ¡° Apa kau akan menceraikanku suatu hari nanti.¡± Pertanyaan yang memancing kemarahan. ¡° Hemm.¡± Gemetar-gemetar geram sendiri Daniah. Mendongak, mata Saga tertutup. Dia ini sebenarnya sadar tidak si, gumam Daniah pelan. ¡° Apa kau benar-benar tidur.¡± Tuk, tuk, menusuk perut Saga, tidak ada reaksi. ¡° Sayang apa kau punya pacar lain di luar sana.¡± ¡° hemm.¡± ¡° Berhentilah menjawab hemm, hemm, memang aku tahu artinya apa.¡± menggankat kaki kirinya menyilang di kaki saga. Menjatuhkannya dengan keras. ¡° Kurang ajar sekali kau berani menindihku.¡± Suara Saga sama sekali tidak seperti orang yang sedang mengantuk. Daniah menarik kakinya pelan turun dari kaki Saga. ¡° Sayang, jadi kau belum tidur ya. Haha.¡± Habislah aku. ¡° Kau berisik sekali bagaimana aku bisa tidur.¡± Sudah duduk di samping Daniah yang mulai mengkerut. ¡° Kau tanya apa tadi?¡± Tangan mulai beraksi, menarik selimut. Menyusuri tubuh Daniah dalam balutan baju tidur warna pinknya. ¡° Apa aku mencintaimu? Benar mau mendengar jawabannya?¡± memainkan daun telinga Daniah yang sudah memerah. Antara ia, namun juga takut mendapat jawaban yang sebenarnya. ¡° Aku akan menjawabnya, kalau kau sudah mengandung anakku.¡± Memasukan jari ke dalam baju tipis Daniah. Tangannya menempel di perut, membelainya pelan. Mendengar kalimat barusan, wajah Daniah langsung berubah. Dia memalingkan wajah kearah berlawanan. Menutupi perasaannya. ¡° Apa kau sudah ada tanda-tanda hamil?¡± mencium lembut perut Daniah yang ia sibak. Bibirnya menempel tepat di pusar. ¡° Sayang hentikan.¡± Daniah berusaha menyenbunyikan bagian tengan perutnya dengan tangan. ¡°Sepertinya belum. Maafkan aku. Sepertinya aku masih bisa mendengar jawabanmu ya.¡± Bagi Saga hamilnya Daniah adalah ikatan kuat yang tidak akan bisa membuat Daniah kabur darinya, kalau sampai istrinya hamil, dia yakin wanita dalam pelukannya ini akan berhenti memikirkan cara meninggalkannya. Bagi Daniah, kehamilannya saat ini adalah sesuatu yang di luar rencana hidupnya. ¡° Kenapa minta maaf, kita masih punya banyak waktu untuk melakukannyakan.¡± Sudah menjatuhkan diri di samping Daniah. Mulai menyentuh leher dengan bibirnya yang lembut. Membasahi telinga Daniah dengan kata-kata yang membuat gadis itu mencengkram tempat tidur. Saga sudah menarik baju tipis Daniah melemparkannya ke ujung tempat tidur. ¡° Kau yang sudah menggangu tidurku ya. Rasakan akibatnya." Sampai Saga selesai dan menjatuhkan diri di sampingnya, memeluknya erat, ada buliran airmata di matanya menetes. Daniah dirasuki perasaan bersalah dan takut sekaligus. Kenapa kau mengatakan menginginkan anak dari ku. Malam semakin larut, cukup lama sampai Daniah juga ikut terlelap di samping Saga. BERSAMBUNG Chapter 106 Danau Hijau (Part 1) Hari ini akan menjadi hari bersejarah bagi kota dan warganya. Hari di mana mereka mendapatkan hadiah sebuah tempat wisata kota gratis dari perusahaan ternama Antarna Group. Hadiah yang sudah dinantikan oleh seluruh warga kota. Mereka berbondong-bondong menuju tempat ini dengan suka cita dan gembira. Mereka terlihat datang dengan rombongan. Ada yang memakai sepedah motor, ada pula yang berkendara mengunakan mobil. Tidak ada yang terlihat di wajah mereka selain kegembiraan. Inilah danau hijau. Taman dan danau di tengah kota, yang menyatu dan saling melengkapi. Tempat ini akan menjadi ikon wisata keluarga. Slogan utama terbentang besar di belakang panggung ¡° matahari terbit nan indah danau hijau, nikmatilah seluruh warga kota bersama orang yang kalian sayangi.¡± bisa di lihat dari jalan raya sekalipun. Bendera-bendera bertuliskan Antarna Group mengelilingi danau dan setiap sudut taman. Menunjukan kepada masyarakat, siapa yang paling berjasa, menyulap danau hijau menjadi tempat seindah ini. Sebuah tv LCD sebesar papan reklame yang ada di pusat kota terpasang kokoh di sudut taman, saat ini sedang memutar film dokumentasi perjalanan perubahan danau hijau. Yang awalnya hanya semak dan kubangan air, kini sudah berganti rupa. Dahulu ketika masih menjadi tempat tak terurus danau hijau memang sudah mendapati anugrah dari alam. Tempat itu memang sudah indah pada awalnya. Foto-foto pada saat pembangunan bergantian tanyang dalam slide-slide yang mengundang decak kagum. Profil perusahaan juga tayang dalam slide-slide berikutnya. Kedepannya layar tv besar itu akan di pakai Antarna Group sebagai papan iklan mereka. Jalan di sekitar danau hijau di tutup untuk mencegah terjadinya kemacetan. Orang-orang yang beramai-ramai datang untuk menjadi saksi peresmian acara harus parkir kendaraan di area tertentu yang sudah di tunjuk, dan berjalan kaki menuju lokasi. Hanya kendaraan para pejabat kota, dan undangan VVIP yang boleh masuk sampai ke area parkir danau hijau. Sebagai objek wisata keluarga, danau hijau menyediakan fasilitas yang lengkap sebagai penunjangnya. Danau indah yang tenang yang di kelilingi dengan taman yang sama menghijaunya, akan ada arena bermain air, dan juga kapal-kapal kecil yang bisa dipakai bergiliran. Area olahraga mini, area jogging. Tempat bermain anak. Tempat outbond. Blok kuliner, yang bisa di pakai para pedagang yang sudah terdaftar untuk berjualan. Semuanya lengkap. Tempat ini telah di bangun kembali oleh Antarna Group sebagai sumbangan mereka bagi pembangunan kota. Semua biaya pembangunan sekaligus peresmian di tanggung semua oleh Antarna Group. Ini adalah bakti perusahaan bagi masyarakat kota yang di cintainya. kedepannya tempat ini akan di kelola pemerintah kota. Begitulah kalimat pembuka yang di sampaikan oleh jurnalis media. Live tv beberapa stasiun tv nasional. Hari ini hanya nama Antarna Group yang menjadi tranding di berbagai media sosial. Siang ini cuaca cukup hangat, walaun panas namun tidak terik menyengat. Kerumunan manusia sebenarnya yang membuat suasana semakin panas. Tapi mereka tidak merasakan apapun. Hanya wajah-wajah penuh tawa dan bahagia yang terlihat. Berkumpul dengan satu tujuan, menjadi saksi dibukanya tempat wisata gratis bagi keluarga mereka nanti. Seribu satu rencana bermunculan di kepala mereka. Menyusunnya dalam agenda wajib minguan mereka. Liburan di danau hijau. Tenda-tenda berjajar, kursi-kursi tempat duduk sesuai dengan nama undangan. Barisan sofa yang ada di depan sudah terisi oleh para undangan VVIP. Para pejabat kota, petinggi perusahaan-perusahaan besar, artis. Orang-orang penting yang meluangkan waktunya untuk perayaan hari ini. Dan masih ada satu tempat kosong bagi tamu kehormatan hari ini tentunya. Tepuk tangan membahana dari seluruh penjuru taman. Masyarakat biasa yang berjubel di luar garis pembatas terlihat bersorak senang ketika pembawa acara naik ke podium. Mereka membuka acara dengan sangat lihai, dengan kalimat berbusa, memuji semua orang yang terlibat dalam pembangunan danau hijau. Satu persatu pejabat penting naik ke podium memberikan sambutannya. Semua kamera tv siap siaga di posisi mereka. Setelah acara seremonial berlangsung giliran artis-artis yang naik podium untuk menghibur. Ini yang jauh lebih di tunggu, hiburan rakyat yang bisa menyentuh seluruh lapisan masyarakat. Sementara itu, sebuah mobil dengan pengawalan ketat memasuki jalan menuju danau hijau yang sudah ditutup. Saat tahu siapa yang datang, para pengawal menarik tanda jalan ditutup. Mengangukan kepala mereka saat mobil melintas dengan pelan. Mobil berjalan sangat perlahan karena suasana ramai dan hiruk pikuk pejalan kaki. Para pengawal yang mengiring mereka menyibak jalan. Dialah tamu kehormatan hari ini. Saga Rahardian di dalam mobil, memandang kerumunan manusia yang sudah di temuinya dari sepanjang pintu masuk menuju danau hijau. Orang-orang yang ingin melihat secara langsung taman kota mereka di resmikan. ¡° Anda pasti merasa tidak nyaman. Maafkan saya tuan muda.¡± Han seperti biasa selalu merasa bersalah kalau ada sekecil saja hal yang membuat Saga tidak nyaman. ¡° Sudahlah, toh aku memang harus meresmikan tempat inikan. Tadinya aku berfikir seperti itu, tapi setelah sampai di sini perasaanku berubah. Aku senang.¡± Saga menyentuh kaca jendela, melihat lalu lalang manusia. ¡° Mereka terlihat bahagia sekali ya. Padahal yang kita berikan hanya sekedar tempat mereka bisa liburan.¡± Anak-anak berlarian mengejar orang tua mereka. Sekali lagi dia menyentuh jendela, seperti ingin merasai tawa mereka. ¡° Han.¡± ¡° Ia tuan muda.¡± ¡° Bukankah mereka terlihat keren. Apa aku juga akan terlihat keren bersama Daniah nanti dengan anak-anak kami.¡± Anak, What! Tuan Saga bicara anak. ¡° Tentu saja, anda dan nona Daniah akan menjadi orang tua yang paling keren di dunia.¡± Tunggu, sejak kapan dia mulai memikirkan tentang anak. Ya, aku tahu, mereka sudah saling mencintai, walaupun tidak ada yang mengakui. Tapi perkara anakkan berbeda. Sial! Kenapa perasaanku tidak nyaman begini. Han bangun dari pikirannya tentang anak yang diinginkan tuan Saga. ¡° Han bagaimana makanan, sepertinya yang datang sangat ramai. Kalian sudah mengantisipasi inikan.¡± Dia sendiri tidak bisa memperkirakan berapa jumlah orang yang datang pada hari ini. ¡° Semua sudah siap tuan muda. Ada 40 titik pembagian makanan dan minuman sepanjang jalan yang kita lewati tadi. Satuan pengamanan dan relawan sudah mengantisipasi semuanya.¡± ¡° Baguslah, pastikan tidak ada yang pulang dengan perut lapar setelah acara peresmian selesai.¡± memandang keramaian di luar sana. ¡° Baik tuan muda.¡± Mobil sebentar lagi sampai diarea parkir. ¡° Satu lagi, gandakan bonus untuk bagian kebersihan. Aku ingin mereka menyelesaikan urusan sampah malam ini. Besok saat Daniah lewat jalan ini, aku ingin semuanya normal.¡± ¡° Baik tuan muda.¡± Bagaimana anda bisa memikirkan hal beginian sekarang tuan muda. Han menghentikan mobilnya. Para pengawal mengambil posisi mereka masing-masing. Informasi kedatangannya membuat beberapa orang meninggalkan kursi mereka untuk menyambut kedatangan tamu kehormatan. Saat Han turun dari mobil pertama, satuan pengaman yang tadi bersiaga langsung mendekat. Begitu pula para pejabat dan petinggi yang terlibat dengan peresmian danau hijau. Mereka mengambil posisi, berusaha mendapatkan tempat terbaik agar bisa satu frame dengan presiden Antarna Group. Saga keluar dari kendaraaannya. Mengancingkan jasnya. Lalu berjalan menuju para petinggi yang menundukan kepalanya menyapa. Sorot kamera tv sudah fokus padanya sejak dia keluar dari dalam mobil. ¡° Selamat datang tuan.¡± Isyarat tangan Han sudah mereka pahami sebagai himbauan untuk menjaga jarak. Mereka mundur dengan teratur. ¡° Silahkan tuan.¡± Mempersilahkan Saga menuju tempat duduk yang sudah di siapkan. Saga berdiri diam sebentar sebelum menuju tempat duduknya. Semua langkahnya tersorot kamera dengan jelas. Karena dialah tokoh utama hari ini. Mereka terlihat tampak bingung, kenapa sampai Saga menghentikan langkahnya. Saling pandang, apa mereka melakukan kesalahan dalam letak tempat duduk, apa tempat duduknya terlihat tidak nyaman. Tapi jelas-jelas mereka sudah melakukan semua yang di instruksikan oleh sekertarisnya. Apa yang dilakukan wanita itu di sini? Saga melirik Han? Tidak mungkin Han tidak tahu kalau dia ada di sini. kenapa sampai dia membiarkan wanita itu di sini. sial Han punya rencana apa. Gumamnya dengan kesal. Sesaat setelah terdiam, dia berhasil menguasai dirinya. Berjalan lagi diikuti sorot kamera yang bahkan mengabadikan sekecil apapun reaksinya. Dan sepertinya wajah jengahnya pun tertangkap kamera, walaupun dalam sekejap dia sudah berhasil memasang wajah sedikit bersahabat. Helen duduk di sampingnya dengan wajah penuh kemenangan, senyum seindah matahari terbit di danau hijau. BERSAMBUNG Chapter 107 Danau Hijau (Part 2) Saga mendesah kesal. Tempat duduknya tepat berada di samping Helena. Kursi kehormatan yang sudah di siapkan hanya untuknya. Helen tersenyum sangat puas hari ini. Senyumnya terkembang jauh lebih sumringah dari biasanya. Apa lagi ketika kamera tv menyorotnya juga. Karena dia tepat bersebelahan dengan Saga. Dia memang terlihat sangat cantik. Rambut lurusnya tampak hitam berkilau, semakin terlihat sempurna ketika dia duduk bersebelahan dengan Saga. Bagi Helen acara peresmian danau hijau adalah upayanya yang terakhir untuk dekat dengan Saga. Dia akan memakai simpati publik untuk mengiring opini. Keberadaan cinta pertama yang menjadikan Saga memilih danau hijau dan mengelontorkan dana yang tidak sedikit. Di buat jadi bahan artikel sedikit saja oleh media akan membuatnya berada dia atas angin. Dia akan datang pada saga dan berlutut di kakinya nanti, memohon dia untuk dimaafkan. Begitulah kira-kira rencana matang yang sudah dia susun. Dia mendekati EO acara dengan memakai nama Saga. Helena tersenyum penuh kemenangan saat matanya bertemu dengan pandangan kesal sekertaris Han. Dia tidak tahu apa-apa. Karena semua rencana matang Helena sudah tercium Han sejak awal. Tepuk tangan fokus ke atas panggung. Seorang selebriti yang biasanya menjadi mc acara tv nasional sudah naik ke atas panggung. Dengan setelan jas formal, serta di temani wanita yang angun dan sangat cantik dalam balutan pakaian yang senada. Kedatangan Saga membuat acara hiburan di hentikan untuk sementara. ¡° Selamat datang kepada tamu kehormatan kita semua tuan Saga Rahardian Wijaya, terimakasih sudah meluangkan waktu berharganya untuk datang dalam peresmian. Kami di sini dengan bangga mewakili seluruh warga kota sangat berterimakasih, karena mendapatkan hadiah luar biasa berupa danau hijau yang indah ini.¡± Tepuk tangan membahana. ¡° Danau hijau adalah dedikasi Antarna group kepada masyarakat. Sebagai wujud kesuksesan dan dukungan masyarakat untuk Antarna Group dalam setiap lini usahanya. Mari kita beri tepuk tangan dan ucapan terimakasih kita semua untuk presdir Antarna Group. Silahkan maju ke podium tuan Saga Rahardian Wijaya.¡± Tepuk tangan membahana. Sorot kamera mengikuti setiap langkah saga. Dia meninggalkan kursinya, berjalan dengan penuh pesona naik ke atas podium. Sementara di kursinya Helena gemetar memegang tangannya. Kenapa namanya sama sekali tidak di singgung. Padahal dia jelas-jelas sudah memberikan informasi tentang dirinya pada EO acara. Bahwa Saga memilih tempat ini karena kenangan mereka. Wajahnya mulai pias, ketika pandangannya bertemu dengan sekertaris Han. Laki-laki itu tersenyum tipis lalu memalingkan wajah menuju podium. Helena hanya menjadi pemanis dan tamu undangan yang bahkan namanya tidak ada dalam daftar ucapan terimakasih. Tempat duduknya yang berada di depan di samping Saga bukan karena prestasi dan pencapaiannyaa. Tapi karena campur tangan Han. Tapi kenapa? Jelas-jelas aku melihat wartawan berbisik saat melihatku tadi. Mereka juga menyapaku dengan ramah. Walaupun memang tidak menanyakan apapun. Tapi kenapa? Aku bahkan sudah membocorkan semua informasi penting tentang hubunganku dan Saga. Sambil mencoba menenangkan dirinya, dengan tangan gemetar dia memeriksa hpnya. Memeriksa berita yang sedang tranding. Namanya sama sekali tidak ada. Hanya ada Antarna Group dan danau hijau. Sial kemana wartawan sialan itu. Sudah menerima uangku tapi dia tidak menulis artikel apapun. Pandangannya beralih menatap podium. Di sana Saga yang akan selalu mencuri perhatian dimanapun dia berada. Sangat tampan, sangat percaya diri dan sangat mempesona. Semua hal indah yang selalu jadi miliknya. Saga sudah berada di atas podium, suasana menjadi lengang, tercipta dengan sendirinya. Semua orang terdiam, tersihir dengan keberadaan Saga. Mereka semua ingin mendengar kata-kata indah apa yang akan di sampaikan oleh orang paling berjasa dalam pembangunan tempat ini. Oleh presdir Antarna Group, yang mungkin selama ini hanya mereka dengar namanya. Mereka lihat dalam berita-berita bisnis di tv atau di internet. ¡° Selamat siang semuanya?¡± suaranya yang ringan namun terdengar dengan sangat jelas. ¡° Terimakasih untuk kalian semua yang sudah hadir pada hari ini, dan juga membantu proyek Antarna Group, sehingga semua bisa berjalan tepat waktu tanpa ada kekurangan..¡± Dia turun dari podium, menundukan kepalanya kepada semua lapisan masyarakat yang ada. Semua orang menyambut dengan tepuk tangan yang meriah. ¡° Antarna Group bukanlah apa-apa tanpa dukungan dari kalian semua. Terimakasih atas ketulusan dan cinta masyarakat untuk mendukung kami selama ini. Danau hijau adalah tempat yang sangat indah, apalagi matahari terbit yang di lihat dari kursi itu.¡± Saga menunjuk kursi putih agak jauh dari panggung, ahh, itu tempat Daniah memakinya dulu. ¡° Aku akan mengajak istriku untuk menikmati matahari terbit di tempat ini, jadi aku harap kalian semuapun bisa menikmati tempat ini dengan bahagia. Dengan ini aku menyatakan tempat ini terbuka untuk umum. Nikmati dan jaga agar tetap seperti ini sampai kapanpun.¡± Tepuk tangan membahana lagi. Sambutan singkat yang sama sekali tidak menunjukan apa-apa. tidak menunjukan bahwa dia orang hebat yang berjasa, atau tidak menunjukan bahwa Antarna Group adalah kerajaan bisnis raksasa yang bisa melakukan apapun, dia hanya memberi satu info dalam sambutannya. Dia mencintai istrinya, melebihi kenangan bersama mantannya. Sorot kamera masih mengantarnya sampai ke tempat duduknya. Senyum di wajah Helena sudah tengelam sedari tadi. Dia tidak perduli kamera tv yang mengambil gambarnya. ¡° Kenapa? Kenapa kamu jahat sekali Saga.¡± Lirih. Dia menundukan kepalanya. ¡° Apa kau tidak ingat sepenting apa tempat ini bagi kita?¡± ¡° Hentikan! Aku tidak mau mendengar apapun darimu. Kalau kau tidak mau malu karena Han menyeretmu dari tempat ini. Duduk dan tersenyum saja seperti tadi sampai acara selesai.¡± Saga bicara tanpa menoleh pada Helen. Sampai acara selesai tidak ada yang menyebut nama Helena. Bahkan realese yang diberikan kepada media tidak ada yang menyinggung sedikitpun tentang kisah masa lalu pertemuan Saga dan Helena di danau hijau. Cerita kehidupannya seperti tak pernah ada. Bahkan dia meninggalkan acara sebelum berakhir. Dia menangis sepanjang jalan menuju mobilnya terparkir. Semua cerita tentangnya sudah rampung. Di dalam mobil dia menelfon seseorang. Noah, satu-satunya orang yang bisa dia pakai untuk bersandarpun tidak bisa dihubungi. Dia membanting hpnya kesal, lalu memutar kemudi keluar dari keramaian. Helen menepikan kendaraaanya. Mengambil kembali hp yang dia banting tadi. Menelfon. Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif. ¡° Sial, kemana dia. Padahal aku sudah membayarnya untuk menulis artikel. Tapi tidak ada berita sama sekali tentangku.¡± Gadis itu benar-benar sudah kalah. Di kamar hotel presidential suite room Saga menendang kaki Han keras. Laki-laki itu hanya meringis sedikit. Menahan agar dia tetap berdiri di posisinya. ¡° Kau mau mati ya! Kenapa membiarkan Ele datang hari ini?¡± Lalu mencengkram jas yang di pakai sekertaris Han. Mendorongnya sampai dia terjerembah ke belakang. ¡°Kau tidak mungkin tidak tahu kalau dia datangkan?¡± berteriak dengan keras. Sudah sekian lama dari sejak terakhir kalinya dia berteriak pada Han, kecewa dengan hasil pekerjaan Han. ¡° Maafkan saya tuan muda.¡± Bangun dari posisinya terduduk, lalu menuju sofa, menepuk sofa dengan tangannya. ¡° Duduklah! Anda mau minum apa?¡± Saga hanya mendesah. Tapi dia duduk di tempat Han menepukan tangannya tadi. Han meninggalkannya, membuka kulkas. Mengambil sebotol air dingin. Dia membukakan tutup botolnya, lalu menyerahkan pada Saga. ¡° Silahkan tuan muda.¡± Saga sudah duduk bersandar di sofa. Memandang sekertarisnya itu. Cih Dia menyambar botol, meminum hampir separuh, lalu menyerahkan botol kembali ketangan Han. ¡° Duduklah! Biar aku dengar apa rencanamu?¡± Suaranya masih sangat kesal, ingin menhancurkan Han dengan tangannya. ¡° Terimakasih tuan muda.¡± Han duduk dengan tenang lalu mulai menjelaskan. Begitulah dia, dia bahkan tidak akan merubah air mukanya hanya karena mendapati kemarahan Saga. Perihal kedatangan Helena ke peresmian danau hijau. Han tahu kalau Helena akan memakai simpati publik untuk mengulirkan isu tentang cinta pertamaa tuan Saga. Dia mendekati EO acara secara probadi, sampai membeberkan siapa dirinya dan kedekaatannya dengan Saga. Meminta seorang wartawan media online untuk menuliskan artikel pada saat peresmian acara. Han tahu semua itu. Tapi dia membiarkan Helen berada di atas angin dengan mendapat undangan resmi acara hari ini. Begitu pula tempat duduk yaang juga berdekatan. ¡° Saya ingin menunjukan padanya kalau dia sudah berakhir. Bahwa anda sama sekali tidak memiliki emosi kenangaan apapun tentang danau hijau, selain ini adalah wujud bakti Antarna Group pada masyarakat. Walaupun dia ada di samping ada tapi dia seperti orang asing yang tidak di kenali. Saya rasa itu akan jadi pukulan telak yang membuatnya tidak menggangu anda lagi. Baik melalui Noah, ibu anda atau nona Daniah.¡± Saga mendesah, menyandarkan kepala di sofa. Tapi sebentar saja senyum tipis muncul. Dia bahkan mengacak rambutnya dengan kedua tangan. Lalu selang tidak lama sudah terdengar tawa dari bibirnya. Sepertinya dia senang dengan penjelasan Han. Seharusnya aku tahu kau tidak sebodoh itu. ¡° Dan saya ingin anda melihat bagaimana reaksi nona Daniah setelah anda bersama dengan Helen hari ini.¡± ¡° Kau mau mati?¡± Gusar lagi. Apalagi saat Han membawa-bawa nama Daniah. ¡° Tidak tuan muda. Kalau nona menunjukan perasaannya dia pasti akan cemburu nanti. Saat anda pulang dia pasti akan sangat kesal pada anda. Anda tidak perlu marah dengan reaksi nona yang seperti itu.¡± Karena itu rencana gampangnya. saya sudah lelah dengan gengsi anda dan kebodohan nona muda. kalau kalian sudah menunjukan kecemburuan masing-masing tinggal menyatakan perasaan. gampangkan, semua akan hidup damai kembali. ¡° Kau benar-benar mau mati ya. Semalam aku sudah bertengkar dengannya.¡± Mengeram kesal, bahkan menendang sofa yang di duduki Han. ¡° Kalau nona cemburu, berarti dia sudah membuka hatinya untuk andakan. Saya akan menyiapkan pesta kejutan setelah ini. Anda bisa menyatakan perasaan anda yang sebenarnya padanya.¡± Eh, benarkah? Saga terlihat berfikir. Cemburu? Benar, jelas-jelas selama ini cuma dia yang menunjukan perasaannya pada Daniah. Walaupun gadis itu dengan bodohnya tidak pernah menyadari perasaannya. Dia ingin melihat Daniah cemburu. Kalau perlu dia ingin membuat istrinya itu menangis kesal. Saga senang dengan rencana ini. Dia menunjuk kaki Han dengan ekor matanya. ¡°Sakit?¡± Han meraba kakinya. lalu mengelengkan kepala. ¡° Tidak tuan muda.¡± ¡° Maaf.¡± lirih. menepuk bahu Han. " Aku tahu kamu tidak akan pernah mengecewakanku." ¡° Anda tidak perlu minta maaf. Saya yang harusnya minta maaf karena sudah membuat anda tidak nyaman.¡± Saga masih menepuk bahu Han, menunjukan sikap terimakasihnya. karena Han selalu tahu apa yang ia inginkan. selalu berada di sampingnya dulu, sekarang atau sampai nanti juga. ¡° Baiklah, aku mau mandi.¡± bangun dari duduk. " Kita selesaikan malam ini, lalu pulang. aku ingin bertemu Daniah dan melihat wajah cemburunya." Eh, semoga anda benar-benar cemburu nona. kalau tidak habislah aku. Pesta kedua akan kembali berlangsung. Dengan para pejabat kota, petinggi perusahaan dan orang-orang yang akan silih berganti menyapa dan menjilat jika ada kesempatan. BERSAMBUNG Chapter 108 Kecemburuan Ini akhir pekan yang panjang. Jen dan Sofi terkurung di dalam rumah. Mengagalkan semua rencana yang sudah mereka susun demi kakak ipar, tidak! demi hidup mereka yang lebih tenang ke depannya. Sekarang semboyan hidup mereka adalah dekat bersama kakak ipar. Semakin dekat semakin baik. Karena kakak ipar yang bahagia akan membuat kak Saga jauh lebih bahagia. Hal apalagi yang dibutuhkan demi kedamaian rumah ini jika kak Saga mereka senang maka semua akan berjalan dengan baik di semua lini kehidupan. Di rumah utama. Semuanya duduk manis di depan tv. Pak Mun udah menyiapkan tiga buah jus buah segar dan potongan buah dalam mangkuk kaca, beserta sekotak stroberi kesukaan semua penghuni rumah. Jen muncul dari depan rumah membawa sekantong belanjaan. Yang baru di antar ojek online. Dia menyembunyikan kantong belanjaannya di balik punggungnya, saat berpapasan dengan pak Mun. ¡° Pak Mun kami bolehkan ngemil keripik ya, masak suasana begini harus makan buah lagi.¡± Yang diajak bicara tidak menjawab. Karena tanpa perlu di jawab pun dia tidak senang dengan apa yang di lakukan Jen sekarang. Tapi tentunya Jen tidak perduli sorot mata tidak suka pak Mun. Sementara Daniah cuma geleng kepala, menyaksikan perang dingin antar mereka, dia menaikan kakinya ke atas sofa dan meletakan bantal di atasnya. Mendekap dalam pelukannya. ¡° Pak mun bisa istirahat sekarang, sudah gak papa kok.¡± Dia merasa tidak nyaman, karena pak Mun setelah meletakan makanan di atas meja dia tetap berdiri tidak jauh dari duduk Daniah. ¡° Tidak apa-apa nona.¡± Seperti mengatakan dia seharusnya memang melakukan hal itu. ¡° Kalau mau nonton tuan Saga juga, duduklah.¡± Daniah menunjuk sofa di sampingnya. ¡° Kalau pak mun merasa tidak nyaman bisa ambil kursi yang lain. Tapi saya minta pak Mun duduk.¡± Laki-laki itu mengangukan kepala, lalu ntah pergi kemana dia sudah muncul membawa sebuah kursi. Dia duduk tidak jauh dari sofa Daniah. Tempatnya duduk bisa dengan jelas melihat apa yang sedang dilakukan Daniah. Wanita itu mengambil sekotak stroberi dan melatakannya di atas bantal di depannya. Dia makan sudah dengan lahap. Sambil mendengarkan salam pembuka dari para jurnalis media tv. Mereka mendengarkan seremonial pembukaan dan juga acara hiburan. ¡° Kak Jen, ramai sekali! Aaaa, untung kita tidak kesana.¡± Sofi mulai membuka satu keripik kentang besar di tangannya. Mulai memasukan ke mulutnya. Kerenyahan yang tiada bandingannya dengan buah yang ada di dalam mangkok di atas meja. ¡° Kakak ipar mau? Enak tahu dari pada itu.¡± Sofi menunjuk stroberi yang sedang di nikmati Daniah. ¡° Sudah makan saja sepuas kalian, nanti aku ambil sendiri kalau mau.¡± Pak Mun semakin terlihat tidak suka. Fokus kembali ke tv. Para penyanyi nasional memeriahkan panggung dengan lagu-lagu mereka. Ada beberapa orang yang naik dan membuat banyolan-banyolan dengan kata-kata mereka. Semua terlihat sangat terhibur. Tuan Saga datang, ya Tuhan dia terlihat sangat tampan. Walaupun ada di tengah kerumunan orang begitu. Eh, apa yang kupikirkan. ¡° Kak Saga muncul, dia keren sekali ya. Kakak ipar aku iri padamu, bagaimana kau bisa menikah dengan orang sekeren kak Saga.¡± Jen seantusias biasanya kalau membicarakan Saga. Menepuk-nepuk bahu Sofia di depannya meminta persetujuan. ¡° Hah, kau juga beruntung punya kakak sekeren kak Sagakan?¡± membalikan kata-kata Jen. Sofi dan jen tertawa, sambil memegang keripik masing-masing. ¡° Kenapa ada kak Helen di sana?¡± kamera tv menunjukan sesosok cantik yang sedang duduk dengan elegannya. Senyum secerah mentari yang tampak di bibirnya. Jen dan Sofi panik dan saling pandang. Bersamaan melihat ke arah Daniah. ¡° Apa kak Saga mengajaknya.¡± Memandang Daniah lagi. ¡°Kakak ipar gak di ajak kak Saga apa?¡± tidak sadar kalau pertanyaannya itu akan menyulut api. Sofi mencubit tangan Jen yang tidak tau tempat bertanya. Daniah diam, wajahnya sudah tampak murung. Kraus, ia memasukan stroberi ke mulutnya tidak mengubris yang di katakan Jen. Tuan Saga memang tidak mengajaknya, kemarin hanya sekertaris Han yang mengajaknya tapi dia menolak. Dia ingat bahkan dia menanyakan tentang keberadaan Helen, apa akan datang di peresmian atau tidak. Tapi jawaban sekertaris Han hanya jawaban menyebalkan seperti biasanya. Tapi kenapa ada Helena di sana. Jadi tetap saja ya, inikan danau hijau, tempat penting untuk kalian berdua. Cih, Kenapa semalam kau minta aku mengandung anakmu! Saat melihat Saga duduk di samping Helena, Daniah tiba-tiba hatinya merasa di khianati. Dia merasaa sangat kesal. Ntah datang dari mana bara cemburu yang tiba-tiba muncul itu. Dia terdengar mengeram kesal sambil menatap layar tv. Dalam hati dia memaki. Jen dan sofi menatap kakak iparnya kuatir karena raut wajah Daniah sudah aneh. ¡° Kakak ipar tapi kak Saga terlihat terkejut kok. Dia pasti tidak tahu kalau kak Helen akan muncul.¡± Sofi bicara, menunjuk wajah Saga dan rautnya di layar tv. Hei, mana mungkin sekertarisnya bahkan punya kekuatan supranatural yang bisa menebak apa yang aku lakukan. Tidak mungkin dia tidak tahu Helen akan ada di sana. ¡° Benar, lihat wajah kak Saga yang kesal itu.¡± Jen berusaha menghibur kakak iparnya. ¡° Aaaa, kenapa sekarang aku benar-benar membenci kak Helen ya. Bagaimana dia bisa tidak setau diri ini si.¡± Cinta, dia sedang memperjuangkan cintanya. Tapi aku benar-benar benci ini. Daniah langsung berdiri bangun mengangkat tubuhnya dari sofa membuat bantal dan stroberi di atasnya jatuh terburai di lantai. Semua orang terkejut melihatnya. Jen yang sedari tadi rebahan sambil ngemil cantik tidak memikirkan berapa kalori yang masuk ke perutnya langsung bangun. ¡° Kakak ipar.¡± Mengambil bantal di dekat kaki Daniah. Dia merasa sangat kuatir. ¡° Nona anda tidak apa-apa?¡± pak Mun mengumpulkan stroberi yang berceceran, agar tidak terinjak dan mengotori kaki nona mudanya. ¡° Tidak apa-apa pak, saya mau ke kamar sebentar.¡± Daniah merasa sikapnya juga berlebihan. Kenapa dia bisa merasa semarah ini. ¡° Kakak ipar, jangan marah. Kak Saga juga tidak bicara apapun dengan Kak Helen kok. Kakak ipar lihat kan.¡± Jen menarik tangan Daniah agar duduk di sampingnya. ¡° walaupun mereka terlihat serasi seperti sepasang kekasih, tapi pandangan dingin kak Saga sudah membuktikan perasaannya.¡± ¡° Kak Jen, gak perlu bilang mereka serasi juga kali.¡± Sofi memukul tangan Jen. ¡° Ia, kamu menyebalkan sekali Jen. Sekalian suruh tuan Saga menikahinya saja.¡± Duarr, jawaban Daniah membuat wajah Jen berubah pias. Daniah melepaskan tangan Jenika, adik iparnya itu panik. Apalagi saat Daniah sudah berjalan meninggalkannya. Dia lari mengejar. ¡° Kakak ipar bukan maksudku begitu.¡± Sial dia cemburu sekali, kakak ipar jadi sensitif begini. Memeluk Daniah seperti yang dia lakukan kemarin, membuat Daniah semakin kesal saja. Ia mengoyangkan tubuhnya. ¡° Aku mencintai kakak ipar dan mendukung kakak ipar kok. Sumpah! Kakak ipar jauh lebih serasi dengan kak Saga. Di banding kak Helen dia mah lewat gak ada apa-apanya.¡± Cih, berbohong juga harus ada batasanyakan. Tapi sepertinya Daniah senang mendengar kata-kata bohong Jen. Buktinya dia sudah mulai tersenyum. ¡° Ia, sudah-sudah sana, lepaskan aku. Aku mau masuk kamar sebentar.¡± ¡° Kakak ipar gak marah sama akukan?¡± belum melepaskan pelukannya. Daniah mengelengkan kepalanya, menepuk bahu Jen agar adik iparnya ini melepaskannya. ¡° Sudah sana.¡± Mendengar itu Jen bernafas lega, dan melepaskan pelukannya. Walaupun tidak rela tapi ia membiarkan Daniah berjalan menaiki tangga untuk masuk ke dalam kamarnya. ¡° Pak mun kakak ipar gak marah sama aku lho, jangan mengadu yang tidak-tidak pada kak Saga ya!¡± intonasi suaranya sudah mengancam pak Mun. Laki-laki itu hanya diam tidak menjawab, dia menatap Daniah yang semakin menjauh menaiki anak tangga. ¡° Jangan mengadu pada kak Saga ya.¡± Mengulangi pertanyaannya. Dia bahkan mendekat, memastikan. ¡° Baik nona.¡± Setelah menjawab pak Mun membawa kotak stroberi yang masih tersisa separuh itu ke dapur. Sudah tidak penting lagi dia duduk menonton di sana, karena nona yang harus dia awasi sudah masuk ke dalam kamarnya. Setelah mendengar jawaban pak Mun Jen baru bisa kembali tenang. Dia duduk dan meraih keripiknya lagi. Acara bahkan belum selesai. Peresmian yang di lakukan Saga saja belum di mulai. ¡° Kakak ipar pasti kecewakan, kenapa kak saga pergi dengan kak Helen si.¡± Jenika. ¡° ia, aku rasa kakak ipar cemburu sekali kali ini.¡± Memasukan banyak keripik kemulutnya. ¡° Hehe, katanya tidak suka, tapi sekarang dia cemburukan. Artinya dia sudah mencintai kak Sagakan. Tidak sadar juga.¡± Jenikaa dan sofia malah tertawa merasa menemukan harta karun dunia perasaan Daniah. Saga naik ke podium. ¡° Kakak ipar turunlah kak Saga sedang naik ke podium.¡± Jenika berteriak di bawah tangga. Tidak ada sahutan akhirnya dia kembali ke sofanya. Sementara itu Daniah membenamkan diri di atas tepat tidur. Dia tidak mendengar suara jenika. Dia tidak melihat sambutan Saga, yang secara tidak lagsung menyebutkan dirinya. Dia menarik selimut. Merasa kesal. Lantas apa arti kebaikaannya paadaku selama ini. Cih, menyuruhku mencintainya bahkan mengandung anaknya, pada akhirnya dia benar-benar kembali pada Helenkan. Jangan menyentuhku lagi setelah ini. Kalau kau masih menyentuhku, itu benar-benar tidak tahu malu namanya. Daniah akan menunjukan kecemburuannya dalam sikapnya. titik, itu rencana protesnya. tapi apa dia punya keberanian untuk melakukannya. Bersambung Chapter 109 Senang Malam sudah semakin larut ketika mobil memasuki gerbang utama. Hanya ada beberapa penjaga yang bertugas malam yang terlihat masih bersiaga di posisi jaga mereka masing-masing. Sisanya sudah masuk ke dalam kamar mereka. Meluruskan kaki dan punggung setelah seharian bekerja keras. Mengumpulkan kembali ceceran tenaga untuk dipakai besok kembali. Perputaran rutinitas harian yang tiada habisnya. Sesampainya kendaraan di dekat pintu utama. Han ikut masuk mengikuti Saga, dia ingin melihat dan memastikan sendiri. Bagaimana suasana hati Daniah saat ini. Apakah dugaannya benar, tentu saja harus benar, karena diakan selalu benar. Ko mohon cemburulah nona, tuan muda sudah menendangku karena kemunculan Helen, kalau sekarang anda tidak cemburu habislah aku malam ini. ¡° Apa semua sudah masuk ke kamar?¡± Duduk di sofa menyapu ruangan yang sepi. Bahkan Pak Mun sudah mematikan beberapa lampu di sudut ruangan yang sudah tidak mungkin di lewati orang lagi. Pak mun bangun setelah meletakan sandal di samping kaki Saga. mulai memberikan informasi dari hasil pengamatannya. ¡° Nona Jen dan nona Sofi cukup lama di luar setelah makan malam tadi, tapi nona Daniah hanya turun dari kamar untuk makan malam.¡± Pak Mun menjelaskan. Sepertinya aku selamat. Han. ¡° Kenapa?¡± Saga sudah mulai terpancing untuk tersenyum. ¡° Siang tadi nona bertiga menonton tv bersama acara peresmian danau hijau. Tapi nona Daniah juga tidak menonton sampai acara selesai.¡± ¡° Kenapa?¡± wajah Saga sudah mulai terlihat senang sekarang. Lihat tuan muda sudah mulai girang. Sepertinya aku bisa pulang sekarang dengan tenang. Pak Mun melihat ke arah sekertaris Han, meyakinkan diri apa dia boleh menyampaikan informasi ini. Han mengangukan kepalanya. Tentu saja sampaikan saja, bahkan kalau kau lebih-lebihkan itu akan jadi semakin baik. ¡° Nona Daniah terlihat mulai kesal saat melihat nona Helena dalam acara peresmian tadi. Apalagi saat anda berjalan dan memilih duduk di sampingnya.¡± ¡° Semarah apa dia?¡± Aku akan senang kalau kau membanting sesuatu misalnya. ¡° Sepertinya dia memaki dalam hati, karena wajahnya terlihat sangat kesal. Dia bahkan pergi setelah menjatuhkan sekotak stroberi.¡± Walaupun itu sebenarnya tidak sengaja. ¡° Setelah itu nona benar-benar masuk ke dalam kamar. Saat anda naik ke podium dan meresmikan danau hijau nona Jen memanggilnya. Tapi nona Daniah tidak keluar kamar. Dia hanya keluar kamar untuk makan malam lalu kembali ke kamar lagi.¡± ¡° Wahh sepertinya dia kesal sekali. Baiklah, terimakasih kerja keras pak Mun hari ini. Istirahatlah!¡± Saga bangun dan menepuk bahu Pak Mun, puas dengan hasil kerjanya. ¡° Baik tuan muda. Selamat malam.¡± Pak Mun membungkukan kepala, berlalu membawa sepatu Saga dengan sangat hati-hati di tangannya. ¡° Saya akan mengantar anda sampai ke kamar tuan muda.¡± Han mengikuti langkah kaki Saga di belakangnya. Han membukakan pintu kamar. ¡° Tuan muda saya mohon jaga emosi anda walaupun apa yang nona Daniah lakukan nanti.¡± ¡° Pulang sana! Kamu pikir aku sebodoh itu apa.¡± Andakan memang bodoh akhir-akhir ini kalau berhubungan dengan nona. Tapi Han berlalu benar-benar dengan perasaan tenang. Satu masalah terlewat pikirnya. Sekarang tinggal pernyataaan cinta secara resmikan. Memasuki kamar, Saga mendapati lampu sudah di matikan, saat dia melewati tempat tidur dia diam sebentar. Melihat Daniah di bawah selimut sampai menutupi lehernya. Hanya sedikit kepalanya yang terlihat. Kau sedang pura-pura tidur ya. Dia tidak mendekat lalu langsung masuk kedalam ruang ganti baju. Masuk ke kamar mandi lalu berganti dengan baju tidurnya. Menyisir rambutnya dan menatap wajahnya sendiri di cermin. Kita lihat, secemburu apa kau? Tergelak melihat dirinya sendiri. ¡° Sayang, kau sudah tidur?¡± mendekat ke arah tempat tidur. Cih, memanggilku sayang setelah kau berduaan dengan Helen. Jangan pikir aku akan melunak karena kau panggil sayang ya. Daniah berada di bawah selimut, masih memejamkan mata, memiringkan tubuhnya kekiri sambil memeluk bantal guling. Saga naik ke atas tempat tidur, masuk ke dalam selimut. Menjatuhkan tubuhnya ke atas bantal yang nyaman. Dia menyentuh kepala Daniah lembut. Membelainya perlahan. Aku ingin mencium dan memeluknya. ¡° Sudah tidur ya?¡± diam tidak ada sahutan. Saga mengeser tubuhnya mendekat.¡± Sayang.¡± Saga menarik rambut Daniah. Cukup keras membuat gadis itu tidak bisa untuk tidak mengeluarkan suara. Daniah pura-pura menguap, dia membalikan badan. Tapi tetap berada di bawah selimutnya rapat. ¡°Sudah pulang ya? Tidurlah, kamu pasti lelahkan.¡± ¡° Tidak juga.¡± Memainkan rambut Daniah lagi. Daniah menyentuh tangan Saga, menghentikan suaminya memainkan rambutnya. Lalu melepaskan tangan Saga saat dia sudah meletakannya di atas tempat tidur. Jangan menyentuhku, dasar tidak tau malu. ¡° Kau pasti sangat senang hari ini kan.¡± Daniah bertanya singkat. Tentu saja, kau bertemu Helen di danau hijau dan duduk berdua bersandingan, kau pasti sangat senang sekarang. ¡° Lumayan.¡± Aku senang melihat wajah-wajah bahagia orang-orang. Lihat! Lihat! Kau senang sekalikan. Jadi pergi sana, pergi pada helen kenapa kau malah pulang kemari. ¡° kemarilah!¡± Saga menarik selimut agar terbuka, dia ingin Daniah mendekat padanya. Tapi Daniah diam saja, dia tidak bergerak ataupun menjawab dengan kata-kata. Dia sedang memberanikan diri untuk melakukan aksi protesnya. ¡°Kemari!¡± karena Daniah tidak bergeming Saga menarik selimut dengan keras sampai selimut itu menumpuk dalam dekapannya. Di lemparkan selimut itu ke lantai. ¡° Kenapa kau tidur tidak memakai baju tidur?¡± melihat pakaian yang di sembunyikan Daniah di bawah selimutnya tadi. Lagi-lagi Daniah diam tidak menjawab. Dia malah memiringkan tubuhnya. Wahh, ternyata kecemburuan benar-benar bisa menjadi bahan bakar keberanian ya. Kalau dalam situasi normal jangankan diam sampai Saga mengeluarkan perintah untuk ketiga kalinya. Baru berteriak sekali saja nyalinya pasti sudah menciut. ¡° Ganti bajumu!¡± tapi percayalah Saga sudah mulai tergelak sekarang. Dia mulai menikmati suasana hati Daniah yang buruk. ¡° Ganti bajumu dengan baju tidur sekarang!¡± sudah mulai meninggikan intonasi. Lihat, sejauh mana kau akan membangkang. ¡° Tidak mau!¡± menarik bantal guling semakin erat dalam pelukan. Aku pasti sudah gila! Ini pertama kalinya semenjak menikah aku berani mengatakan tidak mau di depannya. ¡° Hahaha.¡± Apa! dia tertawa. ¡° Baiklah! Karena aku sedang senang, kubiarkan kau membangkang hari ini.¡± Masih tersisa gelak di udara. Sesenang itu ya kau bertemu Helen, kalau begitu ceraikan aku dan pergi ke pelukannya sekarang, kenapa kau masih di sini. eh, apa yang kau lakukan? Saga sudah mendekat, menempelkan tubuhnya. Daniah bisa merasakan nafas Saga di punggungnya. Apalagi saat laki-laki itu mengulung rambutnya ke atas. Dia sudah menempelkan bibirnya di bahunya. Dan meletakan tangannya tepat di atas dada Daniah. Kurang ajar, singkirkan tanganmu! Tangan itu sudah tidak bisa diam. Semakin keras cengkramannya. Daniah menyentuh punggung tangan Saga. Membuat laki-laki itu menghentikan gerakanan tangannya. ¡° Kenapa?¡± tanyanya. ¡° Tidurlah, kau pasti lelah.¡± Tapi dia memaki dalam hati dengan suara sangat keras. Daniah memindahkan tangan Saga ke belakang pinggangnya. Tapi belum dia meletakan tangannya tangannya sendiri, Saga sudah kembali ke posisi semula tadi dia meletakan tangan. Lagi-lagi melakukan tindakan serupa. Jauh lebih keras dari pada yang tadi. Sambil meringis pelan. Lagi-lagi Daniah menghentikan tangan Saga dan memindahkannya ke balik punggungnya lagi. Saga mencium punggungnya keras. Dengan bekas warna merah tertinggal di sana. ¡° Aku memang membiarkanku sedikit membangkang, tapi jangan bersikap kurang ajar juga.¡± Saat lagi-lagi Saga mengembalikan tangannya ke posisi yang tadi, Daniah tidak punya keberanian untuk memindahkan tangan itu. Hei, jiwa yang sedang cemburu gila, beri aku keberanian lagi sialan. Tapi tetap dia tidak berani menghentikan tangan atau bibir saga yang sudah melakukan aktivitas semaunya. ¡° Apa kau menonton acara peresmian tadi?¡± ¡° hemm.¡± Saga tergelak mendengar jawaban Daniah. Wahhh, wahh, kenapa aku sesenang ini dengan sikapmu ya. Tunjukan kecemburuanmu lebih dari ini. ¡° Apa kau menonton sampai selesai? Apa aku terlihat keren di sana.¡± Semakin memancing, tahu Daniah yang malas untuk sekedar menanggapi. Huh! Kau mau aku memuji apa. kalau kau serasi dengan Helen. ¡° Tentu saja, kau terlihat sangat tampan di antara lautan manusia. Helen juga terlihat sangat cantik. Kalian terlihat sangat serasi sekali.¡± Aku menyebut nama Helen tapi kau malah tertawa. Lihatkan kau masih sangat menyukainyakan. Sekarang lepaskan tanganmu jangan menyentuh tubuhku. Biasanya kau akan mencekik atau menciumku sampai aku kehabisan nafas kalau aku menyebut nama Helen. ¡° Lepaskan aku!¡± sebenarnya Daniah mengatakannya tidak terlalu keras, tapi karena dia menarik tangan Saga dan menjatuhkan tangan itu dengan keras menjauhi tubuhnya membuat Saga mendesah. ¡° Sudah ku bilangkan jaga sikapmu!¡± dia sudah mulai menaikan intonasi suaranya. ¡° Kau sedang menolakku sekarang.¡± Daniah mengigit bibirnya keras. Bagaimana ini, dia sepertinya sangat marah. ¡° ia, kau menolakku!¡± menuding kening Daniah dengan telunjuknya. Haha, lihat sampai kapan kau akan menunjukan kemarahanmu. ¡° Ia aku sedang menolakmu. Kenapa? Kamu marah. Pergi dan temui Helen sana.¡± Mendorong tubuh Saha yang duduk di sampingnya. Kecemburuan gila, kenapa dosis keberanianmu berlipat ganda begini. Hei, hentikan aku. Kalau laki-laki ini benar-benar marah aku bisa mati malam ini juga. ¡° Jangan menyentuhku. Sentuh Helen sana!¡± Saga tertawa keras, suaranya memenuhi langit-langit kamar. Membuat Daniah menciut, dan tawa itu seperti menyadarkannya. Dia melihat tangan yang baru dia pakai mendorong Saga. Aku benar-benar sudah gila. Aku mendorongnya dalam keadaan sadar. ¡° Baiklah, karena aku sedang senang sekarang, aku maafkan pembangkangan dan sikap kurang ajarmu malam ini.¡± Menjatuhkan diri ke samping tubuh Daniah. Masih ada sisa gelak tawa. Dia sudah menaikan kakinya. Mendekap tubuh daniah dalam pelukannya. Gadis itu mengoyangkan tubuhnya agar di lepaskan. Hanya sejauh itu sepertinya energi kecemburuan yang di hasilkan. Karena dia terlihat mulai diam dan membiarkan Saga melakukan apa yang ia inginkan. BERSAMBUNG Chapter 110 sakit perut Seharusnya adegan romantis itu selalu meibatkan dua pihak di dalamnya. Tapi sepertinya kali ini tidak. Daniah yang diam seperti batu, bagi Saga ini adalah reaksi paling romantis yang ditunjukan istrinya sepanjang perjalanannya menikah. Kali ini, dia mulai bisa meraba sedalam apa hati istrinya. Menemukan ruang kecil yang menyimpan namanya di sana. Setelah merasa senang sendiri dan puas dengan apa yang dia lakukan Saga menyandarkan dagunya di bahu Daniah. Menciumi bahu itu lembut. ¡° Kata pak Mun kamu tidak menonton sampai selesai acara peresmian tadi. Kenapa? Kau bahkan tidak melihatku naik podiumkan?¡± Tidak! Untuk apa aku melihatmu dan Helen bersama. ¡° Kenapa?¡± menyusuri leher Daniah dengan tangannya, saat istrinya masih menunjukan protes dengan membisu. ¡° Lehermu kecil sekali ya. Kalau aku mencekikmu kau bisa mati tidak ya.¡± Tergelak sendiri. Kurang ajar, dia sedang mengancamku sambil tertawakan. ¡° Tadi aku kurang enak badan, jadi aku naik ke kamar untuk istirahat.¡± Menyelamatkan diri dengan alasan paling klise di muka bumi ini, hayo ngaku siapa yang sering pura-pura sakit supaya bisa tiduran di uks atau pergi beli minum di kantin. Wwkwkw. Tapi, alasan yang dilontarkan Daniah karena bingung untuk menyelamatkan dirinya, akan menjadi bumerang hebat yang ia sesali memilih sakit sebagai alasan. ¡° Tidak enak badan. Kamu sakit?¡± Saga sudah duduk di samping Daniah. Menyentuh kepala Daniah dengan tangan. Lalu menempelkan keningnya ke kening Daniah. Memeriksa suhu tubuhnya. ¡° Apa kau demam? Apa yang sakit?¡± sudah setengah berteriak karena panik. Apa si orang ini. ¡° Cuma sakit perut kok.¡± Masalah baru karena dia memilih sakit perut dari semua bagian tubuhnya. Daniah seharusnya kau ingat nasehat sekertaris Han untuk hati-hati bicara dengan tuan Saga, sesuatu yang kamu anggap hanya candaan bisa saja di tanggapi dengan sangat serius oleh tuan Saga. Seperti sakit perutmu saat ini. ¡° Sakit perut!¡± Saga duduk, membuka laci meja di samping tempat tidurnya. Dia meraih remot. Lalu blarr lampu menyala. Apa! dia punya remote untuk menyalakan lampu tapi selalu ribut padaku untuk matikan lampu. Dasar makhluk menjengkelkan. Daniah seharusnya bukan itu yang kau perhatikan. Tapi suamimu. Saga sudah meraih telfon rumah. Cukup lama dering suara. Wajah panik Saga menunggu telfon diangkat. ¡° Sialan! Apa semua orang sudah tidur!¡± sudah mau bangun saat suara sengau pak Mun karena terkejut menjawab dari sana. Dia pasti menjawab telfon sambil mengumpulkan nyawa. Karena dia sudah tertidur sebentar tadi. ¡° Maaf tuan muda. Ada apa?¡± ¡° Panggil dokter Harun. Sekarang.¡± Tanpa penjelasan apa-apa sudah membanting telfon. Tidak menyadari kalau tindakannya memutus telfon seenaknya membuat si penerima kalang kabut sendiri. Beralih pada Daniah sekarang. Wajah gadis itu pias, bukan karena sakit tapi karena terkejut dengan reaksi Saga yang berlebihan. ¡° Tunggu ya, dokter Harun akan segera datang. Apa sakit sekali.¡± ¡° Sayang, aku gak papa kok. Sudah gak sakit lagi.¡± Daniah yang mau bangun duduk, di cegah oleh Saga. Laki-laki itu meluruskan kaki Daniah. Membuat Daniah semakin frustasi, bagaimana menyadarkan kegilaan suaminya ini. ¡° Mana yang sakit? Sini.¡± meraba pelan bagian perut. Berpindah dari satu titik ketitik yang lain. Menekannya sedikit saja. ¡° Apa perlu di kompres dengan air hangat? Ahh, mana lagi pak Mun kenapa belum naik juga.¡± Gusar lagi karena kepanikannya. ¡° Sayang aku gak papa.¡± Lupa sudah dengan rasa cemburunya yang tadi, berganti frustasi dengan sikap Saga. Akhirnya Pak Mun muncul setelah dia mengetuk pintu kamar dan mendengar Saga menyahut. Dia masuk dengan wajah gelisah dan kuatir, sebenarnya ada apa ini, begitu yang dipikirkannya sepanjang menaiki tangga. ¡° Tuan muda apa anda sakit.¡± Laki-laki itu sudah terlihat tidak mengantuk. Tentu saja, dia sudah membangunkan beberapa pelayan di rumah belakang. Menyuruh beberapa pengawal bersiaga di posisinya. Kantuknya seketika lenyap saat nama dokter Harun di sebut. ¡° Bukan aku yang sakit tapi istriku!¡± berteriak ke segala arah. ¡° Nona muda?¡± Pak Mun bingung, melihat Daniah yang terbaring terlentang dengan tangan bertumpu diperut dan kaki yang lurus selonjoran. ¡° Maafkan saya tuan muda.¡± Bukankah nona baik-baaik saja tadi gumamnya. Tapi tidak berani membantah atau memberi informasi apa-apa. ¡° Bagaimana kau menjaga istriku? Dia sakit saja sampai kau tidak tahu.¡± ¡° Maaf tuan muda.¡± ¡° Siapkan air hangat sekarang. Sebelum dokter Harun datang aku mau mengompres perutnya. Dan bawakan air hangat dan madu untuknya minum juga.¡± Instruksi mendetail dia berikan. ¡° Eh, baik tuan muda.¡± Pak Mun keluar kamar dengan segera. Meninggalkan mereka berdua. Sekilas pak Mun bisa melihat wajah nona mudanya memeng agak terlihat pias, tapi sepertinya dia baik-baik saja. Bagaimana ini? Bukan ini rencananya. Kenapa dia tiba-tiba mengila begini si mendengar aku sakit. Daniah semakin frustasi mencengkram seprei tempat tidurnya. Saga naik lagi ke tempat tidur duduk di samping Daniah yang sedang berfikir keras bagaimana mengakhiri sandiwara ini. Saga membelai kepalanya, mencium kening dan pipi serta seluruh bagian wajahnya. ¡° Yang mana yang sakit?¡± Aku tidak sakit! Aku Cuma pura-pura sakit. Kenapa kau bodoh sekali si tuan muda! ¡° Sayang, aku sudah tidak apa. tidak perlu sampai memanggil dokter Harun segala.¡± Aku pasti ketahuan kalau cuma pura-pura nanti. Habislah aku sudah membuat keributan seisi rumah ini. Ketukan pintu lagi. ¡° Kak Saga, ini kami, boleh kami masuk?¡± suara jen dan Sofi. ¡° hemm, masuklah.¡± Jen dan Sofia yang terbangun karena keributan di lantai bawah yang dilakukan pak Mun saat memberi instruksi kepada para pelayan tadi. ¡° Kakak ipar kenapa?¡± Mereka mendekat ke tempat tidur. Mendapati Saga di samping Daniah yang sedang memegang tangan kakak iparnya erat. ¡° Seharusnya aku yang tanyakan. Seharian aku menyuruh kalian menemani kakak ipar kaliankan, kenapa dia sakit perut sampai kalian tidak tahu!¡± Jen dan Sofi mengigit bibir mereka. ¡° Sayang aku gak papa.¡± Maafkan aku jen, maafkan aku Sofi. Aku benar-benar tidak sengaja melakukan ini. ¡° Maaf kak, maafkan aku. Kakak ipar bukan sakit karena makan jajanan yang aku beli tadikan?¡± Bertanya. Kesalahan fatal jen, menyebut kalau dia membawa jajanan. ¡° Jajanan, kau memberi kakak iparmu makanan apa hah?¡± marah, bangun dari duduk. ¡° Sudah kubilang hati-hati dengan makanan yang masuk ke tubuh mu kan.¡± Rasanya mau mati saja, Daniah merasa sangat bersalah sekali pada jen dan Sofi. ¡° Eh, tapi kakak ipar gak makan jajanan kok. Tadi kakak ipar cuma makan stroberi. Iakan kakak ipar.¡± Selamatkan kami kakak ipar. ¡° Ia sayang, aku tidak makan makanan aneh apapun kok. Aku hanya makan stroberi dan makan malam saja. Jangan salahkan jen dan Sofi.¡± Pak Mun muncul dengan membawa gelas berisi air hangat dan madu. Lalu pelayan di belakangnya membawa mangkuk kaca dan beberapa tumpuk handuk di sebelahnya. Saga segera mengambil gelas di tangan pak Mun. Lalu naik ke tempat tidur. ¡° Duduklah! Kau bisa bangun.¡± Sudah mau menyerahkan gelasnya dan membantu Daniah bangun. Tapi Gadis tu bergerak cepat untuk duduk. ¡° Minumlah, biar perutmu hangat. Sebelum dokter Harun datang.¡± Menyelipkan rambut Daniah ke belakang telinga. Dia membantu Daniah minum. ¡° Pelan-pelan saja minumnya, nanti kamu tersendak.¡± Tapi Daniah ingin segera menghabiskan air madu di gelasnya. Supaya semua orang yang ada di kamarnya ini segera bisa pergi. Dia sedang binggung, malu plus takut bercampur aduk. ¡° Berikan handuknya.¡± Saga mengulurkan tangan. ¡° Baik tuan muda.¡± ¡° Kakak ipar, apa kakak ipar sedang hamil.¡± Jen menyela. Hei Jen jangan bicara sembarangan! Tapi kata-kata jen sudah seperti menyambar semua telinga orang yang ada di dalam kamar. Saga yang belum menempelkan handuk di perut Daniah menjatuhkan benda itu di atas kasur. ¡° Hamil? Sayang apa kamu sungguh sedang hamil.¡± Menyentuh kedua tangan Daniah, mengengamnya erat. ¡° Tidak! Jen jangan bicara sembarangan. Aku sedang tidak hamil sayang.¡± Aku tidak mungkin hamil. Aku sedang pura-pura sakit untuk membalasmu.. tapi malah kenapa karma ini jatuh menimpaku. ¡° kenapa? Bisa jadi kakak ipar benar-benar hamilkan. Haha, aku mau punya keponakan donk.¡± Hentikan bualanmu jen. Hei tuan muda kenapa wajahmu sesenang itu, jangan percaya dengan omong kosong Jen. ¡° Sayang aku tidak hamil. Aku.¡± Hanya sedang pura-pura sakit. Bagaimana ini aku mengatakannya. Di tengah kegaduhan tentang kehamilan datanglah dokter Harun. Daniah bernafas lega. Seseorang yang bisa menyelamatkannya. Pak Mun dan pelayan wanita keluar dari kamar. ¡° Apa yang terjadi?¡± Dokter Harun binggung. ¡° Siapa yang sakit?¡± sepanjang perjalanan dia hanya menduga-duga. Pak Mun tidak memberi tahukan ada apa dan siapa yang sakit. Dia Cuma mengatakan secepatnya dokter Harun di minta datang kerumah tuan Saga. Apa ini sedang main dokter-dokteran lagi! ¡° Kak Harun sepertinya kakak ipar sedang hamil.¡± Jen dengan sok tahunya kembali angkat bicara mewakili, memberi jawaban dari pandangan kebingungan dokter Harun. ¡° Hamil!¡± ¡° Tidak dok!¡± Daniah berteriak. Ingin kesalah pahaman ini segera berakhir. ¡° Saya hanya sedikit sakit perut saja.¡± ¡° Sedikit bagaimana, kalau sakit tetap sakit. Tidak ada yang namanya sedikit sakit.¡± Saga protes. Tunggu, ini benar lagi main dokter-dokteran. Tuhan, kenapa aku terjebak di keluarga ini. Kenapa aku punya teman mengerikan seperti Saga dalam hidupku. ¡° Baiklah, kita periksa dulu sebentar ya kakak ipar.¡± ¡° hei, siapa yang kakak iparmu. Dia istriku.¡± Protes lagi. Dokter Harun tertawa menanggapi perkataan Saga. Dia mendekat ke arah tempat duduk ke samping kiri Daniah. Meminta Daniah mengulurkan tangannya. ¡° Hei, kenapa kau menyentuh istriku. Lepaskan!¡± berteriak. ¡° Bagaimana aku memeriksa istrimu sialan kalau aku tidak boleh menyentuhnya.¡± Dokter Harun ingin membanting alat di tangannya. Geram. ¡° Seharusnya kau bawa perawat wanita tadi!¡± masih tak kalah marahnya. ¡° Akukan tidak tahu kalau kakak ipar yang sakit.¡± Pak Mun saja Cuma menyuruh segera datang ke rumah tuan Saga. Tanpa info apa-apa. sepanjang perjalanan saja Harun sudah panik dengan menduga-duga sebenarnya terjadi apa. ¡° Dia bukan kakak iparmu.¡± Berteriak lagi. Jen sudah memegang bahu Saga. Sofi juga memegang tangan kiri Saga. ¡° Biar kak Harun memeriksa kakak ipar dulu kak. Sebentar saja. Hanya menyentuh tangan sedikit saja.¡± Saga mengibaskan tubuhnya. Memandang dokter Harun dengan geram. Apalagi saat dia menyuruh Daniah berbaring. Saga bahkan mengumpat kesal saat Harun menekan perut Daniah di beberapa posisi. Lali-laki itu memeriksa tangan Daniah lebih teliti. Benarkan ini cuma main dokter-dokteran. Dia melirik Daniah lalu tersenyum. Apa yang anda rencanakan kakak ipar? ¡° Istrimu hanya perlu istirahat sebentar, dia tidak apa-apa.¡± ¡° Hei!¡± sudah mau protes. Soalnya tadi Daniah bilang sakit seharusnya diagnosa Harun juga menyatakan istrinya sakit. ¡° Benarkan nona?¡± Harun mengedipkan mata kirinya. ¡° ia sayang, aku pasti hanya lelah. Aku benar-benar tidak apa-apa. ¡° Hentikan kegilaanmu ini. Memohon dalam hati agar sandiwara sakit malam ini berakhir dengan damai. ¡° Baiklah nona sekarang istirahatlah. Kalian berdua juga pergi tidur sana. Kenapa bocah jam segini masih terjaga juga.¡± Tudingnya pada jen dan Sofi. ¡° Saga, antar aku.¡± ¡° kenapa aku harus mengantarmu. Aku mau menemani istriku. Jen panggil pak Mun.¡± Menolak, Saga memilih mau naik ke tempat tidur lagi. ¡° Baik kak.¡± Jen sudah mau bergerak. ¡° Hei, aku mau kau mengantarmu.¡± Mendorong tubuh Saga. ¡° Nona Daniah istirahat saja ya.¡± ¡° Jangan bicara dengan istriku.¡± ¡° Sudah-sudah ayo keluar sebentar.¡± Harun menarik lengan Saga. Saga memukul tangannya. ¡° Sakit tahu.¡± Dia berbalik sebelum keluar pintu. Bicara pada Daniah. ¡° Tidurlah! Aku keluar sebentar.¡± ¡° Ia sayang.¡± Saat pintu sudah tertutup. Daniah menendang selimutnya. Kenapa? Kenapa malah jadi begini si! Kenapa malah jadi aku yang terpojok di sini. BERSAMBUNG Chapter 111 Pil Penunda Kehamilan Di depan tangga Saga mendorong tubuh Harun. ¡° Sudah pergi sana!¡± Dokter Harun tidak mengubris dia mendorong Saga menuruni tangga. Lalu dia menoleh pada Jen dan Sofi yang mengikuti mereka. ¡° Tidur sana! Kulit kalian bisa keriput kalau begadang nanti.¡± ¡° aaaa, ia kak kami tidur. Selamat malam kak Saga, selamat malam kak Harun.¡± Tahu kalau keberadaan mereka tidak diinginkan. ¡° Ia, ia sudah pergi kekamar kalian sana.¡± Harun yang menjawab melalui lambaian tangannya. Pak Mun sudah menunggu di bawah tangga, para pelayan sudah dibubarkan untuk kembali ke kamar mereka masing-masing. Kedatangan dokter Harun sekalipun tidak melakukan apa-apa sudah menyelamatkan ketenangan rumah ini. ¡° Pak Mun antar dia keluar.¡± Saga ingin segera mengusir Harun dari pandangannya. Dia ingin segera kembali ke kamar dan memeluk istrinya. ¡° Hei aku mau bicara denganmu.¡± ¡° Besok lagi, tidak lihat tadi. Aku mau menemani istriku.¡± Menyingkir kau jomblo begitu teriak Saga. ¡° Ini masalah penting, tentang kakak ipar.¡± Berjalan menuju ruang kerja Saga. Dia tahu, kata-katanya barusan pasti sudah bisa memancing Saga mengikutinya. ¡° Sudah ku bilang dia bukan kakak iparmu!¡± Pak Mun mengikuti langkah kaki keduanya, dia ikut masuk ke dalam ruang kerja Saga. Berdiri di samping sofa. ¡° Apa kau menyuruh istrimu minum pil kontrasepsi penunda kehamilan?¡± Pertanyaaan Harun langsung menyambar, wajah Saga terlihat sangat marah mendengarnya. ¡° Apa maksudmu? Apa Daniah minum pil kontrasepsi?¡± pertanyaan yang tidak percaya bisa dia tanyakan. Tidak, dia bahkan tidak percaya kalau Daniah sampai punya keberanian untuk melakukan itu. ¡° Jadi tidak ya. Sepertinya dia minum secara diam-diam di belakangmu.¡± Lirih menjelaskan, walaupun dia sendiri punya perasaan tidak enak mengatakan ini. Saga sudah terlihat sangat marah. Dokter Harun sudah panik, apa dia akan meneruskan kalimatnya atau tidak. Gawat! Aku pasti salah bicara. Sialan! Seharusnya aku tidak perlu mengatakannya tadi. ¡° Tunggu, tapi aku belum seratus persen yakin juga. Aku hanya memeriksa tangan istrimu, pil KB terkadang menimbulkan efek tertentu di kulit. Mungkin karena jenis kulit sensitif iatrimu jadi itu semakin mudah di lihat. Tapi aku belum bisa meastikan benar-benar.¡± ¡° pak Mun!¡± Sorot mata Saga menakutkan. ¡° Saga, tunggu apa yang mau kamu lakukan.¡± Kamu tidak akan menyeret istrimu kemari dan menanyakan langsung apa dia pakai pil kontrasepsi atau tidakkan. ¡° Pindahkan Daniah ke kamar tamu di lantai atas. Dan bawa pelayan memeriksa setiap sudut kamar. Temukan apapun itu.¡± Brak! Dia mengembrak meja. ¡° Temukan pil atau apapun itu yang dikatakan Harun.¡± ¡° Baik tuan muda.¡± Pak Mun merasa kuatir meninggalkan ruangan. Dan tertinggalah Harun yang sama kuatir dan paniknya. Pak Mun baru saja memegang gagang pintu. ¡° Tunggu!¡± Pak Mun berbalik ¡° Bawakan baju tidurnya juga, katakan padanya untuk menganti bajunya dan menungguku.¡± ¡° Baik tuan muda.¡± Bagaimana ini? Aku benar-benar merasa bersalah padamu Daniah. Dokter Harun semakin panik saat mendengar perintah Saga barusan. Saga menendang meja kesal, bahkan benda itu sudah mau terjungkal kalau Harun tidak memeganginya. ¡° Saga tenangkan dirimu.¡± ¡° Diam kau!¡± Aaa, mati aku. Bagaimana Han bisa tahan menghadapinya selama ini. Aku merindukan sekertaris Han. Kenapa aku tidak menghubunginya tadi sebelum kemari. Bodoh. Bodoh. Saga bangun dari tempat duduknya. Dia berjalan menuju kursi kerjanya, yang dikuatirkan Harun terjadi. Semua yang ada dia ats meja sudah jatuh berhamburan, berserak di lantai. Tidak tahu berkas penting atau tidak. Beraninya kau! Pantas saat aku bicara tentang kehamilan tubuhmu langsung membeku, dan wajahmu berubah. Ternyata kau benar minum pil pencegah kehamilan. ¡° Saga, tenangkan dirimu. Istrimu pasti melakukan karena dia punya alasan.¡± Saga mendekat menginjak dokumen-dokumen saat melewatinya. Duduk kembali ke sofa. Menatap dokter Harun. ¡° Dia pasti hanya ingin melindungi dirinya.¡± ¡° Melindungi diri?¡± mencengkram bahu Harun. ¡° Memang apa yang sudah kulakukan padanya sampai dia perlu melindungi dirinya. Aku bahkan sudah memberikan seluruh perasaanku padanya.¡± Tapi diakan tidak tahu bodoh kalau kau menyukainya. ¡° Han bilang dia masih berfikir kalau kau masih menyukai Helen.¡± Melotot karena Harun menyebut nama helen. ¡° Baiklah pelukis itu.¡± Bahkan sekarang mendengar nama Helen sangat menjengkelkan di telinganya. ¡° Jadi aku rasa dia hanya ingin melindungi dirinya, karena takut kau akan membuangnya.¡± Ayolah sadarlah, memang begitu kenyataannya. ¡° Saga mengertilah posisinya. Awal pernikahan kalian seperti apa pasti kamu sendiri yang tahukan. Bagaimana kau memperlakukannya juga. Dia pasti tidak akan sepercaya diri itu berfikir kalau kau benar-benar menyukainya.¡± ¡° Sial, sial!¡± Saga mengacak rambutnya sendiri kesal. Semua kata-kata Harun tidak ada yang bisa di bantahnya. Semuanya benar. Bagaimana dia melemparkan surat perjanjian di depannya. Bagaimana dia memperlakukan daniah sebatas pembantu yaang harus menjalankan kewajiban sebagai seorang istri tanpa banyak bicara. Tanpa bisa menolak, tanpa punya hak untuk berkata tidak. Dia bahkan bisa tidur dengan istrinya karena ancaman. Ya ancaman dia akan menghancurkan keluarga Daniah, membuat wanita memohon untuk ia tiduri. Cih Pak Mun muncul setelah mengetuk pintu. Dia terlihat ragu saat memasuki ruangan. Mengengam apa yang ada di tangannya dengan kuat. Dia tahu apa yang dibawanya sekarang bisa jadi akan meledakkan lava kemarahan dan emosi tuan Saga. Tapi kalau dia menyenbunyikannya, bisa jadi seluruh rumah ini akan mengalami kekacauan yang jauh lebih besar. ¡° Pak Mun.¡± Harun bangun dari duduk saat dia melirik ada sesuatu yang di pegang oleh pak Mun. Laki-laki itu menyerahkan apa yang ia temukan ke tangan dokter Harun. ¡° Tenangkan tuan muda dokter.¡± Kalau tidak akan ada badai besar di rumah ini. Pak Mun bicara lirih di telinga Harun. ¡° Saga.¡± Harun mendekat. ¡° aaa, kalian menemukan pil itu. Apa benar itu yang kamu katakan, kontasepsi penunda kehamilan.¡± Harun menganguk ragu, menyerahkan satu tablet pil itu ke tangan Saga. Saga langsung membantingnya ke atas meja. ¡° Saga kendalikan dirimu.¡± ¡° Diam kau!¡± Berteriak keras. ¡° Ku mohon kendalikan dirimu. Ingatkan, kau mencintai istrimu. Kau mencintainya.¡± ¡° Huh!!¡± ¡° Pak mun di mana Nona?¡± Harun bertanya memastikan. ¡° Sudah di kamar tamu atas tuan.¡± Bagaimana ini, aku takut membiarkan Saga sendirian begini. Apalagi kalau dia kembali ke kamarnya. Telfon Han pak Mun. Telfon sekertaris Han. Aku tidak tahu bagaimana menjinakan tuanmu. Tapi pak Mun bingung dengan isyarat yang di berikan Harun. ¡° Pulanglah! Kau pasti lelahkan. Terimakasih sudah datang kalau aku memanggilmu.¡± Hei, kenapa ucapan terimakasihmu ini kedengarannya menakutkan. Membuat Harun menarik tangan Saga. Mencegahnya, agar bangun. ¡° Lepaskan aku bodoh, aku mau menemui istriku.¡± Mengibaskan tangan Harun kasar. ¡° Saga, kumohon jangan memarahi istrimu. Jangan melakukan sesuatu yang akan kau sesali seumur hidupmu nanti.¡± Memegang tangan Saga lagi. ¡° Memang aku mau melakukan apa? lepaskan.¡± Mengibaskan tangan Harun kuat sampai tangan laki-laki itu terlepas. ¡° Jangan memukulnya.¡± ¡° hei, memang kau pernah melihatku memukul perempuan apa?¡± Marah mendengar perkataan Harun barusan. Mengeleng. Kau memang tidak memukulnya secara langsung, tapi kau melihat dan membiarkan Han memukul wanita yang menggangumu. Bukankah itu sama saja mengerikannya. ¡° pak Mun antar Harun keluar.¡± ¡° Baik tuan muda.¡± ¡° Tunggu Saga, kendalikan dirimu. Kau mau melakukan apa sekarang. Sebaiknya malam ini kalian tidur terpisah. Kau tetaplah tidur di kamarmu, dan biarkan istrimu di kamar tamu.¡± Memohon. Karena pertengkaran ini di sebabkan ulahnya yang menemukan fakta pil kontrasepsi, maka ini membuatnya merasa sangat bersalah dan bertanggung jawab. ¡° Haha, kenapa? Aku harus menghukumnya karena kekurang ajaranya kan?¡± pertanyaan menakutkan, akan semakin menakutkan kalau di jawab. ¡° Saga, kumohon jangan melakukan hal yang akan kamu sesali nanti.¡± ¡° Berisik, sudah pulang sana.¡± Tentu saja, aku akan menghukumnya. Setimpal dengan apa yang sudah dia telan untuk mencegah kehamilanya kan? Daniah menunggu dengan gelisah di atas tempat tidur. Beberapa kali dia berbalik mendekat ke pintu. berharap mendengar sedikit saja suara orang mendekat. Nihil. Tidak ada siapapun setelah pak Mun meninggalkan kamarnya tadi. Dia sudah menganti pakaiannya dengan baju tidur warna hitam yang di berikan pak Mun. ¡° Nona, tolong ganti baju anda dan tunggu tuan muda di sini?¡± dia hanya mengatakan itu. Bahkan pertanyaannya kenapa dia harus pindah kamarpun tidak di jawab oleh laki-laki di hadapannya itu tadi. Dia hanya mengangukan kepala. Raut wajahnya terlihat sangat kuatir, tapi dia tidak bisa menjelaskan apapun. Jegrek! Pintu terbuka. Daniah bisa mendengar pak Mun mengucapkan selamat malam pada Saga. Lalu terdengar langkah kakinya menjauh. Setelahnya tidak lama Saga masuk ke dalam kamar. Dia menutup pintu dengan suara cukup keras. Membuat Daniah terperanjak. Dia berdiri di depan tempat tidur. Sambil mengengam hp ditangannya. Dia marahkan, dia pasti marah karena tahu aku berbohong tentang sakit perutku kan. Padahal dia sudah sekuatir itu tadi. ¡° Sayang!¡± Daniah memanggil pelan, tapi tetap berdiri di tempatnya. Tidak berani mendekat. Air muka saga menunjukan kalau dia sedang sangat kesal. ¡° Beraninya kau!¡± Berteriak sambil melemparkan sesuatu ke tubuh Daniah. Benda itu jatuh tepat di kaki Daniah. Gadis itu terkejut ketika mengenali apa itu. Dia menjatuhkan hpnya sampai membentur kakinya. Dia meringis kesakitan. Tapi semua rasa sakit itu seakan lenyap. Apalagi saat ia melihat wajah laki-laki di hadapannya. ¡° Sayang.¡± Apa ini adalah hari kematianku. BERSAMBUNG Chapter 112 Helen lagi Kejadia sore hari setelah peresmian danau hijau, hari yang menyedihkan untuk seorang pelukis cantik bernama Helena. Sebuah mobil berhenti jauh dari keramaaian danau hijau. Lalu lintas lancar, hanya karena kepulangan para pekerja yang tetap bekerja di akhir pekan atau orang-orang yang ingin menghabiskan waktu membuat jalanan cukup ramai tapi tetap terpantau lancar. Helena gemetar memegang kemudi. Pikirannya sedang sangat kacau. Saat ini hanya satu nama yang terlintas di pikirannya. ¡° Sekertaris sialan! Apa kau sudah mencium semua yang ku lakukan. Rencana ku semua gagal pasti karenamu.¡± Setengah mati dia berusaha mendekati EO acara peresmian, tapi semuanya menguap dan tidak berbekas apapun. ¡° Wartawan itu juga.¡± Helen masih berusaha menghubungi no telfon wartawan yang sudah menipunya. Tidak diangkat. Saat dia mau membanting hpnya bunyi pesan masuk. ¡° Maaf nona Helen saya tidak berani menulis artikel apapun tentang anda, lawan yang anda hadapi bukanlah lawan sepadan yang bisa saya tandingi. Saya akan mentransfer kembali uang anda. Kirimkan no rekening anda. Jangan hubungi atau mencoba menemui saya lagi.¡± Apa! Sialan! Bagaimana ini bisa terjadi. Kegagalan hari ini adalah akhir dari semua usaha yang coba ia tempuh untuk bisa mendekati Saga. Tapi, apa ia benar-benar akan menyerah. Melepaskan Saga yang seperti tambang berlian di tangannya. Kenapa? Kenapa aku bodoh sekali. Helen memecah jalanan kembali, masih berusaha menepis semua pikiran buruk di kepalanya. Ia kembali berusaha membangun kembali harapan. Bagaimanapun melepaskan Saga adalah pilihan tidak masuk akal yang tidak akan dipilih oleh wanita manapun termasuk dirinya. Helen memarkir kendaraannya. Lalu sepanjang menuju lift dia sudah mulai terisak dan menitikan airmata. Sesengukan nafasnya. Ini hanya akting ya. Percayalah, dia tidak sebaik itu. Ketukan keras di pintu saat dia tidak sabar setelah membunyikan bell. Pintu berderik seorang wanita muncul membuat Helen terkejut. ¡° Noah!¡± padahal dia sudah mulai mengeraskan suara tangisnya, tapi yang muncul malah seorang wanita di hadapannya. ¡° Maaf, anda siapa?¡± wanita yang membukakan pintu itu tampak bingung karena mendapati seseorang menangis di depan pintu kekasihnya. Lebih-lebih dia perempuan. ¡° Sayang siapa?¡± dari dalam terdengar suara laki-laki, langkah kakinya terdengar mendekat. ¡° Helen!¡± terkejut saat mendapati siapa yang ada di depan pintu. Lebih-lebih ketika melihat penampilan Helen terlihat sangat berantakan. Riasan yang luntur, rambut yang tidak lagi indah tergerai. Dan yang lebih dramatis tentu saja menangis. ¡° Masuklah!¡± Noah menarik lengan Helen masuk ke dalam rumah. ¡° Dia Helen, teman yang aku ceritakan padamu. Pacar temanku Saga.¡± Noah melingkarkan tangan di pinggang kekasihnya yang sepertinya masih belum bisa menerima fakta ada wanita menangis di depan rumah kekasihnya. Tapi setelah mendengar nama Helen yang di sebut raut wajahnya terlihat tampak tenang. Sepertinya Noah sudah sangat terbuka berbagi kisah hidupnya dengan kekasihnya. ¡° Noah, siapa dia.¡± Helen mengusap airmata disudut mata indahnya dengan tangan. ¡° Dia kekasihku. Tamara, kau bisa memanggilnya Tama.¡± Tama yang diperkenalkan mendekat dan menjawab tangan helen. ¡° Noah sudah banyak cerita tentang anda. Panggil saja saya senyaman anda. Sayang, ambilkan nona Helen air.¡± Noah yang masih mematung tersadar. Lalu ia tertawa seperti dia yang seharusnya. Lalu menuju dapur. Mengambil sebotol minuman dingin dari dalam kulkas. ¡° Ada apa?¡± Dia menyerahkan botol lalu duduk di samping Tama. Menyandarkan dagunya pada gadis itu. ¡° Aku melihatmu di peresmian danau hijau, apa Saga mengundangmu?¡± Reaksi Helen seperti apa yang sudah dia rencanakan, tapi kali ini semua yang ia rencanakan di dalam mobil kandas. Ia bahkan tidak bisa memeluk Noah dan menangis di dadanya. Karena laki-laki itu malah bersandar di bahu wanita lain. Sekarang dia hanya memakai air matanya sebagai senjata. ¡° Dia jahat sekali.¡± ¡° Helen.¡± Bagaimanapun Noah merasa, perbuatan apapun yang akan di lakukan Helen pada Saga hanyalah perbuatan sia-sia. ¡° Dia jahat sekali, bagaimana dia bisa lupa sepenting apa danau hijau bagi kami.¡± Berteriak keras. Tama di sampingnya menepuk bahu Helen seperti memberi simpati, tapi malah membuat suasana hati Helen semakin buruk. ¡° Apa kau sudah makan?¡± Noah bertanya. Dijawab dengan isak tangis. ¡° Biar aku pesan makanan, kita makan bertiga. Sayang, kamu gak papakan.¡± ¡° Ia gak papa. Nona Helen sedang seperti inikan, dia pasti butuh teman.¡± Tidak, aku tidak butuh teman, aku butuh Noah. Cih ternyata ini kekasih Noah yang dibicarakan Clariss. Noah berjalan meninggalkan dua orang wanita yaang tidak saling kenal itu ke kamarnya, mengambil hp. Dia akan memesan beberapa makanan. Tapi langkahnya terhenti. ¡° Apakah Helen bersama anda tuan, jika ia katakan padanya untuk jangan menemui tuan Saga lagi. Atau saya benar-benar tidak akan bersikap menahan diri lagi.¡± Apa yang sudah di lakukan Helen sebenarnya. Sekertaris menakutkan itu sudah menyampaikan ultimatumnya begini. Noah kembali duduk di samping Tama. Melingkarkan tangannya di pinggang gadis itu. ¡° Helen, apa yang terjadi di danau hijau tadi?¡± ¡° Aku pasti sudah gila karena memakai semua cara untuk ada di sana dan menemui Saga. Tapi bahkan dia sama sekali tidak menyapaku.¡± ¡° Kenapa kau melakukannya, kau tahu kan bagaimana Saga.¡±berusaha menyadarkan semua hal sekarang adalah salah. Perjuangan cintamu atau apapun itu adalah salah. Hanya move on satu-satunya jawaban paling benar. ¡° Aku sudah tidak tahu mau melakukan apalagi!¡± menangis lagi. Kali ini ia merasa tidak senang saat tangan Tamara menepuk bahunya. Kenapa gadis di sampingnya ini begitu sok tahu dan bersimpati padanya, padahal dia sendiri tidak saling mengenal. ¡° Sayang jangan memaksa nona Helena.¡± Tamara menyentuh tangan Noah. ¡° Berhentilah sampai di sini saja." Noah hanya menepuk pungung tangan Tama, tapi tidak menghentikan kata-katanya. " Kita tidak tahu apa yang bisa di lakukan sekertaris Han. Kamu sudah melangkah sangat jauh.¡± Dia selalu merealisasikan ancamannya, hanya itu yang Noah tahu pasti. ¡° Noah, aku mencintai Saga. Dia juga mencintaiku.¡± Kalimatnya terhenti. ¡° Dulu, itu dulu. Sebelum kepergian mu dan kedatangan Daniah dalam hidup Saga. Kamu tahukan bagaimana sifat Saga. Saat bersama mu dulu dia hanya menatap mu, tidak perduli sekeliling mu, tidak perduli sebanyak apapun wanita yang mengejarnya. Dia hanya menatapmu. Saat ini sama seperti waktu itu. Keperduliannya, tatapaan Saga dan semua yang dimiliki Saga sudah menjadi milik Daniah. Dia tidak akan melihat ke arah wanita lain. Posisimu saat ni tidak hanya lebih sebagai penggangu.¡± ¡° Sayang.¡± Tamara berusaha menghentikan Noah yang bicara terlalu jujur. Bagaimanapun Tamara menyadari sebagai sesama wanita yang di butuhkan Helen saat ini bukanlah kebenaran. Tapi ia hanya butuh dukungan. ¡° Kenapa kau seperti ini?¡± Helen mengusap air matany, semakin merasa kecewa. ¡° Kau jadi sama jahatnya dengan Saga!¡± ¡° Helen.¡± Noah sampai pada titik dimana dia kehilangan kata-kata. Helen bangun dari duduk, menepis tangan Tama di bahunya. ¡° Karena kau sudah punya kekasih, jadi kau menganggapku sama sekali tidak penting lagi. Apa yang kau ceritakan padanya?¡± melihat sebentar Tamara di samping Noah. ¡° kenapa dia sangat bersimpati, apa kau sudah menceritakan kisah menyedihkan aku mengejar-ngejar Saga.¡± ¡° Helen, ada apa denganmu. Tama hanya bersimpati padamu.¡± Noah bangun ingin meraih tangan Helen tapi Helen menepisnya. ¡° Seharusnya aku tidak kemari.¡± Dia menyambar tas tangannya di atas meja. Berjalan cepat menuju pintu. Menutupnya lalu bergerak cepat menuju lift. Saat di dalam lif dia belum menutup pintu. ¡°Apa! dia tidak mengejarku.¡± Akhirnya dia menutup lift yang membawanya ke area parkir. Bahkan semua orang sudah meninggalkannya. Noah yang menjadi tumpuan terakhirnya pun sudah punya wanita penganti di sisinya. Saat ini segala penyesalan merasuki dirinya. Dia masih mengharapkan Saga sampai melupakan Noah yang sudah ada di sampingnya. Sekarang saat dia sudah kehilangan Noah hubungannya dengannya di masa lalu ternyata sangat berharga. Padahal dulu dia akan melakukan apapun untuk ku, sekarang dia bahkan tidak mengejarku. Mobil meninggalkan area parkir, membawa tangis keras pengemudinya seorang diri. Dalam luka dan kesepian yang menyayat hati. BERSAMBUNG Chapter 113 Pertengkaran di tempat tidur (Part 1) Daniah masih mematung di depan tempat tidur. Dia tidak berani membungkuk kan badan mengambil hp atau pil kontrasepsi di dekat kakinya. Matanya beralih mengikuti langkah kaki Saga, laki-laki itu melepaskan sandal dengan kasar lalu naik ke atas tempat tidur. Meraih bantal dan memakainya untuk bersandar. Meluruskan kakinya sambil memberi sorot mata membunuh pada Daiah. ¡° Nyalimu besar sekali ya.¡± Daniah semakin menciut di tempatnya berdiri. Tidak bergerak sedikitpun, dia bahkan menarik nafas pelan tanpa menimbulkan suara. Apa aku pura-pura mati saja ya, tidak, pura-pura pingsan saja. Tapi kalau dia menyiramku atau menginjak kakiku aku pasti menjerit. Saat ini gadis itu kembali menundukan kepala, menatap pil kontrasepsi di dekat kakinya. Ya, dia sangat berani, pertama kalinya memutuskan untuk minum pil kontrasepsi sebenarnya iapun di hantui ketakutan kalau sampai ketahuan. Namun ketakutan untuk mengandung anak Saga jauh lebih menakutkan dari pada ketahuan seperti sekarang. Tapi, saat ada di posisi ini, sungguh Daniah menyesali telah menelan pil itu. Seharusnya aku lebih takut padanya dari pada pada kehamilan. ¡° Katakan, sejak kapan kau meminumnya?¡± suara dan wajahnya masih sangat dingin bertanya. Seperti menumpahkan semua kekesalannya. Tidak, kalau aku menjawab, dia akan semakin mengila. ¡° Hei, kau anggap aku sedang main-main sekarang!¡± sudah mulai berteriak dari tempatnya duduknya bersandar. Dia menekuk kakinya, merubah posisi. Daniah terlonjak mendengar suara keras Saga. Dia mengatupkan tangannya di depan dada yang mulai gemetar. Kemarahannya ada di level mematikan, bagaimana ini? ¡° Sejak kau menyuruhku tidur di tempat tidur.¡± Mendongak sebentar, lalu kembali menundukan kepala. ¡° Wahhh, wahhh, luar biasa, kau sudah mengantisipasinya dari awal ya.¡± Sinis menghujam, tidak memberi kesempatan Daniah sedikit saja bernafas. Itu artinya sejak pertama kali Saga meminta Daniah tidur di atas tempat tidur, walaupun itu masih jauh dari mereka melakukan hubungan badan. Sepertinya kau benar-benar tidak mau mengandung anakku ya. Geram Saga ketika memikirkan kapan waktu tepatnya itu. Karena kejadian itu masih teringat jelas di kepalanya. ¡° Maaf kan aku.¡± Lirih, bahkan terdengar seperti gumaman. Masih menatap lantai dan kakinya sendiri. ¡° Maaf, kau pikir cukup dengan minta maaf.¡± Kembali menghardik dengan suara keras. ¡° Kau tahu seberapa besar kesalahan mu padaku sekarang. Bahkan menghukum mu saja tidak bisa mengampuni kesalahan dan penghianatan mu ini.¡± Penghianatan! Memang apa yang kulakukan, apa aku selingkuh. Tapi nyatanya Daniah tetap gemetar dan tidak bisa menjawab apa-apa. ¡°Aku akan mengambil alih perusahaan ayah mu lalu menghancurkannya tanpa sisa. Menendang adik laki-lakimu dari tempatnya magang sekarang, memasukannya dalam daftar hitam Antarna Group. Dia bahkan tidak akan punya tempat untuk bernafas di kota ini, dan adik perempuan mu, jangan mimpi bisa menginjakan kaki di dunia entertrainer lagi. Itu baru setimpal menebus kesalahanmu hari ini.¡± Tubuh Daniah lunglai, dia sekuat tenaga menjaga kakinya tetap berdiri. Bahkan kakinya sampai bertumpu pada pinggiran tempat tidur, supaya dia tetap berdiri dengan tegak. Keringat dingin mulai keluar di telapak tangannya. Membayangkan semua yang Saga katakan akan terealisasi semudah dia membalikan telapak tangan. Bagaimana ini, aku berlutut dan menangispun pasti sia-sia. Dia sangat marah. Kemarahannya menutupi mata dan pikirannya. Apa yang harus ku katakan. ¡° Kau mau aku mulai dari mana, aku beri kehormatan kau yang memilih?¡± tertawa. Kehormatan, siapa yang merasa terhormat menghancurkan keluarganya sendiri! ¡° Maafkan aku. Maafkan aku.¡± Daniah bahkan mengucapkan dengan mulut dan tangan yang gemetar. Dia tidak berani mengunakan kata panggilan apapun untuk Saga. Dia mengatupkan kedua tangannya memohon. Saga terdengar mengumpat di tempatnya duduk. ¡° Naik!¡± Kau pikir aku masih berani bergerak dari sini. aku pilih berlutut di lantai sambil memohon, dari pada harus naik ke tempat tidur. ¡° Naik!¡± Berteriak keras sambil melemparkan bantal yang dipakainya untuk bersandar. Daniah gelagapan menangkapnya sampai dia mundur ke belakang. Baiklah, bunuh aku dan bebaskan keluarga ku. Itu sudah cukup! Daniah menyeret kakinya mendekat tempat tidur. Memegang bantal yang di lemparkan Saga dalam pelukannya. Dia akan memakainya sebagai senjata perlindungan jika hal paling mengerikan yang ada dalam bayangannya terjadi. Dia duduk bersimpuh di pinggir tempat tidur. Jarak cukup aman yang tidak bisa di jangkau tangan atau kaki saga. ¡° Kenapa kau duduk di situ. Kalau aku mendorongmu sedikit saja, kau bisa jatuhkan. Kalau kepalamu membentur lantai keras itu, pasti sakit sekali.¡± Menyeringai dengan sedikit di bumbui tawa kecil. ¡° Mau mencobanya?¡± Sudah mau mengerakan tubuh mendekati Daniah. ¡° Ti..tidak.¡± Daniah beringsut mendekat ke tengah. Mendekat ke kaki Saga yang selonjoran. Daniah duduk bersimpuh dengan bantal berada di bagian dadanya. Dia pegang erat sebagai alat perlindungan diri. Kau serius kan mau mendorongku tadi! ¡° Katakan!¡± Apa! Memang aku tahu apa maumu. Kau mau aku mengatakan apa? Saga yang membisu setelah dia mengucapkan kata katakan. Dia pasti berfikir semua orang seperti seperti sekertaris Han yang pahan hanya dengan mendengar dia mendesah saja. ¡° Katakan kenapa aku harus mengampuni mu.¡± Tangannya yang mau menuding kening Daniah hanya menyentuh bantal karena Daniah memakainya untuk menangkis. ¡° Katakan alasannya kenapa kau sampai berani minum pil kontrasepsi tanpa seizinku!¡± suaranya sudah memenuhi seisi kamar. Mungkin saja terdengar sampai lorong dan lantai bawah. Jen atau Sofi kalau belum tidur juga mungkin akan mendengarnya. ¡° Aku hanya ingin melindungi diriku.¡± Gumam-guman di belakang bantal. Dengan suara rendah, bahkan mungkin hanya telinganya yang mendengar. ¡° Katakan dengan jelas! Memang aku bisa mendengar gumaman mu di balik bantal itu.¡± Akhirnya tidak sabar Saga menarik bantal yang dipeluk Daniah, lalu mengembalikannya di balik pungungnya untuk bersandar. ¡° Katakan sekarang, kenapa aku harus mengampuni dan menerima permintaan maafmu!¡± Keberanian Daniah yang ntah muncul dari mana karena ingin mengalahkan teriakan Saga. ¡° Aku hanya ingin melindungi diriku!¡± Sama berteriaknya, mengalahkan suara Saga. Daniah sampai terkejut dengan suaranya sendiri. Dia menutup mulutnya dengan kedua tangan. ¡° Maaf.¡± ¡° Wahh, beraninya kau, sudah melakukan dosa sebesar itu masih berani berteriak padaku. Aku menyuruhmu bicara dengan jelas, bukan berteriak!¡± suaranya masih menjangkau langit-langit kamar. ¡° Maaf.¡± Menundukan kepalanya dalam. Dia menarik selimut perlahan, agar menumpuk di depannya, memakainya sebagai benteng pertahanan terakhir kalau Saga benar-benar akan murka mendengar alasannya. Kalaupun dia akan dipukul, dia bisa sedikit saja melindungi dirinya. ¡° Aku hanya ingin melindungi diriku.¡± Suara Daniah terdengar jelas walaupun dia bicara dengan menundukan kepala karena tidak berani matanya bersitatap dengan Saga. Dan walaupun dia tidak berteriak juga. Cih, alasan yang sama yang di katakan Harun. Jomblo itu bagaimana paham betul urusan perempuan. Saga mendesah, sambil menatap istrinya yang tertunduk. ¡° Memang apa yang aku lakukan? Sampai kau perlu melindungi dirimu?¡± bertanya seringan dia bernafas. Wahh, kau tidak merasa dirimu itu menyebalkan ya. Kaukan laki-laki tidak tahu diri dimuka bumi ini. Daniah mendongak, tanpa dia sadari dia menatap Saga dengan jengah. ¡° Berani memelototiku, sepertinya kau punya nyawa lebih dari satu ya.¡± ¡° Maaf.¡± Menundukan kepala lagi. ¡° Sekarang jelaskan dengan benar.¡± Menarik ujung rambut Daniah yang menjuntai. ¡° Atau kau tinggal pilih, ku hancurkan dari mana keluargamu.¡± Melepaskan rambut yang dia sentuh dengan keras mengenai wajah Daniah. Gadis itu buru-buru merapikan rambutnya di belakang telinga. ¡° Karena aku tahu.¡± Menatap sebentar Saga, mata mereka bertemu. ¡° Apa yang kau tahu!¡± Memang apa yang otak bodohmu itu tahu. Aku mencintaimu saja kau tidak tahu. Daniah menatap lututnya sendiri, menutupinya dengan baju tidur tipisnya. Bagaimana Saga masih memikirkan menyuruhnya menganti baju. Bahkan bagian dadanya yang terbuka tidak bisa dia tutupi dengan apapun. ¡° Aku tahu, kalau hari ini pasti akan datang, hari di mana kau kembali pada cinta sejatimu. Helena. Semarah apapun kamu, tapi cinta akan selalu kembali pada tempatnya kan.¡± Mencengkram seprei, merasa sakit hati dengan kalimatnya sendiri. Melihat ke arah Saga, dia tidak bergeming. Bahkan saat Daniah menyebut nama Helena. Carilah pilihan kata yang tidak memprofokasi Daniah. Begitu otaknya berputar. ¡° Huh! Kau sedang membual tentang apa?¡± menjawab ketus. Apa membual, jelas-jelas kau memilih danau hijau karena Helenkan. Kecemburuan kembali memberi energi pada Daniah, walaupun dia muncul tidak tahu tempatnya. Karena suara Daniah sudah agak meninggi dari pada tadi. Dia bahkan jauh lebih lama menatap Saga. Yang pasti dengan sorot mata tidak bersahabat. ¡° Aku tahu sepenting apa danau hijau bagi kalian. Kau dan Helen bertemu di sana kan, kalian juga sepakat pacaran di sana. Dan aku tahu kau akan melamar dan mengajaknya menikah di sana juga. Untuk itu kau memilih danau hijau, memilih untuk membangunya seperti sekarang.¡± Kemarahan, kebencian dan merasa tidak berdaya ada dalam suara Daniah. Saga mendesah, bergumam dalam hati. Bahwa semua yang di katakan Daniah benar adanya. Memang untuk itulah dia membangun danau hijau. Dulu, itu tujuan hidupnya. Sebelum dia jatuh cinta pada istrinya. ¡° Dan aku melihat semuanya hari ini!¡± sudah setengah berteriak. ¡° Apa!¡± ¡° Kau bersama Helen di peresmian danau hijau. Kau mengajaknya kan?¡± Sudah seperti melemparkan bola panas ke wajah Saga. ¡° Kau bahkan tidak mengajakku!¡± Berteriak sambil melemparkan bantal guling di dekat kaki Saga, tepat mengenai wajah Saga. Dia masih punya energi cemburu rupanya. ¡° Kau mau menunjukan apa padaku! Menunjukan betapa menyedihkannya aku, wanita yang berstatus istri dan mengharapkan cinta dan belas kasihmu. Ia, kau mau menunjukan kalau aku cuma pecundang menyedihkan. Kau baik padaku, membuatku membuka hati padamu dan menyukaimu pada akhirnya kau yang menghianati ku kan. Dasar jahat!¡± Ntah dari mana keberanian itu. Tapi saat Saga tidak bereaksi atau membalas kata-katanya. Daniah merasa perlu melampiaskann semuanya. Dia pikir kalau dia harus mati, dia akan puas kalau dia sudah menumpahkan semua isi hati dan kemarahannya. Bodoh! Aku tidak mengajakmu karena aku tidak mau orang memotretmu. Seluruh negri melihatmu di tv. Memang siapa mereka berhak melihatmu. ¡° Apa kau melakukannya tadi?¡± Bertanya dengan suara gusar, dijawab tidak kalah gusar oleh Saga. Laki-laki itu sedang sengaja ikut dalam drama ketegangan yang di ciptakan Daniah. ¡° Melamarnya, dan mengumumkan pada dunia kalau dia calon istrimu. Kau pasti mengandengnya ke podium pada saat peresmiankan. Iakan, kau masih mencintainya kan?¡± Daniah memukul kaki Saga tanpa dia sadari. ¡° Dan kau pikir aku wanita sebodoh itu, yang gila sampai aku membiarkan hamil mengandung anakmu.¡± Deg, air muka Saga sudah berubah dari tadi. Ada yang menyengat hatinya. Mendengar Daniah mengatakan semua yang ingin dia katakan. Dilihatnya Daniah yang mengelus dadanya sendiri, menahan sesak yang ia tahan cukup lama. Sekarang perlahan nafasnya mulai tenang, dia menundukan kepalanya lagi. Tangannya mencengkram lututnya yang duduk bersimpuh. ¡° Kalau aku hamil dan melahirkan anakmu, kau akan mengambilnya, lalu membuangku dan memisahkanku dengannya kan?, lalu kau menikah dan hidup dengan Helen. Maka aku akan jadi orang yang paling menderita di sini kan? Hanya aku yang akan menangis sendirian kan. Iakan. Menangisi perasaanku padamu. Menangisi rasa sukaku padamu dan menangisi anak ku.¡± Daniah sudah mulai sesengukan, membayangkan kalau kejadian yang ada di pikirannya benar-benar terjadi. Dari semua orang hanya dialah yang akan menangis di sudut ruangan tanpa di perdulikan orang lain. ¡°Karena itu aku tidak mau ada anak yang lahir, agar aku tidak perlu menangisinya kalau kau membuangku. Sudah cukup menderita menangisi karena kau membuangku, aku tidak mau menangis untuk anak juga.¡± Terdengar Saga menghela nafas berat. Membuat Daniah tersadar akan situasi apa yang terjadi. Aku pasti sudah gila! Bagaimana aku bisa mengatakan semuanya. Aku bahkan tidak berani mendongak melihat matanya sekarang. ¡° Kemarilah!¡± Saga mengulurkan tangannya. ¡° Tidak mau! Kau mau memukulku kan?¡± Memejamkan mata dan melindungi diri dengan kedua tangan. Ketika tidak ada yang terjadi Daniah perlahan membuka matanya. ¡° Aku bilang kemari! Mendekatlah! Kau sudah berteriak dan bicara ke mana-keman masih takut aku memukulmu. Seharusnya kau sudah menyiapkan diri untuk itukan. Mendekat kemari.¡± Dia belum berani beranjak. Sudah gila apa kalau dia benar-benar berani mendekat. ¡° Aku hitung sampai tiga, kalau tidak mendekat, habis kau!¡± Baru menyelesaikan kalimatnya, belum mulai menghitung Daniah sudah beringsut mendekat. Bersimpuh tepat di samping Saga. ¡° Kau sedang membuat drama.¡± Telunjuknya menunjuk kening Daniah. ¡° kenapa tidak sekalian kau tulis novel saja. Bodoh!¡± Tangan Saga terangkat. Daniah memejamkan matanya lalu mengangkat tangannya melindungi wajahnya. Habislah aku! Chapter 114 Pertengkaran di tempat tidur (Part 2) Masih di atas tempat tidur. Babak baru pertengkaran di atas tempat tidur masih akan berlanjut. Tidak tahu akan menjadi singkat atau semakin bertele-tele. Apa mereka akan kembali saling berteriak sampai urat saraf mereka menonjol. Daniah membuka matanya ketika tangan Saga malah terasa menyentuh kepalanya. Alih-alih yang dia takuti akan di pukul. Dia menepuk kepala Daniah, tapi bukan tepukan lembut seperti biasanya. Menyadarkan Daniah bahwa dia sama sekali belum selamat. Dia masih dalam situasi genting, belum melewati garis selamat. Dia atau keluarganya masih berada di bibir jurang. ¡° Maafkan aku, aku pasti sudah gila bicara yang tidak-tidak.¡± Sadar akan kesalahannya Daniah kembali memohon. Saga masih terdiam, dia hanya menurunkan tangannya. Meraih dagu Daniah menghadapkan wajah gadis itu ke hadapannya. Daniah mengalihkan pandangannya ke arah lain. Kali ini dia kehilangan keberanian. ¡° jadi kau menyukaiku? Sudah jatuh cinta padaku.¡± Apa! kenapa hanya itu yang kau tangkap dari pembicaraanku. Bukan itu poinnya tuan muda. ¡° Sejak kapan? Sejak kapan kau mulai menyukai ku?¡± mulai bertanya lagi, hanya mengambil inti yang mau di dengarnya saja. Kalimat panjang-panjang yang di keluarkan Daniah dengan segala keberanian tadi tidak dia tanggapi. ¡° Jawab!¡± ¡° Aku juga tidak tahu!¡± setengah berteriak karena frustasi sekaligus merasa malu. Sejak kapan aku mulai menyukai laki-laki yang seharusnya tidak boleh aku sukai ini. Laki-laki yang melemparkan surat perjanjian sebelum pernikahan, suami yang memperlakukannya seperti pembantu. Namun di akhir-akhir ini, Daniah seperti kecolongan, dia seperti di khianati hatinya sendiri. Dia tersentuh dengan ucapan lembut suaminya. Terlena dengan kehangatan tubuh dan sentuhan lembutnya di tempat tidur. Daniah hanya bisa mengutuki kecerobohan dirinya. Lebih parahnya lagi, kenapa dia sampai mengakuinya di depan Saga. ¡° Maafkan aku sudah lancang menyukaimu, aku menyalah artikan semua sikap baik mu akhir-akhir ini. Aku akan menutup hatiku rapat. Aku akan .¡± ¡° Apa!¡± mencengkram dagu Daniah kuat. ¡° Kau mau apa? menutup hatimu rapat? Jadi kau mau berhenti mencintaiku.¡± Daniah mengangukan kepalanya cepat, dengan tangan Saga masih mencengkram dagunya. Dia akan melepaskan Saga kembali kepada Helen. Toh seperti itu semestinyakan. Seluruh penduduk negri ini juga pasti tahu setelah peresmian danau hijau siang tadi. Dan dia bukan wanita tidak tahu malu. Berharap berada di samping Saga padahal dia tahu dia tidak di cintai. Akan semenyedihkan apa hidup yang harus ia jalani. Bahkan pasti jauh lebih parah dari sekedar ia di anggap sebagai pembantu. Cletak! Sentilan keras di kening Daniah membuat gadis itu mengerang. ¡° Sakit.¡± Dia menjatuhkan kepalanya di dada Saga, buru-buru dia menggankat kepalanya. ¡° Maaf, maafkan aku.¡± Daniah memilih memalingkan wajah mengusap keningnya berulang dengan rambutnya. Panas dan ngilu masih menjalar. Dasar jahat! Kenapa menyentilku. Memang salahku apa? memang kau mau aku tetap menyukaimu. Tertawa melihatmu bahagia bersama helen! ¡° Memang siapa yang mengizinkanmu untuk berhenti menyukaiku?¡± Apa? memang maumu apa? kau mau menikahi Helen tapi tetap menyuruhku menyukaimu. Apa kau mau punya dua istri. Sudah gila ya! Daniah menepis tangan Saga yang menyentuh bahunya, karena dia masih merasa kesakitan. ¡° Kau menolak ku lagi?¡± belum menguap kesal, sudah semakin kesal, karena melihat tangannya di tepis. ¡° Ia! Ini sakit tahu!¡± mengusap keningnya di depan wajah Saga Daniah tidak berfikir jernis karena masih fokus pada keningnya. Dia bahkan menjawab seenaknya apa yang di katakan Saga. Ini sentilan ke dua kalinya Daniah merasa sangat kesakitan, waktu pertama dia bahkan tidak berani mengusapnya. Sekarang sengaja di depan Saga ia usap keningnya, menunjukan kalau dia kesakitan. ¡° Kau akan berhenti menyukaiku?¡± menarik tangan Daniah agar mendekat padanya. Benar, sentilan ini bukan akhir masalah. Dia kan manusia paling sensitif dan pendendam di muka bumi ini. Tidak mungkin hanya akan selesai dengan satu sentilan di keningku. ¡° Maafkan aku.¡± Kembali duduk bersimpun di samping Saga melupakan rasa sakitnya. ¡° Tuan Saga.¡± Daniah memakai panggilan yang dulu dia pakai secara formal memangil Saga. ¡° Maafkan saya yang minum pil kontrasepsi. Maafkan saya. Hukumlah saya, tapi saya mohon lepaskan keluarga saya. Ini semua kesalahan saya. Saya mohon belas kasih anda tuan.¡± Saga meletakan tangannya di leher Daniah. ¡° Kau hebat sekali ya. Padahal kau sendiri belum tentu selamat, tapi masih memikirkan orang lain.¡± Hanya mengunakan satu tangan untuk mencengkram leher sudah membuat Daniah tersengal dan terbatuk. Dia melepaskan tangannya. Saga kembali menyandarkan tubuhnya menarik kakinya dan membiarkan Daniah mengatur nafas. Melihat gadis itu terbatuk sambil mengusap leher dan dadanya. ¡° Nyalimu besar sekali Daniah.¡± ¡° Maafkan aku tuan, maafkan aku. Aku salah, aku mohon lepaskan keluargaku, aku akan menanggung semua kesalahan pil kontrasepsi itu. Silahkan hukum aku.¡± Tangan Daniah sudah terkatup di depan dadanya. Mengusap-usapkan kedua tangannya seperti anak-anak yang memohon pada orang tua mereka setelah melakukan kesalahan besar. ¡° Anda bisa menceraikan saya kapan pun anda mau. Saya akan pergi tanpa membawa apa pun, hanya pakaian saya pribadi yang akan saya bawa. Saya akan pergi dan mendoakan kebahagiaan untuk anda.¡± Ntah kenapa cuma ini yang bisa di pikirkan Daniah. ¡° Saya akan berhenti dan menutup hati saya rapat dan melupakan anda.¡± Dia sudah melamar Helen pasti siang tadi, hanya tinggal menunggu waktu saja kan. Mendengar apa yang di ucapkan Daniah Saga tertawa, membuat Daniah menciut dan mengerutkan wajahnya. Dia mundur perlahan. Ingin menyelamatkan diri, karena merasa aura mengancam dari pandangan Saga. Tapi terlambat tangan Saga sudah menyentuh bahunya, mendorongnya kuat sampai dia terjerembah. Tangan Daniah meraba-raba mencari apapun yang bisa dia pakai sebagai perlindungan. Tidak ada yang bisa ia raih. Saga sudah menjatuhkan semua bantal dan selimut ke lantai. Dia hanya bisa mencengkram seprei tempat tidur. ¡° Apa kau sudah selesai mengarang novelnya? Panggil aku sayang!¡± Berteriak memenuhi langit-langit kamar. Sekarang Saga sudah duduk bertumpu pada lututnya di atas tubuh Daniah. ¡° Panggil aku sayang!¡± ¡° Ba.. baik sayang.¡± Dia mau apa di atasku! Mau menindihku dengan tubuh besarnya! ¡° Hei Daniah istriku tersayang, kau suka panggilan itu?¡± Apa! kau masih bisa bercanda di situasi mematikan seperti ini. Tergelincir sedikit saja lutut mu, ngeek!! Aku akan mati tergencet tahu! ¡° Ia, ia, aku senang. Senang sekali. Saking senangnya aku ingin terbang ke langit tinggi dan pergi bebas ke angkasa.¡± ¡° Apa! Pergi bebas? Kau bilang mau kabur?¡± ¡° Tidak, tidak sayang, itu hanya kata kiasan.¡± Kenapa kau bodoh sekali si, itu cuma kata kiasan basa basi. ¡°Dengarkan ini dengan telingamu dan masukan dalam hati mu.¡± Menunjuk dada daniah dengan telunjuknya. ¡° Aku adalah aturan yang harus kau patuhi.¡± Daniah mengangukan kepala dalam posisinya berbaring. ¡° Kalau aku bilang ia, maka artinya?¡± ¡° Ia, artinya ia.¡± ¡° Benar, jadi dengarkan ini. Mulai saat ini aku melarangmu bicara tentang Helen.¡± Saga menyusuri rambut Daniah dan sampai ketelinga. Memainkan daun telinga yang sering ia lakukan seperti biasanya ¡° Aku akan melipatkan hukumanmu dua kali lipat kalau kau menyebut namanya.¡± ¡° Ia.¡± Tapi, kau akan menikah dengannya kan? ¡° Aku melarangmu bicara tentang cerai tidak aku melarangmu walaupun kau hanya memikirkannya.¡± ¡° Kenapa?¡± Saga meletakan tangannya di leher Daniah lagi. Mengingatkan pada gadis itu apa yang baru saja terjadi saat dia tersengal tadi. ¡° Apa aku menyuruhmu bertanya?¡± ¡° Maaf. Ia.¡± Tapi toh kau akan menceraikan aku kan? ¡° Dan kalau kau sampai berhenti mencintaiku, akan kuhabisi keluargamu mulai dari adikmu. Dengar?¡± ¡° Ia.¡± Saga menjatuhkan tubuh di samping Daniah, mengangkat kakinya memeluk Daniah. ¡° Cintai aku dengan semua perasaan mu. Tambahkan setiap hari. Aku mau kadar cintamu bertambah setiap hari.¡± Memberi kecupan keras di leher yang menyisakan noda merah. ¡° Aku tidak akan memaafkanmu kalau kau berani menutup hatimu lagi.¡± ¡°Tapi, Helen.¡± ¡° Aaaaa, sudah kubilang jangan menyebut namanya lagi kan!¡± ¡° Ia, ia maaf.¡± Daniah sudah memiringkan tubuh, membenamkan wajah di dada Saga. Melingkarkan tangannya memeluk pinggang suaminya. Dan saga mencium kepala Daniah berulang. Apa ini artinya amarahnya sudah hilang? Aku sudah bisa bernafas lega kan? Persetan dengan lamarannya pada Helen. Terserah dia akan mengusirku kapan, aku harusnya cukup senang selamat malam ini kan. ¡° Tapi, aku belum mengampunimu dengan pil kontasepsi itu.¡± Aku tahu itu, kau iblis pendendam! ¡° Aku tidak akan menghukum keluargamu tentang pil kontrasepsi itu. Aku hanya akan menghukummu.¡± Apa aku harus senang dan berterimakasih sekarang? Saga menarik kedua tangan Daniah yang melingkar di bahunya ke atas kepala gadis itu. Mengengamnya erat hanya dengan satu tangan. Sementara tangan yang satu menyentuh dagu, lalu ia membuka mulutnya dan mulai mencium daniah. Makin dalam dan dalam. Tubuh mereka mengeliat. Melepaskan semua emosi yang mereka rasakan. ¡° Hemm. Hemm.¡± Bukankah artinya aku sudah dimaafkan kalau seperti ini. Daniah terus bergumam dalam pikirannya. Bibir Saga sudah turun ke leher dan bagian depan Daniah, dia terhenti setelah meninggalkan bekas merah di bagian dada. Membelai lembut pipi gadis itu. ¡° Berapa pil yang sudah kau telan?¡± bertanya sambil menyeringai, menyadarkan Daniah kalau suaminya tentu tidak akan melepaskan masalah pil itu semudah ini. ¡° Aku tidak tahu, aku tidak ingat.¡± Merasa malu, dia bahkan tidak mau menghitung berapa jumlah pil yang dia minum. ¡° Sebaiknya kau ingat-ingat, karena sejumlah itulah kau harus membayarnya setiap malam.¡± Apa! Apa yang dia bilang. ¡° Sa, sayang. Aku.¡± ¡° Kalau kau belum melunasi hutangmu jangan harap kau bisa mendapatkan kebebasan mu.¡± ¡° Sayang, kamu tidak seriuskan? Aku bahkan tidak ingat harus menghitung dari mana?¡± Tangan Saga sudah aktif bergerak, menyentuh bagian sensitif Daniah. Dia mengaangkat wajahnya. ¡° akan kusuruh pak Mun membantumu menghitung!¡± ¡° Hah! Aku ingat, aku ingat harus menghitung dari mana.¡± Sudah gila apa sampai membiarkan Pak Mun dan dirinya bekerja menghitung hari-hari dia minum pil kontrasepsi. Saga tergelak, mencium kembali bibir istrinya. ¡° Hari ini tidak di hitung dalam hutang mu ya.¡± Apa! kenapa kau licik sekali. Apakah Daniah harus senang karena malam ini terlewati tanpa pertumpahan darah, ataukah dia akan semakin dalam masuk dalam lubang yang tidak bisa ia naiki lagi. Dia terjebak semakin dalam dalam perasaannya. Dalam cintanya pada tuan saga. Padahal ia tahu, mungkin ke depannya semua tidak akan mudah. Tengah malam sudah berlalu, tapi mereka belum selesai dengan urusannya. BERSAMBUNG Chapter 115 Mengerti semuanya Sudah lewat tengah malam. Dia baru selesai dengan urusannya. Di sampingnya Daniah langsung jatuh tertidur dan tidak berdaya. Saga mengacak-acak rambut istrinya yang memang sudah terburai ke mana-mana. Dia tergelak menyusuri bibir mungil dan tipis itu. Di ketuk-ketukan jemarinya di pipi istrinya. Lalu menyelipkan kembali rambut Daniah ke belakang telinganya. ¡° Terimakasih sudah mencintaiku.¡± Satu kecupan lembut di kepala Daniah. Lalu dia menarik selimut sampai leher. Melindungi istrinya dari udara yang yang akan menciumi tubuh polosnya. Lalu setelah menyelesaikan pekerjaan yang menurutnya luar biasa itu, dia turun dari tempat tidur. Memakai lagi bajunya yang terserak di lantai. Jegrek! Pintu terbuka. Saga menoleh untuk kedua kalinya, melihat istrinya yang sudah terlelap kelelahan di tempat tidur. Dia tersenyum senang. Saat memutar kepalanya mau keluar. Dia terlonjak kaget saat keluar dari kamar setelah membuka pintu. ¡° Kau di sini?¡± Han bangun dari duduk tepat di depan pintu, begitu pula pak Mun yang mengangukan kepala. Gurat kuatir masih tergambar jelas di wajahnya. Ya, semakin bertambaah usianya memang banyak yang ia harus kuatirkan. Apalagi kalau berurusan dengan tuan dan nona mudanya. ¡° Kalian tidak tidur?¡± bertanya heran. Memang siapa yang menyuruh kalian berjaga semalaman begini, gumam Saga bingung. Apa aku terlihat segila itu tadi waktu masuk kamar, sampai pak Mun sekuatir itu. ¡° Apa anda butuh sesuatu tuan muda?¡± ¡° Aku hanya ingin minum air dingin.¡± Sejak kapan kedua orang ini duduk di depan kamar. Apa mereka mendengar semua? Sial, tidak mungkin mereka tidak mendengarkan. Saga mengeram jengkel sendiri. ¡° Kau menyuruhnya datang?¡± bertanya pada Pak Mun menunjuk Han dengan matanya. ¡° Dokter Harun yang menghubungi saya tuan muda.¡± Han meraih pegangan pintu yang belum tertutup, dia melongok kan kepalanya ke dalam kamar. Memastikan semuanya baik-baik saja. Saha menendang kaki Han tiba-tiba, membuatnya refleks mengaduh karena terkejut. ¡° Jangan melihat istriku! Dia sedang tidak pakai baju bodoh!¡± Han mengeryit, mengibaskan kakinya, bahkan Daniah hanya terlihat ujung kepalanya saja. Rambutnya saja yang terlihat nongol di ujung selimut. Tidak lebih. Mau dia pakai baju atau tidak selimut tebal itu juga menghalangi pandangan Han. Dan dia masih manusia normal yang belum bisa menembus benda padat pandangannya. ¡° Saya hanya ingin memastikan kalau nona masih hidup tuan muda. Lagi pula hanya rambutnya yang terlihat dari sini.¡± bicara santai sambil menutup pintu tanpa suara. Merasa tenang saat melihat Daniah terlelap di tempat tidur, bukan sedang menangis atau merintih di pojokan kamar. Ntah apapun yang dipikirkannya tadi sepertinya hanya ketakutan tak beralasan. Seharusnya aku tahu itu kan, perasaan tuan muda pada nona bukanlah main-main. Dia tidak mungkin menyakiti wanita yang dia cintai. ¡° Kurang ajar!¡± menendang kaki Han lagi kali ini lebih keras. ¡° Memang apa yang di katakan Harun sialan itu.¡± Berjalan meninggalkan kamar, dia menoleh pada pak Mun yang masih mengikutinya. ¡°Pak Mun, pergilah tidur, kau butuh istirahat, Han yang akan menemaniku.¡± Han mengibaskan kakinya, tendangan yang kedua cukup menyakitkan sepertinya. ¡° Baik tuan muda, anda juga segera istirahat jika sudah selesai.¡± Mengangukan kepala lalu berlalu menuju tangga. Ia menguap setelah jauh berjalan. Sepertinya dia juga lelah. ¡° Jangan melihat istriku kalau dia sedang tidur.¡± Saga mendorong tubuh Han di depannya. ¡° Cuma aku yang boleh melihatnya.¡± ¡° Baik, baik tuan muda. Maafkan saya sudah mengintip tadi.¡± Cih, memang apa yang bisa kulihat dari ujung kepalanya nona Daniah. Han dan Saga berjalan ke sofa di dekat area tangga. Biasanya jarang yang menduduki kursi ini. Saga menjatuhkan dirinya, langsung menyandarkan kepala, dan memijit punggung lehernya. Sepertinya dia kehabisan energi juga. ¡° Ambilkan aku air dingin.¡± ¡° Baik, tunggu sebentar.¡± Han meninggalkan Saga, berjalan cepat menuruni tangga. Menuju kulkas yang ada di dapur. Mengambil sebotol air. Tidak butuh lama ia sudah muncul lagi. ¡° Silahkan tuan muda.¡± ¡° Duduklah!¡± Han duduk di sofa, di samping kanan Saga. Menerima botol yang hampir separuh di minum lalu meletakannya lagi di atas meja. Melihat tuan mudanya. Mereka-reka semua yang terjadi di dalam kamar tadi. ¡° Apa kau langsung berlari kemari setelah Harun menghubungi mu.¡± Ya, itu pasti. Han langsung berlari setelah mendapat telfon dari dokter Harun. Sepanjang jalan dia mengutuki dirinya. Ketidak becusannya. Bagaimana hal seperti ini bisa lepas dari perkiraannya. Dia tidak pernah berfikir kalau Daniah sampai seberani ini melakukan hal besar seperti minum alat kontrasepsi pencegah kehamiilan. Walaupun di awal-awal Saga memang tidak pernah membicarakaan tentang anak, tapi dia tidak menduga kalau Daniah sudah mengantisipasi semuanya. Sepertinya aku sudah meremehkan keberanian anda nona. ¡° Maafkan saya tidak memprediksi kemungkinan tentang pil kontrasepsi ini.¡± Mengakui kesalahan, yang sebenarnya bukan kesalahannya juga. Jelas-jelas orang yang tidur setiap malam di sampingnya saja tidak tahu. Apalagi dirinya. ¡° Cih, banyak hal yang luput dari pandanganmu sekarang. Apa kau sudah kehilangan ketajamanmu.¡± Mengejek, padahal tanpa di bilangpun harga diri sekertaris Han sudah terluka. Dia sudah kecolongan satu langkah. ¡° Maafkan saya tuan muda.¡± ¡° Sudahlah! Toh ini bukan salahmu.¡± Han memandang Saga sebentar, ragu mau bertanya. Tapi dia harus bertanya jugakan, untuk membuat rencana ke depannya. Bagaimana hubungan Saga dan Daniah. ¡° Anda tidak memukul nona kan tuan muda?¡± kuatir. Sebenarnya tadi dia tidak mendengar Daniah berteriak atau suara pukulan dari dalam kamar. Tapi dia hanya ingin memastikan. ¡° Kau gila ya sampai menanyakan hal seperti itu.¡± Gusar menjawab. ¡° Memang aku pernah memukul perempuan, kau yang suka main pukul kan?¡± berteriak mengebu-gebu. Ya, aku cuma menyentil keningnya si, sampai dia mau menangis. ¡° Maafkan saya tuan muda yang tidak memahami anda.¡± Merasa bersalah. Tapi, cinta selalu membuat orang bodoh dan gilakan, siapa tahu saking emosinya anda memukul nona kan. Saya kan hanya ingin memastikan. ¡° Tadi, dia mengatakan semuanya padaku.¡± Mendesah, mengingat kembali semua apa yang di katakan Daniah. Tentang alur cerita hidupnya, atau tentang skenario dirinya dan helen. Saga tergelak. ¡° kau suruh saja dia menulis novel nanti.¡± Han baru kali ini susah menangkap apa yang coba di sampaikan Saga. ¡° Dia bahkan tidak menonton seluruh acara peresmian, dia berfikir aku melamar Helen di sana.¡± Apa! tunggu Nona Daniah tidak akan sebodoh itukan. ¡° Apa yang kau pikirkan? Kau sedang mengejek istriku kan?¡± memukul bahu Han yang terlihat mengeryitkan wajah. ¡° kau sedang berkir dia bodoh kan?¡± ¡° Haha, mana mungkin saya seberani itu tuan muda berfikir tentang nona.¡± Padahal mah iya, itu yang dia pikirkan. ¡° Dia memang sebodoh yang kau pikirkan si.¡± Kedua orang itu tertawa senang. Seperti menemukan satu lawakan yang membuat keduanya sepakat. ¡° Bagaimana dia sampai sebodoh itu berfikir aku melamar Helen di peresmian danau hijau ya. Benar kan? suruh saja dia buat novel.¡± Saga tertawa lagi. ¡° tapi aku senang dia sebodoh itu, kalau tidak, mungkin hubungan kami tidak akan meningkat sampai tahap ini.¡± Kedua orang itu sepertinya sangat senang sekali. Mereka masih bicara kemana-mana, sampai Saga menguap dan menutup mulutnya dengan tangan. ¡° Anda pasti sudah mengantuk kan, sebaiknya anda kembali ke kamar.¡± ¡° Hemm, tidak usah pulang, tidurlah di kamar tamu di bawah, sudah hampir pagi juga.¡± Saga meninggalkan tempat duduknya di ikuti Han. Sesampainya di depan pintu, baru saja memegang handle pintu dia berbalik lagi. ¡° Dimana ibu sekarang?¡± sepertinya sudah cukup dia menghilang, amarahnya pun sudah menguap. Sudah saatnya ibunya kembali. ¡° Siang tadi nyonya baru kembali dari negara XX, sekarang sedang menginap di hotel.¡± ¡° Huh! Sepertinya sudah cukup dia bersenang-senang. Suruh dia kembali menemuiku besok.¡± Pintu terbuka. Saga sudah masuk. ¡° Baik tuan muda. Setiap hari nyonya menghubungi dan menanyakan apa kemarahan anda sudah reda dia pasti senang bertemu anda kembali.¡± ¡° Baiklah, tidurlah, jangan lupa katakan padanya, untuk membawa hadiah spesial untuk Daniah ¡° ¡° Baik.¡± Pintu tertutup saat Han sudah mengangukan kepalanya. Dia meninggalkan pintu kamar, menguap juga dua kali saat menuruni tangga. Menuju kamar tamu di lantai bawah. Sesampainya di kamar dia tidak langsung tidur. Duduk di sofa di depan tempat tidur. Mengambil pena dan juga kertas. Pil kontrasepsi, bagaimana aku bisa seceroboh ini. Tidak, bukan itu, tapi aku tidak percaya anda akan seberani ini nona. Wahh, wahh, apa perlu aku mendaftarkanmu ke musium rekor, pasti banyak gelar yang bisa kau dapat. Gadis paling berani yang menantang tuan Saga. Dan parahnya bagaimana sampai Tuan Saga pun memaafkan anda dengan mudah begini. Mungkin gelar gadis mengemaskan yang bisa menaklukan hati tuan Saga juga pastas untuk mu. Han menyudahi pikiran ngawurnya. Sekarang yang harus di lakukan kedepannya adalah konsultasi ke dokter kandungan dan mengawasinya 24 jam. Merepotkan sekali anda nona. Han mengetikan pesan di hpnya ¡° Periksa rekaman mobil nona Daniah.¡± Pagi sebentar lagi datang, Han menjatuhkan tubuhnya dan menarik selimut. Masih sangat panjang saat untuknya memikirkan dirinya sendiri. Di tempat lain, di waktu yang hampir bersamaan dengan pertengkaran Saga dan Daniah. Hari ini Helen tidak sanggup melangkahkan kaki pulang ke rumah atau kembali ke galerynya. Nyawanya seperti terburai menjadi serpihan, bertebaran satu persatu meninggalkanya. Dia kehilangan tempatnya untuk menangis. sampai akhirnya ada yang mengangkat telfonnya dan mau membuka pintu untuknya di tengah malam yang sudah lewat ini. ¡° Ibu.¡± Helen menangis di bibir pintu yang terbuka. Wanita yang membukakan pintu terkejut dengan penampilan Helen yang sangat berantakan. ¡° Kenapa denganmu. Masuklah.¡± Dia menarik tangan Helen, mendudukannya di sofa, lalu mengambilkan segelas air. ¡° Helen ada apa denganmu?¡± ¡° Aku ingin mati saja bu, aku mau mati saja, sekarang sudah tidak ada harapan yang tersisa dengan Saga lagi.¡± Ibu mendesah, mendengar nama anaknya di sebut. Hari ini pun dia masih belum mendapat kesempatan untuk pulang. Sudah hampir dua minggu sejak kejadian ulang tahunnya. Dia butuh waktu selama ini agar suasana kembali normal lagi. Dan selama waktu ini dia menyadari siapa Daniah, bagaimana posisi gadis itu di hati Saga. Dia tidak akan berani melakukan apapun lagi perihal Helen. Ibu sudah mulai menyadari siapa wanita berharga yang akan di bela Saga. Dan walaupun dia tidak rela, tapi ibu menyadari berperang dengan Saga hanya dirinyalah yang akan kalah. Bahkan sebelum dia memulai perang juga. ¡° Helen.¡± Ibu menepuk punggung gadis itu. ¡° Aku akan selalu menyukai mu. Tapi maaf, ibu tidak bisa mendukungmu lagi. Tidak ada tempat lagi tersisa di hati Saga untuk mu.¡± ¡° Ibu!¡± Helen berteriak memukul punggung wanita yang memeluknya. ¡° Jangan lakukan ini bu, hanya ibu yang bisa menolongku.¡± Wanita itu hanya terdiam, dia hanya mengusap pungguh Helen dan membiarkannya menangis lama. Bahkan sampai gadis itu terlelap kelelahan. Dia tahu, walaupun dia bukan ibu yang memahami anaknya. tapi kalau Saga sudah marah dan sampai menyuruhnya pergi menghilang untuk waktu yang lama. sesuatu yang ia bela, itu adalah sesuatu yang sangat penting baginya. Daniah adalah hal paling berharga yang ia lindungi sekarang. untuk itulah ibu tahu harus menyerah. Dia melihat satu koper besar di sudut ruangan. semua itu adalah barang yang dia beli khusus untuk Daniah. Dia harus melakukannya walaupun belum rela. Bersambung Chapter 116 Masa Percobaan Matahari sudah terang di luar sana. Semua orang di dalam rumah sudah beraktifitas sesuai dengan tugas masing-masing. Jen dan Sofi memilih kabur bahkan sebelum mereka sarapaan. Ya, mereka mendengar babak pertama teriakan Saga pada kakak ipar mereka. Karena tidak tahu bagaimana akhir peperangan mereka memilih menyelamatkan diri dari pada harus terkena serpihan ledakan. Padahal saat keluar dari kamar mereka masih baik-baik saja pikir mereka. Jen dan Sofi bertanya ke sana kemari, tapi semua bungkam tentang ada kejadian apa semalam. Pak Mun tidak mau bicara hanya bilang tuan muda dan nona baik-baik saja, sedang ada di kamar. Saat mereka melihat Sekertaris Han duduk dengan sarapannya di meja makan sambil membaca dokumen mereka memberanikan diri mendekat. ¡° Benar kalian mau tahu? Orang yang sok mau tahu biasanya mati duluan lho.¡± Mendengar itu mereka langsung kabur meninggalkan meja makan tanpa menyentuh sarapan. Memaki sekertaris Han ketika sudah sampai di mobil masing-masing. Udara segar masuk ke dalam kamar melalui sirkulasi udara, sinar matahaaripun jatuh ke dalam ruangan. Namun Saga sengaja menutup tirai untuk melindungi istrinya. Pak Mun baru saja meletakan makanan ketika Saga muncul dari kamar mandi. Sudah memakai setelan jasnya. Rambut tersisir rapi dan semua sudah sempurna. Dia memang sangat tampan di pagi hari. Apalagi saat suasana hatinya sedang sangat baik. ¡° Sarapan anda tuan muda.¡± ¡° Hemm. Kemarilah!¡± Pak Mun mendekat ke sofa yang di duduki Saga. Dia mengeser piring agar lebih dekat, dan mudah di jangkau. ¡° Aku mau bertemu dengan gadis itu, pelayan di rumah belakang yang berteman dengan istriku.¡± ¡° Baik tuan muda. Akan saya panggil kan.¡± ¡° Tunggulah di bawah, aku akan turun setelah Daniah bangun.¡± ¡° Baik tuan muda. Silahkan menikmati sarapan anda.¡± ¡° hemm.¡± Pak Mun pamit lalu berjalan keluar. Sambil beralih menatap ke tempat tidur Saga meraih gelas dan meminumnya hampir separu. Lalu mengambil roti isi di piring. Memakannya. Huh! Enak sekali dia tidur, apa dia sedang bermimpi sekarang. Terdengar gumaman-gumaman dari bawah selimut. Seseorang mengeliat, lalu selang tidak lama dia sudah duduk. Menarik selimut menutupi dirinya sampai ke bahu. Karena dia sadar tidak ada apapun yang menempel di tubuhnya sekarang. Dia mengeliat, menghilangkan rasa pegal. ¡° Kau sudah bangun?¡± suara dari sofa memecah konsentrasi Daniah mengumpulkan nyawa yang berterbangan saat dia tidur. ¡° Eh, ia sayang.¡± Menarik selimut melindungi diri. Ingatan semalam kembali berlarian, membuatnya waspada. Dia mengintip melalui ekor matanya bagaimana suasana hati suaminya. lalu sadar saat melihat piring di depan Saga. Menoleh pada jendela. Matahari sudah terang di luar sana. Jam berapa ini? Bagaimana aku bisa bangun setelahnya. Dia bahkan sudah sarapan. Aku pasti sudah gila. ¡° Maafkan aku sayang, aku kesiangan. Kamu bahkan sudah sarapan ya.¡± Mencari-cari di mana baju tidurnya berada. Tidak di temukan di manapun matanya berkeliling. Tidak mungkinkan dia lari ke kamar mandi dengan tubuh polos ini. Aku kan bisa menyeret selimut ini, ia bawa saja masuk ke kamar mandi. ¡° Sudahlah! Kembalilah tidur, kau bisa tidur lagi sampai kapan pun kau mau.¡± ¡° Hehe, aku mau bekerja sayang. Hari ini banyak barang yang akan masuk.¡± Saga bangun dari duduk, dia sudah menyelesaikan sarapannya. Mengambil dasi di atas meja. ¡° Bekerja? Memang kau mau bekerja kemana? Lupa yang aku katakan semalam.¡± Tersenyum tipis, sambil melihat dirinya dalam pantulan kaca. Berfikir, berfikir, Daniah berusaha berfikir keras. ¡° Kau sedang dalam masa percobaan hukuman.¡± Memberi informasi, karena sepertinya istrinya lambat berfikir. Aaaaa, ia, dia melarang ku ke luar rumah. Sial. ¡° Kalau kau berani keluar rumah tanpa izin dariku, bukan kau saja yang akan menanggung akibatnya. Pelayan dan penjaga yang bertugas hari ini akan ikut bertanggung jawab juga.¡± ¡° apa?¡± Memang dia mau melakukan apa. ¡° Akan kupecat mereka semua tanpa peringatan.¡± ¡° Sayang, kamu tidak bisa memecat mereka senaknya.¡± Kehilangan kata-kata karena sikap seenaknya Saga. ¡°Kenapa? aku yang mengaji mereka terserah aku mau melakukan apa.¡± Haha, ya, ya, kau rajanyaa yang mulia. Hamba mohon ampun sudah menjawab anda Daniah hanya bisa tersenyum kecut di atas tempat tidur. ¡° Kau tidak perlu mengancamku juga, aku tidak akan berani keluar rumah.¡± Gumam-gumam tapi dengan suara jelas. Biar di dengar yang mulia raja. Saga tersenyum tipis. ¡° Baguslah kau tahu, hati-hati dengan yang kau lakukan, karena orang lain juga akan ikut menanggungnya.¡± ¡° Baik.¡± Hanya bisa pasrah. Saga selesai dengan Dasinya, dia mengambil hp milik Daniah di atas meja. Melemparkan pada daniah tepat mengenai selimutnya. Membuat selimut itu merosot dari bahunya. Menunjukan tubuh polos Daniah dengan banyak sekali tanda kepemilikan di sana. Bertebaran di seluruh tubuh ¡° Wahhh, wahhh, kau sedang mengodaku sekarang?¡± Daniah kaget melihat tubuhnya sendiri, dia menarik selimut. Mengulungnya, mengulungnya sampai ke leher. ¡° Kenapa? Mau mencicil hutangmu pagi ini.¡± Bertanya sambil tergelak nakal. ¡° Tidak sayang, tidak, aku baru mau menghitung utangku, belum mau melunasinya.¡± Semakin rapat dia menggulung selimutnya. Bahkan sampai melilit ke leher. Saga mendekati tempat tidur, membuat gadis itu meringsek mundur ketakutan. Jangan! Jangan lagi! Aku mohon. ¡° Apa yang kau lakukan, kau bisa susah bernafas dan mencekik lehermu sendiri.¡± Melepaskan gulungan selimut dari leher Daniah. ¡° Kenapa kamu mengemaskan begini si, aku jadi ingin memakan mu kan.¡± Merapikan rambut Daniah yang berantakan. Hah! Dia bilang apa? itu, kata-kata itu dia tujukan padakukan. ¡° Istirahatlah kalau kau masih lelah. Aku akan menyuruh pak Mun mengirim pelayan untuk membantumu. Pindah ke kamar nanti setelah sarapan.¡± ¡° Ba, baik.¡± Daniah kehilangan pikiran sehatnya, pikirannya sedang binggung sekarang. Mencerna sikap Saga dengan nalar manusianya. ¡° Aku berangkat ya, kemarilah, berikan aku ciuman selamat pagi.¡± Saga menyentuh pipinya. Masih dalam keadaan belum sepenuhnya sadar dengan situasi yang terjadi, Daniah beringsut dari tempatnyaa duduk. Masih dengan selimut agar menutupi tubuh polosnya. ¡° Selamat pagi sayang, selamat bekerja.¡± Ciuman di seluruh bagian wajah, dan kecupan tiga kali di bibir. Ini kami sedang main drama apa sih? ¡° Istrirahatlah!¡± ¡° Ba, baik.¡± Saga teringat sesuatu dengan hp yang dia lemparkan tadi. Dia berbalik. Membuat Daniah kembali terkejut dan menarik selimutnya lagi. ¡° Tontonlah peremian danau hijau di chanel resmi antarna grup, tonton sampai selesai!¡± ¡° Eh, ia, baik.¡± ¡° Biar otakmu pintar sedikit.¡± Saga tergelak meninggalkan Daniah di atas tempat tidur yang masih tidak tahu apa yang baru saja dia alami tadi. Tolong, ada yang bisa menjelaskan situasi apa ini, kenapa dengannya. Semalam dia sudah seperti banjir besar yang akan melumatku hidup-hidup. Tapi pagi ini dia sudah seperti pemain utama dalam drama romantis. Aku tidak sedang menunggu hukuman matikan? Jadi aku dibaik-baikin dulu. Saga menuruni tangga, bahkan terdengar siulan kecil dan dendangan dari bibirnya. Dia berjalan riang seperti pengantin baru yang baru keluar dari kamar pengantinnya. ¡° Apa itu dia?¡± Saga mendapati seseorang sedang berdiri di dekat sofa ruang tv. Dia berdiri sambil menundukan kepalanya. Pak Mun di sebelahnya mempersilahkan Saga duduk. ¡° Ia tuan muda. Dia Maya.¡± Saga mendekat, lalu duduk di sofa. Bersamaan sekertaris Han muncul dari ruang kerja, ikut berkumpul. Auranya membuat suasana semakin tegang saja. ¡° Perkenalkan diri mu!¡± Pak Mun angkat bicara. Maya terlihat sangat gelisah, ini kali pertamaanya berhadapan langsung dengan majikan yang sudah setahun ini menjadi tempatnya bekerja. Dia baru beberapa kali melihat wajah tuan muda. Tapi itupun tidak sedekat ini. Ia terlihat gemetar mencengkram tangannya. ¡° Selamat pagi tuan muda, saya Maya. Saya bekerja di rumaah belakang, bertugas di bagian pakaian.¡± Apa aku membuat kesalahan. Kenapa sampai aku bisa berdiri di sini. ¡° Kenapa takut, aku memanggil mu bukan karena kau melakukan kesalahan.¡± Mendengar itu membuat Maya bukannya semakin tenang, tapi malah semakin gelisah. Hanya satu alasan kenapa sampai dia di panggil, pasti karena nona. Semalam telah terjadi sesuatu di rumah ini. Walaupun tidak ada pelayan yang berani membicarakannya. Tapi Maya tahu ada sesuatu yang terjadi. ¡° Aku hanya ingin bertemu dengan teman istriku dan berterimakasih padanya.¡± Maya mendongak sebentar, melihat ke arah Saga. Laki-laki itu tersenyum. ¡° Terimakasih sudah menjadi teman di saat-saat sulit istriku datang kerumah ini.¡± Kenapa dia masih pucat pasi begitu si, memang aku semenakutkan itu apa. Saga mendongakan kepalanya, melihat ke belakangnya. Han sedang berdiri tidak bergeming di belakangnya. Dengan wajah datar namun pandangannya menatap lekat gadis itu. ¡° Han, kau menakutinya tahu, berhenti melihatnya begitu. ¡° ¡° Saya tidak sedang menatapnya tuan muda. Saya sedang menunggu anda.¡± Alasan apa itu, jelas-jelas aku lihat kau memelototinya. ¡° Jangan hiraukan dia, mendekatlah.¡± Maya belum bergerak. ¡° Apa kau tidak dengar apa yang di katakan tuan muda.¡± Han ikut bicara, geram karena Maya belum melangkah sedikitpun. Ucapan Han semakin membuat Maya menciut. ¡° Hei, kenapa kau berteriak padanya. Sudah kubilang kau menakutinya. Tutup mulut mu Han, mau kusuruh kau pergi.¡± ¡° Maaf tuan muda.¡± Jatuh cinta pada gadis ini baru tau rasa kau nanti, pikiran liar Saga berlarian. ¡° Maafkan saya tuan muda.¡± Maya berjalan mendekat. Saat ini dia benar-benar bisa melihat wajah tuan Saga dengan sangat jelas. Bukan hanya sekedar di tv atau di internet. Dia memang terlihat sangat sempurna dan tampan. Gumam Maya dalam hatinya penuh kekaguman. Tapi buru-buru dia menundukan matanya lagi saat matanya bertemu dengan sekertaris Han di belakangnya. ¡° Apa yang biasanya dibicarakan istriku?¡± ¡° Nona banyak cerita tentang pekerjaannya, dan adiknya.¡± menjawab dengan cepat. ¡° Dia tidak membicarakan ku.¡± Hah! Pertanyaan apa ini? Aku harus menjawab apa ini. ¡° Nona jarang bercerita tentang kehidupan pribadinya tuan muda. Maaf.¡± Seperti yang ku duga. Di rumah ini tidak ada yang tau dia minum pil kontrasepsi. Dia pasti menyimpannya rapat seperti menyembunyikan aibnya. Baiklah, karena kau anak yang baik, aku akan membiarkan kalian tetap berteman. ¡° Baiklah. Sepertinya kau juga tidak tahu apa-apa. Pak Mun pindah tugas kan dia untuk melayani Daniah mulai hari.¡± Maya mendongak terkejut, yang baru dia dengar tidak salahkan. ¡° Baik tuan muda.¡± Pak Mun menjawab. ¡° Tugasmu hanya satu, pastikan Daniah tidak melakukan sesuatu yang bisa membuatku kesal. Aku akan melipat gandakan gajimu jadi bekerjalah dengan benar.¡± Duarr, tugas macam apa itu. Lagi-lagi Saga berfikir semua orang seperti sekertaris Han, yang tahu menafsirkan walaupun hanya dengan mendengar desahannya saja. Maya kebingungan dengan tanggung jawabnya apa, tapi dia tidak berani bertanya. Dia hanya perlu menjawab baik kan. ¡° Ba, baik tuan muda.¡± Semoga ada yang bisa menjelaskan maksud perintah tuan muda nanti. BERSAMBUNG Chapter 117 Mengeledah Toko Di dalam kamar setelah kepergian Saga yang penuh drama. Daniah menghela nafas panjang. Menarik selimutnya lagi. Dia mengambil bantal melatakan di balik punggungnya untuk bersender. Dia penasaran ada apa dengan peresmian danau hijau. Dia memang tidak menonton sampai selesai, karena dia sudah tahu akhir apa yang akan dia lihat. Dan dia tidak punya keberanian untuk melihat tontonan yang akan di lakukan Saga untuk helen. Diapun tidak bertanya pada Jen atau Sofi, sepanjang makan malam kemarin dia memang hanya membisu. Kedua adik iparnya tidak berani bertanya, apalagi ada pak Mun di dekat mereka. ¡° Apa ini? Jadi dia tidak melamar Helen di peresmian kemarin?¡± Daniah gemetar menjatuhkan hp yang dia pegang. ¡° Dia tidak menyebut Helen sama sekali dalam pidatonya, tidak mengajaknya juga naik podium. Dia malah bilang mau mengajakku melihat matahari terbit terbit danau hijau.¡± Dalam siaran live di tv nasional. Daniah tidak bisa mempercayai ini, walaupun namanya tidak di sebut tapi jelas dia mengatakan istriku, begitukan. Jadi itu artinya aku kan? Jadi ini artinya apa? Apa dia benar-benar suka padaku. Hei? Tidak mungkinkan Tuan Saga menyukaiku, Hei? Ketukan pintu membuat Daniah terkejut dengan pikirannya sendiri. Di satu sisi dia merasa senang. Namun di lain pihak dia merasa takut jika ternyata dia mengambil kesimpulan yang salah. Menyalah artikan perasaan Saga. Dia menarik selimutnya. Menjawab suara wanita yang meminta izin untuk masuk. ¡° Selamat pagi nona, saya membawa sarapan anda.¡± Maya muncul membawa nampan berisi sarapan pagi Daniah. Gadis itu panik melihat penampilannya saat ini. Dia menarik selimutnya sampai ke leher. Takut Maya melihat sesuatu yang seharusnya tidak dia tunjukan. Stempel kepemilikan milik tuan Saga gila itu. ¡° Maya, masuklah!¡± Daniah merasa senang melihat siapa yang datang. ¡° Maya, apa tuan saga sudah pergi?¡± Maya mendekat ke tempat tidur. Meletakan sarapan di pojok tempat tidur. Dia memandang Daniah yang sibuk menyembunyikan dirinya di bawah selimut. ¡° ia nona tuan muda sudah berangkat.¡± ¡° Baguslah, bisa bisa tolong ambilkan pakaianku di kamar. Aku tidak mungkin lari keluar kamar tanpa pakaian, senang kamu datang.¡± ¡° Saya ambilkan jubah mandi saja apa nona mau? Anda sarapan dulu sebelum kembali ke kamar.¡± ¡° Ah ia jubah mandi, kenapa aku tidak kepikiran tadi.¡± ¡° Baiklah, maaf merepotkanmu maya.¡± ¡° Tidak apa-apa nona, ini sudah tanggung jawab saya.¡± Maya masuk ke dalam kamar mandi mengambil apa yang ia sebutkan, Daniah memintanya memalingkan wajah agar bisa memakai jubah mandinya. Setelah selesai dia membawa nampan duduk ke sofa. ¡° Terimakasih Maya, duduklah, kamu sudah sarapan?¡± mengambil jus dalam gelas. ¡° Makanlah, kita bagi dua. Hehe.¡± ¡° Terimakasih nona, saya sudah sarapan tadi. Silahkan nikmati dengan nyaman.¡± ¡° Kenapa Maya di sini?¡± mengunyah cepat, dia sudah lapar dari tadi sebenarnya. ¡° Tapi aku suka Maya di sini. hehe.¡± Hari-hari berat terkurung dalam rumah segera di mulai. Masa percobaan hukuman, kalau kau lolos dalam masa percobaan ini tanpa melanggar satupun kata-kataku, aku akan membiarkan kau beraktifitas normal seperti biasanya. Kau sudah sangat membuatku kecewa, aku harap kau bisa instropeksi diri selama aku melarangmu keluar rumah. Paham! Daniah mengunyah sambil tersenyum kejut mengingat ultimatum Saga semalam. Tapi dia benar-benar bernafas lega semua bisa dia lewati, dan dia ataupun keluarganya masih selamat. Tapi, kenapa aku harus membayar hutang sebanyak pil yang aku telan. Itukan mengelikan sekali. Aku bahkan tidak mau mengingat-ingat. Malu dan kesal bercampur aduk jadi satu. ¡° Anda tidak apa-apa nona?¡± ¡° Eh Maya, maaf aku sedang tengelam dalam pikiranku sendiri.¡± Tersadar ada seseorang di sampingnya. ¡° Oh ya kenapa Maya bisa di sini. apa di pindah tugas?¡± ¡° Benar nona, pak Mun bilang, tuan muda meminta saya menemani anda selama anda ada di rumah. Karena anda kurang sehat jadi beberapa hari ini tuan muda katanya melarang anda ke luar rumah.¡± Haha, jadi itu situasi yang tersebar di rumah ini. Terserahlah, jauh lebih baik dari pada aku ketahuan minum pil kontrasepsi dan di kurung di dalam rumah kan. ¡° Terimakasih ya Maya, kamu penyelamatku.¡± Perbincangan mereka semakin seru saja. Maya memposisikan dirinya sebagai teman yang tanpa canggung menimpali perkataan Daniah. Semoga aku tidak melakukan kesalahan apapun, aku tidak mau menghianati nona Daniah. Tapi aku juga takut membuat tuan Saga kecewa. Maya hanya berharap hubungan tuan Saga dan Daniah akan selayaknya hubungan normal dua manusia yang saling mencintai. Gedung Antarna Group beraktivitas dengan sibuk. Lalu lalang orang bergegas. Semua orang bekerja dengan tekun, menyelesaikan tugas mereka masing-masing. Membayar apa yang sudah mereka terima dari Antarna Group setiap bulannya. Pintu lif khusus presdir tertutup. ¡° Di mana Leela?, apa yang di kerjakannya sekarang.¡± Lift yang mereka masuki sudah naik menuju lantai tertinggi Antarna Group. ¡° Karena nona Daniah tidak akan keluar rumah beberapa hari saya berniat mengirimnya keluar kota, ada beberapa masalah terkait manajer operasional perusaahan transportasi. Saya akan mengirimnya hari ini.¡± Han sudah memberi perintah pada Leela, dia sekarang pasti sudah menuju bandara. ¡° Jangan, kirim yang lain saja. Katakan padanya untuk bersiap nanti. ¡° ¡° Anda mau kemana tuan muda?¡± apalagi ini, jangan membuat agenda kacau mendadak begini. ¡° Aku ingin makan siang dengan Daniah.¡± ¡° Kenapa?¡± Heran, Han tahu jelas-jelas nona Daniah sedang dalam masa percobaan tahanan rumah. Dia bahkan tidak di izinkan pergi ke rumah belakang sekalipun kan. Tidak boleh selangkah pun keluar dari pintu rumah utama. ¡° Aaa, dia sedang di hukum tidak boleh keluar rumah kan, kalau dia makan siang sendirian pasti dia akan kesepian. Aku akan menyuruhnya ke kantor dan menemaniku makan siang. Siapkan semuanya nanti.¡± Apa! lantas apa perlunya anda menghukumnya kalau begitu. Bebaskan saja dia dari hukuman. ¡° Kenapa? Apa kau sedang berfikir aku aneh.¡± Tertawa, karena melihat Han mengeryit. Han mengangukan kepala. ¡° Makanya jatuh cinta dan temui wanitamu sendiri sana.¡± Han menyeringai dan angkat bahu mendengar perkataan Saga. Tepat pintu lift terbuka, dia keluar di susul Saga. ¡° Han, aku akan membebaskanmu dari sumpahmu.¡± ucapan Saga terhenti saat Han berhenti dan berbalik menatapnya. ¡° Saya akan melakukannya nanti, setelah memastikan anda hidup dengan bahagia tuan muda. Sekarang jangan kuatirkan saya.¡± Han mempersilahkan Saga memasuki ruangannya. Cukup selesaikan laporan hari ini, saya sudah senang. Saga menepuk bahu kanan Han. " Terimakasih." katanya lirih. Han masuk ke dalam ruangannya sendiri setelah memastikan Saga duduk di mejanya. Dan mulai bekerja dengan dokumen-dokumen yang harus di tanda tangani. Dia mengambil hpnya. ¡° Kau sudah naik pesawat?¡± diam mendengarkan. ¡° baguslah, kembalilah. Hari ini tugasmu hanya menjemput nona dan membawanya ke kantor saat makan siang.¡± diam mendengarkan. " Jangan bertanya apapun, lakukan saja." Semoga semua hal berjalan baik hari ini. Selang tidak lama setelah membereskan tumpukan kertas di depannya, menelfon beberapa orang, dan memberikan instruksi kepada semua staff sekertarisnya Han meninggalkan gedung Antarna Group. Sekertaris Han datang bersama beberapa pengawal ke ruko milik Daniah. Dia menjelaskan sekenanya bahwa dia harus melakukan pemeriksaan sebentar di dalam ruko. Semua karyawan di minta keluar. Mereka menunggu dengan panik dan gelisah. Tika menghubungi Daniah ada apa sebenarnya. Kenapa sekertaris tuan Saga muncul tiba-tiba dan mengeledah toko. Daniah menenangkan kalau tidak ada apa-apa. dan mengatakan biarkan saja dia melakukan apa yang dia suka. ¡° Biarkan saja Tika, ahh, aku tidak bisa menjelaskan alasannya sekarang. Tapi biarkan saja dia melakukan apa yang dia inginkan. Jangan protes, jangan menjawab kata-katanya. Jangan bertanya apapun padanya. Oke.¡± Dia orang menakutkan Tika jangan mengusiknya. Daniah yakin sekertaris Han sedang mencari pil kontrasepsi, takut kalau dia menyembunyikannya di kantor. Cih, orang itu sungguh hati-hati.kalaupun aku seberani itu aku kan masih bisa beli di apotik. tunggu, dia tidak akan iseng mencari tahu di mana aku membeli pil itukan. Tika walaupun sudah mendengar dari Daniah tapi tetap saja merasa tidak tenang. Dia menatap ruko. Tidak ada suara apapun dari dalam seperti jatuhnya rak atau pecahnya sesuatu. Tika berharap mereka mengeledah tanpa memporak porandakan isi toko. Tidak seperti di drama-drama kan kalau orang sedang mencari sesuatu pasti asal banting-banting. Sekertaris Han muncul bersama pengawal yang membawa kotak dan juga sebuah figura foto besar. Bukannya itu foto ibu mbak Niah ¡° Maaf tuan itu foto ibu mbak Niah kan, Kenapa anda membawanya?¡± Tika mendekat, menunjuk foto yang di pegang salah satu pengawal di belakang sekertaris Han. ¡° Terimakasih nona atas kerja samanya, silahkan kembali bekerja. Maaf sudah menggangu kenyamanan anda.¡± Tidak menjawab kebinggungan Tika. ¡° Ah ia. Tapi maaf tuan, bukankah seharusnya anda menjawab kalau ada seseorang bertanya.¡± Hei Tika, apa yang kau lakukan. Kau lupa pesan Daniah tadi jangan protes dan menanyakan apapun. Di hadapan mu ini bukan manusia sembarangan yang bisa kau tanyai se enaknya. Salah sedikit habis hidupmu nanti. ¡° Maaf.¡± Han memberi instruksi dengan tangannya agar para pengawal di belakangnya pergi. Mereka terlihat meletakan barang-baarang yang mereka ambil di dalam ruko ke dalam mobil milik sekertaris Han. ¡°Sepertinya saya sampaai harus mengatakan ini kepada anda ya.¡± Mentap lurus Tika, tapi Tika tak kalah gentar dia juga menatap sekertaris Han. ¡° Jangan ikut campur apapun tentang nona Daniah jika itu melibatkan tuan Saga.¡± ¡° Apa!.¡± Tapi Tika mundur ke belakang, karena merasa cara bicara sekertaris Han berbeda dari yang dia dengar tadi. Atau yang pernah ia ingat sebelumnya. ¡° Baik maafkan saya sudah lancang pada anda tuan.¡± Menyembunyikan kecemasannya. Walaupun tetap tidak bisa menyembunyikan apapun. Han tahu gadis di depannya sudah merasa takut. ¡° Tapi, mbak Niah baik-baik saja kan?¡± memberanikan diri bertanya. ¡° Tentu saja, nona kami baik-baik saja. Terimakasih sudah mengkhuatirkannya.¡± ¡° Syukurlah. Tapi.¡± Menatap Han lagi. ¡° Bisakah anda tidak menakutkan begitu, saya kan hanya bertanya. Hehe.¡± benar-benar tertawa menutupi kecanggungan. Apa-apan gadis ini. Han ¡° Baiklah, saya permisi. Terimakasih kerja samanya nona.¡± ¡° Tentu saja, kami senang membantu. Anda bisa sering-sering mampir kalau ada mbak Niah.¡± Han tidak mengubris kata-kata terakhir Tika. Dia menuju mobilnya. Menoleh sebentar pada Tika lalu melajukan mobilnya tanpa sedikitpun berpaling lagi. Tidak adaa apa pun yang dia temukan di toko. Hanya foto yang terlihat seperti ibu nona Daniah. Dengan rambut bergelombangnya. Aku rasa cukup sebagai peringatan, kalau dia masih berani minum pil itu sepertinya aku harus memeriksa, punya nyawa berapa si dia. Haha, dia memang cuma punya satu nyawa. tapi dia benar-benar punya senjata mematikan yang kalau dia tahu dia bisa membuat tuan Saga melakukan apapun yang ia mintakan. semoga anda tidak pintar-pintar amat nona, kalau tidak situasinya akan dengan mudah terbalik. Cinta, cinta, merepotkan sekali. Ah ia, aku harus menyiapkan makan siang. Tahanan rumah yang bisa jalan-jalan ke mana-mana. Wahh, enak sekali anda. Bersambung Chapter 118 Gedung Antarna Group (Part 1) Waktu bergulir semakin siang. Han kembali dengan perasaan cukup tenang. Dia tidak menemukan pil apapun di ruko, jadi dia berfikir pekerjaan nona bisa di selamatkan dengan mudah. Tuan Saga tidak akan menutup tempat itu secara paksa, dan nona bisa kembali bekerja kalau masa hukumannya selesai. Ketika Han masuk ke dalam ruangan presdir, Saga masih ada di kursi kerjanya. Han senang melihatnya, berarti semua urusan sampai siang ini berjalan sesuai rencana. Kalau semua dokumen itu sudah selesai di tandangani, dia bisa melanjutkan semua pekerjaannya dengan cepat. Senangnya kalau suasana hati anda selalu seperti ini. ¡° Apa itu?¡± Saga bangun dari duduk saat melihat Han meletakan kotak di atas meja, di belakangnya seorang pengawal dengan hati-hati melatakan figura besar. Dia mengangukan kepala pada Saga lalu pamit pergi. ¡° Ini sepertinya ibu nona, dan barang dalam di kardus ini benda-benda masa kecil nona. Ada foto-foto juga.¡± Han membuka penutup kardus. Mendengar itu Saga terlihat sangat antusias. Dia segera mendekat dan duduk di sofa. ¡° Kita lihat, ada apa di sini.¡± Mendekat, seperti menemukan harta paling berharga di dunia. ¡° Haha, dia mengemaskan sekali.¡± Saga memegang sebuah foto, seorang gadis kecil sedang duduk di pangkuan ibunya. Belum terlihat mirip Daniah saat ini, tapi rambut bergelombangnya sudah membuatnya bisa di kenali dengan baik. ¡° Han, masukan no hp Daniah ke hpku. Aku mau menelfonnya.¡± ¡° Baik.¡± Han bergegas berjalan ke meja kerja Saga. Meninggalkan Saga yang sedang bermain dengan dunia masa kecil Daniah melalui foto-fotonya. Han Mengambil hp yang pemiliknya sedang asik dengan temuan barunya. ¡° Anda mau menyimpannya dengan nama siapa?¡± ¡° Berikan padaku.¡± Berfikir sebentar setalah memegang hpnya. Kira-kira nama apa yang pantas ia pakai untuk menyimpan no Daniah di hpnya. Terlihat berfikir sangat keras. Dahinya berkerut. Nama yang bisa mewakili seluruh perasaannya pada Daniah. Masih serius berfikir, Han hanya mengeryit. Setelah cukup lama tengelam dalam perenungan diri akhirnya Saga tersenyum mengerak kan jarinya, setelah menyelesaikan satu pekerjaan hebat lagi menurutnya. Lalu dia menelfon. ¡° Hallo ini siapa?¡± suara wanita di sana. Pertanyaan itu membuatnya gusar. ¡° Siapa? Kau tidak mengenali suaraku?¡± ¡° Siapa ya?¡± yang di sana mulai menggangap telfon iseng. ¡° Hei, Daniah kau benar-benar mau membuatku marah!¡± ¡° Sayang, Benar ini kamu suamiku. Maafkan aku.¡± Mulai tersadar dia telah melakukan ke salahan besar. Tidak mengenali suara yang mulia raja. ¡° Maaf, ini pertama kalinya aku mendengar suara mu di telfon. Ada apa sayang?¡± Heran yang menyusupi sampai ke hatinya. Kenapa laki-laki ini menelfonnya. ¡° Bersiaplah, Leela akan menjemputmu.¡± ¡° Kemana? Bukankaah aku di larang keluar rumah.¡± Daniah merasa curiga, apa ini hanya jebakan biar dia semakin masuk dalam labirin kesalahan. ¡° Siapa yang melarangmu keluar rumah?¡± Saga bertanya kesal. ¡° Kan kamu yang melarangku, bahkan melarangku keluar dari pintu rumah utama.¡± Heran semakin datang, ada apa dengan keisengan suaminya. ¡° Lalu siapa yang menyuruhmu keluar dari rumah?¡± Semakin gusar terdengar dari intonasi suara semakin meninggi. ¡° Kamu juga.¡± Daniah menjawab. ¡° Kalau begitu lakukan saja perintahku dan jangan banyak bicara!¡± ¡° Baik, baik. Maaf.¡± Menutup telfon tanpa pemberitahuan. ¡° Bodoh, aku takut dia bosan di rumah, bukannya berterimakasih malah banyak sekali dia bicara.¡± Itukan karena anda yang ribet tuan muda. Tinggal cabut larangannya keluar rumah sudah beres semua kan. ¡° Bereskan ini!¡± tunjuknya pada semua benda yang dia keluarkan dari kotak milik Daniah. Han langsung melakukan apa yang di perintahkan. ¡° Ini apa lagi?¡± Saga menunjuk sebuah amplop besar yang juga ada di atas meja. ¡° Itu laporan keuangan nona yang diambil dari pemakaian kartu dan rekening yang anda berikan pada nona.¡± Saga penasaran. Mengambil amplop besar itu. Beberapa kertas jatuh tercecer, karena ternyata banyak isinya. Dia bergumam pelan melihat beberapa lembar terakhir. ¡° Itu donasi nona ke balai kota untuk beasiswa kuliah.¡± Saga memeriksa beberapa detail yang tertulis dalam laporan itu. Nama-namaa penerima beasiswa dan gender mereka. ¡° Cih, dia membantu murid laki-laki juga, menyebalkan sekali.¡± ¡° Nona tidak terlibat dalam penunjukan siswa yang menerima beasiswa. Nona hanya menyerahkan kepada dewan kota. Saya sudah memeriksa mereka tidak terhubung satu sama lain. Random terpilih karena mereka termasuk siswa kurang mampu tapi berprestasi.¡± ¡° Aku punya istri mulia sekali. Tahu bagaimana menghabiskan uangku.¡± Mendesah kecil. Tapi dia merasakan kebanggaan di hatinya. ¡° Nona sudah memulai ini sebelum menikah dengan anda, tapi setelah menikah jumlahnya donasinya naik hampir sepuluh kali lipat.¡± Han menunjuk angka-angka di atas kertas. ¡° Haha, baiklah, biarkan dia. Asalkan dia senang. Dia pasti binggung menghabiskan uang yang ku berikan.¡± Han membereskan kertas-kertas dan memasukan kembali ke dalam amplop. ¡° Sepertinya nona tidak terlaku suka belanja-belanja barang mewah, jadi dia memakai uang yang anda berikan untuk hal seperti ini.¡± ¡° Manisnya, bukankah dia mengemaskan begini. Semua orang tidak bisa tidak jatuh cinta kalau tahu dia seperti apa.¡± Memukul bahu Han senang. ¡° Benar kan istriku mengemaskan.¡± ¡° Benar.¡± ¡° Hei jangan memujinya, Cuma aku yang boleh memujinya.¡± Han angkat bahu tidak perduli protes tuannya, sambil memindahkan semua benda yang dia bawa dari ruko milik Daniah ke sudut ruangan. Nona memang mengemaskan dari semua sisi, baik wajah maupun kebaikan hatinya. Untuk itulah anda sangat menyayanginyakan. Kekacauan terjadi menjelang waktunya makan siang. Staff sekertaris mengetuk pintu dengan kuatir. Han muncul semakin membuat mereka menciut. ¡° Maaf tuan, ada nona Helena di lantai bawah. Dia tidak mau pergi walaupun sudah di usir, dia bahkan berteriak-teriak ingin bertemu dengan tuan Saga.¡± Tidak berani melanjutkan informasi. Dia menutup mulutnya rapat. Han terlihat sangat kesal, langsung menutup pintu dan kembali menemui Saga yang sudah duduk di meja kerjanya. ¡° Kenapa?¡± ¡° Nona Helen ada di bawah dan memaksa untuk bertemu dengan anda.¡± Saga terdiam lalu meletakan pena yang sedang di pegangnya. Dia merasa sangat jengah. Tapi kalau dia tidak mengakhiri semuanya dengan tegas, sampai kapan pun Helen tidak akan paham. Kalau semua tentangnya sudah berakhir. ¡° Biarkan dia masuk, ini terakhir kalinya aku akan menemuinya.¡± ¡° Tuan muda, anda tidak perlu melakukannya. Saya akan membereskan dia.¡± Tahu, kalau Saga merasa tidak nyaman dengan situasi ini. ¡° Biarkan dia masuk, aku tidak mau Daniah sampai bertemu dengannya. Katakan pada semuanya untuk menutup mulut tentang keributan ini.¡± Mengusir Han dengan tangannya. ¡° Baik.¡± Han membungkukan kepala lalu berjalan ke luar. Dia sudah terlihat sangat kesal keluar dari ruangan presdir, staff sekertarisnya berjalan dengan langkah cepat mengikutinya dari belakang. ¡° Katakan pada semuanya yang melihat kedatangan Helen untuk menutup mulut mereka. Tuan Saga tidak ingin ada yang membiacarakan ini ke depannya.¡± ¡° Ba, baik tuan.¡± Memasuki lif rasanya dia sudah merasa susah bernafas. Wanita tidak tahu malu itu menatap dirinya dengan penuh kebencian. Tapi Han tidak mengubris tatapan itu. Sedikitpun dia tidak mengangukan kepalanya. ¡° Ikuti saya, tuan saga akan menemui anda.¡± Helen mengikuti Han, sementara staff sekertaris tertinggal untuk membereskan semua kekacauan yang ditimbulkan Helen. Mereka memasuki lif tanpa ada yang mengeluarkan sepatah katapun. Han bahkan tidak melirik atau melihat helen sama sekali. Tangannya hanya mencengkram kesal, menahan emosi. Pintu ruangan presdir terbuka, Han memberi isyarat dengan tangannya agar Helen masuk. Di dalam ruangan yang mulai terasa tidak nyaman untuk bernafas itu, Saga berdiri di dekat jendela kaca. Menatap gedung-gedung dan langit yang membiru. Dia tahu Han dan Helen sudah masuk ke dalam ruangannya. Tapi dia belum beranjak dari tempatnya berdiri. Dia sedang berfikir apa yang akan ia lakukan. Akhiri ini secepatnya, Daniah akan datang juga, aku tidak mau sampai dia bertemu Helen apalagi kalau sampai berbuntut salah paham tidak penting. Saga meninggalkan tempatnya berdiri, Helen mengikuti setiap langkah kakinya. Saat Saga sudah mendekat dan menjatuhkan diri di sofa. Gadis itu langsung ambruk terduduk di lantai. Han melihat tidak suka, bisa menebak apa yang akan di lakukan helen selanjutnya. ¡° Saga, maafkan aku. Aku mohon maafkan aku.¡± Cih, dia memakai senjata terakhirnya. Berlutut dan memohon. Han benar-benar ingin menyeret gadis itu, menghentikannya mempermalukan dirinya sendiri dan lebih membuat Han kesal saat melihat Saga dia terlihat tidak nyaman dengan apa yang di lakukan Helen. ¡° Bangunlah! Kau sudah tidak perlu berlutut dan memohon padaku.¡± Bicara tegas, tidak menunjukan tatapan simpati. Bahkan hanya sebentar dia menatap Helen lalu dia memilih mengalihkan pandangan. ¡° Saga, maafkan aku. Aku mencintaimu.¡± ¡° Hentikan!¡± suaranya sudah setengah berteriak memenuhi langit ruangan. ¡° Hentikan omong kosongmu sekarang. Huh!¡± mendesah. ¡° Kurang ajar juga harusnya ada batasannya kan? Kau tahu sudah sekurang ajar apa dirimu sekarang.¡± ¡° Maafkan aku.¡± Mulai menangis dan mencengkram lututnya. ¡° Aku tidak tahu harus melakukan apa lagi. Aku mencintaimu Saga. Maafkan aku.¡± ¡° Aku bilang hentikan! Dua tahun kita bersama kau pasti tahukan apa yang paling aku benci.¡± Helen gemetar mengingat apa yang paling di benci Saga. Melihat wanita keras kepala mengejar-ngejarnya dan menyatakan cinta padanya. Padahal jelas-jelas mereka tahu Saga memiliki kekasih yang dicintainya. Dan yang membuatnya merinding, saat ini ia melakukan hal yang sangat di benci Saga itu. ¡° Maafkan aku.¡± Airmata Helen berjatuhan membasahi lututnya. ¡° Bangunlah! Jangan membuatku mengulangi kata-kataku. Duduklah di sofa.¡± Helen gemetar bangun dari berlulutnya, dengan penuh drama sambil berurai air mata dia menyeret kakinya dan duduk di sofa. Masih mencengkram lututnya sendiri. Dia melihat Saga dengan pandangan hangat. ¡° Kau hanya ingin aku memaafkanmu kan? Baiklah, kita anggap impas semuanya. Pergilah dengan tenang dan hiduplah dengan baik setelah ini.¡± hanya ini yang bisa aku katakan untuk membayar semua kenangan kita dua tahun lalu. Saga meyakinkan dirinya. ¡° Saga, aku masih mencintaimu.¡± Helen tiba-tiba meraih kedua tangan Saga. ¡° Lepaskan tangan anda nona!¡± Han yang jauh lebih terkejut melihat apa yang di lakukan Helen. Gadis itu sama sekali tidak perduli apa yang di ucapkan Han. Dia tetap mencengkram tangan Saga. ¡° Singkirkan tanganmu!¡± Saga menepis kedua tangan Helen. ¡° siapa yang mengizinkanmu menyentuhku.¡± Marah. ¡° Saga!¡± mulai terisak lagi. ¡° Cuma Daniah istrimu yang boleh menyentuhku!¡± Suara keras Saga terdengar. Dia bangun dari duduk. ¡° Pergilah! Hubungan kita sudah berakhir.¡± ¡° Saga, ku mohon.¡± ¡° Pergilah!¡± Berteriak keras. ¡° Kau sudah pernah melihatku marah kan? Aku tidak mau melampiaskannnya pada mu. Bagaimanapun dua tahun lalu kau pernah jadi orang yang sangat dekat denganku.¡± Masih sesengukan Helen bangun dari duduknya. ¡° Menghindarlah kalau kita tidak sengaja bertemu. Aku benar-benar tidak ingin melihatmu lagi.¡± Kata-kata itu mengiringi langkah kaki Helen meninggalkan ruangan. Setelah pintu tertutup Saga menjatuhkan diri di sofa. Tangannya mencengkram pinggiran Sofa. ¡° keluarlah Han, pastikan dia keluar dari gedungku.¡± ¡° Baik tuan muda.¡± Han berbalik, pandangannya melewati meja kerja Saga. Sial! Sejak kapan bintang di hp itu berkedip. Aku bahkan tidak menyadarinya. BERSAMBUNG Chapter 119 Gedung Antarna Group (Part 2) Han meninggalkan Saga yang tengelam dalam pikirannya. Dia keluar dengan pikiran yang terganggu, melihat bintang yang berkedip di hp tuan Saga. Lebih terkejut lagi saat mendapati kejadian yang dia lihat di depan lif. Daniah merapat ke tembok, tubuhnya yang mungil terdorong menempel di dinding. Sementara satu tangan Helen mencengkram baju. Daniah terlihat berusaha melepaskan diri dengan mendorong tubuh Helen, tapi sepertinya sia-sia. ¡° Apa yang anda lakukan!¡± Han menarik tangan yang di pakai mencengkram baju Daniah dengan kuat. Sampai Helen terdengar mengaduh dengan suara keras. ¡° Beraninya anda menyentuh tubuh nona kami yang berharga.¡± Han memutar tangan Helen membuat gadis itu menjerit. ¡° Sekertaris Han lepaskan! Kau bisa mematahkan tangan Helen!¡± Daniah memukul lengan sekertaris Han yang dipakainya memegang tangan helen, agar laki-laki itu melepaskan tangannya. ¡° lepaskan sekarang!¡± masih terdengar Helen menjerit. ¡° lepaskan Helen sekarang! Dengar tidak!¡± Daniah semakin merasa frustasi mendengar Helen menjerit. ¡° Sekertaris Han!¡± Han mengibaskan tangannya Saat Daniah sekuat tenaga memukulnya. Membuat Helen menarik tangannya menjauh, dia terdengar mengumpat sambil memegangi tangannya. Sorot mata permusuhan dan kebencian dia tujukan untuk ke dua orang di hadapannya. Walaupun Daniah hanyalah sosok korban yang bahkan menyelamatkan hidupnya. Dia membenci kedua orang di hadapannya, hampir dengan seluruh nafas kehidupannya. Yang satu, wanita tidak tahu malu yang sudah merusak kehidupannya, yang satunya laki-laki sial yang sedikitpun tidak pernah membuatnya tenang berada di samping Saga. Baik dulu ataupun sekarang. ¡° Helen kamu tidak apa-apa?¡± Daniah mendekat dan menyentuh tangan Helen, tapi gadis itu menepisnya. Dia malah menatap dengan penuh kebencian. ¡° Sekertaris sialan! Memang apa hebatnya dia sampai kau mendukungnya begitu.¡± Mendorong Daniah dengan tangannya. ¡° Hati-hati dengan tangan anda nona. Itu adalah satu-satunya hal berharga yaang anda miliki untuk hidupkan? Sekali lagi anda berani meletakan tangan di tubuh nona kami yang berharga, saya akan pastikan anda tidak akan bisa melukis lagi.¡± Peringatan terakhir Han. Tidak hanya membuat Helen gemetar tapi Daniah pun merinding mendengarnya. ¡° Apa kau sudah merasa hebat sekarang? Dua tahun lalu Saga juga memperlakukan ku sama seperti dia memperlakukan mu.¡± Seringai mencibir dari bibir Helen, tidak menjawab ancaman sekertaris Han. Malah dia berbalik mengancam wanita di depannya dengan kata-katanya. ¡° Tapi lihat aku sekarang, aku bahkan seperti pengemis untuk hanya minta bertemu dengannya.¡± Sekarang tawa kecil muncul di wajah Helen. Dia berfikir kalau dia melakukan ini dia bisa selangkah di depan Daniah. Mengalahkannya telak, dan membuat gadis itu bimbang. ¡° Aku akan lihat sampai kapan kau akan bertahan di sampingnya.¡± ¡° Terimakasih sudah mengingatkan aku. Kedepannya aku akan sangat hati-hati dan tidak melakukan kesalahan seperti yang Helen lakukan.¡± Daniah tersenyum, ya, dia kan memang selalu hebat kalau cuma adu kata-kata. Membuat wajah Helen yang tadinya merasa menang seperti terjatuh kembali ke jurang hinaan. Dia tidak menyiapkan sepatah katapun untuk balasan, karena berfikir Daniah hanya akan mengigit bibirnya kelu tanpa bisa menjawab. Han berteriak memanggil staff sekertarisnya, seseorang langsung berlari mendekat. ¡° Antar dia keluar dari gedung ini.¡± Staff sekertaris menganggukan kepala cepat lalu mendekat ke arah Helen. ¡° Saya harap anda mendengar apa yang tuan Saga katakan tadi.¡± ¡° lepaskan aku! Aku bisa jalan sendiri.¡± Helen menepis tangan staff sekertaris yang menariknya untuk segera berlalu. Daniah menatap kepergian Helen dengan nanar. Ada perasaan sedih melihatnya. Bagaimanapun dia tahu, bahwa Helen sedang memperjuangkan perasaannya. Terlepas dari kesalahan apapun di masa lalu yang sudah dia lakukan pada Saga. Daniah melirik sekertrais Han, laki-laki itu masih terlihat sangat menakutkan. ¡° Dimana leela?¡± Daniah tahu pertanyaan itu ditujukan padanya. Untuk kali pertama sejak dia bertemu sekertaris Han, dia merasa laki-laki di hadapannya ini sangat berbahaya. Pertanyaannya mengadung arti kemarahan. ¡° Dimana Leela nona, bagaimana dia bisa meninggalkan anda sendirian?¡± Ini berbahaya kan? ¡° Aku menyuruhnya turun dan menunggu di kafe di bawah.¡± Berharap kata-katanya bisa menyelamatkan Leela. Wajah sekertaris Han semakin tidak suka mendengar yang di katakan daniah. ¡° Jangan memarahinya, aku yang menyuruhnya turun. Dia mengantarku sampai naik ke lif.¡± ¡° Nona, apa anda tahu seberapa besar kesalahan leela?¡± Apa! dia kan tidak melakukan apapun, lagi pula aku tidak kenapa-kenapa. Aku hanya bertemu dengan Helen dan kebetulan dia mendorongku ke tembok. Mencengkram leherku dan mau memukul ku. Ya, itu sudah keterlaluan si memang. Tapi kau kan tidak perlu semarah itu. ¡° Baik, aku minta maaf karena tidak berfikir, seharusnya aku membiarkan Leela ada di sampingku. Dia sudah memperingatkanku, tapi aku yang memohon padanya untuk pergi. Jadi jangan memarahinya ya.¡± Han tidak menjawab, tapi sorot matanya sama sekali tidak melunak walaupun Daniah sudah menjelaskan. ¡° Lagi pula aku tidak apa-apa.¡± ¡° Tidak apa-apa? anda tahu kalau tuan Saga sampai tahu yang di lakukan Helen hari ini pada anda. Bisa jadi semua petugas keamanaan dan staff sekertaris saya tidak akan selamat dari kemarahan tuan Saga. Bahkan saya pun.¡± ¡° Kalau begitu jangan katakan.¡± Daniah menarik lengan baju Han. ¡° Jangan katakan padanya apa yang kamu lihat tadi.¡± Hanya itu satu jalan keluar yang di rasa cukup untuk menyelamatkan semua orang. Toh Daniah juga merasa dirinya baik-baik saja. ¡° Kalau begitu mulai sekarang ber hati-hatilah nona, sedikit saja sesuatu menimpa anda akan ada banyak yang celaka.¡± Suara sekertaris Han datar mengingatkan, mengisyaratkan apa yang dia katakan bukan main-main dan sesuatu yang bisa di bantah. ¡° hei apa maksudmu?¡± wajah Han berpaling tidak senang mendengar jawaban Daniah. ¡° Baiklah, aku paham. Aku akan lebih berhati-hati ke depannya.¡± Tidak jadi membantah, karena situasinya mencekam. ¡° Tuan muda pasti sudah tidak sabar menunggu anda. Silahkan.¡± Han mengikuti langkah Daniah di balik punggungnya. Merepotkan sekali, bagaimana Leela bisa seceroboh ini. Tunggu, apa aku perlu bertanya apa dia mendengar pertengkaran Helen dan tuan Saga tadi ya. Sejauh apa? ¡° Nona.¡± ¡° Apa!¡± ¡° Tidak apa-apa. masuklah.¡± Daniah mengeryit namun tidak berpaling menoleh. Daniah mengangukan kepalanya sopan pada staff sekertaris yang berdiri menyambutnya dengan ramah. Lalu dia masuk ke dalam ruangan presdir. Pertama kalinya Daniah masuk ke dalam ruagan presdir Antarna Group. Waahh, kantor ini luar biasa. Seleranya benar-benar tidak manusiawi. Di bandingkan rukoku. Hiks, kenapa aku merasa terhina begini. ¡° Kau sudah datang?¡± Saga masih duduk di sofa di mana Han meninggalkannya tadi. ¡° Ia sayang.¡± Menjawab seriang mungkin, mengusir gelisah karena kejadian di depan lif. Daniah berdiri mematung, binggung mau melakukan apa. ¡° Apa yang kau lakukan, kenapa hanya berdiri, mendekatlah!¡± Saga mengulurkan tangannya. ¡° Saya akan menyiapkan makan siang anda, silahkan nikmati waktunya.¡± Han begitu tahu apa yang musti di lakukannya di situasi seperti ini. ¡° Hemm.¡± Hei, maksudnya apa! Daniah terjatuh di pangkuan Saga saat dia menarik tangannya. ¡° Apa yang kau lakukan hari ini.¡± Menyisir rambut Daniah dengan tangannya. Gadis itu mau beringsut dan pindah duduk di sofa yang lainnya. Tapi tangan Saga melingkar dan memeluk pinggangnya membuatnya tidak bisa bergerak. ¡° Berapa berat badanmu? Kenapa kau ringan begini, aku seperti memangku bantal saja.¡± Tertawa. Hei pendusta, berbohong juga harus ada batasannya. ¡° Sayang, aku pasti beratkan, kamu sedang meledek ku kan?¡± ¡° Siapa yang meledekmu. Katakan apa yang kau lakukan tadi di rumah.¡± Memainkan ujung rambut Daniah di pangkuannya. ¡° Aku tidak melakukan apapun.¡± Memang apa yang mau ku lakukan. ¡° Aku hanya di dalam kamar bicara dengan Maya dan mengecek kerja karyawanku di toko.¡± ¡° Itu saja?¡± mendorong tubuh Daniah agar terbangun. Lalu dia juga bangun, menarik tangan Daniah mengikutinya. Dia mau membawaku ke mana? Sebuah pintu terbuka saat Daniah belum selesai dengan pikirannya. ¡° Tempat tidur? Sayang apa yang mau kamu lakukan?¡± sudah panik dan berusaha melepaskan tangan. Saga mendorong tubuh Daniah sampai dia jatuh di atas tempat tidur dengan posisi terlentang. ¡° Sayang!¡± Saga ikut menjatuhkan diri di samping Daniah. Melingkarkan tangan, Daniah memberontak walaupun tidak terlihat ia melakukannya dengan mencolok. Saga membenamkan wajahnya dalam pelukan Daniah. Menempel di dadanya. ¡° Diamlah! Aku hanya ingin tidur memelukmu.¡± Daniah menghentikan semua gerakan tubuhnya. Terdengar Saga mendesah. ¡° Aku lelah!¡± mendengar itu Daniah refleks memeluk punggung Saga. Mencium kepalanya yang terbenam di dadanya. Helen pasti menjadi beban di hati mu ya, maafkan aku yang tidak mempercayaimu. ¡° Tidurlah sayang, aku akan tetap di sini saat kau bangun.¡± Karena aku tidak akan melakukan kesalahan yang sama seperti yang Helen lakukan. Bersambung.......... Chapter 120 Hukuman untuk Leela Tidak bisa di percaya Saga benar-benar tidur terlelap dalam dekapan Daniah tanpa melakukan apapun. Rekor yang harus di catat sejarah sepanjang hubungan mereka. Bahkan Daniah pun jatuh sebentar dalam alam tak sadarnya. Namun tidak lama dia tertidur karena merasa dirinya terancam. Setelah terbangun dia tertawa sendiri, karena Saga masih terlelap dalam dekapannya. Bahkan saat dia iseng menarik-narik telinga Saga laki-laki itu tidak mengeliat. Dia benar-benar tertidur dengan wajah yang sangat tenang. Setelah bangun tidur mereka makan siang dengan suasana hangat dan nyaman. Bahkan bagi Daniah situasi ini masih terasa canggung, namun ntah kenapa dia merasa sangat menikmati. Perasaan malu-malu di hatinya menyeruak. Dia merasa bahagia dengan perlakuan Saga dan hatinya menerimanya sebagai ketulusan Saga. Mungkin cacian Helen dan ancaman Helen yang ia dapatkan tadi memang menjadi bukti semua hubungan Saga dan Helen sudah berakhir. Hingga Daniah bisa bernafas lega. Semua ketakutannya seakan berlarian meninggalkannya. ¡° Pulanglah!¡± kecupan lembut di pipi Daniah. Setelah makan siang selesai. ¡° Apa aku boleh mampir ke toko?¡± Mencari celah lolos dari masa percobaan. Memanfaatkan situasi, dengan mempertimbangkan suasana hati Saga yang sedang sangat baik. ¡° Hei, kau lupa sedang masa percobaan hukuman. Melanggar sekali saja ku anggap kau gagal dalam masa percobaanmu ya.¡± Menghardik keras lewat kata-kata. ¡° Maaf. Aku hanya bercanda.¡± Memeluk Saga tanpa di sadari. Sepertinya akhir-akhir ini tubuhnya punya refleks yang baik untuk menyelamatkan diri dengan baik. ¡° Aku akan pulang dan menunggumu. Terimakasih sudah mengajak ku makan siang.¡± ¡° Nah begitu kan manis." Kecupan lembut di kepala Daniah." Han ambilkan barang-barang yang kamu ambil di ruko tadi.¡± Daniah binggung, mengikuti langkah sekertaris Han. ¡° Kenapa kau menyimpan semua hal berhargamu di ruko?¡± Daniah terkejut ketika melihat apa yang di bawa sekertaris Han. ¡° Kamu bisa menyimpan dan meletakan itu di manapun kamu mau di rumah.¡± Lembut Saga memeluk Daniah yang sudah merasa haru menyeruak di hatinya. Kenangan berharga milik ibunya, yang hanya bisa tersimpan di gudang di sudut rumahnya. Dan betapa terhiburnya ia saat Saga pun menganggap itu adalah sesuatu yang berharga baginya.¡° Han akan mengantarmu ke bawah.¡± ¡° Eh ia, makasih sayang.¡± Daniah memberikan ciuman lembut di pipi Saga, lagi-lagi membuat laki-laki itu terkejut. ¡° Aku akan menunggumu di rumah.¡± Tidak semudah itu Saga melepaskan Daniah setelah ciuman di pipinya. laki-laki itu merasa ciuman di pipi yang di lakukan Daniah tanpa ia minta adalah sesuatu yang sangat berharga, yang harus ia balas ribuan kali lipat. ¡° Keluarlah dulu Han.¡± Saga menarik tangan Daniah. Han paham lalu dia melangkah keluar, dan menutup pintu tanpa suara. Terjadilah, hal yang harus terjadi. Daniah merapikan rambutnya lagi. Dengan wajah merah padam. Dia keluar dari ruangan presdir. Kenapa dia sensitif sekali si kalau aku mencium pipinya. Aku kan hanya berterimakasih, kamu kan tidak perlu membalasnya dengan seribu ciuman juga. Leela sudah menunggu di depan pintu. Dia menerima figura besar di tangan sekertaris Han lalu mengikuti langkah Daniah. ¡° Leela sudah makan?¡± di dalam lif. Han ikut membawa kotak berdiri paling belakang. ¡° Sudah nona.¡± Menjawab singkat sambil mencari pandangan ke arah lain agar Daniah tidak bisa bersitatap mata dengan nya. ¡° Baiklah, kita langsung pulang ya. Lagian aku gak bisa ke mana-mana.¡± Sekertaris Han tidak bicara apa-apa selama di dalam lif, sampai dia meletakan barang-barang di dalam bagasi belakang dengan hati-hati. Dia membukakan pintu depan untuk Daniah. Menunggu sampai Daniah masuk. ¡° Selamat jalan nona.¡± ¡° Terimakasih.¡± Daniah melirik Leela dan sekertaris Han bergantian, mereka bahkan tidak saling menyapa. Dalam perjalanan pulang. Sebenarnya Daniah ingin sekali mampir ke tokonya. Tapi mengingat ancaman Saga tadi membuat nyalinya menciut. Dia terlihat berfikir lama, dan tengelam dalam lamunannya cukup lama. Kembali mengingat semua kejadian yang terjadi di gedung Antarna Group. Semua. Dari kedatangannya tadi sampai dia bertemu Helen. Daniah menoleh pada Leela yang juga diam saja. Hei, ada apa denganmu. Daniah menyentuh tangan Leela memintanya menghentikan kendaraan. Lalu dia meraih dagu Leela dia melihat pipi kiri gadis itu memerah, bahkan ada luka kecil di sekitar bibirnya sebelah kanan. Kalau dia menunduk atau memalingkan wajah Daniah bahkan tidak akan menyadarinya. ¡° Ada apa dengan wajahmu?¡± Memeriksa dengan teliti. ¡° Tidak apa-apa nona, saya hanya terjatuh.¡± Daniah mengeryit tidak percaya, bagaimana Leela bisa memakai alasan jatuh. Kalau dia sendiri yang jatuh dia akan percaya. ¡° Jatuh, di mana? Kamu baik-baik saja tadi. Apa sekertaris Han yang melakukan ini.¡± Daniah menguncang tubuh Leela agar bicara jujur. ¡° Dia yang memukulku kan.¡± Bicara dengan suara keras. Daniah merasa sangat kesal, bagaimana bisa sekertaris Han melakukan ini. ¡° Tidak nona.¡± Bahkan sampai akhir Leela hanya menutup mulutnya membuat Daniah merasa bersalah. Karena dia Leela harus menerima hukuman. Bahkan ini bukan kesalahannya. Geram rasanya memikirkan wajah sekertaris Han, ingin dia wajah itu karena kesal. Saat sudah sampai di rumah, Daniah segera masuk ke dalam rumah. Meminta alat kompres untuk di tempel di pipi Leela. Dia menarik tangan Leela untuk duduk. Di depannya sudah ada kotak obat. ¡° Maaf.¡± ¡° Nona tidak melakukan kesalahan apapun, tidak perlu minta maaf.¡± Duduk diam, dan membiarkan Daniah melakukan apapun yang ia inginkan, sekedar mengobati rasa bersalahnya. ¡° Bagaimana ini bukan salahku. Aku yang menyuruhmu turun tadikan, memaksa mu tidak mengikutiku. Cih, bagaimana dia bisa memukulmu begini. Maafkan aku Leela.¡± Menyentuh pipi Leela. ¡° Ini bukan kesalahan anda atau sekertaris Han nona ini semua salah saya.¡± ¡° Memang apa salahmu?¡± Berteriak juga akhirnya. Jelas-jelas ini salahnya, begitu Daniah berfikir. Kalau dia membiarkan leela di sampingnya tadi. Sekertaris Han pasti tidak akan melihatnya terpojok di hadapan Helen. ¡° Saya seharusnya tidak meninggalkan anda apapun alasannya. Anda pasti takut sekali tadi.¡± Sorot mata penuh penyesalan Leela semakin membuat Daniah merasa bersalah, ¡° Hei, memang apa yang dikatakan sekertaris sialan itu.¡± Mengoleskan salep dingin di dekat bibir Leela, dan mengusapkan perlahan dan tipis-tipis di pipi yang memerah. ¡° Nona Helen yang hampir memukul anda.¡± ¡° Apa dia bilang begitu. Helen tidak memukulku Leela. Dia hanya mendorong ku ke dinding dan mencengkram bajuku. Begini.¡± Daniah menarik bajunya sendiri, memperagakan apa yang di lakukan Helen tadi. ¡° Dan aku tidak selemah itu kali sampai membiarkan dia memukulku. Walaupun aku kalah besar dan tinggi darinya tapi aku juga tidak mau di pukul sama dia kan.¡± Ada apa dengannya, kenapa sekarang dia yang telihat sangat kesal. ¡° Maafkan saya nona, saya sudah melakukan kesalahan yang sangat besar.¡± Lagi-lagi Daniah merasa frustasi jika Leela atau sekertaris Han mengatakan ini. Cih, memang apa yang akan di lakukan tuan Saga si kalau sampai aku terluka. Aku penasaran sekaligus takut. ¡° Hei, aku tidak apa-apa.¡± ¡° Kalau tuan muda tahu.¡± Daniah langsung memotong kata-kata Leela. ¡° Jangan katakan apapun di depannya. Aku tidak mengatakan kalau aku bertemu Helen tadi padanya. Jangan mengungkitnya. Leela sepertinya aku sudah membuat kesalahan besar ya. Maafkan aku.¡± Daniah semakin merasa bersalah. Tadinya dia benar-benar megesampingkan semua perkataan sekertaris Han, tapi mendengar apa yang di katakan leela, sepertinya kata-kata sekertaris Han terdengar sangat masuk akal. ¡° Kalau sampai tuan muda tahu, saya mungkin tidak akan selamat dari kemarahannya.¡± Cih, aku penasaran juga apa yang akan di lakukan tuan Saga kalau dia marah padamu. Tapi kalau sampai dia marah padamu, bagaimana nasib karyawan-karyawan yang lain. Sekali lagi Daniah hanya bisa mengigit bibirnya kelu, dia merasa bagaimana Saga memperlakukannya sangat berlebihan. Caranya mencintai, atau caranya melindunginya sampai akpan Daniah akan terbiasa dengan situasi semacam ini. Chapter 121 Ketahuan Daniah duduk di ruang tv di lantai bawah, sambil selonjoran dan bermain hp. Saat dia mendengar langkah kaki dia bangun dan mengedarkan pandangan. Kembali duduk setelah yang di lihatnya pelayan yang masuk. Hari ini dia mau mengadu atas sikap sekertaris Han yang berlebihan menghukum Leela. Tapi dia tidak akan mengatakan kalau dia bertemu helen. Dia sudah latihan beberapa babak tadi, agar tidak sampai ketahuan. Dan semua terlihat wajar. Cukup lama dia menunggu, sampai akhirnya Saga muncul di ikuti pak Mun dan juga Han di belakangnya. Daniah langsung bangun dari tiduran. Senang sekaligus kesal melihat sekertaris itu juga ikut masuk rumah dan tidak langsung pulang. ¡° Kau menungguku?¡± Saga menunjuk pipinya agar Daniah memberi ciuman selamat datang. Baiklah, kemarilah. Setelah memberi ciuman selamat datang, Daniah menarik tangan Saga agar duduk di sofa, dia melirik sekertaris Han sekilas. Kesal. ¡° Sayang, bisakah kamu minta dia berhenti memukul pelayan atau siapapun yang melakukan kesalahan.¡± Menuding dengan kata-kata tajam, sambil melihat sekertaris Han yang terlihat tersenyum tipis di tempatnya berdiri. Apa, dia tersenyum. Lihat, kalau aku tidak membuatmu dihukum atau minta maaf pada Leela, jangan. Tidak, aku tidak mau bertaruh apa-apa. karena aku sudah merasa akan gagal. Hiks. Maaf Leela, melihatnya tersenyum aku sudah gagal sepertinya. ¡° Kenapa?¡± Saga menyentuh pipi Daniah ¡° Kamu melihatnya memukul siapa?¡± Daniah melihat sekertaris Han dengan sorot mata puas, habis kau, aku ingin melihat tuan Saga marah padamu. ¡° Han.¡± Saga bicara tanpa mengalihkan padangannya dari wajah Daniah. ¡° ia tuan muda.¡± ¡° Sudah ku peringatkan kan, jangan memukul siapapun di depan Daniah lagi.¡± Hei bukan begitu, dia memang tidak memukul siapapun di depanku. ¡° Saya tidak memukul siapa-siapa di depan nona tuan muda.¡± Daniah sudah gemetar geram. Mudah sekali dia cuci tangan pikir Daniah. Saga menoleh pada Daniah, tatapan hangatnya, menyusuri setiap garis wajah Daniah. ¡° Memang siapa yang dia pukul sampai kamu sekesal ini. Aku juga tidak bisa melarangnya mendisiplinkan karyawan. Sudah pernah ku katakan kan, kalau dia itu memang menakut kan. Jadi biarkan saja dan jangan menggangunya. Memang apa kesalahannya sampai kau memukulnya Han?¡± Daniah tercekik, dia tidak bisa mengatakan kalau Leela yang sudah di hukum sekertaris Han, alasannya karena dia meninggalkan Daniah sendirian di kantor tadi, kalau sampai Saga mencari tahu semuanya, bahkan Leela yang akan mendapat imbas dari semuanya. Dan Daniah pasti yang paling akan menyesal. ¡° Siapa yang kamu pukul Han.¡± Bertanya lagi. Karena tidak mendapat jawaban apapun dari Daniah ataupun dari sekertarisnya. Daniah tiba-tiba memeluk Saga. Karena situasi semakin berlari ke arah yang tidak dia inginkan. Bukannya mendapatkan pembelaan, dia malah akan membuat situasi semakin runyam. ¡° Sayang, ibu sudah kembali. Dia membelikanku banyak sekali hadiah.¡± membuat Saga melupakan kata-katanya tadi dan fokus pada yang lain. Kurang ajar, dia tersenyum lagi. Melihat seringai titis di bibir Han, membuat Daniah kalah lagi. ¡° Benarkah? Dia sudah minta maaf padamu?