21Novel

Font: Big Medium Small
Dark Eye-protection
21Novel > Terpaksa Menikahi Tuan Muda > Chapter 109 Senang

Chapter 109 Senang

    Malam sudah semakin larut ketika


    mobil memasuki gerbang utama. Hanya ada beberapa penjaga yang bertugas malam


    yang terlihat masih bersiaga di posisi jaga mereka masing-masing. Sisanya sudah


    masuk ke dalam kamar mereka. Meluruskan kaki dan punggung setelah seharian


    bekerja keras. Mengumpulkan kembali ceceran tenaga untuk dipakai besok kembali.


    Perputaran rutinitas harian yang tiada habisnya.


    Sesampainya kendaraan di dekat


    pintu utama.  Han ikut masuk mengikuti


    Saga, dia ingin melihat dan memastikan sendiri. Bagaimana suasana hati Daniah


    saat ini. Apakah dugaannya benar, tentu saja harus benar, karena diakan selalu benar.


    Ko mohon cemburulah nona, tuan muda


    sudah menendangku karena kemunculan Helen, kalau sekarang anda tidak cemburu


    habislah aku malam ini.


    “ Apa semua sudah masuk ke kamar?”


    Duduk di sofa menyapu ruangan yang sepi. Bahkan Pak Mun sudah mematikan beberapa lampu di sudut ruangan yang sudah tidak mungkin di lewati orang lagi.


    Pak mun bangun setelah meletakan


    sandal di samping kaki Saga. mulai memberikan informasi dari hasil pengamatannya.


    “ Nona Jen dan nona Sofi cukup lama


    di luar setelah makan malam tadi, tapi nona Daniah hanya turun dari kamar untuk


    makan malam.” Pak Mun menjelaskan.


    Sepertinya aku selamat. Han.


    “ Kenapa?” Saga sudah mulai


    terpancing untuk tersenyum.


    “ Siang tadi nona bertiga menonton


    tv bersama acara peresmian danau hijau. Tapi nona Daniah juga tidak menonton


    sampai acara selesai.”


    “ Kenapa?” wajah Saga sudah mulai


    terlihat senang sekarang.


    Lihat tuan muda sudah mulai girang.


    Sepertinya aku bisa pulang sekarang dengan tenang.


    Pak Mun melihat ke arah sekertaris


    Han, meyakinkan diri apa dia boleh menyampaikan informasi ini. Han mengangukan


    kepalanya.


    Tentu saja sampaikan saja, bahkan


    kalau kau lebih-lebihkan itu akan jadi semakin baik.


    “ Nona Daniah terlihat mulai kesal


    saat melihat nona Helena dalam acara peresmian tadi. Apalagi saat anda berjalan


    dan memilih duduk di sampingnya.”


    “ Semarah apa dia?”


    Aku akan senang kalau kau


    membanting sesuatu misalnya.


    “ Sepertinya dia memaki dalam hati,


    karena wajahnya terlihat sangat kesal. Dia bahkan pergi setelah menjatuhkan


    sekotak stroberi.” Walaupun itu sebenarnya tidak sengaja. “ Setelah itu nona


    benar-benar masuk ke dalam kamar. Saat anda naik ke podium dan meresmikan danau


    hijau nona Jen memanggilnya. Tapi nona Daniah tidak keluar kamar. Dia hanya


    keluar kamar untuk makan malam lalu kembali ke kamar lagi.”


    “ Wahh sepertinya dia kesal sekali.


    Baiklah, terimakasih kerja keras pak Mun hari ini. Istirahatlah!” Saga bangun


    dan menepuk bahu Pak Mun, puas dengan hasil kerjanya.


    “ Baik tuan muda. Selamat malam.”


    Pak Mun membungkukan kepala, berlalu membawa sepatu Saga dengan sangat


    hati-hati di tangannya.


    “ Saya akan mengantar anda sampai


    ke kamar tuan muda.” Han mengikuti langkah kaki Saga di belakangnya. Han


    membukakan pintu kamar. “ Tuan muda saya mohon jaga emosi anda walaupun apa


    yang nona Daniah lakukan nanti.”


    “ Pulang sana! Kamu pikir aku


    sebodoh itu apa.”


    Andakan memang bodoh akhir-akhir


    ini kalau berhubungan dengan nona.


    Tapi Han berlalu benar-benar dengan


    perasaan tenang. Satu masalah terlewat pikirnya. Sekarang tinggal pernyataaan


    cinta secara resmikan.


    Memasuki kamar, Saga mendapati


    lampu sudah di matikan, saat dia melewati tempat tidur dia diam sebentar. Melihat


    Daniah di bawah selimut sampai menutupi lehernya. Hanya sedikit kepalanya yang


    terlihat.


