21Novel

Font: Big Medium Small
Dark Eye-protection
21Novel > Terpaksa Menikahi Tuan Muda > Chapter 79 Perubahan sikap

Chapter 79 Perubahan sikap

    Langkah Daniah terhenti tepat di


    depan dapur. Melihat sepertinya kehidupan di dapur saat ini berjalan diluar


    kebiasaan yang seharusnya.


    Ada apa ini? Ibu sedang di dapur


    dan Risya juga. Kenapa hari ini mereka aneh sekali. Ahh, ia, tentu karena tuan


    Saga ada di sini. mereka sedang cari muka rupanya. Apa mereka mau memasak


    sarapan untuk tuan Saga. Ah, terserah sajalah, lakukan apa yang ingin kalian


    lakukan. Aku mau ambil minum dan sedikit membantu saja.


    “ Niah kenapa sudah bangun? Apa ada


    yang kamu butuhkan, biar ibu siapkan.” Daniah mengeryit, merasa ngeri sendiri.


    Seumur hidup baru pertama kalinya ibu bicara seramah itu padanya. “ Apa tuan


    saga sudah bangun? Apa dia membutuhkan sesuatu.” Masih bicara dengan cara yang


    menakutkan menurut Daniah.


    “ Tidak bu, tuan Saga belum bangun.


    Biar saya membantu di dapur.” Daniah sudah mau megambil pisau dapur.


    “ Apa!” kaget kata dia berteriak


    sendiri. “ Maaf bukan maksud ibu berteriak padamu, masuklah kekamar dan


    istirahatlah. Temani tuan Saga saja.” Ibu menepuk bahu Daniah lembut, sorot


    matanya sekaligus memohon. Pergilah jangan membuat kami dalam masalah begitu


    arti sorot matanya.


    “ Ibu benar, kak Niah istirahat


    saja.”


    Apa! Kak Niah, sejak kapan bocah


    ini memanggilku sesopan ini. Tunggu, kenapa mereka aneh sekali si. Apa kalian


    salah minum obat semalam.


    Daniah mengedarkan pandangan


    menyapu ruangan, tengkuknya merinding, ia merasakan aura kegelapan. Tentu saja,


    di ujung ruangan itu, dia sedang duduk sambil bekerja dengan laptopnya. Ada


    secangkir gelas di sampingnya. Dia memang tidak memandang ke arah dapur atau


    terlihat mendengarkan pembicaraan. Tapi keberadaannya sudah pasti


    mengintimidasi semua penghuni rumah ini.


    Apa karena dia, dua orang ini jadi


    berubah sikap padaku, walaupun sedang tidak ada tuan Saga sekalipun.


    “  Baiklah, saya permisi bu.” Karena tetap tidak diizinkan membantu


    akhirnya Daniah menyingkir secara sukarela.


    “ Ia Niah istirahatlah.” Ibu


    tersenyum.


    Daniah meninggalkan ibu dan Risya


    keluar dari dapur, berjalan mendekati sekertaris Han. Dia masih sibuk dengan


    pekerjaannya. Dia meraih gelas, lalu minum dan meletakannya lagi.


    Apa itu, kenapa gaya minumnya keren


    begitu. Lagi syuting iklan!


    “ Ehmm, ehmm.” Daniah batuk kecil


    di depan sekertaris Han, laki-laki itu mendongak dari layar laptopnya. Dia


    bangun dari duduk. Menggangukan kepala sopan.


    “ Selamat pagi nona, ada yang bisa


    saya bantu?” tanyanya sambil menutup layar laptop, karena dia melihat Daniah


    memiringkan kepalanya mau mengintip apa yang dia kerjakan.


    “Haha.” Ternyata dia sadar aku mau


    mengintip. Peka sekali anda. ” Anda pasti sedang sibuk bekerja di akhir pekan


    ya. Apa anda tidak pulang ke rumah anda? Oh ya, anda punya rumahkan, anda tidak


    tinggal di rumah tuan Sagakan.”


    Dipikir-pikir benar juga, aku


    bahkan tidak tahu setelah dia bekerja dia bernafas gak ya, apa yang dia lakukan


    setelah melepas tanggung jawab melayani tuan Saga padaku kalau sudah di rumah.


    “ Maaf nona, saya tidak bisa


    menjawab pertanyaan pribadi tentang saya.”


    Apa! Kenapa dia selalu dalam


    kondisi fokus si. Padahal kupikir tadi dia akan terjebak dengan pertanyaanku.


