21Novel

Font: Big Medium Small
Dark Eye-protection
21Novel > Terpaksa Menikahi Tuan Muda > Chapter 155 Bertemu dengan Saga (Part 1)

Chapter 155 Bertemu dengan Saga (Part 1)

    Sudah di dalam mobil yang melaju. Aran menyodorkan kopi dan roti isi yang dia pesan dua paket tadi. Tapi sekertaris Han melirikpun tidak. Akhirnya dia menikmati semua makan itu. Dua porsi sekaligus tandas dalam sekejap. Han terlihat melirik sebentar, lalu mengalihkan pandangannya menatap jalanan.


    Bagaimana dia tidak tahu malu, makan sebanyak itu lagi. Yang seperti itu mengaku dewi kecantikan? mengemudi sambil mengelengkan kepalanya sendiri.


    Setelah meletakan semua sampah dalam plastik, Aran menghela nafas lega. Perutnya yang merinding keroncongan tadi sudah terisi penuh. Melihatnya sudah selesai makan sekertaris Han mulai bicara.


    Sepanjang perjalanan Aran terdiam


    mendengarkan, mencatat semua yang dibicarakan Han di kepalanya. Walaupun


    sebagian besar yang dikatakan Han dia sudah tahu. Sebagai reporter berita resmi, dia mengetahui banyak protokoler yang harus di taati ketika bertemu dengan pejabat penting, perusahaan besar, atau artis sekalipun.


    "Tutup mulutmu dan jangan bicara


    kalau tuan Saga tidak memintamu bicara. Jawab dengan jelas kalau dia bertanya.


    Dia yang akan menentukan apa kau layak menerima pekerjaan ini atau tidak. Jika


    tuan Saga menolak, kau juga tidak akan bisa bekerja."


    Cih, lantas kenapa sudah seperti


    aku diterima wawancara kerja saja tadi.


    " Kalau tuan muda menolakmu, kau bisa bekerja menjadi pesuruh. Aku akan mengirimu ke luar kota. Merangkak sekalipun kau tidak akan bisa keluar dari tempat terpencil itu."


    Apa! dia hanya sedang menakutikukan.


    " Aku serius!" Menjawab sorot tidak percaya di mata Aran.


    Aaaaa, jadi orang baik apa akan membunuhmu, kenapa bicara saja selalu setajam pisau begitu.


    Sekali lagi sekertaris Han mengingatkan bagaimana Aran harus bersikap di hadapan tuan Saga.


    Arandita sudah paham bagaimana


    protokoler berhadapan dengan tuan Saga. Dia sudah sering mengikuti berbagai


    acara resmi Antarna Group yang melibatkan presdirnya. Jadi standar baku yang


    harus dilakukan di hadapan tuan Saga dia sudah hafal diluar kepala.


    Tapi kenapa dia yang akan


    memutuskan sendiri, memang pekerjaanku apa si.


    Mata-mata? Atau menguntit istrinya? Hei tapi untuk apa?


    Penasaran, sekaligus nyali yang


    sedikit menciut. Bagaimanapun dia belum pernah berhadapan langsung atau bicara


    dengan presdir Antarna Group. Tapi ketakutannya bisa ia kubur, sekali lagi dia berusaha hanya melihat hal positif di depannya. Uang dan hidup yang lebih baik. Jauh lebih indah untuk dibayangkan, daripada pekerjaan yang menantinya.


    “ Tuan apa pekerjaan saya


    sebenarnya?” Akhirnya bertanya setelah sebelumnya melirik Han ragu-ragu. maju mundur dalam hati untuk bertanya.


    Han mengemudikan mobil dalam diam.


    “ Apa aku belum memberitahumu.” Jawabnya seenaknya, tidak menoleh sedikitpun.


    Apa! kau sengaja ya. Jelas-jelas


    penjelasan panjang lebarmu tadi hanya seputar protokoler berhadapan dengan tuan


    Saga, yang semuanya sudah ku hafal di luar kepala.


