21Novel

Font: Big Medium Small
Dark Eye-protection
21Novel > Terpaksa Menikahi Tuan Muda > Chapter 163 Sofia dan kekasihnya

Chapter 163 Sofia dan kekasihnya

    Kembali ke kamar hotel. Bersama


    Sofi dan Jen. Setelah terdampar kembali ke masa sekarang, dari kenangan buruk beberapa tahun silam.


    “ Kak Jen, aku ingat kejadian itu.


    Aku refleks menampar Haze.” Sofi kembali membayangkan wajah kesal Haze. Sehabis


    tangannya menempel keras di pipi laki-laki itu.


    “ Terus, dia memukulmu juga?” Jen mengeryit dengan pertanyaan tidak masuk akalnya.


    Hei, mana mungkin Haze melakukan itu.


    “ Mana mungkin kak, tahukan sebaik


    apa Haze” Sesal datang, apalagi sampai hari ini Haze bahkan belum mengiriminya


    pesan apapun. “ Dia bahkan hampir menangis kemaren karena kaget aku berteriak


    padanya.”


    Membayangkan wajah Haze saat


    kejadian saja Jen sudah ingin tertawa.


    Hari dimana pristiwa penamparan


    terjadi.


    Hari itu cuaca sedikit mendung,


    udara lembab di luar mobil yang mereka tumpangi. Angin sesekali bertiup cukup


    keras. Mungkin menjadi pertanda alam agar segera turun hujan.


    Saat itu lampu sudah menyala hijau,


    suara klakson mobil sudah seperti makian. Tapi Haze belum mengerakan tangannya.


    Mobil masih berhenti. Dia terlihat sedang berusaha mengumpulkan akal sehatnya.


    Secepat kilat dia menyeka airmata yang menganak di pelupuk matanya. Saat suara


    klakson mengejutkan matanya melihat lampu jalan. Dia segera tancap gas


    meninggalkan makian pengemudi lain.


    Sofi melirik cemas laki-laki di


    belakang kemudi di sampingnya.


    “ Maaf.” Tangannya mendekat ingin


    meraih pipi Haze. Memeriksa bekas tangannya yang menempel keras tadi.


    Mobil berdecit, berhenti tepat di


    pinggir jalan. Sementara lalu lalang kendaraan tidak berhenti atau terusik


    sedikitpun.


    “ Kenapa memukulku, aku hanya ingin


    menciumu sedikit saja.” Haze bicara pelan. Tanpa menatap Sofia, dia memilih


    melihat kedepan, keluar kaca. Jalanan lurus yang berseliwearan kendaraan.


    “ Kenapa mencium tiba-tiba! Kau


    bahkan tidak minta izin.” Sofi menjawab cepat.


    Karena kau mengemaskan sekali saat


    mulutmu tidak berhenti bicara! Haze ingin berteriak begitu. Tapi dia


    menahannya.


    “ Benarkan, cuma aku yang menyukaimu.


    Cuma aku yang suka dan tergila-gila padamu. Kau mau pacaran denganku karena aku


    jatuh cinta dan nembak duluankan? Perasaanmu padaku masih setengah-setengah.” Keluar juga kata-kata itu dari mulut Haze. Selama ini dia hanya mendiga-duga.


    “ Tidak!”


    Sofi selalu merasa kalau


    perasaannya pada Haze tulus dan tidak dibuat-buat.


    “ Bohong! Buktinya kamu semarah


    itu. Buktinya kamu tidak pernah coba-coba melakukan kontak fisik. Akukan hanya


    ingin menunjukan sayangku padamu.” Walaupun berteriak tapi Haze malah yang


    terlihat ingin menangis karena frustasi sekarang. Apalagi saat Sofi terkejut


    dengan kata-kata kerasnya. Dia bahkan ingin segera minta maaf dan memeluk gadis


    di depannya. Tapi dia sekuat tenaga mencengkram kemudi.


    “ Maaf.” Sofia mengalah pada akhirnya. mungkin refleks tangannya juga sudah keterlaluan. Seharusnya dia cukup mendorong Haze tadi.


