21Novel

Font: Big Medium Small
Dark Eye-protection
21Novel > Terpaksa Menikahi Tuan Muda > Chapter 84 Aku mau kau mencintaiku

Chapter 84 Aku mau kau mencintaiku

    Cuaca pagi yang hangat, matahari


    masih malu-malu menampakan diri. Akhir-akhir ini cuaca memang cenderung cerah.


    Hujan masih jarang turun membasahi bumi. Setiap orang bersemangat untuk


    menyambut pagi. Tapi sepertinya tidak dengan seseorang.


    Daniah duduk di ruang ganti baju.


    Diam berfikir dalam. Bengong. Wajahnya sedikit memerah, dia menundukan kepala


    malu. Merasa di gerogoti dari dalam. Padahal dia sendiri menyadari bahwa tidak


    ada yang tahu, karena ini mimpinya sendiri. Tapi ntah kenapa dia merasa sangat


    malu.


    Apa yang ada di kepalaku si, kenapa


    aku sampai bermimpi mesum. Aku mimpi tuan Saga menciumiku. Dan sepertinya,


    kenapa aku menikmati. Dasar tidak tahu diri. Apa ini efek pembicaraanku dengan


    jen kemarin sampai terbawa mimpi segala.


    Daniah memaki dirinya sendiri, kesal


    karena merasa tidak berdaya. Kata-kata jen kemarin kembali terlintas dipikirannya,


    menghantui dan berlarian mengejar. Bunyi pintu kamar mandi terbuka membuat


    Daniah berdiri terkejut. Sejenak pikirannya mengenai mimpinya semalam buyar.


    Saga keluar dari kamar mandi hanya


    memakai handuk yang melingkar di pinggangnya, dia sedang mengeringkan rambut.


    Sambil mengibaskannya.


    Kenapa dia terlihat tampan


    begitu...


    “Memang kakak ipar tidak


    berdebar-debar apa kalau sedang bersama kak Saga. Kalau sedang menyentuh dada


    bidang dan putihnya kak Saga”


    Glek, Daniah menelan ludah sendiri.


    “ Sudah puas melihatnya?” Daniah


    terperanjak karena Saga sudah berdiri di depannya. Dia mengibaskan rambutnya


    lagi. “ Kenapa? Kau mau menyentuhnya.” Saga menyentuh dadanya yang terbuka. “


    Liurmu sudah mau menetes tuh.”


    Daniah refleks langsung mengelap


    mulutnya. Saga tergelak.


    “ Kemarilah!” Daniah malam membeku.


    Dia tidak berani mendekat sedikitpun. Kalau sampai selangkah saja dia maju, dia


    sadar pagi ini tidak akan terlewat semudah itu. “ Aku mengizinkanmu


    menyentuhnya.” Saga menepuk dadanya beberapa kali, sambil tersenyum tipis.


    “ Tidak sayang, saya tidak apa-apa.


    Saya keluar dulu, silahkan ganti baju.”


    Kaki Saga sudah menghadang langkah


    Daniah. Membuat Daniah berhenti melangkah dan tidak bisa bergerak lagi.


    Bibirnya sedikit merengut. Dia paham, bahwa pagi ini tidak bisa keluar kamar


    semudah biasanya. Tai saat matanya menatap tubuh terbuka Saga, wajahnya memerah


    dengan sendirinya.


    “ Kenapa wajahmu semerah itu, apa


    yang kamu pikirkan. Jangan-jangan kamu sedang berfikir hal mesum ya.” Tambah


    merah muka Daniah karena Saga berkata seperti itu. Dia menutup wajahnya.


    Mimpinya semalam kembali terlintas nyata di kepalanya.


    “ Tidak sayang, saya hanya


    bermimpi.” Menutup mulutnya sendiri. Menyesali kalimat yang keluar dari


    mulutnya barusan. Ia merasa geli sekaligus malu teramat sangat.


    “ Mimpi, jadi kamu mimpi mesum ya.”


    Tertawa. Padahal dia jelas sedang merasa sangat senang sekarang.


    Haha, jadi dia setengah sadar dan menggangap


    yang semalam itu mimpi ya.


    “ Kemarilah.” Saga menarik tangan


    Daniah yang sudah berdiri di depannya. Dia meletakan tangan itu di dadanya. “


    Bagaimana kau suka?”


    Kumohon biarkan aku tengelam di


    dasar bumi saja, ini terlalu memalukan. Daniah menjerit dalam hati, dia bahkan


    tidak mau menatap Saga karena perasaan malu.


    “ Beri tanda di sini!” Saga


    menunjuk dadanya.


    “ Apa!” Apa dia sudah gila!


    Maksudnya kecupan yang sering dia berikan padakukan. Stempel kepemilikan.


    “ Kau boleh menciumku, itu yang


    kamu inginkankan dari tadikan?” Masih memegang tangan Daniah yang menempel di


    dadanya. Dia mencubit tangan itu karena Daniah tidak bereaksi. “ Aku


    mendengarmu menelan ludah saat menatapku lho.”


