21Novel

Font: Big Medium Small
Dark Eye-protection
21Novel > Terpaksa Menikahi Tuan Muda > Chapter 126 Kencan (Part 2)

Chapter 126 Kencan (Part 2)

    Kencan ala rakyat biasa di mulai. Rencananya Daniah akan mengerjai Saga untuk mengenalkannya pada kehidupan rakyat biasa. Tapi benarkah yang terjadi akan demikian, atau sebaliknya.


    “ Bawa ini sayang.”Daniah


    melingkarkan tasnya ke leher Saga, laki-laki itu tampak binggung melihat tas


    Daniah yang melingkar di lehernya. Lebih-lebih saat istrinya tidak menunggu


    persetujuannya.


    “ Hei, kau mulai kurang ajar begini


    ya.” Menunjuk tas yang melingkar di leher dengan matanya. Menatap kesal.


    “ aaaa, sayang begini memang kalau


    kencan rakyat biasa. Laki-laki biasanya memegang tas perempuannya. hehe.” Agak memalingkan


    wajah, supaya tidak terlihat kalau sedang tersenyum menahan kebohongan.


    Kapan lagi kan aku bisa mengerjai


    mu. Hehe.


    “ Cih!” mendengus.


    “ Kalau tidak mau ya sudah.” Daniah


    sudah memegang tali tas dengan kedua tangannya. Mau mengambilnya.


    “ Lepaskan!” menepis tangan Daniah


    agar melepaskan tali tas. ‘’ Mau apa kamu?”


    “ Aku mau membawa tas ku sendiri


    sayang.” Tersenyum.


    “ Kenapa? Kamu tidak mau aku


    membawa tasmu? Ia.” Mulai kesal kan.


    Bukan! Tadikan kamu yang tidak mau.


    Dasar! Kata-kata selalu tidak bersinergi dengan perbuatan.


    “ Kalau begitu tolong bantuannya ya


    sayang.”


    Haha, dia lucu sekali. Aku akan


    balas dendam mengerjaimu hari ini ya. Kenapa dia jadi terlihat manis begitu


    dengan tas ku di lehernya. Aku tidak akan di penggal sekertaris Han kan karena


    mengerjai tuannya.


    “ Eh pak sopir kenapa mengikuti


    kami?” Daniah mulai terganggu, ketika sekertaris Han bahkan berada di radius


    kurang dari lima meter dari jarak mereka berdua berdiri sekarang.


    Kalau kamu ikut dia tetap tuan Saga


    donk bukan suamiku.


    “ Jangan bicara padanya!” menarik


    tangan Daniah. “ Biarkan dia, dia pasti tidak punya kerjaan karena mobilnya


    sudah ku sewa seharian ini.”


    “ Jangan ikuti kami!” Daniah


    menuding sekertaris Han lalu menuding matanya. Jangan mengawasi kami, begitu


    dia berteriak dalam hati.


    “ Saya cuma mau jalan-jalan


    menghabiskan waktu saja nona. Silahkan kalian nikmati kencan kalian.”


    Selamat bersenang-senang dan


    membalas tuan muda nona. Rugi sekali kan kalau saya tidak menonton drama ini


    langsung.


    Mereka berdua akhirnya benar-benar


    memutuskan tidak perduli dengan keberadaan sekertaris Han. Cuma Daniah yang


    berusaha. Saga sendiri selalu tidak pernah terganggu dengan keberadaan


    sekertaris Han di sampingnya. Walaupun laki-laki itu menempel seperti permen


    karet menggangu, Saga tidak pernah merasa terganggu sedikit pun.


    “ Pakai topimu dengan benar!”


    menarik sampai semua bagian wajah Daniah tertutup.


    “ Sayang aku tidak bisa melihat.”


    Sudah gila ya, yang mencolok itu wajahmu.


    Lihat, orang-orang sudah mulai melirikmu kan.  Tampan, tinggi. Sempurna.


    “ Aku akan jadi mata untuk mu.


    Pegang tangan ku.”


    Haha, apa dia bilang. Belajar dari


    mana dia gombalan beginian. Aku bahkan tidak mengajarinya.


    “ Kenapa mereka melihat mu? Aaaa,


    bisa gila aku karena kesal melihat mereka melirikmu terus. Katakan kau mau


    membeli apa biar Han yang membelikannya untuk mu! Ayo segera keluar dari sini.


    aku mau kencan di tempat yang tidak ada orang lain.” mulai deh banyak sekali


    bicara.


