21Novel

Font: Big Medium Small
Dark Eye-protection
21Novel > Terpaksa Menikahi Tuan Muda > Chapter 131 Surat perjanjian

Chapter 131 Surat perjanjian

    Senyuman  masih menghiasi wajah Daniah. Semua hal baik


    sedang menari-nari di kepalanya. Leela terlihat melirik sebentar pada Daniah,


    dia ikut tersenyum melihat rasa bahagia yang tergambar jelas dari wajah nona


    mudanya.


    Pengakuan cinta, memang selalu di


    butuhkan meyakinkan hati. Walaupun sebenarnya tanpa di ucapkannpun, ketika hati


    sudah merasa di cintai sebenarnya itu sudah lebih dari cukup. Namun manusia


    terkadaang selalu butuh pengakuan. Sesederhana apapun bentuk pengakuan cinta


    akan di terima dengan hati berbunga.


    “ Bagaimana perasaan nona?”


    berpaling sebentar lalu kembali melihat ke depan.


    “ Eh apa?” Daniah berpaling dari


    kaca dan melihat leela.


    “ Apa nona bahagia?”


    Daniah binggung menjawab. Perasaan


    Saga yang sesuangguhnya. Saat itu dia mendengarnya saat Saga mengatakan pada


    helen bahwa hanya dirinya yang boleh menyentuh Saga. Saat itu hatinya mulai


    muncul bunga, nama Saga jauh lebih besar memiliki ruang di hatinya. Apalagi


    saat ia mendengar saat suaminya mengatakan pada ibu.


    “ Aku mencintai Daniah bu.”


    Rasanya jantungnya ingin meledak


    karena tidak percaya. Dan dia selalu menantikan momen seperti ini akan datang.


    Saga menyebut namanya. Hingga semua ketakutan akan di buang pergi lenyap. Saat ini


    yang ada di pikiran Daniah cuma satu. Apa yang akan dia katakan saat bertemu


    dengan suaminya nanti.


    Canggung atau pura-pura malu ya.


    “ Nona pasti sangat bahagia kan?


    Tuan muda sangat mencintai nona, jadi saya berharap nona juga bahagia berada di


    samping tuan muda.”


    Danaih menatap Leela, menepuk


    bahunya. Dia hanya tersenyum tapi tidak menjawab apapun. Dia memalingkan wajah


    dan bersandar di kursi. Tengelam dalam pikirannya sendiri.


    Tidak seperti biasanya pak Mun


    sudah berdiri di dekat pintu menyambut, dia pasti sudah mendapat informasi dari


    penjaga gerbang kalau Daniah sudah kembali. Dia mendekat saat Daniah keluar


    dari mobil. Daniah heran. Biasanya pak Mun tidak pernah menyambutnya. Karena


    Daniah sudah melarang. Ditambah lagi wajah serius Pak Mun. Membuat Daniah takut


    juga.


    “ Selamat sore nona.”


    “ ia pak.”


    “ Kenapa anda baru kembali.”


    “ Eh kenapa pak, saya pulang sudah


    sesuai jadwal kan. Biasanya saya pulang jam segini.”


    Pak Mun terlihat semakin kuatir.


    “ Tapi tuan muda sudah ada di rumah


    dari sejam yang lalu.” Menunjuk atas. Letak kamarnya. Daniah mendongak panik. Tahu


    maksudnya.


    “ Apa! kenapa bisa, kenapa tidak memberi


    tahu saya pak. Apa tuan Saga marah?” Pak Mun tidak menjawab hanya


    mempersilahkan Daniah untuk masuk.


    Giliran Daniah yang mulai pucat.


    Dia berjalan cepat meninggalkan Leela yang terlihat sama kuatirnya.


    Bagaimana ini, ini hari pertama aku


    boleh keluar rumah. Tapi aku sudah pulang terlambat di hari pertamaku.


    “ ck ck ck.” Daniah mendengar


    seseorang berdecak. Sekertaris Han sedang bekerja dengan laptopnya. Dia menutup


    layar laptop lalu bangun mendekat. “ Sepertinya anda benar-pener punya nyawa


    lebih dari satu ya.”


    Apa! kurang ajar, masih bisa


    meledekku.


    “ kenapa? Kenapa kau tidak


    mengatakan kalau tuan saga kembali lebih awal.” Protes keras.


    Sekertaris Han mengambil hp di saku


    jasnya. Dia hanya mengangkat bahu.