    “ Ti, tidak sayang.”


    Aku harus segera keluar dari ruang


    baju.


    “ Tidak!” sudah terdengar nada


    tidak suka. Saga sudah mencengkram Dagu Daniah. “ Benar, tidak mau menciumku.”


    Sorot matanyanya mengatakan, kalau kau pergi tanpa menciumku lihat apa yang aku


    lakukan padamu nanti.


    Cih, begini yang katanya jen kalau


    kakaknya mencintaiku.


    “ Ia sayang, ia saya mau.” Tidak


    punya pilihan lain lagi.


    Daniah menjinjit, memberi kecupan


    keras di dada Saga. Laki-laki itu tergelak, melihat usaha Daniah. Yang mencium


    dengan kaku. Dia menunjuk leher kirinya. Mengetuknya beberapa kali. Agar Daniah


    melakukan hal yang sama di sana.


    Apa! Dia mau lagi.


    Satu kecupan lagi membekas. Saga


    menunjuk bagian yang lain lagi. Tidak sanggup menunjukan reaksi kesal. Dia memberi  satu kecupan merah lagi di leher bagian kanan


    yang dia tunjuk dengan jarinya. Setelah tiga tanda merah sepertinya Saga sudah


    merasa cukup. Dia melepaskan tangan yang melingkar memeluk Daniah.


    “ Kau senang sekarang?” Padahal


    jelas-jelas dia yang berwajah puas, masih saja menjahili istrinya dengan


    kata-katanya.


    “ Haha, ia saya senang sekali.”


    Kenapa kau pintar sekali membalikan fakta begini!


    “ Keluar sana, aku mau ganti baju.”


    Mengusir, setelah mendapatkan apa yang dia inginkan. Dia tersenyum tipis saat


    mendengar jawaban Daniah. Suara dia sudah tertahan karena kesal dan malu.


    “ Baik sayang.” Pergi meninggalkan


    Saga tanpa menoleh lagi.


    Di belakangnya Saga tergelak, Dia


    menyusuri tubuhnya sendiri dalam pantulan kaca, melihat tanda merah yang


    ditingalkan Daniah. Menghitungnya.


    Sementara Daniah menyeret tubuhnya


    lunglai, baru sepagi ini, tapi dia sudah kehabisan energi. Dia mengambil sepatu


    Saga. Lalu ambruk di sofa sambil memeluknya. Bengong lagi. Pikirannya mengudara


    belarian.


    Apa itu yang dibilang mencintaiku!


    Sudah gila ya! Aku tidak akan percaya sedikitpun padamu lagi Jen.


    Selang tidak lama. Saga keluar dari


    ruang ganti, sudah bisa menguasai tawanya. Tapi masih tergelak tanpa suara


    ketika melihat Daniah terbaring di sofa sambil memeluk sepatu. Bengong seperti


    kehilangan separuh nyawa. Saat melihat Saga sudah ada di depannya Daniah


    refleks bangun. Dia masih memeluk sepatunya.


    “ Kenapa rambutmu bisa lucu


    begini?” Menggulung rambut saat daniah berlutut memakaikan sepatu. Dia


    bertanya, tapi Daniah tidak mau menjawab apa-apa.


    Apa! Sekarang dia bilang lucu.


    Kemarinkan dia bilang jelek dan kampungan.


    Saga menepuk sofa di sebelahnya


    setelah Daniah selesai, menyuruh Daniah duduk di sana. Gadis itu patuh, dia


    duduk menjauh.


    “ Apa yang kau lakukan kemarin


    bersama jen dan Sofi.” Mencari tahu apa yang sudah dia tahu. Tidak mungkin tuan


    Saga tidak tahu fikir Daniah, dia hanya ingin mengkonfirmasi.


    “ Kami pergi ke wahana permainan,


    dan makan malam.” Ceritakan saja garis besarnya.


    “ Tidak jadi menonton film.” Saga


    bertanya sambil mendekatkan wajahnya, dia mencium rambut daniah.


    “ Tidak.” Mengeser tubuh. Tapi


    sepertinya jangankan menjauh, dia malam bergerak mendekati Saga. Karena laki-laki


    itu menarik rambutnya.


    “ Apa yang kamu bicarakan dengan


    Jen dan Sofi?”


    Daniah terdiam sesaat. Memutar otak


    berfikir, apa yang harus dia berikan sebagai jawaban. Tidak mungkinkan obrolan


    unfaedahnya bersama Jen harus dia ceritakan.


    “ Kami hanya mengobrol biasa


    sayang.” Seharusnya kalimat ini berhasilkan, begitu pikir Daniah.


    “ Benarkah? Jelaskan semua, kalau


    kamu tidak mau, aku bisa bertanya pada Jen dan Sofi.” Ternyata tidak bagi Saga.


    Dia ingin tahu, semua, sampai detail sederhananya.


    Benar laki-laki ini sangat


    mendetail.


    “ Tapi anda jangan marah ya.”


