21Novel

Font: Big Medium Small
Dark Eye-protection
21Novel > Terpaksa Menikahi Tuan Muda > Chapter 110 sakit perut

Chapter 110 sakit perut

    Seharusnya adegan romantis itu


    selalu meibatkan dua pihak di dalamnya. Tapi sepertinya kali ini tidak. Daniah


    yang diam seperti batu, bagi Saga ini adalah reaksi paling romantis yang


    ditunjukan istrinya sepanjang perjalanannya menikah. Kali ini, dia mulai bisa


    meraba sedalam apa hati istrinya. Menemukan ruang kecil yang menyimpan namanya


    di sana. Setelah merasa senang sendiri dan puas dengan apa yang dia lakukan


    Saga menyandarkan dagunya di bahu Daniah. Menciumi bahu itu lembut.


    “ Kata pak Mun kamu tidak menonton


    sampai selesai acara peresmian tadi. Kenapa? Kau bahkan tidak melihatku naik


    podiumkan?”


    Tidak! Untuk apa aku melihatmu dan


    Helen bersama.


    “ Kenapa?” menyusuri leher Daniah


    dengan tangannya, saat istrinya masih menunjukan protes dengan membisu. “


    Lehermu kecil sekali ya. Kalau aku mencekikmu kau bisa mati tidak ya.” Tergelak


    sendiri.


    Kurang ajar, dia sedang mengancamku


    sambil tertawakan.


    “ Tadi aku kurang enak badan, jadi


    aku naik ke kamar untuk istirahat.”


    Menyelamatkan diri dengan alasan


    paling klise di muka bumi ini, hayo ngaku siapa yang sering pura-pura sakit


    supaya bisa tiduran di uks atau pergi beli minum di kantin. Wwkwkw. Tapi,


    alasan yang dilontarkan Daniah karena bingung untuk menyelamatkan dirinya, akan


    menjadi bumerang hebat yang ia sesali memilih sakit sebagai alasan.


    “ Tidak enak badan. Kamu sakit?”


    Saga sudah duduk di samping Daniah. Menyentuh kepala Daniah dengan tangan.  Lalu menempelkan keningnya ke kening Daniah.


    Memeriksa suhu tubuhnya. “ Apa kau demam? Apa yang sakit?” sudah setengah


    berteriak karena panik.


    Apa si orang ini.


    “ Cuma sakit perut kok.”  Masalah baru karena dia memilih sakit perut


    dari semua bagian tubuhnya.


    Daniah seharusnya kau ingat nasehat


    sekertaris Han untuk hati-hati bicara dengan tuan Saga, sesuatu yang kamu


    anggap hanya candaan bisa saja di tanggapi dengan sangat serius oleh tuan Saga.


    Seperti sakit perutmu saat ini.


    “ Sakit perut!” Saga duduk, membuka


    laci meja di samping tempat tidurnya. Dia meraih remot. Lalu blarr lampu


    menyala.


    Apa! dia punya remote untuk


    menyalakan lampu tapi selalu ribut padaku untuk matikan lampu. Dasar makhluk


    menjengkelkan.


    Daniah seharusnya bukan itu yang


    kau perhatikan. Tapi suamimu. Saga sudah meraih telfon rumah. Cukup lama dering


    suara. Wajah panik Saga menunggu telfon diangkat.


    “ Sialan! Apa semua orang sudah


    tidur!” sudah mau bangun saat suara sengau pak Mun karena terkejut menjawab


    dari sana. Dia pasti menjawab telfon sambil mengumpulkan nyawa. Karena dia


    sudah tertidur sebentar tadi.


    “ Maaf tuan muda. Ada apa?”


    “ Panggil dokter Harun. Sekarang.”


    Tanpa penjelasan apa-apa sudah membanting telfon. Tidak menyadari kalau


    tindakannya memutus telfon seenaknya membuat si penerima kalang kabut sendiri. Beralih


    pada Daniah sekarang. Wajah gadis itu pias, bukan karena sakit tapi karena


    terkejut dengan reaksi Saga yang berlebihan. “ Tunggu ya, dokter Harun akan


    segera datang. Apa sakit sekali.”


