21Novel

Font: Big Medium Small
Dark Eye-protection
21Novel > Terpaksa Menikahi Tuan Muda > Chapter 185 Bulan Madu (Part 17)

Chapter 185 Bulan Madu (Part 17)

    Sementara itu kembali ke vila,


    masih berdiam diri di kamar utama. Tidak ada siapapun yang mendekati kamar.


    Bahkan pak Mun hanya terlihat berkeliaran di lantai bawah. Setelah membawa


    makanan dan minuman camilan selingan setelah makan tadi. Para penjaga dan


    pengawal setelah lelah bermain air mereka masih terlihat berleha-leha di bibir


    pantai. Walaupun begitu tetap masih terlihat beberapa penjaga yang tidak


    meninggalkan pos mereka dan tetap bersiaga. Mereka adalah penduduk lokal yang


    bertugas menjaga keamanan vila.


    Lalu, apa yang dilakukan 2  penghuni kamar utama,  sepertinya mereka sama sekali tidak terlihat


    bosan walaupun sudah hampir separuh hari mereka habiskan di atas tempat tidur.


    Daniah menyetel wajah cemberutnya.


    “ Sayang kenapa sepertinya hanya


    kamu yang diuntungkan dari hukuman ini.” Daniah merengek di sela-sela


    kemenangan yang dia dapatkan. Dia yang menang tapi malah Saga yang senang.


    “ Apa! protes saja. Sudah cium  sini.” Laki-laki itu menunjuk beberapa bagian


    tubuhnya yang belum terkena tanda lipstik dari kecupan bibir Daniah. Tubuh Saga


    sudah polos sedari tadi, tidak tahu teronggok di mana pakaiannya. Bekas kecupan


    merah lipstik sudah menempel di beberapa bagian tubuh yang kasat mata.


    kalau kau yang menang kau boleh


    menciumku di semua bagian tubuhku, kalau aku yang menang aku akan menciumu di


    bagian manapun yang kusuka.


    Kenapa taruhannya jadi begini si!


    Rasanya ingin menangis. Ini sama sajakan. Dia malah senang sekali kalau aku


    yang menang! Lihat, gelak tawanya semakin terlihat puas gitu kalau aku yang


    menang.


    Mereka sudah  sepuluh kali


    tanding dalam permaian game, Daniah delapan kali menang dan dua kali kalah. Di


    lihat dari semua tanda kecupan bibir di tubuh Saga sepertinya hari ini


    laki-laki itu benar-benar menang banyak, walaupun dia kalah telak sampai


    delapan kali permainan. Selain memang tidak terlalu lihai bermain game, tapi


    sepertinya kekalahannya membawanya pada peruntungan. Hingga membuatnya sengaja


    mengalah beberapa kali, terlihat dari senyum jahatnya kalau Daniah protes


    sedari tadi.


    “ Sudah aku tidak mau main lagi.”


    Melemparkan hp ke ujung tempat tidur.


    Masak dari tadi aku menang terus


    si, sudah kalau aku yang menang dia yang dapat hadiah lagi.


    “ Kenapa? Inikan idemu main game.”


    Sudah melingkarkan kakinya memeluk tubuh Daniah karena gadis itu mau beranjak


    meninggalkan tempat tidur. “Kau mau kemana?”


    Ia si mauku memang begitu,


    mengerjaimu. Tapi kenapa aku jadinya yang dikerjai habis-habisan.


    “ Sayang lepaskan aku.” Daniah


    berontak mengoyangkan tubuhnya yang terhimpit kaki panjang Saga. Sia-sia


    kekuatannya kalah jauh. Suaminya sama sekali tidak mau melepaskannya. Semakin


    dilawan, Saga semakin keras menakan kakinya.


    “ Tidak mau, ayo main lagi. Bagian


    sini belum kena cium ni.” Saga menunjuk bagian tubuhnya yg belum ada tanda


    bibir Daniah.


    Aaaaaa, gila ya.


    “ Lihatkan, kamu sengaja kalah


    kan.” Memukul bahu Saga beberapa kali. “Curang itu namanya.”


    Baru kali ini ada yang sengaja


    kalah demi dapat hadiah.


    “ Mana ada begitu sudah mulai


    lagi.” Menarik ujung rambut Daniah. “Kalau kau berhenti kau di hukum lho, itu


    perjanjiannyakan.”


    Kenapa ada orang seenaknya begini


    si, main game saja gak mau ngalahnya.


    Akhirnya kesepakatan di ulang,


    selain kecupan Daniah boleh melakukan apapun sesuai yang dia inginkan kalau dia


    menang.


