21Novel

Font: Big Medium Small
Dark Eye-protection
21Novel > Terpaksa Menikahi Tuan Muda > Chapter 111 Pil Penunda Kehamilan

Chapter 111 Pil Penunda Kehamilan

    Di depan tangga Saga mendorong


    tubuh Harun. “ Sudah pergi sana!”


    Dokter Harun tidak mengubris dia


    mendorong Saga menuruni tangga. Lalu dia menoleh pada Jen dan Sofi yang


    mengikuti mereka. “ Tidur sana! Kulit kalian bisa keriput kalau begadang


    nanti.”


    “ aaaa, ia kak kami tidur. Selamat


    malam kak Saga, selamat malam kak Harun.” Tahu kalau keberadaan mereka tidak


    diinginkan.


    “ Ia, ia sudah pergi kekamar kalian


    sana.” Harun yang menjawab melalui lambaian tangannya.


    Pak Mun sudah menunggu di bawah


    tangga, para pelayan sudah dibubarkan untuk kembali ke kamar mereka


    masing-masing. Kedatangan dokter Harun sekalipun tidak melakukan apa-apa sudah


    menyelamatkan ketenangan rumah ini.


    “ Pak Mun antar dia keluar.” Saga


    ingin segera mengusir Harun dari pandangannya. Dia ingin segera kembali ke


    kamar dan memeluk istrinya.


    “ Hei aku mau bicara denganmu.”


    “ Besok lagi, tidak lihat tadi. Aku


    mau menemani istriku.” Menyingkir kau jomblo begitu teriak Saga.


    “ Ini masalah penting, tentang


    kakak ipar.” Berjalan menuju ruang kerja Saga. Dia tahu, kata-katanya barusan


    pasti sudah bisa memancing Saga mengikutinya.


    “ Sudah ku bilang dia bukan kakak


    iparmu!”


    Pak Mun mengikuti langkah kaki


    keduanya, dia ikut masuk ke dalam ruang kerja Saga. Berdiri di samping sofa.


    “ Apa kau menyuruh istrimu minum


    pil kontrasepsi penunda kehamilan?” Pertanyaaan Harun langsung menyambar, wajah


    Saga terlihat sangat marah mendengarnya.


    “ Apa maksudmu? Apa Daniah minum


    pil kontrasepsi?” pertanyaan yang tidak percaya bisa dia tanyakan. Tidak, dia


    bahkan tidak percaya kalau Daniah sampai punya keberanian untuk melakukan itu.


    “ Jadi tidak ya. Sepertinya dia


    minum secara diam-diam di belakangmu.” Lirih menjelaskan, walaupun dia sendiri


    punya perasaan tidak enak mengatakan ini.


    Saga sudah terlihat sangat marah.


    Dokter Harun sudah panik, apa dia akan meneruskan kalimatnya atau tidak.


    Gawat! Aku pasti salah bicara.


    Sialan! Seharusnya aku tidak perlu mengatakannya tadi.


    “ Tunggu, tapi aku belum seratus persen


    yakin juga. Aku hanya memeriksa tangan istrimu, pil KB terkadang menimbulkan


    efek tertentu di kulit. Mungkin karena jenis kulit sensitif iatrimu jadi itu


    semakin mudah di lihat. Tapi aku belum bisa meastikan benar-benar.”


    “ pak Mun!” Sorot mata Saga menakutkan.


    “ Saga, tunggu apa yang mau kamu


    lakukan.”


    Kamu tidak akan menyeret istrimu


    kemari dan menanyakan langsung apa dia pakai pil kontrasepsi atau tidakkan.


    “ Pindahkan Daniah ke kamar tamu di


    lantai atas. Dan bawa pelayan memeriksa setiap sudut kamar. Temukan apapun


    itu.” Brak! Dia mengembrak meja. “ Temukan pil atau apapun itu yang dikatakan


    Harun.”


    “ Baik tuan muda.” Pak Mun merasa


    kuatir meninggalkan ruangan.


    Dan tertinggalah Harun yang sama


    kuatir dan paniknya. Pak Mun baru saja memegang gagang pintu.


    “ Tunggu!” Pak Mun berbalik “


    Bawakan baju tidurnya juga, katakan padanya untuk menganti bajunya dan


    menungguku.”


    “ Baik tuan muda.”


    Bagaimana ini? Aku benar-benar


    merasa bersalah padamu Daniah. Dokter Harun semakin panik saat mendengar


    perintah Saga barusan.


    Saga menendang meja kesal, bahkan


    benda itu sudah mau terjungkal kalau Harun tidak memeganginya.


    “ Saga tenangkan dirimu.”


