21Novel

Font: Big Medium Small
Dark Eye-protection
21Novel > Terpaksa Menikahi Tuan Muda > Chapter 74 Daniah pulang Ke Rumah

Chapter 74 Daniah pulang Ke Rumah

    Sepertinya sudah lama ya, aku


    terakhir kali masuk kerumah ini. Ini untuk pertama kalinya aku pulang setelah


    menikah. Lucunya, aku bahkan butuh alasan dan acara khusus untuk hanya pulang


    kerumah orangtuaku.


    Daniah memasuki gerbang halaman


    rumah, mobilnya berhenti parkir di samping mobil  Risya. Daniah melihat seorang pelayan  membuka pintu utama lalu berdiri di dekat pintu


    dan selang tidak lama di belakangnya menyusul Raksa, Risya dan ibu. Daniah yang


    melihat wajah Ibu terlihat kecewa ketika melihatnya  muncul seorang diri. Daniah hanya menghela nafas pelan, melihat reaksi wajah mereka.


    “ Memang apa yang kita harapkan.” Ibu bicara pada Risya. Melihat kemunculan Daniah yang sendirian, tanpa suami, tamu kehormatan yang ditunggu.


    “ Tuan Saga tidak mungkin datang.” Anak perempuannya menimpali. " jelas-jelas dia istri yang diabaikan. dulu ataupun sekarang dia masih sama menyedihkan." Risya mencibir senang. Dia memang selalu senang kalau melihat Daniah terpuruk sedih ataupun kalah. Saat dia tahu Daniah menikah dengan Tuan Saga, dia merasa bagai dijungkir balikan masuk keperut bumi. kalah dari semua segi, tapi setelah tahu tidak mungkin Daniah mendapatkan cinta dari laki-laki seperti Tuan Saga. itu membuatnya sangat bahagia.


    “ Ibu kenapa mengatakan seperti


    itu. Sudah lama tidak bertemu Kak Niah, paling tidak jangan bicara yang tidak


    menyenangkan begitu.” Raksa menjadi pembela.


    “ Diam kamu bocah. Ibu, Daniah


    pasti tidak mendapatkan cinta dari tuan Saga. Sudahlah jangan berharap lebih.”


    Suara Risya keras sekali, jelas-jelas sengaja agar Daniah mendengarnya.


    “ Apa kalian tidak tahu malu.


    Perusahaan dan hidup kita bisa selamat karena pengorbanan Kak Niah.”  ibu dan Risya tidak perduli dengan apa yang


    diucapkan Raksa. Mereka berbalik masuk kedalam rumah tanpa semangat lagi untuk


    menyambut Daniah, Hanya Raksa dan seorang pelayan yang masih tertinggal. Raksa


    mendekat dan mengambil tas yang dipegang Daniah.


    “ Kak.”


    “ Sudahlah, kenapa kamu yang kecewa


    begitu. Aku tahu kok siapa yang mereka tunggu. Tuan Saga tidak akan datang.


    Lagipula alasan apa yang membuatnya sampai datang kerumah kita.” Daniah tetap


    memberikan senyum pada adiknya.


    “ Maaf ya kak.” Raksa merangkul


    bahu Daniah.


    “ Kenapa kamu yang minta maaf.  Bibi.” Daniah menyerahkan kunci mobilnya. “


    Ada beberapa barang di bagasi, tolong dikeluarkanya. Panggil yang lain untuk


    membantu.”


    “ Baik nona.” Bibi pengurus rumah


    mengangukan kepala.


    Setelahnya Raksa menarik lengan Daniah


    memasuki rumah. Bercerita tentang betapa irinya Risya dengan semua hadiah yang


    dibelikan Daniah.


    Di ruang keluarga, sudah duduk di


    sofa. Ibu, Risya, Daniah dan Raksa. Raksa diam karena Risya beberapa kali


    menghardiknya karena dia menyela pembicaraan. Karena tidak mau mendengar


    pertengkaran akhirnya Daniah menyentuh tangan adiknya. Dia mengelengkan kepala,


    tersenyum, sambil bicara pelan. “ Biarkan dia bicara semaunya. Masuklah ke kamar


    dulu sana.” Raksa mengeleng, dia tidak mau pergi. Jadi pada akhirnya dia


    memilih diam.


    “ Apa tuan Saga yang memberimu


    hadiah mobil?”