¡± Daniah mengangukan kepala, masih membenamkan kepala di dada Saga. ¡° Sayang, kamu juga maafkan ibu ya. Ibu sedang di kamarnya sekarang, kami mengobrol lama tadi¡± ¡° Baiklah. Kau mau ikut aku bicara dengan ibu?¡± ¡° Tidak sayang, kalian harus bicara berdua kan. Aku tunggu di sini. bicaralah senyaman mungkin dengan ibu.¡± ¡° Baiklah.¡± Membelai kepala Daniah. ¡° Pak Mun panggil ibu ke ruangan kerjaku.¡± ¡° Baik tuan muda.¡± Daniah mengikuti langkah kaki Saga sampai dia hilang masuk ke dalam ruang kerjanya. Lalu dia beralih menoleh pada sekertaris Han. ¡° Kau mau kemana sekertaris Han, kita perlu bicara?¡± ¡° Saya mau membuat kopi, apa anda mau?¡± Berjalan ke dapur, mau tidak mau Daniah menginkuti langkah kaki Han. Daniah memilih duduk di kursi dapur melihat sekertaris Han membuat kopi dengan mesin kopi. ¡° Benar anda tidak mau?¡± ¡° Tidak! Aku mau bicara denganmu.¡± Menjawab ketus. Menunggu sampai dia selesai membuat kopinya. Lalu dia mengambil duduk mengesernya agar menjauh dari Daniah. ¡° Apa yang anda mau bicarakan.¡± ¡° Kamu benar-benar memukul Leela kan? Apa kau tidak tahu malu, dia bahkan adik sepupumu!¡± Daniah merasa perlu melindungi Leela, atau tidak dia melakukan ini karena rasa bersalahnya. ¡° Saya tidak memukul adik sepupu saya nona. Saya menghukum pengawal anda yang tidak becus bekerja.¡± Lugas dia menjawab, seperti memberi tahu protokol keamanan yang sudah semestinya. ¡° Apa! sudah kukatakan itu bukan salahnya kan!¡± Daniah berusaha mendebat. ¡° Jadi ini salah siapa?¡± Han terlihat mulai tersenyum tipis. ¡° Ini salahku. Aku yang salah.¡± Daniah mengakui dengan suara lantang. bahwa semuanya adalah kesalahannya. sampai pristiwa di kantor tadi terjadi. ¡° Sepertinya anda mulai belajar sekarang. Kalau tahu ini kesalahan anda dan orang lain yang harus menerima hukumannya. Mulai sekarang ber hati-hatilah jangan pernah melakukan kesalahan yang sama lagi.¡± Dia ini mau bilang apa si. ¡° Anda mendengarnya kan?¡± Han sedang mengetes rasa penasarannya, sejauh apa Daniah mendengar pembicaraan tuan Saga dan Helen tadi. ¡° Apa?¡± ¡° Ucapan tuan Saga pada nona Helen.¡± Sekelebat raut wajah Daniah berubah, namun dia langsung bersikap biasa. Terlambat, Han menyadari itu. Bibirnya sudah tersenyum tipis melihatnya. ¡° Sama hal nya tuan Saga yang hanya mengizinkan anda menyentuhnya. Seharusnya hal itu juga berlaku untuk anda kan?¡± Kata-kata Han memasuki seluruh pikiran Daniah. Ia cukup senang mendengar itu tadi saat Saga mengucapkannya di depan Helen. Tapi kenapa sekarang saat sekertaris Han yang mengatakannya itu terdengar seperti ancaman. ¡° Huh! Kau sudah gila ya. Apa itu juga berlaku seperti ini.¡± Plak! Daniah memukul bahu Han sekali. ¡° Seperti ini.¡± Bibirnya menyeringai. Karena melihat Han terbelalak dengan apa yang di lakukannya. ¡° Apa aku tidak boleh bersentuhan dengan orang lain seperti ini.¡± Kali ini memukul bahu Han lebih keras. Nona, kenapa anda mengemaskan begini. Aku bisa gila juga karena sikap anda yang seperti ini. Han bangun dari duduk, membuat Daniah mundur ke belakang kursinya. ¡° Kenapa? Kau mau menghukum orang yang ku sentuh juga. Jadi hukum saja dirimu sendiri.¡± Siaga untuk segera kabur dari situasi yang mengancam. ¡° Nona, apa anda mau saya daftarkan ke musium rekor.¡± ¡° Apa?¡± ¡° Bagimana kalau masuk kategori wanita yang selalu membuat orang kerepotan.¡± tergelak dengan ucapannya sendiri. ¡° Haha, boleh, aku juga mau memasukan mu juga, dalam kategori laki-laki menyebalkan. Tidak mau mendengarkan, tidak mau menjawab kalau di tanya, suka main hukum orang seenaknya. ¡± Diakhiri dengan tawa puas Daniah. Lihat anda semakin mengemaskan begini kalau di ladeni. Bisa gila saya kalau tetap di sini. Han menatap Daniah sebentar, tidak menjawab lagi serangan Daniah. Dia berjalan berlalu begitu saja. ¡° hei, aku belum selesai!¡± Han melambaikan tangannya tanpa berpaling. Apa! kenapa dia yang pergi dengan gaya sok keren begitu. Seharunya tadi aku pergi duluan kan, biar aku yang kelihatan keren, walaupun tidak bisa menang adu argumen dengannya. Sekarang aku benar-benar seperti pecundang kalah karena dia yang pergi duluan. Daniah mengigit jarinya kesal, melihat kepergian sekertaris Han. Sementara itu di ruang kerja Saga. ¡° Duduklah bu.¡± Ibu yang masih berdiri lalu beranjak duduk pelan di samping anaknya. ¡° Apa ibu sudah cukup bersenang-senangnya?¡± ¡° Maafkan ibu nak.¡± Menyentuh tangan Saga, mengengamnya di pangkuannya. ¡° Maaf ibu sudah salah. Ibu akan berusaha menerima Daniah sebagai istri mu.¡± Saga terdengar menghela nafas panjang. Hubungannya dengan ibunya sejauh ini lumayan baik, hingga jarang terjadi perselisihan. Ini kali pertamanya ibu sampai harus pergi lama karena kesalahannya. ¡° Aku tahu ibu tidak menyukai Daniah, tapi bisakah mulai sekarang ibu memperlakukannya dengan baik.¡± Ibu masih terdiam. Masih di gengamnya tangan Saga. ¡° perlakukan dia dengan baik sebagai bagian dari keluarga ini.¡± ¡° Saga.¡± Ragu. ¡° Hemm, katakanlah, apa yang mau ibu katakan.¡± ¡° Bagaimana kalau kamu menikah lagi.¡± Saga menarik tangannya kuat, tidak suka dengan apa yang baru saja ibunya katakan. ¡° Dengar kan ibu dulu, kamu tidak perlu menceraikan Daniah. Kamu hanya perlu menikah dengan wanita yang sederajat denganmu. Biarkan dia melahirkan anakmu.¡± Aaaahhh, wajah Saga mulai terlihat jengah. ¡° Apa ibu masih mau membahas Ele?¡± ¡° Tidak! Ibu tidak akan membahas tentang Helen lagi. Bagaimana kalau ibu carikan wanita lain. Ibu akan mengatur semuanya.¡± ¡° Hentikan bu, sebelum aku benar-benar kesal.¡± Saga sudah menahan sekuat tenaga emosinya. ¡° Saga.¡± ¡° Aku mencintai Daniah bu, jadi berhentilah melakukan hal yang menggangu. Aku akan memintanya melahirkan anak-anak ku. Ini terakhir aklinya aku mendengar omong kosong ibu tentang pernikahanku dengan wanita lain.¡± setengah berteriak membuat imu mencengkram pegangan sofa. ¡° Tapi, apa Daniah juga mencintaimu. Dia selalu bilang ingin pergi dan bercerai denganmu kan.¡± Ini yang ibu ingat dari semua kejadian yang berlalu di rumah ini. ¡° Kalau ibu penasaran kenapa tidak menayakannya langsung pada Daniah.¡± ¡° Saga, ibu hanya ingin kamu bahagia nak.¡± ¡° Dan kebahagiaanku adalah Daniah bu, jadi terima kenyataan itu.¡± Mereka berdua terdiam cukup lama setelah mengatakan itu. Daniah berlari menabrak pak Mun di belokan menuju ruang kerja Saga. Pak Mun melihat pintu ruang kerja yang sedikit terbuka. ¡° Nona, ada apa? tuan muda dan nyonya sedang ada di ruang kerja.¡± ¡° Tidak apa-apa pak Mun, sepertinya mereka belum selesai bicara. Aku tidak mau menggangu. Jadi aku mau menunggu tuan Saga di kamar saja. Tidak perlu mengatakan padanya kalau aku mencarinya ya pak Mun. Sepertinya pembicaraan mereka sangat serius.¡± ¡° Baik nona.¡± Daniah menepuk bahu pak Mun, lalu dia naik tangga setengaah berlari menuju kamarnya. Menjatuhkan diri di atas tempat tidur. Pandangannya buram, dia tidak bisa berfikir apa-apa. BERSAMBUNG Chapter 122 Pengumuman !!!!! Hallo aku LaSheira, terimakasih atas apresiasi kalian semua untuk novel terpaksa menikahi tuan muda. Terimakasih yang sudah membaca, like per chapter, klik favorit sampaai pada kasih tips, dan juga bala tentara yang selalu berkomen positif. terimaaksih untuk dukungan kalian semua. cuma mau kasih tahu, kita sedang menuju chapter akhir cerita novel ini ya, jadi insya allah update berikutnya cerita utama kisah Daniah dan Saga akan berakhir. Penasaran gak? Haha, aku juga penasaran kok. walaupun sudah ada garis besarnya di kepalaku bagaimana kisah mereka berakhir tapi semua tetap belum final adanya. hehe. Silahkan kalian berkomentar tentang harapan kalian untuk Daniah dan Saga ya. apa saja boleh, asalkan tetap di sampaikaan dengan cara yaang positif. Khusus chapter pengumuman ini, tolong jangan komen up, up dan minta up ya. cerita novel ini akan segera berakhir, jadi biarkan aku menulisnya dengan baik. Kapan tor updatenya episode- episode terakhir? Tidak bisa memberi kepastian ya ^_^ Lalu gimana Han tor? banyak yang mau dia sama Tika atau Maya ya.. hehe, tapi kalau menurutku karakter keduanyaa belum terlalu kuat untuk membuat Han bertekuk lutut. dia itu butuh sosok tangguh, yang mungkin ahli bela diri untuk mengalahkan sisi kerasnya. Kayaknya keren kan, kalau dia tetap bisa mengibaskan rambutnya di depan Han yang cuek dan hanya memikirkan tuan Saga itu. Jadi mungkin nanti ke depannya akan ke chapter bonus kisah mereka, atau tunggu nanti baiknya gimana. sekarang mau fokus menulis chapter-chapter menuju final cerita utama..... selamat membaca terimakasih semuanya ^_^ Chapter 123 Lakukan sebanyak yang kamu mau Ibu menyudahi pembicaraannya. Dia menutup mulutnya rapat setelah tidak menemukan sedikitpun celah untuk mengoyahkan hati anaknya. Merubah pendirian Saga ibarat mengoyangkan menara tinggi di tengah kota. Mustahil. Namun dengan sisa harapan dalam dirinya dia sedang berusaha sekarang. Dia tidak akan menggangu Daniah. Tapi dia masih belum rela kalau gadis itu yang akan melahirkan penerus keluarganya. Saga mengikuti langkah kaki ibunya, ketika dia sudah mendesah kesal dan tidak menjawab pertanyaan ibunya. Wanita itu tahu, dia harus menyerah dan memilih menghindar. Tepat setelah pintu terbuka dan ibunya keluar Pak Mun muncul. ¡° Dimana Daniah?¡± Tanyanya saat Pak Mun sudah berdiri di depan sofa. ¡° Nona sudah masuk ke dalam kamar tuan.¡± Pak Mun terdiam menunggu tuannya bicara, dia sedang terlibat dengan pikirannya, dia ingin mengatakan perihal Daniah yang dia temui tadi. Tapi di satu sisi dia takut jika dia mengatakan sesuatu masalah baru akan timbul. Akhirnya pak Mun mengunci rapat mulutnya. ¡° Apa Han sudah pulang?¡± ¡° Belum tuan, sekertaris Han masih ada di luar.¡± ¡° Baguslah, panggil dia kemari.¡± ¡° Baik¡± Akhirnya pak Mun benar-benar memutuskan untuk tidak menyampaikan mengenai perihal Daniah. Keluar sambil berharap semoga apa yang dia lakukan benar. Dia menyampaikan pesan, sekertaris Han langsung bangun dari duduk menuju ruang kerja Saga. Han masuk langsung mengedarkan pandangan menyapu ruangan, mencoba menebak, sepertinya pembicaraan dengan nyonya berjalan cukup baik pikirnya. Semua benda di ruangan ini berada di tempat yang semestinya. ¡° Duduklah!¡± Saga menunjuk Sofa di depannya. Han bergerak. ¡° Baik tuan. Apa ada yang sedang anda kuatirkan?¡± duduk di tempat ibu duduk tadi. Menatap Saga lekat. ¡°Apa yang nyonya sampaikan pada anda?¡± ¡° Huh!¡± Mendesah kesal. ¡°¡± Apalagi memang, sepertinya dia belum benar-benar sadar kenapa aku marah dan menyuruhnya pergi. Dia masih mau memintaku menikah lagi dengan wanita pilihannya.¡± Han yang berdecak tidak percaya, bagaimana nyonya masih punya pemikiran bodoh seperti itu. Di lihat dari sudut manapun, memisahkan tuan muda dan nona itu sudah masuk kategori mustahil. Sebesar apapun dia bekerja keras. Saat ini bahkan akan lebih mudah menemukan jarum dalam tumpukan rumput liar, ketimbang memisahkan tuan muda dan nona. ¡° Jangan perdulikan ibu, aku yakin dia tidak akan seberaani itu setelah aku bicara dengannya tadi. Yang aku mau kau lakukan sekarang adalah mengurusnya.¡± Membereskan wanita itu sampai tuntas. Saga tidak mau lagi berurusan dengan Helen dalam hal apapun. ¡° Nona Helen?¡± ¡° Bereskan dia, dia memang tidak akan mendekatiku lagi. Tapi aku tidak mau dia menggangu Daniah sedikitpun. Jangan sampai dia menyentuh istriku sehelai rambut pun.¡± Dia menekankan kalimatnya. Kalau anda tahu kejadian tadi, habislah saya tuan. ¡° Baik. Saya akan selesaikan masalah Helen besok. Anda tidak perlu mencemaskan apapun tuan muda. Sekarang istirahatlah, saya akan membereskan semuanya untuk anda.¡± Han bangun dari duduk dan mengikuti Saga. Sampai di tangga. ¡° Selamat malam tuan, selamat istirahat.¡± ¡° Kau juga, pulang dan istirahatlah.¡± ¡° Baik.¡± Han masih berdiri di tempatnya sampai Saga menghilang di sudut kamarnya. Lalu dia berjalan keluar rumah. Han menghentikan langkahnya saat melihat sebuah mobil berhenti di depan pintu utama. Jenika yang baru kembali dari kantor magangnya. Han melihat jam di tangannya. Berdecak kesal setelah tahu ini jam berapa. ¡° Keluar dari mobil dan kemarilah nona.¡± Tahu Jen sengaja tidak membuka pintu setelah melihat sekertaris Han keluar dari rumah utama. Gadis itu pasti berharap bisa lolos dengan mudah dan tidak perlu berhadapan dengan Han. Sial! Kenapa pas sekali bertemu dengannya. ¡° Selamat malam sekertaris Han, apa sudah mau pulang?¡± Sudah berencana kabur, tapi sekertaris Han merentangkan tangannya. Membuat langkah Jen terhenti seketika. ¡° Jam berapa ini? Kenapa anda baru kembali? Sepertinya saya harus senang sekali ya karena karyawan magang sangat berdikasi sampai pulang selarut ini karena bekerja.¡± Kata-kata sarkas yang telak menancap. ¡° Maaf.¡± Berharap kata maaf bisa jadi kunci jawaban yang menyelamatkannya. ¡° Jawab saja anda dari mana, jangaan membuat ku repot.¡± Han mulai terdengar kesal. Menatap Jenika. Jangan merepotkanku begitu yang tertulis di kening wajahnya yang dibaca Jen. Sial! Kenapa dia masih di sini selarut ini si. Kalau pak Mun aku merengek dia pasti melepaskanku, karena Pak Mun tidak mau menimbulkan keributan. Kak Saga pasti ada di rumah kan sekarang. Cih. ¡° Aku baru putus dari pacarku!¡± berteriak akhirnya. ¡° Pelankan suara anda, tuan muda baru saja naik ke kamarnya. Anda tidak mau kan dia tiba-tiba muncul dan mendapati nona pulang selarut ini.¡± Suaranya rendah, namun langsung telak mengancam Jen, Gadis itu sampai menutup mulutnya dengan tas yang dia pegang. ¡° Maaf, jangan bilang pada kak Saga. Aku baru pulang bertemu pacarku. Mantan pacarku tepatnya. Aku baru saja memutuskan hubungan dengannya.¡± ¡° Kasihan sekali, anda pasti melewati hari yang berat hari ini.¡± Ntah kenapa Jen merasa sama sekali tidak terhibur dengan kalimat penghiburan yang di berikan sekertaris Han. Dia malah jengkel mendengarnya. ¡° Hei aku yang memutuskannya tahu.¡± ¡° Bukankah sama saja, sama-sama menyakitkan.¡± Telak. Wajah Jenika berubah kecut. ¡° Ahhh, kenapa juga aku bicara pada orang yang tidak pernah jatuh cinta. Pokoknya aku minta maaf sudah pulang terlambat, jangan adukan pada kak Saga ya. Minggir.¡± Mengibaskan tangan agar Han memberinya jalan untuk lewat. Laki-laki itu menurut dan mundur dua langkah. ¡° Baiklah, karena anda sedang putus cinta saya akan melepaskan anda. Tapi lain kali ingat waktu kapan anda harus kembali nona. mandilah air hangat dan minum susu hangat supaya anda bisa tidur nyenyak nanti. ¡° Cih, Jenika hanya melengos pergi. Lagi-lagi merasa tidak terhibur dengan kata-kata sekertaris Han. Aku sudah putus dengan pacarku sekaraang. Apa artinya aku boleh mulai mengejar teman magangku. Hehe. Sepertinya perasaan orang yang memutuskan duluan dari pada yang di putuskan itu berbeda sekali ya. Han berlalu setelah memastikan Jenika masuk ke dalam rumah utama. Setelah berganti baju tidur Saga keluar dari ruang ganti. Lampu sudah padam, saat dia masuk tadi Daniah sudah ada di tempat tidur dengan baju tidurnya. Lampu masih menyala dan dia sedang bermain dengan hpnya. Sekarang gadis itu sudah rebahan di bawah selimut. Menutupi sampai pinggangnya. ¡° Sudah mau tidur?¡± Saga masuk ke dalam selimut dan rebahan juga. Meluruskan kaki, dan menarik bantal di kepalanya. ¡° Kemarilah!¡± tanpa di perintahkan kedua kalinya daniah langsung mendekat. Memeluk Saga dan bersandar di dadanya. ¡° Wahh, patuh sekali¡± menepuk kepala Daniah beberapa kali. Tergelak kemudian karena Daniah benar-benar tidak memberi reaksi penolakan. Saga memeluk dan mencium kepala Daniah. ¡° Sudah baikan dengan ibu?¡± ¡° Hemm.¡± Huh! Jawaban keramat mu tidak berubah sama sekali ya. ¡° Ibu membelikan ku hadiah mahal banyak sekali. Apa tidak apa-apa aku menerimanya tanpa membalasnya apa-apa. Tapi aku juga binggung harus memberi ibu apa.¡± Daniah menepuk dada Saga dengan tangannya. Lalu tangannya berputar pelan, mengalirkan kehangatan. ¡° Kau tidak perlu memberi ibu apa-apa. karena itu caranya minta maaf padamu.¡± Saga mengeser posisi tubuhnya. Hingga Daniah bersandar di tangannya. Sekarang wajah mereka berhadapan. ¡° Hei, lihat aku. Kenapa kau memalingkan wajahmu.¡± Aku malu tuan muda, kenapa juga kamu melorot begitu. ¡° Lihat aku!¡± Daniah langsung memalingkan wajahnya. Pandangan mereka bertemu. ¡° Nah begitu.¡± Tanpa perlu menunggu lama tatapan itu semakin mendekat. Hingga mereka berbagi nafas dalam ciuman yang lembut dan lama. Daniah mulai pandai mengatur nafasnya hingga dia tidak perlu tersengal lagi. ¡° Kau mulai pandai berciuman ya?¡± mendengar Saga mengatakan itu, Daniah langsung membenamkan wajah di dada Saga, malu menyeruak ke mana-mana. ¡° Kau sudah menghitung berapa hutang mu padaku. Mau mulai mencicilnya malam ini.¡± Tangan mulai tidak bisa di kondisikan. Sudah melekat di area favoritnya. ¡° Aku tidak mau menghitung utangku.¡± Menyentuh tangan Saga yang mulai mencengkram lembut. ¡° Wahh, wahh, kau mau mulai kurang ajar lagi!¡± mengeraskan cengkraman tangannya sampai Daniah meringis. ¡° Bukan begitu sayang.¡± Memaksa menarik tangan Saga agar menghentikan apa yang sedang dia lakukan. Dia mau menyelesaikan kalimatnya dulu. ¡° Aku tidak mau menghitung utangku dan membayarnya. Aku mau melakukannya, sebanyak yang kamu inginkan.¡± Apa aku sudah gila, sampai mengatakan hal memalukan begini dengan riang gembira. ¡° Apa!¡± Saga tertawa mendengar ucapan Daniah. ¡° Waahhh, wahhh, aku baru mengurungmu sehari kau sudah berubah sepatuh ini. Kau makan malam apa tadi?¡± Daniah diam tidak menjawab, hanya mengusapkan wajahnya ke dada Saga berulang. Uyel-uyel gemas mengingat apa yang dia kataakan secara sadar tadi. Malunya bukan main. bagaimana dia benar-benar tidak punya kendali menyerahkan dirinya seutuhnya pada Saga. ¡° Naiklah!¡± ¡° Apa? naik ke mana?¡± Daniah binggung. dia sudah naik ke atas tempat tidur. bahkan ada dalam dekapannya. Dia mau aku naik kemana, gumam Daniah berusaha berfikir lagi. ¡° Naik ke atasku!¡± Saga menarik lengan Daniah. Gadis itu bangun, duduk melangkah di bawah perut Saga. Menahan malu. ¡° Pak Mun memberi mu makan malam apa tadi, kau benar-benar jadi anak yang patuh ya.¡± Daniah hanya bisa membalas dengan senyum malu-malu. tidak tahu musti menjawab apa. dan kenapa dia begitu penurut malam ini. ntahlah, tubuhnya bereaksi secara tidak sadar untuk melakukan semua yang di inginkan Saga. Tiba-tiba Saga menarik bajunya dan melemparkannya ke lantai. Menepuk dadanya ber ulang kali. ¡° Hadiah untuk mu, kau boleh melakukan apapun yang kau mau.¡± Apa! kenapa dia tetap terlihat keren walaupun cuma melakukan hal begituan, menyebalkan sekali. kenapa semua yang di lakukan orang ganteng selalu keren si. Daniah menatap lekat tubuh Saga yang sudah terbuka itu, dia menyentuh dadanya dengan tangan kiri. Lama tangan kirinya menempel. dia bahkan memberi pijatan lembut di sana. Apa aku benar-benar tidak terlalu serakah, kalau aku memohon, benar-benar hanya aku yang bisa menyentuh tubuh sempurna ini. ¡° Hei air liur mu sudah mulai menetes itu.¡± Terkejut mendengarnya. Secepat kilat Daniah menarik tangannya, mengusap mulutnya dengan kedua lengannya sekaligus. Beberapa kali. Lalu tersadar setelah mendengar tawa laki-laki yang ada di bawahnya. ¡° Buahaha,...¡± Apa! aku kena lagi di kerjainya. Saga terpingkal cukup keras melihat ulah Daniah. Gadis itu kesal cemberut memukul dada Saga keras. melampiaskan kekesalannya. sepertinya cukup keras sampai membuat Saga mengaduh. Laki-laki itu menarik tubuh Daniah Jatuh di sampingnya. ¡° Apa kau baru sadar kalau aku itu setampan ini. Kenapa? sudah mulai tergila-gila padaku?¡± senyum tipisnya penuh kemenangan. Tidak bisa menjawab, kata-kata Daniah kalah cepat dengan bibir Saga yang mulai beraksi. Malam yang semakin larut tidak menyurutkan kobaran apa pun itu yang menyala di atas tempat tidur. Mereka melakukannya dan menikmatinya dalam balutan perasaan yang sama. Walaupun keduanya tidak mengatakan apapun tentang perasaan mereka. Tapi sepertinya malam ini perlahan Daniah mulai kehilangan perasaan takut atau terancamnya. Hingga mereka selesai dengan urusan mereka dia tertidur dengan wajah yang sangat tenang. BERSAMBUNG catatan author LaSheira : Hallo para pembaca semua, sebenarnya rencananya update terakhir akan akan aku lakukan hari selasa, sampai pada episode final. tapi sepertinya kolom komentar sudah mulai ramai ya. jadi aku putuskan update akan melalui dua tahap. Hari ini dan update sesuai jadwal insyaallah selasa. Kenapa gak sekarang semua tor sekalian tamatnya? Karena belum selesai di tulis, jadi memang belum bisa di up semua. Harap bisa memaklumi semuanya ya... Jadwal update final episode insya allah akan sesuai jadwal hari selasa ya, jam berapa tor? Gak pasti, tergantung review juga..... Terimakasih untuk yang sabar menunggu dan senantiasa berkomentar positif. Chapter 124 Terbongkarnya Rahasia Helen Siang ini sudah lewat waktunya makan siang, kafe ini pun sudah tampak lengang, setelah tadi tampak cukup padat. Sekertaris Han terlihat sudah sampai di area parkir. Dia tidak langsung keluar dari mobilnya. Sebentar, dia terlihat sibuk dengan hpnya. Setelah lewat dari lima belas menit dia keluar dari mobil, mengambil boks kardus dengan ukuran sedang dari bagasi mobil. Dengan sikap yang seperti biasa, tenang dan tanpa banyak berekspresi dia membawa boks itu memasuki kafe. Seorang pelayan penjaga pintu yang berdiri membuka pintu mengangukan kepala sopan. ¡° Saya sudah janji dengan seseorang.¡± Han mengedarkan pandangan menyapu ruangan. Dia menemukan yang dia cari. ¡° Dia sudah menunggu di sana.¡± Tunjuknya dengan ekor matanya. ¡° Baik tuan silahkan.¡± Dia mengangukan kepalanya lagi lalu mempersilahkan Han untuk menuju meja yang ditunjuknya tadi. Lalu dia kembali ke tempatnya semula setelah pelangannya menuju tempat duduknya. ¡° Kau datang sendiri?¡± suaranya terdengar sangat kecewa. Bagaimana tidak, dia mengesampingkan semua yang masuk ke pikirannya. Dan hanya memilih hal positif saja. Bahwa masih ada sedikit saja harapan. Dia berdandan dengan maksimal. Dengan tidak tahu malu dia akan tersenyum seperti tidak pernah terjadi apapun. Han tersenyum tipis sambil meletakan boks di atas meja. Lalu duduk tanpa menjawab. Gerakannya di ikuti dengan pandangan kesal wanita di depannya. ¡° Huh! Apa nona masih berharap tuan muda mau menemui anda lagi.¡± Sinis. ¡° Apa! kamu sendiri yang mengatakannya kalau Saga mau bertemu.¡± Helen terlihat sangat geram. Dari awal dia memang sudah sangat curiga. Terakhir kali bertemu Saga bahkan sudah mengancam untuk tidak boleh menyapanya kalau tidak sengaja bertemu. Tapi dasar gila, karena mendapat pesan sekertaris sialan ini, hati dan pikirannya tidak bisa di pakai berfikir sehat. ¡° Apa saya mengatakan tuan Saga akan datang. Silahkan cek lagi pesan yang saya kirim. Saya hanya mengatakan, bertemu di kafe XX ada pesan tuan Saga yang akan saya sampaikan.¡± Menunjuk hp yang ada di atas meja tepat di depan helen. ¡° Kau!¡± Helen membanting hpnya setelah membaca ulang pesan yang di kirim Han kemarin. ¡° kenapa kau mau bertemu denganku?¡± Sampai sejauh ini Helen masih memiliki keberanian mengertak sekertaris Han. Bagaimanapun dia sudah kehilangan Saga dan harga dirinya. Tidak ada apapun yang perlu dia lindungi, imejnya di hadapan laki-laki ini sudah hancur berkeping. ¡° Pelankan suara anda nona, atau anda sendiri yang akan merasa malu nanti.¡± Masih ada beberapa pelangan di kafe yang mulai sedikit terusik dengan ucapan keras helen. ¡° Kenapa? Memang aku melakukan apa?¡± Han mulai mendesah kesal, dia memalingkah wajah sebentar saat melihat seseorang, setelah orang itu duduk tepat di belakang tempat duduknya dia mulai meraih boks yang ada di atas meja. ¡° Kalau saya jadi anda saya bahkan tidak akan muncul lagi setelah dua tahun ke hadapan tuan muda.¡± Han mengeluarkan beberapa lembar foto. Melemparkannya tepat di di hadapan Helen. Gadis itu mulai merasa ada yang salah dari semua ini. Dia meletakan hpnya. Mengambil foto. Tangannya mulai gemetar, foto-foto itu jatuh dari tangannya. Foto-foto saat dia berada di luar negri, saat dia menikmati kebebasannya. Kebebasan yang hanya sesaat saja dalam rencananya. Akan tetapi dia terlena, hingga akhirnya dua tahun berlalu tanpa terasa. Dia berharap dengan wajah polosnya dia bisa kembali lagi, dalam pelukan Saga menjadi wanita yang di cintainya. ¡° Kau sudah gila ya? Bagaimana kau.¡± Han mendongakan kepala menatap tajam Helen. ¡° Saya hanya melindungi tuan muda.¡± ¡° Apa! jadi kau tahu semua? Dari awal kau pasti sudah mengawasiku kan.¡± Gemetar mencengkram meja. Pelayan datang membawakan dua buah minuman. Dia meletakannya lalu langsung berlalu pergi melihat aura yang sangat mencekam dari kedua orang di meja ini. ¡° Saya mengawasi semua hal yang berhubungan dengan tuan muda. Kalau anda penasaran apa saya memeriksa latar belakang anda. Tentu saja, saya memeriksa semua hal tentang riwayat hidup anda. Bahkan dari hal terkecil sekalipun.¡± Helen ingin melemparkan gelas minumannya ke wajah sekertaris Han. ¡° Lantas kenapa? Kenapa kau membiarkan aku masih bersama Saga dua tahun lalu?¡± gemetar-gemetar, antara takut namun jauh lebih banyak kesal di hatinya. Selama ini dia ternyata di awasi, tidak, dari awal dia sudah di awasi. Laki-laki ini tahu semua hal yang ku lakukan. ¡° Kenapa? Walaupun saya tahu anda rubah betina yang mendekati tuan muda hanya karena uang. Tapi saya membiarkan anda, karena tuan muda benar-benar tulus menyayangi anda. Saat itu saya hanya perlu memastikan anda tidak berhubungan dengan laki-laki lain dan menghianati tuan muda. Dan ternyata anda masih punya hati nurani untuk tidak melakukan itu, saat bersama tuan muda. Padahal kalau anda sedikit saja bermain mata dengan laki-laki lain pasti saya sudah menyingkirkan anda dari dulu dengan mudahnya.¡± Kalau aku menghianati Saga apa kau akan membunuhku saat itu. Helen menarik tangannya ke bawah meja. Agar tidak terlihat dia mencengkram tangannya sendiri. Menahan gemetar takut yang tiba-tiba muncul. ¡° Kau menjijikan sekali!¡± Han tertawa mendengar makian Helen. ¡° Kata itu bukankah lebih pantas saya ucap kan untuk anda nona. Berhentilah bicara omong kosong tentang alasan kepergian anda ke luar negri untuk menjadi pelukis, terkenal karena karya-karya sendiri, selain karena anda pernah menjadi kekasih tuan muda apa anda pikir bisa di terima semudah itu di dunia seni yang sekarang anda hidup. Saya tidak tahu dari mana rasa percaya diri anda itu.¡± ¡° Apa! memang itu alasanku pergi!¡± berteriak mempertahankan sedikit saja harga diri. Beberapa orang menoleh karena terganggu. Tapi tidak lama kembali ke makanan mereka. ¡° Bagaimana dengan menikmati kebebasan. Apa anda merasa berat dan tertekan mendapat kasih sayang tuan muda?¡± Kasih sayang yang di berikan Saga sering kali berlebihan. Helen tertawa memikirkan bagaimana dulu Saga sangat menyayanginya. Bagaimana dia harus menjalani hidup sebagai kekasihnya dengan banyak sekali aturan dan batasan yang tidak boleh dia lewati. Saat itu Helen merasa ingin sejenak saja lari, dia akan kembali setelah dia bebas menari dan berteriak di dunia luar sana. Dia berfikir setelah dia kembali Saga tidak mungkin akan berubah, tapi ternyata semua tidak ada yang berjalan sesuai ke inginannya. ¡° Sekarang semua itu tidak penting lagi!¡± Han bicara lagi. ¡° Anda sudah dibuang,¡± Wahh, hebat sekali sekertaris Han, kamu memilih kata menyakitkan itu. ¡° Apa salahku!¡± ¡° masih bertanya dengan tidak tahu malunya.¡± Jelas mencibir. ¡° Nona, anda sudah mengkhianati ketulusan cinta tuan muda. Membodohi laki-laki yang memang terlihat bodoh seperti tuan Noah untuk memuluskan rencana anda. Dan yang terakhir, berusaha mengoyahkan hati polos nona Daniah. Itulah kesalahan terbesar anda.¡± Helan menunduk semakin dalam. Dia ingin berteriak karena kesal dan marah. Namun kata-kata itu seperti benar-benar menamparnya. Pelan Helen bicara. ¡° Sampai sejauh mana Saga tahu, apa dia tahu aku berselingkuh di belakangnya di luar negri.¡± Menatap Han sebentar, lalu dia memalingkan wajah ke arah lain. Takut itu memasuki hatinya tanpa bisa dia cegah. ¡° Kalau tuan muda tahu, apa anda masih punya kesempatan berlutut kemarin.¡± Suara Han mengiris keberanian Helen. Laki-laki di hadapannya ini benar-benar sangat menakutkan. ¡° Nona, ini peringatan terakhir dari saya. Menghilang saja lah, pergilah dari negara ini dan jangan pernah kembali lagi kalau anda tetap mau hidup dengan nyaman.¡± Aku mulai bosan berlama-lama berurusan dengan mu. Han mengeluarkan selembar cek. ¡° Anggaplah ini sebagai kebaikan terakhir tuan muda.¡± Han rasanya ingin melemparkan cek itu ke wajah Helen, tapi dia hanya mengeser dengan tangannya. Helen melihat sekilas lalu dia tergelak. ¡° Tidak usah sok keren menolak nona, bukankah karena itu anda mendekati tuan muda.¡± ¡° Apa dia berbeda dengan ku. Wanita kampungan itu.¡± Tidak perlu ada yang ditutupi lagi. Helen meraih selembar cek itu. Melipatnya dan memasukannya ke dalam tas. Kalau dia sok keren menolak cek ini, toh dia juga tidak akan mendapatkan apa-apa. Dia tidak mendapatkan Saga ataupun uangnya. Sekarang dia sudah kehilangan harga diri, untuk apa harus kehilangan uang juga pikirnya. Dengan tidak tahu malu dia masih menunggu jawaban Han. ¡° Kalian tidak bisa di bandingkan. Nona kami terlalu berharga untuk dibandingkan dengan anda.¡± Apa! sudah gila ya dia. Helen mencengkram meja marah. Bagaimana dia bisa dibandingkan dengan Daniah. Dari semua level jelas dia ada di atasnya. Wajah, karir. Jelas-jelas Daniah ada di bawahnya. ¡° Huh! Memang apa yang dia punya¡± ¡° Ketulusan. Perasaan tulusnya pada tuan muda.¡± Jawaban Han terdengar sangat serius. Membuat Helen merinding sekaligus tergelak. ¡° Haha, apa kamu bilang. Selain kamu tidak mungkin ada yang tulus kalau berhubungan dengan Saga. Mereka pasti punya maksud tersenbunyi.¡± Menyindir dirinya sendiri, dan mengangap semua orang sama dengan dirinya ketika mendekati Saga. ¡° Itulah yang membedakan anda dan nona kami.¡± Han melihat jam di tangannya. Sudah cukup membuang waktu meladeni wanita ini pikir Han. ¡° Sudah cukup saya bicara dengan anda nona. Menghilanglah dengan tenang seperti angin. Jangan pernah muncul di hadapan tuan Saga ataupun nona Daniah lagi. Anda tahu kan saya tahu semua.¡± Seringai tipis seperti biasanya muncul. Menjadi akhir penutup kalimat panjangnya. Aku benar-benar ingin melemparkan gelas ini ke wajahmu. ¡° Tunggu! Satu pertanyaan lagi. Apa Saga benar-benar mencintai Daniah?¡± menatap lurus sekertaris Han dengan keberanian yang tersisa. Pertanyaan ini sangat penting dan akan di pakainya sebagai landasan akan melakukan apa ke depannya nanti. Perihal hidupnya. ¡° Karena tuan muda sangat mencintai nona Daniah dan karena nona Daniah adalah wanita yang membuat tuan muda bahagia. Saya akan melindungi nona muda kami dari apapun. Jadi berhati-hatilah nona, sehelai rambut saja anda menyentuh nona kami, saya akan benar-benar mematahkan jari-jari anda.¡± Helen mencengkram tangannya. Bagaimana sekertaris Han bisa paham maksud dari pertanyaannya. Dia benar-benar merasa sakit hati dengan Daniah dan ingin melihat sedikit saja gadis itu menderita. Tapi, hanya mendengar ancaman barusan sudah membuat semua pikirannya buyar. Semua rencananya sudah gagal bahkan sebelum dia memulai. ¡° Saya akan pergi. Ini hadiah perpisahan untuk anda. Simpanlah! Rahasia seharusnya tetap harus di sembunyikan. Untuk apa? agar sesuatu itu tetap menjadi berharga kan.¡± Senyum jahat yang tidak bisa di jawab walaupun hanya dengan bantahan sepatah kata pun. Han mendorong boks di atas meja, sampai ke depan helen. ¡° Tapi, sepertinya anda belum bisa pergi. Masih ada seseorang yang sepertinya penasaran dan inggin tahu, Helen si pelukis ini sebenarnya orang seperti apa. ia kan tuan Noah.¡± Helen langsung bangun dan memutar kepalannnya. Dia melihat Noah duduk di kursi belakangnya dan pasti mendegar semuanya. ¡° Kau!¡± Nafasnya sudah tersengal panik. ¡° Ini balasan karena anda menyentuh nona Daniah kemarin.¡± Bangun dari duduk. ¡° Sepertinya kau niat sekali ya ingin menunjukan kalau aku laki-laki bodoh.¡± Noah juga bangun dari tempat dudukya, berjalan mendekat. Berdiri di hadapan Han. ¡° saya tidak tahu anda di sini tuan. Kalau tahu saya pasti akan berhati-hati bicara.¡± Kurang ajar, jelas-jelas kau melihatku tadi. Kau bahkan mulai melancarkan aksimu setelah aku datang kan. Noah melihat Han meninggalkan mereka, pergi dengan kemenangan. ¡° Noah!¡± helen meraih tangan Noah. Wajahnya sudah berubah menghiba. Namun ntah kenapa hati laki-laki itu seperti kebas. Dia tidak merasa kasihan sama sekali. BERSAMBUNG Chapter 125 Kencan (Part 1) Ketika seseorang merasa di cintai dia akan jauh lebih bisa merasa positif dalam melakukan apapun. Walaupun sampai hari ini Daniah belum sekalipun mendengar pengakuan Saga tentang perasaannya. Namun karena dia merasa di cintai, dia sudah merasa itu lebih dari cukup. Untuk saat ini, dia tidak akan serakah. Menuntut apapun dari Saga. Seminggu hampir berlalu. Masa percobaan bisa di lewati Daniah dengan sukses. Dalam kurun waktu itu tidak tahu apa yang membuatnya bisa sepatuh itu. Tapi dia benar-benar menuruti apa yang di katakan Saga tanpa banyak bicara. Saking curiganya sampai Saga memeriksa makanan apa yang di berikan pak Mun pada istrinya. Apa ada indikasi pak Mun memberikan makanan penghilang kesadaran. Nihil. Makanan yang di berikan pak Mun sudah sesuai standar ahli gizi yang bekerja pada keluarganya. Sepertinya gadis itu mulai menjalani perannya sebagai istri dengan baik. ¡° Karena kau sudah sepatuh ini, baiklah hukuman mu selesai. Kamu bisa bebas keluar rumah lagi seperti biasa.¡± Mereka tiduran di atas tempat tidur saling berpelukan, setelah menyelesaikan dan menuntaskan gairah mereka masing-masing. Daniah menarik selimut sampai ke lehernya karena sudah tidak memakai apapun. ¡° Terimakasih sayang.¡± Memeluk Saga erat. Akhirnya, aku bisa keluar dari rumah. Hiks. Aku kangen cilok di dekat ruko. Aku kangen Tika juga. ¡° Hemm.¡± Mengusap kepala Daniah pelan. ¡° Terimakasih sayang, jadi mulai besok aku sudah bisa mulai bekerja lagi kan.¡± Antusias. Memikirkan cilok dan semua rutinitas harian di ruko. ¡° Besok akhir pekan kan?¡± Duarrr, cilok ku. Semangkok cilok bersayap terbang tinggi ke angkasa. Membuat Daniah menitikan air mata dalam hatinya. Kenapa dia curang sekali, membebaskan hukuman ku di akhir pekan. Jelas-jelas akhir pekan aku harus bersamanya di manapun dia berada. Apalagi saat dia ada di rumah. ¡° Ah ia, aku akan di rumah dan tidak kemana-mana. Apa kamu ada acara sayang?¡± Pergilah! Tolonglah ada acara penting. Aku tidak mau seharian bersama mu lagi. ¡° Ayo kita kencan.¡± ¡° Kencan?¡± Kaget. Kosa kata yang sangat mahal harganya untuk Daniah. Baginya kencan adalah barang mahal yang hanya menghamburkan uang. Karena dia bukan tipe wanita yang mau di bayarin oleh teman kencannya. Jadi setiap pergi keluar kencan mereka akan membayar masing-masing. Kenapa? Toh tidak ada salahnya kalau laki-laki yang keluar uang kan. Memang, namun bagi Daniah hati mereka berdua belum terlalu jauh terikat untuk sampai tergantung sejauh itu. Tiga kali dia berkencan, hubungan mereka memang masuk kategori cukup serius. Namun dia tidak mau terlalu tergantung, karena antara mereka belum terikat hubungan apa-apa. dia sadar itu, hubungan keluarganya yang terikat darah pun belum cukup membuatnya mengantungkan diri pada keluarganya. Apalagi hanya sebatas pacaran dan teman kencan. Mereka hanyalah dua orang asing yang berusaha mencari tahu satu sama lain, untuk meningkatkan kehubungan yang lebih dekat lagi. Belum ada ikatan apapun yang terjalin. Apa dia mau kencan ala manusia normal atau ala presdir Antarna Group. ¡° kenapa sayang? Kenapa tiba-tiba mengajak ku kencan.¡± ¡° hemm, sebagai hadiah kepatuhan mu seminggu ini.¡± Bergumam pelan di telinga Daniah. ¡° Kamu tidak mau?¡± ¡° Mau, mau aku mau.¡± Mulai waspada kalau Saga mulai mengunakan kalimat tanya dalam kata-katanya. Daniah terlihat berfikir secara serius. Tentang tema kencan yang pas untuk dirinya dan Saga besok. Mereka masih mengobrol lama sampai akhirnya Daniah terlelap dalam pelukan Saga. Laki-laki itu mencium kening istrinya lalu ikut tengelam dalam mimpi, sambil masih memeluk istrinya. Kencan ala rakyak biasa, Daniah menyebutnya ala rakyat jelata seperti dirinya. Bukan kencan ala yang mulia raja yang semua harus serba privat dan sendirian. Kali ini kencan terbuka. Daniah ingin sekali memperkenalkan kehidupan masyarakat biasa pada Saga, walaupun maksud terselubungnya ingin menjahili Saga seharian. Hehe. Apa! memang ada rakyat biasa yang berkencan dengan penampilan seperti ini. ¡° Sayang, kamu salah kostum. Tidak ada laki-laki biasa yang berkencan dengan dandanan seperti ini.¡± Daniah melepaskan jas yang di pakai Saga. Lalu menarik tangan Saga masuk kembali ke ruang ganti baju. Kenapa dia gak punya baju santai si. Daniah membuka lemari, memeriksa isinya satu persatu. Dia tidak menemukan apapun yang dia cari. ¡° Hei, kamu mau apa?¡± mulai protes ketika Daniah membuka satu demi satu kancing kemeja yang dia pakai. ¡° Buka! Pakai yang ini saja.¡± Daniah mengeluarkan pakaian semi formal dari dalam lemari. Kemeja lengan pendek. Tidak terlihat terlalu menjolok. Cih, dia memalingkan muka. Sebenarnya yang membuat Saga mencolok bukannya pakaiannya tapi wajahnya. Daniah bergumam sambil merapikan lengan baju Saga. ¡° Apa-apa an ini, kenapa kamu mengulung lenganku lagi, ini kan baju lengan pendek?¡± protes dengan selera norak Daniah. ¡° Haha, biar terlihat lebih santai sayang. Sudah-sudah ayo keluar.¡± Daniah mendorong tubuh saga dari ruang Ganti. Masih mendengarnya bicara dengan nada kesal, tapi dia tidak membongkar lengan bajunya dan membiarkannya seperti itu. Di depan tangga dia menarik baju Daniah sampai gadis itu berhenti kaget. ¡° Ambil topi sana!¡± memegang Dagu Daniah memutarnya ke kanan dan ke kiri. Mengamati secara serius. ¡° Buat apa?¡± menurut saja ketika wajahnya bergoyang ke kanan dan ke kiri. ¡° Buat menutupi wajahmu. Penampilan mu ini mencolok sekali. Lihat wajahmu. ¡° memegang dagu Daniah lagi. ¡° Lihat rambut mu.¡± Memegang rambut. Aku bisa gila karena emosi nanti kalau sampai ada yang melirikmu. Saga ingin berteriak begitu. Tapi dia hanya menatap tajam saja. Memang kenapa dengan penampilanku, aku kan sudah memakai riasan senatural mungkin, menyisir rambut ku dengan rapi. ¡° Tutupi itu semua, kamu mau mengoda siapa dengan penampilanmu itu?¡± Apa! jelas-jelas wajahmu itu yang terlalu mencolok untuk masuk kategori manusia biasa. Dan siapa yang akan tergoda dengan wajahku begini. ¡° Ambil topi sana, atau kita batalkan kencan. Lebih enak tidur seharian di kamar sambil memeluk mu.¡± Ancaman mematikan. ¡° Aaaaa, ia, ia, aku ambil topi sebentar ya sayang. Kamu tunggu dibawah ya.¡± Daniah berbalik ke kamar. Dia belum pernah menemukan topi atau sejenisnya ada di lemarinya. Tapi sepertinya sekertrais Han pasti ada menyimpannya di suatu tempat. Syal berbunga waktu itu saja ada pikir Daniah. Dan benar saja dia menemukan banyak sekali topi di lemari kaca bagian atas. Kenapa aku tidak pernah melihat ini ya. Ini tidak muncul baru saja karena aku mencari topi kan. Haha, memang ini dunia fantasi apa. Daniah memilih dua topi dengan warna hitam. Kalau-kalau suaminya mau pakai juga. Langsung keluar, takut yang mulia mulai kesal karena di suruh menunggu. Dia hanya memegang topi itu di tangannya, tidak memakainya. Saat menyusuri tangga dia mendengar suara sekertrais Han. Sedang terlibat pembicaraan dengan Saga. Sepertinya mereka sedang membicarakan tentang perusahaan. Daniah mendekat, langsung berdiri di samping Saga. ¡° Dia tidak ikut kan?¡± menunjuk sekertaris Han. ¡° Kita kan mau kencan ala rakyat biasa seperti janjimu, jadi kita ikuti aturan mainku kan.¡± Bertanya lagi. ¡° Terus mau kita jalan kaki sambil bergandengan tangan keluar rumah. Sampai besok juga tidak akan keluar dari kompleks.¡± Menjawab panjang sekali, tapi jawabannya juga menyebalkan. Memang si, kawasan elite ini luas sekali. ¡° Bukan begitu sayang, kita kan bisa naik angkutan umum. Naik taxi online.¡± Begitulah biasanya anak muda kencan tuan muda. Cukup dengan modal seadanya. Jalan bergandengan berdua. ¡° Hei, jangan sembarangan ya. Memang siapa yang mengizinkanmu naik mobil dengan orang asing. Aku tidak suka melihatmu berbagi udara dengan laki-laki asing dalam satu ruangan.¡± Apa! dia ini mulai kambuh gilanya. Bisa-bisanya hal beginian dia pikirkan. Berbagi udara, dapat kosa kata dari mana si dia. Daniah kehabisan kata-kata membalasnya, dia hanya menatap sekertaris Han kesal. Kalau sampai dia ikut, kencan ala rakyat biasa mustahil bisa terlaksana. Jangankan bisa mengerjai Saga. Jangan-jangan dia yang akan di kerjai lebih-lebih nanti. ¡° Kalau begitu anggap saja saya taxi online tuan muda. Saya akan mengantar kencan kalian kemanapun, tanpa menggangu anda.¡± Daniah terlihat berfikir, menatap Han. Ide apa itu, jelas-jelas kamu sekertaris Han. Yang bisa di suruh melakukan apapun oleh Saga. ¡° Benar juga, anggap saja begitu.¡± Menjawab senang. Saga menyukai ide itu. Dia menepuk bahu Han dengan penuh kebanggaan. Bagaimana bisa di anggap begitu, kenapa untuk hal beginian kalian kompak sekali si. ¡° Baiklah, tapi janji jangan menggangu kencan kami ya.¡± Daniah melingkarkan tangan di lengan Saga. ¡° Hari ini dia hanya suamiku, bukan presdir Antarna Group.¡± Lelaki biasa yang tidak akan melemparkan uang ke arena bermain lalu mengatakan kepada pemiliknya. Aku hanya mau berdua dengan wanita ku di sini, usir pengunjung yang lain. Aaaa memikirkan hal begituan sudah membuat Daniah merinding. ¡° Tentu saja nona, saya hanya akan menjadi supir taxi online anda.¡± ¡° Sayang hentikan.¡± Daniah mendorong tubuh Saga yang menempel di sampingnya. Bukan hanya menempelkan tubuh, bibir dan tangannya juga sibuk beraktivitas. ¡° Dia melihat kita nanti. ¡° Daniah menunjuk kursi pengemudi yang sedang fokus membawa kendaraan. ¡° Pak sopir apa kau melihat kami sekarang, melihat apa yang ku lakukan pada istriku.¡± Saga tidak tahu malu bertanya. ¡° Tidak tuan.¡± Menjawab singkat dan terus fokus mengemudi. Han memang tidak sedikit pun melirik kaca spion. Dia memang tidak melihat tapi kan dia mendengar kali. Dia kan tidak tuli. Saga tersenyum pada Daniah. ¡° Dia tidak melihat kan.¡± Ya iya, dia tidak melihat tapi dia kan dengar! ¡° Pak sopir apa kamu keberatan aku mencium istriku di sini.¡± bertanya lagi pada sopir taxi onlinenya. ¡° Tentu saja tidak tuan, silahkan lakukan apapun yang kalian inginkan.¡± Apa kalian sedang main sopir-sopiran sekarang. Dan mana ada sopir yang menjawab begituan. Kalau kamu benar sopir taxi online kami pasti sudah di seret keluar dari kendaraan. ¡° Sayang hentikan.¡± Mendorong wajah Saga dengan kedua tangannya. ¡° Cih, lihat lah baru sehari aku menghapus masa hukumanmu kamu sudah kurang ajar begini.¡± Apa! siapa yang berani kurang ajar padamu tuan muda. Kamu kan yang isengnya kelewatan. ¡° Sayang, bukan begitu.¡± Menarik tangan Saga. ¡° Kamu boleh menciumku di manapun kamu mau, di sini.¡± menunjuk lehernya. ¡° Di sini.¡± menunjuk pipinya. Dan seterusnya sampai semua anggota tubunya tertunjuk. ¡° Lakukanlah sebanyak yang kamu inginkan.¡± Menyerah kalah. Sudah gila ya! Kenapa kau mencium semua bagian yang aku sebutkan tadi. Setelah selesai dengan kelakuannya, Saga memeluk Daniah dan menyadarkan kepalanya di bahu gadis itu. Daniah hanya menepuk-nepuk kepala Saga lembut. Kehabisan kata-kata. ¡° Pak sopir, apa kau ada pekerjaan setelah mengantar kami.¡±Saga bicara pada sopirnya lagi, masih menyandarkan kepalanya. ¡° Tidak tuan.¡± Han menjawab singkat. ¡° Kalau begitu aku mau menyewa mobil ini seharian. Hari ini aku mau kencan dengan istri ku, jadi aku mau memakai mobil ini mengantar ke mana kami pergi. ¡± ¡° Baik tuan. Saya akan matikan aplikasi. Saya akan mengantar kalian kemana saja.¡± Mengkhayati perannya sebagai sopit taxi online. ¡° Haha, sudah cukup. Kalian ini sedang main drama sopir sopiran ya.¡± Daniah tidak bisa menahan tawanya mendengar percakapan ke dua orang yang saling memahami itu. Yang satu aneh yang satunya selalu menggangap keanehan tuannya sesuatu yang harus di lindungi. Jadi dia benar-benar tahu harus melakukan apa. ¡° pak sopir siapa nama anda?¡± Daniah ingin ikut main drama. ¡° Jangan bicara dengannya.¡± Memeluk tubuh Daniah semakin erat. ¡° Aku tidak mau kamu bicara dengan orang asing.¡± Bagaimana aku bisa terlibat dengan dua orang aneh ini si. Mobil memasuki area parkir mall. Akhir pekan semakin ramai. Terlihat dari antrian di pintu masuk. Daniah dan Saga turun dari mobil. Memasuki pintu mall. Ramai sekali pengunjung. Mereka terlihat gembira. Ada yang saling bergandengan tangan. para orang tua yang sibuk berteriak pada anak-anak mereka agar tidak lepas dari pengawasan. Daniah pun demikian, mengandeng tangan Saga erat. Memakai topinya dan menarik nafas panjang. Kencan pertama ku dengan suamiku. BERSAMBUNG Chapter 126 Kencan (Part 2) Kencan ala rakyat biasa di mulai. Rencananya Daniah akan mengerjai Saga untuk mengenalkannya pada kehidupan rakyat biasa. Tapi benarkah yang terjadi akan demikian, atau sebaliknya. ¡° Bawa ini sayang.¡±Daniah melingkarkan tasnya ke leher Saga, laki-laki itu tampak binggung melihat tas Daniah yang melingkar di lehernya. Lebih-lebih saat istrinya tidak menunggu persetujuannya. ¡° Hei, kau mulai kurang ajar begini ya.¡± Menunjuk tas yang melingkar di leher dengan matanya. Menatap kesal. ¡° aaaa, sayang begini memang kalau kencan rakyat biasa. Laki-laki biasanya memegang tas perempuannya. hehe.¡± Agak memalingkan wajah, supaya tidak terlihat kalau sedang tersenyum menahan kebohongan. Kapan lagi kan aku bisa mengerjai mu. Hehe. ¡° Cih!¡± mendengus. ¡° Kalau tidak mau ya sudah.¡± Daniah sudah memegang tali tas dengan kedua tangannya. Mau mengambilnya. ¡° Lepaskan!¡± menepis tangan Daniah agar melepaskan tali tas. ¡®¡¯ Mau apa kamu?¡± ¡° Aku mau membawa tas ku sendiri sayang.¡± Tersenyum. ¡° Kenapa? Kamu tidak mau aku membawa tasmu? Ia.¡± Mulai kesal kan. Bukan! Tadikan kamu yang tidak mau. Dasar! Kata-kata selalu tidak bersinergi dengan perbuatan. ¡° Kalau begitu tolong bantuannya ya sayang.¡± Haha, dia lucu sekali. Aku akan balas dendam mengerjaimu hari ini ya. Kenapa dia jadi terlihat manis begitu dengan tas ku di lehernya. Aku tidak akan di penggal sekertaris Han kan karena mengerjai tuannya. ¡° Eh pak sopir kenapa mengikuti kami?¡± Daniah mulai terganggu, ketika sekertaris Han bahkan berada di radius kurang dari lima meter dari jarak mereka berdua berdiri sekarang. Kalau kamu ikut dia tetap tuan Saga donk bukan suamiku. ¡° Jangan bicara padanya!¡± menarik tangan Daniah. ¡° Biarkan dia, dia pasti tidak punya kerjaan karena mobilnya sudah ku sewa seharian ini.¡± ¡° Jangan ikuti kami!¡± Daniah menuding sekertaris Han lalu menuding matanya. Jangan mengawasi kami, begitu dia berteriak dalam hati. ¡° Saya cuma mau jalan-jalan menghabiskan waktu saja nona. Silahkan kalian nikmati kencan kalian.¡± Selamat bersenang-senang dan membalas tuan muda nona. Rugi sekali kan kalau saya tidak menonton drama ini langsung. Mereka berdua akhirnya benar-benar memutuskan tidak perduli dengan keberadaan sekertaris Han. Cuma Daniah yang berusaha. Saga sendiri selalu tidak pernah terganggu dengan keberadaan sekertaris Han di sampingnya. Walaupun laki-laki itu menempel seperti permen karet menggangu, Saga tidak pernah merasa terganggu sedikit pun. ¡° Pakai topimu dengan benar!¡± menarik sampai semua bagian wajah Daniah tertutup. ¡° Sayang aku tidak bisa melihat.¡± Sudah gila ya, yang mencolok itu wajahmu. Lihat, orang-orang sudah mulai melirikmu kan. Tampan, tinggi. Sempurna. ¡° Aku akan jadi mata untuk mu. Pegang tangan ku.¡± Haha, apa dia bilang. Belajar dari mana dia gombalan beginian. Aku bahkan tidak mengajarinya. ¡° Kenapa mereka melihat mu? Aaaa, bisa gila aku karena kesal melihat mereka melirikmu terus. Katakan kau mau membeli apa biar Han yang membelikannya untuk mu! Ayo segera keluar dari sini. aku mau kencan di tempat yang tidak ada orang lain.¡± mulai deh banyak sekali bicara. ¡° Sayang, bukan aku yang mereka lihat.¡± ¡° Lalu siapa? Dari tadi mereka melihat ke arah kita.¡± Kesal. Kamu, kamu, kamu yang dilihatin mereka. Wajah tampan dan tinggi sempurna mu itu yang sedang di nikmati mereka. Aku ini cuma kantong kresek terlihat dari sudut pandang mereka tahu. ¡° Tapi kan janji kalau kencan hari ini kencan rakyat biasa. Aku yang lebih berpengalaman di sini, jadi ikuti saja aku. Ayo!¡± Mendengar itu Saga menghentikan langkah kakinya, dia mengibaskan tangan Daniah yang memegang tangannya. Gadis itu berbalik panik. Apa lagi si! ¡° Jadi sudah dengan siapa saja kamu kencan ala rakyat biasa begini.¡± Suara Saga sudah berubah ¡°Jangan-jangan kamu sudah pernah kencan di sini, dan mengulangnya dengan ku?¡± terdengar tidak suka dari nada bicaranya. Lho, kenapa jadi aku, seharusnya aku kan yang mengerjaimu. Kenapa belum apa-apa aku sudah kena begini. ¡° Bukan begitu,¡± mendekat dan memeluk Saga. ¡° Ini juga pertama kalinya aku kencan dengan laki-laki.¡± Diam sebentar menatap Saga. Wajahnya belum melunak sama sekali. ¡° ini juga pertama kalinya aku kencan dengan laki-laki yang aku sukai.¡± Memalingkan wajah malu. ¡°Aku tidak punya waktu untuk kencan seperti ini dulu, kami sibuk mencari uang. Mantan.¡± ¡° Diam! Jangan bicara tentang mantan pacarmu.¡± Mencium kepala tertutup topi itu. ¡° Baiklah, karena ini kencan pertama mu dengan laki-laki yang kamu sukai. Aku akan berbaik hati menuruti semua maumu.¡± Haha, kena kau. Aku tahu kamu Cuma fokus di kata-kata kencan dengan laki-laki yang ku suka kan. ¡° Janji ya.¡± ¡° hemm.¡± ¡° Ayo jalan.¡± Daniah menarik lengan Saga keluar dari toko. ¡° Hei tunggu, aku mau membelinya untuk mu.¡± ¡° Ssstttt.¡± Daniah menutup mulutnya dengan jari agar Saga diam dan mengikutinya saja. ¡° Bagaimana bisa mereka menjual dengan harga semahal itu.¡± ¡° Terserah dengan harganya, yang penting kamu kan suka.¡± Gusar. ¡° Ayo kembali, aku belikan kalung itu.¡± Daniah mengeleng tidak mau. Week, kesal kan kamu. Memang ini yang namanya jalan-jalan cuci mata doank kok. untuk jutawan sepertimu menghabiskan waktu dengan cara ini pasti mengesalkan. ¡° Hei, kau tidak waras ya. Sudah berapa kali kita masuk toko, tidak ada satu barang pun yang kamu beli.¡± Mulai setengah berteriak karena kesal. Beberapa orang berhenti melihat perdebatan mereka. Tapi segera menyingkir ketika Saga dengan sorot mata kesalnya melihat mereka. ¡° Haha, sayang ini lah seninya kencan rakyat biasa. Kamu tidak perlu modal untuk membuat pasanganmu bahagia. Cukup ajak dia cuci mata saja sudah senang kok.¡± Daniah secara paksa mendorong tubuh Saga berjalan menjauh dari toko yang untuk kesekian kalinya dia masuki cuma untuk melihat-lihat. Aku akan membuat kaki mu pegal sampai mau copot. Haha. ¡° Ayo beli camilan.¡± Menarik tangan supaya Saga mengikuti langkah kakinya menuju food court mall.Saga mengeluarkan ponselnya dia mengetikan sesuatu, sambil mengimbangi langkah kaki Daniah di sampingnya. ¡° Beli semua barang yang di tunjuk daniah di toko yang kami masuki tadi. Semua!¡± pesan terkirim. Kata semua dengan tanda seru, mengisyarak kan jangan sampai terlewat satu item pun. Mereka menghentikan langkah setelah melihat deretan stand makanan. Bau dan aroma makanan bercampur. Ada yang mendominasi kuat sampai beberapa radius aromanya tercium. Mengoda para pelanggan mendekat. ¡° Sayang pesan makanan di sana ya. Kemarikan tasku, aku tunggu di kursi itu ya.¡± Daniah menunjuk kursi di dekat jendelan. Saga terlihat binggung. Kenapa dia yang harus pesan. ¡° Kenapa aku yang pesan?¡± bertanya serius. ¡° Karena begitu seharusnya. Tidak mau ya? Kalau begitu.¡± Daniah sudah mau mengalah, biar dia memilih makanan. ¡° Duduk! Biar aku yang pesan. Jangan bergerak kemanapun. Turunkan topimu lagi.¡± Menarik topi Daniah turun. Ia, ia. Walaupun kesal tetap Daniah menurunkan topinya. Cih, jelas-jelas semua orang sedang meliriknya, kenapa aku yang di suruh menutupi wajahku. Daniah sudah menunggu di kursi. Ramai pengunjung dan ramainya antrian. Dia mengeluarkan hpnya. Mengambil foto Saga dari kejauhan. Momen pertama kalinya dalam hidup Saga, mengantri membeli makanan. Untuk pertama kalinya dalam hidup Saga. Dia memesan minuman sendiri. Canggung memilih menu. Namun pelayan wanita di depannya dengan suka cita membantu. Dia terlihat tersenyum jauh lebih ramah dari pada dengan pelanggan sebelumnya. ¡° Ada lagi kak?¡± Saga menunjuk satu boks camilan yang terlihat seperti bola-bola bakso di goreng dan juga satu cake coklat yang terlihat enak. Sigap pelayan itu menyiapkan pesanan. Berhasil, Berhasil. Begini kan caranya. Huh! Apa kamu pikir aku tidak bisa melakukan hal seperti ini. Meremehkan sekali. Saga membawa nampan berisi makanan dan minumannya. Daniah yang melihat dari kejauhan tidak bisa tidak untuk tidak mengabadikan momen bersejarah ini. Banyak sekali foto yang dia ambil. Saat Saga berjalan ke arahnya dengan kesusahan membawa nampan berisi makanan. Prok, prok, prok. Daniah bertepuk tangan kecil saat Saga sampai di tempat duduk dan meletakan nampan. Sukses mendarat dengan sempurna tanpa ada satupun makanan dan minuman yang tercecer. ¡° Terimakasih sayang. Kamu hebat sekali.¡± bertepuk tangan kecil lagi, menunjukan pujian dan kebanggaan. ¡° Huh! Hanya seperti ini saja. Gampang.¡± Tapi dia membusungkan dada bangga dengan wajah merona bahagia. Membuat Daniah senyum. Dia benar-benar merasa bangga. Mengemaskan sekali. ¡° Kau senang?¡± Tanya Saga. Daniah mengangukan kepalanya berulang. Saga meraih minumannya, dia sengaja membeli dengan dua rasa berbeda. Dua-duanya dia cicipi semua, lalu menyerahkan salah satunya. Pada Daniah. ¡° Seharusnya aku cuma pesan satu ya, biar kita bisa berbagi bibir.¡± Huh! Kau bahkan sudah menyedot semuanya, masih bilang begitu. ¡° Sayang, apa kau menyuruhnya mengikuti kita.¡± Daniah melihat sekertaris Han menuju ke tempatnya duduk. Dia melewatinya hanya mengangukan kepala sedikit. ¡° Tidak, mungkin dia haus. Jangan perdulikan dia. Lihat aku, hanya lihat aku!¡± menarik-narik tangan Daniah agar gadis itu hanya melihatnya. ¡° Ia, ia.¡± Hup memakan camilan yang dibeli Saga. Daniah sudah meletakan satu bola-bola bakso di depan mulut Saga. Laki-laki itu mengeleng. ¡° Hemmm. Buka mulut. Seharusnya sekarang.¡± Daniah belum menyelesaikan kalimatnya Saga sudah membuka mulutnya. ¡° Puas!¡± mengunyah makanan yang dimasukan Daniah ke mulutnya. ¡° Hehe.¡± Puas donk, biasanya kamu tidak pernah makan jajanan beginian kan. Habis ini kita kemana lagi ya? BERSAMBUNG Chapter 127 Kencan (Part 3) Acara selanjutnya dari kencan yang di atur Daniah adalah menonton film. Tentu saja dia memilih ini, karena biasanya orang kencan selalu melakukan ini kan. Menonton berdua, di temani film yang ntah apa, tapi tetap saja keluar dari bioskop dengan perasaan bahagia. Bergandengan tangan sambil malu-malu. Pura-pura menikmati film, padahal di dalam gedung bioskop tadi hanya memastikan debaran hati mereka tidak terdengar. Mereka sudah terlibat pembicaraan cukup panjang di depan loket karcis. untung saja tidak ada yang mengantri di belakang mereka. penjaga karcis tampak binggung. tapi dia menikmati tontonan di depannya. habis laki-lakinya ganteng banget si, begitu pikirnya menghibur diri. dia agak berfikir cukup lama, mengingat-ingat dimana pernah melihat wajah Saga. tapi sepertinya dia tidak berhasil menemukan petunjuk apa-apa. ¡° Mana ada orang yang menyewa seluruh bioskop untuk nonton berdua!¡± Daniah mulai kesal. Mana ada orang gila yang menghambur-hamburkan uang sampai segitunya. Tidak ada yang akan melakukannya. kecuali lagi syuting film. Atau di lakukan yang mulia tuan Saga. ¡° Aku tidak mau ada orang yang duduk di samping mu!¡± tidak kalah kesal. Daniah mulai merengut mendengar perkataan Saga. ¡° Baiklah, aku hanya akan membeli satu baris kursi. Jangan protes lagi, itu sudah standar terendah toleransi ku.¡± Begitu katanya bernegosiasi. Jelas-jelas ini bukan negosiasi tapi final keputusannya. Akhirnya Saga membeli satu baris kursi. Itu pun dia lakukan dengan sangat terpaksa. Walaupun sebenarnya di jam segini memang tidak terlalu banyak yang menonton. Setelah selesai urusan karcis, sepertinya masih harus menunggu beberapa menit lagi pintu dibuka. Membuat mereka berjalan menuju area penjualan makanan. ¡° Beli popcorn dan cola sayang.¡± ¡° Apa itu?¡± lagi-lagi bertanya tidak tahu apa-apa. Daniah tergelak, dia menunjuk stand makanan yang ada tidak jauh dari mereka duduk. Terlihat beberapa antrian ada laki-laki dan perempuan juga yang terlihat mengantri di sana. ¡° Camilan untuk kita nonton nanti¡± Camilan lagi, bukannya barusan makan. Memang wajib apa makan popcorn sambil nonton, makan buah aja sana. Saga mulai kesal dengan kencan ala rakyat biasa ini. ¡±Sayang saat kamu mengantri nanti, balikan badanmu, lihat aku dan lambaikan tanganmu ya.¡± ¡° kenapa? Kurang kerjaan.¡± Meraih dagu Daniah. ¡° Jangan aneh-aneh ya, mau aku mencium mu di sini karena kesal.¡± Ancamnya. ¡° Cek, cek.¡± Daniah berdecak dengan mulutnya. Menyentuh tangan Saga yang belum diturunkannya. Sejujurnya Daniah takut kalau laki-laki di depannya benar-benar akan menciumnya. ¡° Sayang, kamu benar-benar tidak tau apa-apa tentang kencan ya. Lihat itu!¡± Daniah menunjuk seorang laki-laki yang sedang dalam antrian membeli makanan. Dia berbalik dan melambaikan tangan pada seorang wanita yang sedang berdiri di kejauhan. Lihat kan, begitu caranya.¡± Daniah bernafas lega, ketika ada adegan norak yang baru dia katakan. Cih Pergi meninggalkan Daniah. Mengantri. Di depannya ada dua laki-laki yang juga sedang menunggu giliran. Tunggu tadi bagaimana prosesnya ya. Aku pesan dulu baru berbalik melambaikan tangan. Atau aku berbalik dulu dan melambaikan tangan baru pesan. Sial, kenapa aku tidak konsentrasi begini. Sambil berdebat dengan pikirannya Saga mulai mengawasi dua laki-laki di hadapannya. Aaaa, ternyata pesan dulu baru melambaikan tangan. Tapi kenapa laki-laki di depanku ini tidak melakukannya. Haha, mungkin dia jomblo dan sedang menonton film sendirian. Kasihan. Tapi dia pesan dua minuman. Terserah lah. Menghentikan perdebatan dengan dirinya sendiri. Laki-laki di depannya sudah menyelesaikan pesanan, langsung berlalu. Tanpa melakukan adegan berbalik dan melambaikan tangan. Pesan, berbalik, lambaikan tangan. Pesan, berbalik, lambaikan tangan. Di ulang beberapa kali di kepalanya seperti merapal mantra. ¡° Selamat siang kak.¡± Bengong, menatap Saga, dia bahkan tidak menyelesaikan kalimatnya. Menawarkan mau memesan apa pada pelanggannya. ¡° Nona!¡± saga setengah berteriak sampai wanita di depannya terjaga dari hipnotis wajahnya. ¡° Apa saya sudah bisa memesan.¡± Dia mengetuk meja beberapa kali dengan jarinya. Seperti berkata, saya sudah menunggu anda bengong dan menatap saya cukup lama tahu. ¡° Maaf kak, maafkan saya.¡± Menunduk malu. ¡° Silahkan mau pesan apa?¡± Saga menunjuk foto makanan yang dia pesan. Wanita di hadapannya menghitung totalan. Dadanya masih berdebar kencang. Tapi dia tidak berani melirik lagi pelanggannya. Lalu ia menyiapkan apa yang di pesan Saga. Cukup cekatan rupaya. Setelah kesalahan terbengong di beberapa saat tadi sepertinya dia cukup tau diri kalau pelanggannya merasa kesal. ¡° Silahkan kak. Ada lagi.¡± ¡° Tidak.¡± Saga mengambil satu cup soda ukuran besar, dan popcorn juga dalam size besar. Dia meletakannya di tangan mendekapnya di dadanya. Berbalik, berjalan ke arah Daniah. Langkah kakinya terhenti. Wajahnya langsung berubah kesal tanpa sebab. Sial! Bagaimana aku bisa melewatkan hal penting tadi. Dia berbalik menatap wanita yang melaninya. Gara-gara kesal karena dia bengong aku jadi tidak konsentrasi. Saga membanting makanan dan minumannya di atas meja. Di depan Daniah. Gadis itu hanya melihat saja yang di lakukan Saga. ¡° Sayang. Mau kemana lagi.¡± Bertanya dengan suara keras karena Saga sudah berjalan meninggalkannya. Laki-laki itu berbalik mendekat. ¡° Mau pesan lagi.¡± Suaranya terdengar kesal sekali. ¡° Kenapa?¡± padahal dia sendiri lupa dengan adegan yang di sarankannya tadi, dan dia sedang sibuk dengan hpnya membalas chat dengan Tika tentang transferan uang ke suplayer. ¡° Aku kan belum berbalik dan melambaikan tangan padamu!¡± berteriak sambil menunjukan wajah kesalnya. ¡° Karena pelayan tadi bengong aku jadi kehilangan konsentrasi di sana. Tunggu di sini.¡± Saga sudah beranjak meninggalkan Daniah lagi. Apa! Aku bahkan lupa adegan itu. Tuan muda kau kan tidak perlu melakukannya lagi. Tapi sungguh Daniah menikmati kekonyolan itu. Apalagi saat Saga melambaikan tangannya sambil terseyum secerah mentari. Daniah pun membalasnya dengan sama antusias dan cerahnya. Lalu laki-laki itu tertawa dengan sangat bahagia membawa makanan dan minuman yang ia pesan. Keberhasilannya menyelesaikan misi luar biasa. Lagi-lagi Daniah bertepuk tangan kecil menunjukan apresiasinya. Dan lagi-lagi Saga membusungkan dada karena keberhasilannya. Dua porsi rasanya sangat berlebihan. lebih-lebih Saga pasti tidak akan ikut memakannya. Akhirnya porsi satunya lagi di ambil sekertaris Han yang dengan tidak tahu malunya membuntuti sampai di depan bioskop. Dia benar-benar berperan dengan sangat baik sebagai sopir yang tidak punya kerjaan. Pintu sudah terbuka. Mereka memasuki bioskop. Sebentar lagi film akan di putar. Saga dan Daniah duduk di tengah, sementara kursi sebaris dengan mereka kosong. Hanya ada laki-laki yang begitu menghayati perannya itu. Duduk berselang tiga bangku dari Daniah. Menjadi pelindung Daniah dari pandangan orang lain dari bagian kanan. ¡° Sayang mau.¡± Iseng Daniah menyodorkan gelas sodanya. Sambil matanya menatap lurus ke layar besar di depan. Tidak terduga saga mengigit sedotan. ¡° Kau ketagihan berbagi bibir dengan ku ya?¡± meminumnya. Apa! jadi ini niatan terselubungmu membeli hanya segelas soda. Saga sudah selesai mandi dan keluar dari kamar menuju ruang kerjanya. libur seharian sepertinya dia harus membereskan beberapa urusan. sopir kurang kerjaan sudah kembali normal menjadi sekertaris Han. duduk di sofa dengan laptopnya. juga sedang menyelesaikan urusannya yang tertunda. Sementara Daniah baru keluar dari kamar mandi, dia berendam cukup lama dengan air hangat dan aromaterapi. memijat kakinya perlahan agar relaks. Kakiku pegal sekali, kaki tuan Saga bagaimana ya. Aaaaaa, jangan minta pijat paadaku nanti. aku akan pura-pura pingsan kalau dia minta pijat. pokoknya, sumpah, aku maau pura-pura pingsan. Kalau berani. haha. Daniah mematung di depan lemarinya. Dia membuka satu pintu lemari lagi. menarik laci. Kemudian memeriksa lemari kaca tempat meletakan perhiasan yang tidak pernah dia pakai kecuali sedang menghadiri pesta. itu pun sangat jarang sekali. Dia tidak membeli semua kan, semua barang yang ku sentuh tadi. Daniah memeriksa semua lemarinya sekali lagi, mengingat-ingat semua benda yang tadi dia sentuh dan menarik perhatiannya. Terduduk dia di kursi. Dia melihat semua benda yang dia pegang tadi tanpa terlewatkan satu pun. Aaaaa, bagaimana aku tidak mencintaimu kalau kamu sebaik dan seperhatian ini padaku tuan muda. Daniah kau harus tetap tau diri. Daniah kembali mengingatkan dirinya untuk jangan terlalu serakah. bagaimanaapun perasaan Saga sebenarnya masih seperti kaca buram baginya. sebelum laki-laki itu mengatakan secara langsung padanya. Epilog : Sekertaris Han memasuki toko. " Maaf barang apa saja yang dilihat dan di tunjuk nona muda yang memakai topi tadi." mereka terlihat binggung saling bertanya. siapa nona muda yang di maksud. " Kalau wanita yang bersama laki-laki ini." Han menyodorkan hpnya. Menunjukan wajah tuan Saga. " Ooohhh tuan yang tampan tadi." Mereka lalu ingat semua. Hanya dengan menunjukan foto tuan Saga tidak ada yang tidak di ingat para karyawan tadi, tentang barang yang di sentuh wanita yang bersamanya. Cih, apa perlu seperti ini. padahal jelas-jelas nona sengaja tadi hanya jalan-jalan masuk ke toko tanpa membeli apapun untuk membuat anda kesal saja. Tapi akhirnya Han berhasil membeli semuanya. BERSAMBUNG Chapter 128 Jenika Ketika orang sudah merasa jatuh cinta, dia bahkan bisa melakukan hal di luar nalar manusia normal. Orang lain mungkin akan mengatakannya gila. Tapi baginya ini adalah bentuk perjuangan cintanya. Jangan dibantah ya, dia akan semakin mengila kalau kau membantahnya. Mungkin seperti itulah yang sedang di lakukan gadis cantik di mobilnya itu. Area parkir danau hijau yang dekat dengan pintu masuk utama. Sedang terjadi keributan kecil dua adik beradik di dalam mobil. Yang satu seperti di bilang tadi, sedang melakukan upaya maksimal untuk perjuangan cintanya, yang satu membantah karena menggangap kakaknya sudah di luar jalan pikiran normalnya. ¡° Kak Jen, kenapa kita dari pagi di sini si? Memang apa yang kamu cari. Aku lapar, ayo cari makanan dulu.¡± Merengek. Rengekannya sudah di luar batas normal dan membuat kesal. Kalau kelaparan dia memang cenderung menyebalkan. Kebanyakan si memang begitu ya. Lapar membuatmu kadang gelap mata. Seperti yang sedang di alami Sofi kali ini. ¡° Sudah diam, tunggu sebentar. Minggu kemarin dia posting sedang olahraga di danau hijau. Siapa tahu sekarang dia juga di sini. aku akan pura-pura tidak sengaja bertemu dengannya nanti.¡± Sofia ngedumel di kursi depan. Kekanakan sekali, seperti bukan kak Jen saja pikirnya. Biasanya kalau dia suka pada seseorang dia akan tidak tau malu menempel dan minta di jomblangin oleh orang-orang yang dia kenal. Bahkan dia tidak akan tahu malu melakukan manuver blak-blakan. Karena sifat jenika memang seperti itu. Dia gadis terbuka yang mudah mengatakan isi hatinya. ¡° Aku lapar kak!!¡± Berteriak kencang. ¡° Pesan makanan pakai hp mu kenapa, kalau tidak turun cari makanan sana.¡± Menunjuk area kuliner yang terlihat penuh sesak keramaian orang. Sofi sudah ciut melihat keramaian itu. Membuatnya tidak berani kalau harus keluar sendirian. ¡° Ah, ia kenapa baru bilang si kak aku pesan food online saja.¡± Mencari aman, memilih duduk diam di dalam mobil saja. Sambil jarinya sibuk memilih menu yang sepertinya enak. ¡° Sudah jangan mengganguku. Duduk dan tunggu makanan saja¡± Jenika menajamkan penglihatannya. Suasana sangat ramai. Dari tempat parkir ini pintu masuk danau hijau terlihar jadi dia bisa melihat orang-orang yang keluar masuk. Tapi sampai matanya jereng dia belum melihaat sosok yang dia tunggu-tunggu. Dia melihat jam di tangannya, waktu terus bergulir dengan cepat. Danau hijau semakin ramai. Sofi sedang menikmati sarapannya dengan lahap. Dia minta beberapa kali suapan, matanya tidak berhenti berkeliling. ¡° Kak Jen sudah ayo pulang.¡± Makanan dan minuman Sofia sudah habis dia kembali berisik lagi. ¡° Aku ngantuk, kemarin aku begadang mengerjakan laporan bulanan kak.¡± ¡° Berisik, tidur saja di situ. Turunkan kursimu.¡± Kesal, sambil menepuk-nepuk kursi depan agar di tidurkan. ¡° Kak jen!¡± Merengek lagi. ¡° Sudah diam¡± Jenika semakin frustasi, selang hampir satu jam. Dia tidak mendapatkan hasil apa-apa. melirik Sofi yang benar-benar tertidur. Dia mengambil makanan yang di pesan Sofi tadi. Sambil terus memperhatikan sekitar. Sepertinya tidak mau menyerah dia. Dia menghabiskan makanannya. Melihat hpnya. Akun sosial media teman magang yang sedang dia incar belum ada updaten baru. Membuatnya semakin frustasi. Kenapa aku begini si. Bodohnya. Jelas-jelas aku punya no hpnya tapi bahkan gak berani chat duluan. Ingin bertemu secara natural begitu pikiran jen. Di kantor mereka memang sering bertemu. Tapi seperti yang pernah di keluhkan Jen, kalau teman magannya itu laki-laki yang sangat baik. Dalam artian dia baik pada semua orang. Tidak hanya perempuan, dia juga bahkan tidak segan membantu teman magangnya yang laki-laki. Double kill, dia punya pesona yang tidak bisa di lawan. Baik oleh laki-laki maupun perempuan. Dan masalahnya dia juga sama sekali tidak menunjukan ketertarikan pada Jen sebagai lawan jenis. Itu yang semakin membuat Jen frustasi dan binggung memilih strategi pendekatan seperti apa. ¡° Jangan mengajak ku lagi!¡± Sofi yang sepanjang jalan merengek masih belum berhenti mengeluh walaupun sudah sampai dirumah. ¡° Capek tahu.¡± ¡° Kamu itu capek kenapa lagi. Orang kamu juga cuma makan dan tidur.¡± Mengingat kembali yang di lakukan sofi di dalam mobil. ¡° Ditambah satu lagi, merengek tidak jelas.¡± Jenika menjawab tak kalah judes. Suasana hatinya sangat buruk, jangakan pura-pura bertemu. Melihat batang hidungnya saja tidak. ¡° Bodo amat, pokoknya jangan mengajak ku lagi kalau cuma buat mengintai gak ada hasilnya begini. Kak Jen bagaimana kalau aku yang menelfonnya.¡± Merebut hp di tangan jenika. Gadis itu langsung panik dan merebut kembali hpnya. ¡° Hei, aku kan mau natural pedekate sama dia. Biar tidak terlalu blak-blakan keliatan aku mengejarnya.¡± Awas kamu kalau berani macam-macam, tuding Jen melalui matanya. ¡° kak Jen ngapain si yang begituan sudah seperti bocah lagi jatuh cinta aja.¡± Sofia jengah meninggalkan jen yang masih sibuk dengan pikirannya sendiri. Dia mau naik ke kamarnya meluruskan punggungnya di tempat tidurnya yang nyaman. Padahal benar kata jen, dia Cuma makan dan tidur di mobil. Tapi sepertinya dia kelelahan sekali. Sehabis makan malam Saga dan Daniah memilih menghabiskan waktu di dalam kamar. Duduk di depan tv. Menghadapi tv yang menyala tapi sama sekali tidak menonton. Saga hanya sibuk menjahili istrinya. Dering hp di atas meja, milik Daniah. Mengoyak keseriusan Saga. ¡° Siapa? Taruh hpmu!¡± Saga sudah mau merebut hp di tangan Daniah. Dia sudah berencana melemparkannya sembarangan ke segala arah. Daniah menariknya ke atas sambil dia berdiri dari duduk. ¡° Jen. Tunggu biar aku angkat. Dia di rumah kan. Sebentar saja sayang, biar aku bicara padanya sebentar saja ya?¡± Daniah merasa heran kenapa sampai jen menelfonnya padahal dia sama-sama ada di rumah. Saga mengalah, hanya menyandarkan Dagunya di punggung Daniah ingin mendengar apa yang dibicarakan. ¡° Hallo, kenapa Jen?¡± Daniah bicara pelan. Berharap semua baik-baik saja. Tapi sudah terdengar suara Jen yang penuh semangat, bahkan masuk kategori keras membahana. ¡° Kakak ipar!¡± membuka percakapan dengar teriakan dramatis. Saga sampai merebut hp Daniah, terlihat mulai kuatir dan dia mulai mengeraskan suara. ¡° Kenapa Jen? Di mana kamu?¡± Saga yang bicara. Daniah diam dan hanya memperhatikan. Baik sikap, perubahan suara atau raut muka Saga. Saat ini dia sedang menjadi Kak Saga. Laki-laki hebat yang selalu di banggakan jen dan Sofi dalam setiap kesempatan. Kenapa dia keren begini si, tipe kakak tampan dan perhatian. Daniah Sial, kenapa kak Saga si. Jen. ¡° Kak Saga aku mau curhat sama kakak ipar. Aku baru putus dari pacarku.¡± Memberikan info akurat terlebih dahulu. Kalau sudah seperti ini kak Saga pasti akan mengizinkan kakak ipar keluar kamar. Begitu pikir Jen. Merengek secara dramatis sekali lagi. Maksudnya apa lagi tentu membuat orang kuatir. ¡° Dimana kamu?¡± ¡° Di bawah kak.¡± Belum bicara lagi, Saga sudah mematikan hpnya. Daniah bangun dari duduk, mengambil hp yang di pegang suaminya lalu menarik tangan Saga untuk keluar kamar menemui Jen. gadis itu bisa membaca situasi kalau Saga sedang mengkhuatirkan kondisi adiknya. Walaupun Daniah sendiri tahu, Jen memang sengaja bicara berlebihan dan penuh drama tadi. ¡° kakak ipar.¡± Memeluk Daniah yang datang ke kursinya. ¡® ya, ya, peluk sampai puas kakak iparmu. Karena kamu sedang putus cinta jadi aku mengalah hari ini. Bicaralah dengan tenang, aku tidak akan menggangu.¡± Saga meninggalkan dua wanita berharga dalam hidupnya itu masuk ke dalam ruangan kerjanya. Dan ntah muncul dari mana pak Mun sudah mengikuti langkah kakinya. Tapi laki-laki itu terlihat keluar lagi. Menuju dapur. Mungkin mengambilkan sesuatu untuk di makan saga. Kembali pada jen dan Daniah yang sedang duduk di sofa. ¡° Baiklah, lepaskan pelukanmu.¡± Kalian ini satu keluarga kenapa si, senang sekali memelukku. Jen melepaskan pelukannya, tapi dia masih bersandar di bahu Daniah. ¡° Kakak ipar, aku sudah putus dengan pacar ku, dan aku mau mengejar teman magangku. Tapi aku tidak tahu harus mulai dari mana.¡± Memeluk lagi. Daniah mengoyangkan tubuhnya, tapi tetap saja gadis itu tidak melepaskan tangannya. ¡° bagaimana kalau mengajaknya makan? Berdua.¡± Memberi ide sederhana. ¡° tapi dia tidak sedang punya pacar juga kan?¡± tersadar harus menanyakan ini. Sebelum Jen berfikir tentang rencana lainnya. ¡° Aku tidak tahu.¡± Frustasi, menyandarkan kepala di kursi. ¡° Aku tidak tahu apa-apa tentangnya. Kami juga belum pernah mengobrol secara pribadi. Daniah hanya bisa menepuk bahu Jenika pelan. Dia sendiri tidak terlalu paham urusan mengejar cinta atau memperjuangkan cinta. Apalagi yang jelas-jelas kondisinya tidak sejelas ini. Jen masih bercerita panjang lebar mengenai teman magangnya. sesekali dia tertawa, tak jarang juga mulai merengek frustasi, karena tidak tahu harus mulai dari mana. ¡° Aku dan Raksa cuma pernah mengobrol berdua sekali, waktu kami di suruh beli kopi.¡± Puk, puk lagi di bahu Jenika. ¡° ohh jadi namanya Raksa.¡± Tangan Daniah mengantung, dia terdiam berfikir cepat. Tidak mungkin kan, mulai panik sendiri dalam pikirannya. ¡° Siapa Jen, Raksa?¡± ¡° Dia nama teman magang yang mau ku kejar kakak ipar, namanya Raksa.¡± Batu besar menghantam Daniah dengan keterkejutan. Kenapa dunia jadi sekecil ini, begitu gumamnya pelan. Saga sudah berdiri di dekat sofa, dia mengelengkan kepala dan sedikit tergelak. Membuat Jen mendongakan kepalanya dari pelukan kakak iparnya. ¡° Peluk, peluklah kakak ipar mu sampai kau lega. Kasihan sekali kamu Jen.¡± Jenika binggung, Daniah jauh lebih binggung bagaimana harus menjelaskan. Saga ikut duduk di samping adiknya. Menepuk kepala adiknya pelan. Bagaimana kami bisa terlibat hubungan rumit ini coba. Daniah mengambil hp yang tergeletak di atas meja. ¡° Lepaskan aku Jen, dan lihat ini. Apa ini teman magang mu yang sedang kamu kejar.¡± Daniah menunjukan tampilan layar depan hpnya. Jenika merebut cepat. Mulutnya terbuka mengganga. Bagaimana bisa dia ada di sini dengan kakak ipar lagi. Melihat Daniah asli lekat lalu membandingkan dengan foto yang di lihatnya di hp. ¡° Dia adik tiri kakak iparmu.¡± Merebut hp sambil memberi informasi mematikan. " Mereka memang tidak mirip karena beda ibu." Saga fokus dengan hp milik Daniah. Sementara jenika mulai ngedrama dengan gaya lebaynya, menguncang tubuh Daniah keras. ¡°Kakak ipar kenapa gak bilang-bilang si, kalau punya adik sekeren ini padaku. Comblangin aku sama dia ya. Ya, ya, ku mohon. Please.¡± Masih digoyang-goyang tubuhnya. Daniah diam saja dengan tubuh terguncang, sambil mengeryit melihat Saga. Kenapa lagi dia, foto-foto selfi dengan hapeku. Saga terlihat tidak perduli keramaian di sebelahnya, dan masih asik dengan hp Daniah. ¡° Masalahnya Raksa sudah punya pacar Jen.¡± Duarrr, seperti tertancam panah. Langsung membuat Jen mati mendadak. Tangannya berhenti bergerak. Dia menjatuhkan kepalanya lunglai ke dada Daniah. ¡° Sabar ya Jen, nanti kamu pasti bertemu dengan laki-laki baik lainnya.¡± ¡° Aku mau Raksa kakak ipar.¡± Tapi kamu jelas-jelas bukan tipe idealnya Raksa Jen, aduh bagaimana aku menjelaskannya. Daniah menendang kaki Saga meminta bantuan, sudah kehabisan kata penghiburan untuk Jen. Tidak tahu harus berkata apa lagi. " Awas kau sampai menganti layar depan hp mu dengan foto adik mu lagi." Bicara sambil menempelkan bibir di telinga Daniah. Jadi untuk itu kamu foto-foto tadi. Cih " Ia, ia, sayang tapi bantu aku mengatakan pada jen ya. Aaa, bagaimana aku mengatakannya ya. Masak aku musti bilang kalau Jen bukan tipe ideal Raksa. dia nanti semakin frustasi bagaimana. bantu aku ya." Mengoyangkan kepala, menjauhkan bibir Saga dari telinganya. " Kenapa? tipe adik mu pasti seperti mu kan. dasar sister compleks." memeluk erat. " Bukan begitu, mungkin karena kami sangat dekat. jadi dia merasa nyaman dengan wanita yang mirip dengan ku." Cih. Apa! kenapa kesal. dia kan adik ku. masih saja cemburu. " Tapi sayang, benar bantu aku ya." menepuk tangan Saga berulang. " Bilang pada Jen." " Baiklah, akan ku urus dia. jangan kuatirkan dia lagi." Mengangkat kepala dan memakai siku tangannya untuk bersandar. " Tapi kalau Jen mau berusaha secara sportif kamu mengizinkannya kan, dia mengejar adik mu." " Hei kok jadi begitu. aku tidak mau Jen terluka nanti kalau Raksa menolaknya." memohon pada Saga. " Tolong nasehati Jen untuk menyudahi perasaannya." " Aku akan memberi Jen waktu untuk memperjuangkan perasaannya. Kau saja bisa jatuh cinta pada ku kan. kenapa adik mu tidak." tersenyum licik sambil mencium bibir Daniah berulang kali. di susul dengan tawa senangnya. Hei kenapa membandingkan kami. Kamu kan tidak? Hei tunggu, apa kamu mau bilang kalau sudah bekerja keras untuk membuat ku jatuh cinta padamu. apa kau mau mengakui perasaan mu padaku sekarang. Saga menjatuhkan kepalanya lagi, menempelkan bibirnya lagi. " Sayang, kamu tidak mau mengatakan sesuatu?" Masih berharap. " Apa?" Katakan, katakan kau mencintaiku. " Tidurlah, kalau kau masih bicara aku akan memakan mu" Daniah langsung menutup mulutnya rapat. memiringkan tubuh dan memeluk Saga. Dia sangat lelah seharian ini, dan ingin segera tidur dan terlelap. Aku tidak butuh pengakuan cinta mu, aku sudah merasa di cintai itu lebih dari cukup. BERSAMBUNG Chapter 129 Bekerja kembali Pagi hari ini cuaca cerah di kalahkan semangat dan keceriaan Daniah. Dia punya energi berkali lipat dari biasa dia berangkat bekerja. Bagaimana tidak, setelah seminggu akhirnya dia bisa kembali beraktifitas normal seperti biasanya. Daniah sudah ada di dalam mobil yang melaju dengan kecepatan sedang. Leela selalu terlihat ceria setiap waktu, menyegarkan suasana. Daniah menampar kaca mobil dengan pandangannya, pikirannya jauh berlarian ke masalah Jenika semalam. Dia bahkan belum mencoba bertanya pada Raksa, semalam dia tidur dalam pelukan suaminya setelah bicara dengan Jen. Sudahlah! Kita selesaikan satu persatu. Tuan Saga juga berjanji membantu menjelaskan pada Jen nanti. Walaupun caranya masih membingungkan. Dia mau memberi waktu Jen untuk berjuang. Aaaa, tapi kalau hanya membuat jen terluka bagaimana. Baiklah, aku akan coba bicara dengan Raksa nanti. Daniah menoleh pada pada Leela yang masih fokus mengemudi. ¡° Leela, nanti ingatkan aku untuk menonton tv ya. Katanya tuan Saga akan ada interview langsung. Aku di suruh menonton, kalau perlu di suruh merekam. Kalau kau sampai tidak nonton, habis kau nanti malam. Begitu dia mengancamku tadi. Hiks. Memang mau pamer apa lagi si.¡± Sudah mengeluh pagi-pagi pada Leela. Teringat pesan Saga saat dia mengantarnya memasuki mobil pagi tadi. ¡° Ia nona, nanti saya pasti ingatkan.¡± Kalau sampai nona tidak menonton saya pasti di hukum di kirim ke antartika untuk membuat patung es, atau bahkan lebih parah dari itu. ¡° Maaf ya Leela karena aku kamu harus bekerja seperti ini. ¡° Daniah terdengar serius dengan ucapannya. Setelah bertanya pada Jen, dia sedikit tahu kalau sebenarnya Leela termasuk jajaran penting dan orang kepercayaan tuan Saga. Tapi karenanya, dia harus menjadi sopir seperti ini. ¡° Kenapa nona minta maaf, pekerjaan saya ini sangat penting di mata tuan muda.¡± Leela menjawab ringan, tanpa merasa terbebani sedikitpun. Dia seperti mengatakan, saya senang dengan pekerjaan saya. ¡° Saya bahagia kalau bisa menjalankan tugas yang tuan muda berikan untuk saya.¡± Lagi-lagi kata-kata Leela terdengar sangat tulus. ¡° Tapi kan tetap saja, seharusnya kamu ada di perusahaan kan, bukannya bekerja seperti ini. Apa mau aku bicara pada tuan Saga, supaya kamu di pindah tugaskan di tempatmu yang seharusnya.¡± Aku tahu kamu salah satu pegawai penting di Antarna Group, bagaimana bisa kamu cuma bersamaku seperti ini. ¡° Tidak apa-apa nona, sebenarnya kalau sampai nona mengatakan pada tuan muda untuk menganti saya, malah saya akan mendapatkan hukuman nanti.¡± Tersenyum. ¡° Kenapa?¡± Daniah jelas protes, kenapa Leela harus di hukum. ¡° Karena saya tidak bisa belerja dengan baik, jadi nona minta ganti sopir dengan yang lain. Mungkin saya benar-benar akan di buang ke pedalaman desa untuk instropeksi diri.¡± Daniah langsung syok mendengar kata-kata Leela. ¡° Hei, tidak mungkin kan. Memang tuan Saga sejahat itu.¡± Menyentuh bahu Leela. ¡° Aku tidak akan mengatakan apa-apa di depan tuan Saga. Maaf ya, kalau aku selalu menyusahkanmu.¡± Ya ampun nona benar-benar polos sekali. Tapi benar-benar mengemaskan si. Berbeda dengan helen, anda sungguh jauh berbeda dengan wanita yang dulu dekat dengan tuan muda. Dan ntah kenapa saya senang sekali karena anda, karena nona lah yang harus saya layani, bukan wanita itu. ¡° Leela sudah punya pacar?¡± tepat mobil memasuki halaman ruko. Daniah sudah membuka pintu mobil sendiri. ¡° Saya sudah menikah nona.¡± ¡° Apa!¡± Menutup pintu lagi. Daniah menatap Leela serius. ¡° Benar-benar sudah menikah!¡± protes tidak percaya. Leela masih terlihat seperti anak-anak bebas yang sedang menikmat hidupnya. Sementara Leela hanya mengangukan kepala lalu keluar dari mobil. Berjalan cepat membukakan pintu mobil untuk Daniah. ¡° kenapa anda kaget begitu nona? Sejujurnya usia kita sama, hanya berbeda bulan saja. Tapi kita lahir di tahun yang sama.¡± Menjelaskan. Hah! Benarkah. Dia yang terlihat imut atau aku yang terlihat lebih tua dari usiaku. ¡° Tapi nona malah jadi terlihat seperti usianya di bawah saya ya?¡± tertawa ceria. Mengikuti langkah kaki Daniah. ¡° Hei, berbohong juga ada batasannya Leela, jangan bicara sembarangan.¡± Mendorong bahu Leela, malu sendiri dengan yang di katakan leela. Memang aku terlihat semuda itu apa. Sudah seperti anak-anak yang di tinggal kabur orang tuanya, dan sekarang melihat ibu mereka berdiri di depan pintu sambil tersenyum lebar. Antara kesal dan kangen membuncah menjadi satu. Mereka meninggalkan pekerjaan mereka masih-masih dan datang memeluk Daniah. Tika yang paling lama. Sampai Daniah menepuk-nepuk punggungnya dia baru melepaskan pelukannya. Leela menonton adegan itu frustasi. Tapi tetap tidak melakukan apa-apa, karena merasa nonanya juga terlihat tidak terganggu. Dia malah terlihat sama bahagianya. Leela sudah sedikit memperlebar sentuhan yang di izinkan untuk sesama perempuan. Walaupun dia masih menunjukan sorot mata tidak suka. ¡° Terimakasih Tika, kamu sudah bekerja sangat keras seminggu ini.¡± Giliran Daniah yang meluapkan harunya. Bagaimanapun dia sudah menyerahkan tanggung jawab toko sepenuhnya pada Tika. Selama seminggu ini Tika sudah menghandle banyak sekali pekarjaan. ¡° Terimakasih ya.¡± Puk, puk menepuk punggung Tika dengan penuh terimakasih. ¡° Tapi mbak Niah sudah sehat beneran kan?¡± Masih terlihat cemas. ¡° Hehe, ia aku sudah baikan.¡± Daniah terpaksa berbohong mengatakan kalau dia sedang tidak enak badan. Jadi tidak bisa datang ke toko. Tidak mungkin kan kalau dia mengaku di hukum suaminya karena ketahuan minum pil kontrasepsi. Jiwa-jiwa polos karyawanku. ¡° Jangan-jangan mbak Niah lagi hamil ya!¡± Celetukan seorang karyawan langsung di sambut keributan. Membuat hati daniah ngilu. Membicarakan kehamilan hanya mengingatkannya tentang pil kontrasepsi yang dengan beraninya dia telan. Walaupun masalah itu sudah lewat, namun kalau mendengar kata hamil maka otomatis kata pil kontrasepsi akan ikut menempel di belakangnya dia masih sedikit trauma. ¡° Tidak-tidak. Aku belum hamil. Benar, kemarin hanya tidak enak badan. Sudah bubar semua ayo mulai kerja.¡± Mendengar instruksi itu mereka langsung bubar dan mulai bekerja lagi. Tidak merasa aneh ketika melihat Leela langsung bergabung tanpa canggung seperti biasa. Padhal dia juga sebenarnya tidak pernah datang selama Daniah tidak datang, tapi ntah kenapa para karyawan Daniah tidak merasa aneh dengan itu. Sambil bekerja mereka juga masih sibuk berbincang tanpa canggung. Daniah mengikuti Tika dan karyawan lainnya naik ke lantai dua. Menerima laporan pertanggung jawaban yang di berikan Tika selama seminggu ini. Beserta semua catatan omset dan pengeluaran uang untuk membayar semua barang suplayer yang masuk selama Daniah tidak ada. ¡° Mbak Niah sudah sehat benar? jangan memaksakan diri.¡± Tika mengulang pertanyaan yang sama lagi. ¡° Aku benar-benar sehat luar biasa Tika, jangan cemaskan aku. Aku juga kangen mau bekerja.¡± Aku kangen kalian tahu, begitu pekik hati Daniah. ¡° Tapi seminggu gak ketemu mbak Niah sudah kelihatan jauh berbeda lho.¡± Tika menyengol dagu Daniah girang. ¡° Apa?¡± meraba pipi dan wajahnya sendiri. ¡° Mbak Niah kelihatan jauh lebih cantik. Hehe.Ciee, jangan-jangan bukan sakit ya, mbak Niah bulan madu yang ke dua dengan tuan Saga ya. Cieeee, mana oleh-oleh nya.¡± Tertawa sendiri seenaknya, yang lainnya sudah ikut-ikutan berisik dan ber cieee, cieee. Daniah Cuma bisa tergelak. Tapi semburat malu muncul juga di wajahnya. Ia, kami bulan madu si tapi cuma di dalam kamar. ¡° Sembarangan. Mana ada yang begituan.¡± Menyudahi gelak tawa Tika, sampai harus di tutup mulutnya, untuk menghentikannya mengoda. Siang bergulir dengan cepat. Aktivitas rutin di ruko berjalan dengan lancar. Saatnya makan siang. Tika mengikuti langkah Daniah saat dia mengajaknya untuk membeli makan siang. Sementara Leela mengikuti tanpa di minta. Walaupun tidak di inginkan dia tidak tahu malu dan mengekor kemana Daniah melangkah. Mereka sudah membeli banyak sekali makaan. Semua tangan memegang bungkusan makanan. Termasuk cilok yang di rindukan Daniah selama seminggu ini. Waktunya makan siang. Jangan lupa makan siang ya, rehat dari aktivitas dulu sebentar dan makan. Semua sudah berkumpul di lantai dua sambil menghadapi makanan masing-masing. Tv sudah menyala sedari tadi. Acara yang akan menampilkan Saga sudah di mulai dari tadi. Tapi laki-laki itu belum muncul. Acara penting yang harus di tonton Daniah. Dia bahkan sudah di ancam tadi bahkan di suruh merekam segala. Dia mau apa si, apa aku di suruh evaluasi penampilannya nanti. Cih. Aku kan tinggal jawab ia kamu tampan sekali suamiku. Bereskan. Hehe. Tapi dia gak akan ngasih pertanyaan tentang apa yang dia omongin di tv kan. Memang dia mau ngomong apa nanti. Bisnis, mana aku tahu perihal begituan kan. Makan sambil berfikir keras. ¡° leela, apa kamu bisa merekamnya nanti kalau pas tuan saga Live?¡± Daniah menyengol Leela di sampingnya. Ngeri dengan pikirannya yang sudah berlarian kemana-mana. Kalau sampai dia ditanya tentang isi pembicaraan Saga bisa barabe kalau dia tidak bisa menjawab. ¡° Baik nona.¡± Leela meletak kan makanannya lalu berjalan mendekat ke tv. Tidak tahu apa yang dia lakukan. Yang lain juga tidak terlalu memperhatikan. Sibuk dengan pembicaraan mereka dan makanan mereka juga. ¡° Sudah nona, nanti kalau tuan Saga live sudah terekam.¡± ¡° Hah, memang apa yang kamu lakukan tadi?¡± Selama ini dia nonton tv ya cuma nonton aja, memang bisa ya sekarang tv di pakai merekam. ¡° Leela nanti kamu bantu ingat-ingat apa yang di bilang tuan Saga ya.¡± Bicara pelan di samping telinga Leela. ¡° Perasaanku mengatakan dia bakal bilang aneh-aneh terus mengetesku.¡± ¡° Ia nona. Tapi nona tidak bisa menjawab juga pasti tidak apa-apa.¡± Hei, kamu tidak tahu kan kalau dia sedang kesal di tempat tidur bagaimana kelakuannya. ¡° Pokoknya bantu aku mengingat apa yang dia bilang ya.¡± masih menarik lengan Leela meminta kepastian bantuan. ¡° Ia nona.¡± tersenyum hangat meyakinkan. Kalau anda sepolos ini di depan tuan muda, pantas saja dia sangat tergila-gila pada anda nona. Saya bahkan tidak perlu mencatatnya, yang di sampaikan tuan Saga nanti pasti akan anda ingat seumur hidup anda. Leela menghabiskan makanannya, sambil melihat layar tv. BERSAMBUNG Chapter 130 Pengakuan Cinta Ruang tunggu VVIP stasiun tv. Tempat Saga akan tampil secara live melakukan wawancara eksklusif. Sangat jarang peristiwa semacam ini terjadi. Dia sangat jarang muncul di publik untuk mewakili Antarna Group. Tapi ntah kenapa permohonan yang sudah beberapa bulan di ajukan pihak stasuin tv untuk mendatangkan perwakilan Antarna Group di sambut oleh perusahaan. Bahkan mereka mengatakan kalau Presdir Antarna Group akan tampil sendiri. Stasuin tv mempersiapkan semua hal untuk hari bersejarah ini. Bahkan ruan tunggu VVIP ini di buat khusus untuk menyambut presiden Antarna Group. Pertanyaan yang sudah di setujui untuk di tanyakan juga telah siap. Walaupun mereka agak sedikit kecewa, karena tetap saja tuan Saga menolak pertanyaan yang sifatnya kehidupan pribadinya. Masih di ruang tunggu. Saga berdiri menatap dirinya di depan cermin. ¡° Bagaimana?¡± Saga menepuk lengannya sendiri. Meminta pendapat Han. Sekertaris Han mendekat dan merapikaan dasi serta menepuk bahu Saga. ¡° Anda terlihat sempurna seperti biasanya tuan muda.¡± Apa anda sedang gelisah sekarang, lucu sekali. Dia tidak pernah terlihat cemas dalam situasi apapun. Dia selalu percaya diri berhadapan dengan siapapun. Tapi hari ini Han seperti bisa melihat gurat kepanikan di wajah tuan Saga. ¡° Mana hp ku?¡± duduk di sofa setelah menerima hp. Han memilih duduk di kursi di depan kaca. Memperhatikan Saga. Ntah kenapa dia merasa sangat terhibur melihat suasana di ruangan ini. Menunggu pangilan diangkat. ¡° Hallo sayang.¡± Suara di sana dalam dering pertama langsung terdengar. Agak terdengar berisik, di belakang suara Daniah. Suara tv dan suasana anak-anak karyawan. ¡° lagi apa?¡± ¡° sedang makan, tidak sedang menonton tv sambil menunggumu muncul sambil makan siang sama karyawan di ruko.¡± Di sana Daniah menganti susunan kata dalam jawabannya. Biar terdengar kalau dia sedang menantikan live suaminya di tv. ¡° Baguslah. Lihat dengan jelas apa yang aku katakan nanti. Kalau kau melewatkan satu kata saja yang aku katakan, habis kau.¡± Menutup telfon tanpa mendengar jawaban protes Daniah di sana. Han mengambil hp yang di pegang Saga. ¡° Katakan saja apa yang ingin anda katakan tuan muda.¡± Jangan cemaskan apapun, semua pasti berjalan dengan baik. Begitu pikir Han. Karena dia pun tahu bagaimana hati nona mudanya. Jadi sejauh ini dia merasa tenang dengan rencana yang dia buat dan akan terealisasi sebentar lagi. ¡° Aku ingin semuanya terlihat keren dan penuh kesan, bahkan sampai dia jantungan kalau perlu.¡± Tersenyum tipis. Membayangkan reaksi wajah Daniah saja sudah membuatnya senang. ¡° Kalau nona benar-benar pingsan bagaimana.¡± Seperti biasa, selalu bisa meladeni kegilaan tuannya. ¡° Apa! benar juga, kalau dia saking terkejutnya dan pingsan bagaimana. Han, siapkan ambulan dan hubungi Harun.¡± Berkata dengan serius. Bahkan sudah terlihat panik. ¡° Saya cuma bercanda tuan muda.¡± Ketukan di pintu. Wajah Saga sama sekali belum terlihat mencair. Masih terbawa suasana dengan pikirannya sendiri. Han berjalan menuju pintu. Seorang staff wanita sudah berdiri di depan pintu menganguk dengan sopan. ¡° Sudah waktunya tuan Saga bersiap untuk masuk tuan.¡± ¡° Baiklah.¡± Saga berjalan di belakang Han yang mendengarkaan instruksi staff wanita. Wanita itu menangukan kepalanya sopan kepada Han dan Saga lalu pergi berlalu. Saga sudah duduk di depan sorot kamera, dengan pembawa acara yang masih menyelesaikan kalimatnya terakhirnya. Setelahnya tentu saja senyum elegannya muncul saat memperkenalkan tamu penting di hadapannya. ¡° Hari ini di studio kami telah kedatangan tamu istimewa presiden Antarna Group. Saga Rahardian. Terimakasih sudah menyempatkan diri memenuhi undangan kami. ¡± Kamera utama menyorot Saga. Laki-laki itu mengangukan kepala dan sedikit tersenyum menyapa pemirsa. Dia terlihat sangat tampan dan percaya diri. Ya, tentu saja. Semua hal yang dia miliki sudah membuatnya cukup untuk merasa percaya diri dalam segala situasi. Wawancara utama di mulai. Pertanyaan-pertanyaan yang sebelumnya telah di setujui untuk di tanyakan bergulir satu persatu. Saga bisa tenang dan terlihat sigap menjawab dengan bahasanya yang elegan. Pertanyaan penting seputar perkembangan bisnis Antarna Group yang sudah merambah ke semua lini kehidupan. Bahkan sampai pasar luar negri juga. Saga menjelaskan beberapa program besar yang akan di buat oleh Antarna Group. Sebagai pebisnis yang memiliki segalanya cara bicara Saga terbilang sangat tidak sombong. Kerap beberapa kali dia memuji kinerja para pekerja dan karyawan Antarna Group yang sudah mendedikasikan hidup mereka untuk perusahaan. Ketika pembawa berita menanyakan persoalan gaji, bagaimana Antarna Group bisa memberi gaji dua sampai tiga kali lipat dari standar gaji biasanya. Saga hanya menjawab dengan ringan. Karena mereka pun harus bekerja dua atau tiga kali lipat lebih keras dari pada di tempat lain. Pertanyaan seputar Danau hijau pun di lontarkan. Bahkan ada jeda pemutaran vidio, bagaimana keadaan Danau hijau sekarang. Suasana ramai yang di hiasi gelak tawa pengunjungnya. Pujian tidak hentinya menghujani Antarna Grup khususnya untuk presdirnya. Di sampaikan dengan tutur kata sangat elegan. Walaupun sebenarnya berlebihan, namun karena di ucapkan dengan bahasa yang tersusun dengan apik membuat yang mendengar merasa terwakili. Para pemirsa seperti berteriak. Ia betul nona, katakan seperti itu. Terimakasih sudah mewakili kami. Begitu teriakan orang yang sedang menonton di tv mereka masih-masing. Akhirnya sampai lah pada sesi final pertanyaan. Terlihat wajah pembawa berita terkejut. Dia terlihat sedikit tegang, apa benar yang baru saja dia dengan di telinganya. Dia terlihat melirik PD acara, yang mengangukan kepalanya kuat. Di sampingnya sekertaris Han hanya berdiri tidak bergeming. ¡° Pertanyaan terakhir tuan Saga, apa kami boleh menanyakan perihal yang pribadi.¡± Masih tidak percaya kalau dia boleh menanyakan pertanyaan ini. Breafing terakhir masih tetap mengatakan kalau tidak akan ada pertanyaaan seputar kehidupan pribadi tuan Saga. Jadi dia merasa kuatir. Acara ini sangat penting artinya baginya. Kalau dia sukses membawakannya jalan ke depannya untuk naik karir akan semakin terbuka. Tapi kalau dia gagal dalam acara ini, bisa saja dia akan kehilangan pekerjaan yang sudah dia jalani bertahun-tahun ini. Hanya karena satu pertanyaan. ¡° Silahkan, tanyakan saja apa yang ingin kalian tahu.¡± Jawaban Saga pun masih terdengar bukan sebuah jaminan. Tapi bagaimana pun dia tetap harus menanyakannya. ¡° Anda sudah menikah kan, benar begitu kan tuan Saga?¡± Jelas sekali keraguan dalam susunan kalimat yang ditanyakannya. ¡° Ia benar.¡± singkat. Apa! dia menjawab. Dia menjawab pertanyaan seputar kehidupan pribadinya. Pembawa berita langsung berwajar ceria, seperti baru saja mendapat transfusi tenaga. Bayangan acara ini akan menjadi tranding juga segera berkelebat di kepalanya. ¡° Tapi, kami dengar anda tidak memperkenalkan istri anda ke publik. Apa ada alasan khusus untuk itu.¡± Pembawa acara wanita itu mengengam tangannya kuat. Berdoa dalam hati agar di selamatkan dari kemungkinan terburuk. Ketakutannya sedikit memudar ketika melihat wajah laki-laki tampan di hadapannya. Dia tersenyum, ya Tuhan. Tuan Saga ini manusia bukan si. Bagaimana istrinya masih bisa bernafas melihat wajah ini setiap hari. ¡° Sebenarnya...¡± Kalimat Saga mengantung. Semua orang dalam studio menunggu. ¡° Karena aku sedikit cemburuan. Haha.¡± Tawanya menyusul di ikuti semua orang yang bernafas lega karena Saga menjawab, sekaligus terkejut mendengar alasan yang di berikan Saga. Tapi tidak tahu mau protes kemana. Jadi mereka tetap diam terpaku. Sedikit, cih, kalau seperti anda di sebut sedikit lantas cemburu buta itu yang seperti apa. Han. ¡° Maksudnya tuan?¡± Lagi-lagi pertanyaan pembawa acara mewakili pertanyaan pemirsa di rumah. ¡° Aku jadi tidak ingin orang lain melihat istriku.¡± Tersenyum. Ada rona malu dalam jawabannya. Saga terlihat sangat jujur mengatakannya. Membuat seisi studio menunjukan reaksinya masing-masing. Ada yang berdecak iri, apalagi para wanita. Mereka jadi ingin di perlakukan seperti itu oleh pasagannya. Dicemburui pasangannya yang sudah halal. ¡° Ahhh manis sekali, saya jadi iri.¡± Pembawa acara terlihat terkejut dengan kalimatnya sendiri. Dia mulai terlihat panik. ¡° Maafkan saya tuan, saya terbawa suasana romantis ini.¡± " Haha, tidak apa-apa. sebenarnya bukan hanya itu. Karena Daniah memiliki kehidupannya yang lain, jadi aku tidak mau statusnya sebagai istriku membebaninya. Kalian mungkin tidak akan percaya kalau kalian kebetulan bertemu dengan istriku" Menarik nafas dalam. " Tapi ya sepertinya kalian akan mengenalinya juga, yang paling cantik itulah istriku." Seisi studio kehilangan kata-kata. Han pun demikian, dia menepuk kepalanya sendiri. Dia membisikan sesuatu di telinga PD acara. meminta menyudahi wawancara ini. Kalau terpancing sedikit lagi, mungkin jawaban Saga akan sama sekali tidak berwibawa. " Terimakasih sudah berbagi kebahagiaan dengan kami semua tuan Saga. pemirsa pasti juga sangat terkejut." ¡° Apa boleh aku mengatakan sesuatu untuk istriku di sini.¡± Terlihat sedikit canggung, namun Saga segera menutupinya dengan senyuman. ¡° Tentu saja tuan. Silahkan, ada bisa mengatakan apapun.¡± Terimakasih Tuhan, aku akan menjadi orang baik dalam hidup ini. Karena aku sudah di beri kesempatan wawancara ini. Bagaimana aku bisa mendapatkan jakpot wawancara penting ini.Terimakasih Tuhan. Saat ini trending di internet adalah tentang #AntarnaGroup #Istripresdirantarna #Wanitanyasagarahardian #Pembawaberitawanita #TVXX Saga menatap kamera utama. Ini lah saatnya dunia tahu isi hatinya. ¡° Terimakasih sudah berada di sampingku sampai hari ini. Kedepannya hanya lihat lah aku dan cintai aku. Karena aku akan melakukan hal yang sama untuk mu. Daniah, aku mencintaimu dengan seluruh hidupku.¡± Seisi studio ingin berteriak dan bertepuk tangan. Tapi karena sedang live mereka bertepuk tangan tanpa suara. Sementara itu ramai sudah jagad internet. Tagar nama Daniah muncul dimana-mana. Semua lini sosial media sedang berusaha mencari tahu siapa itu sosok Daniah yang dimaksud presdir Antarna Group. Orang-orang bernama Daniah muncul ke permukaan. Ribuan akun baru bernama Daniah bermunculan. Selamat datang di dunia yang serba cepat ini. ¡° Nona Daniah, dimanapun anda berada anda pasti bahagia sekali. Anda telah membuat wanita di penjuru negri ini iri.¡± Aku juga sangat iri, iri sekali. Setiap hari kau bisa melihat wajah ini. Ya Tuhan kebaikan apa yang sudah di lakukan wanita bernama Daniah ini, hingga memiliki suami yang mencintainya seperti tuan saga. Daniah menjatuhkan cilok yang sudah hampir masuk ke mulutnya saat Saga di layar tv terdengar menyebut namanya. Seluruh orang yang ada di dalam toko bersorak tanpa ada mengkomando. ¡° Cieeeeee, mbak Niah.¡± ¡° Tuan Saga keren sekali.¡± ¡° Aku iri-aku iri.¡± ¡° Mbak Niah beruntungnya.¡± ¡° Aku iri-aku iri.¡± Daniah duduk diam menatap tv. Saga masih ada di sana untuk memberi salam terakhir bagi semua pemirsa. Dia mengakuinya, dia benar-benar mengakuinya pada dunia kan. Itu aku kan yang di sebut oleh nya. Itu benar namaku kan. Gadis itu belum sepenuhnya sadar. Sampai Leela menyentuh tangannya. ¡° Selamat ya nona.¡± Jadi dia benar-benar menyatakan perasaannya padaku. Tapi tolong, seharusnya yang paling cantik itu tidak perlu kau sebutkan. memalukan sekali. aku bahkan malu pada semut yang berlarian di dinding ruko ini. BERSAMBUNG Chapter 131 Surat perjanjian Senyuman masih menghiasi wajah Daniah. Semua hal baik sedang menari-nari di kepalanya. Leela terlihat melirik sebentar pada Daniah, dia ikut tersenyum melihat rasa bahagia yang tergambar jelas dari wajah nona mudanya. Pengakuan cinta, memang selalu di butuhkan meyakinkan hati. Walaupun sebenarnya tanpa di ucapkannpun, ketika hati sudah merasa di cintai sebenarnya itu sudah lebih dari cukup. Namun manusia terkadaang selalu butuh pengakuan. Sesederhana apapun bentuk pengakuan cinta akan di terima dengan hati berbunga. ¡° Bagaimana perasaan nona?¡± berpaling sebentar lalu kembali melihat ke depan. ¡° Eh apa?¡± Daniah berpaling dari kaca dan melihat leela. ¡° Apa nona bahagia?¡± Daniah binggung menjawab. Perasaan Saga yang sesuangguhnya. Saat itu dia mendengarnya saat Saga mengatakan pada helen bahwa hanya dirinya yang boleh menyentuh Saga. Saat itu hatinya mulai muncul bunga, nama Saga jauh lebih besar memiliki ruang di hatinya. Apalagi saat ia mendengar saat suaminya mengatakan pada ibu. ¡° Aku mencintai Daniah bu.¡± Rasanya jantungnya ingin meledak karena tidak percaya. Dan dia selalu menantikan momen seperti ini akan datang. Saga menyebut namanya. Hingga semua ketakutan akan di buang pergi lenyap. Saat ini yang ada di pikiran Daniah cuma satu. Apa yang akan dia katakan saat bertemu dengan suaminya nanti. Canggung atau pura-pura malu ya. ¡° Nona pasti sangat bahagia kan? Tuan muda sangat mencintai nona, jadi saya berharap nona juga bahagia berada di samping tuan muda.¡± Danaih menatap Leela, menepuk bahunya. Dia hanya tersenyum tapi tidak menjawab apapun. Dia memalingkan wajah dan bersandar di kursi. Tengelam dalam pikirannya sendiri. Tidak seperti biasanya pak Mun sudah berdiri di dekat pintu menyambut, dia pasti sudah mendapat informasi dari penjaga gerbang kalau Daniah sudah kembali. Dia mendekat saat Daniah keluar dari mobil. Daniah heran. Biasanya pak Mun tidak pernah menyambutnya. Karena Daniah sudah melarang. Ditambah lagi wajah serius Pak Mun. Membuat Daniah takut juga. ¡° Selamat sore nona.¡± ¡° ia pak.¡± ¡° Kenapa anda baru kembali.¡± ¡° Eh kenapa pak, saya pulang sudah sesuai jadwal kan. Biasanya saya pulang jam segini.¡± Pak Mun terlihat semakin kuatir. ¡° Tapi tuan muda sudah ada di rumah dari sejam yang lalu.¡± Menunjuk atas. Letak kamarnya. Daniah mendongak panik. Tahu maksudnya. ¡° Apa! kenapa bisa, kenapa tidak memberi tahu saya pak. Apa tuan Saga marah?¡± Pak Mun tidak menjawab hanya mempersilahkan Daniah untuk masuk. Giliran Daniah yang mulai pucat. Dia berjalan cepat meninggalkan Leela yang terlihat sama kuatirnya. Bagaimana ini, ini hari pertama aku boleh keluar rumah. Tapi aku sudah pulang terlambat di hari pertamaku. ¡° ck ck ck.¡± Daniah mendengar seseorang berdecak. Sekertaris Han sedang bekerja dengan laptopnya. Dia menutup layar laptop lalu bangun mendekat. ¡° Sepertinya anda benar-pener punya nyawa lebih dari satu ya.¡± Apa! kurang ajar, masih bisa meledekku. ¡° kenapa? Kenapa kau tidak mengatakan kalau tuan saga kembali lebih awal.¡± Protes keras. Sekertaris Han mengambil hp di saku jasnya. Dia hanya mengangkat bahu. ¡° Kamu sengaja ya?¡± memukul bahu sekertaris Han kuat. Kuat sekali, sekuat tenaga Daniah melakukannya. Sampai Han merabanya karena tertingkal sakit yang cukup membuatnya meringis. ¡° Jahat sekali, aku baru boleh keluar hari ini. Dan gara-gara kamu tidak mengirimi aku pesan peringatan, tuan Saga bisa saja menghukum ku lagi dan tidak mengizinkan ku keluar rumah.¡± Frustasi karena kesal. Tapi dimata Han gaya marah-marah Daniah terlihat mengemaskan. Membuat laki-laki itu langsung berpaling cepat. ¡° Maaf kan saya nona, saya lupa kalau anda sudah boleh keluar rumah. Karena seminggu ini suasana sangat tenang saya pikir anda sudah pintar dan berfikir dengan bijak.¡± Alasan mu yang membuat Daniah semakin ingin memukul mu. ¡° Apa!¡± Sekali lagi dia hanya melotot kesal. ¡° Sekarang naiklah nona, tuan muda sudah menunggu.¡± Han berjalan di depan Daniah. ¡° Anda tahu kan tuan muda tidak pernah menunggu siapapun selama ini.¡± Aaa, Daniah frustasi mengikuti langkah sekertaris Han. Di depan kamar langkah mereka berhenti. ¡° Berhati-hatilah nona.¡± Nasehatnya malah hanya terdengar seperti ancaman. Bukannya membuat Daniah berani, dia malah berharap tidak akan masuk ke dalam kamar. ¡° Sekertaris Han, ikut aku masuk.¡± Daniah menarik ujung lengan jas yang dipakai Han. ¡° temani aku.¡± Daniah tidak bisa berfikir cara yang lain. Dia ingin selamat dari situasi ini dengan mudah. Paling tidak Han bisa dipakainya alasan. Karena dia tidak mengirim pesan padaku. Begitu rencananya menuding hidung sekertaris Han di hadapan Saga nanti. ¡° Apa anda pikir berapa nyawa yang saya punya.¡± ¡° Apa!¡± gemetar gegal sampai mengigit bibirnya sendiri. Sekertaris han membukakan pintu, ketika Daniah sudah masuk. Dia menutup pintu tanpa bersuara. Tidak menunggu, langsung turun ke lantai bawah. kembali bekerja dengan laptopnya. Glek, Daniah menelan ludahnya. Sambil mengedarkan pandangan. Matanya lurus tepat di sofa. Saga sedang duduk di sana. Melihatnya dengan sorot mata tidak bersahabat. Tunggu, kenapa ini. Kenapa dia terlihat kesal. Aku bahkan masih ingin memikirkan sikapku saat bertemu dengannya. Tapi sekarang sepertinya yang ada aku malah ketakukan. ¡° Sayang, kamu sudah pulang ya.¡± Saga menjentikan jarinya meminta Daniah mendekat. Gadis itu berjalan mendekat tanpa protes bahkan melaui raut wajahnya sekalipun. Apa yang di katakannya tadi di tv itu cuma akting. Dia kan baru menyatakan perasaannya padaku. Seharusnya situasinya gembira kan, kenapa malah jadi mencekam begini. Perasaan sedih tiba-tiba menjalar di seluruh tubuh Daniah. Benar, kenapa dia bisa seyakin dan sebahagia itu saat mendengar apa yang di katakan Saga. Dia bahkan tidak memikirkan adanya plot twis yang bisa saja muncul. Bagaimana kalau yang dia katakan tadi semuanya hanya setingan. Bukankah seperti itu biasanya program tv. Daniah sambil berjalan mendekat, pikirannya terus berkecamuk. ¡° Kamu tahu sudah berapa lama aku menunggu mu.¡± ¡° Maaf sayang. Aku tidak tahu kalau kamu kembali lebih awal.¡± Biasanya kan tidak pernah begini, ini pertama kalinya kau pulang lebih awal dan sekertaris Han pun tanpa melakukan pemberitahuan apapun. Seperti sengaja melakukan supaya Daniah terjebak dalam lubang dalam yang bisa menguburnya hidup-hidup. Saga menarik rambut Daniah yang hanya terburai jatuh begitu saja. Gadis itu melepaskan rambutnya di tangga tadi sambil menyisir dengan tangannya. Karena rambutnya tertarik maka tubuhnya reflek mengikuti. Mendekat ke arah saga. ¡° Kau menonton acara tv tadi,¡± meraih dagu Daniah, mendekatkan wajah. ¡° ia aku menontonya.¡± Jadi dia benar-benar berakting di tv tadi. Cih, padahal aku sudah senang bukan main tadi. ¡° Bagaimana? Apa aku terlihat tampan di tv.¡± Semakin mendekatkan wajah lagi. Sedikit lagi bibir mereka pasti berciuman. ¡° Ia, sangat tampan. Tentu saja kamu memang sangat tampan di lihat dari manapun.¡± Saga menempelkan bibirnya lebut, dan mulai mengerakan lidahnya. Secara tidak sadar Daniah pun membuka mulutnya. Dan menikmati ciuman itu. Kenapa ini, kenapa dia susah di tebak si. Jadi perasaan mu yang mana sebenarnya. ¡° Aku mencintai mu.¡± ¡° Apa!¡± berteriak karena kaget mendengar bisikan Saga di telinganya. ¡° Sayang, apa kamu barusan mengatakan sesuatu.¡± Saga masih menyusuri leher Daniah dengan bibirnya. Membuat gadis itu terdorong sampai bersandar di sofa. Dia barusan mengatakannya kan. ¡° Apa? aku tidak mengatakan apapun.¡± Kecewa lahir dan bermunculan tanpa di cegah. Daniah merasa malu sendiri. Sepertinya dia merasa sangat berhalusinasi, karena perasaan ingin dicintai. Daniah mendorong tubuh Saga karena merasa kecewa. Laki-laki itu tidak terlihat tersinggung. Dia menyentuh telinga kiri Daniah. ¡° kenapa? Kau kesal? Memang kau mendengar apa tadi?¡± Diam tidak menjawab hanya memberi sorot mata tidak suka. ¡° hei, aku bertanya pada mu. Jawab!¡± Daniah masih terdiam dengan sorot mata yang sama . membuat Saga mulai kesal ¡° Jawab!¡± sudah mulai mengeraskan suara dan menuding bahu Daniah dengan telunjuknya. ¡° tidak, sepertinya aku berhalusinasi. Karena kamu tidak mungkin mengatakannya.¡± Saga tergelak, meraih bibir Daniah lagi dan menciumnya. Apa! kenapa menciumku lagi. Memang kamu pikir masalah selesai dengan ciuman. Selesai mencium dia duduk sambil menaikan kakinya. Bersila. Menarik lengan daniah supaya melakukan hal yang sama di depannya. Gadis itu menaikan kaki dan juga duduk bersimpuh. Mau apa lagi si. ¡° Memang kau berhalusinasi apa?¡± Apa! masih membahas ini. Tidak penting juga aku berhalusinasi apa. Akan jauh lebih memalukan kalau sampai Daniah mengaku kalau ia mendengar Saga mengatakan kalau dia mencintainya. Setelah ini dia tidak akan pernah merasa ke geeran. Dia akan merasa cukup dengan merasa di cintai saja. Tanpa pernah mendengar pengakuan secara langsung. Itu tidak penting. Asalkan aku merasa di cintai, itu sudah lebih dari cukup. Daniah berusaha menghibur diri. ¡° Kau mendengarku mengatakan apa?¡± masih bicara dengan tersenyum. Gemetar geram Daniah. Dia mencengkram lututnya kesal. Mulai merasa Saga mempermaiankannya, dan tahu laki-laki di hadapannya tidak akan berhenti sampai dia berteriak mengaku. ¡° Baiklah aku akan mengatakannya.¡± Menarik nafas dalam. ¡° Aku dengar kamu mengatakan, kalau kamu mencintaiku!¡± Daniah mengatakannya sambil berteriak keras. Suaranya sampai memenuhi langit-langit kamar. Daniah melihat Saga di depannya. Tubuhnya mulai tergoncang dia tertawa terbahak. Cih, aku benar-benar berhalusinasi. ¡° Hebat sekali kamu ya.¡± Membelai lembut pipi Daniah. Membuat gadis itu merinding tidak tahu arah pembicaraan Saga. ¡° Padahal aku cuma berbisik pelan, ternyata kau mendengarnya ya.¡± ¡° Apa!¡± Daniah terperangah melihat Saga lekat. ¡° Sepertinya telingamu masih normal.¡± Lagi lagi menyentuh telinga Daniah. mengoyangkannya pelan. ¡° Aku mencintai mu Daniah, jadi tetaplah di samping ku seumur hidup mu.¡± Kata-kata itu masih di sampaikan Saga dengan seenaknya, tapi tidak tahu, seperti buliran air menguyur hatinya. Ia merasakan ke legaan. Semua ketakutannya menghilang dan dia merasakan bahagia. Walaupun sekali lagi Saga tidak memilih kata romantis apapun di depannya. tapi mendengar itu sudah mengalahkan baitan kata romantis yang pernah di baca Daniah. Malam terus bergulir, mereka sudah ada di tempat tidur dengan baju tidur warna senada. Lampu masih menyala dengan terang. Saga duduk bersandar, sementara Daniah ada di sampingnya memeluk kakinya. ¡° Duduklah!¡± Daniah duduk sesuai perintah. Bersandar di lengan suaminya. Memperhatikan yang di lakukan Saga. Dia mengambil sebuah amplop di dalam laci. Menyodorkan pada Daniah. ¡° Apa ini?¡± tangannya mengantung menerima amplop besar itu. ¡° Bukalah!¡± Daniah membuka amplop berwarna coklat. Mengeluarkan isinya. Ini kan surat perjanjian yang aku tanda tangani sebelum meikah dengannya. Dia mau apa mengeluarkan ini. ¡° Sayang, ini untuk apa?¡± bertanya bingung. hanya berharap semua baik-baik saja. ¡° Kau boleh merobeknya sekarang.¡± Apa! artinya aku bebas dari kontrak mengancam ini. Daniah memutar tubuhnya. Menyentuh pipi Saga dengan kedua tangannya. ¡° Benar, aku boleh merobeknya.¡± ¡° Heemmm.¡± Brett, brett. Daniah langsung mengoyak kertas itu menjadi serpihan. Dengan kerennya dia melemparkan potongan kertas itu ke udara. Berjatuhan mengenainya dan jatuh di atas tempat tidur. Dia tidak perduli dengan sampah berserak itu. Tapi robeknya kertas itu simbol dari kebebasannya kan. Membuatnya terlihat sangat bahagia. ¡° Haha, senang sekali kamu ya. Padahal itu cuma copyan dan bukan surat aslinya.¡± ¡° Apa!¡± Drama keren sudah berakhir. Ternyata Saga hanya sedang mengerjainya. Lemas dia menjatuhkan diri di bantalnya tanpa bersuara. ¡° Buahaha, bohong kok. Itu memang surat perjanjian asli.¡± Meraih remot dan memeatikan lampu kamar. Mengeser tubuhnya mendekati Daniah yang sudah ngambek, memasang wajah masam. ¡° Aku sudah tidak perlu itu untuk mengikatmu. Aku akan mengikatmu dengan cinta dan perasaanku.¡± Memeluk Daniah erat, sudah menempelkan tangan di tempat kesukaannya. ¡° Sayang, karena surat itu sudah tidak ada. Apa aku boleh sesekali membantahmu.¡± pertanyaan gila yang di ucapkan dengan iseng. tapi kalau di jawab boleh tentu akan menjadi berkah untuknya. ¡° Haha.¡± Mencengkram kuat, apa yang sudah di pegangnya dari tadi. ¡° kalau kau berani cobalah membantah.¡± Tidak, kalau aku masih waras sepertinya aku tidak akan melakukannya. Sekali lagi, Daniah meladeni kelakuan Saga yang tidak ada habisnya. Tapi malam ini semua ketakutannya menghilang, semua ke kuatirannya pada keluarganya terbang tinggi. dia akan mengantungkan diri pada janji suaminya. bahwa cinta dan perasaan mereka yang akan saling mengikat satu sama lain. BERSAMBUNG Chapter 132 Duka yang berulang setiap tahun Hari yang tidak selalu sama, tapi di tanggal yang sama dan bulan yang sama setiap tahunnya. Setiap tahun selalu ada agenda tahunan di Antarna Group. Peringatan kematian pendiri sekaligus presdir pertama Antarna Group. Ayah dari Saga Rahardian. Di tanggal yang sama setiap tahunnya Antarna Group akan melakukan kegiatan bakti kepada masyarakat. Semua anak cabang di bawah Antarna group kecuali yang bekerja di bidang layanan publik, mall dan rumah sakit akan di liburkan untuk aktivitas pekerjaan rutin. Mereka akan melakukan kegiatan sosial kepada masyarakat. Instruksi dari pusat memberikan beberapa alternatif kegiatan. Agar semua tersinergi dengan perusahaan satu dengan yang lainnya. Beberapa hari yang lalu semua pimpinan perusahaan sudah berkumpul di gedung pusat untuk melaporkan rencana bakti kepada masyarakat ini. Secara detail mereka memberi laporan kegiatan apa yang akan mereka lakukan. Baik dari acara maupun besarnya biaaya yang di keluarkan. Sudah ada jumlah patokan uang yang harus di keluarkan dari pusat. Biasanya mereka akan melakukan pelayanan kesehatan seperti donor darah untuk para karyawan. Yang semua hasil darah yang terkumpul akan di sumbangkan kepada bank darah nasional. Mereka juga memberikan makanan gratis yang biasanya ada di setiap halaman perusahaan. Siapapun boleh ikut menikmati. Tanpa ada batasan. Setiap tahun di tanggal yang sama masyarakat ikut berdoa bagi kesuksesan Antarna Group. Doa-doa mereka terbang ke langit. Selain kesehatan ada juga pembagian sembako secara gratis bagi ribuan orang yang sudah mengantri dengan tertib. Mereka adalah ibu-ibu yang datang dari pelosok negri. Mereka yang setiap tahun selalu menantikan momen ini. Mungkin mereka terlihat senang bisa mendapatkan semua kebaikan ini dari Antarna Group. Namun mereka selalu menyelipkan dalam doa-doa mereka supaya perusahaan ini tetap jaya selamanya. Bisa menjadi tempat anak-anak mereka bekerja. Bisa menjadi tempat mereka mengantungkan hidup dengan layak. Selain kepada masyarakat Antarna Group selalu memberi bonus tahunan yang di berikan pada hari ini kepada semua karyawannya. Besarnya di tentukan berdasarkan lamanya dia bekerja di Antarna Group. Di tanggal ini setiap tahun, duka itu kembali di kenang. Tapi dengan cara yang berbeda-beda olah setiap orang. Saat semua lini masa membicarakan peringatan kematian pendiri Antarna Group, Saat banyak orang menerima banyak sekali kebaikan dari Antarna Group, sementara itu dimanakah Saga dan semua anggota keluarganya. Mereka tidak pernah muncul di publik. Untuk menunjukan duka mereka. Media pun tidak berani mencari tahu. Berita yang muncul di tv hanya tentang bagaimana Antarna Group berbagi pada masyarakat. Tapi tidak pernah menyinggung ranah pribadi pemiliknya. Saga dan semua orang ada di sini. mengingat duka yang sudah sekian lama berlalu. Semua orang sudah berdiri dengan tenang. Seorang pemuka agama membacakan doa dengan kusyu. Terdengar isak dari beberapa sudut. Saga sampai melihat Daniah di sampingnya. Gadis itu terisak tertahan. Ia terlihat menyeka air matanya pelan. Namun berusaha tidak mengeluarkan suara. Ibu yang di peluk Sofi jauh bisa mengeluarkan suara tangisnya. Dia sesengukan. Pasti teringat semua kenangannya bersama suaminya. laki-laki yang ia nikahi karena cinta. Laki-laki luar biasa yang tak tergantikan bahkan sampai hari ini. Setelah pemuka agama selesai membacakan doa, dia beringsut pergi. Membiarkan keluarga Antarna group tengelam dengan duka mereka masing-masing. Sekertaris Han tetap setia di posisinya. Berdiri tidak jauh dari Saga. Saat ini ia menatap Daniah dari belakang ada rasa bersalah yang muncul di matanya. Maaf kan saya nona. Saga terlihat mengulurkan tangannya pada Daniah. ¡° mendekatlah!¡± lembut dia bicara, Daniah menurut dengan berdiri di samping Saga. Laki-laki itu mencium kepalanya. Membelai kepalanya lembut. Isak gadis itu semakin terdengar. Ia berusaha menahannya, tapi tidak berhasil. Saga meraih tangan Daniah dan mengengamnya. ¡° Menangislah kalau kamu mau menangis.¡± Mendengar itu tangis Daniah pecah. Sesengukannya keras terdengar. Membuat ibu yang sudah mulai bisa menguasai diri dan air matanya menoleh. Begitu pula dengan Jen dan Sofia. Ada apa dengan kakak ipar, kenapa dia menangis sekeras itu. Jen Bukankah kakak ipar tidak mengenal ayah, kenapa dia bisa menangis sekeras itu. Sofi Suamiku, dia menantu kita. Wanita yang dicintai anakmu. Ibu Sementara yang lain menatap Daniah dengan perasaan berbeda, Han masih memberikan sorot mata bersalahnya. Sementara Saga meraih bahu Daniah, memeluknya. Dia menatap lekat makam ayahnya. Ayah, dia Daniah. Wanita yang kucintai. Dia cantik kan? Tenang saja dia bukan hanya cantik wajahnya. Hatinya sudah seperti malaikat. Dia juga seperti mu yang senang berbagi, dia seperti mu yang sering memberi pada orang lain. Aku akan menjaga dan mencintainya di sisiku selamanya. Perjalanan menuju rumah semua membisu dalam keheningan. Daniah berada dalam pelukan Saga, masih terlihat dia menyeka airmata di sudut matanya. Sesampainya di rumah. ¡° Jen, antar kakak ipar ke kamar, dan sofi temani ibu.¡± Saga membelai pelan kepala Daniah. ¡°Istirahatlah di kamar.¡± ¡° Ia.¡± Daniah mengangukan kepala. Masih ada sisa ke sedihan yang tergambar jelas di wajahnya. ¡° Hari ini semua tetap di rumah, tidak ada yang boleh pergi keluar.¡± Kalimat itu di tujukan untuk Jen dan Sofi. ¡° Ia kak.¡± Menjawab berbarengan. Jen terlihat memapah Daniah yang terlihat lunglai. Sofi juga beranjak ke kamar ibu. Wanita itu sudah duluan masuk ke dalam kamar. Sesampainya tadi dia langsung naik meninggalkan semua orang. Pak Mun masih berdiri siaga menunggu perintah. ¡° Pak Mun istirahatlah. Hari ini aku tidak ingin melihat siapapun di rumah utama. Biarkan para pelayan kecuali pengawal yang bertugas libur.¡± ¡° Baik tuan muda.¡± Gurat sedih pun terpancar dari wajahnya. Melihat tuan mudanya yang untuk kesekian kalinya selalu berduka. Ditanggal dan bulan yang sama setiap tahunnya, rumah ini akan selalu seperti ini. ¡° Ikut aku Han.¡± Han mengikuti langkah kaki Saga. Sementara Pak Mun masih berdiri sampai Saga menghilang di pintu ruang kerjanya. Lalu dia kembali dan menemui pelayan dan penjaga yang sedang menunggu di rumah belakang. Untuk memberi tahu, hari ini tidak ada yang di izinkan mendekati rumah utama, intinya tidak ada yang boleh terlihat atau mengeluarkan suara di sekitar rumah. Beberapa pelayan memilih keluar dan berlibur namun ada yang memilh menghabiskan hari di dalam kamar mereka di rumah belakang. Setiap tahun, di tanggal yang sama rumah ini akan sunyi tanpa aktifitas.. Kembali pada Saga di ruangan kerjanya. Laki-laki itu duduk di sofa. Membiarkan Han berdiri di depannya. Sial! Sepertinya tuan muda tahu. Dia peka sekali kalau berurusan dengan nona sekarang. Han mengeram. ¡° Jelaskan padaku! Kamu tahu kan?¡± Han masih terdiam di tempatnya, tapi dia tidak menatap Saga dan memilih memalingkan pandangannya. ¡° Lihat aku! Kau tahu ini hari apa kan? Aku bahkan tidak akan bisa mengendalikan emosiku walaupun padamu.¡± Teriakan Saga mengema sampai keluar ruangan. ¡° Maaf kan saya tuan muda.¡± ¡° Sekarang jelaskan padaku. Siapa yang ditangisi Daniah. Dia tidak mungkin menangisi ayahku. Bahkan jen dan Sofi bisa mengendalikan diri mereka. Walaupun kenangan Jen dan ayah memang masih samar. Tapi Daniah jelas tidak mengenal ayahku.¡± Suara Saga terdengar semakin getir, membuat Han merasa semakin bersalah dari semua segi. ¡° Maaf kan saya tuan muda.¡± Menarik nafas pelan. ¡°Hari ini juga hari kematian ibu nona Daniah.¡± Tidak bisa menatap wajah tuan mudanya. ¡° Apa!¡± Saga bangun mendengar ucapan Han. ¡° Barusan kamu bilang apa!¡± Saga mendorong tubuh Han keras sampai membentur tembok. Dia mencengkarm kerah kemeja Han. ¡° Kenapa kau tidak mengatakannya bodoh!¡± ¡° Maafkan saya tuan muda.¡± Lirih. Penuh penyesalan. ¡° Kenapa kau tidak mengatakannya padaku!¡± berteriak keras. Saga memejamkan mata dan berusaha mengalirkan udara, supaya bisa berfikir sehat. Dia ingin menghajar Han sekarang. Ntah kenapa perasaannya seterluka ini, saat dia mengetahui bahwa alasan Daniah menangis sebenarnya adalah apa. ¡° Karena hari ini anda pasti ingin bersama nona Daniah, maka saya tidak mengatakannya. Kalau anda tahu anda pasti membiarkan nona pergi, padahal saat ini anda ingin bersama wanita yang anda cintai untuk berbagi kesedihan kan.¡± ¡° Bodoh! Pikirkan perasaan Daniah juga. Kau tahu sepenting apa dia bagiku!¡± ¡° Maafkan saya tuan muda.¡± Tapi anda tetaplah yang paling penting bagi saya. Saga melepaskan cengkraman tangannya, tapi dia masih berdiri di hadapan Han. Matanya masih menatap kesal pada sekertarsinya itu. ¡° Mulai sekarang pikirkan perasaannya lebih dulu. Pikirkan Daniah sebelum aku,¡± Han tidak menjawab. Membuat Saga semakin Gusar. ¡° Jawab!¡± sambil berteriak kakinya sudah menginjak kaki Han. Terlihat Han meringis. ¡° Jawab aku Han.¡± ¡° Maafkan saya tuan muda.¡± Han selalu menghormati nona mudanya, sebagai bentuk penghormatannya pada Saga. Karena dialah wanita yang di cintai Saga. ¡° Huh! Aku tahu ini tidak akan berhasil. Baiklah dengarkan aku. Aku benci melihat Daniah menangis. aku tidak suka melihatnya menangis apapun lasannya. Jadi bisakah kau memastikan kalau dia tidak akan menangis lagi.¡± Menepuk kedua bahu Han keras. ¡° Jawab!¡± ¡° Baik tuan muda, saya akan melakukan yang terbaik untuk anda.¡± ¡° Kau benar-benar setia pada sumpah mu ya.¡± Sudah terdengar helaan nafas ringan di antara keduanya. Saga menepuk bahu Han beberapa kali. ¡° Pulanglah! Siapkan semuanya besok. Aku mau pergi mengunjungi makan ibu mertuaku.¡± ¡° Saya akan menyiapkan semuanya tuan muda. Saya tidak akan pulang, saya akan ada di bawah, kalau anda perlu sesuatu. Saya akan ada di kamar tamu di bawah.¡± Cih. Saga membiarkan Han melawan kata-katanya, setiap tahun di tanggal yang sama. Kalau dia mengusir Han sekalipun, laki-laki itu akan tetap bertahan di rumah ini. Diam di kamar tamu, dan keluar hanya untuk menyiapkan makan malam. Untuk pertama kalinya Saga ragu untuk masuk ke dalam kamarnya. Hampir lima menit dia berdiri di depan pintu. Saat dia sudah memegang handle pintu dari dalam jen juga membuka pintu. ¡° kak Saga.¡± ¡° Mau kemana?¡± tanyanya. ¡° Kakak ipar bilang sudah tidak apa-apa. dia mau sendiri.¡± ¡° Baiklah, terimakasih ya.¡± Saga mengusap kepala Jen pelan. ¡° Istirahatlah, atau temani ibu di kamarnya.¡± ¡° Ia kak. Kak Saga juga istirahat ya.¡± Jen melangkah pergi, menoleh sebentar dan pintu sudah tertutup. Kakaknya sudah menghilang. Setelah di dalam kamar, Saga mengedarkan pandangannya. Mendapati Daniah sedang duduk di tempat tidur. Bersandar di bantal. Gadis itu terlihat menyeka airmatanya saat melihat Saga datang. Dia turun dari tempat tidur. ¡° Kemarilah!¡± Mendekat ke sofa di mana Saga duduk. Berdiri di hadapan suaminya, yang tiba-tiba memeluknya. ¡° Maaf.¡± Memeluk daniah erat. ¡° Maafkan aku¡±. Tidak tahu alasannya apa tapi itu membuatnya menangis lagi. " Maafkan aku." berulang saga mengatakannya. masih memeluk tubuh daniah yang berdiri di hadapannya. BERSAMBUNG Chapter 133 rencana bulan madu Pagi hari yang segar, aktivitas di dalam rumah utama sudah kembali normal. Para Pelayan sudah terlihat sibuk dengan pekerjaannya masing-masing. Daniah melihat dari kejauhan para tukang kebun juga sedang melakukan tugasnya. Menyiram pepohonan dan bunga. Daniah berjalan di samping Saga. Terhenti karena pak Mun. ¡° Sayang, kita mau kemana?¡± menarik lengan Saga. ¡° Sudah diam, masuk saja ke dalam mobil sana.¡± Mendorong tubuh Daniah agar berjalan meninggalkannya. Masih ada yang harus dia bicarakan dengan pak Mun. Daniah menurut saja ketika pintu mobil di buka oleh sekertaris Han. Dia masuk dan duduk. ¡° Kita mau ke mana sekertarsi han?¡± berharap laki-laki ini sudi menjawab. Walaupun tahu, dia tidak boleh banyak berharap. ¡° Kalau tuan muda saja tidak menjawab, memang anda berharap saya menjawab apa.¡± lihat kan, jawaban yang sama mengesalkannya dengan senyum tipisnya itu. Cih, Daniah melengos ketika Han menutup pintu dengan pelan. Saga sendiri sedang bicara dengan pak Mun. Daniah tidak mendengar dari kejauhan. Apalahi Han malah berdiri di depan pintu menutupi pandangannya. ¡° hei, sekertaris han. Berikan kode sedikit saja. Kita mau kemana? Aku sudah mulai takut nih.¡± Han menundukan kepalanya sebentar. Sambil melihat tuannya yang sedang bicara. ¡° Memang apa lagi yang anda takutkan, anda bahkan sudah mendapatkan cinta tuan muda.¡± Apa! kenapa dia semakin tidak bisa di ajak bicara begini si. Dasar sekertaris compleks. Han membukakan pintu ketiga Saga sudah berjalan mendekat. ¡° Maaf membuat mu menunggu.¡± ¡° Eh tidak apa-apa.¡± Sekarang dia bahkan segampang ini minta maaf padaku, menakutkan tidak si. ¡° kemari, mendekatlah. Perjalanan kita sangat panjang pagi ini.¡± Menjentikan tangan, supaya Daniah merapatkan duduk. ¡° Tidak apa-apa sayang. Aku juga belum lelah kok. Kita kan baru saja mau berangkat.¡± ¡° Aku bilang mendekat, kemarilah.¡± ¡° Ia, ia.¡± Daniah mengeser duduknya, sampai Saga melingkarkan tangan di pinggangnya. Cih, katanya kontrak sudah batal saat aku merobek surat perjanjian itu. Tapi aku tetap tidak boleh membantahmu. Eh, kamu bilang kalau aku berani membantah. Aku bisa membantah kan. Hei keberanian, di mana kamu. Munculah kalau di situasi semacam ini. ¡° Sayang, kita mau kemana?¡± bertanya serius. Sudah menyandarkan kepala dan memilih membelai dada saga pelan. Supaya di jawab. ¡° Tempat yang ingin kau datangi.¡± Dimana itu? Aku bahkan tidak ingin pergi ke mana-mana. Bagaimana dia bisa menyimpulkan aku ingin pergi kesuatu tempat. Perjalanan memakan waktu yang cukup lama. Setelah Daniah lelah di jahili tangan dan bibir Saga gadis itu tanpa sadar terlelap. Dia memiringkan tubuh dan memakai kaki Saga sebagai bantal kepalanya. Laki-laki itu mengusap kepala Daniah. Memainkan rambut gadis itu seperti yang sering dia lakukan. ¡° Kaki anda akan sakit tuan muda. Apa kita berhenti sebentar membei bantal. Maaf saya tidak menyiapkannya tadi.¡± Melirik sekilas spion. ¡° Sudahlah ini bukan apa-apa. kira-kira berapa lama lagi.¡± Mengulung rambut Daniah dengan jemarinya. ¡° Seharusnya kurang dari 45 menit kita sudah bisa sampai.¡± ¡° Kalau begitu terus saja, tidak perlu berhenti.¡± ¡° Baik.¡± Saga menyandarkan kepalannya ke kursi. Tangannya masih membelai kepala Daniah. Mengusap-usapnya agar gadis itu mimpi indah sepanjang perjalanan ini. ¡° Maaf sayang aku pasti ke enakan tidur. Kaki mu nyaman sekali si.¡± Memijat kaki Saga yang kram kerena tidak bergerak di pakainya sebagai bantal hampir 45 menit sepertinya. Kenapa juga tidak membangun kan ku si. ¡° Sudah keluar sana! Aku mau mengerakan kakiku.¡± Daniah merasa bersalah menurut dan turun dari mobil. Dia melihat sekelilingnya. Langsung dia menutup mulutnya sambil terperangah tidak percaya. Ini benar kan? Aku sedang di kampung halaman ibu. Daniah menatap Han sebentar yang masih berdiri di dekat pintu mobil yang terbuka. Saga sudah keluar dari mobil. ¡° Udaranya lumayan segar ya.¡± Saga menghembuskan nafas dalam. Menghirupnya perlahan. ¡° Sepertinya karena angin laut tuan muda.¡± Menatap lautan biru di sebrang jalan sana. Pantulan matahari di airnya yang biru. Langit pun cerah berwarna biru. Perpaduan alam yang sempurna. ¡° Sayang.¡± Daniah mengitari mobil mendekati Saga. ¡° kenapa? Tanggung jawab kau nanti memijatku semalaman ya.¡± Menunjuk kakinya. ¡° ia, ia baik. Aku akan melakukan apapun yang kamu mau.¡± Menghambur memeluk Saga. ¡° dari mana kamu tahu?¡± ¡° Apa?¡± ¡° Tempat ini, pantai ini.¡± Membentangkan tangan menunjuk lautan lepas di sana. ¡° Kenapa? Aku hanya ingin mengajak mu liburan ke sini. memang kau sudah pernah ke sini.¡± bertanya acuh. Apa! jadi dia hanya kebetulan mengajak ku kesini. Daniah kecewa dan melepaskan pelukannya. ¡° Sekarang kita mau kemana?¡± menyelesaikan urusan Saga terlebih dahulu. Daniah berfikir mungki dia bisa menyelinap pergi untuk mengunjungi makam ibunya nanti. Dia akan memohon pada sekertaris Han. ¡° Kemana lagi.¡± Menarik tangan Daniah agar mensejajarinya. ¡° Tentu saja mengunjungi ibu mertua ku.¡± ¡° Sayang.¡± Hah! Lagi-lagi Daniah hanya bisa menatap terkejut dan mengikuti Saga menarik tangannya. Sementara sekertaris Han berjalan di depan, sudah seperti tahu tempat ini saja. Saking senangnya dia bahkan tidak bisa mengatakan apa-apa. dan berjalan cepat mengikuti langkah kaki Saga. Terimakasih. Tuhan, apa aku tidak terlalu serakah, kalau aku mengatakan aku mencintai suamiku dan ingin selalu bersamanya. Seperti ini. Mereka berjalan ber iringan menuju tempat pemakamam umum, tidak butuh waktu lama untuk sampai di sana. Han sudah membawa bunga yang dia taruh di bagasi mobil. Sesampainya di pemakamam dia menyerahkan bunga-bunga itu pada Daniah dan saga. ¡° Sepertinya sudah ada yang datang kemari.¡± Saga meletakan bunga di atas makam ibu mertuanya. Daniah menyusul mengikuti apa yang di lakukan Saga. ¡° Itu pasti Raksa.¡± Daniah menoleh melihat suaminya. ¡° Setiap tahun dia selalu menemaniku kemari. Kemarin dia pasti mengantikan ku sendirian kemari.¡± ¡° Maaf.¡± Hah! Apa? kenapa minta maaf. ¡° Maafkan saya nona, saya yang tidak memberi tahu tuan muda kalau kemarin adalah hari peringatan kematian ibu anda.¡± Han maju dua langkah. Mengantikan Saga. ¡° Han.¡± Saga sudah mencegahnya bicara. ¡° Tidak tuan muda, ini semua salah saya.¡± ¡° Tidak. Kenapa kalian harus minta maaf. Sayang.¡± Daniah mengengam tangan Saga. Lalu mendekapnya dalam pelukannya. ¡°Terimakasih sudah membawaku ke sini. aku tidak apa-apa kok. Walaupun lewat sehari, dua hari atau berapapun aku bersyukur bisa sampai di sini. terimakasih ya.¡± Ibu, dia suamiku. Saga Rahardian. Dia laki-laki yang mencintaiku, aku berjanji akan hidup dengan baik ke depannya bersamanya. Han mundur beberapa langkah menjauh. Membiarkan dua sepasang manusia itu melepaskan emosi mereka. ¡° Aku akan memindahkan makam ibumu ke makam keluarga ku.¡± Apa! ini berlebihan kan, kamu tidak perlu sampai melakukan itu. ¡° Tidak apa-apa sayang. Aku akan tetap berada di sampingmu seperti kemarin, dan aku bisa datang kemari selang beberapa hari.¡± Itu sudah lebih dari cukup. Seperti ini, sudah cukup bagiku. ¡° Kau tidak perlu menangisi ayahku. Kau bisa menangis untuk ibumu tahun depan dan tahun berikutnya. Dalam pelukanku.¡± Tidak merubah rencana awal yang sudah dia bicarakan dengan Han. ¡° Sayang. Terimakasih. Untuk semua kebaikan ini.¡± Selama berada di depan makan ibunya mereka bicara banyak hal, walaupun tidak terlalu banyak hal yang di ingat Daniah tentang ibunya. Namun samar dia bisa mengingat sentuhan lembut di kepalanya saat wanita itu mengantarkannya tidur. Saga pun bercerita beberapa hal tentang hidupnya. Tentang kenangan bersama ayahnya. Laki-laki hebat yang akan selalu menjadi bagian penting dalam perjalanan hidupnya. Setelah selesai di depan makam, Saga mengajak Daniah mengunjungi keluarga dari ibunya. Walaupun merasa canggung, karena sejujurnya kalau dia dan Raksa pulang setahun sekali dia pun jarang mampir mengunjungi keluarga ibunya. Mereka seperti terputus ikatan. Dari mana mobil-mobil ini! Lagi-lagi Saga menunjukan kalau dia bisa melakukan apapun yang dia inginkan. Dua buah mobil boks menurunkan banyak sekali bahan makanan dan juga buah-buahan di halaman rumah paman Daniah. Seluruh keluarga yang berkumpul terperangah melihat apa yang diturunkan dari mobil. Bahkan ada pakaian, tas dan juga sepatu. Yang semuanya terpisah dalam boks-boks besar. Apa-apaan ini. Dia mau menunjukan kalau dia suami yang keren ya. ¡° Sayang.¡± Saga menarik lengan Daniah. Untuk mendekat ke arahnya. ¡° Selamat siang semuanya. Perkenalkan, saya suami keponakan cantik kalian.¡± Daniah bersemu merah malu sendiri mendengar perkataan Saga. Tapi hari itu Daniah mendapatkan perlakuan istimewa, bahkan dari orang-orang yang sudah lupa akan namanya. Sekali lagi Saga memberikan banyak hal yang sudah berlarian pergi dari hidup Daniah. Bau ibunya seperti tercium dari tawa keluarganya. Daniah merasa bahagia untuk kesekian kalinya, memiliki Saga di sampingnya. Mereka menyusuri bibir pantai bergandengan. Saga sudah mengulung celananya sedikit. Sudah memakai sandal yang di beli Han di warung kecil di dekat pantai. ¡° Terimakasi sayang. Terimakasih untuk hari ini. Rasanya beribu kali aku mengatakannya tidak akan cukup membayar semua yang kau lakukan hari ini.¡± Saga mengangat tangan mereka yang tergengam, lalu mencium bagian tangan Daniah. ¡° Kalau kau tahu, berterimakasilah dengan benar dengan seluruh hati dan jiwamu seumur hidup mu.¡± Cih, bisa tidak si menjawab dengan kalimat romantis. Tapi memang seperti inilah dirimu ya. Aku mencintaimu yang seperti ini. Mereka menghentikan langkah. Daniah menghadap Saga dan memeluknya. Membenamkan wajahnya dalam pelukan laki-laki itu. Wajahnya hanya sampai dadanya Saga. ¡° Terima kasih sayang. Untuk semua hal sudah ku terima darimu.¡± Mendongakan wajah. Pandangan mereka bertemu. ¡° Aku mencintaimu sayang, suamiku Saga Rahardian.¡± Untuk pertama kalinya Daniah mengatakan mencintai Saga tanpa di minta laki-laki itu. Wajah bahagia Saga tidak bisa ditutupi. Dia langsung mencium bibir Daniah. Diantara baground lautan yang biru mereka berciuman sangat lama. Daniah menjinjitkan kedua kakinya untuk mengimbangi tubuh tinggi Saga. Tidak apa-apa kan aku mengambil foto mereka sekarang. Sepertinya tuan muda akan senang. Dia bisa memakainya nanti untuk layar hpnya. Menganti foto nona yang terbalik dengan rambut terburai itu. Dengan tidak tahu malu, Han mengeluarkan hpnya. Epilog : ¡° Bulan madu! Mau. Mau.¡± Tidak tahu kenapa sepertinya akan sangat menyenagkan. Mereka sudah berada di dalam mobil kembali ke kota. Daniah bicara banyak sekali tentang bulan madu dalam rencananya. Membuat Saga kesal. ¡° Sudah diam! jangan merengek.¡± Saga menutup mulut Daniah yang masih merengek. ¡° Berhenti memberi ide tentang bulan madu rakyat jelata. Kali ini aku yang tentukan temanya.¡± Meraih dagu daniah. ¡° kau bisa memilih tema bulan madu kita selanjutnya setelah ini.¡± Apa! memang kau mau bulan madu berapa kali. ¡° Han, siapkan semuanya minggu depan.¡± ¡° Baik tuan muda.¡± Apa segampang itu. ¡° Apa ada tempat yang ingin anda kunjungi nona.¡± Han bertanya. ¡° Apa ya, sepertinya menyenangkan bermain air dan menyelam di laut.¡± Cih Apa! kenapa kau mendengus. Memang kau mau bulan madu hanya tinggal di kamar. ¡° Anda mau ke luar negri apa dalam negri saja.¡± ¡° kenapa kau malah bicara padanya.¡± Menarik Daniah agar menempel padanya. ¡° Han jangan bertanya lagi. Siapkan saja semuanya. Aku percaya padamu.¡± ¡° Baik tuan muda.¡± Han kembali fokus mengemudi, sambil berfikir destinasi tempat bulan madu paling populer di negara ini. Sampai dia benar-benar tidak mendengar suara-suara dari kursi belakang. padahal keduanya sudah berisik. ¡° Sayang sepertinya akan menyenagkan kalau kita.¡± masih kekeh ingin bulan madu versi rakyat jelata. ¡° Sudah diam.¡± Menutup mulut Daniah dengan bibirnya. Dia tidak melepaskan sampai Daniah menganguk tidak akan bicara. Gadis itu tersengal. " Aku akan diam sayang, jadi kamu juga diam." Membuat Saga diam sepertinya itu mustahil. " Kamu mau punya anak berapa? ayo fokus membuatnya saat bulan madu." Apa! Tidak mau! Han hanya bisa tersenyum mendengar pertengkaran dari kursi belakang. Tamat ????Terimakasih untuk semua orang yang ku sayangi ????Terimakasih untuk semua pembaca novel terpaksa menikahi tuan muda tanpa terkecuali, semoga kalian selalu bahagia. ????sampai jumpa lagi Chapter 134 Pengumuman !!! Hallo aku LaSheira, apa kabar kalian para pembaca semua? sudah membaca semua episode Terpaksa menikahi Tuan Muda sampai akhirkan? Terimakasih atas respon dan apresiasinya melalui kolom komentarnya ya. sekali lagi aku selalu berterimakasih untuk kalian yang selalu berkomentar dengan kalimat yang positif. Ramai sekali yang menanyakan bagaimana kelanjutan Daniah dan Saga, kok sampai sini saja, dan dan masih banyak lagi yang lainnya. Musim pertama Daniah dan Saga memang seputar pengakuan jujur perasaan mereka satu sama lain. bagaimana Daniah bisa mengungkapkan perasaan hatinya secara jujur tanpa paksaan. begitu pula dengan Saga, bagaimana dengan dramatisnya akhirnya dia mengakui perasaannya pada Daniah.... Dan karena itulah musin pertama harus berakhir sampai di sini. wahhhh, kalau itu musim pertama seharusnya ada musim ke dua donk tor, ayo cepetan di up donk. Hemmmm, aku kan gak bilang gitu. mau up besok ya... Musim ke dua sedang tahap perencanaan dan pematangan konsep, aku sedang mencari beberapa karakter baru untuk musim kedua. Jadi kapan tor musim kedua???????? Tidak bisa menjanjikan tanggal pastinya, mungkin akhir tahun atau awal tahun depan ya..... Yaaaaaaaaa.............................. (Tetap pakai kalimat yang bijak ya) Kedepannya juga mungkin aku sedang memikirkan cara up yang terbaik, di musim pertama jelas-jelas di deskripsi di tulis bukan novel yang update harian, tapi tetep aja setiap hari ada aja komen up, up dan up. jadi mungkin ke depannya mau evaluasi cara update ku juga ya.... intinya aku ingin menulis senyaman mungkin dan dengan perasaan yang senang. jadi menurut kalian lebih enak update harian atau mingguan? udah gitu dulu ya infonya... terimakasih semuanya yang mencintai novel Terpaksa menikahi tuan muda, tanpa terkecuali ^_^ Chapter 135 Terimakasih Hallo, apa kabar semuanya, aku LaSheira, sebelum membuka musim kedua aku ingin berterimakasih dengan tulus kepada semua pembaca novel Terpaksa Menikahi Tuan Muda, untuk semua apresiasi kalian, baik yang sudah mendukung Daniah dan Saga dari awal novel ini terbit ataupun untuk kalian yang baru saja menemukan novel ini. Terimakasih sudah membaca, berkomentar secara positif, memberi like dan favorit, serta kalian yang sudah memberi tips baca dan juga untuk semua kalian yang sudah vote setiap harinya. terimakasih banyak atas kerja keras kalian. INFO PENTING : Musim kedua akan segera di mulai, aku akan tetap up dengan periode mingguan ya, kalo kalian team harian sepertinya aku benar-benar susah untuk update harian. sudah coba bikin stok buat banyak episode untuk di update satu-satu perhari sepertinya tidak berhasil. aku akan tetap update mingguan untuk musim kedua. Mohon pengertiannya. Karena terkadang banyak ide bermunculan setelah aku membaca komentar-komentar positif kalian. sekali lagi aku berharap dimusim kedua ini sama menyenangkannya dengan musim pertama, baik saat aku sedang menulis, atau saat kalian membaca ceritanya. sekian.... Terimakasih untuk dukungan kalian semua.... Chapter 136 Prolog Musim Kedua Kisah Daniah dan Saga akan berlanjut.... Pengakuan cinta Saga Rahardian yang di lakukan live di stasuin tv telah merubah banyak hal. Mencatatkan sejarah sebagai live acara tv yang mendapatkan rating tertinggi untuk acara siang hari. Pembahasan tentang mereka tidak ada habisnya, walaupun fakta siapa sosok Daniah, tidak pernah terungkap ke publik. Tidak ada informasi khusus tentangnya. Dan tidak ada yang berusaha mencari tahu detailnya. Hanya nama-nama Daniah yang bertebaran di internet, tetapi bukan sosok sebenarnya dari wanita yang dimaksud Saga. Hari itu terjadi pristiwa besar yang tidak akan mudah di lupakan oleh setiap orang. Terutama bagi mereka yang terlibat dalam hubungan rumit di kehidupan Saga dan Daniah. Wanita cantik yang selalu membiarkan rambut hitamnya jatuh kebahunya itu terlihat sangat terpukul, melihat apa yang ia saksikan saat ini. Helen menjatuhkan kuas di tangannya, memporak porandakan cat yang ada di atas meja. Tumpah mencipta lukisan abstrak di dinding dan juga lantai. Dia mengigil gemetar di sudut ruangan, sebelumnya dia sudah merobohkan kanvas putih di hadapannya. Tangannya sakit, saat menjatuhkan cat-cat di meja tadi. Namun ia seperti tidak merasakan apa-apa. Ia menatap tv penuh dengan kebencian teramat sangat, melihat Saga yang bahkan sekarang tidak bisa ia sentuh dengan tangannya. Apalagi saat nama Daniah di sebutkan. Saat itu Saga bahkan dengan perasaan sangat bahagia menyebutkan perasaan hatinya. ¡° Dia bahkan tidak pernah mengakui perasaan cintanya padaku di hadapan orang lain.¡± Helen masih terduduk di tempatnya, bahkan saat acara di tv selesai. Sementara itu, di rumah utama, ibu sedang menonton di kamarnya sendirian. Menjatuhkan gelas teh yang ada di tangannya ke lantai. Dia bahkan tidak menghidarkan kakinya dari cipratan air teh yang memercik. Sedikit panas menyisa di kulit kakinya, tapi itu tidak seberapa di banding perasaannya saat ini. ¡° Saga mengakui perasaannya pada Daniah di hadapan dunia.¡± Tubuhnya masih membeku menatap layar tv. Pikirannya yang berlarian, menemukan rencana apapun yang bisa ia pakai sebagai peganggan. Bahwa Daniah tetap tidak pantas menjadi ibu dari anak putranya, pewaris keluarga Saga Rahardian kelak. Hingga ia mencoba menyusun rencana apapun yang bisa ia pakai untuk mencegah itu. Menunda atau kalau perlu mencegah kehamilan Daniah. Di sebuah kafe yang cukup ramai, pemilik cafe sengaja mengeraskan volume tv. Tidak ada yang merasa terganggu. Mereka bahkan sedang menikmati dan menonton acara tv bersama. Ada yang bersorak girang di sudut meja, seperti dia ikut terlibat. Sementara di ujung tempat duduk di dekat jendela, dimana mereka bisa melihat tv dengan jelas. Noah dan Tamara saling mengengam tangan masing ¨Cmasing. Mereka saling pandang. ¡° Akhirnya Saga mengakui perasaannya pada istrinya. Tama, walaupun aku agak kesal karena Helen sudah menipuku selama ini. Tapi dia pasti sedang menangis sekarang.¡± Tama menepuk tangan Noah. ¡° Ini bukan salahmu sayang. Hubungi dia nanti dan tanyakan kabarnya. Dia pasti sangat terluka sekarang, jangan tingalkan dia sebagai teman.¡± Noah sangat berterimakasih memiliki wanita sebaik Tamara di sampainya. Seseorang yang bisa memahami hubungan rumit antara dirinya, Helen dan Saga. Saga, semoga kamu bahagia dengan pilihan hidupmu yang sekarang gumam Noah dalam hati. ¡° Kamu saja butuh waktu satu tahun untuk melepaskan Helenkan.¡± Suara lembut Tamara. ¡° Terimakasih sudah menemaniku.¡± Lagi-lagi Tamara menepuk bahu Noah. Wanita ini seorang psikolog yang membantu Noah keluar dari lembah keterpurukan. Setahun lalu mereka mulai melakukan konsultasi secara berkesinambungan. Butuh waktu yang sangat lama sampai Noah berhasil menuntaskan perasaannya dan membuka hatinya. Hingga akhirnya mereka sepakat saling menguatkan sebagai sepasang kekasih. ¡° Aku akan menemui Helen nanti.¡± Mereka kembali menatap tv sambil berpegangan tangan. Keluarga Daniah tidak luput berada di depan tv. Mereka menonton tanpa ada yang bicara. Orangtuan Daniah membisu duduk berdampingan, tidak ada yang bicara sepatah katapun. Mereka sedang membuat daftar kesalahan terburuk apa yang sudah pernah mereka lalukan. Risya mengigit bibirnya penuh rasa iri. Bagaimana Daniah bisa begitu beruntung dalam hidupnya. Begitu yang ia pikirkan. Andai dia yang menikah dengan tuan Saga. Andai dia dulu yang harus berkorban. Mungkin hanya itu yang dilihatnya sekarang, dia mengesampingkan atau memang tidak tahu, bagaimana perjuangan Daniah bertahan selama ini. Sekali lagi di rumah ini hanya Raksa yang benar-benar merasa sangat bahagia dengan apa yang mereka lihat di tv saat ini. Terimakasih Tuhan, sudah membuat kak Niah bahagia. Begitu sepanjang acara yang terlintas di pikirannya. Yang ia ucapkan berulang dalam hatinya. Sementara itu, jauh di tempat lain, seseorang yang tidak terlibat secara langsung, tapi pernah memiliki sejarah kelam dengan salah satu petinggi di Antarna Group, di sebuah toserba 24 jam seorang gadis sedang duduk sambil menatap tv yang terpasang di toserba. Sorot mata keputusasan itu berubah menjadi kesal. ¡° Aaaaaa, aku harusnya masih ada di stasiun tv itu sekarang.¡± Agak keras dia bicara sampai wanita yang berdiri di belakang kasih meliriknya. Dia memalingkan wajah, meraih cup mi yang sudah dia seduh. Yang sudah dia diamkan beberapa menit, karena waktunya tersita menatap tv. Tuan Saga ada di stasuin tv, sekarang dia pasti ada di sanakan. Iblis yang yang sudah menghancurkan hidupku. Baiklah, baiklah, itu memang salahku. Hiks, hiks, aku yang tergoda dengan uang sampai mempertaruhkan hidup dan pekerjaanku. Aku tidak mati saat itu sudah keburutanganku. Dan aku mengakui karena kemurahan hatinya. Karena aku cuma serangga penggangu yang akan mengotori sepatunya kalau dia menginjakku. Makanya dia melepaskanku. ¡° Jahatnya dia dan bodohnya aku.¡± Gadis itu hanya bisa mengutuki dirinya. Kesalahan beberapa tahun lalu yang menghancurkan hidupnya. Saat ini untuk bertahan hidup dia bekerja menjadi penulis online novel, di banyak aplikasi penyedia jasa baca online. Selain itu juga bekerja part time di sebuah gerai makanan cepat saji. Cih, aku bahkan tidak bisa meluruskan rambutku demi menghemat uang uantuk hidup. Dia merapikan rambutnya kebelakang telinga. Melihat pantulan wajahnya di kaca toko. Sekali lagi melihat layar tv, sambil mengigit bibirnya dengan kesal. ¡° Tuan Saga memang tampan sekali, tapi iblis jahat itu juga tampan si.¡± Gadis itu mengusir apapun yang muncul dalam pikirannya, saat ini hidup seperti ini sudah lebih dari cukup baginya. setelah menggangu harimau, dia tidak mati itu sudah keberuntungan. Dia akan hidup dengan tenang dan tidak terlihat seperti biasanya. Setelah selesai dengan makanannya, dia menyeret kakinya keluar dari toserba. Kembali ke kontrakan sempit yang ia sewa untuk menulis novel dan hidup selama ini. Mungkin sebentar lagi hidupmu akan berubah nona penulis ^_^ Kisah akan berlanjut.... selamat membaca Chapter 137 Ibu (Part 1) Rumah utama memulai kehidupannya kembali. Udara segar mulai masuk melalui ventilasi dan menganti suasana. Cuaca yang hangat dan sejuk karena angin pagi yang juga berhembus, membuat setiap orang bersemangat memulai hari. ¡° Sayang, pasti akan menyenangkan kalau bulan madu kita seperti bulan madu kebanyaakaan orang. Kita seharian bermain di luar.¡± Mendengar rengekan itu berulang Saga mendorong tubuh Daniah menempel di tembok. Pintu yang sudah terbuka handlenya dia lepaskan. Membuat pintu tidak terbuka lepar ataupun tertutup rapat. ¡° Bicara sekali lagi tentang tema bulan madu rakyat jelata kugigit bibirmu ya!¡± tangannya sudah meraih dagu Daniah, seperti benar-benar akan melakukan apa yang ia katakan. Membuat gadis itu mendapat serangan panik. ¡° Ia, ia, aku tidak akan mengatakannya lagi.¡± Tertawa, sambil berusaha melepaskan tangan suaminya dari dagunya. Berhasil, tangan itu terlepas. Muah, muah, muah. Tiga kecupan disusul tawa renyahnya, berusaha mencairkan situasi yang mulai agak menghangat. ¡°Tema apapun pasti menyenangkan kalau bersamamu.¡± Katanya sambil mengedipkan mata. Mengoda lagi. Saga tergelak. ¡° Wahhh, sudah berani main cium-cium ya.¡± Mengusap bibirnya sendiri sehabis mendapat kecupan Daniah. Daniah malah tertawa, membuat Saga frustasi dengan keimutan istrinya. Menurut Saga yang sudah dibutakan cinta ya. sekarang semua ekspresi yang muncul di wajah Daniah selalu dia terjemahkan dengan bahasanya sendiri, yang terkadang seenaknya itu. Mengemaskan sekali istriku ini. Dengan telunjuknya Saga mendorong tubuh Daniah, sampai menempel di tembok lagi. Jegrek, suara keras pintu tertutup. ¡° Sayang, kamu mau apa?¡± panik, karena Saga semakin maju kedepan menyudutkan dirinya. ¡° Mengigit bibirmu.¡± Masih bicara santai, dengan seringai nakal muncul. ¡° Aku mau membalas kecupanmu tadi.¡± ¡° Apa! aku kan.¡± Mulut Daniah terkunci sudah tidak bisa bicara apa-apa, saat bibir Saga sudah menempel lekat di bibirnya, dan dia mengikuti kemauan Saga. Aaaaaaa, kenapa aku iseng menggangunya pagi-pagi begini si. Cukup lama sampai akhirnya pintu kamar terbuka. Pagi hari yang cerah, suasana hangat yang mulai berangsur mengantikan suasana dingin rumah megah ini. Rumah utama mulai menjelma menjadi hunian nyaman bagi semua yang ada di dalamnya. Tanpa terkecuali. Mungkin sudut bibir ibu mertua masih terlihat kurang nyaman melihat menantunya. Namun ia berusaha menutupi itu dengan hanya melihat senyum anak lelakinya. Dia berusaha mengalah ketika melihat kebahagiaan di mata putranya. ¡° Kakak ipar selamat pagi!¡± Jen memang sudah memperlakukan Daniah dengan baik, tapi semenjak tahu kebenaran status Daniah dan Raksa, ntah kenapa sikapnya jauh lebih baik lagi. Suka bermanja-manja dan bertingkah seperti bocah imut yang membutuhkan kasih sayang kakak perempuan. Saga yang berjalan di samping Daniah sudah mengusir Jen dengan tangannya. Jangan mendekat begitu perintah tuan muda melalui sorot matanya. ¡° Kenapa belum berangkat? Apa kau tidak terlambat?¡± Saga menepis tangan Jen yang mau melingkar di lengan kakak iparnya. Membuat gadis itu mendengus lalu berjalan di samping Saga menuju meja makan. ¡° Hari ini aku akan pergi ke kantor cabang, jadi agak siangan berangkatnya. Sudah lama kan aku gak sarapan dengan kak Saga dan kakak ipar.¡± Melirik kakak iparnya di balik punggung Saga. Daniah hanya mengedipkan mata sambil tertawa tanpa suara. ¡° Sudah kubilang kejar Raksa dengan sportif, jangan merengek pada kakak ipar mu. Lupa yang ku katakan, ku beri waktu kau satu bulan. Kalau tidak berhasil mengejarnya, lupakan Raksa dan jangan menggangunya. Biarkan dia fokus belajar bekerja di Antarna.¡± Ultimatum tegas Saga. ¡° Kau juga serius belajar di Antarna, kalau kau hanya main-main kusuruh Han mengirimmu ke luar dari gedung pusat.¡± ¡° Ia kak, aku akan serius bekerja!¡± Berteriak keras dengan semangat. Semua demi kebaikan Jen, gadis itu tahu, hingga ia tidak protes sedikitpun. Bagaimana kakaknya sudah menyiapkan proses belajarnya sebelum dia di perkenalkan secara resmi ke perusahaan nanti. ¡°Aku akan membantumu diam-diam, hehe.¡± Daniah menyahut di samping Saga. " Tapi kamu harus usaha sendiri ya, aku tidak akan terlibat terlalu jauh karena ini berhubungan dengan perasaan." Dimeja makan ibu Dan Sofia sudah duduk di tempat duduknya. Sofi mendengar apa yang di ucapkan Daniah tadi, lalu dia menyahut dengan kalimat bijak yang baru beberapa detik dia temukan di postingan teman kampusnya. " Kak Jen, tahu tidak perbuatan mulia apa yang bisa dilakukan anak muda seperti kita." Bicara dengan penuh kebanggaan setelah sekali lagi melirik hpnya. meyakinkan diri kalau semua kalimat sudah di hafal dengan benar. Saga menarik kursi Daniah supaya dia duduk, setelahnya dia juga duduk. " Apa!" Jen menjawab sambil mengeryit kesal. Sofi memang tidak mendukung usahanya mengejar Raksa, karena status Raksa yang sudah punya pacar. " Perbuatan mulia yang bisa dilakukan oleh orang seperti kita adalah, cukup tidak menjadi orang ketiga dalam hubungan orang lain." Dia tertawa terbahak menyelesaikan kalimatnya. Daniah menahan senyum demi mendengar kata-kata polos Sofi, sementara Jen yang menatap paling sebal. " Kurang ajar kamu." Gumam-gumam pelan tidak mau makiannya di dengar yang lain, sambil mendelik kearah Sofi. ¡° Apa! benarkan?¡± memilih pindah kekursi di samping ibu. Daripada kena pukul pikirnya. Sementara ibu tidak terlalu tertarik. Karena tahu sifat Jen. Dia memang mudah sekali jatuh cinta pada orang yang baik di sekitarnya. Tapi ya itu hatinya masih labil dan mudah sekali goyah. Dia mudah jatuh cinta tapi juga mudah beralih hatinya Dan akhirnya mereka menikmati sarapan pagi dengan tenang setelah Sofi berhenti bicara mengutip beberapa kalimat bijak yang baru ia baca tadi. Sambil menghabiskan sarapan, Saga bicara. ¡° Bu beberapa hari lagi aku dan Daniah akan pergi?¡± Saga memandang ibunya setelah meletakan gelas jusnya yang sudah kosong. Ibu terlihat terkejut, pergi, pergi kemana? Apa mereka mau pindah rumah begitu yang ada di pikiran ibunya. Lalu ibu refleks menatap Daniah tidak suka. Jen dan Sofi sama terkejutnya menghentikan makan mereka. ¡° Kak Saga mau ke mana?¡± Bersamaan Jen dan Sofi bertanya. ¡° Bulan madu.¡± Menjawab singkat. Sambil meraih tangan Daniah di sampingnya. ¡° Kami kan belum pernah pergi bulan madu setelah menikah.¡± Daniah cuma bisa tersenyum ketika semua pandangan mata tertuju padanya. Jen dan Sofi mulai heboh berdua mendengar jawaban Saga. ¡° Kakak ipar mau bulan madu. Cieee, nanti pulang sudah bawa kabar tentang keponakan ku ya.¡± Kata-kata Jen yang spontan langsung merubah airmuka ibu. Dia terlihat tidak bisa menutupi rasa tidak senangnya. ¡° Ia kakak ipar.¡± Sofi ikut menimpali. Daniah yang melihat perubahan wajah ibu terlihat canggung. Menepuk tangan adik iparnya agar berhenti meledek. Kenapa kalian membahas hal beginian pagi-pagi begini si. Ibu mertua belum bicara sepatah katapun. Tapi Daniah tahu, bahwa ibu berusaha menutupi rasa tidak sukanya. ¡° Kakak ipar dan Kak Saga berusahalah dengan keras. Semangat! Aku akan mendoakan supaya kalian segera mendapat momongan. Aku juga ingin segera punya keponakan.¡± Jen dan Sofi sudah ramai bicara berdua, tentang berapa mereka mau punya keponakan. Sama sekali tidak bisa membaca airmuka ibu. Bahkan Saga sudah mulai terlihat menahan diri karena melihat perubahan wajah ibu. Tapi dia masih diam saja dan melanjutkan makan. Ku mohon hentikan Jen, kamu tidak lihat wajah ibu mu apa. ¡° Kenapa harus buru-buru, kalian bisa menikmati pernikahan kalian dulu. Perihal anak, nanti saja dibicarakan.¡± Kata-kata ibu membuat Saga menghentikan tangannya yang mau mengambil sanwich keduanya. Dia melihat ibu dengan kesal. Kumohon jangan sampai terjadi pertengkaran. ¡° Ibu, kak Saga jugakan sudah hampir delapan bulan menikah kalau tidak salah. Itu kan namanya bukan buru-buru, tapi memang sudah waktunya. Ia kan kakak ipar?¡± Daniah belum menjawab, dia meraih tangan Jen. Mencengkramnya pelan. Meminta mulut gadis itu untuk diam sekarang juga. ¡° Soal itu.¡± Daniah menjawab pelan. Terhenti saat Saga bicara dengan suara cukup keras. ¡° Hebiskan makanan kalian!¡± Saga bicara dengan suara tegas, itu artiya jangan ada yang bicara lagi. Suasana yang tadinya cukup nyaman berubah menjadi kaku. Saga paham apa yang ibunya coba sampaikan tadi. Dia memang belum bisa menerima Daniah. Bukan sebatas pada Daniah menjadi istrinya, tapi pada posisi Daniah sebagai nyonya rumah ini. Wanita yang akan melahirkan penerus bagi keluarga Saga Rahardian. ¡° Saga.¡± Ibu bicara pelan sambil menyentuh tangan kiri anaknya yang ada di atas meja. ¡° Ibu hanya ingin.¡± ¡° Aku sudah selesai.¡± Pembicaraan tentang anak masih akan menjadi menu sensitif di meja makan yang mengusik ketenangan, begitu yang dipikirkan Daniah. Karena Saga bangun dari duduk Daniah refleks bangun, walaupun masih tersisa makanan di piringnya. Dia berlari menyusul Saga yang sudah berjalan lebih dulu. ¡° Sayang, kenapa marah?¡± Daniah mensejajari langkah Saga sambil melingkarkan tangan di lengan suaminya. Saat mereka sudah berada di luar rumah, dan ibu tidak melihat mereka. ¡° Ibukan hanya bicara karena dia perduli padamu.¡± Saga diam tidak menjawab, dia hanya berjalan dengan cepat. Sampai di depan mobil, sekertaris Han sudah membuka pintu belakang. Mengangukan kepala ketika tuannya mendekat. ¡° Han akan mengatur jadwal konsultasimu ke dokter. Bersiaplah!¡± menyentuh pipi Daniah lembut. Apa! dia tidak mengubris yang ku bicarakan tentang ibu. ¡° Jangan perdulikan apa yang ibu katakan, kalau dia bicara yang menyakiti hatimu katakan padaku.¡± Cih, memang aku wanita pengadu apa. Saga memberi kecupan lembut di kening dan bibir Daniah setelah itu masuk ke dalam mobil. Dia menjentikan tangannya menyuruh Daniah mendekat. ¡° Pikirkan saja berapa anak yang kau inginkan.¡± Seringai tipis di bibirnya. ¡° Apa!¡± ¡° Aku pergi ya, masuklah, habiskan sarapanmu.¡± Saga melambaikan tangan sebelum mobil berlalu. Daniah belum beranjak sampai mobil hanya tampak seperti titik hitam. Menjauh menuju gerbang utama. Apa dia benar-benar akan memakai momen bulan madu untuk fokus membuat anak. Aaaaaaaa! Bersambung............ Chapter 138 Ibu (Part 2) Sementara itu di dalam rumah, selepas kepergian Saga dan Daniah. Jen dan Sofi yang akan berdiri di belakang kakak iparnya sebagai pembela dan pendukung garis keras. Karena mereka tahu, kedamaian rumah ini tergantung bagaimana suasana hati kakaknya. Dan mereka paham sekali, siapa yang berpengaruh merubah mood kak Saga tersayang mereka. ¡° Ibu, apa ibu tidak menonton pengakuan cinta kak Saga pada kakak ipar?¡± Pertanyaan sekerdarnya yang di lontarkan Jen, sebenarnya hanya sebagai penegas, kalau ibu sudah kalah telak dalam hal apapun. Karena ibunya sudah ribut membahasnya waktu itu, Jen tahu ibu menonton. Bahkan ibu hafal apa yang di ucapkan kak Saga di luar kepala. Ibu terdiam, memandang kedua putrinya. ¡° Jangan mengusik mereka lagi bu. Kak Saga yang sudah tergila-gila pada kakak ipar. Ibu tidak bisa melakukan apapun.¡± Sekali lagi berusaha menunjukan poin utamanya. Bahwa Sagalah yang duluan jatuh cinta pada kakak ipar. Sejak mereka tidur bersama. Itu fakta. ¡° Ibu tidak akan menggangu Daniah jadi kalian tidak perlu berkata apapun. Ibu hanya belum bisa rela dia mengandung anak Saga dan penerus keluarga ini.¡± Getir ibu menjawab. Ya, dia tidak akan menggangu gugat posisi Daniah sebagai istri Saga. Karena dia tahu itu mustahil. ¡° Kenapa bu? Memang apa yang salah dengan kakak ipar? Dia wanita baik-baik.¡± Jen masih bicara penuh percaya diri dengan pendapatnya. ¡° Dan yang terpenting mereka saling mencintai sekarang. Dan yang paling utama, kak Saga mencintai kakak ipar bu.¡± ¡° Keluarganya, garis keturunan keluarganya.¡± Jen menghentikan bicaranya saat Sofi menarik bajunya. Sofi menunjuk Daniah yang sudah berdiri tidak jauh dari mereka dengan ekor matanya. Yang mereka tangkap saat melihat Daniah mematung seperti itu adalah, kakak ipar mendengar semua pembicaraan mereka. Sial. ¡° Kakak ipar. Maafkan ibu. Dia pasti asal bicara.¡± Jen mendekat meraih tangan Daniah. Memohon agar kakak iparnya tidak mengambil hati pembicaraan mereka. Walaupun terlihat gurat kecewa muncul di wajah Daniah, tapi gadis itu berhasil mengusirnya dengan cepat. Daniah menepuk bahu Jen. ¡° Kamu bisa terlambat Jen kalau belum berangkat sekarang. Pergilah.¡± Melepaskan tangan Jenika dari tangannya. Dia tersenyum tipis. ¡° Kakak ipar.¡± Merengek. Jen sekarang sering sekali memakai senjata ini meluluhkan Daniah. ¡° Aku tidak apa-apa. pergilah. Sofi juga, berangkat sekarang nanti kalian terlambat.¡± Menepuk bahu Jen lagi. Lalu mendorong tubuh adik iparnya untuk pergi. " Berangkat sana." ¡° Maaf ya kakak ipar.¡± Sofi mengambil tas mereka berdua. Menyerahkan tas Jen, menarik Jen agar ikut menyingkir. Paham mereka tidak bisa menyelesaikan apapun, sekalipun terlibat dalam kerusuhan pagi ini. ¡° Kenapa minta maaf, memang apa salahmu. Sudah sana. Aku sudah bilang pada Raksa untuk bersikap baik padamu Jen, karena kamu adik ipar yang baik hati.¡± Daniah mengedipkan matanya jenaka. Membuat Jen langsung semangat membara. Lupa sudah pembicaraanya dengan ibunya tadi. Dia sudah melangkah dengan riang ke mobilnya. Raksa, Raksa, aku akan menaklukanmu. Satu bulan ya. Hehehe, tidak akan memakan waktu selama itu. Akan ku pakai semua pesona dan daya tarik Jenika, gadis manis yang punya sejuta pesona. Jen mengibaskan rambutnya. Sofi di sampingnya hanya tersenyum kecut. Tahu apa yang sedang dipikirkan Jen. Dia menuju mobilnya sendiri. Malas meladeni kakaknya yang mulai di rasuki penyakit cinta. Sementara itu setelah Jen dan Sofia pergi Daniah mendekati ibu mertuanya. Dia tahu, dia harus bicara dengan wanita di depannya ini. Tidak tahu apapun yang akan dia bicarakan. Tapi dia tetap harus bicara. ¡° Duduklah, kita memang harus bicara.¡± Ibu menunjuk sofa di depannya. Suasana di dalam rumah sudah terasa sesak untuk Daniah. Tapi dia mau tidak mau memang harus duduk dan bicara dengan ibu mertuanya. Hatinya sudah sekuat ini. Ikatan janji yang di berikan Saga untuk megikat hatinya sudah lebih dari cukup untuk membuatnya mengangkat tegak kepalanya di hadapan ibu mertuanya. Daniah duduk di sofa, di hadapan ibu mertuanya. ¡° Ibu.¡± Daniah tidak bisa melanjutkan kata-katanya, karena dengan cepat ibu langsung memotong pembicaraan. ¡° Aku tahu, aku sudah kalah sejak lama perihal dirimu Daniah." Terdengar ibu menghela nafas. " Apalagi saat Saga mengatakan perasaannya pada dunia. Bahwa dia mencintai istrinya. Aku tahu aku sudah kalah.¡± Ibu menelan ludah. Menatap wanita di hadapannya. Sebenarnya apa yang dimiliki gadis ini sampai membuat Saga jatuh cinta padanyan. Gumamnya dalam hati, masih dengan perasaan tidak terima. ¡° Saga tidak pernah memproklamirkan perasaannya. Dengan Helen sekalipun.¡± Dia terdengar menarik nafas dalam. Sementara Daniah masih duduk dengan tenang, tidak menjawab atau memberi reaksi apa-apa. dia hanya terlihat sedang mengerutkan keningnya. Apa ibu belum menyerah perihal Helen, kenapa masih menyebutnya. ¡° Saga memperkenalkan Helen sebagai kekasihnya ke publik. Semua orang tahu siapa Helen, tapi dia tidak pernah menunjukan perasaan cintanya pada Helen pada orang-orang. Berbeda dengan mu, Saga tidak memperkenalkanmu pada dunia. Tapi dia menunjukan cintanya kepadamu pada semua orang.¡± Wajah Daniah bersemu, merasa bahagia dengan sendirinya. Kata-kata ibu mertua terdengar seperti kalimat pujian. Tapi dia segera menyadarkan diri, jelas-jelas, pasti bukan itu maksud ibu mertua kan. ¡° Saga sangat mencintaimu, tapi bagaimana denganmu?¡± seperti berusaha melontarkan bola panas yang akan melumerkan kepercayaan diri Daniah. Benarkan, ini inti bicara ibu panjang lebar tadi. Ibu tidak bisa mengusik Saga, tapi dia menemukan celah untuk mengoyahkan pernikahan ini melalui Daniah. Perasaan menantu di hadapannya ini, sampai hari ini yang ia tahu. Gadis ini masihlah wanita yang pernah berkata ingin pergi dari rumah ini. Dia bahkan pernah mengatakan akan berlutut di kakinya kalau sampai Saga menceraikannya. Artinya perasaannya pada putranya tidaklah seperti yang ia dapatkan dari suaminya. ¡° Apa ini bisa di terima, jika kamu sendiri tidak mencintai anakku. Kenapa kau dengan tidak tahu malunya menerima cinta yang begitu berlimpah dari putraku?¡± pertanyaan sekaligus kecaman. Deg, Daniah mencengkram sofa dengan kedua tangannya. Pikirannya tumpang tindih. Kalau dulu mungkin dia tidak akan bisa menjawab. Tapi sekarang hati mereka yang terikat satu sama lain. Membuatnya percaya diri menatap ibu. ¡° Ibu.¡± Dia membuka mulutnya lirih. ¡° Perasaanku seperti apa, tuan Saga tahu dengan pasti itu. Aku bersyukur mendapatkan cinta yang berlimpah dari suamiku, dan sebesar itu pula aku akan berusaha membalasnya. Jika orang lain tidak melihatnya, aku tidak terlalu memusingkan itu. Yang terpenting, suamiku tahu dan merasakan perasaan tulusku padanya.¡± Pelan, namun runut Daniah menyanggang ibu. Cih, kenapa aku tidak menemukan kata yang tepat untuk membantahnya. Ibu merasa gusar sendiri. Karena sepertinya menantunya percaya diri dengan perasaannya sepertinya menyerang melalui celah ini hanya akan sia-sia. ¡° Daniah, apa kau merasa pantas untuk melahirkana anak dari Saga?¡± Benar, seharusnya aku memakai celah ini, wajahnya sudah terlihat pias. Ibu menepukan sasaran tepat menjatuhkan mental Daniah. ¡° Kau harus tahu, lingkungan pergaulan kami berbeda dengan mu menjalani hidup selama ini. Kelak, penerus keluarga ini akan mengantikan Saga, baik dalam bisnis ataupun pergaulan. Tapi bagaimana dia bisa menegakkan wajahnya jika dia memiliki ibu dengan latar belakang seperti mu.¡± Daniah mengigit bibirnya. Merasa apa yang baru ibu katakan sangat menyakitkan. Menjatuhkan harga dirinya. Seharusnya aku tahu ini. Kalau ibu mengunakan kelemahanku yang satu ini. Bahkan menjawab satu katapun aku tidak akan mampu. Ibu mengeluarkan sesuatu dari kantung bajunya, meletakan di atas meja dengan perlahan. Wajah Daniah langsung terlihat pucat saat mengenali benda yang di letakan ibu barusan. ¡° Minumlah ini diam-diam, dan bujuklah Saga.¡± Masih meletakan benda kecil itu di bawah tangannya. ¡° Maksud ibu?¡± minum pil KB dan membujuk tuan Saga, untuk apa? pertanyaan itu muncul. ¡° Biarkan dia menikah lagi dengan wanita yang pantas untuk menjadi ibu dari anaknya. Aku tidak akan mengusikmu. Kamu tetap akan menjadi istri yang di cintai Saga di sampingnya. Tapi bukan kamu yang akan di kenal dunia sebagaai ibu dari anak putraku.¡± Huh! Jahat sekali. Bagaimana bisa semudah ini ibu mengatakan ini padaku. Jika dulu, mungkin Daniah akan langsung mengangukan kepala dengan ide gila ide. Dulu saat hatinya masih terkunci rapat untuk Saga. Saat ia hanya melihat Saga sebatas kontrak mematikan yang bisa menyelamatkan hidup keluarganya. Tapi tidak sekarang, saat ia tahu setulus apa hati suaminya untuknya. Apakah Daniah sudah gila sampai akan mengikuti permaianan ibu mertuanya. ¡° Ibu, sepertinya ibu tidak mengenal anak ibu dengan baik ya.