21Novel

Font: Big Medium Small
Dark Eye-protection
21Novel > Terpaksa Menikahi Tuan Muda > Chapter 159 Bulan madu (Part 3)

Chapter 159 Bulan madu (Part 3)

    Pesawat telah lepas landas tanpa


    kendala. Terbang di antara awan-awan putih tipis yang berserak di angkasa.


    Sekertaris Han  bangun beranjak dari


    duduk, Menawarkan sesuatu kalau Saga menginginkan minum atau apapun yang


    mungkin dia inginkan. Saga hanya mengibaskan tangan kalau dia tidak membutuhkan


    apapun, lalu Han pergi menuju ntah ruangan apa di bagian pintu belakang setelah


    kursinya.


    “ Niah.” Panggilan lembut Saga


    terdengar, lagi-lagi menyentuh hati Daniah di situasi lengang seperti ini.


    “ Eh, ia.” Daniah yang sedang


    memandang angkasa luas di luar sana menoleh. Melihat Saga menepuk kursinya. Dia


    terlihat mengeser tubuh. Memberikan ruang yang cukup lebar untuk Daniah pindah


    ke kursinya.


    Apa! kau mau apa? mau menyuruhku


    menyentuhmu?


    “ Pindah kemari.” Katanya kemudian.


    Masih menepuk tempat duduknya dengan tangan kanan. Saga ingin sepanjang


    perjalanan membosankan ini memeluk Daniah. Waktu akan mudah terbunuh saat kalian


    senangkan. Dan hal yang menyenangkan dalam pesawat ini apalagi kalau bukan


    menjahili istrinya. Lihat, begitulah Saga menunjukan cinta berlebihnya untuk


    Daniah. Jangan berharap dia bersikap romantis manis yang mudah dipahami.


    Tidak mau! Menolak tegas. Walaupun


    cuma dalam hati.


    “ Sayang, kakimu  bisa tidak nyaman nanti.” Daniah ingat


    bagaimana kaki Saga kram saat dia tidur sambil memakainya sebagai bantal.


    “ Kau mau aku mulai menghitung.”


    Sudah mau mulai menyebut angka satu.


    “ Tidak, aku pindah. Tapi kalau


    kakimu pegal tertindih badanku jangan salahkan aku ya.” Daniah sudah bangun


    dari kursi dan pindah ke tempat duduk Saga. Tubuh kecil Daniah tentu tidak akan


    terlalu berarti walaupun duduk di pangkuan Saga sekalipun. Dia bersandar di


    tangan suaminya yang terbuka.


    Setelahnya  Daniah mencaritahu tujuan mereka kemana,


    sementara Saga hanya menjawab. “ Sudah diam, ini akan jadi kejutan .” Daniah


    memilih menjatuhkan kepalanya ke dada Saga. Saat semua cara sudah dilakukan dan


    tidak berhasil mengorek apapun.


    “ Sayang, kita akan pergi ke laut


    ya?” Mulai bicara lagi.


    “ Tidak tahu.”


    “ Bohong! Pasti kamu tahukan?


    Pokoknya kemanapun kita nanti, kita jalan-jalan sambil main sampai puas ya.”


    “ Tidak mau.” Saga menjawab pendek


    lagi.


    “ Aaaa, kenapa tidak mau?” Daniah


    protes sambil mencubit kedua pipi suaminya.


    “ 51 persen kita main diluar dan 49


    persen kita habiskan di kamar.”


    Apa! Memang ada pengaruhnya selisih


    seujung kuku bayi begitu. Hei, siapa yang membuat ide tidak masuk akal ini??


    Setelah lelah berdebat tentang


    selisih persentase tidak masuk akal Daniah Memilih diam dan memejamkan mata.


    Membenamkan wajah ke dalam dada suaminya yang nyaman. Dia kalah walaupun hanya


    adu argumen.


    Sementara Saga setelah menang adu


    argumen dan membuat istrinya diam, Saga beralih bicara pada Han.


    “ Han.” Sambil membelai lembut


    kepala istrinya. Lalu dia mengulung rambut Daniah di jarinya. Menciumi rambut


    itu.


    Kenapa rambutnya tercium bau manis


    begini ya? Masih menjadi misteri apa yang sebenarnya dicium Saga dari rambut


    Daniah. Jelas-jelas mereka memakai sampo yang sama. Tapi dia selalu merasa


    aroma rambut Daniah lebih enak daripada sampo yang dia pakai.


