21Novel

Font: Big Medium Small
Dark Eye-protection
21Novel > Terpaksa Menikahi Tuan Muda > Chapter 115 Mengerti semuanya

Chapter 115 Mengerti semuanya

    Sudah lewat tengah malam. Dia baru


    selesai dengan urusannya. Di sampingnya Daniah langsung jatuh tertidur dan


    tidak berdaya. Saga mengacak-acak rambut istrinya yang memang sudah terburai ke


    mana-mana. Dia tergelak menyusuri bibir mungil dan tipis itu. Di ketuk-ketukan


    jemarinya di pipi istrinya. Lalu menyelipkan kembali rambut Daniah ke belakang


    telinganya.


    “ Terimakasih sudah mencintaiku.”


    Satu kecupan lembut di kepala Daniah. Lalu dia menarik selimut sampai leher.


    Melindungi istrinya dari udara yang yang akan menciumi tubuh polosnya. Lalu


    setelah menyelesaikan pekerjaan yang menurutnya luar biasa itu, dia turun dari


    tempat tidur. Memakai lagi bajunya yang terserak di lantai.


    Jegrek! Pintu terbuka. Saga menoleh


    untuk kedua kalinya, melihat istrinya yang sudah terlelap kelelahan di tempat


    tidur. Dia tersenyum senang. Saat memutar kepalanya mau keluar.  Dia terlonjak kaget saat keluar dari kamar setelah membuka pintu.


    “ Kau di sini?” Han bangun dari


    duduk tepat di depan pintu, begitu pula pak Mun yang mengangukan kepala. Gurat


    kuatir masih tergambar jelas di wajahnya. Ya, semakin bertambaah usianya


    memang banyak yang ia harus kuatirkan. Apalagi kalau berurusan dengan tuan


    dan nona mudanya.  “ Kalian tidak tidur?”


    bertanya heran. Memang siapa yang menyuruh kalian berjaga semalaman begini,


    gumam Saga bingung.


    Apa aku terlihat segila itu tadi


    waktu masuk kamar, sampai pak Mun sekuatir itu.


    “ Apa anda butuh sesuatu tuan


    muda?”


    “ Aku hanya ingin minum air


    dingin.”


    Sejak kapan kedua orang ini duduk di depan


    kamar. Apa mereka mendengar semua? Sial, tidak mungkin mereka tidak


    mendengarkan. Saga mengeram jengkel sendiri.


    “ Kau menyuruhnya datang?” bertanya


    pada Pak Mun menunjuk Han dengan matanya.


    “ Dokter Harun yang menghubungi


    saya tuan muda.” Han meraih pegangan pintu yang belum tertutup, dia melongok


    kan kepalanya ke dalam kamar. Memastikan semuanya baik-baik saja.


    Saha menendang kaki Han tiba-tiba,


    membuatnya refleks mengaduh karena terkejut. “ Jangan melihat istriku! Dia


    sedang tidak pakai baju bodoh!”


    Han mengeryit, mengibaskan kakinya,


    bahkan Daniah hanya terlihat ujung kepalanya saja. Rambutnya saja yang terlihat


    nongol di ujung selimut. Tidak lebih. Mau dia pakai baju atau tidak selimut


    tebal itu juga menghalangi pandangan Han. Dan dia masih manusia normal yang


    belum bisa menembus benda padat pandangannya.


    “ Saya hanya ingin memastikan kalau


    nona masih hidup tuan muda. Lagi pula hanya rambutnya yang terlihat dari sini.”


    bicara santai sambil menutup pintu tanpa suara. Merasa tenang saat melihat


    Daniah terlelap di tempat tidur, bukan sedang menangis atau merintih di pojokan


    kamar. Ntah apapun yang dipikirkannya tadi sepertinya hanya ketakutan tak


    beralasan.


    Seharusnya aku tahu itu kan,


    perasaan tuan muda pada nona bukanlah main-main. Dia tidak mungkin menyakiti


    wanita yang dia cintai.