¡± Menatap ibu mertuanya dengan sorotan tajam. ¡° Apa ibu pikir saya seberani itu. Minum pil kontasepsi diam-diam tanpa sepengetahuan tuan Saga.¡± Aku berani dulu, walaupun itu ku sesali sampai hari ini. ¡° Kalau dia tahu, dia pasti akan mencekik ku.¡± Menjawab dengan gelak sambil memperagakan dengan tangannya sendiri. Ya dia pasti akan sangat murka, aku bahkan tidak berani membayangkan bagaimana kemarahannya. ¡° Daniah, apa kamu tidak terlalu serakah?¡± ibu sama sekali tidak tertawa melihat apa yang dilakukan Daniah. Padahal Daniah sudah berusaha membumbui gerakan mencekik lehernya dengan tawa. Serakah! Ibu tahu berapa kali aku mengingatkan diriku untuk jangan terlalu serakah pada cinta tuan Saga. Aku sungguh tau diri untuk selalu ingat posisiku. ¡° Maaf bu, aku tidak akan minum pil itu atau membujuk suamiku. Aku tidak punya keberanian untuk itu. Kenapa ibu tidak mengatakan langsung pada tuan Saga.¡± Wajah ibu berubah kesal. Dia mengambil pil itu dan melemparkannya di depan Daniah. Tepat pada ujung meja di depan menantunya. ¡° Kalau kau tau diri, cukup tau diri siapa dirimu, minumlah. Jangan sampai kau mengandung anaknya Saga.¡± Sebuah serangan terakhir yang di harapkan mampu mengoyangkan pertahanan Daniah. Tapi saat ibu mendongak dan menatap lekat menantunya, gadis itu tidak bergeming. Membuatnya semakin larut dalam rasa kesal. Bersambung Chapter 139 Ibu (Part 3) Tanpa ada yang menyadari baik Daniah atau ibu, pak Mun sudah berdiri di ruangan yang sama dengan mereka. Dia memandang pil kontrasepsi yang ada di atas meja. Sama persis seperti yang dia temukan di tas nona mudanya waktu itu. Itu membuatnya gusar. Terbang sudah kedamaian rumah ini begitu pikirnya. ¡° Nyonya, bagaimana anda bisa meminta nona muda untuk minum pil itu?¡± kata-katanya sudah terlihat meninggi. Dia bahkan bicara seperti saat dia kesal dengan pelayan rumah belakang yang bekerja dan melakukan kesalahan. ¡° Kalau tuan muda tahu, anda tahu akan semarah apa dia.¡± Daniah langsung bangun mendekati pak Mun. Gadis itu yang paling tahu, akan seperti apa reaksi Saga. Dia menarik tangan pak Mun untuk mengikutinya. menuju ruangan lain. Dia tidak mau sampai ibu mertuanya menduga-duga, karena pembicaraannya dengan pak Mun. Karena perkara dia minum pil kontrasepsi menjadi rahasia yang tersimpan rapat di rumah ini. Bahkan jen dan Sofi yang ada di rumah juga tidak tahu mengenai pil kontrasepsi. ¡° Pak Mun jangan mengatakan pada tuan Saga, ku mohon. Apapun yang pak Mun dengar barusan. Aku tidak menyentuhnya. Aku bersumpah, aku tidak menyentuh pil itu sama sekali.¡± Mungkin saja akan terjadi pecah perang dunia ke tiga kalau saga tahu ibunya menyodorkan pil kb ke depan Daniah. Hingga Daniah harus menghindari itu semua. Dia memohon, memohon dengan sangat pada Mun untuk menyelamatkan ketenangan rumah ini. ¡° Pak Mun saya mohon jangan mengatakan apapun pada tuan Saga. Saya mohon.¡± ¡° Nona, nyonya tidak akan berhenti sampai di sini. ¡° ujar pak Mun meyakinkan. Bahwa apa yang akan di lakukan nyonya kedepannya bisa jadi akan jauh lebih ekstrim lagi. ¡° Aku tahu, tapi aku tidak akan pernah meminumnya. Aku bahkan tidak akan berani menyentuh pil itu lagi pak. Pak Mun pasti masih ingat kan bagaimana marahnya tuan Saga, dan aku tidak akan lupa itu pak. Aku tidak akan punya keberanian walaupun hanya menyentuhnya. Percayalah padaku.¡± Mengengam tangan pak Mun erat. Walaupun laki-laki itu merasa tidak nyaman, tapi dia membiarkannya. ¡° Nona.¡± ¡° Bapak tidak mau terjadi perang dasyat di rumahkan? Aku tidak mau ibu dan tuan Saga kembali bertengkar karena aku lagi. Ya pak, demi kedamaian rumah ini. Tolong rahasiakan semua yang pak Mun dengar pagi ini.¡± Ini adalah pilihan terbaik untuk menyelamatkan kedamaian rumah ini. Dia sendiri tidak mau kalau sampai ibu harus kembali pergi, mungkin kali ini akan jauh lebih lama dari sebelumnya. ¡° Pak Mun hubunganku dengan tuan Saga saat ini sedang dalam kondisi sangat baik. Percayalah. Aku akan berada di samping tuan Saga dengan bahagia apapun situasinya.¡± Sebentar pak Mun memandang sorot mata Daniah secara langsung, lalu dia menundukan kepalanya setelah yakin. ¡° Baiklah nona, saya akan melakukan apa yang nona minta. Tapi saya mohon ke depannya jika nyonya masih bersikap seperti ini jangan menyimpan dan menghadapinya sendiri. Nona bisa meyampaikan pada saya atau sekertras Han, dia pasti bisa menyelesaikan semuanya dengan tenang. Dan tuan muda tidak akan merasa terganggu.¡± ¡° Baik, baik, pak. Saya akan ingat itu. Terimakasih ya pak.¡± Pak Mun sudah mengantarkan Daniah menuju mobil yang di bawa Leela, lalu dia kembali masuk ke dalam rumah. Seperti yang dia duga, nyonya masih menuggu di tempat duduknya. Dia pun berjalan mendekat. ¡° Pak Mun.¡± wanita itu memanggil, walaupun sebenarnya tidak perlu. karena kepala pelayan itu memang berjalan menuju tempatnya duduk. ¡° Nyonya, kenapa anda seperti ini?¡± laki-laki itu memotong pembicaraan nyonya. Dia tidak ingin mendengar apapun alasannya. Dia sudah cukup mendengar apa yang harus ia dengar dari pembicaran wanita di hadapannya ini dengan nona Daniah tadi. ¡° Apa kamu mau mengadukan semuanya pada Saga?¡± terlihat sekali ibu kuatir, dia tidak perduli dengan pertanyaan pak Mun. ¡° Sesuai dengan permintaan nona Daniah saya tidak akan mengatakan tentang pil dan apa yang nyonya katakan pada nona tadi. Tapi saya minta cukup sampai disni. Apapun yang nyonya rencanakan cukup sampai di sini.¡± Terdengar ibu bernafas lega. Walaupun kemudian terlihat dia tampak gusar, karena mencerna kalimat pak Mun sebagai suatu ancaman untuknya. ¡° Lancang sekali, apa sekarang pak Mun sedang mengancam saya.¡± ¡° Tidak nyonya, bagaimana mungkin saya mengancam nyonya. Saya hanya berusaha menjaga ketenangan rumah ini untuk tuan muda.¡± Wajah ibu sangat masam mendengar perkataan pak Mun. ¡° Aku tidak akan menggangu Daniah sebagai istri Saga. Aku hanya.¡± ¡° Nyonya, bukankah seharusnya anda berterimakasih. Karena nona Daniah bisa membuat tuan muda tersenyum kembali setelah sekian lama. Seharusnya anda mendukung mereka, untuk kebahagiaan tuan muda.¡± sebuah argumen sederhana yang di lontarkan, karena pak Mun yakin, kalau nyonya juga melihat kebahagiaan di mata tuan muda. Bahwa saat ini nona mudanya adalah wanita yang akan memberi pengaruh besar dalam hidup Saga. ¡° Pak Mun, ini bukan hanya untuk sekarang. Tapi untuk kehidupan selanjutnya keluarga ini. Keturunan Saga harus berasal dari wanita yang sama derajatnya dengannya.¡± Pak Mun terlihat sangat tidak suka dengan kalimat nyonya di depannya. Apa yang salah dengan nona mudanya, derajat, keturunan. Apa pentingnya itu jika tuan Saga menerima dan mencintainya dengan tulus. Itu sudah hal paling utama, tidak ada yang lebih penting dari itu semua. ¡° Nyonya, kalau saja tuan besar masih hidup apa yang akan di pikirkannya jika tahu anda melakukan hal seperti ini.¡± Wajah ibu terlihat getir. Dia tertunduk sekarang. ¡° Tuan besar bukan orang yang suka membedakan status orang lain. Saya rasa dialah yang akan paling bahagia melihat tuan muda dan nona Daniah." Pak Mun tahu, kata-katanya terdengar menyakitkan dan seperti kecaman. tapi ini adalah kenyataan yang bisa menyadarkan nyonya kedepannya. " Apa nyonya tahu, karena sikap tuan besar yang baik pada semua orang dan tidak membedakan derajat orang lain.¡± Pak Mun menghela nafas ketika melihat nyonya mengigit bibirnya kalah. ¡° Hari ini, ada banyak orang seperti sekertaris Han yang berdiri di belakang tuan muda. Menyayangi dan mencintai tuan muda. Mereka yang akan dengan tulus berkorban untuk tuan muda. Semua itu tidak muncul begitu saja kan nyonya.¡± ¡° Hentikan.¡± Sadar, bahwa apa yang diucapkan pak Mun adalah benar. Dan dia merasa kesal karenanya. ¡° Karena kebaikan tuan besar sejak dulu, saat ini tuan muda bisa bersama orang-orang yang menyanyanginya.¡± Lagi-lagi ibu tidak bisa membantah bagian apapun yang di ucapkan pak Mun. Membuatnya serasa tersapu gelombang kekalahan. Air itu menariknya hingga ke tengah lautan kegetiran. tapi tetap saja, dia masih merasa bahwa Daniah tidak pantas menjadi ibu dari anak putranya. " Saya harap, nyonya menyerah dengan rencana apapun yang sedang coba nyonya lakukan." Bersambung Chapter 140 satu persen Sehabis selesai meeting produk baru di gedung Antarna Group. Saga dan sekertaris Han kembali ke ruangannya. Sesaat sebelum meninggalkan ruangan tadi Saga menatap deretan produk sample di meja. Semua orang yang ada di ruangan meeting terlihat gelisah dengan situasi semacam itu. Siapapun dari mereka tahu kalau presdir Antarna Group sangat tidak menyukai jenis makanan yang satu itu. Tapi, mau bagaimana lagi tuntutan pasar serta peluang yang luar biasa besar di produk panggan instan membuat mereka tidak mau melepaskan kesempatan mendapat keuntungan. Hanya satu kalimat yang diucapkan Saga tapi akan membawa tanggung besar di pundak mereka. ¡° Paling tidak bukan hanya lidah kalian yang merasa enak, tapi tubuh kalian juga tidak akan sakit kalau memakannya.¡± Artinya, buatlah makanan dengan gizi seimbang walaupun itu adalah makanan instan. ¡° Kenapa kebanyakan orang tergila-gila dengan makanan instan?¡± Saga berdecak agak kesal sebenarnya. Sampailah mereka di depan ruangannya. Staff sekertaris di depan ruangannya bangun saat mereka mendekat. Menundukan kepala mereka sopan. ¡° Karena praktis dan enak di lidah.¡± Han menjawab sambil membukakan pintu ruangan. Saga masuk meninggalkan Han yang masih berada di dekat pintu. Dia mengerakan tangannya agar salah satu staffnya mendekat. ¡° Siapkan buah dan jus segar seperti biasa.¡± Perintahnya kepada staff sekertaris yang sudah berdiri di depannya. ¡° Baik tuan.¡± Setelahnya Han langsung menarik handle pintu. Dia mengedarkan pandangan menyapu ruangan mendapati Saga yang sudah duduk di sofa. Menyandarkan kepalanya. ¡° Mereka bahkan bisa berfikir untuk membuat bakso aci instan. Bukannya seharusnya bakso itu dari daging kan?¡± benar-benar kehilangan kata-kata. Versi makanan low budjet tapi kepopulerannya bahkan mengalahkan produk aslinya. ¡° Di negara kita memang banyak sekali makanan citarasa lokal yang bisa dibuat makanan instan tuan.¡± Han menyebutkan beberapa jenis jajanan populer yang sudah banyak beredar. Kalau dulu mungkin hanya di kenal mi instan saja sebagai olahan pangan praktis, enak di lidah dan mengenyangkan. Tapi sekarang, semua jenis makanan hampir sudah memiliki versi instannya. ¡° Jauhkan Daniah, Jen dan Sofi dari semua makanan itu. Apa itu yang sering dia makan. Cilok, tadi adakan cilok instan.¡± Saga memberi penekanan dua kali agar Han benar-benar menegur pola makan adik-adiknya. Jen dan Sofi masih sering kedapatan makan makanan seenaknya, hanya memperdulikan lidah mereka saja. " Biarkan mereka makan sesekali, tapi jangan terlalu sering. Dan juga tetap beri label peringatan di kemasan produk untuk konsumen. Peringatan untuk tidak dikonsumsi setiap hari." ¡° Baik tuan. Sepertinya budaya makan kita memang sudah perlahan bergeser. Saat ini makanan pedas atau makanan instan memang sedang sangat populer, apalagi di kalangan anak muda.¡± Food vloger yang saat ini populer di portal pemutar vidio juga membawa banyak sekali peran dalam bergesernya pola konsumsi masyarakat. Para pengiat ekonomi sudah melihat pasar itu. Saat ini melakukan iklan melalui seleb media sosial atau vloger jauh lebih menguntungkan dan menjangkau masyarakat. Efektif membidik target market jualan. Ketukan pintu menghentikan pembicaraan mereka. Han bangun, menerima nampan berisi buah dan juga jus segar. Dia membawanya dan meletakannya di atas meja. ¡° Silahkan tuan.¡± ¡° Han carikan penganti Leela untuk Daniah. Sepertinya sudah waktunya dia kembali keperusahaan.¡± Saga menerima gelas yang di sodorkan Han. ¡° Aku yang akan menentukan sendiri, kau pilih saja orangnya dan bawa padaku.¡± ¡° Apa anda punya kriteria tertentu tuan? ¡± Sejujurnya saat ini tidak ada satu namapun yang masuk dalam daftar seleksi sekertaris Han. Membuatnya mendesah sendiri. Tapi membiarkan Leela untuk tetap menjadi sopir nona Daniah juga bukan pilihan tepat. Dia masuk jajaran top 100 orang kepercayaan di Antarna Group. Kepemimpinannya sudah dia buktikan. Dan yang pasti Han bisa mendelegasikan kebijakan penting pada Leela menyangkut perusahaan. Terlihat Saga berfikir sejenak. Mungkin sedang menyusun kriteria khusus tentang asisten yang dia inginkan. ¡° Tidak ada.¡± Sambil memasukan potongan buah ke mulutnya. Cih, kenapa anda malas berfikir sekarang. Han bergumam sendiri dalam pikirannya. ¡° Tidak ada syarat khusus. Dia hanya harus perempuan. Hemmm.¡± Diam sebentar. ¡° Bisa bela diri, paling tidak selevel dengan Leela. Tidak banyak bicara, tapi tahu apa yang harus dia kerjakan. Dan yang pasti dia bisa melindungi Daniah dalam situasi apapun. Kalau perlu cari yang bisa tinggal di rumah.¡± Anda masih bilang tidak ada kriteria khusus, lalu itu apa! ¡° Sebelum bulan madu, bawa dia padaku.¡± Apa! bulan madu bahkan sudah di depan mata. Han terlihat mulai memilah nama-nama di kepalanya. Dia mendapati beberapa nama dalam jajaran pengawal terlatih yang dulu pernah secara langsung ada dibawahnya. Semakin mengkerucutkan pilihan, tapi belum berhasil menemukan satu nama yang tepat. ¡° Dan juga, apa maksudnya ya, sampai hari ini Daniah masih merengek tentang tema bulan madu ala rakyat biasa. Memang maunya dia itu apa?¡± bertanya tapi hanya terdengar seperti protes. ¡° Tadi pagi dia masih membicarakannya.¡± Pikiran Han langsung tersadar kembali. ¡° Sepertinya nona ingin bulan madu seperti kebanyakan orang tuan. Jalan-jalan dan bersenang-senang di luar ruangan. Nona bilang ingin bermain di laut, mungkin maksudnya dia ingin seharian bermain di laut, menyelam dan berenang misalnya.¡± Cih. Wajah Saga terlihat masam. Apa! jadi anda benar-benar hanya ingin memeluk nona saat bulan madu. Kenapa harus jauh-jauh pergi bulan madu. Peluk saja nona di dalam kamar sepuas anda. Merepotkanku saja. ¡° Aku tahu apa yang kau pikirkan Han! Kurang ajar.¡± Saga Melemparkan garbu yang habis dia pakai. Han tergelak menerimanya, lalu ikut makan buah yang ada di atas meja. ¡° Baiklah atur 51 % bermain di luar dan 49 % menghabiskan waktu di kamar.¡± Apa! hanya beda satu persen, apa anda pikir nona Daniah sepintar itu sampai tahu bedanya. ¡° Tuan muda, apa nona bisa melihat bedanya?¡± mengambil beberapa potongan buah sekaligus, memasukannya ke dalam mulut dengan cepat. Lalu menyerahkan garbunya kembali ke tangan Saga. ¡° Apa! kamu sedang berfikir kalau gadis bodoh itu tidak akan tahu bedanyakan?¡± Kesal sekaligus membenarkan perkataannya sendiri. Diapun ragu kalau istrinya bisa melihat perbedaan satu persen itu. ¡° Saya tidak berfikir kalau nona bodoh tuan muda. Saya hanya berfikir apa nona akan sepintar itu sampai tahu bedanya yang hanya satu persen.¡± Bicara tanpa rasa bersalah sama sekali. ¡° Itu sama saja!¡± berteriak akhirnya. ¡° Hanya beda pengucapannyakan.¡± Han hanya menjawab dengan tertawa . ¡° Satu persen itu bisa jadi berbeda tergantung padamu.¡± Menatap licik. ¡° Aku percaya padamu Han.¡± Apa-apaan ini sepasang manusia bodoh yang saling jatuh cinta. Memberikan beban paling berat padaku. Nona, aku harap anda benar-benar pintar kali ini. ¡° Kau lupa, kalau hanya dengan saham 51 % aku bisa menutup pabrik ini.¡± Menunjuk proposal bisnis tentang olahan makanan instan yang baru saja mereka bahas tadi. ¡° Sekarang kau paham kan bedanya satu persen itu?¡± ¡° Benar, anda selalu benar tuan muda. Saya akan mengatur semuanya.¡± Sudah tidak bisa membantah, ketika Saga menginginkan sesuatu. Han seperti mewajibkan dirinya untuk melakukan yang terbaik. Tapi, bulan madu itu sebenarnya ngapain aja? Jomblo abadi sedang binggung dengan jawaban dari pertanyaan yang ditanyakannya sendiri. Mereka menghabiskan buah yang ada di piring, tengelam dengan pikiran masing-masing. Bersambung Chapter 141 Berfikir keras Han sudah kembali ke ruangannya, dia duduk sambil termenung. Memikirkan siapa penganti Leela. Dia sudah menuliskan beberapa nama di kertas. Tapi satu persatu nama itu di coret, karena merasa posisi mereka saat ini masih terlalu riskan untuk digantikan orang lain. Akhirnya dia meraih hp yang ada di atas meja. ¡° Berikan tiga nama yang kau rekomendasikan untuk mengantikanmu menjaga nona. Kirim datanya ke email.¡± Sepertinya Han mencari sedikit jalan pintas melalui Leela. Baiklah, kita tunggu apa yang bisa kau berikan. Beralih ke bulan madu 51%. Lagi-lagi Han terlihat gusar memikirkan seberapa signifikannya satu persen itu dimata Daniah, hingga ketukan pintu kaca membuatnya menoleh. Seorang staff sekertaris sudah berdiri di luar pintu. Saat Han sudah mengerakan tangannya memberi isyarat masuk staff itu membuka pintu perlahan. ¡° Kenapa?¡± katanya tanpa berpaling dari kertas di atas meja. Dia baru saja menuliskan beberapa tempat yang bisa jadi destinasi bulan madu, tempat yang sekiranya populer di negara ini. ¡° Maaf tuan, tuan Hariawan meminta untuk bertemu dengan tuan Saga.¡± Sataff sekertaris berada di situasi yang sangat tidak menyenangkan. Di satu sisi tamu laki-laki itu belum membuat janji, tapi di lain pihak, dia adalah paman dari presdir Antarna sendiri. Membuatnya mau tidak mau harus mengetuk pintu kaca di depannya ini. ¡° Dimana dia?¡± Sudah menoleh dan meletakan pena di tangannya ketika nama Hariawan di sebutkan. Berusaha menerka-nerka, apa yang diinginkan laki-laki itu. ¡° Sedang menunggu di ruang tunggu.¡± Menjawab cepat. ¡° Baiklah, sajikan teh untuknya. Aku akan menemui tuan Saga.¡± ¡° Baik tuan.¡± Staffnya sudah berbalik dan memegang handle pintu. Langkahnya terhenti ketika Han kembali bicara. ¡° Tunggu!¡± Gadis itu berbalik, mulai terlihat kuatir dan menduga-duga apa yang diinginkan laki-laki di depannya ini. Dia masih terlihat menatap kertas di depannya. ¡° Kau sudah menikahkan?¡± ¡° Ia tuan saya sudah menikah.¡± Ada apa ini, kenapa dia bertanya hal pribadi begini. Tuhan apa salahku. Apa aku kelamaan mengambil cuti, tapi kenapa baru menanyakannya sekarang. ¡° Kau pergi kemana waktu bulan madu?¡± Walaupun masih tidak mengerti tapi yang di pahami dia harus menjawab dengan cepat. ¡° Saya pergi ke negara XX¡± Aaa, negara yang konon jadi negara paling romantis dan cocok untuk berbulan madu itu ya. Memang kebanyakan orang akan memilih pergi ke luar negri. Tapi nona memilih ingin pergi ke dalam negri saja. ¡° Apa yang kau lakukan saat bulan madu?¡± sekali lagi pertanyaan aneh keluar, Han tidak melihat sebinggung apa wajah staff sekertarisnya sekarang. Karena dia malah memegang hpnya. Sedang berkutat dengan mesin pencarian dengan kata kunci bulan madu. ¡° Kami jalan-jalan dan belanja tuan, selebihnya.¡± Tidak melanjutkan kalimatnya, binggung sendiri, apa benar dia harus menjawab dengan jujur. ¡° Apa?¡± Staffnya terkejut karena ternyata sekertaris Han masih menunggu jawabannya. ¡° Selebihnya kami menghabiskan waktu di dalam kamar.¡± Ntah kenapa jawabannya membuat dirinya malu sendiri. Wajahnya hampir memerah karena binggung bercampur rasa malu. Lebih-lebih ketika sekali lagi mendengar pertanyaan sekertaris Han. ¡° Apa yang kamu lakukan di dalam kamar?¡± saat beberapa saat tidak mendengar jawaban, akhirnya dia meletakan hpnya dan menoleh. ¡° Jawab!¡± terkejut sendiri ketika melihat wajah staff sekerarisnya, dan lebih terkejut lagi ketika dia mulai mencerna pertanyaan terakhirnya. Sial! Kenapa aku masih bertanya apa yang mereka lakukan. ¡° Kenapa masih di sini? pergilah, sajikan teh untuk tuan Hariawan.¡± Nada suara tegas Han, seperti menyalahkan. padahal jelas-jelas dia yang menahan staffnya tadi. ¡° Eh baik tuan.¡± Kenapa aku yang malu, seharusnya diakan yang malu menanyakan hal begituan. Staff sekertaris itu mengerutu sendiri. Apalagi ketika wajah datar sekertaris Han tidak berubah sampai akhir tadi. Cih, mengutuki pertanyaan yang dia lontarkan. Akukan tidak sepolos itu sampai bertanya apa yang dilakukan pengantin baru di dalam kamar. Sial! Han memukul meja beberapa kali. Menghukum kebodohannya sendiri. Dia menyingkirkan kertas-kertas di atas meja. Meremasnya menjadi bola bulat lalu melemparkannya di tempat sampah. Kita sudahi dulu bulan madu satu persen itu, sekarang kenapa tuan Hariawan datang kemari. Tidak mungkin dia hanya ingin memohon supaya bisa kembali ke ibu kota. Dia mengenal tuan Saga sama baiknya denganku. Memohonpun akan sia-sia. Suasana hati sekertaris Han benar-benar sangat buruk saat dia meninggalkan ruangannya. Bahkan saat keluar dari ruangan Presdir Antarna dia juga masih memasang wajah yang sama. Bahkan saat melihat staff yang tadi dia tanyai tentang pertanyaan memalukan tentang bulan madu, dia bahkan tidak memberikan reaksi apa-apa. Walaupun terlihat staffnya masih merasa malu. Han mengusir staff sekertarisnya yang mengikutinya sampai keruang tunggu. Sementara laki-laki yang sedang duduk itu berdiri saat melihat pintu terbuka. Terlihat gurat kecewa di matanya. Karena hanya melihat Han seorang diri. Tidak ada yang muncul di belakangnya sampai dia menutup pintu. ¡° Tuan muda menitipkan salam untuk anda tuan.¡± Han menundukan kepalanya sopan. Dia bisa melihat senyum kecewa laki-laki di hadapannya. ¡° Apa Saga tidak mau bertemu dengan pamannya sendiri?¡± duduk lagi di sofa. Dengan membawa perasaan kecewa yang tidak bisa dia tutupi baik dari raut wajah ataupun nada suaranya. Dia meraih cangkir tehnya lagi, menghabiskan isinya. ¡° Anda pasti paham, kalau tuan muda tidak seperti itu tuan. Apa anda mau minum lagi, staff saya akan mengambilkan teh lagi.¡± Hariawan memaksakan tersenyum. ¡° Tidak usah.¡± ¡°Anda bisa menyampaikan apapun kepada saya. Saya akan menyampaikan secara langsung kepada tuan muda.¡± Menunggu reaksi Hariawan, sekaligus berusaha menemukan niatan apa yang membawa laki-laki ini datang dari luar kota kemari. Hariawan adalah kakak kandung ibu dari Saga Rahardian. Dia pria penuh wibawa yang cukup dekat dengan Saga. Hubungan mereka terbilang cukup baik, sampai setahun lalu. Karena keserakahan dirinya dia membuat kesalahan fatal yang sangat merugikan. Bukan hanya bagi perusahaannya, tapi berdampak jauh lebih buruk dari itu. Sampai menimbulkan korban jiwa. Cukup lama Han membereskan masalah dan kekacauan yang dibuat laki-laki di hadapannya ini. Dan akhirnya tuan Saga memutuskan memberikan kesempatan perusahannya untuk tetap berjalan dengan beberapa syarat. Bisa dibilang sebagai hukuman. ¡° Bukankah satu tahun sudah cukup?¡± Hariawan memulai pembicaraannya. ¡° Selama satu tahun ini perusahaanku tidak pernah melakukan kesalahan sekecil apapun dalam proyek-proyek yang kami bangun.¡± Meyakinkan. Dia mengambil tas yang dia letakan di bawah dekat dengan kakinya. ¡°Lihatlah, ini bukti kami bekerja dengan sangat baik selama setahun ini.¡± Dia membuka tasnya dan mengeluarkan dokumen-dokumen. ¡° Bukan perkara satu tahun atau dua tahun.¡± Han menghentikan tangan Hariawan yang ingin mengeluarkan semua isi tas. ¡° Tuan Saga ingin perusahaan anda menyelesaikan lima puluh proyek kecil daerah yang tidak melibatkan nyawa manusia. Kalau anda sudah menyelesaikan itu anda bisa kembali ke ibu kota lagi tuan.¡± Han mengulang pesan yang diucapkan Saga diruangannya tadi. ¡° Dia benar-benar tidak berubah ya. Masih sangat idealis dan keras kepala.¡± Berdecak, sekaligus tersenyum tipis. ¡°Kecuali berhubungan dengan kehidupan pribadinya. Aku menonton acaranya waktu itu. ¡± Han mengeryit mendengarnya. Dia mulai menerka arah pembicaraan laki-laki dihadapannya ini. Kedatangannya dengan membawa tas berisi proyek kesuksesan perusahannya hanyalah alasan. Ada misi terselubung yang coba ia lakukan. Apa ini berhubungan dengan nona Daniah? ¡° Tuan.¡± ¡° Han, dari semua orang, aku tahu hanya kamu yang paling tahu bagaimana dan apa yang dipikirkan Saga. Apa menurutmu Saga benar-benar menyukai istrinya seperti yang dia katakan live di stasiun tv waktu itu.¡± Sepertinya apa yang di duga Han benar adanya. ¡° Apa nyonya yang meminta anda kemari?¡± Wajah Hardiawan terlihat cukup terkejut karena bisa dengan mudahnya Han menebak. Dia berusaha menutupi reaksi spontannya dengan tertawa. Lalu menepuk tas yang ada di depannya. ¡° Tidak, aku datang untuk memohon kepada Saga supaya bisa kembali ke ibu kota.¡± Huh!! Kalau seperti itu kenapa anda malah penasaran dengan kehidupan pribadi tuan muda. ¡° Tuan, berhentilah. Tuan muda tidak pernah membenci anda secara pribadi. Dia masih mengormati anda sebagai paman yang memang pantas untuk di hormati. Saya harap anda tidak membuat penilaian tuan muda terhadap anda salah selama ini.¡± ¡° Apa maksudmu?¡± ¡° Berhentilah sampai di sini. apapun yang nyonya rencanan sudah gagal. Tuan muda mencintai nona Daniah. Dan saya akan menjaganya dengan nyawa saya, menjaga hubungan mereka.¡± Sorot mata Han yang serius membuat Hariawan menurunkan tangannya. Hariawan tahu, laki-laki dihadapannya ini bisa melakukan apapun untuk Saga. Bersambung Chapter 142 Main pijat-pijatan Hari ini Saga pulang kerumah jauh lebih awal dari biasanya. Tanpa ada drama karena sekertaris Han memberi info akurat pada Daniah. Gadis itu benar-benar langsung menarik tangan Leela untuk mengantarnya pulang. Walaupun dia sadar kontrak mematikan antara dirinya dan Saga sudah berakhir, tapi seperti menuruti kemauan Saga dan tidak membuatnya marah menjadi suatu kebiasaan yang nyaris mendarah daging. Walaupun saat ini sesekali dia masih suka membantah kalau melalui kata-kata. Seperti hari ini, selepas mandi dan menunggu waktunya makan malam mereka menghabiskan waktu di dalam kamar. Duduk di atas tempat tidur. Masih memakai pakaian lengkap mereka. Lalu Saga memberi ide sambil menghabiskan waktu. Untuk main pijat-pijatan. ¡° Buka bajumu!¡± Katanya duluan. Dia memilih untuk memijat duluan. Sudah menarik ujung baju Daniah. Gadis itu berusaha mempertahankan pakaian yang melekat ditubuhnya. ¡° Tidak mau!¡± tidak kalah berteriak mengalahkan suara Saga. Kalau dia melepas baju, dia tahu apa selanjutnya yang akan terjadi. ¡° Kau benar-benar berani ya sekarang.¡± Saga menundukan kepalanya. Menempel di telinga Daniah. Bahkan nyaris mengigit telinga itu. ¡° Sayang, bukan begitu. Pijat saja bahuku.¡± Daniah menepuk bahunya, sementara posisi dia sudah tidur tengkurap tanpa bisa bergerak sedikitpun. Saga sudah berada di atasnya bertumpu pada lututnya. Daniah hanya berharap kaki suaminya sekokoh sifat berkuasa dan menang sendirinya. Hingga dia tidak perlu gelisah dan takut tergencet sedikitpun. Kenapa juga si pakai acara memijatku segala, biasanya kamu kan yang minta pijat. Tidak menghiraukan ocehan Daniah Saga menarik baju Daniah paksa. Setelah berhasil melepaskannya dia melemparkan baju itu jauh dari tempat tidur. ¡° Dasar pembangkang!¡± ¡° Maaf, maaf!¡± berteriak karena cubitan tangan Saga dipinggangnya. Saat Saga melepas satu-satunya pelindung tubuhnya dia pasrah. Telinganya merinding geli saat bibir laki-laki itu menelusuri punggungnya. Pijat, pijat saja, kenapa musti cium-cium segala. Memang ini panti pijat plus-plus apa! Walaupun akhirnya Daniah terdiam dan menikmati setiap sentuhan tangan Saga di punggungnya. Cih, kenapa dia bisa melakukan semua hal begini si. Bahkan pijatannya sangat nyaman. Gerutuan Daniah berakhir menjadi pujian. Beberapa kali dia mengerjapkan mata karena merasa sangat nyaman. Sungguh menikmati, karena tangan Saga benar-benar fokus memijat tanpa menjahilinya. Saga fokus dengan gerakan tangannya, mulutnya tidak bicara sepatah katapun. Dia menyusuri setiap bagian punggung istrinya. Kecupan lembut dia berikan dibebera titik saat memijat. ¡° Balikan badanmu!¡± setelah cukup lama dia memijat pungguh Daniah. Apa! Daniah belum bergerak. Dan dia tidak mau bergerak dari tempatnya. Hanya Mengangkat kepala, mencari dimana bajunya. Tidak terlihat. Saat dia memutar pandangannya dia melihat pakaianya teronggok di lantai di dekat meja rias. Habislah aku kalau aku berbalik. ¡° Balikan badanmu. Bagian punggung sudah selesai sekarang bagian depan.¡± Saga mengulang kata-katanya. Tapi dia tidak merubah posisi masih bertumpu pada lututnya diatas punggung Daniah. Dia mengangkat tubuhnya lebih tinggi, supaya Daniah bisa memutar tubuhnya. ¡° Tidak mau!¡± ¡° Apa! kau benar-benar belajar dengan giat membantahku ya.¡± Gusar, menurunkan bagian lututnya supaya tubuhnya menempel dipunggung polos Daniah. ¡° Haha, sayang bukan begitu.¡± Daniah mulai takut tertindih. ¡° Bagian depan tidak usah dipijat. Sudah cukup sekarang. Nyaman sekali. Ahhh, senangnya. Terimakasih sayang.¡± Daniah menyentuh bahunya dengan tangan kanan dan memberikan sedikit pijatan di sana. Menunjukan kalau dia merasa sangat puas dengan sentuhan tangan Saga. ¡° Tanganmu hebat sekali, aku bahkan berfikir kalau aku di pijat tukang pijat profesional. Sayang apa kamu juga pernah ikut kelas memijat.¡± Benar-benar berusaha mengalihkan pembicaraan. ¡° Balikan badanmu!¡± Sial, dia tidak mengubris kata-kataku. ¡° Tidak mau, aku tahu apa yang kau pikirkan.¡± Berusaha tetap di posisinya tengkurap. ¡° Hei gadis mesum memang apa yang kau pikirkan!¡± tertawa sekali lagi, sambil tangannya mulai aktif menjahili bagian sensitif. Nahkan lagi-lagi kenapa aku yang kena si. Yang mesum itu kamu tuan Saga. Tapi kenapa aku yang selalu kena. ¡° Aku hitung sampai tiga belum berbalik, habis kau!¡± mulai mengancam karena bosan menunggu. Daniah masih bersikeras mempertahankan posisinya. ¡° Ia, aku berbalik.¡± Berteriak. ¡° Tapi sayang, kamu bisa turun dulukan?¡± ¡° Tidak mau.¡± Menjawab secepat kilatan lampu kamera. Apa! ¡° Satu...¡± mulai menghitung karena kesal. Secepat kilat Daniah memutar tubuhnya. Tangannya berusaha menjangkau selimut atau apapun yang bisa diraihnya. Tapi tidak ada apapun yang bisa di sentuhnya. Hanya bantal yang ada di sampingnya. Tidak mungkin dia meraih benda besar itu. ¡° Apa yang kau cari?¡± Tangan Saga meraih tangan Daniah, yang mencari upaya terakhir untuk menutupi bagian depan tubuhnya. ¡° Aku kan bilang hanya akan memijatmu. Tidak yang lain. Dasar mesum.¡± Telunjuknya menunjuk kening Daniah. ¡° Janji!¡± ¡° Tidak mau!¡± seringai muncul di garis bibir Saga. Selama beberapa detik dia benar-benar melakukan gerakan memijat seperti yang dia lakukan tadi. Tapi selang hanya beberapa detik saja dia sudah tergelak dan menjatuhkan diri di samping Daniah. ¡° Sayang.¡± Mulai waspada. ¡° Siapa suruh kamu gak pakai baju.¡± Tertawa puas. ¡° Apa! memang siapa yang melepas dan melempar bajuku ntah kemana.¡± Dia tidak mengubris, sudah menyentuh bagian kesukaannya. Dan melakukan apa yang ingin dia lakukan. Aaaaaaa, benarkan aku tahu yang kau pikirkan. Bukan otakku yang mesumkan. Ayo klarifikasi kata-katamu tadi. Daniah berhasil membujuk Saga untuk duduk. Setelah dia puas melakukan apa yang dia inginkan. Gadis itu sudah mengambil pakaian dan memakainya. ¡° Sekarang gantian ya. Aku yang akan memijatmu.¡± Tersenyum manis. Cih, bagaimana kalau pak Mun tiba-tiba datang mengetuk pintu tadi. Selang beberapa saat setelah Daniah mulai memijat, dia bahkan baru menyudahi pikirannya pintu benar-benar di ketuk. Pak Mun masuk tanpa mendengar suara balasan. Lihatkan! Dasar tuan Saga. Daniah meneruskan pijatannya sementara pak Mun mendekat. ¡° Kenapa?¡± Saga bertanya. ¡° Ada tamu yang di undang nyonya untuk makan malam tuan.¡± Tanpa diberitahu siapa orangnya Saga sudah bisa menebak siapa tamu yang dimaksud pak Mun. Sudah kuduga, dia tidak mungkin tidak datang. ¡° Siapkan saja semuanya.¡± ¡° Apa anda mau turun untuk menyapa tuan. Nyonya juga sedang menunggu di bawah.¡± ¡° Aku akan menyapanya saat makan malam nanti.¡± ¡° Baik, kalau begitu saya permisi.¡± Pak Mun mengangukan kepala pada Daniah sebelum berlalu. Gadis itu yang penasaran dan ingin bertanya berhasil menutup mulutnya. Menunggu sampai pak Mun berlalu ke luar kamar. ¡° Siapa sayang?¡± menatap Saga, sementara tangannya berhenti beraktifitas. ¡° Apa! teruskan tanganmu.¡± Saga mengerakan kakinya. Tidak ada keingginan untuk menjawab pertanyaan Daniah. Tangannya terulur menyentuh rambut Daniah. Menciumnya beberapa kali. ¡° Kapan kau mau naik level jadi pijat plus-plus¡± lihat, senyum nakalnya tapi tersimpan keseriusan seperti biasanya di sana. ¡° Apa!¡± terkejut. Apalagi saat mata mereka bersitatap Daniah bisa melihat keseriusan di mata Saga. Bahwa dia ingin servis lebih dari sekedar pijatan biasanya. Gila ya! ¡° Haha Sayang.¡± Tidak tahu harus berkata apa. tidak tahu juga pijat plus-plus yang sebenarnya itu seperti apa. ¡° Satu gerakan saja.¡± Saga mengangkat satu jarinya. Menepuk kedua lututnya. ¡° Naik!¡± ¡° Apa! gerakan apa?¡± pura-pura bodoh saja pikir Daniah. Dia masih terlalu malu untuk melakukan hal agresif apapun di hadapan Saga saat lampu kamar masih menyala. ¡° Mau ku ajari.¡± Tertawa tanpa malu. ¡° Tidak! Tidak mau.¡± Spontan menjawab dan spontan mendekat, Daniah hanya memberikan kecupan di bibir Saga. Hanya itu yang bisa dia lakukan saat ini. Lalu dia secepatnya bergerak keposisinya semula. ¡° Kurang!¡± mengetuk-ngetuk bibirnya yang habis mendapat kecupan dari istrinya. ¡° Sayang!¡± memohon. Hanya wajahnya yang menunjukan kalau dia benar-benar malu. Tapi Saga selalu menyukai ekspresi malu-malu dan wajah merah padam Daniah. Hingga dia jauh lebih giat menjahili istrinya kalau sudah seperti itu. ¡° Sini kuajari bagaimana pijat plus-plus.¡± Menarik tangan Daniah sampai tubuh gadis itu terjatuh di dadanya. Aaaaaaaaa. Ketukan pintu dan suara panggilan ibu langsung membuat Daniah terperanjak kaget. Dia bangun dari pelukan Saga. Merapikan rambutnya. Sementara Saga tidak perduli dan berusaha menarik tubuhnya untuk kembali terbaring. ¡° Saga, ibu masuk ya.¡± Posisi orang-orang di atas tempat tidur sudah normal kembali. Saga sudah duduk bersandar, sementara kakinya ada di pangkuan Daniah. Gadis itu merapikan rambutnya lagi dengan cepat kebelakang telinga. Memastikan sekali lagi kalau penampilannya normal. Dia menarik kancing bajunya saat melihat pakaiannya terbuka sedikit. ¡° Kenapa bu?¡± Saga bertanya ketika ibu sudah mendekat ke tempat tidur. ¡° Daniah sedang memijatmu ya.¡± Tanya ibu sebelum menjawab Saga. Dia menatap tajam menantunya. Melihatku memijat tuan Saga pandangan ibu sudah setajam silet. Bagaimana kalau tadi dia datang saat aku sedang di pijat, apa matanya akan jadi gergaji mesin yang mengoyakku. ¡° Bisakah kamu turun sebentar, pamanmu datang berkunjung. Sudah lamakan kalian tidak bertemu.¡± Akhirnya berusaha tidak memperdulikan apa yang dilihatnya. ¡° Aku akan menyapanya nanti.¡± Saga membalas cepat. ¡° Sayang.¡± Daniah menurunkan kaki Saga. ¡° Kenapa kita tidak turun sekarang.¡± Mendengar tamu yang datang adalah paman, Daniah berinisiatif untuk mengajak suaminya turun. ¡° Kau belum selesai memijatku!¡± protes. Sambil menunjuk kaki dengan ekor matanya. ¡°Dari tadi tanganmu bahkan belum bergerak dari kaki.¡± ¡° Kita lanjutkan nanti lagi sebelum tidur ya.¡± Jawaban Daniah membuat ibu meliriknya lagi, masih dengan pandangan setajam pisau dapur. ¡° Saga apa kamu mau ibu mengundang tukang pijat profesional. Salon langanan ibu.¡± Ibu benar-benar berusaha sekuat tenaga, mencari celah sekecil apapun harapan ada di sana. ¡° Tidak perlu bu, Daniah bahkan sudah sekolah memijat. Aku harus memakai apa yang sudah aku investasikan.¡± Apa! dasar! Saga berjalan di samping Daniah sambil melingkarkan tangannya di bahu Daniah. Memainkan telinga gadis itu. Tidak perduli ibu yang juga menoleh dan memperhatikan apa yang dia lakukan. BERSAMBUNG Chapter 143 Paman memohon Mudah menyetel senyuman, bahkan Daniah selalu melakukannya diawal pernikahannya dulu. Dia sangat pandai berakting senyum dihadapan Saga. Sekalipun hatinya kesal, dia bisa tersenyum semanis gerakan bibir para model di peragaan busana. Seperti itu pula ibu, wajah ibu segera berubah 180 derajat ketika sudah sampai di lantai bawah menemui tamu yang datang. Ia memasang senyuman hangat. ¡° Jadi ini Daniah ya, selamat ya atas pernikahan kalian. Bibi dan juga pamanmu tidak bisa datang waktu kalian menikah.¡± Seorang wanita yang terlihat ramah langsung berdiri dari duduknya saat melihat Saga dan istrinya datang. Dia langsung mengulurkan tangan pada Daniah. ¡° Terimakasih bibi.¡± Daniah menerima uluran tangan wanita itu dengan tersenyum. Lalu mereka kembali duduk di sofa. ¡° Saga, istrimu cantik sekali. Senangnya, kalian juga terlihat sangat bahagia.¡± Wanita itu terus memuji. Namun pujiannya benar-benar tulus. Dia memang wanita yang baik. Bibi, adalah wanita polos yang selalu berkonsentrasi dalam hal baik di kehidupannya. ¡° Terimakasih bi, Daniah memang sangat cantik.¡± Saga memeluk bahu istrinya. ¡° Aku merasa beruntung menikah dengannya.¡± Tuan Saga tolong hentikan, bacalah situasi dengan benar. ibumu tidak menyukaiku, dan dia pasti tidak sependapat denganmu. Lihat senyum terpaksanya sekarang. Tapi sepertinya Saga memang sedang ingin pamer pada semua orang. Dia menempel dan memeluk Daniah di sampingnya sepanjang obrolan basa-basi yang sedikit canggung. Dalam tatapan ibu dan semua orang. Tidak tahu kenapa dia ingin sekali pamer kemesraan. Pikiran Daniah bergerilya, tapi tetap saja dia tidak paham. Untuk apa Saga melakukan itu. ¡° Saga, paman membawa hadiah untukmu.¡± Ibu bangun dan mengambil sebuah figura besar berbungkus kertas dengan sebuah pita berwarna keemasan. ¡° Pamanmu memesan khusus untukmu, bukalah.¡± Saga terlihat engan. ¡° Sepertinya paman sudah ketinggalan informasi ya, sekarang aku tidak menyukai lukisan lagi, siapapun pelukisnya.¡± Eh, keadaan berubah menjadi sangat canggung. ¡° Sayang.¡± Daniah menarik ujung baju Saga. ¡°Apa aku boleh membukanya, paman sudah membawakannya untukmu kan.¡± ¡° Kenapa? Memang kau tahu apa tentang lukisan.¡± Menunggu jawaban Daniah. Membuat gadis itu binggung sendiri. Dia hanya ingin mencairkan suasana kaku yang tiba-tiba tercipta ini. Lukisan, tentu ini mengingatkan semua orang pada Helen. Pelukis cantik yang pernah menjadi kekasih Saga. Tapi sekarang bahkan Daniah tidak merasa terganggu dengan nama itu. ¡° Aku tahu kok.¡± Mendekati lukisan yang masih dipegang ibu. ¡° Boleh aku bukakan?¡± ¡° Terserah.¡± Menjawab acuh. Daniah menerima lukisan dari ibu dan membukanya perlahan dan hati-hati. Setelah semua kertas terbuka terlihatlah lukisan apa di dalamnya. Tunggu ini apa? ini lukisan apa? aku tidak mengerti, sekarang aku harus bereaksi seperti apa ini. ¡° Baiklah, karena Daniah menyukainya, aku akan menerimanya. Terimakasih paman.¡± Melirik Daniah dengan senyum jahatnya. Paham kalau gadis itu sedang kebingungan untuk bereaksi seperti apa. Pak Mun menerima lukisan itu dan membawanya keruang kerja Saga. Setelahnya mereka makan malam. Suasana kembali sangat canggung. Hanya Daniah dan bibi yang terlibat obrolan kecil. Selebihnya semuanya terdiam. Menikmati makanan dalam keheningan. Sesekali Daniah menoleh dan memperhatikan semua orang. Pikirannya kembali berkeliaran menerka-nerka. Ada apa dengan mereka? Tanda tanyanya tidak terjawab sampai makan malam selesai. Pak Mun menutup pintu ruang kerja tanpa bersuara. Setelahnya dia pergi kembali ke dapur. Membereskan semua sisa jamuan makan malam. Meninggalkan tiga orang yang tampak sangat canggung di dalam ruangan. Terlebih nona mudanya. Pak Mun bisa melihat bagaimana wajah panik Daniah tadi Saat Saga menariknya ikut masuk ke dalam ruangan. Kenapa aku harus ada di sini si. Daniah berdiri kaku tidak bergerak diposisinya. Paman Hariawan sudah duduk berlutut, sementara Saga baru saja menjatuhkan dirinya di sofa. Daniah yang terkejut hanya bisa berdiri di samping sofa. Dia tidak duduk. Gadis itu melirik suaminya. jujur dia benar-benar binggung, sebenarnya apa yang terjadi antara mereka berdua. ¡° Paman.¡± Lirih Daniah bersuara. ¡° Kenapa paman berlutut?¡± Dia ingin maju mendekat, tapi ketika melihat Saga yang tidak bergeming dia mengurungkan langkahnya. Dia memilih diam karena tidak tahu situasi apa ini. ¡° Bangunlah paman! Duduklah di sofa.¡± Saga akhirnya bicara setelah beberapa waktu terdiam. ¡° Bantu paman sekali ini Saga.¡± Ada apa sebenarnya ini. Tuan Saga mau menunjukan apa padaku, kenapa dia menyeretku kemari. Apa dia mau menunjukan betapa berkuasanya dia. Aku sudah tahu! Tanpa perlu melihat situasi semacam ini. Daniah ¡° Bangunlah paman, kau membuatku tampak seperti orang jahat di hadapan istriku. ¡° Hariawan mendongak dan menatap Daniah sebentar. Dia terdengar menghela nafas tapi tidak bangun dari duduk. ¡° Aku akan berlutut dan memohon padamu. Sudah setahun aku menjalani hukuman ini, kami semua sudah instropeksi atas kesalahan kami, biarkan kami kembali ke ibu kota Saga dan menjalankan usaha di sini. ini sudah satu tahun.¡± Paman Hariawan mengatakan apa yang sudah di dengar Saga dari Han siang tadi. Laki-laki itu mendesah. Dia menyandarkan bahunya di sandaran Sofa. Melirik Daniah yang terlihat seperti sedang berfikir dengan serius. Terlihat Daniah yang berusaha berfikir keras. Walaupun tetap belum menemukan benang merah apapun. Tidak ada yang bisa ia pikirkan. Kesalahan apa yang pernah dilakukan laki-laki yang sedang berlutut itu. ¡° Paman, aku tidak akan merubah kata-kataku walaupun paman berlutut sekalipun. Han sudah mengatakannya kan. Lakukan lima puluh proyek di daerah yang tidak melibatkan nyawa manusia. Kalau paman bisa membuktikan kinerja perusahann paman dengan baik, aku yang akan membawa paman kembali tanpa perlu paman memohon.¡± ¡° Saga, ini sudah setahun.¡± Berusaha bicara dengan suara serendah mungkin. ¡° Huh! Apa hanya waktu setahun ini yang paman pikirkan. Mungkin saat ini makam para korban meninggal itu sudah mengering. Tapi apa paman tahu, setahun bukan waktu yang sebentar untuk mereka yang ditinggalkan. Apa paman pernah mendatangani para keluarga korban setelah setahun lalu paman berlutut, menangis dan memohon pengampunan mereka? Apa paman datang keperingatan kematian mereka? Airmata keluarga mereka bahkan belum mengering sampai hari ini.¡± Kalimat panjang itu menghujam. " Dan mungkin tidak akan pernah mengering. mereka akan menangis di hari yang sama setiap tahunnya." Apa yang kalian bicarakan si? Daniah berada di dunia yang berbeda. Terlihat Hariawan mencengkram tangannya sendiri. Dia bangun dari duduknya di lantai. Lalu berjalan menuju sofa di hadapan Saga. ¡° Maaf.¡± ¡° Jangan minta maaf padaku. Setelah paman instropeksi dengan benar dan melakukan pekerjaan paman dengan baik. Han akan mengurus semuanya. Paman bisa kembali ke ibu kota dan bekerja seperti biasa lagi¡± Saga mendongak, dan mengulurkan tangannya. ¡° Niah!¡± ¡° Eh, ia sayang.¡± Terkejut, kesadarannya langsung kembali. Eh Dia barusan memanggil namaku kan. ¡° Duduk!¡± Saga menepuk sofa di sebelahnya. ¡° Tidak apa-apa sayang, aku berdiri saja. Silahkan kalian lanjutkan pembicaraan kalian.¡± Daniah merasa tidak nyaman, apalagi ada paman di hadapannya. Lagian kenapa kau menyerekku kemari si, memang mau menunjukan apa? Daniah terperanjak saat melihat Saga meliriknya dengan kesal karena dia membantah. ¡° Baik aku duduk.¡± Sudah duduk di samping Saga. ¡° Terimakasih sayang.¡± Daniah duduk tepat di sebelah Saga, dan berhadapan dengan pandangan Hariawan. Laki-laki itu terlihat sedang menguraikan kesimpulan di kepalanya tentang apa yang dia lihat. Sejauh apa keseriusan keponakannya ini pada istrinya. Apa yang diceritakan oleh ibu Saga tidak dilebih-lebihkan. Dia sedang mengamati situasi. ¡° Sayang, apa kau tahu tragedi jembatan kota XX setahun lalu?¡± Saga melingkarkan tangannya dipinggang Daniah. Daniah berusaha keras mengingat-ingat pristiwa apa itu. Jatuhnya jembatan di kota XX. Terlihat wajahnya berubah cerah, sepertinya dia sudah tahu apa yang dimaksud Saga. ¡° Ia aku tahu.¡± Mendelikan mata lebar terkejut. Saat Saga meraih rambutnya dan menciumnya. Hei apa yang kau lakukan di depan pamanmu. ¡° Musibah itu terjadi karena kesalahan perusahaan pamanku sebagai pegembang dan perusahaan kontraktor pembangun jembatan.¡± Belum melepaskan rambut Daniah dari tangannya. ¡° Ah, ia.¡± ¡° Lalu aku mengirimnya ke luar kota untuk instropeksi atas semua kesalahannya. Dan sekarang, bahkan belum separuh dia menjalankan hukumannya dia sudah ingin kembali ke kota dan menangani proyek besar. Bagaimana menurutmu?¡± Hah! Kenapa menanyakannya padaku. Lihat pamanmu sudah memandangmu dengan pandangan seperti itu. Turunkan tanganmu. Daniah binggung harus menjawab seperti apa. Tapi ketika Saga menarik rambutnya karena menunggu jawaban akhirnya dia menjawab juga. ¡° Paman, jatuhnya jembatan di kota XX termasuk dalam kecelakann besar. Aku memang tidak mengikuti beritanya secara detail, tapi waktu setahun, tidak akan bisa menyembuhkan luka orang-orang yang ditingalkan dalam kecelakaan itu dalam waktu sesingkat ini. Buktikanlah ketulusan paman dalam 50 proyek masyarakat di daerah, kalau paman bisa melakukannya aku yakin tuan Saga akan mengembalikan apa yang seharusnya menjadi milik paman.¡± Cih, kenapa kata-katamu baik sekali. Dasar bodoh, kau tidak tahukan tujuan sebenarnya pamanku datang kemari. ¡° Aku rasa uang yang ibuku kirimkan untuk paman setiap bulan, sudah cukup untuk menjamin paman bidup dengan baik.¡± Wajah Hariawan mulai terlihat pias. Ternyata keponakannya tahu semuanya. Hanya ada satu nama yang ia yakini bisa tahu semuanya itu. Sekertaris Han benar-benar menakutkan. Ya, karena uang itulah dia di sini. Demi membalas adiknya. Membujuk Saga. Memberikan beberapa daftar nama wanita yang bisa dia pilih sebagai istrinya. Hariawan sendiri tidak habis pikir kenapa dia harus melakukannya. Saga terlihat sangat mencintai istrinya. Apapun itu, status apapun istrinya seharusnya bukan masalah penting. Toh tidak akan ada yang berani membicarakannya. ¡° Maaf aku akan menyuruh ibumu tidak melakukan lagi.¡± ¡° Aku tidak keberatan ibu mengirim uang pada paman, toh paman adalah keluargaku. Aku akan selalu menghormati paman untuk itu.¡± ¡° Saga.¡± Sekarang Saga menarik tangan Daniah agar gadis itu mendekat. Dia melingkarkan tangan di bahu istrinya. ¡° Sekarang restuilah kami.¡± Begitulah akhirnya, Hariawan sama sekali tidak menyinggung tujuan utamanya datang. Sesungguhnya dia tidak benar-benar memohon, karena tahu kesalahannya sangat fatal. Dan hari ini ia kembali mengingat kejadian naas itu. Dan ucapan keponakannya. hingga akhirnya dia berjanji, besok dia akan mengunjungi keluarga para korban untuk kedua kalinya. obrolan mereka berlanjut, Daniah hanya duduk mendengarkan. pura-pura paham dan mengangukan kepala. walaupun sejujurnya dia akan jauh lebih senang kalau bisa pergi dari ruangan ini. bersambung Chapter 144 Rencana gagal ibu Hariawan sudah keluar ruangan, dia tidak membicarakan apapun tentang daftar wanita yang sudah dia susun semalaman. Melihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana keponakannya memperlakukan istrinya. Dia tahu untuk menyerah. Peringatan sekertaris Han siang tadi adalah benar. Kalau dia melangkah lebih jauh lagi, hubungannya dengan Saga yang sedang tidak terlalu baik akan jauh lebih memburuk lagi. Sementara itu Daniah dan Saga memilih tingal di ruang baca. ¡° Sayang, kenapa membiarkan pamanmu berlutut?¡± menyuarakan rasa tidak sukanya. ¡° Aku tidak menyuruhnya berlutut, dia sendiri yang berlutut.¡± menjawab sesuai kenyataan, membuat Daniah langsung merasa kalah sekaligus kesal. Cih, tetap tidak mau mengakui salah. ¡° Tapikan kamu bisa memintanya bangun tadi.¡± upaya membantah pertama. Dia benar-benar belajar dengan giat setiap hari. Keberaniannya juga mulai perlahan bersemi subur. ¡° Tidak dengar tadi aku sudah menyuruhnya bangun.¡± Emosi. ¡° Kau berdiri di sana tapi isi kepalamu kemana?¡± menunjuk ruang kosong tempat dimana Daniah tadi berdiri. Idih, akukan berfikir keras tadi. ¡° Ia, ia tadi kamu sudah menyuruhnya bangun tapi dia yang tidak mau.¡± Mengalah karena merasa dirinya waras. ¡° tapikan paman lebih tua usianya dari kita sayang. Dan dia paman mu.¡± Terkejut, reflek memundurkan kepala karena Saga mendekatkan wajahnya. ¡° Niah.¡± ¡° Eh, ia.¡± ¡° Kalau ayahmu juga melakukan kesalahan yang sama seperti yang pamanku lakukan, aku tidak akan semudah itu memaafkannya. Sekalipun kau yang berlutut memohon mengantikannya.¡± Ia, ia, aku tahu. Tanpa perlu melihat ini akupun tahu. seberapa berkuasa dan keras kepalanya kamu. ¡° Ia, aku tahu. Tapi sayang lain kali tidak perlu menunjukan padaku hal seperti ini aku juga sudah paham.¡± Ya Daniah paham sekali. sekuat apapun perasaan yang mengikat mereka. laki-laki di hadapannya tetaplah tuan Saga. orang yang bisa melakukan apapun hanya dengan isyarat tangannya. Dia tidak akan lupa itu. ¡° Apa? kamu sedang bicara apa lagi?¡± mulai paham kalau istrinya mulai menulis novel drama yang tidak nyambung dengan kenyataan. ¡° Aku sadar seberapa berkuasanya kamu.¡± ¡° Huh! Dasar bodoh.¡± Tuhkan, dasar tidak nyambung. aku ingin menunjukan kepada paman sebesar apa aku mencintai, makanya aku menarimu kemari. ¡° Apa si, kenapa bilang aku bodoh?¡± protes dengan wajah yang dibuat sok mengemaskan. Daniah tidak tahu kalau dia memasang wajah mematikan seperti itu, dia bisa membuat Saga melakukan apapun yang ia minta. lihat, bagaimana Saga menahan diri untuk tidak menciummu sekarang. ¡° Kau tahu kenapa pamanku kemari?¡± Saga memilih memainkan jari-jarinya dipipi Daniah. Menggangukan kepala kuat, dia sudah mendengarnya tadi. Tentu dia tahu. ¡°Paman ingin kembali bekerja di ibu kota, jadi datang padamu memohon.¡± ¡° Bodoh! Baiklah, karena kau mengemaskan aku memafkan kebodohanmu. Kemarilah.¡± Apalagi si ini, memang kenapa paman datang. Daniah mendekat, Saga meraihnya dan menjatuhkannya dalam pelukannya. Dia mendekap erat Daniah. Mencium pipi istrinya. Tangannya menyentuh pungguh dan kepala Daniah. Membuat gadis itu binggung. Tapi dia tetap membenamkan dirinya dalam pelukan suaminya. dia sekarang juga meletakan tangannya di bahu Saga dan mengusapnya pelan. ¡° Kalau ibu melakukan sesuatu yang menggangumu katakan padaku, jangan coba menghadapinya sendiri.¡± Eh, dia tahu. Apa dia tahu tentang pil kontasepsi juga. Pak Mun! ¡° Kedepannya hanya pegang tanganku dan percaya padaku. Aku mencintaimu, ingat itu dihati dan pikiranmu. Apapun yang orang lain katakan jangan perdulikan. Kau paham.¡± Semakin erat dia memeluk istrinya. mencoba mengalirkan cinta dan perasaan tulusnya pada Daniah. Hanya percaya padaku, apapun yang terjadi kedepannya. Begitu yang ingin ia sampaikan. ¡° Ia sayang. Terimakasih sudah mencintaiku. Aku akan melakukan hal yang sama untukmu.¡± mencium pipi kiri Saga. ¡° Kalau kau berani membujuku untuk menikah lagi, habis kau.¡± telak, Daniah langsung terbelalak mendengarnya. Apa! Bagaimana dia bisa tahu rencana ibu. Pak Mun! Saga mengendurkan pelukannya, membuat Daniah melepaskan diri. Sekarang gadis itu menyentuh wajah suaminya. ¡° Aku tidak akan membujukmu menikah lagi, kenapa juga aku melakukannya. Akukan ingin memilikimu sendirian.¡± Tertawa. ¡° Terimakasih sayang. Terimakasih sudah mencintaiku.¡± Saga mendekat membisikan sesuatu di telinga Daniah. Membuat gadis itu langsung pucat dan membelalakan mata. ¡° Aku menunggu malam ini, servis pijat plus-plus darimu.¡± Lalu dia terbahak melihat Daniah yang membeku. ¡° Hei, mau kupanggil dokter Harun, wajahmu langsung pucat pasi tu.¡± Aaaaaaaaaa! ¡° Berhentilah sampai disini.¡± Hariawan meletakan map coklat di atas meja. Dia dan ibu sudah bicara berdua di ruang membaca milik ibu. Wanita itu meraih amplop di atas meja. Mengeluarkan isinya. Lalu membantingnya di atas meja. ¡° Aku bahkan tidak punya kesempatan menyerahkannya pada Saga. Bagaimana aku bisa bicara kalau dia menarik istrinya untuk ikut masuk ke ruangan kerjanya.¡± Dan slide kejadian tadi melintas lagi, Hariawan bahkan secara detail bisa menceritakan bagaimana mesranya hubungan Saga dan Daniah. ¡° Kak, Daniah tidak pantas menjadi ibu dari anak-anak putraku.¡± ¡° Hentikan! Sekertaris Han bahkan sudah bisa menduga rencanamu.¡± Hariawan bicara tegas. Wajah ibu menjadi pias karena terkejut. Sekali lagi, ia selalu kalah langkah dalam hal apapun. Menghadapi sekertaris itu. ¡° Apa kau mengatakan padanya?¡± merasa kesal dan terkhianati. ¡° Tidak. Mana mungkin aku mengatakannya. Dia bahkan sudah tahu hanya karena kedatanganku. Berhentilah sampai disini, dan terimalah Daniah sebagai menantu di rumah ini. Saga bahagia bersamanya. Bukannya itu yang utama.¡± Ibu menghela nafas berat. Ya, kalau hanya melihat itu tentu dia juga akan ikut sangat senang. Tapi pergaulan kelas atasnya bukan hanya tentang bahagia dan cinta. Tapi lebih tentang status sosial seseorang. Daniah, jika dilihat dari penampilan fisik tentu saja dia kalah jauh dari Helen. Pekerjaan, apa yang bisa dia bangakan dari pekerjaannya sekarang. Orang tua, dia bahkan tumbuh dari keluarga yang tidak lengkap. Walaupun dia punya ibu tiri sekalipun. Dan sampai kapan rahasia tentang asal usulnya akan tersimpan rapat seperti sekarang. Jika putranya memperkenalkannya ke publik, orang-orang akan mulai mencari tahu dan berusaha mengali informasi. ¡° Aku akan berusaha membujuk Daniah.¡± akhirnya rencana terakhirnya terlontar juga. walaupun tadi pagi dia gagal memprovokasi. tapi dengan sedikit usaha dan strategi dia yakin Daniah akan menyerah dan mengikuti idenya. ¡° Apa kau sudah gila! Kau pikir gadis itu bisa melakukan apa.¡± ¡° Membujuk Saga untuk memilih salah satu gadis ini untuk menikah secera resmi dengannya.¡± Meraih amplop coklat dihadapannya. ¡° Daniah yang akan melakukannya.¡± ¡° Apa kau pikir sekertaris Han akan diam saja.sudahlah. hentikan jangan membuat semua orang susah. Dia bahkan tahu kalau kau mengirimkan uang setiap bulan padaku.¡± ¡° Apa!¡± ¡° Han tahu semua yang kau lakukan, dan dia pasti melaporkan semuanya pada Saga.¡± Ibu cukup terguncang dengan kejadian ini. Dia sudah berusaha sembunyi-sembunyi mengirimkan uang pada kakak laki-lakinya. Karena selama ini Saga tidak pernah menanyakannya, dia pikir putranya tidak tahu. Dan sekarang, sekertaris Han bahkan bisa menebak kedatangan kakaknya. Yang sudah susah payah ia bujuk untuk coba merayu Saga. Ibu mencengkram tangannya sendiri merasa sangat kesal. Epilog Pak Mun batuk-batuk di dapur. Dia duduk memeriksa laporan keuangan rumah tangga di meja dapur. Terbatuk lagi sambil mengelus-ngelus dadanya. Kenapa sepertinya aku sedang dimaki-maki ya, tengorokanku jadi gatal begini. Dia bangun dan mencari segelas air dingin. bersambung Chapter 145 Jen dan Raksa (Part 1) Gedung pusat Antarna Group. Menjulang mencakar langit biru. Gedung pusat yang menjadi impian semua orang yang bekerja di Antarna Group. Jika bekerja di anak perusahaan gaji mereka sudah jauh lebih tinggi daripada perusahaan lain, apalagi jika mereka sampai bisa memasuki gedung pusat. Walaupun dengan skala kerja dan tekanan yang semakin meningkat, namun kebanyakan orang masih saja berlomba untuk bisa sampai di sini. Kalau biasanya kita hanya melihat aktifitas lantai atas, lantai paling prestisius di gedung ini, sekarang kita akan melihat area lain. Tempat dimana para pekerja berjibaku dengan waktu, peluh dan semangat mereka untuk bekerja keras. Bekerja di Antarna Group adalah pilihan yang akan dipilih orang-orang di negara ini. Mereka harus bersaing secara ketat melalui beberapa tahap seleksi yang tidak mudah. Hingga bekerja keras bukan lagi merupakan keharusan namun sebagai upaya mereka berterimakasih sudah mendapat pekerjaan yang mereka impikan. Di lantai empat, bagian arsip laporan seluruh cabang anak perusahaan Antarna Group. Lantai ini adalah tempat laporan semua hal tentang perusahaan. Baik berupa produk ataupun jasa. Disinilah semua kegiatan anak cabang akan di periksa. Dan di lantai inilah Jenika bekerja. Adik dari pemilik perusahaan yang sama sekali tidak mendapat perlakuan istimewa dari siapapun. Tidak ada yang tahu, kecuali direktur bagian. Dan sini pula Raksa melakukan kegiatan magangnya. Sepertinya Han sengaja menugaskan mereka di tempat yang sama untuk memudahkan pemantauan. Tapi karena ulahnya menjadi bumerang bagi Jenika. Dan parahnya hanya bagi jenika, bagi Raksa dia selalu bersikap seperti biasa. Tersenyum dan bekerja dengan keras. Pagi ini seperti biasa suasana kantor tampak sibuk. Pegawai magang hilir mudik melakukan pekerjaan yang diberikan karyawan senior mereka. Ada yang berteriak, lalu ada yang berlari. Begitu seterusnya. Jenika pun demikian, di sini dia tidak berbeda dengan yang lain. Hanya karyawan magang yang bisa di suruh kesana kemari. Saat ini dia sedang mendorong troli berisi tumpukan laporan anak perusahaan. Dia melirik sekilas sampul laporan-laporan itu. ¡° Apa! jadi brand parfume ini milik perusahaan kak Saga.¡± Penasaran sambil mendorong dia membalik sampulnya. ¡° Benar, inikan parfume yang pernah ku beli buat mantan yang kemaren. Hihi. Aku suka aromanya. Ah mantanku, dia sedang apa ya?¡± kenangan manis melintas membuatnya tersenyum. ¡° Hayoo, lagi mikirin mantan ya.¡± Sebuah tangan sudah meraih troli yang Jen dorong. Tangan mereka bersejajar sekarang. Saat mendongak terkejutnya Jen ternyata Raksa yang membantunya. ¡° Eh, bukan. Aku gak punya mantan kok. Sumpah.¡± Lho, kenapa aku bilang gak punya mantan si. Nanti Raksa berfikir aku punya pacar donk. ¡° Maksudku sekarang aku lagi single, gak punya pacar.¡± Tersipu malu. Apalagi saat Raksa tersenyum mendengar jawabannya. ¡° Nanti juga ketemu sama jodohnya. Hehe, Mau dibawa kemana?¡± Raksa menunjuk troli yang dia dorong dengan matanya. ¡° Ruangan delapan. Tapi gak papa membantuku sekarang. Memang sedang senggang.¡± Jen mengatakan dengan dada yang berdebar, berusaha tidak menoleh pada Raksa. Saat ini ketika sudah memproklamirkan diri ingin mengejar Raksa ntah kenapa setiap kali bertemu dadanya selalu berdebar jauh lebih kuat dari biasanya. ¡° Memang ada waktu senggang untuk kita anak magang. Hehe.¡± Mereka tertawa bersama saat Raksa menyelesaikan kalimatnya. Ya, waktu senggang mereka hanya saat jam makan siang. Makanan di kantin kantor sangat enak. Antarna Group memang memberi fasilitas mewah bagi para karyawannya. Tapi tentu saja mereka harus bekerja keras membalas apa yang sudah mereka terima. Semua karyawan bekerja keras, apalagi anak magang. Merekalah yang hilir mudik disuruh kesana dan kemari. Ini adalah proses belajar ya adik-adik magang, dulu kami juga mengalaminya kok. Bahkan jauh lebih berat. Begitulah kalau senior sudah memberi wejangan pada mereka. Setelah selesai menumpuk laporan. Mereka keluar dari ruangan delapan. Raksa yang mendorong troli kosong, sementara Jen berjalan di sampingnya. ¡° Terimakasih ya Raksa sudah membantuku.¡± Bicara tanpa menoleh. Jen melepaskan tangannya dari troli, karena sekarang benda itu kosong jadi cukup Raksa yang mendorongnya. ¡° Hei, kenapa sungkan.¡± Raksa menghentikan langkah, mereka sama-sama berhenti. Lalu saling bersitatap. ¡° Maaf ya, aku bahkan tidak mengenalimu kalau kamu adik ipar kak Niah. Kalau tahu aku pasti akan menyapamu sesering mungkin.¡± Eh, wajah Jen langsung merona. Dia tersipu malu. ¡° Kedepannya kalau butuh bantuan apapun jangan sungkan bicara padaku. ¡° Raksa menepuk kepala Jen dengan tangannya lembut. ¡° Karena kau adik ipar kak Niah, mulai sekarang aku akan mengangapmu seperti adikku sendiri.¡± ¡° Apa!¡± Jen menutup mulutnya dengan tangan, terkejut dengan teriakannya sendiri. Lebih terkejut saat melihat wajah Raksa yang tampak canggung. Raksa segera menarik tangannya. Mengoyangkannya menjauh. ¡° Eh, maaf ya. Sepertinya aku berlebihan. kamu bahkan sudah memiliki kakak sempurna seperti tuan Saga. Bagaimana aku bisa berani menawarkan diri.¡± Berusaha tersenyum walaupun dia merasa tidak nyaman. Sepertinya aku sudah berlebihan ya. ¡° Tidak, bukan seperti itu kok.¡± Meraih tangan Raksa lagi lalu meletakannya kembali di kepalanya. ¡° Aku senang kok. Haha.¡± Mencoba mencairkan suasana. Jen berharap Raksa tidak tersinggung tadi. Raksapun tertawa lalu menurunkan tangannya binggung, kenapa Jen mengembalikan tangannya ke kepalanya lagi. ¡° Kak Niah banyak bercerita tentang bagaimana baiknya Jen. Terimakasih ya sudah menjaga kak Niah. Pernikahan kak Niah diawal-awalkan cukup berat¡± menoleh. ¡°Maaf.¡± Jen paham maksudnya. Diapun memperlakukan kakak iparnya dengan tidak baik diawal-awal. ¡° Tapi aku sekarang sangat bersyukur, Kak Niah hidup dengan bahagia dan mendapat cinta dari tuan Saga. Terimakasih sudah menjaga kak Niah selama ini.¡± ¡° Eh, ia. Kakak ipar sangat baik, jadi semua sayang padanya.¡± Tapi jangan anggap aku adik! Itukan lebih mengerikan daripada dianggap teman. Hiks, hiks. Jangan anggap aku adik. Aku ingin berteriak begitu di depan Raksa. Tapi kalau dia kaget dan malah membenciku bagaimana. Mereka kembali berjalan mendorong troli. ¡° Oh ya Jen sebenarnya aku penasaran lho, bagaimana kamu bisa magang jadi karyawan biasa. Padahal tuan Sagakan kakakmu?¡± Mereka bicara cukup banyak, dan ternyata sudah sampai diruangan masing-masing. Raksa melambaikan tangan ketika pergi. Dan kejadian itu banyak yang melihat. Akhirnya mulailah gosip beredar diantara para karyawan, kalau Jen dan Raksa sedang menjalin hubungan. Disayang tapi dianggap adik, aku gak mau! Jen berteriak dalam hati, sambil menjatuhkan diri di meja kerjanya. bersambung Chapter 146 Jen dan Raksa (Part 2) Di dalam toilet kantor lantai empat. Jen berjalan cepat mendorong semua pintu kamar mandi, memeriksa apakah ada orang di dalamnya atau tidak. Kosong. Dia merasa lega. Dia benar-benar sedang ingin berteriak dan meluapkan perasaannya. Yang seharian ini dia tahan. Sudah beberapa kali dia bertemu dengan Raksa hari ini. Pria itu dengan polosnya selalu menyapa dan tersenyum. Membuat jantung Jen rasanya mau meledak. ¡° Jangan anggap aku adik! Itu mengerikan sekali.¡± Jen bersandar di dinding, mengaruk dinding dengan jarinya. Seperti kucing sedang mencakar sofa. Aku sudah punya kak Saga yang sempurna, kenapa aku harus punya satu lagi kakak semanis Raksa. Frustasi, tidak bisa mengendalikan perasaannya. Airmatanya sampai menetes tanpa bisa dia kendalikan. Bagaimana tidak kejadian seharian ini berkelebat lagi dimatanya. Menari-nari mengodanya. Senyum Raksa yang mengemaskan. Yang dengan tidak canggungnya menyebutnya adik. Aaaaaaa, itu sungguh menyakitkan. Seperti kamu sedang mati-matian berusaha diet, tapi di hadapanmu orangtuamu menyajikan makanan kesukaan mu. Kamu ingin meraihnya, tapi cuma bisa ngeces melihatnya. Seperti itu yang Jen rasakan. Bagaimana orang yang dia sukai ada di hadapannya, yang tanpa canggung menyebutnya adik. Ini adik lho, bukan teman lagi. Seperti sudah ada garis tebal yang dibuat Raksa. Adik manis. Menari-nari dengan meledek di kepala jenika. ¡° Mau kubantu Jen?¡± Raksa sudah menyodorkan tangannya supaya Jen memindahkan separoh berkas ditangannya. Jen harus mengkopi dokumen itu menjadi beberapa salinan. ¡° Eh ia terimakasih.¡± kenapa aku jadi sering bertemu denganmu, kakak. Getir mencibir diri sendiri. Sebenarnya jen senang, tapi saat Raksa memproklamirkan kalau dia adalah kakak. semua harapannya rasanya ambyar begitu saja. ¡° Kenapa masih sungkan juga.¡± Mereka berdua menyelesaikan fotocopy bersama. Yang satu benar-benar tulus membantu sebagai seorang kakak. Yang satunya harus menahan agar jantungnya tidak meledak melihat senyuman manusia di hadapannya. Sungguh ironi. Kasihan sekali kamu Jen. Dianggap adik jauh lebih menyakitkan daripada cuma dianggap teman. Atau saat makan siang tadi. ¡° Jen, kita makan siang bareng ya.¡± ¡° Ah, ia.¡± Aaaaaa, aku harus senang atau malah merasa tersiksa ni. Di kantin kantor, setelah mengantri makanan mereka duduk berhadapan di satu meja. Tiba-tiba muncul seseorang langsung mendorong piring Raksa. ¡° Cieee, Raksa, kalian pacaran ya.¡± Terlalu keras untuk hanya dibilang berbisik. Jen saja langsung merasa malu. Padahal dia tahu kenyataan sebenarnya hubungan mereka. ¡° Pacaran apa.¡± Raksa mengeser tempat duduknya supaya temannya bisa duduk dengan nyaman. ¡° Maksudmu jenika?¡± dia menunjuk Jen di hadapannya. ¡° Ia lah para wanita di lantai empat heboh membicarakan kalian. Kebanyakan si iri sama kamu Jen. Selamat ya.¡± Hentikan kak kalau kamu tidak tahu yang sebenarnya terjadi, membuatku malu. Sekaligus membuka harapan palsu. ¡° Jen ini adik ipar kak Niah, kakakku.¡± Raksa dan laki-laki itu cukup dekat, mereka sudah berbagi informasi tentang keluarga. walaupun tidak semua. Raksa hanya sering menyebut Daniah dalam cerita-ceritanya. ¡° Apa!¡± sahabat yang ada di sebelah Raksa menjatuhkan sendoknya. Melongo. ¡°Serius? Kenapa kalian tidak saling kenal dari awal. Hei Sa, mau bohong jangan kelewatan juga kali.¡± protes. Memang terdengar tidak masuk akal. tapi mau bagaimana lagi, Raksa memang belum pernah bertemu Jen sebelumnya. Mungkin mereka pernah tidak sengaja bertemu waktu pesta pernikahan, namun keduanya tidak saling menyadari. ¡° Serius, Jenika adik ipak kak Niah. Ya, karena beberapa hal kami memang belum pernah bertemu. Kalau bukan Kak Niah mungkin sampai sekarang aku juga tidak tahu. Jen sudah kuanggap adik sendiri sekarang. seperti Kak Niah yang menganggapnya adik.¡± Hahaha... jangan mengulang-ulang kata-kata yang seperti pisau itu lagi Raksa, kumohon. Sehabis makan siang merekapun kembali kelantai empat bersama. ¡° Kakak ipar bilang Raksa sudah punya pacar ya?¡± Jen memberanikan diri memastikan secara langsung. Dia penasaran dan benar-benar ingin mendengar dari mulut Raksa. ¡° Haha, kak Niah cerita ya?¡± Wajah tampannya tersipu. Dia meraba tengkuk kepalanya dan memalingkan wajah. Malu. Aaaaaa, dia mengemaskan sekali. ¡° Jadi benar ya?¡± ¡° Ia, kami pacaran beberapa bulan sebelum aku keterima magang. Apa Jen mau aku kenalin.¡± ¡° Tidak!¡± Kenapa aku harus kenalan dengan sainganku, tidak mau! Protes sendiri. ¡° Dia wanita yang ramah kok, seperti Kak Niah. Hehe, mungkin aku melihat kak Niah dalam dirinya jadi mulai menyukainya. Eh, aku bukan menyamakan mereka, hanya aku sedikit melihat pribadi tegar kak Niah dalam dirinya jadi aku menyukainya.¡± ¡° ahhh, begitu ya.¡± Jadi aku ini benar-benar bukan tipenya ya, kalau aku dan kakak ipar dari semua segi jelas kami sangat berbeda. Jen tidak bisa menutupi rasa sedihnya. Sekarang Raksa seperti berlari jauh di depannya. Hanya sekelebat bayangannya yang bisa ia tangkap dari kejuhan. Semakin ia berlari mendekat, Raksa hanya semakin bergerak menjauh. ¡° Apa yang sedang kamu lakukan Jen?¡± beberapa suara ramai terdengar dibelakang pertanyaan itu. Gaduh. Jenika gelagapan, sementara wajahnya masih menempel di tembok. Beberapa seniornya di lantai empat ini masuk ke dalam toilet. Menatap Jen penasaran, menunggu jawaban. ¡° Aku cuma sedang bersandar tiduran kak. Hehe.¡± " ooooo, kirain sedang apa." Eh mereka percaya. Selang tidak lama mereka sudah berkerumun mengelilingi Jen. ¡° Kenapa kak?¡± Jen binggung. ¡° Jen, kami dengar kamu adik iparnya kakak perempuannya Raksa. Ya ampun kami pikir tadinya kalian jadian lho, habis akrab sekali.¡± Salah satu senior menepuk bahu jen membuat gadis itu terperanjak. ¡° Raksa memang baik sekali si sama semua orang, tapi akhir-akhir ini sama kamu kok dia kelihatan jauh lebih perhatian.¡± ¡° Haha, tadinya kami cembru sekali sama kamu Jen.¡± ¡° Ia, kok bisa mendominasi kebaikan Raksa.¡± ¡° aaaaa, ternyata kamu adik iparnya ya. Untunglah, kami punya kesempatan buat tetap dekat-dekat dengan Raksa.¡± Hei, hei, walaupun aku hanya dianggap adik. Tapi dia sudah punya pacar kali. Kalian tidak punya harapan. Eh, tapi sepertinya kalian masuk dalam list tipenya Raksa deh. " Jen, bisa coba comblangin aku gak?" " Eh, kitakan sepakat untuk sportif." " Sudah, sudah, bisa tidak kita menikmati ketampanan dan kebaikan Raksa sama-sama. Biar adil." " Ah ia juga ya, primadona akan jauh lebih baik kalau jadi milik semua orang." Dalam hati mereka menyusun strategi masing-masing untuk mendekati Raksa melalui Jenika. " Eh, jen mana?" Mereka tidak sadar Jen sudah kabur sedari tadi. bersambung Chapter 147 Pertemuan setelah sekian lama Masalah bulan madu masih ada yang menganjal dipikiran Han, membuatnya ada di tempat ini sekarang. Han membawa mobilnya memasuki sebuah toko buku besar di pusat kota, memarkirkaan kendaraan. Lalu masuk ke dalam toko buku. Karena bukan akhir pekan pengunjung toko tidak terlalu ramai. Atau mungkin memang minat baca masyarakat yang berkurang. Ntahlah, lapak penjual buku online yang menawarkan diskon juga sangat banyak. Mungkin persaingan ketat juga menjadi salah satu hal yang membuat toko buku ini lumayan sepi. Han menuju komputer database toko. Sekali lagi menuliskan kata bulan madu di mesin pencarian. Lalu keluarlah deretan judul buku yang dia cari. Rak no 12 gumamnya. Dia membaca sekilas judul-judul itu. Kenapa aku harus melakukan hal seperti ini. Sebagai jomblo abadi, terlebih dia belum pernah menyiapkan hal seperti ini untuk Saga jadi dia benar-benar dibuat cukup bingung. Ada banyak sekali destinasi tempat wisata. Tapi dia belum menemukan tempat yang benar-benar cocok untuk bulan madu bagi tuan muda dan nonanya. Atau dia sendiri yang mencoba menyusunnya secara sempurna sampai membuatnya binggung sendiri. Dia menghentikan langkah kakinya, mendengar pesan di hpnya. Membukanya. Dari Leela. ¡° Apa anda mau memanggil mereka hari ini?¡± ¡° Bawa mereka sore nanti, setelah aku mengantar tuan muda kembali.¡± ¡° Baik.¡± Leela menawarkan tiga nama. Han sudah memeriksa semua data tentang mereka, hanya tinggal bertemu secara langsung. Dia hanya berharap salah satu dari ketiganya benar-benar cukup mumpuni. Brug! Saat dia sedang berjalan dan fokus dengan hpnya, dari arah rak buku muncul seseorang yang juga sepertinya sedang fokus membaca buku. Membuat mereka saling bertabrakan. Buku yang dipegang gadis itu berjatuhan di lantai. Sementara hp milik sekertaris Han ikut jatuh dan tertumpuk di antara buku-buku itu. ¡° Maaf tuan saya tidak sengaja.¡± Panik, gadis itu segera berjongkok mengambil satu persatu bukunya yang berserak. ¡° Tidak apa, saya juga tidak melihat anda.¡± Sekertaris Han menunduk, mengambil buku-buku yang berserak. Dia menemukan hpnya. Gadis yang menabraknya juga sudah mengumpulkan buku ditangannya. Mau meraih buku yang disodorkan laki-laki yang ia tabrak di depannya. ¡° Terimakasih.¡± Mengulurkan tangan. ¡° Huh! Ternyata ini kamu!¡± Han meletakan buku yang dia pegang dengan keras ke atas tumpukan buku yang dipegang gadis itu. Membuat tubuh gadis itu mundur kebelakang terkejut. Dia mulai agak kesal. Cih, memang siapa si pikirnya. Dia mendongakan kepala, mengamati wajah tinggi berbalut jas resmi dihadapannya. ¡° Tuan Han.¡± Dia refleks mundur dua langkah. Meletakan buku-buku yang dia pegang di rak. Dia bersyukur tidak menjatuhkannya karena terkejut. Sekaligus sebagai antisipasi, kalau keadaan menjadi genting, dia bisa mudah lari kabur. Dia melangkah mundur lagi. Kenapa orang sepertinya di toko buku. Ini bukan toko milik Antarna Groupkan? Dia adalah Arandita, seorang gadis tidak beruntung yang pernah memiliki sejarah kelam bersama sekertaris Han. Karena kenekatannya, dia harus di tendang dari tempatnya bekerja. Hingga akhirnya hidup serabutan menjadi penulis novel online. Saat isi kepalanya buntu dan kehilangan ide, dia sering memilih keluyuran ke toko buku. Tempat paling aman yang jarang sekali orang yang mengenalnya dimasa lalu datang. Ini pertama kalinya dia bertemu dengan orang yang dia kenal. Tapi kenapa harus laki-laki ini. Harimau mengerikan ini. Begitu ratapnya dalam hati. ¡° Apa kabar tuan, senang rasanya orang seperti saya masih dikenali.¡± ¡° Orang!¡± Han mendesah. Membuat wajah gadis itu berubah kesal, tahu apa maksudnya. Ya, aku memang bukan manusia di hadapanmu, gerutunya, Cuma berani dalam hati dan sambil menundukan mata. ¡° Kau masih hidup rupanya¡± kata-kata sekertaris Han menusuk ulu hati. Kenapa kata-katanya terdengar sebaiknya aku mati saja si, aku senang dia mengenaliku. Tapikan seharusnya aku tidak bertemu dengannya. ¡° Haha, tentu saja, karena kemurahan hati tuanlah saya masih hidup seperti ini. Ya, walaupun harus menjalani hidup yang cukup berat tapi saya benar-benar berterimakasih karena sudah diberi kesempatan untuk hidup.¡± Cih, kapan terakhir kali aku menjilat untuk bertahan hidup. ¡° Minggir, kau menghalangi jalanku!¡± Tidak mengubris apa yang dibicarakan gadis di depannya. ¡° Eh, ia maaf. Silahkan mencari buku-buku tuan. Saya permisi.¡± Arandita membaca situasi, dia harus segera menghilang dari tempat ini. Menyelamatkan diri dari harimau yang dulu pernah melepaskannya. Dia sudah membungkukan kepala sopan lalu hendak berbalik mengambil langkah kaki seribu. Menghilang dari bumi kalau perlu. ¡° Tunggu!¡± Apa! kenapa lagi? Apa salahku sekarang? Bukannya kau menyuruhku pergi. Han menjentikan tangannya, meminta gadis itu mendekat. Dia terlihat binggung, tadi menyuruhnya pergi sekarang malah memintanya mendekat. Tapi dia malah memilih mematung ditempatnya. Tidak bergerak, jauh lebih aman pikirnya. Karena dia diam membuat Han yang berjalan mendekatinya. Ara terperanjak terkejut. Saat Han meraih rambutnya yang terurai, dia tadi mengikat rambutnya menjadi dua seadanya. Dengan karet yang dia temukan dikontrakannya. Kenapa dia menyentuh rambutku. Aaaaa, kapan aku terakhir kali keramas! ¡° Apa dari dulu rambutmu seperti ini?¡± Apa? kenapa? Rambut bergelombangku kenapa? ¡° Ini rambut asli saya tuan.¡± Dia ingin menepis tangan yang menyentuh rambutnya, tapi tidak punya keberanian melakukannya. ¡° Sepertinya dulu tidak seperti ini.¡± Masih mengamati rambut yang ada ditangan kirinya. ¡° Dulu saya meluruskan rambut saya supaya terlihat rapi. Tapi karena akhir-akhir ini saya harus menghemat uang jadi saya tidak mau menghabiskan uang saya untuk meluruskan rambut.¡± Menjawab selugas mungkin. Han menjatuhkan rambut yang dia pegang, lalu menatap tangannya. Sepertinya dia merasai rambut bergelombang berminyak belum tersentuh sampo selama beberapa hari. Nona penulis sepertinya kamu sibuk sekali ya. Dia mengusapkan tangannya di bahu wanita yang masih terlihat raut binggung itu. ¡° Baguslah, dengan rambutmu ini kau jadi terlihat seperti manusia.¡± ¡° Apa?¡± binggung. Kenapa rambut yang selama ini dia anggap jelek ini membuatnya jadi manusia di hadapan laki-laki ini. Aran penasaran ingin bertanya, sekaligus mencegah mulutnya untuk terbuka. Jangan cari mati. Begitu nuraninya menyadarkan. ¡° Minggir! Kau menghalangi jalan.¡± ¡° Aah, maaf tuan.¡± Dia mundur mempersilahkan Han lewat. Menatap punggung laki-laki itu yang menjauh. Terdengar dia langsung menarik nafas lega. Dia bilang apa? dia menggangapku manusia. Kenapa? Karena rambut bergelombangku yang berminyak ini. Aaaaa, kenapa aku tidak keramas si tadi. Han sudah ada di rak nomor 12 dia terlihat serius mengambil beberapa judul buku. Sementara gadis itu sepertinya mengurungkan niatnya untuk menghilang dan kabur. Dia berdiri dibelakang rak, membungkukan kepala sambil menatap Han. Melihat buku apa yang dia cari. Bulan madu. Apa dia sudah menikah? Hah! Dengan siapa? Sial, aku harus kehilangan pekerjaan gara-gara dia dan sekarang dia mau menikah. Tanpa sadar dia mendekat, sambil masih menendap-endap. Pura-pura membaca, padahal dibalik bukunya dia hanya sedang memperhatikan setiap gerakan Han. Pikirannya berlarian sampai pada titik kesalahan fatal yang dia lakukan berhubungan dengan laki-laki itu. Dia yang begitu beraninya melakukan pengintaian seperti yang dilakukannya sekarang. Sekertaris Han terlihat sudah menemukan apa yang dia cari. Ada beberapa buku yang dipegangnya. Lalu dia berjalan menuju kasir. Naluri keingintahuan yang beberapa tahun ini terpendam muncul begitu saja. Membuatnya juga berjalan mendekat. Masih membuntuti. Sudah diarea parkir. Han sudah masuk kedalam mobilnya. Dia terlihat sudah menghidupkan mobil, tapi tidak melajukannya keluar dari area parkir. Suara klakson mobil terdengar keras. Membuat seseorang yang sedang berdiri di balik tiang terlonjak kaget. ¡° Sial! Dia tahu aku membuntutinya.¡± Sekali lagi suara klakson terdengar. Han mengeluarkan tangannya. Lalu mengerakan tangannya memberi isyarat agar seseorang mendekat. ¡° Pura-pura tidak lihat, ayo kabur.¡± Pikirnya. Tapi suara klakson lagi. Membuat gadis itu akhirnya mendekat. Di dalam mobil Han kembali mengerakan tangannya. Membuat gadis itu kembali mendekat. Sampai tubuhnya menempel dipintu mobil. ¡° Sekarang kau bekerja untuk siapa?¡± bicara tanpa melihat gadis yang menempel di pintu mobilnya. ¡° Tidak tuan anda pasti salah, saya hanya sedang lewat.¡± sambil mengerakan tangan mencari-cari pintu keluar, sialnya dia tidak menemukan. kecuali deretan mobil dan juga motor. ¡° Kau bawa mobil.¡± ¡° Tidak.¡± mulai membaca situasi yang mencekam, yang bisa membuatnya terjebak dengan laki-laki mengerikan dihadapannya ini. ¡° Motor.¡± ¡° Tidak.¡± Habislah aku. ¡° Berani sekali kau ya, masih membuntutiku.¡± sekilas Han melihat wajah Arandita. yang mulai terlihat panik. tapi walaupun gadis begitu gadis itu tidak gemetar atau takut. ya, Han tahu, wanita di depannya ini memang sedikit berbeda. Kalau tidak, bagaimana bisa dia senekad dan seberani itu, saat berurusan dengannya dulu. ¡° Maaf tuan, ini hanya naluri keingintahuan saya.¡± akhirnya pasrah mengaku. Dia memang hanya penasaran. Dan rasa ingin tahunya yang kadang membawa petaka. ¡° Terlalu banyak mencari tahu bisa membuatmu mati.¡± Han bicara dengan sinis. ¡° ah, ia maaf tuan. Kalau begitu saya permisi.¡± Aku harus pergi sekarang juga. ¡° Tunggu!¡± Han mengeluarkan hpnya, menyodorkan kewajah gadis Arandita. Gadis itu mundur kebelakang ¡° Masukan nomor hpmu.¡± ¡° ahh, saya sangat miskin tuan, saya tidak punya hp.¡± mengibaskan tangan sambil tertawa. Aku bisa mati kalau memberikan nomorku. Han mengoyangkan hpnya. ¡° Kau masih ingat kenapa aku mengampunimu dulu.¡± ¡° Ia tuan.¡± ¡° Kenapa?¡± bertanya lagi. ¡° Karena saya cuma serangga penggangu, yang hanya akan mengotori sepatu anda kalau anda menginjak saya.¡± Jawaban yang cukup menyedihkan, namun dijawab dengan lugas oleh Arandita. ¡° Ingatanmu cukup bagus juga. Tapi karena aku sudah menggangapmu manusia sekarang, kalau kau bertingkah aku bisa saja menghabisimu.¡± ¡° Apa! kenapa? Apa salah saya.¡± ¡° Masukan nomormu! ¡° mengoyangkan kembali hp di depan wajah. membuat Aran tidak bisa menolak. dia mengambilnya. ¡° Baik.¡± Gadis itu menyerahkan hp dengan kedua tangannya. Setelah selesai memasukan nomor. ¡° Kalau sampai kau berani memberiku nomor yang tidak bisa dihubungi, habis kau. Aku bisa menemukanmu walaupun kau bersembunyi di lubang semut sekalipun.¡± ¡° Tunggu! sepertinya saya salah memasukan satu nomor tuan.¡± Mengambil lagi dengan cepat. lalu ketik-ketik dengan cepat juga. ¡° saya baru menganti nomor hp beberapa hari lalu, jadi masih agak lupa. Silahkan, saya sudah mencatat nomor saya dengan benar.¡± mengembalikan hp lagi. Bagaimana dia bisa tahu kalau aku menulis nomor yang salah. sial! ¡° Pergilah, tunggu aku menelfon.¡± ¡° Baik. Selamat jalan tuan. Semoga hari anda menyenangkan.¡± Han tidak menjawab. Dia sudah menghidupkan mobil. Dan keluar dari area parkir. Aaaaa kenapa aku membututinya. Kenapa aku penasaran dengan harimau gila itu. Aaaaaa! Gadis itu menabrakan tubuhnya ketiang besar penyangga gedung. Membenturkan kepalaanya pelan. ¡° Aku pasti sudah gila, kenapa aku memberinya no telfon.¡± Sementara itu Han terlihat melirik kaca spionnya. Terlihat selintas senyum samar di bibirnya. BERSAMBUNG Sampai jumpa minggu depan ^_^ Chapter 148 Konsultasi ke dokter Jadwal konsultasi ke rumah sakit sudah ditetapkan. Sekertaris Han memberi tahukan melalui pesan singkat, sesaat setelah Daniah turun dari mobil diarea parkir rukonya, dia bahkan belum masuk ke dalam ruko. Leela sudah mengajaknya langsung pergi lagi, begitu dia mendapati pesan yang sama di hpnya. Kenapa dia tidak memberi tahu dirumah tadi si, dia pasti sengaja. Sepertinya keduanya terlihat mengerutu dalam hati masing-masing, sambil masuk ke dalam mobil. Leela sudah membawa kembali mobilnya, melintas di jalan raya saat sebuah pesan masuk lagi ke hp milik Daniah. ¡° Apa anda mau tuan muda menemani?¡± pesan dari sekertaris Han, langsung membuat Daniah panik. Membayangkan saja dia sudah bisa memprediksi akan seheboh apa kunjungannya ke dokter kalau sampai tuan Saga juga ikut. ¡° Tidak!¡± Daniah sengaja membumbui dengan tanda seru. Baginya konsultasi dan pemeriksaan hari ini sudah cukup menegangkan. Tidak mau ada Saga di sampingnya yang tentunya hanya akan membuat semuanya menjadi penuh tekanan. Diapun berfikir, kalau ada apa-apa dengan tubuhnya, dia tidak tahu bagaimana harus menghadapi kemarahan suaminya saat itu juga. Pil kontrasepsi kembali terngiang, membuatnya benar-benar yakin untuk pergi sendiri. Paling tidak dia bisa menyiapkan diri dengan segala kemungkinan. Aaaaa, periksa kehamilan nanti diapain aja ya. Kenapa aku merasa cemas begini. Sepanjang perjalanan Daniah tengelam dalam kecemasannya sendiri. Saat mobil sudah sampai di area parkir. ¡° Leela kenapa dokter Harun sudah ada di depan pintu? Dia tidak datang menyambut kitakan?¡± bukankah terlalu berlebihan sampai di sambut begini. Terlebih lagi di sampingnya juga berdiri dua orang wanita. Tidak tahu statusnya siapa. ¡° Tidak nona, dia hanya menyambut nona.¡± Leela keluar dari mobil untuk membukakan pintu, tapi Daniah lebih cepat, sebelum gadis itu berjalan memutar dia sudah keluar dari mobil. Saat melihat Daniah turun dari mobil dokter Harun berjalan mendekat. Dia sudah tersenyum sepanjang langkahnya. Laki-laki itu memang terlihat selalu bahagia, setiap kali Daniah bertemu. Dalam situasi apapun. ¡° Kakak ipar selamat datang, senang bertemu denganmu lagi.¡± Dokter Harun sudah berjalan mendekat, bahkan ingin memeluk Daniah. Karena antusiasnya. Tapi secepat kilat Leela sudah menghadang langkah kakinya. Kedua wanita yang berdiri dibelakangnya terlihat menahan senyumannya. ¡° Silahkan tunjukan kami jalannya dokter.¡± Tersenyum penuh ancaman. ¡°Tidak perlu terlalu banyak basa-basi.¡± Keduanya terlihat sangat akrab. Leela bahkan bicara dengan bahasa yang cukup santai. Berbeda sekali ketika bicara dengan sekertaris Han sekalipun yang merupakan saudaranya sendiri. Daniah memperhatikan tingkah keduanya. ¡° Cih, aku tidak menyapamu. Aku menyapa kakak ipar.¡± Menatap Leela kesal, langsung memalingkan wajah, dan kembali senyum sejuta wattnya dia berikan khusus untuk Daniah. ¡° Jangan panggil nona dengan sebutan itu, tuan muda tidak akan suka mendengarnya.¡± Seperti biasanya, Leela bersikap sekaku protokoler. Dokter Harun memutar kepalanya berkeliling area parkir. Lalu mengangkat bahu dan mengejek sinis. ¡° Saga tidak ada, jadi berhentilah bicara. Minggir sana¡± ¡° Saya akan mengadukan pada tuan muda.¡± ¡° Hei, bisa tidak kau kendurkan sedikit gayamu itu. Serigala galak.¡± Mendorong lengan Leela agar minggir. Sementara Daniah dan kedua wanita di belakang dokter Harun menonton pertengkarang mereka dan tidak bisa menahan gelak. Seperti bocah yang memperebutkan perhatian kakak mereka. Dan anehnya Daniah merasa kedua wanita itu sangat memaklumi. Seperti tahu sedekat apa hubungan mereka berdua. ¡° Kakak ipar.¡± Kembali pada Dania, tidak mengubris pandangan sebal leela. Dia meminta Daniah untuk mengikutinya. ¡° Jangan panggil nona seperti itu.¡± Berkata dengan setengah berteriak. ¡° Sudahlah Leela.¡± Akhirnya Daniah melerai, sesungguhnya dia merasa senang, untuk pertama kalinya dia melihat sikap Leela selayaknya manusia normal. Ternyata gadis ini bisa bersikap kekanakan seperti ini ya gumamnya. Dokter Harun merasa menang karena dibela, lihat wajah sombongnya itu saat berdiri di samping Daniah. Leela tersenyum kecut mengikuti dari belakang. ¡° Dokter, ini hanya pemeriksaan biasakan. Aku merasa agak sedikit cemas.¡± Daniah mengatakan apa yang dia rasakan. Berharap setelah mengatakan bisa mengusir perasaan itu. Tapi tetap tidak ternyata. ¡° Jangan cemas kakak ipar. Kita cuma akan cek up kesehatan biasa, gak akan diapa-apain. Hei Leela kamu mau cek up juga? Aku kasih diskon 99 persen deh.¡± Meledek Leela lagi. Leela mendelik kesal. ¡° Aku benar-benar akan mengadukan mu pada tuan muda.¡± Ancamnya juga. ¡° Cih, dasar serigala galak.¡± Mereka masuk ke dalam rumah sakit. Saat bertemu beberapa orang terlihat mereka menyapa dengan sopan dokter Harun. Lalu mereka berjalan menuju bagian kandungan dan anak. Terlihat beberapa ibu yang sudah hamil besar sedang duduk di temani pasangan mereka masing-masing. Wajah mereka terlihat penuh suka cita. Suami mereka berusaha menenangkan dengan mengelus perut istrinya, sambil bicara dengan mendekatkan wajah mereka keperut istrinya. Berkomunikasi dengan calon buah hati. Lucunya, membayangkan tuan Saga melakukan itu. Daniah terlihat tersenyum tipis membayangkan, namun segera tersentak mendengar perkataan dokter Harun lagi, yang ditujukan untuk Leela. ¡° Berhenti!¡± Tangan Harun menyilang menahan Leela, sementara dua wanita yang mengikutinya tadi sudah masuk ke dalam ruangan. ¡° serigala galak dilarang masuk.¡± Mengetuk pintu yang sudah terbuka tiga kali. ¡° Aku harus menemani nona.¡± ¡° Tidak, aku dokter penanggung jawab rumah sakit ini. Melarangmu masuk.¡± Harun menunjuk id yang menempel di bajunya, sekaligus menunjukan statusnya di rumah sakit ini. ¡°Apa kamu! Tunggu di ruang tunggu sana!¡± menunjuk deretan kursi yang juga banyak orang yang sedang menunggu. Leela terlihat sangat kesal, sudah seperti ingin menendang kaki dokter Harun. Kalau tidak sedang di rumah sakit, dia pasti sudah baku hantam dari tadi. ¡° Tapi aku dibawah perintah langsung pemilik rumah sakit ini. Untuk berada di samping nona dalam situasi apapun.¡± Menunjukan hpnya. Nomor pribadi Saga. ¡°Mau ku telfon tuan muda sekarang?¡± Harun langsung masam mendengar jawabab leela. Wanita di hadapannya ini memang sekaku kawat jemuran baju. Tapi membiarkan dia masuk pasti dia akan berulah di dalam pikirnya. Padahal dia sudah senang saat tahu Saga tidak menemani. Ternyata yang menemani Daniah tidak kalah merepotkan daripada Saga. ¡° Dokter, biar Leela masuk juga ya?¡± Daniah menarik tangan Leela. ¡° Nanti sekalian dia bisa di cek up juga.¡± Melerai pertengkaran tidak berkesudahan. Sampai dititik ini Daniah sangat penasaran, sebenarnya hubungan kedua orang ini apa si. Tunggu, jangan-jangan dokter Harun ini suami Leela? Daniah yang digelitiki penasaran ingin segera bertanya, tapi tidak punya kesempatan. ¡° Baiklah, tapi berhenti menggangu. Kau harus duduk diam dan melihat saja. Apapun yang terjadi di dalam jangan bergerak dan melakukan apapun. Janji!¡± berteriak sambil menuding tangannya ke wajah leela. ¡° Angkat tanganmu dan bersumpah!¡± seperti bocah yang butuh jaminan. Leela menurut megangkat tangannya dan mengikuti sumpah yang diucapkan dokter Harun. Ya Tuhan mereka ini lucu sekali, jangan-jangan dokter Harun ini benar-benar suami Leela. ¡° Asalkan tidak ada yang membahayan nona di dalam aku akan diam saja.¡± Setelah selesai membaca sumpahnya. ¡° Memang akan ada bahaya apa? ini Cuma cek up kesehatan.¡± Masih menuding tajam. ¡° Pura-pura tidak tahu, kamu itu yang paling bahaya.¡± Leela menatap Daniah. ¡° Nona, dokter Harun ini biarpun jomblo tapi dia playboy. Jangan percaya kata-kata.¡± Yaaa, ternyata bukan suaminya Leela ya. Lantas hubungan kalian apa si. Saking penasarannya dengan mereka berdua, Daniah tidak merasa, kalau kecemasannya sudah nyaris menghilang. ¡° Cih, kau bahkan jatuh cinta pada playboy kelas kakap.¡± Mengejek lagi. ¡° Criss sudah berubah.¡± Menjawab tegas, seperti membela suaminya. Ohhh jadi suami leela namanya Criss. Daniah masih sibuk menduga-duga juga. ¡° Ia, ia. Ayo kakak ipar masuk. Jangan perdulikan Leela.¡± Pemeriksaan kesehatan berjalan lancar. Seorang dokter wanita dan perawat membawa Daniah menuju sebuah ruangan untuk pemeriksaan USG. Leela mengikuti. Sementara dokter Harun dan seorang dokter laki-laki yang sudah terlihat cukup umur menunggu di ruangan yang lain. Perawat menaruh cairan bening di perut Daniah, lalu dengan sebuah alat dokter wanita mulai memeriksa. Secara sederhana dokter wanita itu menjelaskan bagaimana kondisi Daniah. Gadis itu hanya mengangukan kepala, sambil menatap layar di depannya. ¡° Kondisi rahim nona bagus. Dokter Harun sudah mengatakan kalau nona pernah minum pil kontrasepsi ya?¡± ¡° Ia dok, apa itu berpengaruh ya?¡± ¡° Sejauh ini tidak. jangan cemas, nanti nona bisa minum vitamin untuk memulihkan kesuburan. Semua baik-baik saja.¡± Dokter wanita itu menepuk tangan Daniah lembut. Meyakinkan. Daniah merapikan pakaiannya lagi, lalu keluar ruangan. Sementara dokter wanita tadi menyusul selang beberapa lama sambil membawa kertas laporan hasil USG. seperti biasa penjelasan mendetail di sampaikan. Yang ditangkap Daniah adalah semua baik-baik saja. Terlihat Daniah menarik nafas lega, walaupun rasa kuatir yang ntah datangnya dari mana ini belum sepenuhnya pergi. Tapi tidak separah saat dia datang tadi. " Kakak ipar jangan cemas, kakak ipar bisa memberiku keponakan sebanyak yang kakak ipar mau." Dokter Harun mengedipkan mata dan tertawa jenaka. Mereka sudah keluar dari ruang pemeriksaan dan kembali ke area parkir. " Pergilah bulan madu dan bersenang-senang." Daniah langsung malu sendiri mendengarnya. Apa! dia tahu tentang bulan madu. " Bersemangat kakak ipar!" " Sudah minggir sana!" Leela mendorong tubuh dokter Harun. "Memang dokter gak punya kerjaan apa?" " Serigala galak datang!" Sekali lagi sebelum berpisah, Daniah melihat drama pertengkaran bocah. Leela benar-benar terlihat seperti gadis normal pada umumnya. Bersambung Chapter 149 Kesetiaan Ternyata karena itu, pantas saja mereka sangat dekat. Dokter Harun dan Criss yang ternyata suami Leela adalah saudara sepupu. Sejak kuliah mereka sudah tinggal bersama. Hubungan keduanya sangat dekat, bahkan karena dekatnya mereka berdua nyaris memiliki karakter yang hampir sama. Jenaka dan mudah menghidupkan suasana. Sangat gampang bergaul, bahkan cap playboy tidak lepas dari mereka. Karena saking mudahnya mereka berteman dengan lawan jenis mereka. Sudah ada di dalam mobil yang melaju. Leela berbagi kisah kedekatannya dengan dokter Harun. Setelahnya Daniah kembali menyandarkan kepalanya di kaca mobil. Dia masih terlihat sedikit cemas. Kondisi tubuhnya normal dan tidak perlu ada yang dikuatirkan. Dampak konsumsi pil kontrasepsi dapat di minimalisir dengan pola hidup sehat. Dokter akan mengirimkan obat dan panduan konsumsi sehat ke rumah. Membuat Daniah malah merasa kepikiran. Apa benar yang dibilang dokter tadi, bahwa semua baik-baik saja. Tiba-tiba sesal itu bertubi mendatanginya. Bagaimana dia bisa dengan nekadnya minum pil kontrasepsi. Tapi diapun tidak bisa menyalahkan dirinya, posisinya dulu ada dalam keadaaan dia tidak punya pilihan selain melakukan itu. Siapa yang bisa menebak, kalau perasaannya ataupun tuan Saga bisa berbalik seperti sekarang. Dulu, dia bahkan tidak pernah sekedar memprediksi atau menduga hubungannya dengan tuan Saga. Selain kata perpisahan dan perceraian. ¡° Nona.¡± Daniah masih melabuhkan pikirannya mengingat kebodohannya dengan pil kontrasepsi yang pernah dia minum. ¡° Nona.¡± Leela mengulang pangilannya, karena melihat Daniah termenung sedari tadi. ¡° Eh ia, Leela kenapa?¡± terperanjak, menatap Leela. Memperbaiki posisi duduknya. Aku pasti melamun lagi. ¡° Apa yang nona pikirkan? Apa nona gelisah karena hasil pemeriksaan dokter tadi?¡± Leela dengan mudahnya membaca pikiran Daniah. Aaaaa, kenapa aku mudah ditebak begini si, bahkan Leela pun tahu. Daniah melirik sekilas Leela yang masih fokus mengemudi. Apa kesaktiannya membaca pikiran selevel dengan sekertaris Han. ¡° Nona, kenapa nona diam lagi? Kalau nona cemas karena hasil pemeriksaan tadi, tidak ada yang perlu nona cemaskan. Semua baik-baik saja. Tuan muda juga akan mendapat salinan pemeriksaan tadi, jadi dokter tidak mungkin membuat hasil laporan yang hanya akan menenangkan nona.¡± Ucapan Leela sangat melegakan. ¡° Begitu ya?¡± ntah kenapa seperti ada semilir angin yang menerbangkan rambutnya, dia merasa sedikit lega. ¡° Leela.¡± Daniah agak sedikit ragu. ¡° Ia nona?¡± ¡° Tapi janji, ini rahasia antara kita ya. Aku hanya ingin bicara dengan sesama perempuan, untuk membuatku tenang. Kamu juga bisa menceritakan pengalamanmu dengan suamimu seperti apa. ya, sekedar perbandingan hubunganku dengan tuan Saga.¡± Intinya Daniah hanya ingin berbagi rahasia. Daniah ingin bercerita tentang dirinya, tapi dia juga ingin tahu sesuatu tentang Leela. ¡° Tuan muda tidak bisa dibandingkan dengan suami saya nona. Criss terlalu hina untuk dibandingkan dengan tuan muda.¡± Leela menjawab dengan lugas, sama sekali tidak merasa bersalah dengan kalimatnya. Daniah tertawa mendengarnya, tapi dia memukul bahu Leela untuk tidak mengatakan hal seperti itu. Apalagi mengenai suaminya sendiri. Dan akhirnya satu persatu ketakutan itu dia utarakan. Mengenai perasaannya, mengenai hubungannya dengan Saga. ¡° Aku mencintai tuan Saga dengan tulus, bukan hanya sebatas dia suami yang harus aku cintai. Tapi karena aku mencintainya aku merasa bahagia bersamanya.¡± Mengambil jeda dengan bernafas dalam. ¡° Namun, terkadang aku masih takut. Bagaimanapun dia adalah tuan Saga.¡± Daniah bicara tanpa melihat leela, melihat keluar jendela dimana deretan gedung berlarian meninggalkannya. Leela melajukan mobil dengan kecepatan sedang. ¡° Jika suatu hari nanti aku membuatnya marah, dia akan membenciku atau berhenti mencintaiku. Hingga akhirnya dia pergi dan meninggalkanku menangis sendirian. Sejujurnya aku masih sangat takut itu terjadi.¡± Daniah menoleh pada Leela, gadis itu mendengarkan tanpa menyela sedikitpun. ¡° Hingga terkadang, aku masih takut menunjukan perasaanku yang sebenarnya. Mengatakan aku mencintainya sesering mungkin. Aku masih menahan diri untuk melakukan itu.¡± Leela menepikan mobil, Daniah memeriksa keadaan di luar mobil. Sepertinya mereka berhenti di sebuah tempat makan. ¡° Ahh, sudah waktunya makan siang ya? Ternyata cukup lama ya kita di rumah sakit.¡± Pikirannya tiba-tiba teralihkan. ¡° Nona, saya akan memberi nona satu rahasia tuan muda, sebagai hadiah perbisahan kita.¡± Lekat leela menatap Daniah. ¡° Apa! perpisahan? Memang Leela mau berhenti.¡± Tiba-tiba nada suara Daniah terdengar sedih. Dia sudah cukup akrab dengan Leela. Walaupun terkadang gadis itu menyebalkan kalau versi sekertaris Hannya kambuh, tapi dia tetap jadi orang menyenangkan yang diajak bicara. Terlebih saat Daniah melihat sifat lucu dan mengemaskan Leela dan dokter Harun tadi. ¡° Tuan muda ingin saya kembali ke perusahaan.¡± ¡° Aaa benar, bagaimanapun Leela tetap harus kembali keperusahaan. Walaupun agak sedih, tapi aku senang kok. Sungguh.¡± Daniah menepuk bahu Leela. Jadi, kalau Leela berhenti, aku bisa membawa mobilku sendiri. Sekarang rasa bersalah itu berganti perasaan bahagia, dengan kemungkinan yang muncul dipikirannya. ¡° Tadi rahasia apa yang mau Leela bagi tentang tuan Saga.¡± Ingatannya tersadar kembali, pada pembicaraan awal. Antusiasnya mengebu. Rahasia tuan Saga dan rahasia sekertaris Han, adalah dua misteri di muka bumi ini yang membuat Daniah sangat penasaran. ¡° Sebaiknya nona makan dulu.¡± Menunjuk pintu restoran. ¡° Tidak, katakan sekarang.¡± Mencegah Leela yang sudah mau turun dari mobil. Bagaimana mungkin dia menunda terbongkarnya sebuah kotak misteri hanya karena makan siang. Leelapun mengalah saat melihat sorot mata Daniah yang berbinar karena sangat penasaran. ¡° Semua ketakutan nona itu tidak beralasan. Kalau nona berfikir tuan muda laki-laki yang mudah berpaling hatinya. Nona salah besar. Tuan muda tipe laki-laki yang setia dengan perasaannya.¡± Leela mengatakannya dengan sangat yakin. Daniah terigat tentang Helen, bagaimana hubungan yang terjalin antara mereka, sesunguhnya sudah menjadi bukti bagaimana setianya tuan Saga. ¡° Saya tidak hanya mengatakannya karena dia adalah tuan muda. Tapi saya punya bukti nyata untuk itu. Apa nona mau mendengarnya?¡± Daniah mengangukan kepalanya kuat. ¡° Saat saya mau menikah, saya dan Criss datang menemui tuan muda. Saat itu dia menentang pernikahan kami.¡± ¡° Kenapa?¡± suara Daniah terdengar sedih, bersimpati. cih, memang apa hak dia melarang-larang begitu yang langsung muncul dipikiran Daniah. Lagian kenapa harus minta izin pada tuan Saga segala. ¡° Saya dan keluarga saya banyak berhutang budi pada kebaikan tuan muda nona. Jadi saya datang padanya untuk meminta restu.¡± Menjawab pertanyaan yang hanya di sampaikan lewat sorot mata Daniah. ¡° Karena sifat Criss yang terkenal playboy dia menentang hubungan kami. Tuan muda juga mengenal dekat Criss karena dia saudara dokter Harun.¡± Begitu ya. Memang si, yang kudengar tuan Saga memang sangat setia. Rumor tentang kehidupannya dengan para wanita sungguh mengelikan. Daniah merasa bisa tertawa terbahak sekarang, kalau mengingat bagaimana penilaian yang ia berikan. Karena rumor tidak jelas itu. ¡° Tapi, saya berhasil meyakinkan tuan muda kalau perasaan kami terikat satu sama lain. Akhirya setelah hampir satu bulan kami berusaha meyakinkan tuan muda, dia memberi kami restu dan kami akhirnya menikah.¡± Terdengar Leela menghela nafas. ¡°Tapi yang ditakutkan tuan muda ternyata benar, beberapa waktu setelah kami menikah Criss kedapatan selingkuh dengan salah satu pegawai di kantornya.¡± Daniah ikut merasa kesal mendengarnya. Dia jadi ingin bertemu Criss. ¡° Tuan muda selalu mengatakan, kesetiaan adalah kehormatan diri yang harus dijaga. Dan saya percaya itu. ¡° Kesetiaan adalah pondasi dari sebuah hubungan. Menjalin sebuah ikatan mungkin jauh lebih gampang daripada menjaganya. Baik itu yang hanya sekedar pacaran ataupun menikah. ¡° Lalu apa yang terjadi?¡± Penasaran, seingat Daniah saat tadi bertengkar dengan dokter Harun leela membela suaminya. berarti hubungan mereka sudah baik-baik saja. ¡° Tuan muda marah besar, mungkin Criss bisa mati kalau saya tidak memohon waktu itu. Dia benar-benar menghajar Criss dengan tangannya sendiri. Saya masih ingat apa yang tuan muda katakan. Maaf leela seharusnya aku tidak merestui pernikahan kalian, kau terlalu berharga untuk laki-laki pecundang seperti Criss.¡± Leela ingat kejadian itu. Untuk pertama kalinya, Saga menyentuh tangannya dan mengengam tangannya erat. Dia minta maaf karena merestui pernikahan. ¡° Sekarang bagaimana hubunganmu dengan Criss?¡± ¡° Kami sudah baik-baik saja sekarang. Criss sudah berubah, karena itu saya menerimanya lagi.¡± ¡° Apa dia benar-benar berubah?¡± Daniah merasa tidak terlalu yakin. ¡° Setelah melewati hukuman dari tuan muda selama setahun, saya rasa Criss benar-benar kapok nona.¡± Hah! Benar, aku bahkan melihat dia memberi hukuman tegas pada pamannya. Tidak bisa kubayangkan apa yang harus dijalani Criss selama setahun penuh itu. ¡° Jadi nona, percayalah pada tuan muda. Hiduplah dengan bahagia di samping tuan muda.¡± ¡° leela.¡± Benar, kenapa aku masih takut dan ragu. bersambung Chapter 150 Rahasia Han Setelah berhasil meyakinkan diri bahwa semua baik-baik saja, Daniah menurut ketika Leela membawanya masuk ke dalam restoran. Mereka memilih menu makan siang mereka masing-masing. Leela masih memperhatikan lekat nona muda di depannya. Nona, bagaimana bisa nona masih secemas itu. Kalau saja nona menyadari sebesar apa tuan muda mencintai nona. Hehe, tapi sifat nona yang mengemaskan saat cemas itu benar-benar manis. Maaf ya nona. Leela merasa sedikit bersalah namun tidak mau ikut campur lebih lanjut. Sifat polos nona mudanya itu biarlah menjadi sifat nona Daniah yang akan membuat banyak orang menyayanginya. Setelah memilih menu makan siang selesai. Sambil menunggu pesanan datang, ada potogan buah segar di hadapan mereka. Karena memang sebaiknya mengkonsumsi buah memang dilakukan sebelum makan, banyak restoran yang mulai memberikan servis buah diawal menu utama. Sambil menyantap buah Daniah ingin sekali lagi mencoba mengulik rahasia besar yang sampai hari ini masih menghantui pikirannya. Siapa lagi kalau bukan sekertaris Han. ¡° Leela, beri tahu satu rahasia sekertaris Han.¡± Menatap penuh harap. Walaupun tahu, kalau dia tidak boleh berharap lebih. Karena sejauh ini Leela selalu bungkam jika Daniah menanyakan perihal sekertaris Han. ¡° Nona.¡± Langsung frustasi kalau Daniah lagi-lagi menyinggung masalah ini. Bagaimanapun Leela masih menyanyangi nyawanya. ¡° Satu saja please. Apa saja, rahasia sekecil apapun aku akan sangat berterimakasih.¡± Memasang wajah penuh harapnya. ¡° Kenapa nona tertarik sekali pada sekertaris Han?¡± Lirikannya penuh makna. Seperti orang yang penuh curiga. ¡° Cih, akukan ingin sekali-kali melihat dia di marahi tuan Saga. Dan aku benar-benar ingin membalasnya sekali saja.¡± Belum apa-apa dia sudah membayangkan di kepalanya. Daniah sudah tertawa puas, padahal dia belum mendapat info apa-apa. ¡° Maafkan saya nona.¡± Leela merasa bersalah karena wajah Daniah langsung berubah. Aku tidak mungkin menceritakan kehidupan tuan muda, sekalipun aku tahu. Daniah langsung merasa keceawa. Saat makanan pesanan datang dia memilih langsung meraih makanannya menunjukan kecewa pada Leela. Gadis itu paham. Wajah cemberut nona saja mengemaskan begitu, kalau nona sering menunjukan wajah semacam itu, aku yakin tuan muda akan mati gaya menghadapi nona. Eh, tapi bisa saja nona langsung habis dimakan tuan muda. Pikiran leela berkeliaran nakal kemana-mana. Dia menundukan kepala sambil menahan senyum dan mengunyah makanannya. ¡° Kenapa nona tidak menanykannya pada tuan muda? Saya rasa tuan muda akan menjawab kalau nona bertanya.¡± Pilihan bijak yang diambil Leela setelah dia berhenti dengan pikiran nakalnya. Saat bersama Saga Daniah tidak terpikirkan untuk bertanya. Lagian kalau sampai dia bicara tentang laki-laki lain apa suaminya itu tidak akan murka. Tapi benar juga, inikan sekertaris Han, tidak mungkinkan dia cemburu dengannya. Daniah mulai di gerogoti penasaran perihal yang lainnya. Bagaimana tuan Saga bisa bersama dengan sekertaris Han. Hubungan apa yang terikat diantara mereka. ¡° Tapi sepertinya saya bisa memberitahu sedikit hal tentang sekertaris Han. Sepertinya tidak apa-apa, sebagai hadiah untuk nona.¡± ¡° Apa?¡± langsung merasa sangat antusias sekali. Akhirnya satu aibmu akan ku ketahui. Daniah sudah gemas ingin segera tahu, ingin segera meledek sekertaris Han kalau perlu. ¡° Nona pernah melihat siaran di Tv XX, acara love story.¡± Leela melihat Daniah berfikir keras, mengingat-ingat. Tapi sepertinya sia-sia, karena Daniah mengeleng kemudian. ¡° Itu program acara lamaran seseorang pada orang yang dicintainya.¡± Leela menjelaskan secara garis besar. ¡° Lalu, apa hubungannya acara itu dengan sekertaris Han. Dia tidak mungkin menyatakan perasaannya pada seseorang di acara itukan?¡± Kaget sendiri dengan pertanyaan yang dia lontarkan. ¡° Dia benar-benar nembak seseorang di sana?¡± Daniah tidak bisa membayangkan kejadian lucu seperti apa sampai melihat laki-laki itu melamar seorang wanita di sebuah program acara. Tunggu, jangan-jangan ide tuan Saga menyatakan perasaannya di tv waktu itu, ide sekertaris Han. Apa dia di tolak ya, sampai membuatnya jadi menyebalkan begitu. Daniah berharap apa yang dia pikirkan benar adanya. Ntah kenapa kalau sampai benar laki-laki seperti sekertaris Han pernah ditolak, itu akan jadi aib seumur hidup yang bisa dipakai untuk menjatuhkan kesombongannya. ¡° Sepertinya nona akan senang sekali kalau sekertaris Han di tolak ya?¡± Leela bahkan tergelak sambil mengatakannya. ¡° Haha, bagaimana kau bisa membaca pikiranku leela. Tapi memang itu yang aku pikirkan si.¡± Daniah menutup mulutnya malu dengan ucapan jahatnya barusan. Kalau itu benar-benar terjadi Daniah sudah ingin memakainya sebagai senjata untuk mengendalikan sekertaris Han. ¡° Sayangnya tidak seperti itu nona.¡± Leela tertawa saat melihat raut kecewa Daniah yang tidak bisa ia sembunyikan. ¡°Saat itu putri konglomerat pemilik stasiun tvXX itulah yang melamar sekertaris Han di tv.¡± Apa! kenapa sampai putri konglomerat juga yang melamarnya si. Geram karena walaupun dengan wajah sedingin itu tetap saja dia sangat populer dikalangan wanita. ¡° Eh, jangan bilang dia mengacaukan acara itu dan menolak lamaran, dengan sifatnya yang.¡± Tiba-yiba muncul hipotesa yang terasa jauh lebih masuk akal. Ketimbang menerima, dengan wajaah itu yang ada pasti di tolak mentah-mentah. Aku tidak bisa membayangkan wajahnya. Bagaimana kalau sekertaris Han dengan tersenyum malu-malu lalu menerima lamaaran itu. Haha, itu mustahil. Yang ada dia menghancurkan semua kamera baru benar. ¡° Jangan dibayangkan nona.¡± Leela tahu apa yang sedang dipirkan Daniah sambil senyum-senyum itu. ¡° Mungkin yang anda pikirkan semuanya benar. sebenarnya dia tidak terlalu perduli dengan lamaran itu sendiri, tapi yang membuatnya marah adalah vidio narasi kehidupan pribadinya. Foto-fotonya melakukan kegiatan sehari-hari juga banyak beredar. Reporter stasiun tv XX membuntutinya selama hampir satu minggu. Dia mendapatkan vidio dan gambar-gambar kehidupan pribadi sekertaris Han. Nona masih bisa melihatnya di internet potongan-potongan vidionya. Sudah di hapus dari chanel resmi memang. Tapi tentu saja tidak bisa dihapus dari postingan-postingan orang¡± ¡° Bagaimana dia bisa tidak tahu kalau dia dibuntuti.¡± Daniah meletakan sendoknya, bicara dengan serius. ¡°Dia bahkan tahu apa yang cuma aku pikirkan.¡± Protes pada dirinya sendiri. Diakan tahu segalnya, kenapa tidak tahu kalau dibuntuti. ¡° Ntahlah, mungkin reporter itu yang terlalu hebat, atau memang sekertaris han yang mengendurkan kewaspadaannya. Diakan memang selalu waspada dengan sempurna jika berhubungan dengan tuan muda saja. ¡° Daniah mengambil hp yang di sodorkan Leela. Melihat Potongan vidio acara love story yang pernah tanyang di stasiun tv dan beberapa foto. Ya Tuhan, bahkan ada foto dia di gym sedang olahraga. Gila, gila, reporter ini luar biasa sekali. Ternyata laki-laki ini hidup juga ya setelah mengantar tuan Saga. Kupikir dia akan pulang lalu tidur di peti misalnya, dan siuman esok hari untuk kembali bekerja. Ternyata dia juga manusia. ¡° Tunggu, apa dia masih hidup?¡± Daniah masih memperhatikan foto-foto yang lainnya. Hebat sekali si dia, bahkan sekertaris Han tidak tahu. Aku ingin bertemu dengannya dan berguru padanya untuk bisa mengelabui sekertaris Han. ¡° Siapa nona?¡± Leela mengambil hp yang di sodorkan Daniah. lalu melihat apa yang sedang dilihat nonanya. Lha, diakan sekertaris Han. ya, diakan memang masih hidup. ¡° reporter yang berhasil mengambil vidio dan foto-foto sekertaris Han. Apa dia masih hidup?¡± Reporter ya, sepertinya dia hilang ditelan bumi setelah itu. Leela bahkan tidak penasaran atau ingin tahu. Dia sudah membuat orang seperti sekertaris Han marah, tidak tahu apa yang terjadi padanya. ¡° Ntahlah, tidak ada yang tahu nona. Acara tv itu langsung di hentikan, reporter itu mungkin saja di pecat atau mendekam dipenjara karena tuntutan sekertaris Han. Saya tidak tahu nona.¡± ¡° Aku tidak bisa membayangkan nasibnya sekarang.¡± Daniah menjawab apa yang juga dipikirkan leela. Tapi, aku benar-benar ingin bertemu dengannya. Aku ingin seberani itu. membayangkan saja sepertinya dia keren sekali. Apa dia seumuranku atau Raksa ya. Ahh, semoga dia baik-baik saja. Dipikiran Daniah reporter yang berhasil menantang sekertaris Han adalah laki-laki keren yang mungkin juga tampan. Bersambung Chapter 151 Jangan terbebani Daniah sudah selesai mandi, dia tidur-tiduran di sofa sambil menyalakan tv. Tapi tetap, matanya hanya melihat layar hpnya. Tidak ada pesan pembeeritahuan kapan tuan Saga akan kembali, membuatnya hanya berdiam diri di kamar. Sesore ini dia benar-benar dibuat sangat sibuk. Mengacak-acak mesin pencarian. Mencari potongan-potongan vidio acara love story. Kenapa aku baru tahu sekarang si, ada kejadian beginian. Wahai reporter pemberani siapakah dirimu, ayo berteman denganku. Daniah menatap hpnya terperanjak. Pangilan dari Raksa. Aaaa, Raksa, kangen! ¡° Jadi kamu bilang begitu ke Jen? Bilang kalau kamu mengangapnya adik.¡± Rasanya Daniah bisa ikut merasakan bagaimana situasi jen. Frustasinya Jen. Apalagi harus berhadapan dengan Raksa setiap hari. ¡° Apa jen juga setuju kamu bersikap begitu?¡± Tidak mungkinkan, yang ada dia bakal menangis dan mengigit jarinya pedih. Aneh-aneh aja si, kenapa pakai main adik-adikan segala. ¡° Dia gak keberatan, dia memang adik ipar kak Niah yang baik ya. Senang rasanya sekarang semua orang memperlakukan kak Niah dengan baik. Kapan-kapan kita bertemu ya, aku kangen kak Niah. Mau traktir kak Niah. Hehe, sekarang akukan sudah punya gaji sendiri.¡± Aduhhhh, polosnya adikku, menurun dari siapa si sifatmu itu. ¡° Raksa semakin keren pastinya sekarang ya. Nanti aku kabari ya, harus minta izin yang mulia dulu.¡± Tertawa. ¡° sudah traktir ayah dan ibumu juga?¡± mendengarkan Raksa bercerita. Kalau dia memilih memberikan uang tunai pada ibunya dan sebuah sepatu untuk ayah. ¡° Risya?¡± ¡° Dia memintaku membelikan tas yang harganya tiga kali lipat gajiku. Pakai acara ngambek kalau tidak kubelikan. Ah, dia sama sekali belum berubah kak. Apalagi sekarang, karena filmnya lumayan booming jadi tambah gila dalam penampilan.¡± Mengerutu. ¡° Untung aku gak pernah cerita kalau kak Risya itu kakak perempuanku, kalau tidak teman-teman kampusku bakalan heboh.¡± Daniah paham, dia kerap melihat beberapa kali artikel Risya di berita online, kemampuan aktingnya cukup diperhitungkan selain karena wajah cantiknya. Dan yang pasti di samping itu gemerlap penampilannya pun akan semakin sejalan dengan popularitasnya. ¡° Jadi kamu belikan?¡± ¡° Aku belikan dengan mencicil lima kali kak!¡± merengek. ¡°Kurang ajar dia memang, kalau bukan kakakku, malas aku melihat wajah sombongnya tiap kali dia pamer kalau habis diwawancara media.¡± Dulu Risyapun sudah seperti itu, apalagi sekarang. Daniah bahkan akan berfikir aneh kalau sampai gadis itu berubah. Saat Daniah dan Raksa masih terlibat pembicaraan tiba-tiba pintu kamar terbuka. Jen sudah muncul memasang wajah dramatis seperti biasanya. Membuat Daniah terkejut. ¡° Sudah ya Dek.¡± ¡° Tuan Saga sudah pulang?¡± tanyanya terkejut. ¡° Bukan, jen yang datang.¡± ¡° Jen, baiklah. Salam sama dia ya kak.¡± Aaaaa, gak mau. Memang aku mau bilang apa sama dia. Salam dari Raksa yang menggangapmu kakak. Yang ada dia malah nangis. Daniah hanya menjawab dengan hemmm, lalu menutup telfon. Membiarkan Jen yang sudah duduk di sebelahnya memeluknya. Sementara dia meletakan hpnya. ¡° Kak Saga ya?¡± Tanya Jen melirik hp di meja. ¡° Bukan, Raksa.¡± ¡° Aaaa, kakak ipar dia bilang apa!¡± mulai memeluk Daniah sambil menguncang-guncang bahunya dramatis. ¡° Dia bilang kalau aku cuma dianggap adik!¡± berteriak seakan meminta pertanggungjawaban Daniah. ¡°Kakak ipar, kenapa dia polos banget begitu si, memang siapa yang mau jadi adiknya. Hiks, hiks.¡± ¡° Ia, ia sudah jangan menangis.¡± menepuk bahu jen lembut. ¡° Dia tidak mungkin mengangapmu kakak kan, jadi dia pasti pilih mengangapmu adik.¡± ¡° Kakak ipar!¡± Daniah masih tergelak sambil menepuk bahu Jen. Lalu Jen menceritakan semua kejadian di kantor, dengan dibumbui banyak dramatisasi di sana-sini. ¡°Aku penasaran, sekaligus tidak mau tahu. Tapi aku sungguh penasaran, seperti apa pacarnya Raksa. Apa dia semanis kakak ipar sampai aku tidak bisa mengalahkannya.¡± Bagaimana menjelaskannya ini, kalau perasaan cinta atau suka sudah milik hak paten orangnya si, mau kita bilang seseorang cantik belum tentu orang lain akan bilang begitu. Sebaliknya kalaupun kita bilang seseorang biasa saja, tapi ternyata dia bisa membuat pasangannya tergila-gila. Cukup lama jen mencurahkan semua isi hatinya, sampai pada rencana kedepan yang ingin dia lakukan. Senekadnya dia, dia mau menyatakan perasaannya. Walaupun tahu, bahwa hatinya sudah bertepuk sebelah tangan sekalipun. Karena terkadang, hati akan merasa puas jika isinya tersampaikan. apapun hasil pencapaian. Sekalipun Jen ditolak, bahkan kemungkinan besar akan begitu. Namun perasaannya akan jauh lebih lega, karena isi hatinya tersampaikan. ¡° Apa yang kau lakukan di sini jen?¡± Saga sudah berdiri di depan pintu. Sementara pak Mun ada di belakangnya seperti biasa. Saking serunya yang mereka bicarakan, tidak menyadari ada yang membuka pintu. ¡° Kak Saga.¡± Menegakan kepalanya dari dada kakak iparnya. ¡° Apa lagi sekarang.¡± Saga mengisyarakan agar pak Mun meninggalkannya, laki-laki itupun menganguk dan keluar. Menutup pintu pelan. ¡°Kau menangis lagi karena Raksa pada kakak iparmu?¡± berdecak sambil mengelengkang kepala. ¡° Kak Saga, Raksa bilang akan mengangapku seperti adiknya sendiri karena aku adik iparnya kakak ipar.¡± Mengadu, tujuannya supaya dibela dan dikasihani. ¡° Buahaha.¡± Saga malah tertawa terbahak mendengar perkataan Jen. Wajah Jen langsung cemberut. ¡° Kemarilah!¡± menyuruh adiknya mendekat kemudian. ¡° Kasihan sekali kamu Jen.¡± Jen menurut, meninggalkan Daniah dan mendekati Saga. Memeluk adiknya di bahunya. Lalu mengusap kepala Jen pelan. ¡° Berusahalah, dan tunjukan kalau kau gadis luar biasa. Raksa pasti bisa melihat ketulusanmu.¡± ¡° Kak Saga.¡± setelah memeluk Saga dia ingin kembali ke kursi lagi. ¡° Sekarang, keluarlah!¡± Aaaaaaa, pelit! Daniah melambaikan tangannya, ketika Jen dengan cemberut diusir dari ruangan. Daniah keluar dari ruang ganti baju setelah meletakan pakaian ganti Saga, dia sudah menganti baju tidurnya dengan warna biru muda. Saga sudah duduk di atas tempat tidur bersandar pada bantal. Dia sedang melihat hpnya. Daniah langsung beranjak naik, meraih bantal, memiringkan bantal dan tubuhnya. Menghadap ke Saga. Kalau aku ikut main hp gak papa kali ya, dia juga sedang serius dengan hpnya. Beberapa saat menunggu dan Saga masih terlihat membaca pesan-pesan di hpnya. Daniah sudah berbalik dan membuka laci meja. Tempatnya meletakan hpnya. ¡° Hei, taruh hpmu.¡± Baru saja Daniah menutup laci mejanya, sementara hp sudah ada ditangannya. Mendengar itu dengan cemberut dia mengembalikan lagi hp yang sudah ada ditangannya. ¡° Peluk aku sini.¡± Kata yang mulia lagi. ¡° Kenapa?¡± bertanya dengan heran. Jelas-jelas saat ini bahkan dia tidak mengalihkan pandangan dari hpnya. ¡° Mau peluk suamimu saja, kamu perlu alasan.¡± Masih memegang hp, dan matanya juga masih tertuju di sana. Tapi nada suaranya terdengar kesal. ¡° Bukan begitu sayang, kenapa tiba-tiba minta peluk? Lagian kamukan masih sibuk sama hp kamu.¡± serba salah sendiri. Tapi bisa menjelaskan dengan runut ¡° Kau saja memeluk Jen seharian tadi.¡± alasan apa itu yang di sampaikan Saga. dengan intonasi cemburu. Apa! siapa yang memeluk jen seharian! Saga mendongak dari hpnya, membuat Daniah langsung mengeser tubuhnya mendekat. Daripada panjang urusannya, lebih baik menurut. Menyilangkan tangannya dikaki suaminya. sementara Saga belum berhenti dengan hpnya. Ntah apa yang sedang diperiksanya. Puas yang mulia? Saat Daniah memindahkan tangannya, Turun dari kaki suaminya. Saga langsung mengembalikan keposisinya semula. Walaupun matanya masih melihat layar hp. Cih Selang beberapa waktu sudah terdengar dia memasukan hp ke dalam laci. Sebelum Daniah tersadar Saga sudah menjatuhkan tubuhnya mensejajarinya. Sekarang mereka saling berhadapan. Kenapa aku masih deg degkan setengah mati kalau dia mulai menatap dengan pandangan begitu si. Dasar hati selembek selimut. ¡° Kemarilah, biar aku memeluku. Aku ingin mencium aroma tubuhmu.¡± Menarik ujung rambut Daniah, lalu menciuminya. ¡° Sayang.¡± Malu yang ada, tapi tubuhnya mendekat. Refleks menginginkan juga. Dan Saga benar-benar melakukan apa yang dia katakan. Dia mencium setiap lekuk leher Daniah. Merasai aroma tubuh istrinya. ¡° Niah.¡± pelan membisikan nama itu. ¡° Eh ia.¡± Daniah langsung berdebar, kalau Saga tiba-tiba memanggilnya dengan nama itu. Jantungnya masih berdegub sangat kencang. Dasar hati! ¡° Apa kau cemas dengan hasil pemeriksaan kesehatanmu?¡± Apa! leela tidak mengadukan? ¡° Aku sudah mendengar dari Harun tadi, semua hasil pemeriksaanmu. Dia bilang, kau cemas dengan hasilnya. Kenapa?¡± Saga membenamkan wajah istrinya dalam dadanya. membelai rambut bergelombang itu dengan jemarinya. Dia melakukannya berulang. " Rambutmu masih jelek juga ya?" " aaaaaa, apa si!" Menghancurkan suasana syahdu yang tercipta tadi. "Jangan pegang-pegang kalau begitu." " Kenapa? aku suka rambut jelekmu ini," tertawa, sambil kembali asik bermain dengan rambut Daniah. menciuminya lagi. " Katakan, apa yang kau cemaskan?" mengulang pertanyaan yang tadi belum dijawab. ¡° Tidak sayang, aku hanya sedikit kuatir, apa pil yang pernah aku minum tidak akan berdampak apa-apa.¡± Kalaupun ada, kamu berhak marah dan menyalahkanku. Aku akan menerimanya. ¡° Kenapa cemaskan itu, dokter kan sudah mengatakan semua baik-baik saja.¡± Kata-kata yang keluar dari Saga yang sebelumnya tidak diprediksi Daniah. ¡° Ia sayang." Daniah belum seratus persen yakin dan merasa lega. masih saja dihantui perasaan bersalah. ¡° Niah.¡± ¡° Ia.¡± ¡° Kedepannya jangan pernah terbebani perihal anak. Aku tidak memaksamu untuk hamil sekarang ataupun nanti. Biarkan itu jadi rencana Tuhan untuk kita. Aku akan menerimanya kapanpun itu. Asalkan itu kau, yang menjadi ibu dari anak-anakku.¡± Sayang, kenapa kau baik sekali begini si. Bagaimana setiap hari aku tidak semakin mencintaimu dan serakah akan cintamu. " Aku minta satu hal darimu." " Apa?" Memang apa yang bisa kuberikan, kau bahkan sudah punya semua hal. " Tetaplah di sampingku seumur hidupmu." Aaaaa, tanpa perlu memintapun, aku akan melakukannya. " Sayang, bolehkah aku juga minta hal sama padamu. Jangan pernah pergi meninggalkanku." Maaf Tuhan kalau aku sudah terlalu serakah. Daniah memeluk suaminya erat. Terdengar Saga meraih laci, sekejap saja lampu kamar sudah padam. Hanya ada pendar cahaya dari lampu tidur di sudut ruangan. membuat nuansa temaran. Saga sudah menendang selimut sampai ujung tempat tidur. " Ayo fokus membuatnya, jangan pusingkan apapun hasilnya." berbisik ditelinga Daniah pelan. Aaaaaa Bersambung Chapter 152 Siapa Aran? Di sebuah kontrakan sempit yang di sewa dengan biaya cukup terjangkau kalangan menengah kebawah. Bangunan sedikit kumuh yang bercampur dengan kawasan padat penduduk. Ada banyak kontrakan sejenis yang menawarkan harga murah dengan fasilitas alakadarnya di sekitarnya. Becek sedikit jika hujan turun. Bukan sebuah hunian yang akan menjadi pilihan, jika kalian memiliki uang lebih di ibukota. Namun, tempat-tempat ini menjadi penyelamat para pekerja dengan gaji dibawah rata-rata. Dan kontrakan sempit inilah tempat gadis itu bernaung, menyembunyikan diri dari dunia yang sudah lama meninggalkannya. Sudah dua hari lewat dari pertemuannya dengan harimau gila itu. Aran sama sekali tidak bergerak dari kamar kosnya. Dia delevery makanan beberapa kali. Sebagai upayanya menyembunyikan diri. Tapi hp di atas meja , tidak bergetar selama dua hari ini. Tidak ada pesan masuk atau panggilan telfon. Dia kerap memeriksanya. Bahkan mungkin selama dua hari ini pekerjaannya adalah memeriksa hp. ¡° Aku pasti sudah gila! Kenapa aku kecewa dia tidak menghubungiku.¡± Depresi ¡° Aku tahu, dia tidak mungkin menghubungiku. Dia hanya mengintimidasiku kemarin.¡± kembali berusaha memperoleh kesadaran diri. Aran menjatuhkan diri ke atas tempat tidur, bergulingan di bawah selimut tipisnya. Mengulingkan tubuh sampai membentur dinding pembatas. Dia bahkan tidak punya ruang untuk sekedar berguling-guling di atas tempat tidur. Kepalanya muncul dari balik selimut. Dengan rambut terburai kesana kemari. Tapi kenapa aku sama sekali tidak menuliss! Di depan laptopnya yang menyala dia hanya mematung. Seluruh ide di kepalanya buntu. Selama dua hari ini dia hanya bolak-balik memandang hpnya. Membuka kotak pesan, melihat daftar pangilan. Seperti pelamar kerja yang sedang menunggu panggilan wawancara. Dia benar-benar mendedikasikan waktu untuk menunggu sesuatu yang tidak pasti. Seharusnya aku menulis. Aku tahu dia hanya mengerjaiku. Laki pula sudah gila ya, memang apa yang dia inginkan dariku. Dia bahkan punya ratusan karyawan yang bisa melakukan apapun yang dia inginkan. Lantas apa artinya serpihan daun sepertiku ini. ¡° Bangun Arandita!¡± berteriak sendiri memenuhi kamar kosnya dengan teriakannya. Ntah kenapa Aran mengerutu. Seharusnya dia senang sekertaris Han tidak menghubunginya. Walaupun jujur dibagian hatinya yang lain dia merasa kecewa. Dengan perasaan engan dia bangun dari atas tempat tidur. Menyeret kakinyanya menuju karpet dimana meja kecil dan laptopnya yang sudah dua hari ini tidak dia sentuh. Pendar cahaya laptop membias ke wajahnya. Mengerakan mouse untuk membuka kertas lembaran putih. Dia harus menulis sekarang. Jadwal update dua novelnya sudah ada di depan mata. Krik, krik sudah setengah jam dia meletakkan tangannya di keyboar laptopnya. Tapi kepalanya benar-benar tidak bisa diajak berfikir. Aaaaaaa, kenapa aku ini. Akhirnya Aran memilih bersandar di tempat tidurnya. Menjatuhkan kepalanya. Menatap langit-langit kamar sempitnya. Adegan masa lalunya menari-nari di pikirannya, terbiaskan di langit kamar. Dulu, saat ia masih menjadi reporter di stasiun tv ternama milik konglomerat negri ini. Stasiun TV XX yang berhasil mendapatkan wawancara khusus dengan presdir Antarna Group saat dia menyatakan perasaannya pada istrinya. Kejadian itu sudah sangat lama, namun tidak akan pernah terlupakan dari ingatannya. Karena keserakahannya dan kenekatannya. Membuat Aran harus kehilangan semuanya. Siang itu putri pemilik stasiun tv tempatnya bekerja mendatanginya di ruangannya. Wanita cantik yang juga telah menyelesaikan studi bergensinya di luar negri. Dia sudah memiliki brand kosmetik yang sangat populer di negara ini. Cantik, pintar, kaya raya dan dari keluarga terpandang. Dia punya semua modal untuk jadi bunga di kalangan atas pergaulannya. Tapi, kenapa gadis sesempurna dia harus jatuh cinta pada orang yang salah. ¡° Nona, anda tahukan ada aturan yang tidak tertulis di dunia media negara ini. Bahwa Antarna Group adalah perusahaan yang tidak bisa di sentuh secara pribadi.¡± Ada garis yang tidak bisa ditembus media dalam memberitakan Antarna Group. Yaitu mengenai kehidupan pribadi pemiliknya, yaitu Saga Rahardian Wijaya. Sudah seperti aturan tidak tertulis, jangan menggangunya, kalau kalian mau hidup damai. Begitulah adanya. Perusahaan sekala nasional yang ada di semua lini kehidupan. Loyalitas para karyawan yang sudah tidak perlu dipertanyakan. Membuat media selalu menaati batas tidak tertulis itu. ¡° Bukan tuan Saga. Diakan sudah punya pelukis Helena. Gadis sombong itu sudah seperti putri, memamerkan hubungannya dengan tuan Saga.¡± Mendengus sebal, membayangkan wajah pelukis Helena. Gadis paling beruntung di negri ini yang diperkenalkan kepada publik sebagai kekasih tuan Saga. ¡° Tapi memang itu layak untuk dipamerkan nona.¡± Aran membalas ringan. Siapa juga yang tidak akan pamer kalau punya pacar sehebat tuan Saga. Kalau dia bukan serpihan debu di dunia ini mungkin dia juga akan tidak tahu malu untuk ikut menyukai tuan Saga.¡± Tapi, Kalau bukan tuan Saga siapa lagi. Setau saya dia tidak punya adik yang diperkenalkan ke publik.¡± Walaupun Aran juga tidak tahu kalau dalam pergaulan kelas atas yang terbatas. Mungkin saja nona di hadapannya ini mengenal adik tuan Saga. ¡° Sekertarisnya.¡± Jawaban wanita di depan Aran seperti sambaran petir di telinga gadis itu. ¡° Apa nona sudah gila!¡± Aran berteriak keras, tidak perduli siapa wanita yang ada di depannya. Putri kesayangan pemilik tempat dia mengantungkan hidup. ¡°Nona tahu siapa dia? Walaupun dia juga sama-sama tampan, tapi seharusnya nona jangan pernah berhubungan dengannya.¡± Aran tahu siapa yang dimaksud nona dihadapannya. Laki-laki dingin yang selalu berada di belakang tuan Saga. Saat dia mengambil foto-foto resmi presdir Antarna Group, dia selalu melihat laki-laki itu. Dia bahkan selalu dalam frame foto yang sama dengan tuan Saga. ¡° Nona carilah laki-laki normal saja.¡± Wajah wanita di hadapan Aran tampak sangat muram. Dia tahu kalau sekertaris Han memang terlihat sangat dingin dari luar, tapi dia yakin kalau dia bisa menyentuhnya hati itu sebenarnya hangat. ¡° Tapi aku menyukainya, kami sudah beberapa kali bertemu di forum resmi. Semakin dilihat dia semakin mempesona.¡± Sudah gila ya! Aran memaki dalam hatinya. Sekertaris Han ibarat musuh para reporter. Dengan isyarat tangannya saja para reporter sudah tahu untuk menjaga jarak untuk sekedar mengambil foto. Dia tidak segan mengambil tindakan fisik jika dia merasa ada yang menggagu kenyamanan tuan Saga. Dan tidak pandang bulu. Dia bisa memukul laki-laki atau perempuan. Semua gender itu sama saja baginya. Penggangu kenyamanan tuan Saga. Harus dihilangkan. Dan Aran paham betul, dia harus menghindari orang seperti itu. Setampan apapun dia, aku tidak akan memilihnya untuk jatuh cinta.Memang aku punya nyawa berapa sampai mau berurusan dengannya. ¡° Aku akan memberimu uang sekian.¡± Nona muda itu menyebutkan nominal uang yang jumlahnya bisa mengugurkan pertahanannya. Glek, Aran menelan ludah demi mengulang nominal itu di kepalanya. Setengahnya saja bisa dia pakai untuk melunasi pinjaman pembelian rumah orangtuanya. Dan sisanya bisa dia pakai untuk dirinya sendiri. Jiwa serakahnya, naluri keingintahuannya, tantangan yang menaikan semangat. Berlomba memprovokasi. Aran dikenal sebagai reporter tangguh di stasiun TVXX. Kerjanya cepat dan juga profesional. Berani, walaupun terkadang keberaniannya dilandasi karena kekurangan uang. Untuk itulah nona muda itu mendatangi Aran. Nona muda itu tersenyum tipis. Dia mengenal Aran dengan baik. Reporter satu ini bisa bekerja diluar nalar manusia biasa jika dijanjikan uang. ¡° Nona maaf, saya tidak berani.¡± Sepertinya Aran belum kehilangan akal sehatnya. Cih, dia tidak terpancing. ¡° Aku yang akan bertanggungjawab semuanya. Kau tahukan ayahku sangat menyanyangiku.¡± Aran mengangukan kepalanya. ¡°kau cukup mengambil vidio sehari-hari, dan foto-foto. Setelahnya serahkan pada tim produksi, mereka yang akan mengatur semuanya.¡± Nona, kenapa anda gila begini si. Anda bahkan mau menyiarkannya di tv. Anda tidak tahu seberbahaya apa laki-laki itu. Julukannya saja harimau gila. Ya, itu julukan dariku si. ¡° Aku akan memberimu bonus dua kali lipat gajimu setelah semua selesai.¡± ¡° Nona.¡± Mulai tergoda saat kembali menghitung nominal yang akan di dapat. ¡° Aku yang akan menjaminmu. Percayalah, tidak akan terjadi apa-apa. Identitasmu akan dirahasiakan.¡± Semakin tergoda mendengarnya. Dan akhirnya Aran benar-benar melakukannya. Membuka lembaran ikatan mematikan dengan laki-laki yang dia juluki harimau gila. Seharusnya dia tidak boleh terlalu serakah. Karena ini adalah hal yang ia sesali sepanjang hidupnya. Bersambung Chapter 153 Membayar Kerugian Masih di kontrakan sempit. Masih menunggu tanpa kepastian. Beratnya menunggu yang tak pasti. Suara keras volume hp membuat Arandita bangun dari lamunan panjangnya mengenai sekertaris Han. Mengenai benang takdir yang ia ikat dengan tangannya sendiri. Dia segera bergerak cepat mengambil hpnya. ¡° Datang ke kafe XX jam 11 siang ini.¡± Hanya itu. Sesaat Aran membisu sambil menatap layar hp. Berfikir. ¡° Hei belum tentukan ini darinya. Bisa jadi ini hanya pesan spam nyasar.¡± Aran membawa hpnya kembali ke karpet. Kembali duduk bersandar. Dia melihat pesan dihpnya lagi. Jam 10 lewat limabelas pesan itu masuk. Satu pesan lagi masuk membuatnya terlonjak. Dia melemparkan hp ke atas tempat tidur. Lalu pergi menyambar handuk dan bergerak cepat ke kamar mandi. Tidak lupa keramas, malu mengingat kejadian yang lalu. ¡° Habis kau terlambat sedetik saja.¡± Bunyi pesan yang mengisyaratkan siapa pengirimnya. Hei, memang dia punya hak apa mengancamku begitu. Diakan bukan majikanku. Lagian memang aku salah apa. Tapi kenapa aku juga takut si. Aran sudah naik ojek online. Meminta driver segera menuju lokasi. Dia mengecek lagi hpnya. Melihat jam yang tertera. " Maaf kak bisa cepat, hidup dan mati saya tergantung ini." Berteriak kencang supaya di dengar si driver. Motor terus melaju. Rambut melambai kemana-mana. kering tertiup angin. Aran bahkan tidak mengikatnya karena tadi masih basah. Masih jam 11 kurang sepuluh menit, saat dia sudah masuk ke dalam kafe. Aran mengedarkan pandangannya berkeliling. Tidak ada yang dia cari. Seorang pelayan menghampirinya. ¡° Maaf, saya sudah ada janji dengan tuan Han. Apa dia sudah memesan tempat?¡± Bertanya sambil matanya masih berkeliling, dan kembali melihat layar hpnya. Memastikan belum jam 11 tepat. ¡° Silahkan nona ikuti saya.¡± Pelayan wanita itu mempersilahkan Aran mengikuti langkahnya. Hah! Apa dia sudah datang? Habislah aku. Aran berjalan dalam diam, matanya saja yang berkeliling, namun langkah kakinya mengikuti wanita yang berjalan di depannya. Sambil menahan nafas. Berhentilah dia di depan pintu. ¡° Silahkan nona, tuan Han sudah menunggu anda.¡± ¡° eh baik. Terimakasih.¡± Aran memasuki pintu. Dia sudah melihat. Sekertaris Han sudah duduk di dalam. Laki-laki itu melihat jam tangannya saat melihat Aran mendekat. ¡° Duduklah, kau masih punya waktu dua detik.¡± Apa! jadi dia benar-benar akan menghukumku kalau aku terlambat. Memang apa salahku? ¡° Kenapa tuan memanggil saya kemari?¡± yang ditanya diam tidak menjawab. Dia mengambil amplop coklat yang ada di depannya. Lalu dilemparkannya di depan Aran. Gadis itu binggung. Menebak apa yang ada di dalamnya. Sejauh ini dia tidak menduga apa-apa. Tunggu, apa itu dosa masalaluku kepadanya. Hei, kau tidak bisa memakainya untuk mengancamku. Kaukan sudah mengampuni dan melepaskanku dulu. ¡° Apa kau tidak punya kaca di rumah?¡± Han bicara sambil menatap Aran tanpa berkedip. Membuat yang di tatap langsung kehilangan 99 persen kepercayaan diri. ¡° Eh ia?¡± Kenapa dia tanya tentang kaca. Aran refleks membetulkan rambutnya. Dia tidak mengikat rambutnya karena tadi masih basah. Segera dia merapikan rambut dan menyelipkan di belakang telinga. Berfikir kalau kata-kata tentang kaca, karena penampilannya yang sekarang. Memalukan sekali. ¡° Bagaimana kau dengan tidak tahu malunya memakai nama dewi kecantikan sebagai nama penamu.¡± Seringai tipis ditangkap Aran sekilas dibibir Han. Gadis itu terperanjak saat mencerna kalimat ejekan itu. Apa! Aran meraih amplop yang ada di depannya dengan cepat. Tangannya mulai bergetar melihat lembar demi lembar kertas-kertas itu. Semua hal ada di sana. Bahkan sampai nama akun yang dia pakai untuk menerbitkan novel-novelnya. Sampai pada jumlah tagihan listrik, internet dan telfon yang dia pakai. Jumlah pinjaman uangnya di bank yang dia pakai untuk membeli rumah orangtuanya. Semua detail, sampai alamat dan nama orangtuanya. Dia menatap sekertaris Han. Perasaan takut menyelimuti seluruh tubuhnya saat ini. Namun dia berusaha tidak menunjukannya. Dia benar-benar berhasil menenangkan hatinya yang berdegup. Jangan sampai bibirmu bergetar begitu pikirnya. Hingga dia mencengkram ujung jarinya di bawah meja. Dia benar-benar harimau gila yang tidak akan melepaskan mangsanya. ¡° Memang apa salah saya sampai tuan memeriksa kehidupan pribadi saya sampai sejauh ini.¡± Berhasil, Aran bisa bicara dengan lancar. Tanpa menunjukan rasa takut. Nalurinya sebagai reporter dimasa lalu terpakai pada situasi semacam ini. Tapi, Aran salah. Han sudah membaca semua itu. Dia mengenal gadis di hadapannya dengan cukup baik, melalui informasi yang di dapatnya selama dua hari ini. Serangga penggangu yang dia lepaskan dulu. Karakter berani dan nekadnya menjadikan Han sedikit tertarik padanya. Kalau saja gadis lain, mungkin dia sudah menangis, lari, atau memohon. Tapi Aran berbeda, dimatanya yang tidak mengenal takut itu sepertinya bisa berguna pikir Han. ¡° Huh! Kesalahan. Baru beberapa hari lalu kau sudah lupa. Kau menabrakku di toko buku.¡± Apa! memang kau terluka! Geram karena kesal mendengar apa yang dikatakan sekertaris Han. Memang tanganmu patah karena aku menabrakmu. ¡° Tuankan tidak terluka. Bahkan tergorespun tidakkan.¡± Protes kecil. ¡° Tidak terluka." berdecak kesal " Kau tahu, karena kau menabrakku aku teringat kembali pristiwa menyebalkan itu. Bukankah sudah kubilang padamu untuk menghilang tanpa jejak. Jangan pernah muncul di hadapanku lagi. Menghilang dari bumi ini kalau perlu.¡± Apa kau menyuruhku mati! ¡° Maaf.¡± Mulai sadar tidak akan menang dengan argumen apapun yang diberikan. Mungkin saja dia bisa memakai senjata yang dia pakai dulu, hingga laki-laki ini melepaskannya. Bisa jadi kali ini berhasil juga pikirnya. ¡° Maafkan saya tuan, saya akan pergi dan menghilang dari kota ini.¡± ¡° Huh! Terlambat.¡± Han menjawab cepat. ¡° Apa! Kenapa?¡± Salahku apa lagi kali ini. ¡° Kau harus membayar kerugianku.¡± Apa! Gila ya! ¡° Berapa yang harus saya bayar tuan, untuk mengobati kerugian tuan.¡± Sok bertanya, walaupun dia tahu, dia tidak punya uang untuk bisa membayarnya. Dan dia bisa menebak, nominal yang akan di sebutkan laki-laki di depannya ini pasti tidak masuk akal. Han menyebutkan nominal uang yang jumlahnya sama dengan sepuluh kali lipat gajinya di stasiun TVXX dulu. ¡° Sudah gila ya!¡± Aran menutup mulutnya. ¡° Maaf tuan.¡± Dia mengambil kertas yang menumpuk di hadapannya. ¡°Tuan bahkan tahu berapa saldo rekening saya. Saya cuma rakyar miskin yang tidak punya apa-apa. Bagaimana saya bisa membayar uang sebanyaak itu.¡± Lihat, dia menyeringai lagi. Mau apa sebenarnya dia. ¡° Kalau begitu bayar dengan tubuhmu.¡± Wajah Han terlihat sangat senang mengatakannya. ¡° Apa!¡± Aran refleks menyentuh bajunya. Menatap benci pada laki-laki dihadapannya. Dia bahkan menarik kursinya mundur. Diakan bukan tipe laki-laki gila perempuan, kenapa dia mau tubuhku. ¡° Huh! Selain miskin, nekad, kau juga benar-benar tidak tahu diri ya. Beli kaca sebesar tubuhmu, biar kau bisa melihat wajahmu setiap hari. Kau sama sekali bukan seleraku.¡± Kesal sekaligus lega yang di rasakan Aran. ¡° Lalu maksud tuan apa dengan tubuh saya.¡± Nada protes dalam kata-katanya, kenapa mengucapkan kalimat yang bisa membuat orang salah paham. Walaupun tidak cantik, akukan tetap perempuan. ¡° Bekerja padaku. Gunakan tubuh dan tenagamu untuk membayar kerugianku.¡± Kenapa Han tertarik pada Aran sejauh ini karena resume yang dia terima setelah menyelidiki masa lalu gadis itu. Sebagai reporter pekerja keras dan nekad. Dia juga punya ban hitam ilmu beladiri populer di negara ini. Dan yang utama, dia tidak pernah menunjukan rasa takutnya. Bekerja padanya? Sebagai karyawan antarna Group. Tidak, tidak mungkin dia sebaik itu. ¡° Apa sebagai karyawan Antarna Group?¡± bertanya juga, berharap dalam hati kalau memang begitu adanya. dia akan punya status. ¡° Lagi-lagi kau tidak tahu malu ya.¡± kata-kata yang langsung menyadarkan Aran siapa laki-laki di hadapannya. Lihatkan, tidak mungkin kau sebaik itu. ¡° Pekerjaanmu hanya melakukan apa yang diperintahkan padamu.¡± ¡° Apa tuan mau saya jadi pelayan?¡± Budak lebih tepatnya. Aran menyeringai dalam hatiya. ¡° Iya.¡± Han menjawab santai dan jelas. Apa! jadi benarkan. ¡° Aku akan memberimu pekerjaan yang sangat penting. Jangan kuatir, aku akan mengajimu dengan gaji tiga kali lipat dari yang kau dapat dari stasiun tv.¡± Glek, lagi-lagi Aran menelan ludah menghitung nominal uang yang bisa dia dapat. ¡° Tapi tentu saja, itu tidak gratis, kau harus membayarnya dengan nyawamu.¡± Sudah ku duga. ¡° Tuan tidak sedang menyuruh saya melakukan tindakaan kriminalkan?¡± Pertanyaan yang seharusnya tidak di tanyakaan. ¡° Memang kau pikir membutuntiku, mengambil vidio dan foto-fotoku diam-diam bukan tindakan kriminal.¡± Telak menjadi panah beracun yang menghujam tubuh Aran. ¡° Maaf.¡± Menundukan kepala dalam. Menyesal dengan pertanyaannya. Walaupun takut, tapi dia juga merasa penasaran dan tertantang. Lebih-lebih saat menghitung nominal uang yang bisa dia dapat setiap bulannya. Tunggu, jangan serakah. Kau hampir mati karena keserakahanmu Aran. Kau juga tidak tahu pekerjaan apa yang harus kau lakukan. Harimau gila ini bahkan sampai bawa-bawa nyawa segala. Ayo berfikir. Uang, uang malah itu yang berkelabat dipikiran Aran. Bayar pinjaman bank dan hidup dengan normal. keluar dari kontrakan sempitmu. Ia, ia aku tahu. tapi ini nyawa taruhanku. Nyawa! ¡° Bolehkah saya memikirkannya dulu tuan. Berikan saya waktu untuk berfikir.¡± Berfikir jernis selama beberapa hari. itu pasti cukup. Aran akan menimbang untung dan ruginya. Jelas-jelas dia akan untung jika melihat nominal uangnya. mungkin yang mematikan adalah kepada siapa dia bekerja. Tapi tunggu, dulupun lingkungan pekerjaannya tidak mudah. Tapi dia bisa setegar karang dan menjadi reporter yang diperhitungkan. Pasti sekarang kau juga bisa Aran. Begitu kata hatinya memberi semangat. Ayo pulang dan berfikir jernih. ¡° Baiklah.¡± Untunglah, dia cukup baik juga ternyata. Semoga kau aslinya orang baik tuan Han. Sekertaris Han melihat jam dipergelangan tangaannya. Aran berfikir mungkin dia sedang melihat tanggal atau hari kapan dia harus memutuskan. ¡° Aku beri kau waktu sepuluh menit, dari sekarang.¡± Apa! Gila ya! ¡° Tuan.¡± panik. ¡° Berfikirlah, waktu terus bergerak.¡± Aaaaaaa, dia memang harimau gila! Bersambung Sampai jumpa di update selanjutnya ^_^ Semoga kebaikan selalu hadir untuk kita semua..... Chapter 154 Bekerja Hening, ruangan privat ini terasa mencekam. Bahkan Aran bisa mendengar helaan nafasnya sendiri saat ini. Gelisah sampai ke ujung kukunya, ia menatap laki-laki di hadapannya. Dia benar-benar serius memberinya waktu sepuluh menit untuk berfikir. Aran menatap Han yang tidak bergeming sama sekali dalam duduk diamnya. Detik demi detik dengan cepat berputar. Tidak memberinya kesempatan sama sekali. Aran ini kesempatanmu, jawab saja ia. Begitu provokasi naluri kesadarannya yang ingin keluar dari lubang persembunyian sempitnya. Kontrakan sempit yang menjadi tempatnya melarikan diri selama ini dari kenyataan hidup. Tempat yang segera ingin ia tingalkan. Peluang yang ada di depan mata, kau mau lewatkan karena takut! Kau tahukan, tidak akan ada kesempatan kedua? Seharusnya Aran tahu, dia harus menjawab apa. Hei diamlah. Sedikit tersadar kembali. Dia sekertaris Han, harimau gila yang hampir mencekikmu dulu. Aran menyentuh lehernya sendiri. Dia mengampunimu dan sekarang dia yang menawarkan pekerjaan ini. pikirkan itu? bukan kau yang mendatanginya untuk mengemis. Tapi dia memintamu! Walaupun Aran tahu, cara sekertaris Han memberinya penawaran seperti tidak memberinya pilihan. Dia harus menganggukan kepala. Sama halnya dulu, saat laki-laki itu melepaskannya, dengan syarat dia harus menghilang selamanya. ¡° Kau masih punya lima menit!¡± Han melihat jam tangannya lalu bicara datar. Dia tahu, kesempatan yang ia tawarkan adalah peluang emas yang tidak mungkin bisa ditolak. ¡° Tuan, beri saya waktu sehari untuk berfikir.¡± ¡° Dua menit lagi.¡± Tidak perduli dengan yang diucapkan Aran. Walaupun gadis itu sudah memakai kalimat memohon dengan mimik wajah dibuat-buat. ¡° Baik!¡± berteriak cepat. Persetan dengan semua ketakutan itu, pikir Aran. Hidupnya saat ini sudah menyedihkan, dan itu sama sekali tidak membuatnya senang. Lari dari kehidupan yang dulu dia jalani, bersembunyi dari dunia yang sudah mengkhianatinya. Dia bahkan harus menjauhi keluarganya karena tidak mau mereka terlibat. Dia sudah muak dengan semua itu. ¡° Tapi saya punya satu syarat.¡± Diucapkan dengan berani. Walaupun tersimpan sejuta keraguan, laki-laki di depannya ini akan meloloskan syarat yang ia berikan. Wajah dingin sekertaris Han terlihat sinis. ¡°Kau pikir kau siapa? Beraninya mengajukan syarat padaku.¡± Aaaaa, benar sekali. Apa posisiku sampai berani mengajukan syarat. Tapi Arandita bukan gadis bodoh, dia bisa berfikir kalau laki-laki di hadapannya ini memberinya penawaran. Artinya Han melihat dirinya punya kemampuan untuk pekerjaan apapun yang dia tawarkan. Sehingga dia benar-benar memberanikan diri untuk mengajukan satu syarat untuk melindungi dirinya sendiri. ¡° Hanya satu syarat tuan.¡± Bicara setegas yang ia bisa. " Satu saja." ¡° Cih, kau tahu berapa banyak orang yang bermimpi mendapatkan kesempatan ini.¡± Aran jangan jual mahal, memohonlah sekarang! Mendengar perkataan Han, sudah membuat Aran ingin memutar haluan. Berhenti sok jual mahal. Karena jelas-jelas dia sudah tergiur dengan tawaran. Tapi tidak, dia harus melindungi dirinya semampunya. ¡° Saya akan melakukan pekerjaan saya dengan baik.¡± Sekali lagi memberi penawaran. Dia selalu bekerja dengan profesional. Mengesampingkan dirinya jika dalam hal pekerjaan. Aran tahu, dalam riwayat hidupnya, sekertaris Han pasti sudah melihat bagaimana kinerjanya selama ini. Tunggu, aku tidak akan jadi mata-mata atau apakan? ¡° Sepertinya kau benar-benar tidak tahu posisimu ya.¡± Han mendesah kesal. ¡° Sampai kapan kau mau bersembunyi di balik nama dewi kecantikan itu.¡± Seringai tipis muncul, menghina. Seperti berkata, tidak tau malu dengan wajah seperti itu, bagaimana kau bisa memakai nama dewi kecantikan. ¡°Apa kau mau hidup seperti ini sampai mati? Kalau maumu begitu, baiklah.¡± Menatap tajam dengan serius. ¡° Menghilang dari hadapanku! Jangan pernah aku melihatmu lagi. Ini kesempatan terakhirmu.¡± Arandita mulai panik. Lembaran-lembaran uang mulai terbang menjauh. Senyum keluarganyapun ikut pergi menjauh. Wajah-wajah yang sekian lama ia rindukan. Sekali lagi yang belum kembali sudah berlarian pergi. Yang tampak di depannya tersisa kontrakan sempitnya. ¡° Saya akan melakukan semua perintah tuan dengan baik. Saya akan bekerja dengan baik sesuai dengan apa yang diperintahkan kepada saya.¡± Aran mengebrak meja di depannya. Berdiri, bicara dengan semangat dan teriakan yang memenuhi ruangan. Sudah kehilangan harga diri. Aku tahu, aku tidak mungkin menang darinya. Jelas-jelas aku yang paling diuntungkan dengan pekerjaan ini. ¡° Katakan apa syarat yang kau inginkan?¡± Han tersenyum tipis nyaris tidak terlihat saat melihat jawaban semangat Arandita. Eh, kenapa dia bertanya. ¡° Apa tuan akan mengabulkan?¡± Bertanya dengan wajah antusias. Sepertinya masih punya harapan pikirnya. ¡° Tidak!¡± Jawaban yang membuat orang mendengarnya bisa naik pitam. Diucapkan dengan datar tanpa merubah mimik wajah sekalipun. ¡° Lantas kenapa bertanya?¡± gumam-gumam kecil sambil menundukan kepala. Terkejut saat ia mengangkat kepala dan melihat Han menatapnya lekat. Meminta jawaban. ¡° Syarat saya cuma satu tuan.¡± Mengatakan dengan cepat karena pandangan itu mengirisnya, dia memalingkan wajah. ¡° Jangan memukul saya.¡± Han tergelak mendengar syarat yang diucapkan Arandita. ¡° Berani sekali kau ya, mengatur caraku bekerja.¡± Han menatap tajam gadis di hadapannya. Dia tertunduk, namun tidak menunjukan rasa takutnya. Sekali lagi, ini yang membuatnya tertarik pada Arandita. Walaupun dia mendengar ketukan kaki gadis itu di bawah meja. ¡°Kau tahu, aku tidak memaafkan kesalahan sekecil apapun jika berhubungan dengan tuan muda.¡± Aku tahu! Untuk itu aku meminta syarat itu. Apa! jadi pekerjaan ini berhubungan dengan tuan Saga. Ada perasaan antusias yang semakin mengebu muncul. Tuan Saga adalah magnet yang membuat semua orang selalu tertarik dalam hal sekecil apapun tentangnya. ¡° Saya akan menuruti tuan dan tidak akan melakukan kesalahan.¡± Berkata dengan suara tegas. Jadi kumohon, turuti syaratku tuan. ¡° Kalau kau sepercaya diri itu, kenapa takut.¡± Benar juga, kalau aku tidak membuat kesalahan, kenapa aku harus takut dia memukulku. Tapi tidak Aran, diakan harimau gila. Standar kesalahannya berbeda dengan bosmu di stasiun TVXX. Jadi kau harus melindungi dirimu. Aran masih diam membisu. Sepertinya tidak mungkin tuan Han mau menerima syarat itu. Dan dia ingin dengan penuh kesombongan berdiri, lalu berkata. ¡° Kalau tuan tidak mau menerima syarat itu, maka saya tidak akan menerima pekerjaan dari tuan.¡± Cih, kalau dia jawab, kalau begitu nyahlah dari muka bumi ini. Aku harus bagaimana? Rasanya saat ini Aran ingin memohon saja, tapi harga dirinya menariknya untuk hanya diam membisu. Menunggu laki-laki di depannya berfikir. ¡° Kau mau ambil pekerjaan ini atau sok jual mahal lagi?¡± Sial, dia tahu aku sedang bimbang. ¡° Kalau saya melakukan kesalahan tuan bisa memotong gaji saya saja.¡± Menemukan satu alternatif hukuman. Yang di rasa jauh lebih baik. ¡° Tapi saya berjanji tidak akan melakukan kesalahan apapun.¡± ¡° Huh! Sudah kukatakan kalau kau sepercaya diri itu, kenapa takut.¡± Kenapa dia memakai kata-kata itu lagi si. Sudah kalah. Arandita butuh uang. Pekerjaan apapun yang dijanjikan Han jauh lebih baik daripada yang ia jalani sekarang. Dan ia tidak punya pilihan, selain sekali lagi menjalin ikatan mematikan dengan laki-laki di hadapannya ini. Dan sekali lagi, dialah yang membuat benang ikatan takdir itu. ¡° Kau terima atau tidak? Satu, dua...¡± Menghitung tiba-tiba. ¡° Ia saya terima.¡± Sebelum Han menyelesaikan hitungan ketiganya. ¡° Saya terima pekerjaan dari tuan.¡± Aran tahu, gaya sok-sokan jual mahalnya tidak akan mempan. Dia itu sekertaris Han, dan dia tahu bagimana sifatnya. ¡° Baiklah, aku terima syaratmu.¡± Ucapan Han selanjutnya membuatnya terbelalak. senang, sekaligus ngeri. Merasa kalau tidak mungkin itu dilakukannya tanpa syarat. Pasti ada hal yang harus dia bayar dengan sangat mahal. Apa! apa-apan dia, kenapa tadi dia berdebat kalau pada akhirnya dia menerima syaratku. ¡° Aku bisa memotong semua gajimu kalau sampai kau membuat kesalahan.¡± Apa! semua? ¡° Kenapa? Kau mau membatalkan syaratmu?¡± Bertanya saat mata Aran terbelalak karena sangat terkejut. Dia menyeringai penuh kemenangan lagi. Aku tahu, aku tidak akan menang darinya. ¡° Tidak tuan, terimakasih sudah menerima syarat saya. Kedepannya saya kan bekerja dengan baik.¡± Pasrah. Syaratnya disetuju itu sudah jauh lebih penting dari semua jaminan yang ada. ¡° Tentu saja, karena kalau kau melakukan kesalahan kau tahu akibatnya kan.¡± Aaaaaa, kenapa aku mengatakan untuk memotong gajiku si. Itukan sama berharganya dengan nyawaku. Namun menjilat ludah sendiri juga tidak mungkin dia lakukan. Sudahlah, yang harus dia lakukan hanyalah jangan sampai membuat kesalahan itu yang terpenting. Dia bisa melindungi dirinya dari hukuman fisik itu sudahlah cukup. Sampai hari ini saja kenangan masa lalunya saat terakhir kali sekertaris Han melepaskannya masih seperti hantu mengejarnya sampai dalam mimpi. ¡° Sekarang ikut aku.¡± Han bangun dan meraih amplop coklat di atas meja yang tadi di sodorkan pada Arandita. ¡° Hah! Kemana tuan? Kita bahkan belum memesan apapun di sini.¡± Protes, dia bahkan belum makan apa-apa sedari pagi. ¡° Memang siapa yang mau memberimu makan.¡± Apa! lantas kenapa juga janjian di kafe, paling tidak belikan aku kopi kan bisa. Aku ingin menangis rasanya karena lapar. Bagaimana dia bisa mendapat area privat begini tanpa memesan apapun. Tunggu, tempat ini bukan miliknya kan? Sambil masih dipenuhi tanda tanya dia mengikuti langkah cepat Han. Bertemu dengan beberapa pelayan di luar kafe yang menundukan kepala sopan lalu mengantar mereka sampai keluar pintu. ¡° Tuan, kita mau kemana?¡± Aku lapar! ¡° Bekerja.¡± ¡° Apa! sekarang? Tuan, kumohon biarkan saya memesan kopi dan roti sebentar. Saya kelaparan ¡± Han tidak menjawab, dia masuk ke dalam mobil. Tapi dia belum menghidupkan mobilnya. " Terimakasih tuan!" " 10 menit, atau kau harus lari mengejar mobil ini." Cih, kenapa kau tidak ada baik-baiknya sedikitpun sih. Aran langsung berlari masuk kembali kedalam kafe, sambil melihat jam di hpnya. Bersambung Chapter 155 Bertemu dengan Saga (Part 1) Sudah di dalam mobil yang melaju. Aran menyodorkan kopi dan roti isi yang dia pesan dua paket tadi. Tapi sekertaris Han melirikpun tidak. Akhirnya dia menikmati semua makan itu. Dua porsi sekaligus tandas dalam sekejap. Han terlihat melirik sebentar, lalu mengalihkan pandangannya menatap jalanan. Bagaimana dia tidak tahu malu, makan sebanyak itu lagi. Yang seperti itu mengaku dewi kecantikan? mengemudi sambil mengelengkan kepalanya sendiri. Setelah meletakan semua sampah dalam plastik, Aran menghela nafas lega. Perutnya yang merinding keroncongan tadi sudah terisi penuh. Melihatnya sudah selesai makan sekertaris Han mulai bicara. Sepanjang perjalanan Aran terdiam mendengarkan, mencatat semua yang dibicarakan Han di kepalanya. Walaupun sebagian besar yang dikatakan Han dia sudah tahu. Sebagai reporter berita resmi, dia mengetahui banyak protokoler yang harus di taati ketika bertemu dengan pejabat penting, perusahaan besar, atau artis sekalipun. "Tutup mulutmu dan jangan bicara kalau tuan Saga tidak memintamu bicara. Jawab dengan jelas kalau dia bertanya. Dia yang akan menentukan apa kau layak menerima pekerjaan ini atau tidak. Jika tuan Saga menolak, kau juga tidak akan bisa bekerja." Cih, lantas kenapa sudah seperti aku diterima wawancara kerja saja tadi. " Kalau tuan muda menolakmu, kau bisa bekerja menjadi pesuruh. Aku akan mengirimu ke luar kota. Merangkak sekalipun kau tidak akan bisa keluar dari tempat terpencil itu." Apa! dia hanya sedang menakutikukan. " Aku serius!" Menjawab sorot tidak percaya di mata Aran. Aaaaa, jadi orang baik apa akan membunuhmu, kenapa bicara saja selalu setajam pisau begitu. Sekali lagi sekertaris Han mengingatkan bagaimana Aran harus bersikap di hadapan tuan Saga. Arandita sudah paham bagaimana protokoler berhadapan dengan tuan Saga. Dia sudah sering mengikuti berbagai acara resmi Antarna Group yang melibatkan presdirnya. Jadi standar baku yang harus dilakukan di hadapan tuan Saga dia sudah hafal diluar kepala. Tapi kenapa dia yang akan memutuskan sendiri, memang pekerjaanku apa si. Mata-mata? Atau menguntit istrinya? Hei tapi untuk apa? Penasaran, sekaligus nyali yang sedikit menciut. Bagaimanapun dia belum pernah berhadapan langsung atau bicara dengan presdir Antarna Group. Tapi ketakutannya bisa ia kubur, sekali lagi dia berusaha hanya melihat hal positif di depannya. Uang dan hidup yang lebih baik. Jauh lebih indah untuk dibayangkan, daripada pekerjaan yang menantinya. ¡° Tuan apa pekerjaan saya sebenarnya?¡± Akhirnya bertanya setelah sebelumnya melirik Han ragu-ragu. maju mundur dalam hati untuk bertanya. Han mengemudikan mobil dalam diam. ¡° Apa aku belum memberitahumu.¡± Jawabnya seenaknya, tidak menoleh sedikitpun. Apa! kau sengaja ya. Jelas-jelas penjelasan panjang lebarmu tadi hanya seputar protokoler berhadapan dengan tuan Saga, yang semuanya sudah ku hafal di luar kepala. ¡° Tuan sama sekali belum menjelaskan pekerjaan saya.¡± protes kecil yang tidak berarti. ¡° Kenapa kau tidak bertanya? bodoh! Sepertinya aku salah menilaimu ya. Kinerjamu sebagai reporter sok tahu sepertinya sudah mulai hilang.¡± Lagi-lagi setajam itu kata-katanya. Apa! akukan sudah bertanya di kafe tadi, cuma kau jawab dengan bawa-bawa mempertaruhkan nyawa. ¡° Maafkan saya tuan. Selama menjadi dewi kecantikan saya hanya menghabiskan waktu di kamar sempit saya, jadi sepertinya jiwa sok tahu saya sedikit memudar.¡± Menjawab dengan nada sedikit kesal. Membawa nama pena yang sedari tadi jadi bahan ejekan sekertaris Han.¡°Kalau tuan tidak keberatan apa tuan mau menjelaskan pekerjaan saya.¡± Ya, ya, aku tahu, seringaimu itu muncul saat kau senang kan? Aku akan menganti nama penaku nanti. Jadi gadis buruk rupa, biar kau puas. ¡° Kau akan bekerja menjaga nona muda kami.¡± ¡° Apa! maksudnya nona Daniah?¡± Sebuah nama yang sempat mengegerkan itu. Menjaga nona Daniah? Dari apa? dia bahkan tidak diperkenalkan ke publik untuk menjaga privacinya. Pertanyaan berseliweran di kepala Aran. Jangan-jangan sebenarnya dia orang populer di negara ini? ¡° Kau tidak terlalu ketinggalan informasi rupaya.¡± Han bicara lagi. ¡° Siapa yang tidak tahu nama itu tuan. Sejak tuan Saga mengatakannya ke publik siapa nama istri yang dicintainya. Apa tuan tahu, kalau nama Daniah menjadi nama no satu yang dipilih ibu hamil untuk memberi nama anak perempuan mereka.¡± Hah! Kau tidak tahu rupanya. Aran seperti menang telak satu permainan. Kemenangan yang dia klaim sendiri. ¡° Apa ide menyatakan perasaan tuan Saga di stasiun tv terinspirasi dari kejadian lamaran untuk tuan dulu.¡± Langsung menutup mulut dengan tangan. Terkejut dengan kata-katanya sendiri. ¡° Tutup mulutmu!¡± Tegas. Aku cari mati. ¡° Maaf tuan.¡± Arandita langsung bungkam setelah meminta maaf, dia tidak berani lagi membuka mulutnya bicara sepatah katapun. Diapun berfikir, kalau dirinya sudah gila. Bagaimana bisa dia mengungkit kejadian itu lagi. Sial, sial aku keceplosan. Dia tidak akan melempar ku keluar mobilkan. ¡° Kau mau aku mulai memotong gajimu, yang bahkan belum kau dapat.¡± Han membuka mulutnya ketika mobil masuk ke area parkir gedung Antarna Group. ¡° Tidak tuan, maafkan saya. Maafkan kelancangan saya.¡± Memohon, Han diam dan mengacuhkan. keluar dari mobil, sementara Arandita berlari di belakangnya. Mengutuki kebodohannya bicara. Lantai tertinggi gedung Antarna Group. Mimpi apa aku bisa sampai di lantai ini. Dengan pekerjaanku dulu saja mustahil aku bisa menginjakan kaki di lantai tertinggi ini. Aran mengedarkan pandangannya. Bersitatap dengan staff sekertaris yang langsung berdiri saat dia dan sekertaris Han sampai di depan ruangan. Ini pasti ruangan tuan Saga. Eh, kenapa aku ditinggal. Aran mematung di depan pintu, ketika dia mendapat isyarat untuk diam menunggu. Sementara Han masuk ke dalam ruangan. Dia tersenyum pada staff sekeeratis yang masih melihatnya dengan penuh tanda tanya. Aran ingin melangkah bertanya, tapi diurungkan niatnya. Tuan Han mau dia diam menunggu tadi. Jangan membuat kesalahan Aran, atau kau hanya akan kerja sukarela tanpa bayaran. Arandita hanya melihat kesibukan tiga staff sekertaris itu. Ada satu orang yang terlihat keluar masuk membawa berkas dari sebuah ruangan yang ntah ada di mana. Dia hanya terlihat memasuki lorong di ujung ruangan. Setelah dia duduk, dia memberi instruksi kepada dua orang yang ada di sampingnya.. Aran melihat semua hal itu, namun ntah kenapa kelebatan yang terngiang di kepalanya adalah slide kehidupan masa lalunya. Betapa senangnya aku, kalau aku tidak pernah terlibat dengan Tuan Han. Hari ini aku pasti sedang sibuk dengan tumpukan berita dan foto-foto. Arandita! Bagaimana kau bisa terjerumus dan hidup seperti ini. Rasa sesak yang tiba-tiba muncul, saat sesosok wajah muncul juga setelah bayangan tuan Han lenyap. Ya, nona muda putri dari pemilik stasiun TVXX yang dulu menjanjikan kerahasiaan namanya. Cih, memang seharusnya dia tidak mudah percaya kata-kata orang yang sedang dimabuk cinta. Saat dia meminta pertongan, wanita itu menjanjikan uang dengan nominal yang tidak terbayangkan. Kerahasiaan namanya, dan jaminan kalau tidak akan terjadi apa-apa padanya. Tapi nyatanya! Sial! Aran memaki lagi demi mengingat wajah nona cantik itu. Dia bahkan sekarang sudah menikah. Aku tidak dapat uang, kehilangan pekerjaan dan harus berurusan dengan orang seperti tuan Han. Kalau saja dalam hidup ini boleh balas dendam, rasanya aku ingin balas dendam. Menyiram segelas air saja sepertinya sudah cukup untuk membalasmu nona. Hiks, hiks, Aran menagis tanpa mengeluarjan suara dan airmata. Bagi rakyat jelata sepertinya itu tidak mungkin. Setelah dia ditendang secara tidak hormat dari stasiun tv jangankan bertemu dengan nona muda untuk menuntut haknya. Dia harus menghilang dan bersembunyi seperti bayangann masa lalu. Karena muncul dan menunjukan diri sama saja mencari mati. Aran sempoyongan karena tiba-tiba bahunya terdorong dengan kuat. Terjaga dari lamunan. Namun dia bisa mundur dengan cepat dan membuatnya tidak terjatuh. Kenapa dia kuat sekali, padahal hanya mendorong dengan jari. ¡° Kau tuli ya, kupanggil tidak menjawab?¡± Han sudah ada di hadapannya. Ntah sudah berapa lama dia tengelam dalam pikirannya. ¡° Masuk! Ingat, apa yang sudah kujelaskan di dalam mobil tadi.¡± Langsung membalikan badan dan membuka pintu. ¡° Baik tuan.¡± Aku sudah tahu! Aku hafal di luar kepala protokoler itu. Dibelakang Han, Aran mengutuki laki-laki dihadapannya dengan makian. Bersambung Chapter 156 Bertemu dengan Saga (Part 2) Akhirnya, setelah sekian lama menunggu. Dia masuk juga ke ruangan presdir Antarna Group. Dadanya berdebar bersemangat. Dia berdiri di belakang sekertaris Han. Menatap dengan antusias seseorang yang sedang duduk di sofa. Gila! Itu benar-benar tuan Saga. Presdir Antarna Group. Bahkan dalam kegiatan resmi saat dia menjadi reporter, dia hanya bisa berdiri dari jarak sekian meter untuk mengambil foto. Kalau dia menemukan posisi tepat sambil berebut dengan reporter lain itu saja sudah membuatnya senang. Saat ini, ia berada di jarak sedekat ini. Aran ingin sekali mengeluarkan kameranya dan mengabadikan momen penting ini. Ya, walaupun hanya sekedar mengambil gambar dengan kamera hp sekalipun. ¡° Dia Arandita, tuan bisa bertanya langsung padanya.¡± Saga memperhatikan penampilan wanita yang masuk bersama Han. Gadis ini di bawa Han dari luar Antarna Group. Membuatnya sangat penasaran. Apa yang membuat Han tertarik padanya. Posisi yang akan diberikan padanya sangat penting dalam kaca matanya. Han tidak mungkin memberikan kesempatan pada orang sembarangan. ¡° Mendekatkan!¡± Perintahnya sambil mengerakan tangannya. Aran terperanjak dari dunianya yang sedang mengagumi apapun yang ada di dekeliling Saga, lalu ia berjalan cepat beberapa langkah. Begitu pula dengan sekertaris Han, dia terlihat berjalan ke belakang Saga. Kenapa kau berdiri di sana? Biar lebih dramatis mengintimidasi dengan tatapanmu. Aran mengerutu dalam hati tahu maksud kepindahan sekertaris Han. ¡° Siapa kau?¡± Pertanyaan tidak jelas di sampaikan Saga seperti biasanya. Hah! Pertanyaan apa itu? Aku harus menjelaskan dari mana? ¡° Apa anda tidak mengenali saya tuan.¡± Akhirnya memilih menjawab dengan kepercayaan tinggi. Dia cukup populer karena kejadian itu. Walaupun kepopulerannya dalam hal negatif dan masuk daftar hitam Antarna Group. ¡° Memang siapa kau, sampai tuan muda harus mengingatmu.¡± Dari belakang tempat Han berdiri dia menjawab sinis dengan sorot mata mematikan itu. Jangan bicara yang tidak perlu, begitu isyaratnya. Tapi jawaban gadis yang berdiri di depannya dan reaksi Han malah membuat Saga tertarik. ¡° Memang siapa kau?¡± tanyanya lagi. ¡° Sampai aku harus mengingatmu?¡± Saga malas mengingat-ingat sesuatu yang tidak penting. ¡° Saya reporter stasiun TVXX tuan, yang dulu mendokumentasikan keseharian tuan Han untuk acara lamaran tuan Han di stasiun tv.¡± Menjawab dengan cepat dan lugas, sampai tidak sadar seseorang yang berdiri di belakang sedang mengeram kesal. Ingatan Saga sampai diwaktu itu, dan dia tergelak cukup keras, karena kejadian itu nyata terbayang di kepalanya. Sampai membuat Aran terperanjak. Gila! Ini pertama kalinya aku melihatnya live tertawa. Benar-benar tertawa. Tapi tunggu, kenapa dia tertawa? ¡° Hebat sekali kau ya. Semua anggota tubuhmu masih ada di tempatnya. Padahal kau sudah membuat Han sekesal itu. Aku pikir, kau pasti sudah kehilangan satu tangan atau kakimu.¡± Masih di susul tawa setelah mengatakannya. Membuat Aran mulai merasa takut. Tiba-tiba kaki Aran lunglai demi mendengar kata-kata Saga. Aku tahu, seharusnya aku tidak ada disini dan terlibat dengan tuan Han. ¡° Berkat kebaikan tuan Han saya masih sehat seperti ini. Terimakasih tuan atas belas kasih anda yang tidak terhingga.¡± Tidak berani menatap sekertaris Han di belakang Saga. Demi mengusir rasa takut yang tiba-tiba muncul kata-kata tersusun manis itu keluar. Ayo sanjung dan puji harimau itu. Diamnya dia saja sudah seperti mau menerkam begitu. ¡° Han.¡± ¡° Ia tuan muda.¡± Sekertaris Han mendekat. ¡° Aku ingin melihat data dirinya. Sepertinya cukup menarik juga.¡± Sebenarnya kenapa kau melepaskannya itulah yang paling menarik. Lebih-lebih kau yang membawanya sendiri ke hadapanku. Han mengambil sebuah amplop coklat di meja kerja Saga. Mengeluarkan lembaran kertas lalu menyerahkannya pada Saga. Arandita matanya tampak berbinar melihat pemandangan di depannya. Sikap patuh Han yang hanya ia tunjukan di hadapan tuan Saga. Adalah momen indah yang harus diabadikan. Apa aku boleh merekam ini? ¡° Kau boleh juga sepertinya.¡± Membalik lembaran kertas di tangannya. ¡° Aku tidak meragukan keahlianmu, kau bahkan bisa mengelabui Han.¡± Mengingat berapa banyak vidio dan foto yang bisa diambil tanpa sepengetahuan Han sudah menjadi nilai plus baginya. ¡° Terimakasih tuan.¡± Tanpa sadar tersenyum dengan bangga. Padahal itukan bukan hal yang perlu dibanggakan, lebih-lebih orang yang dia buntuti sedang menatapnya dengan sebal begitu. ¡° Han, dia membangakan keberhasilannya merekammu diam-diam. Apa kau tidak marah?¡± Apa yang anda lakukan tuan Saga? Jangan menyiram bensin dalam kobaran api. Dalam kehidupan sehari-hari ternyata kalian akrab begini ya. Semakin banyak hal yang membuat Arandita gemas, ingin mengambil hp dan mengabadikan momen-momen ini. Menunjukan pada dunia. Imej sesungguhnya presdir Antarna Group. Masih terlalu dini untuk terkejut nona penulis, kau saja belum bertemu dengan Daniah dan melihat interaksi mereka. Wkwkwk. ¡° Sejauh apa kau memakai ilmu beladirimu?¡± Saga bicara lagi tanpa mengalihkan pandangan dari kertas-kertas yang dipegangnya. Sepertinya dia sedang melihat daftar ilmu beladiri yang dikuasai Aran. ¡° Saya sudah sampai di level tertinggi tuan.¡± Bangga. Aran mendapatkan semua itu tidak dalam waktu sebentar. Jadi dia merasa pantas untuk membanggakan diri. Keahlian beladirinya memang diturunkan dari kakeknya yang mempunyai tempat pelatihan khusus. Tapi percayalah, dia bekerja keras untuk mendapatkan semua pencapaiannya sampai hari ini. Dulu dia bahkan sempat bercita-cita menjadi atlit bela diri, jika tidak jatuh cinta pada dunia berita. ¡° Apa kau bisa mematahkan tangan orang?¡± Apa! kenapa? Bukannya tadi tugasku menjaga nona muda. ¡° Aku tidak mau siapapun menyentuh tubuh istriku, apa kau bisa memastikan itu.¡± Apa! jadi aku harus mematahkkan tangan laki-laki yang menyentuh nona. Aku tahu, aku seharusnya tidak berada di sini. Sampai dititik ini, Aran mulai merasa dua laki-laki di hadapannya ini sama-sama gilanya. ¡° Saya belum pernah melakukannya tuan. Mematahkan tangan atau apapun itu namanya.¡± Merasa harus menjawab jujur, karena mulai dihantui keraguan. Sepertinya pilihan untuk menerima pekerjaan ini adalah salah. Pantas, dia menawariku gaji 3 kali lipat daripada di stasiun TVXX. ¡° Menurutmu kenapa Han merekomendasikanmu?¡± sebuah pertanyaan yang sulit untuk dijawab dengan pasti. Sebenarnya hanya Han yang tahu jawabannya. Saga hanya ingin mendengar versi gadis di depannya. Apa ada sesuatu yang aku lewatkan di masa lalu? ¡° Saya harus membalas kerugian tuan Han.¡± Menjawab jujur. melirik sekilas yang berdiri dibelakang. Tidak bergeming saat mendengar jawabannya. ¡° Kenapa?¡± Semakin antusias. Sepertinya benar-benar ada hal yang di lewatkan Saga saat tragedi lamaran Han di tv. ¡° Karena sudah menabrak tuan Han dan membangkitkan kenangan buruk tentang masa lalu.¡± Aran menjawab dengan polos, seperti mengadu. Lihat, alasan aneh dan dibuat-buat itu. ¡° aaa, lamaran di stasiun tv. Kau masih hidup saja sudah membuatku heran.¡± Benarkan, seharusnya aku tidak ada di sini. Cara berfikir mereka benar-benar bersinergi satu sama lain. ¡° Baiklah, satu tes terakhir. Ambil hp Han dan berikan padaku. Aku ingin melihat sehebat apa ilmu bela dirimu." Aran terlihat binggung. Apalagi saat menatap wajah yang tidak bergeming itu. Bagaimana ini? Yang ada tanganku patah.Lagipula, di mana dia menyimpan hpnya? ¡° Kuberi tahu satu rahasia.¡± Saga bicara pelan, seperti berbisik. Padahal jelas terdengar di seluruh ruangan. ¡° Ia tuan.¡± Berbinar bola mata Aran. ¡° Han biasanya menyimpan hp di saku jas bagian kiri.¡± Mata Aran langsung tertuju ke saku jas bagian kiri. ¡° Kau bisa menendang kakinya, lalu memutar tangannya. Kalau perlu dorong dia ke tembok. Ambil hpnya dan bawa padaku.¡± Hah! Sudah gila ya. Ide apa itu. Memang tenagaku bisa mendorongnya sampai ke tembok. Dan kenapa sepertinya tuan Saga bangga sekali dengan ide gila itu. ¡° Semoga berhasil.