21Novel

Font: Big Medium Small
Dark Eye-protection
21Novel > Terpaksa Menikahi Tuan Muda > Chapter 169 Bulan Madu (Part 8)

Chapter 169 Bulan Madu (Part 8)

    Setelah keluar masuk beberapa toko.


    Termenung cukup lama sambil membayangkan wajah Saga, Daniah menemukan barang


    yang sekiranya membuat suaminya puas. Walaupun dia masih deg-degan juga saat


    keluar dari toko tadi. Takut kalau ternyata laki-laki itu masih protes juga.


    Aku akan memberikannya dengan gaya


    imut, sambil bilang aku memikirkannya sepanjang mencari hadiah.


    Daniah seperti mendapat asupan


    tenaga lagi. Seteleh berhasil meyakinkan dirinya sendiri. Dia berteriak sambil


    berlari kecil membelah kerumunan manusia menuju area kafe ataupun kedai


    makanan. Tempat orang-orang berburu kuliner. Baik makanan yang sepertinya


    populer baru-baru ini sampai makanan dengan citarasa lokal yang melegenda. Dia sudah terlihat


    menunjuk-nunjuk sebuah kios kecil yang menjajakan makanan.


    Aku ketemu cilok di sini. haha,


    cilok adalah makanan bangsa yang bisa ditemui di mana saja.


    Dia memesan dua porsi pedas


    untuknya dan dan Aran. Puas sekali. Walaupun banyak jajanan lain, tidak tahu,


    matanya tertuju ke kios dengan stand warna mencolok bergambar cilok.


    “ Kak Niah.” Pasrah menatap dua


    porsi cilok yang ada di tangan Daniah.


    Sepertinya aku sudah berkali-kali


    dibunuh  sekarang, berapa kali sudah


    melanggar aturan tertulis tuan Saga. Semoga tuan Han tidak menanyakan sampai


    detail makanan yang dimakan nona.


    Aran menerima satu cup yang dibeli


    Daniah untuknya. Diapun ikut makan karena melihat Daniah makan dengan lahap.


    “ Kita ke kafe itu saja ya. Mau


    mendinginkan badan.” Daniah tertawa sambil menunjuk sebuah kafe yang nampak


    paling ramai. Karena lokasinya terbilang strategis dengan luas bangunan paling


    besar dibandingkan dengan yang lain. Aran mengikuti di samping Daniah sambil


    menghabiskan cilok di tangannnya.


    Makin di makan makin enak juga


    ternyata.


    Seperti yang terlihat dari luar,


    ketika masuk ke dalam kafe langsung di sambut udara dingin dari  pendingin udara. Daniah sampai mengusap


    tengkuknya yang berkeringat karena cuaca di luar. Dia mengedarkan pandangan


    menyapu ruangan. Seorang pelayan mendekat dan menyapa.


    “ Dua orang mbak, minta kursi di


    dekat jendela ya.” Katanya.


    “ Silahkan.” Dia mempersilahkan


    tangannya, meminta kedua pelanggannya mengikuti. Cilok di tangan keduanya belum


    habis. “ Silahkan.” Setelah mendapat tempat duduk yang diinginkan, Daniah


    menerima menu yaang di sodorkan.


    “ Aran mau apa? pilihlah.”


    “ Saya sama dengan kak Niah aja.””


    “ Hei, jangan begitu. Pilih yang


    kamu sukai. Selama tidak ada Han, kamu bebas melakukan apapun.”


    Nona, apa anda masih tidak sadar


    dua pengawal di belakang kita itu.


    “ Aku ingin minuman segar yang


    tidak terlalu manis. Sepertinya jus nanas enak. Kalau begitu aku pesan jus


    nanas aja ya mbak. Dengan bongkahan batu es ya. “ Membayangkan saja pasti


    minuman itu akan segar sekali. Aran sendiri memilih jus jambu dengan susu.


    Mereka tidak memesan makanan


    apapun. Daniah masih menghabiskan cilok di dalam cup miliknya. “Terimakasih ya.


    Hari ini menyenangkan sekali.”


    “ Ia kak, saya juga senang sekali.”