    “ Kurang ajar!” menendang kaki Han


    lagi kali ini lebih keras. “ Memang apa yang di katakan Harun sialan itu.”


    Berjalan meninggalkan kamar, dia menoleh pada pak Mun yang masih mengikutinya. “Pak


    Mun, pergilah tidur, kau butuh istirahat, Han yang akan menemaniku.” Han


    mengibaskan kakinya, tendangan yang kedua cukup menyakitkan sepertinya.


    “ Baik tuan muda, anda juga segera


    istirahat jika sudah selesai.” Mengangukan kepala lalu berlalu menuju tangga.


    Ia menguap setelah jauh berjalan. Sepertinya dia juga lelah.


    “ Jangan melihat istriku kalau dia


    sedang tidur.” Saga mendorong tubuh Han di depannya. “ Cuma aku yang boleh


    melihatnya.”


    “ Baik, baik tuan muda. Maafkan


    saya sudah mengintip tadi.”


    Cih, memang apa yang bisa kulihat


    dari ujung kepalanya nona Daniah.


    Han dan Saga berjalan ke sofa di


    dekat area tangga. Biasanya jarang yang menduduki kursi ini. Saga menjatuhkan


    dirinya, langsung menyandarkan kepala, dan memijit punggung lehernya.


    Sepertinya dia kehabisan energi juga.


    “ Ambilkan  aku air dingin.”


    “ Baik, tunggu sebentar.” Han


    meninggalkan Saga, berjalan cepat menuruni tangga. Menuju kulkas yang ada di


    dapur. Mengambil sebotol air.  Tidak


    butuh lama ia sudah muncul lagi. “ Silahkan tuan muda.”


    “ Duduklah!”


    Han duduk di sofa, di samping kanan


    Saga. Menerima botol yang hampir separuh di minum lalu meletakannya lagi di


    atas meja. Melihat tuan mudanya. Mereka-reka semua yang terjadi di dalam kamar


    tadi.


    “ Apa kau langsung berlari kemari


    setelah Harun menghubungi mu.”


    Ya, itu pasti. Han langsung berlari


    setelah mendapat telfon dari dokter Harun. Sepanjang jalan dia mengutuki


    dirinya. Ketidak becusannya. Bagaimana hal seperti ini bisa lepas dari


    perkiraannya. Dia tidak pernah berfikir kalau Daniah sampai seberani ini


    melakukan hal besar seperti minum alat kontrasepsi pencegah kehamiilan.


    Walaupun di awal-awal Saga memang tidak pernah membicarakaan tentang anak, tapi


    dia tidak menduga kalau Daniah sudah mengantisipasi semuanya.


    Sepertinya aku sudah meremehkan


    keberanian anda nona.


    “ Maafkan saya tidak memprediksi


    kemungkinan tentang pil kontrasepsi ini.” Mengakui kesalahan, yang sebenarnya


    bukan kesalahannya juga. Jelas-jelas orang yang tidur setiap malam di


    sampingnya saja tidak tahu. Apalagi dirinya.


    “ Cih, banyak hal yang luput dari


    pandanganmu sekarang. Apa kau sudah kehilangan ketajamanmu.” Mengejek, padahal


    tanpa di bilangpun harga diri sekertaris Han sudah terluka. Dia sudah


    kecolongan satu langkah.


    “ Maafkan saya tuan muda.”


    “ Sudahlah! Toh ini bukan salahmu.”


    Han memandang Saga sebentar, ragu


    mau bertanya. Tapi dia harus bertanya jugakan, untuk membuat rencana ke


    depannya. Bagaimana hubungan Saga dan Daniah.


    “ Anda tidak memukul nona kan tuan


    muda?” kuatir. Sebenarnya tadi dia tidak mendengar Daniah berteriak atau suara


    pukulan dari dalam kamar. Tapi dia hanya ingin memastikan.


    “ Kau gila ya sampai menanyakan hal


    seperti itu.” Gusar menjawab. “ Memang aku pernah memukul perempuan, kau yang


    suka main pukul kan?” berteriak mengebu-gebu.


