21Novel

Font: Big Medium Small
Dark Eye-protection
21Novel > Terpaksa Menikahi Tuan Muda > Chapter 182 Isi Hati yang Sebenarnya

Chapter 182 Isi Hati yang Sebenarnya

    Aran berdiri di dekat mobil, dengan


    pikiran berkecamuk. Menunggu si pemilik mobil. Melihat dari kejauhan  punggung sekertaris Han yang bicara dengan pak


    Mun. Laki-laki itu terlihat menunjuk vila beberapa kali. Lalu pak Mun


    mengangukan kepalanya juga. Mungkin mereka sedang membicarakan tuan dan nona,


    pikir Aran. Helaan nafas getir masih keluar masuk hidung dan mulutnya. Dia


    tahu, sikap sekertaris Han tadi hanya kepura-puraan. Tidak mungkin dia tidak


    mencium keanehan dari sikapnya tadi. Jelas-jelas Aran terlihat sangat kikuk.


    Bagaimana ini, aku malu. Menjejakan


    kakinya berulang di area trotoar tempat parkir. Aran pasang wajah sok tidak


    tahu malumu saja. Begitu dia memutuskan setelah berperang dengan urat malunya


    sendiri.  Jangan kikuk  atau canggung di depannya. Biasa saja. Biasa


    saja. Menghembuskan nafas pelan dan perlahan.


    Bagaimana aku bisa bersikap biasa saja setelah ini!


    “ Masuk!” Han memberi perintah saat


    dia sudah masuk ke dalam mobil dan duduk di belakang kemudi. Tanpa bertanya


    sepatah katapun Aran mengikuti, duduk di kursi depan.


    Mobil meninggalkan gerbang Vila,


    menyisa tanda tanya kemana laki-laki ini akan membawanya. Aran melirik


    pengemudi mobil yang tidak bergeming sama sekali. Suasana hening sampai mereka


    memasuki jalan raya. Sepanjang mata memandang, masih terlihat bibir pantai yang


    ombaknya menari-nari menampar pantai. Laut selalu menenangkan, walaupun hanya dilihat dari kejauhan. Anugrah Tuhan bagi manusia, yang layak untuk di syukuri. Apalagi saat hatimu sedang dilanda kegalauan. Melihat air yang bekejaran dibibir pantai sudah bisa membuat hati nyaman. Tapi sepertinya Aran kehilangan momen indah itu saat melirik pengemudi mobil yang sepertinya sedikitpun tidak terganggu dengan cuaca atau keadaan sekitarnya.


    Apa sepanjang jalan kau mau diam


    begini? Tapi, aku harus bicara apa ya? Meluruskan kesalahpahaman foto.


    Bagaimana kalau kesimpulannya semakin menjurus. Dan aku bahkan tidak bisa


    mengelak sedikitpun.


    “ Tuan.” Akhirnya si banyak bicara


    tidak bisa menahan mulutnya. Dia bertanya juga.


    “ Hemm.” Hanya itu jawaban Han,


    bahkan tanpa berpaling sedikitpun.


    “ Kita mau kemana?” Pertanyaan


    standar pembuka obrolan yang dipilih Aran. sekedar basa-basi memecah kebisuan.


    Hening, tidak ada jawaban walaupun


    sekedar kata hemm. Artinya dia tidak akan menjawab walaupun pertanyaan di ganti


    ke versi yang lain.


    Bisa tidak si dia bersikap normal


    pada orang lain selain tuan Saga dan nona?


    “ Tuan Han, apa tuan Saga masih


    marah? Kenapa hari ini jadwalnya berubah?.” Benar, membuat pembicaraan yang


    tidak ada hubungannya dengan foto jauh lebih baik. Begitulah akhirnya pertanyaan yang dipilih Aran. Membicarakan cinta tuan Saga dan nona jauh lebih menarik ketimbang bahasan apapun.


