21Novel

Font: Big Medium Small
Dark Eye-protection
21Novel > Terpaksa Menikahi Tuan Muda > Chapter 116 Masa Percobaan

Chapter 116 Masa Percobaan

    Matahari sudah terang di luar sana.


    Semua orang di dalam rumah sudah beraktifitas sesuai dengan tugas


    masing-masing. Jen dan Sofi memilih kabur bahkan sebelum mereka sarapaan. Ya,


    mereka mendengar babak pertama teriakan Saga pada kakak ipar mereka. Karena tidak


    tahu bagaimana akhir peperangan mereka memilih menyelamatkan diri dari pada


    harus terkena serpihan ledakan.


    Padahal saat keluar dari kamar


    mereka masih baik-baik saja pikir mereka. Jen dan Sofi bertanya ke sana kemari,


    tapi semua bungkam tentang ada kejadian apa semalam. Pak Mun tidak mau bicara


    hanya bilang tuan muda dan nona baik-baik saja, sedang ada di kamar.  Saat mereka melihat Sekertaris Han duduk


    dengan sarapannya di meja makan sambil membaca dokumen mereka memberanikan diri


    mendekat.


    “ Benar kalian mau tahu? Orang yang


    sok mau tahu biasanya mati duluan lho.” Mendengar itu mereka langsung kabur


    meninggalkan meja makan tanpa menyentuh sarapan. Memaki sekertaris Han ketika


    sudah sampai di mobil masing-masing.


    Udara segar masuk ke dalam kamar


    melalui sirkulasi udara, sinar matahaaripun jatuh ke dalam ruangan. Namun Saga


    sengaja menutup tirai untuk melindungi istrinya.


    Pak Mun baru saja meletakan makanan


    ketika Saga muncul dari kamar mandi. Sudah memakai setelan jasnya. Rambut


    tersisir rapi dan semua sudah sempurna. Dia memang sangat tampan di pagi hari.


    Apalagi saat suasana hatinya sedang sangat baik.


    “ Sarapan anda tuan muda.”


    “ Hemm. Kemarilah!” Pak Mun


    mendekat ke sofa yang di duduki Saga. Dia mengeser piring agar lebih dekat, dan


    mudah di jangkau. “ Aku mau bertemu dengan gadis itu, pelayan di rumah belakang


    yang berteman dengan istriku.”


    “ Baik tuan muda. Akan saya panggil


    kan.”


    “ Tunggulah di bawah, aku akan


    turun setelah Daniah bangun.”


    “ Baik tuan muda. Silahkan


    menikmati sarapan anda.”


    “ hemm.”


    Pak Mun pamit lalu berjalan keluar.


    Sambil beralih menatap ke tempat tidur Saga meraih gelas dan meminumnya hampir


    separu. Lalu mengambil roti isi di piring. Memakannya.


    Huh! Enak sekali dia tidur, apa dia


    sedang bermimpi sekarang.


    Terdengar gumaman-gumaman dari


    bawah selimut. Seseorang mengeliat, lalu selang tidak lama dia sudah duduk.


    Menarik selimut menutupi dirinya sampai ke bahu. Karena dia sadar tidak ada


    apapun yang menempel di tubuhnya sekarang. Dia mengeliat, menghilangkan rasa


    pegal.


    “ Kau sudah bangun?” suara dari


    sofa memecah konsentrasi Daniah mengumpulkan nyawa yang berterbangan saat dia


    tidur.


    “ Eh, ia sayang.” Menarik selimut  melindungi diri. Ingatan semalam kembali


    berlarian, membuatnya waspada. Dia mengintip melalui ekor matanya bagaimana


    suasana hati suaminya. lalu sadar saat melihat piring di depan Saga. Menoleh


    pada jendela. Matahari sudah terang di luar sana.


    Jam berapa ini? Bagaimana aku bisa


    bangun setelahnya. Dia bahkan sudah sarapan. Aku pasti sudah gila.


