21Novel

Font: Big Medium Small
Dark Eye-protection
21Novel > Terpaksa Menikahi Tuan Muda > Chapter 128 Jenika

Chapter 128 Jenika

    Ketika orang sudah merasa jatuh


    cinta, dia bahkan bisa melakukan hal di luar nalar manusia normal. Orang lain


    mungkin akan mengatakannya gila. Tapi baginya ini adalah bentuk perjuangan


    cintanya. Jangan dibantah ya, dia akan semakin mengila kalau kau membantahnya.


    Mungkin seperti itulah yang sedang


    di lakukan gadis cantik di mobilnya itu. Area parkir danau hijau yang dekat


    dengan pintu masuk utama. Sedang terjadi keributan kecil dua adik beradik di


    dalam mobil. Yang satu seperti di bilang tadi, sedang melakukan upaya maksimal


    untuk perjuangan cintanya, yang satu membantah karena menggangap kakaknya sudah


    di luar jalan pikiran normalnya.


    “ Kak Jen, kenapa kita dari pagi di


    sini si? Memang apa yang kamu cari. Aku lapar, ayo cari makanan dulu.”


    Merengek. Rengekannya sudah di luar batas normal dan membuat kesal. Kalau


    kelaparan dia memang cenderung menyebalkan. Kebanyakan si memang begitu ya.


    Lapar membuatmu kadang gelap mata. Seperti yang sedang di alami Sofi kali ini.


    “ Sudah diam, tunggu sebentar.


    Minggu kemarin dia posting sedang olahraga di danau hijau. Siapa tahu sekarang


    dia juga di sini. aku akan pura-pura tidak sengaja bertemu dengannya nanti.”


    Sofia ngedumel di kursi depan.


    Kekanakan sekali, seperti bukan kak Jen saja pikirnya. Biasanya kalau dia suka


    pada seseorang dia akan tidak tau malu menempel dan minta di jomblangin oleh


    orang-orang yang dia kenal. Bahkan dia tidak akan tahu malu melakukan manuver


    blak-blakan. Karena sifat jenika memang seperti itu. Dia gadis terbuka yang


    mudah mengatakan isi hatinya.


    “ Aku lapar kak!!” Berteriak


    kencang.


    “ Pesan makanan pakai hp mu kenapa,


    kalau tidak turun cari makanan sana.” Menunjuk area kuliner yang terlihat penuh


    sesak keramaian orang. Sofi sudah ciut melihat keramaian itu. Membuatnya tidak


    berani kalau harus keluar sendirian.


    “ Ah, ia kenapa baru bilang si kak


    aku pesan food online saja.” Mencari aman, memilih duduk diam di dalam mobil


    saja. Sambil jarinya sibuk memilih menu yang sepertinya enak.


    “ Sudah jangan mengganguku. Duduk


    dan tunggu makanan saja”


    Jenika menajamkan penglihatannya.


    Suasana sangat ramai. Dari tempat parkir ini pintu masuk danau hijau terlihar


    jadi dia bisa melihat orang-orang yang keluar masuk. Tapi sampai matanya jereng


    dia belum melihaat sosok yang dia tunggu-tunggu. Dia melihat jam di tangannya,


    waktu terus bergulir dengan cepat. Danau hijau semakin ramai. Sofi sedang


    menikmati sarapannya dengan lahap. Dia minta beberapa kali suapan, matanya


    tidak berhenti berkeliling.


    “ Kak Jen sudah ayo pulang.”


    Makanan dan minuman Sofia sudah habis dia kembali berisik lagi. “ Aku ngantuk,


    kemarin aku begadang mengerjakan laporan bulanan kak.”


    “ Berisik, tidur saja di situ.


    Turunkan kursimu.” Kesal, sambil menepuk-nepuk kursi depan agar di tidurkan.


    “ Kak jen!” Merengek lagi.


    “ Sudah diam”


    Jenika semakin frustasi, selang


    hampir satu jam. Dia tidak mendapatkan hasil apa-apa. melirik Sofi yang


    benar-benar tertidur. Dia mengambil makanan yang di pesan Sofi tadi. Sambil


    terus memperhatikan sekitar. Sepertinya tidak mau menyerah dia. Dia


    menghabiskan makanannya. Melihat hpnya. Akun sosial media teman magang yang


    sedang dia incar belum ada updaten baru. Membuatnya semakin frustasi.


    Kenapa aku begini si. Bodohnya.


    Jelas-jelas aku punya no hpnya tapi bahkan gak berani chat duluan.


