21Novel

Font: Big Medium Small
Dark Eye-protection
21Novel > Terpaksa Menikahi Tuan Muda > Chapter 100 Sopir baru

Chapter 100 Sopir baru

    Kejadian menghilangnya Daniah di


    waktu pesta ulang tahun ibu menjadi titik balik perubahan hubungan Daniah dan


    Saga. Saat ini Saga sudah memakai panggilan sayang untuk Daniah jauh lebih


    sering. Sudah jarang berteriak padanya, sudah jarang menuding kening Daniah


    dengan kesal. Terkadang mereka sudah bicara layaknya manusia normal. Walaupun


    hubungan mereka belum bisa di sebut wajar, namun setidaknya sudah tidak


    seekstrem dulu lagi.


    Seminggu berlalu, ibu belum kembali


    menampakan diri di rumah. Jen mengatakan kalau Ibu pergi untuk menghindari


    pertengkaran dengan kak Saga.


    Kenapa? Memang salah ibu apa?


    “ Kak Saga marah pada ibu karena


    bukannya memperkenalkan kakak ipar malah memperkenalkan Helena waktu di pesta.”


    Jadi karena itu, tapi seharusnya


    tuan Saga tidak perlu sampai semarah itukan. Aku saja sudah memaafkan ibu kok.


    Daniah sekali mengungkit masalah


    ibu pada Saga, agar suaminya itu mau membuka hatinya. Tapi alhasil, dia bahkan


    tidak tidur semalaman meladeni kekesalan Saga. Akhirnya diapun tidak pernah


    mengunkit perihal perginya ibu. Biarkan semua berjalaan dengan normal dengan


    sendirinya.


    “ Berikan aku waktu, aku akan


    memaafkan ibu nanti.” cuma itu yang di ucapkan Saga.


    Karena pada akhirnya keluarga akan selalu saling memaafkan. Apapun kesalahan yang di lakukan.


    Malam yang belum larut, beberapa


    pelayan masih terlihat menyelesaikan pekerjaanya.


    Sehabis makan malam tuan Saga


    menghabiskan waktu di ruang kerjanya bersama pak Mun. Daripada Daniah menunggu


    sendirian di dalam kamar dia memilih pergi ke rumah belakang. Dia bertemu


    dengan beberapa pelayan laki-laki yang langsung bergerak menghindarinya. Maya


    mendekatinya saat dia datang.


    “ Nona ada apa? bukankah tuan muda


    ada di rumah.”


    “ aaa, dia senang bekerja. Aku


    hanya bosan. Mau makan es cream?” Daniah mengangkat satu cup besar es cream di tangannya.


    “ Ayo makan di sana.” Daniah menunjuk sebuah kursi kosong tidak jauh dari


    tempat mereka berdiri sekarang.


    Mereka duduk di dekat taman, sambil


    menikmati pemandangan malam dan semilir angin yang menerbangkan rambut mereka.


    Taman yang indah, yang mungkin nyaris tidak pernah di nikmati pemilik rumah


    ini. Bahkan Daniah hanya sekedar melewatinya di pagi hari.


    “ Jen sudah mulai magang, jadi


    setiap pulang ke rumah dia selalu mengeluh kelelahan dan akhirnya langsung


    ambruk tidur, sofi juga demikian, kuliahnya sedang padat-padatnya.” Daniah


    mulai bercerita, mengeluh sebenarnya. Karena dia kehilangan teman yang bisa di


    ajak bicara di rumah ini.


    “ Nona Jenika dan nona Sofia memang


    pekerja keras.” Maya mengatakan pujiannya.


    “ Benar, padahal Jen magang di


    perusahaan kakaknya, tapi aku dengar dia tidak mendapatkan keistimewaan


    apa-apa. bahkan tidak ada yang tahu kalau dia adik dari pemilik perusahaan.”


    Satu hal ini membuat Daniah takjub pada Jen, padahal dia sempat berfikir kalau


    Jen termasuk anak manja yang akan memanfaatkan posisinya sebagai adik tuan


    Saga. Toh dia memang adik yang di sayangi tuan Saga. Tapi ternyata tidak, Jen


    bekerja keras dengan namanya sendiri.


