21Novel

Font: Big Medium Small
Dark Eye-protection
21Novel > Terpaksa Menikahi Tuan Muda > Chapter 67 3 wanita penghuni rumah

Chapter 67 3 wanita penghuni rumah

    Kenapa si dua orang ini bertingkah


    seperti bukan mereka yang biasanya. Tuan Saga bahkan tersenyum dan melambaikan


    tangan. Membuatku merinding saja. Dan lihat itu, bedebah itu sama sekali tidak


    merasa bersalah padaku. Dia bahkan juga terlihat sama senangnya dengan


    majikannya.


    Daniah masuk kembali ke dalam rumah


    setelah mengantar kepergian Saga. Berdialog sebentar dengan hatinya di luar


    rumah. Baru saja masuk melewati pintu dia sudah disambut oleh  tiga wanita penghuni rumah. Dua adik ipar


    berdiri di samping ibunya. Menunggu tanpa mempersiapkan kesabaran. Terlihat dari


    raut wajah mereka.


    “ Kakak ipar, bisa kita bicara.”


    Jenika mewakili mereka bertiga.


    “ Saya mau berangkat bekerja Jen.”


    Tersenyum. Biar cepat urusannya.


    Kenapa lagi si mereka bertiga, tidak ada habisnya.


    “ Ibu mau bicara.” ibu bicara


    singkat, lalu dia berjalan menuju ruang keluarga, mau tidak mau Daniah


    mengikuti. Lalu dibelakang Daniah menyusul dua adik ipar yang berjalan saling


    mendorong.


    Sudahlah Daniah, ikuti saja mau mereka. Biar semua cepat selesai.


    “ Bagaimana ini, kita harus minta


    maafkan.” Sofia mendorong tubuh Jenika dengan lengannya. Masih berjalan


    mengekor ibu dan Daniah. “ Kitakan sering kurang ajar sama kakak ipar.”


    “ Sofi diam, kitakan sedang mencari


    tahu kebenaran. Sikap kita akan ditentukan dari jawaban kakak ipar nanti.”


    Jenika menghardik supaya Sofia menutup mulutnya.


    Ibu sudah duduk, Daniah juga


    demikian. Sementara Jenika dan Sofia memilih berdiri tidak jauh dari mereka.


    Tetap bisa mendengar pembicaraan ibu dan Daniah, tapi tidak mau terlibat


    langsung dengan kejadian apapun yang bakal berlangsung. Mencari aman.


    “ Ada apa bu?” Daniah membuka


    pembicaraan setelah ibu hanya memandangnya. Sepertinya ibu sedang menganalisis


    dan mengamatinya.


    “ Bagaimana hubunganmu dengan Saga?”


    Kenapa ini? Apa ibu menyadari tanda


    merah di leherku. Sial! Sudah pasti dia menyadari perubahan tingkah anaknyakan.


    Apalagi tadi tuan Saga bahkan mengandengku, dan mengusap saos di bibirku.


    “ Apa maksud ibu apa saya melayani


    tuan Saga dengan baik. Ibu tidak usah risau saya tahu kewajiban saya pada tuan


    Saga. Saya menjalankan kewajiban saya pada tuan Saga sebagai istrinya dengan


    baik.”


    Yang dimaksud melayaninya dari dia


    bangun tidur, menyiapkan air untuknya mandi, membantunya memakai sepatu sampai


    melayaninya makan. Itukan maksudnya.


    “ Apa kamu bermimpi bisa


    mengantikan posisi Helena? Sampai hari ini kamu tahukan, bahwa aku tidak


    mengakuimu sebagai menantuku.” Akhirnya kata-kata ibu yang ingin ia lontarkan


    pada Daniah saat pertama kali masuk ke rumah ini keluar juga. Selama ini dia


    menahannya, karena berfikir umur pernikahan anaknya dengan gadis kampungan


    bernama Daniah tidak akan seumur jagung. Tapi, setelah hari ini sepertinya


    diamnya selama ini adalah kesalahan.