¡± Saga bangun dari duduk di sofa, berpindah ke meja kerjanya. Supaya pemandangan yang terlihat jauh lebih jelas. Dia terlihat senang sekali, apalagi saat melihat wajah Han yang sebal. Bagaimana ini, tendang kakinya, putar tangan lalu sudutkan dia ditembok. Memang dia ini bocah. Lihat tinggi badannya itu. Aran hanya bisa mengerutu, sambil menyusun strategi. Sementara sekertaris Han masih berdiri di tempatnya. Menunggu yang dilakukan Arandita selanjutnya. Ragu, Aran mendekat. menoleh sekilas pada Saga yang sudah duduk bersandar di kursi kerjanya. Dia menonton sambil makan! Matanya kembali tertuju pada Han. dengan langkah hati-hati dia maju mendekat. Mencoba merealisasikan ide gila yang diberikan tuan Saga. Walaupun jelas-jelas dia tidak punya keberanian. Menendang kaki, sudah gila ya, makinya dalam hati. Tidak mungkin dia berani melakukannya. Jarak mereka sudah terpaut hanya tiga langkah. Aran mematung. Han mengerakan tangannya, membuat Aran langsung waspada. Dia sampai mundur selangkah karena kaget. lebih terkejut saat Han mengeluarkan hp dari saku kirinya dan menyerahkannya dengan tangan kiri. " Ambil!" Apa! Dia serius? " Ambil!" Han mengoyangkan benda ditanganya, supaya gadis di depannya segera meraihnya. " Buahahaha." Sementara Saga terbahak di kursinya, semakin membuat Aran kebinggungan. "Sepertinya tidak ada alasan aku tidak menerimamu. Han sampai membiarkan orang lain menyentuh hpnya. Ambil!" Menunjuk hp di tangan Han, " Berikan padaku dan keluarlah!" Patuh mengikuti apa yang dikatakan tuan Saga. Dengan hati-hati mengambil hp di tangan sekertaris Han. Lalu menyerahkan dengan kedua tangannya pada Saga. Setelahnya tanpa berfikir ulang langsung mengambil langkah keluar dari ruangan. Di depan dia bersandar di meja staff sekertaris yang masih menatapnya dengan penuh tanda tanya. Sementara itu di dalam ruangan. " Haha, aku tahu. Kau tidak mungkin melepaskannya dulu tanpa alasan." menyerahkan hp ke tangan Han. "Duduklah!" Kau pasti melepaskannya karena sesuatu. " Saya tidak sengaja bertemu dengannya beberapa hari lalu tuan. Dan berhentilah berfikir yang tidak-tidak, saya melepaskannya dulu hanya karena saya tidak mengangapnya penting. Serangga penggangu yang sama sekali tidak penting." " Benarkah?" Tertawa tidak percaya. Kau tidak mungkin membawanya padaku untuk menjaga Daniah, kalau merasa dia hanya serangga penggangu. " Jangan menduga yang tidak-tidak tuan muda." " Terserah aku." Tidak mau kalah. " Ayolah Han, mengaku saja. Aku bisa melepaskanmu dari sumpah setiamu sekarang." Hah! tidak berhasil. Dia selalu terlihat kesal kalau aku menyuruhnya mulai mengurus hidupnya. " Aku bahagia bersama Daniah sekarang." Saga bicara dengan keyakinan penuh. " Saya yang akan memastikan itu sendiri tuan muda." Sekali lagi Han mengatakan kalau belum waktunya dia berfikir tentang dirinya sendiri. Arandita berdiri gelisah, bersandar di dinding. Menatap pintu ruangan presdir Antarna Group. Sepertinya aku benar-benar sudah salah langkah. Dua laki-laki itu sama-sama gila. Dan kalau aku terlibat dengan keduanya pasti aku yang gila. Aran memutuskan untuk mundur. Menutup mata dari panggilan lembaran uang yang bisa ia terima setiap bulannya. Pekerjaan apapun itu, menjaga nona muda. Bukan hal sepele yang bisa dia lakukan sambil melindungi dirinya dari sekertaris Han. Dia terperanjak saat pintu terbuka. Dia mengepalkan tangan meyakinkan diri. Nyawakukan jauh lebih berhargakan? Tuan Saga laki-laki sempurna yang selalu menuntut kesempurnaan. Bisa habis aku kalau salah sedikit saja. " Tuan Han, bisa kita bicara." Ragu. " Kenapa?" " Saya sepertinya tidak bisa melakukan pekerjaan ini. maaf!" berteriak keras sampai staff sekertaris langsung melirik. " Pekerjaan ini sepertinya tidak cocok untuk saya." " Apa kau sedang main-main denganku." Han mendorong tubuh Aran sampai membentur tembok. " Bukankah kau tahu, aku tidak pernah bercanda kalau berurusan dengan tuan muda." " Maaf tuan!" Habislah aku. " Saya takut tidak bisa melakukan dengan sempurna seperti yang tuan Saga katakan tadi." Han mencengkram kerah baju yang di pakai Arandita. " Tuan, tuan berjanji tidak akan memukul sayakan?" Mengingatkan syarat yang sudah di setujui Han. " Memukulmu. Siapa yang memukulmu? aku hanya menyudutkanmu ke tembok dan menarik kerah bajumu." Belum melepaskan tangannya. "Tuan muda sudah memilihmu." " Tapi ini juga termasuk kekerasan fisik." Berkilah, sambil berusaha melepaskan diri. " Kekerasan fisik. memang apa bunyi syarat yang kau minta tadi." Bertanya dengan tatapan licik. " Jangan memukul saya." Sial! seharusnya aku memakai kalimat tidak ada kekerasan fisik secara umum. Aaaaa, kenapa aku bodoh sekali! Aran kalah telak lagi. Saat melihat bibir Han kembali menyeringai kemenangan. " Ambil ini." Han menempelkan kartu di kening Aran. "Pergi beli semua kebutuhanmu. Ganti penampilanmu, jangan sampai nona muda kami merasa malu kau ada di sampingnya." Aran menatap kartu di tangannya. " Apa saya bisa membeli apa saja yang saya butuhkan?" Lupa sudah tujuan mau mengundurkan diri tadi. " Hemm." " Termasuk melunasi pinjaman keluarga saya di bank." Wahh, berani sekali kau menanyakan itu Arandita. " Kalau kau berani lakukanlah." Aku pasti tidak berani. Lebih baik berhutang di bank resmi daripada padanya. " Tuan Han, apa saya juga boleh memakai kartu ini ke salon. untuk meluruskan rambut saya." Han yang sudah berbalik menoleh lagi. Menatap kesal. Kenapa kau bahkan jauh lebih banyak bicara di banding nona Daniah.Tidak bisa kubayangkan kalau kalian bersama. " Kalau kau mau jadi serangga lagi, lakukanlah." Sudah berjalan meninggalkan Aran. Apa! kenapa bawa-bawa serangga lagi si. Bersambung Chapter 157 Bulan madu (Part 1) Waktu kembali berputar, matahari kembali bersinar. Dimusim cerah seperti ini, langit pagipun sudah berwarna biru terang. Kalau jadwal rutin biasanya, hari ini pasangan suami istri itu sudah keluar kamar dan menikmati sarapan. Namun sepertinya hari ini tidak seperti biasanya. Langit cerah terus bergerak menuju siang. Dan pintu kamar mereka masih tertutup rapat. Terlihat Saga keluar dari ruang ganti baju, mengeringkan rambutnya. Suasana hatinya terlihat senang, bisa dilihat dari senyum yang muncul di bibirnya. Dia memakai pakaian yang cukup santai. Tanpa setelan jas seperti biasanya selalu melekat di tubuh sempurnanya. ¡° Hah! Kau benar-benar tidak bergerak dari tempat tidur ya.¡± Bergumam sendiri saat mendapati Daniah yang hanya terlihat ujung rambutnya, tertutup selimut. Masih terlelap dalam tidur. Saga melemparkan handuk di tangannya yang jatuh ke ujung meja. Lalu dia melompat ke tempat tidur di samping Daniah. Gadis itu hanya mengeliat tapi tidak terbangun. Walaupun Saga menjatuhkan diri cukup keras di sampingnya. ¡°Haha, kau benar-benar tidak bangun ya.¡± Sudah mulai gemas dan tidak bisa menahan diri. Menarik ujung selimut sampai bahu Daniah tersibak, terlihat jelas beberapa stempel kepemilikan melekat merah di sana. Saga mencium setiap tanda itu sambil tergelak, karena Daniah benar-benar tidak menunjukan reaksi apapun. ¡° Hei, bangun!¡± mencium lagi. ¡°Kau tidur jam berapa semalam, sesiang ini belum bangun?¡± Padahal karena siapa Daniah sampai seperti itu, seharusnya tidak perlu ditanyakan. ¡° Sayang, Niah sayang, bangun.¡± Saga berbisik di telinga Daniah sambil tangannya melingkar memeluk Daniah. ¡° Niah sayang, bangun, atau kau ketinggalan pesawat nanti.¡± Belum bereaksi juga, akhirnya Saga mencium leher Daniah sampai mencipta tanda merah untuk kedua kalinya. Mulai mengeliat. Terdengar erangan kecil. Terdengar auman dari mulutnya kemudian, segera dia tutup dengan tangan saat tahu Saga terbaring di sampingnya. ¡° Hei bangun!¡± ¡° Jam berapa sayang.¡± Mengeliat, sambil memastikan waktu dengan melihat jendela. Terperanjak karena di luar sana sudah terang benderang, matahari pasti sudah lama naik. ¡° Maaf, aku terlambat ya? Kenapa belum siap-siap? Tidak bekerja?¡± deretan pertanyaan muncul saat melihat baju yang dipakai Saga. ¡° Hari ini libur.¡± ¡° Ahhh, enaknya presdir bisa semaunya bekerja.¡± Saga hanya bereaksi dengan mempererat pelukannya. Lihat, dia yang minta orang bangun, giliran sudah bangun malah di dekap seerat itu. Bukannya melepaskan diri Daniah ikut larut bermalas-malasan juga. Sambil mengeliat dan membenamkan wajah di dada suaminya. ¡° Sayang, aku bermimpi barusan.¡± Mendongakan kepala yang langsung di sambut kecupan lembut di keningnya. ¡° Apa?¡± Tanganmu tuan, kondisikan tanganmu. ¡° Kau memanggilku sayang dengan sangat manis di telingaku.¡± Saga tergelak lalu mencium pipi Daniah. ¡° Kau pasti benar-benar bermimpi, bangun dan mandi sana, Han pasti sudah menunggu di bawah.¡± Mengeser tubuh lalu bangun. Kalau dia tetap berbaring dan memeluk istrinya bisa jadi jadwal keberangkatan bulan madu akan tertunda. Semua agenda yang di susun Han akan mundur. Aku benar-benar cuma mimpi ya tadi. Kupikir dia akan mengaku kalau memanggilku sayang. Dasar, mengaku saja si biar aku senang. ¡° Sayang!¡± Menarik ujung lengan Saga yang sudah duduk di tepi tempat tidur. ¡° Apa? bangun sana! Mau kumakan lagi.¡± Daniah merengut sambil mengelengkan kepala. ¡° Panggil aku sayang dulu. Niah sayang. Haha, aku baru mau bangun.¡± Daniah tertawa sendiri sambil menutup mulutnya. Panggilan yang tadi terdengar di mimpi terdengar sangat manis. Dan dia ingin merasakan debaran itu secara nyata. ¡° Belum bangun juga dari mimpi kamu ya.¡± Tertawa, meletakan tangan di ujung selimut yang dipakai Daniah melindungi tubuh polosnya. ¡°Kau benar-benar mau mengajakku tidur lagi ya?¡± menarik selimut. ¡° Tidak.¡± Langsung sigap mempertahankan helaian kain pelindung tubuhnya. ¡° Hei, Saga panggil aku sayang dulu.¡± Daniah tertawa sambil tetap mempertahankan selimutnya. ¡° Wahhh, wahh, mulai kurang ajar ya.¡± Saga melepaskan sandal yang sudah dipakainya dan naik ke atas tempat tidur. ¡° Niah sayang kau mau aku mulai dari mana?¡± ¡° Tidak! Tidak. Aku cuma minta dipanggil sayang, tidak mau yang lain.¡± Bangun dari tempat tidur, dengan selimut sudah berpindah ke tangan Saga. Tapi dia berhasil lari dan masuk ke ruang ganti baju. ¡° Aku mencintaimu.¡± Teriaknya, langsung menutup rapat pintu. Sementara Saga tergelak sambil menjatuhkan tubuh ke atas tempat tidur lagi. Mencium selimut yang dipakai Daniah tadi. Hei Saga, hei Saga, hei Saga. Kurang ajar sekali aku, tapi kenapa itu menyenagkan ya memanggilnya begitu. Aku ingin memanggilnya begitu sesekali. Daniah melihat bayangannya di kaca saat mengeringkan rambut. Merasa dicintai itu benar-benar memunculkan perasaan yang berbeda dengan situasi saat kita mencintai. Dia merasa senang sekaligus berbunga secara bersamaan. Makin hari perasaannya semakin tumbuh dengan kuat. Daniah mengintip di balik pintu ruang ganti setelah selesai mandi dan ganti baju, masih mendapati Saga terlentang di atas tempat tidur sambil menatap langit-langit kamar. Tidak tahu apa yang dipikirkannya. Kenapa dia masih di atas tempat tidur si, kalau dia membalasku bagaimana? ¡° Sayang, memang kamu mau kemana? Kenapa sampai tidak berangkat kerja? Aku boleh pergi ke rukokan?¡± Belum keluar dari ruang ganti baju. Yang diatas tempat tidur diam tidak menjawab. Mau tidak mau Daniah keluar juga akhirnya. ¡° Sayang.¡± ¡° Hemm.¡± Aaaaa, ia, aku lupa semalam belum membicarakan kepergian Leela. Akukan mau minta bawa mobil sendiri lagi. Mendekati tempat tidur sambil berfikir. Memutar otak dengan cepat bagaimana memilih kata yang paling tepat. Dia tidak mau kalau permohonannya terdengar seperti rengekan. Karena kalau jelas-jelas dia meminta bawa mobil sendiri, kecil kemungkinan kalau Saga akan meloloskan permintaan itu. Daniah masih yakin, kalau suaminya selalu senang kalau melakukan sesuatu yang tidak dia sukai. ¡° sayang, aku boleh.¡± Mau membahas tentang Leela. ¡° Niah sayang, kemarilah.¡± Tangan Saga terangkat, dia mengoyangkan tangannya berulang. Isyarat Agar Daniah mendekati tempat tidur. Aku tahu, kau tidak akan mengampuniku semudah itu. Kenapa aku cari perkara minta dipanggil sayang segala si. ¡° Niah.¡± Suara Saga terdengar setengah berbisik. ¡° Ia, ia. Aku datang.¡± Dan kegiatan bulan madu benar-benar mundur dari jadwal. ¡° Aku lapar!¡± Daniah melingkarkan tangan di lengan Saga. Sambil menyeret kakinya. ¡° Mau ku gendong?¡± ¡° Tidak! Terimakasih.¡± Tidak tahu harus membayar dengan apa kalau sampai tuan muda ini mengendongnya menuruni tangga. ¡° Sayang, hari ini kamu mau ke mana?¡± bertanya lagi. ¡°Karena Leela sudah berhenti apa aku boleh.....¡± ¡° Kita akan berangkat bulan madu.¡± Jawaban Saga sudah membungkam Daniah untuk bicara tentang Leela lebih lanjut. ¡° Hah! Bulan madu! Sekarang?¡± Menghentikan langkah. ¡° Sekarang?¡± ¡° Ia sekarang.¡± Apa-apaan dia, kenapa mendadak begini. Aku bahkan belum menyiapkan apapun. Daniah bahkan tidak memikirkan atau belum memikirkan apa yang harus dia bawa. Pakaian dan semua barangnyapun belum dia kemas. Dia benar-benar gila ya, kenapa suka mendadak begini si. ¡° Tapi sayang, aku bahkan belum siap-siap dan mengepak pakaian.¡± Sampai dibawah tangga. Daniah melihat Han keluar dari ruangan Saga dengan membawa tas kerjanya. Lihat itu, si pembuat jadwal keberangkatan. ¡° Pak mun sudah menyiapkannya.¡± Saga membalas cepat. " Kau hanya perlu membawa tubuhmu." Ada senyum diujung kalimat Saga. Apa, cukup membawa tubuhku. Dasar! ¡° Apa pak Mun, apa kamu menyuruhnya menyiapkan pakaian?¡± Malu, membayangkan pakaian seperti apa yang dipilih pak Mun. ¡° Hei, memang tidak ada pelayan di rumah ini, sampai dia yang harus mengepak baju. Ayo makan, kamu bilang kelaparan tadi.¡± Menarik tangan Daniah menuju meja makan. Saga menarik kursi dan mendudukan tubuh Daniah. Seenaknya si seenaknya, tapi jangan begini juga kali. Masak aku pergi bulan madu tanpa persiapan apa-apa. Daniah mengedarkan pandangan. Merasa suasana yang berbeda di rumah. Tapi apa? dia tidak bisa menebak walaupun sudah berfikir. Pak Mun muncul dari arah dapur membawa makan siang, di belakangnya ada dua pelayan yang sigap menyusun makanan di atas meja. Setelah mempersilahkan Daniah makan, mereka meninggalkan ruangan. Hari ini pakaian pak Mun terlihat berbeda dari biasanya. ¡° Anda baru turun tuan muda? Kita sudah mundur dari jadwal yang seharusnya.¡± Han sudah berdiri di samping meja makan. "Ada yang harus tuan muda cek sebelum berangkat." Menunjuk tas yang di pegangnya. ¡° Daniah mengajakku tidur lagi tadi.¡± Menyentuh rambut Daniah di sampingnya, lalu mengacaknya pelan. Apa! kenapa aku. Hei, kenapa kau percaya juga kata-kata tuan Saga. Daniah mendelik sebal sambil mengambil sarapannya. Karena protesnya tidak digubris sekertaris Han. ¡° Makanlah duluan, aku akan membereskan beberapa berkas.¡± Satu kecupan mendarat di kepala Daniah. ¡° Eh Ia.¡± Mengikuti langkah kaki kedua orang itu meninggalkannya sendiri di meja makan. Han yang berjalan di belakang Saga menoleh, berdecak sambil mengelengkan kepala menatap Daniah penuh arti. "Apa!" Berteriak tanpa suara. kurang ajar, masih sempat-sempatnya dia meledek. Bersambung Chapter 158 Bulan madu (Part 2) Daniah hidup dalam keluarga kaya yang berkecukupan, namun dia selalu mendapat fasilitas hidup nomor dua dibanding dengan semua saudaranya. Risya dan Raksa selalu menjadi prioritas utama bagi ibu tirinya. Baik dalam hal pendidikan ataupun dalam kehidupan sehari-hari. Namun ntah kenapa tak pernah terselip iri jika hanya berhubungan dengan itu. Kerinduan Daniah hanyalah pada kasih sayang orangtua. Pada sentuhan lembut di kepalanya, pada ucapan bangga akan semua prestasi di sekolahnya. Namun, menjadi sebaik apapun dirinya, dia selalu dipandang sebelah mata. Untuk itu setelah dewasa dan mulai mengerti artinya hidup, dia tidak pernah berharap apapun lagi. Baik kasih sayang ataupun sekedar uang saku yang sama untuknya dan Risya. Karena itulah, fasilitas mewah inipun untuk pertama kalinya dia rasakan. Walaupun sudah beberapa bulan menikah dengan Saga, namun ini memang kali pertamanya pergi jauh. Untuk pertama kalinya Daniah naik pesawat pribadi. Pertama kalinya melihat sedekat ini yang namanya pesawat pribadi. Aku benar-benar penasaran, sebanyak apa ya kekayaan tuan Saga. Mereka disambut pilot yang akan membawakan pesawat, dua orang pramugari dalam balutan pakaian resmi. Mereka terlihat sangat cantik, bahkan Daniah nyaris menyamakan gaya dan kecantikan mereka dengan Helena. Setelah dia turun dari mobil dan berjalan di samping Saga, mereka menyapa dengan sopan. Tidak ada pembicaraan apapun setelahnya, Semua orang yang akan bertugas dalam penerbangan ini hanya mengikuti langkah kaki Saga dan Daniah. Sekertaris Han terlihat bicara dengan mereka setelah Daniah dan Saga masuk dan duduk di kursi. Orang kaya benar-benar berbeda. Dalam hal ini saja Daniah sudah merasa, dia benar-benar ada di level yang berbeda dengan suaminya. Dia sendiri masih terlihat canggung saat membalas sapaan tadi. Di sentuhnya dinding pesawat di dekat dia duduk. Membayangkan saja dia dulu tidak akan pernah, naik pesawat pribadi seperti ini. Apalagi milik suaminya sendiri. Semua interior di dalam pesawat sangat berbeda dari pengalamannya naik pesawat. Di sini terlihat sangat mewah dan dipilih dengan sangat teliti. Jangan bilang, sekertaris Han yang memilih interior dalam pesawat ini. ¡° Sayang, kita mau kemana?¡± Daniah menoleh di tepat duduknya, melihat Saga yang duduk bersebrangan di depannya. Laki-laki itu masih melihat hp di tanganya. Han memasangkan belt pengamanan di kursi tuannya. Menghalangi pandangan Daniah. ¡° Tidak tahu.¡± Saga menoleh, melihat dari punggung Han dan dia tersenyum senang begitu karena jawabannya membuat orang kesal. ¡° Han yang mengatur semuanya.¡± Jawabnya kemudian yang puas melihat wajah kecut Daniah. Apa! walaupun sekertaris Han yang mengatur semuanya, tapi kalau sampai kamu tidak tahu tujuan kita pergi apa itu masuk akal. Kalau dia membawa kita ke antartika memang kamu mau ikut juga! Daniah beralih mencari perhatian sekertaris Han. Laki-laki itu melakukan hal yang sama di kursi Daniah. Walaupun tahu Daniah sudah memasang belt pengamannya dengan benar, tapi dia memastikannya ulang. ¡° Sekertaris Han, kita mau kemana?¡± Selesai dengan urusannya, Han masih berdiri di samping kursi Daniah. ¡° Pergi bulan madu nona.¡± ¡° Aku tahu!¡± Memukul bahu Han di sampingnya dengan keras. ¡° Aku tahu kalau kita mau pergi bulan madu. Maksudku kemana?¡± Memukul lagi. Untuk yang kedua kalinya Saga langsung menoleh. Menatap tangan yang masih menempel di bahu Han. ¡° Han, walaupun itu kau aku tidak akan mengampunimu juga.¡± Ucapnya serius, masih menatap lekat tangan Daniah. ¡° Maafkan saya tuan muda. Saya akan berhati-hati lagi kedepannya.¡± Tahu, arti pandangan itu. Diapun Mundur menjauhi kursi Daniah, menyisakan tanda tanya di mata Daniah. Gadis itu meletakan tangannya ke pegangan kursi tanpa merasa bersalah. ¡° Sekertaris Han.¡± Panggil Daniah sambil berbalik dari kursinya. Lagi-lagi Saga yang menoleh. Merasa terganggu ketika Daniah bicara dengan orang lain saat dia ada di sampingnya. Sekalipun itu Han, dia masih merasa tidak suka. ¡°Kita mau kemana?¡± Tanya Daniah lagi tidak merasa terganggu dengan pandangan tidak suka Saga. ¡° Bulan madu anda dan tuan muda nona.¡± Aaaaaaa, aku benar-benar ingin memukulmu sekarang. ¡° Niah.¡± Saga sudah meletakan hp di tanganya. Memiringkah tubuh, bertopang pada satu tangannya untuk bersandar. Menunjukan ekspresi kesal. Apa kau tidak tahu kalau aku sedang cemburu. Makinya sambil hanya menatap tajam. ¡° Eh, ia.¡± Kenapa ini, kenapa dia serius begitu. ¡° Aku tidak mau ada laki-laki yang menyentuhmu." Menunjukan kalau kata-katanya sekali lagi menjadi aturan wajib yang harus dipatuhi Daniah. "Sama halnya, aku tidak mau kau sembarangan menyentuh laki-laki. Walaupun itu Han sekalipun.¡± Melirik Han yang duduk di belakangnya. Kenapa aku yang harus dibawa-bawa. Han Hah! Apa! memang apa yang kulakukan? Tidak tahu harus menjawab apa. Dan akalnyapun mengisyaratkan dia untuk diam, daripada semua berbuntut panjang. ¡° Kau bisa menyentuhku kapanpun dan dimanapun kau mau.¡± Saga menarik bajunya sampai memperlihatkan perut rata dan dadanya yang putih bersih itu. ¡° Kau boleh melakukannya sekarang. Ayo sentuh aku sesukamu!¡± Menepuk Dadanya beberapa kali. Haha, sudah gila ya! Tutup bajumu! ¡° Haha, ia sayang terimakasih atas kesempatannya. Sekarang tutup tubuh sempurnamu itu, nanti kamu kedinginan.¡± Daniah memukul tangannya sendiri, terdengar suara yang cukup keras. Walaupun masih terdengar manusiawi, diapun tidak terlihat kesakitan. ¡° Aku akan berhati-hati kedepannya, supaya tangan ini tidak melakukan kesalahan.¡± ¡° Hei, kenapa kau memukul tanganmu.¡± Membuka belt pengaman yang sudah terpasang. Berlutut di samping Daniah, meraih tangan istrinya. ¡° Kau tidak terlukakan? Kenapa memukul tanganmu. Yang salah itu Han. Kenapa dia diam saja kau menyentuhnya tadi. Seharusnya dia yang menghindar.¡± Mencium tangan Daniah beberapa kali. Yang disebut-sebut hanya mengeleng dan berdecak dalam hati di kursi belakang. ¡° Sayang, aku tidak apa-apa.¡± Jangan gila begini kumohon, lagipula aku hanya memukul tanganku sedikit. ¡° Jangan lakukan lagi.¡± Saga mengucapkannya dengan tegas. Sambil mengengam erat tangan istrinya. ¡° Ia.ia.¡± Kumohon sudahi drama ini tuan Saga. Kau membuatku merinding. ¡° Kedepannya jangan pernah menyakiti dirimu sendiri.¡± Saga meraih dagu istrinya. ¡°Aku tidak rela.¡± Masih duduk berjongkok di tempatnya. Jangan pernah tersakiti oleh siapapun, bahkan oleh dirimu sendiri. Untuk apa aku ada di sampingmu dan mencintaimu kalau kau masih tersakiti. Saga menarik tangan Daniah meminta kepastian ulang. ¡° Ia sayang. Aku akan sangat berhati-hati kedepannya.¡± Saga bangun setelah merasa yakin, dia kembali ke tempat duduknya setelahnya seorang pilot mendekat, mengatakan pesawat akan segera Lepas landas. Han kembali mendekat dan memakaikan belt pengaman di kursi Saga. Setelahnya menepuk bahu pilot yang terlihat masih cukup muda itu. ¡° Apa kau baik-baik saja? Simpan yang kau lihat hari ini untuk dirimu sendiri.¡± Berulang Han menepuk bahu sang pilot sambil mengantarnya ke tempat tugasnya. Memberi penegasan, kalau apa yang dia katakan bukan sekedar main-main. ¡° Baik tuan.¡± Bagaimana sekertaris Han bisa tahu yang kupikirkan. Sang pilot tadi termangu cukup lama melihat semua kejadian yang berlangsung. Hanya wajah binggungnya yang terlihat mencerna kejadian tidak masuk akal di depannya. Apa dia benar-benar tuan Saga? Untuk pertama kalinya sejak banyak penerbangan yang ia lakukan bersama Antarna Group untuk pertama kalinya dia melihat presdir Antarna Group itu bersikap layaknya manusia normal. Jadi dia ini Daniah, wanita paling beruntung di negri ini yang mendapat pengakuan cinta tuan Saga. Hemm terlihat biasa. Hemm tapi cukup manis juga. Dan ya Tuhan, bagaimana dia bisa membuat tuan Saga berlutut di dekat kursinya seperti itu. Dia ingin berbagi dengan teman di sebelahnya, tapi ucapan sekertaris Han langsung menampar wajahnya keras. Hingga dia hanya tersenyum mengingat kejadian dimana tuan Saga mencium tangan istrinya sambil berlutut tadi. Sementara itu dibagian penumpang, ¡° Han. Hati-hatilah, aku mengawasimu.¡± Saat Han berjalan melewati kursi Saga. ¡° Saya yang salah tuan muda, saya akan berhati hati kedepannya.¡± Padahal saya tidak melakukan apa-apa. Nona, berhati-hatilah dengan tangan anda mulai sekarang. Melirik Daniah. Apa! Tuan Saga yang aneh! Kenapa protes padaku. Daniah tak kalah melotot. Rasanya ingin memukul bahun Han lagi. Tapi ultimatum itu seperti hantu yang akan terngiang dipikiran Daniah selamanya. Bersambung Chapter 159 Bulan madu (Part 3) Pesawat telah lepas landas tanpa kendala. Terbang di antara awan-awan putih tipis yang berserak di angkasa. Sekertaris Han bangun beranjak dari duduk, Menawarkan sesuatu kalau Saga menginginkan minum atau apapun yang mungkin dia inginkan. Saga hanya mengibaskan tangan kalau dia tidak membutuhkan apapun, lalu Han pergi menuju ntah ruangan apa di bagian pintu belakang setelah kursinya. ¡° Niah.¡± Panggilan lembut Saga terdengar, lagi-lagi menyentuh hati Daniah di situasi lengang seperti ini. ¡° Eh, ia.¡± Daniah yang sedang memandang angkasa luas di luar sana menoleh. Melihat Saga menepuk kursinya. Dia terlihat mengeser tubuh. Memberikan ruang yang cukup lebar untuk Daniah pindah ke kursinya. Apa! kau mau apa? mau menyuruhku menyentuhmu? ¡° Pindah kemari.¡± Katanya kemudian. Masih menepuk tempat duduknya dengan tangan kanan. Saga ingin sepanjang perjalanan membosankan ini memeluk Daniah. Waktu akan mudah terbunuh saat kalian senangkan. Dan hal yang menyenangkan dalam pesawat ini apalagi kalau bukan menjahili istrinya. Lihat, begitulah Saga menunjukan cinta berlebihnya untuk Daniah. Jangan berharap dia bersikap romantis manis yang mudah dipahami. Tidak mau! Menolak tegas. Walaupun cuma dalam hati. ¡° Sayang, kakimu bisa tidak nyaman nanti.¡± Daniah ingat bagaimana kaki Saga kram saat dia tidur sambil memakainya sebagai bantal. ¡° Kau mau aku mulai menghitung.¡± Sudah mau mulai menyebut angka satu. ¡° Tidak, aku pindah. Tapi kalau kakimu pegal tertindih badanku jangan salahkan aku ya.¡± Daniah sudah bangun dari kursi dan pindah ke tempat duduk Saga. Tubuh kecil Daniah tentu tidak akan terlalu berarti walaupun duduk di pangkuan Saga sekalipun. Dia bersandar di tangan suaminya yang terbuka. Setelahnya Daniah mencaritahu tujuan mereka kemana, sementara Saga hanya menjawab. ¡° Sudah diam, ini akan jadi kejutan .¡± Daniah memilih menjatuhkan kepalanya ke dada Saga. Saat semua cara sudah dilakukan dan tidak berhasil mengorek apapun. ¡° Sayang, kita akan pergi ke laut ya?¡± Mulai bicara lagi. ¡° Tidak tahu.¡± ¡° Bohong! Pasti kamu tahukan? Pokoknya kemanapun kita nanti, kita jalan-jalan sambil main sampai puas ya.¡± ¡° Tidak mau.¡± Saga menjawab pendek lagi. ¡° Aaaa, kenapa tidak mau?¡± Daniah protes sambil mencubit kedua pipi suaminya. ¡° 51 persen kita main diluar dan 49 persen kita habiskan di kamar.¡± Apa! Memang ada pengaruhnya selisih seujung kuku bayi begitu. Hei, siapa yang membuat ide tidak masuk akal ini?? Setelah lelah berdebat tentang selisih persentase tidak masuk akal Daniah Memilih diam dan memejamkan mata. Membenamkan wajah ke dalam dada suaminya yang nyaman. Dia kalah walaupun hanya adu argumen. Sementara Saga setelah menang adu argumen dan membuat istrinya diam, Saga beralih bicara pada Han. ¡° Han.¡± Sambil membelai lembut kepala istrinya. Lalu dia mengulung rambut Daniah di jarinya. Menciumi rambut itu. Kenapa rambutnya tercium bau manis begini ya? Masih menjadi misteri apa yang sebenarnya dicium Saga dari rambut Daniah. Jelas-jelas mereka memakai sampo yang sama. Tapi dia selalu merasa aroma rambut Daniah lebih enak daripada sampo yang dia pakai. ¡° Ia tuan muda.¡± Han menjawab dari tempat duduknya di belakang Saga. Sengaja tidak mendekat. Sedari tadi dia sudah mendengar pembicaraan Daniah dan Saga. Yang sudah membuatnya menarik nafas dalam-dalam. Kenapa mereka terlihat seperti orang gila kalau sedang berdua begitu. Yang satu dimabuk cinta, yang satu tidak sadar kalau semua tingkahnya, bahkan caranya bernafas saja dianggap mengemaskan. Sementara Daniah menajamkan telinga. Mendengarkan pembicaraan mereka. ¡° Apa kau tidak perlu mengajak Harun?¡± Dokter Harun, kenapa? Daniah penasaran. Tapi dia tetap tidak menegakan kepala. Pura-pura tidur, hanya hembusan nafasnya yang terdengar. ¡° Dokter Harun tidak bisa ikut karena sudah ada agenda yang tidak bisa diwakilkan. Saya sudah menghubunginya beberapa hari lalu.¡± Han selalu tahu apa yang harus dia lakukan. ¡° Cih, kurang ajar sekali dia.¡± Saga memaki dokter Harun. Membayangkan senyum kurang ajar dokter muda itu saat bersyukur karena tidak perlu ikut pergi. Hei, memang kenapa juga si musti bawa-bawa dokter Harun, kitakan cuma mau liburan. Aku berharap ini akan jadi liburan berkedok bulan madu. Bermain, jalan-jalan dan mungkin sedikit belanja oleh-oleh. Kemana sebenarnya tujuan kita ini ya? Daniah berperang dengan pikirannya sendiri, menebak-nebak, maunya orang yang tidak bisa diterka, ¡° Bagaimana kalau Daniah sampai terluka nanti.¡± Tangan Saga menyentuh pipi istrinya. Mencubitnya pelan. Daniah refleks memukul tangan Saga, karena tahu laki-laki itu hanya menunggu reaksinya. Benarkan, setelah itu Saga melepaskan tangannya. ¡° Ya mengingat sifat nona kadang seperti itu.¡± Ada penekanan kata-kata sekertaris Han di dalamnya. ¡° Saya sudah mendapat rekomendasi dokter di dalam kota dari dokter Harun. Saya juga sudah menghubunginya jika ada kejadian yang tidak terduga.¡± Haha, jadi kalian pikir aku bocah. Hei, aku itu gadis mandiri yang setegar karang tahu. ¡° Laki-laki atau perempuan?¡± Bersama dokter Harun saja sudah menyebalkan, apalagi ini harus berurusan dengan orang asing. Begitu pikir Saga. ¡° Perempuan tuan muda.¡± Ntah kenapa Saga merasa lega. Setelah merasa sedikit tenang tentang urusan dokter, sekarang dia beralih pada Daniah di sampingnya. ¡° Niah.¡± ¡° Iya.¡± Menggangkat kepalanya. Dan tidak tahu kenapa Daniah ingin mencium pipi Saga. Dan dia melakukannya. Membuat Saga terkejut. Ya, laki-laki itu masih terkejut dan merasa senang sekali kalau Daniah menunjukan perasaan tanpa diminta olehnya. ¡° Jaga dirimu nanti. Paham!¡± Sambil menghujani pipi Daniah dengan ciuman balasan. ¡°Jangan buat aku cemburu.¡± Maksud dari perkataan Saga adalah, jangan sampai kau melihat orang lain selain aku. Tapi mana Daniah paham itu, dia hanya asal mengiyakan saja. ¡° Han, kau tidak membuat kegiatan ekstrim untuk agenda di luarkan?¡± Setelah Daniah berhasil menghentikan hujan ciuman dengan tangannya, Saga mendongak dan bertanya pada Han. ¡° Tidak tuan muda.¡± Memang mau seekstrim apa juga, apa nona mau minta memanjat tebing atau berburu hiu?Han. Hening, hanya terdengar gumamam sebelum Saga bicara lagi. ¡° Kalau Daniah tiba-tiba hamil bagaimana ya?¡± Pertanyaan yang ditujukan untuk Han. Padahal mana tahu sekertarisnya perihal beginian. Hei kalian berdua, bukankah aneh itu cukup sewajarnya. Kalian tahu tidak, aku yang jadi bahan pembicaraan kalian. Aku, aku disini duduk dengan mata terbuka. Datang bulanku saja belum normal setelah tragedi pil kb itu, mana mungkin aku bisa tiba-tiba hamil. ¡° Benar juga ya, bagaimana kalau tidak usah ada kegiatan di luar ruangan.¡± Hanya mengikuti kemauan tuannya saja. Tidak berfikir panjang. Yang penting Saga senang dan nyaman, motonya dalam perjalanan hidup selama beberapa tahun ini. Sudah gila ya kalian. ¡° Sayang, hamil itukan butuh proses, perempuan itu gak bisa tiba-tiba hamil, atau tiba-tiba melahirkan. Semua butuh waktu.¡± Haduh, bagaimana menjelaskannya ini. Daniah binggung. ¡°Akukan baru dari dokter, dan belum ada indikasi hamilkan? Ayolah sadar, aku saja belum datang bulan dengan normal dan lancar lagi, seperti saat aku belum minum pil kb. ¡° Darimana kamu tahu? Memang kamu sudah pernah hamil?¡± Penjelasan Daniah malah membuat Saga gusar. ¡° Jadi aku bukan yang pertama buat kamu?¡± Ya tuhan, siapa yang akan percaya kalau pertanyaan itu diucapkan tuan Saga. Kenapa dalam hal beginian dia bodoh sekali si. ¡° Sayang, akukan gak perlu hamil dulu buat tahu begituan. Itu pengetahuan dasar yang diketahui semua perempuan di muka bumi ini. Di sekolah dulu kita juga belajat itu kan.¡± Menepuk-nepuk dada Saga agar laki-laki itu mereda kekesalannya. ¡° Aku tidak pernah belajar begituan di sekolah.¡± Menjawab, ntah kenapa ada yang terasa getir dalam kalimatnya. ¡° Bohong!¡± Daniah membalas cepat. ¡° Tuan muda tidak sekolah umum nona, jadi tuan muda memang tidak mendapat pelajaran atau sekolah seperti yang nona jalani.¡± Terdengar suara Han dari belakang. Daniah menatap suaminya. Seperti apa ya kehidupan tuan Saga waktu muda? ¡° Jadi, berapa lama hamil itu?¡± Membuyarkan rasa penasaran dan haru yang tiba-tiba berseliweran di kepala Daniah. Masa muda Saga, bagaimana dia tumbuh. Apa dia dari dulu sudah arogan seperti ini. ¡° Sembilan bulan lebih 10 hari pada umumnya sayang.¡± Daniah tersentak saat mendengar Saga berteriak karena tidak percaya dengan penjelasannya. ¡° Hei, kau mau membohongiku. Kenapa lama sekali!¡± Kegilaan apa ini, kenapa sampai butuh waktu selama itu, pikir Saga tidak percaya. ¡° Han, kau dengar itu? Niah, kamu sedang mempermainkankukan.¡± Protes keras. Tidak mungkin hamil butuh selama itu pikirnya. ¡° Tidak sayang, memang begitu. ¡° Kenapa si suamiku ini. ¡° Apa tidak apa-apa kalau kamu hamil selama itu.¡± Saga menyentuh perut Daniah. ¡°Apa tidak akan melelahkan. Membayangkan saja kenapa aku jadi takut ya.¡± Ya ampun, laki-laki ini benar-benar tuan Saga bukan si. ¡° Han, cari tahu semua informasi seputar kehamilan.¡± Akhirnya karena di gerogoti penasaran keluar perintah tidak masuk akal. ¡° Sayang, buat apa?¡± Membayangkan sekertaris Han berkutat dengan mesin pencarian dan kata kunci kehamilan, Daniah sudah merasa lucu sekaligus kasihan. ¡° Baik tuan muda.¡± Hal gila apalagi yang sedang kalian bahas ini. Kenapa membahas kehamilan sampai merepotkanku begini. Han Lagi-lagi Han mendapatkan pekerjaan tidak masuk akal diluar semua tumpukan pekerjaannya di Antarna Group. ¡° Benar tidak apa-apa, kalau kamu harus hamil selama itu?¡± Lagi-lagi masih dihantui kuatir, Saga memeluk tubuh Daniah erat. ¡° Sayang, memang seperti itu. Hamil dan memiliki anak juga impian semua wanita. Jangan kuatir, kalau Tuhan memberiku kesempatan untuk hamil aku akan menjalaninya dengan bahagia.¡± Walaupun perjuangan menjadi ibu yang dimulai dari kehamilan bukan urusan yang gampang. Ada banyak drama baik di fase pertama, kedua atau ketiga. Bahkan Daniahpun pernah membaca ada ibu hamil yang harus istirahat total dan tidak melakukan pekerjaan apapun untuk menjaga kehamilannya. Setiap ibu berjuang dengan caranya sendiri-sendiri dalam proses kehamilan. Tapi, itu memang impian setiap wanita jika sudah menikah kan. ¡° Sayang, hamil itu memang tidak mudah, tapi wanita yang sudah menikah pasti merindukan itu. Ibu juga mengalaminya saat melahirkanmu.¡± Menyentuh pipi Saga. ¡° Ibu juga berjuang dalam proses kehamilan dan melahirkanmu.¡± Ada yang menyentuh hati Saga saat mendengarnya. Membayangkan bagaimana ibu dulu berjuang saat mengandungnya. ¡° Apa ibu juga melakukannya, sembilan bulan 10 hari seperti katamu.¡± Katanya pelan. Membayangkan wajah ibu. ¡° Ia sayang. Jadi kalau kamu marah atau kesal pada ibu, tetap jagalah hubungan kalian. Jangan marah padanya.¡± Lagi-lagi membelai dada Saga pelan. Daniah tahu, bagaimana sayangnya suaminya pada keluarganya. Ibu dan kedua adiknya adalah sebagian dari nyawa yang dia lindungi dalam perjalanan hidupnya. Daniah mendengar banyak cerita heroisme yang dilebih-lebihkan Jen dan Sofi mengenai kakak mereka. ¡° Ia, aku tahu.¡± Untuk sejenak hanya hembusan nafas keduanya yang terdengar. Sama-sama menyelami pikiran dengan wajah ibu mereka masing-masing. Daniah tengelam dalam kenangan. Sedangkan Saga, mengulang film-film ketegangan yang beberapa kali terjadi dengan ibunya. Ah, dia menarik nafas berat. Belum ada informasi pendaratan, sepertinya penerbangan ini masih akan memakan waktu. Setelah tercipta kebisuan cukup lama, Saga menarik tangannya menyentuh leher Daniah. ¡° Niah, kau tidak mau menyentuhku.¡± katanya dengan gelak. Sambil mengoyangkan telinga Daniah. Apa! Reflek Daniah menutup mulut Saga dengan tangannya. Supaya laki-laki itu tidak meneruskan kalimatnya. Hemm. Saga mengoyangkan kepalanya agar Daniah menjatuhkan dekapan tangannnya. ¡° Sudah kubilang kau boleh menyentuhku dimanapun.¡± Setelah berhasil menghempaskan tangan Daniah dari mulutnya. ¡° Terimakasih sayang, aku terharu sekali. Tapi tidak terimakasih untuk saat ini ya.¡± Aku tidak mau menyentuhmu. Apalagi dibelakang kita ada orang yang bahkan tidak pernah menutup mata dan telinganya itu. ¡° Ayolah. Kenapa malu-malu begitu. Tidak ingat kelakukan mu tadi pagi mengodaku.¡± ¡° Apa!¡± Mereka selalu membuat polusi udara saat bersama. Apalagi bagi hati yang sendiri. Sementara itu Han di belakang mereka hanya berpaling, menatap jendela lalu memejamkan mata. Kenapa perjalanan ini rasanya lama sekali. Kapan kita sampainya. Bersambung Chapter 160 Bulan madu (Part 4) Setelah perjalanan yang cukup memakan waktu dan banyak drama, akhirnya sampailah mereka di sebuah vila yang ada di sebuah pulau. Tempat ini harus di jangkau dengan menyebrangi lautan dengan mengunakan kapal cepat. Hanya sekitar 7 sampai sepuluh menit sepertinya. Sebuah vila besar sudah akan terlihat saat kaki turun dari kapal di dermaga kecil. Mereka masuk ke dalam vila, tapi tidak lama sudah keluar lagi karena Daniah sudah merengek ingin melihat laut dan pemandangan di sekitar vila megah itu. Tapi saat ini dia hanya mematung tidak jauh dari bibir pantai yang lengang itu. Deburan ombak berkejaran. Saling mengejar satu sama lain sampai tak bersisa saat menampar pantai. Tidak ada pengunjung lain yang berlarian atau menikmati lautan. Hah! Jangan-jangan tempat ini juga miliknya. Tunggu, itukan. Pak Mun, dia benar-benar pak Mun, pantas ada yang aneh dengan penampilannya tadi. Daniah baru tersadar kejanggalan yang dia pikirkan saat sarapan diwaktu siang tadi. Hei, jangan-jangan yang selintas aku lihat di vila benar-benar Maya. Ku pikir aku hanya salah lihat. Tapi karena di depan matanya Daniah benar-benar melihat pak Mun, dia jadi merasa yakin kalau yang dilihatnya tadi adalah maya dan para pelayan rumah belakang. ¡° Sayang, Pak Mun!¡± Menunjuk pak Mun yang sedang sibuk memberi instruksi di sebuah tenda besar yang tidak jauh dari mereka berdiri. ¡° kamu benar-benar mengajak pak Mun dan para pelayan?¡± Apa begini caranya orang kaya liburan? ¡° Hemm.¡± Saga memeluk pinggang Daniah dari belakang, lalu menjatuhkan kepala di bahu Daniah. ¡°Kau suka? Bagaimana lautnya, udaranya juga segar tidak terlalu dingin?¡± Han memilih lokasi dengan sangat baik gumam Saga. ¡°Kau suka?¡± menunjuk hamparan lautan di depannya. Aku belum bisa menikmati keindahan tempat ini, aku masih mau membahas pak Mun. ¡° Sayang, kalau kamu mengajak pak Mun, kenapa tidak ajak Sofi dan Jen. Ibu juga, kitakan bisa liburan bersama.¡± Membayangkan saja rasanya pasti menyenagkan kalau semua berkumpul. ¡° Eh, jangan-jangan mereka sudah sampai duluan ya. Dimana mereka?¡± Menebak, sambil mencari-cari kejutan selanjutnya yang mungkin disiapkan Saga secara tidak terduga. ¡° Tidak, mereka tidak ikut.¡± langsung buyar semua hayalan tentang kejutan di kepala Daniah. ¡° Kenapa, pak Mun saja diajak.¡± Lagi-lagi menunjuk pak Mun dengan rasa tidak percaya. ¡° Pak Mun yang akan mengatur makanan untukmu, tentu saja dia di ajak.¡± Saga menarik ujung rambut Daniah. Menciumnya. ¡°Kau lupa kitakan sedang bulan madu sekarang, kalau Jen dan Sofi di sini pasti hanya menggangu. Mereka pasti akan mendominasimu sepanjang hari.¡± Membayangkan Saja sudah kesal, apalagi kalau sampai kedua adiknya benar-benar ada di sini. Apa-apaan alasan tidak masuk akal itu. Saga menarik tangan Daniah agar duduk di sebuah kursi kayu panjang yang sudah ada bantalan busa empuknya. ¡° Ini bulan madu kita, kalau sampai kau malah asik bermain sendiri, habis kau nanti.¡± Sudah bicara sambil menempelkan tubuh masih berbisik juga di telinga Daniah. Aaaaa, kenapa tahu yang kupikirkan si. Akukan ingin bersenang-senang sepuasku di laut nanti. Dan pasti akan jauh lebih menyenagkan kalau ada teman perempuan juga. Daniah akhirnya mulai beralih memandang lautan, dia berdiri Saga segera menyusul di sampingnya. Memeluk pinggang istrinya. ¡° Sayang ini dimana?¡± ¡° Kota XX.¡± ¡° Benarkah, ini pertama kalinya aku kesini.¡± Masih merasa tidak percaya. Ini adalah tempat wisata populer kedua di negara ini. Kalau menyebut tentang pantai, laut dan keindahan yang selalu beriringan dengan kedua tempat itu. Tempat yang mungkin tak pernah masuk dalam rencana liburan Daniah. Karena besarnya biaya perjalanan yang harus dikeluarkan. Banyak hal luar biasa yang hanya bisa di dapat Daniah setelah dia menikah dengan Saga. Sesuatu yang selama ini tidak terbayangkan dalam hidupnya. Karena rencana dalam hidupnya hanyalah sederhana, hidup mandiri dengan penghasilan jualan online. Tidak tergantung pada keluarga dalam hal finansial. Hanya sesederhana itu impian Daniah. Mengumpulkan uang dan sesekali menikmatinya berlibur. Tapi bukan liburan semacam ini. ¡° Sayang, siapa itu?¡± Mereka sudah duduk bersandar karena Saga mulai malas terpapar sinar matahari. Dia memilih duduk sambil bersandar dibantalan yang nyaman. Sementara Daniah bersandar ditubuhnya, dengan kaki menyentuh pasir putih bersih. ¡° Hemm.¡± Menjawab tidak antusias. ¡° Itu, perempuan yang berjalan di samping sekertaris Han. Mereka sudah duduk disana?¡± Daniah menunjuk dua pasangan itu. Karena tahu dia menunjuk mereka, Han dan wanita di sampingnya mengangukan kepala mereka bersamaan. Ya ampun, mereka terlihat serasi sekali. Saga menegakan kepala untuk melihat apa yang dibicarakan Daniah. Dia melihat Han dan wanita yang akan mengantikan leela nanti. ¡° Tidak tahu.¡± Menjawab singkat, lalu menyandarkan kepala lagi. Tepatnya sama sekali tidak perduli. ¡° Sayang, kamu pernah bertemu dengannya.¡± Bertanya lagi. Penasaran gitu, sekertaris Han bersama dengan seorang wanita. Bukankah itu termasuk kejadian langka. ¡° Tidak.¡± ¡° Jangan-jangan dia pacar sekertaris Han ya?¡± antusias. ¡° Mungkin.¡± ¡° Aaaa, yang benar.¡± Saga menarik rambut Daniah sampai gadis itu menjerit kaget. ¡° Sudah kubilang jaga dirimukan tadi. Jangan membuatku cemburu.¡± ¡° Akukan tidak melakukan apapun.¡± dengan wajah polosnya menjawab. Daniah melihat sosok gadis di sebelah Han terlihat benar-benar keren. Rambut ikal bergelombangnya di ikat kea tas, seperti yang biasa dia lakukan saat di ruko. Tapi dia tetap terlihat rapi. Setelan pakaian yang dia kenakan juga style yang dia pakai kalau dia sedang tidak bersama Saga. ¡° Sayang, rambutnya mirip denganku. Tapi dia terlihat keren dengan gaya begitu.¡± mengoyangkan tubuh Saga supaya antusias dan tertarik dengan apa yang sedang dibicarakannya. ¡° Siapa?¡± ¡° Gadis itu, yang di samping sekertaris Han, rambutnya sama sepertiku.¡± Saga menegakan kepala lagi dan memperhatikan, dia tidak menyadari kalau Daniah tidak mengatakannya. Lalu menarik rambut Daniah dan mencium ujungnya. ¡° Rambut jelekmu ini satu-satunya yang paling cantik.¡± Apa-apaan si maksudnya, sudah bilang rambut jelek tapi bilang yang paling cantik. ¡° Tapi hampir samakan? Lihatlah.¡± Daniah meraih ujung rambutnya dan menunjukan di depan mata Saga lalu menunjuk rambut gadis itu. ¡° Tidak mirip sama sekali.¡± Tidak perduli. Karena diapun sama sekali tidak menyadari. Jangan-jangan itu memang pacar sekertaris Han, wah menarik sekali. Membayangkan saja sudah membuatku antusias. Si keras kepala dan hanya perduli pada tuan Saga sudah menemukan tambatan hatinya. Daniah merinding dengan pilhan katanya sendiri. Di sana, dua orang yang sedang dipandang Daniah dengan penuh takjub. Juga sedang memandang pasangan suami istri itu dengan antusias. Jauh melebihi kadar ketertarikan Daniah. ¡° Tuan Han, apa itu nona.¡± Aran menunjuk Daniah. Yang masih menempel dalam pelukan suaminya tuan Saga. ¡° Ia.¡± Aaaaa, manis sekali si mereka. Ya ampun, aku benar-benar ingin mengabadikan momen bersejarah ini. Tuan Saga, siapa sebenarnya yang membentuk imejmu diluar sana. Mengelikan, kalau aku bicara tentang apa yang aku lihat hari ini dunia tidak akan pernah percaya. Kamera, kamera, aku ingin mengambil foto. Aran menjejakan kakinya merasa tidak berdaya. Saat bekerja hp pribadinya saja harus dimatikan dan disimpan. Disaku celananya ada hp baru khusus diberikan pak Mun setelah dia sampai di rumah besar. Beserta setumpuk peraturan yang harus dia hafal dan pelajari mengenai aturan tinggal di rumah belakang. Semakin frustasi karena banyak yang harus dia bayar dengan hidupnya, untuk gaji tiga kali lipat. Cih, di dunia ini memang tidak ada yang gratis. ¡° Nona Daniah manis sekali ya. Eh, rambutnya sepertiku. Apa karena itu tuan suka pada rambutku.¡± Aran terkejut sendiri dengan pertanyaannya. Bagimana dia bisa mengambil kesimpulan bodoh begitu. ¡° Beraninya kau membandingkan dirimu dengan nona.¡± Wajah Aran langsung berubah. Malu. Dia langsung berpaling lagi melihat kedua pasangan yang tidak jauh darinya. Tidak mau membalas perkataan Han atau menatapnya. Aaaaaaa, apa si yang mereka lakukan. Kenapa tuan Saga mengesekan hidungnya ke pipi nona berulang. Sambil tertawa lagi. Dan lihat reaksi nona Daniah. Mereka mengemaskan sekali. Mirip sekali dengan karakter novelku kalau sedang dimabuk cinta. Aran lupa siapa dirinya, melihat adegan yang selama ini hanya ia tulis dalam cerita novelnya benar-benar ia lihat di dunia nyata. Membuat semua imajinasinya berlarian sampai titik paling liar dan tidak masuk akal. ¡° mereka lucu sekali si.¡± Tanpa sadar memukul-mukul bahu seseorang di sampingnya. Sementara matanya tidak rela kalau harus melepaskan satu adegan saja yang dia lihat di depannya. ¡° Kau mau mati!¡± Han menatap tajam tangan yang menempel di bahunya. Sementara Aran langsung berteriak terkejut lalu refleks menyeret tubuhnya mundur ke belakang. ¡° Maaf tuan, saya terbawa suasana. Maaf!¡± Menepuk bahun Han lagi berulang, seperti mengibaskan kotoran karena tangannya sudah menempel di sana. Tapi Han malah menepisnya. ¡° Minggir, geser dudukmu. Setelah tidak jadi serangga, kau jadi ulat bulu sekarang. Suka menempel sembarangan.¡± Menghardik tajam. Dia mengibaskan tangannya lagi. menyuruh Aran mundur lagi. ¡° Melihat nona dan tuan Saga mengemaskan sekali. Jadi saya tisak bisa menahan diri.¡± Aran mengeser duduknya beberapa jengkal. Dia juga takut tangannya akan refleks memukul bahu Han lagi. ¡° Tuan.¡± ¡° Hemm.¡± Masih menjawab walaupun jengah. ¡° Apa tuan benar-benar baik-baik saja. Melihat pemandangan seperti ini setiap hari.¡± Menunjuk pasangan yang tidak jauh dari mereka. Aran saja mengigit bibir karena gemas dan iri yang muncul bersamaan. Huh! Han mendesah. Simpulkan sendiri, mengelikan kalau aku menjawabnya. " Besok, aku dan tuan muda akan menghadiri acara. Karena ada banyak media yang meliput, tuan muda tidak mau mengajak nona. Besok tugas pertamamu menjaga nona." Ntah kenapa wajah Aran menjadi pucat. melihat secinta apa tuan Saga pada Daniah membuat nyalinya semakin menciut. Dia takut membuat kesalahan. " Apa yang harus saya lakukan tuan?" Berharap Han menjelaskan secara detail. " Pastikan nona tidak melakukan apapun yang tidak disukai tuan muda." Hah! penjelasan apa itu. Memang aku tahu apa yang benar-benar tidak disuka tuan Saga. Saat Aran ingin bertanya Han sudah bangun dari duduk, dia mengangukan kepalanya. Aran mengikuti pandangan sekertaris Han. ternyata tuan Saga memanggilnya. sementara Han berlari mendekati tuan Saga dan nona Daniah. Aran tengelam dengan pikirannya sendiri. Tunggu, nanti tidak mungkin muncul laki-laki mantannya nona Daniahkan, saat aku bersamanya. Aaaaa, dan itu membuat tuan Saga murka. Murkanya tuan Saga sudah pasti akan jadi kemarahan siapa? Aran merinding membayangkan. Hei, inikan bukan novel Aran. Haha, Kenapa pikiranmu sudah kemana-mana. Tapi tetap saja Aran gelisah, memikirkan semua adegan klise yang sering muncul di novel-novelnya. bersambung Sampai jumpa minggu depan di update selanjutnya ^_^ Chapter 161 Sofi dan Jen Di saat Saga dan rombongan berangkaat menuju kota XX yang indah dengan pemandangan laut dan pantainya. Ada yang tertinggal di ibu kota. Dialah dua gadis cantik Sofia dan Jenika. Ibu sendiri memilih untuk pergi keluar kota mengunjungi kakak laki-lakinya. Menyusun rencana yang tidak di dukung siapapun. Kedua anak perempuannya sudah mewanti-wanti untuk menghentikan apapun rencana itu. ¡° Baiklah, aku hanya ingin mengunjungi paman kalian selama Saga pergi.¡± Akhirnya Jen melepas kepergian ibu mereka. Dua gadis itu memasuki lift setelah menerima kunci kamar, satu kamar untuk mereka pakai bersama. Lelah seharian di kampus dan tempat magang, membuat mereka membisu satu sama lain. Semakin tertekan setelah menutup telfon yang baru saja Jen terima dari sekertaris Han. Laki-laki itu dengan amat lugasnya membacakan aturan yang harus mereka taati selama kepergian Saga. Ntah kenapa, setiap kali membacakan peraturan Han selalu terdengar jauh lebih bersemangat dibanding situasi apapun. ¡° Kakak kami bisa pergi sendiri.¡± Jen terkejut saat kedua pengawal yang sedari tadi mengikuti mereka ikut masuk. ¡° Maaf nona, kamar kami juga ada di lantai yang sama dengan kamar nona.¡± Apa! Sekertaris Han menyebalkan! Jen dan Sofi kompak mengutuk nama itu di hati mereka masing-masing tanpa dikomando. Benar saja, Setelah sampai di lantai kamar mereka, kamar dua kakak pengawal itu memang ada di samping mereka. ¡° Selamat istirahat nona.¡± Dua laki-laki itu membungkukan kepala mereka. ¡° Jangan berdiri di depan pintu kami!¡± Jen menatap serius. ¡° Kami bersumpah tidak akan pergi ke mana-mana. Jadi kalian masuklah ke kamar.¡± Pintu kamar Jen sudah terbuka. Tapi dua pengawal itu tidak bergeming dari tempatnya. Sofia sudah masuk duluan ke dalam kamar. ¡° Ayo sana masuk kamar kalian.¡± Jen mengusir dengan tangannya. ¡° Nona, kami hanya memastikan nona berdua aman.¡± Salah satu dari mereka bicara. Walaupun tidak terjadi apapun, yang penting kami sudah melakukan prosedur yang semestinya. Begitu gumam keduanya dalam hati. Menyelamatkan diri jika evaluasi nanti. ¡° Memang akan terjadi apa? di hotel kak Saga¡± Berteriak akhirnya. Sekertaris Han benar-benar mendidik para pengawal dengan baik. Terutama kedua orang ini. Untuk itulah mereka yang terpilh dari sekian banyak pengawal yang ada. ¡° Kakak, aku janji hanya akan di kamar tidak kemana-mana. Jadi kalian juga masuk dan istirahatlah.¡± Memang aku putri kerajaan apa. ¡° Baiklah nona, tapi berjanjilah tidak melakukan sesuatu yang.¡± ¡° ia, ia. Aku janji.¡± Memotong pembicaraan. ¡° Ayo masuk sama-sama biar adil. Buka pintu kalian.¡± Pintu kamar samping terbuka, salah satu sudah berdiri di depan pintu. ¡° Ayo masuk sama-sama. Aku hitung ya.¡± Dua pengawal itu menganguk saja mendengar instruksi Jen. ¡° Satu, dua, tiga.¡± Hanya jen yang hilang di telan pintu. Sementara dua pengawal itu masih berdiri di tempatnya memastikan kalau dua gadis yang masuk tidak keluar lagi. Setelah yakin, akhirnya mereka masuk ke dalam kamar mereka. Sofia sudah ambruk di atas tempat tidur. Tasnya sudah ada di ujung kasur. ¡° Ini karena kak Jen akhir-akhir ini selalu menempel pada kakak ipar, kita jadi terdampar di sini.¡± Berbaring menatap langit-langit kamar sambil menjejakan kaki sedikit kesal. ¡° Kenapa aku? Kak Saga memang tidak akan mengajak kita kali, inikan bulan madu.¡± Protes mengudara. Jen juga merasa masih menggangu dalam intensitas wajar. Menurut standarnya. ¡° Tapi Pak Mun dan sekertaris Han saja ikut. Hiks-hiks.¡± Sofi membayangkan lautan biru di kepalanya. Menyelam dan bermain dengan ikan warna warni. Berjemur di pantai yang hangat. Aaaaa, aku benar-benar ingin pergi. Apalagi pergi ke kampus sedang benar-benar tidak menyenangkan. ¡° Kalau sekertaris Han memang separuh hidupnya kak Saga, kalau pak Mun, kenapa dia diajak ya. Aaaa aku iriiiii. Kupikir aku bisa ikut bersenang-senang. Kitakan bisa ambil foto banyak di pantai.¡± Lagi-lagi Jen membayangkan suasana yang sama dengan Sofi. Dia bahkan jauh lebih ekstrim, dia ingin memakai pakaian putri duyung dan berpose bak putri lautan di pantai. ¡° Sudah kubilang jangan menempel pada kakak ipar terus. Pokoknya ini gara-gara kak Jen.¡± Jen merengut, ikut ambruk di atas tempat tidur sambail meraih bantal guling dan memeluknya. Berfikir, apa akhir-akhir ini dia memang kelewatan menempel pada kakak iparnya. Ah tidak, aku biasa saja kok. Kak Saga saja yang pelit. Kalau berurusan dengan kakak ipar. ¡° Lalu, kita cuma bisa keluar masuk kamar dan keliling hotel aja?¡± Jen mulai kesal. Lebih-lebih memikirkan menu makanan hotel. Baginya masakan koki di rumah masih lebih baik mendekati seleranya. Jen dan Sofi memang jauh lebih tertarik makanan strett food, walaupun terkadang mereka sembunyi-sembunyi membelinya. Taukan, generasi sekarang, makanan itu yang pertama harus memanjakan mata dulu. Baru bisa menyentuh hati dan perut kemudian. Karena keduanya termasuk rutin memposting apa yang mereka makan di sosial media. ¡°Kak Jen, baru sadar sekarang! Aku saja sudah merinding saat Han membacakan aturannya tadi.¡± Sofi bergerak mengambil hp di tasnya. Sepi, chat yang biasanya setiap saat membombardir lengang. Hanya chat beberapa grup kampus dan teman kuliahnya. Yang dinanti tidak mengirim pesan. Dia merengut lalu memilih membuka media sosialnya. ¡° Kak Jen, memang sejauh apa si kamu suka sama kak Raksa?¡± Mengobati galau dengan sok mencari tahu kisah cinta orang lain. Dia menelusuri postingan-postingan receh mengusir galau di hatinya. Jen menoleh pada adiknya, yang bertanya bahkan tidak mengalihkan pandangan dari hp. Dia bergumam sendiri, mengajak hati dan pikiraannya untuk membuat jawaban yang bisa membuat adiknya iri. Dilebih-lebihkan dari segala sudut. Krik, krik bahkan sampai beberapa lama dia binggung untuk mulai membuat kalimat. ¡° Sudah, tidak usah menjawab, aku sudah tahu jawabannya.¡± Bosan menunggu yang tak pasti. ¡° Apa! Aku saja belum selesai berfikir bagaimana kau bisa menyimpulkan jawabanku.¡± Tidak terima, karena sepertinya alasannya itu sudah ada diujung kepala. Tapi susah sekali kalau di susun dalam satu kalimat. ¡° Sudah kak, aku sudah tahu. Dari dulu kamu kan selalu begitu kalau lagi jatuh cinta.¡± Beralih sebentar dari hp, lalu tertawa melihat wajah Jen kesal. ¡° Apa!¡± ¡° Ya gitu otaknya agak kosong kalau lihat orang baik sedikit aja.¡± Tertawa jauh lebih keras. ¡° Kurang ajar kamu!¡± Jen memukul adiknya dengan guling yang dipeluknya. Begitulah Jen, dia memang mudah tersentuh dengan kebaikan orang lain. Apalagi orang-orang yang tidak mengenal siapa dirinya. Siapa keluarganya. Orang-orang yang hanya mengenalnya sebagai Jenika. Hingga terkadang memang dia sangat mudah dimanfaatkan, sampai dia sendiri tidak merasa kalau dia sedang dimanfaatkan oleh orang. Jen tidak pernah mengatakan siapa keluarganya, karena memang Sagapun tidak memperkenalkan adik-adiknya ke publik. Namun orang bisa melihat, dari penampilan Jen, mobil yang dia bawa. Bahwa dia punya segalanya untuk layak dijadikan teman. ¡° Aku lapar, cari makanan di luar yuk.¡± Saat mendengar perutnya yang mulai berbunyi. ¡° Tuh kan kosong lagi isi kepalanyanya. Sekertaris Han bilang lewat jam enam jangan keluar dari hotel. Lupa!¡± Keduanya mengumpat dalam hati lagi. Menyebut satu nama. ¡° Tunggu, kak Saga pasti sedang asik dengan kakak ipar, dia tidak mungkin mengecek keberadaan kitakan. Lagian ini juga belum malam. Aku ingin makan nasi goreng XX.¡± Lagi-lagi keduanya membayangkan sepiring nasi goreng pedas yang asapnya masih mengepul, dengan taburan bawang goreng garing, dan daging kambing di atasnya. Walaupun harus dibeli dengan melewati antrian panjang tapi mereka akan rela menempuhnya. ¡° Ayo kabur sebentar.¡± Jen bangun duduk. Merapikan rambut dan bajunya. ¡° Kita mau naik apa?¡± Sofi sudah ingin menyerah saja. Pulang dari kampung dan kantor saja mereka dijemput tadi. ¡° Telfon pacarmu, minta jemput di sebrang hotel. Kita keluar diam-diam.¡± Jen mengeryit saat Sofi malah meraih bantal lalu memukulinya berulang. Melemparkan bantal dan dia ambil lagi lalu dibenamkan wajahnya di sana. Dia memang tidak terisak, tapi adegan itu cukup dramatis membuat Jen kuatir. ¡° Hei kenapa?¡± Aku menyebut siapa si tadi, pacar, hei kenapa? Jangan bilang kamu putus juga. ¡° Kenapa?¡± mengoyangkan kaki Sofi. ¡° Putus sama Haze?¡± Sekarang sudah diguncang tubuh adiknya keras karena tidak menjawab pertanyaan. ¡° Hei kenapa? Dia selingkuh?¡± Ntahlah, kalau pertengkarang antar hubungan kadang selalu dipicu oleh pihak ketiga. Hingga yang terpikirkan hanya tema perselingkuhan. Hiks, aku bahkan ingin jadi pihak ketiga hubungan seseorang. ¡° Tidak!¡± Masih membenamkan wajah. ¡° Lalu kenapa? Kamu disakiti?¡± Sofi mengeleng, masih diposisi semula. ¡° Benar juga, tidak mungkin ya, dia bahkan tergila-gila padamu sudah sampai level begitu.¡± Wajah Haze terbayang di kepala Jen. Laki-laki perawakan sedang, tingginya dibawah Jen tapi masih sama dengan Sofi. Mereka terlihat sangat manis berdua. Sama-sama polos. Hanya dibayangkan saja sepertinya jahat sekali kalau menuduh wajah polos itu selingkuh. ¡° Bukan! Kami bertengkar kemarin.¡± Membalikan badan dan bangun. Mengambil bantal dan memeluknya di pangkuan. ¡° Kenapa?¡± Terkejut. ¡° Aku menamparnya.¡± Membenamkan wajahnya dibantal. ¡° Aku menamparnya di mobil dua hari lalu.¡± Waww, bocah ini main tampar tamparan. Jen tidak percaya. Ini Sofi lho, kalau Helene menampar kakak ipar mungkin dia masih bisa percaya. ¡° Kenapa?¡± Penasaran. Jen menatap adiknya yang masih membenamkan wajah dibantal. Lalu Sofi mendongak, merengut. ¡° Dia tiba-tiba menciumku di dalam mobil. Aku jadi refleks menamparnya.¡± Hah! Semakin mengejutkan saja bocah ini. Begitulah, bagi seorang kakak. Terkadang berapa usia adikmu, selalu dianggap bocah belum cukup umur. Jen sedang berusaha mengulang adegan yang diceritaakan Sofi. Saat mereka sedang ada di lampu merah, dan Sofi bicara panjang lebar kemana-mana. Tiba-tiba Haze menyambar bibir Sofi. Dan yang terjadi kemudian refleks Sofi menamparnya. Ya Tuhan, aku pasti tertawa kalau ada di sana. Dia hanya ingin membungkam multmu Sofi. ¡° Kenapa kau menamparnya? Beneran gak suka. Haha.¡± Jen menyenggol lengan adiknya. ¡° Soalnya aku langsung ingat kak Saga. Dan Ingat kejadian beberapa tahun lalu.¡± Semua langsung mengheningkan cipta mendengar nama Saga di sebut. Jen sampai menoleh meyakinkan diri kalau tidak ada yang mendengar. Melihat ke arah pintu, Tidak mungkinkan Kak Saga atau Han tiba-tiba muncul di sana. Bersambung Chapter 162 Kenangan Jen dan Sofi Pristiwa ini terjadi sebelum Saga bertemu dan berkencan Helena. Jauh sebelum dia mengenal perasaan sayang selain pada keluarga dan orang-orang yang selalu setia di belakangnya. Jen dan Sofi beranjak dewasa dan mulai mendapat izin keluar malam hari. Walaupun mereka tetap mendapat pengawalan serta jam malam yang cukup ketat. Saga tidak pernah membatasi pergaulan mereka, dengan siapapun Jen dan Sofi berteman dia memberikan kebebasan. Asalkan satu hal, patuh pada aturan yang sudah dia tetapkan. Kedua adiknya pun memahami itu sebagai bukti kasih sayang kakak mereka, hingga mereka tak pernah protes sedikitpun. Sampai malam itu, saat ulang tahun Jen. Dia dan teman-temannya mengadakan pesta di sebuah tempat hiburan. Seperti biasa tidak ada alkohol ataupun hal yang terlarang. Semua berjalan dengan baik dan sesuai rencana. Sampai datanglah beberapa orang kenalan dari teman-teman Jen. Dan mulailah, tiga pria tampan yang dari segi usia jauh dari mereka. Mulai mendominasi acara dan melakukan hal yang akan mereka sesali seumur hidup mereka. Jen dan Sofi berdiri di depan meja kerja Saga. Sementara Saga duduk menatap mereka. Ada kesal yang bercampur dengan rasa bersalah di matanya. Kedua gadis itu tertunduk dalam. Percayalah, kalau tidak terpaksa mereka tidak akan sudi masuk keruangan Saga. Karena kalau di dalam ruangan ini kakak laki-lakinya akan berubah menjadi orang lain. Bahkan mungkin jauh lebih menakutkan daripada saat dimarahi ayah sendiri. Kalau mereka masuk ke dalam ruangan ini, artinya mereka sudah melakukan kesalahan. ¡° Aku bisa memberikan apapun yang kalian mau.¡± Saga menarik nafas dalam. ¡° Aku bisa menjaga kalian dengan seketat apapun. Bahkan aku bisa menugaskan pengawal 24 jam menemani kalian, tapi kalau kalian tidak bisa menjaga diri kalian sendiri. Maka semua yang aku lakukan untuk kalian semua akan sia-sia.¡± Jen dan Sofi mencengkram tangan mereka masing-masing. Mereka melewati jam malam. Pergi kabur dari pengawasan para pengawal karena hasutan teman-teman mereka. Mengikuti tiga laki-laki asing yang tidak tahu siapa. ¡° Kalian sudah mau menikah?¡± Saga bertanya. ¡° Tidak kak.¡± Jen mewakili adiknya menjawab cepat. Sofi yang hanya ikut-ikutan karena dipaksa olehnya benar-benar ketakutan. ¡° Akan kucarikan laki-laki baik kalau kau ingin menikah Jen.¡± Ketukan tangan Saga di meja, menandakan dia serius dengan ucapannya barusan. Bisa jadi kalau Jen menjawab iya, minggu depan dia sudah bisa naik ke pelaminan menikah. Dengan laki-laki pilihan kakaknya. ¡° Tidak kak. Maafkan aku. Maaf. Aku tidak akan mengulanginya lagi.¡± Jen sudah mendekapkan tangan di depan dadanya memohon. ¡°Maafkan aku.¡± ¡° Kalian bisa berteman dengan siapapun, aku tidak memperdulikan latar belakang mereka. Tapi kalau pertemanan kalian membuat kalian tidak patuh dan melanggar aturanku. Lebih baik kalian tidak perlu berteman. Kalian tidak perlu pergi kuliah. Aku akan mencari dosen yang bisa mengajar kalian di rumah.¡± ¡° Maafkan kami kak. Kami salah. Kami tidak akan mengulanginya lagi.¡± Akhirnya Jen terduduk dan berlutut. Selama ini mereka senang karena tidak dikenalkan ke publik. Mereka bisa hidup damai menjadi diri mereka sendiri. Sesal membuncah. Bagaimana bisa mereka begitu teledor dan tidak bisa menjaga diri. ¡° Jen jaga adikmu. Seperti itukan seharusnya kakak itu, seperti aku menjaga kalian.¡± Sekali lagi, Jen semakin menatap lantai dalam. Sofi mengikutinya duduk di lantai. ¡° Maaf kak.¡± Jen menarik lengan Sofi di sampaingnya. ¡° Terimakasih sudah menjaga dan menyayangi kami.¡± ¡° Hanya kalian yang bisa menjaga kehormatan diri kalian sendiri. Bukan hanya untuk dilihat suci atau sok suci. Tapi itu adalah cinta dan perasaan kalian. Jangan kalian berikan pada sembarangan orang. Tubuh dan hati kalian itu satu kesatuan.¡± Saga adalah tipe laki-laki yang membenci hubungan bebas laki-laki dan perempuan dalam ranah hubungan badan. Baginya hubungan semacam itu hanyalah merugikan pihak perempuan. Kenapa? Mungkin itulah yang tercipta di masyarakat ini. Ketika hanya wanita yang dipertanyakan kehormatannya ketika sebelum menikah. Sementara rekam jejak laki-laki tidak pernah diungkit sedikitpun. Walaupun Saga sendiri dengan gampangnya dia bisa mendapatkan wanita manapun. Karena banyak wanita yang menawarkan diri padanya. Baik secara terang-terangan, maupun melalui proposal resmi orangtua mereka yang mendekat pada Antarna Group. Namun, karena dia memiliki dua adik perempuan yang ia jaga dengan nyawanya sendiri. Dia selalu bisa menahan diri untuk mendekati wanita. Untuk itulah mungkin imej dinginnya terbentuk. Karena banyak hati wanita tersakiti dengan penolakan dinginnya, rumor yang beredar dia berganti wanita setiap hari semakin menjadi. Tapi percayalah, itu malah membuatnya semakin digilai. ¡° Keluarlah, renungkan yang aku katakan. Tidak akan ada peringatan kedua kalau kau melakukan kesalahan yang sama Jen. ¡° Beban kesalahan itu jatuh pada jenika. Mereka bangun dan keluar dari ruangan kerja Saga. Tanpa mendapatkan hukuman sekalipun sudah membuat kakak mereka kecewa sudah seperti mereka mendapat hukuman mati saja bagi mereka.. Sial! Seharusnya aku tahu kalau hukuman kami bukan di dalam. Sekertaris Han berdiri sambil bersandar di dinding di depan ruang kerja Saga. Hanya berdecak kesal yang terdengar dari mulutnya. Menatap kedua gadis pembuat onar, begitu pasti yang dia pikirkan. ¡° Ikut aku.¡± Han melangkah pergi menjauhi ruangan kerja Saga. Jen mengandeng tangan Sofi. Mengikuti kesebuah ruangan. ¡° Berikan hp kalian nona.¡± Han menyodorkan tangannya. ¡° Apa!¡± keduanya langsung menyentung kantong baju mereka masing-masing. Mempertahankan harta paling berharga yang mereka punya. ¡° Kak Saga bahkan tidak memintanya.¡± Apa hakmu mengambilnya dariku. Jen ingin berteriak begitu. Tapi lidahnya kelu karena tidak punya keberanian untuk bicara. ¡° Nona apa kalian tahu sebesar apa kecerobohan kalian?¡± Han sudah menurunkan tangannya. ¡°Sebesar apa kesalahan yang sudah kalian lakukan malam ini?" Jen mengigit bibirnya. Sofi semakin kuat mencengkram tangan Jen di sampingnya. Tidak berani melihat Han. ¡° Apa kalian pikir laki-laki di luar sana semua sebaik tuan muda. Lewat sedikit saja kami menemukan kalian, saat ini kalian hanya bisa menangis menyesali semuanya. Dan kalian tahu, siapa yang paling merasa bersalah karena ulah kalian. Jadi jangan membantah, berikan hp kalian sekarang.¡± Selama satu bulan tanpa hp, selama satu bulan pulang dan pergi ke kampus akan dilakukan sesuai jadwal. Begitu kalimat Han selanjutnya. Dia bicara dengan nada yang sudah membuat siapun tidak berani membantah. "Tunjukan keseriusan nona satu bulan ini." Karena tahu mereka bersalah, akhirnya tanpa bisa membantah mereka mengeluarkan hp mereka dari saku. Dengan perasaan tidak rela apalagi saat semua hp itu sudah berpindah tangan. ¡° Nona, jangan membuat tuan muda merasa bersalah dan sedih. Sudah banyak hal yang harus dia pikirkan. Kalian tahu seberharga apa kalian bagi tuan muda.¡± ¡° Maaf.¡± Kak Saga mencintai kami bahkan melebihi dirinya sendiri. ¡° Berandalan-berandalan itu masih bisa hidup saja sudah keberuntungan untuk mereka.¡± Jen dan Sofi langsung teringat tiga laki-laki tampan yang hampir saja merengut kehormatan mereka itu. Tidak mau membayangkan jadi seperti apa mereka sekarang. Bersambung Chapter 163 Sofia dan kekasihnya Kembali ke kamar hotel. Bersama Sofi dan Jen. Setelah terdampar kembali ke masa sekarang, dari kenangan buruk beberapa tahun silam. ¡° Kak Jen, aku ingat kejadian itu. Aku refleks menampar Haze.¡± Sofi kembali membayangkan wajah kesal Haze. Sehabis tangannya menempel keras di pipi laki-laki itu. ¡° Terus, dia memukulmu juga?¡± Jen mengeryit dengan pertanyaan tidak masuk akalnya. Hei, mana mungkin Haze melakukan itu. ¡° Mana mungkin kak, tahukan sebaik apa Haze¡± Sesal datang, apalagi sampai hari ini Haze bahkan belum mengiriminya pesan apapun. ¡° Dia bahkan hampir menangis kemaren karena kaget aku berteriak padanya.¡± Membayangkan wajah Haze saat kejadian saja Jen sudah ingin tertawa. Hari dimana pristiwa penamparan terjadi. Hari itu cuaca sedikit mendung, udara lembab di luar mobil yang mereka tumpangi. Angin sesekali bertiup cukup keras. Mungkin menjadi pertanda alam agar segera turun hujan. Saat itu lampu sudah menyala hijau, suara klakson mobil sudah seperti makian. Tapi Haze belum mengerakan tangannya. Mobil masih berhenti. Dia terlihat sedang berusaha mengumpulkan akal sehatnya. Secepat kilat dia menyeka airmata yang menganak di pelupuk matanya. Saat suara klakson mengejutkan matanya melihat lampu jalan. Dia segera tancap gas meninggalkan makian pengemudi lain. Sofi melirik cemas laki-laki di belakang kemudi di sampingnya. ¡° Maaf.¡± Tangannya mendekat ingin meraih pipi Haze. Memeriksa bekas tangannya yang menempel keras tadi. Mobil berdecit, berhenti tepat di pinggir jalan. Sementara lalu lalang kendaraan tidak berhenti atau terusik sedikitpun. ¡° Kenapa memukulku, aku hanya ingin menciumu sedikit saja.¡± Haze bicara pelan. Tanpa menatap Sofia, dia memilih melihat kedepan, keluar kaca. Jalanan lurus yang berseliwearan kendaraan. ¡° Kenapa mencium tiba-tiba! Kau bahkan tidak minta izin.¡± Sofi menjawab cepat. Karena kau mengemaskan sekali saat mulutmu tidak berhenti bicara! Haze ingin berteriak begitu. Tapi dia menahannya. ¡° Benarkan, cuma aku yang menyukaimu. Cuma aku yang suka dan tergila-gila padamu. Kau mau pacaran denganku karena aku jatuh cinta dan nembak duluankan? Perasaanmu padaku masih setengah-setengah.¡± Keluar juga kata-kata itu dari mulut Haze. Selama ini dia hanya mendiga-duga. ¡° Tidak!¡± Sofi selalu merasa kalau perasaannya pada Haze tulus dan tidak dibuat-buat. ¡° Bohong! Buktinya kamu semarah itu. Buktinya kamu tidak pernah coba-coba melakukan kontak fisik. Akukan hanya ingin menunjukan sayangku padamu.¡± Walaupun berteriak tapi Haze malah yang terlihat ingin menangis karena frustasi sekarang. Apalagi saat Sofi terkejut dengan kata-kata kerasnya. Dia bahkan ingin segera minta maaf dan memeluk gadis di depannya. Tapi dia sekuat tenaga mencengkram kemudi. ¡° Maaf.¡± Sofia mengalah pada akhirnya. mungkin refleks tangannya juga sudah keterlaluan. Seharusnya dia cukup mendorong Haze tadi. ¡° Lihatlkan, kau cuma bisa minta maaf tanpa mau menjelaskan apapun. Karena kau tau aku pasti memaafkanmu jadi kamu cuma bilang maaf.¡± Tidak mau menerima maaf Sofia semudah biasanya. padahal hatinya benar-benar ingin mengengam tangan Sofi sekarang. ¡° Maaf.¡± Sofia binggung bagaimana harus menjelaskan. Kalau kak Saga tiba-tiba muncul di kepalanya, menatapnya tajam. Jadi tangannya refleks bergerak sendiri. Tapi semua akan menjadi panjang. Mungkin latar belakangnya sebagai adik presdir Antarna Group akan terbongkar pada akhirnya. Haze memukul kemudi mobil. ¡°Jangan bicara padaku lagi sekarang.¡± ¡° Kenapa?¡± Sofi dengan polosnya bertanya. ¡° Aku minta maaf. Aku sayang sama kamu Haz, tapikan kita sudah janji, untuk tidak melakukan kontak fisik. Apalagi kamu tiba-tiba menciumku, akukan kaget.¡± Haze terdiam, menyadari kesalahannya. Tapi tentu saja dia tidak mau mengakuinya. Dia sedang merasa sangat kesal sekarang. Perasaan Sofia padanya saat ini saja dia merasa sanksi. ¡° Kau tidak benar-benar menyukaikukan?¡± Akhirnya dia mencoba menegaskan kesimpulan yang dia buat tadi. ¡° Tidak. Aku menyukaimu. Lihat di chat siapa yang paling sering bilang sayang duluan. Akukan.¡± Menunjukan hp di depan wajah Haze. Mati aku, aku sudah menghapus riwayat chat. Haze merebut hp ditangan Sofi, memeriksa. ¡° Lihat, kamu bahkan menghapus semua riwayat chat kita. Padahal chat kamu satu bulan lalu masih ada di hpku.¡± Mengambil hp miliknya dan menunjukannya pada Sofi. ¡° Lihat, seberapa pentingnya kamu buat aku.¡± ¡° Ini karena kakakku memeriksa hpku.¡± Menyerah sudah. Keluar juga kebenaran dari mulut Sofi. ¡° Apa! dia memeriksa hpmu? Kenapa? Kak Jen?¡± Haze mengenal jen sebagai satu-satunya kakak bagi Sofi. ¡° Bukan, kakak laki-lakiku.¡± Tepatnya Han yang memeriksanya. ¡° Kenapa dia memeriksa hpmu?¡± Haze merasa tidak wajar. Bukankah aneh kalau sampai seorang kakak memeriksa hp adiknya. Aaaaaa, bagaimana aku menjelaskannya. Lagi-lagi Sofi tidak bisa mengatakan apapun perihal Saga. Membuat Haze kembali kesal. Merasa bahwa alasan yang dibuat Sofi hanya mengada-ada, untuk menutupi perasaannya yang sebenarnya. ¡° Sebaiknya kita jangan bicara beberapa waktu dulu.¡± Akhirnya Haze memutuskan. walaupun dia sendiri tidak rela. ¡° Tapi kalau chat bolehkan?¡± ¡° Aku tidak akan membalas.¡± Membalas cepat. ¡° Tapi kitakan ada kelas bareng, apa aku juga tidak boleh menyapamu.¡± ¡° Sofia!¡± Setengah berteriak karena sudah kesal. ¡° Apa!¡± Sofiapun sama kesalnya. Kehilangan kata-kata untuk membalas, lalu laki-laki itu keluar. Membanting pintu mobil dan meninggalkan Sofia di dalam mobil. Baru beberapa langkah kakinya sudah berhenti. Ketika sadar dia ada dimana. ¡° Haz mau kemana? Disinikan jauh dari kampus. Bawa mobilnya ke kampus dulu, kamu ada kuliahkan?¡± Lanjutkan marahnya nanti saja pikir Sofia. Langkah kaki Haze terhenti. Dia berbalik, menatap jalanan panjang dan mobil Sofia. Menimbang-nimbang. Akhirnya dia masuk lagi kedalam mobil. ¡° Jangan bicara padaku.¡± Katanya ketus. ¡° Ia, ia. Aku akan diam.¡± Dan Sofi asik dengan hpnya sepanjang perjalanan. Mendengar cerita adiknya Sofi, Jen guling-guling di atas tempat tidur tertawa. Membayangkan wajah Haze yang kesal setengah mati, sementara Sofi yang masih asik bermain dengan hpnya. ¡° Kasian sekali Haze, jadi kalian belum bertegur dua hari ini?¡± ¡° Belum.¡± ¡° Lagian cium sedikit gak papa kali Sof, Hazekan pria baik juga. Lagipula itu di lampu merah, memang mau ngapain si dia.¡± Menyenggol siku adiknya. ¡° Kak jen gak tau si, saat Haze habis nyium itu wajah kak Saga langsung membelalak di mata aku tahu.¡± Kasihan sekali batin Jen, tapi jujur diapun selalu mengingat pristiwa itu di kepalanya. Saat kasih sayang Saga menjadi kemarahan. Saat dia mengatakan menjaga kehormatan sama saja menjaga cinta dan perasaanmu. Sesuatu yang harus kau berikan pada orang yang tepat dan waktu yang tepat. ¡° Dan kami sepakat untuk tidak melakukan kontak fisik, tapi dia malah menciumku. Siapa yang tidak kaget.¡± Sofia membuat pembelaan, kalau dia tidak sepenuhnya salah. ¡° Ia, ia, Haze juga salah. Tapi kamu juga tidak seratus persen benar." ¡° Kenapa lagi?¡± ¡° Karena kau menamparnya tampa peringatan.¡± Sofi merengut, mungkin yang dilakukannya berlebihan. ¡° Tapi kak, aku ada teman yang pernah melakukan hal seperti itu selama pacaran. Dia bilang, awalnya hanya sebatas ciuman saja, lalu pacarnya minta lebih dan lebih. Dan akhirnya mereka melakukan hubungan tubuh. Aaaaa. Aku ngeri membayangkan.¡± Karena Sofi mengikuti perkembangan hubungan temannya itu dengan kekasihnya. Awalnya temannya itu merasa menyesal, dan marah pada dirinya sendiri. Berjanji tidak akan pernah mengulanginya. Cukup sekali dia terjebak dalam hubungan fisik yang tidak sehat. ¡° Tapi lama-kelamaan karena pacarnya menuntut akhirnya hubungan mereka jadi seperti itu kak. Bertemu hanya sebatas kontak fisik, padahal mereka belum menikah.¡± Ini bukan perkara suci atau sok suci, namun Jen dan Sofi meyakini, seperti apa yang pernah dia dengar dari kakak laki-laki mereka. Bahwa menjaga kehormatan diri bukan sebatas dipandang kau mempersembahkan robekan selaputt dara pada laki-laki yang akan menjadi belahan hidupmu. Tidak seperti itu, tapi tubuhmu, adalah bagian cinta dan perasaanmu. Berikanlah pada orang yang tepat dan waktu yang tepat. Sekali lagi, Jen dan Sofi membayangkan. Kalau Kak Saga yang sesempurna itu bahkan bisa menjaga hatinya. Bahkan saat bersama Helen yang luar biasa, mereka tidak melakukan hubungan di luar batas. Kenapa mereka tidak. Untuk itulah mereka mengengam kata-kata Saga seperti berlian di hati mereka. Mereka ingin menikah dengan laki-laki seperti kak Saga. Hingga akhirnya mereka merasa perlu menjaga diri mereka agar pantas. Seperti kakak ipar mereka yang bahkan memberikan ciuman pertamanya untuk suaminya. Aaaaa, Haze sudah mengambil ciuman pertamaku! Sofia panik. bersambung Chapter 164 Istrinya Han? Jen guling-guling di atas tempat tidur sambil membayangkan nasi goreng kambing pedas. Bawang goreng garingnya yang kriuk-kriuk saat bertempur dengan gigi. Sementara Sofi menatap hpnya nanar. Memang seharusnya aku yang minta maaf duluan si, akukan yang menamparnya. Hiks, Haze sedang apa ya. Aku ingin dengar suaranya. Tiba-tiba Jen bangun dengan semangat, mendapat ide brilian yang bisa membebaskan rasa laparnya sekaligus keinginannya keluar dari hotel. Ide itu adalah merayu kakak pengawal, menyelinap sepertinya terlalu beresiko. Tidak mungkin tidak ketahuan, yang akan mendapat hukuman dari sekertaris Han selain dirinya tentu dua kakak pengawal itu. Jadi Jen mengambil kesimpulan, kalau mereka pasti mau diajak kerjasama. Dia mengambil hpnya. ¡° Ia nona? Ada yang bisa saya bantu.¡± Suara sopan di sebrang kamar yang hanya berbatas tembok. ¡° Kakak sudah makan?¡± ¡° Kami baru saja mau makan.¡± Menjawab sambil memberi isyarat pada satu temannya untuk keluar kamar. Mengantisipasi tindakan nekad yang bisa dilakukan dua nona di ruangan sebelah pikirnya. ¡° Kebetulan sekali, ayo keluar hotel dan cari makanan enak.¡± Jen sudah bersemangat, menendang kaki adiknya untuk bersiap-siap. Menunjuk tas miliknya juga. ¡° Nona.¡± Kata-kata pengawal di sebrang sana sudah depresi. ¡°Nona tahukan kalau tidak boleh keluar hotel lagi setelah nona berdua pulang bekerja dan kuliah.¡± Hancur sudah senyum Jen, dia duduk lagi di tempat tidur. ¡° Kak Saga tidak akan menanyakannya kalau kalian tidak bicara, dan kami juga tidak akan bicara. Dia pasti sedang berduaan dengan kakak ipar sekarang. Percayalah.¡± Mencoba merayu lagi. ¡° Tapi nona.¡± ¡° Sudahlah, siapkan mobil.¡± Nekad saja. Asalkan tidak terjadi apa-apa pasti tidak akan ada yang tahu mereka keluar. Asalkan tidak ada yang mengadu diantara mereka. ¡° Bukan itu nona, tapi sekertaris Han.¡± Hening. Saat nama itu di sebut, sudah seperti mantra yang membuat Jen membeku. ¡° Maafkan aku yang tidak memikirkan penderitaan kakak pengawal. Baiklah, teruskan makan malam kalian. Aku tahu bagaimana getirnya perasaan kalian. Kami janji tidak akan kemana-mana.¡± Menjatuhkan hp di tangannya ke samping Sofi. Adiknya menatap. ¡° Kenapa, mereka tidak mau ya?¡± Ikut merasakan kesedihan yang dirasa kakaknya. ¡° Sudahlah. Mereka takut pada Han.¡± Rebahan lagi. ¡° Siapa yang tidak takut padanya kak. Aku sampai lupa dan hanya memikirkan kak Saga. Sudahlah, kita makan makanan hotel saja.¡± Tapi keduanya masih berharap, buktinya belum beranjak dari tempat mereka tiduran. Keduanya masih memikirkan jalan lain. Sofi benar-benar ingin menghubungi Haze sekarang. Tapi dia hapus lagi deretan kata yang sudah ditulisnya di chat. Melemparkan hpnya menjauh. Aku akan menghubunginya besok. ¡° Kak, kenapa kamu tidak menikah saja dengan sekertaris Han?¡± Sofi membuka suara. Lalu tertawa terbahak. Suasana yang tadinya hening sudah berganti. Jen memukul adiknya, sampai mengacak rambut Sofi karena ide gilanya. ¡° Sudah gila ya!¡± membayangkan saja tidak akan pernah masuk list. Dan Jen cukup tahu diri, dia dianggap apa oleh laki-laki itu. ¡° Diakan sayang pada kak Saga, otomatis juga sayang pada kita kan.¡± Sofi merasa ragu dengan kata-katanya sendiri. Karena cara sekertaris Han memperlakukan mereka tentu saja jauh berbeda seperti sikapnya pada Saga. ¡° Kamu saja kalau mau.¡± ¡° Tidak!¡± Bulu kudu sofi langsung merinding. Jujur saja, kalau Jen masih berani bicara pada sekertaris Han, kalau Sofi dia akan memilih menghindar jauh-jauh dari laki-laki itu. Keduanya mulai lupa dengan rasa lapar, memilih membahas Han. ¡° Siapa ya kira-kira yang akan menikah dengannya?¡± Keduanya sama-sama menatap langit kamar. Mencoba menggambar sebuah sketsa karakter wanita yang cocok dengan sekertaris Han. Dia harus sekeren kakak ipar dan setegar karang. Menghadapi laki-laki aneh seperti Han dibutuhkan mental baja yang tidak akan lumer walaupun di serang tatapan dingin dan angkuhnya Han. Jen dan Sofi sepakat dengan pemikirannya masing-masing. ¡° Haha, sof, kamu coba bayangkan ya, Misalnya Han menikah dan pergi untuk bulan madu malam pertama mereka. Tidak jauh-jauh, bulan madunya mungkin cuma di apartemannya. Tahu alasannya?¡± Jen sudah tertawa walaupun belum mendengar jawaban Sofi. ¡° Dia pasti bilang, kalau aku pergi bagaimana kalau tuan muda membutuhkanku. Haha. Auto manyunkan istrinya.¡± Lalu munculah beberapa skenario dadakan. ¡° Dan pas mereka lagi malam pertama tiba-tiba kak Saga menelfon dan bilang. Han, datang kemari sekarang!¡± Jen lagi. ¡° Dan apa yang terjadi saat itu teman-teman, dia langsung bangun dan mengambil baju.¡± Sofi bangun, memperagakan gerakan mengambil pakaian di lemari. ¡° Lalu istrinya berteriak, Sayang, kamu mau kemana?¡± Jen memperagakan karakter istri masa depan Han. ¡° Tuan muda memanggilku, aku akan kembali dalam satu jam.¡± Memeriksa hp dan mengambil kunci. Dia berhenti sebentar saat istrinya berteriak marah. ¡° Tidak, ini malam pertama kita. Bagaimana kau bisa pergi meninggalkanku untuk tuan Saga. Aku tahu dia bosmu tapi aku istrimu.¡± Jen pandai sekali memperagaan adegannya. Gadis kesal yang ditinggal suaminya di malam pertama. Han diam sebentar. ¡° Kalau kau pergi memilih tuan Saga, ceraikan saja aku. Kenapa juga kamu menikahiku.¡± Dan tahu apa yang terjadi. ¡° Baiklah, akan kuurus semua suratnya besok. Karena ini sudah larut kau bisa tinggal di sini malam ini.¡± Apa! Mereka berdua tertawa terbahak sampai ambruk lagi di tempat tidur. Adegan drama mengelikan yang mereka buat sendiri. Membayangkan sekali lagi kalau benar-benar Han mengalami adegan yang sudah mereka reka ulang. Mereka kelelahan tertawa sampai merasa lapar. Tersadar akan nasi goreng kambing pedas lagi. ¡° Hallo kak Raksa ya, bukan ini bukan kak Jen. Ini Sofia.¡± Menjelaskan siapa posisi dia. Adik ipar Kak Niah juga. ¡° Adik Jen ya, kak Niah juga cerita tentang Sofi, salam kenal. Kenapa?¡± Raksa memeriksa nama yang tertera di hpnya. Jelas-jelas ini no Jen. ¡° Kak Raksa tahukan, kalau kak Saga dan kakak ipar sedang bulan madu?¡± ¡° Ia. Kak Niah sudah bilang. Kenapa?¡± menjawab lagi, menanyakan kenapa menelfon malam-malam. ¡° Kami terkurung di dalam hotel sekarang dan tidak bisa kemana-mana.¡± Disebrang sana Raksa sedang mencerna. Terkurung di dalam hotel dan tidak bisa kemana-mana. ¡° Apa kalian baik-baik saja? Dimana Jen?¡± ¡° Ia, kami baik-baik saja kak. Kami di hotel XX.¡± Bukankah itu hotel tuan Saga. Jenika keluar dari kamar mandi sambil mengeringkan wajahnya. Ia kelelahan tertawa sampai wajahnya kram. ¡° Bicara dengan siapa? Hei kenapa pakai hpku. Siapa yang kamu telfon? Haze.¡± Jen langsung lompat ke tempat tidur saat melihat hp di dekat telinga Sofi adalah miliknya. Hp sudah berpindah tangan. Matanya langsung terbelalak. ¡° Beraninya kau!¡± bicaranya dengan bahasa bibir di sambut gelak Sofia. ¡° Aku mau mengajak kak Raksa menjemput kita, kamu bilang kelaparan dan mau makan nasi goreng.¡± Gila ya! ¡° Hallo¡± ¡° Hallo Jen.¡± ¡° Sofi memang sembarangan, maaf ya sudah menggangu. Kamu pasti lelah, sudah ya.¡± Jen sudah mau mengakhiri panggilan telfonnya. ¡° Gak papa, mau kupesankan nasi goreng via ojek online.¡± Keduanya, Jen dan Sofi saling berpandangan. Kenapa sampai mereka tidak kepikiran ya. Karena di kepala mereka hanya bawaan ingin kabur dan kabur saja dari tadi. Tapi, daripada meminta Raksa memesankan nasi goreng melalui ojek online Jen memilih yang lain. Akhirnya sampailah Raksa di depan pintu kamar. Sofi yang tertawa senang saat membukakan pintu. Memberi salam dan memperkenalkan diri. Pertama kalinya melihat secara langsung, laki-laki yang selalu di sebut Jen pria paling baik di seantero anak magang Antarna Group. ¡° Maaf ya sudah merepotkanmu, sebenarnya kami cuma ingin keluar saja.¡± ¡° Kak Raksa jadi tumbal. Hehe.¡± Jen melotot. Sofi sudah memegang hpnya, nada tersambung. Namun belum diangkat. Sebelumnya dia sudah mengirim pesan untuk voice call. ¡° Kenapa? Kalian tidak membuat masalahkan?¡± seperti biasa wajah datar itu muncul di layar. Sofi langsung menyerahkan hp ketangan Jen, dan bersembunyi di balik punggung Jen. ¡° Sekertaris Han, apa kami bisa pergi keluar.¡± Jen menjauhkan hp dari wajahnya. ¡° Sudah kukatakan jangan membuat masalah selama tuan muda pergi.¡± ¡° Kami tidak membuat masalah.¡± Jen menarik tangan seseorang. ¡° Kami pergi bersama Raksa.¡± Raksa terlihat mengangukan kepalanya sopan dan menyapa. ¡° Apa yang kau lakukan di sana?¡± ¡° Jen minta bantuan untuk menjamin mereka.¡± Raksa hanya menyebutkan skenario yang sebelumnya sudah di jelaskan Jen. ¡° Berikan hp pada nona Jenika.¡± Menatap tajam setelah hp berpindah tangan. Bertanya, apa yang kau inginkan. Tapi tanpa membuka mulutnya. ¡° Aku ingin makan nasi goreng XX, malas makan makanan hotel jadi kami minta Raksa untuk menemani. Bolehkan.¡± ¡° Memang nona tidak bisa pesan ojek online, atau kemana pengawal nona?¡± ¡° Aku akan menelfon kak Saga langsung untuk minta izin.¡± Jen mengancam tiba-tiba. Karena kedua hal tadi benar-benar tidak kepikiran di kepala mereka. Han berdecak kesal. ¡° Hebat sekali ya kalian sudah bisa mengancamku.¡± Melemparkan hp ke meja. Sekarang Jen hanya bisa melihat langit-langit kamar. ¡° Maaf.¡± Gawat, dia marah. ¡° Pergilah, kembali sebelum jam 10. Aku akan menelfon jam 10 tepat nanti.¡± Lalu sambungan terputus. Mereka saling berpandangan dan berteriak girang kemudian. Dan sekarang mereka sudah ada di dalam mobil Raksa. Lega, akhirnya mereka berhasil keluar dari hotel. Walaupun tidak lama Jen sudah manyun karena ada seseorang yang menelfon Raksa. Bersambung......... Chapter 165 Raksa dan jen the end Di kursi depan Jen berbalik melihat Sofi yang sedang duduk di kursi belakang, Sofi sedang senyum-senyum sambil bermain dengan hp. Tangannya tidak berhenti menari-nari sejak tadi. Mendongak saat merasa tatapan tajam menusuk tertuju padanya. Benar saja dia membelalak terkejut saat melihat jen sedang memelototinya. ¡° Apa?¡± bertanya tanpa suara. Jen menunjuk hpnya, mengatakan kalau dia mengirim pesan. Isi chat yang baru saja dia kirim adalah deretan pesan kegelisahan. ¡° Jangan tersenyum padanya¡± ¡° Jangan ajak bicara dia.¡± ¡° Jangan sok akrab.¡± ¡° Jangan perdulikan dia, paham!¡± ¡° Biar dia tahu, kalau dia tidak disukai.¡± Jen mendelik saat membalikan kepala Sofi hanya angkat bahu sambil memiringkan bibirnya. Seperti berkata, bukan urusanku ya. Itu masalah kak Jen. Sofi terlihat melihat pesan di hpnya lagi saat melihat jen dengan gusar menunjuk hp. Masih mendapat teror yang sama. Akhirnya dia menjawab. ¡° Ia kak.¡± Puas! Lagian kenapa bilang gak papa, seharusnya tadi bilang jangan saja kan gampang. ¡° Maaf ya, aku malah harus ketempat lain dulu. Kalian sudah lapar ya?¡± Raksa melirik Jen yang terlihat gelisah karena beberapa kali memutar kepalanya ke belakang. ¡° Maaf ya Sofi.¡± ¡° Gak papa kak, aku juga ingin kenalan sama pacarnya kak Raksa.¡± Tidak mengubris tatapan tidak suka Jen. ¡° Kak Jihan katanya usianya lebih tua dari kak Raksa ya?¡± Langsung pada intinya. ¡° Hehe, kak Niah yang cerita ya.¡± Kakak ipar pernah cerita gak ya? Anggap aja pernah deh. ¡° Tipe kak Raksa yang lebih tua ya, ya gagal donk Sofi buat pedekate.¡± ¡° Sofi, jangan aneh-aneh ya.¡± Jen melemparkan pandangan membunuhnya. ¡° Jangan hiraukan Sofi, dia sudah punya pacar.¡± ¡° Sofi sama Jen sudah aku anggap adik seperti kak Niah mengangap kalian adik. Jadi jangan sungkan.¡± Aaaaa, kubunuh kamu Sof nanti. Puas kau mendengar Raksa menyebutku adik. ¡° Ternyata kita dianggap adik sama kak Raksa, senangnya, iakan kak Jen?¡± Sofi benar-benar menahan diri untuk tidak tertawa. ¡° Kak Jen penasaran jugakan sama pacar kak Raksa.¡± ¡° Tentu saja, aku penasaran sekali.¡± Tapi bohong! Aku itu kenapa si, penasaran sekaligus takut. Aku takut kalau ternyata pacar Raksa benar-benar keren seperti yang aku bayangkan. Tapi kalau ternyata dia jauh dari ekspektasiku akukan bisa ambil jalan tengah. Jen membuka pesan saat hpnya berbunyi. ¡° Wahai manusia jangan jadi manusia hina yang merebut milik orang lain. Apapun alasannya.¡± ¡° Wwwwkakaka.¡± ¡° Bukan aku yang bilang, ni aku sertakan credit pemiliknya.¡± Pesan kutipan kalimat bijak yang diambil Sofia dari sosial media. Tangan Jen sampai gemetar menahan kesal. Dia ingin melemparkan hp biar mengenai kepala Sofi sekalian. ¡° Kalian dikirimi foto kak Niahkan?¡± Raksa terlihat memperhatikan sekeliling. Kendaraan berjalan lambat malam ini. Bahkan bisa dibilang jalanan cukup padat, membuat perjalanan yang biasanya memakan waktu setengah jam ini bisa lebih dari itu. ¡° Hari ini kak Niah kirim foto-foto bulan madunya. Mereka terlihat senang sekali bermain air di pantai. Main olahraga air juga.¡± Lanjutnya. Saat dia menoleh Jen langsung memalingkan muka melihatnya. ¡° Mana kak? Dasar, kakak ipar gak kirim foto apa-apa.¡± Sofi langsung mendekat menyentuh bahu Raksa, minta ditunjukan foto-foto yang dimaksud. Raksa mengambil hpnya. Setelah membuka kunci layar dia menyodorkan hp yang langsung di sambar jen. ¡° aaaaa, kakak ipar curang, kenapa kirim ke Raksa aja. Ih lucu yang ini.¡± Jen sudah bersorak melihat foto-foto. Pasti cantik kalau kakak ipar pakai baju putri duyung. ¡° Haha, kak Saga apa-apaan coba.¡± Sofi menyambar hp setelah Jen selesai. Lalu dia berkomentar banyak sekali. Bahkan dengan jelinya dia bisa melihat sosok wanita yang berdiri tidak jauh dari Han. ¡° Kak Jen, siapa dia?¡± Sofi mendekat menunjukan foto. ¡°Jangan-jangan pacar sekertaris Han. Aku belum pernah melihatnya.¡± Padahal aku baru mau menjodohkan dia dengan kak Jen. Daniah mengambil banyak sekali foto yang dia kirimkan pada adiknya. Membuat Jen dan Sofi iri. Padahal tidak ada maksud apa-apa. Daniah hanya ingin menunjukan pada adiknya, kalau saat ini dia benar-benar bahagia bersama tuan Saga. Karena Raksa selama ini belum seratus persen yakin, kalau dia benar-benar baik-baik saja. Apa-apaan ini, jangan dekat-dekat, jangan tersenyum dan jangan menyapa. Lantas kenapa kak Jen ngelayutan di bahu kak Jihan dengan tidak tahu malu begitu. Sofi tertawa tidak percaya sekaligus jengah. Melihat jen yang langsung bisa akrab dengan pacar kak Raksa. Mereka sudah seperti dua sahabat yang baru bertemu puluhan tahun. Topik bahasan mereka juga tidak nyambung di kepala Sofi yang masih mahasiswa. Mereka sedang membahas beratnya menjadi orang dewasa yang bekerja. Ya Tuhan, akan kutunjukan teror chatnya di depan matanya nanti. Aku saja malu, apalagi dia nanti. ¡° Benar kak, mereka yang di kejar deadline tapi kami yang harus kelimpungan.¡± Jen bicara dengan berapi-api membayangkan bagaimana kerjanya di kantor. ¡° Pernah sehari itu aku kena marah berapa kali ya, sampai rasanya aku ingin menangis saja.¡± ¡° Hehe, begitulah Jen. Nasib anak magang, aku merasakan juga.¡± ¡° Ia kan. Rasanya ingin balas dendam nanti kalau aku sudah jadi karyawan betulan.¡± Nah, itu dia mata rantainya. Jangan ditiru ya. Jen cuma bercanda. Hehe. " Senang ya kak Jihan sudah jadi karyawan tetap." " Jen juga bisa, Aku harap kalian lolos seleksi dan bisa menjadi karyawan tetap di Antarna Group." Jihan menatap Raksa yang duduk di depannya hangat. Lalu tersenyum menepuk bahu Jen. "Semangat ya!" " Ia kak, kita tukeran no hp ya. aku follow juga akun sosial media kak Jihan ya." Ckckck, dia ini kenapa si. Tadi bilangnya saingan. aku ingin melihat sainganku. Cih, saingan kepalamu kak. Kak Jihan benar-benar gadis supel yang ceria. Dia bisa langsung akrab dengan jen dan Sofi tanpa canggung. Mungkin karena pekerjaannya yang berhubungan dengan banyak orang membuat cara bicaranya menyenangkan. Sofi bahkan mengakui itu. Kak Jihan memiliki daya tariknya sendiri. Apalagi caranya menenangkan Jen yang bercerita tentang rumitnya dunia kerja. Dia seperti tau semua. Deg, Sofia menatap Raksa di sampingnya. Habis kau kak Jen, aku melihat tatapan kak Raksa sama seperti saat kak Saga melihat kakak ipar. Aaa, Haze kadang melihatku juga seperti itu. Hari ini Raksa melihat satu lagi hal yang membuatnya jatuh cinta pada Jihan untuk kesekian kalinya. Dan sekali lagi melihat jen, seperti adik kecil yang selalu butuh perlindungan. Seperti itulah seterusnya dia akan melihat dua wanita di depannya. " Aku akan mendukung kalian sampai menikah." Jen langsung terduduk di latai lift. Mereka sudah berpisah di depan hotel. Jen memberikan pelukan hangat sebagai perpisahan pada Jihan. Dan berkata akan mendukung hubungan mereka. " Aku pasti sudah gila!" suaranya memenuhi lift. Sofi sampai membekap mulut Jen kuat. " Gila ya! kalau liftnya jatuh bagaimana?" Melepaskan tangan saat Jen berjanji tidak akan berteriak lagi. " Sofia, kenapa jahat sekali si. bukannya menyadarkanku, kamu malah ikutan terpesona pada pacar Raksa tadikan?" " Soalnya kak Jihan keren seperti kakak ipar." mengakui. Aaaaaa, kenapa aku bahkan terhipnotis pada pertemuan pertama begini. Bahkan dengan kakak ipar saja tidak. " Kak Jen dan Raksa the end." menutup mulutnya yang tergelak saat melihat aura membunuh berkobar dari kepala Jenika. "Sudahlah kak, menikah saja dengan sekertaris Han. Dia jugakan tampan, walaupun tidak sebaik kak Raksa" Saat pintu lift terbuka, Sofi sudah menjerit minta ampun. "Aku sumpahin kamu ya yang berjodoh dengan Han." Tangan Jen sudah melingkar di leher Sofi. " Ampun kak, ampun." Jen melepaskan tangannya. " Cabut sumpahnya kak jen, cabut!" " Tidak mau. wekk!" Berlari cepat menuju kamar. Sofi mengejar sambil menyuruhnya mencabut sumpah. " Cabut sumpahmu kak, atau kuadukan pada kak Saga ya." Memakai senjatanya yang terakhir kalau Jen menggangunya. Eh, kenapa dengan kakak pengawal. Jen menghentikan langkah membuat Sofi menabrak tubuhnya. "Cabut sumpahmu kak!" Sofi ketakutan membayangkan kalau sumpah itu benar-benar terjadi. " Eh kenapa?" " Kenapa kalian basah kuyup begini." Pakaian olahraga yang dipakai kedua pengawal itu terlihat basah kuyup oleh keringat. " Kalian dari mana?" " Nona sudah kembali?" " Ia kami pergi sebentar dengan adik kakak ipar, kami sudah dapat izin dari sekertaris Han." Jen menghentikan kata-katanya. " Apa kalian baru saja di hukum?" Apa si, dihukum apa? Sofi binggung. " Tidak nona, kami hanya baru selesai olahraga." Jen tidak percaya. Melihat bagaimana keringat yang mengucur. Dan kenapa malam-malam iseng olahraga seberat itu. Benar, aku bahkan membiarkan Raksa masuk ke kamar kami. Aaaaa, maafkan kami kakak pengawal. Aku pikir karena dia Raksa maka bisa dikecualikan. " Maafkan kami kak." " Silahkan istirahat nona." Kedua pengawal itu membungkukan kepala mempersilahkan jen dan Sofi masuk ke kamar. " Baik, selamat malam. maafkan kami." Jen menarik tangan Sofia untuk masuk kedalam kamar. " Mereka pasti baru saja di hukum Han karena membiarkan Raksa masuk ke kamar kita." " Apa!" Binggung. Inikan kak Raksa, kenapa tidak ada pengecualian pikir Sofi. " Ia, dia dihukum calon suamimu yang kejam itu." Jen tertawa jahat dengan puasnya. " Kak jen, cabut kata-katamu!" Sofi mendorong Jen ambruk di tempat tidur. Ditindihnya Jen dengan bantal. "Cabut tidak sumpahmu tadi" " Tidak mau. hahaha. lepaskan aku!" Jen masih tertawa terbahak. Lupa kalau seharunya dia menangisi nasibnya sendiri. Jen dan Raksa the end. " Cabut sumpahmu kak!" Masih terdengar Sofi berteriak. Bersambung Chapter 166 Bulan madu (Part 5) Kembali ke vila di kota XX, tempat Daniah dan Saga menikmati waktu mereka bersama. Tidak tahu, apa semua agenda ini benar-benar dinikmati pasangan yang sedang bulan madu atau tidak. Tapi berdasarkan semua data yang sudah dikumpulkan Han seperti inilah versi bulan madunya. Pagi hari, angin laut berhembus dengan segar. Sejuk dan membuat semangat. Semua orang sibuk dengan pekerjaan mereka masing masing. Menyiapkan banyak hal untuk acara siang nanti. Aran berjalan dengan cepat di belakang sekertaris Han. ¡° Kau sudah membaca semua email yang ku kirim.¡± Tidak memperlambat langkahnya, menyusuri pasir yang berserak di sepatu mereka. Tapak-tapak dengan langkah besar diimbangi dengan jejeran langkah kecil. ¡° Ia, tuan sudah.¡± Tentu saja belum semua, memang kau pikir sebanyak apa email yang kau kirim. ¡° Benarkah?¡± Nada sanksi dari suaranya. ¡° Ia.¡± Aran menjawab seyakin mungkin supaya laki-laki di depannya percaya. Dia akan membaca ulang siang ini sembari menemani nona Daniah pikirnya. ¡° Sebutkan poin.¡± Belum selesai Han bicara Aran sudah merasa akan ada bahaya mengancam. Membuatnya memilih mengaku. ¡° Saya belum membacanya semua. Akan saya selesaikan hari ini tuan.¡± Pasrah. ¡° Sebaiknya ingatanmu cukup bagus, hafalkan semua itu. Aku sudah membuat semua daftar yang tidak disukai tuan muda kalau sampai nona melakukannya.¡± Membayangkan Aran rasanya ingin pingsan. Tapi tidak dibaca bagaimana kalau salah satunya dia lakukan. Mungkin bukan tuan Saga yang murka, tapi laki-laki di depannya ini. ¡° Tuan Han.¡± Aran ingin mendapat penjelasan singkat yang bisa dia pakai sebagai pedoman. ¡° Jaga sikapmu di depan nona.¡± ¡° Baik.¡± Tidak punya kesempatan bertanya. Menjaga sikap di hadapan nona Daniah, tuan Saga bahkan tidak suka kalau nona memiliki kontak fisik berlebihan dengan sesama perempuan. Kira-kira standar berlebihan tuan Saga sampai batas apa ya? Pikiran Aran menerawang, sampai dia berada di depan sebuah pintu. Kamar utama vila megah ini.Han mengetuk dua kali lalu membuka pintu. Terlihat Daniah sedang mengeringkan rambutnya dengan handuk. Dia sudah memakai pakaian lengkap. Hanya rambutnya yang masih terlihat basah. ¡° Selamat pagi nona.¡± ¡° Ia, pagi.¡± Daniah melihat seseorang di belakang sekertaris Han, membuatnya antusias. Dia meletakan hair dryer yang sudah ada ditangannya walaupun belum dia hidupkan. ¡° Siapa dia?¡± tunjuk pandangannya. ¡° Mendekatlah, perkenalkan dirimu pada nona Daniah.¡± Han mendorong Aran dengan tangan kirinya. Aran mendekat sambil melihat situsi. Tuan Saga tidak terlihat batinnya. ¡° Selamat pagi nona, saya Arandita. Nona bisa memanggil saya Aran. ¡± ¡° Hallo Aran, senang bertemu denganmu.¡± Daniah mengulurkan tangannya, Aran terkejut dan mendekat. Tapi tangan sekertaris Han jauh lebih sigap menahan tubuhnya. Laki-laki itu meliriknya tajam. Membuatnya menghentikan langkah. ¡° Kenapa? Diakan perempuan. Apa aku tidak boleh berjabat tangan dengannya.¡± Daniah mendelik gusar. Merasa Han sudah kelewatan. ¡° Ayo berteman Aran, jangan perdulikan laki-laki ini.¡± Daniah menarik tangan dan memeluk Aran di depan Han. Dia tersenyum penuh kemenangan dibalik punggung Aran. Apa! kau mau apa? Han hanya mengeleng sambil berdecak. Lakukan saja nona, kalau nona bahagia, ¡° Dia bukan teman nona, dia yang akan mengantikan semua tugas Leela kedepannya.¡± ¡° Apa maksudnya?¡± Daniah melepaskan pelukannya terkejut. ¡° Dia yang akan mengantikan semua tugas Leela, dimulai hari ini. Tuan muda sudah mengatakaan kalau dia harus pergi sebentarkan.¡± Apa! aku bahkan belum membahas ini dengan tuan Saga. Aaaa, maafkan aku Aran, kamu tidak terlihat keren lagi sekarang. Kupikir kamu pacar sekertaris Han kemarin. Dan kita bisa berteman dengan normal. ¡° Tunggu, sekertaris Han, aku baru akan membahas ini sepulang dari sini. Aku ingin membawa mobil sendiri.¡± Apa! kenapa berdecak. Akukan sudah menunjukan sikap baik dan patuhku. Apa aku tidak boleh mendapat sedikit kebebasan. ¡° Kau sudah datang Han.¡± Saga muncul dari kamar mandi sambil merapikan kancing bajunya. Mendekat kearah Daniah, memintanya secara tidak langsung merapikan pakainnya. Daniah mengaitkan kancing baju. Dan merapikan Dasi. ¡° Semua sudah siap tuan muda.¡± Han menjawab dari belakang tubuh Saga. ¡° Niah, kamu benar tidak apa-apa. Maaf ya, aku ketahuan sedang ada di kota ini.¡± Saga membelai pipi istrinya. ¡° Inikan bulan madu kita, aku malah meninggalkanmu sendiri.¡± Ciuman selamat pagi di hadapan semua orang. Aran membelalakan mata tidak mau kehilangan momen sedikitpun. Sementara Han melihat jendela. ¡° Tidak apa-apa sayang, aku bisa menunggu.¡± Memberi sentuhan terakhir dengan menepuk bahu Saga pelan. ¡° Han, apa kau tidak bisa meminta Ken menyiapkan area privat untuk Daniah. Sial, hari ini pasti banyak sekali media yang meliput, dia benar-benar kurang ajar memakai namaku untuk promosi acaranya.¡± Keanu adalah orang nomor satu di kota XX ini. Sahabat sekaligus pendukung setia Saga. Dia asli lahir di kota ini. Naiknya dia menjadi orang nomor satu tentu tidak lepas dari bantuan Saga. ¡° Maaf tuan karena ini di area publik sepertinya sulit. Tapi saya akan meminta mereka mengusir media dari pintu masuk.¡± Kurang ajar, dia senang sekali. Seringai liciknya itu. Mau membalasku. Daniah tahu, Han selalu akan menuruti mau Saga, walaupun itu di luar batas kemampuan manusia normal. ¡° Sayang, aku tidak apa-apa. selesaikan semua urusanmu. Aku akan menunggu bersama Aran.¡± ¡° Siapa Aran?¡± ¡° Saya tuan.¡± Aran mendekat karena merasa terpanggil, tapi bahkan menoleh pun tidak Saga dari wajah istrinya. Membuat Aran mundur lagi. Aaaaa, aku mau dicintai seperti nona Daniah. ¡° Benar tidak apa-apa?¡± bertanya dengan cemas lagi. Ia! Pergilah! Aku tidak apa-apa. ¡° Ia sayang.¡±Meneriakan kalau dia butuh bantuan pada Han. Bawa pergi tuan Saga sekarang, sebelum terlambat! ¡° Nona akan bersama beberapa pengawal tuan. ¡° ¡° Tapi aku kuatir meninggalkanmu sendiri di sini. Apa sebaiknya kau ikut dan menunggu di ruangan privat sampai acara selesai.¡± ¡° Tuan keanu dan istrinya pasti tidak akan membiarkannya tuan, mereka pasti akan dengan bangga memperkenalkan nona Daniah ke publik. Ya, menilik sifat mereka yang memang agak kurang ajar.¡± Han terdengar sedikit ketus mengatakannya. Ternyata ada yang sedikit berani menantangnya juga ternyata. Saga terlihat menimbang sesuatu sebentar. Tidak rela. Padahal dalam rencananya dia tidak mau sedetikpun melepaskan pandangannya dari istrinya. ¡° Benar tidak apa-apa.¡± Mendekat lagi, sambil menyisir rambut Daniah dengan tangannya. "Benar, tidak apa-apa?" Ayo merengeklah minta ikut. Saga menunggu kata-kata yang tidak mungkin diucapkan Daniah dalam keadaan sadar. Han menarik lengan baju Aran yang masih terhipnotis. Gadis itu terlihat protes ketika dipaksa keluar dari ruangan. Tapi tetap mengekor. Sekali lagi dia membalikan kepala ingin melihat adegan selanjutnya. Aaaaaa, apa yang mereka lakukan. ¡° Kenapa kita keluar tuan?¡± Masih melihat pintu, seperti ingin mengintip melalui celah sempitnya. Han menjentikan tangan di kening Aran. Membuat gadis itu mengaduh keras, sambil mengusap-usap keningnya. Salahku apa? Hiks. ¡° Kau mau melihat apa?¡± Gadis itu jadi tersipu malu. Tentu saja referensi adegan romantis untuk adegan novelnya selanjutnya. Gumamnya malu. Maklum saja sebagai penulis drama romantis, dia sama sekali tidak punya pengalaman nyata percintaan romantis itu seperti apa. ¡° Tuan apa tuan juga menyukai nona?¡± Setelah duduk Aran tiba-tiba spontan menanyakan itu. Di dalam tadi yang di lihat Aran adalah. Pandangan mata Daniah yang tertuju untuk suaminya. Begitu pula sebaliknya. Perasaan cinta yang tertuang lewat sorot mata tuan Saga. Begitupula pandangan bahagia Han saat melihat keduanya. Aran tidak mungkin menafsirkan kalau Han menyukai tuan Sagakan. ¡° Tentu saja.¡± Han menjawab sambil mengambil hp yang bergetar di saku kiri jasnya. ¡° Benarkah.¡±ntah kenapa isi kepalanya langsung mengeliat. ¡° Tentu saja, karena nona adalah wanita yang dicintai tuan muda. Wanita yang bisa membuat tuan muda bahagia, kenapa aku tidak mennyukainya.¡± ¡° Oh begitu.¡± Buyar sudah bayangan rumitnya cinta segitiga antar umat manusia. ¡° Apa yang kau pikirkan sekarang, dewi kecantikan tidak tahu malu.¡± Seringai jahat muncul lagi dibibir Han. "Akan kuminta pak Mun menyiapkan kaca besar di kamarmu nanti." ¡° Aku sudah menganti nama akun menulisku.¡± Laporan, kalau sekarang dia bukan lagi dewi kecantikan. ¡° Tuan, apa saya boleh memakai cerita kehidupan tuan Saga dan nona Daniah untuk novel saya.¡± Han menunjukan tatapan kesal yang menakutkan. ¡° Aku akan menuntut royalti seribu kali lipat dari gajimu di Antarna Group. Ajukan saja proposal resminya kalau kau sangup membayar.¡± Mati saja kau tuan, memang kau pikir berapa penghasilanku dari menulis. ¡° Sepertinya saya terlalu hina untuk menuliskan kisah indah hidup mereka.¡± Kenapa ada orang sepertinya dimuka bumi ini si. ¡° Bagaimana kalo tuan, apa saya boleh membuat karakter seperti tuan.¡± Harimau gila tampan, seorang psikopat yang terobsesi pada rambut bergelombang milik nona majikannya. Aran tertawa dalam hati. ¡° Kau bisa memberiku royalti seratus kali lipat dari gajimu.¡± Mati saja kau tuan, percuma bicara dengannmu. ¡° Ah, sepertinya saya juga masih terlalu hina untuk menuliskan kisah tuan.¡± Menyudahi usaha sia-sia bicara baik-baik dengan Han. ¡° Berikan hpmu.¡± Han menyodorkan tangannya. Aran mengambil hp yang ada di saku celannya dengan cepat. Hp tanpa aplikasi hiburan. ¡°Hubungi aku jika ada sesuatu dengan nona. Periksa hpmu secara berkala, aku akan memeriksa keberadaan kalian selama kami pergi.¡± ¡° Ia baik. Kalau saya yang kenapa-kenapa apa saya boleh menghubungi tuan juga.¡± ¡° Tentu saja.¡± Hah! Aku tidak salah dengarkan. Ternyata manusia satu ini masih perduli pada bawahannya. Ya, bagaimapun akukan perempuan juga. Dia pasti kuatir jugakan. ¡° Karena kalau kau sampai terluka atau mati, tentu artinya nona dalam bahaya.¡± Aaaaaa, aku ingin memukulnya. Sudahlah Aran kau itu cuma serangga dimatanya jangan meminta dia melihatmu layaknya manusia. " Tuan, apa tuan tidak mau menanyakan nama pena saya?" " Tidak!" " Aku tetap akan mengatakannya walaupun tuan tidak bertanya." Sambil menunggu tuan Saga dan Nona Daniah menyelesaikan urusannya. Aran masih bicara banyak sekali. Sementara Han tidak bergeming, memeriksa email di hpnya. " Tuan, apa tuan mendengarkan saya?" Bersambung................... Chapter 167 Bulan Madu (Part 6) Setelah melalui beberapa drama, Daniah berhasil meyakinkan Saga bahwa dia akan baik-baik saja. Dalam hati gadis itu berteriak, aku baik-baik saja tuan Saga. Pergilah dengan tenang dan kembalilah tanpa keributan. Satu ciuman panjang atas inisiatifnya berhasil meyakinkan Saga. Laki-laki itu yang berharap istrinya merengek minta ikut sepertinya sedikit terobati kecewanya. Tapi sepanjang masuk ke dalam mobil ada banyak sekali rentetan tuntutan yang ia lontarkan. Daniah sambil melingkarkan tangan di pinggang suaminya hanya menjawab iya sayang, ia sayang. Sambil otaknya mengingat-ingat semua yang di sebutkan Saga. Aturan tidak tertulis selama berpisah dengannya. Aturan akan batal saat mereka bertemu lagi nanti. Cih, sudah seperti mau pergi ke bulan saja lamanya. Banyak sekali yang harus kuingat. Lambaian tangannya melepas kepergian Saga mengalahkan cerahnya mentari pagi yang sedang mulai memanaskan bumi. Aku bebas! Setelah kepergian Saga mereka kembali ke vila dan bersiap-siap. Daniah mengikat rambutnya tinggi. Tapi dia masih memakai pakaian yang tadi dia pakai. Tidak mungkin menganti style karena jelas pakaian yang ada di kopernya adalah hasil instruksi pak Mun. Turun dari tangga dia bertemu dengan pak Mun yang membawakan beberapa vitamin yang harus dia minum, berdasarkan resep dokter yang sudah dia temui beberapa waktu lalu. Tanpa protes ditelannya semua pil yang diberikan. ¡° Terimakasih pak. Saya permisi ya mau keluar.¡± ¡° Baik nona. Jangan terlalu memaksakan diri. Istirahat kalau nona merasa lelah.¡± Katakan itu pada tuan Saga pak Mun! Ingin Daniah berkata begitu. Tapi dia hanya tersenyum dan mengangukan kepalanya, lalu pamit pergi. Saat ini, Daniah dan Aran sudah berada di dalam mobil. Saling menyesuaikan diri satu sama lain untuk tidak merasa canggung. Aran, karena memang terbiasa berinteraksi dengan banyak orang sebelum masa pengasingannya, dia terlihat mudah menyesuaikan diri. Karena dia merasa nona muda di hadapannya ini luar biasa baiknya, dibanding dengan para wanita kaya yang pernah berinteraksi dengannya selama ini. Sementara Daniah terlihat melirik Aran beberapa kali. Mengamati wajah dan situasi. Mencoba mengali karakter Aran. Pengawal baru yang di bawa langsung sekertaris Han. Sepertinya ketika menyapa tadi, dia tidak sekaku Leela. Sedikit kesimpulan yang diambil Daniah. Karena jalanan yang lenggang, udara yang segar, dan angin yang sejuk membuat mereka memutuskan membuka sedikit jendela mobil. Membiarkan udara masuk dan membuat mereka merasakan kesegaran alami yang sudah jarang mereka nikmati di ibu kota. Udara sudah termakan banyaknya polusi. Membuat keadaan seperti sekarang selalu menjadi dambaan ketika berada di luar kota. ¡° Tadinya aku pikir kalian sedang berkencan. Kamu dan sekertaris Han.¡± Kata-kata Daniah memecah keheningan. Ketika dia sudah mendapatkan analisis karakter Aran berdasarkan perenungan mendalamnya. Sepertinya gadis ini menyenangkan, pikir Daniah. ¡° Haha.¡± Aran langsung tergelak dan tidak bisa menahan tawanya. Dia dan sekertaris Han terlibat hubungan romantis. Sepertinya nona Daniah jauh lebih berhausinasi dibandingkan dirinya yang nyambi menjadi penulis. Hubungan mereka berlandaskan hutang masa lalu. Hanya itu, tidak lebih dan kurang. ¡°Nona, itu mustahil terjadi. Kalau saya masih mungkin tergoda dengan wajah dingin dan tampannya tuan Han. Tapi kalau dia, memandang saya manusia juga baru-baru ini.¡± Aku itu cuma serangga di depannya. ¡° Kenapa?¡± Benar juga, ini sedari kemarin mengerogoti pikiran Daniah. Penasaran, hubungan seperti apa yang terjalin antara dia dan Han. Saat semalam dia menanyakannya pada Saga. Laki-laki itu hanya menjawab tidak tahu, mana kutahu, tidak perduli dan tidak mau tahu. Cih, apa si yang bisa membuatnya perduli pada orang lain. ¡° Oh ya, sebelum seperti sekarang Aran dari bagian apa di Antarna Group. Apa kau melakukan kesalahan sampai harus mengantikan leela?¡± Leela, siapa dia? Aran mencari-cari dalam daftar nama orang-orang penting Antarna yang dia ketahui. Nihil. Dia memang tidak tau apa-apa mengenai Antarna kecuali sesuatu yang di realese ke media. ¡° Saya tidak be......¡± HP di tas Daniah terdengar bergetar dan berbunyi nyaring. Mengejutkan keduanya. Aran langsung diam dan tidak melanjutkan kalimatnya. Dia belum meluruskan kesalahpahaman nona di depannya. ¡° Maaf. Sebentar ya. Kaget ya, haha, aku juga kaget.¡° Daniah mengambil hpnya. Sudah mengeryit saat melihat layar hp siapa yang memanggil. ¡° Tuan Saga, aku angkat sebentar ya?¡± ¡° Ia nona.¡± Nona tidak perlu minta izin melakukan apapun pada saya. Aran hanya bisa berdecak, sambil mengelengkan kepala tidak percaya. Belum juga 30 menit sejak drama perpisahan mereka yang dia tonton secara live tadi. Tuan Saga sudah menelfon lagi. Masih ada tidak ya, stok laki-laki seperti tuan Saga di muka bumi ini. Aku mau Tuhan, sisakan satu untukku. Diposesifin suami sendiri. Aaaaaa, membayangkan saja sudah mengemaskan. Jatuh cinta tiap hari sama suami sendiri. Nona, apa si yang nona lakukan di masa muda nona sampai mendapat suami seperti tuan Saga. Sambil pikiran dan hatinya membaca doa kepada Tuhan, Aran menajamkan telinga berusaha mencuri percakapan. Walaupun suara Saga tidak terdengar sedikitpun. Fix aku mau buat novel tentang mereka, biar saja cuma aku yang bisa membaca, Tuan Han tidak akan memeriksa isi kepala dan laptopkukan. ¡° Hallo sayang.¡± Diam mendengarkan dengan khidmat. ¡° Ia sayang.¡± Diam lagi. ¡° Ia sayang, masih di mobil, kita cuma mau ke pusat belanja oleh-oleh lalu kembali. Aku sudah akan kembali sebelum kamu pulang.¡± Mendengarkan lama, dengan wajah yang berekspresi berubah-ubah. Tapi mulut manyun Daniah muncul beberapa kali. ¡° Ia sayang.¡± Terdengar pasrah sekali wajahnya. ¡°Aku tutup ya, sampai nanti.¡± Helaan lega yang tergambar jelas dari caranya menarik nafas. Ia, ia aku tahu. Tidak melihat laki-laki lain. Tidak tersenyum sembarangan. Hei tuan muda, percayalah istrimu ini gak cantik-cantik amat. Jadi jangan kuatir yang berlebihan. Yang melihatku sepanjang waktu itu hanya kamu saja. ¡° Senangnya melihat nona dan tuan Saga.¡± Tidak mendengar apapun yang di ucapkan Saga. Tapi menyimpulkan kalau baru saja terjadi adegan romantis. ¡° Hubungan nona dan tuan Saga membuat iri semua orang.¡± Haha, Aran kalau kau melihat beberapa bulan lalu seperti apa hubungan kami. Jangan mengingatnya Daniah, biarkan itu jadi debu yang terbang ke langit tinggi. Segera hatinya mengingatkan dengan tegas. ¡° Aran, bisa tidak, jangan panggil aku seformal itu?¡± Daniah merasa kalau karakter Aran berbeda dengan Leela, walaupun dia belum mengorek latar belakang Aran sekalipun. Dia bisa melihat gadis ini jauh lebih fleksibel dan bisa diajak kerja sama. Semoga. ¡° Maafkan saya nona, tapi..¡± Cari mati kalau sampai dia melakukan itu. Jelas-jelas di email yang ia baca semalam untuk menjaga jarak dan sikap. Dan hanya bersikap formal di hadapan Daniah. ¡° Kalau kita sedang berdua, panggil saja aku senyamanmu. Niah, biasanya keluargaku memanggilku begitu.¡± Memotong langsung, tahu apa yang akan dia sebutkan. Perintah sekertris Han. ¡° Tapi nona.¡± ¡° Ayo coba panggil.¡± Kebiasaan menyenangkan, tidak mau mendengarkan omongan orang lain. ¡° Panggil saja Niah. Aku juga memanggilmu namakan.¡± Tentu saja, sayakan cuma pelayan anda. Terserah nona mau memanggil saya apa. ¡° Kak Niah.¡± Akhirnya terucap juga, setelah beberapa kali Daniah memaksa. Aran memilih panggilan paling aman. Walaupun tidak tahu ada perbedaan usia atau tidak diantara mereka. Yang penting terdengar jauh lebih sopan daripada hanya memanggil nama. ¡° Ahhh, ia begitu. Panggil aku Kak Niah saja ya. Ayo kita anggap kita sedang pergi bermain berdua. Dua teman yang sedang liburan. Pasti menyenagkan sekali. Selain bersama karyawan tokonya, Daniah memang jarang sekali pergi bersama teman-temanya. Sampailah mereka di tujuan. Area perbelanjaan dan pusat oleh-oleh. Bukan dipusat kota, ini adalah tempat paling dekat dengan vila. Sebuah tempat yang dibangun oleh pemerintah daerah untuk menfasilitasi usaha kecil masyarakat dalam memasyarakatkan produk mereka. Deretan toko moderen berjajar dengan rapi beserta informasi toko, apa saja yang dijual di dalamnya. Ramai sekali. Kota XX memang masuk jajaran top five kota wisata di negara ini. Popularitasnya bahkan sudah menjangkau manca negara. Turis asing berseliweran, berjalan kaki dengan santai. Keluar masuk toko sambil menenteng kantong belanjaan di tangan mereka. Atau banyak juga yang sedang berkumpul sambil menikmati kopi atau makanan citarasa lokal, di kedai kecil atau kafe-kafe yang juga tertata dengan apik dan bersih. ¡° Aran, ayo kita belanja!¡± Berteriak kecil sambil keluar dari area parkir. ¡° Aku mau beli oleh-oleh buat semua. Raksa, orang tuaku. Ya Risya juga akan kebagian. Para pelayan dirumah orang tuaku.¡± Daniah terdengar menyebut beberapa nama. ¡° Jen, Sofi, ibu juga harus dapat. Lalu, Tika dan anak-anak kesayanganku yang sudah bekerja keras di toko.¡± Lho, siapa mereka? Aran hanya bisa menduga-duga sambil mengikuti langkah kaki Daniah di sampingnya. Kalimat anak-anak kesayangan menjadi titik poin rasa penasarannya. Sebenarnya siapa si nona Daniah ini? bersambung Chapter 168 Bulan Madu (Part 7) Oleh-oleh akan selalu jadi prioritas wisatawan. Baik itu yang berasal dari mancanegara maupun wisatawan domestik. Membuat area perbelanjaan seperti ini sungguh peluang yang sangat bagus. Para pelancong bisa mendapatkan aneka barang lokal dalam satu tempat. Bahkan tempat seperti inipun bisa menjadi salah satu destinasi wisatawan daerah setempat juga. Karena bukan hanya toko-toko, kuliner pun lengkap. Ada pula arena bermain anak-anak yang bisa dimasuki dengan membayar tiket dengan harga yang cukup terjangkau. Daniah bisa melihat anak-anak berlarian dengan gembira. Sementara orang tua mereka berjalan santai sambil bergandengan tangan. Mengawasi dari belakang. Manisnya mereka. Daniah menarik tangan Aran memecah keramaian pengunjung, sekarang mereka berjalan beriringan layaknya teman sepermainan yang sedang berlibur. ¡° Aran, kamu pilih juga ya apa yang mau kamu beli.¡± Menepuk tangan Aran yang di gandengnya. ¡°Jangan sungkan.¡± ¡° Terimakasih nona, tapi saya tidak apa-apa.¡± ¡° Kak Niah, panggil aku kak Niah. ¡° Daniah memukul bahu Aran. ¡° Kitakan sudah janji dengan mengaitkan jari tadi.¡± Habislah aku, kalau sampai tuan Han tahu. Aran. Daniah memutuskan toko pertama yang ia masuki adalah toko aksesoris dan perhiasan. Batu warna warni yang berkilau sudah membuat kantong wisatawan bergetar ingin memborong semuanya. Daniah melihat ke dalam etalase toko. Kalung-kalung cantik dengan liontin batu-batu berwarna-warni. Dia mengeluarkan hpnya dan melakukan voice call. ¡° Hallo mbak Niah!¡± teriakan dari layar hp berebut berada di paling depan. Para pegawai ruko berkumpul. Dari semua lantai. ¡° Mbak Niah kangen!¡± teriak mereka bersamaan. ¡° Aku juga kangen!¡± Daniah tak kalah memekik. ¡° Lihat!¡± di gerakan kamera hp ke dalam etalase yang memajang asesoris cantik-cantik itu. ¡° Kalian mau pilih yang mana? Haha. Boleh pilih satu-satu ya.¡± Semua ribut bersautan. Akhirnya Daniah memfoto semua asesoris dan mengirimkan ke dalam grup toko. Semua memilih masing-masing. Cukup lama, bahkan ada yang berebut dan sampai adu ketikan karena mereka memilih barang yang sama. Sementara itu Aran di belakang Daniah hanya berdiri tidak bergerak melihat apa yang dilakukan Daniah. Mereka itu siapa si? Kenapa nona Daniah ini benar-benar di luar jangkauan kepalaku karakternya. Dia ini benar-benar tidak seperti nona kaya yang pernah kutemui. Ku pikir istri tuan Saga seharusnyakan bergaya elegan dan sok kaya kan. Sombong sedikit juga tidak apa-apalah. Tuan Saga lho suaminya. ¡° Aran, kemarilah. Pilihlah yang kamu suka.¡± Lamunan Aran langsung buyar. ¡° Saya juga?¡± menunjuk dirinya tidak percaya. ¡° ia.¡± Daniah sudah memisahkan semua aksesori yang dipilih karyawannya. Dia membelikan satu set dengan warna senada dengan kalung hasil pilihan mereka masing-maing. Dia memang tidak menawarkan yang lain tadi. Biar jadi kejutan saat mereka membuka kotak hadiah mereka masing-masing nanti. Cincin, anting-anting dan gelang dengan warna senada, adalah bonus rasa sayang dan terimakasihnya untuk semua karyawannya. Walaupun semua dibeli dengan uang tuan Saga. Haha. Sementara Aran melihat-lihat, isi etalase yang membuat mata wanita berbinar. Semua cantik-cantik begini, tapi sepertinya terlalu mencolok kalau aku yang memakainya. Dia sedang mengukur dirinya sendiri. Karena memang dia jarang memakai perhiasan. ¡° Bagaimana ini? Kamu bisa memasangnya di hp kamu. Aku tahu kok, Aran gak terlalu suka sama perhiasankan. Bisa aku liat dari style dan gaya pakaian yang kamu pakai.¡± ¡° Ia.¡± Tersenyum malu. Lalu memilih salah satu benda yang direkomendasikan Daniah. Walaupun dengan ragu dia menyerahkan hasil pilihannya ke tangan Daniah untuk di hitung dengan yang lainnya. Nona, kenapa anda baik sekali begini si. Masih tidak percaya dengan situasi yang dilihatnya dengan mata kepala sendiri. Mereka terlihat keluar masuk toko-toko. Para pelayan toko dengan ramah melayani semua kemauan Daniah. Selesai di satu toko, sambil membawa tas belanjanya dia menarik tangan Aran agar mengikutinya dengan cepat. Masuk lagi ke toko berikutnya memilih banyak benda. Aran mendengar sebelumnya Daniah menyebutkan nama-nama wanita sebelum memilih benda yang akan dia beli. Dari tempatnya duduk Aran sedang menghitung, berapa total jumlah uang yang dikeluarkan nona muda di hadapannya yang sedang memilih barang. Dia menyerah, karena hanya akan membuat kantong dan airmatanya menetes pilu. Tapi yang di lihat Aran dari setiap kali benda yang dia beli nona Daniah tidak pernah memilih untuk dirinya sendiri. Tidak ada satupun barang yang dibelinya khusus untuknya. Hah! Jadi semua ini benar-benar dia beli untuk orang lain. Apa! para pelayan di rumah orangtuanya juga mendapat jatah. Ya tuhan, nona Daniah ini malaikat ya, sampai memikirkan itu. ¡° Aran ada lagi yang mau kamu beli?¡± ¡° Tidak nona, eh Kak Niah. Anda sudah membelikan saya banyak sekali. Dan juga sepertinya tangan kita sudah tidak muat.¡± Aran mengangkat kedua tangannya. Penuh. ¡° Haha, maaf ya aku merepotkanmu.¡± Ditangan Daniahpun sama. ¡° Tidak, bukan begitu maksudnya. Saya masih bisa membawa semuanya sendiri, berikan tas yang kak Niah pegang.¡± Merasa bersalah karena sikap kurang ajarnya. ¡° Sudahlah tidak apa-apa. Aku sudah terbiasa membawa barang-barang sebanyak ini dengan tanganku. Aku gadis pekerja keras sebelum menikah dengan tuan Saga. Hehe.¡± Inimah bukan apa-apa, gumam Daniah. Dia bisa membawa sekotak besar pakaian dengan tangan kecilnya. ¡° Tapi kak, bagaimana kalau kita berikan pada para pengawal saja tas-tas ini untuk di bawa ke mobil. Biar kak Niah nyaman. Masih ada yang mau dibelikan.¡± Aran menunjuk dengan ekor matanya. Dua orang yang sedari tadi mengawasi mereka dalam diam. Biar mereka punya kerjaan. ¡° Pengawal? Memang mereka ada di sekitar sini.¡± Apa! jadi dia tidak sadar kalau sedari tadi ada dua orang yang mengikuti kami. ¡° Mereka kak.¡± Aran menunjuk dua orang yang berdiri tidak jauh dari mereka. Kedua orang itu mengangukan kepala ketika Daniah melihat ke arah mereka. ¡° Apa! Jadi mereka mengikuti kita dari tadi.¡± Terbelalak tidak percaya. Saat Daniah melambaikan tangan keduanya mendekat dan menerima semua tas belanjaan. ¡° Bagaimana kau bisa tahu, wahh, Aran keren. Udah mirip pengawal level tinggi, sampai tahu kalau diikuti.¡± Tidak sama sekali nona, mereka mengikuti kita sudah sangat mencolok sekali. Anda saja yang kelewat bahagia tadi belanja sampai tidak menyadari. ¡° Saya tidak punya kemampuan semacam itu kak.¡± Hanya salah satu dari pengawal yang membawa tas belanjaan ke mobil. Salah satunya tetap mengikuti. ¡° Apa masih ada yang mau kak Niah beli?¡± Daniah berjalan masih sambil melihat-lihat. Berfikir sebentar, sepertinya sudah tidak ada. Dia sudah mengabsen semua nama yang akan dia bawakan oleh-oleh.. ¡° Apa kak Niah tidak membelikan tuan Saga apa-apa.¡± pertanyaan Aran langsung membuat Daniah berhenti. Benarkan, ini yang sedari tadi terlintas di ujung kepalanya tapi tidak ia temukan jawabannya. Dia berbalik dan menghambur memeluk Aran. ¡° Kak Niah kenapa? Gadis yang dipeluk langsung terkejut. ¡° Aran terimakasih sudah mengingatkanku sesuatu yang sangat penting. Kau menyelamatkan hidupku.¡±¡± Bagaimana aku bisa sampai lupa pada suamiku yang mengemaskan dan bisa mengila itu kalau tahu aku membelikan barang untuk semua orang. Kecuali dia. ¡° Aran, apa kau mau membeli untuk sekertaris Han juga.¡± ¡° Apa? tidak kak. Dia punya uang yang berlimpah untuk membeli apapun yang dia mau.¡± Kalau sampai aku membelikan sesuatu untuknya, bisa-bisa dia melemparkan ke wajahku sambil bilang. Beraninya kau memberiku barang murahann seperti ini! Sambil melemparkan kemukaku dan mencelos pergi. ¡° Tidak apa-apa. aku yang bayar. Anggap saja untuk menyuapnya supaya dia bersikap baik padamu.¡± ¡° Tidak kak, tidak perlu.¡± Dia tidak akan pernah bisa bersikap baik dan normal padaku. Acara penting yang di hadiri Saga sudah berakhir. Ketika media berkerumun dan meminta waktu wawancara Han sudah mengerakan tangaannya. Bahwa tidak ada wawancara khusus denga presdir Antarna Group. Hanya para pejawab kota XX beserta Keanu yang terlihat melakukan konfrensi press. Sementara Saga kembali keruang tunggu VVIP yang di sediakan untuknya. Dia terlihat jengah selama acara. Beberapa kali melihat jam yang ada di tangannya. ¡° Kapan kita pergi?¡± Katanya mulai terdengar gusar. Yang ada di kepalanya hanya wajah Daniah. Yang ntah kenapa sedang tervisualisasi duduk termenung sambil menunggunya. Padahal tidak sama sekali tuan muda. Istrimu sedang bahagia di luar sana. ¡° Setelah jamuan makan tuan.¡± Han menjawab. Dia juga merasa kesal karena tidak bisa melakukan apapun. Dia tahu Saga sudah merasa bosan sedaritadi. ¡° Apa! Kau sudah gila ya. Aku mau makan siang dengan Daniah.¡± ¡° Maaf tuan, tuan Ken benar-benar memaksakan kehendaknya kali ini. Anda belum bisa pergi sebelum jamuan makan.¡± Kalau Saga pergi sebelum jamuan, aku akan datang ke vila kalian. Menggangunya semalaman. Sialan. Han bahkan benar-benar mengumpat di depan Ken yang hanya di jawab dengan gelak kemenangan laki-laki itu. ¡° Apa yang dilakukan Daniah sekarang?¡± Melihat jam tangannya lagi. ¡° Nona sedang pergi berbelanja.¡± ¡° Apa dia merindukanku sekarang?¡± Pertanyaan yang seharusnya tidak butuh jawaban. Tapi dia menunggu Han menjawab untuk membuat hatinya senang. Tidak sama sekali tuan, nona bersenang-senang dengan gembira tanpa sedikitpun memikirkan anda. Level cinta nona masih jauh dibawah anda. ¡° Han, aku ingin melihat wajah Daniah.¡± ¡° Nona juga pasti merindukan anda tuan muda. Begitukan kalau sepasang kekasih diikat oleh cinta. Kalian terikat dalam pikiran kalian masing-masing.¡± Han merasa merinding dengan kata-kata karangannya sendiri. ¡° Benarkah!¡± senyum senang sudah muncul di wajah Saga. Tapi dia langsung gusar. ¡° Kurang aja! Kau sudah membual ya¡± Saga menendang meja di depannya saat mendengar Han tergelak tadi. ¡° kau mau mati ya?¡± ¡° Tidak tuan maafkan saya. Nona juga pasti sedang memikirkan anda sekarang.¡± senyum kecil itu muncul lagi. Membuat Saga benar-benar ingin menendang kaki Han sekarang. ¡° Berhenti bicara omong kosong kalau kau tidak mau mati sekarang!¡± Cih, habis kau kalau kau bilang tidak merindukanku nanti. Karena sepanjang hari ini isi kepala Saga hanya dihantui wajah istrinya Daniah. Bersambung Chapter 169 Bulan Madu (Part 8) Setelah keluar masuk beberapa toko. Termenung cukup lama sambil membayangkan wajah Saga, Daniah menemukan barang yang sekiranya membuat suaminya puas. Walaupun dia masih deg-degan juga saat keluar dari toko tadi. Takut kalau ternyata laki-laki itu masih protes juga. Aku akan memberikannya dengan gaya imut, sambil bilang aku memikirkannya sepanjang mencari hadiah. Daniah seperti mendapat asupan tenaga lagi. Seteleh berhasil meyakinkan dirinya sendiri. Dia berteriak sambil berlari kecil membelah kerumunan manusia menuju area kafe ataupun kedai makanan. Tempat orang-orang berburu kuliner. Baik makanan yang sepertinya populer baru-baru ini sampai makanan dengan citarasa lokal yang melegenda. Dia sudah terlihat menunjuk-nunjuk sebuah kios kecil yang menjajakan makanan. Aku ketemu cilok di sini. haha, cilok adalah makanan bangsa yang bisa ditemui di mana saja. Dia memesan dua porsi pedas untuknya dan dan Aran. Puas sekali. Walaupun banyak jajanan lain, tidak tahu, matanya tertuju ke kios dengan stand warna mencolok bergambar cilok. ¡° Kak Niah.¡± Pasrah menatap dua porsi cilok yang ada di tangan Daniah. Sepertinya aku sudah berkali-kali dibunuh sekarang, berapa kali sudah melanggar aturan tertulis tuan Saga. Semoga tuan Han tidak menanyakan sampai detail makanan yang dimakan nona. Aran menerima satu cup yang dibeli Daniah untuknya. Diapun ikut makan karena melihat Daniah makan dengan lahap. ¡° Kita ke kafe itu saja ya. Mau mendinginkan badan.¡± Daniah tertawa sambil menunjuk sebuah kafe yang nampak paling ramai. Karena lokasinya terbilang strategis dengan luas bangunan paling besar dibandingkan dengan yang lain. Aran mengikuti di samping Daniah sambil menghabiskan cilok di tangannnya. Makin di makan makin enak juga ternyata. Seperti yang terlihat dari luar, ketika masuk ke dalam kafe langsung di sambut udara dingin dari pendingin udara. Daniah sampai mengusap tengkuknya yang berkeringat karena cuaca di luar. Dia mengedarkan pandangan menyapu ruangan. Seorang pelayan mendekat dan menyapa. ¡° Dua orang mbak, minta kursi di dekat jendela ya.¡± Katanya. ¡° Silahkan.¡± Dia mempersilahkan tangannya, meminta kedua pelanggannya mengikuti. Cilok di tangan keduanya belum habis. ¡° Silahkan.¡± Setelah mendapat tempat duduk yang diinginkan, Daniah menerima menu yaang di sodorkan. ¡° Aran mau apa? pilihlah.¡± ¡° Saya sama dengan kak Niah aja.¡±¡± ¡° Hei, jangan begitu. Pilih yang kamu sukai. Selama tidak ada Han, kamu bebas melakukan apapun.¡± Nona, apa anda masih tidak sadar dua pengawal di belakang kita itu. ¡° Aku ingin minuman segar yang tidak terlalu manis. Sepertinya jus nanas enak. Kalau begitu aku pesan jus nanas aja ya mbak. Dengan bongkahan batu es ya. ¡° Membayangkan saja pasti minuman itu akan segar sekali. Aran sendiri memilih jus jambu dengan susu. Mereka tidak memesan makanan apapun. Daniah masih menghabiskan cilok di dalam cup miliknya. ¡°Terimakasih ya. Hari ini menyenangkan sekali.¡± ¡° Ia kak, saya juga senang sekali.¡± Hei kalian jangan menatapku seperti itu. Dari tadi nona yang mengajaku bicara. Memang aku harus diam kalau dia bicara padaku. Aran berusaha mengalihkan pandangannya dari kedua laki-laki yang juga pesanan minuman mereka datang bersamaan. Menataap Aran dengan wajah tanpa ekspresi. Saat Pesanan sampai di meja. Langsung diterima dengan bahagia oleh Daniah. Gadis itu menghabiskan hampir separuh gelas minumannya. Sampai terdengar pecahan batu es yang bergesek. ¡° Haha, aku haus sekali.¡± Minum lagi beberapa sedotan sampai terdengar lagi gesekan batu es. ¡°Tuan Saga sudah selesai belum ya?¡± ¡° Tuan Han sudah menanyakan kita dimana beberapa waktu lalu kak. Mungkin saja tuan Saga sudah mau selesai.¡± Aran memeriksa hpnya lagi. Jangan-jangan ada pesan masuk. Tidak ada, aman batinnya. ¡° Benarkah?¡± Merasa senang, karena mereka tidak perlu bertemu di keramaian seperti ini. Dia akan kembali sebelum tuan Saga selesai, itu rencana awalnya tadi. ¡°Aran ceritakan tentang dirimu. Sejak kapan kau bekerja di Antarna Grup?¡± Aran baru saja mau meletakan sedotannya dan menjawab, tapi tiba-tiba sebuah suara yang terdengar nyaring dan senang terdengar. Membuatnya lagi-lagi tidak sempat meluruskan kesalahpahaman. ¡° Niah! Daniah! Benar Daniah!¡± Yang dipanggil segera memalingkan wajah menuju suara yang memanggilnya. Saat matanya bersitatap tiba-tiba wajahnya langsung berubah. Senyum di bibirnya pudar seketika. Aran melihat dengan jelas tatapan tidak suka Daniah pada laki-laki yang antusias mendekat ke meja mereka. Sial! Kenapa aku bertemu berandalan ini di tempat seperti ini. Apa yang dilakukannya di kota ini! Baiklah, pura-pura tidak kenal. Acuhkan dia. Daniah menundukan kepala lagi, mengaduk minumannya. ¡° Kau mau pura-pura tidak mengenaliku?¡± Sial! Kenapa dia tahu si. Apa isi kepalaku ini transparan sampai bisa ditebak. Tanpa bertanya ataupun permisi laki-laki yang baru saja menyapa dan memanggil nama Daniah dengan riang itu sudah menarik sebuah kursi. Mau duduk persis di samping Daniah. ¡° Hei tuan apa yang anda lakukan?¡± Aran menarik kursi itu menjauh sebelum sempat di duduki. ¡°Tuan bahkan tidak bertanya apa boleh bergabung bersama kamikan?¡± Kenapa muncul laki-laki seperti ini si, dalam bayangankukan muncul laki-laki keren yang paling tidak selevel dengan tuan Saga. Dalam ketampananlah minimal, walaupun kalau uang tidak mungkin mengalahkannya. ¡° Hah! Siapa dia? Temanmu?¡± Tangan laki-laki sok akrab itu sudah bergerak ingin menyentuh dagu ataupun wajah Aran. Daniah segera refleks menepis tangan lancang itu. ¡° Jangan ganggu temanku!¡± Daniah bicara dengan nada ketus. Menatap tajam dan benci. ¡° Haha, kamu benar-benar tidak berubah ya Niah. Teman-temanmu selalu jadi kelemahan terbesarmu. Sekarang sudah ingat aku kan?¡± Dia tersenyum sinis sambil melirik Aran dan menarik kursi yang di geser tadi. ¡° Karena ini kafe milikku, aku tidak perlu izin siapapun dan bisa duduk dimanapun aku mau. Apalagi saat aku bertemu teman lamaku.¡± Cih, aku sampai lupa kalau dia memang murid paling kaya di SMU dulu. ¡° Kenapa kau sama sekali tidak berubah. Apa kau masih bocah SMU yang sok kuasa karena kekayaan orang tuamu!¡± Mendengar Daniah bicara dengan keras dia malah tertawa. ¡° Sekarang aku sudah punya kekayaanku sendiri. Haha. Tapi Niah kau tetap manis sama seperti dulu. Apalagi kalau sedang marah padaku.¡± Tidak tahu terbuat dari apa urat malu laki-laki di depannya ini. Tapi Daniah masih merasa, kalau dia sama persis dengan berandalan SMU yang menyusahkan kehidupan remajanya dulu. ¡° Tutup mulut anda tuan!¡± Aran bangun dari tempat duduknya. Mendekat dan berdiri di samping Daniah. ¡° Haha, siapa dia Niah. Pengawalmu?¡± Daniah menarik tangan Aran yang sudah hampir mengebrak meja di depannya. Ya Tuhan kenapa aku bisa bertemu berandalan gila ini. Laki-laki di hadapannya ini memiliki rapor hitam selama di sekolah. Dan lebih menyebalkan lagi dia selalu lepas dari hukuman karena keluarganya yang kaya raya dan penyokong hampir separuh dari semua kegiatan sekolah. Dan ilmu bela dirinya tidak main-main. Parahnya dia bisa memukul perempuan. Huh! Ku pikir tuan Saga itu laki-laki paling seenakya dimuka bumi ini. Sampai aku ingat lagi dengan berandalan ini. ¡° Aran tidak apa-apa. Dia berandalan di Smuku dulu. Kami satu sekolah.¡± Hah! Apa dia ini mantan nona? Kenapa aku benar-benar ketemu dengan mantan nona. Aaaaa, apa aku sedang dikutuk karakter-karakter novelku yang kadang aku buat susah kalau ketemu para mantan. Seharusnya mereka dibuang ditempat sampah. Cih. ¡° Kau lumayan juga, tapi kau bukann seleraku.¡± Menatap Aran sinis sambil menyeringai. Setelah itu beralih menatap Daniah. ¡° Niah, bagaimana denganmu. Kau sudah punya pacar?¡±¡± ¡° Aku sudah menikah.¡± Menjawab cepat. ¡° Haha, ayolah. Kau tidak akan mengaku kalau kau menikah dengan tuan Saga Rahardian presdir Antarna Groupkan?¡± Wajah Daniah semakin kesal ketika mendegar laki-laki di depannya tertawa semakin keras. Caranya tertawa masih sama seperti yang ada diingatannya. Dan dia membenci itu. ¡° Tebakanku benarkan kau mau mengaku sebagai wanita yang dicintai tuan Saga. Sudah ada lima Daniah yang ku kenal mengaku sebagai istri presdir Antarna Group.¡± Dia tertawa dengan puas, bahkan memukul meja di depannya. Merasa bangga karena berhasil menebak arah pikiran Daniah. ¡° Jadi aku orang ke enam ya? Sepertinya aku kurang beruntung, biasanya orang-orang percaya lho kalau aku bilang aku istri tuan Saga. Daniah yang fenomenal itu.¡± Daniah menenangkan Aran di sampingnya yang sudah semakin gusar. Aran sepertinya kesal melihat pandangan melecehkan laki-laki di hadapannya ini ketika melihat Daniah. Itu bukan mata penuh cinta. Itu pandangan ambisi dan ingin memiliki. Sebatas kepuasan ia bisa memiliki sesuatu yang sulit dia dapatkan. Sebenarnya hubungan mereka di masa lalu apa si. Kau tahu, kalau tuan Saga sampai tahu kejadian ini, aku yakin kau akan jadi bubur lumer yang tidak akan di kenali siapapun. Sial, para pengawal saja melihat jelas kejadian ini. Mereka sedang menahan diri karena melihat nona sangat tenang menghadapi laki-laki ini. ¡° Kak Niah, ayo kita pergi.¡± Aran meraih tas tangan Daniah di atas meja. ¡° Wahh, kau kurang ajar sekali ya. Akukan sedang bicara dengan Niah. Kami sedang nostalgia masa lalu.¡± Mengedipkan mata jenakanya, dan senyum tidak tahu malunya. ¡° Tutup mulutmu. Tidak perlu ada kenangan apapun yang perlu di kenang dalam hubungan kita. Bertemu denganmu lagi saja sudah seperti mimpi buruk.¡± ¡° Ayolah Niah, kitakan pernah berkencan sekali.¡± ¡° Hei, kalau kau tidak memukul dan menyekap temanku, apa kau pikir aku mau pergi kencan denganmu!¡± Daniah berteriak akhirnya. ¡°Mengelikan sekali, kau sama sekali tidak berubah. Tidak tahu malumu itu sudah kelewatan.¡± ¡° Wahhh, manisnya. Kau masih sama manisnya seperti dulu kalau marah. Apa kalau aku melakukan lagi pada temanmu ini.¡± Dia menunjuk Aran. ¡° Kau mau berkencan semalam denganku.¡± ¡° Apa kau tidak dengar tadi, kak Niah sudah menikah. Jadi berhentilah sampai di sini sebelum.¡± ¡° Sebelum apa? haha. Sebelum tuan Saga mematahkan tanganku. Ayolah Niah, sampai kapan kau akan bersandiwara dan mengaku menjadi istri tuan Saga.¡± Dia terlihat menimbang-nimbang. ¡° Kamu memang manis si, tapi seleranyakan seperti pelukis Helena yang punya tubuh seperti supermodel itu. Sedangkan kau.¡± Byurrr. Sisa jus nanas dan beberapa bongkahan batu es sudah mendarat tepat di wajah laki-laki itu. Sementara gelas kosong itu masih di gengam Aran dengan gemetar. ¡° Beraninya kau!¡± dia bangun dari kursinya. Daniahpun demikian menarik Aran berdiri di belakangnya. Melindungi. Karena melihat sorot mata laki-laki di depannya sudah memerah kesal. Gawat dia marah. Dan aku tahu segila apa dia kalau marah. Aran yang mau berjalan ke depan Daniah tertahan. Tangan nona mudanya itu masih melindunginya. Keributan yang terjadi langsung mengundang para pelayan bahkan para penjaga kafe masuk. Para pelanggan kafe sudah berdiri dari kursi mereka. Yang penasaran masih bertahan ingin melihat sampai sejauh apa kegaduhan ini. Yang tidak suka keributan segera menyingkir keluar setelah membayar tagihan. ¡° Kenapa Boss?¡± ucap mereka panik. Apalagi saat melihat wajah boss mereka dan rambut terlihat basah dan lengket. ¡° Sial, aku sebenarnya ingin baik-baik menyapa tadi. Tapi temanmu sudah kurang aja.¡± Menatap Aran penuh kekesalan. ¡°Aku bisa memaafkanmu kalau kau yang melakukannya, tapi karena dia yang menyiramku, dia harus membayarnya dengan setimpal kan?¡± Daniah maju dan akan memberi pembelaan. Namun dua pengawal yang sedari tadi hanya diam mengamati sudah berdiri di depannya membentangkan tangan. ¡° Nona, apa nona tidak apa-apa?¡± Sementara tangan Daniah masih melindungi Aran di belakangnya. " Kenapa kalian baru bereaksi?" Aran berbisik sambil mengeram kesal. Karena tahu kedua orang tadi sudah menonton pertunjukan. " Sekertaris Han ingin melihat kerjamu. Bagaimana kau bekerja." Menatap Aran meremehkan. "Sepertinya kau tidak berguna sama sekali melindungi nona." Hei, Apa! ¡° Apa-apaan ini! Siapa kalian? Kalian tidak tahu siapa aku?" Si pembuat onar mundur beberapa langkah. " Niah, mereka siapa? suamimu?" Aaaa, apa ini akhir dari riwayat pekerjaanku. Dia tidak akan mengusirku dan menyuruhku berenang keluar pulaukan. Aran. Kekacauan akan berlanjut. Bersambung Chapter 170 Masa SMU (Part 1) Saat itu adalah masa remaja. Dunia yang menyenangkan. Siklus kehidupan yang konon katanya paling membahagiakan. Masa apa itu? Jawabannya adalah masa SMU. Saat kalian tidak perlu pusing tentang kehidupan, selain PR, bangun pagi, guru killer dan upacara bendera dengan kewajiban memakai atribut lengkap. Hari-hari adalah tentang sekolah, rumah dan menghabiskan waktu dengan hobi masing-masing. Ngemil kuaci ramai-ramai sambil membahas seisi kelas. Dari yang asik sampai orang-orang normalnya. Bisa juga ngedrama ramai-ramai di kamar salah satu teman yang dirasa paling kaya, karena biasanya kamarnya besar dan punya stok camilan. Seperti itu pula Daniah menjalani masa remajanya. Berteman dengan ceria dengan semua orang. Dia selalu menyimpan wajah murung ketika melewati pintu gerbang rumahnya. Setelah melewati gerbang sekolah wajahnya selalu full ceria dan senyuman. Di SMU dia sudah mulai belajar, bahwa apapun yang dia lakukan akan dipandang sebelah mata oleh ayah dan ibunya. Hingga dia tidak pernah berharap lebih. Semenjak SMU Daniah mulai belajar untuk mengatur setiap rupiah uang jajannya. Diapun tidak malu mulai belajar menjual aksesoris ataupun binder-binder dengan gambar lucu-lucu. Begitulah dia menjalani masa SMU. Masa kalian mulai menata mimpi dan merencanakan impian kalian. Ada banyak rencana hidup yang di tulis Daniah di catatan hariannya. Muaranya hanya satu, hidup mandiri. Dia bahkan mulai menabung sedikit demi sedikit untuk biaya kuliahnya. Sedari awal ibu tirinya sudah bicara. Jangan bermimpi tentang biaya kuliah dari kami. Kalau kau mau kuliah carilah uang sendiri. Kami mempersiapkan semuanya untuk adik-adikmu. Hingga tak mungkin bermimpi lebih jauh lagi, kalau mengandalkan orangtuanya. Walaupun ayahnya masih membisu dan belum mengambil keputusan apa-apa. Karena kalau hanya kuliah di dalam negri untuk membiayai tiga orang Daniah merasa keluarganya masih sangatlah mampu dari segi finansial. Tapi karena ibu tirinya, dia jadi tidak pernah berharap lebih. Baiklah Daniah, hidup memang harus bekerja keraskan. Jangan pernah menoleh kebelakang lagi. Tegakan kepalamu dan semangatlah. Walaupun ibu tidak mau membiayai kuliahmu, kau masih bisa mencari uang dan mengejar mimpimu sendiri. Begitulah dia siang dan malam menyemangati dirinya. Bekerja di perusahaan besar, dengan gaji tiga kali lipat yang bisa di berikan perusahaan ayahnya. Ini akan menjadi modal awalnya untuk hidup. Tidak pernah berharap sedikitpun untuk masuk ke perusahaan ayahnya. Pagi itu dia kembali melewati pintu gerbang sekolah dengan ceria. Tepat berpapasan dengan teman dekatnya Ve yang baru turun dari mobil bersama ayahnya yang mengantar. Ve mencium tangan ayahnya sebelum keluar dari mobil. Masih melambaikan tangan seperti anak SD yang diantar sekolah orangtuanya. Manisnya mereka. ¡° Niah! Kemari! Tapi jangan kaget ya.¡± Sahabatnya langsung melingkarkaan tangan di lengan Daniah mendekatkan mulutnya ke telinga Daniah. Membuat gadis itu merinding geli. ¡° Jangan sembarangan.¡± Mendorong wajah temannya menjauh. ¡° Sumpah! Ini info valid dari sumber yang bisa di percaya. Niah, diakan berandalan sekolah. Guru-guru saja menutup mata dengan semua kelakuannya bagaimana ini?¡± Dia panik sendiri, sambil mempercepat langkah karena bell masuk sudah berdentang. Anak-anak yang lain berlari, beradu cepat dengan penjaga sekolah yang mulai berjalan ke gerbang. Kalau dia sudah menutup gerbang, tamatlah riwayat. Hei, sembarangan juga ada tempatnya donk. Kenapa juga aku jadi target cintanya yang berikutnya. Memang apa yang dilihatnya dariku. ¡° Memang sudah tidak ada murid wanita populer di sekolah ini yang mengejarnya sampai dia mengalihkan sasaran sama aku. Sudahlah Ve, jangan banyak bergosip sepulang sekolah. Pulang dan kerjakan PR mu, kamu banyak bergosip siang-siang setelah aku pulang ya?¡± Daniah masih berfikir itu hanya gosip tidak penting. Mana mungkin berandalan sekolah (versinya dan kawan-kawannya), atau pangeran sekolah versi siswa-siswa lainya menargetkan orang sepertinya. ¡° Beneran Niah. Anak-anak dengar dia bicara tentangmu. Dia sudah membuat pengumuman kalau kamu pacarnya.¡± Gila apa! bicara denganku empat mata saja tidak pernah. Pacaran dari mana. ¡° Sudahlah. Lagipula apa si yang dia liat dari aku.¡± Sudah sampai di kelas dan duduk. Teman Daniah langsung menyentuh bahu dan memutar tubuh Daniah menghadapnya. Dia terlihat berfikir keras sambil mulutnya manyun. ¡° Kamu kan manis. Apalagi rambutmu. Haha.¡± Tawanya mengandung sarkas. ¡° Mau mati ya?¡± sambil mengepalkan tangan tepat di depan wajah sahabatnya. ¡° Haha, tidak ampun. Tapi rambutmu memang lucu si. Coba lihat.¡± Gulung-gulung, dia sudah mengulung rambut Daniah di jarinya dengan tertawa. Ya, ya terserah. Lakukan sesukamu. Guru yang masuk menyelamatkan rambut Daniah. ¡° Daniah! Kak Haksan memanggilmu¡± Daniah langsung menjatuhkan sendok di tangannya. ¡° Pergilah temui dia di tempat dia biasanya berkumpul bersama para pengikutnya.¡± ¡° Jangan bercanda.¡± Sipengantar pesan loncat-loncat sambil mencengkram tangannya sendiri. Panik. ¡°Ku mohon, dia pasti memukulku kalau kamu tidak pergi.¡± ¡° Niah, jangan pergi.¡± Ve di sampingnya menarik tangannya kuat. ¡° Benarkan yang aku bilang, kamu target selanjutnya.¡± Wajah Daniah terlihat serius. Dia menatap si pengantar pesan dan teman baiknya Ve bergantian. ¡°Tapi dia bisa kenapa-kenapa kalau aku tidak datang. Sudahlah, jangan kuatir. Aku juga penasaran maunya apa.¡± ¡° Niah, terimakasih ya. Kamu memang malaikatku.¡± Si pengantar pesan Refleks memeluk Daniah. ¡° Ia, ia sudah. Kenapa kamu juga bisa jadi pengantar pesan si.¡± ¡° Katanya karena aku temanmu.¡± Sial! Dia benar-benar tau kelemahanku. Setelah menghabiskan makan siang Daniah pergi menuju tempat yang di sebutkan. Sengaja menuju waktu sebelum bell istirahat berakhir. Dia akan memakai tanda itu untuk kabur, jika suasana mulai tidak bisa dikondisikan. Ve yang memaksa mengikutinya dia cegah. Mengantisipasi kemungkinan terburuk yang bisa terjadi. Dia Haksan. Pangeran sekolah sekaligus berandalan sekolah. Dia siswa dari orang terkaya satu sekolah. Siapapun tahu, kalau ayahnya adalah penyokong dana terbesar di sekolah. Dia berkencan dengan siapapun yang dia sukai. Parahnya para siswa setuju saja saat dia mengumumkan siapa nama pacarnya. Tanpa protes, karena dengan menjadi pacarnya mereka bisa mendapat fasilitas premium yang diimpikan semua wanita. Dan kenapa harus aku! memang dia pernah melihatku dimana si? Dia mau apa! Daniah melihat segerombolan siswa sedang duduk mengelilingi Haksan. Tidak tahu apa yang dia ceritakan, tapi semua tertawa kalau laki-laki itu tertawa. Saat dia diam semua juga diam mendengarkan dengan khidmat. Ada siswa laki-laki dan perempuan. Semua yang ada di sekelilingnya adalah siswa populer. Daniah nyaris bisa menyebutkan setiap nama-nama mereka saking terkenalnya mereka di kalangan para siswa. Haksan langsung berdiri saat melihat Daniah mendekat. ¡° Kau sudah datang? Duduklah, aku sudah menunggumu.¡± Tidak canggung sama sekali. Dia benar-benar pro dalam hal beginian rupanya. Hei, apa yang kau lakukan berandalan gila. Haksan menarik tangan Daniah, orang-orang yang tadi mengelilinginya juga menyingkir memberi jalan. ¡° Kenapa lama sekali?¡± keduanya sudah duduk. Sementara Daniah masih binggung, dan yang lain melihatnya seperti tontonan penuh kekaguman. Ntahlah apa isi kepala mereka. Mungkin mencela atau kagum. Bagaimana orang sepertinya bisa terpilih menjadi target cinta pangeran sekolah. ¡° Maaf, aku menghabiskan makan siangku dulu tadi.¡± Yang lain langsung tertawa mendengar jawaban Daniah. Kenapa si? Kalian gila ya, kenapa kalian tertawa hanya karena laki-laki ini tertawa. ¡° Maaf kak, bisa kita bicara berdua saja.¡± ¡° Aaa, baiklah kau malu ya.¡± Haksan mengusir semua orang. Dan mereka semua benar-benar pergi. ¡° Kau akan terbiasa dengan mereka nanti.¡± Hei tunggu, tuan muda, aku tahu kau seenaknya. Tapi kau sudah menyimpulkan apa sebenarnya. Kalau aku wanitamu. ¡° Maaf kak, kenapa kenapa memanggil saya kemari?¡± Dan sejak kapan kita saling menyapa, kenapa kamu sudah sok kenal, sok dekat dan sok akrab begini. Sudah berasa aku ini pacarmu saja. ¡° Aku sudah memproklamirkan kalau kamu sekarang sudah jadi pacarku ke seisi sekolah.¡± Hah! Gila ya! ¡° Maaf kak, sepertinya aku tidak pernah menyetujui apapun.¡± Haksan terlihat terkejut dengan kata-kata Daniah. Lalu dia tertawa setelahnya. ¡° Memang aku perlu persetujuanmu kalau kita mau pacaran.¡± Hah! ¡° Biasanya siapapun yang aku tunjuk sebagai pacarku mereka selalu senang dan tidak pernah prostes. Mereka malah sangat bersyukur.¡± ¡° Kalau begitu pilih saja salah satu dari mereka.¡± Daniah mencengkram tangannya, berdoa laki-laki di depannya tidak tersinggung dengan ucapannya. ¡° Apa!¡± Tepat bell berbunyi. Perhitungan Daniah memang tepat. Dia bisa selamat. ¡° Maaf kak sudah bell, saya harus masuk.¡± Kaki Daniah yang mau melangkah sudah tertahan. Karena kaki panjang Haksan terulur di depannya. ¡° Memang siapa yang mengizinkanmu pergi?¡± Mendongak kepala, senyum di wajahnya sudah sirna. ¡° Sudah bell kak.¡± ¡° Aku akan mengantarmu ke kelas, tidak akan ada yang berkomentar walaupun kau terlambat masuk kelas sekalipun.¡± Menarik tangan Daniah untuk duduk kembali. ¡° Kenapa? Kau menolak jadi pacarku.¡± ¡° Ia.¡± Jawaban tegas Daniah yang membuat dirinya sendiri terkejut. ¡° Maaf kak, aku sudah punya pacar.¡± ¡° Hahaha.¡± Haksan tertawa keras mendengar perkataan Daniah. ¡° Hei Niah, kau tidak bisa mencari alasan yang lebih masuk akal.¡± Apa! memang kau tau kalau aku membual. ¡° Sepulang sekolah kau bahkan kerja paruh waktu. Di akhir pekan juga, kau sedang mengumpulkan uang untuk kuliahkan? Lalu kapan kau pergi pacaran, apa dengan salah satu teman kerjamu.¡± Bagaimana kau tau?¡¯ ¡° Tentu saja aku tahu. Itu namanya totalitas dalam mencintai.¡± Langsung menjawab seperti tahu arti dahi berkerut Daniah. Totalitas dalam mencintai kepalamu. Itu stalker namanya, penguntit gila, itu tindakan kriminal tahu! ¡° Maaf kak sepertinya kak Haksan salah informasi. Aku masih punya keluarga yang bisa membiayai ku kuliah kenapa aku harus susah-susah mengumpulkan uang.¡± Berkelit dan mencari alasan senormal mungkin. ¡° Benarkah, apa ibu tirimu juga berpendapat demikian.¡± Daniah langsung membeku. Bagaimana dia tahu. Dia benar-benar penguntit gila. bersambung Chapter 171 Masa SMU (Part 2) Wajah Daniah menjadi pias. Seperti manusia yang sedang kekurangan darah. Sedih bercampur kesal juga ada. Namun semuanya jauh lebih di dominasi perasaan bersalah. Dia duduk di sofa ruang tamu keluarga Ve. Mencengkram lututnya sendiri. Bahkan tangannya sudah gemetar. Dia sudah menitikan air mata di sudut kelopaknya. Merasa tidak berdaya sama sekali. Secepak kilat dia seka ujung matanya, agar kristal bening itu tidak sampai jatuh mengenai kakinya. Dia tau kesalahannya, dan kalau sampai orangtua Ve melihatnya menangis itu akan membuat mereka semakin kesal. Karena seperti itu kalau ibu tirinya sedang marah. Saat dia menangis wanita itu semakin mengila amarahnya. Aku salah. Aku salah. Aku salah. Hanya itu yang berdengung di hatinya. Berulang-ulang muncul di kepalanya. Membuatnya tidak boleh menyangkal sedikitpun. Dia bersalah dan dia harus minta maaf, begitulah seharusnya. Tidak perlu membela, hanya minta maaf atas semua salahmu. ¡° Ayah, ini bukan salah Niah. Ibu tolong mengertilah, Niah sama sekali tidak bersalah.¡± Ve berusaha menenangkan orangtuanya. Daniah tidak bersalah dalam situasinya, dia tahu itu. Gadis itu sudah melakukan apa yang dia bisa. Untuk membela teman-temannya. ¡° Diam! Bagaimana dia bisa tidak bersalah, gara-gara dia kamu sampai seperti ini.¡± Ayah Ve menunjuk beberapa luka memar di tubuh putrinya. Ve segera menutupi dengan tangannya. Walaupun itu sia-sia. Dia memang sedikit terluka, tapi ini juga bukan sepenuhnya salah Daniah. ¡° Maafkan saya bibi, maafkan saya paman. Ini semua salah saya.¡± Masih dengan suara bergetar dan rasa bersalah Daniah mengulang permintamaafannya beberapa kali. Ve benar-benar ingin memeluk Daniah sekarang. Tapi tangan ibunya mencengkram lengannya. Mencegahnya bergerak dari tempat duduk. Niah maaf. Suara Ve lirih terdengar. ¡° Baguslah kamu tahu dan menyadari kalau kamu bersalah. Memang apa masalahnya kalau laki-laki itu suka padamu. Pergi saja jalan dengannya sekali atau dua kali. Kenapa kau jual mahal begitu sampai membuat putri kami terluka.¡± Ibu Ve ikut bicara. Memberi vonisnya. Karena orangtua Ve pun tahu siapa Haksan dan keluarganya. Jadi mereka memilih melimpahkan kesalahan pada Daniah. Yang berdiri tanpa pembela di belakangnya. ¡° Maaf.¡± Hanya bisa mengatakan sepatah kata itu sambil tertunduk. ¡° Jangan berteman dengan putri kami lagi. Selama ini kami sudah memperlakukanmu dengan baik, ternyata kamu membawa dampak tidak baik bagi putri kami.¡± ¡° Ayah!¡± Ve bereaksi keras, karena kata-kata itu benar-benar terlihat menyakiti Daniah. Ve melihat sahabatnya itu mencengkram jemarinya kuat. ¡° Diam! Jangan berteman lagi dengannya, atau ayah bisa saja memindahkan sekolahmu.¡± ¡° Ayah, ini bukan salah Niah.¡± Di tempat duduknya Daniah mengelengkan kepalanya. Memberi isyarat agar Ve jangan membantah atau melawan lagi perkataan orangtuanya. Dia yang salah. Dia mengakui dia yang salah. Dan semua ini salahnya. Ve terluka karena dia adalah teman baiknya. Kak Haksan melakukan ini untuk menyakiti dirinya. Haksan tahu sekali kelemahan Daniah, melukai Daniah bukanlah dengan melukai tubuhnya. Tapi menghancurkan orang-orang yang ada di sekitarnya. Itu yang akan membuat Daniah berlutut dan mengemis untuk menjadi kekasihnya. Dan itu memang rencana Haksan, dan sepertinya mulai membuahkan hasil. Di SMU ini terjadi lagi pristiwa besar yang akan terus melekat dalam pikiran Daniah. Dia menyimpan kisah ini di hatinya. Sebagai pelajaran. Suatu hari nanti dia tidak akan pernah melakukan kesalahan yang sama untuk kedua kalinya. Jangan pernah membuat orang lain terluka karena dirimu Daniah. Jangan membuat orang lain tersakiti karenamu. Berkorbanlah sedikit saja. Kau tidak akan mati dengan memberikan dirimu dan membiarkan kau menanggung beban itu sendirian. Kalau saja ia mau diajak berkencan oleh kak Haksan. Ve tidak mungkin terluka, gadis itu tidak akan tergores sedikitpun. Dan kak Haksan tidak akan pernah menyentuhnya. Andai saja dia mengalah dan memilih menerima ajakan kak Haksan semua akan baik-baik saja. Orang tua Ve tidak akan berubah sikap padanya. Ve akan tetap menjadi teman baiknya. Semua berjalan dengan baik. Tapi karena dia menolak. Karena keangkuhannya semua hancur. Kepingan persahabatan yang sedikit-sedikit ia sulam bersama Ve sudah hancur dan rusak dan tidak mungkin kembali seperti semula. Ancaman orang tua Ve, untuk memindahkan putrinya ke sekolah lain membuatnya harus menghindari Ve. Bahkan dalam batas waktu yang tidak di tentukan. Gadis penurut yang akan rela mengorbankan dirinya untuk orang lain telah lahir ke dunia. Walaupun harus mengalah dan mengikuti kemauan gila laki-laki di depannya, tapi Daniah cukup cerdik untuk membuat aturan yang bisa melindungi dirinya. ¡° Tidak melakukan kontak fisik.¡± Daniah menatap Haksan yang duduk sambil menghabiskan segelas lemon teanya. Laki-laki itu tertawa mendengar syarat pertama yang diucapkan Daniah. ¡° Berat sekali saratmu. Apa aku tidak boleh mengengam tanganmu juga.¡± Masih belum hilang tawa dari bibirnya. ¡° Tidak.¡± ¡° Haha. Lantas apa bedanya dengan kemarin-kemarin kalau aku bahkan tidak boleh menyentuh tanganmu.¡± Daniah membenci tawa itu. Senyum yang susah di tebak artinya. Cinta, suka, dia tahu tidak ada hal seperti itu dalam kamus hidup laki-laki yang ada di hadapannya ini. Hanya bangga memiliki sesuatu yang sulit dia dapatkan. Hanya itu saja arti dirinya tidak lebih. Hingga dia tidak merasa sedikitpun bangga ataupun senang ketika Haksan mengumumkan kepemiliaknya atas dirinya. ¡° Satu lagi.¡± ¡° Wahh, banyak sekali maumu.¡± Gelas di depannya sudah kosong. ¡°Baiklah, karena kamu aku akan mengabulkan satu lagi syaratmu. Katakan saja.¡±¡± ¡° Jangan sentuh teman-temanku. Jangan menyakiti mereka.¡± ¡° Haha, Niah aku tidak pernah menyentuh teman-temanmu.¡± Seperti menggangap syarat kedua sama sekali tidak penting. ¡° Benarkah? Lalu bagaimana kau bisa menjelaskan tentang Ve.¡± ¡° Ve. Siapa dia.¡± ¡° Huh! Apa kak Haksan tidak mau mengakui kalau sudah memukulnya.¡± Intonasi suara Daniah meninggi. Tangan di atas meja juga sudah terkepal geram. ¡° Aaa, gadis itu. Aku ingat sekarang, dia jatuh saat menabrakku kemarin. Itu bukan salahkukan, dia jatuh sendiri kok.¡± Menggangakt kedua bahunya, merasa tidak bersalah sama sekali. Daniah benar-benar marah mendengar apa yang di katakan Haksan. Selain seenaknya, dia sama sekali tidak punya rasa tanggung jawab. ¡° Sudahlah, jangan diungkit lagi masa lalu. Yang penting kita sudah resmi pacaran sekarangkan.¡± Masa lalu kepalamu.. ¡° Ayo pergi kencan, aku akan menjemputmu di rumahmu akhir pekan nanti.¡±¡± Tidak mau. Inginnya bisa menjawab seperti itu. Tapi kilas balik kejadian Ve membuatnya mengangukan sedikit kepalanya. " Kenapa memilihku? bukankah banyak siswi di sekolah ini yang rela untuk melakukan apapun demi bisa dekat dengan kak Haksan?" " Menurutmu kenapa?" Dia malah balik bertanya dengan tersenyum. Daniah bisa menebak jawaban seperti apa alasan yang sebenarnya. " Yang pasti bukan karena kak Haksan menyukaikukan." " Hahaha." Laki-laki itu tertawa keras. senyum liciknya itu muncul. " Kau mau tau alasan yang sebenarnya?" " Tidak, tanpa kak Haksan bicara juga aku sudah tahu." Daniah bangun dan mendorong kursinya. "Tapi aku juga tidak melakukannya karena aku menyukai kak Haksan. aku juga melakukannya untuk teman-temanku." Haksan tertawa keras melepaskan kepergian Daniah. Tawanya berhenti, tapi tatapannya masih melekat di punggung gadis itu. Kau lumayan manis juga ternyata. Akhir pekan yang dijanjikan datang. Kencan pertama Dirinya dan Haksan. Apa yang dilakukan beradalan gila itu, dia benar-benar datang kerumahmu. Memamerkan nama keluarganya lagi. Ibu tiri daniah yang awalnya gusar ketika mengenali siapa laki-laki yang membawa buket bunga dan sekeranjang buah itu langsung merubah setelan wajahnya. ¡° Tante sampai tidak mengenalimu. Padahal kalian terlihat mirip ya. Tante beberapa kali bertemu dengan ibumu di acara sekolah.¡± Di tangga Daniah melihat adegan itu seperti mau lari ke kamar mandi dan memuntahkan semua isi makanannya.. Apa yang dipikirkan ibu sebenarnya. ¡° Silahkan diminum dulu nak Haksan, tante mau bicara sebentar dengan Niah sebentar." Wanita itu bangun dari duduknya. ¡° Ia tante silahkan.¡± Daniah hanya pasrah ketika tangannya di seret menuju sebuah ruangan. ¡° Kalian sudah pacaran, kenapa tidak cerita pada ibu.¡± Ini bukan sesuatu yang penting bu, ini juga akan jadi kencan pertama dan terakhir kami. Aku tidak akan pernah memasukan kencan hari ini dalam riwayat cintaku. Titik. ¡° Kami belum pacaran bu. Aku hanya membayar hutang padanya.¡± ¡° Hutang apa?¡± Penasaran. " Kamu berhutang uang padanya?" Matanya mendelik karena hipotesanya sendiri. ¡° Hutang anak muda bu, ibu tidak perlu tahu.¡± Ibu menarik tangan Daniah mendekat. Memaksa Daniah sekarang juga tidak mungkin, apalagi Haksan yang sedang duduk menunggu di ruang tamu. ¡° Jangan membuat keluarga kita malu. Itu akan membuat ayahmu susah juga. Perusahaan ayah punya kerjasama bisnis dengan keluarga Haksan. Jadi bersikaplah yang baik dengannya.¡± ¡° Aku akan berusaha bu.¡± ¡° Apa! berusaha. Kau harus bersikap baik bukan hanya berusaha.¡± Mencengkram tangan Daniah, kalau yang dia katakan tidak main-main. ¡° Baik bu.¡± Menjawab pasrah namun penuh kebencian. Dan akhirnya, kencan terpaksa pertama Daniah dan akan menjadi kencannya yang terakhir. Semoga semua rencananya berjalan lancar hari ini. ¡° Hei Niah, apa-apaan ini.¡± Haksan protes ketika Daniah mengalungkan tasnya ke leher Haksan. ¡° Apa kau mau aku membawakan tasmu?¡± Sial! Seumur hidup aku berkencan dengan perempuan aku belum pernah melakukan hal ini. Daniah menutup mulutnya karena terkejut. ¡° Maaf, saat kubaca di buku katanya begini caranya orang berkencan. Maaf kak, akukan amatiran dalam hal ini, jadi aku hanya melakukan apa yang di ajarkan di buku.¡± Sial! Kenapa dia imut begitu. ¡° Baiklah, karena kamu ayo lakukan kencan sesuai dengan buku yang kamu baca.¡± Seringai tipis muncul di wajah Daniah saat dia memalingkan wajahnya. Hari ini akan menjadi hari yang panjang bagi Haksan. Karena sepertinya Daniah salah membaca buku. Buku yang dia baca adalah : Seribu satu cara putus dengan pacarmu yang membosankan. Epilog Hari itu benar-benar hari terakhir Daniah kencan dengan Haksan, karena laki-laki itu menghilang esok harinya dari sekolah. Tidak ada yang tahu kemana dia pergi. Hanya gosip berseliweran. Salah satunya dia terjerat obat terlarang di sebuah tempat hiburan malam. Tapi tidak ada yang tahu pasti benar atau tidak. Yang pasti saat berpisah dengan Daniah dia terlihat marah dan frustasi. Untuk pertama kalinya dia merasa di permalukan seorang perempuan. Chapter 172 Bulan madu (Part 9) Dan setelah sekian tahun mereka tidak pernah sekalipun bertemu. Mereka dipertemukan dalam takdir semacam ini. Daniah tidak pernah sedikitpun mengingat nama Haksan, tapi sepertinya lain dengan laki-laki itu. Menghilangnya dia dari kehidupan SMUnya dulu, sedikit banyak karena Daniah. Sehingga saat mereka bertemu lagi, ego masa lalunya kembali bergejolak. Sampai membuatnya lupa, kalau ini bukan kehidupan sekolahnya lagi. Kalau Daniah bukan lagi gadis polos yang bisa dia ancam dan masuk dalam jeratannya dengan mudah. Ketegangan tidak bisa di hindarkan diantara mereka. Haksan merasa terusik harga dirinya, apalagi kafe ini miliknya. Dia bos di tempat ini. Bahkan bukan hanya di kafe, daerah perbelanjaan di pulau ini memang berada di bawah pengawasannya. Seperti dia yang bertanggung jawab untuk menjaga keamanan. Kedekatan orang tuanya dengan orang nomor satu kota XX, membuatnya jadi orang di takuti di pulau ini. ¡° Hei siapa kalian?¡± menunjuk dua pengawal laki-laki yang tiba-tiba muncul menjadi tameng hidup di depan Daniah. Gadis itu bahkan tidak terlihat karena tersembunyi di balik punggung tinggi kedua orang di depannya. Sepertinya dua laki-laki itu sengaja menghalangi pandangannya. Karena Haksan bahkan tidak bisa melihat ujung rambut bergelombang Daniah sedikutpun. ¡° Niah!¡± Panggilnya keras membuat Daniah tersentak di balik punggung para pengawalnya. Di belakangnya Aran sudah maju ke samping. Tidak mau berada di belakang punggung Daniah. Karena memang seharusnya dia yang melindungi, bukan dilindungi. ¡° Nona, jangan perdulikan dia. Ayo kita pergi.¡± Keselamatan Daniah jauh lebih penting dari apapun, Aran menebak laki-laki di hadapannya ini benar-benar bisa bersikap tidak waras. Walaupun dia tidak tahu masa lalunya bersama nona bagaimana, tapi secara jelas bisa terbaca dari reaksinya saat ia menyiramkan jus nanas ke wajahnya tadi. ¡° Niah!¡± Haksan kembali berteriak karena Daniah tidak memberikan reaksi pada teriakannya tadi. Panggilan kerasnya membuat dua laki-laki di hadapannya menatapnya tajam. ¡° Nona ayo kita pergi.¡± Aran sudah meletakan tangannya menyentuh lengan Daniah. Bahkan kalau perlu dia ingin menarik tangan itu. Semua dia serahkan pada kedua pengawal di depannya. Keselamatan nona adalah kehidupan kami selanjutnya. Tapi Daniah menepuk punggung tangan Aran yang masih menyentuh tangannya. Menenangkan kalau semua akan baik-baik saja. Karena kalau Haksan yang dia kenal, walaupun pria ini gila, tapi kalau dia bisa mengajaknya bicara baik-baik. Daniah masih merasa bisa memegang sedikit kendali. Berkaca dari kenangan masa lalunya. ¡° Akukan tadi sudah bilang aku sudah menikah. Kau yang tidak percayakan. Mereka pasti teman-teman suamiku. Mungkin mereka kebetulan melihatku kau ganggu jadi mereka datang menolongku.¡± Jangan tanya ekspresi Daniah. Dia bisa berakting sangant baik di situasi terdesak begini. Sudah dibuktikan banyak sekali ketika menghadapi Saga. Ayolah percaya saja. Ini demi keselamatan kita berdua. Demi aku yang tidak perlu repot menjawab semua pertanyaan tuan Saga. Demi kamu yang terbebas dari semua bentuk kemarahan tuan Saga. ¡° Haha, ayolah, kau mau aku percaya. Baiklah, sekalian aku percaya pengakuan pertamamu, kalau kau istri tuan Saga.¡± Tawanya berhenti saat melihat Aran di samping Daniah. ¡° Bawa gadis yang menyiramku tadi!¡± Perintah Haksan pada anak buahnya yang jumlahnya tiga orang. Yang muncul setelah adegan penyiraman. Dan ntah muncul dari mana ada dua orang lagi yang masuk ke dalam kafe. Melihat situasi yang sepertinya kurang terkendali para pelanggan kafe yang tadinya berdiri menonton langsung angkat kaki segera. Tidak mau terlibat lebih jauh. Mereka memprediksi situasi akan semakin genting. Para pelayang wanita juga sudah terlihat panik. Mereka sedang ribut mau bersikap bagaimana. Bertahan di kafe melihat boss mereka atau kabur dengan segala resiko esok harinya. ¡° Niah, kau tahu aku agak pendendamkan. Kecuali padamu.¡± Tersenyum. ¡° Berikan dia padaku.¡± Menunjuk Aran. ¡° Aku hanya akan memberinya sedikit pelajaran saja. Tidak akan sampai mati kok. Hanya pembalasan setimpal, air dibalas dengar air.¡± Pandangannya menusuk tajam saat menatap Aran. Membuat gadis itu sedikit bergetar tangannya.¡°Hanya terkadang pembalasan selalu lebih kejamkan.¡± Daniah maju beberapa langkah. Tapi tetap masih berdiri di belakang kedua pengawalnya. ¡° Aku minta maaf atas nama temanku kak. Aku yang salah, seharusnya aku bisa menenangkannya. Dia hanya perduli padaku, dan tidak tahu siapa dirimu. Aku mohon maafkan kami.¡± Suara Daniah jelas namun tidak terdengar dibuat-buat. Dia dengan tulus minta maaf. Agar semua berakhir dengan cepat. Ayolah terima saja maafku dan sudahi ini semua. Daniah sudah bisa melihat kedua orang di depannya sudah mengepalkan tangan menahan geram. Mereka pasti sedang menahan amarahnya. Terpancing sedikit saja, dia sudah bisa menebak kekacauan seperti apa yang akan terjadi. Bukan hanya Haksan yang perlu di kendalikan, tapi kedua orang di depannya inipun perlu ditenangkan. Aku tahu kalian marah, tapi ku mohon jangan sampai ada perkelahian. Karena semua pasti akan jadi rumit dan panjang. ¡° Haha, baiklah. Kau memang selalu seperti ini ya, memasang badan untuk orang lain. ¡° Senyum dan tawanya. Kembali mengingatkan kenangan buruk Daniah di SMU saat dia harus pergi berkencan dengan Haksan karena dia menyakiti Ve. ¡° Ayo temani aku malam ini, maka semuanya aku anggap impas.¡± Dan kali ini Haksanpun meminta syarat yang sama agar dia mau melepaskan Aran. Buag! Satu tendangan keras tepat mengenai perut Haksan, membuat laki-laki itu terjungkal keras ke belakang. Dia menjerit kesakitan sambil memegangi perutnya. ¡° Anda sudah melebihi batas anda tuan!¡±Salah satu pengawal Daniah bicara saat semua orang tersentak termasuk Daniah dan Aran. Mereka bisa merasakan sakitnya tendangan itu. ¡° Beraninya anda bicara kata-kata tidak pantas di hadapan nona muda kami.¡± Sesaat Haksan binggung dengan situasi yang terjadi. Sambil mengerang dan menahan sakit di ulu hatinya. Haksan memaki keras. Sumpah serapah keluar dari mulutnya. Dibantu dengan anak buahnya dia bangun. Melihat Daniah di balik punggung laki-laki yang menendangnya. Malu bercampur kesal. Bagaimana dia bisa mendapat pukulan telak bahkan di depan mata anak buahnya yang langsung terperangah kaget tadi. Harga dirinya semakin terburai menjadi serpihan kecil. Berserak di lantai. Dia tidak pernah dipermalukan seperti ini. Sialan! Apa lagi ini, nona muda? ¡° Niah!¡± berteriak dengan tingkat kesal yang semakin meningkat. Lebih-lebih ketika dia tidak bisa melihat wajah gadis itu. ¡° Sepertinya batas kesabaranku sudah habis sekarang. Hajar mereka. ¡° Membalikan badan menghadap anak buahnya. ¡° Kecuali Daniah, jangan menyentuhnya sedikitpun.¡± Haksan mencengkram ujung baju anak buahnya. Yang menatap arah telunjuk bossnya. Menunjuk gadis bernama Daniah yang tidak boleh mereka sentuh sedikitpun. ¡° Ba, baik boss.¡± Sesuai dengan instruksi perkelahian benar-benar tidak terhindarkan. Haksan tidak bisa diremehkan, seperti itulah perangainya sejak SMU. Waktu yang bergulir yang seharusnya mendewasakan seseorang sepertinya tidak menempanya sama sekali. Dia selalu seenaknya dan merasa semua hal harus berputar di sekelilingnya. Sekali lagi dia melihat Daniah yang berdiri di ujung meja. Melihat semua perkelahian dengan wajah paniknya. Huh! Persetan siapa suamimu. Asalkan bukan tuan Saga, aku masih bisa bersaing dengannya. Ini bukanlah perasaan cinta, Haksan tidak mengenal itu dulu ataupun sekarang. Ini hanya sebatas sesuatu yang diinginkan dimiliki orang lain dan itu membuatnya geram. Dia menarik kursi dan duduk melihat Daniah. Dari ujung kepala sampai kakinya. Cih, kenapa aku tidak menyadari kalau penampilannya benar-benar berubah. Semua benda yang menempel di tubuhnya jelas-jelas barang bermerek. Haksan tahu, karena dia sering membelikan teman kencannya barang-barang bermerek itu. ¡° Hentikan! Aku akan menelfon polisi.¡± Teriakan Daniah tidak terdengar di tengah keributan. Sementara matanya berkeliling, mencari dimana Haksan berada. Tatapan kesalnya ketika melihat laki-laki itu duduk tenang sambil tersenyum padanya. Sementara itu perkelahian terbagi menjadi tiga kubu. Empat orang menghadapi dua pengawal Daniah. Dan satu lagi berusaha menjatuhkan Aran. Gadis itu terlihat semakin terpojok.¡° Aran!¡± Daniah terkejut dan berlari mendekat. Gadis itu sudah terjungkal ke belakang. Membentur meja lalu terduduk di lantai. Dia terlihat kesakitan tapi berhasil bangun. Tapi sepertinya dia kehabisan energi. ¡° Kak Haksan ku mohon hentikan ini.¡± Berdiri di depan Aran. Laki-laki yang ingin memukul untuk kedua kalinya itu mundur. Daniah menoleh pada Haksan yang tidak bergeming. ¡°Ku mohon hentikan semua ini. Mereka tidak salah apa-apa.¡± Suara Daniah gemetar karena melihat Aran menahan sakit, terduduk di lantai. Diapun melihat darah menetes di sikunya. ¡°Aku mohon.¡± ¡° Hah! Akhirnya, kau tahukan, kalau aku selalu mendapatkan apa yang ku mau. Baik dulu ataupun sekarang.