    “ Apa tuan Saga tidak bisa datang,


    bukankah ini ulang tahun mertuanya, kenapa dia tidak bisa menyempatkan  waktu sedikit saja.”


    “ Apa kamu  sudah merasa beruntung bisa tidur dengan tuan


    Saga, dan bisa bersikap sombong begitu.”


    “ Aku dengar dia tidur dengan


    banyak wanita setiap malam. Huh! Siapa juga yang tidak mau dengannya.”


    “ Apa yang kamu dapatkan saat


    menjadi istri tuan Saga.”


    Daniah mendengus mendengar


    pernyataan adik tirinya yang panjang. “ Apa kamu sudah selesai? Aku mau menemui


    ayah.”


    “ ibu lihat Daniah, dia benar-benar


    sudah kurang ajar sekali.” Merengek seperti bayi, mengadu. Padahal tanpa perlu


    mengadu ibu juga sudah menonton pertunjukannya.


    “ Sudahlah jangan menggangunya.”


    Ibu cukup tahu diri juga rupanya. Walaupun Daniah tidak mendapatkan kasih


    sayang Tuan Saga, tapi statusnya tetaplah istri sah.


    “ Ibu, apa sekarang ibu takut karena


    dia menikah dengan tuan Saga. Dia juga tidak mendapat kasih sayang suaminya bu,


    kalau memang suaminya perduli pasti tuan saga datang hari ini.” Masih mengoceh


    kemana-mana tidak mau mengalah. Daniah sudah mulai jengah.


    Saat itu masuklah bibi pelayan


    diikuti oleh sopir yang sudah lama bekerja dirumah ini dan seorang pelayan


    wanita lagi. Dirumah ini ada tiga pelayan wanita dan dua pelayaan laki-laki


    yang merangkap sopir. Mereka membawa barang-barang yang dibeli Daniah tadi.


    “ Nona dimana kami harus meletakan


    barang-barang ini?” tanya bibi pengurus rumah sambil meletakan boks kardus yang


    dia pegang.


    Daniah mendekat meninggalkan Risya


    yang masih mengoceh panjang.


    “ Bibi dua boks ini dibagi-bagi ya.


    Satu boks isinya makanan silahkan dinikmati bersama-sama. Kalau satunya hadiah,


    sudah saya pisahkan sesuai nama. Semoga cocok untuk kalian. Dan juga ini.”


    Daniah mengeluarkan amplop yang berjumlah lima buah. Menyerahkan ke tangan bibi


    pengurus rumah. Tangan bibi bergetar, matanya sudah berkaca-kaca.


    “ Nona, kenapa anda baik sekali.”


    Katanya pelan sambil menepuk tangan Daniah lembut.


    “ Bibi bicara apa. Aku yang berterima


    kasih, bibi dan semuanya sudah menjagaku selama ini dengan sangat baik.”


    Membalas dengan menepuk punggung bibi hangat, tersenyum pada sopir dan pelayan


    yang lainnya. Mengucapkan terimakasih tulus lewat sorot matanya.


    “ Terimakasih nona. Terimakasih


    untuk semuanya, semoga nona bahagia.”


    Ketiga orang itu menundukan kepala


    mereka hormat. Bibi masih menyeka ujung matanya. Lalu mereka masuk ke dapur


    meletakan beberapa barang yang Daniah beli untuk rumah ini.


    “ Cih, kamu bahkan memberi para


    pelayan hadiah, dan membelikan Raksa banyak hadiah mahal. Tapi sama sekali


    tidak ingat pada adikmu ini.” Ternyata wujud orang tidak tahu malu itu banyak


    sekali rupanya ya, salah satunya sedang berdiri di hadapan Daniah sekarang.


    “ Adik, maaf ya sepertinya kamu dan


    aku tidak terlalu akrab, sampai aku harus memberimu hadiah.”


    Wajah Risya memerah karena geram. Sementara Raksa yang sedari tadi diam tergelak mendengar ucapan Daniah. Risya melotot.


    Kalau dulu dia pasti sudah maju menjambak Daniah atau memukulnya. Kenapa dia


    bisa seberani itu, karena di belakangnya berdiri pembela yang selalu membiarkan


    apa yang dia lakukan.


    “ Baiklah kamu memang kurang ajar


    ya. Tidak memberiku hadiah tidak masalah, tapi sampai tidak memberi ibu hadiah


    sepertinya kamu sudah sangat keterlaluan.” Menemukan kata tepat untuk


    menjatuhkan Daniah.