    “ Diam kau!”


    Aaa, mati aku. Bagaimana Han bisa


    tahan menghadapinya selama ini. Aku merindukan sekertaris Han. Kenapa aku tidak


    menghubunginya tadi sebelum kemari. Bodoh. Bodoh.


    Saga bangun dari tempat duduknya.


    Dia berjalan menuju kursi kerjanya, yang dikuatirkan Harun terjadi. Semua yang


    ada dia ats meja sudah jatuh berhamburan, berserak di lantai. Tidak tahu berkas


    penting atau tidak.


    Beraninya kau! Pantas saat aku


    bicara tentang kehamilan tubuhmu langsung membeku, dan wajahmu berubah.


    Ternyata kau benar minum pil pencegah kehamilan.


    “ Saga, tenangkan dirimu. Istrimu


    pasti melakukan karena dia punya alasan.”


    Saga mendekat menginjak


    dokumen-dokumen saat melewatinya. Duduk kembali ke sofa. Menatap dokter Harun.


    “ Dia pasti hanya ingin melindungi


    dirinya.”


    “ Melindungi diri?” mencengkram bahu


    Harun. “ Memang apa yang sudah kulakukan padanya sampai dia perlu melindungi


    dirinya. Aku bahkan sudah memberikan seluruh perasaanku padanya.”


    Tapi diakan tidak tahu bodoh kalau


    kau menyukainya.


    “ Han bilang dia masih berfikir


    kalau kau masih menyukai Helen.” Melotot karena Harun menyebut nama helen. “


    Baiklah pelukis itu.” Bahkan sekarang mendengar nama Helen sangat menjengkelkan


    di telinganya. “ Jadi aku rasa dia hanya ingin melindungi dirinya, karena takut


    kau akan membuangnya.”


    Ayolah sadarlah, memang begitu


    kenyataannya.


    “ Saga mengertilah posisinya. Awal


    pernikahan kalian seperti apa pasti kamu sendiri yang tahukan. Bagaimana kau


    memperlakukannya juga. Dia pasti tidak akan sepercaya diri itu berfikir kalau


    kau benar-benar menyukainya.”


    “ Sial, sial!” Saga mengacak


    rambutnya sendiri kesal. Semua kata-kata Harun tidak ada yang bisa di


    bantahnya. Semuanya benar. Bagaimana dia melemparkan surat perjanjian di


    depannya. Bagaimana dia memperlakukan daniah sebatas pembantu yaang harus


    menjalankan kewajiban sebagai seorang istri tanpa banyak bicara. Tanpa bisa


    menolak, tanpa punya hak untuk berkata tidak. Dia bahkan bisa tidur dengan


    istrinya karena ancaman. Ya ancaman dia akan menghancurkan keluarga Daniah,


    membuat wanita memohon untuk ia tiduri.


    Cih


    Pak Mun muncul setelah mengetuk


    pintu. Dia terlihat ragu saat memasuki ruangan. Mengengam apa yang ada di


    tangannya dengan kuat. Dia tahu apa yang dibawanya sekarang bisa jadi akan


    meledakkan lava kemarahan dan emosi tuan Saga. Tapi kalau dia


    menyenbunyikannya, bisa jadi seluruh rumah ini akan mengalami kekacauan yang


    jauh lebih besar.


    “ Pak Mun.” Harun bangun dari duduk


    saat dia melirik ada sesuatu yang di pegang oleh pak Mun. Laki-laki itu


    menyerahkan apa yang ia temukan ke tangan dokter Harun.


    “ Tenangkan tuan muda dokter.”


    Kalau tidak akan ada badai besar di rumah ini. Pak Mun bicara lirih di telinga


    Harun.


    “ Saga.” Harun mendekat.


    “ aaa, kalian menemukan pil itu.


    Apa benar itu yang kamu katakan, kontasepsi penunda kehamilan.”


    Harun menganguk ragu, menyerahkan


    satu tablet pil itu ke tangan Saga. Saga langsung membantingnya ke atas meja.


    “ Saga kendalikan dirimu.”


    “ Diam kau!” Berteriak keras.


    “ Ku mohon kendalikan dirimu.


    Ingatkan, kau mencintai istrimu. Kau mencintainya.”


    “ Huh!!”


    “ Pak mun di mana Nona?” Harun


    bertanya memastikan.


    “ Sudah di kamar tamu atas tuan.”


    Bagaimana ini, aku takut membiarkan


    Saga sendirian begini. Apalagi kalau dia kembali ke kamarnya. Telfon Han pak


    Mun. Telfon sekertaris Han. Aku tidak tahu bagaimana menjinakan tuanmu. Tapi


    pak Mun bingung dengan isyarat yang di berikan Harun.