    Ingin bertemu secara natural begitu


    pikiran jen. Di kantor mereka memang sering bertemu. Tapi seperti yang pernah


    di keluhkan Jen, kalau teman magannya itu laki-laki yang sangat baik. Dalam


    artian dia baik pada semua orang. Tidak hanya perempuan, dia juga bahkan tidak


    segan membantu teman magangnya yang laki-laki. Double kill, dia punya pesona


    yang tidak bisa di lawan. Baik oleh laki-laki maupun perempuan.  Dan masalahnya dia juga sama sekali tidak


    menunjukan ketertarikan pada Jen sebagai lawan jenis. Itu yang semakin membuat


    Jen frustasi dan binggung memilih strategi pendekatan seperti apa.


    “ Jangan mengajak ku lagi!” Sofi


    yang sepanjang jalan merengek masih belum berhenti mengeluh walaupun sudah


    sampai dirumah. “ Capek tahu.”


    “ Kamu itu capek kenapa lagi. Orang


    kamu juga cuma makan dan tidur.” Mengingat kembali yang di lakukan sofi di


    dalam mobil. “ Ditambah satu lagi, merengek tidak jelas.” Jenika menjawab tak


    kalah judes. Suasana hatinya sangat buruk, jangakan pura-pura bertemu. Melihat


    batang hidungnya saja tidak.


    “ Bodo amat, pokoknya jangan


    mengajak ku lagi kalau cuma buat mengintai gak  ada hasilnya begini. Kak Jen bagaimana kalau aku yang menelfonnya.”


    Merebut hp di tangan jenika. Gadis itu langsung panik dan merebut kembali


    hpnya.


    “ Hei, aku kan mau natural pedekate


    sama dia. Biar tidak terlalu blak-blakan keliatan aku mengejarnya.” Awas kamu


    kalau berani macam-macam, tuding Jen melalui matanya.


    “ kak Jen ngapain si yang begituan


    sudah seperti bocah lagi jatuh cinta aja.” Sofia jengah meninggalkan jen yang


    masih sibuk dengan pikirannya sendiri. Dia mau naik ke kamarnya meluruskan


    punggungnya di tempat tidurnya yang nyaman. Padahal benar kata jen, dia Cuma


    makan dan tidur di mobil. Tapi sepertinya dia kelelahan sekali.


    Sehabis makan malam Saga dan Daniah


    memilih menghabiskan waktu di dalam kamar. Duduk di depan tv. Menghadapi tv


    yang menyala tapi sama sekali tidak menonton. Saga hanya sibuk menjahili


    istrinya.


    Dering hp di atas meja, milik


    Daniah. Mengoyak keseriusan Saga.


    “ Siapa? Taruh hpmu!” Saga sudah


    mau merebut hp di tangan Daniah. Dia sudah berencana melemparkannya sembarangan


    ke segala arah. Daniah menariknya ke atas sambil dia berdiri dari duduk.


    “ Jen. Tunggu biar aku angkat. Dia


    di rumah kan. Sebentar saja sayang, biar aku bicara padanya sebentar saja ya?”


    Daniah merasa heran kenapa sampai jen menelfonnya padahal dia sama-sama ada di


    rumah. Saga mengalah, hanya menyandarkan Dagunya di punggung Daniah ingin


    mendengar apa yang dibicarakan.


    “ Hallo, kenapa Jen?” Daniah bicara


    pelan. Berharap semua baik-baik saja. Tapi sudah terdengar suara Jen yang penuh


    semangat, bahkan masuk kategori keras membahana.


    “ Kakak ipar!” membuka percakapan


    dengar teriakan dramatis. Saga sampai merebut hp Daniah, terlihat mulai kuatir


    dan dia mulai mengeraskan suara.


    “ Kenapa Jen? Di mana kamu?” Saga


    yang bicara. Daniah diam dan hanya memperhatikan. Baik sikap, perubahan suara


    atau raut muka Saga. Saat ini dia sedang menjadi Kak Saga. Laki-laki hebat yang


    selalu di banggakan jen dan Sofi dalam setiap kesempatan.


    Kenapa dia keren begini si, tipe


    kakak tampan dan perhatian. Daniah


    Sial, kenapa kak Saga si. Jen.


    “ Kak Saga aku mau curhat sama


    kakak ipar. Aku baru putus dari pacarku.”  Memberikan info akurat terlebih dahulu. Kalau


    sudah seperti ini kak Saga pasti akan mengizinkan kakak ipar keluar kamar.