    “ Sayang, bukan aku yang mereka


    lihat.”


    “ Lalu siapa? Dari tadi mereka


    melihat ke arah kita.” Kesal.


    Kamu, kamu, kamu yang dilihatin


    mereka. Wajah tampan dan tinggi sempurna mu itu yang sedang di nikmati mereka.


    Aku ini cuma kantong kresek terlihat dari sudut pandang mereka tahu.


    “ Tapi kan janji kalau kencan hari


    ini kencan rakyat biasa. Aku yang lebih berpengalaman di sini, jadi ikuti saja


    aku. Ayo!”


    Mendengar itu Saga menghentikan


    langkah kakinya, dia mengibaskan tangan Daniah yang memegang tangannya. Gadis


    itu berbalik panik.


    Apa lagi si!


    “ Jadi sudah dengan siapa saja kamu


    kencan ala rakyat biasa begini.” Suara Saga sudah berubah “Jangan-jangan kamu


    sudah pernah kencan di sini, dan mengulangnya dengan ku?” terdengar tidak suka


    dari nada bicaranya.


    Lho, kenapa jadi aku, seharusnya


    aku kan yang mengerjaimu. Kenapa belum apa-apa aku sudah kena begini.


    “ Bukan begitu,” mendekat dan


    memeluk Saga. “ Ini juga pertama kalinya aku kencan dengan laki-laki.” Diam


    sebentar menatap Saga. Wajahnya belum melunak sama sekali. “ ini juga pertama


    kalinya aku kencan dengan laki-laki yang aku sukai.” Memalingkan wajah malu.


    “Aku tidak punya waktu untuk kencan seperti ini dulu, kami sibuk mencari uang.


    Mantan.”


    “ Diam! Jangan bicara tentang


    mantan pacarmu.” Mencium kepala tertutup topi itu. “ Baiklah, karena ini kencan


    pertama mu dengan laki-laki yang kamu sukai. Aku akan berbaik hati menuruti


    semua maumu.”


    Haha, kena kau. Aku tahu kamu Cuma fokus


    di kata-kata kencan dengan laki-laki yang ku suka kan.


    “ Janji ya.”


    “ hemm.”


    “ Ayo jalan.”


    Daniah menarik lengan Saga keluar


    dari toko.


    “ Hei tunggu, aku mau membelinya


    untuk mu.”


    “ Ssstttt.” Daniah menutup mulutnya


    dengan jari agar Saga diam dan mengikutinya saja. “ Bagaimana bisa mereka


    menjual dengan harga semahal itu.”


    “ Terserah dengan harganya, yang


    penting kamu kan suka.” Gusar. “ Ayo kembali, aku belikan kalung itu.”


    Daniah mengeleng tidak mau.


    Week, kesal kan kamu. Memang ini


    yang namanya jalan-jalan cuci mata doank kok. untuk jutawan sepertimu menghabiskan waktu dengan cara ini pasti mengesalkan.


    “ Hei, kau tidak waras ya. Sudah


    berapa kali kita masuk toko, tidak ada satu barang pun yang kamu beli.” Mulai setengah


    berteriak karena kesal. Beberapa orang berhenti melihat perdebatan mereka. Tapi


    segera menyingkir ketika Saga dengan sorot mata kesalnya melihat mereka.


    “ Haha, sayang ini lah seninya


    kencan rakyat biasa. Kamu tidak perlu modal untuk membuat pasanganmu bahagia.


    Cukup ajak dia cuci mata saja sudah senang kok.” Daniah secara paksa mendorong


    tubuh Saga berjalan menjauh dari toko yang untuk kesekian kalinya dia masuki cuma


    untuk melihat-lihat.


    Aku akan membuat kaki mu pegal


    sampai mau copot. Haha.


    “ Ayo beli camilan.” Menarik tangan


    supaya Saga mengikuti langkah kakinya menuju food court mall.Saga mengeluarkan


    ponselnya dia mengetikan sesuatu, sambil mengimbangi langkah kaki Daniah di


    sampingnya.


    “ Beli semua barang yang di tunjuk


    daniah di toko yang kami masuki tadi. Semua!” pesan terkirim. Kata semua dengan


    tanda seru, mengisyarak kan jangan sampai terlewat satu item pun.


    Mereka menghentikan langkah setelah


    melihat deretan stand makanan. Bau dan aroma makanan bercampur. Ada yang


    mendominasi kuat sampai beberapa radius aromanya tercium. Mengoda para


    pelanggan mendekat.


    “ Sayang pesan makanan di sana ya.