    “ Maafkan aku sayang, aku kesiangan.


    Kamu bahkan sudah sarapan ya.” Mencari-cari di mana baju tidurnya berada. Tidak


    di temukan di manapun matanya berkeliling. Tidak mungkinkan dia lari ke kamar


    mandi dengan tubuh polos ini.


    Aku kan bisa menyeret selimut ini,


    ia bawa saja masuk ke kamar mandi.


    “ Sudahlah! Kembalilah tidur, kau


    bisa tidur lagi sampai kapan pun kau mau.”


    “ Hehe, aku mau bekerja sayang.


    Hari ini banyak barang yang akan masuk.”


    Saga bangun dari duduk, dia sudah


    menyelesaikan sarapannya. Mengambil dasi di atas meja. “ Bekerja? Memang kau mau


    bekerja kemana? Lupa yang aku katakan semalam.” Tersenyum tipis, sambil melihat


    dirinya dalam pantulan kaca.


    Berfikir, berfikir, Daniah berusaha


    berfikir keras.


    “ Kau sedang dalam masa percobaan


    hukuman.” Memberi informasi, karena sepertinya istrinya lambat berfikir.


    Aaaaa, ia, dia melarang ku ke luar


    rumah. Sial.


    “ Kalau kau berani keluar rumah tanpa


    izin dariku, bukan kau saja yang akan menanggung akibatnya. Pelayan dan penjaga


    yang bertugas hari ini akan ikut  bertanggung jawab juga.”


    “ apa?” Memang dia mau melakukan


    apa.


    “ Akan kupecat mereka semua tanpa


    peringatan.”


    “ Sayang, kamu tidak bisa memecat


    mereka senaknya.” Kehilangan kata-kata karena sikap seenaknya Saga.


    “Kenapa? aku yang mengaji mereka


    terserah aku mau melakukan apa.”


    Haha, ya, ya, kau rajanyaa yang


    mulia. Hamba mohon ampun sudah menjawab anda


    Daniah hanya bisa tersenyum kecut


    di atas tempat tidur.


    “ Kau tidak perlu mengancamku juga,


    aku tidak akan berani keluar rumah.” Gumam-gumam tapi dengan suara jelas. Biar


    di dengar yang mulia raja.


    Saga tersenyum tipis. “ Baguslah


    kau tahu, hati-hati dengan  yang kau


    lakukan, karena orang lain juga akan ikut menanggungnya.”


    “ Baik.” Hanya bisa pasrah.


    Saga selesai dengan Dasinya, dia


    mengambil hp  milik Daniah di atas meja. Melemparkan pada daniah tepat mengenai selimutnya.


    Membuat selimut itu merosot dari bahunya. Menunjukan tubuh polos Daniah dengan


    banyak sekali tanda kepemilikan di sana. Bertebaran di seluruh tubuh


    “ Wahhh, wahhh, kau sedang


    mengodaku sekarang?”


    Daniah kaget melihat tubuhnya


    sendiri, dia menarik selimut. Mengulungnya, mengulungnya sampai ke leher.


    “ Kenapa? Mau mencicil hutangmu


    pagi ini.” Bertanya sambil tergelak nakal.


    “ Tidak sayang, tidak, aku baru mau


    menghitung utangku, belum mau melunasinya.” Semakin rapat dia menggulung


    selimutnya. Bahkan sampai melilit ke leher.


    Saga mendekati tempat tidur,


    membuat gadis itu meringsek mundur ketakutan.


    Jangan! Jangan lagi! Aku mohon.


    “ Apa yang kau lakukan, kau bisa


    susah bernafas dan mencekik lehermu sendiri.” Melepaskan gulungan selimut dari


    leher Daniah. “ Kenapa kamu mengemaskan begini si, aku jadi ingin memakan mu kan.”


    Merapikan rambut Daniah yang berantakan.