    “ Tuan sama sekali belum


    menjelaskan pekerjaan saya.” protes kecil yang tidak berarti.


    “ Kenapa kau tidak bertanya? bodoh!


    Sepertinya aku salah menilaimu ya. Kinerjamu sebagai reporter sok tahu


    sepertinya sudah mulai hilang.” Lagi-lagi setajam itu kata-katanya.


    Apa! akukan sudah bertanya di kafe


    tadi, cuma kau jawab dengan bawa-bawa mempertaruhkan nyawa.


    “ Maafkan saya tuan. Selama menjadi


    dewi kecantikan saya hanya menghabiskan waktu di kamar sempit saya, jadi


    sepertinya jiwa sok tahu saya sedikit memudar.” Menjawab dengan nada sedikit


    kesal.  Membawa nama pena yang sedari


    tadi jadi bahan ejekan sekertaris Han.“Kalau tuan tidak keberatan apa tuan mau


    menjelaskan pekerjaan saya.”


    Ya, ya, aku tahu, seringaimu itu


    muncul saat kau senang kan? Aku akan menganti nama penaku nanti. Jadi gadis buruk rupa, biar kau puas.


    “ Kau akan bekerja menjaga nona


    muda kami.”


    “ Apa! maksudnya nona Daniah?”


    Sebuah nama yang sempat mengegerkan itu. Menjaga nona Daniah? Dari apa? dia bahkan


    tidak diperkenalkan ke publik untuk menjaga privacinya. Pertanyaan berseliweran


    di kepala Aran.


    Jangan-jangan sebenarnya dia orang


    populer di negara ini?


    “ Kau tidak terlalu ketinggalan


    informasi rupaya.” Han bicara lagi.


    “ Siapa yang tidak tahu nama itu


    tuan. Sejak tuan Saga mengatakannya ke publik siapa nama istri yang dicintainya.


    Apa tuan tahu, kalau nama Daniah menjadi nama no satu yang dipilih ibu hamil


    untuk memberi nama anak perempuan mereka.”


    Hah! Kau tidak tahu rupanya. Aran seperti menang telak satu permainan. Kemenangan yang dia klaim sendiri.


    “ Apa ide menyatakan perasaan tuan


    Saga  di stasiun tv terinspirasi dari


    kejadian lamaran untuk tuan dulu.” Langsung menutup mulut dengan tangan. Terkejut dengan kata-katanya sendiri.


    “ Tutup mulutmu!” Tegas.


    Aku cari mati.


    “ Maaf tuan.” Arandita langsung


    bungkam setelah meminta maaf, dia tidak berani lagi membuka mulutnya bicara


    sepatah katapun. Diapun berfikir, kalau dirinya sudah gila. Bagaimana bisa dia


    mengungkit kejadian itu lagi.


    Sial, sial aku keceplosan. Dia


    tidak akan melempar ku keluar mobilkan.


    “ Kau mau aku mulai memotong


    gajimu, yang bahkan belum kau dapat.” Han membuka mulutnya ketika mobil masuk


    ke area parkir gedung Antarna Group.


    “ Tidak tuan, maafkan saya. Maafkan


    kelancangan saya.”  Memohon, Han diam dan


    mengacuhkan. keluar dari mobil, sementara Arandita berlari di belakangnya. Mengutuki kebodohannya bicara.


    Lantai tertinggi gedung Antarna


    Group.


    Mimpi apa aku bisa sampai di lantai ini. Dengan pekerjaanku dulu saja mustahil aku bisa menginjakan kaki di lantai tertinggi ini.


    Aran mengedarkan pandangannya. Bersitatap


    dengan staff sekertaris yang langsung berdiri saat dia dan sekertaris Han


    sampai di depan ruangan.


    Ini pasti ruangan tuan Saga. Eh,


    kenapa aku ditinggal.


