21Novel

Font: Big Medium Small
Dark Eye-protection
21Novel > Terpaksa Menikahi Tuan Muda > Chapter 105 Mengandung anak ku

Chapter 105 Mengandung anak ku

    Di ruang ganti baju, Saga sudah


    menganti baju yang baru saja dia pakai dengan setelan baju tidurnya. Daniah


    meletakan pakaian yang baru beberapa jam dipakai itu di keranjang baju kotor. Dengan perasaan


    sayang.


    Cih, baru juga ganti baju sudah


    ganti baju lagi. Inikan namanya pemborosan.


    “ Sayang.” Masih mematung di depan


    lemarinya, dia sudah menarik pintu dan memegangi handle lemari. Tapi belum


    membukanya.


    “ hemm.” Menatap lekat pada


    istrinya.


    “ Aku pakai baju ini saja ya.”


    Daniah menarik ujung roknya. “ aku juga baru pakai tadi.” Sayangkan, bahkan dia


    tidak berkeringat atau kotor sedikitpun. Dia saja hanya bergulingan di sofa


    tadi.


    Saga malah duduk di dekat meja


    penyimpanan jam tangan. Betopang pada satu tangannya menyandarkan bahu.


    “ Ganti bajumu dengan baju tidur.”


    Ishh, kenapa juga aku musti


    bertanya tadi. Tapi apa kau mau duduk di situ selama aku ganti baju. Tidak tahu


    malu sekali.


    “ Sayang kenapa kau tidak menunggu


    di tempat tidur saja?” sudah membuka lemari pakaian lebar, mengambil satu baju


    warna coklat.


    “ Kenapa? Memang apa yang mau kau


    sembunyikan.” Seringai di bibirnya muncul. “ Aku bahkan sudah hafal seluruh


    lekuk tubuhmu.” Tertawanya menyusul kata-katannya. Membuat Daniah memerah malu.


    Dari telinga sampai wajahnya.


    Dasar gila!


    Saga tidak beranjak dari tempat


    duduknya. Melihat istrinya satu persatu menangalkan pakaian lalu berganti


    dengan baju tidurnya. Baju tidurnya memang satu model, hanya berbeda warna.


    “ Ganti dengan warna pink.” Katanya


    tiba-tiba setelah Daniah selesai meletakan baju yang dia pakai di keranjang,


    menumpuk dengan pakaian Saga tadi.


    Apa!


    Setelah Daniah selesai dengan baju


    tidur warna coklatnya. Dia baru bicara, bukannya tadi di awal meminta Daniah


    untuk memakai baju warna pink. Ini dia sedang mengerjaikukan, batin Daniah


    kesal. Dia masih menatap Saga jengah.


    “ Aku mau kau pake yang warna


    pink.”


    Dia ini ya.


    Gemetar-gemetar kesal. Mengambil


    baju tidur berwarna pink dengan gusar. Menutup lemari dengan keras. Kali ini


    sudah tidak bersikap malu-malu. Sudah secepat kilat megganti baju supaya urusan


    cepat selesai.


    Sudah puas!


    “ Ayo tidur, aku lelah.” Menarik


    tangan Daniah. Tidak mengomentari apapun.


    Saga menjatuhkan diri lebih dulu di


    tempat tidur, lalu menarik selimutnya. Sementara Daniah mematikan lampu


    setelahnya juga naik ke atas tempat tidur. Masuk ke dalam bawah selimut.


    “ Mendekatlah!” Daniah mengeser


    tubuhnya, sampai menempel. Dia bersandar di dada Saga, sampai laki-laki itu


    bisa mencium kepalanya. “ Kau bersenang-senang hari ini.” Membelai kepala


    Daniah yang bersandar di dadanya.


    “ Hemm.” Saga menarik telinga


    Daniah mendengar jawaban istrinya. “ Apa?” Daniah bertanya sambil menyentuh


    jemari saga agar melepaskan telinganya. Sakit tahu, begitu katanya lirih.


    “ Jawab dengan benar kalau aku


    bertanya.”


    “ Maaf.”


    Padahal dia kalau ditanya jawabnya


    cuma hemm, hemm. Orang lain suruh menafsirkan sendiri. Memang semua orang


    sesakti sekertaris Han apa.