    Hah! Dia bilang apa? itu, kata-kata


    itu dia tujukan padakukan.


    “ Istirahatlah kalau kau masih


    lelah. Aku akan menyuruh pak Mun mengirim pelayan untuk membantumu. Pindah ke


    kamar nanti setelah sarapan.”


    “ Ba, baik.” Daniah kehilangan


    pikiran sehatnya, pikirannya sedang binggung sekarang. Mencerna sikap Saga


    dengan nalar manusianya.


    “ Aku berangkat ya, kemarilah,


    berikan aku ciuman selamat pagi.” Saga menyentuh pipinya. Masih dalam keadaan


    belum sepenuhnya sadar dengan situasi yang terjadi, Daniah beringsut dari


    tempatnyaa duduk. Masih dengan selimut agar menutupi tubuh polosnya.


    “ Selamat pagi sayang, selamat


    bekerja.” Ciuman di seluruh bagian wajah, dan kecupan tiga kali di bibir.


    Ini kami sedang main drama apa sih?


    “ Istrirahatlah!”


    “ Ba, baik.”


    Saga teringat sesuatu dengan hp


    yang dia lemparkan tadi. Dia berbalik. Membuat Daniah kembali terkejut dan


    menarik selimutnya lagi.


    “ Tontonlah peremian danau hijau di


    chanel resmi antarna grup, tonton sampai selesai!”


    “ Eh, ia, baik.”


    “ Biar otakmu pintar sedikit.”


    Saga tergelak meninggalkan Daniah


    di atas tempat tidur yang masih tidak tahu apa yang baru saja dia alami tadi.


    Tolong, ada yang bisa menjelaskan


    situasi apa ini, kenapa dengannya. Semalam dia sudah seperti banjir besar yang


    akan melumatku hidup-hidup. Tapi pagi ini dia sudah seperti pemain utama dalam


    drama romantis.


    Aku tidak sedang menunggu hukuman


    matikan? Jadi aku dibaik-baikin dulu.


    Saga menuruni tangga, bahkan


    terdengar siulan kecil dan dendangan dari bibirnya. Dia berjalan riang seperti


    pengantin baru yang baru keluar dari kamar pengantinnya.


    “ Apa itu dia?” Saga mendapati


    seseorang sedang berdiri di dekat sofa ruang tv. Dia berdiri sambil menundukan


    kepalanya. Pak Mun di sebelahnya mempersilahkan Saga duduk.


    “ Ia tuan muda. Dia Maya.”


    Saga mendekat, lalu duduk di sofa.


    Bersamaan sekertaris Han muncul dari ruang kerja, ikut berkumpul. Auranya


    membuat suasana semakin tegang saja.


    “ Perkenalkan diri mu!” Pak Mun


    angkat bicara.


    Maya terlihat sangat gelisah, ini


    kali pertamaanya berhadapan langsung dengan majikan yang sudah setahun ini


    menjadi tempatnya bekerja. Dia baru beberapa kali melihat wajah tuan muda. Tapi


    itupun tidak sedekat ini. Ia terlihat gemetar mencengkram tangannya.


    “ Selamat pagi tuan muda, saya


    Maya. Saya bekerja di rumaah belakang, bertugas di bagian pakaian.”


    Apa aku membuat kesalahan. Kenapa


    sampai aku bisa berdiri di sini.


    “ Kenapa takut, aku memanggil mu


    bukan karena kau melakukan kesalahan.”


    Mendengar itu membuat Maya bukannya


    semakin tenang, tapi malah semakin gelisah. Hanya satu alasan kenapa sampai dia


    di panggil, pasti karena nona. Semalam telah terjadi sesuatu di rumah ini.


    Walaupun tidak ada pelayan yang berani membicarakannya. Tapi Maya tahu ada


    sesuatu yang terjadi.