    Hei kalian jangan menatapku seperti


    itu. Dari tadi nona yang mengajaku bicara. Memang aku harus diam kalau dia


    bicara padaku.


    Aran berusaha mengalihkan


    pandangannya dari kedua laki-laki yang juga pesanan minuman mereka datang


    bersamaan. Menataap Aran dengan wajah tanpa ekspresi.


    Saat Pesanan sampai di meja. Langsung  diterima dengan bahagia oleh Daniah.


    Gadis itu menghabiskan hampir separuh gelas minumannya. Sampai terdengar


    pecahan batu es yang bergesek.


    “ Haha, aku haus sekali.” Minum lagi


    beberapa sedotan sampai terdengar lagi gesekan batu es. “Tuan Saga sudah


    selesai belum ya?”


    “ Tuan Han sudah menanyakan kita


    dimana beberapa waktu lalu kak. Mungkin saja tuan Saga sudah mau selesai.” Aran


    memeriksa hpnya lagi. Jangan-jangan ada pesan masuk. Tidak ada, aman batinnya.


    “ Benarkah?” Merasa senang, karena


    mereka tidak perlu bertemu di keramaian seperti ini. Dia akan kembali sebelum


    tuan Saga selesai, itu rencana awalnya tadi. “Aran ceritakan tentang dirimu.


    Sejak kapan kau bekerja di Antarna Grup?”


    Aran baru saja mau meletakan


    sedotannya dan menjawab, tapi tiba-tiba sebuah suara yang terdengar nyaring dan


    senang terdengar. Membuatnya lagi-lagi tidak sempat meluruskan kesalahpahaman.


    “ Niah! Daniah! Benar Daniah!”


    Yang dipanggil segera memalingkan


    wajah menuju suara yang memanggilnya. Saat matanya bersitatap tiba-tiba


    wajahnya langsung berubah. Senyum di bibirnya pudar seketika. Aran melihat


    dengan jelas tatapan tidak suka Daniah pada laki-laki yang antusias mendekat ke


    meja mereka.


    Sial! Kenapa aku bertemu berandalan


    ini di tempat seperti ini. Apa yang dilakukannya di kota ini! Baiklah, pura-pura


    tidak kenal. Acuhkan dia.


    Daniah menundukan kepala lagi,


    mengaduk minumannya.


    “ Kau mau pura-pura tidak


    mengenaliku?”


    Sial! Kenapa dia tahu si. Apa isi


    kepalaku ini transparan sampai bisa ditebak.


    Tanpa bertanya ataupun permisi


    laki-laki yang baru saja menyapa dan memanggil nama Daniah dengan riang  itu sudah menarik sebuah kursi. Mau duduk


    persis di samping Daniah.


    “ Hei tuan apa yang anda lakukan?”


    Aran menarik kursi itu menjauh sebelum sempat di duduki. “Tuan bahkan tidak


    bertanya apa boleh bergabung bersama kamikan?”


    Kenapa muncul laki-laki seperti ini


    si, dalam bayangankukan muncul laki-laki keren yang paling tidak selevel dengan


    tuan Saga. Dalam ketampananlah minimal, walaupun kalau uang tidak mungkin


    mengalahkannya.


    “ Hah! Siapa dia? Temanmu?” Tangan


    laki-laki sok akrab itu sudah bergerak ingin menyentuh dagu ataupun wajah Aran.


    Daniah segera refleks menepis tangan lancang itu.


    “ Jangan ganggu temanku!” Daniah


    bicara dengan nada ketus. Menatap tajam dan benci.


    “ Haha, kamu benar-benar tidak


    berubah ya Niah. Teman-temanmu selalu jadi kelemahan terbesarmu. Sekarang sudah


    ingat aku kan?” Dia tersenyum sinis sambil melirik Aran dan menarik kursi yang


    di geser tadi. “ Karena ini kafe milikku, aku tidak perlu izin siapapun  dan bisa duduk dimanapun aku mau. Apalagi


    saat aku bertemu teman lamaku.”


    Cih, aku sampai lupa kalau dia


    memang murid paling kaya di SMU dulu.


    “ Kenapa kau sama sekali tidak


    berubah. Apa kau masih bocah SMU yang sok kuasa karena kekayaan orang tuamu!”