    Menyentuh tangan Saga dan mengengamnya, agar tangan itu berhenti memainkan


    rambutnya. Saat Daniah berhasil menghentikan tangan tapi tidak berhasil


    menghentikan bibir. Saga kembali menciumi rambut Daniah.


    Anda kenapa si, sudah tergila-gila


    dengan rambut saya ya!


    “  Berani sekali kamu sekarang ya. Kalau


    pembicaraanmu dengan jen bisa membuatku marah, masih berani menyembunyikannya.”


    Mencium leher Daniah tiba-tiba, Gadis itu kaget tapi tubuhnya membeku. “


    Katakan!”


    Dia ini kenapa si?


    “ Kata Jen, anda baru pertama kali


    tidur dengan wanita itu saat malam pertama kita.” Membuang muka kearah yang


    berlawanan dengan wajah Saga.


    Habislah aku, sudah bergosip.


    “ Jen mengatakan begitu? Apa dia


    juga bilang kalau aku mencintaimu.” Lagi-lagi mengatakan seringan dia tersenyum.


    Padahal kata-katanya yang barusan seharusnya syarat akan makna.


    Eh, bagaimana dia bisa tahu.


    Tunggu, dia tidak memasang alat penyadap dalam tubuhkukan.


    Saat lagi lagi Saga menyentuh


    rambut Daniah, gadis itu menjawab cepat.“ I, ia.”


    “ Dan kamu percaya?” Tangan dan


    jemari Saga yang lembut menyusuri garis wajah Daniah, menempel pada bibir


    mungil yang merona merah itu. Dia menghentikan tangannya menunggu jawabaan


    Daniah.


    “ Tidak sayang, saya  rasa Jen pasti hanya bercanda .”


    “ Baguslah!”


    Saga mendorong tubuh Daniah sampai


    dia ambruk di sofa, laki-laki itu mengendurkan dasi yang baru dia pakai. Lalu


    menarik dan melemparkannya sembarangan. Daniah sudah merasa gelagat


    mencurigakan.


    Mau apa dia? Apa dia marah karena


    kata-kata Jen. Kenapa melampiaskan padaku!


    “ Sayang, anda mau bekerjakan.


    Sekertaris Han juga pasti sudah sampai.”


    “ Kenapa? Bukankah ini yang kamu


    inginkan semalam. Kamu sampai bermimpi mesumkan. Aku hanya mewujudkan apa yang kamu impikan. seharusnya kamu berterimakasih padaku.” Saga menarik baju Daniah


    dengan kasar, dan membuangnya, terongok di bawah kursi. “ Apa kau mau aku mencintaimu?”


    menciumu bagian Dada Daniah. Meninggalkan kecupan merah di samping yang ia


    berikan semalam.


    “ Saya tidak berani berharap


    sayang, andakan sudah mencintai wanita lain.” Terbata menjawab. Daniah sudah


    memalingkan wajahnya.


    “ Tapi aku mau kau mencintaiku.” Kata-kata Saga menancap di dada Daniah.


    “ Apa!”


    Ada apa dengannya. Kenapa dia mau aku mencintainya.


    “Aku mau kau mencintaiku. Katakan


    kau mencintaiku.”


    Tidak mau!


    Saga mengigit bibir Daniah saat


    gadis itu hanya diam memalingkan wajah sambil menggigit bibirnya, memaksanya


    untuk mengatakan.


    “ Saya mencintai anda.” Pasrah


    Sampai Saga menyelesaikan


    urusannya, bibir Daniah beberapa kali lirih mengatakannya.


    “ Saya mencintaimu sayang.”


    Pak mun menuruni tangga, sendirian.


    Ibu dan kedua anaknya berfikir heran kenapa dia turun sendiri. Sebelum mereka


    bertanya Pak Mun sudah berjalan mendekati sekertaris Han yang sedang duduk


    sambil menikmati segelas jus buah dan roti isi.


    “ Kenapa?” Han mendongak dari


    pekerjaannya.


    “ Sepertinya tuan muda baru akan


    turun satu jam lagi.”


    Apa! Padahal pagi ini ada pertemuan.


    Han mengeram kesal sendiri. Dia mengusir pak Mun dengan tangannya. Laki-laki


    itu paham dan meninggalkannya. Menemui ketiga wanita yang sedang ada di meja


    makan. Untuk memulai sarapan terlebih dahulu.


    “ Gila, kakak ipar luar biasa.” Jen


    tertawa karena tahu sedang terjadi apa di lantai atas. Sofi yang masih berjiwa


    agak polos meminta penjelasan. Jen hanya terbahak membalasnya. Sementara ibu


    menatap tangga dengan kesal.


    Sekertaris Han menghabiskan


    sarapannya, lalu membawa laptopnya menuju ruangan kerja Saga. Dia menelfon


    sebelum masuk.


    “ Mundurkan semua jadwal tuan Saga


    sampai dua jam kedepan.”


    BERSAMBUNG.....................
『Add To Library for easy reading』
Popular recommendations
Super Gene Shadow Slave Cultivation Online Mecha Breaks the World Nine Star Hegemon Body Arts I Can Copy Talents