21Novel

Font: Big Medium Small
Dark Eye-protection
21Novel > Terpaksa Menikahi Tuan Muda > Chapter 168 Bulan Madu (Part 7)

Chapter 168 Bulan Madu (Part 7)

    Oleh-oleh akan selalu jadi


    prioritas wisatawan. Baik itu yang berasal dari mancanegara maupun wisatawan


    domestik. Membuat area perbelanjaan seperti ini sungguh peluang yang sangat


    bagus. Para pelancong bisa mendapatkan aneka barang lokal dalam satu tempat. Bahkan


    tempat seperti inipun bisa menjadi salah satu destinasi wisatawan daerah


    setempat juga. Karena bukan hanya toko-toko, kuliner pun lengkap. Ada pula


    arena bermain anak-anak yang bisa dimasuki dengan membayar tiket dengan harga


    yang cukup terjangkau.


    Daniah bisa melihat anak-anak


    berlarian dengan gembira. Sementara orang tua mereka berjalan santai sambil


    bergandengan tangan. Mengawasi dari belakang.


    Manisnya mereka.


    Daniah menarik tangan Aran memecah


    keramaian pengunjung, sekarang  mereka


    berjalan beriringan layaknya teman sepermainan yang sedang berlibur.


    “ Aran, kamu pilih juga ya apa yang


    mau kamu beli.” Menepuk tangan Aran yang di gandengnya. “Jangan sungkan.”


    “ Terimakasih nona, tapi saya tidak


    apa-apa.”


    “ Kak Niah, panggil aku kak Niah. “


    Daniah memukul bahu Aran. “ Kitakan sudah janji dengan mengaitkan jari tadi.”


    Habislah aku, kalau sampai tuan Han


    tahu. Aran.


    Daniah memutuskan toko pertama yang


    ia masuki adalah toko aksesoris dan perhiasan. Batu warna warni yang berkilau


    sudah membuat kantong wisatawan bergetar ingin memborong semuanya.  Daniah melihat ke dalam etalase toko.


    Kalung-kalung cantik dengan liontin batu-batu berwarna-warni. Dia mengeluarkan


    hpnya dan melakukan voice call.


    “ Hallo mbak Niah!” teriakan dari


    layar hp berebut berada di paling depan. Para pegawai ruko berkumpul. Dari


    semua lantai. “ Mbak Niah kangen!” teriak mereka bersamaan.


    “ Aku juga kangen!” Daniah tak


    kalah memekik. “ Lihat!” di gerakan kamera hp ke dalam etalase yang memajang


    asesoris cantik-cantik itu. “ Kalian mau pilih yang mana? Haha. Boleh pilih


    satu-satu ya.”


    Semua ribut bersautan. Akhirnya


    Daniah memfoto semua asesoris dan mengirimkan ke dalam grup toko. Semua memilih


    masing-masing. Cukup lama, bahkan ada yang berebut dan sampai adu ketikan


    karena mereka memilih barang yang sama.


    Sementara itu Aran di belakang


    Daniah hanya berdiri tidak bergerak melihat apa yang dilakukan Daniah.


    Mereka itu siapa si? Kenapa nona


    Daniah ini benar-benar di luar jangkauan kepalaku karakternya. Dia ini


    benar-benar tidak seperti nona kaya yang pernah kutemui. Ku pikir istri tuan


    Saga seharusnyakan bergaya elegan dan sok kaya kan. Sombong sedikit juga tidak


    apa-apalah. Tuan Saga lho suaminya.


    “ Aran, kemarilah. Pilihlah yang


    kamu suka.”


    Lamunan Aran langsung buyar. “ Saya


    juga?” menunjuk dirinya tidak percaya.


    “ ia.”


    Daniah sudah memisahkan semua


    aksesori yang dipilih karyawannya. Dia membelikan satu set dengan warna senada


    dengan kalung hasil pilihan mereka masing-maing. Dia memang tidak menawarkan


    yang lain tadi. Biar jadi kejutan saat mereka membuka kotak hadiah mereka masing-masing


    nanti. Cincin, anting-anting dan gelang dengan warna senada, adalah bonus rasa


    sayang dan terimakasihnya untuk semua karyawannya.  Walaupun semua dibeli dengan uang tuan Saga.


    Haha.


    Sementara Aran melihat-lihat, isi


    etalase yang membuat mata wanita berbinar.


    Semua cantik-cantik begini, tapi


    sepertinya terlalu mencolok kalau aku yang memakainya.


    Dia sedang mengukur dirinya


    sendiri. Karena memang dia jarang memakai perhiasan.


    “ Bagaimana ini? Kamu bisa


    memasangnya di hp kamu. Aku tahu kok, Aran gak terlalu suka sama perhiasankan.