    “ Sayang, aku gak papa kok. Sudah


    gak sakit lagi.” Daniah yang mau bangun duduk, di cegah oleh Saga. Laki-laki


    itu meluruskan kaki Daniah. Membuat Daniah semakin frustasi, bagaimana


    menyadarkan kegilaan suaminya ini.


    “ Mana yang sakit? Sini.” meraba


    pelan bagian perut. Berpindah dari satu titik ketitik yang lain. Menekannya sedikit


    saja. “ Apa perlu di kompres dengan air hangat? Ahh, mana lagi pak Mun kenapa


    belum naik juga.” Gusar lagi karena kepanikannya.


    “ Sayang aku gak papa.”


    Lupa sudah dengan rasa cemburunya


    yang tadi, berganti frustasi dengan sikap Saga.


    Akhirnya Pak Mun muncul setelah dia


    mengetuk pintu kamar dan mendengar Saga menyahut. Dia masuk dengan wajah


    gelisah dan kuatir, sebenarnya ada apa ini, begitu yang dipikirkannya sepanjang


    menaiki tangga.


    “ Tuan muda apa anda sakit.” Laki-laki


    itu sudah terlihat tidak mengantuk. Tentu saja, dia sudah membangunkan beberapa


    pelayan di rumah belakang. Menyuruh beberapa pengawal bersiaga di posisinya.


    Kantuknya seketika lenyap saat nama dokter Harun di sebut.


    “ Bukan aku yang sakit tapi istriku!”


    berteriak ke segala arah.


    “ Nona muda?” Pak Mun bingung,


    melihat Daniah yang terbaring terlentang dengan tangan bertumpu diperut dan


    kaki yang lurus selonjoran. “ Maafkan saya tuan muda.” Bukankah nona baik-baaik


    saja tadi gumamnya. Tapi tidak berani membantah atau memberi informasi apa-apa.


    “ Bagaimana kau menjaga istriku?


    Dia sakit saja sampai kau tidak tahu.”


    “ Maaf tuan muda.”


    “ Siapkan air hangat sekarang.


    Sebelum dokter Harun datang aku mau mengompres perutnya. Dan bawakan air hangat


    dan madu untuknya minum juga.” Instruksi mendetail dia berikan.


    “ Eh, baik tuan muda.”


    Pak Mun keluar kamar dengan segera.


    Meninggalkan mereka berdua. Sekilas pak Mun bisa melihat wajah nona mudanya


    memeng agak terlihat pias, tapi sepertinya dia baik-baik saja.


    Bagaimana ini? Bukan ini


    rencananya. Kenapa dia tiba-tiba mengila begini si mendengar aku sakit. Daniah


    semakin frustasi mencengkram seprei tempat tidurnya.


    Saga naik lagi ke tempat tidur


    duduk di samping Daniah yang sedang berfikir keras bagaimana mengakhiri


    sandiwara ini. Saga membelai kepalanya, mencium kening dan pipi serta seluruh


    bagian wajahnya.


    “ Yang mana yang sakit?”


    Aku tidak sakit! Aku Cuma pura-pura


    sakit. Kenapa kau bodoh sekali si tuan muda!


    “ Sayang, aku sudah tidak apa.


    tidak perlu sampai memanggil dokter Harun segala.”


    Aku pasti ketahuan kalau cuma


    pura-pura nanti. Habislah aku sudah membuat keributan seisi rumah ini.


    Ketukan pintu lagi.


    “ Kak Saga, ini kami, boleh kami


    masuk?” suara jen dan Sofi.


    “ hemm, masuklah.”


    Jen dan Sofia yang terbangun karena


    keributan di lantai bawah yang dilakukan pak Mun saat memberi instruksi kepada


    para pelayan tadi.


    “ Kakak ipar kenapa?” Mereka


    mendekat ke tempat tidur. Mendapati Saga di samping Daniah yang sedang memegang


    tangan kakak iparnya erat.


    “ Seharusnya aku yang tanyakan.


    Seharian aku menyuruh kalian menemani kakak ipar kaliankan, kenapa dia sakit


    perut sampai kalian tidak tahu!”


    Jen dan Sofi mengigit bibir mereka.


    “ Sayang aku gak papa.”


    Maafkan aku jen, maafkan aku Sofi.


    Aku benar-benar tidak sengaja melakukan ini.