    Sudahlah, jika dia tidak mengorek


    mencari tahu, itu jadi lebih baik. Aku akan terus menyimpannya dalam hati saja.


    “ Tidak.”


    Tidak, maksudnya tidak marahkan?


    “ Tapi apa yang sekarang mereka lakukan


    di dalam kamar tuan?” Mata Aran terlihat berkedut setelah menyadari


    pertanyaannya.


    Please jangan dijawab, aku hanya keceplosan.


    Aku juga tahu apa yang sedang terjadi di kamar utama vila itu. Wajah Aran


    memerah dengan sendirinya.


    “ Apa kau benar-benar tidak tahu?”


    Mengeleng tidak percaya. Tapi mata dan pandangannya masih fokus ke jalanan.


    Tapi Han terlihat tersenyum tipis.


    “ Haha, tentu saja saya tahu.”


    Langsung menutup mulutnya rapat. “Sayakan penulis novel tuan, saya sudah sering


    membuat adegan seperti itu.” Tertawa garing yang dipaksakan. Supaya udara


    canggung menguap.


    “ Ternyata pengalamanmu hanya ada


    di dunia halu ya.” Telak mencibir dengan wajar datar tanpa senyum sama sekali.


    Hahaha, kau sudah seperti orang


    yang berpengalaman dalam urusan cinta saja tuan.


    Ingin sekali Aran mematahkan


    kepercayaan diri sekertaris Han saat berurusan dengan cinta. Karena dia tahu


    laki-laki ini tidak pernah terlibat hubungan apapun dengan perempuan. Paling


    tidak, tidak pernah ada tercium media setelah skandal lamaran di tv yang di


    lakukan nona muda putri stasiun tv XX waktu itu.


    “ Bagaimana dengan anda tuan, apa


    anda tidak tertarik menjalin hubungan dengan wanita?” Deg, Aran mengaitkan


    tangannya. Menyesal dengan pertanyaan yang dia ucapkan. Menyinggung tentang


    cinta dan masa lalu. Sama saja membongkar aibnya sendiri. Dan saat dia melirik


    wajah Han dia mulai melihat kerut tidak suka di mata kanan itu. Terdengar Han


    menarik nafas panjang diikuti desahan kesal.


    Benarkan, mulutku adalah ranjau


    hidupku.


    “ Arandita.”


    Hah! Dia memanggil nama panjangku.


    “ Ia.” Menjawab dengan suara pelan


    sekali.


    “ Aku tidak tertarik dengan cerita


    romantis atau kehidupan tentang cinta. Jadi kuharap kau tahu batasanmu.”


    Menatap Aran sekilas yang membuat gadis itu langsung memalingkan wajah. “ Jaga


    garis batasmu kalau kau tidak mau terluka.”


    Dia tahu, tidak mungkin dia tidak tahu.


    Foto-foto tadi bukanlah foto-foto yang aku berikan ke stasiun tv. Itu adalah


    koleksi pribadiku. Tidak mungkin dia tidak tahu.


    “ Haha, tuan aku tidak.”


    “ Baguslah! Tidak ada sedikitpun


    perasaanku yang tersisa untuk masa lalu. Jadi jaga sikapmu.” Menjawab cepat


    dengan suara dingin.


    Udara di dalam mobil benar-benar


    seperti membeku. Aran sampai merasa susah menghirupnya untuk bernafas.


    “ Maaf tuan.”


    Aran langsung membisu, menatap


    nanar jendela mobil. Melihat jalanan hijau dan pepohonan yang menari-nari


    tertiup angin. Hanya terlihat beberapa mobil melintas di jalan yang sama yang


    mereka lalui. Dia menelan ludah. Tidak mau lagi membuka mulutnya.


    Apa yang kau pikirkan Aran. Semua


    itu juga salahmu. Laki-laki ini menjadi harimau gila karena kau yang membuatnya begitu. Kalau kau menyalahkannya, dirimulah yang harusnya mendapat hukuman paling berat.