    “ Kami pergi ke spa, makan dan


    jalan-jalan sebentar tadi.”


    “ Spa?” maksud pertanyaannya tempat


    apa itu, kenapa kalian pergi ke spa.


    “ Ia, tempat untuk pijat seluruh


    badan.” Daniah menjawab sambil memperagakan tangannya memijat kaki Saga di


    sampingnya.


    “ Pijat! Kamu di pijat? Siapa? Kamu


    di pijat siapa? laki-laki atau perempuan hah!” menguncang tubuh Daniah keras.


    Membuat orang kaget saja. Daniah sampai mengeser tubuhnya panik.


    Idih apa-apaan si dia ini.


    “ Dipijat perempuan sayang. Semua


    dipijat perempuan kok. Itu juga spa khusus perempuan.” Saga mengeram kesal.


    Walaupun sudah dibilang dipijat perempuan juga tetap membuatnya kesal. “ Kami


    di pijat ramaianan kok, satu ruangan empat orang.”


    “ Apa empat orang.” Frustasi


    sendiri membayangkan. Istrinya di dalam ruangan bersama empat orang tanpa


    pakaian. “ bodoh! Memang siapa yang mengizinkanmu menunjukan tubuhmu di depan


    orang lain.” Kesal dia mendorong Daniah dari pelukannya.


    “ Apa!” Daniah juga kesal. Ada ya orang


    seperti dirimu ini. Kenapa tidak normal begini jalan pikiranmu. “ Kami kan


    pijat juga pakai baju sayang. Pakai baju. Lagian semua perempuan kok.”


    “ Memang kalau perempuan lantas


    boleh melihat tubuhmu. Cih bagaimana Leela bekerja, begini saja tidak becus.”


    Aaaa kenapa ini, kenapa bawa-bawa


    leela juga. Apa ini maksudnya dia yang selalu mengatakan kalau tuan Saga pasti


    tidak suka.


    “ Sayang maafkan aku.” Merasakan


    sinyal bahaya mengancam. “ Aku benar-benar salah dan tidak berhati-hati.


    Maafkan aku.”


    Apa si, akukan cuma di pijat


    perempuan. Kenapa sampai segitunya. Aku bahkan harus minta maaf karena di pijat


    perempuan.


    “ lain kali kalau kau mau di pijat


    katakan padaku, Han akan panggil ahli memijat nanti, lakukan hanya di depanku.”


    “ Apa?” binggung.


    “ Buka bajumu hanya di depanku.”


    Berteriak.


    “ Ia, ia baik sayang.” Kehabisan kata-kata.


    “ Ahhh, membuat kesal saja.


    Kemarilah.” Menepuk dadanya tempat tadi daniah berbaring.


    Memang aku masih berani kebali ke


    situ.


    “ Kenapa diam?”


    Daniah beringsut mendekat kepelukan


    Saga lagi. Tangan laki-laki itu menepuk kepalanya lembut.


    “ Jangan memancing kemarahanku


    lagi.”


    “ Ia sayang. Maafkan aku.”


    Kalau gila kumohon ada batasannya


    juga tuan muda, standar kehidupanmu ini aneh sekali si. Marah hanya karena aku


    di pijat. Kenapa tidak marah sekalian kalau ada laki-laki yang memanggil


    namaku. Eh, Leela pernah mengingatkanku inikan. Cih, sudah seperti aku ini


    istri yang kamu cintai setengah mati saja.


    Daniah melingkarkan tangannya


    memeluk pingang Saga. Laki-laki itu tidak bereaksi. Tapi hembusan nafasnya


    belum terdengar seperti dia sudah tidur. Daniah mendongak, melihat Saga sudah


    memejamkan matanya.


    Apa dia benar-benar mengantuk ya.


    “ Sayang, apa kau sudah tidur?”


    “ hemm.” Ternyata belum ya gumam


    Daniah.


    “ Apa aku boleh bertanya sesuatu?”


    meneruskan kata-katanya. Dia ingin iseng memastikan sesuatu. Kalau dia


    mendapatkan jawaban itu akan lebih baik, kalau tidak ya sudahlah.