    “ Kamu sengaja ya?” memukul bahu


    sekertaris Han kuat. Kuat sekali, sekuat tenaga Daniah melakukannya. Sampai Han


    merabanya karena tertingkal sakit yang cukup membuatnya meringis. “ Jahat


    sekali, aku baru boleh keluar hari ini. Dan gara-gara kamu tidak mengirimi aku


    pesan peringatan, tuan Saga bisa saja menghukum ku lagi dan tidak mengizinkan


    ku keluar rumah.” Frustasi karena kesal. Tapi dimata Han gaya marah-marah Daniah


    terlihat mengemaskan. Membuat laki-laki itu langsung berpaling cepat.


    “ Maaf kan saya nona, saya lupa


    kalau anda sudah boleh keluar rumah. Karena seminggu ini suasana sangat tenang


    saya pikir anda sudah pintar dan berfikir dengan bijak.” Alasan mu yang membuat


    Daniah semakin ingin memukul mu.


    “ Apa!” Sekali lagi dia hanya


    melotot kesal.


    “ Sekarang naiklah nona, tuan muda


    sudah menunggu.” Han berjalan di depan Daniah. “ Anda tahu kan tuan muda tidak


    pernah menunggu siapapun selama ini.”


    Aaa, Daniah frustasi mengikuti langkah


    sekertaris Han. Di depan kamar langkah mereka berhenti.


    “ Berhati-hatilah nona.” Nasehatnya


    malah hanya terdengar seperti ancaman. Bukannya membuat Daniah berani, dia


    malah berharap tidak akan masuk ke dalam kamar.


    “ Sekertaris Han, ikut aku masuk.”


    Daniah menarik ujung lengan jas yang dipakai Han. “ temani aku.” Daniah tidak


    bisa berfikir cara yang lain. Dia ingin selamat dari situasi ini dengan mudah. Paling


    tidak Han bisa dipakainya alasan. Karena dia tidak mengirim pesan padaku. Begitu


    rencananya menuding hidung sekertaris Han di hadapan Saga nanti.


    “ Apa anda pikir berapa nyawa yang


    saya punya.”


    “ Apa!” gemetar gegal sampai


    mengigit bibirnya sendiri.


    Sekertaris han membukakan pintu,


    ketika Daniah sudah masuk. Dia menutup pintu tanpa bersuara. Tidak menunggu, langsung turun ke lantai bawah. kembali bekerja dengan laptopnya.


    Glek, Daniah menelan ludahnya.


    Sambil mengedarkan pandangan. Matanya lurus tepat di sofa. Saga sedang duduk di


    sana. Melihatnya dengan sorot mata tidak bersahabat.


    Tunggu, kenapa ini. Kenapa dia


    terlihat kesal. Aku bahkan masih ingin memikirkan sikapku saat bertemu


    dengannya. Tapi sekarang sepertinya yang ada aku malah ketakukan.


    “ Sayang, kamu sudah pulang ya.”


    Saga menjentikan jarinya meminta


    Daniah mendekat. Gadis itu berjalan mendekat tanpa protes bahkan melaui raut


    wajahnya sekalipun.


    Apa yang di katakannya tadi di tv


    itu cuma akting. Dia kan baru menyatakan perasaannya padaku. Seharusnya situasinya


    gembira kan, kenapa malah jadi mencekam begini.


    Perasaan sedih tiba-tiba menjalar


    di seluruh tubuh Daniah. Benar, kenapa dia bisa seyakin dan sebahagia itu saat


    mendengar apa yang di katakan Saga. Dia bahkan tidak memikirkan adanya plot


    twis yang bisa saja muncul. Bagaimana kalau yang dia katakan tadi semuanya


    hanya setingan. Bukankah seperti itu biasanya program tv. Daniah sambil


    berjalan mendekat, pikirannya terus berkecamuk.


    “ Kamu tahu sudah berapa lama aku


    menunggu mu.”


    “ Maaf sayang. Aku tidak tahu kalau


    kamu kembali lebih awal.”


    Biasanya kan tidak pernah begini,


    ini pertama kalinya kau pulang lebih awal dan sekertaris Han pun tanpa


    melakukan pemberitahuan apapun. Seperti sengaja melakukan supaya Daniah terjebak dalam


    lubang dalam yang bisa menguburnya hidup-hidup.