    Kau sedang pura-pura tidur ya.


    Dia tidak mendekat lalu langsung


    masuk kedalam ruang ganti baju. Masuk ke kamar mandi lalu berganti dengan baju


    tidurnya. Menyisir rambutnya dan menatap wajahnya sendiri di cermin.


    Kita lihat, secemburu apa kau?


    Tergelak melihat dirinya sendiri.


    “ Sayang, kau sudah tidur?”


    mendekat ke arah tempat tidur.


    Cih, memanggilku sayang setelah kau


    berduaan dengan Helen. Jangan pikir aku akan melunak karena kau panggil sayang


    ya.


    Daniah berada di bawah selimut,


    masih memejamkan mata, memiringkan tubuhnya kekiri sambil memeluk bantal


    guling. Saga naik ke atas tempat tidur, masuk ke dalam selimut. Menjatuhkan tubuhnya


    ke atas bantal yang nyaman. Dia menyentuh kepala Daniah lembut. Membelainya


    perlahan.


    Aku ingin mencium dan memeluknya.


    “ Sudah tidur ya?” diam tidak ada


    sahutan. Saga mengeser tubuhnya mendekat.” Sayang.” Saga menarik rambut Daniah.


    Cukup keras membuat gadis itu tidak bisa untuk tidak mengeluarkan suara.


    Daniah pura-pura menguap, dia


    membalikan badan. Tapi tetap berada di bawah selimutnya rapat. “Sudah pulang


    ya? Tidurlah, kamu pasti lelahkan.”


    “ Tidak juga.” Memainkan rambut


    Daniah lagi.


    Daniah menyentuh tangan Saga,


    menghentikan suaminya memainkan rambutnya. Lalu melepaskan tangan Saga saat dia


    sudah meletakannya di atas tempat tidur.


    Jangan menyentuhku, dasar tidak tau


    malu.


    “ Kau pasti sangat senang hari ini


    kan.” Daniah bertanya singkat. Tentu saja, kau bertemu Helen di danau hijau dan


    duduk berdua bersandingan, kau pasti sangat senang sekarang.


    “ Lumayan.” Aku senang melihat


    wajah-wajah bahagia orang-orang.


    Lihat! Lihat! Kau senang sekalikan.


    Jadi pergi sana, pergi pada helen kenapa kau malah pulang kemari.


    “ kemarilah!” Saga menarik selimut


    agar terbuka, dia ingin Daniah mendekat padanya. Tapi Daniah diam saja, dia


    tidak bergerak ataupun menjawab dengan kata-kata. Dia sedang memberanikan diri


    untuk melakukan aksi protesnya. “Kemari!” karena Daniah tidak bergeming Saga


    menarik selimut dengan keras sampai selimut itu menumpuk dalam dekapannya. Di


    lemparkan selimut itu ke lantai.


    “ Kenapa kau tidur tidak memakai


    baju tidur?” melihat pakaian yang di sembunyikan Daniah di bawah selimutnya


    tadi.


    Lagi-lagi Daniah diam tidak


    menjawab. Dia malah memiringkan tubuhnya. Wahh, ternyata kecemburuan


    benar-benar bisa menjadi bahan bakar keberanian ya. Kalau dalam situasi normal


    jangankan diam sampai Saga mengeluarkan perintah untuk ketiga kalinya. Baru


    berteriak sekali saja nyalinya pasti sudah menciut.


    “ Ganti bajumu!” tapi percayalah


    Saga sudah mulai tergelak sekarang. Dia mulai menikmati suasana hati Daniah


    yang buruk. “ Ganti bajumu dengan baju tidur sekarang!” sudah mulai meninggikan


    intonasi.


    Lihat, sejauh mana kau akan


    membangkang.


    “ Tidak mau!” menarik bantal guling


    semakin erat dalam pelukan.


    Aku pasti sudah gila! Ini pertama


    kalinya semenjak menikah aku berani mengatakan tidak mau di depannya.


    “ Hahaha.”


    Apa! dia tertawa.


    “ Baiklah! Karena aku sedang


    senang, kubiarkan kau membangkang hari ini.” Masih tersisa gelak di udara.


    Sesenang itu ya kau bertemu Helen,


    kalau begitu ceraikan aku dan pergi ke pelukannya sekarang, kenapa kau masih di


    sini. eh, apa yang kau lakukan?


    Saga sudah mendekat, menempelkan


    tubuhnya. Daniah bisa merasakan nafas Saga di punggungnya. Apalagi saat


    laki-laki itu mengulung rambutnya ke atas. Dia sudah menempelkan bibirnya di


    bahunya. Dan meletakan tangannya tepat di atas dada Daniah.


    Kurang ajar, singkirkan tanganmu!


    Tangan itu sudah tidak bisa diam.