    “ hemm.”


    “ Apa kau mencintaiku?”  menutup mulutnya, terkejut sendiri dengan


    pertanyaan yang ia lontarkan.


    Ayo jawablah, jawablah.


    “ hemm.” Jawaban yang sama dari


    sejak dia mulai bertanya.


    Jadi maksudnya apa?


    “ Apa kau akan menceraikanku suatu


    hari nanti.” Pertanyaan yang memancing kemarahan.


    “ Hemm.” Gemetar-gemetar geram


    sendiri Daniah. Mendongak, mata Saga tertutup. Dia ini sebenarnya sadar tidak


    si, gumam Daniah pelan.


    “ Apa kau benar-benar tidur.” Tuk,


    tuk, menusuk perut Saga, tidak ada reaksi. “ Sayang apa kau punya pacar lain di


    luar sana.”


    “ hemm.”


    “ Berhentilah menjawab hemm, hemm,


    memang aku tahu artinya apa.” menggankat kaki kirinya menyilang di kaki saga.


    Menjatuhkannya dengan keras.


    “ Kurang ajar sekali kau berani


    menindihku.” Suara Saga sama sekali tidak seperti orang yang sedang mengantuk.


    Daniah menarik kakinya pelan turun dari kaki Saga.


    “ Sayang, jadi kau belum tidur ya.


    Haha.”


    Habislah aku.


    “ Kau berisik sekali bagaimana aku


    bisa tidur.” Sudah duduk di samping Daniah yang mulai mengkerut. “ Kau tanya


    apa tadi?” Tangan mulai beraksi, menarik selimut. Menyusuri tubuh Daniah dalam


    balutan baju tidur warna pinknya.


    “ Apa aku mencintaimu? Benar mau


    mendengar jawabannya?” memainkan daun telinga Daniah yang sudah memerah.


    Antara ia, namun juga takut


    mendapat jawaban yang sebenarnya.


    “ Aku akan menjawabnya, kalau kau


    sudah mengandung anakku.” Memasukan jari ke dalam baju tipis Daniah. Tangannya


    menempel di perut, membelainya pelan. Mendengar kalimat barusan, wajah Daniah


    langsung berubah. Dia memalingkan wajah kearah berlawanan. Menutupi perasaannya.


    “ Apa kau sudah ada tanda-tanda hamil?” mencium lembut perut Daniah yang ia


    sibak. Bibirnya menempel tepat di pusar.


    “ Sayang hentikan.” Daniah berusaha


    menyenbunyikan bagian tengan perutnya dengan tangan. “Sepertinya belum. Maafkan


    aku. Sepertinya aku masih bisa mendengar jawabanmu ya.”


    Bagi Saga hamilnya Daniah adalah


    ikatan kuat yang tidak akan bisa membuat Daniah kabur darinya, kalau sampai


    istrinya hamil, dia yakin wanita dalam pelukannya ini akan berhenti memikirkan


    cara meninggalkannya.


    Bagi Daniah, kehamilannya saat ini


    adalah sesuatu yang di luar rencana hidupnya.


    “ Kenapa minta maaf, kita masih


    punya banyak waktu untuk melakukannyakan.” Sudah menjatuhkan diri di samping


    Daniah. Mulai menyentuh leher dengan bibirnya yang lembut. Membasahi telinga


    Daniah dengan kata-kata yang membuat gadis itu mencengkram tempat tidur. Saga


    sudah menarik baju tipis Daniah melemparkannya ke ujung tempat tidur. “ Kau


    yang sudah menggangu tidurku ya. Rasakan akibatnya."


    Sampai Saga selesai dan menjatuhkan


    diri di sampingnya, memeluknya erat, ada buliran airmata di matanya menetes.


    Daniah dirasuki perasaan bersalah dan takut sekaligus.


    Kenapa kau mengatakan menginginkan


    anak dari ku.


    Malam semakin larut, cukup lama


    sampai Daniah juga ikut terlelap di samping Saga.


    BERSAMBUNG
『Add To Library for easy reading』
Popular recommendations
Super Gene Shadow Slave Cultivation Online Mecha Breaks the World Nine Star Hegemon Body Arts I Can Copy Talents