    Saga menarik rambut Daniah yang


    hanya terburai jatuh begitu saja. Gadis itu melepaskan rambutnya di tangga tadi


    sambil menyisir dengan tangannya. Karena rambutnya tertarik maka tubuhnya


    reflek mengikuti. Mendekat ke arah saga.


    “ Kau menonton acara tv tadi,”


    meraih dagu Daniah, mendekatkan wajah.


    “ ia aku menontonya.”


    Jadi dia benar-benar berakting di


    tv tadi. Cih, padahal aku sudah senang bukan main tadi.


    “ Bagaimana? Apa aku terlihat


    tampan di tv.” Semakin mendekatkan wajah lagi. Sedikit lagi bibir mereka pasti


    berciuman.


    “ Ia, sangat tampan. Tentu saja


    kamu memang sangat tampan di lihat dari manapun.”


    Saga menempelkan bibirnya lebut,


    dan mulai mengerakan lidahnya. Secara tidak sadar Daniah pun membuka mulutnya.


    Dan menikmati ciuman itu.


    Kenapa ini, kenapa dia susah di


    tebak si. Jadi perasaan mu yang mana sebenarnya.


    “ Aku mencintai mu.”


    “ Apa!” berteriak karena kaget


    mendengar bisikan Saga di telinganya. “ Sayang, apa kamu barusan mengatakan


    sesuatu.” Saga masih menyusuri leher Daniah dengan bibirnya. Membuat gadis itu


    terdorong sampai bersandar di sofa.


    Dia barusan mengatakannya kan.


    “ Apa? aku tidak mengatakan apapun.”


    Kecewa lahir dan bermunculan tanpa


    di cegah. Daniah merasa malu sendiri. Sepertinya dia merasa sangat


    berhalusinasi, karena perasaan ingin dicintai.


    Daniah mendorong tubuh Saga karena


    merasa kecewa. Laki-laki itu tidak terlihat tersinggung. Dia menyentuh telinga


    kiri Daniah.


    “ kenapa? Kau kesal? Memang kau


    mendengar apa tadi?”


    Diam tidak menjawab hanya memberi


    sorot mata tidak suka.


    “ hei, aku bertanya pada mu.


    Jawab!” Daniah masih terdiam dengan sorot mata yang sama . membuat Saga mulai


    kesal “ Jawab!” sudah mulai mengeraskan suara dan menuding bahu Daniah dengan


    telunjuknya.


    “ tidak, sepertinya aku


    berhalusinasi. Karena kamu tidak mungkin mengatakannya.” Saga tergelak, meraih


    bibir Daniah lagi dan menciumnya.


    Apa! kenapa menciumku lagi. Memang


    kamu pikir masalah selesai dengan ciuman.


    Selesai mencium dia duduk sambil


    menaikan kakinya. Bersila. Menarik lengan daniah supaya melakukan hal yang sama


    di depannya. Gadis itu menaikan kaki dan juga duduk bersimpuh.


    Mau apa lagi si.


    “ Memang kau berhalusinasi apa?”


    Apa! masih membahas ini. Tidak


    penting juga aku berhalusinasi apa.


    Akan jauh lebih memalukan kalau


    sampai Daniah mengaku kalau ia mendengar Saga mengatakan kalau dia


    mencintainya. Setelah ini dia tidak akan pernah merasa ke geeran. Dia akan merasa


    cukup dengan merasa di cintai saja. Tanpa pernah mendengar pengakuan secara


    langsung. Itu tidak penting.


    Asalkan aku merasa di cintai, itu


    sudah lebih dari cukup.


    Daniah berusaha menghibur diri.


    “ Kau mendengarku mengatakan apa?”


    masih bicara dengan tersenyum.


    Gemetar geram Daniah. Dia


    mencengkram lututnya kesal. Mulai merasa Saga mempermaiankannya, dan tahu


    laki-laki di hadapannya tidak akan berhenti sampai dia berteriak mengaku.


    “ Baiklah aku akan mengatakannya.”


    Menarik nafas dalam. “ Aku dengar kamu mengatakan, kalau kamu mencintaiku!”


    Daniah mengatakannya sambil berteriak keras. Suaranya sampai memenuhi


    langit-langit kamar.


    Daniah melihat Saga di depannya.


    Tubuhnya mulai tergoncang dia tertawa terbahak.


    Cih, aku benar-benar berhalusinasi.