    “ Tapi, terimakasih atas perhatian


    anda, saya hidup dengan nyaman selama ini. Apalagi kalau anda bersikap


    sebagaimana mestinya dan tidak menimbulkan masalah.”


    Apalagi si orang ini, bicara


    semaunya persis seperti majikannya.


    “ Tapi, bisakah anda tidak duduk di


    sini sekertaris Han. Kenapa anda tidak kembali ke kamar anda dan bekerja di


    sana. Anda menggangu disini.” Daniah kembali tersadar tujuannya menyapa


    laki-laki dihadapannya ini.


    “ Saya tidak melakukan apapun


    nona.” Menjawab enteng menunjuk laptopnya. “ Saya hanya duduk.”


    Aura kegelapan yang muncul dari


    dirimu, yang bisa meledak kapanpun telah mengintimidasi keluargaku tahu. Ibu


    dan Risya jadi menakutkan begitu sikapnya. Itu karena anda di sinikan


    sekertaris Han, mereka jadi tidak berkutik. Mereka jadi bersikap sangat baik


    padaku. Aku sampai diusir dari dapur, padahal biasanya Risya menarikku untuk


    membuatku ikut mengerjakan pekerjaan rumah.


    “ Tapi sepertinya keluarga saya


    terganggu.” Daniah menunjuk ibu dan Risya yang memandang dari kejauhan. “


    Lihat! Mereka ketakutan melihat anda.”


    “ Padahal saya tidak melakukan


    apa-apa lho.” Tersenyum tipis sambil melihat dapur.


    “ Itu karena anda memang


    menakutkan, belum sadar juga.” Gumam-gumam kecil sambil membuang muka.


    “ Saya dengar itu nona.”


    “ haha, sebaiknya anda minum


    minuman sehat sekertaris Han kalau pagi. Minum jus buah jangan kopi, supaya


    lambung anda sehat. haha Baiklah saya mau menyiapkan sarapan untuk tuan Saga


    saja, tapi kalau anda tidak mau kembali ke kamar bisakah pindah ke ruang tamu.”


    Paling tidak aku hanya perlu


    mengusirnya dari duduknya disinikan, biar dia tidak membuat ibu dan Risya


    ketakutan begitu.


    “ Pak Mun akan mengantar sarapan


    tuan muda, sekarang nona kembalilah ke kamar.”


    “ Apa! Pak Mun.” Ibu dan bibi


    bahkan sedang sibuk memasak sarapan sekarang. Daniah melihat ke arah dapur “


    Saya bisa menyiapkan disini, ibu juga sedang memasak di dapur.”


    “ Tuan muda tidak suka makan


    makanan yang dimasak sembarang orang.”


    Huh! Lagi-lagi sang raja berulah


    dan pelayannya jauh lebih bertingkah karena sedikitpun tidak pernah membantah.


    “ Apa perlu saya mengantar anda ke kamar


    nona.” Sepertinya Han sudah mulai kesal, dia ingin segera menyelesaikan


    pekerjaannya.


    “ Tidak! Saya bisa sendiri.” Daniah


    mendengus sebal, tau dia sudah diusir.


    “ Baiklah, selamat istirahat.” Mengangukan


    kepalanya hormat.


    “ Ini sudah pagi, memang siapa yang


    mau tidur lagi.” Menatap kesal sambil berlalu. Daniah menghentikan langkah


    menuju kamarnya dia kembali ke dapur bicara pada ibu.


    “ Maaf bu, ibu tidak perlu


    menyiapkan sarapan untuk tuan Saga.”bicara langsung saja begini pikirnya.


    “ Kenapa?” ibu merasa kuatir karena


    takut tuan Saga tidak nyaman.


    “ Pelayan tuan Saga akan


    mengirimkan makanan nanti.”


    “ Apa! Padahal ibu sudah bangun


    sepagi ini untuk memasak sarapan!” Ibu memegang tangan Risya. Gadis itu


    tersadar telah melakukan kesalahan lagi.


    “ Risya, hentikan. Minta maaf pada


    kakakmu!”


    Risya menggigit bibirnya kelu,


    menatap sekertaris Han yang duduk di kursinya, pandangan mereka bertemu. Gadis


    itu gemetar.


    “ Maaf kak Niah, maafkan aku.”


    Mengatupkan kedua tangannya ke depan wajah.


    “ kembalilah kekamarmu, tuan Saga


    mungkin membutuhkanmu.”


    “ Baik bu.”