¡± Laki-laki itu mendekat. Senyum menjijikan terlihat jelas dibibirnya. Tuan Saga tolong kami! Daniah mundur beberapa langkah, sampai tubuhnya membentur meja. Sayang, datanglah! Untuk pertama kalinya Daniah benar-benar merindukan tuan Saga. Bersambung Chapter 173 Bulan Madu (Part 10) Kode Zero, siaga satu. Rumah sakit kota mendapat panggilan darurat yang membuat semua petinggi RS kalang kabut. Tim kesehatan langsung di terbangkan dengan helikopter menuju pulau XX. Tempat dimana Daniah dan Saga berbulan madu. Pulau yang menjadi sentra wisata kota XX. Dokter perempuan yang di rekomendasikan Harun mendapatkan tugas pertamanya. Dengan paniknya dia menjawab saat mendapat telfon untuk berada di pulau dalam hitungan menit. Kode zero, darurat. Istri tuan Saga terluka. Begitu instruksi dan informasi gawat yang di sampaikan padanya. Sepanjang helikopter mengudara wajahnya sudah terlihat pias. Pesan yang dia kirim pada dokter Harun dibalas santai oleh dokter muda itu. Dia menatap layar hpnya serius, meyakinkan diri kalau pesan itu memang ditulis oleh dokter Harun sendiri. Jelas-jelas ini dari nomor pribadinya. Tapi kenapa jawabannya santai begini! ¡° Tarik nafasmu dalam, tenanglah, semua baik-baik saja. Anggukan saja kepalamu dan ladeni semua kemauan tuan Saga, Jangan membantahnya atau berargumen di depannya, semua pasti baik-baik saja.¡± Pesan itu sama sekali tidak membuat kepanikannya hilang. Dia masih saja menebak-nebak dan berspekulasi apa yang terjadi pada istrinya tuan Saga. Segawat apa situasi yang akan dia hadapi nanti. Sementara di tempat yang jauh di sana Harun melemparkan hpnya ke meja. Bersyukur karena dia tidak ikut. Dia bisa menebak apa yang terjadi di sana. Bagi Saga, kuku jari istrinya tergores saja sudah bisa jadi kode zero yang membuat seisi rumah sakit panik. Terimakasih Tuhan, walaupun setumpuk pekerjaan di RS ini, jauh lebih baik. Daripada ngiler melihat pasangan di mabuk cinta itu. Jiwa jomblo dokter Harun mengeliat. Kembali ke keadaan genting di pulauXX, Sebuah ruangan langsung di sulap menjadi kamar perawatan VVIP. Tempat tidur diganti, seprei dan semua yang ada di ruangan sudah berganti rupa, semua baru. Beberapa vas bunga denga bunga asli aneka rupa sudah menghiasi beberapa sudut ruangan. Mereka bergerak cepat. Beberapa orang hilir mudik memeriksa, apakah ruangan perawatan sudah sempurna. Dan bisa di tempati. Dan sekarang setelah melalui kekacauan, Daniah sudah menempati ruangan tersebut. Saga di sampingnya duduk bersandar di tempat tidur. Wajahnya terlihat sangat kuatir. ¡° Sayang, aku tidak apa-apa. sungguh. Lihatlah¡± Menepuk sekujur tubuhnya pelan dengan tangannya. ¡° Yang terluka Aran.¡± Daniah berusaha menenangkan suami di sampingnya. Wajah Saga terlihat tegang. Rasa marahnya, dan kobaran api yang tadi terlihat saat kedatangannya sudah mulai memudar. Berganti rasa kuatir. Tapi dia tetap tidak mau mendengarkan penjelasan Daniah sedikitpun. ¡° Diamlah, biarkan dokter memeriksamu.¡± Meraih tangan kiri Daniah dan mengengamnya kuat. Menciumnya berulang. Dokter wanita pengganti dokter Harun yang sepanjang perjalanan tadi panik terlihat mulai bisa bernafas lega. Sepertinya apa yang dikatakan dokter Harun benar adanya. Gumamnya pelan. Dia hanya harus mengikuti kemauan tuan Saga dan menggangukan kepala saja. Dia mulai pemeriksaan, memeriksa semua bagian vital Daniah. Denyut jantung, tekanan darah, mata, telinga, lidah. Bagian tubuh yang kasat mata. Dan memang tidak menemukan ada luka sedikitpun. Bahkan sekecil apapun. Pasien yang sedang terbaring di ruangan paling besar di klinik ini dalam keadaan sehat walafiat. Bahkan satu goresan sedikitpun tidak ada. Lalu kode zeronya ini apa! Para petinggi rumah sakit sudah gempar tadi. Dokter perempuan itu berusaha menahan tawanya membayangkan wajah para petinggi rumah sakit yang sudah kalang kabut dan menyiapkan fasilitas VVIP di rumah sakit. Kalau istri tuan Saga perlu di rujuk ke RS. ¡° Istri tuan baik-baik saja. Tidak ada tanda-tanda luka atau goresan di kulit. Semuanya baik-baik saja.¡± Hah! Jadi pengakuan cintanya di tv benar-benar tidak main-main. Dia benar-benar mencitai istrinya. Tadinya kupikir itu hanya kerjaan media menaikan rating. ¡° Baiklah. Terimakasih sudah melakukan pekerjaanmu dengan baik. Sekarang keluarlah!¡± Saga bahkan bicara tidak mengalihkan pandangan matanya. Masih menyentuh pipi merah istrinya yang menahan malu tidak terkira. Aaaaa, aku pasti dianggap gila oleh dokter cantik ini. Tuan Saga yang gila bukan aku dokter. Akukan sudah bilang tadi kalau aku baik-baik saja. ¡° Baik tuan, saya permisi sekarang. Untuk nona, silahkan istirahat.¡± Dokter perempuan itu menganggukan kepalanya memandang Daniah. ¡° Ia dokter. Terimakasih, maaf sudah merepotkan.¡± Daniah yang menjawab karena Saga tidak terlihat akan membuka mulutnya. Dokter perempuan itu menganguk lalu undur diri. Dia tidak bisa menahan senyumnya saat sudah berbalik dan melangkah pergi menuju pintu keluar. Daniah yang fenomenal itu. Aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri. Sungguh beruntung sekali nona dirimu. Pintu tertutup, dia menarik nafas dalam. Lega. Dia mengangukan kepala pada dua pengawal yang sedang duduk di depan ruangan. Lalu salah satunya mengistruksikan agar dirinya mengikuti. Dokter perempuan itu tidak banyak bicara dan mengikuti saja langkah pengawal di depannya menuju ruang istirahat sebelum kembali ke rumah sakit. Dia melihat hpnya. 20 panggilan tidak terjawab dari rumah. Pesan masuk yang jumlahnya puluhan juga dari pihak rumah sakit. Dia tertawa sendiri sambil terus melangkah mengikuti salah satu pengawal yang membawanya. Sementara itu di dalam ruangan. Wajah tegang dan panik Saga sudah berangsur menghilang. Dia terlihat sangat lega sekarang. Tapi sekarang giliran Daniah yang panik. ¡° Kemarilah!¡± sudah ikut duduk di tempat tidur. Mendorong kursi yang dia duduki tadi menjauh. ¡° Sayang, kau mau apa?" Berteriak terkejut dengan tindakan tiba-tiba Saga. " kenapa menarik bajuku? Lepaskan!¡± Berusaha melawan sekuat tenaga. Sambil mengoyangkan tangannya. Dan meraih bantal kepelukannya. Menepis tangan Saga, karena suaminya benar-benar tidak tahu situasi. Inikan ruangan perawatan, bahkan para pengawalmu ada di luar. Kalau mereka tiba-tiba masuk bagaimana! ¡° Aku mau memeriksa tubuhmu. Apa ada yang terluka atau tidak.¡± Sudah berhasil menarik lepas pakaian Daniah. ¡° Dokter sudah memeriksanya tadi. Aku baik-baik saja.¡± Masih berusaha menahan tangan Saga. Yang mustahil bisa dia lawan. ¡° Aku mau memeriksanya sendiri. Sudah diam!¡± Suara Saga sudah tidak selembut saat dia panik tadi. Sudah kembali normal seperti biasa. Ketus dan sok berkuasa. Tidak bisa di bantah sama sekali. Tapikan tidak perlu melepas baju juga kaliiii! Daniah menyerah, pemeriksaan kesehatan bukan oleh ahlinya dilakukan. Setiap inci bagian tubuh Daniah tidak luput dari pemeriksaan, dibumbui dengan kecupan di sana sini. Sepertinya tindakan di luar kegiatan mediklah yang jauh lebih banyak di lakukan Saga. ¡° Sayang, kau sudah memeriksa bagian itu dua kali.¡± Lagi pula akukan tidak mungkin terluka di bagian itu juga! ¡° Benarkah?¡± Tidak perduli yang diucapkan Daniah dan masih melanjutkan apa yang dia lakukan. Aaaaaa. Selesai sudah hasil pemeriksaan oleh dokter dadakan. Dia sudah merasa puas kalau istrinya benar-benar baik-baik saja. Dia menjatuhkan tubuh berbaring di samping Daniah. Melingkarkan tangan. Menempelkan pipi kiri Daniah ke bibirnya.¡° Maafkan aku.¡± Kenapa kalau dia minta maaf aku malah takut si. Karena biasanya akan muncul aturan-aturan aneh setelahnya. ¡° Seharusnya aku tidak membiarkanmu pergi. Seharusnya kau tetap ada di bawah pandanganku.¡± Nahkan, benarkan, jangan buat peraturan aneh-aneh lagi. ¡° Aku benar-benar tidak apa-apa sayang.¡± memandang wajah suaminya hangat. " Sungguh aku baik-baik saja. Aran dan dua pengawalmu benar-benar melindungiku dengan baik. Aran sampai terluka begitu." Ayo fokus pada mereka saja Daniah, jangan membahas kak Haksan. Aku tidak pernah melihatnya berteriak semarah itu tadi. Dan itu membuatku benar-benar merinding. ¡°Kau mau aku melakukan apa pada laki-laki itu?¡± Bagaimana ini, kalau aku bilang untuk melepaskannya bagaimana kalau tuan Saga malah semakin murka. " Aku mungkin saja sudah membunuhnya kalau Han tidak menahanku tadi." Benarkan, aaaa, aku tidak berani bicara apapun. " Maaf, maafkan aku membuatmu kuatir." Akhirnya hanya mengatakan itu sambil memeluk Saga. mendekatkan wajahnya lebih dekat. "Terimakasih sudah datang, aku benar-benar senang melihatmu tadi." Senyum yang muncul di wajah Saga melegakan hati Daniah. " Niah, berjanjilah satu hal padaku." Membelai pelan kepala istrinya. " Apa?" Daniah mendongakan wajahnya. " Jangan sampai terluka. Karena aku tidak tahu apa yang bisa kulakukan pada orang yang melukaimu." Daniah bahkan tidak berani menjawab apapun. Dia hanya memeluk Saga lebih erat lagi. " Sayang hentikan." Keharuan itu langsung pecah saat tangan mulai tidak bisa dikondisikan. Bersambung..... Chapter 174 Bulan Madu (Part 11) Kesenjangan fasilitas sangat mencolok di sini. Sebuah ruangan pemeriksaan lain, dengan luas dan fasilitas yang berbeda jauh dari yang di tempati Daniah. Bagaikan bumi dan langit yang terpisahkan jauh. Hanya sebuah vas bunga imitasi yang sedikit mencerahkan suasana muram di ruangan ini. Suara kipas angin juga lirih berputar di atas ruangan. Memutar udara agar terasa sejuk bagi siapa saja pasien yang di rawat di ruangan ini. Karena memang tempat ini hanyalah klinik kesehatan kecil di lokasi perbelanjaan. Aran sudah duduk di tempat tidur. Tengelam dalam pikirannya sendiri. Semua hal dari dampak sederhana sampai yang terburuk akan menimpanya sudah dia persiapkan di hatinya. Dia duduk diam di tempat tidur selama seorang dokter jaga klinik memeriksa dan mengobati semua luka di tangan dan sikunya. Dia bahkan tidak merintih atau sekedar mengaduh, karena banyaknya kekuatiran dalam pikirannya. Bertepatan dengan Han masuk ke dalam ruangan. Gadis itu mendongak lalu menundukan kepalanya terkejut ketika pandangan mereka bertemu. Untung saja dokter jaga tadi sudah selesai mengoleskan obat memar di bahunya. Saat Han masuk ke dalam ruangan. ¡° Sudah selesai. Minum obat di atas meja itu, sebelum nyerinya menjalar . Ada beberapa bagian yang robek di siku dan sudah saya jahit. Semoga dalam beberapa hari semuanya bisa sembuh dan normal lagi.¡± Dokter itu menarik sebuah nampan kecil mendekat ke tempat tidur. Obat dan juga sebotol minuman. ¡°Kalau ada apa-apa, panggil saja perawat jaga di luar.¡± Dokter itu menunjuk pintu keluar. ¡° Ia terimakasih.¡± Aran merapikan pakaiannya. Menarik rambutnya yang terburai. Merogoh saku celananya, biasanya dia selalu menyimpan ikat rambut cadangan di sana. Dokter itu mengangukan kepalanya sopan ketika melewati Han yang berdiri bersandar di dinding dekat dengan pintu keluar. Han hanya membalas dengan anggukan kecil tanpa bersuara. Lalu dia menutup pintu perlahan tanpa suara. ¡° Apa yang kau lakukan dengan tangan terluka begitu?¡± mendekat cepat dan merebut ikat rambut di tangan Aran. Lalu cekatan tangannya mengikat rambut terburai itu. Hah! Hal gila apa yang kulakukan sekarang. Menyesali reaksi spontannya saat melihat Aran kesusahan merapikan rambutnya. Tapi Han meneruskan saja apa yang sudah dia lakukan. ¡° Tuan saya bisa sendiri.¡± Saat tangannya menyentuh tangan laki-laki itu, Aran segera menariknya menjauh. ¡° Diam, atau aku akan menarik rambutmu.¡± Patuh diam, meletakan tangan dipangkuannya lagi. Wajah Aran sudah berubah merah. Malu. Baiklah, Lakukan saja apa yang ingin tuan lakukan. Asal jangan bunuh saya saja. ¡° Maaf tuan, saya tidak bisa bekerja dengan baik.¡± Dia bangun dari tempat duduk setelah Han selesai mengikat rambutnya. Dengan tangan kirinya dia meraba tengkuknya. Sepertinya ikatannya normal. ¡° Duduk!¡± Aran tidak jadi meninggalkan tempatnya. Dia duduk lagi sama persis di tempatnya tadi. Tempat tidur itu berderik saat dia menjatuhkan tubuhnya. Walaupun dia merasa melakukannya pelan. Saat ini semua hal yang dia takutkan kembali berkelebat cepat. Mungkin ini adalah akhir hayat dari pekerjaannya. Asalkan dia tidak di suruh berenang ke luar pulau dan kembali ke ibukota sendirian, itu sudah lebih dari cukup baginya. Menebus semua kesalahannya hari ini. Masih tercipta kebisuan. Membuat Aran semakin tegang karena banyaknya prasangka yang muncul di kepalanya. Habislah aku. Tuan aku terluka begini apa tidak ada belas kasihmu sama sekali. Han menarik kursi yang tadi di duduki dokter untuk merawat Aran. Membuat gadis itu mengeser sedikit duduknya. Tapi tangan Han mencegahnya untuk menjauh lagi. Laki-laki di depannya ini memegang tangannya. Aran langsung panik, tapi saat ternyata Han hanya melihat luka di tangannya. Dia merasa bisa bernafas lega. Han memeriksa siku yang robek dan mendapat beberapa jahitan. ¡° Bagaimana kau bisa seceroboh ini.¡± Tidak seperti biasanya Han meletakan tangan Aran dengan cukup hati-hati ke pangkuan gadis itu lagi. Seperti tahu kalau luka itu cukup membuat Aran kesakitan, walaupun gadis itu tidak menunjukannya. Eh, kenapa dia sopan begini. ¡° Minum obatmu sekarang!¡± Mengangkat nampan dan meletakannya di pangkuan Aran. ¡° Ia tuan. Terimakasih.¡± Dia tidak baik lalu melemparkukan? Saat Han kembali diam Aran mulai tenang. Dengan hati-hati mengambil obat dan meminumnya. ¡° Maafkan saya tuan.¡± Minta maaf dulu saja, begitu strategi Aran yang sudah dia pikirkan untuk menyelamatkan dirinya. Ini kesalahan fatal. Dia melihat langsung marahnya tuan Saga yang selama ini tidak pernah tertangkap media. Lebih-lebih sikap Han yang mengila untuk mengantikan kemarahan tuan Saga. Aran bisa membayangkan bagaimana kondisi laki-laki itu. Teman SMU nona. Dia masih hidupkan? Penasaran itu luntur saat memikirkan nasibnya sendiri. ¡° Tapi nona Daniah tidak terluka. Tergores sedikitpun tidak, saya bersumpah.¡± Aran mengangkat kedua jarinya bersumpah. Aku sudah melakukan yang terbaik tuan. Percayalah padaku. ¡° Bodoh!¡± Satu kata yang keluar dari mulut Han sudah membuat Aran kehilangan kepercayaan diri untuk melakukan pembelaan. ¡° Menjaga nona adalah kewajibanmu.¡± Aran langsung menundukan kepala. Ya, ini memang sedikit banyak akibat ulahnya menyiram minuman dingin ke wajah laki-laki berandalan itu. ¡°Dan menjaga tubuhmu untuk tidak terluka juga adalah tanggungjawabmu.¡± Han melanjutkan kalimatnya. Apa si maksudnya? Maksudnya dia perduli padaku dan tidak mau aku terluka? ¡° Dimana keahlian bela diri yang kau bangga-ganggakan di depan tuan muda waktu itu? Gayanya sudah seperti jagoan wanita tidak terkalahkan saja. Menghadapi berandalan seperti mereka saja sampai lenganmu robek begitu.¡± Mengangkat tangan Aran lagi. Tapi gadis itu bisa merasakan kehati-hatian ketika Han menyentuh tangannya. Untunglah dia manusia kalau menghadapi anak buahnya yang terluka. ¡° Merekakan main keroyokan tuan.¡± Mencari celah pertama sedikit pembelaan diri. ¡° Saya sudah termasuk hebatkan?¡± Tersisa ruang tidak tahu malu di hatinya ingin dipuji. Tunggu, pengawal-pengawal itu tidak mungkin tidak cerita bagaimana perjuangankukan! Ya mereka memang dua lawan satu. Aku saja yang adu jotos sendirian. Tapikan lawanku laki-laki! Aran sedikit kesal, kalau dia sebenarnya sudah mempertaruhkan nyawanya dengan serius dalam perkelahian tadi. Walaupun dia diposisi kalah mengenaskan dengan memar dan luka dimana-mana. Tapi demi mengingat kata-kata terakhir para pengawal sebelum terjadi baku hantam tadi, nyalinya menciut. Untuk pamer kekuatan. Sekertaris Han ingin melihat bagaimana hasil kerjamu. Tapi sepertinya kau tidak berguna sama sekali. Aaaa, sial. Siapa si mereka, sudah seperti pengawal level tinggi saja gayanya. Kalau mereka sehebat itu kenapa masih membutuhkanku di samping nona. ¡° Tuan.¡± ¡° Hemm.¡± Han sudah bangun. Membuat Aran juga bangun dari tempat tidur dan mengikutinya. ¡° Apa tuan akan memecat saya?¡± Aran menghentikan langkah saat Han berhenti. Tangannya yang sudah memegang handle pintu terhenti. Seringai tipis muncul di bibirnya. Apa itu? Kenapa dia terlihat seperti tersenyum tipis tadi. ¡° Tidak, aku tidak akan memecatmu.¡± Meneruskan membuka pintu dan berjalan cepat keluar ruangan perawatan. Seorang perawat jaga mengangukan kepala dan tersenyum. Tapi Han hanya melewatinya saja. Aran yang membalas senyuman itu dan mengikuti langkah kaki cepat Han. ¡° Benarkah tuan, terimakasih banyak. Tuan memang berhati mulia.¡± Mengelus dadanya bersyukur. Berarti dia selamat dan bisa tetap bekerja. Tuan Han juga manusiakan, hatinya mungkin saja tersentuh oleh usaha Aran.Begitu yang gadis itu pikirkan. ¡° Kau bahkan belum membayar setimpal kerugianku karena bertemu denganmu. Kenapa aku harus memecatmu.¡± Aku cabut kata-kata baik yang tertuju untukmu tadi. Siku Aran langsung berdenyut. ¡° Cepat! Apa kakimu terluka juga. Mau kusuruh perawat mendorongmu dengan kursi roda.¡± Cih. Dia memang sekertaris Han. ¡° Tidak tuan terimakasih. Tapi kita mau kemana?¡± Masih saja banyak bicara. ¡° Keruangan nona. Ada yang mau di urus tuan muda. Kau jaga nona di ruang perawatannya.¡± ¡° Ada apa lagi? Apa yang.¡± Tidak meneruskan pertanyaannya karena Han berhenti melangkahkan kaki. ¡° Hei, kau lupa aku pernah bilang. Terlalu banyak bicara dan mencari tahu itu bisa memperpendek umurmu.¡± ¡° Maafkan saya tuan. Mari lekas ke kamar nona.¡± Harimau gila tetaplah harimau gila. Berada di depan ruang perawatan VVIP tempat Daniah di periksa. Dua pengawal yang sedang duduk berjaga langsung berdiri. Han mendekat dan mengetuk pintu. ¡° Tuan muda, apa saya boleh masuk.¡± Tidak ada sahutan dari dalam. Tapi sebentar kemudian terdengar suara Daniah. Bukan mempersilahkan Han untuk masuk. Suara nona mudanya kembali terdengar. ¡° Tutup telinga kalian!¡± Han menoleh pada kedua orang yang sedari tadi duduk di depan ruangan. Polusi udara semacam apa yang sudah kalian dengar dari tadi. Han ¡° Baik tuan. Sudah sedari tadi kami menutup telinga kami. Ujar dua pengawal itu menjawab bersamaan dalam hati. Mereka hanya bersitatap tanpa bersuara saat mendengar suara dari dalam ruang perawatan. ¡° Tuan kenapa? Apa nona baik-baik saja.¡± Apa! Kenapa semua orang memelototiku? Apa salahku? bersambung Chapter 175 Bulan Madu (Part 12) Jamuan makan siang sudah di mulai. Saga sudah terlihat gelisah dan mulai mengacuhkan orang-orang yang ingin menyapanya. Tapi dia masih terlihat bisa menahan diri untuk tetap berada di ruangan perjamuan. Han yang duduk tidak jauh dari mejanya sudah melihat ketidaknyamanan tuannya. Dia terlihat mengutuk Ken yang masih bisa tertawa sepuas itu sambil memamerkan kedekatannya dengan tuan Saga. Han terlihat bangun dari tempat duduknya, ia hanya menyentuh makanan sekenanya. Jamuan mewah itu tidak terlalu sesuai dengan seleranya. Beberapa orang terlihat ingin mendekati dan menyapanya namun saat dia mengangkat tangannya. Orang-orang itupun tahu bagaimana harus bersikap. Mereka menjauh dengan tertib. Bukan rahasia lagi, kalau orang nomor dua di Antarna Group sama sulitnya di dekati di banding dengan presdirnya. Han berjalan menuju sebuah sudut ruangan. Tempat di mana dia bisa mengawasi seisi ruangan sekaligus memeriksa hpnya. Wajahnya langsung berubah saat melihat pesan masuk yang baru dia terima. ¡° Nona muda bertemu dengan laki-laki teman SMUnya. Sepertinya hubungannya tidak terlihat baik.¡± Ketika sebuah foto masuk. Han sudah tidak bisa menyembunyikan perubahan mimik kesal wajahnya. Dia mengenali siapa laki-laki yang ada di dalam foto itu. Bukan salah satu dari ketiga mantan kekasih nona mudanya. Tapi pria kurang ajar yang punya kenangan buruk dengan nona mudanya. Kisah SMU ini dia simpan sendiri. Saat menjelaskan tentang riwayat kehidupan Daniah pada Sagapun dia tidak menyebutkannya. Berharap Daniah tidak akan pernah berurusan dengannya suatu hari nanti. Karena setelah memeriksa dia benar-benar menyimpulkan bahwa lelaki itu tidak penting di hadapan nonanya sekalipun. Sial! Kenapa bertemu di waktu seperti ini. Seharusnya aku membereskannya tanpa tuan muda tahu. Cih, kalau sekarang tidak mungkin bisa menyembunyikannya. Yang aku kuatirkan selama ini hanya ketiga mantannya, dan mereka sekalipun tidak pernah berpapasan. Malah bocah kurang ajar ini yang muncul. Dengan tenang Han meninggalkan ruangan untuk menelfon. Memberikan instruksi pada semua tim keamanan Antarna Group yang berada di dalam pulau untuk menuju lokasi. Menyiapkan helikopter Yang akan membawa Saga dalam sekejap ke pulau XX. Kalau Tuan Saga sampai datang terlambat sedikit saja, dia tahu diapun mungkin tidak akan bisa menenangkan tuan Saga. Apalagi jika sesuatu terjadi pada nona Daniah. Dan semua akan diluar kendali kalau nona sampai kenapa-kenapa. Arandita, semoga kau bisa bekerja dengan benar kali ini. Daniah sudah benar-benar terpojok. Dia mengangkat kedua tangan melindungi dirinya. Apa dia mau memukulku! Tuan Saga! ¡° Kak Haksan kendalikan dirimu!¡± Berteriak keras. Hatinya mulai sedikit gentar. Dia bisa melihat kemarahan di mata Haksan. Semua sudah diluar kendalinya. Kafenya juga sudah porak poranda. Mata Daniah masih sempat berkeliling mencari di mana Aran. ¡°Jangan sentuh temanku!¡± Melihat Aran terduduk tidak berdaya Daniah semakin panik dan merasa bersalah. ¡° Niah, ini semua salahmu. Kalau kau menurut semua pasti baik-baik saja. Padahal aku hanya ingin mengobrol saja denganmu. Kau masih ingatkan saat kencan pertama kita kau mengerjaiku habis-habisan, setidaknya bayarlah hutangmu untuk waktu itu padaku.¡± Daniah langsung menepis tangan Haksan dengan keras, saat laki-laki itu ingin menyentuh pipinya. Daniah mendorong tubuh tinggi Haksan, laki-laki itu tertawa karena dia sama sekali tidak bergeming. ¡° Kau gila kak! Aku sudah menikah. Kalau sampai suamiku tahu, kau bisa mati.¡± Haksan masih dengan tidak tau malu berusaha meraih ujung rambut Daniah. Aku juga! Aku juga pasti mati, paling tidak kebebasan yang sedang aku perjuangkan. ¡° Haha, suamimu? sepertinya orang yang menakutkan. Aktingmu meyakinkan sekali Niah, aku sampai gemetar dan mengira kau benar-benar istri tuan Saga.¡± Tawanya mengema sekaligus badan yang dia buat seakan gemetar ketakutan. Sementara itu wajah Daniah terlihat berubah. Sekelebat dia terlihat senang, tapi sedetik kemudian wajahnya sudah pias. Melihat seseorang di balik punggung Haksan. Dan Laki-laki di depannya ini sama sekali tidak menyadari. Aku tidak menyadari kalau suasana sudah setenang ini. Mata Daniah menyisir ruangan, anak buah Haksan sudah terjatuh di lantai semua. Dan tim kemanan Antarna Group ada di dekat mereka, bukan hanya dua pengawal yang tadi mengikutinya. ¡° Sayang!¡± Bahagia namun takut yang menjalar. Saat pandangan mata Daniah bertemu dengan mata sekertaris Han laki-laki itu bahkan jauh lebih berkobar seluruh tubuhnya dengan amarah. Kenapa kau bahkan lebih menakutkan dari pada tuan Saga si. ¡° Haha, sayang. Kau memanggilku sayang.¡± ¡° Bukan!¡± Secepat kilat menjawab saat melihat mata membunuh milik Saga. ¡°Sayang !¡± Bibir Daniah bahkan gemetar karena takut dengan pangilannya pada suaminya sendiri. Sekarang dia berharap yang muncul di hadapannya bukan benar-benar suaminya. Haksan masih terdengar bisa tertawa, tidak tahu apa yang merasuki. Kebodohan apa di kepalanya sampai tidak menyadari sekelilingnya sudah senyap sedari tadi. Mungkin karena antusiasnya berada di depan Daniah dan merasa dia berada di atas angin membuatnya dibutakaan keadaan di sekitarnya. ¡° Kau mencari tuan Saga suamimu.¡± Kata-katanya dibumbui seringai dan tawa tipis, tangan Haksanpun benar-benar menyentuh rambut Daniah. Gadis itu sampai terlonjak kaget dan mendorong tubuh Haksan kuat. Kau sudah gila ya! ¡° Padahal kau tahu siapa suaminya. Berani sekali kau masih berdiri di dekat istriku!¡± Suara Saga sudah terdengar seperti bilahan pisau yang bukan hanya mengores tubuh Haksan, tapi juga akan melukai Daniah. Mendengar sebuah suara di belakang punggungnya Haksan mulai membeku. Dia mulai terjaga kalau suasana hening di sekelilingnya. Haksan berbalik cepat, melihat situasi. Anak buahnya sudah babak belur dan tergolek di lantai. Di belakang mereka sudah berdiri orang-orang yang tidak tahu dari mana asalnya. Dan yang harus dia kuatirkan adalah orang yang sedang berdiri tidak jauh di belakangnya. ¡° Tuan Saga!¡± Kakinyanya langsung terkulai lemas. Semua alat indranya menyuruhnya segera duduk berlutut. Niah benar-benar istri tuan Saga. ¡° Sayang. ¡° Daniah langsung setengah berlari mendekati suaminya. ¡° Terimakasih sudah datang.¡± Ayo pergi dari sini. Hanya itu isi kepala Daniah sekarang, kalau tidak, tidak tahu apa yang akan terjadi kemudian. ¡° Kau tidak apa-apa.¡± Menyentuh ujung rambut Daniah lalu meremas rambut itu dengan tangannya. Tempat di mana tadi Haksan meletakan tangannya. Daniah mulai merasakan takut saat menyadari apa yang dilakukan Saga dan karena alasannya apa. ¡° Sayang aku.¡± Menyentuh tangan Saga yang masih meremas ujung rambutnya. Kata-katanya terhenti yang ingin memberi penjelasan. Kalau aku tidak bicara mungkin benar-benar akan terjadi pertumpahan darah. Dia melihat kak Haksan menyentuh rambutkukan tadi. Makanya dia begini. Ketakutan itu harus ditahan. Daniah meraih tangan Saga walaupun tangannya sendiri bergetar. ¡°Sayang.¡± ¡° Han.¡± Suara Saga yang bicara terdengar memenuhi ruangan. Karena semua orang diam membisu. ¡° Ia tuan muda.¡± Han mendekat beberapa langkah. ¡° Bawa Daniah ke ruangan lain.¡± Tangan Daniah semakin bergetar Saat Saga melepaskan gengamannya. Bahkan laki-laki itu tidak memandangnya saat bicara. Matanya tertuju pada Haksan yang sedang berlutut gemetar di lantai. Daniah mendengar sekertaris Han memanggil Aran untuk mendekat. ¡° Sayang, aku tidak apa-apa. Kumohon.¡± Membawa Saga keluar dari kafe ini adalah pilihan utama. Apa aku pura-pura pingsan saja supaya tidak terjadi pertumpahan darah. ¡° Hentikan! Kalau sedikit saja kau membelanya, aku pastikan kau akan lebih menyesal nanti.¡± Daniah langsung mengunci rapat mulutnya. Tahu maksud pembicaraan Saga. Aran sudah berdiri di sampingnya. Dia tahu gadis itu terluka, tapi dia masih bisa berdiri tegak. ¡° Nona ayo kita pergi.¡± Aran melihat kemarahan yang meluap-luap di mata tuan Saga. Tapi tangan yang dia pegang masih membeku. Dia tahu kalau nona Daniah sedang sangat mengkuatirkan laki-laki yang sudah berlutut itu. Pasti dia sedang menebak apa yang akan terjadi padanya kalau sampai dia pergi. ¡° Sayang aku mohon.¡± Daniah masih bersikeras berdiri di tempatnya. Aku benar-benar tidak kuatir padanya sayang. Aku hanya tidak mau kau melakukan hal di luar kendali. ¡° Jangan membuatku mengulangi kata-kataku. Bawa Daniah keruangan lain!¡± Aran terlonjak ketika kata-kata itu tertuju untuknya. Dia gagap menjawab dan mengangukan kepala. ¡° Ba, baik tuan.¡± Pasrah Daniah menyeret kakinya beberapa langkah, tapi dia kemudian berbalik cepat. Kalau aku pergi bagaimana kak Haksan. Aku tidak mau tuan Saga sampai jadi pembunuh gara-gara aku. Naluri kemanusiaan menariknya lagi. Saat Daniah membalikan badan Han mendekat dan berdiri di depannya. ¡° Nona pergilah dengan Aran ke ruangan lain. Saya mohon.¡± Hah! Dia sampai memohon dengan wajah membunuh begitu. Nona sebaiknya kita segera pergi. Aran sekali lagi tersadar, kemarahan tuan Saga adalah kemurkaan laki-laki di hadapannya ini. ¡° Sekertaris Han, dia cuma teman masa laluku. Kami tidak pernah punya hubungan apapun di masa lalu ataupun sekarang.¡± Percayalah padaku, paling tidak tahan tuan Saga untuk melakukan hal terburuk. ¡° Jangan membelanya nona. Kalau nona membelanya, saya ataupun tuan muda semakin tidak akan bisa menahan diri.¡± Apa!Kenapa kau ikut-ikutan marah begitu. Bahkan saat Daniah dan Aran baru saja menutup pintu sudah terdengar teriakan keras. Daniah mengenali suara itu milik siapa. ¡° Nona, saya mohon.¡± Aran mencegah Daniah yang sudah memegang handle pintu. ¡°Tuan Saga sangat marah tadi. Kalau nona membela laki-laki itu bisa-bisa dia benar-benar.¡± Tidak berani melanjutkan kalimatnya sendiri. ¡° Aran tapi.¡± Dari ruangan terdengar suara sekertaris Han. Daniah berjanji tidak akan membuka handle pintu, dia hanya merapatkan telinganya ke pintu. Aran mengikuti. Mereka sama-sama penasaran, hingga memutuskan tetap berada di balik pintu. Matilah aku kalau tuan Han tahu. Aran bahkan sudah tidak menyadari darah menetes di sikunya. ¡° Tuan muda cukup.¡± ¡° Lepaskan aku Han, aku mau menguburnya dan meratakan tempat ini dengan tanah.¡± Terdengar suara Haksan terjatuh dan merinting. Dan beberapa kali pukulan. ¡° Jangan kotori tangan tuan muda karena bocah tidak berharga ini. Biarkan saya yang membereskannya.¡± Dibalik pintu Daniah dan Aran saling bersitatap dan sedikit bernafas lega. Tapi sedetik kemudian mereka saling mencengkram tangan mereka masing-masing. Saat suara Haksan jauh lebih terdengar mengiris ketimbang tadi. ¡° Nona ayo kita pergi ke ruang ganti dan menunggu.¡± Sekujur tubuh Aran gemetar membawa langkah kakinya. Seharusnya dia tahu kalau sekertaris Han jauh lebih menakutkan ketimbang tuan Saga. Beberapa tahun lalu dia bahkan menjadi saksi bagaimana laki-laki itu membereskan masalah hidupnya. Habislah aku nanti. Tangannya mulai berdenyut. Bersambung Chapter 176 Bulan Madu (Part 13) Di ruang perawatan VVIP, kedua wanita yang ada di dalamnya sedang mengingat kembali kejadian yang berlangsung beberapa waktu lalu. Pristiwa saat kedatangan tuan Saga beserta rombongannya ke kafe. Tempat Daniah bertemu dengan kenangan buruk di SMUnya. Memori yang bahkan tidak pernah sekelebatpun terlintas. Haksan, nama yang tidak akan pernah di sebut Daniah jika dia membicarakan tentang kehidupan SMUnya. Baik itu dalam cerita keseharian atau cerita cintanya. Dia hanya akan mengaku kalau dia pernah pacaran tiga kali. Tapi nama Haksan tidak ada dalam daftar itu. Mereka saling mengengam tangan masing-masing ketika sorot mata Saga yang penuh kemarahan kembali terlintas. Saat itu mereka bahkan hanya bisa menduga-duga apa yang terjadi pada Haksan dari suara teriakan penuh kesakitannya. Di ruang tunggu di mana para pegawai kafe saling bersitatap melihat Daniah dan juga wanita di sebelahnya. Mereka terlihat ingin bertanya, namun takut dan bayangan keributan yang mereka lihat tadi membuat mereka hanya saling berspekulasi tentang dua wanita di hadapan mereka. Sampai akhirnya seorang laki-laki masuk dan membawa dua wanita itu keluar, para pelayan kafe hanya bisa melihat dalam diam. Dan sekarang diruangan perawatan ini dua wanita itu masih bertanya-tanya, apa yang terjadi pada Haksan sebenarnya. ¡° Nona, apa nona benar-benar mau membahasnya lagi.¡± Daniah dan Aran saling bersitatap tegang. Daniah mengelengkan kepalanya. Dia takut, kalau dia membahasnya membuatnya merasa bersalah pada Haksan. Walaupun dia berusaha meyakinkan hatinya, kalau ini bukanlah salahnya. Haksan yang datang menggangunya, dia yang tidak percaya kalau dia sudah menikah dengan tuan Saga. Perangainya yang tidak berubah dari masa lalu semakin memperkeruh suasana. Ini salahnya. Begitu yang berusaha diyakinkan Daniah di hatinya. Ya, tapi siapa juga si yang akan percaya kalau aku benar-benar istri tuan Saga, kalau dibandingkan dengan Helena wanita yang dia kenalkan ke publik sebagai kekasihnya. Aku dan wanita itukan bagai bumi dan langit kalau di lihat dari segi fisik. Sedangkan hanya penilaian tidak kasat mata itulah yang dilihat kebanyakan orang. Daniah termenung lagi mulai bisa meraba bagaimana kedepannya hidupnya. Kebebasan, membawa mobil sendiri bekerja. Semua itu bahkan sudah berlarian dan menjauh secepat larinya rusa hutan dari kejaran pemburu. Mustahil. Tadi sebelum keluar dari ruangan ini Saga sudah menebar ancaman yang membautnya tetap berada di tempat tidurnya. ¡° Jangan keluar dari ruangan ini selangkahpun.¡± Menghentikan bicara dan melihat pintu lalu terdiam sebentar menimbang apa yang ingin ia ucapkan, dan akhirnya dia merubah kata-katanya. ¡°Tidak, tidak usah turun dari tempat tidur sampai aku kembali.¡± Melihat Aran dengan sorot mata tajam. Membuat yang ditatap langsung bergetar. ¡°Jaga istriku untuk tetap berada di tempat tidurnya sampai aku kembali.¡± Seperti berkata, kalau sampai istriku turun dari tempat tidurnya habis kau. ¡° Ba, baik tuan.¡± Dia masih marah. Benar, dia masih marahkan? Aran menerka. Daniah frustasi duduk di atas tempat tidur. Sebenarnya tidak masalah kalau dia turun, ketahuan sekalipun. Paling-paling dia cuma akan diteriaki saja. Tapi kata-kata yang diberikan suaminya tadi bukan hanya untuknya. Tapi lebih tepatnya dia tujukan pada Aran. Hingga membuat Daniah benar-benar bertahan di tempat tidurnya. Ketukan di pintu membuyarkan pikirannya yang melamun kemana-mana. Aran langsung membawa langkahnya untuk melihat. Ternyata seorang perawat membawakan makanan dan juga minuman. Dia melihat dua pengawal duduk berjaga, salah satu yang mengikutinya tadi yang satunya sudah berganti orang. Hah! Apa ini, apa ini makanan klinik kesehatan. Memandang nampan yang dia pegang. Aneka cake mewah dan potongan buah segar serta jus buah. Aran berhenti untuk terkejut setelah melihat ruangan yang ia sekarang berada. Tempat inipun tidak sekelas dengan kamar perawatannya sama sekali. ¡° Apa nona mau makan sesuatu?¡± ¡° Tidak. Makanlah kalau kamu mau.¡± Daniah duduk bersandar sambil menatap jendela. ¡° Bagaimana kalau sesuatu terjadi pada kak Haksan ya.¡± Tanyanya pada dirinya sendiri. ¡° Nona, jangan menyebut namanya lagi dengan mulut nona. Saya mohon.¡± Hari ini jadi pelajaran penting bagi Aran. Bahwa tidak ada kesalahan sepele kalau berhubungan dengan tuan Saga. Semua aturan tertulis yang dibuatkan sekertaris Han padanya sampai berlembar-lembar itu adalah kewajiban mutlak yang tidak bisa ditawar. Kejadian saat Saga meremas rambut Daniah tadi sangat jelas muncul di kepala Aran. Dia tahu alasan laki-laki itu melakukannya. Dia menakar kadar cemburu tuan Saga sebesar pada pada nonanya. ¡° Kumohon jangan bersikap seperti Leela dan Han.¡± Daniah mendesah sedikit merasa kesal. ¡° Maafkan saya nona, tapi hari ini saya benar-benar baru melihat sikap tuan Saga yang seperti itu. Dia bahkan tidak mau melihat nona di kafe tadikan. Dia benar-benar sedang menahan kemarahannya supaya nona tidak melihat.¡± Daniahpun tahu itu. Saat Saga mengalihkan mata yang biasanya selalu tertuju padanya. ¡° Tapi nona, tadi nona tidak bertengkar dengan tuan Sagakan?¡± aku sampai di pelototi di luar tadi karena menanyakan keadaan nona. ¡° Tuan Saga tidak melakukan apapun pada nona kan?¡± Kuatir. Walapun Aran tidak sampai berfikir kalau tuan Saga sampai memukul nona Daniah. ¡° Huh! Dia melakukan banyak hal padaku.¡± Jawaban Daniah terdengar menakutkan di telinga Aran, membuat Daniah tertawa menebak apa yang dipikirkan gadis di depannya. ¡° Aku tidak apa-apa Aran, tuan Saga tidak melakukan hal buruk padaku kok. Ya dia hanya melakukan banyak hal saja.¡± Tidak mungkin menjelaskan secara detail. ¡° Sudahlah, ayo makan kuenya. Cake coklat ini sepertinya enak.¡± Kau tidak akan paham apa yang dilakukan tuan Saga begitu pikir Daniah. Padahal, nona penulis sudah cukup pengalaman halunya kalau urusan begituan yang tertuang pada novel-novelnya. Tapi jangan tanya kalau di kehidupan nyata. Mungkin dia hanya setingkat di atas sekertaris Han perihal pengalaman cinta. Walaupun masih terbaca gurat kebingungan di wajahnya Aran mengikuti saja ketika Daniah memberikan sendok untuknya. Dia ikut makan makanan yang sama dengan yang dimakan Daniah. ¡° Aran, apa kau tidak bertanya tadi pada sekertaris Han, mereka mau kemana?¡± Berusaha menenangkan diri lagi dengan bicara. Daripada memikirkanya sendiri di kepalanya sepertinya lebih baik kalau ada yang ikut memikirkannya. ¡°Saya bertanya nona, tapi tuan Han hanya menjawab. Terlalu banyak tahu dan bertanya bisa memperpendek umurmu.¡± Cemberut kesal sambil menjelaskan, dengan nada suara sama persis yang diberikan sekertaris Han padanya tadi. ¡°Saya sudah tidak berani bertanya lagi kalau dia menjawab begitu.¡± ¡° Cih, dia selalu memakai kalimat itu sebagai senjatanya. Ternyata padamu juga ya.¡± Wajah sombong Han seperti hantu langsung muncul di kepala Daniah. Apa nona tidak lelah memaki saya? Seringai tipis muncul di bibir sekertaris Han. Aaaa, dalam bayangan saja dia kenapa menyebalkan begitu si. ¡° Apa! jadi pada nona juga?¡± Tidak percaya, bagaimana bisa sekertaris Han bisa tidak sesopan itu pada nona Daniah pikir Aran. Tak terasa dia lahap juga makan kue. Aran sudah pindah ke cake keduanya. Sambil di selingi makan buah juga. ¡° Percayalah, dia juga kurang ajar padaku kok. Diakan hanya patuh pada tuan Saga, semua orang dianggap angin lalu sama dia.¡± Geram sendiri Daniah menjelaskan. ¡°Tapi mereka tidak akan kembali ke kafekan. Apa mereka belum selesai dengan kak Haksan.¡± ¡° Nona, jangan menyebut nama laki-laki itu.¡± Merengek frustasi. ¡° Ia, ia. Tapikan tuan Saga tidak ada, tidak ada yang mendengarnya selain kamu.¡± Nona, sadarlah. Banyak mata dan telinga yang mendengar kita walaupun tidak kita sadari. Aran bahkan menyapu ruangan saking merasa kalau dirinya diawasi. ¡° Nona, apa laki-laki itu mantan pacar nona?¡± bertanya akhirnya, mengubur rasa penasaran siapa sebenarnya Haksan. ¡° Bukan!¡± Melotot. ¡°Dia bukan siapa-siapaku, teman saja bukan.¡± Hemm, Aran berfikir jadi hubungan mereka itu apa ya. ¡° Aran, jangan banyak mencari tahu, lupa ya, itu bisa memperpendek umurmu.¡± Mereka tertawa, karena Daniah mengucapkannya dengan intonasi dan mimik yang sering di ucapkan sekertaris Han. Namun setelahnya dia mengatakan semuanya pada Aran. Siapa Haksan, dan betapa tidak pentingnya laki-laki itu. Yang ia cemaskan kalau sampai laki-laki itu terluka parah hanyalah tuan Saga, dia tidak mau Tuan Saga sampai berlumuran darah karenanya. Karena Daniah sendiri merasa suaminya yang dia kenal, walaupun terkadang dingin dan menakutkan tapi sejujurnya hatinya lembut dan hangat. ¡° Nona apa menurut nona sekertaris Han itu jauh lebih menakutkan daripada tuan Saga.¡± Daniah langsung meletakan garbu yang dia pegang. Berfikir. ¡° Tidak juga si soalnya aku masih berani membantah bicaranya.¡± Tertawa kecil. ¡°Aku masih berani menjahilinya kok, kalau saja aku punya satu saja kelemahannya.¡± Nona, anda betul-betul belum mengenal sekertaris Han kalau masih bicara begitu. Membayangkan saja nyali Aran sudah menciut. Karena dia melihat dibanding tuan Saga laki-laki yang sedang mereka bicarakan jauh lebih menakutkan. ¡° Aran, apa kau tidak mau coba jatuh cinta padanya. Dia sepertinya jomblo abadi yang tidak mengenal cinta selain pada tuan Saga.¡± ¡° Hahaha.¡± Aran hanya tertawa menjawab kata-kata Daniah. Tapi dia menyentuh dadanya merasakan degub yang tiba-tiba beraksi spontan. Bersambung Chapter 177 Bulan Madu (Part 14) Dari luar bangunan kafe masih berdiri dengan kokoh. Tidak ada yang berbeda dari biasanya. Hanya para penjaga yang berdiri dengan setelan sempurna mereka, yang membuat pemandangan kafe berbeda dari hari-hari lainnya. Rombongan para pengawal itu datang sebelum helikopter mendarat. Tidak ada yang berani mendekat atau mencoba mencari tahu apa yang terjadi. Ketika tadi terlihat helikopter menderu, dan mendarat di landasan halipad banyak dari mereka yang keluar dari toko atau menghentikan aktifitas mereka. Sejenak menonton. Tapi selang tidak lama deru kendaraan lain muncul. Mereka adalah tim keamanan Antarna Group lainnya. Mereka bisa dengan mudah di kenali dari emblem yang melingkar di jas mereka. Emblem warna putih dengan logo Antarna Group yang terlihat jelas. ¡°Ada apa? Kenapa tim keamanan perusahaan Antarna Group ada di di pulau ini?¡± ¡° Aku melihat presdirnya ada di tv tadi, sedang ada di kota XX.¡± ¡° Katanya walikota kita berteman dengan tuan Sagakan?¡± ¡° Apa dia sedang berlibur?¡± ¡° Tapi kenapa banyak sekali tim keamanan di sini?¡± ¡° Ada pristiwa besar apa ini?¡± ¡° Aku melihatnya turun dari helikopter tadi. Tapi sepertinya suasana hatinya terlihat buruk.¡± " Dan kalian tahukan, orang yang selalu tertangkap kamera bersamanya. dia juga terlihat tidak senang tadi." " Ya Tuhan ada apa, kupikir ini bisa jadi berkah untuk pulau kita karena kedatangan tuan Saga." " Benar, tv nasional tadi juga mengundang wisatawan untuk wisata ke kotaXX dan kepulau kita karena dia muncul di tv." ¡° Sudahlah, ini bukan urusan kita. Orang kecil seperti kita menonton saja dari jauh.¡± ¡° Tapi itukan kafe milik Haksan. Apa dia membuat masalah dengan tuan Saga.¡± ¡° Cih, aku akan bersyukur kalau dia kena batunya.¡± Sepertinya orang-orang memang kurang menyukai Haksan. Perangainya memang sombong, apalagi kalau menilik dari latar belakang keluarganya. Dia selalu memamerkan kedekatanya dengan walikota. Membuatnya cukup ditakuti di pulau ini. Banyak yang mengeluarkan isi kepala mereka. Tapi pilihan paling masuk akal keluar dari mulut penduduk lokal adalah, jangan ikut campur. Toko mereka salah satunya sempat di masuki Daniah tadi. Walaupun mereka tidak menyadari sama sekali. Mereka hanya berfikir dua gadis pelancong kaya yang sedang menghabiskan uang di tokonya. Mereka masih menonton sambil berspekulasi. Masih ribut mencari alasan mereka masing-masing atas kemunculan tim keamanan Antarna Group di pulau mereka. Saat tim keamanan mulai berdatangan lagi dari arah jalan raya, lalu mereka seperti sudah dikomando berpencar berada di posisi mereka masih-masing. Orang-orang berangsur mundur dan menarik diri. Sepenasaran apapun mereka, tim keamanan Antarna Group sudah seperti line polisi yang tidak bisa mereka lewati sembarangan. Hingga mereka memilih membawa rasa penasaran dan obrolan mereka masuk ke dalam toko mereka. Ada yang masih berusaha mengintip dengan berdiri di dekat jendela toko. Tapi tidak ada yang terlihat. Tirai kafe tempat tim keamanan berkumpul sudah tertutup. Membuat apapun yang terjadi di dalamnya tidak terlihat dari luar sedikitpun. Sementara itu di dalam kafe yang sudah porak poranda. Han memerintahkan para pelayan wanita kafe yang masih tinggal untuk membersihkan sebuah sudut meja. Mendorong pecahan kaca ke sudut ruangan. Mereka dengan tangan gemetar berusaha menyelesaikan pekerjaan yang diberikan. Sambil melirik takut pada para pengawal yang berdiri siaga. Lalu orang-orang yang sedang berlutut di tengah ruangan. Anak buah bos mereka. Serpihan kaca ada yang masih berserak di antara kaki mereka yang berlutut. Sementara itu seorang laki-laki yang mereka kenali sebagai presdir Antarna Group sedang duduk diam di kursinya. ¡° Tunggulah di ruang ganti, dan jangan membuat keributan di sana. Aku akan menemui kalian sebentar lagi.¡± Perintah Han langsung di sambut anggukan kepala. Mereka membawa sapu dan tempat sambah di tangan mereka. Tiga pelayan wanita itu sigap bergandengan tangan menuju ruang ganti baju. Menunggu dalam diam. Tidak ada yang berani membicarakannya. Walaupun mereka tahu siapa laki-laki yang duduk dengan aura membunuh di ruangan tadi. Tuan Saga Rahardian, presdir Antarna Group. Dia memang sedang ada di kota XX ini. Stasiun tv nasional pagi ini menyiarkan berita itu. Dan sekarang orangnya benar-benar ada di pulau ini. ¡° Jangan membahasnya. Diam dan berdoa saja agar semua baik-baik saja.¡± Salah satu mengkomando dengan tangan bergetar. Yang lain mengangukan kepala dan mengunci mulut mereka. Berdoa kepada Tuhan adalah pilihan paling tepat di situasi sekarang ini. Kelima orang anak buah Haksan kaki mereka sudah bergetar hebat. Ada yang sudah kesemutan karena menahan berat tubuh. Sambil menahan sakit dan nyeri yang mulai menjalar ke seluruh tubuh. Mereka memang mendapat pengobatan dari dokter jaga klinik tadi, tapi sepertinya tidak menolong, karena rasa sakit itu masih mengerogoti. Mereka ingin berbaring dan meluruskan kaki. Mereka melirik bos Haksan yang tidak berdaya. Berharap menyelamatkan mereka, tapi sepertinya harapan mereka hanya sia-sia. Haksan yang terlihat paling menyedihkan, wajahnya saja pasti akan sulit di kenali. Dia sudah babak belur. Sedari tadi dia sudah menjerit kesakitan. Hanya terbaring di lantai saat dokter jaga memeriksanya. Terlihat seperti gelandangan berbeda dengannya pada saat hari biasa. Saat ini dia sekuat tenaga bertahan untuk duduk. ¡° Tuan, maafkan saya. Ampuni saya tuan. Ampuni kami yang sudah menggangu anda.¡± Merintih kesakitan memegangi lututnya. ¡° Kami tahu anda berhati mulia tuan.¡± Saga berdecak di tempat duduknya. ¡° Siapa yang bilang? Aku sama sekali bukan orang yang pemaaf asal kalian tahu.¡± Ketukan jari-jari Saga di meja semakin membuat semua orang menciut. Nyali Haksan lumer seketika untuk memohon. Hanya bisa menundukan kepala. ¡° Kau bilang mengenal Ken tadi? ¡° Ia tuan.¡± Berharap nama walikota itu bisa menyelamatkan hidupnya. ¡° Han.¡± ¡° Ia tuan muda.¡± Laki-laki itu muncul setelah mengurus semua cctv yang ada di dalam ruangan kafe dia sudah melihat semua kejadian saat pertama kali Daniah masuk ke dalam kafe.. ¡° Hubungi Ken. Bocah ini bilang mengenalnya.¡± ¡° Baik.¡± Han melangkah menjauh. Menatap muak pada laki-laki yang wajahnya tidak di kenali itu. Kalau saja salah satu dari tiga mantan pacar nona yang normal itu muncul pasti tidak sampai menimbulkan keributan semacam ini. Malah anak ini yang muncul. ¡° Hallo Han kau merindukanku. Kita baru saja berpisah, kau sudah menelfonku.¡± Suara Ken dengan gaya bicara sok akrabnya yang mendominasi. Sudah bicara lagi kemana-mana, Han sampai melotot kesal melihat layar hpnya. ¡° Habislah anda tuan, tuan Saga sangat marah pada anda.¡± Menjawab semua rentetan kalimat panjang Ken dengan satu kalimat berjuta makna. ¡° Hei sialan. Kenapa jelaskan ada apa?¡± Yang di sana langsung memaki keras. Apa lagi saat teriakannya hanya di jawab kebisuan oleh Han. Han tidak menjawab setelah memberi teror ancaman. ¡° Hei sialan jawab!¡± ¡° Beraninya kau memakiku.¡± Hp ternyata sudah berpindah tangan. Membuat Ken yang berada di sebrang pulau langsung seperti tersambar petih. Dia mengumpati Han beberapa kali dalam hati. Tidak bilang kalau hp sudah ada di tangan Saga. ¡° Maafkan aku Saga. Aku tidak memakimu, sumpah, aku bicara pada Han tadi.¡± Menarik nafas menenangkan diri. Bangun dari duduk dan menarik nafas pelan sambil mengerakan tangan naik dan turun. ¡°Ada apa? Apa ada masalah?¡± Jangan sampai ada masalah di kotaku! Ken memohon dan berdoa. ¡° Kau kenal dia?¡± tunjuknya pada orang-orang yang sedang berlutut di hadapannya. Lupa kalau dia sedang bicara dengan orang ditelfon. Dan orang yang sedang bicara padanya sama sekali tidak melihat siapa yang dia tunjuk. Siapa? Siapa yang kau maksud. Akukan tidak melihat siapapun yang kau tunjuk. Ken panik di sebrang pulau. ¡° Hei, siapa namamu tadi?¡± Bertanya langsung pada Haksan yang sedang menahan sakit. ¡° Haksan tuan.¡± Seorang pengawal menyebutkan sebuah nama. ¡°Pemilik kafe XX di pusat perbelanjaan oleh-oleh.¡± Saga menyebutkan nama dan identitas Haksan dengan nada geram. Dan terdengar jelas nada suara itu di telinga Ken. Saga benar-benar murka. Ken terduduk di kursi kerjanya. Menduga-duga apa yang terjadi. ¡° Dia anak kolegaku. Kenapa? Apa dia melakukan kesalahan padamu.¡± ¡° Dia menggangu istriku.¡± Mata Ken terbelalak, dia bahkan hampir terjatuh dari kursinya. Bocah gila, aku tahu kau akan membuat masalah. Tapi kenapa harus dengan Saga. Menggangu istrinya lagi, aku bahkan yang hanya ingin bertemu saja tidak di izinkan. Kau malah menggangunya. ¡° Aku akan memberinya pelajaran. Aku minta maaf atas namanya¡± Walaupun tahu tidak mungkin masalah ini selesai hanya dengan Ken minta maaf. Laki-laki itu ingin segera bertemu dan memohon saja. ¡° Dia menyentuh istriku. Beraninya dia menyentuh Daniahku.¡± Tatapan Saga saja bisa merobek tubuh seseorang. Haksan yang hanya merintih kesakitan semakin menciut. Awalnya dia berfikir kalau dia mengenal walikota itu bisa menyelamatkan hidupnya. Tapi ternyata. ¡° Kau tidak menyuruhku mematahkan tangannyakan?¡± Ken takut-takut menyahut. ¡° Aku tidak mengatakan begitu.¡± Menjawab dingin. ¡° Tentu saja, Saga pria berhati mulia.¡± Ken Mengelus dada lega. ¡° Hatiku tidak semulia itu.¡± Dingin menjawab. Sialan! Kau benar-benar mau aku mematahkan tangan bocah itukan. ¡° Aku akan mengurusnya dan menghubungi orang tuanya.¡± ¡° Ken, kau pilih kolegamu atau aku.¡± Pertanyaan yang membuat Ken ingin menangis darah karena tahu maksudnya. Bunuh saja aku Saga! ¡° Tentu saja tuan Saga yang terhormat, kau yang lebih utama dari segalanya. Kau sahabat sekaligus pendukung utamakukan. Aku akan membereskan semuanya untukmu. Sebagai bentuk permohonan maafku aku akan datang ke pulau dan berlutut di depan istrimu minta maaf atas kekacauan ini.¡± ¡° Hei, siapa yang menyuruhmu datang. ¡° Berteriak kesal. Saga tidak menyadari kalau sedikit saja suaranya meninggi membuat orang-orang yang terduduk dilantai itu semakin gemetar ketakutan. ¡° Aku mau minta maaf pada kakak ipar karena membuatnya menderita di kotaku.¡± ¡° Jangan panggil Daniahku kakak ipar. Jangan datang ke vila, kalau tidak mau aku menghajarmu. Bereskan saja dia, atau kau mau Han yang turun tangan.¡± Seenaknya saja mau bertemu dengan Daniahku setelah pristiwa ini. ¡° Baik, akan ku bereskan semuanya tuan Saga. Sampaikan salam dan permintaan maafku untuk kakak ipar ya.¡± ¡° Jangan panggil Daniahku kakak ipar.¡± Mati saja kau Ken, kau benar-benar seperti Harun. Siapa yang kakak iparmu. Dia Daniahku. Semua orang semakin menciut nyalinya. Hanya Han yang terlihat mengelengkan kepala sambil mendesah. Kenapa anda malah ngelawak di situasi seperti ini tuan muda. Bersambung Chapter 178 Bulan Madu (Part 15) Saga hanya menyeringai sambil memberikan hpnya pada Han. Karena Ken belum berhenti bicara di sebrang sana. Tapi dia sudah malas mendengarkan. Kemampuan bicara laki-laki itu memang diluar batas kemampuan normal laki-laki bicara. Karena banyak maunya terkadang Saga hanya mengiyakan supaya urusannya dengan Ken cepat selesai. Bicaranya itu selalu jadi senjata meluluhkan Saga kalau Ken punya sejuta kemauan. ¡° Han jangan biarkan si gila itu sampai datang ke vila. Tendang saja dia kalau sampai dia berani menampakan diri dan masuk ke gerbangnya saja.¡± Huh! Dia tidak mungkin muncul di vila kecuali membawa tameng hidup istrinya tuan. Han tahu strategi licik Keanu menghadapi Saga, selain memakai mulutnya yang banyak bicara dia selalu mengandeng istrinya. Sebagai senjatanya memohon. ¡° Baik tuan.¡± Setelah selesai membahas Ken, pandangannya Saga beralih menatap laki-laki yang sedang tertunduk dan menahan sakit. Pandangan mata mereka bertemu saat Haksan mengangkat kepalanya, lalu dalam sekejap dia langsung menundukan kepalanya lagi. Apa yang harus kulakukan sekarang? Bagaimana Niah bisa menikah dengannya. Lagi pula siapa yang akan percaya kalau Daniah menikah dengan laki-laki berkuasa sepertinya. Tubuh Haksan semakin lunglai saat dia melihat laki-laki di belakang tuan Saga. Dia sekertaris itu, yang menghajarnya tanpa ampun tadi. Bahkan sedikitpun Haksan tidak melihat rasa belas kasihan laki-laki itu dimatanya. Dia merintih lagi. Menahan sakit. Kenapa malah dia yang murka tadi! Semua rasa penasarannya sudah tidak berarti lagi. Hanya satu hal yang penting sekarang. Bagaimana dia bisa menyelamatkan diri dari situasi ini. Luka-lukanya memang diobati. Jadi dia berfikir kalau tuan Saga tidak akan melenyapkannya tanpa jejak. Haksan dan para anak buahnya sudah bernafas lega tadi, saat Saga dan yang lainnya meninggalkan kafe membawa Daniah dan yang lainnya. Tapi kenapa mereka kembali! Tanpa Daniah lagi. ¡° Selain rambut, bagian mana kau berani menyentuh Daniahku?¡± Pertanyaan tuan Saga sudah tidak ada niatan ingin di jawab Haksan. Kalau Haksan menjawab dia tahu dia bisa lebih parah dari ini. Tapi kalau dia diam dia tahu dia tidak akan selamat juga. ¡° Tidak tuan, saya tidak menyentuh Daniah sama sekali.¡± Benarkan? Aku tidak menyentuh Daniah kecuali ujung rambutnya saja. ¡° Beraninya kau menyebut nama istriku.¡± Suara Saga lebih meninggi. Membuat tangan Haksan terjatuh lunglai. ¡° Maaf tuan, maafkan saya.¡± Hanya itu yang bisa dia ucapkan. ¡°Maafkan kami tuan yang bodoh ini.¡± Haksan tidak tahu harus memakai istilah apa untuk menyebut kebodohannya. Kenapa kau bisa menikah dengan laki-laki ini Daniah! ¡° Tapi nona menyentuh tangan laki-laki ini tuan.¡± Pengawal yang mengikuti Daniah membuka suara. Membuat Haksan tersambar petir. Wajah Saga tadi yang sudah melunak tiba-tiba menjadi dingin lagi mendengar apa yang dikatakan pengawalnya. Dia mendesah sambil menendang udara di depannya. Tapi seakan kaki itu menyentuh wajahnya, pipi Haksan terasa nyeri menusuk. Habislah kau, kami saja hanya bisa melihat nona tidak lebih dari tiga detik. Tapi kau memelototi nona berapa lama tadi. Pengawal berhati dengki sedang laporan. Melihat wajah takut Haksan membuatnya sedikit terhibur. Hingga dia benar-benar puas melaporkan apa yang dilihatnya tadi. ¡° Niahku menyentuhmu? Jawab! ¡° Botol minuman dingin yang ada di atas meja sudah melayang mengenai wajah Haksan. Laki-laki itu menjerit menahan sakit. ¡° Tidak tuan, itu tidak benar.¡± Merintih. Mengusap air yang memercik di wajahnya. Air dalam botol tumpah bahkan mengenai ujung sepatu Saga. Daniah menepis tangan saya itu baru benar. Sialan kau pengawal! Menatap kesal pada pengawal yang memberi laporan. Dia laki-laki yang memberikan tendangan telak di perutnya tadi. Kau sengaja melapor di saat beginikan! Memaki lagi. ¡° Dia juga meminta nona untuk menghabiskan malam dengannya tuan.¡± Seperti tidak terusik dengan rintihan dan tatapan penuh kebencian Haksan. Dia melanjutkan laporan mematikannya lagi. Dia benar-benar merasa kesal saat menahan diri tidak memukul Haksan tadi. Dan inilah saat pembalasan dendam yang setimpal pikirnya. ¡° Tidak tuan, saya tidak melakukan itu.¡± Haksan kembali menatap pengawal yang bicara. Dia melihat senyum tipis laki-laki itu seperti mengejeknya. Aku akan membunuhmu nanti sialan! ¡° Padahal nona sudah mengatakan kalau dia sudah menikah dengan anda tuan, tapi laki-laki ini tidak percaya dan menertawakan nona.¡± Melanjutkan lagi kalimatnya saat matanya melihat sorot geram milik Haksan. ¡°Tidak tuan, tidak.¡± Dan kalimat Haksan menguap tidak terdengar di telinga Saga. Saga tidak bisa menahan dirinya lagi. Tangannya yang geram terkepal. Dia bangun mendekati Haksan. Dan tidak selang lama, Haksan sudah mulai menjerit memohon. ¡° Kau minta Daniahku untuk apa!¡± ¡° Tidak tuan saya¡± ¡° Niahku bahkan mendengar kata menjijikan itu dari mulutmu hah!¡± ¡° Tidak tuan. Ampuni kami.¡± Haksan jatuh ke lantai. Seharusnya anda diam tuan, semakin anda banyak bicara semua akan salah di depan tuan muda. Han hanya mengelengkan kepala. Tidak ingin mencegah atau menahan Saga kali ini. Karena dia sendiri merasa kesal dengan fakta terakhir yang dilaporkan pengawal Daniah. Han pergi meninggalkan ruangan pengadilan Saga menuju ruang ganti, dimana para pelayan kafe menunggu seperti perintahnya. Mereka langsung bangun saat pintu berderik terbuka. ¡° Kalian bisa pulang sekarang, akan ada petugas keamanan yang datang membereskan semuanya. Kalau mereka perlu saksi mereka akan menghubungi kalian, kalian tahukan harus bicara apa?¡± Mereka bertiga saling pandang. ¡° Kalau bos kalian yang menggangu nona kami lebih dulu. Dia memukul dan main keroyokan duluan. Tuan muda kami hanya memberinya sedikit pelajaran karna sudah menggangu istrinya. Dia tidak mati kok.¡± Ketiganya menelan ludah. Melihat wajah bos mereka tadi. Apa itu masih dibilang sedikit. ¡° Ba, baik tuan. Pak Haksan memang sering begitu dengan perempuan. Saya bahkan pernah di lecehkan Juga.¡± Salah satu pelayan wanita menjawab takut-takut. Wajahnya malu sebenarnya. ¡°Tapi kami hanya pelayan dan tidak berani melakukan apa-apa.¡± ¡° Aku juga, dia pernah menyentuh pahaku.¡± Yang satunya menjawab sambil meremas tangannya takut dan malu. ¡° Aku juga.¡± Cih, habislah kau keparat gila. Kau benar-benar tidak tahu malu memanfaatkan pekerjaanmu. Di Antarna Group kalau ada pimpinan yang sampai melakukan tindakan pelecehan pada karyawan wanita, maka tamatlah sudah karir dan hidupnya. Itu adalah salah satu poin kesalahan yang tidak termaafkan bagi presdir Antarna Group. Sebesar dan setinggi apapun posisinya di perusahaan. " Kalian bisa melaporkan pelecehan yang kalian lakukan. Jangan kuatir pengacara Antarna Group akan menghubungi kalian. Jebloskan saja bos kalian ke penjara seumur hidup kalau perlu." Mereka bertiga bersitatap. Masih tidak percaya dengan apa yang di ucapkan laki-laki di depannya ini. Ini bukan karena dendam pribadi pada bos dia membantu kitakan? Pikiran bertiga mereka bersamaan saat melihat Han meninggalkan ruangan ganti. bersambung Chapter 179 Bulan Madu (Part 16) Selepas semua pristiwa yang terjadi di area pertokoan pusat oleh-oleh, berita yang beredar di kalangan penduduk lokal benar-benar simpang siur. Mereka membicarakan kedatangan tuan Saga dan hubungannya dengan Haksan berdasar spekulasi masing-masing. Apalagi setelah kedatangan tim keamanan daerah. Mobil perusahaan Antarna Group satu persatu meninggalkan lokasi. Mereka tidak tahu, mobil mana yang di tumpangi tuan Saga. Banyak dari mereka yang keluar dari toko dan mendatangi kafe. Mencari info lebih lanjut. Saat melihat Haksan dan para anak buahnya di giring seperti penjahat mereka mulai menyimpulkan semau mereka. Tapi yang pasti mereka bersyukur dan mengangap kedatangan tuan Saga sebagai berkah di pulau ini. Haksan di penjaga keamanan dan penguasa wilayah yang suka seenaknya sudah tamat riwayatnya. Walikota benar-benar datang membereskan semuanya. Daripada Han yang turun tangan pikirnya, semua akan sulit di bereskan kalau laki-laki itu terliibat. Ketika sore mulai menjelang keramaian wisatawan mulai terlihat meningkat dari hari biasanya. Sepertinya efek tv nasional pagi tadi membawa dampak positif bagi promosi. Dan sekarang semua sudah beraktifitas seperti biasanya. Hanya kafeXX yang tidak seperti biasanya. Senyap, tanpa lampu satupun berpendar di antara gelapnya malam. Tapi tidak ada yang benar-benar bersimpati degan tutupnya kafe terbesar di tempat itu. Sementara Daniah dan Saga kembali ke vila. Mereka tidur dengan pulas semalaman. Hanya berbagi selimut dan memeluk satu sama lain. Daniah lelah bukan hanya secara fisik namun juga hatinya. Seharian ini dia mengalami kejadian yang tidak akan pernah dia lupakan. Beberapa sketsa masa lalunya masih seperti hantu mendatanginya dalam mimpi. Bahkan wajah Ve juga muncul. Kelebatan pristiwa kencannya dimasa lalu juga datang ikut meramaikan. Sampai kejadian di kafe juga. Tangan Saga yang hangat memeluknya membuatnya tenang dan membuatnya bisa terlelap tanpa suara. ¡° Hemmm, mau kemana?¡± Saga semakin memeluk erat Daniah yang mengeliat dan berusaha mengangkat tangannnya. Tidak rela melepaskan. Mata laki-laki itu masih rapat terpejam. Dia menarik ujung selimut sampai menutupi tubuhnya lagi. ¡° Kamar mandi sayang.¡± Berusaha mengangat tangan yang melingkar di tubuhnya. Aku mau bangun! ¡° Sebentar lagi, tidurlah lagi.¡± Bergumam tidak jelas di telinga Daniah. ¡° Sayang aku.¡± Aku mau bangun! Semakin Daniah bergerak semakin Saga mempererat pelukannya. ¡° Diam! atau kau akan menyesal membangunkanku.¡± Daniah langsung membeku dan menghentikan gerakan tubuhnya. ¡° Ayo tidur lagi sayang, sebentar lagi ya.¡± Puk, puk menepuk punggung Saga pelan berulang. Membiarkan laki-laki itu kembali terlelap dengan nafas lembutnya. Dan benar saja hembusan nafas Saga sudah terdengar teratur. Tangannya juga sudah mulai mengendur. Tapi Daniah tidak bergerak, dia membiarkan kulit tubuh Saga menghangatkan perasaannya. Semalam dia bahkan masih sangat marah. Berangkat tidurpun tidak banyak bicara. Apa yang terjadi pada kak Haksan ya, aku tidak berani bertanya sedikitpun. Menyinggungnya pun aku tidak berani. Tuan Saga sangat marah, aku bahkan belum pernah melihat kemarahannya seperti kemarin. Semoga laki-laki itu baik-baik saja. Walaupun aku sama sekali tidak suka padanya. Mencium pipi Saga lembut. Terimakasih sudah datang kemarin. Eh, tapi darimana dia tahu ya? Kalau aku bertemu kak Haksan kemarin. Daniah hanya bisa menduga bagaimana rentetan kejadian kemarin bermula. Aran bahkan mengatakan kalau dia terkejut melihat kedatangan tuan Saga. Berarti dia bukan orang yang melaporkan semua yang di lakukan Daniah. Tapi siapa ya? Belum ada kesimpulan yang Daniah petik. Saat matanya menatap wajah tenang Saga, tangannya refleks terangkat dan membelai pipi itu lembut. Sampai dia juga ikut kembali terlelap tanpa dia sadari. Matahari sudah meninggi saat keduanya keluar dari kamar mandi bersamaan. Daniah duduk manis sementara Saga mengeringkan rambutnya dengan handuk dan hairdriyer. Menyisir rambut basahnya dengan jari-jarinya. Dia mengosok rambut miliknya cukup lama tadi di kamar mandi. Biar bau tangan laki-laki itu tidak menempel. Membuat Daniah tidak mau protes dengan apapun yang dilakukan Saga pada rambutnya. Laki-laki itu mencium rambutnya beberapa kali sambil memainkannya di jari-jarinya. ¡° Niah.¡± ¡° Ia.¡± Mendongak, melihat Saga mengulung rambut di tangannya. ¡° Gantian!¡± Dengan ekspresi wajah mengemaskan. Hah! Apa! Gantian?Kenapa dia memasang wajah begitu si. Hatiku mau meledak melihatnya. Daniah menatap rambut Saga yang juga masih sedikit basah. ¡° Maaf sayang aku keenakan. Duduklah, biar ku keringkan rambutmu.¡± Menahan senyum malu. Walaupun suaminya main-main dengan rambutnya tapi rasanya seperti dipijat membuat Daniah lupa diri. Handuk kecil berpindah ketangannya. Dia mau berjalan memutari sofa setelah bangun dari duduk. Tapi langkah kakinya terhenti saat Saga meraih tangannya. ¡° Apa sayang?¡± Saga menepuk kedua lututnya. Membuat Daniah langsung memelototkan mata menatap kaki yang ditepuk suaminya. Kau tidak menyuruhku duduk di pangkuanmukan! ¡°Sayang, aku berdiri saja ya. Lebih mudah mengeringkan rambutmu sambil berdiri.¡± Belum menyelesaikan kalimatnya Daniah sudah merasa sorot mata mengancam sedikit muncul di mata suaminya. ¡°Tapi kalau kau tidak keberatan baiklah. Aku naik ya.¡± Dasar, kau menyeringai penuh kemenangan begitu. ¡° Niah.¡± Menusuk-nusuk kaki dengan jarinya. Daniah terlonjak terkejut karena fokus mengeringkan rambut sambil memberikan sedikit pijatan lembut di kepala. Apa si! ¡° Ia sayang, kenapa? Berat ya? Aku turun ya.¡± Kedua tangan Saga langsung menekan lutut Daniah, membuatnya tidak bergerak. ¡°Kenapa sayang?¡± Maumu apa si, akukan sudah mengeringkan rambutmu, duduk dipangkuanmu juga. ¡° Akukan bilang gantian.¡± Ya Tuhan wajah tuan Saga kenapa manis begitu si. Aaa, aku jadi ingin menciumnyakan. Kenapa dia cemberut begitu lagi. Versi gantian tuan Saga maksudnya adalah dia mau Daniah mengeringkan rambutnya dengan penuh cinta. Sambil main-main rambut. Sambil cium-cium rambut, begitulah yang dimau tuan muda yang banyak maunya dan paling tidak mau menjabarkan maunya dengan kata-kata. Dan akhirnya Daniah sama sekali tidak paham kemauan suaminya apa. Tangan Daniah menjatuhkan handuk yang dia pegang, lalu memegang pipi Saga dengan kedua tangannya. Mencubit besar lalu mengoyang-goyangkan jarinya kekanan dan kekiri. Kepala saga ikut bergoyang searah gerakan tangan Daniah. Laki-laki itu makin cemberut. Sementara Daniah tergelak dan terus melakukan kekonyolannya. ¡° Kau mau mati ya?¡± ¡° Haha, sayang maafkan aku habis kau mengemaskan begitu si.¡± Langsung memeluk Kepala Saga. ¡°Maafkan aku.¡± Hujan ciuman di rambut Saga. Masih tersisa tawa saat Daniah mengingat mimik wajah Saga lagi. Sampai Daniah tidak melihat bagaimana senangnya wajah suaminya dalam dekapannya. ¡° Niah.¡± ¡° Ia.¡± ¡° Lagi.¡± ¡° Apa? apa yang lagi?¡± ¡° Semua. Yang kau lakukan tadi ulangi lagi.¡± Haha, apa-apaan si orang ini. Menunggu dan Daniah hanya tertawa menanggapi, Saga menjatuhkan tubuh Daniah pelan di sofa. ¡° Tidak mau? Kalau begitu biar aku yang lakukan.¡± Aaaa sudah, aku lapar. Main salon-salonan plus-plus berakhir juga. Wajah Daniah masih merona saja bahkan sampai dia ganti baju. Sementara Saga terlihat sangat gembira. Suasana hatinya sudah berubah sekian derajat dari kemarin. Pak Mun masuk membawakan sarapan yang sudah masuk jadwal makan siang ke dalam kamar. Tidak lupa beberapa pil vitamin yang harus di minum Daniah. Gadis itu duduk sambil memperhatikan suaminya yang sedang memeriksa hpnya. Kenapa makan di kamar? Aku ingin makan di pinggir laut setelah itu pergi menyelam. Dia janjikan mau main air hari ini. ¡° Pak Mun kenapa membawa makanan ke kamar? Kita makan di pinggir pantai saja yuk.¡± ¡° Tuan muda yang minta nona. Makan buah dan beberapa kacang-kacangan ini dulu nona sebelum makan nasi.¡± Pak Mun menyodorkan sepiring makanan yang khusus di siapakan untuknya. ¡°Sambil menunggu tuan muda.¡± ¡° Baiklah. Terimakasih pak Mun.¡± Kenapa dia ingat si untuk menyiapkan beginian. Pak Mun beranjak setelah menata semua makanan dan Saga selesai dengan pekerjaannya, kemudian berjalan ke meja makan. ¡° Selamat makan tuan muda, saya ada di luar kalau anda membutuhkan sesuatu.¡± ¡° Pergilah istirahat. Kalian semua bebas melakukan apapun hari ini. Aku dan Daniah akan menghabiskan hari ini di kamar.¡± Apa dia bilang? Menghabiskan hari di dalam kamar! ¡° Baik tuan muda.¡± Pak Mun langsung beranjak setelah menundukan kepala pada tuannya. ¡° Saya permisi nona, tolong dihabiskan apa yang ada di piring nona.¡± ¡° Haha, ia pak Mun. Terimakasih banyak.¡± Saga sudah duduk. Mengambil garbu di tangan Daniah. Lalu mengambil potongan buah dan memasukannya ke mulut Daniah. Gadis itu hanya bisa menurut membuka mulut, mengunyah dan menelannya. ¡° Manisnya kalau istriku patuh begini. Habiskan ya.¡± Menjawab dengan senyuman saja. ¡° Sayang, hari ini kita mau kemana? Menyelam, kau janjikan kita mau menyelam hari ini.¡± Sengaja bertanya, walaupun jelas-jelas tadi mendengar kalau hari ini adalah jadwal di dalam kamar. ¡° Tidak.¡± Tuh kan jawabannya tidak mungkin berubah. ¡° Kenapa?" ¡° Kita akan seharian di kamar.¡± Apa! mau apa? ¡° Sayang kenapa? Kamukan janji mau pergi menyelam.¡± ¡° Aku masih ingin membunuh orang.¡± Meraih dagu Daniah. ¡°Amarahku belum benar-benar reda, sedikit saja terpancing kau akan menyesal mengajakku keluar.¡± Aaaaa, kenapa masih diingat si pristiwa kemarin. Lupakan! Lupakan donk. ¡° Baiklah. Kita bisa pergi besok lagi. Lalu apa yang mau kita lakukan?¡± ¡° Apa?¡± tersenyum. Sambil meraih tubuh daniah mendekat. Sudah merasai bibir manis yang habis memakan buah segar. ¡° Tentu saja bermain di tempat tidur.¡± Aaaaa, gila apa! bersambung Chapter 180 Aran (Part 1) Ternyata agenda bulan madu yang sudah di susun Han benar-benar terealisasi dengan baik. Persen-persenan yang dibuat seenaknya oleh Saga. Karena kejadian kemarin, hari ini tuan Saga memutuskan tidak ada kegiatan di luar rumah. Dia hanya ingin menghabiskan hari di dalam kamar. Apa yang akan mereka lakukan? Terserah! Aku tidak perduli apa yang akan nona dan tuan muda lakukan di dalam kamar? Menjawab gusar pertanyaan yang muncul di kepalanya sendiri. Laptop di depannya sudah menyala. Di layar sudah tampak beberapa orang sedang duduk untuk memberikan laporan pekerjaan. Ada beberapa proyek baru yang terealisasi dalam minggu ini. Han meminta laporan detailnya. Karena berhubung hari ini tidak ada kegiatan apapun di luar ruangan. Dia sedang memeriksa hpnya, orang-orang di dalam layar menunggu. Sambil merapikan penampilan mereka. ¡° Kita mulai rapatnya.¡± Han mendonggak dan meletakan benda kecil di tangannya. Semua orang langsung sigap menyentuh berkas laporan di depan mereka. Bergiliran menyampaikan laporan. Han mengoreksi banyak hal. Sangat mendetail. Dia memang sangat perfeksionis jika berhubungan dengan data laporan. Kurang sedikit saja, dia akan meminta semua menganti laporan kerja dalam hitungan jam. ¡°Aku akan mengirim Leela besok. Berikan semua berkas yang di perlukan.¡± ¡° Baik tuan.¡± Rapat masih berlangsung saat Arandita mendekat. Gadis itu tidak melihat layar laptop di depan sekertaris Han. Dia hanya melihat laki-laki itu sedang duduk diam sambil melihat layar hp. Dia ingin mengendap-endap dan mengagetkan sekertaris Han. Kau mau mati! ¡° Tuan Han, apa nona belum keluar kamar?¡± Memilih langsung bertanya dengan suara keras tanpa menyapa terlebih dahulu. Han menoleh dari pekerjaannya, menatap Aran tanpa ekspresi. Membuat yang di tatap mundur beberapa langkah. Apa-apa salahku? Bulu kudunya merinding. Lalu menangkap gerakan di layar laptop. ¡° Maaf, saya tidak melihat tuan sedang bekerja. Tadi saya pikir tuan sedang melamun.¡± Menaundukan kepalanya sampai punggungnya lurus. ¡° Maafkan saya tuan.¡± Habislah aku. Aran belum mengangkat kepalanya. ¡° Pergi!¡± ¡° Baik tuan. Saya pergi. Maafkan saya¡± Bergerak cepat memutar tubuh. Lalu mengambil langkah seribu. Ingin segera lenyap dari hadapan sekertaris Han. Sepanjang keluar Aran mengutuki kelakuannya. Mengerikan sekali, akukan tidak sengaja mengintip tadi. Dia sedang rapat dengan siapa ya? Penasaran mengelitik, tapi karena masih sayang pada nyawanya dia memilih keluar Vila dan berjalan ke pantai. Melihat pemandangan aneh yang selama beberapa hari ini tidak dilihatnya para pelayan dan tim keamanan Antarna Group sedang asik bermain di pantai, dengan memakai semua fasilitas vila sesuka mereka. Kenapa mereka santai sekali? ¡° Pak Mun!¡± Aran berteriak ketika melihat punggung Pak Mun dari kejauhan, laki-laki itu berjalan ntah mau kemana. Dia berhenti berdiri diam menunggu, menunggu Aran mendekat. Setelah gadis itu ada di depannya dia langsung bertanya. ¡° Apa luka di tanganmu sudah sembuh?¡± Menunjuk siku tangan Aran yang masih terbalut perban. ¡°Kemarin nona muda berpesan kalau kau membutuhkan sesuatu katakan saja.¡± Aran tersenyum sambil meraba sikunya. Nona memang baik sekali, aku benar-benar mengidolakannya. ¡° Sudah membaik pak terimakasih. Maaf pak apa boleh saya bertanya?¡± fokus pada tujuannya memanggil pak Mun. ¡° Katakan?¡± Pak Mun ini walaupun jauh lebih ramah dari sekertaris Han tapi kalau bicara sama-sama tho the poin tidak ada basa basinya. Wajahnya juga sama-sama pelit ekspresi. ¡° Kenapa semua orang terlihat santai hari ini pak. Para pelayan dan tim keamanan saya lihat pada bermain di laut?¡± mereka bahkan bisa mengunakan semua fasilitas permainan dengan bebas seprti rumah mereka sendiri. Tidak, seperti mereka yang membayar tagihan saja. ¡° Apa kau tidur saat apel pagi tadi?¡± Duarrr, Aran lupa siapa orang yang ada di depannya. Kepala pelayan rumah utama. Menyesal kenapa dia berteriak memanggil pak Mun tadi. Mau berbalik dan menundukan kepala saja rasanya. Tapi dia sudah jatuh tertangkap sekarang. Aku ngapain saat apel pagi tadi? Aku berdiri di ujung barisan dan setengah terjaga dan setegah bermimpi. Memang apa yang aku lewatkan di apel pagi tadi! Wajah panik Aran sudah tidak bisa di tutupi. Pak Mun bisa melihatnya dengan sangat jelas. ¡° Maaf pak Mun, saya tidak akan mengulanginya lagi.¡± Lagi-lagi menundukan kepalanya pasrah. Buku setebal skripsinya waktu kuliah dulu yang berisi peraturan rumah utama sudah dia terima. Sudah dia baca, tapi dia suka lupa mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari. ¡° ini peringatan pertamamu. Saat bekerja, bekerjalah dengan baik. Karena kau sudah mendapatkan waktu istirahat dan gaji yang jauh lebih besar dari dimanapun kau bekerja. Jangan membuat kesalahan apapun seperti pagi ini. Baca buku peraturanmu lagi!¡± Seseorang yang selalu menjaga segala sesuatu berjalan ddengan sempurna untuk urusan rumah tangga rumah utama. ¡° Baik pak Mun, maafkan saya.¡± Mengangukan kepala dalam. ¡° Hari ini hari bebas, tuan muda dan nona akan menghabiskan waktu di dalam kamar jadi kalian bisa menikmati liburan sepuas kalian hari ini. Tapi aku sarankan, jangan meninggalkan lingkungan vila.¡± Aran masih bengong mencerna penjelasan pak Mun, sementara laki-laki tu sudah pergi tidak menunggu. Meninggalkannya yang diam mematung. Hah! Seharian menghabiskan waktu di dalam kamar. Mereka mau melakukan apa? Daripada pusing memikirkan apa yang dilakukan nona dan tuan Saga, Aran memilih bergabung menuju pantai. Tapi dia hanya duduk-duduk di pinggir pantai. Dia belum akrab dengan siapapun di rumah utama. Pak Mun memberinya kamar kosong di rumah belakang. Karena para pelayan sudah memiliki teman sekamar mereka masing-masing. Dia hanya sudah memberi salam perkenalan diri waktu pertama kali datang. Tapi wajah-wajah para pelayan lain juga belum benar-benar tersimpan dalam ingatannya. Tapi percayalah lingkungan kerja di rumah belakang milik tuan muda sangat nyaman. Tidak ada yang bersaing menjadi orang yang sok hebat. Semua bekerja menyelesaikan pekerjaan mereka masing-masing dengan baik. Menutup mulut mereka rapat untuk urusan keluarga tuan Saga. Hingga Aran merasa bisa menyesuaikan diri dengan mudah di rumah belakang, walaupun dia termasuk anak bawang di sana. Dua orang wanita terlihat mendekati Aran dari arah bibir pantai. Pakaian dan tubuh mereka sudah basah. ¡° Aran!¡± ¡° Ia.¡± Mereka menyapa duluan. ¡° Apa mau bergabung bersama kami. Kita mau main banana boat.¡± Menunjuk area bermain air. ¡° Aaaa, aku ingin sekali. Tapi luka jahitanku belum kering.¡± Mereka terlihat terkejut. Aaaaa, mati aku! Mulutku keceplosan. Merekakan tidak tahu apa-apa mengenai kejadian kemarin. Akan runyam kalau mereka bertanya. ¡° Baiklah kalau begitu. Istirahatlah, kami ke sana dulu ya.¡± ¡° Ia.¡± Eh mereka tidak bertanya. Terlalu banyak mencari tahu itu bisa memperpendek umurmu. Kenapa kata-kata itu terngiang-ngiang ya. Apa sekertaris Han memakai kata-kata itu benar-benar pada semua orang? Karena merasa bosan hanya bisa melihat orang lain bersenang-senang akhirnya Aran membawa langkah kakinya masuk ke area vila. Iri ketika menolehkan kepala lagi. Tapi lukanya benar-benar belum kering. Dia mandi bahkan harus membungkus sikunya agar tidak terkena air tadi. Kenapa aku harus terluka di waktu seperti ini si. Padahal sudah lama sekali aku tidak pergi berlibur. Bahkan kapan ya terakhir kali aku mandi air laut. Aaaa sudah lama sekali. Bahkan saat bekerja dulu di stasiun tv aku tidak punya waktu berleha-leha. Termenung menatap langit-langit kamar. Lalu bergegas beranjak. Mengeluarkan laptop dari tas di bawah tempat tidurnya. Serta Hp pribadinya. Seharusnya aku menulis saja sekarang! Bodohnya aku. Semua peralatan tempur sudah menyala. Senjata menulis, laptop yang sudah cukup umur. Hp miliknya sendiri, berkedip-kedip layarnya menandakan beberapa pesan masuk. Baru saja semua benda itu menyala ketukan keras di pintu kamarnya. Aran menoleh kesal. Siapa si, tidak tahu hati sudah semangat bergejolak malah ada gangguan lagi. Gedoran semakin keras. ¡° Ia sebentar!¡± Berlari menuju pintu, bahkan melompati kursi. Untung saja tidak terjungkal. Dia lebih ingin terjungkal saat melihat siapa yang sedang berdiri di depan pintu. Harimau gila. ¡° Tuan kenapa?¡± Bertanya cepat. ¡° Kemana saja kau?¡± Masuk tanpa permisi ke dalam kamar Aran. ¡° Katanya hari ini hari bebas, saya mau menulis.¡± Mundur seirama dengan langkah kaki Han memasuki kamarnya. Laki-laki itu melihat keatas meja. Lalu berjalan mendekat. Aran terperanjak kaget langsung berlari menabrak tubuh Han. ¡° Kau mau mati ya?¡± ¡° Maaf tuan.¡± Tangannya bergerak cepat menutup layar laptopnya. Terlambat, mata tajam Han sudah melihat apa yang coba di sembunyikan Aran. Bersambung.... Chapter 181 Aran (Part 2) Sebuah kamar kecil di area paviliun vila, tempat para pelayan wanita tinggal selama bulan madu tuan dan nona mereka. Aran tetap tinggal sendiri seperti saat dia ada di rumah belakang, karena memang dia belum mendapatkan teman sekamar. Namun saat ini, sesal datang menelisik hatinya, kenapa dia menyelinap tadi dari kegiatan para pelayan yang lain. Seharusnya dia memilih duduk-duduk di pinggir pantai sambil mengigit bibir iri melihat yang lain bermain ombak dan olahraga air. Setidaknya menikmati hembusan angin jauh lebih baik dari pada di posisinya sekarang. Berada di kamar kecil ini berdua dengan laki-laki yang susah di tebak suasana hatinya. Han masuk tadi tanpa menutup pintu, sengaja dia biarkan terbuka. Jantung Aran sudah berdebar sangat kuat. Degupnya berpacu seirama dengan tarikan nafasnya. Dia perlahan mengeser semua perangkat elektronik di meja membelakanginya. Sampai benda-benda itu tertutup tubuhnya. Tidak terlihat, minimal itu yang bisa dia lakukan sekarang. Sambil terus memohon dalam doanya, supaya laki-laki di depannya ini tidak melihat apapun tadi. Tapi, saat dia mendonggakan wajah dan pandangan mata mereka bertemu, dia tahu, kalau laki-laki di hadapannya ini sudah melihat. Dia pasti melihatkan. Mata harimaunya tidak mungkin lengah. ¡° Minggir!¡± Han sudah berdiri dengan sikap angkuhnya, tidak akan mundur selangkahpun dari posisinya. Walaupun sekeras kepala apapun Aran mencoba mempertahankan apa yang dia sembunyikan. Aran tetap diam mematung di posisinya. ¡° Kau tidak dengar? Aku bilang minggir.¡± Mata sekertaris Han sudah membuat bulu kudu merinding. Dan Aran sudah mulai gentar dan ngeri. ¡° Tuan ini barang pribadi saya. Tuan tidak bisa seenaknya memeriksa barang pribadi saya.¡± Takut-takut menjawab. Dengan posisi masih berdiri di tempatnya. Mendengar jawaban Aran, Han tersenyum tipis. ¡° Kau lupa yang kau katakan?" Mendengar kata-kata Han, ingatan Aran langsung loncat di kafe saat kedua kalinya mereka bertemu setelah insiden toko buku. " saat aku mempekerjakanmu, apa yang kau katakan?¡± Senyum tipisnya muncul lagi. Menjadi seringai kecil, di mata Aran terlihat seperti auman harimau yang siap menerkamnya bulat-bulat. Aran bergeser pelan dari tempatnya berdiri. Menjauhi meja dimana semua senjata menulisnya berada. Menatap nanar laptop yang sudah tertutup dan hp yang masih bergetar sesekali menandakan masih ada notifikasi masuk. Tidak tahu itu pesan atau hanya sekedar spam notifikasi sosial medianya. ¡° Mematuhi semua perintah anda tanpa terkecuali.¡± Katanya pelan sambil berjalan menjauh dari meja. Cih seharusnya aku menambah poin jangan mencampuri urusan pribadiku. Kenapa aku hanya mengajukan syarat untuk tidak memukulku saja si. Rasanya Aran ingin menangis darah karena kesal akan kebodohannya. Han sudah seperti menyentuh benda miliknya sendiri. Menarik kursi untuk dia duduki dengan nyaman. Sementara Aran masih berdiri dengan detak jantung yang jauh lebih cepat dari biasanya. Pikirannya sedang menerawang, membuat jawaban atau sebuah sekenario dadakan kalau saja hal paling gila yang akan di ucapkan sekertaris Han setelah melihat isi laptopnya. Han sudah mengangkat layar laptop. Matanya melirik hp di sampaingnya. Sementara Aran berdiri semakin pucat. Wajahnya sudah seperti kekurangan darah. Dia meremas ujung bajunya. Apa aku rebut dan banting saja laptop itu. Aaaaa, itu senjataku mencari uang selama ini! ¡° Duduklah!¡± Tanpa melihat Aran Han bicara. Laki-laki itu hanya melirik sebentar wajah pucat gadis di depannya. Lalu fokus melihat laptop di depannya. Layar depan laptop sudah menyala. Dan dia sudah melihat apa yang yang di sembunyikan Aran. ¡° Kau mau berdiri di situ?¡± ¡° Tidak! Saya duduk tuan. Terimakasih.¡± Berteriak memotong kata-kata Han. Foto-foto yang diambilnya secara sembunyi-sembunyi beberapa tahun lalu. Sejarah kelam namun selalu dianggapnya maha karya. Kebencian sekaligus kebanggaan yang campur aduk saat melihatnya. Membuat Aran mengangapnya itu sebagai kenangan terbaik sekaligus menyedihkan dari pekerjaannya. Lagi pula orang dalam foto itu cukup enak di pandang mata. Walaupun di pandang dengan dibumbui kebencian sekalipun. Semuanya dalam jumlah tidak sedikit. Menjadi kolase puzle sebagai layar dakstopnya. Sialan! Kenapa sampai ketahuan begini si! Ini seperti penguntit yang ketahuan memajang foto-foto hasil stalker di dinding kamar. Sudah tidak semua foto masuk kategori bisa di konsumsi publik semua umur lagi. Rasanya Aran ingin tengelam ke dasar kerak bumi saja. ¡° Hah! Kau benar-benar tidak tahu malu ya.¡± Berdecak keras. Sambil menunjuk laptop dengan jari telunjuknya. Aran bahkan berfikir benda tua itu akan pecah kalau sekali lagi di tunjuk sekeras itu. ¡°Bagaimana kau bisa menyimpan foto-foto hasil curian mu ini tanpa rasa bersalah sama sekali.¡± Diam, hanya bisa mengigit bibir tanpa bisa membantah sedikitpun. ¡° Apa kau menunggu waktu yang tepat untuk mempublikasikan ke publik seperti beberapa tahun yang lalu. Sepertinya peringatanku kau anggap main-main ya.¡± Suara sekertaris Han lebih dingin dari yang tadi. Dia mengambil hp di sebelahnya. Menyala dan terkunci. ¡° Buka!¡± Di sodorkan hp itu dengan tangan kirinya. Ragu Aran menerimanya. Matilah aku. ¡° Kau sepertinya sudah benar-benar bosan hidup ya. Kau mau menguji sejauh mana aku bisa mengasihanimu?¡± Meletakan hp dengan suara keras di atas meja setelah melihat isinya. Aran terlonjak menyentuh dadanya. ¡° Tidak tuan!¡± Bangun dari duduk dan berteriak kencang. Suaranya memecah langit-langit kamar. ¡°Saya bersumpah tidak ada niatan mempublikasikan foto-foto itu.¡± ¡° Dimana kau menyimpan file vidio yang sudah kusuruh untuk dimusnahkan file aslinya itu.¡± Kembali menggerakan tangan melihat file-file di laptop. Mengacuhkan penjelasan Aran. ¡° Saya bersumpah tuan, saya tidak menyimpan vidio itu lagi. Semua sudah saya hapus di depan anda dulu.¡± Han menoleh. Masih dengan tatapan tidak percayanya. ¡° Apa kau mau aku percaya setelah aku lihat foto-foto ini.¡± Ada puluhan gabungan foto yang berbeda di layar dekstop milik laptop Aran. Gadis itu meremas gemetar ujung bajunya lagi. Alasan apapun tidak akan terdengar masuk akal. Bagaimana ini? Apa yang harus aku katakan. ¡° Duduk!¡± Aran kangsung duduk di kursinya lagi setelah mendengar satu kata. ¡° Apa sejak dulu kau?¡± Tidak, tidak jangan menebak! Jangan menyimpulkan sembarangan. Wajah Aran semakin pucat. Dia menahan nafasnya. Meremas ujung bajunya. Berdoa sebisa yang dia bisa lakukan. Kalau sampai tebakan tuan Han benar, dia tidak tahu harus memasang wajah seperti apa. ¡° Tidak tuan!¡± berteriak keras ¡° Tutup mulutmu. Kau mau tuan muda terganggu karena teriakanmu.¡± Melihat pintu kamar yang terbuka. Walaupun dia sendiri tahu, suara Aran tidak mungkin terdengar sampai kamar dua orang yang sedang di mabuk cinta itu. ¡° Maaf.¡± Suaranya melemah seketika. ¡° Apa kau menyumpahiku dengan melihat foto-foto ini selama kau hidup dalam pelarianmu?¡± Mendengar pertanyaan itu, ntah kenapa Aran sudah kembali bisa bernafas lega. Wajahnya yang memucat sudah seperti teraliri darah. Benar, tidak mungkin dia berfikir kalau aku. Aran menghentikan pikirannya untuk membuat kesimpulan. ¡° Haha, tuan anda benar sekali. Saya mengutuki anda setiap hari dengan memandang wajah di layar laptop itu. Setiap hari, setiap waktu. Saat saya lelah dan kehilangan akal sehat saya, saya selalu memaki-maki tuan dengan melihat wajah-wajah tuan.¡± Puaskan, jelas sekalikan sebenci apa aku padamu. Jadi sudahi intrograsi ini sekarang juga! ¡° Apa kau pikir aku suamimu sampai setiap hari kau harus memikirkanku.¡± Hah! Apa! Kenapa kesimpulan macam itu yang kau ambil. ¡° Tuan bukan begitu, saya tidak memikirkan anda dalam keadaan senang.¡± ¡° Tutup mulutmu dan ikut aku!¡± Han bangun dari duduk, begitu juga Aran. Dia langsung mendekati meja melihat layar depan laptopnya. " Bodoh! Bodoh!" Memaki dirinya sendiri dengan suara yang hanya terdengar di telinganya. Lalu segera mematikan laptop dan hpnya. ¡° Kita mau kemana tuan?¡± Bertanya sambil mengejar Han yang sudah sampai di pintu. Laki-laki itu berhenti dan membalikan badan. ¡° Saya tidak akan bertanya lagi tuan, saya masih ingin hidup lama. Bertemu dengan laki-laki yang saya cintai, menikah dan punya banyak anak. hehe!¡± Menjawab dengan ceria walaupun mendapat balasan wajah kaku dari sekertaris Han. " Kau sedang apa? Menyatakan perasaanmu padaku?" Berbalik dan berjalan tanpa mendengar balasan ataupun melihat wajah tidak percaya Aran. Hah! Kenapa dia? kenapa aku merasa dia sebenarnya tahu. Mengejar Han dengan perasaan kalut yang tidak bisa di sembunyikan. Bersambung Chapter 182 Isi Hati yang Sebenarnya Aran berdiri di dekat mobil, dengan pikiran berkecamuk. Menunggu si pemilik mobil. Melihat dari kejauhan punggung sekertaris Han yang bicara dengan pak Mun. Laki-laki itu terlihat menunjuk vila beberapa kali. Lalu pak Mun mengangukan kepalanya juga. Mungkin mereka sedang membicarakan tuan dan nona, pikir Aran. Helaan nafas getir masih keluar masuk hidung dan mulutnya. Dia tahu, sikap sekertaris Han tadi hanya kepura-puraan. Tidak mungkin dia tidak mencium keanehan dari sikapnya tadi. Jelas-jelas Aran terlihat sangat kikuk. Bagaimana ini, aku malu. Menjejakan kakinya berulang di area trotoar tempat parkir. Aran pasang wajah sok tidak tahu malumu saja. Begitu dia memutuskan setelah berperang dengan urat malunya sendiri. Jangan kikuk atau canggung di depannya. Biasa saja. Biasa saja. Menghembuskan nafas pelan dan perlahan. Bagaimana aku bisa bersikap biasa saja setelah ini! ¡° Masuk!¡± Han memberi perintah saat dia sudah masuk ke dalam mobil dan duduk di belakang kemudi. Tanpa bertanya sepatah katapun Aran mengikuti, duduk di kursi depan. Mobil meninggalkan gerbang Vila, menyisa tanda tanya kemana laki-laki ini akan membawanya. Aran melirik pengemudi mobil yang tidak bergeming sama sekali. Suasana hening sampai mereka memasuki jalan raya. Sepanjang mata memandang, masih terlihat bibir pantai yang ombaknya menari-nari menampar pantai. Laut selalu menenangkan, walaupun hanya dilihat dari kejauhan. Anugrah Tuhan bagi manusia, yang layak untuk di syukuri. Apalagi saat hatimu sedang dilanda kegalauan. Melihat air yang bekejaran dibibir pantai sudah bisa membuat hati nyaman. Tapi sepertinya Aran kehilangan momen indah itu saat melirik pengemudi mobil yang sepertinya sedikitpun tidak terganggu dengan cuaca atau keadaan sekitarnya. Apa sepanjang jalan kau mau diam begini? Tapi, aku harus bicara apa ya? Meluruskan kesalahpahaman foto. Bagaimana kalau kesimpulannya semakin menjurus. Dan aku bahkan tidak bisa mengelak sedikitpun. ¡° Tuan.¡± Akhirnya si banyak bicara tidak bisa menahan mulutnya. Dia bertanya juga. ¡° Hemm.¡± Hanya itu jawaban Han, bahkan tanpa berpaling sedikitpun. ¡° Kita mau kemana?¡± Pertanyaan standar pembuka obrolan yang dipilih Aran. sekedar basa-basi memecah kebisuan. Hening, tidak ada jawaban walaupun sekedar kata hemm. Artinya dia tidak akan menjawab walaupun pertanyaan di ganti ke versi yang lain. Bisa tidak si dia bersikap normal pada orang lain selain tuan Saga dan nona? ¡° Tuan Han, apa tuan Saga masih marah? Kenapa hari ini jadwalnya berubah?.¡± Benar, membuat pembicaraan yang tidak ada hubungannya dengan foto jauh lebih baik. Begitulah akhirnya pertanyaan yang dipilih Aran. Membicarakan cinta tuan Saga dan nona jauh lebih menarik ketimbang bahasan apapun. Sudahlah, jika dia tidak mengorek mencari tahu, itu jadi lebih baik. Aku akan terus menyimpannya dalam hati saja. ¡° Tidak.¡± Tidak, maksudnya tidak marahkan? ¡° Tapi apa yang sekarang mereka lakukan di dalam kamar tuan?¡± Mata Aran terlihat berkedut setelah menyadari pertanyaannya. Please jangan dijawab, aku hanya keceplosan. Aku juga tahu apa yang sedang terjadi di kamar utama vila itu. Wajah Aran memerah dengan sendirinya. ¡° Apa kau benar-benar tidak tahu?¡± Mengeleng tidak percaya. Tapi mata dan pandangannya masih fokus ke jalanan. Tapi Han terlihat tersenyum tipis. ¡° Haha, tentu saja saya tahu.¡± Langsung menutup mulutnya rapat. ¡°Sayakan penulis novel tuan, saya sudah sering membuat adegan seperti itu.¡± Tertawa garing yang dipaksakan. Supaya udara canggung menguap. ¡° Ternyata pengalamanmu hanya ada di dunia halu ya.¡± Telak mencibir dengan wajar datar tanpa senyum sama sekali. Hahaha, kau sudah seperti orang yang berpengalaman dalam urusan cinta saja tuan. Ingin sekali Aran mematahkan kepercayaan diri sekertaris Han saat berurusan dengan cinta. Karena dia tahu laki-laki ini tidak pernah terlibat hubungan apapun dengan perempuan. Paling tidak, tidak pernah ada tercium media setelah skandal lamaran di tv yang di lakukan nona muda putri stasiun tv XX waktu itu. ¡° Bagaimana dengan anda tuan, apa anda tidak tertarik menjalin hubungan dengan wanita?¡± Deg, Aran mengaitkan tangannya. Menyesal dengan pertanyaan yang dia ucapkan. Menyinggung tentang cinta dan masa lalu. Sama saja membongkar aibnya sendiri. Dan saat dia melirik wajah Han dia mulai melihat kerut tidak suka di mata kanan itu. Terdengar Han menarik nafas panjang diikuti desahan kesal. Benarkan, mulutku adalah ranjau hidupku. ¡° Arandita.¡± Hah! Dia memanggil nama panjangku. ¡° Ia.¡± Menjawab dengan suara pelan sekali. ¡° Aku tidak tertarik dengan cerita romantis atau kehidupan tentang cinta. Jadi kuharap kau tahu batasanmu.¡± Menatap Aran sekilas yang membuat gadis itu langsung memalingkan wajah. ¡° Jaga garis batasmu kalau kau tidak mau terluka.¡± Dia tahu, tidak mungkin dia tidak tahu. Foto-foto tadi bukanlah foto-foto yang aku berikan ke stasiun tv. Itu adalah koleksi pribadiku. Tidak mungkin dia tidak tahu. ¡° Haha, tuan aku tidak.¡± ¡° Baguslah! Tidak ada sedikitpun perasaanku yang tersisa untuk masa lalu. Jadi jaga sikapmu.¡± Menjawab cepat dengan suara dingin. Udara di dalam mobil benar-benar seperti membeku. Aran sampai merasa susah menghirupnya untuk bernafas. ¡° Maaf tuan.¡± Aran langsung membisu, menatap nanar jendela mobil. Melihat jalanan hijau dan pepohonan yang menari-nari tertiup angin. Hanya terlihat beberapa mobil melintas di jalan yang sama yang mereka lalui. Dia menelan ludah. Tidak mau lagi membuka mulutnya. Apa yang kau pikirkan Aran. Semua itu juga salahmu. Laki-laki ini menjadi harimau gila karena kau yang membuatnya begitu. Kalau kau menyalahkannya, dirimulah yang harusnya mendapat hukuman paling berat. Pandangan mata Aran bertemu lagi dengan mimpi yang siang malam mengejarnya dalam pelariannya. Dengan kelamnya benang takdir yang terikat antara dirinya dan sekertaris Han. Hari itu adalah hari terakhir Aran bekerja di stasiun TVXX, sebagai reporter kelas satu yang tajuk berita dan tulisannya selalu masuk berita utama di jam prime time. Hari itu dia sudah menyelesaikan semua berkas berita yang akan naik untuk berita malam. Ruangan kerjanya terlihat sedikit lengang, semua orang yang ada di dalamnya sedang sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Tidak ada yang mendongak dari layar komputer, berusaha berkejaran dengan waktu dan helaan nafas. ¡° Ahhhh, selesai!¡± Menyandarkan kepala ke kursi empuk. Aran mengangkat tangannya mengeliat kekanan dan kekiri, mengusir penat, pegal dan lelahnya tubuh. ¡° Ada yang mau kopi? Aku mau pergi ke bawah membeli kopi.¡± Semua langsung mendongak dan mengangkat tangan mereka, dengan wajah penat dan lelah bercampur iri karena Aran sudah menyelesaikan pekerjaannya. ¡° Baik, baik, aku bawakan semua. Silahkan lanjutkan pekerjaan kalian.¡± Tawanya disambut seringai dan beberapa makian di ujung meja. Mengumpati pekerjaan yang tidak selesai-selesai dari pagi buta tadi. Brak!! Suara keras pintu terbuka membuat seisi ruangan langsung terperanjak kaget. Ada yang terdengar memaki. Mereka berdiri dari tempat duduk. Langsung berwajah pias termasuk Aran. Presdir stasiun tv dan sekertarisnya sudah berdiri di depan pintu dengan aura penuh ancaman. Sekelilingnya sudah mengeluarkan aura hitam membunuh. ¡° Presdir.¡± Termasuk Aran langsung meninggalkan kursi mereka mendekat. Ada apa ini? Kenapa presdir sampai muncul di ruangan berita? Apa kesalahan yang sudah kami lakukan? Tidak, siapa yang sudah membuat kesalahan sefatal ini sampai dia muncul di sini? Semua isi kepala orang-orang yang ada di ruangan saling tumpang tindih. Lupa dengan lelah, kantuk dan kopi panas yang ingin mereka hirup aromanya. ¡° Semua keluar kecuali Aran!¡± Saat sekertaris presdir bicara kaki Aran sudah mulai melemah. Apa ini? Kenapa aku? Apa salahku? Perihal sekertaris Antarna Group langsung melintas. Apalagi hal yang dia kerjakan di luar line beritanya selain membuntuti laki-laki itu. Harimau gila antarna Group yang menakutkan. Tunggu, mereka berjanji merahasiakan namakukan? Mereka tidak mungkin menghianatikukan? Nona! Semua karyawan satu ruangan Aran saling pandang, bahkan menatap Aran dengan tanda tanya. Mereka terlihat mengangkat bahu sambil bertanya dengan bibir rapat. Aran apa yang kau lakukan? Kenapa? Apa kau membuat kesalahan pada presdir? Kami tahu kau gila? tapi ini presdir, kesalahan apa yang sudah kau lakukan? Sementara Aran hanya membisu dan tidak memberikan reaksi apapun. Hanya tangannya yang sedikit bergetar. Bersambung Chapter 183 Dipecat Ruang kerja Arandita sudah berubah menjadi ruang sidang pengadilan. Dengan terdakwa dirinya sendiri. Dengan pembela dirinya sendiri juga. Dia sudah menjadi pesakitan tanpa perlu melakukan pembelaan apapun, di hadapan presdir stasiun TV tempatnya bekerja. Jangankan kesalahan sebesar yang ia hadapi sekarang, berurusan dengan hal sepele dengan laki-laki tua ini adalah hal yang dihindari seluruh karyawan stasiun TVXX. Karena kalian tidak akan menang melawan penguasa. Dia bisa memecatmu hanya dengan melempaarkan selembar kertas kewajahmu. Pintu sudah tertutup rapat. Tirai sudah di turunkan, semua orang yang ingin mengintip melalui celah-celah kaca sama sekali tidak punya kesempatan untuk melihat apapun. Saat mereka menempelkan telinga mereka ke kaca, nihil, ruangan kedap suara sialan yang dirancang untuk meredam kebisingan benar-benar bekerja dengan baik disituasi seperti ini. Sementara di dalam ruangan wajah pucat Aran semakin terlihat. Sebesar apa kesalahannya yang sudah dia buat. Sebesar itu juga gebrakan meja dan teriakan presdir tua di depannya. Laki-laki itu menatap geram setelah melampiaskan kekesalannya pada meja di hadapannya. Sekertarisnya hanya diam tidak bereaksi apapun, berdiri di belakangnya. ¡° Apa kau sudah gila? Bagaimana kau bisa menyenggol sekertaris Antarna Group. Apa kau sudah bosan hidup.¡± Berteriak dengan suara keras lagi. Bahkan dia merasa pilihan katanya barusan belumlah tepat untuk mewakili kebodohan salah satu karyawan paling cakap di perusahaannya ini. Dia geram, bagaimana bisa reporter sekelas Arandita bisa melakukan kesalahan fatal semacam ini. Hanya karena putrinya lagi. Tapi kasih sayang kepada putrinya memang mengelapkan matanya, hingga ia harus mencari kambing hitam untuk di salahkan. Dan semua itu jatuh pada gadis di depannya. Aran menunduk dalam. Membenci semua penghianat yang sudah menyebut namanya. Mencengkram ujung bajunya karena tidak berdaya. ¡° Presdir saya.¡± Bukankah aku harus membela diri? Ini bukan hanya kesalahanku, ini kerja berjamaah, seharusnya semua orang yang terlibat ada di ruangan ini jugakan. Setidaknya aku punya teman untuk dimaki-maki. ¡° Apa kau tahu seberapa besar kerugian yang kau timbulkan bagi stasiun tv? Berapa banyak iklan yang mereka hentikan.¡± Laki-laki di hadapannya sedang membicarakan untung dan rugi. Aran mengeram kesal, memang ini karena siapa. Karena putri kesayanganmu yang keras kepala yang jatuh cinta pada orang yang salah. Dan jangan lupa, karena kau tergoda oleh jumlah uang yang mengiurkan. Begitu pikiran Aran menyadarkan kalau semua ini juga ada andil keserakahannya. ¡° Maafkan saya presdir. Tapi nona yang meminta saya.¡± Berusaha berkilah dengan memakai nama nona muda. ¡° Tutup mulutmu!¡± Presdir stasiun tv itu melemparkan amplok coklat dimeja Aran. ¡° Kau tahukan bagaimana kekanakannya putriku, bagaimana kau bisa menyalahkannya atas kebodohan kerjamu. Kau reporter profesional kelas satu di stasiun tv ini, bagaimana kau bisa tergiur dengan uang yang ditawarkan putriku.¡± Aran meremas ujung bajunya dengan tangan bergetar. Seharusnya dia tahu, laki-laki di hadapannya ini tidak akan pernah menyalahkan putrinya. Dia akan melimpahkan semua kesalahan padanya. Pada karyawan yang dibutakan jumlah uang. Dia bahkan tidak mengizinkan Aran menyebut-nyebut nama putrinya. Nona muda itu terlindungi dengan dalil sifat kekanakannya. Apa ini adil, nona muda kekanakan itulah yang membuat semua ini terjadi. Kalau dia tidak memberiku pekerjaan ini tidak mungkin aku akan terlibat hubungan dengan sekertaris Antarna Group itu. ¡° Presdir, mereka berjanji tidak akan mempublikasikan nama saya.¡± Sudah terlihat jelas kalau laki-laki dihadapannya ini melimpahkan semua kesalahan padanya. Dia harus membela dirinya. Menyelamatkan hidup dan pekerjaannya, jangan sampai dia di pecat karena kasus ini. Pinjaman orang tuanya langsung menari-nari di kepala. ¡° Apa kau bodoh dan akal sehatmu sudah rusak, kalau aku saja tahu kau pikir sekertaris sialan itu tidak tahu! Kau di pecat Arandita. Pergi dari perusahaanku sebelum semua orang ikut menanggung akibatnya.¡± Teriakan presdir stasiun tv terhenti saat pintu terbuka dengan keras. Dia sampai mundur hampir terjatuh kalau sekertarisnya yang hanya berdiri diam di belakangnya tidak sigap menangkap tubuhnya. Bagaimana dia bisa muncul di sini, dia mendengarku memakinya Lupakan laki-laki tua yang dengan gagap sedang merapikan penampilannya, karena melihat siapa yang tiba-tiba muncul di hadapannya. Di sudut lain gadis yang tadi masih bisa menjawab presdirnya dengan lantang itu sudah membentur meja kerja teman seruangannya. Dia sudah menjatuhkan beberapa kertas di atas meja. Melihat siapa yang muncul di balik pintu. Tuan Han. ¡° Presdir apa anda tidak pergi sekarang?¡± Menoleh pada presdir stasiun TV yang ingin mendekat dan memberikan pembelaan diri. Menyelamatkan iklan produk yang sudah di gelontorkan Antarna Group selama ini. ¡° Bereskan semua kekacauan yang sudah dibuat karyawan dan putri kesayangan anda itu.¡± Lalu Han tidak melihat laki-laki itu lagi, pandangannya beralih pada serangga kecil yang sedang tertatih mengepakan sayap tidak jauh darinya. ¡° Ba, baik tuan. Saya mohon maafkan putri saya yang kekanakan.¡± Cih, dia selalu memakai dalil itu untuk membela putrinya. Aran tidak punya waktu untuk sekedar mengutuki laki-laki tua yang seharusnya melindungi karyawannya itu saat menghilang di balik pintu. Hanya tersisa mereka berdua sekarang. Han menarik kursi duduk tepat di hadapan Aran yang terpojok di antara meja kerja. Hanya sebentar laki-laki itu duduk, dia sudah bangun dan berkeliling. Melihat seisi ruangan, berjalan di antara meja-meja karyawan. Dia berhenti tepat di depan meja kerja Aran. Tamatlah riwayatku, aku harus mengatakan apa sekarang? ¡° Arandita, jadi ini pekerjaanmu?¡± Tangan Han menyentuh komputer yang selalu dipakainya menuliskan berita. ¡° Tuan, saya bisa menjelaskan.¡± ¡° Serangga rendahan." Melirik Aran sebentar dengan perasaan jijik. Lalu beralih melihat meja di depannya. "Kau tahu? dari sekian banyak orang yang berusaha mendekatiku, kau mengunakan cara paling rendahan dan hina.¡± ¡° Tuan saya bisa menjelaskan.¡± Mendekat takut-takut kearah mejanya. ¡° Apa!¡± Byarr!, Han melemparkan lembaran-embaran foto ke wajah Aran. Sebagian langsung jatuh setelah mencium udara ke lantai, sebagian ada yang mengenai tubuhnya lalu terjatuh menyedihkan ke lantai. Tangan Aran sudah gemetar melihat semua foto-foto itu. Itu adalah hasil membututi Han yang dia serahkan ke program reality show. ¡° Jadi karena ini kau mendekatiku?¡± Diam membisu. Ya, karena itu dia mendekati Han. Karena alasan itulah dia melakukan berbagai cara untuk mengenal sekertaris Han. Dan selama pengintaiannya inilah dia melihat ternyata laki-laki di hadapannya ini tidak semenakutkan tampilan di luar dan apa yang media ketahui. Tapi sepertinya kesimpulan yang Aran buat telah meleset jauh. Tatapan sedikit bersahabat yang kerap beberapa kali di tangkap Aran seperti lenyap dari mata Han. Sekarang laki-laki itu benar-benar seperti yang dia kenal sebelumnya. Seperti yang selalu dia tunjukan di hadapan media selama ini. Sosok tangan kanan sekaligus orang berpengaruh di Antarna Group yang tidak punya belas kasih. ¡° Tuan Saya hanya ingin membantu nona, karena dia tulus menyukai anda.¡± Menyelesaikan kalimatnya dengan cepat dan jelas. Ku mohon belas kasihmu tuan. ¡° Tutup mulutmu! Aku tidak perduli dengannya. Kau yang sudah membuntutiku. Merekam vidio dan mengambil gambar tanpa seizinku.¡± Han berjalan mendekat, membuat Aran mundur sampai membentur tembok. Dia sudah tidak bisa melarikan diri. ¡° Huh! Menurutmu hukuman apa yang pantas untukmu. Bagaimana kalau kupatahkan tanganmu jadi seumur hidup kau tahu apa yang sudah dilakukan tangan itu.¡± Aran langsung menyembunyikan kedua tanganya di belakang punggungnya. Kakinya terasa lunglai, tangannya sudah gemetar. Pikirannya sudah membayangkan kata-kata Han. Karena suara sekertaris Han sama sekali tidak terdengar main-main ¡° Tuan saya hanya membantu nona.¡± ¡° Berapa uang yang kau terima dari kerja kerasmu ini reporter Arandita?¡± Glek, dia tahu aku dibayar. ¡° Arandita kau hebat sekali ya, jadi semua kebetulan-kebetulan yang kau lakukan bertemu denganku itu sudah kau rancang dengan baik ya. Mobilmu mogok, bertemu di tempat gim. Haha. Kau melakukan hal paling menjijikan mendekatiku dengan senyum polosmu itu.¡± ¡° Tuan saya.¡± Aran masih ingin memakai nama nona muda untuk menyelamatkan hidupnya tapi tangan Han sudah mencengkram lehernya. Menarik ujung kerahnya sampai ia membentur tembok. Dia terbatuk beberapa kali mencoba melepaskan diri. ¡° Tu, tuan maafkan saya.¡± Dia semakin tercekik. Airmata sudah membanjir di ujung matanya. Laki-laki dihadapannya bahkan sama sekali tidak bergeming. ¡° Tuan maaf.¡± Bola mata benih itu sudah putus asa dan banjir oleh airmata. Han melirik sekilas, pandangan mereka bertemu. pelan laki-laki itu mengibaskan tangannya. Gadis itu ambruk dengan suara terbatuk saat Han melepaskan tangannya. ¡° Menghilang dari hadapanku, kalau perlu pergi dari kota ini. Leyaplah seperti debu, jangan sampai aku bertemu denganmu. Serangga menyedihkan.¡± ¡° Tuan saya.¡± ¡° Kalau sampai aku melihatmu lagi, aku akan menginjakmu sampai hancur.¡± Airmata sudah bercucuran, Aran terkulai saat terdengar suara keras pintu tertutup. Sekujur tubuhnya tidak kuat menopang raganya. Dia ambruk jatuh pingsan. Ini hukuman untukmu Aran karena kau berpura-pura menjadi temannya. Kau mendekatinya dengan menipu sisi manusiawi sekertaris Han. Sesal itu terus menghantuinya sepanjang waktu. Untuk itulah dia tidak pernah menganti layar dakstop laptopnya. Agar dia ingat, dia yang sudah membuat harimau itu mengila. Dan dia pantas di benci untuk semua kepura-puraan, sandiwara yang sudah dia lakukan untuk mendekati sekertaris Han. Memandang foto-foto itu, kadang memakinya, kadang minta maaf padanya. Hingga dia sendiri binggung, sebenarnya dia membenci atau. Tidak, Aran tidak berani menyimpulkan apa-apa. Bersambung Chapter 184 Belanja Belum lima menit sepertinya mobil berhenti di area parkir. Mesin mobil masih dibiarkan menyala. Saat Han menolehkan kepalanya melihat penumpang yang duduk di kursi depan. Terlelap dengan kepala miring ke kanan. Sama sekali tidak menyadari ataupun terjaga, kalau sudah sampai tujuan. Bisa-bisanya dia tertidur di mobil, bersama laki-laki lagi. Apa dia pikir aku suaminya sampai merasa senyaman itu? Han terpaku sebentar memandang wajah yang masih tengelam dalam mimpi itu. Dia bergumam, apa yang sedang diimpikan Aran sebenarnya, kenapa wajahnya sampai berkerut begitu. Han seperti melihat Aran ketakutan dari ekspresi wajahnya. Tapi dia biarkan saja gadis itu, tidak ingin membangunkannya. Sekarang, dia juga memilih bersandar ke kursi mobilnya. Menunggu. Menghela nafas dalam sambil merebahkan kepalanya nyaman. Diapun tengelam dengan pikirannya sendiri. Hari ini, untuk pertama kalinya tidak ada tuan muda dan Antarna Group yang gentayangan di kepalanya. Dia melirik lagi seraut wajah berkerut yang sedang terlelap itu. Apa kata-kataku berlebihan tadi? Dia langsung membisu dan tidak berani bicara apapun lagi. Huh! Sejak kapan aku perduli dengan perasaannya. Han mendesah lagi. Membawa Aran ke dekat nona mudanya juga adalah sesuatu di luar kebiasaanya. Di Antarna Group dia bisa mendapatkan pengawal wanita selevel Aran dengan mudah. Yang jauh lebih jago bela diri, dan pasti jauh lebih patuh dan tahu aturan main yang dia pakai. Tapi kenapa? Dia malah memilih gelandangan di depannya ini. Gadis bangkrut yang nyaris tidak tersisa uang di rekeningnya. Seseorang yang harus mati-matian bertahan hidup dengan menulis novel dan kerja part time. Ya, kenapa dia memilih Arandita ketimbang yang lainnya. Cih memang apa alasannya? Walaupun berusaha menemukan alasan masuk akal, tapi yang lahir malahan hanyalah alasan mengada-ada yang sengaja dia buat sendiri. Pertemuan di toko buku memang sesuatu yang tidak pernah dia duga sebelumnya. Saat melihatnya lagi setelah sekian tahun. Kebencian karena penghianatan, kebencian karena merasa tertipu mengoyak harga diri Han. Hingga dia menahan gadis itu. Membuat segala upaya agar ikatan takdir rumit antara mereka terjalin lagi. Hah! Apa aku benar-benar yang ingin mengikatnya. Dan apa itu tadi, apa dia benar-benar setiap hari melihat fotoku. Dasar bodoh! Han ingin menginjak Aran sekaligus ingin melihat gadis itu berdiri menantang. Ntahlah, dia sendiri tidak tahu. Membawanya kepada nona mungkin hanya sekedar alasan karena ingin melihatnya saja. Tapi tunggu, mau sampai berapa lama dia tidur! Saat melihat jam tangan yang melingkar dipergelangan tangan, sepertinya sudah lima belas menit berlalu. ¡° Hei bangun! Aran!¡± Han menyentuh bahu Aran dan mengoyangkan tangannya kuat. Menguncag tubuh gadis itu. Dia mengeliat memberi reaksi. Semakin cepat tangan itu menguncang. ¡° Maaf, maafkan saya tuan!¡± Aran mengerjapkan mata terkejut. Apalagi saat melihat tangan yang sedang di gengamnya erat. Dia menjatuhkan tangan itu cepat. Melihat situasi sekelilingnya. Wajah Han terlihat terkejut juga, merasa dia berlebihan membangunkan sampai melihat wajah syok dan binggung Aran. Mobil, aku dimana memang? ¡° Maaf tuan saya tidak bermaksud menyentuh tangan tuan.¡± Menyadari kalau dia sudah mengibaskan tangan sekertaris Han tanpa sadar. Kenapa aku bisa mengengam tangannya? Apa yang kulakukan saat aku tidur tadi? ¡° Enak sekali kau tidur sambil bekerja.¡± ¡° Maaf.¡± Han keluar tanpa mendengar apa yang dikatakan Aran selanjutnya. Gadis itu mengikuti dengan cepat keluar dari mobil, menutup mulutnya yang menguap. Sambil beberapa kali mengucek mata dan membersihkan kantuk di matanya. Terkejut saat mengenali tempat di mana dia berada sekarang. Apa balas dendam yang kemarin belum selesai? Mereka menakutkan sekali si. Apa yang mau dilakukan tuan Han di sini sekarang? Tiba-tiba merasa takut harus melakukan atau melihat tindakan apapun yang di lakukan Han. Aran menyentuh lehernya lagi, serasa sesak. Mimpinya barusan seperti baru saja terjadi kemarin. Mereka sudah berada di area parkir pertokoam tempat di mana Aran menghabiskan hampir separuh harinya dengan ketengangan duduk di klinik kesehatan bersama nona mudanya. Saat ini untuk apa lagi dia kemari. Aran mencari-cari Arah di mana letak kafe yang jadi pusat perkelahian kemarin. Itu dia, tempat itu terlihat normal. Dari kejauhan kafe yang kemarin porak poranda sudah terlihat normal. Pelanggan sudah terlihat keluar masuk. Tidak terlihat kalau kemarin tempat itu sudah terjadi kekacauan sama sekali. Sekertaris Han benar-benar bekerja dengan sangat sempurna untuk semua hal. Aran tidak tahu campur tangan laki-laki di sampingnya sejauh apa, tapi dia yakin, keberlangsungan kafe hari ini pasti karena campur tangannya. ¡° Tuan, kenapa kita kemari lagi?¡± Aran menunjuk kafe. ¡° Kita tidak akan menuntut balas masalah kemarinkan?¡¯ Ku mohon, katanya tuan Saga sudah tidak marah hari ini. Kenapa kita ada di sini sekarang? ¡° Apa yang kau pikirkan?¡± menjentikan jari ke kening Aran. ¡°Bangun! Kau masih tidur ya?¡± Aaaa, sakit. ¡° Tuan.¡± Pikirannya masih menjurus ke situ. Kedatangan hari ini masih ada hubungannya dengan pembalasan dendam kemarin. ¡° Toko mana saja yang nona datangi kemarin?¡± Pertanyaan Han semakin membuat Aran merinding takut. Hah! Memang kenapa? Apa itu jadi masalah juga? Aran masih berdiri mematung tidak menjawab ataupun bereaksi. Dia masih tengelam dengan kebingunggannya sendiri. Benarkah dia harus menjawab. Kalau sampai terjadi dengan pemilik toko atau toko mereka bagaimana. Inikan bukan salah mereka nona belanja di sana. Tapi ini jugakan bukan salah nona Daniah. ¡° Kau tidak dengar yang kukatakan, tunjukan toko yang didatangi nona kemarin?¡± Mengulangi kata-katanya dengan tegas, karena Aran masih mematung diam. ¡° Untuk apa tuan? Tuan tidak akan?¡± Ntahlah sehabis bermimpi tentang masa lalunya, ketakutannya pada laki-laki ini naik beberapa level dari biasanya. Dia benar-benar melihat Han seperti baru saja yang dia liat dalam mimpi yang mengejarnya. Lehernya bahkan terasa nyeri kalau ingat lagi. ¡° Kenapa? Memang apa yang kau pikirkan?¡± Aku berfikir kau akan menghancurkan semua toko yang di masuki nona kemarin dengan tanganmu sendiri. ¡° Tuan muda mau membelikan nona hadiah, karena kalau menilik dari sifat nona dia pasti tidak membeli apapun untuk dirinya sendiri kemarin.¡± Han mulai berjalan sambil melihat-lihat nama toko yang tertera. Aran mengikuti dengan cepat. Hah! Bagaimana dia bisa tahu. Aku saja sampai tercengang karena sebanyak itu belanjaan nona tidak ada satupun yang dia beli untuk dirinya sendiri. ¡° Sekarang kau paham, levelmu masih sangat jauh dibandingkan dengan dengan nona Daniah.¡± Berjalan terus, sambil bicara kata-kata sindiran tajam. Apa! memang kapan aku membandingkan diriku dengan nona. Ya, aku membandingkan rambutku saja si yang sama. Kebaikan dan keberuntungan kami bagi bumi dan langit. ¡° Ayo jalan, tunjukan jalannya.¡± Menarik tangan Aran dalam gengamannya. Gadis itu terperanjak kaget, melihat tangannya. Tapi dia tidak menepis atau melepaskannya. ¡° Baik tuan.¡± Dari pada mendengar ocehan menyakitkan sekertaris Han lebih baik jalan saja pikir Aran. Mereka keluar masuk toko seperti yang ada diingatan Aran. Menunjuk benda-benda yang di beli nona Daniah dan juga yang ditunjuknya. Ingatan tajam Aran benar-benar berguna di situasi seperti ini. Dia tidak melewatkan satupun toko dan benda yang dibeli Daniah. Dia bahkan bisa dengan mudah menyebutkan untuk siapa benda-benda itu di beli. ¡° Nona juga membelikan tuan Saga sesuatu di toko ini.¡± ¡° Ayo masuk.¡± ¡° Tapi tuan, apa tuan benar-benar mau masuk?¡± Han berhenti dan melihat etalase toko dan beberapa foto yang terpasang di depan pintu. Dia merinding sendiri melihatnya. Toko ini memakai warna pink cerah, untuk semua ornamen dekorasi. Bahkan kaca tembus pandangnya menunjukan apa saja barang yang ada di dalamnya. Dan semua bernuansa warna pink muda yang mengetarkan jantung sekertaris Han. ¡° Apa nona benar-benar membeli hadiah tuan muda di sini?¡± Menunjuk toko tidak percaya. ¡° Ia, nona tertawa jahat si waktu memilih piyama couple kemarin.¡± Aran masih bisa tertawa sambil menutup mulutnya. Pristiwa kemarin melintas lagi. Hah! Aku bisa membayangkan bagaimana reaksi tuan muda dengan hadiah nona yang kekanakan. ¡° Ayo jalan. Semua sudah selesai.¡± Memutuskan untuk sama sekali tidak menginjakan kaki ke toko yang terakhir. Aran berjalan tergopoh dengan semua tas belanjaan di tangannya. Kenapa sepertinya tasku lebih banyak dari punya dia si, dia sengaja ya! Memandang kesal punggung laki-laki di depannya. ¡° Tuan apa saya boleh membeli sesuatu juga.¡± Berlari mensejajari langkah sekertaris Han. ¡° Belilah, tapi pakai uangmu sendiri.¡± Aran yang tadinya sudah mau senang sudah mengkerutkan mulut. Dasar pelit, gumam-guman tidak jelas. ¡° Kau bilang apa?¡± ¡° Tidak tuan kita sudah selesai, sekarang kita sudah bisa kembali.¡± ¡° Kau boleh membeli dua barang yang kau inginkan.¡± Menyodorkan kartu ke tangan Aran yang penuh belanjaan. " Aku tunggu di sana." Han menunjuk sebuah kedai kecil menjual jus buah. ¡° Benarkah? Terimakasih tuan.¡± ¡° Aku akan memotong dari gajimu.¡± Sambil berlalu meninggalkan Aran. ¡° Apa! Kalau begitu aku tidak jadi beli.¡± Menyodorkan kartu yang baru dia terima. Itu sama saja utangkan, gila apa, mending aku tidak belanja daripada harus menumpuk hutang pikir Aran. ¡° Kalau kau tidak beli aku tetap akan memotong gajimu dua kali lipat." Seringai penuh kepuasan muncul di sudut bibir Han. ¡° Hei tuan kenapa?¡± Protes keras. ¡° Karena kau tidak menghargai kebaikanku.¡± Benar-benar berlalu meninggalkan Aran. Hah! Apa! masuk akal tidak si orang beginian. Untung saja dia tampan jadi sombong dan angkuhnya masih bisa sedikit dimaafkan. Terserahlah, daripada dipotong gaji dua kali lupat Aran memilih berlari menuju toko yang tadi dia masuki. Ada benda yang sangat dia ingin beli kemarin, hari ini dia juga masih melihatnya. Kemarin dia merasa tidak enak kalau nona mudanya yang membelikan, karena benda yang dia inginkan lumayan mahal harganya. Selesai belanja dan memasukan semua barang dalam bagasi, Aran meneguk jus segar yang dibeli sekertaris Han di sebuah kedai kecil tadi. Sambil masuk dan duduk di dalam mobil. ¡° Kau sudah selesai?¡± sudah berdiri di luar mobil. ¡° Apa? memang kita mau kemana lagi?¡± ¡° Ikut aku.¡± Tidak menjawab apa-apa. Aran hanya pasrah mengikuti langkah kaki sekertaris Han yang ntah mau membawanya kemana. Klinik kesehatan tempatnya kemarin menghabiskan hampir separuh waktunya. ¡° Tuan, kenapa kita kemari?¡± ¡° Masuk!¡± dia sudah membukakan pintu, Aran masuk sesuai perintah. ¡° Biar dokter memeriksa luka di sikumu.¡± Aaaaaa, apa! curang! Kenapa kau perhatian begini setelah menindasku dengan kata-kata kejam tadi. Epilog Dalam perjalanan pulang selesai cek up siku, semua membaik dengan cepat karena Aran cukup disiplin merawat lukanya. Mobil melaju cepat memecah jalanan. " Tuan, saya akan menghapus semua foto-foto di laptop saya. Anda bisa memeriksanya untuk memastikannya." Bicara pelan-pelan. " Kenapa?" Hah! Kenapa? Kenapa tanya lagi si, terus aku musti jawab apa? " Maaf sudah memakai foto tuan tanpa izin, saya janji akan menghapus semuanya tanpa sisa. satupun tidak akan saya sisakan." " Kenapa? Kau malu punya hobi aneh memandangi foto laki-laki." Haha, aku ingin membunuhnya. Boleh tidak si aku memukul bahunya itu dengan jurus mematikan. " Aku mengizinkanmu memakai foto-foto itu, tapi pastikan hanya kau yang melihatnya." " Hah! Kenapa?" Krik, krik hening seketika, Han tidak ada niatan menjawab, dia malah melajukan kecepatan mobilnya. Dia ini kenapa si! Bersambung Chapter 185 Bulan Madu (Part 17) Sementara itu kembali ke vila, masih berdiam diri di kamar utama. Tidak ada siapapun yang mendekati kamar. Bahkan pak Mun hanya terlihat berkeliaran di lantai bawah. Setelah membawa makanan dan minuman camilan selingan setelah makan tadi. Para penjaga dan pengawal setelah lelah bermain air mereka masih terlihat berleha-leha di bibir pantai. Walaupun begitu tetap masih terlihat beberapa penjaga yang tidak meninggalkan pos mereka dan tetap bersiaga. Mereka adalah penduduk lokal yang bertugas menjaga keamanan vila. Lalu, apa yang dilakukan 2 penghuni kamar utama, sepertinya mereka sama sekali tidak terlihat bosan walaupun sudah hampir separuh hari mereka habiskan di atas tempat tidur. Daniah menyetel wajah cemberutnya. ¡° Sayang kenapa sepertinya hanya kamu yang diuntungkan dari hukuman ini.¡± Daniah merengek di sela-sela kemenangan yang dia dapatkan. Dia yang menang tapi malah Saga yang senang. ¡° Apa! protes saja. Sudah cium sini.¡± Laki-laki itu menunjuk beberapa bagian tubuhnya yang belum terkena tanda lipstik dari kecupan bibir Daniah. Tubuh Saga sudah polos sedari tadi, tidak tahu teronggok di mana pakaiannya. Bekas kecupan merah lipstik sudah menempel di beberapa bagian tubuh yang kasat mata. kalau kau yang menang kau boleh menciumku di semua bagian tubuhku, kalau aku yang menang aku akan menciumu di bagian manapun yang kusuka. Kenapa taruhannya jadi begini si! Rasanya ingin menangis. Ini sama sajakan. Dia malah senang sekali kalau aku yang menang! Lihat, gelak tawanya semakin terlihat puas gitu kalau aku yang menang. Mereka sudah sepuluh kali tanding dalam permaian game, Daniah delapan kali menang dan dua kali kalah. Di lihat dari semua tanda kecupan bibir di tubuh Saga sepertinya hari ini laki-laki itu benar-benar menang banyak, walaupun dia kalah telak sampai delapan kali permainan. Selain memang tidak terlalu lihai bermain game, tapi sepertinya kekalahannya membawanya pada peruntungan. Hingga membuatnya sengaja mengalah beberapa kali, terlihat dari senyum jahatnya kalau Daniah protes sedari tadi. ¡° Sudah aku tidak mau main lagi.¡± Melemparkan hp ke ujung tempat tidur. Masak dari tadi aku menang terus si, sudah kalau aku yang menang dia yang dapat hadiah lagi. ¡° Kenapa? Inikan idemu main game.¡± Sudah melingkarkan kakinya memeluk tubuh Daniah karena gadis itu mau beranjak meninggalkan tempat tidur. ¡°Kau mau kemana?¡± Ia si mauku memang begitu, mengerjaimu. Tapi kenapa aku jadinya yang dikerjai habis-habisan. ¡° Sayang lepaskan aku.¡± Daniah berontak mengoyangkan tubuhnya yang terhimpit kaki panjang Saga. Sia-sia kekuatannya kalah jauh. Suaminya sama sekali tidak mau melepaskannya. Semakin dilawan, Saga semakin keras menakan kakinya. ¡° Tidak mau, ayo main lagi. Bagian sini belum kena cium ni.¡± Saga menunjuk bagian tubuhnya yg belum ada tanda bibir Daniah. Aaaaaa, gila ya. ¡° Lihatkan, kamu sengaja kalah kan.¡± Memukul bahu Saga beberapa kali. ¡°Curang itu namanya.¡± Baru kali ini ada yang sengaja kalah demi dapat hadiah. ¡° Mana ada begitu sudah mulai lagi.¡± Menarik ujung rambut Daniah. ¡°Kalau kau berhenti kau di hukum lho, itu perjanjiannyakan.¡± Kenapa ada orang seenaknya begini si, main game saja gak mau ngalahnya. Akhirnya kesepakatan di ulang, selain kecupan Daniah boleh melakukan apapun sesuai yang dia inginkan kalau dia menang. ¡° Terserah, lakukan sesukamu.¡± Katanya mengalah saat protes kembali datang. ¡° Memang kau mau melakukan apa heh? Awas ya kalau aneh-aneh.¡± Daniah hanya membalas senyum imut sambil mengedipkan mata dan menjentikan jarinya ke dagu suaminya. Saga mengoleskan lagi lipstik ke bibir istrinya. Sambil tergelak lebar penuh kemenagan. Hari ini dia pemenangnya, walaupun kalah sekalipun. Dan akhirnya selain sekujur tubuhnya penuh tanda bibir tanpa tersisa ruang lagi, tapi kali ini rambutnya juga sudah penuh dengan kucir-kucir kecil yang di buat Daniah. Berbarengan dengan hujan tanda lipstik di tubuhnya. ¡° Haha.¡± Daniah tertawa sampai terguncang bahunya kuat. Bagaimana tidak, tuan Saga yang rupawan sekaligus terkadang menakutkan itu bisa terlihat begitu mengemaskan dengan kucir-kucir kecil di rambutnya. ¡° Kau benar-benar mau mati ya.¡± ¡° Sayang, kamu jadi imut begini.¡± Memukul bahu Saga lagi sambil tergelak lebar. ¡° Kurang ajar sekali kamu ya. Baiklah karena tertawa senangmu itu mengemaskan lakukan saja sesukamu.¡± Gantian menghujani Daniah dengan ciuman bertubi-tubi sampai baju tidur yang dipakai istrinya sudah tidak berwujud lagi. ¡° Ampun, ampun. Ampuni hamba yang mulia.¡± Saga tidak mengentikan apa yang dilakukannya sampai Daniah tersungkur pasrah dan tidak lagi mengunakan tangannya untuk menolak. Membiarkan Saga melakukan apapun yang ia inginkan. Kalau tanda liptik dari bibir Daniah di tubuh Saga mungkin akan tersapu air dan hilang dalam sekejap. Tapi sepertinya tidak dengan tanda merah yang di tinggalkan Saga di tubuh Daniah. Siang menjelang sore Daniah terlelap dalam dekapan lembut dada suaminya. ¡°Sayang ayo foto sebentar buat kenang-kenangan.¡± Menarik Saga jatuh lagi ke tempat tidur. Laki-laki itu sudah mau bangun dan membereskan rambutnya. ¡°Jangan di lepas dulu, kita foto dulu.¡± Mencegah tangan yang sudah menarik satu ikat rambut. ¡° Wahh. Kau benar-benar semakin kurang ajar ya. Minta yang aneh-aneh.¡± Tapi dia tetap berpose menyenangkan istrinya. Cekrik-cekrik banyak sekali Daniah mengambil foto. Bertepatan dengan mereka mengambil foto, hp yang dipakai Daniah berdering keras. ¡°Sayang, Jen vidio call, aku angkat ya.¡± ¡° Hemm¡± Beranjak dari tempat tidur. ¡° Eh mau kemana?¡± ¡° Merapikan rambut, kau mau melihat mereka pingsan gara-gara tatanan rambut anehmu ini.¡± ¡° Haha, ia sayang. Aku tunggu di sini ya¡± Daniah menarik selimut sampai menutupi bagian atas tubuhnya. Lalu mengeser layar hpnya. Di dalam layar Jen dan Sofi sudah senggol-senggolan ingin berada yang paling depan dan menyapa duluan. ¡° Kakak ipar!¡± Teriak mereka bersamaan. Mengalirlah cerita dramatis mereka berdua selama ditinggal bulan madu. Cerita menyerahnya Jen mengejar Raksa karena terpikat pesona keren pacar Raksa. Hubungan kakak adik diantara mereka terbilang lancar sentosa. Walaupun hati Jen belum sepenuhnya merelakan. Sofi mengadu tentang dia disumpahi berjodoh dengan sekertaris Han. ¡° Apa yang kalian lakukan?¡± Saga sudah muncul dengan sisiran rambut dan pakaian rapi. Duduk di samping Daniah sambil melingkarkan tangan memeluk dan menyandarkan dagu di bahu istrinya. ¡° Kak Saga terlihat makin tampan lho, apa karena kakak ipar ya?¡± Jen mengoda saat melihat kakak laki-laki tersayangnya. ¡° Kak Jen, kenapa leher kak Saga merah-merah?¡± Sofi dengan polosnya menunjuk leher Saga, beberapa tanda lipstik memang tidak tertutup sempurna. Daniah yang panik. ¡° Haha, sofi tadi kami main coret-coretan.¡± Daniah tertawa sambil berusaha menutupi leher Saga dengan menarik kerah bajunya ke atas. ¡° Kalian belum cukup umur untuk tahu.¡± Jawaban acuh Saga dibalas keributan dua adiknya. ¡° Apa ibu sudah kembali?¡± tanya Saga lagi. ¡° Besok kak sepertinya, kami sudah boleh pulang kerumahkan kalau ibu sudah pulang?¡± ¡° Han akan mengurusnya besok.¡± ¡° Baiklah, kakak kapan pulang.¡± Masih ribut sambil membahas tentang leher kakak tersayang mereka. Sofi terlihat berbisik lagi di telinga Jen. ¡° Kapan ya? Aku senang di sini.¡± Mencium rambut Daniah di depan Jen dan Sofi, mencipta kehebohan mereka berdua. Daniah sampai geleng kepala dan menahan bibir Saga untuk melakukan lebih dari itu dengan tangannya. ¡° Kakak ipar nanti pulang sudah bawa kabar tentang keponakan kami ya." Cekikikan lagi dua bersaudara itu. Hah! Mulai lagi deh. ¡° Kenapa kalian hanya di kamar tidak main di luar.¡± Sofi bicara lagi, pertanyaan sederhananya yang tidak pada tempatnya, mencipta gelak tawa. ¡° Hei, kalian belum cukup umur untuk sok tahu. Sudah, tutup. Meladeni mereka tidak akan selesai.¡± ¡° Sayang, kan baru sebentar.¡± Daniah menoleh lalu terperanjak kaget saat tahu tangan suaminya sudah menyentuh bagian tubuhnya di bawah selimut. Dia berbisik ¡° Tutup sekarang atau.¡± ¡° Ia, ia. Turunkan tanganmu sayang.¡± Aaaaa, selimut ini jatuh nanti! Setelah sambungan telfon terputus. Daniah memukul tangan Saga yang kelewat usilnya. Lalu ambruk lagi di tempat tidur. Mengekspresikan perasaan melalui setiap gerakan tubuh mereka. ¡° Sayang, kamu tahukan sebentar lagi aku ulang tahun.¡± Hanya saling mempererat pelukan. ¡° Hemmm.¡± ¡° Apa aku boleh minta sesuatu.¡± ¡° Katakan apa yang kau mau, Han akan menyiapkan semuanya. Kau mau pesta?¡± ¡° Bukan. Sekertaris Han tidak bisa menyiapkannya, cuma kamu yang bisa memberiku ini.¡± Ada rona muncul di wajah Saga. Kenapa kata-kata Daniah terdengar dia menjadi seseorang yang spesial. ¡° Kau mau minta apa? separuh dari kekayaanku.¡± Menciumi kepala Daniah dan sudah asik bermain-main dengan rambut. ¡° lebih dari itu.¡± ¡° Haha, tidak tahu malu sekali kamu ya.¡± ¡° Bolehkan, janji ya, sayang, kamu akan mengabulkan apa yang aku minta.¡± Saga memutar posisi tidurannya, Daniah sudah ada di bawah dadanya, dan kaki laki-laki itu sudah seperti menindih tubuh kecil Daniah. Tapi Saga masih bertumpu pada berat tubuhnya sendiri. ¡° Niah.¡± Meraih bibir Daniah dan menciumnya. ¡°Kalau permintaanmu hanya omong kosong tentang kebebasan, pergi keluar rumah sendiri tanpa pengamanan kau tahu apa yang akan kau dapatkankan.¡± Mencium lagi dengan durasi yang lebih lama. Ia, aku tahu, kau pasti mungkin bahkan tidak akan mengijinkanku keluar rumah. ¡° Tidak, aku tidak akan minta itu.¡± ¡° Baiklah, kau bisa minta sekarang.¡± ¡° Tidak, aku akan minta nanti dihari ulang tahunku, tapi sekarang berjanjilah kau mau mengabulkannya.¡± Bodoh! Memang apa yang tidak akan kuberikan untukmu. Kembali meraih bibir Daniah dengan lembut. Dan berhenti bicara dengan mulut tapi tidak dengan anggota tubuh mereka. Bersambung Chapter 186 Bulan Madu akan Berakhir Dengan mata masih terpejam dan rasa kantuk yang masih menyergap, Saga meraba tempat tidur di sampingnya. Tangannya yang biasanya melingkar hangat di bahu istrinya terasa hampa. Benar, tempat tidur di sampingnya kosong. Seseorang yang biasanya dia dekap menghilang. Dan Saga selalu merasa tidak nyaman kalau mendapati Daniah meninggalkan tempat tidur saat dia masih terlelap. Di luar jendela saat dia menoleh juga masih temaran. Artinya ini masih pagi buta. Kemana Niahku! ¡° Niah!¡± Suaranya keras terdengar memenuhi ruangan kamar. Berpencar menjadi teriakan saat kedua kalinya memanggil. Kali ini terdengar sahutan dari kamar mandi. ¡° Aku di kamar mandi sebentar sayang. Tidurlah lagi. Nanti aku menyusul ya.¡± Jawaban dari kamar mandi. Setelah mendengar suara istrinya, Saga merasa tenang dan menjatuhkan tubuhnya lagi yang tanpa pakaian ke tempat tidur, mengeliat sampai kepalanya menyentuh bantal. Tapi dia tidak memejamkan mata dan menunggu. Saga mendengar suara kran air terbuka, riak air di pagi buta jauh lebih terdengar. Dia meraih guling dan memeluknya, masih menunggu Daniah muncul. Namun yang ditunggu tidak segera nampak batang hidungnya. Membuatnya gelisah. Dia bangun dan menyambar piyamanya di kursi. Jegrek, handle pintu kamar mandi di tariknya keras. Terkunci dari dalam. Jegrek, jegrek. Berusaha dia buka secara paksa, tapi memang benar-benar terkunci dari dalam. Gedoran di pintu keras membuat yang di dalam terlonjak kaget. ¡° Niah! Buka!¡± Mengunci pintu kamar mandi bukan kebiasaan Daniah lagi. Bahkan saat mandipun dia tidak pernah mengunci pintu saat di rumah. Gedoran keras di pintu memecah keheningan pagi. ¡°Buka! kenapa mengunci pintu? Apa yang kau lakukan di dalam¡± Saga tidak mungkin memprediksi kalau istrinya sedang mandi atau menunaikan hajadnya, pikirannya sudah ntah kemana. Tapi yang pasti bukan yang normal orang lakukan di kamar mandi. ¡° Sayang sebentar! Aku malu, aku bersihkan badanku dulu ya. ¡± Teriakan Daniah terdengar putus asa, karena tahu suaminya tidak sabaran. ¡° Hei, apalagi yang membuatmu malu. Aku bahkan sudah tahu setiap inci bagian tubuhmu tanpa baju. Buka sekarang.¡± Tidak mau mendengar alasan apapun. Suaranya semakin keras, menjurus tidak sabaran sekaligus panik. ¡°Niah buka! Kamu sedang apa?¡± ¡° Aku sedang datang bulan sayang.¡± Menyerah sudah akhirnya menjawab daripada suara suaminya membangunkan seisi vila. Daniah bisa memprediksi kalau dia tidak membuka pintu sekarang, sebentar lagi sekertaris Han akan muncul di depan pintu. ¡° Apa itu datang bulan?¡± ketukan pintu semakin keras. Saga menempelkan telinga ke pintu, berharap mendengar apapun yang dilakukan Daniah di dalam. Nihil, dan itu membuatnya semakin frustasi. ¡°Niah! Buka!¡± Kumohon jangan sampai terjadi apa-apa. Benarkan pikiran Saga sudah ntah berujung kemana, memprediksi istrinya sedang dalam situasi paling terancam di dalam kamar mandi yang terkunci. ¡° Aku kedatangan tamu sayang. Tamu bulanan¡± Jawaban yang semakin membingungkan, dari datang bulan menjadi tamu bulanan. Wajah Saga sudah benar-benar terlihat murka. Handle pintu dengan keras dia dorong. Bahkan dia sudah menendang pintu dengan kakinya. ¡° Buka! Kau menyembunyikan siapa di kamar mandi.¡± Sudah benar-benar berang. Suami bodoh yang tidak tahu apa-apa tentang dunia wanita, mengartikan tamu bulanan sebagai manusia lebih spesifik sebagai laki-laki penyusup. Menyelinap masuk ke kamarnya, lebih-lebih berada di kamar mandi bersama istrinya. Darahnya benar-benar mendidih kali ini. Kali ini suara keras pintu pasti terdengar sampai kamar sekertaris Han. ¡° Bukan sayang, tenang dulu. Aku sedang menstruasi.¡± ¡° Apalagi itu. Daniah, kau sudah benar-benar bosan hidup ya. Buka sekarang dan bicara dengan benar.¡± Apa itu datang bulan, tamu bulanan dan apa itu tadi. Diam. Saga menempelkan telinganya mendengar bunyi keran air lagi. ¡° Buka! Aku hitung sampai tiga. Tidak buka pintu, habis kau nanti. Aku tidak main-main ya!¡± Kepanikannya sudah berganti menjadi ancaman mematikan. Belum mulai menghitung. Jeglek! Pintu berderik pelan. ¡° Tiga!¡± Sudah ku duga, kau pasti langsung menghitung ke angka tiga tanpa melewati satu dan dua. Saga mendorong pintu kuat karena kesal. Daniah sedang memakai handuk kamar mandi berdiri kikuk. Berusaha menyembunyikan bercak merah yang menempel pada handuk putih itu. Baju tidurnya sudah terkena noda merah jadi dia melepaskannya, dan sialnya dia lupa membawa baju ganti tadi. Tidak terpikir kalau suaminya akan terbangun di situasi semacam ini. Darah! Wajah Saga langsung pias melihat handuk yang menutupi tubuh Daniah. ¡° Kau sudah gila ya? Kau berdarah.¡± Menghambur memeluk Daniah. ¡° Kau terluka?¡± Memeriksa seluruh bagian tubuh Daniah dengan cermat dari ujung rambut sampai kaki. ¡° Sayang aku.¡± Tidak mendengarkan, langsung merengkuh tubuh Daniah dan mengendongnya dalam pelukan keluar dari kamar mandi. Bagaimana aku menjelaskan ini! Kenapa dia bodoh sekali si urusan perempuan beginian. Hati-hati Saga meletakan tubuh istrinya di atas tempat tidur. Setelahnya dia bangun mengambil pakaian di dalam lemari. Pasrah tanpa bicara apapun atau berusaha menjelaskan duduk perkaranya Daniah membiarkan Saga membantunya ganti baju. Lalu laki-laki itu melingkarkan selimut ke leher Daniah sampai gadis itu mau tertawa terpingkal. Apa-apaan si orang ini. Memang aku demam, aku itu cuma datang bulan! ¡° Sayang, aku.¡± Saga duduk di atas tempat tidur, meraih kedua pipi Daniah dengan tangannya. ¡°Kenapa? Apa yang sakit? Jangan membuatku gila karena tidak tahu kau sedang sakit. Darimana darah itu?¡± menunjuk handuk yang ada di lantai. Saga terdengar frustasi bercampur sedih dan dipenuhi rasa bersalah. ¡° Sayang aku tidak apa-apa.¡± Jawaban Daniah bukannya membuatnya tenang malah membuat wajah Saga berubah tidak senang. ¡° Berhenti mengatakan kau tidak apa-apa!¡± Marah. Selama ini Saga tahu, untuk menyelamatkan banyak situasi istrinya selalu memakai kata aku tidak apa-apa untuk menyelamatkan keadaan. ¡°Kau sudah berdarah-darah dan masih mengatakan tidak apa-apa.¡± Saga meraih tangan Daniah. Belum dia bicara lagi ketukan di pintu terdengar. Benarkan, sekertaris Han tidak mungkin tidak mendengar. ¡° Tuan muda, apa anda baik-baik saja? Apa saya boleh masuk?¡± Suara cemas dari luar pintu. Mungkin saja dia terperanjak kaget tadi, atau sebenarnya laki-laki itu sudah bangun. ¡° Masuklah!¡± Han masuk sudah mengenakan pakaian rapi. Berkeliling melihat situasi, sepertinya tidak ada yang aneh dengan kamar. Kenapa dia mendengar teriakan tuan Saga tadi. Dia melihat nona mudanya duduk sambil dililit selimut seluruh tubuhnya. Dan kedua orang di tempat tidur itu sedang saling berpegangan tangan. Mengengam tangan satu sama lain. Ada apa ini? Mereka sedang main apa sekarang? ¡° Panggil dokter wanita yang kemarin, sekarang juga.¡± Hanya memberi perintah tanpa memberi penjelasan. Main dokter-dokteran lagi? ¡° Sayang aku.¡± Daniah bahkan sudah malu kemarin, apalagi sekarang. Dipagi buta memanggil dokter yang ada di luar pulau hanya karena datang bulan. Binggung mau ditaruh dimana mukanya nanti kalau dokter cantik itu benar-benar datang. ¡° Diam!¡± Menghardik lewat sorot mata yang tidak bisa di lawan. "Kau tahu secemas apa aku sekarang." Daniah tidak bisa menjawab. Itu karena kau bodoh! boleh tidak si aku memukulnya? nanti kusuruh saja mereka ikut kelas suami siaga mungkin ya. Biar tahu dunia wanita itu seperti apa. ¡° Apa nona baik-baik saja tuan?¡± Han belum meraih hpnya. Karena sepertinya akal sehatnya masih lebih dipakai daripada suami yang tidak tahu apa-apa ini pikir Daniah. Berharap Han cukup pintar untuk tidak langsung melakukan yang diperintahkan Saga. ¡° Dia sedang datang bulan, dan ada banyak darah.¡± Daniah menarik selimut menutupi wajah merahnya. Malu. ¡° Darah!¡± Han menjawab terkejut. Apa! mengintip dari balik selimut. Jangan bilang kau sama bodohnya dengan tuanmu tidak tahu darah datang bulan itu apa! ¡° Tunggu, panggilkan saja Aran. Katakan saja padanya untuk mencarikanku pembalut.¡± Menahan sekertaris Han yang sudah berbalik badan dan meraih handle pintu. Cih, dua orang ini benar-benar deh. ¡° Apa itu?¡± Saga bertanya. ¡° Katakan saja pada Aran begitu, dia pasti tahu maksudnya.¡± Hanya mengintip di balik selimut. Tidak menjawab Saga, kata-katanya ditujukan untuk sekertaris Han. ¡° Baik nona.¡± Lalu sekertaris yang sama-sama bodohnya itu keluar dari kamar. Menghubungi dokter dan juga memanggil Aran. Sekarang kembali lagi ke suami yang tidak tahu apa-apa ini. Suami yang kelewat cemas dan berlebihan. Wahai para suami belajarlah tentang dunia wanita ya, biar kalian dikit-dikit bisa memahami istrimu. ¡° Sayang dengarkan aku.¡± ¡° Apa! berhenti bicara kau baik-baik saja.¡± Marah lagikan. ¡° Jangan marah dulu, dengarkan aku dulu.¡± Mengelus kepala Saga lembut. ¡° Aku jelaskan ya. Datang bulan itu bla, bla, bla dan bla-bla.¡± Mengeryit karena merasa penjelasan Daniah hanya menenangkannya. ¡° Semua perempuan juga mengalami itu sayang, tidak ada yang aneh.¡± ¡° Tunggu, kenapa selama ini kamu tidak pernah datang bulan. Baru kali ini setelah sekian lama.¡± Saga mengingat-ingat semuanya. Sejak mereka melakukan malam pertama sampai hari ini, inilah kali pertamanya dia melihat Daniah datang bulan. Bagaimana ini? Apa aku jawab jujur saja. ¡° Jelaskan?¡± Benarkan, aku sudah tidak bisa mengelak lagi. ¡° Karena pengaruh pil kb yang aku minum.¡± Menundukan kepala. ¡° Pil kb itu mencegah kehamilan, jadi karena itu aku tidak datang bulan." Meraih tangan Saga. "Aku sungguh tidak apa-apa sayang, ini benar-benar normal dialami semua perempuan. Tanyakan pada Aran nanti kalau kau mau mendengar penjelasan dari orang lain." mencium bibir Saga lembut. "Terimakasih ya sudah mengkhuatirkan aku." Meraih tangan Saga agar mendekat, supaya dia bisa memeluk tubuh laki-laki yang mencintainya itu dengan erat. "Akukan minum vitamin yang di resepkan dokter, dan makan-makanan sesuai pola sehat, mungkin itu yang menyebabkan hormon dalam tubuhku kembali normal. Jadi aku datang bulan lagi sekarang." mengelus pungguh Saga berulang. " Aku benar-benar baik-baik saja." Sudah terdengar hembusan nafas lega. Saga menarik tubuh Daniah, mencium bibir istrinya. " Jangan lagi menyembunyikan apapun dariku. Berhenti bilang kau baik-baik saja." Daniah menggangukan kepala menurut. " Kalau sakit katakan sakit." " Ia sayang. Aku tidak akan menyembunyikan apapun darimu. Sekarang biar aku melepas selimutku ini ya. Datang bulan itu tidak kedinginan. Hanya perutku saja yang sedikit nyeri dan sakit." Langsung menyesal dan menutup mulutnya. " Apa! Sakit dimana?" Aaaaaaa, kenapa aku keceplosan si. Bersambung Terimakasih untuk yang setia membaca Terpaksa Menikahi Tuan Muda Sampai jumpa di update selanjutnya ^_^ Chapter 187 Bulan Madu (Part 18) Daniah merasa lucu sekaligus gemas tidak tertahan namun juga merasa sangat beruntung. Mungkin dia adalah salah satu dari sekian banyak wanita beruntung di dunia ini yang memiliki suami seperti Saga. Tapi, jujur saja, saking merasa gemasnya sampai dia ingin menangis dan mencubit pipi suaminya. Biar laki-laki itu tersadar, kalau istrinya ini baik-baik saja. Suara ketukan pintu melunakan pandangan kuatir yang berlebih Saga. Sebelum pintu terbuka, Daniah menarik selimutnya menutupi kaki sampai pinggangnya. Sekertaris Han masuk, diikuti pak Mun dia membawa secangkir minuman, lalu di belakangnya Aran juga muncul membawa sebuah tas kecil di tangan kirinya. ¡° Apa ini?¡± Saga meraih gelas yang di sodorkan pak Mun dengan hati-hati. ¡° Masih agak panas tuan, ini air jahe dan madu ditambah ciaseed. Untuk menghangatkan perut nona.¡± Pak Mun juga memberikan sendok kecil. Apa-apaan si ini. Aku datang bulan bukan pesakitan. Aku akan ditertawai semua wanita di muka bumi ini nanti. ¡° Sayang, biar aku saja.¡± Daniah sudah mau meraih gelas di tangan Saga, tapi tangannya langsung ditepis dengan dibumbui mata tajam tidak suka laki-laki itu. Seperti mau bilang kau mau apa? orang sakit itu diam saja. ¡° Sudah diam. Ini masih panas.¡± Mengaduk-aduk isi gelasnya, mengambil sesendok dan menempelkan di bibirnya. Sekiranya dia sudah merasa aman di sodorkan sendok itu ke depan bibir Daniah. Dengan lemah lembut Saga menyuapi sesendok demi sesendok ke mulut Daniah. Gadis itu menurut daripada urusan tambah panjang. Matanya melirik orang-orang yang berdiri di dalam ruangan. Pak Mun masih memandang dengan cemas, sekertaris Han masih diam tak bergeming. Sementara Aran yang sudah tahu duduk persoalannya terlihat menunduk sambil menelan senyum dan tawanya sendiri. Tertawalah Aran, kau layak tertawa melihat kebodohan para lelaki ini. Setelah hampir separuh gelas habis Daniah menahan sendok yang di sodorkan Saga. ¡°Sudah sayang.¡± Perutku bisa kembung nanti, tapi kalau aku bilang begitu nanti dia semakin menggila. ¡° Kenapa? Perutmu tambah sakit?¡± Menoleh pada pak Mun, seperti bertanya, minuman yang kau berikan ini sudah benarkan? ¡° Tidak sayang, sudah nyaman rasanya kok.¡± Membaca situasi yang sepertinya akan menjadi buruk. ¡°Aku mau ke kamar mandi sebentar ya.¡± Menyentuh tangan Saga untuk meletakan sendok yang dia pegang. ¡° Kemarilah, biar kugendong. Mau apa ke kamar mandi?¡± Aaaaaaa, bisa benar gila aku kalau begini. Daniah menjentikan jarinya agar Saga mendekatkan telinga. Lalu dia membisikan sesuatu. Walaupun masih tidak paham Saga beralih melihat Aran dan menyuruhnya mengikuti Daniah, gadis itu langsung mendekat dan menyerahkan tas yang dia bawa sampai di pintu kamar mandi. Daniah melarangnya masuk. Langkah mereka diikuti tatapan semua orang. Membuat Aran salah tingkah sendiri. ¡° Kemarilah!¡± Aran tersentak ketika tau dia yang ditunjuk tangan Saga. Dia berjalan cepat mendekati tempat tidur. Laki-laki itu masih menatap pintu kamar mandi, masih terlihat cemas. Kenapa ini? Dia tidak terlihat sedang marah si, tapi kenapa aku tambah takut begini. ¡° Ia tuan.¡± Sudah berdiri di samping tempat tidur. Berusaha bernafas dengan tenang dan meyakinkan diri. Hanya perlu anggukan kepala tanpa terlihat membantah, begitu yang dipelajari Aran untuk selamat dari banyak situasi jika berhubungan dengan tuan Saga. ¡° Han, apa dokter belum datang?¡± Beralih pada Han yang masih berdiri diam. ¡° Sedang dalam perjalanan tuan.¡± ¡° Pak Mun siapkan makanan untuk Daniah.¡± Katanya lagi menjawab informasi yang diberikan Han. Waktu terus beranjak menuju terang di luar sana, sudah waktunya semua orang sarapan pagi. Apalagi untuk Daniah, begitu pikir Saga. Istrinya tentu yang paling butuh asupan tenaga sekarang. Orang-orang di luar sudah beraktifitas normal seperti biasa. Para pelayan dan pengawal tidak ada yang tahu ada kejadian apa di vila utama. ¡° Baik tuan muda.¡± Pak Mun beranjak setelah mengangukan kepalanya. Dia masih sempat membalikan kepala sebelum membuka handle pintu. meyakinkan dirinya sendiri, bahwa semua baik-baik saja. Untuk tuan mudanya ataupun untuk nona Daniah. Saga beralih pada Aran lagi, melihat gadis itu dengan serius dari atas ke bawah. Meyakinkan diri kalau yang ada di hadapannya memang benar-benar satu gender dengan istrinya. Sama-sama perempuan. Padahal itu sama sekali tidak perlukan, jelas-jelas kalau dia bukan perempuan tidak mungkin dia membiarkan Aran menempel pada istrinya. Yang dipandang semakin cemas karena menduga-duga. ¡° Apa kau juga mengalaminya, seperti istriku sekarang?¡± Apa! dia tanya apa si? Masih berkubang dengan kebingungan untuk pilihan jawaban yang dirasa paling tepat. Tapi karena binggung membuat gadis itu malah terdiam. ¡° Aran, kau tidak dengar tuan muda bertanya padamu.¡± Han menghardik bukan hanya lewat suara, tatapannya jauh lebih menakutkan. Ia aku tahu, tapi dia tanya apa? Melihat Aran masih diam Han yang gusar. ¡° Apa kau juga datang bulan juga seperti nona?¡± Pertanyaan apa itu! Dia bahkan tidak malu mengatakannya. ¡° Tentu saja tuan saya jugakan perempuan.¡± Han menatap Aran dengan pandangan tidak percaya. ¡° Saya juga perempuan tuan.¡± Menjawab sorot mata itu dengan jengah. Apa perlu aku buka baju di depanmu, menunjukan kalau aku perempuan asli. ¡° Sakit? Bagian mana yang sakit?¡± Ini maksudnya apa si? ¡° Tuan muda bertanya bagian mana dari tubuhmu yang sakit, kalian mengeluarkan darahkan. Apa itu sakit.¡± Cih, dimana otakmu gadis bodoh pertanyaan begitu saja tidak nyambung. Han Ya Tuhan kok laki-laki ini bisa nyambung si, padahal tuan Saga cuma bicara sepotong-sepotong dengan pilihan kata sesukanya. Aran. ¡° Tidak ada yang sakit tuan, biasanya hanya nyeri dan sedikit kram di perut di hari pertama dan kedua saja. Selebihnya.¡± ¡° Sudah kuduga dia pura-pura baik-baik saja, padahal dia kesakitan.¡± Langsung di sambar dengan membuat kesimpulan yang ingin di dengarnya saja. Hei tuan kenapa menyimpulkan begitu, akukan hanya bilang sedikit sakit. Aran panik ketika jawabannya semakin membuat situasi makin runyam. Saat Daniah membuka pintu kamar mandi Saga langsung bangun dari tempat tidur. Meraih tubuh Daniah dalam pelukannya. Yang di gendong tiba-tiba tentu saja panik. Wajahnya langsung merah karena malu apalagi saat di lihat kedua orang itu masih ada di dalam kamar. Masih sama, yang satu tanpa ekspresi yang satu menahan geli. ¡° Sayang kenapa? Aku bisa jalan.¡± Berontak, sambil memukul tangan Saga agar menurunkannya. Tapi tentu sia-sia. Saga sudah meletakan tubuh Daniah dengan hati-hati di tempat tidur. Menarik selimut menutupi kakinya lagi. ¡° Kau suruh aku bertanya padanyakan.¡± Menunjuk Aran dengan ekor matanya. ¡°Dia bilang sakit saat datang bulan.¡± Apa! akukan tidak menjawab begitu. Maaf nona, tuan Saga yang aneh menafsirkan jawabanku. Aran panik. ¡° Sayang sudah baik-baik saja, sungguh.¡± Dari cara suaminya memandangnya, Daniah yakin, Saga sama sekali tidak mempercayai kata-katanya. Bagaimana si aku musti menjelaskan! Suasana sudah cukup tenang. Tidak ada yang tinggal dikamar kecuali sepasang suami istri yang sedang menikmati sarapan mereka. Namun ketenangan itu segera buyar setelah ketukan pintu tiga kali. Sekertaris Han masuk ke dalam kamar. Daniah masih menghabiskan sarapannya di tempat tidur, begitu pula Saga di sampingnya. Laki-laki itu benar-benar tidak beranjak dari samping Daniah. Dia memperlakukan istrinya bak pasien yang butuh perawatan. Layaknya dia dulu saat dia mengaku dirinya sakit. Waktu mereka main dokter-dokteran pertama kali. ¡° Kenapa?¡± Saga mengambil gelas jus dan menyerahkan pada Daniah. Han melihat tuan dan nonanya belum selesai makan sigap menjawab ¡° Saya akan membawa dokter setelah nona selesai makan.¡± ¡° Dia sudah sampai?¡± Daniah yang merasa tidak enak langsung mempercepat makannya. ¡° Kau bisa tersendak nanti, pelan-pelan saja. Dia akan menunggu sampai kau selesai.¡± Mengambil sendok di tangan Daniah agar dia berhenti menyuapkan makanan sebelum yang ada dimulutnya habis. Baiklah, baiklah, percuma juga membantah. ¡° Saya akan minta pak Mun menyediakan makanan dan minuman untuk dokter nona, jadi selesaikan sarapan nona senyaman mungkin. Saya permisi.¡± ¡° Hemm.¡± Saga hanya menjawab sekilas, lalu kembali mengambil sendok di piring Daniah dan menyuapi istrinya. Bagaimana ini, aku harus pasang wajah seperti apa di depan dokter. Aaaa, malunya berkali lipat, seperti abg yang baru pertama kali datang bulan saja musti sepanik ini. Menolak seperti apapun tidak akan merubah situasi. Daniah hanya bisa bernafas berat, sambil menahan senyum malu saat dokter datang dan melakukan pemeriksaan. Semua pemeriksaan sudah di lakukan. Semua pertanyaan yang diberikan dokter di jawab Daniah dengan senyum malu-malu. Maafkan aku dokter, besok suamiku aku suruh kursus ilmu pengetahuan tentang wanita deh. biar tidak bodoh-bodoh amat urusan beginian. Daniah menjawab sorot mata penuh tanya sang dokter. Kenapa dengan dua orang ini, dari kemarin. Jelas-jelas nona baik-baik saja. Sambil merapikan semua alat pemeriksaan, berusaha membuat kesimpulan yang paling enak untuk di dengar. Untung saja hari ini sekertarisnya tidak menghubungi rumah sakit. Sehingga tidak ada kepanikan di RS kota. Sudah membuat dokter muda itu bersyukur. ¡° Apa semua baik-baik saja?¡± ¡° Ia tuan, semua normal. Nona Daniah baik-baik saja.¡± Sepanjang dia menunggu tadi sekertaris Han sudah menjelaskan duduk persoalannya. Apa tuan Saga benar-benar sepolos ini? ¡° Biasanya berapa lama?" " Waktu datang bulan setiap wanita beda-beda tuan, normalnya sekitar 5 sampai 7 hari." Langsung tanggap dengan pertanyaan Saga. " Tapi untuk kasus nona mungkin bisa saja berbeda." " Kenapa? kenapa Niahku berbeda?" Meraih kepala Daniah dan meletakannya di bahunya, sambil membelai kepala itu lembut. Istrinya manut tidak berkomentar apapun. Yang berdebar malah dokter wanita yang sedang berdiri itu. Aaaaa, manisnya. " Saya dengar nona sedang menjalani terapi kesuburan pasca konsumsi pil kb, jadi ini datang bulan nona yang pertama setelah sekian lamakan." " Ia dokter. Apa semua baik-baik saja?" Dokter wanita itu tersenyum meredakan kekuatiran Daniah. " Semua baik-baik saja nona. Dengan datang bulan ini berarti hormon nona sudah kembali normal. Setelahnya nona bisa menjalani program kehamilan dengan baik." Eh, kenapa nyambungnya ke situ si. " Baiklah, kau sudah bisa pergi." Saga memanggil lagi setelah dokter itu menggangukan kepalanya. Saga butuh kalimat penutup yang bisa membungkam rengekan istrinya. " Dia harus istirahatkan?" Membelai kepala istrinya. " Dokter, saya masih bisa beraktifitas normal kok, karena tubuh saya tidak lemas atau apa." Daniah menyambar. " Sebaiknya nona istirahat seperti yang tuan Saga sarankan. makan makanan yang sehat dan banyak minum." Hei dokter, kau sedang menyelamatkan dirimukan dari keanehan suamikukan! " Lihatkan kau harus menurut dan diam di tempat tidur." Kemenangan ada di tangan Saga, puas sekali karena dokter wanita itu membelanya. Han mengantar dokter keluar ruangan. Saga sudah bernafas lega, menjatuhkan tubuh di tempat tidur. Memeluk pinggang istrinya dan menempelkan wajahnya di perut Daniah. Berharap dengan begitu sakit atau nyeri di perut istrinya menghilang. Kenapa bulan maduku jadi begini si! " Sayang, apa hari ini kita benar-benar akan di kamar lagi. Aku bisa keluar sungguh. Aku bisa jalan-jalan kok, kita main di luar ya. Tidak masuk ke dalam air, hanya berjalan di pantai." " Hemm." " Sayang jawab donk." Saga terlelap sambil memeluk perut Daniah. Tidak bereaksi saat Daniah menusuk-nusuk kepalanya dengan jari. Sepertinya ia kelelahan karena kecemasannya menunggu pemeriksaan dokter tadi. " Maaf ya, kamu lelah ya." Puk, puk menepuk bahu Saga. Membiarkan laki-laki itu benar-benar terlelap sejenak dalam mimpinya. Dibelainya punggung seaminya lagi. Daniah bahkan tidak merasa nyeri lagi diperutnya. Apa sentuhan orang yang di sayangi benar-benar meluruhkan rasa sakit ya? Bersambung Chapter 188 Bulan Madu Selesai Saga sudah bangun duluan. Mendapati Daniah memeluknya erat membuat hatinya bergetar senang. Dia memang masih seperti itu. Setiap hal yang dilakukan Daniah karena inisiatifnya selalu membuatnya sangat bahagia. Dia merasa dicintai melebihi apa yang sudah dia berikan untuk istrinya. Setelah selesai mandi dan mengeringkan rambut dia memanggil Han, selang tidak lama Han masuk membawa jus segar dan potongan buah. ¡° Duduklah, kau bawa yang kuminta.¡± ¡° Ia tuan. Silahkan¡± Han menyerahkan garbu kecil ke tangan Saga. Lalu mengeluarkan lembaran-lembaran kertas dari amplop coklat yang dia bawa di bawah nampannya tadi. Kenapa aku merasa cemas ya. Apa tuan muda benar-benar perlu tahu tentang ini. Kalau dia semakin gelisah dan berfikir macam-macam bagaimana. Han sedang berperang dengan pikirannya sendiri selama Saga menghabiskan makanannya. Dia sudah mencari banyak referensi, bahkan menghubungi dokter kandungan yang secara khusus sudah ditunjuk sebagai dokter pribadi nona. Saga meletakan gelasnya yang sudah kosong, dan mengambil lembaran kertas yang di berikan Han. Matanya memicing saat membaca apa yang tertulis di sana. ¡° Kau tidak bercanda dengan semua informasi inikan?¡± Tangannya bergetar, bahkan dia memukul bahu Han dengan tumpukan kertas itu. ¡° Bagaimana aku membiarkan Daniah merasakan ini? Ini pasti gila?¡± Benarkan, apa yang aku cemaskan. Tuan muda tidak mungkin baik-baik saja setelah melihat ini. Wanita memiliki kemulyaan yang di anugrahkan Tuhan dengan bisa meneruskan keturunan. Kehamilan dan melahirkan adalah hadiah Tuhan bagi para wanita. Dalam proses kehamilan ada banyak sekali cerita dan drama. Bahkan di gambarkan seorang ibu yang melahirkan anaknya merasakaan sakit seperti 20 tulang di tubuhnya dipatahkan. Membaca itu tubuh Saga gemetar. Dia menoleh ke tempat tidur dimana istrinya sedang terlelap di bawah selimut. Hanya ujung rambutnya yang terlihat. ¡° Tuan muda, pelankan suara anda. Nona bisa terbangun.¡± Bahkan hanya dengan membaca informasi seputar kehamilan, seharusnya membuat bulu kudu semua orang bergetar. Ibu merasakan sakit ketika melahirkan seperti halnya 20 tulang ditubuhnya dipatahkan. Membayangkan rasa sakitnya saja tidak akan tergambarkan dengan benar. Masih memandang lembaran-lembaran kertas itu tidak percaya. ¡° Buatkan jadwal bertemu dengan dokter kandungan Daniah, aku ingin mendengar semua penjelasan sejelas-jelasnya tentang kehamilan, melahirkan juga datang bulan.¡± ¡° Baik.¡± Hah! Saga menjatuhkan kepalanya di atas sandaran kursi. Pikirannya terbang menjumpai wajah-wajah yang di sayanginya. Menghampiri wajah ibunya yang sedang jauh di sana. Menemukan Jen dan Sofi, dua wanita yang akan selamanya dia anggap anak-anak. Sebanyak apapun usianya, Saga hanya akan menganggap mereka dua bocah yang harus selalu dia lindungi. Juga wanita yang dicintainya. Dia menatap nanar lagi, tubuh kecil di bawah selimut itu. Benarkan dia bisa. Ibu, kau hebat sekali ya. Apa dulu Ayah juga menangis ketakutan saat melihatmu kesakitan melahirkan kami. Ayah, apa kau tahu dulu ibu kesakitan, ah tidak mungkin kau tidak tahukan. Kau mencintai ibu seperti aku mencintai Daniah. Kata-kata Daniah kembali terngiang dipikirannya. Bagaimana dia bisa bercerita tentang sosok ibu kandungnya, wanita yang begitu dicintainya. Walaupun hanya ingatan samar tentang seseorang yang sudah melahirkannya ke dunia. Ibu, sampaikapanpun tak akan pernah terlupakan. Begitu ujarnya. Bagaimana sebenci apapun Daniah pada ibu tirinya dia adalah wanita yang sudah melahirkan Raksa. Adik yang sudah banyak sekali membuatnya tegar dan bertahan hidup di keluarganya. Hingga ujaran balas dendan yang pernah di sodorkan Saga hanya di balas senyum olehnya. ¡° Bagaimanapun Raksa mencintai ibunya. Dan aku sangat menyayangi Raksa.¡± Begitulah dia akhirnya menghentikan niatan Saga balas dendan untuk semua perlakukan yang pernah ibu tirinya lakukan padanya. Jangan marah pada ibu, mengalahlah. Ibu sangat menyayangimu, apapun yang sudah ibu lakukan maafkan dia. Jangan marah pada ibu hanya karena aku. Begitulah yang selalu diulang Daniah saat kerap beberapa kali dia bersitegang dan beda pendapat dengan ibunya. Ibu. ¡° Tuan muda.¡± ¡° Hemm.¡± Tersadar dari lamunan, menatap Han. ¡° Apa?¡± ¡° Saya juga merasa binggung dengan kondisi ini, tapi ini kenyataan yang saya lihat setelah mencari info-info seputar kehamilan.¡± ¡° Apa?¡± Saga mengangkat kepalanya tertarik. ¡° Walaupun wanita mengalami perjuangan luar biasa dari semenjak hamil sampai melahirkan, tapi mereka bahagia dengan semua itu. Karena menjadi ibu adalah hadiah yang Tuhan berikan bagi seorang wanita.¡± Jadi jangan terlalu cemas tuan muda, nona Daniah pasti merasakan itu juga. ¡° Niah juga pernah mengatakannya. Kalau Tuhan memberinya kesempatan dia akan bahagia menjalani semuanya. Tapi...¡± tertahan kata-katanya. ¡°Apa aku bisa melihatnya menderita begitu. Aku pasti bisa gila.¡± Han diam, karena dia tahu jawabannya. Rasanya menyesal juga dia sudah menyodorkan kertas-kertas yang ada di hadapannya ini. Kalau saja tuan muda tidak tahu, tentu dia tidak akan secemas ini memikirkan. Selama ini dia sudah menantikan kehamilan Daniah. Anak yang akan dilahirkan Daniah sebagai bukti cinta kasih mereka. Apa tuan muda akan berfikir ulang tentang keinginannya melihat nona hamil. Dikepala Saga masih bermunculan aktualisasi tentang informasi kehamilan, jika itu terjadi pada Daniah. Apa dia akan sanggup melihatnya. ¡° Apa perusahaan punya kebijakan khusus untuk karyawan hamil dan melahirkan?¡± Tiba-tiba hal ini masuk ke pikirannya. Di Antarna Group ada banyak sekali karyawan wanita yang statusnya sudah menikah. ¡° Cuti melahirkan selama dua bulan tuan.¡± Menjawab sambil merapikan kertas-kertas berserak di atas meja. ¡° Apa itu cukup?¡± Saya juga tidak tahu tuan muda. Belum pernah ada yang komplen mengenai kebijakan cuti melahirkan selama ini. ¡° Bahas ini di internal kepegawaian, untuk memberikan cuti sekaligus bonus khusus bagi karyawan wanita yang sehabis melahirkan. Anggarkan perencanaannya mulai tahun depan.¡± ¡° Baik.¡± Nona, anda membawa banyak sekali perubahan di Antarna Group. Terdengar suara dari tempat tidur. Membuat kedua lelaki itu menoleh. ¡° Hei apa yang kau lihat?¡± Gusar saat melihat Han juga melirik kea rah tempat tidur. ¡°Sudah kubilang, jangan liat istriku yang sedang tidur.¡± Dia mengemaskan tahu, apalagi kalau habis membuka mata dan kebinggungan. ¡° Maaf tuan muda.¡± Han langsung berpaling ke arah meja. Memang ada bedanya begitu, nona saat tidur sama tidak. Saga bangun dari tempat duduknya mendekati Daniah. ¡° Kau sudah bangun? Apa ada yang tidak nyaman.¡± Menyentuh pipi Daniah yang masih berusaha mengumpulkan separuh nyawanya. Hah! Aku ketiduran berapa lama ini. Ahhh, banjir, aku harus ganti pembalut. ¡° Aku baik-baik saja sayang. Aku mau kekamar mandi.¡± Saga sudah bangun dan mengambil posisi mau mengendong Daniah tapi gadis itu benar-benar menolak dengan keras. Bahkan memukul bahu Saga dengan bantal. ¡° Aku bisa jalan, sudah sana, teruskan saja pekerjaan kalian.¡± Melihat ke arah sekertaris Han. Melihat juga kertas menumpuk di atas meja. Mereka sedang bekerja ya. Walaupun tidak rela akhirnya dibiarkan saja istrinya itu berjalan sendiri ke kemar mandi. Setelah melihat istrinya masuk dia kembali duduk. " Kau lihatkan dia mengemaskan kalau habis membuka mata saat bangun tidur." Mana saya tahu tuan, melirik saja tidak bolehkan tadi. " Kau tidak akan tahu, kamu kan jomblo." Hahahahahaahaha. Han Beberapa saat terdegar Saga sudah menghela nafas, sepertinya dia sudah mengambil beberapa kesimpulan sambil menatap pintu kamar mandi. Kali ini suara air tidak terlalu terdengar. " Sepertinya bulan madu kali ini sampai disini. " Han menghentikan pekerjaannya. Seperti yang sudah dia pikirkan. Tidak mungkin tuan muda akan membiarkan nona keluar, dan tidak mungkin pula berlama-lama di tempat ini jika tidak bisa melakukan apa-apa. "Hari ini kirim pulang para pelayan dan pengawal, sisakan saja seperlunya. Kita tidak mungkin melanjutkan agenda dengan kondisi Daniah yang begitu." " Baik tuan muda, saya akan mengurusnya." Han sudah memasukan semua kertas ke dalam amplop coklat yang dia bawa. " Saya akan membereskan semuanya dan meminta pak Mun membawa makan siang ke kamar." " Hemm." Sepertinya bulan madu kali ini benar-benar tidak berjalan dengan baik. Ku pikir akan ada kabar menyenangkan tentang kehamilan nona. Tapi tuan muda malah terlihat gelisah. Han meremas amplop yang dia bawa. Andai dia tidak menunjukan ini pasti akan lain ceritanya. Karena dia selalu seperti itu. Jika melihat Saga kecewa atau memikirkan sesuatu sampai seserius itu dia sudah merasa gagal melakukan kewajibannya. Bersambung Chapter 189 Bonus chapter Perut kram atau nyeri pada saat datang bulan itu hal yang wajar. Tingkatan nyeri dan sakit pada setiap wanita berbeda-beda. Bahkan ada pula yang tidak mengalaminya. Ada yang merasa tersiksa saat datang bulan hari pertama dan kedua, tapi ada yang tetap enjoy dan beraktifitas normal seperti tidak terjadi apa-apa. Dan kenapa sampai mencari tahu makanan khusus untuk wanita yang sedang datang bulan? Kami bisa makan apa saja suamiku. Kami bisa makan ayam geprek level gila sekalipun, atau batagor kuah dengan sambal yang banyak, atau cilok dengan bumbu kacang yang berminyak. Tidak ada pantangan apapun yang tidak boleh kami makan selama datang bulan. Tapi sepertinya tidak dengan apa yang dipikirkan tuan Saga. Dia merasa berkewajiban untuk mencari tahu. Resep dari ahli gizi adalah untuk program pemulihan hormon kesuburan. Mereka tidak menyebutkan resep apa yang cocok untuk wanita yang sedang datang bulan. Dan untuk itulah Saga akan memanggil semua koki yang bertugas di dapur. Mendengar itu saja wajah Daniah sudah merah padam. Karena masalahnya, semua koki di rumah utama itu laki-laki. Mana mereka tahu sampai masalah beginian. ¡° Sayang, kalian bisa bicara di luar kamar. Aku benar-benar tidak apa-apa.¡± Hanya malu dan malu yang dipikirkan Daniah. Dia sudah berperang dengan urat malunya sendiri saat pemeriksaan dokter tadi, itupun dengan dokter perempuan. Dan sekarang harus menghadapi ini lagi. ¡° Aku akan terus mengawasimu, kalau kau kenapa-kenapa bagaimana?¡± Tidak perduli alasan protes istrinya. Memang apa si yang akan terjadi padaku. Dan si keras kepala ini benar-benar tidak bergeming. Saat Pak Mun dan semua koki yang bertanggung jawab dalam urusan makanan masuk ke dalam kamar Saga beranjak dari tempat tidur, meninggalkan istrinya. Daniah menarik ujung selimutnya sambil menutupi wajahnya. Sebenarnya tanpa melakukan itupun tetap tidak ada yang melirik ke arahnya. Para koki yang berjumlah lima orang itu terlihat cemas. Semenjak pagi mereka sudah melihat ketegangan di wajah pak Mun. Terlebih mereka di minta menyiapkan air jahe. Dan tadi mereka melihat dokter wanita datang. Hanya satu alasan kenapa dokter RS kota XX bisa ada di pulau sepagi ini. Semua pasti karena nona muda, begitu mereka menarik kesimpulan di kepala masing-masing. Apa nona sakit? Apa karena makanan yang kami masak? Tapi kami masak sesuai resep ahli gizi yang di rekomendasikan dokter? Di wajah mereka bermunculan tanya, tapi yang pasti semuanya akan jadi masalah besar kalau apa yang mereka pikirkan benar-benar menjadi kenyataan. Apalagi pak Mun yang ditanya hanya diam. Hanya menuntun langkah kaki mereka menaiki tangga. Tempat yang hanya bisa mereka pandangi dari jauh. Baik di rumah utama ataupun di vila, mereka belum pernah sedekat ini dengan tuan muda yang mereka layani. ¡° Siapa yang bertanggung jawab membuat makanan khusus untuk istriku?¡± Saga langsung bicara sambil menjatuhkan diri di sofa. Melihat satu persatu wajah koki dapur. Mereka masih terlihat muda, hanya satu yang sudah terlihat cukup umur. Mati aku. Seorang koki maju dua langkah kedepan. Wajahnya terlihat kaku karena cemas. Dia memandang pak Mun penuh harap untuk menyelamatkan hidupnya. Apa salahku? aku benar-benar memasak sesuai petunjuk ahli gizi tanpa menambah atau mengurangi takaran yang mereka sarankan. ¡° Kau sudah menikah?¡± Pertanyaan itu membuat semua orang yang berdiri tegang itu binggung. ¡° Sudah tuan.¡± Cepat dia menjawab, walaupun masih belum tau kemana arah pertanyaan yang dilontarkan tuan Saga. ¡° Kau tahu kalau istrimu datang bulan?¡± Apa? Kenapa datang bulan? Tentu saja saya tahu tuan, kalau dia lagi PMS sudah seperti harimau. Marah tanpa sebab, cemberut tanpa sebab, jangankan melakukan kesalahan bernafas di sampingnya saja kadang membuatnya emosi. ¡° Jawab!¡± ¡° Maaf tuan.¡± Terjaga dengan perang dingin di hatinya. ¡° Saya tahu istri saya datang bulan setiap bulannya tuan.¡± ¡° Apa yang kau masakan untuk istrimu?¡± Hah! Sayakan jarang masak untuk istri saya. ¡° Kau tahukan kalau saat datang bulan itu dia kesakitan, perut nyeri dan kram.¡± Hah! Mana saya tahu urusan begituan tuan, kenapa juga tanya sama saya. Memang ada laki-laki yang mengurusi hal begituan. ¡° Jadi kau tidak tahu kalau istrimu kesakitan!¡± Marah ¡° Kau mencintai istrimu?¡± ¡° Saya mencintai istri saya tuan, sumpah!¡± Menjawab dengan cepat dan keras. ¡° Lalu kenapa kau tidak tahu kalau istrimu kesakitan.¡± ¡° Maafkan saya tuan, saya memang suami tidak berguna.¡± Pasrah dan mengaku salah, melihat tuan Saga sudah marah itu bahkan terlihat jauh lebih menakutkan ketimbang saat istrinya PMS. Ditempat tidur Daniah semakin menarik selimutnya. Memaki kebodohan tuan Saga berulang¡ªulang. Supaya laki-laki itu tergigit lidahnya dan menutup mulutnya. Semakin dia bicara semakin membuat malu saja. Tau tidak cuma kamu yang mengila tahu istrinya nyeri dan kram perut saat datang bulan. Kembali ke para lelaki yang masih bicara tentang datang bulan. ¡° Kenapa minta maaf padaku. Telfon istrimu sekarang dan minta maaf padanya, kalau dia tidak memaafkanmu. Pak Mun berikan surat pemecatan dan uang gajinya.¡± ¡° Baik tuan muda.¡± Pak Mun menyahut lirih. Apa! Kenapa jadi begini. Koki itu menjauh dan mengeluarkan hpnya. Membuat panggilan telfon. ¡° Istriku ini aku.¡± ¡° Ia tahu, kenapa? Aku sedang sibuk ini, ditoko banyak pelanggan. Tidak biasanya menelfon.¡± ¡° Istriku apa kau sakit saat datang bulan?¡± Yang di toko sedang sibuk itu mengeryit, sambil berfikir suaminya gila. Sudah tidak biasanya menelfon jam segini pakai bertanya datang bulan sakit atau tidak. ¡° Yah, kamu sedang kerasukan apa?¡± ¡° Maafkan aku istriku yang tidak tahu kalau kamu menderita saat datang bulan, maafkan aku. Nanti aku masak makanan kesukaanmu kalau kamu sedang datang bulan ya.¡± mengatakan dengan suara keras supaya terdengar oleh tuan Saga. Bukan hanya Saga yang menatapnya, semua mata orang yang ada di ruangan ini tertuju padanya. ¡° Hei, kau benar-benar kerasukan ya.¡± Kebinggungan berubah menjadi kegusaran. ¡° Sudah katakan saja kau memaafkanku atau aku akan dipecat.¡± Berbisik dengan suara pelan. ¡° Apa! di pecat! Kau melakukan kesalahan apa? sudah kunilang untuk berhati-hatikan kalau bekerja. Tuanmukan tuan Saga.¡± Langsung terdengar seperti sambaran petir suaranya. " Jadi jawab saja kalau kau memaafkanku." Berbisik lagi. " Ia, ia aku memafkanmu. Tapi aku boleh beli yang aku tunjukan padamu kemarinkan?" Cih, kau benar-benar memanfaatkan kesempatan. " Ia istriku, terimakasih sudah memaafkanku." bicara dengan suara keras. Setelah meletakan hp di sakunya dia datang mendekat dan melapor, kalau dia sudah dimaafkan. kedepannya dia akan lebih berhati-hati. Dan akan mencari tahu masakan apa yang pas untuk dikonsumsi saat wanita sedang datang bulan. Dia bernafas lega saat Saga mengatakan kalau tidak akan memecatnya. " Kalian bagaimana?" " Kami tahu tuan kalau istri kami sering nyeri di hari pertama datang bulan." Menjawab bersamaan, padahal salah satu diantara keempat orang itu statusnya jomblo. Dia lupa kalau belum menikah saking tegangnya suasana. " Baguslah, kalian pasti tahukan makanan apa yang cocok, buatkan istriku itu." Hah! apa? Keempat koki itu saling pandang tidak mengerti. " Pergilah!" Mereka menggangukan kepala sopan lalu beranjak, pak Mun juga mengikuti di belakang mereka. Epilog : Semua orang di dapur saling lempar pandangan. " Jadi makanan apa yang cocok untuk wanita yang sedang datang bulan dan nyeri perut?" " Tanya sama istrimu sana?" " Sini biar aku yang tanya." Langsung mematung jadi batu, ingat kalau dia yang jomblo. Akhirnya semua orang melipir dengan hp mereka masing-masing setelah pak Mun menggangukan kepalanya. Menghubungi istri masing-masing. Si jomblo punya mesin pencarian legenda di hpnya. Cih, aku juga bisa tanya sama nona GoXX. Memang kalian saja yang punya istri. Hiks, hiks. Bersambung Chapter 190 Pulang Dari awal Saga memang tidak merencanakan berapa lama dia akan bulan madu. Han hanya memperkirakan waktu seminggu sudah lebih dari cukup. Ada banyak hal di perusahaan yang harus ditangani langsung olehnya. Tapi sepertinya semua rencana hanya tinggal rencana. Bulan madu tanpa melakukan apapun juga tidak mungkin. Keputusan kembali lebih cepat dari jadwal adalah pilihan terbaik. Han dan pak Mun memilih beberapa orang untuk tinggal di vila, selebihnya kembali lebih awal ke ibu kota. Aran termasuk dalam barisan yang kembali ke ibu kota. Dengan tatapan penuh harap dia meminta untuk tinggal. Tapi Han bahkan sama sekali tidak meliriknya. Cih, dia benar-benar seperti orang asing kalau di depan banyak orang. Aran membawa semua perasaan kecewanya. Mengikuti langkah kaki para pelayan lainnya untuk berbenah dan berangkat pulang. Hebat sekali mereka ya, bahkan tidak ada yang bertanya kenapa dan kenapa. Mereka benar-benar mengikuti aturan dengan baik. Padahal bisa jadi diantara banyak orang ini hanya Aran yang tahu alasan kepulangan mereka yang dipercepat. Bulan madu ditutup dengan cerita dramatis tentang datang bulan. Daniah yang merengek kecewa dan mengatakan dia baik-baik saja tetap tidak berhasil menggagalkan rencana kepulangan. Padahal masih banyak hal yang ingin dia lakukan di pulau cantik ini. Merekapun belum ke kota XX, ada beberapa oleh-oleh yang sudah dia incar bahkan sebelum berangkat. ¡° Kita akan pergi lagi nanti.