    Ya, aku cuma menyentil keningnya


    si, sampai dia mau menangis.


    “ Maafkan saya tuan muda yang tidak


    memahami anda.” Merasa bersalah.


    Tapi, cinta selalu membuat orang


    bodoh dan gilakan, siapa tahu saking emosinya anda memukul nona kan. Saya kan


    hanya ingin memastikan.


    “ Tadi, dia mengatakan semuanya


    padaku.” Mendesah, mengingat kembali semua apa yang di katakan Daniah. Tentang


    alur cerita hidupnya, atau tentang skenario dirinya dan helen. Saga tergelak. “


    kau suruh saja dia menulis novel nanti.”


    Han baru kali ini susah menangkap


    apa yang coba di sampaikan Saga.


    “ Dia bahkan tidak menonton seluruh


    acara peresmian, dia berfikir aku melamar Helen di sana.”


    Apa! tunggu Nona Daniah tidak akan


    sebodoh itukan.


    “ Apa yang kau pikirkan? Kau sedang


    mengejek istriku kan?” memukul bahu Han yang terlihat mengeryitkan wajah. “ kau


    sedang berkir dia bodoh kan?”


    “ Haha, mana mungkin saya seberani


    itu tuan muda berfikir tentang nona.” Padahal mah iya, itu yang dia pikirkan.


    “ Dia memang sebodoh yang kau


    pikirkan si.” Kedua orang itu tertawa senang. Seperti menemukan satu lawakan


    yang membuat keduanya sepakat.  “


    Bagaimana dia sampai sebodoh itu berfikir aku melamar Helen di peresmian danau


    hijau ya. Benar kan? suruh saja dia buat novel.” Saga tertawa lagi. “ tapi aku


    senang dia sebodoh itu, kalau tidak, mungkin hubungan kami tidak akan meningkat


    sampai tahap ini.”


    Kedua orang itu sepertinya sangat


    senang sekali. Mereka masih bicara kemana-mana, sampai Saga menguap dan menutup


    mulutnya dengan tangan.


    “ Anda pasti sudah mengantuk kan,


    sebaiknya anda kembali ke kamar.”


    “ Hemm, tidak usah pulang, tidurlah


    di kamar tamu di bawah, sudah hampir pagi juga.”


    Saga meninggalkan tempat duduknya


    di ikuti Han. Sesampainya di depan pintu, baru saja memegang handle pintu dia


    berbalik lagi.


    “ Dimana ibu sekarang?” sepertinya


    sudah cukup dia menghilang, amarahnya pun sudah menguap. Sudah saatnya ibunya


    kembali.


    “ Siang tadi nyonya baru kembali


    dari negara XX, sekarang sedang menginap di hotel.”


    “ Huh! Sepertinya sudah cukup dia


    bersenang-senang. Suruh dia kembali menemuiku besok.” Pintu terbuka. Saga sudah


    masuk.


    “ Baik tuan muda. Setiap hari


    nyonya menghubungi dan menanyakan apa kemarahan anda sudah reda dia pasti


    senang bertemu anda kembali.”


    “ Baiklah, tidurlah, jangan lupa


    katakan padanya, untuk membawa hadiah spesial untuk Daniah “


    “ Baik.”


    Pintu tertutup saat Han sudah


    mengangukan kepalanya. Dia meninggalkan pintu kamar, menguap juga dua kali saat


    menuruni tangga. Menuju kamar tamu di lantai bawah.  Sesampainya di kamar dia tidak langsung


    tidur. Duduk di sofa di depan tempat tidur. Mengambil pena dan juga kertas.


    Pil kontrasepsi, bagaimana aku bisa


    seceroboh ini. Tidak, bukan itu, tapi aku tidak percaya anda akan seberani ini


    nona. Wahh, wahh, apa perlu aku mendaftarkanmu ke musium rekor, pasti banyak


    gelar yang bisa kau dapat.