    Aran mematung di depan pintu,


    ketika dia mendapat isyarat untuk diam menunggu. Sementara Han masuk ke dalam


    ruangan. Dia tersenyum pada staff sekeeratis yang masih melihatnya dengan penuh


    tanda tanya. Aran ingin melangkah bertanya, tapi diurungkan niatnya. Tuan Han


    mau dia diam menunggu tadi.


    Jangan membuat kesalahan Aran, atau


    kau hanya akan kerja sukarela tanpa bayaran.


    Arandita hanya melihat kesibukan


    tiga staff sekertaris itu. Ada satu orang yang terlihat keluar masuk membawa


    berkas dari sebuah ruangan yang ntah ada di mana. Dia hanya terlihat memasuki


    lorong di ujung ruangan. Setelah dia duduk, dia  memberi instruksi


    kepada dua orang yang ada di sampingnya.. Aran melihat semua hal itu, namun


    ntah kenapa kelebatan yang terngiang di kepalanya adalah slide kehidupan masa


    lalunya.


    Betapa senangnya aku, kalau aku


    tidak pernah terlibat dengan Tuan Han. Hari ini aku pasti sedang sibuk dengan


    tumpukan berita dan foto-foto. Arandita! Bagaimana kau bisa terjerumus dan hidup


    seperti ini.


    Rasa sesak yang tiba-tiba muncul,


    saat sesosok wajah muncul juga setelah bayangan tuan Han lenyap. Ya, nona muda putri


    dari pemilik stasiun TVXX yang dulu menjanjikan kerahasiaan namanya. Cih, memang


    seharusnya dia tidak mudah percaya kata-kata orang yang sedang dimabuk cinta.


    Saat dia meminta pertongan, wanita itu menjanjikan uang dengan nominal yang


    tidak terbayangkan. Kerahasiaan namanya, dan jaminan kalau tidak akan terjadi


    apa-apa padanya. Tapi nyatanya!


    Sial! Aran memaki lagi demi


    mengingat wajah nona cantik itu.


    Dia bahkan sekarang sudah menikah.


    Aku tidak dapat uang, kehilangan pekerjaan dan harus berurusan dengan orang


    seperti tuan Han. Kalau saja dalam hidup ini boleh balas dendam, rasanya aku


    ingin balas dendam. Menyiram segelas air saja sepertinya sudah cukup untuk


    membalasmu nona.


    Hiks, hiks, Aran menagis tanpa


    mengeluarjan suara dan airmata. Bagi rakyat jelata sepertinya itu tidak


    mungkin. Setelah dia ditendang secara tidak hormat dari stasiun tv jangankan


    bertemu dengan nona muda untuk menuntut haknya. Dia harus menghilang dan


    bersembunyi seperti bayangann masa lalu. Karena muncul dan menunjukan diri sama


    saja mencari mati.


    Aran sempoyongan karena tiba-tiba


    bahunya terdorong dengan kuat. Terjaga dari lamunan. Namun dia bisa mundur dengan cepat dan


    membuatnya tidak terjatuh.


    Kenapa dia kuat sekali, padahal


    hanya mendorong dengan jari.


    “ Kau tuli ya, kupanggil tidak


    menjawab?”


    Han sudah ada di hadapannya. Ntah


    sudah berapa lama dia tengelam dalam pikirannya.


    “ Masuk! Ingat, apa yang sudah


    kujelaskan di dalam mobil tadi.” Langsung membalikan badan dan membuka pintu.


    “ Baik tuan.”


    Aku sudah tahu! Aku hafal di luar


    kepala protokoler itu.


    Dibelakang Han, Aran mengutuki


    laki-laki dihadapannya dengan makian.


    Bersambung
『Add To Library for easy reading』
Popular recommendations
Super Gene Shadow Slave Cultivation Online Mecha Breaks the World Nine Star Hegemon Body Arts I Can Copy Talents