    Mendengar Daniah bicara dengan


    keras dia malah tertawa.


    “ Sekarang aku sudah punya


    kekayaanku sendiri. Haha. Tapi Niah kau tetap manis sama seperti dulu. Apalagi


    kalau sedang marah padaku.” Tidak tahu terbuat dari apa urat malu laki-laki di


    depannya ini. Tapi Daniah masih merasa, kalau dia sama persis dengan berandalan


    SMU yang menyusahkan kehidupan remajanya dulu.


    “ Tutup mulut anda tuan!” Aran


    bangun dari tempat duduknya. Mendekat dan berdiri di samping Daniah.


    “ Haha, siapa dia Niah.


    Pengawalmu?”


    Daniah menarik tangan Aran yang


    sudah hampir mengebrak meja di depannya.


    Ya Tuhan kenapa aku bisa bertemu


    berandalan gila ini. Laki-laki di hadapannya ini memiliki rapor hitam selama di


    sekolah. Dan lebih menyebalkan lagi dia selalu lepas dari hukuman karena


    keluarganya yang kaya raya dan penyokong hampir separuh dari semua kegiatan


    sekolah. Dan ilmu bela dirinya tidak main-main. Parahnya dia bisa memukul


    perempuan.


    Huh! Ku pikir tuan Saga itu


    laki-laki paling seenakya dimuka bumi ini. Sampai aku ingat lagi dengan


    berandalan ini.


    “ Aran tidak apa-apa. Dia


    berandalan di Smuku dulu. Kami satu sekolah.”


    Hah! Apa dia ini mantan nona?


    Kenapa aku benar-benar ketemu dengan mantan nona. Aaaaa, apa aku sedang dikutuk


    karakter-karakter novelku yang kadang aku buat susah kalau ketemu para mantan.


    Seharusnya mereka dibuang ditempat sampah. Cih.


    “ Kau lumayan juga, tapi kau bukann


    seleraku.” Menatap Aran sinis sambil menyeringai. Setelah itu beralih menatap


    Daniah. “ Niah, bagaimana denganmu. Kau sudah punya pacar?””


    “ Aku sudah menikah.” Menjawab


    cepat.


    “ Haha, ayolah. Kau tidak akan


    mengaku kalau kau menikah dengan tuan Saga Rahardian presdir Antarna Groupkan?”


    Wajah Daniah semakin kesal ketika


    mendegar laki-laki di depannya tertawa semakin keras. Caranya tertawa masih


    sama seperti yang ada diingatannya. Dan dia membenci itu.


    “ Tebakanku benarkan kau mau mengaku


    sebagai wanita yang dicintai tuan Saga. Sudah ada lima Daniah yang ku kenal


    mengaku sebagai istri presdir Antarna Group.” Dia tertawa dengan puas, bahkan


    memukul meja di depannya. Merasa bangga karena berhasil menebak arah pikiran


    Daniah.


    “ Jadi aku orang  ke enam ya? Sepertinya aku kurang beruntung,


    biasanya orang-orang percaya lho kalau aku bilang aku istri tuan Saga. Daniah


    yang fenomenal itu.” Daniah menenangkan Aran di sampingnya yang sudah semakin


    gusar. Aran sepertinya kesal melihat pandangan melecehkan laki-laki di


    hadapannya ini ketika melihat Daniah. Itu bukan mata penuh cinta. Itu pandangan


    ambisi dan ingin memiliki. Sebatas kepuasan ia bisa memiliki sesuatu yang sulit


    dia dapatkan.


    Sebenarnya hubungan mereka di masa


    lalu apa si. Kau tahu, kalau tuan Saga sampai tahu kejadian ini, aku yakin kau


    akan jadi bubur lumer yang tidak akan di kenali siapapun. Sial, para pengawal


    saja melihat jelas kejadian ini. Mereka sedang menahan diri karena melihat nona


    sangat tenang menghadapi laki-laki ini.


    “ Kak Niah, ayo kita pergi.” Aran


    meraih tas tangan Daniah di atas meja.


    “ Wahh, kau kurang ajar sekali ya.


    Akukan sedang bicara dengan Niah. Kami sedang nostalgia masa lalu.” Mengedipkan


    mata jenakanya, dan senyum tidak tahu malunya.