    “ Terserah, lakukan sesukamu.”


    Katanya mengalah saat protes kembali datang. “ Memang kau mau melakukan apa


    heh? Awas ya kalau aneh-aneh.” Daniah hanya membalas senyum imut sambil


    mengedipkan mata dan menjentikan jarinya ke dagu suaminya.


    Saga mengoleskan lagi lipstik ke


    bibir istrinya. Sambil tergelak lebar penuh kemenagan. Hari ini dia


    pemenangnya, walaupun kalah sekalipun. Dan akhirnya  selain sekujur tubuhnya penuh tanda bibir


    tanpa tersisa ruang lagi,  tapi kali ini rambutnya


    juga sudah penuh dengan kucir-kucir kecil yang di buat Daniah. Berbarengan


    dengan hujan tanda lipstik di tubuhnya.


    “ Haha.” Daniah tertawa sampai


    terguncang bahunya kuat. Bagaimana tidak, tuan Saga yang rupawan sekaligus


    terkadang menakutkan itu bisa terlihat begitu mengemaskan dengan kucir-kucir


    kecil di rambutnya.


    “ Kau benar-benar mau mati ya.”


    “ Sayang, kamu jadi imut begini.” Memukul


    bahu Saga lagi sambil tergelak lebar.


    “ Kurang ajar sekali kamu ya.


    Baiklah karena tertawa senangmu itu mengemaskan lakukan saja sesukamu.” Gantian


    menghujani Daniah dengan ciuman bertubi-tubi sampai baju tidur yang dipakai


    istrinya sudah tidak berwujud lagi.


    “ Ampun, ampun.  Ampuni hamba yang mulia.” Saga tidak


    mengentikan apa yang dilakukannya sampai Daniah tersungkur pasrah dan tidak


    lagi mengunakan tangannya untuk menolak. Membiarkan Saga melakukan apapun yang


    ia inginkan. Kalau tanda liptik dari bibir Daniah di tubuh Saga mungkin akan


    tersapu air dan hilang dalam sekejap. Tapi sepertinya tidak dengan tanda merah


    yang di tinggalkan Saga di tubuh Daniah.


    Siang menjelang sore Daniah


    terlelap dalam dekapan lembut dada suaminya.


    “Sayang ayo foto sebentar buat


    kenang-kenangan.” Menarik Saga jatuh lagi ke tempat tidur. Laki-laki itu sudah


    mau bangun dan membereskan rambutnya. “Jangan di lepas dulu, kita foto dulu.”


    Mencegah tangan yang sudah menarik satu ikat rambut.


    “ Wahh. Kau benar-benar semakin


    kurang ajar ya. Minta yang aneh-aneh.” Tapi dia tetap berpose menyenangkan


    istrinya. Cekrik-cekrik banyak sekali Daniah mengambil foto. Bertepatan dengan


    mereka mengambil foto, hp yang dipakai Daniah berdering keras. “Sayang, Jen


    vidio call, aku angkat ya.”


    “ Hemm” Beranjak dari tempat tidur.


    “ Eh mau kemana?”


    “ Merapikan rambut, kau mau melihat


    mereka pingsan gara-gara tatanan rambut anehmu ini.”


    “ Haha, ia sayang. Aku tunggu di


    sini ya” Daniah menarik selimut sampai menutupi bagian atas tubuhnya. Lalu


    mengeser layar hpnya. Di dalam layar Jen dan Sofi sudah senggol-senggolan ingin


    berada yang paling depan dan menyapa duluan.


    “ Kakak ipar!” Teriak mereka


    bersamaan.


    Mengalirlah cerita dramatis mereka


    berdua selama ditinggal bulan madu. Cerita menyerahnya Jen mengejar Raksa


    karena terpikat pesona keren pacar Raksa. Hubungan kakak adik diantara mereka


    terbilang lancar sentosa. Walaupun hati Jen belum sepenuhnya merelakan. Sofi


    mengadu tentang dia disumpahi berjodoh dengan sekertaris Han.


    “ Apa yang kalian lakukan?” Saga


    sudah muncul dengan sisiran rambut dan pakaian rapi. Duduk di samping Daniah


    sambil melingkarkan tangan memeluk dan menyandarkan dagu di bahu istrinya.


    “ Kak Saga terlihat makin tampan


    lho, apa karena kakak ipar ya?” Jen mengoda saat melihat kakak laki-laki


    tersayangnya.