    “ Maaf kak, maafkan aku. Kakak ipar


    bukan sakit karena makan jajanan yang aku beli tadikan?” Bertanya. Kesalahan


    fatal jen, menyebut kalau dia membawa jajanan.


    “ Jajanan, kau memberi kakak iparmu


    makanan apa hah?” marah, bangun dari duduk. “ Sudah kubilang hati-hati dengan


    makanan yang masuk ke tubuh mu kan.” Rasanya mau mati saja, Daniah merasa


    sangat bersalah sekali pada jen dan Sofi.


    “ Eh, tapi kakak ipar gak makan


    jajanan kok. Tadi kakak ipar cuma makan stroberi. Iakan kakak ipar.”


    Selamatkan kami kakak ipar.


    “ Ia sayang, aku tidak makan


    makanan aneh apapun kok. Aku hanya makan stroberi dan makan malam saja. Jangan


    salahkan jen dan Sofi.”


    Pak Mun muncul dengan membawa gelas


    berisi air hangat dan madu. Lalu pelayan di belakangnya membawa mangkuk kaca


    dan beberapa tumpuk handuk di sebelahnya. Saga segera mengambil gelas di tangan


    pak Mun. Lalu naik ke tempat tidur.


    “ Duduklah! Kau bisa bangun.” Sudah


    mau menyerahkan gelasnya dan membantu Daniah bangun. Tapi Gadis tu bergerak


    cepat untuk duduk. “ Minumlah, biar perutmu hangat. Sebelum dokter Harun


    datang.” Menyelipkan rambut Daniah ke belakang telinga. Dia membantu Daniah


    minum. “ Pelan-pelan saja minumnya, nanti kamu tersendak.” Tapi Daniah ingin


    segera menghabiskan air madu di gelasnya. Supaya semua orang yang ada di


    kamarnya ini segera bisa pergi. Dia sedang binggung, malu plus takut bercampur


    aduk.


    “ Berikan handuknya.” Saga mengulurkan tangan.


    “ Baik tuan muda.”


    “ Kakak ipar, apa kakak ipar sedang


    hamil.” Jen menyela.


    Hei Jen jangan bicara sembarangan!


    Tapi kata-kata jen sudah seperti


    menyambar semua telinga orang yang ada di dalam kamar. Saga yang belum


    menempelkan handuk di perut Daniah menjatuhkan benda itu di atas kasur.


    “ Hamil? Sayang apa kamu sungguh


    sedang hamil.” Menyentuh kedua tangan Daniah, mengengamnya erat.


    “ Tidak! Jen jangan bicara


    sembarangan. Aku sedang tidak hamil sayang.”


    Aku tidak mungkin hamil. Aku sedang


    pura-pura sakit untuk membalasmu.. tapi malah kenapa karma ini jatuh menimpaku.


    “ kenapa? Bisa jadi kakak ipar


    benar-benar hamilkan. Haha, aku mau punya keponakan donk.”


    Hentikan bualanmu jen. Hei tuan


    muda kenapa wajahmu sesenang itu, jangan percaya dengan omong kosong Jen.


    “ Sayang aku tidak hamil. Aku.”


    Hanya sedang pura-pura sakit.


    Bagaimana ini aku mengatakannya.


    Di tengah kegaduhan tentang


    kehamilan datanglah dokter Harun. Daniah bernafas lega. Seseorang yang bisa menyelamatkannya.


    Pak Mun dan pelayan wanita keluar dari kamar.


    “ Apa yang terjadi?” Dokter Harun


    binggung. “ Siapa yang sakit?” sepanjang perjalanan dia hanya menduga-duga. Pak


    Mun tidak memberi tahukan ada apa dan siapa yang sakit. Dia Cuma mengatakan secepatnya


    dokter Harun di minta datang kerumah tuan Saga.


    Apa ini sedang main dokter-dokteran


    lagi!


    “ Kak Harun sepertinya kakak ipar


    sedang hamil.” Jen dengan sok tahunya kembali angkat bicara mewakili, memberi


    jawaban dari pandangan kebingungan dokter Harun.


    “ Hamil!”


    “ Tidak dok!” Daniah berteriak.


    Ingin kesalah pahaman ini segera berakhir. “ Saya hanya sedikit sakit perut


    saja.”