    “ Ia tuan muda.” Han menjawab dari


    tempat duduknya di belakang Saga. Sengaja tidak mendekat. Sedari tadi dia sudah


    mendengar pembicaraan Daniah dan Saga. Yang sudah membuatnya menarik nafas


    dalam-dalam.


    Kenapa mereka terlihat seperti


    orang gila kalau sedang berdua begitu. Yang satu dimabuk cinta, yang satu tidak


    sadar kalau semua tingkahnya, bahkan caranya bernafas saja dianggap


    mengemaskan.


    Sementara Daniah menajamkan telinga.


    Mendengarkan pembicaraan mereka.


    “ Apa kau tidak perlu mengajak


    Harun?”


    Dokter Harun, kenapa? Daniah


    penasaran. Tapi dia tetap tidak menegakan kepala. Pura-pura tidur, hanya


    hembusan nafasnya yang terdengar.


    “ Dokter Harun tidak bisa ikut


    karena sudah ada agenda yang tidak bisa diwakilkan. Saya sudah menghubunginya


    beberapa hari lalu.” Han selalu tahu apa yang harus dia lakukan.


    “ Cih, kurang ajar sekali dia.”


    Saga memaki dokter Harun. Membayangkan senyum kurang ajar dokter muda itu saat


    bersyukur karena tidak perlu ikut pergi.


    Hei, memang kenapa juga si musti


    bawa-bawa dokter Harun, kitakan cuma mau liburan. Aku berharap ini akan jadi


    liburan berkedok bulan madu. Bermain, jalan-jalan dan mungkin sedikit belanja


    oleh-oleh. Kemana sebenarnya tujuan kita ini ya?


    Daniah berperang dengan pikirannya sendiri, menebak-nebak, maunya orang yang tidak bisa diterka,


    “ Bagaimana kalau Daniah sampai


    terluka nanti.” Tangan Saga menyentuh pipi istrinya. Mencubitnya pelan. Daniah


    refleks memukul tangan Saga, karena tahu laki-laki itu hanya menunggu


    reaksinya. Benarkan, setelah itu Saga melepaskan tangannya.


    “ Ya mengingat sifat nona kadang seperti itu.” Ada


    penekanan kata-kata sekertaris Han di dalamnya. “ Saya sudah mendapat


    rekomendasi dokter di dalam kota dari dokter Harun. Saya juga sudah


    menghubunginya jika ada kejadian yang tidak terduga.”


    Haha, jadi kalian pikir aku bocah.


    Hei, aku itu gadis mandiri yang setegar karang tahu.


    “ Laki-laki atau perempuan?”


    Bersama dokter Harun saja sudah menyebalkan, apalagi ini harus berurusan dengan


    orang asing. Begitu pikir Saga.


    “ Perempuan tuan muda.” Ntah kenapa


    Saga merasa lega.


    Setelah merasa sedikit tenang tentang


    urusan dokter, sekarang dia beralih pada Daniah di sampingnya.


    “ Niah.”


    “ Iya.” Menggangkat kepalanya. Dan


    tidak tahu kenapa Daniah ingin mencium pipi Saga. Dan dia melakukannya. Membuat


    Saga terkejut. Ya, laki-laki itu masih terkejut dan merasa senang sekali kalau


    Daniah menunjukan perasaan tanpa diminta olehnya.


    “ Jaga dirimu nanti. Paham!” Sambil


    menghujani pipi Daniah dengan ciuman balasan. “Jangan buat aku cemburu.”


    Maksud dari perkataan Saga adalah,


    jangan sampai kau melihat orang lain selain aku. Tapi mana Daniah paham itu, dia


    hanya asal mengiyakan saja.


    “ Han, kau tidak membuat kegiatan


    ekstrim untuk agenda di luarkan?” Setelah Daniah berhasil menghentikan hujan


    ciuman dengan tangannya, Saga mendongak dan bertanya pada Han.


    “ Tidak tuan muda.”


    Memang mau seekstrim apa juga, apa


    nona mau minta memanjat tebing atau berburu hiu?Han.


    Hening, hanya terdengar gumamam


    sebelum Saga bicara lagi.


