21Novel

Font: Big Medium Small
Dark Eye-protection
21Novel > Terpaksa Menikahi Tuan Muda > Chapter 75 Celemek

Chapter 75 Celemek

    Pesta telah dimulai.


    Tamu dari keluarga besar sudah


    mulai berdatangan, bergerombol dan membentuk kelompok masing-masing. Bicara memamerkan


    apa yang mereka punya.


    “ Kak Niah, duduklah, kenapa malah


    kak Niah yang sibuk si.” Raksa menarik lengan kakak perempuannya. Hilir mudik


    orang-orang menikmati makanan. Mereka sedang menikmati hidangan pembuka dan


    camilan. Tenaga tiga orang pelayan perempuan dan dua pelayan laki-laki tidak


    akan cukup menangani ini. Jadi Daniah sudah memakai celemek dan ikut membantu


    mempersiapkan makanan. Untuk makanan utama sendiri sudah terhidang secara prasmanan,


    bukan hasil masakan bibi pelayan rumah tentunya. Bisa pingsan mereka kalau


    harus mempersiapkan menu makan malam utama.


    “ Sudah sana pergilah, temani


    ayah.” Daniah mendorong tubuh Raksa. Bagaimanapun dia anak laki-laki yang akan


    menjadi wajah keluarga ini. Apalagi di rumah ini garis keturunan laki-laki


    sangat diagungkan. Daniah yang hanya anak dari ibu yang sudah meninggal sudah


    pasti hanya dipandang sebelah mata. Karena tamu yang datangpun tidak ada yang


    berasal dari kerabat ibunya. Keluarga ini sudah lama terputus hubungan dengan


    keluarga ibunya. Hanya Daniah yang masih sering berkunjung ke kampung halaman


    ibunya.


    “ Nona, kenapa di dapur?” Bibi pengurus


    rumah yang muncul dari dalam sudah mengambil pisau ditangan Daniah.


    “ Sudah jangan perdulikan aku. Mana


    buah yang harus dipotong, biar aku yang kerjakan. Bibi yang lain saja.” Daniah


    memotong buah kecil-kecil lalu measukannya dalam wadah. Menambahkan sirup dan


    susu. Setelah itu memasukan batu es. Selesai. Dia meminta pelayan membawakannya


    ke depan.


    “ Ternyata kamu bersembunyi di


    dapur ya?” Risya muncul dengan bala tentaranya. Daniah mendengus. Sudahlah, aku


    sudah menghadapi dua adik ipar yang bahkan jauh lebih julid darimu. Kata-katamu


    tidak akan mempan padaku. Begitu kira-kira yang dikatakan Daniah. Mengacuhkan


    adik tiri dan sepupu di belakangnya.


    “ pergilah jangan mengganguku!”


    Daniah mengacungkan pisau yang habis dia pakai memotong buah di tangannya.


    Pisau berlumuran warna merah terkena daging buah naga. Risya dan dua sepupunya


    memandang pisau itu ngeri.


    “ Ada apa denganmu. Mereka hanya


    ingin menyapamu, nyonya Antarna Group. Haha.” Yang lain ikut tertawa. Daniah


    menarik nafas dalam. Kesal sekaligus tidak bisa melakukan apapun.


    Ketidakhadiran Tuan Saga hari ini memang menunjukan bagaimana statusnya. Dia


    tidak lebih seperti istri yang diabaikan. Jadi kalau Risya menyinggung itu, dia


    memang tidak punya bantahan untuk mematahkannya. Setelah bicara macam-macam


    ketiga orang itu akhirnya pergi. Huhh! Ternyata berbeda dengan adik ipar yang


    akan terus mengoceh walaupun diacuhkan, ternyata mental kalian masih sangat


    lemah ya. Daniah tertawa menghibur dirinya sendiri.


    Acara ulang tahun ayah dimulai. Dia


    maju kedepan dan memberikan sambutan kata pembuka membangakan keberhasilannya


    dan perusahaan. Dia menarik tangan putra kesayangannya. Penerus keluarga dengan  senyum bangga. Dia juga menyebut nama Daniah.