    “ Lihatlkan, kau cuma bisa minta


    maaf tanpa mau menjelaskan apapun. Karena kau tau aku pasti memaafkanmu jadi


    kamu cuma bilang maaf.” Tidak mau menerima maaf Sofia semudah biasanya. padahal hatinya benar-benar ingin mengengam tangan Sofi sekarang.


    “ Maaf.”


    Sofia binggung bagaimana harus


    menjelaskan. Kalau kak Saga tiba-tiba muncul di kepalanya, menatapnya tajam. Jadi tangannya refleks bergerak sendiri. Tapi semua akan menjadi panjang. Mungkin latar belakangnya sebagai adik presdir Antarna Group akan terbongkar pada akhirnya.


    Haze memukul kemudi mobil. “Jangan


    bicara padaku lagi sekarang.”


    “ Kenapa?” Sofi dengan polosnya


    bertanya. “ Aku minta maaf. Aku sayang sama kamu Haz, tapikan kita sudah janji,


    untuk tidak melakukan kontak fisik. Apalagi kamu tiba-tiba menciumku, akukan


    kaget.”


    Haze terdiam, menyadari


    kesalahannya. Tapi tentu saja dia tidak mau mengakuinya. Dia sedang merasa


    sangat kesal sekarang. Perasaan Sofia padanya saat ini saja dia merasa sanksi.


    “ Kau tidak benar-benar


    menyukaikukan?” Akhirnya dia mencoba menegaskan kesimpulan yang dia buat tadi.


    “ Tidak. Aku menyukaimu. Lihat di


    chat siapa yang paling sering bilang sayang duluan. Akukan.” Menunjukan hp di depan wajah Haze.


    Mati aku, aku sudah menghapus


    riwayat chat.


    Haze merebut hp ditangan Sofi,


    memeriksa.


    “ Lihat, kamu bahkan menghapus


    semua riwayat chat kita. Padahal chat kamu satu bulan lalu masih ada di hpku.”


    Mengambil hp miliknya dan menunjukannya pada Sofi. “ Lihat, seberapa pentingnya


    kamu buat aku.”


    “ Ini karena kakakku memeriksa


    hpku.” Menyerah sudah. Keluar juga kebenaran dari mulut Sofi.


    “ Apa! dia memeriksa hpmu? Kenapa?


    Kak Jen?” Haze mengenal jen sebagai satu-satunya kakak bagi Sofi.


    “ Bukan, kakak laki-lakiku.”


    Tepatnya Han yang memeriksanya.


    “ Kenapa dia memeriksa hpmu?” Haze


    merasa tidak wajar. Bukankah aneh kalau sampai seorang kakak memeriksa hp adiknya.


    Aaaaaa, bagaimana aku


    menjelaskannya.


    Lagi-lagi Sofi tidak bisa


    mengatakan apapun perihal Saga. Membuat Haze kembali kesal. Merasa bahwa alasan yang dibuat Sofi hanya mengada-ada, untuk menutupi perasaannya yang sebenarnya.


    “ Sebaiknya kita jangan bicara beberapa


    waktu dulu.” Akhirnya Haze memutuskan. walaupun dia sendiri tidak rela.


    “ Tapi kalau chat bolehkan?”


    “ Aku tidak akan membalas.” Membalas cepat.


    “ Tapi kitakan ada kelas bareng,


    apa aku juga tidak boleh menyapamu.”


    “ Sofia!” Setengah berteriak karena sudah kesal.


    “ Apa!” Sofiapun sama kesalnya.


    Kehilangan kata-kata untuk membalas, lalu


    laki-laki itu keluar. Membanting pintu mobil dan meninggalkan Sofia di dalam mobil. Baru beberapa langkah kakinya sudah berhenti. Ketika sadar dia ada dimana.


    “ Haz mau kemana? Disinikan jauh


    dari kampus. Bawa mobilnya ke kampus dulu, kamu ada kuliahkan?”


    Lanjutkan marahnya nanti saja pikir Sofia.


    Langkah kaki Haze terhenti. Dia berbalik, menatap jalanan panjang dan mobil Sofia.


    Menimbang-nimbang. Akhirnya dia masuk lagi kedalam mobil.