    “ Aku hanya ingin bertemu dengan


    teman istriku dan berterimakasih padanya.” Maya mendongak sebentar, melihat ke


    arah Saga. Laki-laki itu tersenyum. “ Terimakasih sudah menjadi teman di saat-saat


    sulit istriku datang kerumah ini.”


    Kenapa dia masih pucat pasi begitu


    si, memang aku semenakutkan itu apa.


    Saga mendongakan kepalanya, melihat


    ke belakangnya. Han sedang berdiri tidak bergeming di belakangnya. Dengan wajah


    datar namun pandangannya menatap lekat gadis itu.


    “ Han, kau menakutinya tahu,


    berhenti melihatnya begitu. “


    “ Saya tidak sedang menatapnya tuan


    muda. Saya sedang menunggu anda.”


    Alasan apa itu, jelas-jelas aku


    lihat kau memelototinya.


    “ Jangan hiraukan dia, mendekatlah.”


    Maya belum bergerak.


    “ Apa kau tidak dengar apa yang di


    katakan tuan muda.” Han ikut bicara, geram karena Maya belum melangkah


    sedikitpun. Ucapan Han semakin membuat Maya menciut.


    “ Hei, kenapa kau berteriak


    padanya. Sudah kubilang kau menakutinya. Tutup mulut mu Han, mau kusuruh kau


    pergi.”


    “ Maaf tuan muda.”


    Jatuh cinta pada gadis ini baru tau


    rasa kau nanti, pikiran liar Saga berlarian.


    “ Maafkan saya tuan muda.” Maya


    berjalan mendekat. Saat ini dia benar-benar bisa melihat wajah tuan Saga dengan


    sangat jelas. Bukan hanya sekedar di tv atau di internet. Dia memang terlihat


    sangat sempurna dan tampan. Gumam Maya dalam hatinya penuh kekaguman. Tapi


    buru-buru dia menundukan matanya lagi saat matanya  bertemu dengan


    sekertaris Han di belakangnya.


    “ Apa yang  biasanya dibicarakan istriku?”


    “ Nona banyak cerita tentang


    pekerjaannya, dan adiknya.” menjawab dengan cepat.


    “ Dia tidak membicarakan ku.”


    Hah! Pertanyaan apa ini? Aku harus


    menjawab apa ini.


    “ Nona jarang bercerita tentang


    kehidupan pribadinya tuan muda. Maaf.”


    Seperti yang ku duga. Di rumah ini


    tidak ada yang tau dia minum pil kontrasepsi. Dia pasti menyimpannya rapat


    seperti menyembunyikan aibnya. Baiklah, karena kau anak yang baik, aku akan


    membiarkan kalian tetap berteman.


    “ Baiklah. Sepertinya kau juga


    tidak tahu apa-apa. Pak Mun pindah tugas kan dia untuk melayani Daniah mulai hari.”


    Maya mendongak terkejut, yang baru


    dia dengar tidak salahkan.


    “ Baik tuan muda.” Pak Mun


    menjawab.


    “ Tugasmu hanya satu, pastikan


    Daniah tidak melakukan sesuatu yang bisa membuatku kesal. Aku akan melipat


    gandakan gajimu jadi bekerjalah dengan benar.”


    Duarr, tugas macam apa itu.


    Lagi-lagi Saga berfikir semua orang seperti sekertaris Han, yang tahu


    menafsirkan walaupun hanya dengan mendengar desahannya saja. Maya kebingungan


    dengan tanggung jawabnya apa, tapi dia tidak berani bertanya. Dia hanya perlu


    menjawab baik kan.


    “ Ba, baik tuan muda.”


    Semoga ada yang bisa menjelaskan maksud


    perintah tuan muda nanti.


    BERSAMBUNG
『Add To Library for easy reading』
Popular recommendations
Super Gene Shadow Slave Cultivation Online Mecha Breaks the World Nine Star Hegemon Body Arts I Can Copy Talents