¡± Begitu gampangnya Saga menjawab. Aaaaa, aku bagaimana harus menjelaskan si! Dan seperti itulah akhirnya semua berakhir. Hal yang akan Daniah ingat dari tempat ini adalah heroisme Saga menyelamatkannya dari Haksan, sekaligus cerita memalukannya tentang datang bulan Keesokan harinya mereka benar-benar meninggalkan pulau XX dan kembali ke ibu kota. Tidak tahu informasi apa yang diberikan sekertaris Han pada suaminya, tapi Daniah melihat diwajah suaminya masih tergantung cemas. Bahkan dalam perjalanan pulang yang biasanya iseng dia hanya banyak diam sambil memainkan rambut dan menciumi Daniah tanpa banyak bicara. Walaupun perjalanan pulang benar-benar tenang tapi Daniah bisa merasakan keanehan dan perubahan sikap suaminya. Dia ini kenapa si? Seperti sedang melihat istrinya menderita saja. Sudah meninggalkan bandara dengan menggunakan mobil. Udara panas ibu kota langsung menyergap wajah. Aroma kesibukan dan teriknya matahari, berputar. Bercampur dengan oksigen yang masuk ke hidung. Kalau sudah seperti ini terasa sekali perbedaan udara pulauXX yang berhembus lembut dengan udara ibu kota. Baru sejenak, rasanya Daniah merindukan angin laut yang lembut yang berlarian di dela-sela rambutnya. Menyudahi kekecewaan, dia melihat suaminya yang duduk di sebelahnya. Laki-laki itu masih memeluknya sambil bermain dengan ujung rambutnya. Dia ini gak ada bosannya apa mainan rambut. ¡° Sayang.¡± ¡° Hemm.¡± ¡° Apa kau baik-baik saja.¡± Daniah menyentuh kening dan leher saga bergantian dengan punggung tangannya. ¡° Kamu tidak sakitkan?¡± Menempelkan pipi sekarang, merasai panas tubuh suaminya. Melihatmu diam begini aneh tahu. Tapi dia tidak demam. Tapi anehnya kenapa kamu diam saja tuan muda. Biasanya tangan dan bibirmukan tidak berhenti beraktivitas. Sebelum keberangkatan dari vila, Daniah sudah mencoba mengorek keterangan melalui sekertaris Han, jawaban dia menyebalkan. Dia hanya mengangkat kedua bahunya sambil mengelengkan kepala. Jawaban semacam itu tidak membuat Daniah menyerah begitu saja. ¡° Tidak mungkin kau tidak tahu!" Merentangkan tangan, mencegah Han yang sudah mau pergi. "Apa tuan Saga marah?¡± Kau bahkan tahu kalau tuan Saga mendesah sedikit saja ¡° Marah? Kepada nona? Kenapa?¡± Malah balik bertanya yang membuat orang menatap tajam. Kesal. ¡° Ia. Eh tidak, jangan marah kepadaku.¡± Binggung, merasa tidak melakukan kesalahan apapun. ¡° Tapi, kenapa dia tenang sekali. Aku yang ingin mendebatnya untuk memundurkan waktu bulan madu saja jadi takut sebelum bicara.¡± Berkata jujur. Setelah semalam mengatakan keputusannya Saga mulai hemat bicara. Laki-laki itu hanya membahas sedikit tentang sakit perutnya. Bertanya tentang benarkah Daniah siap jika Tuhan memberinya anak nanti setelah datang bulan lewat. Daniah menjawab dengan yakin, kalau dia akan sangat bahagia semalam. Tapi gadis itu menangkap ada senyum getir di wajah suaminya. Sampai akhirnya Saga hanya diam dan memeluknya. Saat diajak bicarapun dia hanya menjawab hemm, hemm. ¡° Tidak.¡± Han menjawab singkat. Tidak apa? jawab yang jelas kenapa? ¡° Terus kenapa? Sepertinya banyak sekali yang tuan Saga pikirkan. Apa terjadi masalah di perusahaan.¡± ¡° Tidak.¡± ¡° Sekertaris Han bisa tidak si menjawab dengan benar.¡± ¡° Tidak.¡± Bug! Terserah mau tuan Saga marah kalau dia menyentuh laki-laki lain Daniah tidak perduli. Yang paling penting setelah memukul Han dia puas. ¡° Maksud saya tuan muda tidak marah nona. Dia juga sedang tidak memikirkan masalah apapun. Dia hanya sedang memikirkan nona.¡± Sambil menatap tangan yang habis memukulnya. Tidak sakit memang, tapi kalau ketahuan tentu dia akan merasakan sesuatu yang jauh lebih sakit ketimbang itu. ¡° Aku. Memang aku kenapa? Aku baik-baik saja. Jangan bilang kalau kau belum paham juga kalau orang datang bulan bisa melakukan aktivitas normal.¡± ¡° Saya tahu nona.¡± ¡° Kenapa tidak menjelaskan pada tuan Saga!¡± Seketika hati menjadi gusar tidak terkira. ¡° Karena tuan muda tidak mau tahu makanya saya tidak menjelaskan.¡± Apa! dia ini benar-benar ya. Dan bahkan sampai di perjalanan status Saga masih siaga dalam kebisuan. Dia terlihat menerawang membuat Daniah semakin takut dengan apa yang dipikirkan suaminya. ¡° Sayang, kamu kenapa si?¡± ¡° Niah.¡± ¡° Ia kenapa?¡± langsung menghadapkan wajah antusias. Bahkan dia menyentuh pipi suaminya lembut. ¡° Berjanjilah padaku.¡± Apa? kau mau aku berjanji apa? ¡° Apapun keputusanku mengenai kehamilan nanti. Kau tidak boleh protes atau membantahku.¡± Kenapa? Ada apa dengan kehamilan. Daniah Saya tahu, anda mencemaskan itu sepanjang perjalan ini tuan muda. Han semakin merasa bersalah dengan keputusannya menyodorkan laporan mengenai kehamilan dan melahirkan kemarin. Mobil sudah memasuki area parkir rumah utama. Di depan rumah sudah terlihat beberapa orang berdiri sigap menyambut. Pak Mun sudah dengan setelan pakaian rapi seperti biasanya. Beberapa pelayan wanita berdiri dibelakangnya. Ibu dan juga seorang wanita asing yang tidak di kenali Daniah. Perasaan tidak enak langsung menyergap hati Daniah. Dia meraih tangan suaminya, melingkarkan tangan di lengan suaminya. Menandai, kalau laki-laki di sampingnya ini adalah suaminya. Dia bukan wanita yang pernah ibu katakankan. Seorang wanita yang pantas menjadi ibu bagi anak-anak tuan Saga. Tiba-tiba nalurinya sebagai wanita, berjalan dengan baik melihat wanita lain muncul. Dan tidak tahu karena efek hormon dalam tubuhnya yang sedang bergejolak. Hatinya tersayat, dan itu terlihat jelas di wajahnya. Dia cantik sekali seperti Helen. Gumam Daniah lirih. ¡° Sayang, siapa.¡± Belum selesai kalimatnya. ¡° Kak Saga.¡± Daniah kaget saat wanita itu berlari dengan gaya cerianya mendekati suaminya. Ibu terlihat tersenyum senang dengan apa yang di lakukan gadis itu. Matanya berpendar memberi dukungan.¡° Akhirnya kakak pulang. Sudah lama sekali.¡± Saga menahan kepala gadis yang menghambur dan mau memeluknya dengan tangannya. ¡° Maaf tuan.¡± Sigap Han menahan gadis cantik yang terlihat kesal itu. Cih, dasar bocah. ¡° Kak Saga ini aku Amera.¡± Amera? Siapa Amera? Apa dia juga mantan tuan Saga. ¡° Nona Amera apa nona tidak merasa kalau sikap nona sudah tidak sopan pada tuan muda dan nona Daniah.¡± Han masih memegang tangan gadis yang keras kepala ingin memeluk Saga itu. ¡° Lepaskan dia Han.¡± Perlahan Han melepaskan tangan gadis bernama Amera itu. Dia menjadi girang dan masih berusaha mendekat tidak perduli tatapan jengah yang tertuju padanya. Terutama dari wanita yang masih melingkarkan tangan di lengan Saga. ¡° Jaga sikapmu Amera, kau bukan anak-anak lagi.¡± Saga bicara tegas, membuat gadis itu cemberut, tapi berhasil membuatnya diam. " Kau datang bersama ibu?" Meneruskan langkah sambil melingkarkan tangan di bahu Daniah. ¡° Ia Kak, aku kangen sama kak Saga, apa ini Daniah, ibu sudah banyak cerita tentang istri kak Saga.¡± " Lakukan saja yang ingin kau lakukan di ibu kota. Jangan mengganguku." Benar-benar pergi berlalu meninggalkan Amera yang mematung diam mendengar kata-kata Saga. Huh! Kak Saga masih sama sombong dan angkuhnya begitu, bagaimana bisa ibu bilang kalau dia sudah berubah. Dan istri kak Saga benar-benar jauh berbeda dengan Helen. Mereka benar-benar tidak selevel. " Nona Amera." " Apa?" Han yang selalu menyebalkan dari dulu. Mendekat. " Saya tidak tahu apa yang nyonya janjikan kepada nona. Tapi nona pasti tahu dengan pastikan, saya bukan orang yang berbelas kasih. Terutama untuk orang-orang yang menggangu kenyamanan tuan muda." Dia benar-benar menakutkan, tapi akukan dapat dukungan dari ibu. " Bahkan nyonya sekalipun tidak bisa melindungi anda, kalau sampai nona melewati batas." Apa! Bagaimana dia bisa tahu! Saat Han meninggalkannya dan melewati ibu dengan menggangukan kepalanya, tangan Amera bergetar. Dia mengenal Han dengan baik, kalau apa yang dikatakannya tidak pernah main-main. Bersambung Chapter 191 Masalah baru Pak Mun sudah menghidangkan jus segar di atas meja. Daniah langsung mengambil gelasnya dan menghabiskan separuh isi. Melirik gadis yang bernama Amera. Berusaha menemukan benang merah siapa dia. Tuan Saga tidak terlalu menolak atau canggung saat bicara dengannya. Intonasinya juga datar tidak menunjukan antusias ataupun penolakan, mereka terlihat cukup dekat. Walaupun mata tuan Saga masih terlihat tidak suka kalau Amera menempel padanya tapi dia tidak secara kasar menghardiknya. Seperti perlakuan tuan Saga pada Jen dan sofi. Apa hubungan mereka sedekat itu. Pikirannya berkecamuk sendiri. Dengan wajah sedikit berkerut. Tapi tetap saja aku tidak suka. Cih, kenapa si aku. Ini pasti gara-gara lagi datang bulan moodku kacau balau begini. Ibu sekilas menceritakan perjalanan ke luar kotanya. Bagaimana dia mengunjungi paman dan bibi di luar kota. Menyampaikan salam keduanya untuk Daniah dan saga. Lalu dengan senyum hangat dan lembut menyentuh Amera, bagaimana mereka tidak sengaja bertemu setelah sekian lama. Saga membalas sekenanya. Daniah hanya menganggukan kepalanya sopan. Mengusir pikiran di kepalanya, kalau Amera ini adalah gadis yang di siapkan ibu untuk tuan Saga. ¡° Apa semua baik-baik saja? Kenapa bulan madumu di percepat kepulangannya?¡± Ibu sepertinya sengaja saat menarik tangan Amera untuk duduk di sebelahnya, menjadi perantara antara dirinya dan Saga. ¡° Tidak apa-apa bu, Niah hanya sedang kurang sehat.¡± Saga yang menjawab. ¡° Kenapa? Apa dia sakit. Bagaimana kamu itu, seharusnya kamu menjaga kesehatanmu dengan baik.¡± Daniah tidak menjawab, dia memilih diam. Toh, jawaban apapun dari mulutnya tidak akan merubah apa-apa. ¡° Cukup bu.¡± Meraih tangan Daniah. ¡° Aku yang memutuskan untuk pulang lebih cepat.¡± Pembelaan itu sungguh sangat berarti bagi Daniah sekarang. Mood Daniah benar-benar kacau. Pikirannya yang kacau selama perjalanan karena melihat sikap Saga, di sambut ibu yang membawa seorang wanita yang sepertinya cukup dengan dengan keluarga. Rasanya benar-benar lelah. Andai bulan madu di perpanjang. Andai dia pulang tidak dalam kondisi mood yang tidak stabil, dia yakin dia bisa menghadapi semua ini dengan santai dan tenang. ¡° Amera akan tinggal di sini. Bolehkan? Dia sudah selesai kuliah, Ayahnya dan pamanmu berharap kamu bisa membantunya bekerja di Antarna Group.¡± Ibu menyentuh kepala Amera lembut. Seperti menunjukan pada menantunya kalau dia sangat menyayangi gadis di sampingnya itu. Dia cantik, berkelas, memiliki status sosial yang baik dan pintar. Begitu senyum tipis yang muncul di bibir ibu saat pandangan matanya bertemu dengan menantunya. ¡° Kakak bolehkan aku bekerja di perusahaan. Jen juga sedang magangkan? Boleh aku bekerja dengannya.¡± Amera menyambar, matanya melirik tangan Saga ingin meraihnya. Tapi dia tidak punya keberanian. ¡° Ibu, kau tahukan bagaimana perusahaanku bekerja. Aku tidak pernah memasukan karyawan tanpa seleksi, Jen bahkan harus melewati prosedur resmi untuk magang di perusahaan. Jadi jangan memintaku melangkahi prinsipku hanya karena Amera.¡± Wajah ibu langsung berubah pias, dia tahu semua tidak akan semudah rencana yang ia buat. Tapi mendapat penolakan terang-terangan begini terlebih di depan Daniah menantunya. Ia seperti merasa kalah dua kali. ¡° Kak Saga aku bisa bekerja apa saja. Aku akan belajar dengan sungguh-sungguh, supaya bisa bekerja dengan baik.¡± Memohon, dengan meraih tangan Saga secara berani. ¡°Ya kak, tolong terima aku ya.¡± Bola mata bening itu memohon dengan sangat. Daniah bangun dari sofa, tangannya terlihat terkepal. Menahan geram. Melihat Saga yang selama ini dingin pada siapaun selain pada adik-adik perempuannya membuat hatinya sedikit terguncang. ¡° Niah.¡± Saga meraih tangan Daniah yang sudah bangkit dari duduk. Dia melihat istrinya langsung merubah ekspresi wajahnya. Itu membuat Saga tergelak dalam hati. Bagaimana Daniah menutupinya, dia bahkan sudah melihat perubahan wajah istrinya bahkan saat melihat Amera di luar tadi. ¡° Sayang, sepertinya aku naik ke kamar duluan ya.¡± Tersenyum dipaksakan. ¡°Lanjutkan saja pembicaraan kalian.¡± ¡° Baiklah naiklah dulu. Aku masih ada yang ingin di bicarakan dengan ibu dan Amera.¡± Apa! dia memilih duduk di sini bersama Amera daripada naik bersamaku. Bahkan sebelum menaiki tangga Daniah sempat berbalik. Menatap Saga yang malah melambaikan tangan sambil tersenyum padanya. Sepanjang memasuki kamar dia mengerutu dengan kesal. Apa-apaan dia, malah melambaikan tangan begitu! Selepas kepergian Daniah ibu seperti mendapati angin segar. Karena putranya bahkan tidak menyusul istrinya. Padahal diapun melihat tadi, kalau menantunya sedikit terusik dan tidak bisa menguasai pandangannya. Saat melihat keakraban Amera dan putranya. Menyerang melalui Saga memang tidak mungkin, tapi melaluimu itu bisa saja terjadi. Aku rasa kau bisa melihat perbedaanmu dengan Amera hanya dengan melihat dari luar saja. Begitulah ibu, masih begitu percaya diri dengan semua rencananya. ¡° Jadi kakak maukan mererimaku bekerja.¡± ¡° Ia Saga ibu mohon, ayah Amera dan pamanmu sangat berharap.¡± ¡° Ibu.¡± Suara Saga berubah dingin. Jauh berbeda dari saat Daniah masih duduk di sebelahnya. ¡° Lakukan saja apa yang ingin ibu lakukan dengan Amera. Ajak dia jalan-jalan dan berkeliling ibu kota, setelah itu kirim dia kembali pulang.¡± ¡° Kak Saga.¡± ¡° Jaga sikap mu. Kau tahu aku menyanyangimu seperti Jen dan Sofi, jadi jangan melebihi batasmu.¡± ¡° Saga.¡± ¡° Jangan ganggu Daniahku bu.¡± Menatap Amera. " Kau juga, bersikap sopanlah pada istriku Saga bangun dari sofa lalu, tidak menoleh sama sekali pada kedua orang yang duduk saling berpegangan tangan sambil menatap kepergiannya dengan nanar. Dia memang mengemaskan kalau ngambek begitu. Apa dia cemburu ya. Sepanjang menaiki tangga yang dipikirkan Saga. Sementara itu di lantai bawah, urusan belum selesai sepeninggal Saga. Pak Mun maupun Han masih berdiri di tempatnya. " Apa?" Ibu tidak jadi bangun dari duduk saat Han mendekat dan juga duduk di salah satu sofa. Menatap keduanya dengan jengah. Dia juga sedang lelah, ditambah dengan semua kejadian bodoh yang terjadi menyambut tuan Saga semakin membuatnya kehilangan kontrol dirinya. " Apa yang nyonya lakukan?" " Apa? Aku hanya meminta Saga menerima Amera bekerja di perusahaan. Dia sudah menggangap Amera seperti adiknya sendiri, seperti Jen dan Sofi." Nyonya menatap sebal pada sekertaris Han. Dia bahkan sudah membaca semua pergerakanku. " Nyonya, saya bisa menahan diri kepada nyonya, karena anda ibu yang di sayangi tuan muda. Tapi, kalau kepadanya." Menatap Amera. " Kalau nona merasa di anggap adik oleh tuan muda, saya harap tidak melewati batas itu. Atau nona yang akan terluka." Amera mencengkram tangan ibu bergetar. Han bicara dengan kalimat yang datar, tapi tatapannya seperti mengatakan. Habislah kau menggangu tuan mudaku. " Kau terlalu berfikir berlebihan. Ayo" Bangun dan menarik tangan Amera untuk mengikuti. Duduk berlama-lama dengan sekertaris Han hanya akan menciutkan nyali. Bahkan bisa jadi merubah pendirian Amera yang sudah susah payah dia rayu. " Nona Amera." Kedua wanita itu berhenti. " Kalau nona benar-benar ingin bekerja untuk Antarna Group, ajukan permohonan secara resmi. Jangan kuatir, saya tidak akan ikut campur di terima atau tidaknya nona." Amera menatap ibu, tapi dia tidak menjawab karena tangannya sudah ditarik pergi. Han menatap kepergian keduanya dengan jengah. Bagaimana mungkin nyonya masih berfikir sebodoh itu, apa dia buta, kalau anaknya bahkan hanya melihat istrinya sebagai satu-satunya wanita di dunia ini. Huh! wanita-wanita lain di anggap berbeda gender dengan istrinya. Saga menarik handle pintu, melirik semua sudut. Melihat istrinya ada di atas tempat tidur menutupi semua tubuhnya. " Niah." Diam tidak ada sahutan. Masih mendekat dengan pelan. " Niah, apa kau tidur?" Masih hening, bahkan tidak ada gerakan apapun. Selimut itu masih jejak tidak bergeser sedikitpun. Hanya terdengar hembusan nafas pelan Daniah dari bawah selimut. " Kalau kau cuma pura-pura tidur, kupastikan kau akan menyesal tidak menjawabku." Baru terlihat ada pergerakan di bawah selimut. Terdengar gumamam pelan sambil menyibak selimut. "Apa! sudah selesai dengan Amera?" Jawabnya acuh pura-pura menguap. " Kemari, bantu aku ganti baju." Saga yang sudah ada di depan pintu ruang ganti baju menoleh, saat Daniah tidak beranjak dari tempat tidur. Wahhh, wahh, dia benar-benar ngambek sepertinya. Kalau lagi cemburu diakan punya energi membangkang tiga kali lipat. " Niah!" " Ia, ia. Aku datang." Dasar, akukan yang sedang kesal. Kenapa intonasimu yang meninggi. " Ganti bajumu." Setelah selesai ganti baju dan melemparkan baju yang di pakainya dalam keranjang. " Tidak mau." Daniah membalas cepat. Lagian cuma dipakai naik pesawat juga. Yang penting aku sudah ganti pembalut tadi. " Wahh, wahh, kau membangkangku berapa kali setelah kembali ke rumah. Kau punya banyak tenaga sepertinya ya." Mendorong Daniah sampai terduduk di lemari baju. "Mau ku gantikan bajumu?" " Sayang, hentikan aku masih datang bulan." " Memang apa yang kau pikirkan dasar mesum?" Menarik ujung baju yang di pakai Daniah. Terlepas dengan mudah. Dilemparkan baju itu ke keranjang pakaian kotor. Ketukan jari-jari tangan di bahu menurun ke area favoritnya. " Aku pakai baju. Aku mau pakai baju." Aaaaaa, aku sedang ngambek tahu! Kenapa malah jadi begini si. Bersambung............ Chapter 192 Dilema Dua anak manusia Malam sudah larut saat Han menyelesaikan semua urusannya hari ini. Pintu lift yang terbuka langsung di sambut kesunyian. Tidak ada siapapun yang ada di lantai apartemen ini. Karena lantai ini hanya memiliki satu pintu utama. Han masuk ke dalam rumah. Tercium bau yang setiap hari menyambutnya dalam keremangan malam. Diraihnya remot di atas lemari dia meletakan sepatu. Menyalakan beberapa lampu. Pendar lampu di beberapa sudut ruangan membuat rumah ini terlihat seperti rumah manusia. Hah! Dalam beberapa hari saja banyak yang sudah terjadi. Han sudah mendapatkan informasi kepulangan nyonya. Kalau wanita itu membawa seorang gadis. Tidak menjadi perkara siapa yang dibawanya. Tidaklah penting dan tidak harus masuk dalam list sesuatu yang harus di perhatikan. Tapi sialnya, nyonya benar-benar sudah membuat rencana cukup rinci sepertinya. Gadis itu bukan seseorang yang dibenci tuan muda. Bocah itu sudah tumbuh besar rupanya. Tapi nyonya kali ini sepertinya kau sudah benar-benar salah langkah. Kalau saja kau membawanya saat tuan muda terpuruk di tinggal Helena. Kau masih ada harapan. Tapi kalau sekarang, tuan muda bahkan tidak rela istrinya di lirik laki-laki lain. Tuan muda tentu tidak akan bergeming sedikitpun. Han tahu, sedalam apa perasaan Saga untuk nona mudanya. Tapi dia juga tahu kalau saat ini tuannya itu sedang bimbang mengenai kehamilan nona. Dia sudah mengatur jadwal konsultasi dengan dokter kandungan tadi. Secepat mungkin ini harus dilakukan pikirnya. Han masuk ke kamar mandi, mengisi bak dengan air hangat lalu memasukan beberapa tetes aroma terapi ke dalamnya. Dia sudah menanggalkan pakaiannya. Dan masuk ke dalam bak kamar mandi. Kalau nyonya memberi ide tentang menikah lagi untuk meneruskan keturunan, apa tuan muda akan mempertimbangkannya. Tidak mungkin pikiran Han tersadar. Dia meletakan kepalanya di pinggiran bak mandi. Mendongak dan menatap langit-langit kamar mandinya. Wajah Daniah terpantul jelas di sana. Bagaimana kesalnya gadis itu saat menaiki tangga rumah tadi menuju kamarnya. Bahkan nona tidak berusaha menutupi rasa kesalnya dengan senyuman basa basi ataupun apa. Han merasa nyonya berhasil menemukan sebuah kelemahan di sana. Tapi satu hal yang masih membuatnya yakin, bahwa wanita memang memimpikan menjadi ibu. Seperti apapun proses yang di jalaninya. Binggung lagikan dia. Sehingga ketakutan tuan Saga sepertinya tidak pada tempatnya. Perempuan benar-benar makhluk paling susah di tebak maunya apa! Bahkan saat lintasan percakapannya dengan Aran sehari kemarin di pulau XX sebelum keberangkatan gadis itu kembali ke ibu kota. " Aran kemarilah, aku mau bertanya." Gadis itu mendekat dengan penasaran yang tampak berkobar di matanya. " Ia tuan." " Apa kau tetap mau jadi ibu walaupun kau tahu hamil dan melahirkan itu tidak mudah." Wajah terkejut Aran mendengar pertanyaan Han. Dia tersenyum malu. " Apa yang kau pikirkan?" " Maaf." " Jawab saja dengan jelas." " Apa ini tentang tuan muda?" Cih, kadang-kadang kalau kau memakai otakmu, pradugamu selalu benar adanya. " Sudah jawab saja." " Tuan, mungkin bagi laki-laki ini terdengar tidak masuk akal ya. Tapi mungkin memang sudah dari sananya Tuhan menciptakan wanita untuk fitrahnya menjadi ibu. Jadi untuk sebagian banyak wanita menjadi ibu itu sudah seperti impian dan cita-cita tersendiri. Walaupun tahu hamil itu tidak mudah, melahirkan itu penuh perjuangan. Tapi semuanya terobati setelah melihat wajah anak yang dilahirkan." Apa-apaan dia sepertinya senang sekali. Ya, diakan pernah bilang ingin menikah dan punya anak yang banyak. " Kalau kau seingin itu punya anak kenapa tidak menikah? Kau juga tidak muda lagikan." Kata-kata telak menyebalkan yang diucapkan pada seorang jomblo cukup umur adalah, kenapa kau belum menikah. " Kalau tuan sudah menikah saya juga akan menikah." Aran tersenyum tipis dengan jawaban yang tidak kalah menghujam kesombongan sesama jomblo. " Tutup mulutmu!" Tidak tahu kenapa Han merasa tersinggung dengan kalimat Aran. " Kenapa tuan marah? sayakan bukannya meminta menikah dengan tuan." " Huh! kau bahkan sudah berani terang-terangan sekarang." Meninggalkan Aran yang menatap punggungnya sampai menghilang ke dalam vila. Gadis bodoh! Masih lama aku untuk memikirkan diriku sendiri. Han masih bersandar di bak mandinya, padahal air di bak mandinya suhunya sudah sedikit menurun. Tuan besar, ayah. Apa aku sudah melakukan yang terbaik untuk melindungi tuan muda dan orang-orang yang ia sayangi. Ayah, aku hebatkan. Pendar lampu kamar mandi memantulkan seraut wajah lelaki tua. Han tersenyum dan mencoba meraihnya dengan tangannya. Sementara itu jauh dari kediaman Han. Seseorang yang dikatainya bodoh. Para pelayan di rumah belakang sudah beraktivitas dengan normal. Dari pagi sampai malam hari. Mereka melakukan pekerjaan dengan serius tanpa banyak bicara ketika bekerja. Apalagi seharian setelah mereka kembali dari pulau XX. Mereka harus membersihkan rumah utama dengan ekstra. Aran sendiri walaupun pekerjaan utamanya adalah berada di samping nona taapi dia juga di perbantukan untuk membersihkan rumah utama. Seharian kemarian dia hanya bisa berdecak kagum melihat langit-langit ruangan. Lampu-lampu berkilau di setiap ruangan. Kursi mewah dan mengkilat rumah utama. Sesuatu yang bahkan jauh lebih dari apa yang bisa dia bayangkan. Sudah beberapa kali meliput rumah para konglomerat, tapi sungguh, rumah utama adalah rumah paling megah dan luar biasa yang pernah dia masuki. Level tuan Saga benar-benar di atas orang lain pada umumnya. Kamar utama. Bagaimana rupanya kamar tuan dan nona ya. Hanya kepala pelayan pak Mun dan dua pelayan wanita senior yang bisa memasuki ruangan itu. Mereka berdualah yang bertugas menjaga kebersihan kamar utama. Aran mengenal kedua pelayan senior itu. Tapi ketika ditanya tentang bagaimana kamar tuan dan nona keduanya hanya menatap diam dan tidak membuka mulut. Jawaban mereka sama. ¡° Aran, jangan bertanya sesuatu yang tidak ada hubungannya dengan pekerjaanmu. Apalagi mengenai tuan dan nona. Sayangilah hidupmu.¡± Hah, aku tahu maksudnya. Ternyata kekuasaan sekertaris Han tidak hanya di perusahaan, tapi juga merambah sampai rumah utama. Aran menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidur, setelah mandi dengan cepat tadi. Dia meluruskan kaki dan pungunggnya. Rambutnya bahkan masih sedikit basah. Tapi tidak diambil pusing olehnya. Aaaa, nyaman sekali! Karena masih tinggal sendirian dia bisa melakukan apa yang dia inginkan. Berguling-guling diatas tempat tidur sambil menendang selimutnya. Apalagi saat wajah sekertaris Han melintas. Aku pasti sudah gila! Bagaimana bisa aku menjawab dia begitu. Dan apa dia bilang tadi, terang-terangan. Memang siapa yang menyatakan hei. Kegeeran. Tapi Aran masih cukup sadar diri, kalau kesalahannya di masa lalu belumlah dimaafkan. diapun belum punya kesempatan untuk minta maaf dengan benar. Bagaimana aku bisa minta maaf dengan benar, kalau setiap menyinggung masalah itu. Dia selalu mengatakan. Tutup mulutmu. Sudah tahu dia harimau gila, kau masih menyukainya. Itu salahmu sendiri Aran. Mungkin begitu hatinya menyadarkan. Sampai dia terlelap nama Han masih terucap dalam gumamam mimpinya. Bersambung Chapter 193 Senangnya di cemburui Semalam, Daniah menemukan Jurus baru mengalahkan Saga, bukan dengan diam seribu bahasa. Bukan pula dengan menarik selimut dan membisu. Karena laki-laki itu punya seribu satu cara menjahili istrinya. Tapi giliran Daniah banyak bicara dia mulai meladeni dengan jurus hemm. Hemm. Yang tidak ada lawannya itu. Dasar, ya aku cemburu, cemburu. Memang cuma kamu yang bisa marah aku bicara dengan laki-laki lain. Aku juga bisa tidak rela melihatmu akrab dengan wanita lain. Sekalipun statusnya kamu anggap adik. Kalau aku menggangap sekertaris Han kakak apa kamu juga akan diam saat aku bicara dekat dengannya. Tidakkan? Tapi, siapa juga mau punya kakak menjengkelkan seperti dia! ¡° Cuma segini saja ngambeknya.¡± Sudah menghujani Daniah dengan ciuman. Aaaaaa, malah senangkan kalau aku ngambek, dasar orang aneh. " Bagiku Amera itu sudah seperti Jen dan Sofi." Begitu akhirnya dia mulai ceritanya. Sambil memeluk dan mendekatkan wajah Daniah ke dadanya. Dan malam itu untuk pertama kalinya Saga bicara banyak sekali. Daniah mendesah kesal beberapa kali, tapi Saga malah terbahak. Lucu mungkin ya melihat istrinya cemburu. Jarangkan melihat istrinya menunjukan perasaannya. Pagi ini Daniah bangun dengan perasaan jauh lebih baik. Pembicaraannya dengan Saga semalam membuka sedikit tabir kehidupan Saga yang ingin di ketahui Daniah. Bahwa suaminya benar-benar laki-laki berhati hangat. Dia mencintai orang-orang yang layak untuk dia sayangi. Tapi setelah lewat masalah semalam, pagi ini masalah baru datang lagi. ¡° Kau lupa, aku pernah mengurungmu di rumah." Tersenyum tipis mengingatkan kejadian kaburnya Daniah " Kau baik-baik sajakan sampai sekarang." Jadi berhenti merengek begitu kira-kira arti senyum jahat Saga. "Sampai datang bulanmu selesai kau akan tetap di rumah.¡± ¡° Sayang. Dengarkan aku dulu. Aku sudah tidak apa-apa, nyeri juga tidak perutku. Dan darah yang keluar juga tidak sebanyak hari pertama dan kedua.¡± Wajah penuh harap dan memelas sudah dia setel dari sepagi tadi. Menyesal, seharusnya dia membujuknya dari semalam. Daniah tidak memprakirakan akan seperti ini jadinya. ¡° Aku mau ke ruko. Please, sudah lama aku tidak datang. Mau kasih oleh-oleh juga sayang.¡± Memeluk pinggang Saga. ¡° Tidak!¡± Cih, langsung melepaskan tangan tau upayanya sia-sia. ¡° Sayang, aku mau ketemu Raksa juga. memberikan Oleh-oleh untuknya dan untuk keluargaku.¡± Mencoba lagi, pantang mundur. Kegigihan selalu membuahkan hasil. Untuk perkara apapun. Apalagi urusannya dengan suami. ¡° Baiklah.¡± ¡° Benar?¡± Bola mata redup milik Daniah itu menjadi cerah berbinar. Semangat kembali mengelora. Hei, kenapa malah jalan ke tempat tidur? Saga menjatuhkan dirinya di atas tempat tidur, membuat Daniah binggung. ¡° Kau bilang akan mati bosan sendirian, jadi aku akan membatalkan semua rencana kerjaku. Aku akan di kamar dan menemanimu saja.¡± Tuan muda yang bisa masuk kerja seenaknya sedang pamer kekuasaannya. Siapa yang mau begitu! Aku benar-benar ingin memukulnya sekarang. ¡° Baiklah, baiklah. Aku akan dirumah sayang, menunggumu. Sekarang pergilah bekerja.¡± Jangan begitu! Ayo pergilah! Daniah menarik lengan Saga, dan mendorong tubuhnya untuk menuju pintu kamar. Bisa tambah runyam kalau laki-laki ini di rumah seharian. Daniah ingat di lantai bawah gadis itu masih di sana menunggu kesempatan. Ibu juga sama halnya. Dia terlihat jauh lebih agresif dengan kata-katanya di saat makan malam. Walaupun tuan Saga mengatakan dia cuma adik, tapi melihatnya menempel terus membuatku benar-benar jengah. Dia cantik, tapi cara yang dia pakai berbeda dengan Helen. Dia benar-benar memakai trik adik mengemaskan untuk mendekati tuan Saga. Perang batin sendiri di hati Daniah. Saga menahan handle pintu yang di pegang Daniah. Dia menarik dan mendorong tubuh kecil itu sampai menempel pada pintu. ¡° Apa?¡± ¡° Cium.¡± Meraih ujung dagu Daniah. ¡° Tidak mau!¡± ¡° Padahal tadinya aku mau mengizinkanmu mengundang adikmu ke rumah ini. Kalau begitu tidak jadi.¡± Melengos kesal. ¡° Tunggu!¡± Tertawa palsu sambil memegang kedua pipi. ¡° Aku cuma bercanda sayang, mau cium di mana? Sini? sini?¡± Menunjuk bagian pipi dan bibir. ¡° Semua. Sini. sini.sini.¡± menunjuk semua bagian wajah dan juga leher dengan tidak tahu malunya. Aaaa, lagi-lagi aku kalah telak begini si. Mencium semua bagian yang ditunjuk Saga dengan seenaknya. ¡° Sudahkan.¡± Saga tertawa puas. ¡° Jadi Raksa boleh datang kemari mengunjungiku.¡± ¡° Hemm.¡± ¡° Terimakasih sayang. Muahh, muah.¡± Dua kali kecupan dibibir. Kecupan kejutan itu membuat wajah Saga merona senang. ¡° Niah, kau tahukan walaupun dia adikmu, aku tetap menggangapnya laki-laki.¡± Artinya jaga sikapmu ketika berinteraksi dengannya. Jangan melakukan kontak fisik berlebihan dengannya. Dia laki-laki, mau dia adikmu sekalipun. Mulai lagi. ¡° Kalau begitu kau juga janji, jaga sikapmu dengan Amera. Kalau Raksa yang benar-benar adikku saja tidak boleh apalagi Amera.¡± ¡° Haha, manisnya kalau istriku cemburu.¡± Kali ini Saga yang mencium duluan. ¡° Aku serius sayang.¡± Bicaranya sudah terbungkam, Saga tidak memberi kesempatan Daniah bicara. Ciuman panjang sampai Daniah gelagapan. Hei kenapa si! Aku jadi susah bernafas ni. ¡° Haha, kau mengemaskan sekali kalau sedang cemburu ya. Kau sampai lupa bernafas lagikan?¡± ¡° Tentu saja aku cemburu, kaukan suamiku.¡± Mendengar itu wajah Saga benar-benar terlihat sangat senang. Dia menjatuhkan dagunya di bahu Daniah. Memiringkan wajahnya dan menempelkan bibirnya di leher gadis itu. Daniah menjerit saat ciuman keras membekas merah sebagai tanda kepemilikan menempel di sana. ¡° Niah, dia bukan levelmu sama sekali. Kau tahukan sebesar apa aku mencintaimu. Tapi aku senang kalau kau cemburu begitu. Hehe¡± Memberi kecupan terakhir di leher Daniah sebelum menggangkat kepalanya. Cih senang ya kalau istrimu cemburu. ¡° Sudah sana, kau bisa terlambat nanti.¡± Mendorong tubuh Saga menjauh. ¡° Akhirnya mereka keluar dari kamar. Daniah merapikan lagi rambutnya. Saat menuruni tangga dia bisa melihat dimeja makan sudah ada semua orang minus Jenika karena dia sudah harus berada di kantor jam segini. Hari yang melelahkan ketimbang harus bekerja di ruko akan di temui Daniah setelah kepergian Saga ke kantor. Tatapan ibu dan Amera di sampingnya sudah tidak bersahabat. Hanya Sofi yang terlihat girang sambil melambaikan tangan. " Kakak ipar, terimakasih oleh-olehnya aku suka sekali. Kak jen juga suka." Saga memeriksa beberapa file yang di serahkan Han setelah mobil melaju keluar dari gerbang rumah utama. Mereka tidak ada yang bicara sampai mobil memasuki area parkir gedung Antarna Group. ¡° Kau sudah mengatakan pada pak Mun untuk mengawasi Amera?¡± Mobil berhenti di area parkir VVIP, khusus presdir. "Ibu belum mengatakan apa-apa?" ¡° Saya sudah menjelaskan pada Pak Mun untuk melakukan apa. Perkara nyonya anda tidak usah memikirkannya.¡± Saga mendesah. Terlihat sekali dia sedang menahan kesal. Semenjak tahu bagaimana beratnya menjadi ibu, dia sudah berjanji untuk mencoba mengalah dengan apapun yang ibunya lakukan. Tapi sepertinya, ibu mulai melewati batas. Membawa Amera adalah bukti nyata kalau ibu benar-benar seperti mengajaknya berperang. ¡° Biarkan pelayan wanita itu menemani Daniah selama di rumah.¡± ¡° Aran?¡± ¡° Ya, atau pelayan yang dulu ada di rumah belakang yang berteman dengan Daniah.¡± " Baik." ¡° Kau sudah mengatur pertemuan dengan dokter?¡± Saga harus tahu semua dengan jelas. Baru dia akan membuat keputusan penting setelahnya. Di satu sisi dia hanya mau Daniah menjadi ibu dari anak-anaknya. Tapi di pihak lain, dia takut kalau Daniah tidak akan sanggup melewati semuanya. Karena hamil dan melahirkan tidaklah semudah yang ia bayangkan selama ini. ¡° Sore nanti kita ke RS tuan. Hari ini tuan Noah sudah membuat janji dengan anda. Apa mau saya majukan di jam makan siang.¡± Keluar dari mobil lalu membuka pintu belakang. ¡° Tidak perlu lakukan saja sesuai jadwal. Mau apa dia?¡± ¡° Mengabarkan kalau dia akan segera menikah.¡± Saga tertawa mendengarnya. " Hah! dia benar-benar menikah." Menghentikan langkahnya. " Apa dia menikah dengan?" Tidak mau menyebutkan nama seseorang dengan bibirnya. " Tidak tuan, pacar tuan Noah seorang psikolog." " Baguslah. Siapkan rumah yang pernah kujanjikan padanya sebagai hadiah pernikahan." " Baik tuan." Saat memasuki gedung Antarna Group, untuk pertama kalinya Saga berpapasan dengan Raksa. Pegawai magang itu berhenti dan menundukan kepalanya sopan. Saga berhenti tepat di depannya, membuat Raksa mendongakan kepala. Raut cemas muncul di wajahnya. Mau apa tuan Saga? Kenapa dia berhenti di depanku. " Kau bisa datang ke rumah mengunjungi kakakmu." Wajah Raksa terkejut mendengar kata-kata yang tidak terduga itu. Dia menjawab cepat sambil menundukan kepala beberapa kali sebagai bentuk terimakasih. " Baik tuan. Terimakasih banyak." Melihatnya sesenang itu membuatku jadi kesal. Cih, Han yang berjalan di belakang Saga bahkan sampai angkat bahu saat melihat tuannya menyapa Raksa duluan. Tadinya dia berfikir tuan Saga akan acuh dan pura-pura tidak mengenalinya. " Han." " Ia tuan." " Kapan kau mau menyusul Noah?" Diam dan tidak menjawab, bahkan sampai memasuki lift menuju lantai paling atas gedung megah Antarna Group. Please jangan tanya kapan nikah sama jomblo yang sudah cukup umur, karena sakitnya tidak berdarah ^_^ Bersambung...... Note : Alhamdulillah bisa update sesuai jadwal. Semoga bisa mengobati kerinduan pada Saga dan Daniah. Alur cerita akan semakin berkembang dan bertemu pada beberapa masalah yang terkait satu sama lain ya, dinikmati saja alurnya. semua tokoh akan mendapat porsinya masing-masing nanti. Dan juga mau mengucapkan terimakasih sebanyak-banyaknya untuk semua orang yang sudah membaca TMTM, silahkan mendukung novel ini dan authornya dengan cara kalian masing-masing ya. Terimakasih semuanya untuk yang selalu klik like, favorit, vote dan berbagai komentar serta bagi koinnya. Terimakasih para pembaca setia, semoga sehat selalu dan bahagia ^_^ Chapter 194 Hati Saga Teriknya siang menguapkan semangat para pekerja kantoran. Lelah dan rasa lapar yang menyatu. Saat jam makan siang datang, sudah seperti obat penghilang dahaga. Rutinitas obrolan dengan teman sekerja saat makan siang, bisa dipakai menjadi sedikit pelipur lelah. Apalagi untuk para pekerja yang sedang main lirik-lirikan dengan teman sesama kantor. Curi-curi kesempatan. Sesederhana itulah siklus harian para pekerja kantoran. Dan karena alasan pentingnya jam makan siang bagi para karyawan, Antarna Group memberikan fasilitas makanan yang terbilang diatas rata-rata kafetaria kantor untuk para karyawannya. Baik di gedung pusat ataupun setiap anak cabang perusahaan. Sapuan peluh dan keringat yang sudah mereka berikan untuk perusahaan di bayar dengan baik selain dengan gaji, bonus tahunan namun juga fasilitas yang memadai untuk para karyawannya. Saga Rahardian tahu bagaimana membayar kerja keras karyawannya dengan baik. Diluar semua tuntutan kesempurnaan, Saga selalu punya ruang untuk membalas kerja keras orang-orang yang bekerja untuknya. Untuk itulah saat ini, dia ada di sini. Di sebuah restoran dengan konsep keluarga. Dekorasi dan cat dinding yang menonjolkan kehangatan sebuah rumah. Foto-foto pemilik restoran beserta keceriaan keluarga menghiasi hampir seluruh dinding. Memasak dengan cinta. Sebuah tulisan besar yang tertulis di belakang meja kasir. Begitulah konsep yang ditawarkan restoran ini. Perindu masakan rumahan yang tidak mempunyai waktu untuk memasaknya sendiri di rumah adalah target utama pemilik restoran. Dengan model prasmanan seperti di jamuan dan pesta, pelanggan dipersilahkan mengambil makanan mereka sendiri. Ada antrian panjang pelanggan berderet di depan puluhan menu makanan, mereka dengan tertib mengambil makanan yang hendak mereka makan. Lalu masih harus antri lagi melakukan pembayaran. Perut-perut lapar rela menunggu demi sepiring lezatnya makanan. Sementara itu berjalan masuk ke dalam area restoran, akan dijumpai bilik-bilik privat. Ruangan yang bisa di sewa diluar menu makanan. Area yang bisa dipakai meeting atau sekedar keluarga yang ingin mendapatkan area khusus. Dan di sebuah ruangan yang paling bagus, atau mungkin saja khusus untuk hari ini ruangan itu di siapkan. Untuk tamu istimewa, dia adalah presdir Antarna Group, Saga Rahardian Wijaya. Dia sedang menikmati makan siangnya. Sekertaris Han juga sedang makan di meja yang sama. Sementara itu di depan mereka seorang laki-laki yang terlihat sangat bahagia berada di situasinya yang sekarang. Senyum cerah di wajahnya sudah memenuhi ruangan sedari tadi, melihat orang di depannya menikmati makan siangnya. ¡° Terimakasih tuan, sudah mau memenuhi undangan kami. Istri saya sangat bahagia dan berterimakasih karena kedatangan tuan.¡± Selepas pelayan datang membereskan meja, dia mulai bicara menunjukan rasa bahagianya. ¡° Apa tuan menikmati makanannya?¡± ¡° Apa makanan disini dibuat oleh istrimu.¡± Menjawab dengan tanda tanya, tapi laki-laki itu terlihat sangat senang mendengar pertanyaan itu. Istriku bisa pingsan kalau aku bilang tuan Saga makan makanannya dengan lahap. ¡° Ia tuan, restoran ini adalah impiannya, dia terlibat sendiri untuk urusan dapur. Dari pemilihan bahan sampai menu masakan.¡± ¡° Pertahankan itu, aku cukup suka makanan di sini. Niah juga pasti akan suka kalau aku mengajaknya kesini.¡± Istriku! Tuan Saga akan mengajak nona Daniah suatu hari nanti. Girang sendiri dalam harinya. ¡° Terimakasih tuan, terimakasih atas semua kebaikan tuan pada keluarga saya.¡± Mata laki-laki itu mulai berkaca. ¡° Semoga keluarga tuan dan Antarna Group selalu dilimpahi kebaikan.¡± Ingin rasanya laki-laki berterimakasih lagi. Menggengam tangan bahkan ingin sekali dia memeluk tuan Saga, sebagai bukti terimakasihnya. Tapi dia cukup tahu, bahwa dia tidak diizinkan untuk melakukan itu. Ketika Saga mulai meraih kertas-kertas di hadapannya, artinya kembali ke urusan pekerjaan sekarang. ¡° Apa kau bisa menyelesaikan desainnya dalam dua hari.¡± Setelah membaca semua laporan perusahaan Saga mengatakan kalau dia menginginkan satu set perhiasan untuk hadiah ulangtahun istrinya. Sesuatu yang spesial, yang berbeda dengan milik siapapun. ¡° Kami akan melakukan yang terbaik tuan.¡± Menjawab dengan semangat dan penuh keyakinan. Sebuah kebanggaan bagi dirinya dan karyawannya kalau bisa memberikan hasil bahkan diluar ekspektasi laki-laki di depannya. Karena ini untuk pertama kalinya tuan Saga meminta desain khusus perhiasan. Bahkan seingatnya waktu pernikahan, diapun tidak memesan secara khusus cincin pernikahannya. " Han akan menghubungimu untuk detailnya." " Baik tuan." ¡° Baiklah, aku percaya padamu.¡± Laki-laki yang merupakan CEO dari anak perusahaan Antarna Group yang merupakan perusahaan perhiasan berkelas dunia itu bangun saat Saga menarik kursi dan bangun. Sekertaris Han juga mengambil sikap yang sama. Beberapa kali sambil mengantarkan Saga keluar tidak henti dia mengucapkan terimakasih. Istrinya yang sudah menunggu diluar ruangan juga mengambil sikap yang sama. Selepas kepergian mobil tuan Saga, sepasang suami istri itu masih berdiri sampai mobil hanya menyisa setitik noda di kejauhan. Mereka saling berpandangan. ¡° Sayang, apa tuan Saga suka dengan makanan kita? Tidak!" Meralat sendiri pertanyaannya. " Apa dia makan sesuatu di dalam tadi.¡± Sang istri berharap cemas sambil mencengram tangannya sendiri. Antara penasaran sekaligus takut. Baginya, jika hanya dicicipi saja dia sudah akan sangat bersyukur. ¡° Dia makan istriku, dia makan masakanmu, dan dia bilang menyukainya. Dia bilang ingin membawa nona Daniah kemari untuk makan di sini.¡± Seperti ada bintang berpijar di siang hari, istri CEO itu berteriak girang sambil memeluk suaminya. ¡° Dia benar-benar baik ya sayang. ¡° Tempat ini, impian masa kecilku ini tidak akan pernah terealisasi tanpa kebaikan darinya. Disudut mata wanita itu menitikan airmata bahagia. Dan mengucapkan doa-doa terbaik untuk Antarna Group. Begitulah Saga. Bagi sebagian orang yang tidak mengenalnya dia memang terlihat angkuh, dingin dan tidak tersentuh. Tapi percayalah dia menghormati dan menghargai siapapun yang sudah bekerja keras untuk dirinya. Dengan penghargaan yang dia tunjukan melalui sikap hangatnya yang tidak pernah nampak di media. Kembali ke kantor, melewati jalanan padat. Selain jam berangkat dan pulang kerja, jalanan juga cukup ramai di jam makan siang. Mungkin banyak dari perusahaan yang tidak menyediakan kafetaria atau kantin kantor. Membuat para karyawannya harus keluar untuk sekedar makan siang. Siang yang terik tidak menyurutkan para pejuang keluarga berjibaku di jalanan yang padat. Terdengar bunyi klakson dan makian saat ada pengendara motor tak tahu aturan. Main salip sana sini di antara kemacetan. Saga masih tampak tenang di kursi belakang. Menyandarkan kepala. ¡° Han mana hp?¡± Katanya kemudian, menatap lampu merah yang belum berganti. Sekertaris Han sigap mengelurkan benda kecil di saku bajunya. Anda mau menghubungi siapa tuan? ¡° Dimana?¡± setelah terdengar nada sambung dalam dua kali dering. Nona Daniah rupanya. Ia juga, siapa yang akan anda terfon selain nona. Kembali fokus menatap mobi-mobil di depannya. Melirik lampu yang belum berganti. ¡° Di rumah sayang.¡± Memang aku mau dimana lagi, yang menjawab di sana membatin keras. Sambil merengut. ¡° Sudah makan?¡± Bertanya lagi. Sambil melihat lampu sudah berganti. Bunyi klakson sudah sahut-sahutan. Wahai pengendara budiman, kalau habis lampu hijau tidak usahlah main klakson hanya memerahkan hati dan membuat emosi saja. Han keluar dari kepadatan lampu merah. ¡° Baru selesai makan sayang, kamu sudah makan juga?¡± Daniah di sana menunjukan perhatiannya. ¡° Hemm. Bagaimana perutmu?¡± Masih cemas urusan datang bulan, tidak ada habisnya anda tuan muda. " Sudah membaik? atau?" ¡° Sudah tidak apa-apa. Aku benar-benar sehat.¡± Berusaha bicara dengan lancar, agar tidak mengandung kecurigaan. Sudah mau mengucapkan salam perpisahan. Daripada berbuntut panjang dan pertanyaan melebar kemana-mana. Tapi baru mau mengatakan sudah ya sayang. Saga masih memberi pertanyaan. ¡° Apa yang kau lakukan sekarang?¡± ¡° Membongkar oleh-oleh. Raksa bilang kau menyapanya tadi ya, bilang padanya kalau dia boleh mengunjungiku setelah bekerja.¡± kata-kata ceria itu bahkan bisa terlihat jelas di pelupuk mata Saga. Kalau istrinya sedang sangat senang sekarang. Hanya karena hal sepele seperti menemui adiknya. ¡° Cepat sekali dia sudah menghubungimu.¡± ¡° Haha.¡± Menjawab dengan tawa biar tidak melebar kemana-mana. ¡° Aku tidak sengaja bertemu dengannya tadi pagi. Kau bersama siapa sekarang?¡± Jangan berharap aku bisa dekat dengan adikmu ya, mungkin begitu yang ingin dikatakan Saga. ¡° Aku bersama Aran dan Maya, pak Mun bilang aku bisa minta bantuan mereka.¡± ¡° Baiklah, bersenang-senanglah.¡± ¡° Terimakasih sayang.¡± ¡° Jaga sikapmu pada Raksa.¡± Ultimatum utama yang sedari tadi ingin di berikan Saga. ¡° Baiklah Sayang.¡± Daniah menjawab lemas. Belum juga ketemu, batinnya protes. " Kau tidak mau mengatakan sesuatu?" Tuan muda belum berniat mengakhiri panggilan. Dia ingin mendengar sesuatu, tapi tidak mau mengatakan apa yang mau dia dengar seperti biasanya. Apa! kau mau mendengar apa? akukan sudah bilang terimakasih tadi. Daniah binggung mereka-reka. Jangan bilang kau mau mendengar kata-kata seperti aku merindukanmu. Aku tidak mau mengatakannya ya. " Cepat katakan!" Apa si gila ya, kamu saja yang bilang kalau mau. " Niah." Sudah tidak sabar. Tahu kalau istrinya sudah paham apa yang dia mau. " Sayang aku merindukanmu, cepat pulang ya." Puas! " Kau sedang menggodaku sekarang? " Cih, bukannya anda yang minta tadi. Dasar! Han ikut tidak habis pikir kalau tuannya sudah bersikap aneh begitu. Setelah mobil memasuki area parkir. Saga baru mengakhiri panggilan telfonnya. Dia tersenyun bahkan sampai berada di dalam lift. Wajah Daniah yang malu-malu masih menari-nari di matanya. Staff sekertaris yang tadi masih duduk langsung bangun saat melihat presdir dan sekertarisnya keluar dari lift. Dia beranjak meninggalkan kursinya. ¡° Kenapa?¡± Han yang bertanya. ¡° Maaf tuan, tuan Noah sudah menunggu di ruang tunggu.¡± ¡° Biarkan dia masuk.¡± ¡° Baik tuan.¡± Noah berjalan menghampiri Saga yang sedang duduk di sofa. Langsung menjatuhkan tubuhnya tanpa diminta. Wajah cerah, senyum bahagia. Sejuta kali dari biasanya. Laki-laki itu memang memiliki paras wajah ramah, apalagi sekarang saat debaran jantungnya sekuat remaja yang sedang jatuh cinta. ¡° Kau sudah lama?¡± Cih, mau pamer kalau kau mau menikah. Wajahmu saja sudah menunjukan pada dunia kalau kau sedang bahagia sekarang. ¡° Tidak lebih dari setengah jam. Apa kabar Daniah? Apa dia baik-baik saja.¡± Menyambar dengan isu paling sensitif, melebihi isu gejolak saham anak perusahaan Antarna Group. ¡° Apa kau mau mengajakku berperang. Seharusnya yang kau tanya itu aku buah Niahku.¡± Tuhkan, lihat, sudah berkobar apinya. Noah tertawa. Padahal tadi dia mau iseng memanggil Daniah dengan sebutan nona matahariku. Kalau aku memanggil Daniah begitu, dia pasti menyuruh Han menyeretku keluar. ¡° Haha, akukan sudah melihatmu baik-baik saja.¡± Masih tertawa renyah. Lalu dengan senyum malu-malu mengeluarkan selembar undangan dari saku jasnya. " Aku mau menikah." Bersambung Chapter 195 Seputar Noah Kantor presdir di penuhi tawa Noah, bahkan di sudut ruangan Han juga terlihat tersenyum tipis. Melihat kekalahan telak Saga beradu pamer tentang seberapa mereka memahami perempuan. ¡° Haha, jangan bilang kau berfikir kalau Daniahmu.¡± Penyebutan nama yang sarat akan makna oleh Noah. ¡°Akan mati kehabisan darah karena datang bulan.¡± Noah terpingkal saat mendengar cerita Saga, saat dia menanyakan, kenapa sampai kepergiannya liburan berkedok bulan madu di percepat kepulanggannya. Darimana dia tahu, tentu saja dari Keanu, walikotaXX. Bahkan Noah tahu kalau Saga meminta Ken mematahkan tangan seseorang yang sudah menyentuh Daniahnya. Noah merinding bagaimana membayangkan kemarahan Han. Ya, yang membuatnya takut bukan kemurkaan Saga, tapi Han yang akan jauh lebih mengila melihat kemarahan tuannya. Kembali ke ruangan presdir. Wajah Saga memerah antara malu bercampur marah, bagaimana bocah di depannya ini bisa tahu seputar datang bulan, sedangkan menikah saja belum. Bahkan sepanjang hidupnya hanya mengejar cinta yang tidak kesampaian lagi. Tapi ternyata dia jauh lebih pintar urusan detail perempuan. Begitu pikir Saga kesal. " Kami belajar begituan di sekolah tahu." Deg, langsung menghentikan kalimatnya. Dia tidak mau mengungkit masa lalu, karena tahu Saga tidak akan menyukainya. Masa remaja Saga yang penuh perjuangan dan berbeda dengan anak-anak kebanyakan. Membuatnya membungkam mulutnya sendiri untuk meledek. Terlebih orang yang di sudut sana mulai menunjukan aura membunuhnya. ¡° Cih, Han batalkan rumah yang kusiapkan sebagai hadiah pernikahan untuk orang kurang ajar ini.¡± Sekarang yang berubah pucat adalah Noah, sementara Han menjawab perintah Saga hanya dengan kalimat singkat baik tuan. Noah memandang Han dengan kesal sementara yang di pelototi tidak bergeming. ¡° Hei Saga aku hanya bercanda.¡± Masih tersisa tawa di ujung kalimatnya. ¡°Mau ditaruh di mana mukaku, aku sudah pamer pada Tama kalau teman baikku Saga akaan memberiku rumah sebagai hadiah pernikahan.¡± ¡° Itu masalahmu, simpan saja wajahmu di koper bulan madumu sana.¡± Acuh. ¡° Ayolah aku hanya bercanda.¡± Melihat Han. ¡° Han, kau tahukan Saga hanya main-main dengan perintahnya tadi, jangan dengarkan dan jangan lakukan. Yang harus kau lakukan hanya melanjutkan perintahnya diawal.¡± Wajah Noah langsung kesal saat Han hanya memberi reaksi dengan menggangkat bahu. Sialan! Dia memang dari dulu selalu kurang ajar begitu. ¡° Sudah pergi sana! Aku masih banyak pekerjaan.¡± Sudah mau bangun dari duduk, beranjak ke kursi kerjanya. ¡° Hiks, padahal ayah dan ibu sudah sangat senang saat kubilang aku mau mendapat hadiah rumah darimu.¡± Haha, berhasilkan, kau selalu luluh kalau aku menyebut ayah dan ibuku. Noah yang selalu tahu senjata mematikan yang bisa dipakainya kalau dia berselisih paham dengan Saga. ¡° Cih, dasar bocah.¡± Duduk lagi sofanya. ¡°Jangan menyusahkan paman dan bibi, memang kau masih bocah.¡± Aku mau apartemen sebesar rumah Han kalau boleh. Jiwa ngelunjak sedang bergelora. ¡° Hei, aku mengurus semua pernikahanku sendiri tahu, begini-begini aku jugakan masih punya tabungan. Tapi berkat kau juga kan.¡± " Aku akan mengirim hadiah untuk paman dan bibi, mereka sudah bekerja keras untuk menjaga anak sepertimu." " Haha." Orangtua Noah tahu, bagaimana putra mereka mengejar cinta yang tidak mungkin kesampaian. Dengan saingan seperti Saga. Seseorang yang sama-sama mereka cintai seperti anak mereka sendiri. Saga selalu memastikan orang-orang terdekatnya tidak pernah kekurangan apapun. Noah terlihat sedikit ragu ngin mengatakan sesuatu. Dia melihat Han lagi, menanyakan apa dia boleh melanjutkan apa yang dia pikirkan. Sialnya laki-laki itu tak acuh dan malah sibuk dengan hpnya. ¡° Saga.¡± ¡° Hemm.¡± ¡° Apa aku boleh menggundang Helen.¡± Airmuka Saga jelas tidak berubah, dia memang enggan dan tidak mau mendengar nama itu di sebutkan di hadapannya. Tapi jelas dia tidak terlalu terusik ketika mendengar nama itu. ¡° Jangan mimpi kalau aku dan Niah akan datang ke pestamu kalau kau mengundang wanita itu.¡± Dia masih menyimpan luka dan dendam rupanya. Cih, mendengar aku menyebut Helen kau langsung melolot padaku bukan pada hpmu. Tunggu, kau tidak menceritakan rahasia Helen pada Sagakan. ¡° Kau masih marah padanya ya?¡± ¡° Aku tidak perduli padanya lagi.¡± ¡° Lalu kenapa?¡± ¡° Niah pasti tidak akan nyaman melihatnya. Ya, walaupun dia pasti akan bilang kalau dia baik-baik saja dan mungkin akan saling menyapa, tapi aku tahu hatinya pasti akan sedikit terluka. Walaupun aku senang dia cemburu si. Haha.¡± Dasar! Noah Dasar. Kalau kalian sampai bertengkar aku juga yang pusing nantinya. Han Obrolan panjang bahkan menyangkunt kehamilan. Saga pamer tentang ilmu yang sudah dia dapat dari laporan Han tentang kehamilan. Demi menjaga harga diri Saga, tidak juga, niatan Noah adalah demi menjaga hadiah rumah yang dijanjikan Saga dia hanya mangut-mangut dan terkejut saja ketika Saga bercerita tentang lamanya proses kehamilan. Kau gila ya, aku juga tahu itu. Tapi demi rumah, maafkan aku hati dan kecerdasan otakku. Aku harus mengalah dari suami bodoh ini. Seperti itulah akhirnya Saga membalas kekalahan diawalnya tadi. Noah yang merasa masih cukup waras hanya mangut-mangut. Setelah obrolan panjang itu, akhirnya Noah pamit. Han mengantar Noah bukan hanya sampai pintu lift, dia ikut masuk saat Noah sudah memencet tombol. " Kenapa?" Tahu kalau laki-laki itu tidak mungkin menggikutinya tanpa alasan. " Anda hebat sekali ya, bagaimana bisa menyebut nama Helen setelah semua kenyataan yang saya tunjukan pada anda." Han berdiri di samping Noah, tanpa menoleh, matanya lurus menatap pintu lift yang tertutup. Tapi nada suara tidak sukanya terlihat dengan jelas. " Ntahlah." Noah hanya menjawab begitu. Mungkin karena bodoh atau mungkin terlalu baik, begitulah Noah. Mungkin karena aku pernah menyukainya dulu, atau memang aku yang bodoh. Aku hanya kasihan padanya. " Ya, anda memang seperti itu." Mencibir tanpa maksud menutupi. " Han, kau tidak mengatakannya pada Sagakan? tentang Helen yang sebenarnya seperti apa. Aku tidak akan pernah menggungkit Helen di depannya lagi." Getir, membayangkan bagaimana rumitnya hubungan mereka di masa lalu. " Tuan muda pasti akan terluka kalau tahu itu." Hah! Baguslah, setidaknya Helen akan selalu menjadi kenangan manis untuk Saga. Begitulah Noah akhirnya menggambil kesimpulan. Pintu lift terbuka, Han ikut keluar. " Hei kenapa lagi mengikutiku, kau belum selesai bicara?" Binggung, tidak biasanya Han mengantar bahkan sampai berjalan ke loby gedung. " Saya hanya ingin mengantar anda sampai keluar." Merinding Noah mendengarnya, dia tidak melakukan kesalahan apapunkan tadi. Han benar-benar orang yang sangat susah di tebak maunya apa. Noah tahu kalau laki-laki di depannya ini tidak terlalu menyukainya sejak dulu. Mungkin dulu karena Helen dia bersikap begitu. " Han, kau menyiapkan rumah untukku seperti apa?" Sambil menunggu mobil di depan gedung, iseng bertanya. Diam tidak terlihat sudi untuk menjawab. " Hei, Saga tidak benar-benar menyuruhmu membatalkan rumah itu. Kau tahu dia itu bagaimanakan?" " Hati-hati di jalan tuan." Kurang ajar, dia benar-benar tidak mau menjawab. " Baiklah, aku tahu kau tidak akan sejahat itu." Han hanya membalas dengan seringai tipis di bibirnya. Noah menepuk bahu laki-laki di depannya. " Kau sudah bekerja keras di samping Saga selama ini." Ya, setidaknya untuk menghadapi laki-laki yang tidak tahu datang bulan dan kehamilan itu seperti apa. hehe. " Tuan besar dan paman pasti sangat bangga padamu." Mobil Noah menepi, seorang pengawal keluar dan menyerahkan kunci, lalu menundukan kepala dan pergi. " Terimakasih sudah menjaga Saga dengan baik." Han tidak menjawab apapun, dia hanya menundukan kepalanya saat Noah mengeluarkan tangan sebelum melajukan mobilnya keluar dari area gedung Antarna Group. Laki-laki itu masih berdiri di tempatnya sampai mobil Noah menjauh. Aaaaa, Saga kau melewati waktu yang tidak mudah, dan kau beruntung sekali memiliki orang seperti Han di sampingmu. Noah melajukan mobil dengan kecepatan sedang. Memecah jalanan yang tidak terlalu padat. " Tuan besar, paman kalian pasti bangga kalau melihat Saga dan Han saat ini." Lamunan Noah terhenti saat melihat hpnya bergetar, panggilan masuk. Dia hanya meliriknya sekilas dan tetap melajukan kendaraan sampai deringnya berhenti sendiri. setelah jeda beberapa detik hpnya kembali berbunyi. Saat diliriknya hp, masih dengan nama pemanggil yang sama, akhirnya dia menepikan mobil. " Hallo Helen." Bersambung...... Chapter 196 Kehamilan Saga terlihat menjatuhkan kepalanya di sandaran mobil. Terdengar suara nafasnya berulang seperti desahan kebimbangan hatinya. Dia yang merasa tidak nyaman, tapi Han yang berada di belakang kemudi yang merasa bersalah. Sesekali Han melirik kaca melihat gurat wajah Saga. Laki-laki itu terlihat menampar kaca dengan pandangannya. Selesai meeting terakhir laki-laki itu mulai terlihat diam. Apalagi saat waktu menunjukan sore. Menuju jadwal pertemuan dengan dokter kandungan. ¡° Tuan muda.¡± Han bicara pelan. ¡° Hemm.¡± ¡° Percayalah pada nona, dia gadis yang kuat dan tegar. Nona pasti juga akan bahagia kalau bisa melahirkan anak-anak tuan muda.¡± Saga terdengar mendesah lagi mendengar kalimat Han yang terakhir. Benarkah? Apa benar seperti itu? Ahh apa tubuh kecil itu bisa sanggup. Dia bahkan gemetar ketakutan saat pertama kali kami berhubungan . Kelebatan ketakutan masih mengantung di pelupuk matanya. Mencintai Daniah adalah dengan membuatnya jangan sampai terluka. Begitu yang ia tanamkan dalam hatinya. Sampai mobil menyalip kendaraan lain Saga masih terlihat gelisah. Informasi kedatangan Saga ke RS sudah seperti kode zero pasien. Dokter Harun selaku kepala RS sudah menginstruksikan banyak hal khususnya bagian kandungan yang akan di datangi Saga. Dalam bahasa kasarnya, dia mengatakan. Kalau tuan Saga hari ini bukan datang sebagai pemilik RS yang akan meminta pertanggungjawaban karyawannya. Tapi suami gila yang susah di tebak maunya apa. Menjadi pimpinan RS saja sudah membuat kalang kabut. Apalagi ini, suami dalam tanda kutip yang dikatakan dokter Harun. Akan jadi serunyam apa kalau sampai mereka membuat kesalahan. Sore hari, ketika temaran senja sudah mulai datang. Di ufuk sana bahkan sudah merona warna orange tanda matahari akan tertidur di peraduannya. Dokter Harun dan para doker sudah menyambut kedatangan pemilik RS, di depan pintu masuk. Di hadapan banyak orang Harun berperan dengan sangat sopan selaku jabatan yang dia emban. Tidak ada tawa atau keisengan yang biasanya dia lakukan. ¡° Han, bagaimana suasana hatinya?¡± Berbisik pada Han yang juga berjalan di sampingnya. ¡° Apa yang anda harapkan tuan.¡± ¡° Cih, kau ini. Dia tidak akan mengamukkan kalau nanti mendapat informasi yang tidak seperti dia harapkan.¡± ¡° Mungkin anda hanya akan menjadi pengganguran.¡± Kurang ajar kau, kau tidak tahu sudah setegang apa kami. Sudah ada di sebuah ruangan yang cukup besar dengan sebuah layar LCD terpampang lebar. Saga langsung duduk di tempat yang mereka sediakan. Masih memasang wajah tidak bisa di tebak suasana hatinya. Yang pasti masih ada getaran bimbang di matanya. Semua informasi yang akan dia dapatkan hari ini akan membawa dampak besar dalam pengambilan keputusannya ke depan. Apakah dia mau Daniah mengandung anaknya atau tidak. ¡° Kalian bisa mulai.¡± Han memberi instruksi ketika melihat Saga memberi aba-aba dengan tangannya. Dua orang dokter maju ke depan, wajah mereka terlihat cukup tegang. Sesekali mereka menyapu peluh yang tetap menetes walaupun di ruangan berAC. Dokter Harun yang berdiri di belakang Sagapun cukup cemas, bagaimana kalau penjelasan dua dokter yang sudah di pilihnya itu tidak memuaskan. Suasana senyap hanya terdengar suara salah satu dokter menjelaskan dengan terperinci mengenai informasi yang diinginkan Saga. Beberapa vidio ditayangkan menunjukan bagimana proses kemamilan itu. Saga duduk di tempatnya mendengarkan dengan baik. Dia tidak menyela ataupun menunjukan sikap penolakan. Ketukan tangan Saga berulang ketika dokter menjelaskan bagaimana kondisi ibu selama proses kehamilan. Gejala-gejala morning sick yang sering di alami ibu hamil. Dokterpun memberikan penjabaran bagaimana menanganinya. Obat-obat yang bisa dipakai untuk meminamilisir, bahan makanan dan herbal yang bisa dipakai sebagai alternatif agar seorang ibu tetap bisa menjalani kehamilan dengan nyaman. Harun bukannya fokus pada apa yang di jelaskan dia hanya memperhatikan perubahan airmuka Saga. Kalau cuma begini saja aku juga bisa menjelaskan, tidak perlu membuat tegang seisi rumah sakit. Walaupun aku belum pernah membuat anak aku juga tahu ilmunya kalau cuma begini. Tapi dasar Saga, saat dr Harun mengatakan kalau dia juga tahu tapi laki-laki itu tetap menolak. Dan mengatakan aku mau penjelasan dari para ahlinya. Lampu sudah menyala terang ketika penjelasan tentang proses kehamilan selesai. ¡° Apa Niah tahu semua ini? Kalian sudah menjelaskan padanya?¡± ¡° Nona sudah paham dengan semuanya tuan, nona terlihat sangat antusias saat penjelasan proses pemulihan kesuburan pasca pil kb.¡± Hei, kau pikir kakak ipar bodoh apa. dia pasti sudah tahu dan paham proses kehamilan itu seperti apa. memang kau yang bodoh. ¡° Lanjutkan.¡± ¡° Baik tuan.¡± Giliran penjelasan proses melahirkan. Bibir Saga bergetar, saat tayangan vidio berbagai proses kelahiran muncul di layar. Apalagi saat melihat mimik wajah para ibu yang melahirkan serta suami yang menemani di sampingnya. Dia terlihat mencengkram tangannya, membayangkan kalau Daniah berada di posisi itu. Hatinya ngilu. Tapi wajah Saga berangsur berubah saat dia melihat tayangan selanjutnya bagaimana ibu-ibu yang baru melahirkan itu menyambut anak-anak dalam pelukan mereka. Tidak ada yang terlihat sedih, wajah mereka bersinar bahagia. Walaupun ada di antara mereka yang menitikan airmata namun bibir mereka tertawa bahagia. " Saga." Dokter Harun menepuk punggung Saga. " Hemm." " Aku mau punya anak juga." Bahkan dokter Harunpun terenyuh melihat tawa pasangan bahagia di layar. " Tuan, sebaiknya anda cari calon istri dulu." Han yang menyahut. Tanpa melirik. " Cih, seperti kau bukan jomblo abadi saja." Kesal. " Han kau tidak mau punya anak juga apa. Lihat mereka lucu ya." Menunjuk layar. Han hanya menoleh menunjukan wajah kaku. Dokter Harun rasanya ingin menendang kaki laki-laki itu. " Kau mau punya anak berapa nanti, tidak, bukan itu pertanyaannya, siapa yang mau jadi ibu anak-anakmu ya. Punya suami segalak kamu." Hebatnya Han hanya melirik tanpa berkedip. " Kalian bisa diam!" kata-kata Saga langsung membungkam mulut dokter Harun, sementara Han hanya tersenyum tipis penuh kemenangan. Wajah Saga berangsung membaik selepas dari RS. meeting terakhir sekaligus makan makan juga berjalan dengan baik. Walaupun laki-laki itu hanya diam sepanjang perjalanan pulang, tapi Han sudah melihat awan gelisah sudah menghilang, walaupun masih sedikit menyisa, tapi tidak sebanyak tadi. " Selamat istirahat tuan muda." " Hemm, pulanglah." " Baik." Pak Mun sudah meletakan sandal rumah di dekat kaki Saga, melihat wajah letih tuan mudanya. " Ada kejadian apa di rumah? ibu dan Amera tidak menggangu Niahkan?" Meminta laporan situasi di rumah. " Tidak tuan, nona bersama Aran dan Maya sepanjang hari ini, jadi ibu ataupun nona Amera tidak bisa mendekat. walaupun saya lihat nona Amera beberapa kali ingin bicara dengan nona Daniah." Sejauh ini situasi masih aman terkendali. Pak Mun yang menempel sepanjang nona berada di lantai bawah membuat nyali Amera juga menciut. " Baiklah, apa tadi ada tamu?" " Adik nona Daniah tidak jadi datang hari ini, karena harus lembur bekerja." Ntah kenapa wajah kecewa istrinya terbayang langsung. " Baiklah, istirahatlah." Menepuk bahu pak Mun lembut. "Terimakasih sudah menjaga istriku." " Anda juga selamat istirahat tuan muda." Bahkan hari ini tuan muda pulang selarut ini, Pak Mun masih berdiri di tempatnya sampai Saga menghilang menuju kamarnya. Saga mendapati istrinya sudah terlelap di bawah selimut. Dia berjalan menuju ruang ganti baju. Cukup lama dia menghabiskan waktu. Menarik nafas dalam saat melihat istrinya yang terlelap. Lelah hari ini seperti menguap melihat wajah tenang istrinya. Diapun naik ke atas tempat tidur. " Niah." Tangan sudah menyentuh bagian kesukaannya. Bibir mulai menciumi leher. Daniah mengeliat, antara sadar dan tidak. " Hemm, sayang." Tapi sepertinya dia menggigau, karena mengatakannya dengan mata setengah terpejam. Dan benar saja setelahnya dia kembali terlelap. Tanpa benar-benar menyadari kalau suaminya sudah ada di sampingnya. Saga menarik ujung selimut, menarik tali baju tidur yang di pakai istrinya. " Niah." ciuman lembut di bahu dan dada yang terbuka. " Hemm." Mengeliat. " Niah, kau mau melahirkan anak-anakku." " Hemm." " Berapa? satu atau dua." Mengeliat lagi, sedikit terusik karena aktivitas tangan dan bibir Saga menyusuri tubuhnya. Tapi matanya benar-benar terpejam. "Kau mau berapa?" tanya Saga lagi. " Hemm, sepuluh." Tidak tahu apa yang diimpikan gadis itu tapi angka sepuluh benar-benar keluar dari mulutnya. " Haha, kamu yang minta ya." Setelah puas Saga menghentikan aktivitasnya, lembut dia bersandar di bahu istrinya, melingkarkan tangan. Mencium aroma tubuh Daniah sampai dia terlelap dalam selimut mimpi. Bersambung Chapter 197 Kejutan Pagi Pagi yang mengetarkan kamar utama. Suasana yang hening tiba-tiba terguncang oleh teriakan Daniah dari kamar mandi. ¡° Aaaaaaaa¡± Daniah berteriak saat mematung di depan cermin, melihat pantulan dirinya. Bayangan tubuh polosnya yang tervisualisasi dengan sempurna di dalam cermin. Secepat teriakannya, secepat itu pula, jegrek, suara pintu terbuka terdengar dengar keras. Saga muncul membawa wajah paniknya, sambil melihat sekeliling. Lalu mendekat segera ke arah Daniah. ¡° Kenapa?¡± Daniah langsung menyambar handuk di gantungan. Terkejut melihat Saga yang muncul tiba-tiba. Padahal tadi laki-laki itu masih terlelap saat dia masuk ke kamar mandi. ¡° Kenapa berteriak? Apa sesuatu terjadi. Kau tidak apa-apa?¡± Yang ditanya mundur ke belakang. Memperbaiki penampilan dirinya. Perlahan dia memakai piyama mandinya. Melihat wajah panik Daniah, Saga mulai tergelak. Menyadari alasan teriakan istrinya. ¡° Kenapa?¡± Tertawa sambil menarik ujung handuk yang di pakai Daniah. ¡°Mau lihat semerah apa wajahmu sekarang?¡± tangan nakalnya sudah menarik tali pengikat handuk mandi milik istrinya. Semakin menikmati wajah panik Daniah. ¡° Kau melakukan apa semalam sayang.¡± Daniah menepis pelan tangan Saga. ¡° Apa? aku tidur.¡± Dengan jawaban polos tidak tahu malu. ¡° Lalu ini apa?¡± Daniah menarik handuk menunjukan lehernya. ¡°Ini lagi, ini apa?¡± Tanpa sadar membuka handuknya, menunjukan tanda bukti yang tadi di tutupi dengan susah payah. Dia bahkan tidak merasa malu karena melakukannya dengan refleks. Tadinya ingin menangkap basah pencuri, tapi malah dia yang wajahnya merah padam. ¡° Wahhh. Kau sedang menggodaku sekarang.¡± Daniah tersadar dengan apa yang ia lakukan. Langsung terbelalak matanya. Secepatnya dia merapikan piyama handuk. Mengikat tali pinggang dengan kencang. ¡° Niah.¡± Sambil tersenyum penuh makna. ¡° Tidak,¡± Mundur kebelakang. ¡°Aku tidak mengodamu sayang, aku hanya menunjukan tanda bukti kejahatanmu.¡± ¡° Haha, apa kejahatan.¡± Saga tertawa mendengar istilah yang dipakai Daniah. ¡° Sejak kapan mencintai istri sendiri di sebut kejahatan.¡± Meraih dagu Daniah dan dengan cepat sudah merasai bibir merah itu. Dalam, semakin dalam. Tubuh mereka sudah membentur cermin. ¡° Hemmm.¡± Memberontak, takut Saga tidak bisa menahan dirinya. Tapi tentu sia-sia. Kedua tangannya sudah ditarik ke atas, bahkan laki-laki ini hanya perlu satu tangan. Dan Tangan satunya sudah merajai ntah bagian tubuh yang mana. Aku belum selesai datang bulan tuan muda! Aku juga belum mandi! Jangan cium-cium! Akhirnya mereka mandi bersama. Daniah duduk di dalam bak mandi, sementara Saga membasuh tubuhnya perlahan. Guyuran air hangat membasahi tubuh Daniah. Dibumbui dengan ciuman di sana sini. ¡° Niah.¡± Pelan mengambil spon, mengosok setiap bagian tubuh Daniah dengan busa berlimpah. ¡° Ia.¡± ¡° Kau ingat saat pertama kali kita mandi bersama?" Ingatan Daniah langsung berlarian di awal-awal pernikahan mereka. Saat tidak tahu malunya Saga melepaskan pakaian dan masuk ke dalam kamar mandi. Saat itu dengan wajah merah dan malu dia bahkan harus membasuh kepala Saga. Memang itu bisa di sebut mandi bersama! Kau yang tidak tahu malu mengotori mata polosku. ¡° Tidak, aku tidak ingat.¡± Wajahnya sudah merah padam karena malu mengingat kejadian itu. Untung saja Saga ada di belakang punggungnya jadi tidak melihat mimik wajahnya yang sekarang. ¡° Kau menyumpahi aku apa saat mencuci rambutku.¡± mulai membasuhkan air dari kepala, mengusir busa agar berlarian turun. Haha, kau tahu ya kalau aku membencimu saat itu. Aku tidak mau bilang, kau akan tetap murka walaupun pristiwa itu sudah lama berlalukan. Dasar pendendam. ¡° Sayang aku tidak menyumpahimu kok. Sumpah!¡± Saga tertawa mendengar kata-kata Daniah. Dia menghentikan tangannya lalu meraih pipi Daniah. Menciumnya lembut. ¡° Kau tidak penasaran apa yang kupikirkan saat itu?¡± Tersenyum, tapi senyum jahat yang muncul. Membuat Daniah kehilangan rasa penasaran yang muncul tadi. Tidak sama sekali, jangan katakan! Daniah mengeleng. ¡° Aku bahagia sekarang sayang.¡± Sejujurnya Daniah penasaran, tapi dia benar-benar belum berani menengok waktu yang lalu dan hanya menjadikannya sekedar kenangan semata. Awal-awal pernikahannya akan selalu menjadi mimpi buruk baginya. Dia berharap dengan menguburnya rapat dan tidak pernah mengungkitnya akan jauh lebih baik. Ya, saat itu aku hanya senang saja melihat wajah pucatmu. Pikiran Saga juga kembali saat itu. Kau yang membenciku tapi bisa setegar itu tersenyum ntah kenapa terlihat mulai mengemaskan. " Niah." Sudah memakai piyama Handuk sambil keluar dari kamar mandi. Bercermin diruang ganti baju. Saga memeluk tubuh Daniah dari belakang saat gadis itu mengambil pakaiannya. " Ia sayang. Lepaskan dulu, aku mau mengambil bajumu." Saga malah menjatuhkan kepalanya di bahu Daniah, mencium leher gadis itu. " Hentikan, jangan mengganguku." " Semalam, kau bilang mau punya anak sepuluh dariku lho." " Apa!" Apa! sudah gila ya, kapan aku mengatakannya. Saga tertawa mengingat apa yang dia lakukan semalam. " Sayang kapan aku mengatakannya." " Semalam." " Bohong! aku bahkan tidak melihatmu pulang semalam." " Benar, kau sampai merengek mengatakannya. Pokoknya anak sepuluh." Aaaaa, gila ya. Daniah meraba lehernya, semua bekas tanda merah ini. Tidak! apa dia sampai segila itu semalam. Mulai malu, kalau benar-benar secara tidak sadar dia melakukan hal gila saat tidur. Kalian sedang apa si? Sofia menelan ludah sendiri melihat kak Saga menempel pada kakak ipar sepanjang menuruni tangga, bahkan dia sampai mengeser kursi yang dipakai Daniah untuk mendekat ke arahnya. Sofi melihat wajah ibu yang terlihat sangat jengah. Jangan bilang kak Saga sedang pamer kemesraan? Amera sendiri tidak terlalu terusik. Bagaimanapun rasa sayangnya pada Saga memang hanya sebatas rasa sayang adik pada kakaknya. Ibu yang sudah meracuninya dengan banyak hal sepertinya sudah menguap karena pembicaraanya dengan jen dan Sofi semalam. Dia malah terlihat melirik pintu keluar beberapa kali. Menunggu seseorang muncul dari sana. " Saga, Amera akan memasukan pengajuan pekerjaan secara resmi ke perusahaan. Tidak apa-apakan?" " Lakukan saja kalau dia mau." Menyuapi Daniah dengan sendok miliknya, tanpa melihat Amera ataupun ibu. Ya Tuhan kak Saga kenapa jadi kekanak-kanakan begini si, Haze bahkan kalah jauh darimu. Sampai sarapan selesai kedua anak manusia di depan Sofi seperti pemilik bumi, tidak perduli dengan penghuni yang lainnya. Hanya pamer kemesraan. Aaaaaaa, tapi kenapa hanya aku saja si yang sadar kalau mereka sedang pamer kemesraan! bersambung Chapter 198 Perjuangan Terakhir Helena Di penghujung malam yang sepi. Dingin yang sedikit mengigit tubuh. Di saat orang-orang sudah mulai terlelap dalam hangatnya mimpi di ujung selimut. Hanya para pekerja sift malam yang masih berjibaku dengan waktu untuk mengejar mimpi dan rejeki. Ah, semua orang bekerja keras dengan caranya masing-masing dalam hidup ini. Dan di sebuah gedung, walaupun sepi dan senyap namun gedung terlihat terang. Lampu-lampu menyala di setiap sudut. Beberapa gambar besar dan juga nama gedung terlihat menonjol di sorot lampu. Sebuah galeri dengan logo perusahaan Antarna Group di ujung atasnya. Saat malam hanya sepi yang ada, dua penjaga malam sudah selesai melakukan pengecekan malam. Sekarang mereka sedang mengobrol sambil menyeduh kopi, sesekali melirik monitor CCTV di depan mereka. Melihat semuanya aman. Belum pernah terjadi kasus apapun di galery, baik pencurian atau hal yang mencurigakan. Membuat kedua pengawal itu terlihat santai menjalankan pekerjaannya. Di sebuah ruangan yang masih menjadi bagian dari gedung galery. Sebuah Ruang nyaman, dimana kamar tidur serta ruang melukis tersedia. Di situlah Helen tinggal. Dia pindah dari rumah kedua orangtuanya dan memilih berada di galery selama seharian penuh. Sejak pristiwa itu, jarak jangkau peredarannya hanyalah lingkungan galery. Dia memutuskan menghilang dari dunia pergaulan atasnya. Tempat yang bisa saja secara tidak sengaja dia menemui Noah ataupun Saga. Dua buah koper besar sudah terisi dengan semua barang-barangnya. Gadis itu duduk di atas tempat tidur. Memandang lemari pakaian yang sudah kosong dengan tatapan nanar. Apa aku benar-benar harus pergi meninggalkan semua ini. Dia menjatuhkan tubuh semampainya ke atas tempat tidur. Rambut hitam lurusnya jatuh di antara seprei putih. Helena sang gadis pelukis itu menaikan tangannya ke udara. Menuliskan sebuah nama dengan jari-jarinya. Saga, aku harus menyerah sekarang Noah, bahkan denganmupun aku sudah tidak ada harapann. Walaupun sekedar merajut persahabatan. Tiba-tiba setelah dua nama itu, wajah dingin dengan senyum tipisnya yang menyebalkan muncul. Karena dialah Helen harus kehilangan harga diri sekaligus sandaran dalam hidupnya. Dia dengan tidak tahu malunya menerima selembar cek yang di sodorkan sekertrias Han, di hadapan Noah yang teryata sudah melihat semuanya. Laki-laki sekeras arca yang membuatnya kehilangan muka di depan Noah. Padahal jika dia tidak berhasil mendapatkan Saga, Helen sudah berencana akan membuka hatinya untuk Noah. Mengemis cinta lelaki yang sudah sekian lama mencintainya itu. Cih, tapi dia bahkan akan menikah sekarang. Bahkan sama sekali tidak memberitahuku. Rasa sesak di dadanya membuncah. Namun anehnya tidak ada airmata yang menetes di pelupuk matanya. Saga sudah menjadi masa lalu yang tidak mungkin dia raih lagi. Noah, masihkah ada kesempatan. Dia menatap dua koper besarnya lagi. Mengedarkan pandangan ke dalam kamarnya. Sampai kapan Antarna Group akan menjadi sponsor galerynya. Dia bahkan tidak punya keberanian untuk sekedar bertanya pada perusahaan. Untuk itulah dia memilih untuk pergi. Tapi sebelumnya dia masih ingin melakukan sesuatu. Merajut benang kusut kembali, walaupun hanya kecil kemungkinannya tapi dia harus mencoba. Karena Helen tahu Noah berbeda dengan Saga. Mungkin airmatanya masih bisa mengetuk pintu hati laki-laki itu. Selembar cek di atas meja terlihat jelas nominalnya di matanya. Hanya itu yang kudapatkan dari Saga. Keraguan Helen turun dari mobilnya, semua yang melintas dipikirannya semalam berkelebat lagi. Bahkan dia masih berdiri di depan pintu walaupun sudah turun dari mobil beberapa menit yang lalu. Menatap pintu kafe yang ada di kejauhan. Menyiapkan hati sudah dia lakukan dari galery dan sepanjang perjalanan tadi. Tapi kenapa setelah sampai di tempat ini keraguan menyusup hatinya. Hembusan angin lembut membelai rambutnya semakin membuatnya getir. Ada dua kemungkinan yang terjadi, dimaafkan atau dia hanya akan semakin malu. Dan bahkan kelak di masa depan tidak akan mungkin punya keberanian lagi menampakan wajahnya. Terdengar dia menghembuskan nafas dalam. Mengatur emosinya. Berbicara dengan isi kepalanya sendiri untuk maju. Ayolah Helen, ini kesempatan terakhirmu. Noah bukanlah Saga. Bayangan dua koper, tiket dan paspor yang sudah ia siapkan semalam. Kalaupun hari ini semuanyaa gagal, dia tahu harus melakukan apa. Menyerah karena kekalahan menyedihkan. Gadis cantik itu meraih kacamata dari dalam tasnya, mengibaskan rambut dan degan penuh tekad melangkah. Jika di hadapan Saga saja dia bisa tidak tahu malu, kenapa dia harus bimbang ketika bertemu Noah. Toh dia sendiri yang paling tahu, bagaimana karakter Noah. Dia lelaki baik yang hangat hatinya. Jauh berbeda dengan Saga. Ahhh, Helen kau sudah lupa ternyata bagaimana caranya Saga mencintaimu. Diapun punya tatapan hangat sebelum kau kabur darinya. Namun sepertinya Helen lupa apa kesalahannya, hingga ia hanya bisa menyalahkan Saga yang berubah padanya. Dengan diantar seorang pelayan Helen menuju sebuah meja. Di sana Noah sudah duduk dengan segelas kopi di depannya. Sedang menatap tidak tahu ke mana. Yang pasti laki-laki itu tidak menyadari kedatangannya. ¡° Noah.¡± Helen mendekat ke meja. ¡° Kau sudah datang, duduklah." Benarkan, dia bersikap biasa. Kenapa aku takut sekali tadi. Diakan bukan Saga, terlebih lagi tidak ada makhluk menakutkan di belakangnya seperti si gila Han. ¡° Maaf, aku datang terlambat.¡± ¡° Tidak, aku yang sengaja datang lebih dulu untuk menyiapkan hatiku.¡± Tersenyum. ¡° Mau minum sesuatu?¡± Benar, dia memang Noah. Seorang pelayan membawakan segelas es kopi. Lalu pergi diantara keheningan dua pelanggannya. Noah belum bicara, sementara Helen berharap kalau laki-laki di depannya yang akan memulai pembicaraan duluan. Tapi sepertinya harapan gadis itu sia-sia. Sampai dia menghabiskan setengah gelas kopinya karena canggung, Noah bahkan tidak mengeluarkan sepatah katapun. ¡° Noah.¡± Akhirnya Helenlah yang harus memulai. Gadis itu meraih tangan Noah yang ada di atas meja. Terlihat Noah tidak suka dan terkejut saat melihat tangan Helen meraih tangannya. Tapi dia diam, menunggu Helen mau mengatakan apa. ¡° Maaf. Maafkan aku.¡± Perlahan Noah melepaskan tangannya, menariknya ke bawah. Airmuka kecewa terlihat jelas di wajah Helen. Tapi gadis itu menyadari, dia bahkan tidak bisa protes. Suasana canggung benar-benar tercipta. Apalagi saat Noah hanya memalingkan wajah. " Maafkan aku." Lirih Helen kembali bersuara. Kalau dulu mendengar suara Helen yang bergetar Noah akan langsung memeluk dan meraih tangan gadis itu dan mengatakan, semua akan baik-baik saja. Tapi sekarang, sepertinya semua sudah sangat terlambat. Tidak tersisa simpati di mata Noah. Pandangan lembutnya hanya sekedar simpati sesama manusia. " Noah, tidak bisakah kita mulai semua dari awal." Ntah kenapa Noah merasa tidak senang mendengar kalimat Helen. Berita pernikahannya pasti sudah menyebar, dan gadis di depannya ini pasti sudah tahu. Tapi, kenapa bisa dia mengatakan hal semacam itu dari bibirnya. Apa dia berharap kalau dirinya akan seperti dulu. Tertawa bahagia menyambutnya walaupun tahu hatinya sudah dia berikan pada Saga. " Helen, aku mau menikah." " Noah." ujung kristal bening di mata Helen pecah. " Aku mencintai Tamara melebihi perasaanku padamu dulu." Helen mengigit bibirnya. Dua kali dia mendapat serangan telak ini. Saat Saga membela Daniah. Dan sekarang, walaupun diucapkan dengan lembut tapi sakitnya jauh lebih mengiris hatinya. Kali ini airmata kekalahan yang tumpah tanpa dia rencanakan. " Hah! Selamat ya." Mencoba bersandiwara, sambil menyeka airmatanya. " Semoga kau bahagia, apa aku boleh datang ke pernikahanmu." Noah meraih gelas kopinya. Belum menjawab. " Apa Saga dan istrinya akan datang?" Noah masih diam. " Sudahlah, aku tahu, kau akan memilih Saga dari pada aku." Helen meraih kacamata di atas meja, memakainya, menutupi tetesan sembab airmatanya. Noah bahkan belum mengucapkan sepatah katapun. Bahkan ketika Helen mendorong kursinya dan mengambil tasnya di atas meja. " Hubungan kita sepertinya tidak pernah akan bisa kembali ya." " Helen." Saat gadis itu sudah mau beranjak pergi Noah bersuara. " Hiduplah dengan baik, bertemulah dengan laki-laki sebaik Saga dan jangan pernah melakukan kesalahan yang sama untuk kedua kalinya. Jangan menghianati dan melepaskannya lagi, karena Tuhan sangat jarang memberikan kesempatan kedua." Tangan helen terlihat bergetar, tapi dia tidak punya jawaban atau sanggahan dari kalimat Noah. Hingga akhirnya dia hanya berbalik dan pergi. Tidak ingin menoleh kebelakang lagi, karena airmata di bawah kacamatanya benar-benar sudah berjatuhan. Epilog Noah menjatuhkan kepalanya di pangkuan Tamara, gadis itu membelai lemput rambut Noah. Sudah lima belas menit waktu berlalu dan belum ada kata-kata apapun yang diucapkan Noah. Tamara tau kalau laki-laki di pangkuannya baru saja bertemu dengan Helen. Karena semalam dia sudah mendengar cerita Noah. tepukan lembut di bahu Noah. " Maaf." lirih Noah mengatakan, seperti berkata aku sudah menghianatimu karena kembali ingat dengan cinta masa laluku. " Sayang, saat kita berjanji menikah, bukankah kita sudah berjanji untuk hanya melihat ke depan. Helen adalah masa lalumu. Seperti aku yang juga punya masa lalu." Mendengar itu ntah kenapa rasanya Noah ingin menangis, betapa beruntungnya dia mendapatkan Tamara di hidupnya yang selama ini menyedihkan. " Maaf." Tamara tahu, dia hanya perlu menepuk bahu lembut Noah. Bahkan tanpa mengucapkan apapun. Cintanya sudah tersalurkan dengan baik. Bersambung Chapter 199 Kenalkan Aku Amera Di malam yang sama saat Saga kembali larut malam dengan wajah lelahnya. Tiga gadis belum ada yang ingin memejamkan mata. Mereka sedang asik di dalam kamar Jenika. Gadis itu meluruskan kaki terlentang sambil Sofi memijat kakinya pelan. Padahal dia jelas-jelas kelelahan hari ini, dan besokpun masih harus bekerja lagi. Tapi matanya bahkan belum terpejam. ¡° Ke bawah lagi sofi. Aku capek sekali. Detik-detik menuju laporan bulanan. Suasana di kantor sudah seperti neraka. Semua orang seenaknya berteriak kesana kemari pada anak-anak magang.¡± Mengomel ke sana-kemari tentang dunia kerja yang belum sampai ke pikiran Sofi. Sofi hanya geleng kepala tapi menurut saat tangan Jen menuntun tangannya untuk memijat ke bagian bawa. ¡° Nah di situ, tekan lebih keras lagi.¡± Sofi merengut tapi tetap menurut. Sambil di sela-sela itu melirik hpnya. Kalau bunyi tring masuk langsung dia berhenti memijat membuat Jen uring-uringan. ¡° Sebentar mau balas chat dulu, ngambek nanti dia.¡± Menunjukan siapa pengirim pesan yang barusan masuk. Haze, mereka tentu sudah baikan. Dua bocah seperti mereka mana bisa marahan lama-lama. Haze menangis di sudut kamarnya saat Sofi benar-benar tidak mau bicara dengannya. Membuat laki-laki itu yang akhirnya minta maaf duluan karena sudah mencium Sofi tanpa izin. Amera yang masih bermain dengan tabnya menoleh. ¡° Apa kak Saga benar-benar tidak memperkenalkanmu ke orang-orang perusahaan.¡± Dalam bayangan Amera, Jen akan mendapat perlakuan khusus di perusahaan. Bagaimanapun dia adik presdir Antarna Group. ¡° Huhuhu, kalau aku diperkenalkan sebagai adik kak Saga memang aku akan mengalami nasib seperti ini.¡± Ikut memijat tangannya sendiri. ¡° Tapi yang ada aku memang tidak akan punya pengalaman kerja apa-apa kalau sampai mereka tahu aku adik kak Saga.¡± Jen tahu, apa yang dilakukan kakaknya memang demi kebaikannya. Dunia kerja itu berat, berbeda dengan dunia kampus yang ia jalani. Amera ingat pembicaraannya dengan Saga saat laki-laki itu baru kembali tadi. Idealisme Saga mengatur perusahaan memang tidak diragukan. Ia menuntut segala sesuatunya untuk sempurna.¡° Waktu aku bilang ingin bekerja di perusahaan dia juga bilang begitu.¡± ¡° Lagian kak Amera kenapa juga si pakai bilang mau kerja di perusahaan, padahal jelas-jelas kakak tidak sukakan, Kak Mera sudah punya cita-citakan?¡± Sofi menyambar hpnya. ¡° Sudah ya kak aku mau balas chat dulu.¡± Tertawa tidak perduli wajah kesal Jen. Dia sudah meraih bantal dan bersandar di ujung tempat tidur. ¡° Dasar kamu adik ngelunjak.¡± Menghirup udara pelan agar peredaran darah lancar sambil masih terlentang. ¡° Inikan rencana ibu.¡± Amera mendekat dan naik ke atas tempat tidur di mana Jen berbaring. Gadis itu mengeser tubuhnya agar Amera mendapat tempat. ¡° Memang Ibu bilang apa? Kamukan belum cerita keseluruhan, apa yang ibu rencanakan¡± Amera terlihat ragu, ibu sudah menasehatinya untuk menyimpan semua rencana. Bahkan dari jen dan Sofi. ¡° Apa yang ibu bilang?¡± ¡° Untuk bisa dekat dengan kak Saga, aku harus memulainya dengan bekerja di perusahaan.¡± ¡° Gila ya! Kau sudah gila apa? mau menggangu hubungan kakak ipar dengan kak Saga.¡± Jen reflek memukul kaki Amera membuat gadis itu menjerit. ¡° Akukan hanya ingin menyelamatkan kak Saga. Sakit tahu!¡± Amera berteriak tidak kalah keras. Tapi kali ini Jen sudah meraih tangan gadis itu lalu menindih tubuhnya. ¡° Bodoh! Memang kak Saga kenapa perlu di selamatkan.¡± Tidak perduli saat Amera menjerit kesakitan. ¡°Ceritakan semua rencana ibu, atau kau tidak akan bisa keluar dari kamar ini hidup-hidup.¡± Sofi hanya tersenyum mendengar ancaman Jen. Lagak kamu kak sudah persis Han mengancam orang!Kalau dia ia bikin gemetar takut, kalau kamu bikin orang tertawa saja. Amera dengan ragu akhirnya menceritakan semua hal yang di ceritakan ibu, sampai pada bujuk rayu ibu yang akhirnya membawanya kesini. Kedatangannya hanya karena rasa sayangnya kepada kak Saga. Tidak ada maksud lain. Eh sebenarnya ada. ¡° Hei dengar gadis polos bin bodoh, kalau kak Saga tidak bahagia dengan kakak ipar, kau pikir kami akan diam saja.¡± ¡° Benar.¡± Sofi sambil chat dengan Haze ikut nimbrung. ¡° Daripada kamu, kami tentu yang paling sayang dengan kak Saga. Iakan Sof.¡± ¡° ia benar, aku yang paling sayang pada kak Saga.¡± Sofi membusungkan dada dengan bangga. ¡° Aku.¡± Jen menunjukan dominasi dengan suaranya. ¡° Hei, aku juga sayang pada kak Saga.¡± Amera tidak mau kalah. Tiga gadis itu sedang pamer tentang seberapa sayangnya mereka pada kak Saga. Amera menerawang mengingat lagi yang ibu katakan. Kalau wanita itu, istri saga sekarang bukanlah gadis baik-baik. Dia bahkan tidak punya keluarga dan tidak tumbuh dikeluarga yang lengkap. Dia tidak mencintai Saga. ¡° Apa dia benar-benar mencintai kak Saga.¡± tanyanya serius pada Jen, ibu sudah sedikit berhasil menyusupkan racun di kepalanya mengenai Daniah. ¡° Tentu saja!¡± Jen dan Sofi menjawab bersamaan. ¡° Dan yang utama kak Saga mencintainya, dia banyak berubah sekarang tahu. Kak Saga sudah sering tersenyum dan menunjukan perasaan nya. Pokoknya luka yang dibuat Helen sedikit demi sedikit tertutupi oleh kakak ipar.¡± Jen menjelaskan dengan rinci. ¡° lalu kenapa ibu tidak suka padanya.¡± Bayangan wajah Daniah melintas di kepala Amera. Gadis itu memang tidak secantik Helen, bahkan jika dibandingkan secara fisik mereka terlihat sangat jauh berbeda. Helen dengan tubuh tinggi dan rambut indahnya. Sedang Daniah, begitulah Amera menyimpulkan. ¡° Apalagi, tentu karena dia tidak sepopuler kak Helen.¡± Sofi membalas setelah selesai dengan chat selamat malam dengan Haze. ¡° Padahal apa perdulinya dengan semua itu, asalkan kak Saga senang aku sudah bahagia dan akan mendukungnya.¡± Jen benar-benar tidak mau pusing, bahkan jika itu menentang restu ibu sekalipun. ¡° Pantas saja, kemarin Han sudah mengancamku.¡± getir Amera bercerita. ¡° Hah, bilang apa callon suami Sofia itu.¡± Terdengar tawa keras dari mulut Jen, membuat Sofi menarik rambut kakak perempuannya. ¡° Hei kak Jen, aku sumpahi kamu juga ya nanti. Jangan bicara sembarangan.¡± ¡° Hei, sejak kapan Han jadi calon suamimu Sofi. Diakan calon suamiku.¡± Amera menghardik serius. ¡° Haaa, mulai deh. Sampai kapan si kamu mau tergila-gila sama orang menakutkan seperti dia. Kalau aku walaupun tersisa satu orang dimuka bumi ini aku gak akan mau kalau dia.¡± Sofi merinding takut. Bukannya ikut merinding ngeri, Amera malahan terlihat merona wajahnya. Dia menyentuh pipinya. "Kalian tahu dia bilang apa kemarin. Nona Amera anda tahukan saya tidak berbelas kasih, apalagi untuk orang yang menggangu kenyamanan tuan muda." bicara dengan intonasi sama persis yang diucapkan Han padanya kemarin. " Aku merinding sekaligus terpesona. Dia tetap keren seperti biasanya." " Dasar gila." Kali ini Jen dan Sofi sepakat, sambil toss tangan bersama. Setelah sarapan pagi selesai, seperti kemarin Amera melihat Daniah mengantar kak Saga sampai ke mobilnya. Dan di samping mobil sudah berdiri sekertaris Han. Dia melihat sampai semua memasuki mobil, dan kendaraan itu meninggalkan Daniah sendirian. " Bisa kita bicara?" Saat Daniah masuk ke dalam rumah, pak Mun masih berdiri di belakangnya tampak tidak senang. " Nona Amera, anda tahukan kalau tuan muda tidak akan suka kalau nona menggangu nona muda." " Aku hanya ingin bicara dengannya sebentar pak Mun." Jawab Amera lugas, lagipula diakan tidak sejahat itu. memang mau melakukan apa. " Pak Mun tidak apa-apa, lagipula aku tidak ada pekerjaan apa-apa." Daniah menginkuti langkah Amera menuju sofa. Keduanya menatap pak Mun bersamaan, pandangan mereka seperti mengusir. Baik Daniah maupun Amera. Tapi pak Mun masih tidak bergeming. Tugasnya adalah melindungi nona mudanya. " Pak Mun, memang tidak ada yang di kerjakan, kami hanya akan mengobrol." Daniah tertawa, mengusir secara halus. Bahwa mereka akan baik-baik saja. " Silahkan mengobrol nona, anggap saja saya tidak ada." Bagaimana aku menggangapmu tidak ada kalau kau melotot di depan kami begitu. Seperti kami mau main jambakan rambut saja. Pakai diawasi. Mengusir pak Mun juga percuma, akhirnya keduanya hanya terdengar menghela nafas saja. Pandangan Daniah beralih pada Amera. Gadis cantik dengan raut sepolos Jen dan Sofi. Walaupun dia terlihat mengibarkan genderang perang Daniah sudah terbiasa melihatnya. Dia mirip siapa ya? haha benar, dia seperti Risya. Tatapan tidak bersahabatnya, tapi sepertinya dia sama manisnya dengan jen dan Sofi. " Apa kau tahu kenapa aku dianggap seperti adik oleh kak Saga?" Amera membuka suara. Daniah tersenyum, walaupun dia masih tidak suka dengan gadis di depannya ini. Tapi karena penjelasan Saga dia akan berusaha menerima keberadaan Amera. Kalau dia tidak melewati batas, begitu pikir Daniah. " Aku tahu." Mendengar jawaban itu Amera terbelalak tidak percaya. " Bohong, memang kau tahu dari mana?" Lucunya gadis ini, dia benar-benar sepolos Jen dan Sofi. Daniah memutuskan tidak mau membenci Amera. " Tuan Saga yang mengatakannya." " Tidak mungkin, kak Saga tidak mungkin menceritakan pada sembarangan orang." " Haha, maaf ya, tapi aku bukan sembarangan orang tu. Akukan istrinya." Jawaban sok polos Daniah membuyarkan kepercayaan diri Amera. Seperti kata Jen, dia memang pandai bicara. Bersambung Chapter 200 Di luar dugaan Berkumpulnya dua wanita yang tidak saling mengenal ini, dan di sinyalir memperebutkan seorang laki-laki. Situasi seperti Apakah yang akan terjadi? Apa mereka akan saling memaki, tarik menarik rambut atau main cakar-cakaran. Mungkin seru ya, kalau itu terjadi. Haha, tapi tentunya tidak akan mungkin akan ada adegan begitu di sini. Saat Daniah dengan akal sehatnya masih bisa dia pakai untuk berfikir. Suasana di ruangan ini masih cukup tegang. Walaupun Daniah sudah memasang wajah penuh senyum tapi dia masih menjaga jarak. Dia berfikir Amera bukanlah gadis jahat, tapi dia juga belum memutuskan kalau gadis manis di depannya ini tidak ada niatan apapun padanya. Terlebih dengan melihat sikap pak Mun yang waspada. Laki-laki itu tidak mungkin tetap berdiri di tempatnya kalau merasa Amera tidak mengancam. Kalau saja aku bisa keluar rumah, paling tidak aku bisa menghindarinya secara halus. ¡° Aku tidak percaya, Apa kak Saga menceritakan semuanya padamu?¡± Amera masih bicara dengan nada mencoba mengintimidasi. Dia masih berada di atas angin saat ini. Bagaimanapun dia tahu kalau wanita di depannya ini pandai bicara. Jadi dia masih berfikir kalau Daniah bisa saja memutarbalikan situasi dan mengarang cerita. Daniah hanya angkat bahu. Tidak mengiyakan ataupun membantah perkataan Amera. Membiarkan gadis itu berspekulasi sendiri. Tentu saja tidak, tuan Saga masih menjadi misteri bagiku. Walaupun kami dekat, tapi dia belum terbuka tentang kehidupannya. ¡° Katakan, kenapa kak Saga menggangapku sebagai adik. Kalau jawabanmu memuaskan, aku akan merubah sikapku padamu.¡± Dengan percaya dirinya dia bicara. Tanda tanya muncul di kepala Daniah. Memang untungnya apa kalau sikap Amera berubah padanya. Toh, dia tidak mau terlibat lebih dekat dengan gadis di depannya ini. Bagaimanapun dia wanita yang di bawa ibu, dia mendapat dukungan dari ibu. Dan itu sudah menjadi nilai tambah untuknya mendekati suaminya. Dan menjadikan alasan Daniah untuk menjaga jarak dengannya. Akupun tidak tahu, bagaimana hati tuan Saga. Merasa sangat dicintai saja tidaklah cukup membuat Daniah sepercaya diri itu. Karena sekali lagi hati manusia, hanya dia dan Tuhan yang tahu. ¡° Ternyata kau cuma pura-pura ya. Hubunganmu dan kak Saga tidak sedekat itu.¡± Apa si maksudnya anak ini. ¡° Amera kenapa tuan Saga menggangapmu adiknya dan menyayangimu seperti Jen dan Sofi adalah karena¡± Daniah menatap lurus Amera. Ada nada kesal dalam desahan nafasnya. Kenapa dia harus menjelaskan sampai sejuh ini. Tapi Amera tidak surut langkah, dia tersenyum sinis menunggu. ¡° karena di saat terberat tuan Saga, keluargamu, ayahmu berada di belakangnya untuk melindunginya.¡± Akhirnya di jawab juga oleh Daniah. Ternyata kak Saga benar-benar bercerita padanya. Pak Mun terlihat bereaksi mendengar kalimat Daniah. Dia terlihat semakin tidak senang melihat Amera. ¡° Ternyata kak Saga benar-benar mencintaimu ya.¡± Langkah Pak Mun yang ingin menegur Amera terhenti. ¡° Tapi Apa kau juga mencintai kak Saga?¡± Serangan kedua yang diajarkan ibu di praktekan dengan sangat baik oleh gadis itu. Hah! Kenapa aku jadi seperti terdakwa begini si. Sebenarnya apa yang sudah ibu masukan ke dalam kepalamu. ¡° Kenapa menanyakan itu?¡± Masih bisa sedikit tersenyum yang dipaksakan. ¡° Jawab saja.¡± ¡° Sudahlah, aku tidak merasa berkewajiban untuk menjelaskan kepadamu. Tapi, sama seperti tuan Saga menyayangimu. Aku akan menghormatimu.¡± Tersenyum tipis. ¡° Tapi tentunya kalau kamu bisa menjaga sikapmu.¡± Daniah sudah mau beranjak, tangannya sudah terlihat menahan tubuh untuk bangun. ¡° Hidup kak Saga tidak semudah yang orang lain lihat.¡± Amera menatap tajam Daniah, berusaha mengorek isi hati istri yang katanya sangat di cintai kak Saga itu. " Jadi, kalau kau tidak mencintainya apa itu adil untuk kak Saga?" Bibi, aku memakai semua senjata yang kau katakan padaku. Daniah duduk lagi, mencegah pak Mun yang sudah terlihat sangat kesal dan ingin ikut campur. " Aku tidak tahu apa yang ibu katakan padamu." Wajah Amera mengeryit, ternyata dia tahu begitu pikirnya, kalau ibulah dalang dari semua ini. " Tapi, sebelum aku menjawab itu, kau yang harus menjawab pertanyaanku." " Kenapa aku harus menjawab?" protes. " Kalau tidak mau ya sudah." Toh tidak ada ruginya bagiku juga pikir Daniah. Daniah benar-benar bangun dari duduk. Mengalah dan menjauhi Amera mungkin adalah pilihan paling tepat. Dia tidak mau memakai energinya untuk hal semacam ini. " Baiklah." Amera menyerah, membuat Daniah tersenyum. Dia kembali duduk. Hah! apa aku benar-benar harus menanyakannya. Sekarang Daniah yang mulai tarik ulur di hatinya. Apa dia akan terlihat seperti istri pencemburu yang tidak percaya pada suami. Saat dilihatnya Amera masih menunggu dengan curiga, menebak seperti apa pertanyaan yang akan dia katakan. " Apa ibu menyuruhmu untuk menikah dengan tuan Saga dan menjadi ibu dari anak-anaknya?" Amera tidak bisa menutupi rasa terkejutnya, walaupun secara jelas ibu tidak mengatakannya seperti itu, tapi bagaimana wanita ini bisa berfikir begitu. Gadis itu menelan ludah. Tugas Amera yang dibebankan ibu padanya hanyalah berusaha melepaskan kak Saga dari istrinya. Wanita yang tidak layak untuk menjadi ibu dari penerus Antarna Group. Karena dia gadis licik yang bahkan tidak mencintai kak Saga. " Aku tidak berfikir untuk menikah dengan kak Saga, karena aku sudah menyukai seseorang." Tidak tahu kenapa Daniah merasa kelegaan di hatinya. Ketakutannya terbang begitu saja tanpa sisa. Ternyata Amera memang sepolos wajahnya. " Haha, kalau begitu apa yang ingin kau dengar? seberapa besar aku mencintai tuan Saga." Langsung bersemangat. Aku akan mengatakannya sampai kau muak, akan ku buat cerita sedramatis cerita Jen kalau dia sedang bicara tentang tuan Saga, Diluar dugaan Amera membuka hatinya mendengar semua yang dikatakan Daniah. Kemunculan pak Mun membuat kedua gadis yang sedang asik bicara itu terkejut saat dia membawa nampannya ke atas meja. " Nona Amera bertemanlah dengan yang seusia nona, supaya hati nona tetap bersih." Dia meletakan camilan dan dua gelas jus tanpa di minta. "Silahkan dinikmati camilannya, kalau ada lagi yang nona berdua butuhkan, panggil saja saya." " Eh ia pak Mun terimakasih." Daniah Apa dia langsung pergi karena kecewa kami tidak tarik-tarikan rambut. " Akhirnya dia pergi juga, apa dia pikir aku mau membunuh kak Niah." Eh, dia sudah merubah panggilan untukku. " Tapi kak, kenapa ibu tidak menyukai kak Niah?" Amera berusaha menyimpulkan sendiri. Kalau hanya dari segi fisik, ya mungkin kak Niah tidak bisa dipamerkan di kehidupan sosialita bibi. Tapikan dia tidak jahat, dan yang penting kak Saga menyukainya. Daniah menarik ujung rambutnya, menyisir dengan tangan. "Mungkin karena aku tidak sekeren Helen. Haha." walaupun getir, tapi memang itu kenyataannya. Status pendidikan dan keluarganyapun mungkin menjadi pertimbangan ibu. " Benar si, haha." Amera tertawa saat wajah Daniah berubah kecut. " Tapi kak Niah benar-benar orang baik kok. Asal tahu ya, aku pernah bertengkar dengan Helen gara-gara dia tidak suka aku menempel dengan kak Saga." Wahh, Amera ternyata cukup keren juga ya. " Kak Niah bekerja tidak?" Karena semenjak kepulangan mereka dari bulan madu, Amera belum pernah melihat Daniah keluar dari rumah. " Apa pengganguran juga sepertiku." Tertawa menyedihkan. " Aku punya toko online." Eh, kenapa matanya langsung berbinar begitu. Memang ada apa dengan toko online? Amera langsung mengeluarkan hpnya. Dia menunjukan isi sosial medianya. Menunjukan desain-desain perhiasan yang dia buat saat kuliah di luar negri. Juga foto-fotonya sedang membuat perhiasan secara langsung. " Sebenarnya ini cita-citaku kak, jadi disainer perhiasan. Aku sempat magang beberapa bulan di sebuah toko perhiasan milik orang tua temanku waktu kuliah." Dan cerita panjang lebar tentang impiannya meluncur bak peluru yang tidak bisa ditahan. " Kak Niah lihat ini, ini kubuat khusus untuk orang yang ku sukai." Bola mata Daniah juga berbinas, teryata gadis ini benar-benar berbakat. Sebuah pin berkilau yang biasanya di sematkan di jas laki-laki. Baru desainnya saja sudah terlihat berkelas begitu pikirnya. " Untuk siapa? tuan Saga?" " Bukan, akukan sudah bilang kalau aku suka sama seseorang." " Siapa?" Hanya spontan bertanya, tidak dijawab juga tidak masalah. Toh Daniah juga tidak akan mengenalnya. " Han." " Oh namanya Han. Apa!" terbelalak. " Maksudmu sekertaris Han?" Hah! gila dia merona merah wajahnya. Dan sekali lagi cerita di luar dugaan keluar dari mulut Amera bak meteor yang jatuh kebumi. Tidak bisa mencegahnya berhenti bicara. Kenapa yang suka padanya gadis semanis kamu begini si Bersambung Chapter 201 Kedatangan Raksa Tergeletak bosan di tempat tidur. Semoga hari ini aku selesai datang bulan gumamnya menatap jendela kamarnya. Cuaca sedang sangat cerah, angin bertiup dengan merdeka. Kenapa harus terkurung di dalam rumah hanya karena datang bulan, membuatnya mendesah berkali-kali. Hiks, kenapa aku harus mengalami hal semacam ini coba. Memohon padanya juga percuma. Daniah berguling di tempat tidurnya lagi. Menarik bantal dan memukul-mukulnya. Kalau aku kabur bagaimana ya? Dia tidak mungkin akan membunuhkukan. Ya, ya, dia tidak akan membunuhku, paling-paling dia akan mengurungku selama sebulan penuh. Hah! Bagaimana kalau dia mengikatku karena aku membangkang. Walaupun tahu tuan Saga tidak akan benar-benar menyakitinya secara fisik, tapi Daniah masih belum punya keberanian untuk membangkang lebih dari kata-kata. Masih di tempat tidur, Daniah tergelak karena teringat lagi Amera. Gadis itu benar-benar luar biasa ternyata. Sangat terbuka. Dia bahkan sepercaya diri itu saat mengatakan kalau dia menyukai sekertaris Han. " Kak Niah, aku pernah menyatakan perasaanku pada Han." " Apa!" Sejenak Daniah mencoba menerawang apa yang dilakukan Amera. Dia pernah mendengar cerita Leela tentang Han yang di tembak seorang gadis konglomerat dan di tolaknya mentah-mentah. Lalu, keberanian semacam apa yang di miliki Amera sampai punya kekuatan sebesar itu menyatakan perasaan. Ini sekertaris Han lho. Han, Han. " Terus dia jawab apa?" tentu saja reaksi Han yang paling membuat penasaran. Dia tidak mungkin hanya akan melengos pergi sambil berdecak merendahkan seperti yang sering dia lakukankan. memori Daniah langsung berlarian saat dia kalah adu argumen dengan sekertaris Han. " Hapus dulu air liur anda waktu ketiduran saat belajar nona, baru bicara tentang cinta." Dibumbui gelengan kepala dan desahan kesal karena Amera sudah menyita waktunya. " Tapi tetap saja dia keren saat menolakku kak." Hah Apa! Daniah berusaha menahan tawa agar Amera tidak malu, tapi sepertinya gadis itu sama sekali tidak merasa malu. Malah terlihat kebanggaan di matanya, seperti berkata. " Cih, aku akan muncul di hadapanmu beberapa tahun lagi, apa kau masih bisa bilang begitu nanti." Ya Tuhan aku saja ingin menendangnya karena kesal. Daniah bisa membayangkan wajah Han saat itu. Bocah ingusan menyatakan perasaan padanya. Tapi aku benar-benar penasaran seleranya tentang perempuan seperti apa ya? seperti Helena yang cantik, tinggi semampai. Yang pintar dan cerdas tentunya. Terserahlah, akhirnya menyerah mendeskripsikan selera sekertaris Han. Setelah kebosanannya memuncak, Akhirnya Daniah memanggil Aran ke kamarnya. Membantunya memisahkan oleh-oleh. Gadis itu sempat ragu saat berada di depan pintu, di sampingnya pak Mun berdiri menunggu mengetuk pintu kamar. " Jangan menyentuh apapun tanpa seijin nona. walaupun sepenasaran apapun jangan menyentuh barang-barang tuan muda." Glek. " Baik Pak." Kata-kata Pak Mun sangat serius. Aaaaaa, aku tidak penasaran lagi dengan kamar tuan Saga dan nona kalau begini. Kenapa nona harus memanggilku ke kamar si, kenapa tidak di luar saja seperti kemarin. Pak Mun meninggalkan ruangan setelah Daniah membuka pintu. Aran masih berdecak kagum sambil sesekali matanya berkeliling melihat isi kamar. Tempat tidur itu, wahhh, mungkinkah nilainya jauh lebih tinggi dari pinjaman bank rumah orang tuaku. Glek. Tempat nona dan tuan Saga. Aaaaaaa, Aran, apa isi kepalamu hanya adegan dewasa. Sepertinya kau harus mulai berhenti menulis novel dewasa, biar otakmu segar. " Aran Kenapa?" Daniah menepuk bahu Aran yang masih tengelam dalam pikirannya, sementara dia sudah selesai memisahkan semua oleh-oleh yang dia beli di pulau XX. Melirik hadiah khusus yang dia beli untuk Saga sambil tergelak. Lalu tidak kalah terkejutnya setelah menemukan barang-barang yang sama sekali tidak pernah dia beli. Sekertaris Han gila, bisa tidak si dia berfikir dengan otak masuk akalnya kalau urusan perintah tuan Saga. ¡° Saya yang menemani sekertaris Han nona, dia bilang tuan Saga mau membelikan hadiah untuk nona, karena pasti nona tidak membeli apapun untuk diri nona.¡± Daniah menemuk pundak Aran lagi, meminta maaf sudah melakukan hal aneh karena suaminya. ¡° Maaf ya Aran aku sudah melibatkanmu.¡± Aran hanya tersenyum dalam hati dan dia bilang, tidak apa-apa nona, saya seperti kencan dengan sekertaris Han kemarin. Hehe. Kencan kepalamu. Pikiran normal Aran memukul. Sejak kapan Harimau gila itu mengajakmu kencan, kau bahkan membeli sesuatu yang harus kau cicil dengan gajimu. ¡° Nona, apa saya boleh bertanya?¡± membereskan tumpukan kotak hadiah dan tas kedalam kardus besar. Ada tiga kardus besar. Karyawan toko. Keluargaku dan bibi pengasuhku. tertulis dengan spidol yang ditulis Daniah sendiri. Sepertinya dia berencana menitipkan semua itu pada Raksa nanti. ¡° Hemm. Kenapa?¡± Duduk bersandar di sofa sementara Aran memindahkan semuanya ke sudut ruangan. Eh, dia tidak akan bertanya sesuatu yang aneh-aneh kan. Kenapa bola matanya berbinar bahagia begitu. Daniah tiba-tiba di serang rasa takut, apalagi kalau pertanyaaanya menjurus pada hubungannya dengan tuan Saga. Bagaimanapun cerita tentang awal-awal pernikahannya tidak ingin dia ceritakan dengan siapapun. Termasuk Aran. ¡° Bagaimana nona bisa mengenal tuan Saga dan bahkan sampai menikah dengannya.¡± Duarrr, benarkan? Ini yang kau tanyakan. ¡° Aran, kau lupa pesan sekertaris Han. Terlalu banyak bertanya bisa memperpendek umurmu.¡± ¡° Haha.¡± Aran tertawa, tapi ketika melihat wajah serius Daniah yang sepertinya engan dan tidak mau menceritakan apapun membuatnya diam dan tidak melanjutkan bertanya. Dia cukup tahu diri. Tidak! Dia masih sangat sayang pada hidupnya sehingga mengubur rasa penasarannya. ¡° Maaf nona saya sudah penasaran dengan kehidupan tuan Saga dan nona.¡± Merasa bersalah. Mati aku, nona sampai memasang wajah seperti itu. ¡° Haha, aku cuma bercanda.¡± Memukul bahu Aran mengusir canggung, saat gadis itu sudah duduk di sampingnya. ¡°Hanya tahukan, kalau tuan Saga tidak suka kalau dia jadi bahan pembicaran. Orang-orang yang bekerja padanya tidak di izinkan bicara tentangnya.¡± Masih jelas di ingatan Daniah bagaimana Han menghukum para pelayan yang bicara di belakangnya. Sebenarnya aku juga yang tidak mau cerita si karena panjang sekali, bagaimana perjalanan cinta kami ini bermuara dan dimulai. Rasanya Daniah juga merasa malu, kalau sebenarnya dulu dia hanyalah gadis malang yang harus menebus hutang perusahaan ayahnya. Sama sekali tidak berkelas untuk diceritakan. Apalagi pada Aran yang notabene hanya melihat sisi bahagia yang Daniah jalani sekarang. Karena kesibukan Raksa membuatnya membatalkan janji kedatangannya kemarin, akhirnya hari ini laki-laki itu bisa mampir sepulang bekerja. Raksa measuki gerbang utama dengan perasaan was-was. Ini kali pertamanya datang menemui kak Niah di rumah tuan Saga. Bahkan dari depan gerbang utama dia sudah menjalani pemeriksaan yang ketat. Sampai pada pemeriksaan identitas diri. Setelah menunggu beberapa menit karena penjaga gerbang mengkonfirmasi kedatangannya dengan menelfon akhirnya dia masuk juga. Kak Niah. Raksa membayangkan dulu bagaimana perjuangan Daniah pertama kali masuk ke rumah asing ini sendirian. Saat dia harus menikah dengan tuan Saga karena perusahaan ayah. Hatinya getir sendiri. Walaupun saat ini semuanya sudah baik-baik saja, tapi semuanya tidak semudah terlihat. Perjalanan kak Niah menuju titik yang sekarang pasti tidaklah mudah. Dari kejauhan Raksa sudah bisa melihat kaakak perempuannya menunggu, di sampingnya ada seorang laki-laki dengan pakaian rapinya. ¡° Raksa.¡± Lirih Daniah bergumam saat meihat mobil adiknya mendekat. Saat laki-laki itu keluar dari mobil dan mendekat dia tidak bisa untuk tidak memeluk adiknya erat. Sudah lama sekali mereka tidak bertemu. Pak Mun sampai berdehem untuk menyadarkan Daniah situasi yang ada. ¡° Hehe, maaf pak. Saya sudah lama tidak bertemu adik saya. Kenalkan pak Mun de, ini kepala pelayan di rumah tuan Saga.¡± sambil mengacak rambut adiknya penuh sayang. ¡° Selamat sore tuan, nona sudah menunggu anda dari tdi. Panggil saja Pak Mun.¡± Pak Mung sopan menggangukan kepala, menerima tangan Raksa yang terulur terlebih dahulu. " Terimakasih pak sudah menjaga kak Niah." Haha, anak ini bahkan bersikap seperti ayah saja. Daniah membiarkan sejenak obrolan ringan dan basa-basi antara Raksa dan Pak Mun. Lalu mereka masuk ke dalam rumah. Menaiki tangga. Daniah memilih membawa adiknya ke ruangan di dekat kamarnya, dia tidak mau Raksa bertemu dengan ibu. Daniah masih akan terus menyembunyikan statusnya sebagai menantu yang tidak diinginkan. Karena tidak mau membuat Raksa kuatir. " Kak Niah baik-baik sajakan?" Nahkan, selalu itu yang kau tanyakan? Daniah menepuk bahu adiknya. Ada kristal bening di ujung matanya yang tidak bisa dia cegah. Dia menangis bukan karena sedih, tapi karena bahagia. Mendapatkan cinta yang luar biasa dari Raksa. " Terimakasih ya de, karena mencemaskanku. Tapi aku benar-benar baik-baik saja. Aku bahagia sekarang." Sambil menyeka ujung matanya dan tersenyum. " terimakasih karena selalu berada di belakangku dan membelaku." " Apa si, kak Niahkan saudaraku." Malu sendiri. Gubrak! suara pintu keras saat tubuh seseorang membentur. Jenika memegang handle pintu, dengan suara nafas tersengal. Hah! Benar-benar ada Raksa. " Jen. Kamu tidak apa-apa?" Aaaaaaa, kakak ipar, kenapa adikmu tambah tampan sekali, dia operasi plastik ya selama aku menghindarinya di kantor! bersambung Chapter 202 Sore Hari di Rumah utama Jen berusaha menutupi wajah terkejut dan malunya dengan sedikit cemberut dan manyun. Daniah sampai tersenyum sendiri melihat kelakuan adik iparnya itu. Dia bilang sudah bisa melepas Raksa karena tahu pacar Raksa orang yang keren. Tapi sepertinya tidak semudah itu hatinya berpaling dan mengubur perasaannya. Ya seperti itulah hati, kadang wajah mantan saja masih sering mampir, apalagi ini baru sebatas gebetan. Tentunya masih sering terngiang-ngiang. ¡° Kenapa tidak bilang kalau mau menemui kakak ipar. Kitakan bisa pulang bareng. Kamu tidak dipersulit di gerbang depankan? ¡± Jen duduk nimbrung tanpa di minta di saat adik dan kakak sedang melepas rindu mereka, dia sudah berperan menjadi pemeran utama. ¡° Maaf ya, mereka kadang memang sedikit berlebihan.¡± merasa prihatin. ¡° Haha. Gak papa kok, merekakan hanya menjalankan prosedur.¡± Walaupun aku agak takut kalau tidak diizinkan masuk tadi. ¡° Dan lagi, kitakan gak ada ketemu tadi di kantor, bahkan saat makan siangpun Jen makan dengan teman perempuankan.¡± Karena aku mau menghindarimu sedikir demi sedikit, hiks makanya aku begitu. Perebut laki-laki orang itu adalah kelakuan paling hina yang bisa di perbuat perempuan. Cih, aku jadi terngiang-ngiang dengan kutipan-kutipan bijak yang sering di sebutkan Sofikan. ¡° Sudahlah, lagian kalian bertemu jugakan di sini.¡± Daniah melerai, tidak mau Jen mulai bicara dengan penuh dramatisasi lagi. Alih-alih menutupi diri, dia malah bisa keceplosan perasaanya. Yang pasti hanya akan membawa keduanya pada situasi tidak nyaman. Terlebih bagi Raksa, dengan karakternya yang serba tidak enakan. Pak Mun mengetuk pintu lalu muncul membawa makanan dan minuman, dia langsung meninggalkan ruangan ketika melihat Jen juga bergabung di sana. Dia merasa tugas pengawasannya tidak di perlulan lagi. Nona mudanya pasti akan menjaga sikap pikirnya. Daniah menunjukan foto-foto yang di ambilnya di pulau pada saat bulan madu, cerita yang terjadi selama di sana di kunci rapat dari mulutnya. Tidak ada yang tahu kejadian sebenarnya di pulau kecuali mereka yang terlibat di sana, dan diantara mereka menutup rapat. Jen seperti bocah yang ikut ambil bagian, nimbrung tidak pada tempatnya. Walaupun dia tidak berada di lokasi tapi sudah seperti tahu semua tempat saja di pulau. ¡° Kami sudah beberapa kali ke sana kak. Teman kak Sagakan walikota kota XX¡± Aaaa, itukan kota yang bahkan tidak sempat kami kunjungi. Tuan Saga hanya pergi sendiri karena ada urusan waktu itu. Jen sekali lagi menjadi pemandu wisata melalui foto-foto yang di ambil dari hp Daniah. ¡° Haha, apa ini!¡± Jen dan Raksa sudah tertawa terbahak menunjuk foto yang ada di hp. ¡° Apa?¡± Kaget mendengar tawa kedua adik di depannya. ¡° Kakak ipar dan kak Saga ngapain aja. Haha.¡± Daniah langsung menyambar hp yang di pegang Jen. Wajahnya merah padam. Langsung refleks dia melemparkan hp. Foto-foto saat seharian mereka di dalam kamar. ¡° Waaahhh, kakak ipar dan kak Saga pasti bekerja keras selama bulan madu ya.¡± Jen seperti mendapat mainan baru. Girang sekali. Raksa juga tersenyum sambil menutup wajahnyanya, tapi dia melirik Daniah dan mengelengkan kepala. Aaaaaaa, aku mau masuk ke kerak bumi! Kenapa Raksa sampai melihat foto itu si. Kedatangan Raksalah yang membuat mobil Saga sudah memasuki halaman rumah utama di saat senja baru mulai temaran. Dia sudah mulai gelisah sepanjang rapat. Membuat Han harus membatalkan dua agenda mereka. Percuma saja, membuat tubuh tuan Saga ada di acara, tetapi pikirannya hanya tertuju rumah dan nona. Alih-alih semua akan berjalan lancar, nanti ada saja hal yang membuatnya kesal. Dan semua rencana yang sudah terorganisir dengan rapi bisa-bisa mundur dari jadwal. Aku akan membereskan beberapa hal lalu pulang, begitu akhirnya rencana Han. ¡° Dimana Niah?¡± Baru turun dari mobil, Pak Mun menyambut. Dia menunjuk lantai dua. ¡° Apa mereka hanya berdua?¡± Tanyanya lagi. Pak Mun dan Han mengikuti dari belakang. Han terlihat membawa tas kerjanya, lalu langsung menuju ruang kerja Saga. ¡° Tidak tuan muda, nona Jen sudah pulang juga.¡± Hah! Ternyata Jen berguna juga dalam situasi semacam ini. Tidak ada ruginya Han menyuruhnya cepat pulang tadi. ¡° Siapkan makan malam untuknya. Niah pasti senang kalau adiknya ikut makan malam nanti ¡± Eh, makan malam. Agak terkejut juga saat mendengar perintah. Tidak seperti biasanya tuan muda perduli dengan orang lain. Tentu saja, diakan adiknya nona. ¡° Apa tuan mau saya sampaikan pada nona, kalau tuan sudah kembali.¡± Pak Mun mengikuti langkah kaki Saga menaiki tangga. ¡° Tidak perlu, aku yang akan datang nanti. Aku mau mandi sekarang. Siapkan saja semuanya. Pergilah, aku bisa sendiri.¡± ¡° Baik tuan Muda.¡± Saga hanya melewati ruangan dimana terdengar gelak tawa dari dalamnya. Dia berhenti sebentar. Pintu yang terbuka menyiarkan suara mereka dengan jelas. Mendengar apa yang membuat Daniah sampai tertawa senang seperti itu. Membuat hatinya ikut berdebar. Baiklah, bersenang-senanglah. Kau pantas untuk mendapatkannya. ¡° Sepertinya kalian bersenang-senang ya.¡± Saga muncul di depan pintu, sudah dengan pakaian santainya. Membuat semua orang terperanjak dan langsung bangun dari sofa. Dia pulang, aaa, kenapa pak Mun tidak memanggilku tadi. ¡° Sayang, sudah pulang ya.¡± Daniah beranjak mendekat. Hah! Kenapa langsung memelukku. Di depan mereka lagi. ¡° Aku mendengar tawamu sampai ke kamar tadi. ¡° Ciuman di rambut. Sekali, dua kali, tiga kali. Membuat Daniah frustasi sendiri. Satu kecupan dari Daniah di pipi Saga membuat laki-laki itu menghentikan apa yang dia lakukan. ¡° Raksa jangan hiraukan mereka.¡± Jen menarik lengan Raksa untuk duduk. ¡° Mereka itu pemilik dunia, kita cuma numpang sewa.¡± Raksa ikut terperanjak dan cepat menguasai diri. Dia memalingkan wajah dan ikut duduk di samping Jen. Tapi terlihat dia tersenyum senang melihat dan mendengar tawa Daniah dengan matanyanya sendiri. Terimakasih Tuhan, jagalah Kak Niah. Karena hanya itu yang bisa dia lakukan, berdoa. Tapi hatinya benar-benar lega. ¡° Sayang, hentikan, ayo duduk.¡± Tersadar sekarang dia ada dimana, dan ada siapa di dalam ruangan. Daniah menarik paksa Saga duduk di sebelahnya. Sepanjang menunggu waktu makan malam suasana yang tadinya riuh terlihat cukup canggung. Raksa mulai menjaga sikap, Jen mendesah melihat kakaknya yang tidak bisa melihat situasi betapa tidak nyamannya Raksa. Sementara yang lain mengobrol basa basi, Saga hanya mendengarkan sambil memeluk istri di sampingnya. Tidak perduli dengan yang lain. " Apa kau melihat hal seperti ini setiap hari Jen?" " Hahaha." Yang jomblo mengaruk tembok dengan kukunya berkali-kali. Setelah membereskan semua pekerjaannya Han keluar dari ruangan Saga. Pak Mun yang memintanya menunggu waktu makan malam di tolaknya. " Ada yang mau ku kerjakan setelah ini." Jawab Han sambil mengambil sebotol air dari dalam kulkas. " Terus awasi ibu dan Amera seperti yang kukatakan kemarin." " Baik." Han keluar rumah dengan membawa botol airnya. Melihat dari kejauhan seseorang sedang menempel di dekat pintu mobil. Mau apa lagi bocah itu? ¡° Kenapa?¡± Han masuk ke dalam mobil lalu minum. Amera mendekat dan membuka pintu mobil lagi meminta Han keluar. Wajah gadis itu mulai terlihat malu-malu. Sambil mencengkram tangannya sendiri ragu. ¡° Kalau nona tidak mau bicara saya pergi, saya masih punya bayak pekerjaan.¡± Belum keluar dari mobil. Merepotkan saja. ¡° Tunggu, ada yang mau aku bicarakan. Keluarlah dulu." Han mendesah kesal, tapi dia keluar dari mobil. membanting pintu. Amera mundur terperanjak. Tapi dia berhasil menguasai dirinya. Ya, ya dia Han. Kalau dia tersenyum ramah bukan Han namanya. Aku sudah kebal dengan sikapmu. ¡° Silahkan katakan nona.¡± Apalagi yang mau dibicarakan bocah satu ini, apa dia benar-benar mau menggangu hubungan tuan Saga dan nona hanya karena ibu mendukungnya. ¡° Aku berteman dengan kak Niah.¡± Lalu! Han diam menunggu kelanjutan tanpa memberi reaksi apa-apa. ¡° Hei, kenapa tidak memberikan reaksi apa-apa. Kau mengancamku kemarinkan kalau aku sampai melakukan apa-apa pada istri kak Saga.¡± ¡° Mengancam? Siapa? Saya mengancam nona.¡± Seperti binggung dengan perkataan Amera. Membuat gadis itu kesal. ¡° Terserahlah, yang penting aku dan kak Niah sudah berteman sekarang. Dan aku merestui hubungan Kak Saga dan Kak Niah.¡± Berharap dengan mengatakan begitu sikap Han akan menjadi ramah padanya. Mustahil! teriaknya sendiri kesal. Cih, memang pentingnya apa restu anda. Masih tidak memberi reaksi dengan kata-kata. ¡° Sekarang bisa kita bicara serius.¡± Han mulai jengah ketika ternyata Amera belum mengakhiri pembicaraannya. ¡° Apa ada lagi yang mau nona katakan?¡± Melihat sikap Han yang mulai kesal malah membuat antusias Amera semakin menjadi. ¡° Apa kau ingat aku pernah menyatakan perasaanku padamu.¡± Langsung to the poin. ¡° Tidak!¡± Acuh. Apa! kenapa aku harus suka pada orang seperti ini sih. Han benar-benar tidak terlihat tertarik, satu tangannya bahkan sudah meraih handle pintu mobil. walaupun kakinya belum masuk. " Aku sudah besar sekarang." Teriak Amera. " Lalu?" " Kau bilang setelah aku dewasa dan tidak tidur sambil berliur waktu belajar aku sudah boleh memikirkan cinta. aku sudah lulus kuliah sekarang." Han tergelak kecil, dia ingat kejadian ini. Saat bocah ingusan ini menyatakan perasaan padanya. Dan itulah jawabannya. " Berapa umur anda nona?" Amera diam, hanya mengigit bibirnya tidak mau menjawab. Kalau dia menjawab hanya menunjukan seberapa bocahnya dia. " Apa! memang apa hubungannya dengan umurku, kau juga masih jomblokan?" " Kak Mera!" terlihat Sofi berlari cepat setelah turun dari mobil dan mendengar Amera berteriak di depan Han. "Sudah gila ya dia sampai memprovokasi Han." Sofi mendekat, menarik tangan Amera menjauhi mobil Han. " Apa yang sedang kau lakukan." berbisik. " Menyatakan perasaanku pada Han." " Apa! sudah gila ya." Sofi langsung menciut saat pandangan matanya bertemu dengan Han. " Minggir." " Ia! kami minggir. Maaf!" Menarik tangan Amera yang belum mau menyerah pergi. " Sudah gila ya, dia sudah kesal." Sofi benar-benar mendorong tubuh Amera untuk berjalan menuju rumah utama. " Kau mau mati!" kesal karena Amera masih memandang mobil Han yang menjauh. Saat mobil itu lenyap Sofi melepaskan tangannya. " Kenapa mencegahku si, akukan sudah berhasil menekannya tadi. sedikit lagi dia menjawab perasaanku tadi." Aaaaa. Bisa gila aku. Sofi meninggalkan Amera dan masuk ke dalam rumah. Lagian apa si yang di sukai dari Han, Hiiii, menakutkan begitu. Tengkuk Sofi saja masih merinding. Chapter 203 Rahasia Aran (Part 1) Merubah posisi tidurannya di sofa. Tv menyala, tapi karena jarangnya menonton jadi tidak tahu apa yang harus di lihat dan dinikmati. Tapi, tetap saja dibiarkannya benda itu hidup, mengusir sepi. Masih terkurung di dalam rumah. Belum boleh beraktifitas normal. Tapi sepertinya ini akan jadi hari terakhir, karena semua keluhan datang bulan sudah lewat dan hanya tinggal beberapa titik noda saja yang keluar. Akhirnya besok aku bebas! Bebas kepalamu! Huh! Sepertinya makna kebebasan makin lama di era sekarang makin di persempit. Tapi terserahlah, pikir Daniah yang penting dia bisa keluar rumah dan kembali bekerja. Terserah, mau diawasi Aran selama di luar rumah bukan menjadi perkara penting lagi. Toh sebelumnya dia bisa bersama Leela. Jadwal kunjungan ke dokter juga sudah keluar. Baiklah, lakukan semuanya dengan senang Daniah. Terima yang sudah menjadi garis nasibmu. Menjadi istri tuan Saga dengan segala kerumitannya itu. Daniah menjatuhkan tubuhnya ke atas bantal, menarik bantal sampai menyangga kepalanya. Seraut wajah tuan Saga muncul di pelupuk matanya. ¡° Bagaimana caranya aku bisa hidup dengan normal sebagai istrinya ya?¡± memikirkan trik khusus agar kedepannya Saga bisa bersikap layaknya manusia normal. Tidak, cukup menjadi suami normal seperti kebanyakan suami lainnya. Hemmm. Berfikir keras, akhirnya Cuma mendesah. Tapi dia tuan Saga! Dilihat dari semua hal memang dia sudah di luar standar normal manusia biasanya. Daniah teringat Raksa semalam. Upayanya untuk tidak mempertemukan Raksa dengan ibu sepertinya gagal. Ajakan makan malam Saga membuat mereka mau tidak mau bertemu di meja makan. Hah! Semoga semalam Raksa tidak melihat bagaimana sikap ibu padaku. Dan Rukoku apa yang terjadi selama aku tidak pernah datang. ¡° Tuan Saga mengirim dua staff ahli ke ruko mbak. Mereka membantu kami dengan baik.¡± Begitu laporan Tika, walaupun Daniah tidak paham maksudnya tapi sepertinya semua berjalan dengan normal. Tidak ada kendala berarti yang dilaporkan Tika. Grup chat toko juga cukup tenang. Tapi ngomog-ngomong apa yang dilakukan dua orang staf ahli di rukoku, Tika bahkan sampai menyebutnya staff ahli. Saat Daniah menanyakan pada Saga semalam sebelum tidur, dia hanya menjawab Hemm, mana kutahu yang mereka lakukan. Mungkin membantu karyawanmu melipat baju. Ah sudahlah, percuma bicara padanya. Aku akan melihat langsung besok. Setelah benar-benar jenuh bergulingan di sofa Daniah keluar dari kamar. Sepi menyergap. Semua orang pergi, bahkan Amera juga. Dia megatakan akan memperjuangkan mimpi dan cita-citanya. Mimpinya bukan untuk menjadi istri sekertaris Han kan. Membayangkan saja sudah ngeri kalau gadis itu dengan tidak tahu malu muncul di antarna Group untuk mengaku sebagai kekasih Han. Dan akhirnya Daniah membawa langkah kakinya menuju rumah belakang. Mencari Aran, gadis itu sama menggangurnya seperti dirinya. Karena pekerjaan utamanya adalah menjadi asisten pribadinya.. ¡° Nona ada apa kenapa sampai kemari?¡± Maya yang tadi di teriaki saat sedang membereskan pekerjaannya langsung berlari menuju ruang tamu rumah belakang. Beberapa pelayan tampak canggung saat Daniah berdiri di sana dengan wajah ramahnya. Walaupun terlihat ramah namun bagi beberapa pelayan menjaga jarak dengan nona mudanya adalah hal paling baik yang bisa dilakukan untuk meminimalisir melakukan kesalahan. ¡° Haha, maaf ya aku menggangu kalian bekerja.¡± ¡° Tidak apa-apa nona, apa yang bisa kami bantu.¡± ¡° Aku hanya sedang bosan jadi main kemari. Tapi kalian sedang sibuk ya.¡± Beberapa pelayan menggangukan kepala lalu undur diri untuk kembali bekerja. Menjauhi masalah tepatnya. Ia si, inikan masih jam kerja mereka. Cuma akukan pengganguran di rumah ini. ¡° Apa nona mau saya panggilkan Aran. Dia sepertinya masih ada di kamarnya.¡± Wajah penuh semangat Daniah muncul. Tujuannya kemari memang sebenarnya mencari gadis itu. ¡° Dimana kamar Aran, biar aku kesana?¡± Semua saling pandang, ingin menolak tapi tidak berani. Lebih baik Aran yang keluar dari kamar dan mengikuti nona ke rumah utama pikiran mereka bersamaan. Tapi sepertinya Daniah bersikeras untuk mendatangi kamar Aran. Akhirnya Maya yang berinisiatif mengantarkan Daniah ke kamar Aran yang ada di lantai dua. ¡° Aran membantu beberapa pekerjaan pagi, tapi kalau dia sudah selesai dia lebih sering di kamarnya nona.¡± Maya memberi penjelasan sambil mensejajari langkah kaki Daniah di sampingnya. ¡° Memang apa yang dikerjakan dia di kamar?¡± ¡° Katanya dia penulis novel online.¡± Haaaaa, benarkah? Sampailah di sebuah pintu. Deretan kamar yang berjajar. Serasa ada di bilik kos-kosan mahasiswa saja. Tertulis nama Aran di pintu masuk. ¡° Terimakasih ya maya.¡± ¡° Saya panggilkan Aran nona.¡± sudah mau mengetuk pintu. ¡° Tidak usah, biar aku masuk sendiri. Kembalilah bekerja, maaf sudah merepotkanmu ya.¡± Menepuk bahu Maya pelan. ¡° Tidak nona, nona bisa menyuruh saya melakukan apapun yang nona mau.¡±¡± Untuk itulah aku di gaji tiga kali lipat di rumah ini. Daniah membuka pintu pelan. Saat Maya sudah meninggalkannya. Pintu berderik kecil namun sepertinya tidak mempengaruhi Aran karena gadis itu tidak muncul. Mata Daniah berkeliling mencari. Kosong. Terdengar suara kran air dari kamar mandi. ¡° Ternyata dia sedang mandi ya.¡± Daniah benar-benar masuk setelah mengatakan permisi dengan suara pelan. Melihat seluruh isi ruangan. Sepertinya nyaman sekali gumamnya. Wahhh, kamar para pelayan di sini saja kelasnya berbeda ketimbang bibi pengasuh di rumah. Pandangan Daniah menangkap sesuatu yang menarik di atas meja. Layar laptop yang tidak dimatikan. Gambar screen saver membuat matanya terbelalak dari kejauhan. ¡° Bukankah itu sekertaris Han.¡± Langsung mendekat secepat kilat dan refleks duduk di kursi. Bersamaan itu Aran muncul dari kamar mandi. ¡° Nona!¡± terkejut setemgah mati, lebih terkejut ketika melihar tangan nona Daniah sudah menyentuh mouse dan melihat layar laptopnya dengan penuh tanda tanya. Habislah aku tidak mematikan laptop. ¡° Aran, bukannya ini sekertaris Han.¡± Matilah aku Daniah tidak berhenti berdecak kagum. Bahkan sampai beberapa kali bertepuk tangan karena antusiasnya mendengar cerita Aran. Saat dia menjelaskan satu persatu foto sekertaris Han yang ada di layar laptopnya. Mulut Daniah terbuka lebar beberapa kali. sudah seperti mendengar dongeng yang menarik. Alur yang di ceritakan Aran dengan teratur seperti membaca novel. " Hebat! hebat!" Aran mengeryitkan matanya beberapa kali melihat reaksi Daniah. Kenapa nona sebahagia itu si, seperti habis mengetahui rahasia terbesar bumi saja. " Wahhh aku tidak menyangka kalau reporter yang berhasil mengelabui sekertaris Han itu perempuan. aku pikir tadinya pasti laki-laki keren yang pemberani. Seperti di film-film detektif itu." Daniah meraih tangan Aran cepat. "Ajari aku Aran." semangat sambil mengoyangkan tangan Aran beberapa kali. Ajari apa nona! " Ajari aku bagaimana kamu bisa mengelabui sekertaris Han." Deg, wajah Aran berubah pias. Mengelabui sekertaris Han adalah kesalahan terbesar yang sampai hari ini akan selalu menjadi penyesalan seumur hidupnya. " Katakan, apa yang kamu lakukan sampai Han tidak tahu kamu buntuti." Bagaimana ini? apa aku akan benar-benar mati kali ini ditangan harimau gila itu. Kalau aku menjawab nona habislah aku. Tapi kalau aku tidak menjawab, Haaaa, kenapa wajahnya sesenang ini si. Bersambung Chapter 204 Rahasia Aran (Part 2) Suasana berubah canggung saat Aran mulai berwajah muram dan berjalan duduk ke tempat tidur. Seperti menggantung beban dan rasa bersalah di pundaknya. Matanya yang terlihat lelah karena semalaman mengejar target menulis. Sementara Daniah masih ada di depan meja, duduk di tempatnya tadi. Masih melirik foto-foto sekertaris Han di layar laptop. Mengingat-ingat sepertinya foto-foto itu belum pernah di lihatnya di internet. Kenapa Aran sampai memasangnya sebagai layar depan ya? Apa dia? Hei, hal mengejutkan apa lagi ini. Setelah Amera yang secara mengejutkan mengaku menyukai sekertaris Han saja belum rampung Daniah memikirkannya, sudah muncul fakta baru lagi. Ckck, Daniah berdecak. Ternyata pengemar sekertaris Han ada ya. Mereka ini tahu tidak si bagaimana sifat sekertaris Han. Ayolah Daniah kau bahkan mencintai makhluk paling tidak bisa di tebak dimuka bumi ini. Begitulah akhirnya Daniah bertoleransi dengan fakta mengejutkan yang dia dapat pagi ini. ¡° Nona.¡± Lirih Aran memanggil. ¡° Eh iya, kenapa?¡± tersadar dari lamunannya yang menyimpulkan fakta seenaknya. Kenapa dia jadi menunduk begitu si, apa aku sudah kelewatan ya. Masuk ke kamarnya dan melihat isi laptopnya tanpa izin. " Maaf ya Aran kalau aku kelewatan masuk kamarmu tanpa izin." Aran langsung mengibaskan tangannya dan mengeleng kuat-kuat, kalau dia tidak keberatan Daniah melakukan apapun di kamarnya. Toh semua hal yang dia nikmati ini adalah milik suaminya. ¡° Tidak nona bukan itu." Mengibaskan tangan lagi. " Sebenarnya saya sudah membuat kesalahan besar pada sekertaris Han di masa lalu.¡± Seperti baru saja melepaskan beban berat di pundaknya. Aran bernafas jauh lebih lega. Mungkin menceritakan pada nona Daniah tidak akan membuatnya naik dari kubangan rasa bersalah. Tapi sejujurnya dia sangat berharap, kalau nona Daniah bisa membuka jalannya untuk minta maaf secara tulus pada sekertaris Han. Walaupun dia belum bisa menduga, akan melalui jalan seperti apa. Kenapa si akukan penasaran? ¡° Dia marah ya karena kamu mengambil gambarnya diam-diam. Aku dengar karena kau membantu seorang putri stasiun tv untuk menyatakan perasaannya pada Han.¡± Daniah melihat wajah penuh bersalah Aran. Dia bahkan sampai meremas jemari tangannya. "Dulu kamu reporter di stasiun TVXX kan?" Sebuah hal yang wajar jika sekertaris Han marah. Begitu Daniah berfikir. Kalau dia sendiripun tentu akan marah dan terganggu kalau aktivitas sehari-harinya menjadi konsumsi publik. Apalagi ini manusia sekaku sekertaris Han. ¡° Lebih parah dari itu.¡± Menatap Daniah dalam. Lebih dari itu kata hatinya. ¡° Aku membuatnya marah dan merasa di khianati.¡± Daniah bangun dari tempat duduknya dan mendekat ke tempat tidur. Di samping Aran. Gadis manis yang selalu terlihat tegar itu ternyata bisa bersikap semacam ini ya. Ah, aku bahkan tidak tahu apa-apa tentang Aran. Hubungan Daniah walaupun terbilang cukup terbuka, namun memang masih jauh dari membicarakan kehidupan pribadi masing-masing. Bahkan terbukti dari fakta luar biasa ini diketahui Daniah secara tidak sengaja begini. ¡° Tapi bukannya kamu sudah di maafkan. Buktinya dia membiarkanmu bekerja di sini. itu artinya dia sudah memaafkanmukan.¡± Tidak mungkin Han membiarkan Aran tinggal di rumah belakang, membiarkannya bertemu tuan Saga, membiarkannya berada di samping Daniah. Kalau laki-laki itu masih menyimpan dendam atau semacamnya pada Aran. Aran menarik nafas panjang, hubungan rumitnya dengan Han. ¡° Sepertinya tidak.¡± Menjawab lemas. ¡°Sampai hari ini aku belum mendapat kesempatan minta maaf dengan benar padanya.¡± Wajah tertekannya muncul lagi. ¡° Kenapa?¡± ¡° Dia selalu marah dan menatap tajam seperti mau merobek mulut saya nona kalau saya mengungkit masa lalu. Dan saya benar-benar tidak berani bicara kalau sudah seperti itu.¡± Sedih. Aku sudah pernah melihatnya marah sih, tapi bukan kemarahan yang ditujukan padaku. Rasanya Daniahpun mungkin akan bersikap seperti Aran, menciut nyalinya kalau kemarahan sekertaris Han benar-benar tertuju padanya. Penasaran, penasaran, ingin tahu sebenarnya hubungan Aran dan sekertaris Han itu seperti apa. Hati Daniah sedang berperang sendiri. Mau bertanya tapi takut menyinggung Aran, tidak bertanya tapi. Aku penasaran! Pagi itu udara cukup lembab. Bahkan angin yang bertiup masih menusuk nadi. Jalanan masih sedikit lenggang karena akhir pekan, libur sekolah dan liburnya pekerja kantoran. Kebanyakanan orang jauh memilih menghabiskan pagi di tempat tidur atau berkumpul bersama keluarga di rumah. Hanya tempat keramaian seperti taman dan area bermain keluarga yang terlihat ramai. Orang-orang bercengkrama sambil berolah raga. Seorang gadis sedang terlihat kebinggungan di depan mobilnya. Dia sedang berdiri di dekat taman apartemen mewah yang cukup lenggang. Hanya terlihat beberapa orang sedang jogging. ¡° Permisi tuan.¡± Katanya berteriak dengan suara cukup keras. Tapi karena orang yang sedang dia panggil memakai hoodie jaket dengan earphone sepertinya tidak mendengar. Membuatnya setengah berlari meninggalkan mobilnya. ¡° Maaf tuan.¡± Dia berdiri tepat di depan laki-laki yang sedang berlari dan otomatis menghentikan langkahnya itu. Laki-laki itu menurunkan hoodie jaketnya, dan menarik earphone yang ada di telinganya. Menatap tidak suka karena merasa terganggu dengan aksi gadis di depannya. ¡° Apa kau mengenalku?¡± tanyanya engan. Bahkan terkesan acuh. Gadis yang menghadangnya terlihat panik. Ia mengusap tangannya karena merasa sedikit dingin saat udara pagi yang menusuk berhembus. " Maaf apa tuan selebriti? Haha, saya jarang menonton tv jadi tidak tahu." menundukan kepalanya minta maaf. Dengan wajah polos sambil mengusap tangan menahan dingin. " Apa tuan artis?" " Bukan!" " Maaf." Merasa bersalah karena sepertinya laki-laki yang di ajaknya bicara tersinggung. " Maaf karena tidak mengenali anda tuan." Tapi memang aku harus mengenalimu apa? gumam-gumam kecil. tapi bisa cukup di tangkap pria berhoodie itu. " Apa yang kau inginkan?" Bertanya dengan nada suara yang sedikit berubah dari tadi. " Mobil saya mogok tuan." menunjuk sebuah mobil tidak jauh dari mereka berada. " Hp saya juga mati, jadi tidak bisa menghubungi orang rumah." Lelaki itu terlihat berfikir, sebentar kemudian berjalan mendekati mobil. " Buka mesin belakang mobil." " Hah!" Masih terkejut. Lalu masuk ke dalam mobil dan membuka kap mesin. Dia langsung keluar lagi dan bergegas menuju belakang mobil. " Terimakasih tuan sudah mau membantu". Itulah pertama kalinya Aran dan Han bertemu. Dalam drama gadis polos yang mobilnya mogok di area jogging apartemen. Tangan kedinginan Aran, dan pipi merah polosnya, berhasil menarik perhatian Han. Dan dari situlah sandiwara kebetulan-kebetulan di mulai. " Padahal aku sudah mengintainya lebih dari seminggu nona, aku menunggu moment yang pas untuk menyapanya. Mengumpulkan keberanian juga si." Tersenyum sedih, menginggat sebesar apa kebodohannya. " Dia benar-benar percaya aku tidak mengenalinya dan tidak tahu siapa dia." Hah! aku harus kagumkan padamu Aran, kamu pemberani sekali menantang orang seperti Han. Rupaya orang populer sesenang itu ya kalau tidak di kenali. " Nona." Aran meraih tangan Daniah membuat gadis itu terkejut. Tapi yang terlonjak kaget malah Aran, dia melepaskan tangan Daniah dan memukul tangannya sendiri. " Maaf nona saya sudah lancang." " Hei jangan begitu." cepat meraih tangan Aran lagi. " Sudah kubilang bersikap biasa padaku kalau tidak ada tuan Saga dan sekertaris Han." " Apa nona bisa membantu saya." Akhirnya memakai senjata yang sudah di rencanakannya. " Aku bisa bantu apa?" Penasaran sekaligus takut kalau permintaan Aran apapun itu tidak bisa dilakukan olehnya. " Kau mau mengatakan perasaanmu pada sekertaris Han?" Ia, benarkan? apa aku membuat kesimpulan salah kalau ternyata Aran menyukai Han. " Bukan nona, saya tidak punya harapan sebesar itu." Malu sendiri. " Saya hanya ingin minta maaf dengan tulus padanya." Tapi kalau bisa lebih dari itu, tentu saja saya akan sangat bahagia. Sampai pembicaraan mereka selesai dan Daniah kembali ke rumah utama. Pikiran Gadis itu melayang kemana-mana. Wajah memelas Aran. Tatapan menakutkan sekertaris Han. Memangnya apa yang harus kulakukan! mengunci mereka di satu kamar biar mereka bisa bicara satu sama lain. Dan Daniah bahkan belum menemukan jawabannya sampai dia masuk ke kamarnya dan menjatuhkan diri di atas tempat tidur. Bersambung Chapter 205 Hadiah Ulang Tahun Han masih mematung di depan kamar. Menerka apa yang diingikan tuan mudanya. Dia bahkan sudah separuh menempuh perjalanan pulang tadi setelah mengantar Saga kembali lebih awal dari biasanya, tapi sekarang dia harus kembali lagi ke rumah utama. Sepanjang perjalanan pulang saja tidak ada yang dia bicarakan. Begitu pikirannya menebak-nebak mau tuannya. Akhirnya mengetuk pintu. ¡° Tuan muda, apa saya boleh masuk?¡± tanyanya setelah mengetuk pintu. ¡° Masuklah.¡± Suara Saga terdengar dari dalam. Apa-apaan ini? Mau pamer apa padaku? Saga sedang duduk di sofa, bersandar. Sementara kakinya terangkat sampai ke meja. Dan Daniah duduk di depannya. Laki-laki itu sedang memegang sisir tapi sepertinya dia malah hanya asik bermain dengan rambut istrinya. Kalian mau menunjukan apa padaku! Ntah kenapa rasanya sedikit kesal menelisik hati sekertaris Han tidak seperti biasanya. Walaupun terkadang dia hanya diam menunggu Saga menyelesaikan urusan bisnisnya, sepertinya itu jauh lebih baik dari pada melihat pemandangan di depannya sekarang. ¡° Apa ada yang tuan inginkan?¡± Saga menoleh sebentar lalu mengangkat bahu. Apalagi ini! ¡° Niah mau bicara padamu.¡± Mata tidak beralih dari rambut istrinya. Bahkan sekarang mencium ujung rambut Daniah. Tidak perduli Han sedang menunggu dan melihatnya. Daniah melambaikan tangan memasang wajah full senyuman. Tapi ntah kenapa malah terlihat sedikit menakutkan di mata Han. Hal gila apa yang anda inginkan nona, sampai harus bicara di depan tuan muda? ¡° Maaf sudah membuatmu bolak balik. Apa tadi sudah sampai di rumah?¡± ¡° Jangan sungkan nona, katakaan saja apaa yang nona inginkan.¡± Sudahi senyum sandiwara anda nona, aku tahu kalau hal gila pasti yang anda inginkan. Kalau tidak, tidak mungkin anda mengatakannya di depan tuan muda yang sedang main-main rambut anda dengan bodohnya itu. Daniah tersenyum tipis menduga apa yang dipikirkan Han. ¡° Apa kau tahu akhir pekan nanti aku ulang tahun.¡± Bertanya dengan wajah sepolos mungkin, supaya tidak bisa ditebak apa yang dipikirkannya sekarang. ¡° Apa nona mau saya menyiapkan hadiah sesuatu seperti pesta untuk nona misalnya?¡± Mulai menebak, biasanya hak-hal yang berbau pesta yang diinginkan perempuan untuk ulang tahunnya. ¡° Tidak!¡± Cepat menjawab. Lalu menghadapkan wajah menyentuh pipi Saga. ¡° Aku akan minta hadiahku pada tuan Saga, Cuma dia yang bisa memberikannya padaku.¡± Saga mencium hidung Daniah sambil tertawa. Hahaha, hal gila apa yang kulakukan ini si, kalau aku tidak bersikap imut begini dia pasti tidak mengizinkanku bicara padamu. Apa! mau muntah? Menoleh pada sekertaris Han yang terlihat bibirnya berkedut, mungkin saja menahan tawa. Kurang ajar! Dia tahu aku sedang akting menjadi istri manja ya. ¡° Tapi aku juga mau hadiah dari sekertaris Han.¡± Seringai licik muncul. Hah! Sudah kuduga dari tadi. ¡° Tentu saja, katakan saja apa yang nona inginkan. Kalau tuan muda tidak keberatan saya akan melakukan apapun untuk mendapatkan apa yang nona mau.¡± Apa itu sudah cukup! Berhenti bermain-main dengan senyum licik itu nona. Han melihat Saga yang tidak terpengaruh dengan kata-kataanya, laki-laki itu malah memilih menyandarkan bahu dan memeluk Nona. Jadi kesimpulannya, tuan muda pasti sudah tahu apa yang diinginkan nona. ¡° Apa kau bisa membawakanku kuda bersayap putih.¡± Saga yang tergelak mendengar kata-kata Daniah. Dia hanya angkat bahu sambil bicara ntah apa tanpa suara memandang Han. ¡° Apa ada hal yang lebih tidak masuk akal yang nona inginkan lagi?¡± Suara Han berubah menjadi sedikit sarkas. ¡° Aaaa, ternyata ada yang tidak bisa kau lakukan ya.¡± Sedih. Namun lihat senyum jahat itu. ¡° Padahal aku melihat di tv ada lho.¡± Ya itukan di tv nona! Jangan-jangan anda menontonnya di film kartun anak-anak. ¡° Baiklah, kalau itu tidak bisa, bagaimana kalau pesawat jet tempur yang bisa bolak-balik keluar kota dalam hitungan menit.¡± Permintaan aneh yang kedua setelah kuda bersayap. Ini apa-apan lagi coba? Dan kenapa anda menikmati semua ini tuan muda. ¡° Kalau boleh tahu untuk apa nona butuh pesawat jet tempur?¡± Lihat, anda mau menjawab apa sekarang. ¡° Haha, akukan bisa memakainya untuk kabur dari tuan Saga.¡± ¡° Kau mau mati ya!¡± menarik rambut Daniah sampai gadis itu terlonjak kaget. ¡° Kau bilang apa tadi?¡± ¡° Haha sayang aku hanya bercanda.¡± Muah, muah, ciuman di bibir dua kali. ¡° Memang siapa yang mau kabur darimu. Aku bahkan akan mengikat tanganmu, supaya kamu tidak diambil wanita lain, seperti ini.¡± Melingkarkan tangan di lengan Saga. Sebenarnya apa yang kulakukan si! Daniah ¡° Selain kuda bersayap dan pesawat jet tempur apa ada yang nona mau lainnya. Mungkin sesuatu yang bisa lebih mudah di lakukan. Membendung sungai utara dan membuatnya jadi candi misalnya.¡± Daniah tertawa mendengar suara kesal Han yang tertahan. Kalau dia bicara dengan Han sendiri mungkin sedari tadi laki-laki itu sudah mingat karena kesal. ¡° Haha, permintaanku ternyata terlalu susah ya. Baiklah, aku yakin kalau permintaan ketiga kau bisa melakukannya.¡± Inilah saatnya, begitu stratsgi Daniah. Kau tidak akan bisa menolaknya, kalaupun kau menolak Daniah masih punya senjata terakhir yang bisa dia pakai, yaitu tuan Saga. Hah! Kau tidak aakan mungkin membantah tuan Sagakan. ¡° Apa yang nona mau?¡± ¡° Akhir pekan ini pergilaah menghabiskan waktu berdua dengan Aran.¡± Daniah bisa melihat raut terkejut sekertaris Han. ¡° Nona, anda mau kuda bersayap jantan atau betina? Atau sebutkan saja pesawat jet tempur jenis apa yang nona inginkan. Saya akan menyiapkan dan membawanya ke halaman akhir pekan ini saat nona ulang tahun.¡± Saga cekikikan sambil memeluk istrinya mendengar jawaban Han. ¡° Hei, kamu bilang tidak mungkin membawa kuda bersayap dan pesawat jet tadi.¡± ¡° Sepertinya itu jauh lebih mungkin ketimbang permintaan nona yang ketiga.¡± Kurang ajar! Dia benar-benar tidak menyerah sampai akhir. Baiklah, aku pakai senjata terakhirku. ¡° Sayang.¡± Daniah menarik kerah baju Saga sampai wajahnya maju dan Daniah menempelkan bibirnya di telinga Saga berbisik. Sial! anda benar-benar pintar sekarang nona. Kalau Saga yang bicara tubuh Han akan refleks mengganguk dan mengatakan baik. Untuk kasus apapun. Jadi sebelum itu terjadi dia harus segera mengakhiri ini semua. ¡° Tuan muda, saya akan menyiapkan hadiah yang nona inginkan.¡± ¡° Han.¡± Belum selesai Han bicara Saga sudah menggangakat tangannya menyuruhnya berhenti bicara. Nona, anda benar-benar ya. ¡° Dia mengancamku.¡± Menunjuk Daniah yang tersenyum. Cih, mengancam apanya. Nona bilang anda tampan saja sudah bisa membuat anda bertekuk lutut. ¡° Lakukan permintaan Niah yang ketiga.¡± Saga menggangkat tiga jarinya. ¡° Tuan Muda.¡± Daniah menarik kerah baju Saga lagi. ¡° Dia mengancamku Han. Dia bilang mau kabur kalau kau benar-benar membelikan pesawat jet tempur tadi.¡± ¡° Tuan muda, saya masih banyak pekerjaan akhir pekan ini.¡± Masih berusaha menolak. ¡° Han, kau bilang melindungiku adalah prioritas utamamu. ¡± ¡° Baik tuan muda.¡± Tidak ada yang perlu di debatkan lagi. Tubuhnya refleks menjawab. Senyum kemenangan muncul di wajah Daniah. Aran, aku hanya bisa membantumu sejauh ini. setelahnya berjuanglah sendiri ya. " Sayang." menjatuhkan tubuh di dada Saga, lalu membisikan sesuatu. Sudah nona, apalagi sekarang? " Jangan buat dia pulang dengan menangis Han." Berbisik lagi di telinga Saga. Tidak perduli wajah Kesal Han yang sudah tidak bisa dia tutupi. " Ajak dia menonton dan makan malam dengan mewah." Masih berbisik lagi di telinga Saga. " Hei, kau benar-benar mau aku mengatakannya?" Daniah mengganguk. " Biarkan dia menyelesaikan bicaranya, jangan memotong pembicaraannya." " Baik tuan muda." " Han, kalau kau tidak melakukannya kau tahukan keselamatan siapa yang di pertaruhkan." Menunjuk Daniah. "Dia mengancam nyawaku barusan." Daniah melirik Han dalam pelukan Saga. Sambil menjulurkan sedikit lidahnya. Tanpa melihat reaksi Han dia langsung memalingkan wajahnya. " Saya akan melakukan semua permintaan nona tuan muda, selamat menikmati akhir pekan. sekarang saya permisi." " Pergilah, aku percaya padamu." Han menggangukan kepalanya. Menatap punggung Daniah, karena gadis itu sama sekali tidak berbalik untuk melihatnya. Pintu tertutup, dia masih berdiri di tempatnya mendesah kesal. Kau benar-benar kurang ajar ya, bagaimana kau bisa menggunakan nona Daniah. Sejauh apa kau bicara pada nona. " Datang ke bioskopXX akhir pekan ini." Han. " Kenapa tuan? anda mau menonton?" Aran " Terlambat sedetik saja jangan harap akan ada kesempatan kedua." Han Yang sedang ada di kamar kebinggungan melihat pesan penuh ancaman itu. Ini kenapa si? mengajak menonton tapi sudah seperti mengajak ke tempat eksekusi. Epilog " Niah." " Ia sayang, terimakasih sudah membantuku tadi ya." Mau beranjak dari sofa. " Mau kemana kau?" Menarik tangan Daniah. " Turun, aku bolehkan bicara dengan Aran sebentar." Eh kenapa? Kenapa membuka kancing bajumu? " Hei, kau harus mencicil pembayaranku dari sekarang donk. Akukan sudah bekerja keras untukmu barusan," Apa! Tunggu! Saga sudah menarik jatuh lengan Daniah ke atas Sofa. Kau bahkan cuma bicara, Han sudah menurut. Bekerja keras apanya! Bersambung Chapter 206 Persiapan Pesta Terjawab sudah tanda tanya di kepala Aran kenapa sampai dia menerima pesan ancaman dari sekertaris Han. Ajakan menonton tapi sudah seperti mengiringnya ke ruang eksekusi. Nona Daniah muncul di rumah belakang setelah makan malam. Membuat semua orang terkejut. Daniah hanya tertawa lalu menaiki tangga seperti rumahnya sendiri menuju kamar Aran. Daniah mencuri kesempatan setelah makan malam untuk bertemu Aran. ¡° Nona, kalau sekertris Han mengajak saya dan membuang saya ke laut bagaimana?¡± Gemetar Aran meggengam tangan Daniah. Dia tidak tahu kalau prosesnya akan secepat ini. Pesan janjian di akhir pekan sekarang tidak terlihat menyenangkan tapi sudah seperti jilatan api yang siap membakarnya hidup-hidup. Nona, apa yang sudah anda katakan padanya? ¡° Hei, dia tidak akan melakukan itu. Dia sudah janji di depan tuan Saga.¡± Menepuk bahu Aran. ¡° Dia tidak akan macam-macam padamu. Dia pasti akan mendengarkanmu. Aku belum pernah melihatnya membantah tuan Saga sekalipun¡± Semoga. Daniah menepuk dadanya sendiri meyakinkan. Kalau Han tidak mungkin akan mengingkari janji yang sudah dia buat di depan tuan Saga. Walaupun itu janji yang dia buat dengan penuh keterpaksaan. Karena ulahnya. Sepeninggal Daniah Aran mematut dirinya di depan cermin. Apa yang harus kulakukan sekarang! Aku belum siap. Aku belum siap mati! Aran sudah sering sekali latihan minta maaf di depan cermin. Walaupun dia tidak punya kesempatan, tapi dia selalu berdoa suatu hari nanti hubungannya dengan Han akan berjalan dengan baik. Walaupun tidak meningkat menjadi hubungan asmara atau apapun di sebutnya, paling tidak ia tidak akan dihantui rasa bersalah yang teramat sangat jika mata mereka bersitatap. Diapun bisa bernafas dengan tenang tanpa rasa takut walaupun Han meliriknya. ¡° Pilih baju! Sekarang yang utama itu.¡± Aran berlari cepat ke arah lemari pakaiannya. Membuka lebar kedua pintu lemarinya. Pakaian yang ia beli dengan menggunakan kartu yang diberikan Han saat pertama kali. ¡° Hah! Seharusnya aku tidak hanya membeli baju kerja.¡± Duduk lagi di tempat tidur dengan depresi. ¡° Kenapa aku tidak membeli dress cantik seperti yang selalu di pakai nona si.¡± Aaaaa, kalau begini aku harus pakai yang mana ini. Bangun dari duduk. Mengambil sebuah setelan dengan warna cukup kalem. Mematut diri di cermin. Dia manyun, karena benar-benar tidak terlihat ada yang spesial sama sekali. Mengambil lagi satu stel, melemparkan ke tempat tidur karena tidak merasa cocok. Baiklah Aran kamu memang hanya punya wajah pas-pasan. Mau memakai apapun memang ini standar mu. Pasrah. Akhirnya memutuskan memakai setelan berwarna navy, terlihat agak gelap tapi cocok di kulitnya. Dia merapikan pakaian yang berserak dan mengembalikannya ke dalam lemari. Lalu menjatuhkan diri di tempat tidur. Menatap layar laptopnya yang masih menyala. Wajah dingin dan tampan dengan berbagai pose itu seperti menatapnya. Aran segera bangun dari tempat tidur, karena foto-foto itu seperti hidup dan meneriakinya. ¡° Selamat malam tuan jangan memakiku sekarang, kau bisa berteriak padaku nanti setelah aku minta maaf.¡± Bergegas mematikan laptop. Lalu berangkat ke tempat tidur menarik selimut. Dia tidak akan menulis hari ini, dia akan mengumpulkan keberanian dan tenaga untuk besok. Apapun yang akan terjadi nanti. Pagi yang penuh kesibukan di rumah utama. Para pelayan keluar masuk melakukan pekerjaan mereka. Para koki memasak hidangan sudah dari pagi buta tadi. Pak Mun memberikan instruksi di sana sini. Aranpun demikian , sejenak dia lupa dengan semua kegelisahannya semalam. Wajahnya ikut tegang dengan suasana pagi ini. Persiapan pesta ulang tahun nona Daniah. Kenapa nona tidak bilang kalau ulang tahun si, seharusnya akukan menyiapkan kado ulang tahun. Agak depresi dia saat apel pagi tadi dan baru mengetahuinya. Dia melakukan pekerjaan menghias ruangan utama, tempat nanti akan diadakan jamuan makan keluarga. Dia melirik ke arah tangga, tapi penghuni rumah ini belum ada yang terlihat batang hidungnya. Baik nyonya atau pun adik-adik tuan Saga. Kalau tuan Saga dan nona jangan ditanya, mereka tidak akan mungkin muncul karena infonya ini adalah pesta kejutan untuk nona. Aku harus membeli kado saat pergi dengan sekertaris Han nanti, ah, ia kalau suasana hatinya baik. Tidak, aku tetap harus membeli kado nanti, bagaimanapun suasana hati sekertaris Han. Sepanjang dia melakukan pekerjaannya bersama para pelayan yang lain pikirannya sibuk mencari-cari. Kira-kira hadiah apa yang pantas dia berikan untuk nona. Paling tidak menunjukan ketulusannya berterimakasih atas kesempatan yang sudah dia buat. Huh! Apa yang bisa kuberikan untuknya ya. Dia bahkan punya semuanya. Tuan Saga bisa memberikan semua benda yang dia inginkan dimuka bumi ini. Lantas apa artinya hadiah dari butiran debu sepertiku ini. Hiks. ¡° Aran, apa kau bisa membantuku meletakan semua bunga-bunga ini di meja.¡± ¡° Ia kak.¡± Aran selesai merapikan penutup meja berlari menuju senior yang memanggilnya. Di depannya sudah ada troli berisi bunga-bunga segar yang menebarkan aroma semerbak. Waahhh, ini bunga asli. ¡° Apa semuanya sudah siap?¡± Mendengar suara itu di radius beberapa meter membuat kepala Aran mendongak cepat. Suara Han sedang bicara dengan Pak Mun. ¡° Kumpulkan semua hp mereka. Tidak ada yang boleh mengambil foto atau apapun saat pesta nanti.¡± ¡° Baik.¡± Dari tempatnya Aran meletakan semua vas bunga dia masih mendengar perintah-perintah yang diberikan Han pada Mun. Memastikan semua acara berlangsung dengan sempurna seperti biasanya. Sial! Pandangan kami bertemu. Bagaimana ini, seharusnya aku menghindarinya sekarang. Aku harus bicara apa padanya. Setelah memalingkan muka dan pura-pura tidak melihat, Aran mendorong troli kosong dengan cepat. Dia sudah memindahkan dan meletakan semua bunga di tempatnya. ¡° Ikut aku.¡± Han sudah mendejajari langkah Aran. Habislah aku! ¡° Baik tuan.¡± Mengikuti langkah kaki Han sambil mendorong troli dengan berat hati. Tangannya mencengkram troli kosong itu dengan erat. Bibirnya sedang komat-kamit menerka, apa yang akan di bicarakan Han. " Maaf tuan!" Berteriak kaget karena Han tiba-tiba berhenti, jadi troli yang dia dorong membentur tubuhnya. "Saya tidak sengaja." " Huh!" Menarik troli di tangan Aran dan mendorongnya menjauh. Suasana yang sepi, karena tempat mereka berdiri bukan tempat lalu lalang para pelayan. Aran semakin menciut, dia mundur beberapa langkah berada di jarak aman jangkauan tangan. " Hebat sekali kamu ya." Aran tahu maksud kata-kata itu. Menggunakan perantara nona Daniah. " Apa yang kau katakan pada nona Daniah?" Bagaimana ini? Aku harus jawab apa? " Jawab selagi aku bicara baik-baik." Aran langsung mundur dua langkah lagi. Kata-katanya sudah bermuatan ancaman membuat nyalinya benar-benar menciut. Laki-laki di hadapannya bisa melakukan apapun yang dia rasa di perlukan. Menghukum secara fisik sekalipun. " Nona tidak sengaja melihat layar depan laptop saya kemarin." pelan-pelan menjelaskan. Sudah terdengar makian dari mulut Han " Saya benar-benar tidak sengaja menunjukannya tuan." Mencengkram tangannya sendiri. Agar tidak terlihat bergetar karena takut. " Bukannya aku sudah memperingatkanmu." Han mendekat, Aran mengeser kakinya mundur. " Kalau cuma kamu yang boleh melihatnya." Jangan memukulku! " Maaf tuan, nona tidak sengaja melihatnya saat masuk ke kamar saya kemarin." " Kau yang ceroboh kenapa menyalahkan nona. Seharusnya kau matikan laptop milikmu kalau sedang tidak kau pakai kan." Masih melangkah mendekat, Aran merasakan bahaya. Hatinya berdegup kencang. Dia menyeret kakinya mundur lagi. Sialnya tubuhnya sudah membentur dinding dan dia terperangkap. " Maafkan saya tuan. Jangan pukul saya! Tuan sudah berjanji tidak akan memukul sayakan." Memejamkan mata dengan posisi agak membungkuk, sambil kedua tangan terangkat ke atas melindungi wajahnya. Senyap. Eh, kenapa? Tidak terjadi apa-apa. Hanya ikat rambut Aran yang terjatuh karena Han menariknya. Laki-laki itu sedang memandangi rambut Aran yang tersibak. Menarik ujungnya. Gadis itu merinding, takut dan penuh tanda tanya. Apa yang mau dia lakukan dengan rambutku? Tapi Aran tidak berani bergerak atau bereaksi sedikitpun. Dia membiarkan Han mengulung rambut ditangannya itu. Apa serunya ini, kenapa tuan muda senang sekali bermain dengan rambut nona. Cih, tidak ada serunya sama sekali. Tapi tunggu, apa dia ini tidak pernah mencuci rambutnya. Menjatuhkan rambut yang baru saja dia gulung-gulung ditangannya, memandang tangannya sebentar, lalu mengusapkan tangan itu di bahu Aran. " Aku akan membiarkanmu bicara hari ini, karena ini hadiah ulang tahun nona." Masih menatap Aran yang wajahnya masih binggung. " Kalau kau terlambat sedetik saja tidak akan pernah ada kesempatan kedua untukmu." " Ba, baik tuan." " Minggir, kau menghalangi jalan." " Maaf!" beringsut mengeser tubuhnya. " Tapi tuan, kitakan bisa berangkat bersama dari sini setelah pesta nona selesaikan?" Iakan jadi aku tidak perlu terlambat kalau kita pergi bersama. Begitu ide cemerlang yang tiba-tiba muncul dipikiran Aran. Tapi Saat melihat Han memberi sorot mata jengah membuat Aran tersadar. " Saya tidak akan terlambat tuan. Kita bertemu di bioskopXX nanti." Huh! memang aku berharap apa. Hari inipun terjadi karena nona yang meminta bukan atas kemauannya. Han yang sudah melangkah berbalik lagi, membuat jantung Aran kembali berdegup kencang. menebak apa yang akan di katakan oleh Han lagi. " Aran." " Ia tuan!" Apa dia akan memberi aku tumpangan, sudah mau bersuka cita Aran. " Cuci rambutmu!" Apa! Wajah Aran langsung berubah merah karena malu. Han langsung berbalik dan melangkah pergi, meninggalkan Aran yang sepertinya ingin meleleh menjadi tetesan air saja. Aaaaaaaa, kenapa dia menyentuh rambutku saat aku tidak sempat mencucinya si! Bersambung Chapter 207 Memasuki Rumah Utama Di dalam kamar utama Saga sudah siap dengan setelan jasnya. Semua sudah sempurna untuk penampilannya. Tampan, jangan ditanya. Memang sudah seperti itu garis wajahnya. Tidak bisa di sangkal atau dibantah siapapun. Daniah sampai mengerjapkan mata dan menelan ludah sendiri. Memuji Saga. Bagaimana dia bisa terlihat sempurna dalam situasi apapun si, dan orang sempurna ini benar-benar suamiku. Dan sekarang dia sedang duduk manis di ruang ganti baju melihat Daniah yang mulai terlihat gusar setelah mengganti bajunya untuk kesekian kali. Tapi Saga terlihat menikmati tingkah kesal istrinya. Di sedang tersenyum melihat mimik wajah Daniah yang berubah-ubah. Kalau saja kelakuanmu tidak seaneh ini, kau pasti benar-benar sempurna tuan muda! Gerrrrr Ntah sudah semasam apa wajah Daniah saat ini, mungkin sudah mirip tumpukan pakaian tidak laku di sudut rukonya. Yang harus di obral setengah harga baru di lirik pembeli. ¡° Lepas! kau terlalu cantik memakai itu.¡± Mulai lagi, masih dengan alasan yang sama yang di pakainya saat meminta Daniah mengganti bajunya untuk pertama kali tadi. ¡° Aku tidak rela kau menunjukannya pada orang lain.¡± Masih duduk dengan menopang tangannya memberi penilaian. Sudah seperti juri peragaan busana yang seenaknya memakai standarnya sendiri dalam menilai. Aaaaaaaa, aku ingin melemparkan baju ini ke wajahmu tuan muda. Ayo lempar saja Daniah, walaupun dia murka yang penting kau puas. Tapi nyalinya masih seujung kuku untuk menjalankan niatannya, akhirnya dia hanya bergumam-gumam kesal sambil mengambil satu baju lagi di lemari. Tidak tahu sudah pakaian keberapa yang dia pegang ini. Dia melihat tumpukan pakaian di atas kursi. Makan siang bersama keluarga begitu katanya tadi pagi. Alasan yang membuatnya harus gonta ganti baju tak terhitung berapa kali. Kalau cuma makan siang bersama keluarga lalu apa bedanya dengan hari biasanya. Sarapan dan makan malam juga selalu dilakukan bersama. Tapi tidak perlu memilih baju serepot ini. Teriakan frustasi di dalam pikiran Daniah. Bukannya cuma akan ada Ibu, jen Sofi dan Amera. Dan apa masalahnya kalau mereka melihat penampilan seperti yang dia pakai sekarang. ¡° Sayang, memang siapa yang mau melihatku. Kan cuma ada ibu, jen dan sofi ditambah Amera. Aku pakai yang mana aja sama sajakan.¡± Masih dengan wajah ceria dan full senyuman bicara, biar urusan cepet selesai. Lagi pula merekakan perempuan semua! ¡° Kau pikir Han dan pak Mun bukan laki-laki!¡± Gusar. ¡° Kau anggap apa memang mereka selama ini?¡± Terserah! Dasar gila. Memang kedua orang itu bakal terpesona dengan penampilanku apa! Menyerah kalah. Berdebat sekarang pasti hanya akan membuatnya membuat aturan tidak masuk akal. Han, ialah dia laki-laki. Tapi ini sekertaris Han lho, yang di kepalanya hanya ada tuan Saga. Lalu pak Mun, Daniah mengeram kesal. Cemburu dengan pak Mun apa itu masuk akal. ¡° Siapa suruh kamu terlalu cantik, aku jadi tidak rela kamu di lihat orang lainkan.¡± Hahaha. Itu pujiankan sebenarnya, tapi terdengar sangat tidak masuk akal bagi Daniah. Gadis itu mengalah, membuka lagi baju yang sudah di pakainnya. Lalu kembali fokus memilih isi lemarinya. Membolak balik beberapa helai baju sebelum menariknya keluar. Ini dia. Warna salem yang tidak mencolok untuk kulitnya. Tidak akan terlihat gemerlap sama sekali, apalagi dengan riasan tipis di wajahnya. Dia pasti kalah jauh dari Jen yang sangat pintar memadu padan penampilan dan riasan wajah. ¡° Kamu sengaja ya? Sekarang kamu malah kelihatan lebih cantik dari pada pakai baju yang tadi!¡± Baru saja memamerkan di depan Saga. Gemetar-gemetar tubuh Daniah menahan geram mendengar ucapan Saga barusan. Secepat kilat di lepaskan baju yang bahkan pita di lehernya belum dia ikat. Di lemparkan baju itu tepat mengenai wajah Saga yang masih duduk di kursinya. Daniah sendiri terlonjak mundur, terkejut saat baju itu jatuh dan di tangkap tangan kanan Saga. ¡° Beraninya kau melemparkan baju ke wajahku.¡± Meremas baju di tangan kanannya. Membuat Daniah mengkerut di tempatnya berdiri. Dia marah! ¡° Maaf sayang, aku benar-benar tidak sengaja.¡± Masih berdiri di posisinya, belum berani mendekat. ¡° Tidak sengaja! Kau pikir wajahku ini keranjang baju.¡± Saga bangun dari tempat duduk. Mendorong Daniah sampai membuatnya terduduk di lemari pakaian. ¡° Kau semakin berani ya sekarang.¡± ¡° Haha sayang maafkan aku.. Jangan marah, nanti ketampananmu hilang.¡± Menusuk-nusuk pipi Saga agar bibir itu tersenyum. ¡° Sayang maaf. Suamiku yang tampan dan baik hati. Ayo tersenyum, tersenyum.¡± Ayo donk tersenyum! ¡° Cium sepuluh kali ya, tapi janji maafkan aku.¡± Daniah sudah menyentuh bibir Saga dengan jemarinya. Ternyata keberaniannya menantang Saga masih di bawah rata-rata. Nyalinya menciut saat melihat tatapan masam suaminya. ¡° Sayang.¡± ¡° 20 kali.¡± Katanya cepat. ¡° Ia 20 kali.¡± Terserah mau berapa kali asal kamu tersenyum, begitu yang dipikirkan Daniah. Saat hitungan masih ke sepuluh Saga sudah terlihat tergelak. Membuat Daniah lega. Sial! Kenapa kamu mengemaskan begini. Saga. Wajah pias Daniah di mata Saga terlihat semakin manis saja. Moment-moment di awal pernikahan saat melihat wajah Daniah seperti ini, semakin membuatnya semangat menjahili. ¡° Lihat bahu ini, leher ini. Aku jadi tidak mau kau menunjukan pada orang lainkan.¡± Mencium bahu Daniah lama. ¡° Aku ingin menikmatimu sendirian saja.¡± Sudah gila ya? Apa si maumu kenapa merambah kemana-mana. ¡° Sayang, jangan membuatku malu begitu donk.¡± Kalau memuji ada batasannya juga kali, kalau tidak nanti berujung fitnah keji di muka bumi ini. Siapa yang cantik coba, sudah seperti mengatakan kalau istrinya secantik bidadari saja. ¡° Kalau begitu kamu yang pilih, aku pakai yang mana ya.¡± Aku sudah lelah tahu! Dari tadi salah melulu. ¡° Aku lebih suka kamu tidak pakai baju.¡± Aaaaaaa, mau sampai kapan ini! Sebuah mobil sudah memasuki gerbang utama kawasan elite ibu kota. Ada kebanggaan sekaligus ketegangan di wajah orang-orang yang ada di dalam mobil. Ini untuk pertama kalinya mereka akan datang mengunjungi rumah menantu keluarga. Ah, mereka bahkan tidak memikirkan kebahagiaan untuk bisa bertemu anak mereka sendiri, Daniah. Yang mereka pikirkan hanyalah, bisa mendapatkan undangan tuan Saga saja sudah merupakan kebanggaan. Raksa diam di kursi belakang. Pandangannya beralih dari jendela ke kursi di sampingnya. Melihat Risya yang sedang asik dengan hpnya. ¡° Aku akan mengambil foto Daniah dan tuan Saga, sebagai bukti kalau aku ini.¡± Wajah Raksa langsung menunjukan rasa tidak suka. Karena jelas-jelas sekertaris Han sudah menjelaskan kemarin. ¡° Kak, bukankah sekertaris Han sudah mengatakannya. Kalau ini pesta pribadi kak Niah, dan tuan Saga tidak mau ada yang di publikasikan.¡± Tangan Raksa di tepis saat akan merebut hp di tangan Risya. Gadis itu melotot sambil menyelamatkan hpnya, menyembunyikan di balik punggungnya. ¡° Diam kamu ya, anak kecil tahu apa!¡± menghardik adiknya kesal. Dia selalu saja melindungi Daniah dengan cara apapun. ¡° Aku akan diam-diam mengambil foto. Asalkan tidak ketahuan tidak masalahkan. Jadi jaga mulutmu itu jangan bicara yang tidak-tidak nanti.¡± ¡° Simpan hpmu.¡± Ayah bicara tegas dari belakang kemudi. ¡° Sedikit saja kau membuat kesalahan di depan tuan Saga, kita semua yang akan menerima akibatnya.¡± Ayah tentu tidak akan pernah lupa siapa menantunya dan bagaimana watak menantunya. ¡° Ayah.¡± Merengek. ¡° Ini juga demi karirku, kalau tidak bisa di banggakan untuk apa punya kakak perempuan seperti Daniah yang menikah dengan tuan Saga.¡± Masih terbersit iri hati Risya kalau memikirkan, kenapa harus Daniah dan bukan dirinya yang sekarang di posisi nona muda Antarna Group. ¡° Kak Risya.¡± Raksa merasa malu sendiri dengan kata-kata wanita di sebelahnya. ¡° Bukankah kakak sudah minta maaf pada kak Niah atas perlakukan kakak di masa lalu. Apa cuma sebatas itu penyesalan yang bisa kak Risya lakukan.¡± Ibu yang mau membela Risya langsung terdiam. Permintaan maaf tidak tulus dan hanya sandiwara demi menyelamatkan hidup mereka di depan tuan Saga. ¡° Aturan tuan Saga bukan sesuatu yang bisa kak Risya anggap enteng. Apa kalian pikir kak Niah menjalani hidup yang mudah bersama tuan Saga?¡± Tidak ada yang menjawab, akhirnya semua orang membisu sampai di depan gerbang utama. Mobil yang mereka pakai di hentikan, seperti prosedur yang di lewati Raksa saat mengunjungi Daniah, seperti itu pula yang terjadi sekarang. Pemeriksaan identitas. Ayah membuka kaca mobil di sambut anggukan sopan penjaga pintu gerbang yang di temui Raksa kemarin. Dia bicara sopan sesuai prosedur yang ada. Melihat Raksa, menggangukan kepalanya karena mengenali wajah Raksa. Tapi pemeriksaan identitas tetap di lakukan. Setelah semuanya selesai, dia bicara lagi. ¡° Maaf tuan, perintah sekertaris Han untuk menitipkan hp di sini.¡± Dia mengulurkan sebuah boks ke depan wajah Ayah sambil menundukan kepala. ¡° Apa!¡± Risya menghardik penjaga gerbang. ¡°Ayah, apa ini tidak keterlaluan.¡± Melihat ke arah ayahnya di belakang kemudi. ¡° Apa kalian tidak tahu siapa kami, kami keluarga nona muda kalian.¡± Suara Risya terdengar nyaring, menantang. ¡° Maaf nona ini perintah dari sekertaris Han.¡± Tidak menurunkan tangannya. ¡° Ayah!¡± Risya jengkel, bagaimanapun dia harus bisa memposting foto di akun sosial medianya. Untuk menambah follower tentunya. Ini kesempatan yang mungkin tidak akan dia temui lagi nanti. ¡° Lakukan saja kak kalau kak Risya mau masuk." pelan Raksa bicara sambil menyerahkan hp kepada Ayah " Ini rumah tuan Saga, aturannya yang berlaku di rumah ini.¡± Raksa sudah mengalami ini kemarin, walaupun dia tidak di minta untuk menyerahkan hpnya. Akhirnya mobil bisa memasuki gerbang utama setelah semua hp masuk ke dalam boks yang di bawa penjaga gerbang. Risya memaki dengan suara kecil. Bahkan terdengar dia menjelekan Daniah. Ibu ikut menimpali karena merasa keterlaluan. " Jadi sekarang kalian tahukan, bagaimana perasaan kak Niah ketika pertama kali masuk ke rumah ini?" Tidak tahu pertanyaan getir itu di tujukan Raksa untuk siapa. Tapi membuat semuanya langsung diam dan tidak bisa menjawab. " Kak Niah menjalani hidup yang tidak mudah untuk kita, setidaknya berterimakasihlah untuknya karena itu." Ucapnya menatap taman yang berderet di luar sana. Pepohonan dan bunga yang terlihat terawat dengan baik. Semua tenggelam dalam diam. Ayah terlihat mencengkram kemudi. Mungkin dialah yang merasa bersalah. Bersambung Chapter 208 Ulang Tahun Daniah Terlihat decakan kagum yang tidak bisa ditutupi wajah-wajah orang yang baru saja turun dari dalam mobil, di area parkir. Minus Raksa yang sudah melihat kemegahan bangunan ini luar dan dalam . Dari kejauhan Pak Mun dan beberapa pelayan wanita menyambut di depan pintu dengan bahasa tubuh sopan. ¡° Gila! Daniah benar-benar beruntung sekali hidupnya.¡± Sambil merapikan riasan dan rambutnya berkomentar. Dalam hati dia masih sempat mengumpat betapa irinya dia. ¡° Kak Risya, jaga bicara kakak.¡± Raksa jengah mendengar di samping Risya. Hidup kak Niah tidaklah semudah yang kita lihat. Walaupun aku melihat cinta yang luar biasa dari tuan Saga dan adik-adiknya, tapi aku masih bisa melihat kebencian ibunya. Huh! kenapa kak Niah harus mendapatkannya setelah. Raksa melirik ibunya sendiri, yang sedang merapikan riasannya di kaca mobil. Seorang ibu yang tidak pernah memberikan cintanya dengan adil pada anak-anaknya. Ya, mungkin memang sangat sulit menakar kata adil. Tapi jika Raksa sendiri bisa merasakannya pasti sikap ibunya selama ini memang sudah keterlaluan. ¡° Kau ini kenapa si, inikan memang kenyataannya. Berhenti bicara seolah-olah dia menderita di sini. aku saja mau mengantikanya dengan senang hati.¡± Risya Acuh sambil melengos dan meninggalkan Raksa yang menatap dengan pandangan tidak suka. Mereka memasuki rumah. Mengikuti langkah kaki pak Mun. Sebuah ruangaan yang sudah di sulap menjadi tempat pesta. Jen yang melihat kedatangan Raksa langsung bangun dari tempat duduknya. Meninggalkan kedua gadis yang sedang asik dengan hp mereka masing-masing. ¡° Raksa, sudah datang ya.