    “ Jangan bicara padaku.” Katanya ketus.


    “ Ia, ia. Aku akan diam.”


    Dan Sofi asik dengan hpnya


    sepanjang perjalanan.


    Mendengar cerita adiknya Sofi, Jen


    guling-guling di atas tempat tidur tertawa.


    Membayangkan wajah Haze yang kesal setengah mati, sementara Sofi yang masih asik bermain dengan hpnya.


    “ Kasian sekali Haze, jadi kalian


    belum bertegur dua hari ini?”


    “ Belum.”


    “ Lagian cium sedikit gak papa kali


    Sof, Hazekan pria baik juga. Lagipula itu di lampu merah, memang mau ngapain si


    dia.” Menyenggol siku adiknya.


    “ Kak jen gak tau si, saat Haze


    habis nyium itu wajah kak Saga langsung membelalak di mata aku tahu.”


    Kasihan sekali batin Jen, tapi


    jujur diapun selalu mengingat pristiwa itu di kepalanya. Saat kasih sayang Saga


    menjadi kemarahan. Saat dia mengatakan menjaga kehormatan sama saja menjaga


    cinta dan perasaanmu. Sesuatu yang harus kau berikan pada orang yang tepat dan


    waktu yang tepat.


    “ Dan kami sepakat untuk tidak


    melakukan kontak fisik, tapi dia malah menciumku. Siapa yang tidak kaget.” Sofia membuat pembelaan, kalau dia tidak sepenuhnya salah.


    “ Ia, ia, Haze juga salah. Tapi


    kamu juga tidak seratus persen benar."


    “ Kenapa lagi?”


    “ Karena kau menamparnya tampa


    peringatan.” Sofi merengut, mungkin yang dilakukannya berlebihan.


    “ Tapi kak, aku ada teman yang


    pernah melakukan hal seperti itu selama pacaran. Dia bilang, awalnya hanya


    sebatas ciuman saja, lalu pacarnya minta lebih dan lebih. Dan akhirnya mereka


    melakukan hubungan tubuh. Aaaaa. Aku ngeri membayangkan.” Karena Sofi mengikuti


    perkembangan hubungan temannya itu dengan kekasihnya. Awalnya temannya itu merasa


    menyesal, dan marah pada dirinya sendiri. Berjanji tidak akan pernah


    mengulanginya. Cukup sekali dia terjebak dalam hubungan fisik yang tidak sehat.


    “ Tapi lama-kelamaan karena


    pacarnya menuntut akhirnya hubungan mereka jadi seperti itu kak.


    Bertemu hanya sebatas kontak fisik, padahal mereka belum


    menikah.”


    Ini bukan perkara suci atau sok


    suci, namun Jen dan Sofi meyakini, seperti apa yang pernah dia dengar dari


    kakak laki-laki mereka. Bahwa menjaga kehormatan diri bukan sebatas dipandang


    kau mempersembahkan robekan selaputt dara pada laki-laki yang akan menjadi belahan hidupmu. Tidak seperti itu, tapi tubuhmu, adalah bagian cinta dan


    perasaanmu. Berikanlah pada orang yang tepat dan waktu yang tepat.


    Sekali lagi, Jen dan Sofi


    membayangkan. Kalau Kak Saga yang sesempurna itu bahkan bisa menjaga hatinya.


    Bahkan saat bersama Helen yang luar biasa, mereka tidak melakukan hubungan di luar batas. Kenapa mereka tidak. Untuk itulah mereka mengengam kata-kata Saga seperti berlian di hati mereka. Mereka ingin menikah dengan laki-laki seperti kak Saga. Hingga akhirnya mereka merasa perlu menjaga diri mereka agar pantas. Seperti kakak ipar mereka yang bahkan memberikan ciuman pertamanya untuk suaminya.


    Aaaaa, Haze sudah mengambil ciuman pertamaku!


    Sofia panik.


    bersambung
『Add To Library for easy reading』
Popular recommendations
Super Gene Shadow Slave Cultivation Online Mecha Breaks the World Nine Star Hegemon Body Arts I Can Copy Talents