    “ Kalau Daniah tiba-tiba hamil


    bagaimana ya?” Pertanyaan yang ditujukan untuk Han. Padahal mana tahu


    sekertarisnya perihal beginian.


    Hei kalian berdua, bukankah aneh


    itu cukup sewajarnya. Kalian tahu tidak, aku yang jadi bahan pembicaraan


    kalian. Aku, aku disini duduk dengan mata terbuka. Datang bulanku saja belum


    normal setelah tragedi pil kb itu, mana mungkin aku bisa tiba-tiba hamil.


    “ Benar juga ya, bagaimana kalau


    tidak usah ada kegiatan di luar ruangan.” Hanya mengikuti kemauan tuannya saja.


    Tidak berfikir panjang. Yang penting Saga senang dan nyaman, motonya dalam


    perjalanan hidup selama beberapa tahun ini.


    Sudah gila ya kalian.


    “ Sayang, hamil itukan butuh


    proses, perempuan itu gak bisa tiba-tiba hamil, atau tiba-tiba melahirkan.


    Semua butuh waktu.” Haduh, bagaimana menjelaskannya ini. Daniah binggung.


    “Akukan baru dari dokter, dan belum ada indikasi hamilkan?


    Ayolah sadar, aku saja belum datang


    bulan dengan normal dan lancar lagi, seperti saat aku belum minum pil kb.


    “ Darimana kamu tahu? Memang kamu


    sudah pernah hamil?” Penjelasan Daniah malah membuat Saga gusar. “ Jadi aku


    bukan yang pertama buat kamu?”


    Ya tuhan, siapa yang akan percaya


    kalau pertanyaan itu diucapkan tuan Saga. Kenapa dalam hal beginian dia bodoh


    sekali si.


    “ Sayang, akukan gak perlu hamil


    dulu buat tahu begituan. Itu pengetahuan dasar yang diketahui semua perempuan


    di muka bumi ini. Di sekolah dulu kita juga belajat itu kan.” Menepuk-nepuk


    dada Saga agar laki-laki itu mereda kekesalannya.


    “ Aku tidak pernah belajar begituan


    di sekolah.” Menjawab, ntah kenapa ada yang terasa getir dalam kalimatnya.


    “ Bohong!” Daniah membalas cepat.


    “ Tuan muda tidak sekolah umum


    nona, jadi tuan muda memang tidak mendapat pelajaran atau sekolah seperti yang


    nona jalani.” Terdengar suara Han dari belakang. Daniah menatap suaminya.


    Seperti apa ya kehidupan tuan Saga


    waktu muda?


    “ Jadi, berapa lama hamil itu?”


    Membuyarkan rasa penasaran dan haru yang tiba-tiba berseliweran di kepala


    Daniah. Masa muda Saga, bagaimana dia tumbuh. Apa dia dari dulu sudah arogan


    seperti ini.


    “ Sembilan bulan lebih 10 hari pada


    umumnya sayang.”  Daniah tersentak saat


    mendengar Saga berteriak karena tidak percaya dengan penjelasannya.


    “ Hei, kau mau membohongiku. Kenapa


    lama sekali!” Kegilaan apa ini, kenapa sampai butuh waktu selama itu, pikir


    Saga tidak percaya. “ Han, kau dengar itu? Niah, kamu sedang


    mempermainkankukan.” Protes keras. Tidak mungkin hamil butuh selama itu


    pikirnya.


    “ Tidak sayang, memang begitu. “


    Kenapa si suamiku ini.


    “ Apa tidak apa-apa kalau kamu


    hamil selama itu.” Saga menyentuh perut Daniah. “Apa tidak akan melelahkan.


    Membayangkan saja kenapa aku jadi takut ya.”


    Ya ampun, laki-laki ini benar-benar


    tuan Saga bukan si.


    “ Han, cari tahu semua informasi


    seputar kehamilan.” Akhirnya karena di gerogoti penasaran keluar perintah tidak


    masuk akal.


    “ Sayang, buat apa?”


    Membayangkan sekertaris Han


    berkutat dengan mesin pencarian dan kata kunci kehamilan, Daniah sudah merasa


    lucu sekaligus kasihan.


    “ Baik tuan muda.”


    Hal gila apalagi yang sedang kalian


    bahas ini. Kenapa membahas kehamilan sampai merepotkanku begini. Han


    Lagi-lagi Han mendapatkan pekerjaan tidak


    masuk akal diluar semua tumpukan pekerjaannya di Antarna Group.