    Bisa aku liat dari style dan gaya pakaian yang kamu pakai.”


    “ Ia.” Tersenyum malu. Lalu memilih


    salah satu benda yang direkomendasikan Daniah. Walaupun dengan ragu dia


    menyerahkan hasil pilihannya ke tangan Daniah untuk di hitung dengan yang


    lainnya.


    Nona, kenapa anda baik sekali


    begini si. Masih tidak percaya dengan situasi yang dilihatnya dengan mata


    kepala sendiri.


    Mereka terlihat keluar masuk


    toko-toko. Para pelayan toko dengan ramah melayani semua kemauan Daniah.


    Selesai di satu toko, sambil membawa tas belanjanya dia menarik tangan Aran


    agar mengikutinya dengan cepat. Masuk lagi ke toko berikutnya memilih banyak


    benda.


    Aran mendengar sebelumnya Daniah


    menyebutkan nama-nama wanita sebelum memilih benda yang akan dia beli.


    Dari tempatnya duduk Aran sedang


    menghitung, berapa total jumlah uang yang dikeluarkan nona muda di hadapannya


    yang sedang memilih barang. Dia menyerah, karena hanya akan membuat kantong dan


    airmatanya menetes pilu. Tapi yang di lihat Aran dari setiap kali benda yang


    dia beli nona Daniah tidak pernah memilih untuk dirinya sendiri. Tidak ada


    satupun barang yang dibelinya khusus untuknya.


    Hah! Jadi semua ini benar-benar dia


    beli untuk orang lain. Apa! para pelayan di rumah orangtuanya juga mendapat


    jatah. Ya tuhan, nona Daniah ini malaikat ya, sampai memikirkan itu.


    “ Aran ada lagi yang mau kamu


    beli?”


    “ Tidak nona, eh Kak Niah. Anda


    sudah membelikan saya banyak sekali. Dan juga sepertinya tangan kita sudah


    tidak muat.” Aran mengangkat kedua tangannya. Penuh.


    “ Haha, maaf ya aku merepotkanmu.”


    Ditangan Daniahpun sama.


    “ Tidak, bukan begitu maksudnya.


    Saya masih bisa membawa semuanya sendiri, berikan tas yang kak Niah pegang.”


    Merasa bersalah karena sikap kurang ajarnya.


    “ Sudahlah tidak apa-apa. Aku sudah


    terbiasa membawa barang-barang sebanyak ini dengan tanganku. Aku gadis pekerja


    keras sebelum menikah dengan tuan Saga. Hehe.”


    Inimah bukan apa-apa, gumam Daniah.


    Dia bisa membawa sekotak besar pakaian dengan tangan kecilnya.


    “ Tapi kak, bagaimana kalau kita


    berikan pada para pengawal saja tas-tas ini untuk di bawa ke mobil. Biar kak


    Niah nyaman. Masih ada yang mau dibelikan.” Aran menunjuk dengan ekor matanya.


    Dua orang yang sedari tadi mengawasi mereka dalam diam.


    Biar mereka punya kerjaan.


    “ Pengawal? Memang mereka ada di


    sekitar sini.”


    Apa! jadi dia tidak sadar kalau


    sedari tadi ada dua orang yang mengikuti kami.


    “ Mereka kak.” Aran menunjuk dua


    orang yang berdiri tidak jauh dari mereka. Kedua orang itu mengangukan kepala


    ketika Daniah melihat ke arah mereka.


    “ Apa! Jadi mereka mengikuti kita


    dari tadi.” Terbelalak tidak percaya. Saat Daniah melambaikan tangan keduanya


    mendekat dan menerima semua tas belanjaan.


    “ Bagaimana kau bisa tahu, wahh,


    Aran keren. Udah mirip pengawal level tinggi, sampai tahu kalau diikuti.”


    Tidak sama sekali nona, mereka


    mengikuti kita sudah sangat mencolok sekali. Anda saja yang kelewat bahagia


    tadi belanja sampai tidak menyadari.


    “ Saya tidak punya kemampuan


    semacam itu kak.”


    Hanya salah satu dari pengawal yang


    membawa tas belanjaan ke mobil. Salah satunya tetap mengikuti.


    “ Apa masih ada yang mau kak Niah


    beli?”


    Daniah berjalan masih sambil


    melihat-lihat. Berfikir sebentar, sepertinya sudah tidak ada. Dia sudah


    mengabsen semua nama yang akan dia bawakan oleh-oleh..