    Semua orang diam, mencari-cari sosok yang di sebutkan oleh Gunawan, wajah


    mereka penuh tanda tanya,  sedangkan


    wajah ibu tiri  terlihat tidak senang.


    Apalagi saat suaminya tidak menyebut nama Risya untuk membanggakan


    keberhasilannya menembus dunia entertrainer.


    Daniah yang sedang merapikan meja


    terdiam, melihat wajah orang-orang, lalu matanya bersitatap dengan Ayahnya.


    “ Kemarilah!” Ayah mengulurkan tangannya.


    Karena terkejut Daniah hanya terdiam, dan memandang semua orang. Merasa tidak


    percaya, kalau benar-benar namanya yang baru di sebutkan ayahnya.  “ Karena Daniah kita bisa melewati banyak hal


    yang sulit, terimakasih untuk semuanya Daniah.”


    Eh kenapa ini, kenapa ayah bisa


    aneh begini. Menurut Raksa ayah memang sedikit berubah, tapi kalau seperti ini


    bukannya sedikit ini mah sudah 180 derajat. Dia bahkan menunjukannya di depan


    orang lain. Di depan keluarga besar dan ibu. Kupikir dia hanya akan


    melakukannya kalau kami hanya berdua. Ayah.... apa aku memang harus mulai


    membuka hati dan memaafkanmu.


    Semua orang bertepuk tangan dan mengucapkan


    selamat. Daniah mendekat ke samping Ayahnya, laki-laki itu mengusap kepalanya


    lembut.


    “ Terimakasih untuk semuanya.”


    “ Ayah.” Daniah menjawab lirih, dia


    masih belum bisa memahami, kenapa sikap ayahnya berubah seperti ini. Apa ada


    yang salah dengan Ayah. Apa benar laki-laki dihadapannya benar-benar sudah


    berubah, apa dia merasa menyesal. Ntahlah, yang pasti dia menunjukan kasih


    sayangnya pada Daniah.


    Huh! Apa memang kesabaran


    benar-benar akan berbuah manis pada akhirnya.


    Daniah menatap orang-orang di


    sekelilingnya. Yang paling tidak suka dengan perlakuan ayah pada Daniah tentu


    saja ibu tiri, dia berwajah masam sepanjang acara.


    Makan malam berlangsung dengan


    baik. Semua orang dewasa mengambil makanan bergiliran lalu  berkumpul di meja makan, mengobrol, membahas


    hal remeh temeh. Sementara anak-anak duduk di karpet sambil menonton tv


    menikmati makanan mereka. Pelayan sibuk dengan pekerjaannya, keluar masuk,


    menyiapkan apa yang kurang. Daniah masih mondar mandir membantu. Dia membantu


    meladeni segerombolan anak-anak. Mereka ribut meminta ini dan itu. Main dorong-dorongan


    juga. Ada yang menangis, ibu mereka menghentikan makan dan melerai perkelahian


    antar anak-anak.


    “ Kak Niah, ayo duduk di meja


    makan.” Raksa sudah mau menarik lengan Daniah.


    “ Sudah sana, kak Niah gak papa.


    Lagi ngurusin ini bocah-bocah.” Tunjuknya pada anak-anak yang duduk di


    sampingnya. Dia mengusap kepala anak yang tertawa senang di sampingnya.


    “ Tidak, kakak harus makan


    jugakan.” Pembicaraan Raksa terhenti, saat terdengar keributan dari luar, semua


    orang menoleh. Seorang pelayaan laki-laki tergopoh-gopoh masuk. Memberi hormat


    sebentar. Menghadap Gunawan yang sedang berbincang dengan anggota keluarga


    lainnya.


    “ Maaf tuan, Tuan Saga.” Dia bukan hanya


    berkeringat karena berlari, tapi lebih pada keterkejutan. Melihat tamu yang


    datang terlambat, yang sedang ada di halaman depan.