    Begitu pikir Jen. Merengek secara dramatis sekali lagi. Maksudnya apa lagi


    tentu membuat orang kuatir.


    “ Dimana kamu?”


    “ Di bawah kak.”  Belum bicara lagi, Saga sudah  mematikan hpnya.


    Daniah bangun dari duduk, mengambil


    hp yang di pegang suaminya lalu menarik tangan Saga untuk keluar kamar menemui


    Jen. gadis itu bisa membaca situasi kalau Saga sedang mengkhuatirkan kondisi


    adiknya. Walaupun Daniah sendiri tahu, Jen memang sengaja bicara berlebihan dan


    penuh drama tadi.


    “ kakak ipar.” Memeluk Daniah yang


    datang ke kursinya.


    ‘ ya, ya, peluk sampai puas kakak


    iparmu. Karena kamu sedang putus cinta jadi aku mengalah hari ini. Bicaralah


    dengan tenang, aku tidak akan menggangu.” Saga meninggalkan dua wanita berharga


    dalam hidupnya itu masuk ke dalam ruangan kerjanya. Dan ntah muncul dari mana


    pak Mun sudah mengikuti langkah kakinya. Tapi laki-laki itu terlihat keluar


    lagi. Menuju dapur. Mungkin mengambilkan sesuatu untuk di makan saga.


    Kembali pada jen dan Daniah yang


    sedang duduk di sofa.


    “ Baiklah, lepaskan pelukanmu.”


    Kalian ini satu keluarga kenapa si,


    senang sekali memelukku.


    Jen melepaskan pelukannya, tapi dia


    masih bersandar di bahu Daniah.


    “ Kakak ipar, aku sudah putus


    dengan pacar ku, dan aku mau mengejar teman magangku. Tapi aku tidak tahu harus


    mulai dari mana.” Memeluk lagi. Daniah mengoyangkan tubuhnya, tapi tetap saja


    gadis itu tidak melepaskan tangannya.


    “ bagaimana kalau mengajaknya


    makan? Berdua.”  Memberi ide sederhana. “


    tapi dia tidak sedang punya pacar juga kan?” tersadar harus menanyakan ini.


    Sebelum Jen berfikir tentang rencana lainnya.


    “ Aku tidak tahu.” Frustasi,


    menyandarkan kepala di kursi. “ Aku tidak tahu apa-apa tentangnya. Kami juga


    belum pernah mengobrol secara pribadi.


    Daniah hanya bisa menepuk bahu


    Jenika pelan. Dia sendiri tidak terlalu paham urusan mengejar cinta atau


    memperjuangkan cinta. Apalagi yang jelas-jelas kondisinya tidak sejelas ini. Jen masih bercerita panjang lebar mengenai teman magangnya. sesekali dia tertawa, tak jarang juga mulai merengek frustasi, karena tidak tahu harus mulai dari mana.


    “ Aku dan Raksa cuma pernah


    mengobrol berdua sekali, waktu kami di suruh beli kopi.”


    Puk, puk lagi di bahu Jenika. “ ohh


    jadi namanya Raksa.” Tangan Daniah mengantung, dia terdiam berfikir cepat. Tidak mungkin kan, mulai panik sendiri dalam pikirannya. “ Siapa Jen, Raksa?”


    “ Dia nama teman magang yang mau ku


    kejar kakak ipar, namanya Raksa.” Batu besar menghantam Daniah dengan keterkejutan. Kenapa dunia jadi sekecil ini, begitu gumamnya pelan.


    Saga sudah berdiri di dekat sofa,


    dia mengelengkan kepala dan sedikit tergelak. Membuat Jen mendongakan kepalanya


    dari pelukan kakak iparnya.


    “ Peluk, peluklah kakak ipar mu


    sampai kau lega. Kasihan sekali kamu Jen.” Jenika binggung, Daniah jauh lebih


    binggung bagaimana harus menjelaskan. Saga ikut duduk di samping adiknya. Menepuk


    kepala adiknya pelan.


    Bagaimana kami bisa terlibat


    hubungan rumit ini coba.


    Daniah mengambil hp yang tergeletak


    di atas meja. “ Lepaskan aku Jen, dan lihat ini. Apa ini teman magang mu yang


    sedang kamu kejar.” Daniah menunjukan tampilan layar depan hpnya. Jenika


    merebut cepat. Mulutnya terbuka mengganga. Bagaimana bisa dia ada di sini


    dengan kakak ipar lagi. Melihat Daniah asli lekat lalu membandingkan dengan


    foto yang di lihatnya di hp.