    Benarkan, ini karena kamu duduk di


    sanakan, ibu dan Risya jadi bersikap seaneh itu. Tidak usah tersenyum begitu,


    semakin membuat ibu dan Risya ketakutan tahu.


    Saat Daniah masuk ke dalam kamar,


    bersamaan Saga keluar dari kamar mandi. Dia sedang mengeringkan rambutnya


    dengan handuk. Lagi-lagi bertelanjang dada.


    “ Naik!” Katanya tegas.


    “ Apa! Naik.” Tidak kalah kaget


    menjawab.


    Mau apa lagi dia, tunggu, kenapa


    kamu naik lagi ketempat tidur. Mau apa lagi sekarang, tidak lihat matahari di


    luar jendela itu.


    Saga sudah duduk bersandar di tempat tidur,


    menepuk ruang kosong di sebelahnya. Artinya menyuruh Daniah duduk di sana.


    “ Sayang, apa yang mau anda


    lakukan, bukankah saatnya bangun, ini sudah pagi.” Daniah menunjuk jendela


    kamar.


    “ Tidur, memang mau melakukan apa


    di akhir pekan. Aku hanya ingin bermalas-malasan hari ini.” Saga menjatuhkan


    diri, sudah berbaring di tempat tidur. Masih menepuk kasur di sampingnya.


    Apa! Kenapa kau mau


    bermalas-malasan saat dirumahku begini. Biasanya juga akhir pekan kadang kamukan


    pergi bekerja juga.


    “ Naik.” Saga melemparkan handuk


    kecil ditangannya, mendarat di tubuh Daniah. Membuat gadis itu reflek langsung


    bergerak naik ketempat tidur.


    “ Kau belum membayarku dengan


    benarkan?”


    Apa! Lalu malam tadi apa!


    “ Bukankah semalam saya sudah.”


    Sambil menutup wajah dengan tangan, malu meneruskan kaliamatnya.


    “ Semalam, itu hukuman karena


    berhenti memijatku dan mengoceh kemana-mana dibalik punggungku.”


    Sial! Benar-benar mendengar


    berarti. Jadi kamu pura-pura tidurkan!


    “ Aku sudah memberi ayahmu hadiah


    istimewa semalam di hari ulang tahunnya, sekarang saatnya kamu berterimakasihkan?”


    Apa! Memang kamu memberi apa pada


    ayahku. Aku bahkan tidak melihatmu memberi kado apa-apa, selain kemunculanmu


    yang dramatis itu. Tunggu, kamu tidak sedang berfikir kalau kedatanganmu itu


    hadiah istimewa untuk ayahkan. Walaupun itu benar, tapi kenapa terasa


    mengelikan begini si.


    “ Aku bahkan datang kepesta orang


    tuamu, meladeni keluargamu bicara. Apa itu semua tidak kamu anggap hutang yang


    harus kamu bayar”


    Benar, itu berkah untuk rakyat


    jelata seperti kami. Ayah bisa sangat bangga dan membusungkan dada dengan


    kedatanganmu. Menantu terhormat negri ini.


    “ Terimakasih Sayang, kehadiran


    anda sungguh hadiah istimewa diulang tahun ayah. Saya sungguh berterimakasih.” Baik


    berterimakasihlah dengan kata-kata manis Daniah, selesaikan ini dan bangun.


    “ Itu saja.” Saga sudah menarik


    rambut Daniah, menggulungnya pelan. “ Aku mau yang lainnya.” Bulu kudu Daniah


    merinding saat Saga mulai menciumi rambutnya.


    “ Apa yang bisa saya berikan?”


    Hemm.” Sok berfikir “ Aku


    memberikan tubuhku untuk hadir diulang tahun ayahmu, kau harus membayarnya


    setimpal juga donk. Itu baru adil.” Daniah sudah ambruk karena Saga mendorong


    dengan bahunya. “ Bagaimana?”


    “ Benar, anda benar sekali.” Terpaksa


    tertawa.


    Licik sekali kamu heh! Lagi-lagi


    memojokanku dengan cara begini. Seperti aku berhutang dunia saja padamu.


    Daniah sperei tempat tidur,


    membiarkan Saga melakukan sekali lagi mendapatkan apa yang ingin ia lakukan.


    Sementara matahari terus bergerak naik.


    Aaa aku lapar, karena kaget melihat


    ibu dan Risya aku bahkan tidak makan tadi.


    BERSAMBUNG
『Add To Library for easy reading』
Popular recommendations
Super Gene Shadow Slave Cultivation Online Mecha Breaks the World Nine Star Hegemon Body Arts I Can Copy Talents