    “ Benar tidak apa-apa, kalau kamu


    harus hamil selama itu?” Lagi-lagi masih dihantui kuatir, Saga memeluk tubuh


    Daniah erat.


    “ Sayang, memang seperti itu. Hamil


    dan memiliki anak juga impian semua wanita. Jangan kuatir, kalau Tuhan


    memberiku kesempatan untuk hamil aku akan menjalaninya dengan bahagia.”


    Walaupun perjuangan menjadi ibu yang dimulai dari kehamilan bukan urusan yang


    gampang. Ada banyak drama baik di fase pertama, kedua atau ketiga. Bahkan


    Daniahpun pernah membaca ada ibu hamil yang harus istirahat total dan tidak


    melakukan pekerjaan apapun untuk menjaga kehamilannya. Setiap ibu berjuang


    dengan caranya sendiri-sendiri dalam proses kehamilan. Tapi, itu memang impian


    setiap wanita jika sudah menikah kan.


    “ Sayang, hamil itu memang tidak


    mudah, tapi wanita yang sudah menikah pasti merindukan itu. Ibu juga


    mengalaminya saat melahirkanmu.” Menyentuh pipi Saga. “ Ibu juga berjuang dalam


    proses kehamilan dan melahirkanmu.”


    Ada yang menyentuh hati Saga saat


    mendengarnya. Membayangkan bagaimana ibu dulu berjuang saat mengandungnya.


    “ Apa ibu juga melakukannya,


    sembilan bulan 10 hari seperti katamu.” Katanya pelan. Membayangkan wajah ibu.


    “ Ia sayang. Jadi kalau kamu marah


    atau kesal pada ibu, tetap jagalah hubungan kalian. Jangan marah padanya.” Lagi-lagi membelai dada Saga pelan. Daniah tahu, bagaimana sayangnya suaminya pada keluarganya. Ibu dan kedua adiknya adalah sebagian dari nyawa yang dia lindungi dalam perjalanan hidupnya. Daniah mendengar banyak cerita heroisme yang dilebih-lebihkan Jen dan Sofi mengenai kakak mereka.


    “ Ia, aku tahu.”


    Untuk sejenak hanya hembusan nafas


    keduanya yang terdengar. Sama-sama menyelami pikiran dengan wajah ibu mereka


    masing-masing. Daniah tengelam dalam kenangan. Sedangkan Saga, mengulang


    film-film ketegangan yang beberapa kali terjadi dengan ibunya. Ah, dia menarik


    nafas berat.


    Belum ada informasi pendaratan, sepertinya penerbangan ini masih akan memakan waktu.


    Setelah tercipta kebisuan cukup


    lama, Saga menarik tangannya menyentuh leher Daniah.


    “ Niah, kau tidak mau menyentuhku.” katanya dengan gelak. Sambil mengoyangkan telinga Daniah.


    Apa! Reflek Daniah menutup mulut


    Saga dengan tangannya. Supaya laki-laki itu tidak meneruskan kalimatnya. Hemm.


    Saga mengoyangkan kepalanya agar Daniah menjatuhkan dekapan tangannnya.


    “ Sudah kubilang kau boleh


    menyentuhku dimanapun.” Setelah berhasil menghempaskan tangan Daniah dari


    mulutnya.


    “ Terimakasih sayang, aku terharu sekali. Tapi tidak terimakasih untuk saat ini ya.”


    Aku tidak mau menyentuhmu.


    Apalagi dibelakang kita ada orang yang bahkan tidak pernah menutup mata dan


    telinganya itu.


    “ Ayolah. Kenapa malu-malu begitu.


    Tidak ingat kelakukan mu tadi pagi mengodaku.”


    “ Apa!”


    Mereka selalu membuat polusi udara


    saat bersama. Apalagi bagi hati yang sendiri.


    Sementara itu Han di belakang


    mereka hanya berpaling, menatap jendela lalu memejamkan mata.


    Kenapa perjalanan ini rasanya lama sekali. Kapan kita


    sampainya.


    Bersambung
『Add To Library for easy reading』
Popular recommendations
Super Gene Shadow Slave Cultivation Online Mecha Breaks the World Nine Star Hegemon Body Arts I Can Copy Talents