    “ Apa kak Niah tidak membelikan


    tuan Saga apa-apa.” pertanyaan Aran langsung membuat Daniah berhenti. Benarkan,


    ini yang sedari tadi terlintas di ujung kepalanya tapi tidak ia temukan


    jawabannya. Dia berbalik dan menghambur memeluk Aran. “ Kak Niah kenapa? Gadis


    yang dipeluk langsung terkejut.


    “ Aran terimakasih sudah


    mengingatkanku sesuatu yang sangat penting. Kau menyelamatkan hidupku.””


    Bagaimana aku bisa sampai lupa pada


    suamiku yang mengemaskan dan bisa mengila itu kalau tahu aku membelikan


    barang untuk semua orang. Kecuali dia.


    “ Aran, apa kau mau membeli untuk


    sekertaris Han juga.”


    “ Apa? tidak kak. Dia punya uang


    yang berlimpah untuk membeli apapun yang dia mau.”


    Kalau sampai aku membelikan sesuatu


    untuknya, bisa-bisa dia melemparkan ke wajahku sambil bilang. Beraninya kau


    memberiku barang murahann seperti ini! Sambil melemparkan kemukaku dan mencelos


    pergi.


    “ Tidak apa-apa. aku yang bayar.


    Anggap saja untuk menyuapnya supaya dia bersikap baik padamu.”


    “ Tidak kak, tidak perlu.”


    Dia tidak akan pernah bisa bersikap


    baik dan normal padaku.


    Acara penting yang di hadiri Saga


    sudah berakhir. Ketika media berkerumun dan meminta waktu wawancara Han sudah


    mengerakan tangaannya. Bahwa tidak ada wawancara khusus denga presdir Antarna


    Group. Hanya para pejawab kota XX beserta Keanu yang terlihat melakukan


    konfrensi press. Sementara Saga kembali keruang tunggu VVIP yang di sediakan


    untuknya.


    Dia terlihat jengah selama acara.


    Beberapa kali melihat jam yang ada di tangannya.


    “ Kapan kita pergi?” Katanya mulai


    terdengar gusar. Yang ada di kepalanya hanya wajah Daniah. Yang ntah kenapa


    sedang tervisualisasi duduk termenung sambil menunggunya. Padahal tidak sama


    sekali tuan muda. Istrimu sedang bahagia di luar sana.


    “ Setelah jamuan makan tuan.” Han


    menjawab. Dia juga merasa kesal karena tidak bisa melakukan apapun. Dia tahu


    Saga sudah merasa bosan sedaritadi.


    “ Apa! Kau sudah gila ya. Aku mau


    makan siang dengan Daniah.”


    “ Maaf tuan, tuan Ken benar-benar


    memaksakan kehendaknya kali ini. Anda belum bisa pergi sebelum jamuan makan.”


    Kalau Saga pergi sebelum jamuan,


    aku akan datang ke vila kalian. Menggangunya semalaman. Sialan. Han bahkan


    benar-benar mengumpat di depan Ken yang hanya di jawab dengan gelak kemenangan


    laki-laki itu.


    “ Apa yang dilakukan Daniah


    sekarang?” Melihat jam tangannya lagi.


    “ Nona sedang pergi berbelanja.”


    “ Apa dia merindukanku sekarang?”


    Pertanyaan yang seharusnya tidak butuh jawaban. Tapi dia menunggu Han menjawab


    untuk membuat hatinya senang.


    Tidak sama sekali tuan, nona


    bersenang-senang dengan gembira tanpa sedikitpun memikirkan anda. Level cinta


    nona masih jauh dibawah anda.


    “ Han, aku ingin melihat wajah


    Daniah.”


    “ Nona juga pasti merindukan anda


    tuan muda. Begitukan kalau sepasang kekasih diikat oleh cinta. Kalian terikat dalam pikiran kalian masing-masing.” Han merasa


    merinding dengan kata-kata karangannya sendiri.


    “ Benarkah!” senyum senang sudah


    muncul di wajah Saga. Tapi dia langsung gusar. “ Kurang aja! Kau sudah membual


    ya” Saga menendang meja di depannya saat mendengar Han tergelak tadi. “ kau mau


    mati ya?”


    “ Tidak tuan maafkan saya. Nona


    juga pasti sedang memikirkan anda sekarang.” senyum kecil itu muncul lagi. Membuat Saga benar-benar ingin menendang kaki Han sekarang.


    “ Berhenti bicara omong kosong kalau kau tidak mau mati sekarang!”


    Cih, habis kau kalau kau bilang tidak merindukanku nanti.


    Karena sepanjang hari ini isi kepala Saga hanya dihantui wajah istrinya Daniah.


    Bersambung
『Add To Library for easy reading』
Popular recommendations
Super Gene Shadow Slave Cultivation Online Mecha Breaks the World Nine Star Hegemon Body Arts I Can Copy Talents