    Lelahnya. Kenapa ibu mencercaku si. Katakan itu pada tuan Saga. Dia rajanya, yang menentukan hidup dan keluarnya aku dari rumah ini.


    “ Saya tahu bu, saya juga tidak


    mengharapkan kasih sayang ibu. Saya tahu ibu tidak menyukai saya. Jadi


    berjuanglah bu.”


    “ Apa!” Ibu mertua belum menangkap


    pembicaraan Daniah, tapi sepertinya dia kesal dengan jawaban Daniah.


    “ Berjuanglah untuk menyatukan


    kembali Helen dan tuan Saga.” Daniah menjawab yakin. Sambil menatap wajah ibu.


    “ Apa? Jadi kakak ipar tidak


    mencintai kak Saga.” Jenika mendekat, duduk di sebelah ibunya. Tidak percaya


    mendengar ucapan Daniah barusan. “ kakak ipar tidak menyukai kakakku?”


    Mereka kenapa si, apa mereka tidak


    tahu alasanku menikah dengan tuan Saga. Aku ini hanyalah alat untuk menebus hutang perusahaan ayahku. apa kalian tidak tahu?


    “ Tunggu!” jenika berdiri,


    meringsek, mendekati Daniah. Menyentuh lengan baju gadis itu. Daniah terkejut


    dan refleks menepis tangan adik iparnya.


    “ Apa yang kamu lakukan Jen?”


    Daniah tersungkur duduk di sofa, Jenika menunduk di depannya. Tangannya sudah


    menempel di leher, matanya memeriksa dengan teliti.


    “ Tanda merah di leher kakak ipar ini apa? Ini ciuman dari kak Sagakan?”


    Apa-apaan si mereka. Kenapa kakak beradik ini, apa mereka sama-sama maniak. suka sekali mengerayangi tubuh orang lain.


    Terkejut sekaligus malu, bagaimana Jenika bisa menanyakan hal seperti ini langsung tanpa malu sedikitpun.


    “ Kalian ini kenapa? Lepaskan aku Jen.  Aku mau berangkat bekerja.”


    “ Kakak ipar tunggu. Sofi bantu aku


    pegang kakak ipar.” Jenika berteriak pada adiknya untuk mendekat. Dia sudah


    menahan bahu Daniah. Sofia datang memberi bantuan, memegang tangannya. Ibu diam


    menonton ulah anaknya.


    “ Hei apa yang kalian lakukan,


    lepaskan aku Jen!” Daniah berteriak marah. Tapi dua lawan satu. Dan postur


    tubuh Jenika yang setinggi Saga membuatnya kalah tenaga. Dia terpojok terduduk


    di sofa. Jenika memeriksa leher dan sudah mau menarik baju depan Daniah.


    “ Jen lepaskan aku!” Berteriak.


    Apa yang kalian mau lakukan hah! Menelanjangiku!


    Daniah bersyukur bisa selamat karena mendengar langkah kaki mendekat.


    “ Nona Jenika, nona Sofia, apa yang sedang anda lakukan?”


    Jenika langsung membeku mendengar


    suara pak Mun yang dingin. Habislah aku pikir Jenika. Pak Mun berdiri


    memandang dengan sorot mata tidak suka. Daniah segera bangun ketika Jenika


    menyingkir. Dia merapikan pakaiannya.


    “ Pak Mun, kami hanya ingin bicara dengan kakak ipar.” Jenika sudah kembali normal.


    “ Minggir!” Daniah menepis tangan Jenika. Sofia sudah sedari tadi mundur. “ Kamu kenapa si?”


    “ Kakak ipar tolong katakan pada


    Mun aku hanya main-main, aku hanya ingin lihat tanda kecupan di leher kakak


    ipar.”


    Wajah Daniah langsung merona malu.