    Gadis paling berani yang menantang


    tuan Saga. Dan parahnya bagaimana sampai Tuan Saga pun memaafkan anda dengan mudah begini.  Mungkin gelar gadis mengemaskan yang bisa


    menaklukan hati tuan Saga juga pastas untuk mu.


    Han menyudahi pikiran ngawurnya.


    Sekarang yang harus di lakukan  kedepannya adalah konsultasi ke dokter


    kandungan dan mengawasinya 24 jam. Merepotkan sekali anda nona.


    Han mengetikan pesan di hpnya “


    Periksa rekaman mobil nona Daniah.”


    Pagi sebentar lagi datang, Han


    menjatuhkan tubuhnya dan menarik selimut. Masih sangat panjang saat untuknya


    memikirkan dirinya sendiri.


    Di tempat lain, di waktu yang


    hampir bersamaan dengan pertengkaran Saga dan Daniah.


    Hari ini Helen tidak sanggup melangkahkan


    kaki pulang ke rumah atau kembali ke galerynya. Nyawanya seperti terburai


    menjadi serpihan, bertebaran satu persatu meninggalkanya. Dia kehilangan


    tempatnya untuk menangis. sampai akhirnya ada yang mengangkat telfonnya dan mau


    membuka pintu untuknya di tengah malam yang sudah lewat ini.


    “ Ibu.” Helen menangis di bibir pintu


    yang terbuka. Wanita yang membukakan pintu terkejut dengan penampilan Helen


    yang sangat berantakan.


    “ Kenapa denganmu. Masuklah.” Dia


    menarik tangan Helen, mendudukannya di sofa, lalu mengambilkan segelas air. “


    Helen ada apa denganmu?”


    “ Aku ingin mati saja bu, aku mau


    mati saja, sekarang sudah tidak ada harapan yang tersisa dengan Saga lagi.”


    Ibu mendesah, mendengar nama


    anaknya di sebut. Hari ini pun dia masih belum mendapat kesempatan untuk


    pulang. Sudah hampir dua minggu sejak kejadian ulang tahunnya. Dia butuh waktu


    selama ini agar suasana kembali normal lagi. Dan selama waktu ini dia menyadari


    siapa Daniah, bagaimana posisi gadis itu di hati Saga.


    Dia tidak akan berani melakukan


    apapun lagi perihal Helen. Ibu sudah mulai menyadari siapa wanita berharga yang


    akan di bela Saga. Dan walaupun dia tidak rela, tapi ibu menyadari berperang


    dengan Saga hanya dirinyalah yang akan kalah. Bahkan sebelum dia memulai perang


    juga.


    “ Helen.” Ibu menepuk punggung


    gadis itu. “ Aku akan selalu menyukai mu. Tapi maaf, ibu tidak bisa mendukungmu


    lagi. Tidak ada tempat lagi tersisa di hati Saga untuk mu.”


    “ Ibu!” Helen berteriak memukul


    punggung wanita yang memeluknya. “ Jangan lakukan ini bu, hanya ibu yang bisa


    menolongku.”


    Wanita itu hanya terdiam, dia hanya


    mengusap pungguh Helen dan membiarkannya menangis lama. Bahkan sampai gadis itu


    terlelap kelelahan.


    Dia tahu, walaupun dia bukan ibu yang memahami anaknya. tapi kalau Saga sudah marah dan sampai menyuruhnya pergi menghilang untuk waktu yang lama. sesuatu yang ia bela, itu adalah sesuatu yang sangat penting baginya. Daniah adalah hal paling berharga yang ia lindungi sekarang. untuk itulah ibu tahu harus menyerah.


    Dia melihat satu koper besar di sudut ruangan. semua itu adalah barang yang dia beli khusus untuk Daniah. Dia harus melakukannya walaupun belum rela.


    Bersambung
『Add To Library for easy reading』
Popular recommendations
Super Gene Shadow Slave Cultivation Online Mecha Breaks the World Nine Star Hegemon Body Arts I Can Copy Talents