    “ Hebat sekali kamu ya.” Membelai


    lembut pipi Daniah. Membuat gadis itu merinding tidak tahu arah pembicaraan


    Saga. “ Padahal aku cuma berbisik pelan, ternyata kau mendengarnya ya.”


    “ Apa!” Daniah terperangah melihat


    Saga lekat.


    “ Sepertinya telingamu masih


    normal.” Lagi lagi menyentuh telinga Daniah. mengoyangkannya pelan. “ Aku mencintai mu Daniah, jadi


    tetaplah di samping ku seumur hidup mu.”


    Kata-kata itu masih di sampaikan


    Saga dengan seenaknya, tapi tidak tahu, seperti buliran air menguyur hatinya. Ia


    merasakan ke legaan. Semua ketakutannya menghilang dan dia merasakan bahagia. Walaupun sekali lagi Saga tidak memilih kata romantis apapun di depannya. tapi mendengar itu sudah mengalahkan baitan kata romantis yang pernah di baca Daniah.


    Malam terus bergulir, mereka sudah


    ada di tempat tidur dengan baju tidur warna senada. Lampu masih menyala dengan


    terang. Saga duduk bersandar, sementara Daniah ada di sampingnya memeluk


    kakinya.


    “ Duduklah!”  Daniah duduk sesuai perintah. Bersandar di


    lengan suaminya. Memperhatikan yang di lakukan Saga. Dia mengambil sebuah amplop di dalam laci. Menyodorkan pada


    Daniah.


    “ Apa ini?” tangannya mengantung menerima amplop besar itu.


    “ Bukalah!”


    Daniah membuka amplop berwarna


    coklat. Mengeluarkan isinya.


    Ini kan surat perjanjian yang aku


    tanda tangani sebelum meikah dengannya. Dia mau apa mengeluarkan ini.


    “ Sayang, ini untuk apa?” bertanya bingung. hanya berharap semua baik-baik saja.


    “ Kau boleh merobeknya sekarang.”


    Apa! artinya aku bebas dari kontrak


    mengancam ini.


    Daniah memutar tubuhnya. Menyentuh pipi


    Saga dengan kedua tangannya.


    “ Benar, aku boleh merobeknya.”


    “ Heemmm.”


    Brett, brett. Daniah langsung


    mengoyak kertas itu menjadi serpihan. Dengan kerennya dia melemparkan potongan


    kertas itu ke udara. Berjatuhan mengenainya dan jatuh di atas tempat tidur. Dia


    tidak perduli dengan sampah berserak itu. Tapi robeknya kertas itu simbol dari


    kebebasannya kan. Membuatnya terlihat sangat bahagia.


    “ Haha, senang sekali kamu ya. Padahal


    itu cuma copyan dan bukan surat aslinya.”


    “ Apa!” Drama keren sudah berakhir.


    Ternyata Saga hanya sedang mengerjainya. Lemas dia menjatuhkan diri di


    bantalnya tanpa bersuara.


    “ Buahaha, bohong kok. Itu memang


    surat perjanjian asli.” Meraih remot dan memeatikan lampu kamar. Mengeser


    tubuhnya mendekati Daniah yang sudah ngambek, memasang wajah masam. “ Aku sudah tidak perlu itu untuk mengikatmu. Aku akan mengikatmu dengan


    cinta dan perasaanku.” Memeluk Daniah erat, sudah menempelkan tangan di tempat


    kesukaannya.


    “ Sayang, karena surat itu sudah


    tidak ada. Apa aku boleh sesekali membantahmu.” pertanyaan gila yang di ucapkan dengan iseng. tapi kalau di jawab boleh tentu akan menjadi berkah untuknya.


    “ Haha.” Mencengkram kuat, apa yang sudah di pegangnya dari tadi. “ kalau


    kau berani cobalah membantah.”


    Tidak, kalau aku masih waras


    sepertinya aku tidak akan melakukannya.


    Sekali lagi, Daniah meladeni kelakuan Saga


    yang tidak ada habisnya.


    Tapi malam ini semua ketakutannya menghilang, semua ke kuatirannya pada keluarganya terbang tinggi. dia akan mengantungkan diri pada janji suaminya. bahwa cinta dan perasaan mereka yang akan saling mengikat satu sama lain.


    BERSAMBUNG
『Add To Library for easy reading』
Popular recommendations
Super Gene Shadow Slave Cultivation Online Mecha Breaks the World Nine Star Hegemon Body Arts I Can Copy Talents