    “ Sedikit bagaimana, kalau sakit tetap sakit. Tidak ada yang namanya sedikit


    sakit.” Saga protes.


    Tunggu, ini benar lagi main


    dokter-dokteran. Tuhan, kenapa aku terjebak di keluarga ini. Kenapa aku punya


    teman mengerikan seperti Saga dalam hidupku.


    “ Baiklah, kita periksa dulu


    sebentar ya kakak ipar.”


    “ hei, siapa yang kakak iparmu. Dia


    istriku.” Protes lagi.


    Dokter Harun tertawa menanggapi


    perkataan Saga. Dia mendekat ke arah tempat duduk ke samping kiri Daniah.


    Meminta Daniah mengulurkan tangannya.


    “ Hei, kenapa kau menyentuh


    istriku. Lepaskan!” berteriak.


    “ Bagaimana aku memeriksa istrimu


    sialan kalau aku tidak boleh menyentuhnya.” Dokter Harun ingin membanting alat


    di tangannya. Geram.


    “ Seharusnya kau bawa perawat


    wanita tadi!” masih tak kalah marahnya.


    “ Akukan tidak tahu kalau kakak


    ipar yang sakit.” Pak Mun saja Cuma menyuruh segera datang ke rumah tuan Saga. Tanpa


    info apa-apa. sepanjang perjalanan saja Harun sudah panik dengan menduga-duga


    sebenarnya terjadi apa.


    “ Dia bukan kakak iparmu.” Berteriak


    lagi.


    Jen sudah memegang bahu Saga. Sofi


    juga memegang tangan kiri Saga.


    “ Biar kak Harun memeriksa kakak


    ipar dulu kak. Sebentar saja. Hanya menyentuh tangan sedikit saja.”


    Saga mengibaskan tubuhnya.


    Memandang dokter Harun dengan geram. Apalagi saat dia menyuruh Daniah


    berbaring. Saga bahkan mengumpat kesal saat Harun menekan perut Daniah di beberapa


    posisi. Lali-laki itu memeriksa tangan Daniah lebih teliti.


    Benarkan ini cuma main


    dokter-dokteran.


    Dia melirik Daniah lalu tersenyum.


    Apa yang anda rencanakan kakak ipar?


    “ Istrimu hanya perlu istirahat


    sebentar, dia tidak apa-apa.”


    “ Hei!” sudah mau protes. Soalnya tadi


    Daniah bilang sakit seharusnya diagnosa Harun juga menyatakan istrinya sakit.


    “ Benarkan nona?” Harun mengedipkan


    mata kirinya.


    “ ia sayang, aku pasti hanya lelah.


    Aku benar-benar tidak apa-apa. “ Hentikan kegilaanmu ini. Memohon dalam hati


    agar sandiwara sakit malam ini berakhir dengan damai.


    “ Baiklah nona sekarang


    istirahatlah. Kalian berdua juga pergi tidur sana. Kenapa bocah jam segini


    masih terjaga juga.” Tudingnya pada jen dan Sofi. “ Saga, antar aku.”


    “ kenapa aku harus mengantarmu. Aku


    mau menemani istriku. Jen panggil pak Mun.” Menolak, Saga memilih mau naik ke


    tempat tidur lagi.


    “ Baik kak.” Jen sudah mau


    bergerak.


    “ Hei, aku mau kau mengantarmu.”


    Mendorong tubuh Saga. “ Nona Daniah istirahat saja ya.”


    “ Jangan bicara dengan istriku.”


    “ Sudah-sudah ayo keluar sebentar.”


    Harun menarik lengan Saga. Saga memukul tangannya. “ Sakit tahu.”


    Dia berbalik sebelum keluar pintu. Bicara


    pada Daniah.


    “ Tidurlah! Aku keluar sebentar.”


    “ Ia sayang.”


    Saat pintu sudah tertutup. Daniah


    menendang selimutnya.


    Kenapa? Kenapa malah jadi begini


    si! Kenapa malah jadi aku yang terpojok di sini.


    BERSAMBUNG
『Add To Library for easy reading』
Popular recommendations
Super Gene Shadow Slave Cultivation Online Mecha Breaks the World Nine Star Hegemon Body Arts I Can Copy Talents