    Pandangan mata Aran bertemu lagi


    dengan mimpi yang siang malam mengejarnya dalam pelariannya. Dengan kelamnya benang takdir yang terikat antara dirinya dan sekertaris Han.


    Hari itu adalah hari terakhir Aran bekerja di


    stasiun TVXX, sebagai reporter kelas satu yang tajuk berita dan tulisannya


    selalu masuk berita utama di jam prime time. Hari itu dia sudah menyelesaikan


    semua berkas berita yang akan naik untuk berita malam. Ruangan kerjanya


    terlihat sedikit lengang, semua orang yang ada di dalamnya sedang sibuk dengan


    pekerjaan masing-masing. Tidak ada yang mendongak dari layar komputer, berusaha berkejaran dengan waktu dan helaan nafas.


    “ Ahhhh, selesai!” Menyandarkan


    kepala ke kursi empuk. Aran mengangkat tangannya mengeliat kekanan dan kekiri,


    mengusir penat, pegal dan lelahnya tubuh. “ Ada yang mau kopi? Aku mau pergi ke


    bawah membeli kopi.” Semua langsung mendongak dan mengangkat tangan mereka,


    dengan wajah penat dan lelah bercampur iri karena Aran sudah menyelesaikan


    pekerjaannya. “ Baik, baik, aku bawakan semua. Silahkan lanjutkan pekerjaan


    kalian.” Tawanya disambut seringai dan beberapa makian di ujung meja. Mengumpati


    pekerjaan yang tidak selesai-selesai dari pagi buta tadi.


    Brak!! Suara keras pintu terbuka


    membuat seisi ruangan langsung terperanjak kaget. Ada yang terdengar memaki.


    Mereka berdiri dari tempat duduk. Langsung berwajah pias termasuk Aran. Presdir


    stasiun tv dan sekertarisnya sudah berdiri di depan pintu dengan aura penuh


    ancaman. Sekelilingnya sudah mengeluarkan aura hitam membunuh.


    “ Presdir.” Termasuk Aran langsung


    meninggalkan kursi mereka mendekat.


    Ada apa ini? Kenapa presdir sampai


    muncul di ruangan berita? Apa kesalahan yang sudah kami lakukan? Tidak, siapa


    yang sudah membuat kesalahan sefatal ini sampai dia muncul di sini?


    Semua isi kepala orang-orang yang


    ada di ruangan saling tumpang tindih. Lupa dengan lelah, kantuk dan kopi panas


    yang ingin mereka hirup aromanya.


    “ Semua keluar kecuali Aran!” Saat


    sekertaris presdir bicara kaki Aran sudah mulai melemah.


    Apa ini? Kenapa aku? Apa salahku?


    Perihal sekertaris Antarna Group


    langsung melintas. Apalagi hal yang dia kerjakan di luar line beritanya selain


    membuntuti laki-laki itu. Harimau gila antarna Group yang menakutkan.


    Tunggu, mereka berjanji


    merahasiakan namakukan? Mereka tidak mungkin menghianatikukan? Nona!


    Semua karyawan satu ruangan Aran


    saling pandang, bahkan menatap Aran dengan tanda tanya. Mereka terlihat


    mengangkat bahu sambil bertanya dengan bibir rapat.


    Aran apa yang kau lakukan?


    Kenapa?


    Apa kau membuat kesalahan pada


    presdir?


    Kami tahu kau gila? tapi ini presdir, kesalahan apa yang sudah kau lakukan?


    Sementara Aran hanya membisu dan


    tidak memberikan reaksi apapun. Hanya tangannya yang sedikit bergetar.


    Bersambung
『Add To Library for easy reading』
Popular recommendations
Super Gene Shadow Slave Cultivation Online Mecha Breaks the World Nine Star Hegemon Body Arts I Can Copy Talents