    “ kenapa?” Ayah Daniah bangun dari


    tempat duduknya mendekat. “Ada apa dengan tuan Saga.” Sudah terdengar nada


    panik dari suaranya.


    “ Tuan Saga datang.”


    “ Apa!” Sudah seperti ada kilatan


    petir yang menyambar. Antara antusias dan wajah pucat. Apalagi anggota keluarga


    yang lain, yang tadi sudah memandang sebelah mata dan berkata nyinyir pada


    Daniah. Wajah ibu tiri juga terlihat sangat pias. Keributan tidak terelakan,


    semua bicara membuat hipotesanya masing-masing.


    “ Kak tuan Saga datang.” Raksa menarik


    lengan kakak perempuannya.


    “ Hei mana mungkin.” Belum


    menyelesaikan kalimatnya Ayah dan tuan Saga muncul beriringan, dan seperti


    biasa sekertaris Han megikuti dari belakang. Dengan pandangan datar dan tidak


    bergeming.


    “ Terimakasih anda sudah meluangkan


    waktu tuan.” Ayah Daniah bicara pelan di samping Saga. “ Saya mewakili keluarga


    sangat berterimakasih.


    Saga tidak mendengarkan, Ia


    mengedarkan pandangan mencari Daniah. Tertangkap, sosok gadis itu di antara


    kerumunan anak-anak.


    Apa itu yang dia pakai? Celemek. Kurang


    ajar! Apa kalian menjadikan istriku pelayan di sini.


    Saga mendekati Daniah, gadis itu


    masih ternganga tidak percaya kalau yang sedang berjalan mendekat itu


    benar-benar Saga. Tapi demi melihat siapa yang berdiri di belakangnya, dia


    yakin ini benar tuan Saga.


    “ Aku kemari hanya untuk melihat


    istriku.” Saga melingkarkan lengannya di bahu Daniah, lalu mencium pipi  kiri Daniah. Seisi ruangan ribut. Bahkan


    Daniahpun terlonjak.


    “ Sa, sayang.” Ada apa denganmu,


    kenapa kamu melemparkan nuklir mematikan sekarang. Apa yang ingin kamu tunjukan


    sekarang pada keluargaku. Kalau aku adalah istri yang dicintai. Terserahlah.


    Begitu pikir Daniah, karena ketika


    ekor matanya berkeliling, sepertinya sekarang keluarga besarnya ini melihatnya


    dengan cara yang berbeda. Takjub, bangga, juga menyesal.


    Kalian pasti menyesal karena


    mengacuhkankukan?


    “ Apa ini?” Saga menarik celemek


    yang dipakai Daniah. “ Kamu datang Cuma disuruh jadi pelayan disini.” Melirik


    semua orang, matanya berakhir pada ibu. Wanita itu sudah pucat. “ Apa kamu yang


    menyuruh istriku memakai ini!” Suasana yang tadinya adalah makan malam yang


    menyenangkan dan penuh tawa tiba-tiba berubah tegang.


    Saga membuka ikatan celemek


    di pinggang Daniah, lalu menariknya. Dia melemparkan benda itu kelantai. Tepat


    di hadapan ibu.


    “ Han, catat siapa saja yang sudah berani minta dilayani istriku.”


    Tunggu apa yang mau dilakukannya, apa dia mau balas dendam.


    “ Baik tuan muda,”


    Hei, sekertaris Han jangan asal


    menjawab perintah aneh begitu. Kemana otakmu? Mereka keluargaku tahu!


    “ Sayang.” Daniah melingkarkan


    tangan dipinggang Saga.


    Persetan! Lakukan hal memalukan untuk melunakan amarahnya dulu.


    Semua orang yang melihat terkejut,


    dengan panggilan Daniah pada Saga.  Mereka  semakin menciut ngeri. “ Saya hanya membantu anak-anak.” Kata Daniah pelan menunjuk anak-anak.


    Kenapa mereka


    tidak takut si, tapi malah sepertinya tersihir dengan pesona Tuan Saga. Hei,


    bocah-bocah. Sadarlah, kalian tidak boleh ngefans pada orang semacam dia.