    “ Tutup mulutmu. Tidak perlu ada


    kenangan apapun yang perlu di kenang dalam hubungan kita. Bertemu denganmu lagi


    saja sudah seperti mimpi buruk.”


    “ Ayolah Niah, kitakan pernah


    berkencan sekali.”


    “ Hei, kalau kau tidak memukul dan


    menyekap temanku, apa kau pikir aku mau pergi kencan denganmu!” Daniah


    berteriak akhirnya. “Mengelikan sekali, kau sama sekali tidak berubah. Tidak


    tahu malumu itu sudah kelewatan.”


    “ Wahhh, manisnya. Kau masih sama


    manisnya seperti dulu kalau marah. Apa kalau aku melakukan lagi pada temanmu


    ini.” Dia menunjuk Aran. “ Kau mau berkencan semalam denganku.”


    “ Apa kau tidak dengar tadi, kak


    Niah sudah menikah. Jadi berhentilah sampai di sini sebelum.”


    “ Sebelum apa? haha. Sebelum tuan


    Saga mematahkan tanganku. Ayolah Niah, sampai kapan kau akan bersandiwara dan


    mengaku menjadi istri tuan Saga.” Dia terlihat menimbang-nimbang. “ Kamu memang


    manis si, tapi seleranyakan seperti pelukis Helena yang punya tubuh seperti


    supermodel itu. Sedangkan kau.”


    Byurrr. Sisa jus nanas dan beberapa


    bongkahan batu es sudah mendarat tepat di wajah laki-laki itu. Sementara gelas


    kosong itu masih di gengam Aran dengan gemetar.


    “ Beraninya kau!” dia bangun dari


    kursinya. Daniahpun demikian menarik Aran berdiri di belakangnya. Melindungi. Karena melihat


    sorot mata laki-laki di depannya sudah memerah kesal.


    Gawat dia marah. Dan aku tahu


    segila apa dia kalau marah.


    Aran yang mau berjalan ke depan


    Daniah tertahan. Tangan nona mudanya itu masih melindunginya. Keributan yang


    terjadi langsung mengundang para pelayan bahkan para penjaga kafe masuk. Para pelanggan kafe sudah berdiri dari kursi mereka. Yang penasaran masih bertahan ingin melihat sampai sejauh apa kegaduhan ini. Yang tidak suka keributan segera menyingkir keluar setelah membayar tagihan.


    “ Kenapa Boss?” ucap mereka panik.


    Apalagi saat melihat wajah boss mereka dan rambut terlihat basah dan lengket.


    “ Sial, aku sebenarnya ingin


    baik-baik menyapa tadi. Tapi temanmu sudah kurang aja.” Menatap Aran penuh


    kekesalan. “Aku bisa memaafkanmu kalau kau yang melakukannya, tapi karena dia


    yang menyiramku, dia harus membayarnya dengan setimpal kan?”


    Daniah maju dan akan memberi pembelaan. Namun dua pengawal yang sedari tadi hanya diam mengamati sudah berdiri di depannya membentangkan tangan.


    “ Nona, apa nona tidak apa-apa?”


    Sementara tangan Daniah masih melindungi Aran di belakangnya.


    " Kenapa kalian baru bereaksi?" Aran berbisik sambil mengeram kesal. Karena tahu kedua orang tadi sudah menonton pertunjukan.


    " Sekertaris Han ingin melihat kerjamu. Bagaimana kau bekerja." Menatap Aran meremehkan. "Sepertinya kau tidak berguna sama sekali melindungi nona."


    Hei, Apa!


    “ Apa-apaan ini! Siapa kalian?


    Kalian tidak tahu siapa aku?" Si pembuat onar mundur beberapa langkah. " Niah, mereka siapa? suamimu?"


    Aaaa, apa ini akhir dari riwayat pekerjaanku. Dia tidak akan mengusirku dan menyuruhku berenang keluar pulaukan. Aran.


    Kekacauan akan berlanjut.


    Bersambung
『Add To Library for easy reading』
Popular recommendations
Super Gene Shadow Slave Cultivation Online Mecha Breaks the World Nine Star Hegemon Body Arts I Can Copy Talents