    Eh magang ya, apa Jen dan Raksa


    pernah bertemu ya. Tapi tidak mungkinlah, perusahaan Antarna Group itukan


    banyak sekali. Ntah mereka ada di perusahaan yang mana.


    “ Tuan muda memang mendidik nona


    Jenika dan nona Sofia dengan disiplin yang ketat.” Maya menutup mulutnya merasa


    apa yang dia bicarakan sudah lancang. “Maafkan saya nona, saya sudah lancang.” Aturan


    rumah ini melarang para pelayan membicarakan apapun yang terjadi di rumah ini,


    bahkan dengan sesama pelayan sekalipun. Apalagi sampai membicarakan keluarga tuan Saga.


    Aku ingat, waktu para pelayan


    membandingkan aku dan Helen, dan saat itu sekertaris Han menghukum mereka.


    “ Gak papa, bicaralah santai


    padaku. Ayo makan lagi.” Sesuap es cream masuk ke mulut, lumer, dingin, lembut


    dan manisnya menyatu di dalam mulut. “ Jangan bersikap sungkan padaku” Maya


    hanya tersenyum.


    Anda adalah nona muda kami,


    bagaimana aku bisa tidak sungkan. Pak Mun saja sering kali mengingatkanku untuk


    menjaga sikap. Tidak boleh menyapa anda duluan jika anda tidak menyapa.


    “  Maya punya hari libur kapan?”


    Pelayan mendapatkan jatah libur seminggu


    sekali, yang jadwalnya berbeda setiap orang, semua di susun sesuai jadwal oleh


    pak Mun. Ternyata pekerjaannya banyak sekali ya, Daniah meghitung jumlah


    pelayan yang ada di rumah ini, ntah  jumlahnya berapa. Diapun tidak terlalu hafal


    wajah mereka.


    “ Dua hari lagi saya libur nona.


    Lusa.”


    “ Lusa ya, berarti pas akhir pekan,


    baiklah, nanti aku atur jadwal dengan yang lainnya ya. Kamu kosongkan jadwal


    liburan kamu ya, aku ingin kita pergi.”


    “ Nona.” Sudah merasa kuatir karena


    kebaiakan Daniah sudah melebihi batas kewajaran.


    “ Jangan menolak ya.” Menepuk bahu


    Maya. “ Ayo berteman dengan tulus denganku.”


    Pak Mun muncul dari rumah utama.


    Maya langsung mengeser posisi duduknya agak menjauh. Pak Mun Menghampiri Daniah


    dan Maya di dekat taman.


    “ Nona, tuan muda meminta anda ke


    ruang kerjanya sekarang.” Pak Mun memperhatikan, mencari tahu apa yang sedang


    di lakukan Daniah dan Maya. Dia melihat satu cup besar es cream dengan dua


    sendok di sana. Lalu dia terlihat menatap Maya yang kemudian menundukan


    kepalanya.


    “ Eh, kenapa pak? Apa dia sudah


    selesai?”


    “ Silahkan ikuti saya nona.” Hanya


    mempersilahkan Daniah dengan tangannya tanpa menjawab pertanyaan Daniah.


    Selalu deh, tidak menjawab kalau urusannya


    perintah tuan saga. Kalau sekertaris Han lewat sorot matanya pasti mengatakan.


    Sudahlah, jangan banyak bicara dan ikuti saja saya. Begitu pasti kalau dia.


    “ Aku pergi dulu ya. Habiskan es


    creamnya. Selamat malam maya.”


    Maya bangun dari duduknya dan mengangukan


    kepala. “Selamat malam nona.”


    Daniah memasuki ruang kerja Saga. Pak


    Mun hanya mengantarkan sampai di depan pintu. Laki-laki itu sedang duduk di


    sofa. Di dekatnya berdiri seorang wanita. Dia memakai stelan rapi dan celana


    panjang, sepertinya bukan pelayan wanita di rumah ini. Karena seragam pelayan


    tidak seperti itu. Sepertinya ini pertama kalinya Daniah melihatnya juga.


    “ Sayang.” Mendekat.


    “ kemarilah!” Saga mengulurkan


    Tangannya agar Daniah mendekatinya. Mau tidak mau Daniah menerima uluran tangan


    itu dan duduk rapat di samping Saga. “ Kau habis makan apa?” Mengusap bibir


    Daniah, sepertinya masih ada sisa es cream di sana. Kecupan lembut di bibir Daniah.


