21Novel

Font: Big Medium Small
Dark Eye-protection
21Novel > Terpaksa Menikahi Tuan Muda > Chapter 91 minta maaf (Part 2)

Chapter 91 minta maaf (Part 2)

    Ruko milik Daniah


    Kembali bekerja, kembali


    mengumpulkan uang hasil keringat sendiri. Sekarang, bahkan dia tidak tahu


    alasan apa yang membuatnya masih bersemangat menjalankan toko onlinenya. Uang


    yang diterimanya dari tuan Saga sangat jauh dari nominal pendapatannya. Makin


    hari ketika waktu bergulir dan berlarian di sekitarnya, seperti mengataakan,


    sudahlah terima nasibmu sebagai istri tuan Saga. Jangan pura-pura ingin lari


    dan pergi. Memang kamu mau kemana?


    Apa kamu benar tidak suka pada tuan


    Saga? Apa benar kamu tidak akan menangis kalau dia membuangmu. Lihat, dasar


    tidak tahu malu, kau menikmati tidur bersamanya setiap malamkan? Kamu tersipu


    saat dia mengatakan kamu cantikkan, ya walaupun pujian itu bisa jadi lidahnya


    hanya kepeleset. Hemm, bagaimana saat dia memanggilmu sayang. Jantungmu ingin


    meledak saking senangnya ya kan.


    Diam kau hati kurang ajar! Aku ini


    pemilikmu, jangan menghianatiku.


    Daniah mengusir kegalauannya


    kembali dengan jauh lebih bersemangat bekerja.


    “ Dorong tik!” aaaaaa, Daniah menarik


    sekuat tenaga paket besar berisi pakaian anak menuju lantai dua. Tika mendorong


    dari bawah ngos-ngosan juga. Ini paket ke tiga hari ini. Ambruk di kasur


    setelah ke tiga paket mendarat dengan sempurna. “ aaaaa, aku ingin punya toko


    satu lantai aja!, yang besar, luas, lebar!” berteriak keras agar impiannya


    terbang ke langit tinggi. Sementara Tika tertawa, duduk bersandar di tempat


    tidur, di mana Daniah berbaring meluruskan pinggangnya.


    “ Mbak Niah, boleh aku tanya gak.”


    Setelah menengak hampir separuh dari botol minuman dingin di tangannya. Dia


    melirik bos wanitanya itu.


    “ Kenapa?”


    Ada apa ini, biasanya juga gak


    pernah izin kalau mau bertanya.


    “ Memang tuan Saga gak komentar


    tentang pekerjaan mbak Niah. Ya, semua orang jugakan tahu mbak kekayaan tuan


    Saga itu sampai semana kalau di jejerin.” Tika tertawa sendiri mendengar


    kalimatnya. Rasanya memang tidak ada angka pasti kalau untuk menghitung berapa


    uang tuan Saga. Daniah sendiripun tidak tahu berapa perusahaan yang dimilikinya


    di bawah Antarna Group.


    Daniah menatap langit-langit


    ruangan. Nafasnya terhembus berat.


    Karena aku tidak tahu kedepannya


    bagaimana nasibku Tika. Apa aku masih tetap bisa berada di samping tuan Saga


    atau tidak. Sampai hari ini, mungkin cuma hatiku yang sedikit bergoyah karena


    sikap lembutnya. Tapi aku tidak mau berharap.


    “ Dia tidak pernah bertanyaa juga Tika


    berapa omset jualanku. Yang penting aku pulang tepat waktu dan ada di rumah


    saat dia kembali, itu sudah cukup.”


    “ Ya ampun sweat banget si suami


    mbak Niah, jadi dia selalu minta di sambut ya kalau pulang. Ciee, ciee, mbak


    Niah gimana menyambutnya. Langsung peluk tuan Saga kalau pas turun dari mobil


    atau gimana. Hehe.”


    Gak gitu kali! Kebanyakan kena


    racun drama ya otakmu itu.


    “ Huss mau tau aja, urusan orang


    dewasa.” Daniah duduk, meraih botol minum yang tadi di minum Tika, lalu


    menghabiskan isinya sampai tak bersisa. “ Aaaa, segarnya.”


