21Novel

Font: Big Medium Small
Dark Eye-protection
21Novel > Terpaksa Menikahi Tuan Muda > Chapter 24 Alasan meluruskan rambut

Chapter 24 Alasan meluruskan rambut

    Daniah menatap dirinya di balik


    cermin kamar mandi. Ia bisa gila sendiri melihat rambutnya yang sekarang. Ini


    bukan dirinya. Ya walaupun memang terlihat lebih rapi, lebih cantik. Cih,


    cantik. Ya Daniah tahu satu kata itu tidak tidak akan pernah mewakili dirinya. Tapi memang dia


    terlihat lebih baik dengan gaya rambut seperti ini.


    Kenapa aku tidak pernah mencoba


    meluruskan rambut ku ya. Ya, omongan ibu tiri ku yang mengatakan rambut ku


    menjijikan seperti milik ibu malah membuat ku ingin menyiksanya dengan


    melihatnya setiap hari. Kekanakan sekali. Biarkan saja. Sekarang wanita itu


    pasti sangat senang karena tidak melihat rambut ku inikan. Apa tuan Saga akan


    menyukainya ya kalo melihat. Haha, memang apa perduli ku kalau sigila itu suka


    atau tidak.


    Daniah keluar dari kamar. Memeriksa


    hp. Kenapa sekertaris Han tidak mengirimkan pesan apa-apa ya. Apa tuan Saga


    tidak pulang untuk makan malam. Daniah menuruni tangga. Dia berpapasan dengan


    pelayan yang sedang mengatur meja makan. Pelayan itu terlihat terkejut, lalu


    menundukan kepala sopan pada Daniah.


    Ya, kau pasti melihat aneh rambut ku ya.


    Daniah mencari di mana kepala pelayan.


    Ternyata dia sedang di dapur memberikan beberapa instruksi kepada para pelayan


    yang lain.


    “ Permisi pak Mun.”


    Dia langsung berjalan mendekati Daniah. “ Ada yang bisa saya bantu nona?”


    “ Tidak ada apa-apa pak. Saya hanya mau bertanya, apa tuan Saga tidak kembali ke rumah untuk makan malam.”


    “ Tuan muda tidak makan malam di rumah malam ini, karena ada pekerjaan.”


    “ Begitu ya, kapan dia akan pulang.” Tanya Daniah lagi memastikan.


    “ Saya belum mendapat informasi pastinya nona. Biasanya tengah malam, nanti saya akan bangunkan nona jika tuan muda kembali.”


    “ Hehe ia pak. Hidup pak Mun berat sekali juga ya sepertinya. Ayo kita toss.” Daniah mengantung tangannya di


    udara. Di hadapan Pak Mun, laki-laki itu terdiam dan hanya memandang binggung. “Toss. Begini.” Daniah memperagakaan. Pak Mun walaupun canggung mengikuti. “ Semoga hidup kita lebih baik kedepanya.” Pak Mun mengangukan kepalanya, walaupun


    masih tidak mengerti apa yang dimaksud Daniah.


    Jadi Pak Mun itu kapan tidur dan


    istirahatnya ya. Kira-kira berapa ya gajinya.


    “ Wahhh, wahhhh siapa ini?”


    Daniah melengos saat dia sudah


    sampai di meja makan. Dia sudah merasa kelelahan hari ini, tidak mau berdebat


    lagi. Memang bertengkar sudah seperti minum obat apa, rutin. Tapi ntah kenapa,


    kalau Daniah diam dan tidak memperdulikan malah kedua adik iparnya ini seperti semakin


    terangsang dan terpancing untuk membuat api berkobar.


    “ Kau meluruskan rambut mu?”


    “ Haha, supaya apa? Supaya terlihat seperti kakak difoto yang ditunjukan Clarissa tadi pagi.”


    Sial! Kenapa memang momenya pas begini. Daniah geram sendiri.


    Ini perintah kakak gila mu!


    kenapa waktunya pas begini. Aku bicara apapun hanya terdengar sebagai dalil


    mengelikan. Malah aku yang akan malu. Jadi baiklah, sebaiknya aku mengalah dan


    diam saja.


    Oh, apa kalau Daniah diam saja


    masalah selesai. Tentu tidak wahai penduduk bumi. Mulut berbisa dua adik ipar


    malah semakin menjadi-jadi. Daniah sudah tidak tahan. Telinganya perih. Apalagi


    saat melihat ibu mertuanya yang malah tersenyum senang melihatnya terhina


    seperti itu.


    Brak! Daniah mengebrak meja makan.


    Meletakan sendok. Dia siap menyerang balik setiap ucapan yang dikeluarkan dari


    bibir cantik kedua adik iparnya. Dan pertengkaran pun terjadi. Semua orang


    bicara dengan suara keras. Daniah mendelik tajam pada ibu mertuanya yang kenapa


    hanya menonton dan menikmati pertunjukan.


    “ Terimakasih makan malamnya hari ini Pak Mun.” Daniah menoleh pada Pak Mun yang berdiri tidak jauh dari meja makan. Posisinya saat semua penghuni rumah ini makan.


    “ Anda bahkan belum makan malam nona, kembalilah ke meja anda. Anda harus makan kan?”


    “ Saya sudah tidak berselera.”


    Daniah meninggalkan ruang makan.


    Berjalan tidak tahu kemana langkah kakinya melangkah. Dia sendiri belum sempat


    berkeliling rumah ini. Tapi dia tetap membawa kakinya melangkah, toh dia tidak


    mungkin kesasarkan. Penjaga rumah ini saja ada di setiap sudut rumah. Kalau dia


    kesasar diakan bisa bertanya juga.


    BERSAMBUNG.....................
『Add To Library for easy reading』
Popular recommendations
Super Gene Shadow Slave Cultivation Online Mecha Breaks the World Nine Star Hegemon Body Arts I Can Copy Talents