    Kemarikan tasku, aku tunggu di kursi itu ya.” Daniah menunjuk kursi di dekat


    jendelan. Saga terlihat binggung. Kenapa dia yang harus pesan.


    “ Kenapa aku yang pesan?” bertanya


    serius.


    “ Karena begitu seharusnya. Tidak


    mau ya? Kalau begitu.” Daniah sudah mau mengalah, biar dia memilih makanan.


    “ Duduk! Biar aku yang pesan.


    Jangan bergerak kemanapun. Turunkan topimu lagi.” Menarik topi Daniah turun.


    Ia, ia. Walaupun kesal tetap Daniah


    menurunkan topinya.


    Cih, jelas-jelas semua orang sedang


    meliriknya, kenapa aku yang di suruh menutupi wajahku.


    Daniah sudah menunggu di kursi. Ramai


    pengunjung dan ramainya antrian. Dia mengeluarkan hpnya. Mengambil foto Saga


    dari kejauhan. Momen pertama kalinya dalam hidup Saga, mengantri  membeli makanan.


    Untuk pertama kalinya dalam hidup


    Saga. Dia memesan minuman sendiri. Canggung memilih menu. Namun pelayan wanita


    di depannya dengan suka cita membantu. Dia terlihat tersenyum jauh lebih ramah


    dari pada dengan pelanggan sebelumnya.


    “ Ada lagi kak?”


    Saga menunjuk satu boks camilan


    yang terlihat seperti bola-bola bakso di goreng dan juga satu cake coklat yang


    terlihat enak.


    Sigap pelayan itu menyiapkan


    pesanan.


    Berhasil, Berhasil. Begini kan


    caranya. Huh! Apa kamu pikir aku tidak bisa melakukan hal seperti ini. Meremehkan


    sekali.


    Saga membawa nampan berisi makanan dan


    minumannya. Daniah yang melihat dari kejauhan tidak bisa tidak untuk tidak


    mengabadikan momen bersejarah ini. Banyak sekali foto yang dia ambil. Saat Saga


    berjalan ke arahnya dengan kesusahan membawa nampan berisi makanan.


    Prok, prok, prok. Daniah bertepuk


    tangan kecil saat Saga sampai di tempat duduk dan meletakan nampan. Sukses


    mendarat dengan sempurna tanpa ada satupun makanan dan minuman yang tercecer.


    “ Terimakasih sayang. Kamu hebat


    sekali.” bertepuk tangan kecil lagi, menunjukan pujian dan kebanggaan.


    “ Huh! Hanya seperti ini saja.


    Gampang.” Tapi dia membusungkan dada bangga dengan wajah merona bahagia.


    Membuat Daniah senyum.


    Dia benar-benar merasa bangga.


    Mengemaskan sekali.


    “ Kau senang?” Tanya Saga. Daniah


    mengangukan kepalanya berulang.  Saga


    meraih minumannya, dia sengaja membeli dengan dua rasa berbeda. Dua-duanya dia


    cicipi semua, lalu menyerahkan salah satunya. Pada Daniah. “ Seharusnya aku cuma


    pesan satu ya, biar kita bisa berbagi bibir.”


    Huh! Kau bahkan sudah menyedot


    semuanya, masih bilang begitu.


    “ Sayang, apa kau menyuruhnya


    mengikuti kita.” Daniah melihat sekertaris Han menuju ke tempatnya duduk. Dia


    melewatinya hanya mengangukan kepala sedikit.


    “ Tidak, mungkin dia haus. Jangan


    perdulikan dia. Lihat aku, hanya lihat aku!” menarik-narik tangan Daniah agar


    gadis itu hanya melihatnya.


    “ Ia, ia.” Hup memakan camilan yang


    dibeli Saga. Daniah sudah meletakan satu bola-bola bakso di depan mulut Saga.


    Laki-laki itu mengeleng. “ Hemmm. Buka mulut. Seharusnya sekarang.” Daniah


    belum menyelesaikan kalimatnya Saga sudah membuka mulutnya.


    “ Puas!” mengunyah makanan yang


    dimasukan Daniah ke mulutnya.


    “ Hehe.”


    Puas donk, biasanya kamu tidak


    pernah makan jajanan beginian kan. Habis ini kita kemana lagi ya?


    BERSAMBUNG
『Add To Library for easy reading』
Popular recommendations
Super Gene Shadow Slave Cultivation Online Mecha Breaks the World Nine Star Hegemon Body Arts I Can Copy Talents