    “  Oh ya mbak, apa gak papa kalau mbak sekarang


    selalu beli makanan mewah banyak-banyak untuk


    kami. Walaupun kami senang, hehe, tapi itukan gak murah mbak.”


    Karyawanku memang baik-baik ya,


    mereka ini gak pernah banyak menuntut dan bekerja keras. Tapi kalau aku memberi


    sesuatu apapun itu wujudnya mereka selalu berterimakasih dengan tulus. Aaaa,


    aku ingin memeluk mereka satu-satu. Mereka yang sudah berjuang bersamaku dari


    bawah.


    “ Hehe, akukan pakai kartunya tuan


    Saga. Tenang saja, kalau aku tidak memakai uangnya dia malah bisa ngamuk.


    Hitung-hitung kita membantunya menghabiskan uang.”


    “ enaknya jadi mbak Niah, aku juga


    ingin punya suami seperti tuan Saga.” Tika tertawa sambil berangan-angan.


    Menuliskan karakter impiannya untuk menjadi pasangan.


    Jangan Tika, jangan berharap dan


    bermimpi punya suami seperti dia.


    Dering hp membuyarkan obrolan


    mereka, bersamaan dua karyawan muncul dari lantai bawah. Mereka sudah terlihat


    puas istirahat. Makan enak, perut kenyang, saatnya kembali bekerja lagi. Daniah


    mengambil tas yang terongok di pojok tempat tidur. Sementara Tika bicara dengan


    teman karyawannya.


    “ Sudah selesai makan siangnya?”


    “ Ia mbak.”


    “ Kita pisahkan dulu baju-bajunya


    aja ya, pisahkan semua yang punya reseller dulu. Catatannya ada di laci.”


    Mereka mengambil buku sesuai instruksi Tika. Sementara Daniah  masih mencari-cari hp yang berbunyi di dalam


    tas.


    “ Hallo dek kenapa?” mendengarkan


    pembicaraan adiknya. “ kenapa? Ibu dan Risya juga? Memang mereka mau apa?” diam


    mendengarkan. “ Baiklah, Kak Niah tunggu ya,”.


    Sambungan terputus.


    Daniah membisu di atas tempat tdur,


    hpnya ada di dekat kakinya. Pikirannya berlarian kemana-mana.


    Risya dan ibu, mau apa mereka. Kenapa


    aku merasa sangat tidak nyaman begini. Mereka tidak akan melakukan apa-apakan.


    Mereka tidak akan membalasku karena kejadian ulang tahun ayahkan. Karena ada


    tuan Saga waktu itu merekakan jadi tidak bisa mengerjaiku. Tapi merekakan


    datang bersama Raksa. Seharusnya tidak apa-apa.


    Sudah hampir jam tiga, Daniah


    sedang membungkus paket-paket kecil orderan eceran. Sementara yang lain


    membungkus paket-paket yang lebih besar milik para reseller. Daniah masih


    tampak gelisah. Saat Tika berteriak dari lantai bawah membuatnya terlonjak.


    Terkejut. Mengatakan Raksa menunggu di luar ruko.


    “ Ia sebentar!”


    Sebaiknya aku menghubungi


    sekertaris Han dulu, menanyakan tuan Saga akan kembali sebelum makan malam atau


    tidak.


    “ Sekertaris Han, apa tuan Saga


    akan kembali sebelum makan malam.” Pesan terkirim.


    “ Ia nona.” Jawaban secepat kilat.


    Hidih, apa hp itu selalu di


    gengamnya.  Bagaimana reaksinya sangat


    tangap begini. Jadi aku harus kembali sebelum jam lima berarti ya. Bagaimana


    kalau mereka lama ya.


    “ Apa anda bisa membawa tuan Saga


    pergi kemana dulu gitu, sebelum pulang. Sepertinya saya ada sedikit keperluan


    mendesak. Jadi saya takut belum bisa kembali pada waktunya.” Memberi emoji


    memohon dengan kedua tangan terkatup.


    “ Apa yang akan anda lakukan nona?”