    Semakin keras cengkramannya. Daniah menyentuh punggung tangan Saga. Membuat


    laki-laki itu menghentikan gerakanan tangannya. “ Kenapa?” tanyanya.


    “ Tidurlah, kau pasti lelah.” Tapi


    dia memaki dalam hati dengan suara sangat keras. Daniah memindahkan tangan Saga


    ke belakang pinggangnya. Tapi belum dia meletakan tangannya tangannya sendiri,


    Saga sudah kembali ke posisi semula tadi dia meletakan tangan. Lagi-lagi


    melakukan tindakan serupa. Jauh lebih keras dari pada yang tadi. Sambil meringis


    pelan. Lagi-lagi Daniah menghentikan tangan Saga dan memindahkannya ke balik


    punggungnya lagi. Saga mencium punggungnya keras. Dengan bekas warna merah


    tertinggal di sana.


    “ Aku memang membiarkanku sedikit


    membangkang, tapi jangan bersikap kurang ajar juga.” Saat lagi-lagi Saga


    mengembalikan tangannya ke posisi yang tadi, Daniah tidak punya keberanian


    untuk memindahkan tangan itu.


    Hei, jiwa yang sedang cemburu gila,


    beri aku keberanian lagi sialan.


    Tapi tetap dia tidak berani


    menghentikan tangan atau bibir saga yang sudah melakukan aktivitas semaunya.


    “ Apa kau menonton acara peresmian


    tadi?”


    “ hemm.”


    Saga tergelak mendengar jawaban


    Daniah.


    Wahhh, wahh, kenapa aku sesenang


    ini dengan sikapmu ya. Tunjukan kecemburuanmu lebih dari ini.


    “ Apa kau menonton sampai selesai?


    Apa aku terlihat keren di sana.” Semakin memancing, tahu Daniah yang malas


    untuk sekedar menanggapi.


    Huh! Kau mau aku memuji apa. kalau


    kau serasi dengan Helen.


    “ Tentu saja, kau terlihat sangat


    tampan di antara lautan manusia. Helen juga terlihat sangat cantik. Kalian


    terlihat sangat serasi sekali.”


    Aku menyebut nama Helen tapi kau


    malah tertawa. Lihatkan kau masih sangat menyukainyakan. Sekarang lepaskan


    tanganmu jangan menyentuh tubuhku. Biasanya kau akan mencekik atau menciumku


    sampai aku kehabisan nafas kalau aku menyebut nama Helen.


    “ Lepaskan aku!” sebenarnya Daniah


    mengatakannya tidak terlalu keras, tapi karena dia menarik tangan Saga dan


    menjatuhkan tangan itu dengan keras menjauhi tubuhnya membuat Saga mendesah.


    “ Sudah ku bilangkan jaga sikapmu!”


    dia sudah mulai menaikan intonasi suaranya. “ Kau  sedang menolakku sekarang.”


    Daniah mengigit bibirnya keras.


    Bagaimana ini, dia sepertinya


    sangat marah.


    “ ia, kau menolakku!” menuding


    kening Daniah dengan telunjuknya.


    Haha, lihat sampai kapan kau akan


    menunjukan kemarahanmu.


    “ Ia aku sedang menolakmu. Kenapa?


    Kamu marah. Pergi dan temui Helen sana.” Mendorong tubuh Saha yang duduk di


    sampingnya.


    Kecemburuan gila, kenapa dosis


    keberanianmu berlipat ganda begini. Hei, hentikan aku. Kalau laki-laki ini


    benar-benar marah aku bisa mati malam ini juga.


    “ Jangan menyentuhku. Sentuh Helen


    sana!”


    Saga tertawa keras, suaranya


    memenuhi langit-langit kamar. Membuat Daniah menciut, dan tawa itu seperti


    menyadarkannya. Dia melihat tangan yang baru dia pakai mendorong Saga.


    Aku benar-benar sudah gila. Aku


    mendorongnya dalam keadaan sadar.


    “ Baiklah, karena aku sedang senang


    sekarang, aku maafkan pembangkangan dan sikap kurang ajarmu malam ini.” Menjatuhkan


    diri ke samping tubuh Daniah. Masih ada sisa gelak tawa. Dia sudah menaikan


    kakinya. Mendekap tubuh daniah dalam pelukannya. Gadis itu mengoyangkan


    tubuhnya agar di lepaskan. Hanya sejauh itu sepertinya energi kecemburuan yang


    di hasilkan. Karena dia terlihat mulai diam dan membiarkan Saga melakukan apa


    yang ia inginkan.


    BERSAMBUNG
『Add To Library for easy reading』
Popular recommendations
Super Gene Shadow Slave Cultivation Online Mecha Breaks the World Nine Star Hegemon Body Arts I Can Copy Talents