    “ Pulanglah! Kau pasti lelahkan.


    Terimakasih sudah datang kalau aku memanggilmu.”


    Hei, kenapa ucapan terimakasihmu


    ini kedengarannya menakutkan.


    Membuat Harun menarik tangan Saga.


    Mencegahnya, agar bangun.


    “ Lepaskan aku bodoh, aku mau


    menemui istriku.” Mengibaskan tangan Harun kasar.


    “ Saga, kumohon jangan memarahi


    istrimu. Jangan melakukan sesuatu yang akan kau sesali seumur hidupmu nanti.”


    Memegang  tangan Saga lagi.


    “ Memang aku mau melakukan apa?


    lepaskan.” Mengibaskan tangan Harun kuat sampai tangan laki-laki itu terlepas.


    “ Jangan memukulnya.”


    “ hei, memang kau pernah melihatku


    memukul perempuan apa?” Marah mendengar perkataan Harun barusan.


    Mengeleng.


    Kau memang tidak memukulnya secara


    langsung, tapi kau melihat dan membiarkan Han memukul wanita yang menggangumu.


    Bukankah itu sama saja mengerikannya.


    “ pak Mun antar Harun keluar.”


    “ Baik tuan muda.”


    “ Tunggu Saga, kendalikan dirimu.


    Kau mau melakukan apa sekarang. Sebaiknya malam ini kalian tidur terpisah. Kau


    tetaplah tidur di kamarmu, dan biarkan istrimu di kamar tamu.” Memohon. Karena


    pertengkaran ini di sebabkan ulahnya yang menemukan fakta pil kontrasepsi, maka


    ini membuatnya merasa sangat bersalah dan bertanggung jawab.


    “ Haha, kenapa? Aku harus menghukumnya


    karena kekurang ajaranya kan?” pertanyaan menakutkan, akan semakin menakutkan


    kalau di jawab.


    “ Saga, kumohon jangan melakukan


    hal yang akan kamu sesali nanti.”


    “ Berisik, sudah pulang sana.”


    Tentu saja, aku akan menghukumnya.


    Setimpal dengan apa yang sudah dia telan untuk mencegah kehamilanya kan?


    Daniah menunggu dengan gelisah di atas


    tempat tidur. Beberapa kali dia berbalik mendekat ke pintu. berharap mendengar


    sedikit saja suara orang mendekat. Nihil. Tidak ada siapapun setelah pak Mun


    meninggalkan kamarnya tadi. Dia sudah menganti pakaiannya dengan baju tidur


    warna hitam yang di berikan pak Mun.


    “ Nona, tolong ganti baju anda dan


    tunggu tuan muda di sini?” dia hanya mengatakan itu. Bahkan pertanyaannya


    kenapa dia harus pindah kamarpun tidak di jawab oleh laki-laki di hadapannya


    itu tadi. Dia hanya mengangukan kepala. Raut wajahnya terlihat sangat kuatir,


    tapi dia tidak bisa menjelaskan apapun.


    Jegrek! Pintu terbuka. Daniah bisa


    mendengar pak Mun mengucapkan selamat malam pada Saga. Lalu terdengar langkah


    kakinya menjauh. Setelahnya tidak lama Saga masuk ke dalam kamar. Dia menutup


    pintu dengan suara cukup keras. Membuat Daniah terperanjak. Dia berdiri di


    depan tempat tidur. Sambil mengengam hp ditangannya.


    Dia marahkan, dia pasti marah


    karena tahu aku berbohong tentang sakit perutku kan. Padahal dia sudah sekuatir itu tadi.


    “ Sayang!” Daniah memanggil pelan,


    tapi tetap berdiri di tempatnya. Tidak berani mendekat. Air muka saga


    menunjukan kalau dia sedang sangat kesal.


    “ Beraninya kau!” Berteriak sambil


    melemparkan sesuatu ke tubuh Daniah. Benda itu jatuh tepat di kaki Daniah.


    Gadis itu terkejut ketika mengenali apa itu. Dia menjatuhkan hpnya sampai


    membentur kakinya. Dia meringis kesakitan. Tapi semua rasa sakit itu seakan


    lenyap. Apalagi saat ia melihat wajah laki-laki di hadapannya.


    “ Sayang.”


    Apa ini adalah hari kematianku.


    BERSAMBUNG
『Add To Library for easy reading』
Popular recommendations
Super Gene Shadow Slave Cultivation Online Mecha Breaks the World Nine Star Hegemon Body Arts I Can Copy Talents