    Kalimatnya sudah seperti


    mengatakan, jangan berbuat yang merepotkan nona. Kembalilah tepat waktu dan


    jangan membuat masalah.


    “ Tidak, aku hanya ingin bertemu


    dengan adikku.” Maaf Raksa aku hanya memakai namamu, karena kalau menyebut ibu


    dan Risya pati butuh perizinan yang lebih lama.


    “ Baiklah, akan saya sampaikan pada


    tuan muda.”


    “ Benarkah?”


    Agak lama jeda menunggu, tidak


    seperti tadi. Mungkin sekertaris Han sedang bertanya pada tuan Saga.


    “ Nikmati waktu anda bersama adik


    anda, sampai jumpa nanti.”


    Kenapa aku merasa setiap kalimatnya


    selalu bermakna terselubung si. Dia tidak akan tiba-tiba muncul di rukoku


    nantikan?


    Daniah bergegas turun setelah


    menyelesaikan pesannya. Dia keluar dari ruko mendapati mereka bertiga sedang


    duduk di kursi taman. Saat melihatnya muncul Raksa yang berlari mendekat.


    “ Kak Niah.” Mengandeng tangan


    Daniah mendekati ibu dan Risya.


    “ Ehh. Ibu apa kabar?” Daniah


    tersenyum sekenanya pada ibunya.


    “ Niah yang apa kabarnya, sudah


    lama ya tidak bertemu.” Ibu datang memeluk Daniah duluan, membuat Daniah


    bereaksi dengan menarik tangannya. Dia memandang Raksa. Adiknya menggangkat


    bahu.


    “ Bagaimana kalau kita bicara di


    dalam saja.” Daniah tahu, ini sikap tidak wajar. Cara ibu memperlakukannya


    tidak berbeda saat ulang tahun ayah. Tapi waktu itukan ada tuan Saga dan


    sekertaris Han yang seperti hantu di mana-mana. Tapi kalau sekarang, merekakan


    tidak ada yang mengawasi.


    “ Baiklah.” Ibu dan Risya berjalan


    di depan mereka.


    “ Ada apa ini?” berbisik di samping


    Raksa.


    “ Tidak tahu kak.”


    Semua karyawan pindah ke lantai


    satu. Raksa membantu memindahkan boks paketan dari lantai dua. Dia ikut


    bergabung membantu mengantikan Daniah. Membungkus paket. Melirik sebentar ke


    tangga.


    “ Kak Niah gak papa di tinggal


    sendirian?” Tika merasa kuatir, dia tahu bagaimana hubungan keluarga ini. Dia


    tahu kalau selama ini yang baik pada Daniah hanya laki-laki di hadapannya ini.


    “ Mas Raksa naik aja temani mbak Niah.” Merebut lakban putih benih di tangan


    Raksa.


    “ Sepertinya gak papa. Kalau kak


    Niah berteriak nanti baru aku ke atas.” Merebut kembali lakban di tangan Tika.


    Sambil mendelik.


    “ Ia, ia mas maaf. Ini yang ada di


    boks ini yang sudah bisa dipasang lakban. Mohon bantuannya ya mas Raksa.”


    “ Hehe, gitu donk.”


    Dengan senang hati membantu, bagian


    yang paling di senangi Raksa saat membungkus paket adalah memberi lakban pada


    paket-paket yang sudah selesai di beri alamat. Dia tinggal finishing akhir.


    Bunyi gulungan lakban yang tertarik ntah kenapa menurutnya lucu. Hingga kadang


    dia membungkus paket sampai lakbannya double berkali lipat. Tuh kan, Tika


    merebut lakban di tangan Raksa kalau dia sudah diluar kendali.


    “ Ia, ia maaf. Habis seru si


    suaranya.”


    Yang lain hanya bisa geleng kepala


    melihat kelakuan Raksa.


    Untung kamu adik yang di sayangi mbak Niah.


    BERSAMBUNG
『Add To Library for easy reading』
Popular recommendations
Super Gene Shadow Slave Cultivation Online Mecha Breaks the World Nine Star Hegemon Body Arts I Can Copy Talents