    Kalian tidak boleh meniru tindakannya sekarang, walaupun dia keren dan sok hebat begini. hentikan tatapan terpesona kalian.


    “ Han, catat siapa nama orang tua


    mereka, beraninya menjadikan istriku pengasuh anak-anak.”


    “ Baik tuan muda.”


    Daniah menatap sekertaris Han geram


    sekaligus memohon, hentikan kegilaan majikanmu bukan menurutinya. Kumohon!


    “ Sayang bukan begitu. Saya sedang


    bermain bersama anak-anak. Karena mereka makannya belepotan makanya saya pakai


    celemek.”


    Komohon percayalah seperti


    biasanya. Komohon bodoh sekali ini saja.


    “ Sepertinya memang begitu tuan


    muda, keluarga nona Daniah kan tahu kalau nona Daniah adalah istri anda sekarang.


    Tidak mungkin mereka seberani itu untuk memperlakukan nona tidak baik. Anda


    tidak memanggil nona untuk menjadi pelayankan nyonya?” Han beralih melihat ibu,


    wajah ibu pias.


    “ Ti, tidak tuan. Saya tidak.” Dia


    terbata menjawab, tangannya gemetar.


    “ Sayang.”


    Aku tahu, kata-katamu mengandung


    ancaman mematikan sekertaris Han. Aku harus mengakhiri ini “ Apa anda mau makan


    sesuatu?”


    Saga tersenyum mendengar tawaran


    dari Daniah. Dia melihat orang-orang di sekelilingnya, mereka masih mematung.


    Menonton dengan perasaan campur aduk, cenderung takut. “Apa yang kalian lihat?


    Lanjutkan makan kalian.”


    “ Ba, baik tuan.” Kemudian mereka


    bubar, kembali kemeja makan. Yang tadi bersuara berisik dan bisik-bisik kini


    suasana menjadi mencekam. Mereka meneruskan makan, walaupun kini tidak terlalu berselera.


    Selamatkan aku sekertaris Han!


    Daniah memohon melalui sorot


    matanya.


    “ Tuan muda saya akan menyiapkan meja di ruangan lain.” Sekertaris Han si pembaca pikiran yang berguna dalam situasi mencekam.


    “ hemm.”


    Saga menarik tangan Daniah agar


    mengikutinya. Mereka duduk di ruang tamu yang lengang.


    “ Bodoh!” tunjuknya di kening


    Daniah.


    “ Apa?” lirih menjawab.


    “ Tundukan kepalamu hanya


    kepadaku!” menuding kening Daniah lagi. “ Pakai namaku untuk membungkam mulut


    mereka.”


    “ saya tidak apa-apa, merekan


    keluarga saya.” Getir menjawab, inilah kelemahan terbesar Daniah.


    “ keluarga. Haha.”


    Saga tertawa sendiri, benar


    keluarga. Itulah tali yang megikatmu denganku. Satu kecupan lembut di pipi


    Daniah, membuat Gadis itu terlonjak. Untung saja dia tidak mendorong tubuh


    Saga. Kalau dia melakukannya karena refleks, maka habislah dia.


    “ Kau senang aku datang?”


    “ Ia sayang.”


    Kali ini aku benar-benar senang


    melihatmu. Kamu datang sudah seperti dewa penolong untukku.


    “ Berterimakasihlah dengan benar.”


    Mengusap bibir Daniah dengan jemarinya, lalu melumat bibir itu. Dia menghentikan


    sebentar serangannya “ Bernafas bodoh!” Gelagapan Daniah menjawab. Serangan selanjutnya


    kembali dilancarkan.


    Diujung ruangan sekertaris Han


    memalingkan wajah.


    BERSAMBUNG..............
『Add To Library for easy reading』
Popular recommendations
Super Gene Shadow Slave Cultivation Online Mecha Breaks the World Nine Star Hegemon Body Arts I Can Copy Talents