    Membuat gadis itu menolak secara spontan, lebih-lebih karena di samping Saga


    sedang berdiri seseorang.


    “ Sayang, aku habis makan es


    cream.” Malu sendiri.


    “ Sepertinya enak, aku juga mau.”


    Satu kecupan  lagi.


    Hei, makan sendiri sana, kenapa


    merasai dari bibirku.


    “ Sayang, hentikan. Dia siapa?”


    Daniah menunjuk wanita yang sedang berdiri, wanita itu mengangukan kepalanya


    sopan.


    “ Ahh, dia. Perkenalkan dirimu!”


    Saga menoleh padanya.


    “ Selamat malam nona, nama saya Leela.


    Silahkan panggil saya senyaman anda.” Katanya memperkenalkan diri dengan sopan.


    Hei, kau tidak sedang memberiku


    pelayan pribadikan. Memang untuk apa? aku tidak butuh pelayan pribadi atau


    sejenisnya. Memang aku ini putri apa. Jen saja tidak mendapatkan pelayan pribadi.


    “ Selamat malam, senang


    berkenanalan denganmu. Tapi sayang dia siapa?” beralih mencari jawaban pada


    Saga.


    “ Sopir untukmu.”


    Langsung tercipta kepanikan dalam


    diri Daniah. Waspada. Tentang rencana apa di balik ini semua.


    Sampai kapanpun dia memang tetaplah


    tuan Saga yang seenaknya.


    “ Sayang, kitakan sudah sepakat


    waktu kamu memberiku mobil, kalau aku boleh membawa mobil sendiri tanpa supir.


    “


    Kalau aku pergi dengan sopir itu


    sudah seperti mengawasiku 24 jam full.


    “ Ini bukan penawaraan, ini


    perintah.” Tegas.


    “ Tapi sayang.” Memohon dengan


    lembut sambil menyentuh tangan Saga.


    “ Kalau tidak mau tinggalah di rumah,


    jangan pergi kemana-mana.” Dengan ringannya bicara, padahal kata-katanya jadi


    hantaman keras untuk Daniah.


    Bagaikan jatuh terjerembah ke dalam


    jebakan yang melilit leher. Tanpa sadar Daniah tangan Saga karena


    merasakan kesal. Dia melepaskan tangan itu saat Saga mulai mendesah.


    “ Maaf! tapi Sayang akukan


    bekerja.”


    “ Kau bisa pindahkan toko mu di


    paviliun depan. Lihatkan rumah di kanan jalan saat kau masuk gerbang utama. Aku


    akan suruh pak Mun membereskannya, kau bisa memakainya untuk toko mu nanti.” Lagi-lagi


    menjawab semudah dia bernafas.


    Kenapa hal seperti memindahkan toko


    bisa dengan mudahnya kau bilang, kalau aku bilang ingin buka toko di mall kamu


    apa kamu juga akan seringan itu menjawab. “ Baiklah biar Han yang


    membereskannya.” Sepertinya memang akan semudah itu ya. Hiks.


    “ Baiklah, saya bisa pergi dengan


    Leela, dia akan jadi supir dan mengantarku ke toko.”


    Puaskan! Kau mau mengikat leherku


    sampai sejauh mana heh.


    “ Nah begitu donk, kalau kau patuh,


    kau kan bisa hidup dengan damai.” Kecupan lembut di leher.


    Berhenti menciumiku, kau tidak tahu


    malu ada orang berdiri di sana!


    “ Tapi dia hanya akan mengantarku


    ke rukokan? Setelah itu apa dia bisa pulang.” Memastikan bahwa dia tidak akan


    di awasi 24 jam.


    “ Kau bisa menyuruhnya melakukan


    apapun. Membantumu di toko juga tidak masalah.”


    Tuh kan, kau menjadikannya satpam


    24 jam mengawasiku. Sebenarnya kamu kenapa si tuan.


    “ Tapi gajinya.”


    Saga menyentuh telinga Daniah


    sambil memainkan giginya gemas. “ aku ingin mengigitmu kalau kau banyak bicara


    lagi.”


    “ Maaf.” Daniah mengangkat


    tangannya melindungi telinganya.