    “ Kak jangan keterlaluan!” Raksa


    menjawab kesal.


    “ Diam Raksa, jangan ikut-ikut ya.


    Kamu sudah di sogok hadial mahal sama diakan.” Raksa memandang jengah pada


    Risya dan ibunya yang hanya diam.


    Daniah menoleh pada ibu tirinya.


    Senyum tipis muncul di bibirnya.


    “ Ibu, bukankah aku sudah


    memberikan hadiah yang sangat dia inginkan.” Wajah ibu terlihat bingung, karena


    tidak merasa pernah mendapatkan hadiah berharga apapun dari anak tirinya ini.


    “ Apa?” Risya menantang.


    “ Bukankah keluarnya aku dari rumah


    ini itu adalah hadiah terindah yang bisa kuberikan pada ibu.” Daniah


    membungkukan kepalanya. Senyum samar penuh kemenangan muncul dibibirnya. “Saya


    mau menemui ayah. Permisi.”


    “ Ibu!” Risya berteriak marah. “


    Dia kurang ajar sekali bu, mentang-mentah menikah dengan tuan Saga.”


    Daniah menuju ruang kerja ayahnya, dia


    bernafas lega dan puas sekali meninggalkan ruang keluarga. Walaupun sedikit


    bergetar karena rasa percaya dirinya yang berlebihan. Sampai di depan pintu dia


    membisu.


    Sepertinya aku terlalu berani tidak


    ya? Kalau aku di tendang dari rumah tuan Saga dan harus kembali kerumah ini,


    aku pasti akan dikuliti habis, dan dijadikan pajangan di dinding atau dipakai


    mengepel lantai oleh Risya. Ahh, terserahlah. Yang penting aku puas sekarang.


    Daniah mengetuk pintu, setelah


    mendengar sahutan dari dalam Daniah membuka pintu dan masuk. Berdiri diam


    melihat ayahnya yang sudah duduk di sofa.


    “ Duduklah!” Ayah menunjuk sofa di


    depannya, Daniah menurut tanpa bicara sepatah katapun. “Bagaimana dirumah tuan


    Saga? Apa semua berjalan dengan baik?” Dia mulai bertanya setelah Daniah duduk.


    Apa yang mau ayah ketahui. Kabarku


    atau apa dia mengatakan untuk tidak melakukan kesalahan dirumah tuan saga.


    “ Jangan kuatir, saya melukan


    semuanya sesuai dengan rencana ayah.”


    Aku hanya ingin sedikit saja


    mengingatkanmu, kalau aku jadi seperti ini karenamu. Daniah meringis. Ketika


    mendapati kenyataan, kalau semuanya sebenarnya bukanlah salah ayahnya. Tuan


    Saga memilihnya, karena dirinya, bukan karena ayah yang menjualnya.


    Karena wajahku dan rambutku maka


    akulah yang terpilih.


    Daniah mengambil tas kertas kecil


    yang dia letakan dibawah kakinya. “ Hadiah untuk ayah, selamat ulang tahun.


    Semoga ayah selalu sehat.”


    “ Niah, apa kamu masih marah sama


    ayah.” Bukannya menerima hadiah dari Daniah laki-laki itu malah mengengam


    tangan Daniah. “ Apa tuan Saga memperlakukanmu dengan baik?’


    Apa ini. Apa ayah benar-benar


    perduli padaku.


    Dada Daniah bergetar, apalagi saat


    Ayah menepuk punggung tangannya lembut. Ayolah Daniah, jangan selemah ini


    begitu dia menyadarkan diri. Laki-laki ini yang sudah memasukanmu dalam lubang


    neraka. Karena dialah kamu harus menikah dengan tuan Saga. jangan selemah itu.


    " Maafkan ayah Niah, dan terimakasih untuk semuanya."


    Ini curangkan namanya, aku tidak mempersiapkan diriku untuk perubahan sikap ayah seperti ini.


    Tidak bisa dicegah, ada yang menganak di ujung mata Daniah. Dia ingin memeluk ayahnya dan menangis, namun urung ia lakukan. Hatinya belum sepenuhnya siap. untuk memafkan semuanya.


    BERSAMBUNG
『Add To Library for easy reading』
Popular recommendations
Super Gene Shadow Slave Cultivation Online Mecha Breaks the World Nine Star Hegemon Body Arts I Can Copy Talents