    “ Kak Jen, kenapa leher kak Saga


    merah-merah?” Sofi dengan polosnya menunjuk leher Saga, beberapa tanda lipstik


    memang tidak tertutup sempurna. Daniah yang panik.


    “ Haha, sofi tadi kami main


    coret-coretan.” Daniah tertawa sambil berusaha menutupi leher Saga dengan menarik kerah bajunya ke atas.


    “ Kalian belum cukup umur untuk


    tahu.” Jawaban acuh Saga dibalas keributan dua adiknya. “ Apa ibu sudah


    kembali?” tanya Saga lagi.


    “ Besok kak sepertinya, kami sudah


    boleh pulang kerumahkan kalau ibu sudah pulang?”


    “ Han akan mengurusnya besok.”


    “ Baiklah, kakak kapan pulang.” Masih ribut sambil membahas tentang leher kakak tersayang mereka. Sofi terlihat berbisik lagi di telinga Jen.


    “ Kapan ya? Aku senang di sini.” Mencium


    rambut Daniah di depan Jen dan Sofi, mencipta kehebohan mereka berdua. Daniah


    sampai geleng kepala dan menahan bibir Saga untuk melakukan lebih dari itu


    dengan tangannya.


    “ Kakak ipar nanti pulang sudah bawa kabar


    tentang keponakan kami ya." Cekikikan lagi dua bersaudara itu.


    Hah! Mulai lagi deh.


    “ Kenapa kalian hanya di kamar tidak main di luar.” Sofi bicara lagi, pertanyaan sederhananya yang tidak pada tempatnya, mencipta gelak tawa.


    “ Hei, kalian belum cukup umur untuk sok tahu. Sudah, tutup.


    Meladeni mereka tidak akan selesai.”


    “ Sayang, kan baru sebentar.” Daniah menoleh lalu


    terperanjak kaget saat tahu tangan suaminya sudah menyentuh bagian tubuhnya


    di bawah selimut. Dia berbisik “ Tutup sekarang atau.”


    “ Ia, ia. Turunkan tanganmu sayang.”


    Aaaaa, selimut ini jatuh nanti!


    Setelah sambungan telfon terputus. Daniah memukul tangan Saga


    yang kelewat usilnya. Lalu ambruk lagi di tempat tidur. Mengekspresikan perasaan melalui setiap gerakan tubuh mereka.


    “ Sayang, kamu tahukan sebentar lagi aku ulang tahun.” Hanya saling mempererat pelukan.


    “ Hemmm.”


    “ Apa aku boleh minta sesuatu.”


    “ Katakan apa yang kau mau, Han akan menyiapkan semuanya.


    Kau mau pesta?”


    “ Bukan. Sekertaris Han tidak bisa menyiapkannya, cuma kamu


    yang bisa memberiku ini.” Ada rona muncul di wajah Saga. Kenapa kata-kata


    Daniah terdengar dia menjadi seseorang yang spesial.


    “ Kau mau minta apa? separuh dari kekayaanku.” Menciumi


    kepala Daniah dan sudah asik bermain-main dengan rambut.


    “ lebih dari itu.”


    “ Haha, tidak tahu malu sekali kamu ya.”


    “ Bolehkan, janji ya, sayang, kamu akan mengabulkan apa yang


    aku minta.”


    Saga memutar posisi tidurannya, Daniah sudah ada di bawah


    dadanya, dan kaki laki-laki itu sudah seperti menindih tubuh kecil Daniah. Tapi


    Saga masih bertumpu pada berat tubuhnya sendiri.


    “ Niah.” Meraih bibir Daniah dan menciumnya. “Kalau


    permintaanmu hanya omong kosong tentang kebebasan, pergi keluar rumah sendiri


    tanpa pengamanan kau tahu apa yang akan kau dapatkankan.” Mencium lagi dengan durasi yang lebih lama.


    Ia, aku tahu, kau pasti mungkin bahkan tidak akan


    mengijinkanku keluar rumah.


    “ Tidak, aku tidak akan minta itu.”


    “ Baiklah, kau bisa minta sekarang.”


    “ Tidak, aku akan minta nanti dihari ulang tahunku, tapi


    sekarang berjanjilah kau mau mengabulkannya.”


    Bodoh! Memang apa yang tidak akan kuberikan untukmu.


    Kembali meraih bibir Daniah dengan lembut. Dan berhenti bicara dengan mulut tapi tidak dengan anggota tubuh mereka.


    Bersambung
『Add To Library for easy reading』
Popular recommendations
Super Gene Shadow Slave Cultivation Online Mecha Breaks the World Nine Star Hegemon Body Arts I Can Copy Talents