    “ Kau dengar ini, lakukan semua


    yang nona katakan.” Bicara tanpa memalingkan wajah dari Daniah.


    “ Baik tuan muda.”


    “ Sekarang keluarlah!”


    “ Baik.”


    Daniah mengikuti langkah kaki


    wanita muda itu sampai dia menghilang dari pintu. Kebebasannya sedang berjalan


    menjauh sama halnya dengan kepergian Leela.


    “ Sayang, tapi apa perlu sopir, aku


    benar-benar bisa pergi tanpa sopir, aku jugakan selalu kembali sebelum


    waktunya.” Masih berusaha memohon.


    “ Kau mau mulai lagi! Mau


    benar-benar ku laraang keluar rumah.”


    “ Tapi Jen juga tidak punya sopir


    dia bisa pergi dan pulang sampai malam sendirian.” Membandingkan fakta. Jen


    yang usianya lebih muda darinya. Jen yang masih berstatus mahasiswa magang. Jen


    yang jauh lebih cantik darinya. Jen yang punya seribu satu alasan untuk dilindungi


    dari pada dirinya.


    “ Kau membandingkan dirimu dengan


    Jen.” Mendorong Daniah sampai ambruk di sofa. Saga duduk di pinggir sofa


    sementara tangan kanannya ada di samping Daniah. “ Jen tidak pernah ingin lari


    dariku. Jen tidak pernah menghilang dan membuatku kuatir!” setengah berteriak.


    Kuatir, apa dia benar-benar kuatir


    padaku.  Atau hanya  karena aku menghilang waktu habis pesta ulang tahun ibu.


    Ini hukuman untukku. Karena sudah membuatnya susah. Hei, kenapa kau pendendam


    sekali!


    “ Sayang, tapi itukan.”


    “ Masih mau membatah.”


    Daniah mengigit bibirnya agar


    berhenti bicara.


    Dia sudah mengancamku tadi, kalau


    aku membantahnya lagi dia benar-benar melarangku keluar rumah habislah aku.


    Saga mendekatkan wajahnya, Semakin


    dekat membuat Daniah memejamkan mata.


    Muah. Muah.


    “ Apa kau berdebar-debar sekarang? Kau


    bilang jantungmu ingin meledak kalau aku melakukan inikan.” Ciuman tiba-tiba


    datang, Daniah tersengal lagi. Saga menghentikan ciumannya. Sekarang dia


    memberikan kecupan lembut tiga kali di bibir Daniah. “ Buka matamu bodoh!”


    Sialan! Kenapa aku bisa menggigau


    separah itu si.


    “ Katakan!” Daniah tahu apa yang


    ingin di dengar Saga. Dia terlihat mengepalkan tangannya.


    “ Aku mencintaimu sayang.”


    Saga membelai rambut dan menyentuh


    telinga daniah. Memainkan daun telinga tipis yang mulai memerah itu.


    “ Ini terakhir kalinya aku


    menyuruhmu mengatakannya.” Mencium lembut bibit Daniah, lalu dia menjauhkan


    lagi wajahnya. “ Tapi kalau kau mau mengatakannya sendiri nanti, katakanlah,


    jangan menahannya. Katakan kau mencintaiku dengan kemauanmu sendiri.”


    Apa! mengatakan karena kemauanku


    sendiri, apa dia benar-benar ingin aku mencintainya.


    Daniah memejamkan mata saat Saga


    lagi-lagi mendekatkan wajahnya.


    Eh, kenapa? Kenapa dia tidak


    menciumku.


    Daniah membuka mata perlahan,


    melihat Saga yang sudah berdiri di samping sofa tempatnya berbaring.


    “ Apa yang kau lakukan di sana?


    Huh! Kau ketagihan aku cium ya. Bangunlah! Aku lelah mau tidur sekarang.” Berjalan


    meninggalkan Daniah yang di selimuti malu. Dia menutup pintu pelan, lalu


    tergelak tanpa suara. “ Kenapa dia lucu sekali.” Wajah malu Daniah yang


    memerah.


    Apa! Apa! apa dia sedang


    menjahiliku lagi. Aaaaaaa................


    BERSAMBUNG
『Add To Library for easy reading』
Popular recommendations
Super Gene Shadow Slave Cultivation Online Mecha Breaks the World Nine Star Hegemon Body Arts I Can Copy Talents