    “ Tolong katakan padanya aku tidak


    menyiksa kakak ipar. Kumohon.” Seperti tak tahu malu Jenika memeluk Daniah.


    Daniah berontak melepaskan pelukan tubuh Jenika. “ Habislah hidupku kakak ipar,


    kumohon katakan pada pak Mun kalau kita cuma sedang bercanda tadi.” Jenika


    bicara menghiba ditelinga Daniah. Wajahnya sudah hampir menangis putus asa.


    “ Baiklah lepaskan aku dulu.”


    Jenika melepaskan pelukannya.


    Daniah lalu meninggalkan mereka dan meminta pak Mun mengikuti. Walaupun tidak


    paham kenapa sampai Jenika memohon begitu tapi sesampainya di dapur dia meminta


    pak Mun jangan menceritakan peristiwa pagi ini pada tuan Saga.


    Kenapa keluarga ini semua orangnya


    tidak waras si. Hiii, Jenika lagi. Membuatku merinding semua. Ia, ia ini bekas


    kecupan kakak tersayang kalian. Lantas anehnya di mana. Seperti dia baru pertama


    kali  dia tidur dengan perempuan saja.


    Daniah menaiki tangga bersiap untuk


    pergi bekerja.


    Sementara di ruang keluarga.


    “ Habislah kita kak, pak Mun pasti


    mengadu pada kak Saga. Lagian kenapa kamu mau mencekik kakak ipar tadi.” Sofia bukannya menenangkan malah hanya memperkeruh suasana.


    “ Siapa yang mau mencengkik kakak


    ipar, memang aku sudah gila. Aku hanya ingin memeriksa tubuhnya. Lehernya


    jelas-jelas dipenuhi tanda kecupankan.” Jenika ikut nyolot karena disalahkan.


    “ Tapi mungkinkan hanya sampai disitu.” Sofia membuat hipotesanya lagi.


    “ Apa?”


    “ Ya sekedar kecupan di leher saja.” jawabnya yakin.


    “ Tidak mungkinkan!” Jenika kesal


    sendiri. “ Memang kamu gak pernah dengar cerita kak Helen, kalau hubungan dia


    dan kak Saga sejauh ini baru sampai batas ciumam di bibir.”


    Ibu yang sedari tadi diam mendesah.


    “ Panggil Helen kemari.” katanya kesal. ibu tahu dia sudah kalah, tapi tentu tidak mau menyerah. dia ingin punya menantu yang berkelas yang bisa dia pamerkan di pergaulan sosialita.


    “ Bu, kalau kak Saga memang sudah


    tidur dengan kakak ipar sebaiknya ibu menyerah saja.” Jenika berusaha menyakinkan fakta penting itu.


    “ Panggil Helen kemari!” ibu


    mengulangi kata-katanya lagi dengan intonasi lebih keras. “ Mana mungkin ibu


    menyerah dan membiarkan menantu yang tidak selevel itu hidup dengan Saga dan


    melahirkan penerus keluarga ini.”


    “ Tapi ibu tahu sendirikan, kalau


    kakak belum pernah tidur dengan perempuan manapun. Dan kalau memang benar dia


    tidur dengan kakak ipar itu artinya apa?”


    “ Itu artinya mulailah bersikap


    baik dengan nona muda dari sekarang.” Pak Mun muncul seperti hantu mengagetkan


    semua orang. Wajah Jenika pias. Pak Mun mengangukan kepalanya, menunduk hormat. pada ketiga wanita penghuni rumah.


    “ Saya permisi mau mengantar nona Daniah bekerja.”


    Wajah mereka bertiga pias, sejauh apa kepala pelayan itu mendengar pembicaraan mereka.


    BERSAMBUNG
『Add To Library for easy reading』
Popular recommendations
Super Gene Shadow Slave Cultivation Online Mecha Breaks the World Nine Star Hegemon Body Arts I Can Copy Talents