¡± Tanpa canggung mendekat dan mau menarik tangan Raksa. Risya di sebelah adiknya menutup mulut tidak percaya melihat siapa yang ada di depannya. Bukannya dia artis sosial media itu, jenika? Kenapa dia bisa ada di sini. Risya mengikuti langkah Raksa tanpa diminta. Bergabung dengan pembicaraan para anak muda. Sementara orangtua mereka memilih duduk di meja yang sudah di sediakan. Terlihat canggung, sambil memperhatikan sekitar, berharap Daniah segera muncul untuk mengusir keterasingan. Tidak selang lama ibu juga muncul dan ikut duduk, tapi sepertinya pembicaraan basa basi ibu tiri Daniah ditanggapi dengan engan oleh ibu. Dia hanya menjawab pendek-pendek, sengaja menunjukan kalau dia bukanlah mertua yang mencintai menantunya. " Kak Raksa siapa dia?" Sofi yang menyadari ada orang asing di antara mereka. Sementara Jen hanya sibuk bicara sambil menatap wajah tampan di depannya. " Aku Risya, adik Kak Niah dan kakak perempuan Raksa." Risya bangun dari duduk mengulurkan tangannya dengan cepat. " Aku penggemar kalian di sosial media, tidak terduga ternyata kalian adik-adik tuan Saga." Ini kesempatankan? kalau aku tidak bisa memakai Daniah akukan bisa memakai mereka. Lihat, mereka saja di izinkan memegang hp. " Haha, kamu mengenal kami ya. Kami bukan seleb sosial media kok, hanya iseng-iseng." Sofi terkejut menanggapi kalau ternyata ada yang mengenali mereka. " Silahkan di nikmati pestanya kak Risya, kakak ipar mungkin sebentar lagi turun." Hanya itu, pembicaraan mereka terputus saat Sofi kembali bicara dengan Amera memperlihatkan isi hpnya. Apa mereka tidak tahu aku? aku selebriti lho, ya walaupun masih pemula tapi aku pernah muncul di tv. Tapi sampai kemunculan Daniah, Risya hanya bisa nimbrung sedikit-sedikit di obrolan mereka. Dia terlihat kesal, apalagi melihat Raksa yang terlihat akrab dengan Jenika. Dia bahkan tidak punya kesempatan bicara dengan gadis itu sama sekali. Cih, dasar adik tidak berguna, bagaimana kau bisa seakrab itu dengan Jenika! Padahal Raksa tidak salah apa-apa. Risya yang merasa ingin panjat sosial dan menggunakan kesempatan yang ada benar-benar gigit jari. Dia bahkan tidak di kenali di rumah ini. Statusnya sebagai selebriti tidak berarti. Apalagi saat dia mendengar Jenika memuji-muji Daniah sebagai kakak iparnya, dia terlihat mengepalkan tangan kesal. Bagaimana kau bisa mendapatkan semua ini! Coba kalau Ayah yang mengirimku kesini, semua pasti akan menjadi milikku. Kemewahan ini, tuan Saga yang sempurna, dan adik-adik yang populer. Mungkin hanya Risya yang sama sekali tidak menikmati pesta, padahal dia sudah mempersiapkan pesta ini dengan dandanan maksimal di tubuhnya. Pada akhirnya nona muda yang sedang berbahagia di hari ulang tahunnya itu muncul. Dengan balutan pakaian yang tadi di lemparkannya ke wajah suaminya. Saga mengalah setelah mendapatkan apa yang ia mau, dress kalem warna salem yang akhirnya melekat di tubuh Daniah. Tampak anggun dan cantik walaupun tidak terlalu gemerlap. Masih kalah jauh dari pakaian yang di kenakan Jen dan Sofi atau Risya sekalipun. Risya berdandan habis-habisan tadi, bahkan dia memanggil makeup artis yang biasanya menanganinya ketika syuting. Dia ingin menunjukan kesan elegan dan cantik. Karena tadinya dia berharap bisa mendapat foto-foto berkelas yang bisa dia pamerkan di sosial media untuk menambah follower. Tapi apa daya, hpnya bahkan di sita di gerbang rumah utama. Sementara itu, drama pakaian tadi tidak selesai begitu saja, kembali terjadi perdebatan saat Daniah memilih perhiasan dan riasan di wajahnya. ¡° Sayang aku cantik sudah dari sananya mau bagai mana lagi.¡± Wajah yang di setel semanis mungkin. Padahal dia sendiri malu setengah mati dengan pengakuannya yang tidak pada tempatnya. ¡° Apalagi aku mendapat cinta yang begitu berlimpah darimu.¡± Uyel-uyel hidung Saga. Di Barengi dengan ciuman di sana sini. Sebenarnya aku sedang melakukan apa sih! Tapi jurus itu mampu membungkam Saga, akhirnya dia diam di sebelah Daniah yang sedang merias wajah. Hanya tangannya tetap tidak mau berhenti bermain dengan ujung rambut yang sudah tertata rapi itu. Karena kepandaian aktingnyalah, akhirnya semua proses rias terlewati dengan cepat. Dan mereka bisa keluar dari kamar. Lega, ketika semua akhirnya selesai. Ya Tuhan ini ulangtahunku paling dramatis sepertinya. Dan ini cuma buat makan siang dengan jen dan sofi. Rasanya situasi itu yang membuat airmata Daniah ingin keluar. Bahkan tidak ada tamu istimewa yang bisa di lihatnya. Kalau saja keluarganya juga bisa ada di sini gumamnya lirih. Sejenak Daniah menghentikan langkah kakinya saat melihat pemandangan yang ada di depan matanya. Di tangga Daniah menatap terkejut apa yang ada di depannya. Sebuah ruangan indah yang sudah di sulap oleh para pelayan. Dan bukan hanya itu yang membuatnya tertegun. Tapi orang-orang yang berdiri di bawah sana. Keluarganya, mereka terlihat sangat bahagia. Wajah mereka berseri-seri. Belum pernah dia melihat keluarganya dalam satu frame dan menunjukan senyuman untuknya. Biasanya hanya ada Raksa yang selalu tersenyum dan mendukungnya dalam semua kesempatan. Ayah, ibu, Risya, dan wajah tampan Raksa. Aku ingin memeluk Raksa sekarang. ¡° Kau terharukan? Aku suami yang kerenkan?¡± Saga berada di samping Daniah dengan wajah menanti pujian. Membuat Daniah tersadar kalau tidak mungkin melakukannya sekarang ¡° Ia sayang, kamu memang luar biasa. Terimakasih untuk hari ini ya.¡± Ciuman hangat di pipi kiri Saga. Pesta ulang tahun nona muda Antarna Group dimulai. Alunan musik lembut mengiringi sepanjang acara. Tidak ada tamu yang lain, tapi sungguh, bagi Daniah ini pemandangan yang sangat langka dan luar biasa. Tahun lalu dan sebelum-sebelumnya dia merayakan ulang tahunnya di toko, bersama karyawannya dan Raksa. Dengan ayam goreng dan cake ulang tahun yang dibawa Raksa. Ini pertama kalinya, di hari ulang tahunnya, keluarganya berkumpul bersama. Dia berusaha megesampingkan, bahwa semua ini terjadi karena tuan Saga. Karena dia istri dari presdir Antarna Group. Walaupun ia tahu, namun kedatangan Ayahnya sudah cukup membuatnya terhibur. Lagu selamat ulang tahun terdengar dengan meriah. Suasana canggung yang sejenak tercipta bisa dicairkan keceriaan Jen dan Sofi. Raksapun ikut menimpali obrolan mereka. Suapan kue ulang tahu tentu hanya untuk tuan Saga seorang. Maaf Raksa aku ingin memberimu potongan kueku, tapi daripada dia melirikmu dengan pandangan membunuh lebih baik pak Mun saja yang membagikan kue untuk kalian. Semua orang menunjukan hadiah ulang tahun mereka untuk Daniah, seorang pelayan wanita meletakannya dengan hati-hati di atas meja yang telah di siapkan. Hanya ada tawa dan kemeriahan. Semua menikmati pesta dengan ceria. Di sudut pesta Raksa sudah seperti pangeran yang di kerubuti para putri yang berebut melayaninya. Amera juga terbawa suasana untuk ikut memperebutkan perhatian Raksa. Hanya Risya yang terlihat kesal, dia makan makanan di depannya sambil mendengar tawa dan senyum malu-malu adiknya. Sementara di sudut yang lain. ¡° Selamat ulang tahun Niah.¡± Ibu meraih tangan Daniah. ¡° Semoga kamu sehat selalu dan bahagia.¡± Ibu tiri Daniah menatap Saga. "terimakasih sudah mengundang kami di hari bahagia ini." Saga hanya membalas ucapan ibu tiri Daniah dengan anggukan kepala. Gunawan menatap putrinya, aura wajahnya terlihat bersinar. Dia terlihat benar-benar bahagia, bukan hanya senyum yang dibuat-buat untuk menenangkan orang lain. Tapi, apakah benar begitu kenyataannya. Dia menatap menantunya mencoba mencari jawaban. " Niah, apa kamu benar-benar bahagia?" Bukan hanya Gunawan, Daniah pun terkejut mendengar pertanyaan itu dari Ayahnya. Dia menatap Saga sebentar lalu bergantian melihat wajah ayahnya. ¡° Jangan kuatirkan Niahku.¡± Saga meletakan tangan di pinggang istrinya. ¡°Aku akan mencintai dan menjaga Daniah, Ayah.¡± Mencium pipi kiri Daniah. Menunjukan pada semua orang bagaimana perasaannya. Ibu kikuk dan hanya bisa tersenyum menanggapi. Gunawan terlihat bernafas lega mendengar jawaban itu. Sementara di ujung mata Daniah, terselip kristal bening yang muncul tanpa bisa dia cegah. Ayah, terimakasih sudah menanyakan itu. Sekecil itu saja sudah membuat Daniah merasa di cintai oleh Ayahnya. Daniah tersenyum menatap ayahnya, mengatakan aku baik-baik saja yah. bersambung Chapter 209 Ibu Belum Menyerah Saga memberi kesempatan Daniah untuk menghabiskan waktu dengan keluarganya. Dia membisikan sesuatu di telinga Daniah membuat wajah gadis itu langsung secerah mentari pagi. Senang yang terpancar jelas di wajahnya. ¡° Terimakasih sayang.¡± Kecupan lima kali di pipi Saga, setelah itu laki-laki itu meninggalkan ruangan pesta menuju ruang kerjanya. Han terlihat mengikutinya dari belakang. Ikut masuk ke dalam ruangan. Tidak tahu apa yang mereka bahas di dalam. Sementara itu, setelah hampir sekian menit ibu masih berdiri di depan pintu ruang kerja putranya. Dia meninggalkan pesta jauh lebih awal. Wajahnya terlihat ragu-ragu. Berdiri sambil meremas jemari tangannya. Menatap pintu dengan nanar. Dia membalikan badan lagi, mengurungkan tangannya yang mau mengetuk pintu. Setelah beberapa langkah meninggalkan ruang kerja, dia berbalik lagi, berdiri di depan pintu lagi. Ada rasa kuatir dan takut yang tergambar jelas di wajahnya, tapi dia benar-benar tidak bisa menahannya lagi. Suara ketukan pintu, dia nekad. ¡° Saga, ini ibu, apa ibu boleh masuk.¡± Menurunkan tangan yang sedikit bergetar. Dia menunggu, tidak ada sahutan. ¡° Saga!¡± Pintu pelan terbuka. Yang muncul dari dalam seseorang yang membuatnya tambah kehilangan nyali. Ibu mundur dua langkah ke belakang, mengatur nafasnya agar tidak terlihat gemetar. ¡° Ada apa nyonya?¡± Han masih berdiri di balik pintu yang sedikit terbuka, seperti mengatakan, kau tidak diizinkan masuk. ¡° Apa ada yang nyonya butuhkan?¡± ¡° Minggir Han, aku mau bicara dengan Saga bukan denganmu.¡± Ibu mendorong pintu tapi tertahan karena Han tetap berdiri di tempatnya. Dia mendesah sebelum keluar dan menutup pintu. ¡° Kamu benar-benar tidak sopan ya!¡± Marah, karena bukannya membuka pintu Han malah menutupnya. Dia sama sekali tidak mendengarkanku! ¡° Nyonya, suasana hati tuan muda sedang sangat senang hari ini, saya harap nyonya tidak mengatakan apapun untuk memancing emosi tuan muda.¡± Langsung bicara ke intinya. ¡° Kembalilah ke pesta nyonya.¡± ¡° Kau ini ya, aku hanya ingin bicara dengan putraku.¡± Memukul bahu Han dan mendorongnya menjauh dari pintu. ¡° Bagaimanapun aku ini ibunya Saga.¡± Huh! Berapa kali aku harus mengatakan, kalau di mata tuan muda hanya ada nona Daniah. Apa sebagai ibu, anda sama sekali tidak bisa melihatnya. ¡° Saya sudah memperingatkan nyonya.¡± Menggangukan kepala sopan tapi dengan wajah datarnya. Ibu terdengar memakinya sambil menutup pintu dengan keras. ¡° Berhentilah bertengkar dengan Han bu.¡± Saga menutup map di meja kerjanya lalu berjalan menuju sofa. Dia memang tidak mendengar pembicaraan mereka di luar, tapi dengan hanya mendengar suara keras pintu yang tertutup dia tahu, kalau sudah terjadi sesuatu di depan pintu ruang kerjanya. ¡° Duduklah! Apa yang mau ibu katakan.¡± Saga menepuk sofa di sebelahnya, meminta ibu duduk di sampingnya. Ibu terlihat ragu melihat sofa yang di tepuk Saga, Tapi putranya kembali menepuk tempat yang sama dengan tangannya. Membuatnya mau tidak mau duduk di sana. Ibu melirik Saga sebentar, benar seperti yang Han katakan, suasana hatinya sedang sangat baik. Apa dia sebahagia itu dengan pernikahannya? ¡° Apa yang mau ibu katakan?¡± Walaupun Saga sendiri sudah bisa menduga alasan kedatangan ibu di ruang kerjanya. ¡° Saga.¡± Ibu bicara lirih dan ragu. ¡° Hemm.¡± ¡° Apa kamu sudah memikirkan tawaran ibu.¡± Tidak bisa menatap putranya sambil bicara, dia melihat ke arah lain. ¡° Tawaran apa? tentang memilih wanita lain untuk menjadi ibu anak-anakku.¡± Tidak seperti biasanya yang akan langsung gusar Saga bicara dengan biasa, sambil bersandar di sofa. ¡°Apa ibu membawa Amera untuk itu?¡± Saga terdengar tertawa kecil. Karena melihat putranya tidak marah, Ibu merasa kalau inilah saatnya dia bicara. Wanita itu benar-benar menutup mata hatinya kalau sebenarnya dia melihat kebahagiaan di mata anaknya. Hanya demi ego dan gengsinya semata. ¡° Kau menyayangi Amerakan? Dia gadis baik-baik. Keluarganya juga sangat mendukungmu. Dia sangat pantas berada di sampingmu.¡± Ibu meraih tangan putranya dan mengengamnya erat. ¡° Ibu, jangan melewati batas.¡± Deg, Jantung ibu langsung berdetak kencang. Ya, seperti inilah biasanya putranya akan bereaksi. ¡° Saga, kamu lihat sendiri bagaimana keluarga Daniah. Mereka kampungan sekali, sudah seperti penjilat saja.¡± Ibupun tersulut juga. Melihat keluarga Daniah dari dekat. Menganalisis orang tua mereka. Dan bagaimana ibunya bicara, dia bisa menyimpulkan kalau mereka benar-benar tidak pantas berada sejajar dengan keluarga Antarna Group. ¡° Untuk itulah kamu tidak memperkenalkan mereka ke publikkan? Keluarga Daniah atau istrimu?¡± ¡° Apa ibu sudah selesai bicara?¡± ¡° Saga!¡¯ ¡° Ibu aku tidak mau memperkenalkan Daniah ke publik karena aku begitu mencintainya. Aku tidak rela siapapun melihatnya dan bergosip di belakangnya, jadi bukan karena aku malu atau seperti yang ibu pikirkan. Aku menjaga privacinya karena aku mencintainya.¡± Wajah merah Saga sudah muncul. Dia terlihat menahan diri. Tangannya terkepal karena kesal. ¡° Bagaimana ibu bisa tidak memahami anak ibu sendiri.¡± Ibu diam seribu bahasa, tidak berani menjawab. " Ibu." Suasana hening yang tadi sejenak tercipta pecah. Ibu menjawab tergagap. "Apa aku boleh tidur di pangkuan ibu." Wajah terkejut ibu yang tidak bisa dia tutupi. Apa! Ibu menekuk lututnya, lalu menepuk pangkuannya. Masih tidak mengerti, tapi dia membiarkan ketika Saga menjatuhkan kepalanya di pangkuan. Dada wanita itu berdebar kencang. Menebak ada apa dengan putranya. Ah, dia tidak pernah seperti ini. Bahkan sejak dulu. " Ternyata pangkuan ibu senyaman ini ya" Hening. Tidak ada yang bicara. Saga hanya terpejam membayangkan masa lalunya. Menemukan wajah Daniah yang tersenyum dan merentangkan tangan siap memeluknya. Jangan marah pada ibu karena aku ya, kata-kata itu kembali terngiang dipikiran Saga. Sementara itu dada ibupun berkecamuk, dia menggangkat tangannya ingin menyentuh kepala putranya. Tapi urung, dia menarik tangannya lagi. " Ibu boleh menyentuh kepalaku." Ibu terkejut mendengarnya. Tapi dia meletakan tangannya dan membelai kepala Saga. " Niah bilang aku tidak boleh bertengkar dengan ibu." Deg, dada ibu bergemuruh. " Karena ibu sudah mengandung dan melahirkanku, dan semua itu tidak mudah. Jangan bertengkar dengan ibu, mengalahlah, karena kata Niah, ibu selalu melakukan hal yang terbaik untuk anaknya." Ibu tidak menjawab apa-apa, dia hanya terdiam. Mengigit bibirnya. "Aku akan melindungi Niah seperti ayah mencintai ibu." " Saga." " Aku belum selesai bu, dengarkan apa yang mau kukatakan." Saga masih memejamkan mata, merasai belaian tangan ibunya di kepala. Hangat. Sentuhan ibu selalu menghangatkan hatikan? " Ibu tidak pernah menyentuh kepalaku lagi sejak ayah pergi." Diam sebentar. " Ya, akupun tidak bisa jadi anak yang cengeng setelah ayah pergikan." terdengar desahan. "Hanya paman yang selalu mengatakan, menangislah Saga kalau kau ingin menangis sambil menyentuh kepalaku. Haha." getir. "Paman sampai akhir masih melihatku seperti anak-anak." Ibu semakin mengigit bibirnya. " Saga bangun dari pangkuan ibu. Menatap ibunya. " Ibu." wanita itu menoleh pelan menatap putranya. "Seperti ayah yang tidak perduli bagaimana latar belakang keluarga ibu, seperti itulah aku ingin mencintai Daniah bu." meraih tangan ibu. Bibir ibu kelu tidak bisa menjawab. Bersambung Chapter 210 Disebut Kencan? ¡° Pergilah, temui gadis itu seperti permintaan Daniah. Kau ingatkan ini hadiah ulang tahunnya?¡± Saga mendongak dari lembaran kertas yang dibacanya. ¡° Baik tuan muda.¡± ¡° Jangan membuatnya menangis Han, pastikan dia kembali dengan selamat.¡± Terdengar suara ketukan pintu, di susul suara ibu meminta izin untuk masuk. ¡° Baik tuan muda.¡± ¡° Kau bisa mulai memikirkan hidupmu sekarang, bukankah kau lihat aku hidup bahagia bersama Niah.¡± Han tidak menjawab dan hanya menggangukan kepala. ¡° Cih, dasar keras kepala. Pergilah! Jangan bertengkar dengan ibu, suruh dia masuk.¡± ¡° Baik tuan muda.¡± Benarkah? Janji Ayah pada tuan besar sudah selesai. Apa sekarang aku sudah bisa bernafas untuk diriku sendiri. Han masih ragu, sejauh apa harapan yang ada di pikirannya untuk tuan Saga. Seperti apa kebahagiaan yang dia harapkan untuk Saga. Dia memikirkannya dengan serius sepanjang jalan. Mungkin setelah nona hamil aku bisa bernafas lega. Cih, dia benar-benar pintar ya memakai koneksinya. Han masih di dalam mobil, melihat sebuah kendaran yang tidak asing di depannya yang masuk sesaat setelah dia memarkir mobilnya. Mobil milik nona Daniah. Dan gadis yang mengendarainya bergegas keluar setelah mobil terparkir dengan sempurna. Arandita, dia memastikan lagi mobil terkunci dengan baik. Merapikan rambut dan penampilannya di kaca mobil. Membuat segaris senyum dengan bibir menyeringai. Melompat-lompat mengusir gelisah sepertinya. Setelah itu mengepalkan tangan ke udara dan meneriakan sesuatu untuk menyemangati dirinya sendiri. Apa dia sudah gila! Melakukan hal begituan di area parkir. Tapi tingkah Aran itu berhasil membuat Han fokus dan tertawa di mobilnya. Dia masih belum keluar dari mobil dan menatap Aran yang berjalan cepat memasuki gedung mall milik Antarna Group. Terlihat dia mengepalkan tangan ke udara lagi. Baiklah, karena ini hadiah ulang tahun nona Daniah, aku tidak akan mengacaukannya. Aku akan mengajakmu nonton, makan makanan mewah dan mendengarkannmu bicara. Dan tidak akan membuatmu menangis. Kau bisa bicara apapun yang kau mau hari ini, dan aku akan duduk diam mendengarkan. Walaupun aku muak sekalipun. Han mengambil hp di saku jasnya yang bergetar. Pesan bertubi masuk. Nona Daniah yang memberi peringatannya lagi. Menggingatkan janji yang sudah dibuatnya di depan tuan Saga. ¡° Jangan membuatnya menangis!¡± ¡° Jangan membuatnya menangis!¡± " Jangan membuatnya menangis!" Dia sampai mengcopynya tiga kali! ¡° Kau sudah berjanji, atau kuadukan pada tuan Saga kalau kau sampai ingkar.¡± Han sengaja tidak membalas pesan Daniah walaupun membacanya, membuat Daniah yang mencuri-curi waktu sambil bicara dengan keluarganya itu gusar. ¡° JAWAB DONK!¡± pesan dari Daniah masuk lagi. Dengan caps lock yang jebol karena kesal. Akhirnya Han mengetikan sesuatu yang hanya membuat Daniah semakin geram saja. ¡° Hemmm.¡± Setelah lewat beberapa waktu akhirnya Han keluar dari mobilnya meninggalkan area parkir, memasuki mall megah yang ramai pengunjung. Dia menuju lif menuju lantai pusat hiburan di mana gedung bioskopXX berada. Ramai, akhir pekan tempat ini memiliki pengunjung bisa dua sampai tiga kali lipat. Terakhir kali dia menonton mungkin saat kencan tuan muda dan nonanya. Ya, dia memang jarang menonton sendiri. Tidak penting, saking banyaknya pekerjaan yang dia lakukan. Waktu liburannya biasanya hanya ia habiskan untuk berolah raga dan diam di dalam rumah. Rutinitas yang membosankan yang hampir ia dapati setiap minggunya. Tapi anehnya dia menikmati itu. ¡° Tuan saya di sini.¡± Aran melambaikan tangan dari kejauhan sambil melompat-lompat senang melihat orang yang dia tunggu terlihat batang hidungnya. Dia merapikan rambutnya lagi ke belakang telinga. Han sudah mendekat. ¡° saya tidak terlambatkan? Nona meminjamkan mobilnya pada saya.¡± Memamerkan kunci mobil di tangannya. Penuh kebanggaan karena mendapat dukungan dari nona. Aku pintarkan? Padahal aku tidak mengatakannya tapi nona yang berinisiatif. Dia memang dewi penolongku. Aku akan membeli hadiah ulang tahun untuk nona nanti. ¡° Kau pintar juga ya. Jam berapa filmnya mulai.¡± ¡° 30 menit lagi. Anda mau menonton film apa tuan?¡± ¡° Horor!¡± Apa! kenapa horor! Aku tidak mau. ¡° Kenapa? Kau tidak suka. Nona tidak memilihkan film apa yang akan ku tonton jadi terserah aku mau menonton apa. Kalau kau tidak mau tunggu saja di luar sampai aku selesai menonton.¡± Apa! gila ya! ¡° Haha tentu saja saya suka. Ayo kita menonton film horor tuan.¡± Tertawa senang seperti film horor adalah fil kesukaannya. " Berikan tasmu." Kaget. kenapa? Apa dia mau membeli tiket pakai uangku. Ragu, Aran menyerahkan tas miliknya ke tangan Han. Lalu mengikuti langkah kakinya menuju tempat pembelian tiket. Cih tidak seru. Sepertinya waktu tuan muda yang melakukannya saat kencan dengan nona terlihat lucu dan menyenangkan. Tapi ini tidak seru sama sekali. " Pegang sendiri tasmu, tidak seru." Melemparkan tas Aran yang ditangkap dengan gelagapan oleh Aran. Plus dengan tatapan penuh tanya. Apanya yang seru si, memang aku menyuruhmu membawakan tasku? Beberapa adegan kencan tuan Saga dan Daniah di reka ulang. Tapi kenapa terasa mengelikan begitu batin Han. Padahal saat melihat tuan mudanya yang melakukannya untuk nona Daniah dia benar-benar merasa terhibur saat itu. Aran hanya mengikuti langkah kaki Han dengan seribu tanda tanya. Dia benar-benar melambaikan tangan padaku sambil tersenyumkan tadi? Itu bukan tanda-tanda dia mau menghabisiku nantikan? kenapa tuan Han aneh begini si! Aku tidak mau nonton film horor. Hiks. Aku takut! Film baru saja dimulai, Aran sudah beberapa kali menjerit sambil menutup matanya. Dia melirik kesal laki-laki yang ada di sampingnya. Sekertaris Han sedang menonton dengan khidmat, seperti sedang mengheningkan cipta. hanya matanya saja yang sesekali terlihat berkedip. Serta hidunya yang berkedut saat dia menarik nafas. selebihnya, mimik wajahnya tidak berubah. Adegan apapun yang ditampilkan layar besar di depan sana. Masih lebih baik aku menonton wajahnya saja. Dan Aran benar-benar hanya menatap wajah Han selama beberapa menit. Sambil mengunyah popcorn, tidak mau melirik sedikitpun layar di depan sana. Masih terdengar suara-suara seram, tapi sepertinya teredam oleh wajah yang sedang ia pandang. " Apa yang sedang kau lakukan?" Han menoleh membuat Aran tersendak, dia langsung memalingkan wajah. Menjerit sambil menutup mulut saat layar menampilkan adegan mengerikan, yang langsung tertangkap matanya. " Lihat ke depan!" " Baik tuan." Cih, suka-suka aku donk mau lihat kemana, inikan mataku! Aaaaa, aku takut! Karena tidak mau membuka mata, Aran memilih tertidur saja. Dia benar-benar memejamkan mata sambil menyandarkan kepala ke kursi. Tak selang berapa lama kepalanya sudah bersandar di bahu Han. Dia benar-benar terlelap. Han melirik sebentar lalu mengoyangkan bahunya. Tidak ada reaksi. " Aran!" Han mengoyangkan bahu. " Bangun!" Tidak bereaksi. Awas kau kalau pura-pura tidur. Karena sepertinya Aran benar-benar tidur akhirnya Han menghentikan gerakan bahunya dan membiarkan gadis di sampingnya terlelap dalam mimpinya. Matanya kembali beralih ke layar besar di depan. Dia melirik sekilas, lalu memiringkan kepalanya sedikit. Terlihat menunduk sampai hidungnya menempel di rambut Aran. Hemmm, wangi. Jadi ini yang suka di cium-cium tuam muda. Tidak mau terpergok melakukan hal aneh Han langsung menggangkat kepalanya lagi. Kemudian fokus melihat film. Dia tahu kalau gadis di sebelahnya ini membenci film horor setengah mati, untuk itulah dia memilih jenis film ini. Sebenarnya apa yang dia takutkan, padahal filmnya tidak ada seramnya sama sekali. Bersambung Chapter 211 Maaf Akhirnya keluar dari bioskop horor dengan selamat, seperti terlepas dari jerat di lehernya. Wajah Aran masih terlihat pucat karena terkejut saat di bisiki sekertaris Han dengan bisikan menyeramkan untuk membangunkannya tadi. ¡° Siapa suruh kau tidur sepulas itu.¡± Tidak merasa bersalah sama sekali sudah membangunkan orang dengan aura seram. Aran terlihat menggemerutukan gigi sambil menatap tajam punggung sekertaris Han. Kalau saja tatapannya setajam peluru, punggung itu pasti sudah berlubang di mana-mana. Dasar jahat! Memang tidak bisa membangunkan orang dengan normal. Menguncang bahu misalnya. Padahal ya, Han sudah menggunakan cara normal selama beberapa menit untuk membangunkan Aran. Tapi gadis itu terlelap seperti di atas kasurnya sendiri. ¡° Berikan kunci mobil nona.¡± Han menyodorkan tangannya, saat mereka sudah sampai di area parkir. Beberapa orang terlihat melintas menuju kendaraan mereka masing-masing. ¡° Kenapa?¡± Kau tidak akan meninggalkanku sendirian di area parkirkan? Duga Aran kuatir, dia masih menggengam kunci mobil Daniah di balik punggungnya. ¡° Nona meminjamkan sampai saya pulang. Tidak, sampai urusan saya selesai hari ini.¡± Bersikeras mempertahankan kunci yang sementara adalah miliknya. Tangan Han masing mengantung di udara, membuat Aran mau tidak mau menyodorkan kunci mobilnya. Tidak tahu dari mana muncul seorang laki-laki dengan setelan jas, di lengannya ada logo tim keamanan Antarna Group mendekati mereka. ¡° Bawa mobil nona Daniah ke rumah.¡± Han melemparkan kunci mobil yang ditangkap dengan kedua tangan oleh pengawal laki-laki tadi. ¡° Baik tuan.¡± Hanya menjawab begitu, lalu menggangukan kepala. Diapun menghilang tanpa bekas menuju mobil nona. Aran menatap tidak rela. Apa ceritanya dia mau menghukumku karena aku ketiduran saat nonton tadi. Jadi dia mengambil mobil nona. Lagipula siapa suruh menonton film horor. Ini kejam namanya! ¡° Lalu saya tuan, tuan tidak akan meninggalkan saya kan?¡± Han diam menuju mobilnya. ¡° Masuk!¡± Hah! Masuk ke mobilnya? Benar tidak apa-apa. ¡° Mau kutinggal.¡± Sudah menghidupkan mobil. ¡° Tidak, saya masuk tuan.¡± Aran bergegas masuk ke dalam mobil dengan cepat. Langsung memasang sabuk pengaman dengan benar. Mengatur nafasnya yang tiba-tiba berdebar. Menduga-duga kenapa Han memberinya tumpangan. Padahal jelas-jelas berangkat tadi dia tidak sudi melakukannya. Dia tidak benar-benar mau menghabisi akukan? Tidak ada yang bicara sepatah katapun dalam perjalanan. Han hanya mengemudikan kendaraan dengan kecepatan sedang. Sementara Aran hanya sibuk menduga-duga tapi tidak berani menebak atau bertanya. Salah sedikit saja bagaimana kalau dia di tendang keluar mobil, begitu pikirnya. Hingga diam adalah pilihan yang terbaik. Sementara gelap sudah mulai datang menjelang. Sudah duduk di sebuah kafe, sudah memesan makanan. Mereka sedang menunggu makanan dan di depan meja ada dua gelas air putih dingin dan dua botol minuman. Milik Aran sudah hampir setengah kosong. Dia terlihat cemas. Mimik mukanya terlihat sekali dia sedang menimbang banyak hal. Tangannya sudah berkeringat di bawah meja. Tempat yang di reservasi secara khusus oleh Han. Sebagai pelunasan janjinya pada nona. Ajak menonton sudah, berikan dia makanan mewah, dan dengarkan dia bicara. Apa aku bicara sekarang? Tapi harus kumulai dari mana? Pikiran Aran sedang berkecamuk di sela-sela menunggu. Kehebatan sekertaris Han dengan wajah datar tanpa bisa ditebak itulah yang terkadang membuat kesal. Dengan airmuka yang tidak bergeming dia bisa membuat lawan bicaranya tegang dan senewen sendiri. Antara meneruskan bicara atau diam saja. ¡° Bicaralah, aku akan mendengarkanmu.¡± Makanan belum datang. ¡° Katakan apa yang ingin kau katakan, ini kesempatan terakhirmu utuk menjelaskan.¡± Glek, Aran menelan ludah. Sudah terdengar seperti ancaman baginya. ¡°Jangan pernah melibatkan nona Daniah lagi dalam masalahmu.¡± ¡° Maaf.¡± Aran menunduk lagi saat pandangan mata mereka bertemu. ¡° Untuk apa?¡± Hah! Apa dia mau pura-pura tidak tahu, sebesar apa rasa bersalahku padanya. ¡° Karena kau sudah melibatkan nona dan membuat kekacauan seperti hari ini?¡± Sepertinya Han juga merasa engan untuk mengungkit masa lalu. Walaupun dia tahu arah pembicaraan Aran yang sebenarnya. Bukan! Diam lagi, sampai selang beberapa waktu. ketukan tangan Han di atas meja mulai terdengar cepat. Dia mulai jengah. ¡° Huh! Sepertinya kau tidak bisa memanfaatkan kesempatanmu ya. Setelah ini jangan pernah.¡± ¡° Maaf untuk semua kesalahanku di masa lalu.¡± Menyambar sebelum Han menyelesaikan kalimatnya. Lalu tertunduk dalam. Aran mendengar suara langkah kaki pelayan mendekat menghidangkan makanan. Dia masih menunduk. Merasa waktu berhenti. Kenapa dia lama sekali si meletakan makanan saja. ¡° Selamat menikmati.¡± Pelayan itu melihat pelanggan wanitanya yang tertunduk dan tidak menjawab. Saat melihat ke arah Han laki-laki itu memberi isyarat dengan tangannya agar dia keluar. ¡° Eh, baik tuan. Selamat menikmati.¡± ¡° Dia sudah pergi. Tegakan kepalamu dan makanlah. Hari ulang tahun nona belum berakhir.¡± Memberi tahu Aran kalau dia masih akan mendengarkan Aran bicara. Apapun yang akan dibicarakannya. Mereka makan dalam diam. Aran mendongak, meletakan sendoknya. Tidak tahu kekuatan dari mana yang mendorongnya bicara. Tapi mulutnya memang terbuka. " Maafkan kesalahan saya di masa lalu tuan." Han menghentikan suapannya, mengambil air dan meneguknya pelan. " benar, saya membantu nona muda putri pemilik stasiun tv karena tergiur uang yang dia janjikan." Ragu-ragu melirik Han yang masih diam mendengarkan. " Saya sudah menipu tuan dan mendekati tuan." Bagaimana ini aku gemetaran. Aran menyentuh dadanya yang bergemuruh. " Saya mendekati anda memang karena alasan itu. Maaf." sesal yang tidak bisa dia tunjukan melalui kata-kata. " Huh!" Han mendesah, mengambil lagi gelasnya. " Tapi saya benar-benar senang setelah mengenal tuan secara pribadi." Terlihat Han mulai kesal, tapi dia menahan diri sesuai janjinya pada tuan mudanya. " Waktu yang kita lalui bersama, saya benar-benar senang." " Tutup mulutmu!" Tanpa sadar Han mengatakannya. " Hah! baiklah lanjutkan bicaramu, aku sudah berjanji pada nona." Dia selalu merasa kesal, jika memikirkan betapa bodohnya bisa tertipu dengan wajah polos gadis di depannya ini. Dia benar-benar bersikap baik padaku hari ini hanya karena nona Daniah. Karena janjinya pada nona, sama sekali bukan karena akukan? Getir, suara yang bergetar di dada Aran. Jika dia mengatakan semuanya dan dimaafkan apakah semuanya akan melegakan, atau hanya akan terus mengganjal di hatinya. " Apa tuan masih melakukannya setiap akhir pekan?" Han menatap Aran lekat tapi tidak menjawab. " Berkeliling membagikan uang pada pedagang kecil dengan jaket hoodie supaya tuan tidak di kenali." Karena hal inilah semua pikiran Aran berubah. Penilaiannya pada sekertaris Han jungkir balik dari laki-laki dingin tanpa ekspresi di belakang tuan Saga, menjadi seseorang berhati hangat yang hanya dia dan Tuhan yang tahu. Untuk itulah niatan yang awalnya hanya karena uang berganti tujuan benar-benar ingin mengenal Han dengan dunianya. Membuat Aran semakin dalam terjerumus dalam kebetulan-kebetulan yang ia ciptakan untuk mendekati sekertaris Han. " Maafkan saya tuan." Han masih menatap Aran. Kali ini gadis itu tidak memalingkan matanya. Epilog Mobil memasuki halaman rumah utama. Mobil milik Daniah sudah terparkir di sana. Han menghentikan mobil tanpa mematikan mesin. Apakah mereka sudah meluruskan semua kesalahpahaman mereka dengan kedamaian? " Terimakasih untuk hari ini tuan. terimakasih sudah memberi saya kesempatan bicara sebanyak itu." " Keluarlah!" " Baik." Aran keluar dari mobil. Menutup pintu pelan agar tidak menimbulkan suara. " Terimakasih tuan untuk hari ini." " Aran!" Han menjentikan tangannya agar gadis itu memasukan kepalanya ke dalam mobil lagi. Eh, kenapa? Dia tidak akan mencium pipikukan? " Cuci rambutmu setiap hari!" Aran terlonjak sampai kepalanya membentur mobil. Membuat Han terlihat tersenyum tipis. Lalu bergegas memutar mobilnya keluar dari dari halaman rumah utama. Aaaaaaa. Bersambung Chapter 212 Hadiah spesial Saga Hari yang membahagiakan sekaligus melelahkan. Keluarga Daniah bertahan sampai dengan makan malam. Saga melihat tatapan berharap di mata Daniah untuk mengizinkan keluarganya tinggal. Walaupun dia tidak mengatakannya. Lalu setelahnya mereka berpamitan. Daniah bahkan sempat bicara banyak dengan ayahnya tadi. Dan seperti semua hal yang tidak terduga terjadi. Ayah minta maaf dan memeluk Daniah untuk sekian lama. Membelai rambut putrinya yang telah banyak berkorban pada keluarga. ¡° Ibumu pasti sangat bangga memiliki putri sebaik dirimu Niah.¡± Walaupun masih merasa canggung, tapi Daniah membalas pelukan ayahnya dengan menepuk bahu laki-laki itu. Ujung matanya sudah berair. Setelah sekian lama, ayah menyebut lagi cerita tentang ibunya. Hal apa lagi yang jauh lebih membahagiakan selain itu. Begitulah Daniah, hatinya yang selembut kapas, kerinduannya pada tangan ayahnya sudah mengikis semua kebencian di hatinya pada orangtuanya. Laki-laki yang sudah membawanya ke rumah utama ini. Yang membuatnya terpaksa menikahi tuan muda kaya yang selalu bersikap seenaknya itu. ¡° Bicara dengan siapa?¡± Saga muncul dari ruang ganti baju. Mengeringkan rambutnya yang terkena air. Membuat lamunan Daniah tentang ayahnya langsung pecah. ¡° Aran" meletakan hp yang baru saja dia pakai. " Memastikan dia pulang dengan selamat.¡± Daniah langsung memalingkan wajah dan tergelak. Menarik selimut sampai menutupi wajahnya. Dia sedang tertawa di bawah selimut. Terlihat dari selimut yang bergoyang seirama dengan ketukan dia tertawa. ¡° Beraninya kau menertawakanku, mau mati ya.¡± ¡° Haha, maaf sayang.¡± Mengintip dari balik selimut. ¡° Habis kamu manis sekali si, cocokkan? Aku membelinya dengan sepenuh hatiku lho.¡± Meraih hp tentu ingin mengabadikan momen aib tuan Saga dalam hidupnya. Kapan lagi dia memakai pakaian berwarna pink terang menyala itu. Kalau di tambah pita-pita di kepalanya pasti lucu. Haha. Tapi aku tidak berani lebih dari ini. ¡° Jadi aku harus berterimakasih ni.¡± Menyeringai sambil melemparkan handuk sekenanya, nyangkut di atas meja. Tidak, tidak perlu! Aku tahu kau akan menyerahkan tubuhmukan! Saga naik ke atas tempat tidur dengan piyama warna pink bergambar miliknya. Meladeni Daniah dengan kamera hpnya. ¡° Cih seleramu kampungan sekali.¡± ¡° Kan janji mau mengabulkan keinginanku hari ini tanpa protes, akukan sedang jadi tuan putri hari ini.¡± ¡° Baiklah tuan putri. Cih, tapi mataku benar-benar sakit melihat bajumu.¡± Baju tidur Daniah berwarna senada dengan yang dipakai Saga, tapi tentunya modelnya tertutup. Jadi seluruh bagian tubuhnya bisa dibilang tidak terlihat, berbeda dengan baju tidur yang setiap harinya dia pakai. Yang terlihat semua bagian tubuhnya. Baju tidur selera Saga. ¡° Kemarilah!¡± Saga menepuk dadanya meminta Daniah mendekat, gadis itu menurut. ¡° Kau bersenang-senang hari ini?¡± Mencium kepala Daniah yang bersandar di dadanya. Daniah menempelkan wajahnya ke dada Saga lalu membelai lembut. ¡° Terimakasih ya sudah mengundang keluargaku.¡± Itu adalah kejutan luar biasa dibanding apapun. ¡° Sayang, apa kamu tahu, ini pertama kalinya keluarga lengkapku merayakan ulang tahunku.¡± Saga terlihat terkejut mendengarnya. ¡° Biasanya aku merayakan ulang tahun hanya dengan Raksa dan karyawan di tokoku.¡± ¡° Cih!¡± ¡° Jangan marah.¡± Menepuk pelan dada saga lagi. ¡° Aku tidak apa-apa kok, memang seperti itu aku menjalani hidup selama ini. Jadi terimakasih ya kesempatan berharga ini.¡± Kenapa kau menyedihkan begini. Saga menghujani pipi Daniah berulang kaki, membuat Daniah terpingkal dan mendorong tubuh Saga agar menghentikan kelakuannya. ¡° Sayang hentikan!¡± Bangun dan duduk di samping Saga. ¡° Sekarang aku mau minta hadiahku.¡± Tersenyum sambil menepuk pipi Saga lembut. Hadiah terbesar yang sudah ku idamkan sejak lama. ¡° Apa lagi, apa hadiahku dan kedatangan keluargamu belum cukup.¡± Meraih jari daniah dan mengigitnya. ¡° Jangan serakah, kau bisa celaka nanti.¡± ¡° aaaaa, sakit tahu.¡± Melepaskan tangan dengan cepat. ¡° Tapi kamukan janji mau memberi apapun yang kuminta.¡± Mengibaskan tangan. ¡° Kau mau minta apa?¡± Hemmm. Daniah tersenyum dan menimang-nimang sebentar membuat orang penasaran. ¡° Kau mau minta separuh dari kekayaanku?¡± lanjutnya lagi. Mintalah, aku mau lihat sejauh apa yang bisa kau minta. Daniah menggeleng. ¡° Jauh lebih berharga dari itu.¡± ¡° Haha, Niah, apa kau tahu berapa jumlah kekayaanku.¡± Tertawa mendengar jawaban Daniah. ¡° bahkan kalkulator di tokomu tidak bisa kau pakai menghitungnya. Benar bukan itu yang kau minta?¡± Daniah mengeleng cepat. Lalu menjatuh kan diri lagi dan memeluk Saga. ¡° Ceritakan tentang dirimu, itu hadiah ulang tahun yang ku minta darimu.¡± ¡° Apa!¡± Kali ini Saga benar-benar tertawa sambil uyel-uyel rambut Daniah. ¡° Kau benar-benar meminta itu daripada separuh kekayaanku.¡± Apa lagi rencanamu? Daniah menganggukan kepalanya yakin. Bahwa memang itu yang ia idamkan selama ini. Mengenal Saga dengan segala kerumitan pribadi dan kehidupannya. Bagaimana dia tumbuh dan menjalani hidupnya. Apa laki-laki yang memiliki segalanya ini punya mimpi dan cita-citanya sendiri dalam hidup. Atau bagaimana dia bertemu dengan sekertaris Han. laki-laki yang selalu setia berdiri di belakangnya itu. Bagaimana kau mengenal Han? Bagaimana dia bisa begitu patuh dan setia padamu. Aku ingin mengenalmu sampai sejauh itu tuan muda. Agar aku bisa membalas cintamu selayaknya apa yang sudah kudapatkan selama ini. " Benar tidak mau merubah hadiahmu?" Sudah meletakan tangan di area favoritnya. " Aku akan memberikan separuh kekayaanku atas namamu." Kenapa tanganmu masih sempatnya saja. " Tidak! aku tetap mau hadiahku yang itu." Yakin. " Akukan sudah punya cinta tuan Saga yang mulia, aku tidak perlu kekayaanmu." sombongnya Daniah. Hehe. Baginya mengenal tuan Saga adalah harta paling berharga yang bisa dia dapatkan dalam pernikahan ini. " Haha, percaya diri sekali kamu ya." menarik kancing baju Daniah. " Eh kenapa?" Mempertahankan baju tidur norak yang dia pakai. " Tapi pertama-tama lepas bajumu! Mataku sakit melihatnya!" Aaaaa tidak mau, kamukan janji mau cerita tentang dirimu. Kalau aku lepas baju yang ada kamu sibuk dengan urusanmu dan hanya menjawab hemm, hemmm seperti biasanya. " Lepas tidak! atau aku tidak mau cerita." " Ia, ia aku lepas. Tapi janji ceritakan malam ini." masih memegang kancing baju. "Jangan melakukan yang lain, tapi fokus cerita tentangmu ya." " Ia, ia. tidak percaya sekali, memang kau di bohongi seumur hidupmu." menyeringai tipis. Lihat senyummu sudah mencurigakan begitu. Dan apa lagi yang di harapkan Daniah, setelah dia melepas baju tidur pink miliknya. Epilog " Aku dan Han tumbuh bersama sejak kecil. Bahkan ayahku terlihat jauh lebih menyayangi Han daripada aku. Tapi, aku juga merebut kasih sayang paman." Untuk bagian ini Saga masih tertawa menceritakannya. Sambil memeluk Daniah erat dalam dekapannya. Dan akhirnya sedikit demi sedikit masa lalu itu terkuak. Bersambung............. Selamat malam semua...... Terimakasih yang sudah setia dan selalu menunggu kelanjutan TMTM, hari ini alhamdulillah bisa update sesuai jadwal. semoga menghibur ya, masa lalu Han dan Saga akan terkuak minggu depan, tunggu kelanjutannya ya ^_^ Terimakasih semua atas dukungan dan apresiasi kalian untuk novel ini. Semoga bahagia selalu ^_^ Chapter 213 Lepaskan Tanganmu Aran masih berdiri di tempat Han menurunkannya, dia menunggu sampai mobil yang ditumpangi laki-laki itu menghilang dalam pendar cahaya lampu taman. Sampai matanya tidak bisa melihat dan menembus angin malam. Dia menarik jas yang tadi di pakaikan sekertaris Han sambil tersenyum malu. Haha, ayolah Aran berhenti menyimpulkan segala sesuatu sesukamu. Hardiknya pada dirinya sendiri. Jangan terlalu percaya diri, dia memaafkanmu saja itu sudah luar biasa. Aran merengut, karena kata maaf sampai akhirpun tidak terucap dari bibir laki-laki itu. Walaupun dia memberikan jasnya karena dinginnya cuaca malam, tapi itu tidak bisa diartikan apa-apa. Biarkan saja! Aku mau besar kepala sendiri! Masih terselip bunga-bunga di ujung bibir Aran saat ia melintasi rumah utama yang mulai senyap. Dia berjalan dengan cepat menuju rumah belakang. Di beberapa sudut, tempat para penjaga yang bersiaga terlihat tengah mengobrol sambil tertawa, menikmati kopi dan juga camilan. Mereka terlihat senang sekali gumam Aran. Tapi tidak terlalu memperhatikan karena dia ingin segera sampai di kamarnya. Ada banyak hal yang ingin dia lakukann malam ini sebelum tidur. Ada apa ini, kenapa sepertinyaa ruang tamu ramai sekali. Tanyanya heran pada dirinya sendiri. Pendar cahaya lampu masih terang benderang di rumah belakang, terdengan suara berisik. Ada yang tertawa, bahkan ada juga yang sedang menyanyi bersama. Apa yang mereka lakukan? Apa mereka sedang pesta akhir pekan? Di dorongnya pintu pelan, Aran mematung sebentar saat beberapa mata tertuju padanya. Membuat dia salah tingkah sendiri. Eh, apa salahku. Katanya dalam hati sambil menyentuh kerah bajunya kikuk. ¡° Aran! Dari mana saja, kami mencarimu!¡± seorang senior melambaikan tangan meminta Aran mendekat. Pesta kembali di lanjutkan setelah dia masuk dan menutup pintu. Mata Aran melihat banyak sekali makanan dan juga aneka minuman bersoda serta jus tergeletak begitu saja di atas karpet. ¡° Ada apa kak? Kalian sedang pesta?¡± Duduk lalu meraih pizza dengan toping daging dan keju yang berlimpah. Lapar! Aran yang hanya makan sok cantik di depan sekertaris Han seperti mendapat berkah Tuhan. Dia mengambil potongan pizzanya yang kedua dan sebotol jus buah rasa mangga. ¡° Kenapa banyak sekali makanan?¡± Bicara dengan mulut penuh. ¡° Ini hadiah dari tuan muda.¡± Menepuk-nepuk punggung Aran agar gadis itu makan pelan-pelan. Dia hampir tersendak karena makan dengan kecepatan penuh. ¡°Pelan-pelan makannya!¡± Aran hanya menyeringai, tapi tidak memperlambat makannya. ¡° Kenapa?¡± Tidak seperti biasanya, walaupun kebutuhan makanan dan minuman di rumah belakang sudah masuk kategori mewah untuk ukuran para pelayan, tapi ini benar-benar di luar kebiasaan. ¡° Hadiah dari tuan muda karena sudah bekerja keras mensukseskan pesta ulang tahun nona Daniah.¡± Apa! Aran menjatuhkan botol jusnya, untung saja tutupnya sudah rapat melekat. Aku lupa membeli hadiah untuk nona! Nona, maafkan aku. Betapa hinanya aku, hiks. Senyum sekertaris Han sudah mengalihkan duniaku! Maafkan aku nona! ¡° Kenapa?¡± senior itu bertanya ¡° Tidak kak, aku hanya melupakan sesuatu.¡± Sambil ingin sekali menitikan airmata. Bagaimana dia bisa melupakan hal penting setelah semua yang nona Daniah lakukan untuknya. Dia benar-benar merasa seperti penghianat bangsa. Aku akan membelinya besok nona, aku bersumpah! ¡° Kamu dari mana? Setelah pesta nona selesai tadi kamu menghilang?¡± Senior tadi menyerahkan botol jus Aran yang tadi terguling. ¡° Maaf kak, aku sudah izin pada pak Mun tadi karena ada sesuatu yang harus di kerjakan.¡± Tidak berniat untuk menceritakan, suara tawa juga sepertinya lebih menarik perhatian senior. Ada seorang pelayan wanita dan laki-laki bersuara merdu yang sedang berduet menyayikan sebuah lagu. Semua mata fokus padanya. ¡° Ya sudahlah, kamu belum makan malam kan? Hari ini makanlah sepuasnya.¡± Berbisik sambil bertepuk tangan. ¡° Haha, ia kak. Aku akan makan sampai kekenyangan malam ini.¡± Balas dendam Aran untuk makan malam cantiknya. Dia kembali teringat hadiah ulang tahun untuk nona. Berteriak dalam hati, bagaimana dia bisa melupakan hal sepenting itu. ¡° Arandita.¡± Suara sekertaris Han terdengar lirih namun menyayat. Dia tidak senang. Sedang menahan rasa tidak sukanya ketika Aran mulai membicarakan privasinya. Apalagi menyangkut sesuatu yang bahkan tuan mudanya tidak pernah ketahui. Ya, dia memang selalu menghabiskan akhir pekannya terkadang dengan berolahraga. Setelahnya dia akan berkeliling sambil berjalan kaki dengan jaket hoodienya, menghabiskan uang cash yang ada di saku celananya kepada para pedagang kecil yang dia temui. Dia selalu menyenbunyikan wajahnya, bahkan terkadang dia memakai masker wajah demi menjaga diri dari bertemu orang yang mengenali. ¡° Ternyata kesalahan, aku melepaskanmu beberapa tahun yang lalu ya. Seharusnya aku menghabisimu sampai kau bahkan tidak bisa menegakan kepalamu.¡± Han menyembunyikan itu dari semua orang, bahkan dari tuan mudanya. Bagaimana bisa gadis di depannya ini. Cih, dia kecolongan untuk kedua kalinya. Sebelumnya Han hanya menduga Aran membuntutinya ketika dia muncul ke publik dengan menampakan identitas dirinya. ¡° Maaf tuan.¡± Aaaaaa. Aku membangunkan harimau yang tertidur. ¡° Apalagi yang kau tahu? Apa kau tahu kode rumahku juga?¡± Pertanyaan mengagetkan. ¡° kenapa kau tidak masuk dan menggodaku sekalian?¡± Cibiran halus yang terlihat jelas di bibir Han. ¡° Tidak tuan!¡± menjawab cepat, tidak mau ada kesalahpahaman yang bisa berbuntut panjang. ¡° Saya bahkan tidak bisa masuk ke loby apartemen tuan.¡± Benar, kalau sampai Aran bicara dia bisa masuk ke apartemen Han, para pekerja di apartemen malam ini pasti sudah kehilangan pekerjaan mereka. ¡° Maafkan kesalahan saya di masa lalu tuan.¡± Diam, baik Aran ataupun Han. Aran meraih gelasnya, dia bahkan sudah tidak punya keinginan untuk melanjutkan makan lagi. Walaupun jelas-jelas dia merasa lapar. Mendongak sekilas lalu kembali mengalihkan pandangan, setelah beberapa saat masih membisu laki-laki di depannya. ¡° Tuan Han.¡± Mau melanjutkan permohonannya, karena sepertinya dia sudah terlanjur menjatuhkan diri ke jurang. Kalaupun dia harus tamat di sini, paling tidak dia bisa meluapkan semua pikirannya. Kata-kata yang sudah dia susun di kepalanya. ¡° Han! Kamu di sini?¡± sebuah suara keras terdengar, Membuat Aran langsung berhenti menutup mulutnya. Han menoleh melihat siapa penggangu yang datang. Cih, kenapa aku bertemu dengannya di suasana seperti ini. Makinya melihat siapa yang baru saja memanggilnya. Dokter Harun dengan wajah full senyumam yang tersebar di penjuru ruangan. Dia menyuruh pelayan yang mengikutinya pergi. ¡° Pergilah, katakan pada Brian aku bicara dengan Han sebentar. Aku akan menemuinya nanti¡± ¡° Baik tuan.¡± Pelayan wanita itu menggangukan kepala. Lalu pergi, dia terlihat menuju tangga naik ke lantai atas. Khusus staff. ¡° Brian bilang kau reservasi makan malam di sini. Mana Saga dan kakak ipar?¡± Hah! Dasar pembuat masalah, sudah tahu tuan muda benci sekali kalau anda memanggil nona kakak ipar tapi masih saja ya. ¡° Apa yang dokter jomblo lakukan di akhir pekan begini? Percuma saja kalau tuan mendapat cap playboy tapi setiap malam selalu berkeliaran sendiri.¡± Jawaban jengah Han. Di ikuti dengan suapan ke mulut, tak acuh. Bahkan Han tak sudi melihat ke arah Harun. ¡° Kurang ajar! Di mana kakak iparku?¡± Sengaja memanaskan suasana, pikirnya kalau Saga mendengarnya begitu bisa saja botol minuman sudah melayang di kepalanya. Menjadi sinyal keberadaan kakak ipar pikirnya. ¡° Nona dan tuan muda pasti sedang bersama menghabiskan malam di tempat tidur mereka.¡± Masih jawaban acuh yang memanasi hati nurani. ¡° Cih, lantas apa yang kau lakukan di sini?¡± Kesal mendengar jawabab Han yang mengusik kejombloannya. Kenapa harus menjawab menghabiskan malam di tempat tidur, membuatnya mengigit bibir geram. Seharusnya jawab saja di rumah kenapa? Membuat orang kesal saja. ¡° Kencan!¡± Jawaban Han membuat kilatan di mata dokter Harun. Hp ditangannya bahkan sampai jatuh membentur lantai. Lalu matanya baru tertuju dengan seseorang yang duduk di hadapan Han. Eh kenapa ada perempuan? Dia benar-benar kencan? Si gila menakutkan ini! Seperti tidak terima, Harun bahkan tidak melihat ketika dia melangkahi hpnya yang ada di lantai. Dia mendekati gadis yang sedang duduk itu. Meraih tangannya. Aran yang kebinggungan karena sekali lagi melihat sisi Han yang banyak bicara, berusaha melepaskan tangan yang di gengam laki-laki yang tidak dikenalinya. ¡° Apa yang anda lakukan dokter?¡± Han terlihat geram sambil melihat tangan Aran yang ada di gengaman Harun. ¡° Diam! Aku sedang memeriksa denyut nadinya.¡± Harun meletakan jemarinya di nadi Aran sambil memejamkan mata. ¡° Dia hidup! Nona anda benar-benar makhluk hidup.¡± Menatap Han tidak terima. ¡° Apa yang kau lakukan padanya sampai dia duduk di depanmu begini? Kalian benar-benar berkencan?¡± Protes keras. ¡° Lepaskan tangan anda dokter!¡± Kata-kata Han bukan hanya membuat Harun merinding, Aran bahkan langsung menarik tangannya cepat. Mendorong kursinya sedikit menjauh. Siapa si dia? ¡° Baiklah, baiklah aku hanya memeriksa kondisinya saja. Ternyata dia benar-benar manusia hidup, denyut nadinya masih berdetak. " Aran mengeryit mendengar penjelasan Harun. " Jangan menatapku begitu, kau bisa mengiris nadiku dengan pandanganmu itu. Hahaha.¡± Han tidak bergeming. Membuat Harun mengalihkan fokus pada wanita di sebelahnya. Dia sudah menarik kursi duduk. Walaupun terlihat Han sama sekali tidak menyukainya.¡° Nona, apa kamu tahu siapa dia?¡± menunjuk Han, benar-benar seperti tidak terima bagaimana mungkin Han bisa kencan dengan karakternya seperti itu. Aku yang baik hati, murah senyum dan kepala rumah sakit saja masih jomblo. Orangtua Harun saja yang mencintainya sampai lelah menjodohkannya dan mulai angkat tangan. Pasrah. Aran melihat Han lalu menggangukan kepala. ¡° Kau tahu siapa dia?¡± berteriak, sambil menunjuk wajah Han dengan pisau yang tadi di pakai Aran. ¡° ia.¡± Aran menjawab sambil pelan-pelan meraih pisau. Dia ini kenapa si, pakai menunjuk-nunjuk dengan pisau segala? ¡° Siapa dia memang?¡± Harun melepaskan pisau ditangannya. ¡° Tuan Han.¡± Jawab Aran, yang melirik tangan Han. Kenapa sekarang dia yang menggengam pisau geram begitu. Mereka bukan musuh bebuyutankan? ¡° Cih, bukan itu. Bukan namanya? Tapi kau tahu siapa dia? Si gila menakutkan yang sedang duduk di depanmu itu.¡± Han tidak bereaksi mendengar kata-kata Harun. Dia hanya menatap Aran dengan tatapan tajam seperti biasa. ¡° Dia, sekertaris Han. Sekertaris tuan Saga, presdir Antarna Group.¡± Jawab Aran sambil tersenyum. Apa dia tahu? Siapa perempuan ini sebenarnya? Senyum tipis kemenangan di wajah Han semakin membuat Harun tidak terima. Bersambung Chapter 214 Kesal ¡° Apa! jadi kau tahu siapa dia dan masih duduk di sini kencan bersamanya?¡± Ntah kenapa terbesit kemarahaan dalam kata-kata Harun. Terlebih saat melihat senyum Aran yang sepertinya senang berada di posisinya yang sekarang. Duduk makan malam berdua dengan bom waktu yang kapan saja bisa meledak itu. Han hanya patuh pada Saga, di luar itu hanya dianggapnya daun kering tidak berguna. Mau berjatuhan dan berserak di segala penjuru, tetap tidak dianggap berharga olehnya. Laki-laki ini kenapa si. Aran yang merasa binggung sendiri. ¡° Nona, ambil ini.¡± Dokter Harun mengeluarkan dompet, lalu menyerahkan selembar kartu nama miliknya. Aran meraihnya lalu melihat sepenggal nama yang tertera. Wajahnya terlihat terkejut, saat melihat jabatan laki-laki di depannya ini. Kepala rumah sakitXX. Dengan logo yang sangat jelas, milik Antarna Group. ¡° Hubungi aku kalau kau membutuhkan sesuatu, semacam tes mata atau perlu tes kejiwaan. Gratis!¡± Aku mau memastikan gadis ini tidak buta dan juga tidak gila. Kejam sekali vonis dokter Harun, selama ini dia memprediksi hanya gadis tak berdenyut nadinya yang akan berani mendekati Han. ¡° Kenapa?¡± Akukan tidak sakit mata atau gila sampai butuh tes kejiwaan segala. Ya, aku hanya kadang stress sedikit kalau lagi deadline novel dan di kejar jadwal update. ¡° Kenapa? Kau masih bisa bertanya seperti itu, saat aku mengatakan laki-laki yang duduk di depanmu ini monster menakutkan.¡± Menuding wajah Han yang sama sekali tidak terusik dengan kalimat-kalimat memojokan yang diucapkan Harun. Walaupun sedikit terlihat mata sekertaris Han megeryit menahan jengah. Tapi dia masih membiarkan Harun berbuat dan bicara sesukanya. ¡° Haha, dokter. Sepertinya anda salah paham.¡± Memukul bahu Harun, sudah sok akrab, sambil dibumbui tawa. Tidak memperhatikan, mata sekertaris Han yang menatap tangan itu. Sudah seperti Saga yang ingin mematahkan tangan laki-laki yang menyentuh Niahnya. ¡° Bukan Tuan Han yang memaksa saya untuk pergi kencan. Tapi sebenarnya sayalah yang memaksanya.¡± Hampir terjatuh Harun dari duduknya, saat mendengar kalimat Aran. Otaknya langsung berusaha mencerna dengan cepat. Sudah tidak waras apa gadis ini, memang ada yang bisa memaksa Han selain Saga. ¡° Apa! Kamu yang memaksanya?¡± Mata tidak percayanya menatap tajam. Menoleh pada Han yang sedang mengalihkan kesal dengan menghabiskan makanan di piringnya. Cih, dia tidak perduli begitu. ¡° Haha, memang seperti itu. Saya yang memaksanya.¡± Hei, tunggu, siapa wanita ini sebenarnya! Bagaimana dia bisa memaksa Han duduk berkencan. Bukankah ini bisa masuk dalam keajaiban dunia. Harun giliran mulai tertarik dan memperhatikan Aran. Bukan sebagai wanita aneh yang pergi kencan dengan Han. Tapi sebagai perempuan, apa yang membuatnya spesial dan menarik. Pandangannya membuat Aran malu, dia tersipu sambil menyelipkan rambutnya di belakang telinga. ¡° Wahhh, karena saking terkejutnya aku sampai tidak memperhatikanmu. Rambutmu mirip seperti punya kakak ipar ya. Dan cara tertawamu juga manis.¡± Tidak perduli kalau kata-katanya sudah seperti petir menyambar telinga sekertaris Han. Kakak ipar! Siapa dia? ¡° Dokter, apa anda tidak punya pekerjaan?¡± Tidak bisa lagi diam, apalagi saat mata Harun mulai menatap Aran dengan pandangan yang sedikit berbeda dari di awal tadi. ¡° Hei, aku sudah bekerja seharian penuh tahu. Jangan macam-macam.¡± Harun tahu, posisi Han di Antarna Group jauh lebih tinggi darinya walaupun dia yang seorang kepala rumah sakit sekalipun. ¡° Jangan menambah pekerjaanku lagi.¡± Ancamnya kuatir. ¡° Anda saja masih bisa keluyuran di jam segini, Sepertinya anda masih terlalu banyak memiliki jam kosong ya?¡± Han meraih hp yang ada di dekat piring makan yang sudah tandas isinya, sepertinya demi mengusir kesal dia benar-benar menghabiskan makannya. Walaupun tidak tahu apakah dia menikmati atau tidak. Demi melihat tangan Han yang sudah bergerak, Harun langsung bangun mengeser kursinya. Bisa habis aku, dia benar-benar mulai kesal. ¡° Aku mau bertemu Brian. Kami mau membahas proyek penting.¡± Gerakan tangan Han sudah benar-benar mengancam. ¡° Eh dimana hpku?¡± Han menjawab dengan sorot matanya, menunjuk hp yang tergeletak di lantai. Aku harus pergi sebelum dia mengila. ¡° Haha, di sana rupanya. Baiklah aku tidak akan menggangu kencan kalian.¡± Ada garis bawah tebal saat dia mengataakan kata kencan. ¡° Aku akan menemui Brian.¡± ¡° Kalau begitu segera pergilah ke atas tuan atau sebentar lagi anda bisa kembali ke RS untuk bekerja lagi¡± ¡° Haha, Han aku tahu kamu cuma bercanda.¡± Sialan! Kau sama sekali tidak bercandakan? Kalau aku tidak kabur sekarang. Aku pasti tengelam dengan pekerjaan selama sebulan ini tanpa bisa melihat matahari sore tenggelam. Harun berjalan memungut hp tak bersalah yang teronggok dilantai. Diusapnya benda itu ke baju ¡° Nona, hubungi aku ya kalau nona butuh sesuatu.¡± Harun masih sempat mengedipkan mata menunjuk kartu nama yang ada di atas meja. Sambil mendekatkan hp yang dia pegang di telinga. ¡°Aku akan mengatakan apapun tentang laki-laki di depanmu itu.¡± Tertawa saat Han berusaha membunuh lewat tatapan matanya. Kabur! Sampai dia menaiki tangga, Harun masih membalikan kepala melihaat gadis yang duduk di depan Han. Hah! Siapa gadis itu, bagaimana dia bisa memaksa Han pergi kencan dengannya. Aku penasaran! Dia lumayan manis juga. Sepeninggal Harun. Masih tersisa banyak sekali tanda tanya di kepala Aran. Siapa laki-laki itu. Han bicara tanpa terlihat terlalu hormat tapi tidak melewati batas. Dia masih memakai panggilan atau sapaan sopan. Tapi kenapa tuan Han terlihat sangat kesal si. Aaaaaa, bagaimana aku bisa memulai bicara tentang kesalahanku di masa lalu. Aku sudah kehilangan moment tadi saat laki-laki itu datang. Aran menatap Han, dan berbarengan mereka bertemu pandang. Gadis itu gelagapan dan meraih gelasnya. Mengusir tegang dan gejolak di dadanya. ¡° Apa dokter Harun ini teman anda tuan?¡± Aran mengambil kartu nama di atas meja dan membacanya. Nama dan pekerjaan dokter Harun yang membuatnya menelan ludah takjub. Posisinya tinggi sekali, apa dia teman tuan Saga. Han mengulurkan tangannya, tanpa menjawab dengan kata-kata pertanyaan Aran. ¡° berikan!¡± Tangannya mengantung di udara. ¡° Apa ?¡± Binggung. ¡° Kartu nama itu.¡± Han mengoyangkan tangannya. ¡° Eh, kenapa? ini kartu nama dokter.¡± ¡° Berikan padaku sekarang!¡± Aran langsung menyerahkan kartu nama di tangannya saat suara sekertaris Han merendah, artinya dia kesal. Matanya masih mengikuti kartu nama itu, Han meremasnya dengan tangan kirinya. Terdengar giginya mengeram. ¡° Jangan pernah menghubunginya!¡± ¡° Eh kenapa?¡± Tidak jadi bertanya saat melihat situasi. Han hanya menjawab lewat sorot matanya. ¡° Baik.¡± Cih! Han meremas kartu nama itu. Lalu menyobeknya menjadi serpihan dan di hempaskannya ke lantai. Kertas-kertas kecil itu berserak. ¡° Apa dokter Harun.¡± ¡° Jangan menyebutkan namanya!¡± Haaa, baik. Menyeramkan sekali. Aran langsung menutup mulutnya dengan tangan. Rapat terkunci. Hanya pikirannya yang bicara. Kenapa si, mereka tidak terlihat bermusuhan tadi. Walaupun adu mulut. Tapi mereka tidak terlihat bertengkar sungguhan. Bahkan dokter tadi masih membalas kata-katanya dengan tertawa. Tapi kenapa dia terlihat sekesal itu. Aran kehilangan moment, sampai Han membayar tagihan dia belum bicara apapun. Bahkan dia hanya mengikuti langkah kaki Han dalam diam menuju tempat parkir, tidak berani bertanya sedikitmu. Kenapa dia kelihatan kesal sekali begitu! Bersambung Chapter 215 Dimaafkan? Ketika kau tidak tahu kemana sopir di sampingmu akan membawamu, percayalah, sebuah perjalanan akan dua kali lipat menegangkan. Daripada saat kau sudah tahu tujuan perjalananmu. Dan itu di rasakan Aran saat ini. Dengan rasa cemas yang naik dua kali lipat daripada saat dia baru menaiki mobil tadi. Ditambah kebisuan yang di ciptakan orang di belakang kemudi. Membuat siapapun yang ada di kursi penumpang jantungnya berdegup dua kali lebih kencang. Aku mau dibawa kemana ini? Hah! Inikan bukan jalan menuju rumah tuan Saga. Aran melihat jalanan gelap di luar jendela, pepohonan ataupun rumah bergerak dengan cepat. Menandakan kecepatan pengemudi membawa mobilnya. Walaupun gelap, Aran bisa mengenali jalanan menuju rumah utama milik tuan Saga. Dan saat ini mobil melaju ke arah yang berlawanan. Dia menciut di tempat duduknya. Melonggarkan sabuk pengaman. Bergerak kesana kemari dengan cemas. Apa dia mau meninggalkanku di dalam kegelapan? Tapi, akukan bahkan belum mengutarakan isi hatiku. Suasana hatinya benar-benar berubah karena kedatangan dokter Harun tadi. Aaaaa, tolong Tuhan, kenapa dokter itu harus muncul di saat terpenting hidupku si. Sudah bicaranya tidak jelas begitu lagi. Walaupun cemas tapi masih sempat menyalahkan dokter Harun. Kalau laki-laki itu tidak muncul tadi masalahnya dengan Han pasti sudah beres. Hasilnya apapun akan dia terima dengan lapang dada. Kalau dia di maafkan atau harus menutup pintu hatinya rapat. Itu tidak masalah, seiring berjalannya waktu semua gejolak rasa yang ada di hatinya pasti akan sirna. Begitukan seharusnyakan, kalau dia belajar dari karakter novel yang dengan apik dia ciptakan. Aran memang mahir dalam teori cinta, tapi minim pengalaman menjalaninya. Rem mobil berdecit pelan, mobil berhenti. Han tidak mematikan mesin mobil, dia menghidupkan lampu sorot. Cahaya terang jatuh sampai beberapa radius di depan sana. Lalu dia keluar dari mobil. Masih tanpa bicara sepatah katapun. Sementara Aran belum berani melepas sabuk pengamannya, dia sedang membaca situasi dan lokasi keberadaannya. Danau? Hah! Dia tidak mau membuangkukan! Aran mundur saat kaca mobilnya diketuk keras. ¡° Turun!¡± begitu perintah laki-laki di luar sana, lalu dia berjalan ke depan mobil bersandar sambil menatap gelapnya air danau yang tersorot lampu mobil. Berkelip-kelip. Aran melihat punggung lebar itu. Ragu untuk membuka pintu. Aku takut! Kenapa dia membawaku ke sini si, inikan sepi sekali. Kalau sampai terjadi apa-apa padaku teriakpun pasti tidak akan ada gunanya. Han terlihat menjatuhkan tubuhnya. Membuat Aran terlonjak ditempat duduknya. Dia berbaring di atas di atas mobil, lalu mengetuk kaca mobil keras. Membuat Aran mau tidak mau keluar. Angin malam berhembus, menembus baju yang dia kenakan. Dia mengepalkan tangan mengusir hawa dingin yang langsung menyergap. Dingin! ¡° Kau pernah melihatku ke sini juga?¡± Setelah Aran ikut duduk di sampingnya. Gadis itu mendekap kedua lengannya dengan tangan. Menangkal dinginnya udara yang tidak bisa dia abaikan. Dia memang benci udara dingin. Ntah karena kulitnya yang tipis atau apa, tapi Aran sering kali kedingingan walaupun orang-orang di sekitarnya merasa biasa saja. Contohnya malam ini, Han terlihat sangat menikmati udara malam. Lalu, mata Aran berkeliling melihat lokasinya sekarang berada. Merasa mengenali sesuatu yang tidak asing. Menangkap ingatan di masa lalu. Eh, benar. inikan Danau pinggiran kota, aku pernah mengikutinya dua kali ke tempat ini. ¡° Maaf.¡± Tidak mau menyangkal apa-apa lagi. Apapun yang sekertaris Han tanyakan akan di jawabnya dengan jujur. Dia ingin semua masalahnya selesai hari ini. ¡° Berapa kali?¡± Han bertanya lagi. Bagaimana ini? ¡° Berapa kali?¡± ulangnya geram karena Aran hanya diam. ¡° Dua kali tuan.¡± Menjawab terbata, sambil mengeser tempatnya duduk. ¡° Hebat sekali kau ya.¡± Terdengar Han mendesah. Tapi tidak bicara apa-apa lagi. Hening. Aran mendekap Bahunya semakin erat, karena semilir angin masuk merasai kulitnya. Dia mengigit bibir karena kedinginan. ¡° Pakai ini.¡± Han melepas jas yang dia pakai dan langsung meletakan jas di kepala Aran. Dia melihat gadis itu mendekap bahunya beberapa kali. ¡° Tidak usah tuan, aku tidak apa-apa.¡± ¡° Pakailah selagi aku bicara baik-baik.¡±Perduli tapi bau akan ancaman. ¡° Baik, terimakasih.¡± Langsung memakainya. Aran bisa mencium aroma tubuh Han dari jas yang ia kenakan. Hangat. Aroma parfumnya bahkan masih tercium walaupun sudah seharian. Kenapa dia wangi begini si. Masih sempatnya berfikir yang tidak-tidak. Tapi Aran benar-benar sengaja menarik kerah jas itu sampai ke hidungnya. ¡° Jangan mengharapkan lebih dari ini dariku.¡± Lirih terdengar Han bicara. Tidak seperti bicara pada Aran, tapi gadis itu paham. Kata-kata itu untuknya. Apa artinya dia sudah memaafkanku. Dia bahkan perduli padaku dan memberikan jasnya. ¡° Apa ini artinya tuan sudah memaafkan saya?¡± Diam tidak menjawab, hanya menataap langit yang bertabur kegelapan. Sementara Aran duduk menatap Danau yang menghitam. Berkas cahaya rembulan yang sedikit memantul di air danau dan kelip-kelip lampu sorot mobil mencipta panoramanya sendiri. ¡°Tuan Han." " Hemm." " Selama hampir setahun saya merenungkan semua kesalahan saya.¡± Aran kembali ke masa terberat dalam hidupnya. Saat ia harus terusir dari ruangan kerja tempat dia mengabadikan hidup dan bekerja keras. Satu-satunya tempat dia mencurahkan waktu dan tenaganya. ¡° Saya terusir dari dunia saya. Sayapun pergi menjauhi keluarga karena tidak mau mereka ikut menanggung kesalahan yang saya buat. ¡° Pedih. Hembusan nafas Aran yang terdengar berat. Dia menarik kerah jas milik Han, melindungi lehernya. ¡°Tapi saya benar-benar menyesali semuanya. Keserakahan saya pada janji nona muda saat itu benar-benar saya sesali seumur hidup saya. Bahkan sampai hari ini.¡± Hah! Bagaimana reaksi wajahnya? Kenapa dia diam saja. Aku ingin meliriknya sedikit. Tapi Aran bahkan tidak berani melakukan. Dia melanjutkan bicaranya. " Selama setahun itu saya berfikir dan menyalahkan diri saya. Apa tuan menjalani hidup dengan baik. Sesekali saya masih mencari berita tentang Antarna Group. Tidak ada yang berubah, anda masih berada di belakang tuan Saga. Sama persis seperti sebelumnya. Dengan wajah yang di kenali media." " Kau mau bicara apa?" Eh kenapa dia menyentuh rambutku lagi, untung aku sempat mencucinya tadi sebelum berangkat. " Tuan." Tubuhnya langsung kaku membatu, bernafaspun pelan karena masih merasai tangan di ujung rambutnya. "Maafkan saya yang mendekati tuan dengan kebohongan, tapi saya benar-benar senang setelah mengenal tuan secara pribadi." membuat kesimpulan akhir lebih dulu sebelum tercipta salah paham. "Tuan laki-laki baik dan berhati hangat. Dan saya senang, selain tuan Saga saya adalah orang yang mengetahuinya." Aran tersenyum sendiri. Seperti halnya Han yang perduli pada tuan Saga, diapun merasakan hal yang sebaliknya. Kedua orang itu saling menyayangi dengan cara mereka masing-masing. " Pandai sekali ya kamu bicara." " Terimakasih atas pujiannya tuan." Merasa bangga untuk alasan yang tidak jelas. " Cih, aku sama sekali tidak memujimu." Aran hanya tertawa, saat ini dia sudah bisa bergerak karena Han sudah melepaskan rambutnya. " Tuan, apa saya boleh berharap?" Ntah apa maksudnya. Aran langsung menutup mulut menyesali kata-kata yang terlontar tanpa dia sadari. Berharap Han tidak paham maksud dari apa yang ia ucapkan. Tapi, bukan Han namanya kalau dia tidak tahu. Pura-pura tidak tahu atau tidak mau tahu itu beda lagi ceritanya. Karena Han sangat mengerti arti kata Aran barusan. " Jagalah nona dengan baik, jangan sampai dia melakukan sesuatu yang tidak di sukai tuan muda. Kalau kau bisa melakukan pekerjaanmu dengan baik. Kau bisa berharap lebih dari ini." Han menjawab lalu bangun. Turun dari mobil. " Ayo pulang." tangannya terulur meraih jemari Aran. Epilog Ntah sudah berapa kali adegan teriakan dan bergulingan di tempat tidur itu diulang. ¡° Aaaaaaa, apa itu artinya dia memintaku menunggunya?¡± Berguling di tempat tidur lagi. Menarik selimut sampai menutupi seluruh wajahnya. ¡° Jangan terlalu percaya diri Aran!¡± begitulah akhirnya. Bicara dengan sangat senang tapi akhirnya jatuh karena kalimatnya sendiri. " Tapi dia bilang begitukan?" Lakukan pekerjaanmu dengan baik, dan kau bisa berharap lebih dari ini. " Aaaaaa, kenapa tidak katakan dengan jelas sih. Sejauh apa aku bisa berharap." Membuka selimut dengan wajah merah padam. Membuat kesimpulan sendiri. Dan akhirnya terlonjak kaget karena suara pintu yang di ketuk dari luar. Tidak, itu gedoran. Hah! siapa itu. Secepat kilat bangun, sampai tersandung selimutnya sendiri. Membuka pintu. teman-teman sebelah kamarnya sudah berdiri di depan pintu dengan wajah kuatir. " Aran kenapa? Apa mimpi buruk?" Eh, akukan belum tidur, bagaimana bisa bermimpi. " Kenapa kamu teriak-teriak?" " Ada kecoa di kamarmu?" Eh kenapa ini? memang sekeras apa suaraku tadi? Tunggu, aku menyebut nama sekertaris Han tidak ya! Bersambung Chapter 216 Pertemuan Saga dan Han Piyama pink dengan motif norak menurut Saga sudah teronggok di sudut ruangan. Ternistakan begitu saja. Layaknya benda tidak berharga. ¡° Jangan pernah memakainya lagi, atau aku tidak akan mengizinkanmu memakai sehelai pakaianpun nanti saat tidur!¡± Ancamnya saat menendang piyama itu setelah keluar dari kamar mandi tadi. Saat ini mereka sudah kembali ke tempat tidur. Hah! Kalau aku tidak pakai baju bisa di tebak akhirnyakan? Bisa-bisa aku tidak tidur semalaman! ¡° Haha, ia sayang aku akan menyimpanya saja dan tidak akan memakainya.¡± Bisa gawat nanti, diliriknya piyama malang itu. Tapi Daniah memang sudah bisa menebak bagaimana nasib piyama itu saat memilihnya untuk hadiah Saga. Haha, yang penting aku sudah dapat foto-foto lucumu dengan piyama itu. Aku bisa meledekmu nanti. ¡° Cih, untuk apa kau simpan benda begituan, akan kusuruh pak Mun membuangnya?¡± Saga menarik selimut, sampai ke pinggangnya. ¡° Aaaa, tidak boleh! Itukan kenang-kenangan bulan madu kita.¡± Cemberut. ¡° Aku simpan ya, janji, tidak akan dipakai.¡± Muah, muah. Ciuman bertubi-tubi. Ya Tuhan, apa yang kulakukan demi kamu piyama pink. ¡° Baiklah, kau boleh menyimpannya. Karena hari ini belum berakhir, kau masih bisa minta apa saja yang kau mau.¡± Tuhkan bilangnya mau menurutiku, tapi kalau membuatmu tidak suka kau marah juga. ¡° Terimakasih sayang!¡± Dasar! Begitu saja jadi masalah. Aaaa, apa yang kau lakukan, kenapa menciumi leherku lagi. " Sayang hentikan!" Menahan bibir Saga dengan kedua tangan. " Kamu belum mengabulkan hadiah utamakukan? sekarang saatnya kamu cerita tentang dirimu." " Cih" Dasar! ¡± Sayang, apa Han sudah seperti itu sejak dulu.¡± Akhirnya berhenti dengan bibirnya. ¡° Apa?¡± Tanyanya acuh seperti biasa. Bahkan terasa engan untuk menjawab. Niah, kenapa kau ingin tahu tentangku? Apa kau punya rencana dibalik pertanyaanmu itu? Tidak tahu, kenapa pikiran negatif muncul di kepala Saga. Dia curiga, Daniah sedang mencari kelemahannya. Untuk apa, mungkin yang akan dipakainya sebagai senjata untuk Daniah lari darinya. Hari inipun dia masih merasai ketakutan itu. Jika wanita yang dia peluk saat ini memiliki keberanian untuk meninggalkannya. ¡° Sayang, kenapa diam. Sejak kapan Han sikapnya menakutkan begitu.¡± Daniah mendongak, melihat mata Saga yang menerawang. ¡° Kenapa kau malah tertarik pada Han bukannya padaku.¡± kesal. Haha, tolong letakan cemburumu pada tempatnya tuan muda. ¡° Karena aku iri padanya.¡± ¡° Kenapa?¡± jauh lebih kesal daripada saat Daniah bertanya tentang Han. Bahkan walaupun itu Han, kalau lebih membuat Daniah tertarik tentu itu membuatnya langsung kehilangan mood. ¡° Karena dia sudah bersamamu jauh lebih lama dari aku.¡± Haha, kau terharukan dengan jawabanku. Daniah mendongak melihat wajah suaminya. Saga langsung menghujani Daniah dengan ciuman. ¡° Aaaa, sudah. Sekarang mulai ceritanya. Bagaimana suamiku yang tampan ini menjalani hidupnya.¡± ¡° Niah, bagaimana kalau kamu cerita duluan tentang dirimu.¡± Saga masih ragu untuk membuka kisah hidupnya. Apa! ¡° Tidak mau!¡± protes. ¡° Lagipula tidak mungkin kamu belum tahu tentangku.¡± Han saja tahu siapa nama mantan pacarnya, tidak mungkin riwayat hidupnya tidak di beritahukan pada Sagakan. Begitu yang dipikirkan Daniah ¡°Ayo mulai, kamu kan sudah janji sayang.¡± Mulai merengek. Mengeluarkan jurus andalan wajah imutnya. ¡° Kau mau menggodaku lagi dengan wajah begitu. Sudah tidak pakai baju lagi.¡± Daniah langsung menarik selimutnya ke leher. Sore yang cerah. Saga dan ayahnya sedang duduk di taman sambil menikmati minuman hangat dan camilan sore. Saga sedang mengulang pelajaran paginya. Sementara Ayahnya sedang melihat beberapa dokumen. Cuaca yang hangat, matahari yang bersinar dengan lembut jatuh di antara pepohonan. Aktivitas sore yang kerap dilakukan ayah Saga. Sesibuk apapun, dia selalu meluangkan waktu sekitar satu sampai dua jam menemani Saga. Selepas ini, diapun biasanya akan kembali bekerja ke kantor lagi. ¡° Ayah, kapan dia akan datang?¡± Saga tidak beralih dari bacaan dan catatannya ketika bertanya. Ayah mendongak dari pekerjaannya, menatap kejauhan. Seperti menanti kedatangan seseorang. ¡° Sepertinya sebentar lagi." Melihat jam di tangannya. " Kenapa? Apa kau sudah memutuskan untuk menerimanya?¡± ¡° Tidak!¡± bicara dengan tegas. ¡°Aku akan melihat apa dia memang pantas baru akan memutuskan.¡± Ayah Saga tertawa. Tuan besar rumah ini, wajahnya tampan dan terlihat ramah. Garis wajah yang dia wariskan pada anak lelakinya. ¡° Kamu pasti menyukainya, dia anak yang hebat. Paman menjaganya dengan baik dan membuatnya tumbuh menjadi anak yang bisa diandalkan¡± Ayah Saga bicara lagi. ¡° Huh! Ayah selalu membanggakannya. Aku akan menilainya sendiri, kalau aku tidak menyukainya jangan memaksaku menerimanya.¡± Bicara dengan tegas lagi, bahkan cenderung setengah memaksa. Dia penasaran bagaimana tampang bocah yang selalu di banggakan ayahnya itu. ¡° Baiklah, tuan muda. Semua ayah serahkan padamu.¡± Begitulah mereka sambil menunggu kedatangan seseorang melanjutkan aktivitas mereka. Saga menulis dan ayahnya kembali fokus pada laporan di depannya. Dari tempat mereka duduk, mobil terlihat memasuki area parkir. Saga langsung meletakan pena yang dia pegang dan mengikuti gerakan mobil itu. Melihat siapa yang keluar dari mobil. Paman, laki-laki yang sudah sangat dekat dengan keluarganya. Terkadang kalau dia jengkel dan marah pada ayahnya dia akan selalu berlari menemui paman. Bersembumyi di balik punggung laki-laki ramah itu. Setelah itu keluar lagi seorang laki-laki berbadan kecil dari pintu satunya. Dia terlihat merapikan pakaiannya di depan mobil. ¡° Selamat sore tuan besar.¡± Paman menggangukan kepalanya penuh hormat. ¡° Selamat sore tuan muda, anda sedang belajar rupanya.¡± ¡° Kau sudah datang?¡± ¡° Ia tuan.¡± Jawabnya dengan sopan, sambil meminta anak di sampingnya untuk memberi salam. ¡° Kemarilah!¡± Ayah Saga melambaikan tangannya pada laki-laki kecil yang berdiri di sebelah paman. ¡° Perkenalkan dirimu Han. Dia Saga putraku.¡± Laki-laki bertubuh kurus kecil itu ragu. Lalu paman meraih tangannya menuntunnya mendekati meja tempat Saga duduk. ¡° Tuan muda, perkenalkan ini Han. Dia yang akan menjadi teman belajar dan bermain tuan muda. Dan juga kelak akan menjadi orang yang setia berada di belakang tuan muda melindungi tuan muda.¡± ¡° Tidak mau!¡± Bangun dari duduk. Lalu mendorong Han agar menjauhi paman. Kesan pertama yang menjengkelkan bagi Han.¡° Aku tidak mau dia, memang apa yang bisa dia lakukan dengan tubuh kurus kecil dan kerempengnya itu.¡± Menarik lengan paman untuk lebih dekat dengannya. ¡° Akukan sudah ada paman. Paman yang akan menjaga dan melindungiku sampai dewasa. Aku tidak mau dia!¡± Menunjuk Han kecil yang terlihat sedikit kesal. Cih. Kata ayah tuan muda anak yang dewasa dan baik hati. Ternyata hanya bocah kekanakan begini. Bagaimana dia bisa jadi penerus perusahaan tuan besar dengan sifatnya begitu. Han Apa ayah tidak salah, tubuh kerempeng itu mau melindungiku. Aku mendorongnya saja dia pasti langsung terjungkal. Saga. Kedua anak itu saling bersitatap tidak suka. " Tuan muda, Han masih akan tumbuh seperti tuan muda yang tumbuh sebesar ini." Paman menggangkat tangannya di atas kepalanya sendiri. Saga menatap Han lekat, bocah di hadapannya itu juga menatapnya tidak begeming. Wahhh dia menantangku, dia bahkan berani menatap mataku. " Baiklah. Kau akan melewati masa percobaan selama satu bulan ini. Kalau kau lolos, aku akan menerimamu." Akhirnya Saga memutuskan setelah menatap ayah dan paman bergantian. Wajah mereka menyiratkan penuh harap. Awas saja kalau ternyata kau tidak sehebat yang mereka katakan. " Han!" Saga mengulurkan tangannya. " Sepertinya Saga menyukaimu Han, jabat tangannya sekarang!" Ayah Saga tersenyum. " Ayah, aku belum memutuskan. Satu bulan lagi kita lihat hasilnya." Saga menyela karena ayahnya sudah terlihat senang. " Haha, baiklah tuan muda." Hari itu di mulailah masa percobaan satu bulan Han. Huaaaa, imutnya orang sombong ini. Aku membayangkan mereka saling tatap benci begitu bagaimana ya. wajah manis tuan Saga dan wajah tegas Han versi imut. Daniah sibuk dengan bayangan di kepalanya. Sampai dia mencubit pipi Saga versi dewasa. " Ternyata kamu sudah sombong dari kecil ya sayang." Haha, ampun! ketika melihat wajah cemberut Saga. " Tapi pasti suamiku sudah tampan seperti sekarangkan?" mencium pipi lembut. "Kau tumbuh dengan kasih sayang berlimpah ya. Mendengar cerita tentang ayahmu dan ayah sekertaris Han aku bisa membayangkan sehangat apa mereka saat memelukmu." Saga mempererat pelukannya. Wajah ayah dan paman melintas, tersenyum dengan hangat di ujung ingatannya. Tersenyum dengan bangga. Aku benar-benar senang mendengarnya, Kau tumbuh dengan kasih sayang. Eh, tapi itukan sebelum tuan besar pergi. Penasaran lagi. " Sayang, lanjutkan ceritamu. Bagaimana masa percobaan sebulan." " Besok, aku ngantuk. ayo tidur!" Curang! kan belum selesai. " Kalau kau masih bicara lagi, aku akan memakanmu!" Bicara sambil mengigit daun telinga. Jangankan bicara, mengeluarkan suarapun tidak. Daniah meringkuk dalam dekapan hangat tubuh Saga. " Kau langsung tidur ya?" Diam tidak menyahut. Akhirnya merekapun terlelap bersama dalam buaian mimpi. Bersambung Chapter 217 Taman Kenangan Cahaya matahari pagi yang segar, bersinar tanpa malu-malu namun tidak terasa panas dan terik saat jatuh ke kulit. Bahkan yang terasa hangat. Walaupun begitu sedikit demi sedikit embun mulai menghilang terpapar sinarnya. Sirna tanpa meninggalkan bekas di pucuk rumput dan dedaunan. ¡° Jadi ini tempat kalian bertemu pertama kali?¡± Paviliun kecil di sudut taman, dengan empat buah kursi dan kanopi. Cahaya matahari jatuh di atas langit-langit kanopi, memantulkan sinarnya. Cerita Saga semalam masih membekas di memori Daniah, dan seperti melihat bayangan masa lalu. Dia berusaha mereka adegan pertemuan dua anak kecil yang terlihat saling bermusuhan itu. Mereka pasti mengemaskan sekali, hehe. Daniah mengandeng tangan Saga. Untuk pertama kalinya mereka menginjakan kaki di rumput taman yang selalu tertata dan di rawat dengan baik oleh para tukang kebun. Sejak Daniah menikah, ini pertama kalinya dia jalan-jalan dan menikmati bunga dan pepohonan taman. Dulu dia hanya bisa memandangi tempat ini dari kejauhan saat duduk bersama Maya, atau hanya menatapnya dari jendela kamar. ¡° Pasti banyak kenangan ayah di sinikan sayang.¡± Mereka menghentikan langkah, Saga menarik tubuh Daniah. Memeluknya dari belakang. Karena tubuh kecilnya dengan mudah Saga menciumi ubun-ubun kepala Daniah. Dia seperti sedang pamer kemesraan pada ayahnya. Merasai tempat dulu dimana mereka sering menghabiskan waktu. Ayah, dia cantikkan? Rambutnya harum dan lucukan? Dia seperti boneka Jen dan Sofi yang imut dan menggemaskan. Dia istriku, calon ibu dari anak-anakku. Tidak tahu dari mana munculnya sifat kekanakan Saga pagi ini, tapi dia memang sedang pamer kemesraan pada kenangannya dengan ayahnya. Sambil memeluk Daniah dari belakang, membiarkan sinar matahari menghangatkan tubuh mereka. Kepalanya bersandar di bahu Daniah membuat gadis itu menoleh, dan bibir mereka bertemu. Walaupun terkejut, tapi mereka meneruskan apa yang sudah mereka mulai. Di bawah sinar matahari pagi. Sampai hal tidak terduga terjadi. ¡° Maafkan kami tuan muda!¡± seseorang menjatuhkan peralatan kebun di tangannya. Benggong. Terkejut tidak menyadari keberadaan tuan muda dan nonanya. Dan parahnya mereka melihat adegan terakhir. Wajah Daniah merah padam karena malu. Dia mengusap bibirnya lalu memandang kearah lain. Sementara Saga mendesah kesal menatap kedua orang yang sudah berdiri tertunduk di depannya. Menggangu saja! ¡° Maafkan kami.¡± Teman di sampingnya juga langsung menundukan kepala saat bersitatap mata dengan Daniah. Ada angin apa sampai membawa mereka ke taman? Biasanya tuan muda dan nona tidak pernah ke taman sepagi ini. Eh tapi mimpi apa aku melihat nona sedekat ini. Salah satu dari mereka sedang merasa bahagia. Tapi langsung menunduk ketika bersitatap mata dengan Saga, yang terlihat sangat kesal. ¡° Maaf, kami menggangu kalian sedang memelihara kebun ya.¡± Hendak menarik tangan Saga, karena sadar suasana canggung yang tercipta. Terlebih Saga hanya diam dan tidak bicara apapun. ¡° Tidak nona kami yang salah.¡± Menjawab ragu. ¡° Pergi!¡± Suaranya saja sudah membuat dua laki-laki itu tahu kalau mereka sudah melakukan kesalahan besar. Ampuni kami tuan muda! Seperti itu teriakan kedua orang itu dalam hati. ¡° Ba, baik tuan muda.¡± Bergegas membereskan pelatan berkebun yang terjatuh tadi dan langsung mengambil langkah seribu. Berlari secepat yang mereka bisa. Berharap agar mereka tidak di kenali wajahnya. " Bagaimana ini? apa tuan muda tahu wajah kita?" " Apa kita akan di pecat?" " Kenapa mereka berciuman di taman pagi-pagi begini si!" Dua orang itu berjalan frustasi menuju area taman yang lain. Setelah di rasa cukup aman mereka berhenti dan langsung membalikan badan. Menatap punggung tuan muda dan nonanya dari kejauhan. Mengatur nafasnya. " Aku baru melihat nona sedekat ini hari ini, dia benar-benar manis ya?" " Kau mau mati ya!" Mendorong tubuh temannya. "Kalau tuan muda mendengarnya habislah riwayatmu." " Hei tunggu, aku hanya bicara kenyataan." " Jaga bicaramu jangankan tuan muda, kalau pak Mun atau sekertaris Han yang mendengarmu membicarakan nona, kau pasti di usir dari sini." Keduanya berjalan cepat dan tidak bicara apapun lagi. Laki-laki yang tadi mengatakan Daniah manis sudah cukup bergetar hatinya mendengar nama sekertaris Han. Setelah kepergian dua perawat kebun. ¡° Sayang, jangan marah.¡± Daniah tertawa sambil mengelus dada suaminya. Menghilangkan kekesalannya. ¡° Tidak lihat mereka senang sekali melihatmu. Padahal sudah kularang mereka melihatmu lebih dari tiga detik.¡± Akhirnya terjawab sudah tanda tanya yang selama ini muncul di kepala Daniah. ¡° Apa!¡± Aturan apa-apaan itu! Pantas saja para pelayan dan pengawal laki-laki di rumah ini tidak ada yang mau bersitatap denganku. Jadi karena aturan gilamu ya. Sabar-sabar, sambil mengelus dadanya. Daniah menarik tangan Saga untuk kembali berjalan menyusuri taman indah yang terkadang tidak pernah dinikmati pemiliknya itu. ¡° Sayang, lanjutkan ceritamu lagi. Semalamkan baru pembukaan.¡± Tidak mau membahas aturan tiga detik, salah-salah muncul aturan aneh baru lagi nanti. Yang hanya akan merepotkan dirinya. Saga menghentikan langkah kakinya. Matahari mulai menembus ke kulit dan bersinar jatuh di wajah Daniah. Dia meraih Dagu Daniah. Menatap mata itu seperti ingin mengorek sesuatu. ¡° Kenapa?¡± ¡° Apa?¡± ¡° Apa yang kau rencanakan?¡± Apa si? Akukan tidak paham maksudmu apa? ¡° Kenapa kau penasaran dengan hidupku.¡± ¡° Tentu saja karena aku ingin mencintaimu seperti kau mencintaiku.¡± Jawaban Daniah membuat bola mata Saga berbinar. Terkejut dia mendengar itu. Kenapa si, apa dia sesenang itu mendengar alasanku. ¡° Ambil ini!¡± Saga versi muda menyerahkan tumpukan kertas ke tangan Han. ¡° Ikut aku.¡± Saga membawa Han masuk ke dalam ruang belajarnya. Sudah ada seorang guru duduk menunggunya. ¡°Duduk di sana dan baca apa yang sudah kuberikan itu. Aku akan mengetesmu setelah pelajaranku selesai.¡± Han tidak menjawab, tapi menuruti apa yang di ucapkan Saga. Dia duduk di tempat yang ditunjuk, memperhatikan sebentar pelajaran apa yang sedang di terima tuan muda sombong itu. Apa-apaan ini! Gumamnya agak kesal. Lembaran kertas yang ada di depannya ini hanya berisi tentang hal yang disukai dan tidak disukai Saga. Apa dia benar-benar membuat ini sendiri. Hal yang ada di kertas ini hanyalah hal remeh temeh mengenai kehidupan sehari-hari Saga. Apa makanan yang dia sukai dan tidak. Pelajaran sekolah apa yang dia sukai dan tidak. Sampai pada warna yang dia sukai dan tidak. Cih, apa aku harus menghafal semua ini. Selesai pelajaran. Guru pengajar sudah keluar ruangan. Dan sekarang duduk berhadapan Saga dan Han, sudah seperti mau di dakwa saja. Han berada di posisi terpidana yang harus menjawab benar dan salah. Sementara Saga seperti biasa duduk bak seorang raja. " Apa makanan yang kau sukai." Kenapa dia menanyakan makanan yang kusukai, bukan yang dia sukai. Bodo amat, diakan tuan muda aneh. Aku tinggal menjawabkan. Han menjawab makanan yang dia sukai apa. "Salah!" Teriak Saga mengagetkan. Salah dari mana? itukan makanan kesukaanku, terserah aku mau menjawab apa. " Tuan muda andakan bertanya makanan kesukaan saya, dan sudah saya jawab, kenapa tuan muda menyalahkan jawaban saya." " Kau tidak membaca kertas yang kuberikan?" Memukul tumpukan kertas di depannya. " Saya membacanya sampai selesai." " Lantas kenapa kau masih bodoh." Ini anak maunya apa coba! " Apa kau pernah melihat paman makan dengan ayahku?" Han menggangukan kepala. "Apa kau pernah melihat paman makan makanan yang berbeda dengan ayahku?" Han berfikir sejenak, lalu mengelengkan kepala. Setahunya apa yang dimakan tuan besar itupula yang dinikmati ayahnya. " Jadi kau paham sekarang?" Apanya? Masih terlihat tanda tanya di mata Han. Apa yang harus dia pahami. Tuan mudanya saja tidak mengatakan apapun yang dia inginkan, apa artinya dia harus menyimpulkan sendiri. Kenapa merepotkan sekali. Katakan saja apa yang kau inginkan! " Bodoh! Keluar sana aku tidak butuh orang bodoh berada di sampingku. Melindungiku apanya. Kau bahkan tidak paham apa yang aku inginkan." Bagaimana aku bisa paham kalau anda tidak mengatakannya tuan muda! " Keluar!" Saga bicara lagi. "Kau mau kupanggilkan penjaga untuk menyeretmu?" Saga terdengar serius. Han yang mau bertahan duduk akhirnya bangun. Dia mengangukan kepalanya sebelum beranjak pergi. "Bodoh!" Han terlihat mengepalkan tangan geram saat mendengar Saga mengatainya saat dia keluar dari ruang belajar. Tidak lama Han masuk lagi, Saga bahkan baru membalik buku yang dia baca beberapa kali. " Kenapa? sudah kukatakan aku tidak membutuhkanmu. Akan kukatakan pada Ayah." " Makanan kesukaan saya adalah bla...bla.... bla....." Han menyebutkan semua yang dia baca di lembaran kertas yang menunpuk di depan Saga. Tanpa terkecuali. Menyukai apa yang di sukai Saga, membenci apa yang di benci Saga. Itu kesimpulan yang dia dapat setelah menutup pintu. Dia mau aku menjadi dirinya. " Kau pintar juga rupanya. Duduk!" menunjuk kursi di depannya. " Jangan senang dulu, kau hanya baru lolos tahap pertama." Saat melihat pancaran bangga di wajah Han. "Kalau mau bersamaku, kau harus menyukai apa yang aku sukai dan membenci apa yang aku benci. Paham!" " Tapi...." Han mau menjawab tapi ragu. " Kenapa? Tidak mau? Kalau begitu pergi sana, aku tidak butuh." " Saya akan melakukannya tuan muda." Seperti itulah akhirnya. Han hanya menyukai apa yang di sukai Saga, begitu pula sebaliknya membenci apa yang dibenci Saga. Sampai sejauh apa, mungkin sampai sejauh kriteria wanita yang akan di sukainya nanti. Bersambung............... Hallo, aku LaSheira, maaf ya karena keterbatasan diri hanya bisa update 5 episode, semoga menghibur dan mengobati rindu pada Daniah dan Saga serta para pendukungnya. Spoiler sedikit untuk episode selanjutnya ^_^ " Ditaman ini pertama kalinya aku bertemu Han, begitu pula terakhir kalinya aku bicara padanya." Daniah terkejut mendengar kata-kata Saga. Mereka bertengkar? kenapa? " Hari itu, setelah beberapa bulan aku melewati hari berat setelah kepergian ayah. setelah perusahaan kembali stabil dan para penggangu berhasil dibungkam oleh paman. Han bilang dia akan pergi. Pergi dari sampingku." Daniah merasakan itu, kesedihan, kemarahan yang menjadi satu. Chapter 223 Pulang dari Rumah Sakit Apa Cuma aku yang merasakan suasana canggung ini! Rasanya Aran ingin berteriak di kursinya. Dia bergeser. Bergerak, miring ke kanan menampar kaca. Bosan hanya melihat benda berlarian dengan cepat di luar sana. Beralih melihat ke arah kiri, wajah tanpa ekspresi yang sebenarnya senang saja kalau mau ia pandangi. Toh, terkadang kalau sedang kehabisan ide menulis dia bisa memandang wajah itu di layar laptopnya bukan lagi dalam hitungan durasi menit. Sudah sampai hitungan jam lamanya. Tapi dia sudah ketahuan melirik lama tadi, dan sudah mendapat peringatan dari pemilik wajah yang ia pandangi. Kenapa aku harus ikut mobil ini juga si! Mobil nona Daniah di bawa oleh tim keamanan Antarna Group. Sementara Daniah hanya angkat bahu ketika ditanya tadi dan hanya mengatakan mengatakan kalau tuan Saga akan mengantar sampai ke ruko. Membuat Aran mau tidak mau harus duduk di kursi depan. Memang kita mau kemana? Ini bukan jalan kembali ke ruko. Mengenali jalanan yang dilalui. Akhirnya memilih menoleh ke samping kiri, mendapati wajah Han yang masih dengan tenangnya mengemudi. Tidak terusik sama sekali dengan keberadaan Aran atau polusi suara yang bersumber dari kursi belakang. Seperti telinganya menyaring dengan sendirinya. Untuk pertama kalinya aku ingin jadi batu. Walaupun sudah melihat secara langsung bagaimana perubahan sikap tuan Saga saat berada bersama nona, tapi Aran tetap saja selalu terkejut dan belum bisa menyesuaikan hati dengan baik. Tuan Saga benar-benar seperti dua pribadi yang sangat berbeda seperti yang di ketahui orang dan media. Jika dia bersama nona Daniah, dia seperti bocah laki-laki kasmaran yang baru pertama mengenal cinta. Mengemaskan untuk dilihat. ¡° Sayang hentikan!¡± terdengar suara tepisan tangan. Jantung Aran yang berdegub. Ingin menoleh. Tapi kepalanya kaku dan tidak punya keberanian. ¡° Ntah kenapa, perasaanku jauh lebih tenang setelah mendengar penjelasan dokter tadi.¡± Suara Daniah. Daniah berhasil menahan tangan Saga untuk berhenti beraktivitas semaunya. Dia bersandar di dada Saga sekarang. Sementara laki-laki itu mulai menciumi kepala istrinya. Melakukan ritual yang hanya dia yang tau, asiknya dimana. ¡° Memang apa yang kamu kuatirkan. Tentu saja semua baik-baik saja. ¡± Sambil di belainya lembut ujung rambut Daniah. Meyakinkan. " Semua baik-baik saja." Mereka akan kehilangan pekerjaan kalau sampai membuatmu kuatir. Pemeriksaan menunjukan hasil yang positif. Program kehamilan yang sedang dijalani Daniah dengan pola makan teratur dan menu yang dijaga dengan ketat ikut membantu pemulihan hormon. Baik Saga ataupun Daniah terlihat lega ketika mendengarkan penjelasan dokter. ¡° Bagaimana kalau kita mulai malam ini.¡± ¡° Apa?¡± ¡° Apalagi.¡± Saga tertawa sambil terus menggangu istrinya. Membisikan rencana ke depan. Bahkan ide gila bulan madu musim ke dua sampai terucap. Daniah buru-buru menutup mulut Saga. Bisa panjang kemana semua urusan kalau sampai ia mengatakan keinginannya itu pada Han. " Hentikan sayang!" Aaaaaa, polusi suara! Tuan Han, apa kau mendengar ini setiap hari. Bagaimana kau bisa tidak iri si. Aku saja iri setengah mati. ¡° Tuan Han.¡± Aran setengah berbisik. Menarik ujung jas yang di pakai Han¡° Tuan.¡± wajahnya penuh harap. Bicaralah padaku! Kumohon, untuk mengalihkan pikiran dan hatiku. Hati dan pikiran Aran sedang membayangkan jauh ke depan, bagaimana kalau dia berhasil menaklukan hati Han. Dan sekarang dia ada di posisi nona. sudah seperti menulis novel, bahkan adegan tidak masuk akal muncul di kepalanya. Yang langsung ia tertawai dengan keras. Aaaaaa, membayangkan saja membuatku malu. Bagaimana aku bisa kepikiran sejauh itu si. " Tuan" Berusaha menyadarkan diri. Menarik lagi ujung jas Han. Masih bicara dengan suara setengah berbisik, sambil mendekatkan kepala ke arah Han. ¡° Hemm.¡± Menoleh sekilas sambil melihat tangan Aran. Seperti berkata. Apa yang kau lakukan dengan tanganmu. Tapi yang di pandang tidak perduli. Dia tidak melepaskan tangan itu sebelum perhatian Han tertuju padanya. Walaupun matanya tetap fokus menatap jalanan. " Kenapa?" Akhirnya bertanya juga. ¡° Saya mencuci rambut saya setiap hari.¡± Tertawa pelan di balik tangan. Menjawab sorot mata Han yang sedikit berkedut. Aran hanya berharap dengan bicara bisa meredam suara dari kursi belakang yang membuat hatinya berdegub kencang sedari tadi. Jadi dia bicara sesukanya. ¡° Kau sudah gila ya?¡± mendengar kata-kata Aran, sama sekali tidak terpancing untuk menanggapi. Tapi tangannya mengetuk kemudi pelan. Bergetar. Aku pasti sudah gila, setelah mendengar dia mengatakan itu aku benar-benar ingin menyentuh rambutnya. Mencengkram kemudi kuat. Bahkan sampai di tempat tujuan di kepala Han masih terselip perkataan Aran tentang rambutnya. Aran keluar dari mobil terlebih dahulu ketika mobil sudah memasuki area parkir. Area pertokoan dan butik barang-barang branded kelas dunia ada di tempat ini. ¡° Kenapa ke sini sayang?¡± Daniah keluar dari mobil. Menatap takjub tempat yang mereka datangi. Seumur hidup dia hanya melihat tempat ini di internet melalui foto. Terkadang diapun mengintip model-model pakaian yang dijual hanya sekedar pembanding dengan tren yang berkembang. ¡° Sayang, kamu tidak akan bilang kalau aku harus memindahkan tokoku di sinikan?¡± Tiba-tiba pikiran itu muncul begitu saja. Suami yang maunya susah di prediksi ini terkadang menakutkan. ¡° Kau mau? Han akan mengurusnya.¡± Dengan entengnya, seperti menawari camilan. ¡° Haha, tidak sayang.¡± Meraih tangan Saga. ¡° Aku hanya bercanda sekertaris Han.¡± Menoleh pada Han serius. Karena terlihat Han menanggapi kata-kata Saga. ¡° Kita mau apa kemari?¡± Baiklah, ganti pertanyaannya. Pakaian yang aku jual di tokoku saja harganya mungkin hanya sebanding dengan tas belanja di toko-toko ini. ¡° Mencari pakaian untukmu.¡± Daniah mengikuti langkah kaki Saga. Buat apa? akukan tidak mau beli baju. Katanya aku bisa kembali ke ruko sebentar sebelum pulang. ¡° Memang mau buat apa?¡± Sudah berada di depan sebuah toko yang nama brandnya tertulis jelas di depan pintu. ¡° Sayang, baju di lemari saja banyak yang belum aku pakai.¡± Bahkan ada baju yang sama sekali belum pernah aku pakai. Lagi pula kau hanya paling senang kalau aku pakai baju tidurkan! Geram sendiri Daniah. Baju tidur dengan berbagai model terbaru bahkan selalu ada di lemari bajunya. Bagaimana sekertarismu itu bisa tahu model keluaran terbaru secepat itu. Daniah tidak membayangkan kalau Han yang harus membelinya langsung. ¡° Besok tuan Noah akan menikah nona, jadi nona dan tuan muda akan memilih pakaian.¡± Han menjawab pertanyaan Daniah sambil membuka pintu toko. Mempersilahkan masuk. ¡° Noah.¡± Wajah kaget Daniah ¡° Maksudnya Noah kita?¡± Apa akhirnya Noah menikah dengan Helen. Spekulasi yang muncul dengan sendirinya. Tapi pikiran Daniah buyar saat melihat wajah kesal Saga. Saga meraih dagu Daniah demi mendengar kata-kata yang barusan terucap secara spontan itu. ¡° Apa kamu bilang? Noah kita!¡± Daniah mengigit bibirnya. Menyesali yang ia ucapkan. Tapi kemudian dia sudah tertawa mengusir kesal Saga ¡° Sejak kapan dia jadi Noahmu hah!¡± Urusan jadi panjang. Walaupun mereka sudah masuk ke dalam toko. Saga tidak perduli keadaan sekitar, menunggu penjelasan. ¡° Haha, bukan begitu sayang. Maksudnya noah yang kita kenal.¡± Satu kecupan di bibir melumerkan suasana. Malu! Saat melihat semua menatap mereka, antara kuatir dan kaget. Para penjaga toko yang terkejut, kenapa tiba-tiba disuguhi ciuman singkat pasangan fonomenal. Bahkan mereka sudah sangat penasaran akan sosok Daniah saat sekertaris Han menghubungi untuk menstrerilkan toko karena Tuan Saga akan memilih pakaian. Dan sekarang langsung di suguhi dengan adegan semacam ini. Sementara Han hanya mengelengkan kepala. Berdecak. Ternyata anda belum pintar juga nona. Bisa-bisanya menyebut nama laki-laki lain di depan tuan muda. Han. Benarkah itu Daniah istri yang dicintai tuan Saga? Kenapa dia mencium tuan Saga di depan kita? Apa dia mau pamer kalau dia istri tuan Saga? Aaaaaa, aku dimana? Isi kepala para karyawan toko. " Sayang bukan begitu." " Cih, dia bahkan pernah memanggilmu matahariku." " Kamukan tahu Noah suka bercanda." " Tapi kau memanggilnya Noah kitakan barusan." Bau cemburu belum memudar. "Padahal kau Niahku seorang." " Ia, ia aku Niahmu. Hanya Niahmu." Terus saja, teruskan saja pertengkaran kalian! Han tahu harus melakukan apa. Meninggalkan mereka berdua. Pertengkaran kecil mereka malah membuat semua orang iri mendengarnya. Bersambung Chapter 224 Memilih Baju (Part 1) Tinggalkan tuan muda dan nona muda yang serasa memiliki dunia ini sendirian. Para penumpang dan tukang kontrak hanya bisa gigit jari iri melihatnya. Kembali meneruskan pekerjaan masing-masing. Han meminta Aran mengikutinya tapi hanya bicara dengan gerakan matanya. Gadis itu yang mulai paham sedikit-sedikit perintah tidak terucap Han hanya bisa tersenyum kecut. Tidak rela meninggalkan tempatnya berdiri untuk melihat keseruan tuan Saga dan nona. Tapi dia tetap harus menurut, kalau tidak bisa runyam hidupnya. Sementara kepada pelayan lain Han sudah memberikan instruksi dengan jelas. ¡° Persiapkan semua pakaian nona dan tuan muda.¡± Sama seperti Aran yang sepertinya tidak rela, harus kehilangan tontonan langka yang mungkin sepanjang hidup tidak akan pernah mereka saksikan. Seperti itu arti tatapan para pelayan yang saling pandang satu sama lain itu.Tapi saat mendengar perintah berulang sekertaris Han mereka langsung sigap mengambil langkah. Menyiapkan apa yang sudah sedari tadi di persiapkan sejak sekertaris Han menyampaikan info kedatangan tuan Saga. ¡° Tuan apa tidak apa membiarkan tuan Saga dan nona berdua seperti itu?¡± Aran yang tampak was-was. Tapi wajahnya berubah mengeryit saat melihat ke arah mereka lagi. Cepat sekali terjadi perpindahan adegan. Apa! mereka sudah baikan. Kenapa mencium pipi nona dengan wajah begitu si. Aran sampai menggit jarinya. Dengan mata yang lekat menatap dua orang di ujung ruangan yang sedang duduk di sofa. Kalau dalam dunia novel dia pasti menggambarkan suasana itu dengan sedikit bunga-bunga bertebaran. ¡° Hah! Memang kau pikir akan terjadi apa dengan mereka?¡± Sudah bisa menebak adegan berikutnya setelah pertengkaran tadi. Ntah sudah terulang berapa kali kejadian semacam ini gumam Han. ¡° Lap pipimu.¡± Tangan Han menusuk pipi kiri Aran dengan telunjuknya. Deg. ¡° Kenapa?¡± Refleks menyeka sudut bibirnya dengan ujung lengan. ¡° Liurmu sampai menetes. Kau kesepian sekali sampai iri melihatnya.¡± Mencibir. Aran yang mau protes tidak punya pilihan kata yang tepat untuk membantah Han. ¡° Bawa pakaian itu ke ruang ganti. Jangan melihat ke arah tuan muda¡± Cih, aku kenapa sampai kehilangan kata-kata si. Disituasi semacam inikan seharusnya aku membalasnya. Tapi jangankan membalas, hatinya bahkan membenarkan apa yang dikatakan Han. Aran membawa gantungan pakaian menuju ruang ganti. Meletakan dengan hati-hati. Sebelum keluar dia sempat melirik tag harga yang tergantung di salah satu pakaian. Haaaaa! Apa mereka memintal baju dengan benang emas? ¡° Sekarang kenapa lagi dengan wajahmu?¡± Aran kembali mendekati Han yang sudah duduk tenang sambil melihat hp. ¡° Tuan, apa tuan tahu harga baju disini?¡± melihat deretan pakaian yang juga tersusun dengan rapi di bagian display. ¡° Kau sampai pucat pasi begitu hanya karena melihat harga baju¡± Han tanpa sadar mengangkat tangannya. Lalu meraih ujung rambut Aran. Gadis itu langsung terperanjak. Lagi! Dia mengambil rambutku lagi. ¡° Tuan!¡± Han langsung tersadar dan menjatuhkan rambut di tangannya. Aku benar-benar sudah gila seperti tuan muda. ¡° Duduk.¡± Katanya acuh, tidak menunjukan hatinya yang sebenarnya. Han menarik sebuah kursi bulat kecil ke sampingnya. Aran memandang kursi itu. Kenapa? Aku mau diapakan. Langsung duduk saat Han menepuk kursi itu untuk kedua kalinya. ¡° Apa yang kita lakukan sekarang tuan?¡± Hanya ada mereka dan para pelayan toko yang berdiri menunggu karena semua persiapan sudah dilakukan. ¡° Menunggu.¡± Menunggu apa? Aran melihat Saga menarik tangan Daniah masuk ke dalam ruang ganti baju dimana tadi dia meletakan pakaian. ¡° Apa yang mau di lakukan tuan Saga. Kenapa dia ikut masuk ke ruang ganti baju tuan?¡± Menutup mulutnya karena terkejut dengan hipotesanya sendiri. ¡° Apalagi, tentu saja membantu nona memilih baju.¡± ¡° Apa tuan yakin.¡± Menahan senyum. ¡° Kalau tuan Saga hanya akan memilih baju untuk nona.¡± Wajah mengeryit Aran yang minta persetujuan. Dia tidak mau berfikir kotor sendirian. ¡° Ada apa dengan isi kepalamu itu.¡± Menekankan jari telunjuk ke kening Aran. " Hah! Kau sedang membuat adegan dewasa di kepalamu." Wajah Aean langsung merah padam. Karena itu benar adanya. " Haha, tuan anda bilang apa. Saya itu masih polos dan suci untuk urusan begituan. Saya belum tahu apa-apa untuk urusan itu." " Hah! kalau begitu khayalanmu di novelmu itu kau contek dari siapa?" Aaaaaaaaa, kenapa membahas itu si. " Sayang!" " Apa!" Sama-sama mengeraskan suara. Daniah sudah tidak bisa menutupi rasa kesalnya. Karena dia seperti mengulang kejadian pesta ulang tahunnya. " Pilih saja yang harus kupakai yang mana sayang." Melembutkan suara sepelan mungkin. Aku lelah! Dan kenapa aku sudah seperti dejavu ya? " Yang paling bagus menurutmu yang mana? yang ini, yang itu atau yang satunya lagi?" Bicara sambil menyodorkan pakaian di dekapan suaminya. " Kamu pilih yang paling cocok dan paling pas untukku. aku akan memakai apapun yang kamu pilih." " Yang paling bagus?" Menunjukan aura tidak senang. "memang siapa yang mau memilih yang paling pas untukmu. Aku akan memilih yang paling tidak cocok untuk kau pakai." Apa! Memang ada ya manusia sepertimu. Menjatuhkan pakaian ditangannya lalu menarik Daniah dalam pelukannya. " Tapi kenapa semua yang kau pakai terlihat cantik." Menjatuhkan kepala di bahu Daniah. "Ini pasti karena kamu yang terlalu cantikkan? Aku benar-benar tidak rela kalau kau di lihat oleh orang lain besok." Alasan gila apa itu! hei tuan muda, aku itu tidak cantik-cantik amat tahu. Yang seharusnya gelisah itu aku, di sana pasti nanti banyak teman-temanmu. Banyak wanita sekelas Helen yang pasti ingin menyapamu. Dan kamu mau aku berdandan biasa saja! Daniah bahkan berfikir kalau besok akan seperti perang batin untuknya. Apalagi saat dia bertemu dengan Helen. Paling tidak dia harus bisa menegakan kepala kalau nanti dia dibanding-bandingkan. Walaupun Saga melindunginya dengan cinta yang dia tunjukan pada semua orang. Tapi dia tidak ingin dipandang tidak pantas berada di samping Saga. Dia ingin percaya diri menunjukan dirinya. " Kalau begitu bagaimana kalau yang ini?" Meraih baju yang sudah di cobanya tadi. "Warnanya kalem di kulitku." " Aura wajahmu malah semakin terlihat. Kau semakin cantik!" " Kalau begitu aku tidak usah pakai baju sekalian!" Kesal, membanting baju yang di pegangnya. Berbalik badan mengembalikan baju yang sudah di cobanya. Tidak melihat orang di belakangnya sedang gemetar menahan kesal. " Kau bilang apa? Tidak pakai baju." Daniah langsung membalikan badan. Terkejut. " Haha sayang, aku hanya bercanda." Aaaaa. Sementara itu di luar. " Tuan Han kenapa mereka lama sekali?" Aran masih menatap lekat pintu ruang ganti. " Apa benar-benar tidak terjadi apapun di sana?" Tidak mungkin! Aran. " Apa yang kau bicarakan dengan dokter Harun tadi?" Han tidak tertarik membahas sedang terjadi apa di ruang ganti. " Saat nona di dalam ruangan pemeriksaan kau bersamanya?" Eh, kenapa? " Tidak bicara apa-apa tuan." Karena saat itu sekertaris Han dan tuan Saga muncul, jadi memang tidak banyak yang mereka bicarakan. " Arandita." " Dia hanya bicara kalau tuan itu harimau gila." cepat menjawab. Membaca situasi, kalau sampai sekertaris Han memanggil dengan nama lengkapnya itu artinya dia sedang menahan diri. Tapi akukan tahu kalau kamu itu harimau gila, jadi tidak pentingkan. Aku bahkan memberimu julukan itu. " Kau tidak mendengarkannku sepertinya." Sudah tercipta suasana yang membuat sedikit sesak. Aran sedang menduga arah pembicaraan Han kemana. " Apa tuan?" " Jangan bicara dengannya." Tegas. Terdengar sedang menandai kepemilikannya. Tunggu, dia bukan tidak suka dengan dokter itu. Tapi apa dia tidak suka kalau aku bicara dengan dokter itu? Apa dia sedang cemburu sekarang! Kesimpulan yang membuat Aran girang sendiri. "Apa tuan sedang cemburu karena saya bicara dengan dokter Harun." Tiba-tiba Han tergelak. " Pak Mun memberimu makan apa tadi pagi? Sampai kau bisa halu dan sepercaya diri itu." Di akhir kalimatnya Han masih menertawakan kalimat Aran. Tapi pandangan mata mereka tidak bertemu. Idih, apa coba. Cemberut kesal. Aran sedang ingin memperkeruh suasana. Jadi dia akan meneruskan argumennya. " Tuan." mencengkram tangannya. Meyakinkan diri, kalau dia sedang ingin mengetes Han. " Apa tuan pikir saya tidak akan pernah berpaling dari menyukai tuan." Ayo terpancinglah. Terpancinglah, aku ingin melihat isi hatimu yang sebenarnya. begitu pinta Aran penuh harap. " Kau mau apa? Berkencan dengan dokter Harun?" Han masih bicara dengan nada biasa. Sial! kenapa dia malah menanyakan itu. " Ia!" setengah berteriak. "Akukan bisa saja beralih hati." Han bangun dari duduk. Dia menatap Aran, senyum di bibirnya muncul. " Baiklah, kau menang." " Apa! Jadi tuan menerima perasaan saya." Sudah bicara dengan semangat. Bunga di hatinya langsung layu saat melihat perubahan wajah Han. Han mengeleng pelan sambil tertawa. " Percaya diri sekali kau." Menyentuh bahu Aran dengan telunjuknya. " Pergilah! aku ingin lihat sejauh apa hatimu berpaling." Lalu pergi meninggalkan Aran karena pintu ruang ganti terbuka. Apa! Malu bercampur kesal. Bagaimana dia bisa sepercaya diri itu si jadi manusia. Dan bagaimana dia tahu kalau tuan Saga dan nona keluar dari ruang ganti! Aran menyusul mendekat, tapi sama sekali tidak mau menoleh pada Han. Bersambung Chapter 225 Memilih Baju (Part 2) Aran berusaha menguasai rasa kesalnya. Menatap punggung laki-laki yang seperti tidak habis menorehkan luka. Padahal hatinya sudah tergores dan teriris tadi. Dia sedang bicara dengan tuan Saga. Aran berjalan cepat mendekat. Untuk merapikan pakaian yang sudah di coba Daniah. ¡° Nona pilih baju yang mana?¡± Aran sudah mendorong gantungan pakaian dari dalam ruang ganti. Membereskan beberapa pakaian yang berserak di lantai. Hah! sudah terjadi apa di ruangan ini hanya mereka yang tahu. Wajah nona saja merah malu begitu. Sementara Daniah mengikuti langkah kaki Saga, sambil menundukan wajah dan tidak mau bersitatap dengan Aran. Malu. Han meninggalkan tuan Saga mendekati Aran, meraih gantungan baju yang di bawa Aran. ¡° Katakan pada pelayan toko untuk membungkus semua termasuk milik tuan muda.¡± Menggoyangkan gantungan baju dorong di depannya. Apa! Kalau akhirnya diambil semua, kenapa harus dicoba-coba segala. Ini sebenarnya aku yang kampungan atau mereka orang kaya yang aneh sih. " Kau belum bergerak juga?" ¡° Baik tuan. Maaf saya melamun.¡± Langsung membuang wajah setelah menjawab kata-kata Han. Aran sedang ingin membalas perbuatan acuh Han padanya. Tapi sialnya laki-laki yang di acuhkannya sama sekali tidak perduli. Membuatnya benar-benar kesal. Dia mencengkram pegangan gantungan baju yang dia pegang. Meremasnya keras sambil membayangkan wajah Han. Cih, besok lagi aku akan menggoda dokter Harun kalau kami bertemu. Aku mau lihat bagaimana reaksimu. Begitu niat hati yang berkobar di hati Aran. Dia sudah terang-terangan menyatakan perasaan hatinya dan mendapatkan balasan acuh. Dan sekarang dia akan mencoba strategi lain. Mengacuhkan duluan. Sementara itu, sambil menunggu semua pakaian di siapkan, seorang pelayan toko meletakan minuman di meja. Daniah meraih dan minum hampir separuh isinya. ¡° Sayang, Aran boleh ikut ke pesta pernikahan Noahkan?¡± Kesempatan untuk membuat keduanya dekat batin Daniah. Dia dan tuan Saga. Aran dan Han, sepertinya akan lucu kalau mereka terlihat malu-malu. Walaupun sepertinya yang akan tersipu hanya Aran. ¡° Hemm.¡± ¡° Aku akan membelikannya baju pesta di sini ya?¡± ¡° Lakukan saja sesukamu.¡± Duduk sambil mencoba mengikat rambut Daniah yang dibuatnya terburai tadi. ¡° Kau mau kemana?" Menahan bahu Daniah. " Duduk! Aku belum selesai mengikat rambutmu.¡± ¡° Mau menemani Aran memilih baju sayang.¡± ¡° Biarkan Han yang melakukannya.¡± Apa! Kenapa harus bawa-bawa saya tuan. Dan tolong bisakah tuan muda menghentikan bermain dengan rambut nona di tempat umum begini. Walaupun pasrah, tapi wajah Daniah terlihat sumringah. Apalagi saat Han terlihat menghela nafas saat mendengat perintah tuan Saga. ¡° Sekertaris Han. Bisa tolong bantu Aran memilih pakaian yang cocok.¡± Bicara sambil dibumbui senyuman. " Saya rasa dia bisa memilih sendiri nona." " Haha, kamu bicara apa si, kamukan ahlinya memilih baju. Semua isi lemariku bukanya hasil pilihanmu." Melihat Han dengan senyum kemenangan. "Jadi bantulah Aran." Ayo pergi sana dan tunjukan keahlianmu pada wanita yang menyukaimu itu. Nona, sampai sejauh apa nona akan menjadi mak comblanng begini. ¡° Aran akan ikut ke pesta dan dia bisa jadi pasanganmu, kau juga senangkan?¡± Aran yang baru saja menyelesaikan tugasnya mendekat, tersipu malu mendengar perkataan Daniah. Dalam hati dia berharap kalau Han akan menjawab ia atau tentu saja. ¡° Pasangan saya, sepertinya nona salah paham. Aran ikut untuk menjaga nona, itukan memang pekerjaannya.¡± Jawaban yang langsung telak menancap ulu hati. Membuat Aran nampak makin kecewa. Daniah sampai ingin menepuk bahunya agar tegar. Cih, Aran laki-laki yang kau sukai jauh lebih dingin dari tuan Saga. Berjuanglah. ¡° Pergi dan pilih baju yang mau kau pakai nanti! Jangan membuat kami menunggumu." Han mengusir Aran dengan sorot matanya, sambil menunjuk deretan pakaian pesta yang berjajar rapi. ¡° Tidak mau. Saya punya baju di rumah tuan.¡± Menjawab tanpa melihat ke arah Han. Kau pasti akan memotong dari gajikukan? Aku tidak akan punya sisa uang kalau aku membeli baju di sini. Lihat harganya saja jantungku sudah berdetak kencang. ¡° Beraninya kau menolak hadiah nona.¡± ¡° Apa!¡± Kaget dan langsung melihat Daniah. Daniah tertawa di tempat duduknya. ¡° Hehe ia Aran aku yang mau membelikanmu baju. Pilihlah mana saja yang kamu suka¡± Akhirnya Saga selesai dengan tugas mulianya. mengikat rambut istrinya. ¡° Maaf nona saya sudah lancang. Saya akan memilih dengan cepat.¡± " Han!" Saga ikut nimbrung setelah tugas beratnya selesai. " Ia tuan muda." " Jangan jual mahal, bantulah dia memilih baju." Memeluk Daniah dan berbisik di telinga Daniah. "Kau harus membayarku nanti atas bantuan ini ya." Daniah hanya merinding geli menjawab. Sambil menatap Han menahan tawa. Apa! Baiklah, tertawalah nona. Aaaaa, lelahnya. Daniah menjatuhkan tubuh ke atas tempat tidur. Sudah menganti baju dengan baju kesukaan suaminya. Sementara Saga masih ada di ruang kerjanya. Selepas makan malam masih banyak yang harus di kerjakan karena tertunda kegiatan mencari baju tadi. Daniah menarik selimut sampai menutupi pinggangnya. ¡° Eh iya, ada yang mau aku tanya pada sekertaris Han.¡± Daniah meraih hp di dalam laci. Bagaimana dia bisa melupakan hal penting tadi. Hadiah pernikahan Noah. Dia bahkan sama sekali tidak terpikirkan setelah semua urusan di toko pakaian selesai. Seharusnya dia membelinya tadi. Hemmm, kira-kira apa ya hadiah yang pas untuk Noah. Tapi tunggu, aku juga belum bertanya siapa mempelai wanitanya. Apa benar Helen atau bukan. Kalau benar Helen bagaimana aku harus bersikap ya? ¡° Sekertaris Han, kau sudah tidur? Ada yang mau aku tanyakan.¡± Pesan terkirim. ¡° Apa tuan muda bersama anda?¡± menjawab dengan pertanyaan. Daniah tersenyum ingin mempermainkan Han. ¡° Ada deh.¡± sambil di bumbui emoji tertawa. Apa! cuma dia baca. Dasar! ¡° Hei, begitu saja marah. Memang kalau tuan Saga ada aku bisa mengirim pesan begini.¡± ¡° Balas pesanku!!!!!¡± dengan tanda seru berderet. ¡° Aku belum menyiapkan hadiah pernikahan untuk Noah, menurutmu apa yang pas untuk kuberikan pada Noah.¡± terkirim. ¡° Nona tidak perlu memberi apa-apa. Tuan muda sudah menyiapkan hadiah untuk tuan Noah.¡± Membalas lagi akhirnya. ¡° Itukan hadiah tuan Saga, akukan juga ingin memberinya hadiah.¡± Masih bersikeras. ¡° Kalau anda mau bumi tetap berputar pada porosnya sebaiknya jangan lakukan itu nona.¡± Apa sich. Akukan hanya ingin memberi Noah hadiah. ¡° Hei, tuan Saga juga tidak akan marah. Memang apa hadiah tuan Saga untuk Noah?¡± " Rumah." Tangan dan jiwa miskin meronta. Apa! memberi rumah untuk hadiah pernikahan apa itu masuk akal! Sekarang Daniah terjebak dengan kebinggungan. Kalau tuan Saga memberi rumah, lantas dia harus memberi Noah apa. " Apa itu masuk akal? hadiah pernikahan rumah." Protes. ¡° Selamat malam nona.¡± Salam penutup sebelum diminta. ¡° Hei aku belum selesai!¡± " Noah menikah dengan siapa?" " Helen!" Kurang ajar dibacapun tidak. Dasar! Akhirnya dilemparkan hp memilih menarik selimut. Belum larut tapi karena kesal membuat Daniah mengantuk. Dia menarik selimut dan memeluk bantal. Menunggu Saga sambil jatuh tertidur. Sementara itu Saga muncul dari pintu, mendapati istrinya yang sudah terlelap. " Niah, kau tidur." Tidak ada sahutan, mengeliyatpun tidak. Membuat Saga mendekat dan menarik selimut. " Kau benar tidur?" Setelah tidak ada respon akhirnya dia masuk ke ruang ganti baju dan menganti pakaiannya. Kembali ke tempat tidur langsung masuk ke dalam selimut. " Hei bangun! beraninya kau tidur duluan." Di bawah selimut tangannya sudah merasai bagian tubuh istrinya. " Niah." " Hemm. Sayang." Mengeliat pelan sambil mengerjapkan mata " Sudah selesai. Ayo tidur sayang." Meringsek dalam dekapan Saga. " Aaaaaa." terlonjak kaget karena tangan di bawah selimut yang mencengkram kuat. " Tidur? siapa yang mau tidur." Saking kagetnya sampai kantukku lenyap. Sisa kantuk di pelupuk mata Daniah sirna. Apalagi saat Saga meneruskan tangannya menuju daerah yang jauh lebih sensitif. Mulai menciumi leher menarik tali baju tidur Daniah. " Kan sudah kubilang kita mulai malam ini." " Haha, apa?" " Membuat Rahardian Wijaya junior." Meraih bibir Daniah. Kau tidak akan bisa memejamkan mata lagi Daniah. Malam merangkak naik, dua manusia itu saling mengikat janji tanpa bicara sekalipun. Bersambung... Chapter 226 Adu Penampilan Hari pernikahan Noah. Semua orang di rumah utama sudah mempersiapkan diri. Hubungan keluarga Saga dan Noah sangat dekat. Keluarga Noah termasuk dalam sepuluh keluarga yang berdiri di belakang Saga, pada saat-saat terberat Antarna Group ketika kehilangan presdir utamanya. Untuk itulah mereka terlihat ikut merasakan kebahagiaan yang di rasakan Noah. Dan tahu sendirikan, moment pesta penikahan seseorang adalah saatnya tampil sempurna apalagi untuk para wanita. Berusaha tampil dengan visual yang sempurna. Apalagi Jen dan Sofi yang akan mengambil banyak foto hari ini. ¡° Kak Jen apa kau tidak berlebihan dengan dandanmu? Orang akan berfikir kalau kau itu mempelai wanitanya kak Noah nanti.¡± Sofia memonitor penampilan Jen dengan hpnya. Sementara Jen asik bergaya dengan berbagai macam pose. Sudah puluhan jepretan kamera hp mengabadikan gayanya. ¡° Kau sudah lelah mengejar kak Raksa ya. Haha.¡± Ejeknya kemudian. ¡°Berterimakasihlah kepada Tuhan kak Jen, karena sudah menyadarkan perbuatan salahmu kak.¡± Sofia menengadahkan tangan lalu mengusap wajahnya di sertai kata amiin. ¡° Diam kamu!¡± Merebut hp yang dipegang Sofi dan melihat hasil foto. Dia berdecak kagum melihat hasil kerja kerasnya berdandan ¡°Aku belum move on ya, hanya sedang berusaha mencari gebetan baru. ¡± Masih ribut bicara sambil menunggu ibu yang belum juga turun. " Sekarang standar kak Jen itu dikit-dikit Kak Raksa, harus sebaik kak Raksa, harus setampan kak Raksa, harus seperhatian kak Raksa." Sofi angkat bahu, tidak habis pikir " Kenapa tidak sekalian harus kak Raksa." Suara tawanya memenuhi ruangan. Wajah Jen masam, kalau boleh dia akan membuat pilihan yang terakhir. Kalau boleh mereput pacar orang. Tapi jelas-jelas Raksa bukan tipe lelaki gampangan. Dan dia cuma dianggap adik. Mungkin itu yang terasa menyakitkan. " Sudah diam kamu anak kecil." Mengomel sambil mencari-cari foto yang paling bagus untuk di posting di sosial media. ¡° Hari ini Han pasti terlihat tampan.¡± Amera tidak tahu malu bicara sambil merapikan ikatan rambutnya. Membuat dua kakak beradik langsung berwajah masam dan mengelengkan kepala. Melihat dandanan Amera hari ini, pakaian yang khusus dia beli untuk dia perlihatkan pada sekertaris Han. Cih. Bersamaan. ¡° Kenapa kalian ini?¡± Kesal sendiri dengan tanggapan kakak beradik itu. Memang apa salahnya suka pada Han. Diakan? Diakan apa ya? Apa ya kelebihanya? Terserahlah, yang penting aku suka padanya. Titik. Tipe orang jatuh cinta yang tidak mau tahu yang lainnya. Yang penting dia suka, mau orang bilang apa terserah saja. Di mata Amera, Han yang berdiri di belakang kak Saga bahkan jauh lebih keren dari orang yang di lindunginya. Dia sudah mengintip beberapa kali tadi, tapi belum melihat mobil Han memasuki halaman rumah. ¡° Kak Mera, sampai kapan kau akan menyerah. " Sofi berkacak pinggang sambil geleng-geleng kepala. " Daripada Han bukankah kamu bisa memilih teman-teman kak Saga yang lain. Yang lebih normal. Kau sudah jelas-jelas di tolak olehnya¡± Sofi menimpali. " Bukannya itu tidak tahu malu namanya." " Kenapa? ini namanya memperjuangkan cinta tahu. Selama Han masih jomblo dia bebas untuk diperjuangkan." " Cih, dia saja cuma menggangapmu anak kemarin sore. Apa pernah dia menggangap kita wanita dewasa, seelegan apapun penampilan kita dia selalu berfikir kita ini cuma bocah. Adik-adik kecil kak Saga." Ya, begitulah mereka di hadapan Han. "Bahkan aku yang sudah setinggi dan secantik ini." jen mengibaskan rambut. " Hanya dia anggap butiran debu." " Tapi akukan lebih cantik dari kamu Jen." Amera penuh percaya diri. " Haha." Sofi hanya bisa tertawa demi mendengar perdebatan tidak penting kedua gadis di depannya. ¡° Eh ibu sudah siap. Ayo berangkat.¡± Akhirnya melerai perebutan posisi yang paling cantik siapa. Ibu menuruni tangga. Dia terlihat menawan dan masih terlihat cantik dalam dress warna terangnya. Ibu melihat Amera dengan tatapan sedikit kesal, karena tahu kalau gadis itu sudah menyerah tentang Saga. Dan bahkan sekarang berteman dengan Daniah. ¡° Di mana Saga, dia belum turun?" ¡° Pak Mun bilang kita duluan bu. Kak Saga berangkat bersama kakak ipar dan Han nanti.¡± Jen menjawab sambil mengambil kunci mobil dan tasnya. ¡°Ibu, menyerahlah. Kak Saga itu hanya milik kakak ipar begitu pula sebaliknya.¡± Jen menduga Kak Saga sengaja tidak berangkat bersama karena tidak mau mempertemukan kakak iparnya dengan ibu. Wajah masam ibu masih tergambar jelas kalau melihat kakak ipar. ¡° Memang ibu mengatakan apa?¡± Memandang Jen tidak suka. ¡° Kak Niah itu gadis baik bu.¡± Amera menimpali. ¡° Kau juga ikut-ikutan!¡± Menyesal sudah susah payah membawa gadis di hadapannya ini. Bukannya membantu memisahkan Saga dan Daniah malah ikut-ikutan mendukung. Sementara itu di luar rumah. Han baru saja keluar dari mobil saat melihat seorang gadis berjalan dari rumah belakang. Sial! Dia sengaja ya berdandan seperti itu. " Selamat pagi tuan?" Saat Aran sudah mendekat. Gadis itu mengangukan kepala sambil tersenyum. Memiringkan kepalanya, sengaja ingin menunjukan model rambutnya yang berbeda dari biasanya. Ayo komentar, komentari rambutku. Kau kesalkan melihat rambutku. Sampai kepala Aran terasa pegal Han bahkan tidak berkomentar sedikitpun. "Tuan, bagaimana penampilan saya? Ini baju yang tuan pilihkan untuk saya. Baguskan?" Menepuk-nepuk baju dan memegang rambut lagi. Sangat ingin di komentari. Walaupun bukan pujian sekalipun, hatinya akan senang dan berbunga. " Tentu saja bagus. " Senyum cerah terkembang di wajah Aran, tapi langsung lenyap setelah mendengar kalimat Han selanjutnya. "Itu baju mahal yang di belikan nona, tentu saja bagus." Apa! Kau benar-benar tidak mau mengomentari penampilanku ya! Baiklah, Hari ini akupun akan acuh dan tidak perduli padamu. " Tuan, aku sudah memantapkan hati lho, kalau ada laki-laki yang menyukaiku aku akan coba menyukainya." Bicara dengan kata setegas mungkin. Berharap apa yang ia katakan akan membuat Han goyang. Sejenak tercipta kebisuan diantara mereka. Aran menatap pintu rumah utama. " Ternyata perasaanmu hanya sedangkal itu ya?" Deg, Aran malah seperti tertampar sendiri. Upayanya membuat Han goyah malah menjadi bumerang menunjukan ketidak setiaanya. Bodohnya aku, kenapa mengatakan semua itu setelah aku mengemis permohonan maaf padanya. " Baguslah." Han bicara lagi. " Tuan tidak!" meraih tangan Han cepat. "Aku akan menunggu." Melepaskan tangan cepat setelah mata laki-laki itu menatap tajam tangannya. " Rambutku akan kembali normal, aku hanya meluruskannya sementara." Merasa kalah telak. kepercayaan diri yang sudah dia siapkan dari semalam berguguran dengan cepat. Bersikap jual mahal di hadapan sekertaris Han sepertinya hanya mimpi di siang bolong. Rencananya gagal bahkan sedari awal. " Aku akan menunggu tuan." Menyerah kalah. Han tersenyum samar di ujung bibirnya. Tapi dalam hati dia bernafas lega. " Siapa dia Han?" Amera mematung menunggu jawaban. Sementara Aran terkejut langsung menundukan kepala sopan karena melihat ibu dan adik-adik tuan Saga. " Selamat pagi nyonya. Kalian sudah mau berangkat." Tidak menjawab pertanyaan Amera. " Ia." Sofi menarik tangan Amera yang masih membantu. " Kak Mera ayo pergi." Sofi sampai mendorong Amera dari belakang. Supaya dia bergerak. Tapi sia-sia. Gadis itu hanya bergeser beberapa jengkal. " Siapa kamu?" Tidak mendapat jawaban dari Han dia bertanya langsung. Pada gadis di samping Han, yang dilihatnya dari kejauhan bicara sedekat itu dengan Han. Bahkan sampai mereka berpegangan tangan. Tangan Amera terkepal, dia sendiri bahkan hanya untuk menyentuh tangan itu tidak pernah punya kesempatan. " Dia sopir sekaligus pengawal kakak ipar, pengganti Leela. Ayo pergi, kak Jen sudah mengambil mobil." Tapi Amera tetap tidak bergerak. Ibu bahkan sudah melangkah pergi menuju mobil yang di kendarai Jen. Gadis itu sudah membunyikan klakson mobil beberapa kali. "Ayo kak Mera." " Apa kalian berkencan?" Suara Amera terdengar kesal sekaligus getir. Menatap Han dan Amera bergantian. " Ia." Han. " Tidak." Aran. Apa-apaan ini. " Bawa nona Amera pergi!" Aaaaaa, kenapa aku yang harus kena sialnya si. Sofi menciut dengan pandangan Han. Menarik paksa Amera yang semakin tidak terima. Karena dia menjadi pihak yang di usir. " Huh! Berhentilah memakai trik murahan ini Han. Apa kau pikir aku akan percaya." Amera tertawa sambil mengibaskan ujung rambutnya. " Kau mau pura-pura berkencan?" Dia berjalan mendekati Aran yang juga terbelalak mendengar kata-katanya barusan. " Halo, salam kenal aku Amera. Laki-laki yang ada di sampingmu itu akan jadi calon suamiku." Menatap Han dengan puas setelah mengatakan apa yang mau dia katakan. " Apa nona sudah selesai bicara?" Menunjuk mobil Jen, yang sudah terlihat tidak sabar. " Ia, ia. sebentar kenapa si Jen. Aku sedang menandai kepemilikanku!" Berteriak sambil melirik Aran. Yang terlihat belum bisa mengembalikan mode santai wajahnya. Dia antara terkejut dan juga kesal. Karena tidak bisa membalas nona di depannya karena statusnya. Apa dia bilang? menandai kepemilikan! Sialnya kenapa dia cantik begitu si. " Siapa dia tuan?" Bertanya setelah bisa mengatur nafas dengan tenang. " Kau tidak dengar dia bilang, aku calon suaminya berarti dia calon istriku." Menjawab santai, tapi bagai sambaran petir untuk Aran. " Berhenti bercanda tuan!" Kali ini Aran berhasil menunjukan rasa kesalnya. " Kenapa?" Menatap Aran lekat. "Kau bilang mau berpaling darikukan?" Menarik ujung rambut Aran yang terlihat berbeda dari biasanya. " Pergilah, kalau kau mau pergi." senyum tipis muncul. Ntah kenapa Han merasa senang dengan kemunculan Amera barusan. Apalagi saat mendengar gadis itu memproklamirkan kalau dia adalah calon suami. Wajah Aran berubah menjadi sangat kesal ditangkap jelas oleh Han. Jangan mimpi untuk lepas dariku. Aran terikat semakin kuat pada perasaan yang sudah dia berikan untuk Han, karena kemunculan pesaing baru, yang sepertinya tidak bisa dia anggap enteng. Bersambung Chapter 227 Pernikahan Noah Pesta pernikahan. Pandangan Daniah menyapu semua hal yang di lihatnya. Jamuan mewah di meja makan. Dekorasi indah di setiap sudut ruangan. Inilah pernikahan yang diimpikan semua orang. Apalagi sepasang penganting yang akan mengikat janji sehidup semati di tempat ini adalah pasangan yang saling mencintai. Kenangan Daniah mendapati hari itu, hari dimana dia menikah dengan tuan Saga. Tapi semua kenangan itu rasanya tidak seindah yang ia lihat saat ini. Sehingga ia mengusirnya jauh. Tidak perlu membongkarnya lagi. Saat ini ia bahagia bersama laki-laki yang mengengam tangannya ini. Mengubur semua yang menorehkan luka dan hanya melihat cinta tuan Saga. Itu yang akan ia lakukan. ¡° Sayang.¡± Berjalan menuju ruangan khusus yang di sediakan untuk keluarga. ¡° Hemm.¡± ¡° Noah menikah dengan siapa? Helen?¡± Langkah kaki Saga terhenti mendengar pertanyaan Daniah. Reflek yang berjalan di belakangnya juga berhenti. Menunggu. Dia menatap istrinya penuh curiga. Kenapa? Apa nama Helen masih terlarang di sebut di depanmu? Ini pertama kalinya setelah sekian lama aku menyebut nama Helen. ¡° Aku hanya penasaran. Haha.¡± Menjatuhkan kepala di bahu Saga. Kenapa menatapku dengan pandangan begitu si. ¡° Kita menyapa paman dan bibi dulu ya. Baru bertemu dengan calon pengantin. Kau akan melihatnya sendiri nanti.¡± Tidak terdengar kesal, apa semua baik-baik saja pikir Daniah. Seharusnya begitu, walaupun Helen sekalipun mempelainya dia sudah menyiapkan hatinya. Karena Daniahpun tahu bagaimana perasaan Noah untuk wanita itu. ¡° Eh, ia sayang.¡± Dia tidak marahkan? Han membawa mereka menuju sebuah ruan tunggu. Aran berdiri di luar dan tidak ikut masuk. Orang tua Noah langsung bangun dari duduk mereka saat melihat siapa yang masuk ke dalam ruangan. " Saga!" Kedua orang tua Noah terlihat senang melihat siapa yang datang. ¡° Paman, bibi selamat untuk pernikahan Noah.¡± Saga mendekat, sementara Daniah mengikuti di sampingnya. Han sudah keluar menunggu bersama Aran. Kebahagiaan yang tergambar jelas dari wajah orangtua Noah. Pernikahan akan selalu menjadi moment haru bagi orangtua. Melepaskan kepergian anak mereka dengan tangis bahagia. Walaupun ada segurat sedih yang juga muncul, karena anak mereka akan jauh lebih mencintai pasangannya. Namun orangtua akan selalu bahagia melihat anaknya bahagia. ¡° Saga terimakasih untuk semuanya ya. Pernikahan ini dan semuanya.¡± Ibu Noah menepuk bahu Saga. ¡° terimakasih sudah menjaga Noah sampai hari ini.¡± Saga tersenyum tulus menjawab. Mengatakan kalau apa yang dia lakukan tidak sebanding dengan apa yang paman dan bibi berikan padanya. Sekarang pandangan wanita itu beralih pada Daniah. Gadis yang berdiri di samping Saga dengan canggung. Tapi terlihat tersenyum ramah. ¡° Bibi, kenalkan. Istriku.¡± Saga mengusap kepala Daniah dan menyelipkan rambut di telinga istrinya. ¡°Dia cantikkan?¡± Bicara dengan penuh kebanggaan. Kalau tidak ada wanita cantik lainnya di dunia ini selain istrinya. " Aku mencintainya." Sekali lagi, Daniah dibuat terkejut dengan sisi kekanakan Saga yang ingin memamerkan kebahagiaan pada orang-orang yang di rasa dekat dengannya. Ku mohon jangan mengatakan yang tidak-tidak tuan muda. Daniah hanya bisa menahan malu. ¡° Tentu saja, istrimu sangat cantik. Terimakasih ya nak sudah membuat Saga bahagia.¡± Ibu Noah meraih tangan Daniah. Memeluknya hangat. Menepuk bahunya. Mengusapnya perlahan.¡° Terimakasih sudah berada di samping Saga dan membuatnya bahagia.¡± Kenapa ini, akukan jadi ingin menangis. Daniah bisa merasakan buliran kasih sayang yang mengalir dari mulut ibu Noah untuk tuan Saga. Bahwa kasih sayang yang tidak hanya sekedar kata-kata. Ah, andaikan ibu juga seperti ini sikapnya padaku. Dalam hati Daniah membandingkan sikap yang diterimanya dari ibu mertuanya. Pembicaraan mereka terjeda saat ketukan pintu terdengar. Lalu ibu mertua yang baru saja dia pikirkan masuk. ¡° Kamu di sini? Noah mencarimu dari tadi.¡± Menatap Daniah sebentar. Melihat tangan yang di gengam ibunya Noah. Ada yang berdesir di hatinya. Kenapa semua orang menyukaimu? Ada banyak undangan yang sudah menunggu untuk menyapa Saga. Yang mau tidak mau membuat laki-laki itu meninggalkan istrinya. Walaupun dia berat melakukannya, tapi lebih-lebih tidak mau mengekspose wajah istrinya. Terlebih lagi teman-temannya yang sudah berkerumun dan mengatakan ingin menyapa Daniah. Rasanya dia ingin menyumbat mulut dokter Harun yang sudah menyebar berita kemana-mana. ¡° Jangan berkeliaran sesukamu. Masuk ke ruang tunggu yang di siapkan Noah setelah acara selesai.¡± ¡° Ia sayang.¡± Memang aku juga mau kemana si, inikan juga cuma di gedung. ¡° Kau kemarilah.¡± Menunjuk Aran. ¡° ia tuan.¡± Mendekat gelisah. Aku sudah seperti orang yang selalu melakukan kesalahan di depan tuan Saga. ¡° Pastikan kau bekerja dengan benar.¡± ¡° Baik tuan.¡± Kuliah panjang kali lebar sudah di dapatkan Aran tadi pagi. Tentang prosedur yang harus dia lakukan saat berada di tempat keramaian seperti ini. Ntah kapan sekertaris Han membuatnya, tapi dia sudah membuatnya. Protokoler yang harus dilakukan Aran. Jangan biarkan siapapun mendekati nona. Apalagi laki-laki, walaupun kau mengenalnya. Dokter Harun sekalipun. Intonasi di pertegas menyebut nama dokter Harun. Huh, sepertinya dia kesal sekali dengan dokter Harun. Gumam Aran. Ide gila untuk menyapa dokter Harun sudah menguap di kepala Aran. Dia punya saingan membuatnya tak mau bersikap jual mahal. Dan pestapun di mulai setelah sepasang pengantin mengikat janji suci mereka. Noah dan Tamara terlihat sangat sumringah. Menerima ucapan selamat dari semua orang. Daniah melihat semua keharuan dan kebahagiaan bercampur aduk. Matanya berkeliling mencari sesosok bayangan. Kerumunan laki-laki yang selalu membicarakan bisnis dimanapun berada. Dia bahkan tidak bisa melihat tubuh tinggi Saga yang di kelilingi banyak sekali orang. Sepertinya aku tidak melihat Helen. Apa Noah tidak mengundangnya ya? Persiapan hati dan mental untuk bertemu Helen sepertinya tidak ada gunanya, karena gadis itu bahkan tidak terlihat batang hidungnya. Tidak ada yang mencari atau membicarakannya. Bahkan ibu, Jen ataupun Sofi. Daniah benar-benar dibuat terkejut tadi, kalau ternyata mempelai wanita Noah bukanlah Helen. Padahal nama gadis itu yang terngiang di kepalanya. Mata Daniah menangkap bayangan Jen yang terlihat menikmati pesta bersama teman-temannya. Ya, ini adalah pernikahan Noah. Seseorang yang sudah dianggap keluarga oleh tuan Saga. Semua orang terlihat larut dengan kebahagiaan. Aran juga menikmati hidangan pesta dengan lahap. Sambil matanya berkeliling, seperti mencoba menangkap wajah-wajah yang di kenalnya di masa lalu. " Niah. Daniah! Benar ini kamu." Wajah yang tidak asing di ingatan Daniah tertawa senang. Aran yang terkejut kenapa tiba-tiba ada laki-laki yang menyapa nona mudanya. Laki-laki! bicara dengan nona, tamatlah riwayatku! " Hai" Canggung. " Abas, sudah lama ya. Apa kabar?" Kenapa aku bisa bertemu dengannya di tempat ini si. " Apa kau berteman dengan salah satu pengantin? Aku Wedding organizer yang mengurus pernikahan ini." Hah! Benar dia memang bekerja sebagai WO sejak dulu. Sejak kami pacaran. " Haha, ia. kebetulan aku mengenal salah satu mempelai." Daniah, kau harus pergi dari sini. Kabur sekarang sebelum terjadi hal yang tidak diinginkan. Begitu dia sedang berfikir, alasan apa yang bisa dia pakai tanpa perlu menjelaskan apapun. Daniah melirik Aran yang masih siaga. " Kalau begitu aku..." " Niah, aku senang bertemu denganmu." " Apa yang anda lakukan tuan." Aran menggengam tangan laki-laki yang ada di depannya. Karena ia ingin meraih tangan Daniah. " Jangan menyentuh." " Haha, Aran lepaskan tanganmu." memukul punggung tangan Aran pelan. " Dia." menunjuk Abas yang tangannya sudah di lepaskan Aran begitu saja. Giliran laki-laki itu yang penuh tanda tanya. " Dia adalah." Kalimat Daniah menggantung, binggung harus memperkenalkan Abas sebagai siapa. Tidak mungkinkan aku bilang dia mantan pacarku. " Dia siapa sayang." Sebuah suara diikuti tangan yang melingkar di leher Daniah. Kepala yang kemudian bersandar di bahu. Dan bibir yang mencium pipi kirinya. Membuat tubuh Daniah terasa kaku seperti tersengat listrik karena terkejut. " Siapa dia?" dingin. Sambil menatap kesal, dengan kepala masih bersandar di bahu Daniah. Melihat laki-laki di hadapannya dengan sorot membunuh. Abas terlihat sangat terkejut, karena mengenali laki-laki yang sedang memeluk Daniah di depannya. Habislah aku, bagaimana aku tidak melihat tuan Saga muncul. Aran Sementara Han mengelengkan kepala kecewa sambil melihat Aran. Dia mengenali siapa laki-laki yang duduk di hadapan nona mudanya. Mantan kekasih yang terakhir, sekaligus mantan pacar terlama nona mudanya. Bersambung Chapter 228 Mantan Semoga pesta penikahan Noah dan Tamara hanya akan memiliki kenangan indah untuk semua orang. Bukan hanya menjadi pembuka ikatan cinta mereka tapi juga untuk tamu undangan tanpa terkecuali. Semoga ya. ¡° Siapa kau?¡± Saat ini Saga sudah duduk di samping Daniah. Menarik kursi yang tadi di duduki Aran. Sementara Aran sendiri sudah berdiri dengan wajah tegang. Dia mendapat lirikan maut tadi saat menyingkir ke samping nonanya. Tuan Saga terlihat sangat kecewa dengannya. Aran menyadari kesalahannya di mana. Aku benar-benar sudah melakukan kesalahan fatal kali ini. Saga Meraih tangan Daniah. Mengikatkan jemari mereka satu sama lain di atas meja. Menunjukan status kepemilikan gadis di sampingnya pada laki-laki yang duduk di depannya. ¡° Kenapa bicara dengan istriku?¡± Pertanyaan yang kedua menyusul, menunjukan ketidaksukaan. Meraih tangan Daniah dan menempelkannya di pipi kirinya. Abas menatap bibir yang menempel di tangan Daniah. Hatinya bergetar. Sementara Daniah lagi-lagi belum menemukan jawaban yang yang paling pas untuk dia berikan. Kata mantan pacar masih terlalu sulit keluar dari mulutnya. Jangankan untuk menjawab Saga, untuk mengatakannya pada Aran saja tidak terucap tadi. ¡° Tuan Saga.¡± Abas terlihat berusaha menguasai gejolak hatinya. Antara tidak percaya dan kecewa. Dia masih duduk diam di kursinya. Tapi terlihat kakinya bergetar pelan. Bagaimana Daniah bisa menjadi istrinya? Apa yang sudah dilakukan Niah sampai bisa terikat dengan laki-laki berkuasa ini? Abas bisa dengan jelas melihat ekspresi wajah Daniah. Bahwa gadis itu sedang terlihat cemas. Takut dan kuatir juga muncul di matanya. ¡° Kau mengenalku rupanya.¡± Ucap Saga datar. Tapi pandangannya belum melunak. Cara bicaranya masih membuat orang tercekik dan susah menarik udara untuk bernafas. Suasana pesta yang masih berlangsung. Alunan musik dengan nyanyian artis ibu kota yang memenuhi udara. Tidak membuat suasana mencair. Memang ada orang yang tidak mengenalmu. Daniah sedang memutar otak untuk lepas dari situasi ini. Mengaku, semua pasti akan di luar kendalinya. Pergilah Abas, pergilah. Perpisahan Daniah dan Abas terjadi secara baik-baik. Walaupun mereka tidak saling berhubungan selepasnya, tapi mereka tetap sepakat untuk berteman. Daniah akan merasa sangat bersalah, kalau sampai hal buruk menimpa laki-laki itu karenanya. Karena alasan cemburu buta suaminya. ¡° Tentu saja tuan. Saya beberapa kali menangani event anak perusahaan Antarna Group.¡± Perusahaan Abas adalah Event Organizer besar di ibu kota. Dia dipercaya menangani acara besar pemerintahan atau perusahaan. Dan khusus Wedding Organizer memang dia sendiri yang menanganinya secara langsung. ¡° Jadi siapa kau? Apa hubunganmu dengan Niahku.¡± Kata-kata Saga yang penuh penekanan. Ditujukan untuk Abas. ¡° Sayang.¡± Daniah berusaha mengalihkan perhatian suaminya. Saga menoleh melihat istri di sampingnya. Menunggu jawaban sambil mencium jemari tangan mereka yang terkait. ¡° Dia.¡± Daniah masih tampak ragu. ¡° Daniah dan saya pernah saling mengenal di masa lalu tuan.¡± Akhirnya Abas yang menjawab karena melihat ketidaknyamanan Daniah. ¡° Apa maksudnya?¡± Tidak berpaling dari wajah Daniah. Menunggu jawaban dari mulut istrinya. Di bawah meja tangan Daniah sudah mulai berkeringat. ¡°Siapa dia sayang?¡± suara Saga sudah terdengar tidak sabar. ¡° Saya hanya mantan Daniah di masa lalu tuan.¡± sekali lagi jawaban Abas yang dianggapnya bisa menyelamatkan Daniah, malah hanya menyiram bara dalam sekam. Membuat kecemburuan semakin berkobar. ¡° Tutup mulutmu!¡± Mendengar kata mantan pikiran Saga langsung kacau. ¡°Aku tidak bertanya padamu!¡± Mantan. Jadi laki-laki ini salah satu mantan sialan yang pernah ada dalam hidup istriku. Tangannya pasti pernah menyentuh Niahkukan. Bahkan mungkin bibirnya. Cih. ¡° Dia mantan pacarmu?¡± Jemari Saga menyentuh dagu Daniah. Masih sambil tersenyum, tapi nadanya sudah setajam silet. Bagaimana ini? Abas bodoh sekali si, kenapa kau menjawab kau mantan pacarku. Seharusnya bilang kita teman saja sudah cukup. ¡° Tuan Saga, kami hanya saling menyapa. Saya tidak tahu kalau Niah adalah istri anda.¡± Aaaaaaa, Abas hentikan. Tuan muda ini tidak akan mendengar penjelasan apapun. Dia hanya percaya apa yang dilihat matanya. Aku bicara padamu. Aku bicara dengan laki-laki lain tanpa sepengetahuannya, terlebih itu mantan. Hanya itu intinya. ¡° Niah.¡± Saga tergelak, tapi segera berhenti. "Siapa yang mengizinkanmu menyebut nama istriku.¡± Bangun, mendorong kursi dengan kaki. Lalu menarik tangan Daniah. Membuat gadis itu terlonjak dan langsung berdiri. ¡°Jangan pernah mendekati istriku!¡± ¡° Sayang, kami tidak.¡± Daniah meringis saat gengaman erat Saga menyakiti pergelangan tangannya. ¡° Untuk alasan apapun.¡± Sorot mata Saga yang sekilas di berikan pada Daniah, membuatnya langsung menutup mulut. ¡° Kau paham itu, Mantan.¡± Abas tidak menjawab. Dia bangun dari duduknya. hanya bisa menatap punggung Daniah yang berjalan dengan cepat karena tangannya tertarik. Mengikuti langkah kaki Saga. Beberapa orang yang terlihat berpapasan dan ingin menyapa langsung menyingkir. ¡° Tuan Abas.¡± Sekertaris Han, sekertaris tuan Saga, kenapa dia masih di sini. Kenapa dia duduk? Dan kenapa dia tahu namaku! ¡° Ada apa?¡± Abas tahu bagaimana reputasi laki-laki yang ada di hadapannya ini. ¡° Saya tahu kalau nona dan tuan tidak sengaja bertemu di sini. Jadi saya harap cukup sampai di sini saja. Jangan pernah ada kebetulan kedua kalinya.¡± Abas tahu maksudnya. ¡° Untuk kebaikan anda dan nona Daniah.¡± Cih, padahal kami hanya bicara. Itupun tidak banyak karena tuan Saga sudah muncul. ¡° Apa saya boleh bertanya?¡± Han terdiam, tapi dia tidak bangun dari duduknya. Menjadi sinyal bagi Abas untuk melanjutkan kalimatnya. ¡° Apa tuan Saga memaksa Daniah untuk menikah dengannya?¡± Tidak ada hipotesa yang menurut Abas masuk akal, kenapa sampai gadis itu bisa menikah dengan presdir Antarna Group. Jika bukan karena Daniah dipaksa untuk menikah dengannya. ¡° Itu bukan urusan anda.¡± Tegas Han bicara. ¡° Apa Niah bahagia?¡± Sekarang aku benar-benar ingin memukul wajahnya. Han geram mendengar pertanyaan itu. Kemunculan laki-laki di hadapannya benar-benar diluar prediksinya. Apalagi saat dengan santainya Abas memanggil nama Daniah dengan panggilan akrab Niah. Membuatnya merasakan kemarahan Saga, dan itu membuatnya kesal juga. ¡° Tuan, kalau saya boleh memberi saran. Hiduplah seperti anda biasanya sebelum bertemu dengan nona muda kami malam ini. Jangan pernah mencoba mendekati nona Daniah walaupun itu sebatas mengirim pesan padanya.¡± Dia bahkan sampai mengancamku begini. Niah, apa kamu tidak apa-apa. Padahal aku senang sekali bertemu denganmu setelah sekian lama. ¡° Apa Niah bahagia? Jawab saja pertanyaan saya.¡± ¡° Tentu saja, tuan muda dan nona muda kami hidup dengan bahagia. Apa jawaban itu sudah cukup?¡± Abas tidak menjawab apapun sampai Han berlalu dari hadapannya. Pesta pernikahan ini tak lagi meriah dan menarik baginya. Kenangan senyuman Daniah terlintas di kepalanya. Tapi langsung terkubur dengan wajah dingin tuan Saga yang sudah memberinya peringatan. ¡° Sayang, aku mohon hentikan.¡± Bantal kursi sudah melayang mengenai tubuh Aran. Gadis itu tidak bergerak dan hanya menundukan kepala. Daniah menahan tubuh Saga sekuat tenaga. ¡° Aran tidak bersalah, Abas!¡± ¡° Tutup mulutmu! Beraninya kau menyebut nama laki-laki lain sekarang.¡± Menoleh pada Aran lagi. ¡°Dan kau! Apa Han tidak mengajarimu bagaimana bekerja!¡± Kilatan kemarahan yang siap habis tubuh Aran. Jangan sampai nona melakukan sesuatu yang tidak di sukai tuan muda. Kata-kata itu jelas terngiang-ngiang. Berputar di kepala Aran sekarang. Membuatnya semakin menundukan kepala dalam. Menatap bantal kursi yang jatuh di dekat kakinya. Bagaimana ini? Dimana sekertaris Han? Daniah panik menatap pintu. Saat Saga berjalan mendekati Aran, Daniah berjalan cepat lalu berdiri di hadapan Aran. Merentangkan tangannya melindungi gadis yang tertunduk itu. ¡° Ini bukan salah Aran sayang. Dia tiba-tiba muncul dan duduk di depanku. Kumohon tenangkan dirimu. Aku bahkan tidak bicara banyak dengannya karena kau sudah muncul.¡± Daniah menggigit bibir menyesali kata-katanya. ¡° Karena aku muncul? Huh! Lantas bagaimana kalau aku tidak datang. Apa kau akan tertawa sambil bernostalgia tentang cinta masa lalumu dengannya!¡± Setengah berteriak. Dia memang gila, lebih tidak waras lagi kalau sedang cemburu. ¡° Sayang.¡± Daniah memohon mengatupkan tangan di depan wajahnya. ¡° Minggir! Duduklah.¡± Tidak bergeming. ¡° Tidak mau! Sudah kukatakan ini bukan salah Aran.¡± merentangkan tangan lagi. ¡° Bukan salahnya! Kau pikir untuk apa aku membayarnya. Untuk diam saja melihatmu bicara dengan laki-laki lain.¡± Menuding tajam Aran dengan pandangannya. Gadis itu tertunduk lagi di balik punggung Daniah. ¡° Maafkan aku. Aku yang salah.¡± Jangan pukul Aran, hanya itu yang ada di kepala Daniah. Gadis itu tidak bersalah sama sekali. Saat Daniah berusaha menenangkan Saga dengan kata-katanya pintu terbuka pelan. Sekertaris Han muncul, membuat Daniah sedikit bernafas lega. Apa! kenapa kau diam saja. Bawa Aran pergi dari sini! Tapi sepertinya Han tidak ingin melakukaan apapun. Dia hanya menjadi penonton. ¡° Sayang!¡± ¡° Duduk!¡± Saga menarik tangan Daniah. Lalu mendorongnya ke sofa. Memperkirakan kalau Daniah akan terduduk di sofa yang empuk. Tapi dia langsung menghentikan langkah dan terbelalak terkejut saat Daniah bukannya terduduk di sofa tapi malah jatuh membentur lantai. ¡° Huuuuuu.¡± Suara keras terdengar dari mulut Daniah. Sambil memegangi kaki dan sepatunya. ¡° Niah!¡± Saga langsung berlutut. ¡° Kenapa kau bisa jatuh?¡± Menyentuh bahu, memeriksa kaki dan semua bagian tubuh. ¡° Kau yang mendorongku!¡± memukul bahu Saga kuat. ¡°Aaaaaa. Huuuuu.¡± Terdengar isak penuh dramatisasi. ¡° Maaf. Maaf kan aku. Aku mendorongmu ke sofa, sungguh. Aku tidak mendorongmu ke lantai.¡± Masih terdengar kuatir. Memeriksa ulang kaki, melepaskan sepatu yang dipakai Daniah. Dan sekali lagi memeriksa kaki sambil memijatnya pelan. " Mana yang sakit? Maaf aku tidak sengaja." dengan mata panik dan wajah memelas. ¡° Bohong! Kau mau membunuhkukan.¡± Daniah berteriak sambil menepis tangan Saga yang memijat kakinya pelan. ¡° Apa kau sudah gila ya.¡± marah karena tangannya di tepis. ¡° Aaaaa, lihat, setelah mendorongku kau masih berteriak padaku.¡± Membalikan wajah sambil tersedu-sedu. ¡° Maaf. Maafkan aku.¡± Memeluk Daniah erat. Walaupun gadis itu meronta melepaskan diri. ¡° Niah maaf aku benar-benar tidak sengaja.¡± ¡° Lepaskan aku.¡± Terisak lagi. Mengoyangkan bahu. Tapi Saga lebih mempererat pelukannya. ¡° Maaf sayang. Niah sayang maafkan aku, aku benar-benar tidak sengaja.¡± Dibelakang punggung Saga, Daniah mengerakan tangannya cepat. ¡° Keluar! Keluar sekarang!¡± berteriak tanpa suara yang ditujukan untuk Aran. Gadis itu terkejut menunjuk dirinya dengan jari. Lalu melihat Han yang berdiri di depan pintu. ¡° Keluar sekarang!¡± sekali lagi berteriak tanpa mengeluarkan suara. ¡° Kakiku sakit.¡± Rengek Daniah lagi. ¡° Mana yang sakit. Biar aku melihatnya.¡± Mau melepaskan pelukan. ¡° Aaaa, sakit.¡± Giliran Daniah yang memeluk Saga karena melihat Aran belum keluar ruangan. " Sayang, hiks. Apa kamu semarah itu sampai mendorongku?" Aran sudah keluar dari pintu. " Maaf, aku benar-benar tidak bermaksud menyakitimu." " Tapi kamu masih marahkan." " Tidak. Aku tidak marah." Tuan muda anda bahkan sudah bisa diperdaya oleh nona sekarang. Han menutup pintu pelan tanpa suara. Epilog " Maafkan saya tuan." keluar dari lubang singa masuk mulut harimau. Mungkin itu perumpaan yang tepat bagi Aran. Gadis itu berlutut sambil tertunduk melindungi dirinya saat tangan Han mendekat ke arahnya. " Bodoh!" Dia tidak memukulku. Han duduk berjongkok. Beraih dagu Aran. membuat gadis itu mendongak. " Kau tidak apa-apa? Apa tuan muda memukulmu?" Aran mengeleng, nona sudah menyelamatkannya. Dia hanya di lempar bantal kursi. " Bisakah kau bekerja dengan benar sekarang? Kau sudah melihat bagaimana menakutkannya tuan muda kalau cemburukan?" Aran menggangukan kepalanya berulang. " Bangunlah!" Aran mengikuti langkah kaki Han. " Kita mau kemana tuan?" " Menyiapkan kamar untuk tuan muda dan nona." Hah! Apa maksudnya si? Kamar? Bersambung Chapter 229 Pengantin Baru Saga dan Daniah tidak kembali ke aula pesta. Mereka mengadakan pesta mereka sendiri di ruang tunggu VVIP, setelah berakhirnya drama cemburu tuan muda tentunya. Daniah masih duduk di pangkuan Saga saat kedua mempelai yang sedang berbahagia masuk. Tamara yang terlihat terkejut mencegah Noah untuk melangkah lebih dekat. ¡° Bagaimana kalau kita menggangu mereka sayang?¡± Tamara adalah orang yang pandai melihat situasi, dia bahkan bisa melihat lirikan kesal Saga barusan. Karena kemunculan mereka yang tiba-tiba. ¡° Haha, memang itu tujuannya.¡± Noah tertawa sambil mengandeng tangan Tamara masuk. Diluar tadi saja dia sudah bersitegang dengan Han. Sia-sia usahanya kalau sampai harus keluar lagi. ¡° Bisa-bisanya mereka malah berduaan di tengah acara kita. Semua orang mencari Saga di luar tadi tapi dia malah bermesraan di ruang tunggu.¡± Menggeleng tidak percaya. Bukan hanya teman-temannya yang mencarinya. Kolega perusahaan ataupun para petinggi di pemerintahan juga terlihat sibuk menanyakan keberadaannya. Dan orangnya malah asik berduaan dengan istrinya di ruang tunggu. Akhirnya mereka dengan tidak tahu malunya masuk, walaupun sudah mendapat pandangan tidak suka dari Saga sekalipun. ¡° Sayang, lepaskan aku!¡± Daniah memaksa turun dari pangkuan Saga, walaupun laki-laki itu menahannya. Dicubitnya kaki Saga. Membuatnya mengaduh keras. Akhirnya ia melepaskan tangan yang memeluk pinggang. Membiarkan Daniah mengeser tubuhnya, terduduk malu di sofa. Melihat Noah dan istrinya menahan senyum. Kenapa mereka melihat hal memalukan ini si. ¡° Wahhh, aku benar-benar iri melihat kalian berdua.¡± Noah menarik tangan Tamara untuk ikut duduk menempel padanya seperti yang dilakukan Daniah. ¡°Kalian bahkan terlihat seperti pengantin baru.¡± Memang cuma kamu yang bisa pamer kemesraan, aku juga sudah menikah sekarang. Begitu arti tatapan penuh makna Noah, yang dibalas dengusan Saga. ¡° Tama sayang, apa kamu mau duduk di pangkuanku juga.¡± Noah menepuk kakinya. ¡° Haha, apa si.¡± Tamara memukul bahu Noah. ¡° Ayolah, buat laki-laki di depanku ini iri setengah mati.¡± Penuh harap sambil menepuk kakinya lagi, hanya di sambut tawa Tamara sambil mengusap pipinya. Tidak berhasil membujuk Tamara untuk duduk di pangkuannya. Sekarang Daniah juga ikut tertawa dan mengelengkan kepala geli. Melihat raut kecewa Noah. Ya, memang begitukan Noah. Daniah ¡° Kenapa kemari?¡± Tidak berhasil membuat Saga iri. Menggangu saja, gumam-gumam kesal. Sambil menyandarkan kepala ke sofa. ¡° Para tamu sudah pada pulang, tinggal teman-teman di luar sana. Mereka membujuku untuk memohon padamu. Mereka ingin bertemu dengan Daniah.¡± Ayolah, kenapa kau masih menyembunyikan Daniah. Keanu sudah seperti bocah lima tahun ingin melihat istrimu dari dekat tadi. ¡° Jangan mimpi.¡± Cih, orang ini pelit sekali. ¡° Baiklah, baiklah. Aku tidak akan membujukmu lagi.¡± Mengalah akhirnya. ¡° Terimakasih ya untuk semuanya, untuk hadiahmu juga.¡± Noah meraih tangan Tamara. ¡° Tama sangat menyukai rumah yang kau siapkan untuk kami.¡± Tamara tersenyum dengan hangat. Dia menepuk punggung tangan Noah. ¡° Benar tuan Saga, terimakasih untuk semuanya. Pesta ini, hadiah pernikahan. Terimakasih sudah datang dan mengajak istri tuan.¡± Cara bicara Tamara benar-benar hangat. Walaupun baru pertama kali bertemu, Daniah tidak merasakan jarak diantara mereka. Sesaat Daniah menatap Tamara, gadis yang sama-sama cantik. Jika di sejajarkan dengan Helena. Tiba-tiba nama itu terbersit dipikirannya. Apa Tamara juga mengenal Helen ya? ¡° Daniah, panggil saja aku begitu.¡± Daniah bangun dan meraih tangan Tamara. ¡° Selamat ya atas pernikannya. Selamat karena sudah menikah dengan Noah. Semoga kalian selalu bahagia¡± Pembicaraan antara Daniah dan Tamara tercipta. Mereka bahkan bertukar nomor telfon. Sementara Saga dan Noah juga bicara urusan mereka sendiri. ¡° Maaf.¡± Daniah langsung menutup mulutnya saat bukan hanya Tamara yang terkejut, tapi Noah juga, lebih-lebih saat Sagapun mengalihkan pandangan padanya. Aaaaa, sial! Kenapa si. Apa nama Helen benar-benar tidak boleh di sebut di depan tuan Saga. Padahal tuan Saga tidak mau sampai kamu merasa tidak nyaman kalau sampai nama itu muncul. Pikiran Noah dan Tamara seperti saling bertelepati melalui tatapan mata. ¡° Haha, Tama tahu semuanya, dia tahu ceritaku dan Helen.¡± Daniah terlihat bernafas lega. Dia benar-benar keceplosan saat menanyakan kenapa tidak melihat Helen di pesta pernikahan. ¡° Terimakasih ya Tama sayang untuk mengerti.¡± ¡° Apa kalian tidak mengundang Helen?¡± Akhirnya bertanya lagi. Noah menatap Saga. Tentu saja karena suamimu. ¡° Dia pergi keluar negri. Aku sudah bertemu dengannya sebelum hari pernikahan. Dia juga menitipkan salam padamu.¡± ¡° Hentikan! Jangan membahas namanya lagi.¡± Bahkan sebelum Daniah menjawab Saga sudah memotong. Membuat semua langsung terdiam. Dan canggungpun tercipta. Nama Helen masih seperti pusara yang berputar dalam kehidupan mereka. Saga tidak ingin nama itu di sebut semata hanya untuk menjaga hati Daniah. Sedangkan Daniah masih berfikir kalau tidak boleh di sebutkan nama Helen karena masih ada setitik kenangan masa lalu di hati tuan Saga untuk nama itu. Pesta pernikahan yang menjadi impian setiap pasangan telah berakhir. Daniah bisa bernafas dengan lega karena dia bisa meninggalkan pesta pernikahan dalam keadaan baik-baik saja. Aranpun bisa lepas dari hukuman. ¡° Sayang, kita mau kemana? Kita tidak pulang¡± Bukannya keluar dari hotel dan menuju area parkir. Mereka malah menaiki lift. Hanya ada sekertaris Han, Daniah tidak melihat Aran setelah keluar dari ruang tunggu tadi. Saga hanya diam dan mengandeng tangannya tanpa bicara. " Sekertaris Han, kita mau kemana?" Memilih bertanya pada Han. Han hanya menunjuk jarinya ke atas. Hei, aku juga tahu kalau lift ini naik ke atas! Lift berhenti di lantai tertinggi hotel. Tempat yang pernah didatangi Daniah sekali waktu itu. Saat dia menghilang di pesta ibu. Dia terbangun sudah ada di kamar hotel ini. ¡° Selamat istirahat tuan muda. Hubungi saya kalau ada yang tuan butuhkan.¡± Han menggangukan kepalanya. ¡° Hemm.¡± Pintu di tutup perlahan, menyisa Daniah yang menatap heran. Kenapa dia mau menghabiskan malam di hotel, bukannya pulang si. Bukankah amarahnya perihal Abas sudah mereda. Daniah duduk di sofa, sedang berusaha mencerna maunya suaminya. Memperhatikan Saga melepaskan jas yang dia pakai. Meletakan sekenanya di sandaran kursi. ¡° Ayo mandi bersama." Satu persatu kancing kemejanya sudah terlepas. Menunjukan tubuhnya yang sempurna tanpa cela. Daniah sampai malu kalau sampai memelototinya. Apa! Dia ini kenapa si? Kenapa tiba-tiba mengajak mandi bersama segala. Belum menjawab apa-apa. Saga sudah meraih Daniah dalam dekapannnya. Membawanya ke kamar mandi. Melucuti pakaian satu persatu. " Hei sayang, kau kenapa si. aku bisa melepas bajuku sendiri." " Sudah diam!" Dan mereka menghabiskan waktu yang cukup lama di bak mandi. Saga menyusuri setiap inci tubuh istrinya. Baik dengan jemari atau bibirnya. Di sela-sela itu dia bicara tentang hari pernikahan mereka. Terucap sesal dan maaf dari bibirnya. Karena saat itu membiarkan Daniah sendiri di hari pernikahan mereka. ¡° Kau bisa menganggap kalau hari ini sebagai pengganti malam pengantin baru kita.¡± Mengeringkan sisa air di tubuh Daniah. Gadis itu menurut dan membiarkan Saga melakukan apapun yang ia suka. Apa kamu sedang iri dengan noah ceritanya. Malam pernikahan mereka dulu memang tak seindah yang dimiliki Noah sekarang. Saat itu Daniah bahkan pulang diantar oleh sopir. Tidur di sofa kamar, dibangunkan tengah malam menyambut kepulangan Saga. Tidak ada yang indah sama sekali. ¡° Apa kamu sedang iri dengan Noah sayang?¡± Akhirnya selesai juga mandi dengan segala ritual pelengkapnya. Mereka sudah duduk di atas tempat tidur. Bagaimana baju tidurku juga sudah disiiapkan begini si! ¡° Cih, kenapa juga aku iri dengannya.¡± " Sayang." Daniah beringsut mendekat. Saga menarik tubuh Daniah agar duduk di pangkuannya. Pandangan mereka bertemu. Senyum terkembang dari bibir Daniah dan mencium kening suaminya lama. " Sayang, walaupun malam pertama pernikahan kita tidak seperti Noah, tapi yang pentingkan aku sekarang bahagia bersamamu.¡± Daniah yang duluan mencium bibir Saga. ¡° Itukan yang penting.¡± Mereka berciuman cukup lama. Sial! Dia tahu apa yang kupikirkan. Saga mendekap Daniah dalam pelukannya, erat. Saga tertunduk membenamkan wajahnya sambil memeluk Daniah di pangkuannya. ¡° Terimaksih karena bertahan tetap di sampingku.¡± Aku tidak bisa membayangkan kalau kau dulu punya keberanian lari dariku. Tidak tahu akan seperti apa hubungan kita sekarang. ¡° Terimakasih karena sudah mencintaiku sayang.¡± Daniah memberikan ciuman di kepala Saga. ¡°Mencintai orang sepertiku.¡± ¡° Memang kau kenapa?¡± Aku kenapa ya? Ntahah! Karena kalau di banding dengan wanita yang pernah kau cintai dulu aku bukan apa-apa. tapi kau tetap memilihku. Jadi aku merasa harus berterimakasih. " Aku mencintaimu." Meletakan tubuh Daniah hati-hati di sampingnya. Melingkarkan bahu. Sudah menciumi semua bagian leher. "Berjanjilah." " Haha, apa sayang." mengeliat geli. " Jangan membuatku cemburu lagi." " Baiklah, baiklah. Hentikan!" Mengeliat karena tangan Saga sudah kemana-mana. " Tapi, bisakah kamu menurunkan standar cemburumu sayang." " Apa!" " Misalnya jangan marah kalau aku hanya bicara dengan laki-laki lain." Itukan berlebihan kalau kau cemburu hanya karena itu. " Besok-besok kalau aku melihatmu berbagi udara untuk bernafas dengan laki-laki lain aku akan cemburu." Aaaaaa, sudah gila ya. Tidak akan berhasil bicara denganmu memang. " Aaaa, sakit!" " Apa! itu stempel kepemilikan. Biar semua orang tahu kau milik siapa!" Malam larut berselimut sepi. Dua lantai di hotel itu sedang menjalani malam pengantin dengan cara mereka masing-masing. Yang pengantin baru sungguhan malah sudah terkapar jatuh dalam mimpi mereka masing-masing. Bahkan tanpa sempat melepaskan pakaian pesta atau membersihkan wajah dengan sempurna. Sementara yang sedang main drama pengantin baru, mungkin baru akan selesai beberapa jam lagi. Bersambung Chapter 230 Impian Amera Impian sering kali menjadi penyemangat seseorang menjalani hidup. Bekerja keras dengan caranya masih-masing untuk mewujudkan mimpi itu. Kalau kau punya impian, segera bangunlah dari tidur dan singsingkan lengan bajumu. Mulailah bekerja keras hari ini, jangan menundanya lagi. Kenapa? Karena impian hanya bisa terwujud jika kau bangun dari tidur dan memperjuangkannya. Semakin kau menunda untuk memulai maka semakin jauh dari kesuksesan. Dan satu hal yang di pahami Amera, jangan menakar keberhasilan mimpimu dengan pencapaian kesuksesan orang lain. Karena terkadang itu yang membuatmu merasa gagal, karena kau hanya melihat pencapaian orang lain tanpa pernah bersyukur dengan hasil kerja kerasmu. Dan itulah yang sedang di lakukan Amera saat ini. Walaupun keluarganya tidak sepenuhnya mendukung hobi dan impiannya. Tapi diam-diam dia mulai merintis karir masa depannya. Gadis itu memiliki dua impian dalam hidupnya. Pertama, impian Amera adalah menjadi desainer perhiasan berkelas internasional. Dia ingin perhiasan yang ia desain menjadi tren dunia. Selama ini hanya teman-temannya yang selalu memuji dan menikmati keindahan hasil desainnya. Dan Itu menjadi modalnya untuk percaya diri. Dengan bakat yang ia miliki. Seminggu ini dia sudah mempersiapkan semuanya dengan matang. Memasukan lamaran pekerjaan ke anak perusahaan Antarna Group di bidang perhiasan. Dia merahasiakan semua rencananya. Bahkan dari Jen dan Sofi sekalipun. Dia akan masuk ke dalam perusahaan tanpa bantuan siapapun. Kak Saga sekalipun. Sedari pagi dia sudah menyiapkan penampilan paling sempurnanya. Turun dari kamarnya bahkan sebelum semua sarapan. Bahkan dia keluar lebih pagi dari Jen. Pak Mun dan para koki di dapur yang ia lihat. Laki-laki itu menyiapkan sarapan tanpa bertanya kenapa dia pergi sepagi ini. Pak Mun memang begitu ya, hidupnya lurus tanpa banyak penasaran. Amera bergumam sambil menghabiskan sarapan di meja dapur. Melihat para pelayan bekerja dengan terampil. ¡° Pak Mun, apa kau tidak mau bertanya aku mau kemana?¡± Akhirnya Amera yang gemas. Dia sedang menyiapkan mental dan rasa percaya dirinya sepanjang menuju jadwal wawancara. Bicara dengan pak Mun dirasa olehnya bisa mengusir gelisah. ¡° Tidak nona.¡± Cih, orang ini benar-benar tidak jauh beda dengan Han. Jujur sekali jawabannya. ¡° Aku mau pergi wawancara kerja.¡± Menoleh melihat sekeliling. ¡°Tapi jangan ceritakan pada siapapun ya. Ibu ataupun kak Saga.¡± Mengelus dada dan menarik nafas dalam. ¡°Doakan aku ya pak semua berjalan lancar.¡± Kalaupun dia gagal hari ini dia tidak akan terlalu malu karena sudah pamer. ¡° Semoga nona mendapat apa yang nona idamkan.¡± Pak Mun mengantar Amera sampai ke depan rumah, sebuah mobil dan sopir sudah di sipakan. Seperti orangtua melepas kepergian anaknya yang hendak mengejar mimpi. Hati Amera bergetar lembut saat pak Mun menutup pintu mobil pelan. " Hati-hati di jalan nona." ¡° Pak Mun. Aku jadi kangen pada ayahkukan. Hiks.¡± Sudah lama Amera datang ke rumah ini. Artinya sudah lama dia tidak bertemu dengan ayahnya. Dia yang awalnya datang dengan membawa misi mulia untuk memisahkan Saga dan Daniah. ¡° Semoga nona berhasil dengan wawancaranya ya.¡± Mobil melaju meninggalkan rumah utama. Sambil menampar kaca jendela pikiran Amera melayang kemana-mana. Tapi di sela-sela itu dia terus berdoa di ujung lidahnya. Semoga satu impiannya bisa terwujud, paling tidak hari ini membuka jalan baginya. Suasana tegang wawancara. Amera menatap laki-laki yang sudah memberondongnya dengan banyak sekali pertanyaan tadi. di depannya dia terlihat serius melihat ulang draf desain-desain yang sudah dia sipakan dengan sempurna. " Selamat bergabung dengan kami nona Amera. Bekerja keraslah dan tunjukan bakat anda pada dunia." Laki-laki itu mengulurkan tangannya. Berjabat tangan sebagai tanda selamat. ¡° Jadi saya di terima!¡± Amera berteriak kegirangan meraih tangan laki-laki yang mewawancarainya. " Terimakasih pak, terimakasih banyak. Saya berjanji akan bekerja keras!" Teriaknya dengan penuh penjiwaan. Amera mendapatkan pekerjaan tanpa bantuan siapapun. Perusaan benar-benar tertarik dengan desain sample perhiasan yang dia sodorkan. Salah satunya desain khusus yang dia buat untuk Han. Lihat, aku bisa masuk ketempat ini tanpa bantuanmukan. Sekarang impian pertamaku mulai terbuka, dan giliran mimpi keduaku. Amera tersenyum sambil keluar gedung. Mengibaskan rambutnya dengan penuh percaya diri. Mimpi Amera ada dua, mendapatkan pekerjaan yang dia cintai dan memperjuangkan perasaannya. Untuk yang terakhir semangatnya sudah membara sekuat baja. Menaklukan hati Han adalah bagian dari resolusi hidup masa mudanya. Rencana pertama : Minta tolong pada kak Saga Rencana kedua : minta tolong pada kak Saga Rencana ketiga : Minta tolong pada kak Saga. Intinya dia tidak punya rencana apapun untuk menaklukan Han tanpa bantuan kak Saga. Apalagi sekarang, setelah dia bertanya sana sini dia mulai tahu siapa Aran. Cih, apa dia pantas bersaing denganku memperebutkan Han. Dia bahkan hanya pengawal Kak Niah. ¡° Dia pengganti Leela. Kau tahukan siapa Lella dan posisinya di perusahaan kak Saga. Jangan menggangu Aran.¡± Sofi, orang yang paling takut kalau harus berurusan dengan Han mencoba menyadarkan Amera. ¡° Mera, sebenarnya apa si yang kamu suka dari Han??¡± Jen yang bertanya. ¡°Dia memang tampan si, tapikan menyeramkan.¡± Satu kata itu saja sudah cukup membuat Han jauh dari daftar lelaki idaman. ¡° Laki-laki itu seperti Raksa. Baik hati, tampan, tidak sombong.¡± ¡° Mulai lagi deh kak Jen.¡± Sofi menimpali Bahkan ketika dipikirkan Amera sendiri tidak tahu jawaban spesifiknya. Impian kedua Amera adalah menakhlukan hati han. Membuat laki-laki itu jatuh cinta padanya. Caranya bagaimana? Kembali kerencana awal. Minta bantuan kak Saga. Hehe. Malam datang. Selepas makan malam semua orang kembali ke kamar masing-masing. Amera mendekat keruang kerja Saga, mengetuk pintu pelan. Setelah menunggu sebentar pintu terbuka perlahan. Pak Muncul. ¡° Apa kak Saga mengizikanku masuk?¡± Tanyanya. ¡° Silahkan nona, tuan muda ada di dalam.¡± Pak Mun membuka pintu lebar. ¡° Baiklah. Terimakasih pak.¡± Pak Mun hanya mengangukan kepalanya. Amera masuk ke dalam ruang kerja. Pak Mun menutup pintu perlahan. ¡° Masuklah.¡± Saga menutup berkas di meja kerjanya dan berjalan ke sofa. ¡°Pak Mun bilang kau mau mengatakan sesuatu.¡± Amera ragu berjalan ke sofa. Siang tadi sepulang dari wawancara memang dia mengatakan pada pak Mun untuk mengatakan pada Saga kalau ada yang ingin dia bicarakan. Tentang dua impiannya. Tentang harapan besar Saga akan membantu rencananya. ¡° Duduklah.¡± Saga menepuk sofa di sebelahnya. ¡° Ia kak.¡± ¡° Sebaiknya yang kau bicarakan itu sesuatu yang penting. Bukan hanya omong kosong, apalagi kalau itu pesanan dari ibu. Kau tahukan aku bisa saja kesal mendengarnya.¡± Sudah menebar ancaman yang membuat orang menciut untuk bicara. ¡° Tidak kak sumpah. Aku sudah berteman dengan kak Niah. Ini tidak ada hubungannya dengan ibu juga.¡± ¡° Baiklah, aku akan mendengarnya.¡± Amera menarik nafas pelan. Melirik Saga yang duduk bersandar menunggu apapun yang mau ia katakan. ¡° Aku sudah di terima di perusahaanXX.¡± Nama perusahaan anak cabang Antarna Group di bagian usaha perhiasan. ¡° Kau pikir aku tidak tahu itu?¡± Membalas datar. ¡° Hah! Jadi kak Saga sudah tahu? Dari mana? Pak Mun.¡± Pagi tadi hanya laki-laki itu yang ditemuinya sebelum berangkat wawancara. ¡° Hanya itu yang mau kau katakan?¡± Mencari tahu hal semacam itu perkara gampang pikir Saga. ¡° Kalau begitu beri aku selamat donk. Akukan sudah mendapat pekerjaan dengan usahaku sendiri.¡± Menatap dengan bola mata haus akan pujian. Saga tersenyum seperti kakak yang bangga dengan keberhasilan adiknya. ¡° kemarilah!¡± Amera mendekatkan kepalanya. ¡° Kau sudah besar rupanya. Selamat ya atas kerja kerasmu mendapatkan pekerjaan impianmu. Ayahmu pasti bangga dengan usahamu.¡± Saga menepuk bahu dan kepala Amera. ¡° Ayah! Apa ayah sudah tahu.¡± Takut-takut. ¡° Bekerja keraslah, aku akan mendukungmu. Paman juga pasti akan mendukungmu.¡± Menepuk bahu Amera lagi, bahwa urusan dengan ayahnya sudah beres bahkan sebelum dia bicara apa-apa. ¡° Kak Saga terimakasih ya. Apa aku boleh memelukmu.¡± penuh harap, sudah merentangkan tangan. ¡° Tidak!" Menahan kepala Amera. " Cuma Niahku yang boleh memeluku.¡± Cih dasar pelit. ¡° Sudah sana, kau sudah selesaikan.¡± Karena dia menyebut nama Niah, membuatnya merindukan istrinya itu. dia ingin segera kembali ke kamar. ¡° Belum kak. Masih ada lagi yang mau aku katakan.¡± Bola mata Amera berbinar penuh harap. " Kak Saga, aku menyukai Han." " Huh!" Menjentikan tangan ke kening Amera. Gadis itu mengaduh keras sambil mengusapnya. " Kau pikir aku tidak tahu. Sudah sana, berhenti bicara omong kosong, kau pikir aku banyak banyak waktu meladenimu." " Kak Saga aku serius." Masih mengusap keningnya. Saga tertawa lalu mengusap kepala Amera pelan. " Kau mau aku melakukan apa?" " Bantu aku. Hankan hanya menurut pada kak Saga. Minimal bantu aku menyatakan perasaanku padanya." " Bukannya kau sudah di tolak." Bicara tanpa perasaan. Menyadarkan Amera. Gadis itu menjerit kesal mengingat fakta itu. " Sudahlah, jangan bicara omong kosong lagi. Pergi ke kamarmu sana." Meladeni Amera hanya membuang waktu pikirnya. Karena dia sendiri sangat tahu kenapa Han sampai hari ini tidak pernah memikirkan apapun selain dia dan Antarna Group. Saga bersandar di kursinya. Mendesah pelan. Apa memang aku harus ikut campur dalam urusan cintanya ya? " Kak Saga." Amera belum selesai merengek. Bersambung Chapter 231 Amera VS Aran Tidak akan semudah itu membuat Amera menyerah. Walaupun Saga sudah terlihat mulai kesal mendengar rengekannya. Menyerah bagi pejuang cinta, apalagi bagi Amera yang baru memulainya. Masih terlalu dini untuk menyadarkannya kalau perasaan Han untuknya sudah sesulit meraih taburan bintang di langit. ¡° Hiks. Padahal perasaanku pada Han benar-benar tulus lho kak.¡± Menundukan kepala dengan sedikit dibumbui isak kecil. ¡°Aku bukan anak kecil yang sedang cinta monyet.¡± Apa kalau begini kak Saga akan percaya dan mau membantuku. Dulu mungkin perasaan Amera hanya sebatas iseng karena melihat tampilan Han. Sifat dingin Han yang ingin dia takhlukan hatinya. Tapi sekarang lain, ruang di hatinya siap menerima Han dengan semua yang ia miliki. Baik kesempurnaan fisiknya ataupun arogansi sifatnya. Saga mendesah. Menatap Amera yang sedang tertunduk sambil meremas jemarinya. Kau pikir sudah berapa kali aku mengatakan padanya untuk memulai menata kehidupannya. Tapi sampai detik ini, dia bahkan tidak percaya kalau aku benar sungguh bahagia bersama Daniah. ¡° Apa kau sudah mau menikah?¡± Hah! Menikah! Amera langsung mendongakan kepala dan mengeleng cepat. Beulang kali. Masih terlalu dini untuk mengikat tali pernikahan sekalipun dengan laki-laki yang dia sukai. ¡° Lihatkan! Cintamu itu cuma cinta monyet tidak penting.¡± Telak. ¡°Kau pikir Han mau menunggumu sampai kau mengejar mimpimu dan tumbuh jadi dewasa. Sudah sana!¡± Mengibaskan tangan cepat. Mengusir jauh-jauh bocah penggangu. ¡° Kak Saga, setahun atau dua tahun lagi. Toh Han juga tidak tertarik berhubungan dengan wanita lainkan?¡± Masih bertahan duduk. ¡° Siapa bilang?¡± Tersenyum mengejek. ¡° Aaaaaa, jadi kak Saga tahu ya? Gadis itu benar-benar menyukai Han, apa Han juga suka padanya?