    “ Dia adik tiri kakak iparmu.” Merebut


    hp sambil memberi informasi mematikan. " Mereka memang tidak mirip karena beda ibu."


    Saga fokus dengan hp milik Daniah.


    Sementara jenika mulai ngedrama


    dengan gaya lebaynya, menguncang tubuh Daniah keras. “Kakak ipar kenapa gak


    bilang-bilang si, kalau punya adik sekeren ini padaku. Comblangin aku sama dia


    ya. Ya, ya, ku mohon. Please.” Masih digoyang-goyang tubuhnya. Daniah diam saja dengan tubuh terguncang, sambil mengeryit


    melihat Saga.


    Kenapa lagi dia, foto-foto selfi


    dengan hapeku.


    Saga terlihat tidak perduli


    keramaian di sebelahnya, dan masih asik dengan hp Daniah.


    “ Masalahnya Raksa sudah punya


    pacar Jen.” Duarrr, seperti tertancam panah. Langsung membuat Jen mati


    mendadak. Tangannya berhenti bergerak. Dia menjatuhkan kepalanya lunglai ke


    dada Daniah.


    “ Sabar ya Jen, nanti kamu pasti


    bertemu dengan laki-laki baik lainnya.”


    “ Aku mau Raksa kakak ipar.”


    Tapi kamu jelas-jelas bukan tipe


    idealnya Raksa Jen, aduh bagaimana aku menjelaskannya.


    Daniah menendang kaki Saga meminta


    bantuan, sudah kehabisan kata penghiburan untuk Jen. Tidak tahu harus berkata


    apa lagi.


    " Awas kau sampai menganti layar depan hp mu dengan foto adik mu lagi." Bicara sambil menempelkan bibir di telinga Daniah.


    Jadi untuk itu kamu foto-foto tadi. Cih


    " Ia, ia, sayang tapi bantu aku mengatakan pada jen ya. Aaa, bagaimana aku mengatakannya ya.  Masak aku musti bilang kalau Jen bukan tipe ideal Raksa. dia nanti semakin frustasi bagaimana. bantu aku ya." Mengoyangkan kepala, menjauhkan bibir Saga dari telinganya.


    " Kenapa? tipe adik mu pasti seperti mu kan. dasar sister compleks." memeluk erat.


    " Bukan begitu, mungkin karena kami sangat dekat. jadi dia merasa nyaman dengan wanita yang mirip dengan ku."


    Cih.


    Apa! kenapa kesal. dia kan adik ku. masih saja cemburu.


    " Tapi sayang, benar bantu aku ya." menepuk tangan Saga berulang. " Bilang pada Jen."


    " Baiklah, akan ku urus dia. jangan kuatirkan dia lagi." Mengangkat kepala dan memakai siku tangannya untuk bersandar. " Tapi kalau Jen mau berusaha secara sportif kamu mengizinkannya kan, dia mengejar adik mu."


    " Hei kok jadi begitu. aku tidak mau Jen terluka nanti kalau Raksa menolaknya." memohon pada Saga. " Tolong nasehati Jen untuk menyudahi perasaannya."


    " Aku akan memberi  Jen waktu untuk memperjuangkan perasaannya. Kau saja bisa jatuh cinta pada ku kan. kenapa adik mu tidak." tersenyum licik sambil mencium bibir Daniah berulang kali. di susul dengan tawa senangnya.


    Hei kenapa membandingkan kami. Kamu kan tidak? Hei tunggu, apa kamu mau bilang kalau sudah bekerja keras untuk membuat ku jatuh cinta padamu. apa kau mau mengakui perasaan mu padaku sekarang.


    Saga menjatuhkan kepalanya lagi, menempelkan bibirnya lagi.


    " Sayang, kamu tidak mau mengatakan sesuatu?" Masih berharap.


    " Apa?"


    Katakan, katakan kau mencintaiku.


    " Tidurlah, kalau kau masih bicara aku akan memakan mu"


    Daniah langsung menutup mulutnya rapat. memiringkan tubuh dan memeluk Saga. Dia sangat lelah seharian ini, dan ingin segera tidur dan terlelap.


    Aku tidak butuh pengakuan cinta mu, aku sudah merasa di cintai itu lebih dari cukup.


    BERSAMBUNG
『Add To Library for easy reading』
Popular recommendations
Super Gene Shadow Slave Cultivation Online Mecha Breaks the World Nine Star Hegemon Body Arts I Can Copy Talents