¡± Pertemuan Amera dengan Aran. Bahkan saat dia bertanya apa mereka berkencan, Han menjawab acuh dengan kata ia. Menyebalkan. ¡° Siapa dia?¡± Malas berfikir kalau urusan wanita lain. ¡° Amera? Siapa dia kak?¡± ¡° Mana kutahu.¡± ¡° Kak Saga, diakan sopir sekaligus pengawal kak Niah. Kak Saga tidak mungkin tidak tahukan siapa dia.¡± Kesal Amera dibuatnya. ¡° Berhenti bicara. Aku mau tidur.¡± ¡° Tunggu jawab pertanyaan terakhirku dulu.¡± Amera berdiri, mengibaskan rambutnya sambil memutar tubuhnya dua kali. ¡° Aku dan Aran siapa yang lebih cantik diantara kami.¡± Amera sedang ingin menumbuhkan rasa percaya dirinya. ¡° Jelek semua." Rasanya ingin menangis darah mendengar jawaban tanpa sedikitpun keraguan itu. " Tidak ada yang cantik diantara kaalian berdua. Cuma Niahku wanita paling cantik di dunia ini.¡± Ikrar sumpah setia suami terucap, bahwa hanya istrinya wanita mempesona di dunia. Kak Saga! Huh! Amera menjatuhkan diri kesal di sofa setelah saga meninggalkannya sendiri di ruang kerjanya. Dia berguling lalu memukul-mukul sofa berulang kali. Cih, bagaimana ini. Kak Saga bahkaan tidak memberi lampu hijau untuk membatu. Dia benar-benar tidak mau tahu. Hiks, walaupun aku sudah menduga tapi kesal juga jadinya. Amera keluar dari ruang kerja saga. Berjalan gontai ke kamarnya sampil memutar otak, bagaimana dia akan melanjutkan rencana meraih impian yang keduanya. Kenapa aku di sini si. Daniah meraih gelas jus di depannya. Diantara dua orang agresif yang sedang memperjuangkan perasaan mereka masing-masing. Masalahnya laki-laki yang mereka sukai itu sama. Sama-sama tidak perduli dengan mereka berdua. Kenapa harus Han lagi! Glek, glek. Hampir separuh gelas dia menghabiskan minumannya. Saat menerima telfon dari Amera tadi, sudah terasa ada yang menganjal. Untuk apa gadis ini meminta bertemu di sela makan siang. Dan karena Aran memang tidak mungkin tidak bersamanya, jadilah gadis itupun duduk di sini. Tapi sepertinya ini memang tujuan Amera sebenarnya. Bertemu dengan saingannya. Daniah hanya menjadi perantara semata. ¡° Makanan datang.¡± Ucapnya ceria berusaha mencairkan suasana. ¡°Kita makan dulu ya.¡± Mendorong makanan yang tadi sudah mereka pilih masing-masing. Tidak tahu kenapa, Daniah merasa baik Aran ataupun Amera sudah menyadari kalau mereka adalah saingan. Jadi mereka memang tidak terlihat bicara basa basi.Aran hanya menyapa sopan di awal perjumpaan. Selanjutnya pandangan keduanya sudah seperti mengancam satu sama lain. Karena canggung, membuat mereka makan dalam diam. Dan tentunya membuat apa yang ada di piring mereka masing-masing tandas jauh lebih cepat. ¡° Baiklah, karena kita sudah selesai makan. Sekarang bisa beri tahu aku ada apa dengan kalian?¡± Daniah bicara langsung. Menohok Aran yang sedang meneguk minumannya. Jadi nona sudah paham ya. Aaaa, malu. Aran hanya tahu sedikit tentang Amera dari teman sesama pelayan. Dia iseng bertanya tentang siapa Amera. Tidak banyak informasi yang dia dapat. Karena Amera hanya kerabat jauh tuan Saga. ¡° Kak Niah aku menyukai Han.¡± Tiba-tiba bicara. Hah! Daniah langsung melihat ke arah Aran. Gadis itu sama sekali tidak terkejut. Jadi Aran benar-benar sudah tahu ya pikirnya lagi. Lalu aku musti apa ini? Apa kalian mau aku mendukung salah satu dari kalian? Saat Daniah masih tengelam dengan pikirannya, dua orang di hadapannya sepertinya sedang memulai perang mereka sendiri. " Tolong jawab pertanyaanku dengan jujur." Konfrontasi sudah dimulai. Dan Amera yang melakukan start pertama. "Kalian tidak berkencankan? Han hanya membual saat menjawab pertanyaanku kemarinkan?" Dia ragu sendiri setelah bertanya. Karena takut jawaban Aran akan mematahkan langkahnya. Aran membalas tatapan Amera dengan berani. " Belum, kami belum berkencan." Kenyataan yang sebenarnya menyakitkan dan ingin dia tutupi. Tapi menjawab dengan cerita bohong juga pasti pada akhirnya akan ketahuan. Tapi sekarang Aran merasa kesal dengan reaksi Amera. Cih, seharusnya aku berbohong saja tadi. " Haha, percaya diri sekali kamu ya." Tertawa keras sebentar tapi langsung terdiam. "Apa Han menyukaimu?" pertanyaan subyektif yang jawabannya bisa ditertawakan. Memang sejak kapan ada yang disukai Han selain kak Saga. Kalau kau menjawab Han menyukaimu itu jelas bohong besar. Amera seperti menemukan titik lemah gadis di depannya. " Dia menyuruhku menunggunya." " Bohong!" Amera setengah berteriak. " Tidak mungkin Han menjawab begitu." Brak! Suara keras meja terhantam tangan Daniah. Semua langsung diam dan menoleh. " Kak Niah." " Nona." " Haha, maaf. Aku pasti mengagetkan kalian ya. Ada serangga terbang di atas meja, tanganku refleks tadi. Haha." Tertawa sambil menutup mulut. " Apa kalian sudah selesai bertengkarnya?" intonasi suara sudah berubah serius. " Maaf kak Niah." Amera tertunduk. " Maaf nona, saya sudah membuat nona tidak nyaman." Aran ikut tertunduk. Keduanya membisu. Daniah menarik nafas pelan. " Kaliankan bisa bicara baik-baik. Toh posisi kalian saat ini masih samakan. Belum ada yang terikat resmi dengan sekertaris Han. Jadi kesempatan kalian masih sama 50 dan 50." Menunjuk Aran dan Amera bergantian. Aaaaaaa, bicara di tengah-tengah orang yang jatuh cinta sungguh memusingkan! " Apa yang membuat nona menyukai sekertaris Han?" Aran menatap Amera lekat. Gadis di depannya ini masih sangat muda usianya. Dia berfikir kalau Amera menyukai Han sebatas pada cinta monyet gadis yang baru tumbuh dewasa. Caranya bicara sudah agak santai. Tidak memprovokasi. Daniah memilih menjadi penonton. " Kenapa? Apa kau meragukan ketulusanku." Amera berdecak kesal. "Karena usiaku jadi kau berfikir perasaanku hanya main-main." Menatap tajam. sambil meraih gelasnya, meneguknya sampai tandas. Meletakan gelas dengan suara keras. Daniah sampai terkejut dan mengelengkan kepala melihat kelakuan Amera. Ya, kamu memang masih bocah. Daniah. " Tidak, saya hanya bertanya dan ingin tahu. Apa yang membuat nona menyukai sekertaris Han. Mungkin kita bisa bertukar informasi rahasia mengenai sekertaris Han." Aran tertawa. Eh, kenapa begini? Dilihat kematangan usia Aran jauh di atas Amera. Jadi membuat gadis itu bisa terlihat lebih santai sekalipun menghadapi tatapan kesal Amera. " Kalau saya, kenapa saya menyukai sekertaris Han karena dia laki-laki baik dan berhati hangat." Eh, apa-apan si ini. Baik dan berhati hangat. Apa Aran sedang menggigau sekarang. Dilihat dari sudut yang mana hatinya yang hangat itu. waktu itu saja saat tuan Saga marah besar pada Aran, laki-laki itu hanya diam menonton. Dimana hatinya yang hangat! Daniah sedang protes dan berperang dengan jiwa sadarnya. " Benarkan." Amera antusias. "Kenapa banyak orang yang bilang dia dingin dan menyebalkan. padahal kalau dilihat dari dekat, dia pasti punya sisi itu." Hemm, walaupun aku belum melihatnya secara langsung si. Gumam-gumam Amera dalam hati. Kelembutan mata dan suara Han hanya dia tujukan untuk Kak Saga. Itu bukan rahasia umum lagi. " Ayo bersaing mendapatkan Han dengan adil." Amera mengulurkan tangannya. " Baik. Lakukan secara adil, tidak menjatuhkan satu sama lain." Aran meraih tangan yang di sodorkan Amera. " Baik. Lakukan secara adil." Mereka mengoyangkan tangan yang tergenggam. " Kak Niah jadi saksinya ya. Aku dan Aran akan merebut hati Han dengan cara adil dan sportif, tanpa menjatuhkan satu sama lain. Dan siapapun yang dipilih Han, salah satu dari kami harus bisa menerimanya." Hei, kalian sedang halu ya? Kenapa kalian membuat kesepakatan begini. Memang sekertaris Han sudah pasti akan memilih salah satu dari kalian. " Baiklah." Daniah meletakan kedua tangannya di atas tangan Amera dan Aran. "Yang akur ya kalian, jangan saling bermusuhan." menarik nafas dalam. Diantara Amera dan Aran sedang terjadi pembicaraan serius. Topiknya rahasia Han. Terdengar mereka tertawa kecil saat menunjukan foto-foto di hp mereka. " Apa jadi kau bekerja di stasiun TVXX dulu, tempat Han di tembak itu? Bla.... bla...." Bicara dengan keras sambil memukul bahu Aran tidak percaya. Tunggu! Kenapa kalian begini si. Pesan masuk di hp Daniah. " Kak Niah dukung dan bantu aku ya." dengan emoji bola mata berkaca-kaca. Milik Amera. " Nona, tolong dukung saya ya." Aran juga mengirim pesan. Kenapa aku harus terpojok dengan kehaluan kalian! Daniah mengetikan beberapa pesan di hpnya. Membiarkan dua gadis di depannya bicara kemana-mana. " Sekertaris Han, senang ya jadi rebutan dua wanita cantik?" terkirim. Aku sedang kesal sekarang. sebaiknya kau membalas ya. " ?" jawaban dari Han. Hanya tanda tanya. Haha, apa dia sedang tersenyum bangga sambil pura-pura bodoh. " Kau mau pilih siapa?" Terkirim lagi. "Jawab yang benar, awas kalau hanya tanda ?" pesan tambahan terkirim. Bahkan kali ini, Han tidak menjawab sama sekali. Gemetar-gemetar kesal Daniah. Menatap layar hpnya. " Aran dan Amera, siapa yang akan kau pilih?" Akhirnya menyebutkan nama. " Saya pilih tuan muda." Apa! jawaban apa ini. kenapa memilih suamiku. " Hei sudah gila ya, tuan Saga itu milikku." " Dia milikku." " Dia suamiku." " Dia cintaku." Dan deretan pesan sebagai tanda kepemilikan. Sampai Daniah binggung memilih pilihan kata apalagi yang bisa dia pakai. Bersambung Epilog " Ada apa tuan?" " Niahku sedang ngambek." Saga tergelak membaca deretan pesan yang dikirim istrinya secara bertubi-tubi ke hp Han. Awalnya dia kesal karena Han mendapat pesan dari Daniah. Tapi sekarang suasana hatinya berubah dengan beberapa pesan Daniah. "Han." " Ia tuan muda." " Aku akan menghajarmu lain kali kalau kau berkirim pesan dengan Niah tanpa seizinku." " Baik tuan muda." Huh! akukan tidak memintanya juga. Han berlalu meninggalkan Saga yang masih asik membalas pesan dengan hpnya. Chapter 232 Paman Hemm. Hemmm. Daniah mengerjapkan mata pelan. Menguceknya perlahan. Merasai pagi yang sudah mulai menganti malam di luar sana. Dia bisa merasai udara yang berbeda dari semalam. Tapi kenapa tangan dan tubuh dibelakangnya ini masih mendekapnya dengan erat. Membuatnya heran. Seperti belum waktunya bangun. Padahal matahari pasti sudah mulai malu-malu menyibak embun pagi. Ini bukan akhir pekankan? Kenapa dia masih tidur? Biasanya dia sudah mandi walaupun aku kesiangan sekalipun. Daniah mengeliat, sambil mengoyangkan tubuhnya. Berharap Saga terbangun dengan sendirinya. Tapi tidak ada reaksi seperti yang dia harapkan. ¡° Sayang, sudah pagi.¡± Menepuk lembut tangan yang melingkar di tubuhnya. ¡° Bangun sayang.¡± ¡° Hemmm.¡± Ternyata tuan muda sudah bangun pikirnya. Tapi dia tetap tidak bergerak. Eh kenapa malah semakin memelukku. Bukannya bangun, Saga malah semakin membenamkan wajah ke punggung Daniah. Sambil mengusap-usapkan wajahnya di kulit punggung, menciumi punggung Daniah yang terbuka. Daniah mengoyangkan tubuhnya keras berusaha melepaskan diri. ¡° Sayang, nanti sekertaris Han datang, kamu belum siap. Ayo mandi, biar kusiapkan air untuk mandi ya?¡± Pelukan belum juga mengendur. Daniah masih belum bisa bergerak. ¡° Hari ini dia tidak akan datang.¡± Gumam-gumam pelan, di balik punggung Daniah. Eh kenapa? Apa dia sakit? Menjawab dengan mengeryit sendiri. Tidak mungkinkan? Eh, tapi diakan manusia. Daniah selalu lupa, kalau sekertaris Han itu juga manusia biasa. Daniah memutar tubuhnya. Langsung merasa menyesal kenapa dia melakukannya, sekarang Saga membenamkan wajah di area favoritnya. Yang pasti dia akan banyak maunya. Eh, dia tidak bereaksi, pekik Daniah heran. Saga hanya diam saja dan hanya terdengar tarikan nafasnya pelan. Daniah bahkan sampai berkata dalam hati tumben. Padahal biasanya, tidak perlu ditanya. ¡° Sayang.¡± Sepertinya ada yang aneh dengan hari ini. Suaminya bersikap tidak seperti biasanya. Daniah menyadari dengan jelas perubahan sikap itu. ¡°Apa kamu baik-baik saja?¡± Masih diam. Daniah membelai lembut rambut Saga, mencium keningnya sekarang. Saga masih diam. " Kenapa?" Tanyanya lagi. Tuan Saga benar-benar bersikap tidak seperti biasanya. ¡° Hari ini, hari peringatan kematian paman.¡± Paman? Apa itu maksudnya ayah sekertaris Han. Daniah tidak bicara lagi. Laki-laki yang di sebut Saga dengan panggilan paman adalah sekertaris ayahnya. Salah satu dari orang-orang penting yang berada di samping Saga saat terberatnya. Dia juga ayah sekertaris Han. Hari ini, bukan hanya hari yang berat untuk sekertaris Han. Tapi juga hari yang penuh kenangan bagi Saga. Daniah memilih tidak bicara apapun dan hanya mengalirkan dukungan lewat tepukan lembut di bahu suaminya. Waktu bergerak lambat. Saga tidak mau menunjukan wajahnya. ¡° Menangislah sayang kalau kamu ingin mengingat paman dalam kenanganmu.¡± Mengusap-usap punggung lagi. Daniah bisa merasakan bagaimana ikatan batin mereka, dari apa yang sudah diceritakan suaminya. Kalau paman, pernah menjadi kekuatan baginya. Kalau paman adalah penopang yang membantunya berdiri dengan tegak. ¡° Sekarang ada aku, yang akan di sini menemanimu.¡± Tak ada suara. Tapi selang tidak lama terdengar isak lirih yang tertahan. ¡°Tidak apa-apa sayang. Tidak apa-apa.¡± Lembut Daniah bicara menenangkan. Membuat suara tangis itu mengeras. Aaaaaa, tuan Saga. Kau sudah hidup dengan bekerja keras menjadi kuat selama ini. Menangislah sekarang kalau kau ingin menangis. aku akan mendengar dan memeluku. Bahkan Daniahpun ikut menangis di ujung matanya. Memalukan sekali, bagaimana aku bisa menangis di depannya tadi. Saga yang sudah sepenuhnya kembali pada kesadaraan normalnya. Setelah menangis dan mandi. Menyesali perbuatannya. Saat ini Daniah benar-benar telah melihat sisi dirinya yang lain. ¡° Sudah lebih baik sayang?¡± Daniah berdiri di depan Saga sambil mengeringkan rambut dengan handuk kecil. Menundukan wajah untuk mempertemukan pandangan mereka. Dia tersenyum karena melihat raut malu di mata Saga yang langsung mengalihkan pandangan. ¡° Muah.¡± Daniah menundukan badan bertumpu di kaki Saga. ¡°Hadiah untuk suamiku yang sudah hidup dengan tegar dan kuat selama ini.¡± ¡° Apa coba.¡± Meraih pinggang Daniah dan memeluknya. Tangan Daniah membelai kepala Saga. Dengan posisinya yang berdiri, tinggi Saga saat duduk hanya seperutnya. ¡°Terimakasih untuk ada di sampingku hari ini.¡± lirih terucap dari mulut Saga. Begitulah, Selalu akan ada cerita sedih di balik kisah kehilangan seseorang yang dicintai. Bagi Saga, paman sudah seperti ayahnya sendiri. Laki-laki yang mencintainya melebihi kecintaannya pada putranya sendiri. Hari ini biasanya dia akan berdiam diri di rumah. Sampai menjelang siang barulah dia keluar, teman-temannya sudah menunggu untuk bersama menuju makam paman. ¡° Kenapa kalian tidak pergi bersama?¡± Sekarang Daniah menyisir rambut Saga. Setelah rapi tidak lupa satu ciuman hangat di kening suaminya. ¡°Sekertaris Han pasti akan lebih senang kalau kau menemaninyakan?¡± Saat peringatan kematian tuan besarpun Han selalu setia di samping Saga. ¡° Dia tidak suka orang lain melihatnya saat dia lemah.¡± Karena itulah Saga selalu datang ke makan paman setelah Han pergi. Pura-pura tidak tahu kalau Han menundukan kepala dan menitikan airmata. Karena laki-laki itu tidak pernah menunjukan kesedihannya pada orang lain. Padanya sekalipun. ¡° Sayang.¡± Daniah meraih tangan Saga. Menepuknya pelan. ¡° Bukankah kamu jauh lebih senang kalau ada yang menemanimu di saat terberatmu. Aku rasa begitu pula sekertaris Han.¡± Karena Daniahpun merasakan itu. Ketimbang dia sendirian menitikan airmata, dia akan lebih bahagia ada Raksa di sampingnya. Seperti itulah dia melewati bertahun-tahun di depan makan ibu setiap hari peringatan kematiannya. Pergilah bersama ke makam paman. Temani sekertaris Han seperti dia selalu ada di sampingmu. Begitulah akhirnya, karena ide Daniah, Saga menghubungi semua teman-temannya. " Dua jam lagi kita bertemu di makam pamam." terkirim ke semuanya. Karena dua jam lagi Han pasti sudah berdiri diam di depan makam paman. " Apa aku boleh ikut? aku akan mengajak Aran juga." Daniah bertanya. Dia ingin menunjukan rasa simpatinya pada Han. Berterimakasih juga pada paman yang sudah bersama Saga selama ini. Sekalian mendekatkan Aran. Mungkin saja keberadaan gadis itu bisa sedikt menghibur hati sekertaris Han. " Niah, kalau kau kelewat perduli pada Han, aku akan cemburu juga." Menusuk pipi Daniah dengan jarinya. Setelah itu menjatuhkan kepala ke bahu. "Sudah kukatakan jangan membuatku cemburukan. Atau aku tidak akan membiarkanmu berbagi udara dengan laki-laki lain." Bicara pelan di dekat telinga. " Haha sayang apa si." Please jangan gila. Karena tahu ultimatum itu bisa saja benar-benar terjadi kalau sampai dia melebihi batas. " Aku hanya ingin jadi perantara Han dan Aran. Supaya sekertaris Han tidak merebutmu dariku." " Apa!" tertawa dengan jawaban Daniah. " Ya, supaya dia berhenti mencintaimu dan hanya memikirkanmu. Kau tahu apa yang dia jawab saat aku bertanya padanya pilih Aran atau Amera." Semangat mengadu. " Dia menjawab apa?" terselip senyum di ujung bibir Saga karena tahu maksudnya. Karena dia sendiri yang mengetikan jawaban itu untuk menjahili Daniah. " Dia jawab dia memilihmu." Cemberut kesal. "Jadi untuk melindungimu aku harus menjodohkannya dengan wanita lain." Mengemaskan sekali. Aku jadi teringat semua pesannya kemarin. Dia milikku, dia cintaku. Aku ingin mendengarnya dari mulutmu langsung. " Katakan!" " Apa!" Binggung. " Pesan yang kau tulis pada Han kemarin." " Apa?" Terkejut. Bagaimana dia tahu. Sekertaris Han tidak mungkin lapor padanyakan, atau tidak mungkin dia yang sebenarnya membalas pesankukan. Aaaaa, malunya. aku bilang apa saja ya kemarin. " Sayang, aku tidak tahu maksudmu. Lagi pula aku lupa apa yang kutulis untuk sekertaris Han kemarin." " Lupa? Mau kuingatkan?" Tertawa senang melihat Daniah yang panik sekaligus malu. " Haha, sayang. Sebaiknya kau bersiap-siap sekarang. Aku juga mau bilang pada Aran untuk bersiap-siap." Bangun dari duduk, dengan cepat melangkah menuju pintu. " Kau mau kemana? Kita masih punya banyak waktu." Epilog " Nanti akan ada teman-temanku. Mereka semua sedikit tidak waras seperti Harun. Jadi aku mau kau tidak meladeni mereka." " Ia sayang." " Tidak perlu tersenyum pada mereka. Sebagian dari mereka masih jomblo." " Ia sayang." " Aku serius!" Sepertinya aku percaya mereka agak sedikit tidak waras, untuk mengimbangimu yang diluar normalnya manusia. " Niah." " Ia aku Niahmu. Hanya Niahmu." Puas! Dan hari itu sekertaris Han terlihat layaknya manusia pada umumnya. Wajahnyapun terlihat mengantung mendung. Bersambung note author : Hallo semua, aku LaSheira. Terimakasih untuk kalian yang sampai sejauh ini masih setia menunggu kelanjutan TMTM. Terimakasih untuk semua apresiasi kalian dan dukungan kalian baik untuk novel TMTM ataupun untukku selalu author novel ini. Salam hangat semua, jaga kesehataan tubuh kalian. Semoga selalu dalam keadaan sehat ^_^ Sampai jumpa di update selanjutnya. Chapter 233 Salah Paham Berhasil melepaskan diri dari Saga. Daniah mengejutkan para pelayan di rumah belakang, dia tiba-tiba muncul dengan wajah polos cerianya dan menyapa semua orang yang dia temui di ruang bawah. Ada diantara mereka yang sedang bekerja, ada juga yang sedang bersantai karena mendapatkan sift malam. " Selamat pagi semuanya? numpang lewat ya, mau ke kamar Aran." Disisipi senyum dan tawa yang terlarang untuk dilihat semua orang. Diantara mereka bahkan ada yang memalingkan wajah. Seorang pelayan menjatuhkan gelas kopinya, sementara Daniah langsung berlari menaiki tangga ke lantai dua menuju kamar Aran. Sudah terbiasa seperti di rumahnya sendiri. " Hei, tutup mulutmu! Kau sudah gila ya bagaimana bisa kau memandang nona seperti itu. Kau mau mati?" Seorang pelayan laki-laki mendorong temannya. "Kalau pak Mun melihatmu, habislah riwayatmu." Pelayan yang di nasehati itu, benar-benar mengusap bibirnya, lalu berteriak keras. Terlambat menyadari kalau secangkir kopi itu mengenai kakinya. Dia tidak merasa kepanasan tadi, tapi sekarang kakinya seperti terbakar. Seorang pelayan wanita yang mendengar teriakannya, sigap membawakannya kain basah. " Kenapa nona bisa terlihat seperti kupu-kupu." Belum selesai dia bicara temannya sudah membekap mulutnya. Apalagi saat pelayan wanita itu mendongak saat membersihkan tumpahan kopi di lantai. Memandang tidak suka. " Maaf, temanku pasti sudah gila." tertawa mengusir canggung agar gadis di depannya ini melupakan kata-kata yang barusan terucap. " Kalau kau mau mati, mati sendiri sana." Menariknya keluar dari rumah. " Hati-hati dengan bicara kalian, kalau kalian masih mau bekerja di sini." selesai membereskan tumpahan kopi. " Baik. Maafkan kami." Menundukan kepalanya sendiri sekaligus mendorong kepala temannya dengan tangan. Saat si gadis pelayan wanita sudah berlalu, mereka terlihat dorong-dorongan sambil saling memaki. " Tapi nona memang terlihat jauh sekali berbeda dengan yang aku temui dulu. Sekarang nona benar-benar terlihat bersinar." Bergumam sambil melihat ke arah pintu yaang sudah tertutup. " Aku bertemu nona dalam jarak dekat saat mengantarnya pulang di hari pernikahannya dengan tuan muda." Dan laki-laki itu bisa melihat dengan jelas perbedaan garis wajah nonanya. " Sudah kubilang kalau kau mau mati, mati sendiri saja. Jangan mengajaku, aku masih ingin membelikaan ibuku rumah." Menolak keras membicarakan nona Daniah dalam bentuk apa pun Ada banyak mata di rumah belakang. Membuat semua orang menjaga sikap dengan sangat hati-hati. Apalagi yang berhubungan dengan nona mudanya. Membicarakan nona Daniah adalah hal tabu yang bisa membuat mereka kehilangan pekerjaan. Sementara Daniah, tidak pernah tahu, kalau keberadaannya di rumah belakang bisa membawa banyak dampak bagi orang lain. Dia masih sering keluar masuk tanpa beban. seperti pagi ini. ¡° Aran!" Membuka pintu, sementara Aran sedang membereskan kamarnya menoleh. " Bersiaplah, ikut kami pergi.¡± ¡° Kemana nona?¡± Sudah tidak terkejut lagi, ketika melihat nonanya tiba-tiba muncul di dalam kamar. "Bukankah nona tidak diizinkan keluar rumah hari ini?" Dia sudah mendapat informasi jadwal kegiataan, kalau hari ini nona Daniah tidak akan keluar atau pergi bekerja. ¡° Pergi bertemu ayah mertuamu.¡± Mengedipkan mata. Deg, tangan Aran langsung berkeringat. Apa ini, akukan belum siap. Lagipula memang sekertaris Han mengizinkan aku menemui ayahnya. Nona, kenapa kamu seagresif ini si. ¡° Baiklah tunggu aku di bawah ya. Kita pergi bersama tuan Saga.¡± Daniah langsung menutup pintu tanpa mendengarkan sepatah katapun dari Aran yang tampak bimbang. Dan sekarang di sinilah aku! Aran. Perjalanan dengan banyak tanda tanya besar di kepala Aran. Semua orang tengelam dengan pikiran mereka. Tidak ada yang bicara, Saga sekalipun. Dia hanya menarik tubuh Daniah ke dekatnya, membiarkan istrinya itu bersandar sampai rambutnya menempel di bibirnya. Ntah apa yang sedang dia pikirkan. Mungkin sedang mengenang beberapa cerita hidupnya bersama paman. Atau hanya sekedar mereka ulang masa-masa pertemuannya bersama Han. Daniah memilih untuk membiarkan. Dia ikut merenung juga. Mencoba menyusun rencana kehidupannya sendiri, versi yang ia impikan. Bukan sekedar apa yang Saga rencanakan. Di kursi depan di samping sopir,Aranpun sedang terlibat dengan pikirannya sendiri. Dia melihat ke jendela, menerawang jauh membayangkan wajah Han. Sekaligus menduga-duga bagaimana sosok ayah mertua yang akan dia temui hari ini. Tunggu! Kenapa bukan sekertaris Han yang menghubungiku langsung. Tiba-tiba wajah Aran berubah pias. Jangan bilang ini rencana nona untuk membuka kedekatan mereka. Tidak! panik sendiri, karena sepertinya ini terlalu cepat. Ayah mertua? seperti apa ya orangnya? Tapi kenapa aku jadi takut begini, kalau sekertaris Han marah melihatku tiba-tiba muncul bagaimana? Perasaan senang tadi saat masuk mobil tiba-tiba langsung menguap begitu saja. Apalagi saat selintas wajah galak itu muncul, ditambah lagi sosok rekaan yang berhasil diciptakan Aran di kepalanya. Seorang laki-laki tua yang akan menjadi ayah mertuanya. Haha, lagi-lagi berharap lebih. Wajah tegang dan pikiran yang berkecamuk di kepala Aran sampai membuatnya tidak menyadari ada yang aneh dari kursi belakang. Tuan Saga yang biasanya seperti bocah kanak-kanak kalau bersama nona Daniah hari ini terlihat kalem dan mendadak diam. Tapi karena dia sedang sibuk dengan skenario hidupnya hingga tidak menyadari itu. Apa yang harus kukatakan pertama kali. Hallo tuan selamat siang saya Arandita. Atau begitu saja ya. Bayangan wajah yang sama angkuhnya dengan Han, hanya menatap dengan ujung matanya. Garis wajah yang sama. Sisa ketampanan yang tidak memudar. Pintar sekali Aran membuat sketsa wajah di kepalanya. ¡° Kau, calon istri anakku?¡± Haaaaa, aku harus bagaimana ini. Aku mau bertanya pada nona, tapi aku bahkan tidak berani menoleh karena tuan Saga. Aran bahkan tidak punya kesempatan untuk bicara apapaaun sepanjang jalan. Saat dia melirik sopir yang membawa mobil diapun tidak terlalu mengenalnya. Hanya sekedar nama atau mengangukan kepala sopan jika bertemu di rumah belakang. Lagipula aku bisa bertanya apa padanya. Dan sepanjang perjalanan Aran membuat sebuah skenario dadakan tentang apa yang akan dia lakukan di depan calon mertuanya. Huh, dia menertawakan dirinya sendiri. Bagaimana dia bisa sepede itu bicara, bahkan dianggappun belum. Jangankan dianggap menantu, dianggap manusia normal oleh sekertaris Han saja belum. Sementara itu, dari kursi belakang tersengar suara memecah kesunyian. ¡° Sayang.¡± " Hemm." ¡° Jangan bilang aku yang memberi ide kamu datang jam segini padanya ya.¡± ¡° Hemm.¡± ¡° Jawab dulu.¡± ¡° Kenapa? Kau takut?¡± ¡° Haha. Ia.¡± Mendongak sambil menyentuh pipi Saga. ¡° Aku takut kalau dia marah. Kalau dalam situasi biasa mungkin aku masih bisa meledeknya, tapi situasi seperti saat ini jangankan meledeknya bicara dengannya saja aku ragu.¡± ¡° Memang apa yang mau dia lakukan?¡± Ia, di depanmu dia pasti diam saja. Tapi kalau dia membalasku nanti bagaimana. ¡° Sayang¡± ¡° Hari ini aku akan melakukan apapun yang kau mau.¡± ¡° Memang sudah seharusnya seperti itu¡± Tegas. ¡° Haha, terkadang akukan masih membantahmu.¡± Mengoyangkan jemari di dagu Saga. ¡°Tapi hari ini aku benar-benar akan menjadi Niahmu yang patuh dan manis. Jadi tuan muda, kamu harus tersenyum dan bahagia ya.¡± ¡° Haha. Berani sekali kamu memberiku penawaran begitu.¡± Sementara itu di kursi depan, Aran memasang telinganya. Wajahnya terlihat berkerut binggung. Apa yang mereka bicarakan si? Mereka sedang membicarakan siapa? Kenapa perasaanku tiba-tiba tidak enak begini. Sekali lagi karena tidak bisa menebak akan pergi ke mana dan apa yang dibicarakan oleh kursi di belakang membuat Aran semakin tersudut dengan pikirannya sendiri. Saat Aran belum bisa menenangkan hatinya, Mobil memasuki sebuah gerbang tinggi. Aran semakin dibuat binggung saat melihat tulisan besar di gerbang yang menyambut kedatangan mereka. Lalu mobil masuk menuju area parkir. Kenapa kita datang kepemakaman? Siapa yang meninggal? Tunggu, nona bilang tadi mau bertemu ayah mertuakan. Wajah Aran langsung pias. Mulai bisa meraba apa yang ada di depannya. Saat mobil berhenti di area parkir terlihat ada beberapaa mobil yang sudah terparkir di sana. Matanya semakin berkeliling mencari. Dimana dia?¡¯ Yang dia cari tidak terlihat batang hidungnya. Tapi segera dia menangkap beberapa sosok dengan jas rapi sedang berkumpul. Ada yang sedang duduk dan ada yang sedang berdiri mengobrol. Dua diantaranya dia kenali. Satu dokter Harun dan satu lagi Noah, seseorang yang dia datangi pesta pernikahannya beberapa waktu lalu bersama nona. Hari menegangkan yang membuatnya hampir kehilangan pekerjaan. Kenapa mereka ada di sini? Tapi kenapa tidak ada sekertaris Han? Aran langsung keluar dari mobil saat mobil berhenti. Berdiri di samping pintu, karena sepertinya tuan Saga tidak membiarkan nona Daniah turun. Laki-laki itu menundukan kepalanya setelah menutup pintu. ¡° Tetap di sini, aku akan menyapa teman-temanku sebentar. Lalu kita naik ke atas.¡± Daniah mengangukan kepala sambil melirik orang-orang yang berkerumun di kejauhan. Saga menjentikan jarinya meminta Aran mendekat. ¡° kau tahu yang harus kau lakukan?¡± ¡° Ia, ia tuan.¡± Menundukan kepalanya. Langsung berdiri di depan pintu mobil. Saga meninggalkan mobil, sementara sopir yang tadi membawa mobil berdiri tidak jauh dari mereka. ¡° Nona, kenapa kita di sini.¡± Daniah menutup mulutnya kaget. ¡° Memang aku belum memberitahumu?¡± Memang apa yang nona katakan? Nona cuma mengatakan kalau saya mau bertemu calon mertua saja. Sepanjang jalan sepertinya Aran sudah menghabiskan waktu sia-sia dengan kecemasan. ¡° Hari ini peringatan kematian ayah sekertaris Han.¡± ¡° Apa!¡± ¡° Maaf ya, sepertinya aku terlupa mengatakannya.¡± Bagaimaa nona bisa lupa informasi sepenting ini si. Aku bukanya datang untuk bertemu mertuaku, tapi datang ke makam mertuaku. Tiba-tiba gelisah langsung menyeruak ke hati. Kepala menoleh, melihat kerumunan laki-laki berjas. Tidak ada sekertaris Han di sana. " Jadi ayah sekertaris Han sudah meninggal ya nona? Bagaimana dengan ibunya?" merasai kesepian yang ada di hati Han. " Ibu?" Daniah belum pernah mendengar cerita tentang ibu sekertaris Han dari suaminya. " Aku tidak tahu." hening. Biasanya setiap tahun saat peringatan kematian paman. Aku tidak bertemu dengan Han. Dia akan mengunjungi makam paman pertama sebelum aku. Ya, walaupun aku ingin menjadi yang pertama menyapa paman, tapi untuk hari ini aku selalu mengalah. Karena Han anak kandung paman, dia pasti ingin bertemu dengan putra yang membuatnya banggakan. Kenapa aku tidak menemaninya mungkin itu yang kau pikirkankan? Karena dia benci menunjukan sisi lemahnya padaku. Kata-kata Saga tadi pagi terngiang di kepala Daniah. Seberapa kesepiannya dirimu sekertaris Han. Gadis itu menoleh pada Aran. Apa kedatangannya setidaknya bisa menghapus airmata di hatimu. Semoga bukan kesalahan membawa Aran ke tempat ini. Bersambung Chapter 234 Perasaan Sesungguhnya Dari dalam mobil. Daniah hanya bisa menatap kerumunan orang dari kejauhan. Daniah mencoba menghitung satu persatu jumlah mereka. Sembilan dengan tuan Saga, gumamnya. Mereka siapa ya? teman-teman masa kecil tuan Saga? ih lucunya. Membayangkan saja sudah bisa membuat orang tersenyum. Daniah hanya mengenal dua diantaranya. Noah dan dokter Harun, selebihnya belum pernah dia temui. ¡° Aran!¡± Menarik lengan baju Aran. ¡° Ia nona.¡± Menundukan kepalanya ke dalam mobil. ¡° Apa kau mengenal mereka? Ada Noah dan dokter Harun juga. Tapi selebihnya, eh bukannya itu bapak mentri negara kita.¡± Daniah sampai mengeluarkan kepalanya. Memastikan. Laki-laki yang sedang berdiri di depan Saga. Dia terlihat menoleh ke arah mobil Daniah tapi kepalanya langsung diputar cepat tangan Saga. Hingga Daniah tidak bisa melihat wajahnya lagi. Dia terlihat tertawa setelahnya sambil menepuk bahu Saga. ¡° Sepertinya benar nona.¡± Aran menjawab sambil mencoba mengenali wajah mereka satu persatu. Wahhh, ternyata teman-teman tuan saga memang bukan orang biasa. ¡° Aran, apa kau tidak mau berpaling hati?¡± Mengeser tubuh Aran supaya pintu mobil bisa terbuka. Tapi gadis itu tidak mau mengeser posisi berdirinya. ¡° Aran, aku mau keluar,¡± ¡° Maaf nona, tapi bisakah nona tetap di dalam mobil.¡± Bola mata memelas muncul. menyampaikan alasan kenapa dia berdiri di tempatnya sekarang. Atau tuan Saga bisa membunuhku kali ini. ¡° Baiklah, baiklah. Jangan tunjukan wajah seperti itu.¡± Akhirnya duduk lagi di dalam mobil. ¡° Aran, kau lihat sepertinya teman-teman tuan Saga terlihat normal. Apa kau tidak mau pindah ke lain hati?¡± Aran langsung menunduk melihat Daniah. Maksudnya? Sepertinya dia bahkan bertanya tanpa membuka mulutnya. ¡° Haha, berpaling dari sekertaris Han. Lihatlah mereka. Bukankah mereka terlihat normal dan keren-keren.¡± Menutup mulutnya sendiri malu karena memuji laki-laki lain. ¡° Noah sudah menikah, sisanya tidak tahu. Eh lihat yang itu juga tampan.¡± ¡° Ehmmm. Ehmmm.¡± Dari sudut mobil terdengar suara deheman keras. Berasal dari sopir yang mengantar mereka. ¡° Hahaa, tapi tentu saja tuan Sagaku yang paling keren.¡± Baru menyadari kalau pembicaraannya terekam oleh orang lain. ¡° Benarkan Aran, tuan Saga yang paling tampan dari mereka semua.¡± Sengaja mengeraskan suara. "Tidak, tuan Saga yang paling tampan dari seluruh penduduk planet bumi." semakin keras suaranya. Sampai sopir tadi berdehem ulang. ¡° Tentu saja nona.¡± Ikut sadar juga kalau dia dalam bahaya. Dia tidak akan mengadukan, kalau aku bergosip di belakang tuan Sagakan. Pikiran Aran dan Daniah nyaris bersamaan. sambil melirik sopir yang menatap ke arah lain. Akhirnya, Saga mengizinkan teman-temannya menyapa Daniah secara langsung. Walaupun sebelumnya dia sudah mengumbar ancaman dan syarat macam-macam. Noah sampai geleng kepala, kalau dia belum mengenal Daniah dia juga pasti seantusias yang lain. ¡° Kakak ipar apa kabar?¡± Harun mulai memprovokasi seperti biasanya. Tidak perduli Saga yang sudah melingkarkan tangan di pinggang istrinya menatap tajam. " Baiklah, perkenalkan diri kalian dengan singkat." Menarik Daniah semakin mendekat ke dalam pelukannya. " Jangan bicara macam-macam atau kuhajar kalian." Hardiknya memberi peringatan pada teman-temannya. Noah hanya bisa menahan tawa. Sementara Daniah yang menahan malu. " Kakak ipar." Salah satu dari mereka maju. " Kau mau mati!" " Baiklah, baiklah. Nona Daniah, saya Keanu. Saya walikota XX tempat nona berbulan madu kemarin, saya minta maaf sudah membuat nona tidak nyaman di kota saya. Dan." " Cukup! mau sampai kapan kau bicara. Lanjut." Ini mereka lagi main apa si! Sudah seperti orientasi siswa baru. Memperkenalkan nama secara bergilir, sudah mereka berbaris rapi lagi. Noah juga ikut berdiri dalam barisan. Apa aku yang merasa ini aneh, atau mereka sama tidak normalnya dengan tuan Saga. " Nona Daniah saya, Abram. Saya" " Ia, bapak mentri." Daniah menggangukan kepalanya, terkejut saat Saga menarik tangannya untuk mundur dan berdiri di belakangnya. " Kau mengenalnya? Kalian pernah bertemu di mana?" Menatap Abram kesal. Hei, diakan mentri negara kita. Mentri paling populer karena ketampanannya sudah seperti selebriti dunia. Jelas semua orang mengenalnya. " Sayang, diakan sering muncul di TV." bicara di balik punggung. Merasa malu sendiri dengan kelakuan suaminya. " Noah, kenalkan mereka satu persatu. Sebutkan saja nama mereka." Protes mengudara. Menyapa Daniah secara langsung itu sudah seperti mengobati dahaga penasaran mereka selama ini. Tentang wanita yang sudah menaklukan hati Saga dan membuatnya berubah. Mereka masih ribut, yang belum mendapat giliran bicara. " Kenapa? Protes! mau tidak kuizinkan kalian menyapanya sekalian." akhirnya protes berhenti ketika kalimat final itu terucap. Mereka masih mengerutu saat Noah menyebutkan nama mereka masing-masing serta status dan pekerjaan mereka. Daniah hanya melambaikan tangan di balik punggung Saga, sambil tersenyum malu. Mencoba mengingat semua nama dan pekerjaan yang di sebutkan Noah. " Kalau aku kau sudah kenalkan, mata...." " Cukup!" Langsung memotong sebelum Noah menyelesaikan kalimatnya. Cih, aku bahkan belum menyelesaikan kalimatku. Matahariku. Matahariku. Weeek. Acara perkenalan selesai. Daniah sudah bisa mengingat semua nama-nama yang diperkenalkan Noah. Merekapun berjalan menyusuri trotoar. Menuju area pemakaman. Pohon-pohon hijau yang asri melindungi pejalan kaki. Tempat ini nyaman dan indah, tapi tetap saja, siapapun yang datang kemari selalu membawa luka besar kenangan di hati. Mereka sampai di pintu masuk sebuah komplek pemakaman. Di dalam pemakaman ini terbagi menjadi beberapa zona. Tulisan besar nama setiap zona ada di gerbang kecil. Daniah melihat jalan menuju makam ayah Saga dan juga makam ibunya yang sudah dipindahkan. Ibu, aku datang. Aku akan menyapamu nanti ya. Brug! Karena melamun, Daniah tidak menyadari kalau Saga berhenti. Akhirnya dia menabrak tubuh suaminya. Mengusap-usap hidungnya yang terbentur. ¡° Sayang, kenapa?¡± mengintip dari balik punggung Saga. Karena Saga tidak bergerak ataupun bicara sepatah katapun. Haaaa, sekertaris Han. Sekertaris Han, untuk pertama kalinya Daniah melihat wajah dingin itu terlihat mengantung mendung. Yang teramat sangat. Yang tidak bisa ia tutupi. Yang bisa di lihat oleh orang lain. Daniah merasa bersalah, jadi raut wajah ini yang ingin ia sembunyikan dari tuan Saga. ¡° Tuan muda." Menganggukan kepalanya dalam. " kenapa anda di sini?¡± Han melihat di belakang, rombongan yang lain juga menghentikan langkah mereka. Kenapa yang lain juga datang bersamaan seperti ini? Selama ini Hanpun tahu kalau Saga dan lainnya selalu datang mengunjungi ayahnya setiap tahun. Walaupun mereka tidak pernah bertemu seperti ini. Saga selalu mengambil waktu setelah dia meninggalkan pemakaman. Karena tuan mudanya itu tahu, kalau dia membenci di lihat dengan kondisi menyedihkan seperti hari ini. Tapi kenapa sekarang mereka muncul bersamaan begini? ¡° Kau sudah bertemu paman?¡± ¡° Ia tuan muda.¡± ¡° Apa kau mengadu tentangku.¡± Han terdiam, hanya menatap Saga lekat. Melihat Saga berdiri di hadapannya melihatnya dengan kondisi menyedihkan membuat harga dirinya tercabik. ¡° Kenapa anda datang?¡± ¡° Niah bilang, kalau kau akan lebih senang kalau ada yang menemani di harimu yang berat. Selama ini kau tidak mengizinkan siapun melihatmukan? Niah pikir kau kesepian, jadi dia menyuruhku datang diwaktu yang sama denganmu.¡± Menjawab dengan jujur alasan keberadaannya di pemakaman bertepatan dengan kunjungan Han. Kenapa dia bawa-bawa aku si. Dasar! Kau sedang mengumpankan istrimu ke mulut harimau tahu. ¡° Tuan muda.¡± Daniah di balik punggung Saga menarik jas laki-laki itu. Lalu kepalanya muncul. ¡° Apa kau baik-baik saja sekertaris Han¡± melambaikan tangan. ¡°Aku juga ingin bertemu paman dan berterimakasih padanya.¡± Menarik tangan Saga dan berbisik. ¡°Sayang, dia tidak marahkan?¡± sejujurnya Daniah merasa takut dengan reaksi Han selanjutnya. ¡° Terimakasih sudah datang hari ini tuan muda dan juga nona." Menggangukan kepala dalam. "Silahkan!" Han mempersilahkan Saga lewat dengan tangannya. Lalu dia menyapa semua orang yang datang, diapun sempat melirik Aran yang berdiri di kejauhan. ¡° Kau sudah bekerja keras Han.¡± ¡° Hiduplah dengan baik, selanjutnya juga seperti itu.¡± ¡° Paman pasti bangga melihatmu.¡± " Kau sudah bekerja keras Han." Ntah kenapa suasana yang biasanya sepi, yang biasanya ia tangisi sendiri, terasa sangat lain hari ini. Han menyentuh dadanya yang berdenyut. Tidak tahu kenapa dia merasa senang hari ini melihat semuanya datang bersamaan. Terimakasih nona. Kau benar, walaupun menyedihkan dilihat, tapi aku benar-benar senang melihat tuan muda hari ini. " Kemarilah! Apa kau tidak mau menyapa ayahku?" Menoleh, melihat Aran. Aran terkejut mendengarnya, dia berlari mendekat. Jalan mensejajaari langkah Han tanpa bicara sepatah katapun. Menuju makan ayah mertuanya. Semoga. " Aran kami turun duluan ya." Daniah berbisik di telinga Aran. " Semangat ya." Aran hanya bisa tersenyum sambil mengangukan kepalanya dalam. Hanya tersisa dua orang, yang masih membisu satu sama lain. Duduk terdiam di sebuah kursi panjang. Menatap lurus ke depan dengan pikiran masing-masing. Aran hanya melirik melalui ujung matanya, melihat wajah yang biasanya tanpa ekspresi itu. Terlihat sedikit mendung. ¡° Maaf, saya ikut hadir di tempat ini tuan.¡± Tau posisinya, mungkin dia sudah melebihi batas. Han mendesah, menarik nafas dalam. ¡° Apa tuan baik-baik saja?¡± ¡° Aku senang kau datang.¡± Han menjawab singkat, lalu memilih terdiam lagi. Eh, apa dia bilang. Kenapa dia membingukanku begini si, di satu sisi dia selalu membuka pintu membuatku mendekat. Tapi kadang dia menjaga jarak agar terus terbentang lebar. ¡° Apa nona Daniah yang mengajakmu?¡± ¡° Ia.¡± Nona bahkan mengatakan saya mau bertemu ayah merua saya. Han ingin mendekat, tapi diapun tetap menjaga jarak. Karena hatinya belum menjumpai keyakinan. ¡° Aran, tuan muda adalah hal paling utama dalam hidupku sejauh ini. Tidak ada yang kuanggap penting selain kebahagiaannya. Itulah janji dan sumpahku, meneruskan sumpah ayahku pada tuan besar.¡± Menatap lurus ke depan. ¡° Selama aku belum yakin tuan muda hidup dengan bahagia, aku tidak pernah terpikirkan untuk hal lain.¡± Glek. Apa dia sedang menjelaskan alasan kenapa selama ini dia menolakku. Walaupun sebenarnya dia tidak mau menolakku. ¡° Saya akan menunggu, kalau tuan minta saya menunggu.¡± Jadi katakanlah apa yang kau inginkan. Aran bergumam. Dia ingin menyandarkan kepalanya di kepala Han sekarang. Han tertawa kecil. Lalu dia bangun dari duduk. Menatap Aran lekat. ¡° Aku tidak berfikir kau akan sanggup melakukannya.¡± Mengulurkan tangan, ragu Aran meraih tangan itu dan juga bangun dari duduk. ¡° Kenapa? Apa tuan meragukan perasaan saya.¡± Protes. ¡° Kalau begitu, berusahalah.¡± Tersenyum tipis lalu berbalik melangkah. Apa dia memintaku menunggu! " Tuan! Tunggu jelaskan apa maksud kata-kata tuan." Han tidak mengubris dan terus melangkah. Bersambung Chapter 235 Ibunya Aran Aran Kembali ke rumah dengan perasaan berdebar. Daniah yang sengaja meninggalkan Aran di pemakamam. Supaya mereka mendapatkan kesempatan berdua lebih lama. Akhirnya sekertaris Han yang membawanya kembali ke rumah. ¡° Masuk dan istirahatlah!¡± ¡° Terimakasih tuan sudah mengantar saya. Anda juga, pulang dan beristiraharlah.¡± Han hanya mengangkat tangannya lalu memutar mobil meinggalkan halaman rumah. Terimakasih nona karena sudah mengajakku hari ini. Aran memiliki kesempatan melihat sisi sekertaris Han yang lainnya. Dan ucapan laki-laki itu saat beranjak dari pemakaman dia gengam erat di hatinya. Dia akan menunggu. Aran langsung naik ke kamarnya, menjatuhkan diri di atas tempat tidur. Lalu bangun dengan cepat dan mengambil hp pribadinya di laci meja. Saat teringat sesuatu yang penting. Dia menghidupkan hp, layar berkedip-kedip. Sambil menunggu notifikasi masuk dia memilih merebahkan diri sambil menatap langit-langit kamar. Gajinya sudah keluar hari ini. Itu artinya dia bisa mentransfer uang untuk orangtuanya. Glek. Saat dia mengeceknya tadi pagi jumlahnya sama persis sepertinya yang di janjikan sekertaris Han. Sepertinya ancamananya untuk memotong gajinya saat dia membeli barang di pulau XX tidak dia lakukan. Sambil tiduran Aran menghubungi sebuah nomor. Nomor yang sudah menerornya dengan puluhan pesan dan panggilan tak terjawab. Agak gentar juga saat dia melakukan memencet nomor tadi. Aaaaaa, aku beri alasan apa ya pada ibu. Kadang dia menakutkan sekali. ¡° Ibu. Huaaaa, aku kangen!¡± Langsung menjerit ketika mendengar suara seorang wanita di serang. Daripada kena omelan, lebih baik dia duluan yang bicara. ¡° Aran!" Suara ibu sampai bisa memecahkaan gendrang telinga. Aran menjauhkan hp sambil menatap ngeri. Kalau dia ada di samping ibu mungkin sudah habis dia. " Arandita!" Berteriak dingin. " Kamu masih hidup rupanya.¡± ¡° Ibu!¡± tersedu-sedu yang dibuat-buat. ¡° Kemana saja kamu anak tidak tahu diri!" Sifat asli ibu muncul. " Sudah sebulan tidak bisa dihubungi.¡± Berteriak. ¡°Berhenti pura-pura menangis!¡± Suara marah bercampur senang karena bisa menghubungi anaknya lagi. Aran langsung tercekik karena ibunya tahu dia cuma tersedu palsu. ¡° Ibu, aku kangen. Jangan marah-marah lagi donk¡± Tidak bisa dihubungi binggung, giliran bisa bicara dengan anaknya malah dimarahi. ¡° Eh, kenapa di matikan?¡± Sambungan telfon terputus. Aran sudah mau menghubungi lagi ketika sebuah vidio call masuk. Huaaaa, kalau melihat wajah ibu malah membuatku takut! Dia pasti marah besar. Ragu Aran mengeser layar hpnya. Menerima panggilan masuk dari ibunya. ¡° Ibu!¡± ¡° Aran!¡± wajah ibu terlihat berkaca-kaca. Tapi kemudian langsung muncul kobaran marah, ¡°Anak bodoh, kemana saja kamu?¡± ¡° Ibu maaf. ¡± Aran duduk dan merapat ketembok. ¡° Apa ibu baik-baik saja? aku di sini sehat dan baik-baik saja.¡± Katanya lirih. Sudah lama mereka tidak bersua dan memeluk tubuh satu sama lain. Aran bisa melihat kecemasan di wajah ibu. Ya semenjak dia keluar dan menghilang dari keluarganya beberapa tahun lalu ibu memang sangat mencemaskannya. Apalagi saat dia mengatakan ingin pergi dari rumah sementara. Sementara yang memakan waktu tahunan, karena dia sendiri merasa malu kembali tanpa membawa apa-apa. Gadis sukses yang menjadi reporter di stasiun tv ternama harus di pecat dari perusahaan, lantas apa lagi yang bisa dia banggakan. Untuk itulah dia harus menghilang. Aran masih memberi kabar keberadaannya. Sekedar absent kalau dia masih hidup dan baik-baik saja sebulan sekali sambil memberi transferan uang tidak seberapa. ¡° Katakan, apa yang sedang kau kerjakan sekarang.¡± Ibu terlihat letih. Dia menatap Aran. Bibirnya bergetar. Ya dia senang melihat wajah putrinya. ¡° Kenapa menghilang dari kontakan mu, tidak ada kabar sama sekali. Aran, apa kamu baik-baik saja.¡± Saat mulai menunjukan kerinduannya. Sudut matanya mulai berair. " Maaf bu. Jangan menangis, ibu tahukan aku setegar karang." Tertawa pedih. "Aku akan bertahan dan menjadi orang sukses lagi." Ibu tidak menjawab, dia hanya menatap lekat putrinya. Meyakinkan dirinya kalau apa yang dikatakaan putrinya bukan kebohongan yang hanya menyenangkan dirinya. " Aran." ¡° Ibu aku sudah mendapat pekerjaan tetap.¡± Setelah beberapa waktu mereka hanya saling pandang melepas rindu, Aran pelan-pelan akan menceritakan semua. Dia sangat dekat dengan ibunya. Selama ini. ¡° Pekerjaan apa? bukankan sekertaris Antarna Group itu sudah membuatmu tidak bisa bekerja lagi.¡± Ibu meremas geram udara membayangkan sosok laki-laki yang membuat putrinya kehilangan pekerjaan. Di susul makian khas ibu-ibu yang geram melihat penjahat di TV. ¡° Ibu, dia bukan orang jahat. Jangan memakinya.¡± ¡° Berhenti membelanya anak bodoh! Dia sudah menghancurkan hidupmu.¡± Aaaaaa ibu, apa kau pura-pura tidak tahu, kalau anakmu ini tergila-gila dengan laki-laki yang sedang kau maki-maki itu. ¡° Pulang! Ibu mau melihatmu langsung, kalau perlu memukul kepalamu supaya sadar.¡± ¡° Ibu, aku tidak bisa pulang. Pekerjaanku.¡± Aran bahkan tidak pernah keluar dari halaman rumah kecuali jika nona Daniah keluar. ¡° Kau bekerja di mana?¡± Menatap kesal. ¡° Ibu, layar hp ibu bisa retak nanti.¡± Aran tertawa sambil mengusap-usap layarnya sendiri. Membuat ibu juga tertawa, tapi dengan nada sedikit kesal. ¡° Kau bekerja dimana anak nakal? Tidak menjawab!.¡± ¡° Di Antarna Group.¡± Gumam-gumam, sengaja biar ibu tidak mendengar jelas. ¡° Sudah ya bu aku mau kerja lagi.¡± Berbohong. Ingin menyelamatkan diri dari terkaman ibu. Hiiiii, merinding melihat mata ibunya yang berkobar. ¡° Arandita!¡± teriakan mengema. ¡° Apa kau sudah gila! Bagaimana bisa kau bekerja di Antarna Group.¡± Aaaaaaa, sial! ibu mendengarnya ternyata. ¡° Ibu.¡± ¡° Pulang!¡± ¡° Aku mendapat gaji tiga kali lipat daripada di stasiun TVXXX.¡± Tiba-tiba ibu menghilang dan berganti lantai. ¡° Pecahkan itu hp.¡± Kata Aran, ibunya pasti langsung menjatuhkan hp karena terkejut. Wajah ibu muncul lagi dengan raut bahagia, cemas, terkejut, dan kuatir sampai Aran binggung bagaimana mengambarkannya. Ibu pasti sedang mencoba menghitung berapa jumlah total gaji anak perempuannya. ¡° Kau bekerja apa di sana!¡± Berteriak keras lagi setelah selesai menghitung. ¡° Gaji tiga kali lipat dari di stasiun TV! Kau disuruh melakukan apa!¡± Ibu! Memang apa si yang ibu pikirkan. ¡° Arandita!¡± ¡° Ibu, aku masih perawan suci lahir dan batin.¡± Menepuk dadanya. ¡° Aku bahkan belum pernah berciuman kecuali dalam mimpi bu. Jadi buang pikiran ibu yang macam-macam itu.¡± Apa kalian percaya, kalau darah halu Aran mengalir dari ibunya. Ibu adalah seorang penulis novel misteri, sampai dia memutuskan berhenti menulis. ¡° Kau pikir ibu bodoh. Apa kau jadi wanita simpanan presdir Antarna Group?¡± ¡° Ibu, berhenti bicara omong kosong. Tuan Saga sangat mencintai nona Daniah. Itu adalah fakta paling benar yang ada di muka bumi ini.¡± Aku itu cuma cumi-cumi kering di depan tuan Saga, bagaimana ibu bisa berfikir yang aneh-aneh begitu.¡± Ibu mengerutu sambil membaca kejujuran di mata anaknya. ¡° Jangan bilang kau bekerja untuk sekertaris sialan itu.¡± Ibu tidak akan lupa dengan wajah sekertaris Antarna Group. Laki-laki yang sudah menghancurkan hidup putrinya. Laki-laki yang belum pernah dia temui langsung, tapi sudah ia benci sampai ke akar hatinya. ¡° Ibu sudah kukatakan jangan memakinya.¡± ¡° Dia menyuruhmu apa? jadi tempat pelampiasan!¡± ¡° Ibu! Berhenti memakai kosakata aneh. Aku baik-baik saja bu, dan pekerjaankku sangat-sangat enak di sini. Aku dikelilingi orang-orang baik. Jadi jangan kuatir. ¡° Pulang kerumah atau aku akan mencarimu.¡± memutus cepat pembicaraan Aran. ¡° Ibu, memang ibu tahu di mana rumah presdir Antarna Group.¡± Aran langsung menutup mulutnya. ¡° Apa! kau tinggal di rumah presdir Antarna Group!¡± memekik keras lagi. "Aran, kau tidak sedang gilakan?" Ibu semakin dibuat frustasi. " Ibu, tenangkan dirimu. Akan kuceritakan semuanya nanti." " Pulang! Kalau kau tidak mau aku muncul di depan gedung Antarna Group sambil membawa sapu." Panggilan terputus. Aaaaaa ibu! Seenaknya memutus panggilan. Membayangkan ancaman itu saja sudah menakutkan sekaligus memalukan. Apalagi kalau sampai itu benar-benar terjadi. Apa ibu akan datang sambil meneriaki nama sekertaris Han, sejujurnya Aran ingin tertawa. Tapi dia bahkan merasa kalau ibunya benar-benar akan melakukan itu. Bagaimana ini? Apa aku minta izin nona untuk keluar rumah. Epilog " Tuan, apa saya bisa minta izin untuk keluar rumah besok?" " Tidak." Cepat sekali menjawabnya. " Hanya sebentar, saya mau pulang ke rumah sebentar saja." Apa! Dia tidak membalas! Aran melemparkan hpnya kesal. Bagaimana sekertaris Han bisa sekaku kawat jemuran baju begitu. Padahal mereka baru perpisah tadi dengan hangat. Bagaimana ini? Ah nona. Harapan masih ada untuk tidak melihat ibu menunggu di pintu masuk gedung Antarna Group sambil membawa sapu. Bersambung Chapter 236 Pulang Ke Rumah Barang masuk hari ini menggunung. Ada tumpukan karung di depan pintu lantai bawah. Baju anak laki-laki baru saja masuk. Semua karyawan cekatan melakukan pekerjaan mereka masing-masing. Bahkan Daniah merasa kalau karyawannya sudah menjadi tenaga profesional semua. Dua orang staf ahli yang dikirim Saga benar-benar membuat toko yang awalnya bermodal managemen sederhana, menjadi seperti perusahaan kecil dengan tenaga ahli. Kesibukan yang tercipta, membuat para karyawan tidak banyak mengobrol. Dan tidak menyadari kalau Aran terlihat jauh lebih diam hari ini. Dalam perjalanan keberangkatan mereka tadi, Aran sudah maju mundur, meremas kemudi kendaraan. Tapi belum terucap juga kalau dia mau minta izin pulang ke rumah. Meninggalkan Daniah sendirian walaupun di dalam ruko, kalau sampai ketahuan, bisa tamat riwayat pekerjaannya. Tapi membawa nonanya pulang, apa itu mungkin. Aran sedang mengambil foto-foto produk terbaru. Dibantu Tika yang cekatan membuka bungkusan baju, menatanya di karpet. Aran dengan kamera profesionalnya bergerak ke kanan dan ke kiri. Menentukan sudut yang paling tepat, supaya produk yang dia foto terlihat sempurna. Mengatur pencahayaan. Kemampuannya dengan kamera profesional sudah tidak diragukan lagi. Lantai atas sedang di sulap menjadi studio mini. Bagaimana ini! Kalau aku tidak pulang dan ibu benar-benar muncul di gedung Antarna Group bagaimana? Sambil membawa sapu lagi! Aaaa, aku bahkan baru mendapat gaji pertamaku, apa itu akan jadi gaji terakhirku. Masih bergerak kesana kemari dengan kameranya. Pikirannya juga terbang kemana-mana. ¡° Mbak Aran sejak foto-foto produk difoto mbak Aran, jadi terlihaat lebih bagus. Mewah dan berkelas.¡± Akhirnya selesai juga. Tika terduduk dengan tumpukan baju yang harus di lipat dan dimasukan kembali ke dalam plastik. ¡° Hehe.¡± Menjawab dengan tawa, sambil membersihkan kamera dan menyimpannya kembali ke lemari penyimpanan. Masih mengantung lesu wajahnya. ¡° Aku juga ingin belajar lho.¡± Melipat, melipat dan melipat baju lagi. ¡°Apa bisa angkat aku jadi murid Mbak Aran donk. Please, aku akan belajar dengan giat.¡± Memohon sambil mengatupkan tangan. ¡° Aku juga masih amatir kok.¡± Bola mata Tika penuh harap. Membuat hati Aran luluh. ¡° Kalau cuma tehnik dasarnya aku lumayan, jadi baiklah kita bisa belajar sehabis makan siang.¡± ¡° Terimakasih mbak. Aku akan pamer dengan anak-anak di bawah. Siapa tahu mereka juga mau belajar.¡± Tika berlari menuruni tangga. Eh, akukan cuma mau mengajarimu! ¡° Sepertinya kau disukai oleh anak-anak.¡± Daniah naik ke atas, bertemu dengan Tika di bawah yang bercerita kalau dia mau jadi murit kelas foto, dengan guru mbak Aran. Daniah mengambil hpnya di dalam tas, lalu menjatuhkan tubuh di tempat tidur. Ada beberapa pesan masuk. Dari nomor yang tidak tersimpan di hpnya. Abas! Foto profilnya jelas-jelas Abas. Daniah mendesah, apalagi ini. Urusan akan menjadi sangat panjang kalau sampai tuan Saga tahu dia mengirim pesan pada laki-laki lain. Daniah ingin menekan tombol delete bahkan tanpa memeriksa isi pesan. Tapi penasaran, penasaran, lebih mengerogoti hatinya. Dan akhirnya. ¡° Niah, apa kabar ini aku, Abas.¡± ¡° Nomor hpmu tidak ganti ya ^_^¡± dengan emotik senyum di belakangnya. ¡° Maaf, seharusnya aku tidak menghubungimu.¡± ¡° Tapi aku tidak tenang dan kuatir, jadi aku memberanikan diri menghubungimu.¡± ¡° Niah, apa kamu benar menikah dengan tuan Saga?¡± ¡° Tuan Saga tidak memaksamu menikah dengannyakan?¡± ¡° Apa kamu bahagia sekarang?¡± Rentetan pesan dari Abas. Daniah menjatuhkan hp yang dia pegang sambil menatap langit-langit rukonya. Membayangkan wajah Abas. Laki-laki berhati hangat yang pernah mengisi hidupnya di masa lalu. Kenapa dia mengirim pesan seperti ini si. Apa aku terlihat menyedihkan sekali kemarin. Daniah, apa yang kau pikirkan sekarang. Hapus pesan ini dan jangan membalasnya. Kalau kau tidak mau mendapat masalah baru lagi. ¡° Ehmm, nona.¡± Aran mendekati tempat tidur ragu-ragu. Berdiri diam. Daniah membuka matanya. Membalik hp yang lampunya sudah meredup, menyembunyikan pesan dari pandangan Aran. ¡° Kenapa?¡± Daniah bangun dan duduk di pinggir tempat tidur. Daniah menebak dari semua gerakaan tubuh Aran yang penuh keraguan. Gadis itu masih diam, meremas jemari tangannya. ¡° Nona saya. Ah tidak, maafkan saya nona.¡± ¡° Kenapa? Duduklah, ada yang mau kamu katakan.¡± Menarik tangan Aran untuk duduk. ¡°Apa kau membutuhkan bantuan?¡± Apa aku boleh mengatakannya, ahh, tapi bagaimana kalau nona kesusahan juga ¡° Kamu ini kenapa?¡± ¡° Nona, apa hari ini sebelum pulang kita bisa mampir ke suatu tempat. Sebentar saja.¡± ¡° Kemana?¡± Daniah sendiripun ragu. Kalau saja dia bebas kemanapun tanpa seizin Saga dia pasti tidak keberatan kemanapun Aran mau pergi. Selama itu masih di ibu kota. ¡° Pulang ke rumah orang tua saya nona.¡± Akhirnya, walaupun masih dihantui keraguan, Daniah memutuskan tidak meminta izin atau melakukan pemberitahuan sekalipun pada sekertaris Han. Dia memperkirakan akan pulang dua jam lebih awal nanti dari jadwal biasanya. Lalu mampir ke rumah Aran, setelahnya langsung pulang ke rumah. Keduanya saling mengikat jari dengan kelingking kalau kepergian mereka ini adalah rahasia. ¡° Maafkan saya sudah merepotkan nona, dan terimakasih untuk pengertiannya.¡± ¡° Sudahlah, maaf ya tidak bisa membantumu banyak.¡± Daniah sendiri merasa tidak berdaya. Aran tersenyum, ya dia tahu. Bagaimana nonanya menjalani hari, dia terikat dengan cinta tuan Saga. Terbelengu rantai cinta yang dibuat tuan Saga. Cinta yang mengikat kebebasannya. Walaupun dia merasa nonanya menjalaninya tanpa beban, tapi mungkin di bagian terdalam hatinya masih menyisa sesak juga. ¡° Ingat ya, jangan mengatakan pada sekertaris Han." Aran menganggukan kepala. " Ayo mampir membeli oleh-oleh untuk ibumu.¡± Walaupun Aran menolak tapi pada akhirnya mobil menepi di sebuah areal parkir perbelanjaan. Daniah membeli parcel buah dan juga cake untuk buah tangan. Rumah Aran masih di ibu kota. Berada di area perumahan padat penduduk. Setelah kurang dari setengah jam sampailah Aran di rumah orangtuanya. Rumah yang ia beli dari pinjaman bank dan belum lunas sampai hari ini juga. Aran masuk ke dalam halamaan rumah. Tidak lama pintu terbuka dan sudah terdengar teriakan seorang wanita menyambut. ¡° Arandita!¡± ¡° Ahhhhh, ampun ibu.¡± Memutar ke belakang mobil, menyelamatkan diri. " Ibu! aku bersama nona Daniah!" Berteriak menunjuk Daniah yang mengangukan kepala sopan. Ibu yang sudah menggangkat sapu di tangannya langsung menjatuhkan benda itu. Mendekat dan menatap Daniah lekat. Daniah, jadi ini nona Daniah. " Ibu jangan membuatku malu donk. Kita bicara di dalam saja ya." Melihat ibu yang mematung melihat Daniah. Wanita itu lalu tersadar dan menundukan kepalanya sopan. " Bibi jangan begitu." Daniah mendekat dan mengulurkan tangan. Lalu masuk ke rumah bersamaan. Sementara Aran mengeluarkan oleh-oleh dari mobil. Huh! aku selamat karena bersama nona. Tapi kenapa dia benar-benar membawa sapu si, dasar ibu. Aku tidak pulang dicari, giliran datang mau habis dipukuli aku. " Silahkan nona di minum tehnya." Ibu meletakan dua gelas es teh di meja. " Aran, kenapa tidak bilang kalau kau pulang bersama nona Daniah. Maaf ya nona rumah kami sedang berantakan." " Tidak apa bibi." " Silahkan nona nikmati tehnya." Ibu Aran mengambilkan gelas di meja, langsung diterima oleh Daniah. " Saya permisi bicara sebentar dengan Aran." Melirik anaknya. " Ia bibi, jangan sungkan. Kaliankan sudah lama tidak bertemu." Akhirnya mereka meninggalkan Daniah di ruang tamu. Gadis itu berdiri dan melihat foto-foto yang terpajang rapi di dinding. Ternyata Aran juga punya adik laki-laki ya. " Apa dia benar-benar Daniah istri tuan Saga?" Berbisik pelan di telinga Aran, saat berhasil mendorong anaknya masuk ke dapur. " Aaaah, ibu. Berapa kali aku harus bilang si. aku bekerja menjadi asisten pribadi nona Daniah." Biar terlihat keren di mata ibu. Kalau Aran hanya menjawab kalau dia hanya sopir sekaligus pengawal, pelindung dan orang yang mengawasi nona selama keluar rumah itu pasti tidak terdengar keren di mata ibu. " Memang pekerjaan nona Daniah apa sampai perlu asisten pribadi?" Eh, ibu! aku musti jawab apa ini. " Masalahnya bukan pekerjaan nona Daniah itu apa bu. Tapi dia istrinya siapa? wanita yang dicintai siapa? Presdir Antarna Group." Ibu mangut-mangut yakin. Benar juga, untuk apa juga dia bekerja, kalau sudah mempunyai suami seperti tuan Saga. " Ayo keluar bu, nona sudah menunggu." " Tunggu!" Ibu menarik tangan Aran. " Kau tidak bertemu dengan sekertaris sialan itukan?" Aaaaaaa, ibu berhenti memaki calon menantumu kenapa. " Dengar ya, ibu tidak akan pernah merestuinya. Kalau dia datang ke rumah ini ibu akan menyiramnya dengan garam." " Ibu!" " Apa!" " Ayo keluar, nona menunggu." Aran tidak mau menjelaskan apapun. Dia saja masih berjuang memperebutkan hati sekertaris Han, belum memenangi pertempuran dengan Amera. Sekarang harus terhalang dengan restu ibu. Kenapa cinta itu menyusahkan begini si. Bersambung Chapter 237 Ketahuan Ibu! Kenapa bicara yang tidak-tidak si. Memalukan. Aran sampai menundukan kepalanya dalam. Mengesekan jari ke kursi, menahan perasaan malu. Sementara Daniah bisa menanggapi pembicaraan ibu tanpa canggung. Ibunya Aran sedang bicara tidak tahu bersumbu dan bermuara kemana. Banyak sekali yang dia ceritakan, saat membicarakan Aran dengan semua cerita yang sedikit di lebihkan dimana-mana. ¡° Terimakasih sudah menjaga Aran nona.¡± Meraih tangan dan mengengam tangan Daniah. Aran sampai menarik lengan baju ibunya. Wanita itu malah melotot. "Apa?" Dengan bahasa bibir tanpa suara. ¡° Aran bekerja dengan baik bibi. Dia gadis yang pekerja keras.¡± Daniah menepuk bahu tangan ibu Aran. ¡° Bibi memang pantas untuk berbangga.¡± ¡° Ia benar, dia reporter pekerja keras. Kalau bukan karena sekertaris itu, Aran pasti punya pekerjaan hebat sekarang.¡± Ibu masih belum bisa menrima kenyataan. Lagi-lagi ibu memaki sekertaris Han. Daniah melihat Aran. Ternyata masalah cintamu rumit ya Aran. Kau menyukai sekertaris Han yang acuh padamu, sementara itu ibumu membenci laki-laki yang kamu sukai. ¡° Ayahmu bilang dia mau menjodohkanmu dengan anak temannya.¡± Kata-kata ibu sudah seperti petir menyambar di siang bolong. ¡° Ibu, ibu kenapa si tiba-tiba.¡± kesal. Pembicaraan tentang perjodohan tidak pernah ada selama ini. Sekalipun ketika Aran berada di pelarian dan hanya sebulan sekali menghubungi ibunya. ¡° Tiba-tiba apanya, sudah dari lama ibu bilang menikah saja. Menikah dengan laki-laki baik dan menjadi ibu rumah tangga. Toh karirmu juga sudah berhentikan.¡± Ibu selalu punya pilihan kata yang jenius. ¡° Jangan membahas menikah lagi bu. Aku mohon. Sekarang aku akan fokus bekerja dan melunasi rumah ini. Baru kita bicarakan itu nanti.¡± Menjejakan kaki ke lantai. "Rumah ini saja belum lunas, aku masih harus bekerja mengumpulkan uang. Jadi berhenti bicara tentang perjodohan." Membayangkan perjodohan saja sudah pasti merepotkan. ¡° Nona, apa nona tahu, kalau gadis bodoh ini jatuh cinta dengan laki-laki yang sudah menghancurkan karirnya.¡± Ibu beralih menatap Daniah. ¡° Ibu, akukan yang salah juga. Jangan hanya menyalahkan sekertaris Han secara sepihak.¡± Membela lagi. Karena memang Aranpun merasa kalau itu juga kesalahannya. ¡° Lihat, lihat kau terus membelanya. Padahal kau sudah kehilangan karir masa mudamu. Selama berapa tahun kamu hanya jadi penulis online Aran. Itu karena siapa? karena diakan?¡± Menghujam telak. Masih untung ibu tidak memaki lagi. ¡° Ibu lupa, sekarang gajiku tiga kali lipat daripada di stasiun TVXX.¡± Tersenyum tipis, paling tidak ada yang bisa dia pamerkan. " Karir masa muda apa, akukan masih muda sekarang, masih bisa merintis karir dari awal lagi." menepuk dadanya keras penuh percaya diri. ¡° Yaaa, itu memang luar biasa.¡± Ibu mengakui. Meraih tangan Daniah lagi. ¡° Nona Daniah tolong jaga Aran ya.¡± ¡° Ibu kenapa bicara begitu, itukan membebani nona.¡± Plak! Pukulan di bahu Aran. ¡° Karena otakmu kadang tidak waras. Makanya ibu mengatakan begini. Sekarang ibu tanya, apa kau sering bertemu dengannya.¡± Menuding bahu Aran. ¡° Siapa?¡± ¡° Siapa lagi, sekertaris sialan itu.¡± Ibu langsung menutup mulutnya. "Maaf nona." Daniah hanya membalas dengan senyum. ¡° Tentu saja aku sering bertemu dengannya. Diakan sekertaris tuan saga, suami nona Daniah." Dimana ada tuan Saga, di situlah sekertaris Han berdiri di belakangnya. ¡° Lihatkan, lihat aura wajahmu berubah saat menyebut namanya.¡± Plak! memukul bahu lagi. ¡° Kau memang tidak waras karena menyukainya.¡± ¡° Ibu sakit! Kenapa memukuliku si.¡± Daniah tersenyum melihat pertengkaran ibu dan anak itu. Mereka bicara dengan keras bahkan saling berteriak dan memukul, namun tatapan mata mereka penuh dengan kasih sayang. Saling mencintai dengan kedekatan dan hati mereka masing-masing. Dia bahkan tidak pernah mendapatkaan cinta yang semacam itu. Saat sedang memandangi pemandangan cinta kasih ibu dan anak di depannya, Daniah di kejutkan dengan suara panggilan di hpnya. Hah! Itukan nada dering kusus untuk tuan Saga. Ibu dan anak itu langsung menghentikan pertengkaran mereka saat mendengar suara keras dari tas Daniah. ¡° Hehe maaf ya. Aku angkat telfon sebentar.¡± Daniah menyambar tasnya lalu berjalan keluar rumah, duduk di teras depan. Yang Mulia Raja memanggil. Dia menatap layar hpnya. Nama di phonebook yang ia pakai untuk menyimpan nama suaminya. Belum dia ganti. Dari awal dia menyimpannya dulu, karena saking jarangnya mereka berkomunikasi lewat hp. Bahkan kalau dilihat dia lebih sering mengirim pesan pada sekertaris Han, ketimbang pada Saga. Kenapa dia menelfon si. Biasanyakan tidak pernah. Ragu, bahkan takut untuk menjawab. Tapi akan tambah menjadi masalah kalau panggilan kedua kali baru diangkat. ¡° Sayang, hallo.¡± Meremas tali tasnya. ¡° Kenapa lama sekali? Kamu dimana?¡± Suaranya terdengar dingin. ¡° Haha, maaf sayang. Hp tadi di dalam tas.¡± Daniah sudah mengkerutkan bibir. Kenapa Saga bisa menelfon sekarang. ¡° Aku sudah mau pulang.¡± ¡° Pulang?¡± Jawabnya dengan nada satir. Seperti tahu, kalau Daniah tidak berada di ruko. Daniah langsung bangun dari duduk. Panik melihat sekelilingnya. Tidak mungkin dia di awasi sampai sejauh itukan. Lega karena merasa tidak ada yang aneh. Apa dia ke ruko atau jangan-jangan sudah sampai di rumah. ¡° Sayang, kamu dimana?¡± Habislah aku. Aaaaaaaa. ¡° Menurutmu aku dimana Niah sayang?¡± Benar, habislah aku. Dia memanggilku sayang kadang kalau sedang kesalkan. ¡° Sayang, aku.¡± Terbata menjawab. ¡° Dimana kamu?¡± Mulai tidak sabar. ¡° Aku sudah pergi dari ruko, dan mampir sebentar.¡± ¡° Dimana?¡± ¡° Mampir ke rumah orang tua Aran sebentar sayang. Ini sudah mau pulang.¡± " Wahh, wah, kau semakin berani ya sekarang." Daniah mengigit bibir. " Padahal aku hanya mengizinkanmu pergi bekerja ke ruko." Aran dan ibunya muncul di depan pintu. Membuat Daniah tercekik dan tidak bisa menjawab kata-kata Saga. " Sayang." " Kembali ke rumah dalam setengah jam." Sambungan mati. " Maafkan saya nona." Bukan waktunya untuk kuatir terhadap nona Arandita, yang harus membuatmu kuatir adalah nasibmu sendiri. Begitu pikiran Aran. Kalau nona mungkin hanya akan dikurung di dalam rumah selama dua hari. Tapi kalau kamu, mungkin kamu akan di seret keluar dari rumah utama. Gaji tiga kali lipatku! Hubunganku dengan sekertaris Han. Dua hal itu terbang di bawa angin topan, berputar menuju langit yang tinggi. Menjauhinya dengan cepat. " Aran apa menurutmu sekertaris Han memata-matai kita. Bagaimana bisa tepat sekali seperti ini si." Daniah menjerit kesal di dalam mobil. " Bagaimana dia tahu kalau kita pergi dari ruko." Sudah tidak tahu bagaimana ekspresi wajahnya. Sambil menjatuhkan kepala ke sandaran kursi mobil. Alasan, buat alasan Daniah. Alasan apa ya? Blank, pikiran Daniah kosong. Hanya wajah kesal Saga yang terbayang di kepalanya. Sampai mobil memasuki area parkir rumah utama, Daniah belum selesai menyusun kalimat jawaban. Dia bergegas turun dari mobil. Berjalan cepat masuk ke dalam rumah. Sekertaris sialan! sepertinya makian ibu Aran memang tepat untuk mu. Han sedang duduk dengan segelas minuman sambil memeriksa draf di tangannya. Menoleh ketika mendengar langkah kaki Daniah. Dia menutup kertas di tangannya terbalik di atas meja. Lalu bangun dari duduk. Dug! Daniah kesal menginjak sepatu Han. "Kau sengajakan? Sudah lama aku tidak bertengkar denganmu." Ucap Daniah berkacak pinggang. " Kenapa tidak bilang kalau tuan Saga pulang lebih awal hari ini." Ingin sekali Daniah berteriak dan meremas wajah di depannya yang masih terlihat santai ini. " Tuan muda bilang merindukan nona, jadi dia ingin memberi kejutan dengan menjemput nona di ruko." Lagi-lagi memberi penjelasan dengan suaranya yang datar. Daniah ingin menjerit. Kenapa waktunya pas sekali begini. " Haha, dan aku benar-benar terkejut." Langsung berhenti tertawa. mendorong tubuh Han, sengaja, padahal ada banyak ruang di sebelahnya yang bisa dia lewati. Saat sudah mau sampai ke tangga dia mendengar langkah kaki Aran membuatnya berbalik. " Nona." Aran mendekat. Daniah berbalik mendekati Han. " Nona, waktu setengah jam tuan muda menunggu sebentar lagi habis. Sebaiknya anda naik ke kamar." Wajah panik Daniah langsung menyeruak. Menoleh ke atas dan Aran bergantian. Dia memilih mendekati Aran. Han terlihat mendesah dan mengelengkan kepala. " Jangan hukum Aran." Meraih tangan Aran. " Apa kau dengar sekertaris Han?" " Tentu saja nona saya mendengarnya." tersenyum tipis. " Saya tidak akan menghukum Aran." Han melihat jam ditangannya lagi. " Waktu anda tinggal lima menit." Cih. " Aran, pergilah ke kamarmu. Jangan bicara dengannya." melirik Han. Aran menggangukan kepalanya. " Minggir!" Lagi-lagi mendorong Han dengan tangan. Berjalan biar terlihat keren. Menaiki tangga dia langsung berlari kecil. Mengejar waktu lima menit yang tersisa. Huh! apa anda kangen membuat masalah nona. Epilog " Tuan." Aran menyapa pelan. " Temui pak Mun untuk mempertanggungjawabkan kesalaahanmu." Han hanya bicara singkat, dengan nada dingin. lalu berbalik, kembali ke tempat duduknya. Membuka laporan yang dia baca tadi. " Tuan, maafkan saya." " Arandita!" Aran langsung merasa tercekik kerongkongannya. Dia melangkah meninggalkan rumah utama. Hanya menoleh sekilas sebelum keluar dari pintu. Sekertaris Han sama sekali tidak melihat ke arahnya. Lebih baik kau berteriak dan mengataiku bodoh. Daripada mendiamkanku begitu. Aran bisa merasakan kekecewaan di mata sekertaris Han. " Aran!" seorang pelayan senior memanggil. " Ia kak." " Pak Mun menunggumu di ruangannya." Deg, apa ini benar-benar akhir dari pekerjaanku. Ruangan pak Mun adalah tempat yang paling tidak ingin di masuki para pelayan atau pengawal rumah ini. Karena hanya kesalahan besar yang membuatmu memasuki ruangan itu. Bersambung Chapter 238 Pertengkaran (Part 1) Daniah berlari sampai nafasnya tersengal menaiki tangga. Pikirannya buyar saat dia mengingat kata-kata Han, waktu menunggu tuan Saga tinggal lima menit lagi. Di waktu sesempit itu, untuk berlari dan juga berfikir. Sepertinya hanya bisa ia pakai untuk mengerahkan tenaga di kakinya, isi kepalanya tidak sempat memikirkan apapun. Sial! Kenapa aku bisa mengalami kejadian seperti ini lagi si. Gubrak! Tubuh Daniah membentur pintu, membuka pintu pintu keras dengan tubuhnya. Terengah-engah sambil memegang handle pintu yang terbuka. Dia seperti mengantung di handle pintu, saat pintu berderik pelan. Dia menoleh ragu, melihat seseorang sedang duduk bersandar di sofa sambil memangku kaki kirinya. Saga meraih hp di atas meja. Lalu melemparkannya kembali setelah mematikan timer. ¡° Kau selamat, masih ada tiga detik lagi.¡± Katanya dengan pandangan menghancurkan. Daniah bahkan tidak punya keberanian untuk sekedar tersenyum mengodanya. Gila! Dia menakutkan sekali. Dia bahkan memasang timer! Daniah berdiri mengatur nafasnya pelan. Merapikan rambutnya. Nafasnya menunjukan kalu dia sudah berlari dengan kekuatan penuh barusan. Ragu dia berjalan mendekat. Meletakan tasnya di kursi. ¡° Sayang..¡± Menyapa pelan sambil duduk di sofa. Memilih sofa yang bukan diduduki Saga. Dia mengelus dadanya sendiri, mengusir gelisah sekaligus menenangkan diri. Tapi tetap, tidak berani bersitatap mata dengan suaminya. ¡° Kemari!¡± Tidak mau! Tubuh Daniah tidak mau bergerak, dia berpegang pada pinggiran Sofa. Hari ini dia sudah melakukan kesalahan fatal di mata suaminya. Dia bahkan berfikir untuk pura-pura pingsan karena kehabisan nafas tadi. Tapi melihat sorot mata kesal Saga membuatnya mengurungkan rencana apapun di kepalanya. Dia benar-benar murka. ¡° Kemari!¡± Dia menepuk sofa di sebelahnya lagi ¡° Sebelum aku benar-benar tidak bisa menahan diri.¡± Daniah langsung beringsut dari sofanya, berpindah tempat. Wajahnya mulai pias. ¡° Sayang, maafkan aku. Aku mampir sebentar ke rumah Aran.¡± Menjelaskan, sedang memutar otak supaya tidak tampak kalau ini kesalahan Aran. ¡° Ibunya sedang kurang sehat karena merindukan Aran.¡± Maaf Aran aku sedikit berbohong untuk menyelamatkanmu. ¡° Karena aku memberimu kebebasan kau mulai berani ya sekarang.¡± Tubuh Daniah merinding mendengar cara Saga bicara, dia mundur sejengkal saat Saga menyentuh dagu dan lehernya. Dia mengulang kata maafnya lagi dan lagi. Tapi sepertinya suaminya tidak bergeming. Tangannya masih ada di posisinya yang tadi. ¡°Aku hanya mengizinkanmu pergi bekerja, apa kau masih belum paham itu artinya?¡± Aku tau, artinya aku tidak boleh pergi kemanapun selain ke ruko. ¡° Maaf.¡± Hanya kata itu yang bisa di pikiirkan Daniah sekarang. Alasan apapun yang keluar dari mulutnya akan semakin membuat suaminya marah. ¡° Sayang aku.¡± Bagaimana ini. Melumerkan kekesalan Saga mungkin tidak akan semudah biasanya. Dia merasa terkhianati, bukan hanya sekedar aturannya yang dilangar. Hari ini dia sengaja membatalkan semua jadwalnya karena ingin memberi Daniah kejutan kemunculannya di ruko. Tapi ternyata dia yang dibuat terkejut karena istrinya ternyata tidak ada di tempat. ¡° Mbak Niah baru saja pergi tuan.¡± Ucapan Tika sudah menyambar semua pembuluh kesabarannya. Kalau Han tidak mencegahnya, mungkin dia sudah menutup ruko milik Daniah selamanya detik itu juga. ¡° Karena hanya sebentar, aku berfikir akan langsung pulang, sebelum kamu sampai di rumah.¡± Takut-takut Daniah meraih tangan Saga. Tapi laki-laki itu menepisnya. Aaaaaaaa, bagaimana ini. Dia bahkan menepis tanganku. Saga mencengkram dagu Daniah, mendorong istrinya sampai tersudut di ujung sofa. ¡° Apa kau minta izin padaku? Tidakkan? Kenapa?¡± Glek. Daniah menelan ludah. Dia tidak minta izin karena merasa akan sangat merepotkan dan belum tentu mendapat izin. ¡° Karena kau menduga aku tidak akan mengizinkanmu!¡± Daniah mengigit bibirnya kelu. Isi pikirannya bisa mudah sekali di tebak. Di saat ia kebinggungan mencari alasan, wajah saga merapat di depannya. Membuat dia berpaling karena tidak mau bersitatap dengannya. ¡°Jawab!¡± sudah setengah berteriak, sampai membuat nyeri telinga. ¡° Ia.¡± Sambil memalingkan wajah menjawab. ¡° Sayang, aku hanya sebentar di rumah Aran, itupun aku hanya bertemu dengan ibunya. Aku bersumpah. Bercayalah padaku.¡± Sakit! Saga melepaskan tangannya saat melihat Daniah merintih. Lalu terdengarlah bunyi hp di tas Daniah. Dia menoleh pada tas kecil di sofa. ¡° Siapa itu?¡± Kumohon, kumohon berhentilah berbunyi. ¡° Mungkin hanya anak-anak di ruko sayang. Kamu tahukan aku juga hanya sering berhubungan dengan mereka.¡± Saga mengangkat tangannya memberi isyarat Daniah menyerahkan hp di tas. Bagaimana ini, kalau itu pesan dari Abas, tamatlah riwayatku. ¡° Aku akan membalasnya nanti.¡± ¡° Ambil!¡± Lihat, apa yang coba kau sembunyikan dariku. Kau bahkan semakin terlihat panik sekarang. Saga menatap tajam tas kecil itu. Saga mengoyangkan tangannya supaya Daniah segera bergerak meraih tasnya. Daniah memasukan tangan, sambil pura-pura mencari. Bergumam pelan karena belum menemukan hpnya. Melihat ke arah Saga yang mulai tidak sabar. Tangan Saga kembali mengantung di udara. Tamatlah riwayatku. ¡° Berikan tasmu!¡± ¡° Ketemu! Ini dia.¡± Pasrah. Daniah mau membuka layar depan, melihat isi hpnya sebelum dia serahkan pada Saga. Berharap itu bukan pesan dari Abas. ¡° Berikan padaku Niah Sayang.¡± Tidak berani lagi membantah, di berikannya hp dengan tangan kanannya. Sekarang benda kecil itu sudah berpindah tangan. Saga menghidupkan layar depan yang menampilkan fotonya. Dia tidak menganti foto depannya rupanya. ¡° Buka!¡± di sodorkan hp itu di depan wajah Daniah agar gadis itu membuka lockscreen. Karena tidak mungkin mengelak akhirnya tangannya bergerak membuka kunci pengaman hp. Habislah aku! Saga sudah mau membuka hp, ketika Daniah dengan suara bergetar sambil menundukan kepala bicara. ¡° Kenapa?¡± Ucapnya lirih, membuat Saga menghentikan tangannya. ¡° Kenapa kau sama sekali tidak pernah percaya padaku.¡± Apa ini berhasil? Sambil melirik hp di tangan Saga. Saga meletakan hp di tangannya dengan keras ke meja. Membuat benda kecil itu bergetar. Sepertinya layar depan hp itu pecah membentur meja kaca. Daniah sampai terlonjak, tapi dia bernafas lega karena itu mencegah Saga membuka pesan di hpnya. ¡° Kau bilang apa?¡± Takut-taku Daniah mendongak. ¡° Kenapa kau tidak pernah percaya padaku.¡± ¡° Depertinya kau mulai melebihi batas ya.¡± Menunjuk pundak Daniah dengan jarinya. ¡° Apa maksudmu?¡± Marah. ¡° Sayang.¡± Daniah menciut sudah memprovokasi. Tapi dia harus melakukannya, kalau sampai pesan Abas dibaca olehnya, yang terjadi akan lebih dari ini.¡° Kau tahukan aku tidak akan pernah menghianatimu.¡± Aku tidak akan punya keberanian untuk melakukannya. Sampai hari ini sedikit saja kau marah aku saja masih takut kau akan melampiaskan semuanya pada keluargaku. Jadi bagaimana mungkin aku berani menghianatiku. ¡° Jadi kumohon percayalah padaku.¡± ¡° Percaya padamu?¡± menuding bahu Daniah lagi. ¡°Bagaimana aku bisa percaya padamu, di belakangku kau bicara dengan mantan pacarmu. Padahal kau tahu aku benci kau bicara dengan laki-laki lain. Dan sekarang, kau minta aku percaya padamu.¡± ¡° Kami hanya bicara sayang.¡± ¡° Tutup mulutmu!¡± Daniah mengigit bibirnya. ¡° Hanya bicara, lalu kau mau melakukan apa kalau aku tidak melihatnya.¡± Terdiam. ¡° Kau juga punya Helenkan? Kau juga punya mantan pacar jugakan.¡± Akhirnya pecah juga, selama ini Daniah selalu menahannya dalam hati. Saga mendesah kesal. " Kau juga bisa bicara bebas dengannya." Suara Daniah terdengar ketus." Kenapa hanya aku yang di curigai dan dituduh tidak setia." Padahal jelas-jelas menghianati tuan muda, tidak setia, tidak pernah terpikirkan sedikitpun di kepala Daniah. " Tutup mulutmu! Kau benar-benar berani ya!" ¡° Lihat, kau selalu marah kalau nama Helen di sebut di depanmu. Kenapa?¡± Daniah semakin tersulut. Baginya mantan pacar hanyalah masa lalu, bagian dari kenangan. Tidak ada arti yang lain. Tapi bagi suaminya dia merasa mantan pacar masih memiliki arti. ¡° kenapa, jawab.¡± Daniah mendorong tubuh Saga dengan berani. ¡°Karena kau masih menyukainya, makanya kau marah kalau dia disebut. Kau masih memiliki kenangan di hatimu untuk Helenkan?¡± Aku pasti sudah gila! Daniah mencengkram pinggiran sofa. Saat tubuhnya jatuh mendarat tepat di sofa. Melihat mata kesal Saga yang tidak mau berpaling. Nafasnya naik turun dengan cepat. Aku semakin membuatnya marah. Bersambung Chapter 239 Pertengkaran (Part 2) Walaupun airmuka Saga menunjukan kemarahan yang teramat sangat, tapi Daniah berhasil menguatkan hatinya untuk berani bicara. Ini kesempatan yang diberikan Tuhan, supaya dia bisa keluar dari sangkar emas yang dibangun Saga untuknya. Sedikit saja kebebasan yang dia harapkan. Hanya ada dua kemungkinan baginya. Menang berbuah kebebasan. Kalah, terikat semakin kuat dengan rantai cintanya tuan muda. Apakah akan berhasil, kalau dia menyebut nama Helen lagi gumamnya lirih. Walaupun masih terlihat keraguan di mata Daniah, saat ia mengambil keputusan. ¡° Lepaskan aku!¡± Daniah mengeraskan suaranya. ¡° Helen masih ada di hatimukan?¡± Bergema lagi kata-katanya memenuhi udara. Dia sendiri merasa sesak ketika menyebut nama itu. Tapi biarlah, demi harga yang harus dia bayar untuk menebus kebebasannya. ¡° Walaupun aku tahu dan marah aku masih berusaha menahannya dan tidak cemburu buta sepertimu.¡± Terengah-engah mendorong tubuh Saga yang merapat padanya. Kedua tangannya sudah di cengkram kuat. Tidak bisa bergerak ataupun sekedar bergeser. ¡° Kalau aku bisa menahan diri untuk tidak cemburu, bisakah kau melakukannya juga!¡± Menatap Saga. ¡± Toh aku tidak akan berani mengkhianatimu tuan muda!¡± Kata terakhir terucap dengan getir dan penuh depresi. Aku tidak punya keberanian untuk itu. Bahkan berfikir saja tidak pernah. Setelah mendapat pesan dari Abas tadi, jujur pikiran Daniah mengembara sebentar untuk menemukan apa yang sebenarnya hatinya pikirkan. Apa kamu bahagia Niah? Pertanyaan sederhana itu sempat menguncang hatinya. Benarkah, dia bahagia menjadi istri sekaligus wanita yang dicintai tuan Saga. ¡° Bodoh! Jadi selama ini kau berfikir aku masih menyukai Helen?¡± Saga tidak bisa menutupi senyum yang secara bersamaan muncul dibibirnya saat ia bicara. Bagaimana kau bisa sebodoh itu Niah. Memang kurang apalagi aku menunjukan perasaanku padamu? ¡° Apa! Siapa yang bodoh! Memang itu kenyataan. Kau masih terlihat kesal kalau aku atau siapapun menyebut nama Helen di depanmu.¡± Masih berusaha memberontak melepaskan diri. Paling tidak Daniah ingin bangun dan duduk, bukan terpojok di bawah tubuh Saga seperti ini. Hp berbunyi lagi. Mengagetkan. Daniah semakin frustasi ingin membanting benda kecil itu. Dia mengumpat dalam hati, jika itu memang benar Abas. Pesannya sama sekali tidak akan membantu hidupnya, tapi akan membuat dirinya jatuh ke lubang neraka yang dalam. Merenggut semua kebebasannya, Bahkan yang hanya sekedar keluar pergi bekerja. ¡° Sayang, kumohon percayalah padaku.¡± Akhirnya memilih memohon. Mengalihkan perhatian Saga yang sekilas tadi melirik hp yang berbunyi di atas meja. ¡° Percaya padamu?¡± tertawa sinis. ¡°Bagaimana aku bisa percaya padamu, kalau selama ini, kau mencintaku bahkan tidak lebih separuh dari aku mencintaimu.¡± Heh kenapa sekarang kau mempersentasekan cinta kita. Memang tahu dari mana kadar cintamu lebih besar dari milikku. Kau menyimpulkan dari mana tuan muda? Daniah mendorong tubuh Saga agar dia bisa bangun. Tapi dengan sekali dorong saja dia yang sudah separuh menggangkat tubuhnya kembali terjembah ke sofa. Saga menekan tangannya. ¡° Lepaskan! Biarkan aku duduk. Ayo kita bicara baik-baik sayang.¡± Sakit! ¡° Sakit, sayang. Tanganku sakit.¡± Saga mengendurkan cengkraman tangannya. ¡° Aku minta maaf, maaf. Aku salah. Aku salah sayang.¡± Membiarkan semua kata-katanya mencair. ¡°Aku yang salah sayang, seharusnya aku minta izin padamu sebelum pergi ke rumah Aran. Dan maaf aku menyebut nama Helen di depanmu.¡± Saga melepaskan tangannya, lalu mundur ke belakang. Membiarkan Daniah bangun dan merapikan rambutnya. Dia melunak saat aku menyebut nama Helen. ¡° Niah.¡± ¡° Ia sayang.¡± ¡° Tutup toko onlinemu selamanya.¡± Perintah paling menakutkan yang langsung meluluhlantakan hati Daniah. ¡° Sayang.¡± Langsung mata Daniah berkaca-kaca. Buliran air spontan muncul di ujung matanya. Semua hidup dan impiannya dimulai dari ruko dua lantai itu. Kata-kata Saga barusan menghancurkan semua pondasi kepercayaan dirinya untuk melawan. ¡° Aku mohon jangan lakukan itu.¡± Memelas. Toko online adalah hidup Daniah. Tempat karyawannya mengantungkan diri. ¡° Maaf, maafkan aku. Aku salah sayang. Tapi aku mohon jangan tutup toko onlineku.¡± Benar-benar menangis tersedu tanpa dibuat-buat. Daniah meraih tangan Saga. Airmata gadis itu menjatuhi tangan Saga. ¡° Aku janji tidak akan menyebut Helen lagi.¡± ¡° Berhenti bicara tentang gadis itu, dia sama sekali tidak ada hubungannya dengan ini.¡± Daniah tergagap. ¡° Baiklah, maaf, maafkan aku sudah pergi tanpa izin darimu.¡± " Han akan membereskan semuanya besok. Termasuk gaji karyawanmu." Pandangan Daniah langsung buram. Saat kata-kata itu keluar dari mulut Saga. Tidak perduli dia memohon sekalipun. Tidak, kumohon! airmata Daniah sudah pecah membanjiri pipinya. Saga sudah memutuskan secara sepihak. Dan sangat jarang dia menarik kata-katanya lagi. " Kenapa? Kenapa kau jahat sekali!" Mundur menjauh. " Kau tahukan bagaimana pentingnya ruko itu untukku." Menunduk dengan isak mengeras. Daniah tidak mau menahannya, dia mau menangis sekerasnya sekarang. Bahkan Daniah ingin berteriak memaki suaminya. Saga mendekat dan ingin meraih tubuh Daniah, tapi tangannya di tepis dengan keras. Terdengar Saga mendesal kesal, tapi Daniah tidak perduli. " Kemari!" " Tidak mau!" Melotot kesal. " Cabut kata-katamu untuk menutup tokoku selamanya." Saga diam tidak bergeming. " Aku mohon." Daniah melunak. "Aku tidak akan bicara tentang Helen lagi. Aku akan patuh dengan aturanmu." " Helen lagi!" Apa dia benar-benar sebodoh itu. Saga menarik tangan Daniah, walaupun berontak tubuh kecil itu akhirnya jatuh kepelukan Saga. " Lepaskan aku!" Perlawanan yang sia-sia. " Lepaskan aku suami jahat!" ¡° Niah, kau bilang toko onlinemu itu penting bagimu. Tapi, apa kau tahu sepenting apa dirimu untukku?¡± Saga mengendurkan pelukannya. Daniah berhenti memberontak saat mendengar kata-kata yang terucap dari mulut suaminya. Saga mengusap air mata Daniah dengan bibirnya. Menciumi mata Daniah. Walaupun terkejut tapi Daniah tidak bisa melakukan apapun dan membiarkan saja. "Kau tahu sepenting apa dirimu untukku?" Daniah diam, hanya masih menyisa isak di ujung suaranya. ¡° Kenapa aku tidak mau nama Helen di sebut baik di depanku atau di depanmu. Kenapa aku sampai meminta Noah tidak mengundang gadis itu. Apa kau berfikir karena aku masih menyimpan sedikit perasaan padanya.¡± ¡° Ia.¡± Daniah masih sesengukan karena memikirkan nasib rukonya. ¡° Memang itukan alasannya.¡± ¡° Bodoh!¡± Kenapa dia senang mengataiku bodoh si. ¡° Karena aku tidak mau kau merasa tidak nyaman. Karena aku tidak mau menyakiti hatimu. Karena kau sangat penting dan berarti untukku.¡± Eh, apa aku sudah salah paham. ¡° Tapi kau? Pernahkah kau berfikir seperti itu juga.¡± Saga meletakan kepalanya di bahu Daniah. " Pernahkah kau memikirkan perasaanku juga." Kenapa ini, kenapa jadi aku yang terpojok. ¡° Apa kau pernah melakukannya, mematuhi semua aturanku karena kau mencintaiku. Bukan hanya takut padaku. Pernahkah kau berfikir untuk tidak bicara dengan laki-laki lain bukan hanya sekedar kau takut aku marah. Tapi karena kau mencintaiku makanya kau melakukan itu.¡± Deg. Kenapa kata-kata Saga seperti tamparan keras di wajah Daniah. Kepala Saga yang ada di bahunya menjadi berat. Nafasnya yang mengebu-gebu ingin membatah tiba-tiba langsung menciut. Kepercayaan dirinya semakin mengecil. Sejauh apa perasaan hatinya pada tuan Saga? Daniah mencintai Saga, beberapa kali dia mengucapkan itu langsung di depan Saga. Tapi.... Kenyataannya dia memang jauh lebih takut melihat suaminya kesal dan marah dengan kesalahan yang ia lakukan ketimbang dia melakukan apa yang disukai suaminya karena rasa cintanya pada Saga. " Sejauh apa aku berarti untukmu?" Pertanyaan Saga mengantung di udara. Dada Daniah berdebar dengan rasa bersalah, hingga ia tak meu menjawab pertanyaan itu. Saat Daniah masuk ke dalam kamar mandi. Han muncul membuka pintu. Memeriksa keadaan. Sampai melihat ke arah tempat tidur. Semua tampak baik-baik saja pikirnya bernafas lega. ¡° Ada apa tuan muda?¡± Saga melemparkan hp Daniah yang layar depannya retak ke tangan Han. Sigap ditangkap dengan cepat olehnya. ¡° Hp nona pecah? Baik saya akan menggantinya.¡± Tidak terjadi perangkan? Kenapa hp nona sampai pecah? ¡° Apa nona tidak apa-apa?¡± ¡° Kurang ajar, memang apa yang akan terjadi padanya.¡± Menatap gusar. ¡° Maaf.¡± Sambil menunjukan hp yang pecah. Seperti bertanya, kenapa dengan ini. Tapi Saga tidak terlihat mau menjelaskan. ¡° Katakan pada pak Mun untuk membawa makan malam ke kamar.¡± ¡° Baik.¡± ¡° Pergilah!¡± ¡° Baik tuan muda, selamat istirahat.¡± Ucapnya sambil mengangukan kepala. Berbalik dan memasukan hp di saku jasnya. ¡° Han.¡± Han yang sudah membuka pintu menutupnya kembali. ¡° Bereskan laki-laki itu, aku tidak mau dia mengirim pesan ataupun mencoba menghubungi Niah lagi.¡± Han langsung mengambil hp di saku bajunya. ¡° Ah, baik tuan muda.¡± Ternyata Abas tidak mendengar peringatanku kemarin ya. Saat Han menutup pintu, bertepatan Daniah keluar dari ruang ganti baju dengan rambutnya yang masih basah. Dia melihat sekelebat bayangan Han tadi. " Kenapa sekertaris Han sayang?" " Aku menyuruhnya menganti hpmu yang pecah." Saga mengulurkan tangannya. " Kemarilah, biar ku kukeringkan rambutmu." Hp. Hp! Pesan dari Abas! Bagaimana ini? Bersambung Chapter 240 Hukuman Aran Terlepas dari selesainya pertengkaran Daniah dan Saga. Ada seseorang yang tidak bisa lari dari jerat hukuman. ¡° Menurutmu apa yang akan terjadi pada Aran? Sangat jarang ada yang bisa keluar dengan menegakan kepala dari ruangan pak Mun.¡± ¡° Apa dia membuat kesalahan pada tuan muda?¡± Merinding mendengar kata-katanya sendiri. Jangankan membuat kesalahan di depan tuan muda, dia sendiri bahkan belum pernah bicara secara langsung dengan tuan muda. walaupun sudah tiga tahun dia ada di rumah ini. ¡° Hampir sebagian yang masuk ke ruangan pak Mun keluar dengan membawa surat pemecatan.¡± Pak Mun bisa terlihat ramah, baik dan normal. Tapi sama seperti sekertaris Han, sikapnya akan berubah mengancam kalau berurusan dengan tuan muda. Semua pelayan di rumah ini sudah tahu itu. Dua orang pelayan wanita yang cukup dekat dengan Aran sedang duduk meluruskan kaki mereka di dalam kamar. Membicarakan nasih Aran ke depan. Posisi kamar mereka yang bersebelahan juga mendekatkan hubungan keseharian diantara mereka. Sampai jam segini Aran belum terlihat batang hidungnya keluar dari ruangan pak Mun. Bahkan waktu makan malam pun sudah lewat. ¡° Dia pasti belum makan malam.¡± ¡° Tuan muda dan nona juga tidak keluar dari kamar untuk makan malam. Sepertinya Aran benar-benar sudah terlibat dengan urusan yang sangat berbahaya.¡± Mereka mencoba menduga kesalahan apa yang dibuat Aran, tapi tidak ada yang sampai di akal mereka berdua. Beberapa alasan mereka sebutkan, lalu keduanya mengeleng. Karena standarisasi kesalahan di hadapan tuan muda adalah semua atas kehendaknya. ¡° Huh! Kita tunggu saja sebentar lagi. Kau sudah bawa makanan untuk Arankan?¡± ¡° Hemm, ini.¡± Dia mengeluarkan sekotak susu dan juga jus buah. Ada coklat dan juga roti. ¡° Apa kita bawa mi cup ya. Siapa tahu dia lapar.¡± ¡° Ya sudah, ambil sana ke dapur sama airpanasnya juga.¡± Gadis itu bangun dari duduk, lalu beranjak keluar kamar. Selang beberapa saat setelah menghilang di balik pintu, dia membuka pintu cepat. ¡° Kak! Aran sudah kembali.¡± Gadis itu mengandeng tangan Aran masuk ke kamarnya. Wajah pucat pasi Aran, tangannya bergetar dan mulutnya komat kamit juga. Dia membawa Aran duduk di atas tempat tidur. Mengambil sebotol jus, membukakan tutupnya. ¡° Minumlah, biar kau ada tenaga.¡± Dia di hukum apa sama pak Mun sampai sepucat ini. ¡° Mau makan? Kamu laparkan?¡± temannya membuka bungkusan roti. Memotongnya separuh, menyuapkan ke mulut Aran. ¡° Pergi ambil mi sana. Sepertinya Aran butuh makanan hangat.¡± Aran masih terdiam, hanya mulutnya yang mengunyah. Tapi dia tidak punya tenaga untuk bicara sedikitpun. Mengunyah roti. Meneguk jus buah. Selang seling sambil di suapi. Bahunya di elus pelan. Di tepuk perlahan juga. ¡° Sabar ya Aran.¡± ¡° Kak.¡± Lirih Aran bicara. ¡° Ia.¡± Masih mengelus bahu Aran lembut. ¡° Sepertinya setelah hari ini aku akan pensiun menulis dan membaca.¡± Eh kenapa? Sebenarnya hukuman apa yang di dapatnya dari pak Mun. Menulis dan membacakan hobinya selama ini. Tapi dia tidak bertanya. Sampai mi instan datang sekalipun, dia tidak mengobati rasa penasarannya dengan bertanya. Akhirnya mereka menyedu tiga cup, sebagai rasa solidaritas untuk Aran. Walaupun sebenarnya mereka tidak lapar. Tapi kuah hangat dan pedas mi instan selalu saja tetap enak di nikmati walaupun sudah kenyangkan. Aran masih belum bicara apapun sampai mi di tangannya habis. Begitu pula kedua orang di depannya. Walaupun setengah mati mereka penasaran, tapi mereka tetap tidak akan bertanya. Karena apapun yang terjadi di ruangan pak Mun, hanya orang yang memasukinya dan pak Mun yang tahu. Malam yang tidak akan pernah dilupakan Aran seumur hidupnya. ¡° Temui pak Mun untuk mempertanggungjawabkan kesalahanmu.¡± Begitu suara sekertaris Han yang kembali bergema di telingan Aran. Diucapkan dengan wajah tanpa simpati. Bahkan sekertaris Han langsung berbalik tidak menoleh padanya lagi. Hati Aran sakit rasanya, seperti dia orang asing. Aran masih mematung di depan pintu ruang kerja pak Mun. Belum berani mengetuk pintu, selama beberapa menit dia masih menguatkan hatinya. Mencoba menerka, apa yang akan terjadi di dalam kalau sampai dia memasuki pintu itu. Kenapa dia tidak mennghukumku langsung? Tangan Aran terlihat bergetar. Walaupun dia merasa senang karena bukan Han yang langsung menghukumnya, tapi kenapa perasaannya malah ngeri. Han berjanji untuk tidak memukulnya. Apa karena itu dia tidak mau menghukumku, karena berpegang dengan kata-katanya kalau dia tidak akaan memukulku. Dan sekarang menyerahkanku pada pak Mun. Wajah laki-laki yaang kadang bersahabat itu terngiang, Aran tidak membayangkan kalau laki-laki yang sedang ada di dalam ruangan sedang menunggunya dengan tongkat rotan di tangan. Menepuk-nepuk tongkat di depan maatanya sambil tersenyum. Aaaaaa, aku takut! Masih mending ibu memukulku pakai sapu. Aku masih bisa merengek. Aran melangkah pelan. Menarik nafas dalam, sambil tangannya sudah memegang handle pintu. Pak Mun orang baik. Pak Mun orang baik. Begitu mantera yang ia ucapkan sambil mendekati pintu. Mengetuk pintu perlahan. Membukanya dengan hati-hati. Pak Mun orang baik. Pak Mun orang baik. Aran mundur dua langkah membentur pintu lagi saat melihat pak Mun menatapnya dengan tatapan bercampur. Kesal, marah dan jengah sekaligus menjadi satu. Perpadu di wajahnya. Pak Mun orang baik. Begitu ulangnya dalam hati. Tapi dia tidak terlihat seperti orang baik sekarang. Menjerit lagi dalam hati. Ingin berbalik dan keluar dari ruangan ini. ¡° Duduk!¡± ¡° Ba, baik pak.¡± Aran cepat mengeser kursi dan duduk di depan meja pak Mun. Mereka berhadap-hadapan. Aran meneriksa di meja dan melirik beberapa sudut. Dia tidak menemukan benda apapun yang bisa dipakai pak Mun untuk memukulnya. Sejenis rotan, kayu, atau pipa begitu. Hei Aran, diakan punya tangan. Memang dia tidak bisa memukulmu dengan kedua tangannya itu. Wajah Aran langsung depresi saat melihat tangan pak Mun yang ada di atas meja. ¡° Arandita!.¡± ¡° Ia pak Mun, maafkan saya.¡± Berteriak cepat sampai suaranya mengagetkan dirinya sendiri. ¡° Maaf.¡± Menundukan kepala. ¡° Kau tahu apa kesalahanmu?¡± Aran masih terdiam. Dia melihat pak Mun mengeluarkan dua buah tumpukan kertas dari dalam laci yang dia bagi dua. Bagian kanan terlihat hanya beberepa lembar, sedangkan bagian kiri tampak mengunung. ¡° Katakan apa kesalahanmu?¡± ¡° Saya membawa nona Daniah ke rumah saya pak.¡± Masih tertunduk menjawab. ¡° Kau membahayakan keselamatan nona Daniah." Itu yang utama. " Dan kau melanggar aturan yang sudah dibuat oleh tuan muda.¡± Menyodorkan kertas bagian kanan. ¡° Aku tidak tahu kenapa sekertaris Han memberimu kesempatan memilih. Karena kesalahan seperti yang kau lakukan hari ini tidak akan di toleransi sedikitpun biasanya." Eh, benarkah dia menolongku. Tapi tunggu, memang aku kriminal sampai membahayakan keselamatan nona. Kamikan cuma mampir ke rumaah untuk bertemu dengan ibuku. Bahayanya dimana? Ingin protes keras. " Lalu ini." Kata-kata pak Mun menyadarkan Aran. ¡° Dia memberimu pilihan. Kau di pecat dan pergi dari sini, jangan pernah muncul di hadapan nona Daniah seumur hidupmu.¡± Menyodorkan kertas di bagian kanan. ¡° Atau selesaikan hukumanmu malam ini juga.¡± Mendorong segunung kertas di bagian kiri. " Dan kau bisa tetap bekerja di rumah ini." Apa ini! Tangan Aran gemetar memegang dua tumpukan kertas di depannya. Sekertaris Han memberinya kesempatan memilih. Dipecat atau menyelesaikan hukuman. " Kenapa saya mendapat kesempatan ini pak?" " Apa kau masih punya waktu untuk bertanya. Putuskan sekarang kau memilih yang mana?" Pak Mun melihat Aran yang binggung. " Putuskan dalam sepuluh menit." Dipecat, pergi dari rumah ini. Artinya aku harus menghilang lagi untuk kedua kalinya. Kehilangan pekerjaan, kembali hidup serabutan di kontrakan sempit. Dan yang pasti, ya. Melepaskan kesempatan memperjuangkan perasaanku. Huh! apa untuk ini sekertaris Han menyuruhku memilih. Aran menemukan kesimpulan penting selama dia berfikir. Kalau dia di pecat artinya hubungannya dengan Han yang belum terjalin sudah harus pecah. Bahkan sebelum di mulai. " Saya akan menyelesaikan hukuman saya pak!" Menarik tumpukan kertas yang segunung di depannya. Ini Apa? " Aku tidak tahu apa motivasimu, tapi karena kau sudah memilihnya aku akan menghargainya." Pak Mun menunjuk tumpukan kertas di depannya. "Salin semua aturan yang harus kau patuhi di rumah ini. Tulis dengan tanganmu. " Lalu pak Mun mengambil lembaran kertas kosong di dalam laci. Masih sama menggunungnya. " Setelah itu buat surat permohonan maafmu. Semakin banyak semakin bagus." Apa! gemetar-gemetar tangan Aran. " Selesaikan malam ini juga." " Tapi pak ini banyak sekali." " Kalau begitu, aku sarankan, kau pilih surat pemecatan dirimu saja." " Tidak pak! Saya bisa melakukannya." Berdiri sambil mengacuhkan tangan. " Demi gaji dan cinta." Pak Mun mengeryit mendengar teriakan Aran. " Tulis dengan benar surat permohonan maafmu, karena tuan muda akan melihatnya." " Ba, baik pak." Pak Mun menatap Aran yang mulai meraih kertas kosong dan pena. Dia bangun dari duduk untuk meninggalkan Aran. Kenapa Han sampai memberinya kesempatan begini? Dia keluar dari ruangan untuk menyiapkan makan malam masih di penuhi tanya. Bahkan dia masih mendapati sekertaris Han keluar dari ruang kerja Saga. Belum kembali pulang ke rumahnya. " Dimana gadis itu pak? Apa yang dia pilih?" Tanya Han. " Dia memilih tetap tinggal dan menyelesaikan hukumannya." Tunggu, barusan Han tersenyum senangkan? Pak Mun menatap punggung Han yang meninggalkannya setelah mendengar ucapannya. Epilog Aaaaaaa, persetan dengan uang dan cinta, aku mau mati saja! Aran membenturkan kepalanya ke meja berulang. Belum separuh dia menyalin buku aturan, tangannya sudah gemetar kaku. Kalau sampai aku tidak bisa membuatmu bertekuk lutut setelah aku melakukan ini, maka. Maka apa Arandita? " Maka aku akan pergi kencan dengan siapapun yang di jodohkan orang tuaku!, tidak! aku akan pergi kencan dengan siapapun yang mengajakku berkencan!" Berteriak keras sampai suaranya mengema di ruangan kerja pak Mun. Bersambung Chapter 241 Malam yang Hangat Masih melanjutkan kisah pedih Aran di dalam ruangan pak Mun. Gadis itu, sedang tengelam dengan tumpukan kertas surat permohonan maaf, di saat tangannya bahkan sudah gemetar kaku. Pak Mun masuk, melihat sejauh apa Aran menyelesaikan hukumannya. Dia berdiri di depan pintu membawa sebuah amplop. ¡° Kau masih sanggup?¡± Tanya Pak Mun memperhatikan hasil pekerjaan Aran. Setumpuk kertas dengan jumlah dua kali lipat sudah tersusun dengan rapi. Sepertinya dia berhasil menyalin semua peraturan. Berarti tinggal surat permohonan maaf. Ternyata tekadmu kuat juga ya gadis muda. Aran mendongak, Tertawa menjawab pertanyaan pak Mun. Dia setengah sadar. Di pikirannya huruf-huruf yang tercetak di kertas berlarian, di kejar tulisan tangannya yang sudah miring ke kanan dan kekiri. Bahkan pasti ada bagian yang sulit dibaca. Pak Mun orang baik, pak Mun orang baik. Padahal Aran benar-benar ingin memaki laki-laki itu. Mana perutnya lapar lagi. Pak Mun bahkan tidak menawarinya makan malam. ¡° Aku akan bertanya sekali lagi Arandita. Apa kau mau menyelesaikan hukumanmu atau ambil surat pemecatanmu. Jangan kuatir, tuan muda juga memberikan uang yang tidak sedikit di amplop coklat ini.¡± Pak Mun mengangkat tangannya. Menunjukan sebuah amplop besar berisi surat pemecatannya dan uang pesangonnya. ¡° Saya akan menyelesaikannya pak.¡± Bibir Aran bergetar menjawab. Tapi tangannya tidak berhenti terus menulis. ¡° Baiklah, bekerja keraslah. Sepertinya sekertaris Han senang kau memilih menerima hukumanmu daripada di pecat.¡± Huh! Kenapa kata-kata itu seperti oase di gurun pasir. Aran mengutuk dirinya sendiri, bagaimana dia bisa sebahagia itu mendengar sekertaris Han mendukungnya. Padahal jelas-jelas di luar tadi dia sama sekali tidak perduli padamu Arandita. Baiklah, aku bukan hanya memperjuangkan hubunganku denganmu, aku juga sedang memperjuangkan uang dan masa depan keluargaku. Pak Mun duduk di meja kerjanya. Melihat Aran yang sudah tidak perduli dengan keberadaannya. Gadis itu sedang menulis, menulis dan menulis. Tanpa terusik keadaan sekitarnya. Sementara pak Mun meraih laptop di dalam lacinya. Menulis laporan harian dan memeriksa jadwal libur karyawan esok hari. Aran ambruk di tempat tidur, Setelah perutnya kenyang. Dua temannya tadi mengantar sampai ke kamarnya. Berharap kejadian malam ini tidak sampai mengejarnya dalam mimpi. Dan di kamar utama. Mereka sudah terbaring di tempat tidur. Saga menarik selimut sampai menutupi leher Daniah. Lalu di bawah selimut memeluk istrinya tanpa jarak. Kulit mereka menempel dan menghangatkan satu sama lain. ¡° Sayang.¡± Daniah menyentuh lembut dada Saga, menuliskan garis-garis lurus dengan jemarinya di kulit bersih dan harum itu. ¡° Hemmm.¡± Mengangkat kaki, memeluk Daniah semakin erat. Aaaaaa, aku tidak akan kemana-mana! ¡° Kau sudah mau tidur?¡± Masih bermain dengan jari-jarinya di tubuh Saga. Mengambar bentuk hati segala. ¡° Kenapa? Kau mau lagi.¡± Mencium telinga dan leher Daniah sambil bergumam. Tangannya menempel lagi, di tempat yang dia sukai. Daniah spontan mencubit tangan Saga di bawah selimut. Tapi si pemilik tangan tidak perduli, tertawa sambil meneruskan apa yang ia lakukan. ¡° Hentikan! Bukan itu.¡± Tangan tidak mau berhenti, menyusul ciuman bibir Saga, menyusuri lekukan telinga Daniah. ¡° Sayang hentikan.¡± ¡° Kenapa? Kaukan yang mulai mengodaku" Acuh bicara. " tadi aku sudah mau tidur, sekarang kantukku sudah lenyap.¡± Apa! Kapan aku mengodamu tuan muda? akukan cuma mengajakmu bicara. ¡° Hentikan tanganmu sayang ¡± Mendongak lalu mencium bibir Saga agar berhenti. ¡° Muah, sudah ya, itu bonus malam ini.¡± ¡° Kau benar-benar memancingku lagi ya.¡± Udara malam yang dingin di luar sana tidak menyurutkan gelora di antara keduanya. Saga mulai terpancing lagi. ¡° Haha, bukan. Dengarkan aku dulu sayang.¡± Daniah berusaha menahan bibir Saga yang mulai lagi menciumi area sensitifnya. " Sayang hentikan, dengarkan aku dulu." ¡° Baiklah, bicaralah.¡± Mendesah. Lalu beralih menciumi rambut Daniah. ¡°Tapi aku peringatkan kamu ya, hati-hati dengan bicaramu. Kau tahukan aku masih kesal dengan kejadian siang tadi.¡± Aaaa, dasar yang mulia raja pendendam sejagad raya. ¡° Ia maaf. Jangan marah lagi, kamukan sudah memaafkanku tadi.¡± Ya walaupun hukumanmu belum selesai sampai disini. Aku tahu itu. Daniah bahkan tidak mau memikirkan bagaimana hari esoknya. Yang penting toko onlinenya tidak jadi di tutup. Itu sudah penawaran terbaik yang bisa dia dapat hari ini. ¡° Sayang, Aran tidak di pecatkan.¡± Sedari tadi Daniah masih gelisah ketika memikirkan nasib Aran. Dia sudah cukup akrab dengan gadis itu, dan tidak rela kalau dia harus di gantikan oleh orang lain lagi. Cih. Daniah mendengar Saga mendesal kesal. Aaaaa, seharusnya aku memang tidak boleh membahasnya sekarang. ¡° Kenapa kau perduli sekali dengannya?¡± Kesal. " Karena dia bisa jadi partner kejahatanmu." Dasar gila! partner kejahatan, memang kami melakukan apa. penghianatan pada negara? ¡° Bukan begitu.¡± ¡° Dia sudah membuat kesalahan fatal hari ini, lantas kau masih mau aku percaya padanya.¡± Bagaimana ini Daniah merasa ancaman, Saga mulai tersulut lagi. ¡° Maaf sayang.¡± Sudahlah bilang maaf saja untuk menyelesaikan masalah. ¡° Jadi, apa dia di pecat?¡± ¡° Tidak.¡± ¡° Hah serius!¡± memekik senang. ¡° Benar. Aran tidak di pecat.¡± Bersyukur senang. Paling tidak rasa bersalahnya sedikit menguap. Karena seandainya dia minta izin pada Saga tadi semua tidak akan menjadi masalah besar tadi. ¡° Sepertinya Han benar-benar menyukai gadis itu.¡± Walaupun Han tidak mengatakan secara langsung ingin mempertahankan Aran, tapi dari kata-katanya. Han meminta kesempatan terakhir untuk gadis itu bekerja di samping Daniah. Begitu yang di tangkap Saga dalam pembicaraan mereka tadi. Hingga akhirnya Saga menyerahkan keputusan mengenai Aran pada Han. ¡° Sayang, kamu tahu hubungan masa lalu mereka.¡± Mendongak. Menaikan kepala supaya mereka berhadap-hadapan. Tidak lupa menarik selimutnya. ¡° Hemm.¡± ¡° Apa! jadi kamu tahu? Kenapa tidak pernah cerita padaku.¡± Memukul dada mulus Saga. ¡°Kamu kalau di tanya cuma menjawab hemm. Hemm saja.¡± Selalu membuat kesal kalau ditanya tentang orang lain. Sekalipun Daniah bertanya tentang sekertaris Han. ¡° Sayang, ayo kita jodohkan Aran dan sekertaris Han. Aran sangat menyukai Han kamu tahu itu.¡± ¡° Mana kutahu, aku juga tidak perduli.¡± Pasti deh. Memang aku berharap dia akan memberi reaksi apa si. ¡° Tapi kamu tahukan, sekertaris Han bagaimana. Dia itu seperti bola kaca yang susah untuk di sentuh, padahal sepertinya dia juga suka pada Arankan. Buktinya katamu dia tidak memecat Aran.¡± Terus bicara, walaupun di jawab acuh oleh Saga. Daniah mendesah. ¡° Tapi Aran punya saingan, Amera dan ibunya. Ibunya sangat tidak suka pada Han. Terkait kejadian di masa lalu. ¡° Jadi kau mendukung siapa?¡± Meraih bibir Daniah. Bertanya tapi tidak membiarkan Daniah menjawab. Bagaimana bisa menjawab kalau bibirnya erat menempel begitu. ¡° hemm.¡± Hahh, akhirnya dia bisa bernafas lagi. Setelah Saga menghentikan serangannya. ¡°Kenapa kau sering lupa bernafas kalau berciuman. Bodoh! Tapi mengemaskan sekali.¡± Menghujani pipi Daniah dengan ciuman. Membuat Daniah tergelak. Kenapa istriku mengemaskan sekali. Masih uyel-uyel pipi. "Niah.¡± Menyentuh bibir Daniah. Tidak mau mendengar Daniah bicara tentang Han atau gadis yang mau di jodohkan dengannya. ¡° Ia.¡± Mulai curiga, saat Saga mengesekan jemari di bibirnya. ¡° Cium leherku.¡± Hei, kenapa tiba-tiba. Mengeryit sambil melotot. ¡° Wahh, lihat. Kau melotot padaku. Dimana Niah yang mau patuh dan bersikap manis tadi. Kau memang cuma manis kalau ada maunya.¡± Apa! gila ya dia. Sudah menagis janjiku secepat itu. " Ia sayang." Demi toko onlinemu Daniah. Gadis itu bangun duduk di samping Saga. ¡° Pejamkan matamu, jangan melihatku begitu.¡± ¡° Haha, kenapa?¡± Tanganmu tuan muda! ¡° Malu!¡± Daniah lirih menjawab sambil membuang muka. Saga masih tertawa tapi dia memejamkan matanya. Dan Daniahpun menciumi leher Saga seperti yang sering dilakukan suaminya. ¡° Kau suka?¡± Saga tergelak. ¡° Apa?¡± Daniah menggangkat kepalanya, rambutnya terburai menutupi wajahnya. ¡° Tubuhku.¡± Aaaaa, kenapa dia menanyakan hal memalukan begitu si. " Teruskan! Nikmati tubuhku sesukamu." Kembali menyentuh bibir Daniah. Mengusapnya berulang dengan jemarinya. " Kau sukakan?" Senyum kemenangan terkembang. Hei, memang siapa yang minta ini. Kenapa kau selalu menang kalau urusan membodohiku begini si. Dengan wajah bersemu merah, Daniah meneruskan apaa yang sudah dia mulai. bersambung Chapter 242 Restu ibu Yang tidak Terduga Toko online masih tetap bisa beroperasi seperti biasa. Tapi dengan banyak sekali syarat. Bersikap patuh dan manis ada di urutan pertama. Tentu saja sesuai standarisasi tuan muda yang seenaknya. Untuk kali ini Daniah tidak bisa membantah ataupun memohon pengurangan hukuman. Dia menerimanya dengan lapang dada. Yang utama dia bisa menyelamatkan toko online dan semua karyawan yang mengantungkan hidup disana. Daniah tidak bisa membayangkan, wajah-wajah muram karyawannya. Pagi ini dia mendapat Hp baru. Setelah beberapa hari lewat dari prahara. Daniah menerimanya dengan wajah sumringah. ¡° Terimakasih sekertaris Han. Sudah menganti hpku.¡± Menatap tajam. ¡° Kau butuh waktu yang lama sekali untuk membelikanku hp baru ya?¡± Tersenyum manis, tapi nada bicaranya terdengar kesal. ¡° Maafkan saya nona. Karena itu termasuk hukuman dari tuan muda.¡± Jawabnya tanpa beban sama sekali. Cih, sudah ku duga. ¡° Di mana hpku yang lama?¡± Bertanya dengan senyum manis lagi. Karena masih memikirkan pesan dari Abas yang belum sempat dihapusnya waktu itu. Masalah pesan itu akan berbuntut panjang kalau sampai ditemukan Han. Dia tidak mungkin tidak akan mengadu begitu pikir Daniah. ¡° Saya membuangnya nona.¡± ¡° Apa di buang!¡± Daniah langsung tertawa, saat melihat mata curiga Han karena reaksinya tadi. ¡° Tentu saja dibuang ya, karena sudah rusak. Haha. Hemm.¡± Ragu-ragu. ¡° Kalau begitu saya permisi nona.¡± Walaupun tahu sebenarnya nonanya belum selesai bicara. Sekertaris Han sudah ingin pergi berlalu. Dia terlihat tersenyum tipis melihat wajah ragu dan panik Daniah. ¡° Tunggu.¡± Tangan Daniah reflek menarik ujung jas Han. Laki-laki itu menatap tangan Daniah, seperti berkata tolong lepaskan tangan anda sebelum tuan muda melihat. ¡° Jawab dulu, baru aku akan melepaskan tanganku.¡± Tahu apa yang dipikirkan Han. ¡° Apa yang mau nona tahu?¡± ¡° Apa kau membuka hpku?¡± ¡° Ia.¡± ¡° Apa!¡± Langsung menutup mulut dan melihat sekeliling. ¡° Kau membuka hpku! Kenapa? Kau bahkan tidak izin padaku.¡± ¡° Tentu saja memindahkan semua data di hp nona. Memang apa lagi.¡± Menjawab santai. Daniah menarik nafas lega mendengarnya. ¡° Memang ada yang nona sembunyikan di hp nona, yang saya tidak boleh tahu.¡± Tersenyum. ¡° Haha, tentu saja tidak. Semoga harimu menyenangkan sekertaris Han. Aku naik ya, tuan Saga pasti sudah selesai mandi.¡± Dia tidak melihatnyakan? Artinya tuan Saga juga tidak melihatnya. Sementara itu Han hanya melihat Daniah yang terlihat senang sekali saat menaiki tangga. Andakan tidak bertanya apa tuan muda atau saya membaca pesan dari Abaskan? Sekarang itupun sudah tidak penting. Karena dia tidak akan berani menghubungi nona lagi. Setelahnya Daniah tidak pernah memikirkan lagi pesan dari Abas. Apalagi berfikir tentang isi pesannya. Semua orang tahu sudah terjadi sesuatu. Melihat Daniah terkurung di dalam rumah tanpa bisa pergi kemanapun. Mereka ingin bertanya, tapi saat melihat pandangan Saga yang tidak mau membahasnya akhirnya semua mengunci mulut. Menyimpan rasa penasaran. Selepas Daniah mengantar kepergian Saga ke mobil. Ibu sudah terlihat menunggu di sofa, sambil menikmati segelas teh. ¡° Apa kau melakukan kesalahan pada Saga?¡± Ibu mengambil cangkir tehnya. Daniah yang sudah duduk di hadapannya masih diam. Di depan Daniah ada sepiring buah-buahan. Pak Mun membawakan tanpa diminta olehnya. Lalu laki-laki itu masih berdiri di tempat yang bisa di lihat Daniah. Mengamati keadaan. Kenapa tebakan ibu benar begini si. ¡° Ibu.¡± Panggilan yang terasa asing jika mereka sedang berdua bicara. Membuat ibu menatap terkejut lalu meletakan gelasnya. ¡° Aku akan membuat anak ibu bahagia, jadi bisakah ibu merestui kami.¡± Daniah dengan penuh percaya diri bicara. Ibu tertawa mendengar kata-kata Daniah. Menatap Daniah lekat. Yang ditatap tidak mengalihkan pandangan. Ia menarima tantangan tatapan mata ibu sambil tersenyum. ¡° Sudah beberapa hari ini kau terkurung di rumah. Aku penasaran kesalahan apaa yang sudah kau buat.¡± Ibu mengulang pertanyaannya. Daniah tertawa. ¡° Haha, ibu memang aku berani melakukaan apa si pada tuan Saga.¡± Tersenyum dengan wajah dibuat imut. ¡° Aku hanya sedang menjalani program kehamilan, dan di suruh banyak istirahat.¡± Berkata bohong. Tidak bohong juga, hanya membuat alasan biar terlihat keren. Haha. Apa kata-kataku sudah meyakinkan. Ibu terlihat masam, lalu mengambil lagi cangkir tehnya. Meneguk beberapa kali. Lalu melihat Daniah lagi. ¡° Saga tidak mirip dengan ayahnya dalam hal kepribadian.¡± Tiba-tiba ibu bicara tanpa ditanya. ¡° Dia jauh lebih tegas dan dingin dalam segala urusan. Mungkin¡± menarik nafas dalam. ¡° Mungkin karena dia harus tumbuh dewasa dan menjadi kuat sebelum waktunya.¡± Eh, kenapa ibu tiba-tiba bicara begitu. ¡° Bahkan aku ibunya saja harus hati-hati saat bicara dengannya.¡± Ibu menatap Daniah lekat. Ya, gadis di hadapannya ini telah memberi banyak sekali perubahan dalam hidup putranya. Saga yang dulu jarang bicara atau tersenyum, sekarang mudah sekali tertawa. Waktu makan yang biasanya di isi laporan harian tentang kegiatan Jen dan Sofi sudah mencair pelan-pelan. Sekarang pembicaraan santai yang sering terjadi. ¡° Karena kau dia berubah.¡± ucap ibu lagi. Eh, ibu. Apa ini artinya. Daniah berdebar, menduga apa yang akan dikatakan ibu selanjutnya. ¡° Daniah.¡± ¡° Ia bu.¡± Untuk pertama kalinya namanya dipanggil oleh ibu dengan hangat. ¡° Apa kau bisa berjanji, untuk mencintai putraku seperti dia mencintaimu.¡± Tatapan ibu tulus. Walaupun sejujurnya Daniah tidak menduganya. Apa yang sudah membuat ibu berubah pikiran. Selama ini diapun tidak pernah berusaha maksimal menarik perhatian ibu, atau mengakrabkan diri dengan mertuanya itu. Aku tidak punya waktu karena harus meladeni anaknya! ¡° Ibu, akukan sudah bilang tadi. Aku akan membuat putramu bahagia.¡± Tersenyum tulus. ¡°terimakasih sudah merestui kami.¡± Ibu tersenyum. Mengambil sepotong buah di piring Daniah. ¡° Makanlah yang banyak, dan lahirkan anak yang lucu untuk keluarga ini.¡± Daniah tertawa, dia menerima garbu berisi potongan buah dari tangan ibu. Berterimakasih berulang dalam hati. Ditempatnya berdiri pak Mun terlihat tersenyum bahagia. Ibu masih melihat menantunya menikmati buah segar yang di hidangkan pak Mun. dia menyandarkan kepalanya di sofa. Terngiang kembali pembicaraannya saat pernikahan Noah kala itu. Ibu Noah meraih tangannya untuk duduk. Menepuk bahunya berulang. Matanya berkaca-kaca. " Dimana kau menemukan menantu seperti Niah?" " Kenapa?" Tanya ibu sedikit tidak senang. Dia memang kurang nyaman membicarakan Daniah di kalangan pergaulannya. " Dia membuat Saga kita bisa tersenyum bahagia." Ibu tergugu mendengarnya. "Kau tahukan Helen, Noah dan Saga memiliki hubungan yang sangat rumit. Setelah Helen pergi Saga sangat berubah. Tapi hari ini aku melihat dengan mata kepalaku sendiri bagaimana Saga tertawa dan tersenyum bahagia." Sekali lagi ibu Noah menepuk bahu ibu. " Saat Saga bicara dia mirip sekali seperti ayahnya saat membicarakanmu dulu. Aku melihat cintanya yang tulus. Seperti tuan Rahardian melihatmu." Ibu Noah tertawa mengingat bagaimana Saga membanggakan Daniah di hadapannya tadi. " Apa seperti itu?" Ibu terlihat masih ragu. " Bagaimana bisa kau tidak melihatnya? Padahal kau melihat Saga setiap hari." Pembicaraan panjang hari itu menampar pipi ibu berkali-kali. Sejauh apapun dia berusaha membohongi dirinya, menutup mata dari kenyataan. Kalau diapun merasakannya, Putranya bahagia bersama istrinya. Terlepas siapapun Daniah dan latar belakangnya. Huh! Suamiku, ternyata anakmu mirip sekali denganmu ya dalam urusan ini. Ibu masih melihat Daniah menghabiskan potongan buah di piring, tersenyum mengingat wajah suaminya. Menghabiskan waktu di dalam kamar, sambil mengutak atik hp baru. Tidak lupa memeriksa semua isi hp, foto-foto masih lengkap. Saat sedang memeriksa toko onlinenya dering keras hp sampai membuat Daniah menjatuhkan hpnya. Dasar sekertaris kurang ajar! Kau pasti sengajakan dengan nada dering mengelegar ini! Sekertaris Han memanggil. ¡° Hallo kenapa?¡± Menjawab dengan nada ketus. Bahkan suara nada dering masih mendengung di telinganya. ¡° Hallo nona. Bersiaplah sebentar lagi saya akan menjemput nona.¡± Han menjawab. ¡° Kenapa? Kau tahukan aku bahkaan tidak boleh keluar dari rumah selangkahpun, kecuali bersama tuan Saga.¡± Hanya boleh keluar rumah saat mengantar Saga ke dalam mobil. selebihnya tidak, bahkan sekedar ke rumah belakangpun tidak. " Tuan Saga yang kelewatan itu." ¡° Padahal tadinya aku akan mengajakmu jalan-jalan, tapi karena kau malah memakiku. Jadi aku batalkan." Sudah berganti suara milik yang mulia raja. Aaaaaa, sekertaris Han! ¡° Haha sayang, siapa yang memakimu. Maksudku tuan Saga yang tampannya kelewatan itu lho. Yang baiknya melebihi kebaikan seluruh penduduk bumi. Tuan Saga yang aku cintai. Baiklah aku bersiap-siap ya. Aku akan dandan yang cantik untukmu.¡± terus bicara tanpa jeda, tidak mau sampai Saga membatalkan semuanya. ¡° Jangan berdandan. Kau cuma boleh terlihat cantik di depannku. Di tempat tidurku.¡± Hah! Baiklah, baiklah aku waras makanya harus mengalah. " Baiklah sayang, aku tidak akan berdandan. Aku tunggu ya. Aku mencintaimu." Akhirnya keluar rumah! Terserahlah mau di ajak kemana, yang penting bisa keluar rumah! Bersambung Chapter 243 Pengumuman ^_^ Hallo semua para pembaca TMTM, aku LaSheira, semoga kalian selalu bahagia ya. Kali ini aku datang membawa sedikit pengumuman untuk semuanya, terkhusus pembaca setia TMTM. Sebentar lagi masuk bulan Ramadhan, dan pasti ritme kehidupan kita berubah, apalagi bertepatan Ramadhan di tahun ini kita sedang menghadapi pendemi global. Jadi pasti ada berimbas dalam kehidupan kita. Termasuk aku. Jadi, melihat keterbatasan diri, selama bulan Ramadhan TMTM tidak akan update sesuai jadwal yang biasanya hari rabu dengan total 5 episode ya. Apa! Jadi TMTM gak akan update selama Ramadhan. Insyaallah TMTM masih akan update di bulan ramadhan, tapi waktunya kapan dan berapa jumlah episodenya berapa aku tidak bisa menjanjikan. Semoga bisa memberikan yang terbaik untuk semuanya. Itu saja informasinya ya teman-teman, semoga bisa dimaklumi. Dan mohon maaf atas keterbatasan diri ini. Selamat menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadhan untuk yang menjalankannya, semoga di beri kemudahan dan kebaikan semuanya ya. jaga kesehatan, dan makan makanan yang sehat serta istirahat yang cukup. Semoga semuanya bahagia ^_^ Terimakasih untuk semua yang selalu mendukung TMTM Membaca Like Komentar positif Favorit Tips Vote Suport pribadi kalian di DM IG Canda tawa kalian di grup Chat Terimakasih untuk semua yang sudah mencintai TMTM dan memahami keterbatasan diri ini sebagai author ^_^ Sukses untuk kalian semua ya Selamat Berpuasa Salam hangat @La_Sheira Chapter 244 Daniah vs Han Selepas mendapat telfon dari Saga, siang ini awan mendung di atas kepala Daniah menyibak dengan cepat. Pembicaran tidak terduga dengan ibu juga, membuat sedikit banyak moodnya lebih baik. Dia sudah bersiap-siap, berdandan alakadarnya sesuai permintaan yang mulia raja. Lalu dengan senyum terkembang berlari menuruni anak tangga. Pak Mun di bawah tangga sudah terlihat kuatir melihat cara Daniah berjalan menuruni tangga. ¡° Nona, jangan berlarian di tangga.¡± Pintanya dengan nada setengah perintah. Dia bahkan memegang pinggiran tangga seperti dengan melakukan itu bisa membuat Daniah jau lebih aman. ¡° Hehe, pak Mun aku sedang senang.¡± Tertawa. Mengatakan dia baik-baik saja. Bahkan dia loncat seperti anak kecil di anak tangga terakhir. ¡° Tapi nona harus tetap berhati-hati.¡± Sudah seperti Ayah yang memarahi anaknya yang ceroboh. Ya ampun pak Mun akukan bukan wanita hamil. Daniah langsung berhenti sesaat dan memperlambat langkah kakinya. Ketika kata-kata itu terucap di kepalanya. Tunggu, menurut perhitungan si memang seharusnya aku mendekati waktu datang bulan ya. Hemmm. Belum ada tanda aku mau datang bulan.Tapi tidak ada gejala aku hamil juga. Mengusir dengan cepat apa yang baru melintas dipikirannya. Karena Daniah sendiri tidak tahu gejala hamil itu selain mual dan muntah itu apa lagi, Daniah duduk di kursi yang sengaja di bawa pak Mun dari dalam. Membiarkan angin yang lembut membelai kulit dan menyisir rambutnya. ¡° Kenapa nona menunggu di luar?¡± Cuaca cukup panas tidak membuat Daniah terusik sama sekali. Kegembiraannya bisa keluar rumah mengalahkan panas matahari yang jatuh ke kulitnya. ¡° Duduklah di dalam nona, kalau sekertaris Han datang saya akan memanggil nona.¡± ¡° Pak Mun.¡± Melihat ke arah pak Mun. ¡°Aku tidak apa-apa.¡± Tertawa. ¡° Pak Mun sendiri tahukan sudah berapa hari aku tidak bisa keluar rumah kecuali mengantar tuan Saga pagi-pagi. Hehe.¡± Walaupun kenyataan itu terdengar getir dan menyedihkan. Pak Mun mengalah saat mendengar penjelasan Daniah. " Nona pasti mengerti, kalau tuan muda melakukan itu karena tuan muda sangat menyayangi nona." Suara pak Mun terdengar seperti membela Saga. Tapi tentu Daniah bisa memahami itu. Rasa sayang laki-laki di sampingnya ini untuk suaminya sudah tidak bisa dia bantah. Hingga Daniah hanya bisa menggangukan kepala dan tersenyum saja. Aku tidak bisa membantah pak Mun. Hiks. Sementara menunggu, Daniah mengeluarkan hpnya, tidak ada pesan masuk. Gadis itu lalu melirik sekilas laki-laki yang berdiri di sampingnya. ¡° Pak Mun, apa aku boleh bertanya sesuatu.¡± Ucapnya mengusir sepi. ¡° Silahkan nona.¡± ¡° Tapi menyangkut kehidupan pribadi.¡± Daniah tersenyum penasaran, selama ini dia hanya menduga-duga. ¡°Dimana keluarga pak Mun. Istri dan anak-anak pak Mun.¡± Aku rasa yaang penasaraan bukan aku sajakan? Haha. ¡° Kenapa nona tiba-tiba bertanya tentang itu?¡± Aaaaaa, kenapa si kalian ini tidak langsung menjawab saja. Kupikir akan jauh lebih mudah mengorek info pak Mun, ternyata dia juga tidak semudah itu ya. ¡° Haha, aku hanya ingin tahu pak. Pak Mun sudah berapa lama bekerja di rumah ini?¡± Suara mobil langsung memecah fokus Daniah. Pak Mun yang tadinya mau menjawabpun akhirnya tidak keluar sepatah katapun penjelasan mengenai keluarganya. ¡° Dia datang pak!¡± Daniah menunjuk sebuah mobil yang melaju sedang kearah mereka. ¡° Aku pergi ya pak. Sampai nanti.¡± ¡° Ia nona, hati-hati di jalan.¡± Pak Mun mengikuti sampai ke dekat mobil. Memandang punggung nona mudanya. Sambil bergumam sesuatu yang hanya dia yang bisa mendengarnya. Han keluar dari mobil, terlihat ujung bibirnya tersenyum melihat kegembiraan yang terlihat sangat jelas di wajah Daniah. Dia setengah berlari bahkan sebelum Han mendekat. ¡° Kenapa lama sekali?¡± Celingukan melihat jalan menuju rumah belakang. ¡°Apa Aran tidak diajak?¡± Berhenti memegang pintu mobil, sementara kakinya sudah masuk ke kursi belakang. ¡° Masuklah nona.¡± Tidak menjawab pertanyaan Daniah. Menutup pintu, lalu diapun masuk dan duduk di belakang kemudi. Mobil melaju meninggalkan rumah utama. Daniah sekali lagi melihat ke belakang. Jalan menuju rumah belakang dan tidak muncul siapapun dari sana. ¡° Apa Aran tidak di ajak?¡± Tanyanya lagi. ¡° Tuan muda masih belum ingin melihat wajahnya.¡± Penjelasan yang langsung membuat Daniah malas bertanya lagi. Cih, dasar pendendam sekali. Memang apa yang kuharapkan si, aku saja belum dimaafkan apalagi Aran. ¡° Tapi dia tidak kenapa-kenapakan?¡± Semua akses informasi Daniah ditutup, bahkan pak Mun hanya mengeleng saat ditanya tentang Aran. Daniah hanya tahu kalau gadis itu tidak di pecat. itu saja. ¡° Saya tidak tahu nona.¡± Masih menatap lurus ke depan, memegang kemudi, berbelok, lalu mobil melaju kembali dengan kecepatan sedang. Saling berkejeran dengan mobil-mobil lain di jalanan. ¡° Hei, jangan pura-pura tidak tahu ya.¡± Daniah tertawa sambil menyandarkan kepala. Memperhatikan kaca spion berharap melihat ekspresi sekertaris Han. ¡°Aku tahu tentang hubungan kalian di masa lalu lho.¡± Tersenyum puas. Heh, apa aku sudah terlihat memancing suasana dengan keren. Daniah bangga sendiri dengan apa yang ia katakan. ¡° Sepertinya nona akhir-akhir ini terlalu banyak berfikir ya.¡± Han sama sekali tidak terpancing seperti biasa. Tetap mengemudi dengan tenang, dengan suara datar yang seperti tidak tertarik. ¡° Tentu saja akukan pekerja keras, dari dulu aku selalu giat berfikir dan bekerja.¡± Masa muda yang penuh kerja keras bagi Daniah. Hidup yang bisa sedikit dia banggakan. ¡° Pantas saja, karena banyak yang nona pikirkan, sampai nona akhir-akhir ini mulai lupa dengan aturan tuan muda.¡± Bagai anak panah, langsung merontokan kata-kata yang sudah di susun Daniah di kepalanya. Hah kurang ajar, aku tidak bisa menjawabnya sekarang. Han tersenyum tipis karena berhasil membuat Daniah diam. Sementara Daniah sedang memutar otak dan mencari ide pembicaraan lagi. Sementara mobil terus melaju cepat menuju gedung Antarna Group. ¡° Sekertaris Han.¡± Sepertinya sudah berhasil menemukan topik lagi. ¡° Ia nona.¡± Terdengar sekali suara malas Han menanggapi. Mulai lagi, desah Han dalam hati. ¡° Teman-teman tuan Saga yang aku jumpai di pemakaman apa mereka sudah menikah semua? Aku hanya tahu Noah sudah menikah. Bagaimana dengan yang lain?¡± Han belum menjawab, sedang menduga arah kemana pertanyaan Daniah di kursi belakang. ¡° Karena menjodohkan Aran denganmu sepertinya mustahil, aku jadi ingin menjodohkannya dengan salah satu teman tuan Saga yang lain. Haha.¡± Ntah kenapa Daniah tertawa karena dia melihat sekertaris Han mencengkram kemudi kuat dan menaikan sedikit kecepatan. Apa dia terpancing. ¡° Sepertinya nona benar-benar tertarik dengan kehidupan pribadi saya.¡± Tentu saja, supaya hubunganmu dengan tuan Saga normal, dan aku bisa tenang tidak diawasi kemana-mana olehmu. ¡° Katakan! Kau suka pada Arankan?¡± Suara Daniah terdengar meledek. Dia bahkan sedikit maju ke kursi depan, demi melihat reaksi wajah Han. " Haha, lihat wajahmu. Kau suka pada Arankan?" " Duduklah nona!" Cih, dia benar-benar pandai sekali menyembunyikan hatinya. Wajahnya bahkan benar-benar tidak bergeming sedikitpun. Tapi Daniah tidak menyerah begitu saja. Berdasarkan hipotesanya dia menyimpulkan kalau Han memang tertarik pada Aran. " Bagaimana kalau bapak mentri itu apa dia sudah menikah?" Han diam tidak menjawab. " Kalau yang satunya gimana, yang wajahnya selalu tersenyum itu. Yang beda sekali dengan seseorang." menyindir jelas orang yang sedang berada di belakang kemudi. "Dia terlihat lucu, sepertinya pantas sekali dengan Aran yang selalu ceria itu." Aaaaaa, gila! dia benar-benar tidak terpancing sama sekali. Daniah frustasi ketika provokasinya hanya dianggap angin lalu. Sementara Han sendiri masih mencengkram kemudi dan menaikan kecepatan. Cih Saat mobil memasuki area parkir, Daniah keluar dan berjalan di depan Han. " Nona!" " Ia." Berhenti dan langsung berbalik. Hanpun menghentikan langkah kakinya. "Kenapa? kau mau mengaku sekarang? Kau suka pada Arankan?" Ayo jawab saja si, gampangkan! " Berhentilah mengurusi kehidupan pribadi saya. Berbahagialah bersama tuan muda, itu sudah cukup membantu saya." Daniah langsung cemberut. Dia menghentakan kaki sebelum berbalik dan masuk ke dalam gedung Antarna Group. Bergumam-guman, sambil melirik tajam pada laki-laki yang berjalan mensejajarinya sekarang. Epilog Di dalam lift, menuju pusat kekuasaan Antarna Group. Lantai yang hanya bisa dimasuki beberapa orang. Daniah berdiri agak ke belakang, sementara Han ada di dekat tombol lift. Masih bersikap sama seperti biasanya. " Sekertaris Han." Daniah mulai memancing lagi, dia tahu Han mulau mendesah saat dia memanggilnya untuk kesekian kalinya. " Mau kuberitahu satu rahasia tentang Aran." Bola mata sekertaris Han terpancing. Dia terlihat ingin menggangukan kepala, tapi sel saraf kesadarannya masih bekerja dengan optimal. Jadi dia hanya diam dan menatap Daniah kesal. " Haha, tidak mau ya sudah." Mengibaskan tangan di dekat telinga, seperti mengibaskan rambut. "Aku juga tidak rugi." Haha, aku tidak pernah merasa sepuas ini berdebat dengannya. " Baiklah, karena aku orang baik, aku akan mengatakannnya." Lift berhenti, pintu terbuka. " Kau bisa jual mahal pada Aran sekarang, tapi percayalah kau harus bekerja keras menaklukan hati ibunya Aran. Karena dia tidak menyukaimu karena hubungan masa lalu kalian." Daniah melihat reaksi Han. " Hanya itu rahasia yang nona punya?" Seperti mengatakan, tidak penting sama sekali. " Wahh, kau masih menggangap itu tidak penting ya." Berjalan mendekati pintu. Berhenti tepat di depan sekertaris Han yang menyentuh pintu agar tetap terbuka. " Kau tahukan ibu selalu benar." Daniah menepuk bahu sekertaris Han. " Jadi selamat bekerja keras menaklukan hati ibunya Aran ya." Daniah berjalan keluar lift. " Haha, aku tidak bisa membayangkan kalau ibunya Aran menyambutmu dengan banyak sapu di depan rumahnya." Masih menyisa tawa saat Daniah berjalan menuju ruangan Saga. " Udara sejuk sekali di sini ya, aku bahkan bisa merasakan hembusan angin" Sekali lagi tertawa sambil menoleh. Sapu? Kenapa dengan Sapu? Han masih berfikir sambil membuka handle pintu. Bersambung Chapter 245 Ketahuan Jam istirahat makan siang. waktu rehat yang dinantikan semua orang yang ada di dalam gedung megah ini. Siang ini suasana kantin kantor tidak berbeda dengan hari biasanya. Ramai obrolan para pekerja yang sudah mengambil makanan dan duduk. Antrian orang-orang yang baru mengambil piring, mendekap piring di tangan kanan mereka, sambil tangan kiri sibuk memeriksa hp. Mengecek sosial media masing-masing tentunya. Raksa dan Jen sudah selesai mengantri makanan mereka, Membawa piring di tangan masing-masing, berjalan mengedarkan pandangan mencari tempat kosong. Mata mereka menemukan tempat yang sama, saling sengol dan tertawa lalu berjalan cepat menuju meja kosong. " Raksa." Seorang senior memanggil saat keduanya hampir sampai di dekat meja. Jen lebih dulu menuju meja kosong yang mereka temukan karena takut diambil orang. "Ambilah" Senior wanita itu menyodorkan tangannya. " kamu suka jus sirsakkan? aku sengaja membelinya untukmu." Ucapnya malu-malu sambil melirik teman-temannya yang lain. " Eh terimakasih." Agak ragu namun diambilnya juga sekotak jus yang mengantung di depannya. " Nanti mau minum kopi? Kamu bisa ajak Jen juga sekalian." Raksa hanya menjawab basa basi tanpa memberi kepastian. Lalu menunjuk piring di tangannya. " Baiklah, makanlah dulu. Nanti bicara lagi ya." Menolak secara langsung akan menimbulkan ketidaknyamanan kerja, akhirnya seperti itulah Raksa. Dia selalu tidak enakaan jika menolak secara tegas. ¡° Kenapa si senior itu tidak mau menyerah juga." Jen merengut saat Raksa sudah duduk di depannya. meja mereka di samping jendela kaca, mereka bisa melihat awan berserak cerah di langit luar. Karena kantin kantor ada di lantai yang cukup tinggi. ¡° Sudahlah.¡± Raksa mulai makan makan siangnya tidak mau membahas perihal senior wanita tadi. " Hemm." Gumamnya ragu. Ada yang mengantung di matanya. Keraguan. Tapi dia sudah tidak bisa berkompromi dengan pikirannya untuk tetap menduga dan berprasangka baik ¡° Jen, boleh aku bertanya.¡± Akhirnya terlepas juga pertanyaan itu. Eh, kenapa Raksa tiba-tiba serius begini. Jen bahkan meletakan sendoknya demi fokus pada wajah Raksa. Sial! Kenapa aku masih saja deg-degakan begini si kalau melihat matanya langsung. ¡° Kenapa?¡± Meraih sendoknya lagi setelah berhasil meredam debaran hati. Mengambil makanan sedikit-sedikit. ¡° Mau tanya apa? tanya aja.¡± ucapnya tidak mendongakan kepala. Fokus melihat makanan di piringnya. Apa dia tahu aku suka padanya? Hei, tapi dari siapa. Tidak mungkin kakak ipar ceritakan. Atau si mulut cerewet Sofi, ah dia juga tidak mungkin. Masih terus menduga karena sepertinya Raksa masih tengelam dengan keraguan dan makan makan siangnya. Membuatnya belum meneruskan apa yang sudah dia mulai tadi. Jantung Jen kembali berdegub, karena pikirannya berlarian menduga. ¡° Hemmm.¡± Diam lagi sebentar. ¡° Tapi tolong jawab dengan jujur ya.¡± Haaaaa, kenapa kau membuatku tambah berdebar-debar. Sebenarnya kau mau tanya apa? ¡° Ia, katakan saja. Jangan membuatku penasaran begini!¡± Jen tertawa di buat-buat. Lalu meneruskan makannya. ¡° Apa kak Niah baik-baik saja?¡± Mendengar pertanyaan Raksa, Jen langsung membenturkan kepalanya ke meja. ¡° Hei kenapa Jen.¡± Raksa panik saking terkejutnya. Memang apa yang aku pikirkan si. Pasti yang ditanyakannya tentang kakak ipar. ¡° Kepalaku tiba-tiba gatal.¡± Mendongak lalu mengusap keningnya yang nyeri. Sepertinya cukup keras dia membenturkan kepalanya tadi ¡° Kenapa memang? Kakak ipar baik-baik saja.¡± Memang ada yang terjadi si guman Jen, tapi semua masih baik-baik saja. ¡° Ah.¡± Menyentuh leher. ¡° Beberapa hari ini aku mencoba menghubungi kak Niah, tapi hpnya tapi tidak aktif.¡± Ada kelegaan di hati Raksa saat mendengah kakak perempuannya baik-baik saja. ¡° Aaa itu, hp kakak ipar memang sedang rusak. Tapi sepertinya memang sedang terjadi sedikit perang dingin antara kak Saga dan kakak ipar, karena kakak ipar tidak boleh keluar dari rumah.¡± ¡° Kenapa? Apa Kak Niah.¡± Wajah panik Raksa langsung muncul lagi. Bahkan beberapa pikiran liar dan tidak masuk akal mulai bermunculan di kepalanya. ¡° Hei, tenang dulu, tidak seperti itu. Mereka baik-baik saja. Sungguh, mereka masih mesra seperti yang pernah kamu lihat. Tidak ada yang berubah. Tapi sepertinya kakak ipar melakukan sedikit kesalahan jadi dia tidak dibolehkan keluar rumah.¡± Hah, ternyata masih seperti itu ya. Kak Niah tetap masih harus berada pada garis batas tuan Saga yang sangat jelas. ¡° Tapi kak Niah benar baik-baik sajakan?¡± Meyakinkan hatinya lagi. ¡° Ia Raksa, kakak ipar baik-baik saja. Aku akan menyampaikan salammu nanti kalau pulang ya.¡± Jen membereskan piring dan gelasnya. Suapan terakhir sudah kandas. ¡° Ia sebenarnya ada berita yang mau aku sampaikan juga padanya.¡± Raksapun sudah membereskan piringnya. Minum jus buah yang diberikan senior padanya tadi. ¡° Apa?¡± ¡° Berita pernikahan.¡± Brak! Reflek karena terkejut Jen memukul meja sampai sendok jatuh berdenting. Wajahnya campur aduk. Pernikahan! Pernikahan! ¡° Pernikahan! Tidak boleh!" Terdengar sangat marah daripada hanya sekedar terkejut. " Memang kamu sudah seyakin itu mau menikah?" Memukul meja lagi. " Raksa kita bahkan belum lulus kuliah. Status magang kita saja belum final, bagaimana kamu bisa berfikir tentang pernikahan.¡± Suara Jen sepertinya bukan hanya bisa di dengar keduanya, tapi hampir meja di sekitar mereka menoleh dan ikut mendengar. Senior wanita yang memberinya jus buah dan teman-temannya juga bisa mendengar dengan jelas. Sudah tercipta keributan di meja mereka. Makanan yang belum mereka habiskan tidak lagi mereka sentuh. "Aku tahu pacarmu itu keren, tapi apa harus secepat ini?" Masih bicara mengebu-gebu dengan nafas terengah. ¡° Apa, Raksa mau menikah?¡± ¡° Anak magang of the year kita mau menikah?¡± ¡° Aaaaaa, aku bahkan baru follow media sosialnya dan mau tebar pesona padanya.¡± ¡° Raksa! Tidak mungkin.¡± " Raksa sudah punya pacar!" terdengar sekali nada penuh emosi dalam pengucapannnya. Langsung terdengar suara kumbang dimana-mana. ¡° Hei Jen kenapa kau teriak-teriakan begitu.¡± Menepuk tangan Jen di atas meja yang terkepal. " Dengarkan aku dulu." ¡° Kenapa aku berteriak? karena kamu mau menikah!¡± masih berteriak tidak kalah keras. Lalu menjatuhkan kepala di meja. Mendongak pelan, menatap mata Raksa. Lalu keluarlah kata-kata yang akan dia sesali seumur hidupnya. ¡° Paling tidak biarkan aku move on dulu darimu baru kau menikah. Mungkin aku tidak akan terlalu sakit hati. Kenapa? Kenapa sekarang kau menikahnya si!¡± Berbisik pelan, hanya Raksa yang bisa mendengar kalimat terakhir Jen. Raksa yang tidak bisa menutupi rasa terkejutnya mendengar pengakuan Jen. Terduduk diam dengan pikiran kosong. Apa maksudnya? Jen suka padaku? suka? sebagai laki-laki? Walaupun Raksa berusaha mengusir pikiran tidak masuk akal itu, tapi ketika mata mereka bersitatap, dia berhasil menemukan jawabannya. Jadi Jen benar-benar suka padaku? Bersambung Chapter 246 Pernikahan Risya Raksa berhasil menarik tangan Jen untuk menghindari semua orang. Tatapan tidak percaya, dan juga kecewa yang terpancar. Keingintahuan dan penasaran mengebu, tapi Raksa merasa tidak perlu menjelaskan pada mereka. Toh, gosip di kantor biasanya akan surut seirama dengan banyaknya laporan yang harus mereka kerjakan. Tapi mungkin kecuali tentang anak magang of the year. ¡° Apa! jadi yang mau menikah itu kakak perempuanmu?¡± Jen langsung ingin amblas masuk ke dalam kerak bumi. Mereka sudah menjauh dari keramaian. Hanya ada mereka berdua. Duduk bersejajar. Jen menunduk sambil meremas jemarinya. Malu. Adegan di kantin kantor tadi kembali mengejar ingatannya. Sampai pada adegan dia mengebrak meja dan berteriak protes. Dan juga sampai pada moment pengakuan perasaan terdalamnya. Aaaaaa, aku pasti sudah gila! Bagaimana aku mengaku menyukai Raksa si. Hubungan kami akan jadi seperti apa setelah ini. Jen bisa membayangkan akan sejauh apa kecanggungan membentang di antara mereka. Bahkan mungkin makan siang bersama hanya akan menjadi kenangan manis diingatannya. Chat curhat sebelum tidur, tidak mungkin lagi. Hubungan baiknya dengan pacar Raksa, tidak mungkin tidak akan kandas setelah ini. Aaaaaa, kakak ipar tolong aku! Aku ingin kembali ke moment tadi dan menjaga mulutku! ¡° Kak Risya yang mau menikah.¡± Raksa bicara setelah melihat Jen mulai tenang. Raksa terdiam sebentar, diapun terlihat sedang berusaha menguasai hati dan pikirannya. Mendapati kenyataan yang selama ini tidak pernah terpikirkan olehnya. Membuatnya binggung bagaimana harus bersikap. ¡°Ayah ingin kak Niah membantu persiapan pernikahan.¡± Melanjutkan kalimatnya setelah ada jeda tarikan nafas dalam. Baiklah, jangan membahasnya. Jen pasti juga merasa tidak nyaman. Begitu akhirnya Raksa menyimpulkan. Lebih baik membahas kak Niah. Ayah ingin Daniah terlibat membantu pernikahan Risya, bukan sebatas sebagai istri presdir Antarna Group yang bisa mereka banggakan pada seluruh kerabat atau kolega tamu undangan. Tapi sebagai putrinya, sebagai anak yang telah lama terabaikan. ¡° Hemmm, Jen.¡± Masih ragu. ¡° Jangan bicarakan itu.¡± Memotong langsung kalimat Raksa, Jen tahu arah keraguan yang mengantung di suara Raksa. Laki-laki di sampingnya ini pasti mau membahas pengakuan hatinya tadikan. Dia belum siap. Walaupun jelas-jelas pasti di tolak, tapi dia tidak mau mendengarnya langsung dari mulut Raksa. Apalagi sekarang. Jelas aku ditolak! Tidak mungkinkan dia putus dengan pacarnya dan memilihku. ¡°Dengarkan aku dulu Jen. Aku bahkan belum bicara apa-apa.¡± Sudah tercipta jarak antara mereka. Ya, tidak mungkin tidak. Pasti ada yang berbeda, bahkan udara yang berputar di sekitar mereka rasanya sudah lain. Serba salah sendiri Jen jadinya. Tapi ia benar-benar belum menyiapkan hati seluas lautan untuk mendengar jawaban Raksa. Sekalipun tahu apa yang akan menjadi jawaban Raksa sekalipun. Jadi dia tidak mau dibahas lagi, dalam waktu dekat ini. ¡° Jen.¡± Baiklah, baiklah. Bicaralah, terserah padamu, katakan saja apa yang mau kamu katakan. ¡° Kenapa?¡± Menyerah, memang pada akhirnya apa yang harus dibicarakan tetap dibicarakan, meskipun itu menyakitkan sekalipun. Begitu Jen berusaha mengutip kalimat sok bijak Sofi yang sering dia ambil dari contekan akun-akun di sossial media. ¡° Apa tuan Saga akan mengizinkan kak Niah membantu pernikahan kak Risya ya.¡± Lagi-lagi Jen membenturkan kepalanya di dinding tempat dia bersandar. Karena salah lagi menebak. Mengutuki ketidakpekaan Raksa, sekaligus bersyukur pengakuan cintanya tidak dibahas. Sepertinya pengakuan cintaku dianggap angin lalu oleh Raksa ya. ¡° Ayah bilang akan memintanya langsung pada tuan Saga, tapi karena situasinya sedang seperti ini aku merasa cemas.¡± Raksa mengeluarkan hpnya. ¡° Kalau kak Niah tidak dilibatkan dalam pernikahan kak Risya, aku yakin dia akan sangat sedih.¡± Sekali lagi menjadi bagian keluarga yang tidak diangap. Pasti akan menyedihkan bagi Daniah jika itu terjadi. Memikirkannya saja membuat Raksa ikut bersedih. ¡° Kak Saga pasti mengizinkan kakak ipar, jangan kuatir. Nanti aku yang akan bicara dengan kakak ipar ya.¡± ¡° Benarkah? Baiklah terimakasih ya.¡± Detik bergulir saat mereka selesai membahas Daniah. Raksa berdiri bangun melihat jam di tangannya. "Sepertinya kita sudah harus kembali." Jen masih duduk dan belum bergerak. Dia menarik ujung jas Raksa. " Raksa masalah tadi di kantin." Kalimatnya mengantung, tapi Jen belum melepaskan tangannya. " Aku." " Kalau Jen tidak mau membahasnya, bagaimana kalau kita anggap itu tidak pernah terjadi." Bagaimana mungkin! jelas-jelas, kamu sudah tahu kalau aku suka padamu! Tapi akhirnya Jen melepaskan tangannya dan menggangukan kepala. Baiklah, begini saja. Toh hubungan diantara merekapun tidak akan bergerak kemanapun. Sampai akhit mungkin Jen hanya ada dipihak yang mencintai. Jen mengikuti langkah kaki Raksa. " Apa kau mau datang ke pesta kak Risya juga?" " Apa boleh? ah iya, apa dia menikah dengan selebriti juga." " Tidak, kak Risya menikah dengan salah satu kolega ayah. Dia ingin menikah dengan pengusaha seperti kak Niah." " Apa dia iri melihat kakak ipar? is si, siapa yang tidak akan iri melihat kakak ipar." Jen tertawa. "Kak Saga berlebihan menunjukan cintanya pada kakak ipar. Haha. Jadi membuat semua orang iri." Sepertinya Jen sudah lupa dengan urusan pernyataan cintanya. Jarak kecanggungan dan sebagainya. Dia masih bisa tertawa sambil menepuk bahu Raksa seperti biasa. Epilog Jen di seret ke kamar mandi. Tubuhnya sudah menempel di dinding. Wajah-wajah penuh rasa ingin tahu ada di depannya. Tidak, mereka bukan hanya terlihat penasaran, tapi juga marah. " Jen, benar Raksa mau menikah?" " Dengan siapa? orang kantor ini juga." " Kapan mereka mau menikah?" " Jadi Raksa sudah punya pacar?" " kenapa kamu tidak pernah cerita pada kami!" Tidak memberi kesempatan Jen melihat siapa yang bicara. Mereka bicara bergantian seperti lebah berebut masuk ke sarangnya. Aaaaaa, seniorku ini sudah pada tidak waras apa. " Bukan Raksa yang mau menikah kakak-kakak semua" Berusaha membebaskan diri. " Tapi kakak perempuannya. Aku keceplosan tadi karena terkejut juga." menatap para wanita di depannya satu persatu. Jen sedang menduga-duga, kalau mereka hanya fokus pada informasi mengenai Raksa. Mereka tidak dengar pernyataan cintaku tadikan? " Ya Tuhan, kamu membuat semua orang gempar saja. Jadi bukan Raksa yang mau menikah?" " Bukan kak." Mengibaskan tangan yakin. Hah! sudah? kalian percaya begitu saja? " Tunggu!" Ada yang kembali masuk ke kamar mandi, menemui Jen yang masih membasuh wajah. "Jen, kalau pacar bagaimana? Kamu bilang, Raksa punya pacarkan?" Duduk menyandar di pinggiran meja kaca. Menunggu penuh harap jawaban Jen. " Hah! Memang aku bilang begitu ya kak." Mengangkat bahu binggung, sambil mengeringkan tangan. " Kapan? tadi? waktu di kantin? Mungkin kakak salah dengar." Jen bicara sangat meyakinkan. Percayalah, percayalah, seperti orang bodoh yang sedang dimabuk cinta. " Aku salah dengar ya. Hemm." menimang-nimang sebentar. " Mungkin ya, sudahlah, mau ku traktir minum kopi." " Boleh." Tuhkan, orang jatuh cinta memang kadang bodoh. Sama sepertiku! " Tapi bantu aku dengan Raksa ya." Cih, memang apa yang bisa kulakukan! Bersambung Chapter 247 Ngidam Makan siang di sebuah restoran keluarga. Janji Saga pada pemilik restoran untuk mengajak istrinya benar-benar ia lakukan. Di sebuah ruangan privat yang disiapkan khusus untuknya dan Daniah. Istri pemilik restoran ikut menyapa dengan sangat antusias dan berdebar. Wahhh, nona Daniah ternyata manis begini ya. Berbeda dari apa yang ia imajinasikan, gadis tinggi semampai dengan wajah dan penampilan glamor. Sketsa di kepalanya langsung terbang saat bertemu Daniah. Wanita imut dan mungil dengan rambut bergelombang dan riasan wajah yang polos dan sederhana. Dan Keramahan yang menyentuh sampai hatinya walaupun ini kali pertama mereka bertemu. Dia bahkan ingin rasanya memeluk Daniah dan mengusap kepalanya kalau suaminya tidak mengingatkan. Jangan melakukan kontak fisik berlebihan dengan nona Daniah, karena tuan Saga tidak menyukainya. Jelas-jelas diucapkan suaminya semalam. Akhirnya dia hanya bisa berjabat tangan sebentar dengan Daniah. Tapi aku benar-benar ingin menyentuh pipinya! ¡° Nona, apa saya boleh memeluk nona.¡± Duarr, keceplosan. Saga langsung menoleh mendengar perkataan wanita yang berdiri di depan Daniah. Sementara Daniah tersenyum canggung. Kalau saja tidak ada Saga dia pasti sudah menghambur ke pelukan wanita paruh baya di depannya. ¡° Sayang!¡± Sang suami langsung menarik tangan istrinya untuk mendekat. ¡°Maaf tuan Saga sepertinya istri saya sudah kelewatan karena merasa senang bertemu dengan nona Daniah.¡± Bahkan wajah Daniah menjadi tidak nyaman karena suasana menjadi sedikit tegang. ¡°Istri saya sedang hamil muda, jadi maunya yang aneh-aneh tuan Saga. Maafkan saya.¡± Melirik istrinya untuk diam. ¡°Memang apa hubungannya istrimu hamil dengan ingin memeluk istriku.¡± Saga menjentikan jarinya agar Daniah mendekat padanya. Tidak rela. Suaranya jelas terdengar tidak suka. ¡° Sayang.¡± Daniah mendekat. ¡°Kalau ibu hamil biasanya memang ngidamnya unik, gak papa ya cuma peluk saja.¡± Masih berdiri belum duduk di samping Saga. ¡° Tidak boleh! Kemari!¡± ¡° Sayang ini mau bayinya dalam perut.¡± Terlihat sekali dahi Saga berkerut. " Memang orang ngidam begitu, agak aneh-aneh." Lanjut Daniah menjelaskan. Kumohon berhenti berdebat dengan ibu hamil, ini memalukan sekali. " Apa itu ngidam, dan berhenti bicara sembarangan. Bagaimana kau tahu itu maunya si bayi?" menepuk kursi di sebelahnya keras. Supaya Daniah duduk. Setelah istrinya duduk, dia melingkarkan tangannya memeluk pinggang Daniah. Sambil melirik istri pemilik restoran. Dia milikku begitu ujaran penegasan di matanya. " Sayang, namanya ngidam harus dituruti. itu maunya adek bayi." Daniah berbisik di telinga Saga. Wajah laki-laki itu sedikit bersemu. Senyum langsung muncul di wajahnya. " Baiklah peluk sana." Kau akan menyesal menawariku itu ya, senyum kemenangan sudah muncul. Akhirnya Daniah memeluk istri pemilik restoran, setelah melakukan transaksi dengan Saga. Dia mengusap perut, mengucapkan kata-kata pujian. Membayangkan kalau dia di beri kesempatan menjadi seorang ibu nanti. Apa aku akan ngidam aneh-aneh juga ya nanti. " Nona cantik sekali, semoga anak saya kalau perempuan bisa secantik nona." Ucap ibu paruh baya itu mengusap pipi Daniah. keinginannya sudah terkabul, dia terlihat senang sekali memeluk punggung Daniah. "Semoga nona cepat ketularan hamil juga ya." berbisik di telinga. " Tidak ada yang secantik istriku di dunia ini." Saga menyahut dengan ekspresi tidak terima. Lagi-lagi tidak mau mengalah. Han yang duduk di sudut ruangan yang sedari tadi hanya diam mengeleng kepala penuh arti. Hentikan tuan muda! Hentikan kumohon. Sepertinya cuma kamu yang tidak mau kalah dengan ibu-ibu. Ini ibu hamil lagi. Daniah sendiri merasa malu setengah mati. Selepas selesai makan siang dan mendapat ucapan terimakasih bertubi-tubi dari pasangan pemilik restoran. Daniah meninggalkan restoran dengan perasaan sukacita. Mendapat cerita kehamilan yang selalu mendebarkan khususnya bagi ibu muda yang baru pertama kali mengalaminya. Bahkan karena kelicikannya untuk menyusahkan suaminya, dia sudah punya rencana untuk ngidam apa kalau hamil nanti. ¡° Sayang, kita mau kemana setelah ini?¡± Berjalan menuju area parkir. ¡° Mengantarmu pulang.¡± ¡° Aaaaaa, aku tidak mau pulang.¡± Menjejakan kaki keras sambil melepaskan lengan Saga yang masih berjalan beberapa langkah di depannya. Katanya jalan-jalan, ternyata hanya mau aku menemanimu makan. Masih diam sambil memasang wajah masam. Saga berhenti dan membalikan badan. ¡° Kemari! Kau lupa sedang dalam masa hukuman? Mau berulah lagi.¡± Katanya sambil mengerakan jari-jarinya. ¡° Haha, tentu saja tidak yang mulia. Aku akan melakukan apapun yang kau mau.¡± Langsung mendekat dan melingkarkan tangan lagi ke lengan Saga. Membantahnya sekarang, seperti menceburkan diri ke lubang neraka. ¡° Kenapa? Kau bosan di rumah?¡± Daniah menggangukan kepala sambil bersandar kepalanya. ¡° Siapa suruh membangkang.¡± Mencium rambut Daniah. ¡° Ia, ia. Akukan sudah minta maaf, jangan mengungkitnya lagi.¡± Sudah ada di dalam mobil. Dan mereka sudah menyusuri jalanan. Tidak tahu kemana Han akan membawa kendaraan melaju. Apa aku benar-benar akan di antar pulang. Aaaa, menyebalkan sekali. " Niah" Mulai mengulung rambut seperti tidak ada bosannya. "Apa pak Mun tidak memberimu makan?" Hari ini Daniah terlihat makan jauh lebih banyak dari biasanya, dan Saga menyadarinya. "Apa makanan tadi enak, kau terlihat menikmati sekali." Membuat Saga penasaran. Daniah jadi berfikirkan? Benarkah, sepertinya aku makan dengan normal tadi. " Ia makanannya enak." Jawab begitu saja biar cepat, pikir Daniah. " Kau mau aku memperkejakan kokinya di rumah untuk memasak untukmu?" " Tidak!" Jangan aneh-aneh dan seenaknya tuan muda! memang siapa yang akan langsung memperkejakan koki restoran di rumah saat istrinya bilang makanan enak sebuah restoran. Cuma orang aneh yang akan melakukannya. " Benar, tidak mau?" Tanya Saga serius. " Han akan mengurusnya kalau kau mau?" " Tidak sayang, setelah dipikir-pikir rasanya lumayan saja. Tidak sampai membuatku ingin makan tiap hari." Hah! aku sampai lupa siapa suamiku! Mobil memasuki sebuah gerbang. Daniah langsung melihat ke luar kaca. Gerbang danau hijau dan keramaian menyambut mereka. Daniah langsung merasakan energi terkumpul lagi di dadanya. Suaminya memang sering sekali bicara apa tapi yang dilakukan apa. Membuat kejutan-kejutan tidak terduga yang selalu membuatnya tidak bisa berkata apa-apa. Dia menyukai ini, sangat. ¡° Turunlah, kau bilang bosankan di rumah?¡± Lembut Saga bicara sambil membukakan pintu mobil. Senyum terkembang dari bibir Daniah saat tangannya terulur menyambut uluran tangan Saga. Yang berdiri di luar mobil. ¡° Kau senang?¡± ucapnya mengusap rambut Daniah. ¡° Danau ini terlihat semakin baik saja sejak pembukaan.¡± ¡° Berkatmu sayang.¡± Mereka terlihat bergandengan tangan menyusuri jalan setapak menuju taman. Sore sudah mulai menjelang. Pengunjung taman terlihat ramai. Han mengikuti langkah kaki tuan dan nonanya yang terlihat berjalan tanpa arah, hanya menikmati pemandangan danau hijau. Sedang dia sendirian. Apa yang kulakukan di sini sebenarnya. Gumamnya pelan. Danau yang ada di kejauhan itu terlihat sangat tenang. Dilihat dari sudut manapun tempan ini memang tempat yang nyaman menghabiskan waktu. Daniah ingat tempat dia duduk ini. Inilah lokasi bersejarahnya bertemu dengan Noah. Saat pagi-pagi dia mengeluarkan semua energinya untuk memaki laki-laki yang ada di sampingnya sekarang. ¡° Kenapa? Kau sedang mengingat dosa-dosamu?¡± Apa si, kenapa dia selalu benar membaca isi pikiranku. ¡° Haha sayang, memang apa yang sudah kulakukan. Aku hanya ingat pertama kalinya aku bertemu Noah di sini.¡± ¡° Jangan bicara tentangnya.¡± Idih, masih saja cemburu. Jelas-jelas aku dan Noah tidak ada hubungan apa-apa. Tapi Daniah memilih menyudahi pembicaraan mengenai Noah. ¡° Sayang, aku mau es cream.¡± Daniah menunjuk sepasang remaja yang sedang berjalan sambil membawa dua cup es cream bertumpuk dengan aneka toping di atasnya. Saga sudah menggangkat tangannya memanggil Han yang duduk tidak jauh dari mereka. ¡° Tidak mau!¡± Daniah menarik tangan Saga keras. ¡° Apa!¡± Han sudah mendekat. ¡° Tidak mau es cream?¡± ¡° Tidak mau kalau sekertaris Han yang membelinya, aku mau suamiku yang beli.¡± Menyeringai. Cih ¡° Kau mulai banyak maunya ya!¡± Daniah cemberut. ¡° Baiklah, tunggu di sini aku yang beli.¡± Saga menepuk bahu Han. ¡° Jaga dia.¡± ¡° Baik tuan muda.¡± Han bisa melihat senyum licik di bibir Daniah saat dia berhasil mengerjai Saga dengan semua permintaannya. " Sekertaris Han, apa kau tidak kesepian? kau merindukan Aran tidak. Hohoho." Menutup mulut sambil membuang muka melihat air danau yang tenang. Sepertinya ada yang aneh dengan dirimu nona? Bersambung Chapter 248 Tingkah Aneh Daniah Han terlihat kembali duduk ke kursinya setelah Saga kembali dengan dua cup es cream yang salah satunya di sodorkan padanya. Apa tuan muda sedang menertawakan kesendirianku? Sampai dia memberiku es cream ini. Dipandanginya cup es cream berharga pemberian Saga itu, lalu perlahan menikmatinya. Sesuap demi sesuap. Sambil merasai angin yang berhembus dan melihat dedaunan pohon yang berjatuhan di atas danau. Mendengar suara kedua pasangan yang sedang menikmati es cream, jangan membayangkan adegan romantis sepasang kekasih di bawah langit senja menikmati es cream yang hanya semangkuk untuk bersama. Karena rasanya itu mustahil terjadi walaupun dalam suasana sore yang teduh ini. ¡° Kau sudah bosan hidup ya?¡± Terdengar suara Saga yang setengah berteriak. ¡° Sudah kubilang aku tidak suka makanan manis begitukan.¡± Saga masih mengunci bibirnya saat sesendok es cream penuh toping ada di depan mulutnya. Coklat leleh yang mengumpal di atasnya terlihat manis mengoda, tapi tidak baginya. Daniah mendelik sambil mengkerucutkan bibir kecewa. Tadinya saat melihat sepasang muda mudi membawa es cream yang mereka makan sambil berjalan terlihat sangat nikmat sekali. Sedangkan saat Saga membawakan ke hadapannya ntah kenapa seleranya menghilang. Dan yang ingin ia lakukan hanya melihat Saga menghabiskan es cream itu. Rasanya nikmat melihat orang lain makan, tapi dia sendiri tidak mau. ¡° Ayo buka, akukan mau menyuapimu sayang.¡± Tidak perduli dengan penolakan Saga. Ditempelkan sendok ke bibir. ¡° Ayo buka mulutmu sayang.¡± Ulangnya lagi dengan mengoyangkan kepala bersikap semanis mungkin. Akhirnya setelah tertawa melihat tingkah Daniah, bibir itu terbuka, hup satu sendok besar es cream lumer di mulut Saga di sambut tawa senang Daniah. Kenapa aku sesenang ini ya melihatnya makan es cream. Lagi, lagi ayo suapi dia lagi sampai habis. Hahaha. ¡° Kau bilang mau es crem kenapa kau cuma makan sesendok dan aku yang menghabiskan.¡± Merebut mangkok es cream yang sudah hampir separuh isinya pindah ke perutnya. ¡° Kau benar-benar mau menguji kesabaranku yang Niah... sayang." Dengan nada kesal bicara. " Sudah menyuruhku antri membelinya sekarang kau tidak mau makan lagi.¡± Sesendok besar sudah menempel di bibir Daniah. ¡°Buka mulutmu.¡± Daniah mengeleng keras. Mengeryit melihat es dalam sendok. ¡°Atau kucium kau sampai kehabisan nafas.¡± Mulut Daniah langsung terbuka mendengar ancaman itu. Hup, satu sendok lumer di mulutnya. " Nah, begitukan manis." ¡° Hemmm" Merinding karena es cream lumer di mulutnya. Tapi wajahnya langsung berbinar cerah. " Enak. Lagi sayang.¡± Sekarang saat di suapi, ternyata enak juga gumam Daniah semangat. Han melihat drama di depannya sambil menggigit sendok, suapan terakhir es cream di cupnya. Dikeluarkan hp dari saku bajunya. ¡° Dokter, kapan jadwal pemeriksaan rutin nona Daniah dengan dokter kandungan?¡± Tersambung dengan dokter Harun yang sedang berjalan di koridor RS. Sepertinya dia mulai menduga sesuatu, melihat sikap Daniah seharian ini rasanya ada yang aneh dengan nona mudanya. ¡° Seminggu lagi. Kenapa? Mau kumajukan jadwalnya?¡± Tanya dokter Harun. "Apa Saga sudah tidak sabar untuk punya anak? santai saja kenapa, jangan terlalu memaksa kakak ipar." bertanya tanpa memberi jeda lawannya menjawab. Han diam menimbang sebentar. Sementara dokter Harun masih bicara di sebrang sana. Mata Han belum lepas melihat sepasang suami yang sedang.... Tuan muda apa anda tidak melihat ini dimana? ¡° Tidak, lakukan sesuai jadwal.¡± Akhirnya dia memutuskan karena merasa tidak yakin dengan praduganya. Masih sedikit terkejut ketika melihat Saga mengusap bibir Daniah sambil tertawa. ¡° Han.¡± Suara di sebrang sana belum menutup telfon. ¡° Kenapa?¡± ¡° Bagaimana hubunganmu dengan Aran? Apa kalian masih berlanjut.¡± Klik, hp langsung dimatikan. Dimasukan ke dalam saku jas. Kesal yang tiba-tiba datang saat orang lain menyebut nama Aran tidak bisa ia tepis semudah itu. Dasar jomblo bisanya membahas Aran. Melihat kedua orang yang ada di depannya lagi. Apa nona juga mulai ngidam yang aneh-aneh? Apa dia hamil. Tapi katanya hamil itu terlihat jelas dengan mual dan muntah. Cih, kenapa membingungkan begini. Han sedang berkutat dengan kata kunci di mesin pencarian dengan kata " Ngidam wanita hamil?" Sampai senja benar-benar menyelimuti danau hijau. Dan para pengunjung mulai membubarkan diri dengan tertib. Daniah menghabiskan waktu yang cukup lama di kamar mandi. Bahkan sampai Saga memanggilnya berulang kali untuk memintanya segera keluar. ¡° Apa yang kau lakukan di kamar mandi?¡± Menunjuk jam di dinding. Daniah sudah keluar dengan memakai baju tidur berwarna biru langit. Masih duduk di bibir tempat tidur sambil mengusap jemarinya dengan handuk. ¡° Mandi sayang, memang aku melakukan apa.¡± Lalu naik ke atas tempat tidur. Saga sudah mau meraih tangan Daniah dan menjatuhkan tubuh istrinya dalam pelukannya. Tapi gadis itu menepis tangannya. ¡° Kau mau mati ya?¡± Daniah dengan polosnya mengeleng. ¡° Jangan dekat-dekat. Panas.¡± Mengambil bantal guling, memberi jarak antara mereka berdua. Saga sudah terlihat gusar menatap bantal yang memisahkan antara tubuhnya dan istrinya. Dia ingin melemparkan benda itu keluar jendela. ¡° Tidurlah sayang.¡± Daniah mencium kening Saga, lalu menepuk pipi suaminya lembut. Hati Saga luluh dan membiarkan Daniah menarik selimut menutupi tubuhnya. Apa! dia bilang panas dan tidak mau aku menempel padanya, dan sekarang dia memakai selimut! Tapi melihat wajah tenang tanpa rasa bersalah Daniah membuat Saga kehilangan amarahnya. Dia melihat istrinya terlihat manis dengan ekspresi itu. Baiklah, karena kau mengemaskan aku maafkan kekurang ajaranmu malam ini. Sagapun menarik selimutnya, meletakan tangaannya di kepala istrinya. ¡°Tidurlah! Kau pasti lelah.¡± Malam larut yang menyelimuti bumi juga ikut melingkupi mereka dalam buaian mimpi. Baru beberapa menit Saga belum benar-benar terlelap saat baju tidurnya di tarik. ¡° Sayang.¡± ¡° Hemm.¡± ¡° Sayang!¡± Daniah mengeraskan suaranya. ¡° Apa! tidur sana.¡± ¡° Mau peluk.¡± Masih menarik baju tidur yang dipakai Saga, kali ini lebih keras.¡± Mau peluk.¡± Merengek sambil menarik bantal guling yang tadi dipakai memisahkan tubuh mereka. Daniah mengeser tubuhnya agar menempel pada Saga. ¡° Niah kau mau memprovokasiku.¡± Tidak tahu kenapa, suasana hati Daniah agak terasa aneh bagi dirinya sendiri. Tadi saat dia mau berangkat tidur dia merasa tidak nyaman melihat Saga. Tapi saat melihat suaminya terlelap tanpa memeluknya dia merasa ada yang aneh dan kurang. ¡° Hemmm. Hemmm.¡± Menarik baju lagi. ¡° Minta peluk sekarang, tidak mau?¡± ¡° Sepertinya kau sedang mengigau ya. Tadi kau bilang tidak mau dekat-dekat sekarang minta peluk.¡± Gusar menendang bantal yang memisahkan mereka tadi. ¡° Sepertinya aku sedikit kurang waras sayang, karena kebanyakan tinggal dirumah.¡± Tertawa. Lalu menaikan kepala dan mencium pipi Saga. ¡° Sekarang mau peluk tidak?¡± ¡° Lebih dari itu.¡± Tertawa sambil menjatuhkan bibir di leher Daniah. ¡° Apa! tidak mau cuma mau peluk saja.¡± Mendorong kuat. ¡° Enak saja, kau sudah membangunkanku, jadi tanggung akibatnya.¡± Akhirnya bukan hanya pelukan hangat yang ia dapatkan malam itu. Bersambung Chapter 249 Dilema Aran Aran nyaris tidak bisa memejamkan matanya, dia mengantung hp pribadinya tepat di depan wajah. Sebuah foto yang dikirimkan ibu dibumbui dengan berbagai pujian mengenainya. Setelah Aran bersikeras menolak kalimat bijak yang keluar dari mulut ibu berubah menjadi ancaman mematikan. Tampan si, dia juga terlihat baik. Ibu bilang kehidupan keluarganya juga baik, pekerjaannya cukup mapan. Membolak balik hp di tangan, sambil mengambil bantal untuk duduk bersandar di tempat tidur. Mengingat lagi apa yang ibu sampaikan tadi saat menelfon. ¡° Lihatlah dia, apalagi yang kurang darinya Arandita.¡± Suara ibu berapi-api dengan semangat. "Dia juga tidak kalah tampan dari orang itu." Paham, siapa yang dia maksud dengan kata pengganti orang itu. ¡° Ibu!¡± Sanggahan pertama. ¡° Jangan membandingkannya dengan sekertaris Antarna Group, mereka tidak sebanding. Laki-laki yang di jodohkan ayahmu jauh lebih baik dari semua hal. Hemmm, ya kecuali uangnya.¡± Suara ibu terdengar kesal saat menyebutkan kelebihan Han yang tidak bisa terbantahkan. ¡°Tapi dia lebih baik daripaada orang yang sudah menghancurkan masa depanmu!¡± Tanda jelas kalau ibu benar-benar tidak menyukai sekertaris Han sekalipun wanita itu belum pernah bertemu langsung dengannya. ¡° Ibu!¡± Menolak kedua kali dengan panggilan yang lebih keras. ¡° Kau bisa pulangkan? Mintalah izin pada nona Daniah. Ibu akan menyiapkan semuanya, kamu tingal bertemu dan kenalan dengannya langsung.¡± ¡° Tidak mau!¡± menjawab tegas. ¡° Anak ini!¡± Bahkan sekarang suara Ayah Aran terdengar juga, ibu sedang mencari bala bantuan. ¡°Dengar kata ayahmu Aran, kamu juga sudah tidak muda lagi, paling tidak bertemu dengannya dulu baru buat keputusan.¡± Agak melunak suara ibu. ¡° Ibu, aku tidak mau. Sudah kubilang aku akan melunasi pinjaman rumah dan mengumpulkan uang baru memikirkan menikah.¡± Aran bergulingan di tempat tidur, membuat sketsa sebuah wajah dipikirannya tervisualisasi lewat jemarinya di udara. ¡° Kau mau aku menunggu di depan gedung Antarna Group?¡± Akhirnya mengancam lagi, karena anaknya keras kepala. ¡° Ibu!¡± Selalu memakai kalimat itu sebagai senjata, memang aku bekerja di gedung itu apa sampai kau mau menungguku begitu. Kau mau membawa sapu juga? ¡° Ibu akan buatkan jadwal pertemuan kalian, minta izin pada nona Daniah untuk pulang.¡± Bagaimana aku minta izin di situasi genting begini! Bahkan aku saja belum selamat seratus persen. ¡° Kalau kau masih mengharapkan sekertaris Antarna Group itu, suruh dia datang ke rumah. Ibu akan menyambutnya dengan tangan terbuka kalau dia datang.¡± Dengan sebatang sapu tentunya, gumam-gumam geram di ujung telfon saja. ¡° Ibu tunggu kabar darimu Aran, atau ibu benar-benar akan menunggu di depan gedung Antarna Group.¡± ¡° Ibu, aku itu tidak bekerja disana.¡± Apa! dia mematikan hp. Dasar ibu! Aran menurunkan tubuhnya untuk berbaring, menarik selimut. Apa aku coba saja ya, toh tidak ada ruginya sama sekali. Hubungannya dengan sekertaris Han baru sebatas benang tipis. sekeras apapun dia berusahaa memperjuangkannya tidak ada jaminan ke depannya semuanya akan lebih baik. Kebahagiaan tuan Saga adalah tolak ukur yang dipakai sekertaris Han. Dan kata bahagia itu begitu abstrak. Di mata Aran yang sederhana, tuan Saga sudah terlihat sangat bahagia bersama nonanya. Aaaaaa, tapi aku tetap masih belum rela berpaling. kenapa aku bisa menyukai orang sepertimu si! Cinta selalu membuat orang keras kepala. Mata Aran terlihat agak sembab, sepertinya dia benar-benar tidak tidur dengan nyenyak semalam. Saat apel pagi dan mengerjakan tugasnya dia terlihat menguap beberapa kali. Sarapanpun masih tidak bersemangat. Perjodohan dan cinta selalu menjadi benang rumit yang membingungkan. Makanan di piringnya belum habis saat senior wanita memanggilnya. " Aran." " Ia kak!" mendongakkan kepala lesu. " Sekertaris Han memanggilmu." " Apa!" matanya langsung terbuka. Membereskan sarapannya dengan tergesa lalu meninggalkan rumah belakang dengan bergegas. Setelah kejadian waktu itu, ini kali pertama sekertaris Han bicara dengan Aran. Gadis itu masih duduk diam dengan tangan di bawah meja. Dia mau bicara apa? kenapa diam begitu. Huh! dia masih sama dinginnya seperti biasanya. Ibu, sepertinya benar aku harus memilih perjodohan daripada orang ini. ¡° Kau baik-baik saja?¡± Menyebalkan! kenapa bicara lembut begitu? Membuat orang bimbang saja. " Ia tuan. Terimakasih masih memberi kesempatan saya bekerja di sini." Masih memilin tangannya sendiri di bawah meja. "Maaf." " Kenapa minta maaf?" Kenapa ya? Kenapa aku minta maaf ya? ¡° Karena saya sudah membuat tuan Saga marah, padahal tuan sangat tidak suka hal itukan?" ¡° Aku senang kau bertahan di sini." Eh, hei curang ini namanya. aku sudah memilih mau datang ke perjodohan tadi! Dan hati Aran mudah sekali bimbang dengan kata-kata sederhana itu, padahal sejak pagi timbangan di hatinya sudah condong ke arah perjodohan. Tapi sekarang, ukurannya kembali seimbang. " Apa tuan benar-benar senang saya memilih tinggal daripada di pecat?" Aran memberanikan diri menatap lekat mata sekertaris Han. mencari jawaban jujur di sana. " Tentu saja, kalau kau pergi." Jantung Aran berdetak sedikit kencang, menunggu Han meneruskan kalimatnya. "Aku akan direpotkan mencari penggantimu. Padahal pekerjaan di Antarna Group sedang sangat banyak." Aku akan datang ke perjodohan ibu! aku bersumpah! Mengumpat kesal di dalam hati. Sambil meremas jemari di bawah meja sambil membayangkan meremas wajah sekertaris Han. " Haha, tentu saja. Aku sudah meringankan beban pekerjaan anda tuan." Aku akan datang keperjodohan ibu. Aku akan datang. Persetan dengan orang di depanku ini. ¡° Sekarang kita bahas pekerjaanmu ke depannya.¡± Han menngambil amplop coklat yang ada di meja, melemparkan ke depan Aran. ¡° Jadwal nona minggu ini. Kau sudah bisa mulai bekerja lagi.¡± ¡° Benarkah.¡± Mengambil amplop ragu. ¡°Apa tuan Saga sudah tidak marah.¡± ¡° Masih.¡± Aaaaa, kenapa aku bertanya si. Membuat takut saja. ¡° Kalau kau melakukan kesalahan lagi, habislah kau, mungkin bulan ini akan jadi bulan terakhir kau menerima gaji¡± Aran tidak menjawab, dia memilih membuka amplop dan mengeluarkan lembaran kertas di dalamnya. Memikirkan perkataan Han saja sudah membuatnya lesu. Lembaran kertas jadwal harian nona Daniah. ¡° Nona akan pulang ke rumah orangtuanya. Adik perempuannya mau menikah. Akan ada banyak orang yang di temui nona, kau tahu apa yang harus kau lakukan?¡± Apa! Apa! Kenapa mencari uang itu susah sekali begini si. Aran sudah membayangkan apa yang akan terjadi disana. Keramaian, keramaian dan keramaian. Dan semua hal yang tidak di sukai tuan Saga. Aaaaaaa. Aku mau datang keperjodohan saja kalau begini. Epilog " Pergilah, selesaikan pekerjaanmu!" " Baik tuan." Aran sudah bangun, mengambil amplop di meja. Mengeser kursi ke bawah meja dengan rapi lagi seperti semula. " Saya permisi." " Hemm." Sudah berjalan dua langkah. " Tunggu!" Aran berbalik penuh tanda tanya. Mau apa lagi dia? " Apa ibumu berjualan sapu?" Hah! dia bertanya apa si. Aran mengeleng binggung. " Apa dia kolektor sapu?" Hah! pertanyaan apa lagi itu. Aran masih menggeleng. " Kenapa?" " Pergilah!" Cih, dia bahkan tidak memberiku kesempatan bertanya. Aran meninggalkan ruangan dengan pikiran tentang sapu ibunya. Lalu kenapa nona bilang kalau ibunya mau menyambutku dengan sapu kalau sampai aku datang ke rumahnya? Rupaya Han masih memikirkan tentang sapu ibunya Aran. Dia mengeluarkan hp di sakunya. mengetikan sebuah pesan. " Berikan aku informasi penting tentang....." Bersambung Hallo, apa kabar semua? Alhamdulillah bisa update, mohon maaf semua baru bisa update sekarang. Dan maafkan jika kurang optimal. Terimakasih yang sudah menunggu dengan sabar dan tetap berkomentar positif. Semoga kalian selalu mendapat kebaikan di bulan penuh berkah ini. Sudah sampai di 15 Ramadhan semoga target ramadhan kalian semua tercapai ya, dan badai pendemi segera berlalu. Semoga semua sehat dan selalu bahagia. Catatan author: Menuju episode-episode final musim kedua. Terimakasih ^_^